http://www.parisada.org/index.php?

option=com_content&task=view&id=1355&Itemid=121
Mengenal Masyarakat Tengger ( 6 ) Oleh : Prof. Dr. Simanhadi Widyaprakosa (Sambungan WHD. No. 474) Ketinggian Gunung Bromo adalah 2392 m, Di sebelah selatannya berdiri gunung vulkanik Semeru yang masih aktif, dengan ketinggian 3676 m. Secara legendaris kedua gunung tersebut mempunyai kaitan, seperti telah dilukiskan dalam legenda pada uraian terdahulu. Di sekitar Gunung Biomo dan sebagian wilayah Gunung Semeru inilah masyarakat Tengger bermukim. Ditinjau secara sosial-budaya, masyarakat Tengger memiliki sifat khas tradisi dan budaya, yang secara historis merupakan peninggalan nenek moyang dan zaman Majapahit, dan sampai saat ini mampu bertahan. Sejak ditetapkan pada tahun 1982 sebagai daerah penyangga Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru, Tengger selalu dikunjungi oleh banyak wisatawan dan dalam dan luar negeri. Di samping itu sejak tahun 1973 dengan ditetapkannya masyarakat Tengger sebagai pemeluk agama Hindu, maka mulai diadakan pembinaan intensif tentang keagamaan, namun masyarakat Tengger tampaknya belumbanyak terpengaruh oleh nilainilai budaya yang lain. Beberapa gejala yang tampak antara lain adalah, dengan adanya sentuhan langsung pembangunan yang terprogram dan datangnya para wisatawan yang berkunjung ke daerah Tengger in mereka mulai memanfaatkan kesempatan itu, antara lain dengan menyewakan rumah mereka untuk penginapan, menyewakan kuda-yang semua sebagai alat angkut hasil pertanian-untuk alat transportasi para wisatawan yang memerlukan. Meskipun telah banyak bergaul dengan para pendatang, namun sikap keaslian mereka masih tampak jelas dalam memperlakukan para wisatawan, yaitu sikap ramah, jujur dan gotong royong. Tengger sebagai Daerah Penyangga Taman Nasional Pengembangan suatu masyarakat berarti akan mengubah menjadi sesuatu yang lain, atau tetap mempertahankan keberadaannya dengan mengembangkan kemampuan dan kondisi masyarakat untuk mampu mandiri serta menjadi lebih bermanfaat dan lebih sempurna. Penetapan BromoTengger-Semeru menjadi taman nasional bermakna bahwa kondisi yang telah ada akan dilindungi dan dikembangkan agar lebih semarak dan menarik. Tengger sebagai daerah penyangga juga bermakna bahwa budaya masyarakat Tengger perlu dilestarikan dan dikembangkan menjadi lebih sempurna, terutama adat istiadat dan nilai-nilai budayanya yang relevan dengan kemajuan zaman, dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai luhur Pancasila sebagai filsafat bangsa dan negara. Dengan masuknya para wisatawan ke daerah Tengger, tidak mustahil akan terjadi pergeseran nilainilai instrumental, namun apabila terus diadakan pembinaan sikap mental dengan tetap berpegang kepada nilai tradisional yang relevan, maka pergeseran nilai-nilai instrumental itu akan tetap dapat dicegah dan sekaligus dapat dipertahankan sifat keasliannya. Hubungan antara masyarakat Tengger dengan taman nasional sangat erat karena daerah Bromo-Tengger-Semeru sebagian besar dihuni oleh masyarakat Tengger. Apabila kondisi alamnya akan dikembangkan menjadi taman nasional maka masyarakat sekitarnya pun dituntut urituk mampu menyelamatkan, memelihara dan ikut mengembangkannya. Apabila masyarakat Tengger tidak diberi kesempatan untuk mengambil keuntungan dan taman nasional itu, tidak mustahil akan terjadi sikapmasa bodoh terhadapnya, tidak ikut menjaga ataupun menyelamatkannya. Masyarakat Tengger sebagai penyangga, sudah tentu berperan besar untuk menjaga kelestarian taman nasional. Demi kelestarian taman nasional itu, masyarakat Tengger diharapkan merasa ikut memiliki (handarbeni), membina (hamengkoni) dan sekaligus dapat memanfaatkannya. Di sekeliling taman nasional itu akan dikembangkan berbagai macam tumbuhan penyangga sebagai daerah buffer zone untuk melestarikan alam dan keindahannya, yang kondisinya perlu dijaga oleh masyarakat lingkungannya. Hal itu akan berhasil apabila lingkungan alamnya: 1) mampu menyediakan berbagai kebutuhan dasar masyarakat sekitarnya, baik untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari maupun memberikan kepuasan dan kesenangan yang lain;

7) mampu membina eksistensi adat dan budaya masyarakat Tengger yang dapat memberikan konsumsi penyemarakan wisatawan yang datang untuk menikmati keindahan taman nasional itu. Sebelum adanya pembinaan agama Hindu. Majapahit perlu digali sebagai dasar pembinaan dalam bidang keagamaan. dengan mencari berbagai alternatif yang sesuai dengan kemampuan dan kondisi masyarakat. Berdasarkan kenyataan sejarah tersebut. Sejarah Masyarakat Tengger Masyarakat Tengger pada umumnya beranggapan bahwa mereka adalah pewaris adat istiadat tradisional Majapahit. perlu ada pemikiran yang bersungguh-sungguh untuk membangun masyarakat Tengger sebagai masyarakat penyangga taman nasional. puncak-puncak pegunungan yang cukup tinggi. masyarakat Tengger semestmnya terdiri atas kaum petani. Pada waktu itu hanya terdapat ketua adat (dukun) yang berpengaruh. yang secara kronologis menerangkan asal kejadi an masyarakat Tengger itu. Hal ini menunjukkan bahwa apabila pertumbuhan penduduk tidak bisa dikendalikan . Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa aspek positif yang dapat dipertahankan dan dikembangkan.16%.2) dapat terselamatkan dari berbagai gangguan yang berasal dari manusia. Apabila masyarakat itu dipindahkan akan terjadi kesulitan di mana akan ditempatkan. termasuk masyarakat Tengger. Untuk mengembangkan buffer zone ini. dan kesadaran akan pentingnya taman nasional itu. (Hal ini secara khusus sudah dibahas dalam Bab 2). Misalnya desa Ngadas yang terletak di daerah buffer zone. bagaimana pengelolaannya? Untuk memecahkan masalah ini diperlukan penelitian dan pertimbangan untung ruginya. Masalahnya antara lain adalah apakah desa ini harus dipindahkan. atau dibiarkan tetap berada di daerah buffer zone. maka sekitar 54% penduduk tengger bukan tergolong petani. bahwa penduduk yang dikategorikan sebagai petani penggarap hanya 37. Baru setelah tahun 1945. ada suatu masaah yang perlu dipecahkan dengan penuh kebijaksanaan. Nancy. 3) mampu mengembangkan sikap masyarakat untuk mencintai alam dan taman nasional. seperti diungkapkan oleh Nancy. 6) mampu menumbuhkan dan mengembangkan organisasi swadaya masyarakat dalam kaitannya dengan usaha-usaha pelestarian sumber daya alam dan lingkungannya.93% dan buruh tani 8. Namun sesuai dengan catatan. Sosial-Budaya Masyarakat Tengger Dewasa ini Ditinjau dan sudut alam lingkungan masyarakat Tengger yang terdiri dan daerah perbukitan yang terjal. Pernyataan ini dibenarnya oleh Prof. Kajian sejarah menunjukkan bahwa adat masyarakat Tengger tidak menganut adanya perbedaan kasta karena memang tidak terdapat pemimpin agama yang kuat. Sikap gotong royong dan rukun yang telah dimiliki digunakan sebagai dasar pembinaan sikap berbangsa yang besar dan bersatu berdasarkan Pancasila sebagai dasar pembinaan kesadaran nasional. sehingga tidak akan mengganggu kelangsungan hidup taman nasional itu sendiri. ataupun gangguan lainnya. 5) mampu meningkatkan kondisi sosial-ekonomi masyarakat sekitarnya. maka pembinaan cara hidup dengan nilai spiritual yang mereka miliki dan dianut dewasa ini adalah sebagai dasar pembinaannya. Oleh karena itu. Sebagian besar tanah daerah Tengger yang berbukit dan berjurang terjal saat ini telah dijamah dan dihuni oleh kaum petani untuk usaha pertanian. dan apabila tetap berada di daerah buffer sone. Untuk pengembangannya diperlukan penyediaan lapangan kerja. masyarakat Tengger berkesempatan mengggali sejarah spiritual mereka secara mendalam. dalam masyarakat Tengger tidak terdapat pedanda atau pendeta dan resi. 3. binatang. Nilai-nilai spiritual zaman. sesuai dengan hasil penelitiannya tentang Masyarakat Tengger dalam Sejarah Nasional indonesia (1985). antara lain sikap toleransi yang kuat untuk hidup berdampingan dengan masyarakat yang berlainan agama. Hal ini pula yang mungkin menyebabkan hilangnya identitas masyarakat dan kondisi terancamnya kehidupan spiritual serta pelaksanaan upacara adat pada akhir abad ke-19. 2. dan secara fisik masih menunjukkan kesuburan tanahnya. 4) mampu melindungi manusia dan daerah pertanian sekitarnya dari gangguan binatang yang datang dari daerah penyangga itu sendiri. Masih banyak lagi nilai dan sikap hidup positif yang sekarang ini dimiliki oleh masyarakat Tengger yang perlu dibina dan dikembangkan sesuai dengan perkembangan zaman modern.

475) 1) Bidang Keagamaan Hasil penelitian rnenunjukkan bahwa sebelurn tahun 1973. pendirian rumah. maka rakyat Tengger telah terbiasa melaksanakan ibadah agama Hindu Dharma seperti yang dikembangkan di Bali. perkawinan. Isi mantra yang diucapkan dalam berbagai upacara adat menunjukkan bahwa pada dasarnya masyarakat Tengger masih kuat dalam melaksanakan ibadah berdasarkan agama Hindu. ataupun biksu. Keselamatan di dunia termasuk kelangsungan hidup dalam rumah tangga dan perkawinan. antara lain Kusada. sedangkan upacara Unan-unan dilaksanakan setiap lima tahun sekali. yaitu Tengger sebagai daerah penyangga taman nasional. sedangkan daerah lain masih menggunakan sanggar sebagai tempat beribadah. Hal ini dikuatkan oleh hasil penelitian Nancy atas mantra yang sering digunakan dalam upacara-upacara. namun sangat jelas isinya cenderung bersifat agama Hindu. melainkan istilah yang biasanya dipakai oleh masyarakat Jawa untuk menyebut agama sebelum Islam. Karo dan Unan-unan. 475 Agustus 2006. Sedangkan keselamatan akhirat berkaitan dengan terbebasnya dari kesengsaraan negara untuk dapat masuk surga atau moksa. maka pengungkapan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi itu perlu terus dilakukan serta hasilnya dikembangkan sesuai dengan alam modern. Simanhadi Widyaprakosa (Sambungan WHD. para pujangga Yogyakarta pada abad yang sama juga menggunakan istilah buda bagi mereka yang masih menganut tradisi lama (Majapahit). yaitu pada bulan ke-12 dan ke-2 menurut penanggalan Tengger. masyarakat Tengger masih menganut kepercayaart yang bersifat tradisional dengan melakukan berbagai upacara. . seperti telah diuraikan dalam legenda bahwa Bromo identik dengan pengertian Dewa Brahma yang merupakan manifestasi dari sifat Tuhan sesuai dengan ajaran agama Hindu. Upacara-upacara adat dipimpin oleh pada dukun sebagai kepala adat. Mereka tetap mampu mempertahankan tradisi lamanya dalam melaksanakan ibadah. apabila tidak ada usaha lain yang lebih menguntungkan. Namun dari hasil penelitian itu pun ditegaskan bahwa pengertian buda bukanlah Budha sebagai agama. setelah masuknya Islam. pembersihan dari dosa. Atas dasar kenyataan ini. Sampai saat ini telah dibangun beberapa pura di Kecamatan Tosari dan Kecamatan Sinduro. sehingga mampu menciptakan kondisi yang menguntungkan? Jawabannya perlu digali dan kemampuan dan kondisi yang dalam masyarakat Tengger sendiri. Pada tahun 1973 setelah diadakan pembinaan agama oleh pemerintah. Mengenal Masyarakat Tengger ( 7 ) Oleh : Prof. sebagai pernyataan bahwa masyarakat bagian utara Tengger telah memeluk agama islam. Dr. Upacara Kasada dan Karo dilaksanakan setahun sekali. yaitu Budha dan Hindu. seluruh tanah yang tersedia akan dimanfaatkan untuk pertanian. Sebagai perbandingan. maka perlu dipikirkan kondisi yang bagaimanakah yang tepat bagi masyarakat Tengger. Terlebih-lebih dengan digunakannya Gunung Bromo sebagai arah beribadah. istilah buda digunakan untuk menyebut mereka yang belum menganut agama Islam. Sikap hidup berdampingan dengan penganut agama lain dapat dikaji dari sesantinya: geblag lor dan geblag kidul. kematian. sedangkan sebelum tahun 1973 masyarakat Tengger tetap dengan tradisinya. pedanda resi. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa toleransi masyarakat Tengger terhadap pemeluk agama lain cukup tinggi. bertetangga. No. dan sebagainya. keberhasilan dalam bertani. Karo. satu windu tahun wuku. Suatu alternatif telah ditetapkan.dalam waktu yang relatif singkat.WHD No. Unan-unan. dan sebagainya. Anggapan bahwa masyarakat Tengger sebelum dibina dan dinyatakan sebagai pemeluk agama Hindu adalah pemeluk Agama buda tidak sepenuhnya salah. meskipun masyarakat sekitarnya telah memeluk agama lain dan mengubah tradisinya. 2) Upacara Adat Upacara adat yang bersifat umum dan besar adalah Kasada. menempati rumah. Entas-entas. dengan ditetapkannya agama Hindu sebagai dasar pembinaan masyarakat Tengger. Pada zaman kekuasaan Majapahit diakui adanya dua agama. meskipun pada waktu itu tidak ada pendeta. Berbagai upacara itu pada hakikatnya adalah untuk memohon keselamatan dunia dan akhirat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Meskipun mantra yang diucapkan diawali dengan kata Hong. Pada abad ke14.

dan ditulis dengan huruf Jawa. yang ada karena masuknya agama Hindu Dharma Bali. Namun hingga sekarang masih ada dua mantra besar yang penting masih belum terdokumentasikan. Apabila dikaji lebih mendalam. apabila daerah Tengger akan digunakan sebagai daerah penyangga taman nasional dan sekaligus sebagai daerah wisata adat atau budaya tradisional. Korban itu berupa buah-buahan dan hasil bumi lainnya demi keselamatan masyarakat dan anak-cucu masyarakat Tengger. upacara ini diakhiri dengan menyajikan korban ke kawah Gunung Bromo sebagaimana dipesankan oleh leluhurnya. (Catatan secara empirik upacara ini belum diteliti dengan lengkap). Setelah berdoa tengah malam. akan keselamatan dan kesejahteraan masyarakat pada umumnya di Tengger. Dengan demikian. Sebenarnya di Tengger masih terdapat 21 lontar yang disimpan dan dikeramatkan oleh penduduk. Dengan mempelajari isi berbagai mantra yang terdapat di daerah Tengger. dan kepala adat perlu mengunjungi setiap rumah tangga para warganya.. sehingga mampu hidup di tengah perkembangan dunia yang cepat berubah di alam globalsiasi. masih belum diketahui. Upacara Kasada. Oleh karena upacara ini juga bersifat masal. Simanhadi Widyaprakosa (Sambungan WHD. sehingga sedikit kemungkinan untuk dijadikan objek kepariwisataan. melainkan lebih bersifat ritual spiritual yaitu suatu permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa. dimulai dengan tari ujung dan tari sebagai rangkaian upacara. (3) Mantra Beberapa mantra yang dibaca setiap upacara tradisional sudah dicatat oleh salah seorang dukun.(1) Upacara Kasada dilakukan di kaki Gunung Bromo di lembah lautan pasir pada bulan ke-12. Tujuan utama upacara ini untuk bersih desa dalam arti luas. Apakah isinya sama dengan mantra purwa bhumi yang dihafal oleh pewaris. 476) (4) Upacara-upacara lain bersifat individual. Upacara Kasada dianggap sebagai saat yang tepat untuk memamerkan objek wisata Taman Nasional BromoTengger-Semeru. (2) Upacara Karo dilaksanakan di rumah atau juga secara terpusat di kepala Desa/adat. yang perlu dilestarikan. Di samping itu terdapat pula upacara Galungan. di samping itu dikeluarkan juga jimat klonthong sebagai penyempurnaan upacara Upacara karo itu dapat pula dimanfaatkan untuk menarik para wisatawan yang ingin mengetahui sifat khas adat Tengger karena upacara ini tidak ditemukan di lain tempat. Mengenal Masyarakat Tengger ( 8 ) Oleh : Prof. Dr. maka dapat pula dimanfaatkan untuk memberikan daya tarik di bidang pariwisata. Pada upacara yang bersifat umum. karena dapat menarik perhatian orang dari berbagai daerah dan mancanegara untuk berkunjung menyaksikan upacara adat di Tengger. selain untuk persembahan dan penyajian korban di Gunung Bromo. (3) Upacara Unan-unan juga bersifat khas. WHD No. dapat diketahui isi kejiwaan dan pandangan hidup masyarakat Tengger. yang salah satu di antaranya berisi mantra purwa bhumi. juga digunakan untuk penyumpahan dan pelantikan dukun baru. Pengertian bersih bukan semata-mata bersifat fisik. sekaligus dapat menunjukkan keindahan Bromo dan alam sekitarnya kepada para pengunjung. Di masyarakat Tengger terdapat pewaris mantra yang sampai saat ini masih hafal isi dan ucapan mantra purwa bhumi dan mandhalagiri. yaitu Dukun Sujai. 476 September 2006. Pada upacara ini diutamakan para rakyat saling berkunjung. (4) Makna Simbolik Beberapa Alat Upacara Setiap pelaksanaan upacara disertai dengan berbagai sesajen dan peralatannya. berbagai sesajen dan peralatan itu secara simbolik mempunyai makna tertentu. yaitu mantra purwa bhumi dan mandhalagiri. No. Raden Kusumaputra Rara Anteng dan Jaka Seger. Pada bulan ke-2 atau Karo. Dengan cara demikian akan lebih memudahkan membina can mengem bangka masyarakat Tengger. juga di Bali sebagai pusat agama Hindu Dharma di Indonesia. Di samping itu bisa juga diadakan pelantikan para pejabat pemerintahan atau orang terhormat lainnya yang diangkat oleh masyarakat Tengger sebagai pinisepuh. Makna simbolik ini akan sangat .

yaitu kepercayaan akan adanya lima hakikat keimanan dan lima kesetiaan dalam melaksanakan hidup di dunia ini. dalam mempertahankan kebenaran yang penting adalah marmane gun tya binuka thukul ngakasa. yang artinya saling terbuka tumbuh bebas. Kenyataan itu adalah tercermin pada lima kawruh buda. melambangkan kelahiran ataupun sifat kesucian waktu manusia dilahirkan. dan akhirnya mati bersama. Di samping itu dipercayai pula bahwa hubungan antara roh dan badan adalah terpisah. termasuk kejadian manusia. yang saling bertengkar (dan berkelahi). Dan legenda dengan cerita Aji Saka. seperti hubungan antara burung dengan sangkarnya. Juga diartikan sebagai penglihatan (paninggal). prayitna. masyarakat Tengger mempercayai adanya dualisme hubungan antara jiwa dan raga. mereka berpengaruh atas lingkungannya. yang mengandung ajaran bahwa manusia (Tengger) diwajibkan melaksanakan pemujaan melalui berbagai upacara. Kelima tugas hidup itu belum begitu jelas. misalnya mantra purwa bhumi dan mandhalagiri. setia. keduanya sama ampuhnya. legenda dan tafsir mereka terhadap lambang-lambang tertentu. dapat dipelajari konsep tentang manusia. patuh pada pimpinan. atau bahwa keduanya tidak dapat dipisahkan. Konsep Tentang Manusia Seperti halnya masyarakat tradisional lainnya. rasa dan karsa sebagai alat kejiwaan. sebagai panutan atau sebagai sumber pengetahuan tentang hidup. Timur diartikan sebagai µpermulaan¶ atau wiwitan atau wetan (Jw). prayogya. Demikian pula jenis-jenis makanan dan warna lainnya.berguna sebagai alat pendidikan dan pewarisan nilai-nilai kepada masyarakat dan generasi. Dan rangkaian katakatanya dapat diartikan bahwa pada dasarnya dalam din manusia ada dua sifat yang saling bertentangan. yang diartikan pula sebagai pendengaran. Atau dapat pula diartikan adanya dua utusan Tuhan. Apabila pemujaan itu dilakukan. dan waspada. Jadi. Dengan demikian. bulan purnama. atau menyempurna. bijaksana. yang berarti dusta dan konsekuen. 4. berasal dan alam baka datang ke dunia fana. juadah merah sebagai lambang Sang Hyang Bromo yang berkedudukan di selatan. Tafsiran terhadap makna ha-naca-ra-ka dapat diartikan sebagai pertentangan kedua utusan yang saling mempertahankan kebenanari masingmasing. yaitu prasaja. yang menggambarkan bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Mereka adalah orangorang terkemuka yang dipandang berpengaruh dan dapat menerangkan segala sesuatu yang berkenaan dengan konsep hidup. Jadi. Sebagai contoh. secara harfiah pun aksara Jawa mengandung arti ada (dua orang) utusan. Demikian pula dan beberapa mantra lain dapat dipelajari mengenai ajaran hidup dan konsep tentang manusia. terutama dengan penafsirannya terhadap aksara jawaha-na-ca-ra-ka. dan bulan tilem. yang wajib melaksanakan lima tugas hidup untuk tumbuh menjadi manusia sempurna. semuanya diberi makna simbolik. Dalam legenda kedua utusan itu dinamakan dora dan sem1da. Manusia memiliki cipta. sehingga mampu mengembangkan din sebagai pribadi manudiri. antara lain Galungan. antara sukma dan badan. dan Kepitu. pada sesajen sering terdapat empat atau lima macam warna makanan. Mantra purwa bhumi berisi kejadian alam. Di samping penafsiran tersebut. yang masing-mäsing membawa kebenaran sesuai dengan kondisi atau zamannya. berlangsungnya setiap upacara adat merupakan kesempatan baik untuk menyampaikan makna yang terkandung dalam setiap alat upacara ataupun sesajen. Dalam hal ini masyarakat Tengger dapat memahami adanya agama lain (Islam) yang dipeluk oleh masyarakat tetangganya (dengan istilah geblag lor dan geblog kidul). namun hal itu ternyata mengakibatkan kehancuran. dan sama jayanya dalam memperjuangkan kebenaran. prasetya. pranata. Sukma atau roh manusia bersifat langgeng. antara lain juadah putih diartikan sebagai Sang Hyang Iswara yang berkedudukan di timur. Kasada. namun bisa dikaitkan dengan panca sradha maupun panca setya. Beberapa mantra memang hanya dikuasai oleh para dukun atau orang yang dituakan oleh masyarakat Tengger. dan akan kembali ke alam baka lagi. maka manusia akan dibebaskan dan dosa-dosanya. yaitu setya . Apabila arti lambang tersebut sungguh-sungguh dipahami dan dihayati akan berguna bagi manusia untuk membentuk dirinya sendiri. Sesanti (kata-kata mutiara) yang mereka gunakan juga sangat berperan sebagai acuan sikap hidup. Penawangan. mantra ini dihafal juga oleh para dukun yang berkedudukan sebagai kepala adat dan jumlahnya sangat terbatas. Konsep tentang manusia bagi masyarakat tengger dapat dipelajari dan berbagai sumber antara lain dan mantra katakata sesanti. Di samping itu tercermin pula pada panca setia. namun keduanya sama pentingnya. sama teguhnya dalam memegang perinah. yang bermakna :jujur.

Demikian pula tan ujung dilakukan pada waktu upacara Karo sebagai hiburan. bijaksana dalam setiap tindakan. yaitu pada zaman satya Yoga. tekun. setya semaya. Jenis alat tabuh (gamelan) mempunyai arti tersendiri. gotong royong masyarakat. Rangkaian upacara diakhiri dengan tarian hiburan yang menunjukkan bahwa persahabatan itu selalu bersatu. Perubahan Nilai Perubahan nilai tidak terlepas dari pemahaman terhadap arti nilai itu sendiri. konsekuen dan menepati janji. setya wacana. dan setya mitra. 6. Ajaran tersebut tampak masih melekat pada sikap dan perilaku masyarakat Tengger dalam kehidupan sehari-hari. (3) memiliki sikap sosialitas yang tinggi. sedangkan tari ujung dilakukan menjelang akhir rangkaian upacara. suka-duka dirasakan bersama. Pengetahuan tersebut akan bernilai bagi subjek. tan sodoran menggambarkan kejaian manusia yang berasal dan purusa dan pradama. Pengetahuan akan benar apabila cocok atau sesuai dengan objeknya.budaya. Ada dua macam seni tan yaitu tan ujung dan tan sodoran. roh-roh nenek moyang dimohonkan ampunan kepada Tuhan Yang Maha Esa. yang semuanya mengandung arti simbolik. Kesenian dan Tata Rumah Tangga Kesenian asli yang berupa seni tan dan seni suara sangat erat dengan pelaksanaan upacara adat. kelanggengan roh manusia yang meskipun telah berada didalam baka. namun tetap harus diusahakan kesucian dan kesempurnaannya. Jadi nilai itu lebih bersifat subjektif karena keberadaannya bergantung pada pandangan manusia terhadap sesuatu bagi . setya laksana. Pengetahuan datangnya dan objek yang dikenal oleh subjek melalui proses pengenalan. hal ini mengandung nilai penghormatan kepada nenek moyang. dalam hubungan sosialnya hendaklah sadar akan kemampuan pribadi. Dalam tarian itu ditunjukkan teijadinya rasa sakit karena pukulan pada bagian badan tertentu yang boleh dipukul. Dan konsep tentang manusia dan konsep hidup tersebut. dan nilai itu melekat pada diri pengetahuan. taat dan tekun bekerja. Kedua seni tan tersebut sangat erat dengan pelaksanaan upacara adat. dapatlah diambil hikmahnya untuk pengembangan masyarakat Tengger. mandiri setia pada ucapan (janji). dalam hidup di dunia ini hendaklah jujur. patuh dan setia kawan. 5. Nilai sangat erat hubungannya dengan pandangan manusia terhadap segala sesuatu sebagai objek pengenalnya. tekun dan kerja keras. masih tampak jelas pula sikap toleransi yang tinggi. Di samping berbagai sikap pribadi dan sikap sosial yang pada dasarnya masih dimiliki oleh masyarakat Tengger. Irama lagu yang digunakan untuk mengiringi telah ditentukan. Jadi dalam arti luas. Berbagai sikap tersebut perlu dioertahankan dan dikembangkan sesuai dengan kemajuan zaman. yang merupakan gambaran tentang objek yang dikenalnya. nilai adalah harta tentang sesuatu jika dihubungkan dengan kepentingan dan kebutuhan manusia. ramah terhadap para pendatang. Objek yang dikenal oleh subjek adalah sebagai pengetahuan dan subjek terhadap objek tersebut. patuh kepada negara dalam arti berkesadaran nasional yang tinggi. sesudah nyadran dan sebelum mulihe ping pitu. tidak dibuat-buat. Kedua tarian diiringi dengan gamelan karawitan. Kriteria pengetahuan adalah tentang kebenarannya. Ungkapan itu bermakna orang hidup hendaklah bersikap taat. Upacara Karo sendiri merupakan perayaan untuk memperingati kejadian manusia dan diharapkan manusia kembali kepada kemurnian dan kesuciannya. demikian pula irama lagu yang dikumandangkan juga melambangkan sesuatu maksud. antara lain tentang: (1) penghormatan terhadap orang tua dan nenek moyang. baik sebagai nilai yang dikehendaki ataupun yang tidak dikehendaki. Tari sodoran dilakukan pada pembukaan rangkaian upacara. patuh. dan ada adariya. pengetahuan itu sebagai nilai. terutama upacara perayaan Karo. yang keduanya diiringi dengan seni karawitan. akan tetapi kenyataannya nilai melekat pada diri pengetahuan. serta kaitannya dengan arti dan makna bagi manusia sebagai subjek yang menghendaki objek pengenalan tersebut. suatu zaman di mana kejujuran¶ atau ke-satya-an manusia dijunjung tinggi. loyal dan waspada. (2) membentuk identitas kepribadian yang utuh dan baik. dan setia kawan. Sebaliknya. Jadi pengetahuan pada dasarnya bersifat objektif. Secara teoritis arti dan makna pengetahuan dan nilai itu dapat dibedakan. Sebagai contoh.

Hubungan antara pengetahuan dengan nilai adalah bahwa pengetahuan yang dimiliki subjek merupakan nilai-nilai. NusaBali Seluruh masyarakat Tengger di puncak Gunung Bromo (2. dan kepala kerbau. Di lingkungan masyarakat Tengger. Dukun di masyarakat Tengger adalah seperti halnya pendeta yang memimpin upacara-upacara keagamaan. Masing-masing upacara tersebut memiliki maksud dan tata cara sendiri-sendiri. Di tengah terik matahari disaput semilir angin pegunungan.392 meter di atas permukaan laut) Probolinggo. Pengetahuan timbul karena adanya kemampuan subjek (manusia) untuk mengenal objek. Dengan kata lain. masyarakat Tengger sejak pagi berkumpul di sanggar sambil membawa sesajen untuk upacara selamatan yang dipimpin oleh seorang dukun. maupun Lumajang. akan tetapi secara praktis nilai terletak pada pengetahuan itu sendiri. sate korban 100 biji. . tidak hanya yang tinggal di sejumlah desa di wilayah administratif Probolinggo. jambe ayu. pisang ayu. baik yang dikehendaki ataupun yang ditolaknya. Nilai-nilai ada yang bersifat universal. Jawa Timur. di antaranya yadnya kasada. maka jelaslah bahwa antara pengetahuan dan nilai terkait erat. entas-entas. upacara lililwet. Atas dasar kenyataan itu. WHD No. dan unan-unan. Sewindu menurut kalender masyarakat Tengger bukan delapan tahun. sedangkan yang abstrak-umum-universal adalah tetap tak berubah. apabila telah memasuki nilai-nilai instrumental sering terjadi berbagai perbedaan pendapat karena kurang jelasnya kriteria yang digunakan. Kata unan-unàn sendiri berasal dari kata tuno-rugi. Sesuatu adalah bernilai apabila berharga bagi manusia sebagai subjek. Nilai universal bersifat abstrak umum. sirih ayu. Masyarakat Hindu Tengger Gelar Unan-unan PROBOLINGGO. 477 Oktober 2006. apakah itu adil? Permasalahan seperti inilah yang sering menjadi perbedaan pendapat. agar dapat kembali ke alam asal yang sempurna. yang secara teoritis dapat dipisahkan dalam memahaminya. tetapi juga di wilayah lain yakni Malang. Diterima atau ditolaknya sesuatu sebagai yang bernilai bagi seseorang sangat bergantung pada pengetahuan dan penilaiannya terhadap sesuatu itu. sedangkan bentuk konkretnya yang bersifat instrumental dapat berubah. menggelar upacara bersih desa lima tahunan yang disebut unan-unan. Pasuruan. yang selama ini dikenal sebagai penganut agama Hindu yang taat. ada pula yang bersifat partikular. Dengan pengetahuan itu subjek dapat mengembangkan diri menjadi seperti sesuatu yang dikehendakinya. umpamanya adil diartikan sama rata dan sama rasa. setiap desa memiliki dukun. upacara tugel kuncung. kara. yakni nirwana. tetapi lima tahun. Nilai-nilai instrumental inilah yang dapat berubah sesuai dengan waktu dan kondisi. Sementara itu. upacara pujan mubeng. Sebagai ukuran tentang nilai adalah baik-buruk. dan nilai itu terjadi karena adanya pengetahuan yang dinilai untuk dimilikinya. artinya upacara itu dapat melengkapi kekurangan-kekurangan yang diperbuat selama sewindu. Sesuatu akan dikatakan bernilai positif apabila dikehendaki dan memberikan manfaat dalam arti memberi kebaikan bagi subjek. Masyarakat Tengger dikenal memiliki upacara-upacara tradisi dan keagamaan yang cukup banyak. racikan 100 buah.kepentingan dan kebutuhan manusia. Upacara tersebut dimaksudkan untuk membersihkan desa dari gangguan makhluk halus dan menyucikan arwah-arwah yang belum sempurna. upacara unan-unan adalah upacara yang diselenggarakan setiap sewindu sekali. Dalam kenyataan apakah mereka yang bekerja Lebih intensif akan mendapatkan bagian yang sama dengan mereka yang bekerjanya kurang intensif. meskipun dalam kurun waktu yang sama? Apabila keduanya disamakan. Hubungan antara keduanya adalah sangat erat dan timbal balik. Perlengkapan upacara unan-unan di antaranya berupa nasi 100 takir (tempat nasi dari daun atau janur berukuran kecil). Jumat (18/7). Dukun biasanya dilantik bersamaan dengan pelaksanaan Yadnya Kasada. Sebagai contoh nilai keadilan bersifat abstrak-umum-universal. Masyarakat Tengger yang menggelar unan-unan itu. atau dalam arti luas adalah kebaikan. sedangkan yang partikular bersifat konkret instrumental.

dan japa mantra mapah atau tutupan.Dalam upacara. Mantra itu meliputi japa mantra nasi atau reresik. dukun yang memimpin prosesi unan-unan membacakan mantra-mantra dalam bahasa Sansekerta. japa mantra air atau tetuwuhan. . Masyarakat Tengger baru selesai mengikuti ritual tersebut sekitar pukul 14. Prosesi unan-unan benlangsung hikmat. Ant.00 Wib.