1. PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Ikan Patin (Pangasius spp) merupakan spesies ikan dari jenis Pangasidae yang memiliki ciri-ciri umum tidak bersisik, tidak memiliki banyak duri, kecepatan tumbuhnya relatife cepat, fekunditas dan sintasannya tinggi, dapat diproduksi secara massal dan memiliki peluang pengembangan skala industri. Dengan banyak keunggulan tersebut ikan ini menjadi salah satu komoditas perikanan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi, baik dalam segmen usaha pembenihan maupun usaha pembesarannya. Sebagian jenis dari ikan patin ini merupakan ikan introduksi dari Bangkok-Thailand dan sebagian lagi merupakan jenis ikan lokal Indonesia yang terdapat pada sungai-sungai di pulau Sumatera, Kalimantan bahkan Jawa. Jenis-jenis ikan patin yang lazim dibudidayakan di Indonesia antara lain adalah : (1) Patin Siam (Pangasius hypophthalmus); (2) Patin Djambal (Pangasius djambal) ; dan (3) Patin Pasopati (Pangasius sp). Perkembangan budidaya telah meningkat pesat sejak teknologi pembenihannya telah sepenuhnya dikuasai, berbagai teknologi telah diterapkan dan dikembangkan pada pembenihan ikan patin, yang antara lain melalui kawin suntik (induced spawning) yaitu pemijahan yang dilakukan dengan pemberian rangsangan hormon untuk mempercepat proses pematangan gonad, pembuahan telur dan sperma dilakukan dengan teknik pengurutan (stripping) pada induk jantan dan betina yang telah matang gonad. Larva hasil penetasan telur kemudian dideder pada akuarium atau bak selama 2 -3 minggu sebelum kemudian dilakukan pendederan tahap selanjutnya serta tahap pembesaran di Kolam, Keramba Tancap maupun Keramba Jaring Apung. 1.2 Maksud dan Tujuan Maksud dan tujuan disusunnya booklet pedoman pembenihan ikan patin ini antara lain adalah untuk memasyarakatkan pembenihan ikan patin kepada kelompok pembenih ikan baik skala besar maupun kecil, yang pada akhirnya dapat meningkatkan jumlah produksi dan tingkat konsumsi masyarakat terhadap ikan patin. Untuk menjaga kesinambungan usaha dan meningkatkan produksi benih patin baik jumlah dan kualitasnya, maka para pembenih perlu dibekali dengan pengetahuan mengenai manajemen induk dan teknik pembenihan ikan patin. Mengingat di negara tetangga Vietnam dan China ikan patin sudah menjadi komoditas primadona ekspor, kedepan diharapkan Indonesia dapat menyusul menjadi salah satu negara eskportir ikan patin karena peluang pasar ekspor masih terbuka luas ke beberapa negara tujuan ekspor seperti Amerika Serikat dan Negara-negara di Eropa.

1

2. PERSYARATAN TEKNIS 2.1 Sumber Air Air yang dapat digunakan untuk kegiatan pembenihan dapat berasal dari air tanah ataupun air irigasi yang bebas dari pencemaran. Pada proses penetasan telur dan pendederan air yang digunakan harus menggunakan air sumur hal ini untuk menghindari adanya pencemaran dan timbulnya serangan penyakit dan jamur pada telur dan larva, sedangkan untuk perawatan induk dan pendederan benih dapat menggunakan air irigasi. Perlakuan mutlak dilakukan baik untuk air tanah maupun air irigasi yang antaralain adalah dengan metode pengendapan, filtrasi, dan aerasi hal ini diperlukan untuk mengurangi sedimen tanah maupun pasir serta menambah kandungan oksigen kedalam air sebelum digunakan untuk media pemeliharaan ikan. 2.2 Lokasi Pemilihan lokasi unit pembenihan mutlak harus dilakukan hal ini terutama berhubungan ketersediaan dan kualitas air, baik air tanah maupun air irigasi harus tersedia dalam jumlah yang cukup sepanjang tahun, lokasi unit pembenihan harus memiliki akses jalan yang baik untuk menunjang operasional kegiatan pembenihan dan pemasaran benih, selain itu untuk menghindari musibah lokasi unit pembenihan harus bebas dari banjir dan tanah longsor. 2.3 Peralatan Peralatan yang diperlukan pada kegiatan pembenihan antara lain adalah sebagai berikut - Alat suntik (spuit) - Hapa jaring - Kateter/kanulator - Hapa penampungan penampungan - Timbangan - Bak - Baskom - induk / Sarung - Seser halus (scope net) - Handuk - tangan - Pompa air - Bulu ayam - Sistem aerasi penetasan - Corong - Termometer - Akuarium + Rak - telur Corong penetasan akuarium artemia Bak / kolam Peralatan penunjang pendederan lainnya

2

Bahan penunjang . PENGELOLAAN INDUK Pengelolaan induk memegang peranan yang sangat penting dalam kegiatan pembenihan.5 – 5 tahun dengan berat antara 3 – 6 Kg. 3. membersihkan sampah/kotoran dan sisa pakan. 3. memasang saringan pada saluran inlet dan outlet.Pakan Benih . Untuk meningkatkan kandungan oksigen pada kolam dapat dilakukan dengan berbagai cara diantaranya adalah dengan tetap melakukan penggantian air secara terus menerus selain itu dapat juga dengan penambahan kincir air atau aerasi dari blower.2 Pengelolaan Induk 3. Induk ukuran ini mudah ditangani.1 Pengelolaan Kolam Induk Beberapa kegiatan manajemen harian yang dilakukan adalah mencegah masuknya ikan-ikan liar pada kolam pemeliharaan induk.1 Karakter Induk Induk patin yang baik untuk dipijahkan adalah induk yang telah berumur antara 2.4 Bahan Bahan yang digunakan pada kegiatan pembenihan antara lain adalah sebagai berikut .Obat-obatan lainnya .Sodium (NaCl 0.Hormon Ovaprim .Artemia 3. jenis hormon dan penanganan induk yang baik pada waktu kegiatan pemijahan menjadi sia-sia jika induk yang digunakan tidak baik.2. Metode penyuntikan.Tissue . Induk yang baik adalah modal dasar untuk mencapai keberhasilan dalam memproduksi benih. 3 .2.9%) . memerlukan sedikit hormon dan tingkat ovulasinya lebih tinggi dibanding dengan induk yang lebih tua dan berukuran lebih besar. memelihara kualitas air agar tetap ideal untuk pemeliharaan induk.Pakan Induk .Suspensi tanah merah .

oleh karena itu pergantian air dapat melalui filtrasi sistem tertutup. sore dan atau malam hari. Pengamatan tingkah laku makan harian ikan sangatlah penting untuk mengetahui kondisi kesehatan ikan.Pergantian air harus dilakukan jika kualitas air tidak dapat ditingkatkan hanya dengan menggunakan kincir air dan aerasi.0 – 8.3 % dari berat biomass dan diberikan 2 .2 Pengelolaan Pakan Induk Waktu pemberian pakan tidak hanya untuk memberi pakan tetapi juga waktu untuk mengamati dan mengevaluasi kondisi ikan dan air.5 dan kandungan oksigen terlarut minimal 4 mg/L. 3. Pola makan ikan terkadang tidak sama setiap harinya maka pakan yang diberikan harus dikontrol dan tercatat dengan baik baik waktu dan jumlah pemberian pakan serta jenis pakan yang diberikan. Untuk daerah tertentu pergantian air tidak dapat dilakukan secara berkesinambungan karena kuantitas air yang sangat terbatas terutama pada musim kemarau.3 kali perhari pada pagi. kualitas air ideal untuk induk suhu antara 25 – 30 oC. kondisi kincir. Pemeliharaan induk dilakukan pada kolam tanah dan dapat juga menggunakan kolam tembok dengan kepadatan 3 – 5 ekor/m2. Jumlah pemberian pakan maksimum adalah 2 . Selama pemberian pakan dilakukan pengamatan terhadap tingkah laku makan ikan. Pakan yang umum diberikan pada induk patin adalah pellet komersial dengan kadar protein 30 – 35 %. Pemeliharaan induk jika memungkinkan dilakukan dalam beberapa kelompok dan diperlihara secara terpisah hal ini dimaksudkan agar dapat digunakan secara bergantian. 4 .2. pH 6. warna dan kondisi air. Pakan yang diberikan jangan terlalu banyak atau sampai tersisa karena akan menyebabkan turunnya kualitas air. aerasi dan memastikan kalau tidak ada ikan liar yang masuk kedalam kolam pemeliharaan induk.

Kelebihan kapasitas baik telur maupun larva akan menyebabkan rendahnya daya tetas telur dan tingkat kelulushidupan larva. 4. halus dan membesar kearah anus.4. 5 . Postur tubuh induk betina cenderung melebar dan pendek. Langkah-langkah dalam persiapan meliputi perencanaan.1 Persiapan Induk Sebelum kegiatan pemijahan dilakukan.2 Seleksi Induk Seleksi induk merupakan langkah awal dalam usaha pembenihan. yang akhirnya akan menyebabkan gagalnya ovulasi telur. PEMIJAHAN BUATAN DAN PENETASAN TELUR 4. pengecekan terhadap kesiapan dan kelayakan kondisi peralatan dan bahan yang akan digunakan. Membuat target pada setiap kegiatan pembenihan sangat diperlukan untuk menjaga produksi yang berkesinambungan baik dalam segi jumlah maupun kualitas benih yang akan dihasilkan. Setelah diketahui jumlah induk yang akan direncanakan untuk disuntik maka 2 (dua) hari sebelum induk diseleksi induk dipuasakan terlebih dahulu. perut lembek.1 Persiapan 4. Pada umumnya. Jika induk tidak di puasakan dan dipaksakan diseleksi maka akan dapat menyebabkan induk luka dan stress. 4. Faktor utama yang membatasi jumlah induk yang akan digunakan adalah fasilitas penetasan telur yang berupa corong penetasan dan perawatan larva yang berupa bak fiber. pendataan.2 Persiapan Alat dan Bahan Langkah awal yang sangat penting dalam kegiatan pembenihan adalah persiapan.1. sehingga sangat penting bagi pembenih untuk memperhitungkan jumlah target produksi dengan fasilitas . akuarium ataupun kolam. pengecekan kondisi peralatan pemberokan atau inkubasi induk.1. induk ikan betina yang telah matang gonad memiliki ciri-ciri yang mudah dibedakan dengan induk jantan atau induk betina yang belum dewasa. mempersiapkan jumlah induk yang akan disuntik harus dilakukan. langkah ini sangat menentukan keberhasilan pembenihan secara keseluruhan sehingga harus dilakukan secara teliti dan akurat berdasarkan kriteria yang sudah ditentukan.fasilitas pembenihan yang dimilikinya.

dengan interval waktu penyuntikan pertama dan kedua sekitar 6-12 jam. dapat dilakukan dengan pengukuran diameter telur dan pengamatan pergerakan inti sel telur. pengurutan untuk proses pengeluaran telur dan pembuahan dengan mencampur sperma dan telur. Satu hari sebelum proses seleksi induk dilakukan induk dipuasakan.3 Penyuntikan Hormon Pemijahan dilakukan secara buatan melalui pemberian rangsangan hormon untuk proses pematangan akhir gonad. apabila bagian perut dekat lubang kelamin diurut akan mengeluarkan cairan putih kental (cairan sperma).0 mm dan pada larutan serra > 80 % inti sel bergerak ke pinggir. Seleksi pertama dilakukan secara visual dikolam yaitu dengan mengamati dan meraba bagian perut betina dan urogenitalnya. 6 .5 ml/kg sedangkan untuk induk jantan adalah 0. HCG dan hipofisa ikan mas. bila secara visual induk betina matang gonad maka induk dipindahkan ke bak inkubasi induk untuk persiapan penyuntikan dan apabila induk betina tidak matang gonad maka induk langsung dilepaskan kembali pada kolam pemeliharaan induk.Urogenital membengkak dan membuka serta berwarna merah tua. Telur dari induk yang sudah matang gonad ditandai dengan ukurannya yang relatif seragam. memiliki diameter lebih dari 1. Induk jantan juga diseleksi dengan mengurut bagian perut kearah anal jika keluar cairan putih kental maka induk jantan tersebut terpilih untuk dipijahkan. standar dosis ovaprim yang diberikan untuk induk betina adalah 0. Dalam petunjuk ini akan dijelaskan penggunaan hormon ovaprim. Penyuntikan pertama sebanyak 1/3 bagian dari dosis total dan sisanya 2/3 bagian lagi diberikan pada penyuntikan kedua. 4. Bahan yang digunakan merangsang ovulasi pada ikan patin yang sudah dikenal seperti ovaprim. Untuk menjamin pemilihan induk betina matang gonad. Hormon yang digunakan adalah ovaprim. Penyuntikan dilakukan sebanyak dua kali pada bagian intramuscular di punggung atas kanan/kiri sudut penyuntikan 45o. induk jantan terpilih dipindah ke bak inkubasi. Telur yang sudah diambil diletakkan pada larutan sera untuk mengukur diameter telur dan pergerakan inti sel dibawah mikroskop.2 ml/kg (bila diperlukan). Proses ini dapat dilakukan dengan cara melakukan pengambilan telur menggunakan kateter atau kanulator dari kantung telur. induk ditangkap dengan cara dijaring dan diserok satu persatu untuk diseleksi kematangan gonadnya. Sedangkan postur tubuh induk jantan relatif lebih langsing dan panjang. Faktor yang paling penting mempengaruhi keberhasilan proses ovulasi adalah manajemen harian induk untuk mencapai kematangan gonad yang cukup.

maka pengeluaran telur tidak akan lancar dan biasanya persentase keberhasilan pembuahan akan rendah. langkah pertama yang dilakukan adalah pembiusan terhadap induk. Ovulasi sudah tercapai bila sudah ada sedikit telur yang keluar sehingga pengurutan secara keseluruhan dapat dilanjutkan untuk proses pembuahan. pengecekan ini akan menentukan saat pengeluaran telur untuk proses pembuahan. Bila pengeluaran telur dilakukan sebelum ovulasi (terlalu cepat waktu). waktu striping yang tepat adalah pada saat telur keluar ketika dilakukan pemijatan yang lembut pada bagian perut dan jangan melakukan pijatan yang keras atau dipaksakan. tahapan selanjutnya adalah striping. Setelah induk terbius langkah selanjutnya adalah pengecekan ovulasi. Setelah 6 (enam) jam setelah penyuntikan kedua dilakukan pengecekan terhadap induk betina dilakukan pengecekan terhadap induk betina apakah sudah ovulasi atau belum.4 Striping Jika induk siap ovulasi. Oleh karena itu persiapan peralatan harus dilakukan dengan teliti sebelum kegiatan pembenihan dimulai. apabila berat induk bertambah maka dimungkinkan ada perkembangan telur tetapi lambat. Menimbang induk dan kanulasi ini baik dilakukan apabila memungkinkan. Sedangkan bila terlalu lambat. Pengecekan ovulasi dilakukan dengan cara melakukan pengurutan pada bagian dekat urogenital secara perlahan dan hatihati. langkah ini dilakukan dengan hati-hati. sedangkan tujuan dari kanulasi adalah untuk melihat perkembangan oosit. Pembiusan dilakukan dengan menggunakan benzocaine dengan dosis 100 ppm. 6-8 jam kemudian dilakukan pengecekan ovulasi induk. 4. namun bukanlah suatu keharusan. Apabila induk belum ovulasi maka dilakukan penimbangan berat induk dan kanulasi dengan kateter. bila induk belum juga ovulasi maka kegiatan pengecekan tersebut dilakukan lagi 7 . Hal ini dimaksudkan agar memudahkan dalam proses pengecekan dan mengurangi tingkat stress pada ikan. pembuahan biasanya juga gagal karena air sudah masuk ke dalam kantung telur yang menyebabkan lubang mikrofil pada telur sudah tertutup. proses striping sampai memasukan telur kedalam corong penetasan harus dilakukan dengan cepat dan lembut. Adapun tujuan dari penimbangan tersebut adalah untuk mengetahui ada tidaknya penambahan berat pada induk.Setelah penyuntikan kedua. ovulasi dilakukan dengan cara mengurut perut induk ikan dari arah perut ke lubang genital.

pengamatan kualitas sperma dilakukan dengan cara mengambil satu tetes sampel sperma diatas objek glass kemudian sampel tersebut ditetesi air segar. Untuk menghilangkan larutan tanah merah pada telur dilakukan beberapa kali pembilasan menggunakan air bersih hingga telur bersih sempurna. telur kemudian dihitung jumlahnya dan kemudian dikalikan dengan berat total telur. Jika pengelolaan induk cukup baik biasanya induk jantan yang matang lebih mudah diperoleh dibanding induk betina matang gonad. 8 . Tujuan pencampuran larutan sodium ini adalah untuk mengencerkan sperma agar sperma dan telur dapat tercampur secara lebih merata. Setelah diaduk secara merata dan telur terbungkus oleh sperma. langkah selanjutnya adalah pencampuran larutan tanah merah yang berguna untuk menghilangkan daya rekat telur kemudian diaduk sempurna hingga telur tidak menempel satu sama lain. Setelah diketahui kulitas sperma baik maka dilakukan striping pada induk jantan untuk mengambil spermanya.9 % dan diaduk secara perlahan menggunakan bulu ayam. walaupun untuk tujuan produksi kegiatan ini tidak selalu harus dilakukan. apabila saat pengecekan induk sudah ovulasi maka segera dilakukan pengurutan/ striping telur. pengamatan dibawah mikroskop dilakukan bertepatan dengan diteteskanya air. Sperma yang kualitasnya baik adalah yang spermatozoanya bergerak aktif ketika diteteskan air. namun penimbangan untuk mengetahui jumlah telur yang diperoleh sangat disarankan untuk mengestimasi hasil panen dan mengevaluasi kegiatan pembenihan. Dengan cara yang sederhana evaluasi kualitas sperma dilakukan dengan menggunakan beberapa jantan yang matang gonad yang mengeluarkan cairan sperma putih kental dengan mudah ketika diurut/distriping. Setelah semua telur habis distriping maka telur yang dihasilkan tersebut ditimbang total untuk mengetahui jumlah telur yang dihasilkan maka diambil sampel sebanyak 1 gram. Pada saat yang bersamaan diambil juga sedikit sampel sperma induk jantan untuk diamati kualitasnya dibawah mikroskop. sperma yang keluar ditampung pada wadah yang telah berisi telur. Telur yang telah bersih kemudian siap untuk dimasukan dalam corong penetasan.5 Inseminasi Buatan Pembuahan buatan dilakukan dengan cara mencampur telur dan sperma dengan larutan sodium 0.setiap satu jam. Penimbangan berat total telur dan sampling telur adalah untuk mengetahui jumlah telur dan untuk mengevaluasi suatu kegiatan pembenihan. Striping untuk memperoleh sperma dilakukan dengan pijatan tangan sepanjang posisi testis pada abdomen jantan 4.

larva ikan diberikan pakan naupli artemia dari umur 30 jam hingga 7 hari. Padat tebar larva adalah sekitar 60-80 ekor/liter. bak fiber. penambahan dan pergantian air dapat dilakukan setelah 4 hari pemeliharaan dan dilakukan secara rutin minimal setiap 2 hari sekali atau sesuai dengan kebutuhan. adapun pada hari ke 8 hingga ke 15 larva diberi pakan cacing sutera. Larva yang menetas didalam corong penetasan akan bergerak mengikuti aliran air kedalam bak penampungan dimana dalam bak telah dipersiapkan dipasang hapa halus untuk menampung larva kemudian larva dipanen dengan cara diambil dengan seser halus secara hati-hati dan perlahan. Suhu optimal untuk pemeliharaan larva ikan patin adalah antara 29-30oC. 9 . Larva dipelihara selama 15 hari. pemanenan larva dilakukan 24 – 28 jam setelah inseminasi. Larva menetas tidak bersamaan tetapi secara bertahap. hal terpenting yang harus diperhatikan adalah kebersihan dan ukuran wadah. selama pemeliharaan larva dilakukan penyiponan sisa pakan dan faeces secara rutin.1 Gambaran Umum Pemeliharaan larva dan benih ikan patin sebaiknya dilakukan didalam ruangan tertutup agar dapat dijaga suhu airnya serta menghindari kontaminan yang dapat masuk kedalam media pemeliharaan larva. bak semen maupun bak kayu. 5 PEMELIHARAAN LARVA DAN BENIH 5.6 Pemanenan Larva Larva mulai menetas setelah kurang lebih 20 jam setelah inseminasi. Wadah pemeliharaan larva dapat terdiri dari berbagai macam jenis mulai dari akuarium.4. dimana larva ikan akan mencapai ukuran ¾ inchi.

wadah pendederan dapat berupa bak semen ataupun bak fiber hingga benih berukuran 2-3 inchi. Pada hari kedua dan ketiga sebaiknya frekwensi pemberian pakan ditingkatkan menjadi 6 kali dengan interval waktu 4 jam sekali. atau bak kayu. idealnya adalah 20-40 cm. bila terlalu tinggi akan menyulitkan larva dalam mengambil oksigen dari udara. seluruh kegiatan pemeliharaan larva hingga benih harus dicatat dan terdokumentasi dengan baik.Larva akan berangsur-angsur akan berubah menjadi benih pada umur sekitar 15 hari dan pada umur tersebut benih kemudian dipanen dan didederkan pada wadah yang lebih besar agar pertumbuhan benih lebih optimal. karena ikan patin sesekali akan mengambil oksigen dari udara meskipun kandungan oksigen terlarut dalam air cukup karena diberikan aerasi. wadah dicuci dengan deterjen hingga bersih kemudian dibilas dengan desinfektan seperti klorin. kaporit atau PK.3 Pengelolaan Pakan Larva ikan patin dapat diberikan pakan berupa nauplius artemia setelah berumur 30-35 jam setelah menetas hingga larva berumur 7 hari. pengisian air dilakukan sehari sebelum larva akan ditebar. sedangkan pada hari ke 4 hingga hari ke 7 frekwensi pemberian pakan kembali diturunkan menjadi 5 kali dengan interval waktu 4 jam sekali. hal ini untuk menghitung biaya produksi yang dikeluarkan untuk memproduksi benih patin. hal ini dikarenakan pada umur tersebut tingkat kanibalisme larva tinggi. bak semen. cacing sutera yang diberikan harus dicincang terlebih dahulu hal ini karena ukuran bukaan mulut larva yang masih terlalu kecil. kemudian dibilas dengan air bersih dan dibiarkan kering. Secara sederhana form pencatatan pemelirahaan larva/benih sebagaimana terlampir. kedalam wadah ditambahkan aerasi. Setelah berumur lebih dari 7 hari larva diberikan pakan pengganti berupa cacing sutera (tubifek). Yang perlu diperhatikan adalah ketinggian air media pemeliharaan larva sebaiknya tidak terlalu dalam atau tinggi. bak fiber. selain itu bertujuan untuk memudahkan dalam evaluasi bila terjadi kendala dan masalah dalam proses pemeliharaan benih. Setelah benar-benar kering wadah dapat diisi dengan air bersih sebagai media pemeliharaan larva. 10 . 5. frekwensi pemberian pakan berupa nauplius artemia sebanyak 5 kali dengan interval waktu 4 jam sekali. 5. Sebelum digunakan untuk pemeliharaan larva.2 Persiapan Wadah Pemeliharaan Wadah yang dapat digunakan untuk pemeliharaan larva yaitu akuarium.

Air siponan ditampung dengan menggunakan ember.4 Pengelolaan Kualitas Air Selama masa pemeliharan setiap pagi harus dilakukan penyiponan yang bertujuan untuk membuang feces ikan dan sisa-sisa pakan yang berlebih. setelah itu cangkang cyste artemia akan mengapung dipermukaan sementara nauplius akan mengendap di dasar corong penetasan. 5. selama penetasan cyste artemia pada corong penetasan diberikan aerasi kuat agar cyste dapat teraduk dan tidak mengumpul dibawah corong penetasan artemia. Potongan cacing yang telah bersih dapat ditebarkan pada kolam pemeliharaan larva. 5. Penyiponan dilakukan menggunakan selang kecil sebelum pemberian pakan di pagi hari. sekitar pukul 6-7 pagi. Cara penen nauplius artemia dengan cara mematikan aerasi atau mengangkat selang aerasi kemudian diamkan selama 10 menit. Nauplius artemia kemudian dilarutan dalam air tawar dan ditebar pada media pemeliharaan larva secara merata.3. cara lain adalah dengan menyipon nauplius artemia dengan selang kecil secara perlahan. hal ini untuk menampung larva 11 .1 Cara Pemberian Pakan Nauplius Artemia Cyste artemia ditetaskan dengan cara perendaman dengan air laut atau air garam dengan salinitas 20-30 ppt. dengan pertambahan umur ukuran ikan menjadi lebih besar sehingga pemberian pakan cacing sutera tidak harus dicincang halus lagi tetapi cukup langsung diberikan.2 Cara Pemberian Pakan Cacing Sutera Pemberian cacing sutera pada masa peralihan pakan dari nauplius artemia ke cacing sutera harus dicincang terlebih dahulu sampai halus. dilakukan pembilasan dengan menggunakan air tawar bersih.5. Setelah artemia disaring. Cyste akan menetas sempurna dan siap untuk dipanen setelah 2428 jam. Pemanenan nauplius artemia adalah dengan mengambil cangkang cyste artemia dengan menggunakan seser secara perlahan agar tidak teraduk. setelah cukup halus menggunakan saringan atau seser halus potongan cacing tersebut dibilas dengan air sampai bersih. Nauplius artemia kemudian disaring dengan menggunakan saringan plankton atau dengan kain mori.3.

Perlakuan untuk mengambil larva yang ikut tersipon adalah dengan memutar air pada ember agar kotoran mengumpul ditengah dan dapat dengan mudah sipon kembali. ] 12 . Penggantian air dilakukan pada hari ke 4 atau ke 5 masa pemeliharaan larva atau tergantung kondisi air.yang mungkin ikut tersipon. selanjutnya dapat dilakukan 2 hari sekali. setelah dirasa cukup bersih baru dilakukan penambahan air media dengan menggunakan air bersih yang telah diendapkan terlebih dahulu. setelah air berkurang dinding wadah bagian samping dan dasar dilap dengan menggunakan kain/spon bersih. larva akan berenang melawan arus putaran air sehingga dapat dengan mudah diambil dengan menggunakan seser halus. Penggantian air dengan menggunakan selang yang telah diberi pengaman berupa jaring halus agar larva tidak ikut tersedot.

bak semen atau bak kayu.5 inchi. dihitung survival rate (survival rate = jumlah benih yang hidup dibagi jumlah larva yang ditebar x 100). selain itu bertujuan untuk memudahkan dalam evaluasi bila terjadi kendala dan masalah dalam proses pemeliharaan benih. Setelah semua larva dipanen. Cara memanen benih adalah dengan mengurangi ketinggian air hingga tersisa 10 % dari ketinggian awal. 6. seluruh kegiatan pemeliharaan larva hingga benih harus dicatat dan terdokumentasi dengan baik. 13 . ukuran benih sekitar ¾ inci dan siap untuk dipanen. kemudian larva yang tertampung dihitung jumlahnya untuk kemudian dikalikan dengan volume total larva yang didapatkan dalam gelas ukur yang bervolume lebih besar.1 Panen Benih Setelah benih berumur 15 hari.6 PANEN DAN TRANSPORTASI BENIH 6. sedangkan untuk pengitungan benih dapat juga dilakukan dengan cara yang sama tentunya dengan gelas ukur yang volumenya lebih besar. hal ini untuk menghitung biaya produksi yang dikeluarkan untuk memproduksi benih patin. Penghitungan larva dilakukan dengan cara sampling menggunakan gelas ukur volume 10 ml. wadah pendederan dapat berupa bak semen ataupun bak fiber hingga benih berukuran 2-3 inchi. Selanjutnya benih tersebut didederkan dikolam.2 Penghitungan Larva dan Benih Larva akan berangsur-angsur akan berubah menjadi benih hingga umur 15 hari dan pada umur tersebut benih kemudian dipanen dan didederkan pada wadah yang lebih besar agar pertumbuhan benih lebih optimal. kemudian benih diseser dengan menggunakan seser halus secara perlahan. Hal ini sekaligus untuk mengetahui hathcing rate (HR) jumlah telur yang berhasil menetas menjadi larva. Pendederan selama satu bulan benih dapat mencapai ukuran 2-3. lalu ditampung pada wadah sementara berupa ember untuk dihitung dan selanjutnya masuk ketahap pendederan benih pada wadah pemeliharaan yang lebih besar. jumlah artemia dan cacing yang digunakan untuk melengkapi form pemeliharaan larva.

Kedalam wadah pengangkutan biasanya ditambahkan es untuk menurunkan suhu selama pengangkutan (22-25oC). (khusus patin siam harus ada rongga udara disekitar tutup wadah pengangkutan. sehingga kotoran dapat menurunkan kualitas air.3.3.2 Transportasi Benih Transportasi benih ikan secara umum ada dua cara secara terbuka dan secara tertutup. Cara Terbuka Transportasi benih dengan cara ini biasanya digunakan untuk jarak jauh dekat atau jalan yang ditempuh jalan darat. a. 6. Benih harus dipuasakan sekitar 24 jam sebelum dipacking. 14 .3 Transportasi Larva dan Benih Ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam transportasi ikan yaitu persiapan terhadap ikan itu sendiri dan cara pengangkutannya. Masukan ikan yang akan diangkut. 2. bila benih tidak dipuasakan kemungkinan besar benih akan mengalami stress dan memuntahkan makanan yang telah dimakannya.1 Persiapan Benih Benih yang akan dipacking harus dipuasakan terlebih dahulu. Masukan es batu dalam plastik. 3. benih ikan juga harus dalam keadaan baik dan sehat agar tetap hidup sampai ke tempat tujuan.6. Pasang dan salurkan aerasi oksigen murni pada wadah pengangkutan. Drum plastik atau fiberglass diisi dengan air bersih sampai memenuhi wadah. 4. Tahapan cara pengangkutan ini yaitu : 1. 6. Wadah yang digunakan biasanya drum plastik atau fiberglass. Selama pengangkutan pada wadah pengangkutan dipasang aerasi menggunakan oksigen murni. karena patin siam perlu mengambil oksigen dari udara). hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi goncangan yang keras yang dapat menyebabkan ikan stress.

3.000 ekor larva diangkut dengan 3-4 kantong plastik packing. Masukan ikan ke dalam plastik. Untuk pengangkutan dengan waktu tempuh dibawah 2 jam.000 ekor/kantong sedangkan untuk jarak jauh dengan waktu tempuh 7-24 jam diisi 2. Kemudian simpulkan ujung kantong plastik tersebut dan ikat dengan karet. 2. 1. Tampung ikan sebelum dipacking. sebagai contoh pengangkutan benih patin umur 2 minggu yang berukuran ¾ inchi dengan waktu tempuh perjalanan dibawah 2 jam diisi 5. satu kantong direkomendasikan 20.b. Untuk pengangkutan jarak jauh.000 ekor larva. Tambahkan air bersih kedalam kantong plastik sampai volumenya 1/3 dari volume kantong plastik. 6. Pada styrofoam diletakkan es yang dibungkus dengan kantong plastik agar suhu selama pengangkutan rendah. biasanya kantong plastik tersebut dimasukan kedalam styrofoam terutama bila menggunakan angkutan udara. 15 . Cara ini menggunakan kantong plastik berukuran 40x60 cm yang diisikan oksigen murni. 3. Untuk transportasi jarak jauh dengan waktu tempuh lebih dari 2 jam. 8. Masukkan kantong plastik tersebut kedalam styrofoam lalu diberikan 1 atau 2 bungkus es. 7. Cara Tertutup Pengangkutan dengan cara ini paling umum dilakukan karena sangat mudah dan aman untuk jarak dekat maupun jarak jauh. Isi kantong plastik tersebut dengan oksigen murni sampai kantong menggembung dengan perbandingan volume air dan oksigen murni 1 : 2. 6.000 ekor/kantong. Banyaknya ikan dalam satu kantong plastik tergantung lamanya waktu pengangkutan. biasanya untuk 100. Buang udara yang ada dalam kantong plastik tersebut. 9. Larva satu hari yang sudah diketahui jumlahnya dipacking dengan menggunakan plastic ukuran yang sama seperti packing benih. 4. Tutup styrofoam dan lakban sambungan antara tutup dengan bagian bawah styrofoam dengan rapat. yaitu minimal 2/3 bagian plastik diisi oksigen murni. Tahapan cara pengangkutan ini adalah sebagai berikut: Kantong plastik yang digunakan harus dua lapis. 5.3 Transportasi Larva Prinsip dasar transportasi larva satu hari sama dengan transportasi benih.

16 .

Diagram Alir Pembenihan Ikan Patin Pemeliharaan Induk Seleksi Induk Penyuntikan Hormon Striping Induk Betina dan Inseminasi Penetasan Telur Pemanenan Pemanenan Penjualan Larva Pemeliharaan Pemeliharaan Penjualan Benih 17 .Lampiran 1.

.…ekor No Tanggal Pakan Pagi Sore Berat (Kg) Petugas Berat (Kg) Petugas Catatan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Jumlah Pakan Total Pakan …… A …Kg . A + B . Tabel Pemberian Pakan Jenis Pellet : ………………………………… Nomor Kolam : ………………………………… Jumlah Ikan : ……………………….. Kg …… B ……Kg 18 .Lampiran 2.

: …………………….5 ml/Kg (ml) Penyuntikan (ml) Pertama 1/3 x dosis Kedua 2/3 x dosis Catatan 1 2 3 4 5 … dst Jumlah Induk Betina Terseleksi .… ekor 19 .Lampiran 3.… ekor Berat (Kg) Dosis Hormon 0. No Berat (Kg) Dosis Hormon 0. Data Pembenihan Seleksi Induk Jantan Tanggal : …………………….5 ml/Kg (ml) Catatan Seleksi Induk Betina Tanggal : ……………………. Kolam No.. No 1 2 3 4 5 … dst Jumlah Induk Jantan Terseleksi .. : ……………………. Kolam No.

dst Wadah Pemeliharaan (Akuarium. Waktu Stripin g Berat Telur Total (gram) Jumlah Telur (butir) Samplin g (1 gram) Total Catata n Berat Induk Betina (Kg) 1 2 3 4 5 6 … dst Catatan Produksi Larva/Benih Tanggal : ……………………. No 1 2 3 4 5 6 …. Komoditas : ……………………. dll) Volume Air (liter) Padat Tebar (ekor/liter) Jumlah Tebar (ekor) Catatan 20 . Bak Fiber.Lampiran 3. (lanjutan) Striping Tanggal No : …………………….

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful