2.1 HAKIKAT PENDIDIKAN 1. Berbagai pendekatan.

Hakikat pendidikan itu dapat dikategorisasikan dalam dua pendapat yaitu pendekatan epistemologis dan pendekatan ontologi atau metafisik. Kedua pendekatan tersebut tentunya dapat melahirkan jawaban yang berbeda-beda mengenai apakah hakikat pendidikan itu. Di dalam pendidikan epistemologis yang menjadi masalah adalah akar atau kerangka ilmu pendidikan sebagai ilmu. Pendekatan tersebut mencari makna pendidikan sebagai ilmu yaitu mempunyai objek yang akan merupakan dasar analisis yang akan membangun ilmu pengetahuan yang disebut ilmu pendidikan. Dari sudut pandang pendidikan dilihat sebagai sesuatu proses yang interen dalam konsep manusia. Artinya manusia hanya dapat dimanusiakan melalui proses pendidikan. Berbagai pendapat mengenai hakikat pendidikan dapat digolongkan atas dua kelompok besar yaitu : 1. Pendekatan reduksionisme 2. Pendekatan holistik integratif 1. Pendekatan Redaksional Teori-teori / pendekatan redaksional sangat banyak dikemukakan di dalam khazanah ilmu pendidikan. Dalam hal ini akan dibicarakan berbagai pendekatan reduksionaisme sebagai berikut : 1. Pendekatan pedagogis / pedagogisme 2. Pendekatan Filasofis / religionisme 3. Pendekatan religius / religionisme 4. Pendekatan psikologis / psikologisme 5. Pendekatan negativis / negativisme 6. Pendekatan sosiologis / sosiologismu 1. Pendekatan Pedagogisme Titik tolak dari teori ini ialah anak yang akan di besarkan menjadi manusia dewasa. Pandangan ini apakah berupa pandangan nativisme schopenhouer serta menganut penganutnya yang beranggapan bahwa anak telah mempunyai kemampuan-kemampuan yang dilahirkan dan tinggal di kembangkan saja.

3. Pandangan-pandangan pedagogisme seperti yang telah diuraikan telah lebih memacu masuknya psikologi ke dalam bidang ilmu pendidikan hal tersebut telah mempersempit pandangan para pendidik seakan-akan ilmu pendidikan terbatas kepada ilmu mengajar saja. Salah satu pandangan sosiologisme yang sangat populer adalah konsiensialisme yang dikumandangkan oleh ahli pikir pendidikan Ferkenal Paulo Freire. 6. Oleh sebab itu. Pendekatan Religius Pendekatan religius / religionisme dianut oleh pemikir-pemikir yang melihat hakikat manusia sebagai makhluk yang religius. Titik-tolak dari pandangan ini ialah prioritas kepada kebutuhan masyarakat dan bukan kepada kebutuhan individu. Paulo Freire di dalam pendidikan pembebasan melihat fungsi atau hakikat pendidikan sebagai . Pendekatan Negativis. Peserta didik adalah anggota masyarakat. Proses pendidikan diarahkan kepada pencapaian target-target tersebut dan tidak jarang nilai-nilai kemanusiaan disubordinasikan untuk mencapai target pembangunan.2. 4. 5. Pendidikan ialah menjaga pertumbuhan anak. Pendekatan Psikologis. Pengalaman pembangunan Indonesia selama Orde Baru telah mengarah kepada paham developmentalisme yang menekan kepada pencapaian pertumbuhan yang tinggi. Pendekatan Filosofis. Konsiensialisme yang dikumandangkan Freire merupakan suatu pandangan pendidikan yang sangat mempunyai kadar politis karena dihubungkan dengan situasi kehidupan politik terutama di negara-negara Amerika Latin. target pelaksanaan wajib belajar 9 dan 12 tahun. Dalam sejarah perkembangan manusia kita lihat bahwa tuntutan masyarakat tidak selalu etis. proses pendewasaan anak bertitik-tolak dari anak sebagai anak manusia yang mempunyai tingkat-tingkat perkembangan sendiri. Namun demikian kemajuan ilmu pengetahuan yang sekuler tidak menjawab terhadap kehidupan yang bermoral. Pandangan sosiologisme cenderung berlawanan arah dengan pedagogisme. Pendidikan yang dikumandangkan oleh Freire ini yang juga dikenal sebagai pendidikan pembebasan pendidikan adalah proses pembebasan. Anak manusia mempunyai hakikatnya sendiri dan berada dengan hakikat orang dewasa. target pemberantasan buta huruf. Dengan demikian pandangan negativisme ini melihat bahwa segala sesuatu seakan-akan telah tersedia di dalam diri anak yang bertumbuh dengan baik apabila tidak dipengaruhi oleh hal-hal yang merugikan pertumbuhan tersebut. Versi yang lain dari pandangan ini ialah develop mentalisme. Pendekatan Sosiologis.

Proses pendidikan adalah proses mewujudkan eksistensi manusia yang memasyarakat. Pendekatan reduksionisme terhadap hakikat pendidikan. lingkungan budayanya dan ekologinya. maka dirumuskan suatu pengertian operasional mengenai hakikat pendidikan. Qua atau di dalam istilah Polo Freire. Eksistensi atau keberadaan manusia adalah suatu keberadaan interaktif. yang mempunyai visi terhadap kehidupan di masa depan. Lingkungan tersebut berupa lingkungan manusia. 1. Eksistensi manusia selalu berarti dengan hubungan sesama manusia baik yang dekat maupun dalam ruang lingkup yang semakin luas dengan sesama manusia di dalam planet bumi ini. yang berbudaya. ³kapitalisme yang licik´. termasuk kehidupan pasca kehidupan. Teori-teori tersebut satu persatu sifatnya mungkin mendalam secara Vertikal namun tidak melebar secara horizontal. Sekolah harus berfungsi membangkitkan kesadaran bahwa manusia adalah bebas. nasional dan global. 3. tidak hidup secara terisolasi tetapi dia hidup dan berkembang di dalam suatu masyarakat tertentu. Proses pendidikan yang berkesinambungan berarti bahwa manusia tidak pernah akan selesai. membudaya. menampilkan pandangan ontologis maupun metafisis tertentu mengenai hakikat pendidikan. lingkungan sosial. 2. Pendekatan Holistik Integratif Pendekatan-pendekatan reduksionisme melihat proses pendidikan peserta didik dan keseluruhan termasuk lembaga-lembaga pendidikan. dalam tata kehidupan yang berdimensi lokal. . Pendidikan merupakan suatu proses berkesinambungan.pembebasan manusia dari berbagai penindasan. Peserta didik. Proses pendidikan bukan hanya mempunyai dimensi lokal tetapi juga berdimensi nasional dan global. anak manusia. Rumusan operasional mengenai hakikat pendidikan tersebut di atas mempunyai komponen-komponen sebagai berikut : 1. Sekolah adalah lembaga sosial yang pada umumnya mempresentasi kekuatan-kekuatan sosial politik yang ada agar menjaga status quo hukum membebaskan manusia dari tirani kekuasaan. Proses pendidikan adalah proses penyelamatan kehidupan sosial dan penyelamatan lingkungan yang memberikan jaminan hidup yang berkesinambungan. Jauh Dewey mengatakan bahwa tujuan pendidikan tidak berada di luar proses pendidikan itu tetapi di dalam pendidikan sendiri karena sekolah adalah bagian dari masyarakat itu sendiri. Proses berkesinambungan yang terus menerus dalam arti adanya interaksi dalam lingkungannya. Eksistensi manusia yang memasyarakat. Apabila pendidikan di letakkan di dalam tempatnya yang sebenarnya ialah sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia yang pada dasarnya adalah kehidupan bermoral. Hakikat pendidikan adalah suatu proses menumbuh kembangkan eksistensi peserta didik yang memasyarakat. Proses pendidikan berarti menumbuhkembangkan eksistensi manusia.

4. proses tersebut mempunyai aspek-aspek historisitas. dilestarikan. Proses bermasyarakat dan membudaya mempunyai dimensi-dimensi waktu dan ruang. Dan proses pembudayaan adalah proses pendidikan. Aspek historisitas berarti bahwa suatu masyarakat telah berkembang di dalam proses waktu. keteraturan dan disiplin para anggotanya. Proses pendidikan dalam masyarakat yang membudaya. dikembangkan dan dilaksanakan oleh seluruh anggota masyarakatnya. 5. Menggugurkan pendidikan dari proses pembudayaan merupakan alienasi dari hakikat manusia dan dengan demikian alienasi dari proses humanisasi. Tanpa keteraturan dan disiplin maka suatu kesatuan hidup akan bubar dengan sendirinya dan berarti pula matinya suatu kebudayaan. Dengan dimensi waktu. yang menyejarah. berarti bahwa kekuatan-kekuatan historis telah menumpuk dan berasimilasi di dalam suatu proses kebudayaan. Proses pendidikan adalah proses pembudayaan. Inti dari kehidupan bermasyarakat adalah nilai-nilai. Alienasi proses pendidikan dari kebudayaan berarti menjauhkan pendidikan dari perwujudan nilai-nilai moral di dalam kehidupan manusia. Penghayatan dan pelaksanaan nilai-nilai yang hidup. Nilai-nilai tersebut perlu dihayati. kekinian dan visi masa depan. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful