Pengantar Arsitektur 1

Rumah Adat Bali
Oleh : Kelompok 8 1. 2. 3. 4. 2TB02 Muhajir Agus Beta Kaprawijoyo Putri Kumalasari Adinegoro Remicha Dwigamie Wina Tristiana

Jurusan Teknik Sipil dan Arsitektur Universitas Gunadarma 2011

Arsitektur Tradisional Bali
Arsitektur Tradisional Bali merupakan kombinasi dari hubungan keseimbangan antara Bhuwana Agung (alam semesta, dunia yang lebih besar,) dan Bhuwana Alit (manusia, miniatur kecil). Arsitektur Tradisional Bali mendapat pengaruh campuran budaya Hindu, Cina Buddha, dan kebudayaan Megalitik. Beberapa bagian dari gaya Eropa juga dapat ditemukan dalam Arsitektur Bali.

Nawa Sanga
Nawa Sanga adalah konsep 9 mata angin yang menjadi pedoman bagi kehidupan keseharian masyarakat Bali. Seperti halnya dengan mata angin arah utara selatan yang di sebut Kaja Kelod, dan timur barat yang disebut kangin kaluh. Hal ini sangat penting karena orientasi orang Bali terhadap Gunung Agung dan arah terbit matahari menjadi pedoman bagi perletakan pola perumahan pada umumnya. Utara melambangkan dewa Wisnu, selatan dewa Brahma, timur dewa Iswara dan barat dewa Mahadewa.

2

Metodologi Arsitektur Bali
Arsitektur tradisional Bali tidak terlepas dari keberadaan Asta Kosala Kosali yang memuat tentang aturan-aturan pembuatan rumah atau puri dan aturan tempat pembuatan ibadah atau pura. Dalam asta kosala-kosali disebutkan bahwa aturan-aturan pembuatan sebuah rumah harus mengikuti aturan aturan anatomi tubuh sang empunya pemilik rumah dengan dibantu sang undagi sebagai pedande atau orang suci yang mempunyai kewenangan membantu membangun rumah atau pura. Dalam asta kosala-kosali terdapat ukuran-ukuran atau dimensi yang didasarkan pada ukuran atau dimensi yang didasarkan pada ukuran jari-jari si pemilik rumah yang akan menempati rumah tersebut. Seperti Musti, yaitu ukuran atau dimensi untuk ukuran tangan mengepal dengan ibu jari yang menghadap ke atas. Hasta untuk ukuran sejengkal jarak tangan manusia dewata dari pergelangan tengah tangan sampai ujung jari tengah yang terbuka. Depa untuk ukuran yang dipakai antara dua bentang tangan yang dilentangkan dari kiri ke kanan.

Pola Ruang Rumah Tinggal
Rumah tinggal masyarakat Bali sangat unik karena rumah tinggal tidak merupakan satu kesatuan dalam satu atap tetapi terbagi dalam beberapa ruang-ruang yang berdiri sendiri dalam pola ruang yang diatur menurut konsep arah angin dan sumbu gunung Agung. Hal ini terjadi karena hirarki yang ada menuntut adanya perbedaan strata dalam pengaturan ruang-ruang pada rumah tinggal tersebut. Seperti halnya tempat tidur orang tua dan anak-anak harus terpisah, dan juga hubungan antara dapur dan tempat pemujaan keluarga. Untuk
3

memahami hirarki penataan ruang tempat tinggal di Bali ini haruslah dipahami keberadaan sembilan mata angin yang identik dengan arah utara, selatan, timur dan barat. Bagi mereka arah timur dengan sumbu hadap ke gunung Agung adalah lokasi utama dalam rumah tinggal, sehingga lokasi tersebut biasa dipakai untuk meletakkan tempat pemujaan atau di Bali di sebut pamerajan. Sebuah rumah tradisional Bali terdiri bangunan yang memiliki fungsi berbeda. Yaitu: ANGKUL-ANGKUL Angkul-angkul adalah gerbang/pintu masuk dengan atap sebagai penghubung kedua sisinya. Angkul-angkul memiliki atap piramida yang terbuat dari rumput kering. Angkulangkul biasanya lebih tinggi dari dinding yang mengelilingi rumah. ALING-ALING Aling aling adalah semacam tembok sekat dari batu setinggi kurang lebih 150 cm , yang berfungsi sebagai pengalih jalan masuk sehingga untuk memasuki rumah harus menyamping ke arah kiri dan saat keluar nanti melalui sisi kanan dari arah masuk. Ini mempunyai tujuan agar pandangan dari luar tidak langsung bisa melihat apa yang ada di dalam.

angkul - angkul dan aling - aling

4

Fungsi Bale Meten adalah untuk tempat tidur orang tua atau Kepala Keluarga di bale sebelah kiri. bangunan Bale Meten adalah rumah tinggal yang memakai bebaturan dengan lantai yang cukup tinggi dari tanah halaman (±75-100 cm). Bentuk Bangunan Bale Dangin adalah segi empat ataupun persegi panjang.METEN / BALE DAJA Bale Meten terletak di bagian Utara (dajan natah umah) atau di sebelah barat tempat suci/ Sanggah. BALE DANGIN / BALE GEDE Bale Dangin terletak di bagian Timur atau dangin natah umah. dan dapat menggunakan saka/tiang yang terbuat dari kayu yang dapat berjumlah 6 (sakenem). dapat menggunakan saka/tiang yang terbuat dari kayu yang berjumlah 8 (sakutus).bale dan kalau Bale Gede menggunakan 2 buah bale-bale yang terletak di bagian kiri dan kanan. sering pula disebut dengan Bale Gede apabila bertiang 12. BALE SAKEPAT Bale Sakepat adalah bangunan dengan jumlah tiang empat dan dipergunakan untuk kamar tidur anak. 8 (sakutus/astasari). Bale Meten ini juga sering disebut dengan Bale Daja. Bangunan Bale Dangin adalah rumah tinggal yang memakai bebaturan dengan lantai yang cukup tinggi dari tanah halaman namun lebih rendah dari Bale Meten. Fungsi Bale Dangin ini adalah untuk tempat upacara dan bisa difungsikan sebagai tempat tidur. tempat sembahyang dan tempat menyimpan alat. Fasilitas pada bangunan Bale Dangin ini menggunakan 1 bale. Bentuk bangunan Bale Meten adalah persegi panjang. Bangunan ini adalah bangunan yang memiliki tempat tertinggi pada seluruh bale dalam satu pekarangan disamping untuk menghindari terjadinya resapan air tanah. 9 (sangasari) dan 12 (saka roras/Bale Gede). Fungsinya sama dengan Bale Sakepat. Sedangkan di bale sebelah kanan difungsikan untuk ruang suci. karena tempatnya di zona utara (kaja). dan 12 (saka roras). 5 . Sebagaimana dengan bangunan Bali lainnya.alat upacara. Fasilitas desain interiornya adalah 2 buah bale yang terletak di kiri dan kanan ruang. BALE SAKENEM / DEMI ENEM Jumlah tiangnya enam.

Terletak di daerah Utama (sisi timur laut) dari rumah. 6 . seperti yang diceritakan pada konsep Tri Mandala.bale gede PAMERAJAN Pamerajan adalah kuil yang didedikasikan untuk berdoa kepada Tuhan dan leluhur keluarga.

kapak. PAON Dapur (Paon) terletak di sisi selatan rumah milik daerah Nista. karena merupakan tempat di mana keluarga menyimpan peralatan untuk menyembelih hewan dan menebang pohon. termasuk pisau. dan bila tiangnya bejumlah 9 disebut sangasari. Bagian kedua adalah sebuah ruangan di mana makanan dan peralatan memasak lainnya disimpan. dan sering pula disebut dengan Bale Loji. Fasilitas pada bangunan Bale Dauh ini adalah 1 buah bale-bale yang terletak di bagian dalam. Fungsi Bale Dauh ini adalah untuk tempat menerima tamu dan juga digunakan sebagai tempat tidur anak remaja atau anak muda. Paon terdiri dari dua bagian. paon 7 . Bangunan Bale Dauh adalah rumah tinggal yang memakai bebaturan dengan lantai yang lebih rendah dari Bale Dangin serta Bale Meten. dll. bila berjumlah 8 disebut sakutus/astasari. yaitu area terbuka yang digunakan untuk memasak dengan oven kayu api. Bila tiangnya berjumlah 6 disebut sakenem. Bentuk Bangunan Bale Dauh adalah persegi panjang.BALE DAUH Bale Dauh ini terletak di bagian Barat (Dauh natah umah). dan menggunakan saka atau tiang yang terbuat dari kayu. serta Tiang Sanga. bagian pertama disebut Jalikan.

Jineng / Lumbung diposisikan lebih tinggi dari bangunan lainnya. Madya mengambarkan strata manusia atau alam manusia. Gudang ini terletak di belakang Demi Enem.JINENG / LUMBUNG Jineng / Lumbung adalah gudang beras. 8 . Madya dan Utama. Pada bagian atap ini bahan yang digunakan pada arsitektur tradisional adalah atap ijuk dan alang-alang. didekat Paon (dapur). Pada permukaan batu bata atau batu gunung dibuat semacam penghalus sebagai elemen leveling yang rata. Atau bilah dalam tiang kolom. Atau merupakan plesteran akhir. Nista menggambarkan suatu hirarki paling bawah suatu tingkatan. Utama adalah symbol dari bangunan bagian atas yang diwujudkan dalam bentuk atap yang diyakini juga sebagai tempat paling suci dalam rumah sehingga juga digambarkan tempat tinggal dewa atau leluhur mereka yang sudah meninggal. yaitu sebuah konsep hirarki dari mulai Nista. Konsep Teknik Konstruksi Dan Material Sistem konstruksi pada arsitektur tradisional Bali mempertimbangkan konsep yang dinamakan Tri Angga. Materialnya dapat terbuat dari batu bata atau batu gunung. Nista juga digambarkan sebagai alam bawah atau alam setan atau nafsu. jendela dan pintu. Madya adalah bagian tengah bangunan yang diwujudkan dalam bangunan dinding. yang biasanya diwujudkan dengan pondasi bangunan atau bagian bawah sebuah bangunan sebagai penyangga bangunan diatasnya. Batu bata tersebut tersusun dalam suatu bentuk yang cukup rapi sesuai dengan dimensi ruang yang akan dibuat.

tempat pembuangan sampah/kotoran rumah tangga lainnya. madya angga adalah bagian tengah (badan). dan nista angga adalah bagianbawah (kaki). Pada bidang vertikal. tetapi oleh tata nilai ritual dan orientasi kosmologis.Penerapan konsep Tri Angga pada pola ruang pemukiman. sumbu-sumbu itu antara lain: Sumbu kosmos Bhur. utama angga atau yang dianggap kepala adalah bagian atap (rab). pembagian zone utama. utama angga adalah pelataran pemerajan atau tempat sembahyang yang dianggap suci. madya dan nista didasari bukan oleh sumbu hierarki yang vertikal. dan nista angga adalah kaki bangunan (bebataran). nista angga adalah teba. Bhuwah dan Swah (hidrosfir. dengan mudah dilihat bahwa utama angga adalah bagian atas (kepala). yaitu di teritorial rumah tinggal dan bangunan arsitektur adalah sebagai berikut: Dalam tata ruang area rumah tinggal. Pada bangunan. yaitu area kandang hewan. litosfir dan atmosfir) Sumbu ritual kangin-kauh (terbit dan terbenamnya matahari) berorientasi pada lintasan 9 . seperti pada bangunan dan manusia. madya angga adalah badan bangunan (pengawak). Tetapi pada bidang horisontal. madya angga adalah lokasi massamassa bangunan tempat tinggal. Ada tiga buah sumbu yang digunakan sebagai pedoman penataan bangunan di Bali.

arah tidur dan sebagainya. segala sesuatu yang dikategorikan kurang suci dan bernilai profan. Dari sumbu-sumbu tersebut. Sebaiknya. letak kandang. Nawa Sanga atau Sanga Mandala yang akan dibahas pada subbab berikutnya. Segala sesuatu yang dikategorikan bersifat suci dan bernilai sakral akan menempati letak di baian Kaja (utara) mengarah ke gunung seperti : letak pura. merupakan acuan pada penataan ruang hunian tipikal di Bali. masyarakat Bali mengenal konsep orientasi kosmologikal. Area pertemuan sumbu kaja-kelod dan kangin-kauh di tengah-tengah dibiarkan kosong karena nilai pusat dianggap kosong (pralina) sebagai simbol pusat kekuatan yang Maha 10 . Catuspatha Catuspatha adalah konsep ruang kosong di tengah-tengah pertemuan sumbu orientasi kosmologis (kaja-kelod) dan tata nilai ritual (kangin-kauh) pada pola ruang masyarakat tradisional Bali. Sumbu natural Kaja-Kelod (gunung dan laut). Transformasi fisik dari konsep ini pada perancangan arsitektur.terbit dan terbenamnya matahari dengan arah kangin sebagai nilai utama (arah terbitnya matahari) dan arah kauh sebagai nilai nista (arah terbenamnya matahari). tempat pembuangan sampah/ kotoran. dan zone yang dianggap nista atau bernilai rendah adalah arah kelod (menghadap laut) dan kauh (Barat).dan sebagainya Zone yang dianggap bernilai utama adalah arah kaja (menghadap gunung) dan kangin (Timur sebagai arah terbitnya matahari sumber kehidupan). akan menempati letak bagian kelod (selatan). sedangkan nilai Madya ada di tengahnya. seperti : letak kuburan. arah sembahyang.

yang berfungsi sebagai ruang terbuka hijau . Di masing-masing sudut perempatan. aplikasi konsep catuspatha pada bangunan rumah tinggal bali madya Konsep Orientasi Kosmologi. disediakan tanah kosong (Karang Tuang) seluas satu persil. yang pada area rumah tinggal disebut natah.Sempurna. maka semua bangunan di zone arah kaja-kelod-kangin-kauh dibuat menghadap area tengah. di mana ruang di tengah-tengah sebagai pusat dan simbol sumber kekuatan dibiarkan kosong (konsep catuspatha). Konsep Tri Angga membagi bidang atau sumbu vertikal orientasi kosmologis kaja-kelod dalam 3 zone ruang: utama. madya dan nista. Karena area pusat ini dinilai paling tinggi sebagai simbol yang Maha Sempurna. Kombinasi pembagian bidang vertikal dan horisontal ke dalam 3 zone ruang yang hirarkis. secara keseluruhan. Nawa Sanga atau Sanga Mandala Konsep sangamandala adalah pengembangan dari kombinasi konsep Tri Angga dan Catuspatha. menghasilkan 9 zone ruang. madya dan nista. 11 . sementara bidang atau sumbu horisontal orientasi tata nilai sakral kangin-kauh juga dibagi dalam 3 zone ruang: utama. Konsep ruang ini pada umumnya diterapkan pada pola ruang Desa. Penerapan konsep catuspatha pada pola ruang area rumah tinggal tradisional Bali adalah adanya ruang kosong (halaman tengah/inner court) di tengah-tengah sebagai area pertemuan sumbu kaja-kelod-kangin-kauh. Konsep sangamandala adalah pembagian ruang ke dalam 9 zone yang lahir dari aplikasi konsep Tri Angga dalam bidang vertikal dan horisontal.

budaya dan keamanan. yang menjadi satu-kesatuan utuh dan saling berhubungan pada masing-masing anggota keluarga di rumah tersebut.Kesembilan bagian tersebut merangkum semua kegiatan sosial. ekonomi. penjabaran konsep zoning sanga mandala dalam rumah 12 . Artinya seluruh kegiatan keluarga dapat dilakukan dalam satu lingkungan rumah di dalam penyengker yang cukup luas. spiritual.

Madya merupakan area ruang untuk melakukan kegiatan sehari-hari. yaitu: Nista. atau tiga bagian. Gambar ini memperlihatkan pembagian area berdasarkan tata nilai ruang: Nista. merupakan area tiga kelompok ruang yang berada di sebelah kiri. serta sebagian bale dauh dan paon. c. 3. 2.). 3. artinya ruang dibagi sembilan dan disisakan satu. natah (halaman).Konsep ruang Sanga mandala adalah konsep ruang yang dibagi menjadi sembilan bagian area (pah pinara sanga sesa 1. Sesa 1. jineng (lumbung) dan bangunan angkul-angkul (pintu keluar-masuk halaman). 2. meliputi bangunan tempat suci Penunggun Karang. Utama. dst. Nista. Madya dan Utama. Madya. Area utama terletak pada tiga area di pojok kanan atas area mandya berada di tengah dan area nista berada pada pojok kiri bawah. b. dua. Bagian ini dikelompokkan menjadi 3 bagian besar. aplikasi konsep ruang sanga mandala pada rumah tinggal tradisional bali madya a. 13 . Utama merupakan area ruang tempat suci (sanggah/ merajan). meliputi bangunan kandang dan angkul-angkul. Kelopok ruang madya yang merupakan ruang bagian tengah. dst berada pada area paling kiri. dan seterusnya pada bagian luar sebelah kiri. seperti untuk melakukan upacara adat dan keagamaan.

Musti. Dalam konteks pribadi seperti halnya menentukan dimensi pekarangan dan proporsi bangunan memakai ukuran bagian tubuh penghuni/kepala keluarga. ukuran tubuh manusia sebagai dasar pengukuran lingkungan buatan 14 . kaki dan lainnya. A Guli serta masih banyak lagi yang lainnya.Konsep Proporsi dan Skala Manusia Perumahan tradisional Bali juga memiliki konteks kehidupan pribadi dan masyarakat serta pantangan-pantangan. seperti tangan. Tapak Ngandang. Tapak. Nyari. Depa. Beberapa nama dimensi ukuran tradisional Bali adalah : Astha.

Adanya pura sebagai pusat pemujaan warga desa yang disebut kahyangan tiga. 4). 1982:31). 1985).Aspek-Aspek Arsitektur Bali 1. 2). Covarrubias. Dari kesatuan wilayah. upacara dan orientasi warga banjar. hanya saja unsur kahyangan tiga berupa fasilitas lingkungan berupa Bale banjar yang dilengkapi Pura Banjar. 3). yaitu: 1). yaitu: pertama. (Adhika. Sistem kemasyarakatan (organisasi) desa dengan desa adat di Bali adalah kelompok masyarakat yang lebih kecil dari desa adat serta merupakan persekutuan hidup sosial. tapi menunjukkan variasi. Satu desa dinas mencakup beberapa desa adat. Adanya pola hubungan yang bersifat intim dan cendrung bersifat suka rela. Atribut Desa Adat Atribut pokok dari suatu komunitas kecil yang terwujud sebagai desa adat di Bali tersimpul 15 . 3). desa sebagai kesatuan wilayah administrasi dengan nama desa dinas atau perbekalan. Adanya rasa kepribadian kelompok. kegiatan sosial. Untuk memproleh pengertian tentang komunitas masyarakat Bali. a. Kombinasi 2 dan 3. Adanya perasaan cinta dan terkait kepada wilayah tersebut. Adanya wilayah dengan batas-batas tertentu yang disebut dengan palemahan desa atau tanah desa. tidak ada ketentuan satu desa dinas terdiri beberapa desa adat atau sebaliknya. Beberapa syarat pokok terbentuknya desa adat. atribut.atribut dan ciri khusus. (Depdikbud. 3). Satu desa adat mencakup beberapa desa dinas. Adanya suatu pemerintahan adat yang berlandasan pada aturan-aturan adat tertentu/awig-awig desa. 2). dan kedua. 1984: 18-29. Adanya suatu tingkat penghayatan dari sebagian besar lapangan kehidupannya secara bulat. Banjar sebagai lembaga tradisional merupakan bagian desa juga memiliki tiga unsur. sebagai tempat pertemuan. maka penggambaran tentang ciri-cirinya akan diperinci menurut aspek-aspek sebagai berikut: legitimasi. 2). Variasinya cukup beraneka ragam dan kompleks. b. berdasarkan persekutuan hidup setempat atau kesatuan wilayah (Agung. Sistem kemasyarakatan di Bali mewajibkan kepada orang yang telah makurenan (berumah tangga) dan bertempat tinggal di wilayah suatu desa adat untuk menjadi krama banjar (Anonim. 1986: 39-70). Legitimasi Disamping adanya pengakuan formal. 1994:2). Adanya warga desa yang disebut pawongan desa. dalam keadaan senang maupun susah. Aspek Sosial Dalam pandangan masyarakat Bali konsep teritorial memiliki dua pengertian. 4). (Bappeda. 4). territorial sebagai satu kesatuan wilayah tempat para warganya secara bersama-sama melaksanakan upacara-upacara dan berbagai kegiatan sosial yang ditata oleh suatu sistem budaya dengan nama desa adat. antara lain: 1). Satu desa dinas terdiri dari satu desa adat. maka legitimasi suatu komunitas berkembang pula dikalangan warga menurut persepsinya dengan ciri: 1). 1983).

Desa adat sebagai suatu komunitas dengan fokus fungsinya dibidang adat dan agama. banjar di Bali dapat dibedakan menjadi dua. Perempatan Desa merupakan tempat yang dianggap keramat dan juga sebagai tempat upacara.aturan (awig-awig desa). yaitu pura puseh. dalam arti tiap desa adat berdiri sendiri menuruti aturan. Tata susunan perumahan yang mengikuti konsep Tri Mandala. sedangkan dalam skala banjar adat. tiap-tiap desa adat mempunya kedudukan yang otonom. kematian dan membangun rumah. Antonic terhadap desa-desa adat dan dinas di Bali menyimpilkan besaran efektif untuk sebuah desa adalah lima ribu jiwa. yaitu wilayah desa yang merupakan tempat perumahan warga desa. 1988). Pawongan Desa. seperti. y y Disamping atribut pokok tersebut. masih perlu dikemukakan beberapa fasilitas dan pelayanan desa yang menjadi simbol suatu komunitas masyarakat Bali yang terwujud sebagai Desa adat. dan Nista. Besaran yang efektif dalam desa adat di Bali adalah sekitar 200 KK setiap banjar. Bale Agung dan pura dalem. Palemahan Desa.dalam konsepsi Tri Hita Karana sebagai berikut: y Kahyangan Tiga. Kuburan desa yang biasanya terletak berdekatan dengan pura dalem. pemeliharaan pura. yaitu: Utama. Menurut jumlah anggotanya. Penelitian Prof. upacara perkawinan. yaitu: banjar besar. Bale Banjar sebagai fasilitas sosial umumnya terletak pada posisi yang strategis. yaitu seluruh warga desa yang bersangkutan. seperti. upacara Odalan. Dalam menjalankan fungsinya itu. banjar kecil bila anggotanya lebih sedikit dari 50 kuren. Untuk satuan banjar yang merupakan sub bagian desa terdapat fasilitas umum berupa Bale Banjar yang dilengkapi Bale Kulkul dan pura banjar. seperti pada satu sudut persilangan atau pertigaan jalan di tengah tengah lingkungan bajar (Putra. Perumahan berada pada kedua belah sisi megikuti pola jalan. Maka bila rata-rata masing-masing KK ada lima orang maka setiap banjar (penyatakan) terdiri sekitar seribu jiwa. bila jumlah anggotanya lebih dari 50 kuren (kepala keluarga). Bidang 16 . Nyepi (Tawur Kesanga). Madya. yang terdiri dari tiga pura sebagai pusat pemujaan warga desa. Sebagai warga inti adakah setiap pasangan suami istri yang telah berkeluarga. yaitu: y y y y Balai Pertemuan (Banjar) tempat terselenggaranya rapat-rapat desa. Galungan.

teben (halaman belakang). pengijeng. Dari kesembilan orientasi ini yang paling dominan adalah orientasi dengan gunung-laut dan sumbu terbit-terbenamnya matahari. desa dinas membawahi sejumlah banjar dinas. bale (ruang serba guna). Aspek Simbolik Aspek simbolik pada perumahan adalah berkenaan dengan orientasi kosmologis. Orientasi arah sakral pada tingkat perumahan dapat mengarah: y y y y Ke arah gunung atau tempat yang tinggi dimana arwah leluhur bersemayam. dari paling sakral ke paling profan elemen bangunan rumah diurutkan sebagai berikut: Sanggah (pura rumah tangga). dan Bale Banjar. Kegiatan masyarakat Bali pada umumnya dapat dibagi atas dua kegiatan.kelod) atau ruang utama pada perumahan. meten. Mengarah ke elemen-elemen alam lainnya. kandang ternak. Nawa sanga menunjuk ke arah delapan penjuru angin ditambah titik pusat di tengah. 2. pembangunan desa. dan kegiatan yang bersifat profan (berkaitan dengan kegiatan sosial masyarakat). sedang daerah yang sifatnya profan ditempatkan pada arah yang menuju ke laut (kelod-kauh). Arah kaja kangin yaitu arah ke gunung Agung. pawon (dapur).pemerintahan berada di tangan urusan desa dinas. Aspek Morpologis 17 . antara lain: administrasi pemerintahan. upacara nasional serta keamanan desa. 3. Sumbu jalan (kaja-kelod) yang menuju ke dunia leluhur yang bersemayam di gunung (kaja). Penempatan kegiatan tersebut dibedakan berdasarkan orientasi kesakralannya. Lokasi pura puseh (pura leluhur). Lokasi pura dalem (pura kematian). yaitu: kegiatan yang bersifat sakral (berkaitan dengan kegiatan keagamaan). menangani fungsi. Berdasarkan urut-urutan tingkat kesakralan. Elemen-elemen ruang yang dijadikan indikator kesakralan perumahan adalah: y y y y Sumbu perumahan berupa jalan utama (arah kaja. Sanga Mandala yang dilandasi konsep Nawa Sanga adalah konsep tradisional yang didasarkan pada orientasi kosmologis masyarakat Bali sebagai pengejawantahan cara menuju ke kehidupan harmonis. Daerah yang paling sakral selalu ditempatkan pada arah gunung (kaja-kangin). Dalam hal kedinasan itu. Bale adat bale gede. jineng (lumbung).

Letak Pura Dalem (kematian) dan kuburan desa pada daerah kelod-kauh (barat daya) yang mengarah ke laut. 4. 1968:91). seperti.selatan) dan sumbu kangin-kauh (timur-barat). yaitu: peruntukan inti. Elemen ruang yang paling sakral seperti Merajan (pura rumah tangga) ditempatkan pada segmen sakral (utama). biasanya berada disekitar peruntukan inti. b. dan peruntukan pinggiran (lihat Gambar. dimana untuk mengatasi geografis yang berlereng diatasi 18 .Diantara kedua daerah tersebut terletak perumahan penduduk dan fasilitas umum (bale banjar dan pasar) yang terletak di plaza umum. Pola Perempatan (Catus Patha) Pola Perempatan. 7). yang tercermin pada komposisi dan formasi ruang. pada daerah kaja-kangin diperuntukan untuk bangunan suci yaitu pura desa. Peruntukan pinggiran adalah wilayah yang terletak di luar wilayah terbangun. Jineng (lumbung desa). Aspek Fungsional Aspek fungsional adalah fungsi elemen ruang dalam kaitannya dengan orientasi kosmologis. penerapan konsep Sanga Mandala . Bale banjar dan Wantilan (Parimin. atau pada jalan utama yang menuju ke pura desa. Pada bagian ujung Utara perumahan (kaja) diperuntukan untuk Pura (pura bale agung dan pura puseh). Pola linear pada umumnya terdapat pada perumahan di daerah pegunungan di Bali. Pada perumahan yang berpola perempatan (Catur patha) peruntukan inti berada pada persimpangan jalan tersebut.Kegiatan dalam perumahan tradisional dapat dikelompokkan dalam 3 (tiga) peruntukan. Peruntukan inti pada perumahan yang berpola linear terletak pada sumbu jalan menyatu dengan peruntukan terbangun. dan tempat bekerja ditempatkan pada segmen madya. Berdasarkan konsep Sanga Mandala. yaitu kaja-kangin. ada 3 macam pola tata ruang. Peruntukan perumahan dan Banjar berada pada peruntukan madya (barat-laut). tetapi masih dibawah kontrol desa adat. Peruntukan terbangun adalah merupakan wilayah lama. baik dalam skala rumah dan perumahan. yaitu: a. Dari konsep Sanga Mandala yang bersifat abstrak diterjemahkan ke dalam kosep fisik. seperti dijelaskan Gambar 9. jalan terbentuk dari perpotongan sumbu kaja . Dalam skala permukiman. Beberapa desa adat peruntukan pinggiran terletak pura desa /dalem. Sedang di ujung selatan (kelod) diperuntukan untuk Pura Dalem (kematian) dan kuburan desa. tiap segmen peruntukan didasarkan atas tingkat sakral dan profan. kandang ternak atau kotoran ditempatkan pada segmen nista. Meten (tempat tidur). Peruntukan inti umumnya bangunan yang memiliki fungsi sosial. Pola Linear Pada pola linear konsep Sanga Mandala tidak begitu berperan.kelod (utara-selatan) dengan sumbu kangin-kauh (timur-barat). berupa bangunan perumahan yang dibangun pada awal terbentuknya rumah tersebut. peruntukan terbangun. Pada skala rumah. Orientasi kosmologis lebih didominasi oleh sumbu kaja-kelod (utara.

Pola sumbu perumahan memakai pola perempatan. Perumahan type ini tersebar di dataran bagian selatan Bali yang berpenduduk lebih besar diabndingkan type pertama. Peruntukan pada fasilitas umum terletak pada ruang terbuka (plaza) yang ada di tengahtengah perumahan. Pola tata ruang yang dikemukakan di atas merupakan penyederhanaan daripada pola tata ruang yang pada kenyataannya sangat bervariasi. Tenganan. c. Contoh perumahan Bali Aga: Julah (di Buleleng). Lokasi perumahan ini terletak di daerah pegunungan yang membentang membujur di tangah. Setiap daerah perumahan di Bali mempunyai pola tersendiri yang disebabkan oleh faktor yang telah dikemukakan pada uraian Aspek Sosial. Type Bali Dataran. sebagian beralokasi di Bali Utara dan Selatan. Dari ilustrasi tersebut perumahan tradisional Bali dapat diklasifikasikan dalam 2 type. Type Bali Aga merupakan perumahan penduduk asli Bali yang kurang dipengaruhi oleh Kerajaan Hindu Jawa. yaitu: 1. sumbu pertama adalah jalan yang membujur arah Utara. Timbrah dan Bugbug (di Karangasem). merupakan perumahan tradisional yang banyak dipengaruhi oleh Kerajaan Hindu Jawa. 19 . Ciri utama perumahan ini adalah adanya Pola perempatan jalan yang mempunyai 2 sumbu utama. Bentuk fisik pola perumahan Bali Aga dicirikan dengan adanya jalan utama berbentuk linear yang berfungsi sebagai ruang terbuka milik komunitas dan sekaligus sebagai sumbu utama desa. Lokasi bagian sakral dan profan masing-masing terletak pada ujung utara dan selatan perumahan. namun demikian sistem linear.tangah Bali.dengan terasering. 2.Selatan yang memotong sumbu kedua berupa jalan membujur Timur-Barat. Pola Kombinasi Pola kombinasi merupakan paduan antara pola perempatan (Catus patha) dengan pola linear. Jelasnya lihat Gambar 10.

morfologi perumahan tradisional bali.gambar 7. pola perempatan (catus patha) perumahan tradisional bali. gambar 8. 20 .

gambar 9. pola linear perumahan tradisional bali gambar 10. pola kombinasi perumahan tradisional bali 21 .

y Bale Sakenam adalah bangunan dengan tiang penyangga berjumlah enam buah dalam deretan 2 x 3 kolom. yang disusun rapi sesuai dengan dimensi ruang yang akan dibuat. 22 . rumah. Tiang Penyangga Tiang penyangga di dalam rumah tradisional bali memiliki formasi yang berbeda sesuai dengan bale bale yang ada. y Bale Sakarolas atau bale gede adalah bale dengan tiang penyangga berjumlah dua belas dan biasanya dengan formasi 3 x 4. dan dapur). Dan ada juga aturan tentang dinding yang lain. melainkan langsung menyentuh tanah. Jadi tidak terdapat kudakuda. dengan konstruksi tiang kolom yang disatukan dalam satu puncak atap. bahan materialnya terdiri dari batu bata atau batu gunung. Contohnya: y Bale Sakepat adalah bangunan dengan tiang penyangga berjumlah empat buah. Dinding Pada zaman dahulu bangunan rumah golongan masyarakat biasa menggunakan popolan (speci yang terbuat dari lumpur tanah liat) untuk dinding bangunannya. lalu diberi finishing berupa plesteran akhir. Lantai Lantai rumah tradisional bali menggunakan keramik dan ada juga yang tidak menggunakan keramik. y Bale Tiang Sanga adalah sebuah bale dengan tiang penyangga berjumlah sembilan dan biasanya dalam formasi 3 x 3. y Sedangkan Wantilan yang jumlah kolomnya berjajar dalam formasi 2 x 8 atau 2 x 12 sehingga bangunan memanjang mengikuti deretan kolomnya. yaitu menggunakan kayu yang jenisnya dibedakan sesuai dengan peruntukan bangunan tersebut (bangunan ibadah.Pondasi Pondasi pada rumah tradisional Bali menggunakan pondasi setempat/menerus (batu kali) . Golongan raja dan brahmana menggunakan tumpukan bata. Pintu Dan Jendela Pintu dan jendela pada rumah bali menggunakan bahan kayu yang jenisnya dibedakan sesuai dengan peruntukan bangunan tersebut (sama dengan dinding). Kekuatan bahan ini cukup baik dan mampu bertahan hingga puluhan tahun. digunakan bahan sesuai kemampuan ekonomi masing-masing keluarga. Untuk tempat suci/tempat pemujaan milik satu keluarga maupun milik suatu kumpulan kekerabatan.

Keketusan wangga umumnya ditatahkan pada bidang-bidang luas atau peperadaan lukisan cat perada warna emas pada lembarlembar kain hiasan. Biasanya mulai dari dinding.legenda dan kepercayaan. hiasan berpola bunga terung dipolakan dalam bentuk liku-liku segi banyak berulang atau bertumpuk menyerupai bentuk bunga terung. yang dituangkan ke dalam lukisan atau pahatan relief umumnya dilengkapi dengan latar belakang berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang menunjang penampilannya. hiasan berpola tumbuh-tumbuhan jalar atau jalar bersulur. 23 . Keketusan bunga tuwung. plafon dipenuhi ukiran berbagai corak dan cerita. Keketusan bun-bunan. FLORA Bentuknya yang mendekati keadaan sebenarnya ditampilkan sebagai latar belakang hiasanhiasan bidang dalam bentuk hiasan atau pahatan relief. sesuai fungsi bangunan tersebut. Berbagai macam flora yang ditampilkan sebagai hiasan dalam bentuk simbolis atau pendekatan bentuk-bentuk tumbuh-tumbuhan dipolakan dalam bentuk-bentuk pepatraan dengan macammacam ungkapan masing-masing. 1. berupa ukiran. Ceritera-ceritera pewayangan. Terkadang ragam hias ini mengandung arti tertentu sebagai ungkapan keindahan simbol-simbol dan penyampaian komunikasi. memperlihatkan jajar-jajar jalaran dan sulur-sulur di sela-sela bunga-bunga dan dedaunan. Keketusan wangga melukiskan bunga-bunga besar yang mekar dari jenis berdaun lebar dengan lengkung-lengkung keindahan. tiang.Ornamen Umumnya bangunan arsitektur tradisional daerah Bali identik dengan hiasan. Ragam hias yang dikenakan pada bagian-bagian bangunan atau peralatan dan perlengkapan bangunan dari jenis-jenis flora dinamakan sesuai jenis dan keadaannya. peralatan serta pemberian warna dengan warna keemasan/prada atau warna yang beragam karena dipengaruhi oleh kebudayaan Cina. Keketusan Mengambil sebagian terpenting dari suatu tumbuh-tumbuhan yang dipolakan berulang dengan pengolahan untuk memperindah penonjolannya.

Karang simbar dipakai untuk hiasan-hiasan sudut bebaturan di bagian atas pada pasangan batu atau tatahan kertas pada bangunan pada bangunan bade wadah. Karang simbar. suatu hiasan rancangan yang berbentuk bunga dengan kelopak dan seberkas daun yang juga digunakan untuk hiasan sudut-sudut bebaturan atau hiasan penjolan bidang-bidang. pura kediri 24 . Kekerangan Menampilkan suatu bentuk hiasan dengan suatu karangan atau rancangan yang berusaha mendekati bentuk-bentuk flora yang ada dengan penekanan pada bagianbagian keindahan. suatu hiasan rancangan yang mendekati atau serupa dengan tumbuh-tumbuhan lekar dengan daun terurai ke bawah yang namanya simbar manjangan.2. bukur atau hiasan-hiasan sementara lainnya pura bukit dharma Karang bunga.

Patra Wangga juga tergolong kekerasan yang merupakan sebagian dari suatu flora dengan penampilan bagian-bagian keindahannya. Pepatraan yang juga banyak didasarkan pada bentuk-bentuk keindahan flora menamai pepatraan dengan jenis flora yang diwujudkan Pepatraan yang memakai nama yang memungkinkan kemungkinan negara asalnya ada pula yang merupakan perwujudan jenis-jenis flora tertentu. Masing-masing Patra memiliki identitas yang kuat untuk penampilannya sehingga mudah diketahui. Dalam penterapannya dapat bervariasi sesuai kreasi masing-masing seniman Sangging yang merancang tanpa meninggalkan pakem-pakem identitasnya.Karang suring. Pepatraan Mewujudkan gubahangubahan keindahan hiasan dalam paternpatern yang disebut Patra atau Pepatraan. Batang-batang bersulur di selas-sela bawah bunga dan daun-daun. Karangan suring yang diukir dalam-dalam. Patra Wangga Kembang mekar atau kuncup dengan daun-daun lebar divariasi lengkunglengkung keserasian yang harmonis. 3. Ragam hias yang tergolong pepatraan merupakan pola yang berulang yang dapat pula diwujudkan dalam pola berkembang. Bentuk-bentuk karangan yang lain mengambil bentuk-bentuk binatang atau jenis fauna yang dikarang keindahannya. 25 . memungkinkankan karena tiang tugeh bebas beban. suatu hiasan yang menyerupai serumpun perdu dalam bentuk kubus yang difungsikan untuk sendi alas tiang tugeh yang dalam bentuk lain dipakai bersayap garuda.

daun-daun sari kelopak dan daun bunga merupakan pola-pola tetap sebagai identitas. Patra sari dapat digunakan pada bidang-bidang lebar atas.Patra Sari Bentuknya menyerupai flora dari jenis berbatang jalar melingkar-linggar balik berulang. pura bukit dharma 26 . Daun-daun dan bunga-bunga dilukiskan dalam patern-patern yang diperindah. Patra Sari. Penonjolan sari bunga merupakan identitas pengenal sesuai namanya. daun umumnya untuk bidang-bidang sempit tidak banyak dapat divariasi karena lingkar-lingkar batang jalar.

Selain bentuknya yang murni sebagai Patra Punggeh utuh. Patra Punggel umumnya melengkapi segala bentuk kekarangan (patrapatra dari jenis fauna) sebagai hiasan bagian (lidah naga patra punggel api-apian). Dapat pula divariasi dengan julur-julur dari batang jalar. util sebagai identitas Patra Punggel.Patra Bun-Bunan Dapat bervariasi dalam berbagi jenis flora yang tergolong bun-bunan (tumbuhtumbuhan berbatang jalar). Bagian-bagiannya ada yang disebut batu pohon kupil guling. Patra Pidpid Juga melukiskan flora dari jenis daun bertulang tengah dengan daun-daun simetris yang dapat bervariasi sesuai dengan jenis daun yang dilukiskan penempatannya pada bidang-bidang sempit. ekor singa. Untuk patra tunggal puncak atap yang disebut Bantala pada atap yang bukan berpuncak satu. Patra Punggel Mengambil bentuk dasar liking paku. Untuk hiasan 27 . Dipolakan berulang antara daun dan bunga di rangkai batang jalar. Dapat pula dengan pola mengembang untuk bidang-bidang lebar atau bervariasi/ combinasi dengan patra lainnya. dan hiasan-hiasan. patra punggel Patra Punggel merupakan patra yang paling banyak digunakan. sejenis flora dengan lengkung-lengkung daun muda pohon paku. Pola patern patra punggel merupakan pengulangan dengan lengkung timbal balik atau searah pada gegodeg hiasan sudut-sudut atap berguna.

Patra Samblung Pohon jalar dengan daun-daun lebar dipolakan dalam bentuk patern yang disebut Patra Samblung.atap berpuncak satu dipakai bentuk Murdha dengan motif-motif Kusuma Tirta Amertha Murdha Bajra yang masing-masing juga dilengkapi dengan patra punggel sebagai hiasan bagian dari Karang Goak di sudut-sudut alas Murdha. Ujung-ujung pohon jalar melengkung dengan kelopak daun dan daun-daun dihias lengkung-lengkung harmonis. Serupa dengan Patra Samblung ada patra Olanda. Patra Cina. pura bukit dharma 28 . Patra Pae Mengambil bentuk tumbuh-tumbuhan sejenis kapu-kapu yang dipolakan dalam bentuk berulang berjajar memanjang. Ada pula patra Banci yang bervariasi dari gabungan patra yang dirangkai dalam satu kesatuan serasi dengan mewujudkan identitas baru. Patra Bali masingmasing dengan nama kemungkinan negara asalnya. pura kediri Patra Ganggong Menyerupai bentuk tumbuh-tumbuhan ganggang air yang dipolakan dalam bentuk berulang berjajar memanjang.

penampilan suatu bangunan lebih indah dan menyegarkan pandangan. 29 . berulang. Ragam hias untuk keindahan Umumnya ragam hias dimaksudkan untuk memperindah penampilan suatu bangunan yang dihias. Sela-sela susunan dihias dengan bentuk-bentuk para mas-masan setengah bidang. ungkapan simbol-simbol dan penyampaian komunikasi merupakan maksud dan arti ragam hias pada bangunan-bangunan. Penyajian keindahan.Patra Batun Timun Bentuk dasar serupa biji mentimun yang dipolakan dalam susunan diagonal berulang. Patra Sulur Melukiskan pohon jalar jenis beruas-ruas dengan daun-daun sulur bercabangcabang tersusun. 1. Dengan hiasan. Ketepatan dan keindahan hiasan dapat mempertinggi nilai suatu bangunan. Patra sulur dipolakan pula dalam bentuk tiga jalur batang jalar teranyam berulang. peralatan dan perlengkapan. pura bukit dharma Arti dan Maksud Ragam hias dalam bangunan-bangunan tradisional mengandung arti dan maksud-maksud tertentu.

Pada beberapa bagian keadaan sebenarnya divariasi dengan bentuk-bentuk penyesuaian untuk menampilkan keindahan yang harmonis dengan pola hias keseluruhan. bentuk dan penempatan ragam hias dapat mengungkapkan simbol-simbol yang terkandung padanya. Ukiran fauna pada bidang-bidang relief di dinding. Hiasan serba putih pada wade wadah yang menunjukkan fungsinya. kera.2. patung sebagai bagian dari bangunan berbentuk Bedawang Nala. Sebagai materi hiasan. 30 . Fauna sebagai patung hiasan pada bangunan umumnya mengambil jenis-jenis kera dan ceritera ramayana. 3. FAUNA Dijadikan materi hiasan dalam bentuk-bentuk ukiran. Ragam hias sebagai alat komunikasi Dengan bentuk hiasan yang dikenakan pada upacara atau bangunan-bangunan tertentu dapat diketahui apa yang diinformasikan oleh hiasan yang dikenakan. panil atau bidang-bidang ukiran lainnya umumnya menterapkan ceritra-ceritra rakyat legenda tantri dari dunia binatang. Warna-warna juga merupakan simbol arah orientasi. singa. merah untuk warna kelod. fauna dipahatkan dalam bentuk-bentuk kekarangan yang merupakan pola tetap. relief yang bercariasi dari berbagai macam binatang. naga. merupakan pendekatan dari keadaan sebenarnya. Parung-patung sebagai souvenir umumnya mengambil bentuk-bentuk garuda. kuning untuk warna kauh atau barat putih untuk warna kangin atau timur. Penampilan fauna dalambentuk-bentuk patung-patung bercorak expresionis pada kekarangan bercorak abstrak dan realis pada relief. lengkap dengan huruf-huruf simbol mantra-mantra Fauna sebagai elemen bangunan yang juga berfungsi sebagai ragam hiasan di kenakan sebagai sendi alas tiang dengan bentuk-bentuk garuda. Fauna sebagai hiasan dan juga berfungsi sebagai simbol-simbol ritual ditampilkan dalam bentuk-bentuk patung yang disebut Pratima. kuda. sapi dan binatang ternak lainnya. hitam untuk warna kaja dan penyatuan dua bersisian untuk arah sudut. tatahan atau pepulasan. Ragam hias untuk ungkapan simbolis Dari berbagai macam. Fauna sebagai corak magic. Penterapannya. singa bersayap atau bentuk-bentuk lainnya. Hiasan fauna pada penempatannya umumnya disertai atau dilengkapi dengan jenis-jenis flora yang disesuaikan.

Karang Boma ada yang tanpa tangan ada pula yang lengkap dengan tang dari pergelangan ke arah jari dengan jari-jari mekar. Bentuknya mengambil bentuk gajah yang diabtrakkan sesuai dengan seni hias yang diexpresikan dengan 31 . Hiasan karang sae ditempatkan di atas pintu Kori atau pinti rumah tinggal dan juga pada beberapa tempat lainnya. Kekarangan yang mengambil bentuk-bentuk binatang gajah atau asti. Karang sae umumnya dilengkapi dengan tangan-tangan seperti pada karang boma. Kekarangan atai relief-relief yang dilengkapi pepatraan dari berbagai jenis flora. meninggalkan bentuk sebenarnya dari fauna yang diexpresikan secara abstrak. diturunkan dari ceritra Baomantaka. Penampilannya dilengkapi dengan hiasan flora patra punggel dan patra bun-bunan. Karang Sae Berbentuk kepala kelelawar raksasa seakan bertanduk dengan gigi-gigi runcing.Ragam hias dari jenis-jenis fauna ditampilkan sebagai materi hiasan dalam berbagai macam dengan namanya masing-masing. 1. Karang Boma Berbentuk kepala raksasa yang dilukiskan dari leher ke atas lengkap dengan hiasan dan mahkota. Karang Asti Disebut pula karang gajah karena asti adalah gajah. Bentuk-bentuk penampilannya berupa patung. burung goak dan binatang-binatang khayal primitif lainnya dinamai dengan nama-nama binatang yang dijadikan bentuknya. Ditempatkan sebagai hiasan di atas lubang pintu dari Kori Agung. Karang Boma umumnya dilengkapi dengan patra bun-bunan atau patra punggel. Kekarangan Penampilannya expresionis.

hiasan Karangmanuk yang juga disebut Karang Goak ditempatkan pada sudutsudut bebaturan di bagian atas. Karang Goak umumnya disatukan dengan karang Simbar dari jenis flora yang ditempatkan di bagian bawah Karang Goak. Hiasan flora Patra Punggel melegkapi ke arah sisi pipi asti. Karang asti yang melukiskan kepala gajah dengan belalai dan taring gadingnya bermata bulat. Karang goak dengan paruh atas bertaring dan gigi-gigi runcing mata bulat. Disebut pula karang manuk karena serupa pula dengan kepala ayam dengan penekanan pada paruhnya.bentuk kekarangan. Sesuai dengan kehidupan manuk atau gagak sebagai binatang bersayap. 32 . Sesuai kehidupannya gajah di tanah karang asti ditempatkan sebagai hiasan pada sudut-sudut bebaturan di bagian bawah. Karang Goak sebagai hiasan bagian pipi dan kepalanya dilengkapi dengan hiasan patra punggel. pure kediri Karang Goak Bentuknya menyerupai kepala burung gagak atau goak.

pura kediri Karang Tapel Serupa dengan Karang Boma dalam bentuk yang lebih kecil hanya dengan bibir atas. Hiasan kepala dan pipi mengenakan Patra Punggel. 33 . Karang tapel ditempatkan sebagai hiasan peralihan bidang di bagian tengah. lidah terjulur yang diambil dari jenis-jenis muka yang galak. Ke arah bawah kepala karang simbar dari jenis flora yang disatukan. Gigi datar taring runcing mata bulat dengan hidung kedepan.

Patung Untuk patung-patung hiasan permanen umumnya mengambil bentuk-bentuk dewa-dewa dalam imajinasi manifestasinya. Bentuknya abstrak bibir hanya sebelah atas gigi datar taring runcing lidah terjulur. Hiasan kepala dan pipi Patra Punggel yang disatukan merupakan suatu bentuk kesatuan Karang Bentulu. 34 . Tempatnya di bagian tengah atau bagian pada peralihan bidang di bidang tengah.Karang Bentulu Bentuknya serupa dengan Karang Tapel lebih kecil dan lebih sederhana. raksasa dalam expresi wajah dan sifatnya dan binatang dalam berbagai bentuknya. Karang Simbar dari jenis flora. Hanya bermata satu di tengah tanpa hidung. tepi atau peralihan bidang yang berdekatan atau melengkapi kekarangan dari jenis fauna. manusia dari dunia pewayangan. Karang Bunga dari bunga jenis flora sebagai hiasan-hiasan sudut. Bentuk-bentuk karangan lainnya. Karang Batu dari jenis bebatuan. Benda-benda souvenir dari kerajinan seni ukir ada pula yang mengambil bentuk-bentuk binatang yang umumnya realis naturalis.

Patung Singa Wujudnya singa bersayap yang juga disebut Singa Ambara Raja. Bahannya dari kayu jenis kuat. keras dan awet. juga dalam posisi terbang melayang. Untuk fungsinya sebagai penyanggah tiang tugeh bahannya dari kayu yang diselesaikan tanpa atua dengan pewarnaan. Sesuai dengan penempatannya sebagai sendi tugeh umumnya merupakan Garuda tunggal yang besarnya sekitar empat kali tebal tiang. atau batu karang laut yang putih masif dan keras. Untuk benda-benda souvenir sebagai kerajinan seni ukur Patung Garuda diwujudkan dalam berbagai variasi dan dimensi dari sebesar biji catur sampai setinggi orang tanpa atau dengan pewarnaan. Di atas Patung garuda dilengkapi dengan Patung Angsa. Patung-patung modern ada pula yang kembali ke bentukbentuk primitip untuk elemen penghias atau taman atau ruang. Sesungguhnya tiang tugeh bebas beban sehingga memungkinkan ukiran patung Garuda sebagai alas penyenggahnya. Patung Singa bersayap untuk keagungan keadaan sebenarnya tidak bersayap. Patung singa digunakan pula untuk sendi alas tiang pada tiang-tiang struktur atau tiang-tiang jajar dengan bahan dari batu padas keras. Patung Garuda yang difungsikan sebagai hiasan ruang umumnya lengkap dengan pijakan Naga atau Kura-kura dan naga serta awatara Wisnu sebagai pengendaraannya. Patung singa difungsikan juga untuk sendi alas tugeh seperti patung Garuda. Penempatannya pada bangunan sebagai sendi alas tiang tugeh yang menyangga konstruksi puncak atap.Patung-patung dari jenis-jenis fauna yang dijadikan hiasan atau sebagai elemen bangunan umumnya merupakan patung-patung expresionis yang dilengkapi dengan elemen-elemen hiasan dari jenis-jenis pepateraan. Patung Garuda Wisnu juga diwujudkan untuk pratima yang disakralkan berfungsi ritual. Patung singa bersayap juga dibuat sebagai kerajinan seni ukur untuk benda-benda souvenir dari ukuran kecil untuk hiasan meja sampai ukuran 35 . Patung-patung dari jenis raksasa untuk elemen-elemen hiasan yang seakan yang seakan berfungsi untuk menertibkan. Masing-masing dengan filosofi yang mendukung perwujudan Padmasana. Dalam keadaan sebenarnya tidak bersayap. Patung garuda sebagai hiasan simbolis pada bangunan Padmasana ditempatkan pada bagian sisi ulu batur sari dengan sikap tegak terbang.

Patung-patung singa bersayap ada pula yang disakralkan untuk Pratima sebagai simbol-simbol pemujaan. tanpa atau dengan pewarnaan.b) Bedawang Naga juga sebagai dasar Meru seperti tumpang 11 di Pura Kehen Bangli.besar untuk hiasan ruang. Untuk bale wadah pada upacara Ngaben bagi satria tinggi juga memakai Bedawang Naga sebagai dasar Bade wadah yang disebut Naga Badha. 107 a. ekor menjulang ke atas gelang dan permata di ujung ekor. Sebagai benda-benda souvenir kerajinan seni ukur juga membuat patung-patung Naga dalam ukuran kecil atau besar yang umumnya disatukan dengan patung Garuda atau Garuda Wisnu yang berpijak pada belitan Bedawang Naga. Patung Naga yang membelit Bedawang kura-kura raksasa ditempatkan pada dasar Padmasana (gb. Untuk petualangan sebagai tempat-tempat pembakaran mayat dalam upacara ngaben selain patung lembu. patung singa juga dipakai dengan perwujudan dan hiasan sementara yang ikut terbakar bersama pembakaran mayat di badan Petualangan Patung Singan. Patung naga sebagai penghias bangunan ditempatkan sebagai pengapit tangga menghadap ke depan lekuk-lekuk ekor mengikuti tingkat-tingkat tangga ke arah atas. 36 . Bahannya dari batu padas kelabu atau kayu jenis keras yang awet. rahang terbuka taring gigi runcing lidah api bercabang. Pemakaian patung Naga. bebadong leher antinganting telingan rambut terurai. Patung Naga Perwujudan Ular Naga dengan mahkota kebesaran hiasan gelung kepala. Untuk fungsi ritual Patung Naga bersayap juga digunakan untuk pratima sebagai simbol pemujaan yang disakralkan. Patung Naga sikap tegak bertumpu pada dada. Dalam fungsinya sebagai hiasan dan stabilitas losofis.

Patung Kura-Kura Perwujudan melukiskan Kurakura raksasa yang disebut Bedawang. selalu merupakan kesatuan berbelit dengan Naga atau Bedawang Naga sebagai pijakan Garuda yang dikendarai awataran Wisnu. 207/atas). Kepalanya berambut api hidung mancung. Keempat kakinya berjari lima kuku runcing menerkam tanah. Patung-patung anoman (gb. Sugriwa merupakan patung-patung kera yang banyak dipakai hiasan sebagai bagian dari bangunan seperti pemegang alas tiang jajar bangunan pelinggih. Patung Kera Perwujudannya merupakan kera-kera yang diekspresikan dilukiskan dalam ceritera ramayana. Wajah angker memandang ke arah atas depan berpandangan dengan Naga yang membelitnya. sebagai simbol kehidupan dinamis yang abadi. Kepala Naga di atas kepala bedawang dalam posisi berpandangan galak dinamis. Subali. Untuk hiasan terlepas pada bangunan juga banyak digunakan patung kera dalam bentuk realis dengan bahan kayu atau sabut kelapa untuk dibuat benda-benda souvenir. 37 . Garuda dan Bedawang merupakan kesatuan dalam mitologi yang membawakan filosofi kehidupan ritual. Pemakaian Bedawang tidak berdiri sendiri. gigi kokoh datar bertaring runcing mata bulat.

Penampilan singa dan lembu dari persahabatan jadi permusuhan akibat fitnah anjing ki Patih Sembade. Bedawang naga sebagai stabilitas gerak dinamis kehidupan di bumi dijadikan dasar padmasana atau bade wadah. Garuda bertangan. Gajah bermata bulat dengan deretan ggi rata kura-kura berambut api bentuk-bentuk perwujudan lainnya sesungguhnya tidak ada fauna yang sama seperti itu. FAUNA SEBAGAI SIMBOL RITUAL Penampilannya dalam huungan dengan fungsi-fungsi ritual merupakan simbol-simbol filosofis yang dijadikan landasan jalan pikiran. 38 . Singa bersayap. Penghias ruang menonjolkan bentuk-bentuk keindahan yang disempurnakan ataupun di abstrakkan. Singa ambara atau singa bersayap sebagai simbol ketangkasan dan kekuasaan. Variasi penampilannya untuk keindahan komposisi expresi dan keserasian.Arti Dan Makna Ragam hias dari jenis-jenis fauna selain fungsinya sebagai hiasan juga mengandung arti dan maksud-maksud tertentu untuk beberapa macam hiasan. Garuda wisnu sebagai simbol kesetiaan keyakinan dan ketangguhan. FAUNA SEBAGAI MEDIA EJUKATIF Ragam hias dari jenis-jenis fauna yang ditirukan dari bagian-bagian ceritra tantri sebagai legenda yang telah memasyaratkan mengandung arti dan maksud ejukatif konstruktif. Penampilan cangak meketu sebagai Padandabaka atau bangau yang menyamar sebagai pendeta menipu ikan-ikan untuk dijadikan mangsanya membawa maksud untuk mengingatkan agar kita waspada terhadap segala bentuk penipuan yang berpura-pura baik. Untuk keindahan karakter penampilan sikap-sikap fauna sebagai ragam hias diexpresikan dengan kesan galak. Waspada seperti kepiting yang tenang dengan mata menonjol siap menghukum penipu menyepit leher bangau. Angsa dan burung merak pada patung Saraswati masing-masing sebagai simbol kesucian dan keindahan abadi. angker atau agung mempesona. Pemakaian bahan proses pembuatan dan bentuk-bentuk penampilan membawakan identitas pemakaiannya sebagai ragam hias. Atap Seperti untuk bahan atap digunakan ijuk bagi yang mampu sedangkan yang kurang mampu bisa menggunakan alang-alang atau genting. Pepatraan dari jenis-jenis flora yang melengkapi jenis-jenis fauna untuk keharmonisan kesatuan penampilan beberapa bagian bentuk hiasan. Mengajarkan agar kita jangan muda diadu dengan cara berbagai bentuk fitnah.

kayu cempaka ini termasuk kayu golongan arya. artinya kayu ini biasanya digunakan dalam membuat lambang atau ige-ige .). Jenis Kayu Dan Filosofisnya Yang Digunakan Dalam Pembuatan Rumah Tradisional Bali Rumah tradisional masyarakat Bali memiliki peranan yang sangat penting di dalam kehidupan. gunung. dimana kayu cendana (Santalum album L. kayu majegau (Dysoxylum caulostachyumMiq. Dalam pembuatan rumah tradisonal Bali ini. kayu cempaka ini merupakan kayu peragan bhatara Siwa. hasil wawancara penulis dengan nara sumber. Selain itu. runtuh.) ini digunakan dalam pembuatan pelinggih karena kayu ini 39 . Bagi masyarakat Bali. terdapat hitungan berulang pada jumlah anak tangga. Kayu cendana juga sangat disakralkan oleh masyarakat Bali. kayu yang sering digunakan adalah kayu cempaka (Michelia champaca L. Kemudian bunga dari bunga ini biasanya digunakan untuk keperluan upacara keagamaan. dapat penulis paparkan bahwa ada beberapa jenis kayu yang penting dalam pembuatan rumah. watu. Adapun jenis kayu tersebut adalah: Kayu yang digunakan untuk Pura (Parhayangan) Kayu yang digunakan untuk pelinggih atau Parhayangan adalah kayu yang dianggap spesial bagi masyarakat Bali. gunung untuk bangunan yang diagungkan dan runtuh dihindari karena bangunan tidak akan memberikan kebahagiaan. dan kayu cendana (Santalum album L.Tangga Dalam Asta Kosala-Kosali yang diyakini masyarakat. Hitungannya adalah sebagai berikut. rubuh atau ada juga hitungan undag.) banyak digunakan dalam pembuatan pelinggih karena kayu ini memiliki aroma yang wangi.). para undagi biasanya akan menggunakan kayu-kayu yang berbeda sesuai dengan tempatnya dalam rumah tersebut. Undag diperuntukkan bagi bangunan rumah dan kadang-kadang dipergunakan juga hitungan watu. dimulai dari bawah keatas. Menurut klasifikasi kayu menurut masyarakat Bali. (Klasifikasi terlampir.) Kayu cempaka (Michelia champaca L. karena ada makna terpenting yang terkandung kayu tersebut. undag. gunung. mendirikan sebuah rumah sangat mementingkan keseimbangan dan keselarasan dengan alam.). dan kayu yang pohonnya yang sudah usianya lebih dari 10 tahun. Biasanya yang diguanakan adalah jenis cempaka kuning.

Sehingga jenis kayu yang digunakan pun berbeda. kayu cendana ini termasuk golongan kayu prabu. Selain itu. Kayu yang digunakan untuk perumahan (Bale Pesarean) Kedudukan Bale Pesarean dalam sistem perumahan di Bali lebih rendah dibandingkan dengan kedudukan Parhayangan atau Pelinggih. dan tahan terhadap serangan rayap. dan lainnya.). Dalam klasifikasi kayu menurut orang Bali.) digunakan karena memiliki struktur kayu yang sangat kuat. sehingga biasanya digunakan dalam membuat langit-langit (kayu prabu). Sama halnya dengan kayu jati dan kayu nangka. Kayu jati (Tectona grandis L. Adapun jenis-jenis kayu yang dapat digunakan dalam pembuatan bale pesarean adalah jenis kayu jati (Tectona grandis L. dimana kayu ini merupakan peragan dari bhatara Paramasiwa. Kayu ini digolongkan kedalam jenis kayu Demung. Sama halnya dengan kayu jati. artinya kayu ini biasanya digunakan dalam pembuatan saka. mengingat kayu nangka ini memiliki struktur yang sangat kuat dan tidak terlalu berat seperti kayu jati. merupakan peragandari Sadasiwa. kayu nangka (Artocarpus integra merr. Kayu majegau ini dalam pembuatan pretima. kayu sentul juga banyak digunakan dalam pembuatanbale pesarean.). kayu cendana ini juga dapat digunakan dalam pembuatan pratima.menghasilkan aroma yang sangat wangi. Kayu sentul ini digolongkan kedalam golongan kayu pangalasan.). Kayu jati ini termasuk golongan kayu patih. kayu nangka (Artocarpus integra merr. sehingga kokoh untuk menopang bangunan. mengingat kayu ini memiliki struktur yang kuat dan tahan terhadap serangan rayap. artinya kayu ini biasanya digunakan untuk membuat langit-langitdalam suatu pelinggih. sehinngga kayu ini bagus untuk digunakan di tempat-tempat suci. Dimana kayu ini banyak digunakan karena kayu ini memiliki aroma yang sangat wangi.) juga banyak digunakan dalam pembuatan bale pesarean. sentul. kayu jati ini juga terkenal sebagai kayu yang awet. Kayu yang digunakan untuk dapur (Paon) Dapur (paon) yang merupakan bagian dari suatu perumahan memiliki tempat tersendiri dan juga dalam pembuatannya menggunakan kayu yang berbeda dengan kayu yang 40 . Dimana kayu ini biasanya digunakan untuk membuat sesaka. Selain digunakan dalam pembuatan pelinggih. Jenis kayu yang tidak kalah penting yang diguankan dalam pembuatan pelinggih adalah kayu majegau (Dysoxylum caulostachyum Miq.

).digunakan dalam membuat pelinggih maupun bale pesarean. Bale paruman di Anjungan Bali difungsikan sebagai tempat penjulan benda-benda kerajinan khas Bali. seperti rapat bulanan.). Kemudian ada bangunan sanggah penunggu karang tempat persembahan sesaji kepada Banaspati agar wilayah jaba tengahterlindung dari marabahaya. dan digunakan dalam membuatlambang atau ige-ige. Pintu gerbang berupa candi bentar diapit patung Hanoman dan Hanggada dari epos Ramayana sebagai penolak bala.) Kayu ini dapat digunakan karena kayu ini memiliki struktr kayu yang sangat kuat dan tahan lama. Kayuwangkal digolongkan kedalam kayu prabu. yaitu sebuah pintu untuk para tamu agung.) Amsh. Di sisi timur terdapat bale wantilan/pengambuhan sebagai tempat kegiatan masyarakat. Dan kayu juwet termasuk kedalam golongan kayu mantri. Kondisi Anjungan Bali Di TMII Anjungan Bali tampil dalam bentuk lingkungan perumahan tradisional Bali di atas tanah seluas 8. Jenis kayu yang biasanya digunakan adalah jenis kayu wangkal(Abizia procera Roxb. Di sisi kanan-kiri kori agung terdapat patung Laksmana dan Rama sebagai lambang keramahtamahan dan kebijaksanaan. pertemuan muda-mudi. Di sisi barat terdapat bale paruman sebagai tempat musyawarah keluarga dan untuk mempersiapkan sesaji menjelang upacara keagamaan. ditata berdasar pola arsitektur tradisional yang bersumber pada Lontar Astha KosalaKosali yang di dalamnya mengandung falsafah tri hita karana.). kayu klampuak (Syzygium zollingeriamun(Miq. dan digunakan dalam membuat langit-langit atau atap. serta faktor agama yang sangat memiliki peranan penting. pada umumnya masyarakat Bali memilih kayu berdasarkan wangi dari kayu. Pada bagian atas pintu terdapat patung Kala 41 . latihan menggamel dan menari sekaligus sebagai tempat pentas. Kayu klampuak termasuk golongan jenis kayu patih dimana digunakan dalam membuat saka atau tiang penyangga. kekokohan kayu tersebut. Di depan candi bentar terdapat bale benggong yang berfungsi sebagi tempat istirahat dan bersantai sambil melihat suasana sekitar. (Klasifikasi terlampir. karena itu letaknya lebih tinggi dan berbentuk panggung. dibatasi tembok keliling (penyengker).. Sebagai pemisah ruang jaba dengan ruang dalam berdiri kori agung. Bangunan model puri. kayu juwet (Syzygium cumini Linn. Dari semua paparan mengenai jenis kayu yang digunakan dala pembuatan perumahan tradisional Bali.000 m2.

bagian tengah untuk istirahat para petani. dulu berfungsi sebagai tempat membaca Weda tetapi sekarang menjadi tempat belajar. Di belakang kori gelung terdapat tembok aling-aling sebagai penolak bala agar orang yang masuk ke ruang itu berpikiran suci. Pada bagian ini terdapatsanggah pengijeng. 42 . terdiri dari Kalan Taka dan Bojan Taka. Tempat memasak disebut bale poan/pratenan. Pintu masuk berupa kori gelung. serta barang berharga lainnya. tempat tidur anak gadis yang belum menikah dan untuk menyimpan benda pusaka. Bangunan lain adalah bale loji. seperti keris dan tombak. raksasa berkepala singa. digunakan sebagai tempat istirahat setelah bekerja dan menjadi tempat menginap tamu ketika berlangsung upacara keagamaan. raksasa berkepala gagak. Bale jineng memiliki tiga bagian: bagian atas digunakan untuk menyimpan padi.rong telu atau sanggah kamulan. Di balik kori agung terdapat bale aling-aling. yang di depannya berdiri patung Duara Kala.Boma dengan wujud menyeramkan sebagai lambang kesuburan. dan sanggah pangaruman. padma sari. Merajandikelilingi penyengker. Di sebelah kiri bale aling-aling berdiri bale rangki untuk menyimpan perlengkapan upacara. Setiap bangunan puri selalu dilengkapi merajan atau sanggah yang tidak setiap orang boleh masuk. dan bagian bawah untuk menyimpan peralatan pertanian. yaitu upacara yang berkait dengan daur hidup manusia. dan patung Guakse. Di ruang merajan tedapat bangunan balai piasan. Di sebelah kanan berdiri bale gede sebagai tempat pelaksanaan upacara manusa yadnya. yaitu tempat persembahan sesaji kepada Dewa Gede Pengadangan yang dilakukan setiap hari sebelum memulai kegiatan sehari-hari. Di sebelahnya ada bale dauh atau bale singgasari sebagai tempat jejaka atau anak laki-laki yang belum menikah. sanggah nerurah agung. Di sisinya terdapat patung Moangse. Di sisi selatan berdiri bale gedong.

Arsitek.com http://kratonpedia.Dulu.Warisan.html 43 .isi-dps.google.Tempo..html http://www.Bali.ac.Sumber: http://www.blogspot.blogspot.com/_aFqmPJpwxu0/S_ID0fhRQyI/AAAAAAAAAI8/eGVdyK8KUF8/s1600/H anoman+Putih+1.bp.com/articledetail/2011/7/1/89/Rumah.Adat.jpg http://vano-architect.id/berita/keketusan-pepatraan-dan-kekarangan http://3.com/2010/09/estetika-arsitektur-bali.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful