PERAN MAHKAMAH KONSTITUSI DALAM NEGARA HUKUM YANG DEMOKRATIS1 Oleh: M.

Akil Mochtar2

A. PERUBAHAN UUD 1945 DAN MAHKAMAH KONSTITUSI Perubahan besar tatanan kehidupan bernegara dan berbangsa telah berhasil dilakukan oleh bangsa Indonesia melalui Perubahan UUD 1945 bercermin dari kelemahan sistem dan praktik penyalahgunaan kekuasaan di masa lalu. Hal itu merupakan wujud kesadaran bahwa berbagai penyalahgunaan kekuasaan di masa lalu tidak semata-mata terjadi karena faktor orang yang berkuasa, melainkan lebih ditentukan oleh sistem yang memungkinkan bahkan mendorong terjadinya penyalahgunaan kekuasaan. Kelemahan sistem tersebut antara lain adalah kekuasaan yang sangat besar berada di tangan Presiden sebagai mandataris MPR, yang berarti satu-satunya pelaksana amanat MPR. Di sisi lain, MPR berkedudukan sebagai lembaga tertinggi negara yang melaksanakan “sepenuhnya” kedaulatan rakyat. Presiden tidak hanya memegang kekuasaan pemerintahan tertinggi, tetapi juga memegang kekuasaan membentuk Undang-Undang. Hal itu dipertegas dengan penjelasan yang menyatakan bahwa konsentrasi kekuasaan negara ada di tangan Presiden

(concentration of power upon the President).
Di sisi yang lain, UUD 1945 sebelum perubahan tidak cukup mengatur pembatasan terhadap kekuasaan sebagai wujud paham konstitusionalisme. Hal itu di antaranya dapat dilihat dari sedikitnya ketentuan yang mengatur jaminan perlindungan, penghormatan, dan pemajuan terhadap hak asasi manusia (HAM) dan hak konstitusional warga negara. Bahkan, kebebasan berserikat dan mengeluarkan pendapat pun ditetapkan dengan Undang-Undang, yang berarti hak tersebut diposisikan sebagai pemberian negara, bukan melekat sebagai hak asasi manusia. Selain itu, dalam UUD 1945 sebelum perubahan tidak ada ketentuan yang mengatur tentang bagaimana pembentukan dan pengisian anggota lembaga
1 2

Bahan disampaikan pada Pendidikan Sespati Polri dan Pasis Sespim Polri. Lembang, 6 Juli 2009. Hakim Konstitusi pada Mahkamah Konstitusi RI.

1

d. DPR. Oleh karena itu. Bahkan Pemilu pun dilaksanakan oleh pemerintah untuk memperkuat legitimasi sehingga tidak pernah berjalan secara jujur dan adil. Dengan kondisi yang demikian. hanya pengesahannya saja yang bertahap. Pada tahap awal perubahan di tahun 1999 sesungguhnya telah diinventarisir dan dibahas keseluruhan materi perubahan. Perubahan dilakukan dengan cara adendum. Ketentuan yang sudah diubah sebelumnya tidak ada yang diubah lagi pada 2 . Konstitusi tidak menjadi aturan hukum tertinggi karena dapat dikesampingkan oleh MPR sebagai pelaksana kedaulatan rakyat dan oleh Presiden sebagai mandataris MPR. Perubahan tersebut dimulai dengan merumuskan kesepakatan dasar yang meliputi: a. b. Dengan demikian Perubahan UUD 1945 dari tahun 1999 hingga 2002 adalah satu rangkaian perubahan. Namun demikian. bersepakat melakukan perubahan terhadap UUD 1945. Tetap mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tidak mengubah Pembukaan UUD 1945. termasuk wakil dari TNI dan Polri. segenap komponen bangsa yang ada dalam MPR hasil Pemilu 1999 yang demokratis. maka disepakati tahapan pembahasan dan pengesahan dengan mendahulukan hal-hal yang sudah dapat disepakati. sah jika pada saat itu komposisi anggota DPR dan MPR lebih banyak yang diangkat dari pada yang dipilih sehingga lebih merupakan representasi kehendak penguasa dari pada pilihan rakyat. Berdasarkan kelemahan-kelemahan tersebut. c. absolut powers corrupt absolutly). dan DPRD) dan juga tidak ada ketentuan yang mengatur tentang Pemilu.perwakilan (MPR. Penjelasan UUD 1945 yang memuat hal-hal normatif akan dimasukkan ke dalam pasal-pasal. Konstitusi dalam konteks demikian telah kehilangan ruh konstitusionalismenya. karena setiap perubahan membutuhkan pembahasan mendalam. dan e. berlakulah hukum besi Lord Acton bahwa kekuasaan cenderung disalahgunakan dan kekuasaan yang absolut pasti disalahgunakan (powers tend to corrupt. Mempertegas sistem Presidensiil.

MPR yang semula berkedudukan sebagai lembaga tertinggi negara diubah menjadi lembaga tinggi negara sederajat dengan lembaga tinggi lainnya dengan tugas dan wewenang sebagaimana ditentukan dalam UUD 1945. dan abolisi.perubahan berikutnya. dan lain-lain. Wewenang Presiden dibatasi dengan mengembalikan kekuasaan membentuk undang-undang kepada DPR serta berbagai bentuk pembatasan lain seperti dalam pemberian grasi. serta sesuai dengan kesepakatan dasar mempertegas sistem presidensiil. bukan dilaksanakan sesuai kehendak lembaga tertentu. pengangkatan dan penerimaan duta/konsul. harus merujuk kepada Undang-Undang Dasar. seluruh aturan hukum tidak boleh bertentangan dengan UUD 1945 sebagai hukum tertinggi. Dengan demikian bagaimana kedaulatan sebagai kekuasaan tertinggi negara yang dimiliki oleh rakyat itu dilaksanakan. terdapat beberapa substansi pokok yang mempengaruhi tatanan kehidupan bernegara dan berbangsa. UUD 1945 sebagai hukum tertinggi mengikat seluruh penyelenggara negara dan segenap warga negara. penyusunan kementerian negara. Kekuasaan kehakiman ditegaskan sebagai kekuasaan yang merdeka untuk menegakkan hukum dan keadilan. Pertama. organisasi negara ditata ulang berdasarkan prinsip separation of power. Semua aturan hukum dan tindakan penyelenggara negara pada hakikatnya adalah untuk melaksanakan ketentuan UUD 1945. Oleh karena itu adalah keliru jika menyatakan bahwa UUD 1945 sudah diubah empat kali. Kedua. amnesti. penegasan konstitusi sebagai hukum tertinggi atau supremasi konstitusi (the supreme law of the land) di dalam Pasal 1 Ayat (2) yang menyatakan “Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar”. untuk membatasi kekuasaan dan mencegah terjadinya penyalahgunaan kekuasaan. 3 . Dengan ditegaskannya prinsip supremasi konstitusi. Dari rangkaian Perubahan UUD 1945. Dengan adanya pemisahan kekuasaan itu akan tumbuh mekanisme saling mengimbangi dan mengawasi (checks and balances) antara satu cabang kekuasaan dengan cabang kekuasaan lain sehingga tidak terjadi penyalahgunaan kekuasaan dan berjalan tetap dalam koridor konstitusi. Prinsip supremasi konstitusi ini merupakan salah satu ciri utama negara hukum.

Dari sisi praktis. sudah ada 77 negara yang memiliki MK. konstitusi sebagai hukum dasar negara adalah bentuk perjanjian sosial tertinggi dari seluruh warga negara dengan tujuan untuk melindungi segenap warga negara dan seluruh tumpah darah. atau bahwa peraturan perundang-undangan tidak saling bertentangan secara hirarkis dan berpuncak pada konstitusi? b. Bagaimana menjamin bahwa UUD 1945 dilaksanakan dalam peraturan perundang-undangan. Hal itu misalnya adalah pembatasan 4 . Keberadaan jaminan konstitusional terhadap HAM juga merupakan pembatasan terhadap kekuasaan negara untuk tidak melakukan pelanggaran secara sewenang-wenang baik melalui produk hukum maupun tindakan aparat negara. yaitu perlu adanya lembaga pengadilan konstitusi atau Mahkamah Konstitusi (MK). pada saat MK RI dibentuk. Dari sisi teoretis keberadaan MK dikemukakan oleh Hans Kelsen dengan tujuan untuk menjamin bahwa suatu undang-undang tidak bertentangan dengan konstitusi. Bagaimana menjamin bahwa hak asasi manusia dan hak konstitusional warga negara tidak dilanggar oleh aturan hukum yang ada? Terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut. ada banyak negara yang memberikan wewenang-wewenang konstitusional memutus judicial review dan interbrach dispute (sengketa kewenang lembaga negara) kepada Mahkamah Agung. dan memajukannya.Ketiga. Selain itu. Dalam posisi kelembagaan negara yang sederajat berdasarkan prinsip separation of powers dan checks and balances. Oleh karena itu tidak wajar jika dalam suatu konstitusi tidak memuat hak asasi manusia dan hak konstitusional warga negara yang menjadi tanggungjawab negara untuk melindungi. menghormati. teori dan praktik ketatanegaraan dari berbagai negara memiliki satu jawaban. Ketiga hal mendasar tersebut membawa konsekuensi diperlukannya mekanisme dan institusi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan: a. mekanisme apa yang digunakan untuk menyelesaikan persoalan jika terjadi sengketa kewenangan konstitusional antar lembaga negara? Dan c. Tentu saja berbagai referensi teoretis dan praktis yang ada tidak diterapkan begitu saja dalam rangka pembentukan MK.

Memutus perselisihan hasil Pemilu. Selain itu. Demikian pula. MK merupakan lembaga negara sebagai salah satu pelaku kekuasaan kehakiman. Pasal 24C ayat (2) UUD 1945 memberikan kewajiban kepada MK untuk memberikan putusan atas pendapat DPR mengenai dugaan pelanggaran hukum oleh Presiden dan Wakil Presiden sebagai tahapan yang harus dilalui untuk pemakzulan Presiden dan/atau Wakil Presiden. WEWENANG DAN KEDUDUKAN MAHKAMAH KONSTITUSI Pasal 24C ayat (1) UUD 1945 memberikan empat wewenang kepada Mahkamah Konstitusi. Kewenangan itu dimiliki semata-mata karena diberikan oleh konstitusi dan tidak menyebabkan kedudukan MK berada di atas lembaga negara lain. b. yaitu: 5 . Sesuai dengan ketentuan Pasal 24 UUD 1945. MK berkedudukan sejajar dengan lembaga tinggi negara lainnya. c. PERAN MAHKAMAH KONSTITUSI Terdapat empat peran yang biasa dilekatkan kepada MK sesuai dengan latar belakang pembentukan wewenang yang dimiliki MK. yaitu: a. kalaupun MK memutus sengketa kewenangan antar lembaga negara. hal itu tidak berarti MK berkedudukan di atas lembaga negara yang bersengketa.wewenang MK hanya untuk pengujian UU terhadap UUD. Memutus pengujian undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar. Dengan demikian. C. Memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar. sedangkan pengujian aturan di bawah UU diberikan kepada MA. Memutus pembubaran partai politik. yaitu memutus Perselisihan Hasil Pemilu (PHPU). Kalaupun putusan MK dapat membatalkan suatu ketentuan dalam suatu undang-undang tidak berarti bahwa MK kedudukannya berada di atas pembentuk undang-undang. Demikian pula dengan penambahan wewenang lain yang tidak semua MK negara lain memilikinya. B. dan d.

4) pelindung hak konstitusional warga negara (the protector of the citizen’s constitutional rights) dan hak asasi manusia (the protector of human rights). baik dalam perkara sengketa kewenangan lembaga negara. 2) penafsir final konstitusi (the final interpreter of the constitution). DPRD. pembubaran partai politik. Pembuatan undang-undang juga merupakan proses penafsiran terhadap UUD 1945. DPD. 3) pengawal demokrasi (the guardian of the democracy). Oleh karena itu MK merupaka penafsir final konstitusi (the final intepreter of the constitution). sehingga pembuat undang-undang. maupun pemberhentian Presiden dan/atau Wakil Presiden dalam masa jabatannya maka dalam konteks tersebut juga melekat peran MK sebagai pengawal konstitusi (the guardian of the constitution) dan penafsir konstitusi (the sole interpreter of the constitution). Fungsi Mahkamah Konstitusi selanjutnya adalah sebagai penjaga demokrasi (the guardian of the democracy). Selain itu. Namun demikian. maka penafsiran MK lah yang merupakan penafsiran akhir dan harus dilaksanakan. karena UUD 1945 sendiri menentukan bahwa undang-undang tersebut dapat dimohonkan pengujian kepada MK yang berdasarkan Pasal 24C Ayat (1) UUD 1945 dinyatakan bahwa putusannya bersifat final dan mengikat. Dalam menjalankan wewenang memutus pengujian undang-undang terhadap UUD 1945 MK juga menjalankan peran sebagai penjaga konstitusi (the guardian of the constitution).1) pengawal konstitusi (the guardian of the constitution). yang berarti bahwa negara Indonesia adalah negara demokrasi. Prinsip demokrasi juga dapat dilihat dari diaturnya ketentuan Pemilu yang harus dilakukan secara berkala oleh komisi pemilihan umum yang tetap dan mandiri untuk memilih anggota DPR. 6 . Pasal 1 ayat (2) UUD 1945 dengan tegas menyatakan bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat. Produk hukum di bawah UUD 1945 yang menjabarkan aturan dasar konstitusional adalah undang-undang yang dibuat oleh lembaga legislatif. karena pelaksanaan kewenangan MK yang lain juga dilakukan berdasarkan pada ketentuan UUD 1945 untuk menyelesaikan perkara yang harus di putus. yaitu DPR bersama Presiden juga merupakan penafsir undang-undang. perselisihan hasil pemilu.

menghormati. Proses tersebut harus dijaga dan dikawal melalui mekanisme hukum PHPU yang menjadi wewenang MK. dan memajukan hak-hak tersebut. serta Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. D. Mahkamah Konstitusi juga berwenang memutus perkara pembubaran partai politik yang dimaksudkan agar pemerintah tidak dapat secara sewenang-wenang membubarkan partai politik yang melanggar hak berserikat dan mengeluarkan pendapat. 7 . demokrasi dapat dimanipulasi dengan pelanggaran dan kecurangan yang menciderai kedaulatan rakyat. Adanya jaminan hak asasi dalam konstitusi menjadikan negara memiliki kewajiban hukum konstitusional untuk melindungi. Namun. Wewenang Mahkamah Konstitusi menguji undang-undang dapat dilihat sebagai upaya melindungi hak asasi manusia dan hak konstitusional warga negara yang dijamin UUD 1945 agar tidak dilanggar oleh ketentuan undang-undang. Fungsi selanjutnya adalah sebagai pelindung hak asasi manusia (the protector of the human rights) dan pelindung hak konstitusional warga negara (the protector of the constitutional citizen’s rights). Demokrasi dipandang sebagai sistem paling baik di antara sistem politik lain untuk mewujudkan dan menjaga kedaulatan rakyat.Presiden dan Wakil Presiden. kewenangan pengujian tersebut sekaligus mencegah agar tidak ada tindakan penyelenggara negara dan pemerintahan yang melanggar hak konstitusional warga negara. Jika ketentuan suatu undang-undang telah melanggar hak konstitusional warga negara. KEWENANGAN MEMUTUS PHPU Salah satu kewenangan konstitusional yang diberikan kepada Mahkamah Konstitusi (disingkat MK) oleh Pasal 24C ayat (1) UUD 1945 adalah mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk memutus tentang perselisihan hasil pemilihan umum. Oleh karena itu. maka dapat dipastikan tindakan penyelenggara negara atau pemerintahan yang dilakukan berdasarkan ketentuan tersebut juga akan melanggar hak konstitusional warga negara.

macam-macam pemilu yang dapat diperselisihkan hasilnya di MK. 12 Tahun 2008 Tentang Perubahan Kedua UU 32/2004. serta Presiden dan Wakil Presiden. Akan tetapi. apakah juga termasuk proses Pemilu yang melanggar asas pemilu luber dan jurdil (pelanggaran administratif dan pidana Pemilu) yang dapat mempengaruhi hasil Pemilu. dan DPRD. 22 Tahun 2007 Tentang Penyelenggara Pemilihan Umum (disingkat UU 22/2007) pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah kemudian dikategorikan sebagai Pemilu yang juga harus diselenggarakan oleh KPU beserta jajarannya (KPU provinsi dan KPU kabupaten/kota). mekanisme pengajuan keberatan di MK dan bagaimana tindak lanjut (eksekusi) putusan MK tentang PHPU. dengan lahirnya UU No.d. DPD. Oleh karena itu. 79 UU MK hanya mengatur hukum acara perselisihan hasil Pemilu Anggota DPR. antara lain: 1. DPD. sehingga beberapa masalah dapat diajukan. berdasarkan UU No. walikota). 2. Pasal 18 ayat (4) UUD 1945 hanya mengamanatkan bahwa harus dipilih secara demokratis. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah (UU 32/2004) menjadi kewenangan Mahkamah Agung (MA) untuk menyelesaikannya. 3.Dari ketentuan tersebut belum jelas tentang pengertian dan ruang lingkup apa yang dimaksud dengan “perselisihan hasil pemilihan umum” (selanjutnya disingkat PHPU). serta Pemilu Presiden dan Wakil Presiden. dapat dimengerti apabila UU No. dan DPRD. yang dimaksud dengan Pemilu adalah Pemilu untuk memilih anggota DPR. pengertian PHPU. kewenangan mengadili perselisihan hasil Pilkada atau sekarang disebut Pemilukada dialihkan ke MK (vide Pasal 236C UU 8 . Semula. bupati. Namun. sehingga disebut Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah (untuk selanjutnya disingkat Pemilukada). sehingga menimbulkan perdebatan apakah termasuk rezim hukum Pemilu atau bukan. melalui Pasal 22E ayat (2) UUD 1945. perselisihan hasil pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah (Pilkada) berdasarkan Pasal 106 UU No. 1) Macam-macam Perselisihan Hasil Pemilu Secara eksplisit. 24 Tahun 2003 Tentang Mahkamah Konstitusi (UU MK) melalui Pasal 74 s. Mengenai pemilihan kepala daerah (gubernur.

9 . DPD. terpilihnya calon anggota DPD. c. dan DPRD. macam-macam Pemilu dan PHPU ada tiga. UU Pemilu Presiden. b. Pemilu dan PHPU Presiden dan Wakil Presiden. (2) Perselisihan penetapan perolehan suara hasil Pemilu secara nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah perselisihan penetapan perolehan suara yang dapat mempengaruhi perolehan kursi Peserta Pemilu. yakni UUMK. yakni: a. Pemilukada dan PHPU Pemilukada. b.12/2008) yang secara efektif telah berlaku sejak 1 November 2008 lewat serah terima resmi dari MA ke MK pada tanggal 29 Oktober 2008. DPD. penentuan pasangan calon yang masuk pada putaran kedua pemilihan Presiden dan Wakil Presiden serta terpilihnya pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden. Pemilu dan PHPU Anggota DPR. dan UU No.: (1) Perselisihan hasil Pemilu adalah perselisihan antara KPU dan Peserta Pemilu mengenai penetapan perolehan suara hasil Pemilu secara nasional. Dengan demikian. UU Pemilu Anggota DPR. c. DPD. dan DPRD sbb. dan DPRD. perolehan kursi partai politik peserta Pemilu di suatu daerah pemilihan. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah yang terakhir dengan UU 12/2008. 2) Pengertian dan Ruang Lingkup PHPU Di atas sudah dikemukakan bahwa UUD 1945 tidak menegaskan tentang pengertian dan ruang lingkup mengenai apa yang dimaksud dengan “perselisihan tentang hasil pemilihan umum” yang tercantum dalam Pasal 24C ayat (1). Pasal 258 UU 10/2008 merumuskan pengertian perselisihan hasil Pemilu Anggota DPR. sehingga undang-undanglah yang kemudian mengaturnya. Pasal 74 ayat (2) UUMK memberikan pengertian bahwa perselisihan hasil pemilu adalah perselisihan mengenai “penetapan hasil pemilihan umum yang dilakukan secara nasional oleh KPU” yang mempengaruhi: a.

Dari ketentuan Pasal 201 ayat (1) dan ayat (2) UU 42/2008 dapat disimpulkan bahwa pengertian perselisihan hasil Pemilu Presiden dan Wakil Presiden adalah “pengajuan keberatan yang diajukan oleh Pasangan Calon terhadap penetapan hasil Pemilu Presiden dan Wakil Presiden oleh KPU yang penghitungan suaranya mempengaruhi terpilihnya Pasangan Calon atau penentuan untuk dipilih kembali pada Pemilu Presiden dan Wakil Presiden kepada Mahkamah Konstitusi. b. maka hal tersebut tidak dapat dijadikan objek sengketa perselisihan hasil Pemilu.” Dari ketentuan Pasal 74 ayat (2) UUMK junctis Pasal 258 UU 10/2008 dan Pasal 201 UU 42/2008 dapat disimpulkan bahwa: a. pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden) dan KPU sebagai penyelenggara Pemilu. c. yang diperselisihkan adalah penetapan perolehan suara hasil Pemilu secara nasional oleh KPU. atau 3) penentuan terpilihnya Pasangan Calon atau penentuan untuk dipilih kembali pada Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (putaran kedua). Sedangkan mengenai pengertian perselisihan hasil Pemilu Kepala Daerah. namun apabila secara signifikan tidak mempengaruhi perolehan kursi parpol di suatu daerah pemilihan. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU 12/2008 dan UU No. dapat disimpulkan bahwa: 10 . atau terpilihnya calon anggota DPD. meskipun antara Peserta Pemilu dan KPU terdapat perselisihan mengenai penetapan perolehan suara hasil Pemilu secara nasional. perseorangan calon anggota DPD. 22 Tahun 2007 Tentang Penyelenggara Pemilu. atau 2) terpilihnya calon anggota DPD. perselisihan penetapan perolehan suara hasil Pemilu secara nasional dimaksud harus mempengaruhi: 1) perolehan kursi parpol di suatu daerah pemilihan. perselisihan hasil Pemilu adalah perselisihan antara Peserta Pemilu (parpol. dengan merujuk Pasal 106 UU No. Dengan demikian. atau penentuan pasangan calon yang masuk putaran kedua Pemilu Presiden serta terpilihnya pasangan Presiden dan Wakil Presiden.

11 . dari pengalaman MK menangani PHPU tahun 2004 dan PHPU Pemilukada tahun 2008 serta PHPU legislatif 2009.a. serta juga UU 32/2004 telah menyediakan mekanisme penyelesaian berbagai pelanggaran pemilu. sehingga tidak mencakup proses yang mempengaruhi hasil perolehan suara. Akan tetapi. Memang. UU 10/2008 dan UU 42/2008. bahkan Pasal 257 ayat (1) UU 10/2008 dan Pasal 200 ayat (1) UU 42/2008 telah menentukan bahwa kasus pelanggaran pidana Pemilu harus sudah selesai paling lama 5 (lima) hari sebelum KPU menetapkan hasil Pemilu. Dari uraian tersebut di atas. Padahal. kedudukan dan fungsi MK sebagaimana dijelaskan dalam UU MK adalah menjaga atau mengawal Konstitusi agar dilaksanakan secara bertanggung jawab sesuai dengan kehendak rakyat dan cita-cita demokrasi (Penjelasan Umum UU MK). Seolah-olah MK hanya diminta mengkoreksi kalkulasi suara yang telah dilakukan oleh KPU dan jajarannya dengan mengabaikan berbagai pelanggaran dalam proses Pemilu (electoral process). seperti berbagai pelanggaran administratif dan pelanggaran pidana Pemilu. undang-undang nampaknya membatasi masalah PHPU hanya pada persoalan perselisihan angka-angka perolehan suara Peserta Pemilu yang ditetapkan oleh KPU. Mengawal/menjaga Konstitusi berarti termasuk pula menjaga/mengawal agar asas-asas Pemilu yang “Luber dan Jurdil” dipatuhi baik oleh Penyelenggara Pemilu maupun Peserta Pemilu. menunjukkan bahwa berbagai pelanggaran Pemilu. yang diperselisihkan adalah penetapan penghitungan suara hasil Pemilukada yang ditetapkan oleh KPU provinsi atau KPU kabupaten/kota yang mempengaruhi penentuan calon untuk masuk ke putaran kedua Pemilukada atau terpilihnya pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah. b. baik administratif maupun pidana tidak tertangani di institusi yang berwenang menanganinya. bahkan juga seluruh insitusi yang terkait Pemilu. baik administratif maupun pidana. perselisihan hasil Pemilu Kepala Daerah adalah perselisihan antara pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah sebagai Peserta Pemilu Kepala Daerah dan KPU provinsi dan/atau KPU kabupaten/kota sebagai penyelenggara Pemilu.

4. MK tentunya akan mengedepankan status dan fungsinya sebagai pengawal Konstitusi. menggali kebenaran dan keadilan materiil. 3. UU MK bahkan tidak menegaskan apakah KPU merupakan Termohon. yaitu penetapan hasil Pemilu yang ditetapkan secara nasional oleh KPU yang mempengaruhi terpilihnya calon anggota DPD. yaitu perorangan WNI calon anggota DPD Peserta Pemilu. 5. Tenggat (tenggang waktu) mengajukan permohonan. yaitu apakah pelanggaranpelanggaran Pemilu tersebut dilakukan secara sistemik dan massif. Tenggat pengiriman berkas permohonan ke KPU. sehingga dapat mengubah perolehan kursi atau pemenang Pemilu.Dalam hal terjadi demikian. 3) Mekanisme pengajuan keberatan Mekanisme pengajuan keberatan terhadap penetapan hasil Pemilu yang diatur dalam Pasal 74 s. yang disebut sebagai Pemohon. 2. Isi permohonan. dan DPRD serta PHPU Presiden dan Wakil Presiden yang hanya memuat: 1. serta petitum berupa permintaan membatalkan penetapan KPU dan menetapkan hasil penghitungan suara yang benar menurut versi Pemohon. yaitu 3 X 24 jam sejak KPU menetapkan hasil Pemilu secara nasional. yaitu posita mengenai adanya kesalahan hasil penghitungan suara yang ditetapkan KPU dan hasil yang benar menurut Pemohon. tidak semata-mata prosedural. Objek permohonan. DPD. yaitu 3 hari kerja sejak permohonan diregistrasi di Kepaniteraan MK. Pasal 79 UU MK sangat sumir dan hanya menyangkut PHPU Anggota DPR. Pihak yang berhak mengajukan keberatan. 12 .d. serta signifikan mempengaruhi perolehan suara peserta Pemilu. dan Partai Politik (Parpol) Peserta Pemilu. in casu mengawal “asas luber dan jurdil” yang tercantum dalam Pasal 22E ayat (1) UUD 1945. dan perolehan kursi Parpol disuatu daerah pemilihan (dapil). pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden Peserta Pemilu. penentuan pasangan Presiden dan wakil Presiden yang masuk putaran kedua atau terpilihnya pasangan calon.

04/PMK/2004 dan PMK No. jika tak memenuhi syarat subjectum litis. 16 Tahun 2009 untuk PHPU Pemilu Anggota DPR.05/PMK/2004 yang memuat Pedoman Beracara dalam PHPU untuk Pemilu 2004. Pasal 259 ayat (3) UU 10/2008 dan Pasal 201 ayat (4) UU 42/2008 telah memuat ketentuan bahwa KPU beserta jajarannya wajib menindaklanjuti Putusan MK tentang PHPU. mengenai tindak lanjut Putusan MK mengenai PHPU. objectum litis. 15 Tahun 2008 yang acuannya adalah UU 32/2004 dan PMK PHPU Presiden dan Wakil Presiden atas dasar pertimbangan bahwa pada hakikatnya prosedur penyelesaian PHPU Pemilukada hampir sama dengan PHPU Presiden dan Wakil Presiden. dan tenggat. Selain itu. Mengingat begitu sumirnya hukum acara PHPU yang diatur dalam UU MK. dalam tenggat 14 hari kerja. Sedangkan untuk PHPU pada Pemilu 2009. DPD. Penyampaian Putusan MK tentang PHPU kepada Presiden. DPD. maka sesuai kewenangan yang diberikan Pasal 86 UU MK. Tenggat (batas waktu) penanganan PHPU di MK. telah diterbitkan PMK No. 17 tahun 2009 untuk PHPU Pemilu Presiden dan Wakil Presiden. Sedangkan untuk PHPU Pemilukada yang belum ada pengaturannya dalam UU MK telah dikeluarkan PMK No.6. jika permohonan beralasan. 8. yaitu untuk Pemilu Anggota DPR. yaitu PMK No. disertai pernyataan pembatalan hasil Pemilu yang ditetapkan KPU dan menetapkan hasil penghitungan suara yang benar. diterbitkanlah berbagai Peraturan Mahkamah Konstitusi (PMK). Mahkamah Konstitusi harus kembali kepada “khittahnya” sebagai pengawal konstitusi tatkala berbagai pelanggaran Pemilu (baik pelanggaran administrasi maupun pidana) sudah menggoyahkan prinsip-prinsip pemilu yang “luber dan jurdil”. dan DPRD paling lambat 30 hari kerja sejak permohonan diregistrasi dan untuk PHPU Presiden dan Wakil Presiden 14 hari kerja sejak permohonan diregistrasi. 13 . jika permohonan tidak beralasan. 7. Tentang berbagai kemungkinan amar putusan: a) tidak dapat diterima. dan c) dikabulkan. dan PMK No. seluruh perkara sudah harus terselesaikan. b) ditolak. dan DPRD.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful