P. 1
Warta Bea Cukai Edisi 402

Warta Bea Cukai Edisi 402

5.0

|Views: 2,220|Likes:
Published by bcperak

More info:

Published by: bcperak on Nov 03, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/12/2013

pdf

text

original

TAHUN XXXIX EDISI 402

MEI 2008

Bersama Kembangkan Kompetensi SDM

PUSDIKLAT DAN DJBC

MENUNGGU IMPLEMENTASI
KUSHARI SUPRIANTO
KEPALA KANTOR BUKAN SATU-SATUNYA PENDORONG KEBERHASILAN, TETAPI...

PROFIL

WAWANCARA

ANNY RATNAWATI
INTINYA KOORDINASI DAN KOMUNIKASI

DARI REDAKSI

R

Think Global, Act Local

TERBIT SEJAK 25 APRIL 1968
IZIN DEPPEN: NO. 1331/SK/DIRJEN-G/SIT/72 TANGGAL, 20 JUNI 1972 ISSN.0216-2483 PELINDUNG Direktur Jenderal Bea dan Cukai: Drs. Anwar Suprijadi, MSc PENASEHAT Direktur Penerimaan & Peraturan Kepabeanan dan Cukai: Drs. Hanafi Usman Direktur Teknis Kepabeanan Ir. Agung Kuswandono, MA Direktur Fasilitas Kepabeanan Drs. Kusdirman Iskandar Direktur Cukai Drs. Frans Rupang Direktur Penindakan & Penyidikan Drs. R.P. Jusuf Indarto Direktur Audit Drs. Thomas Sugijata, Ak. MM Direktur Kepabeanan Internasional Drs. M. Wahyu Purnomo, MSc Direktur Informasi Kepabeanan & Cukai Dr. Heri Kristiono, SH, MA Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Bea dan Cukai Drs. Endang Tata Inspektur Bea dan Cukai Edy Setyo Tenaga Pengkaji Bidang Pelayanan & Penerimaan KC Drs. Bambang Prasodjo Tenaga Pengkaji Bidang Pengawasan & Penegakan Hukum KC Drs. Erlangga Mantik, MA Tenaga Pengkaji Bidang Pengembangan Kapasitas & Kinerja Organisasi KC Susiwijono, SE KETUA DEWAN PENGARAH Sekretaris Direktorat Jenderal Bea dan Cukai: Drs. Kamil Sjoeib, MA WAKIL KETUA DEWAN PENGARAH/ PENANGGUNG JAWAB Kepala Bagian Umum: Sonny Subagyo, S.Sos DEWAN PENGARAH Ir. Harry Mulya, MSi, Drs. Patarai Pabottinggi, Dra. Cantyastuti Rahayu, Muhamad Purwantoro. Marisi Zainuddin Sihotang, SH.,M.M. Hendi Budi Santosa, Ir. Azis Syamsu Arifin, Muhammad Zein, SH, MA. Maimun, Ir. Agus Hermawan, MA. PEMIMPIN REDAKSI Lucky R. Tangkulung REDAKTUR Aris Suryantini, Supriyadi Widjaya, Zulfril Adha Putra FOTOGRAFER Andy Tria Saputra KORESPONDEN DAERAH ` Hulman Simbolon (Medan), Abdul Rasyid (Medan), Ian Hermawan (Pontianak), Donny Eriyanto (Makassar), Bambang Wicaksono (Ambon), Muqsith Hamidi (Balikpapan) KOORDINATOR PRACETAK Asbial Nurdin SEKRETARIS REDAKSI Kitty Hutabarat PIMPINAN USAHA/IKLAN Piter Pasaribu TATA USAHA Mira Puspita Dewi S.Pt., M.S.M., Untung Sugiarto IKLAN Kitty Hutabarat SIRKULASI H. Hasyim, Amung Suryana BAGIAN UMUM Rony Wijaya PERCETAKAN PT. BDL Jakarta ALAMAT REDAKSI/TATA USAHA Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Jl. Jenderal A. Yani (By Pass) Jakarta Timur Telp. (021) 478 65608, 478 60504, 4890308 Psw. 154 Fax. (021) 4892353 majalah_wbc@yahoo.com REKENING GIRO a/n : MIRA PUSPITA DEWI BANK BNI 1946 CABANG CIPINANG RAWAMANGUN, JAKARTA TIMUR Nomor Rekening : 131339374 Pengganti Ongkos Cetak Rp. 10.000,-

apat bulanan antara Redaksi dengan Dewan Pengarah untuk mempresentasikan rencana penerbitan WBC edisi Mei, yang berlangsung pada akhir Maret lalu berjalan hingga dua jam, lebih lama dari yang biasanya hanya sekitar satu jam. Molornya waktu disebabkan terjadi diskusi menarik soal pengembangan sumber daya manusia di bea cukai khususnya melalui pendidikan dan pelatihan (diklat), yang redaksi angkat menjadi topik pada laporan utama edisi bulan Mei ini. Diskusi yang panjang dan terbuka tersebut menyiratkan concern terhadap pendidikan bagi pegawai bea cukai. Di edisi ini pula bisa dibaca mengenai pencapaian target penerimaan DJBC triwulan pertama tahun 2008, berikut dengan pencapaian masingmasing kantor wilayah. Hasilnya lumayan bagus, dan semoga hingga penghujung tahun 2008 seluruh target baik bea masuk maupun cukai bisa tercapai dan bukan tidak mungkin melebihi. Sementara itu, salah satu tulisan yang masuk dalam rubrik kolom di edisi Mei ini membahas mengenai Hari Kebangkitan Nasional (HKN) yang jatuh pada tanggal 20 Mei. Secara visual, hari nasional lainnya seperti Hari Kartini 21 April biasanya diperingati dengan menggunakan busana daerah (kebaya) bagi kaum perempuan. Hari Pahlawan 10 Nopember ditandai dengan mengheningkan cipta beberapa saat. Hari Kemerdekaan 17 Agustus tidak perlu dipertanyakan lagi. Lalu apa yang biasanya warga negara Indonesia lakukan (katakanlah dalam satu hari) ketika memperingati HKN setiap tanggal 20 Mei ? Banyak yang berpendapat bahwa nasionalisme Indonesia menunjukkan sinyalemen yang mulai terkikis. Betulkah demikian? Berhubung HKN jatuh dibulan Mei, jawaban dari pertanyaan tersebut mungkin bisa meminjam bahasa parodi dunia iklan, maybe yes.. maybe no.. Bagaimanapun juga, betul bahwa nasionalisme kini memiliki tantangan yang lebih kompleks. Dari sisi internal misalnya. Indonesia sepertinya telah menjadi bangsa yang tidak bermartabat. Ketidakmampuan pemerintah hingga masyarakat untuk mengendalikan diri membuat Indonesia ‘berprestasi’ dalam banyak hal. Seorang penulis di media massa belum lama ini secara satiris mengungkapkan Indonesia terkenal di dunia sebagai juara 1 korupsi, juara 2 pornografi, dan juara 3 ekstasi. Bila demikian, masih adakah yang bisa dibanggakan dari Indonesia ? Menulis masalah nasionalisme dengan tinjauan berbagai bidang kehidupan, ekonomi, hukum, politik, sosial, budaya, seni, olahraga, pendidikan dan lain sebagainya, tidak akan pernah cukup halaman yang ada, dan tidak akan pernah habis dibicarakan. Mari kita coba bawa persoalan nasionalisme lebih membumi, kepada lingkungan tempat bekerja, mengabdi dan melayani, yaitu di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). DJBC adalah bagian dari wajah Indonesia. Apa yang bisa dibanggakan oleh masyarakat Indonesia dari instansi bea cukai? Dan semangat apa yang bisa dibawa pegawai bea cukai dalam pekerjaan sehari-hari ? Lucky R. Tangkulung

EDISI 402 MEI 2008

WARTA BEA CUKAI

1

NOMOR INI
1 3 DARI REDAKSI KEEP ON EYE Juara III Lomba Foto Dalam Rangka Hari Pabean Internasional INFO PERATURAN INFO PEGAWAI Pegawai Pensiun per 1 Mei 2008 CUKAI Pembukuan dan Audit, Instrumen Pengawasan Di Bidang Cukai KONSULTASI KEPABEANAN DAN CUKAI Tentang Premi PUSDIKLAT Diklat Juru Sita dan Teknis Pemeriksaan SEPUTAR BEACUKAI SIAPA MENGAPA - Diana Angrainy - Cholis Satiri - Augustina Christina Patty SELAK Auditor`s Gathering, KPU BC Tanjung Priok KEPABEANAN INTERNASIONAL Seratus Persen Scanning Atas Ekspor Barang Ke Amerika Serikat PPKC Target Penerimaan Triwulan I Tahun 2008 Tercapai ENGLISH SECTION C-TPAT MITRA - Peraturan Baru Kaji Kengan Pertrimbangan Matang - Call Center DHL Express PERISTIWA Inkado Gelar Kejurnas Di Makassar KOLOM - Hari Kebangkitan Nasional dan Membangan Nasionalisme Kontemporer - Ya, Sudah...!! OPINI - Menggali Potensi Penerimaan Melalui Pengawasan Terhadap Pembayaran Royalty - DJBC Sebagai Learning Organization RUANG KESEHATAN Pencabutan Gigi Geraham Bungsu RENUNGAN ROHANI Di Dalam Dia Ada Kemenangan RUANG INTERAKSI Hidup Nyaman APA KATA MEREKA - Wulan Guritno - El Manik

D A F T A R
Laporan Utama
Mengelola SDM di DJBC bukan hanya menjadi perhatian DJBC, BPPK melalui Pusdiklat turut juga berperan. Selengkapnya mengenai peran Pusdiklat dalam proses pengelolaan SDM DJBC, dapat disimak pada rubrik Laporan Utama Kali ini.

5-16

20 21 22

24

38 40 44

Daerah ke Daerah
Rubrik Dearah Ke Daerah kali ini, akan menurunkan beritaberita dari daerah, diantaranya Kanwil DJBC Banten yang menyelengarakan Rakerwil untuk yang pertama kalinya, KPPBC Sunda Kelapa, dan Kanwil Jawa Timur I yang menggelar Hasil tegahannya

25-31

46 49

52 54 58

Pengawasan

32-37
DJBC kembali berhasil menegah barang-barang ilegal. Rubrik pengawasan kali ini akan menurunkan keberhasilan DJBC dalam menegah masuknya barang ilegal, diantaranya dari KPU Jakarta, KPPBC Soekarno-Hatta, KPPBC Tanjung Mas

60 61

64

Pusdiklat

38-39
Untuk kesekian kalinya Pusdiklat Bea Cukai menyelenggarakan DTSS, namun DTSS kali ini adalah yang cukup istimewa karena secara bersamaan diselenggarakan diklat juru sita yang telah lima tahun absen dan diklat teknik pemeriksaan dengan materi yang lebih fokus pada jenis barang.

71 72 74 80

2

WARTA BEA CUKAI

EDISI 402 MEI 2008

I S I

Surat Pembaca
Kirimkan surat anda ke Redaksi WBC melalui alamat surat, fax atau e-mail. Surat hendaknya dilengkapi dengan identitas diri yang benar dan masih berlaku.

HASIL PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PCA
Sehubungan dengan surat Direktur Audit Nomor S-044/BC.6/2008 tanggal 8 Januari 2008 tentang Hasil Pendidikan dan Pelatihan Post Clearence Audit (PCA) TA 2007 disampaikan hal sebagai berikut :

Wawancara

17-20
Merubah mindset dan merubah cara pandang terhadap BPPK merupakan tantangan yang harus dihadapi BPPK, selengkapnya mengenai langkah yang dilakukan untuk menghadapi tantangan tersebut, ada para rubrik Wawancara.

1. Berdasarkan surat Direktur Audit tersebut di atas, diharapkan pegawai yang dinyatakan LULUS yang berasal dari daerah kewenangan Kantor Wilayah atau KPU untuk dapat ditempatkan di Bidang Audit dan segera diikutkan dalam program Pemantapan Audit Kepabeanan pada Bidang Audit pada Kantor Wilayah atau KPU;

2. Sesuai Peraturan Direktur Jenderal BC Nomor P-37/BC/2007, bahwa untuk mendapatkan sertifikat auditor dari Direktur Audit harus mengikuti Program Pemantapan setelah itu diusulkan;

3. Hingga saat ini beberapa peserta diklat PCA tersebut belum pernah dipanggil untuk mengikuti Program Pemantapan Audit Kepabeanan dan Bidang Audit pada Kantor Wilayah atau KPU;

4. Menurut saya hal ini sangat disayangkan karena para lulusan tersebut tidak diberdayakan, selain tidak sebanding dengan pengorbanan biaya dan waktu juga tidak sejalan dengan keinginan

Profil

76-79
Bersyukur dengan yang telah diraihnya saat ini, yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan, ia wujudkan dengan memberikan yang terbaik bagi DJBC tempatnya mengabdikan diri. Bagaimana kisah perjalanan hidup tokoh profil kita kali ini, simak pada rubrik Profil.

Direktur Jenderal Bea Cukai maupun Direktur Audit, dimana DJBC saat ini sedang kekurangan tenaga Auditor;

5. Menurut hemat saya, sebaiknya Direktur Audit saja yang melakukan pemanggilan para lulusan untuk mengikuti Progran Pemantapan di Bidang Audit pada Kantor Wilayah atau KPU.

Demikian saya sampaikan, maaf jika kurang berkenan.

KM di S
EDISI 402 MEI 2008 WARTA BEA CUKAI

3

Keep on Eye

Juara II Lomba Foto Dalam Rangka Hari Pabean Internasional 2008 Nama : M. Arief Setijo Noegroho Nip : 060089909 Unit Kerja : Direktorat Kepabeanan Internasional

4

WARTA BEA CUKAI

EDISI 402 MEI 2008

LAPORAN UTAMA

Harus Sejalan
Bagi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) tugas untuk memberikan fasilitasi perdagangan, memberikan perlindungan kepada masyarakat dan juga melakukan pungutan bagi penerimaan negara, tentunya harus didukung oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas dengan jumlah yang cukup memadai.

KUALITAS DAN KUANTITAS SDM

U

ndang-Undang nomor 8 tahun 1974 tentang PokokPokok Kepegawaian yang kemudian diubah menjadi Undang-Undang Nomor 43 tahun 1999, digunakan sebagai aturan tertinggi dalam menyusun administrasi kepegawaian, disamping peraturan turunannya seperti Peraturan Pemerintah maupun Keputusan dan Surat Edaran Kepala Badan Kepegawaian Negara, juga digunakan dalam sistem administrasi kepegawaian. Departemen Keuangan (Depkeu) sebagai salah satu instansi pemerintah yang membawahi unit eselon I salah satunya adalah DJBC tidak mengeFOTO-FOTO : WBC/ATS luarkan ketentuan tersendiri sepanjang berkaitan dengan administrasi kepegawaian, namun yang menjadi perhatian adalah halhal yang sifatnya kebijakan umum dalam bidang pengembangan pegawai Depkeu. Dalam hal ini DJBC, lebih banyak melakukan koordinasi dengan Depkeu sebagai induk organisasi, sehingga hal-hal yang sifatnya lintas departemen terutama yang berhubungan dengan administrasi kepegawaian cukup berkoAZHAR RASYIDI. Database kepegawaian ordinasi dengan Depkeu. terus mengalami penyempurnaan dan Untuk melaksanakan diharapkan dapat mendukung pengemurusan kepegawaian pada bangan SDM DJBC DJBC yang dijabarkan dalam pelaksanaan beberapa fungsi yang diantaranya adalah fungsi pengembangan pegawai, DJBC menyerahkan hal tersebut kepada Bagian Kepegawaian DJBC yang berada di bawah Sekretariat DJBC. Fungsi pengembangan pegawai menurut Kepala Bagian Kepegawaian Azhar Rasyidi meliputi penyiapan bahan rencana kebutuhan dan penyaringan pegawai dalam rangka pendidikan dan pelatihan, ujian jabatan, serta pendataan hasil pendidikan dan pelatihan. Sedangkan fungsi pembinaan pegawai meliputi pelaksanaan urusan pemberian penghargaan, penindakan dan penjatuhan hukuman disiplin. Dalam rangka pengelolaan SDM, DJBC lanjutnya, berpedoman pada program dan kegiatan yang telah digariskan oleh Depkeu yang dijabarkan dalam Keputusan Menkeu nomor 24/KMK.01/2008 tentang Reformasi Birokrasi Depkeu tahun anggaran 2008. Terkait dengan reformasi birokrasi tersebut, maka masing-masing unit eselon I termasuk didalamnya DJBC,

memiliki kewajiban untuk menyelaraskannya dan melaksanakan program-program yang berkaitan degan SDM sesuai dengan rencana yang telah disiapkan. Masih menurut Azhar, untuk mengelola masalah kepegawaian, pihaknya menggunakan beberapa tools yang menurutnya cukup bervariatif. Untuk pengembangan SDM misalnya, Bagian Kepegawaian telah menggunakan assessment dan profiling untuk kepentingan pelaksanaan diklat, penempatan pegawai, mutasi dan promosi, penilaian kinerja, serta untuk profiling pegawai itu sendiri. Metode assessment juga dilakukan bagi para pegawai yang akan mengikuti diklat-diklat khusus seperti diklat Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) dan diklat intelijen yang melibatkan pihak ketiga. Sedangkan untuk melaksanakan fungsi pembinaan pegawai pihaknya lanjut Azhar, menggunakan aturan yang telah baku dibidang penindakan dan penjatuhan hukuman disiplin pegawai. Mengenai pengelolaan SDM oleh DJBC menurut Sekretaris Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kamil Sjoeib, dapat dikelompokan dalam beberapa tahapan yang dimulai pada tahap pengadaan PNS, pengangkatan, penggajian, pendidikan dan latihan, penempatan pegawai, hingga pada masalah pemberhentian PNS. Sedangkan untuk penempatan pegawai, menggunakan uji kompetensi baik soft, maupun hard competency. Uji kompetensi ini adalah salah satu tools yang telah ada. “Namun apabila tools yang kita gunakan belum cukup, maka kami akan mencari informasi lain seperti dari atasan yang pernah membawahi langsung seorang pegawai, nah informasi tersebut kami bandingkan dengan database kepegawaian yang ada untuk mendapatkan informasi lain seperti riwayat jabatan, KAMIL SJOEIB. Secara kuantitatif hukuman disiplin yang per- pegawai DJBC jumlahnya sudah nah dijatuhkan dan seba- mencukupi, tapi secara kualitatif gainya,”urai Kamil. memang kompetensinya belum standar Mengenai database kepegawaian, Azhar mengatakan, DJBC telah mulai membangun database kepegawaian yang mengacu pada pada struktur database Depkeu. Penyempurnaan terhadap database kepegawaian DJBC juga terus dilakukan, untuk tahun 2008 ini Bagian Kepegawaian melibatkan Direktorat Informasi Kepabeanan dan Cukai (IKC) untuk penyempurnaan hal tersebut seperti melakukan validasi,penyempurnaan fitur-fitur dalam database, serta melengkapi content database. “Database kepegawaian yang terus mengalami penyempurnaan tersebut diharapkan dapat mendukung pengembangan SDM DJBC, dan tahun 2008 ini penyempurnaan database dapat selesai,”ujar Azhar. Selain itu ia juga menambahkan, dalam perjalanannya nanti unit kerja vertikal dalam batas-batas tertentu juga diberikan otorisasi untuk mengupdate database pegawai dilingkungan kerjanya, dan akan on-line secara real time dalam server Kantor Pusat DJBC.

EDISI 402 MEI 2008

WARTA BEA CUKAI

5

LAPORAN UTAMA

TALENT SCOUTING. Kunjungan Dirjen Bea dan Cukai Anwar Suprijadi ke KPPBC Tanjung Perak beberapa lalu untuk mengamati kinerja, bisa digunakan sebagai cara untuk melakukan talent Scouting, yang tidak hanya dilakukan diatas meja, namun dapat pula dilakukan melalui pengamatan langsung terhadap SDM di lapangan.

TEKNOLOGI INFORMASI. Kemampuan pegawai terutama dalam bidang TI terus dilakukan peningkatan

TIDAK BISA DITENTUKAN SECARA HITAM PUTIH.
Jumlah ideal pegawai yang dimiliki oleh DJBC,menurut Kamil tidak bisa ditentukan secara hitam putih, namun ditentukan berdasarkan dinamika organisasi yang selalu berkembang. Menurutnya, jumlah pegawai DJBC yang mencapai kurang lebih 11.000 orang apabila secara kualitatif memiliki standar kompetensi yang seragam, jumlah tersebut dinilainya sudah ideal. Namun karena kompetensi yang dimiliki oleh pegawai itu beragam dan belum sesuai dengan apa yang diharapkan, maka kesan yang timbul adalah terjadi kekurangan pegawai. Kamil menggambarkan, hingga tahun 2012 jumlah pegawai yang pensiun mencapai kurang lebih 2300 orang, dan jika tidak diikuti dengan penambahan pegawai dengan jumlah yang sama, maka pada tahun tersebut DJBC hanya memiliki pegawai sejumlah kurang lebih 8700 orang. Kondisi ini diakuinya cukup memberatkan bagi organisasi sebesar DJBC, terutama jika dikaitkan dengan beratnya tugas yang harus diemban DJBC. Mengenai pengadaan PNS, DJBC menurut Azhar Rasyidi, tidak melaksanakan penerimaan secara langsung karena penerimaan PNS saat ini dilakukan secara terpusat oleh Depkeu,sementara DJBC hanya menyampaikan informasi mengenai formasi SDM yang dibutuhkan seperti jumlah dan kualifikasi SDM yang dibutuhkan. Untuk kegiatan lainnya seperti pengangkatan, penggajian dan pemberhentian, DJBC tinggal melaksanakan aturan baku yang telah ada. Mengenai penerimaan pegawai menurut Kamil hal itu disesuaikan dengan kebutuhan organisasi, sehingga DJBC tidak pernah membedakan pegawai laik-laki dan perempuan. Namun karena karakterisitik tugas DJBC yang lebih spesifik dan membutuhkan mobilitas yang tinggi,maka tugas-tugas itu memang lebih cocok jika dilaksanakan oleh pegawai laki-laki. Begitu pula dengan penenerimaan pegawai dengan latar belakang pendidikan formal. Dicontohkannya, untuk menjalankan sistem teknologi informasi,Depkeu dalam hal ini DJBC juga menerima pegawai yang mempunyai pendidikan formal teknologi informasi, namun terkadang hal tersebut tidak cukup, sehingga DJBC mengikutsertakan pegawainya yang tidak memiliki latar belakang pendidikan teknologi informasi untuk mengikuti training dibidang tersebut. “Saat ini kita (DJBC.red) memiliki programmer handal yang berasal dari prodip,”ujar Kamil. Untuk mengetahui jumlah pegawai yang dibutuhkan pada suatu kantor Bea dan Cukai, menurut Kamil dapat dilakukan dengan cara melakukan analisis beban kerja. Melalui cara kerja

tersebut maka akan diketahui berapa jumlah kebutuhan pegawai secara riil di suatu unit kerja.Ia lebih lanjut mengatakan,pihaknya pernah meminta kepada para kepala unit kerja untuk membuat dan menyampaikan analisis beban kerja di unit kerja masingmasing. Namun yang terjadi adalah permintaan penambahan pegawai tanpa dilakukan analisis sesuai dengan kebutuhan riil. “Secara kuantitatif pegawai DJBC jumlahnya sudah mencukupi, tapi secara kualitatif memang kompetensinya belum standar, sehingga ini sangat mempengaruhi produktivitas dan kualitas kerja,”papar Kamil kembali. Hal serupa juga disampaikan oleh Azhar, yang menurutnya kebutuhan akan SDM pada suatu unit kerja disesuaikan dengan struktur organisasi yang modern yang menuntut SDM sebagai pelaksana tugas untuk memiliki standar kompetensi yang dibutuhkan. Untuk itu lanjutnya, guna meningkatkan kualitas SDM DJBC, Bagian Kepegawaian telah menyusun basic training needs yang akan diselenggarakan pada tahun 2008. Masalah pengembangan dan peningkatan kualitas pegawai DJBC, tidak semata-mata merupakan tanggung jawab Kantor Pusat DJBC, kantor vertikal juga mempunyai tanggung jawab untuk meningkatkan pegawainya. Hal ini dapat dilihat dengan dilakukannya secara rutin pelaksanaan Program Pembinaan dan Keterampilan Pegawai (P2KP). Para atasan langsung pegawai juga mempunyai tanggung jawab terhadap peningkatan kemampuan pegawai, misalnya melalui diskusi terbatas mengenai current issue seputar kepabeanan dan cukai

TANTANGAN PENGELOLAAN SDM DJBC
Pengelolaan SDM tentunya menjadi suatu tantangan tersendiri. Tantangan terbesar dalam pengelolaan SDM di DJBC menurut Kamil adalah masih adanya gap antara standar kompetensi dengan kompetensi riil yang dimiliki oleh pegawai DJBC. Hal ini menurutnya menjadi salah satu penyebab masih kurangnya kualitas dan produktifitas pegawai. Dari segi kuantitas lanjutnya, jumlah pegawai DJBC sudah mencukupi, namun dari segi kualitas ia melihat masih mengalami kekurangan dan perlu mengalami peningkatan. “Kalau secara kuantitatif pegawai telah mencapai standar kompetensi, sebenarnya tidak ada lagi alasan untuk meminta penambahan pegawai,”ujar Kamil. Salah satu cara untuk menyiasatinya, DJBC melakukan penerimaan pegawai secara selektif,misalnya melalui penerimaan pegawai dari Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) program diploma (Prodip), yang sejak dari awal seleksinya memang sudah ketat, sehingga bisa dikatakan bahwa secara kualitatif lulusan STAN/ prodip diharapkan dapat menutup gap produktifitas pegawai. Mengenai lulusan STAN/Prodip Kamil mengibaratkannya se-

6

WARTA BEA CUKAI

EDISI 402 MEI 2008

bagai bibit unggul, karena untuk bisa masuk STAN/Prodip seorang siswa harus melalui saringan yang cukup ketat. Tidak hanya ujiannya saja yang cukup ketat, dalam proses belajar mengajarnya pun STAN/Prodip juga cukup ketat sehingga memang telah dipersiapkan untuk memasuki dunia kerja di DJBC. Namun ia kembali menambahkan, untuk itu STAN/Prodip, harus mengamati perkembangan dinamika yang ada agar lulusannya dapat terjun ke dunia kerja. Salah satu caranya lanjut Kamil adalah selalu memperbaharui kurikulum yang ada dan sesuai dengan perkembangan jaman. Selain itu juga yang terpenting menurut Kamil, adalah bagaimana DJBC membuat lulusan STAN/Prodip menjadi pegawai yang lebih handal dan profesional di bidang tugasnya masing-masing serta memiliki mental dan attitude yang baik.”Saya rasa ini tugas kita semua , bukan hanya tugas Sekretariat DJBC,”papar Kamil. DJBC menurut Azhar, memposisikan para lulusan STAN/prodip sebagai tenaga yang sudah memiliki pengetahuan yang luas mengenai kepabeanan dan cukai, sehingga dengan pengayaan dan penyesuaian kurikulum di STAN, keikutsertaan mereka dalam diklat-diklat yang sifatnya umum sudah tidak diperlukan lagi, namun mereka hanya akan diikutsertakan pada diklat-diklat yang sifatnya spesialistis seperti PPNS, intelejen dan lain sebagainya.

lasikan dimana pegawai tersebut sebaiknya dimutasikan atau dipromosikan,”papar Kamil.

PERLU PENYEMPURNAAN
Mengenai pola pengelolaan SDM yang berlangsung saat ini di DJBC menurut Dirjen Bea dan Cukai Anwar Suprijadi, masih perlu dilakukan penyempurnaan. Penyempurnaan merupakan suatu hal yang wajar karena tuntutan dari masyarakat terutama yang berhubungan dengan kepegawaian semakin dinamis. Anwar mencontohkan sistem informasi kepegawaian yang ada saat ini dan sudah cukup baik, supaya lebih disempurnakan lagi agar sistem informasi kepegawaian dapat dijadikan sebagai salah satu pertimbangan untuk menentukan karir pegawai. “Dari sana (sistem infromasi kepegawaian,red) saya bisa melihat siapa-siapa saja yang berkompetensi baik dengan perilaku yang baik pula, agar bisa untuk menduduki suatu jabatan (untuk dijadikan stock untuk menduduki suatu jabatan tertentu),dan nantinya juga akan di tes, seleksi dan diamati perilakunya dilapangan, dan disini talent scouting diperlukan” ujar Anwar menguraikan pentingnya data kepegawaian yang baik untuk menentukan posisi pegawai pada suatu jabatan tertentu. Talent scouting lanjutnya tidak hanya dapat dilakukan “diatas meja” namun juga dapat dilakukan dengan cara terjun ke lapangan, hal ini menurutnya bisa mendapatkan gambaran riil mengenai SDM yang ada yang berbasis pada manajemen informasi kepegawaian Anwar menekankan pada pentingnya talent scouting melalui pengamatan langsung terhadap kinerja SDM dilapangan, dimana berbagai data yang diperoleh dilapangan terhadap SDM bisa dijadikan sebagai referensi bagi pihaknya untuk mengetahui kinerja seorang pegawai untuk penempatan selanjutnya yang sesuai dengan kompetensinya, sehingga akan dapat diperoleh orang yang tepat sesuai dengan kompetensinya pada suatu level jabatan tertentu.”Atau bahkan sebaliknya, kita juga tahu kalau ada pegawai yang tidak berkompeten dan berintegritas rendah, maka akan dilakukan tindakan lebih lanjut, tentunya dilakukan secara objektif dan tidak subjektif,” terang Anwar. Anwar juga menegaskan bahwa kompetensi SDM saja tidak cukup untuk mencapai tujuan suatu organisasi seperti DJBC. Kompetensi harus juga dibarengi dengan perilaku yang positif dan berintegritas tinggi. Untuk itu lanjutnya, pendidikan dan pelatihan yang sifatnya kontinyu agar kompetensi tersebut tetap terjaga, harus disertai dengan perilaku yang baik. “Disini pimpinan harus bisa menjaga kompetensi SDM yang dimilikinya agar dapat berdaya guna disertai dengan perilaku yang baik agar tujuan organisasi DJBC tercapai dan image kita menjadi lebih baik lagi di masyarakat,”papar Anwar. zap

SOFT DAN HARD COMPETENCY

Kompetensi yang dimiliki oleh seorang pegawai pada suatu lini pekerjaan tentunya akan berhubungan dengan jenjang karir yang akan diperolehnya. Menurut Kamil Sjoeib, karir seorang pegawai lebih ditentukan pada soft dan hard competency yang dimilikinya. Selain itu juga beberapa parameter dan tools yang cukup bervariatif juga digunakan untuk menentukan jenjang karir pegawai. Banyaknya parameter yang digunakan merupakan sarana yang digunakan sebagai bahan pertimbangan karena jika hanya menggunakan satu parameter saja maka hal tersebut tidak mencukupi. Dengan adanya program reformasi birokrasi yang saat ini sedang dijalankan, merupakan suatu hal yang patut direspon dengan baik, karena hal tersebut juga berhubungan dengan pengembangan karir pegawai, dimana didalamnya menyangkut penetapan standar kompetensi jabatan, assessment center, penggunaan balance score card dan key performance indicator sebagai tools untuk menilai kinerja. Begitu pula pada saat penentuan mutasi, promosi, maupun rotasi pegawai dilingkungan DJBC,yang dijalankan sesuai ketentuan umum mengenai pengangkatan pegawai dalam jabatan struktural, dan ketentuan mengenai pengangkatan pegawai yang secara normal dilakukan dalam kurun waktu dua hingga lima tahun. Hal tersebut ujar Kamil, tidak dapat dijalankan secara kaku, sesuai dengan periodesasi pemindahan, karena untuk mengisi formasi jabatan harus dikaitkan juga FOTO-FOTO : WBC/ATS dengan kompetensi yang dimiliki oleh pegawai yang akan ditempatkan pada jabatan tertentu. Untuk jabatan eselon II dan III, maka Departemen Keuangan memiliki Badan Pertimbangan Jabatan dan Kepangkatan (Baperjakat) guna melakukan penilaian. Sedangkan pada tataran eselon IV, DJBC belum mempunyai mekanisme Baperjakat. Namun mekanisme yang digunakan adalah dengan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya mengenai pegawai yang akan dipromosikan atau dimutasikan. Informasi tersebut bisa diperoleh dari database kepegawaian atau dari pejabat yang pernah membawahi pegawai tersebut. “Dari informasi itu, Bagian Kepegawaian dituntut untuk memformuPENERIMAAN PEGAWAI. DJBC menyerahkan seluruh proses rekrutmen kepada Depkeu sebagi induk organisasi

EDISI 402 MEI 2008

WARTA BEA CUKAI

7

LAPORAN UTAMA

Perlu Parameter
UNTUK PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI YANG MODERN
dengan pelaksanaan diklat, pihaknya selalu membicarakannya dengan pihak Pusdiklat, karena DJBC maupun Pusdiklat Bea dan Cukai mempunyai perhatian yang sama untuk melakukan pembenahan SDM di DJBC,”Kalau masih ada kekurangan disana-sini, secara prinsipil hal itu tidak mengurangi keberhasilan pemanfaatan lulusan diklat Bea dan Cukai, ”terang Kamil. Ia kembali menambahkan, dalam penyelenggaraan diklat, Pusdiklat Bea dan Cukai melaksanakan diklat yang disesuaikan dengan training needs DJBC. Untuk itu, sekretariat meminta pendapat dari unit kerja lain mengenai training needs tersebut dan juga mengenai kebutuhan diklat dimasa yang akan datang. Pusdiklat Bea dan Cukai maupun DJBC dalam hal ini sekretariat, papar Kamil, menyadari kewajiban yang dimiliki masing-masing,”Pusdiklat sebagai penyelenggara diklat mempunyai kewajiban untuk memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan kepada pegawai DJBC, sedangkan sebagai user, DJBC wajib memberikan masukan, khususnya yang berkaitan dengan penyusunan Tujuan Instruksional Umum (TIU), Tujuan Instruksional Khusus (TIK), Garis Besar Program Pengajaran(GBPP), penetapan kurikulum, ntuk itu Pusat Pendidikan dan Pelatihan (PusdikPenetapan Tenaga Pengajar, hingga isi dari modul yang akan lat) Bea dan Cukai memiliki peran yang cukup digunakan peserta diklat,”papar Kamil menjelaskan mengenai besar untuk meningkatkan kualitas SDM di DJBC kewajiban para pihak yang merupakan harmelalui serangkaian pendidikan monisasi hubungan dua lembaga tadi. Pandan pelatihan yang diselenggaradangan serupa juga disampaikan Endang kan. Menurut Kepala Pusdiklat (KapusdikTata, menurutnya untuk melakukan sinkronilat) Bea dan Cukai Endang Tata, lembaga sasi program diklat untuk tahun yang akan yang dipimpinnya memiliki tugas pokok undatang, pihaknya meminta masukan dari tuk membina dan menyelenggarakan DJBC melalui sekretariat. Tidak hanya itu, pendidikan dan pelatihan keuangan negara masukkan juga dimintakan kepada Kantor di bidang kepabeanan dan cukai berdasarWilayah maupun juga Kantor Pelayanan dan kan kebijaksanaan teknis yang ditetapkan Pengawasan Bea dan Cukai,”Masukan oleh Kepala Badan Pendidikan dan Pelatersebut kemudian kita rapatkan bersama tihan Keuangan (Ka. BPPK). dengan pihak Sekretaris maupun juga Untuk mencapai tujuan tersebut, tentudengan direktorat terkait,”ujar Endang Tata. nya antara Pusdiklat Bea dan Cukai Untuk tahun 2008 ini, pada saat akan medengan DJBC harus mempunyai visi dan nyusun program diklat, Pusdiklat Bea Cukai misi yang sama dalam pengembangan meminta masukan dari kantor-kantor Bea SDM. Mengenai hal tersebut, Endang Tata Cukai, diantaranya adalah Kantor Pelayanan mengatakan, pihaknya bersama dengan Utama (KPU) Bea dan Cukai Tipe A Tanjung DJBC telah melakukan pengkajian Priok. KPU Bea Cukai Tanjung Priok lanjut terhadap pola diklat pegawai DJBC sejak Endang Tata, memberi masukan mengenai awal tahun 2007 yang ditetapkan dalam perlunya diadakan diklat untuk Client Coorsuatu Keputusan bersama Sekretaris ENDANG TATA. Jika yang menjadi dinator (CC) dan Kepatuhan Internal (KI). DJBC dengan Kapusdiklat Bea dan Cukai indikator bagi kemajuan suatu Pusdiklat “Untuk mempersiapkan diklat yang renmelalui surat Keputusan Bersama dengan adalah penyelenggaraan diklat, maka cananya akan diselenggarakan pada nomor 03/BC.1/2007 dan 036/PP.5/2007 penyelenggara diklat harus sudah pertengahan bulan Mei 2008 ini, Pusdiklat pada 31 Januari 2007. memiliki sertifikasi atau akreditasi mengundang Sekretaris DJBC, Tim PerceDengan adanya surat keputusan bersapatan Reformasi Birokrasi DJBC dan Mantan Kepala KPU ma tersebut, lanjut Endang Tata, untuk mempersiapkan suBea dan Cukai Tanjung Priok untuk membahas penyusunan atu diklat bagi pegawai DJBC, maka Pusdiklat Bea dan kurikulum dan materi yang diperlukan sesuai dengan kompeCukai mengundang pihak Sekretariat DJBC dan atau direktensi pegawai CC dan KI serta penunjukkan tenaga pengatorat terkait untuk membahas berbagai hal yang berhubungjar,” urai Endang Tata. an dengan pelaksanaan diklat seperti membahas current Bisa dikatakan diklat untuk CC dan KI terbilang lain, kareissue, relevansi kurikulum beserta dengan modul atau bana diklat dilakukan setelah adanya penempatan pegawai han ajar,penyediaan tenaga pengajar,serta penentuan kripada kedua bidang tadi, sementara dalam perjalanannya biteria calon peserta diklat. dang CC dan KI merupakan bidang baru di DJBC khususnya Hal serupa juga disampaikan Sekretaris DJBC Kamil di KPU. Menurut Kamil, sejak awal terbentuknya KPU, termaSjoeib. Menurutnya segala sesuatu yang berhubungan

Pengembangan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) tentunya tidak dapat dilakukan oleh DJBC sendiri. Kepiawaian SDM dalam menjalankan tugas tanpa dibarengi dengan pengetahuan yang memadai, tentunya akan menghasilkan kualitas pekerjaan yang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Begitu pula sebaliknya, jika pengetahuan yang dimiliki oleh SDM memadai namun etos kerja yang dimiliki SDM tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, sudah pasti tidak akan menghasilkan kualitas kerja yang sesuai standar.

U

8

WARTA BEA CUKAI

EDISI 402 MEI 2008

PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI. Terus melakukan perbaikan di berbagai bidang guna mendukung program diklat.

suk didalamnya keberadaan CC dan KI,SDM yang berada didalamnya telah mendapat pembekalan mengenai bidangbidang tersebut. Hanya saja, pimpinan DJBC merasa perlu untuk menyelenggarakan kedua diklat tersebut secara formal di Pusdiklat Bea dan Cukai, karena core business Pusdiklat Bea dan Cukai memang dalam bidang training. Kamil lebih lanjut mencontohkan, dalam penyelenggaraan diklat CC, pegawai DJBC akan mendapatkan materi keteFOTO-FOTO : WBC/ATS

rampilan berkomunikasi untuk meningkatkan pelayanan, keterampilan bernegosiasi,pengenalan sistem aplikasi KPU, sistem dan prosedur kepabeanan pada KPU dan pembangunan karakter. Sedangkan materi yang akan disampaikan pada diklat KI, pegawai DJBC akan mendapatkan materi mengenai tata laksana organisasi, budaya organisasi KPU, standard sistem evaluasi kinerja KPU dan sistem pengawasan internal.

TANTANGAN UNTUK MENJADI PUSDIKLAT YANG MODERN
Menurut Endang Tata perkembangan organisasi DJBC yang semakin pesat saat ini menyebabkan semakin tinggi pula tuntutan kepada Pusdiklat Bea dan Cukai untuk bisa meningkatkan kemampuannya dalam berbagai bidang terutama dalam menghasilkan lulusannya yang berkualitas. Untuk menjadi suatu Pusdiklat Bea dan Cukai yang ideal lanjutnya, tentunya ada suatu parameter yang digunakan untuk menentukan bahwa Pusdiklat Bea dan Cukai itu modern. Endang Tata mencontohkan, jika yang menjadi indikator bagi kemajuan suatu Pusdiklat itu dari segi penyelenggaraan diklat, maka penyelenggara diklat harus sudah memiliki sertifikasi atau akreditasi. Sedangkan bagi lulusannya mempunyai kemampuan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan atau bahkan sesuai dengan standar internasional. “Sedangkan dari segi para widyaiswara atau pengajar misalnya, harus bisa dan lancar berbahasa Inggris atau setidaknya ada beberapa dari widyaiswara yang bergelar akademis S2 dan beberapa S3, kemudian dari segi pembelajaran, harus mengutamakan teknologi informasi dan lain sebagainya,”urai Endang Tata mengenai contoh beberapa hal yang bisa dijadikan sebagai standar bagi Pusdiklat. Hingga saat ini standar yang ditentukan dan dijadikan rujukan untuk menunjukkan suatu Pusdiklat itu modern masih belum ada, sehingga belum bisa dikatakan Pusdiklat

DJBC, maupun Pusdiklat Bea dan Cukai mempunyai perhatian yang sama untuk melakukan pembenahan SDM di DJBC

EDISI 402 MEI 2008

WARTA BEA CUKAI

9

LAPORAN UTAMA
Bea dan Cukai modern karena rujukannya tersebut belum ada, namun ia optimis Pusdiklat Bea dan Cukai dapat menjadi suatu Pusdiklat Bea dan Cukai yang modern. “Adanya reformasi birokrasi di Departemen Keuangan, dimana salah satu butirnya adalah peningkatan SDM melalui diklat, sehingga harapan untuk menjadikan suatu Pusdiklat Bea dan Cukai yang modern dapat segera terwujud,”ujar Tata. Ia tidak menampik bahwa dalam pengelolaan Pusdiklat masih terdapat keterbatasan di berbagai sisi terutama dari segi anggaran yang tidak memadai, sehingga anggaran yang dimiliki tidak cukup untuk membiayai pengadaan dan perbaikan infrastruktur, sarana dan prasarana diklat, menyelenggarakan diklat sesuai dengan kebutuhan user maupun juga untuk meningkatkan kualitas widyaiswara dan pengajar. Untuk penyelenggaraan diklat, anggaran yang digunakan adalah anggaran yang tersedia dalam DIPA (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran). Namun apabila user menghendaki dilakukannya penambahan diklat, maka pendanaan dilakukan dengan menggunakan anggaran user. Tantangan lain tidak kalah pentingnya untuk dihadapi, yaitu sisi infrastruktur, gedung kampus, asrama, aula dan kantor pusdiklat masih kurang mendukung untuk dilakukannya diklat, karena sebagian besar gedungnya merupakan bangunan yang sudah cukup tua. Untuk itu pihaknya memperbaiki infrastruktur tersebut sesuai dengan anggaran yang tersedia menurut skala prioritas. Begitu pula dengan sarana pendukung kegiatan diklat seperti komputer dan alat multimedia lainnya yang dirasakannya masih kurang, sehingga pengadaan sarana tersebut menggunakan anggaran yang tersedia dan juga berdasarkan skala prioritas. “Kami terus mengembangkan diri ditengah berbagai keterbatasan yang dimiliki agar Pusdiklat Bea dan Cukai bisa menjadi lebih baik lagi,”terang Endang Tata kembali. tensi widyaiswara, sehingga diharapkan para pejabat struktural tadi dapat mengajar dan agar semua pegawai baik pejabat maupun pelaksana dapat meningkatkan SDM sesuai tujuan reformasi Departemen Keuangan. Begitu pula dengan perbaikan lingkungan Pusdiklat Bea dan Cukai yang kini sudah terlihat lebih baik. Endang Tata kembali menambahkan, dalam pelaksanaan diklat yang dilakukan oleh Pusdiklat Bea dan Cukai, ada suatu penyesuaian yang dilakukan berdasarkan karakteristik Pusdiklat Bea dan Cukai seperti adanya diklat kesamaptaan, dimana selama di Pusdiklat Bea dan Cukai peserta diklat harus mematuhi tata tertib dengan peraturan yang ada di militer, atau semi militer. Sedangkan untuk metode pembelajaran lanjutnya, secara garis besar Pusdiklat Bea dan Cukai mengacu pada pedoman BPPK yang disesuaikan dengan kebutuhan berdasarkan hasil rapat bersama pada saat persiapan penyelenggaraan diklat yang dilakukan antara pejabat structural Pusdiklat Bea dan Cukai, widyaiswara dan pejabat sekretariat DJBC atau pejabat dari direktorat terkait, sehingga metode pembelajaran tidak hanya semata-mata diserahkan kepada widyaiswara. Apa yang dilakukan oleh Pusdiklat Bea dan Cukai dalam mengembangkan diri menurut Endang Tata, tidak terlepas dari berbagai masukan yang diterimanya dari berbagai pihak termasuk dari para pembaca WBC. Ia mencontohkan, terkadang masukkan tersebut datang pada saat penyusunan program diklat dan persiapan penyelengaraan diklat yang mengundang pihak DJBC dalam hal ini sekretariat maupun direktorat terkait. Selain itu masukan yang berkaitan dengan kegiatan diklat seperti masukkan untuk para widyaiswara, modul dan hal-hal lain yang berhubungan dengan penyelenggaraan diklat, pihaknya mendapat masukan dari para peserta diklat yang disampaikan secara tertulis melalui lembar evaluasi widyaiswara. Kantor Wilayah maupun Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai, menurut Endang Tata juga memberikan masukkan yang biasanya dilakukan secara tertulis. Apa yang dilakukan Pusdiklat Bea dan Cukai untuk mengembangkan diri ditengah keterbatasan yang dihadapi, kiranya bisa menjadikan Pusdiklat Bea dan Cukai menjadi suatu Pusdiklat yang modern yang menghasilkan lulusan yang berkualitas guna menunjang tujuan organisasi DJBC. zap
FOTO-FOTO : WBC/ATS

BEBERAPA HAL YANG MENJADI PRIORITAS
Untuk menghadapi berbagai tantangan tersebut, berbagai langkah diambil oleh Pusdiklat Bea dan Cukai dan masuk dalam skala prioritas. Langkah-langkah yang masuk prioritas tersebut adalah evaluasi terhadap program diklat yang disesuaikan dengan kebutuhan DJBC yang meliputi jenis diklat, kurikulum dan modul atau bahan ajar. Tindak lanjutnya adalah dengan keluarnya surat keputusan bersama antara Sekretaris DJBC dengan Kapusdiklat Bea dan Cukai Nomor 03/BC.1/2007 dan 036/PP.5/2007. Prioritas lainnya adalah penataan sarana dan prasarana yang meliputi perbaikan terhadap ruang kelas dan asrama, serta pengadaan perlengkapan pembelajaran seperti lap top, infocus maupun multimedia penunjang kegiatan akademis. Sarana tersebut lanjut Tata kini sebagian sudah tersedia di Pusdiklat Bea dan Cukai termasuk perbaikan beberapa ruang kelas, asrama dan aula yang harus mengalami perbaikan. Peningkatan SDM pada Pusdiklat Bea dan Cukai menjadi prioritas selanjutnya, yang meliputi peningkatan kuantitas dan kualitas widyaiswara maupun juga peningkatan kualitas pejabat struktural serta pemberdayaan pegawai pelaksana. Untuk meningkatkan kuantitas widyaiswara, tahun 2008 ini dilakukan rekrutmen widyaiswara yang diharapkan dapat meningkatkan kuantitas widyaiswara pada Pusdiklat Bea dan Cukai. Sementara untuk peningkatan mutu widyaiswara lanjut Endang Tata, pihaknya menugaskan para widyaiswara tersebut untuk membuat rencana kerja dan melaksanakannya sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan, termasuk membuat karya tulis, seminar dan penugasan lainnya. Tidak hanya itu, pejabat stuktural pada Pusdiklat Bea dan Cukai juga menjadi prioritas dimana pejabat struktural diharapkan melengkapi keterbatasan jumlah dan kompe-

DIKLAT KESAMAPTAAN. Salah satu diklat yang diadakan oleh Pusdiklat Bea dan Cukai

10

WARTA BEA CUKAI

EDISI 402 MEI 2008

Pengembangan SDM
JADI TANGGUNG JAWAB BERSAMA

P

Tidak hanya sistem dan tata kelola Pusdiklat saja yang mengalami peningkatan, kemampuan para widyaiswara juga perlu ditingkatkan, baik dari sisi kualitas maupun juga kuantitas

enanganan Sumber Daya Manusia (SDM) khususnya yang berada dalam lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) bukan hanya menjadi tanggung jawab DJBC semata. Begitu pula dengan penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) tidak hanya menjadi tanggung jawab dan perhatian Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Bea dan Cukai atau Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK) Departemen Keuangan (BPPK) semata. Semua itu pastinya berhubungan dan tidak dapat dijalankan sendiri-sendiri tanpa adanya koordinasi diantara tiga instansi tersebut. Dengan adanya surat keputusan bersama yang ditandatangani antara DJBC dengan Pusdiklat tentang pengkajian terhadap pola diklat pegawai DJBC, bisa dijadikan sebagai satu solusi pemecahan untuk menghadapi dinamika perkembangan SDM oleh DJBC. Menurut Direktur Jenderal Bea dan Cukai Anwar Suprijadi, pihaknya senantiasa melakukan koordinasi dengan pihak Pusdiklat Bea dan Cukai maupun juga BPPK untuk menyamakan visi dan misi yang berhubungan dengan masalah SDM, yang nantinya diharapkan akan terus berlanjut. Melalui koordinasi tersebut lanjutnya, berbagai permasalahan yang dihadapi terutama dalam pengembangan SDM yang dilakukan bersama antara DJBC dengan Pusdiklat Bea dan Cukai dapat teratasi. Pada suatu pertemuan yang dilakukan antara DJBC dengan Pusdiklat Bea dan Cukai dan BPPK lanjutnya, banyak hal yang dibahas yang intinya bagaimana melaksanakan pengembangan dan pemberdayaan SDM DJBC. Masalah lain yang dibahas diantaranya adalah reformasi dan pengembangan SDM yang dikaitkan dengan kebutuhan diklat oleh DJBC, masalah instruktur dan tenaga pengajar serta pembahasan untuk menyiasati berbagai keterbatasan baik sarana, prasarana dan juga anggaran. Pertemuan tersebut menurut Anwar ditindak lanjuti dengan dibentuknya suatu tim kecil yang melibatkan DJBC maupun juga Pusdiklat Bea dan Cukai dalam menyusun training needs analysis, menyusun dan menyiapkan kurikulum, dan bahan ajar, menyiapkan sarana terkait, melakukan identifikasi bantuan pendanaan dan fasilitas untuk Pusdiklat Bea dan Cukai terutama yang berkaitan dengan penyelenggaraan diklat yang mendesak untuk segera dilaksanakan. Menurut Anwar, apa yang dilakukan oleh Pusdiklat Bea dan Cukai dalam melakukan pengembangan SDM melalui diklat yang dilakukan sudah baik dan perlu ditingkatkan lagi. Anwar kemudian menghubungkan hal tersebut dengan refor-

masi dalam tubuh Pusdiklat Bea dan Cukai yang juga harus sejalan dengan reformasi yang ada dalam tubuh DJBC sehingga apa yang menjadi tujuan reformasi DJBC yang salah satunya pengembangan SDM, dapat sejalan dengan reformasi di tubuh Pusdiklat sehingga bisa mencapai tujuan yang sama dalam pengembangan SDM yang dilakukan melalui diklat yang dilakukan oleh Pusdiklat Bea dan Cukai. Salah satu pihak yang berhubungan dengan diklat yang dilakukan oleh Pusdiklat Bea dan Cukai adalah Bagian Kepegawaian. Menurut Kepala Bagian Kepegawaian Azhar Rasyidi, untuk meningkatkan kualitas SDM DJBC, pihaknya telah menyusun basic training needs yang akan diselenggarakan pada tahun 2008. Ditambahkannya lagi, disamping menyelenggarakan diklat yang baru seperti diklat untuk Client Coordinator (CC) dan Bidang Kepatuhan Internal (KI), pihaknya juga bekerja sama dengan Pusdiklat Bea dan Cukai melakukan penyempurnaan kurikulum diklat, penyempurnaan modul diklat, meningkatkan kualitas pengajar dan widyaiswara dengan pembekalan berupa pemutakhiran pengetahuan tenaga pengajar dan widyaiswara. Tidak hanya itu pihaknya lanjut Azhar, akan menyelenggarakan training dan seminar yang diadakan oleh pihak ANWAR SUPRIJADI. yang dilakukan ketiga yang berhubungan dengan motivasi oleh Pusdiklat Bea dan Cukai dalam dan budaya kerja, training manajemen melakukan pengembangan SDM untuk kepala kantor, sosialisasi ketentuan melalui diklat yang dilakukan sudah baik dan perlu ditingkatkan lagi pegawai dan lain sebagainya.

DIKLAT JARAK JAUH
Mengenai mekanisme diklat, Pusdiklat Bea dan Cukai menurut Kepala Pusdiklat Bea dan Cukai Endang Tata, tidak hanya menjalankan diklat yang dilakukan dalam kelas yang mengharuskan peserta diklatnya hadir dalam kelas namun juga mengembangkan diklat yang dinamakan Diklat Jarak Jauh (DJJ). DJJ ini lanjutnya merupakan program pengembangan diklat sejak tahun 1997 yang disusun bersama antara BPPK dan Universitas Terbuka (UT) dan diujicobakan pada tahun 2003 dengan serangkaian kegiatan seperti penyusunan modul atau bahan ajar, pedoman penyelenggaraan, pembuatan soal-soal monitoring, evaluasi dan laporan. Setelah di ujicobakan , tahun berikutnya 2004, DJJ mulai dilaksanakan di Jakarta, Yogyakarta dan Malang untuk Diklat Teknis Substantif Spesialisasi (DTSS) Cukai, yang dilanjutkan pada tahun-tahun berikutnya hingga 2007, yang kemudian diklat tersebut dinamakan DJJ TSS Cukai. Endang Tata lebih lanjut menambahkan, untuk saat ini Pusdiklat Bea dan Cukai baru menerapkan DJJ pada diklat teknis substantif spesialisasi cukai. Karena tidak semua diklat dapat dilakukan dengan DJJ, maka diklat DJJ tidak dilakukan pada diklat-diklat yang memiliki sifat praktek seperti diklat intelejen, pemeriksaan sarana pengangkut, PCA, teknik pemeriksaan dan penyidik lanjutan Mengenai mekanisme pelaksanaan DJJ tersebut lanjut Endang Tata,para peserta diklat menjalani sistem belajar sendiri yang dilakukan selama satu bulan dengan menggu-

EDISI 402 MEI 2008

WARTA BEA CUKAI

11

LAPORAN UTAMA
DOK. WBC

metode e-learning, sehingga para peserta nakan modul yang dibagikan, yang kemutidak bisa dipantau kegiatan belajarnya. dian disusul dengan melaksanakan tutorial Kemudian juga, pada kenyataannya, peserta selama dua hari dan kemudian diakhiri DJJ TSS cukai, kebanyakan adalah peserta dengan ujian atau evaluasi terhadap materi yang mengulang atau dengan kata lain diikuti DJJ yang dilaksanakan selama tiga hari. oleh para peserta yang sudah pernah mengi“Menurut saya, DJJ lebih tepat diterapkuti pelajaran mengenai cukai. kan untuk diklat yang sifatnya teori, bukan “Berdasarkan fakta tersebut, maka unpraktek. Sementara untuk pengerjaan tuk tahun 2008, DJJ untuk sementara tugas dan untuk konsultasi dapat dilakukan tidak dilaksanakan sampai kita (Pusdiklat secara on-line dengan metode e-learning,” Bea Cukai.red) menemukan metode yang terang Endang Tata. sesuai, seperti menggunakan metode eMengenai efektifitas DJJ tersebut, ia learning, dimana ada interaksi secara onkembali menerangkan, sepanjang dilakuline antara peserta diklat yang mengajukan dengan metode yang benar, maka kan pertanyaan dan tutor menjawab, jadi efektifitasnya akan dapat dirasakan. Selanuntuk meningkatkan mutu DJJ, harus jutnya juga Pusdiklat Bea dan Cukai akan menggunakan metode e-learning,”papar mengevaluasi efektifitas metode tersebut Endang Tata. agar dapat dikembangkan lagi. Secara Tidak hanya DJJ yang dijalankan, Pusteori DJJ, mempunyai beberapa keunggulan yaitu, menghemat biaya diklat diklat juga menerapkan metode diklat keSOENARNO. melakukan up-dating jika dibandingkan dengan sistem las jauh yang diselenggarakan di beberapembelajaran klasikal karena peserta diklat dengan “memburu” peraturan-peraturan pa daerah seperti di Yogyakarta dan yang berkaitan dengan masalah tidak tinggal lama di Pusdiklat, selain itu Malang, dimana widyaiswara Pusdiklat kepabeanan dan cukai peserta diklat dapat belajar mandiri tanpa Bea dan Cukai memberikan tutorial ke dibatasi oleh jadwal kuliah atau waktu maupun ruang kelas, daerah-daerah tadi dengan biaya diklat yang berasal dari tidak tergantung pada kesiapan pengajar dan jika dilaksaDIPA Pusdiklat Bea dan Cukai. nakan dengan menggunakan metode e-learning, maka materi mudah diperoleh dan akan membuat peserta terbiasa WIDYAISWARA PEGANG PERANAN PENTING menggunakan perangkat teknologi informasi. Materi diklat yang disampaikan Pusdiklat Bea dan Cukai Selain sisi positif tadi, Endang Tata juga mengakui bahkepada para peserta berasal dari para widyaiswara yang mewa metode DJJ tersebut masih menghadapi kendala. Dari rupakan Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang diangkat sebagai segi peserta DJJ,kebanyakan mereka sudah mendapat bepejabat fungsional oleh pejabat yang berwenang dengan berapa diklat teknis seperti, lulusan DPT/DTSD kepabeantugas, tanggung jawab, wewenang untuk mendidik, mengajar an dan cukai sampai dengan kurikulum 2005, DTSS dan atau melatih PNS pada lembaga diklat pemerintah. PusKepabeanan dan cukai kurikulum 2006 dan prodip III Kepadiklat Bea dan Cukai saat ini memiliki sembilan widyaiswara beanan dan Cukai, yang secara teknis sudah pernah yang memiliki kualifikasi untuk memberikan materi diklat kemendapatkan pelajaran cukai. “Dengan demikian, mereka pada para peserta diklat. seperti hanya mendapat diklat penyegaran saja,”papar Tidak hanya sistem dan tata kelola Pusdiklat saja yang Endang Tata. mengalami peningkatan, kemampuan para widyaiswara juga Kendala lainnya adalah sistem belajar mandiri yang perlu ditingkatkan, baik dari sisi kualitas maupun juga kuanmasih dilakukan secara manual dan belum menggunakan titas. Untuk kuantitas tahun 2008 ini, Pusdiklat melalui BPPK melakukan recruitment widyaiswara, sedangkan untuk meningkatkan kualitas widyaiswara terang Endang Tata, dilakukan melalui diklat training of trainer (TOT) dan mewajibkan widyaiswara agar menyusun rencana kerja termasuk melakukan penelitian ilmiah. Tidak hanya itu, para widyaiswara juga mencari bahan-bahan ajar atau current issue seperti pengumpulan data ke Kantor Pelayanan Utama (KPU) Bea dan Cukai Tanjung Priok dan Kantor Pelayanan dan Pengawasan Bea dan Cukai (KPPBC) Soekarno-Hatta. Salah satu widyaiswara Pusdiklat Bea dan Cukai Soenarno mengatakan, jumlah widyaiswara yang ada saat ini menurutnya masih belum memadai. Jumlah tersebut akan terasa kurang memadai apabila beberapa diklat dilakukan dalam waktu yang hampir bersamaan, sehingga sangat terasa sekali jumlah widyaiswara itu belum memadai. Untuk menyiasati kekurangan, Pusdiklat Bea dan Cukai dapat meminta widyaiswara yang lain untuk mengajar atau meminta pengWEBSITE DJBC. Sarana bagi widyaiswara untuk mendapatkan informasi terbaru mengenai ajuan tenaga pengajar dari unit lain. peraturan sebagai bahan ajar yang akan disampaikan.

12 12

WARTA BEA CUKAI

EDISI 402 MEI 2008

Tenaga pengajar dari unit lain baik dari direktorat terkait di but lanjutnya harus dicermati dan dikaji lebih dalam lagi DJBC maupun instansi lain menurut Endang Tata memang agar nantinya bisa memberikan kontribusi positif baik bagi diperlukan, terutama pelajaran yang sifatnya praktek seperti Pusdiklat Bea Cukai maupun juga bagi DJBC sendiri. diklat intelijen, PCA, juru sita, teknik pemeriksaan dan lain sebagainya. Tidak hanya dari pihak DJBC saja, jika memang PERSYARATAN FORMAL MENJADI PERHATIAN diperlukan Pusdiklat juga dapat meminta tenaga pengajar Untuk menentukan keikutsertaan pegawai dalam salah dari professional dibidangnya yang kebanyakan berasal dari satu diklat, berbagai syarat formal yang telah ditentukan hakalangan swasta. rus dipenuhi seperti batasan usia tertinggi, batasan pangDengan adanya rekrutmen widyaiswara saat ini, diharapkat, keikutsertaan pada diklat teknis sebelumnya, hukuman kan kedepannya jumlah widyaiswara pada Pusdiklat Bea dan disiplin dan lain seba- gainya. Selain syarat formal, Azhar Cukai akan sesuai demenambahkan, untuk DOK. PUSDIKLAT BC ngan jumlah siswa yang menentukan keikutsermenjalani diklat, sehingtaan SDM dalam suatu ga kekurangan jumlah diklat adakalanya piwidyaiswara dapat disiahaknya juga mempersati. Mengenai up-dahitungkan “sisi geogting pengetahuan widyarafis dan keterwakilan” iswara lanjut Soenarno, suatu unit kerja agar secara otomatis para pegawai dapat mengwidyaiswara selalu beruikuti diklat. Ia menconpaya untuk melakukantohkan, untuk diklat Penya. nyidik Pegawai Negeri Soenarno sendiri Sipil (PPNS) tahun melakukan up-dating de2007 lalu, pihaknya congan “memburu ”perba untuk mengikutseraturan-peraturan yang takan perwakilan pegaberkaitan dengan masawai dari hampir seluruh lah kepabeanan dan cuunit kerja, dengan kai untuk dapat disamasumsi, bahwa setiap paikan kembali kepada kantor harus memiliki para siswa peserta dikPPNS. lat.”Kalau dulu “berburu” Demikian pula deperaturan melalui ngan diklat lainnya seteman-teman di DJBC, perti diklat Post Cleasekarang dengan adarence Audit (PCA, senya fasilitas internet unhingga kedepannya tuk widyaiswara, maka tidak akan ditemui suakami mencarinya melalui PELAKSANAAN DIKLAT. selain penyampaian materi dalam kelas, juga dilakukan di tu unit kerja yang tidak internet dengan masuk memiliki PPNS atau luar kelas.Seperti pada gambar, saat peserta diklat mendapatkan materi pengajaran dari pihak PT Merck untuk materi yang berhubungan dengan kimia pada website Bea kekurangan tenaga auCukai,” ujar Soenarno. ditor. Sedangkan untuk Hal serupa juga dilanjutkan oleh rekan-rekannya sesama mengikuti diklat yang diselenggarakan oleh mitra DJBC, widyaiswara, sehingga ketika mendapat suatu peraturan hal itu menurut Azhar disesuaikan dengan kebutuhan orgaterbaru, maka diskusi diantara mereka sering terjadi sebagai nisasi dan juga urgensi serta ketersediaan anggaran. salah satu materi yang akan disampaikan pada para siswa. Untuk evaluasi pasca diklat yang diikuti oleh pegawai DJBC “Kalau ada peraturan terbaru agar Bea Cukai bisa cepat di Pusdiklat, menurut Sekretaris DJBC Kamil Sjoeib, selama meng-upload-nya ke website agar kita bisa cepat akses dan ini dilakukan oleh Pusdiklat Bea Cukai sebagai penyelenggara disampaikan kepada para siswa, atau kita dapat peraturandengan membuat perbandingan antara materi diklat dan nya lebih cepat lagi,”paparnya lagi. pemanfaatan lulusan diklat pada unit kerja pegawai DJBC, Berbagai fasilitas mengajar menurutnya sudah cukup mekarena hal tersebut memang domain Tugas Pokok dan Fungsi madai dimana peralatan keperluan mengajar modern sudah (Tupoksi) dari Pusdiklat Bea dan Cukai. Sedangkan evaluasi dimiliki dan memudahkannya melakukan transfer ilmu. Ia pun serupa yang dilakukan agar unit vertical DJBC selalu menyadari bahwa tidak semua widyaiswara memiliki memberikan informasi yang objektif agar hasil dari evaluasi kompetensi untuk menyampaikan suatu materi tertentu, untuk yang dilakukan tidak bias.Evaluasi pada awal pelaksanaan itu ia menyambut positif kebijakan Pusdiklat Bea dan Cukai diklat juga dilakukan oleh DJBC, dengan tujuan agar selalu up untuk mengikutsertakan widyaiswara sebagai observer pada to date dan sesuai dengan dinamika yang berkembang. diklat-diklat tertentu yang dilakukan oleh pihak luar untuk meSetiap diklat yang diikuti oleh para pegawai DJBC, nambah kompetensinya. memang diharapkan dapat segera ditempatkan pada posisi Lebih lanjut Soenarno menambahkan, saat ini antara DJBC sesuai dengan diklat yang telah diikutinya. Namun dalam dengan Pusdiklat Bea dan Cukai telah terjalin sinergi yang kuat kenyataannya masih ada pegawai yang belum ditempatkan melalui berbagai kesamaan visi dan misi yang dimilikinya, sehingpada posisi sesuai dengan diklat yang diikutinya. Hal tersega yang berkaitan dengan pengembangan SDM yang berhububut diakuinya, karena masih adanya keterbatasan jumlah ngan dengan diklat-diklat selalu dikomunikasikan bersama dan komposisi pegawai pada unit kerja vertikal di daerah. sehingga tidak terjadi salah sasaran dalam pelaksanaannya. “ Untuk menjawabnya kami menggunakan cara Dirjen Bea dan Cukai Anwar Suprijadi juga menyadari berpikir”terbalik,” jadi dalam menempatkan pegawai pada bahwa keberadaan widyaiswara pada pusdiklat Bea dan Cubidang pengawasan misalnya, idealnya diambil dari orangkai secara jumlah maupun kualitasnya sangat penting. orang yang telah mengikuti diklat PPNS dan intelijen, tapi Selanjutnya ia mengatakan mengenai adanya suatu wacana, pegawai yang telah mengikuti diklat intelejen dan PPNS dimana tugas menjadi widyaiswara menjadi bagian dalam tidak harus ditempatkan di bidang pengawasan, jadi begitu penentuan jenjang karir seorang pegawai. Wacana tersekami mengajak untuk berpikir terbalik,”terang Kamil. zap

EDISI 402 MEI 2008

WARTA BEA CUKAI

13

LAPORAN UTAMA

GUNA MENCAPAI TUJUAN KEBERHASILAN DIKLAT
BPPK dikelola dengan mengacu pada ketentuan-ketentuan yang berlaku di lingkungan pemerintahan secara umum dan Departemen Keuangan secara khusus. Dalam kaitannya dengan diklat yang diselenggarakan oleh Pusdiklat, BPPK tidak terlepas dari ketentuan yang ditetapkan oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara (PAN) dan instansi pembina diklat yaitu Lembaga Administrasi Negara (LAN).
BPPK. Sedangkan fungsi yang melekat pada Pudiklat Bea dan Cukai, seperti fungsi perencanaan dan perumusan kebijaksanaan teknis pendidikan dan pelatihan di bidang kepabeanan dan cukai, penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan di bidang kepabeanan dan cukai, dan pelaksanaan evaluasi serta penyusunan laporan pelaksanaan pendidikan dan pelatihan di bidang kepabeanan dan cukai. Pusdiklat yang berada tidak jauh dari Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (KP-DJBC) tepatnya di Jalan Bojana Tirta Jakarta Timur, memiliki fasilitas yang cukup memadai untuk melaksanakan diklat-diklat yang dibutuhkan oleh user. Fasilitas tersebut dapat dilihat dengan adanya tiga asrama, dua asrama masing-masing dapat menampung 120 peserta diklat dan satu asrama menampung 150 peserta diklat. Selain itu asrama putri dan mess untuk pelatih juga tersedia dengan daya tampung masing-masing 60 dan 12 orang. Untuk kegiatan belajar mengajar, fasilitas yang dimiliki oleh Pusdiklat Bea da Cukai cukup memadai, dimana untuk ruang kelas saat ini Pusdiklat Bea dan Cukai memiliki 22 ruang kelas, dimana setiap kelas dapat menampung 30 orang peserta diklat. Selain itu juga perlengkapan mengajar seperti laptop, in focus dan lain sebagainya kini sudah dimiliki sehingga proses kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung dengan baik dan diharapkan dapat berjalan dengan efektif. Fasilitas lain yang mendukung terselenggaranya diklat adalah dengan adanya laboratorium untuk diklat yang memerlukan peralatan praktek seperti laboraturium bahasa, mini office network dan laboratorium komputer. Begitu pula dengan perpustakaan yang dapat digunakan oleh peserta diklat maupun juga para pengajar dan juga widyaiswara untuk mendapatkan referensi yang berhubungan dengan materi diklat yang diadakan oleh Pusdiklat Bea dan Cukai.
WBC/ZAP

Koordinasi yang Solid,

P

usat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Bea dan Cukai adalah lembaga setingkat eselon II yang merancang dan menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan (diklat) keuangan negara khususnya dalam bidang kepabeanan dan cukai yang berada di bawah Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK), Departemen Keuangan Republik Indonesia. Dalam menyelenggarakan diklat dibidang kepabeanan dan cukai, Pusdiklat Bea dan Cukai dipimpin Kepala Pusdiklat Bea dan Cukai yang didukung oleh tiga kepala bidang yaitu Kepala Bidang Rencana dan Program, Kepala Bidang Penyelenggaraan dan Kepala Bidang Evaluasi dan Pelaporan. Selain misi untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap bagi pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC), Pusdiklat Bea dan Cukai mempunyai tugas pokok untuk membina dan menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan keuangan negara di bidang kepabeanan dan cukai berdasarkan kebijaksanaan teknis yang ditetapkan oleh Kepala

BPPK. sebagai induk organisasi Pusdiklat Bea dan Cukai, Pusdiklat Bea dan Cukai juga harus melakukan koordinasi dengan Dirketorat Jenderal Bea dan Cukai sebagai user

KOORDINASI. Selalu dilakukan guna mencapai tujuan akhir diklat

14

WARTA BEA CUKAI

EDISI 402 MEI 2008

STRUKTUR ORGANISASI PUSDIKLAST BEA DAN CUKAI

Fasilitas lain seperti tempat ibadah, ruang makan dan juga dapur umum juga tersedia untuk memenuhi kebutuhan para peserta diklat selama mengikuti diklat dilingkungan Pusdiklat Bea dan Cukai. Dengan adanya fasilitas tersebut diharapkan para peserta diklat dapat menjalankan masa-masa diklat tanpa khawatir tidak terpenuhinya segala keperluannya mulai dari keperluan untuk kepentingan mengikuti diklat maupun juga keperluan penunjang lainnya. Untuk pengelolaan, saat ini Pusdiklat Bea dan Cukai memiliki 79 pegawai termasuk didalamnya pegawai honor dan juga petugas keamanan, dengan komposisi jumlah pegawai 20 orang berasal dari pegawai organik DJBC dan 59 pegawai berasal dari pegawai organik BPPK. Kepala Pusdiklat Bea dan Cukai Endang Tata, menyadari bahwa fasilitas yang dimiliki oleh Pusdiklat Bea dan Cukai masih belum sepenuhnya memadai karena masih adanya keterbatasan terutama keterbatasan dalam bidang anggaran. Untuk saat ini perbaikan masih difokuskan pada perbaikan sarana seperti kelas dan juga asrama dengan anggaran yang ada dengan menggunakan skala prioritas. Dalam menyelenggarakan diklat selama ini menurut Endang Tata, ada beberapa hal yang bisa dijadikan indikator untuk melihat keberhasilan institusi yang dipimpinnya dalam menyelenggarakan diklat seperti, terlaksananya semua program diklat dengan baik dengan pencapaian 100 persen dan terpenuhinya kompetensi peserta diklat dari hasil diklat. Indikator lainnya adalah user dapat menggunakan lulusan diklat sesuai dengan hard competency yang dibutuhkan dan tidak adanya komplain dari user dan market forces yang berkaitan dengan hard competency

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
Keberadaan Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK) Departemen Keuangan diatur Sesuai dengan PMK N0. 131/PMK.01/2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Keuangan yang kemudian diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor : 54/PMK 01/2007, dimana BPPK mempunyai tugas melaksanakan pendidikan dan pelatihan di bidang keuangan Negara sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan dan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam melaksanakan tugas ini, BPPK menyelenggarakan beberapa fungsi seperti perumusan kebijakan Menteri Keuangan di bidang pendidikan dan pelatihan keuangan negara dalam rangka pembinaan sumber daya manusia Departemen Keuangan, pelaksanaan kebijakan Menteri Keuangan di bidang

pendidikan dan pelatihan keuangan negara dalam rangka pembinaan sumber daya manusia Departemen Keuangan, dan penelaahan, evaluasi dan penyusunan laporan pelaksanaan pendidikan dan pelatihan keuangan negara dalam rangka pembinaan sumber daya manusia Departemen Keuangan Fungsi lainnya yang melekat pada BPPK adalah pengkajian dan pengembangan pendidikan dan pelatihan di bidang keuangan negara, melakukan koordinasi pelaksanaan kerjasama pendidikan dan pelatihan dengan lembaga pendidikan dalam dan luar negeri, lembaga pemerintah, dan lembaga internasional, serta menjalankan fungsi untuk pelaksanaan administratif BPPK. Untuk menjalankan tugas dan fungsinya tadi, dalam struktur organisasinya BPPK membawahi Sekretariat Badan, yang mempunyai tugas memberikan pelayanan teknis dan administratif serta pembinaan kepada semua unsur di lingkungan Badan, lima Pusdiklat yang diserahi tugas untuk membina dan menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan pegawai yang berhubungan dengan penjenjangan pangkat dan jabatan, serta melaksanakan urusan administrasi pendidikan pasca sarjana bagi pegawai Departemen Keuangan berdasarkan kebijakan teknis yang ditetapkan oleh Kepala Badan. Dalam struktur organisasi, BPPK membawahi satu sekolah tinggi yang mempunyai tugas menyelenggarakan pendidikan program diploma keuangan untuk menghasilkan tenaga ahli di bidang keuangan dengan spesialisasi tertentu yang mempunyai pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan serta keahlian professional sesuai dengan spesialisasinya dalam rangka memenuhi kebutuhan pegawai dan mencetak kader-kader pengelola keuangan negara pada unit-unit di lingkungan Departemen Keuangan. Selain sekolah tinggi, BPPK juga membawahi Balai Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BDK) yang merupakan unit pelaksana teknis yang melaksanakan penyelenggaraan pendidikan, pelatihan dan penataran keuangan negara di daerah seperti BDK I Medan, BDK II Palembang, BDK III Yogyakarta, BDK IV Malang, BDK V Balikpapan, BDK VI Makassar, BDK VII Cimahi, BDK VIII Manado. Untuk mengarahkan kegiatan dalam menjalankan tugas dan fungsi tersebut, BPPK telah merumuskan visi dan misi sejalan dengan Pedoman Strategi dan Kebijakan Departemen Keuangan (Roadmap Departemen Keuangan 2005-2009). Untuk menjalankan visi BPPK “Menjadi pusat unggulan bertaraf internasional dalam menghasilkan manusia profesional di bidang keuangan negara”, BPPK mewujudkan visi dalam ke-

EDISI 402 MEI 2008

WARTA BEA CUKAI

15

LAPORAN UTAMA
jabatan pegawai, perencanaan kepegawaian, pola pembinaan dan pengembangan pegawai dan pemanfaatan lulusan diklat. Selain peningkataan koordinasi dan tukar menukar informasi, hal-hal lain seperti perencanaan,pelaksanaan dan evaluasi diklat menjadi bagian dari kesepakatan tadi. Mengenai hal tersebut maka bentuk tindak lanjutnya berupa pembentukan dan penentuan pola dan jenis diklat, penyusunan kurikulum sesuai dengan standar kompetensi jabatan, penyusunan modul diklat, evaluasi pasca diklat,pembahasan current issue sebagai bahan ajar pada peserta diklat dan pembahasan kerjasama diklat dengan pihak ketiga yang secara kelembagaan terkait dengan DJBC. Begitu pula dengan fasilitasi dan pemanfaatan sumber daya yang dimiliki oleh kedua belah pihak dalam rangka mendukung tercapainya maksud dan tujuan kesepakatan bersama, juga menjadi bagian dari kesepakatan bersama antara DJBC dengan Pusdiklat Bea dan Cukai. sehingga koordinasi dapat berjalan dengan solid untuk mencapai tujuan bersama (lihat rubrik wawancara) Mengacu pada ketentuan yang berlaku Sebagai unit eselon I, BPPK dikelola dengan mengacu pada ketentuan-ketentuan yang berlaku di lingkungan pemerintahan secara umum dan Departemen Keuangan secara khusus. Dalam kaitannya dengan diklat yang diselenggrakan oleh Pusdiklat, BPPK tidak terlepas dari ketentuan yang ditetapkan oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara (PAN) dan instansi pembina diklat yaitu Lembaga Administrasi Negara (LAN). Sementara itu mengenai hal-hal yang berkaitan dengan program diploma yang diselenggarakan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN), BPPK juga harus berpedoman pada ketentuan-ketentuan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), khususnya Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Ketentuan mengenai pendidikan tinggi seharusnya mengacu pada Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) dimana perguruan tinggi kedinasan mempunyai ketentuan yang seragam. Namun demikian, sampai saat ini masing-masing perguruan tinggi kedinasan mempunyai ketentuan-ketentuan yang berbeda yang memang spesifik sesuai dengan induk organisasinya seperti kementerian atau lembaga masingmasing, termasuk yang diselenggarakan oleh BPPK dalam hal ini STAN. Ketentuan penyelenggaraan pendidikan tinggi kedinasan di STAN secara manajemen mengikuti ketentuan yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan dan Kepala BPPK. Organisasi STAN selaku penyelenggara pendidikan tinggi kedinasan di bawah BPPK dengan pola Sekolah Tinggi, namun struktur organisasinya masih belum sepenuhnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku, dengan status pengajarnya sebagai widyaiswara yang berada di bawah pembinaan LAN. Ada beberapa hal yang menunjukkan kekhasan dari STAN . Hal ini dapat dilihat dengan program yang sangat spesifik dan belum dilaksanakan oleh Perguruan Tinggi Negeri atau Perguruan Tinggi Swasta, dimana program diploma yang diselenggarakan oleh STAN adalah kebendaharaan negara, administtrasi perpajakan, penilai Pajak Bumi dan Bangunan,kepabeanan dan cukai, pengurusan piutang dan lelang negara, akuntansi pemerintahan dan analis efek. Begitu pula dengan sistem rekrutmen mahasiswa yang sangat selektif dan bebas KKN. Dengan persyaratan nilai minimal 7.00, jumlah pendaftar pada tahun 2007 mencapai 125.770 pendaftar. Setelah melalui seleksi , maka yang diterima hanya 2014 orang atau 1,6 persen. Selain itu STAN mendidik mahasiswanya agar menjadi lulusan yang siap pakai dan profesional dibidangnya. Untuk mencapai tujuan tersebut, mahasiswa dipersyaratkan untuk mencapai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal 2,75. untuk menjadi SDM yang siap pakai, dalam mengikuti pendidikan mahasiswa dikondisikan menjadi pegawai negeri sipil yang bermoral dan berdedikasi tinggi, sehingga sejak awal para mahasiswa sudah mengetahui atmosfir dunia kerja yang akan mereka terjuni nantinya. zap
DOK. PUSDIKLAT BC

KERJA SAMA. Untuk diklat yang sifatnya praktek, Pusdiklat Bea dan Cukai bekerjasama dengan berbagai pihak. Salah satunya adalah dengan pihak Hinabi untuk materi mengenai alat-alat berat

tetapan misi yang mencakup empat bidang kegiatan pokok, yaitu ; l Melalui diklat dan pengembangan untuk meningkatkan kualitas manusia di bidang keuangan negara l Melalui pendidikan, pelatihan, dan pengembangan melalui pengkajian dan mengembangkan tradisi pengkajian di bidang pendidikan dan pelatihan yang dapat diandalkan. l Senantiasa memperbaharui diri melalui proses organisasi belajar (learning organization) sesuai dengan dinamika lingkungan internal dan lingkungan eksternal, l Dari segi sosial, turut berpartisipasi dalam mengembangkan masyarakat yang sadar keuangan Negara. Untuk menjalankan visi dan misi tersebut BPPK didukung dengan 931 pegawai yang tersebar di Sekretariat Badan, Pusdiklat, STAN dan Balai Diklat Keuangan, dimana dari jumlah tersebut, 788 orang merupakan pegawai/ pejabat struktural dan 143 orang pejabat fungsional.

DJBC, DAN BPPK
Selain berkoordinasi dengan BPPK sebagai induk organisasi, Pusdiklat Bea dan Cukai juga harus melakukan koordinasi dengan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sebagai user. Hal ini tampaknya berbeda dengan Pusdiklat Bea dan Cukai dari negara-negara lain, dimana Pusdiklat Bea dan Cukai berada langsung dibawah insitusi kepabeanan suatu negara. Mengenai koordinasi diantara dua institusi tersebut diatur dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor 137/KMK.01/2001 tanggal 21 Maret 2001 tentang Pola Diklat Departemen Keuangan. Dalam KMK tersebut disebutkan BPPK sebagai pengelola diklat, menyusun pola diklat dan kurikulum diklat, menyediakan rencana dan program diklat, menyelenggarakan diklat, mengkoordinasikan, mengevaluasi penyelenggaraan hasil dan manfaat diklat. Begitu pula dengan peran DJBC yang juga diatur dalam KMK tersebut, dimana DJBC sebagai pengguna diklat merumuskan standar kompetensi jabatan, menyusun monografi kepegawaian, perencanaan kepegawaian, merumuskan kebijaksanaan kepegawaian, menyusun pola promosi dan mutasi, menyusun pola pembinaan danpengembangan pegawai serta memanfaatkan lulusan diklat. Selain KMK sebagai instrument koordinasi, instrumen peraturan lain juga dikeluarkan untuk mensolidkan koordinasi tadi,melalui kesepakatan bersama Direktur Jenderal Bea dan Cukai dengan Kepala BPPK pada 15 Juni 2007 tentang kedudukan dan hubungan kerja antara DJBC dengan BPPK dalam penyelenggaraan diklat bagi Pegawai Negeri Sipil DJBC yang meliputi peningkatan koordinasi dan sinergi antara DJBC dan BPPK dalam bentuk pertemuan secara rutin antara Sekretaris DJBC dan Kapusdiklat Bea dan Cukai, tukar menukar informasi yang berkaitan dengan standar kompetensi

16

WARTA BEA CUKAI

EDISI 402 MEI 2008

WAWANCARA
Dr. Ir. Anny Ratnawati, MS
Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan Departemen Keuangan

“...Tantangan Terbesar BPPK Adalah Bagaimana Mengatasi Gap...”

EDISI 402 MEI 2008

WARTA BEA CUKAI

17

WAWANCARA
Merubah mindset tentang cara menjalankan pekerjaan di lingkungan birokrasi dan merubah cara pandang masyarakat terhadap institusi yang dipimpinnya, merupakan suatu pekerjaan yang diakuinya tidak mudah, namun menurutnya perubahan itu perlu dilakukan untuk bisa menjalankan program reformasi yang tengah dijalankan oleh Departemen Keuangan. Perubahan tersebut tidak dapat dilakukan tanpa adanya kerjasama dan koordinasi dengan unit kerja lainnya dilingkungan Departemen Keuangan untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Pendidikan dan pelatihan serta peningkatan kualitas SDM tidak hanya menjadi tanggung jawab Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan lembaga yang dipimpinnya, namun menjadi suatu tanggung jawab bersama antar instansi dilingkungan Departemen Keuangan. Bagaimana Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK) menghadapi tantangan dan melakukan berbagai terobosan terutama dalam pengembangan SDM melalui diklat, Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan Departemen Keuangan Dr. Ir. Anny Ratnawati, MS memaparkannya kepada redaktur WBC Zulfril Adha Putra
Ketika menjabat sebagai Kepala BPPK, apa yang menjadi prioritas Anda dalam mengelola BPPK ? Sejalan dengan program reformasi birokrasi Departemen Keuangan (Depkeu), agenda prioritas kami adalah menyukseskan agenda reformasi di lingkup BPPK. Agenda ini meliputi penataan organisasi, penyempurnaan proses bisnis, pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM), dan pengembangan sistem pengukuran kinerja. Reformasi birokrasi pada tingkat BPPK ini ditujukan untuk memantapkan organisasi dan memperbaiki governance-nya agar sesuai dengan tugas, fungsi dan misinya. BPPK dapat memenuhi kebutuhan diklat untuk pengembangan SDM semua unit eselon I Depkeu yang mengalami perubahan sangat cepat. Untuk menjalankan reformasi itu kan ada sistem, sistemnya kita perbaiki, kemudian ada standar kerja, ada standar penilaian dan standar operasi. Itu kita perbaiki. Kalau ini sudah bagus, kemudian SDM tidak dilakukan perbaikan, pasti tidak akan jalan, karena yang menjalankan itu semua adalah manusianya. Dalam konteks reformasi birokrasi ini, SDM menjadi yang utama untuk diperbaiki. Tidak hanya skill dan knowledge-nya, yang paling penting adalah attitude, mind set juga harus dirubah. Tapi itu tidak mudah, karena merubah mind set yang sudah terbiasa mengerjakan sesuatu dengan pola lama dengan hal yang itu-itu saja, apa sudah sesuai dengan SOP apa enggak, itu tidak mudah. Lalu langkah apa yang akan diambil oleh BPPK berkaitan dengan masalah tersebut dimana SDM terbiasa dengan pola kerja business as usual yang sudah menjadi mind set tersebut? Tentunya ini bukan hanya menjadi tanggung jawab BPPK saja, tapi semua unit kerja. Kami (BPPK) mendesain training-nya dan mendesain pendidikannya (agar business as usual bisa berubah.red). Jadi ketika kembali ke institusinya, dipastikan juga unit kerja atau institusinya merubah sistem business as usual tersebut. Ini yang paling penting dari tugas BPPK selain yang ada di dalam Keputusan Menteri Keuangan tentang BPPK. Kalau begitu apakah sudah ada perubahan sistem? Sudah, sistem sudah kita perbaiki dengan adanya tim reformasi birokrasi pusat. SOP sudah berubah, analisis beban kerja 18
WARTA BEA CUKAI EDISI 402 MEI 2008

sudah ada juga, kemudian uraian jabatan juga sudah ada dan telah pula dilakukan assessment. Persoalan lainnya adalah apakah analisis beban kerja, SOP, assessment, uraian jabatan dan lain sebagainya sudah match apa belum? Saat ini kita sudah jalankan, dan assessment yang kita jalankan kemarin lebih kepada perilaku, sehingga dalam assessment perlu juga kita lakukan pada skill dan attitude, karena level-nya sama, tapi dalam prakteknya berbeda. Nah saat ini kita mendesain training yang pas dengan kebutuhan dan kompetensi. Yang harus ditekankan dalam training, dulu kita ignorance dengan soft skills, kalau training pajak materinya kebanyakan tentang pajak, Bea Cukai, materi training-nya kebanyakan bea cukai, sering kali kita lupa bagaimana sih mendidik disiplin, etika, bagaimana perilaku kita, ini yang sering kita lupa. Nah sekarang kita coba seimbangkan kembali . Contohnya bagaiman mendidik disiplin yang Anda maksud? Kalau di Bea Cukai ada kesamaptaan, ditempat lain akan kita coba, saya rasa training kesamaptaan seperti di Bea Cukai itu sudah harus dilaksanakan agar lebih disiplin. Selain itu yang sering kita lupakan dalam birokrasi adalah bagaimana kita berkomunikasi dengan publik. Sehingga orang tidak pernah tahu kemajuan yang diperoleh suatu instansi, ini yang harus diperhatikan. Kalau di pajak (Direktorat Jenderal Pajak.red) misalnya, harus ada Account Representative (AR) kemudian di Bea Cukai ada client coordinator jadi dia diajari bagaimana menangani keluhan, merespon keluhan, sampai cara tersenyum pada masyarakat, ini harus jadi bagian dari kita yang melayani. Kembali kepada prioritas yang Anda sampaikan tadi, apa saja yang menjadi tantangan terbesar dalam melakukan pengelolaan BPPK ? Berdasarkan pemahaman saya, baik sebelum saya menjabat Kepala BPPK dan setelah sekitar sebulan ini menjabat, tantangan terbesar BPPK adalah bagaimana mengatasi gap antara kapasitas BPPK yang terbatas dan kebutuhan unit-unit eselon I Depkeu (unit pengguna) dalam pengembangan SDM yang sangat besar dan sekaligus beragam. Gap ini menyebabkan BPPK terkesan lamban dalam merespons kebutuhan unit-unit pengguna yang terus berkembang cepat seiring dengan perkembangan organisasi. Persepsi kurang baik ini perlu segera dibuktikan sebagai tidak benar. Apakah keberadaan dan peran BPPK saat ini sudah mencerminkan suatu BPPK yang moderen ? Jika pengertian BPPK yang moderen adalah BPPK yang berbasis Teknologi Informasi (TI), maka BPPK belum dapat disebut moderen karena pada saat ini sedang diarahkan menuju ke sana. Manajemen diklat pada dasarnya masih belum berbasiskan TI dan sebagian besar dijalankan secara manual atau konvensional. Sejalan dengan agenda reformasi birokrasi Depkeu, secara bertahap BPPK melakukan penataan organisasi dan proses bisnisnya, termasuk di dalamnya adalah pemanfaatan teknologi informasi dalam rangka otomasi kantor dan manajemen pelayanan diklat. Lalu seberapa penting peran BPPK dalam meningkatkan kualitas SDM di Departemen Keuangan ? Secara kelembagaan, bidang tugas dan fungsi BPPK adalah melaksanakan sebagian dari fungsi pengembangan SDM Depkeu, yaitu pendidikan dan pelatihan, baik dalam rangka menutup gap (ketimpangan) kompetensi SDM saat ini maupun dalam rangka menyiapkan SDM Depkeu untuk menghadapi tantangan tugas di masa depan. Sebagaimana diakui, kinerja organisasi sangat bergantung kepada kinerja SDM-nya. BPPK mengemban sebagian tugas pengembangan SDM, yaitu meningkatkan kualitas SDM Depkeu melalui diklat. Dalam rangka meningkatkan kualitas SDM di Depkeu, BPPK secara terus menerus berusaha untuk meningkatkan kualitas lulusan, baik dari program diploma sebagai input awal SDM maupun lulusan pelatihan dari Pusdiklat-Pusdiklat dan Balai Diklat di daerah.

Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) sebagai salah satu lembaga penyedia SDM di Depkeu berupaya meingkatkan kualitas lulusan dan pelayanan kepada unit pengguna (stakeholders). Dalam rangka meningkatkan kualitas lulusan yang nantinya akan ditempatkan di lingkungan Depkeu (termasuk lulusan Prodip Bea dan Cukai), STAN selalu menyempurnakan proses pembelajaran, baik dari fasilitas pembelajaran termasuk alat instruksional, tenaga pengajar, bahan ajar (referens) maupun kurikulum pendidikan disempurnakan sesuai dengan kebutuhan unit pengguna sehingga lulusannya berkualitas dan siap pakai untuk mengisi formasi pegawai di Departemen Keuangan. Disamping itu, untuk pengembangan pegawai dan peningkatan kualitas pegawai di lingkungan Depkeu, STAN juga menyediakan pendidikan lanjutan berupa D IV Akuntansi dan D III Khusus Perpajakan dan Akuntansi. Untuk lebih meningkatkan kualitas lulusan dan pelayanan saat ini STAN akan menerapkan pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum. Apakah ada persamaan atau perbedaan antara BPPK dan sekolah kedinasan lain baik dari segi manajemennya maupun dalam struktur organisasinya ? BPPK merupakan diklat dalam Departemen Keuangan yang struktur dan pengelolaannya ditetapkan berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. Struktur dan pengelolaan BPPK pada dasarnya sama dengan lembaga-lembaga sejenis di lingkungan departemen lain. Hanya saja, BPPK memiliki STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara.red) yang merupakan lembaga pendidikan tinggi kedinasan yang dari segi organisasi dan pengelolaannya, selain tunduk pada pengaturan Departemen Keuangan, juga tunduk pada pengaturan Depdiknas. Khusus untuk STAN, struktur organisasinya pada saat ini masih belum sesuai dengan model organisasi yang berlaku untuk suatu sekolah tinggi. Kalau untuk mengukur keberhasilan BPPK menjalankan tugas dan fungsinya, apakah ada indikatornya? Kita bisa lihat dari complain pengguna kita, ada atau tidak. Kita harus bisa ukur kepuasan pengguna kita, apakah puas, tidak puas atau bagaimana. Kemudian disampaikan kepada kita, itu jadi indikator kita . Kemudian yang kita ukur lagi adalah produktifitas, seperti Key Performance Indicator untuk individu yang sekarang sedang dibangun. Kalau di Depkeu baru ada KPI Depkeu, namanya Depkeu wide. Kalau kita bicara widyaiswara contohnya, kita lihat bobot minimum mengajar widyaiswara, kemudian kita konversi ke jumlah jam latihan. Selain itu kita lihat apakah widyaiswara menulis (karya ilmiah.red) apa tidak, kalau menulis masuk jurnal apa tidak, sampai pada proses dia men-delivered ilmunya ke siswa, bagaimana komentar yang di training, sampai pada kemampuan dosen. Lalu bagaimana meng-upgrade materi-materi diklat oleh pusdiklat dibawah BPPK? Kita lihat dari hasil evaluasi yang ada, kemudian kita bahas bersama dengan user dalam suatu pertemuan rutin. Kalau ada perbaikan modul, kita bisa minta user untuk memperbaiki bersama BPPK, quality control juga kita perhatikan dengan acuan-acuan dari BPPK. Mengenai keberadaan BPPK dan juga Pusdiklat yang berada di bawahnya, apakah dalam pengelolaannya menggunakan ketentuan yang dikeluarkan BPPK atau Pusdiklat tersebut diberi kewenangan untuk menyusun sistem pengelolaan Pusdiklat dan juga sistem pengajarannya ? Tugas dan fungsi BPPK dilaksanakan oleh Pusdiklat dan STAN. Untuk ini, Kepala BPPK menetapkan kebijakan umum yang menjadi landasan atau acuan Pusdiklat dan STAN dalam menjalankan tugas masing-masing. Pusdiklat, STAN menetapkan sistem pengelolaan maupun penyelenggaraan diklat sesuai dengan kewenangannya masing-masing dengan mengacu kepada kebijakan umum Kepala BPPK Apakah ada perbedaan antara manajemen pendidikan yang digunakan oleh BPPK maupun juga manajemen yang dikeluarkan oleh Depdiknas ?

Untuk diklat yang dilaksanakan Pusdiklat, pengelolaannya mengacu kepada ketentuan instansi pembinanya, yaitu, LAN. Sementara itu, untuk program diploma STAN, BPPK harus tetap berpedoman pada ketentuan Depdiknas terkait dengan pendidikan tinggi. Dalam hal ini BPPK memadukan antara ketentuan internal Depkeu, BPPK dan ketentuan Depdiknas. Terkait dengan penyelenggaraan pendidikan tinggi kedinasan oleh STAN, sebenarnya bukan perbedaan, tetapi mensikronkan antara ketentuan manajemen pendidikan oleh Depdiknas dengan ketentuan pada lembaga pemerintah penyelenggara pendidikan baik dari LAN (secara umum) maupun dari Departemen Keuangan (secara khusus). Dari segi kurikulum kami mengikuti kurikulum wajib yang telah ditetapkan oleh Depdiknas sedangkan kurikulum inti (mata kuliah keahlian berkarya) mengikuti kebutuhan unit pengguna. Dari segi program pendidikan kami menyelenggarakan program yang telah disetujui atau ditetapkan oleh Depdiknas. Adapun manajemen pendidikannya mengikuti ketentuan baik dari Departemen Keuangan dan dari Depdiknas. Apakah BPPK juga melakukan koordinasi dengan Depdiknas, mengingat kegiatan yang dilakukan oleh BPPK terkait dengan masalah pendidikan ? Khusus dalam kaitannya dengan pendidikan tinggi, yakni program diploma STAN, BPPK berkoordinasi dengan Depdiknas terutama terkait dengan ketentuan kurikulum, tenaga pengajar dan aspek penyelenggaraan pendidikan yang lainnya. Karena dalam hal ini pendidikan tinggi merupakan ranah kewenangan atau pembinaan Depdiknas. Bagaimana koordinasi yang dilakukan antara DJBC, Pusdiklat dan Juga BPPK dalam melakukan koordinasi yang berkaitan dengan masalah diklat? Intinya koordinasi dan komunikasi. Itu harus dibangun disegala level, mulai dari level paling atas hingga paling bawah. Misalnya saya sebagai Kepala BPPK berbicara dengan Dirjen, kemudian kami masing-masing membawa struktur yang terkait dan memastikan bahwa pada level-level tersebut terjadi koordinasi. Dan koordinasi perlu karena kita harus mengetahui apa kebutuhan user dan jangan sampai juga ketika BPPK membuat sesuatu yang kita pandang perlu, ternyata tidak perlu oleh user. Jadi disini koordinasi jadi penting tidak hanya pada tingkat jabatan tertentu tapi juga disemua level. Lalu menurut Anda, bagaimana kualitas SDM yang dimiliki oleh BPPK, maupun SDM yang dimiliki oleh Pusdiklat yang berada di bawah BPPK saat ini, apakah sudah mencukupi atau perlu dilakukan perubahan ? Bersamaan dengan penataan organisasi, akan ada pengukuran beban kerja yang hasilnya akan digunakan untuk menentukan kebutuhan SDM. Pada saat ini, yang sangat dirasakan oleh BPPK adalah kekurangan widyaiswara, baik dari segi kuantitas maupun dari segi sebaran kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraaan diklat. Khusus untuk widyaiswara, BPPK sedang melakukan rekrutmen. Secara umum, SDM BPPK ditingkatkan terus kualitasnya dengan diklat internal BPPK, seperti diklat pada Pusdiklat dan program diploma di STAN dan diklat eksternal berupa pengiriman tugas belajar jangka pendek (mengikuti kursus-kursus.red) ataupun tugas belajar jangka panjang (program pasca sarjana S2 dan S3) di dalam dan di luar negeri. Bagaimana BPPK meningkatkan mutu widyaiswara BPPK ? BPPK menempuh beberapa cara untuk meningkatkan kualitas widyaiswara, yaitu Diklat khusus untuk widyaiswara yang diselenggarakan sendiri oleh BPPK, dalam hal ini Pusdiklat Keuangan Umum, dan diklat di luar BPPK yaitu dengan pengiriman widyaiswara untuk mengikuti diklat pada institusi di luar BPPK. Kemudian bisa juga melalui forum diskusi widyaiswara yang diselenggarakan secara bulanan dengan membahas isu-isu mutakhir yang relevan dengan materi diklat dan proses pembelajaran. Atau juga melalui seminar khusus dengan menghadirkan narasumber
EDISI 402 MEI 2008 WARTA BEA CUKAI

19

WAWANCARA
atau pakar baik dari lingkungan Depkeu maupun dari luar Depkeu, guna memberikan pencerahan dan wawasan. Cara lain seperti,penelitian dan pengembangan di bidang keuangan negara, dan penerbitan karya-karya ilmiah melalui jurnal atau bukubuku teks, sampai pada penugasan-penugasan khusus dalam pengembangan diklat, baik yang terkait dengan materi atau bahan ajar maupun yang terkait dengan manajemen diklat secara umum. Bagaimana langkah untuk melakukan rekrutmen widyaiswara? Keberadaan widyaiswara sangat diperlukan. Untuk memenuhi jumlah widyaiswara kita lakukan rekrutmen melalui pengumuman kepada unit teknis. Tentunya ada syarat seperti usia, pendidikan, wawancara, seleksi dan dibuat lebih terbuka dan bisa mendapatkan widyaiswara terbaik. Dan jangan sampai image bahwa posisi widyaiswara itu sebagai “tempat parkir” karena widyaiswara itu bagian terpenting bagi pengembangan SDM. Kalau masih kurang keberadaan widyaiswara, kita bisa mendatangkan pengajar dari pejabat structural. Bagaimana peminatnya? Saya belum bisa sampaikan secara keseluruhan, tapi kalau berdasarkan pengamatan saya peminatnya cukup banyak dan cukup banyak memenuhi kualifikasi baik dari segi pendidikan danlain sebagainya. Perlu diingat,menjadi widyaiswara itu merupakan suatu kebanggaan, karena sebagai widyaiswara turut membangun proses pengembangan SDM khususnya di Depkeu. Dan BPPK sendiri merubah image melalui reformasi,dimana BPPK tidak boleh dijadikan sebagai unit “kelas dua”. Kita rubah bahwa pendidikan, pelatihan,penelitian itu sesuatu keharusan untuk membangun SDM yang lebih baik. Dan yang berminat menjadi widyaiswara itu adalah peminat yang ingin mengembangkan institusi dan SDM dan bukan karena faktor yang lain. Apakah nantinya profesi widyaiswara tersebut bisa dijadikan sebagai salah satu bagian pengembangan karir pegawai? Sekarang kita tengah membicarakan hal ini dengan DJBC dan Ditjen Pajak, bahwa bagi pegawai yang telah lulus S2 baik dari dalam negeri maupun luar negeri sebelum masuk bagian struktur organisasi maka pegawai itu akan ada di kita (BPPK.red) selama satu atau dua tahun dan kembali ke unitnya. Nanti juga ada review dari BPPK bagaimana pegawai ini dalam menjalankan tugasnya di BPPK misalnya sehingga bisa pertimbangan buat unit kerjanya. Semoga ini bisa terlaksana. Tapi kan tidak semua pegawai bisa mengajar, walaupun dia punya kompetensi terhadap suatu bidang? Kita sadari itu, untuk itu kita akan berikan mereka training pendek atau training of trainers (TOT) mengenai proses mengajar, berinteraksi dengan peserta didik dan lain sebagainya. Dan kita tidak mungkin juga menyuruh untuk langsung mengajar tanpa ada pembekalan. Apa harapan ibu kepada Pusdiklat dibawah BPPK terutama kepada Pusdiklat Bea dan Cukai ? Harapan saya kepada Pusdiklat Bea dan Cukai adalah agar Pusdiklat Bea dan Cukai berperan dalam melaksanakan reformasi birokrasi Departemen Keuangan khususnya peningkatan SDM DJBC melalui pendidikan dan pelatihan. Yang kedua,agar Pusdiklat Bea dan Cukai menghasilkan lulusan sesuai dengan kebutuhan user (DJBC). Untuk jangka panjang saya mengharapkan agar lulusan BPPK (Pusdiklat-pusdiklat termasuk Pusdiklat Bea dan Cukai) sesuai dengan standar yang bertaraf internasional. Selain itu juga harapan saya agar pusdiklat tidak hanya berperan dalam hal diklat tetapi saya harapkan dapat memberikan kontribusi yang dapat mendukung pembangunan dan kemajuan user (DJBC). Lalu harapan saya kepada rekan-rekan dilingkungan Depkeu, proses belajar itu tidak semata-mata dilakukan dalam kelas, proses belajar mandiri tetap dilakukan. Dan harus disadari pula bahwa proses belajar itu proses yang tidak pernah berhenti. Dan bukan hanya tanggung jawab BPPK saja yang menangani masalah pendidikan, tapi juga unit kerja juga mempunyai tanggung jawab yang sama. 20
WARTA BEA CUKAI EDISI 402 MEI 2008

INFO PERATURAN

INFO PEGAWAI

PEGAWAI PENSIUN T.M.T 01 MEI 2008
NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 N A M A Sangidi Asmadi Ju s l i Kamto Supr apto J. B Bujung Firmansjah Rusli Samin Sumantri Suprija Abdur Rachman Setyo Budhi Djatmiko Margono Binto Hidajat Muqoddam S.H. Heru Yudanto Wasistyadi Anes Panauhe Barita Laut Simandjuntak Ediwan Makmur Tagor Mangaradja Mar yadi, SE A. Hanan, S.Sos Hasmadi Tar miji Asan Amrial NIP 060059043 060058892 060057720 060050924 060058213 060051834 060040623 060053982 060048527 060048915 060041373 060035315 120104530 060027508 060035380 060035297 060061665 060056527 060063495 060045436 060035355 060049181 060050908 060059746 060057704 GOL III/a II/d III/a III/b II/b IV/a III/b II/d III/a III/b IV/a IV/a IV/a II/d IV/c IV/a III/c III/b II/d II/b IV/a III/c III/b II/b II/d IV/c II/d II/d III/b IV/b III/a J A B A T A N Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Kepala Seksi Kepabeanan dan Cukai II Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Kepala Seksi Tempat Penimbunan I Pelaksana Pelaksana Pelaksana Kepala Kantor Kepala Seksi DTDD Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Kepala Subbagian Umum Korlak Administrasi Tempat Penimbunan Pabean Pelaksana Pelaksana Pelaksana Kepala Bidang Audit Pelaksana Pelaksana Pelaksana Kepala Bidang Pabean dan Cukai Pelaksana K E D U D U K A N KPPBC Tipe A3 Kudus KPPBC Tipe A1 Belawan KPPBC Tipe A2 Bekasi KPPBC Tipe A2 Purwakarta KPPBC Tipe A3 Merak KPPBC Tipe A2 Tangerang Direktorat Penindakan dan Penyidikan KPPBC Tipe A2 Bekasi KPPBC Tipe A1 Belawan KPPBC Tipe A2 Bandung KPPBC Tipe A2 Pasuruan Kantor Wilayah DJBC Jawa Tengah dan DIY Direktorat Penindakan dan Penyidikan KPPBC Tipe A2 Bekasi KPPBC Tipe A3 Surakarta KPPBC Tipe A3 Surakarta Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Tipe B Batam KPPBC Tipe A2 Bekasi Pangkalan Sarana Operasi Tipe A Tanjung Balai Karimun KPPBC Tipe A3 Tanjung Pinang KPPBC Tipe A3 Surakarta KPPBC Tipe A1 Belawan KPPBC Tipe A2 Bekasi KPPBC Tipe A3 Banjarmasin Pangkalan Sarana Operasi Tipe A Tanjung Balai Karimun Kantor Wilayah DJBC Jawa Barat Pangkalan Sarana Operasi Tipe A Tanjung Balai Karimun KPPBC Tipe A2 Bekasi KPPBC Tipe A2 Pasuruan Kantor Wilayah DJBC Riau dan Sumatera Barat Kantor Wilayah DJBC Kepulauan Riau

Pardamean Sidabutar, Drs 060057652 Kamis Mulyadi Sunadji Effendy Fauzan, S.E., M.M Idrus 060045287 060051334 060045836 060035499 060045365

BERITA DUKA CITA
Telah meninggal dunia, Hj. RATIMAH RAHMAT, Ibu Mertua dari Hanafi Usman, Direktur Peraturan dan Penerimaan Kepabeanan dan Cukai, pada hari Senin, 14 April 2008, pukul 05.00 WIB. Jenazah telah dimakamkan pada hari Senin, 14 April 2008 di Tegal, Jawa Tengah. Segenap jajaran Direktorat Jenderal Bea dan Cukai menyatakan duka yang sedalam-dalamnya. Bagi keluarga yang ditinggalkan semoga diberikan ketabahan dan kekuatan oleh Tuhan Yang maha Esa. Amin.
EDISI 402 MEI 2008 WARTA BEA CUKAI

21

CUKAI

Pembukuan dan Audit
INSTRUMEN PENGAWASAN DI BIDANG CUKAI
Upaya yang dilakukan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) khususnya mengenai pengawasan dibidang cukai terus ditingkatkan. Selain mekanisme pengawasan melalui perijinan Nomor Pokok Pengusaha Kena Pajak (NPPBKC), dokumen cukai dan dokumen pelengkap cukai yang diwajibkan, operasi intelijen dan penindakan, kini dalam juklak UU No.39 Tahun 2007 tentang Cukai yang sebentar lagi rampung, perusahaan pemegang NPPBKC maupun pemilik fasilitas dibidang cukai wajib melaksanakan pembukuan dan pencatatan. Termasuk pengawasan melalui audit cukai untuk memastikan kepatuhan pengusaha terhadap ketentuan peraturan di bidang cukai.

Sedangkan perusahaan yang non PKP (pengusaha pabrik skala kecil yang tidak dikukuhkan sebagai PKP) diwajibkan melakukan pencatatan ke dalam buku pencatatan. Yang saat ini, baik untuk pembukuan maupun pencatatan sudah dibuatkan formatnya tinggal menunggu pengesahan. Pembukuan merupakan proses pencatatan yang dilakukan secara berkala teratur untuk mengumpulkan data dan informasi yang meliputi dan mempengaruhi keadaan harta, hutang, modal, pendapatan dan biaya yang secara khusus menggambarkan jumlah harga perolehan dan penyerahan barang atau jasa, yang kemudian diikhtisarkan dalam laporan keuangan. Kewajiban melakukan pencatatan dimaksudkan untuk memberi kemudahan dalam memenuhi ketentuan undang-undang ini dengan tetap menjamin pengamanan hak-hak negara. Sedangkan yang dimaksud dengan dengan pencatatan adalah proses pengumpulan dan penulisan data secara teratur tentang: l Pemasukan, produksi dan pengeluaran BKC dan l Penerimaan, pemakaian dan pengembalian pita cukai atau tanda pelunasan cukai lainnya.

C

Pembukuan maupun pencatatan (yang terdapat dalam pasal 16 dan 16 A UU No. 39 Tahun 2007) dilakukan secara berkala dapat berupa harian, mingguan, bulanan atau tahunan, yang disesuaikan dengan jenis barang kena cukai, misalnya untuk etil alkohol dan minuman mengandung etil alkohol, pengusaha pabrik memberitahukan BKC yang selesai dibuat kepada pejabat bea dan cukai setiap hari. Sedangkan untuk hasil tembakau, pengusaha pabrik memberitahukan BKC yang selesai dibuat kepada pejabat bea dan cukai setiap bulan. “Tentunya penyederhanaan sistem pembukuan dan pencatatan ini tetap mengacu kepada standar akuntansi keuangan dan prinsip pembukuan yang moderen yang harus mempertimbangkan aspek data dan bisa dipertangukai adalah pungutan negara yang dikenakan tergung jawabkan, akuntabel serta bisa diandalkan (relihadap barang-barang tertentu yang mempunyai able), menunjukkan keterbukaan dan transparansi, jujur sifat atau karakteristik yang ditetapkan, antara lain : dan wajar (representative), hal itu dalam rangka konsumsinya perlu dikendalikan, peredarannya pengawasan terhadap produksi BKC, peredaran BKC dan perlu diawasi, pemakaiannya dapat menimbulkan nilai cukai yang seharusnya dibayar,” ujar Nur Rusdi yang dampak negatif bagi masyarakat atau lingkungan hidup dan menurutnya dari temuan aparat bea cukai, modus pemakaiannya perlu pembebanan pungutan negara demi operandi yang dilakukan oleh PR kecil kebanyakan tidak keadilan dan keseimbangan. melaksanakan pembukuan. Karena karakteristik tersebut, maka produksi maupun Karena menurutnya, rasanya tidak mungkin dilakukan konsumsinya perlu diawasi. Salah satu tools untuk mengepengawasan terhadap kurang lebih 4700-an PR secara tahui kepatuhan pengusaha barang kena cukai (BKC) satu persatu, karena itu salah satu caranya adalah melayaitu melalui suatu mekanisme pengawasan yang dilakului pembukuan yang nantinya pemeriksaan terhadap pemkan dalam sistem pembukuan. Yang dalam undangundang cukai sebelumnya (No.11 Tahun WBC/ATS bukuan ini akan ditingkatkan untuk mengetahui kepatuhan pengusaha dan untuk 1995 ) dikenal de- ngan istilah buku persediaan. memastikan PR itu sudah menjalankan usaDan untuk menyesuaikan dengan UU hanya sesuai dengan aturan. Cukai Nomor 39 Tahun 2007 yang meruTerkait dengan hal ini, Direktur Jendepakan amandemen UU No.11 Tahun 1995 ral Bea dan Cukai telah mengeluarkan Subuku persediaan yang di kalangan pengurat Edaran Nomor SE 15/BC/2008 tentang saha rokok khususnya pabrik rokok (PR) Peningkatan Pengawasan Pencatatan/ kecil dinilai cukup rumit dalam pengisian Pembukuan dan Pelaporan Barang Kena datanya dan diberlakukan sama bagi Cukai yang Diwajibkan. Inti dari surat semua golongan PR untuk melaksanakan edaran (SE) tersebut adalah untuk lebih meningkatkan pemantauan, pengawasan buku persediaan, dalam waktu secepatnya dan penelitian terhadap kewajiban penguakan dilakukan penyederhanaan (simplifisaha terkait kegiatan pencatatan/ pembukasi) dan penyempurnaan. kuan serta pelaporan di bidang cukai yang Menurut Kepala Seksi Perizinan dan Fadiwajibkan sesuai ketentuan yang berlaku. silitas Hasil Tembakau, Direktorat Cukai, Dalam SE tersebut juga disebutkan, Nur Rusdi SE, saat ini penggolongan PR untuk mengetahui pengusaha dan memasterdiri dari Golongan I, II, dan III dan tikan kewajiban pencatatan/ pembukuan pembukuannya diberlakukan sama untuk telah dilaksanakan sesuai ketentuan, semua golongan, namun dalam waktu maka pejabat Bea dan Cukai dalam hal ini segera akan dilakukan pembedaan. Untuk NUR RUSDI. Pengusaha yang PKP golongan Pengusaha Kena Pajak (PKP) wajib membuat pembukuan. Non PKP Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai dapat melakukan pemediwajibkan membuat pembukuan. wajib membuat buku pencatatan.
WARTA BEA CUKAI EDISI 402 MEI 2008

22

WBC/RIS

riksaan atau penelitian di lapangan secara periodik maupun insidentil, termasuk juga melakukan pembinaan dan penindakan terhadap pengusaha yang melakukan pelanggaran ketentuan pencatatan/ pembukuan dan pelaporan sesuai ketentuan yang berlaku. “Dengan adanya penyederhanaan ini, diharapkan akan lebih mudah dipraktekkan terutama untuk pengusaha non PKP, sehingga tidak ada alasan lagi untuk tidak membuat pencatatan, sehingga akan tercipta tingkat kepatuhan yang tinggi dan sebagai alat pengawasan bisa berjalan efektif,” tutur Nur Rusdi.

Sedangkan yang dimaksud dengan audit cukai adalah serangkaian kegiatan pemeriksaan laporan keuangan, buku, catatan dan dokumen yang menjadi bukti dasar pembukuan dan surat yang berkaitan dengan kegiatan usaha, termasuk data elektronik, serta surat yang berkaitan dengan kegiatan di bidang cukai dan sediaan barang dalam rangka pelaksanaan ketentuan perundang-undangan di bidang cukai. Perlunya audit cukai dilakukan, menurut Mudji, merupakan konsekuensi diberlakukannya sistem self assessment di bidang cukai, pemberian fasilitas tidak dipungut cukai, pembebasan cukai atau penundaan cukai serta adanya penggantian buku persediaan dengan pembukuan yang AUDIT CUKAI sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi Dalam hal pengawasan dan peningkatyang berlaku di Indonesia. an kepatuhan pengusaha BKC sesuai UU MUDJI RAHARDJO. Audit cukai, instruPenggantian yang semula Buku PerseNo.39 Tahun 2007 selain melakukan diaan menjadi Pembukuan yang sesuai pemeriksaan pembukuan dan pencatatan, men pengawasan yang komprehensif. dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berterdapat juga kegiatan audit cukai yang laku umum di Indonesia pada pengusaha pabrik non terdapat di pasal 39, dimana pada pasal ini mempertegas skala kecil, pengusaha tempat penyimpnan, importir BKC dan mengatur lebih rinci kewenangan pejabat bea cukai dan penyalur non skala kecil, dilakukan karena sudah untuk melaksanakan audit cukai sehingga obyek audit bitidak sesuai dengan perkembangan administrasi perusasa kooperatif dalam membantu proses audit. haan moderen. Menurut Kepala Seksi Pelaksanaan Audit Cukai Direk“ Karena itu audit cukai dilakukan untuk memastikan torat Audit, Mudji Rahardjo, pada UU No.11 Tahun 1995 kepatuhan pengusaha-pengusaha tersebut terhadap tentang cukai sebelumnya telah diatur kewenangan pejaketentuan peraturan di bidang cukai, apakah yang diberibat bea cukai untuk melakukan audit, yaitu pada pasal tahukan tentang BKC yang selesai dibuat dan yang dima39 ayat (1) yang dinyatakan bahwa pejabat Bea dan Cukai sukkan telah sesuai dengan keadaan yang sebenarnya,” berwenang memeriksa buku, catatan, atau dokumen yang tutur Mudji. diwajibkan oleh UU ini dan pembukuan perusahaan yang Lebih lanjut Mudji mengemukakan, audit cukai dalam berkaitan dengan BKC serta sediaan BKC dari pabrik, temhal ini dilakukan terhadap pengusaha di bidang cukai yang pat penyimpanan atau tempat lainnya sebgaimana dimaksud dalam pasal 35 untuk keperluan audit dibidang cukai. meliputi pengusaha pabrik, pengusaha tempat penyimpanan, importir BKC, DOK. WBC penyalur dan pengguna BKC yang mendapat fasilitas pembebasan. Dalam pelaksanaannya, menurut Mudji, audit cukai dilakukan oleh Direktorat Audit pada Kantor Pusat dan bidang audit pada Kantor Wilayah DJBC. Audit dilakukan dengan Surat Tugas Direktur Jenderal dan dilaksanakan secara terencana sesuai dengan Daftar Rencana Obyek Audit. Selain itu, audit dapat dilaksanakan sewaktu-waktu atas perintah Direktur Jenderal atau atas permintaan Direktur di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai atau Kepala Kantor Wilayah. ris INDUSTRI CUKAI. Terus ditingkatkan mekanisme pengawasannya.
EDISI 402 MEI 2008 WARTA BEA CUKAI

23

KONSUL TASI
KEPABEANAN & CUKAI
Dengan ini kami informasikan agar setiap surat pertanyaan yang masuk ke Redaksi Warta Bea Cukai baik melalui pos, fax ataupun e-mail, agar dilengkapi dengan identitas yang jelas dan benar. Redaksi hanya akan memproses pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dengan menyebutkan identitas dan alamat yang jelas dan benar. Dan sesuai permintaan, kami dapat merahasiakan identitas anda. Demikian pemberitahuan ini kami sampaikan, atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih. Redaksi

D

Tentang Premi
penetapan atas pelanggaran dimaksud tidak diajukan keberatan/banding, atau dalam hal diajukan keberatan/banding telah terdapat keputusan yang final dan tetap dengan batasan paling banyak Rp. 500.000.000 (lima ratus juta rupiah). 2. Bagaimana prosedur mendapatkan premi? Dan unit manakah yang harus mengajukannya? Kepala Kantor DJBC setempat mengajukan permohonan uang ganjaran kepada Menteri Keuangan RI dengan tembusan kepada Direktur Jenderal Bea dan Cukai dengan disertai lampiran : a) Tembusan/fotokopi Surat Penetapan Sanksi Administrasi dan/atau Nota Pembetulan yang ditandasahkan oleh Kepala Kantor; b) Tembusan/rekaman/fotokopi bukti penyetoran sanksi administrasi ke Kas Negara (Surat Setoran Bea dan Cukai/SSBC) yang telah ditandasahkan oleh Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara setempat; dan c) Jumlah uang ganjaran yang dimohon. 3. Bila karena sesuatu hal, sehingga terhadap tagihan hasil temuan audit suatu perusahaan diberikan jangka waktu pelunasan sampai dengan dua tahun, apakah premi tersebut baru bisa diajukan setelah lunas seluruhnya, atau bisa diajukan sesuai jumlah angsuran yang telah dilunasi? Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 570/KMK.01/1997 Tentang Ketentuan Pemberian Uang Ganjaran Kepada Mereka Yang Telah Memberikan Jasa Dalam Penyelesaian Tindak Pidana dan Pelanggaran Administrasi Kepabeanan dan Cukai pada Pasal 4 disebutkan bahwa “Permohonan uang ganjaran sebagaimana dimaksud dalam pasal 1 hanya dapat dikabulkan bilamana perkara yang memberi alasan untuk meminta uang ganjaran itu telah selesai dan semau uang denda serta uang hasil penjualan dimuka umum barang-barang rampasan sehubungan dengan perkara itu, telah disetorkan seluruhnya ke Kas Negara”. Jadi permohonan premi/uang ganjaran atas denda administrasi tersebut baru bisa dikabulkan setelah perkara yang memberi alasan untuk meminta uang ganjaran itu telah selesai dan uang denda sehubungan dengan perkara itu telah disetorkan seluruhnya ke Kas Negara. Demikian disampaikan untuk dimaklumi DIREKTUR PENINDAKAN DAN PENYIDIKAN JUSUF INDARTO NIP 060061439

alam UU No.17 Tahun 2006 terdapat satu bab baru yaitu Bab XVA yang mengatur mengenai pembinaan pegawai. Disebut baru, karena dalam UU No. 10 Tahun 1995 tidak ada bab yang secara khusus mengatur mengenai sanksi bagi pegawai yang melakukan pelanggaran, dan premi bagi yang berjasa dalam menangani pelanggaran kepabeanan. Berkenaan dengan pasal 113D Bab XVA UU No. 17 Tahun 2006 ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan : 1. Apakah setiap denda dari temuan hasil audit bisa dimintakan preminya ? 2. Bagaimanakah prosedur mendapatkan premi ? Dan unit manakah yang harus mengajukannya ? 3. Bila karena suatu hal, sehingga terdapat tagihan hasil temuan audit suatu perusahaan diberikan jangka waktu pelunasan sampai dengan dua tahun, apakah premi tersebut baru bisa diajukan setelah lunas seluruhnya, atau bisa diajukan sesuai jumlah angsuran yang telah dilunasi ? Terima kasih atas tanggapan yang diberikan. ASEP SUNARYA Pelaksana pada Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Barat

Tanggapan: Berkenaan dengan pertanyaan seputar pasal 113D Bab XVA UU No.17 Tahun 2006 yang dikirimkan oleh pembaca WBC, berikut ini kami berikan jawaban : 1. Apakah setiap denda dari temuan hasil audit bisa dimintakan preminya? Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan RI nomor : 241/KMK.01/2002 tanggal 16 Mei 2002 tentang Perubahan Kedua Atas Keputusan Menteri Keuangan Nomor 570/KMK.01/1997 Tentang Ketentuan Pemberian Uang Ganjaran Kepada Mereka Yang Telah Memberikan Jasa Dalam Penyelesaian Tindak Pidana dan Pelanggaran Administrasi Kepabeanan dan Cukai pada Pasal 1 butir 3 disebutkan bahwa “Ganjaran atas pelanggaran yang dikenakan denda administrasi diberikan dengan ketentuan penetapan atas pelanggaran dimaksud tidak diajukan keberatan/banding, atau dalam hal diajukan keberatan/banding telah terdapat keputusan yang final dan tetap”. Jadi setiap pelanggaran yang dikenakan denda administrasi, baik itu denda dari temuan hasil audit bisa dimintakan premi/ganjaran sepanjang ketentuan

24

WARTA BEA CUKAI

EDISI 402 MEI 2008

DAERAH KE DAERAH
WBC/ATS

WUJUD PROGRAM REFORMASI DAN ANTISIPASI PERATURAN ANTAR PULAU.
Pembentukan KPPBC Sunda Kelapa merupakan salah satu wujud realisasi program reformasi DJBC dibidang organisasi, yang pada dasarnya juga meliputi organisasi, peraturan dan ketatalaksanaan dibidang kepabeanan dan cukai, serta pengelolaan SDM. KPPBC Sunda Kelapa dibentuk berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan No. 68/PMK.01/2007 dengan pertimbangan penyempurnaan organisasi dan tata kerja DJBC, dalam rangka optimalisasi fungsi DJBC dibidang fasilitasi perdagangan, perlindungan dan dukungan industri, perlindungan masyarakat, penerimaan negara dan pelayanan kepada pengguna jasa kepabeanan dan cukai. “Secara spesifik, pembentukan KPPBC Sunda Kelapa juga dimaksudkan untuk mengantisipasi pelaksanaan pengawasan barang tertentu sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No. 17 tahun 2006,” ujar Heru Pambudi sebagai Kepala KPPBC Tipe A4 Sunda Kelapa. Lebih lanjut Heru Pambudi menjelaskan, saat ini pengawasan barang tertentu sebagaimana diamanatkan Undang-undang No.17 tahun 2006, masih belum ditunjuk objeknya (komoditasnya) sehingga belum dioperasionalkan. Pengawasan antar pulau yang ada baru terbatas pada pengawasan pergerakan barang berupa CPO dan BBM. Disamping itu, pengawasan melalui kegiatan intelijen juga dilakukan terhadap masuknya barang impor yang belum diselesaikan kewajiban kepabeanannya melalui pelabuhan Sunda Kelapa dan Marunda. Untuk pelaksanaannya, KPPBC Sunda Kelapa berkoordinasi dengan KPPBC asal barang dan pihak terkait seperti Adpel dan Pelindo.

KPPBC TIPE A4 SUNDA KELAPA. Walaupun belum memiliki gedung sendiri, namun kegiatan pelayanan dan pengawasan sudah efektif dijalankan.

KPPBC Tipe A4 Sunda Kelapa
KANTOR BARU DENGAN PENERAPAN OTOMASI PELAYANAN MELALUI MEDIA DISKET
Sejalan dengan re-organisasi di jajaran Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC), pembentukan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) baru diharapkan dapat mengantisipasi segala tantangan yang ada.

PELAYANAN DENGAN OTOMASI
Sebagai KPPBC baru, Sunda Kelapa juga memiliki wilayah kerja yang cukup luas, karena mendapat limpahan kewenangan dari beberapa KPPBC yang ada disekitarnya. Adapun wilayah kerja KPPBC Sunda Kelapa adalah, Pelabuhan Laut (PL) Sunda Kelapa, Marina Ancol, Muara Baru (PL), Widuri (PL), Arjuna (PL), Sinta, Cinta Natomas, Cilincing, Pertamina, Bogasari, Marunda, Dharma Karya Perdana, Kali baru, dan Ujung Kerawang. “KPPBC Sunda Kelapa selain mengawasi tempat penimbunan berikat (TPB), seperti KB dan GB di kawasan berikat nusantara (KBN) Marunda, juga mengawasi dan melayani TPB di luar KBN Marunda dan pengusaha barang kena cukai (PBKC). Dalam pelaksanaan serah terima daerah kewenangan pengawasan dan pelayanan terhadap pengguna jasa TPB dan PBKC, terdapat tambahan objek pengawasan dan pelayanan dengan pertimbangan lokasi pengguna jasa lebih dekat jika dilayani oleh KPPBC Sunda Kelapa. Untuk itu, hingga saat ini KPPBC Sunda Kelapa mengawasi 51 TPB dan 4 PBKC,” papar Heru Pambudi. Dengan wilayah pengawasan yang cukup luas dan jumlah objek pelayanan yang cukup banyak, maka KPPBC Sunda Kelapa pun telah melaksanakan beberapa kegiatan yang terkait dengan optimalisasi pelayanan, antara lain menerapkan otomasi pelayanan melalui media disket, yaitu terhadap pelayanan impor dari TPB (BC 2.0 disket) dan menjalankan uji coba pelayanan BC 2.3 disket atas pemasukan barang impor ke TPB. Kedua kegiatan ini dilakukan dengan berkoordinasi dan asistensi dari Direktorat IKC dan Direktorat Fasilitas Kepabeanan, dengan tujuan untuk memperoleh kecepatan pelayanan dan ketersedian data. Kegiatan lainnya, melaksanakan sosialisasi kepada para pengguna jasa TPB, pengeboran lepas pantai (off shore), dan keagenan serta pemilik kapal niaga. “Secara umum KPPBC Sunda Kelapa memberikan pelayanan di bidang kepabeanan dan cukai. Di bidang kepabeanan meliputi, memberikan pelayanan atas fasilitas TPB antara lain rekomendasi perijinan pelayanan BC 2.3, importasi barang dari TPB, ekspor minyak dari off shore, ijin impor sementara kapal yang akan beroperasi di wilayah kerja Sunda Kelapa, penyelesaian impor kapal yang selama ini belum diselesaikan kewajiban pabeannya, dan pengawasan antar pulau terhadap barang tertentu (CPO dan BBM). Sementara, di bidang cukai KPPBC Sunda Kelapa juga memberikan pelayanan perijinan NPPBKC untuk distributor MMEA,” jelas Heru Pambudi.

D

JBC seiring dengan bergulirnya program reformasi, kini memiliki beberapa KPPBC baru yang diharapkan dapat lebih mengoptimalkan pelayanan dan pengawasan lalu lintas barang, dan dapat mengantisipasi adanya kebijakankebijakan baru yang nantinya akan dijalankan. Salah satu KPPBC baru yang kini telah eksis memberikan pelayanan dan pengawasan, adalah KPPBC Tipe A4 Sunda Kelapa yang masuk di wilayah kerja Kanwil DJBC Jakarta. Seperti diketahui, sebelumnya KPPBC Sunda Kelapa dulu sudah masuk ke dalam organisasi DJBC, namun seiring dengan adanya Inpres tahun 1984 maka keberadaan KPPBC Sunda Kelapa berubah fungsi dan hanya sebagai pos bantu saja. Memang pelabuhan Sunda Kelapa yang telah ada sejak tahun 1527, keberadaannya saat itu sangat penting karena sebagai pelabuhan terbesar dan sebagai pusat perdagangan antar pulau yang menghubungankan pulau-pulau di nusantara, hal ini menjadikan pelabuhan tersebut sebagai pelabuhan utama antar pulau di Indonesia. Seiring dengan perkembangan perekonomian, maka pelabuhan Sunda Kelapa hingga saat ini keberadaannya masih tetap dipertahankan sebagai pelabuhan antar pulau dan sebagai pelabuhan pendukung dari pelabuhan utama Tanjung Priok. Untuk dapat lebih mengoptimalkan kinerja DJBC dalam memberikan pelayanan dan melaksanakan pengawasan perdagangan antar pulau yang peraturan pemerintahnya kini tengah menunggu keputusan untuk dijalankan oleh DJBC, maka pos bantu Sunda Kelapa yang dulu hanya mengawasi pergerakan barang antar pulau, kini menjadi KPPBC Tipe A4 yang bukan hanya sebagai kantor pengawas barang antar pulau, namun juga sebagai kantor pelayanan yang menangani kegiatan kawasan berikat, gudang berikat, MMEA dan lain sebagainya.

PRIORITAS PELAYANAN DAN PENGAWASAN
Dari kegiatan yang dijalankan tersebut, KPPBC Sunda Kepala pun memiliki perioritas utama baik dibidang pelayanan maupun dibidang pengawasan. Untuk perioritas bidang pelayanan, adalah menciptakan
EDISI 402 MEI 2008 WARTA BEA CUKAI

25

DAERAH KE DAERAH
FOTO-FOTO WBC/ATS

Kepala Kantor, 5 Kelapa Seksi, dan 98 pelaksana, dari evaluasi kami saat ini antara beban kerja yang ada dengan jumlah SDM telah mencukupi,” ujar Heru Pambudi.

TARGET PENERIMAAN
KPPBC Sunda Kelapa memiliki target penerimaan bea masuk sebesar Rp. 294.740.000. Sementara realisasi saat ini (hingga 31 Maret 2008), telah tercapai dengan rincian, bea masuk Rp. 2.007.782.011, PPN Rp. 1.891.760.324, PPnBM Rp. 1.546.742.670, Pph 21 Rp. 472.940.066, denda Rp. 5.000.000, total Rp. 5.924.225.071. Pencapaian target ini salah satunya dipengaruhi oleh adanya pelimpahan beberapa TPB ke dalam wilayah kerja KPPBC Sunda Kelapa. Terkait dengan pelimpahan kewenangan dari beberapa KPPBC, KPPBC Sunda Kelapa yang letaknya berdekatan dengan Kantor Pelayanan Utama Jakarta, juga telah melaksanakan koordinasi dalam hal pelayanan dan pengawasan. Hal ini dirasakan sangat penting, mengingat lokasiSDM. Jumlah 104 pegawai KPPBC Sunda Kelapa dianggap telah mencukupi dibandingkan dengan nya yang berdekatan. Untuk itu, baik KPPBC Sunda Kelapa mupun KPU Tanjung Priok beban kerja yang dihadapi. masing-masing memiliki wilayah kerja pelayanan dan pengawasan sebagai mana telah diatur dalam Keputusan Direktur mekanisme kerja yang mendukung kecepatan pelayanan impor dan Jenderal nomor Kep-105/BC/2007 jo. Kep Menkeu no. 68/PMK.01/ pelayanan TPB. 2007. Sementara itu untuk prioritas bidang pengawasan kegiatan yang Untuk KPPBC Sunda Kelapa, terutama memberikan pelayanan dilakukan adalah, monitoring pergerakan barang antar pulau yang dan pengawasan kepada penerima fasilitas TPB yang berasal dari belum diselesaikan kewajiban pabeannya, mengadakan sosialisasi pelimpahan KPU Tanjung Priok, KPPBC Tipe A2 Jakarta dan KPPBC dan pembinaan kepada pemilik kapal untuk segera menyelesaikan Tipe A2 Tanggerang. Disamping itu juga terdapat kegiatan monitoring kewajiban pabean terkait dengan importasi kapalnya yang selama ini pemasukan barang-barang melalui pelabuhan Sunda Kelapa dan belum diselesikan. Dan, pengembangan otomasi monitoring jaminan Marunda, terutama atas barang-barang yang diawasi pergerakannya atas pelaksanaan pekerjaan subkontrak sehingga KPPBC setiap saat seperti CPO dan BBM. dapat mengetahui jaminan yang akan jatuh tempo, disamping berguna “Memang wilayah kerja kami sangat berdekatan, dan itu dapat sebagai alat bantu pengawasan pelaksanaan subkontrak bagi petugas menimbulkan potensi birokrasi dan inefisiensi. Untuk mengurangi hangar. Informasi ini juga berguna bagi pengusaha sebagai dampak tersebut, telah dilakukan koordinasi guna simplifikasi pemberitahuan awal guna menghindari keterlambatan penyelesaian. penyelesaian kewajiban pabean yang melibatkan dua kantor tersebut. “Untuk dapat menjalankan perioritas utama dari pelayanan dan Sebagai salah satu contoh adalah simplifikasi prosedur penanganan pengawasan tersebut, KPPBC Sunda Kelapa kini sedang berusaha angkut lanjut (BC 1.2) dari KPU Tanjung Priok ke KPPBC lainnya memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana. Namun demikian, ada (misalnya KPPBC Belawan) yang melewati pelabuhan Sunda Kelapa,” beberapa kendala yang masih harus kami atasi antara lain, untuk terang Heru Pambudi. pengawasan di pelabuhan Sunda Kelapa, dimana kondisi kantor lama Selain berkoordinasi dengan KPU Tanjung Priok, KPPBC Sunda sudah rusak parah dan senantiasa banjir, KPPBC Sunda Kelapa telah Kelapa pun pada tahap awal operasionalnya telah melakukan koordimerencanakan pembangunan pos pengawasan yang permanen serta nasi dengan instansi terkait, seperti KP3 Tanjung Priok, Adpel Sunda mengusulkan pengadaan mobil patroli yang tinggi (double cabin),” Kelapa, dan Pelindo, pengguna jasa. Dari koordinasi tersebut, secara ungkap Heru Pambudi. umum keberadaan KPPBC Sunda Kelapa disambut dengan baik seMasih menurut Heru, untuk kendala di bidang pelayanan, KPPBC bagai partner untuk menjalankan fungsi pelayanan dan pengawasan. Sunda Kelapa saat ini sedang diusahakan penambahan unit komputer “Secara prinsip saya berharap kedepan nanti, KPPBC Sunda terutama untuk menunjang otomasi BC 2.0 dan BC 2.3 disket. Kelapa harus dapat menjalankan fungsi pelayanan terutama dalam Sementara, yang ada saat ini baru sepuluh unit.”Kendati masih ada pelayanan kepada investor di TPB dan pengawasan atas beberapa kendala yang harus kami hadapi saat ini, namun kalau dari pengangkutan barang antar pulau,” tandas Heru Pambudi. adi sisi SDM yang ada dengan jumlah 104 pegawai, dengan uraian 1

PELABUHAN SUNDA KELAPA. Pergerakan lalu lintas barang antar pulau di pelabuhan Sunda kelapa, sepenuhnya menjadi wilayah pengawasan KPPBC Sunda Kelapa.

KANTOR LAMA. kondisi kantor pos Bantu Sunda Kelapa lama yang sangat memprihatinkan, kini membutuhkan perhatian yang cukup serius.

26

WARTA BEA CUKAI

EDISI 402 MEI 2008

Gelar Hasil Tegahan
KANWIL DJBC JAWA TIMUR I
Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Jawa Timur I, pada 11 April 2008 melakukan press release atas kasus penegahan importasi rokok Marlboro palsu, disamping juga gelar hasil penegahan lainnya.
DOK. KANWIL DJBC JATIM I

sebagai Stove (Kompor Gas), diangkut dengan Konteiner WFHU 1264265 / 20 FCL dengan kapal UNI PREMIER 059 W dari Pelabuhan Asal Shantou, China, Februari 2008. Modus operandi yang digunakan pelaku adalah dengan memalsukan identitas consignee, identitas barang dan menggunakan Shipper fiktif. Serta mengemas rokok dengan karton standard (sama dengan karton kompor) dan men-stuffing-nya dibagian dalam kontainer, sedangkan bagian depan kontainer di-shuffing barang yang berbeda (kompor). Ketentuan yang dilanggar dalam kasus ini adalah Pasal 102 huruf h Undang-undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan yang telah diubah dengan Undang-undanga Nomor 17 Tahun 2006 dengan ancaman pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp.50.000.000. (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp.5.000.000.000. (lima milyar rupiah). Pasal 56 Undang-undang Nomor 11 Tahun I995 tentang cukai yang telah diubah dengan Undang-undang Nomor 39 Tahun 2007 dengan ancaman hukuman diubah dengan Undangundang Nomor 17 Tahun 2006 dengan ancaman pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling sedikit 2 (dua) kali nilai cukai dan paling 10 (sepuluh) kali cukai yang seharusnya dibayar. Kasusnya saat ini sedang dalam penyelidikan dan potensi kerugian negara ditaksir mencapai Rp 859. 069.440.

ROKOK SIGARET KRETEK MESIN (SKM) POLOS
HARRY BUDI WICAKSONO. Dari peningkatan pengawasan impor dan operasi penindakan BKC, Kanwil DJBC Jawa Timur I berhasil menegah 2 kasus importasi dan 4 kasus cukai serta mendapat pelimpahan 1 kasus penegahan cukai.

M

ewakili Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) DJBC Jawa Timur I, Harry Budi Wicaksono selaku Kepala Bidang Penindakan dan Penyelidikan Kantor Wilayah DJBC Jawa Timur I menyampaikan press release tentang kasus penegahan importasi rokok Marlboro palsu dan beberapa kasus penegahan lain yang dilakukan aparat Kantor Wilayah DJBC Jawa Timur selama triwulan pertama tahun 2008. Seperti disampaikan Harry Budi Wicaksono, dalam kurun waktu triwulan pertama Tahun Anggaran (TA) 2008 ini, jajaran Kanwil DJBC Jawa Timur I, dalam bidang kepabeanan telah meningkatkan pengawasan terhadap kegiatan importasi, terutama terhadap importasi barang yang terkena aturan larangan dan pembatasan. Sedangkan di bidang cukai, pihaknya terus menerus menggelar operasi penindakan terhadap pengangkutan (distribusi) barang kena cukai, khususnya rokok yang melanggar ketentuan cukai dengan maksud mengelak pembayaran cukai, antara lain rokok tanpa pita cukai (polos), rokok yang diteliti pita cukai bukan haknya dan/atau bukan peruntukkannya. Dari peningkatan pengawasan impor dan operasi penindakan barang kena cukai (BKC) tersebut, lanjut Harry Budi Wicaksono, Kanwil DJBC Jawa Timur I berhasil menegah 2 kasus importasi dan 4 kasus cukai serta mendapat pelimpahan 1 kasus penegahan cukai oleh Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tanjung Perak dengan total barang bukti yang ditegah sebanyak 642 karton rokok dan satu unit Motor Harley Davidson dengan total potensi kerugian negara sebesar Rp 1.102.654441 dengan rincian sebagai berikut :

Selanjutnya aparat juga melakukan penegahan atas 16 karton masing-masing 4 Ball dan 20 Slop yang masing-masing 10 bungkus rokok merek ICY Mild isi 16 batang ; jenis Sigaret Kretek Mesin (SKM); produksi PT J.S.T Indonesia, tanpa dilekati Pita Cukai (polos) di ekspedisi CV Putra Segar Jaya, Jl. Kalianget C.2/10-12 Surabaya pada tanggal 28 Februari 2008 Modus operandi Barang Kena Cukai (Rokok) dijual tanpa dilekati pita cukai (polos), menyamarkan nama perusahaan (disingkat dan tanpa alamat / kota ) dan menyamarkan nama pengirim dan penerima barang. Ketentuan yang dilanggar dalam kasus ini adalah pasal 54 Undang-undang No. 11 Tahun 1995 tentang Cukai yang telah diubah dengan Undang-undang No.39 Tahun 2007, dengan ancaman hukuman pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda sedikit 2 (dua) kali nilai cukai dan paling banyak 10 (sepuluh) kali nilai cukai yang seharusnya dibayar . Kasusnya kini sedang dalam proses penyelidikan dengan perkiraan kerugian negara sebesar Rp. 25.299.456.

PERSONALISASI PITA CUKAI
Penegahan juga dilakukan terhadap rokok merek ABRAMAS, SKT isi 12 batang, produksi PR Puncak Makmur Sejahtera Malang, dillekati pita cukai SKT 2008 Tarif 0 % + Rp. 30/Btg, HJE Rp 3.325, personalisasi SUMBTUKO (salah personalisasi) sebanyak 207 karton dan merek TRIS, SKM isi 16 batang, produksi PR SSS Kudus, dilekati pita cukai SKT 2008 Tarif 0 % + Rp 30 HJE Rp 3.500 personalisasi FARADIBO (salah personalisasi) sebanyak 11 karton; Dalam kasus ini modus operandi yang digunakan pelaku adalah Barang Kena Cukai (Rokok) dijual dengan dilekati Pita Cukai yang bukan haknya. Ketentuan yang dilanggar dalam kasus ini adalah pasal 58 Undang-undang No.11 Tahun 1995 tentang Cukai yang telah diubah dengan Undang-undang No. 39 Tahun 2007, dengan ancaman hukuman pidana penjara singkat 1 (satu) tahun dan paling la- ma 5 (lima) tahun dan/atau pidana denEDISI 402 MEI 2008 WARTA BEA CUKAI

ROKOK MARLBORO PALSU
Penegahan importasi rokok Marlboro sebanyak 309 karton masig-masing 64 slop dalam 10 Bungkus yang diberitahukan

27

DAERAH KE DAERAH
FOTO-FOTO DOK. KANWIL DJBC JATIM I

Undang-Undang No.11 Tahun 1995 tentang Cukai yang telah diubah dengan Undang-undang No. 39 Tahun 2007, dengan ancaman hukuman pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan / atau pidana denda sedikit 2 (dua) kali nilai cukai dan paling banyak 10 (sepuluh) kali nilai cukai yang seharusnya dibayar. Kasusnya kini dalam proses Penyelidikan dengan perkiraan kerugian negara mencapai Rp.60.209.407

PENGANGKUTAN TEMBAKAU SIAP LINTING, ETIKET, SLOP DAN GRENJENG
Penegahan juga dilakukan terhadap 36 karton bahan baku rokok yang sudah terutang cukai berupa tembakau Siap Linting, Etiket Rokok Merek Aura, Slop Rokok Merek Aura, Etiket 547, Etiket Merek SELEB STAR, Etiket Merek 23, Grenjeng dsb melalui Ekspedisi KSL, Komplek Pertokoan jl. Perak Timur 512 – L6 Surabaya pada 2 April 2008 . Modus operandi yang digunakan pelaku adalah dengan melakukan pengangkutan bahan baku rokok yang sudah terutang cukai tersebut tanpa dilindungi dokumen CK-5. IMPORTASI MOTOR HARLEY DAVIDSON dengan modus memakai dokumen Ata Carnet dan diimpor dengan fasilitas barang pindahan (personal effect). Ketentuan yang dilanggar dalam hal ini adalah Pasal 27 Ayat (1) dan (3) Undang-undang No.11 Tahun 1995 tentang Cukai yang telah diubah dengan da sedikit 2 (dua) kali nilai cukai dan paling banyak 10 (sepuUndang-undang No. 39 Tahun 2007, dengan ancaman hukuman luh) kali nilai cukai yang seharusnya dibayar. sangsi administrasi berupa denda paling sedikit 2 (dua) kali nilai Kasusnya kini sedang dalam proses penyelidikan dengan cukai dan paling banyak 10 (sepuluh) kali nilai cukai yang seharusperkiraan kerugian negara sebesar Rp. 105.440.000. nya dibayar dan kini kasusnya sedang dalam proses penyelidikan dengan perkiraan kerugian negara sebesar : Rp. 10.937.500. MOTOR HARLEY DAVIDSON Kasus ini terungkap dengan pelaku Mr. Mario llote & Mrs Cristiana llote, melakukan importasi barang berupa 5.600 Kg PELIMPAHAN ROKOK POLOS DARI POLRES KP3 TANJUNG PERAK Personal Effect dan 1 unit motor Harley Davidson (bukan baru) Dalam acara press release tersebut Kanwil Bea dan Cukai Jawa Timur I juga melakukan pelimpahan perkara rokok polos dengan PIBT Nomor : 000007 tanggal 07 Januari 2008. Mereka dari Polres KP3 Tanjung Perak . melakukan importasi motor Harley Davidson dengan modus mePelimpahan perkara Rokok merek Best Mild Plus sebanyak makai dokumen Ata Carnet dan diimpor dengan fasilitas barang pindahan (personal effect); 26 karton yang terdiri dari 4 bal yang berisi masing-masing 200 Dari kasus tersebut ketentuan yang dilanggar adalah pasal 3 pak. Dalam kasus ini, modus operandi yang digunakan pelaku Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 229/ adalah rokok dijual tanpa dilekati pita cukai atau rokok polos. Sedangkan ketentuan yang dilanggar adalah Pasal 54 MPP/Kep/7/1997 tentang Ketentuan Umum di bidang Impor. Undang-undang No.11 Tahun 1995 tentang Cukai yang telah Pasal 1 Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor : 137/KMK. diubah dengan Undang-undang No. 39 Tahun 2007, dengan 05/1997 tentang Pembebasan Bea masuk atas Impor Barang Pindahan yang menyatakan bahwa kendaraan bermotor tidak ancaman hukuman pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun termasuk dalam barang pindahan. dan paling lama 5 (lima) tahun dan / atau pidana denda sedikit 2 Peraturan Menteri Perdagangan Nomor : 06/M-DAG/PER/3/ (dua) kali nilai cukai dan paling banyak 10 (sepuluh) kali nilai cukai yang seharusnya dibayar. 2006 tentang perubahan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor Kasusnya kini sedang dalam proses penyelidikan dan ditak03/M-DAG/PER/12/2005 TENTANG Ketentuan Impor Kendaraan sir kerugian negara diperkirakan mencapai Rp. 41. 699.138. Bermotor Bukan Baru. mujiono, sby/ris Pasal 27 Keputusan Direktur Jemderal Bea dan Cukai Nomor KEP-07/BC/2003 tentang Petunjuk Pelaksaan Tatalaksana Kepabeanan di bidang Impor yang telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor P-06/ BC/2007, dengan ketentuan barang impor yang tidak dapat memenuhi persyaratan impor dari instansi teknis dapat diekspor kembali. Kasusnya kini sedang dalam proses penyelidikan dan perkiraan kerugian negara belum dapat ditaksir.

ROKOK SKM POLOS
Selanjutnya penegahan atas 37 karton masing-masing 4 Ball, 20 Slop masing-masing 10 Bungkus rokok merek NOVA isi 16 batang; jenis Sigaret Kretek Mesin (SKM); produksi PR BERLIANA JAYA INDONESIA, tanpa dilekati Pita Cukai (POLOS) di Ekspedisi Al Qomar, Komplek Pertokoan JL Perak Timur 512 – L6 Surabaya pada 1 April 2008; Modus yang digunakan pelaku adalah Barang Kena Cukai (Rokok) dijual 1995 Pita Cukai (polos) Dalam kasus ini ketentuan yang dilanggar adalah pasal 54 28
WARTA BEA CUKAI EDISI 402 MEI 2008

ROKOK MARLBORO palsu sebanyak 309 karton yang dtegah aparat Kanwil DJBC Jawa Timur I

WBC/ATS

KOMITMEN BERSAMA. Seluruh jajaran Kanwil Banten sepakat untuk komitmen bersama dalam upaya, kerja keras, kesungguhan dan kebersamaan demi terwujudnya kinerja yang optimal dan citra positif DJBC.

MASALAH PALING UTAMA SAAT INI ADALAH SARANA DAN PRASARANA
Rapat kerja wilayah (Rakerwil) Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Banten bertujuan selain mengevaluasi kerja tahun 2007 juga menyiapkan rencana kerja tahun 2008 yang terukur, sistematis, dan jelas time frame-nya.
masi (TI), saat ini untuk komputer yang lengkap dengan jaringan dan aplikasinya masih belum cukup, selain itu juga masalah kantor, alat transportasi dan lain sebagainya. Namun demikian, Bachtiar mengungkapkan, untuk sarana kantor Kanwil Banten, saat ini sudah mendapatkan kantor yang representatife dan strategis, yakni bekas gedung Bank Central Dagang (BCD) yang berada di jalan raya Serpong Damai sektor VI blok 201 no. 2 Bumi Serpong Damai Tangerang. “Memang saat ini masih perlu direnovasi dan penyiapan utilities seperti listrik dan air. Isnya Allah renovasi sudah akan kita mulai pada akhir April ini, karena DIPA untuk itu juga sudah tersedia. Selain itu, untuk KPPBC Tanggerang juga sedang merencanakan kantor yang definitife, sebab sekarang masih menyewa di komplek pertokoan BSD,” terang Bachtiar.

Rakerwil DJBC Banten

B

ertempat di ruang Loka Muda Gedung B Kantor Pusar DJBC, Rabu 9 April 2008 Kantor Wilayah (Kanwil) DJBC Banten menyelenggarakan rakerwil untuk yang pertama kalinya setelah Kanwil ini berdiri. Dengan dihadiri oleh seluruh Kepala Bidang, Kepala Seksi, dan Kepala Kantor yang berada dibawah jajarannya, seperti Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Soekarno-Hatta, Tanggerang, dan Merak, raker yang bertemakan “Dengan rapar kerja wilayah kita tingkatkan citra dan kinerja Kanwil DJBC Banten”, dan berlangsung satu hari ini, membahas tiga masalah utama yang dihadapi Kanwil DJBC Banten saat ini.

TARGET PENERIMAAN
Selain masalah sarana dan prasarana, topik yang cukup menarik pada raker ini adalah masalah target penerimaan yang dibebankan kepada Kanwil Banten. Untuk tahun 2008, Kanwil Banten dibebankan target penerimaan bea masuk sesuai dengan APBN sebesar Rp. 1.498.602.460.000, jika tidak ada perubahan Kanwil Banten sangat optimis target ini akan tercapai, karena pada triwulan I target yang telah dicapai sebesar Rp. 487.251.228.000 atau 32,51 persen dari target keseluruhan. “Prediksi saya, jika ceteris peribus, Insya Allah tahun 2008 Kanwil Banten bisa menyumbangkan penerimaan dari bea masuk lebih dari Rp. 1,6 triliun. Namun demikian, kita juga memperhitungkan beberapa hal, seperti kebijakan pemerintah mengubah tarif bea masuk kedelai dari 10 persen menjadi 0 persen. Untuk diketahui bahwa penerimaan KPPBC Merak untuk tahun 2007, kurang lebih 28 persen bersumber dari bea masuk kedelai, ini akan menjadi loss benefit kita, selain penurunan tarif bea masuk beras dari Rp. 550/kg menjadi Rp. 450/kg. Selain itu, masih ada kebijakan-kebijakan lain seperti penurunan tarif mesin-mesin untuk industri, CEPT, dan sebagainya,” ungkap Bachtiar. Namun demikian, dengan usaha yang sungguh-sungguh dari segenap jajaran Kanwil Banten, target tersebut optimis
EDISI 402 MEI 2008 WARTA BEA CUKAI

TIGA POKOK BAHASAN UTAMA
Adapun tiga besaran masalah yang dibahas kali ini pertama, bidang umum meliputi organisasi, sarana dan prasarana serta SDM. Kedua bidang pelayanan, mencakup kepabeanan dan cukai, yang antara lain materinya, sistem dan prosedur (sisdur), fasilitas kepabeanan, evaluasi target penerimaan serta proyeksi penerimaan tahun 2008. Dan ketiga, bidang pengawasan, dibahas tentang pengawasan baik melalui bidang P2 maupun bidang audit, serta upaya peningkatan pengawasan sehingga semua ketentuan dipenuhi. Menurut Kepala Kantor Wilayah DJBC Banten, Bachtiar, banyak masalah dan kendala yang dihadapi jajaran Kanwil Banten dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, namun yang paling dirasakan adalah masalah sarana dan prasarana.”Masalah sarana dan prasarana merupakan topik yang cukup mengemuka, hampir di setiap unit baik di Kanwil maupun KPPBC yang berada di wilayah kerja Kanwil Banten,” ujar Bachtiar. Lebih lanjut Bachtiar mencontohkan, untuk teknologi infor-

29

DAERAH KE DAERAH
WBC/ATS

Soekarno-Hatta yang akan menjadi KPPBC akan tercapai. Sementara itu untuk target cuUtama dengan persyaratan-persyaratan terkai yang telah ditentukan, saat ini masih tentu,” kata Bachtiar. diperlukan pengkajian dari Direktorat PPKC, Terkait dengan dijadikannya KPPBC Soekarena walaupun target yang ditentukan karno-Hatta menjadi KPPBC Utama, Bachtiar sebesar Rp. 221.625,320.000, pada triwulan menjelaskan, KPPBC Tipe A1 Soekarno-HatI ini sudah mencapai Rp. 69.060.076.000 ta sudah diagendakan oleh pimpinan DJBC atau 31,16 persen dari target keseluruhan, dan Departemen Keuangan untuk tahun ini hal ini masih akan dipengaruhi oleh pergesebagai KPPBC Utama.”Insya Allah akan seran penerimaan cukai dari Kanwil Banten launching Nopember 2008, untuk itu kita sumenjadi penerimaan Kanwil Jabar. dah mempersiapkan dan membantu tim perKarena, dari beberapa pengusaha barang cepatan reformasi DJBC agar pada saatnya kena cukai yang semula di bawah pengawasnanti benar-benar sudah siap sebagai kantor an KPPBC Soekarno-Hatta, dialihkan menjaunggulan. Bulan Mei kita akan menerapkan di pengawasan KPPBC Bekasi, dan ada jusistem sebagaimana layaknya KPU, yang diga yang dialihkan pengawasannya dari sebut Pra KPU, diawali dengan pembenahan KPPBC Soekarno-Hatta menjadi KPPBC SDM, sarana dan prasarana, sekaligus Tangerang, namun itu masih dalam otoritas sistem pelayanannya,” tutur Bachtiar. Kanwil Banten, jadi hanya pergeseran target per KPPBC Saja. Sementara itu untuk masalah SDM, KanKESIMPULAN RAKERWIL wil Banten juga dirasakan masih memerlukan BACHTIAR. Rakerwil ini bertujuan Dari tiga besaran masalah yang dibahas untuk mengevaluasi kerja tahun 2007 tambahan terutama untuk tenaga auditor, pada rakerwil Banten tersebut, maka rakerwil dan mempersiapkan rencana kerja karena untuk dapat memenuhi DROA Kanwil tahun 2008. merumuskan beberapa hal antara lain, Banten, dibutuhkan paling tidak 50 auditor, kinerja dan citra Kanwil Banten beserta sementara saat ini baru memiliki 24 orang. Selain itu, saat ini jajarannya sudah cukup baik, namun disepakati untuk juga masih dibutuhkan tambahan pegawai khususnya untuk meningkatkan lagi, karena semua menyadari, bahwa tekad tenaga pelaksana yang mampu mengoperasikan komputer ini harus dibarengi dengan kerja keras dan sungguh-sungguh dan tenaga pelaksana yang mampu bergerak cepat untuk pedari semua pejabat dan karyawan se-Kanwil Banten. layanan dan pengawasan. Selain itu, beberapa masalah sudah dapat diselesaikan “KPPBC Tangerang saja membawahi lebih dari 130 kapada tingkat Kanwil, namun ada pula yang perlu diajukan ke wasan berikat dan 30-an gudang berikat, sedangkan pegaKantor Pusat DJBC untuk pembahasan dan pengkajian serta wainya hanya 137 orang. Memang untuk SDM ini kita tidak keputusan lebih lanjut. Seperti, dalam waktu dekat ini akan hanya terfokus pada kuantitas, tapi juga kualitas yang harus disampaikan laporan kepada Direktur Jenderal untuk mampu mendukung program kita kedepan, apalagi KPPBC ditindaklanjuti oleh unit-unit terkait, misalnya usulan untuk
WBC/ATS

TIGA BAHASAN UTAMA. Walaupun rakerwil Banten hanya berlangsung satu hari, namun dapat menyelesaikan tiga bahasan utama yang dihadapi Kanwil Banten saat ini.

