PENDAHULUAN

Dalam menentukan atau menetapkan hukum-hukum ajaran Islam para mujtahid telah berpegang teguh kepada sumber-sumber ajaran Islam. Sumber pokok ajaran Islam adalah Al-Qur’an yang memberi sinar pembentukan hukum Islam sampai akhir zaman. Disamping itu terdapat as-Sunnah sebagai penjelas Al-Qur’an terhadap hal-hal yang masih bersifat umum. Selain itu para mujtahidpun menggunakan Ijma’, Qiyas. Sebagai salah satu acuan dalam menentukan atau menetapkan suatu hukum. Untuk itu, perlu adanya penjabaran tentang sumber-sumber ajaran Islam tersebut seperti Al-Qur’an, Hadist, Ijma’, Qiyas, dan Ijtihad. Agar mengerti serta memahami pengertian serta kedudukannya dalam menentukan suatu hukum ajaran Islam.

bersungguh-sungguhlah (yajtahid) pada sepuluh hari terakhir (bulan ramadhan). kata Ijtihad terdapat sabda nabi yang artinya “pada waktu sujud. dan pendapat yang menyatakan bahwa Ijtihad secara istilah juga berlaku dibidang akidah atau akhlak. arti Ijtihad dalam artian jahada terdapat di dalam al-Qur’an surat al-Nahl ayat 38. pengertian Ijtihad hanya dalam lapangan fiqih adalah Ijtihad dalam pengertian sempit. 7. Ijtihad dengan al-Sunnah. Pengertian Ijtihad 1. Menurut al-Sunnah. Menurut Abu Zahirah.“ 3.IJTIHAD SEBAGAI SUMBER AJARAN ISLAM A. dan Ijtihad dengan dalalah nash. dan filsafat. Ijtihad juga berlaku dalam bidang politik. jelas tidak bisa dibenarkan. 6. Menurut al-Qur’an. menurutnya. arti Ijtihad adalah “Upaya seorang ahli fiqih dengan kemampuannya dalam mewujudkan hukum-hukum amaliah yang diambil dari dalil-dalil yang rinci. surat al-Nur ayat 53 dan surat Fathir ayat 42. Menurut al-Syaukani. 9. Ahli tahqiq mengemukakan bahwa ijtihad adalah qiyas untuk mengeluarkan ( istinbat ) hukum dari kaidah-kaidah syara’ yang umum. akidah. Menurut al-Amidi Ijtihad adalah “Pengerahan segala kemampuan untuk menentukan sesuatu yang Zhanni dari hukum-hukum syara. atau juga berarti berlebihan dalam besumpah (al-mubalaghat fi al-yamin). Ijtihad dengan al-Qur’an. Dalam arti luas. Semua kata itu berarti pengerahan segala kemampuan dam kekuatan (badzl al-wus’I wa al-thaqoh). Menurut para ulama pengertian Ijtihad secara bahasa mempunyai pendapat yang sama tetapi istilah yang meliputi hubungan Ijtihad dengan fiqih. 4. secara istilah. tasawuf. Menurut Ibrahim Hosen bahwa cakupan Ijtihad hanyalah bidang fiqih. Menurut Ahmad bin Ali al-Mugri al-Fayumi menjelaskan bahwa Itihad secara bahasa adalah : “Pengerahan kesanggupan dan kekuatan (mujtahid) dalam melakukan pencarian suatu upaya sampai kepada ujungyang ditujunya”. arti ethimologi Ijtihad adalah : “Pembicaraan mengenai pengerahan kemampuan dalam pekerjaan apa saja. 8. 10. 5. . Menurut Harun Nasution. 2.

Ia memiliki asal-usulnya dalam ayat terkenal dari Al-Qur'an "Dan untuk mereka yang mengerahkan kita menunjukkan jalan kami. adalah dilaporkan telah bertanya tentang bagaimana dia akan memutuskan hal-hal yang datang di hadapannya. ' Sementara mendefinisikan Ijtihad Shatibi menulis. sebagai lawan taqlid . "kata Ma'ad. diterapkan sampai batas . Nabi (saw) menyetujui jawaban-jawabannya. saat mengirim Ma'ad Ibnu Jabal ke Yaman sebagai gubernur. menyalin atau mematuhi tanpa pertanyaan. Adapun ijtihad dalam keputusan hakim (pengadilan) adalah jalan yang diikuti hakim dalam menetapan hukum. Ayat Alquran 'mereka urusan yang (dilakukan) oleh pengacara saling'. itu berarti untuk mengerahkan dengan maksud untuk membentuk penilaian independen pada pertanyaan hukum.11. Tetapi jika kitab Allah berisi apa-apa untuk memandu Anda 'maka saya akan bertindak pada preseden Nabi Allah. 'Aku akan menghakimi hal-hal yang menurut Kitab Allah. Dalam terminologi Islam. Hasby Ash-Sidiqy mengemukakan bahwa ijtihad adalah :”menggunakan segala kemampuan untuk mencari suatu hukum dengan hukum Syara’ dengan jalan zhan. 12. Ijtihad ( Arab : ‫ . baik yang berhubungan dengan teks undang-undang maupun dengan menginstinbatkan hukum yang wajib ditetapkan ketika ada nash. Namun jika preseden gagal? "Lalu aku akan mengerahkan membentuk penilaian sendiri". Jadi kesimpulan dari pengertian Ijtihad adalah mencurahkan segala kemampuan intelektual untuk memperoleh hukum syara’ dari dalil – dalilnya. "Sebuah proses di mana satu upaya diberikannya seseorang untuk kapasitas penuh seseorang untuk memperoleh pengetahuan tepat atau mungkin atau mencapai putusan dalam kasus yang diberikan." Ijtihad dan Nabi Muhamad SAW Nabi Muhammad SAW. Ijtihad secara harfiah berarti 'mengerahkan'.اجتهاد‬ijtihad) adalah pembuatan keputusan dalam hukum Islam (syariah) oleh usaha pribadi ( jihad ). secara independen dari setiap sekolah ( madzhab ) dari yurisprudensi ( fiqh ).

maka dikhawatirkan kesempatan menentukan hukum itu akan hilang . Ditinjau dari fungsi ijtihad. Macam-macam Ijtihad Secara garis besar ijtihad dibagi kedalam dua bagian. a. Ijtihad fardhi adalah : ”Setiap ijtihad yang dilakukan oleh perseorangan atau beberapa orang. Pada suatu peristiwa yang waktunya terbatas. yaitu ijtihad Fardhi dan Jami’i. Kedudukan dan fungsi Ijtihad Kedudukan ijtihad merupakan sumber hukum yang ketiga setelah Al – Qur’an dan As-Sunah. ijtihad itu perlu dilaksanakan : a. maka untuk ini diperlukan ijtihad. c.yang paling penuh oleh Nabi (saw) dalam kehidupan pribadi dan publik dan sepenuhnya ditindaklanjuti oleh khalifah. sedang waktu peristiwa itu tidak mendesak maka hal yang semacam itu perlu adanya ijtihad. Berijtihad itu sangat berguna sekali untuk mendapatkan hukum syara’ yang dalilnya tidak terdapat dalam Al – Qur’an maupun hadits dengan tegas. dan juga tidak segera ditentukan hukumnya. sedangkan hukum syara’ yang mengenai peristiwa sangat diperlukan. . karena dikhawatirkan akan terlepas dari waktu yang ditentukan.” ( Ushulu Tasyri’ :116 ) Ijtihad semacam ini yang dimaksud oleh hadits Ali bin Abi Thalib pada waktu beliau menanyakan kepada Rasul tentang suatu urusan yang menimpa masyarakat yang tidak diketemukan hukumnya dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ijtihad Jami’i adalah : ”Semua ijtihad dalam suatu perkara yang disepakati oleh semua mujtahidin. namun tidak ada keterangan bahwa semua mujtahid lain menyetujuinya dalam suatu perkara ( Tasyri’ Islami: 115) Ijtihad yang semacam inilah yang pernah dibenarkan oleh Rasul kepada Mu’adz ketika Rasul mengutus beliau untuk menjadi qodhi di Yaman. b. C. b. Terhadap masalah-masalah yang belum terjadi yang akan kemungkinan nanti akan diminta tentang hukum masalah-masalah tersebut. B. Pada suatu peristiwa diperlukan hukum syara’ di suatu daerah yang terdapat banyak para ahli ijtihad.

agar dengan ini mentafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an atau As-Sunnah dengan cara berfikir dengan benar. Mengetahui rahasia-rahasia tasyri’i ( asrarusy syari’ah) yaitu qoidah-qoidah yang menerangkan tujuan syara’ dalam meletakan beban taklif kepada mukallaf. f. mana yang dhoif. Bad’i. e. Syarat – syarat Mujtahid a. Umar bin Khatab juga pernah berkata kepada Syuraikh : ”Dan bermusyawarahlah ( bertukar pikiran ) dengan orang-orang yang saleh. meskipun tidak hapal diluar kepala. Ma’ani. c. Mesti mengetahui nasikh mansukh dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mengetahui isi Al-Qur’an dan hadits yang bersangkutan denagn hokum itu. hingga tiada timbul pendapat yang bertentangan dengan ijma’ itu.Ketika itu Nabi bersabda : ”Kumpulkanlah orang-orang yang berilmu dari orang-orang mukmin untuk memecahkan masalah itu dan jadikanlah hal itu masalah yang dimusyawarahkan diantara kamu dan janganlah kamu memutuskan hal itu dengan pendapat orang seorang. Tingkat kekuatan Ijtihad Al-‘Allamah Abdullah Darraz mengatakan bahwa : “Ijtihad adalah menghabiskan seluruh kemampuan dan memeberikan segala kekuatan pikiran. d. Mesti mengetahui ilmu usul fiqh dan qoidah-qoidah fiqh yang seluas-luasnya. . Bayan. E.” ( H.” D.R. Ibnu Abdil Barr ) Disamping itu. Ijtihad mentatbiqkan hukum dan seluruh orang yang memiliki . seperti menetapkan kaidah segala yang tidak dilarang syara’. g. Ijtihad ( memperoleh hukum ) hanya dapat dilaksanakan oleh ulama – ulama yang mempunyai keahlian yang sempurna dalam urusan ijtihad. Hal itu dilaksanakan untuk memperoleh hukum syar’i dan menerapkannya yakni menetapkan hukum yang telah ditetapkan atas tiap-tiap kaidah. karena ilmu sebagai dasar berijtihad. mana yang maqbul dan mardud. Mesti mengetahui bahasa arab dengan alat-alat yang berhubungan dengan itu seperti Nahwu. Shorof. Mesti mengetahui soal-soal ijma’. Mengetahui ilmu riwayat dan dapat membedakan: mana hadits yang sahih dan hasan. b.

sehingga perbedaan bisa diselesaikan melalui wacana. Dogmatisme. Tidak banyak kesenjangan antara pesan dan makna. berbagai masalah. ada akan menghasilkan sebuah kediktatoran. bahwa Buku dan kebijaksanaan merupakan prasyarat untuk menjaga masyarakat pada jalur dan jalan progresif dan benar.ilmu yang sudah dalam tentu dapat mengerjakannya. dan berlaku untuk situasi yang berbeda. Ini menekankan latihan dari pikiran rasional. Tempat otak di bagian atas tubuh manusia menandakan nilai dan pentingnya pikiran. . atau dari suatu dalil yang dibenarkan syara’. Ini memberikan ruang bagi manusia untuk menafsirkan Quran dan beradaptasi. Al-Iftilah atau perbedaan pendapat di kalangan ulama terjadi. Ini adalah pendekatan rasional dan analitis. Tuhan telah menempatkan kita di tengkorak otak kita tidak di pergelangan kaki kami. ia mendapat pesan ilahi dari Allah. dan hidupnya sendiri adalah suatu usaha untuk menerapkan apa yang konkret teks berarti. Ringkasnya ijtihad itu ada dua tingkatan : a. Jadi perbedaan adalah rahmat dari Allah. Ijtihad telah ditekankan dalam Islam. Ijtihad Darakil Ahkam ( menghasilkan hukum yang belum ada ) b. Buku ini telah meletakkan dasar-dasar. instruksi Anda. berdasarkan Quran dan ajaran Sunnah. Waktu dan lagi Quran mengatakan bahwa ayat-ayat nya adalah untuk para pemikir. dinamai mujtahid. Ijtihad Tatbiqil Ahkam ( menerapkan hukum atau kaidah atas tempat yang menerimanya) Mengapa perlunya Ijtihad muncul ? Selama kehidupan Nabi. tetapi kita harus bijaksana dalam mengambil langkah-langkah untuk membangun kehidupan kita di atas melalui perjalanan waktu. Ketika ia meninggal pertanyaan mengenai makna teks muncul. untuk menafsirkan hal-hal agama. tetapi berlatih sungguh-sungguh nikmat Allah kepada Anda. Ijtihad merupakan sebuah upaya intelektual untuk mencari solusi dari hari ke hari masalah. Hal ini tentu saja dalam arti metaforis." (2:231) Ayat ini menunjukkan. monisme. Jika hanya ada satu interpretasi. dan fakta bahwa Dia diturunkan kepadamu Kitab dan kebijaksanaan. Dan disepakati bahwa ijtihad ini tiada putus – putusnya sepanjang zaman. Dalam Sura ini Heifer Quran mengatakan: "Jangan memperlakukan tanda-tanda Allah sebagai olok. Setiap manusia melihat sesuatu secara berbeda.” Seorang ahli fiqh yang menghabiskan tenaga dan pikirannya untuk memperoleh persangkaan kuat terhadap suatu hukum agama dengan jalan istinbat dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.

dan bahwa semua aktivitas masa depan harus dibatasi pada penjelasan. meskipun penekanan pada taqlid. Sehingga setiap saat masalah baru akan terus berkembang dan diperlukan aturan-aturan turunan dalam melaksanakan Ajaran Islam dalam kehidupan beragama sehari-hari. " Sarjana lain (misalnya Wael Hallaq ) menunjukkan bahwa ijtihad tetap merupakan bagian penting dari tradisi Muslim Sunni. Selain itu ada perbedaan keadaan pada saat turunnya Al Quran dengan kehidupan modern. seperti pertanyaan apakah Nabi sendiri tergantung pada ijtihad dan apakah mujtahid harus diperbolehkan untuk mengikuti taqlid. Hallaq menulis bahwa minoritas selalu mengklaim bahwa seorang sarjana benar-kualifikasi harus memiliki hak untuk ijtihad setiap saat. Ironisnya. paling-paling. tidak berarti semua hal dalam kehidupan manusia diatur secara detail oleh Al Quran maupun Al Hadist. [ kutipan diperlukan ] Lama setelah abad ke-10 prinsip-prinsip ijtihad terus dibahas dalam literatur hukum Islam dan Asharites terus berdebat dengan Mutazilites tentang penerapannya untuk ilmu pengetahuan. aplikasi. interpretasi doktrin seperti itu telah ditetapkan sekali dan untuk semua. Al-Amidi (1233) menyebutkan dua belas kontroversi umum tentang ijtihad dalam bukunya tentang hukum Islam ( ushul al-fiqh ). Jika terjadi persoalan baru bagi kalangan umat Islam di suatu tempat tertentu atau di suatu masa waktu tertentu maka persoalan tersebut dikaji apakah perkara yang dipersoalkan itu sudah ada . dan. yang beberapa sejarawan berpikir menyebabkan masyarakat Muslim untuk stagnan sebelum jatuhnya 1492 dari al-Andalus Fungsi Ijtihad Meski Al Quran sudah diturunkan secara sempurna dan lengkap.Sejarah Beberapa sarjana barat seperti Joseph Schacht mengatakan "penutupan pintu ijtihad" telah terjadi pada awal abad 10 CE: "maka konsensus secara bertahap didirikan sendiri untuk efek yang dari waktu itu seterusnya tidak ada yang bisa dianggap telah kualifikasi yang diperlukan untuk penalaran independen dalam hukum agama. hilangnya penerapannya dalam hukum tampaknya telah juga menyebabkan kerugian dalam filsafat dan ilmu-ilmu.

. Mereka telah membatasi penafsiran hukum hanya empat sarjana terkemuka: Malik Ibn Anas. Menurut Qazwini. Bagaimana Mungkin Ijtihad Jadilah Kembalinya ? Salah satu kesalahan paling berbahaya Muslim telah berkomitmen. Selain itu. Syafi'i. harus pembebasan yayasan agama dari pengaruh rezim politik. Motivasi untuk ini adalah politik. Sekiranya sudah ada maka persoalan tersebut harus mengikuti ketentuan yang ada sebagaimana disebutkan dalam Al Quran atau Al Hadits itu. dan Hambali sekolah pemikiran. Karena badan-badan keagamaan di negara-negara Muslim bergantung pada pembiayaan pemerintah. sangat manfaat dari tidak adanya ijtihad. menurut Qazwini. ini membuat mereka tawanan kebijakan pemerintah. seperti ribuan mujtahid potensial dan ulama telah dilarang menawarkan solusi yang terbaik untuk masalah yang baru muncul. Pemerintah di negara-negara Muslim saat ini. menurut Qazwini. Pemikir Muslim telah menjadi tawanan aturan yang dibuat lama. keputusan ini telah menghasilkan stagnasi intelektual kronis. Dominasi dari yayasan agama oleh pemerintah sekuler telah begitu kuat sehingga sering membuat otoritas keagamaan terlihat tidak kompeten. Abu Hanifah Al-No'man. Menutup pintu ijtihad telah memiliki konsekuensi yang sangat merugikan bagi dunia Muslim. Otoritas agama harus menjauhkan diri dari rezim politik sehingga mereka secara independen dapat menerbitkan dan menginterpretasikan hukum agama. banyak yang korup. serta hal-hal politik. Tapi yang berhak membuat Ijtihad adalah mereka yang mengerti dan paham Al Quran dan Al Hadist. dan Ahmad Ibnu Hambal-kepala dari Maliki. Selama Dinasti Abbasiyah (750-1258 M). adalah menutup pintu ijtihad. Namun jika persoalan tersebut merupakan perkara yang tidak jelas atau tidak ada ketentuannya dalam Al Quran dan Al Hadist. Langkah pertama menuju membuka pintu ijtihad. pada saat itulah maka umat Islam memerlukan ketetapan Ijtihad. Abbasiyah memutuskan untuk melarang semua sekte-sekte lain dalam rangka kontrol ketat agama dan ibadah. Hanafi. pemerintah membantu menjaga pintu ijtihad tertutup untuk mengontrol pembentukan agama. meninggalkan sedikit ruang untuk berpikir liberal atau inovatif. Muhammad bin Idris al-Syafi'i.dan jelas ketentuannya dalam Al Quran atau Al Hadist.

baik laki-laki dan perempuan. psikologi. serta ekonomi dan teori politik sebagai latar belakang untuk interpretasi ditingkatkan. Reformasi sistem pendidikan Islam juga penting. Ini berarti bahwa demokratisasi masyarakat Muslim dan kebebasan dasar untuk sarjana adalah sine qua non untuk proses bekerja. tetapi mereka harus lebih terorganisir dan mereka harus bekerja sama secara kolaboratif. siswa juga harus belajar tentang bukti yang digunakan untuk sampai pada interpretasi. Siswa juga harus belajar perbandingan agama. termasuk merevisi kurikulum sekolah agama dan seminari. Saat ini ada beberapa nasional dan internasional fiqh dewan (dewan yurisprudensi dan interpretasi syariah). filsafat. Tanpa kebebasan dan demokrasi. para ahli dari bidang kedokteran. Demokrasi adalah kunci untuk membuka ijtihad. harus menjadi anggota dewan ini.Tidak mungkin ada ijtihad benar. Dewan-dewan ini seharusnya tidak hanya mengeluarkan peraturan tetapi juga memberikan bukti dan metodologi balik keputusan mereka. keempat panelis menyebutkan kurangnya kebebasan dan demokrasi sebagai hambatan serius untuk ijtihad. ekonomi. Mereka juga harus berusaha untuk membangun konsensus sebanyak mungkin. Shiddiqi juga menegaskan bahwa ijtihad harus menjadi usaha kolektif. yang merupakan praktek umum. logika modern. dan sejarah. Sebagai Masmoudi menunjukkan. serta metode penafsiran lainnya. Kebebasan berekspresi adalah melekat dalam konsep dan praktek ijtihad. Keanggotaan tidak harus dibatasi pada sarjana syariah. Sekolah-sekolah Islam dan seminari juga harus lebih memperhatikan literatur Islam yang besar pada tujuan syariah. Alih-alih hanya mempelajari putusan dan interpretasi dari sekolah. ilmu sosial dan politik. astronomi. Alih-alih belajar tentang hanya satu sekolah penafsiran. Bahkan nonsarjana Muslim yang bersimpati dan tujuan harus diundang untuk berkontribusi. kecuali ulama bebas untuk mengekspresikan pendapat mereka dan para sarjana lainnya bebas untuk mengkritik mereka jika mereka membuat kesalahan. dan ijtihad merupakan kunci untuk memecahkan masalah utama yang dihadapi dunia Islam saat ini. ijtihad tidak dapat dilakukan. Siddiqi menjelaskan. siswa harus terkena semua sekolah tersebut. . dan hukum juga harus dimasukkan sebagai konsultan dan penasihat. yang tajam terbatas dalam dunia Muslim dan khususnya di negara-negara Arab. Ahli syariah.

Bagaimana negara-negara muslim dibawa bersama-sama untuk bekerjasama lebih erat. Ijtihad juga harus digunakan untuk mendorong hubungan yang lebih baik antara orang-orang dari agama yang beragam dan budaya dengan mempromosikan dialog antara berbagai kelompok daripada mendorong gagasan tentang benturan budaya dan peradaban.Apa yang Harus Dikenakan Isu untuk ijtihad ? Banyak masalah yang dihadapi umat Islam saat ini membutuhkan ijtihad. Semangat globalisasi. Penekanan harus ditempatkan pada satu pandangan dunia dan kewarganegaraan yang bertanggung jawab di desa global kita. dalam proses menggabungkan unsur-unsur teori ekonomi modern. kesetaraan. Pemikiran politik Islam dan tata negara juga harus ditinjau. Ada kebutuhan untuk memikirkan kembali secara radikal teori ekonomi Islam. Peran perempuan dalam Islam perlu dikaji dengan hati-hati memeriksa teksteks asli. Menggunakan ijtihad modern. terutama kaum minoritas agama. umat Islam harus menafsirkan kembali pembagian klasik dunia menjadi Darul Islam (dunia Islam) dan Darul Harb (dunia non-Muslim). dan apa struktur baru diperlukan untuk mempromosikan persatuan di antara negara-negara Muslim? Standar etika dan moral negara Islam perlu diperiksa. Apa aturan Islam dan pedoman yang harus diikuti para Muslim untuk menjadi warga negara yang baik dari tanah mereka asli atau diadopsi? Bagaimana mereka bisa menjadi peserta aktif dan bertanggung jawab dalam kehidupan negara-negara ini sementara tidak mengabaikan keyakinan dan nilai-nilai Islam mereka? Kendala utama lain yang dihadapi umat Islam dan praktek ijtihad saat ini termasuk prasangka. Muslim di negara non-Muslim. Sunni dan Syiah. . Kesenjangan dalam doktrin antara berbagai madzhab Islam (sekolah dan posisi sektarian) harus dipersempit. seperti halnya promosi kebebasan individu. dan perhatian mendesak dapat terdaftar di bawah ini sebagai: Peran perempuan. Ijtihad harus digunakan untuk memandu hampir sepertiga dari umat (komunitas Muslim di seluruh dunia) yang hidup sebagai minoritas di negara non-Muslim. Mengapa dunia Muslim miskin dan bagaimana ini bisa berubah? Apa jenis kolaborasi adalah mungkin antara Muslim dan badanbadan ekonomi dunia tanpa mengorbankan nilai-nilai Islam yang otentik dan prinsip-prinsip keadilan. dan keadilan? Persatuan antara negara-negara muslim. Ekonomi.

kediktatoran politik. Etimologi dan definisi Kata ini berasal dari akar verbal yang tiga huruf Arab dari ‫ ج . .stagnasi intelektual. penyakit ini meresap dalam masyarakat Muslim memburuk. faksionalisme. misalnya dengan Al-Baghdadi (1037) atau Al-Mawardi (1058).د‬J . ijtihad sering dihitung sebagai salah satu kualifikasi penting dari khalifah .ه .H .D (jahada. mencapai titik di mana mereka bisa lepas kendali. penolakan orang lain. dan ekstremisme. Sayangnya. Sunni kualifikasi Kualifikasi yang diperlukan ditetapkan oleh Abu'l Husain al-Bashri (wafat 467 H / 1083 M ) dalam "al Mu'tamad fi Ushul al-Fiqh" dan kemudian diterima oleh Sunni ulama. termasuk alGhazali. kurangnya demokrasi dan kebebasan. Kualifikasi ini dapat disimpulkan sebagai pemahaman tentang tujuan dari syariah dan pengetahuan tentang sumber dan metode deduksi. dan 3. Definisi seorang mujtahid ? Pekerjaan penafsir teks ini adalah untuk memastikan keaslian sumber (s) dan kemudian 1. atau qiyas). Al-Ghazali membagi-bagikan dengan kualifikasi ini dalam teori hukum dan delegasi latihan ijtihad para ulama agama (ulama ).menemukan hukum-hukum melalui interpretasi dari sumber-sumber. memperpanjang undang-undang untuk kasus-kasus baru yang mungkin mirip dengan kasuskasus yang disebutkan dalam sumber-sumber hukum yang tidak dapat ditemukan melalui interpretasi literal (ini disebut metode analogi. "perjuangan"): "t" adalah dimasukkan karena kata adalah batang VIII berasal verba. 2. Dalam teori politik Islam. memperpanjang undang-undang untuk kasus baru yang belum tercakup oleh dua metode sebelumnya dengan melihat prinsip-prinsip umum dan tujuan syariah tersebut (metode ini dikenal sebagai istihsan atau istislah-umum kepentingan masyarakat).

agama kehidupan. . bahwa "kepastian harus menang atas keraguan" dan pencapaian keseimbangan antara terlalu kaku dan terlalu bebas interpretasi.000 hadits (termasuk varian dalam kata-kata dan sanad) perlu diketahui. keturunan kecerdasan. keandalan relatif dari perawi dari hadits . • memahami tujuan mengungkapkan dari syariah yang terkait dengan "pertimbangan kepentingan umum" termasuk Lima Pilar dari yang baik. kejadian-kejadian seputar wahyu dan isinya hukumnya (ayat al-ahkam) . para penerus dan memimpin imam dan mujtahideen dari masa lalu. perlindungan ". dan keakraban dengan isu-isu yang tidak ada konsensus.sekitar 500 ayat. pengetahuan mendalam tentang peraturan dan prosedur yang memungkinkan penerapan hukum yang diwahyukan untuk kasus belum pernah terjadi sebelumnya. • yang memadai pengetahuan tentang sunnah.Qur'an dan dari sunnah sehingga dapat menarik potongan akurat.Ini termasuk : • • menjadi orang yang tegak penilaian orang dapat percaya kompetensi dalam bahasa Arab yang memungkinkan pemahaman yang benar dari Al. • kemampuan untuk memverifikasi konsensus ( ijma ) dari sahabat Nabi . • yang memadai pengetahuan tentang Al-Qur'an . terutama berkaitan dengan spesialisasinya.dan dengan semua komentar-komentar klasik pada ayat al-ahkam. Salah satu perkiraan (oleh Ahmad ibn Hanbal ) menunjukkan bahwa 400. terutama yang terkait dengan spesialisasi yang. umum dan khusus mutlak dan berkualitas. membedakan antara. dan harta" dan pepatah umum untuk interpretasi syariah. menurut al-Ghazali . khususnya pemandangan sahabat Nabi dan dengan insiden pembatalan (menangguhkan atau membatalkan putusan) serta penggunaan narasi dan perumpamaan dan bagian yang berkaitan dengan akhirat untuk menyimpulkan aturan hukum di Sunni qiyas . yang meliputi dengan "penghapusan kesulitan".

daripada orang semacam ini tidak menurut definisi seorang mujtahid. Ijma'. Qiyas) tanpa muqalideen (pengikut) dari siapa pun dalam beberapa ketentuan hukum yang mendasar atau turunan. . Dia menyukai salah satu bukti atas yang lain ketika mereka bertentangan satu sama lain. 4. la studi. penelitian. putusan yang disebutkan di atas (yang berasal dari Quran dan Sunnah) tidak harus jelas dalam Quran dan Sunnah atau Ijma '. dan engrosses dirinya dalam ayat-ayat dan hadis Nabi Diberkati untuk menemukan bukti untuk masalah yang dihadapinya. Pengetahuan tentang hadits Nabi Mahakudus 3. Jenis Mujtahid  Mujtahid Mustaqil.  Mujtahideen fil madhab: Seperti Imam Abu Yusuf (hura).Berikut ini adalah kondisi bahwa Imam Baghawi ditata untuk ijtihad: 1. yaitu untuk mengetahui keputusan mereka tidak setuju dan di mana mereka bulat. Pengetahuan tentang linguistik Arab 5. Dia mengatur ushul dari madhab. Dia tahu aturan dalam terang bukti-bukti mereka dan sepenuhnya mampu berasal keputusan dari bukti. Pengetahuan tentang ucapan-ucapan Salaf-kita-Salaheen. Dia menghadapi masalah-masalah baru yang belum dibahas dan menyajikan mereka dalam terang bukti (dari Quran dan Sunnah). Sunnah. Al-Quran. Jika tidak ada derivasi yang terlibat karena ketegasan yang berkuasa dalam Quran dan Sunnah. Dia juga menguraikan pada referensi dari mana ia berasal aturan-Nya. Imam Hassan bin Muhammud Shaybani (hura) dan semua siswa Imam Abu Hanifah (hura) yang berasal keputusan menggunakan ushul Imam Abu Hanifah (hura) yang berasal dari sumber utama. Pengetahuan tentang Qiyas. Pengetahuan tentang Quran 2.  Mujtahid Muntasib: adalah orang yang adalah pengikut gurunya dalam ushul dan yang membutuhkan bantuan dari dia dalam mencari bukti tentang hukum. pengetahuan dimana seseorang belajar metode berasal keputusan dari Quran dan Sunnah. Dalam hal ini.  Mujtahideen fil shara ': Ini adalah empat imam yang merancang putusan ushul dan berasal dari empat sumber (yaitu.

Syams ul-Aima Halwani. tapi berasal keputusan. mereka muqallideen-Nya (pengikut) dalam ushul tersebut. Tahawi. dll Hal ini sekelompok ahli berikut Imam Abu Hanifah (hura) dalam ushul dan derivatif nya peraturan. dan Qazi Khan. berdasarkan ushul-nya.Meskipun mereka tidak sepakat dalam beberapa peraturan turunan dengan Imam Abu Hanifah (hura). Fakhr-ul-Islam Bazdawi. Syams ul-Sarakhsi. Kategori ini termasuk para sarjana seperti Khassaaf.  Mujtahideen fil masaail: Mereka berlatih ijtihad dalam peraturan di mana tidak ada pendapat diketahui Imam Abu Hanifah (hura). . pada isu-isu di mana tidak ada pendapat yang diketahui atau yang berkuasa oleh Imam Abu Hanifah. Perbedaan antara mereka (mujtahideen fil madhab) dan mu'aaredheen fil madhab (beasiswa paralel) seperti Imam Syafi'i '(hura) adalah bahwa mereka (mujtahideen fil madhab) adalah (Imam Abu Hanifah t) nya muqalideen dalam ushul Imam Syafi'i sementara' ( rah) tidak.

maka hadist dijadikan sumber hukum kedua. yang mana wajib diikuti selama tidak bertentangan dengan nash syari’at yang jelas. Apabila penegasan hukum yang terdapat dalam Al-Qur’an masih bersifat global. yang mana berfungsi menjelaskan apa yang dikehendaki Al-Qur’an. Karena. Ijmak dan Qiyas merupakan sumber pelengkap. . segala permasalahan hukum agama merujuk kepada Al-Qur’an tersebut atau kepada jiwa kandungannya.KESIMPULAN Al-Qur’an merupakan sumber utama yang dijadikan oleh para mujtahid dalam menentukan hukum ajaran Islam. Sumber hukum yang lain adalah Ijmak dan Qiyas.

.PENUTUP Puji syukur ke Hadirat Allah Swt. yang telah memberikan segala kenikmatan baik nikmat Iman maupun Islam dan sehat wal’afiyat sehingga kami dapat meyelesaikan penyusunan makalah ini. terutama kepada dosen mata kuliah Ushul Fiqh II yang telah memberikan sebagian ilmunya untuk penyusunan makalah ini. Amin. Kami sebagai penyusun makalah ini mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terselesaiknnya makalah ini. Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada baginda alam. sahabat-Nya. yakni Nabi Muhammad Saw. Kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menjadi amal shaleh bagi seluruhnya. dan kita sebagai umat-Nya. beserta keluarga-Nya .

Cambridge (1991) ISBN 0-946621-24-1 . Dasar Pemikiran Pembaharuan Dalam Islam. 1976. al-Munjid fi al-Lughat. Momen. 3-41. Harun Nasution. 8. Father-Rahman Djamil. 1986. Princeton University Press. Wael Hallaq : "Apakah Gerbang Ijtihad Tertutup?". Kampus Verlag. Kamali. Harun Nasution. 13. 3rd edition. Abdul Majid Asy-Syarofi. Jakarta: logos Graphic Design Center. Ijtihad Kolektif. 1985. et. Bandung: Mizan. 10. Cita Dan Citra Muhammdiyah. Sebuah Pengantar Islam Syi'ah. 2002. 16. Jakarta: Pustaka Panjimas. hal 143 2. Ijtihad Sunber Ketiga Ajaran Islam. Carlos Martínez. hal. Princeton New Jersey (1981) ISBN 0-691-10099-3 6." dalam Agama dan lain nya: Konsep sekuler dan sakral dan Praktik dalam Interaksi. dan dalam Haidar Baqir. Ignaz (diterjemahkan oleh A Dan R Hamori). Luwis Ma’luf. London (1991) ISBN 0-905743-65-2 5. 9. Hans Wehr Dictionary of diedit Arab modern Ditulis oleh JM Cowan. Islam Text Society. dan Michi Knecht (Frankfurt / M. Jurnal Internasional Studi Timur Tengah. Glassé. 7. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. Yale University Press. 4. Ijtihad Dalam Sorotan. Stacey Internasional. (ed). The Encyclopaedia Concise Islam. Moojan. .203 3. 1 (1984). 12. 1995. Yunan. Pengantar Teologi Islam dan Hukum. 2nd Edition. "Membatasi Agama Kekuatan dari Dalam: Probabilism dan Ishtihad. Jorg Feuchter. Beirut:Dar al-Masyriq. Goldziher. Diedit oleh Heike Bock. Metode Ijtihada Majlis Tarjih Muhammadiyah. 2008). Yusuf.. Cyril. Mohammad Hashim Prinsip Fikih Islam. 1988. 1985. dan dalam M.Daftar Pustaka 1. 11. al.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful