P. 1
Warta Bea Cukai Edisi 404

Warta Bea Cukai Edisi 404

4.0

|Views: 3,834|Likes:
Published by bcperak

More info:

Published by: bcperak on Nov 03, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/14/2012

pdf

text

original

TAHUN XL EDISI 404

JULI 2008

PINDAH LOKASI PENIMBUNAN
Untuk Kelancaran Arus Barang Di Pelabuhan

MENUNGGU IMPLEMENTASI
OKTO IRIANTO
SAYA BERUNTUNG MEMILIKI KELUARGA YANG MENGERTI DENGAN TUGAS SAYA... IZIN PLP KEWENANGAN PENUH DJBC

PROFIL

WAWANCARA

AGUNG KUSWANDONO

DARI REDAKSI

KORUPSI = DJBC

TERBIT SEJAK 25 APRIL 1968
IZIN DEPPEN: NO. 1331/SK/DIRJEN-G/SIT/72 TANGGAL, 20 JUNI 1972 ISSN.0216-2483 PELINDUNG Direktur Jenderal Bea dan Cukai: Drs. Anwar Suprijadi, MSc PENASEHAT Direktur Penerimaan & Peraturan Kepabeanan dan Cukai: Drs. Hanafi Usman Direktur Teknis Kepabeanan Ir. Agung Kuswandono, MA Direktur Fasilitas Kepabeanan Drs. Kusdirman Iskandar Direktur Cukai Drs. Frans Rupang Direktur Penindakan & Penyidikan Drs. R.P. Jusuf Indarto Direktur Audit Drs. Thomas Sugijata, Ak. MM Direktur Kepabeanan Internasional Drs. M. Wahyu Purnomo, MSc Direktur Informasi Kepabeanan & Cukai Dr. Heri Kristiono, SH, MA Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Bea dan Cukai Drs. Endang Tata Inspektur Bea dan Cukai Edy Setyo Tenaga Pengkaji Bidang Pelayanan & Penerimaan KC Drs. Bambang Prasodjo Tenaga Pengkaji Bidang Pengawasan & Penegakan Hukum KC Drs. Erlangga Mantik, MA Tenaga Pengkaji Bidang Pengembangan Kapasitas & Kinerja Organisasi KC Susiwijono, SE KETUA DEWAN PENGARAH Sekretaris Direktorat Jenderal Bea dan Cukai: Drs. Kamil Sjoeib, MA WAKIL KETUA DEWAN PENGARAH/ PENANGGUNG JAWAB Kepala Bagian Umum: Sonny Subagyo, S.Sos DEWAN PENGARAH Ir. Harry Mulya, MSi, Drs. Patarai Pabottinggi, Dra. Cantyastuti Rahayu, Muhamad Purwantoro. Marisi Zainuddin Sihotang, SH.,M.M. Hendi Budi Santosa, Ir. Azis Syamsu Arifin, Muhammad Zein, SH, MA. Maimun, Ir. Agus Hermawan, MA. PEMIMPIN REDAKSI Lucky R. Tangkulung REDAKTUR Aris Suryantini, Supriyadi Widjaya, Zulfril Adha Putra FOTOGRAFER Andy Tria Saputra KORESPONDEN DAERAH ` Hulman Simbolon (Medan), Ian Hermawan (Pontianak), Donny Eriyanto (Makassar), Bambang Wicaksono (Ambon), Muqsith Hamidi (Balikpapan) KOORDINATOR PRACETAK Asbial Nurdin SEKRETARIS REDAKSI Kitty Hutabarat PIMPINAN USAHA/IKLAN Piter Pasaribu TATA USAHA Shinta Dewi Arini Untung Sugiarto IKLAN Kitty Hutabarat SIRKULASI H. Hasyim, Amung Suryana BAGIAN UMUM Rony Wijaya PERCETAKAN PT. BDL Jakarta ALAMAT REDAKSI/TATA USAHA Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Jl. Jenderal A. Yani (By Pass) Jakarta Timur Telp. (021) 478 65608, 478 60504, 4890308 Psw. 154 Fax. (021) 4892353 majalah_wbc@yahoo.com REKENING GIRO a/n : MIRA PUSPITA DEWI BANK BNI 1946 CABANG CIPINANG RAWAMANGUN, JAKARTA TIMUR Nomor Rekening : 131339374 Pengganti Ongkos Cetak Rp. 12.500,-

P

A little integrity is better than any career (Ralph Waldo Emerson)

ada penghujung bulan Mei lalu muncul sebuah berita yang sangat mengejutkan khususnya buat kalangan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Peristiwanya adalah KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) memeriksa KPU Bea Cukai Tanjung Priok dan menghasilkan temuan yang pastinya sudah pembaca ketahui. KPK memang sebuah lembaga yang punya kewenangan luar biasa. Sebelum masuk ke Bea Cukai, KPK sudah banyak melakukan penyelidikan, pemeriksaan, penggeledahan hingga penangkapan banyak pihak, dari Gubernur, Bank Indonesia, Kejaksaan bahkan hingga anggota DPR. Dan ketika KPK masuk ke Bea Cukai (KPU), efeknya menimbulkan perasaan yang beragam buat pegawai. Entah itu jengkel, malu, bingung, prihatin atau tidak peduli. Sejatinya, sebuah peristiwa kontroversial selalu memunculkan pro atau kontra, termasuk posisi netral diantaranya. Ada pihak berpendapat, memang sudah waktunya KPK masuk ke Bea Cukai yang terkenal ‘basah’. Sementara pada sisi lainnya mempertanyakan, kenapa harus KPK? Sebuah surat yang masuk ke redaksi bahkan mengatakan, apakah pimpinan sudah tidak ada keberanian lagi untuk menjewer anaknya? Atau, apakah untuk membunuh virus rumah harus dibakar? Tidak lama setelah kejadian memang muncul tulisan-tulisan yang dikirim ke redaksi menanggapi peristiwa yang terjadi. Ada yang mencantumkan identitas lengkap, namun ada pula yang menyembunyikan nama atau yang ada hanyalah alamat email. Salah satu bentuk tulisan dimuat pada edisi ini pada bagian surat pembaca (hal. 3), sementara tulisan dalam bentuk opini akan redaksi muat pada edisi mendatang. Apapun silang pendapat yang terjadi, satu hal yang perlu disepakati adalah, reformasi birokrasi dalam rangka menciptakan good and clean government harus terus berjalan dan harus terus didukung. Yang tidak kalah penting adalah kesamaan pandangan bahwa, sekalipun ada sebagian kecil pegawai (atau mungkin bisa disebut oknum) yang terlibat praktek suap, namun masih lebih banyak lagi pegawai bea cukai yang bekerja dengan profesional, jujur, penuh tanggung jawab, dan sesuai dengan amanahnya. Hal tersebut mengemuka dalam wawancara WBC dengan Dirjen Bea Cukai Anwar Suprijadi, yang selengkapnya bisa dibaca mulai halaman 52 pada edisi ini. Masyarakat luas harus bisa melihat bahwa kesalahan yang terjadi adalah karena faktor individu, dan itu adalah bagian dari sistem reward and punishment yang dijalankan. DJBC bagaimanapun juga memiliki catatan keberhasilan yang cukup panjang dalam hal pelayanan, pengawasan, hingga pengumpulan penerimaan buat negara. Hal tersebut bisa dilakukan karena DJBC masih memiliki ribuan pegawai dari ujung Sumatera hingga ujung Papua yang berdedikasi sehingga layak menerima reward karena sumbangsih yang diberikan. Apa yang terjadi semoga menjadi pelajaran untuk melangkah ke depan dengan lebih baik. Seperti mengutip ungkapan seorang yang berkata, setiap pegawai, dalam pekerjaan apapun, harus mampu menarik garis pembatas untuk menentukan bagaimana ia akan bekerja, dan garis tersebut dinamakan integritas. Lucky R. Tangkulung

EDISI 404 JULI 2008

WARTA BEA CUKAI

1

NOMOR INI
1 3 19 DARI REDAKSI SURAT PEMBACA KONSULTASI KEPABEANAN DAN CUKAI Pemeriksaan Barang INFO PEGAWAI - Sambutan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Pada Apel Pagi di KP DJBC, 19 Mei 2008 - Pegawai Pensiun per 1 Juli 2008 PUSDIKLAT Diklat Untuk Client Coordinator dan Kepatuhan Internal. KEPABEANAN INTERNASIONAL The 4th Coordinating Committe on Customs (CCC) Meeting. INFO PERATURAN MITRA Aksi Korporasi Peduli Lingkungan. SEPUTAR BEA CUKAI SIAPA MENGAPA - Irma - Amni Khalim - Yusuf Noce Muda TEKNOLOGI INFORMASI Sekilas Tentang Windows Vista ENGLISH SECTION Checkpoint Competencies In Goods Clearance. PERISTIWA CCC Tour De Bedugul PENGAWASAN - KPK dan Bidang Kepatuhan Internal Periksa KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok - Shabu 2 Kg Ditegah Petugas KPPBC Soekarno-Hatta - Pasca Sidak Aktivitas KPU Bea dan Cukai Kembali Normal - Kanwil DJBC jakarta Tegah Pita Cukai Palsu, MMEA dan Ketamin. - Hasil Penindakan Patroli laut Kanwil DJBC Khusus Kepulauan Riau. KOLOM - Sisi Unik Bola dan Bea Cukai - DJBC & Pelaksanaan Perlindungan HaKI RUANG KESEHATAN Obesitas RENUNGAN ROHANI Sikap Muslim Dalam Menyikapi Peristiwa Mukjizat SELAK Menjalin Keakraban di Tanjung Bira RUANG INTERAKSI Office Wife APA KATA MEREKA - Nadine Chandrawinata - Mischa Chandrawinata

DAFTAR ISI
Laporan Utama
Pada prinsipnya importir setuju dengan cara overbrengen atau Pindah Lokasi Penimbunan (PLP) utuk mengatasi kepadatan di lapangan penumpukan, asalkan tidak jauh ke luar kawasan pabean karena akan menimbulkan ekonomi biaya tinggi di pelabuhan akibat double handling dalam penanganan kontainer. Lebih jauh mengenai PLP barang dalam container ini kami kupas dalam Laporan Utama bulan ini.

4 -15

20

23 25

27 37 38 44

Wawancara

16 -18
Importir mengeluhkan proses PLP yang dilakukan pengusaha TPS, karena dinilai tidak mengindahkan peraturan yang dikeluarkan Bea dan Cukai. Dengan alasan daya tampung TPS sudah mencapai batas maksimal, secepatnya TPS mengajukan surat permohonan PLP kepada pihak Bea dan Cukai. Direktur Teknis Kepabeanan, Agung Kuswandono menanggapinya bahwa masalahnya selama ini, PLP lebih kental dengan nuansa binis ketimbang teknis.

46 48 51 52

Daerah ke Daerah
Berbagai peristiwa dan kejadian mengisi rubrik daerah ke daerah, diantaranya Sosialisasi PP 28 Tahun 2008 di Kanwil DJBC Sumut dan Balikpapan. Kunjungan kerja tim dari Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Barat ke Jagoi Babang, tegahan narkoba di Teluk Nibung dan Denpasar. Serta berita dari Kanwil Khusus DJBC Kepulauan Riau, kegiatan Patkor Kastima dan hasil tegahan beberapa komoditi.

27-36

64

68 70 72 74 80

Profil

76 -79
Dalam melakukan perubahan dan perbaikan secara alami memang harus dilalui dengan rasa getir dan sakit dan itu memang harus dilalui untuk menjadi lebih baik. Begitu juga yang Okto Irianto, tokoh profil kita bulan ini dan rekan-rekannya sesama pegawai rasakan saat ini disaat DJBC terus berbenah menuju ke arah yang lebih baik. Ia optimis, DJBC bisa melewati semua ini dan akan memetik buah yang manis dari perjalanan yang terasa pahit dan getir ini.

2

WARTA BEA CUKAI

EDISI 404 JULI 2008

Surat Pembaca
Kirimkan surat anda ke Redaksi WBC melalui alamat surat, fax atau e-mail. Surat hendaknya dilengkapi dengan identitas diri yang benar dan masih berlaku.

S

Mari Kita Berbenah !
berperilaku baik, sebab setan tidak pernah berhenti menggoda kita. Karenanya ijinkalah selalu hati kecil kita untuk berbicara, bukalah telinga kita untuk mendengar nasihat. Tidak perlu kita lihat dari siapa nasihat itu datang, tetapi resapilah apa isinya, sebab bisa jadi nasihat itu adalah bisikan dari Sang Maha Penyayang kepada kita yang bisa mencegah kita dari bencana. Marilah kita kita syukuri semua nikmat yang kita telah kita terima. Jasmani dan ruhani yang sehat dan berfungsi sebagaimana mestinya. Gaji halal yang secara nominal lebih baik dari ukuran normal. Kawan-kawan dan keluarga yang mencintai kita. Para pengguna jasa yang menghormati dan menghargai kita. Mari kita tengok juga betapa ternyata begitu ’mudah’ bagi kita untuk menyenangkan orang lain dengan amanah yang ada di tangan kita. Betapa banyak kesempatan beramal dengan pekerjaan kita. Ketika bahan baku produksi sebuah pabrik dapat keluar dari pelabuhan lewat amanah yang kita tunaikan sebagaimana mestinya, maka sebenarnya kita telah memastikan pabrik dapat beroperasi sesuai jadwal dan sekian ribu orang dapat bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarganya. Ketika obat-obatan impor yang diperlukan orang sakit dapat keluar pelabuhan lewat amanah yang kita tunaikan sebagaimana mestinya, kita telah membantu ribuan orang sakit untuk mendapatkan obat tepat pada waktunya dengan biaya yang wajar. Ketika kita dapat mencegah narkotika dan barang berbahaya masuk ke negeri ini, niscaya itu berarti semua orang seharusnya berterima kasih kepada kita karena telah menyelamatkan anak istri dan keluarga mereka dari kebinasaan. Tidak hanya itu, bea masuk dan pajak yang kita pungut atas nama negara ternyata dapat menjelma menjadi gedung sekolah, tempat ibadah, jalan raya, rumah sakit, subsidi untuk orang miskin dan gaji bagi pegawai negeri yang lain. Tengoklah, ternyata dimana-mana bertebaran keindahan hasil jerih payah kita. Mari kita jaga amanah yang mulia ini dengan ketulusan dan kesadaran bahwa kelak kita semua akan mati dan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kita lakukan Tak lupa, mari kita berdoa, “Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menganiaya diri kami, tanpa ampunan dan kasih sayangMu maka niscaya kami akan termasuk orang-orang yang merugi”. “Wahai Tuhan kami, tunjukkanlah agar yang benar itu nyata terlihat benar, dan berilah kami kekuatan untuk menjalaninya, dan tunjukkanlah yang salah itu nyata terlihat salah, dan berilah kami kekuatan untuk menghindarinya”. “Wahai Dzat pembolak-balik hati, tetapkanlah qalbu kami atas agama (tuntunan) Mu dan ketaatan kepadaMu”. Amin. NN (Nama dan alamat pada Redaksi
EDISI 404 JULI 2008 WARTA BEA CUKAI

etelah penggrebekan KPK bersama bidang Kepatuhan internal di KPU Tanjung Priok, berjuta perasaan menghampiri diri kita sebagai pegawai Bea Cukai. Ada perasaan malu, sedih, marah, kecewa dan menyesal, walau tak sedikit juga yang masih menganggapnya biasa-biasa saja. Tetapi yang jelas kita semua tentu berharap agar kisah ini tidak memburuk hingga membuat kita semua terperosok kembali ke lubang yang sama seperti tahun 1985, saat kita dicatat sejarah sebagai satu-satunya institusi pemerintah yang secara formal pernah tidak dipercaya oleh bangsa ini mengemban tugas negara. Adalah sangat arif jika di saat seperti ini kita semua mau melakukan instropeksi diri, karena Tuhan selalu menyelipkan hikmah dan pelajaran atas apapun yang terjadi di muka bumi ini. Bagi rekan-rekan yang kebetulan saat ini tertimpa musibah, kami ikut merasakan kegalauan dan kerisauan yang anda alami. Tetapi nasi sudah menjadi bubur dan tidak ada yang bisa kita lakukan untuk mengubah masa lalu. Tampaknya tidak ada pilihan lain bagi anda selain menghadapi konsekuensi apa yang telah anda lakukan secara ksatria dan bertanggung jawab. Semoga peristiwa ini bisa menjadi tonggak yang menentukan dalam hidup anda untuk menjelma menjadi insan yang lebih baik. Tak ada salahnya jika saat ini kita semua belajar dari apa yang dilakukan seekor ulat. Banyak orang yang membenci ulat karena bulunya membuat gatal. Jijik melihat bentuknya dan marah karena pekerjaannya memakan daun dan merusak tanaman. Tetapi ketika saatnya tiba, ulat berkepompong, mandeg pandito, dan mentransformasikan diri mengubah semua keburukan dirinya menjadi keindahan. Dia menjelma menjadi kupu-kupu yang berwarna warni indah yang melakukan pekerjaan mulia menghisap madu dan membantu penyerbukan semua tanaman. Semua orang pun mencintainya. Saya berdoa semoga kita semua kelak dapat menjelma menjadi kupu-kupu yang indah bagi keluarga kita, institusi kita dan tentu saja bangsa ini. Percayalah, Tuhan tidak pernah membebani suatu kaum sesuatu yang mereka tidak mampu memikulnya. Yakinlah bahwa semua ini terjadi semata karena Tuhan ingin mengingatkan kita agar tidak terperosok ke dalam bencana yang lebih besar dan membinasakan. Mari kembali kepada-Nya. Mohon ampun karena telah mengecewakan-Nya, serta berterima kasih karena Dia masih memberi kita waktu. Marilah bersama-sama kita sadari bahwa hal yang sama dapat terjadi pada kita kapan saja dan dimana saja. Marilah kita bercermin dari apa yang telah terjadi dan mari bersama kita perbaharui lagi kualitas integritas kita. Mari kita kembangkan budaya saling mengingatkan dan saling mengajak kepada kebaikan. Mari kita sadari bahwa jika hari ini kita berperilaku baik, belum tentu besok kita juga tetap

3

LAPORAN UTAMA

PINDAH LOKASI
Pindah Lokasi Penimbunan (PLP) terhadap peti kemas (kontainer) dilakukan karena adanya tuntutan akan kelancaran arus barang di pelabuhan.

OVERBRENGEN DI Pelabuhan Tanjung Priok, sudah ada sejak zaman Belanda.

4

WARTA BEA CUKAI

EDISI 404 JULI 2008

PENIMBUNAN
B
Dalam hal ini TPS adalah bangunan dan atau lapangan eberapa waktu lalu marak diberitakan bahwa kegiatatau tempat lain yang disamakan dengan itu di kawasan an PLP banyak menemui permasalahan. Mulai dari pabean untuk menimbun barang, sementara menunggu petingginya tarif, keberatan penetapan waktu PLP oleh muatan atau pengeluarannya. Tempat Penimbunan Sementara (TPS) yang belum Sedangkan Pengusaha TPS adalah pengusaha yang mencapai batas waktu yang ditentukan yaitu 10 hari, mengelola lapangan atau gudang penumpukan kontainer ancaman stagnasi akibat kepadatan arus peti kemas impor atau barang impor dalam suatu kawasan pabean yang berdi TPS dermaga dan keterlambatan pengurusan dokumen ada di dalam area pelabuhan, yang memiliki ijin sebagai yang pada akhirnya menyebabkan ekonomi biaya tinggi. Lalu pengusaha TPS dari Menteri Keuangan berdasarkan Unapa sebenarnya yang dimaksud dengan PLP atau yang juga dang-Undang Kepabeanan. dikenal dengan sebutan overbrengen ini ? Izin melakukan PLP dapat diberikan dikarenakan beberapa Pindah lokasi penimbunan, menurut Soenarno, salah safaktor, yaitu : tu widyaiswara di Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat) Bea dan Cukai, berasal dari bahasa Belanda yaitu overbrel YOR (Yard Occupancy Ratio) atau tingkat penggunaan ngen. Istilah ini sudah ada sejak dulu dan berlaku di pelabuhlapangan penumpukan atau SOR (Shed Occupancy an laut khususnya Tanjung Priok ketika itu, jadi overbrengen Ratio) atau tingkat penggunaan gudang TPS telah memang sudah ada sejak jaman pemerintahan Belanda. melampaui batas 85 persen dan berdasarkan “Bahkan dalam mata pelajaran kepabeanan ketika saya pertimbangan Kepala Kantor Pabean dapat terjadi mengikuti diklat tahun 1972, terminologi overbrengen stagnasi atau ; sudah ada yaitu mengenai perpindahan barang dalam kontal Barang impor konsolidasi, pengangkutan barang impor iner pada satu tempat ke tempat yang lain,” ujar Soenarno. menggunakan satu container untuk lebih dari satu atau untuk banyak alamat consignee/peneriPindah lokasi itu sebenarnya memudahDOK.WBC ma barang (less than Container Load = kan pengguna jasa untuk melakukan segala LCL), atau; pengurusan kepabeanan. “Kalau barangnya dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain l Barang impor yang karena sifatnya mungkin memudahkan ia melakukan pengmembutuhkan sarana dan prasarana urusan pabean, melakukan cargo handling penyimpanan atau penumpukan yang dan pastinya akan lebih mudah bagi mereka khusus dan tidak tersedia di gudang untuk menghemat biaya-biaya yang tidak atau lapangan penumpukan barang di perlu, TPS. Pada prinsipnya importir setuju dengan cara overbrengen untuk mengatasi kepadatan Untuk pengusaha TPS yang mengajukan permohonan PLP wajib mencantumkan : di lapangan penumpukan, asalkan tidak jauh ke luar kawasan pabean. Karena jika sebal Keterangan yang menyatakan bahwa liknya, akan menimbulkan ekonomi biaya batas YOR atau SOR TPS yang bertinggi di pelabuhan, karena terjadi double sangkutan telah melampaui 85 persen handling dalam penanganan container, lanjut dalam hal permohonan PLP diajukan Soenarno. berdasarkan kondisi yang telah dijelasPLP yang ideal menurut pendapat Soekan diatas. narno, adalah yang benar-benar dibutuhkan l Rincian jumlah dan jenis barang, nama pengusaha, semata-mata karena efisiensi consignee, nomor koli atau nomor konatau karena untuk memudahkan pengurusan SOENARNO. Pindah lokasi sebenarnya tainer dan nomor segel pelayanan kepabeanannya atau menghemat biaya car- memudahkan pengguna jasa untuk meBarang Impor yang dimohonkan PLPlakukan segala pengurusan kepabeanan. go handling, bukan PLP yang ditujukan danya. lam rangka mengawasi adanya pelarian bea l Surat pernyataan dari pengusaha TPS karena secara secara kasat mata dapat terlihat jika memang tempat tujuan LPL akan ketersediaan ruang atau temadanya pelanggaran. pat penimbunan bagi barang impor yang dimohonkan PLP-nya.

ATURAN MAIN

Secara hukum, sesuai dengan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor: P-26/BC/2007 pengertian PLP adalah pemindahan lokasi penimbunan barang impor yang belum diselesaikan kewajiban kepabeanannya dari suatu gudang atau lapangan penumpukan TPS tertentu ke suatu gudang atau lapangan penumpukan tertentu atau TPS lainnya yang berada dalam satu wilayah pengawasan Kantor Pabean. Kantor Pabean dalam hal ini adalah Kantor Pelayanan Utama dan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai, tempat dipenuhinya kewajiban pabean. Kegiatan PLP hanya dapat dilakukan setelah mendapat izin dari pejabat yang menangani administrasi manifest atas nama Kepala Kator Pabean, berdasarkan permohonan dari Pengusaha TPS yang mengelola gudang atau lapangan penumpukan asal.

Untuk lebih jelasnya mengenai aturan main tentang PLP, dapat dilihat pada Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor P-26/BC/2007 tentang Tatalaksana Pindah Lokasi Penimbunan yang Belum Diselesaikan Kewajiban Kepabeanannya dari Satu Tempat Penimbunan Sementara ke Tempat Penimbunan Sementara Lainnya. Serta Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor : 05/BC/2008 tentang perubahan atas Peraturan Dirjen N0. P-26/BC/2007.

TPS, PELAKSANA PLP
Dalam PLP atau overbrengen, TPS adalah sebagai pihak pelaksana dari kegiatan tersebut. Keberadaan TPS sendiri telah diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor. 70/PMK.04/2007 tentang Kawasan Pabean dan Tempat Penimbunan Sementara.
EDISI 404 JULI 2008 WARTA BEA CUKAI

5

LAPORAN UTAMA
WBC/ZAP

Sesuai dengan peraturan, pengertian dari TPS adalah bangunan dan/ atau lapangan atau tempat lain yang disamakan dengan itu di kawasan pabean untuk menimbun barang , sementara menunggu pemuatan atau pengeluarannya. Penetapan suatu kawasan, bangunan dan atau lapangan sebagai TPS ditetapkan oleh Direktur Jenderal (Dirjen) atau Pejabat yang ditunjuknya atas nama Menteri Keuangan. Dalam hal ini TPS dapat berupa lapangan penimbunan, lapangan penimbunan peti kemas, gudang penimbunan dan atau tangki penimbunan. Untuk dapat ditetapkan sebagai TPS, Kabid Pelayanan Fasilitas Pabean dan Cukai Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Tanjung Priok, Alfian, menuturkan, pengusaha TPS harus mengajukan permohonan penetapan suatu kawasan, bangunan dan/atau lapangan sebagai TPS kepada Dirjen atau pejabat yang ditunjuknya. Permohonan itu harus dilengkapi syarat antara lain; salinan akte pendirian perusahaan sebagai badan hukum, surat ijin usaha dari instansi terkait, ijin dari pemerintah daerah setempat, foto copy bukti kepemilikan atau penguasaan suatu bangunan, tempat atau kawasan yang mempunyai batas-batas yang jelas, bukti Nomor Pokok Wajib Pajak, gambar denah dan batas-batasnya yang meliputi tempat penimbunan barang impor, ekspor, barang untuk diangkut ke dalam daerah pabean lainnya melalui luar daerah pabean dan tempat pemeriksaan barang dan ruang kerja pejabat Bea dan Cukai. Selain itu dalam mengajukan permohonan juga harus mencantumkan daftar peralatan dan fasilitas penunjang kegiatan usaha yang dimiliki dan surat pernyataan sanggup untuk menyediakan peralatan dan fasilitas yang memadai. “Untuk peralatan dan fasilitas penunjang, ideal semuanya harus atau mesti lengkap terutama alat penimbang, forklit untuk mengeluarkan barang dari container yang akan diperiksa oleh pemeriksa Bea dan Cukai, tempat pemeriksaan fisik yang layak dan bangunannya beratap,”imbuh Alfian. Sesuai dengan Skep yang telah dikeluarkan, saat ini di wilayah Pelabuhan Tanjung Priok tercatat ada 37 TPS dan sekitar 5 TPS dalam uji coba online, seperti TPS Koja, Jakarta Internasional Container Terminal (JICT) dan beberapa lainnya. Yang akan datang dan sedang dalam proses berjalan, TPS persyaratannya harus sudah online.
FOTO : ISTIMEWA

TPS ONLINE, Memudahkan pengawasan barang di TPS.

Meski kenyataannya saat ini belum semua TPS belum siap online semuanya, sehingga memudahkan Bea dan Cukai untuk melakukan pengawasan. Untuk meluluskan suatu permohonan sebagai TPS, lanjut Alfian, terlebih dahulu dilakukan peninjauan ke lokasi untuk mengetahui kelengkapan sarana dan peralatan yang dimiliki pemohon TPS. Jika segala persyaratan termasuk Surat Keterangan dari pengusaha atau penanggung jawab Kawasan Pabean tentang penggunaan bangunan dan/ atau lapangan atau ALFIAN. Dalam mengajukan permohontempat lain yang disamaan pendirian TPS, kelengkapan peralatan dan prasarana wajib dipenuhi. kan dengan itu di dalam kawasan pabean bersangkutan sebagai Tempat Penimbunan Sementara, Berita Acara Pemeriksaan Lokasi, Surat Pernyataan sanggup melaksanakan administrasi pembukuan sesuai dengan standar akuntansi keuangan Indonesia dan surat pernyataan sanggup memenuhi peraturan perundang-undangan di bidang kepabeanan, telah lengkap semuanya maka permohonan sebagai TPS disetujui. “Khusus untuk tempat pemeriksaan fisik, akan dibatasi hingga tanggal 31 Desember 2008, untuk memenuhi segala persyaratan mengenai tempat pemeriksaan barang, jika tidak maka akan ada sanksi yaitu dicabut ijin TPS-nya,” ujar Alfian. Idealnya TPS itu dikelola langsung oleh Pelindo sebagai pengelola lahan pelabuhan, namun kondisi saat ini TPS lebih banyak dikelola oleh pihak swasta atau Pelindo menyewakannya pengelolaan TPS pada swasta. “Idealnya satu pihak saja misalnya Pelindo, semua dijadikan kawasan TPS atau kawasan pabean, sehingga tidak menyulitkan dalam hal pengawasan. Mengenai kendala dalam mengawasi TPS, diungkap Alfian, sejak awal kawasan pelabuhan seperti yang telah disediakan Pelindo terdiri dari kavling-kavling yang terpisah, misalnya kavling satu yang untuk barang impor, kavling lainnya untuk barang antar pulau, selanjutnya untuk barang lokal. Padahal semestinya kawasan pabean tidak boleh dicampur, belum lagi ada restoran, toko yang memang tidak diperbolehkan di kawasan pabean. Kendala lainnya adalah lahan TPS yang tidak terlalu besar sehingga jika diharuskan membuat tempat pemeriksaan barang seperti akan kesulitan juga, karena berarti membuat bangunan lagi, padahal lahan terbatas. Ketika disinggung mengenai perkembangan TPS Online, sejauh ini menurut Alfian, sudah dilakukan uji coba terhadap 4 TPS besar dan mudah-mudahan bisa segara direalisasikan. “TPS Online merupakan keinginan dari Kantor Pusat khususnya Direktorat IKC, Tentunya kami yang di lapangan sangat berterimakasih apabila TPS Online segera mungkin diterapkan. Sebab jadi salah satu kesulitan Bea dan Cukai di lapangan untuk memantau keberadaan kontainer dalam kegiatan PLP. Tanpa adanya TPS Online rasanya imposible sementara pemantauan barang semakin meningkat, kalau ada kasus baru bisa kita pantau. Selama ini dari menit ke menit sulit kita pantau datanya karena semuanya manual. Jangankan dari Bea dan Cukai sendiri, yang punya TPS sendiri saja juga tidak tahu karena selama ini datanya manual. Barang dari kontainer sudah berapa lama ditimbun tidak diketahui secara pasti, karena itu idealnya adalah dengan adanya TPS Online maka PLP seperti yang tadi dijelaskan akan lebih mudah dalam pengawasannya,” ujar Alfian. ris

6

WARTA BEA CUKAI

EDISI 404 JULI 2008

KEWENANGAN PLP
SEPENUHNYA ADA DI BEA DAN CUKAI
Widijanto mencontohkan sebuah surat permohonan PLP terhadap barang impor dengan alasan barang impor tersebut belum menyelesaikan kewajiban kepabeanannya, dengan alasan YOR/SOR TPS telah melampaui batas 85 persen, padahal barang impor itu baru tiba sekitar dua hari dan anehnya lagi yang di PLP-kan adalah importir produsen yang dianggap cepat mengurus PLP dan berani mengeluarkan biaya besar. Bukan tidak mungkin barang ini ahalnya tarif pindah lokasi dianggap sebagai cara sedang diproses kepabeanannya. untuk mencari keuntungan bagi para pengelola Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya Tempat Penimbunan Sementara (TPS), terutama PLP, antara lain disebabkan oleh YOR itu sendiri, jika YORuntuk PLP barang dibawah 10 hari yang berada di nya tinggi, mau tidak mau barang dipindah. Lalu sifat dari TPS asal. Padahal sesuai aturan pada barang itu, apakah termasuk barang yang dangerous conkesepakatan bersama dengan para pengelola TPS, barang tainer atau tidak. bisa di PLP-kan ke TPS tujuan jika sudah mencapai 10 hari. Lebih lanjut menurut Widijanto. faktor yang menyebabMestinya, pengelola terminal peti kemas tidak mengajukan YOR tinggi, ini dikarenakan juga di dalam peraturannya kan izin PLP kepada Bea dan Cukai untuk peti kemas di bawah masih ada beberapa aspek yang lemah, misalnya pejabat 10 hari karena kenyatannya masih banyak ribuan boks peti Bea dan Cukai diberikan tenggang waktu 3 hari dalam mekemas yang sudah lebih dari 10 hari di lapangan penumpukan lakukan pemeriksaan fisik atau pemeriksaan dokumen. tetapi tidak dikeluarkan. Selain menyebabkan ekonomi biaya Belum lagi kondisi mengantri untuk mendapatkan petugas tinggi bagi para pemilik barang, kegiatan PLP dibawah 10 hari jupemeriksa yang bisa mencapai seminggu ga menyulitkan pengeluaran barang ketika peFOTO-FOTO : WBC/ZAP bahkan lebih. Setelah dilakukan pemeriksamilik barang baru memperoleh surat perinan fisik lalu kembali lagi ke pemeriksaan tah pengeluaran barang (SPPB) menjelang dokumen (PFPD) tambah waktu 3 hari lagi. hari kesepuluh, yaitu pada hari kesembilan. Di satu sisi waktu yang diberikan kepada Kesulitan itu, jika barang telah dipindah importir sangat terbatas padahal harinya ke lokasi PLP, pemilik barang harus terbatas untuk menyelesaikan kewajiban melampirkan SPPB asli dari Bea dan Cukai pabeannya. yang juga akan memakan waktu dua sampai “Menurut saya ini perlu disempurnakan, tiga hari lagi. Tentu hal ini tidak efisien, selakalau bisa dikerjakan tiga hari mengapa in menambah hari waktu pengeluaran batidak, karena tenggang waktu yang diberirang, biaya PLP akan terus berjalan seiring kan terkadang menyebabkan barang justru proses pembatalan PLP. menumpuk,” imbuh Widijanto. Selain hal itu tadi, penyebab biaya tinggi Widijanto menyampaikan, sebenarnya yang terjadi di pelabuhan adalah keterlampemilik barang yang di PLP merasakan batan saat penarikan peti kemas jalur merah ketidakadilan, contohnya barang yang baru akibat keterbatasan peralatan dan armada masuk 2-3 hari sudah di PLP dengan truk pengangkut yang sering terjadi pada alasan YOR-nya tinggi, sedangkan barang saat pembongkaran dari kapal di JICT dalam sudah 1-3 bulan tetapi tidak di PLP. kondisi padat. Sedangkan peralatan dan saGafeksi mengusulkan apa salahnya kapal rana pengangkut terbatas, sehingga peti ke- DRS. WIDIJANTO. Pemilik barang yang baru datang tidak masuk ke unit mas terpaksa mengantre berjam-jam untuk yang di PLP-kan merasakan adanya ketidakadilan. terminal kontainer tetapi langsung dicarikan keluar dari terminal. kade yang bisa menampung dan tidak perItu salah satu masalah yang lu ada PLP lagi dengan ini akan menghemat biaya, disamdikeluhkan Drs. Widijanto, Sekjen Gabungan Forwarder ping itu lahan di pelabuhan sudah sangat terbatas. & Ekspedisi Indonesia (Gafeksi) mewakili anggota Gafek“Carilah lahan baru, misalnya Marunda yang masih si yang sering menemui permasalahan serupa di lapangbisa dijadikan pelabuhan baru. Jadi permasalahan selama an, terutama di Pelabuhan Tanjung Priok. ini selain terbentur peraturan Bea dan Cukai, lahannya Mengenai PLP barang di bawah 10 hari, ada hal yang diterbatas, dan perangkatnya tidak memadai,”ujar Widianto. pertanyakan oleh pihak Gafeksi, karena umumnya permoUntuk pengawasan, Widianto mengusulkan agar lebih honan pindah lokasi diajukan bagi importir yang barangnya ditingkatkan lagi jumlah TPS Online, bahkan ia mengusultiba di terminal kontainer baru sekitar 2 atau 3 hari. Alasan kan sebaiknya TPS yang belum online dengan Bea dan pemindahan itu dikarenakan belum diselesaikan kewajiban Cukai sebaiknya tidak diijinkan untuk beroperasi karena kepabeanannya. melalui TPS Online Bea dan Cukai dapat mengontrol, mi“Sebenarnya kriteria apa yang menjadikan barang impor salnya barang mungkin sudah dua bulan di terminal belum diselesaikan syarat kepabeanannya ? Berarti barang itu kontainer tetapi diajukan PLP untuk barang yang baru dabelum diproses dokumennya sama sekali, padahal yang sering tang. Sehingga tidak dikorbankan pada barang yang baru terjadi barang itu sudah dalam proses yang berarti akan datang dan tidak terjadi YOR tinggi, namun dalam hal ini diselesaikan kewajiban pabeannya. Jangan ini lalu dijadikan Bea dan Cukai yang harus memberikan perintah kepada senjata untuk memindahkan barang-barang,” ujar Widijanto.
EDISI 404 JULI 2008 WARTA BEA CUKAI

M

Kegiatan Pindah Lokasi Penimbunan (PLP) yang dulu dikenal dengan istilah overbrengen dituding kalangan importir sebagai salah satu penyebab terjadinya ekonomi biaya tinggi.

7

LAPORAN UTAMA
an bisa menampung sehingga tidak ada kegiatan overbrengen. Sebaliknya jika di Tanjung Priok, dikarenakan keterbatasan kapasitas lahan maka menyebabkan adanya kegiatan OB. Kondisi di Indonesia khususnya di Tanjung Priok, sebagian besar yang dijumpai, TPS tidak memiliki alat yang memadai, padahal sesuai dengan persyaratan pendirian TPS minimal harus dilengkapi dengan alatalat yang menunjang kegiatan operasional. “Jadi semuanya berpangkal pada kewenangan Bea dan Cukai, persyaratan TPS itu jika betul-betul tidak lengkapi mestinya masuk dalam pengawasan Bea dan Cukai, bagaimana TPS kok tidak punya alat ? Kondisi ini akhirnya menyebabkan kita mengantri. Dari sekian TPS yang ada hanya beberapa yang sudah online, mungkin cuma kurang lebih 10-20 persen saja,” ujar Sugandi. Lebih lanjut menurut Sugandi, overbrengen yang ideal adalah apabila memang betul-betul YOR sudah tinggi dan sebenarnya itu tidak ada masalah jika dilakukan secara benar, artinya sistim atau caranya yang benar, yaitu yang lebih dulu barang masuk itulah yang dilakukan overbrengen, bukan sebaliknya yang selama ini terjadi di pelabuhan, barang yang baru tiba di pelabuhan tetapi lebih dulu dilakukan overbrengen. “Karena itu untuk menghindar YOR tinggi sebaiknya Bea dan Cukai memerintahkan TPPnya untuk segera dipindahkan jangan menunggu datangnya PLPdari TPS.” Terkait dengan persoalan seputar PLP , Sugandi memberikan satu saran agar sebaiknya perlu diteliti kembali pemberian ijin PLP. Bea dan Cukai dalam hal ini perlu memilah-milah kembali kontainer mana saja yang akan di PLP. Sebab jika kondisinya seperti saat ini maka biaya tinggi tidak bisa dihindarkan. “Karena itu jika menurut Bea dan Cukai kontainer ini pantas di PLP pun sebaik-

KEGIATAN PINDAH LOKASI PENIMBUNAN dituding kalangan importir sebagai salah satu penyebab terjadinya ekonomi biaya tinggi.

TPS, karena ada sebagian TPS yang enggan untuk online, dikarenakan hal ini kurang menguntungkan mereka. Begitu pula usulan untuk barang yang dikategorikan sebagai barang yang tidak dikuasai, mestinya bisa diajukan untuk dipindahkan ke Tempat Penimbunan Pabean supaya tidak terjadi YOR yang tinggi. “Begitu Bea dan Cukai melihat komputer dan diketahui barang ini lebih dari satu bulan tidak diurus dilangsungkan saja ke TPP sehingga juga tidak mengorbankan barang yang baru tiba dan YOR tidak tinggi. Saat ini meski sudah ada penurunan tarif PLP pada beberapa komponennya tetapi masih saja dirasa tinggi biayanya.

BEA DAN CUKAI YANG PUNYA KEWENANGAN
Sementara itu menurut Ketua Bidang Hukum Gafeksi, dibandingkan Indonesia, beberapa pelabuhan laut di luar negeri memiliki kapasitas lahan pelabuhan yang sedemiki8
WARTA BEA CUKAI EDISI 404 JULI 2008 SUGANDI DARMAWAN. Perlu ditinjau kembali pemberian ijin pendirian TPS.

nya dikirim saja ke TPP milik Bea dan Cukai. Saya minta jangan TPS yang mengajukan PLP. Kalau saya tidak salah di Pelabuhan Tanjung Priok ini ada 4 TPP, jika sudah melebihi waktu yang ditentukan keputusan tinggal di Bea dan Cukai apakah mau dilelang dan sebagainya,” ujar Sugandi. Lalu dari segi peraturan, Sugandi memberi masukan agar sebaiknya perlu ditinjau kembali pemberian ijin pendirian TPS. Jangan hanya mengajukan akte pendirian sudah dianggap lengkap, dan kelengkapan sarana pendukung operasionalnya jangan hanya janji di atas kertas, karena itu perlu dilakukan verifikasi terhadap sarana dan prasarana yang dimiliki TPS. Kalaupun sewa kontrak peralatan, mestinya peralatan harus siap ditempat, jangan dikarenakan ada pekerjaan baru menyewa alat, karena ketersediaan peralatan terkadang yang menghambat proses berlangsungnya PLP. Kemudian mengenai waktu penetapan PLP sebaiknya diberikan waktu yang cukup bagi pemilik barang dalam mengurus. Menurut Sugandi, pihaknya bersama pihak terkait lainnya di pelabuhan telah melakukan kesepakatan bersama bahwa waktu PLP sesuai dengan aturan di Bea dan Cukai akan dilakukan untuk barang yang berada di teminal jika sudah 10 hari. Namun tetap saja kesepakatan bersama itu dilanggar, untuk barang yang baru datang pun dikenakan PLP. Dalam kesepakatan bersama yang ditandantangani pada 12 Februari 2008 diperoleh kesepakatan baru apabila YOR melewati batas maksimal maka kontainer yang dipindahkan / PLP adalah yang telah lebih dari 10 hari di lapangan dan diusahakan dengan sistim FI/FO (First in /First Out). “Kalau kita amati, kegiatan PLP ini dijadikan kesempatan untuk pihak pelaksana PLP mencari duit. Padahal terus terang saja dengan kondisi yang sekarang 10 hari saja waktunya kurang, paling tidak 15 hari waktunya karena proses penyelesaian dokumen di Bea dan Cukai makin lama, kalau ada istilah 15 menit respon tetapi untuk mencapai pemeriksaan fisik untuk menunggu pemeriksa saja bisa sampai 3 hari. Saya tidak mengerti apakah kesibukan pemeriksa ini dikarenakan presentase jalur merah ditambah, sehingga kegiatan pemeriksaan makin banyak, kalau itu salah satu sebabnya mestinya Bea Cukai perlu inisiatif untuk menambah SDM pemeriksa,” imbuh Gandhi. Ataukah mungkin macetnya atau lambatnya proses ini ada di loket, jika memang loketnya kurang sehingga orang harus mengantri panjang, mestinya loketnya ditambah. Selama ini pihaknya melihat jumlah personil maupun loket pelayanan terbatas. contohnya untuk jalur merah saja hanya 6 personil di seluruh KPU untuk menangani ratusan dokumen. Gafeksi pada dasarnya memaklumi kondisi ini. Tetapi sampai kapan kondisi seperti ini akan berlangsung ? Karena target pengurusan dokumen hingga SPPB selama 10 hari sering meleset dikarenakan proses di Bea dan Cukai memakan waktu cukup lama. “Lebih sering selesai pengurusan hingga SPPB itu mencapai 14-15 hari, lalu apakah jumlah 15 hari itu memang yang mestinya pantas untuk dijadikan patokan, ketimbang yang berlaku sekarang 10 hari tetapi selalu kurang waktunya sehingga mengakibatkan kegiatan PLP,” imbuh Sugandi. ris

PENANGANAN OPTIMAL
UNTUK KELANCARAN ARUS BARANG
Kemacetan dan rusaknya infrastruktur jalan menjadi faktor yang memperlambat proses pindah lokasi penimbunan.

S

DOK. JITC

alah satu yang menjadi pertimbangan dilakukan Pindah Lokasi Penimbunan ke Tempat Penimbunan Sementara karena adanya peningkatan volume kegiatan impor-ekspor. Bahkan relokasi peti kemas di bawah 10 hari terpaksa dilakukan karena tingkat isian lapangan penumpukan atau yard occupancy ratio (YOR) sudah terlalu padat dan banyaknya tambahan sandar kapal dari beberapa perusahaan di Tempat Penimbunan Sementara (TPS). Pindah Lokasi Penimbunan (PLP) adalah pemindahan lokasi penimbunan barang impor yang belum diselesaikan DEREK PIERSON. Keputusan untuk kewajiban kepabeanannya dari mengizinkan atau tidaknya PLP, suatu gudang atau lapangan menjadi otoritas penuh Bea Cukai. penumpukan TPS tertentu ke suatu gudang atau lapangan penumpukan tertentu atau TPS lainnya yang berada dalam satu wilayah pengawasan Kantor Pabean. PLP hanya dapat dilakukan setelah mendapat izin dari pejabat yang menangani administrasi manifest atas nama kepala kantor pabean, berdasarkan permohonan dari pengusaha TPS yang mengelola gudang atau lapangan penumpukan asal. Yang menjadi pertimbangan atau kriteria Tempat Penimbunan Sementara terutama Jakarta International Container Terminal (JICT) sehingga suatu kontainer perlu di PLP-kan atau di OB (overbrengen), menurut Derek Pierson, Presiden Direktur PT. JICT adalah karena adanya peningkatan volume kegiatan ekspor-impor sehingga menjadi pertimbangan untuk melakukan Pindah Lokasi Penimbunan (PLP) dari terminal ke Tempat Penimbunan Sementara (TPS). Dari data statistik, pada bulan Mei 2007, throughput JICT (Terminal 1 dan Terminal 2) sebanyak 149,093 TEUs, sementara itu untuk bulan Mei 2008 sebesar 181,041 TEUs. Untuk itu beberapa langkah yang ditempuh JICT untuk mengurangi kepadatan lapangan selain dengan melakukan PLP, yaitu : l Optimalisasi Terminal 2 Pada tahun 2007, rata – rata throughput per bulan di terminal 2 sebanyak 6529.25 TEUs. Untuk tahun 2008, sampai dengan bulan Mei, rata-rata per bulan sebesar 12937.4 TEUs. Bulan lalu JICT memindahkan 4 kapal (1 service dan 4 vessel per bulan) ke terminal 2 untuk mengurangi kepadatan dermaga terminal 1 sehingga menghilangkan waktu tunggu kapal sandar dan mengurangi kepadatan lapangan.
EDISI 404 JULI 2008 WARTA BEA CUKAI

9

LAPORAN UTAMA

BANYAKNYA TAMBAHAN SANDAR KAPAL dari beberapa perusahaan di TPS salah satu penyebab PLP.
l

Penambahan lapangan penumpukan JICT akan memperluas lapangan penumpukannya dan menambah peralatan untuk mengimbangi penambahan luas lapangan. Sebenarnya JICT sudah melaksanakan optimalisasi dengan melakukan stacking 5 tier, dan membuka blok baru di luar blok yang sudah ada. Namun jumlah kontainer impor yang semakin banyak dan dwelling time yang lebih tinggi rata-rata di banding dari tahun 2007 memang melebihi kapasitas tambahan yang ada.

YOR atau tingkat penggunaan lapangan penumpukan adalah perbandingan antara jumlah penggunaan lapangan penumpukan dengan lapangan penumpukan yang tersedia (siap operasi) yang dihitung dalam satuan ton/ hari atau m3/ hari. Terkait dengan penggunaan lapangan penumpukan maka pengecekan terhadap kapasitas TPS yang YORnya sudah tidak mencukupi, juga selalu dilakukan oleh JICT, hal ini menurut Derek, untuk mengetahui tingkat kepadatan YOR TPS, dan itu dilakukan setiap hari ke semua TPSatau Depo yang menjadi mitra JICT. Mereka diwajibkan untuk memberikan data mengenai YORnya. Selain ke JICT, data tersebut dikirim juga ke pihak Bea Cukai. Dari data tersebut dapat diketahui TPS mana yang masih bisa menampung kontainer pindah lokasi penimbunan.

SESUAI PROSEDUR
Terkait dengan masalah PLP, JICT dalam hal ini tidak mempunyai kewenangan untuk melakukan PLP. 10
WARTA BEA CUKAI EDISI 404 JULI 2008

JICT hanya mengajukan permohonan Pindah Lokasi Penimbunan kepada Bea Cukai. Keputusan untuk mengizinkan atau tidaknya PLP menjadi otoritas penuh Bea Cukai. Karena itu untuk melakukan PLP, JICT berhubungan dengan Bea Cukai. Dalam hal melakukan PLP maka beberapa prosedur yang harus dijalankan sebagai berikut, JICT mengajukan permohonan pindah lokasi penimbunan (A11) ke Bea Cukai. Jika permohonan disetujui, selanjutnya dicetak Surat Penyerahan Petikemas (SP2) untuk daftar kontainer yang disetujui tersebut. Setelah dibukukan, SP2 diserahkan ke Depo. Kemudian Depo menjalankan operasional pemindahan kontainer dari Terminal ke Depo tujuan. Kontainer yang dipindahlokasikan kemudian dibuatkan nota tagihannya dan diinformasikan ke pelayaran. Untuk menentukan suatu barang yang di OB ke suatu TPS (TPS Tujuan), kriteria yang dilakukan JICT adalah dengan menentukan kemana kontainer akan di PLP berdasarkan jenis dan kriteria dari kontainer tersebut. Apakah itu Dangerous Cargo, dry, atau reefer container. Dari jenis-jenis kontainer inilah baru dapat ditentukan ke depo mana container tersebut akan di PLP-kan. Menurut Derek, dalam melakukan kegiatan PLP bukannya tanpa kendala, karena ada beberapa kendala yang dihadapi dalam proses PLP, antara lain : Pertama, kendala transportasi , kemacetan dan rusaknya infrastruktur jalan menjadi faktor yang memperlambat proses pindah lokasi penimbunan. Kedua. kurangnya sumber daya manusia di Bea Cukai. “Semua permohonan PLP ( baik itu dari JICT, Koja, maupun terminal lainnya) diajukan ke petugas yang

sama, sehingga terjadi penumpukan dokumen permohonan akibatnya memperlambat proses pengurusan dokumen. Saat ini, proses pengurusan tersebut membutuhkan waktu dua hari, padahal seharusnya bisa lebih cepat dari itu,” imbuh Derek. Ketiga, Banyak consignee/importir yang terlambat mengeluarkan barangnya dari JICT, padahal status barang tersebut sudah PIB atau SPPB. JICT tidak mempunyai kewenangan memaksa pemilik barang untuk mengeluarkan barangnya, yang bisa dilakukan JICT hanya menghimbau. Hal ini mengakibatkan JICT kesulitan dalam mengatur space untuk mempersiapkan kontainer yang akan tiba. Akhirnya banyak container/barang yang baru datang (kurang dari sepuluh hari) dimasukkan ke dalam daftar kontainer yang diajukan untuk dipindahlokasikan. Memang dalam hal ini, JICT tidak mempunyai peralatan yang dikhususkan untuk kegiatan OB. Pelayanan diberikan oleh JICT sampai kontainer keluar dari gate, untuk operasionalnya, trucking dan pergerakan di TPS tujuan, seluruhnya menjadi tanggung jawab Depo. Dan jika ada yang berpendapat bahwa kegiatan OB itu berpotensi menimbulkan ekonomi biaya ting-

HASIL KESEPAKATAN KOMPONEN TARIFF DAN BESARAN TARIF PLP DI TPS

Keterangan *) Jumlah tidak termasuk storage dan lift on terminal Sumber : Direktorat Jenderal Bea dan Cukai
FOTO-FOTO DOK. WBC

GEDUNG JICT

EDISI 404 JULI 2008

WARTA BEA CUKAI

11

LAPORAN UTAMA

DI PELABUHAN LAUT
KEGIATAN OVERBRENGEN berlangsung juga di terminal petikemas lain, hanya jenisnya berbeda-beda.

PLP

gi, menurut Derek, semua proses PLP atau OB yang dilakukan JICT sudah sesuai dengan prosedur dan kesepakatan bersama demi kelancaran arus barang, sehingga anggapan PLP menimbulkan biaya tinggi tidak benar. Ditegaskan Derek mengenai besarnya tarif PLP atau OB merupakan kesepakatan antara pelaku usaha di bidang kepelabuhanan yang diwakili oleh asosiasinya, yaitu Dewan Pemakai Jasa Angkutan Laut Indonesia (Depalindo), Gabungan Forwader & Ekspedisi Indonesia (GAFEKSI), Indonesia National Shipowner’s Assosiation (INSA) Jaya, Ikatan Eksportir Importir (IEI) Bandung, serta Asosiasi Pengusaha Tempat Penimbunan Sementara (APTESINDO). Tarif PLP sudah ditentukan besarnya, untuk kontainer ukuran 20" sebesar Rp. 1.560.000. dan untuk kontainer ukuran 40" sebesar Rp. 2.016.000. Semua biaya tersebut merupakan biaya perpindahannya saja (PLP). Pihak JICT tidak terlibat dalam menentukan nilai tarif PLP. Menanggapi tentang adanya keluhan dari importir atau pemilik barang, yang mengatakan bahwa ada kegiatan OB yang dilakukan pada barang yang baru datang 2 hari padahal sesuai dengan kesepakatan bersama, OB dilakukan jika barang melebihi waktu 10 hari, ditanggapi Derek, bahwa secara aturan, batas waktu penimbunan memang sepuluh hari, setelah itu baru keluar. Sehingga ada kesan kalau pelaksanaan PLP itu baru setelah sepuluh hari. Tetapi karena alasan yang dijelaskan diatas, JICT terpaksa mengajukan permohonan PLP untuk kontainer kurang dari sepuluh hari. Untuk kontainer ini, tidak akan dikenakan biaya PLP sampai dengan hari kesepuluh, ke TPS manapun JICT pindahkan. Sehingga sama saja, misal hari pertama kita pindahkan ke Dwipa (salah satu TPS) dan diambil sebelum hari kesepuluh, tidak akan dikenakan biaya PLP dan tarifnya sama dengan biaya penumpukan di terminal. Hal ini sudah menjadi kesepakatan antara JICT dengan Depo yang berada di bawah JICT. Setelah sepuluh hari, atau hari kesebelas itu baru akan berlaku tarif PLP. Ketika ditanya apakah ada kegiatan OB yang paling ideal yang bisa diberlakukan di Indonesia, Derek menegaskan bahwa tidak ada yang ideal. Kegiatan Overbrengen berlangsung juga di terminal petikemas lain, hanya jenisnya berbeda-beda. Ada juga terminal petikemas yang melakukan OB untuk empty container. Yang harus diusahakan adalah penanganan PLP ini secara optimal demi kelancaran arus barang di pelabuhan. ris 12
WARTA BEA CUKAI EDISI 404 JULI 2008

Sejak keluarnya Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai yang baru tentang pindah lokasi penimbunan barang impor yang belum diselesaikan kewajiban kepabeanannya, terminologi overbrengen yang biasa disebut dengan istilah memindahkan kontainer ke Tempat Penimbunan Sementara (TPS), diganti menjadi Pindah Lokasi Penimbunan (PLP).

S

eperti dijelaskan Agus Wahyono, Kepala Seksi Administrasi Manifest Kantor Pelayanan Utama (KPU) Bea dan Cukai Tanjung Priok, penyebutan tersebut telah diatur pada Peraturan Direktur Jenderal (Dirjen) Nomor P-26/BC/2007 tentang Perubahan atas Peraturan Dirjen Nomor P-26/BC/2007 tentang Tatalaksana Pindah Lokasi Penimbunan Barang Impor yang Belum Diselesaikan Kewajiban Kepabeanannya Dari Suatu Tempat Penimbunan Sementara ke Tempat Penimbunan Sementara Lainnya, yang kemudian disempurnakan lagi dengan Peraturan Dirjen Nomor : 05/ BC/2008 yang mencabut ketentuan pasal 10 pada P-26/ BC/2007. “Mungkin karena sudah terbiasa dengan istilah overbrengen, padahal dasar hukumnya sendiri tidak ada, makanya dengan keluarnya keputusan dirjen ini istilah itu diganti menjadi PLP dan keputusan dirjen tersebut menjadi dasar hukum pelaksanaan PLP,” imbuh Agus. Jika sebelumnya ada Keputusan Menteri Keuangan No.575 lalu diganti dengan PMK.90 yaitu tentang angkut lanjut, ternyata sudah bukan menjadi kerangka PLP lagi, karena PLP sekedar mengatur perpindahan barang dari lini satu, yaitu kawasan pelabuhan ke luar lini satu agar tidak terjadi stagnasi. Keuntungan pun dirasakan dengan adanya peraturan dirjen yang baru ini. Seperti diungkapkan Agus, yaitu lebih mempermudah pengawasan oleh Bea dan Cukai sedangkan bagi importir sendiri akan mempercepat proses customs clearance. Apalagi lagi jika itu didukung dengan keberadaan TPS Online karena importir jadi lebih mengetahui keberadaan barangnya. “Terminologi PLP sesuai dengan Peraturan Dirjen Nomor 26 tahun 2007 sebenarnya sudah tidak ada lagi batas waktu, tetapi tentunya kami mengharapkan kontainer yang terlebih dahulu tiba di sebuah TPS itulah yang di PLP lebih dulu, sehingga yang umurnya lebih lama, dialah yang di PLP dulu. Cuma masalahnya ada barang-barang tertentu yang tidak bisa dibatasi waktu misalnya barang Less Than Container Load (LCL), atau barang satu kontainer milik beberapa importir. Begitu juga terhadap barang-barang yang bersifat

PELABUHAN TANJUNG PERAK. TPS (ICT Surabaya) di Tanjung Perak relaif steril dari unit – unit yang kurang punya kepentingan sehingga tingkat keamanan dan kepastian pelayanan impor di kawasan pabean relatif lebih baik.

YOR-nya baru mencapai 65 persen. Karena libur, tetapi dangerous, barang itu menyentuh lini I saja tidak diperboakan datang dua buah kapal, setelah dilakukan lehkan, ini sesuai dengn ISPS Code, sehingga itu harus perkiraan ternyata lini 1 akan sangat padat, makanya segera dipindahkan yang memang disediakan untuk impor dilakukan PLP meski belum mencapai 85 persen YORbarang tertentu lainnya yang perlu penumpukan khusus nya,” imbuh Agus. yang tidak ada di lini 1. PLP merupakan kepentingan dari TPS asal, misalnya “ Prinsipnya, kita menghendaki jangan sampai PLP itu akhirnya akan membebani bahkan menambah biaya kepaKoja atau Jakarta International Container Terminal (JICT) yang memang sarana atau lapangan penimbunanda pemilik barang dalam hal ini importirnya,” ujar Agus. Pada Peraturan Dirjen Nomor 26, lanjut Agus, ada tiga nya sangat terbatas. Memang idealnya, menurut Agus, alasan untuk barang yang boleh di PLP, yaitu: bagi Bea dan Cukai jika memungkinkan tidak ada PLP, Pertama, YOR (Yard Occupancy Ratio) atau tingkat seperti di pelabuhan besar di Singapura yang memiliki penggunaan lapangan penumpukan atau kawasan sangat luas dengan batas WBC/ZAP SOR (Shed Occupancy Ratio) atau tingkat pagar antara 3-4 meter dengan sistem penggunaan gudang TPS telah melampaui keamanan yang baik. Sebaliknya di batas 85 persen dan berdasarkan pertimPelabuhan Tanjung Priok yang menjadi bangan Kepala Kantor Pabean dapat terjabarometer pertama pelabuhan seIndonesia, kondisinya masih seperti saat di stagnasi atau ; ini, semua kantor pemerintah ada di Kedua, barang impor konsolidasi, pengdalam pelabuhan akibatnya kapasitas angkutan barang impor menggunakan di lini 1 terbatas. satu container untuk lebih dari satu atau “Karena itu satu-satunya cara untuk untuk banyak alamat consignee/ penerima menjaga stabilitas bongkar muat, kapal barang (Less than Container Load = LCL), harus bisa sandar, karena kalau tidak atau; bisa sandar akan terjadi kepadatan arus Ketiga, barang impor yang karena sibarang. Yang parah lagi hal itu kalau fatnya membutuhkan sarana dan prasaramenjadi berita internasional jika terjadi na penyimpanan atau penumpukan yang delay sandar. Klaim biayanya luar khusus dan tidak tersedia di gudang atau biasa bisa mencapai ribuan dolar. Itu lapangan penumpukan barang di TPS. yang kita jaga supaya tidak terjadi “Ada juga pertimbangan dari Kepala Kantor jika YOR belum mencapai 85 per- AGUS WAHYONO. Jangan sampai PLP itu seperti itu. Sebab itu di bagian manifest yang diberikan tugas untuk menangani sen tetapi harus PLP dengan alasannya akhirnya akan membebani bahkan karena besok adalah hari libur, katakanlah menambah biaya kepada pemilik barang. PLP, seperti di tempat kami, jika hari
EDISI 404 JULI 2008 WARTA BEA CUKAI

13

LAPORAN UTAMA
libur, sabtu, minggu kita tetap masuk supaya YOR di lini satu tetap bisa dipakai untuk bongkar kapal,” ujar Agus. Yang mengajukan PLP dalam hal ini adalah TPS karena pihak TPSlah yang mengetahui apakah YOR-nya sudah krisis atau belum sehingga mau tidak perlu dilakukan PLP. Sebaliknya di Bea dan Cukai hanya mengandalkan customs clearance, artinya kontainer bisa keluar dikarenakan memang sudah SPPB (Surat Pemberitahuan Pengeluaran Barang). I MADE WIRAYUDHA. Pengurusan Mengenai kendala SPPB tergantung dari jenis dan yang dihadapi dalam ke- volume komoditi impor tersebut. giatan PLP, dikatakan Agus, dikarenakan prosesnya masih berlangsung secara manual tentunya akan membebani proses administrasi. Seperti di tempatnya bertugas yaitu di Administrasi Manifest yang prosesnya masih manual dan jumlah SDM nya sangat terbatas dengan wilayah pelayanan yang dulunya Tanjung Priok I, II, III (eks tiga tempat) dijadikan satu tempat sehingga bisnis prosesnya terbatas dan proses rekonsiliasinya agak terlambat dikarenakan sistem yang masih manual. “Semua data harus diketik ulang sehingga rawan terjadinya regredasi data, karena mereka (TPS.red) mengajukannya dengan cara mengetik, begitupun kita juga mengetik sehingga memperbesar human error, akibatnya ini akan mempersulit proses rekonsiliasi,” imbuh Agus. barang impornya lebih efisien, dimana kalau sebelumnya importir melakukan pengurusan 2 kali yaitu mengajukan permohonan PLP dengan mekanisme BC.1.2 di Kantor Pabean asal (Tanjung Perak) kemudian baru menyelesaikan kewajiban pabean dengan dokumen PIB ke Kantor Pabean Tujuan atau lainnya (contohnya KPPBC Gresik). Sedangkan dengan diterapkannya P-05/BC/2008 importir hanya sekali dalam pengurusan dokumen kepabeanannya yaitu dengan mengajukan PIB ke Kantor Pabean tempat pembongkaran barang impor. Dan hal ini tentunya juga dapat mengurangi biaya yang harus dikeluarkan importir terkait dengan biaya handling container (lift on/ lift off), biaya pengangkutan dan biaya penimbunan. Diakui Made ada yang membedakan dengan pelabuhan Tanjung Perak dengan pelabuhan yang lainnya, yaitu TPS (ICT Surabaya) di Tanjung Perak relatif steril dari unit – unit yang kurang punya kepentingan sehingga tingkat keamanan dan kepastian pelayanan impor di kawasan pabean relatif lebih baik. Tetapi untuk menjalankan PLP sesuai dengan P.05 tahun 2008 tentunya menyangkut banyak instansi, inilah yang Made sebut sebagai salah satu penyakit di instansi pemerintah yaitu membuat aturan yang tergantung dengan instansi lainnya. Idealnya PLP dijalankan dengan keyakinan bahwa DJBC mampu mengontrol pergerakan dan kepastian barang sampai tujuannya. “Yang perlu diwaspadai adalah standar/kualifikasi petugas Bea dan Cukai dan/atau pelayanan yang kurang konsisten dimana pada gilirannya PLP digunakan sebagai ajang tawar-menawar dan saling menjatuhkan,” ujar Made tentang masalah klasik yang sering dihadapi dalam pelaksanaan PLP Yang masih dikeluhkan importir terkait dengan kegiatan PLP adalah barang miliknya di PLP padahal sudah dalam proses SPPB, dan kekurang telitian aparat Bea dan Cukai mengenai waktu pengurusan SPPB dituding sebagai penyebab hal tersebut. Menanggapi hal itu Made menjelaskan, bahwa pada hakekatnya pengurusan SPPB tergantung dari jenis dan volume komoditi impor tersebut, bila jenis dan volumenya banyak maka prosesnya tentu relaltif lebih lama. Jadi tidak ada kaitannya dengan PLP “Kalau pemilik barang menganggap aparat Bea dan Cukai tidak atau kurang teliti seharusnya diberikan penjelasan yang memadai dan jujur sehingga tidak timbul biaya tinggi dan waktu yang optimal dalam pengurusan barang,” demikian Made menanggapi tudingan tersebut. Sementara itu sepanDOK. PRIBADI jang yang Ribut ketahui di Tanjung Perak, dalam hal importir memperoleh jalur prioritas atau jalur hijau, SPPB langsung diterbitkan dan hanya melalui penelitian komputer. Sedangkan untuk jalur merah yang harus melalui pemeriksaan fisik dan penelitian dokumen dan SPPB belum diterbitkan, (dalam rangka mempersiapkan barangnya untuk dilakukan pemeriksaan fisik) harusnya importir mengetahui barang impornya akan di PLP-kan atau tidak, oleh Pengusaha TPS yang bersangkutRIBUT SUGIARTO. Kegiatan PLP yang sering dilakukan di Tanjung Perak antara an. “ Memang masalah lain karena alasan YOR di TPS asal, klasik dalam pelaksanaan barang impor LCL dan alasan lainnya.

IMPORTIR BISA MENGHITUNG WAKTU DAN BIAYA
Dengan adanya Peraturan Dirjen yang baru mengenai Pemindahan Lokasi Penimbunan (PLP) yaitu P.05/ BC/2008, pada prinsipnya importir akan dapat menghitung waktu dan biaya yang dibutuhkan dalam rangka perdagangannya. Hal ini pada gilirannya dapat memberikan transparansi kepastian dalam distribusi barang, demikian menurut I Made Wirayudha, Kasi Intelijen pada Bidang P2 Kantor Wilayah DJBC Jawa Timur I. Menurut Made, saat ini PLP yang berjalan di Tanjung Perak hanya PLP antar Tempat Penimbunan Sementara di bawah Pengawasan KPPBC Tipe A1 Tanjung Perak. Sedangkan untuk PLP antar KPPBC tidak berjalan dengan pertimbangan standarisasi persiapan KPU di pelabuhan Tanjung Perak. Mengenai tantangan yang dihadapi para petugas Bea dan Cukai di Tanjung Perak saat menjalankan kegiatan PLP, menurut Made, sebenarnya petugas Bea dan Cukai pada dasarnya bila mempunyai kemampuan dan kemauan yang cukup baik, tidak akan ada masalah karena yang dibutuhkan adalah ketekunan dan kedisiplinan untuk melakukan rekonsiliasi data tempat asal barang dengan tempat tujuan. Sementara itu menurut Ribut Sugiyanto, Kepala Seksi DTDD Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A1 Tanjung Perak, P-05/BC/2008 intinya adalah mencabut pasal 10 P-26/BC/2007 yang mengatur PLP dengan tujuan TPS selain pelabuhan pada Kantor Pabean lainnya yang pelaksanaannya menggunakan mekanisme angkut lanjut (BC.12). Dengan adanya aturan ini, lanjut Ribut, sebenarnya bagi importir menjadikan mekanisme pengeluaran 14
WARTA BEA CUKAI EDISI 404 JULI 2008

PLP, terkait penelitian administrasi juga perlu waktu dan juga mekanisme pengawasannya, namun demikian pemilik barang yang terkadang kurang sabar ingin segera cepat selesai dalam proses PLP itu sendiri,” ujar Ribut. Menjelang hari-hari besar YOR di pelabuhan mencapai 85 % atau hampir diambang batas, menurut pandangan Made, YOR seharusnya bukan dijadikan alasan apabila kinerja setiap segmen unit kerja, mulai pembongkaran, penimbunan, pemeriksaan dan pengeluaran disusun berdasarkan analisis beban kerja yang benar serta kita bekerja dengan optimal. Sedangkan mengenai standar waktu untuk barang di TPS yang akan di PLP-kan menurut Made, tidak ada syarat yang baku tetapi tergantung pada posisi permasalahPERLU KETELITIAN pegawai dalam menganalisa permohonan PLP terkait dengan profil importir dan komoditi an. PLP antar KPPBC yang diajukan. yang dulu dilaksanakan di Pelabuhan Tanjung Perak dengan tujuan Gresik dan berkoordinasi dengan pihak TPS karena yang akan meBali sekitar 2 hari di timbun di TPS. Begitu juga menurut lakukan PLP adalah pihak TPS. Ribut, lamanya barang yang akan di PLP-kan di TPS, terLalu untuk mensinkronkan pelaksanaan PLP dengan gantung dari kondisional YOR TPS serta adanya kebutuhinstansi lain, KPPBC Tanjung Perak senantiasa secara aktif an untuk PLP itu sendiri. melakukan kerjasama dengan intansi lain yang terkait, baik secara informal dalam hal terjadi kasus-kasus yang mendesak, maupun secara formal dengan aktif dalam forum MEKANISME PLP DI TANJUNG PERAK kepelabuhan yang memang diadakan secara rutin dan periMekanisme PLP di KPPBC Tanjung Perak saat ini, lanodik oleh masyarakat kepelabuhan di Tanjung Perak. jut Ribut, pemohon PLP mengajukan permohonan ke Biasanya volume kegiatan impor semakin tinggi/ Kepala Seksi Administrasi Manifes, yang kemudian melameningkat pada saat menjelang hari-hari besar, apalagi kukan penelitian dan mencocokkan serta menganalisa jika hal tersebut diikuti dengan adanya kebijakan dengan BC.11, jika sesuai memberikan persetujuan pada pemerintah dengan adanya cuti bersama (misalnya Idul form PLP. Fitri dan Natal). Hal ini apabila tidak diimbangi dengan Selanjutnya Kepala Seksi Administrasi Manifes menekecepatan pengeluaran barang di pelabuhan maka ruskan persetujuan PLP tersebut kepada Kepala Seksi akan menyebabkan YOR TPS semakin tinggi. YOR P2, untuk selanjutnya melakukan pengawasan dengan yang ideal dalam kegiatan di TPS sekitar 60 persen, melakukan penyegelan atau pengawalan sebelum barang demikian menurut Ribut. dikeluarkan dari Tempat Penimbunan Sementara. Tanjung Perak merupakan pelabuhan yang menjadi Kegiatan PLP yang sering dilakukan di Tanjung Perak salah satu pintu gerbang distribusi tidak saja kegiatan antara lain karena alasan YOR di TPS asal, barang impor impor dan ekspor, namun juga kegiatan distribusi LCL (contohnya PLP dari PT. TPS ke Container Freight barang-barang antar pulau, khususnya untuk Indonesia Station (CFS) PT. BJTI) dan alasan lainnya. Bagian Timur ((Bali, Kalimantan, Sulawesi, Papua dan Sedangkan mengenai waktu yang dibutuhkan dalam projuga menangani kegiatan impor dan ekspor untuk ses pengurusan SPPB karena KPPBC Tanjung Perak, sudah wilayah Jawa Timur sendiri). Dan dalam wilayah menerapkan mandatori PDE (Pertukaran Data Elektronik), pelabuhan Tanjung Perak sendiri terdiri dari 3 TPS di tergantung dari jalur pelayanan kegiatan impor yang diperoarea pelabuhan yaitu PT.TPS, PT. BJTI dan Pelabuhan leh importir. Jika importir memperoleh jalur prioritas dan jalur Jamrud Utara. Hal inilah yang sedikit membedakan hijau, respon SPPB akan langsung dikirim oleh sistem Tanjung Perak dengan pelabuhan lainnya. komputer ke importir yang bersangkutan (dalam prakteknya Berbagai tantangan pun dihadapi petugas Bea dan tidak sampai 30 menit) dan langsung bisa dicetak untuk Cukai Tanjung Perak dalam menjalankan kegiatan PLP, pengeluaran barang impor oleh importir dari TPS (Gate Out di seperti yang disampaikan Ribut, antara lain ketelitian TPS juga sudah komputerisasi). dalam menganalisa permohonan PLP terkait dengan Sedangkan jika mendapat jalur merah memang harus profil importir dan komoditi yang diajukan serta masalah dilakukan pemeriksaan fisik barang dan penelitian SDM (Sumber Daya Manusia), baik yang terkait dedokumen terlebih dahulu, dan apabila semuanya clear ngan pelayanan administrasi permohonan PLP maupun (tidak ada masalah) baru SPPB diterbitkan. Sehingga dalam pelaksanaan pengawasan PLP itu sendiri. ris dalam kaitan dengan PLP, importir harusnya senantiasa
EDISI 404 JULI 2008 WARTA BEA CUKAI

15

WAWANCARA
Ir. AGUNG KUSWANDONO, MA.
DIREKTUR TEKNIS KEPABEANAN DJBC Karena itu, sebagai upaya peningkatan pelayanan guna memperlancar arus barang impor dan ekspor dimaksud perlu adanya pemindahan barang/ kontainer dari TPS dermaga ke TPS lain dalam kawasan pabean yang sama agar arus bongkar muat barang tetap berjalan lancar. Sejauhmana kewenangan Bea dan Cukai dalam kegiatan PLP ini ? Perlu saya jelaskan, bahwa PLP itu terminologi kepabeanan, bukan terminologi bisnis. Jadi kalau ditanya kewenangan, pemberian izin PLP merupakan kewenangan penuh Bea dan Cukai. Tentu saja Bea dan Cukai harus mengakomodasi semua pihak dalam memberikan izin PLP ini, baik pihak pengguna jasa (importir) maupun pihak penyedia jasa. Aturan-aturan apa saja yang mengatur tentang PLP ? Dalam hal ini adalah Peraturan Dirjen Bea dan Cukai No. P-26/BC/2007 tentang Tata laksana pindah lokasi penimbunan barang impor yang belum diselesaikan kewajiban kepabeanannya dari satu tempat penimbunan sementara ke tempat penimbunan sementara lainnya yang diubah dengan Peraturan Dirjen Bea dan Cukai No. P-05/BC/2008. PLP hanya dapat dilakukan dalam kondisi tertentu seperti yard occupancy ratio (YOR) atau (shade occupancy ratio) SOR TPS bersangkutan telah melampaui batas 85 persen, barang konsolidasi, pengangkutan barang impor menggunakan satu kontainer untuk lebih dari satu atau untuk banyak alamat penerima barang (less container load) atau barang impor yang karena sifatnya membutuhkan sarana dan prasarana penyimpanan atau penumpukan yang khusus yang tidak tersedia di TPS. Lantas dengan adanya aturan pengganti yang baru mengenai PLP ini memiliki kelebihan atau keuntungan dari aturan sebelumnya. Keuntungan apa saja yang akan diperoleh pemilik barang dalam hal ini importir dalam aturan tersebut terkait dengan kegiatan PLP ? Seperti sudah saya sampaikan tadi, PLP harus mempertimbangkan kepentingan semua pihak. PLP itu faktanya adalah penambahan biaya pergerakan barang yang dibebankan kepada pengguna jasa karena keterbatasan infrastruktur pelabuhan. Jadi sedapat mungkin PLP dilakukan dengan biaya seminimal mungkin. Perlu diketahui, biaya PLP sebelumnya mencapai hampir 4 juta rupiah per kontainer 40 feet. Sekarang dengan adanya transparansi biaya kepada semua pihak, biaya PLP bisa ditekan lebih dari separuhnya. Tentunya ini suatu hal yang baik kan ? Bagaimana prosedur dan kriteria sehingga barang perlu dipindah lokasi penimbunannya ke TPS ? Pada prinsipnya barang pindah-lokasikan dari satu TPS ke TPS lain dalam satu kawasan pabean adalah daya tampung TPS asalnya sudah melebihi batas. Dalam aturan baru ini, batas YOR yag ditetapkan adalah 85 persen. Pengusaha TPS mengajukan permohonan PLP dengan mencantumkan keterangan bahwa batas YOR dan SOR TPS telah melampaui 85 persen, rincian jumlah dan jenis barang, nama consignee, nomor koli atau nomor container dan nomor segel pelayaran barang impor yang dimohonkan PLP-nya, dan surat pernyataan dari Pengusaha TPS tujuan akan ketersediaan ruang di TPS tujuan, untuk lebih jelasnya agar mengacu pada Peraturan Dirjen Bea dan Cukai No. P-26/BC/2007 Ada keluhan dari pemilik barang, pada saat mereka proses untuk mendapatkan Surat Perintah Pengeluaran Barang (SPPB) hampir selesai bahkan ada yang sudah selesai, tetap saja di PLP-kan. Bagaimana tanggapan Bapak ? Sebenarnya berapa lama proses pembuatan SPPB ? Hal itu bisa saja terjadi, karena proses permohonan PLP masih dilakukan secara manual dan dilaksanakan oleh unit

“PLP itu Terminologi Kepabeanan, Bukan Terminologi Bisnis...”
Pada prinsipnya barang dipindahlokasikan dari satu Tempat Penimbunan Sementara (TPS) ke TPS lain dalam satu kawasan pabean karena daya tampung TPS asalnya sudah melebihi batas. Sesuai dengan aturan yang baru, batas YOR yang ditetapkan adalah 85 persen. Pengusaha TPS mengajukan permohonan Pindah Lokasi Penimbunan (PLP) dengan mencantumkan beberapa keterangan. Namun kenyataannya di lapangan, beberapa pemilik barang dalam hal ini importir mengeluhkan proses PLP yang dilakukan pengusaha TPS, karena dinilai tidak mengindahkan peraturan yang dikeluarkan Bea dan Cukai. Dengan alasan daya tampung TPS sudah mencapai batas maksimal, secepatnya TPS mengajukan surat permohonan PLP kepada pihak Bea dan Cukai. “Masalahnya selama ini adalah PLP lebih kental dengan nuansa binis daripada teknis. Inilah yang perlu mendapat perhatian kita bersama,” demikian tanggapan Direktur Teknis Kepabeanan, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC), Ir Agung Kuswandono MA. Bagaimana pendapatnya lebih lanjut seputar PLP, ia disampaikan kepada Redaktur WBC, Aris Suryantini. Berikut hasil wawancaranya.
Secara filosofi, mengapa perlu ada kegiatan pindah lokasi penimbunan (PLP) terhadap barang impor yang masuk ke pelabuhan ? PLP dilakukan karena adanya tuntutan akan kelancaran arus barang di pelabuhan. Pada umumnya dermaga tempat sandar kapal kapasitasnya sangat terbatas sedangkan penumpukan barang di Tempat Penimbunan Sementara (TPS) dermaga sedemikian banyak sehingga ini rawan terjadinya stagnasi atau kongesti. 16
WARTA BEA CUKAI EDISI 404 JULI 2008

EDISI 404 JULI 2008

WARTA BEA CUKAI

17

WAWANCARA
P2, sementara proses pengeluaran barang (SPPB) dilakukan oleh unit lain ( misalnya Pejabat Fungsional Pemeriksa Dokumen atau PFPD ) sehingga bisa terjadi pada saat PLP sedang dalam proses pada saat yang sama SPPB diterbitkan. Untuk menghindari hal tersebut, memang perlu ada koordinasi yang baik antara pihak pengusaha TPS dan unit internal Bea dan Cukai. Pada intinya apabila sudah terbit SPPB maka PLP sudah tidak diperlukan lagi, sehingga selama ini apabila hal tersebut terjadi maka PLP segera dibatalkan Batas waktu dilakukannya PLP adalah 10 hari setelah barang berada di TPS asal, tetapi kenyataannya banyak yang belum mencapai 10 hari sudah di PLP-kan ? Sebenarnya batasan 10 hari tersebut harus didasarkan pada kondisi aktual TPS bersangkutan. Kita harus kembali kepada prinsip bahwa PLP diizinkan hanya apabila daya tampung TPS sudah mencapai batas maksimal. Selain itu, perlu diingat juga bahwa PLP bukan untuk kepentingan bisnis. Jadi kalau memang kenyataannya kondisi TPS sudah maksimum dan menjurus ke stagnasi, ya Bea dan Cukai harus segera mengambil tindakan untuk menjamin kelancaran arus barang di pelabuhan. Sebaliknya, kalau barang bersangkutan sudah diterbitkan SPPB-nya, ya harus segera dikeluarkan dari TPS tanpa harus menunggu 10 hari. Masalahnya selama ini PLP nuansanya lebih kental binis daripada teknis. Ini yang perlu mendapat perhatian kita bersama. Barang yang sudah dikuasai di TPS selama 30 hari dinyatakan sebagai barang yang tidak dikuasai. Yang jadi permasalahannya jika menjelang 30 hari segala pengurusan menyangkut pengeluaran sudah diselesaikan bagaimana status barang tersebut. Lalu bagaimana proses pembatalan status barang sebelumnya yang dinyatakan sebagai barang yang tidak dikuasai ? Cut off-nya adalah 30 hari barang tersebut diurus kepabeanannya atau tidak. Apabila dalam waktu 30 hari tersebut kewajiban pabean sudah dipenuhi semua dan sudah diterbitkan SPPB, ya tentunya barang tersebut dapat segera dikeluarkan dari pelabuhan. Bisa dijelaskan mengenai definisi barang yang tidak dikuasai, karena ada keluhan dari salah satu asosiasi mengenai penegasan sebagai barang yang tidak dikuasai ? Definisi tersebut dapat dilihat pada Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 13/PMK.04/2006 tentang penyelesaian terhadap barang yang dinyatakan tidak dikuasai, barang yang dikuasai Negara dan barang yang menjadi milik Negara yang telah diubah dengan PMK-53/PMK.04/2008, antara lain Barang tidak dikuasai adalah barang yang tidak dikeluarkan dari TPS dalam jangka waktu 30 hari sejak penimbunannya. Saya menghimbau para pengguna jasa termasuk asosiasi untuk dapat meluangkan waktu sejenak membaca dan mempelajari ketentuan-ketentuan tersebut. Terminologi Barang Tidak Dikuasai, Barang Dikuasai Negara dan Barang Milik Negara adalah terminologi Undang-Undang Kepabeanan yang wajib diketahui semua pihak terkait. Ada keluhan dari importir, barang yang baru turun dari kapal tidak lama kemudian dilakukan PLP, sedangkan barang yang sudah menumpuk lama tidak di PLP-kan ? Kami menyadari bahwa sistemnya masih manual maka ada keterbatasan Bea dan Cukai dalam memberikan izin PLP. Saat ini Bea dan Cukai Tanjung Priok telah dan sedang melakukan koordinasi secara intens dengan para pengusaha TPS di pelabuhan Tanjung Priok untuk menghindari kondisi tadi. Tapi kalau proses dimaksud menumpuk karena ada masalah atau masih dalam proses pemeriksaan Bea dan Cukai, tentunya ini diluar konteks tersebut. 18
WARTA BEA CUKAI EDISI 404 JULI 2008

Petugas Bea dan Cukai diminta untuk mengesahkan PLP oleh pengusaha TPS. Bagaimana cara petugas bea dan cukai menentukan layak tidaknya barang itu di PLP-kan ? Petugas Bea dan Cukai sudah dibekali dengan prosedur dan batasan-batasan untuk melakukan tugas tersebut. Selain itu koordinasi dengan otoritas pelabuhan (Adpel) juga terus dikembangkan. Dan tentunya koordinasi dengan pengelola TPS merupakan hal yang harus selalu dilakukan. Namun menurut saya, semua permasalahan yang ada dapat diatasi apabila sistem TPS-on-line telah diberlakukan secara baik. Sampai sejauhmana Bea dan Cukai mengatur keberadaan TPS di pelabuhan ? Apakah hal itu menjadi kewenangan sepenuhnya Bea dan Cukai ? Dan apakah ada instansi lain yang juga ikut mengatur keberadaan TPS ? Hal ini juga perlu saya tegaskan juga bahwa Tempat Penimbunan Sementara (TPS) adalah terminologi kepabeanan. Hal itu diatur dalam UU Kepabeanan serta peraturan pelaksanaannya yaitu PMK-70/PMK.04/2007 jo Peraturan Dirjen Bea dan Cukai P-20/BC/2007 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penetapan Kawasan Pabean dan Tempat Penimbunan Sementara. TPS, adalah bangunan dan/ atau lapangan atau tempat lain yang disamakan dengan itu di kawasan pabean untuk menimbun barang, sementara menunggu pemuatan atau pengeluarannya dan seperti kita ketahui bersama kawasan pabean adalah kawasan yang sepenuhnya berada di bawah pengawasan DJBC. Jadi pada dasarnya penetapan TPS sepenuhnya merupakan kewenangan Bea dan Cukai, namun demkian dalam persyaratannya penetapannya tetap diperlukan izin dari pemda setempat dan keterangan dari Pengelola Kawasan Pabean bahwa TPS dimaksud masih berada di kawasan pabean. Banyak ditemui pengusaha TPS menggunakan alat operasionalnya seperti crane, alat timbang dan sebagainya masih menyewa dari pihak lain. Apakah ketersediaan sarana dan prasarana yang dmiliki TPS menjadi pertimbangan TPS untuk mendirikan TPS ? Benar, hal tersebut merupakan salah satu syarat pertimbangan untuk mendirikan TPS. Seharusnya yang namanya TPS tentu harus dilengkapi dengan segala peralatan dan manajemen yang memadai, bukan dengan pinjam-meminjam seperti itu. Ke depan hal itu harus menjadi perhatian para pengusaha TPS karena keberadaan TPS tersebut merupakan “wajah” dari pelabuhan dan menjadi salah satu faktor yang dilihat asing dalam menilai pelabuhan kita. Apakah ada pembekuan TPS yang tidak memenuhi syarat yang dilakukkan Bea dan Cukai ? Sudah ada berapa TPS yang dibekukan operasionalnya ? Saya rasa pertanyaan ini lebih tepat ditanyakan ke Kantor Pabean karena pembekuan TPS dilakukan oleh Kepala Kantor Pabean. Prosedur mengenai penetapan, pencabutan atau pembekuan TPS mengacu kepada PMK-70/PMK.04/ 2007 jo Peraturan Dirjen Bea dan Cukai P-20/BC/2007. Sudah sejauhmana perkembangan TPS online saat ini ? Masih dalam tahap uji coba terhadap beberapa TPS. Permasalahan utamanya adalah sebagian besar TPS di pelabuhan, Tanjung Priok maksud saya, masih belum mampu menjalankan program ini. TPS yang mampu hanya beberapa saja. Keuntungan apa saja yang diambil Bea dan Cukai dengan adanya TPS online ? Dengan adanya TPS online diharapkan data barang yang terdapat di TPS dapat diketahui secara lebih cepat dan akurat, sehingga dapt diambil langkah-langkah yang lebih cepat dan efisien dalam rangka pelayanan dan pengawasan barang impor dan ekspor sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

KONSUL TASI
KEPABEANAN & CUKAI
PEMERIKSAAN BARANG
jumlahnya sangat banyak, tentunya akan menimbulkan kesulitan bagi pemeriksa Bea dan Cukai, pemilik barang, dan keamanan barang bersangkutan. Namun demikian apabila Saudara merasa tidak puas dengan pelayanan pegawai Bea dan Cukai di pelabuhan Tanjung Priok, silakan menghubungi “client coordinator” yang memang ditugaskan untuk menerima keluhan, kritik dan saran dari pengguna jasa. 2. LHP adalah dokumen laporan yang dibuat oleh pemeriksa barang mengenai jumlah dan jenis barang. Penetapan nilai pabean dilakukan oleh PFPD, bukan oleh pemeriksa barang. Pemberitahuan jumlah dan jenis barang serta nilai pabean bersifat “self assessment” oleh pengguna jasa. PFPD wajib memutuskan apakah pemberitahuan Saudara dapat diterima atau tidak dalam jangka waktu paling lama 30 hari (bukan berarti PFPD harus menunggu sampai 30 hari). Sesuai UU Kepabeanan Pasal 93, apabila Saudara tidak puas terhadap keputusan PFPD, Saudara dapat mengajukan keberatan dengan mempertaruhkan jaminan, antara lain menggunakan garansi bank. Jadi apa yang dilakukan oleh PFPD dimaksud sudah sesuai dengan ketentuan kepabeanan yang berlaku. 3. Baik Saudara sebagai pengguna jasa maupun aparat BC wajib menjalankan peraturan kepabeanan yang telah ditetapkan. Kami belum jelas dengan maksud Saudara tentang “aturan yang dikatakan oleh aparat BC”. Apabila Saudara melihat ada penyimpangan ketentuan kepabeanan yang dilakukan oleh aparat BC, sebaiknya Saudara segera melaporkannya kepada client coordinator KPU BC Tanjung Priok untuk ditindaklanjuti segera. Dengan demikian segera dapat diketahui apakah benar aparat BC yang menyimpang dari peraturan yang ada atau pemahaman pengguna jasa yang salah. 4. Di KPU BC Tanjung Priok sudah ada petugas khusus yang menangani pengaduan atau permintaan penjelasan oleh pengguna jasa yang disebut client coordinator. Petugas ini akan menjadi mediator Saudara dengan aparat BC bersangkutan. KPU Bea Cukai Tanjung Priok adalah satu kesatuan. Pelayanan publik dilakukan melalui mekanisme yang telah ditetapkan, yaitu melalui client coordinator yang memang khusus ditugaskan untuk itu. Pembatasan pertemuan pengguna jasa dengan PFPD justru dimaksudkan untuk memotong rantai birokrasi dan guna menghindari praktek KKN. Demikian disampaikan, kami sangat berterimakasih apabila Saudara dapat langsung menghubungi client coordinator di KPU Bea Cukai Tanjung Priok dan menyampaikan permasalahan Saudara secara terbuka dan transparan untuk perbaikan kualitas pelayanan kami kepada pengguna jasa. DIREKTUR TEKNIS KEPABEANAN AGUNG KUSWANDONO
EDISI 404 JULI 2008 WARTA BEA CUKAI

Setiap surat pertanyaan yang masuk ke Redaksi Warta Bea Cukai baik melalui pos, fax ataupun e-mail, harus dilengkapi dengan identitas yang jelas dan benar. Redaksi hanya akan memproses pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dengan menyebutkan identitas dan alamat yang jelas dan benar. Dan sesuai permintaan, kami dapat merahasiakan identitas anda. Redaksi

K

ep Dirjen No. 68/BC/2003 tentang Perubahan Atas Kep Dirjen No. 7/BC/2003 tentang petunjuk pelaksanaan tatalaksana kepabeanan di bidang impor, pada pasal 52 ayat 1 mengatakan kepastian jangka waktu pelayanan penyelesaian barang impor untuk dipakai : a. … Pelayan Jalur Hijau ... b. Jalur merah harus sudah dilakukan pemeriksaan paling lama 12 jam sejak penetapan, dan SPPB harus diterbitkan paling lama 24 jam sejak LHP diterima, dalam hal jumlah dan jenis barang yang diberitahukan kedapatan sesuai serta nilai transaksi yang diberitahukan dapat diterima sebagai nilai pabean. c. … Penetapan … PERTANYAAN : 1. Bagaimana menyikapi aparat BC yang menentukan pemeriksaan dalam hitungan hari (Jumat PJM, pemeriksa dihubungi mengatakan Senin pemeriksaan dilakukan)? Apakah kita dapat mengadukan hal ini dan kemana ? 2. LHP jumlah dan jenis barang sesuai dan nilai pabean dapat diterima, oleh PFPD dinyatakan kesalahan pembebanan sehingga dikeluarkan SPKPBM, dan akhirnya barang tertahan karena harus buatkan dulu Bank Garansi untuk menyampaikan keberatan? Apakah benar tindakan PFPD tersebut diatas? Bukankah SPPB terbit, dan KPBC masih ada tenggang waktu 29 hari untuk penetapan klasifikasi (pasal 52 ayat 1, c) 3. Kami selalu mengikuti peraturan kepabeanan tetapi kalah dengan aturan yang dikatakan oleh aparat BC yang akhirnya menjadi peraturan yang harus diikuti, karena jika tidak diikuti akan mengalami kerugian buat kita. 4. Apakah memang PFPD tidak bisa ditemui untuk kami dapat menjelaskan dan meminta penjelasan tentang peraturannya, padahal Bea Cukai adalah kantor pelayanan. Bagaimana Bea Cukai akan sukses menerapkan Standar Pelayanan Publik (sesuai SE Dirjen BC No. 36/2006 tentang penyusunan, sosialisasi dan penerapan SPP di BC) jika pelaksanannya kurang kualifikasinya. Mohon tanggapannya. Terimakasih. JH DI JAKARTA UTARA

TANGGAPAN : Terimakasih atas pertanyaan yang Saudara ajukan. Dilihat dari domisili Saudara, kami mengasumsikan pertanyaan Saudara berkaitan dengan pelaksanaan sisdur kepabeanan di pelabuhan Tanjung Priok. 1. Pemeriksaan barang sangat dipengaruhi beberapa hal di lapangan, seperti waktu dimulai pemeriksaan, jumlah barang yang akan diperiksa, kesiapan pemilik barang, dan cuaca (karena TPS-TPS di Tanjung Priok belum ada yang mempunyai tempat pemeriksaan barang permanen). Apabila PJM ditetapkan pada hari Jumat tetapi menjelang tutup jam kantor, sedangkan barang yang diperiksa

19

INFO PEGAWAI

Sambutan Direktur Jenderal Bea dan Cukai

Pada Apel Pagi Di Kantor Pusat DJBC, 19 Mei 2008

I

Assalamu’alaikum Wr. Wb Selamat pagi, salam sejahtera untuk kita semuanya.

bu dan bapak-bapak keluarga besar DJBC yang saya banggakan, pertama-tama mari kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT karena hari ini kita bersamasama dapat hadir dalam rangka apel yang diselenggarakan pada tanggal 19 Mei 2008. Mungkin ada pertanyaan dari rekan-rekan kenapa kita lakukan apel bulanan. Terus terang kami ingin lebih meningkatkan komunikasi antara pimpinan dengan rekan-rekan semuanya. Karena ini menurut saya sangat penting artinya. Dan mengapa kita mulai pada tanggal 19 Mei ini, karena terkait dengan Hari Kebangkitan Nasional. Saya mengharapkan ibu dan bapak-bapak bangkit untuk membangun dan mengembangkan Bea dan Cukai yang kita banggakan ini, Apel ini nanti kita lanjutkan tiap bulan setiap tanggal 17, tapi kalau tanggal 17 jatuh pada hari libur kita laksanakan hari kerja berikutnya. Sebagai pimpinan apel saya kira bergantian dengan bapak-bapak eselon II supaya kita bisa lebih berkomunikasi dengan ibu dan bapak-bapak sekalian. Ibu dan bapak-bapak yang saya banggakan, pada kesempatan yang berbahagia ini saya juga menyampaikan terimakasih kepada seluruh jajaran khususnya Kakanwil Jakarta yang hari ini memberikan penghargaan kepada rekan-rekan yang berprestasi. Program ini saya kira terus kita lanjutkan, kita memang akan mengembangkan Manage System, bagi yang berprestasi kita hargai tapi bagi yang melanggar kode etik kita akan tindak sesuai ketentuan yang berlaku. Kemudian pada kesempatan yang berbabahagia ini saya juga menyampaikan terimakasih atas langkah-langkah yang
WARTA BEA CUKAI EDISI 404 JULI 2008

ibu dan bapak-bapak laksanakan karena posisi penerimaan kita pada 14 Mei 2008 dari bea masuk, dari APBNP diprogramkan 18,2 triliyun, tetapi sudah terealisir sebanyak 7, 15 triliyun atau mencapai 45, 18 persen, harusnya targetnya sampai 14 Mei 2008 hanya 37,5 persen, jadi pencapaian diatas target. Kemudian Bea Keluar dari 11,1 triliyun sudah direalisasikan 5,59 triliyun atau 50,07 persen yang seharusnya baru mencapai 37,5 persen. Kemudian dari Cukai APBNP 45,7 triliyun, sudah terealisir 17,76 triliun atau mencapai 38, 85 persen. Ini saya sampaikan terimakasih kepada semua jajaran bea cukai dan khususnya ibu dan bapak-bapak yang hadir pada acara ini. Rasa gembira kami disamping tercapai program ini, di tahun 2007 kita juga menghasilkan prestasi yang gemilang, yang oleh Ibu Menteri disampaikan di jajaran Departemen Keuangan bahwa tahun 2007 adalah tahunnya Bea dan Cukai karena kita berhasil mencapai program. Dan untuk ini saya mohon kepada ibu-ibu dan bapak-bapak sekalian memelihara prestasi dan kinerja ini, karena memelihara itu lebih sulit dari pada kita mencapai prestasi. Saya mohon sekali lagi kepada ibu dan bapak-bapak bisa melaksanakan semua program yang telah dilakukan. Ibu dan bapak-bapak sekalian, kami akan menyampaikan beberapa hal yang kami pesankan untuk bisa ditindak lanjuti : yang pertama adalah tentang reformasi birokrasi. Reformasi mempunyai arti membentuk kembali atau bisa diartikan sebagai perbaikan atas sesuatu ke arah yang lebih efektif dan efisien. Reformasi ini berkelanjutan, kita tidak boleh lelah dan kita tidak boleh letih melakukan reformasi ini. Perjalanan reformasi dan birokrasi di Departemen Keuangan yang juga telah diimplementasikan di lingkungan

20

bukan milik siapa-siapa. Disiplin adalah milik diri pribadi maDJBC sudah berjalan pada tahun 2006, didalam kita mempersing-masing, mau berubah atau tetap bertahan adalah cepat reformasi. Tim percepatan reformasi juga sudah berjatergantung dari kita sendiri. Mulai dari disiplin memperlakulan beriringan. Tugas dasar DJBC, saya kira ibu dan bapakkan diri sendiri, mentaati peraturan perdinasan, menggunabapak sudah memahami, kita adalah Revenue Collector, Trakan fasilitas kantor. Loyal pada profesi kita. Disiplin kita tidak de Fasilitator, Industrial Assistance dan Society Protector boleh kendor, tidak boleh putus barang sekejap pun, disiplin dapat diwujudkan dan diimplementasikan dengan sangat baik pada profesi akan lebih mudah bila kita lakukan bersama-sadan benar. ma akan lebih ringan rasanya membangun semangat korps Pembentukan Kantor Pelayanan Utama Tanjung Priok dimulai dari diri kita sendiri. Korps adalah rasa kebersamaan, dan KPU Batam sudah kita wujudkan, untuk itu saya mohon kebersamaan yang dicerminkan lewat penggunaan seragam kepada ibu dan bapak-bapak sekalian, harapan kami progdinas yang sudah dibuat dengan aturannya sendiri. Seragam ram ini harus kita tunjang terus. dan atribut yang mempunyai fungsi masing-masing, mudahIbu dan bapak-bapak sekalian, dalam tahun 2008 ini akan mudahan disiplin yang kita bangun bersama ini dapat dibentuk enam kantor pelayanan yang lain yaitu kantor pelamenumbuhkan semangat kita menggunakan seragam dinas, yanan bea dan cukai madya di Malang, Kudus dan Kediri, ini yaitu jati diri seorang pegawai DJBC. untuk bidang cukai. Kemudian tiga kantor pelayanan bea dan Bagian ke empat adalah tentang penghematan energi. cukai yang lainnnya yaitu di Belawan, Cengkareng dan TanHari ini kita telah melewati masa-masa yang semakin sulit, jung Perak. Untuk ini saya minta dukungan dari rekan-rekan pemerintah menghadapi kenaikan harga bahan bakar minyak semuanya karena saya tidak mungkin kerja sendiri dan saya karena harga dunia yang melambung tinggi. Semua biaya membutuhkan dukungan dari ibu dan bapak-bapak sekalian. hidup terasa semakin mahal, baik kebutuhan pokok maupun Sekali lagi kami mohon bagaimana kita mewujudkan kebutuhan lainnya. Saya memerlukan dukungan Ibu-Ibu dan sukses program reformasi birokrasi, karena program-program Bapak-Bapak untuk ikut meringankan beban kedinasan ini tidak akan berhenti sampai disini tetapi masih akan terus DJBC, karena di lingkungan pemerintahan, kita harus memberlanjut dengan program-program yang lain. Sudah pelopori bagaimana kita bisa menghemat energi, menghemat waktunya kita bersama-sama memberikan umpan balik pada tenaga listrik, air, telepon, dan sebagainya DJBC apa yang telah kita peroleh dan apa yang harus kita Untuk itu saya meminta pada semua pihak untuk melakuperbaiki. Kami mengingatkan kembali bahwa remunerasi kita kan penghematan energi, bentuknya bisa berupa mengefisibukan hal yang gampang diperoleh. Ibu Menteri dan semua enkan kebutuhan kerja jajaran kita menghadapi kita sehari-hari dari perjuangan yang berat penggunaan listrik, teledi DPR untuk meningpon maupun peralatan katkan remunerasi ini. kantor lainnya sampai Sekarang tugas kita adamengevaluasi kembali lah bagaimana memperperjalanan-perjalanan tanggungjawabkan redinas yang tidak kita munerasi yang kita perperlukan. Mari kita beroleh dengan bekerja lesama-sama meningkatbih baik, lebih efisien kan suasana dan lingdan sesuai peraturan kungan yang baik bagi dan ketentuan yang beranak cucu kita, penghelaku. Remunerasi yang matan ini saya kira sekarang kita terima butidak harus mempersulit kanlah anti klimaks tapi diri kita, tidak harus justru kita harus bisa berkorban untuk kenikmemberikan karya kita, matan dari klien kita sumbang pikiran dan tetapi yang kita perlutenaga kita pada DJBC kan adalah konsistensi yang kita cintai ini. kita. Bila kita meningIbu dan Bapak sekagalkan kantor dan listrik lian, yang kedua adalah di ruangan kita yang kode etik. Kode etik ber- PENGHARGAAN. Dalam rangkaian acara apel pagi di KP-DJBC, Kepala Kanwil DJBC sudah tidak diperlukan asal dari kosa kata, code Jakarta Heru Santoso menyerahkan penghargaan kepada tiga perwakilan pegawai of conduct yang berarti Kanwil DJBC Jakarta yang berjasa dalam mengungkap pita cukai palsu, pencetakan pita seyogyanya kita mematikan. Untuk ini secara bebas sebagai palsu dan kegiatan menyimpan, menimbun serta menjual MMEA tanpa MPPBKC dan perilaku yang diterima tanpa dilekati pita cukai atau dilekati pita cukai yang diduga palsu, yang mengakibatkan saya mohon kesadaran Ibu dan Bapak sekalian secara umum atau nor- total kerugian negara sebesar Rp. 243 milyar. bagaimana kita bisa ma-norma, yang disini melakukan hal ini dan dalam waktu dekat kita juga menyiapmerupakan norma-norma yang sesuai dengan ketentuan hukan piket bagi rekan-rekan yang memonitor, memantau, melkum. Tetapi norma tidak hanya sekedar ketentuan hukum, aksanakan penghematan ini. tetapi juga melekat pada tugas kewajiban dan kewenangan Ibu dan Bapak sekalian, sekali lagi saya sampaikan terikita baik perorangan maupun sebuah organisasi. ma kasih yang telah hadir dalam apel pagi ini semoga apa Apabila kita bicara kode etik, maka tidak ada sanksi hukum. yang telah kita lakukan bisa memberikan kontribusi yang beSanksi yang dikenakan adalah sanksi moral. Saya hanya sar kepada bangsa dan negara kita. Selamat berkarya, bemengajak pada Ibu dan Bapak sekalian untuk berjalan beriringan kerja dan berjuang untuk membangun citra DJBC. bersama untuk kembali pada tugas, kewajiban dan wewenang Terima kasih, wa alaikum salam wa rahmatullahi wa kita sebagai seorang manusia, sebagai pegawai DJBC merinci barakatuh. kembali apa yang sudah kita lakukan. Apa yang seharusnya bisa Jakarta, 19 Mei 2008 kita lakukan dan senantiasa mengingatkan bahwa di atas langit Direktur Jenderal Be dan Cukai ada langit, di atas kita ada orang lain yang mengawasi. Saya kira adalah sesuatu yang sangat penting kita ketahui bagaimana kode Anwar Suprijadi etik bisa kita terapkan di lingkungan kita sehari-hari. Nip. 120050332 Yang ketiga adalah disiplin. Disiplin sebenarnya adalah
EDISI 404 JULI 2008 WARTA BEA CUKAI

21

INFO PEGAWAI

PEGAWAI PENSIUN T.M.T 01 JULI 2008
NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 N A M A NIP 060044452 060035754 060045089 060050201 060051387 060049232 060035995 060048918 060052533 060045307 060040843 060045671 060061676 060046462 060044076 060045309 060040021 060050562 060048892 060048925 060048177 060056858 060070335 060058644 060057421 060041323 060040077 060057734 060032084 GOL IV/c IV/c IV/b IV/b IV/a IV/a IV/a III/d III/d III/d III/c III/c III/c III/c III/c III/c III/c III/b III/b III/b III/b III/a III/a II/d II/d II/d II/b II/b II/b J A B A T A N K E D U D U K A N Kanwil DJBC Kepulauan Riau Kanwil DJBC Sumatera Bagian Selatan Kanwil DJBC Jawa Barat Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur Direktorat PPKC KP DJBC Kanwil DJBC Jawa Timur I Kanwil DJBC Jawa Tengah dan DIY KPPBC Tipe A4 Ternate KPPBC Tipe A1 Belawan KPPBC Tipe A3 Tanjung Balai Karimun KPPBC Tipe A2 Bekasi Bagian Perlengkapan SET. Ditjend KPPBC Tipe A3 Dumai KPPBC Tipe A3 Tanjung Balai Karimun KPPBC Tipe A3 Surakarta KPPBC Tipe A1 Belawan KPPBC Tipe A2 Tangerang KPPBC Tipe A2 Bekasi KPPBC Tipe A1 Tanjung Perak KPPBC Tipe A2 Jakarta Kanwil DJBC Jakarta KPPBC Tipe A3 Pontianak KPPBC Tipe A3 Pontianak KPPBC Tipe A3 Pontianak KPPBC Tipe A2 Bekasi Kanwil DJBC Sumatera Bagian Selatan KPPBC Tipe A2 Bekasi KPPBC Tipe A2 Jakarta KPPBC Tipe A2 Bekasi Roeslan Montjo Soetedjo, Drs Achjar, S.E. Zahrowi, Drs. Hery Susanto, Drs. M.SI Hari Wahono Subijantoro, Drs. Sukirno Sutoko Nursuharti Marsan Djon Harlis R. Hirawan, Drs. Supomo Syahril, NS Sedin Lumban Tungkup Muchtar Jasin Muslich Togap Hutabarat Anang Syarkawi Parulian Tambunan Asbujadi Rosbina Simamora Suyatno bin Suratman Marjati Abdullah Faisal Roni A. Muin Sakiman Sidik Eman Suherman Sodirun Mochamad Jasin Pelaksana Kepala Bagian Umum Kepala Seksi Kepabeanan Kepala Bagian Umum Pelaksana Kepala Seksi Keberatan dan Banding II Kepala Seksi Kepabeanan Kepala Seksi Kepabeanan dan Cukai Kepala Seksi Kepabeanan dan Cukai III Kepala Seksi Kepabeanan dan Cukai III Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana Pelaksana

BERITA DUKA CITA
Telah meninggal dunia, ARNI MOHARS, Pelaksana Pemeriksa pada Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A1 Soekarno-Hatta, pada hari Minggu, 25 Mei 2008. Telah meninggal dunia, IWAN ISHAK, pensiunan Bea dan Cukai, pada hari Rabu, 28 Mei 2008, pukul 08.30 WIB. Segenap jajaran Direktorat Jenderal Bea dan Cukai menyatakan duka yang sedalam-dalamnya. Bagi keluarga yang ditinggalkan semoga diberikan ketabahan dan kekuatan oleh Tuhan Yang maha Esa. Amin. 22
WARTA BEA CUKAI EDISI 404 JULI 2008

PUSDIKLAT
FOTO-FOTO DOK. WBC

UNTUK CLIENT COORDINATOR DAN KEPATUHAN INTERNAL
Untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dimiliki Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) khususnya pada bidang baru seperti Bidang Kepatuhan Internal dan juga Client Coordinator yang terdapat di KPU, Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Bea dan Cukai menyelenggarakan Pendidikan dan Pelatihan (diklat) bagi para pegawai yang akan menempati bidang-bidang tersebut.

DIKLAT

D

AGUS HERMAWAN. Diklat melibatkan pihak Astra Internasional untuk diklat CC dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk diklat keatuhan Internal

iklat yang diselenggarakan oleh Pusdiklat Bea dan Cukai tersebut diikuti oleh masing-masing 30 peserta yang berasal dari seluruh Indonesia dengan jumlah jam latihan (jamlat) sebanyak 94 jamlat. Menurut Kepala Bidang Rencana dan Program Pusdiklat Bea dan Cukai Agus Hermawan, dalam melaksanakan diklat tersebut, pihaknya melakukan koordinasi dengan Kantor Pusat DJBC sebagai user dan juga dari Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai untuk menentukan materi pengajaran, jumlah jam latihan, para pengajar dan lain sebagainya. Untuk itu lanjutnya, kerjasama yang sangat baik tersebut diharapkan dapat lebih meningkatkan mutu dalam penyelenggaraan agar sasaran yang ingin dicapai baik oleh user maupun juga oleh Pusdiklat Bea dan Cukai tercapai.

Kedua diklat tersebut lanjut Agus dilaksanakan mulai tanggal 16 Mei 2008 hingga 6 Juni 2008 di Pusdiklat Bea dan Cukai dengan para pengajar yang berkompeten. Dicontohkannya, untuk materi diklat client coordinator, atas kesepakatan bersama antara Pusdiklat Bea dan Cukai dengan DJBC, maka selain pengajar dari lingkungan Kantor Pusat DJBC, KPU,widyaiswara dan juga Pusdiklat Bea dan Cukai sendiri, diklat tersebut juga melibatkan pihak luar yang profesional dibidangnya salah satunya dari PT.Astra Internasional. Menurut Agus dilibatkannya pihak luar dalam diklat tersebut mengingat PT Astra Internasional memiliki bidang yang berhubungan dengan kegiatan yang sifatnya hubungan masyarakat (humas), “Seperti diklat untuk CC ada keterampilan berkomunikasi yang disampaikan dari Astra, intinya para peserta
EDISI 404 JULI 2008 WARTA BEA CUKAI

23

PUSDIKLAT
DOK. WBC

SUASANA DIKLAT di Pusdiklat Bea dan Cukai.

kalau sudah dilapangan, harus tahu persis apa yang ada didalam dan menyampaikan keluar sehingga orang luar atau pengguna jasa mengikuti aturan yang ada di kita, dan ini disampaikan oleh CC,”terang Agus. Keterlibatan para profesional dibidangnya lanjutnya juga dilakukan untuk diklat pada Bidang Kepatuhan Internal yang melibatkan pihak dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang mempunyai bidang pemeriksaan internal. Diuraikan Agus, keberadaan Bidang Kepatuhan Internal di suatu KPU bisa dikatakan sebagai sarana untuk mengetahui kepatuhan pegawai terhadap aturan yang ada maupun juga Standar Operasi Prosedur (SOP) dalam melaksanakan tugas. “Dalam menjalankan tugas misalnya, petugas pada bidang KI (kepatuhan Internal) harus tahu bagaimana sistem yang ada di KPU dan bagaimana cara menangani informasi-informasi yang berasal dari luar yang berkaitan dengan tugas seorang pegawai,”papar Agus. Tidak hanya itu materi lain yang juga dipaparkan kepada parta peserta diklat khususnya diklat Kepatuhan Internal, adalah cara mengelola informasi, pemeriksaan dan lain sebagainya, sehingga diharapkan keberadaan bidang tersebut bisa jadi jembatan jika pengawas fungsional dari luar terlibat untuk melakukan fungsi yang dijalankan oleh Bidang kepatuhan Internal.

TERUS DIKEMBANGKAN
Diklat untuk dua bidang yang terhitung baru ini lanjut Agus, akan terus dikembangkan dan disesuaikan, sehingga dalam penyampaian diklat serupa pada masa yang akan datang, baik materi pengajaran, pengajar dan lain sebagainya akan sesuai dengan perkembangan jaman. Untuk itu sekali lagi lanjutnya, Pusdiklat Bea dan Cukai maupun juga DJBC akan terus melakukan koordinasi agar pelaksanaannya kedepan akan lebih baik lagi. “Pengembangan terhadap diklat tersebut baik itu jumlah jam latihan, materi maupun pengajar dapat terlihat 24
WARTA BEA CUKAI EDISI 404 JULI 2008

dari evaluasi yang akan dilakukan antara Pusdiklat Bea dan Cukai dengan DJBC dan juga pihak lainnya,”terang Agus. Buntoro, Fungsional Pemeriksa Internal KPK, salah satu pengajar pada diklat untuk Bidang Kepatuhan Internal mengatakan,pihaknya menyampaikan kepada peserta diklat mengenai konsep mengenai pengawasan internal yang diikuti dengan teknis pemeriksaan seperti bagaimana menanganai informasi yang terkait dengan pengaduan dari lingkungan pengawasan internal. “Teknis untuk mendapatkan dan menangani pengaduan adalah teknis yang paling efektif untuk dapat menangani suatu pengaduan dan korupsi,”papar Buntoro. Pada diklat tersebut lanjut Buntoro, pihaknya menyampaikan tiga hal utama yang menjadi pegangan bagi para petugas di Bidang Kepatuhan Internal yaitu integritas, independensi dan objektifitas yang tidak dapat dipisahkan. Jika salah satunya hilang maka bidang tersebut tidak akan berfungsi. Agar tiga hal tersebut dapat berjalan dengan baik, maka Bidang Kepatuhan Internal harus memiliki suatu kepatuhan internal charter yang menjadi pegangan agar tiga hal tadi dapat dijalankan dengan baik dan sebagai bentuk pengakuan organisasi terhadap eksistensi bidang tersebut. “Tiga hal tadi yang coba kita sampaikan kepada temanteman pada waktu diklat, bahwa tiga hal tadi memang harus menjadi patokan dalam menjalankan tugasnya, dan harus bisa memisahkan kapan kita menjadi teman kapan kita profesional,”terang Buntoro kembali. Disampaikannya lagi pada diklat tersebut para peserta sangat antusias untuk mengikuti diklat tersebut, dimana para peserta aktif untuk bertanya dan juga mengetahui lebih banyak mengenai tugas dan fungsi bidang kepatuhan internal. “Semoga apa yang kami sampaikan kepada teman-teman di Bea Cukai dapat dilaksanakan dengan baik,”papar Buntoro. zap

KEPABEANAN INTERNASIONAL

PARA PESERTA CCC Meeting

DJBC Tuan Rumah The 4th Coordinating Committee on Customs (CCC) Meeting
ASEAN Single Window (ASW) menurut Wahyu masih menjadi isu menarik diseputar kerjasama dibidang kepabeanan, mengingat ASW merupakan salah satu bagian kerjasama antar negara ASEAN yang ingin dicapai, dimana pelaksanaannya diawali dengan implementasi National Single Window (NSW) di masing-masing negara anggota ASEAN
anggota ASEAN. Namun pertemuan akhirnya dipindah ke Indonesia karena Myanmar mengalami musibah bencana alam topan nargis dan menyatakan ketidaksanggupannya menjadi tuan rumah pertemuan tersebut. Indonesia yang tahun ini menjadi chair of the meeting menurut Direktur Kepabeanan Internasional Wahyu Purnomo, dengan pertimbangan tanggung jawab moral untuk menjaga kelangsungan dan kelancaran pertemuan tersebut memutuskan, menjadi tuan rumah pertemuan dimaksud . Menurut Wahyu CCC meeting merupakan salah satu pertemuan rutin yang merupakan tindak lanjut dari pertemuan serupa yang diselenggarakan sebelumnya. Pertemuan tersebut juga membahas berbagai persiapan untuk pertemuan tingkat Direktur Jenderal Bea dan Cukai se ASEAN (ASEAN Director General of Customs Meeting) yang diselenggarakan pada 17 hingga 19 Juni 2008 di Vientiane, Laos. Dalam tata urutan kerjasama kepabeanan ASEAN, CCC berperan untuk mengkoordinasikan tiga kelompok kerja (Working Group) yang ada dalam kerjasama administrasi pabean di ASEAN, yaitu Customs Capacity Building Working Group, Customs Enforcement and Compliance Working Group dan Customs Procedure and Trade Facilitation Working Group yang berada di bawah kedudukan CCC. “CCC Sendiri saat ini dipimpin oleh Indonesia,”terang Wahyu. Pada pertemuan yang berlangsung selama dua hari
EDISI 404 JULI 2008 WARTA BEA CUKAI

D

irektorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC), kembali menjadi tuan rumah pertemuan antar instansi kepabeanan se Asia Tenggara yang diselenggarakan pada 5 hingga 6 Juni 2008 di Hotel Mercure Jakarta. The 4th Coordinating Committee on Customs (CCC) Meeting yang diselenggarakan di Jakarta merupakan pertemuan regular yang diselenggarakan rata-rata dua kali dalam satu tahun, dan membahas mengenai kerjasama ASEAN dibidang kepabeanan termasuk kerja sama administrasi pabean ASEAN dengan negara-negara dialogue partner. Pertemuan tersebut sedianya dilaksanakan di Myanmar mengingat kewajiban menjadi tuan rumah diatur secara bergiliran berdasarkan urutan abjad negara

25

KEPABEANAN INTERNASIONAL
tau perkembangan administrasi pabean negara anggota ASEAN lainnya, sehingga dapat menjadi salah satu tolok ukur bagi DJBC yang saat ini sedang melaksanakan proses reformasi kepabeanan. Mengenai hasil pertemuan Wahyu mengatakan, bahwa secara garis besar terdapat beberapa perkembangan yang cukup baik atas pelaksanaan Strategic Plan on Customs Development (SPCD) yang dilaksanakan oleh tiga working group. Sedangkan mengenai rekomendasi yang dihasilkan dari pertemuan selanjutnya akan dilaporkan pada perteTHE 4TH COORDINATING COMMITTEE ON CUSTOMS (CCC) MEETING diselenggarakan di Jakarta 5-6 Juni 2008 di Jakarta. muan tingkat dirjen guna mendapat arahan setentangnya. dan diikuti oleh 10 negara anggota ASEAN, bagi IndoneDalam pertemuan tersebut juga hadir delegasi dari Jesia khususnya DJBC dapat digunakan sebagai ajang pang yang menjadi dialogue partner negara anggota menukar pengalaman dengan negara anggota ASEAN ASEAN. Mitra dialog tersebut berperan sebagai pihak dilainnya di berbagai bidang, menentukan posisi Indonesia luar angota ASEAN yang menjalin kerjasama dengan dalam peta kerjasama kepabeanan ASEAN, dan memanASEAN. Untuk agenda yang dibahas dengan Jepang secara garis besar adalah mengenai kelanjutan proyek kerjasama administrasi pabean ASEAN-Jepang dan juga cakupan kerjasama antara Administrasi Pabean ASEAN dengan Jepang dimasa yang akan datang. Mengenai peran delegasi DJBC dalam pertemuan terPensiunan Bea dan Cukai dan majalah Warta sebut masih menurut Wahyu, DJBC berperan aktif dalam Purnawirawan Bea dan Cukai (WPBC) akan pertemuan tersebut untuk menyampaikan aspirasi dalam mengadakan Sarasehan Pensiunan Bea dan Cukai, berbagai permasalahan seperti pembahasan mengenai pada : kerjasama administrasi pabean ASEAN dengan China, Tanggal : 30 Juli 2008 amandemen terhadap Customs Vision 2020, dan masih Tempat : Aula Gedung Kantor Pusat banyak lagi peran yang dijalani oleh DJBC. Bea dan Cukai Kerjasama antar administrasi pabean di kawasan Asia Waktu : Pukul 10.00-12.00 Wib. Tenggara sendiri menurut Wahyu, sudah cukup terarah Agenda Acara : - Pemeriksaan kesehatan walaupun untuk menyelaraskan 10 administrasi pabean gratis negara anggota ASEAN dalam satu visi dan misi bukan - Silaturahmi bersama Café suatu hal yang mudah, karena masih ada kesenjangan di Douane berbagai bidang yang membuat tiap-tiap negara memiliki - Sarasehan Para Pensiunan kurun waktu penyelesaian program yang berbeda untuk - Hiburan bersama para mencapai suatu keselarasan. pensiunan dan pegawai aktif. ASEAN Single Window (ASW) misalnya, masih menjadi isu menarik diseputar kerjasama dibidang kepabeanan, Acara ini terselenggara atas kerjasama dari para mengingat ASW merupakan salah satu bagian kerjasama pensiunan Bea dan Cukai, pegawai Bea dan Cukai, antar negara ASEAN yang ingin dicapai, dimana pelaksanaWarta Bea Cukai (WBC), WPBC dan Poliklinik Kantor annya diawali dengan implementasi National Single Window Pusat Bea dan Cukai. (NSW) di masing-masing negara anggota ASEAN. Kami mengajak para pensiunan Bea dan Cukai Kenyataannya Indonesia saat ini adalah negara dengan untuk ikut berpartisipasi menghadiri acara tersebut. perkembangan paling pesat dalam hal pembangunan sistem Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi NSW, ini merupakan suatu yang patut dibanggakan. Sekretariat Panitia Sarasehan dengan alamat Selain itu perkembangan yang cukup signifikan dibiRedaksi Warta Purnawirawan Bea dan Cukai pada dang kepabeanan saat ini adalah terwujudnya kesepakatpesawat (021) 426-3119 atau Fax (021) 421-1852. an di seluruh negara anggota ASEAN untuk melaksanakan harmonisasi tariff nomenclature yang diwujudkan * Pemberitahuan ini sekaligus sebagai undangan dalam bentuk ASEAN Harmonized Tariff Nomenclature untuk menghadiri Sarasehan Pensiunan Bea dan (AHTN), yang saat ini sebagian besar negara anggota Cukai. ASEAN telah mengimplementasikannya dan merupakan suatu kemajuan besar bagi ASEAN. zap

SARASEHAN

26

WARTA BEA CUKAI

EDISI 404 JULI 2008

INFO PERATURAN

DAERAH KE DAERAH

TEGAHAN NARKOBA
DI TELUK NIBUNG DAN DENPASAR
Psikotropika jenis MDMA (Methylene Dioxy Meth Amphetamine) atau ekstasi yang disembunyikan dalam sekoci kapal, berhasil ditemukan petugas Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Teluk Nibung, saat melakukan boatzooking .

idak dapat dipungkiri dengan letak geografis Indonesia yang berdekatan dengan beberapa negara, dan gugusan kepulauan yang jumlahnya mencapai ribuan, tidaklah mudah untuk menjaga masuknya barang-barang ilegal ke dalam wilayah Indonesia dikarenakan banyaknya pelabuhan rakyat yang tidak mendapat penjagaan dari aparat penegak hukum. Wilayah Teluk Nibung misalnya, merupakan salah satu daerah yang cukup rawan untuk masuknya berbagai jenis barang. Namun demikian petugas KPPBC Teluk Nibung yang terus berkoordinasi dengan instansi terkait guna melakukan pengawasan di berbagai lokasi, menjadikan daerah ini cukup terkendali dan mampu mengantisipasi masuknya barangbarang ilegal. Salah satu upaya pengawasan yang berhasil dilakukan oleh petugas KPPBC Teluk Nibung, adalah dengan berhasil menegah 35.260 butir ekstasi yang dibawa oleh warga negara Malaysia untuk diedarkan di Indonesia. Menurut Kepala KPPBC Teluk Nibung, Yacob Agus Wahyudiono, tegahan ini diawali dengan kegiatan boatzooking yang dilakukan petugas KPPBC Teluk Nibung, terhadap kapal ferry MV Aman Tiga yang baru tiba dari Port Klang Malaysia di pelabuhan Teluk Nibung pada 15 Mei 2008. “Dari boatzooking tersebut, petugas kami menemukan sebuah tas yang disembunyikan dalam sekoci kapal, yang ternyata berisikan psikotropika jenis ekstasi berbagai warna yang dikemas dalam 35 kotak dengan totalnya mencapai 35.260 butir atau senilai Rp. 4 milyar,” terang Yacob. lanjut Yacob menjelaskan, dalam pemeriksaan lebih lanjut diketahui bahwa tas tersebut disembunyikan oleh ABK kapal
DOK. KPPBC TELUK NIBUNG

T

TERSANGKA. Dua tersangka yang merupakan ABK kapal dan pemilik barang psikotropika kini menunggu keputusan hukuman yang akan dikenakannya. EDISI 404 JULI 2008 WARTA BEA CUKAI

27

DAERAH KE DAERAH
DOK. KPPBC NGURAH RAI

bernama Rusyadi yang selanjutnya akan diserahkan kepada penumpang bernama Junaidi bin Zulkanan yang menunggu di kantor perwakilan MV Aman Tiga. Dari tegahan tersebut untuk proses penanganannya pihak KPPBC Teluk Nibung langsung melakukan koordinasi dengan Kantor Wilayah DJBC Sumatera Utara dan pihak Polres Tanjung Balai, HASHIS. Petugas saat memperlihatkan tegahan hashis sebanyak satu koli atau 1,129 kgs yang diberitahukan sebagai dupa. juga pihak Angkatan Laut. Sementara itu, untuk kasusnya sudah diserahkan kepada pihak Kepolisian untuk dilakukan penyidikan lebih lanjut. “Pihak kami memang selalu berkoordinasi dengan instansi terkait dalam hal pengawasan, karena memang kami tidak akan mampu mengawasai selama 24 jam untuk pelabuhan-pelabuhan rakyat yang jumlahnya cukup banyak,” ujar Yacob. Masih menurut Yacob, untuk sarana dan prasarana yang dimiliki KPPBC Teluk Nibung juga sangat minim sekali, misalnya alat X-Ray. Sekalipun memiliki pelabuhan internasional tetapi tidak ada alat untuk memeriksa barang bawaan penumpang secara detail seperti X-Ray. Untuk itu Yacob harap, kedepan ini sarana dan prasana di KPPBC Teluk Nibung dapat dilengkapi sehingga dapat lebih optimal dalam melakukan pengawasan.

PATKOR KASTIMA DAN PATKOR OPTIMA
TAHUN 2008 KEMBALI DIJADWALKAN
Patroli terkoordinasi antara Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) dengan Kastam Diraja Malaysia atau lebih dikenal dengan Patkor KASTIMA serta patroli terkoordinasi antara unsur-unsur laut kedua negara yang lebih dikenal Patkor OPTIMA, kembali dijadwalkan oleh Tim Perancang Operasi Maritim (TPOM) Malaysia-Indonesia (MALINDO) pada tahun 2008 ini. Demikian salah satu hasil penting rapat ke-17 TPOM Malindo yang dilaksanakan pada tanggal 6-9 Mei 2008 di Batam.

TEGAHAN HASHIS
Sementara itu pada 22 Maret 2008, bertempat di Kantor Pos Besar Renon Denpasar, petugas KPPBC Ngurah Rai berhasil menggagalkan upaya pengiriman barang yang diindikasikan sebagai narkotika melalui kiriman pos (EMS) berupa satu kotak dupa berisi 22 buah pasta berbentuk bulat lonjong yang diduga mengadung narkotika jenis hashis. Menurut Kepala Bidang P2 Kanwil Denpasar, Nurkiswar Edy, terungkapnya kasus ini berawal dari kecurigaan petugas pada paket pos yang berasal dari Thailand. Setelah dilakukan pemeriksaan fisik, ditemukan semacam pasta yang berbentuk bulat lonjong berwarna coklat kehitaman sebanyak 22 buah atau satu kolli dengan berat bruto 1,129 kgs atau senilai Rp.138 juta. “Pada dokumen barang tersebut diberitahukan sebagai dupa, namun setelah dilakukan pemeriksaan yang lebih detail, yaitu dengan narkotest barang tersebut positif narkotika jenis hashis. Namun, untuk lebih menyakinkan lagi, maka pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan anjing pelacak narkotika yang ternyata merespon positif terhadap paket pos dimaksud,” kata Nurkiswar Edy. Kini, barang yang dikirim oleh ASIA Crafts- Soi Wat Pai Ngen W, Bangkok dengan penerima Mr. PJG, yang beralamat di jalan raya Seminyak Kuta Bali, diserahkanterimakan DOK. KPPBC TELUK NIBUNG kepada Direktorat Narkoba Polda Bali untuk dilakukan penyidikan lebih lanjut, karena kegiatan pengiriman ini dinyatakan melanggar pasal 28 undang-undang nomor 22 tahun 1997 tentang narkotika, dengan ancaman pidana mati atau pidana penjara seumur hidup, atau pidana penjara paling lama 20 DALAM SEKOCI. Ekstasi sebanyak 35.260 butir yang disembunyikan tahun dan denda paling banyak Rp.1 dalam sekoci berhasil ditegah petugas KPPBC Teluk Nibung saat milyar. adi melakukan boatzooking . 28
WARTA BEA CUKAI EDISI 404 JULI 2008

R

apat ke-17 TPOM MALINDO, dipimpin oleh Komandan Guskamlabar Laksma TNI Sugeng Darmawan (Ketua TPOM Indonesia) dan Pengarah PPPM Laksma Dato’ Pahlawan Mohd. Rashid bin Harun (Ketua TPOM Malaysia). Direktorat Jenderal Bea dan Cukai selaku anggota TPOM Indonesia diwakili oleh Saipullah Nasution, SH., MM (Kabid Penindakan dan Sarana Operasi Kanwil Khusus Kepulauan Riau) dan Asep Ridwan Ruswandi, SH., MH (Pelaksana pada Bidang Penindakan dan Sarana Operasi Kanwil Khusus Kepulauan Riau). Pada rapat tersebut dilaporkan mengenai berbagai hal dan kegiatan yang telah dilaksanakan pada tahun 2007, diantaranya : a. Laporan kejadian di Perairan Selat Malaka Secara umum situasi keamanan di Selat Malaka dalam keadaan aman dan terkendali, kendati masih ada kejadian-kejadian dan tindakan illegal yang dapat mengganggu keamanan pengguna jasa maritim di Selat Malaka. Walaupun demiki-

FOTO-FOTO DOK. TBK

DELEGASI KEDUA negara berfoto bersama sesaat setelah penutupan rapat ke-17 TPOM Malindo.

an perlu untuk meningkatkan koordinasi antara unsur maritim Indonesia dan Malaysia serta meningkatkan intensitas patroli di wilayah Selat Malaka untuk mencegah serta mengurangi kegiatan illegal dalam rangka menjaga citra dan kedaulatan bangsa kedua negara di dunia internasional. b. Laporan kegiatan PATKOR OPTIMA 16/2007 Laporan kegiatan Patkor OPTIMA 16/2007 disampaikan oleh Asops Guskamlabar, Kolonel Laut (P). Lutfi Syaefullah. Secara umum rapat menyatakan bahwa pelaksanaan Patkor OPTIMA 16/2007 sebagai kegiatan Patroli Terkoordinasi antara unsur-unsur Maritim Indonesia dan unsur-unsur Maritim Malaysia telah dapat dilaksanakan sesuai dengan rencana dan berjalan dengan baik. Rapat juga telah menyepakati pelaksanaan Patkor OPTIMA 17/2008 akan dilaksanakan pada 17 November-2 Desember 2008 dengan pembukaan dilaksanakan di Langkawi dan penutupan di Belawan. c. Laporan Pelaksanaan PATKOR KASTIMA 13/2007 Laporan pelaksanaan PATKOR KASTIMA 13/2007 disampaikan oleh Saipullah Nasution, SH., MM (Kepala Bidang Penindakan dan Sarana Operasi Kanwil Khusus DJBC Kepulauan Riau). Secara umum PATKOR KASTIMA 13/2007 telah dapat dilaksanakan dengan lancar dan baik sesuai rencana. Rapat juga mengusulkan dan memutuskan bahwa agar pelaksanaan PATKOR KASTIMA 14/2008 yang akan datang dapat berjalan lebih baik, diusahakan agar pelaksanaannya didukung oleh patroli udara kedua negara. Kedua belah pihak juga telah sepakat bahwa pelaksanaan PATKOR KASTIMA 14/2008 akan dilaksanakan pada tanggal 21 Juni-6 Juli 2008, dengan pembukaan akan dilaksanakan di Johor Bahru (Malaysia) dan penutupan di Tanjung Balai Karimun (Indonesia). Ketua TPOM Bersama juga telah menyepakati dalam rapat tersebut untuk menindaklanjuti arahan / penekanan Ketua bersama Sidang ke-46 COCC Malindo (Coordinated Operations Control Committee Malaysia-Indonesia) yaitu sebagai berikut : l Dalam rangka menindaklanjuti arahan agar TPOM melaksanakan segala kegiatan sesuai jadwal yang telah disepakati bersama, Rapat ke-17 TPOM menjadwalkan operasi PATKOR OPTIMA dan PATKOR KASTIMA secara berkala sesuai saran dan rencana yang telah disepakati bersama. Untuk meminimalisir permasalahan yang mungkin timbul, TPOM juga akan merencanakan secara matang segala kegiatan yang akan dilaksanakan. l Sebagai tindak lanjut atas arahan/penekanan bahwa TPOM agar meningkatkan intensitas patroli dan pertukaran informasi

PERWAKILAN DJBC pada Rapat ke-17 Tim Perancang Operasi aritim (TPOM) Malindo.

guna menekan tindak pelanggaran di perairan perbatasan bersama, rapat juga telah meyepakati : 1. Lebih menekankan kepada unsur Optima dan Kastima agar lebih mengoptimalkan kegiatan patroli keamanan laut, terus saling berkoordinasi serta memberikan informasi; 2. Lebih mengefektifkan unsur-unsur udara untuk memberikan informasi kepada unsur-unsur permukaan air dalam setiap patroli sehingga hasil operasi lebih optimal. 3. Semua unsur penegakan hukum maritim yang bernaung di bawah TPOM akan meneruskan komunikasi dengan “counterpart” masing-masing menggunakan saluran yang tercatat dalam protap untuk pertukaran informasi. 4. Menindaklanjuti arahan agar TPOM segera menguji coba Protap Patkor OPTIMA dan Patkor KASTIMA yang telah tertunda dan melaporkan pada sidang COCC yang akan datang, rapat menyepakati : l Revisi Protap Patkor OPTIMA dan Patkor KASTIMA akan dibuat dalam lembaran tambahan Protap dan pemberlakukannya disahkan sementara oleh Ketua TPOM kedua negara. l Protap Patkor OPTIMA dan Patkor KASTIMA revisi akan diujicobakan pada pelaksanaan Patkor OPTIMA dan Patkor KASTIMA tahun 2008. Di akhir pelaksanaan rapat, masing-masing ketua TPOM dari kedua belah pihak menyampaikan sambutan penutup dan dilanjutkan dengan penandatangan Risalah Rapat ke-17 TPOM Malindo oleh Ketua Bersama TPOM Malindo. Selanjutnya rapat ke-17 TPOM Malaysia-Indonesia ditutup dengan resmi oleh Laksma TNI Sugeng Darmawan.

