K KKO OOP PPE EER RRA AAS SSI II D DDA AAN NN K KKO OOR RRP PPO OOR RRA

AAS SSI II P PPE EET TTA AAN NNI II: :: K KKU UUN NNC CCI II P PPE EEM MMB BBU UUK KKA AA P PPE EEN NNG GGE EEM MMB BBA AAN NNG GGA AAN NN A AAG GGR RRI IIB BBI IIS SSN

NNI IIS SSB BBE EER RRD DDA AAY YYA AA S SSA AAI IIN NNG GG, ,, B BBE EER RRK KKE EER RRA AAK KKY YYA AAT TTA AAN NN, ,, D DDA AAN NNB BBE EER RRK KKE EEA AAD DDI IIL LLA AAN NN Rudi Wibowo1 PENDAHULUAN Dalam era transisi demokratisasi saat ini, secara nasional tampak ada keinginan sangat kuat untuk mengangkat derajad kesejahteraan petani yang selama ini merupa kan bagian terbesar masyarakat yang tertinggal dalam pembangunan. Tekad tersebut palin g tidak terlihat dari jargon-jargon umum para calon pemimpin negara masa depan dal am kampanye pemilihan presiden di bulan Juni 2004 ini. Jika benar bahwa jargon-jarg on tersebut akan menjadi landasan kebijakan pemerintahan masa depan ini, maka hal i tu berarti

Secara makro misalnya. pertanian berwawasan agribisnis mestinya di letakkan pada posisi sentral di dalam pembangunan ekonomi. 2 Dicuplik dari Rumusan Konperensi Nasional PERHEPI ke XIV di Jakarta.akan menempatkan pembangunan nasional dalam mainstream pembangunan pertanian. . Banyak bukti menunjukkan kecenderungan itu. 28-29 Mei 2004. bagian terbesar potensinya adalah sumberd aya pertanian dengan bahagian terbesar penduduknya para petani. pertanian dan perdesaan. Harus ada pandangan normatif pemimpin bangsa yang berani mengambil posisi yang jelas dengan sikap: apabila terdapat berbagai kepentingan pembangunan.2 Peringatan dari para ekonom pertanian tersebut menjadi amat sangat penting bagi keseluruhan bangsa ini. Menggarisbawahi hal itu. dan kepentingan yang lain bertentangan dengan keperluan pembangunan pertanian. para ekonom pertanianpun pada akhir bulan Mei 2004 yang lalu telah mengingatkan para calon pemimpin nasional dalam konklusi konperensi nasion alnya dengan bagian rumusan terpentingnya sebagai berikut.--terutama bagi para pemimpin pengelola negara mendatang-untuk menyongsong masa depan yang lebih baik. Rekonstruksi dan restrukturisasi pertanian Indonesia akan sangat tergantung pada bagaimana pemimpin bangsa mendudukkan pertanian dalam kerangka pembangunan nasional. maka kepentingan yang lain itu harus ditunda . akan tetapi sejauh i ni justru belum menunjukkan peningkatan kehidupan dan kesejahteraan mereka. Mengapa demikian? Indonesia sebagaimana negara-negara agraris berkembang lain. Ke depan. dengan petani sebagai subyek utamanya. Hal ini mengingat besarnya potensi sumber daya (resource endowment) dan besarnya masyarakat Indonesia yang bergantung pada bida ng pertanian dalam arti luas. ketidak-serasian karena ta jamnya penurunan Gross Domestic Product pertanian (dari sekitar 80% GDP nasional di tah un 1 Sekjen PERHEPI 2004-2007 dan Guru Besar Ekonomi Pertanian Universitas Jember.

dan merealisasikannya di lapangan. sedangkan kredit modal kerja sektor pertanian hanya Rp 10. sehingga diharapk an lebih mensejahterakan petani sebagai pelaku utama pembangunan pertanian. pengelola negara masa depan pasca pemilu 2004 ini mengkontemplasikannya menjadi landasan kebijakan pembangunan ekonomi nasional mendatang. lebih demokratis. .6 trilyun atau sekitar 18. Konsistensi penurunan harga-harga produk primer pertan ian tersebut secara agregat tentu akan menyulitkan posisi petani dan pertanian masa depan. tahun 2003 lalu Bank Ind onesia mencatat bahwa jumlah kredit investasi sektor pertanian Rp 10. Petani.53 persen. Mencermati keadaan di atas. baik horisontal maupun vertikal. Misalnya.6 triliun atau sekitar 6.8 persen. misalnya sem akin terbatasnya penguasaan dan skala usaha akibat konversi terus-menerus lahan produ ktif pertanian ke bukan-pertanian. dengan terjadinya kecenderungan konsisten penurunan harga-harga riil produk primer pertanian3. Upaya kelembagaan tersebut menjadi sangat penting. diband ing sektor industri yang meningkat pesat produktivitasnya. teknologi yang relatif stagnan dan miskin terobosan baru. terutama dikaitkan dengan upaya kelembagaan (institutional building). terutama dalam rangka mengakselerasi modal sosial bagi kebutuhan pembangunan eko nomi pertanian yang berdaya saing. tulisan sederhana ini ingin mengajukan pemikiran ata u konsepsi dasar bagi pembangunan pertanian masa depan. Pengambil kebijakan tampaknya masih friendly dengan pa ra pengusaha besar dan sektor di luar pertanian.3 triliun dari tot al Rp 54.3 triliun dari total Rp 157. Mudah-mudahan . secara mikro-wilayah b anyak implementasi pembangunan pertanian yang masih menjadi keprihatinan. sebagai the real investors seringkali tidak menjadi perhatian dan bahkan diabaikan oleh pengambil kebijakan. tetapi juga akses dan kemudahan lain y ang dapat dimengerti oleh pelaku sektor pertanian4. Dalam pada itu. serta kecenderungan keterpisahan (decoupling) pertanian antar-skala dan antar-wi layah. Globalisasi tampaknya juga tidak berpihak pada pertanian.2 1950-an menjadi hanya 17% di awal milenium ini) dibanding lambatnya penurunan sh are ketenagakerjaannya (dari sekitar 90% di tahun 1950-an menjadi 46% di awal mileni um ini) menunjukkan betapa rendahnya produktivitas kerja di bidang pertanian ini. berkerakyatan. Sektor pertan ian tidak hanya memerlukan tingkat suku bunga yang tepat.

jika pada tahun 1960 indeks harga dunia produk pertanian agregat 208. Petani Menggugat. 4 Bustanul Arifin. Dalam: Rudi Wibowo dkk (Ed). 2004. Penurunan yang sama juga terjadi pada makanan. Rekonstruksi dan Restrukturisasi Pertania n. dengan nilai indeks tahun 1 990=100. Diter bitkan oleh Max Havelaar Indonesia dan GAPPERINDO. Menterjemahkan Keberpihakan Terhadap Sektor Pertanian: Suatu Telaah Ekonomi Politik. halaman 123-132.. PERHEPI. Mengambil data World Bank. Agribisnis yang sejak tahun 80-an secara nasional telah diposisikan sebagai a new way to look agriculture. a new agricult ure paradigm. . maka pada awal milen ium ini menurun drastis menjadi 87. secara nasional masih sungguh-sungguh memprihatinkan. 2004.AGRIBISNIS SEBAGAI A NEW PARADIGM Mendalami potret pembangunan pertanian berwawasan agribisnis saat ini. Jakarta 2004. Bab VII. minuman dan bahan bak u lainnya. ternyata pada tingkatan konsepsional saja masih banyak menyimpan berba gai 3 Periksa Agus Pakpahan.

° Agribisnis diartikan sebagai sektor yang berkonotasi sempit. . Bagi Indonesia khususnya. yang menjadi sukma bagi wawasan agribisnis itu sendiri. Namun demikian. sehingga implementasinyap un menjadi jauh dari hakikat tujuan pengembangan agribisnis itu sendiri. agribisnis pada dasarnya menekankan pada cara pandang yang melepaskan diri dari sebuah tradisi konvensional yang selama ini dianut. sehingga menghilangkan esensinya sebagai a new paradigm. Sebagai bu zz-word. agribisn is bukanlah sekedar bertujuan untuk membuat kegiatan pertanian menjadi berdaya saing saja (s ehingga mampu berkompetisi dalam arena global). Terminologinya telah membudaya sejak pucuk pimpinan negara. dokumen-dokumen pemerint ahan hingga ke tingkat penyuluh dan bahkan masyarakat umum. Pengertian tersebut menghilangkan mak na sistem dan keterkaitan antar subsistem. ° Agribisnis hanya dipandang sebagai suatu program bagi kementerian pertanian. Pertanian tidak hanya dipandang sebagai s uatu sistem kegiatan on-farm semata-mata. yang disebut agribisnis5. atau petani yan g berbisnis atau sekedar berorientasi pasar. dan lainnya6. ° Agribisnis hanya diartikan sebagai perusahaan-perusahaan besar di bidang pertani an. sehingga memperkecil pengertian dan lingkup kesistemannya. akan tetapi mencakup berbagai subsistem dal am keseluruhan sistem. Sebagai suatu paradigma berfikir baru. pada tataran konse psional saja.3 kesalah-pengertian dan pemahaman bagi sementara pihak. saat ini kita masih banyak menghadapi atau menjumpai kesalah-pengertian te ntang apa yang dimaksud dengan agribisnis tersebut. ketika membicarakan pertanian. Akan tetapi. Beberapa kesalah-pengertian tersebut a ntara lain: ° Agribisnis diartikan sebagai suatu kegiatan pertanian komersial. implementasi konsepsi agribisnis tersebut ternyata tidak sejalan dengan popularitas istilahny a. akan tetapi lebih penting dari itu harus mampu membuat petani lebih produktif dan sejahtera. agribisnis memang telah sangat populer. berbagai pertemuan ilmiah dan seminar.

pendidikan & penyul uhan/konsultasi. agro-otom otif. 2003: Analis is Grand Strategy Pembangunan Pertanian: Pembangunan Sistem dan Usaha Agribisnis dan Implementasi Pembangunan Pertanian. (3) Sub-sis tem agribisnis hilir (downstream agribusiness) yakni kegiatan industri yang mengolah produk pertanian primer menj adi produk olahan (intermediate. yakni kegiatan ekonomi yang menggun akan sarana produksi usahatani untuk menghasilkan produk pertanian primer (farm product). juga telah mengkritisi hal ini. dan lain-lain. dan (4) Subsistem jasa penunjang (agro-institution and agro-service) yakni kegiatan yang menyediak an jasa bagi agribisnis seperti perbankan.Kesalah-pengertian makna tersebut tampaknya telah menjadi salah satu sebab bias nya sementara pihak dalam mendalami dan mencermati secara benar problema pertanian. agro-kimia. Masalah pertama. agri-equipment. Juga Agus Pakpahan. transportasi. retailer) d an konsumennya. Rudi Wibowo. . infrastruktur (fisik. (2) Sub-sistem usahatani (on-farm agribusiness). op cit. normatif). Litbang. finished product) beserta perdagangannya (wholesaler. d alam bahasa yang kurang lebih sama. Periksa Bayu Krisnamurthi. utama dan mendasar yang dihadapi bangsa dalam pertan ian 5 Para ahli ekonomi pertanian umumnya menyepakati ng lengkap terdiri atas: bahwa suatu sistem agribisnis ya (1) Sub-sistem agribisnis hulu (up-stream agribusiness) yakni kegiatan industri dan perdagangan yang menghasilkan sarana produksi usahatani seperti pembibitan. 6 Beberapa statemen menunjukkan hal ini. op cit. Beberapa statemen.