30

WARTA BEA CUKAI

EDISI 402 MEI 2008

DOK. KANWIL BANTEN

meninjau kembali beberapa ketentuan tentang PJT, aplikasi manifest untuk bandara, dan lain sebagainya. Sedangkan untuk masalah SDM serta sarana dan prasarana Kanwil Banten menyerahkan sepenuhnya kepada Kantor Pusat sebagai pemegang otoristas. Untuk lebih mengoptimalkan kinerja yang ada, sebelumnya Kakanwil Banten dan seluruh Kepala KPPBC dan Kepala Bidang P2, pada 27 Maret 2008, juga telah melakukan kunjungan dan diterima oleh Gubernur Banten, Hj. Ratu Atut Choisyiah. Pada kunjungan ini, Kakanwil menjelakan mengenai tugas, fungsi, serta peran DJBC, khususnya Kanwil Banten dalam pembangunan provinsi Banten terutama aspek Bea dan Cukai. “Dengan penjelasan kami Gubernur sangat antusias sekali mendengarkannya KUNJUNGAN KE GUBERNUR. Guna peningkatan kinerja dan koordinasi yang baik dengan pihak pemerintah daerah, dan merespon dengan pada 27 Maret 2008, Kakanwil Banten didampingi oleh seluruh Kepala KPPBC dan Kabid P2, melakukan junjungan merencanakan akan menga- kerja ke Kantor Gubernur Banten dan bertemu dengan Gubernur Banten, Hj. Ratu Atut Choisyiah. rahkan pejabat di jajarannya untuk selalu berkoordinasi dengan DJBC dan siap membantu an kinerja dalam rangka perlindungan masyarakat dari masuknya pelaksanaan tugas Bea dan Cukai di Banten, karena beliau barang-barang yang membahayakan, seperti psikotropika, juga mengetahui bahwa berkat dorongan, peran serta DJBC, senjata, dan barang larangan lainnya. Sementara itu, Adang industri dan perdagangan di provinsi Banten cukup berkemFirman menilai koordinasi antara Polda Metro Jaya dengan bang. Di hari yang sama kami juga mengunjungi Kepala Kanwil DJBC Banten sangat penting, karena banyak tugasKejaksaan Tinggi Negeri Banten, Larigau Samad, dan berdistugas yang bersinggungan antara DJBC dan Kepolisian. kusi tentang penegakan hukum yang pada akhirnya Untuk itu, dengan kerjasama dan koordinasi yang baik antara bermuara pada kesejahteraan masyarakat,” ujar Bachtiar. keduanya, diharapkan pelaksanaan tugas ke depan akan da“Dengan terselenggranya rakerwil Banten ini, saya berharap pat dilakukan dengan lebih baik lagi. adi sesuai dengan tema rakerwil DOK. KANWIL BANTEN yaitu, peningkatan kinerja dan citra Kanwil DJBC Banten, yang pada akhirnya akan berdampak pada meningkatnya citra dan kinerja DJBC secara keseluruhan. Kami menyadari, bahwa mewujudkan hal ini tidak semudah mengucapkannya. Tapi dengan upaya, kerja keras, kesungguhan serta kebersamaan, Insya Allah ini bisa kita wujudkan. Dan saya sudah dapatkan komitmen kawan-kawan sejajaran Kanwil Banten, doakan saja kami bisa melaksanakan tugas dengan sebaikbaiknya,” tandas Bachtiar. Seusai terselenggaranya rakerwil Banten, dan dalam rangka mewujudkan hasil raker yang telah disepakati, maka pada 10 April 2008, Kakanwil Banten didampingi seluruh Kepala Kantor dan Kabid P2 di jajaran Kanwil Banten, melakukan kunjungan kerja ke Kapolda Mentro Jaya, dan bertemu dengan Irjen Pol. Adang KERJASAMA BIDANG HUKUM. Sehari setelah terselenggaranya rakerwil Banten, Kakanwil Banten didampingi Firman. Pada kesempatan itu seluruh Kepala KPPBC dan Kabid P2, melakukan kunjungan kerja ke Polda Metro Jaya, guna berkoordinasi untuk dibahas mengenai peningkat- peningkatan kerjasama di bidang hukum.
EDISI 402 MEI 2008 WARTA BEA CUKAI

31

PENGAWASAN
FOTO-FOTO WBC/ZAP

JUMPA PERS hasil tegahan KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok, atas 136 senjata api mainan dan 24 buah benda bersejarah.

Benda Purbakala & Air Soft Gun

PENEGAHAN IMPORTASI

P

Sebanyak 24 barang purbakala dan 136 senjata api mainan ditegah importasinya.

etugas Kantor Pelayaan Utama (KPU) Bea dan Cukai Tanjung Priok, berhasil melakukan penegahan dan mengamankan kegiatan importasi illegal atas 24 buah benda purbakala dan 136 buah pistol mainan (air soft gun) yang dilakukan oleh pihak-pihak yang mencoba memanfaatkan kelengahan petugas. Dalam jumpa pers pada 17 April 2008 di Media Centre, KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok, Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Anwar Suprijadi mengatakan, benda purbakala itu diimpor dari Thailand, sementara replika senjata didatangkan dari Amerika dan Hongkong. Benda purbakala yang diselundupkan ini, lanjut Anwar terdiri atas lima jenis yang diimpor tersangka JVB asal Thailand terdiri dari hiasan ikan dari abad 14-16 masehi, dua buah pot hiasan merah dari abad 2-4 masehi, tiga guci berleher bercak puth dari abad 13-14 masehi, enam guci berleher tinggi dari abad ke-11-12 masehi dan empat guci kupingan dari abad ke-11-13 masehi. Sementara itu, terhadap impor illegal senjata mainan sebanyak 133 pucuk berasal dari Hongkong yang diimpor oleh PT. AR menggunakan peti kemas berukuran 20 kaki dengan nomor GESU-304277 dan tiga pucuk pistol mainan asal Amerika Serikat diimpor oleh DI menggunakan peti kemas 20 kaki bernomor CCLU-2684250. Untuk kasus importasi senjata mainan, pihak KPU telah menahan empat tersangka masing-masing berinisial R, AB, S dan D. Dan diketahui harga air soft gun di pasaran gelap berkisar antara Rp3-4 juta. Dalam kasus ini, menurut Kepala KPU, Kushari Suprianto, importir tidak memberitahukan secara benar dalam manifest
WARTA BEA CUKAI EDISI 402 MEI 2008

pemberitahuan impor barang atas impor benda purbakala, padahal barang tersebut termasuk dalam kategori barang larangan dan pembatasan. “Untuk dapat mengungkap kasus tersebut dan memperoleh keterangan yang cukup, saat ini sedang dilakukan penyelidikan intensif dan berkoordinasi dengan Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta dan Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala Departemen Kebudayaan dan Pariwisata serta sudah diinformasikan ke kedutaan besar Thailand,” tutur Kushari yang menurutnya, untuk barang purbakala nilai kerugian yang berhasil diselamatkan tidak dapat dihitung secara fiskal karena merupakan barang yang dilarang atau dibatasi impornya. Sedangkan untuk kasus impor barang yang dilarang atau dibatasi impornya, pelaku diancam dengan sanksi pidana penjara paling singkat 2 tahun dan paling lama 8 tahun dan atau pidana denda paling sedikit Rp. 100 juta dan paling banyak Rp. 5 miliar. Selain dihadiri Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Anwar Suprijadi dan Kepala KPU, Kushari Suprianto, hadir pula dalam acara tersebut, Kabid P2 KPU Tanjung Priok, Heru Sulastiono, Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta diwakili Indra Riawan, Kepala Polres KP3 Tanjung Priok, AKB .AR Yoyol. ris

SEJUMLAH BARANG TEGAHAN berupa replika air soft gun dan bendabenda purbakala asal Thailand yang berhasil ditegah aparat KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok.

32

FOTO-FOTO DOK. KPPBC TANJUNG MAS

Rp. 15 MILYAR. Kakanwil DJBC Jawa Tengah, Ismartono saat press release tegahan kayu merbau senilai Rp. 15 Milyar.

DITEGAH. Sebanyak 15 kontainer kayu jenis merbau berhasil ditegah petugas KPPBC Tanjung Mas.

DITEGAH PETUGAS KPPBC TANJUNG MAS
Dengan diberitahukan sebagai keranjang basket dan kotak surat, ekspor kayu merbau asal Papua sebanyak 15 kontainer berhasil digagalkan petugas Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe A2 Tanjung Mas.

Ekspor Kayu Merbau

E

kspor kayu ilegal kembali digagalkan oleh petugas Bea dan Cukai. Setelah sebelumnya Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Riau Kepulauan berhasil menggagalkan ekspor kayu asal Indonesia bagian timur ke Malaysia, kini ekspor kayu jenis merbau asal Papua juga berhasil ditegah petugas KPPBC Tanjung Mas. Tegahan diawali dengan kecurigaan petugas akan dokumen Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) yang masuk pada 3 dan 4 April 2008 dari PT. Safa Harta Abadi melalui PPJK PT. Seno Makmur, dengan menyebutkan kalau barang yang diekspor adalah keranjang basket dan kotak surat sebanyak 15 kontainer dengan tujuan China. Namun, petugas yang melihat berat barang tidak sesuai dengan jenis barang, langsung menerbitkan Nota Hasil Intelijen (NHI) untuk dilakukan pemeriksaan fisik. Menurut Kepala Seksi Penindakan dan Penyidikan KPPBC Tipe A2 Tanjung Mas, Budi Iswantoro, dengan NHI yang dikeluarkan tersebut petugas langsung melakukan penelitian lapangan untuk melihat lebih jauh kemungkinan masih adanya barang sejenis yang masuk. “Setelah kami mengeluarkan NHI kami mencoba untuk meneliti lebih lanjut sambil menunggu kemungkinan masuknya kembali barang-barang sejenis tersebut, dan hasilnya setelah kami tunggu selama satu hari barang sejenis pun kembali masuk dengan dokumen pemberitahuan yang sama,” jelas Budi Iswantoro.

Masih menurut Budi, dari hasil tersebut akhirnya petugas langsung melakukan pemeriksaan fisik dan kedapatan ke-15 kontainer tersebut adalah kayu jenis merbau yang masuk dalam tataniaga ekspor. Sementara itu menurut Kepala Kanwil DJBC Jawa Tengah, Ismartono, pada acara press release yang digelar pada 11 April 2008 di Tanjung Mas, dari hasil penyelidikan petugas Bea dan Cukai bersama Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Tengah, dipastikan kayu-kayu merbau yang akan diselundupkan ke China merupakan hasil pembalakan liar yang dilakukan di kawasan hutan Papua. Sebab, jenis kayu merbau hanya ada di Papua. “Tegahan ini merupakan tegahan yang cukup besar di awal tahun 2008 ini, dan dari tegahan tersebut maka kerugian negara yang berhasil diselamatkan sebesar Rp. 15 milyar. Untuk selanjutnya kasus ini akan dilakukan penyelidikan lebih lanjut guna mendapatkan para tersangka dari kegiatan illegal tersebut,” papar Ismartono. Wilayah pengawasan di pelabuhan Tanjung Mas memang saat ini belum memiliki X-Ray untuk lebih mengoptimalkan pengawasan dan pelayanan yang diberikan oleh jajaran Kanwil Jawa Tengah. Namun, dengan kinerja yang maksimal dari petugas Bea dan Cukai di jajaran Kanwil Jawa Tengah khususnya KPPBC Tanjung Mas, optimalisasi pengawasan tetap dijalankan dengan baik sehingga berhasil melakukan penegahan ekspor yang cukup besar. adi

BERITA DUKA CITA
Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun Telah berpulang ke Rahmatullah pada hari Sabtu, 19 April 2008, Zubaidah binti Martasik Almarhumah adalah Ibunda dari Supriyadi Wijaya (Redaktur Warta Bea Cukai), dan telah dimakamkan pada hari Sabtu, 19 April 2008 di TPU Cigugur Tengah Babakan Pesantren, Cimahi, Bandung. Keluarga besar Warta Bea Cukai menyampaikan turut belasungkawa. Semoga amal ibadahnya diterima disisi Allah SWT, dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan.

EDISI 402 MEI 2008

WARTA BEA CUKAI

33

PENGAWASAN
negara Thailand. Saat dilakukan pemeriksaan dengan XRay, petugas menemukan benda yang mencurigakan yang dibungkus dengan kardus makanan yang dicampur pakaian. Dari pemeriksaan itu, petugas langsung melakukan penegahan dan setelah diperiksa lebih lanjut dalam kopor tersebut ditemukan sebanyak 29 bungkus dengan berat 6,913 kg shabu-shabu dengan nilai Rp. 10 milar. Dengan tegahan tersebut, petugas langsung mengamankan kedua tersangka yang dalam pemeriksaannya mengaku baru kali ini ke Indonesia, sementara dalam paspor menunjukan kedua warga negara asing tersebut telah dua kali mengunjungi Indonesia. Menurut Kepala Kantor Wilayah DJBC Banten, Bachtiar, Shabu-shabu sebanyak 6,913 kg asal Hongkong atau senilai Rp.10 milyar yang pada acara press release 12 April 2008 di KPPBC Soekarno-Hatta, tersangka mencoba memasukkan psikodibawa oleh kurir warga negara tropika golongan II jenis shabu-shabu ini dengan modus Thailand, berhasil ditegah petugas dimasukkan ke dalam koper. Tersangka yang diduga Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea merupakan kurir dari jaringan internasional obat-obatan terlarang ini, dalam pemeriksaan hanya mampu berbahadan Cukai (KPPBC) Tipe A1 Soekarnosa Mandarin, dan mengaku tidak tahu kalau koper yang Hatta, di terminal II D kedatangan dibawanya berisi shabu-shabu. internasional dengan modus “Dalam pemeriksaan mereka mengaku dibayar 10.000 dimasukan ke dalam bungkus makanan Yuan (Rp. 10 juta-red) oleh orang yang menyuruh yang dicampur dengan pakaian. membawa barang tersebut, sementara pekerjaan mereka di Thailand adalah sebagai juru masak di restoran,” ujar Bachtiar. PPBC Tipe A1 Soekarno-Hatta berhasil menegah Sementara itu menurut Kepala KPPBC Tipe A1 Soekardua warga negara Thailand yang diduga sebagai kurir karena membawa shabu-shabu sebanyak no-Hatta, Rahmat Subagio, pemeriksaan terhadap kedua 6,913 kg pada 11 April 2008. tersangka hingga kini masih terus dilakukan, guna Petugas yang awalnya telah curiga terhadap mengetahui apakah ada hubungan antara tersangka yang penumpang pesawat China Airlines dengan nomor penertelah ditegah sebelumnya dengan barang yang mereka bangan CI 679 yang baru tiba dari Hongkong diterminal II bawa sekarang. D kedatangan internasional, melakukan pemeriksaan fisik “Saat ini kami tengah berkoordinasi dengan pihak Kebarang milik tersangka KTL dan HYL keduanya warga polisian dan BNN guna menyelidiki kemungkinan adanya kaitan antara tersangka WBC/ATS yang saat ini kami tegah dengan tersangka yang sebelumnya kami tegah, sementara itu untuk barang bukti dan tersangka selanjutnya akan kami serahkan kepada pihak Kepolisian gu- na proses lebih lanjutnya,” papar Rahmat Subagio. Dengan ditegahnya kedua tersangka ini, maka untuk tahun 2008 (JanuariApril), KPPBC Tipe A1 Soekarno-Hatta telah berhasil melakukan penegahan narkotika dan psikotropika sebanyak empat kali, dan untuk menjaga kemungkinan masuknya kembali barang haram tersebut, pihak KPPBC SoekarnoHatta akan terus meningkatkan pengawasan yang dibantu dengan sarana dan prasarana yang telah dimilikinya. Sementara itu, untuk kedua tersangka mereka dinyatakan telah melanggar Undang-Undang Nomor 5 tahun 1997 tentang psikotropika dengan ancaman pidana penjara paling lama WARGA NEGARA ASING. Tersangka dua warga negara asing dan sejumlah barang bukti yang berhasil ditegah dan 10 tahun atau denda paling banyak Rp.300 juta. adi dijaga ketat oleh petugas.

Shabu Asal Hongkong

DITEGAH PERTUGAS KPPBC SOEKARNO-HATTA

K

34

WARTA BEA CUKAI

EDISI 402 MEI 2008

FOTO-FOTO WBC/ATS

SEBANYAK 117 KG PUPUK BERSUBSIDI yang akan di ekspor secara illegal, dimuat dalam enam kontainer.

Pupuk Bersubsidi
GAGAL DISELUNDUPKAN
Pupuk urea merupakan barang yang diawasi ekspornya dan terkena aturan larangan/ pembatasan.

KUSHARI SUPRIYANTO. Eksportir memalsukan data pada dokumen PEB dengan mencantumkan nomor pos tarif bukan sebagai komoditas yang terkena aturan larangan atau pembatasan dari pemerintah.

P

etugas Kantor Pelayanan Utama (KPU) Bea dan Cukai Tanjung Priok, untuk kesekian kalinya berhasil menegah dan mengamankan 117 kg pupuk bersubsidi yang akan di ekspor secara illegal yang dimuat dalam enam kontainer. Modus yang dilakukan oleh kedua eksportir ini adalah dengan memberitahukan secara tidak benar nomor HS (pos tarif) barangnya, dimana untuk pos tarif yang diberitahukan pada Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) bukan merupakan komoditas yang terkena aturan larangan/ pembatasan dari pemerintah. Ada indikasi pula bahwa pelaku dengan sengaja memasukkan kontainer ekspornya ke kawasan pabean pada saat closing time pemuatan barang ke kapal pengangkut. Komiditas strategis yang bernilai Rp. 528 juta ini terungkap saat hendak dikirim ke Malaysia oleh dua eksportir masing-masing PT CMP yang memberitahukan sebagai fertilizer namun ternyata dari hasil pemeriksaan fisik dan juga dilakukan pengujian laboratorium pada Balai Pengujian dan Identifikasi Barang Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, disimpulkan bahwa barang yang akan diekspor tersebut merupakan pupuk kimia yang mengandung nitrogen jenis urea dalam bentuk padat, serta PT CBC, yang memberitahukan sebagai biji tawas, ternyata dari hasil pemeriksaan ditemukan berupa butiran warna putih pada kemasan tertulis pupuk bersubsidi pemerintah. Dalam acara press release hasil tegahan, Kepala KPU Bea Cukai Tanjung Priok, Kushari Supriyanto yang didampingi Kepala Seksi Pencegahan dan Penyidikan, Heru Sulastiono, menjelaskan kepada wartawan, bahwa selain memasukkan barang ke kawasan pabean mendekati closing time atau mendekati waktu pemberangkatan

kapal guna menghindari pemeriksaan,. Kedua eksportir itu juga memalsukan data pada dokumen PEB dengan mencantumkan nomor pos tarif bukan sebagai komoditas yang terkena aturan larangan atau pembatasan dari pemerintah. Press release yang juga dihadiri oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Anwar Suprijadi berlangsung pada 26 Maret 2007 di aula X-ray Kontainer, KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok. Sebagaimana diketahui, pupuk urea merupakan barang yang diawasi ekspornya dan terkena aturan larangan/ pembatasan, sehingga untuk eksportasinya wajib untuk dilengkapi dengan ijin/ rekomendasi dari instansi terkait dalam hal ini Departemen Perdagangan. Dari hasil tegahan tersebut pihak Bea dan Cukai KPU Tanjung Priok telah menyita 6 kontainer pupuk yang tersimpan di dalam bag sebanyak 2.350 bag dengan berat keseluruhannya sebanyak 117.500 kg sebagai barang bukti. Dalam kasus ini, pelaku telah melanggar beberapa aturan yang antara lain, Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 03/ M-DAG/PER/2/2006 tentang Pengadaan dan Penyaluran Pupuk Bersubsidi Untuk Sektor Pertanian. Dan juga, Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 01/MDAG/PER/2007 tentang Perubahan atas lampiran Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan nomor 558/MPP/ Kep/12/1998 tentang Ketentuan Umum di Bidang Ekspor sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 07/M-DAG/PER/4/ 2005 dimana disebutkan bahwa pupuk urea termasuk komoditas yang diawasi ekspornya atau harus mendapat ijin dari Menteri Perdagangan atau pejabat yang ditunjuk. Sementara itu Heru Sulastiono menambahkan, berdasarkan UU Kepabeanan No. 17/2006, para tersangka dapat dijerat dengan pasal tindak pidana kepabeanan sebagaimana dimaksud dalam pasal 103 huruf (a) UU No.17/ 2006 tentang Perubahan atas UU No.10/1995 tentang Kepabeanan dengan sanksi pidana penjara maksimal delapan tahun dan atau pidana denda maksimal Rp. 5 miliar. Sedangkan nilai barang yang berhasil ditegah diperkirakan sebesar Rp. 528.750.000. Kerugian yang lebih besar dalam hal ini adalah yang bersifat imateril yaitu dapat mengakibatkan kelangkaan pupuk di kalangan para petani yang dapat menyebabkan terjadinya domino effect menyangkut masalah penurunan kualitas dan kuantitas produksi hasil pertanian dan kegagalan panen sehingga pada akhirnya dapat mengganggu stok dan ketahanan pangan nasional. ris
EDISI 402 MEI 2008 WARTA BEA CUKAI

35

PENGAWASAN

Shabu-Shabu Senilai Rp 14 Milyar
BERHASIL DITEGAH PETUGAS KPPBC SOEKARNO-HATTA
Tiga warga negara Malaysia kembali membawa barang haram ke Indonesia, dengan modus dimasukkan kedalam tabung yang menyerupai filter air, shabu-shabu seberat 9.390 gr akhirnya berhasil disita petugas Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe A1 Soekarno-Hatta.

S

etelah sebelumnya warga negara Malaysia membawa barang yang masuk dalam kategori larangan/pembatasan berupa senjata dan alat penyadap pada tahun 2007, kini tiga warga negara Malaysia lainnya kembali mencoba memasukan barang haram ke Indonesia berupa shabu-shabu seberat 9.390 gr, pada 29 Maret 2008. Ketiga warga negara Malaysia, dua laki-laki dan satu perempuan masing-masing Thor Li Hwa (36), Tan Sew Hua (42), dan Pe Mee Yee (33), mencoba memasukan shabu-shabu seharga Rp. 14 milyar tersebut dengan modus dimasukan kedalam tabung filter air yang dibungkus dengan kardus agar tidak terdeteksi oleh petugas. Namun petugas yang pada saat itu tengah pergantian tugas pagi dengan malam, sebelumnya telah menaruh curiga berdasarkan profil penumpang dan risk management akan penumpang pesawat Cathay Pacific CX 777 dari Hongkong yang mendarat pukul 17.00 wib. Menurut Kepala Seksi Penindakan dan Penyidikan KPPBC Soekarno-Hatta, Eko Dharmanto, kecurigaan petugas terbukti pada saat dilakukan pemeriksaan barang pada X-Ray yang menunjukkan adanya jenis barang terlarang yang disimpan pada tabung tersebut.”Sebelumnya mereka yang tidak berbahasa Melayu dan Inggris itu mengelak kalau barang yang dibawanya adalah shabu-shabu, namun dengan bekerjasama pihak imigrasi untuk pemanduan bahasa akhirnya mereka tidak dapat mengelak kalau barang yang dibawanya adalah barang psikotropika,” jelas Eko.
FOTO-FOTO DOK. KPPBC SOEKARNO-HATTA

SHABU-SHABU. Petugas saat memperlihatkan tabung filter air yang ternyata berisi shabu-shabu seberat 9.390 gr atau setara dengan Rp 14 milyar.

TERSANGKA. Tiga warga negara Malaysia yang hanya mampu berbahasa mandarin, berhasil ditegah petugas karena membawa barang haram ke Indonesia

Lebih lanjut Eko menambahkan, pihaknya kini terus berusaha mengembangkan kasusnya bersama-sama pihak Kepolisian dan BNN, yang diperkirakan kasus tersebut merupakan jaringan internasional narkotika.”Walaupun Indonesia dinyatakan sudah sebagai produsen, namun untuk kualitas masih jauh dari luar negeri, untuk itu barang-barang haram tersebut diperkirakan masih akan tetap masuk ke Indonesia dengan berbagai cara,” ujar Eko. Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Banten, Bachtiar yang didampingi Kepala KPPBC Tipe A1 Soekarno-Hatta, Rahmat Subagio, pada acara press release 30 maret 2008 menyatakan, prestasi ini telah menyelamatkan banyak orang dan keluarga dari kemungkinan penyalagunaan psikotropika, karena shabu yang ditaksir bernilai sekitar Rp 14 milyar tersebut, dalam prakteknya tiap gramnya dapat dipergunakan oleh tiga orang, artinya tegahan ini mencegah peredaran shabu yang dapat digunakan oleh 28.170 orang. Kini ketiga tersangka yang dinyatakan telah melanggar pasal 61 undang-undang nomor 5 tahun 1997 tentang psikotropika, mendapat ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara dan atau pidana denda maksimal Rp.300 juta. Sementara itu untuk lebih meningkatkan kinerja dari petugas di KPPBC Tipe A1 Soekarno-Hatta yang juga merupakan bandara terbesar di Indonesia, kini tengah diajukan permohonan untuk menambah sarana dan prasarana yang ada guna mengoptimalkan baik pelayanan yang diberikan maupun pengawasan barang maupun orang yang kian hari kian meningkat. Hal ini diungkapkan oleh Eko, menurutnya informasi yang ada saat ini sangat minim diterima oleh petugas KPPBC Soekarno-Hatta, untuk itu selain dengan peningkatan kinerja petugas melalui profiling penumpang dan risk management yang dijalankan, peningkatan sarana dan prasarana diharapkan dapat lebih menunjang lagi. adi

36

WARTA BEA CUKAI

EDISI 402 MEI 2008

FOTO-FOTO WBC/ATS

KE-11 LUKISAN KUNO asal Inggris akan diteliti lebih lanjut mengenai besarnya nilai lukisan, berkoordinasi dengan Balai Lelang Indonesia.

Penegahan Ponsel dan Lukisan Kuno

D

Petugas Bea Cukai Tipe A1 Bandara Soekarno-Hatta berhasil menyita 1.700 ponsel selundupan dari Singapura dan 11 lukisan kuno dari London Inggris.
SEBANYAK 1700 UNIT PONSEL ILEGAL yang berhasil ditegah petugas bea cukai.

alam gelar tegahan barang tersebut pada 9 April 2008, di Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe A1 Soekarno-Hatta terlihat ribuan ponsel senilai Rp. 1,25 miliar yang diangkut dengan pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA 823. Keberadaan ribuan ponsel selundupan diketahui petugas setelah barang bawaan milik pelaku penyelundup, AKJ, seorang warga negara India diperiksa dengan menggunakan x–ray. Setelah itu dilakukan penggeledahan dan ternyata ditemukan sebayak kurang lebih 1.700 ponsel merek Nokia dan Sony Ericcson. Modus yang digunakan pelaku untuk menyelundupkan ponsel illegal ini masuk ke Indonesia dengan cara mengemasnya dalam kardus dan dilapisi serabut dengan tujuan untuk mengaburkan warna sinar X. Sedangkan dilakukannya penyitaan atas hanpdhone illegal tersebut dikarenakan masuk dalam golongan sebagai barang yang dibatasi. Sementara itu, 11 lukisan kuno yang berasal dari London disita aparat dikarenakan tidak disertai dokumen pendukung dan tidak diberitahukan nilai pabean yang sesuai untuk perhitungan bea masuk dan pajak dalam rangka impor. Penyelundupan lukisan itu berhasil digagalkan saat hendak dikirim melalui kantor pos udara di Bandara Soekarno-Hatta.

Lukisan yang tergolong lukisan kuno karena dibuat pada tahun 1885 , 1913 dan tahun 1914 dilengkapi dengan sertifikasi keaslian. Ukuran lukisan bervariasi dari sekitar 60 cm x 40 cm hingga 120 cm x 100 cm dengan usia lukisan dari 173 tahun sampai yang termuda mencapai puluhan tahun. “Kesebelas lukisan itu dikirim melalui sebuah jasa pengiriman barang dengan penerima di Jakarta Selatan berinisial MR,” ujar Kepala Seksi Penyidikan dan Penindakan KPPBC SoekarnoHatta, Eko Darmanto. Menurut Eko, dikarenakan pengiriman barang berupa lukisan melanggar UU Kepabeanan dan mempunyai nilai ekonomi tinggi, apalagi mendapat pengesahan asli dari Sygun Museum of Wales, Inggris, maka aparat KPPBC Soekarno-Hatta akan mengamankan terlebih dahulu, sampai pemilik barang datang untuk mengurusnya. Lebih lanjut menurut Eko, nilai dari lukisan itu diperkirakan mencapai miliaran rupiah dan untuk mengetahui lebih lanjut mengenai besarnya nilai kesebelas lukisan itu pihaknya akan berkoordinasi dengan Balai Lelang Indonesia untuk mengetahui nilai barang itu. Sejauh ini pihaknya masih sedang melakukan pengembangan terhadap kasus tersebut. ris
EDISI 402 MEI 2008 WARTA BEA CUKAI

37

PUSDIKLAT

PEMBUKAAN DIKLAT. Kepala Pusdiklat Bea Cukai, Endang Tata saat membuka diklat juru sita dan teknik pemeriksaan, yang juga merupakan diklat utama bagi kinerja DJBC yang sangat dibutuhkan saat ini.

JURU SITA DAN TEKNIS PEMERIKSAAN
Setelah absen selama lima tahun, akhirnya diklat juru sita kembali diselenggarakan dengan tujuan dapat menciptakan pengetahuan dan keterampilan pegawai dalam hal penagihan di bidang kepabeanan. Sementara untuk diklat teknis pemeriksaan sebagai diklat dasar seorang pemeriksa barang, kali ini memuat materi yang lebih rinci dan detail.

Diklat

S
38

enin 31 Maret 2008 Pusdiklat Bea Cukai membuka dua diklat sekaligus bagi pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Untuk diklat kali ini merupakan diklat yang cukup istimewa, yaitu Diklat Teknis Subtantis Spesialisasi (DTSS) Juru Sita dan Teknik Pemeriksaan. Diklat juru sita yang diikuti oleh 30 pegawai DJBC dari golongan III, adalah diklat yang telah absen selama lima tahun terakhir di DJBC, dan kini kembali diselenggarakan. Sementara untuk diklat teknis pemeriksaan, diikuti oleh 30 pegawai DJBC dari golongan II, merupakan diklat dasar bagi pegawai DJBC dalam melakukan pemeriksaan barang, materinya kini lebih memiliki warna karena selain
WARTA BEA CUKAI EDISI 402 MEI 2008

lebih spesifik juga detail terhadap barang yang akan diperiksanya. Diklat yang dibuka langsung oleh Kapusdiklat Bea Cukai, Endang Tata dan disaksikan juga oleh pejabat di jajaran Pusdiklat Bea Cukai, dalam sambutannya dijelaskan, maksud dan tujuan DTSS juru sita adalah untuk memberikan pengetahuan, keterampilan dan sikap kepada pegawai DJBC dalam rangka melaksanakan tugas penagihan utang di bidang kepabeanan dan cukai sehingga para penanggung yang tidak menyelesaikan pembayaran utang di bidang kepabeanan dan cukai pada waktunya, dapat memenuhi kewajibannya secara cepat dan tepat sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. “Demikian pula halnya dengan diselenggarakannya DTSS teknik pemeriksaan, dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap pegawai DJBC dalam melaksanakan tugas pemeriksaan barang secara profesional, sehingga mampu melakukan identifikasi terhadap jenis, spesifikasi, kualitas, dan jumlah barang, serta dapat menuangkan ke dalam laporan hasil pemeriksaan secara tepat untuk mendukung penelitian dan penetapan klasifikasi, serta nilai pabean,” papar Endang Tata.

DTSS JURU SITA
Dengan absennya DTSS juru sita pada lima tahun terakhir, maka untuk diklat kali ini yang berlangsung sejak 31 Maret hingga 11 April 2008 dengan jumlah keseluruhan 92 jam latihan, pada materinya banyak mengalami perubahan dan penambahan, khususnya tentang teknikteknik penagihan dan penilaian aset. Adapun mata pelajaran yang diajarkan pada diklat ini, pertama, mata pelajaran pokok yang terdiri dari, ketentuan umum perpajakan, penagihan pajak dengan surat paksa, hak tanggungan atas aset kepemilikan, dan praktek

penagihan pajak dengan surat paksa. Kemenjadikan seseorang menjadi juru sita. dua, mata pelajaran penunjang yang terdi“Sebenarnya juru sita ini kedepannya ri atas, penilaian aset/asset appraisal, keakan tumpang tindih dengan penyidikan, pailitan dan kewajiban pembayaran utang. namun jika hal ini dapat disinergikan Ketiga, orientasi yang terdiri atas, PBB, dengan penyidikan khususnya pada peraperaturan dinas dalam, dan tata upacara turan tertentu, artinya hendaknya para juru militer. Dan keempat, ceramah yang terdiri sita ini memiliki latar belakang hukum, kaatas, tatacara dan prosedur penagihan rena kegiatan menyita erat kaitannya utang dengan surat paksa, dan hubungan dengan proses hukum, dengan demikian tugas dengan kepolisian. jika objek yang disita mengelak atau memMenurut Bambang Semedi salah satu punyai dukungan dari pihak lain, maka widyaiswara pada kedua diklat tersebut, para juru sita ini akan siap menghadapinya,” diklat juru sita merupakan diklat yang sajelas Tery. ngat penting dimana keuangan negara daSementara itu menurut Tri Novianto, pat ditarik secara jelas dalam arti pencariuntuk juru sita hendaknya juga didukung an objek dan subjek secara benar penuh oleh pimpinan atau KPPBC yang sehingga dapat mempermudah proses pemenugasinya, jangan sampai para juru sita nagihan. ini hanya dibekali surat tugas untuk “Kegiatan juru sita saat ini sudah berjamenyita, namun jika terjadi sesuatu yang lan dengan baik dan manfaatnya sangat BAMBANG SEMEDI. Seharusnya setiap lebih jauh misalnya hingga di pra peradilbagus yang tentunya terkait dengan ketenankan oleh orang yang akan disita, pimpinpegawai yang akan mengikuti diklat diwajibkan untuk mengikuti tes tuan yang sudah baku. Untuk itu diperluan atau KPPBC menyerahkan sepenuhnya spikologis agar dapat diketahui minat kan adanya suatu pendidikan mengenai kepada juru sita. dan kemampuan dari pegawai tersebut. juru sita agar para juru sita tidak melanggar ketentuan yang berlaku dan jika DTSS TEKNIK PEMERIKSAAN ditemukan hambatan-hambatan di lapangan mereka suSementara itu untuk diklat teknik pemeriksaan, pada dah paham cara mengatasinya, makanya tidak semua petahun ini sedikit berbeda dengan tahun-tahun gawai dapat menjadi juru sita tanpa diberikan pendidikan sebelumnya, karena selain materi yang diajarkan lebih dahulu,” ujar Bambang Semedi. spesifik pada jenis barang yang akan diperiksa, tenaga Masih menurut Bambang Semedi, selain tidak semua pengajarnya pun kini ditambah dari para asosiasi baik pegawai dapat menjadi juru sita, selayaknya untuk diklatyang memproduksi barang tersebut maupun yang selalu nya pun harus dilakukan tes psikologis terlebih dahulu mengimpor jenis barang tersebut. agar dapat melihat kemampuan dari pegawai tersebut. Dengan demikian, diklat teknis pemeriksaan yang dimuSelain itu, satu hal yang utama pada juru sita ini adalah lai pada 31 Maret hingga 18 April 2008 ini, cukup padat kekuatan mental dan moral dari pegawai dalam menghadalam mata pelajarannya, yaitu teknik pemeriksaan, teknik dapi setiap permasalahan penyitaan dan penagihan. penanganan barang berbahaya, teknik pemeriksaan baSementara itu menurut salah satu siswa yang ikut darang kimia (precursor), teknik pemeriksaan barang plastik lam diklat juru sita, Tery Zakiar Muslim, diklat juru sita dan karet sisntetik, teknik pemeriksaan barang tekstil, saat ini hendaknya dilengkapi dengan modul undang-unteknik pemeriksaan barang besi dan logam tidak mulia dang tentang penyitaan baik pelaksanaan di lapangan lainnya, teknik pemeriksaan mesin industri, teknik pememaupun juklaknya, karena waktu dua minggu yang diberiksaan barang elektronik, otomotif, barang alat berat. rikan untuk diklat tersebut dirasakan masih kurang untuk Menurut Bambang Semedi, teknik pemeriksaan merupakan diklat dasar bagi kinerja DJBC, dimana FOTO-FOTO WBC/ATS saat ini dibutuhkan ketelitian dan pengetahuan yang luas terhadap barang tersebut, yang dalam perkembangannya juga mengalami kemajuan yang cukup pesat. Sementara itu menurut Guntur, salah satu siswa pada diklat teknik pemeriksaan, saat ini masih banyak pegawai DJBC yang dinyatakan sebagai pemeriksa, namun belum pernah mengikuti diklat pemeriksa. Hal ini tentunya akan menghambat kinerja dari pegawai tersebut yang kenyataan di lapangan banyak komoditi tertentu dengan jenis yang sama namun berbeda tarifnya. “Seharusnya semua pemeriksa memang terlebih dahulu mengikuti diklat teknik pemeriksaan ini, sehingga mereka selain mampu membedakan jenis barang yang diperiksa, juga tidak akan mengalami hambatan dalam membuat laporan pemeriksaan,” ujar Guntur. Masih menurut Guntur, untuk diklat kali ini memang jauh berbeda dengan diklat sebelumnya, karena baik dari mata pelajaran maupun tenaga pengajaranya lebih terfokus pada jenis barang dan tatacara pemeriksaannya. Untuk itu dirinya juga berharap dapat menularkan ilmu yang telah diterimanya pada diklat kali ini, kepada MATERI LEBIH DETAIL. Dengan materi pelajaran diklat yang lebih detail dan terfokus pada pegawai lainya yang belum sempat mengisasaran, diharapkan para siswa dapat lebih optimal dalam pelaksanaan tugas dan mampu kuti diklat teknik pemeriksaan. adi menerapkannya dengan benar.
EDISI 402 MEI 2008 WARTA BEA CUKAI

39

SEPUTAR BEACUKAI
WBC/ATS

JAKARTA. Direktur Jenderal Bea dan Cukai Anwar Suprijadi pada 29 Pebruari 2008 menyaksikan acara serah terima jabatan pejabat eselon II dilingkungan DJBC. Acara serah terima yang diselenggarakan di Aula Loka Muda gedung B lantai 5 Kantor Pusat DJBC ini diikuti 15 pejabat eselon II (data lengkap lihat edisi April WBC 401) berdasarkan dikeluarkannya Keputusan Menteri Keuangan RI. Nomor /KMK.01/UP.11/2008. Acara diawali penandatanganan naskah jabatan dan penyerahan memorandum jabatan yang dilakukan dalam tiga tahap. Tampak pada gambar kiri, diantaranya penandatangan serah terima jabatan Kepala KPU yang lama Agung Kuswandono kepada pejabat baru Kushari Supriyanto yang disaksikan Dirjen BC Anwar Suprijadi. Usai serah terima Direktur Jenderal Bea Dan Cukai Anwar Suprijadi memberikan briefing didampingin Sekretaris Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kamil Sjoib (gambar kanan).
WBC/ATS

JAKARTA. Tujuh pegawai KP-DJBC pada 14 Maret 2008 dilantik dan diangkat sumpah jabatan oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai Anwar Suprijadi sebagai pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS). Pengambilan Sumpah Jabatan PPNS dilaksanakan di ruang rapat Kepala Bagian Umum dan ditandai dengan penandatanganan naskah jabatan. Hadir diacara tersebut Direktur P2 R.P. Jusuf Indarto, Direktur PPKC Hanafi Usman, Kepala Kanwil Jakarta Heru Santoso, Kepala Kabag Umum Sonny Subagyo, Kepala Bagian Kepegawaian Azhar Rasyidi dan beberapa pejabat eselon III lainnya.
WBC/ATS

JAKARTA. Kantor Pusat DJBC pada 24 Maret 2008 mengangkat dan mengambil sumpah pegawai negeri sipil (PNS) di Auditorium gedung B KP-DJBC, dipimpin Sekretaris Diretorat Jenderal Bea dan Cukai Kamil Sjoeib. Pengambilan sumpah ditandai dengan pembacaan naskah sumpah pegawai negeri dan dilanjutkan penandatanganan naskah pengangkatan pegawai. Hadir dalam acara tersebut Kepala Bagian Umum Sonny Subagyo, Kepala Bagian Kepegawaian Azhar Rasyidi dan beberapa pejabat eselon IV lainnya . Acara diakhiri dengan pemberian selamat kepada para pegawai yang diangat dan diambil sumpahnya.

40

WARTA BEA CUKAI

EDISI 402 MEI 2008

WBC/ATS

JAKARTA. Enam pejabat eselon IV dilingkungan KPDJBC pada 7 April 2008 dilantik dan diambil sumpah jabatan oleh Sekretaris DJBC Kamil Sjoeib di aula rapat Kepala Bagian Umum gedung utama lantai 2. Acara dihadiri Direktur Teknis Kepabeanan Agung Kuswandono dan beberapa pejabat eselon III diantaranya Kepala bagia Umum Sonny Subagyo, Kepala Bagian Kepegawaian Azhar Rasyidi dan beberapa pejabat eselon IV lainnya. Acara diawali dengan pembacaan naskah sumpah jabatan oleh Kamil Sjoeib dan dilanjutkan dengan penandatangan naskah jabatan.

FOTO : DONNY

MAKASSAR. Kanwil DJBC Sulawesi pada tanggal 3 Maret 2008 menyelenggarakan acara pisah sambut antara pejabat lama Kakanwil DJBC Sulawesi Bachtiar dengan pejabat baru, Teguh Indrayana di Hotel Sahid Makassar. Acara berlangsung meriah dengan dihadiri para jajaran Muspida setempat, pejabat di lingkungan Depkeu, pejabat eselon III dan IV serta seluruh pegawai di lingkungan Kanwil Sulawesi. Tampak dalam gambar kiri, Kakanwil yang lama menerima kenang-kenangan dari para pegawai Kanwil Sulawesi berupa karikatur yang diberikan oleh Kabid Kepabeanan dan Cukai, Bambang PK. Dan pada gambar kanan kedua pejabat beserta istri berfoto bersama dengan para hadirin. Don’s, Makassar
FOTO : DONNY

SURABAYA. Kanwil DJBC Jawa Timur I menyelenggarakan acara pisah sambut Pejabat Eselon III dan Penghantar Purna Tugas Kepala Bagian Umum Kantor Wilayah DJBC Jawa Timur I pada 31 Maret 2008. Acara diselenggarakan di Aula Kantor Wilayah DJBC Jawa Timur I, Jl. Perak Timur 498 Surabaya, dihadiri oleh Kepala Kantor Wilayah DJBC Jawa Timur I C. F. Sidjabat, para Pejabat Eselon III dan IV serta perwakilan pelaksana di lingkungan Kantor Wilayah DJBC Jawa Timur I. Selain itu acara juga dihadiri oleh ketua dan perwakilan Ibu-ibu Dharma Wanita Persatuan Kantor Wilayah DJBC Jawa Timur I. Pejabat Eselon III yang pindah tugas ditempat yang baru adalah Drs. Putut Tedjo Asmojo Djati, M.M. (sekarang menjabat Kepala KPPBC Tipe A2 Pasuruan) digantikan Ir. R. Basuki Aribawa, M.A. dan Drs. Abdul Kharis, M.A. (sekarang menjabat Kepala BPIB Tipe B Surabaya) digantikan dengan Yudiyanto S.T, sedangkan pejabat yang memasuki masa purna tugas yakni Drs. Mursito,M.M. Kiriman Kanwil DJBC Jawa Timur I.
FOTO : KIRIMAN

MAKASSAR. Bekerjasama dengan PMI Makassar, Kanwil DJBC Sulawesi pada tanggal 12 Maret 2008 mengadakan kegiatan aksi sosial donor darah. Dalam kegiatan ini diikuti oleh 24 orang pendonor. Pegawai yang ikut menyumbangkan darahanya diantaranya adalah pejabat eselon III dan IV serta para pegawai dilingkungan Kanwil DJBC Sulawesi dan KPPBC Tipe A3 Makassar. Don’s, Makassar

EDISI 402 MEI 2008

WARTA BEA CUKAI

41

SEPUTAR BEACUKAI
FOTO : MUQSITH HAMIDI WBC/ATS

BALIKPAPAN. Pada 3 April 2008 bertempat di ruang kerja Kepala KPPBC Tipe A3 Balikpapan dilangsungkan upacara pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan penyidik pegawai negeri sipil (PPNS) yang berjumlah 1 orang yakni Sdr. Acep Herman. Acara dipimpin langsung oleh Kepala KPPBC Tipe A3 Balikpapan, Iskandar dengan disaksikan para pejabat eselon IV dan rohaniawan. Tampak dalam gambar, Kepala KPPBC Tipe A3 Balikpapan, Iskandar tengah mengambil sumpah jabatan kepada pegawai yang dilantik Muqsith Hamidi, Balikpapan

JAKARTA. Dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1429 H dengan teman Teladan Akhlaq Rosulullah untuk meningkatkan kualitas ukhuwah islamiyah, Panitia Masjid KP-DJBC menyelenggarakan Tablig Akbar dan Tausiah bersama Ferry Noor (Sekjen Kispa). Acara di selenggarakan di Masjid Baitut Taqwa pada 8 April 2008 dihadiri Direktur Teknis Kepabeanan Agung Kuswandono, Ketua DKM Baitut Taqwa Aziz Syamsu Arifin dan Kepala Kabag Umum Sonny Subagyo. Selain itu, acara ini juga dihadiri oleh para pejabat eselon III dan IV serta para pegawai KP-DJBC.
WBC/PPS

JAKARTA. Pada 29 Maret 2008, Persekutuan Warga Kristiani kantor Pusat DJBC menyelenggarakan Ibadah dan Perayaan Paskah di Auditorium Gedung B Kantor Pusat. Ibadah Paskah yang dihadiri para pegawai Kristiani beserta keluarga itu dipimpin Pdt. Dr. Binsar Nainggolan dengan tema: “Pedulikah kita dengan lingkungan hidup kita?.” Selain undangan, terlihat hadir Thomas Sugijata, Frans Rupang dan C.F. Sijabat (gambar kanan). Setelah ibadah usai, panitia perayaan Paskah menyiapkan beberapa lomba untuk anak-anak, termasuk mencari telur Paskah di lapangan upacara. Anak-anak terlihat ceria dan bersemangat mengikuti lomba. Agar tidak kecewa, selain pemenang, semua peserta lomba tetap mendapat hadiah Paskah (gambar kiri).
WBC/ATS

BANTEN. Pada 16 April 2008 Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Banten Ny. Bachtiar menyelenggarakan acara rapat pembentukan pengurus untuk wilayah Banten. Rapat ini dihadiri ibu-ibu dan pegawai Bea dan Cukai dilingkungan Kantor Wilayah Banten. Usai pembentukan pengurus dilanjutkan diskusi membicarakan hal-hal kedepan yang akan dilaksanakan. Tampak pada gambar, Ny Bachtiar berfoto bersama dengan pengurus DWP yang telah dikukuhkan.

42

WARTA BEA CUKAI

EDISI 402 MEI 2008

FOTO : KIRIMAN

JAKARTA. Dewan Kemakmuran Mesjid Kantor Pelayanan Utama (KPU) Bea dan Cukai menyelenggarakan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada Rabu (26/3) di Aula Gedung Induk Lt. 5 Jalan Pabean nomor 1, Tanjung Priok. Menurut M. Hakim Satria, Ketua DKM, maulid tahun ini mengambil tema ’Mencintai Nabi Dengan Meneladaninya’. Acara tersebut juga diisi dengan tausyiah dari Ustadz Zainal Muttaqin, dengan tema “Rasul teladan sebagai suami, sebagai bapak, sahabat, guru, panglima perang, keadilan, kepemimpinan, ibadah, diplomat, dan sebagainya,” tampak pada gambar kiri, Kepala KPU Kushari Suprianto memberikan sambutan. Sebelumnya pada 6 Maret 2008, dilakukan acara penyerahan beasiswa kepada 62 siswa yang berasal dari 36 kepala keluarga dimana 26 diantaranya berasal dari keluarga pegawai cleaning service. Dan gambar kiri, Kepala Bagian Umum KPU Tanjung Priok Padmoyo Triwikanto memberikan beasiswa secara simbolis yang berasal dari DKM KPU Tanjung Priok Kiriman Arie Julianto - KPU Tanjung Priok
FOTO : KIRIMAN

ACEH. Kepala Kanwil DJBC Nangroe Aceh Darusalam (NAD) Iswan Ramdana melantik 7 pegawai golongan II dilingkungan Kanwil DJBC Nangroe Aceh Darusalam (NAD) pada 27 Maret 2008 (gambar kiri). Acara dihadiri oleh Kepala KPPBC Banda Aceh dan beberapa pejabat dilingkungan Kanwil NAD. Acara kemudian dilanjutkan dengan peresmian rumah dinas/mess yang terletak di Jl. Reformasi, Desa Santan, Kec. Ingin Jaya, Aceh Besar, NAD dengan ditandai pemotongan pita dan penandatanganan batu prasasti oleh Kakanwil DJBC (NAD) Iswan Ramdana (gambar kanan). Kiriman KWBC Nangroe Aceh Darusalam
FOTO : KIRIMAN

ACEH. Pada 27 Maret 2008 di rumah dinas dan mess Bea dan Cukai Jalan Reformasi, Desa Santan, Kecamatan Ingin Jaya – Aceh Besar NAD diselenggarakan acara penyambutan Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) DJBC NAD yang baru. Iswan Ramdana secara adat oleh masyarakat Aceh yang dinamakan Peusijuk atau adat tepung tawar yang dilakukan oleh salah satu ulama setempat, seperti tampak pada gambar kiri. Acara ini dihadiri oleh Kepala Kanwil DJBC NAD Iswan Ramdana, Kepala Lurah Desa Santan, tokok pemuka agama dan tokoh adat Tengku Abu Santan serta beberapa pejabat dan pegawai dilingkungan Kanwil. Usai acara yang juga dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW dilakukan pemberian santunan kepada anak yatim piatu dan anak penyandang cacat SLB disekitar Desan Santan (gambar kanan). Kiriman KWBC Nangroe Aceh Darusalam

EDISI 402 MEI 2008

WARTA BEA CUKAI

43

SIAPA MENGAPA

C H O L I S

S A T I R I

M

enjadi tentara angkatan laut merupakan cita-cita nya sejak kecil, maka setelah lulus dari STM jurusan mesin, ia langsung mencoba melamar menjadi tentara. Dengan segala persiapan yang cukup matang Cholis akhirnya menjalani tes demi tes yang diwajibkan untuk menjadi tentara. Namun Tuhan berkata lain, walaupun lulus dari tes tertulis, tapi ketika tes kesehatan ia dinyatakan gagal. Kegagalan menjadi tentara tidak membuat putus asa ayah dari empat putra ini, Dirinya tetap berusaha untuk mendapatkan pekerjaan agar dapat menghidupi keluarganya kelak. Maka pekerjaan apapun yang ada saat itu dia lakoni demi menyambung hidup. Tak pilih-pilih pekerjaan yang penting halal dan bermanfaat terus digeluti Cholis, mulai bekerja di pabrik hingga di sebuah kontraktor ia jalani dengan sepenuh hati. Tahun 1979 saat Cholis bekerja di sebuah kontraktor, ia mendapatkan informasi kalau Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sedang membuka kesempatan dari berbagai lulusan. Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Cholis untuk mendaftar walaupun kabar yang diterimanya adalah hari terakhir pendaftaran. “Dengar kabar itu saya langsung menyiapkan ijasah dan dokumen lainnya untuk mendaftar, tapi begitu sampai untuk mengambil

AUGUSTINA CHRISTINA PATTY

S

uara lantang, tegas, dan merdu merupakan salah satu ciri khas pegawai yang memiliki nama panggilan Nace. Dengan modal suara tersebut ia sering didapuk menjadi seorang pembawa acara di setiap acara baik di kantor, gereja, maupun di hajatan pernikahan. Selain itu, berkat suaranya ia juga pernah menjadi juara Karaoke dalam rangka Hari Ulang Tahun Keuangan pada 2004 di Ambon. Bukan hanya hobbi mengolah suara, Nace pun juga hobi olah raga khususnya senam sehingga pernah juga menjuarai lomba poco-poco Dharma Wanita pada 2003 di Tingkat Provinsi Maluku. Aktifitas pegawai yang satu ini, diluar jam kerja terbilang padat, selain aktif di lingkungan tempat tinggalnya dalam berbagai kegiatan, Nace pun ikut menjadi Tim Penggerak PKK, sebagai Ketua Unit Pelayanan Gereja Protestan Maluku Jemaat Lateri, dan Majelis Gereja.” Beta (saya – red) ingin kegiatan yang beta lakukan itu positif dan juga bermanfaat untuk orang lain,” kata ibu tiga orang putra ini. Walaupun cita-cita nya ingin menjadi pendeta tidak menjadi kenyataan, namun demikan ia masih bisa sebagai pelita. “ Biar

DIANA ANGRAINY RAMONA LEURIMA

L

ulusan D III jurusan Teknisi Medis Pateriner (dokter/mantri hewan) Institut Pertanian Bogor (IPB) ini, sejak kecil memang sangat gemar memelihara hewan peliharaan, maka tak heran ketika lulus kuliah ia langsung memilih jurusan yang sesuai dengan hobinya sejak kecil. Namun demikian, Diana mengaku sempat binggung ketika lulus SMA, karena sebagai orang yang paling suka menghapal, dirinya hanya memiliki pilihan pada fakultas hukum atau ilmu sosial. Sementara, untuk jurusan ekonomi dan akuntansi ia merasa sangat lemah. Lulus kuliah dari jurusan yang digemarinya sejak kecil, Diana kembali bingung. Karena, jurusan yang dipilihnya adalah jurusan yang masih terbilang asing di negeri ini, otomatis peluang kerjanya pun akan lebih sedikit ketimbang jurusan lainnya. “Sebenarnya saya senang sekali jika dalam bekerja memiliki baju seragam tersendiri, seperi Polisi atau TNI, karena akan terlihat gagah dan penuh dengan wibawa. Untuk itu saya memberanikan diri melamar menjadi Polisi, namun saya tidak diterima,” ujar Diana. Sambil mencari pekerjaan yang sesuai dengan jurusannya, akhirnya Diana mendengar kabar kalau DJBC membuka kesempatan bagi lulusannya. Dengan keyakinan penuh akhirnya Diana mencoba untuk melamar dan akhirnya diterima dan ditem-

44

WARTA BEA CUKAI

EDISI 402 MEI 2008

formulir, petugas menyatakan kalau saya sudah terlambat dan formulirnya sudah habis. Hancur rasanya perasaan saya saat itu, karena membayangkan dua kali kegagalan. Tapi, waktu saya mau pulang karena sudah pasrah dengan keadaan, petugas tadi memanggil saya dan bilang kalau masih ada satu lagi formulir yang terselip. Wah senang banget hati saya dan saya langsung isi formulir tersebut dan saya serahkan dengan dokumen lainnya,” cerita Cholis. Setelah mendaftar akhirnya Cholis mengikuti tes yang ditentukan, dan dengan rasa syukur akhirnya ia diterima bekerja di jajaran DJBC tepatnya pada tahun 1980 dengan penempatan pertamanya adalah KPPBC Sibolga. Pengalaman di Sibolga, tidak terlalu banyak bagi Cholis walaupun bertugas selama sepuluh tahun. “Tugas saya saat itu kebanyakan hanya mengoperasikan speedboat untuk melaksanakan patroli, karena hanya itu tugas saya maka pimpinan mempercayakan kepada saya untuk membantu di bidang perbendaharaan, verifikasi, rumah tangga, bahkan kalau ada teman yang sakit dan tidak bisa tugas malam, maka saya selalu menjadi penggantinya,” kenang Cholis. Sepuluh tahun bertugas di Sibolga, tahun 1990 Cholis mendapat mutasi pertamanya dan ditempatkan di Kantor Pusat selama tujuh tahun hingga 1997. Tahun 1997, Cholis

kembali dimutasikan ke KPPBC Soekarno-Hatta dan bertugas di bandara terbesar di Indonesia tersebut hingga dua tahun lamanya. Tahun 1999, Cholis mendapat promosi eselon V di KPPBC Lhok Seumawe sebagai Kasubsi Informasi, dan menjabat selama satu setengah tahun. Di Lhok Seumawe, Cholis sempat mengalami kondisi yang tidak aman dalam menjalankan tugas, karena saat itu tengah ramainya konflik antara GAM dengan RI, maka sebagian besar orang pendatang dikembalikan ke asalnya, termasuk Kantor Wilayah DJBC Aceh. Saat ini Cholis bertugas di KPPBC Merak. Ia sempat menjabat selama tiga tahun sebagai Korlak operasional komputer, kini ia menjabat sebagai Korlak Administrasi Impor. Dari masa tugasnya tersebut, Cholis pun telah beberapa kali mengikuti diklat untuk menunjang karirnya, antara lain diklat perbendaharaan tahun 1987, DPT II spesialisasi tahap dasar, spesialisasi pabean dan perbendaharaan tahun 1991, lalu UD (ujian Dinas kenaikan golongan) tingkat II, dan ADUM di Medan. Diakhir wawancara Cholis berharap, DJBC kedepan dapat lebih maju lagi, karena telah ditunjang dengan sarana dan prasarana yang sudah lebih baik. Selain itu, untuk pegawai yang muda-muda, ia berpesan untuk lebih semangat lagi bekerja demi kemajuan institusi tercinta ini. ats

seng (tidak – red) jadi pendeta asal beta jadi pelita atau pelayan firman seng masalah,”ujar Nace dengan dialog Ambon aslinya. Lulus dari SMA Negeri 1 Ambon tahun 1980, Nace sempat bekerja sebagai kasir di perusahaan bangunan. Setelah itu, tahun 1983 ia mendapat informasi dari tetangganya yang bekerja di Bea Cukai bahwa di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai ada pembukaan lowongan kerja dengan ijasah SMP. Semula ia meragukan karena yang dipakai hanya ijasah SMP, tetapi karena berpikir panjang tentang masa depan akhirnya memutuskan untuk mengikuti tes dan akhirnya lulus. Penempatan pertama dilalui di Kantor Bea Cukai Ambon pada 1983 sampai dengan sekarang. “ Mungkin beta satu-satunya pegawai yang seng pernah mutasi di Bea dan Cukai, karena hanya di Seksi Perbendaharaan KPPBC Ambon dari awal karir sampai dengan sekarang, “ tutur istri Agustinus ini. Ketika ditanya pengalaman yang berkesan selama berdinas, ia mengatakan bahwa selama ini pengalaman yang didapat hanya di bidang perbendaharaan saja sehingga patkan pada Direktorat Penindakan dan Penyidikan (P2) tepatnya pada unit anjing pelacak. Hal ini tentunya sangat menguntungkan baginya, karena selain pekerjaan yang sesuai dengan jurusan, hobinya sejak kecil pun akhirnya dapat tetap tersalurkan. Sebagai dog handler, peran Diana selain melatih anjing pelacak narkotika agar mau mencari dan merespon narkotika, juga dituntut untuk dapat mengerti tugas DJBC lainnya termasuk segala peraturan yang ada.”Tugas saya sekarang ini merupakan tantangan yang sangat menyenangkan, karena selain kami dituntut untuk dapat mencari barang larangan/pembatasan, juga ditantang untuk mengetahui psikologis dari pembawa barang haram tersebut, termasuk bagaimana cara orang tersebut menyembunyikannya,” papar Diana. Terkait dengan cara melatih anjing pelacak narkotika, menurut Diana hal tersebut gampang-gampang sulit. Untuk anjing yang agresif ia mengaku akan enjoy dalam melatihnya, tapi ketika menemukan anjing yang malas, hal inilah yang terkadang membuat ia harus bersabar dan tekun dalam melatihnya. Selain itu, untuk anjing pelacak yang baru, Diana mengharapkan agar lebih banyak diberikan kesempatan turun ke lapangan agar kemampuannya

semua pekerjaan dapat dilaksanakan dengan baik, tetapi ia merasa senang selama bekerja di Bea dan Cukai karena dapat merasakan kekompakan kerja antar pegawai. Selain itu ia punya cerita duka ketika masa kerusuhan di Ambon tahun 1999 hingga 2004. “Untuk menuju dan pulang kantor harus ditempuh dengan memutar melewati gunung dengan waktu tempuh dua jam lebih, sedangkan biasanya lewat jalan raya normal cuma lima belas menit, bahkan terkadang harus libur kerja karena kondisi seng aman,” kenangnya Ketika ditanya mengenai prinsip hidup ia mengatakan singkat Ora et Labora.”Bekerja harus disertai doa karena hasil pekerjaan ditentukan oleh Tuhan Yang Maha Esa,” tutur pegawai kelahiran 19 Oktober 1961 Pegawai yang pernah mengikuti diklat Prajab pada 1983 di Ambon, DPT I pada1984 di Ambon, DPT II pada 1991 di Makasar, dan UD I pada 2007 di akhir wawancara memberikan saran untuk instansi Departemen Keuangan khususnya DJBC agar melakukan penerimaan pegawai di daerah Ambon setempat karena kalau harus melalui Makasar sangat jauh dan berat biayanya. bambang w. (ambon) dapat selalu terasah dan paham dengan situasi di lapangan. “Apalagi saat ini anjing yang kita latih sebagai anjing pelacak narkotika adalah anjing yang baru-baru dan mereka belum pernah mendapatkan pelatihan sebelumnya, disini kami harus pandai-pandai dalam melatihnya dan memiliki tingkat kesabaran yang ekstra tinggi dari para pelatih untuk menghadapi anjing-anjing tersebut,” kata Diana. Sebagai seorang pelatih, wanita kelahiran 29 Maret 1984 ini adalah wanita pertama di DJBC yang menjadi dog handler, hal ini tentu membuat dirinya sangat bangga dan tidak merasa canggung jika disekelilingnya adalah para lelaki. Bahkan, Diana selalu mendapat dukungan yang penuh oleh timnya dalam melaksanakan tugas. Namun ia juga tidak dibedabedakan dengan teman tim laki-laki jika harus mengerjakan tugas yang selayaknya dikerjakan oleh laki-laki. “Sebenarnya menjadi dog handler ini lebih banyak sukanya dari pada dukanya, karena selain dapat menyalurkan hobi, kita juga dapat menyelamatkan negara dari masuknya barang-barang berbahaya. Sementara itu untuk dukanya, struktur unit anjing pelacak saat ini belum jelas, inilah yang masih kami khawatirkan, padahal jika diluar negeri unit kami adalah unit yang paling dinomorsatukan,” ungkap Diana. ats
EDISI 402 MEI 2008 WARTA BEA CUKAI

45

S

E

L

A

K

TEBING buatan yang harus dipanjat

JALAN diatas tangga

MELUNCUR ke bawah dengan seutas tali

Auditor’s Gathering
KPU BC TANJUNG PRIOK

Deal, No Money, dan No Bergaining, sehingga diharapkan akan menjadi kantor yang bebas KKN. Tepat tanggal 2 Juli 2007, diresmikanlah Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Tipe A Tanjung Priok yang merupakan penggabungan KPBC Tipe A Khusus Tanjung Priok I, II, III dan Kantor Wilayah VII DJBC Jakarta. Genderang perang
FOTO-FOTO : DOK. PRIBADI

D
46

Wah…. tak terasa, waktu begitu cepat berlalu. Rasanya baru kemarin, kami menginjakkan kaki di pelabuhan “candra dimuka”. Pelabuhan laut terbesar di Indonesia, Tanjung Priok namanya.

an sekarang kami sudah berada di tahun 2008, dimana kami dituntut untuk senantiasa siap menghadapinya dengan energi dan semangat baru. Dengan harapan semoga di tahun baru ini akan lebih baik daripada tahun sebelumnya. Untuk semua itu sepatutnyalah kita memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Kuasa, hanya dengan rahmat-Nya kita akan dapat menggapai asa dan harapan ke depan. Amin. Rasanya masih segar dalam ingatan kita, di medio tahun 2007 kami dimutasi ke Kantor Wilayah VII Bea dan Cukai Tanjung Priok dalam rangka persiapan menuju kantor dengan performa dan paradigma baru. Sebuah kantor yang akan memberikan pelayanan prima kepada pengguna jasa dengan slogan, mengutip ungkapan kepala kantor, No
WARTA BEA CUKAI EDISI 402 MEI 2008

MENDAYUNG bersama teman, menjaga kekompakan

telah ditabuh. Perang melawan KKN oleh seluruh aparat KPU Tipe A DJBC Tanjung Priok. Singkat cerita, setengah tahun lebih telah berlalu, dimana semua bidang dan bagian dalam KPU telah memainkan perannya masing-masing sesuai arahan pimpinan dan aturan main yang berlaku, suka dan duka, susah dan senang, rela dan ikhlas semuanya menyatu menggapai tujuan. Sampai pada kesimpulan, KPU Tanjung Priok telah berhasil melampaui target penerimaan yang telah ditetapkan pemerintah. Dan tetap masih (selalu) melakukan pembenahan di sanasini baik fisik, moril, dan sisdur pelayanan yang kelak akan dapat memberikan pelayanan prima kepada pengguna jasa. Nah, salah satu cara dan upaya yang coba dilakukan oleh salah satu bidang di KPU ini dalam rangka menggalang kerjasama tim agar tetap solid dan tetap dalam visi yang sama untuk mensukseskan program KPU sehingga pada akhirnya memberikan kontribusi “kinerja yang lebih baik”, adalah dilaksanakannya sebuah acara gathering (kebersamaan) dengan tema: “Auditor’s Gathering for Togetherness” pada pekan pertama tahun baru 2008, tepatnya hari Sabtu, 5 Januari 2008. Daerah tempat acara outbond tersebut mengambil lokasi tidak jauh dari Jakarta, yakni di Tanah Tingal Ciputat, Tangerang. Kira-kira satu jam perjalanan dari Tanjung Priok. Acara ini dimaksudkan untuk memberikan semangat baru kepada seluruh personil Bidang Audit KPU Tanjung Priok, mulai dari Kabid sampai staf pelaksana. Acara sudah dipersiapkan sebulan sebelumnya dengan pendanaan secara urunan (swadaya). Maaf, KPU oleh sebagian teman-teman dipelesetkan singkatannya menjadi “Kantor Penuh Urunan”, ha.. ha.. ha, memang sih. Tapi asal tujuannya baik dan ikhlas, why not! Insya Allah dapat pahala. Suksesnya acara ini tidak terlepas dari tangan dingin kang Hanif, panggilan akrab Kepala Seksi Evaluasi Audit, Hanif Adnan Zunanto, dan tentu saja dibantu oleh Kepala Seksi lainnya, para Auditor dan staf.

nya Kang Hanif (selaku pembawa acara) mempersilahkan Kabid Audit KPU (Uda Hakim) untuk memberikan sedikit sambutan. Intinya Kabid Audit berpesan agar acara ini dapat diikuti sepenuh hati dengan semangat kebersamaan dan keceriaan agar Bidang Audit di tahun 2008 ini mendapat semangat baru dan kekompakan dalam bekerja serta saling kenal satu sama lainnya hingga pada akhirnya akan memberikan kinerja yang baik bagi KPU di tahun 2008. Salah satu auditor Ustadz Arkan (begitu biasa dipanggil oleh teman-teman) memulai acara dengan memimpin doa bersama. Selanjutnya Kang Hanif menyerahkan acara sepenuhnya kepada pemimpin Outbond, Mas Ginting, yang dibantu oleh empat orang rekannya. Mulailah kami semua dibuatnya mencair satu sama lain (he he he…. es kali). Sesekali terdengar pekikan dan teriakan kompak sebagai yel-yel. Hidup Audit… Hidup KPU… Hidup Bea Cukai… begitulah kira-kira. Kami kemudian dibagi masingmasing menjadi empat kelompok yang terdiri kurang lebih 12 orang per kelompok. Acara ini diikuti oleh empat orang auditor cewek dan lima orang staf yang lucu-lucu (baru ketahuan saat pelaksanaan outbond). Masing-masing kelompok dipimpin/dipandu oleh satu orang dari Tanah Tingal. Kami disuruh membuat yel-yel yang menggambarkan kebersamaan, semangat dan harapan untuk nantinya diperlombakan. Ternyata lucu-lucu dan ngaco. Euforia kami tertumpah ruah dalam outbond ini.

EMPAT PERMAINAN
Ada empat permainan pertama atau boleh dibilang empat tantangan pertama untuk uji nyali, eh.., uji pakai tali. Pertama, kami harus naik tangga bambu lebih dari 10 meter yang disandarkan ke satu pohon kelapa (kami sudah berpakaian outbond lengkap + helm) kemudian sampai diatas kami harus meluncur ke bawah dengan seutas tali yang telah dibentangkan. Sedikit deg-degan atau bahkan deg-degan beneran plus gemetar saat memanjat dan meluncur. Tantangan kedua, kami kembali naik tangga bambu

MENUJU LOKASI
Tepat hari ‘H’ jam 6.30 WIB, berkumpullah kami di depan Pusdiklat Bea dan Cukai Rawamangun. Sesuai kesepakatan, kami akan berangkat bersama-sama dari sana jam 7.00 pagi. Mulailah satu per satu, dua per dua dan bahkan tiga per tiga datang dan berkumpul di jembatan depan Pusdiklat, sementara bis yang akan digunakan sudah standby. Kelihatan Seksi Konsumsi dan Akomodasi, Si Jomblo Talik cs. sibuk mondar-mandir mempersiapkan segala sesuatunya. Waktu Talik datang membawa snack, ada ubi rebus, jagung rebus, singkong rebus, kacang rebus…. breeet langsung diserbu anak-anak yang sudah pada nunggu ….. lumayan nih buat sarapan pagi, asal nggak ada yang (maaf) buang angin aja, soalnya kebanyakan makan ubi rebus. Wah lucu deh, menjelang keberangkatan ada yang berfoto ria dengan hebohnya. Pret, jepret...! Kurang lebih jam 7.15 kami segera berangkat ke lokasi outbond. Kira-kira jam 8 kami sampai di lokasi setelah sebelumnya melewati tol Pondok Aren Bintaro, Jakarta Selatan. “Itu dia tempatnya, itu dia tempatnya !”, teriak salah seorang teman saking semangatnya. Mobil berhenti di halaman parkir Tanah Tingal dan kami pun membereskan barang masing-masing menuju tempat lokasi yang telah ditentukan. Ternyata sebagian teman-teman sudah ada yang duluan sampai di sana. Memang bagi teman-teman yang dekat lokasi, kami sarankan untuk segera saja langsung ke lokasi. Sambil berberes-beres ria, dan sambil menghirup udara pagi yang bersih dan segar dengan pemandangan alam yang elok dan asri, kelihatan Hanif sibuk mengatur sana-sini dibantu pengelola outbond Tanah Tingal. Kami semua tentu saja menerka-nerka, apa gerangan permainan yang akan kami dapatkan dalam outbond. Sambil diberi pengarahan oleh pimpinan outbond, kami menikmati hidangan teh, kopi dan snack pagi. Tibalah saatnya acara akan dimulai. Kami semua berkumpul di lapangan untuk mendapat pengarahan dan sebelum-

ARI JULIANTO, Auditor Terfavorit 2007 KPU BC Tanjung Priok

EDISI 402 MEI 2008

WARTA BEA CUKAI

47

S

E

L

A

K
DOK. PRIBADI

FOTO BERSAMA para peserta outbond dari bidang Audit.

ke pohon kelapa dan harus melewati jembatan tali. Tantangan ketiga juga sama, kami harus naik pohon kelapa untuk menyeberang lewat tangga tali campur pipa dari satu pohon kelapa ke pohon kelapa lainnya, dan tantangan terakhir kami harus menjadi pemanjat tebing buatan (kurang lebih tinggi 10 m). Nah, disitulah letak serunya. Disaat sebagian teman sedang melakukan tantangan dengan segala ekspresi sok berani padahal lagi gemeteran dan ketakutan, temanteman di bawah bersorak-sorak sambil teriak-teriak bak tarzan menyaksikan teman-teman yang bergelantungan menirukan gaya berbagai jenis hewan (maaf). “Ayo kamu bisa”, “Ah masa gitu aja nggak bisa”..., pokoknya rame, penuh canda tawa. Sudah nggak terlihat lagi perbedaan antara atasan dan bawahan. Dari empat tantangan tadi, ternyata untuk bisa sukses, kita harus punya tekad yang bulat dan kuat dan mengikuti arahan yang diberikan. Orang lain bisa kenapa kita tidak? Harap aplikasikan untuk hal-hal positif. Sebagian teman-teman ada juga yang gagal menjalani tantangan-tantangan tadi, tapi yang penting mereka sudah berusaha sekuat mungkin. Seru … seru banget dan kocak tentunya lihat gaya masing-masing. Selanjutnya acara adu kekompakan antar kelompok 1, 2, 3, dan 4. Pertama kami menampilkan yel-yel masing-masing dan dinilai oleh Tim Juri (pemandu outbond). Silih berganti permainan kami saling beradu satu sama lain. Semua berjuang mati-matian. Saling unjuk kebolehan agar terpilih sebagai yang terbaik, dan terlucu. Tapi juri berkata lain. Akhirnya, kelompok 1 terpilih oleh Tim Juri sebagai kelompok terfavorit, terheboh, tergila. Kabid dan Kasi Pelaksanaan Audit adalah bagian dari Kelompok 1. Bahkan 48
WARTA BEA CUKAI EDISI 402 MEI 2008

Kabidnya juga main sulap lho, dan membuat teman-teman takjub. Itulah semua perasaan kami tertumpah ruah dalam kebersamaan dan canda tawa, dimana selama ini tidak kami dapatkan di kantor. Sebagai acara terakhir kami berkumpul di pendopo, di sini pun kami masing-masing unjuk kebolehan adu suara dan akting. Lagi-lagi kehebohan terjadi dimana tiba-tiba ternyata banyak pedangdut berbakat dan penari berbakat dengan goyang ngebor dan ngecor (pakai angkat kaki segala). Kang Haniflah yang mengawali sebuah lagu sekaligus pembawa acara. Pak Teguh, Pak Faisal, dan semua teman-teman auditor, staf pelaksana tumpah ruah di panggung bergoyang dan bernyanyi. Acara puncak dan sebagai acara penghujung akhirnya tiba. Pembagian hadiah/doorprize dan bingkisan bahkan medali mulai dibacakan oleh Hanif. Kelompok favorit adalah kelompok satu. Juga ada Motivator Favorit yakni saudara Made dan Auditor Terfavorit 2007 KPU BC Tanjung Priok jatuh ke tangan Ari Julianto. Sayang Ari nggak bisa hadir karena kampungnya di Bojonegoro kena banjir besar. Rumahnya terendam hanya tinggal gentengnya aja. Semoga Allah Swt. berikan rahmat dan kesabaran dalam menghadapi musibah, dan semoga kita bangsa Indonesia dapat memetik hikmah dari musibah/bencana yang melanda. Tidak terasa hari sudah larut malam. Kecapekan outbond masih terasa. Semoga KPU Tanjung Priok bisa menjadi kantor teladan yang bebas KKN dan saling menghormati satu sama lainnya. Mohon maaf bila ada yang kurang berkenan. Wassalam.

M. Hakim Satria, Kepala Bidang Audit KPU BC Tipe A Tanjung Priok

KEPABEANAN INTERNASIONAL
PELABUHAN DI AMERIKA SERIKAT
FOTO: www.cbp.gov

Scanning
ATAS EKSPOR BARANG KE AMERIKA SERIKAT

Seratus Persen
Ketentuan seratus persen scanning ini akan berlaku mulai tanggal 1 Juli 2012. Ketentuan dalam undang-undang itu menyebutkan bahwa pemberlakuannya dapat ditunda selama 2 tahun dan dapat diperpanjang untuk periode 2 tahun lagi, apabila sistem yang diperlukan: 1. Tidak tersedia untuk pembelian dan pemasangan; tidak mempunyai false alarm rate yang sesuai dengan persyaratan; 2. Pelabuhan dimana peralatan itu akan ditempatkan tidak mempunyai karakteristik fisik yang diperlukan untuk pemasangan; 3. Peralatan tersebut tidak dapat diintegrasikan dengan sistem yang ada; 4. Pemasangannya berdampak sangat besar terhadap kemampuan perdagangan dan arus barang; 5. Apabila sistem tersebut tidak mempunyai notifikasi otomatis yang memadai untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut oleh petugas pabean. Jadi, dengan undang-undang ini secara tidak langsung AS ingin memaksakan kehendaknya kepada negara-negara lain, agar negara-negara lain tersebut mempunyai keinginan untuk ikut serta mengamankan AS dari kemungkinan serangan terorisme. Masalahnya, tinggal bagaimana negara-negara tersebut dan organisasi internasional yang berkaitan meresponnya.

Sejak terjadinya peristiwa pemboman gedung World Trade Center pada tanggal 11 September 2001 enam tahun yang lalu, banyak instansi pemerintah di AS menyelenggarakan berbagai program inisiatif untuk melakukan pengamanan bagi negaranya.

D

alam kesempatan ini kami ingin sekedar berbagi informasi dengan pembaca Warta Bea Cukai tentang apa yang menjadi keprihatinan masyarakat kepabeanan saat ini dalam rangka kerjasama internasional, yaitu dengan akan diberlakukannya undang-undang Amerika Serikat (AS) tentang Security and Accountability for Every Port. Pada saat masyarakat kepabeanan sekarang ini sedang gencar-gencarnya membahas tentang international standards yang akan digunakan untuk bekerjasama dalam memfasilitasi perdagangan internasional dan mengamankan international supply chain melalui inisiatif WCO-SAFE Framework of Standards, AS justru mengeluarkan undang-undang baru yang mewajibkan scanning 100% atas semua barang ekspor untuk tujuan Amerika Serikat. Undang-undang AS tentang Security and Accountability For Every Port ini ditandatangi pada tanggal 13 Oktober 2006, yang implementasinya berdasarkan Recommendations of the 9/10 Comission Act bulan Juli 2007, mewajibkan dilakukannya seratus persen scanning (menggunakan container scanning machine) terhadap semua kontainer yang akan diekspor ke AS di pelabuhan negara eksportir, sebelum dimuat ke atas kapal.

LATAR BELAKANG
Sejak terjadinya peristiwa pemboman gedung World Trade Center pada tanggal 11 September 2001 enam tahun yang lalu, banyak instansi pemerintah di AS menyelenggarakan berbagai program inisiatif untuk melakukan pengamanan bagi negaranya. Tidak kurang dari otoritas pengamanan pantai, membuat ketentuan tentang kewajiban bagi kapal-kapal asing yang akan memasuki perairan AS untuk memberikan informasi jauh sebelumnya tentang jenis muatan, negara asal, negara tempat singgah, tujuan berikutnya dan semua informasi lainnya yang diperlukan dalam rangka pengamanan; otoritas imigrasi melakukan pendaftaran khusus penduduk muslim; otoritas perdagangan membuat ketentuan tentang pengawasan terhadap barang ekspor teknologi tinggi yang berkaitan dengan produksi senjata nuklir, senjata kimia dan senjata pemusnah masal ,dan banyak lagi inisiatif lainnya. Salah satu dari inisiatif-inisiatif tersebut adalah inisiatif yang
EDISI 402 MEI 2008 WARTA BEA CUKAI

49

KEPABEANAN INTERNASIONAL
berasal dari otoritas kepabeanan AS, yaitu dengan apa yang mereka sebut sebagai Container Security Initiative. dan menyatakan bahwa undang-undang tersebut harus diamandemen dan bahwa badan yang menangani SAFE Framework of Standard dan Revised Kyoto Convention harus berusaha dengan keras untuk mengatasi deadlock tersebut. Dalam pertemuan tersebut juga dilaporkan bahwa Customs and Border Protection (CBP) AS telah melakukan proyek perintis di tiga pelabuhan yang tidak terlalu besar: Southampton Inggris; Qasim - Pakistan; Cortes - Honduras dan berhasil melakukan seratus persen scanning. Pengujian dengan kapasitas terbatas juga dilakukan di Busan, Hongkong, Singapore dan Salalah. Berdasarkan projek perintis itu CBP akan melaporkan kepada Kongres AS tentang kemungkinan implementasi dan manfaat dari undang-undang ini pada bulan April 2008. Respon WCO dalam hal ini adalah membuat semacam resolusi yang menentang pemberlakuan undang-undang tersebut. Resolusi ini, setelah disetujui oleh komisi kebijakan akan diajukan dalam Sidang Dewan bulan Juni 2008 yang akan datang untuk diadopsi oleh Dewan sebagai suatu hasil kesepakatan bersama. Bagaimana reaksi AS terhadap resolusi ini, tentu saja belum dapat diketahui sampai setelah resolusi itu sendiri ditanda tangani pada Sidang Dewan pada bulan Juni 2008 yang akan datang.

WORLD SECURITY FORUM
Pada bulan Februari tahun 2002, AS mengundang negaranegara di kawasan Asia Pacific dan badan-badan perbankan dunia termasuk IMF dan Bank Dunia untuk menghadiri International Security Forum di Bangkok Thailand. Forum ini dimaksudkan sebagai sarana untuk menciptakan komitmen bersama masyarakat internasional dalam menghadapi ancaman terorisme. Namun dalam kesempatan itu juga, AS menawarkan berbagai kerjasama internasional bagi pengamanan terhadap ancaman terorisme berdasarkan inisiatif-inisiatif tersebut di atas, termasuk di dalamnya program Container Security Initiative. Bahkan untuk menghadiri forum tersebut semua biaya untuk perjalanan dan akomodasi bagi delegasi negara berkembang yang diundang, ditanggung oleh pemerintah AS. Dalam forum ini, AS menawarkan bagi yang mau berinisiatif menerapkan pengamanan ekspor mereka (menggunakan container scanning machine), untuk bergabung dalam program Container Security Initiative tersebut. AS akan memberikan bantuan yang diperlukan dalam melakukan: feasibility study, menyiapkan infrastruktur pelabuhan yang diperlukan; memasang peralatan yang akan digunakan; menentukan risk assessment; dan memberikan pelatihan bagi petugas yang akan mengoperasikan alat tersebut; termasuk menempatkan petugas pabeannya di negara tersebut dalam pelaksanaan pilot project. Dari semua itu, yang penting adalah bahwa negara yang berminat tentu saja harus menyediakan dana yang diperlukan untuk pembiayaannya. IMF dan Bank Dunia dalam hal ini bersedia memberikan pinjaman dengan bunga yang ringan, bagi yang memerlukannya. Akan tetapi, pengamanan ekspor bukanlah kepentingan langsung dari banyak negara pada saat itu (sekarang pun sebenarnya bukan), sehingga tidak banyak yang meresponnya, kecuali beberapa negara, antara lain Singapura, Hongkong, Jepang dan Korea. Kemungkinan, karena respon yang tidak menggembirakan itulah kemudian AS memutuskan untuk memasukkan kewajiban seratus persen scanning itu ke dalam undang-undangnya.

RESPON DARI MASING-MASING NEGARA ANGGOTA
Dengan ditetapkannya ketentuan tersebut dalam undangundang AS, maka sekarang masalahnya menjadi lain, apakah ada inisiatif atau tidak dari negara lain, ketentuan tersebut harus berjalan. Bagaimana meresponnya, kembali kepada kepentingan perdagangan internasional dari masing-masing negara. Ada beberapa kemungkinan alternatif: Apakah akan membuka kerjasama bilateral dengan AS untuk menerapkan ketentuan tersebut; apakah tidak perlu mengambil langkah apapun karena berasumsi bahwa sebagian besar ekspor Indonesia toh transhipment di Singapore; apakah akan menunggu respon AS atas resolusi yang akan disepakati dalam sidang dewan WCO pada bulan Juni 2008 yang akan datang; atau memutuskan untuk tidak lagi mengekspor barang ke AS. Untuk alternatif yang terakhir ini, tentu saja perlu dicatat bahwa Amerika Serikat sampai saat ini masih merupakan negara tujuan ekspor terbesar Indonesia.
WBC/ATS

KESIMPULAN

RESPON DARI WCO
Pembahasan mengenai undang-undang AS tentang ketentuan seratus persen scanning ini dimasukkan dalam agenda pertemuan pertama SAFE Framework of Standards pada tanggal 16-17 Oktober 2007. Dalam kata sambutannya Sekjen WCO mengemukakan bahwa undangundang AS yang mengharuskan seratus persen scanning ini akan menciptakan ketidak pastian bagi dunia usaha. Disatu sisi mereka harus mengikuti ketentuan internasional sebagaimana diatur dalam SAFE Framework of Standards, sedang di sisi lain ada undang-undang AS yang mengharuskan seratus persen scanning. Sebagian negara anggota mengemukakan harapan mereka agar undang-undang tersebut dibatalkan atau paling tidak ditunda implementasinya, mengingat bahwa hampir semua instrumen WCO yang ada menjadi tidak relevan lagi apabila melalui kesepakatan bilateral atau unilateral ketentuan seratus persen scanning terhadap semua kontainer yang akan diekspor ke AS tersebut dilaksanakan di sebagian besar negara anggota WCO. Sekjen WCO juga mempertanyakan sejauhmana undang-undang itu dikatakan kompatibel dengan SAFE Framework of Standard dan Revised Kyoto Convention, 50
WARTA BEA CUKAI

AS nampaknya berpendapat bahwa untuk mengamankan negaranya dari ancaman teroris, mereka tidak dapat mengandalkan pada keinginan dari negara-negara lain untuk berinisiatif dalam mencegah ancaman tersebut, dan bahwa berdasarkan kekuatan yang dimilikinya ia dapat menentukan sendiri apa yang seharusnya diinginkan oleh negara-negara lain, melalui pemberlakuan ketentuan dalam undangundang tersebut. Nampaknya AS tidak ingin menunggu lebih lama lagi untuk menerapkan ketentuan scanning 100% terhadap semua barang yang akan diekspor ke negaranya, sampai instrumen kerjasama internasional dalam kerangka kerja WCO untuk memfasilitasi dan mengamankan perdagangan internasional termasuk didalamnya internasional supply chain (WCO-SAFE Framework of Standards) dapat terealisasi dengan baik. Masing-masing negara perlu mengambil langkah yang diperlukan untuk mengantisipasi kemungkinan yang akan terjadi, sesuai dengan kepentingannya dalam perdagangan internasional, baik sebelum, X-RAY KONTAINER. Undang-undang AS tentang maupun setelah resolusi untuk menentang Security and Accountability For Every Port mewajibkan dilakukannya seratus persen scanning kebijakan AS tersebut disepakati dalam (menggunakan container scanning machine) Sidang Dewan WCO pada bulan Juni 2008 terhadap semua kontainer yang akan diekspor ke AS yang akan datang. di pelabuhan negara eksportir, sebelum dimuat ke
atas kapal. Tampak kontainer yang akan masuk ke fasilitas Hico Scan di Tanjung Priok.

Maryanto Danuraharjo, Atase Keuangan/Bea & Cukai KBRI Brussel, Belgia

EDISI 402 MEI 2008

WBC/ATS

RAPAT KERJA ASEAN CAPACITY BUILDING. Sebanyak delapan negara yang tergabung dalam tim rapat kerja ASEAN Capacity Building, membahas persoalan SPCD,s yang pelaksanaannya akan dipercepat.

Pertemuan Ke-3 Kelompok Kerja ASEAN Customs Capacity Building
Percepatan pelaksanaan ASEAN Community dari tahun 2020 menjadi tahun 2015, sebagaimana telah disepakati pada KTT ASEAN ke-12, mengharuskan kelompok kerja ASEAN Customs Capacity Building untuk mempercepat pelaksanaan implementasi Strategic Plans of Customs Development (SPCD,s).
Acara rapat kerja dibuka oleh Direktur Penindakan dan Penyidikan (P2) Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC), Jusuf Indarto, yang dalam kata sambutannya menjelaskan bahwa, sebagai bagian dari satu kesatuan, kelompok kerja Customs Capacity Building bertanggung jawab dalam menangani SPCD,s. “Kelompok kerja ini memainkan peran penting untuk mencapai kredibilitas, integritas, dan profesionalisme petugas kepabeanan dan cukai dalam suatu administrasi kepabeanan, institusi kepabeanan yang profesional yang berintegritas, dan lain sebagainya dalam rangka membangun administrasi kepabeanan yang maju melalui pengembangan yang baru dalam teknis kepabeanan,” ujar Jusuf Indarto. Lebih lanjut Jusuf Indarto menjelaskan, berdasarkan tugas dan fungsi kelompok kerja Customs Capacity Building, adalah menjadi suatu keharusan bagi kelompok kerja ini untuk lebih menitikberatkan kegiatannya dalam rangka menyesuaikan diri dengan perkembangan yang ada saat ini, terutama yang diharapkan oleh ASEAN Economic Community agar dapat mencapai suatu kestabilan, kesejahteraan, dan daya saing yang tinggi. Dengan rapat kerja yang berlangsung selama dua hari tersebut, para delegasi selain membahas rencana implementasi dari SPCD,s, juga penerapan capacity building di negara masing-masing, sehingga pembahasan tersebut selain akan menjadi masukkan dalam rapat juga akan menjadi suatu rumusan dari rapat kerja tersebut. “Diharapkan melalui pertemuan ini akan dihasilkan rekomendasi yang baik dan bermanfaat untuk mengangkat citra administrasi kepabeanan ASEAN modern yang transparan, dan pada akhirnya bisa mensejajarkan diri dengan adminsitrasi pabean lainya yang didukung dengan pejabat dan petugas yang berkompeten. adi
EDISI 402 MEI 2008 WARTA BEA CUKAI

S

etelah sebelumnya kelompok kerja ASEAN Customs Capacity Building merumuskan 15 agenda rapat kerja SPCD,s sebagai rencana strategis dan pengembangan yang ingin diwujudkan ASEAN, kini kelompok kerja tersebut kembali menggelar rapat kerja yang diselenggarakan pada 17 hingga 18 April 2008 di Mercure Convention Center, Ancol Jakarta. Rapat kerja yang hampir diikuti oleh semua negara anggota ASEAN, membahas tentang percepatan implementasi dari SPCD,s. Sementara itu, dari beberapa delegasi negara ASEAN yang hadir pada rapat kerja kali ini, dua negara (Burma dan Laos) tidak dapat mengikutinya dikarenakan persoalan teknis dari negara tersebut. Adapun negara ASEAN yang hadir adalah, Thailand (Ms. Rashanewan Rawirat, Ms. Jannya Rojanadilog), Philipina (Ms. Erlinda Purificacion Lazaro), Singapura (Ms. Shamala Dhevi, Mr. Zulfadhli Gazali, Mr. Ng Chee Siong), Brunei Darussalam (Mr. Ali Rahman bin Haji Tasim, Mr. Haji Amran bin Haji Ibrahim), Myanmar (Mr. Myint Zaw), Malaysia (Mr. Abdul Wahid bin Sulong), Vietnam (Mr. Tran Vu minh, Mr. Vu Tuan Anh), dan Indonesia (Mr. Dwi Restu Nugroho, Mr. Azhar Rasyidi, Mr. Agus Hermawan, Mr. Imik Eko Putro, Mr. Moh. Zamroni, Mr. Yulianto, Mr. Panca Putra Jaya).

51

PPKC
20.753.41 triliun atau 32 persen dari target APBN. (lihat tabel-I) Menurut Direktur Penerimaan dan Peraturan Kepabeanan dan Cukai (PPKC), Hanafi Usman, secara nasional memang untuk triwulan I target penerimaan sudah tercapai, namun demikian untuk APBN-P yang kini tinggal menunggu diresmikannya oleh DPR, DJBC akan menerima tambahan 10 persen dari target semula, yang direncanakan total keseluruhan target penerimaan sebesar Rp. 72.696.10 triliun. “Untuk triwulan I ini baik target APBN maupun rencana APBN-P yang akan diresmikan, target penerimaan DJBC masih di atas rata-rata atau di atas 25 persen. Sementara itu, Secara nasional sesuai dengan untuk target bea keluar saat ini tetap kita cadangkan datanya APBN 2008 target penerimaan bea walaupun untuk penetapannya kini juga masih menunggu masuk dan cukai pada keputusan dari Presiden,” ujar Hanafi. triwulan I tahun 2008 tercapai. Lebih lanjut Hanafi menjelaskan, untuk target bea masuk triwulan I ini, masih ada lima Kantor Wilayah DOK. WBC (kanwil) yang pencapaiannya dibawah 100 ahun 2008 boleh dikatakan sebagai persen (lihat tabel-II). Sementara itu, untuk tahun yang cukup berat untuk pemetarget bea masuk KPU juga kian hari kian nuhan target penerimaan yang telah baik dimana untuk target triwulan I ini terpedibebankan kepada Direktorat Jendenuhi sebesar 126,24 persen. ral Bea dan Cukai (DJBC), karena di Jika pada target bea masuk untuk triwutahun ini dimana harga minyak terus merangkak lan I ada lima Kanwil yang pencapaiannya di naik ditambah krisis keuangan di negara maju bawah 100 persen, untuk target penerimaan akhirnya berdampak pada perekonomian dunia cukai pada target triwulan I ini ada empat dengan meningkatnya harga kebutuhan pokok, Kanwil yang pemenuhannya di bawah 100 yang pada akhirnya juga akan berdampak pada persen (lihat tabel-III). Sedangkan untuk tarkegiatan ekspor impor Indonesia. get bea keluar pada triwulan I ini hanya dua Secara langsung memang krisis global ekoKanwil yang pemenuhannya masih di bawah nomi dunia, belum berdampak secara signifikan 100 persen (lihat tabel-IV). terhadap kegiatan ekspor impor Indonesia, “Kegiatan di daerah memang terkadang namun demikian Anggaran Pendapatan Belanja bersifat insidentil, artinya jika ada importasi Negara (APBN) yang telah ditetapkan untuk beras atau gula maka penerimannya naik, jitahun ini, dirasakan sudah tidak sesuai dengan ka tidak maka penerimannya akan turun, nakondisi yang ada sehingga perlu adanya revisi. mun kami tidak akan menilainya seperti itu, DJBC yang dalam APBN 2008 telah dite- HANAFI USMAN. Walaupun secara tapkan target penerimaan bea masuk, pungut- nasional target penerimaan bea masuk, bagi Kanwil yang targetnya masih dibawah bea keluar dan cukai pada triwulan I rata-rata kami akan mengevaluasinya dari an ekspor/ bea keluar, dan cukainya sebesar sudah mencapai 32 persen, namun berbagai sisi sekaligus melihat apa kelemahRp. 63.433.20 triliun, hingga triwulan I (Janu- masih ada beberapa Kanwil yang an dari penerimaan target tersebut dan hal ari hingga Maret) pencapaiannya secara penerimannya di bawah rata-rata. apa saja yang dapat diupayakan untuk dapat nasional sudah berada sedikit di atas target meningkatkan target penerimaan,” papar Hanafi. yang ditentukan sebesar 25 persen, atau kini telah mencapai Sementara itu, untuk komoditi unggulan penyumbang bea 32 persen. masuk terbesar menurut Hanafi hingga kini masih dipengaSecara rinciannya, target bea masuk sebesar Rp.14.940.80 ruhi oleh 20 komoditas besar, yang tiap tahunnya walaupun triliun sudah terealisasi Rp. 4.598.81 triliun (30,78 persen dari terjadi penurunan namun tetap sebagai penyumbang bea target APBN). Bea keluar ditargetkan Rp. 4.065.90 triliun sudah masuk terbesar. Sedangkan untuk komoditas penyumbang terealisasikan Rp. 3. 854.07 triliun (94, 79 persen dari target bea keluar terbesar, hingga kini masih akan dirinci lebih lanjut APBN). Dan cukai ditargetkan Rp. 44.426.50 triliun sudah karena nilai ekspor dan jumlah importasi satu daerah tidak terealisasikan Rp. 12.300.53 triliun (27 persen dari target APBN). sama dengan daerah lainnya. adi Sehingga, total keseluruhan penerimaan telah mencapai Rp.

TARGET PENERIMAAN TRIWULAN I TAHUN 2008

Tercapai

T

Tabel 1. Pencapaian Target Penerimaan DJBC Periode s.d. 31 Maret 2008 (Miliar Rp)

Ket: * Target Bea Masuk tidak termasuk BM DTP * Target RAPBN-P sesuai kesepakatan Panja DPR-RI Tanggal 26 MARET 2008 * Realisasi s.d. 31 Maret 2008, sumber data MPO * Jumlah Penerimaan belum dikurangi Restitusi * Sumber Data : Dit. PPKC

Realisasi Penerimaan PDRI s.d. 31 Maret 2008

52

WARTA BEA CUKAI

EDISI 402 MEI 2008

Tabel II. Realisasi Penerimaan Bea Masuk Tahun Anggaran 2008 Per 31 Maret 2008 (Juta Rp)

Tabel III. Realisasi Penerimaan Cukai Tahun Anggaran 2008 Per 31 Maret 2008 (Juta Rp)

Tabel IV. Realisasi Penerimaan Bea Keluar Tahun Anggaran 2008 Per 31 Maret 2008 (Juta Rp)

EDISI 402 MEI 2008

WARTA BEA CUKAI

53

ENGLISH
Introduction The paper below was taken from handout participant manual of Asia Pacific Economic Cooperation – Senior Management Overview of Industry Partnership Seminar in Bangkok. This paper describe about a system that has been applied by US Customs to upgrade service and intensify international trading security as well as maintaining homeland security in USA. Hopefully by rising this information would enlarge Indonesian Customs officer and related institution.

SECTION

(Customs -Trade Partnership Against Terrorism)
(Part I) The successful integration of increased security and enhanced supply chain efficiency is one of the great successes of C-TPAT.
ding a clear minimum standard that approved companies must meet. CBP‘s ability to leverage its customs authority and CTPAT‘s unprecedented innovation enables the United States government to positively impact security practices throughout the global supply chain on a broad scale. This influence on security behavior overseas goes well beyond the conventional expectations or the reach of United States regulators. This is because private operating in the global supply chain, that choose to participate in C-TPAT, agree to implement increased levels of security throughout their international supply chains, in exchange for benefits that only CBP can provide. In addition, C-TPAT members must agree to leverage their service providers and business partners to increase their security practices. This requirement enables C-TPAT to improve the security practices of thousands companies located around the globe that are not enrolled in the program. In fact, many companies are demanding that their business partners enroll in C-TPAT or adhere to its security guidelines, and they are conditioning their business relationship on these requirements. C-TPAT also enables trade by improving supply chain security and increasing supply chain performance. The program helps companies optimize management of their assets and functions while enhancing security. Together, enhanced security practices and increased supply chain performance, reduce the risk of loss, damage and theft, and lessens the threat that terrorist will attack the global supply chain. The successful integration of increased security and enhanced supply chain efficiency is one of the great successes of C-TPAT. Through the collaborative work of CBP and the trade community, C-TPAT has become the focal point for all United States government and private sector supply chain security efforts.

C-TPAT

U

S Customs and Border Priority (CBP) priority mission is to prevent terrorists and terrorist weapon from entering the United States. That extraordinarily important mission means improving security, at not only physical border and ports of entry, but globally in collaboration with the international trade community. We must perform this important security and border-related work while speeding the flow of legitimate trade and travel that is so important to our nation‘s economy. In other words, we have “twin goals”: building more secure and more efficient borders. In protecting our border against the threat of terrorism and promoting global supply chain security, CBP applies a “layered defense” strategy. This multi-layered approach includes using information analysis and targeting, employing advanced inspection technologies, engaging the private sector to increase supply chain security and expanding our borders by pre-screening shipments that pose a potential terrorist risk prior to arrival in the United States. C-TPAT building on the best practices of CBP/industry partnership to strengthen supply chain security, encourage cooperative relationship and to better concentrates CBP resources on areas of greatest risk. It is a dynamic, flexible program designed to keep pace with the evolving nature of the terrorist threat and the change in the international trade industry, thus ensuring the program‘s continued viability, effectiveness and relevance. Flexibility and customization are important characteristics of C-TPAT. This partnership between CBP and the trade is built on Customs border authority and cooperative relationship. It is built on knowledge – that the trade partner has demonstrated a commitment to supply chain security, and trust – that the company will continue to do so with minimal CBP examination. To uphold this relationship, accountability is required. The trade partner must be willing to assume responsibility for keeping his supply chain secure to agreed upon security standards through self policing and implementing as needs arise. The current security guidelines for C-TPAT program members address a broad range of topics including personnel, physical and procedural security; access controls; education, training and awareness; manifest procedures; conveyances security; threat awareness; and documentation processing. Companies that apply to C-TPAT must be sign an agreement with CBP that commits their organization to the program‘s security guidelines. These guidelines offer a customized solution for the members, while proviEDISI 402 MEI 2008

C-TPAT BENEFITS
C-TPAT offer businesses an opportunity to play an active role in the war against terrorism. By participating in this first worldwide supply chain security initiative, companies will ensure a more secure supply chain for their employees, suppliers and customers. In addition, CBP offers the following benefits to C-TPAT members: l A reduced number of inspections and reduced border wait times. l A C-TPAT supply chain specialist to serve as the CBP liaison for validations, security issues, procedural updates, communication and training. l Access to the C-TPAT members through the Status Verification Interface. l Self-policing and self-monitoring of security activities. l In the Automated Commercial System (ACS), C-TPAT certified importers receive reduced selection rate for

54

WARTA BEA CUKAI

FOTO : WWW.CBP.GOV

MOBILE X-RAY

l

l l

l

l

l

Compliance Measurement Examinations (-3X in FY 2003) and exclusion from certain trade-related local and national criteria. C-TPAT certified importers receive targeting benefits (-7X in FY 2003) by receiving a “credit” via the CBP targeting system Certified C-TPAT importers are eligible for access to the FAST lanes on the Canadian and Mexican borders. Certified C-TPAT importers are eligible for the Office of Strategic Trade‘s (OST) Importer Self Assessment (ISA) Program and have been given priority access to participate in the Automated Commercial Environment (ACE) C-TPAT certified highway carriers, on the Canadian and Mexican borders, benefit from their access to the expedited cargo processing at designated FAST lanes. These carriers are eligible to receive more favorable mitigation relief from monetary penalties. C-TPAT certified Mexican manufacturers benefit from their access to the expedited cargo processing at designated FAST lanes. All certified C-TPAT companies are eligible to attend CBP sponsored C-TPAT supply chain security training seminars.

l l l l l l l l l

and procedures into existing logistical management methods and processes. Greater supply chain integrity Reduced risk mitigation Reduced cargo theft and pilferage Stronger brand equity Improved asset utilization Greater efficiency between internal and external functions. Improved security for their workforce Improved marketability Understanding the end to the end process, including knowing each entity along the supply chain.

EXTERNAL FACTORS
C-TPAT continuously monitors how internal and external factors affect the achievement of goal and ultimately the success of the program. Monitor these factors, and developing strategies for mitigating them, is accomplished through an analysis of stakeholders, as well as internal and external strengths, weaknesses, opportunities and threats in the C-TPAT program and its operating environment. These analyses served as the starting point for the C-TPAT strategic planning process and are addressed in the strategic plan. Strengths identified in the C-TPAT program include the voluntary nature of the partnerships, shared CBP/industry responsibility for supply chain security and the trust engendered by external stakeholders as a result of the partnerships. In addition, C-TPAT offers the ability to influence and leverage entities in the supply chain that regulations often can‘t reach and allows for customization of security needs by the trade community. Finally, the vast knowledge and experience of C-TPAT personnel, and the access to information not previously available to CBP, were also seen as program strengths. Opportunities include the ability to enhance internal and external communication with stakeholders, to provide continuing education for supply chain specialists and to hire additional highly qualified people into the C-TPAT program. Other opportunities are anticipated from the automation of C-TPAT, as well as additional information
EDISI 402 MEI 2008 WARTA BEA CUKAI

CBP provided benefits are not the only benefits that companies realize by joining C-TPAT. Companies have found that joining C-TPAT often result in discovering outdated procedures and/or discovering areas that need improve security and efficiency. While performing the required supply chain assessment for C-TPAT membership, companies are able to streamline their operations. C-TPAT aids companies in optimizing their internal and external management of assets and functions while at the same time enhancing security. When administered together, enhanced security practices and procedures, and increased supply chain performance will mitigate the risk of loss, damage and theft, and reduce the likelihood of the introduction of potentially dangerous elements into the global supply chain. Other benefits companies have realized by participating in C-TPAT include: l The incorporation of good sound security practices

55

ENGLISH
FOTO-FOTO : WWW.CBP.GOV

SECTION

US CBP. A CBP Officer directs a truck with a seaport container to an inspection area at a port.

sharing and training for the trade community and within CBP. Through this strategic plan, CBP will continue to leverage the opportunities and strengths and to mitigate the weaknesses and threats.

which calls upon the trade community to enhance their existing security practices and those of their business partners involved in their supply chains. Once these procedures are in effect, imports of C-TPAT members qualify for expedited CBP processing and reduced inspections at United States ports of entry. C-TPAT builds upon the best practices of pro-existing CBP anti-smuggling industry partnership programs to bolster supply chain security, encourage cooperative relationships and focus resources on areas of greatest vulnerability. C-TPAT will continue to take an integrated approach to supply chain security – focusing on improving systems of security and supply chain efficiency. C-TPAT is flexible and constantly evolving to ensure its continued viability, effectiveness and relevance, as the terrorist threat and the nature of international trade evolves. Moreover, C-TPAT enables trade it improves supply chain security and increases the supply performance. C-TPAT aids companies in optimizing their internal and external management of assets and functions while at the same time enhancing security. Taken together, enhanced security practices and increased supply chain performance reduced the risk of loses, damage, and theft and lessens the likelihood that terrorists will attack the global supply. The integration and alignment of increased security and enhanced supply chain efficiency of the great successes of CTPAT. Through the collaborative work of CBP and the trade community, C-TPAT has become the focal point for all government and private sector supply chain security efforts.

C-TPAT APPROACH AND GUIDING PRINCIPLES
C-TPAT is a supply chain security program for international cargo and conveyances. It increases security measures, practices and procedures throughout all sectors of the international supply chain. Central to the security vision of C-TPAT is the core principle of increased facilitation for legitimate business entities that are compliant traders. All C-TPAT benefits are privileges offered to only the most secure and compliant program participants. The following three principles define the approach of the C-TPAT program. CBP will develop and implement the C-TPAT program of the future consistent with these principles. C-TPAT will continue to develop as a voluntary government/private sector partnership. At times, mandatory requirements for security may be both necessary and efficient – but may not always be the most effective. For example, CBP has extensive experience and knowledge as to how voluntary cooperative partnership between industry and government guide the development and implementation of robust security measures. These measures have directly led to hundreds of narcotics seizures by carriers and law enforcement entities throughout the world. Additionally, security requirements that allow for customized application by the individual and/or organization often result in that entity meeting the expectations of the requirement and, in most cases, even exceeding the minimal standard. Developing supply chain security standards while maintaining flexibility is critical to the C-TPAT program, since one size does not fit all. As C-TPAT evolves, the program will continue to work in partnership with the stakeholders of the international supply chain and cooperatively develop improved systems of security and efficiency. In the past, increase trade security and facilitation were viewed as mutually exclusive. Many felt that taking the necessary steps to secure the United States borders against the ongoing terrorist threat would only add another barrier to free trade and the efficient movement of cargo. However, the success of C-TPAT clearly demonstrates that increased security can lead to a more efficient and cost effective flow of trade. C-TPAT is a cooperative endeavor, 56
WARTA BEA CUKAI EDISI 402 MEI 2008

MEETING PROGRAM EXPECTATIONS
Ensure that C-TPAT partners improve the security of their supply chains pursuant to C-TPAT security criteria. Certify security profiles and security information provided by C-TPAT partners. In joining C-TPAT, companies sign an agreement to work with CBP to protect the supply chain, identify security gaps and implement specific security measures and best practices. Additionally, C-TPAT partners provide CBP with a security profile outlining the specific security measures the company has in place. C-TPAT applicants must address a broad range of security topics including personnel security; physical security; procedural security; access controls; education, training and awareness; document processing; business partners and relationships; vendors; and suppliers. Security profiles also list action plans that companies implement to align security throughout their supply chain. A certified partner is a participant that has had their security profile reviewed and deemed acceptable. The review process entails a rigorous review of the C-TPAT participant‘s security profile, and upon certification an internal vetting process reviews the compliance and violation history of the company. A C-TPAT participant is not able to receive program benefits (e.g. reduced inspections) until they become a “certified partner” and are fully vetted by CBP. In the future, the security information requirements for applications and members will become more demanding and require more specific detail. As C-TPAT best practices increase in number and scope, more stringent criteria for security practices and information submitted to CBP will be required. Enhance validation selection approach using risk factors, and expand the scope and volume of C-TPAT validations. To achieve timely interdiction and enforcement actions, we will immediately pass tactical, perishable information and intelligence to all border operational units. In order to provide value-added reports to our operational units, we will continue systematically reviewing, analyzing and exploiting all-source intelligence. We will identify trends and patterns on a local, regional and national level to assist in

targeting and detecting terrorists and terrorist activities. We intend to aggressively engage the intelligence community, ensuring that they are aware of our intelligence collection requirements, and facilitating the rapid exchange of terrorism related intelligence that can influence border security actions. Once a company is certified, it begins enjoying the benefits associated with C-TPAT. The next step validation, which allows CBP to verify that the company‘s security plans are effective and accurate. C-TPAT validations enable CBP to review the security measures and procedures of member‘s supply chain for effectiveness, efficiency and accuracy. Through the validation process, CBP and the C-TPAT participant jointly review the participant‘s security procedures to ensure that security measures are effectively executed. The validation process also promotes an exchange of information on security issues by both CBP and the company, and the sharing of “best practices”, with the ultimate goal of strengthening the partnership and the security of the international supply chain. A C-TPAT participant is selected for validation based on risk management principles. Validations are initiated on the basis of strategic threat passed by geographic regions, security related anomalies, import volume and value, participation in expedited release program (e.g. FAST), a relative sampling of industry sectors (e.g. carriers, brokers, forwarders and importers) and/or other risk related information. Alternatively, a validation may be performed as a matter of routine program oversight. Validations will continue to be conducted jointly by CBP personnel and the C-TPAT member. Each will continue to be customized based on the member‘s business model and according to the security profile approved by CBP. C-TPAT validations continue to expand and adapt in scope. Initially, validations focused on specific portions of the supply chain. Today the scope includes manufacturing

sites, foreign logistics providers and foreign ports. C-TPAT continues to expand incorporating IT security and workplace security – all targets of supply chain security. Fortunately, C-TPAT is a flexible program able to adapt in scope. It addresses areas of vulnerability and works cooperatively with business to eliminate security weaknesses. Since C-TPAT is a voluntary program based on partnership, companies have brought issues to the forefront during meetings that originally the program did not foresee as part of supply chain security. Formalize the requirements for C-TPAT self-policing tool and implement the process for the submission of the C-TPAT periodic self-assessment. To ensure supply chain integrity, and meet the obligations and standards established under the C-TPAT program, it is essential that member‘s security practices and procedures are reviewed on a regular basis and updated or enhanced as events warrant. C-TPAT will require members to provide CBP with a periodic review of their company‘s security practices and procedures, both enacted and proposed. C-TPAT supply chain specialists will be responsible for coordinating the submission and execution of these periodic self-assessments. Require participants to engage and leverage all business partners within their supply chains. The trade community has made C-TPAT participation a requirement for doing business to ensure a minimum standard of security along their supply chain. While participation is touted as good “corporate citizenry” many companies also realize inherent business benefits of ensuring that all parts of the supply chain are secure. Therefore, participants and future participants in C-TPAT will continue to be required to engage and leverage all business partners throughout their supply chain to improve security. (continued)

Agus Yulianto, Kepala Seksi Penindakan III Direktorat P2 KP-DJBC
FOTO : DOC.