Asep Ridwan (Kanwil Khusus DJBC Kepulauan Riau)
WARTA BEA CUKAI

EDISI 404 JULI 2008

29

DAERAH KE DAERAH

PENGARAHAN. Direktur P2 Jusuf Indarto ketika melakukan pengarahan didampingi Inspektur Jenderal Departemen Keuangan RI, Permana Agung.

SOSIALISASI DAN PEMBERIAN PENGHARGAAN
DI KANWIL DJBC SUMA TERA UTARA
Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Sumatera Utara pada pertengahan Mei lalu mengadakan beberapa kegiatan seperti sosialisasi dan pengarahan kepada pegawai dan pejabat di lingkungan Kanwil DJBC Sumatera Utara, serta pemberian penghargaan kepada pegawai yang berprestasi.

sampaikan dalam rangka kelancaran pelaksanaan tugas di unit masing-masing. Sosialisasi kemudian dilanjutkan dengan penjelasan singkat dari Bambang Prasodjo, yang menguraikan latar belakang diterbitkannya PP.28 Tahun 2008 yang menggantikan PP.22 Tahun 1996, antara lain yaitu : 1. Dalam praktek kepabeanan internasional, penanganan atas pelanggaran ketentuan kepabeanan lebih dititikberatkan pada penyelesaian secara fiskal yaitu berupa pembayaran sejumlah uang kepada negara dalam bentuk denda. 2. Pengaruh era globalisasi yang menuntut kecepatan dan kelancaran arus barang bagi kemajuan perdagangan internasional 3. Prinsip Undang-undang Kepabeanan yang menganut asas menghitung dan menyetor sendiri bea masuk atau bea keluar yang terutang oleh importir atau eksportir (self assessment) 4. Sanksi administrasi ditujukan untuk memulihkan hak negara dan untuk menjamin ditaatinya aturan yang secara tegas telah diatur dalam ketentuan Undang-undang. Sanksi Administrasi berupa denda dikenakan hanya terhadap pelanggaran yang diatur dalam Undang-undang No.10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan. Sanksi administrasi berupa denda besarnya dinyatakan dalam bentuk : 1. nilai rupiah tertentu 2. nilai rupiah minimum sampai dengan maksimum 3. persentase tertentu dari bea masuk yang seharusnya dibayar 4. persentase tertentu minimum sampai dengan maksimum dari kekurangan pembayaran bea masuk atau bea keluar atau 5. persentase tertentu minimum sampai dengan maksimum dari bea masuk yang seharusnya dibayar. Kemudian, sosialisasi dilanjutkan dengan membahas pasal demi pasal oleh anggota tim yang dimulai oleh Ir. Azis Syamsu Arifin, Kasubdit Perencanaan Audit pada Direktorat Audit DJBC. Pada sesi terakhir diadakan tanya jawab antara peserta dengan tim sosialiasai guna mendapatkan penjelasan yang lebih rinci seputar materi yang disosialisasikan.

S
30

SOSIALISASI PP 28 TAHUN 2008

osialisasi Peraturan Pemerintah Nomor: 28 Tahun 2008 tentang Pengenaan Sanksi Administrasi Berupa Denda Di Bidang Kepabeanan, dilaksanakan pada tanggal 1516 Mei 2008 di Aula Kantor Wilayah (Kanwil) DJBC Sumatera Utara yang diikuti oleh pejabat/pegawai di lingkungan Kanwil DJBC Sumatera Utara dan Kanwil DJBC Nanggroe Aceh Darussalam. Sosialisasi dilaksanakan oleh Tim Kantor Pusat DJBC yaitu Drs. Bambang Prasodjo, Tenaga Pengkaji Bidang Pelayanan dan Penerimaan Kepabeanan dan Cukai selaku ketua tim. Sosialisasi dibuka secara resmi oleh Kepala Kantor Wilayah DJBC Sumatera Utara Drs.Achmad Riyadi, dengan harapan agar semua peserta dapat memahami seluruh materi yang akan diWARTA BEA CUKAI EDISI 404 JULI 2008

FOTO-FOTO : HULMAN SIMBOLON

SOSIALISASI. Diikuti oleh pejabat dan pegawai di lingkungan Kanwil DJBC Sumatera Utara, tampak pada foto kanan dari kanan ke kiri Kakanwil Achmad Riyadi, Ketua Tim Sosialisasi Bambang Prasodjo, dan anggota Azis Syamsu Arifin.

SOSIALISASI PERATURAN DJBC NOMOR P-36/BC/2007
Mengenai Tatalaksana Audit Kepabeanan, Pemeriksaan Lapangan serta Pemasangan Aplikasi Audit dan Pemlap, diadakan sosialisasi pada tanggal 13-14 Mei 2008 di Aula Kanwil DJBC Sumatera Utara yang diikuti oleh pejabat/pegawai Bidang Audit dan Bidang P2. Acara sosialisasi dibuka secara resmi oleh Kepala Kantor Wilayah DJBC Sumatera Utara Achmad Riyadi, yang didahului dengan pengarahan singkat dan meminta kepada kepada seluruh peserta agar mengikuti dengan seksama dengan harapan dalam pelaksanaan Audit Kepabeanan dan Registrasi Importir dapat berjalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku guna mendapatkan hasil yang optimal. Sosialisasi dilanjutkan oleh Tim Direktorat Audit. Azis Syamsu Arifin, Kasubdit Perencanaan Audit selaku ketua tim yang memberikan penjelasan mengenai Tata Laksana Audit Kepabeanan dan Pemeriksaan Lapangan serta Pemasangan Aplikasi Audit dan Pemlap. Dijelaskan bahwa, tujuan audit adalah untuk menguji kepatuhan orang atas pelaksanaan pemenuhan ketentuan perundang-undangan di bidang kepabeanan dan ketentuan perundang- undangan lainnya yang berkaitan dengan kepabeanan yang terdiri dari audit umum,audit khusus dan audit investigasi. Lebih jauh dijelaskan, mengacu kepada Surat Edaran Direk-

tur Jenderal Bea dan Cukai Nomor SE-18/BC/2008 tanggal 25 Maret 2008 tentang Program Audit dan Evaluasi Laporan Hasil Audit adalah untuk menggantikan ketentuan sebelumnya, dengan tujuan : 1. Membantu prosedur pemberitahuan audit dan pemberitahuan Nomor Penugasan Audit (NPA) 2. Membantu Adiminstrasi Pelaksanaan Audit 3. Membantu manajemen sebagai fungsi kontrol (pengawasan) 4. Membantu penyusunan LAKIP 5. Penyediaan Database Audit yang meliputi Sumber Daya Manusia(SDM) dan Auditee. Pada bagian terakhir, dibahas mengenai Registrasi Importir, mengacu kepada Peraturan Menteri Keuangan Nomor:124/PMK. 04/2007 tentang Registrasi Importir dan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor P-34/BC/2007 tentang Tatalaksana Registrasi Importir. Registrasi importir adalah kegiatan pendaftaran yang dilakukan oleh importir ke DJBC untuk mendapatkan Nomor Identitas Kepabeanan (NIK) dan dijelaskan perubahan-perubahan yang terdapat pada ketentuan yang baru antara lain perubahan formulir isian dan perubahan program pemlap. Perubahan pada program pemlap versi 2007 dijelaskan bahwa petugas pemeriksa lapang-

PEMBERIAN PENGHARGAAN. Inspektur Jenderal Depkeu, Permana Agung, bersama Kakanwil Achmad Riyadi, dan Direktur P2 Jusuf Indarto, memberikan penghargaan kepada pegawai yang berprestasi, dan dilanjutkan dengan foto bersama. EDISI 404 JULI 2008 WARTA BEA CUKAI

31

DAERAH KE DAERAH
an bisa mengkoreksi dan memperbaiki seluruh isian berdasarkan data perusahaan yang diperoleh pada saat pemeriksaan lapangan, dengan demikian lembar penelitian lapangan mencerminkan formulir isian registrasi. Tanya jawab dilaksanakan pada saat berlangsungnya sosialisasi terhadap hal-hal yang perlu ditanya dan dijawab secara langsung oleh tim atas pertanyaan yang diajukan dari masing-masing peserta.

PENGARAHAN DAN PENYERAHAN PIAGAM PENGHARGAAN
Bertempat di Aula Kanwil DJBC Sumatera Utara, pada tanggal 16 Mei 2008 Inspektur Jenderal Departemen Keuangan RI Dr. Permana Agung dan Direktur P2 Drs. R.P. Jusuf Indarto memberikan pengarahan kepada pejabat/pegawai di lingkungan Kanwil DJBC Sumatera Utara. Pengarahan dimulai dengan sambutan Kepala Kantor Wilayah DJBC Sumatera Utara Achmad Riyadi sekaligus memberikan pengarahan singkat mengenai tugas dan tanggung jawab Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang semakin berat di masa mendatang baik sebagai aparat pengawas maupun sebagai fungsi pelayanan. Tema pengarahan Direktur P2 adalah “Peranan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Melindungi Masa Depan Bangsa Dengan Memerangi Narkoba (The Fight Against Drugs Trafficking)”. Sebagai salah satu institusi yang bertanggung jawab terhadap lalu lintas barang termasuk barang larangan seperti narkoba, diharapkan Kanwil DJBC Sumatera Utara lebih meningkatkan pengawasan di wilayah kerjanya seoptimal mungkin. Karena, Medan diduga merupakan salah satu bandar udara transit barang larangan masuk ke Indonesia. Untuk itu, Direktur P2 mempunyai rencana ke depan akan menerapkan kebijakan dimana pengawasan dari tingkat pusat akan dikurangi selanjutnya akan diserahkan ke Kantor Wilayah dan Kantor Pengawasan dan Pelayanan untuk optimalsasi pengawasan dan pelayanan, sementara P2 pusat hanya berfungsi sebagai pengambil kebijakan, evaluasi dan konsultasi. Direktur P2 meminta kepada jajaran wilayah agar meningkatkan pengawasan tidak hanya terhadap barang larangan tetapi juga terhadap komoditas tertentu seperti Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Crude Palm Oil (CPO) yang akhir-akhir ini menjadi kritikan masyarakat. Selanjutnya, pengarahan oleh Inspektur Jenderal Departemen Keuangan RI mengenai masalah Sumber Daya Manusia (SDM) dengan memberikan dorongan atau motivasi kepada seluruh pegawai agar mempunyai semangat yang tinggi dalam bekerja dan menjaga perilaku (behavior) karena tugasnya menyangkut masalah pajak dan bea cukai yang selalu menjadi titik kritik dari masyarakat. Irjen meminta kepada seluruh pegawai mulai dari level paling tinggi sampai level paling rendah agar menciptakan lingkungan (environment) yang dapat menghasilkan aparat yang diharapkan untuk masa mendatang. Tanpa lingkungan yang memadai tidak akan mungkin dapat menghasilkan pegawai yang dapat bekerja seoptimal mungkin dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Karena itu, harus diciptakan lingkungan kerja yang dapat menjadi panutan bagi semua pegawai baik menyangkut masalah teknis pekerjaan maupun masalah perilaku dari masing-masing pegawai. Jika lingkungan pekerjaan sudah dapat memberikan contoh yang baik kemungkinan seluruh pegawai dengan sendirinya akan menyesuaikan kepada lingkungannya. Pada akhir acara, diberikan penghargaan kepada 9 (sembilan) orang pegawai yang berprestasi luar biasa yaitu dalam Penggagalan Penyelundupan Narkotika jenis Heroin seberat 3,3 Kg di Terminal Penumpang Pelabuhan Belawan pada tanggal 17 Februari 2008 sesuai dengan Keputusan Kepala Kantor Wilayah Nomor: KEP-130/EBC.02/2008 tanggal 15 Mei 2008. Penyerahan piagam penghargaan diberikan langsung oleh Inspektur Jenderal Departemen Keuangan Permana Agung didampingi oleh Direktur P2 R.P. Jusuf Indarto dan Kepala Kantor Wilayah DJBC Sumatera Utara Achmad Riyadi, dan selanjutnya ucapan selamat serta foto bersama.

LATSAR NIPAH I/2008
Sebuah tabrakan terjadi antara kapal tanker dan kapal tug boat. Sekitar 33 orang awak kapal tanker yang terbakar, menjadi korban dan berjatuhan ke laut dan berteriak meminta tolong di sekitar perairan Pulau Nipah, pada jumat pagi, 2 Mei 2008. Tabrakan juga mengakibatkan terjadinya tumpahan minyak di laut serta terjadi kebakaran. Selang beberapa menit kemudian dua buah kapal NOMAD P-22 milik TNI AL melintas dan berputar-putar di atas kapal tanker (passing formasi). Kemudian pilot pesawat menginformasikan ke Kantor SAR Tanjung Pinang mengenai terjadinya kecelakaan dimaksud.

BC-8006 IKUT AMBIL BAGIAN DALAM

S

etelah menerima laporan, KANTOR SAR Tanjung Pinang kemudian melakukan koordinasi dan mengerahkan bantuan berupa unsur-unsur laut yang terdiri dari Kapal SAR, Kapal Patroli Bea dan Cukai, TNI AL, Polairud Polda Kepulauan Riau dan dua unit helikopter SAR dan TNI AL dari LANTAMAL Tanjung Pinang. Evakuasi korban dimulai dengan Helikopter SAR menjatuhkan tiga orang rescuer dengan free jump, dan kapal SAROTAMA melakukan dropping dua buah liferaft terhadap empat orang korban yang berada jauh dari lokasi kejadian karena terbawa arus laut yang deras. Tiga menit kemudian datang regu penolong dari unsur laut yang di dalamnya terdapat satu kapal patroli Bea dan Cukai BC-8006 untuk menyelamatkan korban. Pada saat yang sama helikopter TNI AL melakukan rescue net sehingga seluruh korban dapat dievakuasi dan dibawa ke posisi yang aman. Api
FOTO-FOTO : DOK.TBK

Hulman Simbolon, Koresponden Kanwil DJBC Sumatera Utara
EDISI 404 JULI 2008

HELIKOPTER MILIK BASARNAS, SEDANG MENURUNKAN RESCUER (FREE JUMPING) yang melakukan evakuasi terhadap korban yang jatuh ke laut.

32

WARTA BEA CUKAI

tetap berkobar, kapal SAROTAMA melakukan pemadaman api yang dilakukan secara simultan, akhirnya api dapat dikuasai. Selanjutnya tug boat TC Sumber Power menarik oil bomb untuk melokalisir tumpahan minyak. Akhirnya insiden dapat ditanggulangi dan dapat dikendalikan. Kejadian di atas bukanlah kejadian yang sesungguhnya. Kejadian tersebut merupakan rangkaian simulasi LATSAR NIPAH I Tahun 2008. Latihan ini diikuti oleh enam kantor SAR se-Sumatera ini disaksikan oleh KABASARNAS (Laksamana Muda TNI Bambang Karnoyudho), Gubernur Kepri Ismeth Abdullah, Dan LANTAMAL - IV Laksma TNI Marsetio, Dan GUSKAMLA Laksma TNI S. Darmawan, Kapolda Kepri Brigjen Polisi Sutarman, Kakanwil DJBC Khusus Kepulauan Riau yang diwakili oleh Kepala Bidang Penindakan dan Sarana Operasi, Saipullah Nasution, SH., MM, serta instansi lainnya di Propinsi Kepulauan Riau. Latihan ini memiliki nilai yang sangat strategis bagi bangsa Indonesia. Selain untuk memudahkan koordinasi antar instansi dan antar kantor SAR, latihan SAR I/2008 di Pulau Nipah ini merupakan suatu upaya yang bertujuan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan seperti bila terjadi kecelakaan sebenarnya, dapat mengevakuasi korban, menanggulangi pencemaran laut mengingat perairan Pulau Nipah (selat Philip) yang berbatasan dengan Singapura merupakan jalur tersibuk di dunia dimana terdapat sekitar 250 kapal tanker yang melewati selat ini setiap hari. Pulau Nipah merupakan gugusan pulau terluar yang berbatasan langsung dengan negara tetangga yaitu Singapura di sebelah utara. Luas pulau yang terletak 4,8 mil barat laut Pulau Batam atau 5,0 mil arah barat daya Singapura, hanya seluas 2 hektar. Beberapa tahun ke belakang Pulau Nipah merupakan pulau yang hampir tenggelam, akibat dari reklamasi pantai yang dilakukan oleh negara tetangga. Mengingat nilai yang sangat strategis bagi kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka pulau Nipah dibangun dan dilakukan penimbunan sehingga saat ini Pulau Nipah sudah menjadi pulau yang tetap utuh dan terus dilakukan pembangunan, dimana saat ini sudah dibangun Pos pengawasan TNI Angkatan Laut. Dengan demikian Latihan SAR Nipah I/2008 juga sekaligus menunjukan bahwa pulau tersebut masih dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dalam latihan itu, armada laut Bea dan Cukai Kanwil Khusus Kepulauan Riau, ikut ambil bagian dengan mengikutsertakan Kapal Patroli Cepat Bea dan Cukai BC-8006 berdasarkan Surat Perintah Patroli nomor PRIN-237/WBC.04/BD.03/2008 tanggal 29 April 2008 serta Surat Perintah Berlayar nomor 157/T.OPP/2008 tanggal 29 April 2008, dengan Komandan Patroli Asep Ridwan, Nakhoda Capt. Abdul Manaf. Dalam Latihan tersebut semua crew kapal bahu membahu

PERSONEL BC-8006 SEDANG MELAKUKAN EVAKUASI terhadap korban yang tercebur ke laut pada LATSAR Nipah I/2008.

ikut serta dalam operasi penyelamatan dan berhasil ikut serta mensukseskan LATSAR NIPAH I/2008. Bagi Bea dan Cukai latihan ini sangat penting mengingat armada laut Bea dan Cukai merupakan salah satu unsur laut SAR Nasional dan dalam rangka meningkatkan kemampuan, ketangkasan dan keahlian pegawai Bea dan Cukai dalam melaksanakan evakuasi korban apabila terjadi kecelakaan yang sesungguhnya.

Kiriman : Asep Ridwan, SH, MH./ Kanwil DJBC Khusus Kepulauan Riau

PERSONEL BC-8006, berpose sesaat setelah mengikuti LATSAR Nipah I/2008, di anjungan Kapal Patroli Cepat BC-8006 di depan Perairan Pulau Nipah. EDISI 404 JULI 2008 WARTA BEA CUKAI

33

DAERAH KE DAERAH

SOSIALISASI
PP NO.28 Tahun 2008 DI BALIKPAPAN
Dalam rangka memberikan kepastian hukum kepada para pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) dalam melaksanakan ketentuan pengenaan sanksi administrasi kepabeanan, maka diundangkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 tahun 2008 tentang Pengenaan Sanksi Administrasi berupa Denda di bidang Kepabeanan pada tanggal 11 April 2008.

FOTO-FOTO : MUQSITH HAMIDI

S

ebagaimana Undang-undang Nomor 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan yang telah diubah dengan Undang-undang Nomor 17 tahun 2006, perlu dilakukan pula penyesuaian terhadap ketentuan pengenaan sanksi administrasi yang sebelumnya diatur dalam PP Nomor 22 Tahun 1996 tentang Pengenaan Sanksi Administrasi Kepabeanan, karena pada praktek kepabeanan internasional, penanganan atas pelanggaran ketentuan kepabeanan lebih dititikberatkan pada penyelesaian secara fiskal yaitu berupa pembayaran sejumlah uang kepada negara dalam bentuk denda. Tindak lanjut dari adanya PP Nomor 28 tahun 2008 tersebut maka diselenggarakan sosialisasi untuk para pejabat/pegawai di lingkungan DJBC baik di Kantor Pusat maupun Kantor Wilayah serta KPPBC yang berada di daerah sesuai Surat Direktur Penerimaan dan Peraturan Kepabeanan dan Cukai (PPKC) Nomor: S-202/BC.8/2008 tanggal 9 Mei 2008. Sesuai yang telah dijadwalkan dalam surat tersebut pula di Balikpapan sendiri, sosialisasi dilaksanakan pada hari Kamis dan Jumat tanggal 22-23 Mei 2008 bertempat di Aula Kantor Wilayah DJBC Kalimantan Bagian Timur. Acara sosialisasi tepat dilaksanakan pada pukul 08.30 WITA dengan dihadiri oleh Tim Sosialisasi PP No.28 tahun 2008 dari KP DJBC yang diketuai oleh Tenaga Pengkaji Bidang Pelayanan dan Penerimaan Kepabeanan dan Cukai Bambang Prasodjo, bersama 4 (empat) anggota lainnya yakni: Ferry Surfiyanto (Kasi Perbendaharaan KPPBC Tipe A4 Jayapura); I Nyoman P. Chandra (Pj. Kasi KITE I KWBC Maluku, Papua, Irjabar); Awan Jogyantoro (Pj. Kasi KITE I KWBC Sulawesi) dan Sri Karyono (Pelaksana Direktorat PPKC) serta sebagai tuan rumah Kepala Kantor Wilayah DJBC Kalimantan Bagian Timur, Nasir Adenan bersama segenap jajaran pejabat eselon III, IV dan pelaksana di lingkungan Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur yang merupakan perwakilan masing-masing kantor untuk mengikuti acara sosialisasi ini. Acara dibuka oleh moderator M. Agus Setyabudi (Auditor KWBC Kalimantan Bagian Timur) dengan mempersilahkan Kakanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur Nasir Adenan, untuk memberikan sambutannya perihal sosialisasi yang dilangsungkan. Dalam sambutannya, Kakanwil menyambut hangat akan adanya Peraturan Pemerintah yang baru mengenai Sanksi Administrasi yang menurutnya lebih tegas dalam melindungi hak-hak negara sehingga menjamin untuk ditaatinya peraturan tersebut. Sudah barang tentu harapan ke depannya dengan penyempurnaan Peraturan Pemerintah ini, DJBC dapat menunjukkan kepada Pemerintah khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada para pengguna jasa sesuai reformasi birokrasi yang sudah berjalan saat ini. Berbagai upaya perubahan menjadi lebih baik pun merupakan wujud keseriusan DJBC dalam reformasi birokrasi yang telah dicanangkan.
WARTA BEA CUKAI EDISI 404 JULI 2008

SEKRETARIS DJBC Kamil Sjoeib, menyampaikan sambutannya ketika menghadiri acara sosialisasi.

Kemudian dilanjutkan sambutan oleh Ketua Tim Sosialisasi, Bambang Prasodjo yang menjelaskan secara garis besar bahwa materi yang akan dibahas tidak hanya PP Nomor 28 tahun 2008 tentang Sanksi Administrasi saja melainkan juga akan membahas Rancangan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai mengenai Ekspor serta Petunjuk Pelaksanaan mengenai Impor Sementara dan Vooruitslag (jaminan-red.).

SANKSI ADMINISTRASI
Seperti yang telah disinggung sebelumnya bahwa latar belakang pengenaan sanksi administrasi dalam praktek kepabeanan internasional dewasa ini, penanganan atas pelanggaran ketentuan kepabeanan lebih dititikberatkan pada penyelesaian fiskal yakni berupa pembayaran sejumlah uang kepada negara berupa denda sehingga peraturan kepabeanan tidak menjadi penghalang bagi perkembangan perdagangan di era globalisasi saat ini yang menuntut kecepatan dan kelancaran arus barang demi kemajuan perdagangan internasional. Hal ini telah diselaraskan sesuai persetujuan dalam konvensi internasional di bidang kepabeanan dan perdagangan bahwa pelanggaran yang tidak bersifat serius dapat diselesaikan dengan pengenaan sanksi administrasi. Kemudian sistem self assessment yang dianut dalam Undangundang Kepabeanan yakni asas yang memberikan kepercayaan kepada importir maupun eksportir untuk menghitung dan menyetorkan sendiri bea masuk atau bea keluar harus diimbangi dengan tanggung jawab, kejujuran dan kepatuhan dalam pemenuhan ketentuan undang-undang yang berlaku sehingga penyalahgunaan wewenang berupa pelanggaran telah diatur pengenaan sanksi administrasinya. Untuk selanjutnya penerapan sanksi administrasi yang merupakan sarana fiskal tadi harus dilaksanakan secara efektif dan efisien serta memenuhi kriteria transparan untuk mencegah terjadinya ketidakpastian dalam penetapan sanksi administrasi yang dimaksud. Selain adanya perubahan nilai sanksi administrasi (denda-red.) dalam PP Nomor 28 tahun 2008 ini juga diatur pengenaan denda yang tidak diatur sebelumnya dalam PP Nomor 22 tahun 1996. Pengelompokkan sanksi administrasi sesuai PP Nomor 28 tahun 2008 meliputi : a. Nilai Rupiah tertentu Adalah sanksi denda yang dikenakan dalam besaran nilai rupiah tertentu sebagaimana tersebut dalam Undang-undang

34

Pabean. Contohnya: Mengeluarkan barang impor dari kawasan pabean tanpa persetujuan Pejabat Bea Cukai dikenai denda sebesar Rp. 25 juta. b. Nilai Rupiah Minimum sampai dengan Maksimum Ditetapkan secara berjenjang apabila dalam 6 (enam) bulan terakhir di satu Kantor Pabean tempat dilakukan pemenuhan kewajiban pabean terjadi : l 1 (satu) kali pelanggaran maka dikenai denda sebesar 1 (satu) kali denda minimum. l 2 (dua) kali pelanggaran, denda sebesar 2 (dua) kali denda minimum. l 3 (tiga) sampai 4 (empat) kali, denda sebesar 5 (lima) kali denda minimum. l 5 (lima) sampai 6 (enam) kali, denda 7 (tujuh) kali denda minimum. l Lebih dari 6 (enam) maka denda sebesar 1 (satu) kali denda maksimum. Besarnya nilai denda minimum dan maksimum telah jelas tertulis dalam PP Nomor 28 tahun 2008 dan berbeda-beda sesuai jenis pelanggaran yang dilakukan. Contoh: Pengangkut tidak memberitahukan Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut (RKSP) dikenai denda minimum Rp. 5 juta dan maksimum Rp. 50 juta. c. Persentase tertentu dari Bea Masuk (BM) yang seharusnya dibayar Dihitung dari hasil perkalian persentase denda yang diberikan dengan BM yang seharusnya dibayar. Contoh: Importir terlambat mengekspor kembali barang impor sementara dalam jangka waktu yang diijinkan dikenai denda sebesar 100% dari BM yang seharusnya dibayar. d. Persentase tertentu Minimum sampai dengan Maksimum dari Kekurangan Pembayaran Bea Masuk (BM) atau Bea Keluar (BK). Ketentuan Pengenaan : l Apabila Kekurangan Pembayaran Bea Masuk atau Bea Keluar sampai dengan 25% dari BM dan BK yang telah dibayar maka dikenai denda sebesar 100% dari kekurangan pembayarannya. l Apabila diantara 25% - 50% dikenai denda sebesar 200% dari kekurangan pembayarannya. l Diantara 50% - 75% dikenai denda sebesar 400% dari kekurangan pembayarannya. l Diantara 75% - 100% dikenai denda sebesar 700% dari kekurangan pembayarannya.

l

Dan apabila sampai dengan 100% dikenai denda sebesar 1000% atau 10 (sepuluh) kali lipat dari kekurangan pembayarannya.

Contoh : Importir yang salah memberitahukan nilai pabean yang mengakibatkan kekurangan pembayaran BM dikenai denda seperti ketentuan pengenaan di atas. e. Persentase tertentu Minimum sampai dengan Maksimum dari Bea Masuk yang seharusnya dibayar. Ketentuan Pengenaan : l Apabila kekurangan pembayaran BM sampai dengan 20% dari BM yang seharusnya dibayar maka dikenai denda sebesar 100% dari BM yang seharusnya dibayar tersebut. l Apabila diantara 20% - 40% dikenai denda sebesar 200% dari BM yang seharusnya dibayar. l Diantara 40% - 60% dikenai denda sebesar 300% dari BM yang seharusnya dibayar. l Diantara 60% - 80% dikenai denda sebesar 400% dari BM yang seharusnya dibayar. l Dan apabila diantara 80% - 100% dikenai denda sebesar 500% dari BM yang seharusnya dibayar. Contoh: Orang yang tidak memenuhi ketentuan Pembebasan dan Keringanan BM yang ditetapkan undang-undang dikenai denda paling sedikit 100% dan paling banyak 500% dari BM yang seharusnya dibayar. Selain tentang Sanksi Administrasi yang disosialisasikan dalam acara pertemuan tersebut, juga disosialisasikan Rancangan Peraturan Dirjen Bea dan Cukai mengenai Impor Sementara, Ekspor dan Pengeluaran Barang Impor dengan Jaminan (Vooruitslag) untuk menyempurnakan peraturan sebelumnya sehingga dapat mengamankan hak-hak negara dalam konteks penerimaan. Acara yang berlangsung 2 (dua) hari itu juga dihadiri Sekretaris Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Kamil Sjoeib yang kebetulan sedang berkunjung ke Balikpapan. Didampingi Kakanwil, Nasir Adenan, Sekretaris menyampaikan sambutan yang memotivasi pegawai bea cukai di lingkungan Kantor Wilayah DJBC Kalimantan Bagian Timur untuk bekerja sesuai prosedur karena semua telah diatur dalam peraturan yang berlaku, baik itu Undang-undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri Keuangan maupun Peraturan Dirjen Bea dan Cukai. Pada akhirnya, acara kemudian ditutup langsung oleh Kakanwil dengan mengucap syukur karena acara berlangsung sukses dan lancar. muQsith Hamidi, Balikpapan

SOSIALISASI PP NO.28 TAHUN 2008. Dibuka langsung oleh Kakanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur, Nasir Adenan didampingi Ketua Tim Sosialisasi, Bambang Prasodjo.

SUASANA SOSIALISASI. Berlangsung sukses dan lancar dengan feed back yang bagus karena peserta sosialisasi aktif memberikan pertanyaan kepada Tim Sosialisasi. EDISI 404 JULI 2008 WARTA BEA CUKAI

35

DAERAH KE DAERAH
Rombongan melalui berbagai jenis jalan. Jalan yang dilalui sangat sempit untuk mengisi dua mobil pada dua jalur yang berpapasan. Ada jalan yang berbelok-belok. Ada yang lurus namun berlubang. Bahkan di Gunung Mendering banyak belokan naik turun dan tikungan sempit yang memaksa harus langsung menanjakkan kendaraan sesaat setelah berbelok ke kiri atau ke kanan padahal di samping adalah jurang. Jagoi Babang merupakan sebuah kecamatan yang dikelilingi hutan. Berbatasan langsung dengan Serikin-Malaysia. Hampir semua fasilitas perkantoran di border sebenarnya sudah siap sedia termasuk CIQ (Customs, Imigration, Quarantine). Kantor bantu Jagoi Babang pun sekarang fungsinya sudah berubah menjadi Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai. Rehabilitasi kantor sudah dilakukan. Perumahan dinas sebanyak 8 (delapan) unit untuk pegawai sudah dimiliki. Kendaraan operasional sudah ada. Petugas bea cukai sebanyak 11 orang pun sudah siap melakukan pengawasan dan pelayanan. Pemerintah daerah juga sudah membangun kantor terpadu lintas batas walau masih belum ada yang menghuni. Hanya saja perbatasan belum resmi dibuka oleh kedua negara. Di perbatasan Jagoi Babang tidak ada hiburan yang begitu berarti. Sejauh mata memandang hanya pohon-pohon tinggi yang terlihat (hutan-red). Para pegawai hanya bisa terhibur oleh sebuah televisi yang dibantu parabola atau dengan bersenda gurau menghabiskan waktu. Akses ke luar melalui handphone pun masih terhambat. Ada cara unik untuk mendapatkan sinyal, handphone harus diikatkan di atas langitlangit bangunan kantor atau handphone dibawa ke daerah/daratan rendah. Sinyal malah tidak bisa didapat pada saat berada di daerah tinggi. Aneh juga memang. Hewan liar yang ada di sana sudah jarang terlihat lagi. “Biasanya dulu banyak anaconda (ular). Waktu dulu kumandah di Jagoi, saya pernah lihat anaconda sepanjang lima meteran ketika saya dan teman mencari durian pada malam hari di hutan,” ungkap Satrio Wibowo, eks pegawai KPPBC Sintete yang samasama ikut kunjungan. KPPBC Jagoi Babang sudah memiliki anggaran sendiri. Kebutuhan operasional sudah bisa dipenuhi namun terhambat dalam proses pencairan anggaran. Bayangkan saja, butuh setengah hari untuk menuju Kantor Perbendaharaan hanya untuk mengajukan sebuah Surat Perintah Membayar (SPM) karena pencairan anggaran KPPBC Jagoi Babang hanya bisa dicairkan di KPPN Singkawang. Itupun kalau SPM yang diajukan tidak ada kesalahan. Coba kalau ada kesalahan catat, kekurangan data atau softcopy/database SPM tidak bisa diterima oleh progam yang ada di KPPN. Jadi butuh berapa hari mondar-mandir ke KPPN ?

GEDUNG Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai (KPPBC) Tipe B Jagoi Babang tampak dari depan

DI BORDER JAGOI BABANG

DINAMIKA

D

Pada tanggal 5 - 9 Mei 2008, tim dari Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Barat melakukan kunjungan kerja ke KPPBC Sintete dan perbatasan Jagoi Babang.

ari kunjungan di Sintete, rombongan kemudian memulai perjalanan dari kota Singkawang menuju Jagoi Babang. Waktu yang mampu ditempuh kendaraan roda empat dengan kecepatan rata-rata 4080 km/jam adalah 6 hingga 6,5 jam. Rute perjalanan mulai dari Singkawang-Gunung Mendering-BengkayangSanggau Ledo dan berakhir di Jagoi Babang.
FOTO-FOTO: IAN HERMAAN

Ian Hermawan, Koresponden Wilayah Pontianak

PERBATASAN. Penulis berada di Batas 0 (garis netral) antara dua negara Malaysia-Indonesia.

SINYAL. Handphone (kanan atas) yang digantung di langit-langit bangunan saat mencari sinyal

36

WARTA BEA CUKAI

EDISI 404 JULI 2008

MITRA
WBC/ATS WBC/KY

SPANDUK penghematan energi di Kantor Pusat DJBC.

BIBIT POHON. Dalam peluncuran kampanye DHL Go Green Express diserahkan bibit pohon kepada perwakilan dari media, Walhi, dan karyawan DHL. Tampak David Ng (kiri), Selamet Daroyni (tengah), dan Edi Prayitno (kanan).

AKSI KORPORASI PEDULI LINGKUNGAN
Persoalan lingkungan hidup dunia yang ditandai dengan isu menghangatnya suhu bumi akibat pemanasan global, atau lebih dikenal dengan istilah global warming, telah membuat banyak pihak melakukan aksi membangun kesadaran untuk peduli pada lingkungan untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan akibat pemanasan global. Melalui gerakan penghematan energi misalnya, upaya yang bisa dilakukan secara sederhana ini terus dipromosikan oleh organisasi, industri, korporasi, serta pemerintah.
Untuk mengatasi akibat yang ditimbulkan, DHL berkomitmen melakukan sejumlah inisiatif yang bertujuan mengurangi dampak terhadap lingkungan hidup melalui kampanye DHL Go Green Express. Senior Technical Advisor, PT Birotika Semesta/DHL Express, David Ng mengatakan, buat kalangan internal, “Tujuan kampanye ini adalah memberikan edukasi yang lebih baik bagi seluruh karyawan kami dan mendorong tumbuhnya perilaku yang lebih ramah lingkungan di tempat kerja sekaligus meningkatkan tanggung jawab dan partisipasi sebagai bagian dari solusi untuk memecahkan masalah perubahan iklim global”. DHL melakukan kampanye edukasi bagi lingkungan internal dengan mendorong para karyawannya melakukan berbagai kegiatan dari yang sederhana seperti penghematan pemakaian kertas, air, dan listrik di ruangan. Selain itu, bekerja sama dengan WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia), organisasi non-pemerintah untuk lingkungan hidup, DHL akan membantu merehabilitasi hutan bakau yang ada di Jakarta. Untuk itu, pada 10 Agustus mendatang karyawan DHL Express Indonesia berencana menanam lebih dari 1500 bibit pohon bakau di Muara Angke, Jakarta Utara. Direktur Eksekutif Walhi, Selamet Daroyni, yang ikut hadir dalam peluncuran kampanye DHL Go Green Express mengatakan, sekalipun kerjasama Walhi dan DHL tidak dituangkan dalam bentuk perjanjian atau nota kesepahaman, namun siapapun yang melakukan aksi untuk peduli lingkungan hidup harus didukung. Yang perlu ditekankan adalah, jangan sampai ada perusahaan yang karena terpaksa menimbulkan kesan seolah-olah peduli pada lingkungan hidup tapi tidak membuat perubahan sama sekali, ataupun tidak konsisten dalam gerakannya. Selamet juga menjelaskan, setiap individu bisa membantu lingkungan dengan menerapkan prinsip 4 R dalam kehidupan sehari-hari, yaitu Reduce (mengurangi), Re-use (gunakan kembali), Recycle (daur ulang), dan Refuse (menolak yang tidak perlu) dalam menggunakan produk. Dalam prakteknya, “Hemat energi, matikan lampu bila tidak perlu, hemat air, ubah gaya hidup, pilih alat transportasi yang ramah lingkungan, dan stop smoking,” ujarnya. ky
EDISI 404 JULI 2008 WARTA BEA CUKAI

D

irektorat Jenderal Bea dan Cukai telah memulai program penghematan energi khususnya di lingkungan kantor pusat dengan mewajibkan para pegawainya melakukan langkah-langkah seperti penghematan penggunaan bahan bakar mobil dinas, penggunaan kertas kertas tidak berlebihan, serta mematikan aliran listrik di ruangan dan mematikan kran air bila tidak diperlukan di lingkungan kerja masing-masing. Di pihak swasta, kesadaran untuk menjalankan bisnis yang ramah lingkungan terus berkembang secara pesat. DHL Express Indonesia, sebagai penyedia layanan ekspres dan logistik, pada 5 Juni lalu di Jakarta, bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Dunia, meluncurkan kampanye DHL Go Green Express, yang merupakan bagian dari kampanye global DHL . National Marketing Manager PT Birotika Semesta/DHL Express, Edi Prayitno, ketika memimpin peluncuran kampanye yang dihadiri kalangan media serta karyawan DHL mengatakan, industri ekspres dan logistik dunia dimana DHL merupakan salah satu pemainnya, menyumbangkan emisi karbon yang cukup besar hingga 14%, seperti dari penggunaan kendaraan mulai dari pesawat hingga kendaraan darat.

37

SEPUTAR BEACUKAI
FOTO : KIRIMAN

JAKARTA. Direktur Jenderal Bea dan Cukai Anwar Suprijadi didampingi Direktur Teknis Kepabeanan Agung Kuswandono dan Kepala Kantor Wilayah DJBC Jakarta Heru Santoso pada 10 Juni 2008 melakukan kunjungan kerja ke KPPBC Kantor Pos Pasar Baru. Kunjungan yang disambut oleh seluruh jajaran KPPBC Kantor Pos Pasar Baru ini, dimaksudkan untuk melihat dan menyaksikan langsung proses kedatangan dan pengeluaran paket pos melalui Kantor Pos. Regulasi dan prosedur yang ada dan berlaku saat ini perlu dilakukan perubahan sehingga dapat memberikan pelayanan yang lebih maksimal dan pengawasan lalulintas paket pos yang lebih efektif. Pada kunjungan itu Direktur Jenderal juga menyampaikan rasa terimakasih-nya atas keberhasilan pegawai KPPBC Kantor Pos Pasar Baru yang telah berhasil menegah barang jenis psikotropika yakni ketamin. Kiriman KPPBC Kantor Pos Pasar Baru
WBC/ATS

JAKARTA. Mulai 26 Mei 2008, 60 pegawai Bea Cukai dilingkungan KP-DJBC mengikuti pendidikan DTSD Kepabeanan dan Cukai angkatan I tahun anggaran 2008 di Pusdiklat Bea dan Cukai. Dalam diklat dengan masa belajar selama 588 jam latihan ini, antara lain diisi kegiatan orientasi fisik selama dua minggu (96 jam latihan) yaitu Peraturan Baris Berbaris (PBB), Tata Upacara Militer (TUM) dan Peraturan Umum Dinas Dalam (PUDD). Orientasi ini dibimbing dan dilatih Kopassus seperti tampak pada gambar kiri, sedangkan pada gambar kanan seluruh peserta DTSD foto bersama dengan para pelatih.
WBC/ATS

JAKARTA. Pusdiklat Bea dan Cukai Jakarta menyelenggarakan Diklat Teknis Cukai khusus untuk pegawai Inspektorat Jenderal Departemen Keuangan tahun anggaran 2008. Diklat yang dilaksanakan mulai 2 Juni 2008 ini dimaksudkan untuk memberikan bekal pengetahuan, keterampilan dan sikap kepada pegawai Inspektorat Jenderal Departemen Keuangan dalam rangka pelaksanaan tugas pemeriksaan/inspeksi di bidang cukai. Diklat berlangsung selama 44 jam latihan dengan materi tentang Undang – Undang Cukai (UU No. 39/2007), Teknis Cukai, dan Kewenangan Pegawai DJBC di Bidang Cukai serta evaluasi selama belajar. Diklat yang diikuti 28 pegawai, dibuka oleh Kepala Inspektorat Jenderal Departemen Keuangan Permana Agung, ditandai dengan penyematan tanda peserta yang dihadiri pejabat dilingkungan Inspektorat Jenderal, pejabat Pusdiklat Bea dan Cukai dan para pengajar.
WBC/ATS

JAKARTA. Direktorat P2 KP-DJBC untuk yang kedua kalinya menyelenggarakan Sosialisasi Identifikasi CPO dan Produk Turunannya di Aula Loka Muda gedung B lantai 5 pada 26 Mei 2008. Sosialisasi yang dipaparkan oleh beberapa pejabat dari PT. Sucofindo dan diikuti 42 pegawai Bea dan Cukai dari seluruh Indonesia, dibuka oleh Direktur P2 Jusuf Indarto didampingi beberapa pejabat eselon III yakni Kasubdit Sarana Operasi Ahmad Budiyanto, Kasubdit Intelijen Maman Anurahman dan Kepala Kepegawaian KP-DJBC Azhar Rasyidi, serta beberapa pejabat eselon IV. Tampak pada gambar kiri, usai pembukaan acara dilanjutkan foto bersama dengan para peserta sosialisasi. Dan gambar kanan, Kasubdit Sarana Operasi Ahmad Budiyanto pada 29 Mei 2008 melakukan pelepasan tanda peserta dan penyerahan sertifikat kepada salah satu perwakilan perserta dalam acara penutupan Sosialisasi Identifikasi CPO dan ProdukTurunannya yang telah berjalan selama empat hari.

38

WARTA BEA CUKAI

EDISI 404 JULI 2008

FOTO : KIRIMAN

FOTO : KIRIMAN

SEMARANG. Kantor Wilayah DJBC Jawa Tengah dan Daerah Ibukota Yogyakarta pada 25 April 2008 menyelenggarakan Eksebisi Futsal dan Badminton antara Kantor Wilayah DJBC Jawa Tengah dan DIY dengan KPPBC Cilacap yang diselenggarakan di Semarang. Pertandingan dua hari ini diadakan di Stadion Radja Futsal pada Jumat pukul 19.00 dan untuk badminton di Aula Kanwil pada hari Sabtu pukul 08.00. Kanwil DJBC Jawa Tengah dan DIY
WBC/ATS

BONTANG. Dalam rangka menindaklanjuti Surat Edaran Direktur Jenderal Bea dan Cukai No. SE-22/BC/2008 tangal 15 Mei 2008 tentang Apel Tanggal 17 di lingkungan DJBC, pelaksanaan tersebut juga dilakukan di KPPBC Bontang. Tampak dalam gambar Aries Widjanarko, S.H., Kepala Subbagian Umum KPPBC Bontang selaku pejabat yang bertugas memimpin apel sedang memberikan amanat kepada seluruh pejabat dan pegawai yang hadir dengan materi antara lain masalah penegakan disiplin dan kode etik serta pentingnya melaksanakan penghematan sumber daya listrik, air dan telepon dalam rangka pengetatan anggaran. Kiriman Agus Cahyono - KPPBC Bontang
FOTO : DONNY ERIYANTO

JAKARTA. Keluarga Besar Direktorat Jenderal Anggaran Departemen Keuangan RI kehilangan seorang putra terbaiknya, yaitu Dirjen Anggaran Achmad Rochjadi yang telah berpulang ke racmatullah pada 17 Juni 2008 pukul 14.30 WIB di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta setelah sebelumnya terkena serangan jantung. Almarhum disemayamkan dirumah duka jalan Kenali Asam, Komplek Pertamina Rawamangun, Jakarta Timur, dan dimakamkan di TPU Pondok Kelapa, Jakarta Timur. Sebelum dimakamkan dilakukan penyerahan tanda pelepasan oleh keluarga kepada Departemen Keuangan yang dalam hal ini diterima oleh Sekretaris Jenderal Departemen Keuangan Mulia Nasution disaksikan Wakil Presiden RI. M. Jusuf Kalla yang hadir dirumah duka. Almarhum yang lahir di Bandung 1952 meninggalkan seorang istri Olis Rosmawati, dua anak dan seorang cucu.

MAKASSAR. Seiring dengan berlakunya Keputusan Dirjen Bea Cukai Nomor P-36/BC/2007, Kanwil DJBC Sulawesi mengadakan acara sosialisasi Tatalaksana Audit Kepabeanan dan Pemeriksaan Lapangan serta Pemasangan aplikasi audit dan Pemlap pada tanggal 27 Mei 2008.Bertempat di aula Kanwil DJBC Sulawesi, acara ini dibuka langsung oleh Kakanwil DJBC Sulawesi, Teguh Indrayana dan dihadiri para pejabat eselon III dan IV, termasuk para kepala KPPBC di lingkungan Kanwil DJBC Sulawesi serta para auditor. Tampil sebagai narasumber adalah Azis Syamsu Arifin (Kasubdit Perencanaan Audit), Mudji Rahardjo (Kasi Pelaksanaan Audit Impor KP DJBC)dan Martha Octavia (Kasi Perencanaan Audit KP DJBC). Don’s, Makassar
FOTO : KIRIMAN

MEDAN. Bertempat di Aula BPIB Medan diselenggarakan Sosialisasi Teknik Pengambilan Contoh Uji Laboratorium dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pada 9 April 2008. Sosialisasi diikuti 99 peserta dibuka oleh Kakanwil DJBC Sumatera Utara Drs. Achmad Riyadi, dan ditutup oleh Kepala BPIB Medan Ir. Ronny Rosfyandi M.A. Pejabat yang hadir terdiri dari jajaran eselon III yang ada di Kanwil DJBC Sumatera Utara, serta para pelaksana pemeriksa yang datang dari Kanwil DJBC Sumatera Utara, KPPBC Belawan, KPPBC Medan, KPPBC Pematang Siantar, KPPBC Teluk Nibung, KPPBC Pangkalan Susu, KPPBC Sibolga, KPPBC Kuala Tanjung. BPIB DJBC Medan

EDISI 404 JULI 2008

WARTA BEA CUKAI

39

Relasi & Mitra Kerja Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Mengucapkan Selamat Atas :

KPPBC MADYA CUKAI MALANG

IMPLEMENTASI AWAL

40

WARTA BEA CUKAI

EDISI 404 JULI 2008

EDISI 404 JULI 2008

WARTA BEA CUKAI

41

SEPUTAR BEACUKAI
FOTO : KIRIMAN

CENGKARENG. Pada 2 Juni 2008 bertempat di Aula Gedung B Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe A1 Soekarno-Hatta telah dilangsungkan upacara pengambilan sumpah dan pelantikan Pejabat Fungsional Pemeriksa Dokumen (PFPD) Bea dan Cukai sebanyak 12 orang. Tampak dalam gambar PFPD yang baru diambil sumpah dihadapan Kepala Kanwil Banten Bachtiar saat akan menandatangani naskah sumpah jabatan. Selesai upacara dilanjutkan foto bersama dengan Kakanwil, Kepala KPPBC Soekarno Hatta, PFPD lama dan yang baru dilantik. Pengirim Kasubbag Umum KPPBC Soekarno-Hatta
FOTO : KIRIMAN

CENGKARENG. Guna mewaspadai secara dini kemungkinan adanya penyakit yang tidak terdeteksi, pada 3 Juni 2008 Poliklinik Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe A1 Soekarno Hatta bekerja sama dengan Permata Hijau Medical telah mengadakan kegiatan General Chek Up bagi karyawan dan Ibu-ibu Dharma Wanita. Pengirim Kasubbag Umum KPPBC Soekarno-Hatta TANJUNG BALAI KARIMUN. Pada 26 April 2008, pegawai pada Kanwil Khusus DJBC Kepulauan Riau mengadakan “Tour de Jantan” yaitu pendakian ke Gunung Jantan, yaitu gunung tertinggi di Tanjung Balai Karimun. Di puncak gunung tersebut masih berdiri bangunan Radar Pantai milik Bea dan Cukai yang kondisinya sekarang sudah rapuh karena sudah berkarat pada seluruh bagian bangunannya. Untuk menuju puncak Gunung Jantan harus melalui jalan menanjak yang keseluruhannya sudah beraspal. Jalan ini dibangun untuk memudahkan akses petugas Bea dan Cukai yang akan bertugas melakukan pengawasan dan pemantauan Radar Pantai pada waktu itu. Terdapat hampir kurang lebih 500 undakan/tangga dari bangunan hangar menuju puncak Radar Bea dan Cukai. Kiriman Asep Ridwan - Kanwil Khusus DJBC Kepulauan Riau

s

JAKARTA. Para penggemar olahraga sepeda yang tergabung dalam Customs Cycling Club (CCC) pada 6 Juni 2008 berkumpul di kawasan Bukit Sentul Bogor Jawa Barat dalam rangka mengenang kepergian mekanik sepeda CCC, Husein, yang meninggal beberapa waktu lalu akibat penyakit stroke yang dideritanya. Pada acara tersebut dilakukan doa bersama dan secara spontan dikumpulkan sumbangan dari para anggota CCC yang hadir pada acara tersebut (foto kiri). Dana hasil urunan secara spontan tadi terkumpul sebesar kurang lebih Rp. 12 juta dan selanjutnya diserahkan oleh Sofyan Permana sebagai penggagas CCC kepada istri almarhum Husein (foto kanan). Almarhum Husein sendiri terlibat dalam CCC sebagai mekanik sejak awal terbentuknya klub sepeda ini dan bisa dikatakan ia juga sebagai salah satu perintis berdirinya CCC.

42

WARTA BEA CUKAI

EDISI 404 JULI 2008

s

FOTO : KIRIMAN

WBC/ZAP

FOTO : DONNY ERIYANTO

MAKASSAR. Pada tanggal 15 dan 16 Mei 2008 di Aula Kanwil DJBC Sulawesi dilaksanakan sosialisasi PP Nomor 28 Tahun 2008 tentang Sanksi Administrasi. Sosialisasi yang dibawakan oleh R.Fadjar Donny Tj (Ka. KPPBC Tipe A2 Jakarta) ini dihadiri langsung oleh para pejabat eselon III dan IV dilingkungan Kanwil DJBC Sulawesi dan Kanwil DJBC Maluku, Papua dan Irjabar (MPI) serta para pegawai Kanwil DJBC Sulawesi. Pada kesempatan itu juga disampaikan sosialisasi rancangan peraturan ekspor dan Impor Sementara oleh YFR Hermiyana (Kabid Fasilitas Kanwil DJBC MPI), Purnomo (Kasi Perbendaharaan KPPBC Sorong) dan Ferdinand Ginting (Kasi IKC KWBC Sumut).Selanjutnya acara diakhiri dengan foto bersama. Don’s, Makassar
FOTO : KIRIMAN

JAKARTA. DKM KPU Tanjung Priok sukses menggelar Malam Bina Iman dan Taqwa (MABIT) pada Kamis-Jumat (15-16/5) di Masjid Baituttaubah Lantai 5. Acara yang dikomandani Kepala Seksi Pabean II pada Bidang Pelayanan Pabean dan Cukai II Heru Djatmiko mengambil tema: “Semalam Bersama Ayat-Ayat Cinta”. Hadir pada acara tersebut, Kepala KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok Kushari Supriyanto, M Hakim Satria, Ardianto, Alfian Chaniago. Dalam sambutannya, Kushari menyampaikan dukungan acara MABIT, yang diharapkan bisa menambah kualitas pribadi SDM pegawai yang pada akhirnya menambah kualitas pelayanan di Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai. Tampak pada gambar kiri Kepala KPU Kushari Suprianto memberikan sambutan, dan pada gambar kanan shalat malam bersama sebagai bagian dari acara tersebut. Kiriman Arie Julianto - KPU Tanjung Priok
FOTO : DONNY ERIYANTO

MAKASSAR. Kanwil DJBC Sulawesi mengadakan perpisahan untuk salah seorang pejabatnya, yakni Yuwono Sutiasmaji, Kepala Subbagian Keuangan, pada tanggal 24 Mei 2008.Kegiatan ini dirancang dengan konsep wisata keluarga. Oleh karena itu, acara perpisahan ini mengambil tempat di Taman Nasional Bantimurung, Maros (sekitar 70 Km dari Makassar). Tampak dalam gambar kiri, Kabbag Umum, Tutung Budi Karya (sebelah kanan berkacamata) menyerahkan cinderamata sebagai kenang-kenangan kepada Yuwono. Pada foto kanan, setelah acara perpisahan para peserta mencoba memasuki Gua Mimpi yang mempunyai jarak kedalaman gua sejauh 1,2 km. Don’s, Makassar

EDISI 404 JULI 2008

WARTA BEA CUKAI

43

SIAPA MENGAPA

I

R

M

A

Irma begitu singkat dan mudah diingat namanya. Pegawai wanita ini sekarang berdinas di staf Kasubbag Kepegawaian Kanwil Maluku, Papua dan Irian Jaya Barat dengan pangkat pengatur muda tingkat I. Irma adalah puteri bungsu dari empat bersaudara keturunan Bugis-Makasar yang lahir dan besar di Jayapura dan berkesempatan mengabdikan dirinya di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Cita-cita yang semula ingin menjadi Polwan tidak menjadi kenyataan, meskipun demikian ia masih bisa sebagai penegak hukum di instansi Bea Cukai.Pada 2001 selepas dari SMK 2 jurusan Akuntansi Jayapura ia sempat bekerja sebagai staf di perusahaan perdagangan selama setahun. Pada 2002 ia mendapat informasi dari kakak yang kebetulan bekerja di Bea Cukai bahwa di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai ada pembukaan lowongan kerja. Tanpa berpikir panjang dengan berbekal ijasah SMK ia memutuskan untuk mengikuti seleksi penerimaan di Jayapura. Dari beberapa orang pendaftar se-Papua yang diterima hanya lima orang. Setelah dinyatakan lulus ia menerima SK CPNS terhitung pada 2003. Penempatan pertama dilaluinya di Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Jayapura sebagai staf kepala kantor hingga November 2007. Suara lantang dan tegas merupakan salah satu ciri khas karyawati yang lahir di Jayapura 30 November 1982. Dengan modal suara tersebut ia sering didapuk menjadi seorang pembawa acara di setiap acara kantor. Selain itu di luar jam dinas ia juga aktif dan berprestasi di lingkungan tempat tinggalnya dalam berbagai kegiatan, misalnya Juara I Lomba Kebaya dalam memperingati hari Kartini yang diselenggarakan Gerakan Organisasi Wanita se-Papua pada 2007, dan Juara I Lomba Tari Tradisional yang diadakan Organisai Pemuda se-Papua.

A M N I K H A L I M
Menjadi pegawai pada Kantor Pelayanan Utama (KPU) Bea dan Cukai Tipe B Batam bagi Amni Khalim mempunyai tantangan tersendiri, apalagi bidang tempatnya bekerja saat ini yaitu Client Coordinator (CC) adalah bidang yang terhitung baru seiring dengan berdirinya KPU dimana tugasnya menjawab keingintahuan pengguna jasa mengenai proses kepabeanan maupun cukai. Menurutnya tantangan tersebut adalah, ia harus bisa membantu dalam memahami proses pelayanan kepabeanan dan cukai yang sedang dijalani oleh pengguna jasa tersebut. Ada hikmah tersendiri bagi Amni dengan keterlibatannya di bidang CC ini, dimana ia bersama dengan rekannya yang lain menjadi harus lebih sering lagi membuka UndangUndang Kepabeanan maupun juga Cukai dan peraturan perundang-undangan lainnya, sehingga sedikit demi sedikit aturan-aturan tersebut bisa ia kuasai.”Jadinya kami disini lebih sering membaca dan memahami aturan baik itu kepabeanan maupun cukai dan ini bagi saya dan juga rekan-rekan disini dapat menjadi nilai tambah tersendiri,”papar Amni. Tantangan lain yang terkadang dihadapi oleh suami dari Wiwid dan ayah dari dua orang anak Fya (4 thn) dan Keyla (1 thn) adalah ketika ia berhadapan dengan suatu permasalahan yang berhubungan dengan kepabeanan yang belum ada aturan hukumnya, untuk itu ia dituntut harus bisa mencari solusi terbaik dan melakukan koordinasi dengan bidang lain yang berhubungan dengan masalah tersebut. “Di CC, kita menyampaikan aturan tentang kepabeanan dan cukai kepada pengguna jasa. Wilayah Batam memiliki karakteristik yang unik, berbeda dengan wilayah Indonesia lainnya, diantaranya adanya fasilitas pembebasan BM&PDRI terhadap barang diluar empat jenis sebagaimana diatur PP 63 Tahun 2003. Kami sering dihadapkan pada situasi dimana tidak ada aturan tentang pemasukan dan pengeluaran barang Batam ke dan dari DPIL tersebut, kita dituntut harus bisa memberikan solusi kebijaksanaan dengan berkoordinasi dengan bidang lain, tentunya sesuai petunjuk dari atasan dalam hal ini Kepala Kantor,”paparnya kembali. Selain itu, ia menambahkan, “Kepuasan kita sebagai pelayan masyarakat adalah manakala

YUSUF NOCE MUDA
Hobi pegawai yang satu ini adalah menyanyi dan sepak bola. Dengan hobi yang dimiliki mengantarkan ia menjadi juara di beberapa pertandingan sepak bola dan menyanyi. Antara lain runner up Suratin Cup pada1980 dengan tim kesebelasannya PERSITER ( Persatuan Sepak Bola Ternate ) mewakili propinsi Maluku di tingkat nasional, sedangkan untuk urusan tarik suara ia pernah menjadi juara III kategori Lagu Pop di kantor pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Jakarta pada 2004. Noce mengawali karir di Bea dan Cukai pada 1983 selepas dari SMA di Ternate, sebelumnya ia sempat mencoba mendaftar masuk AKABRI di Ambon tapi gagal. Kegagalan tersebut tidak menurunkan tekadnya untuk menjadi aparatur negara. Saat ada informasi penerimaan Bea dan Cukai dari rekannya yang pada waktu itu kerja di Kantor Bea dan Cukai Ternate, tanpa berpikir panjang kesempatan tersebut diambilnya. Akhirnya dari sekitar seratus orang pelamar, Noce merupakan salah satu dari enam belas orang yang diterima dan mendapatkan penempatan di kantor Bea dan Cukai Ternate hingga 1992, kemudian dipindahkan ke Kantor Bea dan Cukai Ambon sampai dengan sekarang dan menjabat Korlak Operasi KPPBC Ambon. Selama masa bertugas, ia punya kisah duka ketika mendapat penempatan di Pos Pengawasan Geser, Pulau Geser pada 1999 selama empat bulan lamanya. Pulau Geser adalah pulau yang sangat kecil dan sepi terletak sebelah tenggara Pulau Seram, hanya membutuhkan waktu lima belas menit untuk mengelilinginya. “Kondisi airnya sangat jelek karena payau sehingga tidak baik untuk mandi dan minum. Selain itu untuk transportasi hanya ada kapal perintis yang lewat sebulan sekali dengan waktu tempuh perjalanan ke Ambon selama sembilan jam, “kenang pria kelahiran Seram, 16 November 1961.

44

WARTA BEA CUKAI

EDISI 404 JULI 2008

Selanjutnya Irma tidak pernah menyia-nyiakan waktu untuk meneruskan pendidikan dengan mengambil kuliah jurusan ekonomi manajemen di UNIYAP Jayapura dan telah memasuki semester III. Tetapi karena pindah tugas ke Ambon ia cuti untuk sementara waktu. Selama masa bertugas, ia punya kisah menarik antara lain ketika ada pesawat perdana yang datang dari luar negeri yaitu Papua New Guinie tiba membawa rombongan gubernur”. Waktu itu saya harus standby di Bandara Sentani untuk melayani kedatangan penumpang hingga dini hari. Jarak antara kota dan bandara cukup jauh sekitar tiga puluh kilometer, apalagi saya pegawai wanita sendiri, “kenang wanita yang gemar mendengarkan musik RnB ini. Ketika ditanya mengenai prinsip hidup ia mengatakan singkat, sabar dan iklas.”Bekerja harus dengan sabar dan iklas, dengan begitu kita akan selalu tersenyum dalam keadaan apa pun,” tutur pegawai yang hobi makan ikan bakar dan membaca. Pegawai yang pernah mengikuti diklat Prajab pada 2004 dan DTSD I pada 2007 di Makasar pada akhir wawancara memberikan pesan untuk instansi Departemen Keuangan khususnya DJBC agar pendidikan pegawai di wilayah timur dapat lebih diprioritaskan.” Jika pegawai di wilayah timur nanti maju pada akhirnya juga akan berdampak pada kinerja organisasi secara keseluruhan,” tutur wanita yang masih single ini. Bambang W. (Ambon) pengguna jasa paham dan mengerti dengan penjelasan yang kita berikan dan selanjutnya mereka mengucapkan terima kasih.” Langkah awal Amni terjun sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan DJBC berawal pada tahun 1993 ketika ia diterima di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Ketertarikannya untuk masuk STAN lebih dikarenakan adanya ikatan dinas dan kepastian untuk diterima menjadi PNS. Ketika itu tidak mengetahui apa itu Bea Cukai, jurusan yang ia pilih di STAN. Kurang pahamnya ia akan tugas dan fungsi DJBC pada masa kuliah terlebih lagi dengan mata kuliah yang berbeda dengan mata pelajaran yang ia terima waktu SMA, sempat mempengaruhi hasil belajarnya, namun dengan semangat untuk memperbaiki kekurangannya ia sering berlatih mengerjakan soal, berdiskusi dengan teman-temannya maupun juga dengan kakak kelasnya, tak ayal usahanya tersebut membuahkan hasil, nilainilainya waktu kuliah semakin bagus dan akhirnya bisa mengantarnya menjadi salah satu abdi negara di DJBC . Pria yang lahir 31 Agustus 1974 di Semarang ini, selama mengabdi di DJBC sejak tahun 1997 mencoba sekuat tenaga untuk dapat memberikan yang terbaik untuk DJBC, “Sebenarnya DJBC merupakan sarana yang bagus untuk mengembangkan potensi diri selain dapat mengimplementasikan ilmu yang telah didapat untuk kemajuan DJBC pada umumnya, karena di DJBC memberikan banyak kesempatan untuk pengembangan diri, misalnya kesempatan kuliah di luar negeri, tinggal dikembalikan kepada kompetensi diri kita sendiri”,ujarnya lagi. zap Selain pengalaman duka, ia juga punya pengalaman berkesan selama dinas di Bea dan Cukai yaitu ketika mengikuti pendidikan pemeriksaan X-Ray selama satu minggu di Cengkareng pada 1996. “Pendidikan X-ray yang saya ikuti sangat banyak manfaatnya, selain dilatih oleh instruktur dari Australia juga menambah wawasan dalam pelaksanaan tugas,“ tutur ayah tiga orang putra ini. Di luar jam dinas ia juga aktif dalam beberapa organisasi sosial antara lain sebagai Pembina Angkatan Muda GPM (Gereja Protestan Maluku) dan juga sebagai Wakil Ketua Swara Pelayanan Cabang Passo Ketika ditanya mengenai prinsip hidup ia mengatakan, hidup harus banyak menanamkan kebaikan kepada siapa saja dan dimana saja berada. “Banyak menanam kebaikan akan banyak menuai kebaikan pula”, tutur suami Beatrix ini. Pegawai yang pernah mengikuti diklat Prajab pada 1987 di Ambon, DPT I pada1987 di Makasar, DPT II pada 1991 di Makasar, DPI I pada 1994 di Makasar, dan Diklat Verifikator pada 1999 di Jakarta, di akhir wawancara memberikan saran untuk instansi Departemen Keuangan khususnya DJBC agar kesempatan pendidikan lebih terbuka untuk pegawai di wilayah timur khususnya kanwil Maluku, Papua dan Irian Jaya Barat sehingga sumber daya manusia lebih meningkat pengetahuannya. Bambang W. (Ambon)

Kakanwil DJBC Banten dan Staff Mengucapkan Selamat Atas Penganugerahan Keluarga Sakinah Teladan Tingkat DKI Jakarta kepada pasangan : Bpk. Drs. H. SLAMET SUBEKTI dan Ibu Hj. SRI TUTI LESTARI, S.Sos (Kasi Perbendaharaan KPPBC Tipe A2 Tangerang) Oleh Gubernur DKI Jakarta, Bpk. Fauzi Bowo Semoga tetap menjadi teladan bagi keluarga dan lingkungan sekitar Kakanwil DJBC Banten Drs. Bachtiar, M.Si

Kepala KPPBC Tipe A2 Tangerang dan Staff Mengucapkan Selamat Atas Penganugerahan Keluarga Sakinah Teladan Tingkat DKI Jakarta kepada pasangan : Bpk. Drs. H. SLAMET SUBEKTI dan Ibu Hj. SRI TUTI LESTARI, S.Sos (Kasi Perbendaharaan KPPBC Tipe A2 Tangerang) Oleh Gubernur DKI Jakarta, Bpk. Fauzi Bowo Semoga tetap menjadi teladan bagi keluarga dan lingkungan sekitar Pj. Kepala KPPBC Tipe A2 Tangerang Drs. Eddy Kusuma, M.M

EDISI 404 JULI 2008

WARTA BEA CUKAI

45

TEKNOLOGI & INFORMASI SEKILAS TENTANG
Windows Digital Gallery dan Windows Picture and Fax Viewer merupakan fitur yang sangat cocok bagi pecinta koleksi foto dan video. Windows Mobility Center fitur yang diperuntukan bagi pengguna yang menggunakan notebook, fitur ini cocok bagi yang sering ke luar kota. Implementasi Virtual PC Express yang dimasukkan ke dalam piranti ini memungkinkan aplikasi turunan untuk dapat berjalan pada sistem operasi windows turunan tanpa mengalami perubahan dalam lingkungan virtual Windows Vista. Sedangkan untuk sekuriti, Windows Vista telah menyediakan Antispyware yang membuat windows versi terbaru ini jauh lebih aman, perlindungan terhadap malware juga semakin baik. Windows Vista memiliki feature antimalware yang mendeteksi dan menghapus virus dan berbagai tipe software jahat lain dari komputer. Ada juga Windows Service Hardening yang memonitor layanan windows penting terhadap aktivitas abnormal terhadap sistem file, registry, dan jaringan terhadap aktivitas malware. Selain itu Windows Vista juga telah menyediakan recovery tool yang lebih kompatibel, jadi tak perlu lagi meng-instal recovery tool dari pihak luar. Selain aplikasi baru, ada juga aplikasi lama yang diluncurkan dalam versi yang berbeda atau berganti nama, antara lain : Windows Mail, yang merupakan pengganti Outlook Express. Pada Windows Mail perubahan yang jelas adalah yang berhubungan dengan kemudahan dan kecepatan untuk mengakses e-mail. Fitur yang ada di Windows Mail diantaranya : TAMPILAN DALAM BENTUK GAMBAR WINDOWS VISTA

Windows Vista
P
Setelah sekian lama dinantikan, Microsoft Corps meluncurkan operating sistem terbarunya yakni Windows Vista.
ada awalnya Windows Vista diberi kode nama Longhorn, dan baru pada pertengahan tahun 2006 berganti dengan nama Windows Vista. Kehadiran Windows Vista merupakan lompatan besar bagi dunia teknologi informasi, khususnya teknologi komputer. Seperti versi windows sebelumnya, Windows Vista memiliki beberapa versi yang dimunculkan yaitu : l versi Starter l Home Basic l Home Premium l Business l Enterprise dan l Ultimate. Untuk Vista Starter, versi ini dirancang khusus agar dapat bekerja optimal di PC dengan spesifikasi hardware rendah (prosesor Pentium III, AMD Duron, Intel Celeron). Beberapa fitur terbaru tidak akan banyak didapatkan disini, tetapi tetap keamanan akan terjamin. Windows Vista ini adalah sistem operasi client yang merupakan pengembangan dari Windows XP. Windows Vista berisi aplikasi dan fitur – fitur baru yang tujuannya untuk meningkatkan reabilitas dan keamanan. Di sisi reliabilitas, Microsoft berharap bisa mengingatkan pengguna mengenai kemungkinan kerusakan pada harddisk drive 24 jam sebelum kerusakan terjadi, sehingga pengguna dapat mem-backup data mereka. Kejadian negatif seperti restart aplikasi, hang, crash, dan reboot sistem diharapkan bisa berkurang. Fitur-fitur yang baru yang ada dalam Windows Vista, antara lain : Windows Aero, Windows Calender, Photo Gallery, Windows ReadyBoost, Windows Experience Index dan lainlain. Khusus untuk Windows Aero, Microsoft menghadirkan tampilan profesional, desain transparan dengan efek-efek halus seperti refleksi dinamis, animasi yang halus dengan fitur-fitur navigasi 3D desktop Windows Flip and Flip. Aero akan memanfaatkan akselerator 3D untuk menampilkan efek tampilan kaca. Sedangkan untuk fitur lainnya : Windows bitlocker drive Encryption. Fitur ini berfungsi untuk melindungi data dan properti intelektual dari pihak lain apabila komputer hilang. Pada fitur ini disertakan teknologi proteksi data tingkat lanjut yang mengurangi risiko dilihatnya data oleh pengguna yang tidak berhak. Salah satu manfaat feature ini adalah pada kasus notebook yang dicuri. Pencuri notebook tidak akan dapat melihat informasi yang tersedia di notebook tersebut karena Windows Vista menggunakan enkripsi full-volume yang mencegah akses disk terhadap file oleh sistem operasi lain. Kunci enkripsi juga disimpan pada chip khusus yang memenuhi spesifikasi Trusted Platform Model (TPM) v1.2. Pada notebook enkripsi ini digunakan baik pada file hibernasi maupun data pengguna. 46
WARTA BEA CUKAI EDISI 404 JULI 2008

Instant Search, dengan fitur ini email dapat dicari berdasarkan kriteria: From, To, Subject, Message dan dimana ingin mencarinya, apakah di Inbox, Outbox, Sent Items, Draft dan lain-lain. Phising Filter, fitur ini akan memfilter setiap email yang masuk dan akan memberitahu pesan jika ada link atau gambar yang mencurigakan. Newsgroup, fitur ini akan berguna bagi yang sering menggunakan newsgroup, karena lebih mudah untuk mengirim dan menjawab email, sedangkan yang lainnya hampir sama dengan Outlook Express. Internet Explorer 7 (IE7), merupakan pembaharuan dari versi sebelumnya. Internet Explorer 7 ini dapat di download gratis oleh pengguna sistem operasi Windows XP. Browser baru ini memiliki banyak keunggulan, seperti : Tab browsing yaitu kemampuan menampilkan banyak halaman web dalam satu jendela browser, sehingga pengguna dapat membuka situs pada satu jendela browser. RSS (Really Simple Syndication) dengan RSS pengguna dapat otomatis menerima informasi-informasi terbaru dari situs atau blog favorit. Page Zoom, dengan fitur ini pengguna dapat memperbesar halaman web, termasuk teks dan grafik yang ada didalamnya. Fasilitas sekuriti yang lebih handal. Di antara fasilitas sekuriti ini adalah dukungan untuk Phishing Filter yang akan melindungi pengguna dari ancaman operator jahat yang berniat menjebak pengguna dalam penipuan. Phising Filter mampu memberikan peringatan kepada pengguna jika ada situs yang mencurigakan, bahkan bisa menutup akses terhadap situs-situs yang berbau phishing (penipuan online). Untuk melindungi pengguna dari malware (programprogram jahat) IE7 dilengkapi dengan ActiveX Opt-In yang membantu melindungi kontrol lemah yang berisiko diserang, serta menambahkan protected mode untuk memberikan tingkatan keamanan dan proteksi data. Menu Start. Microsoft juga sudah mendesain ulang menu start dengan tujuan mempercepat dan mempermudah pencarian aplikasi dan untuk melihat semua program yang ada. Jika sebelumnya setelah mengklik start, mouse akan dibawa ke atas tulisan All Programs terus pilih program yang akan dijalankan, tetapi di Windows Vista ini pengguna harus mengkliknya, dan daftar program serta folder program segera muncul pada kotak di atasnya. Tidak ada lagi pop-up yang memanjang ke kanan menampilkan daftar program. Prinsipnya sama seperti tampilan pohon pada frame kiri Windows Explorer. Di menu start disediakan kotak pencarian yang memungkinkan pengguna mencari nama program. Setiap kali pengguna mengetikkan huruf, daftar program yang ditampilkan segera berubah menyesuaikan dengan huruf-huruf yang diketikkan. Semakin banyak jumlah huruf yang diketikkan, semakin spesifik pencariannya. Jika pengguna membuka folder dokumen, Windows Vista tidak lagi memberikan ikon standar untuk setiap tipe file, tetapi menampilkan preview sebenarnya dari isi file tersebut. Pada dokumen dengan banyak halaman, misalnya, akan ditampilkan halaman pertamanya. Tidak hanya itu, untuk setiap folder, Windows Vista menampilkan gambar kecil yang merepresentasikan isi folder tersebut. Ini semua untuk mempermudah pencarian file dan memungkinkan pengguna secara cepat mengetahui isi sebuah file atau folder tanpa harus membukanya. Sebelumnya, di Windows XP feature seperti ini hanya tersedia untuk file gambar.

SPESIFIKASI WINDOWS VISTA
Untuk menjalankan Windows Vista diperlukan hardware minimal dengan memori minimal 512 MB, kartu grafis yang mendukung DirectX 9.0, dan prosesor 800 Mhz, prosesor Intel Pentium IV, Intel Pentium Centrino, atau AMD generasi terbaru. Untuk harddisk ,Windows Vista memerlukan minimal 20 Gbit yang kosong. VGA 128 MB dengan driver WDDM untuk fitur windows Aero.

Warjiyanta, Pranata komputer pelaksana pada DIKC
WARTA BEA CUKAI

EDISI 404 JULI 2008

47

ENGLISH
SINGAPORE COOPERATION PROGRAMME ASEAN TRAINING AWARDS

SECTION

CHECKPOINT COMPETENCIES IN GOODS CLEARANCE
The Immigration & Checkpoints Authority (ICA) is a government agency under the Ministry of Home Affairs. The Immigration & Checkpoints Authority (ICA) was formed on 1 April 2003, with the merger of Singapore Immigration & Registration (SIR) and Customs & Excise Department (CED), responsible for the security of Singapore’s borders against the entry of undesirable persons and cargo through land, air, and sea checkpoints.
ingapore has provided technical assistance to other developing countries since 1960. As a country whose only resource is its people, Singapore believes that human resource development is vital for economic and social progress. Singapore itself has benefited from training provided by other countries and international organization. Trought the Singapore Cooperation Programme (SCP) which was established in 1992, the range and and number of training programmes have been increased to meet the needs of developing countries. One of the training is about Checkpoint Competencies in Goods Clearance Training. This training aims to enhace the participants’ knowledge and skills in performing check points goods and conveyances clearance function, particularly in skills like search technique and reading body language. The training that was held in Singapore attended by the cutoms officers from Brunei Darussalam, Cambodia, Indonesia, Lao PDR, Myanmar, Philippines and Vietnam comprises of classroom course and visits to various checkpoints (ports and costal command) An overview of Singapore Cooperation Programme (SCP),Immigration and Check points Authority (ICA): The Mission, Vision and Roles and Function 1. SINGAPORE COOPERATION PROGRAMME (SCP) and TRAINING CHECKPOINTS COMPETENCIES IN GOODS CLEARANCE Since the 1960s, Singapore has been providing technical assistance to other developing countries. Technical assistance focuses on training and increasing the skills of a nation.In 1992, Singapore organised all its technical assistance programmes under one umbrella to form the Singapore Cooperation Programme (SCP).The SCP is a way of sharing the technical and systems skills with other developing countries that Singapore has learned and acquired over the years. SCP benefited from the help that developed nations had given by way of human resource development training through technical assistance. The Technical Cooperation Directorate of the Ministry of Foreign Affairs, Singapore administers programmes under the SCP.In year 2008, SCP has conducted training Checkpoints Competencies in Goods Clearance from February 26 to March 3, and Countries in the ASEAN region such as Brunei Darussalam, Cambodia, Indonesia, Lao PDR, Myanmar, Philippines and Vietnam attended that training by sending their respective Customs Officer. Through that training the Government of Singapore introduces the system of Clearance of arriving vehicles, cargoes and passengers at all entry checkpoints is under the purview of the Immigration & Checkpoints Authority (ICA). At the checkpoints, ICA officers conduct checks on vehicles, cargoes and persons entering the country, and refer trade and customs matters to Singapore Customs for follow-up.ICA is primarily responsible for the security of Singapore’s borders against entry of undesirable persons and cargoes by land, sea and air. 2. IMMIGRATION AND CHECKPOINTS AUTHORITY (ICA): The Mission, Vision and Roles and Functions The Immigration & Checkpoints Authority (ICA) is a
PHOTO : DOC.

S

CHECKPOINT COMPETENCIES IN GOODS CLEARANCE TRAINING. This training aims to enhace the participants knowledge and skills in performing check points goods and conveyances clearance function

SCREENING AND CLEARANCE OF CARS. To ensure that these conveyances are not used to smuggle controlled, prohibited and undesirable goods.

48

WARTA BEA CUKAI

EDISI 404 JULI 2008

ENGLISH

SECTION

ALL PARTICIPANT CHECKPOINT COMPETENCIES IN GOODS CLEARANCE.

government agency under the Ministry of Home Affairs. The Immigration & Checkpoints Authority (ICA) was formed on 1 April 2003, with the merger of Singapore Immigration & Registration (SIR) and Customs & Excise Department (CED), responsible for the security of Singapore’s borders against the entry of undesirable persons and cargo through land, air, and sea checkpoints. ICA has brought together the immigration control and clearance performed by the former SIR and enforcement work performed by the former CED at the various checkpoints. The Mission : 1. to ensure that the movement of people, goods and conveyances through our checkpoints is legitimate and lawful. 2. to administer and uphold laws on immigration, citizenship, and national registration fairly and effectively. The Vision: Inspiring confidence in all The Roles and Functions : l Maintain checkpoints security l Enforce immigration and passport laws regulations l Prevent and enforce against smuggling of restricted, controlled and prohibited goods l Register individuals and enforce National Registration Act ICA deal with clearance of immigration and cargoes, profiling, intelligent analysis in both the seaport and airport, which are known as Checkpoints security. The formation of ICA consists of Ministry of Home Affairs, Ministry of Finance and Ministry of Trade and Industry. ICA represents numbers of government agencies, such as: l Agriculture Food and Veterinary Authority (AVA)

l l l l l l l l l l l

Board of Commissioners of Currency of Singapore (BCCS) Central Narcotics Bureau (CNB) Department of Industrial Safety (DIS) Food Control Department (FCD), Health Sciences Authority (HAS) Infocomm Development Authority of Singapore (IDA) Radiation Protection Inspectorate (RPI) Intellectual Property Office of Singapore (IPOS) Media Development Authority (MDA) Ministry of Health (MOH) Singapore Police Force (SPF) Singapore Customs (SC).

As mentioned above, ICA is the guardian of the Singapore’s gateways. The checkpoints one of Singapore first line of defense against the entry of undesirable persons or goods into Singapore. ICA officer operates the air, land, and sea checkpoints to ensure that Singapore remains the safe and secure home.ICA serves the immigration clearance of arriving and departing travelers as well as seamen. For Cargo: Screening and clearance of conventional cargo, containerized cargo, courier parcel and postal parcels to ensure that there is no illegal entry of controlled, prohibited and undesirable goods. For Conveyances : Screening and clearance of cars, motorcycles, buses, vans, lorries, trains and sea-going vessels to ensure that these conveyances are not used to smuggle controlled, prohibited and undesirable goods.

ORGANIZATION CHART OF ICA
ICA is led by Commissioner and assisted by two Deputy Commissioner, Deputy Commissioner Policy and Administration and Deputy Commissioner Operations. The ICA’s organization chart is divided into two divisions, one is Staff Division, and the other is Line Division. Staff Divisions consists of Manpower Division, Policy Division, Planning and Technology Division, Corporate Service Division, Corporate Communication Division, InEDISI 404 JULI 2008 WARTA BEA CUKAI

49

ENGLISH
telligence Division and Operations Division, while Line Divisions has two units, Services Centres units which deals with Visa and Passport, Student, Social and Permanent Residence Applications and Citizenship Services. The other unit under Line Division is Checkpoints Security, which deals with Ports Command, Coastal Command, Airport Command, Air Cargo Command and two Land Command. yard crane for loading of container onto the haulers prime mover. Trucked the container out of the FTZ through the respective lane stipulated in the pager under the ICA exit instruction. At the exit FTZ, the driver would flash the contact less card again at the self-service terminal to confirm the departure. The CITOS will check and update the database. Using technology such as Optical Character Recognition System (OCRS), the Port operator’s system scans and matches container number as to update automatically cargo clearance system database. Containers that are supposed to exit through the green lane will proceed without delay as optical recognition camera has already captured the container number and invalidate the permit. For containers that are instructed to leave through the red lane, the ICA officer will make a brief stop at the ICA checkpoint. ICA officer will carry out security checks on the container such as stick seal on container. ICA officer will issue notice to hauler and update cargo clearance system. Containers that are subjected to be scanned, the hauler will first truck the container to the scanning station before exiting the FTZ from the green lane.

l

SECTION

l

ICA PORTS COMMAND AND CLEARANCE OF CARGOES PROCESS
Ports Command-led by a Commander who is assisted by four deputies-provide the guidance on operations and intelligent matters, daily running of all checkpoints, administration and training matters and security matters in ports. ICA Ports Command is responsible for the security clearance of sea cargoes through the eight checkpoints bordering the four Free Trade Zones (FTZs). The focus job is to deter, detect, and deal with any terrorist or criminal elements from using the ports and FTZs to facilitate terrorism or terrorist related activities. The other is to ensure that the movement of people, goods, and conveyances through the all checkpoints is legitimate and lawful. The core functions are to adopt risk management techniques to target high-risk cargoes for security inspection, to inspect and clear crew at the designated checkpoints and as well to assist other government agencies in the prevention of smuggling of contrabands. As mentioned above, Singapore has five FTZs, which four are located in seaports that are Keppel, Pasir Panjang, Jurong and Sembawang, and the last one is located in Changi Air Port.Those FTZs were established in 1969 to promote trade. All goods that are imported into Singapore by air or sea will be landed and deposited in a FTZ. Those imported goods may be repacked, sorted, and graded. The process for conventional cargoes as follows: Once the permit has been printed out, haulers will proceed to pick up the cargoes at the FTZ. l They will proceed to the ICA checkpoint and produced two things, i.e. the permit and cargoes clearance. l ICA officer will subsequently scan the permit and undertake the necessary physical inspections of the said consignments. l If everything is in order, the officer will update the system and the permit is invalidated. l Otherwise, the officer will refer the case to the relevant controlling agencies to conduct further inspection even investigation on any discrepancies detected.
l l

l

l

For those containers that are subjected to be scanned at Scanning Station, Ports Command currently operates three scanning machines that are Mobile VACIS (MV). VACIS is Vehicle and Containers Inspection System. The MV is deployed at Pasir Panjang Scanning Station. The other is Relocatable VACIS (RV) and is located at Tanjung Pagar Scanning Station. Last one is ZBackscatter Van (ZBV). The ZBV is a mobile van and equipped with x-ray detection capabilities and used for performing Ad-Hoc Operations. The ZBV produces photo like images of contents of a container or vehicle, effective in detecting and highlighting organic materials such as drugs and plastic explosives. The utilities of those scanning machines are: To enhance security at the sea checkpoint border To have a more effective and efficient clearance of cargoes l To increase throughput l To leverage on technologies in order to overcome manpower shortage
l l

COASTAL COMMAND
As mentioned earlier and refer to Organization Chart of ICA and under Line Division, the other command is Coastal Command.Coastal Command deal with clearance of immigration of passenger and crew vessel and perform searching operation to the vessel that will enter and depart from Singapore’s waters. To support the job, The Coastal command has a team namely Anti-smuggling Teams (ASTs). The ASTs plays role to prevent ship-to-shore attempts to smuggle undesirable persons, drugs, weapons, explosives, prohibited and restricted goods, hazardous substances or materials and dutiable goods. By using intelligent analysis and sharing information, ASTs will be targeting of vessels to perform shiprummaging. And then checking to all crew whether they are bringing the dutiable allowance for consumption on board.While performing ship-rummaging, ASTs also detects the fraudulent travel documents that might be done by passenger or crew.Those jobs are accomplished with an efficient manner and without hampering trade and tourism.

The automated clearance of containerized cargoes process as follows: l The shipping company is creating electronic shipping note on on-line Portnet l Hauler then books container collection time on online Portnet l Hauler proceeds into the FTZ through the container gate l When the driver arrived at the entrance of the FTZ, the Computer Integrated Terminal Operations System (CITOS) would validate against identity of driver/ tow head registration number and match against the container where the driver is taking delivery. l Once the validity is validated, the Port Operator System would send out an auto page to inform the driver on the yard location to collect container and ICA exit instruction such as Proceed to red lane, proceed to green lane, or proceed to scanning station. l The driver would then proceed to the Port Operator’s 50
WARTA BEA CUKAI EDISI 404 JULI 2008

Bobby Situmorang. Kasi Impor Dit Teknis Kepabeanan

PERISTIWA
FOTO-FOTO : WBC/ADI

KEBERSAMAAN. Dalam rangka satu abad kebangkitan nasional, CCC mencoba menjalin kebersamaan antar pegawai DJBC dengan Tuor de Bedugul.

CCC Tour De Bedugul

D

Rute yang ditempuh CCC cukup lengkap, mulai dari jalan setapak, hutan, hingga jalan raya yang menurun. Perjalanan dilalui dengan penuh semangat karena bersepeda kali ini berbeda dari yang biasanya.

alam rangka memperingati satu abad kebangkitan nasional, Customs Cycling Club (CCC) mengadakan touring dengan menjelajahi alam Bedugul, Bali dengan jarak tempuh sejauh 50 kilometer. Kegiatan yang diikuti kurang lebih 40 peserta dari berbagai daerah seperti, Kantor Pusat, Kanwil Bandung, Kanwil Semarang, Kanwil Surabaya dan KPPBC Tanjung Perak, KPPBC Kupang, dan Bali menjadi semakin semarak dengan ikut sertanya klub sepeda dari Bali. Menurut Kepala Bidang P2 Kanwil Bali, Nurkisar Edy yang juga sebagai ketua pelaksana CCC Tuor de Bedugul, kegiatan kali ini merupakan kepedulian DJBC terhadap kebangkitan nasional yang tahun ini merupakan yang ke satu abad.”Selain pegawai DJBC, kegiatan ini juga diikuti oleh klub sepeda yang ada di Bali, untuk itu rute yang kami pilih juga cukup lengkap dan banyak tantangannya,” tutur Nurkiswar Edy. Lebih lanjut Nurkiswar Edy menjelaskan, dengan kebangkitan nasional, CCC juga ingin menunjukkan kepeduliannya terhadap kebangkitan bangsa Indonesia melalui peningkatan kinerja yang lebih maksimal yang ditandai dengan semangat kebersamaan, dan melalui olah raga bersepeda diharapkan rasa kebersamaan dan kebangkitan tersebut akan tumbuh. Jarak 50 kilometer memang cukup menantang bagi para peserta. Kegiatan yang dimulai dari Bedugul menuju Bukit Pinus hingga ke Bentari sebagai Pos I sejauh 30 kilometer, merupakan rute yang paling menantang, karena para peserta benar-benar diuji kemampuan fisik dan mentalnya, dengan melalui jalan setapak di tengah hutan yang mempunyai medan tanjakan dan jalan menurun yang cukup curam.

RUTE YANG INDAH. Dengan menjelajahi hutan, para peserta disuguhi panorama alam yang indah.

Pada rute ini seluruh peserta juga disuguhi oleh pemandangan alam yang sungguh luar biasa, dengan mengelilingi danau Buyat dan danau Brata, kelelahan yang dirasakan oleh para peserta pun langsung terobati dengan panorama alam yang sangat indah. Dari Pos I, perjalanan dilanjutkan untuk menuju finish di Pure Taman Ayun Manggui yang ditempuh sejauh 20 kilometer. Untuk rute kedua ini, selain menampilkan panorama alam yang indah, para peserta menempuh perjalanan dengan cukup mudah, karena hampir seluruh perjalanannya menurun dengan tikungan yang tajam. Akhirnya tepat pukul 14.00 wita, seluruh peserta tiba dengan selamat di lokasi finish yang telah ditentukan. Banyak cerita dan pengalaman yang langsung mereka utarakan kepada sesama peserta. Sementara, kelelahan yang mereka alami selama perjalanan tidak dijadikan keluhan karena seluruh peserta sangat menikmati seluruh rute yang ditempuh. Menurut salah satu peserta yaitu Kepala Sub Bagian Umum KPPBC Tanjung Perak, Bier Kismulyanto, kegiatan CCC merupakan kegiatan yang cukup banyak penggemarnya khususnya di Surabaya, untuk itu dirinya berharap agar kegiatan ini dapat rutin dilakukan, karena selain sebagai kegiatan olah raga yang murah, kegiatan ini juga dapat dijadikan ajang silaturahmi sesama pegawai DJBC. adi
EDISI 404 JULI 2008 WARTA BEA CUKAI

51

PENGAWASAN

PERIKSA KPU BEA CUKAI TANJUNG PRIOK
Pemeriksaan mendadak yang dilakukan bukan bermaksud untuk menciderai institusi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) atau Departemen Keuangan. Sidak yang dilakukan tersebut merupakan rangkaian dari pembenahan reformasi birokrasi dan sebagai shock therapy bagi oknum yang tidak ingin melakukan perubahan.
an yang ditemukan, telah dilakukan pemeriksaan terhadap 69 orang pegawai pada 30 Mei 2008 di KPU Tanjung Priok, dan bagi yang terlibat akan dilakukan pengklasifikasian sesuai dengan derajat pelanggaran yang bersangkutan (berat, sedang, ringan), termasuk juga bagi yang tidak melakukan pelanggaran untuk dapat dijadikan sebagai peringatan keras guna pelaksanaan tugas mereka di kemudian hari. Satu hal yang patut digaris bawahi pada pemeriksaan mendadak antara KPK dengan DJBC ini adalah, keinginan dari pihak DJBC untuk melakukan pembenahan di jajarannya juga harus diikuti oleh pihak pengguna jasa sebagai pihak yang selama ini tidak tersentuh hukum dalam kasus suap yang ada di DJBC. Artinya, DJBC merasa tidak adil jika hanya jajarannya yang mendapat hukuman dari tindakan suap tersebut, karena bagaimanapun juga dari pihak pengguna jasa lah suap berasal. Untuk itu keterlibatan KPK dalam pemeriksaan mendadak kali ini adalah sebagai lembaga yang kredibel dan memiliki kewenangan untuk melakukan proses hukum baik terhadap pegawai maupun terhadap pengguna jasanya. Sehubungan dengan semakin maraknya pemberitaan di media massa akhir-akhir ini, baik cetak maupun elektronik, maka DJBC merasa perlu untuk ikut dalam memberikan klarifikasi dan keterangan terkait agar informasi yang berkembang dapat menuju ke arah yang proporsional, akurat, dan tidak menimbulkan bias, tanpa bermaksud untuk menciptakan opini publik yang dapat mempengaruhi pelaksanaan kegiatan penyidikan yang sedang dilakukan oleh aparat terkait kasus tersebut. Untuk itulah WBC pada Kamis 5 Juni 2008, menemui Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Anwar Suprijadi di ruang kerjanya, untuk melakukan wawancara seputar permasalahan terkait. Dalam wawancara tersebut Dirjen menyatakan, sebagai aparatur pemerintah dan abdi masyarakat, tekad DJBC pun sama dan bulat untuk memberantas segala bentuk KKN yang merupakan penyakit dan perusak masa depan bangsa dalam bentuk dan modus apapun. Selain itu, Dirjen juga yakin dari total 1.057 orang pegawai di KPU Bea Cukai Tanjung Priok, sebagian besar masih memiliki semangat reformasi dan etos kerja yang tinggi untuk mewujudkan terciptanya institusi Bea Cukai masa depan yang transparan, accountable, dan credible. Segudang prestasi yang telah dipersembahkan KPU Tanjung Priok tidak akan dapat terwujud tanpa adanya komitmen yang kuat dari pegawai untuk dapat memberikan pelayanan prima dan setia pada tujuan reformasi yang telah dijalankan. Lebih lanjut Dirjen juga menyatakan, tidak ada dan tidak akan pernah ada toleransi maupun peluang yang DJBC ciptakan dan berikan kepada pihak ma-

KPK DAN BIDANG KEPATUHAN INTERNAL

B

erita yang cukup menggemparkan terjadi di penghujung bulan Mei 2008 atau tepatnya pada 30 Mei 2008, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bersama Bidang Kepatuhan Internal, membuat gebrakan dengan melakukan pemeriksaan mendadak di Kantor Pelayanan Utama (KPU) Bea Cukai Tanjung Priok. Hasilnya, ditemukan dugaan suap yang melibatkan beberapa pegawai, dengan barang bukti berupa amplop berisi uang. KPU Bea Cukai Tanjung Priok yang diresmikan pada 1 Juli 2007, memang diharapkan dapat menjadi barometer keberhasilan DJBC dalam memberikan pelayanan dan pengawasan akan lalu lintas barang ekspor impor. Harus diakui, sejak diresmikan KPU Bea Cukai Tanjung Priok telah banyak melakukan perubahan, baik terhadap pelayanan dan pengawasan, khususnya terhadap penerimaan bea masuk yang terus mengalami peningkatan. Tahun 2006 ketika masih bernama Kanwil IV DJBC, penerimaan bea masuk yang dihasilkan mencapai Rp.6,380 triliun. Tahun 2007 penerimaan bea masuk meningkat hingga 110,47 persen atau sebesar Rp. 8,426 triliun. Sedangkan untuk tahun 2008 ini dari Januari hingga 29 Mei 2008 penerimaan bea masuk telah berhasil mencapai 54,02 persen atau sebesar Rp. 4,617 triliun. Dari sisi pengawasan terhadap kinerja ekspor impor, dapat dilihat dari beberapa penegahan yang dilakukan KPU selama ini, mulai dari kayu ebony, kayu gergajian, rotan asalan, meat bone meal, truk bekas, mobil mewah, tabung, kompor gas, pupuk, pasir timah, kondom bekas, jetsky, benda purbakala, senjata api, hingga komoditas lainnya hasil operasi intelijen. Kasus-kasus yang berhasil diungkap KPU Tanjung Priok sepanjang tahun 2007 melonjak drastis dibandingkan tahun 2006. (lihat tabel-1). Sementara dari sisi pengawasan terhadap pegawai, Bidang Kepatuhan Internal telah melakukan tindakan preventif berupa pembinaan pegawai dan penyebaran brosur serta melakukan pemeriksaan kepatuhan internal terhadap pegawai yang melanggar kode etik sesuai peraturan kepegawaian. Berkaitan deKETERANGAN : * DATA s.d. APRIL 2008 ngan pelanggarSUMBER : KP DJBC
WARTA BEA CUKAI EDISI 404 JULI 2008

52

napun baik internal maupun eksternal DJBC termasuk siapapun yang ada di belakangnya jika bermaksud untuk menciderai proses reformasi yang sedang DJBC jalankan. Selengkapnya mengenai pernyataan Dirjen, berikut petikan wawancaranya : Bisa dijelaskan kembali, apa latar belakang pemeriksaan mendadak yang dilakukan KPK pada 30 Mei 2008 di KPU Tanjung Priok? Saya luruskan ya, pemeriksaan mendadak itu bersama antara bea cukai dengan KPK. Sebetulnya KPK itu sudah memberikan masukan kepada Ibu Menteri bahwa ada temuan di Priok. Sebenarnya KPK itu tanpa ijin dari Ibu Menteri, bisa dia lakukan (pemeriksaan-red). Jadi dia gak lewat kita bisa. Jadi pemeriksaan mendadak kemarin itu atas inisiatif KPK? Sebenarnya ada temuan. KPK dengan kita itu kan sudah menjalin kerjasama sejak lama bahkan sejak 2007 KPK

sudah memonitor dan mengevaluasi. Nah, ada data tentang suap yang kira-kira di Priok itu sehari berapa (rupiahred) dikalikan 30 hari, ketemunya 12,6 milyar. Mereka bersama-sama kita memonitor, ternyata kasus ini masih terjadi. Bukan berarti kita di bea cukai tidak melakukan apa-apa, (Bidang) kepatuhan internal melakukan sidak, Kepala KPU melakukan sidak, Sekretaris melakukan sidak, tetapi teman-teman menjawab itu tidak adil, kenapa hanya pegawai yang ditindak, PPJK dan importir kok tidak ditindak. Nah kita kan sulit kewenangan, saya kira lembaga yang kredibel itu KPK. Sebelumnya bidang kepatuhan internal apa sudah maksimal dalam menjalankan tugasnya? Sudah tapi tetap membutuhkan pelaksanaan yang konsisten. Sebenarnya KPK itu dua bulan sebelumnya di Priok sudah surveillance, tapi kita tidak merespon. Teman-teman sudah kita beritahu, saya turun, Sekretaris turun, Direktur P2 turun, Ketua Tim Percepatan Reformasi turun, Kepala KPU turun, kemudian Irjen juga turun. Kita sudah menyamEDISI 404 JULI 2008 WARTA BEA CUKAI

53

PENGAWASAN
paikan kepada Pak Kushari (Kepala KPU), masih ada suap gak? Dia bilang tidak. Trus kita tanyakan ke teman- teman, masih ada suap gak? Teman-teman itu jawabnya ya buktikan aja pak. Nah kita buktikan, dan itu tidak disangka oleh teman-teman. Sebetulnya kalau sudah diberikan warning tidak dilakukan (suap-red) ya selamat, atau selamanya tidak pernah melakukan itu lebih selamat lagi. Reformasi itu kan harus terus berjalan secara bertahap, kita tidak berhenti. adanya dalam rangka memulihkan. Sebenarnya message yang ingin disampaikan oleh KPK adalah kepatuhan, baik itu internal maupun eksternal, yang kedua sebagai shock therapy, kemudian yang ketiga KPK menyampaikan sebenarnya dia ingin turun sendiri, tetapi karena Departemen Keuangan dan DJBC masih bisa dipercaya, ya lebih memilih sidak bersama. Umpama saya tidak dipercaya, tidak akan ada sidak bersama, dikira saya main juga.

Data Pelayanan KPU Bea Cukai Tanjung Priok

Lalu bagaimana dengan para stakeholder, karena dari mereka lah suap ini berasal? Sampai saat ini hasil dari temuan bidang kepatuhan inKalau mereka pidana ada, kalau dari kita saya sudah peternal itu sendiri bagaimana? rintahkan Pak Kushari agar PPJK yang suka main supaya Sampai saat ini saya dengan Sekretaris melihat penadicabut saja, trus importir yang main agar diblokir dan nganan administrasinya masih terlalu lama, untuk diikuti terus karena biasanya mereka ini ‘nyelungsungi’ yang kami ajukan pemberhentian tidak hormat itu (berganti-ganti nama-red). mulai November 2007, sampai sekarang belum puWONG tus di Departemen, itu juga menyebabkan masalah. DJBC juga kan bekerjasama dengan Inspektorat Kami juga sudah meminta kepada Ibu Menteri, khuDPR Jenderal Departemen Keuangan, hasilnya selama sus untuk PFPD itu (pengangkatan pertamanya-red) AJA ini bagaimana? didelegasikan ke kita lewat PMK, atau delegasi teSelama ini shock therapy-nya tidak seperti tapi tetap masih terbatas. DIJEBOL kemarin, memang koordinasi selama inisehebatsangat sudah APALAGI baik, namun kita juga butuh lembaga yang kredibel. Kembali ke pemeriksaan mendadak, apakah pemeriksaan oleh KPK ini sudah sesuai dengan KITA INI Pada sidak kemarin, apakah sebelumnya Bapak suaturan perundang-undangan yang berlaku? dah memikirkan untung ruginya? KPK sudah surveillance, TO-nya sudah jelas, seIya sudah saya pikirkan. Kalau KPK sidak sendiri benarnya KPK membagi pengalaman kepada kita. tanpa kita, ya kita bubar aja semua, gak ada pilihan. Kalau Kemudian mengenai aturan jelas dia kan super body, ‘wong’ sidak bersama masih ada pilihan, kita titik awal hijrah dari DPR aja dijebol apalagi kita ini. jaman jahiliah ke sedikit jahiliah hingga ke jaman yang benar. Kita kan sudah mulai baik. Kalau begitu apa tindak lanjut dari hasil temuan KPK tersebut? Termasuk memikirkan terhadap internal Departemen KeYang pertama, saya prioritas memulihkan teman-teman uangan itu sendiri? yang shock, itu saya tidak menutup mata. Kemudian menSaya kira iya kita sudah perhitungkan. Intinya, apapun kita jelaskan tujuan kita mengapa ada sidak ini, supaya tidak mengusahakan, membela, melindungi anak-anak, tapi kalau ada provokator yang memanas-manasi situasi yang sudah sudah proses hukum kadang-kadang siapapun tidak bisa bagus menjadi tidak bagus. Kita hari pertama kerja bersamembela, mungkin contohnya Jaksa Urip saja, ada Jaksa ma-sama KPK ada Pak Ronny, Pak Donny dan Pak Sam Agung tapi tidak bisa membela apa-apa. Jadi kita membela mereka mengumpulkan semua pegawai dan berbicara apa sepanjang, syukur bisa ringan, kita juga komunikasi terus dengan KPK. Kalau memang mereka sudah tidak bisa dibenahi kan sulit juga. Sebenarnya di bea cukai yang baik banyak, ya seperti di keluarga ada saja yang satu nakal, tapi kita kan tidak mengorbankan semua. Jadi shock therapy tidak hanya di bea cukai, tapi itu mungkin langkah awal untuk kehidupan kita.

“ ”

SUMBER : KP DJBC

Pemberitaan-pemberitaan di media, bea cukai masih saja disudutkan, padahal Bapak tidak ingin hanya bea cukai saja yang ditindak tapi juga importirnya? Itu sebenarnya hanya soal kehumasan kita saja, kita kan belum punya humas, kalau humas hanya ada di Departemen, nah tugas WBC inilah juga sebagai humas. Kita ini kadangkadang kurang humas, karena ada teman-teman di luar yang ingin kembali ke SGS (surveyor-red), itu ‘bola liar’ yang harus kita waspadai. Tapi komitmen kita tidak. Karena
EDISI 404 JULI 2008

54

WARTA BEA CUKAI

EDISI 404 JULI 2008

WARTA BEA CUKAI

55

PENGAWASAN
kita sakit jadi jangan mengundang orang yang lebih sakit. SGS bukan berarti orang sehat, tapi kita harus sadar kalau ini sering-sering, orang mencari solusi lain seperti ‘bola liar’ tadi. Tapi di antara kita satu pikiran dan satu komitmen yang titik awal kita adalah hijrah. Sejauh ini apa tindakan KPK terhadap importir yang memberikan suap? Mereka sekarang sedang mendengar 5 orang petugas kami, kemudian di amplop ada nama perusahaan juga ada namanya, ini akan dipanggil dan dilakukan penyelidikan, untuk sanksinya kita lihat saja nanti. sistem assessment, apakah juga dinilai gagal karena masih ada yang melakukan pelanggaran? Ya kita review saja, biasanya assessment itu dikerjakan oleh pihak professional supaya bea cukai independen, tetapi di lapangan kan antara teori dengan praktek beda. Misalnya saya orang yang pinter ngomong, kelihatannya bagus tapi belum tentu kelakukan saya baik. Nah ini kita lakukan review, caranya disamping assessment center, kita minta Sekretaris sambil ke lapangan sambil membina atau talent scouting. Artinya perektrutan berikutnya akan diperbaiki lagi? Sebenarnya assessement itu hanya potret awal, yang penting kan merawat. Seperti teman-teman waktu sekolah kan bagus, tapi begitu di lapangan kok jadi jeblok ya? Bisa karena lingkungan, panutan, karena tidak ada keberanian diingatkan, ewuh pakewuh nah budaya itu harus kita mulai benahi. Misalnya atasan salah, ya harus mau dikasih tahu, kita ini masih mencari perubahan. Saya akan mau ditegur kalau salah, karena supaya saya bisa selamat adalah dengan teguran dari anak buah.

Soal suap ini sepertinya juga terjadi karena masalah nilai pabean, sebenarnya bagaimana standar penetapan nilai pabean ini? Kalau sekarang jauh lebih baik dari yang dulu, kalau dulu dikenal dengan sistem borongan 20 feet 20 juta, 40 feet 40 juta. Dalam kontainer itu mau isinya emas atau loyang itu disamakan. Itukan tidak adil, lalu kita melaksanaSebentar lagi KPPBC Madya Cukai akan diberlakukan, kan P-01 dan P-07 untuk pemeriksaan barang. Sebetulnya apakah dengan kejadian ini kebijakannya akan dirubah? aturan inikan memang memenuhi syarat dan mungkin ada Ya kita harus berubah untuk mau memerangi KKN, untuk sesuatu yang perlu disempurnakan. Memang peraturan itu itu kita akan membuat satgas di pusat yang akan melakukan tidak ada yang lengkap jadi yang melengkapi adalah diri kisidak juga, kalau dulu sidak hanya sederhana ini ta sendiri, kita mau baik atau tidak, itu saja kok. akan jauh lebih canggih. Kalau masalah nilai pabean dipermasalahkan, itu bisa dilihat dengan volume impor yang sama UMPAMA Apakah pemeriksaan mendadak oleh KPK bisa mungkin turun, tapi penerimaan kita justru jauh lebih besar dari sebelumnya, itukan perbaikan DENGAN CARA menyebabkan dampak terhadap perekonomian nasional, misalnya karena menumpuknya yang cukup baik dan ini harus dijawab. INI KITA barang dan dokumen akibat pegawai yang enggan untuk bekerja karena takut? Selama ini PFPD sering dipersalahkan kareINGATKAN Itu pro dan kontra, pada waktu kita ketemu Ibu na dalam penetapan nilai pabean antara LAGI TAPI Menteri, Ibu Menteri juga ditakut-takuti isu itu, tapi saya PFPD yang satu dengan yang lainnya beda, ijin Ibu Menteri pada hari Senin begitu juga antara kantor yang satu dengan MASIH BEGITU, mintabersama Pak Kamil (Sekretaris),(2 Juni 2008) saya Pak Thomas yang lainnya juga beda? YA SUDAH (Ketua Tim Percepatan Reformasi), Pak Jusuf Indarto Itu mekanisme karena jabatan PFPD itu proke Priok, apa yang terjadi fesionalisme, saya sendiri tidak bisa menyalahKETERLALUAN (Direktur P2) jam 8 Jadi ini kan kontra isu, yang satu semuanya masuk. kan, itu profesionalisme kita. Tapi saat ini bea tidak ingin berubah dan yang satunya ingin berubah. cukai sedang menyempurnakan penetapan Yang harus kita waspadai adalah provokator yang harga (PH) database kita, saya sudah meminta tidak mau merubah diri. Lalu kenapa Senin macet Pak? Ya kepada Direktur Teknis untuk membuat penyempurnaan karena teman-teman diperiksa sampai Sabtu pagi, mau masuk tersebut, sehingga teman-teman tidak mengalami banyak Sabtu siang apa tega? Kan Sabtu juga libur, YOR-nya juga turun. kesulitan dan cepat dapat penyelesaiannya. Karena Saya sudah mencek ke Pak Darmin (Dirjen Pajak) hari Senin (2 sekarang ini PFPD mencari PH hingga 15 menit tidak ada, Juni 2008) data PPN impor itu naik, jadi saya kira tidak ada lalu dianggap mempersulit, lalu karena mempersulit basesuatu yang mengkhawatirkan dan teman-teman lebih bagus yangannya minta suap, jadi dua-duanya harus kita perbaiki. menetapkan nilai pabeannya. Tapi ini adalah titik awal yang harus kita kerjakan.

“ ”

Dengan adanya temuan KPK tersebut, apa yang akan dibenahi DJBC terhadap KPU Tanjung Priok? Pertama, integritas. Kedua memberdayakan kepatuhan internal, kemudian ketiga, Kepala KPU harus terus memantau. Pimpinan harus mendeteksi modus operandinya makin canggih atau tidak, karena di aturan kita kalau membiarkan orang melakukan suap itu kita juga sudah dipersalahkan. Seperti saya, kalau saya kemarin tidak bertindak juga saya dipersalahkan oleh undangundang. Jadi mengapa kita lakukan pemeriksaan, ya itu. Bapak menilai KPU yang sekarang berjalan telah gagal? Tidak. Kalau dilihat dari data penerimaan itu meningkat. Memang semua orang inginnya instan begitu 1 Juli 2007 dibuka langsung beres semua, kan tidak semudah itu, padahal pelayanan bagus pemerimaan meningkat, jadi hanya sedikit cidera saja teman-teman yang tidak menyangka kita serius untuk membuktikan pelanggaran. Umpama dengan cara ini kita ingatkan lagi tapi dia masih begitu, ya sudah keterlaluan. Bagaimana dengan perekrutan pegawai KPU dengan 56
WARTA BEA CUKAI EDISI 404 JULI 2008

Apa harapan dan pesan bapak kepada seluruh pegawai bea cukai, dengan adanya pemeriksaan mendadak ini? Yang pertama saya menghimbau lakukanlah yang terbaik. Kita juga sampaikan bahwa KPK itu tanpa ijin kita pun, setiap saat bisa melakukan penggerebekan. Yang kedua, kita harus tetap mempertahankan bea cukai hingga akhir jaman dengan memperbaiki citra dan integritas kita atau dengan kata lain mau berubah perilaku ke arah yang lebih baik. Karena, yang dulu dianggap biasa sekarang dianggap sesuatu yang salah. Misalnya, kalau dulu menerima itu dianggap biasa tapi meminta dengan paksa dianggap salah, sekarang menerima tanpa meminta pun dianggap salah. Yang ketiga, temanteman daripada disidak orang luar kan lebih baik yang menangani pengawasan itu kepala kantor untuk melakukan sidak yang sama, tetapi harus profesional dengan cara mencari orang yang integritasnya tinggi, jangan sidak tapi mau menerima amplop. Marilah kita hijrah dari kondisi yang tidak benar ke yang benar, kemudian sampaikan juga mekanisme kalau saya salah ya diingatkan, kalau ada orang mengaku-ngaku keluarga saya dan itu salah ya ditindak aja, jadi ewuh pakkewuh itu dihilangkan sehingga ada check and balance sehingga tidak ada yang saling menzolimi. adi

merupakan tegahan yang ke sembilan kalinya untuk tahun 2008. “Modus yang dilakukan kini mulai berubah, kalau sebelumnya kurir yang dikirim adalah warga negara asing, kini kurir sudah menggunakan warga negara Indonesia. Dan dari pengakuan tersangka dirinya dibayar Rp. 20 juta untuk membawa barang haram tersebut dari Macao ke Indonesia,” ujar Rahmat Subagio. Masih menurut Rahmat, tersangka yang dijadikan kurir ini sebelumnya pergi ke Macao untuk tujuan berjudi, namun dirinya dibujuk oleh seseorang yang merupakan jaringan internasional untuk membawa shabu ke Indonesia yang seperti biasanya akan dijemput begitu sampai di bandara. Untuk kasus tersebut kini baik tersangka maupun barang bukti telah diserahkan kepada pihak Kepolisian untuk pengembangan penyelidikan lebih lanjut. Karena, tindakan tersangka digolongkan sebagai tindakan pelanggaran undang-undang nomor 5 tahun 1997 tentang psikotropika dengan ancaman pidana kurungan paling lama 10 tahun dan pidana denda paling banyak Rp.300 juta.

TEGAHAN ULAR.
Sebelumnya pada 6 Juni 2008, KPPBC Soekarno-Hatta juga menggelar jumpa pers setelah berhasil menegah importasi ular yang dikirim oleh tersangka SY dari Philadelphia, USA melalui perusahaan jasa titipan Fedex. Tersangka mengirimkan enam ular dengan berbagai ukuran dan warna yang diberitahukan sebagai legal document yang dikemas dalam satu paket standar. Namun demikian setelah dilakukan pemeriksaan melalui XRay, petugas mendapati dalam paket tersebut ada enam ekor ular jenis Boa (hypomelanistic sp) yang diperdagangkan dengan nama komersial Sunglow, Albino, dan Dream Boa, dengan harga per ekor di USA mencapai USD 1.000. Menurut Rahmat Subagio, KPPBC Soekarno-Hatta telah melakukan koordinasi dengan pihak Balai Besar Karantina Hewan untuk menguji kesehatan reptil tersebut, sekaligus mendeteksi ada tidaknya penyakit atau mikroba bawaan yang dapat membahayakan flora dan fauna Indonesia. “Jika importasi ini dilakukan dengan sengaja, maka yang bersangkutan diduga melanggar pasal 31 (1) undang-undang nomor 16 tahun 1992 tentang karantina hewan, ikan dan tumbuhan yang dapat dikenai sanksi penjara paling lama tiga tahun dan denda maksimal Rp. 150 juta,” papar Rahmat Subagio. Lebih lanjut Rahmat Subagio menjelaskan, apabila importasi ini dilakukan karena lalai, maka yang bersangkutan diduga melanggar pasal 31 (2) undang-undang nomor 16 tahun 1992, yang dapat dikenai sanksi penjara paling lama 1 tahun dan denda maksimal Rp.50 juta. Untuk kasus importasi ular ini, kini masih dilakukan pengembangan dengan pihak-pihak terkait untuk mencegah berbagai modus ekspor-impor flora dan fauna, termasuk yang langka dan dilindungi. adi
DOK. KPPBC SOEKARNO-HATTA

DUA KILOGRAM. Shabu-shabu seberat 2 kilogram atau setara dengan Rp.4 milyar, yang dibawa oleh warga negara Indonesia, berhasil ditegah petugas KPPBC Soekarno-Hatta.

SHABU 2 KILOGRAM
DITEGAH PETUGAS KPPBC SOEKARNO-HATTA
Modus yang digunakan dengan memanfaatkan ruang yang ada pada kopor. Modus ini ternyata tidak mempersulit petugas untuk menemukannya bahkan lebih mudah mendeteksi keberadaan barang haram tersebut.

U

ntuk yang ke sembilan kalinya, Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe A1 Soekarno-Hatta menggagalkan upaya pemasukan barang psikotropika jenis shabu-shabu. Kendati telah banyak kurir yang berhasil ditangkap petugas KPPBC Soekarno-Hatta, namun jaringan shabu-shabu asal Macau tidak merasa putus asa dan terus mencoba mencari kelengahan dari petugas bea cukai. Tegahan diawali kecurigaan petugas atas kopor yang dibawa oleh tersangka Hengky Nio, warga negara Indonesia yang baru tiba dari Macao dengan pesawat Viva Macao pada 28 Mei 2008. Dari hasil pemeriksaan X-Ray, kedapatan dalam kopor tersebut ada benda yang menyerupai kristal dengan jumlah yang cukup banyak yang terletak pada sisi kopor. Dari kecurigaan tersebut, petugas langsung melakukan pemeriksaan, dan kedapatan dalam kopor tersebut psikotropika jenis shabu-shabu seberat 2 kilogram dengan nilai sekitar Rp. 4 milyar. Karena telah diketahui, tersangka mencoba menghindari pemeriksaan petugas dengan cara menitipkan kopor miliknya pada porter, namun itu tidak membuat petugas kehilangan jejak tersangka. Dengan memburu tersangka yang sudah terlanjur keluar, petugas pun meminta tersangka untuk kembali dan melakukan pemeriksaan kopor tersebut dihadapannya. Menurut Kepala KPPBC Tipe A1 Soekarno-Hatta, Rahmat Subagio, saat press release pada 9 Juni 2008, tegahan ini

IMPORTASI ULAR. Petugas berhasil menegah enam ular jenis Boa yang rencananya akan diperjualbelikan. EDISI 404 JULI 2008 WARTA BEA CUKAI

57

PENGAWASAN
FOTO-FOTO WBC/AGS

KEGIATAN DI PELABUHAN TANJUNG PRIOK. Pasca sidak oleh KPK dan Bidang Kepatuhan Internal KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok, kegiatan kepabeanan di pelabuhan Tanjung Priok kembali normal

PASCA SIDAK,
AKTIFITAS KPU BEA DAN CUKAI KEMBALI BERJALAN NORMAL
Wakil ketua KPK M. Jassin memberikan suntikan moral dan semangat kepada para petugas KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok

ktifitas Kantor Pelayanan Utama (KPU) Bea dan Cukai Tanjung Priok pasca inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan bersama oleh Bidang Kepatuhan Internal (KI) KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok dan juga Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akhir Mei lalu, kini sudah berjalan normal. Aktifitas yang sudah kembali normal tersebut menurut Direktur Jenderal Bea dan Cukai Anwar Suprijadi dapat dilihat dari kegiatan pemeriksaan dokumen yang telah kembali normal dan Yard Occupancy Ratio (YOR) di terminal peti kemas yang kurang dari 100 persen. Tingkat YOR pada Tempat Penimbunan Sementara (TPS) sebelum dan sesudah sidak dapat dilihat pada tabel. Selain itu target penerimaan yang dibebankan kepada KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok dari sektor Bea Masuk (BM) untuk bulan Juni juga tercapai. Menurut Anwar di sela-sela ekspose tegahan pasir timah dan kayu di KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok, 12 Juni 2008 lalu, pihaknya dalam hal ini Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) juga melakukan inspeksi mendadak di beberapa Kantor Bea dan Cukai seperti di Surabaya, Semarang, Batam dan beberapa kantor Bea dan Cukai lainnya, tidak terkecuali di dalam Kantor Pusat Bea dan Cukai, tepatnya di bagian Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE). Sidak yang dilakukan oleh tim yang dipimpin oleh Direktur P2 tersebut menurut Anwar merupakan bentuk nyata dari keseriusan insitusi yang dipimpinnya untuk menjadi lebih baik lagi sekaligus memastikan bahwa reformasi di tubuh DJBC tetap berjalan. 58
WARTA BEA CUKAI EDISI 404 JULI 2008

A

Dari hasil sidak di beberapa daerah tersebut, pihaknya menemukan adanya pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh seorang petugas yang kini kasusnya tengah dibuat berita acara pemeriksaannya. Untuk membangun kembali moral para petugas pasca sidak di KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok lanjut Anwar, pihaknya bersama dengan KPK kembali mendatangi KPU Bea dan Cukai untuk memberikan motivasi dan semangat kerja kepada para petugas KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok. Tidak tanggung-tanggung, Wakil Ketua KPK M. Jassin turut memberikan suntikan moral dan semangat kepada para petugas KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok agar dapat menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik tanpa harus tergoda untuk menerima suap. Seperti diketahui pada akhir Mei lalu, KPK bersama dengan Bidang Kepatuhan Internal Bea dan Cukai Tanjung Priok melakukan sidak. Pada sidak tersebut sebanyak 69 pegawai KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok diperiksa dalam kasus penerimaan uang tanda terima kasih dari importir, Perusahaan Pengurusan Jasa Kepabeanan (PPJK) atau pihak lainnya. Menurut siaran pers yang dikeluarkan oleh Biro Humas Departemen Keuangan, dikatakan, pada tahap awal para pegawai tersebut diminta keterangan oleh Bidang Kepatuhan Internal yang dituangkan dalam Berita Hasil Wawancara terhadap 69 pegawai yang kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan oleh tim audit investigasi Inspektorat Jenderal Departemen Keuangan mulai tanggal 4 Juni 2008 sampai 6 Juni 2008, di Aula Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Tanjung Priok atau gedung induk.

MODUS PENERIMAAN UANG TERIMA KASIH
Modus operandi penerimaan uang terima kasih oleh PFPD, pada umumnya dilakukan melalui orang ketiga (kurir) seperti petugas kebersihan, dan atau pegawai PPJK. Untuk PFPD jalur hijau penerimaan uang tanda terima kasih dikoordinir oleh seorang PFPD pengumpul yang sekarang tengah diselidiki oleh KPK. Sementara untuk PFPD jalur merah, masing-masing pegawai menerima langsung atau melalui kurir. Siaran pers humas Depkeu juga menyebutkan, para pegawai yang menerima uang terima kasih tersebut menyatakan

penyesalan dan berjanji untuk tidak mengulangi perbuatan serupa. Terhadap kasus tersebut pimpinan Departemen Keuangan mengambil langkah-langkah seperti akan menjatuhkan hukuman jabatan seperti hukumuan sedang sampai berat terhadap para pegawai tersebut yang didasari pada hasil wawancara yang tercantum dalam Berita Acara Wawancara oleh Itjen maupun hasil cross check atau rekonsiliasi dengan pihak-pihak yang mengetahui adanya pelaksanaan penerimaan uang terima kasih tersebut. Selain itu Depkeu juga menginstruksikan untuk melakukan evaluasi yang komprehensif terhadap KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok, hingga dengan tingkat pembuat kebijakan. Tidak hanya itu, sanksi terhadap para perusahaan yang memberikan uang terimakasih juga dilakukan seperti mengubah tingkat resiko dari low risk menjadi high risk, serta memerintahkan Direktur Jenderal Bea dan Cukai untuk segera melakukan pemulihan pelayanan di Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Tanjung Priok.

PENEGAKKAN DISIPLIN DILINGKUNGAN DEPKEU
Untuk menjaga konsitensi program reformasi yang tengah dijalankan oleh Departemen keuangan (Depkeu), Menteri Keuangan sepanjang bulan Januari hingga Mei 2008 telah menjatuhkan hukuman disiplin atau memberhentikan dengan hormat maupun tidak hormat sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) maupun Pegawai Negeri Sipil (PNS) kepada 238 orang pegawai Depkeu yang terindikasi melakukan perbuatan indisipliner. Sanksi tersebut merupakan wujud reward and punishment program reformasi birokrasi yang merupakan sebuah strategi untuk meningkatkan performa dan kinerja pegawai dalam rangka menciptakan good and clean government. Sanksi yang diberikan kepada 238 pegawai tadi 22 diantaranya diberhentikan tidak hormat sesuai dengan PP nomor 32 tahun 1979, dua orang dijatuhi hukuman disiplin berupa pemberhentian dengan tidak hormat sebagai PNS sesuai dengan PP Nomor 30 tahun 1980 yang diubah dengan PP Nomor 11 tahun 2002, serta satu orang diberhentikan dengan hormat sebagai PNS sesuai dengan PP Nomor 32 tahun 1979. Sementara untuk periode Juli hingga Desember 2007, terdapat 268 pegawai dilingkungan Depkeu yang terindikasi melakukan perbuatan indisipliner dan telah dijatuhi hukuman disiplin atau pemberhentian dengan tidak hormat sebagai CPNS maupun PNS oleh Menteri Keuangan. Dari jumlah tersebut, 38 orang CPNS yang berasal dari Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dikenakan tindakan pemberhentian dengan hormat sesuai dengan PP Nomor 98 tahun 2000 yang diubah dengan PP Nomor 11 tahun 2002, 12 orang pegawai diberhentikan dengan tidak dengan hormat dan dengan hormat, 21 orang diberikan penurunan pangkat, tiga orang dibebaskan dari jabatan, 8 orang dikenakan penundaan kenaikan pangkat dan 14 orang dikenakan tindakan penurunan gaji. Penjatuhan hukuman disiplin atau pemberhentian terhadap tindakan indisipliner yang dilakukan oleh Depkeu dilakukan mulai dari pemberian surat peringatan I hingga III, penundaan kenaikan

TEGAHAN KAYU. Kerugian yang ditimbulkan dari tegahan kayu di KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok berjumlah Rp.13.270.000.000 miliar

gaji berkala, penurunan gaji, penundaan kenaikan pangkat, penurunan pangkat, pembebasan dari jabatan, pemberhentian sementara dari jabatan, pemberhentian dengan atau tidak dengan hormat CPNS, sampai dengan pemberhentian dengan atau tidak hormat sebagai PNS, yang mengacu pada PP Nomor 32 tahun 1979, PP Nomor 30 tahun 1980, PP Nomor 4 tahun 1966, PP Nomor 11 tahun 2002 serta KMK nomor 15/KMK.01/UP.6/1985

TEGAHAN KAYU DAN PASIR TIMAH
Sementara itu KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok Jakarta, pada 12 Juni 2008 melakukan ekspos tegahan terhadap 21 kontainer yang berisi kayu dan dua kontainer pasir timah yang dilakukan oleh pihak yang mencoba memanfaatkan kelengahan petugas. Penegahan dilakukan karena kedua komoditi tadi merupakan komoditi ekspor yang terkena aturan larangan dan atau pembatasan dari pemerintah. Menurut Kepala KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok Kushari Suprianto, modus yang digunakan oleh eksportir atau kuasanya adalah dengan memberitahukan secara tidak benar nomor HS (pos tariff) barang tersebut, dimana pos tariff yang diberitahukan pada Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) bukan merupakan komoditi yang terkena aturan larangan pembatasan dari pemerintah. Selain itu juga lanjutnya ada indikasi bahwa pelaku dengan sengaja memasukkan kontainer ekspor tersebut ke kawasan pabean pada waktu closing time pemuatan barang ke kapal pengangkut. Pelaku yang saat ini masih berjumlah satu orang yaitu eksportir, masih dalam proses penyidikan. Sementara sanksi yang dikenakan kepada pelaku berupa pidana penjara paling singkat dua tahun dan paling lama delapan tahun dan atau pidana denda paling sedikit Rp.100 juta dan paling banyak Rp.5 miliar . Barang ekspor yang berhasil ditegah tersebut lanjut Kushari ditetapkan sebagai barang yang dikuasai negara, sementara kerugian yang ditimbulkan dari kasus tersebut masing-masing berjumlah Rp.13.270.000.000 miliar, untuk kayu, dan kerugian dari penyelundupan pasir timah sebesar Rp. 4.410.000.000 miliar sehingga total kerugian negara yang berhasil diselamatkan sebesar Rp.17.680.000.000 miliar. zap
EDISI 404 JULI 2008 WARTA BEA CUKAI

YOR PADA TEMPAT PENIMBUNAN SEMENTARA DI KPU BEA DAN CUKAI TANJUNG PRIOK
No. Tempat Penimbunan TPS JICT I TPS MAL TPS Koja TPS Dwipa TPS Reefer TPS Graha Tanggal 29 Mei 2008 78% 107,39% 101,45% 62.59% 52,43% 88,48% Tanggal 19 Juni 2009 77% 83,12% 79,52% 44,83% 46,90% 111,31%

1 2 3 4 5 6

Sumber KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok

59

PENGAWASAN

TEGAHAN TERBESAR. Dirjen Bea dan Cukai, Anwar Suprijadi didampingi Kakanwil DJBC Jakarta, Heru Santoso, dan Kabid P2 Kanwil Jakarta Septia Atma, saat menggelar jumpa pers tegahan pita cukai palsu, minuman mengandung etil alkohol, dan ketamin.

TEGAH PITA CUKAI PALSU, MMEA DAN KETAMIN

KANWIL DJBC JAKARTA

H
60

Pada Kamis 12 Juni 2008 Kanwil DJBC Jakarta melakukan ekspos kepada media tentang hasil-hasil tegahan berupa pita cukai palsu, MMEA, dan ketamin.

ingga pertengahan tahun 2008, tegahan yang diungkap tersebut merupakan tegahan yang paling besar yang didapat oleh Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Jakarta. Untuk pelanggaran berupa penjualan pita cukai palsu sebanyak 120.000 keping pita cukai MMEA impor golongan B2 dengan nilai cukai Rp. 20.000 per keping. 2 lembar kertas stiker, 1 lembar plastik film bertuliskan “Republik Indonesia”, dan satu lembar plastik film bertulisakn “Cukai MMEA Impor”, berhasil ditegah. Menurut Kepala Kantor Wilayah DJBC Jakarta, Heru Santoso, tegahan ini berawal dari informasi masyarakat pada 3 Juni 2008, yang menyebutkan akan terjadi transaksi pita cukai palsu di daerah Sunter, tepatnya di depan
WARTA BEA CUKAI EDISI 404 JULI 2008

Hotel Sunter.” Dari informasi tersebut, tim kami langsung melakukan pendalaman informasi sehingga didapatkan informasi yang akurat, yang akhirnya menemukan dua orang yang diduga melakukan transaksi pita cukai palsu yang dikemas dalam sebuah kardus,” ujar Heru Santoso. Lebih lanjut Heru menjelaskan, dengan modus melakukan pencetakan pita cukai palsu di atas stiker biasa dan dicetak di percetakan umum, para tersangka kemu- dian menjualnya di tempat-tempat terpisah untuk mengelabui petugas. Dengan tegahan tersebut, kini Sdr. LM alias YN ditetapkan sebagai tersangka, dan dinyatakan telah melanggar pasal 54 dan 55 huruf (b) Undang-Undang nomor 39 tahun 2007 tentang Cukai Jo pasal 55 Jo pasal 56 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 8 tahun penjara dan denda maksimal sebanyak 20 kali nilai cukai yang harus dibayar. Kerugian negara atas pelanggaran ini mencapai Rp. 2,4 milyar. Selain pita cukai palsu, Kanwil DJBC Jakarta juga berhasil menegah 40.800 botol minuman mengandung etil

alkohol impor dari berbagai jenis dan merek, dan 2760 keping pita cukai golongan C, dari sebuah gudang di daerah Kapuk. Menurut Heru Santoso, tegahan minuman keras yang berasal dari Eropa, Asia, dan Australia ini juga, diawali adanya informasi masyarakat yang menyebutkan telah banyak beredar minuman keras ilegal yang merupakan hasil tindak pidana penyelundupan yang dijual bebas, yang sebelumnya ditimbun di sebuah gudang. “Pada 2 Juni 2008, tim kami yang bergerak ke gudang tersebut, mendapati gudang dalam keadaan terkunci bahkan tidak ada orang yang dapat ditemui selaku penyewa atau kuasa penyewa gudang. Namun sesuai dengan undang-undang dan surat perintah, juga ijin dari pemilik atau pengelola pergudangan, tim kemudian masuk ke dalam gudang,” kata Heru Santoso. Akhirnya dari pemeriksaan di dalam gudang tersebut, petugas menemukan berbagai minuman yang mengandung etil alkohol dengan berbagai merek asal luar negeri yang belum dilekati pita cukai. Selain itu, tim juga menemukan pita cukai palsu yang diduga kuat akan digunakan untuk melekati botol minuman tersebut. “Dari hasil pemeriksaan, diduga pemilik barang tersebut adalah Sdr. VL yang sampai kini belum diketahui keberadaannya. Sementara untuk modus yang dilakukan tersangka, adalah menyimpan minuman ilegal tersebut dalam komplek pergudangan umum yang tidak memiliki ijin penyimpanan minuman keras berupa NPPBKC,” ungkap Heru. Dari tegahan ini, kerugian negara yang berhasil diselamatkan sebanyak Rp. 42 milyar dengan rincian 33.648 botol MMEA jenis Wine dan 7.152 botol MMEA jenis Spirit.

ngan rapat jadi kami dengan mudah membukanya. Saat membuka kecurigaan kami bertambah yakin akan adanya barang lain dalam tabung karena sebagai water filter tabung tersebut tertutup dengan rapat (seharusnya ada jalan air),” ungkap Bambang Sumarsono. Lebih lanjut Bambang menjelaskan, setelah isi barang tersebut dikeluarkan, terdapat benda berbentuk kristal yang dicurigai sebagai barang larangan. Akhirnya melalui koordinasi dengan Kanwil DJBC Jakarta, Kantor Pusat dan unit anjing pelacak, dilakukan pemeriksaan lebih detil oleh anjing pelacak narkotika yang langsung merespon barang tersebut. “Untuk lebih meyakinkan jenis barang tersebut, kami juga berkoordinasi dengan kantor BPIB Jakarta untuk diuji secara laboratorium, dan kedapatan barang tersebut adalah ketamin sebanyak 11,85 Kgs. Dengan hasil tersebut, koordinasi kami lanjutkan dengan pihak BNN dan Kantor Pos Pasar Baru untuk melakukan counter delivery ke rumah penerima barang, yaitu Sdr. JH,” papar Bambang Sumarsono. Masih menurut Bambang Sumarsono, tegahan ini modusnya hampir sama dengan tegahan yang didapat oleh KPPBC Soekarno-Hatta pada bulan Maret lalu, alat nya pun sama, yaitu DOK KPPBC KANTOR POS PASAR BARU tabung water filter, hanya saja kalau di Soekarno-Hatta sudah berbentuk shabu-shabu, sedangkan di Kantor Pos Jakarta berupa bahan pembuat shabu-shabu. Untuk itu, agar Kantor Pos tidak dijadikan sebagai jalur masuknya barang narkotika dan psikotropika, KPPBC Kantor Pos Pasar Baru telah melakukan berbagai upaya pengawasan, seperti dengan mengikuti pelatihan CNT di Kantor Pusat DJBC, dan melakukan petunjuk yang telah ditentukan oleh Direktorat P2 KP DJBC, yaitu dengan cara meTEGAHAN KETAMIN mobilisasi dan meTegahan yang KETAMIN. Melalui tabung water filter , ketamin seberat 11, 85 Kgs atau senilai Rp. 60 milyar motivasi tim khutidak kalah besar- diupayakan masuk ke Indonesia melalui paket pos. . sus pengawasan nya yang juga di narkotika dan psikotropika yang telah terbentuk di wilayah dapat oleh Kanwil DJBC Jakarta, adalah tegahan yang dikerja masing-masing. lakukan oleh petugas Kantor Pengawasan dan Pelayanan Sementara itu, menurut Heru Santoso, harga ketamin di Bea dan Cukai (KPPBC) Kantor Pos Pasar Baru Jakarta, pasar internasional berdasarkan www.drugscope.org.uk sekiyang berhasil menegah ketamin yang dimasukan ke tar £ 20 per gram, sementara untuk pasar gelap di Indonesia dalam tiga buah water filter yang dikirim oleh Kent Tan warharganya sekitar Rp.600 ribu sampai Rp. 1 juta per gram. ga negara Malaysia dengan tujuan Sdr. J.H. yang berdoSehingga, ketamin sebanyak 11,85 Kgs tersebut apabila misili di Jakarta Barat. digunakan untuk membuat shabu-shabu dapat menghasilkan Menurut Kepala KPPBC Kantor Pos Pasar baru, Bamsebanyak kurang lebih 60 Kgs senilai Rp. 60 milyar. bang Sumarsono, tegahan ini diawali dengan kecurigaan Dengan ditegahnya ketamin ini, merupakan prestasi petugas saat melakukan pemeriksaan dengan X-Ray atas tegahan yang terbesar bagi Kanwil DJBC Jakarta dan kiriman pos dari Malaysia berupa tiga buah water filter. KPPBC Kantor Pos Pasar Baru. Untuk itu upaya penangDari pemeriksaan tersebut terdapat keganjilan dalam isi gulangan masuknya barang narkotika dan psikotropika, tabung, yang menunjukan kumpulan benda-benda yang kini terus dijalankan secara maksimal, karena jalur masuk terdapat dalam tabung tersebut. barang haram tersebut kini sudah merambah ke berbagai “Atas kecurigaan tersebut, kami melakukan pemeriktempat. adi saan fisik, untungnya salah satu tabung tidak tertutup deEDISI 404 JULI 2008 WARTA BEA CUKAI

61

PENGAWASAN
DOK. KANWIL DJBC KHUSUS KEPULAUAN RIAU

BERBAGAI KOMODITAS. Kepala Bidang Penindakan dan Penyidikan (P2) Kanwil DJBC Khusus Kepulauan Riau, Saipullah Nasution, saat menggelar hasil tegahan berbagai komoditas dengan berbagai modus yang berhasil diamankan pada bulan Mei 2008.

HASIL PENINDAKAN PATROLI LAUT
KANWIL DJBC KHUSUS KEPULAUAN RIAU
Wilayah Selat Malaka memang sangat rawan akan tindak penyelundupan. Untuk itu peran DJBC sangatlah penting dalam mengamankan perairan tersebut dari upaya masuknya barang-barang ilegal.

S
62

ebagai selat yang menghubungan negara Indonesia dengan beberapa negara ASEAN lainnya, Selat Malaka sejak dulu menjadi lalu lintas perdagangan antar negara. Posisinya yang strategis tersebut menjadikan wilayah ini sering dijadikan sebagai jalur lalu lintas perdagangan ilegal khususnya barang-barang yang dikenakan pajak oleh masing-masing negara. Untuk itu Peran Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) sebagai community protector, khususnya Kantor Wilayah (Kanwil) DJBC Kepualauan Riau, sangatlah penting untuk mengamankan selat tersebut, dari aksi penyelundupan. Berdasarkan release yang diterima WBC, sepanjang Mei 2008 Kanwil Khusus Kepulauan Riau, telah berhasil mengamankan beberapa tindak pidana penyelundupan baik ekspor, impor, maupun yang melalui modus antar pulau. Untuk tindak pidana penyelundupan ekspor yang berhasil digagalkan, antara lain pasir timah sebanyak 102 karung atau
WARTA BEA CUKAI EDISI 404 JULI 2008

5.031 Kgs dan 21 Kgs kayu Sabak yang digagalkan pada 2 Mei 2008. Keduanya asal Pulau Parit yang akan diekspor ke Singapura tanpa dilengkapi dengan dokumen. Akan tegahan ini kerugian negara yang berhasil diamankan sebanyak Rp. 255.000.000. Pada 3 Mei 2008, berhasil ditegah 20 ton kayu balak tim jenis Mentagor, Meranti, dan Teki asal Belitung yang akan diekspor ke Batu Pahat, Malaysia. Kayu yang dibawa oleh KM. Nurul Fitria ini, berhasil ditegah disekitar perairan Selat Akar dengan kerugian negara yang berhasil diselamatkan sebesar Rp. 28.440.000. Selang tiga hari kemudian tepatnya 6 Mei 2008, juga berhasil ditegah 25 ton kayu balak tim campuran asal Pulau Padang yang akan diekspor ke Batu Pahat, Malaysia. Kayu tanpa dokumen resmi yang dibawa oleh KM. Penebal Jaya ini, berhasil ditegah di perairan Tanjung Jati. Akan tegahan ini kerugian negara yang berhasil diselamatkan sebesar Rp. 35.500.000. Masih terkait dengan ekspor kayu ilegal, di penghujung Bulan Mei 2008, tepatnya 22 Mei 2008, juga berhasil ditegah dua kapal yang membawa kayu balak tim jenis Mahang sebanyak 15 ton atau 150 batang, yang dibawa oleh KM. Mira Jaya. Kegiatan tanpa dokumen ini berhasil ditegah di perairan Tanjung Sedekip, dan berhasil mengamankan kerugian negara sebesar Rp. 21.300.000. Sedangkan untuk KM. Surya Mas yang membawa 10 ton kayu balak tim jenis Mentagor dan teki dengan tujuan Sei Rambai, Malaysia berhasil ditegah di perairan Tanjung Sempayan. Tegahan ini berhasil mengamankan kerugian negara sebesar Rp. 14.220.000. Untuk kegiatan tindak pidana penyelundupan ekspor ini, kasusnnya sedang dilakukan proses penyelidikan/penyidikan lebih lanjut di Kanwil DJBC Khusus Kepulauan Riau. Karena, dari tindak pidana ini dinyatakan telah melanggar padal 102a huruf a dan e Undang-Undang nomor 17 tahun 1006 tentang Kepabeanan, dengan ancaman pidana penjara paling singkat 1 tahun dan

paling lama 10 tahun, dan pidana denda paling sedikit Rp. 50 juta dan paling banyak Rp. 5 Milyar.

PENYELUNDUPAN IMPOR
Sementara itu, untuk hasil tegahan patroli laut akan tindak pidana penyelundupan impor, Kanwil DJBC Khusus Kepulauan Riau juga berhasil mengamankan beberapa komoditas yang secara nyata dapat merusak produk dalam negeri. Tegahan penyelundupan impor ini antara lain: Ditegahnya KM. Surya Indah pada 11 Mei 2008 yang mengangkut beberapa komoditas, seperti 195 pcs spring bed, 85 lemari pakaian kayu, 27 pcs pintu kayu, 8 set kursi tamu, 2 pcs kulkas, 4 pcs rak TV, 1 pcs organ, 12 pcs meja kantor kayu, dan 34 pallet atau 2.660 pcs aki bekas, yang keseluruhannya asal Singapura dengan tujuan Batam. Kapal yang membawa komoditas bekas tanpa dokumen ini berhasil ditegah di perairan Tanjung Sengkuang, sementara untuk kerugian negara masih dalam proses penghitungan. Selang dua hari kemudian, tepatnya 13 Mei 2008 juga berhasil ditegah KM. Cahaya Pulau yang membawa barang bekas campuran antara lain, tilam, kursi, mesin cuci, kulkas, meja, dan kursi kantor. Keseluruhan barang bekas ini berasal dari Singapura yang akan di bawa ke Batam, dan berhasil ditegah di perairan Helen Mars. Di penghujung Bulan Mei 2008, tepatnya 27 Mei 2008 berhasil diamankan Speed Boat yang membawa 4.800 pcs hand phone berbagai merek dan tipe antara lain, N73, N6300, dan N7610, yang dibawa dari Singapura tujuan Indonesia. Namun dalam proses penegahan di perairan Sungai Kain, tersangka berhasil melarikan diri. Dari tegahan ini perkiraan nilai barang mencapai Rp. 3 milyar, sedangkan perkiraan kerugian negara sekitar Rp. 400 juta. Dari keseluruhan tegahan tindak pidana penyelundupan impor ini, kasusnya sedang dilakukan proses penyelidikan dan penyidikan lebih lanjut di Kanwil DJBC Khusus Kepulauan Riau. Karena, diduga melanggar pasal 102 huruf a Undang-Undang nomor 17 tahun 2006 tentang Kepabeanan. Khusus terhadap importasi hand phone, dinyatakan melanggar Peraturan Menteri Perhubungan nomor KM. 10 tahun 2003 tentang Sertifikasi alat dan perangkat telekomunikasi.

info buku
BILA ANDA BERMINAT,
MAJALAH WARTA BEA CUKAI MENYEDIAKAN BUKU SEBAGAI BERIKUT:

BUNDEL WBC 2007
Bundel Majalah Warta Bea Cukai Tahun 2007 (Edisi Januari - Desember)

Rp. 150.000

CATATAN: Ongkos kirim buku wilayah Jabotabek Rp. 25.000
○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○

LANGGANAN MAJALAH WARTA BEA CUKAI

TEGAHAN IMPOR DENGAN MODUS ANTAR PULAU
Pada Mei 2008, Kanwil DJBC Khusus Kepulauan Riau juga berhasil melakukan penegahan terhadap dua kapal, yaitu KM. Jaya Maju pada 8 Mei 2008, yang membawa 1.706 karton buah-buahan antara lain, pear, anggur dan apel yang berasal dari Batam dan akan dibawa ke Pekanbaru. Tegahan ini dilakukan karena diduga belum menyelesaikan kewajiban kepabeanannya. Kapal lainnya yang juga berhasil ditegah adalah KM. Try Fha yang membawa 200 ton barang campuran, antara lain minuman ringan, sepeda, dan ban mobil. Keseluruhan barang yang diduga belum menyelesaikan kewajiban kepabeanannya tersebut berasal dari Batam yang akan dibawa ke Pekanbaru. Sedangkan kapal tersebut berhasil ditegah di perairan Batu Beranti pada 22 Mei 2008. Untuk tindak lanjut tegahan pelanggaran impor dengan modus antar pulau ini, kedua kapal dan muatan sedang diproses penyelidikan lebih lanjut, dan melakukan konfirmasi ke kantor asal barang. Selain itu, Kanwil DJBC Khusus Kepulauan Riau terhadap kasus ini akan menerapkan kewenangan pasal-pasal yang dilanggar dalam undang-undang nomor 17 dan undang-undang nomor 39, serta peraturan lain yang dibebankan kepada DJBC. adi

No Lama Berlangganan 1 2 3

Diskon Harga Jabotabek + Oks Kirim 3 Bulan (3 edisi) 0% 48. Rp. 48.000 6 Bulan (6 edisi) 5% 92.250 Rp. 92.250 1 Tahun (12 edisi) 10% 177 77.000 Rp. 177.000

Harga luar Jabotabek + Oks Kirim 51 Rp. 51.000 98.250 Rp. 98.250 189 89.000 Rp. 189.000

Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Jl. A. Yani (By Pass) Jakarta Timur 13230 Telp. (021) 47860504, 47865608, 4890308 ex. 154 Fax. (021) 4892353 / E-mail: wbc.cbn.net.id dengan Hasim / Kitty
EDISI 404 JULI 2008 WARTA BEA CUKAI

MAJALAH WARTA BEA CUKAI

63

O P I N I
Oleh : Suko Wibowo

M
TARGET

SISI UNIK BOLA DAN BEA CUKAI
omen Piala Eropa 2008 bulan Juni membuat penulis ingin menulis lagi bahasan tentang bola. Mungkin, pembaca bertanya-tanya, ngomong kok bola melulu? Memang enggak ada yang lain? Opo ora ono sing liyo ? Ente aya anu lain ? Bagi penulis yang mengumpulkan dari berbagai sumber, dan mungkin sebagian pembaca, bicara bola memang mengasyikkan. Apalagi bila bola dikaitkan dengan institusi kita tercinta ini, Bea Cukai. Masing-masing tim punya target yang berbeda dalam kurun waktu tertentu. Tim-tim dari Liga Inggris, Liga Italia dan Liga Spanyol menargetkan Juara Champion Eropa. Sriwijaya FC ingin mempertahankan juara Liga Indonesia, bahkan untuk klub kesayangan penulis AC Milan sekarang pun punya target realistis lolos ke Liga Champion Eropa. Tak kecuali juga dalam skala lebih kecil tim sepak bola Direktorat IKC punya target tahunan liga antar direktorat harus juara. Apakah ini bisa tercapai ? Belum tentu jawabannya. Ada banyak faktor yang mempengaruhinya, antara lain ada pemain bintang cidera, pemain yang menggantikan kurang sepadan dan wasit yang berat sebelah. Penulis jadi teringat liga antar direktorat (tahun 2003 - 2004). Saat itu, tim sepak bola IKC dihuni banyak pemain muda (6 pemain masuk dalam tim inti sepak bola Kantor Pusat DJBC) mempunyai target juara dalam liga antar direktorat. Ternyata hasilnya hanya runner up, kalah dengan tim Sekretariat yang banyak dihuni pemain eks Bina Taruna (he..he… IKC layaknya juara tanpa mahkota ). Bagaimana dengan Bea Cukai tercinta ini “our beloved directorat “ ? Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) adalah suatu instansi yang memiliki peran yang cukup penting dari negara yang salah satu tugas dan fungsinya adalah memungut bea masuk dan pajak dalam rangka impor secara maksimal untuk kepentingan penerimaan keuangan negara. Berikut ini penulis sajikan 2 tabel yang bersumber dari laporan 15 harian, MPO (Dit. PPKC ) dan www.beacukai.go.id. Tabel 1 tentang perkembangan target dan realisasi bea masuk 5 tahun terakhir. Tabel 2 tentang target dan realisasi bea masuk, cukai dan bea keluar (status tanggal 14 April 2008).

l SUMBER DARI LAPORAN 15 HARIAN PPKC DAN MPO

64

WARTA BEA CUKAI

EDISI 404 JULI 2008

l DALAM JUTA RUPIAH

Dari dua tabel tersebut, kita bisa lihat target ingin dicapai DJBC. Dari tabel 1, pada tahun 2004 dan 2007, DJBC bisa mencapai bahkan melebihi target yang ingin dicapai. Pada 2005 dan 2006 belum bisa memenuhi target dan pada tahun 2008, diharapkan DJBC bisa meraih target yang diharapkan.

SEMANGAT
Bermain bola memang harus semangat. Bermain tanpa semangat membuat hasil yang akan dicapai akan jelek. Semangat adalah modal yang paling penting untuk mengubah keadaan pertandingan, paling tidak untuk menutupi kekurangan teknik. Tidak ada kata terlambat untuk maju, gunakan masa mudamu sebelum masa tuamu, alangkah indahnya hidup ini bila yang muda dengan semangatnya menghormati yang tua dan yang tua menyayangi yang muda. Kolaborasi antara muda (enerjik dan semangat) dan yang tua (pengalaman) telah menghasilkan sebuah tim yang hebat. Buktinya, tim Manchester United dengan Nani, Cristiano Ronaldo, Anderson (mewakili darah muda) sinergi dengan Ryan Giggs, Edwin Van Der Sar, Paul Scholes (senior pengalaman) mampu membuat perpaduan dan menjadikan tim yang kuat, disegani di Liga Inggris maupun Liga Champion Eropa. Penulis teringat kembali ketika seorang pegawai senior bilang, “kamu itu alah bisa karena biasa “ (mulanya bisa karena terbiasa). Kalimat tersebut menjadi modal utama dan berharga. Kalimat tersebut merupakan salah satu kalimat semangat yang membuat seseorang terlecut, tentunya perlu dibedakan “sikap mental sedang-sedang saja “, “rata– rata mau yang biasa saja”, “nrimo ing pandum “, tidak mau berkembang dan belajar. Bea Cukai juga membutuhkan semangat perubahan ke arah yang lebih baik lagi. Kerjasama yang baik antara pegawai yang lebih berpengalaman dan hikmat dengan yang pegawai muda tentunya diharapkan bisa membawa perubahan di Bea Cukai sekarang ini. Program Kantor Pelayanan Utama (KPU) yang sudah berjalan di Tanjung Priok dan Ba-

tam yang kemudian akan disusul Malang, Kudus, Kediri, Tanjung Perak, Soekarno-Hatta, dan Belawan menunjukkan adanya keinginan besar untuk membawa perubahan percepatan reformasi di Bea Cukai. Berikut ini penulis sajikan perbandingan jumlah penerimaan bea masuk 6 bulan sebelum dan setelah KPU Tanjung Priok, sumber dari tim Key Performance Indikator (KPI ) sebagai berikut : Juli - Desember 2006 (dalam juta rupiah) 3,540,538 Juli - Desember 2007 (dalam juta rupiah) 4,566,428 Selisih 1,025,890 % 28,98

Dari tabel tersebut bisa kita lihat bahwa penerimaan bea masuk sebelum dan setelah KPU mengalami peningkatan yang cukup besar. Sebuah terobosan besar dan berani kala KPU diberlakukan Tanjung Priok. Slogan anti korupsi dan slogan bebas KKN tersebar di area pelabuhan Tanjung Priok. Semangat perubahan yang diimbangi dengan reward dan punishment yang jelas akan memberi aroma segar dan nama yang indah bagi Bea Cukai. Pembaca, sebagai anggota keluarga besar Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, penulis berpikir bahwa kita semua punya hak dan kewajiban untuk mencermati strategi yang dimainkan oleh ’kesebelasan’ DJBC yang sama-sama kita cintai ini. Banyak pertanyaan yang bisa kita ajukan pada diri sendiri untuk mengukur kecermatan kita dalam berpartisipasi mensukseskan kemenangan kesebelasan DJBC dalam jangka panjang. Partisipasi baik kita dimanapun walau sedikit Insya Allah bermanfaat untuk DJBC. Mohon maaf, salam semangat dan salam olah raga.

Penulis adalah Pelaksana DIKC, serta Pengawas Pertandingan PSSI
EDISI 404 JULI 2008 WARTA BEA CUKAI

65

O P I N I
Oleh : Redy Bambang, SG, MH.

H

DJBC & PELAKSANAAN PERLINDUNGAN HaKI

(Bagian I)

ak Kekayaan Intelektual (HaKI) merupakan suatu Semuanya itu tetap memperhatikan berbagai upaya yang konsepsi yang sederhana dan logis. Sebab pada telah dilakukan oleh World Intelectual Property Organizaintinya mengatur tentang penghargaan atas karya tion (WIPO). orang lain yang berguna bagi banyak masyarakat. Dengan meratifikasi Paket Persetujuan Putaran Uruguay Jadi merupakan suatu titik awal dari pengembangan tersebut, maka konsekuensinya Indonesia harus berusaha lingkungan yang kondusif untuk meningkatkan pengembangmenegakan prinsip-prinsip pokok yang dikandung dalam an investasi, kreasi, desain dan bentuk karya lain intelektual. GATT tersebut, termasuk di dalamnya TRIP’s yaitu : Trade Hak Kekayaan Intelektual (HaKI), merupakan suatu karya Related Aspects of Intelectual Property Rights Including Trade in Counterfeit Goods/TRIP’s (Aspek-aspek Dagang yang bersifat privat, namun HaKI hanya dapat bermanfaat jika diwujudkan dalam bentuk produk di pasaran dan digunayang terkait dengan Hak Milik Intelektual termasuk Perdakan dalam siklus permintaan dan penawaran, oleh sebab itu gangan Barang Palsu). Persetujuan tentang Aspek-aspek Dagang Hak atas Kedalam pasar global HaKI akan dapat memainkan peranan dalam bidang ekonomi. kayaan Intelektual, adalah bertekad untuk mengurangi gangguan dan hambatan di dalam perdagangPengembangan Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI) pada dasarnya adalah merupakan pengeman internasional, dan dengan memperhatikan SOROTAN kebutuhan untuk meningkatkan perlindungan secabangan Sumber Daya Manusia (SDM), sebab HaKI ra efektif dan memadai terhadap HaKI, dan untuk berkaitan dengan produk dan proses yang bermuaUTAMA menjamin bahwa prosedur serta langkah-langkah ra pada olah pikir manusia. Dengan pengembangan sistim HaKI diharapkan akan berkembang pada DALAM HAKI penegakan hukum HaKI itu bukan menjadi suatu sumber daya manusia (SDM), termasuk terciptanya hambatan terhadap perdagangan nasional maupun ADALAH internasional. budaya inovatif dan inventif. TRIP’s intinya mengatur ketentuan-ketentuan di Pengembangan SDM mutlak perlu, sebab tanpa BAGAIMANA (HaKI) yang harus dipaSDM yang berkualitas kita hanya pendengar dan PENEGAKAN bidang Hak Milik Intelektual negara-negara anggota tuhi dan dilaksanakan oleh penonton yang setia. Mari kita lihat bagaimana pemanfaatan Sumber Daya Alam (SDA) yang ada HUKUM YANG yang diberlakukan mulai tanggal 1 Januari 1995. Bagaimana di tanah air tercinta kita ini yang kaya akan bahan DIBERIKAN Manusia (SDM) kaitannya antara HaKI; Sumber Daya dengan wewenang Direktorat Jenderal baku sumber mineral (sebenarnya “Kaya” dari Bea dan Cukai (DJBC) dalam perlindungan HaKI ? sudut potensi, bukan riil), yang hanya tergantung UNTUK Adanya pada keahlian atau pengetahuan SDM asing. MELINDUNGI penanamandata yang menunjukan anjloknya arus modal asing selama kurun waktu seteUntuk jangka panjang, kapasitas perundingan lah tahun 1998 dibandingkan dengan sebelumnya, kita di forum internasional kaitannya dengan komoHaKI disini kewajiban kita untuk berupaya secara optimal diti tertentu selalu berada di posisi bawah, adapun alih teknologi, tetapi kenyataannya hanyalah progagar mereka (pihak asing) benar-benar tertarik dan merasakan terjaminnya iklim investasi di negara ram yang bersifat rutin, tidak ada dampak strategis kita tercinta, rasa aman, nyaman dan menguntungkan bagi yang dapat diharapkan untuk mengubah nasib rakyat anak bangsa ini. kedua belah pihak. Menurut pendapat saya maka disinilah Indonesia, setelah menandatangani Persetujuan Putaran sistim HaKI mulai pegang peran, dan sistim ini merupakan Uruguay di Marakesh Maroko pada 15 April 1994 kurang lelangkah untuk melindungi kepentingan investasi tersebut. Setiap karya intelektual mereka yang berkaitan dengan bih diikuti oleh 125 negara yang lalu, maka berkewajiban produksinya tentulah harus perlu diberikan perlindungan. Dan untuk mengamankan dan melindungi HaKI. Maka semenjak itu Indonesia sebagai salah satu penandatangan persetujuan investor asing diberi keyakinan bahwa sistim HaKI telah tersebut (Putaran Uruguay) segera meratifikasinya dalam seberlaku di negara Indonesia dengan salah satu butir : World buah undang-undang, yaitu Undang-Undang Nomor: 7 Tahun Intellectual Declaration yang dikeluarkan oleh; Policy Advi1994 tentang Pengesahan Agreement Establishing The sory Commision World Intellectual Property Organization (WIPO) yang salah satu berbunyi : World Trade Organization/WTO (Pengesahan Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia) yang bertujuan untuk : 1. Meningkatkan perlindungan terhadap Hak atas Kekayaan “Also in the context of development, efficient intellectual Intelektual dari produk-produk yang diperdagangkan; property systems are indispensable elements in securing 2. Menjamin prosedur pelaksanaan Hak atas Kekayaan Inteinvestment in crucial sector of national economics, partilektual yang tidak menghambat kegiatan perdagangan; cularty in developing countries and countries in transition”. 3. Merumuskan aturan serta disiplin mengenai pelaksanaan perlindungan terhadap Hak atas Kekayaan Intelektual; Mengapresiasikan suatu konsep intelektual merupakan 4. Mengembangkan prinsip-prinsip, aturan dan kunci penyelenggaraan sistem HaKI di Indonesia, berdasarmekanisme kerjasama internasional untuk menangani kan Keputusan Presiden Nomor: 189 Tahun 1998, penyeperdagangan barang-barang hasil pemalsuan atau pemlenggaraan sistim HaKI dipercayakan kepada Departemen Kehakiman dan HAM c.q. Direktorat Jenderal Hak Kekayaan bajakan atas Hak atas Kekayaan Intelektual.

“ ”

66

WARTA BEA CUKAI

EDISI 404 JULI 2008

ekonomi antar bangsa menjadi bersifat interdependensi dan melewati batas-batas nasional. Mau tidak mau kita Indonesia juga harus mengakui bahwa ketentuan-ketentuan tentang tindak pidana terhadap Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI) disusun berdasarkan inspirasi dari luar negeri. Perubahan tindak pidana terhadap Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI) telah berubah tidak saja hanya melindungi PENEGAKAN HUKUM DJBC DAN HaKI pribadi, tetapi juga melihat kepentingan negara dan masyaraSorotan utama dalam HaKI adalah bagaimana penegakan kat. Penonjolan ini adanya perlindungan untuk kepentingan hukum yang diberikan untuk melindungi HaKI, ini sangatlah masyarakat melengkapi dampak yang diberikan terhadap penting dan mendasar sekali, apalah artinya bila kita telah perlindungan yang bersifat individual. Hal ini terlihat dari meratifikasi peraturan HaKI melalui WIPO/Persetujuan salah satu pertimbangan diubahnya Undang-Undang Nomor: TRIP’s, dan kita telah meyakinkan pada dunia usaha, bahwa 2 Tahun 1982 tentang Hak Cipta, yaitu pelanggaran Hak CipHaKI telah dilaksanakan di Indonesia, sedang dari sisi ta telah mencapai tingkat yang membahayakan, dan dapat penegakan hukum belum terakomodir di dalam pelaksanaan merusak tatanan kehidupan perekonomian masyarakat pada perlindungan hukum yang diberikan pada pemegang karya umumnya, serta merugikan pencipta, atau pemegang Hak intelektual, lebih-lebih di negara berkembang penegakan huCipta pada khususnya. kum HaKI sangatlah lamban dan berkesan tidak jalan. Melihat tipologi tindak pidana terhadap Hak atas Kekayaan Sebelum kita mengarah pada pembicaraan lebih lanjut, Intelektual (HaKI) yang dapat dikelompokan ke dalam salah satu maka kita menyinggung dahulu beberapa peraturan dalam jenis kejahatan ekonomi, yaitu berupa Property Crimes, berbagai undang-undang baru, yaitu : maksudnya perbuatan-perbuatan yang mengancam keselamatan l Undang-Undang Desain Industri; harta benda/kekayaan seseorang/atau negara (acts that threaten l Undang-Undang Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu; property held by private persons or the state), dan paling tidak l Undang-Undang Paten; mengandung unsur-unsur sebagai berikut : l Undang-Undang Merek, dan; l Undang-Undang Rahasia Dagang. l Perbuatan dilakukan dalam kerangka kegiatan ekonomi; l Perbuatan itu melanggar atau merugikan kepentingan neyang selanjutnya disebut juga sebagai undang-undang baru. gara/atau masyarakat secara umum, tidak hanya kepentingan individu saja; Dalam undang-undang baru tersebut dimaksudkan sebal Perbuatan mencakup didalam bidang linggai ketentuan tentang penetapan sementara kungan bisnis yang dapat merugikan suatu oleh pengadilan yang sebenarnya sudah ada perusahaan atau individu; didalam TRIPs. DIREKTORAT Mengenai penetapan sementara oleh l Perbuatan dapat dilakukan seseorang, korPengadilan, didalam undang-undang baru porasi, atau usaha bidang industri/perdaJENDERAL BEA tersebut, setiap pihak yang menduga gangan; DAN CUKAI adanya pelanggaran terhadap HaKI, dapat l Perbuatan tersebut bermuara pada pendameminta kepada Hakim Pengadilan untuk patan keuntungan dan merugikan pihak lain. MEMPUNYAI TUGAS melarang peredaran dan penjualannya proMEMBANTU duk yang dimaksud, juga termasuk jika Melihat perkembangan yang ada, ternyata barang itu barang impor (barang dari luar hukum atas Hak atas Kekayaan Intelektual MELAKSANAKAN daerah pabean yang dimasukan dan akan (HaKI) di Indonesia, penggunaan hukum pidadipakai di dalam daerah pabean), maka ba- PERLINDUNGAN DAN na diturunkan kembali, artinya yang semula rang tersebut diberlakukan menurut Pasal pelanggaran terhadap PENEGAKAN HUKUM ada kecenderungan Intelektual (HaKI) merupa54 Undang-Undang Kepabeanan Nomor: Hak atas Kekayaan 10 Tahun 1995, sebagaimana telah diubah kan Delik Biasa/Umum, sekarang sebaliknya TERHADAP HAK dengan Undang-Undang Nomor: 17 tahun diubah menjadi Delik Aduan. ATAS KEKAYAAN 2006, dilakukan penangguhan pengeluarBerkenaan dengan status Delik, yang diuannya oleh Bea dan Cukai (DJBC) atas peINTELEKTUAL (HaKI) bah dari Delik Biasa/Umum, menjadi Delik rintah tertulis dari Ketua Pengadilan Niaga Aduan, alasan perubahan tersebut karena dike peredaran bebas (dalam daerah dasari dengan : pabean), sepanjang meliputi hanya Merek 1. Delik Aduan sesuai dengan sifat HaKI adalah Hak Privat (walaupun kita maklum hak privat itu pada dan Hak Cipta atas permintaan pemilik atau pemegang hak gilirannya memegang peranan penting dalam dunia usaha); intelektual tersebut. 2. Hanya pemegang hak-lah yang tahu ada tidaknya Tentu saja dengan permintaan si pemegang hak atau pepelanggaran atau tindak pidana terhadap karya lapor harus mempunyai alasan-alasan dan bukti yang kuat intelektualnya sendiri (yang notabene telah mendapatkan mengenai dugaan pelanggaran tersebut, sebab jika yang perlindungan); dalam beberapa kasus para pihak yang bersangkutan atau si pelapor tidak mempunyai alasan dan bersengketa dalam kaitannya dengan HaKI, kemudian bukti yang cukup maka berakibat dapat digugat balik. berdamai; namun sementara itu kasusnya telah dilaporkan ke polisi atas tuduhan tindak pidana oleh satu PENANGANAN MELALUI PERDATA DAN PIDANA pihak; pelaporan tersebut tidak dicabut kembali; Penggunaan Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI) seca3. Delik Biasa/Umum dapat menjadi bumerang, karena ra tanpa hak, dapat digugat berdasarkan perbuatan setiap pihak termasuk pihak luar sangat mengharapkan melanggar hukum (pasal 1365 KUH Perdata). Sebagai pihak dilakukannya tindakan “pembersihan” terus menerus penggugat harus membuktikan bahwa ia karena perbuatan terhadap tindak pidana termasuk tanpa perlunya melanggar hukum tergugat, menderita kerugian. Pemilik diadukan; ini merupakan bumerang bagi kita sendiri. mengajukan gugatan terhadap orang atau badan hukum yang melanggar haknya berupa permintaan ganti rugi dengan Namun demikian, mengenai ancaman sanksinya tetap penghentian perbuatan si pelanggar tersebut. cukup keras dan diharapkan dapat menjadikan efek jera Tindak pidana terhadap Hak atas Kekayaan Intelektual terhadap pelaku pelanggar. (HaKI) bukan masalah satu negara yang bersangkutan saja, masalahnya sudah merupakan hubungan antara bangsa karena adanya globalisasi ekonomi yang memudahkan PERAN DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI perdagangan dari hasil kejahatannya. Hubungan-hubungan Berdasarkan Konvensi Paris dalam Pasal 9 yang memuat Intelektual. Maka untuk menunjang tugas pokok dari Dirjen HaKI tersebut, DJBC ikut membantu tentang kelangsungan bagaimana mengamankan dan menegakkan hukum yang diatur di dalam Undang-Undang Nomor: 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan, tertuang di dalam pasal 54 s/d pasal 64.

“ ”

EDISI 404 JULI 2008

WARTA BEA CUKAI

67

O P I N I
ketentuan bahwa dimungkinkan barang-barang yang memakai merek dagang secara tidak sah (palsu), yang dimiliki warga negara peserta Konvensi Paris, biasanya disita pada waktu diimpor ke negara peserta lainnya (All goods unlawfully bearing a trade mark or trade name shall be seized on importation into those countries of the Union where such mark or trade name is intitled to legal protection). Atau sekurangkurangnya diadakan larangan terhadap impor barang yang dimaksud. Maka dengan masa berlakunya Undang-Undang Nomor: 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan yang berlaku efektif pada tanggal 01 April 1997, sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor: 17 Tahun 2006, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mempunyai tugas baru, yaitu membantu melaksanakan Perlindungan dan Penegakan Hukum terhadap Hak Atas Kekayaan Intelektual (HaKI), dimana telah disinggung pada tulisan tersebut di atas yang diatur di dalam pasal 54 sampai dengan pasal 64 pada Bagian Kedua dari Bab : X yaitu : “Larangan dan Pembatasan Impor dan Ekspor, Penangguhan Impor atau Ekspor Barang Hasil Pelanggaran Hak atas Kekayaan Intelektual, dan Penindakan atas Barang yang Terkait dengan Terorisme dan/atau Kejahatan Lintas Negara”.

RUANG KESEHATAN

Anda Bertanya Anda Bertanya Dokter Menjawab Dokter Menjawab Dokter Menjawab
DIASUH OLEH PARA DOKTER DI KLINIK KANTOR PUSAT DJBC

Obesitas

CARA PRAKTIS PENGELOLAAN

O
-

PERLINDUNGAN HAKI SANGATLAH PERLU
Perlindungan HaKI sangatlah penting, sebab menyangkut beberapa aspek, yaitu : l Kerugian Konsumen; Harus membayar mahal barang palsu yang mutu dan kualitasnya rendah dan dapat membahayakan kesehatan, keselamatan dan kehidupan lingkungan; l Kerugian Masyarakat Usaha Pemegang Hak Cipta; Turunnya nilai jual, kerugian finansial, rusaknya moral, serta hilangnya insentif untuk melakukan inovasi, ide-ide, serta karya cipta. l Kerugian Pemerintah dan Negara; Terganggunya kestabilan perekonomian nasional, hilangnya pendapatan penerimaan negara pada sektor pajak, terhambatnya akses pangsa pasar untuk komoditi ekspor, iklim usaha dalam negeri yang tidak kondusif, hilangnya kepercayaan dunia usaha untuk negara Indonesia, serta enggannya investasi asing masuk ke Indonesia, dan ketidak pastian pelaksanaan HaKI di Indonesia.

besitas, adalah : keadaan dimana massa jaringan lemak berlebihan didalam tubuh dan di ekspresikan dengan pengukuran Indeks Massa Tubuh (Body Mass Index) dan lingkar pinggang (waist circumference) Kita hidup dalam dunia yang obesogenik, artinya kemajuan di bidang ilmu pengetahuan, teknologi dan ekonomi telah menciptakan suatu lingkungan yang didalamnya cenderung berkembang “Overweight” dan “Obese” PENYEBAB OBESITAS :

FAT STORES
GY ENER E AR INT

GY ENER TURE DI EXPEN

s

PERANAN DJBC DALAM PERLINDUNGAN HaKI
Bea dan Cukai memiliki posisi yang strategis sebagai aparat pengawasan untuk keluar dan masuknya barang dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Secara efektif untuk penegakan HaKI, Bea dan Cukai dapat melakukan sesuai dengan UndangUndang Kepabeanan Nomor: 10 Tahun 1995, sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor: 17 Tahun 2006, pada pasal 54 s/d pasal 64 dengan melakukan “Penangguhan sementara waktu pengeluaran barang impor atau ekspor”, atau dalam Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPs) disebut dengan “Suspension of Release by Customs”. Didalam ketentuan TRIP’s Part III merupakan sesuatu keharusan Bea dan Cukai untuk melindungi HaKI yang berarti: “Enforcement of Intellectual Property Rights” yang mencakup “Special Requirements Related to Border Measures” (tindakan-tindakan yang melanggar HaKI). Di dalam Section 4, dimana di dalamnya termuat ketentuan “Suspension of Release by Customs Authorities” (penangguhan pengeluaran barang dari kawasan pabean) dan itu diformulasikan di dalam ketentuan peraturan negara masing-masing. Ketentuan TRIP’s untuk di Indonesia dalam konteks peraturan Kepabeanan, telah di adopsi ke dalam: “Special Requirements Related to Border Measures’ (Article 51 – 60). “Yaitu diakomodasikan ke dalam Undang-Undang Kepabeanan Nomor: 10 Tahun 1995, yaitu “Pengendalian Ekspor dan Impor Barang Pelanggaran HaKI (Pasal 54 s/d Pasal 64)”. ( B e r s a m b u n g )

ENERGY INTARE - Food Intake ENERGY EXPENDITURE - Metabolism - Exercise ENERGY STORES - Fat Mass

Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya obesitas, antara lain factor genetic, psikososial, aktivitas, dan latar belakang kultural.

PROGRAM DIET DAN AKTIVITAS FISIK
Hasil penurunan berat badan dengan program diet dan program peningkatan aktivitas fisik jarang berhasil, karena setelah program selesai berat badan naik lagi, bahkan melebihi berat badan sebelum program dijalankan. Penyebab ketidak berhasilan - Pasien kembali kepada makan dan pola aktivitas fisik semula - Penggunaan energi menurun, karena : 1. Basal metabolism menurun, akibat selama berdiet masa otot mengecil 2. Aktivitas fisik berkurang, kembali ke aktivitas sebelum program. Mempertahankan Hasil Program - Hasil penurunan berat badan akan lebih berhasil bila program disertai dengan upaya merubah : - POLA KEBIASAAN MAKAN DAN - POLA AKTIVITAS FISIK - Kedua pola itu harus dirubah sejak awal dari SALAH MENJADI BENAR

Penulis adalah Kasi Kepabeanan dan Cukai KPPBC Tipe A4 Kotabaru
EDISI 404 JULI 2008

68

WARTA BEA CUKAI

CLASSIFICATION OF OVERWEIGHT AND OBESITY BY BMI, WAIST CIRCUMFERENCE
RISK OF CO-MORBIDITIES waist < 90 cm (men) Classification BMI (kg/mg²) Underweight < 18.5 circumference > 90 cm (men)

< 80 cm (women) > 80 cm (women) Low but increase Risk of other Clinical problems Average Average

Normal range 18.5 – 22.9 Overweight
l l l

Increase

> 23.0 23.0 – 24.9 25.0 – 29.9 > 30.0 Increased Moderate Severe Moderate Severe Very severe

At risk Obese I Obese II

BEBERAPA CARA MENAMBAH AKTIVITAS FISIK :
Komponen gaya hidup : pola makan, pola aktivitas fisik dan pola piker * Pola makan mencakup : - Frekwensi perolehan makanan (makan utama dan cemilan) Waktu makan (utama dan cemilan) - Jenis dan besar porsi makanan yang biasa dikonsumsi * Pola aktivitas fisik mencakup : lama dan intensitas serta frekwensi aktivitas yang biasa dilakukan dalam sehari/ seminggu. * Pola piker mencakup kebiasaan makan dan mekanisme pengaturan makan Faktor yang mempengaruhi obesitas adalah Pola makan dan aktifitas fisik. Pola makan dipengaruhi oleh pola pikir dan pola pikir ini dipengaruhi oleh pengetahuan tentang makanan. Aktivitas fisik dipengaruhi oleh informasi dan informasi yang diterima masyarakat berasal dari media dan dari mulut ke mulut. Salah informasi tentang makanan terutama bersumber dari iklan dan dari sumber yang tidak kompoten. Kurangi aktivitas yang dilakukan sambil duduk Kurangi menyuruh orang lain (istri) Lebih memilih tangga dari escalator Untuk jarak dekat : pilih jalan kaki dari pada memakai kendaraan Lakukan olah raga : aerobik...

PENGELOLAAN PERUBAHAN PERILAKU :
1. Disiplin diri (self dicipline) Menekankan supaya program berjalan dengan baik 2. Menentukan tujuan bersama (goal setting) 3. Pengaturan makanan (diet) Diet merupakan faktor utama dalam pengelolaan obesitas, oleh sebab itu diperlukan kesadaran tinggi untuk intake energi harus di kurangi. 4. Aktivitas (exercise) Aktivitas tidak hanya dalam bentuk latihan khusus (olahraga) tetapi kegiatan fisik yang lain dapat dilakukan, seperti : Jalan dari satu tempat ke tempat lain. Naik turun tangga dll. 5. Perubahan lingkungan (stimulus control) Perlu mencegah kebiasaan seperti semula seperti temanteman sekerjanya selalu membawa macam-macam snack untuk di makan bersama-sama. 6. Mencegah syndrome yo-yo Harus bisa mengantisipasi kemungkinan terjadinya syndrome yo-yo (kembali ke berat badan semula) dengan mengatur mekanisme makanan seperti ambil makanan sesuai dengan jumlah dan menatanya kearah lebar piring. Hentikan makan sebelum kenyang benar dll.

KIAT MENGURANGI PORSI MAKANAN
Cuci tangan sebelum makan Ambil makanan sesuai dengan jumlah Tata makanan kearah lebar piring Jauhi meja makan, pindah tempat ! Baca doa sebelum makan dimulai Porsi suapan kecil à kunyah santai Suapan berikutnya, setelah mulut kosong Hentikan makan sebelum kenyang benar Akhiri makan dengan minum, cuci tangan dan doa Makan sesuatu (mengisi perut) harus sesuai jadwal. Jangan ada persediaan makanan cemilan di rumah. Bila ada simpan ditempat tersembunyi dan sulit dijangkau Ketika belanja, bawa uang yang sesuai dengan yang akan dibeli Minta dukungan orang lain

PENGGUNAAN OBAT ANTI OBESITAS
Pemakaian obat dalam terapi obesitas sebaiknya digunakan pada orang dewasa dengan BMI e” 27 kg/m² atau individu dengan BMI > 30 kg/m². Obat anti obesitas dibagi 2 kategori yaitu : - Penekan nafsu makan yang langsung berpengaruh pada Berat Badan. Pengganggu penyerapan makanan. Umumnya mempunyai efek samping peningkatan tekanan darah. Dalam jangka panjang timbul gangguan penyakit jantung, gelisah, glaucoma, hyperthyroidea (pembesaran kelenjar thyroid). Bila terjadi tekanan darah meningkat, denyut jantung cepat sebaiknya obat dikurangi atau dihentikan. Sebaiknya sebelum memakai obat anti obesitas melakukan konsultasi ke dokter.
EDISI 404 JULI 2008 WARTA BEA CUKAI

KIAT UNTUK MENCEGAH NGEMIL

-

69

RENUNGAN ROHANI

Mukjizat
“Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia” (QS.al-Isra’ [17]:60).
ar dari mulut Rasulallah lebih tidak masuk akal dari itupun, saya tetap percaya”. Jadi langkah da dua hal yang perlu direnungi dautama sebagai seorang muslim dalam menyilam menyikapi peristiwa Isra Mi’raj kapi hal itu adalah membuka hatinya dengan Nabi Muhammad SAW. Pertama, mekeimanan yang tulus kepada allah SWT, mahami tujuan qurani atas peristiwa bahwa peristiwa itu memang benar adanya. Isra Mi’raj. Seperti terdapat dalam QS.al-Isra’ [17] ayat 1, peristiwa Isra Mi’raj Di dalam hadits Qudsi, Allah berfirman (yang bertujuan untuk menunjukkan sebagian tandaartinya) “Tidak akan dapat menerima tandatanda kebesaran Allah kepada makhluk-Nya. tanda kebesaran dan keagungan-Ku, kecuali orang-orang yang beriman”. Orang yang Selengkapnya ayat ini menyatakan “Maha Suberimanlah yang sanggup meneci Allah, yang telah memperjalanrima peristiwa itu sebagai suatu kan hamba-Nya pada suatu makebenaran mutlak, tanpa berkata lam dari Masjidil Haram ke Masjiapakah masuk akal atau tidak. dil Aqsha yang telah Kami RASULALLAH berkahi sekelilingnya agar Kami Sebaliknya, manusia yang menyanMENYATAKAN perlihatkan kepadanya sebagian darkan pola pikirnya hanya dari tanda-tanda (kebesaran) berdasarkan pada konsep rasio“KALAU UMAT Kami. Sesungguhnya Dia adalah nalitas akal tentu ia akan serta BERIMAN INGIN Maha Mendengar lagi Maha Memerta menolak peristiwa yang lihat”. (QS. Al-Isra’ [17]:1). tidak masuk akal itu. Salah satu MI’RAJ Dalam surat yang sama ayat yang dapat kita lihat dari SEBAGAIMANA AKU ungkapan orang-orang yang tidak 60 dinyatakan “Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kaberiman atas peristiwa Isra Mi’raj MAKA CARANYA mi perlihatkan kepadamu, melainadalah ungkapan orientalis, ADALAH DENGAN Hendrick William F dalam History kan sebagai ujian bagi manusia” of Menikine yang menyatakan (QS.al-Isra’ [17]:60). MENEGAKKAN bahwa Muhammad pada saat itu Ujian kepada manusia yang SHALAT DENGAN sedang menderita penyakit beriman memiliki arti bahwa peristiwa-peristiwa keagamaan itu CARA YANG BAIK epilepsi. Ia menderita ketidaksadaran yang luar biasa ketika ia memang benar adanya. Satu hal DAN BENAR”. menyatakan dirinya bermimpi dan yang harus kita pegangi dalam melihat peristiwa itu adalah lanberdialog dengan malaikat jibril. dasan keimanan yang harus kita Ungkapan tokoh orientalis seperti tampilkan terlebih dahulu. ini merupakan sebagian dari Dengan iman, tidak diperlukan lagi pembuktisikap mereka yang melandasi pemikirannya dean- pembuktian yang ilmiah. Iman juga tidak ngan akal. Kehidupannya hanya dilandasi demenghendaki dan tidak menuntut apakah ngan fikiran-fikiran rasional, tidak melibatkan peristiwa itu masuk akal atau tidak. Logis atau qalbunya, dan tidak menggunakan iman sebatidak. Iman adalah mempercayai sesuatu yang gai petunjuk hidupnya. Oleh karena itulah, bagi siapapun yang ghaib. Jika al-Quran dan hadits sudah menyamelandasi fikirannya hanya dengan akalnya, takan demikian, maka kita langsung meyakini dia akan tersesat. Jangankan terhadap hal-hal hal itu. yang tidak masuk akal, terhadap hal-hal yang Ada ungkapan sederhana yang dilontarkan rasioal, faktual di mata kita, kalau kita tetap Abu Bakar Shidiq ketika diminta komentarnya atas peristiwa Isra. Ia berkata “Kalau itu kelumenomorsatukan akal kita, tidak menggunakan

SIKAP MUSLIM DALAM MENYIKAPI PERISTIWA

A

TUJUAN QURANI

“ ”

70

WARTA BEA CUKAI

EDISI 404 JULI 2008

nanti akan mendapatkan suatu tingkatan dimana akan terlihat dunia itu hanyalah sarana menuju akhirat semata. Keduniaan itu tidak ada apa-apanya. Ketika umat mengerjakan shalat dengan baik dan benar, niscaya dia akan melihat segala sesuatu dengan sikap arif, bijaksana yang luar biasa. Itulah sidrah al-muntaha. Kita menyadari sekarang bahwa negeri kita ini yang 85 persen penduduknya beragama Islam, berdasarkan laporan yang disampaikan secara rutin oleh badan dunia, negeri ini termasuk negeri yang paling korup ke-2 setelah Nigeria yang penduduknya mayoritas muslim. Pertanyaan kita adalah sudahkan ibadah yang kita lakukan itu membawa implikasi sosial bagi diri kita dan orang lain ? Sudahkan shalat yang kita kerjakan ini mampu menciptakan tata sosial yang berkeadilan dan bermoral ? Berdasarkan laporan tadi, justeru negeri yang penduduknya mayoritas muslim adalah SHALAT negeri yang tingkat korupsinya terbesar. DiKedua, hasil dari perjalanan isra dan mi’raj mungkinkan, semua itu disebabkan oleh periyang sulit diterima oleh akal atau dalam laku ibadah dan pengamalan ajaran agama bahasa teologi disebut mukjizat adalah perinkita baru pada level menggugurkan kewajiban, tah shalat lima waktu. Mi’raj secara etimologis belum mencapai level implikasi sosial terhaberarti naik atau lepasnya seseorang dari dudap diri kita sendiri dan orang lain. nia yang dihuninya. Ketika Rasulallah meningBenar apa yang dikatakan oleh Mohammed galkan masjid al-Aqhsha, dia lepas dari bumi. Arkoun, pakar Islam asal al-Jazair, yang meKita bisa menganalogikan dengan diri kita nyatakan “Kalau saya berjalan-jalan di Barat, sendiri. Ketika kita berada di bumi dimana kita saya tidak pernah ketemu dengan yang namabertempat tinggal, kita bisa melihat bumi ini nya langgar, mushalla dan masjid. Sulit bagi begitu besar dan luas. Tetapi, ketika kita naik saya untuk bertemu dengan atau mi’raj ke atas, misalnya ke orang Islam. Tetapi, saya sering Monas, kita melihat dunia ini kebertemu dengan Islam. Sebalikcil. Semakin jauh dari bumi nya, ketika saya berjalan-jalan maka kita lihat bumi sangat kecil. KETIKA ke timur, saya sulit sekali meneBahkan, pada titik tertentu kita tiRASULALLAH mukan Islam, meskipun saya sedak bisa melihat bumi ini. Itu artinya kita menjauhi bumi, mi’raj MELAKUKAN MI’RAJ ringkali bertemu dengan orangorang Islam. Saya seringkali dari bumi. YANG DICAPAI bertemu dengan langgar, majlis Yang dilihat oleh Rasulallah, ta’lim. Mushalla dan masjid tetapi bumi itu kecil dan pada titik terADALAH SATU saya sulit ketemu dengan Islam.” tentu tidak tampak dalam SIKAP SEORANG Ungkapan sederhana yang penadangannya. Kemudian, ia dilontarkan Mohammed Arkoun mencapai satu tingkat yang dalam RASUL, MANUSIA itu tentu memiliki implikasi sosial bahasa agama disebut sidratul yang sangat besar terhadap muntaha. Secara bahasa, sidrah YANG MEMILIKI kita. adalah satu daun sebagai perSIFAT-SIFAT YANG pengalaman ajaran agama agaNampaknya, ajaran-ajaran lambang kebijaksanaan bangsa Persia kuno. Al-Muntaha artinya BETUL-BETUL EX- ma yang begitu hebat dan memiliki nilai yang tinggi telah dilakuyang paling paripurna. CELLENCE, kan oleh orang-orang Barat. Maksudnya, ketika Rasulallah meKedisiplinan, keuletan dalam belakukan mi’raj yang dicapai SEMPURNA kerja telah dimiliki oleh orang adalah satu sikap seorang rasul, lain. Sementara kita hanya mengmanusia yang memiliki sifat-sifat yang betul-betul excellence, klaim dengan kata-kata dan sempurna. Oleh karena itu, Rasulallah menyaretorika semata, karena itulah, yang paling takan “Kalau umat beriman ingin mi’raj sebapokok dan harus dipegangi adalah bagaimana gaimana aku maka caranya adalah dengan menjadikan shalat kita sebagai amalan ibadah menegakkan shalat dengan cara yang baik dan yang bukan hanya untuk menggugurkan kewajiban, tetapi lebih dari itu memiliki pancaranbenar”. pancaran nilai yang membuat diri kita, keluarKalau umat Islam mengerjakan shalat ga kita dan masyarakat kita menjadi lebih dengan baik dan benar, bukan hanya sebagai maju. Dengan menegakkan shalat dengan baritualitas formal saja dan hanya sekedar ik, insya Allah negeri ini akan menjadi negeri menggugurkan kewajiban, tetapi berimpikasi yang lebih baik di kemudian hari. Amin. secara sosial baik terhadap diri sendiri maupun kepada yang lain maka pada saatnya Drs. H. Fathurin Zen, SH. / Titian Dakwah kalbu sebagai penuntun, maka pada saat tertentu kita akan tersesat. Hal ini pernah diungkapkan oleh para ulama yang menyatakan, “Barangsiapa yang berpegang teguh dengan akalnya, hanya kepada kemampuan rasionya, tanpa mengajak qalbu dan keimanannya untuk sama-sama dengan akalnya menerima suatu peristiwa tertentu maka orang itu akan tersesat. Barang siapa yang ingin mendapatkan kecukupan di dunia ini hanya mengandalkan hartanya, dia tidak akan memperoleh kecukupan. Yang diperoleh selalu kekurangan dan kekurangan. Barangsiapa yang mengharapkan kedudukan di mata manusia, tapi hanya mengandalkan dukungan dari sesamanya maka yang diperoleh bukanlah kedudukan, tetapi kehinaan dalam hidup ini.” Sebagai seorang muslim, tentu faktor iman itulah yang menjadi landasan dalam menerima informasi-informasi keagamaan.

“ ”

EDISI 404 JULI 2008

WARTA BEA CUKAI

71

S

E

L

A

K

KEAKRABAN
DI TANJUNG BIRA

MENJALIN

MELEPAS PENAT. Berenang di pantai Tanjung Bira untuk sekedar refreshing.

P

Setelah sekian lama bertugas di Kanwil DJBC Sulawesi, dirasakan perlu untuk melepaskan kepenatan pekerjaan sehari-hari dan sekaligus menjalin keakraban diantara para pegawai. Tanjung Bira, itulah tempat yang dirasakan cocok untuk itu.

asir putih yang lembut terhampar luas sepanjang pantai dengan ombak yang tenang mengundang kami untuk datang kesana. Perjalanan sejauh kurang lebih sekitar 200 km ke arah timur Makassar seakan terbayar tuntas oleh keindahan pantai Tanjung Bira, Kabupaten Bulukumba. Rencana keberangkatan ke Tanjung Bira ini sendiri terbilang mendadak. Hanya dua hari untuk menyiapkannya. Dari sekedar omong-omong biasa akhirnya sampai diputuskan tetap berangkat. Karena mendadak itulah, akhirnya diputuskan rombongan hanya untuk para pegawai beserta keluarga yang tinggal di Kompleks Rumah Dinas DJBC Mappaoddang plus beberapa pegawai lainnya yang berminat. Jumlah keseluruhan rombongan mencapai sekitar 60 orang. Tepat pukul 09.00 WITA tanggal 15 Maret 2008, rombongan berangkat dari Rumdis Mappaoddang dengan menggunakan 1 bus ditambah 6 mobil. Rombongan berjalan beriringan dengan mengambil rute Makassar – Gowa – Takalar – Jeneponto – Bantaeng – Bulukumba - Tanjung Bira. Namun sebelum ke Tanjung Bira, rombongan akan mampir dulu di rumah mertua Kasi Perbendaharaan KPPBC tipe A3 Makassar, Broto Setia Pribadi untuk istirahat sekaligus makan siang dan sholat. Kediamannya terletak di Tanete, sekitar 30 km utara Bulukumba ke arah Kab. Sinjai.
WARTA BEA CUKAI EDISI 404 JULI 2008

Jarak dari Tanete menuju Bira sekitar 40 km melewati Desa Kajang. Desa Kajang ini sangat terkenal karena desa ini satu-satunya di Sulawesi yang masih memegang teguh tradisi nenek moyang dan belum tersentuh oleh modernisasi. “Mereka yang tinggal di dalam hutan (adalah) Kajang Dalam, sedang yang diluar (hutan) Kajang Luar. Kajang Dalam dipimpin oleh seorang Kepala adat yang dinamakan Ammatoa,” terang Broto yang pernah masuk ke dalam Kajang Dalam. Untuk masuk ke dalam Kajang Dalam, lanjutnya, kita harus berpakaian hitam-hitam. Sayang, karena terbatasnya waktu, kita hanya melewati
FOTO-FOTO : DONNY ERIYANTO

FOTO BERSAMA di pintu masuk Tanjung Bira sebelum kembali ke Makassar.

72

KAPAL PHINISI. Berfoto bersama di kapal kebanggaan buatan anak negeri kita.

Kajang Luar. Namun suasana di desa ini lain dengan desa lainnya. Suasana alami tradisional dengan rumah-rumah adat khas Sulawesi Selatan dapat kita jumpai di sepanjang jalan desa ini. Sesekali kita jumpai penduduk yang masih berpakaian hitam-hitam khas desa Kajang. Rombongan hanya sempat berhenti di tempat pemakaman para raja. Dari tulisan arab yang tertulis di batu nisan menandakan bahwa Islam sudah masuk ke daerah ini sejak beberapa abad yang lalu. Akhirnya rombongan sampai di Tanjung Bira sekitar pukul 16.30 WITA dan menginap di Bira Beach Hotel. Tanpa menunggu terlalu lama, semua peserta langsung ’terjun’ ke pantai. Dewasa maupun anak-anak bersama-sama bergembira setelah melakukan perjalanan panjang. Ada yang berenang, bermain polo air, sepakbola pantai atau duduk-duduk di pinggir pantai menikmati pemandangan laut. Anakanak sendiri selain berenang lebih senang mencari karang atau keong serta main pasir. Sunset turut menambah keceriaan mereka. Mereka baru ’mentas’ dari laut pas maghrib tiba. Malam harinya diisi dengan acara makan malam bersama di restoran Bira Beach Hotel. Tidak ada acara khusus disini, bebas santai. Semuanya serba spontan, termasuk acara api unggun di pinggir pantai. Agar menambah meriah suasana, diadakan beberapa game kecil dan dimainkan sebuah gitar untuk mengiringi beberapa lagu. Ketika fajar mulai menyingsing, satu persatu peserta mulai turun ke pantai. Menikmati udara sejuk pagi hari. Bahkan ketika selesai sarapan pagi, hampir semua peserta sudah bergerak turun ke pantai. Seakan belum puas dengan minimnya waktu di sore hari kemarin, pagi hari ini mereka dibebaskan menikmati laut sepuas-puasnya. Aktifitas mereka hampir sama dengan sore kemarin. Hanya sekarang dirancang secara spontan

beberapa perlombaan untuk menambah keceriaan. Beberapa peserta juga menaiki perahu motor yang membawa mereka berkeliling pantai. Selepas makan siang dan tak lupa berfoto bersama, sekitar pukul 12.00 WITA, rombongan bertolak kembali ke Makassar. Namun, rombongan terlebih dahulu singgah di tempat pembuatan kapal Phinisi yang terkenal itu di daerah Sapolohe - Bulukumba, kurang lebih 10 km dari Tanjung Bira. Di Sapolohe ini, rombongan beruntung mendapati beberapa pekerja yang tengah membuat 3 kapal phinisi besar. Salah satunya adalah kapal yang dibuat untuk memenuhi pesanan dari Amerika Serikat. Kapal dengan lebar 9 m dan panjang 35 m ini dirancang khusus untuk kapal pesiar lengkap dengan arena perjudian sehingga tidak ada kamar tidur pun di kapal ini. “Kapal ini dindingnya terbuat dari kayu nato dan bawahnya dari kayu besi. (Proses) pembuatan kapal ini normalnya memerlukan waktu 9 bulan, tapi ini sudah setahun lebih belum jadi,” jelas Ambo, salah satu pekerja pembuat kapal phinisi. Para anggota rombongan sendiri tidak melewatkan kesempatan langka ini untuk berfoto di kapal phinisi dan bahkan sampai naik masuk ke dalam kapal tersebut. Rasa kagum yang teramat sangat menyeruak di hati ketika masuk ke dalam kapal phinisi. Betapa hebatnya anak negeri ini bisa membuat kapal dari kayu sebegitu besarnya. Menjelang Maghrib, rombongan tiba kembali di kompleks rumah dinas Mappaoddang, Makassar. Rasa lelah di wajah masing-masing anggota tidak mampu untuk menutup rasa puas yang dirasakan atas perjalanan ini. Pikiran penat hilang dan siap menyongsong esok menghadapi setumpuk pekerjaan sehari-hari di kantor. Selain itu, keakraban dan rasa persaudaraan antar pegawai pun terjalin dengan baik. Inilah nikmatnya bertugas di daerah ! Don’s, Makassar
EDISI 404 JULI 2008 WARTA BEA CUKAI

73

RUANG INTERAKSI

Office
FOTO : ISTIM EWA

Oleh: Ratna Sugeng

Wife
S
74

atasannya, seperti layaknya seorang sekretaris yang mampu membantu melancarkan pekerjaan atasannya. Kemudian artinya menjadi lebih dari sekedar sekretaris yang membuat pekerjaan atasannya menjadi berjalan dengan baik . Dalam tulisan Timothy Noah, yang berjudul Slate, istilah ‘work wife’, ‘work husband’, dan ‘work marriage’ menjadi lexicon pada tahun 1987, ketika penulis David Owen menulis essay Atlantic dan mendeskripsikan keintiman platonik yang sering muncul antara laki-laki dan perempuan yang bekerja erat di satu tempat kerja yang sama. Pada tahun 2005, seorang pelatih dan penasehat eksekutif menyatakan pasangan di tempat kerja (workplace spouse) merupakan konsep yang relatif baru. Terciptanya istilah ini sangat mungkin karena perempuan dan laki-laki seringkali bekerja sama dalam pekerjaan yang memungkinkan mereka menjadi pasangan untuk mencapai keberhasilan kerja atau karir mereka. Pasangan dengan tugas, perjuangan dan tujuan yang sama di tempat kerja merupakan dasar keberhasilan suatu tim ditempat kerja. Mereka sering kali harus bersama-sama dalam jam yang panjang dan jelas berinteraksi satu sama lain

Seringnya bekerja sama, bahkan hampir tiap hari, mungkin 8 jam sehari 5 hari dalam sepekan - 20 hari dalam sebulan - 240 hari dalam setahun membuat seseorang sangat mengenal personality teman kerja di tempat kerja.

FENOMENA PASANGAN DI TEMPAT KERJA
Relasi kerja dimulai sejak seseorang menduduki tempat kerjanya dengan deskripsi tugas bagiannya. Bagian demi bagian kerja di tempat kerja saling berikatan, bekerjasama, bersentuhan, berdiskusi, berdebat dan bersantai bersama, yang waktunya lebih panjang mungkin daripada waktu berada bersama suami/istri di rumah. Bekerja bersama sering diselingi dengan percakapan atau diskusi diluar pekerjaan seperti keadaan anak istri, makan siang bersama, ambisi, cita-cita, suka duka kehidupan, sampaisampai keluhan rumah tangga terlontarkan. Melalui kedekatan seperti ini, banyak hal menjadi dibuka, suara hati pun disampaikan, meski sadar pembicaraan ini jelas bukan antara suami dan istri. Kedekatan lebih mudah terjadi diantara rekan kerja, kata Harley, ketua Marriage Builder dalam sebuah website. Konsep pasangan di tempat kerja merupakan kelaziman di dunia kerja. Sebuah survai yang dilakukan Vault.com, suatu perusahaan media untuk informasi karir menemukan 32% dari 693 responden dari berbagai industri mempunyai suami/isteri kantor atau pasangan di tempat kerja. Mark Oldman, wakil ketua Vault.com, mengatakan bahwa fenomena pasangan di tempat kerja meningkat terus. Hanya sedikit yang menyadari bahwa fenomena ini membuat seseorang punya orang lain yang berarti dalam

aya tertarik untuk membicarakan “office wife”, ketika pada hari ulang tahun WBC ke-40 di bulan April lalu seorang kawan wartawan senior melontarkan atas kemungkinan seseorang di tempat kerja mempunyai ‘istri’. Istilah office wife popular pada tahun 1930-an, karena dipopulerkan oleh Faith Baldwin dalam novelnya The Office Wife dan kemudian difilmkan. Konsepnya pernah dituliskan dalam artikel di New York Times pada tahun 1933 : It is curious that the phrase “office wife” originated with Gladstone. He used to say that a Minister and his secretary should understand each other as perfectly as a husband and wife, which principle he reduced to a system. Office wife membawa pemahaman bahwa ia adalah seorang bawahan yang paham betul atas apa kebutuhan
WARTA BEA CUKAI EDISI 404 JULI 2008

kin dekat dan akrab. Bagaimana menghindari hubungan kerja beralih menjadi hubungan pasangan ’suami-istri’? Jagalah diri untuk selalu berjalan diatas garis sebagai teman kerja dan sebagai pasangan bagi istri/suami demi karir dan kehidupan perkawinan. Berikut ini adalah aturannya: l Harley mengatakan : “Jangan berbagi informasi personal di tempat kerja, terutama informasi tentang hidup perkawinan anda. Jika kawan membuka tentang hal ini, katakan padanya bahwa bukan anda tempatnya berbagi cerita, ada tempat yang lebih profesional. Jika sangat sulit mengatakannya, ajak pasangan istri/ suami anda untuk boleh masuk kedalamnya, agar ada kerja tim dengan istri/suami anda”. l Jika anda masuk ke wilayah pribadi, tanyakan pada diri sendiri apa sebenarnya yang terjadi dalam perkawinan anda. Jika anda tidak sedang serasi dengan istri/suami, dan di tempat kerja ada seseorang yang TEMAN KERJA DAN KEDEKATANNYA memenuhi relung emosional anda, maka lampu merah Teman kerja adalah anggota tim yang membuat pekermenyala bagi perkawinan anda. jaan kita berjalan lancar sampai ke goal yang ditentukan. l “Jangan berada berduaan di satu ruang tanpa ada Seringnya bekerja sama, bahkan hampir tiap hari, orang lain ketika di luar kantor,” pesan Harley. “Misalmungkin 8 jam sehari - 5 hari dalam sepekan - 20 hari danya di tempat parkir mobil, bersama santai sesudah lam sebulan - 240 hari dalam setahun membuat seseojam kerja, atau jika harus pergi bersama ajaklah orang rang sangat mengenal personality teman kerja di tempat lain menemani dan akan lebih baik jika istri/suami kerja. Hari ulangtahunnya, makan favoritnya, ketakutandibawa serta. Relasi romantik biasanya berkembang nya, kesukaannya, hobinya, bahkan mungkin rahasia kedari menikmati suasana santai diluar wakhidupannya dikenal oleh pasangan kerjanya. tu kerja ketika diskusi memasuki ruang Ia bukan istri/suami anda, ia bukan pasangpribadi”. an hidup dimana kita berkomitmen dengan kesaksian saat menikah, tetapi ia teman mel “Jangan pergi makan berdua dengan ROMANSA DI nuju sukses karir dalam perjuangan suka dan pasangan kerja,” kata Jenn Berman, PhD, TEMPAT KERJA seorang psikolog dari Beverly Hills, Calif., duka. yang ahli dalam konsultasi perkawinan Willard F. Harley Jr., PhD, penulis His MENURUT dan keluarga. “Dilarang minum alkohol keNeeds, Her Needs: Building an Affair-Proof SURVAI VAULT Marriage mengatakan bahwa pasangan kerja tika bersama pasangan kerja, sebab (office spouse) merupakan soulmate, ia keadaan mabuk membuat keputusan menTAHUN 2006 mengisi kehidupan emosional yang mendujadi jurang celaka”. MENGGAMBARKAN l “Kenalkan istri/suami pada rekan kerja,” kung proses kerja. Jika dalam kesepakatan suami istri kita berjanji dalam satu ikatan tutur Berman dari WebMD. “Jika ada unBAHWA 50% menjalankan tugas kehidupan bersama, disidangan makan malam, ajaklah istri/suaRESPONDEN ni rekan kerja adalah orang yang bekerjasami. Libatkan istri/suami dalam percakapma menyelesaikan tugas, yang tentu saja an makan malam.” MENIKAH DENGAN memperhatikan satu sama lain, saling keberl “Hindarkan pembicaraan tentang pasangTEMAN KERJA gantungan, saling percaya, mungkin laki-laki an kerja di rumah,” ujar Berman. “Istri/sudan perempuan, ami perlu tahu pasangan kerja, tetapi tak Mengingat perjalanan kebersamaan daperlu melibatkan diri ke dalamnya”. Survai lam ikatan organisasi atau kerja, maka keseVault menyatakan bahwa membicarakan hatan hubungan kerja harus dipelihara menjadi relasi non pasangan kerja di rumah akan membuat seksual yang tidak mengganggu keserasian pasangan istri/suami meningkatkan kecurigaan, kecemburuan, suami istri di rumah. Patut dipikirkan bahwa pemeliharaan tidak lagi mempedulikan, tidak lagi berkomunikasi dehubungan ini memerlukan keterampilan dan kepatuhan berngan baik dan friksi dalam banyak hal. jalan diatas aturan main berlandaskan kedewasaan serta kematangan kepribadian. PERAN NYATA PASANGAN DI TEMPAT KERJA Pasangan di tempat kerja mungkin merupakan teman yang memahami, mendukung dan tempat berbincang menMELANGGAR RAMBU Harley menjawab pertanyaan “Kapan affairs dimulai ?”. cari solusi, namun pertimbangan untuk tetap teguh Katanya, jika hubungan sebagai kawan berubah menjadi berbicara soal kerja dan tidak melebar ke ruang pribadi. pendamping. Teman menjadi bersandar di bahu saat Keadaan akan buruk jika istri/suami sendiri berselingkuh, kedekatan telah terbuka disertai ketulusan. Ini terjadi pasehingga seringkali pembenaran tindakan berelasi romantik da banyak rekan kerja, atau banyak rekan kerja para diri sendiri menjadi dikuatkan. Pelajari pikiran dan perasaan lajang kemudian menjadi pasangan suami/istri. Romansa diri sendiri agar tak terseret larut dalam hubungan di tempat kerja menurut survai Vault tahun 2006 perselingkuhan. Menurut Harley, kebanyakan perselingkuhan menggambarkan bahwa 50% responden kemudian menidimulai dan berada diantara rekan kerja. Karena itu hubungkah dengan teman kerja. Harley mengingatkan kedekatan an kerja harus dipertahankan profesional. teman kerja beda tipis dengan kedekatan pasangan untuk Vault.com Oldman dari survainya mendapatkan sangat masuk dalam affair. dekat hubungan antara pasangan di tempat kerja dengan perselingkuhan. Fenomena ini terjadi hanya pada mereka yang tidak memperhatikan batasan sehat tentang hubungATURAN MAIN DI TEMPAT KERJA an kerja atau hubungan pribadi. Pilihan dan penentuan Karyawan, manajer, bahkan direktur di sebuah instituditangan kita. Selamat bekerja dengan sehat. si, organisasi dan tempat kerja lainnya banyak yang telah berstatus menikah. Pekerjaan yang memakan waktu panRatna Sugeng adalah seorang Psikiater, jang di tempat kerja membuat hubungan rekan kerja semapertanyaan ataupun konsultasi bisa melalui ratwika@yahoo.com hidup selain istri/suami, namun kedekatannya pada tingkat yang sangat berbeda dari istri/suami Para pasangan di tempat kerja berbahasa yang sama, kata orang Jakarta: ‘nyambung kalau diajak ngomong’, kelakar yang sama ketika menghadapi frustasi bersama dengan atasan atau birokrasi, dan saling berceloteh istilah yang sama, baik maupun buruk. Oldman mengatakan bahwa hasil survai memberikan kesimpulan banyak hal yang dapat dibicarakan bersama dengan pasangan di tempat kerja tanpa menimbulkan kekuatiran kecemasan atau beban apapun seperti kalau berbicara dengan pasangan istri/suami. Dasar dari kemudahan berbagi sangat mungkin karena kesamaan latar belakang, pendidikan, dan pengalaman kerja. Jadi kata penyiar radio, pasangan di tempat kerja lebih tune in daripada pasangan istri/suami di rumah.

“ ”

EDISI 404 JULI 2008

WARTA BEA CUKAI

75

P R O F I L

OKTO IRIANTO, SiP M.A. .,
KEPALA BIDANG KEPATUHAN INTERNAL KPU BEA DAN CUKAI BATAM

“…Perbaikan Itu Secara Alami Memang Harus Dilalui Dengan Rasa Getir dan Sakit”
Bagi putra daerah, keinginan merantau untuk bekerja atau menuntut ilmu di Pulau Jawa merupakan suatu hal yang sangat didamba. Begitu pula dengan keinginan Okto Irianto ketika itu yang dilahirkan di kota Curup, Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu. Kepala Bidang Kepatuhan Internal Kantor Pelayanan Utama (KPU) Bea dan Cukai Tipe B Batam ini menceritakan, keinginannya untuk menuntut ilmu di Pulau Jawa setamatnya dari Sekolah Menengah Atas di kota Bengkulu, berawal dari pesan ayahnya yang mengatakan, pendidikan adalah faktor paling penting untuk mengubah kondisi kehidupan.
tidak pernah berpikir bahwa pekerjaannya nanti harus sesuai dengan disiplin ilmu yang dimilikinya, walaupun tidak menampik jika nantinya ia mendapat pekerjaan sesuai dengan bidang ilmu yang diperolehnya. Profesi sebagai pegawai bank maupun juga sebagai wartawan pernah menghiasi pikirannya ketika mencari pekerjaan setamatnya dari kuliah, namun keinginan tersebut tidak pernah tercapai karena panggilan untuk tes penerimaan pegawai untuk bidang tersebut tidak pernah menghampirinya. Namun demikian Okto tidak patah semangat dan tetap berpikir positif bahwa Tuhan sedang merencanakan sesuatu yang baik baginya. Tidak berapa lama kemudian panggilan tes untuk penerimaan pegawai menghampirinya, tidak tanggung-tanggung tiga panggilan tes datang hampir bersamaan yaitu, di Pemda Yogyakarta, Departemen Luar Negeri dan Departemen Keuangan. Okto pun harus memilih satu dari tiga pilihan tersebut, lalu dengan tekad yang bulat ia memilih mengikuti tes penerimaan pegawai pada Departemen Keuangan, karena berdasarkan informasi yang diperolehnya bekerja sebagai pegawai Departemen Keuangan remunerasinya cukup baik jika dibandingkan dengan instansi lainnya, sehingga bisa membuatnya hidup lebih mandiri dan tidak perlu terlalu waswas untuk masalah finansial. Serangkaian tahapan tes harus diikuti Okto untuk dapat diterima sebagai PNS di Departemen Keuangan dan hasilnya menggembirakan dimana Okto akhirnya diterima sebagai PNS di Departemen Keuangan dan ditempatkan pada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) mulai tahun 1996 hingga saat ini. Diakuinya awal bergabung di DJBC, ia tidak mengetahui secara luas tugas dan fungsi lembaga yang bertugas melakukan pungutan negara dari Pabean dan Cukai, namun seiring dengan perjalanan waktu ia pun mengetahui tugas dan fungsi DJBC.

P

esan sang ayah rupanya sangat membekas di hatinya, ia pun berusaha agar bisa menuntut ilmu ke Pulau Jawa. Ia memanfaatkan tes penerimaan mahasiswa baru agar dapat mengantarnya ke Pulau Jawa untuk menuntut ilmu. Hasil kerja kerasnya ketika itu membuahkan hasil, ia pun diterima di Universitas Gadjah Mada (UGM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) jurusan Hubungan Internasional di tahun 1989. Kepergiannya menuntut ilmu di Yogyakarta mendapat restu dari kedua orang tuanya. Bekal nasihat dan harapan yang dibebankan kepadanya menjadi pemicu untuk menyelesaikan kuliah dengan baik dan tepat waktu. Bagi sebagian orang berada jauh dari orang tua dan sanak keluarga akan menimbulkan rasa rindu, bahkan rasa rindu tersebut terkadang bisa membuat orang tidak bisa berkonsentrasi untuk melakukan aktifitas di rantau. Okto menyiasatinya dengan menyibukkan diri dalam berbagai kegiatan yang positif. Selama berada di kota pelajar ia tertantang untuk untuk dapat bertahan hidup dan menahan godaan untuk tidak tergiur dengan kehidupan mahasiswa yang dekat dengan kegiatan hura-hura. Masa-masa sulit ketika merantau di Yogyakarta akhirnya bisa dilalui oleh suami dari Fitriani dan ayah satu orang putra bernama Ahmad Thariq Bermani, dimana pada tahun 1994 ia lulus dari UGM dan berhak menyandang gelar Sarjana Ilmu Politik (SIP). Tidak hanya ia yang merasakan bangga dengan gelar sarjana yang melekat di belakang namanya, orang tua dan juga kelima saudaranya pun merasakan hal yang sama atas keberhasilan Okto menempuh pendidikan di perguruan tinggi ternama di Indonesia. Ditengah rasa gembiranya tersebut ia masih teringat dengan pesan sang ayah, bahwa pendidikan akan merubah hidupnya dan keluarganya. Mungkin setelah lulus kuliah nasibnya bisa berubah. Salah satu rancangan dalam hidupnya setelah tamat kuliah ketika itu adalah mencari pekerjaan, maka serangkaian surat lamaran ia kirimkan ke kantor-kantor baik pemerintahan maupun juga swasta. Ketika mengirimkan lamaran, Okto
WARTA BEA CUKAI EDISI 404 JULI 2008

BANYAK KEGIATAN BERHUBUNGAN DENGAN DIPLOMASI
Pada awal meniti karir di DJBC, Okto di tempatkan pada bagian hubungan internasional sebagai pelaksana pada tahun 1997, bidang yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya yang kemudian diikuti dengan promosi yang diperolehnya pada tahun 2002 sebagai Kepala Seksi Kerjasama ASEAN pada Dit Pabean Internasional, dan promosi eselon IIIA sebagai Kepala Bidang Bimbingan Kepatuhan dan Layanan Informasi pada KPU Bea dan Cukai Batam pada tahun 2007. Walaupun Okto bekerja sebagai abdi negara yang berhubungan dengan penerimaan negara dari sektor pabean dan cukai, namun sedikit banyak ilmu yang diperolehnya semasa kuliah di UGM masih terpakai. Banyak kegiatannya ketika bertugas pada Dit Kepabeanan Internasional berhubungan dengan diplomasi seperti mengikuti berbagai sidang baik didalam maupun di luar negeri untuk mempresentasikan kepentingan nasional khususnya pada bidang kepabeanan. Ia mencontohkan pernah terlibat dalam negosiasi perdagangan bebas antara Indonesia dengan India, China dan Jepang. Walaupun tidak bekerja di Deplu sebagai diplomat, namun ia

76

tetap bisa menggunakan latar belakang pendidikan ilmu diplomasi yang diperolehnya di bangku kuliah untuk kepentingan bea cukai. Ketika menjabat sebagai Kepala Seksi Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI) yang ketika itu berada pada Dit P2, Okto ikut dalam Tim Nasional Pemberantasan Pelanggaran HaKI bersama dengan instansi terkait untuk berusaha mengeluarkan Indonesia dari Special 301, daftar negaranegara yang diawasi oleh pemerintah Amerika Serikat karena dinilai tidak bersahabat dalam perlindungan HaKI. Hasil kerja kerasnya memaparkan peran Indonesia terutama DJBC dalam menanggulangi masalah pelanggaran HaKI bersama tim yang terdiri dari Kejaksaan, Kepolisian, Departemen Hukum dan HAM serta DJBC sendiri, pada akhirnya berhasil mengeluarkan Indonesia dalam daftar “special” tersebut. Kerjasama dan koordinasi yang baik lintas instansi yang diikutinya dalam tim ternyata tidak sulit karena mempunyai visi dan misi yang sama sehingga berhasil diperjuangkan di forum internasional. Tidak lama kemudian, Okto kembali
EDISI 404 JULI 2008 WARTA BEA CUKAI

77

P R O F I L
Massachuset Amerika Serikat pada tahun 1999. Pendidikan yang dibiayai negara tersebut ia selesaikan dalam kurun waktu satu setengah tahun dan kemudian kembali ke Indonesia menduduki posisi sebagai Kepala Seksi Kerja Sama ASEAN pada Dit Kepabeanan Internasional. Selain terlibat dalam kegiatan yang sifatnya internasional, Okto juga terlibat dalam proses amandemen Undang-Undang nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan yang kini menjadi Undang-Undang nomor 17 tahun 2006. Keterlibatannya dalam tim amandemen menurutnya membuka cakrawala tentang kepabeanan yang sesungguhnya.

PERAN BESAR KELUARGA
Bagi Okto keluarga berperan menyemangatinya dalam menjalankan tugas sebagai abdi negara. Memang diakuinya terkadang ia harus meninggalkan keluarga untuk menjalani tugas sehingga rasa rindu kepada keluarga sering menghampirinya baik ketika sedang melakukan perjalanan dinas atau ketika sedang menjalani dinas di suatu daerah. Keluarga menurutnya sangat mengerti keadaannya, bahkan putra pertamanya sudah sejak dini “terlatih” untuk jauh darinya. Suatu ketika Thariq, putra pertama Okto yang baru berumur beberapa minggu sudah ditinggal oleh ayahnya yang melakukan perjalanan dinas ke luar negeri untuk menghadiri pertemuan internasional. Setelah itu Okto sering melakukan perjalanan dinas baik ke luar kota maupun keluar negeri, sehingga sang anak “terlatih” untuk jauh darinya untuk sementara. “Saya beruntung memiliki keluarga yang mengerti dengan tugas saya yang terkadang harus jauh dari keluarga,”papar Okto. Seperti saat ini dimana ia ditempatkan di Batam, intensitas bertemu dengan keluarga tidak begitu sering. Untuk
BERSAMA KELUARGA. Fitriani, Ahmad Thariq Bermani, Okto Irianto

dipercaya untuk terlibat dalam suatu tim yang dikomandoi oleh Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) sebagai liaison officer dari DJBC untuk PPATK. Ketika itu Bank Indonesia (BI), Kejaksaan Agung, Kepolisian dan instansi lainnya turut pula dalam tim tersebut. Ketika itu lanjutnya tim terlibat dalam usaha agar negara Indonesia keluar dari daftar Non Cooperative Countries and Territories (NCCT), yaitu daftar negara-negara yang dianggap tidak bersahabat dalam usaha memerangi pencucian uang (money laundering). Untuk bisa keluar dalam daftar tersebut ujarnya, Indonesia yang diwakili oleh tim tadi harus melakukan beberapa kali negosiasi. Tahapan-tahapan tadi menurutnya mampu dilalui oleh Indonesia sehingga tidak lagi tercantum dalam NCCT list pada awal tahun 2005. Menurut Okto keberhasilan Indonesia keluar dari daftar NCCT tersebut menunjukkan bahwa Indonesia serius menangani masalah tindak pidana pencucian uang, dan saat itu menurutnya ia merasa benar-benar berkerja untuk kepentingan negara, agar keluar dari daftar NCCT. Keterlibatannya dalam berbagai kegiatan yang sifatnya internasional, rupanya menjadi pembuka jalan baginya untuk meneruskan pendidikan strata II di Fletcher School of Law and Diplomacy, sekolah calon diplomat di Tufts University, 78
WARTA BEA CUKAI EDISI 404 JULI 2008

DILANTIK menjadi pejabat eselon III di KP-DJBC

mengobati rasa rindu dengan keluarga, ia menyiasatinya dengan pulang ke Jakarta setiap dua minggu sekali pada hari Jumat dengan menggunakan pesawat terakhir dan kembali ke Batam pada hari Minggu sorenya. Praktis waktu yang dimiliki bagi keluarga muda ini untuk berkumpul hanya hari Sabtu, dan itu benar-benar waktu yang sangat berharga bagi Okto dan keluarga. “Kami benar-benar harus memanfaatkan hari sabtu untuk bermain dengan keluarga. Minimal kami harus mengajak anak bermain, jalan-jalan keluar atau kalau tidak main game komputer sama-sama di rumah, Saya hanya mengharapkan agar anak saya nantinya lebih baik dari saya, dan dapat mengeksplorasi semua potensinya secara maksimal,”urai Okto.

KRITIK SEBAGAI SARANA UNTUK BERUBAH
Sikap masyarakat yang tidak selalu baik terhadap DJBC juga tidak lepas dari pengamatan Okto. Menurutnya kritik yang disampaikan masyarakat kepada DJBC bisa digunakan untuk mengidentifikasi sasaran pembenahan. Ia mencontohkan kritik masyarakat mengenai budaya koruptif yang masih ada di Bea Cukai. Kritik tersebut jika dihadapi dengan pikiran positif dan taktis, maka harus ditindaklanjuti segera dengan budaya kerja yang berintegritas tinggi dengan jargon bebas korupsi sebagai objek prioritas pembenahan. Cara serupa juga menurutnya harus dilakukan ketika menghadapi kritik lainnya, namun untuk kritik yang tidak memiliki arti positif di dalamnya Okto memilih untuk tidak menanggapinya. Ia menyadari saat ini instansi yang telah membesarkannya tengah berupaya untuk melakukan pembenahan agar menjadi lebih baik lagi. Untuk memuluskan program tersebut maka yang dapat dilakukan adalah dengan bekerja lebih baik dan lebih baik lagi. Program reformasi kepabeanan dan cukai tidak hanya menjadi agenda pejabat, namun semua pihak terlibat dan turut andil dalam menjalankan program reformasi melalui pe-

ran yang dimiliki para petugas dalam menjalankan tugasnya. Okto kemudian menjelaskan Bidang Kepatuhan Internal yang dipimpinnya di KPU Bea dan Cukai Batam. Keberadaan bidang yang dipimpinnya bisa dikatakan hadir untuk mempengaruhi hati rekan-rekannya yang belum berubah agar dapat berubah lebih baik lagi dan mengajak untuk lebih meningkatkan kinerja bagi rekan-rekannya yang memang sudah memiliki kinerja yang sudah cukup baik. Tidak jarang ia selalu mengajak staf dan rekan-rekannya yang lain untuk mensyukuri nikmat yang telah diberikan Tuhan. Menurutnya di saat kesempatan untuk mengabdi kepada negara datang dengan imbalan yang lebih dari cukup, sudah selayaknya itu menjadi pemicu untuk dapat bekerja lebih baik dan mensyukurinya. “Kalau kita lagi sakit, kita harus melihat ke bawah kepada orang yang lebih sengsara, dan kalau sedang senang coba untuk melihat ke atas, kepada orang yang lebih berhasil. Dengan demikian mudah-mudahan kita tidak cepat puas dan pada saat yang sama kita tidak cepat patah semangat,”papar Okto Selain tindakan persuasif, pendekatan lain yang kasat mata juga dilakukan oleh bidang yang dipimpinnya seperti melakukan inspeksi ke tempat pelayanan, bandara, penyeberangan ferry maupun juga pelabuhan. Secara kontinyu Bidang Kepatuhan Internal juga melakukan analisa sistem terhadap transaksi kepabeanan untuk mencari hal-hal yang mencurigakan, dan jika diperlukan dapat memeriksa lang-

FOTO-FOTO : DOK. PRIBADI

ASEAN DG MEETING. Menjadi salah satu delegasi DJBC dalam pertemuan yang diselenggarakan di Bandung pada tahun 2007.

MENGIKUTI SEMINAR Effective Practices in Combating Illegal Hard Goods Trade di Bangkok Thailand

sung pegawai yang berkaitan dengan kasus jika ada indikasi ditemukan pelanggaran peraturan. Mengenai sorotan masyarakat terhadap DJBC yang miring, Okto berpendapat itu merupakan suatu proses yang harus ditempuh oleh DJBC untuk menjadi lebih baik. Proses ke arah perbaikan itu secara alami memang harus dilalui dengan rasa getir dan sakit. Namun ia optimis setelah itu, DJBC bisa melewatinya dan akan memetik “buah yang manis” dari perjalanan yang terasa pahit dan getir. Menjadi seorang pegawai Bea dan Cukai yang professional menurutnya tidak cukup hanya dengan bekerja efektif dan efisien, tapi harus disertai juga dengan integritas yang tinggi. Ditengah kegamangan sebagian orang dengan citra yang melekat pada DJBC, Okto masih memiliki obsesi pada instansi tempatnya mengabdi, dimana ia ingin suatu saat melihat pegawai bea cukai dapat dengan bangga mengatakan “Saya pegawai bea cukai dan saya bangga dengan pekerjaan saya”. “Saya masih punya masa tugas 20-an tahun dan saya yakin dalam kurun waktu itu saya masih bisa menyaksikan obsesi saya tersebut menjadi kenyataan,”ujarnya. zap
EDISI 404 JULI 2008 WARTA BEA CUKAI

79

APA KATA MEREKA

NADINE
“Senang juga sih dapat perlakuan istimewa..”

CHANDRAWINATA
Menjadi pesohor bagi Nadine Chandrawinata bukan berarti harus selalu mendapat keisitimewaan.Bahkan menurut mantan Putri Indonesia ini, ia merasa kurang nyaman jika mendapat perlakuan yang istimewa apalagi jika perlakuan tersebut berlebihan karena statusnya sebagai selebritis ketika berkaitan dengan pelayanan publik. “Senang juga sih dapat perlakuan istimewa, tapi kalau berlebihan jadi gak enak juga,”paparnya. Ketika ditanya apakah ada keistimewaan yang pernah dirasakan ketika melalui pemeriksaan Bea Cukai di bandara sepulangnya dari kunjungan ke luar negeri, Nadine menjawab, selalu mendapat perlakuan yang sama dengan penumpang lain. Ada kesan angker awalnya ketika ia melihat petugas Bea dan Cukai di bandara yang melakukan pemeriksaan di bandara, namun kesan angker tersebut lanjut duta World Wild Fund (WWF) ini berubah ketika petugas dengan ramah menyapanya sambil melihat dokumen yang dibawanya dan barang bawaan. “Ketika melalui pemeriksaan petugas, saya disapa ramah dan kesannya bersahabat banget,”papar Nadine. Sampai sejauh ini lanjutnya, perlakuan yang ramah dan bersahabat tersebut masih ia rasakan walaupun kunjungan ke luar negeri tidak terlalu sering. Namun ia menambahkan perlakuan ramah yang ia rasakan setidaknya dapat juga dirasakan oleh penumpang lain. Jangan perlakuan ramah hanya ditujukan kepada publik figur, tapi setiap penumpang lanjutnya harus mendapat perlakuan yang sama. Apalagi saat ini terang Nadine, Indonesia masih dalam tahap membangun kepercayaan luar negeri bahwa Indonesia itu aman dan penduduknya ramah,”Keramahan petugas Bea Cukai di bandara bisa menjadi cermin kalau Indonesia itu aman dan penduduknya ramah,”paparnya lagi. zap

MISCHA

FOTO-FOTO : ISTIMEWA

“Petugas juga tahu berita infotainment...”

CHANDRAWINATA

Menempuh studi di luar negeri tepatnya di negeri Paman Sam menurut Mischa Chandrawinata membuatnya menjadi lebih bertanggung jawab, apalagi disana ia jauh dari keluarga, kakak dan juga saudara kembarnya Marcel Chandrawinata. Disana lanjutnya ia harus menjalani kehidupan layaknya mahasiswa lain yang belajar, berkumpul dengan teman-teman, dan bahkan kerja paruh waktu untuk dapat menghidupi dirinya. Memang terkadang rasa rindu untuk berkumpul bersama keluarga sering ia rasakan, namun perasaan tersebut harus disimpannya sampai ia mendapat kesempatan libur kuliah dan pulang ke Indonesia.”Biaya untuk pulang mahal, jadinya kesempatan untuk pulang ke Indonesia kalau lagi ada kesempatan seperti saat libur seperti sekarang,”ujarnya. Di Amerika Serikat, Mischa memang bukan siapa-siapa, tapi ketika pulang ke Indonesia maka ia akan dikenal sebagai seorang selebritis. Walau demikian itu tidak membuatnya menjadi besar kepala dan harus mendapat perlakuan istimewa di Indonesia. Ia juga mengatakan merasa senang ketika petugas Bea dan Cukai di bandara Soekarno-Hatta mengenalnya sebagai publik figur,”Senang juga bisa dikenal sama petugas Bea Cukai, berarti petugas juga tahu berita infotainment,hehehe…” canda Mischa. Walaupun ia dikenal sebagai selebritis namun ia merasa kagum dengan petugas Bea Cukai yang tidak membedakan ia dengan penumpang lain, bahkan ia tida menggagap petugas mempersulitnya ketika suatu ketika diminta untuk membuka tas yang dibawanya,”Saya dengan senang hati membuka tas saya ketika diperiksa dan menjelaskan barang-barang bawaan saya, karena barang-barang yang saya bawa masih wajar,”terangnya lagi. zap 80
WARTA BEA CUKAI EDISI 404 JULI 2008

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->