AKHMAD SUDRAJAT : LET'S TALK ABOUT EDUCATION !

• • • • • • ○ • ○ •
 ○ •
∞0∞The Site is Dedicated to My Daughters and Education === Makalah, Artikel, Opini dan Berita Pendidikan ∞0∞

Beranda About Me Opini Anda Forum Konselor Forum Pengawas Links Downloads Kuliah
Top of Form

Bottom of Form

Beranda > manajemen pendidikan > Hakikat Pengawasan Sekolah

Hakikat Pengawasan Sekolah
4 April 2008AKHMAD SUDRAJATTinggalkan komentarGo to comments

Diambil dari : Nana Sudjana, dkk. 2006. Standar Mutu Pengawas. Jakarta: Depdiknas

Ketika perencanaan pendidikan dikerjakan dan struktur organisasi persekolahannyapun disusun guna memfasilitasi perwujudan tujuan pendidikan, serta para anggota organisasi, pegawai atau karyawan dipimpin dan dimotivasi untuk men sukseskan pencapaian tujuan, tidak dijamin selamanya bahwa semua kegiatan akan berlangsung sebagaimana yang direncana kan. Pengawasan sekolah itu penting karena merupa kan mata rantai terakhir dan kunci dari proses manajemen. Kunci penting dari proses manajemen sekolah yaitu nilai fungsi pengawasan sekolah terletak terutama pada hubung an nya terhadap pe rencana an dan kegiatan-kegiatan yang didelegasikan (Robbins 1997). Holmes (t. th.) menyatakan bahwa ‘School Inspection is an extremely useful guide for all teachers facing an Ofsted inspection. It answers many important questions about preparation for inspection, the logistics of inspection itself and what is expected of schools and teachers after the event’. Pengawasan dapat diartikan sebagai proses kegiatan monitoring untuk meyakinkan bahwa semua kegiatan organisasi terlaksana seperti yang direncanakan dan sekaligus juga merupakan kegiatan untuk mengoreksi dan memperbaiki bila ditemukan adanya penyimpangan yang akan mengganggu pencapaian tujuan (Robbins 1997). Pengawasan juga merupakan fungsi manajemen yang diperlukan untuk mengevaluasi kinerja organisasi atau unit-unit dalam suatu organisasi guna menetapkan kemajuan sesuai dengan arah yang dikehendaki (Wagner dan Hollenbeck dalam Mantja 2001). Oleh karena itu mudah dipahami bahwa pengawasan pendidikan adalah fungsimanajemen pendidikan yang harus diaktualisasikan, seperti halnya fungsi manajemen lainnya (Mantja 2001). Berdasarkan konsep tersebut, maka proses perencanaan yang mendahului kegiatan pengawasan harus dikerjakan terlebih dahulu. Perencanaan yang dimaksudkan mencakup perencanaan: pengorganisasian, wadah,

bimbingan dan konseling. sarana dan prasarana.struktur. organisasi sekolah. penilaian/evaluasi. Pengawas satuan pendidikan/sekolah adalah pejabat fungsional yang berkedudukan sebagai pelaksana teknis untuk melakukan pengawasan pendidikan terhadap sejumlah sekolah tertentu yang ditunjuk/ditetapkan dalam upaya meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar/bimbingan untuk mencapai tujuan pendidikan (Pandong. Ini berarti melalui pengawasan harus terlihat dampaknya terhadap kinerja sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikannya. kualitas guru. sistem pencatatan. Bantuan yang diberikan kepada guru harus berdasarkan penelitian atau pengamatan yang cermat dan penilaian yang objektif serta mendalam dengan acuan perencanan program pembelajaran yang telah dibuat. Laboran dan Teknisi. Dalam satu kabupaten/kota. Sedangkan kegiatan pembinaan dilakukan dalam bentuk memberikan arahan. proses pembelajaran. pengawas sekolah dikoordinasikan dan dipimpin oleh seorang koordinator pengawas (Korwas) sekolah/ satuan pendidikan (Muid. Jadi bantuan yang diberikan itu harus mampu memperbaiki dan mengembangkan situasi belajar mengajar. Burhanuddin (1990:284) memperjelas hakikat pengawasan pendidikan pada hakikat substansinya. kualitas program kegiatan sekolah dalam memenuhi kebutuhan dan minat siswa. Dalam bidang kependidikan dinamakan pengawas sekolah atau pengawas satuan pendidikan. pengelolaan sekolah. Lebih lanjut Ofsted (2005) menyatakan bahwa fokus pengawasan sekolah meliputi: (1) standard dan prestasi yang diraih siswa. baik secara individu maupun secara kelompok dalam usaha memperbaiki kualitas proses dan hasil pembelajaran. (2) kualitas layanan siswa di sekolah (efektifitas belajar mengajar. Substansi hakikat pengawasan yang dimaksud menunjuk pada segenap upaya bantuan supervisor kepada stakeholder pendidikan terutama guru yang ditujukan pada perbaikan-perbaikan dan pembinaan aspek pembelajaran. sehingga bantuan yang diberikan benar-benar tepat sasaran. staf sekolah (Tenaga Administrasi. administrasi dan manajemen. Sahertian (2000:19) menegaskan bahwa pengawasan atau supervisi pendidikan tidak lain dari usaha memberikan layanan kepada stakeholder pendidikan. Penilaian itu dilakukan untuk penentuan derajat kualitas berdasarkan kriteria (tolak ukur) yang ditetapkan terhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah. A. implementasi kurikulum. 2003). Atas dasar itu maka kegiatan pengawasan harus difokuskan pada perilaku dan perkembangan siswa sebagai bagian penting dari: kurikulum/mata pelajaran. Dalam proses pendidikan. Tenaga Perpustakaan). Seseorang yang diberi tugas tersebut disebut pengawas atau supervisor. Itulah sebabnya kehadiran . 2003). terutama kepada guru-guru. serta (3) kepemimpinan dan manajemen sekolah. Aktivitas pengawas sekolah selanjutnya adalah menilai dan membina penyelenggaraan pendidikan pada sejumlah satuan pendidikan/sekolah tertentu baik negeri maupun swasta yang menjadi tanggung jawabnya. Proses bantuan yang diorientasikan pada upaya peningkatan kualitas proses dan hasil belajar itu penting. kepala sekolah. Pengawasan perlu dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan secara berke sinambung an pada sekolah yang diawasinya. kebutuhan khusus. fungsi dan mekanisme. kualitas belajar mengajar. tanggung jawab dan wewenang melakukan pembinaan dan penilaian terhadap orang dan atau lembaga yang dibinanya. pengawasan atau supervisi merupakan bagian tidak terpisahkan dalam upaya peningkatan prestasi belajar dan mutu sekolah. Dari uraian di atas dapat dimaknai bahwa kepengawasan merupakan kegiatan atau tindakan pengawasan dari seseorang yang diberi tugas. sehingga perencanaan dan pengawasan memiliki standard dan tujuan yang jelas. kualitas bimbingan siswa). Dengan menyadari pentingnya upaya peningkatan mutu dan efektifitas sekolah dapat (dan memang tepat) dilakukan melalui pengawasan. Indikator peningkatan mutu pendidikan di sekolah dilihat pada setiap komponen pendidikan antara lain: mutu lulusan. saran dan bimbingan (Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 020/U/1998 tanggal 6 Februari 1998). sistem penilaian dan komponen-lainnya. peran dan tanggung jawab orang tua dan masyarakat (Law dan Glover 2000).

Oleh karena itu. 4. Dimensi ini menunjuk pada hakikat kegiatan pengawasan yang dilakukan oleh supervisor itu harus mampu memberikan tantangan (challenge) pengembangan sekolah kepada stakeholderpendidikan di sekolah. tersebut tampak bahwa hakikat pengawas an memiliki empat dimensi: (1) Support. Dari visualisasi Gambar 1.pengawas sekolah harus menjadi bagian integral dalam peningkatan mutu pendidikan. 3. Gambar 1.Dimensi ini menunjuk pada hakikat kegiatan pengawasan yang dilakukan oleh supervisor itu harus mampu mengembangkan jejaring dan berkolaborasi antar stakeholder pen didikan dalam rangka meningkatkan produktivitas. kelemahan dan potensi serta peluang sekolahnya untuk mendukung peningkatan dan pengembangan mutu pendidikan pada sekolah di masa yang akan datang. Dimensi keempat dari hakikat pengawasan yaitu dimensi Net work ing and Collaboration. supervisor bersama pihak sekolah dapat melakukan analisis kekuatan. Dimensi kedua dari hakikat pengawasan yaitu dimensi Trust. (2) Trust. 2003 1. Hakikat Pengawasan diadopsi dari Ofsted. Dimensi ini menunjuk pada hakikat kegiatan pengawasan yang dilakukan oleh supervisor itu harus mampu mendukung (support kepada) pihak sekolah untuk mengevaluasi diri kondisiexisting-nya. Tantangan ini harus dibuat serealistik mungkin agar dapat dan mampu dicapai oleh pihak sekolah. Dimensi ini menunjuk pada hakikat kegiatan pengawasan yang dilakukan oleh supervisor itu harus mampu membina kepercayaan (trust) stakeholder pendidikan dengan peng gambaran profil dinamika sekolah masa depan yang lebih baik dan lebih menjanjikan. Keempat dimensi hakikat pengawasan itu masing-masing dijelaskan berikut ini. efektivitas dan efisiensi pendidikan di sekolah. berdasarkan pada situasi dan kondisi sekolah pada sat ini. kepala sekolah dan staf sekolah lainnya berkolaborasi membina dan mengembangkan mutu pendidikan di sekolah yang ber sangkutan seoptimal mungkin sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Fokus dari keempat dimensi hakikat pengawasan itu dirumuskan dalam tiga aktivitas utama pengawasan yaitu: negosiasi. 2. Dimensi ketiga dari hakikat pengawasan yaitu dimensi Challenge. Negosiasi dilakukan . Kiprah supervisor menjadi bagian integral dalam peningkat an mutu pendidikan di sekolah yang dimaksud dapat dijelaskan dalam visualisasi Gambar 1 tentang Hakikat Pengawasan. agar bersama guru. kolaborasi dan networking. Dengan demikian stakeholder tertantang untuk bekerjasama secara kolaboratif dalam rangka pengembangan mutu sekolah. Dimensi pertama dari hakikat pengawasan yaitu dimensi Support. (3) Challenge. dan (4) Net work ing and Collaboration.

Networking dan Collaborating. Kolaborasi merupakan inti kegiatan supervisi yang harus selalu diadakan kegiatan bersama dengan pihak stakeholder pendidikan di sekolah binaannya. misalnya melalui MKP. artinya seluruh aktivitas pengawasan pada hakikatnya merupakan dukungan terhadap upaya sekolah menggalang jejaring kerja sama secara kolaboratif dengan seluruh stakeholder. Membandingkan hasil tampilan performansi itu dengan ukuran dan kriteria/benchmark yang telah direncanakan. 5. setidak-tidaknya pernah menjadi guru. maupun dengan sekolah pada jenjang pendidikan di atasnya sebagai lembaga yang akan menerima para siswa lulusannya. menganalisis kekuatan/potensi dan prospek pengembangan sekolah sebagai bahan untuk menyusun program pengembangan mutu dan kinerja sekolah binaannya. Berdasarkan ketentuan yang berlaku saat ini pengawas sekolah atau pengawas satuan pendidikan adalah tenaga kependidikan profesional yang diberi tugas. MGMP. Jabatan pengawas adalah jabatan fungsional bukan jabatan struktural sehingga untuk menyandang predikat sebagai pengawas harus sudah berstatus tenaga pendidik/guru dan atau kepala sekolah/wakil kepala sekolah. artinya kegiatan pengawasan dilaksanakan dalam pola hubungan kepercayaan antara pihak sekolah dengan pihak pengawas sekolah sehingga hasil pengawasannya dapat dipercaya Realistic. 4. tanggung jawab. Supporting. artinya proses dan hasil pengawasan harus bermuara pada manfaat bagi sekolah untuk mengembangkan mutu dan kinerja sekolah binaannya. 3. Untuk itu maka pengawas harus mendampingi pelaksanaan dan pengembangan program-program inovasi sekolah. ada sejumlah prinsip yang dapat dilaksanakan pengawas agar kegiatan kepengawasan berjalan efektif. Utility. MGBS. Dalam melaksanakan kepengawasan. Networking merupakan inti hakikat kegiatan supervisi yang prospektif untuk dikembangkan terutama pada era globalisasi dan cybernet teknologi seperti sekarang ini. Ketiga langkah tersebut adalah : Menetapkan standar/kriteria pengukuran performansi sekolah (berdasarkan evaluasi diri dari sekolah). Berdasarkan rumusan di atas maka kepengawasan adalah aktivitas profesional pengawas dalam rangka membantu sekolah binaannya melalui penilaian dan pembinaan yang terencana dan berkesinambungan. artinya hasil pengawasan harus mampu meng gambarkan kondisi kebenaran objektif dan siap diuji ulang atau dikonfirmasi pihak manapun. Prinsip-prinsip tersebut antara lain: Trust. Melakukan tindakan pengawasan yang berupa pembina an/pendampingan untuk memperbaiki implementasi program pengembangan sekolah. 4. 1. 2. dan wewenang secara penuh oleh pejabat yang berwewenang untuk melakukan pembinaan dan pengawasan pendidikan di sekolah baik pengawasan dalam bidang akademik (teknis pendidikan) maupun bidang manajerial (pengelolaan sekolah). 3. Hal ini penting karena muara untuk terjadinya peningkatan mutu pendidikan ada pada pihak sekolah. Pembinaan diawali dengan mengidentifikasi dan mengenali kelemahan sekolah binaannya. Jejaring kerjasama dapat dilakukan baik secara horisontal maupun vertikal. 2. Jejaring kerjasama secara vertikal dilakukan baik dengan sekolah pada aras dibawahnya sebagai pemasok siswa barunya. guna menyusun program pengembangan sekolah. MKKS. oleh supervisor terhadap stakeholder pendidikan dengan fokus pada substansi apa yang dapat dan perlu dikembangkan atau ditingkatkan serta bagaimana cara meningkatkannya. Testable. Ada tiga langkah yang harus ditempuh pengawas dalam menyusun program kerja pengawas agar dapat membantu sekolah mengembangkan program inovasi sekolah. Jejaring kerjasama secara horisontal dilakukan dengan sesama sekolah sejenis untuk saling bertukar informasi dan sharing pengalaman pengembangan mutu sekolah. . artinya kegiatan pengawasan dan pembinaannya dilaksanakan berdasarkan data eksisting sekolah.1.

Pengawas satuan pendidikan memiliki pengabdian yang tinggi dalam menekuni tugas pokok dan fungsinya sebagai pengawas. 5. 6. Kode etik yang dimaksud minimal berisi sembilan hal berikut ini. Pengawas satuan pendidikan menjaga citra dan nama baik profesi pengawas. dkk. Dalam melaksanakan tugasnya. baik terhadap stakeholder sekolah binaannya maupun terhadap koleganya.1. Artikel. Pengawas satuan pendidikan bekerja dengan penuh rasa tanggungjawab dalam melaksanakan tugas profesinya sebagai pengawas. Dengan demikian kehadiran pengawas di sekolah bukan untuk mencari kesalahan sebagai dasar untuk memberi hukuman akan tetapi harus menjadi mitra sekolah dalam membina dan me ngembangkan mutu pendidikan di sekolah sehingga secara bertahap kinerja sekolah semakin meningkat menuju tercapainya sekolah yang efektif. 2. Prinsip-prinsip kepengawasan itu harus dilaksanakan dengan tetap memperhatikan kode etik pengawas satuan pendidikan. Jakarta: Depdiknas . Pengawas satuan pendidikan mampu menampilkan keberadaan dirinya sebagai supervisor profesional dan tokoh yang diteladani. 2006. Pengawas satuan pendidikan menjunjung tinggi disiplin dan etos kerja dalam melaksanakan tugas profresional pengawas. Opini dan Berita Pendidikan ∞0∞ Beranda About Me Opini Anda Forum Konselor Forum Pengawas Links Downloads Kuliah Top of Form Bottom of Form Beranda > manajemen pendidikan > Hakikat Pengawasan Sekolah Hakikat Pengawasan Sekolah 4 April 2008AKHMAD SUDRAJATTinggalkan komentarGo to comments Diambil dari : Nana Sudjana. 4. Prinsip-prinsip di atas digunakan pengawas dalam rangka melaksanakan tugas pokoknya sebagai seorang pengawas/ supervisor pendidikan pada sekolah yang dibinanya. Pengawas satuan pendidikan senantiasa merasa bangga dalam mengemban tugas sebagai pengawas. 7. Standar Mutu Pengawas. 9. pengawas satuan pendidikan senantiasa berlandaskan Iman dan Taqwa serta mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pengawas satuan pendidikan sigap dan terampil dalam menanggapi dan membantu pemecahan masalah-masalah yang dihadapi stakeholder sekolah binaannya Pengawas satuan pendidikan memiliki rasa kesetiakawan an sosial yang tinggi. 3. 8. AKHMAD SUDRAJAT : LET'S TALK ABOUT EDUCATION ! • • • • • • ○ • ○ • ○  • ∞0∞The Site is Dedicated to My Daughters and Education === Makalah.

Berdasarkan konsep tersebut. struktur. tidak dijamin selamanya bahwa semua kegiatan akan berlangsung sebagaimana yang direncana kan. Dalam proses pendidikan. Oleh karena itu mudah dipahami bahwa pengawasan pendidikan adalah fungsimanajemen pendidikan yang harus diaktualisasikan. pegawai atau karyawan dipimpin dan dimotivasi untuk men sukseskan pencapaian tujuan. Pengawasan juga merupakan fungsi manajemen yang diperlukan untuk mengevaluasi kinerja organisasi atau unit-unit dalam suatu organisasi guna menetapkan kemajuan sesuai dengan arah yang dikehendaki (Wagner dan Hollenbeck dalam Mantja 2001). Dalam satu kabupaten/kota. It answers many important questions about preparation for inspection. Perencanaan yang dimaksudkan mencakup perencanaan: pengorganisasian. 2003). Bantuan yang diberikan kepada guru harus berdasarkan penelitian atau pengamatan yang cermat dan penilaian yang objektif serta mendalam dengan acuan perencanan program pembelajaran yang telah dibuat. sehingga bantuan yang diberikan benar-benar tepat sasaran. pengawas sekolah dikoordinasikan dan dipimpin oleh seorang koordinator pengawas (Korwas) sekolah/ satuan pendidikan (Muid. Pengawasan dapat diartikan sebagai proses kegiatan monitoring untuk meyakinkan bahwa semua kegiatan organisasi terlaksana seperti yang direncanakan dan sekaligus juga merupakan kegiatan untuk mengoreksi dan memperbaiki bila ditemukan adanya penyimpangan yang akan mengganggu pencapaian tujuan (Robbins 1997). A. th. Proses bantuan yang diorientasikan pada upaya peningkatan kualitas proses dan hasil belajar itu penting. wadah. Sahertian (2000:19) menegaskan bahwa pengawasan atau supervisi pendidikan tidak lain dari usaha memberikan layanan kepada stakeholder pendidikan. terutama kepada guru-guru. fungsi dan mekanisme. seperti halnya fungsi manajemen lainnya (Mantja 2001). maka proses perencanaan yang mendahului kegiatan pengawasan harus dikerjakan terlebih dahulu. serta para anggota organisasi. baik secara individu maupun secara kelompok dalam usaha memperbaiki kualitas proses dan hasil pembelajaran.) menyatakan bahwa ‘School Inspection is an extremely useful guide for all teachers facing an Ofsted inspection. the logistics of inspection itself and what is expected of schools and teachers after the event’. 2003). . Pengawas satuan pendidikan/sekolah adalah pejabat fungsional yang berkedudukan sebagai pelaksana teknis untuk melakukan pengawasan pendidikan terhadap sejumlah sekolah tertentu yang ditunjuk/ditetapkan dalam upaya meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar/bimbingan untuk mencapai tujuan pendidikan (Pandong. pengawasan atau supervisi merupakan bagian tidak terpisahkan dalam upaya peningkatan prestasi belajar dan mutu sekolah. Pengawasan sekolah itu penting karena merupa kan mata rantai terakhir dan kunci dari proses manajemen. Substansi hakikat pengawasan yang dimaksud menunjuk pada segenap upaya bantuan supervisor kepada stakeholder pendidikan terutama guru yang ditujukan pada perbaikan-perbaikan dan pembinaan aspek pembelajaran. Kunci penting dari proses manajemen sekolah yaitu nilai fungsi pengawasan sekolah terletak terutama pada hubung an nya terhadap pe rencana an dan kegiatan-kegiatan yang didelegasikan (Robbins 1997). sehingga perencanaan dan pengawasan memiliki standard dan tujuan yang jelas.Ketika perencanaan pendidikan dikerjakan dan struktur organisasi persekolahannyapun disusun guna memfasilitasi perwujudan tujuan pendidikan. Jadi bantuan yang diberikan itu harus mampu memperbaiki dan mengembangkan situasi belajar mengajar. Burhanuddin (1990:284) memperjelas hakikat pengawasan pendidikan pada hakikat substansinya. Holmes (t.

tersebut tampak bahwa hakikat pengawas an memiliki empat dimensi: (1) Support. Itulah sebabnya kehadiran pengawas sekolah harus menjadi bagian integral dalam peningkatan mutu pendidikan. administrasi dan manajemen. .Aktivitas pengawas sekolah selanjutnya adalah menilai dan membina penyelenggaraan pendidikan pada sejumlah satuan pendidikan/sekolah tertentu baik negeri maupun swasta yang menjadi tanggung jawabnya. sistem penilaian dan komponen-lainnya. kualitas program kegiatan sekolah dalam memenuhi kebutuhan dan minat siswa. Dari uraian di atas dapat dimaknai bahwa kepengawasan merupakan kegiatan atau tindakan pengawasan dari seseorang yang diberi tugas. peran dan tanggung jawab orang tua dan masyarakat (Law dan Glover 2000). kepala sekolah. Seseorang yang diberi tugas tersebut disebut pengawas atau supervisor. Lebih lanjut Ofsted (2005) menyatakan bahwa fokus pengawasan sekolah meliputi: (1) standard dan prestasi yang diraih siswa. agar bersama guru. sistem pencatatan. Dengan menyadari pentingnya upaya peningkatan mutu dan efektifitas sekolah dapat (dan memang tepat) dilakukan melalui pengawasan. Kiprah supervisor menjadi bagian integral dalam peningkat an mutu pendidikan di sekolah yang dimaksud dapat dijelaskan dalam visualisasi Gambar 1 tentang Hakikat Pengawasan. implementasi kurikulum. organisasi sekolah. Sedangkan kegiatan pembinaan dilakukan dalam bentuk memberikan arahan. sarana dan prasarana. proses pembelajaran. tanggung jawab dan wewenang melakukan pembinaan dan penilaian terhadap orang dan atau lembaga yang dibinanya. Dalam bidang kependidikan dinamakan pengawas sekolah atau pengawas satuan pendidikan. staf sekolah (Tenaga Administrasi. kebutuhan khusus. Laboran dan Teknisi. Indikator peningkatan mutu pendidikan di sekolah dilihat pada setiap komponen pendidikan antara lain: mutu lulusan. bimbingan dan konseling. (3) Challenge. dan (4) Net work ing and Collaboration. kualitas bimbingan siswa). penilaian/evaluasi. kepala sekolah dan staf sekolah lainnya berkolaborasi membina dan mengembangkan mutu pendidikan di sekolah yang ber sangkutan seoptimal mungkin sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. (2) Trust. saran dan bimbingan (Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 020/U/1998 tanggal 6 Februari 1998). Tenaga Perpustakaan). kualitas guru. kualitas belajar mengajar. Ini berarti melalui pengawasan harus terlihat dampaknya terhadap kinerja sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikannya. pengelolaan sekolah. (2) kualitas layanan siswa di sekolah (efektifitas belajar mengajar. Pengawasan perlu dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan secara berke sinambung an pada sekolah yang diawasinya. Dari visualisasi Gambar 1. Keempat dimensi hakikat pengawasan itu masing-masing dijelaskan berikut ini. Penilaian itu dilakukan untuk penentuan derajat kualitas berdasarkan kriteria (tolak ukur) yang ditetapkan terhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah. serta (3) kepemimpinan dan manajemen sekolah. Atas dasar itu maka kegiatan pengawasan harus difokuskan pada perilaku dan perkembangan siswa sebagai bagian penting dari: kurikulum/mata pelajaran.

Dimensi ketiga dari hakikat pengawasan yaitu dimensi Challenge. Kolaborasi merupakan inti kegiatan supervisi yang harus selalu diadakan kegiatan bersama dengan pihak stakeholder pendidikan di sekolah binaannya. Fokus dari keempat dimensi hakikat pengawasan itu dirumuskan dalam tiga aktivitas utama pengawasan yaitu: negosiasi. Jejaring kerjasama secara horisontal dilakukan dengan sesama sekolah sejenis untuk saling bertukar informasi dan sharing pengalaman pengembangan mutu sekolah. Dimensi kedua dari hakikat pengawasan yaitu dimensi Trust. Dimensi ini menunjuk pada hakikat kegiatan pengawasan yang dilakukan oleh supervisor itu harus mampu membina kepercayaan (trust) stakeholder pendidikan dengan peng gambaran profil dinamika sekolah masa depan yang lebih baik dan lebih menjanjikan. Jejaring kerjasama dapat dilakukan baik secara horisontal maupun vertikal. . 2. Tantangan ini harus dibuat serealistik mungkin agar dapat dan mampu dicapai oleh pihak sekolah. 2003 Dimensi pertama dari hakikat pengawasan yaitu dimensi Support.Dimensi ini menunjuk pada hakikat kegiatan pengawasan yang dilakukan oleh supervisor itu harus mampu mengembangkan jejaring dan berkolaborasi antar stakeholder pen didikan dalam rangka meningkatkan produktivitas. kolaborasi dan networking. Gambar 1. Dimensi ini menunjuk pada hakikat kegiatan pengawasan yang dilakukan oleh supervisor itu harus mampu mendukung (support kepada) pihak sekolah untuk mengevaluasi diri kondisiexisting-nya. kelemahan dan potensi serta peluang sekolahnya untuk mendukung peningkatan dan pengembangan mutu pendidikan pada sekolah di masa yang akan datang. Networking merupakan inti hakikat kegiatan supervisi yang prospektif untuk dikembangkan terutama pada era globalisasi dan cybernet teknologi seperti sekarang ini.1. Oleh karena itu. Hakikat Pengawasan diadopsi dari Ofsted. berdasarkan pada situasi dan kondisi sekolah pada sat ini. Dengan demikian stakeholder tertantang untuk bekerjasama secara kolaboratif dalam rangka pengembangan mutu sekolah. Negosiasi dilakukan oleh supervisor terhadap stakeholder pendidikan dengan fokus pada substansi apa yang dapat dan perlu dikembangkan atau ditingkatkan serta bagaimana cara meningkatkannya. supervisor bersama pihak sekolah dapat melakukan analisis kekuatan. 3. Hal ini penting karena muara untuk terjadinya peningkatan mutu pendidikan ada pada pihak sekolah. 4. Dimensi keempat dari hakikat pengawasan yaitu dimensi Net work ing and Collaboration. Dimensi ini menunjuk pada hakikat kegiatan pengawasan yang dilakukan oleh supervisor itu harus mampu memberikan tantangan (challenge) pengembangan sekolah kepada stakeholderpendidikan di sekolah. efektivitas dan efisiensi pendidikan di sekolah.

Dalam melaksanakan kepengawasan. Dalam melaksanakan tugasnya. Supporting. Untuk itu maka pengawas harus mendampingi pelaksanaan dan pengembangan program-program inovasi sekolah. Ketiga langkah tersebut adalah : Menetapkan standar/kriteria pengukuran performansi sekolah (berdasarkan evaluasi diri dari sekolah). Testable. Melakukan tindakan pengawasan yang berupa pembina an/pendampingan untuk memperbaiki implementasi program pengembangan sekolah. artinya kegiatan pengawasan dan pembinaannya dilaksanakan berdasarkan data eksisting sekolah. maupun dengan sekolah pada jenjang pendidikan di atasnya sebagai lembaga yang akan menerima para siswa lulusannya. Utility. 2. MGBS. artinya proses dan hasil pengawasan harus bermuara pada manfaat bagi sekolah untuk mengembangkan mutu dan kinerja sekolah binaannya. 3. misalnya melalui MKP. Ada tiga langkah yang harus ditempuh pengawas dalam menyusun program kerja pengawas agar dapat membantu sekolah mengembangkan program inovasi sekolah. Kode etik yang dimaksud minimal berisi sembilan hal berikut ini. 3. Pembinaan diawali dengan mengidentifikasi dan mengenali kelemahan sekolah binaannya. 4. Jejaring kerjasama secara vertikal dilakukan baik dengan sekolah pada aras dibawahnya sebagai pemasok siswa barunya. menganalisis kekuatan/potensi dan prospek pengembangan sekolah sebagai bahan untuk menyusun program pengembangan mutu dan kinerja sekolah binaannya. 4. ada sejumlah prinsip yang dapat dilaksanakan pengawas agar kegiatan kepengawasan berjalan efektif. artinya seluruh aktivitas pengawasan pada hakikatnya merupakan dukungan terhadap upaya sekolah menggalang jejaring kerja sama secara kolaboratif dengan seluruh stakeholder. Prinsip-prinsip tersebut antara lain: Trust. 1. guna menyusun program pengembangan sekolah. Networking dan Collaborating. artinya kegiatan pengawasan dilaksanakan dalam pola hubungan kepercayaan antara pihak sekolah dengan pihak pengawas sekolah sehingga hasil pengawasannya dapat dipercaya Realistic. dan wewenang secara penuh oleh pejabat yang berwewenang untuk melakukan pembinaan dan pengawasan pendidikan di sekolah baik pengawasan dalam bidang akademik (teknis pendidikan) maupun bidang manajerial (pengelolaan sekolah). Dengan demikian kehadiran pengawas di sekolah bukan untuk mencari kesalahan sebagai dasar untuk memberi hukuman akan tetapi harus menjadi mitra sekolah dalam membina dan me ngembangkan mutu pendidikan di sekolah sehingga secara bertahap kinerja sekolah semakin meningkat menuju tercapainya sekolah yang efektif. MKKS. 1.1. Prinsip-prinsip kepengawasan itu harus dilaksanakan dengan tetap memperhatikan kode etik pengawas satuan pendidikan. 5. Membandingkan hasil tampilan performansi itu dengan ukuran dan kriteria/benchmark yang telah direncanakan. tanggung jawab. 2. Jabatan pengawas adalah jabatan fungsional bukan jabatan struktural sehingga untuk menyandang predikat sebagai pengawas harus sudah berstatus tenaga pendidik/guru dan atau kepala sekolah/wakil kepala sekolah. artinya hasil pengawasan harus mampu meng gambarkan kondisi kebenaran objektif dan siap diuji ulang atau dikonfirmasi pihak manapun. Prinsip-prinsip di atas digunakan pengawas dalam rangka melaksanakan tugas pokoknya sebagai seorang pengawas/ supervisor pendidikan pada sekolah yang dibinanya. setidak-tidaknya pernah menjadi guru. pengawas satuan pendidikan senantiasa berlandaskan Iman dan Taqwa serta mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Berdasarkan rumusan di atas maka kepengawasan adalah aktivitas profesional pengawas dalam rangka membantu sekolah binaannya melalui penilaian dan pembinaan yang terencana dan berkesinambungan. Berdasarkan ketentuan yang berlaku saat ini pengawas sekolah atau pengawas satuan pendidikan adalah tenaga kependidikan profesional yang diberi tugas. . MGMP.

8. Pengawas satuan pendidikan menjunjung tinggi disiplin dan etos kerja dalam melaksanakan tugas profresional pengawas. 4. Pengawas satuan pendidikan mampu menampilkan keberadaan dirinya sebagai supervisor profesional dan tokoh yang diteladani. Pengawas satuan pendidikan senantiasa merasa bangga dalam mengemban tugas sebagai pengawas. Pengawas satuan pendidikan sigap dan terampil dalam menanggapi dan membantu pemecahan masalah-masalah yang dihadapi stakeholder sekolah binaannya 9.2. Pengawas satuan pendidikan menjaga citra dan nama baik profesi pengawas. baik terhadap stakeholder sekolah binaannya maupun terhadap koleganya. 5. 6. Pengawas satuan pendidikan memiliki rasa kesetiakawan an sosial yang tinggi. 7. 3. . Pengawas satuan pendidikan bekerja dengan penuh rasa tanggungjawab dalam melaksanakan tugas profesinya sebagai pengawas. Pengawas satuan pendidikan memiliki pengabdian yang tinggi dalam menekuni tugas pokok dan fungsinya sebagai pengawas.