WITH COLLEAGUES. Agus Yulianto, Dit. P2 (far left) and Sofyan Helmi, Dit. Kepabeanan Internasional (far right) from DJBC posing with colleagues from Taiwan, Philipina and United States in seminar discussing C-TPAT.

EDISI 402 MEI 2008

WARTA BEA CUKAI

57

M

I

T

R

A

Peraturan Baru
KAJI DENGAN PERTIMBANGAN MATANG
Pada Senin, 17 Maret 2008 bertempat di Hotel Grand Preanger Bandung, pengurus Asosiasi Pengusaha Kawasan berikat (APKB) mengadakan seminar sehari membahas tentang “Tatalaksana Audit dan Kepabeanan Bea dan Cukai,” dengan mengundang sekitar 100 perwakilan dari pengusaha di kawasan berikat (KB) dan rekanannya serta pejabat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) yang hadir sebagai nara sumber.

S

SEMINAR APKB, dengan nara sumber pertama Direktur Fasilitas Kepabeanan, Kusdirman Iskandar (kedua dari kanan).

eminar dibuka Kepala Bagian Umum Kantor Wilayah DJBC Jawa Barat, Oentarto Wibowo mewakili Kepala Kantor Wilayah, yang dalam sambutannya mengatakan bahwa pihak DJBC selalu membuka diri dan siap memberikan pelayanan terbaik bagi para pengusaha. “Apapun kendala yang dihadapi di lapangan yang berkaitan dengan kepabeanan dan cukai, jangan segan-segan menemui petugas Bea dan Cukai, silahkan datang kami siap melayani,” ungkapnya. Sebagai nara sumber pertama, Kusdirman Iskandar yang juga menjabat selaku Direktur Fasilitas Kepabeanan DJBC, mengatakan bahwa seminar ini merupakan forum komunikasi atau sosialisasi antara pemerintah dalam hal ini DJBC dengan pihak pengusaha di KB, untuk menyampaikan Rancangan Peraturan Menteri Keuangan tentang Kawasan Berikat, menyempurnakan Peraturan Menteri Keuangan No. 291/PMK.04 Tahun 2007. Menurut Kusdirman, latar belakang disusunnya Rancangan Peraturan Menteri Keuangan ini, sebagaimana diketahui bahwa setelah UU No. 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan diamandemen menjadi UU No. 17 Tahun 2006, ada beberapa hal dalam undang-undang yang baru yang berkaitan dengan kawasan berikat diantaranya, adanya suatu perluasan untuk tempat penimbunan berikat yang diatur dalam pasal 46, dan juga penambahan materi berkaitan dengan terminologi penggabungan yang tadinya belum diatur dalam undang-undang sebelumnya. Mengenai perluasan KB, menurut Kusdirman, dimasa menFOTO-FOTO WBC/KY

PARA PESERTA SEMINAR

datang KB harus tersentralisasi, demi memudahkan pengawasan dan pengamanannya. Sehingga dalam rancangan peraturan ini nantinya pendirian KB yang baru dibuat persyaratan khusus terutama mengenai lokasi dan syarat fisiknya. Yang menjadi masalah adalah perusahaan yang selama ini sudah permanen dan memiliki keterkaitan dengan lingkungan. “Diakui, jika perusahaan tersebut harus masuk dalam kawasan industri sudah pasti biaya relokasinya sangat mahal dan perlu waktu yang cukup lama, maka untuk itu dibuat pengecualian,” kata Kusdirman. Dia menambahkan bahwa dalam hal KB tidak berada di kawasan industri, izin berlaku untuk jangka waktu 5 (lima) tahun dapat diperpanjang dengan mengajukan kembali permohonan kepada Direktur Jenderal Bea dan Cukai. Pada sesi kedua seminar sehari yang juga membahas tentang tatalaksana audit, Direktur Audit DJBC, Thomas Sugijata sebgai nara sumber mengungkapkan bahwa kendala yang dihadapi pihak auditor selama ini, masih banyak pihak perusahaan di KB yang tidak melakukan pembukuan secara baik dan benar, sehingga untuk memperoleh bukti-bukti dan informasi yang lengkap dan benar sangat sulit. “Proses pelaksanaan audit yang semestinya sudah selesai paling lambat dalam 3 (tiga) bulan terpaksa diperpanjang atau ditangguhkan karena bukti dan informasi yang dibutuhkan tidak lengkap. Dalam hal kegiatan audit ditangguhkan, maka harus dibuat berita acaranya sehingga ada kepastian,” kata Thomas. Sementara itu, Ketua Asosiasi Pengusaha Kawasan Berikat Agus Gumilar mengatakan, dalam membuat keputusan pemerintah harus mempunyai pertimbangan yang matang dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi ekonomi nasional saat ini. Diakui Agus, seminar ini sangat bermanfaat untuk menambah wawasan dan ilmu khususnya bagi anggota APKB maupun rekan-rekan dari forwarder dan sub kontraknya. Untuk itu Agus mengharapkan kepada semua KB yang ada di Indonesia kecuali Batam (Otorita) untuk bergabung bersamasama dengan APKB, karena melalui wadah ini bisa samasama maju menempuh jalan yang terbaik. Harapan senada juga diutarakan Ade Sudrajad, Sekretaris APKB. Tujuan utama pendirian APKB adalah untuk menjembatani antara pengusaha dengan instansi pemerintah terkait, khususnya membahas permasalahan seputar KB. “Sejak APKB berdiri 6 tahun lalu, kami sudah mengadakan beberapa kali kegiatan baik berupa seminar maupun forum diskusi dengan pihak DJBC, tapi baru kali ini kita melibatkan partner kerja kita, seperti subkontraktor, forwarder dan PPJK,” kata Ade. pps

58

WARTA BEA CUKAI

EDISI 402 MEI 2008

S

tion and Loyalty (Carre-CCSL) Indonesia dan majalah Marketing. Penghargaan yang diterima DHL ini merupakan penghargaan yang ketiga kalinya dalam kurun waktu tiga tahun berturut-berturut, dimana DHL Express menjadi satu-satunya pemenang pada kategori ekspres dan logistik. Erry Kuswary, National Customer Service Manager, PT. Birotika Semesta/DHL Express pada acara press TERIMA PENGHARGAAN release berkaitan dengan penerimaan penghargaan tersebut di kantor pusatnya di Jakarta, 18 Maret 2008 CALL CENTER AWARDTM 2008 mengatakan, pihaknya merasa bangga menerima penghargaan tersebut yang diperoleh tiga kali berturutTM Penghargaan Call Centre Award turut, dimana para pelanggan mengakui pelayanan call 2008 diterima DHL Express selama tiga centre yang dimiliki oleh DHL Express Keberhasilan call center DHL Express menyabet kali berturut-turut dan satu-satunya penghargaan bergengsi tersebut menurut Erry terletak penerima penghargaan dari pengaturan sistem yang tertata rapih dengan baik untuk kategori eskpres dan logistik. untuk perekrutan sumber daya manusia, pelatihan terintegrasi yang sesuai dengan standar internasional dan teknologi yang canggih untuk memberikan layanan ebagai perusahaan ekspres dan logistik ternadengan kualitas terbaik bagi para pelanggannya. ma di dunia, DHL selalu berkomitmen untuk Dari sisi investasi teknologi informasi yang digunamemberikan pelayanan yang terbaik kepada kan, DHL Expres para peWBC/ATS tidak mau tanggunglanggannya. tanggung, alat-alat Keberadaan call komunikasi canggih centre sebagai jemguna mendukung batan penghubung operasional call antara DHL dengan center tersedia dan para pelanggannya terus mengembangadalah salah satu kan serta mencari bentuk kepedulian teknologi terbaru dan pelayanan guna mendukung terbaik DHL kepada operasional dari call para pelanggannya, center tersebut. Hal dimana dengan ini lanjut Erry meruadanya call centre pakan komitmen tersebut para DHL Express bagi pelanggan DHL dakepuasan para pat mengetahui pelanggannya. posisi barang kirimCall center DHL annya yang dikirimExpress yang dapat kan melalui DHL, diakses melalui nomenangani berbagai mor telepon bebas pertanyaan mengepulsa 0-800-133nai DHL itu sendiri, 333, dapat digunamenyediakan informasi pelayanan jasa kan oleh para pelangDHL hingga klarifigan diseluruh Indokasi terhadap isunesia, sehingga paisu yang berkaitan ra pelanggan diberi dengan layanan pekemudahan untuk langgan. mengetahui posisi Pelayanan call barang kirimannya centre DHL yang baik itu domestik beroperasi 24 jam, maupun internasiotujuh hari seminggu nal. Tidak hanya itu tersebut mampu Erry juga mengklaim, memberikan kepudivisi call center asan para pelangyang digawanginya gannya, sehingga tersebut selalu menlayanan pelanggan jawab telepon yang melalui telepon masuk dari para yang dimiliki DHL pelanggan sehingga Express Indonesia tidak ditemukan mendapat pengharadanya telepon dari gaan Call Centre para pelanggan AwardTM 2008 untuk yang terabaikan, atau dalam Service Excellence ERRY KUSWARY. National Customer Service Manager, PT. Birotika Semesta/DHL istilahnya zero call dari The Center for Express memaparkan kepada pers kiat call center DHL dalam memberikan layanan abandoned. zap Customer Satisfackepada para pelanggannya

Call Center DHL Express

EDISI 402 MEI 2008

WARTA BEA CUKAI

59

PERISTIWA
FOTO-FOTO : WBC/ADI

TANPA TARGET. Walau turun tanpa target, tim Inkado Jawa Barat berhasil meraih 1 Perak 5 perunggu di kejuaraan Gubernur Jabar Cup.

GELAR KERJURNAS DI MAKASSAR
Dengan upaya yang maksimal akhirnya Koordinator Daerah (Korda) DKI Jaya berhasil merebut posisi ketiga, sementara untuk Korda Jawa-Barat yang tidak memiliki target dalam kejuaraan nasional (kejurnas) Indonesia Karate-Do (Inkado) ke-II di Makassar, berhasil berada di posisi 13 dari 29 Korda yang mengikuti kejurnas tersebut.

Inkado

KUDA HITAM. Tim DKI Jaya dan Jawa Barat selalu menjadi kuda hitam yang diperhitungkan kekuatannya pada setiap even kejuaraan.

U

dara panas yang menyelimuti Gelanggang Olah Raga (GOR) Sudiang Makassar Sulawesi Selatan pada 21 hingga 23 Maret 2008, menambah panasnya persaingan para atlet karateka untuk merebut medali dan menampilkan permainan yang cantik. Dengan diikuti 1000 karateka Inkado seluruh Indonesia, kejurnas ke II dalam rangka memperingati hari jadi Inkado ke-35, berlangsung dengan saling susul menyusul dalam perolehan medali. Kejurnas dibuka langsung oleh Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Adhiyaksa Daud, dan juga dihadiri oleh Pejabat Gubernur Sulawesi Selatan, Tanribali Lamo, Ketua Umum PB Inkado, Yorrys TH. Raweyai, para dewan guru Inkado, dan ketua dari masing-masing Korda seluruh Indonesia. Dalam kata sambutannya Menpora menyatakan, melalui kejurnas Inkado, maka PB Inkado telah membangun dan memiliki tradisi kompetisi yang rutin. Hal ini merupakan sesuatu yang baik dan tepat dalam rangka meningkatkan prestasi di bidang olah raga karate. “Kenyataan ini, mungkin secara tidak langsung telah membuat PB Inkado menoreh sejarah bagi prestasi yang gemilang sebagaimana telah dibuktikan pada Sea Games di Thailand tahun 2007. Sehingga, diharapkan dapat terus berlangsung secara rutin dan pada akhirnya akan dapat memberikan konWARTA BEA CUKAI EDISI 402 MEI 2008

tribusi secara nyata dan terus menerus bagi kejayaan prestasi karate di tanah air,” papar Menpora. Sementara itu menurut Ketua Inkado Korda DKI Jaya, Maman Anurachman yang juga sebagai Kasubdit Intelijen Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC), timnya pada kejurnas kali ini menurunkan 40 atlet junior dan senior, untuk memperebutkan posisi 10 besar. “Target kami pada kejurnas kali ini adalah posisi kedua, namun kami cukup bangga walaupun kenyataannya berada di posisi ke tiga dengan merebut 5 emas, 7 perak dan 2 perungu. Hal itu kami akui kalau karateka dari wilayah timur masih mendominasi kejurnas ini, selain itu pembinaan atlet di wilayah timur untuk saat ini memang jauh lebih baik dari sebelumnya,” ujar Maman Anurachman. Lebih lanjut Maman Anurachman yang juga bertindak sebagai Ketua Bidang Pembinaan atlet PB Inkado menyatakan, untuk kedepan nanti diharapkan para Korda untuk lebih memfokuskan pada pembinaan atlet yunior, karena dengan pembinaan yang optimal kepada atlet yunior maka masa depan Inkado akan lebih baik karena ditunjang dengan kayanya atlet-atlet yang berprestasi. Lain halnya dengan ketua Inkado Korda Jawa Barat, Agustinus Djoko P, yang juga sebagai Kepala Seksi Penindakan dan Penyidikan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Belawan, menurutnya walaupun pada kejurnas kali ini timnya hanya terdiri dari 15 atlet dan tidak memiliki target, namun cukup bangga berada di posisi 13. “Kami juga akui kalau atlet wilayah timur saat ini masih menguasai kejurnas ini, dan hal itu dikarenakan pembinaan cukup baik dan mereka haus akan olah raga. Walaupun berada di posisi 13 dengan 2 perak dan 5 perunggu, kami cukup bangga karena pada kejurnas ini tim kami turun tidak full dikarenakan separuh tim kami juga mengikuti kejuaraan daerah di Jawa Barat,” ungkap Agustinus. Masih menurut Agustinus, untuk kejuaraan piala Gubernur Jawa Barat, timnya hanya menurunkan 24 atlet dan merebut 1 perak 5 perunggu. Namun di kejuaraan open tournament ini timnya cukup berat menghadapi kekuatan lawan karena mereka jauh lebih siap dan turun dengan full tim. Untuk kedepan ini baik Maman Anurachman maupun Agustinus Djoko P, juga tengah mempersiapkan timnya untuk turun di kejuaraan mahesa yang akan diselenggarakan Mei mendatang. Namun demikian untuk tim Jawa Barat masih tetap tanpa target karena timnya juga tengah mempersiapkan untuk kejuaraan Inkado wilayah barat dan Jawa Barat sebagai tuan rumah harus mampu mempertahankan gelar juara umum yang ketiga kalinya. adi

60

K

O

L

0

M

Oleh: Budiono

Hari Kebangkitan Nasional

N

DAN MEMBANGUN NASIONALISME KONTEMPORER

PENDIDIKAN ADALAH SARANA TEREFEKTIF DARI PENUMBUHAN NASIONALISME

“ ”

asionalisme sebagai kunci eksistensi sebuah bangsa adalah buah kata yang mesti dipupuk dan ditumbuhkan di setiap nadi warga negara. Namun, bagaimana sebenarnya nasionalisme kita, seberapa besar kecintaan kita pada bumi pertiwi? Nasionalisme memang kadang timbul tenggelam dalam kehidupan sebuah bangsa. Nasionalisme selalu menarik untuk dibahas jika saja terbesit peringatan Hari Kebangkitan Nasional yang jatuh pada setiap tanggal 20 Mei. Saat dr Sutomo bersama rekan seperjuangan mendirikan organisasi Budi Utomo, adalah tonggak dimana kebangkitan secara nasional itu tumbuh. Dari jumlah anggota ia tidak pernah merupakan organisasi besar. Namun, pengaruhnya terhadap gerakan sangat mendalam. Seratus tahun bukan waktu yang sebentar, tapi untuk hal nasionalisme apakah kita benar-benar dalam tahap kematangan. Nasionalisme sendiri adalah paham kebangsaan yang tumbuh karena adanya persamaan nasib dan sejarah serta kepentingan untuk hidup bersama sebagai suatu bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, demokratis, dan maju dalam satu kesatuan bangsa dan negara serta cita-cita bersama guna mencapai, memelihara dan mengabdikan identitas, persatuan, kemakmuran dan kekuatan atau kekuasaan negara yang bersangkutan. (Ensiklopedi Nasional Indonesia, 1997) Bicara nasionalisme saat ini, terdapat ancaman yang benar-benar nyata di hadapan. Konflik horizontal yang bahkan hanya karena masalah sepele, tentu dapat dijadikan acuan berapa sebenarnya kadar nasionalisme kini. Belum lagi kasus-kasus korupsi, penindasan hukum dan keadilan, yang pada dasarnya semua telah berkhianat pada paham kebangsaan. Dan pemecahan dari semua itu tentu berkait dengan nasionalisme. Pananaman nasionalisme kontemporer memang layak terpikirkan. Karena tumbuh kembang nasio-

nalisme berbanding lurus dengan berkembangnya bangsa secara komprehensif. Nasionalisme bangsa kita, memang diakui telah berkurang kemegahannya. Kita tengok nasionalisme dulu dan sekarang. Dulu nasionalisme dikaitkan dengan memanggul senjata dan berperang dengan musuh yang sama dan jelas yaitu penjajah. Karena adanya musuh bersama maka nasionalisme kala itu begitu membumbung. Kini justru lebih sulit menentukan apa yang sebenarnya menjadi tujuan dari nasionalisme, sehingga rasa itu perlahan terkikis. Nasionalisme kini memiliki tantangan yang lebih kompleks. Arus informasi begitu cepat tanpa batas juga mempengaruhi. Gejala terkikisnya nasionalisme tampak pada kaburnya identitas budaya. Ketika budaya kita diklaim oleh bangsa lain, disaat itu pula kita seperti kebakaran jenggot. Lalu dimana langkah nyata pelestarian budaya kita tersebut, saat budaya itu hanya diam dan tanpa sentuhan anak bangsa ? Ada beberapa faktor yang menjadikan nilai-nilai kebangsaan kita terkurangi kekadarannya. Faktor internal, yaitu faktor yang berasal dari dalam bangsa sendiri. Dapat diambil contoh, Indonesia begitu beraneka ragam dan kaya akan alamnya, 30% spesies flora dunia ada di negeri khatulistiwa ini, bahkan Indonesia memiliki hujan tropis terbesar nomor dua di dunia setelah Brasil, tetapi disaat bersamaan kita dicap sebagai perusak hutan terbesar di bumi ini karena rata-rata dalam waktu satu menit hutan seluas enam kali lapangan sepakbola hancur dengan kerugian negara Rp 30,3 triliun per tahun. (Metro Hari Ini, Metro TV, 10 April 2008). Hal ini anugerah sekaligus menjadi bumerang jika kita sebagai warga bangsa tidak dapat mengelolanya. Hal di atas sebenarnya tidak dapat jadi alasan, karena bangsa ini punya semboyan Bhinneka Tunggal Ika dan kearifan lokal dalam menghadapi berbagai masalah sosial. Tapi
EDISI 402 MEI 2008 WARTA BEA CUKAI

61

NASIONALISME KINI MEMILIKI TANTANGAN YANG LEBIH KOMPLEKS

“ ”

ketika semboyan hanya sebatas simbol dan kearifan tersebut tidak teraplikasikan, maka yang terjadi adalah konflik-konflik yang tak terelakaan. Kata nasionalisme seakan terkhianati, saat banyak terjadi keributan Pilkada atau bahkan hanya sekedar menonton pertandingan sepakbola. Fakta historis memang menyebutkan bangsa kita beberapa kali terperosok dalam lubang yang sama. Berupa kerusuhan yang melibatkan masyarakat yang kurang tahu apa yang sebenarnya menjadi akar permasalahan. Sedangkan aktor intelektual dari semua itu justru lenyap tak tergores sedikitpun oleh ekses negatif dari kebijakan yang dikeluarkan. Masalah lain yang sering menjadi persoalan adalah pola pikir generasi muda. Banyak dari generasi muda kita yang cenderung menganut individualisme. Ketika rasa sosial pergi dan sikap hedonisme tumbuh, bangga akan budaya luar, budaya seni tradisional jarang tersentuh, maka yang terjadi adalah kekaburan identitas. Program pelestarian budaya memang mendapat tantangan yang tidak ringan pada era globalisasi saat ini. Arus informasi dengan media yang begitu canggih serta kurang adanya kontrol menyebabkan generasi muda bingung dalam memilih hingga terjadi krisis identitas. Kemudian yang kedua adalah faktor eksternal. Ini tentu yang berhubungan dengan pengaruh luar negeri. Ketika modernisasi malah cenderung ke westernisasi, disana pula kecenderungan terjadi akulturasi yang timpang, dan terkikis pelan-pelan budaya bangsa. Contoh kecil adalah anak-anak kita yang terjejali film animasi yang berasal dari luar, padahal sebenarnya kita dapat memproduksi film serupa. Akan tetapi film luar lebih laris, dan disini tampak akan fenomena lebih bangga pada produk luar dari pada produksi dalam negeri. Ini baru pada sebagian kecil produk belum lagi dengan hal lain seperti makanan, pakaian, sampai dengan barang-barang elektronik. Dalam nasionalisme ternyata terdapat pilar-pilar yang harus berdiri tegak. Yang pertama pilar masyarakat, dimana disana terdapat unsur suku, agama, ras, juga kepentingan. Bila pilar tersebut telah tergelincir di sisi normatifnya akan terjadi ketimpangan dalam berbangsa. Di sini dibutuhkan pemikiran dan juga tingkah laku sebagai negarawan untuk semua warga bangsa. Ketika dengan kebhinekaan dapat menjadi satu jua. Lalu pilar yang kedua adalah elite politik. Ini sangat menentukan terhadap sisi nasionalisme pada masyarakat. Jika nasionalisme hanya dipandang dari segi politik, maka yang terjadi cenderung pada kepentingan golongan. Yang ada nanti
EDISI 402 MEI 2008

hanya sifat-sifat yang mengabaikan kepentingan bangsa. Yang patut dipikirkan adalah generasi muda kita rindu akan sosok teladan yang dapat dijadikan panutan dalam melangkah. Bagaimana cara memupuk nasionalisme? Bagaimana cara menghidupkannya? Saat Ir. Soekarno bertanya dengan gaya retorik dalam pidato pengadilannya di tahun 1930, terkemukakan tiga jalan. Yang pertama, kita tunjukan pada rakyat bahwa mereka mempunyai suatu masa lampau, suatu masa lampau yang jaya. Yang kedua, kita tingkatkan kesadaran rakyat bahwa mereka mempunyai suatu masa sekarang, suatu masa sekarang yang gelap. Ketiga, kita perlihatkan kepada rakyat sinar cahaya masa depan, yang terang benderang, dan cara menciptakan masa depan yang penuh harapan. Ternyata tiga hal yang dikemukakan oleh presiden pertama Indonesia tersebut sangat relevan dengan keadaan sekarang. Tiga dimensi waktu yang mesti dipahami sebagai jalan lurus ke depan, masa lalu sebagai semangat dan pelajaran, masa sekarang jadikan tonggak sejarah sebuah kebangkitan nasional kontemporer dengan memandang lurus ke depan karena di sana ada sinar harapan bernama bangsa besar, Bangsa Indonesia. Secara praktis, nasionalisme dapat dipupuk melalui kegiatan yang bersifat ceremonial, seperti upacara bendera di sekolah, juga peringatan hari-hari besar kebangsaan, misal Hari Kemerdekaan, Hari Pahlawan, dan juga Hari Kebangkitan Nasional yang sebentar lagi kita peringati. Dari acara tersebut sedikit banyak mengingatkan kita pada jasa pahlawan. Bukan cara berjuangnya tetapi lebih pada nilai-nilai semangat kepahlawanan yang terkandung. Cara lain yang dapat ditempuh adalah melalui pendidikan. Pendidikan adalah sarana terefektif dari penumbuhan nasionalisme. Pendidikan kebangsaan adalah mutlak pengaruhnya pada kadar nasionalisme. Dan dari sini pula dapat diukur berhasilkah pendidikan nasional. Kurikulum dapat lebih mengedepankan nilai-nilai kebangsaan. Jangan sampai terjebak pada pendidikan yang mengedepankan hasil akhir atau mengusung azas kejar nilai. Penggugahan nasionalisme mesti melibatkan semua elemen bangsa, elite politik sebagai penggerak juga sebagai fasilitator, motivator, dan motor. Rakyat sebagai penumpang yang mesti patuh dan tetap mengawasi, dengan diiringi kearifan dunia pers atau media yang dapat dijadikan kaca spion di saat melihat jalan yang telah dilalui oleh gerbong bernama Indonesia untuk menuju kejayaan berbangsa.
Penulis adalah Pelaksana di Bagian Umum, Sekretariat DJBC

62

WARTA BEA CUKAI

K

O

L

0

M

Oleh: Fauzan

“G

Ya, Sudah... !!
gala macam pakar menejemen, penjaga konter pakar pertanian, penjaga gudang pakar kimia, kasir pakar akuntansi, kebersihan pakar sdm, penjaga malam pakar ini, penjaga parkir pakar itu, ini pakar itu, itu pakar ini, ...dst... dst... Para naker, semua tampil necis, harum mewangi. Sesuai dengan latar pendidikannya, maka meriahlah suasana Mal. Setiap yang nampak, jadi bahan diskusi. Semua pakar, semua merenung, semua berpikir, semua berpendapat, semua ditampung, semua berjasa, semua pahlawan, semua perlu dihargai, semua patut dihormati, semua dijadikan priyayi. Dagangan berserakan, gudang terbuka lebar, parkir semrawut, sampah bertebaran, bau toilet menebar ke luar Mal, mewangikan kota. Penduduk dan petinggi kota resah dan gelisah... Tidak semua orang dapat dipercaya, untuk menjaga stabilitas kursi agar tidak digerogoti tikus, perlu ada penjaga, yang sekaligus dapat bermanis muka dan manja pada sang majikan. Maka dipilihlah di antara para kucing, si Manis, yang keturunan kampung setempat, si Catty yang keturunan Siam, dan kucing lainnya untuk menjaga kursi sang majikan. Para anjing penjaga lama, yang bertampang jelek, yang selama ini setia kepada sang majikan, tetapi dipandang sebagai ancaman, yang sewaktu-waktu bisa saja menggigit sang majikan, dipindahkan menjadi penjaga gudang ikan asin (lho, bukannya anjing biasa tiduran di lantai dan kucing lebih suka tiduran di kursi ?) Suatu saat terpikir oleh sang majikan, lho apa bukannya si Pleki kalau lagi lapar mau juga makan ikan asin ? Janganjangan, jangan-jangan. Demi keamanan gudang ikan asin, maka dikirimlah si Catty untuk membantu Pleki mengawasi gudang. Dasar Catty, meski keturunan Siam, toh dari sudah sononya, bila terpancing bau ikan asin, akan timbul juga selera kampungnya. Jadi, begitu ada bau ikan asin menebar wangi, merengek Catty kepada si Pleki untuk membuka gudang. Dan Pleki, si anjing kampung, yang terlalu takut dikasih nilai jelek oleh Catty, kesayangan sang majikan, terpaksa buka gudang, dan ikut menemani Catty menikmati kelezatan ikan asin. Ya, sudah...........

TIDAK SEMUA ORANG DAPAT DIPERCAYA, UNTUK MENJAGA STABILITAS KURSI AGAR TIDAK DIGEROGOTI TIKUS, PERLU ADA PENJAGA, YANG SEKALIGUS DAPAT BERMANIS MUKA DAN MANJA PADA SANG MAJIKAN

“ ”

undhul, gudhul pacul, cul, gembelengan... Nyunggi, nyunggi wakul, kul, gembelengan.... Wakul ngglimpang, segane dadi sak latar... Wakul ngglimpang, segane dadi sak latar..” (Alkisah, seorang anak kecil, kepala plonthos tanpa rambut, berjalan sempoyong- an. Maklum namanya anak kecil, ia belum bisa tegap berjalan seperti kakak-kakaknya yang lulusan Lembah Tidar. Menyunggi (membawa di atas kepala) bakul nasi, berjalan sempoyongan. Bakul nasi terguling dan nasinya tumpah bertebaran memenuhi halaman rumah). Oooalaah..........!!! Mbah, Mbah..........!!! Kok tega nian sampeyan menyuruh cucu yang masih kecil memikul tanggung jawab, mengantar nasi ke sawah. Katanya mau mensejahterakan para buruh tani, lha kalau sampai kejadian kayak gitu, apa para sedulur yang capek bekerja di sawah pada nggak kelaparan...?? Pak Raden, priyayi agung yang masih memiliki trah keraton dari garis ibunya, memiliki usaha Mal yang cukup besar dan sukses. Merasa dirinya sudah tidak lagi bisa mengikuti aliran kemajuan jaman yang demikian dahsyatnya bak arus globalisasi, mempersilahkan anak semata wayangnya untuk mengambil alih kepemimpinan Mal yang diwarisinya dari Mbah Raden, yang masih keturunan Senopati Keraton. Si Mata Wayang melihat, bahwa untuk menghadapi persaingan dengan mal-mal yang mulai tumbuh bertebaran di sekelilingnya dan ingin tampil beda, berdasarkan pengalamannya selama belajar di negeri seberang, perlu pakar untuk memenejeri usahanya. Dengan memanfaatkan UKM sebesar tidak lebih dari Rp 1 juta per bulan, serta banyaknya para pakar yang baru lulus dari padepokan yang terkenal maupun tidak dikenal, dari yang selama pendidikannya banyak mengalami kesulitan untuk lulus maupun kesulitan untuk tidak lulus, apa salahnya bila Malnya tampil beda ? Banyak usaha sukses karena menejer, dan arus globalisasi perlu dihadang...!!! Para penjaga dan pelayan Mal yang tidak lagi dipandang mampu tampil intelek, karena latar belakang pendidikannya, harus minggir!! Pindah sebagai penjaga dan pelayan rumah tangga, bahkan kalau perlu di PHK, toh pesangonnya murah saja. Ganti dengan sebanyak-banyaknya se-

Penulis adalah Kepala Bidang Kepabeanan dan Cukai Kanwil DJBC Riau dan Sumatera Barat
WARTA BEA CUKAI

EDISI 402 MEI 2008

63

O

P

I

N

I
atau biaya lisensi. Namun demikian, tidak selalu secara eksplisit dinyatakan bahwa royalty merupakan persyaratan penjualan sebagai akibat pembelian barang impor. Perjanjian royalty dapat saja terjadi antara seller sebagai licenser dengan buyer sebagai licensee. Jika royalty atau lisensi dibayar kepada seller untuk memenuhi ketentuan dalam kontrak penjualan, ini jelas-jelas persyaratan penjualan atas barang impor tersebut. Dalam kasus lain, royalty dapat juga dibayarkan kepada pihak ketiga (licenser) sebagai konsekuensi dari perjanjian royalty antara pembeli dengan pihak ketiga. Sebagaimana dinyatakan dalam article 8 butir 1 (c), royalty ditambahkan ke dalam nilai yang sebenarnya / seharusnya dibayar sepanjang memenuhi kondisi tertentu. Dalam Advisory Opinion of the WTO Valuation Agreement dicontohkan berbagai kasus tentang royalty, yaitu pada butir 4.1 s.d. 4.13. Advisory Opinion merupakan instrumen yang disiapkan oleh The Technical Committee on Customs Valuation, sehingga contoh kasus yang disajikan dapat dijadikan sebagai referensi dalam hal terdapat kasus serupa tentang royalty. Jarang sekali atau boleh dikata tidak ada PIB yang mencantumkan nilai royalty ataupun adanya pemberitahuan tentang pembayaran royalty yang belum diperhitungkan dalam nilai pabean (nilai invoice). Adanya pembayaran royalty oleh suatu perusahaan, umumnya ditemukan melalui proses audit kepabeanan. Hal ini dapat disebabkan karena pembayaran royalty pada umumnya dihitung atas dasar pendapatan yang diperoleh dari penjualan atau penggunaan barang impor, sehingga besarannya dapat diketahui setelah proses penjualan kembali barang impor tersebut. Kalaupun ada pemberitahuan yang langsung mencantumkan nilai royalty, biasanya penghitungannya menggunakan estimasi berdasarkan jumlah penjualan tahun-tahun sebelumnya. Terdapat beberapa kasus yang diterima oleh Subdit Nilai Pabean, Direktorat Teknis Kepabeanan, baik yang ditanyakan secara lisan oleh tim Audit maupun secara tertulis oleh kantor wilayah terkait atas permasalahan pembayaran royalty. Case-case tersebut dapat digambarkan sebagai berikut : Kasus 1 : PT. WI yang sebelumnya bernama PT. WE, melakukan kegiatan impor berupa susu bubuk dari seller W, Singapura. PT. WI juga terikat dalam suatu license agreement dengan AHPC, yang berkedudukan di Amerika Serikat. License agreement tersebut dibuat pada saat PT. WI masih bernama PT. WE. Perubahan nama dari PT. WI menjadi PT. WE juga atas persetujuan AHPC. License agreement tetap berlaku walaupun terjadi perubahan nama dari PT. WE menjadi PT. WI. Dalam akte perubahan nama disebutkan bahwa 90% saham perusahaan dimiliki oleh AHP Holdings B.V, Amerika Serikat. Berdasarkan company profile yang diperoleh dari situs perusahaan diketahui bahwa AHPC memiliki 10% saham atas perusahaan afiliasi yang tersebar di beberapa negara. Berdasarkan license agreement, PT. WI diwajibkan untuk membayar royalty kepada AHPC atas penjualan produk susu bermerk “W”, besarnya royalty tersebut adalah 11 % dari harga penjualan bersih sebelum pajak. Kasus 2 : Kasus serupa juga terjadi pada PT. MJI yang juga melakukan importasi produk sejenis dengan PT. WI. PT. MJI melakukan importasi susu bubuk dalam kemasan siap jual dari MJ, Filipina. MJ, Indonesia dan MJ, Filipina merupakan perusahaan multi nasional dibawah BMS Company, Amerika Serikat. PT. MJI terikat dalam Trademark License Agreement dengan MJ & Co, Amerika Serikat, yang merupakan salah satu divisi dari BMS, Amerika Serikat. Dalam license agreement tersebut, PT. MJI diharuskan membayar royalty sebesar 4,5 % dari net sales atas penggunaan trademark terkait dengan penjualan dan distribusi produk tersebut di Indonesia. Berdasarkan akte pendirian perusahaan, BMS memiliki 45 % saham pada PT. MJI. Dari kedua kasus tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa royalty dibayarkan kepada pihak ketiga (licenser) sebagai konsekuensi dari perjanjian royalty antara pembeli dengan pihak ketiga. Dalam hal ini, pihak ketiga merupakan pihak yang saling berhubungan baik dengan buyer sebagai licensee maupun seller. Pengertian pihak-pihak yang saling berhubungan adalah sebagaimana diatur dalam article 15 butir 4 of the WTO Valuation Agreement jo. pasal 1 Kep-81/BC/1999.

Oleh : Nanik Susilawati Rizain

Royalty S

Pembayaran

MENGGALI POTENSI PENERIMAAN MELALUI PENGAWASAN TERHADAP

ebagaimana diketahui bahwa pada prinsipnya nilai pabean adalah nilai transaksi. Dalam article 1 of the WTO Valuation Agreement dinyatakan bahwa nilai pabean barang impor adalah nilai transaksi, yaitu harga yang sebenarnya atau yang seharusnya dibayar dari barang yang dijual untuk diekspor ke negara pengimpor yang disesuaikan dengan ketentuan-ketentuan dalam pasal 8, sepanjang memenuhi persyaratan tertentu. Berdasarkan butir 1 General Introductory Commentary of the WTO Valuation Agreement dinyatakan bahwa article 1 harus dibaca bersama-sama dengan article 8 yang mengatur penyesuaianpenyesuaian terhadap harga yang sebenarnya atau yang seharusnya dibayar dalam hal terdapat unsur-unsur yang ditanggung / dibayar oleh pembeli yang membentuk sebagian nilai pabean tetapi tidak termasuk di dalam harga yang sebenarnya atau yang seharusnya dibayar dari barang impor yang bersangkutan. Penyesuaian-penyesuaian yang diatur dalam article 8, termasuk diantaranya adalah royalty. Royalty sebagai komponen penyesuaian terhadap nilai yang sebenarnya atau seharusnya dibayar yang diatur dalam article 8 butir 1 (c) adalah sebagai berikut : “royalties and license fees related to the goods being valued that the buyer must pay, either directly or indirectly, as a condition of sale of the goods being valued, to the extent that such royalties and fees are not included in the price actually paid or payable”. Ketentuan mengenai nilai pabean yang diatur dalam the WTO Valuation Agreement sebagaimana diuraikan diatas, telah diatur dalam pasal 2 ayat (1), pasal 3 ayat (1) dan Pasal 5 ayat (1) huruf c Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor : Kep-81/BC/1999 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penetapan Nilai Pabean untuk Penghitungan Bea Masuk. Dalam Lampiran I Kep-81/BC/1999 dinyatakan bahwa royalty dan lisensi adalah pembayaran yang berkaitan antara lain dengan paten, merk dagang dan hak cipta. Dalam Interpretative Note of article 8 butir 1 (c) disebutkan bahwa royalty dan license fee antara lain termasuk pembayaran berkaitan dengan patent, trademark dan copyright. Namun demikian lingkup royalty dan license fee belum jelas diatur dalam agreement. Permasalahan ini sedang didiskusikan oleh the Technical Committee on Customs Valuation. Berdasarkan OECD Model Double Taxation Convention, royalty didefinisikan sebagai berikut : Royalty is the payment of any kind received as consideration for the use of, or the right to use, any copy right or literary, artistic or scientific work including cinematography films, any patent, trade mark, design or model, plan, secret formula or process, or for the use of, or the right to use, industrial, commercial, or scientific equipment, or for information concerning industrial, commercial or scientific experience. Dalam transaksi impor, pada umumnya royalty agreement dituangkan dalam kontrak yang terpisah dengan kontrak penjualan, dimana secara eksplisit akan diatur ketentuan untuk membayar royalty
WARTA BEA CUKAI EDISI 402 MEI 2008

64

Bahwa contoh kasus serupa yang ditemukan pada kedua perusahaan tersebut, dicontohkan dalam butir 4.11 of the Advisory Opinion of the WTO Valuation Agreement, sebagai berikut : Pabrik pakaian olah raga M dan importir I keduanya berhubungan dengan parent company C, sebagai pemilik hak atas merk dagang atas pakaian olah raga tersebut. Dalam sales contract antara M dan I tidak dipersyaratkan untuk pembayaran royalty. Namun demikian, I dalam perjanjian terpisah dengan C, diharuskan membayar kepada C terkait dengan hak untuk menggunakan merk dagang atas pakaian olah raga yang dibeli I dari M. The Technical Committee on Customs Valuation memberikan tanggapan atas kasus ini sebagai berikut : Sales contract antara M dan I tentang trade mark barang impor tidak menjelaskan kondisi yang spesifik terkait dengan pembayaran royalty. Namun demikian, pembayaran tersebut merupakan persyaratan penjualan jika I diharuskan membayar royalty kepada parent company sebagai akibat dari pembelian barang. Artinya, I tidak mempunyai hak untuk menggunakan merk dagang tersebut tanpa pembayaran royalty ke parent company, sehingga royalty yang dibayar oleh pembeli merupakan komponen yang harus dimasukkan ke dalam nilai yang sebenarnya/seharusnya dibayar. Berdasarkan materi yang diperoleh dalam The Focused Training Course on Customs Valuation for ASEAN, pada Desember 2004 di Jepang, digambarkan mengenai condition of sale yang dimaksudkan dalam article 8 butir 1 (c) sesuai bagan berikut : 1. In cases where Seller is Licenser
s

5. In cases where Seller is Sub-license
ss
LICENSER

...... ..

Sub-License Agreement

...............................
Royalty Cargo, Invoice

License Agreement

SELLER = LICENSER

BUYER = LICENSEE

Payment

2. In cases where Licenser gives Seller a consent of use of the patent, etc.
s s

LICENSER

....

Roya lty

t

License Consent Cargo, Invoice
s

SELLER = LICENSER

BUYER

Payment

3. In cases of the existing Agreement of the payment of Royalty between Seller & Buyer
LICENSER
s

....

Roya lty

t

Cargo, Invoice
s

s

SELLER

Agreement of payment of royalty

...............................

Payment

BUYER

4. In cases where Seller is related to or subcontractor of Licenser
ss

LICENSER

t

s

SELLER

.... License Agreement .... .... Related Company .... or .... .... Subcontract Royalty .... Factory ... . .... Cargo, Invoice ..
s

.... ..

....

....

Payment

BUYER

Dengan mengacu pada contoh kasus dalam butir 4.11 Advisory Opinon of the WTO Valuation Agreement dan penjelasan pada bagan no. 4 diatas, maka royalty yang dibayarkan oleh kedua perusahaan PT. WI dan PT. MJI diatas merupakan komponen yang harus ditambahkan ke dalam nilai pabean sebagaimana dimaksud dalam article 8 butir 1 (c). Dari kasus royalty yang ditemukan pada kedua perusahaan tersebut, terdapat kekurangan BM dan PDRI dari pemberitahuan sebesar total Rp. 12 miliar untuk PT. WI, namun karena PPN impor atas pembayaran royalty tersebut telah dibayar perusahaan setiap periode triwulan, maka tim audit memberikan rekomendasi untuk dilakukan pembayaran atas kekurangan BM dan PDRI sebesar total Rp. 5,4 miliar, sebesar Rp. 3,3 miliar diantaranya adalah tagihan Bea Masuk. Sedangkan untuk PT. MJI terdapat kekurangan pembayaran BM dan PDRI sebesar total Rp. 1,6 miliar. Adapun kedua besaran tagihan tersebut sudah dikurangi dengan PIB-PIB yang sudah kadaluarsa / melebihi batas waktu penetapan kembali, yaitu 2 tahun dari tanggal PIB. Memperhatikan besaran tagihan yang ditemukan tersebut, pengawasan terhadap pembayaran royalty merupakan hal yang layak diperhatikan untuk meningkatkan penerimaan negara di bidang Bea Masuk dan PDRI. Dengan diangkatnya kasus royalty ini diharapkan agar kasuskasus tentang royalty lainnya dapat terungkap, khususnya pada perusahaan multinasional dan perusahaan lainnya pada umumnya. Untuk selanjutnya, mengingat pemeriksaan yang komprehensif untuk mengetahui adjustment-adjusment terhadap nilai yang sebenarnya/seharusnya dibayar hanya dapat dilakukan melalui proses audit kepabeanan, diharapkan agar tim audit dapat lebih jeli melihat kasus-kasus serupa, baik itu menyangkut royalty ataupun adjustment-adjusment lain yang dimaksud dalam article 8 of the WTO Valuation Agreement. Perlu disampaikan bahwa kedua kasus yang diuraikan di atas, ditemukan oleh satu tim audit yang sama yang pada saat itu bertugas di KWBC Jakarta. Diharapkan juga agar dapat disediakan suatu forum diskusi sebagai sarana bertukar pengalaman dan memecahkan permasalahan tentang royalty ataupun adjustment-adjustment lainnya yang dimaksud dalam article 8 of the WTO Valuation Agreement, sehingga dapat memperkaya pengetahuan dan pengalaman tentang permasalahan nilai pabean. Setidaknya, pengalaman tersebut dapat disalurkan melalui media ini. Harapan yang tidak kalah pentingnya adalah agar terhadap tim-tim yang telah dengan susah payah menemukan tagihan dari pembayaran royalty dapat diberikan semacam reward sebagai motivasi bagi tim penemu atau tim-tim audit lainnya untuk dapat menghasilkan kinerja yang lebih tinggi. Untuk menghindari adanya temuan yang tidak dapat ditagih karena lewatnya jangka waktu untuk penetapan kembali, diharapkan juga untuk dilakukan pengawasan dan pembinaan yang berkesinambungan terhadap perusahaan yang sudah jelas-jelas ditemukan adanya pembayaran royalty sebagaimana diuraikan diatas. Jika perlu dapat juga disediakan petugas semacam client coordinator, untuk membimbing dan mengawasi pembayaran BM dan PDRI atas pembayaran rolyaty oleh perusahaan bersangkutan. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi penulis dan yang membacanya...

s

s

...........

s

SELLER = Sub-LICENSEE

...... License Agreement ...... ...... ...... Royalty ...... ......
Cargo, Invoice Payment
s

......

...........................

