P. 1
Wacana Kebenaran Agama Dalam Perspektif Islam

Wacana Kebenaran Agama Dalam Perspektif Islam

|Views: 44|Likes:
Published by gunab

More info:

Published by: gunab on Jan 04, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/04/2012

pdf

text

original

Wacana Kebenaran Agama Dalam Perspektif Islam (1) Oleh: Dr.

Anis Malik Thoha (Dosen Ilmu Perbandingan Agama International Islamic University Malaysia) Inpasonline.com, 17/06/11 a. Latar Belakang Wacana

Seiring dengan maraknya proses liberalisasi sosial politik yang menandai lahirnnya tatanan dunia abad modern, dan disusul dengan liberalisasi atau globalisasi (baca: penjajahan model baru) ekonomi, wilayah agama pun, pada gilirannya, dipaksa harus membuka-diri untuk diliberalisasikan. Agama, yang semenjak era reformasi gereja abad ke-15 wilayah jurisdiksinya telah diredusir, dimarjinalkan dan didomestikasikan sedemikian rupa, yang hanya boleh beroperasi di sisi kehidupan manusia yang paling privat, ternyata masih dianggap tidak cukup kondusif (atau bahkan mengganggu) bagi terciptanya tatanan dunia baru yang harmoni, demokratis dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan HAM seperti toleransi, kebebasan, persamaan dan pluralisme. Seakan-akan semua agama secara general adalah musuh demokrasi, kemanusiaan dan HAM. Sehingga agama harus mendekonstruksikan-diri (atau didekonstruksikan secara paksa) agar, menurut bahasa kaum liberal, merdeka dan bebas dari kungkungan teks-teks dan tradisi yang jumËd serta sudah tak sesuai lagi dengan zeitgeist atau semangat zaman. Jika proses liberalisasi sosial politik di Barat telah melahirkan suatu tatanan politik yang pluralistik yang dikenal dengan pluralisme politik , maka liberalisasi agama yang dimaksudkan untuk memfasilitasinya harus bermuara pada terciptanya suatu tatanan sosial yang menempatkan semua agama pada posisi yang sama dan sederajat, sama benarnya dan sama relatifnya atau yang sekarang lebih dikenal dengan pluralisme agama . Oleh karena paham liberalisme pada awalnya muncul sebagai mazhab sosial politis, maka wacana pluralisme yang lahir dari rahimnya, termasuk gagasan pluralisme agama, juga lebih kental dengan nuansa dan aroma politik. Maka tidaklah aneh jika kemudian gagasan pluralisme agama itu sendiri muncul dan hadir dalam kemasan pluralisme politik [i] (political pluralism), yang adalah produk dari liberalisme politik (political liberalism).[ii] Jelas, faham liberalisme tidak lebih merupakan respons politis terhadap kondisi sosial masyarakat Kristen Eropa yang plural dengan keragaman sekte, kelompok dan mazhab. Namun kondisi pluralistik semacan ini masih senantiasa terbatas dalam masyarakat Kristen Eropa untuk sekian lama, baru kemudian pada abad kedua puluh berkembang hingga mencakup komunitas-komunitas lain di dunia. Meskipun hembusan angin pluralisme telah mulai merebak dan mewarnai pemikiran Eropa khususnya, dan Barat secara umum, pada saat itu, namun masih belum secara kuat mengakar dalam kultur masyarakatnya. Beberapa sekte Kristen ternyata masih mengalami perlakuan dikriminatif dari gereja, sebagaimana yang dialami sekte Mormon, misalnya, yang tetap tidak diakui oleh gereja karena dianggap gerakan heterodox, sampai akhir abad kesembilan belas ketika muncul protes keras dari presiden Amerika Serikat Grover Cleveland (1837-1908). Begitu juga, doktrin di luar gereja tidak ada keselamatan (Extra ecclesiam nulla salus) juga tetap dipegang teguh oleh Gereja Katolik, hingga dilangsungkannya Konsili Vatikan II (Vatican Council II) pada awal-awal

enampuluhan abad kedua puluh yang mendeklarasikan doktrin keselamatan umum, bahkan bagi agama-agama selain Kristen.[iii] Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa gagasan pluralisme agama sebenarnya merupakan upaya peletakan landasan teoritis dalam teologi Kristen untuk berinteraksi secara toleran dengan agama lain. Pada dataran ini, gagasan pluralisme agama bisa dilihat sebagai salah satu elemen gerakan reformasi pemikiran agama atau liberalisasi agama yang dilancarkan oleh Gereja Kristen pada abad kesembilan belas, dalam gerakan yang kemudian dikenal dengan Liberal Protestantism yang dipelopori Friedrich Schleiermacher.[iv] Ketika memasuki abad kedua puluh, gagasan pluralisme agama telah semakin kokoh dalam wacana pemikiran filsafat dan teologi Barat. Tokoh yang tercatat pada barisan pemula muncul dengan gigih mengedepankan gagasan ini adalah seorang teolog Kristen liberal Ernst Troeltsch (1865-1923). Dalam sebuah makalahnya yang berjudul The Place of Christianity among the World Religions (Posisi Agama Kristen diantara Agama-agama Dunia) yang disampaikan dalam sebuah kuliah di Universitas Oxford menjelang wafatnya pada tahun 1923,[v] Troeltsch melontarkan gagasan pluralisme agama secara argumentatif bahwa dalam semua agama, termasuk Kristen, selalu mengandung elemen kebenaran dan tidak satu agama pun yang memiliki kebenaran mutlak,[vi] konsep ketuhanan di muka bumi ini beragam dan tidak tunggal.[vii] Mengikuti jejak Troeltsch, William E. Hocking dalam bukunya Re-thinking Mission pada tahun 1932, dan yang berikutnya Living Religions and A World Faith, dengan tanpa ragu-ragu telah memprediksi munculnya model keyakinan atau agama universal baru yang selaras dengan konsep pemerintahan global.[viii] Sejarawan Inggris ternama, Arnold Toynbee (1889-1975), juga menyusul kemudian dengan gagasan yang kurang lebih sama dengan pemikiran Troeltsch, dalam karyanyaAn Historian s Approach to Religion (1956) dan Cristianity and World Religions (1957).[ix] Karya-karya tersebut di atas mencerminkan suatu fase pemikiran pluralisme agama yang masih dalam tahap fermentasi dan pembentukan wacana. Gagasan tersebut kemudian nampak semakin berkembang dalam pemikiran teolog dan sejarawan agama Kanada, Wilfred Cantwell Smith.[x] Dalam karyanya Towards A World Theology (1981) Smith mencoba meyakinkan perlunya menciptakan konsep teologi universal atau global yang bisa dijadikan pijakan bersama (common ground) bagi agama-agama dunia dalam berinteraksi dan bermasyarakat secara damai dan harmonis. Nampaknya karya tersebut memuat saripati pergolakan pemikiran dan penelitian Smith, dari karya-karya sebelumnya The Meaning and End of Religion (1962) dan Questions of Religious Truth (1967). Selama dua dekade terakhir abad kedua puluh yang lalu, gagasan pluralisme agama telah mencapai fase kematangannya, dan pada gilirannya, menjadi sebuah diskursus pemikiran tersendiri pada dataran teologi dan filsafat agama modern. Fenomena sosial politik akhir abad dua puluh ini juga mengetengahkan realitas baru kehidupan antar agama yang lebih nampak sebagai penjabaran kalau bukan dampak dari (atau bahkan suatu proses sinergi) gagasan pluralisme agama ini. Dalam kerangka teoritis, pluralisme agama, pada masa ini telah dimatangkan oleh beberapa teolog dan filosuf agama modern dengan konsepsi yang lebih sophisticated agar dapat diterima oleh kalangan antar agama. John Hick[xi] telah merekonstruksi landasan-landasan teoritis pluralisme agama sedemikian rupa, sehingga menjadi sebuah teori yang baku dan populer yang sangat kental melekat dengan namanya.[xii] Dalam bukunya An Interpretation of Religion: Human Responses to the Transcendent yang diangkat dari serial kuliyahnya, yaitu Gifford Lecture pada tahun 1986-

adalah bahwa fenomena ini murni Protestantistik. sedangkan inti dari agama tetap satu. meskipun doktrin extra Christos nulla salus or no salvation outside Christianity (di luar Kristen tidak ada keselamatan) ternyata masih mendominasi pemikiran orang-orang Protestan hingga akhir abad kesembilan belas. dan tetap berpegang teguh pada doktrin extra ecclesiam nulla salus (di luar Gereja tidak ada keselamatan). menurut Nasr.[xiii] Yang sangat mengherankan. adalah merupakan tokoh yang bisa dianggap paling bertanggung jawab dalam mempopulerkan gagasan pluralisme agama di kalangan Islam tradisional suatu prestasi yang kemudian mengantarkannya pada sebuah posisi ilmiah kaliber dunia yang sangat bergengsi bersama-sama dalam deretan nama-nama besar seperti Ninian Smart. seorang tokoh Muslim Syi ah moderat. Kemudian di lain pihak gagasan pluralisme agama menembus dan menyusup ke wacana pemikiran Islam melalui karya-karya pemikir-pemikir mistik Barat Muslim seperti Rene Guenon (Abdul Wahid Yahya)[xv] dan Frithjof Schuon (Isa Nuruddin Ahmad). Gagasan pluralisme agama yang muncul lebih merupakan perspektif baru yang ditimbulkan oleh proses penetrasi kultural Barat modern dalam dunia Islam. dan Annemarie Schimmel. sampai masa kini. Barangkali Seyyed Hossein Nasr.1987 merupakan rangkuman dari pemikiran-pemikirannya yang ia tuangkan dalam karya-karya sebelumnya. baru muncul pada masa-masa paska perang dunia kedua. dalam diskursus pemikiran Islam. suatu hal yang membuat kita bertanya-tanya apakah tesis Nasr ini mempunyai justifikasi yang solid dalam tradisi pemikiran Islam yang diklaimnya sebagai basis dari bangunan pemikirannya. John Hick. atau kebenaran abadi ).s. khususnya Schuon dengan bukunya The Transcendent Unity of Religions. yaitu ketika mulai terbuka kesempatan besar bagi generasi-generasi muda Muslim untuk mengenyam pendidikan di universitas-universitas Barat sehingga mereka dapat berkenalan dan bergesekan langsung dengan budaya Barat. . hanyalah pada sombol-simbol dan kulit luar saja. karena semuanya berporos kepada satu poros. masih merupakan hal baru dan tidak mempunyai akar ideologis atau bahkan teologis yang kuat. sangat sarat dengan pemikiran-pemikiran dan tesis-tesis atau gagasan-gagasan yang menjadi inspirasi dasar bagi tumbuh-kembangnya wacana pluralisme agama. terjadi dalam kerangka gerakan reformasi Protestan secara khusus. yaitu kebenaran hakiki yang abadi. wacana pluralisme agama.[xiv] Sementara itu. Dengan demikian.[xvi] Karya-karya mereka ini. Pendapat ini diperkuat oleh realitas bahwa gagasan pluralisme agama dalam wacana pemikiran Islam. menurut Nasr.[xvii] Perbedaan antar agama dan keyakinan. Nasr mencoba menuangkan tesisnya tentang pluralisme agama dalam kemasan sophia perennis atau perennial wisdom (al-Íikmat al-khÉlidah. Dari sini dapat dilihat bahwa pendekatan Nasr ini sejatinya tidak jauh berbeda dengan pendekatan-pendekatan yang ada pada umumnya. dalam arti. memeluk atau meyakini satu agama dan melaksanakan ajarannya secara keseluruhan dan sungguh-sungguh. yaitu sebuah wacana menghidupkan kembali kesatuan metafisikal (metaphysical unity) yang tersembunyi dibalik ajaran-ajaran dan tradisi-tradisi keagamaan yang pernah dikenal manusia semenjak Adam a. sementara kita tengah menelusuri serta mengkaji muncul dan perkembangannya wacana pluralisme agama. hingga akhirnya Konsili Vatikan kedua berlangsung. berarti juga memeluk seluruh agama. Sedangkan Kristen Katolik lebih cenderung tidak menerima gagasan pluralisme agama.

yaitu bahwa kebenaran absolut hanya dimiliki suatu agama tertentu secara eksklusif. dimana masing-masing agama tersebut mengklaim diri sebagai satu-satunya ruang soteriologis (soteriological space) yang hanya di dalamnya.[xx] . yang sejalan dengan logika kemanusiaan modern yang berlandaskan pada asas toleransi dan kebebasan. Dengan kata lain. yang mana masing-masing saling mengklaim diri yang paling benar. dengan doktrin the chosen people -nya. Obsesi Barat ini sangat kentara sekali dan sulit untuk ditutup-tutupi. hanya mengakui kebenaran. no salvation nya menentukan status kesalehan dan keselamatan seseorang hanya dengan iman pada pengorbanan Yesus Kristus di atas tiang salib sebagai tebusan dosa warisan (original sin). Hanya saja diantara agama-agama memang terdapat perbedaan yang cukup signifikan dalam memandang klaim kebenaran ini. atau jalan soteriologis (soteriological way) yang hanya melaluinya. dan keselamatan atas dasar etnisitas yang sangat sempit. semua agama. bahkan dengan tekanan-tekanan baik politik. Klaim ini tidak memberikan alternatif lain apapun. pertam eksklusivisme. yaitu betapa dominan dan hegemoniknya Barat baik dari segi politik.[xviii] 1.wt. kedua inklusivisme. meniscayakan adanya semacam legitimasi relijius . sampai batas tertentu bisa disimpulkan. Ia tidak memberikan konsesi sedikitpun dan tidak mengenal kompromi. di bawah sebuah jargon baru New World Order yang dicanangkan Amerika Serikat pada awal sembilan puluhan dari abad yang lalu. Kristen dan Islam. rasional atau irrasional. Ia memandang kebenaran (truth) secara hitam-putih.w. Setidaknya perbedaan ini dapat diklasifikasikan dalam tiga macam. menggambarkan sebuah fakta secara telanjang. bahwa munculnya wacana pluralisme agama modern dengan berbagai tren dan bentuknya. ekonomi maupun militer terhadap negara-negara lain yang enggan menerapkan gagasan pluralisme ini. yaitu bangsa Yahudi saja. yang kuna maupun yang modern. dalam al-Qur an: inna al-dÊna Ñinda allÉhi al-islÉm [xix] meniscayakan kepasrahan dan ketundukan total (berislam) kepada Allah s. Yudaisme. lahir dan hadir lengkap dengan klaim kebenaran (truth-claim)nya. ekonomi. Eksklusivisme. sajalah seseorang bisa mendapatkan keselamatan (wa man yabtaghi ghaira al-islÉmi dÊnan fa lan yuqbala minhu wa huwa fÊ al-Ékhirati min al-khÉsirÊn). Klaim kebenaran absolut ini secara umum terdapat di setiap agama. kesalehan. Dan klaim eksklusivitas dan absolutisme kebenaran ini kemudian ditopang dengan konsep juridis tentang keselamatan (juridical concept of salvation). Katolik dengan doktrin extra ecclesiam nulla salus -nya dan Protestan dengan doktrin outside Christianity. Namun ia terrepresentasikan secara demonstratif oleh agama-agama semitik: Yudaisme. b. peradaban maupun kultur. Masalah apakah klaimklaim kebenaran ini valid atau tidak. Agama dan Klaim Kebenaran Jika dicermati secara seksama. Berger sebagai sacred canopy . that s another issue. tanpa kecuali (baik yang mati maupun yang hidup. atau apa yang disebut Peter L. sebagaimana nampak dari upaya-upaya serius yang dilakukannya untuk mensosialisasikan gagasan ini. atau lebih tepatnya. tidak ada agama yang tidak membuat klaim kebenaran. manusia dapat mendapatkan keselamatan (salvation)/kebebasan (liberation)/pencerahan (enlightenment) suatu hal yang semakin menambah mantap dan kuatnya klaim kebenaran absolut dan eksklusif tersebut. baik secara explisit ataupun implisit.Akhirnya. sementara Islam dengan statemen Allah s.t. dan ketiga pluralisme. Sebuah fakta yang untuk menjamin eksistensi dan kelestariannya. yang teistik maupun non-teistik). liberalisme.

Injil.[xxiii] Sejauh yang bisa dilacak. sebetulnya juga ada upaya serupa. meskipun mereka mungkin tak pernah mendengar tentang Yesus dan kenapa ia mati di tiang salib. sebagai respons. Teologi inilah yang kemudian diadopsi secara resmi oleh Vatikan dan dideklarasikan dalam Konsili Vatikan II tahun 19621965.[xxi] yang kemudian diikuti oleh Gavin D Costa. kalau tidak malah serupa. beberapa intelektual muslim kita mulai gemar mengusung jargon Islam inklusif dalam berbagai kesempatan. Inklusivisme ini mendapatkan ekspresinya yang begitu artikulatif dalam pemikiran-pemikiran teologis yang dicoba kembangkan oleh para teolog semisal Karl Rahner dengan teori anonymous Christian (Kristen anonim)-nya. antara eksklusivisme dan pluralisme. tapi. bukan karena agama mereka benar. yakni humanisme sekular Barat yang bermuara pada lahirnya tatanan demokrasi liberal yang mana salah satu . maka kegiatan pengkonversian adalah tindakan yang sia-sia dan buang-buang energi. kandungan pemikiran yang mereka maksudkan ternyata lebih dekat. lantas apa artinya bersikeras memberikan label Kristen kepada mereka? Lebih dari itu. dengan model pluralisme yang akan dibentangkan berikut ini. Di satu fihak. tak lepas dari permasalah logis. tapi justru karena limpahan berkah dan rahmat dari kebenaran absolut yang ia miliki. dan meskipun mereka pengikut resmi agama-agama yang lain. di satu fihak. ia mencoba mengakomodasi konsep yuridis keselamatan dan transformasinya untuk mencakup seluruh pengikut agama lain. dan doktrindoktrin Kristen. Pluralisme. muncul dan berkembang dalam konfigurasi dan setting sosial-politik tertentu. Wacana ini. Ataukah inklusivisme hanyalah slogan kosong dan dimaksudkan untuk tujuan-tujuan tertentu? Di lingkungan Islam. Inklusivisme merupakan bentuk klaim kebenaran absolut yang lebih longgar. sehingga pertanyaan yang segera muncul adalah jika keselamatan dapat dicapai tanpa adanya koneksi apapun dengan gereja. sebagaimana telah jelas dari kesimpulan terdahulu. terhadap teologi pluralis yang mulai merebak pada pertengahan kedua dari abad ke-20 yang lalu. Paling tidak dalam konteks Islam Indonesia pada awal tahun sembilan puluhan dari abad yang lalu. maka dengan demikian semua umat manusia sekarang setatusnya terbuka untuk rahmat (ampunan) Tuhan. 3. Ia ingin tetap memelihara dan mempertahankan doktrin utama Kristen tentang Penebusan Dosa (Atonement) yang dilakukan Yesus Kristus namun dengan interpretasi baru yang lebih segar dan seirama dengan nilai-nilai humanisme modern. terhadap klaim eksklusif yang menurut mereka sudah ketinggalan zaman.[xxiv] Tapi klaim kebenaran model ini.[xxii] dan Raimundo Panikkar dengan the unknown Christ of Hinduism . teologi inklusif ini secara artikulatif hanya muncul di lingkungan Kristen dan dalam waktu yang relatif belakangan. inklusivisme masih tetap meyakini bahwa hanya salah satu agama saja yang benar (the truth) secara absolut. dan di lain fihak. Dengan kata lain inklusivisme ingin mengambil sikap tengah-tengah.2. kenapa berbagai macam cara dan praktik Kristenisasi masih saja terus dilakukan untuk mengkristenkan seluruh manusia di dunia? Sekali dinyatakan bahwa keselamatan tidak bergantung pada keimanan Kristen. selama atonement tersebut adalah dimaksudkan untuk menebus seluruh dosa warisan anak Adam. Yakni. Namun setelah diteliti secara seksama. atau bisa dikatakan mengidap logical inconsistency. di fihak lain.

[xxviii] Semuanya valid. dapat dipastikan bahwa setiap negara atau pemerintahan yang mentaqlidi model tatanan sosio-politis seperti ini.[xxx] Namun jika dicermati secara seksama.. Oleh karena itu. atau jalan-jalan soteriologis (soteriological ways) yang melaluinya. klaim kebenaran pluralis ini ingin menegaskan bahwa semua agama. karena pada dasarnya semuanya sama-sama merupakan bentuk-bentuk respons otentik yang berbeda dan beragam terhadap Hakikat ketuhanan (the Real) yang sama dan transenden. dapat dianggap sebagai ruang-ruang soteriologis (soteriological spaces) yang di dalamnya. klaim ini tidak saja ingin merelatifkan klaim-klaim kebenaran agama yang ada sehingga semua agama secara relatif sama. ramah. tapi juga sebetulnya ingin mengungguli atau mengatasi klaim-klaim tersebut sehingga hanya klaim pluralisme saja yang mutlak benar. secara teoretis epistemologis dengan merelatifkan klaim-klaim kebenaran yang ada tersebut berarti secara implisit (dan ini jarang disadari oleh kaum pluralis) klaim pluralisme telah menafikan. meskipun mungkin dengan wujud formal (bukan hakikat dan esensi!) yang berbeda dan bervariasi sesuai dengan corak muatan lokal (local content)-nya. seorang tokoh pluralis yang paling bertanggung jawab. kalau tidak lebih buruk. dalam bukunyaProblems of Religious Pluralism: Stated philosophically. the Real or the Ultimate from within the major variant cultural ways of being human. Sebagian implikasi dari klaim ini erat menyangkut isu-isu yang bersifat teoretis. termasuk mengeluarkan kartu kuning atau merah kepada pemain yang melanggar rule of the game. dan sebagian yang lain lagi erat berhubungan dengan isu yang lebih praktis. demokratis dan promising. mencerahkan. pluralism is the view that the great world faiths embody different perceptions and conceptions of. and correspondingly different responses to. [xxvii] Dengan kata lain. so far as human observation can tell. santun.[xxxi] Sebab. dari klaim-klaim sebelumnya. toleran. dalam tataran praktis empiris klaim pluralisme ibaratnya telah bertindak sebagai wasit dalam sebuah gelanggang permainan bola yang mengontrol dan mengarahkan para pemain. and that within each of them the transformation of human existence from self-centredness to Reality centredness is manifestly taking place and taking place. serta menjaga ketertiban jalannya permainan. klaim pluralisme ini pada hakikatnya tidak lebih baik. Ia bisa didefinisikan sebagai klaim kebenaran relatif yang absolut. Absolutisme di sini dalam arti. pertama. manusia bisa mendapatkan keselamatan/kebebasan/pencerahan.konstituen dan struktur pembentuk utamanya adalah pluralisme agama (yang oleh sementara sosiolog diidentifikasi sebagai civil religion). klaim pluralisme ini sangat problematik dan membawa implikasiimplikasi yang luar biasa berbahaya bagi manusia dan kehidupan relijius dan spiritualnya. cepat atau lambat akan melahirkan pluralisme agama atau civil religion. yang teistik maupun non-teistik.[xxv] Sebagai konsekwensi logisnya. cerdas. epistemologis dan metodologis. kebenaran hakiki klaim-klaim tersebut.[xxix] yang oleh karenanya semuanya adalah manifestasi-manifestasi otentik dari the Real. pluralisme ini ingin ditampilkan sebagai klaim kebenaran yang humanis. dan sebagian lagi erat menyangkut isu-isu yang bersifat ideologis dan teologis. Hal ini dapat dilihat dari definisi yang diberikan John Hick. Kedua. to much the same extent. obyektif dan kritis. atau paling tidak mendegradasikan. yaitu HAM (hak-hak asasi manusia) khususnya kebebasan beragama (religious .[xxvi] Sebagaimana yang diidealkan oleh para advokat dan penganjurnya..

menggiring pada sebuah kesimpulan akan persamaan semua agama secara penuh tanpa ada yang lebih superior dan benar daripada yang lain. anthropologi.[xxxii] ummu al-masÉ il atau problem utama yang merupakan akar dan asal semua masalah adalah bahwa istilah pluralisme agama selama ini telah difahami dan didesain dalam bingkai sekular. Namun sebuah pertanyaan krusial yang segera menyusul adalah apakah hubungan pribadi dengan sesuatu yang sakral dan metafisikal ini mempengaruhi dan membentuk perilaku manusia baik dalam kehidupan individual maupun sosialnya atau tidak? Pertanyaan yang tentu saja tak mungkin bisa dijawab mereka kecuali mengiyakan atau mengukuhkannya. liberal. danlogical positivism Barat yang menampik halhal yang berbau metafisis dengan alasan tidak mungkin dibuktikannya secara empiris. yaitu apakah gagasan ini benar-benar mampu memberikan solusi yang ramah terhadap konflikkonflik antar agama.freedom). Prof. atau apa yang lazim dikenal dewasa ini di kalangan para ahli perbandingan agama (religionswissenschaft). dan psikologi. klaim ini telah melakukan pereduksian yang demikian dahsyat sehingga mengkerangkeng agama hanya boleh beroperasi di wilayah spiritual manusia yang sangat sempit dan private hubungan manusia dengan tuhannya atau the ultimate.[xxxv] Maka. seorang ahli ilmu perbandingan agama kontemporer. kedua secara praktis. sebagai religious experience (pengalaman keagamaan). filsafat agama. dan ketiga secara sosiologis. mengatakan dalam sebuah bukunya Reason in Religion. Lebih lanjut. [xxxvi] Prof. sosiologi. as was that of the ancient Hebrews. fenomena ini menurutnya adalah universal.[xxxiv] Fakta ini pun yang ditegaskan oleh Proudfoot dalam sebuah bukunya Religious Experience ketika berkata: The turn to religious experience was motivated in large measure by an interest in freeing religious doctrine and practice from dependence on metaphysical beliefs and ecclesiastical institutions and grounding it in human experience. Joachim Wach. and Greeks.[xxxiii] dengan menafikan mentah-mentah kemungkinan datangnya agama dari Tuhan atau Zat yang Maha Agung. Sebab kajian-kajian modern yang dilakukan oleh para ahli dari berbagai disiplin justru cenderung menguatkan adanya pengaruh tersebut. Ninian Smart yang ahli ilmu perbandingan agama juga. khususnya yang beragama Kristen. tidaklah terlalu mengherankan jika kemudian pemahaman ini. atau malah sejatinya lebih merupakan problem baru dalam fenomena pluralitas keagamaan? Secara ringkas. Hakikat ini terlihat secara gamblang dalam empat karakteristik yang disampaikan Joachim Wach untuk mendefinisikan konsep religious experience yang menurutnya adalah agama itu sendiri. Maka agama kemudian dianggap sebagai human response (respon manusia). sebagaimana yang diklaim oleh para penggagas dan penganjurnya. Romans. Dan di fihak lain. Filusuf modern George Santayana. pada posisi yang amat dilemmatis ketika dihadapkan pada sebuah pertanyaan: apakah Kristen sama persis dengan agama-agama primitif dan pagan yang kanibalistik?. jugaberkesimpulan bahwa manusia kapan saja dan di mana saja selalu merasa perlu untuk mengekspresikan pengalaman keagamannya dalam tiga cara: pertama secara konseptual atau intelektual.[xxxvii] Begitu juga. Sebuah kesimpulan yang justru mengantarkan para penggagas dan penganjur paham ini. misalnya. Kenyataan ini pada akhirnya telah mengantarkan gagasan pluralisme agama pada sebuah posisi yang sangat sulit untuk bisa menjawab pertanyaan yang sangat krusial. dengan demikian. di satu fihak.[xxxviii] dan anthropolog . True religion is entirely human and political.

Must we reckon not only with varieties of religions but also with those of pluralism? . Voll. atau sama dan sebangun dengan demokrasi . melainkan juga mencakup seluruh falsafah hidup (weltanschauung atau worldview) yang dikenal manusia. adalah tunduk pada pemahaman yang beragam. menurut Prof.. Sebab realitasnya. Di Barat sendiri. konsep Barat modern yang secara teoretis sangat aggun dan toleran ini. sekarang ini mulai ada kajian-kajian ilmiah yang mengkritisi akurasi konsep atau teori ini seraya menyatakan bahwa dikotomisasi ini tidak mungkin bisa dipertahankan di depan bukti-bukti dan fakta-fakta obyektif dari perkembangan sosio-politis kontemporer. atau bahkan misleading. terminologi pluralisme di Barat dewasa ini. [xlii] John D Arcy May.Clifford Geertz. John O. Hal ini secara otomatis semakin menegaskan bahwa konsep dikotomisasi realitas: agama-negara.Must we now get used to asking whose pluralism as well as which religion? [xliii] Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sudah sepantasnya akan muncul secara otomatis dengan hanya melihat arti terminologis (bukan teknis) pluralisme .[xxxix] menegaskan akan komprehensivitas agama yang mencakup seluruh dimensi kehidupan manusia. yang sangat fundamental sehingga hampir sama persis. individu-publik menjadi tak tepat dan akurat. menyatroni dan memberangus karakter dan HAM orang/kelompok lain. misalnya. beberapa intelektual Barat akhir-akhir ini mulai menyadari kembali bahwa konsep pluralisme seharusnya tidak boleh hanya tunduk pada interpretasi tunggal (baca: Barat).[xliv] Oleh karena itu.[xl] Di sisi lain. inklusivitas dan totalitas agama. [xli] Dengan kata lain. yakni intoleran. Barat telah memaksa yang lain untuk mengikutinya secara kultur maupun pemikiran dan untuk melepaskan sejarah. Fakta-fakta ini tidak saja menguatkan komprehensivitas. menyatakan bahwa terdapat kesadaran yang semakin meningkat bahwa konsep pluralisme . editor buku tersebut. Barat tidak ingin to let the others to be really other (membiarkan yang lain menjadi dirinya sendiri). Namun. yakni penegasan tentang kebebasan. atau tepatnya: perubahan. kata Prof Muhammad Imarah. pluralisme adalah tanawwuÑun mu assasun ÑalÉ tamayyuzin wa khuÎËÎiyyah (keragaman yang didasarkan atas karakteristik dan kekhususan). Melihat kenyataan timpang seperti ini. dalam mengawali tulisannya melontarkan pertanyaan-pertanyan seputar perlunya keragaman dalam membaca dan memaknai konsep ini seraya berkata: It is beginning to dawn on Western theologians that there may be alternative models of pluralism with roots in other cultures and religions. sakral-profan. Sebab pada dasarnya. pada dataran praktis cenderung menunjukkan perilaku sebaliknya. ÑImÉrah. seperti ideologi-ideologi sekular modern. melainkan: . artinya telah mengalami perkembangan. yang merupakan fokus wacana-wacana masa kini. dalam meresensi sebuah buku yang berjudul Pluralism and Religions: The Theological and Political Dimensions. toleransi persamaan (equality) dan koeksistensi.. salah seorang peneliti mengatakan bahwa suatu masyarakat tidak cukup dikatakan masyarakat pluralistik hanya karena terdiri dari satuan-satuan atau kelompokkelompok yang beragam. kultur dan referensi keagamaan dan intelektual mereka masingmasing. tapi juga memperluas cakupan maknanya sehingga tidak hanya terbatas pada apa yang dikenal dengan institutionalized religions.

(New York: The Macmillan Company. 3. [vi] Ibid.). h.). Lihat Coker. dalam David L. Vol. dan tak mungkin bisa dipraktekkan dalam kehidupan nyata sebuah masyarakat secara sempurna dengan tanpa memberangus HAM kelompok-kelompok yang tergabung di dalamnya.) [iii] Teks doktrin yang mengatur hubungan antara Gereja dan agama-agama lain ini dapat dilihat: Vatican II: Declaration on the Relation of the Church to non-Christian Religions . tak mungkin bisa dipertahankan (untenable) lagi. h. 1980). XII. sekte dan mazhab pada masa reformasi keagamaan.). which are in a relationship of conflict (in Galtung s sense). dalam Edwin R. and to each of the included organisms in themselves. juga berpendapat bahwa munculnya faham liberalisme politik di Eropa pada abad ke-18. h. Fall 1997. Christianity and Other Religions (Glasgow: Fount Paperbacks. [1933] 14th printing. Pluralism . 14. (eds. Encyclopedia of the Social Sciences. dan Henry S. h. [1968] reprinted 1972). (Muhammad Legenhausen. bahwa semua agama sama saja. and Hebblethwaite. No. Sills (ed. op.Christianity and Other Religions (Glasgow: Fount Paperbacks. A. 1969). 170-4.Pluralistic society is one in which: (i) there co-exist more than one religion. h.. [i] Pluralisme dalam terminologi sosiologis lebih merupakan permasalahan politik dari pada sebagai permasalahan agama. tapi juga reduksionistik. dan secara praktis inapplicable.[xlv] Pendapat-peandapat dan fakta-fakta di atas semakin meneguhkan kembali bahwa pluralisme agama dengan konsep yang dikembangkan oleh kaum pluralis. 11-31. dalam John Hick and Brian Hebblethwaite (eds. 1980). h. philosophy or weltanschauung. 80-6.). Islam and Religious Pluralism. seorang pemikir keislaman. Vol. 115. Christianity and Other Religions. Pluralism . 18. cit. Kariel. 116. both to the community as a whole. Seligman (ed.. Berdasarkan analisis kritis di atas dapat disimpulkan bahwa klaim kebenaran pluralis tidak saja secara logis inkonsisten. Brian. and (iii) there is nevertheless some degree of awareness that this co-existence of incompatibilities is of positive value. International Encyclopedia of Social Sciences (New York: The Macmillan Company & The Free Press. [v] Makalah The Place of Christianity among the World Religions diterbitkan bersama dengan makalah-makalah lain dalam sebuah buku yang diedit oleh John Hick dan Brian Hebblethwaite. 12. Francis W. sebagian besarnya didorong oleh kondisi masyarakat yang carut-marut akibat memuncaknya sikap-sikap intoleran dan konflik-konflik etnis dan sektarian yang pada akhirnya menyeret kepada pertumpahan darah antar ras. yang jika dipaksakan maka akan membawa malapetaka kemanusiaan yang sangat dahsyat. John. 164-9 [ii] Muhammad Legenhausen. (ii) there is some degree of recognition by all the parties concerned that a fundamental incompatibility between them exists. Lihat Hick. h. Vol. in Al-Tawhid. [iv] Muhammad Legenhausen. .

pernah melakukan muhibah ke negari-negeri Islam. Perancis tahun 1883. 1998). Mulai mempalajari agama-agama Timur. 16. Esoterism as Principle and as Way. 31. komunitas Teosofis (Theosophical Society). h. Ideals and Realities of Islam (Lahore: Suhail Academy. 2001). [xviii] Penulis di sini mengikuti pola klasifikasi yang dikembangkan John Hick dalam bukunya Problems of Religious Pluralism(Houndmills. Schoun berhasil bertemu dengan tokoh-tokoh agama dunia dari kalangan sufi Islam . [xiv] Meskpun gagasan pluralisme agama ini lebih tampak sebagai fenomena yang dominan dalam masyarakat Kristen. [viii] Lihat: Geoffrey Parrinder. 50. IttijÉhÉt altaÑaddudiyyah al-dÊniyyah wa al-mawqif al-IslÉmÊ minhÉ(Islamabad. seperti Mesir. baik berupa buku atau makalah yang kesemuanya mengupas masalah ini secara teliti. namun pada dasarnya pemikiran ini juga banyak ditemukan dalam fahamfaham humanisme sekular. Seyyed Hossein. xii [x] Lahir di Toronto tahun 1919. 1977). belajar bahasa Arab di Perancis. Religious Pluralism in Christian and Islamic Philosophy: The Thought of John Hick and Seyyed Hossein Nasr (Surrey: Curzon Press. [ix] Adnan Aslan. gerakan Hindu Brahma Samaj . Ia telah menuangkan pemikiranpemikirannya tentang masalah pluralisme agama ini ke dalam karya-karyanya yang mencapai lebih dari 30 buah karangan. h. Dari kunjungankunjungannya ke Afrika Utara dan ke Timur dan India dan Amerika. h.[vii] Ibid. [xvii] Nasr. 31-37. John Hick di sini hanya memfokuskan analisis pada tradisi yang berkembang dalam agama . pernah melakukan muhibah ke negari-negeri Islam.D penulis: Thoha. [xiii] Karya terakhir John Hick yang sempat saya ketahui adalah The Fifth Dimension: An Exploration of the Spiritual Realm (Oxford: Oneworld. Karya-karyanya antar lain: The Transcendent Unity of Religions. 1994). hal. dan pemikiran kebenaran abadi (perennial wisdom atau sophia perennis atau al-Íikmah al-khÉlidah). Sufism: Veil and Quintessence dan Understanding Islam. Jerman 1907. [1962] 2nd ed. khususnya Hindu dan Islam di Perancis pada umur delapan belas tahun. The Crisis of the Modern World dan The Multiple States of Being. [xi] John Hick lahir di Yorkshire tahun 1922. 1985). karya-karyanya banyak dalam bahasa Perancis dan sebagian telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. dan meninggal dunia di sana pada tahun 1951. Basingstoke: The Macmillan Press. Anis Malik. seperti Mesir dan Lahore. h. [xvi] Schuon lahir di Basle. 1999). [xv] Rene Guenon di Blois. [xii] Nampaknya John Hick merupakan satu-satunya teolog modern yang memberikan perhatian terhadap masalah pluralisme agama sedemikian mendalam. Pada tahun 1930 Rene mengunjungi Masir selama tiga bulan. Comparative Religion (London: Sheldon Press. di antaranya : The Symbolism of the Cross.Untuk detailnya. Hindu dan Budha dan berhasil menjalin hubungan yang baik dengan berbagai kalangan agama yang berbeda-beda. Masuk Islam paa tahun 1912 dan menggunakan nama Islam : Abdul Wahid Yahya. lihat disertasi Ph.

John. Truth and Reality: Essays in Honour of John Hick (Basingstoke. [xxvi] Agama sipil yang lahir dan berkembang di Amerika Serikat hanyalah satu contoh soal. Vol. 1980). Los Ageles. John Hick and Religious Pluralism: Yet Another Revolution. hal. 80-6. in Eliade. (ed. 36. mengidentifikasi model pengalaman keagamaan modern ini dalam sebuah artikelnya yang berjudul Civil Religion in America . khususnya dalam menuhankan kehidupan politik kebangsaan dan menganggapnya di atas segalagalanya. Gavin. op. The Meaning of Christ. The Unknown Christ of Hinduism (London: Darton. seperti yang diteorikan Bellah dan Hammond [Bellah. juga makalahnya: Karl Rahner s Anonymous Christian . Vol. and Hammond. Arvind. The Encyclopedia of Religion (New York: Macmillan Publishing Company. op. mysterious divine reality. Bellah Bellah. hal.Kristen yang ia peluk.. This is the theory that the great world religions constitute variant conceptions and perceptions of. 1981). Problems in the Philosophy of Religion: Critical Studies of the Work of John Hick (London: Macmillan Press Ltd. [xxi] Lihat Hick. [1964] rev. seorang sosiolog Amerika modern. hal. kemudian diterbitkan ulang. . hal. Definisi yang kurang lebih sama juga dapat dilihat dalam karya Hick yang lain. 15. 1970).the term refers to a particular theory of the relation between these traditions. hal. [xxii] D Costa. [xx] Óli ÑImrÉn: 85. 96. 1 (Winter 1967). Agama model ini dapat lahir di belahan dunia mana pun yang mentaqlidi Amerika Serikat serta mengimani sistem demokrasi. Dengan demikian. Robert N. seperti berikut: . John. dalam John Hick and Brian Hebblethwaite (eds.). dalam Robert N. 139. 229. Bellah. 168-189. [xxiii] Panikkar.. dalam Hewitt. [xix] Óli ÑImrÉn: 19. cit.. [xxv] Robert N. 33. Cit.Varieties of Civil Religion (San Fransisco: 1980)]. [xxiv] Teks deklarasi Konsili Vatikan II dapat dibaca: Vatican II: Declaration on the Relation of the Church to non-Christian Religions . with their different and competing claims. ed. 12.).A Reappraisal. Harold. [Hick. juga Wiles.. [xxvii] Hick. agama sipil bisa mewujud dalam bentuk yang bervariasi. dalam Modern Theology. 1987). London: The Macmillan Press. 1991). Mircea (ed. Phillip E. Maurice. the one ultimate. Oxford: University of California Press. John. 1:2 (January 1985).. seperti Indonesia.. Jr. 331]. tapi hakikat dan esensinya tetap sama. 1993). (Ed. and responses to. hal. hal. Raimundo. dalam Sharma.). Beyond Belief: Essays on Religion in a Post-Traditional World(Berkeley. khususnya agama-agama semitik. berdasarkan penelitian yang ia lakukan terhadap pengalaman kehidupan bangsa Amerika modern. Christianity and Other Religions (Glasgow: Fount Paperbacks. Tapi kemudian penulis mencoba mengembangkan (atau menyederhanakan) pola tersebut dengan data-data yang relevan sehingga mencakup agama-agama yang lain. Religious Pluralism. bersama dengan artikel-artikelnya yang lain. No. p.). Longman and Todd. God. Artikel ini dipublikasikan dalam jurnal Daedalus.