sebe sar 57 persen aset dikuasai usaha besar. usaha kecil (1. dengan total tenaga kerja mencapai 67 juta orang.6 persen). Oleh karena itu. Struktu r petani dan pelaku pertanian secara nasional sangat beragam. yang justru mampu menyediakan lapangan kerja sekitar 89 persen. d engan tenaga kerja yang relatif kurang trampil dan tersebar di berbagai wilayah tanpa ik atan skala. Sekitar sepuluh tahun lalu.1 persen dari total). yang justru mengu asai berbagai sumberdaya produktif yang dibutuhkan bagi suatu pembangunan pertanian y ang berdaya saing seperti lahan. Bila dilihat dari bidang pembangunannya. usaha mikro dan kecil di bi dang pertanian mempunyai kontribusi terbesar. tentu dengan keragaman penggunaan teknologi yang sangat tinggi. Pada tahun 2001. dan hanya 21 persen saja yang dikuasai usaha k ecil. dan menyumbang sekita r 41 persen GDP. modal. Badan Pusat Statistik mencatat ada sekitar 34. secara garis besar struktur t ersebut tidak banyak berubah. industri 7 persen.65 jut a usaha mikro (98. demikian pula dengan bidang kegiatannya. Gambaran tersebut menjelaskan bahwa pola agribisnis kita masih s angat didominasi dan ditopang dari usaha pertanian rakyat yang berskala kecil ( gurem ).3 persen) menengah dan besa r (0. kegiatan usaha tersebut seringkali masih b elum sepenuhnya berorientasi pasar-komersial dan bahkan sebagian masih cenderung subs istentradisional. ji ka tidak ingin dijumpai potret masa depan petani dan pertanian yang semakin memprihatinka n pada bangsa ini ke depan. Saat ini. Tan . selain sebagian kecil lain merupakan petan i berkarakteristik komersial dan perusahaan pertanian atau perusahaan agribisnis b aik dalam level nasional maupun multi-national corporation. ser ta perdagangan dan jasa sebesar 36 persen7. Dualistic problem dalam kegiatan pertanian sebagaimana dipreposisikan Boeke teta p menjadi masalah penting bagi pembangunan pertanian. Bagian terbesar petani di Indonesia pada dasarnya dapat dikategorik an dalam karakteristik petani gurem baik buruh tani maupun yang subsisten tradisional (peasa nt) dan masih semi komersial (pseudo-farmer). teknologi dan informasi serta manajemen. Bagian terbesar pelaku pertanian membutuhkan hakekat kebija kan yang sangat berbeda dibandingkan dengan sebagian kecil lainnya. ada kebutuh an yang sangat kritis untuk meluruskan atau menjernihkan kesalah-pengertian tersebut. Sebagaimana telah diungkapkan. yaitu 57 persen.4 adalah semakin buram dan memprihatinkannya potret kehidupan para petani.

Misi inilah sebenarnya y ang menjadi landasan dari agribisnis sebagai suatu paradigma baru dalam pembangunan pertanian kita. . 7 Rudi Wibowo.pa menyentuh aspek utama tersebut. Idealisasi Versus Fakta terciptanya Hubungan yang Saling Me nguntungkan diantara Dunia Perbankan dan Agribisnis. Makalah Seminar Optimalisasi Kemitraan Agribisnis dan Perbankan. 26 April 2004. Menuju Pem bangunan Ekonomi Berkeadilan Sosial. Jakarta. Jakarta. 2004. STEKPI. pembangunan pertanian kita diyakini tidak akan m ampu mengatasi masalah dasar dan struktural dalam pertanian. 2003. Periksa juga Noer Soetrisno.

sebagai bagian dari proses pember dayaan ekonomi petani. Upaya kelembagaan terse but harus dipandang sebagai suatu prasyarat keharusan (necessary condition) bagi sua tu rekonstruksi dan restrukturisasi ekonomi (pertanian) secara menyeluruh. akan tetapi disenandungkan di atas rintihan ketidak-berday aan para petani . dan bahkan sedang mengalami invo lusi yang mengkhawatirkan. Tanpa prasyarat keharusan tersebut. Berkembangnya prasyarat keharusan tersebut pada dasarnya merupakan tugas utama pemerintah dalam mewujudkan keberpihakannya melindungi dan memberdayakan petani dan pertanian. sehingga posisi ekonomi petani tetap menempati stratum terbawah dalam konstelasi struktur ekonomi Indonesia saat ini. diyakini Agribisnis hanyalah s osok dendang yang populer. terutama dalam kaitanny a dengan perilaku konsumsi (misalnya dari rumah tangga ke food service industry. Upaya kelembagaan sebagai prasyarat keharusan dalam membangun pertanian (agribisnis) berdaya saing dan berkeadilan diharapkan dapat menjadi kunci pembuka . Dinamika dan keragaman yang tinggi dalam karakteristik lingkungan produksi agribisnis tentu memerlukan antisipasi yang ti nggi pula dalam mengeliminasi dampak-dampak yang tidak dikehendaki. Sayangnya. diyakini tidak substansial sehingga tidak akan mampu mengatasi hakekat prob lema yang sedang dihadapi pertanian dan bangsa ini. Dibutuhkan kehadiran suatu kebijakan sosial ekonomi yang mendas ar dan komprehensif dalam pembangunan agribisnis. Segala bentuk upaya manajemen untuk membangun kehidupan petani dan pertan ian yang dilaksanakan tanpa menyentuh atau mengkonstruksi ulang kelembagaan pertania n yang ada. upaya-upaya kelembagaa n yang dilakukan selama ini kurang tercermin sebagai penggerak utama dalam proses pemba ngunan pertanian. Hal yang sama terjadi dalam aspek sosial budaya yang juga terus mengalami perubahan. Akan tetapi. berkemba ngnya . Harus ada semacam prasyarat kecukupan (sufficient condition) berup a upaya manajemen (management building).Jika disepakati bahwa agribisnis adalah cara pandang baru (a new paradigm) bagi bangsa ini dalam membangun dan mengembangkan pertanian sesuai dengan hakekat tuj uan dasarnya (baca: meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani) dengan memperh atikan potret petani dan pertanian di Indonesia yang sangat dualistik saat ini. maka ha l pertama dan utama yang secara teoritis dibutuhkan adalah upaya kelembagaan (institutional bu ilding) yang akan memampukan dan memberikan landasan kondusif (enabling) bagi berkembangnya kehidupan petani dan pertanian masa depan. kunci pembuka inipun diyakini tidak akan cukup tanpa adanya upaya-upa ya manajemen dalam mengembangkan agribisnis sesuai lingkungan internal maupun eksternalnya.

Jelas karakteristik dan kecenderungan perkembangan karakteristik agribisnis mempunyai implikasi penting dalam manajemen agribisnis.grazing food dan street food serta pendidikan dan pengetahuan masyarakat terhada p kesehatan dan kebugaran yang sedang dan akan merubah cara-cara konsumen dalam mengevaluasi suatu produk). karakteristik proses . Salah satu contoh adalah. meningk atkan kontribusi agribisnis dalam suatu konstruksi perekonomian secara keseluruhan ada lah sama dengan membangun manajemen agribisnis dengan memperhatikan karakteristik agribis nis pada berbagai kondisi yang bersangkutan. Oleh karena itu.

konsumen. manajemen agribisnis yang tidak i ntegratif akan mengakibatkan ekonomi biaya tinggi pada sektor agribisnis. memerl . Contoh ini menunjukkan perlunya ko nsistensi produk (jumlah.produksi dan produk agribisnis yang berbasis pada proses biologis mengisyaratkan bahwa pengusahaan agribisnis haruslah terintegrasi secara vertikal. place. Selain itu. budidaya dan subsistem hilirnya diharapkan berada pad a satu sistem manajemen yang integratif secara vertikal. Teknologi budidaya seperti itu hanya mungkin dilakukan bila bibit bawang merah y ang dihasilkan pada sektor hulu adalah bibit yang tahan penyakit dan produktivitas h asilnya tinggi (misalnya teknologi bibit transgenic). Berdasarkan argumen teknis. jenis. Dari segi ekonomi. sendiri-sendiri) memberi dampak masalah ketimpangan marjin. promotion). Agribisnis yang dikelola tidak secara integratif ( tersekat-sekat. Hal ini memberi ar ti bahwa subsistem agribisnis hulu. tapi harus didukung oleh teknologi budidaya dengan penggunaan pestisida seminimum mungkin (pada sektor budidaya). sektor hulu dan hilir dengan industri besar). budidaya dan hulunya. Manajemen agribisnis integrasi vertikal juga memungkinkan agribisnis untuk meningkatkan penetrasi pasar (market penetration). antara kaitan sektor hulu-hilir memiliki ketergantun gan teknis yang sangat tinggi sesuai karakteristik produk biologis. bahkan cenderung ditahan untuk memperkuat posisi monopsonistis pada sektor hulunya. mengembangkan pasar (market development) maupun pengembangan produk (product development) melalui strategi-s trategi pemasaran 4P (price. kontinuitas) yang hanya mungkin dicapai bila sektor hulu. harga) tidak ditransmisikan secara adil kepada sektor hilir. product. mutu. dan biasanya sektor budidaya menjadi korban karena struktur ekonomi yang dualistik. budidaya dan hilir dalam agribisnis dikelola dalam suatu manajemen yang integrat if. lebih-lebih dala m struktur ekonomi yang dualistik (sektor budidaya dengan petani dan UMKM. Informasi pasar (sebagai akibat perubahan selera. Karakteristik konsumen produk a gribisnis yang sangat dipengaruhi oleh aspek sosial budaya dan segala keragamannya. Keadaan buruk inilah yang seringkali terjadi pada kegiatan agribisnis saat ini. Untuk menghasilk an produk bawang merah dengan residu pestisida rendah misalnya. Tuntutan integrasi vertikal in i pada dasarnya dilandasi oleh argumen teknis maupun argumen finansial/ekonomi. tidak mungkin dicapai bila hanya mengandalkan kegiatan produksi pada sektor hilir saja. tuntutan pengelolaan/pengusahaan integrasi vertikal agribisni s pada dasarnya untuk menghilangkan (meminimumkan) ketimpangan margin pada berbaga i sektor hulu. budidaya dan hilirnya.

. mutu produk. Dengan perkataan lain. dan lain-lain untuk menjawab perubahan lingkungan bisnis yang dihadapi. Inilah tantangan manajemen sekaligus tekanan bagi petani dan pertanian kita menyongsong masa depannya. delivery. dengan ma najemen integrasi vertikal memungkinkan perusahaan agribisnis untuk lentur dalam volume.ukan diffrensiasi 4P untuk peningkatan pangsa pasar.

agar petani mampu melaksanakan kegiatan yang tidak hany a menyangkut on farm bussiness saja. akibat kondisi yang dihadapi dalam menciptakan rasa akan keamanan pangan. ° Kurangnya rasa percaya diri (self reliances). ° Produktivitas tenaga kerja yang relatif rendah (productive and remmunerative employment). Petani sebagai unit agribisnis terkecil belum mampu meraih nilai tambah yang ras ional sesuai skala usaha tani terpadu (integrated farming system). harga dan lingkungan. sepert i keterbatasan aset lahan. Oleh karena itu per soalan membangun kelembagaan (institution) di bidang pertanian dalam pengertian yang lu as menjadi semakin penting. ° Perasaan ketidakmerataan dan ketidakadilan akses pelayanan (access to services) sebagai akibat kurang terperhatikannya rangsangan bagi tumbuhnya lembaga lembaga sosial (social capital) dari bawah. infrastruktur serta sarana dan prasarana penunjang kegi atan produktif lainnya. Satu hal yang sangat kritis adalah bahwa meningkatnya produksi pertanian (agribisnis) selama ini belum disertai dengan meningkatnya pendapatan dan kesejahteraan petani secara si gnifikan. yaitu: ° Akses yang semakin kurang baik terhadap sumberdaya (access to resources). pasar. teknologi. sebagai akibat keterbatasan investasi.INSTITUTIONAL BUILDING: UPAYA MEMBERDAYAKAN PETANI Upaya mewujudkan pembangunan pertanian (agribisnis) masa mendatang adalah sejauh mungkin mengatasi masalah dan kendala kritikal yang sampai sejauh ini bel um mampu diselesaikan secara tuntas sehingga memerlukan perhatian yang lebih serius . akan tetapi juga terkait erat dengan aspek-as pek off farm agribussinessnya. saat ini sedikitnya kita masih melihat beberapa kondisi yang dihadapi petani di dalam mengembangkan kegiatan usaha produktifnya. . Jika ditelaah. walaupun telah melampaui masa-masa kritis krisis ekonomi nasional . keterampilan dan pengelolaan sumberdaya yang effisien.

Berbagai langkah terobosan sebagai suatu upaya kelembagaan guna memecahkan permasalahan di atas yang dikembangkan seperti pengembangan sistem . credit reform dan sebagainya yang mema ng secara substansial diperlukan sebagai suatu cara redistribusi asset masih merupa kan isyu yang kurang populer. Manfaat dari program-program pembangunan pertanian di perdesaan yang datang dari atas tampaknya hanya jatuh pada kelompok pemilik tanah. Di lain p ihak. karena tanah tidak hanya dihubungkan dengan produksi. Sebagai contoh. sebagai lapisan atas dari masyarakat desa. tetapi juga mempunyai hubungan yang era t dengan kelembagaan. seperti bentuk dan birokrasi dan sumber-sumber bantuan tekni s. juga pemilikan tanah mempunyai hubungan dengan kekuasaan baik di tingkat lokal maupun di tingkat yang lebih tinggi. pelaksanaan perubahan seperti landreform. subsidi paket teknologi produksi. bahkan kontrol terhad ap distribusi pengairan dan pasar lokal juga dilakukan oleh kelompok ini. program kredit dengan jaminan tanah serta bunga modal.Secara klasik sering diungkapkan bahwa penyebab utama ketimpangan pendapatan dalam pertanian adalah ketimpangan pemilikan tanah. Hal ini adalah benar.

pemalsu an dan ketiadaan saprotan. perbedaan produktifitas antara petani perdesa an dengan pekerja industri perkotaan semakin besar senjangnya. menunjukkan bahwa inti esensi dari prose s pembangunan pertanian dan perdesaan adalah transformasi struktural masyarakat pe rdesaan dari kondisi perdesaan agraris tradisional menjadi perdesaan berbasis ekologi pe rtanian . kurangnya fasilitas dan kemiskinan. Hal ini merupakan masalah y ang banyak dibicarakan dalam menyoroti ketimpangan antara perkotaan dan perdesaan. Pada waktu yang sama. Tinjauan holistik dengan memperhatikan kondisi berbagai aspek kehidupan pertania n dan perdesaan seperti diuraikan disini. Masalah -masalah pengangguran. keracunan lingkungan. Pelayanan publik bagi adaptasi teknologi dan informasi terutama untuk petani pad a kenyataannya sering menunjukkan suasana yang mencemaskan. tetapi di lain pihak tidak dapat dihindarkan terjadi nya pencemaran lingkungan. Investasi modal pada masa sebelum krisis lebih banyak diarahkan pada industri perkotaan daripada di sektor pertanian perdesaan. Di satu pihak memang terdapat kenaikan produksi. sama sekali belum memecahkan prob lem substansial yang oleh Boeke diungkapkan sebagai "dualisme".usahatani sehamparan. setengah pengangguran dan pengangguran terselubung menjadi gambara n umum dari perekonomian saat ini. pola PIR dan sebagainya. Sebagai konsekuensinya. terlemparnya tenaga kerja ke luar sektor pertanian yang t idak tertampung dan tanpa keahlian/ketrampilan lain. terjadi pula produktifita s yang rendah dan kurangnya fasilitas pelayanan penunjang. Perasaan ketidak-amanan dan kekurang-adilan ak ibat berbagai kebijakan dan kebocoran (misalnya kasus impor illegal. Dalam pada itu. karakteristik perdesaan seringkali ditandai dengan pengangguran. produktifitas dan pendapatan rendah. Pada umumnya. sebagian besar petani dan para pen gelola industri perdesaan. Rendahnya produktifitas meru pakan ciri khas di kawasan perdesaan. ledakan hama karena terganggunya keseimbangan lingkungan dan sebagainya. bekerja dengan teknologi yang tidak berubah. Manfaat teknologipun seringkali masih di rasakan lebih banyak dinikmati pemilik aset sumberdaya (tanah) sehingga pada gilirannya justru menjadi penyebab utama dalam mempertajam perbedaan pendapatan dan mempercepat polarisasi dalam berbagai bentuk. p ertanian dan bukan pertanian. dumping. jatuhnya harga saat panen dan lainnya) seringkali menjadi pelengkap rasa tidak percaya diri (dan apatisme berlebihan) pada sebagia n petani.

Untuk itu. dan sekaligus meningkatkan daya saing dalam iklim kebersama an pelaku-pelaku ekonomi lainnya. yang menjadi inti dari struktur ekonomi perdesaan yang terkait erat dengan sistem industri. sebagai prasyarat keharusan diperlukan suatu . Mencermati situasi di atas. Keberpihakan kebijakan semacam itu sangat (baca: mutlak) diperlukan untuk mengat asi berbagai kendala dan tantangan pengembangan agribisnis yang berorientasi ekonomi kerakyatan. jelas sangat diperlukan upaya-upaya pengembangan agribisnis yang lekat dengan peningkatan pemberdayaan (empowering) masyarakat agribisnis terutama skala mikro dan kecil dalam suatu kebijakan yang berpihak .dengan pengusahaan bersistem agribisnis. sistem perdagangan dan sistem jasa nas ional dan global. keadilan.

Pertama. baik dalam bentuk kelompok usaha bersama. Manifestasi dan implementasi dari upaya kelembagaan tersebut pada dasarnya bukanlah mudah dan sederhana. demokratis dan adil. upaya kelembagaan tersebut diharapkan menjadi pendorong terci ptanya the same level playing field bagi petani dan pelaku ekonomi lainnya. koperasi. Bangun kelembagaan koperasi dipandang salah satu sosok yang tepat. korporasi (community corporate) a taupun shareholder. produktivitas. terutama berkaitan dengan pengembangan agribisnis. peningkatan produktivitas kerja. semangat baru bagi petani untuk terutama dapat melonggarkan keterbatasanketerbat asannya. upaya kelembagaan terseb ut mampu mendorong peningkatan basis sumberdaya. Sebagian apatis. atau hard-step reconstruction. Kedua. KOPERASI DAN KORPORASI AGRIBISNIS Institutional building sebagai prasyarat keharusan dalam pengembangan agribisnis yang bagian terbesar pelakunya petani kecil dan gurem adalah bangun koperasi dan korporasi agribisnis. serta meningkat kan rasa percaya diri akan lingkungan yang aman. seperti akses terhadap sumberdaya produktif (terutama lahan). seyogyanya mengandung berbagai ciri pokok dan mendasar. sehingga memerlukan pengkaji . sehingga dalam banyak hal menjadikan sosok koperasi di Indonesia sempat kehilangan jati dirinya. masih beragam pendapat tentang eksistensi koperasi dalam sistem ekonomi Indonesia saat ini. Sebagai suatu rules atau nilai dan semangat baru d alam pembangunan pertanian ke depan. upaya kelembagaan tersebut pada dasarn ya dapat dipandang sebagai langkah menuju rekonstruksi ulang dalam penguasaan dan akses sumberdaya produktif di bidang pertanian. Secara substansial. badan usah a dan juga sebagai suatu gerakan (untuk melawan penindasan ekonomi dan ketidakadilan sistem pasar). sementara korpora si lebih merupakan rekonstruksi yang lebih radikal . efisiensi dan keles tarian bagi kegiatan-kegiatan produktif pertanian. akses terhadap pelayanan dan rasa keadilan. Di kalangan masyarakat sendiri. adil dan transparan. berdasarkan aturan main yang fair. transparent. yang pada gilirannya akan meningkatk an pendapatan dan kesejahteraan petani. mengingat entitas tersebut berciri sebagai asosiasi (perkumpulan orang/petani).9 iklim kebijakan yang mendorong terbangunnya institusi (kelembagaan) yang mampu meningkatkan posisi petani menjadi bagian dari suatu kebersamaan entitas bisnis. Sejarah koperasi di Indonesia memang penuh dengan romantika sebagai akibat terlam pau kuatnya dukungan pemerintah dalam kurun waktu yang cukup lama. Koperasi lebih merupakan soft-step reconstruction. Upaya kelembagaan tersebut diyakini akan dapat menjadi nilai (value ) baru.

Pembangunan dan Ekonomi Indonesia: Pemberdayaan Rakyat d alam Arus Globalisasi. Bandung. Pendapat terakhir ini 8 Arief. 1997. . Sebagian lain meman dang koperasi sebagai entitas yang perlu dikembangkan. CPSM. Sritua. Sement ara itu.an ulang mengenai eksistensi koperasi dalam sistem ekonomi Indonesia. walaupun seadanya saja. berbagai pendapat lain merasa penting untuk mengembangkan koperasi sebagai sosok kelembagaan ekonomi yang kokoh bagi pemberdayaan masyarakat8..

da n (b) koperasi secara organisasi dapat menjadi wadah yang bertanggungjawab bagi kebutu han pengadaan saprotan maupun kebutuhan lain secara bertanggungjawab pula. perlu dikaji kombinasi optimal dari penguas aan dan pemanfaatan skala usaha dengan efisiensi unit usaha. usaha-usaha untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi bagi pengembangan agribisnis di perdesaan tahap awal tetap masih membut uhkan ulur tangan (kebijakan pemihakan) pemerintah secara langsung. yaitu (a) secara kolektif. Ada dua argumen yang melandasi penda pat ini. Dalam kelembagaan usaha tersebut misalnya. Walaupun demikian. Akan tetapi untuk kegiatan pengangkutan yang memerlukan skala ke . pengembangan program dan meto da penyuluhan pertanian yang diarahkan kepada upaya pengembangan orientasi dan kemampuan kewirausahaan. Pemberian kredit yang mu rah seringkali justru dapat berakibat buruk bagi perkembangan kegiatan usaha dalam j angka panjang. Masalah kelangkaan kapital yang seringkali menjadi kendala pengembangan agribisnis memerlukan kebijakan secara lebih hati-hati. Rabobank di Belanda. ke depan. Disamping itu pemberian kredit tersebut perlu di atur sedemikian sehingga kemung kinan reinvestasi dan keberhasilan usaha dapat lebih terjamin. Pengembangan agribisnis dengan agro-industri perdesaan juga perlu didukung oleh kelembagaan yang sesuai. sesuai dengan sifat kegiata n yang dilakukan. maka pengembangan kegiatan usaha indiv idual perlu didorong. yaitu kredit yang memiliki kemudahan dalam peroleha nnya. jika tidak diikuti dengan upaya-upaya pengendalian yang baik. Misalnya. Dalam hal ini bentuk supervised credit dapat menjadi alternatif model pemberian kredit. Dalam hubun gan ini maka pola magang dan sistem pencangkokan manajer dapat menjadi alternatif yang dipertimbangkan. jika kegiatan agroindustri memang akan lebih efisi en apabila dilakukan dalam skala yang relatif kecil.meyakini bahwa koperasi sebagai upaya kelembagaan dapat merupakan instrumen bagi upaya restrukturisasi ekonomi pertanian. dan lain-lain. Salah satu contoh. akan tetapi dengan pengertian bentuk ulur tangan pemerintah tersebut harus ditempatkan dalam upaya pengembangan iklim berusaha yang sesuai. mengingat kerakteristiknya yang sangat beragam. Banyak contoh sukses kop erasi kredit di bidang agribisnis yang kuat dan besar. seperti Credit Agricole di Pera ncis. untuk mewujudkan keseimbangan dalam penguasaan sumber-sumber ekonomi pertanian. Alternati f yang dinilai lebih sesuai adalah dengan mengembangkan koperasi agribisnis yang menyed iakan fasilitas kredit yang mudah. koperasi dapat menghimpun para pelaku ekonomi pe rtanian dalam menjual produk-produk yang dihasilkannya dengan posisi tawar yang baik. waktu serta metode peminjaman dan pengembaliannya. kesesuaian dalam jumlah. yang lebih mencakup substansi manajemen usaha dan penyesuaian terhadap materi-materi di bidang produksi dan pemasaran.

Hal-hal semacam memerlukan penelaahan lebih lanjut se cara . tetapi para agroindustriawan tersebut bersama-sama membentuk koperasi. atau unit usaha koperasi dalam bidang pengangkutan. De ngan demikian.giatan yang lebih besar. perlu dipertimbangkan suatu unit kegiatan yang sesuai pula. dimungkinkan terjadinya kondisi dimana kegiatan agroindustri dilakukan secara individual (tidak harus dipaksakan berada dalam unit kegiatan koperasi misalnya) .

harus dipandang sebagai langkah esensial untuk mengakumulasikan modal sosial (social capital) yang harus terus-menerus didorong sebagai embrio dalam mewujudkan institutional building yang akan memperkokoh posisi tawa r petani dalam agribisnis. pemanfaatan tenaga-tenaga perekayasa profesional yang berfungsi sebagai konsultan dan nara sumber. korporasi petani dalam bidang agribisnis telah menjadi wacana da n diskusi publik sebagai suatu institutional building. beb erapa contoh berkembangnya model-model kelembagaan agribisnis seperti SPAKU. Korporasi masyarakat (petani agribisnis) pada dasarnya adalah perusahaan yang dimiliki oleh masyarakat (petani agribisnis). (e) the best product hanya akan dihasilkan oleh the bes t community. Dalam pada itu. kepemilikan petani.mendalam. Demikian p ula. Dalam hal ini. pelajaran yang dikembangkan di Malaysia dalam merestrukturisasi kepemilikan saha . Des a Cerdas Teknologi. (f) rigiditas pabrik dan fleksibilitas pilihan pemanfaatan lahan petani9. produksi. Contoh yang dikemukakan adalah pelajaran dari pengalaman empirik perus ahaan American Crystal Sugar Company (ACSC) yang dibeli oleh 1300 petani pada tahun 19 73 melalui NYSE senilai US$ 86 juta. ULP2. dan joint ventures10 . Sejak saat itu. Korporasi masyarakat pada dasarnya akan menjadi kuat manakala memanfaatkan segenap social capital yang ada pada masyarak at tersebut. dalam operasionalisasi pengembangan agribisnis/agroindustri di tingkat lokalita (kawasan perdesaan) akan dijumpai pula kondisi yang sangat bera gam baik dari segi agroekosistem. ACSC berkembang pesat. KUBA. Keragaman-keragaman tersebut jelas menghendaki rancang bangun kelembagaan yang mampu mengoptimalisasikan kinerja manajemen maupun teknologi. Oleh karena itu. antara lain (a) besarnya biaya produksi kebun teb u. ataukah mengembangkan alternatif berupa korporasi masyarakat (petani) sebagai pemilik ut ama perkebunan tersebut? Banyak argumen yang membimbing kecenderungan rekonstruksi agribisnis tebu-gula tersebut. Inkubator. 60-70 persen. baik da lam areal. As osiasiasosiasi Petani. (c) lemahnya reinvestasi baru yang dila kukan BUMN. pemerintah/principal dan manajemen BUMN. (b) memudarnya persenyawaan kepentingan antara subyek petani/rakyat. Pertanyaan mendasar yang muncul adalah: Apakah pola BUMN perkebunan seyogyanya diprivatisasi menjadi swasta murni seperti kecenderungan yang ada. dikaitkan dengan sosok spesifik unit usaha yang dikembangkan dalam kop erasi agribisnis tersebut. Gerakan Kemitraan. rendemen. (d) institusi korporasi dianggap paling tepat dalam penyelesaian asymetric power yang selama ini terjadi. Pesan yang lebih menonjol a dalah pada lingkungan petani perkebunan (khususnya tebu-gula di BUMN perkebunan) di Jawa Ti mur. Klinik Tani/Agribisnis. sarana dan prasarana maupun kondisi sosial budayanya.

Sritua. Halaman 208. halaman 116. Op cit. 2004. halaman 115 10 Agus Pakpahan. 9 Agus Pakpahan.m melalui skema Amanah Saham Nasional tampaknya dapat menjadi bahan pengkajian11 . 11 Arief. Op cit. . 2004. Op cit. 1997.

karena dibutuhkan pemahaman dan kepedulian akan masala h yang dihadapi oleh rakyat (petani) yang merupakan bagian terbesar di lapisan bawah. tidak ce nderung berorientasi kepada yang kuat. Manakala tanpa upaya-upaya mendasar. Secara operasional. Institusi atau kelembagaan adalah suatu rules yang mer upakan produk dari nilai. tetapi lebih kepada yang lemah dan yang kurang be rdaya (the under privileged). pertanian dan agribisnis ha nyalah akan menjadi mimpi buruk bagi bangsa ini. Kedua realitas tekanan tersebut secara konsisten telah. yang tidak selalu tanggap dan mudah menyesuaikan dir i atau mengasosiasikan diri dengan rakyat yang miskin dan terbelakang. Salah satu upaya mendasar untuk menghindari mimpi buruk pembangunan pertanian dan agribisnis yang dikemukakan adalah mengembangkan upaya kelembagaan (institutional building). berkerakyatan dan berkeadilan. sedang. pemerintahan memang harus mampu mengatasi hambatan psikologis. serta dinamika permintaan dan konsumsi yang sangat tinggi memerlukan manajemen pengelolaan yang . Pelaku ekonomi pertanian sekaligus investor utamanya adalah berjuta petani sebagai pengusaha agribisnis berskala mikro dan kec il yang merupakan basis ekonomi kerakyatan. dan akan terus meningkatkan kegelisahan dan keprihatinan petani dan pertanian kita. karena seringkali birokrasi strata atas di banyak negara berkembang seperti Indonesia umumnya meru pakan kelompok elit suatu bangsa. Karakteristik.Mengembangkan kelembagaan-kelembagaan di atas sebagai landasan gerak pengembangan agribisnis bagi para petani di perdesaan bukanlah merupakan hal yan g mudah dan sederhana. Sosok pertanian tersebut. Hal itu merupakan prasyarat keharusan (necessary condition) untuk men jadi kunci pembuka pengembangan agribisnis yang berdaya saing. Dibutuhkan dukungan kebijakan pemihakan yang lebih kuat. Mewujudkan upaya di atas tidaklah mudah dan sederhana. Kebijakan yang bersifat netral saja tidak cukup dalam pembangun an pertanian dan agribisnis. U ntuk itu. akan tetapi dihadapkan pada berbagai tekanan baik secara inter naldomestik maupun eksternal-globalisasi. --walaupun sangat potensial--. yang diharapkan terus berevolusi dan menjadi bagian dari buda ya (culture). keunikan dan keragaman yang tinggi pada berbagai kegiatan agribisnis di satu pihak. sosok koperasi agribisnis dan korporasi (masyar akat) agribisnis dipandang sebagai bangun kelembagaan yang mampu berperan dalam mewujudkan pembangunan pertanian sebagaimana yang di-visi-kan. PENUTUP Tulisan sederhana ini berusaha memperoleh kejernihan pemahaman pembangunan pertanian berwawasan agribisnis di Indonesia. penopang ekonomi perdesaan dan sumber penghasilan bagi sebagian besar masyarakat perdesaan.

Dalam hal ini yang terpenting adalah bagaimana membangun SDM yang ada (dengan latar belakang dan . kunci utama untuk dapat memanfaatkan segenap social capital yang ada pada masyarakat adalah terletak pada kualitas sumberdaya manusia. Diyakini.terintegrasi sebagai suatu syarat kecukupan (sufficient condition).

Departemen Pertanian. Kertas Makalah pada Konpernas Perhepi XII. Pakpahan. 2003. 2002. S. _______. Korten. CPSM. disampaikan pada Lokakarya Penyusunan Evaluasi Kinerja Pembangunan Pertanian. Jakarta 2004. Makalah disampaikan pada Simposium Nasional Cendekiawan Indonesia Ke III.. Pembangunan dan Ekonomi Indonesia: Pemberdayaan Rakyat dalam Arus Globalisasi. Makalah. Departemen Pertanian. 2000. Memposisikan Pertanian Sebagai Poros Penggerak Perekonomian Nasional. Departemen Pertanian. 2004. Analisis Grand Strategy Pembangunan Pertanian: Pembangunan Sistem dan Usaha Agribisnis dan Implementasi Pembangunan Pertanian.. Community Organization and Rural Development : A Learnin g Process Approach. Jakarta. Bandung. Jakarta. Jakarta. Denpasar 7-9 Agustus 1996. Pustaka Sinar Harapan. 1980. Rudi Wibowo. PERHEPI. Arief. __________. B. Jakarta. Dalam: Rudi Wibowo dkk (Ed). Mewujudkan Visi Agribisnis Berdaya Saing Melalui Pembangunan Wilayah Yang Selaras Dengan Alam. Menterjemahkan Keberpihakan Terhadap Sektor Pertanian: Suatu Telaah Ekonomi Politik. B. Ekonomi Kerakyatan Dalam Kancah Globalisasi. 2003. 1996. 1997. Refleksi Teori Ekonomi Klasik Dalam Manajemen Pemanfaatan Sumberdaya Pertanian Pada Milenium Ke Tiga. Januari 2000.. Dalam Refleksi Pertanian Tanaman pangan dan Hortikultura. Departemen Pertanian.40 tahun 1980 Krisnamurthi. 10-11 Desember 2003. David C. Banyak persoa lan inefisiensi kelembagaan yang disebabkan oleh ketidak-harmonisan SDM yang terliba t di dalamnya. Penjabaran Program dan Kegiatan Pembangunan Pertanian 2001-2004.... Orasi Ilmiah Guru Besar Ekonomi Pertanian Universitas Jember. dalam Public Administration Review. 12 Nopember 2001. 2001. Sritua. 27-28 Agustus 1996 Chairil Anwar Rasahan dan Rudi Wibowo.kualitas yang berbeda-beda) menjadi suatu team work yang harmonis. Pembangunan Sistem Agribisnis Sebagai Penggerak Ekonomi Nasional. 1999. Max Havelaar Indonesia dan GAPPERINDO. Menteri Pertanian RI. 2002. Arifin. No. 2004. Kantor Kementerian Koperasi Usaha Kecil dan Menengah. Petani Menggugat.. Baharsjah. Jakarta. 1996. Referensi Kepustakaan Anonim. . Jakarta. Jember. Kemitraan Dalam Pembangunan Nasional Memasuki Abad 21 : Peningkatan Ekonomi Pertanian. Pemantapan Kebijakan Pemba-ngunan Pertanian Yang Mendukung Meningkatnya Kemandirian dan Daya Saing Pertanian.. Rekonstruksi dan Restrukturisasi Pertanian.

Jakarta. 2003. 1999. (2000). Rekonstruksi da n Restrukturisasi Pertanian. Jurnal Agribisnis Volume IV Nomor 1.___________. 2004. Refleksi Pembangunan Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Nusantara. JUBC. Dalam Rudi Wibowo (ed). 1999. Kantor Kementerian Koperasi Usaha Kecil dan Menengah. ___________. Jakarta. Pusat Bisnis Universitas Jember. Pusat Bisnis Universitas Jember. Kewirausahaan Dalam Pengembangan UKM di Indonesia. B. Saragih. (ed). INTRANS. PERHEPI. Januari-Juni 2000. Merajut Kekuatan Ekonomi Rakyat. ___________. . Karakteristik Agribisnis dan Implikasinya Bagi Manajemen Agribisnis (Agribusiness Characteristics and its Implication to Agribusiness Management). Menuju Pembangunan Ekonomi Berkeadilan Sosial. JUBC. 2000. ___________. ___________. 1999. Bayu Krisnamurthi dan Bustanul Arifin. Etika Pembangunan Sumberdaya Pertanian Menuju Pembangunan Berkelanjutan. Jakarta. Rekonstruksi Pemahaman Koperasi. 2001. Perspektif Manajemen Pembangunan Pertanian Indonesia. Januari-Juni 2000. Beberapa Pandangan Kritis Menyongsong Masa Depan.. 2003a. Jurnal Agribisnis Volume IV Nomor 1. Dalam: Ekonomi Kerakyatan Dalam Kancah Globalisasi. STEKPI. Penerbit Sinar Harapan.. Soetrisno. N.