BUYER = LICENSEE

s

s

s
s s s

s

t

Penulis adalah Pelaksana pada Subdit Nilai Pabean, Direktorat Teknis Kepabeanan
WARTA BEA CUKAI

EDISI 402 MEI 2008

65

O

P

I

N

I
dengan dukungan SDM yang berkualitas dan berkompetensi serta berintegritas tinggi . Awal perjalanan KPU, seluruh elemen di pelabuhan dari mulai tukang parkir, instansi terkait hingga pengguna jasa kepabeanan merasakan dampak yang sangat luar biasa dari perubahan tersebut. Slogan yang dikumandangkan oleh para pejabat di KPU yakni “Pelayanan Prima Tanpa Pungli” seakan bergema di pelosok pelabuhan Tanjung Priok, sampai-sampai ada sebagian market forces berseloroh, “Waduh tanda-tanda kiamat sudah dekat, sekarang pegawai Bea dan Cukai nggak doyan duit.” Dari pernyataan tersebut dapat kita tarik kesimpulan bahwa pertama, DJBC telah berhasil menanamkan nilai-nilai untuk membangun citra dan kinerja melalui KPU sehingga terpatri di benak elemen di pelabuhan bahwa DJBC telah berubah, atau yang kedua bermakna konotasi, memang citra DJBC terlampau buruk di mata mereka sehingga bila berbicara tentang DJBC tidak terlepas dari uang. KPU sebagai learning organization dituntut untuk berupaya memiliki suatu struktur organisasi yang sesuai, sumber daya manusia yang berpengetahuan luas dan memiliki kemampuan, teknologi yang mendukung, serta upaya pembelajaran yang terus menerus. Reformasi organisasi yang dilakukan yaitu perubahan dan penataan struktur, desain dan aplikasi organisasi yang dirancang berdasarkan fungsi agar organisasi lebih efektif dan efisien dalam memberikan pelayanan dan pelaksanaan administrasi kepabeanan dan cukai. Terdapat sejumlah faktor yang mendukung KPU sebagai Learning Organization, sebagai berikut : Pertama, Kantor Pelayanan Utama (KPU) Bea dan Cukai Tanjung Priok terus menerus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan dan kinerja yang diimplementasikan melalui modernisasi, yang dapat diartikan sebagai suatu fenomena learning organization. Salah satu bentuk implementasi organisasi pembelajar itu antara lain adalah melalui reformasi organisasi yaitu penataan struktur, desain dan aplikasi organisasi berdasarkan fungsi yang ditujukan agar organisasi dapat berlaku secara efektif dan efisien dalam meningkatkan pelayanan dan kinerja. Kedua, SDM yang berkualitas, yang memiliki kemampuan dan pengetahuan, yang diberdayakan di KPU. Pegawai yang ditempatkan di KPU adalah pegawai terbaik yang dimiliki DJBC, melalui serangkaian tes yang dilakukan oleh organisasi independen diperoleh hasil sekitar 850 orang yang layak terpilih untuk ditempatkan di KPU memberikan pelayanan dan pengawasan yang tadinya dilayani oleh sekitar 1.300 orang. Salah satu perubahan penting lainnya yaitu adanya jabatan Client Coordinator (CC) yang memerlukan SDM yang tanggap terhadap perubahan, dan memiliki keinginan untuk terus memperluas pengetahuannya, karena terkait dengan tugasnya sebagai penghubung market forces dengan KPU. Terlaksananya pemenuhan hak dan kewajiban pelayanan di bidang kepabeanan akan sangat tergantung dengan kapabilitas CC. Sehingga dalam hal ini terdapat aktualisasi learning organization yaitu pemberdayaan SDM yang secara kontinyu melakukan pembelajaran, agar dapat meningkatkan kapabilitasnya untuk terus menggali potensi penerimaan pajak di lingkungan bisnis yang terus berkembang, disamping pemberian pelayanan prima kepada market forces. Ketiga, penerapan Sistem Informasi dan Aplikasi KPU (SIAP-KPU) sebagai sarana dan fasilitas kerja yang berbasis pada sistem teknologi komputer, merupakan suatu konsep teknologi tinggi yang berkaitan langsung dengan teknis pelayanan kepada market forces dan pengadministrasian data-data kepabeanan dan cukai yang akurat sebagai sarana pengawasan. Selain terdapat faktor pendukung juga ada hambatan dalam proses learning tersebut antara lain di level organisasi, yaitu berupa struktur organisasi dengan birokrasi yang kaku. Seperti dikemukakan Peters dalam Marquardt (1996 : 186) bahwa prioritas utama dalam mendirikan suatu organisasi pembelajar adalah mengurangi adanya birokrasi, dimana hal yang dapat menjadi

Oleh : Ricky Mohamad Hanafie

Learning Organization
“KPU ADALAH BENTUK PERUBAHAN MANAJEMEN DJBC MENUJU LEARNING ORGANIZATION”

DJBC Sebagai

P

erubahan-perubahan dari lingkungan eksternal maupun internal organisasi memaksa organisasi untuk ikut berubah. Organisasi yang mampu bertahan hanyalah organisasi yang mampu mentransformasikan dirinya untuk menyesuaikan diri menghadapi perubahanperubahan. Terkait dengan tuntutan tersebut maka berkembang teori learning organization. Menurut Marquardt, kemampuan organisasi beradaptasi dengan lingkungannya ditentukan oleh keberadaan suprastruktur yaitu sumber daya manusia (SDM), dan infrastruktur berupa iklim organisasi. Organisasi akan beradaptasi secara cepat bila memiliki SDM yang sensitif terhadap perubahan diluar organisasi dan mampu belajar secara cepat, serta apabila organisasi memiliki lingkungan yang kondusif untuk mendorong proses belajar. Perubahan di lingkungan bisnis juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan potensi-potensi pajak di masyarakat. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) sebagai instansi pemerintah yang mengemban tugas revenue collector dan memberikan pelayanan kepada masyarakat di bidang Kepabeanan dan Cukai dituntut untuk senantiasa mengembangkan diri agar dapat meningkatkan kinerja dalam menggali potensi-potensi penerimaan melalui pengawasan yang ada disamping meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Oleh sebab itu, DJBC dituntut untuk terus menerus mencari cara dalam menciptakan dan mewujudkan nilai (value) agar mampu menyesuaikan diri menghadapi perubahan lingkungan. Saat ini upaya yang telah dilakukan adalah Reorganisasi instansi vertikal yang pada tahun 2007 telah dua kali dilakukan, yaitu, pertama pada Januari melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor : 133/PMK/01/2006 dan pada Juli melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor : 68/PMK/01/2007 yang secara prinsip adanya perubahan pada sistem dan prosedur pelayanan, kebijakan di bidang pengawasan dan kebijakan di bidang sumber daya manusia. Kantor Pelayanan Utama (KPU) Bea dan Cukai yang dibentuk dengan melebur 3 KPBC di Tanjung Priok dijadikan sebagai piloting models reorganisasi yang menitikberatkan pada pelaksanaan tugas di bidang pelayanan, dimana untuk tugas yang bersifat pengawasan dilaksanankan secara sistemik (built-in system) pada sistem aplikasi pelayanan, sehingga dapat mengurangi hambatan dalam proses pelayanan kepabeanan dan cukai (WBC 2007, edisi 394). Pembentukan KPU ini juga ditujukan untuk melakukan perbaikan kualitas pelayanan dan kinerja dalam menghimpun penerimaan, bebas pungli serta diarahkan untuk mendukung pencapaian visinya, yakni menjadi model pelayanan prima kepada masyarakat pengguna jasa kepabeanan dengan menyelenggarakan sistem dan manajemen kepabeanan bertaraf internasional,
WARTA BEA CUKAI EDISI 402 MEI 2008

66

perkembangan yang terjadi dalam situasi di mana perubahan pertimbangan dalam menciptakan suatu organisasi pembelajar terjadi seperti digambarkan oleh Model Manajemen Perubahsalah satunya adalah menyatukan seluruh bentuk aktifitas-aktian menggambarkan arus perkembangan dalam situasi fitas fungsional menjadi satu kesatuan dalam organisasi. perubahan. Lingkaran dalam menunjukkan rentetan pelaksaHal ini dirasakan kaku dan tidak efektif dalam mendukung naan tindakan yang dimulai dari deteksi pemicu perubahan tingkat pelayanan yang semakin dituntut oleh kecepatan, lewat langkah yang membuahkan respon dan mencapai punkemudahan, ketepatan dan keakuratan. Birokrasi yang kaku caknya pada restabilisasi perusahaan. Lingkaran luar juga menyebabkan lambannya arus informasi sehingga mengmenunjukkan lingkungan di mana perusahaan menolak atau hambat proses pengambilan keputusan serta pengembangan mendorong perubahan. pengetahuan. Masa paling krisis adalah zona kebohongan diri yang langsung Hambatan penerapan learning organization di level individu yaitu tidak dimilikinya budaya belajar untuk mengembangkan terlihat setelah pemicu perubahan ditemukan. Terlalu lama di kapasitas diri, karakter individu yang sulit bekerjasama secara tim dalam zona ini dapat berbahaya. Ini merupakan masa non-aksi dengan orang lain, serta kepemimpinan yang bersikap kurang pada saat persaingan dan disfungsi internal meningkat dan komunikatif dan bersikap kaku sehingga tidak memiliki sikap yang kerugian di pasar tidak dapat diperoleh kembali. Semakin cepat memberdayakan, melayani, sebagai teman belajar, instruktur, koperusahaan keluar dari zona kebohongan diri dan memasuki ordinator dan kurang memberikan dorongan serta bimbingan dazona tindakan, maka semakin baik reaksinya terhadap perubahan. lam pembelajaran terhadap bawahannya. Hambatan lainnya adalah kesulitan MODEL MANAJEMEN PERUBAHAN membangun belief pada setiap unsur pegawai di KPU. Seiring dengan berjalannya proses reformasi di KPU terdapat sejumlah ekspektasi dari setiap pegawai KPU yang tidak dapat dipenuhi oleh organisasi, seperti tingkat remunerasi yang hampir setaraf dengan KPPBC lainnya, tuntutan moral hazzard yang sangat luar biasa dibandingkan dengan di luar KPU, sarana dan prasarana yang belum memadai untuk menunjang kinerja setiap pegawai sehingga meruntuhkan sebagian keyakinan mereka untuk tetap dapat bertahan membangun sistem dan budaya organisisai yang menuju pada suatu proses learning tadi. Pengertian learning organization diperkaya oleh berbagai definisi para ahli. Marquardt (1996:2) mendefinisikan organisasi yang terus belajar (Learning Organiza(Sumber : tion) secara singkat sebagai berikut : Berger dan Sikora, 1994 : 8) Learning Organizations are companies that are continually transforming themselves to better manage knowledge, utilize technology, Berger dan Sikora menyatakan bahwa keselarasan meruempower people, and expand learning to better adapt and pakan kata kunci yang membedakan organisasi yang mampu succed in the changing environment. (Marquardt, 1996 : 19) bertahan dengan organisasi-organisasi lain yang terpaksa menyerah kalah kepada para pesaing mereka bahkan setelah Definisi organisasi pembelajaran secara sistematik menurut organisasi-organisasi ini mampu membukukan keuntungan Marquardt sebagaimana dikemukakan diatas, yaitu suatu organidan kesuksesan yang luar biasa besar. Weintraub dalam sasi yang belajar secara bersungguh-sungguh dan bersamaBerger dan Sikora mendefinisikan kesalarasan sebagai pengsama, dan secara terus menerus mentransformasikan dirinya operasian semua elemen-elemen kunci organisasi dalam sumenjadi lebih baik dalam mengumpulkan, mengelola, dan atu harmoni satu dengan yang lain. Termasuk dalam elemenmenggunakan pengetahuan untuk kesuksesan organisasi. Orgaelemen kunci adalah : nisasi memberdayakan manusia didalam dan diluar organisasi l Visi yang jelas, misi, nilai-nilai dan tujuan organisasi. untuk belajar sebagaimana mereka bekerja. Teknologi dimanfaatl Proses penyebaran yang didesain dengan baik untuk memkan organisasi untuk mengoptimalkan pembelajaran maupun bantu pencapaian tujuan. produktifitas. l Metode untuk mengukur kemajuan (dan keselarasan) termaMenjadi organisasi pembelajaran merupakan suatu cara orsuk proses, hasil dan kepuasan pelangan. ganisasi dalam menghadapi perubahan dan persaingan. l Komitmen baik di dalam maupun di luar organisasi – dari Pembelajaran tidak dapat dipisahkan dari perubahan karena dua level atas sampai bawah dan sebaliknya, horisontal antar alasan yaitu bahwa perubahan sebagai pemicu pembelajaran fungsi dalam organisasi – mengenai tujuan-tujuan dan pembelajaran pada dasarnya perubahan itu sendiri. terpenting organisasi, bagaimana mancapai tujuan terseBerger dan Sikora mengemukakan bahwa perusahaan but, bagaimana semua anggota organisasi dilibatkan dayang ingin sukses di abad ke-21 ini memiliki tingkatan; lam pencapaian tujuan, bagaimana sistem penilaian serta komitmen, kemampuan merespons dan pembentukan ketepengupahannya. rampilan. Pengelolaan perubahan didefinisikan oleh Berger l Pengenalan akan dunia luar termasuk para pelanggan, pemasebagai proses berkelanjutan untuk menyelaraskan sok, pesaing dan pelaku-pelaku terbaik dalam industri yang organisasi dengan lingkungan pasar dengan cara melakukan sama. segala hal yang perlu dengan lebih responsif dan efektif dibandingkan para pesaing. Penyelarasan, pada dasarnya Kotter dalam studinya yang meneliti tingkat keberhasilan merupakan sinkronisasi yang berkelanjutan terhadap empat transformasi seratus perusahaan dengan kategori pengelolaan kunci pengungkit manajemen-strategi, operasi, budaya dan unggul menyimpulkan bahwa lebih dari setengahnya mengsistem penghargaan. alami kegagalan dalam fase awal upaya transformasi yang Berdasarkan pendapatnya tersebut, Berger mengajukan mereka lakukan dengan catatan bahwa sedikit yang berhasil model pengelolaan perubahan yang menggambarkan alur dan sedikit pula yang benar-benar gagal. Selebihnya, mayoritas
EDISI 402 MEI 2008 WARTA BEA CUKAI

67

O

P

I

N

I
sistem learning organization yang mendasar yaitu : learning, organization, people, knowledge dan technology. Kelima dimensi tersebut saling terkait dan saling mendukung satu sama lain dalam membangun, memelihara dan mempertahankan pembelajaran serta produktifitas di dalam organisasi pembelajaran. Dimensi-dimensi tersebut diatas merupakan bagian dari model learning organization yang terdiri dari lima subsistem yang saling berkaitan. Marquart telah membuat suatu rancangan sistem dimana semua sub sistemnya banyak diperoleh dari perpaduan pendapat-pendapat pakar lain, seperti Peter M. Senge, Chris Argyris dan Ikujiro Nonaka, bahwa secara sistem karakteristik model organisasi disusun atas lima sub sistem yang sangat saling terkait serta saling bertemu dan mendukung satu sama lain sebagaimana model di bawah ini. SYSTEM LEARNING ORGANIZATION MODEL

perusahaan-perusahaan tersebut berada diantara keduanya. Penelitian Arthur D.Litle dan McKinsey & Co., pada tahun 1990-an membuktikan bahwa dari ratusan perusahaan yang menerapkan konsep total quality dalam organisasi mereka, tidak lebih dari satu pertiganya yang berhasil mencapai apa yang mereka harapkan. Begitu pula, perusahaan yang menerapkan konsep rekayasa ulang (reengineering) juga mengalami nasib yang sama, dengan tingkat kegagalan mencapai tujuh puluh persen (70%). Menurut Senge, bahwa untuk dapat mengerti sebab-sebab kegagalan tersebut maka seseorang harus berpikir seperti seorang ahli biologi dan tidak seperti seorang manajer, dimana dari waktu ke waktu, inisiatif perubahan akan terus membentuk siklus hidup generik seperti gambar berikut : SIKLUS HIDUP INISIATIF PERUBAHAN

(Sumber : Senge, 1999:7)

(Sumber : Marquardt, 1996 : 21)

Grafik tersebut menunjukkan bahwa upaya pengelolaan organisasi dengan istilah apapun, akan menguat pada awalnya namun cenderung melemah atau bahkan mati pada akhirnya. Senge mengemukakan bahwa penjelasan gambar tesebut diambil dari ilmu biologi yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang tumbuh secara alamiah akan mengalami kematian, bahkan kematian awal; bahwa semua organisme pada awalnya akan mengalami pertumbuhan yang signifikan dan terakselerasi dengan baik sebelum akhirnya mengalami masa-masa penurunan dan berakhir stagnan atau mati sebelum pola yang sama berulang kembali. Para ahli biologi menyebut proses bentuk S semacam ini dengan istilah “sigmodial”. “Kematian” atau kegagalan organisasi untuk mentransformasikan dirinya manjadi organisasi yang visionaris, adaptif, inovatif ataupun menurut Senge disebabkan oleh tidak dimilikinya pengetahuan tentang dinamika pertumbuhan sehingga organisasi-organisasi tersebut terpaku hanya pada proses pertumbuhan tanpa memahami kekuatan serta penolakan yang menghadangnya (limiting prosesses). Perubahan ekonomi, sosial, teknologi dengan peningkatan intensitasnya yang signifikan telah mengubah lingkungan bisnis secara dramatis. Organisasi besar di masa lalu tidak dapat bernafas dan bertahan hidup dalam atmosfer baru persaingan yang intensif dan cepatnya perubahan. Marquardt mengemukakan bahwa semboyan “bertahan hidup bagi yang terkuat (survival of the fittest)” telah berubah secara cepat menjadi “bertahan hidup bagi yang terkuat dan belajar (survival of the fittest to learn)”. Organisasi yang dapat mentransformasikan dirinya menjadi entitas yang lebih cerdas dan pintar akan bertahan dalam memasuki era milenium berikutnya. Organisasi yang baru muncul akan menikmati pengetahuan, fleksibilitas, kecepatan, kekuatan, dan kemampuan yang lebih besar untuk menghadapi dengan lebih baik perubahan kebutuhan lingkungan baru, permintaan dari pelanggan, dan pekerja-pengetahuan yang lebih pintar. Marquardt telah menganalisa lebih dari 500 perusahaanperusahaan yang menjadi learning organization di seluruh dunia, artikel-artikel serta buku-buku mengenai learning organization, sehingga sampai kepada kesimpulan bahwa terdapat lima sub68
WARTA BEA CUKAI EDISI 402 MEI 2008

Kekuatan dari pembelajaran organisasi merupakan perpaduan dari lima subsistem yang berbeda, yaitu : pembelajaran (learning), organisasi (organization), manusia (people), pengetahuan (knowledge), dan teknologi (technology). Untuk sisi keterampilan belajar secara organisasi yang diperlukan untuk dapat memaksimalkan pembelajaran secara organisasi adalah: “Kelima Disiplin” yang dikemukakan oleh Senge, yaitu : a. System Thinking (Berpikir Sistem) Menurut Senge, system thinking adalah dicipline for seeing wholes, yang diartikan sebagai : A framework for seeing interrelationship rather than linear cause effect chains, for seeing underlying structures rather than events, for seeing patterns of change rather than snapshots (Senge, 1990 : 68) System thinking merupakan disiplin yang mengintegrasikan disiplin-disiplin lain, menggabungkannya menjadi suatu bangunan teori yang koheren dan praktif. Dengan berpikir sistem, keempat disiplin lainnya akan diramu sebagaimana ansamble, sehingga akan didapat cara berpikir yang komprehensif sampai mendetail. System thinking merupakan suatu kerangka konseptual yang membantu kita untuk memahami sesuatu secara menyeluruh dan membantu kita untuk melihat dan menemukan cara bagaimana melakukan suatu perubahan dengan lebih efektif. Cara berpikir sistem pada organisasi pembelajar dapat dilihat dari cara melihat kelemahan dan kekuatan organisasi dalam mencari solusi yang realistis dari suatu peristiwa yang kompleks. Berpikir sistem lebih terpusat kepada bagaimana cara memandang suatu fenomena sebagai sesuatu yang saling berkaitan (interconnectedness) bukan dengan cara sebab akibat. Sehingga system thinking atau secara lebih khusus adalah sytem dynamics dapat menjadi alat yang sangat kuat dalam memfasilitasi organisasi pembelajar. System dynamics melihat bahwa organisasi-organisasi ada-

lah merupakan suatu rangkaian yang sangat besar dan saling berkaitan, dan direncanakan ataupun tidak organisasi akan selalu mengalami perubahan yang akan memberikan pengaruh bagi organisasi. b. Personal Mastery (Keahlian Pribadi) Personal mastery dapat membantu dalam memotivasi pribadi untuk belajar secara terus menerus tentang akibat dari suatu tindakan individu yang diambil terhadap lingkungannya. Senge melihat personal mastery sebagai essential cornerstone dari organisasi pembelajar, dimana besarnya komitmen organisasi dan kapasitas untuk pembelajaran dihasilkan dari masing-masing anggota organisasi. c. Team Learning (Pembelajaran Tim) Team learning merupakan suatu proses pengembangan kapasitas dari suatu tim dalam menciptakan pembelajaran dan mencapai sesuatu yang diinginkan oleh tim tersebut. Apabila kapasitas anggota tim seluruhnya menyatu maka akan tercapai suatu keselarasan atau harmonisasi dan upaya yang telah diusahakan tidak akan sia-sia. Pembelajaran tim melibatkan seluruh anggota yang masing-masing saling berpikir sehingga akan timbul pandanganpandangan, inovasi maupun tindakan-tindakan baru yang lebih baik, bahkan mencapai hasil yang terbaik. Sebaliknya apabila permasalahan hanya melibatkan satu pemikir saja dan tidak melibatkan para anggota tim lainnya, maka akan sulit diperoleh pemikiranpemikiran yang lebih baik.

manifestasikan dalam bentuk simbol, kepahlawanan, ritual, ideologi dan nilai-nilai. Didalam organisasi pembelajaran, budaya memegang peranan penting untuk keberhasilan organisasi. Budaya belajar harus diciptakan agar menjadi kebiasaan sehingga tercipta kondisi dimana pembelajaran akan sangat dihargai. Selanjutnya unsur lain dari pemberdayaan manusia yang juga memegang peranan penting dalam keberhasilan organisasi adalah pemberdayaan pemimpin. Peran pemimpin saat ini sudah banyak mengalami perubahan. Pemimpin saat ini adalah yang mempunyai cara pandang yang luas ke masa depan untuk mengantisipasi perubahan. Marquardt menyatakan bahwa dalam organisasi pembelajar diperlukan pimpinan yang memfasilitasi pembelajaran. Pimpinan harus merubah perannya dari controlling menjadi empowering, dari sebagai commander menjadi steward, dan dari sikap sebagai transitional managers menjadi transformational leader. Gaya transformational leader adalah gaya kepemimpinan yang memberdayakan manusia, melayani, sebagai teman belajar, instruktur, koordinator dan selalu memberikan dorongan dan bimbingan dalam pembelajaran.

LANGKAH-LANGKAH MENJADI LEARNING ORGANIZATION

d. Mental Model (Model Mental) Mental models adalah bayangan, cara pandang atau perspektif seseorang terhadap suatu kejadian, situasi, aktifitas atau persepsi terhadap suatu konsep. Mental models menunjukkan dan dan mengasumsikan bagaimana seseorang dapat memahami sekelilingnya dan bagaimana PERUBAHAN DAN seseorang dalam mengambil keputusan a.Komitmen menjadi organisasi ataupun tindakan . Setiap orang memiliki mental pembelajaran PERSAINGAN models yang berbeda-beda mengenai apa yang Sangat penting bagi suatu organisasi pemboleh dan tidak boleh dilakukan dalam situasi belajar memililiki komitmen dari manajemen tertentu. puncak untuk menjadi organisasi pembelajar. Unsur pokok mental models adalah terciptanya keterbukaan Komitmen ini harus bersifat kontinyu dan bukan bersifat yang akan mempermudah proses pengambilan keputusan melasementara. Para pimpinan puncak harus dapat meyakinkan selului diskusi yang optimal. Mental models yang dimiliki seseorang ruh anggota organisasi bahwa tanpa proses belajar yang terus akan sangat mempengaruhi apa yang akan dilakukan karena berkelanjutan organisasi tidak akan mencapai kesuksesan. tergantung dari apa dan bagaimana cara seseorang tersebut memandang sesuatu. b. Menghubungkan organisasi belajar dengan operasional bisnis e. Shared Vision (Visi bersama) Dalam menerapkan proses belajar kedalam operasionalisasi Visi bersama timbul dari visi pribadi yang harus didorong bisnis harus mengkaitkan penerapan proses belajar ke dalam melalui penciptaan iklim yang kondusif oleh para pemimpin. tujuan-tujuan strategis organisasi. Sehingga dalam hal ini perlu Membangun visi bersama adalah komitmen jangka panjang dibentuk suatu tim pembelajar yang dapat memberikan nasihat, dari suatu organisasi. Visi bersama merupakan gambaran konseling serta melakukan review terhadap proses dan pencapaiyang diterima para anggota organisasi sebagai masa depan an keseluruhan tujuan. bersama. Visi bersama merupakan hal penting dalam organisasi c. Menilai kemampuan organisasi dalam setiap sub pembelajar karena memberikan fokus, arah dan energi untuk sistem dari model organisasi pembelajar belajar. Amat sulit bagi suatu organisasi mencapai Tahapan ini merupakan upaya yang paling penting, yaitu kesuksesan tanpa dukungan visi yang mendalam sebagai mengukur status organisasi untuk mengidentifikasi kekuatan pengikat dan penyatu para anggota-anggota organisasi agar dan kelemahan yang ada, sumber-sumber daya maupun mereka mersa memiliki satu identitas dan tujuan yang sama. kensenjangan-kesenjangan dalam organisasi. Salah satu alat yang dapat dipertimbangkan untuk menilai status dan kondisi f. Dialog organisasi adalah melalui penilaian dengan instrumen Marquart menambahkan lima keterampilan belajar dengan Learning Organization Profile. Keterampilan dialog. Dialog dilakukan secara intens yang melibatkan semua unsur dalam organisasi. Dialog ini merupakan d. Mengkomunikasikan visi organisasi-organisasi pusat dari organisasi pembelajar. pembelajar Selain visi, juga diperlukan budaya (culture) perusahaan daSangat penting untuk mengkomunikasikan visi organisasi lam upaya transformasi organisasi. Budaya dalam suatu organipembelajar kepada seluruh anggota organisasi maupun sasi diartikan sebagai cara yang unik yang dimiliki organisasi stakeholders diluar organisasi, agar mereka dapat mengerti, mengenai kepercayaannya, cara berpikir, dan bertindak, yang dimerasa tertarik dan termotivasi.

Marquardt mengatakan bahwa untuk membangun sebuah Learning Organization dituntut pemahaman dan komitmen untuk menggerakkan seluruh lima subsistem dari Learning Organization. Hal ini tidak mudah dilakukan melainkan dan merupakan suatu hal yang penting dilakukan untuk memastikan suatu organisasi akan bertahan dan mencapai sukses. Dalam bukunya “Building The Learning OrMENJADI ORGANISASI ganization” tahun 1996, Marquardt menjelaskan PEMBELAJARAN beberapa langkah yang dapat dipergunakan MERUPAKAN SUATU untuk membangun organisasi pembelajar, dimana langkah-langkah tersebut dapat dipilih CARA ORGANISASI dengan disesuaikan pada organisasi. LangkahDALAM MENGHADAPI langkah tersebut antara lain sebagai berikut :

“ ”

EDISI 402 MEI 2008

WARTA BEA CUKAI

69

O

P

I

N

I

dengan cara melakukan segala hal yang perlu dengan lebih responsif dan efektif dibandingkan para pesaing. Penyelarasan, pada dasarnya merupakan sinkronisasi yang berkelanjutan terhadap empat kunci pengungkit manajemenstrategi, operasi, budaya dan sistem penghargaan. Membentuk organisasi pembelajar harus mencakup lima subsistem learning organization yang mendasar yaitu : learning, organization, people, knowledge dan technology. Kelima dimensi tersebut saling terkait dan saling mendukung satu sama lain dalam membangun, memelihara dan mempertahankan pembelajaran serta produktifitas didalam organisasi pembelajaran. Disamping itu juga harus membangun “Lima Disiplin” yakni System Thinking (Berfikir f. Pemimpin menunjukkan dan menjadi model dalam Sistem), Personal Mastery (Keahlian Pribadi), Team Learkomitmen untuk belajar ning (Pembelajaran Tim), Mental Model (Model Mental), Organisasi pembelajar membutuhkan dukungan, contoh Shared Vision (Visi bersama) dan Dialog. dan keterlibatan dari para pemimpinnya. Sehingga dalam hal KPU sebagai model dari change management‘dalam ini terlihat pentingnya peranan manajer dalam mensukseskan organisasi DJBC menuju suatu learning organization organisasi pembelajar. Watkins dan Marsick dapat menjawab tantangan dan ancaman (triggers) dengan merekomendasikan bahwa para pemimpin dapat menempuh membangun lima sub sistem learning organization secara langkah-langkah dalam mempromosikan organisasi berkesinambungan dan yang terpenting adalah membangun pembelajar maupun menciptakan suatu budaya perusahaan belief/keyakinan dari setiap elemen dalam KPU, karena hal atau iklim organisasi, yaitu sebagai berikut : ini merupakan hambatan yang paling utama dalam proses l Memberikan kesempatan untuk pelatihan dan praktek pembelajaran. pembelajaran organisasi. Seiring dengan berjalannya proses reformasi di KPU terl Memberikan dukungan dan motivasi agar para pegawai tidak dapat sejumlah ekspektasi dari setiap pegawai KPU yang perlu takut dan malu melakukan kesalahan, karena hal tersetidak dapat dipenuhi oleh organisasi, but merupakan bagian dari proses seperti tingkat remunerasi yang hampir pembelajaran. setaraf dengan KPPBC lainnya, tuntutan l Memberikan bimbingan dan pengharORGANISASI YANG DAPAT moral hazzard yang sangat luar biasa, gaan atas upaya-upaya yang telah dibelum lakukan, dengan membuat aturan MENTRANSFORMASIKAN sarana dan prasarana yang kinerja setiap memadai untuk menunjang pemberian penghargaan bagi pemikirDIRINYA MENJADI ENTITAS pegawai sehingga dapat menjadi satu an-pemikiran serta upaya-upaya yang inovatif. YANG LEBIH CERDAS DAN faktor pendorong merosotnya sebagian keyakinan mereka untuk tetap dapat g. Mentransformasikan budaya organiPINTAR AKAN BERTAHAN bertahan membangun sistem dan budaya organisisai dan tetap menjaga trust dan sasi menjadi budaya yang terus DALAM MEMASUKI ERA confidence masyarakat pengguna jasa menerus belajar dan mengembangkan diri MILENIUM BERIKUTNYA karena “the real regulation is in the name of people” (WBC 396, 2007) sehingga Proses pembelajaran yang terus mediperlukan effort memililiki komitmen dari nerus harus menjadi suatu budaya dan manajemen puncak dan seluruh elemen di perilaku yang menyenangkan, dan dalam KPU maupun di luar KPU untuk menjadi organisasi sebagai bagian dari pekerjaan dalam organisasi.Terdapat bepembelajar. berapa pendekatan yang diambil untuk mentransformasikan Komitmen ini harus bersifat kontinyu dan bukan bersifat sebudaya organisasi menjadi budaya pembelajaran dan mentara. Para pimpinan puncak harus dapat meyakinkan seluruh pengembangan diri yang berkesinambungan, yaitu anggota organisasi bahwa tanpa proses belajar yang terus berkeperbaikan yang terus menerus (continuous improvment) dan lanjutan organisasi tidak akan mencapai kesuksesan. proses pembelajaran yang terus menerus (continuous learning). e. Mengenali pentingnya berpikir sistem dan mengambil tindakan Sangat penting bagi anggota-anggota organisasi untuk berpikir dan bertindak sebagai satu kesatuan sistem. Hal ini dilakukan dengan memusatkan perhatian pada bagaimana seluruh bagian dalam organisasi saling bergantung, dan melihat permasalahan serta pemecahannya dalam konteks yang luas dan saling berkaitan secara sistematis. Suatu organisasi tidak dapat menjadi organisasi pembelajar jika hanya memfokuskan pada salah satu subsistem ataupun salah satu bagian dari organisasi.

“ ”

h. Beradaptasi, memperbaiki, dan belajar secara berkelanjutan. Suatu organisasi pembelajar harus menyadari bahwa proses pembelajaran adalah proses yang berkesinambungan. Organisasi pembelajar akan terus melakukan perbaikanperbaikan, menyadari bahwa pengetahuan harus selalu diperbaharui dengan belajar, dan bahwa perubahan akan terus menerus berlangsung.

DAFTAR PUSTAKA
Berger, Lance A, and Martin J. Sikora. 1994. The Change Management Handbook: A Road Map to Corporate Transformation. London: Irwin Professional Publishing. David, Osborne and Ted Gaebler. 1992. Reinventing Government. Singapore: William Patrick Book. Dunn, William N. 1999. Analisis Kebijakan Publik. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. E.S. Savas. 1987. Privatization - The Key To Better Government. Chatham, New Jersey: Chatham House Publishers, Inc. Hersey, Paul dan Ken Blanchard. 1995. Manajemen Perilaku Organisasi. Jakarta: Penerbit Erlangga. Huseini, Martani, 1989, Perencanaan Strategik Dalam Organisasi, Jakarta, PAU Ilmuilmu Sosial UI. Lovell, Roger. 1994. Managing Change in The New Public Sector. England: Longman in association with The Civil Srvice College. Marquadt, Michael J. 1996. Building the Learning Organizations: A System Approach to Quantum Improvement and Global Studies. New York: Mc Graw Hill. Senge, Peter. M, 1999. The Dance of Change. New York : Doubleday. Senge, Peter. M, 1990. The Fifth Disciplin : The Art and Practice of The Learning Organization. New York : Doubleday. Senge, Peter. M, 1994. The Fifth Disciplin : Strategies and Tols for Building Learning Organization. New York : Doubleday. Wilson, Phil. 2000, The Learning Organization,Broadstairs, Kent, UK : Scitech Educational. Kasim, Azhar, Reformasi Administrasi negara Sebagai Prasyarat Upaya Peningkatan Daya Saing Nasional, Pidato Pengukuhan Guru Besar Tetap pada FISIP-UI, 1998.

KESIMPULAN
DJBC sebagai suatu organisasi administrasi kepabeanan yang memiliki visi sejajar dengan institusi kepabeanan internasional akan selalu dinamis melakukan perubahan dengan penyelerasan (alignment) pada setiap elemen di dalamnya menuju suatu learning organization. Menjadi organisasi pembelajaran merupakan suatu cara organisasi dalam menghadapi perubahan dan persaingan. Pembelajaran tidak dapat dipisahkan dari perubahan karena dua alasan yaitu bahwa perubahan sebagai pemicu pembelajaran dan pembelajaran pada dasarnya perubahan itu sendiri. Pengelolaan perubahan adalah proses berkelanjutan untuk menyelaraskan organisasi dengan lingkungan eksternalnya 70
WARTA BEA CUKAI EDISI 402 MEI 2008

Penulis adalah Kepala Seksi Pabean dan Cukai KPU Bea Cukai Tanjung Priok

RUANG KESEHATAN

Pencabutan Gigi Geraham Bungsu

Anda Bertanya Anda Bertanya Dokter Menjawab Dokter Menjawab Dokter Menjawab
DIASUH OLEH PARA DOKTER DI KLINIK KANTOR PUSAT DJBC

D

/pencabutan gigi geraham bungsu adalah apabila pembenokter, anak saya perempuan, berusia 11 tahun. Menurut dokter gigi yang pernah menangani tukan akar belum sempurna sekali yaitu telah terbentuk anak saya, hasil giginya menunjukkan gambaran antara S! sampai T! dari akar gigi dan usia berkisar antarontgen ;gigi geraham terakhirnya (gigi bungsu ) ra 16 sampai 18 tahun Nya bentuknya tumbuh miring kearah gigi di dePencabutan gigi geraham bingsu pada Golden period pannya tetapi gigi tersebut belum keluar (belum kelihatan) mengurangi mortabiditas dan penyembuhan yang terjadi Apakah gigi tersebut sebaiknya dicabut / dioperasi dari akan baik. Pasien muda lebih dapat menerima prosedur sekarang, agar tidak mengganggu dikemudian hari dan operasi, penyembuhan lebih cepat dan hampir tidak mengapa yang menyebabkan gigi anak saya seperti itu ? Atas jawabannya GIGI GERAHAM BUNGSU IMPAKSI SEBAGIAN diucapkan terima kasih.

Lengkun Jawab : Rahang Bawah Belakang Gigi yang belum keluar, tetapi posisi tumbuhnya tidak sesuai dengan posisi tumbuh yang normal disebut dengan gigi impaksi Gigi impaksi adalah gigi yang gagal untuk erupsi (tumbuh) dalam lengkung rahang pada waktu yang diharapkan. Umumnya penyebab Gigi gigi impaksi adalah panjang lengkung Impaksi tulang alveolar / tulang rahang lebih kecil dari pada panjang total lengkung gigi. Gigi Sering kali dijumpai kesulitan daBerlubang lam pengangkatan gigi impaksi, baik itu disebabkan oleh posisi gigi, lokasi dan bentuk anatomusny. Gigi impaksi tidak semuanya impaksi total, dapat juga impaksi sebagian (didalam mulut gig terlihat sedikit) Gigi geraham bungsu disebut juga geraham ke 3 atau gigi yang paling belakang sebaiknya dilakukan pengangkatan bila : ganggu kehidupan mereka sehari-hari. Penyembuhan jaa ) karies (lubang) besar dan sudah tidak dapat ditambal ringan periodontal (jaringan yang menyangga gigi) lebih b ) Kelainan saluran akar yang sudah tidak dapat dirawat baik dan sempurna serta perlekatan gusi terhadap gigi julagi ga lebih baik. c ) Kelainan periodontal (jaringan penyangga gigi) yang Gambaran rontgen foto perlu dilakukan untuk mengeberat serta luas tahui factor-faktor penyulit yang mungkin akan timbul dan d ) Malposisi (kesalahan posisi tumbuh) guna klasifikasi impaksi. Foto rontgen yang digunakan e ) Fraktur akar umunya adalah radiograf periapeks atau rontgen penoraf ) Kelainan patologis mik, agar memberikan gambaran dari seluruh regio gigi g ) Impaksi dan tidak dapat erupsi sempurna Pencabutan geraham bungsu pada anak ibu sebaiknya ditunda terlebih dahulu, selain terlalu dini, anak ibu Dilakukan pencabutan gigi impaksi juga karena factor : ditakutkan akan mengalami trauma terhadap tindakan - Pencegahan terjadinya karies di gigi sebelahnya operasi bila gigi belum erupsi (keluar dari gusi0 pembuka- Kelainan periodontal an gusi atau pembuangan tulang kadang dilakukan sete- Resorbsi akar gigi sebelahnya lah anak ibu cukup umur ± 16 - 18 tahun, kalau menurut - Kista odontogen dokter gigi dianggap perlu dilakukan tindakan operasi, - Tumor sebaiknya segera dilakukan, karena tanpa tindakan pen- Rasa sakit cabutan dengan operasi kecil maka gig impaksi tersebut - Fraktur rahang suatu saat (dikemudian hari0 dapat menjadi masalah, - Perawatan ortodonsi misalnya Adanya pembengkakan, sakit sampai kesulitan - Pembuatan gig palsu membuka mulut jadi kesimpulanya, ibu tidak usah terlalu khawatir, belum tentu gigi anak ibu disaat dewasa tidak Pengangkatan dini dari geraham ke-3 impaksi sebaikdapat tumbuh normal. Kalaupun tidak tumbuh normal nya dilakukan pada usia muda yaitu dibawah 26 tahun. (impaksi), sebaiknya gigi tersebut dicabut oleh dokter gigi Adanya mineralisasi tulang, hilanya follicular Space akan dengan atau tanpa tindakan operasi kecil, untuk menghinmempersulit pengangkatan gigi pada usia diatas 26 tahun dari akibat yang lain. Saat paling ideal (golden period) untuk pengangkatan Drg. IG. A Heni, Poliklinik Kantor Pusat DJBC
EDISI 402 MEI 2008 WARTA BEA CUKAI

71

RENUNGAN ROHANI

Di dalam Dia ada Kemenangan
( 2 Korintus 4: 7-11)
Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan namun tidak binasa. Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami. Sebab kami, yang masih hidup ini, terus menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini.
72
WARTA BEA CUKAI EDISI 402 MEI 2008

namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak emua orang bilang, kita sekarang ini hiputus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggaldup dalam era globalisasi. Saudara kan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak tentunya lebih tahu, apa saja ciri khas binasa.” dari era ini. Salah satu ciri yang menonOrang percaya adalah lebih dari orang-orang jol adalah adanya persaingan. Persaingyang menang namun kemenangan itu tidak meman ketat yang sering kali tidak sehat, keras dan bebaskannya dari penindasan, habis akal, amat kejam terjadi antar pribadi, kelompok maupun dianiaya, dihempaskan. Sebaliknya kemenangan antar negara. itu justru terbukti dan harus dibuktikan ketika ia Yang menjadi kata kunci dalam persaingan itu ditindas, ia tidak kehabisan akal, ia tidak putus adalah : menang. Anda menang maka anda akan asa; ketika dianiaya, ia tidak merasa ditinggalkan melesat maju. Anda kalah maka anda akan sendirian; ketika dihempaskan, ia tidak binasa. tersingkir. Sehingga anda harus menang! Mesti Apa artinya? Kita tidak menang karena kita bermenang! Tidak boleh kalah! hasil mengalahkan orang lain, menindas orang Sesungguhnya hidup pada zaman ini cukup sulain, menjepit orang lain, namun kita menang kasah dan amat berat. Banyak menimbulkan stress. rena kita berhasil mengalahkan diri sendiri. MengaYang menang pun stress karena setiap hari dia lahkan kecenderungan-kecenderungan naluriah berusaha bagaimana supaya ia dapat menang tedan alamiah manusiawi kita yang gampang lupa rus dan berada pada posisi atas. Apalagi bagi yang daratan ketika menang, namun gampang putus kalah. asa ketika kalah. Ini yang mesti dikalahkan. Ketika semua orang menjadi saingan yang Dikalahkan dengan kekuatan dan kuasa Kristus. mesti dikalahkan, maka akan ada lebih banyak Ayat 10 mengatakan, “Kami senantiasa mempenjilat dan pengkhianat daripada sahabat. bawa kematian Yesus di dalam tubuh kami …”. Bahkan ketika kemenangan adalah satu-satunya Secara tubuh, secara jasmani, menurut ukuran ukuran kunci sukses dan keberhasilan dalam hiobjektif manusia, kita kecil, kita bisa ditindas, kita dup maka kita akan menyaksikan semakin banyak habis akal, kita bisa dihempaskan – namun tidak orang atau kelompok yang bersaing ketat. Segala boleh merasa kalah. Seperti halnya cara akan dihalalkan untuk menghasilyang dikatakan oleh Napoleon bahwa kan suatu kemenangan. peperangan yang paling besar dan paOrang-orang demikian diliputi kepoling sulit yaitu peperangan mengalahkan ngahan dan kesombongan, sikap menPERISTIWA diri sendiri, melawan kecenderungantang-mentang sehingga menjadi semeKENAIKAN kecenderungan yang ada di dalam diri na-mena, sewenang-wenang. Pokoknya kita. menang, berhasil dan sukses. ADALAH Firman Tuhan mengatakan melalui Dalam iman Kristen, kemenangan PERISTIWA kematian dan kebangkitanNya, karya itu juga penting, bahkan amat penting. Menurut Rasul Paulus orang percaya KEMENANGAN keselamatan yang telah Ia kerjakan di dunia ini telah nyata. Dimana Yesus adalah orang yang lebih daripada orang Kristus telah menyelesaikan segala tuyang menang. Kemenangan itu penting! Tetapi kalau kita berbicara kemenangan gas pelayananNya di muka bumi berdasarkan Alkitab, ia berbicara tentang kemebahkan Ia telah mengorbankan diriNya di kayu nangan yang lain. Tidak ada kekerasan, salib untuk keselamatan manusia. Ia telah kemunafikan, saling menjegal. Kemenangan itu menang melawan kuasa maut dan iblis. Ia telah yaitu kemenangan bersama Kristus dan menang di mengalahkan kuasa maut yaitu dosa. dalam Kristus. Kemenangan yang memerdekakan Melalui kenaikanNya ke sorga merupakan sudan membebaskan. Menang atas kuasa dosa. atu kesaksian kemuliaan Allah dan bahwa Ia masih Dalam pembacaan kita, pada ayat 7 Paulus senantiasa menyertai manusia dalam kehidupan mengatakan, “Tetapi harta ini kami punyai dalam ini. Ia mempersiapkan bagi kita kehidupan yang bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan kekal. Ia tetap ada bersama kita yang percaya. yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan KehidupanNya menjadi nyata di dalam tubuh dan dari diri kami.” hati kita. Ibarat bejana tanah liat, artinya pada diri kita Kehidupan Yesus yang bagaimana yang haringkih, mudah retak, gampang pecah. Bukan rus menjadi nyata di dalam tubuh atau hidup berarti bahwa kita kita tidak berharga. Kita berharkita? Tidak lain adalah hidup bukan hanya bagi ga. Dalam kitab Yesaya dikatakan bahwa kita ini diri sendiri, melainkan menyalibkan dan menyangberharga di mata Tuhan. Berharga karena di dalam kal diri. bejana tanah liat itu, di dalam diri kita tersimpan Inilah salah satu makna dari kenaikan yang paharta karunia ilahi yang luar biasa. Keselamatan, ling dalam. Peristiwa kenaikan adalah peristiwa kehidupan, dan kebenaran Allah yang abadi. Harta kemenangan. Yesus memberi teladan yang sama ilahi inilah yang membuat bejana itu, yang sekali lain. PrinsipNya adalah hidup yang sekalipun cuma terbuat dari tanah liat, berharga. bermakna dan berguna ketimbang sekedar hidup Sehingga, disatu pihak orang Kristen tidak botanpa makna. Berkorban, kalau perlu. Pikul salib, leh merasa kecil hati, tidak boleh merasa tidak berkalau mesti. Pantang lari menghadapi tantangan, daya apa-apa, tidak boleh merasa tidak bisa apabila memang harus dihadapi. apa. Jangan! Di dalam diri kita – kalau saja kita saInilah hidup yang tak sekedar hidup, tetapi hidari dan kita manfaatkan ada kekuatan yang medup yang bermakna, hidup yang berguna. Hidup limpah. Tetapi di pihak lain kita tidak boleh menjadi yang tidak kalah oleh tantangan. RohNya telah pongah, merasa diri kuat, dan karena itu menjadi Ia berikan untuk senantiasa menuntun sehingga lengah – kita ini bejana tanah liat saja. kita dimampukan untuk dapat menang melawan Kemenangan orang Kristen tidak selalu identik ke’aku’an, egoisme dan egosentrisme kita. dengan sukses dan kegemilangan duniawi. Malah Pendeta Deby Asadama, sebaliknya. “Dalam segala hal kami ditindas, saat ini ditempatkan di GPIB Koinonia, Jakarta

S

“ ”

EDISI 402 MEI 2008

WARTA BEA CUKAI

73

RUANG INTERAKSI

Hidup Nyaman
Life is full of pleasures. But some are a quantum leap above the rest. (R. Noah Weinberg dari AishAudio.com)

Oleh: Ratna Sugeng

P

erjalanan dalam kehidupan dapat dipersepsikan sebagai nyaman dan tidak nyaman oleh setiap orang. Siapa yang membuat hidup menjadi tidak nyaman ? Salahkan lingkungan, salahkan orang lain, salahkan struktur tempat tinggal dan Negara… dan hasilnya akan senantiasa tidak nyaman. Lalu bagaimana kenyamanan dapat diraih dan dimiliki ? Mari kita telusuri lorong-lorong kehidupan kita. Orangtua berupaya membuat setiap anaknya bahagia, artinya masuk dalam kenyamanan hidup. Mereka memberikan makanan sehat, meluangkan waktu memberikan kesenangan, membelikan alat-alat permainan, alat-alat pembelajaran dan melakukan prosesnya bersama. Ketika anak memasuki usia dewasa, orangtua menghentikan pemberian dengan sebuah nasehat, hiduplah mandiri, cari kesenangan untuk dirimu dan lingkungan hidupmu, bekerja dan tempuhlah karir, menikah dan bentuklah keluarga. Saat seperti itu anak telah menjadi dewasa dan demikian harapan orangtua, maka suasana permainan digantikan dengan lebih banyak berpacu dalam karir. Berlari, terus berlari mencapai cita-cita. Kapan kita boleh menikmati kenyamanan lagi ? Noah Weinberg, melukiskannya kepada kita sebagai berikut :

nomi dengan fasilitas bagi kebanyakan orang. Kelas bisnis, kelas dengan lebih sedikit orang. Mengapa kita memilih kelas tempat duduk? Karena kita memikirkan uang dalam saku, dan mempertimbangkan untung rugi lainnya, serta hanya duduk di kelas bisnis pada keadaan istimewa. Siapa yang menempatkan anda dalam posisi ‘orang kebanyakan’ dan ‘orang istimewa’? Diri sendiri atau orang lain? Terpaksa dan diterima? Demikian juga kenyamanan hidup, kita sendiri memilih sesuai dengan kemampuan kita dan goal kita.

UKURAN KENYAMANAN
Setiap tingkat kenyamanan mempunyai nilai tersendiri bagi setiap individu, artinya tidak ada nilai tukarnya untuk masing-masing jenis. Bila kita tak nyaman di suatu tingkat, maka tidak dapat digantikan dengan lima kali nyaman di tingkatan lainnya. Sebagai contoh jika kenyamanan tidur kita terganggu maka tidak dapat digantikan dengan lima kali kenyamanan makan enak di restoran mahal. Kenyamanan memberikan kita energi atau tenaga. Jika kita merasa nyaman maka energi kita besar untuk melakukan sesuatu. Sehingga rasa harga diri meningkat. Rasa harga diri meningkat membuat kenyamanan menjadi lebih besar. Kenyamanan akan suatu keadaan bersifat relatif dari satu orang ke orang lain. Semisal, berapa besar kenyamanan anda menikmati makanan ikan bakar? Makin besar rasa nyaman makin tinggi nilainya bagi pendorong semangat anda.

ANALOGI NAIK PESAWAT UDARA
Bayangkan kita menumpang pesawat udara. Begitulah kita membuat persamaan atas kenyamanan. Kita memilih, sesuai dengan harga tiket, mau duduk di kursi kelas ekonomi, kelas satu atau kelas bisnis atau kelas lainnya. Kelas eko74
WARTA BEA CUKAI EDISI 402 MEI 2008

KENYAMANAN SEMU
Kadang seseorang merasa telah mencapai rasa nyaman,

atau seolah telah mencapai rasa nyaman, artinya ia mencapai kenyamanan semu. Misalnya hubungan pasutri merupakan kenyamanan nyata, sementara pornografi merupakan kenyamanan semu. Pornografi hanya menggoda hasrat, maka hasilnya bukanlah peningkatan energi melainkan kelesuan. Mula-mula ia begitu menggoda dan menggairahkan, namun ia tak sama dengan peningkatan energi barangkali malah membingungkan. Jika kenyamanan kita artikan sebagai tidak merasa sakit atau nyeri. Nyeri merupakan keadaan tidak nyaman, tetapi tidak merasa nyeri bukan selalu berarti merasa nyaman. Jadi tidak sakit atau tidak menderita tidak selalu identik dengan nyaman. Namun penderitaan atau tepatnya berkorban dapat juga menghantar seseorang pada kenyamanan. Pikirkan ketika menghadapi ujian, beberapa waktu kita merasa tidak nyaman, dan lulus ujian merupakan kenyamanan, hadiah nyaman setelah sebelumnya merasa tidak nyaman. Artinya kenyamanan sejati perlu upaya.

TARIF
A. B e r w a r n a ( F C )
Ukuran (Cm) 1 x Edisi Tarif (Rp) 6 x Edisi Tarif/edisi Rp) Total (Rp)

IKLAN
12 x Edisi Tarif/edisi (Rp) Total (Rp) 5.500.000,- 33.000.000,- 5.000.000,60.000.000,-

HARGA KENYAMANAN
Kenyamanan selalu dicari, dikejar dan diperjuangkan. Ini menimbulkan upaya dan perhatian terpusat. Bayangkan sebuah tim sepak bola, berlari mengejar bola keliling lapangan, menghambat lawan memperoleh bola, menendang bola kepada teman atau membawanya berlari menuju gawang, suatu permainan yang melelahkan. Adakah para pemain bola menikmati hal ini? Para pemain, wasit, bahkan penonton sangat terpusat pikirannya pada permainan yang mereka nikmati meski melelahkan dan membuat mereka berupaya. Perasaan senang menguasai seluruh pikiran dan perasaan. Bayangkan jika sekumpulan orang disuruh berlari sekeliling lapangan, tanpa bola, seolah mereka bermain bola. Maka mungkin mereka hanya bermain sebentar dan kemudian kelelahan. Ini lebih disebabkan karena ketiadaan bola yang menjadi fokus semua pemain dan wasit. Fokus menuju gawang. Dalam hidup ini fokus menuju goal akan membawa individu berupaya mencapai kenyamanan.

Cover II (Hal Dalam 6.000.000,depan) Cover III (Hal dalam 5.000.000,Belakang Cover IV (Hal 7.000.000,Belakang) 1 Hal (21 x 28) 1/2 Hal (12 x 18) 1/4 hal (8,5 x 12) 4.500.000,-

4.500.000,- 27.000.000,- 4.000.000,-

48.000.000,-

6.500.000,- 39.000.000,- 6.000.000,-

72.000.000,-

4.250.000,- 25.500.000,- 4.000.000,-

48.000.000,-

PEMBELAJARAN MENIKMATI KENYAMANAN
Kenyamanan tidak datang dengan sendirinya. Suatu contoh sederhana, orang tak dapat menikmati musik yang tak pernah ia kenal, artinya ada pembelajaran mengenal musik sebelum musik dapat membuat kita senang atau nyaman. Misalnya mereka yang tak pernah mengenal musik gendang ditabuh, akan aneh di telinga bunyi gendangnya, lalu perlu belajar untuk dapat kelak merasakan nyaman dengan musik gendang. Demikian juga makanan. Pembelajaran mengenali citarasa makanan membuat individu dapat menikmati makanan dengan nyaman. Dunia penuh dengan kenyamanan. Indera mata, telinga, lidah, kulit , bibir, semua terampil merasakan sensasi kenikmatan melalui proses pembelajaran. Bayi dielus, dibelai, diusap, dipijat, membuat ia belajar mengenal sentuhan dengan berbagai gradasi, sehingga kelak ia akan merasakan bedanya berbagai sensasi yang sampai pada kulit dan ototnya. Dapatkah kini anda membedakan sentuhan kasih, pijatan dengan tekanan atau cubitan? Melalui proses pembelajaran kita mengenal sentuhan dan menghubungkannya dengan emosi kenyamanan. Mata belajar menikmati kenyaman atas berbagai benda yang terlihat dimata. Bagi beberapa orang bunga warna-warni merupakanan kenyamanan tiada tara, bagi orang yang lain melihat adu jotos merupakan kenyamanan. Demikian juga telinga, lidah dan bibir.

3.500.000,-

3.250.000,- 19.500.000,- 3.000.000,-

36.000.000,-

2.500.000,-

2.250.000,- 13.500.000,- 2.000.000,-

24.000.000,-

B. H i t a m P u t i h ( B W )
Ukuran (Cm) 1 x Edisi tarif (Rp) 6 x Edisi Tarif/edisi (Rp) Total (Rp) 12 x Edisi Tarif/edisi (Rp) 3.000.000,Total (Rp)

1 Hal (21 x 28) 1/2 Hal (12 x 18)

3.500.000,- 3.250.000,- 19.500.000,-

36.000.000,-

2.500.000,- 2.250.000,- 13.500.000,-

2.000.000,-

24.000.000,-

SIMPULAN
Kenyamanan dapat digolongkan atas tiga hal yakni tidak adanya nilai tukar antara berbagai jenis kenyamanan, waspadai kenyamanan semu, dan setiap kenyaman hanya akan dicapai melalui upaya. Selamat mencari kenyamanan dan berupayalah mencapainya dengan tetap fokus pada goal dan konsisten dalam proses.

1/4 hal 1.500.000,- 1.250.000,- 7.500.000,(8,5 x 12)

1.000.000,-

12.000.000,-

Materi iklan disediakan dan diserahkan pemasang paling lambat tanggal 15 untuk penerbitan bulan berikutnya ke alamat redaksi dan pembayaran bisa ditransfer ke rekening Warta Bea Cukai sesuai pada kolom redaksi. Informasi hubungi : K i t t y , t e l p (021) 47865608, 47860504 fax (021) 4892353 EDISI 402 MEI 2008 WARTA BEA CUKAI

Ratna Sugeng adalah seorang Psikiater, pertanyaan ataupun konsultasi bisa melalui ardiawika@yahoo.com

75

P

R

O

F

I

L
rantau ke Jakarta seperti rekan-rekannya yang lain dikarenakan memang sudah dari awalnya Kushari kurang berminat untuk ke Jakara. “Pemikiran saya ketika itu, karena kita dari kampung, saya kuliah di Malang jadi cari pekerjaan di sekitar Jawa Timur saja dan akhirnya diterima bekerja di PT Miwon. sebagai asisten manager untuk internal control dan itu sesuai dengan bidang ilmu saya,” demikian alasan keengganannya untuk ke Jakarta. Baru sekitar 6 bulan bekerja di PT. Miwon, lalu ada pembukaan un- tuk pegawai negeri. Ia pun coba-coba untuk mengajukan lamaran tersebut yang dikirim ke Lembaga Manajemen Universitas Indonesia. Jujur diakuinya, ia tidak mengetahui bahwa lamaran itu ditujukan untuk mengisi formasi di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, dikarenakan berkas lamaran di kirim ke Lembaga Manajemen UI. Dan setelah kini menjadi pegawai Bea dan Cukai, rekan-rekan seangkatannya yaitu angkatan 91 mulanya juga banyak yang tidak mengetahui kalau itu untuk kebutuhan pegawai Bea dan Cukai dan seperti apa Bea dan Cukai itu. Kembali ke saat Kushari mengajukan lamaran pekerjaan. Beberapa waktu kemudian ada balasan atas lamaran yang telah dikirimkannya yang menyatakan dirinya berhak untuk mengikuti test saringan penerimaan pegawai . “Saya ingat betul waktu itu tes hari pertama jatuh pada hari Senin sedangkan hari Jumat saya masih di Surabaya, saya santai saja karena memang engak mau stres, lagian memang saya tidak minta ke Jakarta. Tetapi dorongan orang tua menyuruh saya ke Jakarta, lalu malah mereka yang sibuk mencarikan tiket kereta api, akhirnya ya terpaksa saya berangkat. Mau enggak mau saya ke Jakarta, masalahnya mereka sudah beli tiket kereta api atas nama saya,” kenangnya saat ia dengan berat hati meninggalkan kota Surabaya untuk berkompetisi dengan para peserta lain yang akan mengikuti tes penyaringan penerimaan pegawai. Waktu keberangkatannya memang mepet, bayangkan minggu pagi berangkat, sampai di Jakarta minggu malam dan hari Senin pagi harus tes. Ternyata saat di Jakarta tidak hanya ikut test untuk Bea dan Cukai saja, tetapi ternyata sampai di Jakarta ada beberapa panggilan tes dari beberapa instansi yang dilamarnya, antara lain yang diingatnya adalah tes di Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan, Badan Moneter Fiskal termasuk juga untuk Pertamina.

Drs. Kushari Suprianto
Kepala KPU Bea dan Cukai Tipe A Tanjung Priok

“Minimal Mempertahankan Apa yang Telah Diraih Sebelumnya...”
Membuat pimpinan bisa menilai dirinya bekerja dengan baik merupakan prinsipnya dalam bekerja dimanapun ia ditempatkan.

K

ushari Suprianto, lahir di Madiun, Jawa Timur, 2 Oktober 1966. Kushari, nama panggilannya, merupakan sulung dari enam bersaudara. Dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang demokrat. Betapa masih diingatnya, semasa kecil dulu, kedua orang tuanya tidak pernah memaksakan keinginan enam anaknya ingin menjadi apa kelak mereka dewasa. Mereka berenam diberikan kebebasan untuk menekuni bidangnya masing-masing. Bahkan urusan bermain pun orang tuanya tidak pernah membatasi anak-anaknya harus selesai dengan waktu yang ditentukan. Namun yang cukup membanggakan kedua orang tuanya, anak-anaknya sadar akan kewajibannya masing-masing, seperti belajar, berangkat sekolah tepat waktunya dan mengikuti pelajaran di sekolah untuk mendapatkan nilai baik. “Masa kecil dengan adik-adik cukup menyenangkan karena orang tua tidak memaksakan kami untuk belajar ini atau itu. Bahkan seingat saya orang tua tidak mewajibkan kita untuk tidur siang atau segala macam aturan. Karena masa anak-anak menurut orang tua saya merupakan dunia yang harus dinikmati dan masa itu tidak boleh hilang hanya karena dibatasi dengan bermacam aturan,” kenang Kushari tentang masa kecilnya. Ayahnya, Koes Amin Sunyoto, semula berprofesi sebagai guru, namun pekerjaan itu kemudian ditinggalkannya dan lebih memilih menjadi wiraswasta. Ibunya, Soelamini, semula juga bekerja, namun seiring dengan bertambahnya jumlah anak mereka dan keenam anaknya semakin tumbuh besar, otomatis membutuhkan perhatian khusus, maka Soelamini memutuskan untuk berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga. Kushari, menghabiskan waktu sekolahnya dari SD, SMP hingga SMA-nya di Kota Madiun. Lulus dari SMA, selanjutnya ia mulai merasakan yang namanya hidup merantau, jauh dari orang tua karena kemudian ia diterima di salah satu universitas negeri di Jawa Timur, yaitu Universitas Brawijaya, Malang. Pilihannya jatuh pada Fakultas Ekonomi, jurusan Akuntansi. Alasan ia memilih jurusan akuntansi dikarenakan ketika itu bidang akuntansi masih agak langka. Demikian juga dengan adik-adiknya, mayoritas mereka mengambil kuliah selepas dari SMA di Madiun dengan memilih Malang atau Surabaya, kota tempat mereka melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Dua orang saudaranya melanjutkan kuliah di Surabaya sedangkan 4 orang lagi termasuk Kushari melanjutkan kuliah di Malang.

DITERIMA MENJADI PEGAWAI BEA CUKAI
Kushari pun dinyatakan lulus dan diterima menjadi calon pegawai negeri sipil di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Lulus tes penyaringan, ia dan beberapa rekannya yang kurang lebih 70-an orang dan semuanya laki-laki wajib masuk asrama dan menjalani masa awal sebagai CPNS di asrama Pusdiklat, Bojana Tirta selama hampir satu tahun setengah. “Akhirnya dorongan keras orang tua membuahkan hasil. Mungkin kalau tidak dipaksa ke Jakarta dengan dibelikan tiket kereta api, mungkin saya tidak jadi seperti sekarang ini dan kalau tidak begini saya tidak mengerti Bea Cukai dan tidak tahu Jakarta,” Kushari mengingat lagi dorongan keras orang tuanya. Berbagai materi yang terkait dengan masalah kepabeanan dan cukai mereka terima atau diklat Pra Jabatan maupun diklat teknis selama di kampus Bojana Tirta, Rawamangun Jakarta Timur, termasuk pendidikan kesamaptaan dengan instruktur dari Kopasus, Angkatan Darat. Mengikuti diklat bukan berarti lulus untuk menjadi pegawai negeri di DJBC, karena selama mengikuti diklat, mungkin dikarenakan mental beberapa rekannya tidak kuat dan mulai dibayang-bayangi kejenuhan, akhirnya 6 orang rekan seangkatan Kushari mengundurkan diri dengan berbagai alasan, antara lain ada yang terkena litsus (penelitian khusus) dan lain-lain sehingga totalnya tinggal 72 orang. Setelah masa pendidikan di kampus berakhir tepatnya pada Juni 1992 bersama rekan-rekannya, Kushari ditempatkan di Kantor Pusat DJBC. Ia sendiri ditempatkan di Bidang Pengkajian Peraturan Direktorat Perencanaan dan Penerimaan (sekarang Direktorat PPKC). “Dibidang pengkajian peraturan ketika itu ada Pak Eddy Abdurachman sebagai ketua Tim Rancangan UU Kepabeanan dan Cukai, saya bersama beberapa teman seangkatan diikutkan di sekretariat.” Tahun 1993, ia mendapat promosi sebagai Kepala Sub Seksi Hanggar Entrepot II, di Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Kemayoran

ENGGAN KE JAKARTA
Tahun 1990, Kushari berhasil meraih gelar sarjana ekonomi. Dan satu keberuntungan bagi Kushari bahwa ia tidak pernah mengalami yang namanya menganggur selepas kuliah. Di masa kuliah pun sudah diajak bekerja di Kantor Akuntan Publik milik salah satu dosennya. Selesai kuliah, berbekal ijasah S1-nya, Kushari diterima bekerja di kota Surabaya di PT. Miwon. Setelah lulus ia tidak langsung me-

76

WARTA BEA CUKAI

EDISI 402 MEI 2008

EDISI 402 MEI 2008

WARTA BEA CUKAI

77

P

R

O

F

I

L
DOK. PRIBADI

pa perusahaan asing antara lain di Rusia (Moskow), Jepang, Polandia, Perancis dan beberapa negara lainnya. Terkesan saja saya, karena hal itu jauh dari pemikiran saya bisa melakukan investigasi (audit) sampai ke luar negeri . Yang terkesannya lagi karena saya punya kendala komunikasi karena bahasa Inggris saya hanya pasif dengan membaca, namun teman dari Departemen Perdagangan cukup membantu TERLIBAT DI KEGIATAN KADI saya berkomunikasi, sebaliknya dia kurang Ketika menjadi Kasi Verifikasi Impor, bermengerti accounting, jadi kami saling samaan dengan itu ia ditunjuk mewakili Deparmelengkapi. Disitulah saya terkesan karena ini temen Keuangan (Depkeu) melakukan pememerupakan pekerjaan tim,”ujarnya. riksaan dumping, dibawah naungan Komite Ia pun tidak menyangka kalau dirinya bisa Anti Dumping Indonesia (KADI) suatu bidang mewakili Departemen Keuangan di dalam kegibaru yang pertama kali dibentuk pada tahun atan KADI, karena masih banyak akuntan yang 1996. KADI beranggotakan unsur dari beberalebih senior dari dirinya di DJBC, namun karena pa departemen diantaranya yang dominan kesibukan para senior yang rata-rata sudah yaitu Departemen Perindustrian dan Perdagamenjabat Esselon III maka dia lah yang ditunjuk. ngan dan Depkeu. Berkecimpung dengan kegiatan KADI Negara anggota World Trade Organization dijalaninya selama empat tahun. Disamping juga (WTO) termasuk Indonesia, telah menyepakati menjalankan tugasnya sebagai Kasi Audit Impor pengenaan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) di Kantor Pusat DJBC pada tahun 1998. Pada atau Bea Masuk Imbalan (BMI) sebagai instrutahun 2001, Kushari mendapat promosi eselon ment penting untuk menangkis perdagangan III sebagai Kepala Bidang Verifikasi dan Audit yang tidak fair dalam bentuk penjualan ekspor Kanwil IX DJBC Pontianak yang juga dijalaninya dengan harga dumping. Sebagai unsur dari selama empat tahun. Lalu pada tahun 2005 Depkeu, menurut Kushari, DJBC berada damenjadi Kepala Subdirektorat (Kasubdit) Audit. lam KADI tidak saja berada pada level KADI Dit. Verifikasi dan Audit. Menjadi Kasubdit Pelaktetapi juga pada level Tim Operasional Anti sanaan Audit Direktorat Audit juga pernah ia peDumping, yaitu unit organisasi dalam tubuh gang, tepatnya pada tahun 2006. KADI yang tugasnya melaksanakan operasioDari Kantor Pusat, ia ditugaskan ke Kantor nal, yaitu melaksanakan investigasi/penyelidikPelayanan Bea dan Cukai Tipe A1 Tanjung Priok an anti dumping/ subsidi. II sebagai kepala kantor, pada tahun 2007 tepatBeberapa produk impor yang terbukti nya pada saat uji coba Kantor Pelayanan Utama dumping antara lain produk besi baja, pro(KPU) Bea dan Cukai Tipe A Tanjung Priok. Ketiduk kimia dan farmasi yang berasal dari bebeka pada 1 Juli KPU mulai diterapkan dan terjadi rapa negara antara lain Rusia, Ukraina, Turki, penggabungan KPPBC di sekitar wilayah India, Australia, Jepang dan RRC. Ini merupaTanjung Priok menjadi satu, lalu Kushari dipinkan hasil penelitian atas permohonan penye- BERSAMA KELUARGA menikmati liburan, salah satu cara Kushari melakukan dahkan dalam arti waktu itu ia belum mendapat lidikan anti dumping yang ditangani KADI kegiatan dengan istri dan ketiga anaknya skep akan ditugaskan dimana sehingga yang menghasilkan pengenaan BMAD. diwaktu senggang. otomatis ia tidak memiliki job hampir selama dua Dalam pengungkapan dumping, Kushari bulan. Kondisi ini sangat dinikmatinya karena dapat pulang tepat diikutkan dalam tim investigator untuk melakukan pemeriksaan waktu dan tidak terlalu dibebani masalah pekerjaan, sehingga banyak pada beberapa perusahaan asing. Dalam tim investigator saat itu waktu untuk bermain dengan anak-anak. dibutuhkan tenaga akuntan, Kushari pun mendapatkan kesempatan untuk ikut terlibat di dalam kegiatan KADI. Investigator yang bisa dikatakan sebagai ujung tombak dari MENJADI KEPALA KPU KADI merupakan pelaksana penyelidikan anti dumping/subsisdi Disaat yang bersamaan, Batam juga dalam proses pembendalam rangka melakukan kajian adanya injury dan di Bidang tukan KPU. Kushari, salah satu yang ikut terlibat dalam memperPengkajian Hubungan Kausul dan Hukum melakukan kajian adanya siapkan pembentukan KPU Bea dan Cukai Batam. Di Batam, hubungan kausul antara dumping dan injury. Kushari mendapat promosi eselon II B sebagai Kepala KPU Bea “Sebagai investigator, saya melakukan pemeriksaan ke beberadan Cukai Tipe B Batam, yaitu pada 11 Juli 2007. “Yang saya lakukan ketika DOK. WBC itu, salah satunya mempersiapkan kantor karena kantor saja ketika itu belum selesai direnovasi karena sempat terhenti. Bedanya dengan di Tanjung Priok yang merupakan penggabungan kantor, sedangkan di Batam merupakan pemecahan Kantor Wilayah Tanjung Balai Karimun (TBK). Kurang lebih beberapa bulan persiapan (sejak 20 Agustus 2007 KPU Batam telah beroperasi) , tepatnya pada 15 Februari 2008, KPU Tipe B Batam diresmikan SAAT PERESMIAN KPU BEA DAN CUKAI TIPE B BATAM MENJADI KEPLA KPU TIPE A TANJUNG PRIOK, saat oleh Dirjen Bea dan Cukai, oleh Dirjen Bea dan Cukai, Kushari ketika itu menjabat melakukan gelar tegahan atas penyelundupan ekspor Anwar Suprijadi,” ujar Kushari. sebagai Kepala KPU Bea dan Cukai Batam. pupuk bersubsidi. tepatnya ia ditempatkan pada Kawasan Berikat Nasional (KBN) Cakung selama empat tahun. Pada Agustus 1997, Kushari diangkat sebagai Kepala Seksi Verifikasi Impor I pada Direktorat Verifikasi dan Audit suatu bidang yang sesuai dengan bidang yang dipelajarinya semasa kuliah.

78

WARTA BEA CUKAI

EDISI 402 MEI 2008

Kesulitan yang sempat ditemui dalam rangka mempersiapkan KPU Batam, memang diakui Kushari karena berbeda karakteristiknya. Jika Pelabuhan Tanjung Priok merupakan pelabuhan besar dengan volume kegiatan yang besar dan batas wilayah yang jelas, berbeda dengan Batam, yang dari sisi volume kegiatan tidak terlalu besar dan wilayah kerjanya tidak hanya di pulau Batam, tetapi ditambah juga dengan Pulau Bintan (eks KPBC Tanjung Uban). “Memang waktu itu ada sedikit kendala mengenai pelayanan. Kepala Bidang Pelayanannya hanya satu, maka oleh Bapak Dirjen ditunjuklah untuk Tanjung Uban seorang seksi untuk mendelegasikan tugas pelayanan, karena tidak mungkin pelayanan yang di Tanjung Uban ditarik ke Batam dan harus lewat jalur laut,” ujarnya. Kushari cukup merasa senang, karena sebelum diresmikan pada MENJADI KEPALA KPPBC TANJUNG PRIOK II, mendampingi Menteri Februari 2008 lalu, penerapan konsep KPU telah diterapkan di KPU Perhubungan dan Menteri Keuangan saat melakukan kunjungan kerja Batam dan itu mendapat tanggapan yang baik dari para pengusaha di ke Pelabuhan Tanjung Priok tahun 2007 sekitar wilayah Batam, hal itu bisa terlihat dari hasil survei yang dilakukan oleh Lembaga Survei Hay Group yaitu adanya kenaikan kualitas nior , dan saat ini KPU adalah suatu bentuk reformasi di DJBC pelayanan yang cukup signifikan. Jadi pada prinsipnya beberapa yang merupakan kesinambungan dari reformasi sebelumnya yang asosiasi pengusaha di Batam cukup responsif dengan program yang telah dirintis oleh senior dengan segala kelebihan dan kekurangandilaksanakan KPU Batam. nya. Saya sekarang pada posisi meneruskan tahap reformasi yang Hanya saja menurut Kushari, permasalahan di Batam adalah dasudah digariskan pimpinan. Dalam setiap periode pasti ada lam hal pengawasan. Hal ini dikarenakan, pertama dari segi geograkekurangan ataupun kelebihan dan itu wajar saja dalam reformasi fisnya dekat dengan Singapura. Batam memiliki wilayah pengawasan karena terjadi pada kondisi dan waktu yang berbeda,” tuturnya. yang banyak pulaunya, disamping itu jarak tempuh dengan negara Kushari berharap disetiap penempatan tugas hingga berakhir Singapura dekat, sehingga lalu lintasnya cukup padat. Untuk itu tugasnya di suatu tempat paling tidak ia berharap bisa memberikan dalam hal pengawasan KPU Batam di back up oleh Kanwil TBK. Dan yang terbaik dan bisa lebih memajukan institusi, dari pada yang sudah ada beberapa hasil tegahan penyelundupan yang merupakan sebelumnya karena memang roda kehidupan harus seperti itu. Dan kerjasama dengan Kanwil Tanjung Balai Karimun, salah satunya harapannya jika berpindah tugas maka komunikasi dengan rekantegahan atas 83 000 buah Handphone. rekan kerja tetap terbina. Itu prinsipnya, karena orang bekerja tidak Tak kurang dari seminggu, setelah peresmian KPU Batam, Kushahanya menempatkan seseorang pada satu tempat, tetapi juga ri mendapat promosi eselon II a untuk selanjutnya diangkat sebagai membina silaturahmi dan komunikasi dengan lingkungan tempatnya Kepala KPU Tipe Tanjung Priok, tepatnya pada 21 Februari 2008. bekerja. Ketika WBC menanyakan apa yang menjadi prioritas utamanya sebagai Kepala KPU Tanjung Priok ia menegaskan masalah pemeMENDIDIK ANAK DENGAN POLA YANG SAMA nuhan target penerimaan menjadi point pertama yang ia prioritaskan Kushari, menikahi Adwiena Dwiyanti tahun 1994. Adwiena adakarena hal itu merupakan salah satu key performance--nya. Prioritas lah gadis yang dijumpainya pada saat ‘berkampus’ di Bojana Tirta selanjutnya, mengenai kepuasan market forces, minimal bisa memsaat dirinya dinyatakan lulus tes penerimaan pegawai DJBC, pertahankan apa yang telah dilakukan kepala kantor sebelumnya. sedangkan Adwiena adalah lulusan dari STAN Prodip IV. Dari perniPrioritas yang lain adalah koordinasi antar internal aparat KPU Tankahan mereka kini telah dikaruniai tiga orang anak yang kesemuajung Priok, serta dengan instansi terkait di pelabuhan yang ia mengnya laki-laki, Arya Bagus Pratama yang lahir pada 30 Desember istilahkannya sebagai supporting pihak terkait. 1995. Anak kedua, Arya Dimas Prakoso yang lahir pada 30 Juli “Saya rasa Pak Agung Kuswandono sudah cukup bagus memulai 2000. Sedangkan, anak ketiga, Arya Ditya Prawira yang lahir pada KPU dan tugas saya paling tidak minimal mempertahankannya, kare7 Oktober 2002. na wilayah kerja KPU Tanjung Priok, terutama di pelabuhannya saKepada ketiga anaknya, Kushari menerapkan pembinaan sama ngat padat volume kegiatannya.” ujar Kushari yang tengah mempersiseperti yang ia alami sewaktu kecil. Kushari tidak ingin dunia anakapkan tesis S2-nya di MPKP Universitas Indonesia, DOK. PRIBADI anak bagi ketiga putranya hilang begitu saja walaupun sebenarnya kushari sudah mempunyai lantaran harus mengikuti kegiatan di luar sekolah pendidikan Magister Managemen. Namun karena hanya karena ambisi orang tuanya yang ingin prinsipnya bahwa belajar adalah untuk menambah membentuk anak sesuai keingianan orang tua. pengetahuan maka ijasah S2 tersebut tidak didaf“Saya hidup dengan cara natural. Saya juga tarkannya dalam kedinasan. menerapkannya pada anak-anak, mau mereka Ia menanamkan konsep pada dirinya bahwa tidur siang atau tidak, itu tidak dipaksakan. Merekantor tidak akan berjalan kalau hanya ada kepala ka laki-laki semua biasanya tidak ada yang tidur kantor saja, karena kepala kantor bukan satu-satusiang malah main bola dan ikut beladiri tetapi itu nya pendorong dalam keberhasilan tetapi sebalikmemang dunia mereka yang tidak boleh hilang. nya kepala kantor harus bekerjasama dengan Harus les ini dan itu, harus tidur siang, itu tidak seluruh elemen kantor, mulai dari petugas cleaning saya paksakan pada mereka. Jadi saya mendidik service sampai pegawai yang berpangkat tinggi. secara moderat seperti orang tua saya. Yang Kantor akan berjalan dengan baik, kalau semua penting bagaimana cara kita mengontrolnya” elemen berfungsi dengan baik sesuai tugas maujarnya. sing-masing. Karena itu didalam memimpin kantor, “Begitu juga dalam hal pendidikan, saya jujustru elemen yang paling penting adalah berfungga tidak memaksakan harus rangking satu tetapi sinya semua unit-unit di dalam kantor tersebut, sepaling tidak dia harus bertanggung jawab, dan hingga walaupun suatu saat tidak ada kepala kanAlhamdulilah mereka bisa diatur. Untuk waktu tor atau adanya pergantian pejabat maka kantor dengan keluarga setiap minggu, mengajak meretetap berjalan dengan baik. ka makan atau pergi jalan-jalan. Yang penting “Saya berharap dengan adanya KPU Bea dan Intensitas harus terus ada, saya sendiri juga Cukai akan lebih baik lagi ke depan. Saya yakin itu REHAT SEJENAK, sesaat setelah masih senang tenis, tetapi sepak bola sudah tiakan terjadi. Reformasi adalah suatu proses yang melakukan investigasi ke salah satu dak karena kondisi sudah tidak memungkinkan,” terus menerus dan sudah dimulai oleh para se- perusahaan di Moskow (Rusia). tandasnya. ris
DOK. WBC

EDISI 402 MEI 2008

WARTA BEA CUKAI

79

APA KATA MEREKA

WULAN GURITNO
Diperlakukan Sama Seperti Masyarakat Lain
Membagi waktu antara karir dengan mengurus anak tunggalnya Shalom, ternyata bukanlah suatu masalah buat Wulan Guritno. Walau jadwal shooting yang cukup padat namun memantau perkembangan buah hati yang mulai beranjak dewasa menjadi suatu keharusan bagi salah satu pemeran dalam film Nagabonar Jadi Dua. Tidak jarang pula ia mengajak anak semata wayangnya tersebut ke lokasi shooting atau memantau melalui pembicaraan melalui telepon genggam. Menjadi selebriti tentunya memberi banyak keuntungan baginya, salah satunya adalah mendapat kesempatan untuk mengunjungi beberapa negara baik untuk kepentingan film, liburan, maupun juga atas ajakan dari para sponsor. Tercatat beberapa negara telah ia kunjungi, salah satunya adalah Inggris tempat dimana orang tua Wulan tinggal. “Tahun ini ibu saya datang dari Inggris, gantian sebelumnya saya ke Inggris melihat orang tua,”ujar Wulan kembali. Ketika ditanya pengalamannya pulang dari luar negeri dan harus berhadapan dengan petugas Bea Cukai di bandara, Wulan menjawab biasa-biasa saja, tidak mendapat perlakuan istimewa dan cenderung dilayani dengan ramah. “Petugasnya dari jauh kelihatannya agak sangar, tapi waktu giliran aku harus melalui pemeriksaan petugas, petugasnya menyapa dengan ramah dan bertanya, “habis jalan-jalan ya mbak?”ujar Wulan menirukan pertanyaan petugas. Wulan bahkan mengaku agak sedikit canggung kalau ia mendapat perlakuan istimewa karena ia seorang public figure,”Tapi kalau diperlakukan istimewa gak menolak sih, tapi saya lebih senang diperlakukan sama seperti masyarakat lain, tapi selama ini sama oleh petugas Bea Cukai saya diperlakukan sama dan gak pernah dapat keistimewaan,”ujar Wulan kembali. zap
FOTO-FOTO : ISTIMEWA

EL MANIK

“Petugasnya Profesional”

Perkembangan film Indonesia yang kini sudah mulai bangkit menurut El Manik merupakan suatu kebanggan bagi dirinya dan juga bagi Indonesia. Dari pengamatannya film Indonesia bisa dibilang sudah bisa sejajar dengan film-film impor, begitu pula dengan penontonnya yang tidak kalah pula banyaknya dengan film-film asing yang beredar di bioskop-bioskop Indonesia. Ia mengatakan bangga dengan banyaknya para sineas muda yang bisa menghasilkan film Indonesia yang menurutnya bagus dan dapat diterima oleh para penontonnya. El Manik pun mengaku banyaknya sineas muda dan bintang film muda bukanlah suatu persaingan baginya, karena ia menganggap generasi muda sudah saatnya berpartisipasi dalam perkembangan film Indonesia. Mengenai Bea Cukai, aktor yang pernah membintangi film Bintang Kejora pada dekade ’80-an mengaku hanya mengetahui dari pemberitaan bahwa instansi pemerintah ini selalu menggagalkan upaya penyelundupan dan juga penegahan narkoba dari luar negeri. “Saya salut sama Bea Cukai yang bisa menggagalkan penyelundupan barang dari luar negeri yang merugikan negara,” ujarnya kepada WBC. Selain itu El Manik yang pernah beberapa kali melakukan perjalanan ke luar negeri dan melalui pemeriksaan pabean mengaku melihat petugas Bea Cukai sudah menjalankan tugasnya dengan professional. “Saya lihat petugas Bea Cukai sudah semakin baik dalam menjalankan tugas, dan saya ketika melalui pemeriksaan Bea Cukai tidak pernah mendapat masalah karena barang yang saya bawa dari sana (luar negeri.red) barang biasa, karena saya tidak hobi bawa barang-barang yang tidak perlu,” ujar El Manik mengakhiri pembicaraan dengan WBC. zap

80

WARTA BEA CUKAI

EDISI 402 MEI 2008

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 24/PMK.03/2008 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN PENAGIHAN DENGAN SURAT PAKSA DAN PELAKSANAAN PENAGIHAN SEKETIKA DAN SEKALIGUS MENTERI KEUANGAN, Menimbang: bahwa dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 10 ayat (9), Pasal 10A dan Pasal 20 ayat (1) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1997 tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2000 dan ketentuan Pasal 27 ayat (10) Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 2007 tentang Tata Cara Pelaksanaan Hak dan Kewajiban Perpajakan Berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007, perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Tata Cara Pelaksanaan Penagihan dengan Surat Paksa dan Pelaksanaan Penagihan Seketika dan Sekaligus; Mengingat: 1. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3262) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 85, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4740); 2. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3312) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1994 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3569); 3. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1997 tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3686) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 129, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3987); 4. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 44, Tambahan BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 402 MEI 2008

1

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3688) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 130, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3988); 5. Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 2008 tentang Tata Cara Pelaksanaan Hak dan Kewajiban Perpajakan Berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 169, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4797); 6. Keputusan Presiden Nomor 20/P Tahun 2005; MEMUTUSKAN : Menetapkan: PERATURAN MENTERI KEUANGAN TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN PENAGIHAN DENGAN SURAT PAKSA DAN PELAKSANAAN PENAGIHAN SEKETIKA DAN SEKALIGUS. Pasal 1

Dalam Peraturan Menteri Keuangan ini yang dimaksud dengan : 1. Penagihan Pajak adalah serangkaian tindakan agar Penanggung Pajak melunasi utang pajak dan biaya penagihan pajak dengan menegur atau memperingatkan, melaksanakan Penagihan Seketika dan Sekaligus, memberitahukan Surat Paksa, mengusulkan pencegahan, melaksanakan penyitaan, melaksanakan penyanderaan, dan menjual barang yang telah disita. 2. Pejabat Direktorat Jenderal Pajak yang selanjutnya disebut Pejabat adalah pejabat yang berwenang mengangkat dan memberhentikan Jurusita Pajak, serta menerbitkan Surat Perintah Penagihan Seketika dan Sekaligus, Surat Paksa, Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan, Surat Pencabutan Sita, Pengumuman Lelang, Surat Penentuan Harga Limit, Pembatalan Lelang, Surat Perintah Penyanderaan, dan surat lain yang diperlukan untuk Penagihan Pajak, sehubungan dengan Penanggung Pajak tidak melunasi sebagian atau seluruh utang pajak menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. 3. Surat Teguran, Surat Peringatan, atau surat lain yang sejenis adalah surat yang diterbitkan oleh Pejabat untuk menegur atau memperingatkan Wajib Pajak untuk melunasi utang pajaknya. 4. Penagihan Seketika dan Sekaligus adalah tindakan Penagihan Pajak yang dilaksanakan oleh Jurusita Pajak kepada Penanggung Pajak tanpa menunggu tanggal jatuh tempo pembayaran yang meliputi seluruh utang pajak dari semua jenis pajak, Masa Pajak, dan Tahun Pajak.

2

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 402 MEI 2008

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

5. Surat Paksa adalah surat perintah membayar utang pajak dan biaya Penagihan Pajak. 6. Jurusita Pajak adalah pelaksana tindakan Penagihan Pajak yang meliputi Penagihan Seketika dan Sekaligus, pemberitahuan Surat Paksa, penyitaan, dan penyanderaan. Pasal 2

Dalam rangka pelaksanaan Penagihan Pajak, Menteri Keuangan menunjuk : a. Kepala Kantor Pelayanan Pajak Wajib Pajak Besar, Kepala Kantor Pelayanan Pajak Madya, dan Kepala Kantor Pelayanan Pajak di lingkungan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jakarta Khusus sebagai Pejabat untuk Penagihan Pajak yang meliputi Pajak Penghasilan serta Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah; b. Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama sebagai Pejabat untuk Penagihan Pajak yang meliputi Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, Pajak Bumi dan Bangunan, dan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan; c. Kepala Kantor Pelayanan Pajak selain Kepala Kantor Pelayanan Pajak sebagaimana dimaksud pada huruf a dan huruf b sebagai Pejabat untuk Penagihan Pajak yang meliputi Pajak Penghasilan serta Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah; d. Kepala Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan sebagai Pejabat untuk Penagihan Pajak yang meliputi Pajak Bumi dan Bangunan serta Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. Pasal 3

Pejabat yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 berwenang untuk mengangkat dan memberhentikan Jurusita Pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Pasal 4

(1) Kepala Kantor Pelayanan Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf a melaksanakan Penagihan Pajak dalam hal utang pajak sebagaimana tercantum dalam Surat Tagihan Pajak (STP), Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB), serta Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT), dan Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, Putusan Banding, serta Putusan Peninjauan Kembali, yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah, tidak dilunasi sampai dengan tanggal jatuh tempo. BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 402 MEI 2008

3

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

(2) Kepala Kantor Pelayanan Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf b melaksanakan Penagihan Pajak dalam hal utang pajak sebagaimana tercantum dalam: a. Surat Tagihan Pajak (STP), Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB), serta Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT), dan Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, Putusan Banding, serta Putusan Peninjauan Kembali, yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah, untuk Pajak Penghasilan dan Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah; b. Surat Tagihan Pajak Pajak Bumi dan Bangunan (STPPBB), untuk Pajak Bumi dan Bangunan; c. Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Kurang Bayar (SKBKB), Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Kurang Bayar Tambahan (SKBKBT), serta Surat Tagihan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (STB), dan Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, Putusan Banding, serta Putusan Peninjauan Kembali, yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah, untuk Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan, tidak dilunasi sampai dengan tanggal jatuh tempo. (3) Kepala Kantor Pelayanan Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf c melaksanakan Penagihan Pajak dalam hal utang pajak sebagaimana tercantum dalam Surat Tagihan Pajak (STP), Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB), serta Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT), dan Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, Putusan Banding, serta Putusan Peninjauan Kembali, yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah, tidak dilunasi sampai dengan tanggal jatuh tempo. (4) Kepala Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf d melaksanakan Penagihan Pajak dalam hal utang pajak sebagaimana yang tercantum dalam: a. Surat Tagihan Pajak Pajak Bumi dan Bangunan (STPPBB), untuk Pajak Bumi dan Bangunan; b. Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Kurang Bayar (SKBKB), Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Kurang Bayar Tambahan (SKBKBT), serta Surat Tagihan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (STB), dan Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, Putusan Banding, serta Putusan Peninjauan Kembali, yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah, untuk Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan, tidak dilunasi sampai dengan tanggal jatuh tempo.

4

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 402 MEI 2008

K E P U T U S A N

&
5

K E T E T A P A N

Pasal

(1) Surat Tagihan Pajak (STP), Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB), serta Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT), dan Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, Putusan Banding, serta Putusan Peninjauan Kembali, yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah, harus dilunasi dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak tanggal diterbitkan. (2) Bagi Wajib Pajak usaha kecil dan Wajib Pajak di daerah tertentu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, jangka waktu pelunasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diperpanjang menjadi paling lama 2 (dua) bulan. Pasal 6

(1) Surat Tagihan Pajak Pajak Bumi dan Bangunan (STPPBB) harus dilunasi dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak tanggal diterima oleh Wajib Pajak. (2) Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan Kurang Bayar (SKBKB), Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Kurang Bayar Tambahan (SKBKBT), serta Surat Tagihan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (STB), dan Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, Putusan Banding, serta Putusan Peninjauan Kembali, yang menyebabkan jumlah Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang harus dibayar bertambah, harus dilunasi dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak tanggal diterima oleh Wajib Pajak. Pasal 7 (1) Dalam hal Wajib Pajak mengajukan keberatan atas Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) atau Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT), jangka waktu pelunasan pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 untuk jumlah pajak yang belum dibayar pada saat pengajuan keberatan sebesar pajak yang tidak disetujui dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan, tertangguh sampai dengan 1(satu) bulan sejak tanggal penerbitan Surat Keputusan Keberatan. (2) Dalam hal Wajib Pajak mengajukan banding atas Surat Keputusan Keberatan sehubungan dengan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) atau Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT), jangka waktu pelunasan pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 atau pada ayat (1), tertangguh sampai dengan 1(satu) bulan sejak tanggal penerbitan Putusan Banding. Pasal 8

(1) Penagihan Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, dilakukan dengan terlebih dahulu menerbitkan Surat Teguran oleh Pejabat. BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 402 MEI 2008

5

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

(2) Surat Teguran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak diterbitkan terhadap Penanggung Pajak yang telah disetujui untuk mengangsur atau menunda pembayaran pajak. Pasal 9

(1) Dalam hal Wajib Pajak tidak menyetujui sebagian atau seluruh jumlah pajak yang masih harus dibayar dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan dan Wajib Pajak tidak mengajukan keberatan atas Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) atau Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT), kepada Wajib Pajak disampaikan Surat Teguran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1), setelah 7 (tujuh) hari sejak saat jatuh tempo pengajuan keberatan. (2) Dalam hal Wajib Pajak tidak menyetujui sebagian atau seluruh jumlah pajak yang masih harus dibayar dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan, dan Wajib Pajak tidak mengajukan permohonan banding atas keputusan keberatan sehubungan dengan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) atau Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT), kepada Wajib Pajak disampaikan Surat Teguran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1), setelah 7 (tujuh) hari sejak saat jatuh tempo pengajuan banding. (3) Dalam hal Wajib Pajak tidak menyetujui sebagian atau seluruh jumlah pajak yang masih harus dibayar dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan, dan Wajib Pajak mengajukan permohonan banding atas keputusan keberatan sehubungan dengan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) atau Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT), kepada Wajib Pajak disampaikan Surat Teguran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1), setelah 7 (tujuh) hari sejak saat jatuh tempo pelunasan pajak yang masih harus dibayar berdasarkan Putusan Banding. (4) Dalam hal Wajib Pajak menyetujui seluruh jumlah pajak yang masih harus dibayar dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan, kepada Wajib Pajak disampaikan Surat Teguran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1), setelah 7 (tujuh) hari sejak saat jatuh tempo pelunasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5. (5) Dalam hal Wajib Pajak mencabut pengajuan keberatan atas Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) atau Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT) setelah tanggal jatuh tempo pelunasan tetapi sebelum tanggal diterima Surat Pemberitahuan Untuk Hadir oleh Wajib Pajak, kepada Wajib Pajak disampaikan Surat Teguran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1), setelah 7 (tujuh) hari sejak tanggal pencabutan pengajuan keberatan tersebut.

6

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 402 MEI 2008

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N
10

Pasal

Surat Teguran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) dalam rangka Penagihan Pajak atas utang Pajak Bumi dan Bangunan dan/atau Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan sebagaimana tercantum dalam : a. Surat Tagihan Pajak Pajak Bumi dan Bangunan (STPPBB); b. Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Kurang Bayar (SKBKB); c. Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Kurang Bayar Tambahan (SKBKBT); d. Surat Tagihan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (STB); atau e. Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, atau Putusan Banding, yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah, disampaikan kepada Wajib Pajak setelah 7 (tujuh) hari sejak tanggal jatuh tempo pelunasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6. Pasal 11

Penyampaian Surat Teguran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 dan Pasal 10 dapat dilakukan: a. secara langsung; b. melalui pos; atau c. melalui perusahaan jasa ekspedisi atau jasa kurir dengan bukti pengiriman surat. Pasal 12

Apabila jumlah utang pajak tidak dilunasi oleh Penanggung Pajak setelah lewat waktu 21 (dua puluh satu) hari sejak tanggal disampaikan Surat Teguran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1), Surat Paksa diterbitkan oleh Pejabat dan diberitahukan secara langsung oleh Jurusita Pajak kepada Penanggung Pajak. Pasal 13

(1) Jurusita Pajak melaksanakan Penagihan Seketika dan Sekaligus tanpa menunggu tanggal jatuh tempo pembayaran berdasarkan Surat Perintah Penagihan Seketika dan Sekaligus yang diterbitkan oleh Pejabat apabila: a. Penanggung Pajak akan meninggalkan Indonesia untuk selama - lamanya atau berniat untuk itu; b. Penanggung Pajak memindahtangankan barang yang dimiliki atau yang dikuasai dalam rangka menghentikan atau mengecilkan kegiatan perusahaan, atau pekerjaan yang dilakukannya di Indonesia; BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 402 MEI 2008

7

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

c. terdapat tanda-tanda bahwa Penanggung Pajak akan membubarkan badan usaha, atau menggabungkan usaha, atau memekarkan usaha, atau memindahtangankan perusahaan yang dimiliki atau yang dikuasainya, atau melakukan perubahan bentuk lainnya; d. badan usaha akan dibubarkan oleh negara; atau e. terjadi penyitaan atas barang Penanggung Pajak oleh pihak ketiga atau terdapat tanda-tanda kepailitan. (2) Surat Perintah Penagihan Seketika dan Sekaligus sekurang-kurangnya memuat: a. nama Wajib Pajak, atau nama Wajib Pajak dan Penanggung Pajak; b. besarnya utang pajak; c. perintah untuk membayar; dan d. saat pelunasan pajak. Pasal 14

Penerbitan Surat Perintah Penagihan Seketika dan Sekaligus oleh Pejabat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13, dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut : a. diterbitkan sebelum tanggal jatuh tempo pembayaran; b. diterbitkan tanpa didahului Surat Teguran; c. diterbitkan sebelum jangka waktu 21 (dua puluh satu) hari sejak Surat Teguran diterbitkan; atau d. diterbitkan sebelum penerbitan Surat Paksa. Pasal 15

Selain kondisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12, Surat Paksa juga dapat diterbitkan dalam hal : a. terhadap Penanggung Pajak telah dilaksanakan Penagihan Seketika dan Sekaligus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13; atau b. Penanggung Pajak tidak memenuhi ketentuan sebagaimana tercantum dalam keputusan persetujuan angsuran atau penundaan pembayaran pajak. Pasal 16

(1) Surat Paksa yang diterbitkan karena kondisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 dan Pasal 15 diberitahukan oleh Jurusita Pajak dengan pernyataan dan penyerahan Salinan Surat Paksa kepada Penanggung Pajak. (2) Pemberitahuan Surat Paksa kepada Penanggung Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan membacakan isi Surat Paksa oleh Jurusita Pajak dan dituangkan dalam Berita Acara sebagai pernyataan bahwa Surat Paksa telah diberitahukan.

8

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 402 MEI 2008

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

(3) Berita Acara sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sekurang-kurangnya berisi hari dan tanggal pemberitahuan Surat Paksa, nama Jurusita Pajak, nama yang menerima, dan tempat pemberitahuan Surat Paksa serta ditandatangani oleh Jurusita Pajak dan Penanggung Pajak. Pas al 17

Surat Paksa terhadap orang pribadi diberitahukan oleh Jurusita Pajak kepada : a. Penanggung Pajak di tempat tinggal, tempat usaha atau di tempat lain yang memungkinkan; b. orang dewasa yang bertempat tinggal bersama ataupun yang bekerja di tempat usaha Penanggung Pajak, apabila Penanggung Pajak yang bersangkutan tidak dapat dijumpai; c. salah seorang ahli waris atau pelaksana wasiat atau yang mengurus harta peninggalannya, apabila Wajib Pajak telah meninggal dunia dan harta warisan belum dibagi; atau d. ahli waris, apabila Wajib Pajak telah meninggal dunia dan harta warisan telah dibagi. Pasal 18

Surat Paksa terhadap badan diberitahukan oleh Jurusita Pajak kepada: a. pengurus meliputi Direksi, Komisaris, pemegang saham pengendali atau mayoritas untuk perseroan terbuka, pemegang saham untuk perseroan tertutup, dan orang yang nyata-nyata mempunyai wewenang ikut menentukan kebijaksanaan dan/atau mengambil keputusan dalam menjalankan perseroan, untuk perseroan terbatas; b. kepala perwakilan, kepala cabang, atau penanggung jawab, untuk Bentuk Usaha Tetap; c. direktur, pemilik modal, atau orang yang ditunjuk untuk melaksanakan dan mengendalikan serta bertanggung jawab atas perusahaan, untuk badan usaha lainnya seperti kontrak investasi kolektif, persekutuan, firma, dan perseroan komanditer; d. ketua atau orang yang melaksanakan dan mengendalikan serta bertanggung jawab atas yayasan, untuk yayasan; e. pegawai tetap di tempat kedudukan atau tempat usaha badan yang bersangkutan apabila Jurusita Pajak tidak dapat menjumpai salah seorang sebagaimana dimaksud pada huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d. Pasal 19

(1) Dalam hal Wajib Pajak dinyatakan pailit, Surat Paksa diberitahukan kepada Kurator, Hakim Pengawas, atau Balai Harta Peninggalan. BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 402 MEI 2008

9

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

(2) Dalam hal Wajib Pajak dinyatakan bubar atau dalam likuidasi, Surat Paksa diberitahukan kepada orang atau badan yang dibebani untuk melakukan pemberesan atau likuidator. (3) Dalam hal Wajib Pajak menunjuk seorang kuasa dengan surat kuasa khusus untuk menjalankan hak dan kewajiban perpajakan, Surat Paksa dapat diberitahukan kepada penerima kuasa. Pasal 20

(1) Dalam hal Penanggung Pajak atau pihak-pihak yang dimaksud dalam Pasal 17, Pasal 18, dan Pasal 19 menolak untuk menerima Surat Paksa, Jurusita Pajak meninggalkan Surat Paksa dimaksud dan mencatatnya dalam Berita Acara bahwa Penanggung Pajak tidak mau menerima Surat Paksa, dan Surat Paksa dianggap telah diberitahukan. (2) Apabila pemberitahuan Surat Paksa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17, Pasal 18, dan Pasal 19 tidak dapat dilaksanakan, Surat Paksa disampaikan melalui Pemerintah Daerah setempat. (3) Dalam hal Wajib Pajak atau Penanggung Pajak tidak diketahui tempat tinggalnya, tempat usaha, atau tempat kedudukannya, penyampaian Surat Paksa dilaksanakan dengan menempelkan salinan Surat Paksa pada papan pengumuman di kantor Pejabat yang menerbitkannya, dengan mengumumkan melalui media massa, atau dengan cara lain. Pasal 21

(1) Dalam hal pelaksanaan Surat Paksa harus dilakukan di luar wilayah kerja Pejabat, Pejabat yang menerbitkan Surat Paksa meminta bantuan kepada Pejabat yang wilayah kerjanya meliputi tempat pelaksanaan Surat Paksa. (2) Dalam hal di 1(satu) kota terdapat lebih dari 1(satu) wilayah kerja dari beberapa Pejabat, Pejabat yang menerbitkan Surat Paksa dapat memerintahkan Jurusita Pajaknya untuk melaksanakan Surat Paksa di luar wilayah kerjanya sepanjang masih berada di kota tersebut. (3) Pejabat yang menerbitkan Surat Paksa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib memberitahukan pelaksanaan Surat Paksa yang telah dilakukan kepada Pejabat yang wilayah kerjanya meliputi tempat pelaksanaan Surat Paksa. (4) Dalam hal pelaksanaan Surat Paksa harus dilakukan di luar kota tempat kedudukan kantor Pejabat namun masih dalam wilayah kerjanya, Pejabat yang menerbitkan Surat Paksa : a. meminta bantuan untuk melaksanakan Surat Paksa kepada Pejabat yang wilayah kerjanya meliputi tempat pelaksanaan Surat Paksa; atau

10

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 402 MEI 2008

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

b. memerintahkan Jurusita Pajaknya untuk melaksanakan Surat Paksa secara langsung tanpa meminta bantuan kepada Pejabat setempat disertai dengan pemberitahuan kepada Pejabat yang wilayah kerjanya meliputi tempat pelaksanaan Surat Paksa. (5) Pejabat yang diminta bantuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (4) huruf a wajib membantu dan memberitahukan tindakan yang telah dilaksanakannya kepada Pejabat yang meminta bantuan. Pasal 22

(1) Dalam hal terjadi keadaan di luar kekuasaan Pejabat atau sebab lain, Surat Paksa pengganti dapat diterbitkan oleh Pejabat karena jabatan. (2) Surat Paksa pengganti sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai kekuatan eksekutorial dan kedudukan hukum yang sama dengan Surat Paksa. Pasal 23

(1) Penanggung Pajak dapat mengajukan permohonan pembetulan atau penggantian kepada Pejabat terhadap Surat Teguran dan/atau Surat Paksa yang dalam penerbitannya terdapat kesalahan atau kekeliruan. (2) Pejabat dalam jangka waktu paling lama 7 (tujuh) hari sejak tanggal diterima permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), harus memberi keputusan atas permohonan yang diajukan. (3) Apabila dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) Pejabat tidak memberikan keputusan, permohonan Penanggung Pajak dianggap dikabulkan dan Penagihan Pajak ditunda untuk sementara waktu. (4) Pejabat karena jabatan dapat membetulkan Surat Teguran, Surat Perintah Penagihan Seketika dan Sekaligus, dan Surat Paksa yang dalam penerbitannya terdapat kesalahan atau kekeliruan. (5) Tindakan pelaksanaan Penagihan Pajak dilanjutkan setelah kesalahan atau kekeliruan dibetulkan oleh Pejabat. Pasal 24

(1) Apabila setelah lewat waktu 2 x 24 (dua kali dua puluh empat) jam sejak Surat Paksa diberitahukan kepada Penanggung Pajak sebagaimana dimaksud dalam BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 402 MEI 2008

11

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

Pasal 12 dan utang pajak tidak dilunasi oleh Penanggung Pajak, Pejabat menerbitkan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan. (2) Berdasarkan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Jurusita Pajak melaksanakan penyitaan terhadap barang milik penanggung pajak. Pasal 25 (1) Dalam hal objek sita berada di luar wilayah kerja Pejabat yang menerbitkan Surat Paksa, Pejabat dimaksud meminta bantuan kepada Pejabat yang wilayah kerjanya meliputi tempat objek sita berada untuk menerbitkan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan. (2) Dalam hal di 1 (satu) kota terdapat lebih dari 1(satu) wilayah kerja dari beberapa Pejabat, Pejabat yang menerbitkan Surat Paksa dapat memerintahkan Jurusita Pajaknya untuk melaksanakan penyitaan terhadap objek sita yang berada di luar wilayah kerjanya sepanjang masih berada di kota bersangkutan. (3) Pejabat yang memerintahkan Jurusita Pajaknya untuk melaksanakan penyitaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib memberitahukan pelaksanaan Penyitaan yang telah dilakukan kepada Pejabat yang wilayah kerjanya meliputi tempat objek sita berada. (4) Dalam hal objek sita terletak berjauhan atau di luar kota tempat kedudukan kantor Pejabat namun masih dalam wilayah kerjanya, Pejabat dimaksud: a. meminta bantuan kepada Pejabat yang wilayah kerjanya juga meliputi tempat objek sita berada untuk menerbitkan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan; atau b. memerintahkan Jurusita Pajaknya untuk melaksanakan penyitaan secara langsung tanpa meminta bantuan Pejabat setempat, disertai dengan pemberitahuan kepada Pejabat yang wilayah kerjanya meliputi tempat pelaksanaan Surat Paksa. (5) Pejabat yang diminta bantuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (4) huruf a wajib membantu dan memberitahukan pelaksanaan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan dimaksud kepada Pejabat yang meminta bantuan. Pas al 26

Apabila setelah lewat waktu 14 (empat belas) hari sejak tanggal pelaksanaan penyitaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (2), Penanggung Pajak tidak melunasi utang pajak dan biaya Penagihan Pajak, Pejabat melakukan pengumuman lelang. Pasal 27

Pengumuman lelang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 untuk barang bergerak dilakukan 1(satu) kali dan untuk barang tidak bergerak dilakukan 2 (dua) kali.

12

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 402 MEI 2008

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N
2 8

P a s a l

Apabila setelah lewat waktu 14 (empat belas) hari sejak Pengumuman Lelang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27, Penanggung Pajak tidak melunasi utang pajak dan biaya Penagihan Pajak, Pejabat melakukan penjualan barang sitaan Penanggung Pajak melalui kantor lelang negara. P a s a l 2 9

Ketentuan lebih lanjut mengenai prosedur penagihan dengan Surat Paksa yang diperlukan dalam pelaksanaan Peraturan Menteri Keuangan ini diatur dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak. P a s a l 3 0

Pada saat Peraturan Menteri Keuangan ini mulai berlaku: 1. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 561/KMK.04/2000 tentang Tata Cara Pelaksanaan Penagihan Seketika dan Sekaligus dan Pelaksanaan Surat Paksa dinyatakan tidak berlaku, kecuali untuk hak dan kewajiban perpajakan untuk Masa Pajak, Bagian Tahun Pajak, atau Tahun Pajak 2007 dan sebelumnya. 2. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 564/KMK.04/2000 tentang Tata Cara Pelaksanaan Surat Paksa dan Penyitaan di Luar Wilayah Kerja Pejabat yang Menerbitkan Surat Paksa, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. P a s a l 3 1

Peraturan Menteri Keuangan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman Peraturan Menteri Keuangan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 6 Februari 2008 MENTERI KEUANGAN, ttd SRI MULYANI INDRAWATI BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 402 MEI 2008

13

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 26/PMK.04/2008 TENTANG PENUNDAAN PELUNASAN KEKURANGAN PEMBAYARAN BEA MASUK DAN/ATAU SANKSI ADMINISTRASI BERUPA DENDA MENTERI KEUANGAN, Menimbang: a. bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 37 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006, atas permintaan orang yang berutang, Direktur Jenderal Bea dan Cukai dapat memberikan persetujuan penundaan atau pengangsuran kewajiban membayar bea masuk dan/atau denda administrasi; b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a, dan dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 37A ayat (4), perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Penundaan Pelunasan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk Dan/Atau Sanksi Administrasi Berupa Denda; Mengingat: 1. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3612) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 93, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4661); 2. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1997 tentang Penagihan Pajak Dengan Surat Paksa (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3686) sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 19 Tahun 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 129, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3987); 3. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286); 4. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 05, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355); 5. Keputusan Presiden Nomor 20/P Tahun 2005; M E M U T US K A N : Menetapkan: PERATURAN MENTERI KEUANGAN TENTANG PENUNDAAN PELUNASAN PEMBAYARAN BEA MASUK, DAN/ATAU SANKSI ADMINISTRASI BERUPA DENDA. Pasal 1

Dalam Peraturan Menteri Keuangan ini yang dimaksud dengan : 1. Penanggung bea masuk adalah orang yang berutang atas bea masuk dan/atau sanksi administrasi berupa denda. 2. Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal Bea dan Cukai.

14

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 402 MEI 2008

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

3. Kantor pabean adalah kantor dalam lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai tempat dipenuhinya kewajiban pabean sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006. Pasal 2

(1) Penundaan dapat diberikan kepada penanggung bea masuk atas tagihan kekurangan pembayaran bea masuk dan/atau sanksi administrasi berupa denda sebagai akibat dari : a. penetapan pejabat bea dan cukai; b. penetapan kembali Direktur Jenderal atas penetapan pejabat bea dan cukai; atau c. keputusan Direktur Jenderal atas keberatan. (2) Penundaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa : a. pengunduran jangka waktu pembayaran tagihan kekurangan pembayaran bea masuk dan/atau sanksi administrasi berupa denda; atau b. pembayaran secara bertahap tagihan kekurangan pembayaran bea masuk dan/ atau sanksi administrasi berupa denda. Pasal 3

Penundaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 diberikan dalam hal penanggung bea masuk memenuhi kriteria sebagai berikut : a. penanggung bea masuk mengalami kesulitan likuiditas namun mampu untuk melunasi kekurangan pembayaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2; dan b. penanggung bea masuk memiliki kredibilitas yang baik. Pasal 4

(1) Penundaan dapat diberikan untuk jangka waktu paling lama 12 (dua belas) bulan terhitung sejak tanggal jatuh tempo pembayaran tagihan. (2) Atas penundaan dikenakan bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan, bagian dari bulan dihitung satu bulan penuh, terhitung sejak tanggal jatuh tempo pembayaran tagihan. (3) Perhitungan bunga sebagaimana dimaksud pada ayat (2) didasarkan pada : a. pokok utang dalam hal pengunduran jangka waktu pembayaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) huruf a; atau b. sisa utang dalam hal pembayaran secara bertahap sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) huruf b. Pasal 5

(1) Untuk mendapatkan penundaan, penanggung bea masuk harus mengajukan permohonan secara tertulis kepada Direktur Jenderal dengan melampirkan laporan keuangan tahun terakhir. (2) Berdasarkan laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Direktur Jenderal menetapkan jenis jaminan yang harus diserahkan. (3) Dalam hal penanggung bea masuk belum diwajibkan untuk membuat laporan keuangan berdasarkan perundang-undangan yang berlaku, jaminan yang diserahkan harus berupa bank garansi. BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 402 MEI 2008

15

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

(4) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diajukan paling lama 40 (empat puluh) hari sebelum tanggal jatuh tempo keputusan penetapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2. Pas al 6

(1) Atas permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1), Direktur Jenderal menerbitkan surat keputusan paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak permohonan diterima secara lengkap. (2) Keputusan Direktur Jenderal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa mengabulkan atau menolak permohonan yang bersangkutan. (3) Dalam hal permohonan dikabulkan, keputusan Direktur Jenderal sebagaimana dimaksud pada ayat (2) termasuk menetapkan jenis jaminan yang harus diserahkan oleh penanggung bea masuk. Pas al 7

Jaminan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (3) adalah sebesar kekurangan pembayaran bea masuk dan/atau sanksi administrasi berupa denda. Pas al 8

(1) Keputusan pemberian penundaan dicabut dalam hal penanggung bea masuk : a. tidak membayar angsuran sesuai dengan jumlah atau waktu yang telah ditetapkan; atau b. dinyatakan pailit oleh pengadilan niaga. (2) Apabila keputusan pemberian penundaan dicabut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) maka : a. jaminan dicairkan untuk membayar kekurangan bea masuk dan/atau sanksi administrasi berupa denda; atau b. dilakukan penagihan aktif sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Pas al 9

Ketentuan lebih lanjut yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan Peraturan Menteri Keuangan ini diatur dengan Peraturan Direktur Jenderal. Pasal 10

Peraturan Menteri Keuangan ini mulai berlaku setelah 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal ditetapkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman Peraturan Menteri Keuangan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 11 Februari 2008 MENTERI KEUANGAN, ttd SRI MULYANI INDRAWATI

16

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 402 MEI 2008

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->