BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah Keberadaan arbitrase sebagai salah satu alternatif

penyelesaian sengketa sebenarnya sudah lama dikenal meskipun jarang dipergunakan. Arbitrase diperkenalkan di Indonesia

bersamaan dengan dipakainya Reglement op de Rechtsvordering (RV) dan Het Herziene Indonesisch Reglement (HIR) ataupun Rechtsreglement Bitengewesten (RBg), karena semula Arbitrase ini diatur dalam pasal 615 s/d 651 reglement of de rechtvordering. Ketentuan-ketentuan tersebut sekarang ini sudah tidak laku lagi dengan diundangkannya Undang Undang Nomor 30 tahun 1999. Dalam Undang Undang nomor 14 tahun 1970 (tentang Pokok Pokok Kekuasaan Kehakiman) keberadaan arbitrase dapat dilihat dalam penjelasan pasal 3 ayat 1 yang antara lain menyebutkan bahwa penyelesaian perkara di luar pengadilan atas dasar perdamaian atau melalui arbitrase tetap diperbolehkan, akan tetapi putusan arbiter hanya mempunyai kekuatan eksekutorial setelah memperoleh izin atau perintah untuk dieksekusi dari Pengadilan1 Sedangkan definisi perjanjian arbitrase adalah suatu

kesepakatan berupa klausula arbitrase yang tercantum dalam suatu perjanjian tertulis yang dibuat para pihak sebelum timbul sengketa,
1

http://jurnalhukum.blogspot.com/2006/09/klausul-arbitrase-dan-pengadilan_18.html

Di Dalam Kitab Undangundang Hukum Perdata yang tercantum dalam pasal 1320 sebagai syarat sahnya suatu perjanjian adalah : sepakat. Bagaimana sejarah.atau suatu perjanjian arbitrase tersendiri dibuat para pihak setelah timbul sengketa. Putusan Arbitrase bersifat mandiri. sebab yang halal. Oleh karena itu tidak dapat dilakukan perlawanan dalam bentuk upaya hukum apapun. klausula arbitase banyak digunakan sebagai pilihan penyelesaian sengketa. Bagaimana sejarah arbitrase di Indonesia? 2. cakap. Objek dan jenis arbitrase? .2 Rumusan Masalah 1. hal. 1. Dalam banyak perjanjian perdata. Klausula arbitrase berdasarkan akta compromittendo dan akta kompromis. tertentu. final dan mengikat (seperti putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap) sehingga ketua pengadilan tidak diperkenankan memeriksa alasan atau pertimbangan dari putusan arbitrase nasional tersebut. Setiap pendapat yang berlawanan terhadap pendapat hukum yang diberikan tersebut berarti pelanggaran terhadap perjanjian (breach of contract wanprestasi). Pendapat hukum yang diberikan lembaga arbitrase bersifat mengikat (binding) oleh karena pendapat yang diberikan tersebut akan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjanjian pokok (yang dimintakan pendapatnya pada lembaga arbitrase tersebut).

arbitrage atau schiedsruch (Jerman). perkataan arbitrase adalah berasal dari kata arbitrare (Latin) yang berarti kekuasaan untuk menyelesaikan sesuatu menurut kebijaksanaan. 1 Tahun 1950. yang mengaturtentang acara dalam tingkat banding terhadap putusan-putusan wasit. Secara harfiah.3 Tinjauan Pustaka Arbitrase Kata “arbitrase” berasal dari bahasa asing yaitu “arbitrare”. Subekti menyatakan bahwa arbitrase adalah penyelesaian atau pemutusan sengketa oleh seorang hakim atau para hakim berdasarkan persetujuan bahwa para pihak akan tunduk pada atau menaati keputusan yang diberikan oleh hakim yang mereka pilih. arbitration (Inggris). Definisi secara terminologi dikemukakan berbeda-beda oleh para sarjana saat ini walaupun pada akhirnya mempunyai inti makna yang sama. Arbitrase di Indonesia dikenal dengan “perwasitan” secara lebih jelas dapat dilihat dalam Undang-undang No. Arbitrase juga dikenal dengan sebutan atau istilah lain yang mempunyai arti sama. dengan demikian orang yang ditunjuk mengatasi sengketa tersebut adalah wasit atau biasa disebut “arbiter”. . seperti : perwasitan atau arbitrage (Belanda).1. arbitrage (Prancis) yang berarti kekuasaan menyelesaikan sesuatu menurut kebijaksanaan.

N. walaupun hanya untuk kasus yang sedang ditangani. sedangkan arbitrase menggunakan forum tribunal yang dibentuk khusus untuk kegiatan tersebut. Poin penting yang membedakan Pengadilan dan arbitrase adalah bila jalur Pengadilan (judicial settlement) menggunakan satu peradilan permanen atau standing court. . di mana para pihak bersepakat agar perselisihan mereka tentang hak pribadi yang dapat mereka kuasai sepenuhnya diperiksa dan diadili oleh hakim yang tidak memihak yang ditunjuk oleh para pihak sendiri dan putusannya mengikat bagi keduabelah pihak. Dalam arbitrase.M. arbitrator bertindak sebagai “hakim” dalam mahkamah arbitrase. Pada dasarnya arbitrase adalah suatu bentuk khusus Pengadilan. sebagaimana hakim permanen.H. Purwosutjipto menggunakan istilah perwasitan untuk arbitrase yang diartikan sebagai suatu peradilan perdamaian.

karena semula Arbitrase ini diatur dalam pasal 615 s/d 651 reglement of de rechtvordering.2 Objek Arbitrase Objek perjanjian arbitrase (sengketa yang akan diselesaikan di luar pengadilan melalui lembaga arbitrase dan atau lembaga . Dalam Undang Undang nomor 14 tahun 1970 (tentang Pokok Pokok Kekuasaan Kehakiman) keberadaan arbitrase dapat dilihat dalam penjelasan pasal 3 ayat 1 yang antara lain menyebutkan bahwa penyelesaian perkara di luar pengadilan atas dasar perdamaian atau melalui arbitrase tetap diperbolehkan.1 Sejarah Arbitrase di Indonesia Keberadaan arbitrase sebagai salah satu alternatif penyelesaian sengketa sebenarnya sudah lama dikenal meskipun jarang dipergunakan.BAB II PEMBAHASAN 2. Arbitrase diperkenalkan di Indonesia bersamaan dengan dipakainya Reglement op de Rechtsvordering (RV) dan Het Herziene Indonesisch Reglement (HIR) ataupun Rechtsreglement Bitengewesten (RBg). akan tetapi putusan arbiter hanya mempunyai kekuatan eksekutorial setelah memperoleh izin atau perintah untuk dieksekusi dari Pengadilan. 2. Ketentuan-ketentuan tersebut sekarang ini sudah tidak laku lagi dengan diundangkannya Undang Undang Nomor 30 tahun 1999.

30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa atau UNCITRAL Arbitarion Rules. Sementara itu Pasal 5 (2) UU Arbitrase memberikan perumusan negatif bahwa sengketa-sengketa yang dianggap tidak dapat diselesaikan melalui arbitrase adalah sengketa yang menurut peraturan perundang-undangan tidak dapat diadakan perdamaian sebagaimana diatur dalam KUH Perdata Buku III bab kedelapan belas Pasal 1851 s/d 1854. Arbitrase Ad-hoc dilaksanakan berdasarkan aturan-aturan yang sengaja dibentuk untuk tujuan arbitrase. Pada umumnya arbitrase ad-hoc direntukan berdasarkan perjanjian yang menyebutkan penunjukan majelis arbitrase serta prosedur pelaksanaan yang disepakati oleh para . perbankan. 2. industri dan hak milik intelektual. Adapun kegiatan dalam bidang perdagangan itu antara lain: perniagaan.3 Jenis-jenis Arbitrase Arbitrase dapat berupa arbitrase sementara (ad-hoc) maupun arbitrase melalui badan permanen (institusi).alternatif penyelesaian sengketa lainnya) menurut Pasal 5 ayat 1 Undang Undang Nomor 30 tahun 1999 (“UU Arbitrase”) hanyalah sengketa di bidang perdagangan dan mengenai hak yang menurut hukum dan peraturan perundang-undangan dikuasai sepenuhnya oleh pihak yang bersengketa. keuangan. penanaman modal. misalnya UU No.

pihak.sebagai keputusan dalam tingkat pertama dan terakhir". Badan-badan tersebut mempunyai peraturan dan sistem arbitrase sendiri-sendiri. pertentangan atau tuntutan yang terjadi atau sehubungan dengan perjanjian ini. Standar klausul arbitrase UNCITRAL (United Nation Comission ofInternational Trade Law) adalah sebagai berikut: "Setiap sengketa.yang keputusannya mengikat kedua belah pihak yang bersengketa. akan diselesaikan dan diputus oleh Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) menurut peraturan-peraturan prosedur arbitrase BANI. Penggunaan arbitrase Ad-hoc perlu disebutkan dalam sebuah klausul arbitrase. atau yang internasional seperti The Rules of Arbitration dari The International Chamber of Commerce (ICC) di Paris. BANI (Badan Arbitrase Nasional Indonesia) memberi standar klausularbitrase sebagai berikut: "Semua sengketa yang timbul dari perjanjianini. Saat ini dikenal berbagai aturan arbitrase yang dikeluarkan oleh badan-badan arbitrase seperti Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI). atau wan prestasi. The Arbitration Rules dari The International Centre for Settlement of Investment Disputes (ICSID) di Washington. pengakhiran . Arbitrase institusi adalah suatu lembaga permanen yang dikelola oleh berbagai badan arbitrase berdasarkan aturan-aturan yang mereka tentukan sendiri.

Priyatna menjelaskan bahwa bisa saja klausul atau perjanjian arbitrase dibuat setelah sengketa timbul2 2 http://www. sah atau tidaknyaklausul arbitrase. Artinya ada atau tidaknya.atau sah tidaknya perjanjian akan diselesaikan melalui arbitrase sesuai dengan aturan-aturan UNCITRAL. yang diperiksa pertama kaliadalah klausul arbitrase. Akta Kompromis yaitu suatu perjanjian arbitrase tersendiri yang dibuat para pihak setelah timbul sengketa.scribd.” Pada dasarnya arbitrase dapat berwujud dalam dua bentuk.com/doc/46913639/ARBITRASE . Factum de compromitendo yaitu klausa arbitrase yang tercantum dalam suatau perjanjian tertulis yang dibuat para pihak sebelum timbul sengketa. Menurut Priyatna Abdurrasyid. akan menentukan apakah suatu sengketa akan diselesaikan lewat jalur arbitrase. 2. Ketua BANI. yaitu: 1.

final dan mengikat (seperti putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap) sehingga kita dapat . Objek perjanjian arbitrase menurut Pasal 5 ayat 1 Undang Undang Nomor 30 tahun 1999 (“UU Arbitrase”) hanyalah sengketa di bidang perdagangan dan mengenai hak yang menurut hukum dan peraturan perundang-undangan dikuasai sepenuhnya oleh pihak yang bersengketa Arbitrase dapat berupa arbitrase sementara (ad-hoc) maupun arbitrase melalui badan permanen (institusi). Memakai cara arbitrase dalam menyelesaikan masalah. 2.2 Saran 1. sangat baik dan banyak keuntungan yang didapat.1 Kesimpulan 1. Keberadaan arbitrase sebagai salah satu alternatif penyelesaian sengketa sebenarnya sudah lama dikenal meskipun jarang dipergunakan. Putusan Arbitrase bersifat mandiri.BAB III PENUTUP 3. 2. 3.

com/2006/09/klausul-arbitrase-danpengadilan_18.blogspot.DAFTAR PUSTAKA http://jurnalhukum.com/doc/46913639/ARBITRASE .html http://www.scribd.

Saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah Swt.KATA PENGANTAR Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah Swt. Melimpahkan kemanfaatan dan juga pahala kepada pembuat makalah. semoga Allah Swt. Siapa pun yang akan diberi hidayah Allah Swt. Langsa.. Muhammad Saw. Adalah hamba dan utusan-Nya. Senantiasa mencurahkan selawat dan salam-Nya kepada hamba dan Rasul terkasih-Nya. 2011 . dan guru pembimbing. Kita selalu memujiNya. maka tidak ada seorang pun yang akan bisa memberi hidayah kepadanya. Kita berlindung kepada Allah Swt. Harapan saya. . Akhirnya. Dari kejahatan diri dan amal perbuatan kita.maka tidak ada seorang pun yang akan bisa menyesatkannya.. maghfirah dan hidayah hanya kepadaNya. dan saya juga bersaksi bahwa Nabi Muhammad Saw.. pembaca. semoga melalui makalah yang sederhana ini. Dia Maha esa. Allah Swt. kepada keluarganya dan seluruh sahabatnya. dan siapa pun yang akan disesatkan oleh Allah Swt. tiada sekutu bagi-Nya.memohon pertolongan.

2 Saran.................. 2 1......................................................................................................... 1 1.............................. 6 BAB III PENUTUP.............. 5 2..................2 Objek Arbitrase...................... 3......................................................................................................................... 5 2...................................3 Tinjauan Pustaka................................................................................................................................... 3..................2 Pengertian Ketahanan Dan Keamanan Nasional..............................................1 Latar Belakang Masalah.......................... ii BAB 1 PENDAHULUAN.................................................................... 5 2.................................................. i Daftar Isi................. .......................................... Daftar Pustaka.......................................................................DAFTAR ISI Kata Pengantar .............................................................................1 Sejarah Arbitrase Di Indonesia.............................................2 Rumusan Masalah.............................. 5 2...................................1 Kesimpulan................... 1 1....3 Jenis-Jenis Arbitrase.................................. 3 BAB II PEMBAHASAN..............................

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful