P. 1
Proposal Penelitian Keperawatan Jiwa

Proposal Penelitian Keperawatan Jiwa

|Views: 2,343|Likes:
Published by rico09001

More info:

Published by: rico09001 on Jan 06, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/23/2013

pdf

text

original

Proposal Penelitian Keperawatan Jiwa

USULAN PENELITIAN I. JUDUL PENELITIAN PENGARUH TERAPI PSIKORELIGIUS TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRA OPERASI DI RUANG BEDAH RS ISLAM FAISAL MAKASSAR. II. RUANG LINGKUP PENELITIAN KEPERAWATAN JIWA III. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Untuk mendapatkan kesehatan mental yang prima, tidaklah mungkin terjadi begitu saja. Selain menyediakan lingkungan yang baik untuk pengembangan potensi, dari individu sendiri dituntut untuk melakukan berbagai usaha menggunakan berbagai kesempatan yang ada untuk mengembangkan dirinya. Individu perlu merefleksikan kembali penyebab dari berbagai perilakunya, mengevaluasi kembali kehidupan beragamanya, menggunakan berbagai sarana yang selama ini telah tersedia, yaitu berbagai macam teknik konseling dan psikoterapi, serta mengembangkan kebiasaan pribadi, dalam hal ini mencoba berlatih dan mendeskripsikan emosi yang dialami. Secara teori, tidak ada batasan sejauh mana derajat kesehatan, baik mental maupun fisik dapat dicapai. Banyak yang sudah puas bila tidak ada gejala-gejala yang menunjukkan gangguan baik berupa gangguan kebutuhan, mental maupun spiritual. Ini menjadi kriteria kesehatan umum. Gerakan-gerakan untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal inilah yang saat ini sedang muncul, tumbuh dan berkembang di mana-mana terutama di kota-kota besar di dunia. Ada banyak cara untuk mendapatkan derajat kesehatan yang memuaskan, sejalan dengan teraktualnya potensi-potensi dalam diri yang belum tergali. Terapi merupakan salah satu cara untuk semakin mengenal dan menemukan keunikan diri. Sekarang ini terapi banyak digunakan bukan hanya bagi mereka yang merasa memiliki masalah, namun baik juga digunakan sebagai alat pemahaman dan pengenalan diri. Hasilnya mereka akan menemukan mutiara-mutiara lain dalam diri mereka yang selama ini mungkin tidak mereka sadari (Siswanto, 2007) Di awal abad ke-20, ditandai dengan kemajuan yang pesat dalam ilmu kedokteran modern dengan adanya spesialisasi sebagai respon atas munculnya penyakit-penyakit baru yang mencemaskan. Namun persoalannya ternyata tidak berhenti dipenanganan medis belaka. Penyakit-penyakit psikis ternyata tidak sepenuhnya mampu ditanggulangi oleh bidang medis. Itulah antara lain yang menjadi alasan mengapa banyak orang sekarang ini yang mencari alternatif penyehatan dan penyembuhan terhadap terapi-terapi spiritual. Oleh karena itu, guna memperoleh kesehatan yang holistik, hendaknya kita harus memahami aspek-aspek jasmani, mental dan spiritual sehingga secara terpadu dapat mengetahui cara yang benar untuk menyeimbangkan dan mengobati setiap bidang tersebut. Prinsip keseimbangan ini yang diajarkan Tuhan kepada kita di setiap aspek kehidupan. Tanpa keseimbangan maka tidak akan pernah ada kehidupan yang tertib, aman dan sehat. Demikian juga hanya dengan tubuh manusia yang melakukan keseimbangan aktivitas bioelektrik dan biokimianya sendiri sehingga tetap hidup dan sehat dalam menjalankan aktivitasnya. Penelitian psikiatrik membuktikan bahwa terdapat hubungan yang sangat signifikan antara komitmen agama dan kesehatan. Orang yang sangat religius dan taat menjalankan ajaran agamanya relatif lebih sehat dan atau mampu

World Health Organization (WHO) telah menetapkan unsur spiritual (agama) sebagai salah satu dari 4 unsur kesehatan. 2009). dan sehat spiritual. yang kemudian sebagian dari mereka melarikan diri kepada hal-hal yang negatif (Ilham A. Pada tahun 1946. Saat ini perkembangan terapi di dunia kesehatan sudah berkembang ke arah pendekatan keagamaan (psikoreligius). memberikan dan menuntun doa. Clinebell (1981) dalam penelitiannya menyatakan bahwa pada setiap diri manusia terdapat kebutuhan dasar spiritual (Basic Spiritual Needs). Karena dalam keadaan berbaring pun ia bisa beribadah. Di samping dokter yang mengobati. 2008). 2008). dan ke-Tuhanan yang kerena paham materialisme dan sekularisme menyebabkan kebutuhan dasar spiritual terlupakan tanpa disadari. sehat sosial. Tentu saja ini telah mulai dijalankan di sejumlah rumah sakit yang berdasarkan agama atau yang dikelola organisasi sosial keagamaan melalui pelaksanaan terapi agama. Lindenthal (1970) dan Star (1971) melakukan studi epidemiologi yang hasilnya menunjukkan bahwa penduduk yang religius resiko untuk mengalami stres jauh lebih kecil dari pada mereka yang tidak religius dalam kehidupan sehari-harinya. Tujuannya agar pasien yang terbaring itu tidak merasa jenuh dan tidak berontak. Dengan demikian pasien tidak merasa ragu karena senantiasa dapat mendapat pahala. 2007). ada sekelompok pasien yang selalu menundanunda operasi sehingga jadwal operasi yang sudah dibuat ditunda lagi. 2008). Ada masalah apa dengannya? Padahal dalam pemeriksaan semua sudah bagus. dan sebagainya. mental. Saat ini di rumah sakit umum dianjurkan melaksanakan suatu program yang dinamakan Program Integrasi Kesehatan Jiwa. 1992) yang dikenal dengan pendekatan ³bio-psyco-sociospiritual´ (Ilham A. jika dikaitkan dengan faktor-faktor psikologis yang mempengaruhi kesehatan seseorang yang bertujuan untuk memperoleh kesehatan dalam arti yang sesuai dengan pengertian WHO di atas (Hasan P. Setelah diselidiki ternyata mereka mengalami ketakutan menghadapi operasi (Yosep I. sosial dan bukan semata-mata katiadaan penyakit atau kesakitan. WHO mendefinisikan kesehatan sebagai keadaan lengkap dari kesejahteraan fisik. Sebaliknya orang yang tidak memiliki tuntunan agama akan merasa gelisah. Perasaan takut dioperasi timbul karena takut menghadapi kematian dan tidak bisa bangun lagi setelah dioperasi. tidak ada alasan untuk menunda operasi. cemas. ternyata permasalahannya adalah komitmen agama. keagamaan. yang justru akan menurunkan respon imunitasnya. Kebutuhan dasar spiritual ini adalah kebutuhan kerohanian. Keempat unsur kesehatan tersebut adalah sehat fisik. sehat psikis. kecuali pada operasi yang darurat. Pendekatan baru ini telah diadopsi oleh psikiater Amerika Serikat (The American Psychiatric Association atau APA. Dari berbagai penelitian yang telah dilakukan ternyata tingkat keimanan seseorang erat hubungannya dengan kekebalan dan daya tahan dalam menghadapi berbagai problem kehidupan yang merupakan stresor psikososial. ingin pulang. Pada kelompok yang lurus-lurus saja. Alangkah baiknya bila rohaniawan yang membimbing di rumah sakit juga mempunyai pengetahuan kesehatan atau dokter-dokter yang ada dapat pula memberikan tuntunan agama.mengatasi penderitaan penyakitnya sehingga proses penyembuhan penyakitnyapun lebih cepat (Zainul Z. Definisi kesehatan ini merupakan pemicu dan pemacu penelitian dan praktik di bidang psikoreligi kesehatan. Dengan tidak terpenuhinya kebutuhan dasar spiritual maka daya tahan dan kekebalan seseorang dalam menghadapi stressor psikososial menjadi melemah. yang . berdzikir atau mengaji serta sholat dengan segala kemampuannya. Psikoreligi kesehatan mulai berkembang pesat sejak saat itu. Dalam penelitian yang dilakukan di Amerika. ada juga agamawan yang mendampingi. Ada pula orang lain yang tidak bermasalah dalam menghadapi operasi.

norepinefrin dan kortisol meningkat. pertimbangan agama. 2009). paling tidak dimensi psikoreligi. dapat mempengaruhi rangkaian atau hasil terapi. Riset selanjutnya menunjukkan bagaimana sistem imun berinteraksi dengan proses neurobiologis. Para filosofi dan tokoh agama. para ilmuan kemudian melihat bahwa kaitan antara jiwa dan tubuh merupakan hal yang sebetulnya telah lama dikaji. 2008). tak terkecuali ulama Islam. kebiasaan merokok. Sebagian besar klien yang memiliki faktorfaktor psikologis yang mempengaruhi kondisi medis berada pada kondisi medikal-bedah karena mereka memeriksakan kesehatan yang berhubungan dengan kondisi fisiologis mereka. Kami sudah siap mati karena kami sudah memohon dan berdoa (Yosep I. Penduduk di kota-kota besar banyak yang menderita ketegangan jiwa (stres mental atau kecemasan) berubahnya kebiasaanya hidup seperti kurang gerak. Pendekatan Islam telah lama sejak awal bahkan telah mencakup dimensi biologis. baik secara konsep maupun praktik. kadar epinefrin. andai kata kami meninggal pun tetap saja harus menghadap Tuhan nantinya karena semua yang bernyawa pasti akan mati. Para ilmuan telah mengikuti sejak lama bahwa orang berespon terhadap kecemasan baik pada tingkat fisiologis maupun psikologis. Pola hidup penduduk di kota-kota besar (urban) berbeda dengan di pedesaan (rural). fokusnya ada pada bagaimana faktor-faktor psikologis seperti ansietas dan depresi mempengaruhi berbagai terapi atau hasilnya (Akemat. 2007). Banyak tokoh Islam yang terkenal yang telah mengembangkan hal ini. berubahnya pola makan ke arah konsumsi tinggi lemak. Ibnu Sina (980-1037 M). faktor-faktor psikologis yang tidak tergolongkan seperti pertimbagan budaya. kemudian Al Razi (841-926 M). Hal ini berakibat pergeseran pola kependudukan yang berdampak pada pergeseran pola penyakit. maka dapat digunakan diagnosis faktor psikologis yang mempengaruhi kondisi medis. Apabila faktor psikologi dapat teridentifikasi sebagai faktor pendukung pemunculan atau perburukan kondisi fisik. mental dan spiritual serta sosial (Hasan P. Respon fisiologis yang berhubungan dengan kecemasan dapat mencetuskan beberapa masalah seperti nyeri dada dan serangan asma. minum alkohol dan lain sebagainya. Faktor psikologis yang mempengaruhi masalah medis dapat didiagnosis sebagai gangguan mental. Ansietas dan depresi dapat memperburuk berbagai penyakit dan dapat memperpanjang periode penyembuhan. kami menjalani operasi dengan harapan sembuh. telah sejak lama membahas hal ini. Pelepasan hormon stres yang terus-menerus dapat merusak mekanisme neurobiologis dan pola fisiologis normal yang memfasilitasi adaptasi tubuh. ternyata bisa disimpulkan bahwa komitmen agama dapat . 2008). Dalam mengembangkan psikologi kesehatan. Dari sejumlah penelitian para ahli. dengan berbagai latar belakang. Dimensi psikoreligi memandang kepribadianlah yang bertanggung jawab terhadap timbulnya penyakit (Ilham A. Ketika seseorang mengalami kecemasan dan stres yang berkepanjangan. Masyarakat Indonesia telah mengalami pergeseran dari masyarakat agraris ke masyarakat indutri. Sering kali faktor psikologis dapat mengganggu penatalaksanaan masalah medis dan dapat menambah resiko kesehatan klien. Sering kali. Pada dimensi psikoreligi. seperti Nabi Muhammad SAW. dan lain-lain. terjadinya penyakit dilihat dari sudut pandang gejolak emosi dan ketenangan beribadah. Sebuah penilaian dibuat tentang komponen emosional yang mempengaruhi kondisi kesehatan fisik seseorang. Adanya pergeseran masyarakat ke industri dan ditambah pola hidup masyarakat urban telah mampu menciptakan dimensi baru penyakit. Pada beberapa klien. sifat kepribadian atau gaya koping tertentu dapat mengganggu kesehatan atau menimbulkan faktor resiko pada klien untuk terkena penakit tertentu seperti penyakit jantung.komitmen agamanya kuat dan alur pemikiran sebagai berikut : kami percaya pada Tuhan. Ketika seseorang klien melaksanakan anjuran untuk terus mengikuti terapi.

bedah saraf sebanyak 2 kali. maka sepatutnyalah pendekatan keagamaan dalam praktek kedokteran dan keperawatan dapat diamalkan dalam dunia kesehatan. 2006). bedah ortopedi sebanyak 47 kali. Data tersebut antara lain bedah umum atau tumor sebanyak 270 kali. c. melainkan untuk membangkitkan kekuatan spiritualnya dalam menghadapi penyakit (Yosep I. Komitmen agama mempunyai hubungan signifikan dan positif dengan clinical benefit. dengan catatan bukan untuk mengubah keimanan seseorang terhadap agama yang sudah diyakininya. bedah thoraks sebanyak 12 kali dan bedah digestif sebanyak 65 kali. Manfaat Penelitian 1. meningkatkan kemampuan mengatasi penyakit dan mempercepat pemulihan penyakit yang dipadukan dengan terapi kedokteran. 2. bedah KB atau Sectio sebanyak 247 kali. C. bedah KB atau sectio sebanyak 66 kali. Agama lebih bersifat protektif daripada problem producing.mencegah dan melindungi seseorang dari penyakit. bedah gigi sebanyak 3 kali. Berdasarkan data rekam medik di Rumah Sakit Islam Faisal Makassar periode Januari sampai dengan Desember 2010. Kesimpulan umum adalah masyarakat dan bangsa kita merupakan bangsa yang religius. 2009). Untuk mengetahui perbedaan tingkat kecemasan pasien sebelum dan sesudah pemberian terapi psikoreligius. Bagi Rumah Sakit . bedah mata sebanyak 2 kali. bedah plastik sebanyak 8 kali. maka penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut tentang ³Pengaruh terapi psikoreligius terhadap tingkat kecemasan pasien praoperasi di ruang bedah Rumah Sakit Islam Faisal Makassar´. Pada saat itulah keberadaan pencipta dalam hal ini adalah Tuhan sangat penting sehingga pasien akan selalu membutuhkan bantuan religius atau spiritual (Alimul A. B. bedah gigi sebanyak 14 kali. bedah THT sebanyak 4 kali. bedah saraf sebanyak 27 kali. Berdasarkan hal tersebut di atas. Untuk mengetahui kecemasan pasien setelah pemberian terapi psikoreligius pada masa pra bedah. bedah THT sebanyak 8 kali. Rumusan Masalah Berdasarkan hal tersebut di atas. Untuk mengetahui kecemasan pasien sebelum pemberian terapi psikoreligius pada masa pra bedah. bedah ortopedi sebanyak 208 kali. bedah urologi sebanyak 159 kali. dan bedah digestif sebanyak 130 kali tindakan. bedah urologi sebanyak 60 kali. Menghadapi pembedahan adalah sesuatu yang sangat mengkhawatirkan karena akan timbul perasaan antara hidup dan mati. Tujuan Penelitian 1. b. data kegiatan atau tindakan pembedahan yang telah dilakukan adalah sebanyak 1127 kali tindakan. bedah thoraks sebanyak 24 kali. maka rumusan masalahnya adalah apakah ada pengaruh terapi psikoreligius terhadap tingkat kecemasan pasien praoperasi di ruang bedah Rumah Sakit Islam Faisal Makassar. bedah mata sebanyak 11 kali. Sedangkan pada periode Januari sampai dengan Maret 2011. Tujuan Umum Untuk mengetahui pengaruh terapi psikoreligius terhadap tingkat kecemasan pasien praoperasi di ruang bedah Rumah Sakit Islam Faisal Makassar. Data tersebut antara lain bedah umum atau tumor sebanyak 51 kali. Tujuan Khusus a. D. kegiatan atau tindakan pembedahan yang telah dilakukan sebanyak 312 kali tindakan.

dan sebagainya. IV. Pendekatan keagamaan dalam praktek kedokteran dan keperawatan dalam dunia kesehatan. yang berarti terapi dengan menggunakan faktor agama. Yang dimaksud dengan terapi spiritual kurang lebih adalah terapi dengan memakai upaya-upaya untuk mendekatkan diri pada Tuhan. ceramah keagamaan. 2009). 2008). Pengertian terapi spiritual atau terapi religius adalah sebuah terapi dengan pendekatan terhadap kepercayaan yang dianut oleh klien. 3. 4. Defenisi Terapi psikoreligius merupakan suatu pengobatan dalam praktek keperawatan khususnya keperawatan jiwa yang menggunakan pendekatan keagamaan antara lain doa-doa. Terapi spiritual berbeda dengan berdoa. Bagi Profesi Keperawatan Sebagai pengembangan ilmu khususnya dalam keperawatan jiwa. pengetahuan dan pengalaman serta mengembangkan diri khususnya dalam bidang penelitian. Bagi Pendidikan Sebagai sumbangan ilmiah dan masukan untuk pengembangan ilmu pengetahuan khususnya tentang pengaruh terapi psikoreligius terhadap pasien yang mengalami kecemasan pada masa praoperasi. TINJAUAN PUSTAKA A.Sebagai masukan yang bermakna dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan kepada pasien yang mengalami kecemasan pada masa praoperasi. doa tersebut ditiupkan disebuah gelas berisi air minum kemudian meminta klien meminum air tersebut. dan lain-lain untuk meningkatkan kekebalan dan daya tahan dalam menghadapi berbagai problem kehidupan yang merupakan stressor psikososial guna peningkatan integrasi kesehatan jiwa (Ilham A. utamanya bagi keluarga tentang pentingnya terapi psikoreligius untuk mengurangi kecemasan pada pasien praoperasi. serta dapat digunakan sebagai bahan pustaka atau bahan perbandingan untuk penelitian selanjutnya. . dzikir. yang selanjutnya dapat meningkatkan pemahaman terhadap pentingnya memasyarakatkan terapi psikoreligius kepada pasien yang mengalami kecemasan pada masa praoperasi. Ini sama dengan terapi keagamaan. Terapi psikoreligius merupakan suatu pengobatan alternatif dengan cara pendekatan keagamaan melalui doa dan dzikir yang merupakan unsur penyembuh penyakit atau sebagai psikoterapeutik yang mendalam. 2009). kajian kitab suci. bukan untuk tujuan mengubah keimanan seseorang terhadap agama yang sudah diyakininya. 5. 2008). religius. kegiatan ini dilakukan minimal 1 kali seminggu untuk semua klien dan setiap hari untuk pasien. 2. Hanya saja terapi spiritual lebih umum sifatnya dan tidak selalu dengan agama formal masing-masing individu (Wicaksana I. kegiatan ritual keagamaan. atau psikoreligius. Bagi Peneliti Sebagai pengalaman yang berharga bagi peneliti untuk menambah wawasan. Bagi Keluarga Sebagai bahan informasi. meskipun sama .sama menggunakan sebuah perilaku dalam sebuah agama atau kepercayaan tetapi akan sangat berbeda dengan terapi spiritual (Rosyidi I. melainkan untuk membangkitkan kekuatan spiritual dalam menghadapi penyakit merupakan terapi psikoreligius (Yosep I. pendekatan ini dilakukan oleh seorang pemuka agama dengan cara memberikan pencerahan. ceramah keagamaan. 2009). bertujuan untuk membangkitkan rasa percaya diri dan optimisme yang paling penting selain obat dan tindakan medis (Rozalino R. seperti sembahyang. Tinjauan Umum tentang Terapi Psikoreligius 1. memanjatkan puji-pujian. berdoa.

mencari dan menerima terapi. c) Strategi koping. doa dan dzikir (psikoreligius terapi) merupakan terapi psikiatrik setingkat lebih tinggi daripada psikoterapi biasa (Ilham A. Unsur-Unsur Psikoreligi Adapun unsur-unsur yang terdapat dalam terapi psikoreligius adalah sebagai berikut (Ilham A. 3) Nilai agama atau spiritual. b. 2008) 3. cobaan terhadap keyakinan. Doa ± doa Dalam dimensi psikoreligius. diri sendiri dan orang lain 4) Pengkajian Data Subjektif Pedoman pengkajian spiritual yang disusun oleh Stoll dalam Craven & Hirnle. 2008) antara lain : a. perilaku. verbalisasi. mempengaruhi a) Praktik kesehatan: diet. Pada umumnya karakteristik klien yang potensial mengalami distres spiritual adalah sebagai berikut : a) Klien tampak kesepian dan sedikit pengunjung b) Klien yang mengekspresikan rasa takut dan cemas c) Klien yang mengekspresikan keraguan terhadap sistem kepercayaan atau agama d) Klien yang mengekspresikan rasa takut terhadap kematian e) Klien yang akan dioperasi . mengucapkan baik secara lisan maupun dalam hati segala kuasa-Nya. doa berarti permohonan penyembuhan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dzikir Dzikir adalah mengingat Tuhan dengan segala kekuasaan-Nya. hubungan interpersonal dan lingkungan b) Pengkajian data objektif terutama dilakukan melalui observasi. yaitu : a) Konsep tentang Tuhan atau ke-Tuhan-an b) Sumber harapan dan kekuatan c) Praktik agama dan ritual d) Hubungan antara keyakinan spiritual dan kondisi kesehatan 5) Pengkajian Data Objektif Meliputi : a) Pengkajian afek dan sikap. Pengkajian mencakup 4 area. Dari sudut ilmu kedokteran jiwa atau keperawatan jiwa atau kesehatan jiwa. ritual atau upacara kegamaan. b) Persepsi penyakit: hukuman. b) Jenis partisipasi dalam kegiatan agama 2) Keyakinan agama atau spiritual. 2008) : a.2. mempengaruhi a) Tujuan dan arti hidup b) Tujuan dan arti kematian c) Kesehatan dan pemeliharannnya d) Hubungan dengan Tuhan. Proses Keperawatan pada Terapi Psikoreligius Adapun proses keperawatan dalam terapi psikoreligius (Ilham A. Pengkajian Pada dasarnya informasi yang perlu digali secara umum adalah 1) Afiliasi Agama a) Partisipasi klien dalam kegiatan agama apakah dilakukan secara aktif atau tidak aktif.

cedera atau krisis kehidupan lain. c. 9) Gangguan pola tidur yang berhubungan dengan distres spiritual. 4) Kepuasan dengan keharmonisan antara keyakinan spiritual dengan kehidupan sehari-hari d. Diagnosa Distres spiritual mungkin memengaruhi fungsi manusia lainnya. 10) Risiko tindak kekerasan terhadap diri sendiri berhubungan dengan perasaan bahwa hidup ini tidak berarti. mencintai dan keterikatan serta pengampunan 2) Menggunakan kekuatan. 3) Mengembangkan praktek spiritual yang memupuk komunikasi dengan diri sendiri. 5) Keputusasaan yang berhubungan dengan keyakinan bahwa tidak ada yang peduli termasuk Tuhan . 2) Koping individual tidak efektif yang berhubungan dengan kehilangan agama sebagai dukungan utama (merasa ditinggalkan oleh Tuhan). dengan Tuhan dan dengan dunia luar. Implementasi 1) Periksa keyakinan spiritual pribadi perawat 2) Fokuskan perhatian pada persepsi klien terhadap kebutuhan spiritualnya. 3) Jangan mengasumsi klien tidak mempunyai kebutuhan spiritual. distres spiritual sebagai etiologi atau penyebab masalah lain : 1) Gangguan penyesuaian terhadap penyakit yang berhubungan dengan ketidakmampuan untuk merekonsiliasi penyakit dengan keyakinan spiritual.f) Penyakit yang berhubungan dengan emosi atau implikasi sosial dan agama g) Mengubah gaya hidup h) Preokupasi tentang hubungan agama dan kesehatan i) Tidak dapat dikunjungi oleh pemuka agama j) Tidak mampu atau menolak melakukan ritual spiritual k) Memverbalisasikan bahwa penyakit yang dideritanya merupakan hukuman dari Tuhan l) Mengekspresikan kemarahannya kepada Tuhan m) Mempertanyakan rencana terapi karena bertentangan dengan keyakiann agama n) Sedang menghadapi sakaratul maut (dying) b. 5) Beri respon secara singkat. 6) Mendengarkan secara aktif dan menunjukkan empati yang berarti menghayati masalah klien. 4) Mengetahui pesan nonverbal tentang kebutuhan spiritual. harapan dan rasa nyaman ketika menghadapi tantangan berupa penyakit. spesifik dan faktual. 6) Ketidakberdayaan yang berhubungan dengan perasaan menjadi korban. Berikut ini adalah diagnosis keperawatan. 7) Gangguan harga diri yang berhubungan dengan kegagalan untuk hidup sesuai dengan ajaran agama. 8) Disfungsi seksual yang berhubungan dengan konflik nilai. keyakinan. 3) Takut yang berhubungan belum siap untuk menghadapi kematian dan pengalaman kehidupan setelah kematian. . Perencanaan 1) Mengidentifikasi keyakinan spiritual yang memenuhi kebutuhan untuk memperoleh arti dan tujuan. 4) Berduka yang disfungsional : keputusasaan yang berhubungan dengan keyakinan bahwa agama tidak mempunyai arti.

Ia berkaitan dengan ketidakpastian alamiah di tengah kehidupan. refleksi. 9) Bersikap empati yang berarti memahami perasaan klien. afeksi bawah sadar dan rahmat Tuhan. dikenal 3 (tiga) jenis kecemasan yang senantiasa ada dalam diri kita. memberi informasi. Kecemasan ini dapat meracuni dan melumpuhkan diri kita sehingga ia di sebut kecemasan toksik. 2001). ketidakpastian tentang bagaimana sesuatu bakal terjadi. B. Ketiga kecemasan itu adalah : a. Tinjauan Umum tentang Kecemasan 1. Evaluasi 1) Mampu beristirahat dengan tenang 2) Menyatakan penerimaan keputusan moral atau etika 3) Mengekspresikan rasa damai berhubungan dengan Tuhan 4) Menunjukkan hubungan yang hangat dan terbuka dengan pemuka agama 5) Menunjukkan afek positif tanpa perasaan marah. c. non-realistik. Ia pula bisa bersumber dari kecemasan alamiah dan luhur yang ditekan dan tidak diekspresikan. 11) Menentukan arti dari situasi klien bagaimana klien berespon terhadap penyakit 12) Apakah klien menganggap penyakit yang dideritanya merupakan hukuman. dan berperan membawa pertolongan. Kecemasan Alamiah (natural anxiety) Kecemasan alamiah (natural anxiety) merupakan kekuatiran yang spesifik. cobaan. kegelisahan. pikiran dan memori yang disupresikan. Kecemasan ini merangkum konflik diri sendiri terhadap . 10) Memahami masalah klien tanpa menghukum walaupun tidak tentu menyetujui klien. rasa bersalah dan ansietas 6) Menunjukkan perilaku lebih positif 7) Mengekspresikan arti positif terhadap situasi dan keberadaannya. 2009). Ia bersumber dari afeksi bawah sadar yaitu keinginan. repetitif namun tak efektif.7) Menerapkan teknik komunikasi terapeutik dengan teknik mendukung. b. relaistik. 8) Meningkatkan kesadaran dengan kepekaan pada ucapan atau pesan verbal klien. kuatir bahwa akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan (Salam N. bertanya. Defenisi Kecemasan (anxiety) dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia diartikan sebagai kekuatiran. Dalam Kamus Konseling (Sudarsono. menggali perasaan dan kekuatan yang dimiliki klien. menerima. tak masuk akal. Dalam Kamus Konseling Sudarsono. apa nasibku setelah kematian dan apakah ada Tuhan. Ia merangkum konflik diri sendiri dengan diri sendiri. kecemasan (anxiety) didefinisikan sebagai keadaan emosi yang kronis dan kompleks dengan keterperangkapan dan rasa takut yang menonjol. ketakutan akan sesuatu yang akan terjadi. Kecemasan Luhur (sacred anxiety) Kecemasan luhur (sacred anxiety) merupakan keprihatinan-keprihatinan atau kegelisahankegelisahan akhirat tentang kematian dan makna serta tujuan kehidupan. Kecemasan Melumpuhkan (toxic anxiety) Kecemasan melumpuhkan (toxic anxiety) merupakan kekuatiran bersifat kabur. masuk akal. Ia adalah hasil interaksi rasionalitas sadar. Ia lahir dari ketidaktahuan eksistensial yang direpresentasikan oleh pertanyaan seperti: apa makna dan tujuan kehidupan. atau anugerah dari Tuhan 13) Membantu memfasilitasi klien agar dapat memenuhi kewajiban agama 14) Memberitahu pelayanan spiritual yang tersedia di rumah sakit e. Ia juga merangkum konflik antara diri sendiri dengan dunia kehidupan. Itu juga berarti suatu perasaan takut.

(Stuart. isolasi. penolakan cinta. yang mengakibatkan orang akan berhati-hati atau waspada dan mendorong manusia untuk belajar serta kreatif. yaitu ancaman terhadap konsep diri. mengeluh. Etiologi Karakteristik kecemasan berbeda dengan rasa takut.kehidupan. tak bisa tidur. Ketakutan memiliki obyek yang jelas dimana seseorang dapat mengidentifikasikan dan menggambarkan obyek ketakutan. b. berkeringat dingin. Aspek biologis atau fisiologis. moderat. Faktor perkembangan. kecemasan dapat terjadi pada orang yang takut mendapatkan hukuman. berupa ancaman akan kekurangan makanan. mual/ muntah. 2006) adalah kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar. atau pada identitas diri. Tingkat Kecemasan Respon kecemasan terjadi dalam sebuah rentang. Inti permasalahan dalam suatu bentuk kecemasan adalah pada penjagaan diri. penurunan perhatian dan keinginan. dan dapat . seperti peningkatan denyut nadi dan tekanan darah. b. Peplau membagi dalam empat tingkat yaitu ringan. Faktor biologis atau fisiologis. Tingkat Kecemasan yaitu : a. selfesteem (harga diri). Ia bersifat terus menerus tapi hanya sekali waktu hadir dalam kehidupan. 2009) ditandai pada tiga aspek : a. gangguan hubungan. mudah tersinggung. orientasi lebih ke masa lampau daripada masa kini/masa depan. Sedangkan kecemasan menurut (Stuart G. rasa cemas disebabkan oleh beberapa faktor yaitu : a. mudah marah dan apatisme. seperti ketidakmampuan berkonsentrasi. Faktor psikososial. Keadaan ini akan meningkatkan persepsi individu. Individu lebih memfokuskan hal yang penting saat itu saja dan mengesampingkan hal lainnya. atau kehilangan fungsi tubuh. kehilangan orang/benda yang dicintai. Ketakutan menyebabkan kecemasan. berat. Aspek intelektual atau kognitif. termasuk di telapak tangan. celaan. perubahan status sosial/ekonomi. nafsu makan hilang. anak. remaja. depresi. yaitu ancaman pada perkembangan masa bayi. minuman. 4. pelupa. c. sering buang air kecil. pembesaran pupil dan gangguan pencernaan. Ketakutan diakibatkan oleh paparan fisik maupun psikologis terhadap situasi yang mengancam. Gejala kecemasan dalam (Salam N. orang lain dan dunia sekitar kita. Rasa cemas sedang: lapangan persepsi terhadap lingkungan menurun. yang berkaitan perasaan tidak pasti dan tidak berbahaya. seperti penarikan diri. Rasa cemas ringan: berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi sehari-hari. dan panik. 3. Ketakutan melibatkan penilaian intelektual terhadap stimulus yang mengancam sedangkan kecemasan merupakan penilaian emosional terhadap penilaian itu. Dua pengalaman emosi ini dibedakan dalam ucapan yaitu kita mengatakan memiliki rasa takut tetapi menjadi cemas. perlindungan dan keamanan. tidak bereaksi terhadap rangsangan lingkungan. tarikan nafas menjadi pendek dan cepat. 2006). Aspek emosional dan perilaku. mudah menangis. Gejala Kecemasan disadari atau tidak selalu hadir dalam hidup ketika kita berinteraksi dan berelasi dengan diri sendiri. c. penurunan produktifitas. b. Kecemasan terjadi sebagai akibat adanya ancaman terhadap keberadaan diri (selfhood). 2. nyeri kepala. Menurut Ramlah (2003) kecemasan merupakan reaksi normal terhadap situasi yang sangat menekan kehidupan seseorang.

Bila manusia salah orientasi. ketika menghadapi masalah pelik. Perasaan cemas. Rasa cemas berat: lapangan persepsi sangat menurun.C. Maramis M. butuh banyak pengarahan. pemikiran pada hal yang spesifik dan terinci tidak untuk yang lain. Ketegangan yang ditandai oleh : 1) Merasa tegang 2) Lesu 3) Tidak dapat istirahat tenang 4) Mudah terkejut 5) Mudah menangis 6) Gemetar 7) Gelisah c. Alat Ukur Kecemasan Derajat kecemasan dapat diukur dengan berbagai instrumen. 5. d. Panik melibatkan disorganisasi kepribadian. Disebut orang sedang panik. S.E menyatakan ada testes kecemasan dengan pertanyaan langsung. Tingkat kecemasan ini tidak sejalan dengan kehidupan dan jika berlangsung terus dalam waktu yang lama dapat terjadi kelelahan yang sangat bahkan kematian (Suzanne. koordinasi otot-otot lemah. Ini sangat berguna dalam menentukan adanya kecemasan dan untuk menetapkan tingkatnya. orang yang mengalami panik tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan. 1999). nyeri. 2007): Cara penilaian : Skor 0 : tidak ada gejala sama sekali Skor 1 : 1 dari gejala yang ada Skor 2 : separuh dari gejala yang ada Skor 3 : lebih dari separuh gejala yang ada Skor 4 : Semua gejala ada a. tekanan darah menurun. mendengarkan cerita penderita serta mengobservasinya terutama perilaku nonverbalnya. Skala kecemasan dapat diukur dengan menggunakan Semantik Differensial Scale maupun Visual Analog dapat dilakukan (Burns & Groove. 2009). Individu tidak dapat mengendalikan diri lagi. Menurut Peplau kecemasan dapat dikomunikasikan secara interpersonal karena itu perawat harus memperhatikan dan sekaligus mengatasi kecemasan personal (Chitty. hipotensi. sensasi pendengaran minimal. Panik: lapangan persepsi sudah sangat sempit.melakukan hal yang terarah c. Dengan panik. terjadi peningkatan aktifitas motorik. dan kehilangan pemikiran yang rasional. dia sudah harus diberi pertolongan atau tuntunan. tidak mampu berfikir realistis. ditandai dengan : 1) Cemas 2) Firasat buruk 3) Takut akan pikiran sendiri 4) Mudah tersinggung b. rasa dan periksa tidak berfungsi.1997). 2002). Ketakutan ditandai oleh : . menurunnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain. Seseorang mungkin menjadi pucat. Lapangan persepsi menurun. Instrumen lain yang dapat digunakan untuk mengukur skala kecemasan adalah Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) yaitu mengukur aspek kognitif dan afektif yang meliputi (Hidayat A. persepsi yang menyimpang. Karena mengalami kehilangan kendali. Kesadaran diri juga penting untuk mencegah perawat larut dalam kecemasan klien (Salam N.

1) Ketakutan pada gelap 2) Ketakutan ditinggal sendiri 3) Ketakutan pada orang asing 4) Ketakutan pada binatang besar 5) Ketakutan pada keramaian lalu lintas 6) Ketakutan pada kerumunan orang banyak d. Perasaan depresi ditandai oleh : 1) Kehilangan minat 2) Sedih 3) Bangun dini hari 4) Kurangnya kesenangan pada hobi 5) Perasaan berubah sepanjang hari g. Gangguan tidur ditandai oleh : 1) Sukar masuk tidur 2) Terbangun malam hari 3) Tidur tidak nyenyak 4) Bangun dengan lesu 5) Mimpi-mimpi 6) Mimpi buruk 7) Mimpi yang menakutkan e. Gejala Somatik/Fisik (sensorik) ditandai oleh : 1) Tinitus 2) Penglihatan kabur 3) Muka merah dan pucat 4) Merasa lemas 5) Perasaan ditusuk-tusuk i. Gejala Respiratori (pernafasan) ditandai oleh : 1) Rasa tertekan atau sempit di dada 2) Perasaan tercekik . Gejala Kardiovaskuler (Jantung & pembuluh darah) ditandai oleh : 1) Takikardia (denyut hantung cepat) 2) Berdebar-debar 3) Nyeri dada 4) Denyut nadi mengeras 5) Rasa lemas seperti mau pingsan 6) Detak jantung hilang sekejap j. Gejala Somatik/Fisik (otot) ditandai oleh : 1) Nyeri pada otot 2) Kaku 3) Kedutan otot 4) Gigi gemeruntuk 5) Suara tidak stabil h. Gangguan kecerdasan ditandai oleh : 1) Sukar konsentrasi 2) Daya ingat buruk 3) Daya ingat menurun f.

3) Merasa nafas pendek/ sesak 4) Sering menarik nafas panjang k.bulu berdiri n. ditandai oleh : 1) Mulut kering 2) Muka merah 3) Mudah berkeringat 4) Kepala pusing 5) Kepala terasa berat 6) Kepala terasa sakit 7) Bulu-bulu berdiri Penilaian hasil yaitu dengan menjumlahkan nilai skor item 1 sampai dengan 14 dengan ketentuan sebagai berikut : . Perilaku sewaktu wawancara. Gejala Urogenital ditandai oleh : 1) Sering kencing 2) Tidak dapat menahan kencing 3) Tidak datang bulan (tidak ada haid) 4) Darah haid berlebihan 5) Darah amat sedikit 6) Masa haid berkepanjangan 7) Masa haid amat pendek 8) Haid beberapa kali dalam sebulan 9) Frigiditas (menjadi dingin) 10) Ejakulasi dini 11) Ereksi melemah 12) Ereksi hilang 13) Impoten m. Gejala Otonom ditandai oleh : 1) Mulut kering 2) Muka merah kering 3) Mudah berkeringat 4) Pusing. sakit kepala 5) Kepala terasa berat 6) Bulu . Gejala Gastrointestinal (pencernaan) ditandai oleh : 1) Sulit menelan 2) Perut melilit 3) Gangguan pencernaan 4) Nyeri lambung sebelum atau sesudah makan 5) Rasa panas di perut 6) Perut terasa kembung atau penuh 7) Muntah 8) Defekasi lembek (BAB lembek) 9) Konstipasi (sukar buang air besar) 10) Berat badan menurun l.

hidrocel. mengiris anggota tubuh yang sakit. Pembukaan bagian tubuh ini umumnya dilakukan dengan membuat sayatan. 2002). Pembedahan cito antara lain appendiktomi. 2000).Keterangan : Hasil penilaian skor Kurang dari 14 = tidak ada kecemasan 14-20 = kecemasan ringan 21-27 = kecemasan sedang 28-41 = kecemasan berat 42-56 = kecemasan berat sekali (panik) C. Pembedahan merupakan terapi atau chikitsa yang paling baik. sirkumsisi. Bagan Kerangka Konsep Beradasarkan landasan teori yang telah diuraikan pada tinjauan kepustakaan. 2010). dilakukan tindak perbaikan yang diakhiri dengan penutupan dan penjahitan luka. S. maka secara garis besar skema mengenai sistem keterkaitan antara konsep penelitian ini adalah sebagai berikut : Intervensi Terapi Psikoreligius . dirawat inap dan jenis operasi yang dilaksanakan lebih serius daripada operasi kecil. Operasi atau pembedahan merupakan semua tindak pengobatan yang menggunakan cara invasif dengan membuka atau menampilkan bagian tubuh yang akan ditangani. setelah bagian yang akan ditangani ditampilkan. cepat dan berhasil untuk menanggulangi penyakit tertentu yang memerlukan pengangkatan atau menghilangkan bagian tubuh yang menyebabkan terjadinya penyakit ( Nala N. B. Tinjauan Umum tentang Terapi Pembedahan Terapi pembedahan adalah suatu tindakan medis yang bersifat invasif yang berguna untuk pengobatan penyakit dan menegakkan diagnostik. vena seksi dan lainnya (Suzanne. Pembedahan adalah penyembuhan penyakit dengan jalan memotong. Tindakan pembedahan atau operasi dapat menimbulkan berbagai keluhan dan gejala. terantisipasi dan dijadwalkan dengan jenis pembedahannya herniatomi. Biasanya dilaksanakan dengan anestesi. tonsilektomi.C. 1998). invaginasi. biopsy tumor. Pada penelitian ini. Pembedahan cito atau segera dilakukan karena alasan kedaruratan yang mengancam jiwa. Keluhan dan gejala yang sering adalah nyeri (Sjamsuhidajat. Dasar Pemikiran Variabel yang diteliti Saat ini perkembangan terapi di dunia kesehatan sudah berkembang ke arah pendekatan keagamaan (psikoreligius). (Hasanuddin M. KERANGKA KONSEP A. V. di mana untuk jenis tindakannya ada dua jenis yaitu secara elektif dan cito atau segera ( Levis. Pembedahan elektif merupakan kegiatan yang direncanakan secara hati-hati. 2008). Operasi ini beresiko pada ancaman jiwa. Pembedahan merupakan cabang dari ilmu medis yang ikut berperan terhadap kesembuhan dari luka atau penyakit melalui prosedur manual atau melalui operasi dengan tangan (Wane N. Dari berbagai penelitian yang telah dilakukan ternyata tingkat keimanan seseorang erat hubungannya dengan kekebalan dan daya tahan dalam menghadapi berbagai problem kehidupan yang merupakan stresor psikososial. Perawatan selanjutnya akan termasuk dalam perawatan pasca bedah. variabel yang diteliti adalah pegaruh doa-doa dan dzikir (terapi psikoreligius) terhadap tingkat kecemasan pasien yang secara rinci akan di uraikan dalam kerangka konsep. 2011). debridement. exisi.

Tingkat Kecemasan Pasien Tingkat kecemasan pasien dalam penelitian ini segala bentuk kekhawatiran. Hipotesis Alternatif (Ha) Ada pengaruh terapi psikoreligius terhadap tingkat kecemasan pasien pra operasi. maka desain penelitian yang digunakan adalah pre experimental design dengan desain uji Pre-Post Test Design. 2007). Defenisi Operasional dan Kriteria Objektif 1. D. Kriteria Objektif : a. Hipotesis Penelitian a. Hipotesis Nol (Ho) Tidak ada pengaruh terapi psikoreligius terhadap tingkat kecemasan pasien pra operasi. METODE PENELITIAN A. setelah itu diberikan intervensi. dzikir dan nasehat keagamaan. doa dan dzikir selama kurang lebih 15 menit. Menurun : Bila nilai kecemasan pasien setelah diberikan intervensi (terapi psikoreligius) dibandingkan sebelum pemberian intervensi. doa dan dzikir selama kurang lebih 15 menit. Terapi psikoreligius Terapi psikoreligius dalam penelitian ini adalah pendekatan keagamaan melalui doa-doa. b. melainkan untuk membangkitkan kekuatan spiritual dalam menghadapi penyakit. Pre experimental design merupakan eksperimen yang paling mudah serta tidak untuk membuktikan kausalitas. B. kegelisahan dan ketakutan pasien terhadap rencana tindakan pembedahan yang akan pasien tersebut jalani. Mendapat terapi : Bila responden diberikan terapi psikoreligius dalam bentuk nasehat keagamaan. Jenis dan Desain Penelitian Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian. 2. Pre-post test design merupakan penelitian yang dilakukan dengan cara memberikan pretest (pengamatan awal) terlebih dahulu sebelum diberikan intervensi. Meningkat : Bila nilai kecemasan pasien setelah diberikan intervensi (terapi psikoreligius) dibandingkan sebelum pemberian intervensi. meningkat.Kecemasan Kecemasan Pre Intervensi Post Intervensi O² O1 Keterangan : : Variabel Independen : Variabel Dependen C. kemudian dilakukan posttest (pengamatan kedua) (Hidayat A. VI. Populasi Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempumyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian . bukan untuk tujuan mengubah keimanan seseorang terhadap agama yang sudah diyakininya. b. Populasi Dan Sampel 1. b. menurun. Tidak mendapat terapi : Bila responden tidak diberikan terapi psikoreligius dalam bentuk nasehat keagamaan. Kriteria Objektif : a.

bisa membaca dan menulis. prostatektomi.ditarik kesimpulannya (Sugiyono. Sampel Sampel merupakan bagian populasi yang akan diteliti atau sebagai jumlah dari karakteristik yang dimiliki oleh populasi menurut Sastroasmoro dan Ismail dalam Nursalam (2003). Secara umum. . 2) Beragama Islam 3) Pasien yang bersedia untuk diterapi dan diteliti 4) Dalam keadaan sadar. Waktu Dan Tempat 1. 6) Umur 18 tahun ke atas b. debridement. antara lain laparatomi. Kriteria Inklusi dan Eksklusi Karena penelitian ini membutuhkan jawaban yang sejujurnya dan memperoleh jawaban yang akurat. 2. 2. invaginasi. Berdasarkan hal tersebut di atas maka peneliti membatasi sampel yaitu sampai 30 sampel atau 30 orang pasien yang akan menjalani operasi sebagai sampel. semakin kecil jumlah sampel (menjauhi jumlah populasi) maka semakin besar peluang kesalahan generalisasi (Teorionline. thoraks dan THT. biopsy tumor. vena seksi. appendiktomi. Teknik sampling dalam penelitian ini adalah Purposive Sampling yaitu cara pengambilan sampel untuk tujuan tertentu dengan cara yang tidak harus berkesinambungan. Sampel dalam penelitian ini adalah semua pasien yang menjalani pembedahan dan memenuhi kriteria eksklusi dan inklusi yang berada di ruang bedah Rumah Sakit Islam Faisal Makassar. Kriteria Eksklusi Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah : 1) Pasien yang tidak kooperatif. 5) Jenis operasi besar. yaitu bulan Mei 2011. pada penelitian sosial maksimal tingkat kesalahannya adalah 5% (0. maka sampel dalam penelitian ini ditambah dengan persyaratan sebagai berikut : a. tonsilektomi. fraktur. 2010). digestif. exisi. untuk penelitian korelasional jumlah sampel adalah 30. herniatomi. 2004). Namun. hidrocel. Namun yang perlu diperhatikan adalah semakin besar jumlah sampel (semakin mendekati populasi) maka semakin kecil peluang kesalahan generalisasi dan sebaliknya. sectio. Makin besar tingkat kesalahan maka makin kecil jumlah sampel. Tempat Penelitian ini akan dilakukan di Rumah Sakit Islam Faisal Makassar. Waktu Penelitian akan dilaksanakan selama 1 bulan sejak proposal penelitian ini selesai diseminarkan. D.05). sedangkan dalam penelitian eksperimen jumlah sampel minimum 15 dari masing-masing kelompok dan untuk penelitian survey jumlah sampel minimum adalah 100. Besaran atau jumlah sampel ini sampel sangat tergantung dari besaran tingkat ketelitian atau kesalahan yang diinginkan peneliti. C. dalam hal tingkat kesalahan. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien yang menjalani pembedahan di Rumah Sakit Islam Faisal Makassar. Untuk menentukan sampel dari populasi digunakan perhitungan maupun acuan tabel yang dikembangkan para ahli. Kriteria Inklusi Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah : 1) Pasien yang akan menjalani pembedahan 1 hari kemudian.

Uji Independent Sample t-Test. Pertama ± tama. Peneliti akan bekerjasama dengan pihak rumah sakit yang berwewenang melakukan tugas terapi psikoreligius dengan cara pembacaan doa ± doa dan juga dzikir kepada pasien yang akan menjalani operasi di ruang bedah dan juga di ruangan lainnya. 2. tetap atau meningkat. Cara Pengumpulan Data Dan Analisa Data 1. Setelah wawancara. 4. peneliti akan mengukur tingkat kecemasan pasien menggunakan skala kecemasan dengan cara wawancara langsung menggunakan teknik komunikasi terapeutik. peneliti menggunakan alat ukur kuisioner skala kecemasan dengan cara wawancara langsung menggunakan teknik komunikasi terapeutik. Pengumpulan Data Untuk mendapatkan data atau informasi yang diinginkan. Statistik yang digunakan a. Setelah dilakukan intervensi. Setelah itu. 3. dilakukan pengelompokan data dalam suatu table sesuai dengan tujuan penelitian. Analisa Data Terapi psikoreligius dikatakan berpengaruh terhadap tingkat kecemasan pasien praoperasi jika skala kecemasan pasien sebelum dilakukan intervensi dibandingkan dengan skala kecemasan pasien setelah dilakukan intervensi. Terapi psikoreligius dikatakan tidak berpengaruh terhadap tingkat kecemasan pasien praoperasi jika skala kecemasan pasien sebelum dilakukan intervensi dibandingkan dengan skala kecemasan pasien setelah dilakukan intervensi. Wawancara ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kecemasan pasien dan dilakukan 12 jam sebelum intervensi (pemberian terapi psikoreligius). kemudian hasil koding di masukkan ke dalam tabel pengkodean. E. Tabulasi Pada tahap ini. Langkah Pengolahan Data Setelah data ± data terkumpul. Dalam melakukan analisa data menggunakan bantuan program SPSS. dengan derajat kemaknaan <0.05. 2. dilakukanlah intervensi kepada pasien pra operasi yaitu dengan memberikan terapi psikoreligius dengan doa-doa dan dzikir. menurun. Peneliti akan mendapatkan kedekatan emosional dengan pasien dan juga agar pasien jujur mengakui dan memberikan data kecemasannya secara jujur dan terbuka. Editing Proses editing (penyuntingan data) dilakukan dengan memeriksa setiap lembar kuisioner skala kecemasan yang didapatkan oleh peneliti setelah melakukan uji pre-post test dengan cara wawancara langsung menggunakan teknik komunikasi terapeutik dengan pasien. merupakan suatu uji statistik parametrik dengan pendekatan skala interval. . 3) Pasien yang bersedia untuk diterapi tetapi tidak bersedia untuk diteliti. 12 jam kemudian peneliti kembali mengukur tingkat kecemasan pasien menggunakan skala kecemasan juga dengan cara wawancara langsung menggunakan teknik komunikasi terapeutik. Teknik wawancara langsung digunakan oleh peneliti karena dengan wawancara secara langsung maka akan terjadi kontak langsung dengan pasien. F. Untuk mempermudah pemasukan data maka dibuat format koding. Analisis deskriptif b. data siap di masukkan kedalam komputer. Pemberian kode Pada tahap ini yang dilakukan adalah pemberian kode atau tanda dari tiap lembar kuisioner skala kecemasan yang telah didapatkan dari hasil wawancara peneliti dengan pasien pra operasi.2) Pasien yang menolak untuk melanjutkan penelitian. maka peneliti melakukan : 1.

Ns. 2. H. mengetahui dampaknya. Informed consent tersebut diberikan sebelum penelitian dilakukan dengan memberikan lembar persetujuan untuk menjadi responden. hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan pada hasil riset.. Tujuan informed consent adalah agar subjek mengerti maksud dan tujuan penelitian. Jika responden tidak bersedia. Sp. 2007) masalah etika yang harus diperhatikan antara lain sebagai berikut : 1. Anonimity (Tanpa nama) Masalah etika keperawatan merupakan masalah yang memberikan jaminan dalam penggunaan subjek penelitian dengan cara tidak memberikan atau mencantumkan nama responden pada lembar alat ukur dan hanya menuliskan kode pada lembar pengumpulan data atau hasil penelitian yang akan disajikan. Askar AS. M. maka mereka harus menandatangani lembar persetujuan. mengingat penelitian keperawatan berhubungan langsung dengan manusia. serta kemampuan peneliti sehingga mempengaruhi perumusan. 2. dana. M. Faktor Feasibility Keterbatasan waktu. Pelaksana Nama : Sudirman NIM : NH0107176 . Pembimbing I : Faisal Asdar. maka segi etika penelitian harus diperhatikan.Kes. Menurut (Hidayat A. penyusunan dan pengolahan data. S.. Keterbatasan Ada beberapa macam keterbatasan yang didapatkan oleh peneliti antara lain : 1. Sp... Pembimbing II : M. VII.Kep. Informed Consent ( Persetujuan) Informed consent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dengan responden penelitian dengan memberikan lembar persetujuan. Confidentiality (Kerahasiaan) Masalah ini merupakan masalah etika dengan memberikan jaminan kerahasiaan hasil penelitian. jika subjek bersedia.G.B. 3.Kep. sarana. S. Ns.Kes. Semua informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaannya oleh peneliti. Insrumen penelitian Pengumpulan data dengan menggunakan observasi dan kuisioner skala kecemasan memungkinkan kurang teliti terhadap pengamatan dan wawancara yang dilakukan peneliti..Pd. Pembimbing 1. baik informasi maupun masalah-masalah lainnya. Masalah Etika Masalah etika penelitian keperawatan merupakan masalah yang sangat penting dalam penelitian.. PERSONALIA PENELITIAN A. maka peneliti harus menghormati hak pasien. B. 2.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->