P. 1
Pendahuluan.docbak

Pendahuluan.docbak

|Views: 908|Likes:
Published by Made Arjana

More info:

Published by: Made Arjana on Jan 04, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/10/2013

pdf

text

original

Sections

  • 1.1 Latar belakang
  • 1.2 Perumusan Masalah
  • 1.3 Tujuan Penelitian
  • 1.4 Ruang Lingkup Penelitian
  • 1.5.1Studi pustaka
  • 1.5.2Pengumpulan Data
  • 1.5.3Analisa Sistem
  • 1.5.4Perancangan Sistem
  • 1.5.5Implementasi Sistem
  • 1.5.6Uji Coba dan Evaluasi Sistem
  • 1.5.7Penyusunan Laporan
  • 2.1 Definisi Sistem Pakar
  • 2.2 Struktur Sistem Pakar
  • 2.3.1. Basis Pengetahuan
  • 2.3.2.1. Forward chaining
  • 2.3.2.2. Backward chaining
  • 2.4 CVT (Continuously Variable Transmission)
  • 2.5.1 DFD (Data Flow Diagram)
  • 2.5.2 ERD (Entity Relationship Diagram)
  • 3.1.1 Input
  • 3.1.2 Output
  • 3.2 Analisa Proses
  • 3.3 Analisa Antarmuka
  • 3.4 Analisa Struktur Sistem Pakar
  • 3.5 Analisa Struktur Basis Pengetahuan
  • 3.6.1 Diagram Konteks
  • 3.6.3 DFD Level 1 Proses Konsultasi
  • 3.6.4 DFD Level 1 Proses Representasi Pengetahuan
  • 3.6.5 DFD Level 1 Proses Pencetakan
  • 3.6.6 DFD Level 2 Proses Inferensi Forward Chaining
  • 3.6.7 DFD Level 2 Proses Backward Chaining
  • 3.6.8 ERD (Entity Relationship Diagram)
  • 3.6.9 Koseptual Database
  • 3.6.10 Struktur Basis Data
  • 3.6.11 Diagram Alir Proses Input Data
  • 3.6.12 Diagram Alir Pengubahan Data
  • 3.6.13 Diagram Alir Penghapusan Data
  • 3.6.14 Diagram Alir Konsultasi Forward Chaining
  • 3.6.15 Diagram Alir Proses Backward Chaining
  • 3.7.1 Struktur Menu Pengguna Umum
  • 3.7.2 Struktur Menu Administrator
  • 4.1 Sistem Pendukung
  • 4.2.1Halaman Utama
  • 4.2.2Halaman Konsultasi
  • 4.2.3Halaman Pemilihan Jenis Kendaraan
  • 4.2.4Halaman Konsultasi Forward Chaining
  • 4.2.5Halaman Konsultasi Backward Chaining
  • 4.2.6Halaman Login
  • 4.2.7Halaman Admin / Halaman Pengaturan
  • 4.2.8Halaman Pengelolaan Data Motor
  • 4.2.9Halaman Pengelolaan Basis Pengetahuan
  • 4.2.10Halaman Pengelolaan Rule
  • 4.2.11Pengaturan Account
  • 4.2.12Hasil Konsultasi Forward Chaining
  • 4.2.13Hasil Konsultasi Backward Chaining
  • 5.1 Kesimpulan
  • 5.2 Saran

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar belakang Dunia teknik dewasa ini semakin berkembang seiring berkembangnya teknologi, hal itu terlihat pula pada industri otomotif terutama pada industri otomotif roda dua / sepeda motor. Dari tahun ke tahun produsen kendaraan roda dua selalu melakukan inovasi terhadap produk – produk yang mereka produksi. Bila kita amati, perkembangan sepeda motor dewasa ini mengikuti trend kenyamanan dalam berkendara, terbukti dari dikeluarkannya motor dengan teknologi CVT (Continuously Variable Transmition) yang merupakan teknologi percepatan transmisi secara berkelanjutan sesuai dengan kecepatan putaran mesin. Berkat penggunaan teknologi CVT pengendara tidak direpotkan dengan pengoperasian tuas perseneleng (otomatis) yang sering kali membingungkan dan menyulitkan pengendara pemula. Dengan kenyamanan yang ditawarkan, kendaraan dengan teknologi CVT / Transmisi Otomatis merupakan pilihan yang tepat bagi pengguna yang menginginkan kenyamanan berkendara. Teknologi CVT merupakan teknologi yang baru diterapkan pada kendaraan roda dua dimana teknologi ini menggunakan komponen dan mekanisme kerja yang berbeda dengan transmisi konvensional, transmisi dengan menggunakan teknologi CVT secara garis besar memanfaatkan perubahan diameter pully yang secara dinamis dapat membesar dan mengecil sesuai dengan

2

gaya sentrifugal yang dihasilkan oleh roller – roller yang terdapat didalam pully sehingga terjadilah perubahan kecepatan. Sedangkan pada transmisi konvensional terdiri dari susunan beberapa roda gigi yang tersusun sedemikian rupa dan tidak terdapat mekanisme penggerak secara otomatis didalamnya (digeser secara manual). Dari perbedaan mekanisme dan komponen pendukung, tentunya kendaraan dengan teknologi CVT memerlukan perawatan yang berbeda dengan kendaraan yang menggunakan transmisi konvensional. Dengan teknologi yang relatif baru dan fitur-fitur yang diberikan juga lebih menyamankan pengguna, menyebabkan cara perawatan yang sedikit berbeda dengan kendaraan konvensional lainnya yang tentunya akan memerlukan waktu beberapa lama untuk memahami tentang teknologi CVT, dan sesuai pengalaman penulis tidak semua teknisi mengerti dalam menangani motor dengan transmisi berteknologi CVT. Untuk menutupi kekurangan tersebut, maka munculah ide penulis untuk mengembangkan sebuah sistem pakar / expert system yang mampu memberikan diagnosa sehubungan dengan permasalahan yang timbul pada sepeda motor dengan teknologi CVT yang tentunya berdasarkan pengetahuan yang dimiliki oleh kepala teknisi resmi dari brand sepeda motor tersebut, sehingga pengetahuan yang diberikan kepada sistem terjamin kebenarannya. Dengan adanya sistem pakar yang mampu mendiagnosa masalah yang terjadi pada sepeda motor dengan transmisi otomatis / CVT, diharapkan terjadi pendokumentasian ilmu yang dimiliki oleh pakar sehingga ilmu tersebut dapat dimanfaatkan oleh orang lain / lembaga lain yang membutuhkan, seperti

3

untuk keperluan pengajaran pada Sekolah Menengah Kejuruan Jurusan Teknik Otomotif, teknisi junior yang baru bekerja, maupun teknisi – teknisi yang ingin mendalami teknologi CVT, sistem ini dapat dijadikan salah satu referensi pengetahuan.

1.2

Perumusan Masalah Dari pemaparan diatas, dapat dirumuskan permasalahan yaitu bagaimana merancang dan membangun sebuah sistem pakar untuk mendiagnosa kerusakan pada sepeda motor matic.

1.3

Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian ini adalah membangun sebuah sistem pakar / expert system yang bertujuan : a) Melakukan trouble shooting seputar masalah sepeda motor dengan teknologi CVT (Automatic Transmission). b) Meringankan beban pakar dalam hal intensitas pekerjaan, sehingga seorang pakar dapat melakukan pekerjaan yang lebih penting. c) Mendokumentasikan pengetahuan pakar agar dapat dipelajari oleh orangorang yang belum pakar.

namun hal ini setidaknya dapat dijadikan acuan awal dalam melakukan trouble shooting. . g) Arsitektur aplikasi yang akan dibangun berupa aplikasi desktop. b) Hasil yang akan diberikan oleh sistem hanya berupa solusi. dengan “ya” atau “tidak” sebagai jawabannya pada metode penelusuran forward chaining.4 Ruang Lingkup Penelitian Untuk memfokuskan pembahasan. bukan merupakan jawaban pasti / mutlak. f) Output dari sistem ini berupa informasi diagnosa kerusakan dan cara menangani kerusakan yang nantinya dapat dicetak / print out. maka ruang lingkup dalam penelitian ini dibatasi pada : a) Sistem melakukan diagnosa permasalahan yang terjadi pada sepeda motor berteknologi CVT atau yang lebih dikenal dengan motor matic dengan mengkhususkan pada bagian transmisi / CVT.4 1. d) Diagnosa dilakukan dengan cara tanya jawab antara user dan sistem. c) Proses diagnosa kerusakan akan dibagi berdasarkan merk dan tipe motor yang bersangkutan / yang diinginkan oleh pengguna. e) Metode yang dipergunakan adalah forward chaining dan backward chaining.

1. antara lain : 1.3 Analisa Sistem Pada tahap ini penulis melakukan analisa terhadap kebutuhan sistem berdasarkan hasil studi pustaka yang telah dilakukan sebelumnya. .1 Studi pustaka Studi pustaka dilakukan untuk mendalami ilmu tentang sistem pakar beserta teori – teori yang melandasi sistem pakar tersebut. penulis menggunakan beberapa metode dalam melakukan penelitian. Pada tahapan ini pula ditentukan ruang lingkup sistem yang akan dibangun. 1.5 1.5.5.5 Metodologi Penelitian Untuk melakukan penelitian. selain itu studi pustaka juga merupakan cara yang paling mudah dalam mendapatkan data mengenai obyek yang dijadikan penelitian yakni motor berteknologi CVT.5.2 Pengumpulan Data Pada tahapan ini dilakukan pengumpulan data dari beberapa pakar yang berkompeten di bidang otomotif khususnya motor berteknologi CVT untuk mengumpulkan data-data yang yang nantinya dapat digunakan sebagai acuan dalam perancangan dan pembangunan sistem.

5 Implementasi Sistem Pada tahapan ini dilakukan pengimplementasian sistem yang telah dirancang sebelumnya.4 Perancangan Sistem Pada tahap ini dilakukan pemodelan terhadap sistem yang akan dibangun. pada tahap ini dibuatkan blue print atau gambaran sistem secara abstrak dengan menggunakan DFD.6 Uji Coba dan Evaluasi Sistem Pada tahapan ini dilakukan uji coba sistem yang telah selesai dibangun oleh pengguna. ERD serta konseptual database sehingga diperoleh gambaran tentang alur kerja sistem nantinya. 1.5.5. 1.6 1.7 Penyusunan Laporan Pada tahap ini semua aktivitas penelitian ini akan dicatat dalam sebuah laporan skripsi yang nantinya akan dipertanggung jawabkan pada saat ujian skripsi. 1.5. Pada tahap ini pula dilakukan debugging terhadap kode sistem untuk diketahui hasil coding yang telah dilakukan. .5.

Keuntungan dari sistem pakar antara lain : 1. 2008).7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Tujuan Artificial Intelligence adalah membuat sesuatu menjadi cerdas dalam hal pemahaman. melalui program komputer yang merepresentasikan perilaku cerdas kedalam mesin (Citra Effendi.. 3. Salah satu metode yang paling umum digunakan untuk merepresentasikan pengetahuan adalah dalam bentuk tipe aturan “Jika. maka system pakar dapat bekerja secara terus menerus dan konsisten.. Dokumentasi .1 Definisi Sistem Pakar Sistem pakar adalah program komputer yang merupakan cabang dari penelitian ilmu komputer yang disebut Artificial Intelligence (AI). Konsisten Karena merupakan mesin yang memiliki kemampuan pakar. 2.THEN). Ketersediaan Sistem pakar merupakan software yang dapat dengan mudah digandakan sehingga dapat menangani lebih banyak pemakai.Maka” (IF.

Designing (Perancangan). Untuk mendapatkan pengetahuan dari seorang pakar. Regulating (Pengaturan). metode ini melibatkan pembicaraan secara langsung dengan pakar sehingga didapatkan pengetahuan secara pasti langsung dari pakar. Planning (Perencanaan). tentunya diiringi dengan perawatan sistem secara berkesinambungan. dan Tutoring (Pelatihan) (Muslimah.8 Pengetahuan yang dimiliki oleh sistem pakar tidak bisa hilang karena tersimpan dalam sebuah basis pengetahuan yang berupa database. Wawancara Metode ini paling banyak digunakan. 2. Adapun aktivitas pemecahan masalah yang dimaksud antara lain : Decission Making (Pembuatan Keputusan). 2009). diperlukan akuisi pengetahuan yang dilakukan dengan cara sebagai berikut : 1. Kemampuan sistem pakar yang dibangun dipengaruhi basis pengetahuan yang didapatkan dari pakar yang menjadi sumber pengetahuannya yang berupa pengetahuan non formal yang sebagian besar berasal dari pengalaman dari suatu bidang keahlian tertentu yang telah ditekuni secara mendalam (Arhammi. Forecasting (Perkiraan). Knowledge Fusing (Pemaduan Pengetahuan). Pada dasarnya sistem pakar diterapkan untuk mendukung aktivitas pemecahan masalah yang dihadapi oleh pengguna sistem tersebut. Analisis Protokol . Controlling (Pengendalian). Advising (Diagnosis Nasehat). 2005).

Induksi Aturan dari Contoh Metode ini dibatasi sistem berbasis aturan. Suatu sistem induksi aturan diberi contoh – contoh dari suatu masalah yang hasilnya telah diketahui. 4. 2. pakar diminta melakukan suatu pekerjaan sambil menjelaskan apa yang menjadi pemikirannya dengan kata – kata. yaitu lingkungan pengembangan dan lingkungan konsultasi. 2009).3 Arsitektur Sistem Pakar . 3. Observasi Dalam metode ini dilakukan pengamatan secara langsung terhadap pekerjaan pakar. semua proses tersebut kemudian direkam dan dianalisa. Induksi adalah suatu proses penalaran dari khusus ke umum. Pembagian lingkungan ini akan terlihat bila sistem telah dibangun secara lengkap (Muslimah. 2.2 Struktur Sistem Pakar Lingkungan pada sistem pakar dapat dibagi menjadi dua bagian. Lingkungan pengembangan digunakan untuk melakukan perawatan terhadap pengetahuan yang dimiliki oleh sistem.9 Dalam metode ini. lingkungan ini lebih banyak digunakan oleh Knowledge Engineer / Administrator sistem.

dan penyelesaian masalah yang tentu saja dibatasi pada domain tertentu yang ditetapkan oleh perancang sistem pakar. 1. karena penalaran .3. bisa bernilai salah sedangkan THEN melambangkan tindakan yang dilakukan jika kondisi bernilai benar. Bila membicarakan mesin inferensi.10 2. 2.3. 2. rule direpresentasikan dengan aturan berbentuk IFTHEN.2 Mesin Inferensi Mesin inferensi adalah program komputer yang mengikuti suatu algoritma tertentu yang memberikan metodologi untuk penalaran tentang informasi yang ada dalam basis pengetahuan dan dalam workplace dan untuk memformulasi kesimpulan (Arhammi 2005). Basis Pengetahuan Basis pengetahuan berisi pengetahuan-pengetahuan. pemahaman. formulasi. IF melambangkan kondisi dimana kondisi tersebut bisa bernilai benar. tentu tidak terlepas dari metode inferensi. metode inferensi / metode penalaran merupakan topik yang sangat penting dalam sistem pakar. Rule Rule merupakan aturan-aturan yang membentuk basis pengetahuan yang dimiliki oleh sistem. Didalam basis pengetahuan terdapat dua elemen pembentuk yaitu fakta dan aturan.1. Fakta Fakta merupakan data yang menyatakan sebuah objek gejala yang menjadi petujuk untuk menyusun rule atau aturan.

dan pada kesempatan ini penulis akan menggunakan metode forward chaining dan backward chaining.2.2. Forward chaining Metode ini melakukan pencarian atau pelacakan berdasakan fakta – fakta yang ditemukan untuk kemudian menemukan solusi dari permasalahan yang dihadapi. Metode penalaran ini digunakan bila user sama sekali tidak mengetahui / memiliki gambaran tentang permasalahan yang sedang dihadapinya. Backward chaining Metode ini melakukan trace / pelacakan kembali dari hipotesa yang dilakukan user untuk menemukan fakta – fakta yang menjadi pendukung hipotesa tersebut. 2008).3.1. 2. .2. 2. Ada banyak metode inferensi yang digunakan pada sistem pakar. Metode penalaran forward chaining dimulai dengan menentukan aturan mana yang akan digunakan dalam menguji hipotesis.11 adalah teknik yang umum digunakan dalam sistem pakar untuk menyelesaikan masalah (Citra Effendi. Metode ini mendukung dugaan user dengan memberikan alasan terhadap hasil hipotesa serta memberikan solusi yang dapat digunakan oleh user untuk memecahkan masalah yang dihadapi.3. Untuk mencapai hasil hipotesis dilakukan penelusuran dengan menggunakan logika IF-THEN secara berulangulang sampai ditemukan kesimpulan yang cocok dengan kondisi / fakta-fakta yang sesuai dengan jawaban user.

yang pertama adalah drive face karena puli ini bertautan dengan crank shaft secara langsung sehingga mendapatkan tenaga mesin secara langsung. drive face ini bertugas menggerakkan puli kedua yang disebut dengan driven face melalui v-belt / sabuk penggerak untuk kemudian menyalurkan tenaga mesin ke roda belakang. Pada CVT terdapat dua buah puli. 2007). Mekanisme ini terdapat pada driven face yang berupa torque cam. Pemberat inilah yang nantinya bertugas untuk mendesak moveable drive face untuk bergerak mendekati fixed drive face. Bila terjadi percepatan secara tiba – tiba atau beban berlebih. torque cam menekan belahan driven face / moveable driven face sehingga diameter driven . pergerakan ini menyebabkan v-belt terdesak menjauhi pusat putaran dan diikuti pula oleh diameter puli driven face yang mengecil akibat perubahan diameter yang terjadi pada drive face. CVT akan mengantisipasi dengan ikut merubah perbandingan reduksi dengan cepat melalui mekanisme kick-down yang memperbesar perbandingan reduksi secara instant.12 2. Dimana diameter puli tersebut dapat berubah – ubah secara dinamis sesuai dengan putaran mesin.4 CVT (Continuously Variable Transmission) CVT merupakan teknologi perpindahan tenaga dengan menggunakan dua buah puli yang dihubungkan dengan sebuah V-belt (2W Training Dept. maka pada drive face dilengkapi dengan centrifugal weight / pemberat yang berbentuk silinder. Untuk merubah perbandingan reduksi yang terjadi.

maka semakin banyak komponen yang memiliki usia pakai yang pendek / fast moving component yang berimbas pada frekuensi timbulnya masalah pada CVT menjadi semakin sering disamping kerusakan pada komponen sepeda motor yang lainnya. semakin banyak komponen yang bergerak pada sistem tranmisi. penulis terlebih dahulu melakukan pemodelan terhadap sistem yang akan dibangun.5.. 2. Seperti yang penulis paparkan diatas.5 Alat Bantu Pemodelan Sistem 2. dimana komponen pendukung CVT sangatlah banyak dan kebanyakan merupakan komponen bergerak. pada kesempatan ini penulis menggunakan standar DFD Yourdon. Dalam DFD ini terdapat beberapa simbol yang digunakan antara lain : Terminator / Entitas luar . penulis menggunakan pemodelan sistem yang berdasarkan aliran data yang lebih dikenal dengan nama Data Flow Diagram (DFD). Untuk mempermudah dalam mendesain sistem.13 face bertambah dan menyebabkan perbandingan reduksi bertambah pula (Yamaha co. ltd.1 DFD (Data Flow Diagram) Sebelum mulai membangun sistem ini. 2003).

Aliran Data / Data Flow Gambar 2.2 Simbol Aliran Data Aliran Data yang disimbolkan dengan tanda panah merepresentasikan arah data atau informasi yang mengalir dari terminator menuju proses dalam sistem maupun aliran data di dalam sistem itu sendiri.3 Simbol Proses .14 Gambar 2. Proses Gambar 2.1 Simbol Entitas Luar Sistem Entitas luar sistem adalah penerima informasi / output dari sistem ataupun pemberi data / input kepada sistem.

2. Suatu proses dapat terdiri dari beberapa sub proses yang dapat di-levelkan / dipecah dalam beberapa level proses tergantung kompleksitas dari proses tersebut.2 ERD (Entity Relationship Diagram) Untuk memodelkan bentuk database. Simbol Entitas / Entity . Penyimpanan Data / Data Store Gambar 2.5. Hasil pemodelan dengan ERD ini nantinya akan merepresentasikan struktur tabel dalam database pada proses implementasi sistem. Berikut ini adalah simbol-simbol yang sering dipergunakan pada standar ERD Martin : a.15 Proses menggambarkan prosedur-prosedur yang berjalan didalam sistem. Pada kesempatan ini penulis menggunakan standar ERD Martin. dalam hal ini merujuk pada tabel-tabel yang digunakan oleh prosedur-prosedur yang melakukan pengolahan data. penulis menggunakan ERD sebagai alat bantu pemodelan.4 Simbol Penyimpanan Data / Data Store Data Store menggambarkan database yang digunakan sebagai penyimpanan data dalam sistem.

akan memudahkan kita untuk menentukan penempatan field kunci / primary key dalam tabel nantinya. b. Dengan menggambarkan dalam bentuk grafik.16 Gambar 2.5 Alat Bantu Pembangunan Sistem 2. 2.5.6 Simbol Derajat Relasi Masing-masing entitas dihubungkan dengan garis untuk melambangkan hubungannya. Visual Studio 6 menjadi pilihan karena kemampuannya yang sudah teruji dan terbukti sebagai tools pemrograman yang cukup handal dan masih relevan terhadap perkembangan software dewasa ini.5 Simbol Entitas Dalam ERD Martin Entitas merupakan individu yang mewakili sesuatu yang nyata (eksistensinya) dan dapat dibedakan dari individu yang lainnya. Simbol Derajat Relasi Gambar 2.1 Microsoft Visual Studio 6. Entitas nantinya akan diterjemahkkan kedalam bentuk tabel dalam database.0 Dan SQL Server 2000 Untuk membangun sistem tersebut penulis menggunakan Visual Basic 6 sebagai bahasa pemrograman. .

dan SQL Server For Windows CE Edition (Choirul. 2003). SQL Server Desktop Engine.17 Dalam pengembangan aplikasi. serta berbagai macam kontrol yang ada didalamnya. ADO merupakan antar muka pengaksesan data yang digunakan untuk mengakses data pada berbagai DBMS (Djuandi. SQL Server Standart Edition. Visual Studio 6 memiliki IDE (Integrated Development Environment) yang menggunakan pendekatan visual untuk merancang user interface dalam bentuk form. SQL Server 2000 telah didukung sepenuhnya oleh Visual Studio 6 melalui teknologi ADO yang diimplementasikan pada ADODC (ADO Data Control). SQL Developer Edition. Beberapa versi SQL Server 2000 antara lain : SQL Server Personal Edition. Dengan segala kelebihan yang penulis paparkan diatas. maka penulis memilih software-software diatas sebagai alat pengembangan sistem ini dengan harapan proses pengimplementasian sistem dapat dilakukan dengan baik. SQL Server Enterprise Edition. Visual Studio 6 sudah mendukung akses database ke berbagai server database dengan penggunaan teknologi ADO (ActiveX Data Object). . 2002). salah satunya adalah SQL Server 2000. button. SQL Server 2000 adalah salah satu RDBMS yang cukup populer di dunia saat ini. sedangkan untuk coding menggunakan bahasa basic yang cenderung mudah untuk dipelajari.

data rule.18 BAB III ANALISA DAN PERANCANGAN SISTEM 3.1 Input Data yang masukkan kedalam sistem oleh administrator adalah data fakta.2 Output . dan data type motor. data kerusakan. Sedangkan data yang diberikan oleh pengguna kepada sistem adalah jawaban. Adapun data-data yang dimaksud adalah sebagai berikut : 3. data solusi. Perancangan data disini merupakan awal dari perancangan sistem karena dengan menetapkan standar data yang diproses.1.1 Analisa Data Analisa data yang dimaksud disini adalah perancangan format data yang keluar (output) dan masuk (input). dan pilihan kerusakan 3.1. kita dapat dengan mudah menentukan algoritma / alur kerja sistem yang akan dibangun. data merk motor.

Analisa proses ini penulis rangkum dalam sebuah diagram arus data (Data Flow Diagram) yang penulis tampilkan pada sub bab berikutnya. output ini nantinya berupa informasi kerusakan dan solusi baik berupa informasi digital maupun berupa hard copy atau cetakan kertas. Antarmuka sistem terbagi menjadi dua bagian yaitu antarmuka pengembangan dan antarmuka konsultasi. knowledge base merupakan inti dari sistem pakar ini dan mesin inferensi merupakan penerjemah pengetahuan yang ada pada knowledge base.4 Analisa Struktur Sistem Pakar Sistem pakar terbagi dalam dua bagian utama dalam pembuatannya.3 Analisa Antarmuka Analisa antarmuka bertujuan untuk mengidentifikasi gambaran awal tentang tampilan sistem pada masing-masing proses. Adapun . Dengan demikian pada saat implementasi sistem akan lebih mudah diimplementasikan. mulai dari proses input sampai proses output.2 Analisa Proses Analisa proses bertujuan untuk mengidentifikasi proses-proses yang akan dipergunakan oleh sistem dalam operasionalnya.19 Sistem memproduksi output berdasarkan data-data yang telah dimasukkan kedalam sistem. 3. 3. 3.

3.5 Analisa Struktur Basis Pengetahuan Pengetahuan yang dimiliki oleh sistem dapat penulis gambarkan secara visual dengan menggunakan diagram tree. Sedangkan pada proses penelusuran dengan metode backward chaining penelusuran dimulai dari simpul hipotesa kemudian mengikuti path / jalur sampai dipuncak diagram. gejala yang merupakan ciri-ciri hipotesa . Yang berbeda hanyalah spesifikasi gejala yang harus dibuktikan pada masing-masing merk dan tipe. Hal yang perlu penulis jelaskan disini adalah struktur basis pengetahuan ini merupakan struktur yang sama untuk semua merk dan tipe motor. Pada proses penelusuran dengan metode forward chaining penelusuran dimulai dari puncak diagram kebawah menuju simpul yang merupakan hipotesa. sedangkan spesifikasi kerusakan untuk semua merk sama sehingga penulis hanya melapirkan satu buah diagram tree dengan empat buah tabel gejala dengan spesifikasi yang berbeda sesuai dengan merk dan tipe motor dan satu buah tabel kerusakan. Pada diagram tree gambar lingkaran melambangkan gejala dan segi empat melambangkan hipotesa. dibawah ini adalah diagram tree untuk struktur pengetahuan pada sistem pakar.20 pada knowledge base berupa tabel-tabel fakta dan kerusakan yang direlasikan dengan tabel rule.

1 Diagram Tree Basis Pengetahuan . Gambar 3.21 tersebut merupakan node yang memiliki jalur kebawah dengan tanda “Y” sedangkan yang memiliki tanda “T” dapat diabaikan.

1 Tabel Nama Gejala Untuk Merk Kymco Dengan Tipe Easy Varian NO GEJALA G1 G2 G3 G4 G5 G6 G7 G8 G9 G10 G11 G12 G13 G14 G15 G16 G17 G18 G19 G20 G21 G22 G23 G24 G25 G26 G27 G28 G29 NAMA GEJALA Motor Tidak Mau Bergerak Mesin Menyala Timbul Bunyi Berdecit Lebar Drive Belt Kurang Dari Atau Sama Dengan 16.6mm Moveable Driven Face Seret Saat Digerakkan Weight Roller Tidak Silinder Tarikan Menghentak-hentak Permukaan Drive Face Tidak Rata Warna Clucth Outer Biru Gelap Diameter Dalam Clucth Outer Kurang Dari Atau Sama Dengan 107. berikut ini adalah Tabel Nama Gejala untuk masing-masing merk dan tipe.5mm Bentuk Ramp Plate Tidak Sempurna Driven Face Tidak Menjepit Drive Belt Drive Belt Terlepas Dari Pully Tenaga Motor Kurang Timbul Bau Karet Terbakar Permukaan Pully Berminyak Saat Digas Tinggi Kemudian Dilepas. Tabel 3.22 Untuk mempermudah pembacaan dan melengkapi data spesifikasi gejala yang ada pada masing-masing merk dan tipe.5mm Timbul Bunyi Ngorok Dari CVT Filter Udara CVT Kotor Ruang CVT Dipenuhi Debu / Kotoran Mesin Mati Saat Langsam Motor Berjalan Sendiri Walaupun Tidak Digas Tenaga Kurang Hanya Ditanjakan Alur Torque Cam Menjadi Lebih Landai .5mm Motor Sehabis Terkena Banjir Terdapat Air Pada Ruang CVT Ketebalan Clucth Shoe Kurang Dari Atau Sama Dengan 1. Muncul Suara Benturan Dari CVT Driven Face Lemah Saat Ditekan Panjang Pegas Driven Face Kurang Dari Atau Sama Dengan 154.

Muncul Suara Benturan Dari CVT G12 Driven Face Lemah Saat Ditekan G13 Panjang Pegas Driven Face < 121.5mm G23 Timbul Bunyi Ngorok Dari CVT G24 Filter Udara CVT Kotor G25 Ruang CVT Dipenuhi Debu / Kotoran G26 Mesin Mati Saat Langsam G27 Motor Berjalan Sendiri Walaupun Tidak Digas G28 Tarikan Motor Kurang Ditanjakan Seperti yang kita lihat pada tabel diatas.5mm G20 Motor Habis Terkena Banjir G21 Terdapat Air Pada Ruang CVT G22 Ketebalan Clucth Shoe Kurang Dari Atau Sama Dengan 1.23 Pada tabel diatas tertulis sebanyak dua puluh sembilan gejala kerusakan yang terjadi pada motor merk Kymco dengan tipe Easy Varian yang memiliki spesifikasi gejala yang berbeda dengan merk lain. Tabel 3.4mm G14 Moveable Driven Face Seret Saat Digerakkan G15 Weight Roller Tidak Silinder G16 Tarikan Motor Menghetak-hentak G17 Permukaan Drive Face Tidak Rata G18 Warna Clucth Outter Biru Gelap G19 Diameter Dalam Clucth Outer Kurang Dari Atau Sama Dengan 112. tercantum pula dua puluh G29 Alur Torque Cam Menjadi Lebih Landai sembilan gejala kerusakan untuk motor merk Yamaha dengan tipe Mio.2 Tabel Nama Gejala Untuk Merk Yamaha Dengan Tipe Mio NO GEJALA NAMA GEJALA G1 Motor Tidak Mau Bergerak G2 Mesin Menyala G3 Timbul Bunyi Berdecit G4 Lebar Drive Belt Kurang Dari Atau Sama Dengan 17. Gejala .5mm G5 Bentuk Ramp Plate Tidak Sempurna G6 Driven Face Tidak Menekan Drive Belt G7 Drive Belt Terlepas Dari Pully G8 Tenaga Motor Kurang G9 Timbul Bau Karet Terbakar G10 Permukaan Pully Berminyak G11 Saat Digas Tinggi Kemudian Dilepas.

3 Tabel Nama Gejala Untuk Merk Suzuki Dengan Tipe Spin/Skywave NO GEJALA NAMA GEJALA G1 Motor Tidak Mau Bergerak G2 Mesin Menyala G3 Timbul Bunyi Berdecit G4 Lebar Drive Belt Kurang Dari Atau Sama Dengan 18.5mm G20 Motor Habis Terkena Banjir G21 Terdapat Air Pada Ruang CVT G22 Ketebalan Clucth Shoe Kurang Dari Atau Sama Dengan 2.8mm G14 Moveable Driven Face Seret Saat Digerakkan G15 Weight Roller Tidak Silinder Lagi G16 Tarikan Motor Menghentak-hentak G17 Permukaan Drive Face Tidak Rata G18 Warna Clutch Outter Biru Gelap G19 Diameter Dalam Clucth Outer Kurang Dari Atau Sama Dengan 125.5mm G23 Timbul Bunyi Ngorok Dari CVT G24 Filter Udara CVT Kotor G25 Ruang CVT Dipenuhi Debu / Kotoran G26 Mesin Mati Saat Langsam G27 Motor Berjalan Sendiri Walaupun Tidak Digas G28 Tenaga Motor Kurang Ditanjakan Pada tabel diatas tercantum pula dua puluh sembilan gejala kerusakan G29 Alur Torque Cam Menjadi Lebih Landai yang terjadi pada motor merk Suzuki dengan tipe Spin dan Skywave.9mm G5 Bentuk Ramp Plate Tidak Sempurna G6 Driven Face Tidak Menekan Drive Belt G7 Drive Belt Terlepas Dari Pully G8 Tenaga Motor Kurang G9 Timbul Bau Karet Terbakar G10 Permukaan Pully Berminyak G11 Saat Digas Tinggi Kemudian Dilepas. Muncul Suara Benturan Dari CVT G12 Driven Face Lemah Saat Ditekan G13 Panjang Pegas Driven Face < 99. karena . Tabel 3.24 kerusakannya hampir mirip dengan yang lain. hanya saja berbeda pada spesifikasi pengukuran.

4 Tabel Nama Gejala Untuk Merk Honda Dengan Tipe Vario/Beat NO GEJALA G1 G2 G3 G4 G5 G6 G7 G8 G9 G10 G11 G12 G13 G14 G15 G16 G17 G18 G19 G20 G21 G22 G23 G24 G25 G26 G27 G28 Pada G29 NAMA GEJALA Motor Tidak Mau Bergerak Mesin Menyala Timbul Bunyi Berdecit Lebar Drive Belt Kurang Dari Atau Sama Dengan 17. Seperti pada tabel gejala .4mm Moveable Driven Face Seret Digerakan Tanpa Pegas Weight Roller Tidak Silinder Lagi Tarikan Motor Menghentak-Hentak Permukaan Drive Face Tidak Rata Warna Clutch Outter Biru Gelap Diameter Dalam Clucth Outer Kurang Dari Atau Sama Dengan 112.5mm Timbul Bunyi Ngorok Dari CVT Filter Udara CVT Kotor Ruang CVT Dipenuhi Debu / Kotoran Mesin Mati Saat Langsam Motor Berjalan Sendiri Walaupun Tidak Digas Tenaga Kurang Hanya Ditanjakan tabel diatas tercantum pula dua puluh sembilan gejala kerusakan Alur Torque Cam Menjadi Lebih Landai untuk motor merk Honda dengan tipe Vario dan Beat. Tabel 3.5mm Motor Sehabis Terkena Banjir Terdapat Air Pada Ruang CVT Ketebalan Clucth Shoe Kurang Dari Atau Sama Dengan 1.25 kedua tipe motor ini memiliki spesifikasi yang sama pada komponen CVT sehingga penulis cantumkan dalam satu tabel.5mm Bentuk Ramp Plate Tidak Sempurna Driven Face Tidak Menekan Drive Belt Drive Belt Terlepas Dari Pully Tenaga Motor Kurang Timbul Bau Karet Terbakar Permukaan Pully Berminyak Saat Digas Tinggi Kemudian Dilepas. Muncul Suara Benturan Dari CVT Driven Face Lemah Saat Ditekan Panjang Pegas Driven Face Kurang Dari 121.

5 Tabel Nama Kerusakan Untuk Semua Merk Dan Tipe NO KERUSAKAN K1 K2 K3 K4 K5 K6 K7 K8 K9 K10 K11 K12 K13 K14 K15 NAMA KERUSAKAN Drive Belt Aus Ramp Plate Rusak Pegas Driven Face Patah Ringan Drive Belt Putus Drive Belt Terkontaminasi Minyak Pegas Driven Face Lemah Poros Moveable Driven Face Kurang Pelumas Weight Roller Rusak Drive Face Rusak Cluth Outter Rusak Cvt Kemasukan Air Clucth Shoe Aus Cvt Terkontaminasi Kotoran Pegas Clucth Weight Patah Torque Cam Rusak Pada tabel diatas penulis mencantumkan nama-nama kerusakan yang terjadi pada sepeda motor dengan teknologi CVT. utamanya pada bagian pembahasan struktur basis . diharapkan pembaca dapat lebih mudah memahami diagram tree yang penulis sertakan pada pembahasan kali ini. Karena secara teknis kerusakan yang terjadi pada CVT merupakan kerusakan yang sama dengan solusi yang sama pula. secara teknis yang membedakan hanyalah pada spesifikasi pengukuran yang digunakan dalam melakukan diagnosa kerusakan.26 yang lainnya. maka penulis menggabungkan nama-nama kerusakan tersebut menjadi satu tabel. Tabel 3. Dengan dicantumkannya tabel-tabel bantuan ini. sehingga dapat lebih mudah dibaca.

kemudian pada mode konsultasi dengan menggunakan metode forward chainning sistem akan memberikan pertanyaan berupa fakta-fakta / .6.27 pengetahuan sistem. admin merupakan pemelihara sistem yang selalu melakukan maintenance data dalam hal ini adalah pengetahuan yang diperoleh dari pakar baik berupa data-data kerusakan. data yang diinputkan berupa data kendaraan yang diinginkan. data-data fakta maupun data-data rule yang dibentuk untuk merepresentasikan pengetahuan.6 Perancangan Sistem 3. karena teknologi terus berkembang dan memunculkan teknik baru untuk mengatasi masalah serta memunculkan masalah baru lagi.2 Diagram Konteks Seperti terlihat pada gambar diatas. 3. Selain itu admin juga memasukkan data-data kendaraan yang dapat ditangani oleh sistem.1 Diagram Konteks print_out_ciri_kerusakan print_out_solusi user informasi_ciri_kerusakan pertanyaan jawaban solusi 1 sistem pakar kerusakan cvt nama_kerusakan merk_motor type_motor data_fakta data_rule data_kerusakan data_solusi data_merk data_type admin Gambar 3. Isi dari tabel-tabel tersebut tidaklah mutlak. Sedangkan dari segi user.

Untuk mendokumentasikan hasil konsultasi yang telah dilakukan. Diamana sistem memberikan pilihan pencetakan baik untuk proses konsultasi dengan metode forward chaining maupun dengan metode backward chaining. dengan demikian user dapat mempelajari gejala-gejala tersebut untuk belajar menganalisa kerusakan dimasa yang akan datang tanpa bantuan sistem. Pada level ini belum terlihat proses-proses yang mendukung kinerja sistem. pengguna dapat melewati proses pencetakan dan kembali ke menu konsultasi.28 gejala-gejala yang mungkin terjadi dan user hanya cukup menjawab “ya” atau “tidak” sehingga pada akhir proses konsultasi akan muncul suatu kesimpulan beserta solusi yang dibuat oleh sistem berdasarkan pengetahuan yang ada pada basis data pengetahuan sistem. Namun bila pengguna tidak menginginkanya. Sedangkan pada mode konsultasi dengan menggunakan metode backward chaining sistem akan memberikan pilihan kepada user untuk memilih kerusakan-kerusakan yang ingin diketahui gejala-gejala kerusakannya serta solusi penanganannya. dimana pada level 0 akan terlihat proses-proses sistem secara umum. pengguna dapat melakukan pencetakan terhadap hasil diagnosa yang dilakukan oleh sistem. untuk memperjelas kembali bagian-bagian proses sistem penulis akan menjelaskannya melalui penggambaran DFD Level 0 yang dicantumkan pada sub bab berikutnya. .

4 proses pengelolaan jenis motor data_type data_merk data_type data_merk .29 informasi_ciri_kerusakan type_motor data_solusi t_solusi user merk_motor nama_kerusakan jawaban pertanyaan solusi 1.2 proses pengelolaan data_fakta pengetahuan data_fakta data_kerusakan data_rule data_solusi admin data_merk t_merk t_type data_type 1.3 print_out_solusi proses pencetakan solusi informasi_ciri_kerusakan data_fakta t_fakta data_kerusakan data_type data_merk 1.1 proses konsultasi data_rule t_rule data_kerusakan t_kerusakan data_solusi data_rule print_out_ciri_kerusakan 1.

Proses konsultasi ini akan dibagi kedalam dua bagian sesuai dengan metode yang digunakan dan akan dijelaskan pada bagian selanjutnya. proses pengelolaan jenis motor dan proses pencetakan.. Proses konsultasi merupakan mesin inferensi yang bertugas menerjemahkan data fakta-fakta. yaitu pengelolaan pengetahuan. . Pada gambar diatas terlihat bahwa terdapat empat sub proses pada sistem ini. Proses pengelolaan pengetahuan merupakan proses yang digunakan untuk memelihara pengetahuan yang dimiliki oleh sistem. Proses ini menangani data yang dihasilkan oleh proses konsultasi. Proses pencetakan merupakan proses pendukung sistem ini. Proses pengelolaan jenis motor merupakan sub sistem yang berfungsi mengelola data-data motor yang dapat ditangani oleh sistem karena kita tahu setiap saat muncul motor berteknologi matic yang terbaru yang mungkin memiliki karakteristik yang berbeda dengan motor matic sebelumnya. dimana proses konsultasi menghasilkan dua data yang berbeda sesuai dengan metode yang digunakan. karena proses ini akan mendokumentasikan hasil konsultasi berbentuk print out. data rule dan data kerusakan yang ada menjadi sebuah informasi/pertanyaan yang diterima oleh user. proses ini dilakukan oleh Knowledge Engineer atau Administrator sistem untuk memelihara pengetahuan sistem. proses konsultasi. sub-sub sistem dari sistem pakar ini mulai terlihat.30 Pada level ini.

Sedangkan pada proses inferensi backward chaining juga terjadi dialog antara user dengan sistem. dimana proses ini bertugas untuk melakukan pemisahan atau pengelompokan data-data pengetahuan yang ada pada basis pengetahuan sistem. agar pada saat proses konsultasi data yang digunakan menjadi lebih efisien. dengan proses utama adalah forward chaining dan proses backward chaining. Hal ini bertujuan agar pada proses konsultasi tersebut menjadi lebih sederhana tanpa adanya proses pengelompokan data lagi.3 DFD Level 1 Proses Konsultasi Proses konsultasi level 1 ini menjelaskan bahwa ada tiga sub proses yang membentuk proses konsultasi. kemudian sistem memberikan informasi berupa ciri-ciri yang menjadi penyebab kerusakan tersebut disertai solusi penanganan kerusakan tersebut. Proses pengelompokan jenis motor menghasilkan data untuk proses forward chaining dan backward chaining. namun pada proses ini tidak terjadi tanya jawab antara user dengan sistem.31 3. Dibawah ini adalah gambar DFD Level 1 Proses Konsultasi. user hanya memberi masukan berupa nama kerusakan yang ingin diketahuinya. Masing-masing proses tersebut memiliki fungsi yang berbeda-beda.6. Proses pendukung pada level ini yaitu proses pengelompokan jenis motor. dimana pada proses inferensi forward chaining terjadi dialog tanya jawab antara user dan sistem sampai sistem menemukan solusi atas permasalahan yang dihadapi oleh user. . ini nantinya akan berpengaruh pada kecepatan sistem dalam melakukan proses eksekusi proses.

1.4 DFD Level 1 Proses Konsultasi .32 user solusi jawaban pertanyaan 1.1 proses forward chaining data_jenis_motor data_solusi data_rule data_fakta data_kerusakan t_solusi t_rule t_kerusakan t_fakta data_fakta data_rule data_kerusakan data_solusi 1.1.1.3 data_jenis_motor proses pengelompokan jenis motor proses backward chaining data_merk data_type t_merk t_type Gambar 3.3 informasi_ciri_kerusakan solusi nama_kerusakan merk_motor type_motor 1.2 informasi_ciri_kerusakan P 1.

2.2.3 proses pengelolaan rule data_rule t_rule index_fakta data_fakta 1.5 proses penghubungan data motor data_type Gambar 3.5 DFD Level 1 Proses Representasi Pengetahuan .2.6.2.2.4 proses data_solusi pengelolaan solusi t_solusi data_solusi index_solusi 1.33 3.4 DFD Level 1 Proses Representasi Pengetahuan 1.1 proses pengelolaan data_fakta fakta t_fakta t_merk index_merk t_type data_merk 1.2 admin data_kerusakan data_rule proses pengelolaan kerusakan data_kerusakan t_kerusakan index_kerusakan 1.

3. data-data kerusakan serta data-data rule untuk kemudian disusun oleh sistem secara otomatis agar didapatkan sebuah basis pengetahuan yang baik. Kedua proses tersebut masing-masing menangani permintaan pencetakan dari proses konsultasi baik dari proses konsultasi dengan menggunakan metode forward chaining maupun proses .5 DFD Level 1 Proses Pencetakan 1.2 pencetakan ciri--ciri kerusakan print_out_ciri_ciri_kerusakan Gambar 3. 3. Basis pengetahuan ini nantinya akan disimpan dalam tabel-tabel yang bersesuaian untuk menyimpan data tersebut.1 solusi pencetakan solusi print_out_solusi P 1.6 DFD Level 1 Proses Pencetakan Pada Level ini terlihat bahwa terdapat dua sub proses yang membentuk proses pencetakan informasi yang dihasilkan oleh sistem.34 Pada DFD level 1 proses representasi pengetahuan diatas dapat dijelaskan bahwa admin harus menginputkan data-data fakta.3.1 user ciri_ciri_kerusakan 1.6.

7 DFD Level 2 Proses Inferensi Forward Chainning . maka diberikanlah pilihan untuk melakukan pencetakan hasil konsultasi yang dapat disimpan oleh user.1.3 data_jenis_motor user 1.3 solusi data_kerusakan t_kerusakan Gambar 3. Proses ini memberikan output kepada user berupa print out hasil konsultasi.1.3 proses penyusunan hasil diagnosa data_solusi t_solusi P 1.6.1.1. Proses ini cukup penting dalam sistem ini karena batasan sistem yang tidak melakukan penyimpanan hasil konsultasi.1.35 konsultasi backward chaining.1. 3.2 proses penelusuran gejala index_fakta_dan_kerusakan solusi 1.1 proses pembentukan pengetahuan data_fakta t_fakta data_rule data_pengetahuan t_rule pertanyaan jawaban 1.1.6 DFD Level 2 Proses Inferensi Forward Chaining P 1.

Selanjutnya data tersebut dikirimkan kepada proses penyusunan hasil diagnosa yang bertugas menggabungkan hasil pelacakan agar menjadi sebuah informasi yang tersusun dengan baik.7 DFD Level 2 Proses Backward Chaining Pada level 2 proses backward chaining terlihat proses-proses pendukung backward chaining. Selanjutnya hasil penelusuran gejala tersebut diberikan kepada proses penyusunan hasil diagnosa untuk dibuatkan rangkuman hasil konsultasi beserta solusi yang ditawarkan oleh sistem. user melakukan input nama kerusakan yang diinginkan. Berikut ini adalah gambar DFD Level 2 Proses Backward Chaninng.36 Pada gambar diatas dapat kita lihat proses-proses yang membentuk proses inferensi forward chaining yaitu proses pembentukan pengetahuan.6. 3. proses ini yang mengatur fakta-fakta yang ditampilkan sebagai pertanyaan yang kemudian dijawab oleh user. data yang telah dimuat ke memori kerja diproses oleh proses penelusuran gejala. data tersebut diterima oleh proses identifikasi pengetahuan untuk mendapatkan data kerusakan yang ada kemudian proses penelusuran melakukan pelacakan data kerusakan. proses ini diulang sampai ditemukan sebuah kesimpulan yang relevan dengan hasil tanya jawab. . proses ini melakukan pemilahan pengetahuan mana saja yang akan digunakan dalam proses konsultasi sehingga data yang dimuat ke memori menjadi lebih efisien.

2.2 proses penyusunan hasil diagnosa data_solusi t_solusi informasi_ciri_kerusakan P 1.2.3 informasi_ciri_kerusakan Gambar 3.2.1.3 proses identifikasi pengetahuan data_jenis_motor P 1.1.1.3 data_kerusakan_terpilih data_kerusakan 1.8 DFD Level 2 Proses Backward Chainning .1 t_rule data_rule proses penelusuran t_kerusakan data_fakta data_hipotesa t_fakta 1.1.37 nama_kerusakan user 1.

Pada sistem pakar. t_merk berelasi dengan t_type dengan derajat relasi one-to-many karena satu merk dapat memiliki lebih dari satu tipe sepeda motor. t_type berelasi dengan t_rule dengan derajat relasi adalah one-to-many dimana satu tipe sepeda motor mewakili satu merk dengan lebih dari satu rule yang tersimpan dalam t_rule.6. t_rule berelasi dengan t_fakta dengan derajat . untuk itu kita membutuhkan satu tabel lagi yang selanjutnya disebut dengan t_rule.9 Entity Relationship Diagram Pada relasi antar entitas diatas menggambarkan relasi antar tabel dalam database.38 3.8 ERD (Entity Relationship Diagram) t_fakta t_rule t_kerusakan t_merk t_type t_solusi Gambar 3. yang menjadi point penting adalah menghubungkan t_fakta dengan t_kerusakan.

9 Koseptual Database t_rule id_rule id_fakta <FK> id_kerusakan <FK> id_type <FK> t_kerusakan id_kerusakan nama_kerusakan id_solusi <FK> t_fakta id_fakta nama_fakta t_merk id_merk nama_merk t_type id_type nama_type id_merk <FK> t_solusi id_solusi solusi Gambar 3. demikian pula dengan relasi t_rule dengan t_kerusakan.10 Koseptual Database Pada diagram diatas terlihat primary key masing-masing tabel yang berelasi. 3.6. suatu tabel dapat dikatakan berelasi bila tabel yang direlasikan memiliki keterkaitan dalam hal ini keterkaitan pada primary key yang ada pada tabel. t_kerusakan juga berelasi dengan t_solusi dengan derajat relasi one-tomany karena satu buah solusi juga dapat dimiliki oleh lebih dari satu kerusakan. .39 one-to-many dimana satu fakta pada t_fakta dapat dimiliki oleh lebih dari satu rule pada t_rule.

8 Desain Tabel t_rule Field id_rule id_fakta id_kerusakan id_type Type int int int int Keterangan PK FK FK FK d.6 Desain Tabel t_kerusakan Field id_kerusakan nama_kerusakan id_solusi Type int varchar int Keterangan PK FK b. Desain Tabel t_rule Tabel 3.6.40 3.9 Desain Tabel t_fakta Field id_fakta nama_fakta Type int varchar Keterangan PK . Desain Tabel t_solusi Tabel 3.10 Struktur Basis Data a. Desain Tabel t_kerusakan Tabel 3.7 Desain Tabel t_solusi Field id_solusi solusi Type int text Keterangan PK c. Desain Tabel t_fakta Tabel 3.

41 e.10 Desain Tabel t_type Field id_type nama_type id_merk Type int varchar int Keterangan PK FK f.11 Desain Tabel t_merk Field id_merk nama_merk Type int varchar Keterangan PK . Desain Tabel t_type Tabel 3. Desain Tabel t_merk Tabel 3.

11 Diagram Alir Penambahan Data .42 3.11 Diagram Alir Proses Input Data Mulai Input Data Tidak Data Valid Ya Input Data Baru Pada Tabel Tampilka n Hasil Ya Ulangi Tidak Selesai Gambar 3.6.

Bila data yang dimasukan sudah benar bagi sistem. karena secara prinsip proses input data tiap-tiap proses memiliki algoritma yang sama. Proses input data ini banyak dipergunakan pada sisi administrator.43 Diagram alir diatas menggambarkan proses input data secara umum yang terjadi pada sistem ini. Proses ini akan berulang sampai pengguna memasukan data yang benar bagi sistem. pengguna akan diminta memasukkan data yang sah. karena administrator bertugas untuk melakukan pemeliharaan data pada sistem dalam hal ini adalah basis pengetahuan sistem yang mungkin suatu saat perlu ditambahkan sesuai dengan perkembangan teknologi yang ada saat itu sehiungga pengetahuan sistem menjadi selalu baru dan dapat melayani pengguna dengan baik. Disini dapat penulis jelaskan proses dimulai saat pengguna melakukan input data melalui keyboard secara manual. Pengguna dapat mengulangi proses ini bila menghendaki demikian. proses dilanjutkan pada proses penyimpanan data dan pengguna diberikan notifikasi status penyimpanan data. . data tersebut kemudian diverifikasi untuk memastikan sah atau tidaknya data tersebut bila tidak sah.

12 Diagram Alir Perubahan Data .12 Diagram Alir Pengubahan Data Mulai Input Perubahan Data Tidak Perubahan Valid Ya Masukan Data Kedalam Tabel Tampilkan Hasil Perubahan Ya Ulangi Tidak Selesai Gambar 3.44 3.6.

13 Diagram Alir Penghapusan Data Pada proses penghapusan data ini yang perlu diperhatikan pada saat proses verifikasi data yang akan dihapus.45 Seperti halnya pada proses penyimpanan data.6. hal ini diperlukan karena data yang telah dihapus tidak dapat dikembalikan lagi karena akan dihapus secara permanen oleh sistem. Diakhir proses pengguna dapat mengulangi proses perubahan data bila menghendaki demikian. maka sistem akan meminta pengguna untuk memasukan data yang benar. . 3. jika data yang akan dihapus tidak ditemukan oleh sistem pada tabel. Kemudian dipastikan pula bahwa data yang akan dihapus memang ada dalam tabel untuk memastikan proses penghapusan data berjalan dengan baik. bila tidak sah perubahan akan dibatalkan dan pengguna diminta untuk memasukan data yang sah. proses perubahan data pada sistem ini secara umum memiliki algoritma yang sama yaitu proses verifikasi data yang diubah apakah sah atau tidak. Ini dilakukan secara berulang-ulang sampai pengguna memasukan data yang benar. perubahan akan dilakukan dan pengguna akan diberitahukan keberhasilan proses tersebut. pada proses ini pengguna akan diyakinkan apakah akan menghapus data yang bersangkutan. Bila data yang diubah sah dan data yang menggantikannya juga sah.

46 Mulai Input Data Yang Akan Dihapus Tidak Verifika si Data Ya Hapus Data Dari Tabel Tampilkan Status Penghapusan Ya Ulangi Tidak Selesai Gambar 3.13 Diagram Alir Penghapusan Data .

6.15 Diagram Alir Proses Forward Chaining .14 Diagram Alir Konsultasi Forward Chaining Mulai Input Nama Motor Tampilkan Pertanyaan Input Jawaban Ada Pertanyaan Lagi Tidak Tampilkan Hasil Konsultasi Ya Cetak Hasil Tidak Ya Ulangi Tidak Selesai Ya Cetak Hasil Konsultasi Printout Hasil Konsultasi Gambar 3.47 3.

48 Pada diagram diatas dapat dijelaskan proses forward chaining dimulai dari pengguna memasukan nama motor dan tipe motor. . Pada program. proses akan berhenti saat pengguna menjawab tidak. pengguna akan kembali dihadapkan pada menu konsultasi yang terdiri dari dua menu yaitu pilihan konsultasi dengan menggunakan metode Forward Chaining dan pilihan konsultasi dengan menggunakan metode Backward Chaining. sistem akan menanyakan apakah pengguna ingin mengulangi konsultasi. Pada proses ini juga dilakukan pengujian rule sesuai dengan jawaban pengguna. kemudian sistem menampilkan pertanyaan yang berhubungan dengan jenis motor yang dimasukan oleh pengguna. Pada akhir pertanyaan sistem menampilkan hasil konsultasi dan menanyakan pengguna apakah ingin mencetak hasil konsultasi. Pada proses ini alur kerja sistem lebih kompleks daripada pada proses Backward Chaining karena sistem harus menanyakan gejala-gejala yang dirasakan oleh pengguna. proses ini diulang sampai tidak ada pertanyaan lagi yang ditanyakan oleh sistem. bila pengguna tidak ingin mencetak hasil konsultasi. bila pengguna memilih mencetak hasil konsultasi maka sistem akan memberikan output berupa printout. Pengguna juga bisa langsung keluar dari program tanpa harus memilih menu yang dihadapkan oleh sistem. saat pengguna telah selesai melakukan proses konsultasi.

6.15 Diagram Alir Proses Backward Chaining Mulai Input Nama Motor Input Nama Kerusakan Tampilkan Hasil Penelusuran Ya Cetak Hasil Penelusuran Tidak Ya Ulangi Tidak Selesai Cetak Hasil Konsultasi Printout Gejala Kerusakan Gambar 3. kemudian sistem akan menampilkan hasil penelusuran berdasarkan basis pengetahuan yang ada.16 Diagram Alir Proses Backward Chaining Pada diagram diatas dapat dijelaskan bahwa pengguna hanya perlu memasukan nama motor dan nama kerusakan yang diinginkan.49 3. .

7 Perancangan Struktur Menu Sistem Pada sistem ini terdapat dua struktur menu sesuai dengan pembagian pengguna. Berikut adalah gambar struktur menu masing-masing pengguna. pengaturan. Struktur menu ini merupakan pintu masuk administrator sistem untuk mengelola sistem dengan menempatkan opsi pengaturan pada menu utama.17 Struktur Menu Pengguna Umum Struktur menu untuk pengguna umum terdiri dari menu utama.7. hasil konsultasi dapat dicetak dan konsultasi dapat diulangi kembali. konsultasi.1 Menu Utama Struktur Menu Pengguna Umum Konsultasi Forward Chaining Backward Chaining Pengaturan Keluar Program Gambar 3. . forward chaining dan backward chaining. keluar program. antara lain : struktur menu untuk pengguna umum dan struktur menu untuk administrator sistem. Untuk mengakses menu ini pengguna harus memasukan username dan password.50 bila pengguna menginginkan. 3. 3.

Pengetahuan : Memuat antarmuka pengelolaan basis pengetahuan yang dimiliki oleh sistem. Sedangkan pada menu utama. menu pengaturan dihilangkan karena secara logika pengguna tidak memerlukannya lagi. c. Logout : Merupakan pintu keluar administrator untuk kembali ke mode pengguna umum. Merk & Type : Memuat antarmuka pengelolaan jenis motor yang mampu ditangani oleh sistem.51 3. yaitu menu Admin Panel yang memuat beberapa sub menu yaitu : a.2 Menu Utama Konsultasi Struktur Menu Administrator Admin Panel Merk & Type Forward Chaining Backward Chaining Logout Keluar Program Gambar 3. b.7. d. Account : Memuat antar muka pengelolaan username dan password yang dimiliki oleh administrator untuk memasuki bagian pengaturan.18 Struktur Menu Pengguna Administrator Pengetahuan Account Pada pengguna level administrator menu ditambahkan. .

b.52 BAB IV IMPLEMENTASI SISTEM 4.0 Ghz Ram 256 MB VGA dan Monitor beresolusi minimal 1024 x 760 pixel Hardisk 20 GB Mouse dan Keyboard Printer Sedangkan untuk sistem operasi. Berikut ini adalah spesifikasi hardware komputer yang digunakan untuk menjalankan sistem : a. c. e.1 Sistem Pendukung 4. . pada kesempatan ini penulis menggunakan Microsoft Windows XP Proffesional SP2 sebagai sistem operasi. d. Processor 2.1. f. Dipilihnya sistem operasi ini karena kompatibilitasnya dengan perangkat lunak yang penulis gunakan sebagai alat bantu pembangunan sistem sangat baik serta dapat dijalankan pada perangkat keras dengan spesifikasi yang telah penulis sebutkan diatas. spesifikasi yang digunakan masih tergolong terjangkau untuk komputer pada umumnya.1 Hardware Dan Sistem Operasi Yang Digunakan Spesifikasi hardware yang digunakan tidak terlalu tinggi.

Pengguna dapat memilih untuk berkonsultasi dengan sistem. Adapun hasil pengujian sistem adalah sebagai berikut ini. hanya ditampilkan satu buah menu utama yang dapat diakses oleh pengguna. halaman konsultasi akan ditampilkan kemudian pengguna dapat memilih metode yang digunakan. masuk ke pengaturan sistem / halaman admin dan keluar dari sistem. 4.1 Halaman Utama Sistem Pakar Pada halaman utama sistem.2. tampilan .1 Halaman Utama Gambar 4. Bila pengguna memilih menu konsultasi.53 4.2 Pengujian Sistem Pengujian sistem dilakukan pada komputer dengan spesifikasi yang telah ditentukan sebelumnya.

54

halaman kosultasi dengan pilihan metodenya akan ditampilkan pada sub bab selanjutnya.

4.2.2

Halaman Konsultasi

Halaman ini terbagi menjadi dua bagian yaitu konsultasi dengan menggunakan metode forward chaining dan metode backward chaining. Pengguna dapat memilih tombol yang tersedia untuk menentukan metode penelusuran yang digunakan dalam proses konsultasi. Berikut ini adalah tampilan halaman awal konsultasi.

Gambar 4.2 Halaman Awal Proses Konsultasi

55

Bila saat ditengah-tengah proses pengguna ingin mengulangi proses konsultasi, pengguna dapat memilih tombol ulangi konsultasi, dengan demikian sistem akan mengulang proses konsultasi dari proses pemilihan jenis kendaraan.

4.2.3

Halaman Pemilihan Jenis Kendaraan

Sebelum melangkah lebih lanjut ke proses konsultasi / tanya jawab, pengguna diwajibkan memilih jenis kendaraan yang akan dijadikan objek konsultasi. Pemilihan jenis kendaraan dimaksudkan untuk memfokuskan permasalahan kepada satu tipe kendaraan, sehingga proses penelusuran menjadi lebih efisien.

Gambar 4.3 Halaman Proses Pemilihan Jenis Kendaraan

56

Terlihat pada gambar diatas pengguna harus memilih merk motor terlebih dahulu, barulah kemudian dapat memilih tipe motor yang dimaksud. Setelah memilih tipe motor pengguna akan langsung dihadapkan dengan halaman konsultasi baik menggunakan metode forward chaining maupun backward chaining.

4.2.4

Halaman Konsultasi Forward Chaining

Halaman ini merupakan kelanjutan dari proses pemilihan merk dan tipe kendaraan. Pada halaman ini pengguna akan diberikan pertanyaan oleh sistem, kemudian harus dijawab oleh pengguna dengan menekan tombol “ya” atau “tidak”.

sistem akan segera melakukan pelacakan gejala-gejala yang terkait dengan kerusakan tersebut. dimana pengguna akan dihadapkan pada pilihan kerusakan yang ingin diketahui kerusakannya.57 Gambar 4.5 Halaman Konsultasi Backward Chaining Pada gambar diatas terlihat bahwa pengguna harus memilih nama kerusakan yang diinginkan.2. Gambar 4. Setelah pengguna menentukan pilihannya.5 Halaman Konsultasi Backward Chaining Halaman ini juga merupakan kelanjutan dari proses pemilihan jenis kendaraan. pengguna cukup . Berikut ini adalah gambar halaman konsultasi backward chaining. namun bila pengguna ingin membatalkan atau mengubah metode yang digunakan untuk melakukan konsultasi.4 Halaman Konsultasi Forward Chaining 4.

menu pengaturan merupakan pintu masuk pengguna kedalam sistem sehingga pengguna dapat melakukan pengaturan tingkah laku sistem. .58 memilih tombol “Ulangi Konsultasi” maka sistem akan segera menset tampilan halaman ke tampilan awal halaman konsultasi. Pada halaman ini pengguna harus memasukan username dan password yang benar untuk dapat melanjutkan proses pengaturan.6 Halaman Login Halaman ini akan muncul saat pengguna memilih menu pengaturan. Berikut ini adalah gambar tampilan halaman login. maka pengamanan pengguna harus dilakukan untuk menghindari pengguna yang tidak bertanggung jawab untuk dapat melakukan perubahan pengaturan sistem. 4. sistem akan memberikan pesan kesalahan dan meminta pengguna untuk memasukan username dan password yang benar. Demikian pentingnya menu pengaturan ini. Gambar 4.2.6 Halaman Login Bila username atau password yang diberikan oleh pengguna salah.

2. 4.59 4.8 Halaman Pengelolaan Data Motor Halaman ini berada pada sub menu “Admin Panel”.7 Halaman Admin / Pengaturan Bila diperhatikan terdapat tambahan menu pada menu bar di pojok kiri atas halaman ini. pada halaman ini pengguna dapat melakukan perubahan pada data kendaraan yang ditangani oleh sistem.7 Halaman Admin / Halaman Pengaturan Bila pengguna berhasil login ke sistem. Pengguna harus berhati-hati dalam melakukan perubahan dihalaman ini. Isi dari menu tersebut akan dijelaskan pada sub bab berikutnya. Berikut ini adalah gambar halaman admin / halaman pengaturan sistem. pengguna akan dihadapkan dengan halaman pengaturan yang memiliki tampilan sedikit berbeda dengan tampilan halaman awal sistem.2. . Gambar 4.

4.9 Halaman Pengelolaan Basis Pengetahuan Pada halaman ini pengguna diwajibkan untuk memilih merk dan tipe kendaraan yang akan dikelola basis pengetahuannya. perubahan. menghapus.60 karena bila salah melakukan perubahan dapat mempengaruhi pengetahuan sistem pada bagian basis pengetahuan. dan mengubah data fakta.2. pada halaman ini pengguna dapat memasukan. dan solusi. Gambar 4. dan penghapusan merk dan tipe kendaraan yang ada. Berikut ini adalah gambar halaman pengelolaan data motor. kerusakan.8 Halaman Pengelolaan Data Motor Pada gambar diatas terlihat bahwa pengguna dapat melakukan penambahan. .

9 Halaman Pengelolaan Basis Pengetahuan Pada gambar diatas dapat kita lihat bahwa pengguna sama sekali tidak dihadapkan dengan kode-kode penanda gejala atau kerusakan. hal ini bertujuan membuat sistem lebih user friendly sehingga dalam pengoperasiannya pengguna dapat dimudahkan. kerusakan dan solusi untuk mengurangi kompleksitas terutama dari segi penempatan tabel-tabel yang cukup banyak.61 Gambar 4. pengguna cukup melakukan pemilihan secara visual dengan melakukan klik pada Mouse tanpa diharuskan mengetahui kode-kode. Pengelolaan basis pengetahuan dibagi menjadi dua halaman yaitu : halaman pengelolaan rule dan halaman pengelolaan fakta. . Demikian pula saat melakukan penghubungan data kerusakan dengan data solusi.

dan pengubahan rule yang ada. . yaitu dengan cara memindahkan data fakta pada tabel kanan ke tabel ciri-ciri / gejala yang berada ditengah. Berikut ini adalah gambar halaman pengelolaan rule. penghapusan. Gambar 4.10 Halaman Pengelolaan Rule Pada gambar diatas terlihat proses penambahan rule.2.62 4.10 Halaman Pengelolaan Rule Pada halaman ini pengguna dapat melakukan penyusunan. Dan diakhiri dengan menekan tombol “Simpan Rule” untuk menyimpan rule atau “Batalkan Operasi” untuk membatalkan tanpa melakukan penyimpanan rule.

2. Sebelum melakukan penyimpanan perubahan sistem akan meminta pengguna untuk memverifikasi password yang baru untuk meyakinkan pengguna bahwa password tersebut telah diingat oleh pengguna.12 Hasil Konsultasi Forward Chaining Setelah pengguna selesai melakukan konsultasi.2. Berikut ini adalah tampilan halaman pengaturan account.11 Halaman Pengaturan Account 4.63 4. Gambar 4. Berikut ini adalah tampilan hasil diagnosa dengan metode forward chaining. dan sistem menemukan kesimpulan atas permasalahan yang dihadapi oleh pengguna maka halaman hasil diagnosa akan ditampilkan.11 Pengaturan Account Username dan password untuk masuk ke halaman pengaturan dapat diubah oleh pengguna pada halaman ini. .

13 Hasil Konsultasi Backward Chaining Halaman ini akan ditampilkan saat pengguna sudah memilih salah satu nama kerusakan yang diinginkannya.12 Halaman Hasil Diagnosa Forward Chaining Dari halaman ini pengguna dapat melakukan pencetakan hasil konsultasi bila menginginkannya.64 Gambar 4. 4.2. Berikut ini adalah tampilan hasil diagnosa dengan metode backward chaining. .

.65 Gambar 4.13 Hasil Diagnosa Backward Chaining Seperti halnya pada hasil diagnosa dengan menggunakan metode forward chaining. dari halaman ini pengguna dapat melakukan pencetakan hasil diagnosa bila menginginkannya.

Berikut ini adalah saran-saran yang dapat penulis kemukakan . Implementasi metode forward chaining dapat dimanfaatkan untuk melakukan diagnosa saat pengguna tidak memiliki bayangan terhadap permasalahan yang sedang dihadapinya. dapat dikemukakan saran-saran untuk pengembangan sistem ini dimasa yang akan datang. Sistem yang dibangun telah mampu melakukan diagnosa terhadap kerusakan yang terjadi pada sepeda motor matic dimana dalam penelitian ini diagnosa dikhususkan pada bagian transmisi. dapat disimpulkan bahwa : a. c.66 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.2 Saran Dari pengetahuan dan pengalaman selama melakukan penelitian. Implementasi metode Backward Chaining dapat dimanfaatkan untuk mencocokan pengetahuan yang dimiliki pengguna dengan pengetahuan pada sistem serta solusi yang seharusnya dilakukan oleh pengguna untuk menangani permasalahan tersebut. b. 5.1 Kesimpulan Dari hasil penelitian yang berjudul Rancang Bangun Sistem Pakar Untuk Mendiagnosa Kerusakan Pada Sepeda Motor Matic.

. c. d. Sistem yang dibangun saat ini hanya menggunakan metode forward chaining dan Backward Chaining dalam proses diagnosa.67 a. b. seperti kelistrikan. mesin dan rangka. Saat deadline penelitian ini masih ada jenis motor yang belum diambil datanya untuk dimasukan ke dalam pengetahuan sistem. penambahan fitur faktor ketidakpastian / Uncertainty Factor akan menjadi nilai lebih jika dapat diimplementasikan dimasa yang akan datang. Untuk Selanjutnya objek diagnosa dapat dikembangkan menjadi lebih luas ke bagian-bagian yang belum tercakup dalam penelitian ini. Arsitektur aplikasi dapat dikembangkan menjadi arsitektur client server sehingga beban operasional sistem dapat dibagi dan pengetahuan sistem dapat difokuskan pada satu server yang khusus menangani database. performa sistem akan menjadi lebih baik bila data baru terus ditambahkan kedalam sistem.

Muhammad.zip. pukul 22:58 wita Citra Effendi. Jakarta . Hand Out Training Mechanic New Product Initial Information Spin 125 R. Jakarta : PT. Feri. 2003. Konsep Dasar Sistem Pakar. Sistem Pakar Untuk Mendiagnosa Kerusakan Pada Mesin (Engine) Sepeda Motor Yamaha Tipe 2-Tak dan 4-Tak. 2008. 2008. Rancang Bangun Sistem Pakar Untuk Mendiagnosa Penyakit Lupus Berbasis Web. 2002. Jakarta : Elex Media Komputindo.id/umum/choirul/choirul-dasarsql. 2005. Kymco Service Manual Easy 100.go. Astra Honda Motor.68 DAFTAR PUSTAKA 2W Training Department. 2003. Denpasar : Skripsi S1 STIKOM -BALI. Mio Service Manual. Yamaha Motor co. 2009. Indomobil Niaga International. Terakhir diakses tanggal 27 agustus 2009.. 2007. Choirul Amri. Pengantar Administrasi SQL Server 2000. ltd. Denpasar : Skripsi S1 STIKOM-BALI.depsos. Buku Pedoman Reparasi Honda Beat. SQL Server 2000 untuk Profesional. Kadek. http://ikc.Yogyakarta : Andi. 2000. Muhammad. Arhami. Jakarta Muslimah. Jakarta. Kymco Lippo Motor Indonesia. Djuandi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->