P. 1
mltmdia ineraktif

mltmdia ineraktif

|Views: 35|Likes:
Published by akbar_nasrum

More info:

Published by: akbar_nasrum on Jan 05, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/05/2012

pdf

text

original

11

BAB II LANDASAN TEORI

A. Multimedia Interaktif 1. Pengertian Multimedia Interaktif Secara etimologis multimedia berasal dari bahasa latin multi yang berarti
banyak, bermacam-macam, dan medium yang berarti sesuatu yang dipakai untuk menyampaikan atau membawa sesuatu. Kata medium juga diartikan sebagai alat untuk mendistribusikan dan mempresentasikan informasi. Sehingga multimedia dapat diartikan sebagai media yang menggabungkan dua unsur atau lebih yang

terdiri dari teks, gambar, grafis, foto, audio, video dan animasi secara terintegrasi. Berikut merupakan pengertian multimedia menurut beberapa ahli :
1. Kombinasi dari paling sedikit dua media input atau output. Media ini dapat berupa audio (suara, musik), animasi, video, teks, grafik dan gambar (Turban

dan kawan-kawan, 2002 dalam Wijaya, 2010)
2. Alat yang dapat menciptakan presentasi yang dinamis dan interaktif yang mengkombinasikan teks, grafik, animasi, audio dan video (Robin dan Linda,

2001 dalam Wijaya, 2010)
3. Multimedia dalam konteks komputer menurut Hofstetter (dalam Wijaya, 2010) adalah: pemanfaatan komputer untuk membuat dan menggabungkan teks, grafik, audio, video, dengan menggunakan tool yang memungkinkan

pemakai berinteraksi, berkreasi, dan berkomunikasi.

12

4.

Multimedia sebagai perpaduan antara teks, grafik, sound, animasi, dan video
untuk menyampaikan pesan kepada publik (Wahono, 2007 dalam Wijaya,

2010)
5. Multimedia merupakan kombinasi dari data text, audio, gambar, animasi,

video, dan interaksi (Zeembry, 2008 dalam Wijaya, 2010)
6. Multimedia (sebagai kata sifat) adalah media elektronik untuk menyimpan dan menampilkan data-data multimedia (Zeembry, 2008 dalam Wijaya,

2010).
Supriyatna (2008:22) juga mengemukan bahwa “multimedia adalah penggunaan berbagai jenis media (teks, suara, grafik, animasi dan video) untuk menyampaikan informasi, kemudian ditambahkan elemen yang ke enam yaitu interaktif”. Berikut merupakan penjelasan elemen-elemen dalam sebuah

multimedia interaktif (Supriyatna, 2008:23) diantaranya yaitu : a. Elemen visual diam (foto dan gambar)
Pada multimedia elemen ini dapat digunakan untuk mendeskripsikan

sesuatu dengan lebih jelas. b. Elemen visual bergerak
Video pada multimedia digunakan untuk menggambarkan suatu aksi, sedangkan animasi digunakan untuk menjelaskan serta mensimulasikan sesuatu

yang sulit dilakukan dengan video. c. Elemen suara Penggunaan suara pada multimedia dapat berupa narasi, lagu, dan sound effect. Umumnya narasi ditampilkan bersama-sama dengan foto atau teks untuk

13

lebih memperjelas informasi yang akan disampaikan. Selain itu suara juga dapat digunakan untuk mengalihkan perhatian. d. Elemen teks
Teks dapat digunakan untuk menjelaskan foto atau gambar. Penggunaan teks pada multimedia perlu diperhatikan diantaranya penggunaan jenis huruf,

ukuran huruf, dan style hurufnya (warna, bold, italic). e. Elemen interaktif
Elemen ini merupakan elemen yang paling penting dalam multimedia interaktif. Elemen lain seperti teks, suara, video dan foto dapat disampaikan dimedia lain seperti TV dan VCD player, sedangkan elemen interaktif hanya dapat ditampilkan di komputer. Elemen ini benar-benar memanfaatkan kemampuan komputer sepenuhnya. Aspek interaktif pada multimedia dapat

berupa navigasi, simulasi, permainan dan latihan soal. 2. Tujuan Multimedia
Multimedia bertujuan untuk menyajikan informasi dalam bentuk yang meyenangkan, menarik, mudah dimengerti, dan jelas. Informasi akan mudah dimengerti karena sebanyak mungkin indera, terutama telinga dan mata, digunakan untuk menyerap informasi tersebut (Wahono:2007 dalam Wijaya,

2010). 3. Multimedia Pembelajaran
Pembelajaran adalah sebuah proses komunikasi antara pembelajar, pengajar dan bahan ajar. Komunikasi tidak akan berjalan tanpa bantuan sarana penyampai pesan atau media. Menurut Gerlach dan Erly (dalam Arsyad, 2005:3)

14

mengatakan bahwa “media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia,
materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuaan, keterampilan, dan sikap. Dalam pengertian ini guru, buku teks dan likungan sekolah merupakan media. Secara lebih khusus,

pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alatalat grafis, photografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan

menyusun kembali informasi visual atau verbal”.
Pembelajaran juga diartikan sebagai proses penciptaan lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar. Jadi dalam pembelajaran yang utama adalah bagaimana siswa belajar. Belajar dalam pengertian aktifitas mental siswa dalam berinteraksi dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan perilaku yangbersifat relatif konstan. Dengan demikian aspek yang menjadi penting dalam aktifitas belajar adalah lingkungan. Bagaimana lingkungan ini diciptakan dengan

menata unsur-unsurnya sehingga dapat mengubah perilaku siswa.
Dari uraian di atas, apabila kedua konsep tersebut yaitu multimedia dan pembelajaran kita gabungkan maka dapat diartikan sebagai aplikasi multimedia yang digunakan dalam proses pembelajran, dengan kata lain untuk menyalurkan pesan (pengetahuan, keterampilan dan sikap) serta dapat merangsang piliran, perasaan, perhatian dan kemauan yang belajar sehingga secara sengaja proses

belajar terjadi, bertujuan dan terkendali. 4. Manfaat Multimedia pembelajaran
Secara umum manfaat yang dapat diperoleh adalah proses pembelajaran lebih menarik, lebih interaktif, jumlah waktu mengajar dapat dikurangi, kualitas

15

belajar siswa dapat ditingkatkan dan prises belajar mengajar dapat dilakukan di mana dan kapan saja, serta sikap belajar siswa dapat ditingkatkan.
Beberapa keunggulan dari sebuah multimedia pembelajaran (Samodra,

2009):
1. Memperbesar benda yang sangat kecil dan tidak tampak oleh mata, seperti

kuman, bakteri, elektron.
2. Memperkecil benda yang sangat besar yang tidak mungkin dihadirkan ke

sekolah, seperti gajah, rumah, gunung.
3. Menyajikan benda atau peristiwa yang kompleks, rumit dan berlangsung cepat atau lambat, seperti sistem tubuh manusia, bekerjanya suatu mesin,

beredarnya planet Mars, berkembangnya bunga. 4.
5.

Menyajikan benda atau peristiwa yang jauh, seperti bulan, bintang, salju.
Menyajikan benda atau peristiwa yang berbahaya, seperti letusan gunung

berapi, harimau, racun. 6. Meningkatkan daya tarik dan perhatian siswa.
Berikut ini merupakan beberapa karakteristik multimedia pembelajaran

(Samodra, 2009) :
1. Memiliki lebih dari satu media yang konvergen, misalnya menggabungkan

unsur audio dan visual.
2. Bersifat interaktif, dalam pengertian memiliki kemampuan untuk

mengakomodasi respon pengguna.

16

3.

Bersifat mandiri, dalam pengertian memberi kemudahan dan kelengkapan isi
sedemikian rupa sehingga pengguna bisa menggunakan tanpa bimbingan oran

lain. Disamping itu, terdapat juga kriteria penilaian multimedia interaktif, kriteria penilaian yang pertama adalah kemudahan navigasi. Sebuah program harus dirancang sesederhana mungkin sehingga pembelajar bahasa tidak perlu belajar komputer lebih dahulu. Kriteria yang kedua adalah kandungan kognisi, kriteria yang lainnya adalah pengetahuan dan presentasi informasi. Kedua kriteria ini adalah untuk menilai isi dari program itu sendiri, apakah program telah memenuhi kebutuhan pembelajaran si pembelajar atau belum. Kriteria keempat adalah integrasi media dimana media harus mengintegrasikan aspek dan ketrampilan bahasa yang harus dipelajari. Untuk menarik minat pembelajar, program harus mempunyai tampilan yang artistik maka estetika juga merupakan sebuah kriteria. Kriteria penilaian yang terakhir adalah fungsi secara keseluruhan. Program yang dikembangkan harus memberikan pembelajaran yang diinginkan oleh pembelajar. Sehingga pada waktu seorang selesai menjalankan sebuah program dia akan merasa telah belajar sesuatu. B. 1. Membaca Permulaan Pengertian membaca permulaan Membaca permulaan merupakan tahapan proses belajar membaca bagi siswa sekolah dasar kelas awal. Siswa belajar untuk memperoleh kemampuan dan menguasai teknik-teknik membaca dan menangkap isi bacaan dengan baik. Oleh

17

karena itu guru perlu merancang pembelajaran membaca dengan baik sehingga mampu menumbuhkan kebiasan membaca sebagai suatu yang menyenangkan.
Empat aspek keterampilan berbahasa dalam dua kelompok kemampuan

(Muchlisoh, 1992: 119) :
1. Keterampilan yang bersifat menerima (reseptif) yang meliputi ketrampilan

membaca dan menyimak.
2. Keterampilan yang bersifat mengungkap (produktif) yang meliputi ketrampilan

menulis dan berbicara.
Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar (SD) bertujuan meningkatkan kemampuan siswa berkomunikasi secara efektif, baik lisan maupun tertulis, baik dalam situasi resmi non resmi, kepada siapa, kapan, dimana, untuk tujuan apa. bertumpu pada kemampuan dasar membaca dan menulis juga perlu

diarahkan pada tercapainya kemahirwacanaan.
Pada tingkatan membaca permulaan, pembaca belum memiliki keterampilan kemampuan membaca yang sesungguhnya, tetapi masih dalam tahap belajar untuk memperoleh keterampilan atau kemampuan membaca. Membaca pada tingkatan ini merupakan kegiatan belajar mengenal bahasa tulis. Melalui tulisan itulah siswa dituntut dapat menyuarakan lambang-lambang bunyi bahasa tersebut, untuk memperoleh kemampuan membaca diperlukan tiga syarat, yaitu kemampuan membunyikan (a) lambang-lambang tulis, (b) penguasaan kosakata untuk memberi arti, dan (c) memasukkan makna dalam kemahiran bahasa. Membaca permulaan merupakan suatu proses keterampilan dan kognitif. Proses keterampilan menunjuk pada pengenalan dan penguasaan lambang-lambang

18

fonem, sedangkan proses kognitif menunjuk pada penggunaan lambang-lambang
fonem yang sudah dikenal untuk memahami makna suatu kata atau kalimat

(Nuryati, 2007). 2. Tujuan membaca permulaan
Pembelajaran membaca permulaan diberikan di kelas I dan II. Tujuannya adalah agar siswa memiliki kemampuan memahami dan menyuarakan tulisan dengan intonasi yang wajar, sebagai dasar untuk dapat membaca lanjut. Tujuan membaca permulaan juga dijelaskan dalam (Depdikbud, 1994:4) yaitu agar “Siswa dapat membaca kata-kata dan kalimat sederhana dengan lancar dan tepat“. Pelaksanaan membaca permulaan di kelas I Sekolah Dasar dilakukan dalam dua tahap, yaitu membaca periode tanpa buku dan membaca dengan menggunakan buku. Pembelajaran membaca tanpa buku dilakukan dengan cara mengajar dengan menggunakan media atau alat peraga selain buku misalnya kartu gambar, kartu huruf, kartu kata dan kartu kalimat. Pembelajaran membaca

dengan buku merupakan kegiatan membaca dengan menggunakan buku sebagai

bahan pelajaran. 3. Hakikat membaca
Pada hakikatnya membaca merupakan proses memahami dan

merekonstruksi makna yang terkandung dalam bahan bacaan. Membaca merupakan salah satu jenis kemampuan berbahasa tulis yang bersifat reseptif. Disebut reseptif karena dengan membaca seseorang akan memperoleh informasi, memperoleh ilmu dan pengetahuan serta pengalaman-pengalaman baru. Semua yang diperoleh melalui bacaan akan memungkinkan seseorang mampu

19

mempertinggi daya pikirnya, mempertajam pandangannya, dan memperluas wawasannya (Zuchdi dan Budiasih, 1996:49).
Membaca adalah proses aktif dari pikiran yang dilakukan melalui mata terhadap bacaan. Dalam kegiatan membaca, pembaca memroses informasi dari teks yang dibaca untuk memperoleh makna. Membaca merupakan kegiatan yang penting dalam kehidupan sehari-hari, karena membaca tidak hanya untuk memperoleh informasi, tetapi berfungsi sebagai alat untuk memperluas pengetahuan bahasa seseorang. Dengan demikian, anak sejak kelas awal SD perlu

memperoleh latihan membaca dengan baik khususnya membaca permulaan.
Manfaat kegiatan membaca antara lain (1) sebagai media rekreatif; (2) media aktualisasi diri; (3) media informatif; (4) media penambah wawasan; (5) media untuk mempertajam penalaran; (6) media belajar suatu keterampilan, (7)

media pembentuk kecerdasan emosi dan spiritual (Winiasih, 2007: 3). C. Anak Tunarungu 1. Pengertian Tunarungu
Istilah gangguan pendengaran (hearing impaired) tidak terbatas pada individu yang kehilangan pendengaran sangat berat saja, melainkan mencakup

seluruh tingkat gangguan pendengaran. Menurut Abdurrachman dan Sudjadi
(1994:59) Tunarungu adalah keadaan kehilangan pendengaran yang meliputi berbagai tingkatan baik itu ringan, sedang, berat dan sangat berat yang akan berdampak pada gangguan komunikasi dan bahasa. Keadaan ini membutuhkan pelayanan pendidikan khusus, meskipun telah diberikan alat bantu mendengar. Seseorang dikatakan tuli jika pendengarannya rusak sampai pada satu syaraf

20

tertenu sehingga menghalangi pengertian terhadap suatu pembicaraan melalui
indra pendengaran baik itu tanpa maupun dengan alat bantu dengar (hearing aid)

oleh Moores (dalam Abdurrachman dan Sudjadi 1994 : 59).
Berikut merupakan beberapa cara berkomunikasi dengan anak tunarungu : (1) bicara harus berhadapan dan diusahakan sejajar; (2) harus melihat muka pembicara; (3) jarak harus sesuai dengan daya jangkau penglihatan; (4) bicara wajar dan jangan dibuat-buat; (5) berekspresi dan melodius; (6) cahaya harus cukup terang; (7) mulut tidak tertutup oleh benda lain; (8) artikulasi jelas; (9)

kalimat sederhana; (10) pemakaian isyarat sebagai simulasi. 2. Klasifikasi Tunarungu
Berikut merupakan klasifikasi tunarungu menurut Myklebust (dalam

Abdurrachman dan Sudjadi, 1994 : 61) yang di kelompokkan berdasarkan :
1. Tingkat pendengaran, yaitu bergantung pada kehilangan tingkatan dalam

pendengaran a. b. c. d. e. 2. Sangat ringan (27 – 40 dB) Ringan (41 – 55 dB) Sedang (56 – 70 dB) Berat (71 – 90 dB) Berat sekali (91 dB ke atas)

Waktu rusaknya pendengaran
a. Bawaan, dimana terdapat dua jenis bawaan yaitu bawaan tunarungu

semenjak lahir dan rusaknya indra pendengaran dalam kehidupan seharihari.

21

b.

Perolehan : anak lahir dengan pendengaran normal akan tetapi dikemudian
hari indra pendengarannya menjadi tidak berfungsi yang disebabkan

karena kecelakaan atau suatu penyakit.
Sedangkan kalsifikasi tunarungu menurut Puesche et al (dalam

Abdurrachman dan Sudjadi, 1994:64) dibedakan menjadi dua yaitu : 1. Tingkat ketunarunguan
a. Kehilangan pendengaran ringan, dimana masih bisa mendengar dan berpartisipasi dalam percakapan akan tetapi kesulitan dalam memdengar

suara yng lembut serta pelan.
b. Kehilangan pendengaran sedang, pada tingkat ini sukar mengikuti percakapan yang normal dan artikulasi kurang baik sehingga

perkembangan bahasanya terbelakang.
c. Kehilangan pendengaran berat, sebagian besar apa yang di ucapkan orang

tidak dapat di dengar.
d. Kehilangan pendengaran sangat berat,biasanya dilakukan komunikasi

dengan bahasa isyarat atau menggunakan tulisan. 2. Tempat kerusakan dalam telinga
a. Kerusakan konduktif, terjadi apabila bagian luar dan bagian tengah telinga tidak meneruskan getaran suara ke bagian dalam telinga. Ini dapat

disembuhkan melalui pengobatan atau pembedahan.
b. Kerusakan sensori, terjadi karena rumah siput tidak mampu mengantarkan informasi mengenai macam- macan suara yang diterima dari bagian tengah

telinga.

22

c.

Kerusakan saraf, ini terjadi karena adanya kerusakan pada saraf ataupun mekanisme sensorik.

3.

Penyebab tunarungu
Penyebab kerusakan pendengaran menurut Brown (dalam Abdurrachman

dan Sudjadi, 1994:71) yaitu : (1) Materna Rubella (campak); (2) factor keturunan; (3) ada komplikasi pada saat dalam kandungan dan kelahiran premature, berat

badan kurang, bayi yang lahir biru; (4) Meningitis (radang otak) sehingga ada semacam bakteri yang dapat merusak sensivitasalat dengar dibagian dalam telinga; (5) kecelakaan, trauma atau penyakit. Sedangkan berdasarkan waktu terjadinya, penyebab tunarungu dibedakan menjadi tiga, yang pertama yaitu sebelum lahir (prenatal) yang kedua pada saat kelahiran (perinatal) dan pada saat kelahiran (postnatal). Kemudian Bootroyd (dalam Abdurrachman dan Sudjadi, 1994:72) juga menjabarkan beberapa penyebab tunarungu diantaranya adalah sebagai berikut : 1. 2. 3. Karena keturunan Karena penyakit, yang rentan terjadi pada waktu ibu hamil muda. Karena obat-obatan, pada saat kehamilan obat-obatan yang dikonsumsi oleh ibu bisa mempengaruhi kesehatan anak dalam kandungan. 4. Karena kondisi traumatis seperti kurang gizi, radiasi, lahir premature atau karena mendengar bunyi yang terlalu bising atau keras. 4. Dampak ketunarunguan Abdurrachman dan Sudjadi (1994:72) mengemukakan akibat rusaknya rusaknya pendengaran, yang akan menimbulkan :

23

1.

Gangguan preseptual dimana anak alam sekitar yang menghasilkan suara.

tidak dapat mengidentifikasi bunyi dari

2.

Gangguan bicara sehingga anak tidak dapat mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan gerak mekanisme bicara. Akibatnya mereka tidak

memperoleh kontradiksi bicaranya.
3. Gangguan komunikasi dimana anak tidak dapat mengekspresikan apa yang

mereka pikirkan kepada orang lain kecuali melalui gerakan atau isyaratisyarat yang mereka pahami.
4. Gangguan kognitif, disini anak-anak tunarungu mempelajari dunia mereka melalui hal-hal yang konkrit. Mereka akan sulit mengerti apa yang dimaksud

dengan kebijaksanaan karena kata kebijaksanaan terlalu abstrak.
5. Gangguan sosial, mereka akan mengalami kesulitan perkembangan dalam

cara-cara bertingkah laku yang tepat terhadap orange lain.
6. Gangguan emosi, anak tidak dapat mendengarkan apa yang dibicarakan orang lain dan ia juga sulit mengekspresikan apa yang ada dalam pikiran dan perasaannya akibatnya ia akan cendrung egosentris, mudah curiga, menarik

diri atau berbuat yang berlebihan.
7. Masalah kependidikan, anak tunarungu memperoleh pengalaman pendidikan

yang minim. 8.
9.

Gangguan dalam intelektual
Masalah vokasional, dimana kurangnya kemampuan verbal, pengetahuan

umum, kemampuan akademik dan keterampilan sosial.

24

D. Membaca Permulaan Dengan Multimedia Interaktif Pada Tunarungu Membaca permulaan dengan multimedia interaktif pada tunarungu yaitu
belajar membaca yang memanfaatkan media komputer dengan menggunakan media komputer dengan aplikasi adobe flash. Model multimedia interaktif yang digunakan adalha tutorial, dimana tutorial ini membimbing siswa secara tuntas menguasai materi dengan cepat dan menarik. Selain itu, penggunaan multimedia interaktif dengan model tutorial bisa menuntun siswa khususnya anak tunarungu

untuk belajar membaca permulaan secara mandiri.
Penggunaan multimedia bertujuan untuk menyajikan informasi dalam bentuk yang meyenangkan, menarik, mudah dimengerti, dan jelas. Informasi akan mudah dimengerti karena sebanyak mungkin indera, terutama telinga dan mata,

digunakan untuk menyerap informasi tersebut.
Belajar membaca permulaan pada tunarungu dengan menggunakan multimedia di mulai dengan pengenalan huruf pada anak tunarungu yaitu huruf vokal dan huruf konsonan. Huruf vokal dan konsonan yang terdapat dalam media pembelajaran juga dilengkapi dengan bahasa isyaratnya supaya lebih mudah di pahami oleh anak tunarungu. Kemudian dilanjutkan dengan gambar- gambar

beserta namanya, kata-kata sederhana serta kalimat sederhana.
Secara umum manfaat yang dapat diperoleh dari penggunaan multimedia adalah proses pembelajaran lebih menarik, lebih interaktif, jumlah waktu mengajar dapat dikurangi, kualitas belajar siswa dapat ditingkatkan dan proses belajar mengajar dapat dilakukan dimana dan kapan saja, serta sikap belajar siswa

25

dapat ditingkatkan. Jadi penggunaan multimedia interaktif

diharapkan dapat

meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada anak tunarungu.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->