P. 1
Warta Bea Cukai Edisi 403

Warta Bea Cukai Edisi 403

4.67

|Views: 1,992|Likes:
Published by bcperak

More info:

Published by: bcperak on Nov 03, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/12/2013

pdf

text

original

TAHUN XL EDISI 403

JUNI 2008

KPPBC MADYA CUKAI
WUJUD PELAYANAN DAN PENGAWASAN YANG MODERN
WAWANCARA

MENUNGGU IMPLEMENTASI
BENI NOVRI
KUNCI KEBERHASILAN DALAM BEKERJA ADALAH MENYELESAIKAN DENGAN BAIK DAN TEPAT WAKTU

PROFIL

ANWAR SUPRIJADI
KEBERHASILAN KPPBC MADYA CUKAI DITENTUKAN OLEH PERFORMANCE DARI SETIAP UNIT

DARI REDAKSI

S

Life Begins at 40

TERBIT SEJAK 25 APRIL 1968
IZIN DEPPEN: NO. 1331/SK/DIRJEN-G/SIT/72 TANGGAL, 20 JUNI 1972 ISSN.0216-2483 PELINDUNG Direktur Jenderal Bea dan Cukai: Drs. Anwar Suprijadi, MSc PENASEHAT Direktur Penerimaan & Peraturan Kepabeanan dan Cukai: Drs. Hanafi Usman Direktur Teknis Kepabeanan Ir. Agung Kuswandono, MA Direktur Fasilitas Kepabeanan Drs. Kusdirman Iskandar Direktur Cukai Drs. Frans Rupang Direktur Penindakan & Penyidikan Drs. R.P. Jusuf Indarto Direktur Audit Drs. Thomas Sugijata, Ak. MM Direktur Kepabeanan Internasional Drs. M. Wahyu Purnomo, MSc Direktur Informasi Kepabeanan & Cukai Dr. Heri Kristiono, SH, MA Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Bea dan Cukai Drs. Endang Tata Inspektur Bea dan Cukai Edy Setyo Tenaga Pengkaji Bidang Pelayanan & Penerimaan KC Drs. Bambang Prasodjo Tenaga Pengkaji Bidang Pengawasan & Penegakan Hukum KC Drs. Erlangga Mantik, MA Tenaga Pengkaji Bidang Pengembangan Kapasitas & Kinerja Organisasi KC Susiwijono, SE KETUA DEWAN PENGARAH Sekretaris Direktorat Jenderal Bea dan Cukai: Drs. Kamil Sjoeib, MA WAKIL KETUA DEWAN PENGARAH/ PENANGGUNG JAWAB Kepala Bagian Umum: Sonny Subagyo, S.Sos DEWAN PENGARAH Ir. Harry Mulya, MSi, Drs. Patarai Pabottinggi, Dra. Cantyastuti Rahayu, Muhamad Purwantoro. Marisi Zainuddin Sihotang, SH.,M.M. Hendi Budi Santosa, Ir. Azis Syamsu Arifin, Muhammad Zein, SH, MA. Maimun, Ir. Agus Hermawan, MA. PEMIMPIN REDAKSI Lucky R. Tangkulung REDAKTUR Aris Suryantini, Supriyadi Widjaya, Zulfril Adha Putra FOTOGRAFER Andy Tria Saputra KORESPONDEN DAERAH ` Hulman Simbolon (Medan), Abdul Rasyid (Medan), Ian Hermawan (Pontianak), Donny Eriyanto (Makassar), Bambang Wicaksono (Ambon), Muqsith Hamidi (Balikpapan) KOORDINATOR PRACETAK Asbial Nurdin SEKRETARIS REDAKSI Kitty Hutabarat PIMPINAN USAHA/IKLAN Piter Pasaribu TATA USAHA Mira Puspita Dewi S.Pt., M.S.M., Untung Sugiarto IKLAN Kitty Hutabarat SIRKULASI H. Hasyim, Amung Suryana BAGIAN UMUM Rony Wijaya PERCETAKAN PT. BDL Jakarta ALAMAT REDAKSI/TATA USAHA Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Jl. Jenderal A. Yani (By Pass) Jakarta Timur Telp. (021) 478 65608, 478 60504, 4890308 Psw. 154 Fax. (021) 4892353 majalah_wbc@yahoo.com REKENING GIRO a/n : MIRA PUSPITA DEWI BANK BNI 1946 CABANG CIPINANG RAWAMANGUN, JAKARTA TIMUR Nomor Rekening : 131339374 Pengganti Ongkos Cetak Rp. 10.000,-

etelah berhasil meluncurkan Kantor Pelayanan Utama (KPU) di Tanjung Priok dan Batam, DJBC mulai bersiap menerapkan konsep yang sama bagi kantor-kantor Bea Cukai yang mayoritas melayani dan mengawasi kegiatan cukai. Tadinya kami berpikir akan muncul nama KPU Cukai. Ternyata, kantor-kantor yang dimaksud berubah nama menjadi KPPBC Madya Cukai. DJBC akan segera meluncurkan KPPBC Madya Cukai di tiga daerah yaitu Malang, Kediri, dan Kudus, dimulai bulan Juli - September 2008. Untuk itulah dalam rubrik laporan utama bulan ini redaksi mengupas KPPBC Madya Cukai, tentang konsep dari kantor ini, bagaimana operasionalnya, tentang SDM, dan aspek-aspek yang berkaitan. Untuk kepentingan penyusunan tulisan topik ini, dua kru WBC meluncur ke Kanwil Malang, KPPBC Malang serta KPPBC Kediri, untuk melihat dari dekat persiapan menjadi KKPBC Madya Cukai, khususnya terhadap KPPBC Malang yang akan menjadi kantor pertama yang diresmikan penerapannya dan beroperasi pada bulan Juli 2008. Cukai telah menjadi andalan DJBC dan pemerintah dalam menambah pundi-pundi pemasukan negara. Tahun lalu saja, target penerimaan dari cukai yang sebesar Rp. 41.561 triliun, bisa terpenuhi bahkan terlampaui hingga lebih dari Rp. 45 triliun atau 107,21%. Sedangkan di tahun 2008 ini pemerintah menargetkan pemasukan dari sektor cukai sebesar Rp. 44.426 triliun. Angka tersebut sangat substansial. Itu sebabnya pelayanan terutama pengawasan di bidang cukai perlu ditingkatkan. Soal pengawasan misalnya, kejadian yang berlangsung di Malang terhadap petugas Bea Cukai (hal. 21-23, rubrik daerah) memperlihatkan betapa tidak mudah Bea Cukai menjalankan fungsinya dalam hal pengawasan dan penegakkan hukum. Berita serta artikel lainnya bisa anda baca pada edisi bulan ini, termasuk foto-foto dari perayaan HUT WBC yang ke-40 di rubrik sekretariat. Munculnya ide acara ini bermula dari rapat proyeksi bulanan antara redaksi WBC dengan dewan pengarah pada 29 April 2008. Ketika itu, rapat yang tidak lama lagi berakhir tiba-tiba mendapat kunjungan dari Sekretaris DJBC Kamil Sjoeib. Tidak lama kemudian, juga secara tiba-tiba dan tidak direncanakan, menyusul bergabung Dirjen Bea Cukai Anwar Suprijadi. Ini adalah pertama kalinya rapat proyeksi bulanan yang dihadiri Dirjen dan Sekretaris DJBC. Kami mengucapkan terima kasih untuk masukan yang disampaikan Dirjen dan Sekretaris dalam pertemuan tersebut bagi perkembangan WBC. Termasuk beberapa kendala yang kami sampaikan dalam operasional majalah ini, dan semoga saja dalam waktu dekat bisa teratasi. Di akhir pertemuan kami menyampaikan ke Dirjen bahwa tanggal 25 April lalu WBC tepat berusia 40 tahun. Dari informasi itulah, Dirjen secara spontan mengusulkan untuk merayakan HUT WBC hari Jumat 2 Mei 2008. Hasilnya bisa anda lihat pada foto peristiwa di halaman 64. Umur 40 tahun menandakan kedewasaan dan kematangan. Seperti ujar Kakanwil DJBC Banten, Bachtiar, dalam acara ulang tahun kepada kami, bahwa 40 tahun adalah umur yang spesial, karena kata pepatah “Life begins at 40”. Di umur yang semakin dewasa, kami selalu berusaha membawa majalah ini ke tingkat yang lebih baik. Untuk itu dukungan anda sebagai pelanggan dan pembaca selalu menjadi suplemen bagi tumbuh kembang dan majunya majalah WBC. Terima kasih untuk kesetiaan anda bersama WBC. God Bless You All… Lucky R. Tangkulung

EDISI 403 JUNI 2008

WARTA BEA CUKAI

1

NOMOR INI
1 3 17 DARI REDAKSI SURAT PEMBACA CUKAI Sosialisasi Pendeteksian Pita Cukai dan Pengawasan Di Bidang Cukai 30 PUSDIKLAT Pusdiklat Bea dan Cukai Melatih Pegawai Inspektorat Jenderal Departeman Keuangan 31 INFO PEGAWAI Pegawai Pensiun Per 1 Juni 2008 32 36 SEPUTAR BEA CUKAI SIAPA MENGAPA - Budi Prasetyo - Muchidin Rumakway - M. Mangalik 37 KONSULTASI KEPABEANAN DAN CUKAI Kawasan berikat 45 NASIONAL Peresmian Lembaga Bantuan Hukum Pajak Indonesia 46 OPINI - KITE Diantara Peraturan dan Implementasinya - Deviasi Pengertian Invoice 51 PERISTIWA Inkado dan Amura Turun di Piala Measa 52 PPKC PP No. 28 Tahun 2008 Tentang Pengenaan Sanksi Administrasi Berupa Denda di Bidang Kepabeanan 53 54 INFO PERATURAN ENGLISH SECTION Customs-Trade Partnerdhip Against Terrorism (C-TPAT) Bagian II 58 64 RUANG INTERAKSI Gambar Tubuh dan Pornografi SEKRETARIAT Hari Ulang Tahun WBC 2
WARTA BEA CUKAI

D A F T A R
Laporan Utama
Meningkatkan kepatuhan pengguna jasa, mengamankan hak-hak negara, dan profesionalisme aparat kepabeanan dan cukai merupakan salah satu tujuan dibentuknya KPPBC Madya Cukai Malang, Kediri yang diharapkan berjalan efektif seluruhnya mulai Juli hingga September 2008 untuk ketiga kantor tersebut. Lantas apa yang membedakan dengan KPPBC lainnya yang juga memiliki reksan cukai ? Simak dalam Laporan Utama.

5-16

Daerah ke Daerah
Aparat KPPBC Juanda berhasil menegah 7215 gram shabu termasuk juga berita tentang kunjungan Dirjen Bea dan Cukai ke Kanwil DJBC Jawa Timur I dan pemberian penghargaan bagi pegawai berprestasi yang berhasil menegah heroin beberapa waktu lalu di KPPBC Belawan. Apel luar biasa Kanwil DJBC Banten dan penegahan psikotropika oleh KPPBC Soekarno-Hatta, mengisi rubrik daerah ke daerah.

25-31

Pengawasan

32-37
Beberapa liputan mengisi halaman Pengawasan, antara lain aparat P2 KPPBC Malang yang mendapat intimidasi saat melakukan tugas pengawasan ke sebuah pabrik rokok yang diduga melakukan kegiatan illegal, penegahan 2 buah mobil mewah illegal oleh aparat KPU Tanjung Priok, pelatihan Customs Narcotic Team tahap kedua, sosialisasi indentifikasi CPO dan produk turunannya, penegahan MMEA illegal dan pita cukai palsu serta KPPBC Belawan berhasil menggagalkan penyelundupan benda cagar budaya berupa keris.

Pusdiklat

38-39
Pusdiklat Bea dan Cukai selama dua pekan melatih pegawai Inspektorat Jenderal (Itjen) Departemen Keuangan untuk meningkatkan kinerja institusi Itjen Departemen Keuangan, pengetahuan dan pendidikan yang mendukung kinerja lembaga tersebut.

EDISI 403 JUNI 2008

I S I

Surat Pembaca
Kirimkan surat anda ke Redaksi WBC melalui alamat surat, fax atau e-mail. Surat hendaknya dilengkapi dengan identitas diri yang benar dan masih berlaku.

STATUS LULUSAN
Saya adalah alumni Prodip I Keuangan Bea dan Cukai T.A 2002-2003 yang juga baru menyelesaikan Program DIII Khusus Akuntansi TA 2006 – 2008. Yang saat ini saya ingin tanyakan adalah : 1. Bagaimana status semua alumni prodip I, apakah sudah dapat menjadi pelaksana pemeriksa apabila pangkat minimal (II-c) sudah mencukupi untuk menjadi pelaksana pemeriksa ? 2. Apabila belum bisa, bagaimana dan kriteria apa supaya lulusan prodip I tersebut dapat berubah status menjadi pelaksana pemeriksa, mengingat di salah satu syarat untuk menjadi pelaksana pemeriksa di KPU adalah lulusan Prodip I (sebelum 2004) ?

Wawancara

17-20
Pembentukan Kantor Pelayanan dan Pengawasan (KPPBC) Madya Cukai dilatarbelakangi adanya tuntutan terhadap instansi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC), baik internal maupun eksternal untuk melakukan peningkatan citra dan kinerja, melakukan reposisi tugas dan fungsi DJBC. Demikian salah satu yang diungkapkan Dirjen Bea dan Cukai, Anwar Suprijadi mengenai latar belakang pembentukan KPPBC Madya Cukai.

Demikian pertanyaan dari saya, besar harapan saya untuk mendapatkan penjelasan. Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih. DIDIT HARDI MA’RUFI NIP 060105769 KPPBC Tipe B Sangata TANGGAPAN : Sehubungan dengan surat Sdr. Didit Hardi Ma’rufi, yang disampaikan melalui Warta Bea Cukai tentang status lulusan Program Diploma I Kepabeanan dan Cukai, kami sampaikan hal-hal sebagai berikut : 1. Sesuai Surat Edaran Sekretaris Direktorat Jenderal nomor : SE-346/BC.1/UP.6/2006 tanggal 10 Mei 2006 tentang Status Pegawai Pelaksana Pemeriksa dan Pegawai Pelaksana Administrasi, bahwa pegawai yang berasal dari penerimaan Program Diploma I Kepabeanan dan Cukai mempunyai kualifikasi sebagai pegawai pelaksana administrasi dan untuk menjadi pegawai pelaksana pemeriksa, harus terlebih dahulu melalui Diklat Teknis Substantif Spesialisasi (DTSS) Kepabeanan dan Cukai (sesuai kurikulum 2006), dengan salah satu persyaratan untuk mengikutinya adalah masa kerja sekurang-kurangnya delapan tahun. 2. Seiring dengan tuntutan perkembangan organisasi dan tantangan terhadap kebutuhan kompetensi SDM, DJBC bersama BPPK dalam hal ini melalui Pusdiklat Bea dan Cukai, senantiasa melakukan evaluasi terhadap penyelenggaraan diklat teknis maupun fungsional bagi pegawai DJBC. Implementasinya antara lain dengan adanya penyesuaian kurikulum DTSS Kepabeanan dan Cukai khusus untuk lulusan Program Diploma I Kepabeanan dan Cukai sejak akhir tahun 2007. 3. Terkait pertanyaan mengenai persyaratan pelaksana pemeriksa di Kantor Pelayanan Utama (KPU), secara umum dapat disampaikan, bahwa mengingat kinerja KPU tersebut merupakan tolok ukur kinerja Direktorat Jenderal Bea dan Cukai di mata masyarakat pada umumnya, sehingga dilakukan seleksi untuk mendapatkan pegawai yang memenuhi syarat dan terpilih. Syarat tersebut sebagaimana tercantum dalam surat penawaran untuk mengikuti seleksi KPU, antara lain S-1033/BC.1/UP.10/2006 tanggal 29 Agustus 2006, S04/BC.1/UP.10/2007 tanggal 8 Januari 2007, dan S-337/BC.1/UP.6/2007 tanggal 7 Mei 2007, bahwa selain syarat administratif lainnya yang harus dipenuhi, salah satu syarat untuk menjadi pelaksana pemeriksa, adalah pegawai yang bersangkutan telah memiliki kualifikasi pemeriksa, yaitu yang telah mengikuti dan lulus DPT II atau DTSD (sesuai kurikulum sebelum 2006) atau DTSS Kepabeanan dan Cukai (sesuai kurikulum 2006), dengan pendidikan formal minimal Diploma I/SMU sederajat. Sehingga untuk lulusan Prodip I Kepabeanan dan Cukai, dapat menjadi pelaksana pemeriksa apabila sudah mempunyai kualifikasi sebagai pemeriksa, yaitu lulus DTSD (sesuai kurikulum sebelum 2006) atau lulus DTSS Kepabeanan dan Cukai (sesuai kurikulum 2006). 4. Selanjutnya dapat disampaikan, bahwa sejalan dengan program diklat yang telah disusun bersama Pusdiklat Bea dan Cukai, mulai tahun anggaran 2008, penamaan bagi DTSS Kepabeanan dan Cukai yang sesuai kurikulum lama (2006 – 2007) merupakan diklat penteknisan untuk menjadi pegawai dengan kualifikasi pemeriksa, akan dikembalikan sebagaimana ketentuan yang mengaturnya yaitu Keputusan Menteri Keuangan nomor 137/KMK.01/2001 tentang Pola Diklat Pegawai Departemen Keuangan, menjadi Diklat Teknis Substantif Dasar (DTSD). Sedangkan pengertian DTSS adalah diklat yang memberikan peningkatan pengetahuan keterampilan spesialistis tugas pokok yang menjadi tanggung jawabnya, contohnya DTSS Intelijen, PPNS, PCA, dan lain sebagainya. Demikian kami sampaikan, atas perhatian Saudara, kami ucapkan terima kasih. KEPALA BAGIAN KEPEGAWAIAN AZHAR RASYIDI NIP 060079946
EDISI 403 JUNI 2008 WARTA BEA CUKAI

Profil

76-79
Semula ia merasa sangat awam dengan tugas Bea dan Cukai karena memang awalnya, Beni Novri, berprofesi sebagai seorang pegawai disalah satu bank swasta nasional. Namun dengan semangat belajar yang tinggi dan selalu ingin tahu mengenai masalah kepabeanan dan cukai akhirnya lambat laun makin membuat wawasannya bertambah luas tentang tentang hal tersebut, hingga karirnya saat ini sebagai Kasi Tempat Penimbunan I, KPPBC Tipe A3 Palembang.

3

LAPORAN UTAMA

UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI PELAYANAN DAN EFEKTIFITAS PENGAWASAN
Pembentukan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Madya Cukai Malang dan Kediri yang berada di jajaran Kantor Wilayah Jawa Timur II dan Kudus yang berada di jajaran Kantor Wilayah Jawa Tengah, pada Juli hingga September 2008, diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap peningkatan kepatuhan pengguna jasa, mengamankan hak-hak negara, dan profesionalisme aparat kepabeanan dan cukai.
an dan pelayanan di bidang cukai yang melekat pada DJBC disebabkan oleh faktor-faktor antara lain, SDM, sistem dan prosedur, serta organisasi. Dalam rangka perbaikan citra dan peningkatan kinerja pengawasan dan pelayanan di bidang cukai, serta peningkatan integritas SDM, DJBC telah melakukan pembenahan SDM, perbaikan remunerasi, penyederhanaan sistem dan prosedur, modernisasi dan otomasi sistem, serta revitalisasi organisasi untuk meningkatkan moral dan integritas SDM, mengurangi tingkat korupsi, mengurangi diskresi kebijakan, serta akuntabilitas organisasi. Selain itu, dengan banyaknya tuntutan akan kinerja tersebut, DJBC juga telah melakukan berbagai upaya serius dan menempuh langkah-langkah strategis guna melakukan perbaikan secara sitematik dengan melakukan reformasi di bidang pengawasan dan pelayanan khususnya di bidang cukai, yang diwujudkan dengan pembentukan KPPBC Madya Cukai pada tiga KPPBC penyumbang cukai terbesar, yaitu KPPBC Malang, Kediri, dan Kudus. KPPBC Madya Cukai merupakan kantor pengawasan dan pelayanan DJBC yang memberikan pengawasan yang efektif, pelayanan prima kepada pengguna jasa dengan mengimplementasikan cara kerja yang efisien, transparan dan responsif serta pembinaan yang proaktif kepada pengguna jasa. Menurut Ketua Tim Program Percepatan Reformasi Kepabeanan dan Cukai, yang juga sebagai Direktur Audit,

KPPBC MADYA CUKAI

D

irektorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) sejak tahun 2002 telah melakukan reformasi kepabeanan dan cukai. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan tim penyusun peraturan pelaksanaan yang diamanatkan dalam rancangan Undang-Undang nomor 11 tahun 1995 tentang Cukai, menunjukan para pengguna jasa cukai masih menginginkan pelayanan yang baik, administrasi yang sederhana dan penerapan sanksi yang ringan. Dari hasil kajian menunjukkan, permasalahan pengawas-

BAGAN STUKTUR ORGANISASI KPPBC MADYA CUKAI

4

WARTA BEA CUKAI

EDISI 403 JUNI 2008

DOK. WBC

waktu dan biaya bagi pengguna jasa dalam Thomas Sugijata, latar belakang pembenmelakukan kegiatanya yang terkait dengan tukkan KPPBC Madya Cukai, adalah adanya pelayanan yang diberikan KPPBC. Oleh tuntutan terhadap institusi DJBC, baik dari sebab itu, ditetapkan standar pelayanan internal maupun eksternal, untuk melakukan publik dan key performance indicators. peningkatan citra dan kinerja, melakukan “Disinilah tugas kepatuhan internal reposisi tugas dan fungsi DJBC, serta turut melaksanakan tugasnya untuk memastikan berperan dalam penyelenggaraan negara tingkat kinerja setiap unit dan pegawai. Peyang bersih dan bebas KKN. laksanaan good governance, melalui trans“Atas dasar hal tersebut, dibentuklah paransi dan akuntabilitas, merupakan Kantor Pelayanan Utama (KPU) sebagai sasalah satu aspek yang menjadi platform lah satu upaya pembaharuan administrasi pembentukan KPPBC Madya Cukai,” kata kepabeanan dan cukai yang bertujuan untuk Thomas Sugijata. meningkatkan efisiensi pelayanan dan efektiMasih menurut Thomas Sugijata, unit fitas pengawasan berdasarkan peraturan kepatuhan internal juga harus dapat perundang-undangan yang berlaku, serta memastikan bahwa setiap pegawai KPPBC berlandaskan prinsip-prinsip Good Govermelaksanakan tugasnya secara profesionance,” ungkap Thomas Sugijata. nal, penuh rasa tanggung jawab, mematuhi Masih menurut Thomas Sugijata, KPU fakta integritas yang telah ditandatangani, merupakan revitalisasi dan perubahan yang THOMAS SUGIJATA. Pada KPPBC dilakukan secara sistematik terhadap organi- Madya Cukai, teknologi informasi akan dan kode etik prilaku yang telah ditetapkan. dioptimalkan pemanfaatannya. sasi, sistem dan prosedur, SDM, dengan didukung remunerasi dan optimalisasi pemanSISTEM APLIKASI DOKUMEN faatan teknologi informasi. Pada KPU diterapkan budaya kerLalu bagaimana dengan bentuk sistem aplikasi dokuja yang merupakan nilai-nilai unggulan yang disepakati men yang akan diterapkan pada KPPBC Madya Cukai bersama dan kepemimpinan yang efektif. Pembentukan KPU nanti? Menurut Thomas Sugijata, selama ini DJBC telah dan KPPBC Madya Cukai diharapkan dapat memberikan membangun aplikasi di hampir semua jenis pelayanan di dampak positif terhadap peningkatan kepatuhan pengguna bidang cukai, antara lain permohonan ijin pengusaha barang jasa, mengamankan hak-hak negara, dan profesionalisme kena cukai (NPPBKC), permohonan penetapan merek dan aparat kepabeanan dan cukai. harga jual eceran (HJE), permohonan penyediaan pita cuNamun demikian, secara eselonering, KPU dipimpin oleh kai (P3C), pemesanan pita cukai (CK-1), permohonan peseorang pejabat setingkat eselon II dan bertanggung jawab musnahan hasil tembakau yang rusak, pemberian fasilitas langsung kepada Direktur Jenderal, sedangkan KPPBC penundaan (kredit), penyediaan pita cukai, dan lain-lain. Madya Cukai dipimpin oleh seorang pejabat setingkat eselon Namun demikian, pelayanan di bidang cukai saat ini beIII dan bertanggung jawab kepada Kepala Kantor Wilayah. lum sepenuhnya mengedepankan pelayanan prima yang berbasis teknologi informasi yang terintegrasi satu dengan lainnya dan real time atau on-line real time, baik dalam DUA BIDANG BARU DI KPPBC MADYA CUKAI internal organisasi DJBC maupun dengan pengguna jasa. Satu hal yang membedakan KPPBC Madya Cukai dengan “Kedepan, sejalan dengan meningkatnya tuntutan good KPPBC yang juga memiliki reksan cukai, adalah pada governance yang disertai adanya transparansi dan akuntaKPPBC Madya Cukai teknologi informasi akan dioptimalkan bilitas, maka sistem pelayanan dan pengawasan pada pemanfaatannya melalui otomasi dan penggunaan aplikasi KPPBC Madya Cukai akan memperhatikan peningkatan dalam rangka efisiensi dan efektifitas pelayanan dan pengaperanan teknologi informasi guna memberikan pelayanan wasan. Misalnya, sistem pelaporan yang direncanakan dapat yang efisien dan cepat kepada pengguna jasa, dan disisi dilakukan secara elektronik. Namun, untuk kebijakan cukai lain mendukung upaya DJBC untuk melakukan pengawasyang prinsipnya ditetapkan bersifat nasional, maka tidak akan an yang efektif dan akurat,” jelas Thomas Sugijata. ada perbedaan kebijakan cukai antara KPPBC Madya Cukai Masih menurut Thomas Sugijata, pada KPPBC Madya dengan KPPBC yang juga memiliki reksan cukai. Cukai juga perlu dilakukan peningkatan efektifitas pengDari sisi organisasi, terdapat dua unit baru yang akan awasan melalui pengembangan profiling dan manajemen dibentuk yakni unit Kepatuhan Internal serta unit Penyuluhan risiko dalam pelayanan dan pengawasan, pengawasan dan Layanan Informasi. Melalui unit kepatuhan internal dihayang built-in dengan pelayanan, pengawasan fisik terstrukrapkan dapat terbentuk organisasi yang efektif, efisien, serta tur berdasarkan zoning, hulu-hilir, pendekatan media/moda bebas KKN, dimana dilakukan penilaian terhadap setiap untransportasi dan distribusi, penguatan unit penyidikan, serta sur satuan kerja dan pelaku organisasi melalui suatu mekanisme yang sistematis untuk mengevaluasi dan meningkatpenyempurnaan administratif untuk kepentingan pengawasan. kan efisiensi dan efektifitas proses pelayanan dan pengawasan, serta penegakan kode etik dan integritas pegawai. TITIK BERAT PADA PENGAWASAN “Pembentukan unit penyuluhan dan layanan informasi Dengan demikian, pada KPPBC Madya Cukai lebih bertujuan untuk meningkatkan kepatuhan pengguna jasa mediutamakan peningkatan efektivitas pengawasan, tanpa lalui pembinaan yang terstruktur, dan dilakukan secara pasif meninggalkan upaya-upaya untuk meningkatkan efisiensi dan proaktif berdasarkan segmentasi pengguna jasa (reksan pelayanan. Karena, berdasarkan kajian dan survei yang cukai) serta menyediakan informasi yang seragam dan akurat dilakukan Tim Percepatan Reformasi (TPR), diidentifikasi kepada seluruh stakeholder,” ujar Thomas Sugijata. dari sisi pelayanan selama ini dipandang sudah cukup baik, Dengan adanya dua unit baru tersebut, maka pengendalisebab objek cukai yang relatif tidak peka waktu dan meruan internal dapat dilakukan secara sistematik baik dari sisi pakan kegiatan rutin. Namun demikian, dari sisi pelayanan organisasi, sistem dan prosedur, maupun penerapan praktiktetap dilakukan peningkatan efisiensi melalui penyederhapraktik tatakelola pemerintahan yang baik. Karena, dari sisi naan sistem adminsitrasi cukai dan otomasi. organisasi struktur yang ada harus mendukung pembagian Sementara itu, pengawasan merupakan aspek yang hatugas dan wewenang yang jelas. Disini, unit kepatuhan interrus ditingkatkan efektivitasnya, mengingat modus dan pola nal bertugas untuk memastikan bahwa setiap unit melakukan pelanggaran di bidang cukai semakin maju dan pekerjaan sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya masingberkembang, serta melibatkan banyak orang (padat karya), masing. sehingga dapat menimbulkan persaingan industri yang Dari sisi sistem dan prosedur, akan ada kepastian hukum, tidak sehat dan mempengaruhi kesehatan masyarakat.
EDISI 403 JUNI 2008 WARTA BEA CUKAI

5

LAPORAN UTAMA
FOTO-FOTO : DOK. WBC

PENINGKATAN CITRA DAN KINERJA. DJBC berharap dengan adanya KPPBC Madya Cukai, citra dan kinerja akan meningkat.

Program ini sejalan dengan Road-Map industri hasil tembakau yang telah disepakati oleh pemerintah dan para pengusaha, yaitu untuk kurun waktu tahun 2008-2010 reformasi di bidang cukai lebih diarahkan untuk mencapai kebutuhan penerimaan negara yang pasti. Oleh sebab itu, salah satu instrument yang digunakan adalah menghilangkan rokok illegal dan pita cukai palsu. Untuk itu pada KPPBC Madya Cukai struktur organisasinya nanti selain menempatkan dua unit baru, pada bidang pengawasan juga menempatkan dua unit baru yang sebelumnya hanya ditempati pada satu unit. Unit tersebut adalah Seksi Intelijen dan Penindakan, serta Seksi Penyidikan dan Barang hasil Penindakan. Dengan struktur yang baru tersebut, diharapkan unit pengawasan dapat melaksanakan tugas dan fungsinya secara lebih intensif dan efektif. Melalui struktur organisasi yang telah ditetapkan tersebut, maka untuk melakukan koordinasi baik dalam pelayanan maupun pengawasan antara KPPBC Madya Cukai satu dengan lainnya ataupun dengan KPPBC yang juga memiliki reksan cukai, hal ini tetap mengacu kepada peraturan Menteri Keuangan tentang organisasi dan tatakerja instansi vertikal DJBC. Secara konsepsi, KPPBC Madya Cukai secara vertikal berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kantor Wilayah yang membawahinya. Oleh sebab itu, secara horizontal KPPBC Madya Cukai dapat juga melakukan koordinasi dengan KPPBC lainnya, tidak hanya dengan KPPBC Madya Cukai lainnya, yang tentunya sepengetahuan Kantor Wilayah yang membawahinya.

DJBC selalu membacanya sebagai tantangan dan harapan baru menuju perbaikan dan perubahan yang diharapkan. Perubahan yang dilakukan pada dasarnya adalah sebuah perjalanan maraton yang panjang dan melelahkan. Oleh sebab itu, proses transformasi ini sangat membutuhkan semangat, kerja keras, dan konsistensi dari setiap pihak yang terlibat didalamnya. Pihak yang terlibat juga termasuk instansi terkait yang bersinggungan dengan tugas KPPBC. Instansi terkait tersebut diharapkan secara pararel melakukan upaya percepatan reformasi agar sejajar dengan program reformasi yang dilakukan DJBC melalui pembentukan KPPBC Madya Cukai. Dari upaya pembentuk KPPBC Madya Cukai tersebut, TPR telah menyusun konsep pembentukan KPPBC Madya Cukai, dan telah melakukan berbagai pembahasan dan diskusi baik terhadap KPPBC yang akan direalisasikan menjadi KPPBC Madya Cukai, Kantor Wilayah yang akan membawahinya, para direktur, maupun kepada para pengguna jasa. Selain itu, konsep tersebut juga telah dibahas bersama tim prakarsa program reformasi birokrasi Departemen Keuangan, dan melaporkannya secara tertulis kepada Menteri Keuangan. Dari pembahasan tersebut terdapat sembilan subbagian yang saat ini tengah dipersiapkan untuk pembentukan KPPBC Madya Cukai, yaitu pengawasan, profiling, penyederhanaan sistem administrasi cukai, pelunasan cukai, sistem pengendalian internal, penyuluhan dan layanan informasi, komputerisasi pelayanan dan pengawasan, key performance indicators, dan standar pelayanan publik. Dan, sebagai tindak lanjut dari tahapan proses pembentukan KPPBC Madya Cukai, saat ini sedang dilakukan proses pengembangan sistem dan penyempurnaan aplikasi pelayanan, penyusunan dan finalisasi dasar hukum dari sistem dan prosedur pelayanan dan pengawasan, assessment SDM, pembangunan/ renovasi gedung dan penyediaan infrastruktur/sarana prasarana pendukung, serta berbagai penyempurnaan lainnya menjelang implementasi KPPBC Madya Cukai. Dengan adanya KPPBC Madya Cukai, tentunya DJBC berharap citra dan kinerjanya menjadi lebih baik, karena dengan baiknya citra dan kinerja, maka implikasi positifnya akan menyentuh kesegala bidang, baik ke dalam internal DJBC maupun eksternal bagi perekonomian nasional. “Upaya internalisasi dan pengkondisian bagi para pegawai terhadap komitmen, budaya kerja, dan kepemimpinan juga terus menerus dilakukan, dan secara paralel dilakukan sosialisasi dan komunikasi yang efektif terhadap pengguna jasa dan pihak-pihak yang terkait untuk memberikan pemahaman dan awareness terhadap implementasi KPPBC Madya Cukai, sekaligus mendorong mereka untuk melakukan upaya percepatan perbaikan dalam rangka mendukung program reformasi DJBC,” tandas Thomas Sugijata. adi

PERLU DUKUNGAN SEMUA PIHAK
Upaya DJBC menerapkan KPPBC Madya Cukai, memang tidak semudah yang dibayangkan, karena pada setiap proses transformasi yang dilakukan pastinya akan dihadapi dengan kendala. Namun demikian, setiap kendala yang dihadapi, 6
WARTA BEA CUKAI EDISI 403 JUNI 2008 MENITIKBERATKAN PADA PENGAWASAN. Selain memberikan pelayanan yang prima, pengawasan menjadi titik berat pada KPPBC Madya Cukai

PERBAIKAN PELAYANAN DAN PENGAWASAN
Sesuai dengan tujuannya, pembentukkan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Madya Cukai diharapkan dapat memberikan perubahan yang signifikan pada pelayanan sehingga lebih memudahkan pengguna jasa dalam menjalankan bisnisnya, dan pengawasan pun menjadi lebih efektif.
erhitung sejak Juli hingga September 2008, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) akan meresmikan tiga KPPBC menjadi KPPBC Madya Cukai. Yaitu, KPPBC Malang dan Kediri yang berada di jajaran Kantor Wilayah Jawa Timur II dan KPPBC Kudus yang berada di jajaran Kantor Wilayah Jawa Tengah. Kantor pelayanan dan pengawasan yang menjadi acuan dalam memberikan pelayanan dan pengawasan cukai ini, menjadi momentum penting bagi DJBC untuk melangkah lebih maju hingga bisa sejajar dengan institusi kepabeanan dan cukai dunia. KPPBC Malang, Kediri, dan Kudus yang merupakan sentra penerimaan cukai nasional, memang patut untuk menjadi KPPBC Madya Cukai, karena selain memiliki reksan cukai yang cukup banyak, hampir 90 persen kegiatan yang ada di KPPBC tersebut adalah pelayanan terhadap cukai. Banyak hal yang telah disiapkan DJBC untuk mewujudkan terbentuknya KPPBC Madya Cukai tersebut, mulai dari persiapan perangkat hukum hingga struktur organisasi telah dirumuskan dengan begitu matang, guna terciptanya suatu kantor utama dengan pokok utama pelayanannya adalah cukai. Menurut Direktur Cukai, Frans Rupang, penerapan KPPBC Madya Cukai, merupakan upaya sistematik dan menyeluruh untuk menjawab tuntutan masyarakat terhadap institusi DJBC dalam memberikan pelayanan dan pengawasan di bidang cukai. Oleh karena itu, Direktorat Cukai telah bekerja sama dengan Tim Percepatan Reformasi (TPR) untuk mengkaji segala aspek terkait dengan pelaksanaan KPPBC Madya Cukai. “Sebagai contoh regulasi terkait dengan NPPBKC, saat ini kita sedang menyempurnakan bersama tim pembuat peraturan pelaksana undang-undang nomor 39 tahun 2007, dan disitu ada hal baru dalam kaitannya dengan implementasi manajemen FRANS RUPANG. KPPBC Madya Cukai risiko di bidang cukai dalam rangka peningkatan adalah tanggung jawab kita semua.
FOTO-FOTO WBC/ATS

LANGKAH STRATEGIS DAN SISTEMATIS UNTUK

T

pengawasan,” ujar Frans Rupang. Sementara itu menurut Kepala Kantor Wilayah Jawa Timur II, C.F. Sidjabat, dengan dijadikannya KPPBC Malang dan Kediri menjadi KPPBC Madya Cukai, jelas akan lebih memberikan kemudahan kepada pengguna jasa dalam menjalankan bisnisnya, karena dengan penerapan teknologi informasi maka pelayanan akan menjadi cepat dan pegawai pun akan dapat C.F. SIDJABAT. Semua pegawai dan lebih mudah baik dalam pengguna jasa harus menjalani memberikan pelayanan kebijakan ini dengan sebaik-baiknya, maupun dalam menjalankarena ini sudah menjadi kebijakan nasional bukan sektoral. kan fungsi pengawasan. “Keistimewaan adanya KPPBC Madya Cukai, adalah kemudahan, dengan teknologi informasi akan menjadikan sesuatu menjadi lebih mudah. Namun, bagaimana pun dalam perubahan teknologi informasi, bagi perusahaan kecil itu susah investasinya, tapi mereka harus patuh, karena ini sudah disusun secara nasional bukan sektoral,” kata Sidjabat. Masih menurut Sidjabat, KPPBC Madya Cukai memang memiliki karateristik yang spesifik, untuk itu penekanannya pada pengawasan telah tepat, walaupun dalam hal pelayanan publik sebenarnya lebih mengutamakan pelayanan, baru pengawasan. Selain itu, jiwa undang-undang cukai yang menekankan pada pembatasan dan larangan, menjadi sejalan dengan penekanan pengawasan pada KPPBC Madya Cukai. Hal yang sama juga disampaikan oleh Kepala Kantor Wilayah Jawa Tengah, Ismartono, menurutnya pembentukan KPPBC Madya Cukai khususnya KPPBC Kudus yang berada di bawah wilayahnya, sejalan dengan program reformasi DJBC yang mencakup berbagai upaya perbaikan dalam segala bidang baik organisasi, sistem dan prosedur, SDM yang merupakan bagian dari transformasi organisasi. “Pembentukan KPPBC Kudus menjadi KPPBC Madya Cukai sangat tepat karena kontribusi penerimaan cukai ISMARTONO. Diharapkan dengan terbentuknya KPPBC Madya Cukai akan yang cukup besar dalam pemenuhan target yang diperoleh hasil yang lebih baik. .
EDISI 403 JUNI 2008 WARTA BEA CUKAI

7

LAPORAN UTAMA

KPPBC MADYA CUKAI. Kini menunggu implementasi dan mewujudkan semua harapan yang ada.

dibebankan, yaitu untuk tahun 2008 sebesar Rp. 11.511.988.138. Selain itu, pembentukkan KPPBC Madya Kudus bertujuan untuk lebih meningkatkan pelayanan kepada masyarakat usaha yang lebih baik dan transparan serta lebih efisien,” tutur Ismartono. Hal ini diamini oleh Wijayanta yang juga merupakan Kepala KPPBC Tipe A3 Kudus, menurutnya dibentuknya KPPBC Madya Kudus akan menjadi momentum pembenahan DJBC secara mendasar, khususnya untuk kantor yang menitikberatkan pada tugas-tugas di bidang cukai. Selain itu, pembentukkan KPPBC Madya Kudus juga merupakan suatu langkah strategis dan sistematik dalam upaya perbaikan, baik itu pengawasan, pelayanan dan pembinaan SDM. “Dipilihnya KPPBC Kudus menjadi KPPBC Madya merupakan suatu hal yang tepat mengingat kontribusi KPPBC kami cukup signifikan bagi penerimaan nasional, yaitu 22 persen. Namun pada sisi lain, kami seluruh pegawai di KPPBC Kudus memandang rencana pembentukan kantor tersebut merupakan suatu tantangan yang tidak ringan bagi kami,” ungkap Wijayanta. Lain halnya yang disampaikan oleh Barid Effendi selaku Kepala KPPBC Malang, menurutnya KPPBC Madya Cukai adalah sebuah tuntutan jaman dan konsekuensi peningkatan remunerasi yang telah diluncurkan dan telah dinikmati pegawai beberapa bulan ini. Dengan demikian, subtansi atau jiwa KPU mestinya secara simultan harus di8
WARTA BEA CUKAI EDISI 403 JUNI 2008

wujudkan atau paling tidak dikondisikan tanpa harus menunggu penetapan/pengukuhan sebagai KPU. Perwujudan atau pengkondisian tersebut meliputi peningkatan kualitas pelayanan dan integritas pegawai dengan orientasi kepada kepuasan FOTO-FOTO WBC/ATS pelayanan bagi stakeholder dan penegakan peraturan secara konsisten. “Kalau mengacu kepada subtansi dan jiwa KPU, menurut pandangan saya tidak ada kendala yang serius apabila Malang dijadikan sebagai KPPBC Madya Cukai, karena sebagian subtansi dan jiwa KPU itu sendiri telah terbangun di kantor Malang, hanya mungkin perlu penajaman dalam aktualisasinya,” kata Barid Effendi. Sementara itu menurut Kepala KPPBC Kediri, Iyan Rubianto, pembentukkan KPPBC Madya Cukai Kediri BARID EFFENDI. Pelayanan yang merupakan upaya dari diberikan harus inline dengan DJBC atas tututan reformapengawasan yang dilakukan.

DOK. PRIBADI

si birokrasi menuju good governance dan tuntutan profesionalisme dalam pelayanan. Dan, KPPBC Kediri sebagai kantor penghasil penerimaan cukai terbesar di Indonesia, tentunya akan berperan strategis dalam mewujudkan tuntutan tersebut.

KEBIJAKAN YANG DIJALANKAN
“Pada prinsipnya semua penyempurnaan regulasi di bidang cukai tidak dibedakan antara KPPBC Madya dan KPPBC lainnya, hanya saja insfrastruktur serta dukungan SDM yang handal di KPPBC lainnya yang mungkin belum mendukung untuk dilaksanakan secara penuh,” kata Frans Rupang. Lebih lanjut Frans Rupang menjelaskan, untuk bentuk pelayanan dan pengawasan yang akan dijalankan oleh KPPBC Madya Cukai, terdapat perbedaan yang signifikan. Untuk bidang pelayanan, digunakan manajemen risiko dengan memanfaatkan profil reksan barang kena cukai (BKC). Demikian halnya dengan pengawasan, dengan memanfaatkan profil tersebut akan dibedakan treatment masing-masing sesuai dengan tingkat risikonya, apakah low risk, medium risk, atau high risk. Satu hal yang juga penting adalah, pemanfaatan teknologi informasi akan dioptimalkan dalam pelayanan dan pengawasan di KPPBC Madya Cukai. Dan, posisi Direktorat Cukai tidak akan mengalami perubahan dalam menjalankan tupoksinya antara sebelum dan sesudah diberlakukannya KPPBC Madya Cukai, namun kegiatan yang sifatnya pelayanan yang masih dikerjakan di kantor pusat secara berangsur didesentralisasikan sepanjang dimungkinkan oleh ketentuan yang berlaku. Sementara itu menurut Ismartono, pada intinya tidak ada perbedaan pelayanan dan pengawasan baik untuk KPPBC maupun KPPBC Madya Cukai, namun pada KPPBC Madya Cukai lebih menekankan pada pelayanan cukai yang tentunya memberikan kontribusi yang cukup besar di dalam penerimaan cukai. Untuk itu diharapkan juga, KPPBC lain mampu meningkatkan kinerja pelayanan dan pengawasan sesuai kondisi yang ada di masing-masing kantor. “Titik berat pelayanan dan pengawasan tidak hanya terhadap pabrik rokok yang besar, yang biasa disebut empat besar di KPPBC Kudus, tetapi juga terhadap pabrik rokok golongan dibawahnya yang jumlahnya mencapai ratusan. Mereka harus tetap dibina dan diarahkan untuk bekerja sesuai prosedur yang benar, bagaimanapun juga mereka mempunyai potensi yang cukup besar. Potensi yang dimaksud disini adalah potensi penerimaan negara maupun penyerapan tenaga kerja,” terang Ismartono. Masih terkait dengan pelayanan dan pengawasan, menurut Wijayanta, pada KPPBC Madya Cukai akan ada beberapa pembenahan yang akan dilakukan. Dari sisi pelayanan, akan dilakukan perbaikan yang menyangkut, penyederhanaan sistem administrasi cukai, penyederhanaan sistem pencatatan dan pembukuan, optimalisasi otomasi dalam pelayanan cukai, dibentuknya client coordinator, dan layanan informasi juga standar waktu pelayanan. Dari sisi pengawasan, akan disusun suatu profil risiko dari pengusaha BKC, dimana profiling tersebut akan digunakan sebagai treatment dalam pengawasan dan pelayanan. Hal senada diungkapkan juga oleh Barid Effendi, pelayanan yang diberikan haruslah inline dengan pengawasan yang dilakukan, sehingga pada saat diberikan pelayanan, maka saat itu juga dilakukan pengawasan. Dengan kata lain, akan diwujudkan sistem pengawasan yang terintegrasi dengan sistem pelayanan. Sementara itu menurut Iyan Rubianto, sesuai dengan cetak biru dari KPPBC Madya Cukai, maka pelayanan yang diberikan akan lebih efisien, responsif, dan transparan. Profesionalisme berbasiskan teknologi informasi serta pengawasan berbasiskan manajemen risiko. “Intinya SDM di pelayanan dikurangi, diperbanyak di pengawasan, Karena kita akan menggunakan risk manajemen yang lebih mengintensifkan profiling dari BKC yang ada. Ini

dikarenakan wilayah kita yang cukup luas, untuk itu diperlukan banyak SDM di bidang pengawasan untuk memastikan apakah pesanan pita cukainya benar digunakan atau tidak,” ujar Ian Rubianto.

ASSESSMENT SDM
Dukungan teknologi informasi dan segala perangkat hukum juga kebijakan, tentunya tidak akan berjalan tanpa dukungan SDM yang profesional sebagaimana yang selama ini selalu didengungkan oleh KPU. WIJAYANTA. Penanggulangan BKC ilegal diharapkan dapat teratasi dengan di- Pembenahan SDM mulai dari peningkatan kemambentuknya KPPBC Madya Cukai Kudus. puan dan keterampilan hingga integritas terus dilakukan DJBC dengan cara assessment terhadap seluruh pegawai DJBC. Menurut Sidjabat, dalam pelayanan publik yang paling utama dilihat adalah manusianya, meskipun dalam tugas tersebut telah digunakan teknologi informasi yang begitu hebatnya, namun jika terjadi kegagalan maka manusianya lah yang menyebabkan kegagalan tersebut. “Dengan adanya teknologi informasi, pegawai seharusnya menjadi berkurang. Namun, dalam struktur organisasi ternyata berkembang dan bertambah menjadi beberapa kepala seksi. Satu hal lagi, pegawai yang ikut assessment adalah seluruh Indonesia, jadi tidak penting apakah dia belum pernah bertugas di cukai atau sudah, karena mereka sudah lulus akademik dan itu sudah bisa menunjukan prestasi,” kata Sidjabat. Hal ini diamini oleh Iyan Rubianto, menurutnya KPPBC Kediri sudah jauh-jauh hari mempersiapkan pegawainya untuk meningkatkan kemampuan, karena untuk penempatan pegawai di KPPBC Madya Cukai proses assessmennya diikuti oleh seluruh pegawai DJBC. “Saya sudah sampaikan hal ini kepada seluruh pegawai di KPPBC Kediri, kalau ternyata tidak ditempatkan kembali di sini jangan berkecil hati karena yang menentukan semuanya adalah kantor pusat. Ini adalah perubahan dan ini harus dihadapi, jadi jangan sampai kita kecewa. Dan saya pun belum pasti menjadi kepala KPU nya, yang penting kita sudah mempersiapkan,” ungkap Iyan Rubianto. Sementara untuk KPPBC Kudus, Wijayanta telah berusaha secara periodik melakukan sosialisasi melalui Program Pembinaan dan Keterampilan Pegawai (P2KP) tentang cetak biru dan konsep paper pembentukan KPPBC Madya Cukai. Hal ini dilakukan mengingat penyiapan SDM merupakan hal yang tidak mudah. Bahkan, KPPBC Kudus juga IYAN RUBIANTO. Kami juga mengkondi- telah meminta bantuan HRD dari PT. Pura untuk sikan kepada para pengusaha agar ikut melakukan training demensukseskan KPU.
EDISI 403 JUNI 2008 WARTA BEA CUKAI

9

LAPORAN UTAMA
ngan materi manajemen perubahan, pelayanan prima, kepemimpinan, dan sebagainya. “SDM memang menjadi kendala kita saat ini, karena wilayah pengawasan yang cukup luas terkadang menjadi penentu dalam keberhasilan penanggulangan BKC ilegal. Namun kami optimis dengan dijadikannya KPPBC Kudus menjadi KPU, dan penataan SDM dilakukan secara proporsional, kendala tersebut dapat diatasi,” tutur Wijayanta. Untuk penempatan SDM, KPPBC Madya Cukai memang berbeda dengan penempatan SDM dikala DJBC menerapkan Tanjung Priok sebagai KPU. Saat itu seluruh pegawai di KPU Tanjung Priok adalah wajah-wajah baru dan relatif masih muda. Untuk KPPBC Madya Cukai, penempatan SDM tidak seluruhnya baru, separuh mungkin saja pegawai baru, namun separuhnya adalah pegawai yang berasal dari KPPBC tersebut. Hal ini tentunya juga untuk kepentingan pelayanan dan pengawasan yang akan dilakukan oleh KPPBC Madya Cukai, bagi pegawai setempat yang lulus proses assessment tentunya akan tetap ditempatkan dan diharapkan menjadi motor penggerak pelayanan dan pengawasan yang selama ini telah mereka persiapkan jauh-jauh hari. Namun demikian, menurut Ketua Tim Percepatan Reformasi, Thomas Sugijata, membangun KPPBC Madya Cukai dan membangun gedung adalah suatu hal yang berbeda. Pada dasarnya platform pembentukan KPPPBC Madya didasarkan pada revitalisasi dan perubahan secara sistematik terhadap organisasi, SDM, sistem dan prosedur, dan didukung dengan remunerasi, dimana SDM merupakan faktor yang terpenting, baik dari sisi integritas, kompetensi, budaya kerja, maupun kepemimpinan. “Oleh sebab itu, hal utama yang harus dipenuhi dalam pembentukan KPPBC Madya adalah, struktur organisasi yang telah disesuaikan dengan visi, misi, tujuan, dan sasaran pembentukan KPPBC Madya dengan meyeimbangkan jumlah SDM dengan beban kerja serta adanya pemisahan tugas dan tanggung jawab yang jelas,” terang Thomas Sugijata. Lebih lanjut dijalaskan Thomas Sugijata, hal utama lainnya adalah, SDM yang kompeten, professional, dan berintegritas, serta memiliki komitmen dalam mengimplementasikan tatanilai dan budaya organisasi KPPBC Madya. Dan, sistem juga prosedur yang mengacu pada strategi dan sasaran yang telah ditetapkan, untuk memberikan pelayanan yang efisien dan pengawasan yang efektif.

PERSIAPAN SARANA DAN PRASARANA
Jika SDM telah disiapkan dan segala perangkat kebijakan juga telah ditetapkan, kini DJBC juga tengah mempersiapkan sarana dan prasarana bagi ketiga KPPBC yang akan menjadi KPPBC Madya Cukai. Penambahan sarana dan prasarana memang menjadi suatu keharusan, karena sebagai kantor dengan konsep pelayanan dan pengawasan yang modern, tentunya harus ditunjang dengan sarana dan prasarana yang lebih memadai. Menurut Wijayanta, untuk persiapan sarana dan prasarana di KPPBC Kudus tengah dilakukan renovasi gedung aula dan penambahan ruang pelayanan. Karena, untuk saat ini dari segi tampilan penataan ruangan dan ketersediaan prasarana yang ada bisa dikatakan belum ideal, dimana kondisi tersebut belum mampu menggambarkan sebuah gedung perkantoran yang modern. “Dalam rangka persiapan pembentukan KPPBC Madya Cukai Kudus, kami tengah mengupayakan untuk melakukan renovasi gedung, pengadaan meubeler dan pengadaan sarana kerja lainnya,” terang Wijayanta. Sementara itu di KPPBC Malang, persiapan sarana dan prasaran yang tengah dilakukan adalah mempersiapkan sarana penunjang baik yang bersifat sementara maupun permanen.”Untuk mewujudkan KPPBC Madya Cukai, secara ideal tentu saja sarana dan prasarana yang ada sekarang ini belum memadai, namun kondisi ini tidak menyurutkan semangat untuk mengkondisikan sub tansi atau jiwa KPU,” kata Barid. Untuk KPPBC Kediri persiapan sarana dan prasarana pun juga telah mereka lakukan, seperti membangun gedung baru yang diperkirakan selesai akhir Juli 2008. Sementara untuk sarana penunjang lainnya, seperti laptop dan komputer kendati jumlahnya masih relatif kurang, namun kesemuanya sedikit demi sedikit telah dipenuhi. Untuk penunjang pengawasan, juga telah ditambah kendaraan roda empat sebanyak tiga unit. “Itu untuk sarana dan prasarana, persiapan lainnya dari kami untuk menjadi KPPBC Madya Cukai, adalah pengkondisian budaya kerja meliputi penggunaan absensi elektronik, pelaksanaan bebas KKN, pelaksanaan lembar kontrol waktu pelayanan, dan sosialisasi kepada pengguna jasa,” ungkap Iyan Rubianto. Demikian halnya yang dilakukan oleh KPPBC Malang, selain mensosialisasikan kepada stakeholder tentang rencana implementasi KPPBC Madya Cukai, secara internal juga memperkenalkan kepada semua pegawai untuk menyikapi secara positif dan menumbuhkan kesadaran untuk ikut ambil peran dalam menyiapkan implementasi KPU. 10
WARTA BEA CUKAI EDISI 403 JUNI 2008

HARAPAN KPPBC MADYA CUKAI
Segala persiapan telah dilakukan, kini ketiga KPPBC hanya tinggal menunggu waktu penetapan menjadi KPPBC Madya Cukai. Banyak harapan yang diinginkan baik oleh pegawai maupun pengguna jasa dengan diimplentasikannya KPPBC Madya Cukai. “Kepada teman-teman di KPPBC dimohonkan untuk dipersiapkan segala sesuatunya berkaitan dengan pembentukan KPPBC Madya Cukai. Karena kesuksesan berjalannya KPPBC Madya Cukai adalah tanggung jawab bersama. Selama ini ada kesan bahwa kegiatan yang berkaiatan dengan cukai kurang mendapat perhatian sebagaimana kegiatan di bidang kepabeanan,” ujar Frans Rupang. Lebih lanjut Frans Rupang menyatakan, dengan adanya undang-undang nomor 39 tahun 2007 yang didukung dengan akan diterapkannya pengawasan dan pelayanan oleh KPPBC Madya, diharapkan performance KPPBC yang menangani cukai juga akan lebih baik dan dapat dibanggakan oleh DJBC dan masyarakat pada umumnya. Sementara Ismartono berharap, dengan dibentuknya KPPBC Madya Cukai akan diperoleh hasil yang lebih baik di dalam kegiatan pelaksanaan pelayanan dan pengawasan, serta terjalin komunikasi sinergi baik penguna jasa maupun instansi terkait lainnya yang dapat mendukung program reformasi di DJBC. Dan yang penting, DJBC tidak menghendaki adanya satu komponen pun yang dirugikan dengan adanya KPPBC madya Kudus. Untuk dua KPPBC di bawah jajaran Kantor Wilayah Jawa Timur II, Sidjabat berharap, agar program tersebut dijalankan dengan niat baik untuk berubah menjadi yang lebih baik. Walaupun perubahan tersebut menghasilkan suatu akibat, namun harus tetap dijalani dengan niat yang tulus dan ikhlas. Pelaksanaan penetapan KPPBC Madya Cukai, kini tinggal menunggu waktu saja. Pada waktu yang telah ditentukan nanti, seluruh perhatian tentunya akan terpusat kepada kebijakan DJBC untuk merubah dirinya menjadi institusi yang memiliki integritas tinggi dan berperan aktif dalam mewujudkan penyelenggaraan pelayanan dan pengawasan yang bebas KKN. Mampukah DJBC menjawab semua itu, dan mampukah KPPBC yang ditunjuk menjadi KPPBC Madya Cukai melaksanakan amanah negara dengan sebaikbaiknya? Kita semua berharap hal ini akan berjalan dengan lancar dan baik, sehingga citra DJBC di mata masyarakat akan semakin baik dan menjadi kebanggaan bagi negara ini. adi

PELAYANANNYA TIDAK DARI MEJA KE MEJA LAGI

P

Sistem pelayanan yang one stop service dimana kepengurusan dokumen yang transparan dan tidak lagi dari meja ke meja, adalah harapan dari para pengguna jasa jika Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Madya Cukai diberlakukan.

elayanan yang prima tanpa harus membebankan para pengusaha, adalah dambaan dari para pengusaha selama ini. Banyaknya birokrasi yang harus mereka jalani dan kurangnya sosialisasi akan peraturan yang ada, menyebabkan rasa kekhawatiran pengusaha akan salah dalam menjalankan kebijakan yang ada. Melihat kenyataan yang ada saat ini, dimana pelayanan cukai masih belum maksimal dan masih banyaknya keinginan dari para pengusaha hasil tembakau akan pelayanan dan pengawasan yang seharusnya dilakukan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) terhadap pelanggaran cukai, menjadikan semangat DJBC untuk melakukan reformasi di bidang cukai. Reformasi cukai yang dilakukan DJBC untuk menjawab tuntutan tersebut adalah dengan menjadikan tiga KPPBC penghasil penerimaan cukai terbesar, menjadi KPPBC Madya Cukai. Ketiga

KPPBC tersebut adalah, KPPBC Malang, dan Kediri, yang berada di bawah Kantor Wilayah Jawa Timur II, dan KPPBC Kudus yang berada di bawah Kantor Wilayah Jawa Tengah. Ketiga KPPBC Madya Cukai ini rencananya akan diberlakukan mulai Juli hingga September 2008 mendatang. Banyak hal yang sudah dilakukan DJBC untuk mengimplementasikan KPPBC Madya Cukai ini, mulai dari menyiapkan perangkat hukum dan kebijakannya, sarana dan prasarana sebagai kantor modern, hingga sosialisasi kepada para pengguna jasa akan pelayanan dan pengawasan yang nantinya dijalankan oleh KPPBC Madya Cukai. Dari beberapa kali sosialisasi yang dilakukan oleh ketiga KPPBC tersebut, secara garis besar pengguna jasa umumnya sangat antusias dijadikannya KPPBC tempat mereka mendapatkan pelayanan menjadi KPPBC Madya Cukai, hal ini dapat terlihat dari banyaknya harapan yang mereka gantungkan kepada KPPBC Madya Cukai yang dinilai akan mampu memberikan kepastian dalam persaingan bisnis, karena selama ini terganggu dengan maraknya peredaran rokok ilegal. Menurut Ketua Tim Percepatan Reformasi DJBC, Thomas Sugijata, manfaat yang dapat diperoleh pengguna jasa dari implementasi KPPBC Madya Cukai adalah dalam rangka memenuhi tuntutan pengguna jasa/pengusaha barang kena cukai, oleh sebab itu KPPBC Madya Cukai harus dapat menunjukan
WBC/ATS

KPPBC MADYA CUKAI. Diharapkan pelayanannya tidak menambah birokrasi seperti yang ada sekarang.

EDISI 403 JUNI 2008

WARTA BEA CUKAI

11

LAPORAN UTAMA
FOTO-FOTO WBC/ATS

inovasi baru untuk meningkatkan kinerja pelayanan dan pengawasan, yang meliputi beberapa hal, yaitu : 1. Adanya debirokratisasi sehingga proses pelayanan menjadi lebih praktis dan efisien, 2. Adanya penerapan aturan yang sederhana dan mudah dimengerti, 3. Adanya penyuluhan dan layanan informasi kepada pengguna jasa dalam rangka transparansi, pemahaman peraturan, dan untuk mendorong kepatuhan, 4. Adanya kepastian waktu dan kepastian biaya, 5. Adanya profesionalisme dan integritas pegawai dalam melakukan pelayanan kepada pengguna jasa, 6. Adanya disiplin dan tanggung jawab pegawai dalam melaksanakan pelayanan kepada pengguna jasa, 7. Adanya penerapan manajemen risiko dan pemanfaatan teknologi informasi dalam rangka mempercepat pelayanan dan peningkatan efektivitas pengawasan, 8. Adanya standar kerja pelayanan bagi pengguna jasa, 9. Adanya ukuran kinerja (KPI) bagi organisasi dan pegawai, 10. Adanya equal treatment untuk pengawasan dan pelayanan kepada seluruh pengguna jasa, dan, 11. Adanya koordinasi serta dukungan dari instansi yang terkait dengan tugas pokok dan fungsi DJBC.

dengan informasi kedatangan pita cukai. “Dari sisi pengawasan, para pengusaha rokok sangat berharap agar, KPPBC Madya Cukai Kudus, mampu menekan secara maksimal keberadaan rokok-rokok polos yang mereka pandang sangat merugikan kelangsungan usaha bagi pabrikkan yang benar-benar berproduksi secara legal,” tutur Wijayanta.

HARAPAN PENGUSAHA CUKAI
Dari sosialisasi yang dilakukan KPPBC menggambarkan banyaknya harapan ISMANU. Sebagai pengusaha yang yang diinginkan para baik tentunya harus taat terhadap pengusaha. Kondisi tersebut perubahan yang terjadi. tentunya bukan sekedar tuntutan yang berlebihan dari para pengusaha, tuntutan mereka adalah pelayanan dan pengawasan yang lebih ketat oleh KPPBC terhadap pengusaha dan rokok polos. Menurut Ketua Gabungan Pengusaha Pabrikan Rokok Indonesia (GAPPRI), Ismanu, dibentuknya KPPBC Madya Cukai, adalah jawaban DJBC terhadap tuntutan para pengusaha selama ini yang memang merasa masih membutuhkan peningkatan dan perhatian yang cukup serius. Masalah cukai adalah masalah nasional, untuk itu kebijakan yang dijalankan pun tentunya harus bersifat adil dan dapat memajukan para pengusaha, sesuai dengan Road Map tahun 2008 hingga 2010 yang telah disepakati antara pengusaha dengan DJBC. “Kami sepenuhnya mendukung dibentuknya KPPBC Madya Cukai, karena dengan itu kami dapat menggantungkan harapan kami setinggi-tingginya baik terhadap pelayanan maupun pengawasan. Sementara untuk sarana dan prasarana, kami tentunya akan mengikuti karena ini sudah menjadi kebijakan nasional dan sebagai pengusaha yang patuh kami juga akan menerapkannya walaupun mungkin untuk pengusaha kecil penerapannya akan berlangsung secara bertahap,” ungkap Ismanu. Masih menurut Ismanu, penerapan teknologi informasi untuk saat ini memang sudah menjadi suatu keharusan, namun demikian Asosiasi tidak dapat langsung meminta kepada para pengusaha rokok khususnya yang kecil, karena selain membutuhkan investasi juga dibutuhkan waktu untuk mempelajarinya. Sementara itu menurut Direktur Perusahaan Rokok Gandum Malang, Bambang Wahono, perusahannya menyambut gembira dengan diterapkannya KPPBC Malang menjadi KPPBC Madya Cukai, karena dari sosialisasi yang dilakukan, ternyata KPU memberikan pelayanan yang baik dan pengawasan yang lebih intensif, sehingga memberikan keuntungan bagi para pengusaha, walaupun pelayanan yang ada saat ini sudah berjalan baik. “Seperti adanya sistem pelayanan one stop service, dimana dalam mengurus dokumen kita tidak lagi dari meja ke meja, dan transparansi sehingga memberikan kenyamanan dan kepastian bagi kami pengusaha dalam menjalankan usaha. Untuk pengawasan, diharapkan akan lebih banyak menindak pabrik rokok polos yang selama ini cukup memberatkan kami,” kata Bambang Wahono. Satu hal yang juga Bambang harapkan pada KPPBC Madya Cukai, adalah kecepatan pihak KPPBC dalam mensosialisasikan peraturan yang baru, karena jika pengusaha telat menerima informasi kebijakan yang baru tersebut, mereka akan merasa tidak nyaman karena takut akan melanggar peraturan tersebut. Hal senada juga disampaikan oleh Direktur Perusahaan Rokok Semanggi Mas Sejahtera Kediri, Hj. Sulami, dengan dibentuknya KPPBC Kediri menjadi KPPBC Madya Cukai, pelayanannya pun diharapkan akan menjadi lebih baik, sehingga

SOSIALISASI DI KPPBC
Menurut Kepala KPPBC Malang, Barid Effendi, bagi pengusaha rokok yang patuh, selama ini tidak mendapatkan kendala yang berarti dalam mendapatkan pelayanan di KPPBC Malang, mereka umumnya sudah puas, sehingga terkait dengan rencana pembentukan KPPBC Madya Cukai Malang mereka masih belum tampak responnya. “Mereka lebih mengharapkan produk policy yang memberikan kepastian hukum dan kepastian berusaha dari pada sekedar kualitas pelayanan . Hal ini terkait dengan karakteristik/ sifat pelayanan cukai yang tidak begitu sensitif dengan waktu,” ujar Barid. Sementara itu menurut Kepala KPPBC Kediri, Iyan Rubianto, dari beberapa kali acara gathering baik berupa coffee morning maupun acara sosialisasi peraturan yang telah dilakukan KPPBC Kediri medio akhir 2007 dan awal 2008, para pengusaha rokok sangat antusias dengan adanya rencana KPPBC Madya Cukai ini. “Beberapa pendapat yang disampaikan mereka adalah, mengharapkan pelayanan yang lebih nyaman, mengharapkan transparansi, mengharapkan informasi yang sejelas-jelasnya atas usaha mereka, dan dengan adanya KPPBC Madya Cukai Kediri kelak, diharapkan mampu menjawab tantangan dari mereka,” kata Iyan Rubianto. Hal senada juga disampaikan oleh Kepala KPPBC Kudus, Wijayanta, sosialisasi yang dilakukan ternyata juga mendapat respon yang positif, seperti dari segi pelayanan, beberapa pengusaha rokok golongan I dan II mengharapkan dengan terbentuknya KPPBC Madya Cukai Kudus, pelayanan pita dapat dilakukan secara otomasi penuh (menyangkut pengajuan CK-1, CK-5, dan CK-8). Sedangkan tanggapan dari pabrikan golongan III, mereka mengharapkan dengan terbentuknya KPPBC Madya Cukai Kudus, kiranya dapat digunakan memperBAMBANG WAHONO. Sistem pelayanbaiki pelayanan pita cuan one stop service memberikan kenyakai, khususnya terkait manan dan kepastian bagi pengusaha. 12
WARTA BEA CUKAI EDISI 403 JUNI 2008

tidak dari meja ke meja seperti yang ada selama ini. “Dengan pengawasan yang dilakukan selama ini saya melihat sudah cukup ketat sehingga keuntungan saya mengalami peningkatan 20 persen. Nah, jika sudah menjadi KPPBC Madya Cukai, kami harapkan pengawasan akan lebih ketat lagi sehingga dapat lebih maksimal dalam menekan angka kebocoran. Kami memang tidak menuntut 100 persen dihilangkan, itu juga tidak mungkin, tapi kalau dari sekarang sudah cukup baik, tentunya nanti akan lebih baik lagi,” papar Hj. Sulami. Seharusnya Demikian halnya dengan DENNY WIDJANARKO.antara KPPBC dibangun komunikasi Perusahaan Rokok CV. TOP dengan pengusaha agar segala TEN Tajimas Cigaret penyelewengan dapat diminimalisasi. Manufacture, Kediri. Menurut Direktunya Denny Widjanarko, sebagai pengusaha dirinya sangat setuju dengan dibentuknya KPPBC Madya Cukai Kediri, karena dengan demikian keinginan pengusaha menjadi lancar dan tepat waktu dapat terwujud. “Dengan adanya KPPBC Madya Cukai Kediri, prinsipnya proses usaha kami di pabrik rokok ini bisa maju, karena didukung oleh pelayanan yang prima. Selama ini mungkin sistem DJBC belum tertata dengan baik, pastinya banyak pula kendala yang dihadapi. Contohnya, pita cukai telat, otomatis kita tidak bisa menjalankan aktifitas produksi,” kata Denny. Lebih lanjut Denny menjelaskan, dengan KPPBC Madya Cukai pelayanan akan menjadi cepat dan ada sinergi antara perusahaan dengan KPPBC, dimana perusahaan bisa mendapatkan keuntungan dari usahanya, dan KPPBC pun bisa mendapat target dari penerimaan yang diterapkan pemerintah. Terkait dengan maraknya rokok ilegal yang cukup mengganggu perusahaan rokok legal, Denny menilai untuk Kediri pengawasan sudah cukup baik, namun hal ini masih sangat sulit dihilangkan dari pasaran, selain itu teknik penyalagunaan pita cukai juga masih ada walaupun sedikit, hal ini dikarenakan adanya sinergi antara KPPBC dengan perusahaan rokok, sehingga dapat meredam maraknya rokok ilegal. “Saat ini yang perlu dibangun adalah komunikasi antara KPPBC khususnya unit P2 dengan perusahaan rokok, memang setiap laporan yang kita sampaikan selama ini ditindaklanjuti oleh KPPBC, namun permasalahannya sekarang kita harus jemput bola atau menunggu bola. Kalau kita pilih jemput bola, ya bagaimana caranya kita mengangkat penyelewengan itu agar dapat ditekan seminimal mungkin,” ujar Denny. Demikian halnya dengan perusahaan rokok di Malang, menurut Bambang Wahono, dengan tingkat profesionalitas pegawai di KPPBC Madya Cukai nanti, maka pelanggaran cukai seharusnya jauh lebih diminimalkan. Karena, kunci keberhasilan pemberantasan rokok ilegal berada pada keprofesionalan petugas KPPBC yang tentunya didukung oleh informasi dari perusahaan rokok.

DUKUNGAN TEKNOLOGI INFORMASI
Jika pelayanan yang diberikan dapat berjalan dengan prima dan memuaskan, tentunya dukungan teknologi yang memang akan diterapkan secara penuh oleh KPPBC Madya Cukai akan semakin meningkatkan kepuasan mutu pelayanan yang ada. Namun, tidak semua perusahaan rokok dapat secara langsung menerapkan teknologi informasi untuk dijalankan di perusahannya. Hal ini mengingat industri rokok merupakan industri yang

berskala kecil hingga besar sehingga membutuhkan persiapan yang cukup matang untuk menerapkan teknologi informasi tersebut. Selain itu, lebih banyaknya perusahaan rokok yang berskala kecil membuat penerapan teknologi akan sedikit terganggu karena harus dilakukan penyesuaian baik kemampuan maupun investasi dari perusahaanperusahaan tersebut. Namun hal ini sudah menjadi kebijakan nasional yang perlu didukung, apapun kendala yang akan ditemui KPPBC Madya Cukai maupun perusahaan rokok terhadap penerapan teknologi informasi, tentunya harus dihadapi sebagai tantangan untuk menuju kantor modern dengan pelayanan sempurna. Menurut Ismanu, penerapan teknologi informasi memang sangat tepat dan harus segera dijalankan, karena dengan otomasi pengawasan akan lebih efektif dan negara akan jauh lebih diuntungkan. “Saya sudah meminta kepada para anggota GAPPRI untuk mensukseskan penerapan teknologi informasi, walaupun sebagaian besar merasa keberatan karena harus menanamkan investasi baru dan keahlian khusus, saya tetap meminta mereka mengikutinya, karena pengusaha yang baik adalah pengusaha yang mau mengikuti perkembangan jaman dan taat akan segala peraturan yang tentunya akan membimbing kearah kemajuan,” papar Ismanu. Akan hal ini, Denny menambahkan, pihaknya secara bertahap akan menyesuaikan dengan kebijakan KPPBC Madya Cukai berupa penerapan teknologi informasi, karena menurutnya jika pihak perusahaan rokok tidak segera menyesuaikan, maka sampai kapanpun pelayanan tidak akan berubah. “Sudah saat nya teknologi diterapkan, dan kalau kita sudah gunakan pasti akan lancar. Memang konsekuensi dari perubahan adalah ongkos, tapi kalau kita tidak berubah ya kita akan seperti ini terus,” tutur Denny. Sama halnya dengan yang disampaikan oleh Hj. Sulami, menurutnya sebagai pengusaha kecil dirinya sangat setuju dengan konsep KPPBC Madya Cukai, dan peraturan yang ada sudah cukup mengakomodir pihak pengusaha kecil. Namun pihak pengusaha kecil juga menyayangkan karena tidak mempersiapkan diri sejak jauh-jauh hari, sehingga menjadi kaget dengan adanya kebijakan baru. “Sekarang ini ada aturan baru, misalnya otomasi penuh di KPPBC Madya Cukai, kami sangat kaget karena kami baru tahu, untungnya kami anggota asosiasi jadi kami bisa mengetahui aturan tersebut secara bertahap dan kami mulai mencoba untuk menerapkan apa yang sudah menjadi keharusan,” tegas Hj. Sulami. Harapan akan pelayanan dan pengawasan yang efekif dan efisien pastinya akan dijawab dengan implementasi KPPBC Madya Cukai. Kendati harus berkorban untuk kemajuan, para pengusaha pun cukup antusias menyambut datangnya kemajuan dan pemenuhan harapan tersebut. Kini tinggal DJBC menjawab itu semua dengan KPPBC Madya Cukai nya. Semuanya tinggal menunggu waktu saja. Juli hingga September 2008 adalah waktu yang ditunggu-tunggu oleh para pengusaha di bidang cukai, semua pun Hj. SULAMI. Sebagai pengusaha kecil berharap agar ini dapat cepat terlaksana dengan kami merasa kaget dengan adanya sebaik-baiknya. adi kebijakan baru.
EDISI 403 JUNI 2008 WARTA BEA CUKAI

13

WAWANCARA ANWAR SUPRIJADI
DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI
Atas dasar hal tersebut, KPU di bidang Cukai dirasakan perlu juga dikembangkan terutama karena potensi penerimaan negara di bidang ini cukup signifikan. Pada tahun 2007 realisasi penerimaan dari cukai mencapai 44,6 triliun rupiah (bandingkan dengan penerimaan BM 16,6 triliun rupiah). Apakah KPPBC Madya Cukai ini juga ada kaitannya dengan meningkatnya beban target penerimaan cukai yang dibebankan kepada DJBC? Untuk mencapai target penerimaan cukai tahun 2008, DJBC melakukan upaya optimalisasi melalui langkah-langkah yang bersifat adminitratif seperti pelayanan, audit, dan pengawasan. Sesuai dengan Road-Map Industri Hasil Tembakau, maka pada tahun 2008 – 2010 kebijakan cukai lebih diarahkan untuk mencapai kebutuhan penerimaan negara yang pasti. Salah satu instrumen yang digunakan adalah mengefektifkan pengawasan dengan menghilangkan rokok ilegal dan pita cukai palsu. Pembentukan KPPBC Madya Cukai yang merupakan perubahan sistemik terhadap organisasi, sistem dan prosedur, dan SDM dengan didukung implementasi budaya kerja baru, komitmen, dan kepemimpinan, ditujukan untuk mengoptimalkan fungsi utama DJBC sebagai penghimpun penerimaan, perlindungan masyarakat, fasilitator perdagangan, dan dukungan industri; memberikan pelayanan yang efisien, responsif, dan transparan berdasarkan prinsip good governance; meningkatkan hubungan kemitraan dan kepatuhan mitra kerja; dan mengefektifkan fungsi pengawasan. Target penerimaan merupakan salah satu indikator kinerja KPPBC Madya (KPI). Apa indikator keberhasilan dari KPPBC Madya Cukai ini? Sesuai dengan latar belakang dan tujuan pembentukannya, maka secara umum indikator keberhasilan dari KPPBC Madya Cukai adalah adanya peningkatan citra dan kinerja bagi institusi. Keberhasilan KPPBC Madya Cukai dalam mencapai tujuan sangat ditentukan oleh performance dari setiap unit yang berada dalam kantor pelayanan. Salah satu cara yang digunakan untuk me-maintain upaya peningkatan citra dan kinerja adalah dengan penerapan Key Performance Indicators (KPI). Secara akademis, KPI didefinisikan sebagai suatu ukuran/standar pekerjaan yang disepakati bersama untuk merefleksikan faktor-faktor yang penting dari suatu organisasi. KPI merupakan alat untuk mengukur kinerja kantor, baik secara organisasi maupun individu tiap pegawai. KPI merupakan salah satu bentuk pelaksanaan tatakelola pemerintahan yang baik, yang mengedepankan transparansi dan akuntabilitas. Oleh sebab itu, salah satu cara yang dapat dipakai adalah dengan mensosialisasikan dan mempublikasikan pencapaiannya terutama secara internal kepada seluruh pegawai pada KPPBC Madya Cukai dan jajaran pimpinan DJBC, serta dapat juga secara eksternal kepada seluruh stakehloders. Karenanya, selain sebagai alat pengukuran kinerja kantor, KPI juga sekaligus dimanfaatkan sebagai acuan dan motivasi kerja bagi semua komponen kerja dan pegawai dalam KPPBC Madya Cukia untuk mencapai standar yang sudah ditetapkan tersebut. Pelaksanaan survei oleh pihak eksternal merupakan hal yang tidak kalah penting, terlebih pembentukan KPPBC Madya Cukai ini merupakan jawaban atas tuntutan para pengguna jasa terhadap peningkatan citra dan kinerja DJBC. Untuk KPU Tanjung Priok dan Batam, survei oleh pihak eksternal dilakukan oleh HayGroup untuk mengukur persepsi kepuasan pengguna jasa terhadap kinerja kantor. Survei dilaksanakan sebelum implementasi KPU, kemudian enam bulan setelah implementasi, dan setelah itu direncanakan akan dilaksanakan secara periodik. Selain itu, survei juga dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi dan Universitas Indonesia. Mengapa dipilih KPPBC Malang, Kediri, dan Kudus untuk menjadi KPPBC Madya Cukai? Ada beberapa kriteria yang digunakan untuk menentukan KPPBC yang akan ditransformasikan menjadi KPPBC Madya, antara lain: karakteristik proses bisnis pelayanan dan pengawasan, jumlah dokumen, jumlah pengguna jasa, jumlah

“INDIKATOR KEBERHASILAN KPPBC MADYA CUKAI ADALAH ADANYA PENINGKATAN CITRA DAN KINERJA BAGI INSTITUSI”
Satu program reformasi yang kini tengah menunggu penetapan waktunya adalah peresmian tiga Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) menjadi KPPBC Madya Cukai. Kantor pelayanan dan pengawasan dengan konsep modern yang menitikberatkan pada cukai ini, secara resmi akan berjalan mulai Juli hingga Agustus 2008 mendatang. KPPBC Malang, Kediri, dan Kudus yang merupakan sentra penerimaan cukai, diharapkan menjadi kantor acuan bagi pelayanan cukai, karena secara modern kantor ini selain akan memberikan kepuasan pelayanan kepada seluruh pengusaha barang kena cukai, juga akan menjadikan pengawasan sebagai ujung tombak penerimaan negara dari cukai. Bagaimana latarbelakang terbentuknya KPPBC Madya Cukai ini, dan mengapa ketiga KPPBC saja yang menjadi KPPBC Madya Cukai, juga apa keunggulan KPPBC Madya Cukai dibandingkan dengan KPPBC yang juga memiliki reksan cukai, berikut ini WBC mewawancarai Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Anwar Suprijadi untuk mengetahui apa sebenarnya yang diinginkan DJBC dengan adanya KPPBC Madya Cukai tersebut, berikut petikan wawancaranya :
Bisa dijelaskan, apa yang melatarbelakangi terbentuknya KPPBC Madya Cukai? Sesuai dengan tuntutan masyarakat dunia usaha, DJBC harus melakukan peningkatan citra dan kinerja pelayanan dan pengawasan, baik di bidang Kepabeanan maupun Cukai. KPU di bidang Kepabeanan telah dibentuk pada tahun 2007 di Tanjung Priok dan Batam. Survei persepsi kepuasan pengguna jasa oleh HayGroup di Tanjung Priok dan Batam menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan karena adanya peningkatan dalam beberapa aspek, antara lain menyangkut pelayanan, integritas dan profesionalisme pegawai, fasilitasi, pemeriksaan fisik, layanan informasi, dan audit. 14
WARTA BEA CUKAI EDISI 403 JUNI 2008

EDISI 403 JUNI 2008

WARTA BEA CUKAI

15

WAWANCARA
penerimaan, luas daerah (wilayah) pengawasan, dan nilai strategis. Untuk KPPBC Madya Cukai, jika dilihat dari sisi penerimaan, berdasarkan data penerimaan tahun 2006, KPPBC Kediri, Kudus, dan Malang menyumbang penerimaan cukai dengan komposisi masing-masing -/+ 35%, 23%, dan 11% (kantor lainnya 31%). Jumlah reksan cukai yang dibina dan dilayani pada KPPBC Kediri mencapai 274 pengusaha, KPPBC Kudus 1540 pengusaha, dan KPPBC Malang 315 pengusaha. Bagaimana dengan SDM yang akan ditempatkan pada KPPBC Madya Cukai nanti, apakah juga dilakukan assessment? Baik pada KPU maupun KPPBC Madya, pegawai harus memiliki komitmen yang kuat untuk memberantas lingkungan kerja dari KKN, memiliki komitmen dalam memberikan pelayanan prima di bidang kepabeanan dan cukai, memiliki integritas yang tinggi, dan mengutamakan kepentingan institusi DJBC. Sesuai dengan tuntutan dan beban kerjanya, maka pegawai KPU dan KPPBC Madya juga harus memiliki dedikasi dan sikap profesional dalam menjalankan tugasnya. Itulah sebabnya, untuk menjaring pegawai yang memiliki kualifikasi seperti yang telah disebutkan, dilakukanlah assessment test yang dilakukan oleh lembaga independen untuk menjamin obyektivitas dan transparansi dalam seleksi pegawai. Secara prinsip, seluruh SDM yang ditempatkan pada KPU maupun KPPBC Madya harus melalui proses assessment. Beberapa waktu yang lalu, bekerjasama dengan P3M Universitas Indonesia, proses assessment sudah dilaksanakan dengan mewajibkan para pegawai pada KPPBC yang akan ditransformasikan menjadi KPPBC Madya, yang belum pernah mengikuti assessment sebelumnya, untuk mengikutinya, serta secara terbuka kepada seluruh pegawai yang berminat untuk menjadi pegawai KPPBC Madya. Bagaimana dengan sarana prasarana pendukung KPPBC Madya Cukai, apakah sudah cukup memadai? Sampai dengan saat ini, terhadap sarana prasarana pendukung dalam rangka pembentukan KPPBC Madya Cukai terus dilakukan optimalisasi. Beberapa diantaranya dilakukan melalui proses pengadaan barang dan jasa yang dalam prosesnya harus mematuhi ketentuan perundangan-undangan yang berlaku. Namun secara umum, sarana prasarana pendukung yang dimiliki oleh KPPBC saat ini sudah cukup memadai. Langkah optimalisasi yang dilakukan adalah dalam rangka modernisasi kantor, estetika, dan peningkatan kapasitas kerja. Apakah dengan adanya KPPBC Madya Cukai ini akan menjamin tidak akan terjadinya kebocoran penerimaan cukai? Pembentukan KPPBC Madya Cukai dilatarbelakangi adanya tuntutan terhadap institusi DJBC, baik dari internal maupun eksternal, untuk melakukan peningkatan citra dan kinerja, melakukan reposisi tugas dan fungsi DJBC, serta turut berperan serta dalam penyelenggaraan negara yang bersih dan bebas KKN. Pelaksanaan tugas yang dilakukan oleh KPPBC sangat terkait dengan pihak-pihak dan instansi terkait, antara lain Pemerintah Daerah dan Dinas Perindustrian. Oleh sebab itu, upaya perubahan yang dilakukan melalui pembentukan KPPBC Madya Cukai harus diiringi dengan upaya reformasi dari pihak-pihak dan instansi tersebut. Yang tidak kalah penting, para reksan cukai juga harus melakukan perubahan untuk mendukung upaya perbaikan kinerja yang dilakukan oleh DJBC. Reformasi membutuhkan kedua belah pihak untuk berubah: yang melayani dan yang dilayani. Oleh sebab itu, upaya yang dilakukan DJBC melalui pembentukan KPPBC Madya Cukai harus didukung dengan perilaku pengguna jasa yang produktif dan positif. Perilaku ini juga termasuk melakukan pengawasan terhadap kinerja DJBC secara fair, konstruktif, dan berkesinambungan. Sejalan dengan Road-Map Industri Hasil Tembakau yang telah disepakati oleh pemerintah dan para pengusaha, untuk kurun waktu tahun 2008 – 2010 reformasi dibidang cukai lebih diarah16
WARTA BEA CUKAI EDISI 403 JUNI 2008

kan untuk mencapai kebutuhan penerimaan negara yang pasti. Oleh sebab itu, salah satu instrumen yang digunakan oleh KPPBC adalah menghilangkan rokok ilegal dan pita cukai palsu. Karena road-map ini merupakan hasil kesepakatan bersama, tentunya secara paralel masyarakat usaha harus mendukung upaya ini dengan melakukan perbaikan dan berbagai upaya proaktif. Menurut Bapak bagaimana tanggapan dari para pengusaha dengan adanya KPPBC Madya Cukai? Sebaiknya ditanyakan langsung ke pengusaha. Tetapi, dari beberapa informasi, mereka sangat mendukung KPPBC Madya Cukai. Jika KPPBC Madya Cukai dengan segala peraturannya yang ketat telah diterapkan, apakah para pengusaha rokok kecil akan siap? Secara bertahap, terhadap para pengusaha, baik kecil maupun besar, telah mulai dilakukan sosialisasi oleh masing-masing KPPBC untuk memberikan pemahaman dan awareness kepada mereka terhadap implementasi KPPBC Madya Cukai. Kegiatan sosialisasi ini secara bertahap dan berkesinambungan akan terus dilakukan menjelang penerapan KPPBC Madya Cukai. Saat implementasinya nanti, secara formal unit Penyuluhan dan Layanan Informasi akan menangani hal ini dengan melakukan pembinaan dan sosialiasi secara pasif dan proaktif berdasarkan segmentasi pengusaha. Bagaimana dengan penyederhanaan sistem administrasi cukai dalam KPPBC Madya Cukai? Dari hasil survei yang dilakukan, diidentifikasi bahwa mayoritas pengusaha BKC membutuhkan administrasi cukai yang sederhana, yang antara lain meliputi pengisian yang mudah, jumlah yang tidak terlalu banyak, dan frekuensi pelaporan yang tidak terlampau sering. Untuk menjawab hal itu, beberapa upaya yang dilakukan melalui pembentukan KPPBC Madya Cukai adalah dengan menyatukan dan menyempurnakan format dokumen mutasi BKC, menyederhanakan sistem pencatatan dan pembukuan, melakukan penyempurnaan buku rekening, dan menyederhanakan pelaporan. Untuk mendukung hal tersebut, dilakukan optimalisasi pemanfaatan teknologi informasi dengan melakukan otomasi serta mengembangkan dan menyempurnakan sistem aplikasi pelayanan cukai. Saat ini definisi cukai adalah barang yang dibatasi peredarannya, namun disisi lain juga merupakan penerimaan negara yang masih sangat dibutuhkan. Dengan adanya KPPBC Madya Cukai apakah filosofi cukai akan diterapkan secara nyata yaitu membatasi peredarannya? Secara filosofis, menurut Undang-Undang Cukai Nomor 39 tahun 2007, Barang Kena Cukai (BKC) adalah barang-barang tertentu yang mempunyai sifat atau karakteristik: konsumsinya perlu dikendalikan, peredarannya perlu diawasi, pemakaiannya dapat menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat atau lingkungan hidup, dan pemakaiannya perlu pembebanan pungutan negara demi keadilan dan keseimbangan. Jadi, tanpa penerapan KPPBC Madya Cukai pun sebenarnya esensi dari pengenaan cukai adalah pembatasan konsumsi dan pengawasan peredaran BKC. Penerimaan negara dari sektor cukai merupakan “konsekuensi” dari pengenaan cukai terhadap BKC. Apa harapan Bapak dengan adanya KPPBC Madya Cukai? KPPBC Madya Cukai diharapkan dapat melaksanakan fungsi pengawasan dan pelayanan cukai secara prima dengan membangun kepatuhan baik secara internal maupun eksternal DJBC. Pada kesempatan yang baik ini saya menyampaikan terima kasih kepada Bapak Presiden, Ibu Menteri Keuangan, Tim Prakarsa, Tim Percepatan Reformasi DJBC, stakeholders, seluruh jajaran DJBC, dan para senior DJBC yang telah mendukung pelaksanaan reformasi DJBC.

CUKAI
FOTO-FOTO WBC/ATS

TANYA JAWAB. Untuk memberikan kesempatan para peserta menanyakan seputar permasalahan dan persoalan yang dihadapi pelaku usaha barang kena cukai.

PENDETEKSIAN PITA CUKAI DAN PENGAWASAN DI BIDANG CUKAI

SOSIALISASI
Berkaitan dengan peraturan, perijinan dan pengawasan di bidang cukai

B

ertempat di Auditorium Gedung B, Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC), sosialisasi pendeteksian pita cukai dan pengawasan di bidang cukai dilaksanakan, tepatnya pada 30 April 2008. Sosialisasi yang diperuntukkan kepada para pengusaha dan distributor barang kena cukai ini dilakukan seiring dengan telah terbitnya desain pita cukai tahun 2008, baik untuk pita cukai hasil tembakau, pita cukai minuman mengandung etil alkohol (MMEA) maupun label tanda pengawasan cukai. Acara sosialisasi dihadiri para pejabat di lingkungan DJBC antara lain Direktur Cukai, Frans Rupang, Direktur Penerimaan dan Peraturan Kepabeanan dan Cukai (PPKC), Hanafi Usman, Direktur Penindakan dan Penyidikan (P2), Jusuf Indarto dan beberapa pejabat dari Direktorat Cukai, perwakilan dari Perum Peruri sebagai pencetak pita cukai, perwakilan dari PT Pura selaku pembuat hologram pita cukai, kalangan asosiasi pengusaha hasil tembakau antara lain Ismanu Sumiran dari Gabungan Perusahaan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Muhaimin Moeftie dari GAPRINDO dan perwakilan dari pengusaha hasil tembakau maupun MMEA serta para distributornya. Sosialisasi dibuka oleh Direktur PPKC, Hanafie Usman mewakili Direktur Jenderal (Dirjen) Bea dan Cukai untuk menyampaikan pidato sambutan Dirjen. Dalam sambutannya secara garis besar disampaikan sebuah harapan, melalui sosialisasi bisa dijadikan sebagai momen menyatukan gerak dan langkah DJBC bersama dengan para peserta yang hadir

dalam sosialisasi ini yang merupakan pihak-pihak yang terkait dengan usaha di bidang cukai dalam upaya menanggulangi dan mencegah peredaran barang kena cukai ilegal dan penggunaan pita cukai palsu yang semakin hari semakin marak bahkan cenderung mengkhawatirkan. DJBC merupakan salah satu unsur pelaksana tugas pokok dan fungsi Departemen Keuangan di bidang Kepabeanan dan Cukai yang salah satu fungsinya adalah mengawasi barang-barang tertentu yang dalam hal ini disebut barang kena cukai yang terdiri dari Hasil Tembakau, MMEA dan Etil Alkohol yang memiliki sifat konsumsi perlu dikendalikan maupun perlu diawasi peredarannya yang mana pemakaiannya dapat menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat atau lingkungan sehingga pemakaiannya perlu dibebani pungutan negara demi keadilan dan keseimbangan. Pungutan negara tentang cukai yang harus dilunasi tersebut dapat dilakukan dengan salah satu cara yaitu dengan

SOSIALISASI. Untuk memberikan pengetahuan kepada pelaku dunia usaha terkait dengan rangkaian produksi dan distribusi dan penjualan barang kena cukai terhadap desain pita cukai khususnya 2008 dan ketentuan terkait perijinan dan pengawasan di bidang cukai. EDISI 403 JUNI 2008 WARTA BEA CUKAI

17

DAERAH KE DAERAH
pelekatan pita cukai sehingga fungsi pita cukai selain sebagai bukti pelunasan cukai juga untuk pengamanan serta pengawasan baik oleh pegawai bea cukai, masyakarat, maupun pengusaha dan unsur terkait. Dilapangan terdapat beberapa modus yang digunakan dalam praktek peredaran barang kena cukai illegal dan penggunaan pita cukai palsu. Antara lain menjual barang kena cukai dengan tanpa dilekati pita cukai, dilekati pita cukai palsu, dilekati pita cukai yang bukan haknya, serta dilekati pita cukai yang tidak sesuai dengan jenis dan golongan barang kena cukai. Maraknya barang kena cukai illegal dan penggunaan pita cukai palsu tersebut, telah menimbulkan kerugian penerimaan negara maupun dampaknya dirasakan bagi pengusaha yang selama ini taat pada peraturan. Untuk itu menjadi tanggung jawab bersama untuk menanggulangi dan mencegahnya sehingga apa yang diharapkan dalam sistem persaingan usaha yang sehat dan tercapainya target penerimaan cukai bisa tercapai. Tujuan pelaksanaan sosialisasi ini adalah untuk memberikan pengetahuan atau pemahaman kepada pelaku dunia usaha yang terkait dengan rangkaian produksi dan distribusi dan penjualan barang kena cukai terhadap desain pita cukai khususnya 2008 dan ketentuan terkait perijinan dan pengawasan di bidang cukai. Desain pita cukai dimaksud meliputi desain pita cukai hasil tembakau, MMEA impor, dan label tanda pengawasan cukai untuk hasil tembakau dan MMEA yang dijual di toko bebas bea (duty free). Dalam sosialisasi ini peserta diberikan brosur contoh desain pita cukai tahun 2008 untuk tembakau dan MMEA serta label tanda pengawasan cukai untuk hasil tembakau dan MMEA. Peserta sosialisasi juga dijelaskan mengenai cara memperoleh pita cukai maupun label tanda pengawasan cukai untuk hasil tembakau maupun MMEA, cara mengetahui ciri-ciri pita cukai asli, termasuk atas penyalahgunaan pita cukai maupun label tanda pengawasan cukai. Setelah dilakukan penjelasan kepada para peserta dilanjutkan dengan tanya jawab yang dipimpin langsung oleh Direktur Cukai, Frans Rupang seputar permasalahan peraturan, perijinan di bidang cukai. Sedangkan mengenai pengawasan di bidang cukai yang dilakukan oleh Direktorat P2 disampaikan secara langsung oleh Direktur P2, Jusuf Indarto. ris 18
WARTA BEA CUKAI

7,215 GRAM. Kakanwil Jawa Timur I, Jasman Sutedjo (ketiga dari kiri) saat press release menunjukan shabu-shabu sebedar 7,215 gram yang berhasi ditegah.

PENEGAHAN 7215 GRAM SABU
OLEH KPPBC TIPE A2 JUANDA
Tim Operasi Pengawasan Narkotika dan Psikotropika Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe A2 Juanda bersama dengan Petugas P2 Kanwil DJBC Jawa Timur I, Minggu, 4 Mei 2008 pukul 19.20 WIB berhasil melakukan penegahan terhadap 7.215 (tujuh ribu dua ratus lima belas) gram sabu yang dibawa oleh dua orang warga negara Taiwan yang menumpang pesawat Cathay Pacific dengan nomor penerbangan CX-781 dari Hongkong tujuan Surabaya.

K

eberhasilan penegahan psikotropika jenis sabu kali ini merupakan kali kedua yang dilakukan oleh KPPBC Juanda pada tahun 2008 ini. Sebelumnya pada tanggal 2 Maret 2008, bersama tim Customs Narkotics Team (CNT) Direktorat P2 berhasil menegah 12,52 gram sabu yang dibawa oleh seorang laki-laki warga negara Indonesia kelahiran Fujian, China, bernama Kong Hua Siung, juga penumpang pesawat Cathay Pacific dengan nomor penerbangan CX-781 dengan rute Hongkong tujuan Surabaya dengan modus disembunyikan dalam lipatan celana dalam yang dijahit rapi. Rute penerbangan pesawat Cathay Pacific dari Hongkong tujuan Surabaya merupakan rute penerbangan yang mendapat perhatian khusus dari Tim Operasi pengawasan Narkotika dan Psikotropika KPPBC Juanda. Tren peredaran psikotropika jenis sabu sejak unifikasi Hongkong ke Cina, dimana sebagian besar sabu berasal dari Cina yang bisa ditempuh dengan jalur darat dari Hongkong, sehingga semakin memudahkan jalur peredaran sabu ke Indonesia, termasuk ke Surabaya melalui Bandara Internasional Juanda. Kepala KPPBC Juanda, Argandiono menyatakan bahwa keberhasilan anak buahnya dalam penangkapan tersebut murni karena operasi rutin yang dilakukan bersama dengan Petugas P2 Kanwil DJBC Jawa Timur I dan bukan karena adanya informasi khusus. Masih menurut Argandiono, keberhasilan KPPBC Tipe A1 Soekarno Hatta yang sering menangkap penyelundupan shabu-shabu menjadi motivasi jajarannya untuk dapat melakukan hal serupa, mengingat modus operandi yang dipakai di Bandara Soekarno Hatta sangat mungkin terjadi di Bandara Juanda, yaitu menggunakan penerbangan Cathay Pasific yang berasal dari Hongkong. Penegahan psikotropika jenis sabu ini berawal dari kecurigaan petugas Bea Cukai terhadap dua buah koper penumpang pada mesin X-Ray bagasi. Selanjutnya koperkoper tersebut diberi tanda untuk dilakukan pemeriksaan lebih mendalam oleh petugas

EDISI 403 JUNI 2008

pada X-Ray Hand Carry. Dan kecurigaan petugas semakin bertambah dengan analisa profil kedua pemilik tas pada saat akan pemeriksaan barang bawaan mereka, dimana kedua orang tersebut sempat marah-marah dan melarang petugas untuk membuka tasnya dengan alasan ada barang yang merupakan titipan dari seseorang di Hongkong. Kemudian petugas melakukan X-Ray ulang terhadap kemasan makanan yang diambil dari tas kedua penumpang tadi untuk lebih meyakinkan bahwa didalam kemasan makanan tersebut ada sesuatu yang disembunyikan. Kecurigaan petugas ternyata terbukti, kedua penumpang tadi lalu dibawa ke ruang pemeriksaan Bea dan Cukai untuk pemeriksaan badan dan pemeriksaan lebih mendalam menggunakan Narkotest terhadap barang yang ada di dalam kemasan makanan tadi. Hasilnya dari tas penumpang bernama HSU JUI-HUA (45 tahun), warga negara Taiwan dengan nomor passport 130849153 ditemukan 11 (sebelas) kantong sabu dengan berat 2,705 Kg, serta 18 (delapan belas) kantong sabu dengan berat 4,510 Kg dari tas penumpang bernama YANG KUANG-FU (57 tahun) warga negara Taiwan dengan nomor passport 215656533, sehingga total berat Shabu yang ditegah seberat 7,215 Kg dengan perkiraan nilai barang sebesar 8,55 milyar rupiah. Terhadap kedua tersangka dilakukan pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui penerima barang, namun tidak ada keterangan berarti yang bisa diperoleh karena diduga kedua tersangka merupakan anggota sindikat peredaran narkotika internasional, sehingga mereka menggunakan sistem peredaran berantai yang sangat rapi. Dari hasil pemeriksaan lanjutan diperoleh pengakuan tersangka bahwa mereka hanya diupah 2,5 juta rupiah per orang untuk membawa barang tersebut masuk ke Indonesia melalui Surabaya dan dari passport keduanya memang menunjukkan bahwa ini adalah kali pertama kedua orang tersebut masuk Indonesia melalui Bandara Internasional Juanda. Pada hari Senin 5 Mei 2008 Pukul 08.00 WIB, Tim Operasi Pengawasan Narkotika dan Psikotropika KPPBC Juanda berkoordinasi dengan Polda Jatim ( DIT. Narkoba), bertempat di Aula KPPBC Juanda melakukan acara jumpa pers dengan para wartawan media cetak dan elektronika sekaligus penyerahan tersangka Hsu Jui-Hua dan Yang Kuang-Fu serta barang bukti sabu. Penyerahan tersebut dilakukan oleh Argandiono, Kepala Kantor KPPBC Tipe A2 Juanda kepada pihak Kepolisian Republik Indonesia Daerah Jawa Timur yang diwakili oleh AKBP. Djoko Hariutomo, Kasat II Dit. Reskoba Polda Jawa Timur dengan untuk ditindak lanjuti proses hukumnya. Jumpa pers dan serah terima tersangka dan barang bukti tersebut dihadiri oleh Kepala Kantor Wilayah DJBC Jawa Timur I, Djasman Sutedjo, Kabid P2 Kantor Wilayah DJBC Jawa Timur I, H.B. Wicaksono, Direktur Narkoba Polda Jawa Timur, Kombes. (Pol). Coki Manurung, Kepala Pusat Pengendali Operasi BNP Jawa Timur, Brigjen (Pol) Tommy Sagiman, dan Komandan Pangkalan Udara Angkatan Laut (Danlanudal) Juanda, Kol.Laut (P) Trikora Harjo beserta jajaran. Pada kesempatan tersebut Kepala Kantor Wilayah DJBC Jawa Timur I menggaris bawahi perlunya koordinasi antara petugas Bea dan Cukai dengan instansi terkait dalam penanganan narkotika dan psikotropika seperti Kepolisian dan BNN serta instansi yang berada dalam lingkup Bandara Internasional Juanda yaitu Angkatan Laut dalam hal ini Lanudal Juanda. Di akhir jumpa pers, Kakanwil menambahkan perlunya peningkatan pengadaan peralatan pendukung yang lebih canggih karena ke depan bandara internaFOTO-FOTO : DOK. KPPBC JUANDA sional Juanda sangat dimungkinkan menjadi tujuan utama pemasukan narkoba, mengingat semakin ketatnya pengawasan melalui Bandara Soekarno-Hatta di Jakarta dan Ngurah Rai di Bali. Semoga dengan dorongan dan semangat yang tinggi, para petugas Bea dan Cukai dimanapun berada lebih meningkatkan kinerjanya secara professional sehingga dapat meningkatkan citra Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. BARANG BUKTI. Shabu-shabu yang berhasil ditegah petugas KPPBC
Juanda, saat diperlihatkan sebagai barang bukti.

KUNJUNGAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI KE KANWIL DJBC JAWA TIMUR I
Kedatangan Dirjen Merupakan wujud penghargaan dari para pimpinan di Kantor Pusat kepada pegawai yang mampu memberikan prestasi dan kebanggaan pada Direktorat.

K

(Mujiono/ADI)

eberhasilan petugas Bea dan Cukai Bandara Internasional Juanda bersama Tim Operasi Pengawasan Narkotika dan Psikotropika KPPBC Tipe A2 Juanda melakukan penegahan 7.215 (tujuh ribu dua ratu lima belas) gram psikotropika jenis metampethamin (sabu) yang dibawa oleh dua orang warga negara Taiwan, masing-masing bernama HSU JUI-HUA (45 tahun), yang membawa 11 (sebelas) kantong sabu dengan berat 2705 gram serta YANG KUANG-FU (57 tahun) membawa 18 (delapan belas) kantong sabu dengan berat 4510 gram, mendapat apresiasi luar biasa dari Dirjen Bea dan Cukai, Anwar Suprijadi. Bersama Direktur Penindakan dan Penyidikan, Jusuf Indarto. Dirjen menyempatkan diri untuk datang memberikan ucapan selamat kepada para petugas KPPBC Tipe A2 Juanda. Selasa, tanggal 6 Mei 2008, bertempat di ruang aula KPPBC Tipe A2 Juanda, Kepala Kantor, Argandiono bersama pejabat eselon IV dan para pegawai di lingkungan KPPBC Juanda menerima kedatangan Dirjen bersama Direktur P2. Pada kesempatan ini Kepala Kantor melaporkan kronologis penegahan sabu tersebut kepada Dirjen. Dalam pengarahan singkatnya Direktur Jenderal mengatakan bahwa tujuan utama kedatangannya adalah untuk memberikan ucapan selamat dan memberikan motivasi tambahan agar para pegawai Bea Cukai khususnya di Juanda terus berusaha lebih meningkatkan kinerja, apalagi dalam memerangi peredaran narkotika dan psikotropika. Ditambahkan lagi, kedatangan Dirjen merupakan wujud penghargaan dari para pimpinan di pusat kepada para pegawai yang mampu memberikan prestasi dan kebanggaan pada direktorat.
WARTA BEA CUKAI

EDISI 403 JUNI 2008

19

DAERAH KE DAERAH
FOTO-FOTO : DOK. KPPBC JUANDA

UCAPAN SELAMAT. Dirjen Bea dan Cukai, Anwar Suprijadi, memberikan selamat kepada petugas KPPBC Juanda yang berhasil menegah masuknya shabu-shabu seberat 7,126 gram.

ENAM KONTAINER. Petugas KPPBC Tanjung Perak berhasil mengagalkan upaya ekspor kayu ilegal sebanyak enam kontainer.

“Sebenarnya kami sangat sibuk, namun karena ini adalah hal yang sangat penting, saya langsung ijin kepada Ibu Menteri dan beliau juga menitip salam” lanjut Anwar. Pada acara yang dihadiri oleh Kakanwil DJBC Jawa Timur I, Djasman Sutedjo dan Kabid P2, H.B. Wicaksono, Kepala KPPBC Tanjung Perak, Agus Sudarmaji, Kepala KPPBC Gresik yang diwakili oleh Soeharno dan Kepala KPPBC Pasuruan, Basuki Aribawa, juga diberikan piagam penghargaan dari Kepala Kepala Kantor Wilayah DJBC Jawa Timur I kepada 6 orang pegawai KPPBC Tipe A2 Juanda dan 1 orang pegawai Kanwil DJBC Jawa Timur 1 yang secara langsung terlibat dalam penegahan sabu tersebut. Pemberian piagam penghargaan tersebut juga direspon oleh Dirjen dengan langsung memberikan insentif kepada 7 (tujuh) orang pegawai yang berhasil menggagalkan penyelundupan 7,215 Kg sabu. Dalam kunjungan singkat di KPPBC Tipe A2 Juanda tersebut, Direktur Jenderal bersama Direktur P2 juga menyempatkan untuk meninjau anjing pelacak dan wisma pawang anjing pelacak yang

berada di belakang gedung kantor sebelum melanjutkan kunjungan dan kegiatan ke Kantor Wilayah DJBC Jawa Timur I.

HASIL TEGAHAN
Di Kantor Wilayah DJBC Jawa Timur I, Direktur Jenderal bersama Direktur P2 didampingi oleh Kakanwil DJBC Jawa Timur I, Djasman Sutedjo dan Kabid P2, H.B. Wicaksono serta Kepala KPPBC Tanjung Perak, Agus Sudarmaji meninjau beberapa hasil penegahan ekspor yang dilakukan oleh Bidang P2 Kantor Wilayah DJBC Jawa Timur I bersama KPPBC Tipe A1 Tanjung Perak, yang antara lain berupa : 1. Penegahan Ekspor 1 Kontainer 20’ (487 batang) Kayu Cendana Bulat; Penegahan eksportasi 487 batang kayu cendana yang dilakukan oleh Ekspotir PT Nusa Hijau Permai dengan PPJK PT Dhita Wisanggeni dan Consigne Xiamen Fortune Import & Export Co, China; Bahwa sesuai dengan hasil konfirmasi dengan pihak BKSDA Surabaya, kayu cendana yang boleh diekspor adalah dalam bentuk tatalan dan/atau serbuk, sedangkan dilarang untuk diekspor kayu cendana dalam bentuk bulat (batang / log); 2. Penegahan Ekspor 2 Kontainer 20’ (160 batang) Kayu Sono Keling Bulat (Log); Penegahan terhadap eksportasi 160 batang kayu Sono Keling dalam bentuk bulat (Log) yang dilakukan oleh Ekspotir PT Mandiri Kasembadan dengan PPJK PT Masindo Gema Buana dan Consigne Shanghai Resource Trading Development Co., Ltd. Modus operandinya adalah memberitahukan barang yang diekspor sebagai Handicraft (kerajinan pahat tangan), namun setelah dilakukan pemeriksaan kedapatan kayu sono keling bulat yang dipahat/diukir di bagian penampangnya saja. dalam bidang kepabeanan, telah terjadi pelanggaran di bidang ekspor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 102A Undang – undang Nomor

FOTO BERSAMA. Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Anwar Suprijadi, beserta Kakanwil Jawa Timur I, Jasman Sutedjo dan jajarannya, berfoto bersama usai acara gelar tegahan di KPPBC Juanda dan Tanjung Perak.

20

WARTA BEA CUKAI

EDISI 403 JUNI 2008

INTIMIDASI

PETUGAS P2 KPPBC MALANG ALAMI

M
KAYU CENDANA. Petugas KPPBC Tanjung Perak berhasil menegah ekspor kayu cendana yang masuk dalam kategori komoditas yang dilindungi.

Petugas yang menjalankan operasi di Pabrik Rokok (PR) Ageng Jaya memiliki surat tugas yang ditandatangi oleh Kepala Seksi P2 dan menjalankan tugas sesuai dengan prosedur yang berlaku.

emang tidak mudah bagi petugas Bea dan Cukai menjalankan tugasnya terutama yang berhubungan dengan masalah penegakkan hukum dibidang kepabeanan dan cukai. Ketika menjalankan tugasnya, tindakan petugas Bea dan Cukai terkadang dianggap berlebihan oleh sebagian masyarakat usaha, dan seolah-olah tindakan petugas tersebut dinilai menyalahgunakan wewenang atau dengan kata lain “mengada-ada”.

10 Tahun 1995 yang telah diubah dengan Undang – undang Nomor 17 Tahun 2006 dengan ancama Pidana Penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan pidana penjara paling lama paling lama 10 (sepuluh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp.50.000.000. (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp.5.000.000.000. (lima milyar rupiah). Kasus ini masih diteliti oleh pihak Dinas Kehutanan Propinsi Jawa Timur mengenai jenis barang yang diekspor apakah termasuk kategori Kayu Bulat (log) atau sudah bisa dikategorikan sebagai Handicraft. 3. Penegahan Ekspor 3 Kontainer 20’ (270 Pack) Kayu Merbabu Olahan bentuk T&G dengan ukuran melebihi ukuran; Kasus penegahan berikutnya adalah penegahan terhadap eksportasi Kayu Merbabu olahan dalam bentuk T & G yang juga dilakukan oleh Eksportir PT Mandiri Kasembadan dengan PPJK PT Masindo Gema Buana dan Consigne Doorvin Trading BV, Netherland. Modus operandi yang dipakai adalah dengan memberitahukan barang yang diekspor sebagai Handicraft (Standing Lamp Craft), padahal berdasarkan hasil pemeriksaan kedapatan bahwa barang yang diekspor adalah Kayu Merbabu olahan dalam bentuk T & G yang sebagian besar mempunyai luas penampang berukuran 60 x 148 cm . Mirip dengan kasus penegahan ekspor kayu sonokeling di atas, dalam kasus ini telah terjadi pelanggaran di bidang ekspor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 102A Undang – undang Nomor 10 Tahun 1995 yang telah diubah dengan Undang – undang Nomor 17 Tahun 2006 dengan ancama Pidana Penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan pidana penjara paling lama paling lama 10 (sepuluh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp.50.000.000 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp.5.000.000.000 (lima milyar rupiah). Sedangkan sesuai dengan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor : 09/M-DAG/PER/2/2007 tentang Ketentuan Ekspor Produk Industri Kehutanan, menyatakan bahwa kayu olahan jenis T & G yang boleh diekspor adalah yang memenuhi ketentuan luas penampang dengan lebar tidak lebih dari 220 mm dan tebal tidak lebih dari 50 mm. (Mujiono/ADI)

SURAT TUGAS. di PR Ageng Ja Salah satu surat tugas yang di di PR yang dicuya yang menyebutkan kewena gunakan oleh petugas dalam rigai melangga r ketentuan UUngan petugas dilapangan termoperasi Cukai asuk

EDISI 403 JUNI 2008

WARTA BEA CUKAI

21

DAERAH KE DAERAH
FOTO-FOTO DOK KPPBC MALANG

PR AGENG JAYA. Termasuk dalam urutan PR yang high risk dan rentan melakukan pelanggaran

ROKOK PRODUKSI AGENG JAYA. Diamankan petugas karena menggunakan pita cukai yang diduga palsu

Bahkan tidak jarang pula petugas Bea dan Cukai mengalami tindakan-tindakan yang menjurus pada aksi kekerasan dan intimidasi khususnya ketika berada dilapangan dalam menjalankan tugasnya untuk memastikan aturan kepabeanan dan cukai dilaksanakan dengan baik oleh masyarakat usaha. Kejadian seperti ini dialami oleh petugas Seksi Penindakan dan Penyidikan (P2) Kantor Pelayanan dan Pengawasan Bea dan Cukai (KPPBC) Malang ketika menjalankan tugas operasi pengawasan di wilayah kerja KPPBC Malang pada 29 April 2008. Intimidasi yang menjurus pada aksi kekerasan terhadap enam petugas P2 KPPBC Malang terjadi dilingkungan Perusahaan Rokok (PR) Ageng Jaya yang beralamat di Desa Karang Duren RT 06 Rw 04 Pakisaji Kabupaten Malang Jawa Timur. Ketika itu petugas P2 KPPBC Malang melakukan operasi rutin di PR Ageng Jaya yang berada dalam unit kerja KPPBC Malang. Berdasarkan kronologis kejadian yang diterima WBC dan ditandatangani Kepala Seksi P2 KPPBC Malang Rudy Herry Kurniawan, tindakan intimidasi yang dilakukan oleh Geng Wahyudi pemilik PR Ageng Jaya terhadap petugas P2 KPPBC Malang, berawal dari ditemukannya dua buah karton yang berisi rokok produksi PR Ageng Jaya dalam sebuah mobil Toyota Avanza yang terparkir dalam kawasan PR tersebut. Ketika itu petugas mengambil empat bungkus rokok sebagai sampling dari dua buah karton yang berisi rokok produksi PR Ageng Jaya yang terdapat dalam mobil milik PR tersebut untuk diteliti keaslian pita cukainya. Setelah dilakukan pendeteksian dengan alat sinar Ultra Violet (UV) milik petugas, ternyata pita cukai yang digunakan oleh PR Ageng Jaya pada rokok-rokok tersebut diduga palsu. Mengetahui dua buah karton tersebut berisi rokok-rokok yang dilekati pita cukai yang diduga palsu, maka sesuai dengan prosedur, petugas P2 meminta ijin kepada salah seorang staf PR Ageng Jaya untuk membawa dua karton tersebut keluar pabrik untuk disita. Petugas kemudian mengambil dua bungkus rokok dan menjelaskan kalau pita cukai yang digunakan oleh PR adalah palsu, yang kemudian diikuti dengan berita acara serah terima, berita acara segel dan serangkaian prosedur lainnya. Menurut Marlon Worongkai salah seorang petugas P2 KPPBC Malang yang ikut dalam operasi tersebut, Geng Wahyudi langsung datang ke lokasi PR Ageng Jaya setelah mendapat laporan dari salah satu pegawainya mengenai pemeriksaan PR oleh petugas P2 KPPBC Malang. Sesampainya dilokasi pemilik PR Ageng Jaya tersebut yang juga aparat Polres Kepanjen Malang sambil mengacungkan senjata api mencoba mengusir petugas dari kawasan PR disertai perkataan-perkataan kasar. “Ketika itu kami tidak bisa berbuat banyak, karena Geng Wah22
WARTA BEA CUKAI EDISI 403 JUNI 2008

yudi mengacungkan senjata dan barang bukti yang sempat dinaikan ke mobil patroli diturunkan oleh anak buahnya dan kita tidak bisa berbuat banyak karena dihalangi oleh pegawai PR dan di intimidasi oleh Geng Wahyudi,” terang Marlon. Masih menurutnya lagi, petugas sempat berdebat dengan pemilik PR mengenai kewenangan dan surat tugas yang dinilainya tidak sah. Marlon mengatakan, ia bersama dengan rekan-rekannya memang dibekali surat tugas yang asli maupun yang di foto kopi, namun surat-surat tersebut tetap dinilai Geng Wahyu tidak sah. “ Yang memegang surat tugas asli itu satu orang aja, selebihnya foto kopi. Yang penting saat operasi dilapangan ada yang bawa surat tugas asli. Dan itu sudah kita tunjukkan kepada yang bersangkutan, baik yang fotokopi maupun yang aslinya. Tapi yang bersangkutan karena marah dan emosi tidak terima sehingga dia ngomong surat penggeledahan. Selama ini kita cukup dengan surat perintah tugas, disitu (surat tugas) juga sudah dicantumkan kewenangan melakukan poengawasan, pemeriksaan pabrik dan bangunan lain. Disitu sudah jelas. Mungkin dia kalut karena ketahuan kegiatan ilegalnya oleh petugas sehingga dia bilang kami tidak berwenang dan surat tugas kami tidak sah,”ujarnya. Untuk menghindari kejadian yang lebih buruk lagi ketika itu, korlak intelejen Malinus Indra, yang memimpin operasi tersebut bersama dengan petugas lainnya termasuk Marlon, menyelesaikan masalah tersebut di Polres Kepanjen atas prakarsa Kapolsek Pakisaji, Farid Fatoni.

KEJADIAN YANG DISESALKAN
Kepala Seksi P2 KPPBC Malang Rudy Herry Kurniawan yang mendapat laporan kejadian tersebut kemudian datang ke kantor Polres Kepanjen. Disana Rudy menjelaskan mengenai tugas pokok, fungsi dan kewenangan petugas P2 dalam melakukan penindakan di pabrik yang memproduksi Barang Kena Cukai (BKC) kepada Kapolres Kepanjen dan Kapolsek Pakisaji yang ada pada saat itu. Penjelasan yang cukup panjang lebar disampaikan oleh Rudy Herry Kurniawan tersebut kemudian bisa diterima Kapolres Kepanjen. Menyadari bahwa tindakan petugas P2 tersebut sesuai dengan prosedur, Kapolres menyarankan agar permasalahan tersebut diselesaikan secara damai yang direspon baik oleh Kasi P2.”Kami menyetujui damai antar personal yaitu petugas kami dengan Geng Wahyudi, namun dengan catatan, targeting operasi tidak bisa didamaikan,”ujar Rudy. Kejadian yang menimpa petugas P2 KPPBC Malang menurut Rudy sebenarnya tidak perlu terjadi jika pemilik PR yang juga aparat keamanan bisa berpikir dewasa. “ Itu karena orang yang diperiksa kurang berpikir dewasa,

atau pikirannya yang picik tentang Bea Cukai, kalau dia mempermasalahkan surat tugas fotokopi, aslinya ada di komandan kelompoknya, kalau dia kurang puas dengan penunjukkan surat tugas dalam bentuk fotokopi, dia bisa tanya ke kantor untuk klarifikasi mengenai penugasan petugas, dia harus ada inisiatif. Itu kalau dia berpikiran panjang. Artinya kalau dia dewasa,”terang Rudy. Ditambahkannya, secara prosedural petugas yang melaksanakan operasi tersebut sudah benar,”Pastinya kita melakukan kegiatan inetelejen dan diperkuat dengan kegiatan-kegiatan operasi lainnya, jadi tidak main asal tangkap dan asal geledah, begitu juga dengan pemiliknya yang tidak langsung kita tangkap tapi kita minta keterangannya dan lain sebagainya,”papar Rudy secara singkat menjelaskan cara-cara yang dilakukan pihaknya dalam menjalankan operasinya. Selama ini lanjutnya jika dalam suatu kegiatan operasi yang dinilai cukup rawan dengan tindak kekerasan, sesuai dengan Undang-Undang Cukai, petugas Bea dan Cukai dapat didampingi oleh petugas keamanan untuk menunjang kinerja petugas Bea dan Cukai di lapangan. “Tapi kalau kita bisa kerjakan sendiri (tanpa didampingi pihak keamanan.red) kenapa tidak, karena kita juga dibekali peralatan untuk membela diri, dan kita pasti akan tetap berkoordinasi dengan pihak keamanan dalam bertugas,”jelas Rudy. Kepala KPPBC Malang Barid Effendi juga sangat menyesalkan kejadian yang menimpa stafnya tersebut. Menurutnya selama ini hubungan antara pihaknya dengan Geng Wahyudi terjalin harmonis “Setiap ada sosialisasi saya selalu undang, keluhannya selalu kami respon, begitu juga ketika beliau menggerakkan masa (unjuk rasa terhadap pemberlakuan PMK134/2008) saya terima beliau dan saya menghormati dia. Lalu dia memperlakukan anak buah saya seperti itu berarti dia tidak menghargai saya lagi,”tutur Barid. Tidak hanya itu, menurutnya Dirjen Bea dan Cukai Anwar Suprijadi juga merasa geram dengan kejadian tersebut. Ditambahkannya lagi, selama ini PR Ageng Jaya memang termasuk dalam urutan PR yang high risk dan rentan melakukan pelanggaran, sehingga pihaknya merasa perlu untuk melakukan pengawasan yang lebih intesif terhadap PR tersebut. Dikatakannya lagi, kasus tersebut kini masih dalam proses dan jika memang terlibat maka akan ditingkatkan. Namun Barid tidak secara tegas menjelaskan mengenai sanksi hukum yang akan dikenakan kepada Geng Wahyudi yang telah menghalangi petugas, apakah akan diselesaikan dengan hukum yang berlaku atau hanya diselesaikan secara internal di institusinya,”Untuk itu saya belum tahu, saya harus mengkoordinasikan dengan Kepala Kantor Wilayah DJBC Malang (Kakanwil),”urai Barid.

Kekecewaannya juga tertuju kepada para rekan-rekan Geng Wahyudi yang juga merupakan aparat keamanan dari Polres Kepanjen dan Polsek Pakisaji yang dinilainya tidak menempatkan diri pada posisi netral, dan tidak adanya upaya untuk menjelaskan duduk persoalan sebenarnya oleh Kapolres Kepanjen kepada media massa setempat,mengenai berita yang terlanjur diterima media massa. “Jadi kami sangat menyesalkan tindakan yang dilakukan oleh Geng Wahyudi dan rekan-rekannya yang tidak netral sehingga barang bukti yang telah kami ambil hilang karena tidak dijaga oleh rekanrekan aparat,dan opini yang berkembang di masyarakat mengenai kejadian tersebut,”tukas Barid. Namun ia mengatakan ada hikmah dari kejadian tersebut. Dia mencontohkan kedepannya masalah administrasi terutama yang berhubungan dengan surat perintah operasi akan lebih ditingkatkan lagi sehingga administrasi menjadi lebih tertib,”Selain itu kejadian ini jadi introspeksi buat teman-teman dan kami semua disini agar jangan terlalu over confident dan harus mengetahui kekuatan “lawan” agar kita bisa menjalankan tugas lebih baik dan rapih lagi,”papar Barid. Tindakan seperti tersebut, menurut Marlon yang juga sering terlibat dalam beberapa operasi serupa, jarang ditemuinya dilapangan, walaupun ia menemui beberapa PR yang bermasalah,”Walaupun kami sering menemukan ada PR yang bermasalah, tapi gak pernah sampai seperti ini,”ujarnya.

POLA PENGAWASAN TERHADAP CUKAI HASIL TEMBAKAU
Untuk meningkatkan pengawasan terhadap cukai hasil tembakau, KPPBC Malang melakukan pengawasan dengan beberapa pola. Diantaranya adalah dengan penerapan mekanisme manajemen resiko, identifikasi pelanggaran prioritas targeting berdasarkan indikator resiko dan membagi wilayah pengawasan menjadi beberapa sektor pengawasan. Selain itu juga, KPPBC Malang membentuk tim patroli untuk tiap sektor pengawasan yang dipimpin oleh komandan kelompok, serta membentuk tim khusus penindakan yang disebut buser dan membentuk tim intelejen. Tidak hanya itu, untuk mengefektifkan pengawasan, dibentuk juga tim analisis yang melakukan pengamatan berdasarkan data dan informasi, serta melakukan patroli di sektor pengawasan yang dilakukan setiap hari dengan melakukan kunjungan ke pabrik-pabrik. Berdasarkan data yang diperoleh dari KPPBC Malang, dalam kurun waktu 2006 hingga April 2008, petugas telah mengungkap sebanyak 46 kasus pelanggaran cukai hasil tembakau, dimana untuk tahun 2008 (Januari hingga April 2008) jumlah pelanggaran cukai hasil tembakau mencapai 12 kasus. Sedangkan penyelesaian penindakan dari tahun 2006 hingga April 2008 terdapat 20 kasus dengan Surat Pemberitahuan Pengenaan Sanksi Administras (SPPSA), dimana untuk tahun 2008 yang sedang berjalan hingga bulan April tersebut, tujuh kasus dengan SPPSA telah ditangani. Untuk kasus-kasus SPPSA yang belum selesai penindakannya, dalam kurun waktu 2006-2008 hanya satu kasus, yaitu yang terjadi pada tahun 2008. Sementara untuk kasus pidana yang belum selesai penindakannya dalam kurun waktu 2006 hingga 2008 mencapai 10 kasus, dimana untuk tahun 2008 hingga April jumlah kasus pidana yang belum diselesaikan berjumlah tiga kasus. Sementara untuk kasus pidana yang telah selesai ditangani pada kurun waktu 2006 hingga 2008, tercatat 15 kasus,dimana untuk tahun 2008 yang sedang berjalan, dua kasus pidana telah diselesaikan. Begitu pula dengan kerugian negara yang dihitung berdasarkan dari kasus pelanggaran pidana. Berdasarkan data,kerugian negara yang berasal dari kasus pelanggaran pidana yang berada dalam wilayah KPPBC Malang pada kurun waktu 2006 hingga April 2008, mencapai Rp. 2.192.483.140 miliar, sementara kerugian negara pada tahun 2008 hingga bulan April 2008 mencapai Rp. 298.695.168. Sedangkan jumlah denda atau sanksi administrasi yang dihitung dari jumlah SPPSA yang diterbitkan mencapai Rp. 510.100.428, dimana pada tahun 2008 hingga April jumlah denda atau sanksi administrasi mencapai Rp. 252.764.960. zap
EDISI 403 JUNI 2008 WARTA BEA CUKAI

BARANG BUKTI. Sebuah mobil Toyota Avanza yang didalamnya terdapat barang bukti berupa rokok yang dilekati pita cukai palsu

23

DAERAH KE DAERAH
WBC/RIS

APEL LUAR BIASA
KANWIL DJBC BANTEN
APEL SIAGA, yang berlangsung pada 24 April 2008 di lapangan upacara KPPBC Tipe A Soekarno-Hatta.

K

Sebanyak 31 pegawai menerima penghargaan atas prestasinya melakukan penegahan psikotropika yang melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

antor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Banten pada Kamis, 24 April 2008 pukul 11.00 WIB melakukan apel luar biasa di lapangan upacara Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe A Soekarno-Hatta. Apel luar biasa dilaksanakan dalam rangka pemberian penghargaan bagi pegawai atas prestasinya dalam pengungkapan kasus-kasus psikotropika yang ditegah pemasukannya ke wilayah Indonesia pada bulan Maret lalu. Dalam apel tersebut, bertindak sebagai inspektur upacara, Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Anwar Suprijadi. Sedangkan sebagai komandan upacara, Kepala KPPBC Tipe A Soekarno-Hatta, Rachmat Soebagyo. Hadir dalam acara tersebut, Kepala Kanwil DJBC Banten, Bachtiar, Direktur Penindakan dan Penyidikan, Jusuf Indarto, dan pejabat di lingkungan Kanwil DJBC Banten. Saat memimpin apel luar biasa, dalam amanatnya, Anwar Suprijadi menekankan kepada jajaran petugas khususnya yang bertugas langsung di Bandara Soekarno-Hatta bahwa Bandara Soekarno-Hatta merupakan pintu gerbang utama masuknya berbagai jenis barang ke Indonesia, termasuk yang dilarang atau dibatasi pemasukannya. Karena itu tingkat kewaspadaan para aparat Bea dan Cukai harus tinggi dalam mengawasi lalu lintas orang dan barang yang melalui Bandara Soekarno-Hatta. Dalam hal ini terutama pemasukan barang-barang yang bisa menghancurkan generasi muda, seperti narkotika, psikotropika maupun zat adiktif lainnya. Karena itu peredaran terhadap jenis barang yang sangat membahayakan ini harus
WARTA BEA CUKAI EDISI 403 JUNI 2008

diberantas. “Dengan adanya pengungkapan kasus-kasus napza oleh rekan-rekan sekalian paling tidak bisa meningkatkan semangat bagi rekan pegawai lainnya yang melakukan pengawasan serupa. Dan harapan kami, kepada semua pegawai bisa mendapatkan penghargaan yang sama karena ini merupakan sesuatu yang membanggakan,” ujar Anwar. Dan tentunya keberhasilan itu, lanjut Anwar, harus terus dipertahankan caranya dengan meningkatkan kinerja dalam setiap menjalankan tugas. Prestasi yang selama ini diraih, perlu dipertahankan agar dapat memberikan pelayanan yang terbaik. Perhatian yang diberikan Direktur Jenderal Bea dan Cukai melalui pemberian penghargaan kepada para pegawai yang
WBC/RIS

PARA PEGAWAI yang mewakili, menerima penghargaan dan ucapan selamat dari Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Anwar Suprijadi, Kakanwil DJBC Banten, Bachtiar dan Direktur P2 DJBC, Jusuf Indarto.

24

berprestasi dalam menggagalkan berbagai upaya penyelundupan napza tentunya merupakan bentuk perhatian dari pimpinan dan hal ini menjadi kebanggaan bagi pegawai. Pada kesempatan tersebut sebanyak 31 pegawai diberikan piagam penghargaan, dimana empat orang pegawai mewakili rekan-rekan lainnya menerima penghargaaan. Pembe-

rian penghargaan dilakukan oleh Dirjen Bea dan Cukai Anwar Suprijadi, selanjutnya diikuti dengan pemberian piagam penghargaan dari Kakanwil DJBC Banten, Bachtiar dan ucapan selamat dari Direktur P2 DJBC, Jusuf Indarto. Ke-31 pegawai yang menerima penghargaan tersebut adalah sebagai berikut : ris

EDISI 403 JUNI 2008

WARTA BEA CUKAI

25

DAERAH KE DAERAH
WBC/RIS

SAAT MEMBERIKAN KETERANGAN PERS tentang pengungkapan kasus.

PENEGAHAN PSIKOTROPIKA
KPPBC SOEKARNO-HATTA
Sebanyak 7,2 Kg shabu yang coba dimasukkan oleh dua warga negara Taiwan pada 24 April 2008 berhasil digagalkan aparat Kantor Pelayanan dan Pengawasan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe A Soekarno-Hatta. Begitu juga pada 26 April 2008, aparat bea dan cukai Soekarno-Hatta berhasil menegah masuknya 3 kg psikotropika jenis ketamine yang dilakukan oleh dua orang warga negara Indonesia serta pada 5 Mei 2008 atas 1.800 gram shabu dan 1.046 gram ketamine dilakukan oleh seorang warga negara Taiwan.

B
26

erselang tiga jam setelah dilakukannya apel siaga dan pemberian penghargaan kepada pegawai yang berprestasi menggagalkan penyelundupan psikotropika, aparat Bea dan Cukai Bandara Soekarno-Hatta kembali berhasil menegah masuknya barang psikotropika jenis shabu seberat 7,2 kilogram pada 24 April 2008 melalui terminal II Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Upaya ini dilakukan dua orang pelaku, masing-masing Tseng Wen Hu (35) dan Tseng Huang Lung (44) keduanya warga negaraTaiwan yang coba memasukkan shabu senilai kurang lebih Rp.
WARTA BEA CUKAI EDISI 403 JUNI 2008

11 miliar ke dalam kemasan biskuit sebanyak 26 bungkus dengan kertas alumunium foil yang diletakkan dalam kotak makanan berukuran 36 x 20 cm, tersimpan di dalam dua koper pakaian ukuran besar. Pelaku mengaku sudah empat kali ke Indonesia dan dua kali lolos membawa narkoba ke Indonesia ini tiba di Bandara Soekarno-Hatta dari Hongkong dengan menumpang pesawat Cathay Pacific CX 777. Petugas yang berjaga di pemantauan barang bagasi di terminal II curiga ketika melihat ada tanda oranye menyala dan terlihat benda dalam tas. Tanda oranye juga mengindikasikan bahwa barang berjumlah besar. Saat diperiksa, Tse Huan Luang dan Tseng Wen Hu mengaku kalau mereka sedang berbisnis. Dari hasil investigasi yang dilakukan petugas kepada kedua tersangka yang mengaku tidak saling mengenal ini akhirnya diketahui bahwa shabu-shabu tersebut hendak dijual keluar Pulau Jawa. “Menurut dugaan kami, mereka cuma kurir, sedangkan pemiliknya adalah sama dengan penyelundup sebelumnya. Ini merupakan keberhasilan tim yang ada di lapangan,” ujar Kakanwil DJBC Banten, Bachtiar dalam keterangan pers pada Jumat 25 April 2008 di aula KPPBC Soekarno-Hatta. Acara jumpa pers hasil tegahan shabu-shabu tersebut dihadiri Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Anwar Suprijadi, Kakanwil DJBC Banten, Bachtiar, Direktur Penindakan dan Penyidikan (P2) DJBC, Jusuf Indarto dan Kepala KPPBC Soekarno-Hatta, Rahmat Subagio. Dalam pernyataannya kepada pers, Direktur P2 Jusuf Indarto menduga aksi penyelundupan itu melibatkan banyak orang. “Kemungkinan itu selalu ada, tetapi kebetulan hanyamereka berdua yang tertangkap tangan. Dari hasil pemeriksaan, kedua orang tersebut tidak saling kenal, meski sama-sama dari Taiwan dan berada dalam satu pesawat,” ujar Jusuf Indarto. Sementara itu menurut Rahmat Subagio, kedua tersangka mengaku sebagai kurir. Menurut Tseng Wen Hu yang membawa 3,5 kilogram shabu-shabu, barang itu milik temannya di Hongkong bernama A Ming dan hanya disuruh mengantarkan sampai

WBC/ATS

“Kami menduga pemilik barang-barang itu adalah orang yang sama meski kedua tersangka menyebut dua nama berbeda. Padahal, jenis barang dan modusnya sama,” tutur Rahmat Subagio. Sementara itu, Dirjen Bea dan Cukai, Anwar Suprijadi, mengucapkan selamat kepada para petugas yang secara jeli berhasil menggagalkan upaya penyelundupan yang keempat selama bulan April dan ini adalah sebuah prestasi. Kedua tersangka telah melanggar UU Nomor 5 tahun 1997 tentang Psikotropika dengan ancaman pidana kurungan paling lama 10 tahun penjara dan pidana denda paling banyak Rp. 300 juta. Kedua tersangka kemudian diserahkan kepada Polres Metro Bandara untuk proses lebih lanjut. Penyelidikan masih terus dilakuan bersama Badan Narkotika Nasional, Polres Metro Bandara Soekarno-Hatta, Imigrasi dan pihak terkait lainnya untuk mengungkap jaringan pengedar narkotika dan psikotropika dalam skala yang lebih luas demi menghindarkan masyarakat khususnya generasi muda dari pengaruh buruk narkotika dan psikotropika.

PENGHARGAAN DARI DIRJEN BEA DAN CUKAI
Dan seperti yang telah dijanjikan sebelumnya melalui apel siaga tentang pemberian penghargaan khususnya kepada pegawai yang berhasil mengukir prestasi, Dirjen Bea dan Cukai, Anwar Suprijadi setelah melakukan jumpa pers, langsung memberikan penghargaan kepada para petugas Bea dan Cukai Bandara Soekarno-Hatta yang berhasil menggagalkan 7,2 kilogram shabu-shabu tersebut. Bertempat di ruang Kepala KPPBC Soekarno-Hatta, penghargaan diberikan kepada empat orang pegawai yang mewakili rekan-rekan mereka yang tergabung dalam tim yang berhasil menegah masuknya shabu-shabu tersebut. Mereka yang mewakili antara lain; Sujana, Anton Mawardi, Adeltus Lolok dan Ruslan. Anwar Suprijadi menyerahkan penghargaan dan ucapan
WBC/ATS

KEPALA KPPBC SH, Rachmat Subagio saat memberikan keterangan pada pers mengenai tegahan yang berhasil dilakukan jajarannya.

bandara karena akan ada yang menjemput barang tersebut. Untuk jasanya ini dia mendapat imbalan sebesar 17.000 rimpi (mata uang Taiwan) atau setara dengan Rp. 22, 10 juta. Sementara itu, Tse Huan Lung mengaku, paket yang dibawanya milik A Fang dan dia diberi imbalan sebesar 15. 000 rimpi atau setara dengan Rp. 19,5 juta untuk sekali mengantar barang.

RICKY CHARLIE PETERSON (29) DAN JONATHAN TARKAN (34) pelaku penyelundupan ketamine sebanyak kurang lebih 3 kilogram atau ditaksir senilai kurang lebih Rp. 6 miliar
WBC/RIS

DUA TERSANGKA WARGA NEGARA TAIWAN pembawa shabu-shabu 7,2 kilogram asal Hongkong.

WANG CHIH MIN (41) asal Taiwan, tersangka pembawa 1800 gram shabu dan 1.046 gram ketamine. EDISI 403 JUNI 2008 WARTA BEA CUKAI

27

DAERAH KE DAERAH
FOTO-FOTO WBC/RIS

PEMBERIAN PENGHARGAAN diberikan langsung oleh Dirjen Bea dan Cukai, Anwar Suprijadi dan Kakanwil DJBC Banten, Bachtiar.

selamat kepada keempat pegawai yang mewakili diikuti oleh Kakanwil DJBC Banten, Bachtiar, Direktur P2, Jusuf Indarto dan Kepala KPPBC Soekarno-Hatta, Rahmat Subagio. Dirjen berharap prestasi ini bisa terus ditingkatkan dan juga diikuti oleh para pegawai yang lainnya.

TEGAHAN KETAMINE DAN SHABU
Setelah keberhasilannya menegah psikotropika jenis shabu seberat 7,2 kilogram, prestasi kembali diraih aparat KPPBC Soekarno-Hatta, tepatnya pada 26 April 2008 sekitar pukul 20.00 WIB berhasil menggagalkan upaya penyelundupan ketamine sebanyak kurang lebih 3 kilogram atau ditaksir senilai kurang lebih Rp. 6 miliar yang dilakukan oleh dua orang pelaku warga negara Indonesia, masing-masing Ricky Charlie Peterson (29) dan

Jonathan Tarkan (34). Kedua tersangka masuk ke Indonesia dengan menggunakan pesawat China Airline (CI 679) pada Sabtu, 26 April 2008. Begitu juga dengan upaya menggagalkan masuknya 1.800 gram shabu dan 1.046 gram ketamine senilai kurang lebih Rp. 5 miliar yang dilakukan oleh Wang Chih Min (41) seorang warga negara Taiwan. Tersangka masuk ke Indonesia dengan menggunakan pesawat Viva Macau ZG 101 pada Senin, 5 Mei 2008 sekitar pukul 00.30. Ketiga tersangka tertangkap ketika mereka baru mendarat di terminal kedatangan luar negeri, yaitu keberangkatan dari Hongkong dan Taiwan. Sama dengan modus sebelumnya, modus yang digunakan pelaku adalah dengan memasukkan jenis psikotropika kelas II ini dalam bungkusan plastik dan alumunium foil ke dalam kemasan makanan. Ketamine merupakan obat bius yang mempunyai efek halusinasi dan dapat digunakan sebagai bahan campuran pembuat ekstasi. Penyelundupan ketamine ke Indonesia melanggar pasal 81 UU Kesehatan RI Nomor 23 1992 dengan ancaman penjara maksimal 7 tahun. Sedangkan penyelundupan shabu ke Indonesia melanggar Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang psikotropika dengan ancaman pidana kurungan paling lama 10 tahun penjara dan pidana denda paling banyak Rp. 300 juta. Kepala Seksi Penindakan dan Penyidikan KPPBC SoekarnoHatta, Eko Darmanto dalam keterangan persnya, Selasa 6 Mei 2008 menyatakan, ketamine adalah obat bius atau penenang yang biasa digunakan dokter di klinik hewan, namun kini ketamine sudah disalahgunakan sebagai bahan dasar atau campuran pembuat shabu dan ekstasi. “Saat ini harga ketamine per gram mencapai Rp.1,5 – Rp.2 juta, karena itu masuk dalam golongan obat penenang kualitas satu bagi kalangan pengguna obat bius,” kata Eko. Sementara itu, Kepala KPPBC Soekarno-Hatta, Rachmat Subagio mengungkapkan, kedua tersangka warga negara Indonesia diduga terkait dengan sindikat yang lain, jadi akan diperiksa lebih lanjut. Sementara kasus Wong Chih Min akan diserahkan ke Polres Bandara Soekarno-Hatta, sehingga tersangka bisa dihadirkan pada press release ini,” ujar Rahmat. ris

FOTO BERSAMA, setelah memberikan penghargaan atas prestasi melakukan penegahan 7,2 kilogram shabu-shabu kepada empat orang pegawai yang mewakili.

28

WARTA BEA CUKAI

EDISI 403 JUNI 2008

FOTO-FOTO: MUQSITH HAMIDI

TES TERTULIS. Amran Alie dari Psikologi UI tengah menjelaskan tata cara ujian kepada semua peserta.

TES WAWANCARA. Salah seorang peserta tengah menghadapi tes wawancara.

ASSESSMENT PEGAWAI KPPBC UTAMA DI WILAYAH BALIKPAPAN
Memakan waktu kurang lebih 7 (tujuh) jam berikut waktu istirahat untuk makan siang, ujian selesai dilaksanakan pada pukul 15.30 WITA

R

eorganisasi (Reog) dalam tubuh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) yang terus bergulir hingga saat ini menunjukkan perubahan drastis ke arah positif dengan ditandai DJBC tidak termasuk lagi ke dalam 11 instansi terkorup yang ada di Indonesia berdasarkan hasil survei Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sebuah prestasi yang sangat membanggakan dan patut diacungi jempol bagi segenap jajaran di dalam DJBC yang turut serta dan mendukung akan keberhasilan program reformasi yang dimulai sejak awal tahun 2007 yakni pada masa kepemimpinan Anwar Suprijadi menjadi Dirjen Bea dan Cukai. Pilot project Kantor Pelayanan Utama (KPU) di Tanjung Priok yang kemudian dilanjutkan di Batam sebagai salah satu bukti nyata berjalannya program Reog di dalam DJBC ditindaklanjuti dengan Surat Sekretaris Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Nomor: S-349/BC.1/UP.6/2008 tanggal 2 April 2008 mengenai penawaran Assessment kepada semua pegawai Bea dan Cukai yang ingin mengisi beberapa kantor di DJBC yang akan menjadi Kantor Utama, antara lain: KPPBC Soekarno-Hatta, Belawan, Kudus, Malang, Kediri dan Tanjung Perak sesuai wacana ketika program Reog ini mulai dijalankan. Khususnya pegawai di KPPBC Soekarno-Hatta, Malang, Kudus, Malang, Kediri, Tanjung Perak yang belum mengikuti assessment pada periode tahun anggaran 2007, serta seluruh pegawai Kanwil DJBC Sumatera Utara, Kanwil DJBC Jatim II dan KPPBC Belawan wajib mengikuti assessment yang diadakan kali ini. Berselang 2 (dua) minggu kemudian dilakukan pemanggilan peserta yang akan mengikuti assessment sesuai Surat Sekretaris Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Nomor: S-408/BC.1/UP.6/2008 tanggal 16 April 2008. Assesment yang dilaksanakan pada tanggal 19 - 20 April untuk Pejabat Eselon IV, Korlak dan Pelaksana, serta tanggal 21 – 22 April untuk Pejabat Eselon III ini dilaksanakan di beberapa lokasi yaitu Medan, Batam, Palembang, KP DJBC, Surabaya, Pontianak, Balikpapan, Makassar dan Pangsarop (di Tanjung Balai Karimun dan di Pantoloan). Di Balikpapan sendiri pelaksanaan assessment dilaksanakan di Balai Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK) Balikpapan yang bertempat di Gedung Keuangan Negara (GKN) Balikpapan.

Dengan jumlah peserta sebanyak 62 orang, ruang ujian dibagi menjadi 2 (dua) kelas yakni untuk golongan III dan golongan II. Tepat pukul 08.30 WITA ujian dimulai dengan penjelasan mengenai tata cara pelaksanaan assessment dari Tim Assessment KP DJBC antara lain: Nyoman Adhi S, Sinta Renodewi, dan Herlin Abdurrahman serta dari Psikologi Universitas Indonesia yakni Amran Alie dan Muhammad Iqbal yang membimbing semua peserta selama ujian berlangsung. Memakan waktu kurang lebih 7 (tujuh) jam berikut waktu istirahat untuk makan siang, ujian selesai dilaksanakan pada pukul 15.30 WITA. Raut muka yang menunjukkan kelelahan begitu terlihat usai ujian dilaksanakan, namun banyak pula yang menampakkan perasaan lega setelah melewatinya dan semua berharap mereka dapat lulus dan dapat ditempatkan sesuai keinginan ratarata peserta yakni dekat dengan kampung halaman mereka. Namun untuk golongan III tidak hanya dilakukan tes tertulis tapi juga tes wawancara yang dilakukan pada hari berikutnya di tempat yang sama oleh Amran Alie dan Muhammad Iqbal. Dengan jumlah peserta 24 orang, ujian yang dilaksanakan pada pukul 09.00 WITA tersebut selesai pada pukul 12.00 WITA, dapat diselesaikan dengan cepat karena pada hari sebelumnya sebagian peserta telah melakukan tes wawancara. Nyoman Adhi S. mewakili Tim Assessment dari KP DJBC mengungkapkan kegembiraannya dan berterima kasih kepada Panitia dari Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur yang telah menyiapkan semuanya hingga penyelenggaraan assessment di wilayah Balikpapan ini sukses dilaksanakan. “Dan semoga apa yang menjadi harapan dari semua peserta assessment dapat terwujud sesuai niat awal yang baik pada saat memutuskan untuk mengikuti assessment ini” imbuhnya. muQsith Hamidi, Balikpapan

FOTO BERSAMA, Tim Assessment KP DJBC dari kiri : Herlin Abdurrahman, Nyoman Adhi S, Perwakilan peserta assessment, Imam Subakti dan perwakilan panitia penyelenggara, Rusnadi. EDISI 403 JUNI 2008 WARTA BEA CUKAI

29

PUSDIKLAT
FOTO-FOTO : WBC/ATS

DIKLAT TEKNIS KEPABEANAN. Diikuti oleh 30 peserta dari lingkungan Itjen Depkeu dengan jumlah jam latihan sebanyak 96 jamlat selama dua pekan

U

undang kepabeanan, teknis kepabeanan dan semuanya. Jadi diklat ini merupakan transfer ilmu agar dapat digunakan oleh petugas dalam menjalankan tugasnya,” papar Agung kembali. Sementara itu Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Bea dan Cukai Endang Tata mengatakan, pihaknya sangat terbuka sekali untuk memberikan diklat kepada pihak lain, dalam hal ini MELATIH PEGAWAI INSPEKTORAT Itjen Departamen Keuangan, mengingat Itjen dan Bea dan Cukai JENDERAL DEPARTEMEN KEUANGAN adalah partner dalam menjalankan tugas sehingga diharapkan dengan adanya diklat ini dapat meningkatkan kompetensi para petugas dilapangan dalam menjalankan tugasnya. Untuk meningkatkan kinerja institusi “Dengan adanya diklat ini, pengetahuan teman-teman Itjen Inspektorat Jenderal (Itjen) yang tadinya sudah baik diharapkan akan dapat lebih baik lagi, Departemen Keuangan, pengetahuan sehingga apa yang dikatakan oleh Pak Agung agar persepsi dan pendidikan yang mendukung kinerja antara petugas Itjen Depkeu dengan petugas DJBC dapat sejalan,” terang Endang Tata. lembaga yang berfungsi sebagai Ia lebih lanjut menjelaskan metode diklat yang dilakukan oleh pengawas dilingkungan Departemen Pusdiklat Bea dan Cukai kepada petugas dari Itjen Depkeu Keuangan ini mutlak diperlukan. tersebut tidak berbeda dengan materi yang disampaikan kepada petugas Bea dan Cukai yang mendapat tugas untuk belajar di Pusdiklat Bea dan Cukai. ntuk itu Itjen Departemen Keuangan bersama dengan Sementara itu salah satu peserta diklat Bambang SiswohanPusat Pendidikan Pelatihan Bea dan Cukai dono mengatakan, ia merasa materi yang disampaikan dalam menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan teknis diklat tersebut menarik dan dapat diikuti olehnya. Namun ia mekepabeanan kepada pegawai dilingkungan Itjen Deparnambahkan bahwa materi-materi yang disampaikan dalam diklat temen Keuangan (Depkeu). Diklat tersebut berlangsung tersebut cukup padat, sehingga ia menyarankan agar kedepanselama dua pekan yang dimulai dari 17 April 2008 hingga 5 nya nanti pelaksanaan diklat serupa kepada pegawai Itjen DepMei 2008 diikuti oleh 30 peserta dari lingkungan Itjen Depkeu. keu dapat dilakukan dengan cara menambah jumlah jam latihan, Inspektur Jenderal Departemen Keuangan Permana Agung mengingat materi yang disampaikan cukup yang membuka diklat tersebut mengatakan, pebanyak dan sangat berguna bagi para petugas gawai Itjen dalam menjalankan tugasnya harus dalam menjalankan tugasnya. memiliki kesamaan visi dan misi dengan DirekSelain itu ditambahkan Bambang, untuk letorat Jenderal Bea dan Cukai, sehingga dalam bih meningkatkan efektivitas pelaksanaan diklat pelaksanaan tugas tidak ditemui adanya salah ia menyarankan agar dalam pelaksanaa diklat persepsi terhadap suatu permasalahan. kedepannya, para peserta di asramakan agar “Bisa dikatakan diklat yang dilakukan ini unpara peserta lebih konsentrasi dalam mengikuti tuk menjaga dan meyakinkan mereka (petugas diklat, sehingga ilmu yang diperoleh dapat diserap itjen Depkeu.red) jika dalam melaksanakan tugas sesuai dengan aturan. Kalau punya perseplebih banyak lagi oleh peserta, karena banyaksi yang beda jadinya tidak akan efektif,” ujar nya manfaat yang diperoleh dalam diklat tersebut. Permana Agung kepada WBC usai acara pemAcara penutupan diklat tersebut yang berbukaan diklat teknis kepabeanan khusus bagi langsung pada 5 Mei 2008 ini,ditutup langpegawai Itjen. sung oleh Permana Agung. Dalam sambutan Disamping itu persamaan persespsi, pemapenutupan diklat tersebut, Ia mengharapkan haman dan ketepatan antara Itjen dengan DJBC agar ilmu yang telah diperoleh tersebut dapat harus sangat baik, karena penyangga tugas dijadikan bekal bagi para petugas Itjen adalah prevention, education dan enforcedilapangan. Selanjutnya ia juga mengatakan ment, sehingga diharapkan tidak ditemui lagi agar para petugas terus belajar, karena proBAMBANG SIWOHANDONO. Materi adanya aparat Itjen yang dalam melaksanakan ses belajar tidak terhenti ketika usai melakdiklat yang diperoleh dapat menjadi tugasnya tidak memperhatikan aspek–aspek bekal yang cukup besar untuk dapat sanakan diklat, namun harus tetap dilakukan tadi. “Kita harus sangat paham dengan undang- menjalankan tugas dilapangan dengan berbagai macam cara. zap
WARTA BEA CUKAI EDISI 403 JUNI 2008

PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI

30

INFO PEGAWAI

PEGAWAI PENSIUN T.M.T 01 JUNI 2008
NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 N A M A NIP 060058782 060032096 060053769 060050976 060032469 060057094 060051111 060058247 060046854 060040094 060071342 060052394 060052819 060033173 060052512 060040267 060071473 060052560 060044068 060049072 060045513 060045638 GOL IV/c III/c III/a III/a II/b II/b III/b II/b IV/a III/c III/a III/b III/a III/c III/b II/c II/d II/d II/b III/d III/c III/c III/a III/c II/d IV/a III/c III/b II/d III/a IV/a J A B A T A N Kepala Kantor Pelaksana Korlak Adm. Impor Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Kepala Seksi Tempat Penimbunan I Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Korlak Adm. Tempat Penimbunan Berikat Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Seksi Tempat Penimbunan I Korlak Adm. Impor dan Ekspor Korlak Adm. Tempat Penimbunan Berikat Pelaksana Pelaksana Pelaksana Seksi Kepabeanan dan Cukai IV Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Kepala Seksi Kepabeanan dan Cukai VIII KEDUDUKAN KPPBC Tipe A2 Tangerang KPPBC Tipe A Khusus Soekarno-Hatta KPPBC Tipe A Pekanbaru KPPBC Tipe A2 Purwakarta KPPBC Tipe A1 Tanjung Emas Sekretariat DJBC KPPBC Tipe A2 Bogor KPPBC Tipe A2 Bekasi KPPBC Tipe A1 SoekarnoHatta KPPBC Tipe A Jakarta KPPBC Tipe B Bogor KPPBC Tipe A Bandung KPPBC Tipe A4 Tembilahan KPPBC Tipe A Jakarta KPPBC Tipe B Sambu Belakang Padang KPPBC Tipe A2 Bekasi KPPBC Tipe A Khusus Soekarno-Hatta KPPBC Tipe A2 Bekasi KPPBC Tipe A Dumai KPPBC Tipe A3 Samarinda KPPBC Tipe B Bogor KPPBC Tipe A Tanjung Emas KPPBC Tipe A Jakarta KPPBC Tipe A Jakarta KPPBC Tipe C Bagan Siapiapi KPPBC Tipe A1 Tanjung Emas Kanwil VIII DJBC Jakarta II Kanwil DJBC Kepulauan Riau KPPBC Tipe A Palembang KPPBC Tipe A Tg. Balai Karimun KPPBC Tipe A1 SoekarnoHatta B.M. GANOT WIBOWO, IR. MAMAN NURSJAM SUWARNA ROCHYANI ATJENG SASMITA UMAR ALBRAM TONGSIH SUPRIADI, S.E. GUNAWAN BAMBANG PURYANTO SUNARTO RASMINARTY KUSMIATI M. ANWAR MULJONO CHAERUL SUDIRMAWAN DJOHAN RIZAL SUBUH SJARKAWI, S.IP. SUGRIJATNA HASAN TRIHADI

MUPADI 060051021 KUNTJORO BIN WONOREDJO 060040150 MURSIDI 060057601 MAISIR WARTINI RAZAK EFFENDY A.GANI SUDJAPRI INDRA KUSUMA 060034215 060040577 060045300 060056698 060045423 060041115

BERITA DUKA CITA
Telah meninggal dunia, MARSIKIN, Pelaksana Administrasi pada Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A1 Soekarno-Hatta, pada hari Rabu, 30 April 2008. Segenap jajaran Direktorat Jenderal Bea dan Cukai menyatakan duka yang sedalam-dalamnya. Bagi keluarga yang ditinggalkan semoga diberikan ketabahan dan kekuatan oleh Tuhan Yang maha Esa. Amin.
EDISI 403 JUNI 2008 WARTA BEA CUKAI

31

SEPUTAR BEACUKAI
FOTO : KIRIMAN

MALANG. Direktur Jenderal Bea dan Cukai Anwar Suprijadi, pada 16 April 2008 melakukan kunjungan kerja ke Kantor Wilayah DJBC Jawa Timur II di Malang Jawa Timur. Usai melakukan kunjungan kerja, Dirjen Bea dan Cukai bersama dengan Kepala Kanwil DJBC Jawa Timur II C. F. Sidjabat dan serta pejabat di lingkungan Kanwil berkenan untuk melakukan foto bersama di kantor Kanwil. Kiriman Kanwil DJBC Jawa Timur II
FOTO : KIRIMAN FOTO : KIRIMAN

JAKARTA. Sekolah TK Tunas Markatin yang dikelola oleh Yayasan Tunas Markatin yang berada di Jalan Bojana Tirta diserahkan pengelolaannya kepada Dharma Wanita Persatuan KP-DJBC pada 14 Maret 2008. Penyerahan dilaksanakan di sekretariat DWP Kantor Pusat Jakarta Timur dengan dilakukan penandatanganan naskah penyerahan dari Yayasan Tunas Markatin kepada Ketua DWP KPDJBC Ny Anwar Suprijadi di hadapan Notaris E. Sianipar. Sekolah tersebut kemudian berganti nama menjadi TK Bahtera Ceria. Tampak hadir dalam penandatanganan penyerahan yaitu Ny. Agung Kuswandono, Ny. Bambang Prasodjo dan Ny. Sonny Subagyo serta para pengurus DWP KP-DJBC. Kiriman DWP KP-DJBC

JAKARTA. Masih dalam rangka memperingati Hari Kartini, karyawati KPU DJBC Tanjung Priok dan anggota Dharma Wanita Persatuan (DWP) pada 22 April 2008, mengikuti lomba menghias tumpeng. Lomba tumpeng yang diselenggarakan oleh DWP KPU DJBC Tanjung Priok bertemakan global warning ini diikuti 13 peserta. Tampak pada gambar, tim karyawati dengan nomor peserta 13 dengan kreasi tumpeng hiasannya, memenangkan lomba dengan meraih juara I . Kiriman DWP KPU DJBC Tanjung Priok
FOTO : KIRIMAN

JAKARTA. Sebanyak 175 anggota Marching Band Bhina Caraka (MBBC) DJBC yang terdiri dari 151 anggota pemain, 12 anggota alumni, pelatih dan pengurus telah melangsungkan acara “Team Building” dan pelantikan oleh pengurus yang diadakan pada tanggal 10 – 11 Mei 2008 di BUPERTA Cibubur. Acara yang terdiri dari api unggun, outbond srta pelantikan, bertujuan menggalang rasa kebersamaan, solidaritas sesama anggota MBBC serta menumbuhkan semangat latihan dan bertanding. Pelantikan dilakukan oleh wakil ketua MBBC Sonny Subagyo mewakili Pembina yang disaksikan oleh pengurus dan pelatih MBBC. Kiriman MBBC

32

WARTA BEA CUKAI

EDISI 403 JUNI 2008

FOTO : KIRIMAN

JAKARTA. Memperingati Hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April 2008, Dharma Wanita Persatuan (DWP) KPU DJBC Tanjung Priok menyelenggarakan bakti sosial ke Sekolah Darurat Kartini (sekolah bagi anak-anak tidak mampu) yang terletak di jalan Pergudangan Jakarta Gudang, Kampung Bandan Jakarta Utara. Dalam bakti sosial ini dilakukan penyerahan bantuan berupa sembako, mesin jahit, toolkit, dan snack untuk anak-anak. Penyerahan bantuan secara simbolis diberikan oleh Ny. Kushari Suprijanto (no 1 dari kiri foto bersama) kepada pemilik Sekolah Kartini (gambar kiri). Usai acara bakti sosial Dharma Wanita Persatuan KPU DJBC Tanjung Priok melakukan foto bersama (gambar kanan). Kiriman DWP KPU DJBC Tanjung Priok
FOTO : KIRIMAN

MALANG. Dalam rangka pelaksanaan uji coba KPPBC Madya Cukai Malang yang dimulai pada tanggal 1 Mei 2008, KPPBC Tipe A3 Malang mengadakan acara doa bersama pada tanggal 30 April 2008 di Aula KPPBC Malang. Doa bersama bertemakan “Tekad yang kuat dan niat yang tulus akan membawa kita pada peningkatan budaya kerja yang lebih baik dalam melaksanakan pengawasan dan pelayanan kepada pengguna jasa” ini dihadiri oleh Kakanwil DJBC Jatim II C. F. Sidjabat, para pejabat eselon III dilingkungan KWBC Jatim II, Pejabat eselon IV dan para pegawai KPPBC Tipe A 3 Malang. Doa bersama ini juga di hadiri oleh Kepala KPPBC tipe A3 Kediri Ian Rubianto dan para pengguna jasa. Kiriman KPPBC Malang
FOTO : KIRIMAN

SEMARANG. Dalam rangka memperingati hari Kartini, pada 17 April 2008 Dharma Wanita Persatuan Kanwil DJBC Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (D.I.Y) mengadakan kegiatan lomba Pemakai Kain Panjang (jarit) dan memakai jilbab tanpa cermin (gambar kiri) yang diikuti oleh para anggota DWP dan karyawati Kanwil DJBC Jawa Tengah dan D.I.Y dan KPPBC Tanjung Emas. Gambar kanan, para pemenang lomba foto bersama dengan Ketua DWP Kanwil DJBC Jawa Tengah dan D.I.Y. Ny. Youna Ismartono. Kiriman Kanwil DJBC Jawa Tengah dan D.I.Y

EDISI 403 JUNI 2008

WARTA BEA CUKAI

33

SEPUTAR BEACUKAI
FOTO : KIRIMAN

MERAUKE. Dalam rangka pengawasan ke KPPBC – KPPBC yang berada diwilayah kerja Kanwil Maluku Papua dan Irian Jaya Barat (MPI), pada tanggal 18 April 2008 Kabid P2 Kanwil MPI melakukan kunjungan ke KPPBC Tipe B Merauke untuk memantau daerah-daerah yang berbatasan langsung dengan Papua New Guinee (PNG). Pada kesempatan tersebut Kabid P2 Cece Kuswandi foto bersama dengan Kepala KPPBC Tipe B Merauke Myfriend Parlin Limbong berserta staf di perbatasan paling selatan Indonesia dengan PNG yaitu perbatasan/ Pos Pengawasan LBD Sota Merauke.Kiriman KPPBC Tipe B Merauke
FOTO : KIRIMAN FOTO : KIRIMAN

JAKARTA. Acara serah terima jabatan Ketua Dharma Wanita Persatuan KPU Bea & Cukai Tanjung Priok dari Ibu Agung Kuswandono kepada Ibu Kushari Supriyanto berlangsung pada tanggal 13 Maret 2008 di Ruang Serba Guna lantai V gedung KPU Bea dan Cukai. Acara dihadiri seluruh anggota Dharma Wanita Persatuan dan para karyawati di lingkungan KPU DJBC Tanjung Priok. Kiriman DWP KPU DJBC Tanjung Priok
FOTO : KIRIMAN

JAKARTA. Memperingati Hari Kartini, Departemen Keuangan mengadakan lomba menghias tumpeng yang diikuti 13 peserta mewakili masing-masing Direktorat Jenderal. Dalam lomba yang berlangsung pada 22 April 2008 tersebut DJBC meraih juara pertama. Tampak pada gambar peserta yang mewakili DJBC, (ki-ka) Ny. Rusmariza, Ny. Kusdirman (tengah), dan Ny. Sonny Subagyo. Kiriman DWP KP-DJBC
FOTO : ROGERS

JAKARTA. STAN Bea dan Cukai pada 15 Mei 2008 menyelenggarakan seminar bertemakan “Konversi PSAP Menuju ISA (International Standard on Auditing), Seberapa Siapkah Indonesia?” yang dibuka oleh Direktur STAN, Suyono Salamun, diikuti oleh beberapa perguruan tinggi diantaranya Universitas Tarumanegara, STAN 4, Universitas Petra, Universitas Hasanuddin, Atmajaya, STIE Trisakti. Seminar menampilkan pembicara Wakil Ketua DSPAP Ikatan Akuntan Publik Indonesia, Syarif Basyir, dan Suhartono dari KAP Kanaka Purwadireja, dengan moderator Tri Mahendra R dari BPK RI. Selain seminar juga diselenggarakan lomba Audit Challenge yang merupakan rangkaian acara lomba Akuntasi Nasional bertajuk “National Accounting Challenge” (NAC) 2008 yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa Himpunan Mahasiswa Akuntansi STAN. NAC diselenggarakan di kampus STAN Bintaro Jakarta Selatan ini berlangsung dari tanggal 12 – 16 Mei 2008. Kiriman STAN Bea dan Cukai

PEMATANG SIANTAR. Mengawali masa tugasnya, Kepala Kantor Wilayah DJBC Sumatera Utara Achmad Riyadi bersama dengan Kabag Umum dan Pj. Kasubbag TU/RT pada 10 April 2008 melakukan kunjungan kerja ke KPPBC Tipe B Pematang Siantar yang cukup potensial menghimpun penerimaan negara dari sektor cukai . Tampak pada gambar Kepala Kanwil DJBC Sumatera Utara beserta rombongan menyempatkan diri melakukan foto bersama Kepala Kantor, Elfi Haris beserta seluruh pegawai KPPBC Tipe B Pematang Siantar. Rogers KPPBC Pematang Siantar

34

WARTA BEA CUKAI

EDISI 403 JUNI 2008

FOTO : KIRIMAN

MAKASSAR. Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK) Departemen Keuangan Anny Ratnawati didampingi Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Bea dan Cukai Endang Tata melakukan kunjungan ke Makassar Sulawesi Selatan pada 7-9 Mei 2008 untuk melihat pelaksanaan Diklat Kesamaptaan yang berlangsung di Balai Diklat Keuangan di Makassar. Tampak pada gambar kiri suasana diklat kesamaptaan. Pada kesempatan tersebut Kepala BPPK dan juga Kepala Pusdiklat Bea dan Cukai berfoto bersama dengan Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) DJBC Sulawasi Teguh Indrayana, Kepala Bagian Umum Kanwil DJBC Sulawesi Tutung Budikarya, para pengajar balai diklat keuangan Sulawesi dan para peserta diklat kesamptaan (gambar kanan). (Kiriman Pusdiklat BC)
FOTO : ROGERS WBC/PPS

PEMATANG SIANTAR. Pada 9 Mei 2008 bertempat di ruang rapat, Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe B Pematang Siantar,. Elfi Haris, SH menyerahkan empat Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai (NPPBKC) kepada pengusaha Tembakau Iris. NPPBKC ini merupakan yang pertama dikeluarkan untuk pengusaha Tembakau Iris dan diharapkan dapat diikuti oleh Pengusaha Tembakau Iris lainnya. Rogers - KPPBC Pematang Siantar

JAKARTA. Ketua Koperasi Pegawai Kantor Pusat DJBC, Patarai Pabottinggi memberikan kenang-kenangan kepada perwakilan Kepala Sub Dinas Koperasi UKM Jakarta Timur, serta para penasehat koperasi pegawai KP-DJBC yaitu Dirjen Bea dan Cukai, Sekretaris DJBC dan Direktur Cukai usai membuka acara Rapat Anggota Tahunan yang ke-18 pada 24 April 2008 di Aula Gedung B, Kantor Pusat DJBC.
FOTO : IAN HERMAWAN

PONTIANAK. Test assesment untuk KPPBC Utama berlangsung di wilayah Kantor Wilayah DJBC Kalimantan Bagian selatan. Test yang berlangsung pada 19 hingga 20 April berlangsung di Auditorium Universitas Tanjungpura Pontianak dan diikuti oleh 61 peserta dari seluruh pegawai di lingkungan Kantor Wilayah DJBC Kalimantan Bagian Barat. Pada gambar kiri tampak peserta sedang mengerjakan test tertulis yang diikuti dengan test wawancara. Ian Hermawan, Pontianak
FOTO : ARI JULIANTO

JAKARTA. Dalam rangka memperingati hari Kartini pada 21 April 2008, Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Tanjung Priok mengadakan berbagai lomba diantaranya adalah lomba menghias tumpeng, dan Talkshow bertopik “Emansipasi dan Partisipasi Generasi Kartini Membangun Negeri” dengan pembicara anggota DPR-RI Yoyoh Yusroh Lc. sebagai keynote speaker, yang diikuti oleh pegawai di lingkungan KPU Bea dan Cukai Tanjung priok. (gambar kiri) Sementara dalam lomba pengucapan yel-yel yang diikuti oleh pegawai dilingkungan KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok, peserta lomba pengucapan yel-yel dari Bidang Kepatuhan Internal yang dipimpin Kepala Bidang Kepatuhan Internal Oza Olavia berhasil merebut Juara I. Lomba ini dinilai oleh juri yang terdiri dari Kepala KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok beserta istri dan juga Kepala Bagian Umum KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok juga beserta istri (gambar Kanan) (Ari Julianto KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok)

EDISI 403 JUNI 2008

WARTA BEA CUKAI

35

SIAPA MENGAPA
M U C H I D I N R U M A K W A Y , S. S O S. Pegawai KPPBC Ambon ini tetap semangat dalam melaksanakan tugas meskipun sebentar lagi akan menjalani masa pensiun pada September 2008 . Pria kelahiran Pulau Geser, 10 Agustus 1952 ini mengawali karir Bea dan Cukainya dari tanah kelahirannya. Pulau Geser adalah pulau yang sangat kecil dan sepi terletak sebelah tenggara Pulau Seram, hanya membutuhkan waktu lima belas menit untuk mengelilinginya. Selain itu untuk transportasi hanya ada kapal perintis yang lewat sebulan sekali dengan waktu tempuh perjalanan ke Ambon selama dua puluh jam. Pada 1970 Sekolah Menengah Atas satu-satunya di Pulau Geser tempat dimana menimba ilmu dibubarkan, sedangkan ia masih duduk di bangku kelas dua. Akhirnya Muchidin bertekad melanjutkan sekolah di Aliyah setingkat SMA di Pulau Geser. Sembari sekolah ia ditawari oleh Kepala Kantor Cabang Tingkat II DJBC Geser yang bernama D. Latumuhina waktu itu sebagai tenaga honor. “Karena letak kantor yang dekat dengan rumah dan dapat membagi waktu sekolah, akhirnya saya menyanggupinya, “kenang Muchidin. Selama kurang lebih sepuluh tahun mengabdi, pada 1980 ia diterima sebagai CPNS dan mendapat penempatan pertama di Kantor Bea dan Cukai Ambon. Kemudian pada 1984 ia dimutasi ke kampung halamannya di Pulau Geser hingga terbit Inpres 1985 yang membekukan Kantor Cabang Tingkat II DJBC Geser dan menjadi pos pengawasan saja. Dampak dari itu, semua pegawai dipindah ke kantor Bea dan Cukai Ambon. Selanjutnya Muchidin tidak pernah menyia-nyiakan waktu untuk menimba ilmu bidang Administrasi Negara di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Ambon dan berhasil meraih gelar sarjana sosial pada tahun 2000. Ketika terjadi kerusuhan di Ambon pada 2001 ia ditawarkan untuk pindah tugas. “Setelah berkonsultasi dengan keluarga serta mempertimbangkan faktor keamanan dan kelanjutan studi ketiga putranya, akhirnya saya memilih ke Jakarta dan ditempatkan pada KINSP Tanjung Priok I,”tutur pegawai yang punya motto hidup harus disertai dengan ilmu di mana saja dan kapan saja. Pada 2004 Muchidin dimutasikan ke KPBC Halim Perdana Kusuma hingga 2005 dan kemudian kembali ke KPBC Tanjung Priok I. Selanjutnya pada 2006 KPBC Tanjung Priok II dan pada 2007 KPBC Tanjung Priok III. Selama bertugas di Bea dan Cukai setelah melalui beberapa kali pindah pindah tugas , ia mengaku daerah yang punya kesan tersendiri ketika ia di KPBC Tanjung Priok I dalam melaksanakan tugas pengawasan boatzooking kapal tanker minyak yang berada satu mil dari tempat pengeboran B U D I P R A S E T Y O Saat ini pegawai KPU Jakarta, yang pada diklat Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) mendapat predikat terbaik dari sekian banyak siswa yang ikut, sehingga mendapatkan penghargaan langsung oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai Anwar Suprijadi, pada 7 Desember 2007 di penutupan diklat PPNS yang diselenggarakan oleh Pusat Pendidikan Reserse Kriminal (Pusdik Reskrim) Megamendung Bogor Jawa Barat. Dengan hasil tersebut, dirinya merasa sangat senang, karena dengan penilaian yang obyektif, membuat diklat PPNS yang dikutinya benar-benar sebagai pembelajaran bagi pegawai DJBC terhadap teknik-teknik penyidikan yang diajarkan selama 400 jam tersebut. “Diklat ini sebenarnya sudah lama saya nanti-nantikan, karena setelah lama vakum empat tahun, diklat ini baru kembali diadakan. Dan, saya merasa sangat terpanggil untuk mengikuti diklat ini sehingga tanpa buang-buang waktu saya mengikuti tes nya dan Alhadulillah saya lulus untuk mengikuti diklat PPNS,” ujar Budi Diklat PPNS yang diikuti oleh seluruh pegawai DJBC yang telah lulus seleksi ini, memang tidak difokuskan pada pegawai yang saat ini bertugas di jajaran Direktorat Penindakan dan Penyidikan. Meskipun pegawai tersebut dari Direktorat lain, namun tetap diberikan kesempatan untuk mengikutinya. Ketekunan Budi saat mengikuti diklat memang patut diacungkan jempol, karena tanpa rasa malu ia bertanya kepada teman-temannya yang telah lebih dulu ikut diklat ini. Budi juga kerap membekali dirinya dengan banyak membaca dan mempelajari hukum-hukum, baik ketentuan yang ada di DJBC maupun instansi lainnya. “Ini dilakukan karena, di kelas saya termasuk pegawai yang senior, sehingga kita harus memberi contoh kepada adik-adik yang lain bagaimana caranya agar kita berhasil dalam mengikuti diklat dan menjadikan diklat sebagai tambahan bekal ilmu dalam menjalankan tugas. Alhasil, Alhamdulilah saya lulus menjadi siswa terbaik dan siswa teladan,” ujarnya mengenang. Setelah lulus dengan predikat terbaik pada diklat PPNS, Budi yang lulusan Prodip III angkatan VIII, juga mencoba untuk mengikuti tes Assessment yang diselenggarakan oleh DJBC pada 8 Desember 2007 lalu. Menurutnya tes tersebut sangatlah bagus dan bermanfaat, karena selain dapat membuat profiling pegawai DJBC, juga dapat terlihat potensi dari para pegawai dalam mengembangkan karir. M. M A N G A L I K Bertugas hanya di satu bidang, memang terkadang membuat seseorang menjadi jenuh dan malas untuk bekerja. Namun, hal ini berbeda dengan Mangalik pegawai di Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe A1 Tanjung Perak. Sejak bertugas di DJBC tahun 1977 hingga 2008 penempatannya selalu disatu bidang, yaitu perbendaharaan. Mengenal DJBC karena ajakan mantan pejabat DJBC saat itu, yang memintanya untuk bekerja sebagai honorer di Kantor Inspeksi Tanjung Perak, membuat Mangalik sangat bersyukur karena mendapatkan pekerjaan yang sebelumnya tidak pernah dimimpikannya. Walaupun sebagai honorer, namun semangat kerja Mangalik sangat luar biasa, sehingga di tahun itu juga ia resmi diangkat menjadi pegawai DJBC. Sekalipin penempatannya sejak honorer hingga setelah menjadi pegawai hanya di perbendaharaan, ternyata banyak suka dan duka yang dilami dalam menjalankan tugas. “Tahun 1986, saya sempat minta dipindahkan ke bagian lain, dan saya ditempatkan di bagian tatausaha. Tapi baru tiga bulan tugas, saya sudah disuruh kembali menduduki posisi lama saya, yaitu di perbendaharaan,” ujar Mangalik. Lebih lanjut Mangalik bercerita, saat itu karena ada penerimaan pegawai baru dari prodip, maka bagian perbedaharaan dicoba untuk dikerjakan oleh pegawai baru, namun mereka banyak mengalami kesulitan sehingga Mangalik pun diminta kembali mengerjakan pekerjaan lamanya. “Kalau sukanya ya banyak, disini saya tidak merasa terbebani dalam menjalankan tugas, disini saya hanya bertiga jadi apa yang kami kerjakan pasti dapat terselesaikan dengan baik. Makanya, sejak saya bekerja hingga sekarang saya belum pernah mendapat teguran dari pimpinan, karena semua kerjaan dapat saya kerjakan dengan baik,” tutur Mangalik. Sementara itu, untuk dukanya, Mangalik mengatakan, sulitnya hidup sebagai pegawai negeri dengan pangkat rendah pastinya soal biaya hidup yang selalu tidak mencukupi, bahkan sepeda ontel

36

WARTA BEA CUKAI

EDISI 403 JUNI 2008

minyak di lepas pantai Cinta Natomas Monrovia, Kepulauan Seribu. “Ketika selesai melakukan boatzooking tim kami yang terdiri Customs, Imigrasi, dan Karantina akan turun ke boat yang kami tumpangi, tetapi karena ombak yang sangat besar mengakibatkan boat tidak bisa merapat ke kapal. Akhirnya kami dimasukkan ke dalam box dan diturunkan dengan crane kapal,” kenang pria penyandang sabuk coklat karate ini. Menjelang masa tugasnya Muchidin mengajukan permohonan pindah tugas ke KPPBC Ambon. Ketika ditanya mengenai rencana kegiatan apa yang dilakukan untuk mengisi waktu di masa pensiun ia mengatakan, “ usaha buka kios dan menjahit akan saya coba, karena dulu saya sempat ikut kursus menjahit serta pernah menjahit beberapa baju seragam pegawai.” Kedepannya ia berharap Bea dan Cukai akan lebih maju lagi dalam kinerja dan citra. “Untuk pegawai yang masih aktif, saya berharap terus belajar dan mengikuti perkembangan peraturan, karena organisasi selalu berubah mengikuti perkembangan jaman. Dengan membaca WBC tiap bulan tentunya akan dapat menambah wawasan terbaru,”ujar ayah tiga orang putera yang menikah dengan Saima pada 16 Desember 1981.

KONSUL TASI
KEPABEANAN & CUKAI
Dengan ini kami informasikan agar setiap surat pertanyaan yang masuk ke Redaksi Warta Bea Cukai baik melalui pos, fax ataupun e-mail, agar dilengkapi dengan identitas yang jelas dan benar. Redaksi hanya akan memproses pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dengan menyebutkan identitas dan alamat yang jelas dan benar. Dan sesuai permintaan, kami dapat merahasiakan identitas anda. Demikian pemberitahuan ini kami sampaikan, atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih. Redaksi

S

KAWASAN BERIKAT

bambang wicaksono

ehubungan dengan adanya kebijakan perekonomian di negara kita yang memberi kemudahan/fasilitas kepada para investor berupa Kawasan Berikat, maka sebagai petugas/pelaksana di lapangan, izinkanlah saya untuk menyampaikan beberapa hal setentangnya. Berdasarkan Kep Dirjen No-63/BC/1997 Tentang Tata Cara Pendirian dan Tata Laksana Pemasukan dan Pengeluaran Barang Ke dan Dari Kawasan Berikat, bab VII, pasal 42 ayat (3) yang berbunyi : PDKB dapat mengeluarkan mesin dan/atau peralatan pabrik ke DPIL dengan tujuan untuk direparasi/diperbaiki dengan menggunakan formulir BC 2.3 dan menyerahkan jaminan sebagaimana dimaksud dalam pasal 40 kepada Bendaharawan Bea dan Cukai atau Pejabat yang Ditunjuknya. Dan Ayat (4) yang berbunyi : Reparasi/perbaikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diizinkan dalam jangka waktu paling lama 12 (dua belas) bulan sejak mesin dan/atau peralatan pabrik dikeluarkan. Yang mau saya tanyakan adalah : 1. Bila mesin dan/atau peralatan pabrik yang akan dikeluarkan, untuk reparasi adalah barang yang sepenuhnya berasal dari DPIL. Apakah pengeluarannya menggunakan formulir BC 2.3 ? 2. Bila kegiatan seperti di atas, apakah PDKB diwajibkan menyerahkan jaminan ? Karena menurut sepengetahuan saya, jaminan diadakan adalah untuk melindungi hak-hak keuangan negara terhadap suatu kegiatan yang masih mempunyai kewajiban pembayaran kepada negara. Demikian pertanyaan ini saya sampaikan, kiranya berkenan menjawabnya mengingat begitu pentingnya kejelasan pelaksanaannya dalam pelayanan dan pengawasan fasilitas Kawasan Berikat. Atas jawaban dan penjelasannya, saya ucapkan terima kasih. MELKIA SINAR J SIANTURI NIP 060107901 KPPBC Bandar Lampung TANGGAPAN : Sehubungan dengan pertanyaan konsultasi, dengan ini disampaikan jawaban sebagai berikut : 1. Bahwa Pasal 13 ayat (2) Keputusan Menteri Keuangan Nomor 291/KMK.05/1997 jo. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 101/PMK.04/2005 dan Pasal 42 ayat (3) Kep. Dirjen BC Nomor Kep-63/BC/1997, pada intinya menyatakan bahwa PDKB dapat mengeluarkan mesin dan/atau peralatan pabrik ke DPIL dengan tujuan untuk direparasi/diperbaiki dengan menggunakan formulir BC 2.3 dan menyerahkan jaminan kepada Bendaharawan Bea dan Cukai atau pejabat yang ditunjuknya. 2. Dalam hal barang yang akan dilakukan reparasi tersebut sepenuhnya berasal dari DPIL, maka atas pengeluaran barang tersebut dari PDKB ke DPIL tetap harus menggunakan formulir BC 2.3 dan mempertaruhkan jaminan kepada Bendaharawan Bea dan Cukai atau pejabat yang ditunjuknya, dengan alasan sebagai berikut : - Terhadap barang tersebut juga masih melekat hak-hak keuangan negara berupa PPN dan PPnBM (lokal/dalam negeri), karena pada waktu pemasukan barang tersebut dari DPIL ke PDKB mendapatkan fasilitas tidak dipungut PPN dan PPnBM; - Penggunaan dokumen BC 2.3 dalam kegiatan tersebut ditujukan untuk memberi perlindungan dalam pengangkutan barang sekaligus memberi pengawasan yang dapat menjelaskan bahwa pada barang tersebut masih terdapat hak-hak keuangan negara; - Kewajiban penyerahan jaminan (senilai PPN dan PPnBM atas barang tersebut) ditujukan untuk memberi kepastian bahwa tidak akan terjadi kerugian negara apabila barang yang dikeluarkan untuk direparasi di DPIL tersebut tidak kembali lagi ke PDKB, karena bila hal itu terjadi jaminan yang dipertaruhkan tersebut akan dicairkan di KPPBC setempat. Demikian disampaikan. DIREKTUR FASILITAS KEPABEANAN KUSDIRMAN ISKANDAR NIP 060062019
EDISI 403 JUNI 2008 WARTA BEA CUKAI

Ayah dua anak yang lahir pada 23 Juli 1974 ini, rupanya juga mempunyai harapan dari tes assessment yang telah diikutinya. Dengan adanya profiling pegawai diharapkan DJBC dapat memetakan potensi yang telah ada untuk tujuan organisasi. “Selama 12 tahun berkarir, saya melihat bea cukai sekarang sudah banyak perubahan dan beda ketika saya pertama kali masuk bea cukai. Dari 12 tahun masa tugas saya itu, pengalaman yang paling berkesan adalah saat bertugas di Tanjung Balai Karimun, yang merupakan tugas pertama kali menjadi korlak Patroli dan operasi,”ujar Budi Dengan menjadi korlak patroli, dirinya dituntut untuk dapat mengayomi anggotanya baik dalam menjalankan tugas, maupun saat menghadapi penyelundup. “Di TBK memang cukup menantang, sehingga sangat tepat jika ada yang mengatakan : seorang pegawai DJBC belum dapat disebut pegawai sejati kalau belum bertugas di TBK. Ya kalau bisa bagi pegawai yang baru lulus penempatan mereka pertama adalah TBK, karena memang selain dibutuhkan kemampuan fisik juga kemampuan berfikir dalam bertugas,” tandas Budi. ats yang merupakan alat transportasi satusatunya yang ia miliki, pernah digadaikan ke pengadaian untuk menutupi biaya hidupnya bersama empat putra-putrinya. “Waktu itu orang sempat tidak percaya, masa pegawai Departemen Keuangan menggadaikan sepeda ontel untuk biaya hidup? Tapi apa mau dikata memang itu kenyataanya. Namun, saat ini sudah lain, saya sangat bersyukur karena dengan adanya peningkatan kesejahteraan ditambah remunerasi yang diberikan, kesulitan biaya hidup tidak menjadi hambatan lagi,” ungkap Mangalik. Pria kelahiran 13 januari 1965 ini, memang selalu tekun dalam menjalankan tugasnya, untuk itu kepada para pegawai lainnya, dirinya berharap agar apa yang telah diberikan Direktorat selama ini haruslah disyukuri dengan meningkatkan kualitas kemampuan dan tingginya integritas dalam bekerja. Karena, hanya dengan itulah DJBC akan lebih maju dan selalu dihargai oleh masyarakat Indonesia. adi

37

PENGAWASAN
FOTO-FOTO WBC/ATS

PARA PESERTA SOSIALISASI yang diadakan mulai tanggal 28 April 2008 sampai 2 Mei 2008.

IDENTIFIKASI CPO DAN PRODUK TURUNANNYA
Upaya meningkatkan kualitas SDM DJBC dalam melakukan pengawasan produk CPO dan turunannya sehingga terjaga stabilitas pengadaan CPO di dalam negeri dan terjamin pelaksanaan pemungutan Pajak Ekspor dalam rangka Ekspor CPO.
perdagangan antara pulau untuk selanjutnya di ekspor secara ilegal. Selama ini, produk CPO diduga banyak diselundupkan ke Malaysia dan Singapura. Dengan adanya indikasi peningkatan penyelundupan dengan modus antarpulau tersebut menyebabkan instansi ini diberi tugas baru untuk melakukan pengawasan. Pengawasan terutama akan dilakukan oleh Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai yang ada di beberapa pelabuhan besar yang menjadi pelabuhan asal atau tujuan perdagangan CPO, antara lain kantor pelayanan yang punya CPO dan ada tujuan CPO , antara lain Dumai, Jambi, Palembang, dan Belawan. Terakhir, pelabuhan ini (Belawan) disebut-sebut sebagai lokasi yang rawan diselundupkannya CPO ke negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Karena itu, untuk mengantisipasi aparatnya dalam melakukan pengawasan terhadap penyimpangan ekspor untuk produk CPO, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai melalui Direktorat Penindakan dan Penyidikan (P2) melakukan Sosialisasi Identifikasi CPO dan Produk Turunannya. Sosialisasi gelombang pertama diikuti oleh 42 peserta berlangsung mulai tanggal 28 April 2008 sampai 2 Mei 2008. Pembukaan sosialisasi dilakukan oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Kamil Sjoeib di ruang Loka Muda Kantor Pusat DJBC. Hadir pula dalam pembukaan tersebut ABDUL AZIZ HADY. Pengajar dapat Direktur P2 DJBC, Jusuf memberikan kuis dengan mengidenIndarto dan trainer dari PT. tifikasi sampel produk yang ada, dan Sucofindo yaitu M. Heru Riza peserta secara cepat dapat menebak Ch. Sebelum dilakukan pelamana CPO, Crude Olein, CPKO, RBD tihan, terlebih dahulu, SekditPalm Oil, PFAD dan sebagainya.

SOSIALISASI

P

raktek penyelundupan minyak sawit mentah atau yang lebih populer dengan sebutan Crude Palm Oil (CPO) ke luar negeri dinilai menjadi salah satu faktor pemicu kenaikan harga minyak goreng di pasaran dalam negeri akhir-akhir ini. Sebagaimana diketahui minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan produk turunannya merupakan produk unggulan yang mendominasi produk asal Indonesia yang diekspor dan akibat tingginya ekspor CPO ini mengakibatkan kelangkaan suplai minyak goreng di dalam negeri. Di sisi lain, pemerintah sendiri mengakui kalau saat ini pengawasan ekspor belum maksimal. Harga CPO di pasaran internasional yang tinggi saat ini mendorong produsen komoditas tersebut lebih memilih untuk mengekspor daripada menjual ke dalam negeri. Instrumen Pajak Ekspor (PE) CPO yang diterapkan pemerintah rasanya tak mampu menekan laju ekspor, bahkan untuk menghindari PE banyak yang melakukan penyelundupan. Upaya lain yang dilakukan pemerintah adalah dengan pengenaan Bea keluar atau dulu dikenal dengan pungutan ekspor yang dikenakan untuk beberapa produk salah satu diantaranya adalah minyak kelapa sawit (CPO). Penetapan bea keluar ditetapkan dalam Undang-Undang Kepabeanan, sedangkan pungutan ekspor hanya ditetapkan dalam peraturan pemerintah. Dengan demikian, bea keluar jauh lebih kuat dibanding pungutan ekspor. Terkait dengan hal itu terutama mengenai masalah pengawasannya untuk CPO, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) akan terlibat dalam pengawasan perdagangan antarpulau. Selain itu, DJBC juga akan meningkatkan pengawasan pelabuhan-pelabuhan di Sumatera yang menjadi pelabuhan asal atau tujuan perdagangan komoditas tersebut. Kebijakan ini dilakukan untuk menekan penyelundupan CPO memanfaatkan
WARTA BEA CUKAI EDISI 403 JUNI 2008

38

jen Bea dan Cukai menyematkan tanda peserta sosialisasi ke salah satu peserta. Pendapat dan masukan WBC himpun pada beberapa peserta sosialisasi untuk mengetahui pelaksanaan sosialisasi dan manfaat apa saja yang didapat para peserta. Abdul Aziz Hady, salah seorang peserta sosialisasi yang bertugas di Kantor Pelayanan Utama (KPU) Bea dan Cukai Tanjung Priok menyatakan, dengan adanya sosialisasi ini menunjukkan bahwa DJBC menaruh perhatian yang serius terhadap CPO khususnya penyelundupan keluar negeri terhadap produk CPO. Perhatian ini menurut Azis wajar karena adanya informasi bahwa telah terjadi penyelundupan CPO ke luar negeri sehingga mengganggu stok dan harga minyak goreng di dalam negeri dan pelarian pajak ekspor. Ia melihat bahwa DJBC ingin agar pegawai bea cukai memiliki kemampuan dalam mengindentifikasi produk CPO dan turunannya, sehingga diharapkan nantinya mampu mengidentifikasi mana produk CPO yang kena pajak ekspor dan mana yang tidak. “Sosialisasi ini sangat menunjang tugas pegawai bea cukai, dari sosialisasi ini saya sudah dapat melakukan sounding atau mengukur berapa jumlah yang CPO yang diangkut oleh kapal atau berapa jumlah CPO yang disimpan di tangki, tentunya dengan bantuan alat sounding dan buku sounding table dari kapal atau tangki tersebut,” ujar Azis . Dari sosialisasi ini, lanjut Azis setidaknya dapat mengidentifikasi CPO dan produk turunannya secara dini walaupun hasilnya tetap harus menunggu laboratorium, namun setidaknya yang tadinya tidak tahu CPO dan produk turunannya apa saja, namun setelah mengikuti sosialisasi ini menjadi tahu. Banyak manfaat yang dapat dipetik Azis dari materi sosialisasi ini, mulai dari bagaimana membuat dan mengelola perkebunan CPO, mengenal turunan CPO, melihat sampel produk CPO dan turunannya, cara mengukur banyaknyaCPO, teknik pengambilan contoh dan bagaimana teknik Sucofindo dalam menganalisa CPO. Semua pengajar sosialiasi ini berasal dari Sucofindo kecuali materi pengawasan lalu lintas CPO. Materi yang para peserta dapat pada diklat sosialisasi ini adalah Budidaya Kelapa Sawit, Teknik Sampling, Metode dan Standar Pengujian, dan Measurement Quantity on shore tank and ship tank. Sedangkan pembicara yang menyampaikan sosialisasi ini menurut Azis sudah cukup komunikatif dan mudah dipahami karena sangat menguasai bidangnya. Hanya ada materi yang tidak terlalu berhubungan dengan kerja bea dan cukai namun diberikan sehari penuh pada hari pertama yaitu tentang pengelolaan perkebunan CPO (budidaya kelapa sawit) yang diajarkan mulai dari pembibitan, pencarian lahan, mengatasi hama sampai dengan pemanenan CPO. “Harapan setelah mengikuti sosialisasi ini, saya dengan kasat mata dan penciuman (penginderaan) mampu mengidentifikasi CPO dan produk turunannya secara cepat dan akurat dengan begitu secara cepat pula saya dapat mengetahui mana produk CPO atau turunannya yang kena pajak ekspor dan yang tidak kena pajak ekpor. Seperti yang kita ketahui dalam peraturan bahwa turunan CPO seperti PFAD (Palm Fatty Acid Distillat) dan PAO (Palm Acid Oil) adalah produk turunan CPO yang tidak kena pajak ekspor sehingga ketika produk-produk yang tidak kena pajak ekspor ini digunakan sebagai modus operandi RICO POLTAK TUAHOT HUTASOIT. pelarian pajak ekspor kita da- Berharap sosialisasi tidak hanya dilakukan di Kantor Pusat saja, tetapi pat mengidentifikasi secara juga di Kantor Pelayanan yang cepat dan akurat. Dan setememiliki atau melakukan kegiatan lah mengikuti sosialisasi ini ekspor CPO.

PEMBUKAAN SOSIALISASI Identifikasi CPO dan Produk turunannya yang dibuka oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Kamil Sjoeib.

saya tahu bahwa hasil akurat hanya dapat dihasilkan melalui pengujian laboratorium,” imbuhnya. Azis mengajukan usul agar pada sosialisasi ke depan dapat difokuskan pada materi-materi identifikasi secara cepat, artinya pengajar dapat memberikan trik-trik atau rahasia-rahasia dalam mengidentifikasi produk CPO dan turunannya ini secara cepat dan akurat dan fokus dalam membedakan produk CPO dan turunannya, karena menurut Peraturan Menteri Keuangan Nomor 09/PMK.011/2008 besaran tarif pungutan ekspor sangat bervariatif dan sangat tergantung dari produknya. “Jadi saya berharap pengajar dapat memberikan kuis dengan mengidentifikasi sampel produk yang ada, dan peserta secara cepat dapat menebak mana CPO, Crude Olein, CPKO, RBD Palm Oil, PFAD dan sebagainya. Kemudian materi pengolahan perkebunan CPO dapat dikurangi, artinya diberikan secara global saja tidak mendetail bahkan satu hari penuh. Namun materi-materi teknik sampling dan cara sounding tetap harus dipertahankan,” demikian harapan Azis. Hal senada juga disampaikan Rico Poltak Tuahot Hutasoit, pegawai pada Direktorat Penindakan dan Penyidikan. Dengan adanya sosialisasi ini sangat menunjang bagi tugasnya di bidang pengawasan, terutama memberikan gambaran mengenai CPO dan turunannya , mulai dari tata cara penyimpanan dan penyaluran CPO dari tangki kapal serta penghitungan volume tangki yang telah diisi CPO. Sehingga dalam pelaksanaan ekspor barang yang terkena pajak ekspor untuk CPO, petugas telah memiliki pemahaman serta kemampuan dalam melakukan uji dokumen Pemberitahuan Ekspor Barang dengan manifest kapal hasil sounding. “Dalam memahami materi yang disampaikan, saya pribadi tidak merasa kesulitan untuk memahaminya karena pembicara cukup komunikatif dan mudah dipahami, karena itu saya berharap dalam sosialisasi sejenis ini tidak hanya dilakukan di Kantor Pusat saja, tetapi juga di Kantor Pelayanan yang memiliki atau melakukan kegiatan ekspor CPO. Sehingga tingkat atau jumlah pegawai yang mempunyai pemahaman dan skill dalam menghitung volume CPO dapat ditingkatkan karena ini akan membantu dalam pengawasan ekspor CPO dan turunannya,” imbuh Rico. “Agar lebih merata pengetahuan pegawai di KPPBC yang lain tentang CPO dan turunannya mungkin akan lebih baik, dan jika memungkinkan, ada tim asistensi ke daerah sehingga aplikasinya lebih terasa ke sampai masyarakat usaha,” demikian ujar Rico yang mengucapkan terimakasih kepada pimpinan karena diberikan kesempatan mengikuti sosialisasi tersebut. ris
EDISI 403 JUNI 2008 WARTA BEA CUKAI

39

PENGAWASAN

MMEA ILEGAL DAN PITA CUKAI PALSU
DIAMANKAN KANWIL DJBC JAKARTA

FOTO-FOTO WBC/ZAP

D

Kanwil DJBC Jakarta dapat menyelamatkan potensi keuangan negara sebesar Rp.27.569.983.769,34.

ari hasil pelaksanaan tugas pengawasan di lingkungan Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Jakarta dari awal Mei akhirnya membuahkan hasil yaitu dengan dilakukannya penindakan terhadap penimbunan dan peredaran Minuman Mengandung Etil Alkohol (MMEA) illegal sebanyak 14437 botol yang dilakukan oleh tersangka MSN diberbagai lokasi. “Para pelaku tertangkap tangan saat mereka sedang melekatkan pita cukai pada MMEA disebuah rumah kontrakan. Harusnya sesuai dengan aturan, MMEA tersebut disimpan di dalam gudang penyimpanan resmi dan sebelum keluar dari kawasan pabean mestinya sudah dilekati pita cukai,” demikian menurut Septia Atma, Kepala Bidang Penindakan dan Penyidikan Kanwil DJBC Jakarta dalam jumpa pers di Kanwil DJBC Jakarta, Kamis 15 Mei 2008. Dalam melakukan aksinya, lanjut Atma, para pelaku menggunakan modus operandi dengan menyimpan/ menimbun, menjual MMEA tanpa Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai (NPPBKC), tanpa dilekati pita cukai dan dilekati pita cukai palsu serta menyimpan dan mempergunakan atau melekatkan pita cukai palsu. Ketika WBC menanyakan apakah pita cukai palsu tersebut terkait dengan jaringan pengedar pita cukai palsu yang berhasil dibekuk sebelumnya, Septia Atma mengatakan, kemungkinan-kemungkinan itu bisa saja terjadi,

MMEA ILEGAL DENGAN PITA CUKAI PALSU DAN POLOS yang berhasil diamankan aparat Kanwil DJBC Jakarta.

PITA CUKAI PALSU MMEA impor golongan B1 dan Golongan C sebanyak 5.105 keping saat dilakukan pendeteksian dengan sinar ultra violet.

untuk itu pihaknya terutama di bidang P2 masih terus melakukan pengembangan lebih lanjut Sementara itu menurut Kepala Kantor Wilayah DJBC Jakarta, Heru Santoso, tindakan yang diambil pihaknya sampai saat ini sedang dilakukan penyidikan terhadap tersangka oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil Kanwil DJBC Jakarta. Dalam kasus ini aparat Kanwil DJBC Jakarta melakukan penindakan di tiga lokasi pada waktu yang bersamaan yaitu pada 10 mei 2008. Seperti diuraikan Heru Santoso, di lokasi Sumur Batu, yaitu di Gudang Sumur Batu, Jakarta Pusat, berhasil diamankan 1.224 karton atau 10.422 botol MMEA berbagai merek dan jenis. Di lokasi Muara Baru dan Bendungan Jago, yaitu di Gudang Muara Baru Jakarta Utara, berhasil diamankan 576 karton atau 4.015 botol MMEA impor berbagai merek dan jenis. Dari keseluruhan barang bukti di Sumur Batu, Muara Baru dan Bendungan Jago terdapat 145 karton @ 4 liter yang telah dilekati dengan pita cukai palsu, selebihnya polos atau belum dilekati pita cukai. Sedangkan di lokasi Sumur Batu, aparat berhasil mengamankan 5.105 keping pita cukai MMEA impor golongan B1 dan golongan C. Atas perbuatan tersebut pelaku telah melanggar UU Cukai No. 37 Tahun 2007 pasal 54 dengan ancaman pidana penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 5 tahun dan atau pidana denda paling sedikit 2 kali nilai cukai dan paling banyak 10 kali nilai cukai yang seharusnya dibayar, dan pasal 55 dengan ancaman pidana penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 8 tahun dan pidana denda paling sedikit 10 kali nilai cukai dan paling banyak 20 kali nilai cukai yang seharusnya dibayar. ris

40

WARTA BEA CUKAI

EDISI 403 JUNI 2008

WBC/ATS

IMPORTASI

DITEGAH PETUGAS KPU BEA DAN CUKAI TANJUNG PRIOK
SOSIALISASI DAN PELATIHAN CNT.Dikuti oleh para pegawai DJBC yang betugas di wilayah pelabuha, bandara dan juga wilayah perbatasan dengan para penyaji materi dari instansi pemerintah yang terkait dengan masalah narkoba.

MOBIL MEWAH ILEGAL,

SOSIALISASI DAN PELATIHAN CNT TAHAP II DI KP-DJBC
Untuk kedua kalinya dalam tahun 2008 Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) bekerjasama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) melakukan pelatihan kepada para petugas DJBC yang tergabung dalam Customs Narcotics Team (CNT).

S

osialisasi dan pelatihan CNT yang kedua ini berlangsung selama dua pekan dari tanggal 5 Mei hingga 16 Mei 2008 di Kantor Pusat DJBC dan diikuti oleh 59 pegawai DJBC dari seluruh Indonesia dengan para penyaji materi dari berbagai instansi seperti Imigrasi, DJBC, Badan Narkotika Nasional (BNN) serta pihak perusahaan penerbangan seperti Garuda Indonesia. Pelatihan ini juga disertai dengan simulasi di kawasan bandara Soekarno Hatta dan Pelabuhan Tanjung Priok. Dalam sambutannya pada acara pembukaan sosialisasi dan pelatihan CNT, Sekretaris Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (Sekditjen) Kamil Sjoeib mengatakan, DJBC mempunyai peran cukup besar untuk menangkal masuknya narkoba ilegal dari luar negeri melalui pintu-pintu masuk ke Indonesia seperti pelabuhan laut, bandara maupun perbatasan darat yang berbatasan langsung dengan negara tetangga. Namun lanjutnya lagi, keberadaan CNT harus pula ditunjang dengan kemampuan dan keterampilan petugas dalam menjalankan tugasnya, sehingga keberadaan CNT dilapangan dapat memberikan kontribusi yang cukup besar. “Setelah melalui pelatihan ini diharapkan para personil CNT dapat menerapkan pengetahuan yang diterima dan memberikan kontribusi yang berarti dalam upaya menegah masuknya narkoba ke Indonesia,”papar Kamil. Hal senada juga disampaikan oleh Direktur P2 Jusuf Indarto yang hadir pada acara pembukaan. Menurutnya, selain kehandalan petugas dalam menguasai aturan dan juga kelihaian melakukan pemeriksaan barang, naluri yang kuat untuk dapat menegah suatu barang illegal dengan berbagai macam modus harus juga dimiliki oleh petugas, sehingga masuknya barang ilegal tersebut dapat ditekan dengan maksimal,”Pelatihan CNT ini harus juga meningkatkan kewaspadaan dan mempertajam naluri kita dilapangan untuk menegah masuknya barang illegal ke Indonesia,”paparnya. Juga hadir dalam pembukaan acara pelatihan tersebut Kepala Pusat Pengendalian Operasi Badan Narkotika Nasional (Kapusdalops BNN) Tommy Sagiman. Menurut Tommy, para sindikat narkoba internasional tentunya akan berpikir untuk bisa memasukkan narkoba ke Indonesia, karena saat ini kawasan bandara dan juga pelabuhan di Indonesia sudah semakin ketat pengawasan dan pemeriksaannya. Kualitas SDM yang sudah cukup berkualitas dan juga peralatan canggih di pelabuhan laut, bandara dan juga wilayah perbatasan darat, bisa membuat para sindikat khawatir akan tertangkap. “Ini bisa kita lihat dengan terungkapnya narkoba yang masuk melalui kawasan perumahan elit yang berdekatan dengan laut, karena wilayah pelabuhan dan juga bandara pengawasanya sudah semakin ketat,”jelas Tommy. Sama halnya dengan yang dikatakan Kamil Sjoeib dan Jusuf Indarto, ia mengharapkan dari pelatihan ini para petugas yang berada di pintu gerbang masuk Indonesia bisa memberikan kontribusi yang cukup besar dalam meredam masuknya narkoba ke Indonesia. ”Keberadaan CNT di beberapa wilayah kerja DJBC bisa dikatakan efektif, kita bisa lihat beberapa waktu lalu, berbagai tegahan narkoba berhasil digagalkan oleh CNT, yang terjadi kemarin di Bandara Juanda Surabaya dan Bandara Soekarno Hatta zap

D

Dua buah mobil mewah bekas asal Singapura yang rencananya akan dimasukkan ke wilayah Indonesia melalui Pelabuhan Tanjung Priok secara illegal, berhasil digagalkan petugas Bea dan Cukai Kantor Pelayanan Utama (KPU) Bea dan Cukai Tanjung Priok Jakarta.

ua mobil mewah jenis Mercedes Benz Tipe S 430 dan Lexus tipe LS 430 menurut Kepala KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok Kushari Suprianto, ditegah setelah Bidang Penindakan dan Penyidikan KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok mendapatkan informasi mengenai importasi mobil mewah tersebut dilakukan secara ilegal. “Dikatakan illegal karena pada kontainer yang berisi dua mobil mewah tersebut dalam manifest BC 1.1 diberitahukan sebagai cartridge 385D sebanyak 36 palet, ini dilakukan untuk menghindari kewajiban membayar Bea Masuk (BM) dan Pajak Dalam Rangka Impor (PDRI),”terang Kushari. Masih menurut Kushari, pihaknya mengikuti pergerakan mobil ilegal tersebut begitu kontainer yang mengangkutnya datang di pelabuhan. ”Kami dapat menggagalkan kontainer tersebut setelah mendapat informasi dan menindaklanjutinya dengan kegiatan pengawasan lainnya, walaupun ketika kontainer akan keluar pelabuhan, suasana hujan dan kamera CCTV mati karena padamnya listrik,” paparnya pada acara press release di JICT Tanjung Priok, 8 Mei 2008. Hingga berita ini diturunkan, piWARTA BEA CUKAI

EDISI 403 JUNI 2008

41

PENGAWASAN
FOTO-FOTO WBC/ATS

tahun 2006 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan, dimana pelaku dipidana paling singkat satu tahun dan pidana penjara lama sepuluh tahun dan pidana denda paling sedikit Rp. 50 Juta dan paling banyak Rp. 5 miliar Sementara itu barang impor yang ditegah tersebut dalam proses untuk ditetapkan sebagai Barang yang Dikuasai Negara, dan kerugian negara yang berhasil diselamatkan atas improtasi tersebut adalah sebesar Rp.3,2 miliar. Inspektur Jenderal Departemen Keuangan Permana Agung yang hadir dalam acara press release mengatakan salut dengan tindakan KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok dalam mengamankan penerimaan negara dari tindakan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab melalui MOBIL MEWAH BEKAS asal Singapura yang masuk secara illegal, kasusnya masih terus dikembangkan oleh kegiatan importasi illegal. Mepetugas KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok. nurutnya lagi, kegiatan pengawasan tersebut harus tetap dilanjutkan dan ditingkatkan. hak KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok masih melakukan penyeliUntuk lebih meningkatkan pengawasannya, maka itjen dikan lebih lanjut untuk mengetahui pemilik barang mewah lanjutnya akan senantiasa membantu petugas untuk mengatersebut dan importir yang melakukan importasi mobil mewah ilemankan penerimaan negara dari kegiatan importasi illegal gal dengan cara, salah satunya melakukan wawancara dengan dari pihak-pihak yang bertanggung jawab dan yang ingin menpihak-pihak terkait dengan kasus importasi illegal tersebut. Pelaku importasi illegal tersebut yang kini masih terus diselicoba mempengaruhi kinerja KPU Bea dan Cukai, baik dari sediki, dikenakan pasal 102 huruf f Undang-Undang Nomor 17 gi pengawasan maupun dari pelayanan. zap

KPPBC SOEKARNO-HATTA MUSNAHKAN HASIL TEGAHAN

KOKAIN, EKSTASI, SHABU DAN KETAMINE

Dalam kurun waktu tiga bulan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe A1 Soekarno-Hatta, berhasil menegah 10 tersangka warga negara asing yang membawa 485,40 gram kokain, 22.020,16 gram shabu, dan 8.387 butir ekstasi, yang keseluruhannya diperkirakan mencapai Rp.118 milyar.

U
42

paya Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) dalam memberantas peredaran narkotika, memang tidak pernah surut. Upaya ini terlihat dengan gencarnya Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe A1 SoeEDISI 403 JUNI 2008

karno-Hatta yang dalam tiga bulan terakhir ini terus menegah produk narkoba, seperti kokain, shabu-shabu, ekstasi dan ketamine. Dari hasil tegahan tersebut, diperkirakan KPPBC Soekarno-Hatta telah menegah barang haram yang nilainya mencapai Rp.118 milar. Akan keberhasilan ini, KPPBC Soekarno-Hatta menggelar acara pemusnahan barang hasil tegahan tersebut yang dilaksanakan pada 15 Mei 2008 di halaman gedung B KPPBC Soekarno-Hatta. Hadir pada acara tersebut Gubernur Banten, Hj. Ratu Atut Choisyiah, Kakanwil DJBC Banten, Bachtiar, Kapolsek Bandara, BNN, LSM bidang narkotika (Granat), dan instansi terkait lainnya yang ada di Bandara Seokarno-Hatta. Pada kata sambutannya, Kepala KPPBC Tipe A1 Soekarno-Hatta, Rahmat Subagio, mengucapkan terima kasih atas dukungan yang diberikan oleh seluruh jajaran di bandara Soekarno-Hatta, dalam memberantas penyelundupan narkotika dan psikotropika. Lebih lanjut, Kakanwil DJBC Banten, Bachtiar menyampaikan, jaringan narkotika dan psikotropika ini telah melibatkan beberapa negara, untuk itu kesiapan aparat DJBC dalam menegah masuknya barang haram tersebut haruslah lebih diperketat dan dioptimalkan.”Kami harap KPPBC Soekarno-Hatta jangan merasa puas dengan hasil ini, karena kemungkinan masih banyak barang haram yang akan masuk melalui bandara ini,” ujar Bachtiar. Sementara itu, pada kata sambutannya Gubernur Banten menyampaikan, segenap jajaran Provinsi Banten akan mendukung upaya yang dilakukan DJBC khususnya KPPBC Soekarno-Hatta dalam memberantas narkoba. Dan dengan acara pemusnahan ini diharapkan para pemasok, pengedar, dan pemakai akan menjadi jera karena apapun bentuk narkoba sangat membahayakan bangsa ini.

WARTA BEA CUKAI

dimusnahkan dengan cara di bakar. Dan, Gubernur Banten secara langsung menyulutkan api ke barang haram tersebut sebagai bentuk perang terhadap peredaran narkoba.

DITEGAH
Sementara itu seminggu sebelumnya, dalam kurun waktu delapan hari, yaitu pada 6 hingga 13 Mei 2008, KPPBC Soekarno-Hatta berhasil menegah dua warga negara Taiwan yang membawa shabu-shabu dan ketamine. Dari kedua tersangka tersebut, berhasil ditegah 2,282 gram shabu bernilai kurang lebih Rp.3,4 milyar. Sedangkan dari warga negara Taiwan lainnya yang ditegah pada 13 Mei 2008, berhasil ditegah shabu sebanyak 2,500 gram dan 400 gram ketamine, yang keseluruhannya bernilai Rp.4,5 milyar. Menurut Kepala Seksi Penindakan dan Penyidikan KPPBC Soekarno-Hatta, Eko Dharmanto, tersangka pembawa shabu-shabu asal Taiwan yang berhasil ditegah petugas KPPBC Soekarno-Hatta kemungkinan memang berasal dari satu jaringan psikotropika, hal ini dapat terlihat dari pembungkus shabu tersebut, umumnya dikemas dalam satu produk makanan yang sama. Namun demikian, untuk lebih memastikan, petugas kini masih melakukan penyidikan terhadap tersangka untuk melihat kemungkinan tersebut. Sementara itu, untuk ketamine yang merupakan obat bius sehingga mempunyai efek halusinasi dan dapat dijadikan sebagai bahan campuran pembuat ekstasi, untuk itu peredarannya sangat dibatasi. Upaya penyelundupan ketamine ke Indonesia ini juga dinyatakan telah melanggar pasal 81 undang-undang kesehatan RI nomor 23 tahun 1992, dengan ancaman penjara maksimal tujuh tahun. adi

SATU JARINGAN. Para tersangka yang dalam tiga bulan berhasil ditegah petugas KPPBC Soekarno-Hatta karena membawa shabu-shabu dan ketamine, dimungkinkan berada dalam satu jaringan yang terorganisir.

“Secara khusus saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya akan upaya bea cukai dalam memberantas narkoba, untuk itu kami secara khusus juga nanti akan memberikan penghargaan sebagai rasa syukur kami atas keberhasilan yang dicapai bea cukai,” papar Hj. Ratu Atut Choisyiah. Diakhir acara, dengan disaksikan oleh seluruh tersangka, maka narkotika dan psikotropika yang berhasi ditegah,

DIMUSNAHKAN. Empat kilo kokain, puluhan kilo shabu dan ketamin, juga ribuan butir ekstasi yang bernilai ratusan milyar, dimusnahkan KPPBC Soekarno-Hatta, yang disaksikan langsung oleh Gubernur Banten. EDISI 403 JUNI 2008 WARTA BEA CUKAI

43

PENGAWASAN

KPPBC BELAWAN TEGAH

BARANG PURBAKALA

U

Sementara itu, Kantor Wilayah (Kanwil) Sumatera Utara pada 16 Mei 2008, bertempat di aula Kanwil Sumatera Utara, memberikan penghargaan kepada sembilan pegawai di lingkungan KPPBC Belawan yang telah berhasil menggagalkan paya perdagangan barang-barang purbakala yang upaya penyelundupan Heroin pada 22 Februari 2008 di dilindungi berhasil digagalkan Direktorat Jenderal pelabuhan laut internasioanal Ujung Baru Belawan. Bea dan Cukai (DJBC), yaitu oleh Kantor PengawasAdapun ke sembilan pegawai yang mendapat penghargaan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) an tersebut adalah, Arie Swarsono Herlambang (korlak Belawan yang berhasil menegah barang-barang administrasi impor), Samsu Rizal (pelaksana pemeriksa pada purbakala asal Aceh dan Jawa, yang rencananya akan di baSeksi Pabean), Aslamiah (pelaksana pemeriksa pada Seksi wa ke Malayasia. Pabean), Syafaruddin (pelaksana pemeriksa pada Seksi Menurut Kepala Seksi Penindakan dan Penyidikan (P2) Pabean), Amir Pirus (pelaksana pemeriksa pada Seksi P2), KPPBC Belawan, Agustinus Djoko P, tegahan tersebut S.D. Udjianto (pelaksana pemeriksa pada Seksi P2), Agus didapat pada 6 Mei 2008, dari penumpang warga negara Rinaldo Simanjuntak (pelaksana pemeriksa pada Seksi P2), Malaysia bernama Morat bin Mohamed Zain, yang akan beAnhar Bongsu Harahap (pelaksana pemeriksa pada Seksi rangkat dari pelabuhan laut internasional Ujung Baru P2), dan Junaidi (pelaksana administrasi pada Seksi P2). Belawan dengan menggunakan kapal ferry Bahagia tujuan Penghargaan kali ini diberikan oleh Inspekstorat Jenderal Penang Malaysia. Departemen Keuangan, Permana Agung yang didampingi “Dari hasil pemeriksaan X-Ray terhadap barang penumoleh Inspektorat bidang IV, Edi Setyo, Direktur P2, Jusuf pang tersebut, petugas merasa curiga dengan gambar senjaIndarto, dan Kasubdit Intelijen DJBC, Maman Anurachman. ta berupa keris dan tameng yang ada dalam kopor tersebut, Turut hadir pada acara tersebut, Tenaga Pengkaji Bidang setelah dilakukan pemeriksaan fisik, kedapatan benda tersePelayanan dan Penerimaan Kepabeaan dan Cukai, Bambang but adalah enam buah keris dan satu buah tameng dengan Prasodjo, Kakanwil Sumatera Utara, Ahmad Riyadi, seluruh usia diperkirakan lebih dari 50 tahun,” papar Agustinus. Kepala Kantor dijajaran Kanwil Sumatera Utara, serta pejabat Lebih lanjut Agustinus menjelaskan, dari hasil pemeriksaeselon III dan IV di lingDOK. KPPBC BELAWAN kungan KPPBC Belawan dan Kanwil Sumatera Utara. Pada sambutannya, Permana Agung atas nama Direktur Jenderal meminta agar para pegawai terus bersemangat dalam bekerja, khusus dalam melakukan penegahan barangbarang berbahaya. Selain itu Permana Agung juga meminta para pegawai untuk pandaipandai dalam menempatkan diri, sehingga tidak terpengaruh oleh lingkungan yang kurang mendukung. Sementara itu, Direktur P2 dalam sambutannya memaparkan jalur-jalur narkotika yang kini kembali marak masuk ke Indonesia, untuk itu perlunya pemahaman pegawai akan jalur-jalur yang dijalani jaringan narkotika sebelum masuk ke DITEGAH. Sebanyak enam keris asal Aceh dan Jawa, dan satu buah tameng asal Aceh yang masuk ke dalam benda Indonesia. adi cagar budaya berhasil ditegah petugas KPPBC Belawan.
WARTA BEA CUKAI EDISI 403 JUNI 2008

Saat dilakukan pemeriksaan dengan X-Ray, terlihat gambar benda purbakala berupa keris dan tameng yang diperkirakan telah berusia lebih dari 50 tahun dan masuk sebagai barang cagar budaya yang sangat dilindungi.

an terhadap penumpang tersebut, diketahui bahwa dari keenam keris tersebut, lima berasal dari Aceh sedangkan yang satu berasal dari Jawa. Sedangkan untuk tameng berasal dari Aceh. Dan, dari hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Utara, diketahui kalau barang-barang tersebut masuk ke dalam benda purbakala sehingga sangat dilarang untuk diperjualbelikan, dan masuk ke dalam benda yang sangat dilindungi. Untuk kasusnya, kini telah diserahkan kepada pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Utara untuk dilakukan penyidikan lebih lanjut, untuk menentukan tindak pidana yang dapat dikenakan kepada tersangka, karena telah melanggar undang-undang kebudayaan.

PENGHARGAAN

44

NASIONAL
WBC/ZAP

PERESMIAN LBHPI. Dilakukan oleh Ketua Pengadilan Pajak Anshari Ritonga yang didampingi oleh pengurus LBHPI.

PERESMIAN LEMBAGA BANTUAN HUKUM PAJAK INDONESIA
Berdirinya LBHPI terinspirasi dari keberadaan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (LBHI) yang berdiri pada tahun 1980 di Jakarta yang menitikberatkan pada pemberian bantuan hukum kepada masyarakat.
hukum pajak atas permintaan advokat yang menangani perkara pidana. Khusus untuk jasa advokasi, LBHPI lanjut Eddy, hanya membatasi dalam upaya hukum ke Pengadilan Pajak dan upaya hukum luar biasa seperti Peninjauan Kembali (PK) atas putusan Pengadilan Pajak ke Mahkamah Agung. “LBHPI sangat concern mengenai perlunya penegakkan hukum pajak sampai dengan penjatuhan pidana pajak, namun Hak Asasi Manusia (HAM) wajib pajak harus dijunjung tinggi dengan cara menegakkan hukum pajak dengan menggunakan hukum pajak yang benar dan menerapkannya dengan benar,kami akan membantu anggota masyarakat yang membutuhkan keberadaan kami, baik itu masyarakat usaha maupun juga wajib pajak perorangan yang merasa perlu mendapat penjelasan dari kami maupun juga advokasi”urai Eddy. Dalam kegiatan advokasi bagi para kliennya, LBHPI akan bertindak secara profesional. Jika dalam kegiatan tersebut klien yang ditangani memang memenuhi kriteria pidana pajak , maka LBHPI papar Eddy, akan menganjurkan dan membantu wajib pajak untuk menempuh beberapa upaya, seperti upaya perdamaian yang sesuai dengan pasal 8 ayat 3 Undang-Undang Pajak jika berada dalam tahap pemeriksaan pajak, upaya perdamaian yang terdapat pada pasal 13A Undang-Undang Pajak jika dalam tahap pemeriksaan bukti permulaan untuk pertama kalinya, dan upaya perdamaian sesuai pasal 44B Undang-Undang Pajak jika sudah pada tahap penyidikan pajak. Ketua Pengadilan Pajak Anshari Ritonga dalam sambutannya mengatakan, keberadaan LBHPI ditengah masyarakat setidaknya bisa memberikan suatu pencerahan kepada masyarakat khususnya wajib pajak akan hak dan kewajibannya,sehingga nantinya LBHPI bisa membantu pemerintah menciptakan suatu masyarakat yang sadar dan taat akan kewajibannya dalam bidang perpajakan. zap
EDISI 403 JUNI 2008 WARTA BEA CUKAI

K

ini lembaga bantuan hukum serupa yang menitikberatkan pada penyelesaian bantuan hukum di bidang perpajakan hadir ditengah masyarakat. Lembaga yang kemudian disebut dengan nama Lembaga Bantuan Hukum Pajak Indonesia (LBHPI) mempunyai misi membantu wajib pajak dalam melaksanakan kewajiban dan memperoleh hak-hak perpajakannya baik diluar maupun di muka pengadilan serta membantu pemungutan pajak berdasarkan ketentuan perundang-undangan perpajakan. Misi tersebut disampaikan oleh ketua LBHPI Tb. Eddy Mangkuprawira dihadapaan para undangan yang hadir dalam peresmian LBHPI di salah satu hotel di bilangan Senen Jakarta Pusat pada 30 April 2008 lalu. Kehadiran LBHPI ditengah masyarakat yang menitikberatkan pada bidang hukum pajak, papar Eddy,lebih didasari karena kurangnya perhatian pada masalah pajak dari para ahli hukum, tokoh politik maupun petinggi pemerintahan. Dengan adanya lembaga ini maka diharapkan para wajib pajak dapat terakomodir kepentingannya. Masih menurut Eddy, kegiatan lembaga yang dipimpinnya tersebut secara sekilas hampir menyerupai dengan konsultan pajak atau advokat. Namun secara keseluruhan LBHPI disamping memberikan konsultasi dan bantuan hukum pajak, juga menyelenggarakan berbagai kegiatan, diantaranya memberikan pendidikan dan latihan perpajakan, penelitian dan pengembangan dibidang perpajakan hingga konsultasi dan pemberikan kajian

45

O

P

I

N

I

D

dikeluarkan pada masa Bapeksta dan Bintek. Apabila pegawai yang melayani fasilitas KITE sedikit jeli dalam penelitian, akan timbul pertanyaan apakah pengusaha yang menandatangani dokumen berkaitan dengan KITE sudah sesuai dengan pengusaha yang berhak menandatangani berdasarkan data DIPER/NIPER, karena sudah sekian lama NIPER dikeluarkan, apakah pengusaha yang berhak menandatangani dokumen yang berkaitan dengan KITE telah diganti/diubah. Oleh karena itu, menurut penulis substansi pasal tersebut wajib dilaksanakan. Kedua: Surat Sanggup Bayar (SSB), menurut penulis SSB hampir sama dengan Coorporate Guarantee, hanya terminologinya saja yang berbeda. Dalam Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor 205/BC/2003 pasal 10 secara eksplisit telah diatur tentang SSB, dan mengenai jangka waktu juga diatur dalam dalam pasal 11 Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai tersebut, tetapi hingga saat ini masih terdapat Kantor Wilayah yang melayani fasilitas KITE masih tetap mengikuti pola yang dijalankan pada masa P4BM, Bapeksta dan Bintek. Ketiga: Pengawasan Fasilitas KITE, sebenarnya pengawasan fasilitas KITE bukan hanya dilakukan dalam benengan diangkatnya permasalahan KITE sebagai tuk Laporan Ekspor dan Audit serta surveillance, tetapi topik di WBC edisi bulan Maret 2008, saya mengberdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai ucapkan salut kepada Redaksi, karena selama Nomor 205/BC/2003 pasal 38 secara eksplisit disebutkan ini KITE sedikit terabaikan dari pengamatan para bahwa pelaksanaan pengawasan fisik barang dan/atau pejabat pengambil keputusan khususnya pejabat audit di bidang Kepabeanan dan Cukai dapat dilakukan di bidang KITE. Selain itu dengan adanya pendapat para sewaktu-waktu sesuai ketentuan yang berlaku dan pasal pejabat Bea Cukai tentang permasalahan KITE, maka te5 ayat (3) huruf b secara implisit menyebutlah menambah jumlah antrian permasalahkan bahwa, NIPER dapat dicabut dalam hal: an yang wajib diantisipasi solusinya oleh perusahaan tidak memberitahukan pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. perubahan data dalam DIPER dalam waktu Judul topik WBC edisi bulan Maret 2008 ... APAKAH puluh) hari adalah Fasilitas KITE Perlu Penyempurnaan PENGUSAHA YANG 30 (tiga kedua pasalsejak perubahan terjadi. Dari tersebut terlihat adanya Peraturan. Dari judul tersebut terlihat bahwa belum berjalannya pelayanan dan pengawasMENANDATANGANI wewenang pegawai untuk mengetahui secara fisik kegiatan perusahaan, hanya mekaan KITE sesuai dengan yang diharapkan, DOKUMEN nisme yang belum diatur lebih lanjut siapa salah satu penyebabnya kurang sempurnayang berwenang melaksanakannya, apakah nya Peraturan Menteri Keuangan Nomor BERKAITAN pegawai di Pelayanan KITE Kantor Wilayah 580/KMK.04/2003 dan Keputusan Direktur DENGAN KITE atau pegawai di KPPBC. Jenderal Bea dan Cukai Nomor 205/BC/2003 Dalam rencana penyempurnaan peraturserta peraturan perubahannya. SUDAH SESUAI an fasilitas KITE sebagaimana diungkapkan Oleh sebab itu, penulis tertarik untuk seDENGAN oleh beberapa pejabat, menurut penulis dikit menyampaikan pendapat, apakah kedua keputusan tersebut yang menjadi dasar PENGUSAHA YANG bukan sekedar penyempurnaan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 580/KMK.04/2003, hukum pelayanan dan pengawasan Fasilitas BERHAK tetapi yang perlu dilakukan adalah PembuatKITE belum memenuhi asas kepatuhan. Penulis akan menguraikan dari sudut pandang MENANDATANGANI an/Pembentukan Peraturan Menteri Keuangan tentang Fasilitas KITE sebagaimana dipelaksanaan peraturan perundang-undangBERDASARKAN amanatkan oleh Undang-undang Nomor 17 an di bidang KITE, sumber daya manusia, aplikasi pelayanan KITE, serta pengusaha FaDATA DIPER/NIPER Tahun 2006 tentang perubahan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepasilitas KITE. beanan yang diatur dalam Pasal 26 ayat (3) dan Pasal II Ketentuan Peralihan, hal tersePERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN but sangat penting mengingat Keputusan Menteri KeuangKeputusan Menteri Keuangan Nomor 580/KMK.04/2003 dan Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor an Nomor 580/KMK.04/2003 konsiderannya mengguna205/BC/2003, telah diberlakukan lebih 4 (empat) tahun, tekan Pasal 25 ayat (1) huruf c Undang-undang Nomor 10 tapi sampai saat ini belum seluruhnya diimplementasikan, Tahun 1995 yang telah dihapus dalam Undang-undang pertanyaannya: bagaimana kita bisa menilai bahwa kedua Nomor 17 Tahun 2006 sedang sekarang KITE diatur daKeputusan tersebut belum sempurna, sedangkan belum lam Pasal 26 ayat (1) huruf k Undang-undang Nomor 17 dilakukan evaluasi secara menyeluruh, apakah kedua keTahun 2006. putusan tersebut sudah dijalankan sesuai dengan perintahnya. Penulis mengutip beberapa pendapat dari pejabat SUMBER DAYA MANUSIA Bea dan Cukai tentang permasalahan yang ada di fasilitas Sampai saat ini pegawai yang bertugas di pelayanan KITE dalam WBC edisi bulan Maret 2008. KITE sebagian besar dari pegawai eks Bapeksta/Bintek Pertama: Data NIPER/DIPER dalam database pelayanyang dirotasi ke DJBC yang belum seluruhnya mengikuti pendidikan kebea-cukaian, sehingga dalam memberikan an KITE belum di update. Sebenarnya perintah updating pelayanan KITE masih berpola pikir seperti pada saat data NIPER/DIPER secara eksplisit telah dijelaskan damelayani KITE pada masa P4BM, Bapeksta, dan Bintek. lam pasal 4 ayat (1) Keputusan Menteri Keuangan Nomor Seperti diketahui bahwa pada masa P4BM, Bapeksta, dan 580/KMK.04/2003 dan penegasannya dapat dilihat pada Bintek penekanannya hanya pada pelayanan, karena berpasal 27 ketentuan peralihan. Tetapi hingga saat ini subanggapan bahwa pengawasan terhadap fisik barang stansi pasal tersebut belum dijalankan, sehingga dalam dan kebenaran pengisian dokumen (PIB) merupakan tangpelayanan fasilitas KITE masih menggunakan NIPER yang

Oleh : Sudirman.S, SH, MH

DIANTARA PERATURAN DAN IMPLEMENTASINYA

KITE

“ ”

46

WARTA BEA CUKAI

EDISI 403 JUNI 2008

mor 580/KMK.04/2003 dan Keputusan Direktur Jenderal gung jawab pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Bea dan Cukai Nomor KEP-205/BC/2003 tanggal 1 Sedangkan sebagai pegawai Bea dan Cukai, selain Januari 2004, pelayanan KITE dilakukan secara kompubertugas memberikan pelayanan, juga melakukan terisasi, bahkan menurut kedua Keputusan tersebut pelapengawasan, pengawasan bukan berarti hanya terhadap yanan KITE seharusnya dilakukan secara online antara fisik barang, tetapi pengawasan terhadap kebenaran doperusahaan pengguna fasilitas KITE dengan inhouse Bea kumen, termasuk pengawasan terhadap kepatuhan dan Cukai, tetapi hingga saat ini pelayanan KITE masih terhadap peraturan perundang-undangan sebagai dasar dilakukan dengan menggunakan media disket, bahkan hukum pelayanan KITE. ada sebagian yang dilakukan secara manual. Selain itu Dalam melakukan pelayanan KITE selain dilakukan masih ada hal-hal yang sangat urgen yang diperlukan daoleh pegawai eks pegawai Bapeksta/Bintek, juga dilakulam pelayanan KITE tetapi belum tersedia di aplikasi KITE kan oleh pegawai Bea dan Cukai yang dirotasi ke Pelaatau sudah tersedia tetapi tidak berjalan sesuai yang yanan KITE. Penempatan pegawai tersebut diharapkan diinginkan, seperti: dapat mengubah pola pikir pegawai eks Bapeksta/Bintek. Ternyata sebagian besar pegawai Bea dan Cukai yang l Belum adanya program yang mendukung untuk dilakditempatkan di pelayanan KITE justru mengikuti kebiasasanakannya Pasal 4 ayat (1) Keputusan Menteri Keuan yang ada di pelayanan KITE, kalaupun ada perubahan angan Nomor 580/KMK.04/2003 (penggantian NIPER hal itu tidak terlalu signifikan. yang diterbitkan oleh Bapeksta dan Bintek) Hal tersebut terlihat dari : l Belum disesuaikan aplikasi dengan ketentuan yang diatur dalam kedua keputusan tersebut seperti format l Kebiasaan pengusaha KITE dalam laporan pelaksanasurat permohonan pembebasan bahan baku impor an ekspor (LE) yang tidak sesuai dengan Pasal 21 Kedan format SK Pembebasan putusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor 205/ BC/2003 atau Surat Edaran Direktur Jenderal Bea dan l Belum berjalannya program pengecekan STTJ di Cukai Nomor SE-20/BC/2006 tanggal 29 Mei 2006, teKPPBC, terbukti masih adanya STTJ yang gantung di tapi masih dijalankan, database KPPBC dan tanpa pengisian nomor dan tanggal STTJ yang benar PIB dapat proses sampai l Pengusaha KITE tidak memberitahukan pencabutan SPPB NIPER bahwa perusahaannya tidak lagi menjalankan kegiatan atau tidak lagi menggunakan fasilitas KITE l Belum adanya data KPPBC yang tidak ditunjuk sebalebih dari 12 (dua belas) bulan untuk dilakukan audit gai pelabuhan laut, pelabuhan udara, atau pelabuhan pencabutan NIPER, karena tujuan audit undarat (dry port) dalam sistem (table pelabuhan tuk mengetahui kepatuhan perusahaan selabongkar), sehingga dalam SK Pembebasan tima menikmati fasilitas KITE sesuai Pasal 5 dak muncul KPPBC tersebut sebagai pelabuhan ayat (3) Keputusan Direktur Jenderal Bea SAMPAI SAAT bongkar, tetapi karena barangnya ada di wiladan Cukai Nomor 205/BC/2003 pengawasannya, KPPBC tetap melayani INI PEGAWAI yah KITE seperti: Pematang Siantar, (kemungPIB l Masih ditemukan jaminan dalam bentuk Sukinan Bogor, Bekasi, dan Purwakarta dan lainrat Sanggup Bayar (SSB) tanpa jangka wakYANG tu berlakunya, tetapi tidak dilakukan BERTUGAS DI lain). Sedangkan Berdasarkan Keputusan yang Direktur Jenderal Bea dan Cukai tersebut perubahan atau kemungkinan ketidak telitian pegawai. PELAYANAN dimaksud dengan Pelabuhan Bongkar yang terdapat pada SK Pembebasan adalah Kantor l Pegawai pelayanan KITE masih ada yang tiKITE Pabean penyelesaian bahan baku impor. dak mengetahui bahwa LPBC tidak seluruhnya diperiksa fisik, mereka menganggap SEBAGIAN Kemungkinan secara detail masih ada lagi LPBC diperiksa fisik sebagaimana pada maBESAR DARI kekurangan dari sistem aplikasi pelayanan KITE sa P4BM, Bapeksta, dan Bintek bahwa seluruh barang ekspor yang mendapat fasilitas PEGAWAI EKS yang berjalan saat ini, tetapi dari sini dapat dilihat, bahwa bukan kedua keputusan tersebut KITE diperiksa fisik oleh PT.Sucopindo. BAPEKSTA/ yang belum sempurna tetapi sarana dan l Hasil cetakan SK pembebasan yang sudah berjalan lebih dari 4 (empat) tahun, tetapi BINTEK YANG prasarananya yang kurang menyesuaikan. masih terdapat hal-hal yang tidak sesuai, teDIROTASI KE PENGUSAHA KITE tapi tetap kita jalankan tanpa mengambil suatu kebijakan untuk melakukan perubahan Sebagian besar pengusaha yang mendapat DJBC … atau mengusulkan perubahan atau bagaimaFasilitas KITE belum mengetahui adanya Kepuna agar secara hard copy bisa sesuai dengan tusan Menteri Keuangan Nomor 580/KMK.04/ 2003 dan Keputusan Direktur Jenderal Bea dan yang diinginkan atau bahkan ada pegawai Cukai Nomor 205/BC/2003, dalam pelaksanaannya yang khusus menangani SK Pembebasan tidak mengepengusaha hanya mengikuti kebiasaan-kebiasaan yang tahui hal ini. selama ini dijalankannya. Hal tersebut merupakan l Pejabat/Pegawai pelayanan KITE terlalu tergantung kepatantangan bagi pegawai yang melayani Fasilitas KITE unda proses komputer, walaupun kadang-kala terdapat ketituk menerapkan kedua keputusan tersebut, karena harus dak sesuai antara proses komputer dengan yang sehamengubah kebiasaan yang tidak sesuai dengan peraturan rusnya menurut peraturan pelayanan KITE, hal tersebut KITE. masih terus dilanjutkan tanpa berusaha untuk melakukan Pegawai pelayanan KITE harus menjelaskan kepada perubahan. Seperti kita ketahui bahwa komputer itu hanya pengusaha dan meminta pengusaha untuk memiliki dan merupakan alat, maka seharusnya kita yang mengendalimempelajari kedua keputusan tersebut. Kebiasaankan bukan sebaliknya (who is behind the device). kebiasaan yang dilakukan oleh pengusaha KITE, antara lain : Mungkin masih banyak hal-hal lain yang tidak sempat penulis ungkapkan satu persatu, tetapi dengan gambaran l Pengusaha KITE beranggapan bahwa untuk menyeleseperti ini, kita dapat melakukan lebih kritis lagi dalam saikan PIB 12 bulan adalah realisasi Ekspor atau menjalankan peraturan yang diamanatkan kepada kita sepengiriman ke Kawasan Berikat, sehingga Laporan bagai pengawas pelaksanaannya. Pelaksanaan Ekspor (BCL-KT.01) dilaporkan setelah melampaui waktu PIB 12 bulan. Seharusnya berdasarkan pasal 21 Keputusan Direktur Jenderal Bea dan APLIKASI PELAYANAN KITE Cukai Nomor 205/BC/2003 pengusaha wajib menyamSejak diberlakukan Keputusan Menteri Keuangan No-

“ ”

EDISI 403 JUNI 2008

WARTA BEA CUKAI

47

O
paikan Laporan Pelaksanaan Ekspor (LE) ke Kantor Wilayah sekurang-kurangnya 6 bulan sekali dengan BCL-KT.01. Apabila dilakukan audit, pengusaha tidak menyampaikan Laporan Pelaksanaan Ekspor (LE), walaupun pelaksanaan audit melebihi jangka waktu PIB 12 bulan. Seharusnya Laporan Ekspor tetap dilaksanakan walaupun sedang diaudit sesuai dengan SE-20/BC/ 2006 tanggal 29 Mei 2006. Akhirnya proses Surat Pemberitahuan Penyesuaian Jaminan (SPPJ) dilakukan setelah adanya Laporan Hasil Audit (LHA) dengan kata lain SPPJ diproses berdasarkan LHA bukan berdasarkan Laporan Ekspor (BCL-KT.01) Masih ada pengusaha fasilitas KITE yang menggunakan PIB khusus pembayaran Bea Masuk (PIB KPBM) untuk menyelesaikan bahan baku asal impor yang belum diselesaikan ekspornya dalam jangka waktu 12 bulan, seharusnya berdasarkan Pasal 20 Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor 205/BC/2003 diselesaikan dengan BC. 2.4. Pembayaran PPh ke Bank Devisa, kadangkala menggunakan kurs yang tidak sesuai dengan kurs yang berlaku pada periode pembayaran. Setelah diterbitkan STTJ, PIB diajukan ke KPPBC di reject untuk disesuaikan dengan kurs yang berlaku, akibatnya pengusaha mengajukan permohonan penggantian STTJ.

P

I

N

I

Oleh: Wirawan Sahli

l

l

l

I

Demikianlah pembinaan yang perlu dilakukan dalam pelayanan fasilitas KITE, walaupun kedua keputusan tersebut sudah lebih 4 (empat) tahun berjalan, seolah-olah kita masih mulai dari awal. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

nvoice atau commercial invoice adalah dokumen perdagangan, sering juga disebut faktur. Menurut Kamus Websters, invoice adalah dokumen yang dibuat oleh penjual untuk pembeli yang berisi daftar barang beserta harganya masing-masing yang harus dibayar oleh pembeli dan juga menyebutkan kondisi penjualan. Kondisi penjualan misalnya FOB (free on board) atau C&F (cost and freight) dan sebagainya. Disamping harga barang kadang-kadang invoice juga digunakan untuk jasa yang harus dibayar oleh seorang pembeli misalnya kita mereparasikan jam tangan seringkali juga dibuatkan invoice untuk jasa perbaikan yang harus dibayar. Invoice biasanya disimpan oleh seorang pembeli dan dalam lalu lintas hukum juga berfungsi sebagai bukti kepemilikan. Kalau kita membeli perhiasan pasti kita diberi invoice dan kalau ada kasus di pengadilan yang menyangkut perhiasan tersebut invoice dapat dijadikan bukti kepemilikan.

INVOICE
DEVIASI PENGERTIAN

SARAN :
Dalam pembentukan/pembuatan peraturan perundang-undangan di bidang KITE, disarankan untuk dipertimbangkan penambahan substansi dalam pasal atau ayat, sebagai berikut: 1. Persyaratan perusahaan yang menerima fasilitas KITE secara eksplisit perlu dicantumkan, apakah di dalam perusahaan (pabrik) yang mendapat fasilitas KITE yang menggunakan barang dan/atau bahan asal impor (dengan fasilitas) untuk diolah tujuan ekspor dibolehkan memproduksi hasil produksi yang sama dengan hasil produksi tujuan ekspor dengan menggunakan barang dan/atau bahan dari DPIL atau dengan membayar Bea Masuk dan PDRI (100% tanpa fasilitas) tetapi tujuannya untuk dijual ke DPIL (fungsi ganda). 2. Dalam ketentuan peralihan selain mengatur tentang SK Pembebasan dan SK Pengembalian agar diatur juga tentang peralihan NIPER dan SSB. Semua peraturan perundang-undangan yang dibentuk dan dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang, sudah pasti ada kekurangannya tetapi kita sebagai pejabat yang berwenang untuk mengambil suatu kebijakan seharusnya dapat menutupi kelemahan tersebut seminimal mungkin, bak pepatah mengatakan tiada gading yang tak retak, tetapi keretakan gading membawa ukiran yang bernilai seni tinggi, sehingga nilai jualnya tinggi pula.

DOKUMEN PELENGKAP
Dalam peraturan kepabeanan invoice dipakai sebagai dokumen pelengkap, artinya dokumen pabean seperti PIB (Pemberitahuan Impor Barang) atau BC 2.3 (Pemberitahuan Pengangkutan Barang ke Kawasan Berikat) harus dilampiri invoice disamping packing list, Bill of Lading, dan lain-lain. Setelah urusan kepabeanan selesai dan barang impor keluar dari pelabuhan, invoice itu tidak dikembalikan kepada pemilik barang tetapi disimpan oleh Bea Cukai. Sepertinya Bea Cukai menganggap commercial invoice itu adalah dokumen pabean yang harus ada dalam file Bea Cukai bersama-sama dengan PIB, PEB atau BC 2.3. Bahkan ada pejabat Bea Cukai yang tidak mau menerima kalau pengusaha menggunakan fotocopy invoice. Bea Cukai di negara lain juga meminta invoice kepada pemilik barang jika diperlukan dalam rangka prosedur pabean. Bea Cukai akan memeriksa pemberitahuan pabean dan invoice terlampir, tetapi setelah selesai diperiksa, invoice itu akan dikembalikan kepada pemiliknya. Mereka tahu kalau invoice itu adalah dokumen perdagangan yang harus disimpan oleh pemilik barang. Dalam dunia perdagangan invoice hanya dibuat apabila ada transaksi (ada jual beli), kalau tidak ada transaksi tidak dibuat invoice. Barang kiriman atau hadiah umumnya tidak ada invoicenya karena barang itu bukan dikirim untuk dibayar oleh seseorang tetapi diberikan secara gratis, jadi orang yang mengirim tidak membuat invoice untuk si penerima. Demikian juga impor sementara secara komersial tidak ada transaksi jual beli dan tidak ada invoice yang dibuat. Sebuah perusahaan konstruksi mengimpor peralatan untuk pengetesan yang akan dipakai selama satu minggu disini dan akan dikembalikan lagi ke pusatnya di luar negeri tentu tidak ada invoice yang dibuat dalam hal ini. Jika alat tersebut disewa dari luar negeri kemungkinan ada invoice yang dibuat tetapi bukan invoice harga barang tetapi invoice ongkos sewa karena ongkos servis ataupun ongkos sewa juga biasa dibuatkan invoice untuk penagihan. Di lapangan sering ada masalah dengan barang impor yang

Penulis adalah Kabid Fasilitas Kepabeanan, Kantor Wilayah DJBC Sumatera Utara
EDISI 403 JUNI 2008

48

WARTA BEA CUKAI

tidak ada invoicenya seperti halnya barang impor sementara diatas. Teman saya seorang pengusaha mengeluh karena diharuskan menyerahkan invoice atas barang yang dikirim tidak atas transaksi jual beli. Barang itu adalah bahan baku yang dikirim oleh seorang di luar negeri untuk diolah dan dikirim kembali keluar negeri dalam rangka KITE (Kemudahan Impor Tujuan Ekspor). Bahan baku itu bukan obyek jual beli dan tidak ada transaksi jual beli. Barang itu dikirim untuk diolah dan pihak di Indonesia akan mendapat ongkos pengolahan saja. Tentu saja pengirim di luar negeri tidak membuat invoice karena bukan transaksi jual beli. Tetapi Bea Cukai tetap minta dilampirkan invoice dan kalau tidak ada invoice sebagai lampiran PIB tidak dilayani. Daripada barang tertahan di pelabuhan dan memakan biaya yang besar akibat keterlambatan, pengusaha tadi minta tolong rekannya di luar negeri untuk membuatkan invoice. Tentu saja ini invoice pura-pura karena memang tidak ada transaksi. Biasanya invoice semacam ini disebut proforma invoice atau Invoice for Customs Purpose. Tetapi kadangkadang ada petugas Bea Cukai yang tidak mau menerima kalau invoice itu diberi embel-embel proforma atau for Customs Purpose. Ini bisa menimbulkan masalah bagi pengusaha kalau ada pemeriksaan dari Kantor Pajak. Kalau diminta bukti pembayaran atas invoice itu ia akan mengalami kesulitan karena memang tidak ada pembayaran atas bahan baku tersebut, dan ia tidak membukukan adanya pembelian karena memang tidak ada yang dibeli. Kalau tidak ada invoice tidak dilayani Bea Cukai tetapi kalau ada invoice timbul masalah dengan petugas pajak. Dalam peraturan pabean diasumsikan ada transaksi dalam tiap pengiriman barang, padahal dalam prakteknya tidak selalu demikian. Karena adanya pandangan ini maka dalam semua peraturan pabean diwajibkan adanya lampiran berupa invoice. Pengusaha terpaksa harus membuat proforma invoice atau invoice for Customs purpose only agar bisa memperoleh pelayanan dari Bea Cukai. Dalam pandangan Bea Cukai invoice bukan lagi sebagai dokumen perdagangan tetapi dianggap sebagai pernyataan tentang kebenaran nilai pabean yang tercantum dalam pemberitahuan pabean. Disini terletak perbedaan antara fungsi yang sebenarnya dan deviasi pengertian yang dialami oleh Bea Cukai. Menurut hemat saya kalau memang tidak ada transaksi dan tidak ada invoice mestinya lebih tepat kalau Bea Cukai meminta keterangan tentang harga barang. Kalau meminta dibuatkan invoice tentu menimbulkan kesulitan karena form dan bentuk invoice yang distandarisasi dalam perjanjian perdagangan selalu memuat nama/alamat penjual dan nama/alamat pembeli, padahal tidak ada penjual dan tidak ada pembeli. Yang ada adalah pengirim dan penerima barang. Kalau yang ada hanya pengirim dan penerima barang mestinya dokumennya cukup Bill of Lading atau Airway Bill saja sebagai surat muatan. Kalau saya mengirim televisi untuk adik saya di kota lain, saya tidak membuat invoice tetapi cukup surat muatan yang dibuat oleh perusahaan jasa titipan (Elteha atau TIKI dan sebagainya). Tetapi kalau seorang pengusaha mengirim barang dagangan untuk pelanggannya tentu ia membuat invoice disamping surat muatan. Invoice akan dikirimkan tersendiri dan jumlah yang tertulis pada invoice itu harus dibayar oleh penerima barang

PROSEDUR PABEAN DAN PROSES BISNIS
Dalam semua peraturan pabean di Indonesia selalu diasumsikan bahwa pengirim barang adalah penjual dan penerima barang adalah pembeli. Dalam peraturan impor, ekspor maupun pemasukan barang ke Kawasan Berikat selalu diwajibkan adanya invoice yang dikeluarkan oleh pengirim dan ditujukan untuk penerima barang. Dalam pengimporan barang selalu diwajibkan adanya invoice yang dibuat oleh pengirim barang untuk penerima barang. Dalam ekspor juga diwajibkan adanya lampiran invoice yang dibuat oleh eksportir untuk

penerima barang diluar negeri. Dalam pengangkutan barang antar Kawasan Berikat (KB) juga diwajibkan adanya lampiran invoice yang dibuat oleh KB pengirim yang ditujukan untuk KB penerima. Dalam praktek dunia bisnis tidak selalu pengirim barang adalah penjual dan penerima barang adalah pembeli. Kadang terjadi A di Jepang mengirim barang kepada B di Indonesia atas perintah C di Amerika. C di Amerika itu membeli barang dari A di Jepang untuk dikirim ke B di Indonesia. Dari sudut bisnis tentu A di Jepang membuat invoice untuk C di Amerika karena C yang akan membayar barang tersebut. Tetapi kalau invoice untuk C di Amerika digunakan untuk mengurus barang di Indonesia akan ditolak oleh Bea Cukai. Bea Cukai disini pasti akan meminta invoice yang dibuat A untuk B karena Bea Cukai menganggap bahwa B adalah pembeli barang dan A adalah penjual barang. Padahal B di Indonesia bukan pembeli, ia hanya mengolah barang untuk dikirim ke C di Amerika. Terpaksa B harus minta dibuatkan invoice oleh A, hal ini tentu menyebabkan pengusaha tersebut merasa takut karena harus menyimpan invoice yang sebenarnya tidak diperlukan. Dalam Modul Pemeriksaan Barang yang digunakan di Pusdiklat Bea dan Cukai juga dijelaskan bahwa jika memeriksa dokumen harus diteliti semua data yang ada pada pemberitahuan pabean dan harus sesuai dengan dokumen pendukungnya. Kalau pemberitahuan pabean menyebutkan importir A tetapi yang tercantum dalam invoice sebagai pembeli adalah nama B, ini dianggap tidak sesuai dan dokumen harus ditolak, berarti antara pemberitahuan pabean dan dokumen pendukungnya tidak sesuai. Semua petugas Bea Cukai di lapangan memakai buku pelajaran ini dan menjalankan di lapangan. Secara umum memang harus demikian kalau ada transaksi antara pengirim dan penerima. Tetapi kalau ada perkecualian seharusnya Bea Cukai bisa menerimanya. Dalam pengiriman barang dari GB (Gudang Berikat) ke KB disyaratkan adanya invoice, packing list, kontrak jual beli. Padahal tidak selalu GB yang menjual dan KB yang membeli. Kadang-kadang GB mengirim barang ke KB untuk diolah tetapi ini atas perintah X yang membeli barang dari GB untuk diolah di KB. Tentunya invoice dibuat oleh GB kepada X sebagai pembeli tetapi kalau invoice ini digunakan untuk mengirim barang dari GB ke KB pasti akan ditolak oleh Bea Cukai. Bea cukai hanya mau melayani kalau invoice dikeluarkan oleh GB untuk KB. Terpaksa dibuat invoice (Proforma) oleh GB untuk KB dan juga kontrak jual beli antara GB dan KB yang sebenarnya tidak ada. Bagi perusahaan yang jujur malah menimbulkan kekhawatiran karena harus membuat invoice/kontrak jual beli ganda (yang proforma dan yang real). Dalam praktek perdagangan alur jual beli dan pergerakan barang bisa berbeda. Barang bergerak dari A ke B belum tentu pembayarannya dari B ke A atau bahkan mungkin tidak ada pembayaran sama sekali, misalnya barang hibah atau impor sementara. Halhal seperti ini mestinya diakomodasi oleh Bea Cukai dan tercermin dalam peraturan pabean. Seharusnya kalau tidak ada transaksi dalam pengiriman barang tidak perlu diminta invoice, atau Bea Cukai harus menerima invoice yang ditujukan untuk pihak ketiga atau cukup dengan keterangan tentang harga barang. Yang penting harga barang tercantum dalam pemberitahuan pabean sehingga kalau barangnya hilang Bea Cukai bisa menghitung dan menagih beanya. Keterangan tentang harga barang ini sudah dijalankan dalam praktek kepabeanan. Deklarasi Nilai Pabean (DNP) pada dasarnya adalah pernyataan kebenaran tentang harga barang. Di negara lain hal ini bisa diakomodasikan. Disana Bea Cukai sudah tahu kalau tidak ada transaksi pasti ti dak ada invoice. Invoice hanya dikeluarkan untuk pembeli barang. Untuk kasus GB dan KB diatas Bea Cukai di negara lain bisa menerima jika invoicenya ditujukan ke X sehingga tidak perlu dibuat invoice ganda. Sekaligus hal ini sesuai dengan pembukuan untuk keperluan pajak.
EDISI 403 JUNI 2008 WARTA BEA CUKAI

49

O

P

I

N

I

kai melainkan dikirim khusus kepada pembeli. Harganya bisa Dunia perdagangan sekarang sudah berkembang pesat. saja berbeda dengan consulair invoice karena commercial Jauh berbeda dengan situasi waktu buku-buku pelajaran teninvoice memakai harga transaksi sedangkan consulair invoitang impor ekspor dibuat. Kalau kita membaca buku ce memakai harga normal. Pada jaman itu suatu pengiriman pelajaran impor ekspor selalu yang dipakai sebagai contoh barang yang tidak ada transaksinya misalnya barang sumjual beli adalah antara eksportir dan importir (hubungan dua bangan juga wajib membuat consulair invoice karena memang pihak). Importir membuka L/C dan eksportir mengirim barang membuat invoice, packing list dan sebagainya untuk dikirim ini adalah invoice for customs purpose bukan commercial kepada importir. invoice. Sekarang pola perdagangan tidak persis seperti ini kareDengan berlakunya GATT Valuation Code yang menganut na itu pembuat peraturan impor ekspor juga harus mengakonilai transaksi maka harga yang digunakan untuk perhitungan modasi praktek perdagangan yang berkembang akhir-akhir bea masuk bervariasi. Tidak perlu lagi adanya consulair ini. Produsen sepatu terkenal merk N di negara A sekarang invoice karena setiap orang bisa bertransaksi dengan harga malah tidak mengoperasikan langsung pabriknya, mereka yang berbeda-beda tergantung kepandaian tawar- menawarnya. cukup men-subkontrakkan ke pabrik lain untuk membuat seSaya kira karena adanya kewajiban melampirkan conpatu. Jadi beroperasi seperti perusahaan finance saja, mengsulair invoice pada jaman itulah sampai sekarang Bea Cukai order bahan baku untuk dikirim ke pabrik lain dan jika selesai masih terbawa dengan pola pikir yang mewajibkan adanya sepatu dikirim ke gudang berikat yang juga milik orang lain. lampiran invoice pada semua dokumen pabean. Kalau daDari gudang berikat didistribusikan ke agen-agen di seluruh lam pengiriman barang itu ada transaksi (ada jual beli) dunia dikendalikan dari kantor pusatnya di negara A. memang kita bisa mewajibkan dilampirkannya invoice tetapi Sekarang sangat lazim terjadi apa yang disebut “Three kalau tidak ada transaksi mestinya tidak diwajibkan Countries Trade” dimana barang dikirim dari negara A ke melampirkan invoice seperti bahan baku yang dikirim oleh negara B tetapi pembelinya di negara C, atau “Three Parties pemesan, impor sementara, barang yang dikembalikan oleh Trade” dimana A membeli barang dari B untuk pembeli (reject) dan lain-lain. dikirim kepada C. Dalam konteks ini penerima Dalam GATT Valuation Code yang sekarang barang bukan pembeli dan pengirim barang buberlaku, juga sudah disebutkan bahwa nilai MENURUT HEMAT pabean yang digunakan adalah nilai transaksi. kan penjual, arus barang tidak selalu sama dengan arus uang. Skema perdagangan seperti Tetapi jika tidak ada transaksi, yang digunakan SAYA KALAU ini tidak dimuat dalam buku pelajaran impor adalah nilai barang identik. Jika tidak ada data MEMANG TIDAK ekspor dan kepabeanan yang kita pakai disini. harga barang identik adalah nilai barang yang sama dan seterusnya. Mengacu ke GATT ADA TRANSAKSI Valuation Code dalam hal tidak ada transaksi PENGARUH CONSULAIR INVOICE DAN TIDAK ADA mestinya tidak perlu ada invoice karena yang Disamping anggapan bahwa pengirim adalah penjual dan penerima adalah pembeli, baINVOICE MESTINYA diberitahukan adalah nilai barang identik. Bea Cukai meneliti harga berdasarkan data harga rangkali yang juga menjadi dasar pemikiran LEBIH TEPAT barang identik atau barang yang sama dan sepembuat peraturan pabean yang mewajibkan semua pemberitahuan pabean dilampiri invoice KALAU BEA CUKAI terusnya. Bea Cukai harus bisa menghubungkan dan adalah pengalaman jaman dulu ketika Bea CuMEMINTA mengintegrasikan prosedur pabean dengan GATT kai mewajibkan adanya consulair invoice untuk Valuation Code. Peraturan bahwa PIB harus barang dari Singapura, Hongkong, Jepang dan KETERANGAN dilampiri invoice itu adalah aturan umum (in geneTaiwan. Waktu itu semua barang dari 4 TENTANG HARGA ral) karena memang 90% barang impor itu adalah negara itu wajib dilampiri consulair invoice yang barang yang dibeli dari seorang di luar negeri, jadi ditandatangani oleh perwakilan Bea Cukai kita BARANG ada transaksi dan ada invoicenya. Tetapi yang disana. Hal ini bisa dibenarkan karena waktu diluar itu tentu tidak ada invoice dan seyogyanya itu (antara tahun 1968 – 1985) berlaku Brussels cukup dilampiri surat keterangan harga barang Definition of Value (BDV) untuk pemberitahuan saja. Seyogyanya kita menempatkan invoice pada fungsi harga. BDV menganut konsep harga normal. Harga yang diyang sebenarnya seperti dalam tata perdagangan universal. beritahukan dalam dokumen impor adalah harga normal artinya harga yang berlaku secara umum di suatu negara pada suatu saat tertentu. Berdasarkan konsep ini harga sebagai KESIMPULAN dasar penghitungan bea masuk harus sama untuk semua 1. Invoice adalah dokumen perdagangan yang memuat rincian orang untuk barang yang sama dan untuk saat yang sama. barang dan harganya yang harus dibayar oleh pembeli Contoh dari pemakaian konsep harga normal yang tetapi oleh Bea Cukai invoice dianggap sebagai pernyataan ditemukan saat ini adalah kurs untuk perhitungan bea masuk. kebenaran harga barang dalam pemberitahuan pabean. Secara berkala muncul kurs untuk perhitungan bea masuk 2. Peraturan pabean yang dibuat selama ini baru mengakoyang ditetapkan Menteri Keuangan. Semua orang harus modasikan hubungan bisnis dua pihak belum mengakomenggunakan kurs ini jika membayar bea masuk. Kalau ditemodasikan hubungan bisnis tiga pihak, sehingga untuk tapkan kurs Rp. 9.300, per satu US$, mereka yang membeli hubungan bisnis tiga pihak ada ketidaksesuaian antara dollar dengan harga yang lebih tinggi maupun yang lebih renprosedur pabean dengan arus pembayaran (invoice) yang dah dari itu harus sama-sama menggunakan kurs Rp. 9.300, akhirnya menimbulkan invoice ganda. tersebut. Harga Rp. 9.300, dianggap harga normal. 3. Hubungan bisnis tiga pihak perlu diakomodasikan dalam Kembali ke consulair invoice yang dulu berlaku, meskipun peraturan pabean dan invoice seyogyanya ditempatkan harga yang terjadi pada jual beli berlainan tetapi harga yang pada fungsi yang sebenarnya yaitu sebagai tagihan yang dipakai untuk penghitungan bea masuk harus sama sebab harus dibayar oleh pembeli. Karena itu jika tidak ada yang digunakan adalah konsep harga normal. Karena itu transaksi, Bea Cukai tidak perlu mewajibkan adanya lamdokumen atas barang yang akan dikirim ke Indonesia harus piran invoice pada pemberitahuan pabean, sehingga perdiperiksa dahulu oleh perwakilan Bea Cukai supaya dijamin aturan pabean dan perpajakan bisa sejalan. kesamaan harganya. Consulair invoice ini memang invoice 4. Dalam hal tidak ada transaksi dan tidak ada invoice jika for customs purpose artinya invoice ini memang dibuat untuk Bea Cukai meragukan kebenaran pemberitahuan harga kepentingan pabean (perhitungan bea masuk), jadi bukan barang seyogyanya Bea Cukai meminta pernyataan kebecommercial invoice. naran tentang harga barang, bukan meminta invoice. Mungkin saja commercial invoice juga dibuat oleh penguPenulis adalah pensiunan Bea dan Cukai, saha yang bersangkutan tetapi tidak ditunjukkan ke Bea Cuterakhir menjabat sebagai Kepala Kantor Pelayanan Bandung

“ ”

50

WARTA BEA CUKAI

EDISI 403 JUNI 2008

PERISTIWA

INKADO DKI JAYA. Walaupun hanya mendapat tiga medali perunggu dan satu perak, Inkado DKI Jaya tetap optimis akan menjadi tim karateka terbaik dengan sistem pelatihan dan pembinaan atlet muda yang ada saat ini.

FOTO-FOTO WBC/ATS

INKADO DAN AMURA TURUN DI PIALA MAESA
Walaupun keduanya hanya memperoleh medali perunggu dan perak, namun semangat mereka untuk menunjukan sebagai atlet dari perguruan karate terbaik di Indonesia, dibuktikan dengan penampilan cantik dari setiap pertandingan.

AMURA. Turun dua tim di event pertama ini, tim Amura menargetkan tiga emas.

I

nduk perguruan karateka se-Indonesia, kembali mengadakan kejuaran piala Maesa ke-48, yang diselenggarakan di Gelanggang Olahraga Remaja (GOR) Jakarta Timur, pada 9 hingga 11 Mei 2008. Pertandingan yang diadakan satu bulan sebelum Pekan Olah Raga Nasional (PON) ini, sekaligus juga sebagai ajang uji coba para atlet terbaik daerah untuk melihat sejauh mana persiapan mereka di PON nantinya. Dengan diikuti kurang lebih 1000 karateka terbaik dari 54 perguruan yang ada di Indonesia, kejuaran Maesa yang dibuka oleh Ketua Forki, Luhut B. Panjaitan, berlangsung dengan cukup keras dan sportif, karena masing-masing atlet ingin menunjukan prestasi mereka di ajang tahunan yang paling bergengsi. Indonesia Karate-Do (Inkado) Korda DKI Jaya pimpinan Mamam Anurachman yang juga sebagai Kasubdit Intelijen Direktorat P2 DJBC, pada kejuaran kali ini menurunkan 82 atlet terbaiknya yang turun hampir disemua kelas. “Event ini adalah event yang paling bergengsi, karena hampir semua atlet karateka terbaik turun pada kejuaran kali ini. Untuk itu kami berharap dapat memperlihatkan permainan cantik kami dengan mengalahkan lawan-lawan kami,” ujar Maman Anurachman.

Namun demikian, hingga akhir kejuaran tim Inkado Korda DKI Jaya hanya mampu merebut tiga medali perunggu dan satu medali perak. Akan hasil tersebut, Maman merasa cukup puas karena seluruh atlet karateka sudah memperlihatkan permainan terbaiknya, hanya keberuntungan belum banyak berpihak, sehingga hanya empat medali yang berhasil direbut. Sementara itu tim Amura pimpinan Marisi Zainuddin Sihotang, yang juga sebagai Kasubdit Penindakan Direktorat P2 DJBC, pada kejuaraan kali ini menurunkan dua tim sekaligus, yaitu atas nama Amura Bina Taruna dan PP Amura, dengan total atlet yang bertanding sebanyak 33 karateka. Menurut Sekjen Amura, Sony Surachman Ramli yang juga sebagai Kepala Seksi Penyidikan I Direktorat P2 DJBC, timnya baru kali ini turun dikejuaraan Maesa setelah vakum selama 8 tahun.”Ini adalah kejuaran kami yang pertama setelah kami berdiri, untuk itu kami menargetkan tiga medali emas pada kejuaran kali ini,” papar Sony. Namun hingga akhir, Tim Amura hanya mendapatkan dua medali perunggu saja. Akan hal tersebut, Sony merasa cukup senang walaupun target tidak tercapai. Namun, semua permainan yang telah dibina selama tiga bulan terakhir sudah ditampilkan dengan baik oleh para atlet, untuk itu hasil tersebut akan dijadikan sebagai bahan evaluasi untuk turun di event berikutnya. Akhirnya, kejuaraan yang sangat menentukan daerah dalam memilih atletnya untuk turun di ajang PON, ditutup oleh Menteri BUMN, Sofyan Djalil. Pada sambutannya Menteri meminta agar seluruh perguruan karate terus membina para atletnya, karena pemerintah telah mencanangkan untuk mengangkat 1000 atlet terbaik di tahun 2008 ini menjadi pegawai negeri sipil. adi
EDISI 403 JUNI 2008 WARTA BEA CUKAI

51

PPKC
WBC.ATS

SOSIALISASI PP NOMOR 28 TAHUN 2008. Menitikberatkan pada cara penghitungan sanksi administrasi yang berupa denda.

TENTANG PENGENAAN SANKSI ADMINISTRASI BERUPA DENDA DI BIDANG KEPABEANAN
Dengan adanya perubahan UndangUndang Kepabeanan Nomor 10 tahun 1995 tentang kepabeanan yang kini menjadi Undang-Undang nomor 17 tahun 2006, maka beberapa Peraturan Pemerintah (PP) yang mengikutinya juga mengalami penyesuaian, salah satunya adalah mengenai sanksi administrasi kepabeanan.

PP NOMOR 28 TAHUN 2008

S
52

anksi administrasi dalam bentuk denda yang dikenakan terhadap pelanggaran dalam undang-undang kepabeanan sebelumnya diatur dalam PP nomor 22 tahun 1996. Namun seiring dengan perkembangan jaman yang dinamis dan adanya amandemen terhadap Undang-Undang Kepabeanan,maka PP yang mengatur mengenai masalah tersebut juga mengalami perubahan menjadi PP nomor 28 tahun 2008 Menurut Direktur Penerimaan dan Peraturan Kepabeanan dan Cukai (PPKC) Hanafi Usman, sanksi administrasi berupa denda yang terdapat dalam PP nomor 28 tahun 2008 ditetapkan dalam lima bentuk yaitu, dalam bentuk nilai rupiah tertentu, nilai rupiah minimum sampai dengan maksimum,
WARTA BEA CUKAI EDISI 403 JUNI 2008

dan persentase tertentu dari bea masuk yang seharusnya dibayar. Sedangkan bentuk lainnya adalah persentase tertentu minimum sampai dengan maksimum dari kekurangan pembayaran bea masuk atau bea keluar dan persentase tertentu minimum sampai dengan maksimum dari bea masuk yang seharusnya dibayar. Secara prinsip menurut Hanafi, tidak ada perbedaan antara PP nomor 22 tahun 1996 dengan PP nomor 28 tahun 2008 yang mengatur mengenai pengenaan sanksi administrasi tersebut. “Namun kalau kita bicara mengenai perbedaan antara PP 22 tahun 1996 dengan PP nomor 28 tahun 2008 maka kita akan bicara mengenai perbedaan sanksi administrasi berupa denda yang diatur dalam UU nomor 10 tahun 1995 dengan UU nomor 17 tahun 2006 yang merupakan hasil amandemen UU nomor 10 DOK.WBC tahun 1995,”terang Hanafi. Menurutnya lagi, sanksi administrasi berupa denda di bidang kepabeanan merupakan suatu bentuk upaya pemerintah untuk memulihkan hak negara, dan untuk menjamin ditaatinya ketentuan undang-undang oleh para pengguna jasa kepabeanan yang melakukan kegiatan ekspor dan impor. Dengan adanya sanksi denda administrasi tersebut, para pengusaha harus mengikuti segala prosedur kepabeanan yang telah diatur dalam undang-undang HANAFI USMAN. Sanksi administrasi kepabeanan, mengingat berupa denda di bidang kepabeanan terbitnya PP nomor 28 merupakan suatu bentuk upaya pemetahun 2008 sesuai dengan rintah untuk memulihkan hak negara

INFO PERATURAN
tujuan amandemen Undang-Undang nomor 10 tahun 1995, yaitu untuk menimbulkan efek jera bagi pelanggar ketentuan yang diatur dalam undangundang kepabeanan. “Kita mengharapkan agar para pengguna jasa kepabeanan memenuhi semua ketentuan dan prosedur di bidang kepabeanan dalam pelaksanaan impor maupun ekspor,” terang Hanafi. Ditegaskannya lagi pemberlakuan PP tersebut tidak dimaksudkan untuk memberatkan kalangan masyarakat usaha, selama masyarakat usaha mengikuti berbagai ketentuan kepabeanan yang diatur dalam undang-undang kepabeanan maka sudah pasti PP tersebut tidak akan digunakan oleh pihaknya dalam hal ini DJBC. Sementara itu dari segi penerimaan negara, tidak ada keuntungan langsung yang diperoleh negara dari diberlakukannya sanksi administrasi, karena denda tersebut bukan merupakan sumber dari penerimaan negara utama,”Yang kita harapkan dari pengenaan sanksi administrasi tersebut adalah detern effect, yaitu bertambahnya tingkat kepatuhan pengguna jasa kepabeanan.”tegasnya lagi. Walaupun demikian, pemerintah dalam hal ini Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC ) lanjutnya, juga memberi kesempatan kepada pengusaha untuk mengajukan keberatan atas sanksi administrasi berupa denda tersebut yang ditetapkan oleh pejabat Bea dan Cukai yang berwenang. Mekanisme yang dapat ditempuh oleh pengusaha tersebut menurut Hanafi adalah dengan mengajukan keberatan kepada Direktur Jenderal Bea dan Cukai, dimana mekanismenya terdapat pada undangundang kepabeanan hasil amandemen, pasal 94. Mengenai pemberlakukan PP nomor 28 tahun 2008 yang mulai berlaku sejak 11 April 2008 lalu, kalangan dunia usaha lanjut Hanafi menanggapinya dengan wajar karena para pengusaha telah mengetahui besaran sanksi tersebut sejak diberlakukannya undang-undang kepabeanan hasil amandemen. Begitu juga kepada para pejabat dilingkungan DJBC yang mempunyai kewenangan untuk menjalankan ketentuan tersebut. Agar PP tersebut dapat berjalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku, maka pada 29 April lalu, DJBC melalui Direktorat PPKC melakukan sosialisasi kepada para pejabat dilingkungan Kantor Pusat DJBC.Begitu juga dengan Kantor Wilayah DJBC yang berada di Indonesia yang juga mendapat sosialisasi mengenai PP nomor 28 tahun 2008 tentang Pengenaan Sanksi Administrasi Berupa Denda di bidang Kepabeanan. Sosialisasi tersebut terang Hanafi, lebih menitikberatkan pada cara penghitungan sanksi administrasi yang berupa denda. zap
EDISI 403 JUNI 2008 WARTA BEA CUKAI

53

ENGLISH

SECTION

(CUSTOMS -TRADE PARTNERSHIP AGAINST TERRORISM)
(Part II) The trade community and customs administration, working with C-TPAT, are developing an environment where concerns are shared, training relating to both sides is provided and a heightened awareness of weaknesses and strengths is recognized.
members. It will also provide access to threat assessments and appropriate intelligence, as well as bulletin and message boards. Conduct supply chain security training seminar and targeted outreach for certified partners and the trade community. Effective outreach and training are critical tools that CBP can offer the business community so they can gain a better understanding of the C-TPAT program. The local supply chain specialist will coordinate outreach and training initiative. This will provide a better understanding of program expectations and build relationships with CTPAT partners fostering greater cooperation and responsiveness. Supply chain specialists will deliver training to reinforce the goals and objectives of the C-TPAT program. Specialists will explain the C-TPAT agreement and its provisions to provide a clearer understanding of the responsibilities of both the participant and CBP. The training will also outline the benefits of C-TPAT to the trade community and CBP. Share information and security best practices with the membership. C-TPAT is cataloging best practices reported either through security profile submissions or in the validation process. As the catalog increases, examples of both successful and extraordinary security practices, relevant to a particular industry, will be made available to participants. Best practices will compliment and enhance the current CTPAT supply chain security criteria, set C-TPAT “best practice” criteria and categorize the criteria by company size and industry. C-TPAT shares information with its membership in a variety of ways. The internet is utilized to inform members of alerts, upcoming conference, changes and other bulletins. The CTPAT website is used to answer frequently asked questions and highlight security criteria. C-TPAT personnel routinely make presentations to the trade community regarding equipments, best practices and the future of the program. Conferences provide training and offer a forum for the trade to share information, experiences and security issues. The conferences provide access to CBP personnel including C-TPAT, CSI and the Importer Self Assessment (ISA) staff. C-TPAT benefits are emphasized to the trade community through direct marketing in presentations for FAST, C-TPAT and ISA. The web site also contains information on C-TPAT benefits. Additionally, the C-TPAT office is developing a “Benefits Statement” for distribution to members. This report will include a variety of program benefits information and will quantify the reduced inspection benefits realized by program participants. Develop minimum security practices, especially applicable to point of origin, point of stuffing and smarter, more secure cargo containers. C-TPAT will develop and disseminate updated program security requirements and criteria based upon the processes, procedures and best practices cultivated through review and approval of security profile submissions and/or through the validation process. These require-

CTPA T

he paper below was taken from handout participant manual of Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) – Senior Management Overview of Industry Partnership Seminar in Bangkok. This paper describe about a system that has been applied by US Customs to upgrade service and intensify international trading security as well as maintaining homeland security in USA. In the part I (previous edition WBC 402 May 2008), the paper start with the introduction on what is C-TPAT, the benefits, and this program expectations. On this edition (part II of the paper), highlighting from C-TPAT cooperation with international community, to the future of C-TPAT, and ends with this program conclusion.

T

PROVIDING C-TPAT BENEFITS
Provide incentives and benefits to include expedited processing of C-TPAT shipments to C-TPAT partners. Develop the C-TPAT secure communication platform. Providing certified members with the necessary tools to effectively develop and implement their internal C-TPAT programs is critical to enhancing overall supply chain security. CBP (Custom Border Priority) will create a secure communication platform to provide certified members with the ability to verify the program status of other certified
FOTO : DOC.

ALL PARTICIPANTS IN APEC CUSTOMS SEMINAR.

54

WARTA BEA CUKAI

EDISI 403 JUNI 2008

ENGLISH
FOTO : DOC.

l

vendors based on C-TPAT participation and/or adherence to C-TPAT security guidelines. C-TPAT companies are leveraging existing inspection teams. They have obtained cargo security training for quality assurance personnel or nonsecurity related auditors who visit foreign vendors and factories on a regular basis.

SECTION

CUSTOMS PROCEDURE. Sofyan Helmi (pointing), Dit. Kepabeanan Internasional with Agus Yulianto (behind with cap), Dit. P2 as representative from DJBC in the seminar, asking customs procedure.

ments/criteria will focus on foreign manufacturers and container point of stuffing, through the CBP clearance process – and eventually will include the use of more secure maritime containers. Provide expedited processing benefits to C-TPAT partners. C-TPAT will continue to extend facilitation benefits to certified partners. Partners will enjoy continued and increased expedited processing benefits through reduced inspections and FAST lane clearance, as well as through the development of additional practices appropriate to facilitate secure and legitimate trade. C-TPAT will also explore options for providing tiered benefits to members. Establishment of the “green lane” concept will be based upon the following security and facilitation principles: FAST, smarter containers, the use of CSI ports and the recently adopted WCO framework for international cargo security standards. These all contribute to the expedited processing of C-TPAT partners. In addition, C-TPAT is working with international organizations and foreign governments to improve the secure and efficient movement of cargo providing further business benefits.

INTERNATIONALIZING C-TPAT
Internationalize the core principles of C-TPAT through cooperation and coordination with the international community. Partner with the international trade community to help secure global supply chains. C-TPAT membership is primarily comprised of companies operating in the United States. However, today’s world embraces a global economy that requires companies to import and outsource in order to remain competitive. Through partnership in C-TPAT, it become obvious that companies could leverage their overseas manufacturers, suppliers, vendors and service providers to improve security. Many C-TPAT companies are now contractually requiring businesses to improve security in order to meet C-TPAT guidelines. As a result, C-TPAT extends s its reach well beyond our borders and impacts the security of the companies both here and overseas. Examples of how C-TPAT companies leverage their foreign suppliers to tighten security in the supply chain include: l C-TPAT members are conducting regular audits of their vendors to ensure compliance with C-TPAT security guidelines. l C-TPAT members are conditioning contractual business relationship with their service providers and

Their partnership approach has earned C-TPAT support and positive responses from the international trade community. Since the certification process is a self-assessment tool, and the validation highlights best practices, weaknesses and education, it is well received by overseas manufacturers, suppliers and vendors. As a result, C-TPAT positively impacts the international business community. Partner with individual customs administrations to improve the coordination of mutual antiterrorism efforts. CBP will continue working with individual customs administration to better align existing supply chain security and trade facilitation programs to improve the coordination of mutual antiterrorism efforts between the United States and other nations. CBP will work with our international counterparts to establish common supply chain security standards at the global level, share program processes by working with foreign customs administration and help to identify both potentially vulnerable and secure supply chains. The container security initiative (CSI) is one such joint venture. Additionally, customs administrations find the success of C-TPAT appealing and are implementing similar programs. CBP will continue to work with this program to better secure the supply chain. The trade community embraces these programs as they result in the more efficient movement of their freight. The trade community and customs administration, working with C-TPAT, are developing an environment where concerns are shared, training relating to both sides is provided and a heightened awareness of weaknesses and strengths is recognized. Support the work of the World Customs Organization to develop a WCO sponsored framework to secure and facilitate global trade that recognizes customsprivate sector partnerships. Creating international standards for cargo security and cargo processes will improve world security and add an additional layer of defense of homeland security. International trade partners have been monitoring the progress of C-TPAT since its inception to determine pitfalls and benefits. The feedback international trade community has received from its United States trade partners is that the program has many necessary business benefits and assists in maintaining secure and global trade routes. The C-TPAT office supported CBP’s efforts at the World Customs Organization’s (WCO’s) Task Force on Supply Chain Security. The task force was mandated by the June 2002 WCO “Resolution on Security and Facilitation of the International Trade Supply Chain”, in developing High Level Guidelines on Customs –Business Partnerships. The C-TPAT office will continue to participate on WCO working groups to develop sector-specific supply chain security and standards. C-TPAT also supporting CBP’s efforts emanating out of the June 2004, WCO resolution that established a WCO High Level Strategic Group (HLSG) designed to provide further guidance on global border security issues. The primary focus of the HLSG will be developing international security standards. Coordinate with international organizations to improve the security and integrity requirements of their membership. CBP will continue to engage private and public international organizations to exchange lessons learned and best practices identified through the application and validation processes. The future of C-TPAT lies in engaging these
EDISI 403 JUNI 2008 WARTA BEA CUKAI

55

ENGLISH
FOTO : DOC.

SECTION

SEMINAR. APEC Customs seminar in Bangkok discussing C-TPAT

private and public international organizations and helping them improve the security requirements of their membership. In doing so, these international organizations assist their membership in engaging secure trade partners or business associates. By utilizing best practices and lessons learned identified through C-TPAT, these organization and their membership are able to be aware of, and adapt to, emerging security concerns. And, since security concerns are constantly changing, remaining flexible and adaptable is critical to maintaining a secure global trade system.

IMPROVING C-TPAT ADMINISTRATION
Implement the C-TPAT human capital plan. To strategically project future human capital requirements in support of C-TPAT’s goals and objectives, a human capital plan is being developed. The plan analyzes current workload. The projected annual growth rate program, the time it takes to complete the average validation and the number of validations a supply chain specialist (SCS) can complete annually. The plan outlines SCS workforce and duties, areas of responsibility and current workload, current and future C-TPAT application rates, CTPAT validation time frames, the SCS validation formula used and SCS staffing required for current and future workload. CBP developed and implemented the new CTPAT SCS position to assist with key C-TPAT program requirements and institutionalized supply chain security expertise throughout the agency. The primary duty of the SCS is to conduct validations. The SCS also serves as principle advisor and primary point of contact for certified partners in the C-TPAT program. Expand the structured training program for C-TPAT supply chain specialist. Ensuring that C-TPAT personnel are prepared to meet the challenges of these dynamic programs and the global trade of terrorism, CBP’s office of field operations and the Office of training and development created a comprehensive training plan. The training comprises a two-week formal session complete with the industry specialist, instructors and training manuals. In addition in classroom training, specialists receive on the job training, which exposes them to extensive array information, experiences and locations. The specialist benefit from actual experiences that assist them in understanding the multifaceted 56
WARTA BEA CUKAI EDISI 403 JUNI 2008

environments they will operate within Coordinate with the CBP modernization office to enhance CTPAT data collection and information management capabilities. C-TPAT is working with the CBP Modernization Office (CBPMO) in an Automated Commercial Environment (ACE) selectivity and targeting redesign process to enhance our data collection and information management capabilities. This effort focuses on collecting more substantive information related to CTPAT activities (e.g. validations, security profiles, etc.) The CBPMO is working to develop prototype system, which encompasses supply chain validation selectivity management and measurement capabilities. In addition, the CBPMO is working to develop the overall C-TPAT programs system requirements from account processing in ACE. Cost to the Public At the onset of the C-TPAT program, the desire was to protect our nation against another terrorist attack by securing the trade routes into the United States. However, it quickly become obvious that an attack on a trade route’s anywhere in the world, whether to the United States or not, could have a devastating impact on the western world. CTPAT was actually assisting in protecting the global economy. Therefore, the cost to the public may be calculated by a review of the devastating impact that 9/11 had on our economy. C-TPAT reaches well beyond the United States borders to promote security from the point of manufacture to the point of distribution using imaginative means to achieve its goals. Today in the United States with over 7.400 members, C-TPAT spans across borders, across industries, across politics to improve security and awareness against potential terrorist threats around the globe.

PERFORMANCE MEASURES
Through its strategic plans and other planning and budget documents, CBP strives to maintain the purpose of the Government Performance and Results Act -improving program efficiency and effectiveness, while at the same time maintaining a results- oriented focus that clearly described program goals and objectives. Developing and integrated planning approach supported by meaningful performance measures is a primary way to demonstrate business results. It is often difficult to measures quantitatively how well law enforcement organization its meeting its challenges. CBP is no exception. Measuring program effectiveness in terms of “deterrence” is complicated. And, although traditional workload measures are a valuable indicator of the challenges CBP faces, they do not necessarily reflect the success or failure of the agency’s efforts. The direct impact being made on unlawful activity is often unknown. Because of these and other unidentified variables, the traditional economic and approaches used to measure performance can be challenging. To mitigate this challenge, C-TPAT is working with CBP’s Office of Strategic Trade (OST) to quantitatively measure existing information and data collection processes. The program focus on collecting more substantive information related to C-TPAT activities.

ENGLISH
In addition, C-TPAT partners with CBP’s Modernization Office and OST to automate collection of all data associated with C-TPAT activities. C-TPAT is working to create a model of current workflow processes and associated data that will allow for base line measurement and data. To automate and consistently capture validation information, C-TPAT partnered with the CBP modernization Office to develop a prototype to collect C-TPAT security validation information. The intent of the prototype is to create more substantial data collection methods and measure of supply chain security. C-TPAT recognized the need for effective measures to determine the success of the program. Where new measures are under development, C-TPAT currently uses three measures to determine the scope of the C-TPAT program. These measures help gauge success of C-TPAT partnership efforts. They include the percent of sea container cargo transported with C-TPAT carriers, the percent of value imported by C-TPAT importers and the percent of CTPAT importer entry volume. In addition, reduced cargo inspections are benefit importers receive for joining CTPAT. To determine if members receive reduced inspection, a ratio of targeted inspections of C-TPAT shipments versus non C-TPAT is calculated. Finally, validations verify the effectiveness, efficiency and accuracy of a C-TPAT members’ security. The validation report results are used to determine the ratio of recommendations included in the report. Validation reports are also used to determine passed versus failed validation reviews. To manage CBP’s commercial import cargo targeting and examination workload, C-TPAT uses risk management approach. C-TPAT works with members of the trade community to identify verify and improve supply chain security. As the results of the cooperative effort, CTPAT minimizes cargo targeting and inspection for the participating low risk C-TPAT members. This enables CBP to shift cargo targeting and examination resources from the low risk C-TPAT companies to those import transactions of high or unknown risk. Trade partners will submit information through a web application. The information will be processed against internal risk criteria are accepted or denied, immediate responses generated and validation time frames established. Internally, information will be easily stored, reports generated and risk analysis conducted. Externally, response time will decrease, since information will be readily available. C-TPAT implemented the Status Verification Interface, a small part of the secure communication platform that will allow CBP to communicate more effectively with members. This platform will provide relevant intelligence information, best practices, potential weaknesses and enable companies to share information. Through hiring, training and continuing education programs, CBP expects to have an adequate number of supply chain specialists (SCS) stationed around the United States. These SCS‘ will be knowledgeable, versatile and experienced personnel viewed by both the private sector and the United States government as experts in supply chain security.

SECTION

CONCLUSION
Since 9/11, combating terrorism has become the number one priority for this nation and for CBP. This objective must remain CBP‘s top priority because the threat of another terrorist attack remains real. We face a determined adversary that will stop at nothing to harm Americans and the American way of life. C-TPAT provides an effective tool to oppose this threat. As a result, C-TPAT has gained global recognition and support. Aside from many companies‘ belief in corporate good citizenry, participants find that assessing supply chain security procedures and practices improve business efficiency. Through partnership, CBP educates and has been educated, has heightened awareness of weaknesses and has gained the trust of the trade. C-TPAT has a positive effect throughout international business as companies are now requesting security information from their service providers, vendors, suppliers and manufacturers. Many C-TPAT companies are contractually requiring businesses to improve security to meet C-TPAT guidelines. Perhaps the greatest success of C-TPAT is that although participant companies join voluntarily, members have made participation and/or compliance with C-TPAT security standards by their business partners a requirement for doing business. Ultimately, these partnerships will help CBP create a true green lane that speeds low risk shipments across all our borders and through our ports of entry and preserve global trade in this time of global terrorism. (ends)
FOTO : www.cbp.gov

LOOKING TO THE FUTURE
This strategic plan sets a clear direction for the C-TPAT program. CBP anticipates that implementation of the goals, objectives and strategic contained in this plan will lead the program to one day become the domestic and international supply chain security/cargo security platform all others are judged by. At the core of the vision resides the concept of a green lane to speed secure low-risk shipments across the United States borders and through the ports of entry. The green lane represents enhanced security along the supply chain, from a foreign manufacturer to the United States port of entry. Additional efforts underway within DHS may extend this green lane concept to the domestic portion of shipment as well. It also represents expedited processing at the port of entry and will play a vital role in contingency planning for periods of increased threat or following a terrorist attack. Although the implementation of FAST has contributed to development of a green lane at the land borders, CBP will be working closely with the trade community and others within DHS and the federal government, to develop and implement expedited facilitation in conjunction with specific security measures across other modes of transport. As a result of current and future C-TPAT modernization efforts, minimum standards for cargo security will be in place, along with a fully automated system requiring only electronic documents from the trade community. These automated systems will provide CBP with better date for analyzing supply chain strengths and weaknesses, more robust validation selection criteria and more complete targeting capabilities. CBP’s goal is to automate every aspect of the C-TPAT program, both internally and externally.

Agus Yulianto, Kepala Seksi Penindakan III Direktorat P2 KP-DJBC

X-RAY. A CBP officer looks at an x-ray of an entire truck for potential contraband. EDISI 403 JUNI 2008 WARTA BEA CUKAI

57

RUANG INTERAKSI

GAMBAR
& PORNOGRAFI

Oleh: Ratna Sugeng

TUBUH
FOTO : ISTIMEWA

Waktu saya kecil, ibu membawa saya ke tukang foto, dan beraksilah bayi berumur 10 bulan berfoto telungkup telanjang. Ini foto yang lazim saat itu, 50-60 tahun yang lalu. Bagaimana jika yang berfoto perempuan atau laki- laki berumur 20 tahun dengan posisi yang sama? Atau nenekkakek berumur 70 tahun? Mana yang termasuk pornografi ?

S

aya bersama dua orang teman sedang menyantap bakso rusuk di wilayah Jakarta Timur pada bulan April 2008 pukul 16.00, ketika kemudian telinga kami menangkap kemarahan ibu dan bapak paruh baya kepada sepasang remaja yang duduk di depannya. Rupanya kemesraan kedua remaja di warung bakso mengganggu naluri keibu dan kebapakan pasutri tadi. Apakah ’tontonan’ ini termasuk porno? Di dalam perangkat kerja kami, para pekerja dalam bidang HIV/AIDS, selalu tersedia penis buatan, kondom laki-laki dan kondom perempuan. Teman saya, seorang perawat perempuan, suatu saat digeledah petugas custom di bandara Jakarta sepulang kami dari Bangkok, dalam tas kami ada dildo (penis buatan) dan kondom. Kami bawa barang kategori porno? Penari Bali berlenggak lenggok bak striptease berpakaian bahu terbuka, apakah ini mengundang selera atau gairah untuk berhubungan seksual? Indonesia sedang sibuk mengatur pornografi dalam bentuk aturan, yang dimaksud agar rakyatnya terlindung dari angin semilir pembangkitan seksualitas karena dikuatirkan pelampiasan menimbulkan ’huru-hara’. Apakah pembangkitan seksualitas hanya dipicu oleh gambar manusia telanjang, atau oleh alam pikiran seseorang itu sendiri? Nah kalau itu soal alam pikiran, siapa yang akan menyensornya? Benarkah alam pikiran menguasai dorongan seksualitas?

PORNOGRAFI
APAKAH PEMBANGKITAN SEKSUALITAS hanya dipicu oleh gambar manusia telanjang, atau oleh alam pikiran seseorang itu sendiri?

Pornografi kata yang berasal dari porneia dan graphia. Porneia bahasa Yunani untuk penjaja seks, dan graphia berarti tulisan. Artinya adalah tulisan tentang penjaja seks. Pornography secara luas diartikan sebagai materi yang utamanya digunakan untuk membangkitkan perasaan seksual pembaca atau pengamatnya. Materi dalam istilah porno, misalnya phantom atau boneka anatomi untuk pelajaran ilmu kedokteran seperti kebidanan dapat dimasukkan dalam kategori porno tidak cabul meski jelas bentuknya boneka mirip manusia lengkap dengan alat reproduksinya.
EDISI 403 JUNI 2008

58

WARTA BEA CUKAI

Kinsey mengisyaratkan bahwa respon laki-laki dan perempuan berbeda karena fungsi sistem syarafnya berbeda. Namun peneliti dari Jerman Barat mengatakan perbedaan respon lebih disebabkan oleh faktor emosi, fisik dan perilaku. Julia Heiman seorang psikolog, mengatakan bahwa respon perempuan dan laki-laki tidak tergantung porno atau tidaknya tetapi lebih kepada mana yang disuPORNOGRAFI - MATERI EROTIK kai oleh pikiran dan perasaannya. Secara luas, materi erotik menjadi cabul : Nampaknya batasan pornografi mempunyai garis bal Pada orang yang kendali dirinya sangat didominasi tas yang bergeser ke arah panutan pemikiran dan oleh aktivitas seksual perasaan, banyak dicerca karena ketidak jelasan batas l Jika berlawanan dengan norma masyarakat setempat dan bukti merusak manusianya. Batas paling l Jika tak mempunyai nilai ilmu pengetahuan, sotegas adalah tata nilai diri untuk menetapkan pasial dan seni garnya, dibagian mana dapat diterima dan di sisi Pegangan seperti di atas tidaklah mudah untuk MEMBERI mana tak dapat ditoleransi (2002 Sinclair Intimacy Institute) dijadikan patokan, mengingat tata nilai individu BATASAN yang berbeda dalam satu keluarga dan masyarakat, tata nilai masyarakat etnik satu berbeda dari TENTANG PORNOGRAFI SEBAGAI BENTUK EDUKASI SEKS lainnya, kepribadian individu yang berbeda dari Edukasi seks tidak identik dengan pelajaran MATERI orang lainnya. Nilai membangkitkan nafsu seksumelakukan hubungan seksual. Ia berbicara tentang al, erotik, tidak sama bagi individu. Karena erofungsi dan peran reproduksi, serta memahami PORNO tisitas dapat dikendalikan oleh otak bagian frontal sikap dan perilaku tentang seks sehat. Jika PERLU sehingga logika dapat menentramkan nafsu. Poredukasi seks merupakan pornografi, maka kita nografi yang nyata disebut porno, lebih banyak memberikan pemahaman kesehatan WAWASAN tidak dapat dan memelihara seks secara sehat. reproduksi beredar dalam perdagangan seksual, tanpa memanDENGAN Mereka yang telah pernah membaca, melihat dang nilai seni ataupun ilmiah. Nilai seni sendiri atau mempelajari akan mengetahui bahwa sulit diobyektivitaskan. FILOSOFI gambar yang terlihat menjadi porno bilamana KUAT perasaan dan pikiran mereka tertuju ke arah PORNOGRAFI DAN KRIMINALITAS SEKSUAL aktivitas seksual dan ini sama sekali berbeda Kecemasan dalam masyarakat muncul dan medengan edukasi seks. Dalam edukasi seks ngundang pertentangan buah pikir terkait pornodijelaskan tentang fungsi anatomi dan faali tubuh, grafi adalah karena dampaknya yang berbeda papenyakit menular seksual, cara mencegah dan da setiap orang. Salah satu dampak yang dikuatirkan adamengobati, yang gradasinya disesuaikan dengan umur lah terjadinya kriminalitas seksual karena terstimulasi mapeserta didik. teri cabul. Pada dasarnya edukasi seksual mengajarkan cara Para periset pun sibuk meneliti dampak yang mungkin hidup sehat dengan perangkat reproduksi yang dimiliki. terjadi, dan hasilnya tidak konsisten. Data penelitian Sementara pornografi adalah gambaran tidak sehat tahun 1970-an dan 1980-an di negara maju mengatakan seperti sadomasochism, kekerasan seksual, pelecehan, pornografi tak berhubungan dengan peningkatan aktivitas incest, group sex, voyeurism, exhibitionism, bestiality. seksual dan korban percabulan secara nyata tak terpapar materi porno. Peneliti lain pada periode terakhir ini menemukan kesimpulan yang serupa (Sinclair Intimacy InstituKALAU ANAK MEMBACA MAJALAH ATAU INTERNET te-2002). BERGAMBAR BUGIL APA YANG HARUS DILAKUKAN Penelitian Kinsey menunjukkan 14 sampai 60 persen ORANGTUA? perempuan dan 36 sampai 77 persen laki-laki akan Duduklah bersama anak, arahkan kepada edukasi terangsang secara seksual ketika menonton film, membaseks - kehidupan seks sehat. Singkirkan perasaan sungca cerita, mendengarkan suara, melihat gambar aktivitas kan menerangkan, agar kita percaya diri menerangkan seksual. Survei majalah Redbook (1974) melaporkan 60 kepada anak. Bila keterangan kita tidak informatif maka persen dari 100.000 perempuan menikah yang mereka anak akan mencari sumber informasi lain yang mungkin survei pernah menonton film aktivitas seksual, dan 42 tidak tepat. Jadilah ayah bagi anak laki-laki, jadilah ibu persen dari perempuan tersebut menggunakan pornografi untuk anak perempuannya. Artinya keterangan tentang dalam kegiatan seksual mereka setidaknya sekali dalam seks lebih tepat jika diberikan oleh orangtua. hidupnya. Menerangkan tentang alat reproduksi mempertimbangkan Majalah Psychology Today menjaring 20.000 pembaumur mereka yang diterangkan. canya dalam survei mereka dan mendapatkan hasil 92 Ratna Sugeng adalah seorang Psikiater, persen responden laki-laki dan 72 persen perempuan perpertanyaan ataupun konsultasi bisa melalui ratwika@yahoo.com

Dalam RUU anti pornografi dan pornoaksi, yang saya kutip dari bukunya Ayu Utami Sidang Susila, pornografi adalah substansi dalam media atau alat komunikasi yang dibuat untuk menyampaikan gagasan-gagasan yang mengeksploitasi seksual, kecabulan, dan/atau erotika. Erotika merupakan pembangkitan impuls ke arah aktivitas seksual. Perasaan erotis ini diperlukan oleh setiap makhluk untuk melanjutkan proses aktivitas seksual dengan tujuan dasar mempertahankan spesies. Tanpa aktivitas seksual tak akan ada penambahan makhluk baru dalam spesiesnya. Memberi batasan tentang materi porno perlu wawasan dengan filosofi kuat. Banyak orang mempunyai opini yang berbeda, karena itu pembatasan barang-barang porno perlu ditetapkan secara jelas menimbang latar belakang manfaatnya. Materi yang secara nyata digunakan untuk kekerasan seksual, termasuk kekerasan dalam rumah tangga, apakah termasuk pornografi atau batasan menjadi dapat bergeser sesuai situasi dan kondisi. Pihak berwenang yang menetapkan dalam hukum materi mana yang termasuk pelanggaran.

nah menggunakan perangkat pornografi untuk aktivitas seksual mereka.

PORNOGRAFI - MENGEKSPLOITASI PEREMPUAN
Gambaran dalam pornografi yang terpikir oleh banyak orang adalah merendahkan martabat, tidak memanusiakan, dan mengeksploitasi perempuan. Pada kenyataannya para lelaki merasa diperlakukan baik jika perempuan selalu siap melayani, dan pelayanan yang dianggap baik jika aktivitasnya berbeda dengan lazimnya. Kebanyakan perempuan tidak setuju jika dirinya dijadikan obyek seksual oleh para lelaki, dan jika mereka melakukan aktivitas seksual maka kedudukan hendaklah setara.

RESPON PEREMPUAN DAN LELAKI ATAS PORNOGRAFI

“ ”

EDISI 403 JUNI 2008

WARTA BEA CUKAI

59

P

R

O

F

I

L
adik-adiknya.”Nilai ini sejalan dengan adat di daerah, bahwa anak yang paling tua kelak akan menjadi pemimpin bagi lingkup adat di keluarganya,” ungkap Beni. Di masa sekolah, Beni mulai SD hingga SLTP belajar di sekolah negeri yang cukup terpandang di Bandar Lampung. Sementara, untuk mata pelajaran yang paling disukainya adalah Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), dan ini terus disenanginya hingga SLTA. “Saya suka IPA karena dapat mempelajari alam secara mendalam sekaligus dapat menyalurkan hobi saya terhadap alam, bahkan cita-cita saya sejak kecil adalah menjadi dokter karena dapat membantu orang sakit selayaknya alam selalu membantu manusia untuk dapat tetap hidup,” papar Beni. Di bangku SLTP, Beni juga cukup aktif berorganisasi, mulai dari bidang kerohanian hingga menjadi sekretaris umum OSIS. Berbagai lomba pun pernah ia ikuti, namun yang paling menarik bagi dirinya adalah pada saat ia menjadi juara II lomba pidato, karena saingannya saat itu adalah para seniornya. Demikian halnya sewaktu di bangku SLTA. Karena dinilai aktif beroganisasi dan memiliki prestasi belajar, Beni pernah diutus sekolahnya untuk mengikuti lomba pelajar teladan, dimana sekolahnya mengirimkan dua orang putra-putri. Namun Beni hanya berhasil hingga tingkat provinsi, sementara temannya terus berjuang hingga ketingkat nasional.

BENI NOVRI
KEPALA SEKSI TEMPAT PENIMBUNAN I KPPBC TIPE A3 PALEMBANG

“BERUSAHA BERBUAT BAIK TERHADAP ORANG LAIN, DAN SUKA BEKERJASAMA DALAM HAL POSISTIF”

SEMPAT BERKARIR DI PERBANKAN
Setelah lulus SLTA, Beni yang memiliki cita-cita menjadi dokter memilih jurusan Kedokteran di Universitas Indonesia, dan Fakultas Ekonomi pada Universitas Lampung. Namun, Tuhan berkata lain, Beni lebih diterima pada Fakultas Ekonomi ketimbang Kedokteran. Sementara untuk kuliah Kedokteran di universitas swasta, tentunya memerlukan biaya yang cukup besar. Maka, Beni memutuskan untuk tetap kuliah di Lampung, dengan pertimbangan kelak dapat melanjutkan ke jenjang pascasarjana. Di bangku kuliah Beni tetap aktif berorganisasi, mulai dari bidang penelitian dan pengembangan senat hingga aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Selain itu, saat kuliah Beni juga aktif membuat tulisan tentang ekonomi dan sumber daya manusia. Bahkan, beberapa tulisannya pernah dimuat pada harian lokal Lampung Post. “Pada saat pertama kali menerima honor tulisan, rasanya bangga sekali karena jerih payah saya tidak sia-sia, bahkan ketika Fakultas Teknik Universitas Indonesia mengadakan lomba karya tulis tentang koperasi, saya ikut berpartisipasi dan pada pengumuman saya keluar sebagai juara. Sangking gembiranya saya sampai diantar oleh kedua orang tua saya ke kampus UI untuk menerima hadiahnya,” cerita Beni. Lebih lanjut Beni bercerita, selesai kuliah ia mencoba untuk melanjutkan kuliah kembali pada program pasca sarjana dengan mengambil Fakultas Manajemen jurusan Manajemen Keuangan dan Perbankan di Universitas Indonesia. Beberapa dosen senior seperti, Prof. Dorodjatun Kuncoro Jakti, Dr. Sofyan Djalil, Dr. Sri Mulyani, Dr. Rhenald Kasali sempat mengajarnya pada saat itu.

D

Budaya daerah yang kental dengan kehidupan beragama, adat istiadat dan kekerabatan, membawa pengaruh besar terhadap nilai-nilai pribadinya.

ari penampilannya yang cukup sederhana, kandidat Doktor Manajemen Bisnis ini memang konsen sekali terhadap perkembangan cukai di Indonesia. Karena hampir separuh penempatan tugasnya berlangsung di Direktorat Cukai, ini yang membuat ia ingin mengetahui lebih banyak tentang cukai dan potensi-potensi komoditas yang mungkin dapat dijadikan objek cukai di Indonesia. Beni Novri adalah tokoh profil kita kali ini yang lahir di Tanjung Karang Bandar Lampung pada 28 November 1971. Anak pertama dari empat bersaudara pasangan H. Basran Madry dan Hj. Yurlen Basran yang berasal dari Sumatera Selatan, mengaku budaya daerah sangat melekat pada jati dirinya. Beni menghabiskan masa kecilnya di daerah Lampung dan terkadang menimba pengalaman di kampung halaman orang tuanya di wilayah pesisir Krui, Lampung Barat atau kira-kira 300 km dari kota Bandar Lampung. “Saat kecil saya sangat terpesona dengan panorama pantai Krui yang bersih, dengan ombaknya yang sangat bagus untuk berselancar, kami pun selalu menyempatkan diri untuk berenang di pantai tersebut. Demikian juga ketika kami pulang kampung, kami selalu diajak berwisata alam di Bukit Barisan yang membentang sepanjang kabupaten Lampung Barat,” kata Beni mengawali cerita perjalanan hidupnya.

AWAL KARIR DI DJBC
Akhirnya setelah 16 bulan kuliah, tahun 1997 Beni berhasil lulus dan berkat ajakan temannya sesama alumni MM-UI, dia diajak untuk berkiprah di dunia perbankan, sebagai senior supervisor pada Bank Rama di bilangan jalan Thamrin Jakarta. Setelah berkarir selama satu tahun setengah, Beni mendapat kabar dari temannya kalau Departemen Keuangan (Depkeu) dan Bank Indonesia (BI) menerima kesempatan untuk menjadi pegawai. Hal ini merupakan tantangan baru bagi Beni, namun setelah menimbang dengan penuh keyakinan, Beni memilih ikut tes di Depkeu, hingga akhirnya dirinya diterima di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Walaupun saat itu Beni masih awam tentang kepabeanan dan cukai. Namun seiring semangatnya untuk belajar, maka lambat laun makin bertambah wawasannya tentang kepabeanan dan cukai. “Tahun 1999 saya resmi menjadi CPNS di DJBC dan pe-

GEMAR BEROGANISASI
Ayahnya yang pernah menjadi dosen di Universitas Sriwijaya, Pemda Lampung dan pejabat di Departemen Kehutanan dan Perkebunan, selalu menanamkan norma-norma kehidupan atas pengalaman hidupnya kepada Beni. Sementara, ibunya yang aktif di organisasi sosial memberikan perhatian dan kasih sayang yang penuh kepada anak-anaknya. Beni menilai sangatlah penting peran orang tua tersebut, karena perjalanan hidupnya hingga sekarang akan sulit dicapai tanpa ridho orang tua. Selain itu, Beni merasakan bahwa budaya daerah yang kental dengan kehidupan beragama, adat istiadat dan kekerabatan, membawa pengaruh besar terhadap nilai-nilai pribadinya. Dan, sebagai anak yang paling tua, Beni dididik oleh orang tuanya untuk menjadi pemimpin, paling tidak menjadi pemimpin bagi 60
WARTA BEA CUKAI EDISI 403 JUNI 2008

EDISI 403 JUNI 2008

WARTA BEA CUKAI

61

P

R

O

F

I

L
FOTO-FOTO : DOK. PRIBADI

kau yang bekerjasama dengan Direktorat P2. Tim ini bersifat nasional yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal,” kenang Beni. Pengalaman tersebut Beni ceritakan, ketika ia dan rekan-rekan tim lainnya terjun langsung melakukan proses pemantauan dan penindakan di lapangan. Tim tersebut melakukan mapping melalui jalan darat dengan menyusuri pasar-pasar tradisional sebagai sentra pemasaran hasil tembakau, mulai dari wilayah Kepulauan Riau, Sumatera Utara, Pekan Baru, dan wilayah Lampung. “Satu hal yang cukup berkesan waktu itu, adalah ketika kami harus berpura-pura membeli rokok dengan alasan yang direkayasa, penampilan pun diupayakan seperti orang yang ‘susah’ karena umumnya yang membeli rokok tersebut berasal dari kalangan menengah ke bawah. Kondisi becek dan semrawutnya pasar tradisional merupakan hal biasa yang kami temui, bahkan perjalanan darat melalui hutan Kalimantan di waktu malam hari pernah juga kami jalani,” ungkap Beni. BERSAMA KELUARGA. Dibalik cobaan yang dijalaninya, terkuak masa depan yang didambakannya selama ini. Kegiatan tersebut, Beni melanjutkan ceritanya, hanya untuk memantau kondisi pasar tradisional yang dilalui dan juga sebagai ‘shock nempatan pertama kali saya waktu itu adalah Direktorat Verifikatherapy’ bagi pemasuk rokok illegal yang tersebar dibeberapa si dan Audit yang pada waktu itu Direkturnya dijabat oleh Wahyu wilayah. Dan Alhamdulillah, dengan adanya kegiatan tersebut, Purnomo. Saya ditempatkan pada staf Seksi Audit Cukai, namun menjadi efek jera bagi industri rokok illegal sehingga secara setelah beberapa bulan dan setelah mengikuti diklat prajabatan, tidak langsung dapat mengamankan penerimaan negara dari saya mendapat tugas baru di Direktorat Cukai. Disini saya mulai cukai, dan berakibat pada meningkatnya secara signifikan pedari staf Subdit Cukai Hasil Tembakau (CHT), hingga menjadi mesanan pita cukai. staf Subdit Cukai Minuman Mengandung Etil Alkohol (MMEA),” Hampir seluruh wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan ungkap Beni. beberapa daerah di Sulawesi telah dilakukan survei oleh Beni Di Direktorat Cukai, rupanya membuat Beni banyak meneridan rekan-rekannya satu tim, hal ini mengingat setiap bulan Beni ma pengetahuan dan pengalaman yang sangat bermanfaat, sadan rekan-rekannya dituntut untuk membuat laporan lah satunya adalah ketika dia dilibatkan menjadi anggota tim perkembangan kegiatan kepada Menko Perkonomian, melalui pengembangan barang kena cukai (BKC) baru, disini Beni baDirektur Cukai. nyak mendapat arahan dari para pejabat saat itu seperti Ismartono, Heri Kristiono, dan Barid Effendi. Pengalaman Beni yang tak dilupakannya saat itu, adalah COBAAN YANG BERAKHIR BAHAGIA ketika bertemu dengan pengurus asosiasi calon BKC, dimana Tugas yang padat dan cukup memeras pikiran serta tenaga materi yang dibahas cukup hangat. Namun dengan penjelasan tersebut, membuat Beni lalai dalam menjaga kesehatannya, payang diberikan langsung oleh Permana Agung yang saat itu da saat itu ia diberi ujian oleh Yang Maha Kuasa untuk beristiramenjabat sebagai Dirjen Bea dan Cukai, mampu meredam ketidaktahuan asosiasi calon BKC mengenai filosofi cukai. Jika di SLTP hingga kuliah Beni selalu aktif berorganisasi, saat bertugas di Kantor Pusat pun Beni tidak terlepas dari kegemarannya berorganisasi, mulai dari menjadi pengurus Masjid, Bapor DJBC, hingga aktif di dunia olah raga tenis meja yang ada di KP DJBC. Selain itu, Beni aktif menjadi pengurus Marching Band Bina Caraka dan di masa pengurusannya Marching Band Bina Caraka juga sempat menjuarai beberapa event bergengsi.

BERSAMA TIM MELAKUKAN MAPPING CUKAI HASIL TEMBAKAU
Tahun 2002 Beni mendapat promosi menjadi Kepala Seksi Tarif, Harga dan Produksi di Subdit Aneka Cukai. Tugas Beni saat itu adalah bagaimana merumuskan dan mengamankan kebijakan aneka cukai agar target penerimaan cukai dari etil alkohol dan MMEA dapat tercapai. “Satu pengalaman yang tak terlupakan sampai saat ini adalah, ketika saya menjadi tim untuk menjalankan tugas khusus membantu Direktur Cukai yang saat itu dijabat oleh Erlangga Mantik, untuk menyiapkan kebijakan yang berkaitan dengan pemantauan dan pengawasan cukai, khususnya cukai hasil temba62
WARTA BEA CUKAI EDISI 403 JUNI 2008

PANTAU POS BANTU. Beni (kedua dari kanan) beserta pejabat dijajaran KPPBC Palembang saat mengunjung pos bantu Tanjung Buyut.

hat dulu di rumah sakit.”Sakit saya waktu itu memang tidak timbul begitu saja, hal ini dikarenakan dulu saya sempat jatuh dari sepeda motor dan dokter saat itu hanya terfokus agar saya tidak gegar otak, sedangkan bagian tulang punggung belakang tidak diperhatikan, akhirnya setelah dilakukan pemeriksaan ternyata terdapat tumor jinak di tulang punggung saya yang mengharuskan untuk di operasi agar tidak terjadi kegagalan pada fungsi kaki,” kata Beni. Sungguh suatu pilihan yang cukup sulit saat itu, namun dengan berbekal niat yang ikhlas kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, serta dukungan orang tua juga pimpinan, operasi pun dilakukan selama lima jam dan berhasil mengangkat tumor jinak tersebut. Disini lebih kurang tiga minggu Beni harus berbaring di rumah sakit dan sebulan lamanya harus berobat jalan juga beristirahat untuk tidak beraktifitas di kantor. Namun dibalik perjuangannya melawan tumor jinak tersebut, Tuhan rupanya telah menuliskan skenario baru bagi Beni dan masa depannya. Selama menjalani masa perawatan di rumah sakit, Beni akhirnya bertemu dengan tambatan hatinya Suci Widyati yang saat itu sebagai karyawati di rumah sakit swasta di Kuningan dan sekarang menjadi ibu bagi anak pertamanya Muhammad Abilham Pratama yang kini telah berusia dua tahun. Setelah sembuh dari sakit dan mendapatkan pasangan hidupnya, dipenghujung tahun 2005, Beni mendapatkan mutasi yang ketiga kalinya, yaitu sebagai Pemeriksa Dokumen pada Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tanjung Priok II. Ditengah kesibukannya sebagai pemeriksa dokumen, Beni juga berkesempatan mengikuti tes guna mengikuti program Doktor Manajemen Bisnis di IPB. Sebagai salah satu syarat untuk mengikuti program tersebut, Beni pun meminta rekomendasi dari Permana Agung yang saat itu menjabat sebagai Staf Ahli Menkeu. Dengan rekomendasi tersebut, Beni pun akhirnya dapat mengikuti program doktor dimana perkuliahan dilakukan pada Sabtu dan Minggu di kampus IPB Bogor. “Program ini saya jalani bersama dengan mahasiswa lainnya yang juga berasal dari Depkeu, bahkan salah satu dosen kami, Dr. Ani Ratnawati, juga berasal dari Depkeu. Usaha untuk kuliah ini bagi saya selain untuk menambah wawasan keilmuan, juga merupakan amanat dari orang tua agar anak-anaknya dapat lebih berhasil selagi masih ada kemampuan,” ujar Beni. Setelah kurang lebih satu setengah tahun ia bertugas melakukan pemeriksaan dokumen, pada Agustus 2007 Beni kembali mendapat mutasi, kali ini ia mendapatkan tugas sebagai Kepala Seksi Tempat Penimbunan I pada Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A3 Palembang, dan masih terus menjalani kuliahnya. Bertugas di Palembang, Beni merasakan wawasannya bertambah lagi, setelah selama ini ia bertugas terkait lingkup audit,

JUARA II KARYA TULIS. Beni Novri keluar sebagai juara II lomba karya tulis yang diselenggarakan koperasi DJBC, dan menerima hadiah dari Direktur Jenderal Bea dan Cukai.

cukai, dan kepabeanan.”Pengalaman saya disini yang paling berkesan adalah saat melakukan pengawasan di kawasan berikat yang lokasinya berada di perbatasan dengan Lampung, karena selain harus ditempuh dengan jalan darat dan dilanjutkan dengan speedboat untuk mencapai tempatnya, kendala harus melawan nyamuk demam berdarah juga menjadi tantangan yang berat. Ini saya alami setelah sempat dirawat karena terkena demam berdarah,” ungkap Beni. Lebih lanjut Beni mengatakan, adanya proses pembelajaran yang ditularkan kepala kantornya saat ini, menuntun Beni untuk belajar menjadi pemimpin dan untuk menguasai bidang tugas lainnya.”Tingginya tingkat kebersamaan dan saling menghargai selama ini, membawa suasana kantor menjadi sejuk dan akrab,” ujar Beni. Beni yang selalu menjalankan amanat orang tuanya ini, merasakan banyak manfaat yang diterima dari bimbingan dan didikan orang tuanya. Ia yang memiliki motto hidup “Berusaha berbuat baik terhadap orang lain, dan suka bekerjasama dalam hal kebajikan,” merasakan kepemimpinan orang tuanya sedikit banyak telah diwarisinya. Terkait dengan tugasnya di DJBC, Beni juga merasa bangga dengan upaya reformasi yang kini terus dijalani DJBC, bahkan dengan adanya KPPBC Madya Cukai, Beni berharap akan membawa DJBC kearah yang lebih professional, sehingga citranya dapat terus meningkat dan mampu mensejajarkan diri dengan instansi kepabeanan dunia. adi

NARA SUMBER. Beni saat menjadi nara sumber pada seminar ekspor yang diselenggarakan oleh Balai Karantina Palembang.

DETEKSI PITA CUKAI PALSU. Beni Novri saat menjelaskan pada pegawai cara mendeteksi pita cukai palsu.

EDISI 403 JUNI 2008

WARTA BEA CUKAI

63

SEKRETARIAT

S

ebuah perhelatan sederhana namun penuh makna berlangsung di kantor Warta Bea Cukai (WBC) pada 2 Mei 2008. Pada hari tersebut, keluarga besar WBC merayakan hari ulang tahun majalah ini yang jatuh setiap tanggal 25 April. Dan di tahun 2008 ini WBC genap berusia 40 tahun. Yang istimewa, perayaan 40 tahun WBC dihadiri oleh Dirjen Bea Cukai Anwar Suprijadi, Sekretaris DJBC Kamil Sjoeib, serta beberapa pejabat eselon II diantaranya Direktur Cukai Frans Rupang, Direktur Fasilitas Kepabeanan Kusdirman Iskandar, Kepala Kanwil DJBC Jakarta Heru Santoso dan Kepala Kanwil DJBC Banten Bachtiar. Turut hadir dewan pengarah WBC, kontributor, senior sekaligus mantan pengasuh WBC, serta undangan lainnya. Barangkali, inilah kali pertama perayaan hari jadi WBC yang dihadiri oleh Dirjen, Sekretaris, dan beberapa pejabat eselon II di DJBC. Kedatangan para pejabat terkait, paling tidak (buat kami) menggambarkan dukungan bagi keberlangsungan WBC sebagai majalah internal resmi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Perayaan HUT WBC sendiri berlangsung tidak terlalu lama dan tidak terlalu formal. Bahkan Dirjen, sekalipun di tengah kesibukannya, masih menyempatkan mampir untuk menyampaikan kata sambutan (Foto 1). Dalam sambutan singkatnya Dirjen menyampaikan bagaimana WBC sangat dibutuhkan terutama dalam konteks perlunya DJBC berkomunikasi dengan stakeholder, dengan instansi pemerintah lainnya, khususnya dengan para pegawai yang tersebar di seluruh Indonesia. Acara kemudian berlanjut dengan pemberian kenang-kenangan oleh Sekretaris DJBC Kamil Sjoeib selaku Ketua Dewan Pengarah WBC (Foto 2) kepada Dirjen berupa foto Dirjen Bea Cukai dengan format cover depan majalah WBC beserta kutipan kata-kata Dirjen yang pernah dimuat di WBC yaitu, “Penting untuk membangun kembali kepercayaan masyarakat pada Bea Cukai.” Selanjutnya (Foto 3), Sekretaris menjabat tangan Dirjen setelah memotong dan menyerahkan kue ulangtahun kepada Dirjen, yang kemudian secara simbolis menyerahkan kue tersebut (Foto 4) kepada senior dan mantan pengasuh WBC sejak awal berdiri, Julison Mansjur, yang terakhir menjabat sebagai Pemimpin Usaha WBC (1968 – 2000). Sebelum menikmati santap siang, acara kemudian ditutup dengan pemberian ucapan selamat kepada seluruh kru WBC yang berdiri berjajar oleh undangan yang hadir (Foto 5). Satu momen akhir yang kami abadikan dalam rangkaian acara ulang tahun ini adalah foto bersama kru WBC dengan Dirjen Bea Cukai, Anwar Suprijadi didampingi Kabag Umum selaku Penanggung Jawab WBC, Sonny Subagyo (Foto 6). Selamat ulang tahun, semoga panjang umur... Lucky WARTA BEA CUKAI

HUT WBC

1 2

4

5

3

6

64

EDISI 403 JUNI 2008

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 16/PMK.011/2008 TENTANG

PEMBEBASAN BEA MASUK ATAS IMPOR BARANG DAN BAHAN YANG AKAN DIRAKIT MENJADI KENDARAAN BERMOTOR UNTUK TUJUAN EKSPOR

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 403 JUNI 2008

1

K E P U T U S A N
M E N T E R I Menimbang: a.

&

K E T E T A P A N

K E U A N G A N ,

bahwa berdasarkan Pasal 26 ayat (1) huruf k Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 17 Tahun 2006 terhadap impor barang atau bahan untuk diolah, dirakit atau dipasang pada barang lain untuk diekspor dapat diberikan pembebasan bea masuk;

b.

bahwa dalam rangka meningkatkan investasi untuk mendorong ekspor kendaraan bermotor perlu diberikan insentif berupa pembebasan bea masuk atas impor barang dan bahan untuk produksi kendaraan bermotor yang hasil produksinya akan diekspor;

c.

bahwa atas barang dan bahan untuk produksi kendaraan bermotor yang hasil produksinya akan diekspor termasuk dalam kategori barang atau bahan yang atas importasinya dapat diberikan fasilitas pembebasan bea masuk sesuai ketentuan sebagaimana dimaksud pada huruf a;

d.

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a, huruf b dan huruf c serta dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 26 ayat (3) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006, perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Pembebasan Bea Masuk Atas Impor Barang Dan Bahan yang Akan Dirakit Menjadi Kendaraan Bermotor Untuk Tujuan Ekspor;

Mengingat: 1. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3612) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 93, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4661); 2.
2

Keputusan Presiden Nomor 20/P Tahun 2005;
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 403 JUNI 2008

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N
:

M E M U T U S K A N Menetapkan :

PERATURAN MENTERI KEUANGAN TENTANG PEMBEBASAN BEA MASUK ATAS IMPOR BARANG DAN BAHAN YANG AKAN DIRAKIT MENJADI KENDARAAN BERMOTOR UNTUK TUJUAN EKSPOR.

P A S A L K E T E N T U A N

1 U M U M

Dalam Peraturan Menteri Keuangan ini yang dimaksud dengan: 1. Barang dan bahan adalah bagian dan perlengkapan kendaraan bermotor untuk dirakit menjadi kendaraan bermotor. 2. Completely Built Up yang selanjutnya disingkat dengan CBU adalah kendaraan bermotor dalam keadaan utuh. 3. Completely Knocked Down yang selanjutnya disingkat dengan CKD adalah kendaraan bermotor dalam keadaan terbongkar sama sekali sesuai dengan yang ditetapkan dari departemen perindustrian. 4. 5. Menteri adalah Menteri Keuangan Republik Indonesia. Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal Bea dan cukai.

P A S A L

2

(1) Atas barang dan bahan yang diimpor untuk dirakit menjadi kendaraan bermotor yang nyata-nyata untuk tujuan diekspor dapat diberikan pembebasan bea masuk. (2) Pembebasan bea masuk sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan kepada importir yang memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. b. merupakan Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM); mempunyai reputasi sangat baik yang tercermin dari profil perusahaan;
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 403 JUNI 2008 3

K E P U T U S A N
c. d.

&

K E T E T A P A N

mempunyai bidang usaha (nature of bussiness) yang jelas dan spesifik; tidak pernah menyalahgunakan fasilitas di bidang kepabeanan selama 1 (satu) tahun terakhir;

e.

tidak pernah salah memberitahukan jumlah barang, jenis barang, dan/ atau nilai pabean selama satu tahun terakhir; dan

f.

telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik yang menyatakan bahwa perusahaan tersebut tidak mendapatkan opini disclaimer atau adverse.

P A S A L

3

(1) Pembebasan bea masuk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 diberikan kepada perusahaan yang mengimpor barang dan bahan yang akan dirakit menjadi kendaraan bermotor dalam bentuk CBU dan/atau CKD dan nyata-nyata untuk tujuan diekspor oleh perusahaan pengimpor yang bersangkutan.

(2) Kendaraan bermotor yang akan diekspor dalam keadaan CKD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus diekspor sebagai unit kendaraan bermotor secara bersama-sama sebagai satu kesatuan.

(3) Kebutuhan barang dan bahan untuk memproduksi satu unit kendaraan bermotor dalam bentuk CBU atau CKD (konversi) dibuat oleh perusahaan dan telah diverifikasi serta disetujui oleh surveyor independen.

P A S A L

4

(1) Untuk mendapatkan pembebasan bea masuk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, perusahaan mengajukan permohonan kepada Direktur Jenderal. (2) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilampiri dengan :
4 BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 403 JUNI 2008

K E P U T U S A N
a.

&

K E T E T A P A N

Rencana Impor Barang (RIB) untuk jangka waktu 12 (dua belas) bulan berupa perkiraan jumlah dan nilai kebutuhan barang dan bahan yang diperlukan dalam masa periode pembebasan yang akan dimintakan pembebasan bea masuknya;

b. c.

Konversi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3); Rencana Ekspor Kendaraan Bermotor untuk jangka waktu 12 (dua belas) bulan yang memuat elemen data jumlah, jenis, merek, dan spesifikasi teknis kendaraan bermotor serta negara tujuan ekspor;

d.

Kontrak antara perusahaan pengimpor barang dan bahan kendaraan bermotor dengan perusahaan pembuat/perakit kendaraan bermotor, kecuali bagi produsen eksportir;

e.

Data tentang kapasitas terpasang perusahaan pembuat/perakit kendaraan bermotor;

f. g. h. i.

Jaminan tertulis dari pimpinan tertinggi perusahaan pemohon; Nomor Induk Kepabeanan (NIK); Surat penetapan sebagai ATPM oleh Instansi Teknis Terkait; dan Fotokopi Laporan keuangan tahun terakhir yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik.

P A S A L

5

(1)

Atas permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, Direktur Jenderal memberikan persetujuan atau penolakan.

(2) Dalam hal permohonan disetujui, Direktur Jenderal atau pejabat yang ditunjuknya atas nama Menteri Keuangan menerbitkan keputusan mengenai pembebasan bea masuk atas impor barang dan bahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 yang memuat rincian mengenai : a. b. c. Rencana Impor Barang; Jenis Unit Kendaraan bermotor yang akan diekspor; Merk dan Tipe;
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 403 JUNI 2008 5

K E P U T U S A N
d. e. f. g. h. i. j. k. l. Kategori/jenis; Kapasitas silinder; Kapasitas penumpang;

&

K E T E T A P A N

Nomor pos tarif sesuai Buku Tarif Bea Masuk Indonesia; Negara Tujuan Ekspor; Perkiraan Nilai Ekspor per unit; Total Nilai Ekspor; Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tempat Pemuatan Ekspor; dan Tanggal berakhirnya Surat Keputusan.

(3) Dalam hal permohonan ditolak, Direktur Jenderal membuat surat penolakan dengan menyebutkan alasan penolakan.

P A S A L

6

Perusahaan yang mendapat fasilitas pembebasan bea masuk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, wajib mengekspor kendaraan bermotor hasil perakitan dari barang dan bahan yang mendapat fasilitas pembebasan bea masuk paling lama sebelum tanggal berakhirnya keputusan mengenai pembebasan bea masuk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2).

P A S A L

7

(1) Perusahaan wajib mempertanggungjawabkan impor barang dan bahan yang mendapat fasilitas pembebasan bea masuk, dengan mengekspor barang dan bahan yang telah dirakit menjadi kendaraan bermotor paling lama dalam jangka waktu pembebasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2). (2) Dalam hal perusahaan tidak mengekspor barang dan bahan yang telah dirakit menjadi kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1), perusahaan wajib membayar bea masuk dan/atau cukai yang terutang sesuai
6 BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 403 JUNI 2008

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

tarif dan nilai pabean pada saat diimpor, dan dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar 100% (seratus persen) sampai dengan 500% (lima ratus persen) dari bea masuk yang seharusnya dibayar sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

P A S A L

8

(1) Selain mengekspor barang dan bahan yang telah dirakit menjadi kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1), perusahaan dapat menyelesaikan kewajibannya dengan : a. menjual barang dan bahan yang rusak ke daerah Pabean Indonesia Lainnya dengan membayar bea masuk dan/atau cukai yang terutang sesuai tarif dan nilai pabean pada saat diimpor, dan dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar 100% (seratus persen) sampai dengan 500% (lima ratus persen) dari bea masuk yang seharusnya dibayar; dan/atau b. mengekspor barang dan bahan.

(2) Ekspor barang dan bahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dilakukan setelah mendapat persetujuan dari Direktur Jenderal atau pejabat yang ditunjuk.

P A S A L

9

(1) Perusahaan yang mendapat fasilitas pembebasan bea masuk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 wajib menyampaikan laporan kepada Direktur Jenderal Bea dan Cukai atau pejabat yang ditunjuk berupa: a. Laporan realisasi impor barang dan bahan yang mendapat pembebasan bea masuk secara berkala setiap 3 (tiga) bulan sejak tanggal keputusan mengenai pembebasan bea masuk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2).
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 403 JUNI 2008 7

K E P U T U S A N
b.

&

K E T E T A P A N

Laporan tentang realisasi ekspor kendaraan bermotor yang atas importasi barang dan bahannya mendapatkan pembebasan bea masuk secara berkala setiap 3 (tiga) bulan sejak tanggal keputusan mengenai pembebasan bea masuk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2).

c.

Laporan barang dan bahan impor yang mendapat pembebsan bea masuk yang diselesaikan dengan dijual atau diekspor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) secara berkala setiap 3 (tiga) bulan sejak tanggal keputusan mengenai pembebasan bea masuk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2).

d.

Laporan akhir tentang realisasi impor dan ekspor kendaraan bermotor yang barang dan bahan impornya mendapatkan pembebasan bea masuk paling lambat 14 (empat belas) hari setelah masa berlaku keputusan mengenai pembebasan bea masuk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2).

P A S A L

1 0

Pembebasan bea masuk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dicabut, dalam hal : a. pemohon tidak melakukan impor barang dan bahan bersangkutan dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sejak tanggal keputusan mengenai pembebasan bea masuk; atau b. perusahaan tidak menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9.

P A S A L

1 1

Pelaksanaan Peraturan Menteri Keuangan ini akan dievaluasi dalam jangka paling lama 2 (dua) tahun sejak Peraturan Menteri Keuangan ini ditetapkan.
8 BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 403 JUNI 2008

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N
1 2

P A S A L

Pada saat Peraturan Menteri Keuangan ini mulai berlaku, terhadap importasi barang dan bahan yang diimpor untuk dirakit menjadi kendaraan bermotor yang nyata-nyata untuk tujuan diekspor yang dilakukan sejak tanggal 26 Agustus 2007 sampai dengan tanggal ditetapkannya Peraturan Menteri Keuangan ini, dapat diberikan pembebasan bea masuk berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan ini dengan ketentuan sebagai berikut : 1. importasi yang masih dalam proses fasilitas vooruitslag, dapat diselesaikan dengan menggunakan Pemberitahuan Pabean Impor; 2. importasi yang menggunakan fasilitas vooruitslag dan sedang dalam proses penagihan, maka penagihannya tidak dilanjutkan; 3. importasi yang sudah dibayar bea masuknya dapat diberikan pengembalian bea masuk.

P A S A L

1 3

Peraturan Menteri Keuangan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dan mempunyai daya laku surut terhitung sejak tanggal 26 Agustus 2007.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman Peraturan Menteri Keuangan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 4 Februari 2008 MENTERI KEUANGAN, ttd,SRI MULYANI INDRAWATI
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 403 JUNI 2008 9

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 28/PMK.04/2008 TENTANG

PEMBEBASAN BEA MASUK ATAS IMPOR BARANG PINDAHAN

10

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 403 JUNI 2008

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

M E N T E R I K E U A N G A N , Menimbang: a. bahwa berdasarkan pasal 25 ayat (1) huruf l Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 17 Tahun 2006, terhadap impor barang pindahan diberikan pembebasan bea masuk; b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a, dan dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 25 ayat (3), perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Pembebasan Bea Masuk Atas Impor Barang Pindahan; Mengingat: 1. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3612) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 93, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4661); 2. Keputusan Presiden Nomor 20/P Tahun 2005; M E M U T U S K A N : Menetapkan: PERATURAN MENTERI KEUANGAN TENTANG PEMBEBASAN BEA MASUK ATAS IMPOR BARANG PINDAHAN.

P A S A L

1

Dalam Peraturan Menteri Keuangan ini yang dimaksud dengan : 1. Barang Pindahan adalah barang-barang keperluan rumah tangga milik orang yang semula berdomisili di luar negeri, kemudian dibawa pindah ke dalam negeri. 2. Menteri adalah Menteri Keuangan Republik Indonesia. 3. Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal Bea dan Cukai.

P A S A L

2

(1) Atas impor barang pindahan diberikan pembebasan bea masuk. (2) Ketentuan pembebasan bea masuk sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku terhadap barang pindahan yang dikategorikan sebagai barang dagangan atau kendaraan bermotor.
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 403 JUNI 2008 11

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N
3

P A S A L

Pembebasan bea masuk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) diberikan kepada : a. Pegawai Negeri Sipil, anggota Tentara Nasional Indonesia atau Polisi Negara Republik Indonesia dengan kriteria : 1) menjalankan tugas ke luar negeri paling singkat 1 (satu) tahun, dengan atau tanpa keluarga, yang dibuktikan dengan surat keputusan penempatan ke luar negeri dan surat keputusan penarikan kembali ke Indonesia dari instansi yang bersangkutan; 2) menjalankan tugas belajar di luar negeri paling singkat 1 (satu) tahun, dengan atau tanpa keluarga, yang dibuktikan dengan surat keterangan belajar di luar negeri dari instansi yang bersangkutan. b. Pelajar, mahasiswa, atau orang yang belajar di luar negeri paling singkat 1 (satu) tahun yang dibuktikan dengan surat keterangan telah selesai belajar. c. Tenaga Kerja Indonesia yang ditempatkan pada perwakilan Indonesia di luar negeri paling singkat 1 (satu) tahun secara terus menerus, berdasarkan perjanjian kerja dengan Departemen Luar Negeri yang dibuktikan dengan surat keterangan dari Perwakilan Republik Indonesia tempat bekerja dan surat perjanjian kerja dengan Departemen Luar Negeri d. Warga negara Indonesia yang karena pekerjaannya pindah dan berdiam di luar negeri paling singkat 1 (satu) tahun secara terus menerus, yang dibuktikan dengan surat keterangan pindah dan rincian barang yang telah ditandasahkan oleh perwakilan Republik Indonesia di negara yang bersangkutan. e. Warga negara asing yang karena pekerjaannya pindah ke dalam daerah pabean Indonesia bersama keluarganya setelah mendapatkan : 1) izin menetap sementara dari Direktorat Jenderal Imigrasi yang dibuktikan dengan Kartu Izin Menetap Sementara paling singkat 1 (satu) tahun; dan 2) izin kerja sementara dari departemen yang membidangi tenaga kerja yang dibuktikan dengan Kartu Izin Kerja Tenaga Asing Sementara paling singkat 1 (satu) tahun.

P A S A L

4

Barang pindahan yang diimpor dan diberikan fasilitas pembebasan bea masuk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, harus tiba bersama-sama pemilik yang bersangkutan atau paling lama 3 (tiga) bulan sesudah atau sebelum pemilik barang yang bersangkutan tiba di Indonesia.
12 BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 403 JUNI 2008

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N
5

P A S A L

Untuk mendapatkan pembebasan bea masuk atas barang pindahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, pemilik barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 atau kuasanya menyampaikan Pemberitahuan Pabean Impor ke Kantor pabean tempat pemasukan barang pindahan, dengan melampirkan : a. daftar rincian jumlah, jenis, dan perkiraan nilai pabean atas barang yang dimintakan pembebasan bea masuk yang telah ditandasahkan; b. surat keterangan dan/atau dokumen terkait sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3; dan c. fotokopi paspor.

P A S A L

6

Atas impor barang pindahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1), dilakukan pemeriksaan fisik barang.

P A S A L

7

Pada saat Peraturan Menteri Keuangan ini mulai berlaku, Keputusan Menteri Keuangan Nomor 137/KMK.05/1997 tentang Pembebasan Bea Masuk Atas Impor Barang Pindahan, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

P A S A L

8

Peraturan Menteri Keuangan ini mulai berlaku setelah 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal ditetapkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman Peraturan Menteri Keuangan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 11 Februari 2008 MENTERI KEUANGAN, ttd,SRI MULYANI INDRAWATI
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 403 JUNI 2008 13

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR 05/BC/2008 TENTANG

PERUBAHAN ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P-26/BC/2007 TENTANG TATALAKSANA PINDAH LOKASI PENIMBUNAN BARANG IMPOR YANG BELUM DISELESAIKAN KEWAJIBAN KEPABEANANNYA DARI SATU TEMPAT PENIMBUNAN SEMENTARA KE TEMPAT PENIMBUNAN SEMENTARA LAINNYA

14

BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 403 JUNI 2008

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI, Menimbang: bahwa dalam rangka memberikan kepastian hukum serta menghindari perbedaan persepsi berkaitan dengan pelaksanaan pindah lokasi penimbunan barang impor yang belum diselesaikan kewajiban kepabeanannya, dipandang perlu untuk melakukan perubahan atas Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor P26/BC/2007 tanggal 30 Agustus 2007; Mengingat: 1. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3612) sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 17 tahun 2006 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 93, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4661); 2. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 95 Tahun 2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Instansi Vertikal di Lingkungan Departemen Keuangan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Presiden Indonesia Nomor 22 Tahun 2007; 3. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 453/KMK.04/2002 tentang Tatalaksana Kepabeanan di Bidang Impor sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 112/KMK.04/2003; 4. Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 39/PMK.04/2006 tentang Tatalaksana Penyerahan Pemberitahuan Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut, Manifes Kedatangan Sarana Pengangkut dan Manifes Keberangkatan Sarana Pengangkut sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 108/PMK.04/2006; 5. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 70/PMK.04/2007 tentang Kawasan Pabean dan Tempat Penimbunan sementara; 6. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 145/PMK.04/2007 tentang Ketentuan Kepabeanan di Bidang Ekspor;
BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 403 JUNI 2008 15

K E P U T U S A N

&

K E T E T A P A N

M E M U T U S K A N : Menetapkan: PERUBAHAN ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P-26/BC/2007 TENTANG TATALAKSANA PINDAH LOKASI PENIMBUNAN BARANG IMPOR YANG BELUM DISELESAIKAN KEWAJIBAN KEPABEANANNYA DARI SATU TEMPAT PENIMBUNAN SEMENTARA KE TEMPAT PENIMBUNAN SEMENTARA LAINNYA. P A S A L I

Mencabut Pasal 10 Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor P- 26/BC/ 2007 tentang Tatalaksana Pindah Lokasi Penimbunan Barang Impor Yang Belum Diselesaikan Kewajiban Kepabeanannya Dari Suatu Tempat Penimbunan Sementara Ke Tempat Penimbunan Sementara Lainnya. P A S A L I I

Peraturan Direktur Jenderal ini merupakan bagian tak terpisahkan dari Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor P-26/BC/2007 tentang Tatalaksana Pindah Lokasi Penimbunan Barang Impor Yang Belum Diselesaikan Kewajiban Kepabeanannya Dari Suatu Tempat Penimbunan Sementara Ke Tempat Penimbunan Sementara Lainnya. P A S A L I I I

Peraturan Direktur Jenderal ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 18 Maret 2008 DIREKTUR JENDERAL, TTD,ANWAR SUPRIJADI NIP 120050332
16 BONUS WARTA BEACUKAI EDISI 403 JUNI 2008

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->