P. 1
Gaya Kepemimpinan

Gaya Kepemimpinan

|Views: 293|Likes:

More info:

Published by: Grindulu Syaza Milan Alvaro on Jan 07, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/12/2014

pdf

text

original

PENERAPAN GAYA KEPEMIMPINAN PADA SATUAN POLISI PAMONG PRAJA KABUPATEN LINGGA

A. Latar Belakang Dalam menyambut era perdagangan bebas dan liberalisasi ekonomi, sektor ketentraman dan ketertiban merupakan salah satu faktor yang penting bagi bangsa Indonesia demi kelancaran memobilisasi pembangunan di segala bidang, dimana sebagian besar masyarakat Indonesia memiliki jumlah populasi yang sangat banyak. Ketentraman dan ketertiban merupakan suatu hal yang penting dan merupakan kebutuhan sosial oleh seluruh masyarakat Indonesia. Ketentraman dan ketertiban sebagai salah satu penggerak pembangunan pada umumnya yang mempunyai tanggung jawab moril yang besar atas kelancaran pembangunan tersebut. Hal ini menyatakan bahwa satuan polisi pamong praja merupakan salah satu yang mengemban tanggung jawab demi kelancaran pembangunan terutamanya di daerah kabupaten lingga yang dimana sebagai salah satu kabupaten yang baru dimekarkan daerahnya, dengan hal ini juga perluya pengawasan dan penertiban serta keamanan daerah yang baru dimekarkan menjadi daerah kabupaten dari Provinsi Kepulauan Riau. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, telah di bentuk perangkat pemerintah baik dalam rangka pelaksanaan azas desentralisasi maupun dekonsentrasi. Dalam pelaksanaan azas dekonsentrasi telah di susun perangkat pemerintah mulai dari tingkat Propinsi, Kabupaten, sampai ke tingkat kecamatan yang di sebut pamong praja. Pelaksanaan dari kegiatan-kegiatan pembangunan ini sering di kaitkan

1

dengan pembinaan bangsa (Nation Building). Menurut Siagian (1992:13) pengertian pembangunan yaitu “Pembangunan adalah suatu usaha atau rangkaian usaha pertumbuhan dan perubahan yang berencana yang di lakukan secara sadar oleh suatu bangsa, Negara dan pemerintah modernitas dalam rangka pembinaan bangsa (Nation Building)”. Sebagai suatu organisasi pemerintah, satuan polisi pamong praja tidak terlepas dari aspek manajemen, sehingga jalannya organisasi tersebut dapat tercapai sesuai dengan tujuan semula. Kepemimpinan merupakan salah satu dari aspek manajemen tersebut. Kepeminpinan juga merupakan suatu kemampuan dengan gaya tersendiri dari seorang pemimpin tersebut dalam mengatur, mengorganisir, mengkoordinasikan serta mempengaruhi para bawahannya untuk menjalankan aktivitas kerja sehingga tujuan dari pada organisasi tersebut dapat tercapai. Secara objektif pelayanan kepada publik, merupkan salah satu kinerja yang harus ditonjolkan oleh satuan polisi pamong praja sebagai salah satu penyedia jasa dalam segi ketentraman dan ketertiban, tingkat pelayanan ini tercermin dari tingkat kepuasan masyarakat dalam menerima pelayanan yang diberikan. Hal ini tidak terlepas dari bagaimana pemimpin dapat menggerakkan dan mempengaruhi bawahannya, sehingga pegawai memiliki tingkat kerja yang tinggi. Ditinjau dari sudut organisasi tinggi rendahnya permasalahan serta bagaiman cara yang ditempuh untuk mengatasi permasalah tersebut, salah satunya adalah tergantung dari cara atau gaya seorang pemimpin di dalam memimpin organisasi. Keberadaan seorang pemimpin dalam proses menggerakkan suatu organisasi

2

Masalah peraturan dalam kerja juga merupakan masalah yang penting bagi lancarnya urusan-urusan di setiap organisasi.” Kepemimpinan tersebut juga berdasarkan pada akseptasi / penerimaan oleh kelompok dan pemilikan keahlian khusus pada suatu situasi khusus. Kekuatan memberikan penghargaan. tanpa hal itu pelaksanaan tugas tidak akan berjalan dengan baik. Kekuatan syah / 3 .sangatlah dominan dimana apabila seorang pemimpin mempunyai sifat dan karakter berorientasi kepada bawahannya. Untuk itulah di perlukan gaya seorang pemimpin dalam penerapan yang akan mengarahkan serta menentukan perencanaan. terutama bawahannya untuk berpikir dan bertindak sedemikian rupa sehingga melalui perilaku yang positif ia memberikan sumbangsih nyata dalam pencapaian tujuan organisasi. Kekuatan menekan dan memaksa. penyusunan. Manusia modern dewasa ini tidak lagi memiliki kemampuan untuk memuaskan semua jenis kebutuhannya yang semakin beraneka ragam tanpa menggunakan berbagai jalur organisasional. insan ekonomi dan mahluk sosial disamping sebagai individu dengan jati diri yang khas. Oleh karena itu pembinaan terhadap peningkatan kerja bawahan sangat penting jika ingin memajukan suatu organisasi. dalam pendapat yang dikemukakan oleh Siagian (1997:20) mengatakan “kemampuan dan keterampilan seseorang yang menduduki jabatan sebagai pimpinan suatu kerja untuk mempengaruhi perilaku orang lain. bimbingan serta pengawasan guna meningkatkan organisasi. Selain itu ada juga kekuatan yang erat hubungannya dengan kepemimpinan yaitu. Aneka ragam tujuan pribadi tersebut berangkat dari hakekat manusia sebagai mahluk yang multidimensi. Antara lain sebagai mahluk politik.

Kurangnya pendekatan pemimpin terhadap bawahan terutama di dalam memberikan arahan/dorongan kepada pegawai yang menjadi bawahannya. maka penelitian ini dilaksanakan dengan judul “PENERAPAN GAYA KEPEMIMPINAN PADA SATUAN POLISI PAMONG PRAJA KABUPATEN LINGGA”. Kurang mengetahui aktifitas bawahan dalam masalah kerja. 2. juga tergantung sampai sejauh mana pemerataan atau distribusi hasil-hasil pembangunan. Berdasarkan kondisi faktual dilapangan gejala yang dapat dilihat di satuan polisi pamong praja adalah: 1. Hal ini dapat dirasakan oleh masyarakat yang sering resah akan ketidak amanan. 3. sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh segenap lapisan masyarakat. B. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penerapan gaya kepemimpinan dari gambaran gejala-gejala tersebut di atas. hal ini tercermin dari kurangnya kontrol/pengawasan dari pemimpin secara kesehariannya.legitimate. Kurangnya akses pelayanan satuan polisi pamong praja kabupaten kepada masyarakat dalam memberikan pelayanan terutama keamanan. Seiring dengan perkembangan organisasi yang ada dalam tubuh satuan polisi pamong praja Kabupaten Lingga secara objektif memiliki kelebihan 4 . Kekuatan pemilikan keahlian dan kekuatan penyamaan diri dengan orang yang di kagumi / proses identifikasi. Pamudji (1992:63) mengatakan “Kepemimpinan adalah kemampuan untuk menggerakkan dan mengarahkan orang-orang ke tujuan yang di kehendaki oleh pemimpin”. Perumusan Masalah Keberhasilan pembangunan selain ditandai oleh kemajuan yang telah dicapai dari sisi positif.

C. Kelebihan dan kekurangan dalam organisasi ini termasuk didalam kinerja para pegawainya dalam memberikan pelayanan kepada publik. maka penulis mencoba menuangkannya kedalam rumusan masalah sebagai berikut. b. 5 . “BAGAIMANA PENERAPAN GAYA KEPEMIMPINAN PADA SATUAN POLISI PAMONG PRAJA KABUPATEN LINGGA ?”. a. Tujuan Penelitian a. Hal ini tidak terlepas dari peran pemimpin dalam membawa organisasi yang dipimpinnya kearah tujuan yang telah ditetapkan. yaitu tentang gaya kepemimpinan. karena fokus penelitian ini adalah cara gaya kepemimpinan suatu organisasi pemerintah yang sejauh mana gaya kepemimpinan itu mempengaruhi bawahannya dan lebih jauh lagi bagaimana pengaruhnya kerja pegawai atau bawahannya.dan kekurangan. Berdasarkan gejala-gejala faktual yang telah disebutkan pada latar belakang maka penulis tertarik untuk mengangkatnya dalam suatu penelitian. Mengetahui hambatan-hambatan Penerapan Gaya Kepemimpinan Pada Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Lingga. 2. Kegunaan Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi media untuk mengaplikasikan dan mengembangkan serta sebagai rujukan bagi peneliti terhadap teori yang berkaitan dengan objek penelitian. Tujuan Dan Kegunaan Penelitian 1. Mengetahui bagaimana Penerapan Gaya Kepemimpinan Pada Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Lingga.

Konsep Teori Konsep gaya mengorganisasikan. Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan masukan bagi Pemerintah Kabupaten Lingga. Pengorganisasian menurut Siagian (1986:27) adalah: “keseluruhan menurut proses pengelompokkan orang-orang. tugas-tugas. c. kepemimpinan Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Lingga merupakan organisasi pemerintah yang tidak terlepas dari unsur manajemen roda organisasinya. dan motivasi kepada bawahan dalam menjalankan fungsi-fungsi organisasi berdasarkan landasan manajemen yang ada. Untuk menambah wawasan berpikir peneliti mengenai Penerapan Gaya Kepemimpinan Pada Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Lingga. D. Kegiatan mengorganisasi suatu proses menyangkut pengelompokkan tugas dalam suatu unit organisasi. 1. alat-alat. tanggung jawab dan wewenang sedemikian rupa sehingga tercipta suasana yang dapat ditegakkan sebagai suatu kesatuan dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan”.b. maka pemimpin tersebut mempunyai kekuasaan guna mengawasi kegiatan anggota- 6 . guna untuk menggerakkan secara nyata. mengkoordinasikan dan mengawasi jalannya organisasi untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan. Kepemimpinan dalam suatu organisasi dibutuhkan untuk memberikan arahan. khususnya di Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Lingga. Manajemen ini dipakai dalam suatu organisasi untuk merencanakan.

sedangkan segi statisnya menggambarkan wadah sebagai tempat dilakukan kegiatan tersebut”. Hal ini dijelaskan Widjaya (1985:15) “Organisasi dapat ditinjau dari dua segi. Sedangkan menurut Goerge R. organisasi perlu diperhatikan. yaksi segi dinamis menggambarkan kegiatan kerjasama yang dilakukan di dalam mencapai tujuan. untuk mencapai tujuan yang telah di tentukan sebelumnya”. Dipertegas lagi oleh Ermaya (1997:11) bahwa “Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang pemimpin untuk mengendalikan pikiran. namun menyengkut segi dinamis. Titambhakan lagi oleh Muhammad (2005:1) yang mengatakan bahwa “pentingnya komunikasi bagi manusia tidaklah dapat dimungkiri begitu juga halnya bagi suatu organisasi. Oleh Gary (1996:2) adalah “Perilaku dari seorang individu yang memimpin aktivitas-aktivitas suatu kelompok ketujuan yang ingin dicapai bersama”. Dengan adanya komunikasi yang baik suatu organisasi dapat berjalan lancar dan berhasil dan kurangnya atau tidak adanya komunikasi organisasi dapat macet atau berantakan”. Dilanjutkan oleh pendapat Siagian (1995:24) menjelaskan tentang kepemimpinan adalah “kemampuan dan keterampilan seseorang dalam menduduki jabatan sebagai pimpinan kerja untuk mempengaruhi prilaku orang lain. Terry seperti yang dikutip oleh Thoha (2001:5) adalah “Aktivitas untuk mempengaruhi orang-orang supaya diarahkan mencapai tujuan organisasi”. perasaan atau dengan tingkah laku orang lain. Kepemimpinan bertitik tolak dari wadah organisasi itu sendiri. terutama segi dinamis yang berkaitan dengan interaksi manusia itu sendiri.anggota dalam kelompok tersebut. terutama bawahannya untuk berfikir dan 7 .

Kebiasaan. Dengan kata lain. Perihal yang sama juga dikemukakan oleh John Piffner (dalam Tjokroamidjoyo 2000:10) yang mendefinisikan sebagai beikut: “kepemimpinan adalah seni untuk mengkoordinasikan dan memberikan dorongan kepada individu-individu dan kelompok-kelompok untuk mencapai tujuan yang dikehendaki”. 8 . Kepribadian sendiri dan wataknya yang khas. seorang pimpinan harus berusaha memahami watak dan kondisi bawahannya serta situasi untuk selanjutnya membutuhkan metode dan gaya yang tepat dan situasi untuk mengembangkannya. oleh karena itu dapat dikatakan bahwa kepemimpianan adalah inti dari manajemen. Keberhasilan atau kegagalan dalam organisasi sebagian besar ditentukan oleh bagaimana gaya yang diterapkan kepemimpinan seseorang tersebut. Kepemimpinan memegang peranan penting dalam manajemen. Pemimpin mempunyai sifat.bertindak sedemikian rupa sehingga melalui prilaku yang positif ia memberikan sumbangsih nyata dalam pencapaian tujuan organisasi”. Thoha (1995:265) mengatakan “gaya atau style kepemimpinan yang banyak mempengaruhi keberhasilan seorang pemimpin dalam mempengaruhi perilaku pengikut-pengikutnya dan Istilah gaya secara kasar adalah sama dengan cara yang dipergunakan pemimpin didalam mempengaruhi para pengikutnya”. Inti disini dapat diartikan bahwa kepemimpinan merupakan motor penggerak bagi sumber-sumber dan alat-alat yang terdapat dalam organisasi. kepemimpinan merupakan seni mempengaruhi perilaku manusia dan kemampuan mengendalikan orang-orang dalam organisasi agar supaya perilaku mereka sesuai dengan perilaku yang diinginkan pemimpin organisasi.

Tidak bisa mengontrol anak buahnya b. Menghendaki kepatuhan mutlak dari bawahannya c. Tidak mau melaksanakan koordinasi kerja dan tidak berdaya untuk menciptakan suasana kerja yang kooperatif 6. Tidak ada kompromi. Dengan ciri – cirinya adalah: a. Keras dan otoriter. Menuntut adanya sikap disiplin keras. dan kritik dari bawahan e. Dengan ciri – cirinya adalah: a. Gaya hidupnya itu akan mewarnai prilaku dan kepemimpinannya. Daya tarik dan pembawaan yang luar biasa untuk mempengaruhi orang lain 2. Kaku dan kurang bijaksana b. Jarang memberikan bawahan untuk mengambil keputusan sendiri/ inisiatif e. Type Kharismatik.usul. Type Populistik.sehingga tingkah laku dan gayanya yang dapat membedakan dirinya dengan orang lain. Mempunyai keberanian yang tinggi c. Komunikasi hanya searah 4. Type Otokratis Dengan ciri – cirinya: a. Menganggap bawahan sebagai alat semata – mata b. dengan ciri – cirinya adalah: a. Lebih banyak menggunakan cara perintah terhadap bawahan. Berkeyakinan teguh pada pendirian sendiri d. Atau anak kecil yang selalu di kembangkan b. Bersikap terlalu melindungi c. Menganggap organisasi sebagai milik pribadi c. Tipe atau gaya kepemimpinan itu ada 8 (delapan) yaitu: 1. Dapat membangunkan solidaritas rakyat 9 . Type Laizess Faire. Tidak memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengembangkan imajinasi dan daya kreatifitas bawahan 3. Menganggap bawahan sebagai manusia yang belum dewasa. Mengidentikan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi e. Dengan ciri – cirinya adalah: a. Berpegang teguh pada nilai – nilai masyarakat yang tradisional b. Bersikap selalu mahu tau dan maha besar d. Type Militeristik. Sering menggunakan paksaan untuk menggerakkan bawahan 5. Type paternalistic. saran. Sangat menyenangi formalitas yang berlebihan d. Tidak mempunyai kewajiban c. Banyak memiliki aspirasi b. Terlalu tergantung kepada kekuasaan formalitas d. Memiliki kekuatan energi. Berdasarkan pendapat Wahjosoemidjo (1989:74-75). dengan ciri – cirinya adalah: a.

3. Adanya koordinasi pada semua bawahan e. Katz. Mau mendengan saran.S Moenir (1992:117). Dapat memberikan motifasi yng baik c. “bahwa kemampuan dasar yang dimiliki bersifat kemampuan tekhnik. Type Administratif atau Eksekutif. maka gaya kepemimpinan memegang peranan penting sebagaimana di kemukakan oleh Thoha (2001:49) “gaya kepemimpinan adalah norma perilaku yang digunakan oleh seseorang pada saat orang tersebut mempengaruhi perilaku orang lain”. Bermutu tinggi dan dapat mempunyai pandangan yang jauh 8. kemampuan bersifat manusiawi. seperti yang dikutip oleh A. Berorientasi kepada bawahan Mendasarkan komunikasi Menerapkan hubungan atau tata hubungan yang mendukung Berkaitan dengan hal ini kemampuan dasar tersebut menurut Robert R. Type Demokratis. Nasehat. seorang pemimpin akan berhasil jika: 1.7. Menghargai potensi setiap individu atau bawahan d. Mengakui keahlian yang di miliki oleh bawahannya Untuk melaksanakan syarat-syarat kepemimpinan tersebut dalam suatu organisasi. Kartono (1994:62-63) menyatakan bahwa kepemimpinan adalah sebagai berikut: 10 . Dengan ciri – cirinya adalah: a. Memberikan bimbingan yang efisien kepada bawahan b. Mampu menyelenggarakan tugas – tugas administrasi secara efektif b. dan kemapuan membuat konsepsi”. Menurut Likert yang dikutip oleh Thoha (1995:275) dalam menerapkan gaya kepemimpinan. Dari pendapat mengenai gaya kepemimpinan di atas jelas gaya kepemimpinan dapat mempengaruhi bawahan atau pegawainya. Dengan ciri – cirinya adalah: a. 2. Usul dan kritikan c.

Gaya kepemimpinan seseorang dapat dilihat dari indikator-indikator sebagai berikut: 11 . Berdasarkan penjelasan tersebut maka dapat dikatakan bahwa kepemimpinan merupakan suatu dominasi yang didasari oleh gaya kepribadianseseorang. keterampilan diskusi dan lainnya”. yaitu: melingkupi konsep-konsep pemikiran. agar diperoleh pemahaman yang sama dan mudah. kebutuhan dan motivasi (manusia). kemampuan pengambilan keputusan . Adapun fungsi dari konsep operasional ini adalah alat untuk mengidentifikasi yang diobservasi dengan jalur logika atau penalaran yang digunakan oleh peneliti untuk menerangkan antar fenomena yang dikaji.“Kemampuan dan keterampilan teknis serta sosial pemimpin dalam menerapkan teori-teori kepemimpinan pada paraktek kehidupan serta praktek organisasi. komunikasi. Konsep teori yang di uraikan dan dirumuskan dalam variabel hipotesa perlu dioperasionalkan. dinamika kelompok. dan yang termasuk dalam kategori teknik kepemimpinan ini antara lain: etika profesi. Konsep Operasional penelitian kemudian dioperasionalkan operasional dengan menurut Variable-variabel menggunakan pengukuran-pengukuran. Definisi Singarimbun (1989:42) adalah “unsur penelitian yang memberitahukan caranya mengukur suatu variabel”. Gaya kepemimpinan adalah suatu cara yang dipergunakan dan ditunjukkan oleh seseorang dalam mempengaruhi perilaku orang lain yang berdorientasi pada bawahan serta mendasarkan pada komunikasi yang digunakan pada bawahan jugu selalu menerapkan hubungan atau tata hubungan yang mendukung pada bawahan. yaitu mampu mendorong dan mengajak orang lain untuk berbuat sesuatu guna mencapai tujuan bersama E. perilaku sehari-hari dan semua peralatan yang dipakai. Selanjutnya konsep gaya kepemimpinan menurut Thoha (1995:49).

Penyampain informasi dengan segera C. Perhatian Atasan 2. Kejelasan informasi 2. Berorientasi pada bawahan yaitu pemimpin harus dapat memperhatikan apa yang menjadi keluhan bawahan maupun apa yang harus dijalankan perintahnya oleh bawahan. Sering Memberikan Perintah B. Penyampain informasi dengan segera. Menerapkan hubungan atau tata hubungan yang mendukung Ialah pemimpin dan bawahan harus saling berinteraksi didalam menjalankan tugas maupun fungsi organisasi untuk tercapainya hubungan yang kondusif serta menciptakan suasan kekeluragaan dan sikap ucapan yang baik. Upaya tersebut dapat dilihat dari: 1. Mendasarkan komunikasi Yaitu pemimpin harus dapat berkomunikasi dengan baik terhadap bawahan didalam menyampaikan instruksi-instruksi atau perintah-perintah didalam bekerja seperti kejelasan dan kelengkapan isi informasi. upaya tersebut dapat dilihat dari: 1. Upaya ini dapat dilihat: 1.A. Menjalankan tugas secara bersamaan 12 . Keluhan bawahan 3.

Jenis Penelitian Penelitian yang dilakukan bersifat Diskriptif kuantitatif. sedangkan bentuk negatif diberikan nilai atau point 0 (nol) = b. 13 . “setuju-tidak setuju”. baik satu variabel atau lebih tanpa membuat perbandingan atau menghubungkan antara satu variabel dengan variabel yang lain. Dalam skala ini dapat dibuat skor tertinggi. bentuk atau skala pengukuran yang peneliti gunakan adalah skala Guttman. Metode Penelitian 1. Ini ditambahkan Sugiyono (2005:110) yang mengatakan. yaitu “ya-tidak”. serta dapat dimisalkan: a. bahwa skala Guttman bertipe untuk mendapatkan jawaban yang tegas dari suatu permasalahan. yaitu menggambarkan dan mencari informasi tentang Penerapan Gaya Kepemimpinana di Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Lingga. yaitu 1 (satu) dan terendah yaitu 0 (nol). Menurut Sugiono (2005:11) Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui variabel mandiri. yaitu bentuk positif dan negatif. yang mana skala Guttman sangat jelas dan mudah. “tinggi-rendah”. Point 1 (satu) = ya / setuju / cepat / tinggi Point 0 (nol) = tidak / tidak setuju / lambat / rendah F. Selanjutnya Sugiono (2005:14) “Data Kualitatif adalah data yang berbentuk kata. kalimat. dan lain-lain.2. Kemudian bentuk positif diberikan nilai atau point 1 (satu) = a. Sikap ucapan yang baik pada bawahan Selanjutnya. Menciptakan suasan kekeluragaan 3. serta membedakan dan mempunyai 2 (dua) kriteria. b.

Dalam penelitian ini. Untuk mencapai visi dan misi pemerintahan yang bersih dan berwibawa. 2. 3. pimpinan harus menunjukkan suatu gaya yang dapat mempengaruhi ataupun menerapkan bawahannya untuk dapat bekerja lebih baik. b. Populasi dan Sampel a. yaitu bagaimana penerapan gaya kepemimpinana di Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Lingga.skema dan gambar”. Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian. Dalam penelitian ini populasi 14 . kenyamanan dan ketertiban untuk kearah tujuan yang lebih sempurna dalam pembangunan wilayah pemekaran daerah Kabupaten Lingga sendiri. alasan mengambil penelitian disini adalah: a. Dalam melaksanaan tugas pokok dan fungsinya sangat memerlukan gaya kepemimpinana dalam rangka keamanan. Populasi Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh penelitian untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. ketentraman. maka penelitiannya merupakan penelitian populasi”. Menurut Arikunto (2006:130) “Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan pada Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Lingga. Maka yang di maksudkan dengan mencari informasi yang seluas-luasnya adalah untuk mengungkapkan berbagai fenomena yang berkaitan dengan masalah penelitian.

maka jumlah banyaknya sampel yang di ambil berdasarkan rumus Slovin. Dalam buku lain teknik pengambilan sampel ini dikenal dengan Accidental Sampling. dan Geurrero (Umar. Dalam penelitian ini. Maka dalam penelitian ini di karenakan jumlah populasi terlalu besar dan tidak mungkin untuk menelitinya semua. b. sebagaimana menurut pendapat Poguso. menurut pendapat Sukardi (2007:63-64) Accidental Sampling adalah “Teknik dikatakan secara kebetulan karena peneliti memang dengan sengaja memilih sampel kepada siapa pun yang ditemuinya (by accidental) pada tempat. bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data”. rumus tersebut sebagai berikut: 15 . Dan pengambilan sampelnya berdasarkan Sampling insidental. waktu dan cara yang telah ditentukan”. sebagaimana menurut Sugiyono (2004:96). yaitu siapa saja yang secara kebetulan/ incidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel. Garcia. Sampel Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi dan merupakan subjek dari populasi. dimana menurut Sugiyono (2004:95) Nonprobabilitas sampling adalah “Teknik pengambilan sampel yang tidak memberikan peluang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel”. 2003:120). “Adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan. teknik sampling yang peneliti gunakan adalah Nonprobabilitas sampling.terdiri dari Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Lingga yang berjumlah 138 orang.

2. pada halaman berikutnya. Dengan mengacu pendapat yang dikemukakan oleh Poguso. sebagaimana yang di jelaskan pada tabel 1. dan Geurrero (Umar. maka dapat ditentukan jumlah sampel yang akan digunakan dengan berdasarkan batas-batas kesalahan yang dapat ditolerir serta berdasar pada jumlah populasi yang telah diketahui.N n = 1 + N e2 di mana: n = ukuran sampel N = ukuran populasi e = kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan sampel yang dapat ditolerir. 16 . 2003:121). Garcia.

2 dari pendapat Paguso. dan Geurrero (Umar. Garcia. 2003:121).2 Ukuran sampel untuk batas-batas kesalahan dan jumlah populasi yang ditetapkan Populasi 500 1500 2500 3000 4000 5000 6000 7000 8000 9000 10000 50000 ± 1% * * * * * * * * * * 5000 8333 ± 2% * * 1250 1364 1538 1667 1765 1842 1905 1957 2000 2381 Batas-batas kesalahan ± 3% * 638 769 811 870 909 938 959 976 989 1000 1087 ± 4% * 441 500 517 541 556 566 574 580 584 588 617 ± 5% 222 316 345 353 364 370 375 378 381 383 385 387 ± 10% 83 94 96 97 98 98 98 99 99 99 99 100 Sumber : Paguso. Berkenaan dengan keterbatasan waktu dan biaya maka batas-batas kesalahan yang ditolerir hanya pada tingkat 10% saja yang peneliti gunakan. dan Guerrero. Dengan demikian jumlah sampel penelitian ini jika dihitung adalah sebagai berikut: 17 . Garcia. hal ini mengacu pada tabel 1. dengan artian bahwa 90% tingkat keakuratan data telah mewakili seluruh jumlah populasi.Tabel 1.

Data Sekunder Yaitu data pendukung yang melengkapi data primer. Sumber dan Jenis Data Guna memperoleh data-data dan informasi yang berhubungan dengan permasalahan pada penelitian ini.n = 138 1 + (138 x 10%2) 138 1 + (138 x 0. Kemudian data dikumpulkan. yang diperoleh melalui dokumen-dokumen atau laporan tertulis. b.38 138 2. 4. seperti data tentang gambaran objek penelitian dan sebagainya.99 n = n = n = n = n = 58 Jadi banyaknya sampel dalam penelitian ini berjumlah 58 orang. Data Primer Yaitu data yang diperoleh langsung dari responden yang menjadi sasaran penelitian.01) 138 1 + 1.38 57. 18 . yaitu: a. maka dalam pelaksanaannya data dan informasi yang diperoleh akan dikelompokkan menjadi dua macam. akan diklasifikasikan sesuai kebutuhan penelitian.

yaitu setelah data-data yang di perlukan terkumpul lalu di lakukan proses editing yaitu mengecek keabsahan data dan kesempurnaan data. seterusnya dilakukan coding. Alat yang digunakan adalah angket. 6. 19 . Kemudian di buat interval untuk mencari tingkat rata-rata dari indikator-indikator. Selanjutnya dilakukan pengelompokan berdasarkan kategori-kategori tertentu. Observasi Pada penelitian ini peneliti melakukan pengumpulan data dengan cara melakukan observasi di objek penelitian. Teknik dan Alat Pengumpulan Data a. lalu disusun dalam tabel-tabel frekwensi yang di jelaskan secara kualitatif. dimana dapat dijelaskan bahwa peneliti melihat secara langsung dan peneliti mengumpulkan data dengan cara menyusun daftar ceklist berdasarkan data yang ditemui khsususnya yang berhubungan dengan Penerapan Gaya Kepemimpinan Pada Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Lingga. Kuesioner Teknik kuesioner yaitu mengumpulkan data dengan memberikan daftar pertanyaan kepada responden dengan mengunakan daftar pertanyaan dari setiap indikator yang ada. b. yaitu memberikan kodekode tertentu sekaligus memberikan skor dengan menggunakan Skala Guttman untuk mendapatkan suatu jawaban yang tegas terhadap suatu permasalahan yang dinyatakan.5. Teknik Analisa Data Analisa data di lakukan secara deskriptif.

Menerapkan hubungan atau tata hubungan yang mendukung. BAB II GAMBARAN UMUM Uraian dalam bab ini mencakup gambaran umum Pada Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Lingga. Mendasarkan komunikasi. perumusan masalah. kondisi kepegawaian.G. maka pembahasan akandisajikan dengan sistematika penulisan sebagai berikut: BAB I PENDAHULUAN Dalam bab ini berisikan uraia mengenai latar belakang. metode penelitian dan sistematika penulisan. BAB IV PENUTUP Dalam Bab ini memuat kesimpulan dan saran tentang Penerapan Gaya Kepemimpinan Pada Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Lingga. yang indikatornya terdiri dari berorientasi kepada bawahan. 20 . Sistematika Penulisan Guna memperoleh hubungan yang menyeluruh serta selaras dengan tujuan penelitian. sarana fisik dan non fisik di Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Lingga BAB III PENERAPAN GAYA KEPEMIMPINAN PADA SATUAN POLISI PAMONG PRAJA KABUPATEN LINGGA Dalam bab ini akan diuraikan Penerapan Gaya Kepemimpinan Pada Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Lingga dengan variabel: gaya kepemimpinan. tata kerja. tujuan dan kegunaan penelitian. konsep operasional. tingkat pendidikan. kerangka teori. yang meliputi: struktur organisasi.

Kepemimpinan Administrasi. 1989. Gunung Agung: Jakarta.1. 1990. Bandung: PT..1995. Jakarta: LP3ES. ………………………. Pengantar. 2006. Kepemimpinan Manajemen. T. Azas-azas manajemen. Manajemen Sumber Daya Manusia. “Manajemen Pelayanan Umum Di Indonesia”. Jakarta: Rineka Cipta. Rajawali Moenir. Jakarta: CV. Bina Aksara. “Bunga Rampai Management Modern”. 1992. Masri dan Sofian Efendi.1994. Dan Perilaku Singarimbun. Jakarta: Gunung Agung. ………………………. 1992. Kompetensi dan Praktiknya. P. Kartono. “Administrasi Pembangunan”. 7. 1983. 21 . Jakarta: PT. Jakarta: Bumi Aksara. Goerge R. Cet. Muhammad. Karjadi. 2005. Gunung Agung. A. Sukardi. Suharsimi. Terry.1997. Arni. Raka Joni – Ed. Metodologi Penelitian Pendidikan. Komunikasi Organisasi. Abi. Bumi Aksara: Jakarta ………………………. Rajawali Pers:Jakarta. Metode Penelitian Administrasi. 2005. Kepemimpinan Pemerintah di Indonesia. Alfabeta. Cetakan Ketujuh. Alumni. S. 2005. Jakarta: PT. Pemimpin Dan Kepemimpinan. Organisasi. Jakarta: Bumi Aksara.DAFTAR PUSTAKA BUKU-BUKU : Arikunto. Bandung.1991. Bandung: CV. Sondang. Jakarta: Bumi Aksara. Sujak. “Metode Penelitian Survei”. 1986. Sugiyono.. Kartini. Pamudji. Nusantara. Kepemimpinan (leadership).1992. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Siagian.

Jakarta: PT. “perilaku organisasi”. Kenneth Dan Garry. Jakarta: Prenhallindo. Widjaya. AW. 2003. 1985. 1996.Tjokroamidjoyo. Pengantar Administrasi Pembangunan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. 22 . Jakarta: PT. Miftah. “Kepemimpinan Dalam Organisasi”. Raja Grafindo Persada. …………………1995. Jakarta: Akademica Pressendo. 2001. Husein. Yukl. Gary. Jakarta: LP3ES Thoha. Bintoro. “Peranan Motivasi Dalam Kepemimpinan”. “Kepemimpinan Dalam Manajemen”. 2000. Perilaku Organisasi. Umar. Raja Grafindo Persada.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->