P. 1
lahan basah

lahan basah

|Views: 666|Likes:
Published by Haghusaini
masih perlu diperbaharui
masih perlu diperbaharui

More info:

Published by: Haghusaini on Jan 04, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/15/2013

pdf

text

original

Tugas 3 : Ekosistem Lahan Basah

Tugas 3 :
Diskusikan Pengelolaan Lahan Basah dengan Kondisi sebagai berikut : 1. Pasang surut 4,5 meter 2. Tipe sungai meander 3. Tipe pantai landai 4. Masyarakat nelayan 5. Tipe ekologi pantai mangrove

Ciri dan Klasifikasi Lahan Basah
Lahan basah (wetland) adalah wilayah-wilayah di mana tanahnya jenuh dengan air, baik bersifat permanen (menetap) atau musiman. Wilayahwilayah itu sebagian atau seluruhnya kadang-kadang tergenangi oleh lapisan air yang dangkal. Digolongkan ke dalam lahan basah ini, di antaranya, adalah rawa-rawa (termasuk rawa bakau), paya, dan gambut. Air yang menggenangi lahan basah dapat tergolong ke dalam air tawar, payau atau asin. Lahan basah merupakan wilayah yang memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi dibandingkan dengan kebanyakan ekosistem. Di atas lahan basah tumbuh berbagai macam tipe vegetasi (masyarakat tetumbuhan), seperti hutan rawa air tawar, hutan rawa gambut, hutan bakau, paya rumput dan lain-lain. Margasatwa penghuni lahan basah juga tidak kalah beragamnya, mulai dari yang khas lahan basah seperti harimau, udang kotak, buaya, kura-kura, biawak, ular, aneka jenis kodok, dan pelbagai macam ikan; hingga ke ratusan jenis burung dan mamalia lainnya. Pada sisi yang lain, banyak kawasan lahan basah yang merupakan lahan yang subur, sehingga kerap dibuka, dikeringkan dan dikonversi menjadi lahan-lahan pertambakan, pertanian. maupun Baik di sebagai lahan persawahan, wilayah lokasi Indonesia sebagai transmigrasi.

Mengingat nilainya yang tinggi itu, di banyak negara lahan-lahan basah ini diawasi dengan ketat penggunaannya serta dimasukkan ke dalam

1

I 4

Tugas 3 : Ekosistem Lahan Basah

program-program konservasi dan rancangan pelestarian keanekaragaman hayati. Berdasarkan fungsi dan tatanan lingkungannya, tipologi lahan basah secara garis besar terdiri dari empat macam, yaitu : (1) lahan basah pesisir dan lautan yang meliputi antara lain hutan bakau, hutan payau, hutan mangrove, terumbu karang dan dataran pasir; (2) lahan basah rawa yang meliputi hutan rawa gambut, rawa padang, rawa rumput dan rawa herbal; (3) Lahan basah dataran sungai yang meliputi sungai, dataran banjir, lebak-lebung dan muara sungai; dan (4) Lahan basah danau, bendungan dan lahan basah bentukan seperti sawah, tambak garam, danau, situ, dan bendungan. Mengingat cukup bervariasinya tipe dan sifat ekosistem lahan basah tersebut, maka ekosistem lahan basah mempunyai potensi yang sangat besar untuk dapat dikembangkan pemanfaatannya secara berkelanjutan. Secara garis besar fungsi dan manfaat lahan basah terhadap manusia dan lingkungan adalah sebagai berikut : Memenuhi Kebutuhan Dasar Manusia Kebutuhan dasar manusia selalu meningkat seiring dengan meningkatnya kemajuan kemampuan manusia untuk hidup. Kebutuhan dasar manusia pada umumnya adalah pangan, sandang, papan, kesehatan dan pendidikan. Dari kelima kebutuhan dasar ini, pangan, papan dan kesehatan dapat dipenuhi oleh ekosistem lahan basah secara langsung. Sedangkan kebutuhan sandang dan pendidikan secara tidak langsung dapat dipenuhi dengan memanfaatkan potensi lahan basah melalui peningkatan pendapatan. Sumber Pendapatan dan Kesempatan Kerja Produk hutan di kawasan lahan basah merupakan komoditi yang dapat memberikan penghasilan dan pendapatan negara antara lain melalui industri chip dan kertas. Tidak sedikit masyarakat yang telah memanfaatkannya sebagai sumber mata pencaharian baik dari kayu, kulit

2

I 4

Tugas 3 : Ekosistem Lahan Basah

kayu, madu maupun berbagai hasil estuaria yang sangat beranekaragam seperti udang, ikan, kepiting, moluska dan lainnya. Penyangga dan Pendukung sistem kehidupan (life supporting system) Peranan lahan basah juga mencakup sebagai pemenuhan manfaat lingkungan yang berkaitan erat dengan stabilisasi dan kesehatan lingkungan, juga meningkatkan dan memelihara produktifitas perairan estuaria dan kegiatan ekotourism. Dari uraian di atas maka untuk permasalahan di atas maka ciri lahan basah yang dimaksud dan cirri dari persoalan di atas dimana lahan basah terdiri dari : pasang surut 4,5 meter, tipe sungai meander, tipe pantai landai, masyarakat nelayan, tipe ekologi pantai mangrove maka lahan basah yang dimaksud adalah lahan basah pesisir. Lahan basah pesisir menurut Ramsar adalah daerah di pesisir yang tergenang air baik secara periodik maupun terus menerus termasuk perairan laut hingga kedalaman tidak lebih dari 6 meter saat surut terendah. Berdasarkan definisi tersebut maka permasalahan lahan basah yang dikemukaan dalam soal diatas termasuk lahan basah persisir yang meliputi hutan mangrove. Lahan basah pesisir memiliki nilai ekologis, ekonomis, sosial dan budaya yang kaya potensi baik untuk konsevasi maupun untuk kegiatan pemanfaatan sumberdaya tersebut untuk masyarakat. Bakau atau mangrove adalah salah satu tanaman yang mampu

beradaptasi dengan baik dalam lingkungan air, bahkan air payau maupun asin. Endapan yang dihanyutkan oleh air dari daratan merupakan substrat tempat tumbuh yang sangat cocok bagi tanamn ini. Kemampuan berbagai spesies bakau beradaptasi dengan lingkungan basah berbeda-beda. Di endapan lumpur yang terendam secara permanen hanya spesies Rhizopora Mucronata yang mampu hidup. Di endapan yang terendam secara periodik ketika air pasang ukuran menengah, spesies yang mendominasi adalah Avicennia sp., Soneratia griffithii dan Rhizopora (di

3

I 4

Tugas 3 : Ekosistem Lahan Basah

pinggiran air). Di endapan yang dibanjiri oleh air pasang besar normal, semua spesies dapat hidup tetapi yang mendominasi adalah Rhizopora. Di lahan oleh air pasang bulan purnama atau bulan gelap, spesies yang utama adalah Bruguiera gymnorphyza dan Bruguiera cylindrica, Ceriops sp. Sementara di lahan yang hanya dibanjiri oleh air pasang ekuinoks atau air pasang yang tinggi sekali ketika bersamaan dengan banjir dari hulu, spesies Bruguiera gymnophora dominan, dan disertai oleh Rhizopora apiculata dan Xylocarpus granatum. Lahan basah pesisir mempunyai nilai penting baik secara ekologis, ekonomi, dan sosial dan budaya. Secara ekologis, daerah ini kaya akan nutrien yang menyebabkan banyak organisme yang melewati sebagian atau seluruh siklus hidupnya di lahan basah pesisir. Lahan basah pesisir sering disinggahi burung migran diantaranya burung air langka yang termasuk kategori jarang dalam daftar International Union on Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN). Tipe ekologi pantai mangrove merupakan peralihan ekosistem tawar dan laut yang berfungsi sebagai barrier untuk menahan arus dan gelombang selain itu kaya sumber biota dan potensial untuk dikelola secara ekonomis. Keberadaan nutrien di lahan mangrove dikendalikan oleh berbagai macam proses biogeokimia termasuk pasang surut, akumulasi kotoran dan dekomposisi kotoran. Nutrien berlimpah di lahan yang semakin dalam dan di lokasi dimana masukan air segar terbilang tinggi. Di samping yang telah disebutkan di atas maka Harimau di Kawasan Taman Nasional Sembilang perlu dilindungi terutama dengan tidak diganggunya habitat Harimau tersebut dengan melakukan konservasi lahan di habitat harimau tersebut. Taman Nasional Sembilang dengan luas 202.896,31 ha dipilih sebagai lokasi pelepasliaran harimau setelah dilakukan survei oleh tim yang terdiri YPHS dan BKSDA Sumatera Selatan. Hasil survei menunjukkan bahwa Taman Nasional Sembilang memiliki ketersediaan mangsa yang kaya, air segar, dan bentangan tanah kering yang cukup. Sebelum dilepasliarkan, harimau ini dilengkapi dengan GPS Collar yang dapat memantau pergerakannya

4

I 4

Tugas 3 : Ekosistem Lahan Basah

dalam habitat baru sekaligus menjaga keselamatannya. Taman Nasional Sembilang adalah taman nasional yang terletak di pesisir provinsi Sumatera Selatan, Indonesia. Taman nasional ini memiliki luas sebesar 2.051 km². Taman Nasional Sembilang merupakan habitat bagi harimau Sumatra, gajah Asia, tapir Asia, siamang, kucing emas, rusa Sambar, buaya muara, ikan Sembilang, penyu air tawar raksasa, lumba-lumba air tawar dan berbagai spesies burung. Taman Nasional Sembilang terdiri dari hutan rawa gambut, hutan rawa air tawar dan hutan riparian di Provinsi Sumatera Selatan. Berbagai macam tanaman darat dan air tumbuh di taman ini, termasuk gajah paku (Acrostichum aureum), nipah (Nypa fruticans), cemara Laut (Casuarina equisetifolia), pandan (Pandanus tectorius), Laut waru (Hibiscus tiliaceus), Nibung (Oncosperma tigillaria), jelutung (Jelutung), menggeris (Koompassia excelsa), Gelam tikus (Syzygium inophylla), Rhizophora sp, Sonneratia alba,. dan gimnorrhiza Bruguiera. Pesisir dan kawasan hutan, terutama di Sembilang dan Semenanjung Banyuasin, merupakan habitat bagi harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), gajah Asia (Elephas maximus sumatranus), Malayan tapir (Tapirus indicus), siamang (Hylobates syndactylus syndactylus), kucing emas ( Catopuma temminckii temminckii), rusa sambar (Cervus unicolor equinus), buaya air asin (Crocodylus porosus), ikan Sembilang (Plotusus canius), penyu air tawar raksasa (Chitra indica), lumba-lumba air tawar (Orcaella brevirostris) dan berbagai jenis burung besar untuk burung migran dari Siberia dapat dilihat di Sembilang, mencapai klimaks pada bulan Oktober. Panggilan dari ribuan burung yang terbang dalam formasi bahkan dapat didengar di atas ombak gemuruh Selat Bangka. Spesies burung lain yang mendiami taman ini termasuk dowitcher Asia (Limnodromus semipalmatus), melihat greenshank (guttifer Pseudototanus), putih timur Pelican (Pelecanus onocrotalus), bangau susu (Mycteria cinerea), bangau ajudan yang lebih rendah (Leptoptilos javanicus), dan putih-hitam bersayap tiga barang (Chlidonias leucoptera). Bagian barat berbatasan dengan Taman Nasional Berbak Taman di

5

I 4

Tugas 3 : Ekosistem Lahan Basah

provinsi Jambi. Di samping harimau, maka di perairan muara terutama di hutan mangrove terdapat udang kotak yang harganya cukup mahal dan dengan adanya udang kotak tersebut maka habitat udang kotak tersebut harus dilindungi terutama dijauhkan dari pencemaran air dan konservasi hutan mangrove. Secara ekonomis lahan basah pesisir merupakan habitat berbagai jenis biota yang memiliki nilai ekonomi sebagai sumber pangan dan bahan baku industri. Ekosistem mangrove dan tipe sungai meander mempunyai Tipe lahan basah pesisir ini cocok sumber daya perikanan yang tinggi.

dikelola dengan pertimbangan konservasi biologi atau adaptasi. Lahan basah di Muara Sungai Banyuasin dan Muara Sungai Musi merupakan lahan basah yang posisi geografisnya sangat dengan dengan alur pelayaran internasional dan oleh karena itu lahan basah di Sumatera Selatan mempunyai posisi strategis kalau ditinjau dari ekonomis. Secara sosial dan budaya lahan basah pesisir telah menjadi pilihan tempat bermukim sejak ratusan tahun yang silam sehingga masyarakat membentuk karakteristik sosial yang khas untuk beradaptasi dengan lingkungan lahan basah pesisir tersebut. Pada umumnya masyarakat yang hidup di lahan basah pesisir bekerja sebagai nelayan. Posisi lahan basah pesisir yang sedemikian besarnya dan potensial, kadang-kadang tidak dikelola dengan baik disebabkan oleh manusia yang selalu berlebihan memanfaatkan lahan basah pesisir dan juga kegiatan yang intensif di daerah hulu menyebabkan lahan basah pesisir menjadi kritis.

Pengelolaan Lahan Basah Pesisir
Seperti yang telah dijelaskan di atas maka posisi lahan basah pesisir yang strategis baik dari segi ekologis, ekonomis, dan sosial dan budaya. Pengelolaan lahan basah biasanya berangkat dari satu sisi yaitu

6

I 4

Tugas 3 : Ekosistem Lahan Basah

bagaimana memanfaatkan dan mendapatkan keuntungan dari adanya lahan basah. Namun demikian, pemanfaatan lahan basah untuk suatu keuntungan akan menyebabkan adanya kerugian.

Ekologis Termasuk Harimau dan Udang Kotak Lahan Basah Pesisir Ekonomi Pemanfaatan

Pelestarian

Sosial dan Budaya

Pengendalian

Pengelolaan Lahan Basah Pesisir • • • • • Pemerintah Perguruan Tinggi Perusahaan Masyarakat Lembaga Masyarakat

Gambar 1 Pola Pengelolaan Lahan Basah Pesisir

Oleh

karena

itu,

pengelolaan

lahan

basah

harus

melihat

sisi

keuntungannya dan sisi kerugiannya. Aspek pengelolaan lahan basah harus memiliki tiga criteria (Gambar 1), yaitu : (1) pemanfaatan, (2) pelestarian, dan (3) pengendalian. Aspek pemanfaatan yaitu bagaimana memanfaatkan dan mendapatkan keuntungan dari adanya lahan basah

7

I 4

Tugas 3 : Ekosistem Lahan Basah

tanpa memikirkan kerugian yang akan ditimbulkan. Sedangkan aspek pelestarian dapat dilakukan agar aspek pemanfaatannya dapat berkelanjutan sehingga perlu upaya-upaya pelestarian baik dari segi jumlah maupun segi kualitas. Dan aspek pengendalian dimana kita menyadari bahwa selain pembawa manfaat lahan basah juga memiliki daya rusak fisik maupun kimia.

Pustaka
1. Akhyar., 2009. Pemetaan Konsentrasi Sebaran TSM (Total Suspended Matter) di Muara Sungai Krueng Aceh dengan Citra Landsat-7 ETM, Fakultas Teknik Jurusan Mesin, Universitas Syiah Kuala, Aceh. 2. Asdak, C., 2004. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Cetakan Ketiga, Penerbit Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. 3. Haryono dan Subagja, J., 2008. Populasi dan Habitat Ikan Tambra, TOR Tambroides (Bleeker, 1854) di Perairan Kawasan Pegunungan Muller Kalimantan Tengah, Biodiversitas, Volume 9 Nomor 4, Halaman 306-309, ISSN :14 12-033X, Oktober 2008. 4. Febriana, E., 2008. Kinerja Pengendalian Pemanfaatan Lahan Rawa di Kota Palembang, Tugas Akhir, Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Diponogoro, Semarang. 5. Notohadiprawiro, T., 1997. Lahan Basah : Terra Incognita, Seminar Nasional Pemberdayaan Lahan Basah Pantai Timur Sumatera yang Berwawasan Lingkungan Menyongsong Abad ke-21, Fakultas Pertanian Universitas Jambi. 6. Sosrodarsono, S., 2003. Hidrologi Untuk Pengairan, Kesembilan, Penerbit PT. Pradnya Paramita, Jakarta. Cetakan

7. Sucipto., 2008. Kajian Sedimentasi di Sungai Kaligarang Dalam Upaya Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Kaligarang Semarang, Tesis, Program Magister Ilmu Lingkungan, Program Pascasarjana, Universitas Diponogoro, Semarang. 8. Yulistianto, B., 2009. Fenomena Gelombang Pasang Bono Di Muara Sungai Kampar, Dinamika Teknik Sipil, Volume 9, Nomor 1, Januari 2009 : 19-26, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

8

I 4

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->