P. 1
EVALUASI KURIKULUM

EVALUASI KURIKULUM

|Views: 56|Likes:
Published by Awie An Nawawy

More info:

Published by: Awie An Nawawy on Jan 04, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/04/2012

pdf

text

original

BAB II PEMBAHASAN EVALUASI KURIKULUM

A.

Pengertian Evaluasi Kurikulum Pemahaman mengenai pengertian evaluasi kurikulum dapat berbeda-beda sesuai dengan pengertian kurikulum yang bervariasi menurut para pakar kurikulum. Oleh karena itu penulis mencoba menjabarkan definisi dari evaluasi dan definisi dari kurikulum secara perkata sehingga lebih mudah untuk memahami evaluasi kurikulum. Pengertian evaluasi menurut joint committee, 1981 ialah penelitian yang sistematik atau yang teratur tentang manfaat atau guna beberapa obyek. Purwanto dan Atwi Suparman, 1999 mendefinisikan evaluasi adalah proses penerapan prosedur ilmiah untuk mengumpulkan data yang valid dan reliabel untuk membuat keputusan tentang suatu program. Rutman and Mowbray 1983 mendefinisikan evaluasi adalah penggunaan metode ilmiah untuk menilai implementasi dan outcomes suatu program yang berguna untuk proses membuat keputusan. Chelimsky 1989 mendefinisikan evaluasi adalah suatu metode penelitian yang sistematis untuk menilai rancangan, implementasi dan efektifitas suatu program. Dari definisi evaluasi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa evaluasi adalah penerapan prosedur ilmiah yang sistematis untuk menilai rancangan, implementasi dan efektifitas suatu program. Sedangkan pengertian kurikulum adalah :

a.

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (Pasal 1 Butir 19 UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional);

b.

Seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pembelajaran serta metode yang digunakan sebagai pedoman menyelenggarakan kegiatan pembelajaran (Keputusan Menteri Kesehatan Nomor: 725/Menkes/SK/V/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelatihan di bidang Kesehatan.).

c.

Kurikulum pendidikan tinggi adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi maupun bahan kajian dan pelajaran serta cara penyampaian dan penilaiannya yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar di perguruan tinggi (Pasal 1 Butir 6 Kepmendiknas No. 232/U/2000 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa);

d.

Menurut Grayson (1978), kurikulum adalah suatu perencanaan untuk mendapatkan keluaran (out- comes) yang diharapkan dari suatu pembelajaran. Perencanaan tersebut disusun secara terstruktur untuk suatu bidang studi, sehingga memberikan pedoman dan instruksi untuk mengembangkan strategi pembelajaran (Materi di dalam kurikulum harus

memberikan peranan besar pada analisis pengetahuan baru yang ada. Dalam bahasa latin. kesesuaian efektifitas dan efisiensi dari kurikulum yang diterapkan. Fokus evaluasi kurikulum dapat dilakukan pada outcome dari kurikulum tersebut (outcomes based evaluation) dan juga dapat pada komponen kurikulum tersebut (intrinsic evaluation). Pertanyaan yang muncul pada jenis evaluasi ini adalah ³apakah kurikulum telah mencapai tujuan yang harus dicapainya?´ dan ³bagaimanakah pengaruh kurikulum terhadap suatu pencapaian yang diinginkan?´. Perbedaan antara evaluasi dan penelitian terletak pada tujuannya. Sedangkan fokus evaluasi intrinsic evaluation seperti evaluasi sarana prasarana penunjang kurikulum. Atau evaluasi kurikulum adalah proses penerapan prosedur ilmiah untuk mengumpulkan data yang valid dan reliable untuk membuat keputusan tentang kurikulum yang sedang berjalan atau telah dijalankan. menganalisis dan menyajikan data untuk bahan penentuan keputusan mengenai kurikulum apakah akan direvisi atau diganti. Evaluasi bertujuan untuk menggumpulkan. B. kurikulum merupakan gagasan pendidikan yang diekpresikan dalam praktik.diorganisasikan dengan baik agar sasaran (goals) dan tujuan (objectives) pendidikan yang telah ditetapkan dapat tercapai. kurikulum berarti track atau jalur pacu. konsep penilaian secara rinci tentang lingkungan belajar. menerapkan prosedur ilmiah dan metode penelitian. Evaluasi kurikulum ini dapat mencakup keseluruhan kurikulum atau masing-masing komponen kurikulum seperti tujuan. sehingga yang dimaksud kurikulum tidak hanya gagasan pendidikan tetapi juga termasuk seluruh program pembelajaran yang terencana dari suatu institusi pendidikan. atau metode pembelajaran yang ada dalam kurikulum tersebut. evaluasi sumber daya manusia untuk menunjang kurikulum dan karakteristik mahasiswa yang menjalankan kurikulum tersebut. Implementasi Dan Evaluasi Kurikulum Konsep kurikulum yang menekankan isi. menganalisis dan menyajikan data untuk menguji teori atau membuat teori baru. Sedangkan penelitian memiliki tujuan yang lebih luas dari evaluasi yaitu menggumpulkan. isi. dan konsep organisasi memberi perhatian besar pada struktur belajar. Sedangkan menurut Harsono (2005). Outcomes based evaluation merupakan fokus evaluasi kurikulum yang paling sering dilakukan. Saat ini definisi kurikulum semakin berkembang. .Secara sederhana evaluasi kurikulum dapat disamakan dengan penelitian karena evaluasi kurikulum menggunakan penelitian yang sistematik. Dari pengertian evaluasi dan kurikulum diatas maka penulis menyimpulkan bahwa pengertian evaluasi kurikulum adalah penelitian yang sistematik tentang manfaat.

Eksperimen lapangan dalam pendidikan. 1.dalam evaluasinya juga diteliti pengaruh umum dari proyek dengan cara mengumpulkan bahan-bahan secara studi kasus dari sekolah-sekolah proyek teori kurikulum dan teori evaluasi. Model evaluasi kurikulum berkaitan erat dengan konsep kurikulum yang digunakan seperti. karena isi dan hasil kurikulum bukan hal yang utama. model pengembangan dan penyebaran dihasilkan oleh kurikulum yang menekankan isi macam-macam model evaluasi yang dipergunkan bertumpu pada aspek -aspek tertentu yang diutamakan dalam proses pelaksanaan kurikulum.tugas evaluasi lebih sulit lagi. Kurikulum yang menekankan pada situasi waktu untuk mempersiapkannya lebih pendek. serta tes hasil belajar yang mengukur prilaku skolastik. Pada kurikulum yang menekankan organisasi. dengan demikian sesungguhnya terdpat hubungan yang sangat erat antara evaluasi dengan kurikulum. Model-Model Evaluasi Kurikulum Evaluasi Model Penelitian Tes psikologi pada umumnya mempunyai dua bentuk yaitu tes intelegensi yang di tujukan untuk mengukur kemampuan bawaan. Kurikulum yang menekankan organisasi. Model evaluasi yang bersifat komparatif atau yang menekankan pada objek sangat sesuai bagi kurikulum yang bersifat rasional dan menekankan isi. Model evaluasi erat kaitannya dengan teori kurikulum. perbedaan konsep dan strategi pengembangan serta penyebaran kurikulumnya juga menimbulkan perbedaan dalam rancangan evaluasi. strategi penyebarannya sangat mengutamakan latihan guru. C.Pengembangan kurikulum yang menekankan isi membutuhkan waktu mempersiapakan situasi belajar dan menyatukannya dengan tujuan pengajaran yang cukup lama. yang utama adalah aktivitas dan kemampuan siswa. sedangkan kurikulum yang menekankan pada organisasi waktu persiapannya hampir sama dengan kurikulum yang menekankan pada isi. Dalam kurikulum menekankan situasi sukar disusun evaluasi yang bersifat komparatif karena konteksnya bukan terhadap guru atau satu tujuan tetapi terdapat banyak tujuan. Salah satu pemecahan bagi masalah ini adalah dengan pendekatan yang bersifat elektrik seperti dalam proyek kurikulum humanistik dan care ( center for applied research in education ) dalam proyek itu dicari perbandingan materi antara proyek yang menggunakan guru yang terlatih dengan yang tidak terlatih .model evaluasi yang bersifat kompratif berkaitan erat dengan tingkah-tingkah laku individu. di mulai tahun 1930 dengan menggunakan metode yang biasa di gunakan dalam penelitian botani pertama. evaluasi yang menekakan tujuan berkaitan erat dengan kurikulum yang menekankan pada bahan ajar atau isi kurikulum model ( pendekatan ) antropologis dalam evaluasi ditujukan untuk mengevaluasi tingkah-tingkah laku dalam suatu lembaga sosial. Ada beberapa kesulitan yang dihadapi dalam ekperimen tersebut : .

daerah tingkat-tingkat dan unit-unit. v Merumuskan tujuan-tujuan dalam perbuatan siswa. v Mengukur kesesuaian antara perilaku siswa dengan hasil yang diinginkan. v Pedoman prosedur penulisan. Model Campuran Multivariasi. evaluasi merupakan bagian yang sangat penting dari proses pengembangan kurikulum. v Prosedur pengelolaan kelas. Metode-metode tersebut masuk ke bidang kurikulum setelah computer dan program paket berkembang yaitu tahun 1960. Sistem pengajaran yang terkenal adalah IPI (individually prescribed instruction). Suatu program yang dikembangkan oleh learning research and development centre universitas pittsburg. Program . v Materi dan alat pengajaran. perbedaan model objektif ada dalam dua hal : · Dalam model objektif. v Suatu prosedur program testing. · Kurikulum tidak dibandingkan dengan kurikulum lain tetapi diukur dengan seperangkat objektif ( tujan khusus ). Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh tim pengembang model objektif : v Ada kesepakatan tentang tujuan-tujuan kurikulum. sedikit sekali sekolah yang bersedia dijadikan sekolah eksperimen. v Masalah teknis dan logis yaitu kesulitan menciptakan suasana kelas yang sama ketika kelompok-kelompok diuji v Sukar untuk mencampurkan guru-guru mengajar pada kelompok eksperimen dengan kelompok control sebab pengaruh guru-guru tersebut sukar dikontrol v Adanya keterbatasan mengenai manipulasi eksperimen yang dapat dilakukan 2. Dalam IPI anak mengikuti kurikulum yang memiliki 7 unsur : v Tujuan-tujuan pengajaran yang disusun dalam daerah. v Kegiatan murid dalam kelas. yaitu strategi evaluasi yang menyatukan unsur-unsur dari kedua pendekatan tersebut. v Menyusun materi kurikulum yang sesuai dengan tujuan tersebut. Evaluasi model objektif ( model tujuan ) berasal dari amerika serikat. 3. v Kegiatan guru dalam kelas.v Kesulitan administrasi. Dasar-dasar teori tylor dan bloom menjadi prinsip sentral dalam berbagai rancangan kurikulum dan mencapai puncaknya dalam sistem belajar berprogram dan sistem intruksional. Evaluasi model perbandingan (comparative approach) dan model tylor dan bloom melahirkan evaluasi model campuran multivariasi.

langkah model multivariasi tersebut adalah: v Mencari sekolah yang berminat untuk dievaluasi/diteliti.disamping untuk keperluan pengukuran efek atau pengaruh pengajaran evaluasi program tingkat mikro bertujuan pula untuk memperoleh gambaran ataupun inpormasi tentang bagian-bagian pelajaran yang masih belum dipahami oleh para peserta didik. Dengan berkembangnya penggunaan computer memungkinkan studi lapangan tidak di hambat oleh kesalahan dan kelambatan. v Terlalu banyak variabel yang perlu dihitung pada suatu saat kemampuan computer hanya sampai 40 variabel v Meskipun model multivariasi telah mengurangi masalah control berkenaan dengan eksperimen lapangan tetapi tetap menghadapi masalah-masalah perbandingan. Langkah. . v Jenis-jenis evaluasi · Evaluasi awal di lakukan sebelum pengajaran diberikan.fungsinya ialah untuk mengetahui kemampua awal peserta didik tentang pelajaran yang akan diberikan. Semua masalah pegolahan statistik dapat dikerjakan dengan computer. v Tipe analisis dapat juga digunakan untuk mengukur pengaruh bersama dan beberapa variabel yang berbeda. v Sementara tim menyusun tujuan yang meliputi semua tujuan dari pengajaran umpamanya dengan metode global dan metode unsur dapat disiapkan tes tambahan. v Bila semua informasi yang diharapkan telah terkumpul.paket berisi program statistik yang sederhana yang tidak membutuhkan pengetahuan computer untuk menggunakannya. v Memperbaiki pengajaran. maka mulailah pekerjaan computer. 4. Evaluasi Kurikulum Pada Tingkat Makro Dan Mikro Ada sekurang-kurangnya dua tujuan pokok yang ingin dicapai melalui kegiatan evaluasi kurikulum. v Pelaksanaan program.kemampuan yang ingin dicapai dalam suatu mata ajaran v Efek atau pengaruh tersebut dapat diketahui bila dilakukan perbadingan antara hasil yang dicapai peserta didik sebelum dan sesudah pengajaran diberikan. Pada tingkat mikro ini v Mengukur efek pengajaran tujuan utama evaluasi program pada tingkat mikro adalah untuk memperoleh gambaran tentang efek atau pengaruh dari pengajaran yang telah diberikan terhadap penguasaan. Beberapa kesulitan dihadapi dalam model campuran multivariasi iniadalah : v Diharapkan memberi tes statistik yang signifikan (model kurikulum ini lebih sesuai bagi evaluasi skala besar.

jenis. · Evaluasi dampak / hasil jangka panjang : evaluasi ini diadakan untuk menghasilkan informasi yang diperlukan bagi peninjauan kembali keseluruhan program pendidikan dan penentu kegiatan tindak lanjut yang diperlukan termasuk perbaikan kurikulum pada siklus / putaran hidup. Jenis evaluasi Untuk mencapai tujuan evaluasi ada 4 jenis evaluasi yang perlu dilakukan : · Evaluasi kontek : evaluasi ini diadakan untuk menghasilkan informasi yang diperlukan dalam perecanaan program.· Evaluasi antara . sejarah struktur serta interself sendiri. khususnya dalam penetuan tujuan dan program kuriklum diklat · Evaluasi masukan : evaluasi ini diadakan untuk menghasilkan informasi yang diperlukan dalam penyiapan dan perbaikan peralatan pendidikan yang meliputi bahan ajar. Peranan Evaluasi Kurikulum Evaluasi kurikulum dapat dilihat sebagai proses sosial dan sebagai institusi sosial mempunyai asal-usul.fungsinya ialah untuk memperoleh gambaran tentang kemampuan yang dicapai pesrta didik pada akhir program. · Evaluasi akhir dilaukan setelah pengajaran diberikan. · Evaluasi proses / hasil jangka pendek : informasi untuk keperluan perbaikan program dan pelaksanaan pendidikan mencakup informasi tentang proses maupun hasil jangka pendek yang dicapai peserta didik selama dan pada akhir tiap unit program. dilakukan pada setiap unit bahan yang diberikan dalam suatu mata pelajaran.sarana / alat penunjang media pengajaran stap pengajar. Beberapa karakteristik dari proyek-proyek kurikulum yang telah dikembangkan pada saat ini adalah : · · Lebih berkenaan dengan inovasi daripada dengan kurikulum yang ada Lebih berskala nasional daripada lokal . dan skema kegiatan evaluasi kurikulum yang tingkatnya lebih makro. D. Tujuan evaluasi Evaluasi kurikulum pada tingkat yang lebih makro dilakukan untuk menghasilkan masukan-masukan yang diperlukan bagi penyusunan dan perbaikan : · · Tujuan dan program kurikulum Bahan dan pertalatan / fasilitas pendidikan b. · Evaluasi kurikulum pada tingkat yang lebih makro Berikut ini berturut-turut akan dijelaskan tentang tujuan.dapat berbentuk tes dan bentuk-bentuk evaluasi yang lain tentang unit yang bersangkutan. a.dan sebagainya.

secara historis konsensus nilai dalam evaluasi kurikulum berasal dari tradisi tes mental serta eksperimen E. Beberapa diantara mereka yang memegang peranan paling besar dalam penentuan keputusan pada prinsipnya tiap individu diatas membuat keputusan sesuai dengan posisinya. Kesulitan dalam menstandarkan intervensi dalam pendidikan. murid. Kesulitan dalan penerapan randomisasi dan double blind 3. pengembangan kurikulum dan sebagainya. Pengaruh intervensi dalam pendidikan mudah dipengaruhi oleh faktor-faktor lain sehingga pengaruh intervensi tersebut seakan-akan lemah. pengembang kurikulum. Bagaimana caranya agar dapat diantara mereka terdapat kesatuan penilaian hanya dapat dicapai melalui suatu consensus. Peranan evaluasi kebijaksanaan dalam kurikulum khususnya pendidikan umumnya minimal berkenaan dengan 3 hal yaitu : · Evaluasi sebagai moral judgement. Evaluasi berisi suatu skala nilai moral. 4. arsitek dan sebagainya. Pengambilan keputusan dalam pelaksanaan pendidikan atau kurikulum bergantung pada : guru. kepala sekolah. para inspektur. ahli ekonomi. murid.· · Di biayai oleh grant dari luar yang berjangka pendek daripada oleh anggaran tetap Lebih banyak dipengaruhi oleh kebiasaan penelitian yang bersifat psikometris daripada kebiasaan lama yang berupa penelitian sosial. Para partisipan dalam evaluasi pendidikan dapat terdiri dari : orang tua. administrator. guru. yaitu : 1. Kesulitan dalam pengukuran 2. hasil dari suatu evaluasi berisi suatu nilai yang akan digunakan untuk tindakan selanjutnya. orang tua. Hal ini mengandung 2 pengertian yaitu : 1. penerbit. Konsep utama dalam evaluasi adalah masalah nilai. ahli politik. Masalah yang dihadapi dalam melakukan evaluasi kurikulum yang ditemukan lapangan yaitu : dalam . Evaluasi berisi suatu perangkat kriteria praktis berdasarkan kriteria-kriteria suatu hasil dapat dinilai · Evaluasi dan penentuan keputusan. berdasarkan skala tersebut suatu objek evaluasi dapat dinilai 2. · Dan konsesus nilai dalam berbagai situasi pendidikan serta kegiatan pelaksanaan evaluasi kurikulum sejumlah nilai-nilai dibawakan oleh orang-orang yang ikut terlibat dalam kegiatan penilaian atau evaluasi. Masalah dalam Evaluasi Kurikulum Norman dan Schmidt (2002). mengemukakan ada beberapa kesulitan dalam penerapan evaluasi kurikulum.

yang mana dapat ditentukan dosis yang fixed. Kesulitan melakukan penelitian evaluasi kurikulum dengan metode randomisasi dapat disebabkan karena subjek penelitian yang akan diteliti sedikit atau kemungkinan hanya institusi itu sendiri yang melakukannya. Kritisi ini ditanggapi oleh Albanese dengan mengemukakan teori lain yang mendukung PBL yaitu. Berbeda dengan penelitian evaluasi kurikulum misalnya pengaruh PBL terhadap kemamuan Self Directed Learning (SDL). Intervensi pendidikan yang dilakukan tidak memungkinkan dilakukan Blinded Dalam penelitian pendidikan khususnya penelitian evaluasi kurikulum. Dengan tidak adanya blinded maka subjek penelitian mengetahui bahwa mereka mendapat intervensi atau perlakuan sehingga mereka akan melakukan dengan serius atau sungguh-sungguh. Norman (2002) mengemukakan tidak ada dosis yang standar atau fixed dalam intervensi pedidikan. complex learning. ditemukan kesulitan dalam menerapkan metode blinded dalam melakukan intervensi pendidikan. 5. Contohnya Colliver mengkritisi bahwa Problem Based Learning (PBL) tidak cukup hanya menggunakan teori kontekstual learning untuk menjelaskan efektivitas PBL. Teori akan membantu memahami kompleksitas lingkungan pendidikan yang akan dievaluasi. Hal ini berbeda untuk penelitian di biomed seperti pengaruh obat terhadap suatu penyakit.1. sedangkan di FK B adalah 70 % . Hal ini tentu saja dapat mengakibatkan bias dalam penelitian evaluasi kurikulum. Schdmit membantah bahwa sebenarnya bukan teorinya yang lemah akan tetapi kesalahan terletak kepada peneliti tersebut dalam memahami dan menerapkan teori tersebut dalam penelitian. Dasar teori yang digunakan dalam evaluasi kurikulum lemah. Kemungkinan penerapan SDL dalam PBL di FK A 50% . Penerapan intervensi dengan metode blinded dalam penelitian pendidikan . ³apakah mungkin mencari kelompok kontrol dan randomisasi?´. self determination theory. maka apabila mereka dijadikan subjek penelitian maka tentu saja pengaruh PBL terhadap SDL akan berbeda. Masalah Etika penelitian Masalah etika penelitian merupakan hal yang perlu dipertimbangkan. Kesulitan dalam melakukan randomisasi. 2. 4. Dasar teori yang melatar belakangi kurikulum lemah akan mempengaruhi evaluasi kurikulum tersebut. Dalam dunia pendidikan sulit sekali untuk menseragamkan sebuah perlakuan cotohnya penerapan PBL yang mana memiliki berbagai macam pola penerapan. Kesulitan dalam menstandarkan intervensi yang dilakukan/kesulitan dalam menseragamkan intervensi. Apabila intervensi yang digunakan hanya pada institusi tersebut maka timbul pertanyaan. Penerapan PBL di berbagai FK dapat bermacam-macam. Ketidak cukupan teori dalam mendukung penjelasan terhadap hasil intervensi suatu kurikulum yang dievaluasi akan membuat penelitian (evaluasi kurikulum) tidak baik. 3. information-processing theory.

Penelitian yang menggunakan metode perbandingan kurikulum yang perspektifnya berbeda ini seringkali menjadi kritikan oleh para ahli. Alat ukur yang tidak relevan dapat mengakibatkan hasil pengukuran tidak tepat bahkan salah sama sekali. 7. Masing-masing perspektif ini memiliki tujuannya masing-masing.sering terhalang dengan isu etika. Apabila ada penelitian yang menghasilkan bahwa kurikulum tradisional di pendidikan dokter lebih baik dalam hal knowledge dibandingkan dengan PBL hal ini tentu saja dapat dimengerti karena perspektifnya berbeda. Kurikulum dengan perspektif tradisional tentu saja berlainan dengan kurikulum yang memiliki perspektif konstruktivist. Postner dan Rudnitsky. experiential. Hal ini sering terlihat dalam evaluasi kurikulum dengan menggunakan metode comparative outcome based yang bila tidak memperhatikan masalah ini akan melahirkan bias dalam evaluasi. Informasi tentang tingkat keberhasilan pendidikan akan dapat dilihat apabila alat evaluasi yang digunakan sesuai dan dapat mengukur setiap tujuan. Penggunaan Perspektif kurikulum yang berbeda sebagai pembanding Postner mengemukakan ada lima perspektif dalam kurikulum yaitu traditional. Behavioral. Secara etika intervensi tersebut harus dijelaskan kepada subjek penelitian sehingga dapat dipertanggungjawabkan. 6. 1994 juga mengemukakan dalam outcome based evaluation terdapat informasi mengenai main effect dan side effect sehingga kadangkala peneliti kesulitan membedakan atara main effect dan side effect ini. Contoh kurikulum tradisional menekankan pada recall of knowledge sedangkan kurikulum konstruktivist menekankan pada konsep dasar dan ketrampilan berpikir. Adanya prediksi nantinya pengaruh hasil penelitian yang akan menentang kebijaksanaan institusi dapat mengkibatkan kadangkala peneliti menghindari resiko ini dengan cara menghilangkan salah satu variable dengan harapan hasil penelitian tidak akan menentang kebijaksanaan. Namun perlu dicatat bahwa tidak semua bentuk evaluasi dapat dipakai untuk mengukur pencapaian tujuan pendidikan yang telah ditentukan. Tidak adanya pure outcomeOutcome yang dihasilkan dari sebuah intervensi pendidikan seringkali tidak merupakan outcome murni dari intervensi tersebut. Kesulitan mencari alat ukurEvaluasi pendidikan merupakan salah satu komponen utama yang tidak dapat dipisahkan dari rencana pendidikan.Pengaruh hasil penelitian terhadap institusi juga perlu dipertimbangkan. Hal ini disebabkan karena banyaknya faktor penganggu yang mana secara tidak langsung berhubungan dengan hasil penelitian. Dalam melakukan evaluasi kurikulum kita harus mengetahui perspektif kurikulum yang akan dievaluasi dan perspektif kurikulum pembanding. structure of discipline dan constructivist. Padahal apabila suatu intervensi diketahui oleh subjek penelitian maka ada kecendrungan subjek penelitian melakukan dengan sungguh-sungguh sehingga penelitian tidak berjalan secara alamiah. .

cara penilaian serta fasilitas pendidikan lainnya. yaitu untuk menunjukkan hasil proses dan tujun yang di capai. Evaluasi ini biasanya dilakukan waktu proses berjalan. Kesimpulan Evaluasi kurikulum memegang perenan penting baik dalam penetuan kebijaksanaan pendidikan pada umumnya. Penilaian kurikulum ideal-aktual. jenis pendidikan. Evaluasi ini dikenal dengan evaluasi formatif. geografis Keseimbangan yaitu. kepala sekolah dan para pelaksana pendidikan lainnya. daya dukung. 6. 2. memilih metode dan alat-alat bantu pelajaran. Evaluasi kurikulum dapat menyajikan bahan informasi mengenai area ± area kelemahan kurikulum sehingga dari hasil evaluasi dapat dilakukan proses perbaikan menuju yang lebih baik. Klasifikasi yaitu. 5. yaitu dapat dilakukan sesuai dengan kondisi dan kemampuan. Hasil-hasil evaluasi kurikulum juga dapat digunakan oleh guru-guru. Operasional yaitu. Ekologik yaitu. Adapun usahausaha yang dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara evaluasi formatif dan evaluasi sumatif adalah sebagai berikut: 1. maupun pada pengambilan keputusan dalam kurikulum. Kejelasan Tujuan. Dilakukan secara menyeluruh terhadap semua program BAB III PENUTUP a. komponen kurikulum Kointinitas yaitu. efektifitas dan efisiensi kurikulum tersebut terhadap tujuan yang ingin dicapai dan penggunaan sumber daya. dimana evaluasi dapat memperhitungkan situasi dimana kurikulum di laksanakan. Jenjang/tingkat. 4. . merumuskan secara rasional apa yang harus diukur. yang mana informasi ini sangat berguna sebagai bahan pembuat keputusan apakah kurikulum tersebut masih dijalankan tetapi perlu revisi atau kurikulum tersebut harus diganti dengan kurikulum yang baru. Hasilhasil evaluasi kurikulum dapat digunakan oleh para pemegang kebjaksanaan pendidikan dan para pemegang kurikulum dalam memeilih dan menetapkan kebjaksanaan pengembangan system pendidikan dan pengembanagan model kurikulum yang digunakan. kemajuan teknologi dan kebutuhan pasar yang berubah.F. dalam memahami dan membantu perkembangan siswa. Evaluasi kurikulum juga dapat menilai kebaikan kurikulum apakah kurikulum tersebut masih tetap dilaksanakan atau tidak. Realistic. Pemecahan Masalah Dalam Evaluasi Kurukulum Evaluasi kurikulum dapat menyajikan informasi mengenai kesesuaian. Evaluasi kurikulum juga penting dilakukan dalam rangka penyesuaian dengan perkembangan ilmu pengetahuan. 7. memilih bahan pelajaran. 3.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->