P. 1
MEMBANGUN KARAKTER BANGSA

MEMBANGUN KARAKTER BANGSA

|Views: 223|Likes:
Published by Adjie Adza

More info:

Published by: Adjie Adza on Jan 06, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/20/2015

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang

Maraknya peristiwa-peristiwa yang mendera bangsa kita saat ini, antara lain tingginya tingkat kriminalitas, tingginya kasus korupsi, dan penegakan hukum yang sepertinya masih jauh dari harapan nilai keadilan. Kejadian tersebut memberi kesan seakan-akan bangsa kita sedang mengalami krisis etika dan krisis kepercayaan diri yang berkepanjangan. Berdasarkan kenyataan tersebut, pendidikan nilai/moral memang sangat diperlukan atas dasar argumen adanya kebutuhan nyata dan mendesak. Dalam Permendiknas N0.45/2006 setiap rumusan SKL secara implisit dan eksplisit termuat substansi nilai/karakter. Pendidikan karakter melalui pendidikan seni diberikan karena keunikan, kebermaknaan dan kebermanfaatan terhadap kebutuhan perkembangan siswa, yang terletak pada pemberian pengalaman estetik dalam bentuk kegiatan berekspresi/berkreasi dan berapresiasi. Prinsip dan Pendekatan dan Program Pengembangan Pendidikan Karakter terintegrasi kedalam mata pelajaran, pengembangan diri dan budaya sekolah. Oleh karena itu guru dan sekolah perlu mengintegrasikan nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa ke dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP, silabus dan RPP). Prinsip ini membawa peserta didik belajar melalui proses berpikir, bersikap, dan berbuat. Dengan demikian membangun karakter siswa dengan pembelajaran seni dapat dilaksanakan melalui kegiatan sekolah dan proses pembelajaran di kelas, sehingga pembelajaran kesenian di sekolah dapat sebagai sarana membangun karakter siswa untuk membentuk insan yang berkualitas.

B. Hakikat Pendidikan Karakter Pembangunan karakter yang merupakan upaya perwujudan amanat Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 dilatarbelakangi oleh realita permasalahan

1

ancaman disintegrasi bangsa. dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila.µ 2 . bermoral. memudarnya kesadaran terhadap nilai nilai budaya bangsa. beretika. yaitu ´mewujudkan masyarakat berakhlak mulia. dan melemahnya kemandirian bangsa (Buku Induk Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa 2010-2025). bergesernya nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. keterbatasan perangkat kebijakan terpadu dalam mewujudkan nilai-nilai Pancasila. Semangat itu secara implisit ditegaskan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) tahun 20052015.kebangsaan yang berkembang saat ini. Untuk mendukung perwujudan cita-cita pembangunan karakter sebagaimana diamanatkan dalam Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 serta mengatasi permasalahan kebangsaan saat ini. berbudaya. di mana pendidikan karakter ditempatkan sebagai landasan untuk mewujudkan visi pembangunan nasional. seperti: disorientasi dan belum dihayatinya nilai-nilai Pancasila. maka Pemerintah menjadikan pembangunan karakter sebagai salah satu program prioritas pembangunan nasional.

Pendidikan karakter bangsa diharapkan mampu menjadi alternatif solusi berbagai persoalan tersebut. pendidikan nilai/moral memang sangat diperlukan atas dasar argumen adanya kebutuhan nyata dan mendesak. Tantangan globalisasi dan proses demokrasi yang semakin kuat dan beragam disatu pihak. Pendidikan Seni Berangkat dari rasa keprihatinan atas kondisi bangsa kita dengan maraknya peristiwa-peristiwa yang mendera saat ini. Kondisi dan situasi saat ini tampaknya menuntut pendidikan karakter yang perlu ditransformasikan sejak dini. antara lain tingginya tingkat kriminalitas. yakni sejak pendidikan anak usia dini. antar sekolah. pendidikan menengah dan pendidikan tinggi secara holistik dan sinambung. antar warga. dan penegakan hukum yang sepertinya masih jauh dari harapan nilai keadilan. Komitmen nasional tentang perlunya pendidikan karakter. dan lain-lain. Kejadian tersebut memberi kesan seakan-akan bangsa kita sedang mengalami krisis etika dan krisis kepercayaan diri yang berkepanjangan. Ditambah pula tayangan di media cetak maupun noncetak berkembangnya acara-acara (jaringan maya. pornografi dan pornoaksi.BAB I MEMBANGUN KARAKTER SISWA MELALUI PENDIDIKAN SENI A. pendidikan dasar. televisi. merupakan alasan yang kuat bagi Indonesia untuk membangkitkan komitmen dan melakukan pendidikan karakter. dan dapat dilaksanakan antara lain melalui pendidikan seni di sekolah. dan dunia persekolahan sepertinya lebih mementingkan penguasaan dimensi pengetahuan dan mengabaikan pendidikan nilai/moral saat ini. secara imperatif tertuang dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang 3 . Berdasarkan kenyataan tersebut. tingginya kasus korupsi. dll) yang memuat fenomena dan kasus perseteruan dalam berbagai kalangan misal: tawuran antar remaja.

pendidikan nilai erat kaitannya dengan pembentukan dan pengembangan watak bangsa. intens. cakap. moral. kontinyu. pengetahuan. Kesadaran dan komitmen untuk memanfaatkan seni dalam program pendidikan di sekolah formal karena pendidikan seni memiliki karakteristik yang unik. kreatif. bermakna.Sistem Pendidikan Nasional pasal 3. Dengan demikian pendidikan karakter memberikan kepada siswa ilmu. 2008: 26). membantu manusia berkembang dalam dimensi intelektual. Pembahasan Pendidikan karakter merupakan investasi nilai kultural yang membangun watak. praktik-praktik budaya perilaku yang berorientasi pada nilai-nilai ideal 4 . moralitas dan kepribadian masyarakat yang dilakukan dalam waktu panjang. Pendidikan seni merupakan bagian dari rumpun pendidikan nilai. sehat. UU tersebut dinyatakan bahwa ³Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. spiritual. bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. berakhlak mulia. mandiri. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Pendidikan nilai adalah suatu proses budaya yang selalu berusaha meningkatkan harkat dan martabat manusia. dan bermanfaat terhadap pertumbuhan dan perkembangan kepribadian peserta didik. konstan dan konisten. dan estetika yang memuat nilai-nilai (Jazuli. berilmu. Pertanyaan yang timbul adalah bagaimana membangun karakter peserta didik melalui pendidikan seni di sekolah? Kegiatan-kegiatan apa saja yang menunjang pembelajaran kesenian dapat diselenggarakan di sekolah untuk mengembangkan karakter siswa? B. Dalam konteks kebangsaan.´ Jika dicermati sebagian besar potensi peserta didik yg ingin dikembangkan sangat terkait erat dengan karakter.

memelihara apa yang baik itu. moral feeling. Sedangkan karakter lebih menekankan pada aplikasi nilai-nilai positif dalam kehidupan sehari-hari dan tidak sekedar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah kepada anak. pendidikan moral. Namun penerapannya etika lebih pada tataran teoritis filosofis sebagai acuan untuk mengkaji sistem nilai. dan moral lebih pada tataran praktis sebagai tolok ukur untuk menilai perbuatan seseorang. yang tujuannya mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk . 5 . pendidikan watak. dan moral behaviour (Lickona:1992). Pendidikan karakter mempunyai misi yang sama dengan pendidikan akhlak atau pendidikan moral. tetapi pendidikan karakter menanamkan kebiasan (habitution) tentang yang baik sehingga peserta didik paham. pendidikan budi pekerti. Pendidikan karakter dinilai berhasil apabila peserta didik menunjukkan kebiasaan berperilaku baik. dan mewujudkan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati. Perilaku baik akan muncul dan berkembang pada diri peserta didik apabila memiliki sikap positif terhadap konsep karakter yang baik dan terbiasa melakukannya. Secara konseptual kata etika dan moral mempunyai makna yang serupa yaitu sama-sama membicarakan perbuatan dan perilaku manusia ditinjau dari sudut pandang nilai baik dan buruk.kehidupan. Sejalan dengan hal tersebut di atas Doni berpendapat bahwa pendidikan karakter di sekolah mengacu pada proses penanaman nilai. Oleh karena itu pendidikan karakter perlu dikemas dalam wadah yang komprehensif dan bermakna. tata cara merawat dan menghidupi nilai-nilai itu. pendidikan karakter dimaknai sebagai pendidikan nilai. baik yang bersumber dari budaya lokal (kearifan lokal) maupun budaya luar (Indra. 2010: 27) Ditinjau secara akademik. mampu merasakan. dan mau melakukan yang baik. Pendidikan transformasi karakter perlu diformulasikan dan dioperasionalkan melalui budaya dan kehidupan sekolah. Karena itu muatan pendidikan karakter secara psikologis mencakup dimensi moral reasoning. berupa pemahaman-pemahaman .

Karena itu pengembangan nilai yang bermuara pada pembentukan karakter bangsa yang diperoleh melalui berbagai jalur.( Doni. logis. disiplin. 2006). nasionalistik. antara lain: iman dan taqwa. kreatif. berbangsa. anak bangsa. tetapi juga menyentuh tataran afektif dan konatif melalui berbagai mata pelajaran. karena bukan sekedar mengajarkan mana yang salah. dan warga negara yang memiliki kepribadian unggul seperti diharapkan dalam tujuan pendidikan nasional. Dalam Permendiknas N0. akan mendorong mereka menjadi anggota masyarakat. 2007: 193). jujur. secara kurikuler telah dilakukan berbagai upaya untuk menjadikan pendidikan lebih mempunyai makna bagi individu yang tidak sekadar memberi pengetahuan pada tataran koginitif. Dalam konteks kehidupan bermasyarakat. dan bernegara Indonesia. Dengan demikian pendidikan karakter harus ditanamkan melalui cara-cara yang rasional. diyakini bahwa nilai dan karakter yang secara legal-formal dirumuskan sebagai fungsi dan tujuan pendidikan nasional. mampu merasakan ( domain afektif) nilai baik dan biasa melakukannya (domain perilaku). 6 .23/2006 tentang Standar kompetensi lulusan secara formal sudah digariskan untuk masing-masing jenis atau satuan pendidikan sejumlah rumusan Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Darmiyati (2009. harus dimiliki peserta didik agar mampu menghadapi tantangan hidup pada saat ini dan di masa mendatang akan datang.10) berpendapat sesugguhnyalah pendidikan karakter mempunyai makna lebih tinggi dari pada pendidikan moral. sesungguhnya hampir pada setiap rumusan SKL tersebut implisit atau eksplisit termuat substansi nilai/karakter. Berikut ini substansi nilai/karakter yang ada pada setiap SKL tersebut. lebih dari itu pendidikan karakter menanamkan kebiasaan (habituation) tentang hal yang baik sehingga peserta didik menjadi faham (domain kognitif) tentang mana yang baik dan salah. Jika dicermati secara mendalam. Ditinjau dari makna pendidikan karakter.(BSNP. dan demokratis. jenjang. Sampai saat ini. terbuka.serta bagamana seorang siswa memiliki kesempatan untuk dapat melatihkan nilai-nilai tersebut secara nyata. dan jenis pendidikan. bernalar.

apresiasi.(BSNP. seperti nilai religius. bervisi. Dengan kepekaan rasa yang tinggi mental seseorang cenderung mudah diisi dengan nilai-nilai hidup dan kehidupan. Menampilkan kreativitas melalui seni budaya 4. dan ³ belajar tentang seni. maupun global. gigih. 2. (Tim Pendidikan Karakter) Pelaksanaan pendidikan seni di sekolah diberikan karena keunikan. nilai moral. yang terletak pada pemberian pengalaman estetik dalam bentuk kegiatan berekspresi/berkreasi dan berapresiasi. Mengolah dan mengembangkan rasa humanistik. regional. Menampilkan sikap apresiasi terhadap seni budaya 3. 1. 5. Pengalaman estetik yang diberikan pada pendidikan seni pada prinsipnya berfungsi melatih dan mengembangkan kepekaan rasa. melalui pendekatan : ³ belajar dengan seni´. dan adil. kebermaknaan dan kebermanfaatan terhadap kebutuhan perkembangan peserta didik. tanggung jawab. Memahami konsep dan pentingnya seni budaya. bersih. Meningkatkan peran serta seni budaya pada tingkat lokal. santun. nilai budi pekerti dan nilai kehidupan lainnya. Pembelajaran batik di sekolah merupakan bagian dari pelaksanaan mata pelajaran Seni Budaya/Seni Rupa bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut . aktivitas pembelajaran harus menampung kekhasan tersebut yang tertuang dalam pemberian pengalaman mengembangkan konsepsi. prinsip.peduli. Pendidikan seni salah satu pelaksanaannya melalui pembelajaran batik di sekolah. dan teknik berkarya dalam konteks budaya masyarakat yang beragam. gotong royong. dan kreasi.´ Peran ini tidak dapat diberikan oleh mata pelajaran lain. Semua ini diperoleh melalui upaya eksplorasi elemen. proses. ³belajar melalui seni´. 2006) Pelaksanaan diformulasikan dalam pendidikan seni menurut PP 19 tahun 2005 Kelompok Mata Pelajaran Estetika merupakan yang tergolong unik karena melekatnya kolompok mata pelajaran 7 .

dan intelektual. dan muatan lokal yang relevan (BSNP. Prinsip pembelajaran yang 8 . Sedangkan Standar Kompetensinya disebutkan dalam PP 19 tahun 2005 kelompok mata pelajaran Estetika sebagai berikut: membentuk karakter peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa seni dan pemahaman budaya. imajinatif. Menurut Linderman (1977). sedangkan kegiatan kreatif dan apresiatif. dan artistik. Pengalaman kultural melalui kegiatan pemahaman terhadap hasil warisan budaya lama dan baru. Pengalaman estetik merupakan sesuatu yang esensial. 2006). Pengembangan karakter melalui pendidikan seni di sekolah. guru perlu mengintegrasikan nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa ke dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP. silabus dan RPP) yang sudah ada. serta dikomunikasikan dalam bahasa warna. tak terduga. atau isyarat yang simbolis. Dengan demikian cakupan kelompok mata pelajaran Estetika dimaksudkan untuk meningkatkan sensitivitas. sedang pada tingkat SD nama mata pelajarannya Seni Budaya dan Ketrampilan. Pengalaman perseptual dikembangkan melalui kegiatan kreatif. gerak."pengalaman estetik" pada diri seseorang. kultural. pengalaman estetik mencakup pengalaman-pengalaman perseptual. Cara memahami dunia yang ditawarkan oleh seni bersifat intuitif. Kemampuan tersebut mencakup apresiasi dan ekspresi. dan kreatif. seni dan budaya. Tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa. kemampuan mengapresiasi dan kemampuan mengekspresikan keindahan dan harmoni. keterampilan. Dengan demikian pengalaman estetik memberi peluang untuk pengalaman artistik melalui memahami dunia dari sudut pandangan yang berbeda dengan aspek pengetahuan. Kelompok Mata Pelajaran Estetika dilaksanakan pada semua jenjang pendidikan dari Sekolah Dasar sampai dengan Sekolah Menengah Atas atau yang sederajat dengan nama mata pelajaran Seni Budaya untuk SMP dan SMA atau sederajat. bunyi. baik dalam kehidupan individual sehingga mampu menikmati dan mensyukuri hidup maupun dalam kehidupan kemasyarakatan sehingga menciptakan kebersamaan yang harmonis.

kreatif. dan adil. santun. pameran foto hasil karya foto batik bertema budaya dan karakter bangsa. budayawan. gotong royong. tokoh-tokoh seni untuk berceramah atau berdiskusi yang berhubungan dengan nilai-nilai karakter. Kegiatan pembelajarannya 9 . Kegiatan tersebut direncanakan sejak awal tahun pelajaran. Contoh kegiatan yang dapat dimasukkan ke dalam program sekolah antara lain: lomba membatik dengan motif tertentu antar kelas.nasionalistik. tanggung jawab. Pelaksanaannya pada pembelajaran membatik di integrasikan dalam pemberian pengalaman estetik dalam bentuk kegiatan berapresiasi dan berkreasi. lomba lukis motif batik antar kelas dengan tema budaya setempat. Melakukan wawancara kepada tokoh yang berkaitan dengan kesenian dan pembangunan nilai karakter. yaitu peserta didik belajar aktif dan berpusat pada anak. mengundang berbagai nara sumber. menilai pilihan. bersikap. terbuka. menentukan pendirian. Pengembangan proses pendidikan seni dalam hal ini mata pelajaran Seni budaya dalam rangka membangun karakter siswa dapat melalui kegiatan di kelas dengan dirancang terlebih dahulu. pagelaran seni memperingati hari-hari tertentu. peduli. Dengan prinsip ini siswa belajar melalui proses berpikir. bervisi. pameran hasil karya seni siswa bertema budaya dan karakter bangsa. gigih. jujur. disiplin. dan selanjutnya menjadikan suatu nilai sesuai dengan keyakinan diri.digunakan dalam pendidikan seni merupakan pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa mengusahakan agar siswa mengenal dan menerima nilai-nilai budaya dan karakter bangsa sebagai milik mereka dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya melalui tahapan mengenal pilihan. bersih. Dengan demikian membangun karakter siswa dengan pembelajaran membatik dapat dilaksanakan melalui proses pembelajaran. bernalar. dan dimasukkan ke Kalender Akademik. Ketiga proses ini dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam melakukan kegiatan sosial dan mendorong siswa untuk melihat diri sendiri sebagai makhluk sosial. dan berbuat. Substansi nilai/karakter yang ada pada setiap SKL antara lain seperti yang disebutkan di atas yaitu: iman dan taqwa. Dapat pula dilakukan melalui berbagai kegiatan di sekolah.

Menentukan kandungan nilai-nilai karakter dengan mengkaji lebih dahulu Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar mata pelajaran Seni Budaya. Kemudian diintegrasikan dengan nillai karakter yang akan dikembangkan. teori pembuatan batik. Pengintegrasian nilai-nilai dan karakter pada pendidikan seni dapat pula dilakukan dengan mencantumkan dalam silabus mata pelajaran Seni Budaya. kreatif dan bertanggung jawab mengerjakan sendiri tugas yang diberikan guru.tentunya meliputi ranah kognitif. dan lain-lain. dengan belajar sejarah batik. kerja keras dengan selalu berusaha membuat karya batik yang terbaik. dan psikomotor seperti pelajaran yang lain. 2. Mencantumkan nilai-nilai karakter yang sudah tercantum dalam silabus ke RPP. kerjasama dan toleransi dengan teman kelompoknya apabila ada tugas yang harus diselesaikan secara kelompok. penghargaan terhadap hasil budaya nasional. Pengembangan nilai-nilai yang dapat dikembangkan antara lain: Iman dan Taqwa dengan mengagumi kebesaran sang Pencipta yang sangat indah segala ciptaannya. menjaga kebersihan pada waktu mengerjakan karya. Cara yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut: 1. Sedangkan pada kegiatan ekspresi/kreasi dapat dikembangkan nilai-nilai antara lain: jujur. dan sebagainya. afektif. pengetahuan tentang motif-motif batik . mandiri. disiplin dengan menyelesaikan tugas pembuatan karya tepat pada waktu yang ditentukan. Pendidikan estetik/pembelajaran kesenian yaitu pemberian pengalaman estetik dalam bentuk kegiatan berekspresi/berkreasi dan berapresiasi. Mencamtumkan kandungan nilai-nilai karakter yang akan dikembangkan dengan melihat keterkaitan SK/KD dengan indikator pada kolom terakhir pada silabus. Integrasi yang bisa dikembangkan misal: dalam hal apresiasi. 3. semangat kebangsaan. 10 . cinta tanah air.

dikembangkan karakter siswa menjadi insan yang berkualitas. bersih. teliti. Sampai saat ini. secara kurikuler telah dilakukan berbagai upaya untuk menjadikan pendidikan lebih mempunyai makna bagi individu yang tidak sekadar memberi pengetahuan pada tataran koginitif. sabar. Pelaksanaan pendidikan seni di sekolah diberikan karena keunikan. Kesimpulan Berbagai tindak kejahatan dan tindakan tidak bermoral terutama dilakukan oleh anak dan remaja yang marak terjadi di negara kita ini. Dengan kepekaan rasa yang tinggi mental seseorang cenderung mudah diisi dengan nilai-nilai hidup dan kehidupan. Pengalaman estetik yang diberikan pada pembelajaran kesenian pada prinsipnya berfungsi melatih dan mengembangkan kepekaan rasa . Sedangkan pengembangan karakter yang terintegrasi dengan pembelajaran kesenian dilakukan dengan memasukan pengembangan karakter pada setiap pokok bahasan yang akan diajarkan dalam silabus dan RPP. nilai budi pekerti ( melatih disiplin. 11 .BAB III PENUTUP A. dilakukan melalui berbagai kegiatan bekaitan dengan pembelajaran kesenian yang direncanakan sejak awal sekolah dan dimasukan ke Kalender Akademik. tetapi juga menyentuh tataran afektif dan konatif melalui berbagai mata pelajaran. Melalui pembelajaran kesenian di sekolah. kebermaknaan dan kebermanfaatan terhadap kebutuhan perkembangan peserta didik. yang terletak pada pemberian pengalaman estetik dalam bentuk kegiatan berekspresi/berkreasi dan berapresiasi. dan lain-lain). nilai moral. seperti nilai religius. mengindikasikan perlunya pendidikan karakter untuk membentuk generasi ang berkualitas. Pelaksanaannya melalui proses pembelajaran yaitu peserta didik belajar aktif dan berpusat pada anak.

Dinas Pendidikan hendaknya mengadakan penyegaran tentang metode pembelajaran membatik bagi guru-guru pengampu mata pelajaran seni rupa yang dikaitkan dengan pendidikan karakter 2. Kepala sekolah hendaknya mendorong dan memfasilitasi guru pengampu mata pelajaran seni rupa untuk menerapkan pendidikan karakter melalui pembelajaran batik di laksanakan di sekolah. 12 .B. Saran Sebagai rekomendasi dari tulisan ini adalah sebagai berikut: 1.

Tim Pendidikan Karakter. (2006). (2006). how our schools can teach respect. Pendidikan karakter. Educating for character. (2008). Respect and Responsibility. (2009).Daftar Pustaka BSNP. (1992). Earl. Lickona. Yogyakarta: UNY Press. Jakarta: BSNP BSNP. (2010). Paradigma kontekstual pendidikan seni. Linderman. Kedaulatan Rakyat. (1977). New York: Bantam Books.. A. Standar kompetensi lulusan. T. Art & crafts for the classroom. Jakarta: BSNP. Indra. Doni Koesoema.(26 April 2010). Hal 27 13 . Darmiyati Zuchdi. Pendidikan karakter grand design dan nilai-nilai target. Grand design pendidikan karakter. Jakarta: Kementrian Pendidikan Nasional Tranggono.USA:Macmillan Publishing Company. (2010). Pendidikan Karakter. Surabaya:Unesa University Press. Jazuli. Jakarta: Grasindo. Standar nasional pendidikan.

: 93911751 SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) PEKALONGAN 14 .Pd ISTIQOMAH NIM. M.Penerapan Pendidikan Karakter Melalui Pendidikan Seni Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah pembelajaran seni budaya ketrampilan Dosen Pengampu : Sugeng Hariyadi.

15 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->