Penerapan Teknologi Bersih Di Industri Tekstil

PENERAPAN TEKNOLOGI BERSIH DI INDUSTRI TEKSTIL

Umum Kajian ini adalah hasil evaluasi di sebuah pabrik pencelupan yang melayani berbagai pabrik tenun. Tujuan dari kajian adalah untuk mengusulkan suatu program produksi bersih yang akan : 1. Mengurangi jumlah bahan beracun, bahan baku, dan energi yang dipakai dalam proses pencelupan. 2. Mendemonstrasikan nilai ekonomi dan manfaat bagi lingkungan dari metoda produksi bersih pada industri pencelupan. 3. meningkatkan efisiensi operasi dan kualitas produk. Studi kasus ICIP berasal dari berbagai negara dan menggambarkan jenis bantuan ICIP yang disediakan untuk industri di Indonesia. Secara keseluruhan, kajian mengidentifikasi 37 peluang produksi bersih diklasifikasikan sebagai peluang prioritas pertama, kedua dan ketiga yang dapat mengurangi pemakaian energi pada pabrik ini dan mencegah lepasnya emisi udara lebih dari 14 metrik ton per tahun, serta pengurangan terlepasnya gas panas dan logam berat. Pemakaian air dapat dikurangi dengan 125.000 meter kubik per tahun, dan bahan kimia yang terlepas ke permukaan air, juga dapat dikurangi. Akhirnya, mungkin juga dapat mencegah pembuangan 330 meter kubik limbah padat per tahunnya.

Latar Belakang Pabrik Pabrik ini adalah sebuah industri pencelupan yang melayani pabrikpabrik tenun. Pabrik ini beroperasi dengan dua shift, delapan jam per shift, enam hari per minggu, mempekerjakan tujuh puluh orang pekerja per shift dan

(10) pembuangan dari sisa wol kering. serta kantung natrium sulfat (material yang dapat didaur ulang). (11) emisi udara partikel debu yang berlebihan.000 kg kain wol. bahan kimia. dengan demikian.000 liter dan 1. Kain yang akan dicelup. sejumlah masalah polusi yang ada di pabrik ini. Pada tahun 1992. Pabrik ini menggunakan kurang lebih dua kali lipat jumlah air rata-rata pada industri pencelupan sejenis dengan kapasitas yang sama. terutama benang tenunan yang lepas waktu pencucian. penyikatan dan buang katun. dan energi panas dari beck yang berlebihan. . 1. dan (3) pencelupan. (2) padding (memanaskan tenunan wol yang tipis dalam air mendidih. proses pencelupan katun mencakup dua prosedur yaitu penghilangan kanji (desizing) dan pengelantangan. (3) benda padat tersuspensi yang berlebihan.500 liter air. (8) kebocoran dari koil uap. adalah : (1) kehilangan air. Setiap prosedur mencakup sejumlah tahapan yang harus dilaksanakan sesuai dengan urutan yang benar dan dalam kondisi yang optimal. serta pencelupan. Masalahpolusi yang ada Pada saat kajian. (6) air panas buangan yang berlebihan. dengan kapasitas nominal masing-masing 500 liter. (5) air buangan dengan pH yang berlebihan dari bak dekarbonisasi asam. dihilangkan kanjinya dan selanjutnya dimasukkan ke dalam pencelupan jet. (9) terbentuknya hidrogen sulfida pada bak penampung kotoran (sump) cucian wol. (2) pemakaian air yang berlebihan dalam proses pembilasan. (4) kebocoran air yang mengandung deterjen dari mesin pencuci wol. dan (12) potongan benang dan kabut asam sulfat di dalam ruangan pencucian wol. untuk memperbaiki penampilan dan kecemerlangan).000 kgkain katun dan 360. sebagai akibat dari larutan residu yang tertinggal pada dasar beck. Kain putih dihilangkan kanjinya dan dikelantang di dalam beck. (7) konsentrasi oli dan gemuk serta sulfat dalam air buangan yang berlebihan. Proses manufakturing Pada umumnya. pabrik ini memproses 350.dua puluh pegawai teknik dan administrasi. Pencelupan wol juga mencakup beberapa prosedur : (1) pencucian.

Dampak terhadap lingkungan Mengimplementasi tindakan-tindakan yang direkomendasikan. akan menghasilkan dampak lingkungan yang positif dalam tiga bidang : pengurangan emisi udara. perubahan ini juga akan menghasilkan pengurangan karbon dioksida dan emisi logam berat. juga dibutuhkan untuk mengimplementasikan beberapa perubahan. dengan investasi awal sebesar $1.rekomendasi lebih difokuskan pada pengurangan konsumsi air dan energi yang dibutuhkan untuk pemanasan dalam berbagai proses pencelupan. maka pabrik akan mengkonsumsi setengah dari jumlah air yang dipakainya sekarang. Investasi lainnya sebesar $2. namun besarnya potensi penghematan tidak dapat dibuat tanpa penelitian lebih lanjut. jumlahnya diatas 14 metrik ton per tahun.000 per tahun. sehingga mengurangi emisi udara. Memperbaiki semua penyumbatan (traps) akan mengurangi konsumsi bahan bakar dengan 36 persen. serta pengurangan terbentuknya limbah padat. Bilamana semua perubahan pembilasan telah diimplementasikan. yang sangat berarti bagi lingkungan dan ekonomi pabrik tersebut. Pengurangan pemakaian air kurang lebih 125. Banyak perubahan yang diusulkan akan mengurangi konsumsi uap dan pemakaian bahan bakar yang lebih rendah. atau 454 metrik ton minyak bakar per tahun. Keenam rekomendasi tersebut akan mengurangi biaya operasi sebesar $ 106. Pemakaian air dan bahan kimia. Peluang produksi bersih Kajian mengidentifikasi hampir 40 peluang produksi bersih yang dapat menyelesaikan masalah yang telah diidentifikasi.600. Sebagai tambahan.900. telah dihitung kemungkinan terjadinya penghematan dengan mengimplementasikan enam peluang produksi bersih. Emisi udara.000 . pemakaian air dan bahan kimia yang lebih sedikit. Tim pengkaji telah menyusun prioritas peluang-peluang produksi bersih dan biaya implementasinya. Dari 19 peluang berprioritas tinggi yang telah direkomendasikan. Waktu pembayaran kembali untuk perubahan ini adalah satu minggu. Reduksi emisi udara yang diharapkan dari perubahan ini.

penghilang buih. (2) penyaringan saluran dan pembersihan bak penampung secara teratur untuk mencegah terbentuknya sulfida. (5) menggunakan suatu detergen pencelup jet yang busanya lebih sedikit. dan (8) menentukan formula pengkanjian.000 kg lebih per tahun yaitu dengan menggantinya dengan natrium khlorida dan menyaringbak asam dekarbonisasi. natrium hidrosulfat. asam asetat.disebabkan oleh karakteristik fisik maupun karakteristik kimianya yang memberikan dampak .meter kubik per tahun. deterjen. dan bahan kimia perawatan boiler. Paket Terapan Produksi Bersih pada Industri Tekstil a. (6) mengkalibrasi dan menyetel beck. Sulfat dalam air buangan akan berkurang dengan 70. Bilamana kedua jenis limbah ini didaur ulang. tidak mungkin untuk menghitung sampai seberapa banyak tingkat pengurangan terlepasnya bahan kimia tersebut. pengkilat optik. (3) mencegah luapan pada beck. Limbah padat. akan berkurang sebagai akibat dari adanya perubahan-perubahan yang telah direkomendasikan. Teknologi pengendalian limbah cair Limbah cair merupakan masalah utama dalam pengendalian dampak lingkungan industri tekstil karena memberikan dampak yang paling luas. volume limbah ini dapat dipergunakan kembali paling tidak sekali sebelum dibuang. Terlepasnya bahan kimia lainnya ke selokan. equalizer.1 m3) dan sisa sikatan ditampung dalam sepuluh kantong besar per hari. (7) memperbaiki dan memodifikasi beck dan pencuci wol. seperti bahan pencelup. pemutih. (4) memperbaiki kebocoran koil uap yang mengkontaminasi aliran air dari boiler dan bak pengolah. stabilisator pencelup. Sebelum semua perubahan tersebut dikerjakan. Pemakaian bahan kimia juga akan menurun akibat adanya perubahan-perubahan ini. Limbah padat yang dibuang oleh pabrik ini terutama terdiri dari kantong kimia sulfat dan sisa penyikatan dan buang bulu dari proses penyempurnaan Kalau seandainya delapan kantong sulfat yang dihasilkan per hari ditampung dalam sebuah kantong sampah besar (0. Beberapa perubahan yang akan mempengaruhi terlepasnya bahan kimia adalah: (1) pengendalian proses yang lebih baik. maka volume limbah padat yang belum dipadatkan ini setahunnya menjadi 330 m3.

kapur. Cara pengolahan limbah cair yang saat ini telah dilakukan olch pabrik tekstil yang paling banyak adalah cara kimia yaitu dengan koagulasi menggunakan bahan kimia. Pengelolaan limbah cair dalam proses produksi dimaksudkan untukmeminimalkan (minimisasi) limbah yang terjadi. Bahan kimia yang banyak digunakan adalah ferosulfat. pengolahan limbah (waste treatment). limbah cair harus diolah dan pengolahan limbah tersebut memerlukan biaya investasi dan biaya operasi yang tidak sedikit. alum. PAC dan polielektrolit. Agar dapat memenuhi baku mutu. pemerintah dalam hal ini Menteri Negara KLH telah menetapkan baku mutu limbah cair bagi kegiatan yang sudah beroperasi yang dituangkan dalam Keputusan Menteri Negara KLH Nomor: Kep-03/KLH/II/1991. koagulan digunakan untuk menggumpalkan bahan-bahan yang ada dalam air limbah menjadi flok yang mudah untuk . Telah diuraikan upayaupaya minimisasi limbah cair yang harus dilakukan. serta serat yang terlepas dengan cara kimia atau mekanik selama proses produksi berlangsung. proses Limbah cair akan mengandung bahan-bahan yang dilepas dari serat. Maka pengolahan limbah cair harus dilakukan secara cermat dan terpadu di dalam proses produksi dan setelah proses produksi agar pengendalian berlangsung dengan efektif dan efisien. Pada cara ini. sisa bahan kimia yana ditambahkan pada proses penyempurnaan tersebut. Sedangkan pengelolaan limbah cair setelah proses produksi dimaksudkan untuk menghilangkan atau menurunkan kadar bahan pencemar yang terkandung didalamnya hingga limbah cair memenuhi syarat untuk dapat dibuang (memenuhi baku mutu yang ditetapkan). Limbah cair terutama dihasilkandari penyempumaan tekstil.negatif terhadap lingkungan. Untuk menjamin terpeliharanya sumber daya air dari pembuangan limbah industri. hingga pembuangan limbah (disposal). Dengan demikian dalam pengelolaan limbah cair untuk mendapatkan hasil yang efektif dan efisien perlu dilakukan langkah-langkah pengelolaan yang dilaksanakan secara terpadu dengan dimulai dengan upaya minimisasi limbah (waste minimization). volume limbah minimal dencan konsentrasi dan toksisitas yang juga minimal.

Kelemahan dari cara ini dihasilkannya lumpur kimia (sludge) yang cukup banyak dan diperlukan pencelolaan sludge lebih lanjut. Zat warna tekstil merupakan suatu senyawa organik yang akan memberikan nilai COD dan BOD. dan karbon aktif dapat menurunkan COD 10-60 %. Penghilangan zat warna dari air limbah tekstil akan menurunkan COD dan BOD air limbah tersebut. bergantung pada karakteristik air limbah yang. Pengelolaan sludge yang saat ini dilakukan yaitu dengan mengeringkan sludge pada drying bed lalu dimasukkan ke dalam karung. cara fisik : . Beberapa pabrik tekstil terutama pabrik dencan skala besar telah melakukan pengolahan dengan gabungan cara kimia (koagulasi). memberi efek pencemaran rendah . Sebagai contoh dari basil percobaan di laboratorium BBT. setelah dikoagulasi dengan penambahan larutan Fero (Fe2+) 500 ma/L dan kapur (Ca2+) 250 mg/L air limbah tinggal mengandung zat warna 0.70 %. Cara lumpur aktif yang telah dilakukan dapat menurunkan COD. Pada beberapa pabrik cara ini dilanjutkan dengan melewatkan air limbah melalui Zeolit (suatu batuan alam) dan arang aktif (karbon aktif). Dengan cara tersebut air limbah dengan lumpur aktif yang. diolah dan kondisiproses lumpur aktif yang dilakukan. air limbah tekstil yang mengandung beberapa zat warna reaktif sebanyak 225 mg/L mempunyai COD 534 mg/L dan BOD 99 mg/L. Cara biologi yang banyak dilakukan adalah cara aerobik metode lumpur aktif. BOD 30 .BOD) sebanyak. 40-70 % Zeolit dapat menurunkan COD 10-40%.dipisahkan yaitu dengan cara diendapkan. Cara koagulasi umumnya berhasil menurunkan kadar bahan organik (COD. diapungkan dan disaring. megandung mikroba diaerasi (untuk memasukkan oksigen) hingga terjadi dekomposisi sebagai berikut Organik + O2 ----> CO2 + H20 + Energi. mudah dipisahkan atau yang.17 mg/L dengan COD 261 mg/L dan BOD 69 mg/L. Cara lain yang mulai banyak dilakukan adalah cara biologi. yaitu memanfaatkan aktifitas mikroba biologi untuk menghancurkan bahan-baban yang ada dalam air limbah menjadi bahan yang. Beberapa pabrik telah mengunakan alat pengerin lumpur yaitu filter press atau belt press yang akan megeluarkan air yang terkandung dalam lumpur tersebut.

pelaksanaan pembangunan fasilitas instalasi pengolahan air limbah (IPAL) atau unit pengolahan limbah (UPL) yang benar. dimulai dari perencanaan yang tepat dan teliti.faktor . dan 1 bulan. Setiap metode penglahan memerlukan kondisi proses tertentu agar diperoleh hasil yaga optimal. 1 minggu. dan karakteristik (sifat) kimia dari setiap jenis bahan-bahan tersebut. Dalam menentukan/perencanaan desain IPAL terhadap air limbah yang akan diolah hendaknya diperhatikan hal-hal sebagai berikut: Zat pencemar dalam air limbah industri teksil terdiri dari bahan organik dan anoranik yang mempunyai sifat terlarut atau terdispersi dalam air serta padatan kasarnya . Utamanya dalam perencanaan. berhasil menurunkan (memisahkan) bahan pencemar dan wama dari air limbah. Contohnya: pada beberapa pabrik tekstil yang. jumlah pembubuhan bahan kimia (koagulasi) yang tepat dan pengadukan. Karakterstik kimia dan karakterstik fisik dari air limbah Selanjutnya dalam menentukan/menilai berikut: suatu desain IPAL hendaknya diperhitungakan faktor-faktor Jaminan efektifitas/kemampuan menghilangkan/menurunkan bahan pencemar yang terkandung dalam air limbah Ketersediaan lahan Kemudahan pengoperasian Perimbangan biaya investasi dan biaya operasi Produk samping yang dihasilkan. gas-gas dan sebaiknya. misalnya sifat toksitasnya dan lain-lain. Jumlah air limbah (debit) yang harus diolah perhari. apabila perencanaan sudah tidak tepat akan berakibat timbulnya berbagai kesulitan dalampengoperasian serta biaya tinggi dengan hasil yang tidak memadai. Dengan mempertimbangkan faktor . melakukan proses koagulasi kurang memperhatikan pH. padahal ketiga parameter tersebut sangat menentukan keberhasilan proses koagulasi . Jenis bahan yang terkandung dalam air limbah yaitu bahan yang di lepas dari serat serta bahan kimia yang di bubuhkan dalam suatu proses. seperti sisa serat dan benang. Dari hasil pengamatan dilapangan pelaksanaan pengolahan limbah cair masih banyak yang kurang memperhatikan kondisi proses pengolahan yang harus dilakukan. serta cara pengelolaannya.(penyerapan) dan cara biologi (lumpur aktif). serta pengoperasian UPL yang cermat. Pengolahan limbah cair memerlukan biaya investasi dan biaya operasi yang tidak sedikit. misalnya lumpur. Akibatnya pembentukan "flok" tidak sempuma sehingga proses koagulasinya kurang. Oleh karena itu pengolahan limbah cair harus dilakukan dengan cermat. serta fluktuasi jumlah air limbah dalam 1 hari.

faktor tersebut. Penghilagan bahan organik dan anorganik terlarut. Mencegah terjadinya limbah 1. BOD. Penghilangan /penurunan atau penghancuran bahan organik terdispersi. sehingga apabila digabungkan akan memberatkan atau menyulitkan proses pengolahan. mempunyai beban pencemaran yang sangat tinggi dibandingkan dengan air limbah dari proses lainnya. Pada umumnya pengolahan air limbah industri tekstil memerlukan tahap-tahap pengolahan sebagai berikut Pemisahan padatan kasar yaitu sisa serat dan padatan kasar lainnya Segregrasi.kurangnya dapat ditentukan skala prioritas terhadap faktor . Ekualisasi untuk menghomogenkan konsentrasi zat pencemar. akan tetapi harus diperhatikan pula dampak penggunaan bahan kimia yang dipilih terhadap karakteristik limbah serta cara dan biava pengolahan limbah yang dikeluarkan dari proses tersebut karena adanya sisa bahan kimia yang dipilih. tetapi lebih banyak ditujukan untuk membantu kelancaran dan meningkatkan efektifitas tahap pengolahan selanjutnya. dan sifat ekologinya.banyak memberikan efek penurunan COD. Tahap ini tidak. Untuk menerapkan strategi produksi bersih. atau bersifat racun (toxic). Pemilihan bahan kimia pembantu (auxilliaries) Diupayakan sedapat mungkin mengunakan bahan kimia pembantu yang mempunyai beban pencemaran dan sifat toksik yang rendah. tetapi juga diberikan nama kimia (struktur kimia komponen utamanya). Tahap 1. Dalam hal ini setiap bahan pembantu tekstil diharapkan tidak hanya mencantumkan nama dagang dan bidang penggunaannya. maka dalam pemilihan bahan kimia yana akan digunakan pada suatu proses basah tekstil jangan hanya memperhatikan keandalan bahan kimia tersebut untuk keberhasilan proses yang dikehendaki serta biaya prosesnya. temperatur dan sebagainya. serta untuk menyamakan laju alir/debit atau menghindari /mengurangi fluktuasi laju alir. akan tetapi sekurang . untuk mendapatkan metode yang ideal memang tidak mudah.di atas akan ditentukan metode pengolahan. Pemilihan bahan kimia pembantui harus pula memperhatikan unit . 2 dan 3 merupakan Pre-treatment. b. hal ini dilakukan apabila air limbah dari suatu proses tertentu mempuyai sifat yang spesifik.

Penghematan pemakaian air . Melakukan perencanaan proses dengan cermat 3.pengolahan limbah (UPL) yana tersedia. Perlu dipertimbangkan apabila produk harus ecolabel maka bahan baku juga harus ecolabel. Mengurangi limbah dari sumbernya . dalam pencapan resep dan untuk penyempurnaan faktor akhir. Hal ini diperkuat dengan adanya ketentuan Ecolabel vang diperkirakan akan diberlakukan dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi terhadap produk industri yancg akan memasuki negara-negara maju. dll. Pembubuhan zat kimia pembantu dalam suatu proses diberikan berdasarkan perbandingan terhadap jumlah larutan (misalnya x g/l) sehingga pengurangan/penghematan pemakaian air dalam suatu proses akan berarti pula pengurangan/penghematan pemakaian zat kimia pembantu. dari bahan kimia yang akan dibeli kepada penjual.Penggunaan kembali air pencuci . sifat biodegradasi. terutama pada pengunaan zat kimia pembantu. hal ini berarti bahan kimia terutama yang berupa bahan impor harus ecolabel.Pencucian dengan aliran air cross flow . 2. berlebihan pada pasta pencapan untuk mempermudah pelarutan pasta. bahan pembasah) gunakan yang biodegradable dan sedikit menimbulkan busa. Sudah saatnya sebagai pembeli/pemakai. kandungan B3 misalnya logam berat. Pencelupan dengan zat warna belerang c. Misalnya : Surfaktan (bahan pencuci. umumnya pencelupan. bisa diganti dengan penggunaan mixer putaran tinggi. Pada penyusunan keamanan diberikan .Penghematan pemakaian zat kimia Pemakaian zat kimia erat kaitannya dengan pemakaian air. bahan kimia yang dipilih harus mampu diolah dalam UPL yang tersedia. Penghematan bahan kimia juga dapat dilakukan dengan meninjau kembali resep persiapan penyempurnaan (karena ada beberapa proses yang dapat disatukan). Penggunaan urea yang. pengusaha tekstil meminta penjelasan mengenai toksisitas.Pencucian dengan aliran air counter flow .

Reuse Pada proses pencapan warna menjadi sumber limbah adalah pencucian tangki pasta. Pada pencelupan. sisa pasta dan zat tidak terfiksasi sehingga waktu dicuci keluar. zat pengental yang mempunyai COD tinggi. Polutan yang.Recovery . air Air dalaim dari bak pencucian akhir dengan relatif menggunakan bersih mesin washing sedikit yang (mengandung polutan) dapat direcycle ke bak awal untuk pencucian awal. .toleransi/penambahan penggunaan bahan kimia pembantu dan zat warna yang cukup tinggi. serta perlu usaha pengurangan (minimal) penggunaan urea ataupun pencapan zat warna reaktif tanpa urea (digunakan alternatif lain pengganti urea). apabila proses pelarutan zat warna naftol dengan alkali atau pelarutan zat warna bejana dan belerang dengan reduksi dan kemudian oksidasi dilakukan terakhir maka dapat dilakukan pengunaan kembali larutan celup pada bak induk. Untuk mengurangi polutan perlu dihindari membuang sisa pasta. Dengan meningkatkan kecermatan dan teknologi yang tepat dalam pelaksanaan proses tersebut dapat dlharapkan penambahan bahan untuk faktor keamanan dapat dikurangi sehingga akan menghemat pemakaian zat kimia serta mengurangi kandungan zat kimia sisa dalam air limbah. dikeluarkan akan berupa zat anorganik nitrogren dari urea. . . sisa pasta dari berbagai warna pigmen diusahakan dapat dicampur dan diguakan kembali untuk pencapan warna hitam (warna gelap). recycle dan recovery .Modifikasi proses .Kebersihan pabrik d. Perlu dilakukan pengukuran/pengamatan pemakaian pasta yang minimal dalam suatu proses pencapan untuk menhindari kelebihan pasta. warna dan kadang-kadang kandungan logam krom dan Cu. Hal ini dapat dilakukan pada industri batik dan tenun ikat.Recycle Recycle range. Reuse. Recycling condensor pada steamer (penghematan air cukup tinggi).

Recovery NaOH Proses merserisasi khususnya dilakukan pada serat kapas menggunakan larutan NaOH 26-28 oBe. Larutan NaOH dipanaskan dengan uap dalam alat evaporator akan dapat diperoleh larutan NaOH 28 oBe yang dapat langsung digunakan sebagai larutan merserisasi. rayon. Walaupun harga NaOH tidak tertalu mahal tetapi larutan NAOH 5 oBe mempunyai pH yang tinggi sehingga tidak dapat langsung dibuang. Walaupun diperlukan peralatan recovery dan biaya operasi berupa energi. biaya Untuk investasi menetralkan diperlukan larutan asam. dan apabila dicampurkan dengan air limbah dari proses lainnyamengakibatkan pH air limbah menjadi tinggi yang (sekitar harganya pH cukup 12) sehingga memerlukan penetralan. Recovery NaOH dilakukan dengan cara menguapkan air dari larutan NaOH tersebut dengan alat "Multi effect forced circulation evaporator". Kanji alam akan didegradasi menjadi gugus yang mudah larut. Air limbah dari proses merserisasi yang berupa sisa larutan merser dan pencuciannya masih mengandung NaOH sekitar 5 oBe. umumnya digunakan asam sulfat mahal. Hal ini memberi kemungkinan untuk mengambil dan menggunakan kembali PVA tersebut. Pada proses penghilangan kanji (desizing).Recovery yang dapat dilakukan adalah pengembalian kembali (recovery) NaOH dari proses merserisasi kapas dan campurannya. kanji-kanji tersebut akan dilepas dari kain dengan penambahan enzim. tetapi PVA hanya lepas/terlarut tanpa terdegradasi sehingga terlarut dalam air limbah dari proses penghilangan kanji masih sebagai senyawa PVA. Recovery PVA Polivinil alkohol (PVA) merupakan kanji sintetik yang banyak digunakan untuk penganjian benang lusi dari serat kapas. Mengurangi biaya pengolahan air limbah. dan pengambilan kembali kanji PVA dari proses penghilangan kanji apabila PVA digunakan untuk penganjian benang lusi. Recovery PVA akan sangat bermanfaat karena . dengan melakukan recovery akan diperoleh keuntungan yaitu : Mengurangi kebutuhan NaOH untuk merserisasi. dan campuran kapas / rayon dengan kanji alam maupun kanji sintetik lainnya.

recycle air pada washing range. dirasa pengenalan upaya-upaya minimisasi limbah tambahan limbah sedikit ini perlu ditingkatkan biaya dengan yaitu terutama ataupun upaya hanya minimisasi diperlukan yang tidak memerlukan biaya penghematan-penghematan. dan PVA dalam air limbah memberi konstribusi COD yang sangat tinggi serta sulit diolah dengan (dipisahkan / dihancurkan) dengan cara kimia (koagolasi) ataupun dengan cara biologi. dan satu pabrik telah melakukan recovery PVA. Cara vang dapat digunakan untuk recovery PVA diantaranya adalah sebagai berikut : Menyaring PVA dari larutannya (PVA dalam air limbah dari proses desizing dengan alat ultra filtrasi.dapat mengurangi kebutuhan PVA yang harganya sangat mahal. Beberapa pabrik yang cukup besar telah melakukan upaya recovery NaOH dari merserisasi. . dihaluskan. bahan kimia dan energi dalam proses produksinya. Keuntungan dari cara ini adalah recovery PVA dapat dilakukan terhadap campuran PVA dengan jenis kanji lainnya. resirkulasi. Cara ini akan berhasil baik bila dalam proses penganjiannya hanya digunak-an PVA tanpa dicampur dengan jenis kanji lainnya. Dari pengamatan di lapangan masih sedikit pabrik yang telah melakukan upaya minimisasi limbah. Bahan kimia yang digunakan harus selektif dalam arti hanya akan mengikat PVA saja tetapi tidak mengikat jenis kanji lainnya. Heat Recovery Pengambilan kembali panas dari uap air dan dari air proses serta air pencucian dengan temperatur yang relatif tinggi dengan mengunakan Heat Exchanger. penggunaan kembali sisa pasta pencapan. Melihat kondisi di lapangan. Selanjutnya PVA dipisahkan. sangat dianjurkan bagi industri tekstil yang akan melakukan perluasan / peningkatan produksi ataupun bagi perusahaan yang baru berdiri. recovery dan reuse. Beberapa upaya minimisasi limbah yang terlihat mulai dilakukan adalah pengunaan proses simultan. Upaya minimisasi limbah dengan cara mengganti/menggunakan peralatan yang lebih canggih yang memerlukan air (Vlot) dan energi yang lebih rendah dengan sistem kontrol. PVA dalam larutan bekas penghilangan kanji diendapkan dengan penambahan bahan kimia. dikeringkan. Saat ini masih banyak pengusaha tekstil yang kurang menyadari adanya pemborosan dalam pemakaian air. untuk kemudian dapat digunakan kembali.

Dengan menerapkan strategi produksi bersih dalam pencegahan dan pengendalian pencemaran. maka upaya preventif dengan cara minimisasi limbah yang akan terjadi mendapat prioritas utama. Minimisasi Limbah Limbah dari industri tekstil dapat berupa limbah cair dari proses basah tekstil.e. dan bekas kemasan serta lumpur dari unit pengolahan limbah cair. penenunan. sehingga minimisasi limbah cair menjadi prioritas pertama. Maka sangat perlu mencegah dan mengendalikan pencemaran lingkungan oleh limbah industri tekstil. . debu dan kebisingan terutama dari proses-proses pemintalan. debu dan kebisingan akan mengakibatkan terjadinya pencemaran dilakukan lingkungan pengelolaan atau limbah memberikan untuk dampak negatif terhadap lingkungan apabila langsung dilepas ke lingkungan. Melihat karakteristik limbah dari setiap jenis proses yang terjadi. serta limbah padat berupa potongan serat. benang. limbah dari industri tekstil baik berupa limbah cair. kain. perajutan. Masalah pencemaran lingkungan oleh limbah dari kegiatan industri tekstil yang paling luas dampaknya adalah pencemaran lingkungan oleh limbah cair dari proses penyempurnaan tekstil.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful