PERAN TNI AD DALAM PENGAWASAN WILAYAH NKRI SERTA PEMBINAAN KETENTRAMAN DAN KETERTIBAN MASYARAKAT

Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan sebuah bangsa yang besar memiliki wilayah yang sangat luas dari Sabang sampai Merauke dan secara geografis terletak pada posisi stategis karena berada di jalur perdagangan Internasional dan berbatasan dengan Negara lain di wilayah laut berbatasan dengan 10 negara (India, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Philipina, Palau, PNG, Australia, Timor Lorosae), sedangkan di wilayah darat berbatasan dengan 3 negara (Malaysia,PNG dan Timor Lorosae). Luasnya wilayah NKRI mengandung banyak potensi sumber daya alam, sumber daya non alam yang berlimpah juga sumber daya manusia potensial yang sangat bermanfaat untuk menunjang proses pembangunan yang sedang dilaksanakan oleh bangsa Indonesia dalam mencapai kemajuan bangsa guna meningkatkan kesejahteraan rakyat sesuai cita-cita dan tujuan nasional bangsa Indonesia yang tercantum dalam Undang-Undang Dasar Republik Indonesia. Dalam rangka mengamankan wilayah NKRI tersebut, maka bangsa Indonesia menetapkan Sistem Pertahanan negara (Sishanneg) sesuai dengan Undang-Undang RI Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara dan dijabarkan dalam Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI, menetapkan TNI sebagai Komponen Utama pertahanan negara didukung oleh Komponen lainnya dengan tugas pokok menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, keutuhan wilayah dan melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia. keberhasilan Tugas Pokok TNI (OMSP). tersebut, dengan Upaya yang dilakukan untuk menggunakan 2 (dua) macam

operasi yaitu Operasi Militer untuk Perang (OMP) dan Operasi Militer Selain Perang Pertahanan negara dilaksanakan oleh TNI sebagai komponen Utama didukung oleh komponen lainnya, dilaksanakan dengan membangun, memelihara, mengembangkan, dan menggunakan kekuatan pertahanan negara berdasarkan prinsip-prinsip demokratisasi, hak asasi manusia, kesejahteraan umum, lingkungan hidup, ketentuan hukum nasional, hukum internasional dan kebiasaan internasional serta prinsip hidup berdampingan secara damai. Operasi Militer Selain Perang dilaksanakan oleh TNI berpedoman kepada peraturan perundang-undangan yaitu UU

Globalisasi merupakan fenomena khusus yang terjadi dalam peradaban manusia yang bergerak dinamis dalam masyarakat global didorong oleh adanya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin mempercepat akselerasi proses globalisasi ini. Bantuan pencarian dan pertolongan( Search And Rescue). serta melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara salah satunya adalah membantu Kepolisiaan Negara Republik Indonesia dalam rangka tugas keamanan dan ketertiban masyarakat yang diatur dalam undangundang. Pada pasal 10 ayat (3) c.34 Tahun 2004 pasal 7 ayat (2) b. Perbantuan kepada Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam rangka tugas keamanan dan ketertiban masyarakat. maka TNI AD sebagai bagian integral dari TNI memiliki peran dan cukup penting dalam menjaga dan mengamankan kedaulatan NKRI baik melalui perannya dalam melaksanakan pengawasan wilayah NKRI juga dalam pembinaan ketentraman dan ketertiban masyarakat. mempertahankan keutuhan wilayah NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD RI 1945. Berdasarkan hal tersebut. Tentara Nasional Indonesia bertugas melaksanakan kebijakan pertahanan negara untuk melaksanakan Operasi Militer Selain Perang berupa bantuan kemanusiaan (civic mission).RI Nomor : 3 tahun 2002 tentang Pertahanan Negara dan UU RI Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI. bantuan pengungsiaan dan penanggulangan korban bencana alam. Pengamanan Pelayaran/ penerbangan. maka dalam tulisan ini mencoba diangkat permasalahan terkait dengan peran TNI AD dalam pengawasan wilayah NKRI serta pembinaan ketentraman dan ketertiban masyarakat agar dapat dipedomani dan mendapatkan dukungan dari seluruh unsur pimpinan dan stake holder pemerintaham daerah dari tingkat Provinsi sampai Kabupaten. Sementara itu mengacu pada UU RI No. Operasi militer selain perang dilakukan berdasarkan permintaan dan /atau peraturan perundang-undangan. Proses perubahan dan perkembangan yang terjadi demikian cepat dan memiliki pengaruh yang luas tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Berdasarkan kedua pasal tesebut. Perkembangan tekhnologi informasi yang ada mampu mempercepat terjadinya proses keterbukaan . Bahwa operasi militer selain perang sebagai tugas pokok TNI dilakukan untuk menegakkan kedaulatan negara. Bantuan kepada Pemerintahan Sipil. Tanpa terkecuali bagi bangsa Indonesia tidak mungkin mengelak dari globalisasi termasuk dengan segala dampak yang ada didalamnya.

namun disisi lain mengandung kerawanan akan munculnya ancaman baik yang datang dari dalam maupun luar negeri.000 pulau dengan 2/3 wilayahnya adalah lautan dengan sumber kekayaan alam hayati dan non hayati yang sangat besar. terutama TNI sebagai komponen utama pertahanan Negara. pencurian hasil kekayaan alam (hutan maupun laut). adat istiadat dan agama dengan penyebaran yang kurang merata ke seluruh Pulaupulau Nusantara ditambah dengan adanya garis perbatasan Negara Indonesia dengan 10 (sepuluh) Negara tetangga baik di darat maupun lautan sangat rawan terjadi berbagai pelanggaran wilayah. Pengaruh dan dampak globalisasi melahirkan tuntutan adanya kesiapan serta kesigapan seluruh komponen bangsa Indonesiia dalam merespon dampak positif dan negatif dari globalisasi salah satunya dapat dilaksanakan dengan meningkatkan pengawasan terhadap wilayah NKRI serta menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. TNI sebagai komponen utama pertahanan Negara sejak awal pembentukannya telah berperan banyak dalam kehidupan bermasyarakat.3 dan kebebasan. Polri. berbangsa dan bernegara Indonesia dari mulai merebut kemerdekaan. agar bangsa Indonesia dapat berdiri sejajar dengan seluruh Negara dan bangsa-bangsa lain di dunia. serta besarnya penduduk Indonesia yang mencapai 237. Pemerintah dari tingkat Pusat sampai Daerah juga seluruh lapisan masyarakat Indonesia dalam usaha untuk menjamin tetap tegaknya Kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. kekayaan sumber daya alam. banyaknya penduduk dengan latar belakang budaya. latar belakang budaya. Pengawasan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang terdiri dari lebih 17. Kondisi ini secara tidak langsung telah melahirkan budaya baru dan sedikit demi sedikit akan berpengaruh terhadap tatanan budaya Indonesia. sehingga memerlukan adanya penanganan yang komprehensif dan menyeluruh dengan melibatkan seluruh komponen bangsa Indonesia. Dalam hal ini yang bisa dilakukan bangsa Indonesia adalah meminimalisir dampak dari pengaruh negatif globalisasi tersebut. adat istiadat juga agama di satu sisi merupakan sebuah potensi yang dapat dimanfaatkan untuk menunjang kelancaran program pembanguna yang sedang Dengan digalakkan oleh Pemerintah RI.363 orang sesuai hasil sensus penduduk pada Agustus 2010 menyebar ke seluruh Pulau-Pulau dengan bermacam.556. konflik vertikal maupun horizontal yang dapat mengganggu stabilitas keamanan nasional. mempertahankan dan mengisi kemerdekaan sampai dengan mengawal jalannya roda pembangunan bangsa . penyelundupan.

Konsep OMSP seringkali masih menimbulkan kerancuan atau tumpang tindih antara peran TNI dengan institusi lain. TNI melaksanakan OMSP bersama instansi fungsional secara terpadu. OMSP dilaksanakan TNI dengan memprioritaskan tindakan preventif dibandingkan dengan tindakan represif. penugasan TNI dalam OMSP tergantung pada eskalasi ancaman. status wilayah beralih dari tertib sipil menjadi keadaan Darurat Militer. 52 Prp tahun 1960. Pada keadaan tertentu. Dalam keadaan Darurat Perang. Pada kondisi dimana spectrum ancaman masih berupa tindak kejahatan biasa (kriminal) penanganan sepenuhnya merupakan kewenangan Polri. serta dalam pembinaan dan ketertiban masyarakat melalui tugas perbantuan TNI kepada Polri yang dalam pelaksanaannya mengacu pada aturan perundangundangan yang berlaku sebagaimana telah diuraikan diatas yakni UU RI Nomor : 3 tahun 2002 tentang Pertahanan Negara dan UU RI Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI yakni yang mengatur tentang tugas Operasi Militer Selain Perang berdasarkan permintaan dan/atau peraturan perundang-undangan. Oleh karena itu. Dalam konteks diatas.Indonesia. Demikian halnya dengan TNI AD sebagai bagian integral dari TNI yang melaksanakan pengawasan wilayah NKRI dengan menjaga berperan sebagai alat utama pertahanan Negara matra darat telah banyak berperan serta aktif dalam keamanan wilayah perbatasan. Peralihan status dari tertib sipil menjadi darurat militer diatur dalam UU No. Dalam kondisi ini. terutama kewenangan Polri dalam masalah keamanan umum atau ketertiban public. Keberhasilan tindakan preventif akan mampu menghindari jatuhnya korban dampak negatif yang lebih besar. TNI tidak berarti mengambil alih peran instansi pemerintah yang lain dan tidak berperan secara sendiri. Peran TNI sebagai kekuatan pertahanan adalah penggunaan kekuatan kekerasan bersenjata untuk mengatasi ancaman. ketertiban TNI masih dalam tugas OMSP. konflik yang terjadi adalah antara dua negara dengan mengutamakan penggunaan kekerasan bersenjata didukung oleh kekuatan diplomasi dan ekonomi. TNI tidak lagi melaksanakan tugas OMSP. tetapi sepenuhnya melaksanakan tugas OMP. Dalam melaksanakan OMSP. Sesuai bentuk ancaman. sedangkan Polri sebagai kekuatan keamanan adalah menegakkan keamanan dan ketertiban umum (public order). pelaksanaan pemberdayaan wilayah pertahanan. jenis OMSP yang dilakukan oleh TNI sesuai dengan jenis dan bobot ancaman yang dihadapi. tetapi sepenuhnya melaksanakan tugas OMP. Pemerintahan tugas OMSP. . Apabila ancaman terus terus meningkat sampai memasuki situasi gawat. 23 Prp Tahun 1959 tentang Keadaan Bahaya yang kemudian diubah dengan UU No.

Kodam XVII/Cendrawasih serta Kodam VII/Udayana merupakan suatu hal yang mutlak dan bersifat mendesak untuk dilakukan. PNG dan Timor Leste maka penambahan gelar kekuatan di wilayah Kodam XVI/Tanjungpura. . Dan oleh karenanya keterlibatan unsur pemerintah pemerintah daerah dan DPR RI termasuk DPR D dalam merumuskan berbagai aturan pemerintah dan aturan perundang-undangan yang dapat lebih komprehensif untuk mengakomidir kepentingan masyarakat di daerah perbatasan . Peran TNI AD dalam Menjaga Keamanan Wilayah Perbatasan. dan di Timor dengan Timor Leste. maka dalam rangka tugas pengawasan wilayah NKRI serta penjagaan keamanan dan ketertiban dalam masyarakat. Satbanpur dan Satkowil ditambah dengan Satgas-Satgas Pamtas setingkat Yonif diperkuat Satgasud di Lanud serta Satgas Penerbad. tugas pemberian bantuan dalam penyelenggaraan fungsi pemerintahan di bidang keamanan dan ketertiban umum.maka untuk menghindari konflik otoritas diperlukan sebuah aturan main (rule engagement) bagi pelibatan TNI dalam melaksanakan tugas-tugas OMSP. Satpur. PNG – Indonesia serta Indonesia . Pelibatan TNI dalam operasi perdamaian dunia diputuskan oleh presiden dengan persetujuan DPR yang mempertimbangkan kebijakan politik luar negeri serta ketentuan hukum internasional. Tugas perbantuan TNI dapat dirangkum menjadi tugas penyelenggaraan kegiatan kemanusiaan (humanitarian relief). Berdasarkan latar belakang pemikiran tersebut.Timor Leste melalui penggelaran kekuatan dari mulai Satuan Intel. maka peran TNI AD yang dilaksanakan saat ini dan di masa yang akan datang adalah sebagai berikut : Pertama. tugas kegiatan kemasyarakatan (civic mission). terutama tugas Polri. Berdasarkan realitas kondisi gelar kekuatan TNI AD tersebut diatas dihadapkan dengan kemungkinan terjadinya konflik di daerah perbatasan darat yang cukup besar antara Indonesia dengan negara tetangga terutama Malaysia.5 Pemerintahan sipil maupun Polri tetap melaksanakan kewenangan dan tanggung jawabnya didaerah-daerah yang memungkinkan. Dalam upaya pengamanan wilayah perbatasan darat. Tugas dan Peran TNI AD dalam menjaga keamanan wilayah peran TNI AD dilaksanakan dalam rangka mengamabkan wilayah perbatasan darat Indonesia kususnya di Kalimantan dengan Malaysia (yakni dengan Serawak dan Sabah). serta tugas pemeliharaan perdamaian dunia. di Papua (Irian) dengan Papua Nugini (PNG). Melihat tugas OMSP TNI yang cukup luas dan bersinggungan dengan tugas instansi lain. TNI AD telah melakukan penggelaran kekuatan di sepanjang perbatasan darat Kalimantan – Malaysia.

bersatu dan tidak tercerai berai. Pembangunan dan pergelaran kekuatan TNI AD harus memenuhi tersedianya unsur – unsur komando. Papua serta Papua Barat dan NTT dengan terlebih dahulu membentuk Satuan Kowil setingkat Korem dan Kodim di sepanjang perbatasan sebagai pusat perlawanan. dan pulau terpencil sesuai dengan kondisi geografi strategi pertahanan. (3) Membangun stabilitas keamanan secara terpadu oleh Polri dengan melibatkan lapisan masyarakat. daerah perbatasan. Dan oleh karenanya berbagai tugas dan peran TNI AD yang dilaksanakan adalah: (1) Menyusun kantongkantong perlawanan di daerah perbatasan dengan memberdayakan Kodim-kodim yang ada di seluruh wilayah Kalimantan. demografi dan kondisi sosial di daerah Papua yang masih banyak persoalan. 1 Brigif di Papua Barat serta di wilayah Timor Leste dan selanjutnya dikembangkan menjadi lebih besar sesuai kemampuan negara. Melihat daerah perbatasan rawan terhadap terjadinya konflik maka perlu dikembangkan / dibentuk satuan baru yang lebih besar. satuan banpur. satuan banmin dan satuan kewilayahan yang besaran kekuatannya ditentukan dengan dasar pertimbangan adanya keseimbangan yang proporsional antara satuan operasional dengan satuan . Melaksanakan penegakkan hukum yang berlaku untuk mencegah terjadinya pelanggaran di daerah perbatasan. daerah rawan konflik. satuan tempur. sehingga tindakan kejahatan lintas negara. termasuk dalam rangka penggelaran kekuatan TNI AD di wilayah perbatasan sudah tidak dapat lagi ditawar-tawar bila bangsa Indonesia menginginkan agar NKRI tetap dapat berdiri utuh.darat. Selanjutnya dalam rangka mengimbangi gelar pasukan dari negara tetangga di wilayah perbatasan maka perlu upaya untuk membangun dan menggelar kekuatan TNI AD minimal 1 Brigif di daerah Kalbar. Adapun yang menjadi landasan yaitu kebijakan dan strategi pembinaan pembangunan dan penggelaran TNI AD gelar TNI AD dengan memperhatikan dan mengutamakan wilayah rawan keamanan. kegiatan penyelundupan dan illegal logging yang dilakukan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dapat dideteksi dan dicegah untuk terjadi. (2) Meningkatkan pengawasan di daerah perbatasan dengan melaksanakan gelar Pos Pengamanan daerah perbatasan dimana pemerintah perlu merumuskan kebijaksanaan untuk penambahan Pos Pengamanan di daerah perbatasan yang ditempatkan pada titik-titik di daerah perbatasan yang masing longgar. Kodim melalui pelaksanaan pembinaan teritorial harus dapat menyusun dan mempersiapkan daerah pangkal perlawanan di daerah Papua serta melalui kegiatan Pemberdayaan wilayah pertahanan harus optimal dalam melaksanakan pembinaan terhadap geografi.

7 pendukung. (5) Penyelesaian masalah penyelundupan dengan di kawasan (7) meningkatkan pengawasan dan patroli ke titik – titik yang menjadi tempat penyelundupan. Penyelenggaraan Pemberdayaan Wilayah Pertahanan di darat yang merupakan segala usaha. Meningkatkan peran masyarakat untuk ikut serta bertanggung jawab membantu mengawasi dan mengamankan tugu batas. (6) Pencegahan dan pemberantasan illegal logging perbatasan harus segera dilakukan oleh pemerintah Republik Indonesia. (4) Penyelesaian Masalah Tugu Batas dengan dibuat dengan bentuk yang lebih besar sehingga sulit dipindahkan dan mudah untuk diawasi oleh pasukan Pamtas maupun oleh masyarakat. hal ini bukan saja dilakukan oleh Satgas Pengamanan di daerah perbatasan namun juga perlu dan harus dilakukan oleh unsurunsur pemerintah di daerah terutama dari Dinas Kehutanan. Dihadapkan kepada realita satuan yang ada saat ini di wilayah perbatasan dimungkinkan untuk dibentuknya 1 Brigade masing – masing wilayah. Memberikan sanksi hukum yang tegas kepada oknum yang sengaja maupun tidak sengaja memindahkan / merusak tugu batas. Melaksanakan patroli secara rutin untuk mengamankan patok batas. Peran TNI AD dalam Pemberdayaan Wilayah Pertahanan Matra Darat. Melaksanakan kerjasama bilateral untuk menjaga wilayah perbatasan dilandasi rasa saling menghargai. kemungkinan ancaman dan beban tugas yang dihadapi. kondisi demografi. Satuan Kowil sebagai pilar utama TNI AD dalam pelaksanaan pemberdayaan wilayah pertahanan belum sepenuhnya mampu mengemban tugas pemberdayaan wilayah pertahanan. pembinaan. Kedua. kondisi geografi. para tokoh masyarakat dan masyarakat serta memberdayakan keberadaan Satuan Yonif dan satuan Komando Kewilayahan untuk melaksanakan patroli pengamanan perbatasan dan pengelolaan terhadap hasil kekayaan alam yang dimiliki oleh. Meningkatkan intensitas pelaksanaan patroli di sepanjang garis perbatasan RI dengan Malaysia. karena penerapan metode Binter sebagai sarana kegiatan pemberdayaan wilayah pertahanan yang dilaksanakan kurang dapat mencapai sasaran yang telah ditetapkan oleh Komando Atas. PNG dan Timor Leste. pengembangan pengarahan dan pengendalian serta pemanfaatan semua potensi nasional yang ada di wilayah untuk menjadi suatu kekuatan kewilayahan yang tangguh guna mendukung kepentingan pertahanan. Oleh karenanya perlu langkah-langkah dan upaya untuk mengoptimalkan penyelenggaraan pemberdayaan wilayah pertahanan darat melalui penerapan metode Binter untuk memantapkan penyelenggaraan pemberdayaan . pekerjaan dan kegiatan yang berkaitan dengan perencanaan.

Penanggung jawab masalah Kamtibmas mengacu pada UU RI Nomor 2 Tahun 2002 tentang Polri adalah Kepolirian Republik Indonesia yakni bahwa Polisi adalah penjaga disiplin publik untuk melaksanakan keputusan Undang-Undang atau Peraturan. Peran TNI AD dalam Membantu Polri dalam rangka menjaga keamanan dan Ketertiban dalam masyarakat.wilayah pertahanan baik dalam kegiatan pembinaan perlawanan wilayah (aspek geografi. adanya kekuatan pemaksaan hukum untuk dipatuhi (law enforcement). SDA/SDB. Polisi adalah penjaga disiplin publik agar bisa terpelihara keamanan dan ketertiban. Perlu disusun aturan perundang-undangan yang secara penyelenggaraan pemberdayaan pertahanan dan dijabarkan kedalam bentuk buku-buku petunjuk dan protap. Muspika dan Tripika di daerah dalam meningkatkan koordinasi dan kerjasama lintas sektoral antara aparat Kowil dengan aparat Pemerintah Daerah dan instansi terkait lainnya dalam rangka persiapan. Danramil sampai dengan Babinsa untuk mengikuti kegiatan pendidikan spesialisasi bidang teritorial. koordinasi lintas sektoral pada setiap tahapan pelaksanaan pemberdayaan wilayah pertahanan. koordinasi dan komunikasi dengan memanfaatkan forum-forum yang ada di daerah. khusus pelaksanaan tentang dan pengakhiran setiap kegiatan wilayah perencanaan. ketertiban dan tegaknya hukum serta terbinanya ketenteraman yang mengandung kemampuan membina dan mengembangkan potensi dan kekuatan masyarakat dalam menangkal. Ketiga. adanya perangkat hukum. mengatur pemberdayaan wilayah pertahanan. mencegah dan menanggulangi segala bentuk pelanggaran hukum dan bentuk-bentuk gangguan lainnya yang dapat meresahkan masyarakat. perlu mengoptimalkan pemanfaatan forum Rakorbangda. demografi. SDM. Penunjang Kamtibmas adalah adanya Sementaa itu yang menjadi pilar pemerintahan. dalam hal ini Kepolisian Sesuai UU RI Nomor 2 Tahun 2002 tentang Polri dan PP Nomor 16 tahun . kerjasama. Sehubungan dengan hal tersebut maka perlu adanya penambahan alokasi pendidikan bagi setiap aparat Kowil dari mulai Dandim. Keamanan dan Ketertiban Masyarakat adalah suatu kondisi dinamis masyarakat sebagai salah satu prasyarat terselenggaranya proses pembangunan nasional dalam rangka tercapainya tujuan nasional yang ditandai oleh terjaminnya keamanan. Sinkronisasi Program Binter TNI AD dengan Program pembangunan Pemerintah Daerah melalui kerjasama. sehingga dapat dijadikan pedoman bagi satuan Kowil dalam melaksanakan pemberdayaan wilayah pertahanan. kondisi sosial) pembinaan komunikasi sosial maupun Bhakti TNI melalui kegiatan pendidikan.

terorisme. Tugas Perbantuan TNI AD kepada Polri dalam rangka tugas Keamanan dan Ketertiban Masyarakat mempunyai tujuan. meliputi (illegal minning). pencurian dengan pemberatan. perdagangan wanita dan anak-anak (trafficking in persori). perusakan. pemilihan Presiden maupun Pemilihan Kepala daerah. Kejahatan terhadap pertambangan liar dan Kejahatan pembalakan liar (illegal logging). sedangkan kemampuan yang digunakan adalan kemampuan tempur. Untuk membantu Polri dalam rangka tugas Kamtibmas dilaksanakan atas permintaan Pemerintah dalam hal ini Polri. Kejahatan trans nasional. Perbantuan TNI AD kepada Polri dalam rangka tugas bantuan Kamtibmas diberikan atas permintaan Kepala Daerah maupun pihak Polri serta dapat juga berdasarkan keputusan politik Negara yang dilakukan dalam keadaan Tertib Sipil atau dalam keadaan Darurat Sipil. meliputi Narkotika. (2) Sasaran. sasaran. kejahatan dunia maya (cyber crime). dalam pelaksanaannya perlu dikoordinasikan dengan baik antara Pemda. keutuhan wilayah dan keselamatan bangsa. bentuk dan peran yaitu (1) Tujuan. pencurian kendaraan bermotor. meliputi pencurian dan kekerasan. Oleh karena itu.9 1960. dimana TNI AD turut bertanggung jawab untuk mengatasi berdasarkan parameter tertentu yang berada diluar batas kemampuan Polri dan sesuai dengan aturan perundangundangan yang berlaku. Kegiatan masyarakat yang berkaitan dengan hari-hari besar keagamaan atau tingkat nasional/internasional serta Pelanggaran lalu lintas yang berpotensi menimbulkan ketidaktertiban dan kecelakaan lalu lintas. Polri dan TNI AD. penyelundupan. penangkapan ikan secara ilegal (illegak fishing) berimplikasi kontijensi yang meliputi unjuk rasa anarkhis dan konflik SARA (Konflik Horizontal)) dan Ambang Gangguan yang berpotensi menimbulkan gangguan Kamtibmas seperti kegiatan-kegiatan Pemilihan Umum (Pemilu) baik pemilihan legislatif. tercegahnya korban jiwa dan harta masyarakat. atau dalam keadaan memaksa/mendesak untuk mengatasi eskalasi yang mengancam kedaulatan negara. Kegiatan masyarakat atau pemerintah yang menghadirkan masyarakat banyak. Jenis gangguan Kamtibmas terdiri dari Gangguan Nyata (Kejahatan Konvensional. Teratasinya konflik komunal dan kerusuhan massa yang berskala tinggi. serta terbantunya pengamanan kegiatan yang berskala nasional dan internasional. Keterlibatan TNI AD dalam tugas bantuan kepada Polri bisa dilakukan apabila tindakan preventif dan tindakan polisional yang dilaksanakan oleh Polri belum berhasil menghentikan perkembangan eskalasi ancaman tersebut. bantuan TNI kepada Polri atau kepada Pemerintah dalam rangka penegakan Kamtibmas diberikan atas permintaan Polri atau Pemerintah. kekayaan negara. kemampuan .

(4) Peran. (4) Operasi Bantuan kepada Polri yang dilaksanakan oleh satuan TNI pada situasi negara dalam keadaan biasa dilandasi aturan perundangundangan dan kebijakan pemerintah dalam menilai gangguan keamanan. (2) Pengajuan permintaan bantuan oleh Kepolisian sebagaimana dimaksud diatas dibuat secara tertulis dan ditujukan kepada Komandan Militer setingkat. sifatnya Operasi Non Tempur . Bentuk operasi yang digunakan adalah Operasi Mandiri atau Terpadu. (8) . prinsip Percepatan. Polisi Pamong Praja dalam hal ini selain pejabat Kepala Daerah berwenang dapat meminta bantuan militer bila pejabat daerah berhalangan. kriteria kemampuan Polri dan kriteria kemampuan bantuan TNI AD serta parameter keterlibatan. Binter dan dukungan. (7) DPRD mempertimbangkan dan mengambil keputusan bersama kepala daerah dalam rangka permintaan bantuan militer. pemerintah dalam hal ini Bupati dan Walikota berwenang mengajukan permintaan bantuan militer. (3) Bentuk Operasi. (3) Pemegang kendali operasi tidak dapat memerintahkan ataupun memberi tugas kepada satuan TNI AD dalam tugas perbantuan diluar tugas yang dimaksud dalam surat permintaan bantuan. Permintaan bantuan dilakukan bila kekuatan Polri dinilai sudah tidak efektif lagi oleh pemegang Otoritas untuk mengatasi gangguan yang terjadi. Parameter keterlibatan TNI AD yakni dfalam Operasi bantuan kepada Polri adalah : (1) Satuan TNI AD yang sedang menjalankan tugas perbantuan tidak diperintah atau ditarik oleh TNI kecuali atas permintaan pemerintah atau atas permintaan pihak Kepolisian yang menerima bantuan.Disamping itu.intelijen. (6) Dalam keadaan terpaksa. (5) Pemerintah Pusat dalam hal ini Presiden dan perwakilan Pemerintah Pusat di daerah dalam hal ini Gubernur. prinsip Situasional. yang direalisasikan dengan melaksanakan operasi perbantuan kepada Polri di daerahnya. dan prinsip Dalam pelaksanaan perbantuan TNI AD dalam rangka Kamtibmas harus memenuhi kriteria ancaman. dalam pelaksanaan perbantuan TNI AD kepada Polri tetap berpedoman pada asas-asas dan prinsip-prinsip yang ada yaitu Keterbatasan. Camat dan Kepala Desa dibenarkan minta bantuan militer bila dalam keadaan memaksa dan segera dilaporkan kepada Kepala Daerah. yang pelaksanaannya tetap berpedoman pada asasasas dan prinsip-prinsip pemberian bantuan kepada Polri dalam rangka tugas Kamtibmas. sesuai dengan kriteria ancaman Kamtibmas dan kriteria kemampuan Polri yang telah ditetapkan. sebagai pemulih terhadap kondisi keamanan negara yang terganggu akibat kekacauan Kamtibmas. yaitu pertama sebagai satuan bantuan untuk menangkal dan menindak terhadap setiap bentuk ancaman Kamtibmas yang tidak mampu diatasi oleh pihak Polri.

(c) . masyarakat atau atas inisiatif TNI sendiri. Selanjutnya menngkoordinasikan penanganan masalah kepada Gubernur dan Kapolda setelah menerima laporan dari satuan-satuan jajarannya. (b) Apabila Mabes Polri beserta unsur bawahannya tetap tidak dapat atau tidak mampu menangani gangguan keamanan. Bantuan TNI diberikan apabila aparat Kepolisian tidak ada ditempat kejadian dan memerlukan bantuan segera selanjutnya ditangani secara bersamasama dengan aparat Kepolisian. Sementara itu mekanisme dan prosedur pemberian bantuan perkuatan TNI AD dalam rangka tugas Kamtibmas dapat dilakukan atas permintaan Polri. baik dari Lurah/Kades/Laporan dari Perangkat Bila lokasi jauh Pemerintahan. (d) kekuatan dan kemampuan waktu Permintaan bantuan unsur TNI yang diperlukan. (b) Kewenangan untuk memberikan bantuan TNI berada di tangan Pangdam atau Dansat Kewilayahan setempat. apabila satuan Polri satuan TNI AD tidak mampu menanggulangi gangguan keamanan secara mandiri. (c) Bantuan satuan TNI kepada Polri dapat diberikan atas permintaan secara lisan bila situasi mendadak dan memerlukan kecepatan bertindak dan ditindaklanjuti dengan permintaan bantuan secara tertulis dalam waktu 1 X 24 jam. Perbantuan TNI AD dalam keadaan terpaksa kepada Polri dan Pemerintah Daerah tanpa permintaan sebagai berikut : (a) Bantuan TNI diberikan atas dasar laporan dan informasi. maka Kapolri meminta bantuan satuan TNI kepada Panglima TNI melalui Presiden. pengendalian penggunaan bantuan dimulai dan berakhir. Permintaan bantuan kekuatan TNI AD baik oleh Kepolisian maupun Pemerintah Daerah dalam rangka Kamtibmas harus melalui Mekanisme dan Prosedur yang telah ditentukan yaitu : (a) Permintaan bantuan dilakukan oleh satuan Polri di daerah serendah-rendahnya setingkat Polres kepada satuan Polri setingkat diatasnya.11 Anggaran untuk tugas-tugas perbantuan TNI AD. bantuan diperlukan. Permintaan bantuan perkuatan internal dikoordinasikan kepada Komandan kewilayahan setempat guna memantau perkembangan eskalasi ancaman. daerah/lokasi komando harus memuat jumlah dan antara lain: perkembangan situasi terakhir. dukungan administrasi. disediakan oleh pemerintah Pusat/daerah. atas permintaan Kepala Daerah dan Tanpa Permintaan. tataran kewenangan. dan bantuan perkuatan TNI AD yang dilibatkan untuk menanggulangi gangguan Kamtibmas dengan status Komando Operasi (BKO) Bawah Polri atau Bawah Komando Operasi (BAKOOPS). namun satuan TNI terdekat yang mengetahui kejadian awal dalam keadaan mendesak dibenarkan mengambil langkah-langkah awal. dan segera melaporkan kepada Pangdam atau Dansat Kewilayahan. alasan permintaan bantuan.

UU RI Nomor 34/2004 tentang TNI serta UU RI Nomor 02/2002 tentang Kepolisian Republik Indonesia dengan berperan maksimal pada pelaksanaan penjagaan keamanan wilayah perbatasan darat dengan negara-negara tetangga. Guna menunjang keberhasilan peran TNI AD sebagaimana tersebut. Pangdam/Dansat Kewilayahan TNI AD membuat rencana pengerahan bantuan sesuai kebutuhan yang dikoordinasikan dengan Polda atau Koops Kepolisian yang dibentuk. (b) Rencana pengerahan bantuan segera diberikan kepada satuan yang akan dikerahkan dilengkapi dengan Surat Perintah Pangdam/Dansat Kewilayahan. pelaksanaan pergeseran pasukan segera diberangkatkan ke daerah sasaran yang telah ditentukan. selanjutnya melalui proses Politik sesuai Undang-Undang yang berlaku. Dari berbagai uraian tersebut diatas dapat diambil suatu kesimpulan bahwasanya TNI AD sebagai bagian integral dari TNI dalam kapasitasnya sebagai alat pertahanan matra darat memiliki peran dan tugas yang cukup strategis dalam melaksanakan pengawasan serta menjamin keamanan dan ketertiban masyarakat dalam kehidupan bermasyarakat. berbangsa dan bernegara. maka diperlukan adanya dukungan seluruh komponen . Komandan Satuan lapor kepada Dansat Kewilayahan TNI AD selanjutnya dikoordinasikan dengan Kapolda/Kapolres untuk menerima tugas sesuai fungsi dan kemampuan operasional masing-masing untuk merumuskan tugas dan penentuan daerah tanggung jawab operasi.Penanganan harus segera dilakukan untuk mencegah timbulnya korban dan kerusakan yang lebih parah serta mencegah tindakan pembiaran oleh aparat TNI yang merupakan pelanggaran hukum. penyelenggaraan pemberdayaan wilayah pertahanan matra darat melalui pendekatan Binter serta melaksanakan tugas pemberian bantuan TNI AD kepada Polri dalam rangka keamanan dan ketertiban masyarakat. Dalam prosedur pemberian bantuan perkuatan TNI AD dalam rangka Kamtibmas dapat diberikan atas permintaan Polri maupun atas permintaan Pemerintah Daerah sesuai perundang-undangan yang berlaku yaitu : (a) Setelah Panglima TNI menyetujui permintaan bantuan TNI dari Kapolri atas usulan Kapolda dan mempertimbangkan laporan dari Pangdam atau Komandan Satuan Kewilayahan TNI AD. (c) Setelah pasukan tiba di daerah sasaran. maka Panglima TNI mengeluarkan perintah kepada Kepala Staf Angkatan Darat tentang penyiapan satuan dalam rangka pemberian bantuan TNI kepada Polri. Tugas dan peran tersebut diimplementasikan oleh TNI AD melalui pelaksanaan Operasi Militer Selain Perang (OMSP) dengan mengacu pada Undang-Undang RI Nomor 3/2002 tentang Pertahanan Negara.

Pusterad. 2007. 2008 .Benny Arifin Letnan Kolonel Inf NRP. 2. Jakarta. 5. 2007. Undang-Undang RI Nomor 2 Tahun 2002 tentang Polri. Jakarta. Flores. Desember 2011 Dandim 1624/Flotim H.13 bangsa Indonesia di tingkat Pusat maupun daerah. 4. Buku Putih Pertahanan NKRI. Doktrin TNI AD Kartika Eka Paksi. Undang-Undang RI Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI. Undang-Undang RI Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara. 3. 6. Mabesad.1192……………… Sumber Referensi : 1. Buku Petunjuk Induk tentang Pemberdayaan Wilayah Pertahanan TNI AD. Kemhan RI. Jakarta.