Ninian. silakan lihat dissertasi Ph. [Bellah. 36-37. seperti: The Religiuos Experience of Mankind (New Jersey: Prentice-Hall. Hecht. (A) religion is: (1) a system of symbols which acts to (2) establish powerful. cit. Religious Experience of Mankind (New York: Charles Scribner s Sons. op. cit. 1985). An Interpretation of Religion: Human Responses to the Transcendent (London: Macmillan.D penulis. [xxxvii] Wach. Bahkan pembacaan agama melalui dimensidimensinya yang fenomenal ini bagi Smart telah menjadi pendekatannya yang tipikal dalam mengkaji agama-agama. Hook. 1962). cit.. Sidney (ed. 119-188. xiv]. San Fransisco. dan buku yang dia edit bersama Richard D. [xxxviii] Lihat secara detail: Smart.. Types of Religious Experience: Christian and Non-Christian (Chicago: The University of Chicago Press. sebagai contoh: James. 188.[xxviii] Hick. The Varieties of Religious Experience: A Study of Human Nature (Harmondsworth: Penguin Books. Proudfoot. xiii [xxxvi] Santayana. [xxxix] Hal ini bisa dilihat dari definisi Geertz tentang agama. Philadelphia. [xxxii] Untuk lebih detailnya. tolerance. pp. Wach. hal. in Lessa. p. Joachim. John. and ethical commitment might make a contribution to a world civil religion that would transcend and include it. (eds. Lebih lanjut ia mengatakan: . Religious Experience and Truth: A Symposium (New York: New York University Press. Fakta ini bisa dilihat dalam karya-karya Smart yang lain. 1961). Clifford.. pervasive. Problems. [xxxiii] Menganggap agama sebagai religious experience adalah hal yang jamak di Barat. p. [xxxv] Proudfoot. hal. Phillip E. p.. and Vogt. [1961] 1982).. hal. Wayne. Robert N. hal. Reader in Comparative Religion: An Anthropological Approach (New York. Ninian.). Evon Z. op. Reason in Religion (New York: Collier Books. The Fifth Dimension. and Hammond.. . . lebih jauh mereka berkata: American civil religion with its tradition of openness. Joachim.). [xxxi] Pernyataan Bellah dan Hammond menguatkan hal ini. Istilah ini banyak dipakai dalam tulisan-tulisan dan karya-karya para ahli dari berbagai disiplin ilmu semenjak permulaan abad ke-20.. 1982). Religion as a Cultural System. cit. op. [Geertz.. op. William. [xxix] Lihat: ------. George. hal. [1989] reprinted 1991). Wayne. cit. 1996). Religious Experience (Berkley.. [1951] Third Impression 1965). 32-3. Smart. 1996). Sacred Texts of the World: A Universal Anthology (Macmillan Publishers Ltd. Los Angeles and London: University of California Press. [xxxiv] Lihat: Wach. London: Harper & Row . 247. Joachim. [xxx] -------. William A. 34. 10. and long-lasting moods and motivations in men by (3) formulating conceptions of general order of existence and (4) clothing these conceptions with such an aura of factuality that (5) the moods and motivations seem uniquely realistic. dan juga digunakan sebagai judul buku-buku mereka. [1969] Twelfth Impression 1982). op. 77-79. 35. Dimensions of the Sacred: An Anatomy of the World s Beliefs (London: HarperCollins Publishers.

Religion in A Pluralistic Society (Leiden: E. passim.). Clarke E. 237-9. and in Hicks. dalam Majallah al-JÉmiÑatu al-´IslÉmiyyah. John D Arcy (ed. 1. Vol. Muhammad. S. Dr. Singapore. Brill. July 1999.). p.). [xliv] ÑImÉrah. David (ed. J. hal. No. [xli] ÑImÉrah. Religion in Public and Private Life (New York and London: Routledge. 1990). pp.. A Religion in A Pluralist Society. Vol. . 2. p. London. Dr. and Cochran. 13. London. Religion and Politics (New York: Thomas Whittaker. [xlii] Lihat resensi John O. J.. A. Voll dalam jurnal Islam and Christian-Muslim Relations. 10. Muhammad. 67. 1998). cit. passim. Fourth Edition 1979). Toronto: McGraw-Hill College. hal..Ritual & Belief: Readings in the Anthropology of Religion (Boston.). 67.] [xl] Lihat misalnya: Crapsey. 1905). [xlv] Nickles. Bangkok. I (Shawwal-Dzul-×ijjah 1414H. Algernon Sidney. 1976). Th. p.Publishers. op. 1999). New Delhi. 157. Pluralism and Religions: The Theological and Political Dimensions (London: Cassell. 2. Al-TaÑaddudiyyah al-Ru´yah al-´IslÉmiyyah wa al-TaÍaddiyyÉt alGharbiyyah. (ed. in Pobee. 79-80. pp. [xliii] May.

w.[ii] Oleh karena masalah hubungan antar agama ini secara teologis sudah tuntas dan final.. Anis Malik Thoha (Dosen Ilmu Perbandingan Agama International Islamic University Malaysia) a. masalah ini dalam pandangan para ulama adalah merupakan masalah koeksistensi praktis sosiologis antar anak manusia yang memeluk agama. Islam dan Klaim Kebenaran Agama Masalah hubungan Islam dengan agama-agama lain beserta klaim-klaim kebenarannya secara teologis sudah selesai. qad tabayyana al-rushdu min al-ghayyi . terdapat perbedaan mendasar antara Islam dan teori-teori pluralisme agama dalam hal pendekatan metodologis terhadap isu dan fenomena pluralitas agama. Sehingga prinsip-prinsip dasar yang dikandungnya bisa difahami manusia modern dengan tingkat kejelasan yang tidak beda dengan apa yang difahami orang-orang Arab pada zaman Rasulullah s. lÉ ikrÉha fÊ al-dÊn. It is not legitimate for us to disagree on the relativist basis of personal taste. grounds. seperti banyak terjadi pada agama-agama lain. tak akan pernah berubah sampai Hari Kiyamat). meminjam istilah Al-FÉrËqÊ. al-Qur Én. dan final. dalam sebuah makalahnya World Religions as Seen in the Light of Islam. untuk menjamin kedamaian dan ketertiban umum.t.[iii] Dengan demikian. tak selayaknya seorang Muslim mengingkari hal ini. sendiri yang telah menuntaskan masalah ini sejak awal lewat wahyuNya. dimana teks-teksnya tak pernah berubah (dan berkat jaminan Allah s.a. sebab al-Qur Én adalah merupakan otoritas keagamaan yang tertinggi. or that of subjective experience.w. Islam .t. begitu juga gramatika bahasa Arabnya. administratif. and hence necessary.w. masalah ini lebih banyak merupakan masalah aplikatif. Tapi. atau tradisi yang berbeda. keyakinan. praktis. Lebih lanjut ia menyatakan: It comes to us armed with logical and coherent arguments. yakni masalah yang menyangkut bagaimana mengatur individu-individu dan komunitas-komunitas yang hidup dalam sebuah masyarakat yang sama. Mungkin bagi kalangan non-Muslim (dan sebagian kalangan Muslim yang membebek dan mengikuti jejak mereka tanpa kritis). Islam menyuguhkannya secara rasional dan kritis. menurut hemat penulis. apa hak-hak dan kuwajiban-kuwajiban mereka. Sebab. Jadi. Adalah Allah s. and expects our acquiescence on rational. dan bukan orang-orang Islam atau ulama-ulamanya lewat tafsir hermeneutik nya. Namun satu hal yang perlu mereka ketahui. [i] Oleh karenanya. maka inilah agaknya yang menjadi alasan kenapa perbincangan para ulama klasik kita mengenai masalah ini lebih banyak terdapat di dalam pembahasan-pembahasan fiqhiyyah daripada ilmu kalÉm atau teologi Islam. prinsip-prinsip dasar Islam tersebut masih menyisakan keraguan dan keambiguan yang merangsang mereka untuk mempertanyakan atau bahkan menyanggahnya. apalagi berdasarkan images mereka seperti yang dituduhkan dengan sinis dan menyakitkan oleh Jacques Waardenburg. bahwa Islam tidak menyuguhkan prinsip-prinsip ini secara dogmatis eksklusif. daripada masalah ÊmÉniyyah teologis yang mana wahyu telah menuntaskannya secara final dan menyerahkannya kepada kebebasan individu untuk menentukannya sesuai dengan keyakinan masing-masing. settled.Wacana Kebenaran Agama Dalam Perspektif Islam (2 habis) Oleh: Dr.

dan tidak atas dasar agama tertentu (dalam hal ini Yahudi atau Nasrani). Dalam hal iqnÉÑ (to convince) dan iqtinÉÑ (to be convinced) ini.) dinamakan Al-IkhlÉs. Tapi harus segera disusulkan di sini. yang dalam ayat yang lain disebut kalimah sawÉ . dan kedua dengan membuat counter klaim yang lebih netral balÉ man aslama wajhahu lillÉh . untuk merespons. sementara teori-teori pluralis melihatnya sebagai keragaman yang hanya terjadi pada level manifestasi eksternal yang superfisial -. bahwa kepuasan dan keikhlasan dimaksud tadi sama sekali bukanlah kepuasan dan keikhlasan emosional.t. memerintahkan Nabi Muhammad s. . diperintahkan untuk merespons klaim tersebut dengan dasar yang rasional. klaim kebenaran agama harus diapresiasi.a. yang dalam istilah Al-FÉrËqÊ. apalagi dinafikan atau dinegasikan. sementara teori-teori pluralis memberikan solusi teologis epistemologis.t. Termasuk di dalamnya adalah truth-claim (klaim kebenaran) yang absolut dan eksklusif yang mana tanpanya jati diri dan identitas sebuah agama menjadi kabur. Sebab dalam pandangan Islam.w. Perbedaan metodologis ini pada gilirannya menggiring pada perbedaan dalam menentukan solusinya. dimana Rasulullah s. dan tidak hanya sekadar anganangan kosong (amÉnÊ).[viii] Begitu juga dalam ayat yang ketiga. uncritical. Dengan kata lain. yakni ×anÊfiyyah (millah Ibrahim yang diakui bersama sebagai Bapak ketiga agama semitik). yang timbul dari hawÉ.dan oleh karenanya tidak hakiki atau tidak genuine. tidak boleh disimplifikasikan.a. distorsi dan manipulasi. Islam menawarkan solusi praktis sosiologis oleh karenanya lebih bersifat fiqhiyyah.[iv] Prinsip rasionalitas ini terlihat secara demonstratif dalam al-Qur Én ketika merespons atau memberikan solusi terhadap klaim-klaim kebenaran yang dibuat orang-orang Yahudi dan Nasrani. tak jelas. memerintahkan Rasulullah s. melainkan yang rasional dan critical. Apapun kondisinya.w. let the best argument win(biarkan argumen terbaik yang menang).w. keimanan secara khusus dan agama secara umum adalah masalah kepuasan (iqtinÉÑ) oleh karenanya tidak boleh ada pemaksaan dalam beragama lÉ ikrÉha fÊ al-dÊn . dan keikhlasan (ikhlÉs) oleh karena itu dalam al-QurÉn surat yang menegaskan keimanan Islam tentang Tuhannya (Allah s.w.t.w.a. Islam memandang perbedaan dan keragaman agama ini sebagai suatu hakikat ontologis (ÍaqÊqah wujËdiyyah/kawniyyah) dan sunnatullÉh.w. Islam memperlakukan agama-agama lain sebagaimana adanya (as the way they are) dan membiarkan mereka untuk menjadi diri mereka sendiri. Islam menjunjung tinggi dan mengedepankan sebuah prinsip. Kemudian dalam ayat yang kedua. atau hilang sama sekali. Allah s. tanpa reduksi.memandangnya sebagai hakikat ontologis yang genuine yang tidak mungkin dinafikan atau dinihilkan. karena Islam adalah agama rasional par excellence. Simak misalnya ayat-ayat al-Qur Én berikut:                                             [v] ^        [vi]     `    ` ` ^  ^ [vii] Dalam kelompok ayat yang pertama. atau direlatifkan. Allah s. dan oleh karenanya genuine. Sebagaimana yang ditegaskan di atas. untuk merespons dengan mengajak kembali orang-orang Yahudi dan Nasrani untuk kembali kepada relijiusitas yang netral.pertama dengan meminta mereka untuk menghadirkan bukti kebenaran klaim keselamatan mereka qul hÉtË burhÉnakum in kuntum ÎÉdiqÊn .

tapi karena keimanan aqidati bahwasanya para nabi mereka diutus oleh Tuhan yang sama dengan wahyu dan kitab-kitab suci yang membawa pesan dan agama yang sama. yaitu menghargai hak orang/kelompok lain untuk berbeda. atau sekadar membeda-bedakan mereka. sebagai tidak membeda-bedakan antara para rasul Allah. yakni Islam. Hanif adalah kategori Qur ani.w.a.t. Allah s. tapi. yaitu Tradisi Semitik yang juga disebut dengan ×anÊfiyyah atau Hanifisme . Iman kepada nabinabi dan kitab-kitab suci mereka (yang asli) merupakan bagian integral dari rukun iman dalam Islam. dan juga sebagai satu tradisi dengan mereka.Demikian juga Islam mengedepankan prinsip rasionalitas dalam merespons klaim-klaim antar orang-orang Yahudi.w. Islam dengan bangga mengidentifikasikan-diri sebagai satu famili dengan mereka. Al-FÉrËqÊ mengingatkan. Buktinya. dan para rasul-Nya . para malaikat-Nya. menolak Nabi Muhammad s. dan mengklaim monopoli eksklusif terhadap kebenaran. yang berkenaan dengan Yudaisme dan Kristen. Di sini. beserta risalah dan para pengikutnya. mendeskripsikan Rasulullah s. bahwasanya klaim-klaim mereka itu tak berdasar pada ilmu (yang adalah rasionalitas) kaÐÉlika qÉla al-laÐÊna lÉ yaÑlamËna mithla qaulihim seperti dalam ayat berikut:                               [ix] ^ ` Namun perlu segera ditegaskan bahwa ayat-ayat di atas tidak bermaksud bahwa Islam mereduksi klaim-klaim kebenaran agama tersebut sebagai tidak serius dan tidak riil. Akan tetapi konsep ini telah ada semenjak turunnya al-Quran itu sendiri. hendaknya jangan disamakan dengan konsep anonymous Christian -nya Karl Rahner. ketika mereka masih tetap bersikeras dengan apa yang mereka yakini benar. sebagai mengimani Allah. yaitu menolak self-identifikasi famili dan tradisi ini. Islam mengapresisasi eksistensi mereka. secara teoretis respons Islam terhadap klaim-klaim kebenaran agama bisa dijelaskan dalam dua level: Pertama. atau belas kasihan (courtesy). [xi] Didasarkan pada fondasi keimanan ini. Lebih dari itu semua. dan pengikutnya sebagai mengimani apa-apa yang telah diwahyukan dari Allah . Pengikut mereka secara kategoris disebut Ahli Kitab . dan membiarkan mereka hidup sesuai dengan keyakinan mereka yang absolut dan eksklusif.[x] Di sinilah toleransi yang sebenarnya. atau remehtemeh. dan nabinabi terdahulu. terutama dalam konsep Hanifisme .w.[xii] Di samping itu penghargaan dan respek yang diberikan Islam kepada kedua agama ini. mengantarkan seseorang kepada status sebagai non-Muslim. yaitu Famili Ibrahimi . bukan bikinan seorang teolog modern yang merasa dipermalukan dengan klaim eksklusif kasih sayang Tuhan. tampak inklusivisme Islam yang sangat jelas. keterpilihan. kita-kitabNya.[xiii] Adapun jika mereka kemudian tetap bersikeras mengklaim yang selainnya. bukanlah karena atas dasar sosio-politis dan kultural. Islam memberi status yang spesial kepada kedua agama ini. maka: (i) Al-Qur Én dengan tegas menyatakan bahwa: [xiv] ^              ` . sehingga mengingkari atau mengkufuri mereka.a. Nasrani dan agama-agama lain.

Dengan demikian. bahwa kami adalah orang-orang Muslim). dan (ii) Al-Qur Én mengingatkan mereka agar kembali kepada kalimah sawÉ . meminjam istilah AlFÉrËqÊ (al-ittiÎÉlÉt al-samÉwiyyah).(Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan seorang Nasrani. akan tetapi dia adalah seorang Hanif dan Muslim dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik). Kedua. dan Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman). Dalam al-Qur Én.w.[xxiv] atau recipien (penerima) wahyu yang diturunkan Tuhan yang sama. by extention dapat dikatakan bahwa sesungguhnya seluruh ummat manusia adalah ummat yang satu (ummatun wÉÍidah)[xxiii]. yang membawa risalah yang satu dan sama. Islam. Sebetulnya terhadap agama-agama yang lain pun Islam memberikan status yang hampir sama dengan yang diberikan kepada kedua agama di atas. dan (ii) . tapi by implication. yakni terjadi di seluruh ruang dan waktu. Hal ini dapat dicermati dari beberapa teks al-Qur an dan hadith. serta orang-orang yang beriman [kepada Muhammad]. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: Saksikanlah. satu dalam arti bahwa: (i) setiap manusia individu atau kelompok pernah menjadi ummat salah satu nabi atau rasul Allah s. yang berkenaan dengan agama-agama lain. yang adalah Hanifisme itu sendiri. masih erat berkaitan dengan poin sebelumnya. yaitu setiap manusia individu atau kelompok pernah menjadi obyek komunikasi langit . Hanya saja status ini tidak dinyatakan dalam wording yang secara langsung (straight forward). sebagaimana yang ditegaskan salah satu ayat tersebut di atas. dan [xv] ^             ` (Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini [Muhammad]. yakni            [xvi] ^          `  (bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak [pula] sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Allah berfirman: [xvii] ^ [xviii] ^      [xix] ^     [xx] ^ [xxi] ^ [xxii] ^                                   ` ` ` ` ` ` Ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa fenomena kenabian adalah universal.t.

bangga mengidentifikasikan diri dengannya..[xxvi] Dengan demikian konsep Hanifisme tidak hanya mencakup Yudaisme dan Kristen. sebagaimana dinyatakan dalam hadith Rasulullah s. tapi lebih luas lagi sehingga meliputi seluruh ummat manusia tanpa kecuali. (     ). Dan fiÏrah adalah agama primordial seluruh manusia berdasarkan perjanjian primordial (primordial covenant) yang mereka teken dengan Allah s. yakni hanya menuhankan dan menyembah Allah s. ketika masih dalam alam archetypal.w.(iii) setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fiÏrah.[xxv] yang adalah merupakan inti Hanifisme yang mana Islam.t.a.w. seperti yang ditegaskan dalam sebuah hadith qudsi: [xxvii]     .t. seperti disebutkan di atas.w.

Lebih dari itu. sebagaimana diekspresikan secara demonstratif dalam sebuah ayat (     ) dan Kami tidak akan mengÑazab sebelum mengutus seorang rasul . apalagi dengan negasi. sama sekali tidak mengurangi apresiasi dan respek Islam terhadap agama-agama lain secara universal. adalah wajar dan rasional belaka jika kemudian dalam perjalanan sejarahnya manusia mengalami penyimpangan-penyimpangan atau membuat klaim-klaim yang berseberangan.[xxviii] Berangkat dari pembacaan seperti ini pula. al-FÉrËqÊ dengan argumentatif mengatakan The (truth) claim is essential to religion. universalitas fenomena kenabian ini semata-mata adalah wajar dan sejalan belaka dengan tuntutan konsistensi logis dari prinsip keadilan Tuhan yang sempurna. For the religious assertion is not merely one among a multitude of propositions. maka mereka diingatkan al-QurÉn secara terus menerus agar kembali kepada Hanifisme atau Islam ini:             [xxix] ^      ` b. Dalam hal ini Profesor IsmÉÑÊl R. baik dengan cara reduksi. [xxx] Oleh karena itu solusi apapun yang dimaksudkan untuk menyelesaikan problem pluralitas klaim kebenaran yang saling berseberangan (conflicting truth-claim) tidak boleh mengganggu gugat keunikan dan eksklusivitas ini. maka penegasannya lebih kategoris dan spesifik. namun hal ini. hanya berbeda dalam penegasan kategorisasi dan spesifikasi. distorsi atau relativisasi. Berangkat dari pembacaan seperti ini. menurut hemat penulis. . ia merupakan esensi jati-diri sebuah agama. sementara agama-agama lain cukup ditegaskan secara umum. but necessarily unique and exclusive. cukup jelas bahwa status yang diberikan Islam kepada agama-agama lain hampir sama dengan yang diberikan kepada Yudaisme dan Kristen. Kedua agama ini karena secara nasab dan geografis lebih dekat dengan Islam. sebab hal ini akan membunuh karakter atau jati diri agama itu sendiri. Kesimpulan Klaim kebenaran (truth-claim) bagi agama adalah sesuatu yang alami atau natural. Kemudian.

[xiv] Óli ÑImrÉn: 67. [i] Waardenburg. di mana setiap pemeluk agama menikmati pemerintahan otonomi sesuai dengan keyakinan masing-masing. Alford T. [xi] Al-Baqarah: 285. 1979). Islam memberikan solusi yang paling rasional dan humane pula. [xviii] Al-NaÍl:36. Pierre (eds. Islam and Other Faiths: The World s Need for Humane Universalism. 1978). September 1986). in Welch. and Cachia. [viii] Óli ÑImrÉn: 63. yaitu dengan konsep plurality of laws . [vii] Al-MÉ idah: 18. [ii] Al-FÉrËqÊ. [iv] Lihat: Al-Faruqi. Isma il R. dalam The American Journal of Islamic Social Sciences(Vol. in Gauhar. [v] Al-Baqarah: 111-112.. [xvii] FÉÏir:24.). [xii] Lihat: Al-FÉrËqÊ. [xv] Óli ÑImrÉn: 68. 43. Sedangkan secara praktis fiqhiyyah. Islam telah memberikan yang paling maksimal kepada agama lain yang tidak ada bandingannya dalam sejarah. 3. Jacques. hal. Islam: Past Influence and Present Challenge (Edinburgh: Edinburgh University Press. YËsuf:101. [iii] Al-Baqarah: 256. [ix] Al-Baqarah: 113.. No. Óli ÑimrÉn:67. Al-MÉ idah:44. Al-Naml:44. 40. hal. World Religions as Seen in the Light of Islam. [xvi] Óli ÑImrÉn: 64. Dengan demikian. Meta-Religion: Towards A Critical World Theology . IsmaÑÊl. [vi] Al-Baqarah: 135.Islam dengan konsep Hanifisme-nya memberikan solusi teologis yang paling rasional dan humane. [x] Lihat Óli ÑImrÉn: 20 dan 63. AlAÑrÉf:126. 100. 268. Al-MÉ idah:111. Óli ÑimrÉn:52. [xiii] Lihat al-QurÉn: YËnus:71-72. YËnus:84. Altaf (ed.). Al-Baqarah:131-132. Meta-Religion: Towards A Critical World Theology . . 1. The Challenge of Islam (London: Islamic Council of Europe. hal. hal.. IsmaÑÊl R. WallÉhu aÑlam.

Penekanan dari penulis. hal. [xxi] Al-NisÉ :164. dalam Majallat al-Muslim al-MuÑÉÎir. [xx] YËnus:47. [xxx] Al-FÉrËqÊ. IsmaÑÊl. 23. IsmÉÑÊl. 27. [xxiii] Al-Baqarah: 213. ×uqËq Ghair al-MuslimÊn fÊ al-Dawlat al-IslÉmiyyah: Al-awjuh alIjtimÉÑiyyah wa al-ThaqÉfiyyah. hal. [xxviii] Al-IsrÉ :15. 264. Meta-Religion: Towards A Critical World Theology . [xxix] Óli ÑImrÉn:20. [xxii] GhÉfir:78. [xxiv] Al-FÉrËqÊ. [xxv] Allah berfirman dalam surat Al-AÑrÉf: ^                 ` [xxvi] Hal ini dapat dibaca dengan jelas dalam Al-RËm:30-32:                    ^ [xxvii] HR Muslim. (1981).[xix] Al-Mu minËn:44.                       ` .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->