Daftar Isi

Kata Sambutan Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan Kata Pengantar Daftar Isi

BAGIAN I PENDAHULUAN
BAB 1 GAMBARAN UMUM KEUANGAN PUBLIK Alasan Mempelajari Keuangan Publik Pentingnya Sektor publik Karakteristik Kebijakan publik Ruang Lingkup Keuangan Publik Kriteria Evaluasi Kebijakan Publik BAB 2 BARANG PUBLIK & EKSTERNALITAS Barang Publik Perbedaan antara Barang Publik dan Barang Pribadi Free Rider Problem Eksternalitas BAB 3 PENENTUAN HARGA BARANG PUBLIK Tujuan Kebijakan Harga Penentuan Harga Barang Publik Implementasi Penentuan Harga 1 2 3 5 6 7 11 11 13 17 18 31 31 32 34

BAGIAN II KONSEP DAN IMPLEMENTASI ANGGARAN
BAB 4 FUNGSI DAN AKTIVITAS PEMERINTAH DALAM PEREKONOMIAN Fungsi dan Aktivitas Pemerintah Alasan Keterlibatan Pemerintah dalam Ekonomi Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian Fungsi Alokasi. Fungsi Distribusi Fungsi Stabilisasi 43 43 45 47 48 64 74 83 85 89 91 99 99 102 109

BAB 5 KONSEP ANGGARAN Jenis-jenis Anggaran Konsep PPBS (Planning Programming and Budgeting System) Siklus Anggaran BAB 6 PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN Unsur-Unsur Pembangunan Kebijakan Struktur Perpajakan Insentif Perpajakan

Kebijakan Pengeluaran Bantuan Internasional dan Redistribusi

113 115 121 124 125 127 128 130 137 137 138 140 142 144 145 148 153 156 161 162 166 173 180 183 185 185 187 190 191 197 197 198 205 207 212 222 227 228 229

BAGIAN III PERPAJAKAN
BAB 7 DASAR-DASAR PERPAJAKAN Fungsi Pajak Prinsip-Prinsip Pajak Siklus Arus Pajak Tarif Pajak Istilah-istilah Dalam Perpajakan BAB 8 KEADILAN DAN DAMPAK PERPAJAKAN Prinsip Manfaat Prinsip Kemampuan Membayar Kriteria Umum Keadilan Perpajakan Prinsip Keadilan dan Pajak Penghasilan Prinsip Keadilan dan Pajak Penjualan Prinsip Keadilan dan Pajak Kekayaan Dampak Pajak Kriteria Tarif Pajak Kriteria Struktur Pajak yang Baik BAB 9 PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK PRIBADI Aturan Utama Prinsip-Prinsip Definisi Penghasilan Praktek Definisi Penghasilan: Pengecualian Praktik Definisi Penghasilan: Pengurangan Atas Penghasilan Neto Preferensi Pajak Problema Keadilan Pajak Bagi Wajib Pajak Berpenghasilan Tinggi Problema Keadilan Pajak Bagi Wajib Pajak Berpenghasilan Rendah Pola Progresivitas Tarif Pajak Penyesuaian Terhadap Inflasi Pilihan Unit Kena Pajak BAB 10 PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK BADAN Struktur Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan Perlukah Perseroan Dikenakan Pajak? Siapa yang Menanggung Beban Pajak? Integrasi Pajak Aspek-Aspek Khusus Definisi Basis Pajak Investment Tax Credit BAB 11 PAJAK ATAS KONSUMSI Jenis Pajak Atas Konsumsi di Indonesia Bahasan-Bahasan Dalam Pajak Atas Konsumsi

Pajak Pertambahan Nilai Distribusi Beban Pajak Pajak Pengeluaran Wajib Pajak Pribadi BAB 12 PAJAK ATAS KEKAYAAN DAN WARISAN Alasan-Alasan Pengenaan Pajak Atas Kekayaan Pajak atas Tanah Struktur dan Basis Pajak Atas Kekayaan di Indonesia Distribusi Beban Pajak Properti Pajak Atas Kekayaan Bersih Bea Atas Modal Alasan-Alasan Pengenaan Pajak atas Warisan Tujuan dan Jenis Pajak atas Warisan Permasalahan-Permasalahan Khusus BAB 13 PAJAK INTERNASIONAL Prinsip Pajak Internasional Koordinasi Pajak penghasilan Koordinasi Pajak Produk Tax Treaty Cakupan Tax Treaty Minimalisasi Pajak Berganda Pencegahan Penghindaran Pajak Ketentuan Lain Lain Tax Treaty Mengalahkan UU PPh Koordinasi Pengeluaran Koordinasi Stabilisasi

233 238 240 249 249 251 252 255 261 265 265 265 267 275 279 280 282 285 286 289 294 295 296 297 298 305 306 310 316 325 325 327 330 331 333 334 334

BAGIAN IV BELANJA PUBLIK
BAB 14 KEBIJAKAN DAN STRUKTUR BELANJA PUBLIK Konsep Welfare State Faktor-Faktor Penyebab Pertumbuhan Klasifikasi Belanja Publik BAB 15 KEBIJAKAN BELANJA PUBLIK SEKTOR-SEKTOR UMUM Perlunya Analisis Sektor Pertahanan Nasional Jalan Raya Pendidikan Fasilitas Rekreasi Global Public Goods Privatisasi Barang Publik

BAB 16 KEBIJAKAN BELANJA PUBLIK DALAM TUNJANGAN SOSIAL Program Jaminan Sosial di Amerika Serikat Sistem Jaminan Sosial di Indonesia

341 342 345 361 364 367 373 375 380 381

BAGIAN V DESENTRALISASI FISKAL
BAB 17 KEUANGAN PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH Dimensi Ekonomi dari Desentralisasi Fiskal Syarat-Syarat Keberhasilan Desentralisasi Fiskal BAB 18 TRANSFER PUSAT KE DAERAH: TEORI DAN PRAKTIK Tujuan Transfer Kriteria Desain Transfer Pusat ke Daerah Jenis-Jenis Transfer

BAB 19 PERPAJAKAN DAERAH 395 Prinsip dan Kriteria Perpajakan Daerah 396 Ciri-Ciri Tertentu Suatu Pajak Daerah 398 Ketentuan Mengenai Pungutan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah 402 Ketentuan Mengenai Bagi Hasil Pajak Propinsi dan Peruntukkannya (Pasal 2A) 404 Tarif Pajak Propinsi dan Kabupaten/Kota 405 Peranan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah dalam Pembiayaan Daerah 405

BAGIAN VI HUTANG PUBLIK
BAB 20 HUTANG PUBLIK Surat Utang Negara Pengelolaan Surat Utang Negara Hutang Luar Negeri Proses Pelaksanaan Kerjasama Pinjaman dan Hibah Luar Negeri Proses Penyusunan Perjanjian Kerjasama dan Pengusulan Program/Proyek PHLN Proses Pembuatan Loan Agreement Hutang Luar Negeri dalam Pembangunan Ekonomi BAB 21 PINJAMAN DAERAH Pendahuluan Tujuan dan Batas-Batas Pinjaman Metode dan Sumber-Sumber Pinjaman Persyaratan-Persyaratan Pinjaman Penggunaan Pinjaman dalam Pembiayaan Praktek Pinjaman Daerah di Indonesia Daftar Pustaka Biografi Penyusun 413 414 415 416 417 418 419 419 431 431 432 434 435 436 437

Kata Pengantar
Seiring dengan tuntutan terhadap penyelenggaraan pemerintahan yang baik, sektor publik cukup mendapat sorotan dari masyarakat luas terutama terkait dengan berbagai kebijakan yang diambil pemerintah. Kebijakan publik ini merupakan suatu hal yang sangat penting terutama dalam hal mempengaruhi kegiatan perekonomian nasional, melalui kebijakan moneter dan kebijakan fiskal yang dampaknya akan dirasakan langsung oleh masyarakat luas. Oleh karena itu, bahasan keuangan publik menjadi suatu hal yang perlu dipelajari seiring dengan pertumbuhan sektor publik dari waktu ke waktu dalam jumlah yang besar. Keuangan publik adalah bagian dari ilmu ekonomi yang mempelajari aktivitas finansial pemerintah dan bagaimana proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh pemerintah. Setiap keputusan yang diambil akan mempunyai pengaruh terhadap ekonomi, keuangan rumah tangga, dan swasta. Oleh karena itu, masyarakat sebagai para pemilih wakil rakyat yang membuat keputusan, perlu memonitor aktivitas para wakilnya apakah telah membuat kebijakan yang memihak pada rakyat. Keuangan publik, mempelajari pendapatan dan belanja pemerintah, juga menganalisis implikasi dari kegiatan pendapatan dan belanja pada alokasi sumber daya, distribusi pendapatan, dan stabilitas ekonomi. Buku Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi ini mencoba memberikan wawasan mengenai berbagai macam sisi dari keuangan publik dan diharapkan bisa menjawab berbagai pertanyaan mengenai aktivitas publik yang dilakukan pemerintah serta alasanalasan yang mendasari pemerintah dalam mengeluarkan suatu kebijakan. Selain berisi konsep, buku ini juga mencoba menyajikan contoh-contoh aplikasi dan kebijakan yang terkait dengan keuangan publik. Kami menyadari adanya keterbatasan sehingga buku ini masih memiliki kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Oleh karenanya, tanggapan, saran, serta kritik yang membangun dari pembaca akan menjadi nilai tambah yang sangat berarti bagi perbaikan kualitas di masa yang akan datang. Akhir kata, kami ucapkan terima kasih terhadap semua pihak yang telah membantu dalam merealisasikan buku ini. Semoga buku ini dapat menjadi buah karya yang bermanfaat bagi yang membaca dan menjadi salah satu referensi keilmuan dalam bidang keuangan publik.

Jakarta, April 2006

Penulis

GAMBARAN UMUM KEUANGAN PUBLIK

Keuangan publik adalah bagian dari ilmu ekonomi yang mempelajari aktivitas finansial pemerintah. Yang termasuk pemerintah di sini adalah seluruh unit pemerintah dan institusi atau organisasi pemegang otoritas publik lainnya yang dikendalikan dan didanai oleh pemerintah. Keuangan publik menjelaskan belanja publik dan teknik-teknik yang digunakan oleh pemerintah untuk membiayai belanja tersebut. Keuangan publik juga menganalisis pengeluaran publik untuk membantu kita dalam memahami mengapa jasa tertentu harus disediakan oleh negara dan mengapa pemerintah menggantungkannya pada jenis-jenis pajak tertentu. Hal hal yang termasuk dalam keuangan publik diantaranya adalah uraian-uraian yang menjelaskan mengapa pertahanan nasional harus dikelola oleh negara sedangkan makanan diserahkan kepada swasta dan mengapa suatu negara menggunakan komposisi berbagai jenis pajak dan bukan hanya pada pajak tunggal.

2

Bab I: Gambaran Umum Keuangan Publik

Keuangan publik mempelajari bagaimana proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh pemerintah, karena setiap keputusan akan mempunyai pengaruh terhadap ekonomi, keuangan rumah tangga dan swasta. Dengan demikian, penting bagi kita untuk mengembangkan model-model ekonomi yang dapat membantu menjelaskan arti alokasi sumber daya yang efisien atau optimal, arti keadilan, dan antisipasi akibat finansial maupun ekonomi atas suatu keputusan publik. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa fokus keuangan publik adalah mempelajari pendapatan dan belanja pemerintah, juga menganalisis implikasi dari kegiatan pendapatan dan belanja pada alokasi sumber daya, distribusi pendapatan, dan stabilitas ekonomi.

ALASAN MEMPELAJARI KEUANGAN PUBLIK
Keuangan publik erat kaitannya dalam proses pengambilan keputusan berdasarkan asas demokrasi. Apabila para pemilih wakil rakyat memonitor aktivitas para wakilnya, maka para wakil rakyat ini tentunya akan bekerja lebih keras dan berusaha meyakinkan para pemilihnya bahwa kontribusi mereka atas pembayaran-pembayaran pajak akan menyebabkan pencapaian kondisi yang lebih baik. Pertumbuhan sektor publik dari waktu ke waktu dalam jumlah yang sangat besar merupakan alasan yang kuat dalam menumbuhkan rasa ingin tahu permasalahan yang terdapat dalam keuangan publik. Dalam perkembangan selanjutnya, pertanyaan akan timbul berkaitan dengan mengapa pemerintah memerlukan anggaran sebanyak itu, digunakan untuk apa uang-uang itu, dan apakah uang tersebut digunakan dengan bijaksana? Di samping itu, akan muncul pula pertanyaan yang berkaitan dengan apakah hasil penerimaan pajak (terutama pajak penghasilan) dari rumah tangga seperti yang tercantum dalam anggaran negara memang relevan dengan aktivitas-aktivitas sektor publik ini dan apakah pengeluaran-pengeluaran untuk masing-masing jenis tersebut dilakukan dengan bijaksana? Dalam kondisi normal, dapat dikatakan bahwa semakin tinggi pendapatan rumah tangga maka akan semakin besar proporsi pajak yang harus dibayarkan. Seiring dengan itu, tentunya kepentingan dan perhatian publik akan semakin meningkat. Bagi individu yang merasa tidak puas dengan beban pajak yang menjadi tanggungan mereka, maka mereka akan memberikan pengawasan yang lebih pada aktivitas pemerintah. Namun apabila pembayar pajak merasa terpuaskan, mereka akan dengan sukarela menyerahkan sebagian pendapatan mereka. Dalam situasi ini, pembayar pajak akan memberikan otoritas lebih kepada pemerintah untuk mengelola dan mengendalikan sejumlah sumber

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi

3

daya keuangannya. Dengan asumsi ini, sistem perpajakan sebaiknya diarahkan pada kepuasan para individu pembayar pajak.

PENTINGNYA SEKTOR PUBLIK
Sektor publik dan sektor swasta merupakan kesatuan integral dalam sistem perekonomian. Namun demikian, pemerintah bertanggung jawab dalam melakukan tiga kegiatan publik utama, yang diantaranya adalah penyediaan pertahanan nasional, keadilan sosial, dan pekerjaan umum. Kebijakan publik akan merupakan suatu hal yang sangat penting terutama dalam hal mempengaruhi kegiatan perekonomian nasional, melalui kebijakan moneter dan kebijakan fiskal. John Stuart Mill (1921), menyampaikan beberapa alasan mengenai perlunya aktivitas publik yang dilakukan oleh pemerintah, diantaranya sebagai berikut: 1. Dalam hal pertahanan nasional, campur tangan pemerintah, walaupun harus membatasi kebebasan individu, tetap dibutuhkan dalam memelihara perdamaian dan melindungi masyarakat terhadap serangan yang datang dari luar maupun dari dalam. 2. Pemerintah haruslah bersifat inferior dalam melakukan kegiatan industri dan perdagangan karena usaha seperti itu dapat dijalankan oleh sektor swasta. 3. Individu akan lebih percaya diri apabila mengerjakan sesuatu untuk kepentingannya sendiri sehingga pemerintah hanya bergerak dalam area yang menyangkut kepentingan publik atau umum. Alasan-alasan yang dikemukakan oleh John Stuart Mill tersebut kemudian diterjemahkan dalam sistem perekonomian kapitalis. Sistem ini, menghendaki adanya kebebasan individu yang mutlak dan tidak membenarkan pengaturan ekonomi oleh pemerintah, kecuali dalam hal-hal yang tidak dapat diatur sendiri oleh para individu. Dalam perkembangannya, tidak ada lagi paham ekstrim seperti itu sehingga negara kapitalis pun memandang perlu adanya peranan pemerintah dalam perekonomian. Peran pemerintah tetap diperlukan dalam melakukan kegiatankegiatan ekonomi karena mekanisme pasar dalam sistem kapitalis mempunyai beberapa kelemahan. Di antara kelemahan-kelemahan mekanisme pasar tersebut adalah sebagai berikut: 1. Adanya barang publik (akan didefinisikan dan dibahas dalam bab mendatang) yang tidak dapat disediakan oleh mekanisme pasar sehingga harus disediakan oleh pemerintah.

Peran tersebut dapat dilihat dalam siklus seperti dibawah ini. Adanya distribusi pendapatan yang tidak merata antar pelaku ekonomi pasar. Adanya sifat monopoli dalam bidang usaha tertentu yang menyebabkan pemerintah harus campur tangan agar monopoli tidak merugikan para pelaku ekonomi. 6. Barang dan jasa yang disediakan oleh pemerintah dapat saja diproduksi oleh pemerintah atau diproduksi oleh swasta . dalam perekonomian. 5. perlu diperhatikan bagaimana sektor swasta akan bereaksi. fungsi sektor publik berbeda dengan fungsi rumah tangga dan perusahaan. Adanya resiko yang sangat besar yang tidak mungkin dikelola oleh swasta. 3. manfaat pribadi dan manfaat sosial sehingga pemerintah secara nyata diperlukan dalam pengelolaan biaya dan manfaat sosial karena swasta tidak ada keinginan untuk mengelolanya.1. Hubungan antara arus sektor swasta dan sektor pemerintah Dari gambar 1. Adanya inflasi atau deflasi yang tidak dapat diselesaikan secara otomatis oleh mekanisme pasar. Gambar 1. Arus barang pribadi dan barang publik tidak dibiayai oleh penjualan tetapi melalui perpajakan atau melalui pinjaman.1 terlihat bahwa akan terdapat hubungan yang erat antara arus sektor swasta (rumah tangga dan perusahaan) dan sektor pemerintah.4 Bab I: Gambaran Umum Keuangan Publik 2. Pada kenyataannya. 4. Sektor publik (anggaran pemerintah) memberikan kontribusi pada pasar faktor produksi dan pasar produk sehingga merupakan bagian integral dari sistem pembentukan harga. Itulah sebabnya dalam merancang suatu kebijakan fiskal. Adanya perbedaan antara biaya pribadi dan biaya sosial.

baik bagi produsen maupun bagi konsumen dan peraturan pemerintah yang diperlukan untuk menjamin persyaratan kelengkapan informasi tersebut. Dalam mekanisme pasar perlu ada proteksi dari pemerintah untuk melindungi pelaku pasar. 6. 4. Kondisi ini mensyaratkan adanya informasi yang lengkap mengenai pasar. Hal ini menyangkut kondisi-kondisi adanya eksternalitas yang perlu dikendalikan pemerintah. mengoreksi dan melengkapi peranan mekanisme pasar. subsidi dan pajak. adanya barang publik yang . Perlunya peran sosial yang dilakukan oleh pemerintah dalam bentuk distribusi pendapatan dan kesejahteraan dalam mekanisme pasar. 3. karakteristik kebijakan publik mempunyai sifat mengarahkan. Hal ini diperlukan untuk mengoreksi penyimpangan yang terjadi apabila terdapat kondisi persaingan yang tidak efisien. komposisi output pengeluaran publik haruslah sesuai dengan keinginan konsumen. Untuk mencapai efisiensi pasar. Dengan demikian. 2. Suatu kondisi dimana produksi barang sama dengan keinginan pasar. Peranan sektor publik dalam perhitungan GNP (Gross National Product) atau pendapatan nasional adalah bahwa pemerintah memberi kontribusi terhadap GNP melalui pembelian barang dan jasa. kedua adanya preferensi pengambilan keputusan yang terdesentralisasi. Kriteria pertama. Timbulnya masalah eksternalitas (akan dibahas lebih lanjut pada bab mendatang) yang perlu dipecahkan oleh pemerintah. karena mekanisme pasar tidak dapat melaksanakan semua fungsi ekonomi. 5. dan ketiga tidak menyerahkan ekonomi hanya pada kekuatan pasar. Peraturan pemerintah. melalui anggaran. Secara lebih terperinci karakteristik – karakteristik tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Untuk menjamin kesempatan kerja. stabilitas harga dan tingkat pertumbuhan ekonomi. Pertukaran barang dan jasa tertentu. RUANG LINGKUP KEUANGAN PUBLIK Bahasan keuangan publik dimulai dari keadaan dan alasan perlunya peran pemerintah dalam perekonomian.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 5 untuk dijual kepada pemerintah. KARAKTERISTIK KEBIJAKAN PUBLIK Terdapat sejumlah kriteria dalam menilai pentingnya sektor publik.

(misalnya: belanja pemerintah yang meliputi pendidikan. misalnya melalui hutang. KRITERIA EVALUASI KEBIJAKAN PUBLIK . pemerintah perlu memberikan stimulus pada perekonomian melalui kebijakan belanjanya yang mengalami pertumbuhan dari waktu ke waktu. dan sebagainya. § Keuangan publik membahas aspek belanja publik yang merupakan aktivitas utama pemerintah dalam penyediaan barang dan jasa publik untuk kesejahteraan masyarakat. Salah satu titik penting pada sisi belanja tersebut adalah adanya efek pengganda (multiplier) yang diperankan oleh pemerintah. perlunya pencapaian kondisi stabil dalam ekonomi dimana peran pemerintah sangat dominan. § Keuangan publik akan mencakup masalah-masalah bagaimana pemerintah memperoleh pendapatannya.6 Bab I: Gambaran Umum Keuangan Publik perlu dialokasikan oleh pemerintah. Untuk menutup kekurangannya. keseimbangan publik yang dicapai melalui proses pemilihan umum. § Aspek pembiayaan merupakan area pembahasan keuangan publik berikutnya. dan juga alokasi dan distribusi sumber daya. Hasil pemilihan umum ini akan menghasilkan keputusan yang diantaranya menyangkut penyediaan barang dan jasa publik. dimana bahasan tersebut akan dihubungkan dengan aspek efisiensi penyediaan jasa tersebut. § Yang terakhir. Secara lebih rinci dapat dijelaskan bahwa ruang lingkup keuangan publik mencakup hal hal sebagaimana dikemukakan di bawah ini: § Keuangan publik mencoba memberikan gambaran tentang pilihan publik yang menyangkut aspek institusi publik. dimana belanja tersebut dapat didanai oleh pendapatan yang dihasilkan dari kegiatan pemerintah. kesehatan dan pertahanan). pemerintah dapat melakukan usaha-usaha memperoleh sumber pendanaan lainnya. bahasan keuangan publik biasanya juga menyangkut kegiatan analisis hubungan antara kebijakan pemerintah dengan perekonomian yang dikelola oleh rumah tangga dan swasta. adanya mekanisme pasar yang perlu diintervensi pola distribusinya oleh pemerintah karena berbagai alasan. Sumber pendapatan pemerintah dapat mencakup pajak dan non pajak. Bahasan yang meliputi kegiatan memperoleh pendapatan. kegiatan yang mencakup belanja publik dan kegiatan pembiayaan sering disebut sebagai struktur fiskal (fiscal structure). sumbersumber tersebut akan dihubungkan dengan aspek keadilan dan distribusi pendapatan. Secara khusus. dan dalam keuangan publik.

Sistem Paternal (Paternalism) Kebijakan publik dapat dievaluasi dari asumsi bahwa pemerintah adalah pihak yang paling mengetahui permasalahan penduduk suatu negara dan pemerintah bebas menentukan kebijakan apa saja.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 7 Terdapat beberapa kriteria yang dapat digunakan dalam melakukan evaluasi dan analisis kebijakan publik yang diantaranya adalah sebagaimana di bawah ini. Sebagai contoh. Kebebasan Individu (Freedom of choice) Salah satu indikator keberhasilan kebijakan publik adalah apakah kebijakan pemerintah dapat mendorong kebebasan individu dalam bertransaksi ekonomi. perusahaan tersebut juga menyediakan banyak kesempatan kerja pada saat tingginya tingkat pengangguran? Apakah wajar mempertimbangkan untuk menutup bisnis penebangan hutan dalam rangka menyelamatkan habitat burung hantu? Atau. kebebasan individu dalam perekonomian memungkinkan pertukaran sukarela atau mempromosikan proses pengambilan keputusan sukarela yang didasarkan atas pertimbangan dagang yang bebas biaya transfer antar pihak yang bertransaksi. Keadilan dan kewajaran (Equity & Fairness) Suatu kebijakan publik dapat diuji dengan berbagai pertanyaan. apakah wajar mempertimbangkan untuk menutup suatu perusahaan yang menyebabkan polusi udara dimana dalam pertimbangan lainnya. . Dalam asas demokrasi. Sebagai contoh. apakah wajar mengenakan pajak yang digunakan untuk kebijakan pendidikan pada semua penduduk termasuk pada keluarga tanpa anak? Efisiensi Ekonomi (Economic Efficiency) Kebijakan publik dapat dianalisis dari sudut Pareto Efficiency yaitu melalui realokasi sumber daya atau melalui perubahan alokasi – sehingga mencapai kondisi dimana seseorang atau beberapa orang mengalami kepuasan lebih baik tanpa menyebabkan pihak lain terbebani. Pengujian terutama dikaitkan dengan kewajaran dalam persepsi sosial dan fair tidaknya suatu kebijakan publik terhadap isu hak kepemilikan. orang tidak akan menabung dalam jumlah yang cukup untuk pensiun sehingga pemerintah harus mengalokasikan penerimaan pajak agar penduduk usia lanjut dapat memperoleh manfaat.

Sektor publik telah mengalami pertumbuhan dari waktu ke waktu. welfare economics telah dipertimbangkan sebagai cara pemberian insentif untuk mengoreksi kebijakan berdasar keadilan sosial. Kemudian. ditribusi pendapatan. tetapi hal ini mungkin tidak efisien. karena setiap keputusan akan mempunyai pengaruh terhadap ekonomi.yang dapat memberi pekerjaan pada setiap orang perlu diintervensi pemerintah? Trade Off Kebijakan publik dapat dievaluasi dengan pertanyaan apakah pilihan kebijakan tidak akan mengorbankan tujuan lainnya. dan stabilitas ekonomi. kebijakan upah minimum mungkin mendorong keadilan. Jumlah yang sangat besar nilainya ini merupakan alasan yang kuat untuk menumbuhkan rasa ingin tahu masalah keuangan publik. Contoh. Apakah manfaat agregat dapat melampaui beban agregat? Secara umum.8 Bab I: Gambaran Umum Keuangan Publik Stabilisasi (Stabilization) Kebijakan publik dapat dianalisis dengan menilai apakah kebijakan yang diambil pemerintah mampu meningkatkan pengeluaran agregat? Atau apakah ekonomi sektor swasta . § § . Akan tetapi. keuangan rumah tangga dan swasta. mungkin ada konflik yang substansial antara beberapa kriteria tersebut. RANGKUMAN § Keuangan publik adalah bagian ilmu ekonomi yang mempelajari aktivitas finansial pemerintah dan bagaimana proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh pemerintah. Fokus keuangan publik adalah mempelajari pendapatan dan belanja pemerintah. ekonom menekankan efisiensi dan keadilan sebagai kriteria melakukan evaluasi atas kebijakan publik. dan juga menganalisis implikasi dari kegiatan pendapatan dan belanja pada alokasi sumber daya.

komposisi output pengeluaran publik haruslah sesuai dengan keinginan konsumen. LATIHAN 1. peranan pemerintah semakin diperlukan dalam melakukan kegiatan-kegiatan ekonomi karena mekanisme pasar dalam sistem kapitalis mempunyai beberapa kelemahan. Terdapat beberapa kriteria yang dapat digunakan dalam melakukan evaluasi dan analisis kebijakan publik yang diantaranya adalah Equity & Fairness (Keadilan dan kewajaran). Jelaskan secara singkat mengapa sistem perpajakan haruslah diarahkan pada kepuasan dari sudut pandang para individu? 3. Dalam sistem perekonomian kapitalis sekalipun. Kriteria pertama. Sebutkan kelemahan-kelemahan yang ada pada mekanisme pasar tersebut? 5. karena mekanisme pasar tidak dapat melaksanakan semua fungsi ekonomi. Jelaskan pengertian dari keuangan publik dan apa saja fokus dari keuangan publik tersebut? 2. Dalam menilai pentingnya sektor publik. melalui kebijakan moneter dan kebijakan fiskal. Freedom of choice (Kebebasan Individu). Uraikan karakteristik tersebut? . ada sejumlah kriteria/karakteristik kebijakan publik. Economic Efficiency (Efisiensi Ekonomi). Paternalism (Sistem Paternal). mengoreksi dan melengkapi peranan mekanisme pasar. Dalam perkembangan perekonomian. dan ketiga tidak menyerahkan ekonomi hanya pada kekuatan pasar. kedua adanya preferensi pengambilan keputusan yang terdesentralisasi. Stabilization (Stabilisasi). peran pemerintah tetap diperlukan dalam melakukan kegiatan-kegiatan ekonomi karena mekanisme pasar dalam sistem kapitalis mempunyai beberapa kelemahan. Jelaskan apa yang menjadi alasan tentang perlunya aktivitas publik yang dilakukan oleh pemerintah menurut John Stuart Mill? 4.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 9 § § § § Kebijakan publik akan merupakan suatu hal yang sangat penting terutama dalam hal mempengaruhi kegiatan perekonomian nasional. Dengan demikian karakteristik kebijakan publik mempunyai sifat mengarahkan. Trade Off . Terdapat sejumlah kriteria dalam menilai pentingnya sektor publik.

Jelaskan alasan perlunya peran pemerintah dalam perekonomian dalam konteks keuangan publik? 7. Jelaskan yang dimaksud dengan istilah Fiscal Structure ? . Apa saja ruang lingkup keuangan publik ? 8. Sebutkan dan jelaskan kriteria-kriteria yang digunakan untuk melakukan evaluasi dan analisis kebijakan publik? 10. Uraikan dan jelaskan pendekatan-pendekatan analisis tersebut? 9.10 Bab I: Gambaran Umum Keuangan Publik 6. Dalam melakukan analisis kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan anggaran pemerintah dapat dipakai beberapa pendekatan analisis .

BARANG PUBLIK & EKSTERNALITAS

BARANG PUBLIK
Barang publik merupakan nonrival in consumption yang artinya adalah bahwa kuantitas dari barang publik dapat dinikmati oleh lebih dari satu konsumen tanpa mengurangi jumlah yang dinikmati oleh konsumen yang lainnnya (Heyman, 2002). Sifat pokok dari barang publik ini adalah barang ini tidak dapat dimiliki. Sekali sudah tersedia, maka barang ini akan tersedia merata bagi semua orang. Akibatnya konsumsi barang publik oleh satu orang tidak mengurangi jumlah yang tersedia bagi orang lain. Oleh karena itu tidak perlu bagi seseorang untuk memilikinya agar dapat memanfaatkannya. Terdapat dua karakteristik kunci dalam mengklasifikasikan suatu barang menjadi barang publik yakni bersifat nonrivalry (tidak ada persaingan dalam konsumsinya) dan nonexcludability (tidak dapat dikecualikan).

12

Bab 2: Barang Publik & Eksternalitas

Nonrivalry di sini adalah bahwa barang tersebut akan dapat dikonsumsi oleh sejumlah orang secara bersama-sama, tanpa mengurangi jumlah yang dapat dikonsumsi oleh konsumen yang lainnya. Dengan kata lain, dapat dikemukakan bahwa satu orang akan dapat meningkatkan kepuasannya atas barang publik tersebut tanpa mengurangi kepuasan orang lain yang juga akan menikmati barang yang sama. Contoh yang paling nyata di sini adalah matahari, yang merupakan barang publik. Bandingkan dengan sepasang sepatu yang merupakan barang privat. Dilihat dari sudut pandang tertentu, barang publik tidak dikonsumsi dalam artian dipakai habis, melainkan barang barang tersebut dapat dinikmati. Dimensi kedua dari barang publik adalah Nonexcludability. Terminologi ini menggambarkan bahwa tidak ada cara yang mungkin untuk mengecualikan siapapun agar dapat memanfaatkan barang publik, seperti misalnya pertahanan nasional. Pertahanan nasional merupakan contoh klasik dari barang publik dimana manfaatnya akan diperoleh oleh masyarakat dalam bentuk perlindungan dari serbuan luar negeri yang berlaku secara tidak terbagi untuk seluruh masyarakat, dan tidak ada yang dikecualikan dari manfaat manfaat ini. Manfaatnya akan berlaku sama bagi semua orang, meskipun mereka dapat mempunyai preferensi yang berbeda-beda. Secara umum dapat dikemukakan bahwa suatu barang publik akan mempunyai sifat-sifat berikut: 1. Konsumsi atas barang publik oleh seseorang tidak mempengaruhi penawaran barang publik tersebut untuk dikonsumsi oleh orang lain, atau suatu barang publik dapat dikonsumsi oleh beberapa orang secara bersama-sama. Sifat barang publik seperti ini disebut nonrival consumption. Contoh barang publik dengan sifat ini adalah jalan raya dan pertahanan nasional dimana konsumsi terhadap barang tersebut oleh seseorang tidak mengurangi kesempatan bagi orang lain untuk ikut mengkonsumsinya. 2. Walaupun penyedia barang menginginkan, setiap anggota masyarakat tidak akan dapat dibatasi ataupun dilarang untuk mengkonsumsi barang publik. Sifat barang publik seperti ini disebut nonexclusion. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa jika seseorang akan mengkonsumsi barang publik, apakah seseorang itu mau membayar atau tidak (free rider) dalam mengkonsumsi barang tersebut, orang tersebut akan tetap dapat memperoleh barang tersebut. 3. Walaupun setiap orang mengkonsumsi jumlah yang sama atas barang publik, tidak ada persyaratan bahwa konsumsi ini dinilai atau dihargai oleh semua orang. Kontribusi seseorang atas penggunaan barang publik dapat

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi

13

berbeda-beda. Seseorang atau sekelompok orang dapat saja terpaksa membayar lebih mahal akibat rendahnya kontribusi sebagian lainnya. 4. Sifat lain dari barang publik adalah bahwa barang publik tidak disediakan secara eksklusif oleh pihak swasta. Penyediaan barang publik yang dilakukan oleh pemerintah tidak berarti bahwa produksinya harus dilakukan oleh sektor publik, tapi mungkin disediakan oleh swasta kemudian pemerintah melakukan pembelian atas barang tersebut. Karakteristik barang publik seperti di atas tidaklah absolut, akan tetapi tergantung pada kondisi pasar dan teknologi. Misalnya saja, suatu komoditas dapat saja memenuhi satu kriteria dari barang publik, tapi mungkin tidak memenuhi kriteria yang lain. Beberapa barang tertentu yang secara konvensional tidak dipandang sebagai komoditas pribadi dapat saja mempunyai karakteristik sebagai barang publik.

Perbedaan Antara Barang Publik Dan Barang Pribadi
Terdapat beberapa perbedaan karakteristik antara barang pribadi dan barang publik. Perbedaannya adalah bahwa pertukaran barang pribadi dalam mekanisme pasar tidak akan menghasilkan eksternalitas 1 , sedangkan pertukaran barang publik selain dapat menghasilkan manfaat eksternal juga akan dapat menyebabkan beban eksternal bagi pihak lain. Contoh barang publik yang menghasilkan manfaat eksternal adalah pertahanan nasional dan contoh barang publik yang menghasilkan beban eksternal adalah penyediaan mesin atau peralatan yang menyebabkan adanya polusi udara. Perbedaan lain adalah bahwa biaya marjinal untuk distribusi barang publik kepada konsumen adalah nol. Hal ini merupakan efek dari sifat non rival consumption. Contoh: Misalkan ada sekelompok orang yang berada di satu ruangan tertentu. Setiap hari, penghuni ruang ini dapat mengkonsumsi sejumlah roti dan udara sejuk dari alat pendingin ruangan. Jumlah roti yang tersedia akan dikonsumsi dengan porsi yang sama oleh orang-orang yang berada di ruangan itu, dan bila seseorang akan mengkonsumsi lebih dari porsinya, dipastikan akan mengurangi porsi orang lain. Di lain pihak, tidak mungkin membagi temperatur yang telah diberi pendingin udara kepada orang-orang dalam ruangan tersebut. Semua orang
1

Biaya atau manfaat yang muncul yang diakibatkan karena adanya transaksi pasar dimana biaya ataupun manfaat tersebut tidak tercermin dalam harga barang.

14

Bab 2: Barang Publik & Eksternalitas

akan mengkonsumsi tingkat temperatur yang sama. Penambahan orang dalam ruangan, sampai batas tertentu, tidak akan mempengaruhi tingkat konsumsi atas udara sejuk tersebut. Tidak mungkin orang akan mengkonsumsi tingkat temperatur yang berbeda satu sama lain. Sejumlah roti mempunyai karakteristik sebagai barang pribadi sedangkan tingkat suhu seperti uraian diatas mempunyai karakteristik sebagai barang publik bagi orang-orang yang menghuni ruangan. Secara umum dapat dikemukakan bahwa terdapat beberapa alasan terjadinya perbedaan antara barang publik dengan barang pribadi, diantaranya adalah sebagai berikut:

Karena Kegagalan Mekanisme Pasar
Kebutuhan barang pribadi akan dirasakan secara perorangan, sedangkan kebutuhan barang publik akan dirasakan secara bersama-sama oleh para individu dalam masyarakat. Manfaat yang dihasilkan oleh barang publik tidak terbatas pada konsumen tertentu saja yang membeli barang itu, akan tetapi juga bagi konsumen lainnya. Contoh barang pribadi adalah roti. Konsumsi orang satu dengan orang lainnya berada dalam hubungan yang saling bersaingan (rival), karena apabila roti tadi dikonsumsi oleh seseorang, maka barang tersebut tidak tersedia bagi orang lain. Sedangkan contoh barang publik adalah alat untuk mengurangi pencemaran udara. Jika alat tersebut berfungsi dan terjadi peningkatan kualitas udara, manfaat yang dihasilkan akan tersedia bagi semua orang yang bernafas. Konsumsi atas alat anti pencemaran udara tadi oleh beberapa individu adalah tidak saling bersaing (non rival), karena keikutsertaan orang lain untuk memanfaatkan alat tidak mengurangi manfaat bagi yang lainnya. Kedua sifat barang tadi akan menimbulkan permasalahan bagaimana konsumen berperilaku dan bagaimana kedua jenis barang tadi harus disediakan. Mekanisme pasar akan secara tepat dapat menggambarkan penyediaan barang pribadi. Mekanisme ini didasarkan pada pertukaran dan pertukaran hanya terjadi jika terdapat hak eksklusif bagi pihak yang membelinya. Suatu pasar menyediakan sistem dimana produsen akan memproduksi barang jika konsumen membutuhkan barang itu. Hanya pihak yang bersedia membayar

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi

15

barang itulah yang dapat memperoleh manfaat atas barang. Dalam kondisi ini, pasar menjadi efisien, karena transaksi pemanfaatan barang dianalogikan sebagai suatu tender terbuka dan setiap orang boleh mengikuti tender sehingga tidak ada yang dirugikan. Lain halnya dengan penyediaan barang publik dimana tidak terjadi mekanisme pasar yang efisien. Satu orang tidak akan dapat secara ekslusif memanfaatkan barang publik, karena apabila orang tersebut mengkonsumsi, pada saat yang sama orang atau pihak lain dapat mengkonsumsi barang publik tersebut secara bersama-sama. Konsumen juga tidak bersedia untuk melakukan pembayaran atas barang publik tadi, dengan pertimbangan bahwa orang lain juga menikmati barang yang sama. Manfaat yang dirasakan oleh satu pihak akan sama dengan manfaat yang dirasakan pihak lain, sehingga pembayaran hanya oleh satu konsumen tidak signifikan. Hubungan antara produsen dan konsumen menjadi tidak ada dan dengan demikian maka tugas pemerintahlah yang harus bersedia memproduksi barang publik tersebut. Pemerintah juga harus mengambil tindakan apabila mekanisme pasar tersebut tidak berjalan.

Ditinjau dari Proses Penyediaan Barang Publik
Permasalahan yang mungkin timbul kemudian adalah bahwa bagaimana pemerintah harus menentukan berapa banyak barang publik yang perlu diadakan. Kesulitan akan terjadi dalam menentukan jenis dan kualitas barang publik, berapa konsumen yang harus membayar dan bagaimana manfaat ini akan dapat dinilai oleh konsumen. Dari sudut pandang konsumen, mereka tidak dapat menyatakan kepada pemerintah berapa nilai pelayanan umum yang disediakan oleh pemerintah. Persediaan barang publik tidak banyak dipengaruhi oleh kontribusi individu. Konsumen tidak mempunyai hak suara secara perorangan untuk menyatakan bagaimana nilai pelayanan yang nyata bagi mereka, kecuali ada jaminan konsumen lain juga akan melakukan hal yang sama. Konsumen akan dapat memilih sebagai free rider (dibahas lebih lanjut pada sub bab berikut) atas apa yang disediakan oleh pemerintah. Dengan demikian, cara penyediaan barang publik dan alokasinya akan berbeda dengan cara penyediaan barang pribadi. Pada tahap ini, proses politik akan menggantikan mekanisme pasar. Pemilihan dengan pemungutan suara akan menggantikan transaksi jual beli yang terjadi di mekanisme pasar. Mereka merasa berkepentingan untuk memilih apa yang akan memberi manfaat bagi mereka. Hasil pemungutan suara akan menggantikan pilihan melalui mekanisme pasar. Tingkat efisiensi

16

Bab 2: Barang Publik & Eksternalitas

proses pemilihan dan kebersamaan pilihan masyarakat akan menentukan tingkatan pencapaian pemecahan yang efisien.

Ditinjau dari Permintaan Barang Publik
Kurva permintaan barang publik harus diinterpretasikan secara berbeda dengan kurva permintaan barang pribadi. Untuk barang publik (murni), seluruh konsumen harus mengkonsumsi sejumlah kuantitas yang sama atas barang. Para pembeli barang publik tidak akan dapat menyesuaikan tingkat konsumsinya sehingga misalnya seorang individu mengkonsumsi satu unit, sementara individu lain dapat mengkonsumsi dua unit. Para konsumen tidak dapat menyesuaikan jumlah yang dibeli, misalnya sampai harga barang publik sama dengan manfaat marjinalnya atau sampai dengan transaksi pengadaan barang publik tersebut terjadi (kondisi equilibrium). Sayangnya, barang publik tidak dapat dihargai seperti itu, karena sifatnya yang non exclusion. Bila digambarkan dalam grafik, sumbu vertikal bukanlah harga pasar, tetapi jumlah maksimum seseorang bersedia membayar per unit barang publik. Sebagai fungsi dari jumlah barang yang secara nyata tersedia adalah sumbu horizontalnya. Contoh: Ada tiga orang hidup bersama dalam sebuah komunitas yang kecil dan mempunyai keinginan yang sama untuk mengadakan satuan pengamanan (satpam). Harga sewa satpam merupakan jumlah maksimal yang individu bersedia membayar dan kuantitas proteksi keamanan dapat diukur dari jumlah satpam yang disewa untuk tujuan itu, dan merupakan cerminan dari barang publik yang dapat dikonsumsi oleh ketiga orang tersebut.

Ditinjau dari Tingkat Output yang Efisien
Efisiensi dalam pasar barang pribadi mensyaratkan bahwa seluruh aktivitas ekonomi dilaksanakan sampai pada titik di mana manfaat sosial marjinal (marginal social benefit) sama dengan biaya sosial marjinal (marginal social cost). Kuantitas yang efisien per periode waktu berhubungan dengan titik di mana output meningkat sedemikian rupa sehingga jumlah manfaat marjinal konsumen sama dengan biaya sosial marjinal atas barang. Prinsip ini dapat juga berlaku untuk penerapan teori barang publik.

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi

17

Manfaat sosial marjinal adalah jumlah manfaat marjinal yang dinikmati oleh seluruh konsumen tersebut. Dimisalkan ada seseorang berkeinginan memproduksi atau membeli suatu barang (publik) untuk kepentingan pribadinya. Penyediaan barang publik oleh orang itu tidak hanya akan memberi manfaat kepada si penyedia tetapi juga kepada orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian, total manfaat sosial marjinalnya akan melebihi manfaat yang diterima oleh orang yang menyediakan barang publik tadi. Gabungan seluruh manfaat yang dinikmati oleh orang-orang di sekitarnya memberikan manfaat sosial marjinal atas tambahan unit yang disediakan.

FREE RIDER PROBLEM
Sebuah sistem yang meminta kontribusi masyarakat secara sukarela untuk penyediaan dan pembiayaan barang publik akan dapat berjalan apabila komunitas publiknya hanya terdiri dari beberapa individu. Dalam kelompok kecil dimana masing-masing orang kenal satu sama lain, apabila mereka mempunyai gagasan terhadap penyediaan suatu barang akan lebih mudah mencapai kompromi. Hal ini dikarenakan setiap anggota kelompok akan dapat dengan mudah mengidentifikasi manfaat barang tersebut. Sebagai contoh, jika sekelompok orang yang menghuni sebuah apartemen mewah dan yang mempunyai kepentingan yang sama dalam memperbaiki jalan atau mengadakan proteksi keamanan, mereka akan secara mudah untuk mencapai kompromi dalam rangka menyediakan barang publik tersebut dengan cara mendanai secara bersama-sama. Selain proses pencapaian kesepakatan menjadi tidak rumit, faktor pendukung lainnya adalah adanya keterikatan moral antar mereka. Hal ini akan sulit terjadi jika jumlah orang yang terlibat dalam proses pengambilan keputusan bertambah dan informasi tentang selera dan kemampuan ekonomi kurang. Dalam kelompok dengan skala yang lebih luas, sepertinya akan sulit untuk menggambarkan preferensi kelompok tersebut, karena sebagian besar anggota dalam kelompok besar tersebut dimungkinkan akan tidak secara akurat memperoleh informasi tentang manfaat nyata atas pengadaan barang publik. Hal ini mengakibatkan beberapa orang secara sukarela memberikan kontribusi untuk penyediaan barang publik tersebut, namun di lain pihak, akan terdapat segelintir orang yang enggan memberikan kontribusinya secara sukarela. Pada dasarnya mereka mengetahui bahwa barang publik yang akan dibeli atau diadakan tidak mungkin hanya dapat dinikmati oleh orang-orang yang membayar saja. Apabila kondisi yang seperti ini terjadi, akan ada orang-orang yang mengambil manfaat barang publik tanpa memberikan kontribusi apa pun terhadap biaya penyediaan barang tersebut.

18

Bab 2: Barang Publik & Eksternalitas

Orang ini disebut free rider. Problem akan muncul jika jumlah free rider bertambah banyak sehingga pada akhirnya penyediaan barang publik, misalnya perbaikan jalan akses ke apartemen, tidak jadi dilakukan. Semua anggota kelompok tersebut, pada akhirnya, tidak dapat menikmati kenyamanan menggunakan jalan tadi.

EKSTERNALITAS
Dalam suatu perekonomian modern, setiap aktivitas mempunyai keterkaitan dengan aktivitas lainnya. Apabila semua keterkaitan antara suatu kegiatan dengan kegiatan lainnya dilaksanakan melalui mekanisme pasar atau melalui suatu sistem, maka keterkaitan antar berbagai aktivitas tersebut tidak menimbulkan masalah. Akan tetapi banyak pula keterkaitan antar kegiatan yang tidak melalui mekanisme pasar sehingga timbul berbagai macam masalah. Keterkaitan suatu kegiatan dengan kegiatan lain yang tidak melalui mekanisme pasar adalah apa yang disebut dengan eksternalitas. Secara umum dapat dikatakan bahwa eksternalitas adalah suatu efek samping dari suatu tindakan pihak tertentu terhadap pihak lain, baik dampak yang menguntungkan maupun yang merugikan. Dalam literatur asing, efek samping mempunyai istilah seperti : external effects, externalities, neighboorhood effects, side effects, spillover effects (Mishan, 1990). Efek samping dari suatu kegiatan atau transaksi ekonomi bisa positif (positive external effects, external economic) maupun negatif (negative external effects, external diseconomic). Dalam kenyataannya, baik dampak negatif maupun efek positif bisa terjadi secara bersamaan dan simultan. Dampak yang menguntungkan misalnya seseorang yang membangun sesuatu pemandangan yang indah dan bagus pada lokasi tertentu mempunyai dampak positif bagi orang sekitar yang melewati lokasi tersebut. Sedangkan dampak negatif misalnya polusi udara, air dan suara. Ada juga ekternalitas yang dikenal sebagai eksternalitas yang berkaitan dengan uang (pecuniary externalities) yang muncul ketika dampak eksternalitas itu disebabkan oleh meningkatnya harga. Misalnya, suatu perusahaan didirikan pada lokasi tertentu atau kompleks perumahan baru dibangun, maka harga tanah tersebut akan melonjak tinggi. Meningkatnya harga tanah tersebut menimbulkan dampak eksternal yang negatif terhadap konsumen lain yang ingin membeli tanah di sekitar daerah tersebut. Dalam contoh di atas, efek tersebut dalam perubahan harga tanah dimana kesejahteraan masyarakat berubah tetapi perubahan itu akan kembali ke keadaan keseimbangan karena setiap barang akan menyamakan rasio hargaharga barang dengan marginal rate of substitution (MRS). Jadi, suatu fakta

2. kegiatan . sehingga produksi ikan terganggu dan akhirnya merugikan produsen lain yakni para penangkap ikan (nelayan). Efek akan dampak dari suatu konsumen terhadap produsen (effects of consumers on producers) Dampak Suatu Produsen Terhadap Produsen Lain Suatu kegiatan produksi dikatakan mempunyai dampak eksternal terhadap produsen lain jika kegiatannya itu mengakibatkan terjadinya perubahan atau penggeseran fungsi produksi dari produsen lain. Jadi. Dalam hal ini. Efek atau dampak satu produsen terhadap produsen lain (effects of producers on other producers). Eksternalitas itu dapat terjadi dari empat interaksi ekonomi berikut ini: 1.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 19 bahwa tindakan seseorang dapat mempengaruhi orang lain tidaklah berarti adanya kegagalan pasar selama pengaruh tersebut tercermin dalam hargaharga sehingga tidak terjadi ketidakefisienan dalam perekonomian. jika aktivitas dan tindakan invividu pelaku ekonomi baik produsen maupun konsumen mempunyai dampak (externality) baik terhadap mereka sendiri maupun terhadap pihak lain. Suatu proses produksi (misalnya perusahaan pulp) menghasilkan limbah residu produk sisa yang beracun dan masuk ke aliran sungai. danau atau semacamnya. Dampak kategori ini bisa dipahami lebih jauh dengan contoh lain berikut ini. yang dimaksud dengan eksternalitas hanyalah apabila tindakan seseorang mempunyai dampak terhadap orang lain atau segolongan orang lain tanpa adanya kompensasi apapun juga sehingga timbul inefisiensi dalam alokasi faktor produksi. Efek atau dampak samping kegiatan produsen terhadap konsumen (effects of producers on consumers) 3. Dampak atau efek yang termasuk dalam kategori ini meliputi biaya pemurnian atau pembersihan air yang dipakai (eater intake clen-up cost) oleh produsen hilir (downstream producers) yang menghadapi pencemaran air (water polution) yang diakibatkan oleh produsen hulu (upstream producers). Jenis-jenis Eksternalitas Efisiensi alokasi sumberdaya dan distribusi konsumsi dalam ekonomi pasar dengan kompetisi bebas dan sempurna bisa terganggu. Efek atau dampak dari suatu konsumen terhadap konsumen lain (effects of consumers on consumers) 4. Hal ini terjadi ketika produsen hilir membutuhkan air bersih untuk proses produksinya.

Sebagai contoh. asap rokok seseorang terhadap orang sekitarnya dan sebagainya. bahaya radiasi dari stasiun pembangkit (polusi udara) serta polusi air. Kategori ini meliputi polusi suara (noise). Misalnya. Dalam hal ini. Dampak Konsumen terhadap Produsen Dampak konsumen terhadap produsen terjadi jika aktivitas konsumen mengganggu fungsi produksi suatu produsen atau kelompok produsen tertentu. kebisingan bunyi radio atau musik dari tetangga. yang semuanya mempengaruhi kenyaman konsumen atau masyarakat luas. Konsumen seorang individu bisa dipengaruhi tidak hanya oleh efek samping dari kegiatan produksi tetapi juga oleh konsumsi oleh individu yang lain. jika aktivitasnya merubah atau menggeser fungsi utilitas rumah tangga (konsumen). Dampak Produsen Terhadap Konsumen Suatu produsen dikatakan mempunyai eksternal efek terhadap konsumen. berkurangnya fasilitas daya tarik alam (amenity) karena pertambangan.20 Bab 2: Barang Publik & Eksternalitas produksi pulp tersebut mempunyai dampak negatif terhadap produksi lain (ikan) atau nelayan. Dampak atau efek dari kegiatan suatu seorang konsumen yang lain dapat terjadi dalam berbagai bentuk. Dampak atau efek samping yang sangat populer dari kategori kedua yang populer adalah pencemaran atau polusi. Dampak Konsumen terhadap Konsumen Lain Dampak konsumen terhadap konsumen yang lain terjadi jika aktivitas seseorang atau kelompok tertentu mempengaruhi atau mengganggu fungsi utilitas konsumen yang lain. bisingnya suara alat pemotong rumput tetangga. suatu agen ekonomi (perusahaan/produsen) yang menghasilkan limbah (waste products) ke udara atau ke aliran sungai mempengaruhi pihak dan agen lain yang memanfaatkan sumber daya alam tersebut dalam berbagai bentuk. . dan inilah yang dimaksud dengan efek suatu kegiatan produksi terhadap produksi komoditi lain. kepuasan konsumen terhadap pemanfaatan daerah-daerah rekreasi akan berkurang dengan adanya polusi udara. Dampak jenis ini misalnya terjadi ketika limbah rumahtangga terbuang ke aliran sungai dan mencemarinya sehingga mengganggu perusahaan tertentu yang memanfaatkan air baik oleh ikan (nelayan) atau perusahaan yang memanfaatkan air bersih.

Dari dua konsep eketernalitas ini. § Eksternalitas yang tidak habis (an undeplate externality) adalah suatu efek eksternal yang mempunyai ciri barang publik (public goods) yang mana barang tersebut bisa dikonsumsi oleh seseorang. eksternalitas dan ketidakefisienan timbul karena salah satu atau lebih dari prinsip-prinsip alokasi sumber daya yang efisien tidak terpenuhi. yang memerlukan instrumen ekonomi untuk menginternalisasikan dampak tersebut dalam aktivitas dan analisa ekonomi. Selanjutnya. Dengan kata lain. Bagaimana mekanisme timbulnya eksternalitas dan ketidakefisienan dari alokasi sumber daya sebagai akibat dari adanya faktor di atas diuraikan satu persatu berikut ini. Sejauh semua faktor ini tidak ditangani dengan baik. air. besarnya konsumsi seseorang akan barang tersebut tidak akan mengurangi konsumsi bagi yang lainnya. Faktor-faktor Penyebab Eksternalitas Eksternalitas timbul pada dasarnya karena aktivitas manusia yang tidak mengikuti prinsip-prinsip ekonomi yang berwawasan lingkungan. barang itu tidak bisa dikonsumsi oleh orang lain. ketidaksempurnaan pasar. dan suara merupakan contoh eksternalitas jenis yang tidak habis. maka eksternalitas dan ketidakefisienan ini tidak bisa dihindari. kegagalan pemerintah merupakan keadaan-keadaan dimana unsur hak pemikiran atau pengusahaan sumber daya (property rights) tidak terpenuhi. Kalau ini dibiarkan. eksternalitas jenis kedua merupakan masalah pelik/rumit dalam ekonomi lingkungan. dan juga bagi orang lain.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 21 Lebih jauh Baumol dan Oates (1975) menjelaskan tentang konsep ekternalitas dalam dua pengertian yang berbeda: § Eksternalitas yang bisa habis (a deplatable externality) yaitu suatu dampak eksternal yang mempunyai ciri barang individu (private good or bad) yang mana jika barang itu dikonsumsi oleh seseorang individu. Karakteristik barang atau sumberdaya publik. Dalam pandangan ekonomi. maka ini akan memberikan dampak yang tidak menguntungkan terhadap ekonomi terutama dalam jangka panjang. barang publik sempurna (pure public good) . Keberadaan eksternalitas yang merupakan barang publik seperti polusi udara. Keberadaan Barang Publik Barang publik (public goods) adalah barang yang apabila dikonsumsi oleh individu tertentu tidak akan mengurangi konsumsi orang lain akan barang tersebut.

barang ini merupakan konsumsi umum yang dicirikan oleh penawaran gabungan (joint supply) dan tidak bersaing dalam mengkonsumsinya (non-rivalry in consumption). maka sumbangan itu tidaklah cukup besar untuk membiayai penyediaan barang publik yang efisien. Barang publik yang berkaitan dengan lingkungan meliputi udara segar. Ada dua ciri utama dari barang publik ini. Masyarakat atau konsumen cenderung acuh tak acuh untuk menentukan harga sesungguhnya dari barang publik ini. Sebagai contoh. jika si A mengetahui bahwa barang tersebut akan disediakan oleh si B. rekreasi. barang publik tidak diperjualbelikan sehingga tidak memiliki harga. barang publik dimanfaatkan berlebihan dan tidak mempunyai insentif untuk melestarikannya. Satu-satunya mekanisme yang membedakannya adalah dengan menetapkan harga (nilai moneter) terhadap barang publik tersebut sehingga menjadi barang privat (dagang) sehingga benefit yang diperoleh dari harga itu bisa dipakai untuk mengendalikan atau memperbaiki kualitas lingkungan itu sendiri. common property resource). Sumber Daya Bersama Keberadaan sumber daya bersama (common resources) atau akses terbuka terhadap sumber daya tertentu ini tidak jauh berbeda dengan keberadaan . Dalam hal ini. karena sifat barang publik yang tidak ekslusif dan merupakan konsumsi umum. Kajian ekonomi sumber daya dan lingkungan salah satunya menitikberatkan pada persoalan barang publik atau barang umum ini (common consumption. maka si A bisa ikut menikmatinya karena tidak seorang pun yang bisa menghalanginya untuk mengkonsumsi barang tersebut. Tetapi dalam menetapkan harga ini menjadi masalah tersendiri dalam analisa ekonomi lingkungan. Pertama. mendorong sebagian masyarakat sebagai “free rider”. Kalaupun ada kontribusi. Jika akhirnya si B berkeputusan untuk menyediakan barang tersebut. Keadaan seperti akhirnya cenderung mengakibatkan berkurangnya insentif atau rangsangan untuk memberikan kontribusi terhadap penyediaan dan pengelolaan barang publik. Karena ciri-ciri di atas.22 Bab 2: Barang Publik & Eksternalitas didefinisikan sebagai barang yang harus disediakan dalam jumlah dan kualitas yang sama terhadap seluruh anggota masyarakat. Kedua adalah tidak ekslusif (non-exclusive) dalam pengertian bahwa penawaran tidak hanya diperuntukan untuk seseorang dan mengabaikan yang lainnya. karena masyarakat cendrung memberikan nilai yang lebih rendah dari yang seharusnya (undervalued). maka si A tidak mau membayar untuk penyediaan barang tersebut dengan harapan bahwa barang itu akan disediakan oleh si B. pemandangan yang indah. hidup yang nyaman dan sejenisnya. public goods. air bersih.

Ketidaksempurnaan Pasar Masalah lingkungan bisa juga terjadi ketika salah satu partisipan di dalam suatu tukar menukar hak-hak kepemilikan (property rights) mampu mempengaruhi hasil yang terjadi (outcome). Ketidaksempurnaan pasar ini misalnya terjadi pada praktek monopoli dan kartel. sama halnya dengan barang-barang publik. . tidak ekskludabel. Namun tidak seperti barang publik. Hal ini bisa terjadi pada pasar yang tidak sempurna (imperfect market) seperti pada kasus monopoli (penjual tunggal). Sumber-sumber daya milik bersama. Jadi. Contoh konkrit dari praktek ini adalah Organisasi negara-negara pengekspor minyak (OPEC) dengan memproduksi dalam jumlah yang lebih sedikit sehingga mengakibatkan meningkatnya harga yang lebih tinggi dari normal. Contoh klasik tentang bagaimana eksternalitas terjadi pada kasus sumberdaya bersama ini adalah seperti yang diperkenalkan oleh Hardin (1968) yang terkenal dengan istilah tragedi barang umum (the tragedy of the commons). melalui kebijaksanaan dan sebagainya. Kelompok tertentu ini memanfaatkan pemerintah untuk mencari keuntungan (rent seeking) melalui proses politik. Aksi pencarian keuntungan (rent seeking) bisa dalam berbagai bentuk: § Kelompok yang punya kepentingan tertentu (interest groups) melakukan loby dan usaha-usaha lain yang memungkinkan diberlakukannya aturan yang melindungi serta menguntungkan mereka. Pemanfaatannya oleh seseorang.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 23 barang publik di atas. Kegagalan pemerintah banyak diakibatkan tarikan kepentingan pemerintah sendiri atau kelompok tertentu (interest groups) yang tidak mendorong efisiensi. pemerintah juga perlu mempertimbangkan seberapa banyak pemanfaatannya yang efisien. Sumber-sumber daya ini terbuka bagi siapa saja yang ingin memanfaatkannya. sumber daya milik bersama memiliki sifat bersaingan. sehingga secara keseluruhan praktek monopoli ini merugikan masyarakat (worse off ). akan mengurangi peluang bagi orang lain untuk melakukan hal yang sama. dan cuma-cuma. Kegagalan Pemerintah Sumber ketidakefisienan dan atau eksternalitas tidak saja diakibatkan oleh kegagalan pasar tetapi juga karena kegagalan pemerintah (government failure). keberadaan sumber daya milik bersama ini. Pada kondisi yang demikian akan hanya berakibat terjadinya peningkatan surplus produsen yang nilainya jauh lebih kecil dari kehilangan surplus konsumen.

Berdasarkan perhitungan atau estimasi perusahaan A harus mengeluarkan biaya (denda) yang besar (misalnya Rp. berkenaan dengan penanggulangan eksternalitas itu sama saja. Pencari keuntungan (rent seeker) bisa dari perusahaan itu sendiri atau dari pemerintah atau oknum memungkinkan membayar kurang dari 1 milyar agar peraturan sesungguhnya tidak diberlakukan. dan denda informasi ini belum tentu menjadi reveneu pemerintah. Praktek jenis ini bisa mendorong terjadinya eksternalitas. Pada dasarnya. Sebagai contoh. sehingga pihak-pihak yang berkepentingan bisa memberikan uang jasa atau uang pelicin untuk keperluan tertentu. baik itu pribadi/kelompok maupun perusahaan/ organisasi kemasyarakatan. tujuan yang hendak dicapai oleh pemerintah maupun pihak swasta (perorangan dan kelompok). melainkan juga pihakpihak non pemerintah. Praktek mencari keuntungan ini membuat alokasi sumber daya menjadi tidak efisien dan pelaksanaan aturan-aturan yang mendorong efisiensi tidak berjalan dengan semestinya. Solusi Pemerintah dan Swasta terhadap Eksternalitas Kita telah menyimak mengapa keberadaan eksternalitas itu dapat mengakibatkan alokasi sumber daya yang dilakukan oleh pasar menjadi tidak efisien. bukan hanya pemerintah saja yang perlu dan dapat mengatasi eksternalitas itu. . Untuk mudahnya. Dalam prakteknya. Namun sejauh ini kita baru mengulas secara sekilas tentang cara-cara mengatasi eksternalitas tersebut. Pada bagian pembahasan berikut kita akan menelaah solusi-solusi atau upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah dan pribadi atau swasta (private solution) dalam mengatasi persoalan eksternalitas.24 § Bab 2: Barang Publik & Eksternalitas Praktek mencari keuntungan bisa juga berasal dari pemerintah sendiri secara sah misalnya memberlakukan proteksi berlebihan untuk barangbarang tertentu seperti mengenakan pajak impor yang tinggi dengan alasan meningkatkan efisiensi perusahaan dalam negeri. § Praktek mencari keuntungan ini bisa juga dilakukan oleh aparat atau oknum tertentu yang mempunyai otoritas tertentu. Sehingga akhirnya dampak lingkungan yang seharusnya diselidiki dan ditangani tidak dilaksanakan dengan semestinya sehingga masalahnya menjadi bertambah serius dari waktu ke waktu. 1 milyar) untuk menanggulangi efek dari limbah yang dihasilkan itu. untuk menghindari resiko yang lebih besar kalau ketentuan atau aturan diberlakukan dengan sebenarnya. yakni untuk mendorong alokasi sumber daya agar mendekati kondisi yang optimum secara sosial. kita sebut saja pihak-pihak non pemerintah tersebut sebagai pihak “pribadi” atau “swasta”. perusahaan A yang mengeluarkan limbah yang merusak lingkungan.

yang biaya sosialnya jauh lebih besar daripada keuntungan pihak-pihak yang melakukannya. sehingga tidak terlalu merusak lingkungan namun juga tidak menghalangi kegiatan produksi. kita harus menghitung segala untung ruginya secara cermat. Pajak Pigovian dan Subsidi Selain menerapkan regulasi. untuk mengatasi kebiasaan membuang limbah beracun ke sungai. Di semua kasus. Bentuk regulasi dibidang lingkungan hidup itu sendiri bisa bermacam-macam.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 25 Regulasi Pemerintah dapat mengatasi suatu eksternalitas dengan melarang atau mewajibkan perilaku tertentu dari pihak-pihak tertentu. Dalam kasus ini pemerintah menggunakan regulasi atau pendekatan komando dan kontrol untuk melenyapkan eksternalitas tadi. Jadi. Namun kasus-kasus polusi umumnya tidak sesederhana itu. yang dapat memadukan insentif pribadi/swasta dengan efisiensi sosial. semua kendaraan bemotor sesungguhnya mengeluarkan polusi. yang harus diupayakan bukan penghapusan polusi total. Terkadang EPA mewajibkan pemakaian teknologi atau peralalatan tertentu untuk mengurangi polusi di pabrik-pabrik. untuk mengatasi eksternalitas pemerintah juga dapat menerapkan kebijakan-kebijakan yang didasarkan pada pendekatan pasar. para pejabat pemerintah harus mengetahui spesifikasi dari setiap jenis/sektor industri. seperti telah disinggung di atas pemerintah . informasi seperti ini sulit didapatkan. Sebagai contoh. Tuntutan para pecinta lingkungan untuk menghapuskan segala bentuk polusi. dan berbagai alternatif teknologi yang dapat diterapkan oleh industri yang bersangkutan. melainkan pembatasan polusi hingga ambang tertentu. melaksanakan. karena polusi merupakan efek samping tak terelakkan dari kegiatan produksi industri. dan mengawasi berbagai regulasi yang dimaksudkan untuk melindungi lingkungan hidup. Badan Perlindungan Lingkungan Hidup (EPA/Environmental Protection Agency) adalah lembaga yang diserahi wewenang dan tugas untuk merumuskan. maka segala bentuk kendaraan bermotor harus dilarang oleh pemerintah. pemerintah dapat menyatakannya sebagai tindakan kriminal dan akan mengadili serta menghukum pelakunya. Contoh yang sederhana. dalam rangka mengurangi atau membatasi polusi. Di Amerika Serikat. dan hal ini tidak mungkin dilakukan. Untuk menentukan ambang aman tersebut. demi memperoleh suatu peraturan yang baik dan tepat guna. sesungguhnya tidak mungkin terpenuhi. Adakalanya EPA langsung menetapakan batasan polusi yang diperbolehkan untuk suatu perusahaan. Masalahnya. Jika polusi ini hendak dihapus sepenuhnya. Sebagai contoh.

lebih mampu (biayanya lebih murah) untuk menurunkan polusi dibanding pabrik lain (pabrik baja).26 Bab 2: Barang Publik & Eksternalitas dapat menginternalisasikan eksternalitas dengan menggunakan pajak terhadap kegiatan-kegiatan yang menimbulkan eksternalitas negatif. sedangkan pabrik baja.000. yang biaya penurunan polusinya lebih mahal. Namun EPA juga harus hati-hati. polusi akan hilang. Menurut pendapat Anda. EPA menilai limbah itu terlalu banyak. § Pajak Pigovian: EPA mengenakan pajak sebesar Rp.5. Andaikan ada dua pabrikpabrik baja dan pabrik kertas yang masing-masing membuang limbah sebanyak 500 ton per tahun ke sungai. Ini dikarenakan kapasitas dan keperluan setiap pabrik untuk berpolusi berbeda-beda. Regulasi itu langsung membatasi ambang polusi. karena semua pabrik bangkrut atau memilih tidak beroperasi. dan beniat menguranginya. bukan merupakan cara termurah menurunkan polusi. Namun melalui penerapan pajak. sedangkan pajak Pigovian memberikan insentif kepada para pemilik pabrik untuk sebanyak mungkin mengurangi polusinya. dan sebaliknya memberi subsidi untuk kegiatan-kegiatan yang memunculkan eksternalitas positif. solusi manakah yang lebih baik? Para ekonom lebih meyukai penerapan pajak. karena hal itu lebih murah dan lebih mudah dilakukan daripada membayar pajak. EPA tinggal menghitung tingkat pajak yang paling tepat untuk diterapkannya. yakni: § Regulasi: EPA mewajibkan semua pabrik untuk mengurangi limbahnya hingga 300 ton per tahun. Ada dua pilihan solusi baginya.000 untuk setiap ton limbah yang dibuang oleh setiap pabrik. karena pajaknya terlalu tinggi. akan semakin banyak penurunan polusi yang akan terjadi. Para ekonom umumnya lebih menyukai pajak Pigovian dari pada regulasi sebagai cara untuk mengendalikan polusi. Jika keduanya dipaksa menurunkan polusi sama rata. Untuk mencapai ambang polusi tertentu. Regulasi mewajibkan semua pabrik mengurangi polusinya dalam jumlah yang sama. Alasan utama para ekonom itu memilih penerapan pajak. Mereka yakin penerapan pajak itu sama sekali tidak kalah efektifnya dalam menurunkan polusi. Besar kemungkinan salah satu pabrik (misalkan pabrik kertas). Pajak yang khusus diterapkan untuk mengoreksi dampak dan suatu ekstenalitas negatif lazim disebut sebagai Pajak Pigovian (Pigovian tax). karena biaya penerapan pajak itu lebih murah bagi masyarakat secara keseluruhan. mengambil nama ekonom pertama yang merumuskan dan menganjurkannya. maka operasi pabrik baja akan terganggu. Semakin tinggi tingkat pajaknya. yakni Arthur Pigou (1877-1959). akan memilih membayar pajak saja. padahal penurunan sama rata. adalah karena cara ini lebih efektif menurunkan polusi. . maka pabrik kertas akan segera mengurangi polusinya.

dimana kita mengetahui bahwa pajak pada umumnya akan mendistorsikan insentif dan mendorong alokasi sumber daya menjauhi titik optimum sosialnya. Pajak Pigovian tidaklah sama dengan pajak-pajak lain. Mereka akan terus terdorong menurunkan polusi. Sama halnya dengan kerja pasar yang mengalokasikan berbagai barang ke pembeli. Akibat adanya eksternalitas. Sebaliknya. barang . Pajak Pigovian diterapkan untuk mengoreksi insentif di tengah adanya eksternalitas. yang nilainya lebih besar daripada pendapatan yang diperoleh pemerintah dan pajak tersebut. merupakan cara terbaik untuk menurunkan polusi. pajak Pigovian itu justru mendorong alokasi sumber daya mendekati titik optimum sosial. Pendekatan komando dan kontrol tidak akan memberikan alasan atau insentif bagi pabrik-pabrik pencipta polusi untuk berusaha mengatasi polusi semaksimal mungkin. RANGKUMAN § Dengan mempertimbangkan sifat rivalry dan excludability. Berapapun target penurunan polusi yang diinginkan EPA akan dapat mencapainya dengan biaya termurah melalui penerapan pajak ini.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 27 Pada dasarnya. Para ekonom juga berkeyakinan bahwa penerapan pajak Pigovian. suatu barang dapat dikelompokkan kedalam empat kategori yaitu barang publik. sehingga tidak seperti pajak-pajak lainnya. selain memberi pendapatan tambahan pada pemerintah. Jadi. Pajak umumnya juga menimbulkan beban baku berupa penurunan kesejahteraan ekonomis (turunnya surplus produsen dan surplus konsumen). karena semakin sedikit polusi yang mereka ciptakan. pajak akan memberikan insentif kepada pabrik-pabrik itu untuk terus mengembangkan teknologi yang ramah terhadap lingkungan. masyarakat harus memperhitungkan kesejahteraan pihak lain. pajak Pigovian ini juga meningkatkan efisiensi ekonomi. maka perusahaan itu tidak akan membuang biaya lebih banyak agar polusinya dapat ditekan lebih rendah lagi. akan semakin sedikit pula pajak yang harus mereka bayar. yang paling sulit menurunkan polusinya atau yang dihadapkan pada biaya paling tinggi untuk menurunkan polusi (misalkan karena biaya alat penyaring polusinya sangat mahal). pajak Pigovian secara langsung menetapkan harga atas hak berpolusi. Seandainya saja polusinya sudah berada di bawah ambang maksimal (misalkan 300 ton per tahun). Pajak Pigovian tidak seperti itu karena pajak ini memang khusus diterapkan untuk mengatasi masalah ekstemalitas. yang memberikan penilaian paling tinggi pajak Pigovian ini juga mengalokasikan hak berpolusi kepada perusahaan atau pabrik.

Pemilihan dengan pemungutan suara akan menggantikan transaksi jual beli yang terjadi di mekanisme pasar.28 Bab 2: Barang Publik & Eksternalitas § § § § pribadi. dapat menggunakan gambar dengan Excludability dan Rivalry. Terangkan bagaimana suatu aktivitas ekonomi dalam pasar barang pribadi dikatakan efisien ? . LATIHAN 1. sedangkan pertukaran barang publik selain dapat menghasilkan manfaat eksternal juga akan dapat menyebabkan beban eksternal bagi pihak lain. Terangkan perbedaan penyediaan barang pribadi dengan penyediaan barang publik karena kegagalan mekanisme pasar ? 6. Terdapat beberapa perbedaan karakteristik antara barang pribadi dan barang publik. Mengapa barang publik tidak disediakan secara ekslusif oleh pihak swasta? 3. Jelaskan pengertian dari non rival dan nonexclucion tersebut ? 4. Uraikan dan jelaskan karakteristik masing-masing jenis terutama sifat-sifat dasar yang dipertimbangkan dalam pembahasan aspek keuangan publik ? 2. Perbedaannya adalah bahwa pertukaran barang pribadi dalam mekanisme pasar tidak akan menghasilkan eksternalitas. Perbedaan barang publik dengan barang pribadi juga dapat terjadi karena kegagalan suatu mekanisme pasar. Pertukaran barang pribadi dalam mekanisme pasar tidak akan menghasilkan eksternalitas. proses politik akan menggantikan mekanisme pasar. sedangkan pertukaran barang publik selain dapat menghasilkan manfaat eksternal juga akan dapat menyebabkan beban eksternal bagi pihak lain. Dalam mengklasifikasikan barang publik dan barang pribadi. Pada tahap ini. Cara penyediaan barang publik dan alokasinya akan berbeda dengan cara penyediaan barang pribadi. Dengan mempertimbangkan sifat rivalry dan excludability tersebut suatu barang dapat dikelompokkan ke dalam empat kategori. barang publik lokal (yang sering disebut dengan congestible goods) dan barang dengan eksternalitas. Jelaskan faktor-faktor apa saja yang menyebabkan perbedaan karakteristik antara barang pribadi dan barang publik ? 5. Barang publik adalah barang-barang yang mempunyai dua sifat pokok yaitu Non rival dan Non exclucion.

Terangkan mengenai kurva permintaan barang publik ? 10.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 29 7. Jelaskan pengertian Eksternalitas ? Jelaskan tujuan-tujuan yang dapat dicapai dari Eksternalitas ? 9. Apakah permasalahan dan kesulitan pemerintah dalam hal penyediaan barang publik? . Apakah yang dimaksud dengan ungkapan “Free Rider” dan jelaskan problemnya ? 8.

Contoh yang paling nyata adalah dalam hal pengadaan jasa pertahanan nasional dimana masyarakat akan mendapatkannya secara gratis apabila mereka ingin memanfaatkannya. Dalam banyak kasus. sebuah proses politik diperlukan untuk menentukan berapa jumlah barang publik yang harus disediakan serta bagaimana implikasinya terhadap distribusi biaya yang akan menjadi tanggung jawab para individu calon . Jasa ini disediakan dengan pelayanan yang sama kepada seluruh pengguna di wilayah pemerintahan tersebut. bukan berarti bahwa dalam rangka penyediaan jasa publik ini dapat dilakukan dengan tanpa menimbulkan biaya.PENENTUAN HARGA BARANG PUBLIK TUJUAN KEBIJAKAN HARGA Pada prinsipnya dapat dikatakan bahwa pemerintah suatu negara tidak akan menjual jasanya kepada masyarakat walaupun pemerintah mempunyai kewajiban untuk menyediakan jasa publik kepada masyarakat dengan tanpa dipungut bayaran. Namun demikian. Dengan demikian tentunya seluruh masayarakat akan dapat memanfaatkan jasa ini.

pemerintah mempunyai banyak pilihan yang berkaitan dengan keputusan penyediaan barang atau jasanya. yang diantaranya adalah: 1. walaupun hal ini tidak berarti bahwa setiap tindakan pemerintah pasti akan berhasil mengatasi problem tersebut. . Dengan analogi yang sama. Dengan keterlibatannya dalam penentuan harga barang publik.32 Bab 3: Penentuan Harga Barang Publik pengguna jasa publik tersebut. Semua keterlibatan pemerintah ini tentunya ditujukan untuk mencapai penentuan harga yang efisien. pemerintah ingin meningkatkan efisiensi alokasi sumber daya maupun keadilan dalam distribusi pendapatan. 3. pemerintah juga akan terlibat dalam penyediaan barang pribadi untuk memproteksi masyarakat dari penipuan (misalnya kebenaran iklan). Pada prinsipnya. akan selalu ada tujuan-tujuan baik ekonomi maupun non ekonomi yang dapat diikuti oleh pemerintah dengan cara melalui campur tangan. kepastian tersedianya jasa (misal jasa rumah sakit dan pos). dijual dengan tingkat harga tertentu yang berbeda dengan harga pasar. PENENTUAN HARGA BARANG PUBLIK Dalam menentukan harga barang publik tentunya akan tergantung pada masing-masing tujuannya. diberikan secara gratis kepada para konsumennya. Pada umumnya. Oleh karena itu. dalam kasus ini pemerintah akan melibatkan diri untuk menjamin bahwa manfaat eksternal harus juga dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan jumlah barang yang akan dikonsumsi oleh individu. suatu perusahaan hanya akan mempertimbangkan manfaat yang diperoleh secara pribadi. dalam usahanya untuk meminimalkan biaya ekonomi guna mencapai sasaran-sasaran yang diinginkan. maupun keseragaman kualitas jasa (misal pendidikan). dapat dijual dengan harga pasar. Oleh karena itu. Dalam hal ini. dalam menentukan seberapa banyak suatu barang harus dibeli oleh individu-individu. Pertanyaan mendasar tentang mengapa pemerintah harus terlibat dalam kegiatan penentuan harga barang merupakan pertanyaan yang cukup sulit untuk dijawab. 2. dapat dikatakan bahwa tujuan kebijakan harga oleh pemerintah akan mencakup tindakan-tindakan yang diperlukan agar pasar bekerja lebih baik. pemerintah akan selalu terlibat dalam penyediaan barang dan jasa publik. sehingga kesempatan bahwa barang tersebut tersedia di pasar akan sangat kecil. termasuk memperbaiki arus informasi atau mengurangi unsur-unsur monopoli dan batasan-batasan dalam masuknya perusahaanperusahaan baru dalam pasar. Dengan demikian.

sekaligus merupakan tingginya biaya untuk menghasilkan barang tersebut oleh produsen. Pertanyaan yang akan muncul adalah apakah hukum ekonomi tersebut juga berlaku untuk barang atau jasa yang disediakan oleh pemerintah? Pada dasarnya. Pemerintah tidak diharapkan untuk memperoleh keuntungan dari penyediaan barang yang dibutuhkan oleh masyarakat banyak itu. keputusan pemerintah ini menimbulkan ketidakefisienan atau terjadi pemborosan apabila dipandang dari ilmu ekonomi. untuk menentukan tingkat keseimbangan pasar barang pribadi. tingkat harga merupakan suatu tanda tingginya nilai. Keputusan penentuan harga oleh pemerintah ditujukan untuk memperbaiki alokasi sumber daya ekonomi pada sektor publik. Contoh tersebut menggambarkan kondisi yang tidak efisien dalam penyediaan barang dan jasa oleh pemerintah. pemerintah akan ditekan oleh kekuatan politik untuk tidak mengambil keuntungan dari barang atau jasa yang dihasilkannya. Sehingga. meskipun keputusan memberikan secara gratis kepada masyarakat akan memaksimalkan penggunaan barang atau jasa oleh masyarakat. MC adalah marginal cost atau biaya marjinal dan MR adalah marginal revenue atau pendapatan marjinal. konsumen akan membeli barang-barang sampai tercapai kondisi equilibrium tersebut. Konsekuensinya adalah.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 33 Masing-masing keputusan tersebut tentunya akan mempunyai konsekuensi yang berbeda beda. tentunya cara ini akan menimbulkan biaya yang sangat tinggi dimana biaya tersebut harus ditanggung oleh pemerintah. tugas pemerintah adalah menyediakan barang untuk kepentingan orang banyak dengan harga murah. seperti air minum dan listrik. Dengan demikian. pemerintah seringkali menetapkan harga di bawah tingkat yang sebenarnya untuk memberikan perlindungan kepada konsumen barang tersebut. dimana p adalah price atau harga. Pemerintah hanya boleh mengenakan harga yang dapat menutup biaya total perusahaan-perusahaan pemerintah . Dalam perekonomian. Contoh yang dapat digunakan adalah penyediaan public utilities oleh pemerintah. karena konsumen akan menilai barang atau jasa yang disediakan oleh pemerintah tersebut terlalu murah dan juga mudah diperoleh. sehingga pemerintah tidak dapat menetapkan harga tertinggi. apabila konsumen akan memaksimalkan kepuasannya. pada tingkat equilibrium. Dalam mekanisme pasar yang bersaing sempurna. yang menggambarkan jumlah rupiah kesediaan konsumen untuk membayar atas barang yang dihasilkan oleh produsen. Itulah sebabnya. berlaku hukum bahwa harga sama dengan biaya marginal (marginal cost) bagi konsumen dan sama dengan pendapatan marjinal (marginal revenue) bagi produsen. Sebagai contoh. atau p = MC = MR.

kemudian konsumen akan membayar jumlah di atas nilai yang ditetapkan sebelumnya pada saat zero profit.34 Bab 3: Penentuan Harga Barang Publik penyedia barang public utilities. pendidikan dan kesehatan. pemerintah berkewajiban membatasi keuntungan yang harus diperoleh oleh perusahaan-perusahaan tersebut. Penentuan harga dengan metode terakhir adalah yang sebaiknya dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan penyediaan barang publik oleh pemerintah. pupuk kimia dan obat pembasmi hama. konsumen tidak terlalu dibebankan pada tingkat harga yang terlalu tinggi. Produk pertanian di banyak negara mempunyai posisi strategis dan erat kaitannya dengan produk non pertanian. IMPLEMENTASI PENENTUAN HARGA Kebijakan penentuan harga merupakan salah satu kebijakan yang dapat digunakan oleh pemerintah untuk mencapai tujuan-tujuan khusus. selain menghasilkan barang dan jasa sebanyak mungkin untuk mencukupi kebutuhan rakyat banyak. Sektor pertanian juga mempunyai kaitan yang erat dengan kebutuhan jasa angkutan. sedangkan di lain pihak. Situasi penyediaan public utilities tersebut di atas tidak harus berlaku untuk seluruh barang dan jasa yang disediakan oleh pemerintah. perusahaan juga diijinkan untuk memperoleh keuntungan dalam jumlah tertentu. supaya tetap dapat berjalan tanpa mengalami kerugian. misalnya mendorong produksi atau memelihara kestabilan. kebijakan publik dapat digunakan untuk mengatur tata niaga dan harga atas produk pertanian1. artinya pemerintah di satu pihak melalui perusahaanperusahaan penghasil public utilities tetap diwajibkan menyediakan barang dan jasa publik. Perusahaan yang mengelola public utilities dan harus menjual produksinya tanpa memperoleh keuntungan sama sekali akan menghadapi permasalahan dalam ekspansi atau melakukan perluasan usaha. seperti alat-alat pertanian. Pemerintah akan menetapkan jumlah keuntungan maksimum. Dua pendekatan yang dapat dilakukan untuk melakukan analisis penyediaan produk pertanian adalah dengan menggunakan (1) kebijakan harga positif. Kajian-kajian harus dilakukan untuk memperoleh kebijakan yang tepat sasaran. pemerintah akan mengarahkan perusahaan pada kondisi bahwa. Dalam hal ini. artinya 1 Produk-produk pertanian merupakan barang primer. mengingat tugas pemerintah adalah sebagai penyedia barang dan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Sebagai contoh. tetapi produsen masih dapat melakukan perluasan usaha untuk menambah investasinya. . seperti bahan makanan atau bahan mentah yang akan diolah menjadi barang jadi atau setengah jadi. Dalam kondisi ini.

Dalam menggambarkan hukum penawaran. T ) Dimana: Qa = jumlah barang A yang ditawarkan Pa = harga barang A S = jumlah input yang tersedia F = keadaan alam X = pajak atau subsidi atau keduanya T = tingkat teknologi. peningkatan harga segera mendorong peningkatan penawaran produk tersebut. F. apabila jumlah produk pertanian tersedia di gudang. Sehingga. maka yang dinyatakan tetap (ceteris paribus) adalah S. S. dan sebaliknya. Namun. maka jumlah yang ditawarkan akan meningkat. Berkaitan dengan contoh produk pertanian di atas. Fungsi Penawaran Fungsi penawaran menunjukkan hubungan antara jumlah barang yang ditawarkan dan berbagai tingkat harga dari barang tersebut. fungsi penawaran dapat dinyatakan dengan: Q a = f ( P a. penyesuaian produksi akan mengikuti pola Cobweb theorem (sarang laba-laba) seperti digambarkan grafik sebagai berikut: . X. apabila peningkatan penawaran membutuhkan tenggang waktu. X dan T.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 35 kebijakan harga yang ditujukan untuk mendorong peningkatan produksi. yang berarti apabila barang yang ditawarkan harganya naik. Dengan mengubah harga. Tentang jumlah barang yang ditawarkan akan tergantung dari tingkat elastisitas penawaran. F. pemerintah akan mempengaruhi jumlah produksi yang dihasilkan. Hukum penawaran menyatakan bahwa jumlah yang ditawarkan akan meningkat apabila harga barang tersebut semakin tinggi (hal-hal lain tetap atau ceteris paribus). atau (2) kebijakan harga negatif yang berarti kebijakan harga yang ditujukan untuk mengurangi peningkatan produksi. Secara matematis. kurva penawaran merupakan garis miring dari bawah ke atas.

Karena terjadi peningkatan produksi di periode 2. Tetapi. Kebijakan harga yang positif dapat berperan sebagai pendorong peningkatan produksi pertanian. Akan terjadi pergerakan sepanjang waktu ke arah titik perpotongan antara kurva D dan kurva S. produsen akan terdorong untuk mengurangi produksinya dan harga akan meningkat menjadi P a3. petani akan terdorong menanam atas dasar harga tersebut dan akan menghasilkan Q a1 pada akhir periode tanam. petani akan terdorong memproduksi sebesar Q a3 di akhir periode tanam berikutnya. Secara garis besar. Dengan memberikan jaminan harga yang tinggi. Hubungan tersebut mengakibatkan tingkat harga akan cenderung mencapai equlibrium pada perpotongan kurva penawaran dan kurva permintaan. (2) peningkatan produksi pertanian secara total karena adanya perbaikan harga relatif komoditi pertanian .1 D merupakan kurva permintaan dan S kurva penawaran. karena fungsi permintaan tetap. Kebijakan Harga Positif Analisis di atas menunjukkan bahwa sektor pertanian merupakan sumber kapital bagi pembangunan. Kebijakan ini akan dipakai sebagai alat untuk mempengaruhi komposisi produk pertanian. Dengan tingkat harga itu. terdapat tiga tanggapan produksi terhadap perubahan harga yang dapat dianalisis sebagai berikut: (1) perubahan komposisi produksi pertanian karena perubahan harga relatif masing-masing komoditi pertanian secara individu. Pada tingkat harga tersebut. para petani akan terdorong untuk meningkatkan produksi pangan.36 Bab 3: Penentuan Harga Barang Publik Gambar 3. Apabila pada periode tertentu harga pasar setinggi P a1. harga akan terkoreksi menjadi P a4. maka harga pasar akan turun menjadi P a2. Syaratnya adalah apabila produsen cukup responsif terhadap insentif harga.

tingkat produksi menurun setelah diberlakukannya insentif harga. artinya persentase peningkatan produksi sama dengan persentase peningkatan pemasaran. sedangkan tanaman komersial memiliki elastisitas penawaran yang tinggi. karena hasil pertanian merupakan kebutuhan primer masyarakat (seperti makanan). maka produksi pertanian secara total dapat menurun. Kebijakan Harga Negatif Kebijakan harga positif diharapkan dapat mendorong peningkatan produksi pertanian. misalnya setiap tanaman ditujukan untuk tujuan komersial. Akan tetapi tanggapan kedua dan ketiga justru sangat inelastis atau bahkan negatif dengan adanya kenaikan harga. baik untuk produksi pertanian secara keseluruhan maupun untuk marketable surplus. peningkatan produksi merupakan bentuk perubahan luas areal tanam. Namun apabila faktor produksi. bukan dalam hal peningkatan produktivitas. apabila komoditi tanaman tidak dimaksudkan hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar atau kebutuhan sekunder. kebijakan ini akan membuat biaya produksi sektor industri dan jasa lain juga tinggi. harus diserap dari produksi komoditi lain. Respon yang diharapkan pada kondisi tersebut. Namun demikian. Banyak negara mengambil kebijakan sebaliknya untuk menekan keresahan masyarakat yang diakibatkan oleh tingginya harga pangan dan produk pertanian lainnya dengan melakukan kebijakan harga negatif. karena produktivitas berkaitan erat dengan kondisi musim maupun faktor lain. tenaga kerja dan kapital. Hasil studi mengenai tanggapan produksi di negara berkembang menunjukkan bahwa tanggapan pertama dapat bersifat sangat elastis untuk jenis komoditi tertentu. Sektor ini menghendaki adanya harga pangan yang murah. Kebijakan ini juga diharapkan mampu mendorong perkembangan sektor industri dan jasa. untuk dapat menekan tingkat upah. . dan (3) peningkatan produksi pertanian yang dapat dipasarkan sebagai respon terhadap kenaikan harga komoditi pertanian (marketable surplus). elastisitas penawaran komoditi yang dipasarkan akan sama dengan elastisitas produksi/output. Berdasarkan hasil studi. sehingga akan menghambat perkembangan produksi sektor industri dan jasa. akan menunjukkan positif. seperti tanah. Pengecualian dapat terjadi.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 37 dalam perbandingannya dengan harga komoditi sektor non pertanian. Kenyataan ini menunjukkan bahwa tanaman yang merupakan kebutuhan sekunder masyarakat cenderung memiliki elastisitas penawaran yang rendah. Hal ini dapat dijelaskan. akan tetapi juga ditujukan untuk ketersediaan pasar. Artinya produksi pertanian meningkat sejalan dengan adanya insentif harga.

di satu pihak. Di lain pihak. pelabuhan dan lainnya. Cara subsidi yang terakhir ini menyebabkan pemerintah harus menyisihkan sebagian anggarannya untuk membiayai subsidi. Kebijakan Penyangga (Buffer Stock Policy) Dalam merumuskan kebijakan harga barang dan jasa publik pada umumnya. Meskipun dengan menyisihkan anggaran ini akan mengakibatkan investasi di bidang lain. maka pemerintah dapat mengenalkan program subsidi input yang dibarengi dengan penyuluhan peningkatan produksi pertanian secara insentif. para petani tidak terlalu dirugikan dengan rendahnya harga produksi pangan dan di lain pihak.38 Bab 3: Penentuan Harga Barang Publik Tetapi. kebijakan ini juga diarahkan agar swasta dapat berkembang dengan sendirinya sebagai akibat adanya dukungan harga pangan yang murah. secara politis. Dengan demikian. menjadi berkurang. pertumbuhan sektor industri dan jasa tidak terhambat. Kebijakan penyangga dapat digambarkan dalam grafik sebagai berikut: . Di satu pihak. jelas terdapat suatu konflik antara program bantuan harga dan program subsidi input. para konsumen akan mengharapkan harga pangan – khususnya – murah. pemerintah menghadapi dilema kepentingan. tetapi akan menghambat perkembangan ekonomi secara keseluruhan. jembatan. Di sinilah kewajiban pemerintah untuk melindungi kedua kepentingan tersebut agar konsumen dan produsen tidak menderita. Dari uraian di atas. sedangkan harga maksimum ditujukan untuk melindungi konsumen agar jangan sampai menderita karena harga yang terlalu tinggi. program subsidi input lewat harga faktor produksi pertanian yang murah akan mendorong produksi pertanian sehingga harga pangan akan murah dan dapat mendorong perkembangan ekonomi lebih lanjut. juga merupakan alternatif yang akan menjamin ketenangan masyarakat. dan produk pertanian pada khususnya. Harga dasar ditujukan untuk melindungi produsen agar harga produk di pasar tidak turun lebih rendah dari harga yang ditetapkan. para produsen selalu menginginkan agar hasil produksinya dapat terjual dengan harga yang layak. Kebijakan ini terkenal dengan istilah kebijakan penyangga (buffer stock policy). dan di lain pihak. Cara ini. seperti jalan. Langkah yang dapat ditempuh oleh pemerintah adalah dengan menentukan harga patokan berupa harga dasar (floor) dan harga maksimum (ceiling). untuk mencegah agar produksi pertanian tidak merosot. program bantuan harga membuat harga pangan dan produk pertanian mahal dan hasilnya dinikmati para petani. Di satu pihak.

maka pemerintah dapat mencegah naiknya harga komoditi dengan turut menjual produk pertanian ke pasar. keadaan keseimbangan tercapai pada harga P ao dan Q ao. dan harga cenderung menjadi turun. Kemudian. bila ada paceklik. Dengan demikian. Untuk melindungi konsumen. Harga dapat saja bergerak lebih rendah dari P a2. dalam situasi ini pemerintah turut membeli hasil panen. RANGKUMAN .2 Pada awalnya. misal pada saat panen. sehingga kurva permintaan pasar bergeser kekanan menjadi D1 sampai memotong kurva penawaran S 1 tepat pada harga dasar P a2. Apabila dana operasi terbatas. bila penawaran bertambah. misalnya bergeser dari S o menjadi S 1.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 39 Gambar 3. Berhasil atau tidaknya kebijakan penentuan harga ini tergantung pada tersedianya dana untuk operasi (sering disebut operasi pasar). atau sebaliknya. kebijakan penentuan harga perlu dukungan kebijakan lain. maka pemerintah dapat saja tidak mampu melindungi produsen. sedangkan harga cenderung merosot terus (dalam keadaan over supply). Untuk mencegah supaya harga turun tidak terlalu drastis. kurva penawaran bergeser ke kanan. Keadaan sebaliknya dapat pula terjadi. seperti kebijakan moneter.

dengan keterlibatan dalam penentuan harga barang publik. Kebijakan ini juga diharapkan mampu mendorong perkembangan sektor industri dan jasa. Harapan pemerintah. pemerintah suatu negara tidak menjual jasanya kepada masyarakat. bukan berarti bahwa penyediaan jasa publik ini tanpa menimbulkan biaya. Kebijakan penentuan harga merupakan salah satu kebijakan yang dapat digunakan oleh pemerintah untuk mencapai tujuan-tujuan khusus. atau (2) kebijakan harga negatif yang berarti kebijakan harga yang ditujukan untuk mengurangi peningkatan produksi. adalah ingin meningkatkan baik efisiensi alokasi sumber daya maupun keadilan dalam distribusi pendapatan. artinya kebijakan harga yang ditujukan untuk mendorong peningkatan produksi. Dalam hal ini pemerintah menyediakannya kepada masyarakat tanpa harus membayar.40 § Bab 3: Penentuan Harga Barang Publik § § § § § § Secara umum. Kebijakan ini akan dipakai sebagai alat untuk mempengaruhi komposisi produk pertanian. . Dalam perekonomian. tingkat harga merupakan suatu tanda tingginya nilai yang merupakan kesediaan konsumen untuk membayar atas barang yang dihasilkan oleh produsen. Namun demikian. Pemerintah terlibat dalam penyediaan barang dan jasa publik ini karena terjadinya kegagalan mekanisme pasar. dan harga maksimum yang ditujukan untuk melindungi konsumen agar jangan sampai menderita karena harga yang terlalu tinggi. Dua pendekatan yang dapat dilakukan untuk melakukan analisis penyediaan produk pertanian adalah dengan menggunakan (1) kebijakan harga positif. Keputusan penentuan harga oleh pemerintah ditujukan untuk memperbaiki alokasi sumber daya ekonomi pada sektor publik. Kebijakan harga yang positif dapat berperan sebagai pendorong peningkatan produksi pertanian. Kebijakan ini terkenal dengan istilah kebijakan penyangga (buffer stock policy). sekaligus merupakan tingginya biaya untuk menghasilkan barang tersebut oleh produsen. misalnya mendorong produksi atau memelihara kestabilan. Langkah yang dapat ditempuh oleh pemerintah untuk melindungi produsen dan konsumen adalah dengan menentukan harga dasar yang ditujukan untuk melindungi produsen agar harga produk di pasar tidak turun lebih rendah dari harga yang ditetapkan. Tetapi banyak negara mengambil kebijakan sebaliknya untuk menekan keresahan masyarakat yang diakibatkan oleh tingginya harga pangan dan produk pertanian lainnya dengan melakukan kebijakan harga negatif.

Dalam kebijakan harga negatif. Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi penawaran? 10.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 41 LATIHAN 1. Jelaskan konflik tersebut! 12. Sebutkan tiga tanggapan produksi terhadap perubahan harga! Jelaskan hasil studi mengenai tanggapan produksi tersebut di negara berkembang! 11. Sebutkan dan jelaskan pendekatan-pendekatan yang digunakan untuk melakukan analisis penyediaan produk pertanian! 7. Jelaskan maksud dari kajian-kajian yang harus dilakukan untuk memperoleh kebijakan yag tepat sasaran sebagai perusahaan penghasil public utilitier? 6. Mengapa pemerintah ikut terlibat dalam kegiatan penentuan harga barang? 3. Jelaskan? 4. terdapat suatu konflik antara program bantuan harga dan program subsidi input. Uraikan mengenai keputusan penentuan harga tersebut oleh pemerintah. Jelaskan yang dimaksud dengan “ceteris paribus”? 9. Terangkan bagaimana mekanisme pasar barang pribadi yang bersifat persaingan sempurna dalam menentukan tingkat keseimbangan? 5. Terangkan tindakan-tindakan apa saja yang dilakukan oleh pemerintah dalam mencapai tujuan kebijakan harga? 2. Terangkan langkah-langkah yang ditempuh oleh pemerintah dalam melindungi kepentingan konsumen dan produsen! . Apa yang dimaksud dengan fungsi penawaran? Apa bunyi hukum penawaran tersebut? 8.

Dengan melihat berbagai kelemahan mekanisme pasar sebagaimana telah dibahas sebelumnya. fungsi pemerintah dapat dikelompokkan sebagai berikut. terutama untuk melaksanakan fungsinya dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi.FUNGSI DAN AKTIVITAS PEMERINTAH DALAM PEREKONOMIAN FUNGSI DAN AKTIVITAS PEMERINTAH Pemerintah sangat diperlukan dalam perekonomian suatu negara. 2. Fungsi Distribusi . sehingga dapat meningkatkan standar kehidupan penduduk pada tingkat yang layak. Fungsi Alokasi Fungsi alokasi dalam kebijakan publik adalah fungsi penyediaan barang publik atau proses alokasi sumber daya untuk digunakan sebagai barang pribadi atau barang publik dan bagaimana komposisi barang publik ditetapkan. 1.

Fungsi stabilisasi Fungsi stabilisasi dalam kebijakan publik adalah penggunaan kebijakan anggaran sebagai alat untuk mempertahankan tingkat kesempatan kerja. § Tugas membentuk dan memelihara institusi publik agar memberi manfaat yang tinggi serta kesempatan kerja kepada masyarakat1. Milton Friedman juga menyarankan pemerintah supaya membeli sumber daya yang digunakannya dalam pasar. Pedoman aktivitas pemerintah yang dipromosikan oleh Milton Friedman adalah bahwa keterlibatan pemerintah harus dapat membuat dan memaksakan aturan-aturan umum yang mengatur perilaku para individu. keterlibatan tersebut harus mempunyai tingkat yang minimal. tidak dapat diharapkan bahwa kesempatan kerja akan disediakan dalam kuantitas yang tepat.44 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian Fungsi distribusi dalam kebijakan publik adalah penyesuaian atas distribusi pendapatan dan kekayaan untuk menjamin pemerataan dan keadilan. baik secara langsung atau tidak langsung. hanya 1 Karena sifat dari institusi publik. Dengan demikian. pemerintah harus membebankan secara pro rata kepada pengguna. § Tugas memproteksi setiap anggota masyarakat dari ketidakadilan dan dominasi yang dilakukan oleh anggota lain dalam masyarakat. Pada saat pemerintah memproduksi barang atau jasa. misalnya hanya sebatas penyertaan modal saja. dapat secara simultan diarahkan kepada ketiga tujuan tersebut di atas.peraturan. Suatu kebijakan publik. misalnya pengenaan pajak dan pengeluaran publik. dan bukan bertransaksi dengan pengguna. Adam Smith mencatat empat fungsi ‘pengoreksi’ yang dapat dijalankan oleh pemerintah yakni: § Tugas memproteksi suatu kelompok masyarakat dari pelanggaran dan invasi yang dilakukan oleh kelompok masyarakat lainnya. Dalam The Wealth of Nations. laba yang diperoleh institusi sering tidak mencapai tingkat pembayaran kembali. § Tugas mempertemukan biaya yang diperlukan untuk mendukung peraturan. Apabila pemerintah memutuskan untuk campur tangan dalam aktivitas individu. dengan memperhitungkan akibat kebijakan pada perdagangan dan neraca pembayaran. bukan mengendalikan/ mengatur sumber daya tersebut. 3. Permasalahan utama yang muncul adalah bagaimana merancang kebijakan anggaran sehingga dengan tujuan yang berbeda-beda tersebut akan dapat dicapai secara lebih terpadu. stabilitas ekonomi dan laju pertumbuhan ekonomi. seharusnya. . Aktivitas pemerintah.

Konsumsi atau produksi barang/jasa publik yang mungkin menghasilkan suatu akibat eksternal (positif atau negatif) kepada masyarakat yang tidak tercermin dalam harga barang. suatu masyarakat dapat saja memilih alokasi yang tidak efisien atas dasar kesetaraan atau kriteria lainnya. terutama tenaga kerja. Informasi yang tidak simetris dan tidak sempurna yang mungkin mengarah pada penilaian yang salah atas barang dan jasa publik. pasar akan memproduksi barang publik tersebut secara tidak proposional. negara dapat mencoba turut campur mengatasi permasalahan ini. yang membuat tidak mungkin membebankan biaya penyediaannya kepada para pengguna. tergantung pada apakah eksternalitas ini baik atau buruk. . Untuk itu. 5. Terdapat dua argumen mengenai bagaimana perlunya intervensi pemerintah yaitu (1) kegagalan pasar dan (2) penekanan pada aspek keadilan. mengatur dan menyediakan barang atau jasa secara gratis. Alasan Keterlibatan Pemerintah Dalam Ekonomi Dalam situasi tertentu. dan dengan demikian akan menyebabkan penawaran dan permintaan yang tidak tepat. Hal ini menyebabkan kegagalan pasar. mekanisme pasar akan mengarah pada alokasi sumber daya yang efisien yang timbul pada saat tidak seorangpun akab dapat dipuaskan secara lebih baik dengan tanpa menyebabkan orang lain menderita kerugian (sering disebut efisiensi Pareto). 2. seperti pertahanan nasional dan penerangan jalan.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 45 berperan sebagai last resort. Tanpa intervensi pemerintah. dapat membantu mencegah pencapaian alokasi sumber daya yang efisien. 4. Terdapat beberapa barang publik yang bersifat non rival dan non excludable. Kegagalan Pasar 1. Tidak bisa bergeraknya sumber daya yang produktif. dalam mendanai. Kegagalan pasar juga berhubungan dengan permasalahan dari seleksi yang tidak menguntungkan dan bahaya moral ketika pembeli atau penjual bertindak secara eksklusif atas dasar mencari keuntungan bagi dirinya sendiri. 3. Kondisi inilah yang menyebabkan adanya suatu intervensi pemerintah dalam operasi pasar bebas. Namun demikian.

. 5. kredit. lingkungan yang bersih. Ketidakadilan sering menghasilkan situasi yang tidak aman. 3.46 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian Aspek Keadilan 1. meningkatnya kejahatan dan eksternalitas negatif yang akan mempengaruhi pertumbuhan dan keadilan sosial. tambang dan lain-lain. dan sebagainya). penyelesaian konflik. Kepedulian secara luas atas kebutuhan mengatasi kemiskinan secara lebih serius harus menjadi perhatian oleh pemerintah. Dengan demikian. Namun demikian. dan stabilitas nasional. perlindungan hak asasi. 2. Lebih lanjut dapat dikemukakan bahwa peran pemerintah yang berkenaan dengan keterlibatannya dalam perekonomian adalah sebagai peran penyedia (provider role) dan peran kemitraan (partnership role). Penekanan pada aspek keadilan bukan berarti bahwa hanya negara yang harus atau dapat memberikan kontribusi dalam rangka menekan kemiskinan. pemberdayaan dan proteksi. Tugas ini berhubungan dengan penyediaan kesempatan. Peranan sektor swasta dan kebutuhan kemitraan dalam kesempatan. keadilan. dan memberikan kontribusi untuk mengurangi ketidakadilan melalui aktivitas yang sebetulnya merupakan tanggung jawab pemerintah (seperti rumah sakit umum dan sekolah yang dananya dari swasta). secara nasional dan global. 2 Monopoli yang alami dalam sektor tertentu seperti energi. pemerintah harus menyediakan barang publik untuk menjamin stabilitas ekonomi makro. sektor swasta dapat berperan secara aktif dalam menciptakan kesempatan ekonomi (seperti penciptaan lapangan kerja. tidak semua fungsi mensyaratkan kehadiran pemerintah sebagai penyedia barang atau jasa publik dimana masih terdapat beberapa diantaranya yang difasilitasi oleh peraturan dan penciptaan ruang gerak yang tepat 2 . mempromosikan tambahan manfaat kepada anggota masyarakat (erat hubungannya dengan produsen dan pekerja swasta). Sebagai peran penyedia (Provider Role). saat sekarang menjadi pertanyaan publik berkaitan dengan tersedianya teknologi masa kini. 4. pemberdayaan dan proteksi perlu difasilitasi oleh pemerintah. pembangunan yang lebih cepat. dan berkurangnya kemiskinan. Ketiganya merupakan dimensi pokok dari kemiskinan yang tidak dimiliki secara eksklusif oleh sektor swasta. Data empiris di seluruh dunia secara umum menyarankan bahwa peningkatan keadilan memberikan kontribusi positif pada pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

Isu inilah yang disebut dengan internerational transfer. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa pengelolaan sumber daya alam cenderung mengarah pada kondisi yang spesifik.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 47 Sedangkan sebagai peran kemitraan (Partnership Role). pemerintah dapat menjadi mitra swasta dalam penyediaan peraturan. pemerintah lebih banyak dibutuhkan dalam perannya sebagai regulator dari mekanisme pasar dan sebagai fasilitator dari lingkungan kelembagaan dan pengaturan yang kondusif atas pembangunan sektor swasta. pembangunan infrastruktur dasar dan perlindungan dari risiko dan kerugian (misalnya asuransi). Dimungkinkan adanya opportunity cost dalam hubungannya dengan efisiensi dalam merubah distribusi pendapatan. tetapi kesempatan kerja total mungkin turun sebagai akibat dari timbulnya kebijakan ini. Sebagai contoh. baik secara langsung maupun secara tidak langsung. yakni memindahkan alokasi hak kekayaan. Pada masa sekarang. suatu kebijakan publik tentang pengelolaan sumber daya alam oleh pemerintah akan memberi manfaat yang lebih tinggi kepada masyarakat dibandingkan dengan apabila pengelolaan tersebut dilakukan oleh sektor swasta. Kebijakan publik dapat berpengaruh terhadap distribusi pendapatan nyata. 3 Dalam contoh ini. Sebagai contoh 3 . Diakui secara luas bahwa baik pemerintah maupun sektor swasta tidak akan dapat berfungsi secara tepat tanpa berfungsinya peran kemitraan kedua sektor tersebut secara bersamaan. kebijakan dalam upah minimum akan menyebabkan penerimaan upah lebih tinggi kepada pekerja. Pertanyaannya adalah siapa yang memperoleh manfaat dan siapa yang menanggung beban dari suatu kebijakan distribusi tertentu? Siapa yang menanggung beban atas akibat diterapkannya kebijakan pajak penghasilan badan? Apakah kepada pengusaha. Sayangnya manfaat yang tinggi tersebut harus dibayar secara lebih mahal. para ekonom berpendapat bahwa kebijakan publik berakibat perekonomian tidak dalam kondisi pareto optimal. AKTIVITAS PEMERINTAH DALAM PEREKONOMIAN Tingkat konsumsi/produksi barang dan jasa oleh masyarakat dapat dirubah oleh kebijakan publik. pekerja atau konsumen? Dan siapa juga yang menerima tanggung jawab akibat adanya pajak penjualan? Konsumen atau pekerja? Inilah yang dimaksud dengan true incidence dari kebijakan. . Beberapa kebijakan secara aktual akan menggeser distribusi pendapatan antara generasi sekarang dan generasi mendatang. Kekhususan ini akan berakibat pada sejumlah produktivitas/efisiensi yang hilang/berkurang jika terjadi perubahan dari kondisi yang relatif baik kepada kondisi yang baik.

Kondisi ini menggambarkan adanya hubungan antara permintaan dan penawaran atas barang tersebut. Sebagai akibat dari kegagalan mekanisme pasar dimana hubungan yang seharusnya terjadi antara produsen dan konsumen dalam suatu mekanisme pasar tidak berjalan. dengan cara yang sama dapat diproduksi oleh perusahaan swasta dan dijual kepada pemerintah atau dapat juga diproduksi secara langsung oleh pemerintah. termasuk diantaranya adalah jenis dan kualitas barang yang perlu disediakan oleh pemerintah. . sedangkan barang publik. Kebutuhan yang dirasakan oleh seseorang akan pakaian tentunya akan sangat berbeda dengan kebutuhan pakaian yang dirasakan oleh orang yang berbeda. Dalam kondisi ini. Dalam 4 Sistem mekanisme pasar merupakan suatu transaksi antara konsumen dan produsen secara individu.48 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian FUNGSI ALOKASI Latar Belakang Adanya Fungsi Alokasi Dilihat dari fungsi alokasi. namun kadangkala tidak efisien. Beberapa alasan yang mendasari kemungkinan tersebut adalah karena: 1. barang pribadi dapat diproduksi dan dijual kepada pembeli baik oleh swasta maupun oleh perusahaan pemerintah. maka pakaian yang sama tidak akan tersedia untuk orang lain. Permasalahan yang mungkin timbul dalam fungsi alokasi adalah berapa banyak barang publik yang harus disediakan oleh pemerintah. pemerintah harus mengambil tindakan apabila mekanisme pasar tidak berjalan. pemerintah harus menjamin bahwa proses politik dalam pengambilan keputusan penyediaan barang dan jasa publik akan dapat terjadi secara efisien. Sistem pasar menjadi tidak berlaku jika diterapkan pada barang-barang publik (social goods). suatu barang publik – yang berbeda sifatnya dengan barang pribadi – tidak dapat disediakan melalui sistem mekanisme pasar 4 . sehingga pemerintahlah yang harus bersedia memproduksi barang publik tersebut. seperti misalnya pelayanan publik yang diberikan oleh pemerintah. Seringkali mekanisme pasar berfungsi. 2. Apabila seseorang membeli satu set pakaian. Untuk barang-barang pribadi (private goods). Sebagai akibat dari kegagalan mekanisme pasar yang lain dimana proses politik akan menggantikan mekanisme pasar. Dalam kasus ini. Perbedaan yang mendasar antara barang pribadi dan barang publik adalah. Contohnya adalah jika seseorang membutuhkan pakaian. sistem pasar akan terjadi melalui transaksi antara konsumen dan produsen secara individual dan sukarela.

Mekanisme pasar akan terjadi apabila ada suatu permintaan dari konsumen. penggunaan atas jalan umum. Dalam hal ini dapat dilihat bahwa apabila seseorang mengambil manfaat dari adanya jalan umum tersebut. Dari ilustrasi tersebut dapat dipahami bahwa mekanisme pasar akan sangat cocok untuk menggambarkan penyediaan barang-barang pribadi. Di sini diasumsikan bahwa terdapat adanya hak kepemilikan eksklusif terhadap semua sumber daya produktif yang tersedia di pasar dan tidak ada individu yang mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi harga atas komoditi atau produk yang diperjualbelikan. Dalam kondisi seperti ini tentunya diperlukan campur tangan dari pemerintah. misalnya. Apalagi jika semakin banyak orang yang menggunakan barang tersebut. Kebutuhan atas barang ini akan dirasakan secara bersama-sama dan begitu pula terhadap manfaat yang dihasilkan dengan tersedianya jalan umum tersebut tentunya akan dapat dinikmati oleh banyak orang (tidak untuk satu konsumen). Untuk barang seperti pakaian. karena manfaat yang akan dirasakan oleh setiap orang akan sama saja. Konsumen akan berusaha mendapatkan barang yang mereka inginkan dengan harga yang serendah-rendahnya. Akan berbeda halnya jika kebutuhan seseorang tersebut terhadap. Akibatnya tidak akan ada pembayaran yang dilakukan secara sukarela. aplikasi dari prinsip hubungan permintaan dan penawaran seperti ini menjadi suatu pemecahan yang efisien. Efisiensi Pasar dan Kegagalan Pasar Dalam suatu sistem ekonomi pasar yang bersaing sempurna. baik jika dia membayar ataupun tidak. sedangkan produsen akan menjual barang dengan harga yang setingi-tingginya. Akan banyak keuntungan yang didapat – terutama oleh produsen – apabila membatasi konsumen yang ikut dalam sistem pasar dengan mensyaratkan mereka untuk mau membayar. manfaat yang dirasakan masing-masing individu akan semakin tidak berarti apa-apa. Konsumen biasanya tidak bersedia untuk membayar pemanfaatan atas barang publik. Harga atas suatu komoditi sudah disepakati atau harus identik untuk semua pembeli dan penjual. Hal ini berarti tidak ada distorsi . Berbeda halnya dengan barang publik.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 49 kasus ini akan terjadi suatu kondisi bahwa konsumsi terhadap barang tersebut bersifat bersaing. Mekanisme pasar tersebut akan membawa konsumen dan produsen ke suatu titik harga tertentu. kemudian produsen akan menyediakan barang yang paling diinginkan oleh konsumen. manfaat yang tersedia bagi orang lain tidak akan berkurang. kriteria efisien akan dapat digunakan untuk mengevaluasi alokasi sumber daya. mekanisme pasar tidak akan berfungsi secara sempurna.

misalnya terhadap sejumlah barang tertentu yang menjadi preferensi konsumen. terutama dalam hal biaya produk dan kualitas produk yang dihasilkannya. Para ekonom secara lebih spesifik menjabarkan istilah barang publik sebagai barang-barang yang mempunyai sifat tidak bersaing (non rivalry) dan tanpa pengecualian (non excludability). sehubungan dengan pemenuhan kriteria efisien. Dalam kenyataannya banyak kesulitan yang terjadi. Alasan ketiga terletak pada hubungan rasional dari produksi pemerintah atas barang-barang publik. Namun perlu dipahami. dan hal ini berarti bahwa informasi yang dimiliki oleh kosumen dan produsen tidaklah sama. Selain itu. masih banyak permasalahan lain yang tidak dapat dipecahkan oleh mekanisme pasar. Bila semua kondisi tersebut telah terpenuhi. Kedua sifat tersebutlah yang kemudian akan mengakibatkan kegagalan pasar dalam memproduksi secara efisien. Barang Publik Istilah barang publik digunakan untuk menggambarkan barang atau jasa apapun yang disediakan oleh pemerintah. akan mengakibatkan konsumen kekurangan informasi atau dapat tersesatkan. Tentu saja. Distorsi yang disebabkan oleh iklan.50 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian pasar yang akan mengakibatkan adanya perbedaan harga antara yang diterima oleh penjual dengan yang dibayarkan oleh pembeli. Sifat Tidak Bersaing (Non Rivalry) Sifat tidak bersaing berarti bahwa barang tersebut dapat dikonsumsi sebanyak-banyaknya oleh seseorang tanpa akan mengurangi jumlah barang yang tersedia untuk dikonsumsi oleh orang lain. pemerintah sendiri seharusnya bekerja keras untuk mencapai tingkat efisiensi yang sama dengan pihak swasta. sehingga pasar dapat menjadi ajang persaingan yang tidak sempurna. bahwa sifat tidak bersaing bukan berarti bahwa manfaat yang diterima oleh . mulai dari lampu jalan sampai dengan keamanan nasional. pandangan ini merupakan gambaran paling ekstrim dari sistem pasar. Alasan pertama adalah bahwa pemerintah diharapkan dapat menjamin pasar agar dapat beroperasi secara efisien. misalnya. namun pasar gagal dalam memproduksinya. terutama dalam hal persaingan. Di sinilah kemudian terjadi alasan perlunya aturan pemerintah guna menjamin efisiensi dalam sistem ekonomi pasar. sistem ekonomi pasar akan dapat menjamin penggunaan sumber daya secara efisien dalam penyediaan barang pribadi. Alasan kedua. Efisiensi produksi pemerintah di sini akan menjadi fokus pembahasan selanjutnya.

sama halnya dengan sifat tidak bersaing. Misalnya konsumsi atas lampu jalan. terdapat garis spektrum yang menggambarkan tinggi rendahnya sifat tanpa pengecualian Rendah Tinggi Keamanan Lampu Jalan . Rendah Tinggi Jalan Lokal Pendidik an Pelayanan Udara Kesehata bersih n Gambar 4. untuk barang publik seperti. tidak menutup kemungkinan sifat tanpa pengecualian ini dihilangkan. karena apabila pemerintah mencegah dengan cara tidak membangun jalan di sekitar rumahnya. Misalkan. Namun demikian. selama biaya yang dikeluarkan untuk membayar staf penjaga tempat rekreasi tersebut tidak lebih besar dari pendapatan yang diterima. Semakin banyak orang dalam suatu wilayah. jalan lokal.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 51 setiap konsumen adalah sama. Barang publik seperti lampu jalan dan keamanan. Sebaliknya. tanpa mengurangi kebutuhan orang lain atas lampu yang sama. Dari berbagai macam barang publik. seseorang dapat terlindungi dari gelapnya malam. maka hal tersebut akan dapat merugikan orang-orang di sekitarnya yang membayar pajak. Oleh karena itu. sifat tidak bersaingnya tinggi. terdapat barang-barang publik yang mempunyai sifat tidak bersaing dengan kadar yang tinggi dan rendah. akan ada kemungkinan sifat bersaing dalam penggunaan barang publik tersebut. Namun.1 Sifat Tanpa Pengecualian (Non Excludability) Dimensi kedua dari barang publik adalah sifat tanpa pengecualian. pemerintah mungkin saja menarik bayaran dari para pengunjung. orang yang tinggal di sekitar wilayah lampu tersebut akan lebih merasakan manfaatnya. pelayanan kesehatan dan pendidikan. Misalnya tempat rekreasi. jika biaya untuk mendapatkan kontribusi konsumen tidak lebih besar dari manfaatnya. akan sulit bagi pemerintah untuk mencegah orang tersebut agar tidak menggunakan jalan umum. A tidak memberi kontribusi dengan membayar pajak. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan ketidakmampuan dalam mencegah seseorang yang tidak memberikan kontribusi (tidak membayar) untuk ikut mengkonsumsi barang publik. terdapat sifat tidak bersaing yang rendah dalam konsumsinya. dibandingkan dengan orang yang tinggal lebih jauh dari wilayah lampu tersebut.

Perpotongan antara kurva SS dan Dt menentukan titik ekuilibrium harga P1 dan titik ekuilibrium kuantitas Qt.3. Penawaran dan Equilibrium Pasar Atas Barang Pribadi Harga S = MC P1 E Dt Db .3 mewakili barang pribadi yang mempunyai sifat bersaing dan pengecualian yang sangat tinggi. Kurva penawaran pasar SS memperlihatkan biaya marginal (MC) yang dapat dibebankan kepada A dan B secara bersama-sama untuk berbagai output dari barang pribadi. A dapat masuk ke dalam pasar sehingga kurva permintaan pasar Dt berbelok. Gambar 4.2 Barang Publik Versus Barang Pribadi Gambar 4. selanjutnya pada saat tingkat harga sudah cukup rendah.52 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian Tempat Parkir Tempat Rekreasi Perpustakaan Udara Bersih Pendidikan Jalan Lokal Gambar 4. Dengan catatan bahwa Qt merupakan penjumlahan dari Qa (barang yang dibeli oleh A) dan Qb (barang yang dibeli oleh B). Kurva Permintaan. dan 4. Kurva permintaan pasar (Dt) diperoleh dengan menambahkan secara horizontal kurva permintaan A (Da) dan kurva permintaan B (Db). selama tingkat harga masih cukup tinggi. Kurva permintaan pasar Dt berhimpitan dengan kurva permintaan Db.4 di bawah ini menguraikan tentang perbedaan antara barang publik dan barang pribadi dalam suatu masyarakat yang diasumsikan hanya terdiri dari dua kelompok individu. yaitu A dan B. Semua titik-titik dalam kurva permintaan pasar Dt merupakan gabungan dari titik-titik harga dan kuantitas yang diminta dalam kurva permintaan A dan B.

dalam kurva 4. Di atas harga PA. dikarenakan manfaat marjinal atas barang tersebut masih terus diterima oleh B. Situasi yang berbeda terjadi di sini. Berdasarkan karakteristik dari barang publik tersebut. Misalnya A sebagai warga kota Jakarta dapat menggunakan seluruh jalan kota maka demikian juga halnya dengan B. Oleh karena itu. tapi lebih kepada perbedaan dari manfaat marjinal dari setiap konsumen atau harga yang dibayarkan oleh masing-masing konsumen.4 tampak bahwa terdapat suatu titik yang menunjukkan maksimum harga yang bersedia dibayar oleh individu A (PA). meskipun A memiliki mobil sedangkan B tidak. baik manfaat yang diterima A lebih besar maupun lebih kecil. karena A tidak lagi memperoleh tambahan manfaat atas barang tersebut. Sementara individu B masih bersedia membayar sampai ke tingkat harga PB atas barang publik yang sama. dalam hal ini perbedaan terjadi bukan pada kuantitas yang dikonsumsi oleh masing-masing orang. sehingga barang yang dikonsumsi oleh A sama jumlahnya dengan barang yang dikonsumsi B.4 memperlihatkan pola yang sama namun untuk barang publik.3. Alasan atas kondisi ini. individu A tidak lagi bersedia untuk membayar atas barang publik tersebut.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 53 Gambar 4. karena barang publik mempunyai sifat tidak bersaing dan tanpa pengecualian. Kurva Permintaan. Penawaran dan Equilibrium Pasar Atas Barang publik Harga S = MC P1 PB E Dt PA . karena pada titik tersebut A memperoleh manfaat yang maksimum. Gambar 4.

individu B bersedia membayar lebih banyak lagi untuk penyediaan jalan raya. Sementara di lain pihak. individu A hanya bersedia membayar dengan harga cukup. dan lain-lain. Kurva Kemungkinan Produksi . Penyediaan Barang Publik Ketika pemerintah melakukan fungsi penyediaan barang publik.4. seperti: jalan umum.4. dalam penyediaan jalan raya. Gambar 4. Barang pribadi adalah barang-barang yang diproduksi untuk dijual dan tersedia di pasar. pendidikan. sebagai kompensasi atas kebutuhannya terhadap jalan tersebut. karena mungkin hanya itu kebutuhannya. pakaian. dengan asumsi seluruh sumber daya yang ada digunakan.54 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian Gambar 4. trade off dari penyediaan barang publik oleh pemerintah dengan penyediaan barang pribadi melalui mekanisme pasar dapat digambarkan dengan kurva kemungkinan produksi. Masih dalam gambar 4. tampak bahwa kurva permintaan pasar (Dt) berbelok pada tingkat kuantitas barang publik yang memberikan tingkat manfaat maksimum pada A – sehingga A tidak bersedia membayar harga tambahan lagi. Sedangkan barang publik adalah barang-barang yang tersedia tapi tidak untuk dijual di pasar. seperti makanan. Maka total harga yang bersedia dibayar oleh pasar. Sebagai contoh.5 menunjukkan alternatif kombinasi antara barang publik dan barang pribadi. Di atas harga tersebut (PA) tambahan barang publik dibayar oleh individu B. keamanan nasional dan lain-lain. adalah total harga yang bersedia dibayar oleh seluruh individu dalam pasar (P1=PA+PB).

Jika untuk memenuhi kebutuhan keamanan nasional tersebut pemerintah harus meningkatkan pajak penghasilan. jika diumpamakan peningkatan jumlah barang publik per tahun merupakan respon pemerintah atas peningkatan permintaan masyarakat terhadap keamanan nasional. Peningkatan jumlah barang publik yang tersedia di pasar dalam satu tahun dari OG1 ke OG2 (titik B) akan meminta penurunan dari jumlah barang pribadi di pasar dari OX1 ke OX2. bahwa dalam rangka penyediaan barang publik diperlukan adanya campur tangan pemerintah.5 Titik A dalam gambar menunjukkan bahwa MX1 unit adalah jumlah barang pribadi yang dikorbankan oleh masyarakat sehingga pemerintah dapat menyediakan barang publik sejumlah OG1. Namun di sisi lain. maka kualitas keamanan yang disediakan pemerintah akan meningkat dan masyarakat akan merasa lebih aman. Penyediaan Barang melalui Anggaran Sebagaimana telah diterangkan dalam bab sebelumnya. Sumber daya yang dikorbankan tersebut adalah harga yang harus dibayar oleh masyarakat atau pajak yang diminta oleh pemerintah agar barang publik dapat tersedia. Pengorbanan masyarakat merupakan harga sumber daya yang seharusnya digunakan untuk memproduksi barang pribadi digunakan oleh pemerintah untuk dapat menyediakan barang publik. atau dengan kata lain meminta pengorbanan lebih besar dari MX1 ke MX2. Permasalahan yang timbul kemudian adalah tentang jenis dan kualitas barang seperti apa yang harus disediakan oleh pemerintah.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 55 Gambar 4. pengorbanan dari pihak masyarakat terjadi dengan menurunnya kemampuan konsumsi atas barang-barang pribadi. Masalah lain yang juga .

berkampanye. Agar dapat berfungsi sebagai mekanisme yang efisien dalam mengungkapkan preferensi. Secara normatif. Namun dalam prakteknya.masyarakat akan merasa enggan untuk ikut serta dalam proses pengambilan keputusan tersebut. Keterbatasan Jangkauan Manfaat atas Barang Publik Pada dasarnya.56 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian timbul adalah ketika pemerintah perlu menetapkan jumlah uang yang harus ditarik dari masyarakat untuk menyediakan barang publik tersebut. Dasar pemikiran tentang komunikasi efektif antara pemerintah dan masyarakat mengikuti logika kepentingan setiap individu dalam masyarakat. diperlukan proses politik untuk mengungkapkan preferensi masyarakat kepada pemerintah tentang barang publik apa yang perlu disediakan dan melengkapinya dengan sumber-sumber pembiayaan yang dibutuhkan untuk membayar barang-barang publik tersebut. Setiap orang akan dengan senang hati ikut terlibat dalam proses pengambilan keputusan politik – mulai dari sekedar memberikan suara. banyak anggota masyarakat merasa bahwa biaya yang mereka keluarkan untuk menyatakan tuntutan mereka seringkali lebih besar dari manfaatnya. Pilihan para pemilih akan tergantung pada pengetahuan mereka sendiri serta kesadaran mereka bahwa orang lain juga menyumbang sesuai dengan rencana perpajakan yang dianut. maka proses pemungutan suara harus mengaitkan keputusan perpajakan (sebagai alat pendanaan) dengan keputusan anggaran pengeluaran atau belanja publik. Namun dalam prakteknya. Para pemberi suara kemudian akan dihadapkan pada suatu pilihan di antara beberapa usulan pengeluaran publik berkaitan dengan sumbangan pajak mereka. menyumbang bahkan sampai keluar dari pekerjaannya – jika mereka merasa bahwa ada akibat langsung dari kebijakan politik pemerintah kepada mereka. karena adanya mekanisme mengikuti keputusan suara terbanyak dalam proses yang demokratis. Proses tersebut harus diawali dengan memberikan pemahaman kepada anggota masyarakat tentang pentingnya memberikan suara mereka. apabila suatu usulan kebijakan tidak berpengaruh langsung atau kecil pengaruhnya . Sementara itu. Hal ini diakibatkan tidak cukupnya informasi yang disampaikan oleh masyarakat kepada pemerintah. masyarakat dalam sistem yang demokratis akan terhindar dari apatisme anggotanya dalam proses pengambilan keputusan politik. Pengungkapan preferensi masyarakat kepada pemerintah dapat dilakukan melalui proses pemungutan suara. ada . karena biaya yang mereka keluarkan akan lebih besar dari manfaat yang akan mereka terima. barang publik disediakan bagi semua orang yang mempunyai kepentingan atas barang tersebut. Oleh karena itu.

sementara barang publik berskala lokal lebih tepat disediakan oleh pemerintah lokal atau pemerintah daerah. dia akan berpikir dari pintu tol mana dia harus masuk dan di pintu tol mana dia harus keluar.. tol. mempunyai sifat tidak bersaing yang rendah. Sebagai contoh. uang.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 57 barang publik yang dapat dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat di dalam negara (berskala nasional) dan ada barang publik yang hanya dapat dimanfaatkan oleh sekelompok orang tertentu (berskala lokal). seorang pengguna jalan tol dalam kota akan masuk dari pintu terdekat dengan tempat dia berangkat dan keluar dari pintu terjauh. mereka tidak akan merasa keberatan membayar untuk dapat menggunakan barang publik tersebut. Hal ini disebabkan. maka akan sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali manfaat yang akan mereka dapatkan. Tentunya akan lebih mudah bagi pemerintah lokal untuk menarik kontribusi dari para pengguna barang publik yang disediakan (seperti tiket masuk tempat rekreasi. dengan mempertimbangkan kondisi kemacetan (biaya oportunitas) di luar jalan tol. Artinya para pengguna seharusnya akan lebih termotivasi untuk menggunakan barang-barang ini sampai pada titik dimana manfaat marjinal yang mereka peroleh sama dengan atau mendekati nol. kontribusi seseorang baik itu berupa waktu. . sehingga akan lebih memperkecil timbulnya masalah free rider. Barang publik berskala lokal dalam garis kontinum. seperti yang terlihat pada gambar 5. dari manapun dia masuk dan dimanapun dia keluar biaya yang harus dikeluarkan adalah sama. untuk setiap tambahan pintu tol yang dia lewati. Berpartisipasi atau tidak berpartisipasi akan menjadi sangat terlihat.1. dan 5. Melihat sifatnya tersebut. Sebaliknya. harus ada tambahan biaya yang dikeluarkan. tapi paling dekat dengan tempat tujuannya. maupun pemberian suara akan dapat menciptakan perubahan atas suatu keputusan. karena akan lebih jelas manfaat yang dapat mereka peroleh bila dibandingkan dengan biaya yang mereka keluarkan. dalam suatu kelompok yang kecil. Sebagai contoh. bagi yang sedikit memberikan berkontribusi atau bahkan tidak sama sekali. karcis parkir. Dari sini dapat terlihat bahwa biaya marginal dari setiap tambahan penggunaan atas barang publik ini sama dengan atau paling tidak mendekati nol. atau retribusi pasar) dengan tarif ataupun biaya yang rendah. Berbeda dengan pengguna jalan tol luar kota. Selain itu dalam skala lokal akan lebih dimungkinkan untuk mengatasi permasalahan free rider.2. Mereka akan terus menambah konsumsi mereka atas barang publik ini sampai manfaat yang mereka dapatkan maksimal. barang publik berskala nasional lebih tepat disediakan oleh pemerintah pusat. selama tidak ada tambahan biaya yang harus mereka keluarkan. Dari sisi pengguna.

Kurva Permintaan Congestible Goods Harga MC P1 D3 . pemerintah dapat menghilangkan biaya parkir. sedangkan untuk hari kerja atau sekolah. dimana pada hari-hari libur hampir tidak ada mobil yang datang berkunjung. yang dalam garis spektrum mempunyai sifat tidak bersaing yang rendah. pemerintah lokal tidak perlu menarik kontribusi dari pengguna barang publik ini. Di lokasi perkantoran misalnya. para pengunjung dapat menikmati tempat rekreasi dengan biaya yang lebih rendah. begitu juga biaya marginalnya yang tetap. Sebegitu rendah permintaannya sehingga pemerintah lokal merasa tidak perlu ada penarikan retribusi atas pengguna barang publik tersebut. jika pemerintah lokal harus menarik kontribusi atas pengguna barang publik ini. Dari berbagai macam barang publik jenis ini. pada musim liburan dimana pengunjungnya sangat padat. jadi perlu juga tidak ada penjaga gerbang sehingga dapat mengurangi atau bahkan menghapus biaya marjinal. pada waktu yang lain ketika jumlah pengguna barang ini hanya sedikit. Gambar 4. memperlihatkan bahwa tambahan permintaan atas congestible goods pada musim sepi jumlahnya sedikit (pergeseran dari titik O ke D1 sampai ke D2). Misalnya pada tempat-tempat rekreasi. Apabila dimungkinkan. yaitu barang publik yang mempunyai sifat tidak bersaing yang rendah hanya pada waktu penggunaannya padat atau penggunanya mencapai jumlah tertentu.58 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian Barang publik berskala lokal adalah barang-barang yang diproduksi oleh pemerintah lokal. maka biaya marjinalnya bisa akan lebih mahal dari manfaat marjinalnya. Sementara itu. maka sifat tidak bersaingnya akan menjadi tinggi. Strategi lain dalam memperlakukan congestible goods adalah dengan menggunakan dua macam tarif. yaitu tarif tinggi pada musim padat dan tarif rendah pada musim sepi. Sehingga. Hal ini diharapkan dapat menarik minat pengunjung untuk mau masuk ke tempat rekreasi tersebut.6. dapat dikenakan tarif tinggi. sehingga biaya menempatkan penjaga gerbang akan tertutup dari pembayaran tiket masuk. ada yang disebut dengan istilah congestible goods.

2. Kondisi-kondisi berikut harus terpenuhi untuk mencapai efisiensi pareto: 1. maka jelas bahwa teknologi pertama yang akan terpilih. jika suatu teknologi memungkinkan diproduksinya 10 unit barang X dan 8 unit barang Y. Sebagai contoh. Jika perubahan itu masih dimungkinkan maka kondisi tersebut belumlah efisien dan peningkatan efisiensi masih diperlukan. Efisiensi Pareto didefinisikan sebagai suatu pengaturan ekonomi tertentu adalah efisien jika di sana tidak dapat dilakukan pengaturan kembali yang akan menyebabkan seseorang menjadi lebih baik tanpa merugikan posisi orang lain. Efisiensi Penyediaan Barang Publik oleh Pemerintah Dalam hal efisiensi penyediaan barang publik oleh pemerintah. Efisiensi menghendaki bahwa dengan menggunakan teknologi terbaik. Kaidah efisiensi akan mengarah pada terpenuhinya kondisi-kondisi tertentu agar tercapai pemecahan alokasi yang efisien. Secara sederhana.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 59 Gambar 4. tidaklah mungkin untuk mengubah metode produksi. seorang ekonom Italia mengusulkan konsep efisiensi yang dikenal dengan istilah Efisiensi Pareto (Pareto Efficiency). kita akan mempertimbangkan suatu perekonomian dengan hanya ada dua konsumen.6. Tingkat substitusi marjinal dalam mengkonsumsi barang X dan Y harus sama baik bagi konsumen A maupun B. Artinya tingkat dimana . sedangkan teknologi lain memungkinkan diproduksinya 10 unit barang X dan hanya 5 unit barang Y. jumlah tertentu barang X harus diproduksi sedemikian rupa sehingga memungkinkan diproduksinya Y sebanyak-banyaknya pada saat yang sama dan demikian pula sebaliknya. kombinasi barang yang diproduksi. yaitu A dan B serta dua macam barang yaitu X dan Y. Pada kondisi efisiensi pareto. atau besarnya sektor pemerintah dalam usaha untuk membantu seseorang atau kelompok tanpa merugikan orang atau kelompok lain.

Penjual dalam upayanya untuk memaksimalkan manfaat akan menyamakan biaya marjinal dengan penerimaan marjinal 5 (memenuhi kondisi 3). sedangkan tingkat transformasi marjinal di dalam produksi adalah 3X untuk 1Y. sampai tercapai tingkat substitusi marjinal yang sama.60 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian A dan B berkeinginan untuk menukarkan unit barang X dengan barang Y haruslah sama. dimana A akan dapat meningkatkan konsumsinya terhadap barang Y sedangkan B dapat meningkatkan konsumsinya terhadap barang X. Jadi jika tingkat substitusi marjinal di dalam konsumsi adalah 3X dan 2Y. 3. Dari sini. Pemecahan efisiensi akan sangat dimudahkan dengan menggunakan pendekatan mekanisme pasar. sedangkan B mau menukarkan tiga unit barang Y untuk satu unit barang X. maka hal ini akan menguntungkan keduanya bila melakukan pertukaran. produsen akan menyamakan biaya marjinal dengan harga atau pendapatan rata-rata. Selanjutnya. karena di sini konsumen didorong untuk 5 Dalam keadaan bersaing. konsumen akan mengalokasikan anggaran belanjanya di antara barang-barang tersebut sedemikian rupa sehingga menyamakan tingkat substitusi marjinal mereka dengan rasio harga barang (memenuhi kondisi 2). Jika A ingin memberikan satu unit barang X untuk dua barang Y. Bagi barang pribadi yang tersedia melalui mekanisme pasar (dimana produsen akan memproduksi barang-barang yang paling diinginkan oleh konsumen atau preferensi konsumen teridentifikasi dengan jelas). tetapi jumlah kuantitas konsumsinya berbeda. maka akan lebih diinginkan untuk meningkatkan output barang X dan mengurangi barang Y sampai kedua tingkat tersebut menjadi sama. tergantung pada selera dan pendapatan mereka. Alokasi yang Efisien Melalui Mekanisme Pasar Sekarang kita pertimbangkan suatu kondisi dimana cukup baik tidak hanya untuk produksi barang publik tetapi juga untuk produksi barang pribadi. Harga per unit yang sama dibayar oleh semua konsumen. kita dapat melihat bahwa mekanisme pasar dapat menjamin terlaksananya penggunaan sumber daya yang efisien. Tingkat substitusi marjinal barang X untuk barang Y dalam konsumsi haruslah sama dengan tingkat transformasi marjinal di dalam produksi. . produsen akan memaksimalkan keuntungan dengan menggunakan metode biaya sekecil mungkin (memenuhi kondisi 1). Tingkat transformasi marjinal dapat didefinisikan sebagai suatu tambahan unit barang X yang dapat diproduksi bila produksi barang Y dikurangi satu unit.

7 dibawah ini. jika A berada pada titik G pada gambar di bagian tengah. Artinya. diketahui bahwa kombinasi output yang paling efisien meliputi barang publik sebanyak 0F dan barang pribadi sebanyak FE. Dari gambar bagian atas. titik-titik ini akan berhubungan dengan kondisi bahwa jumlah barang X yang dikonsumsi oleh A dan B harus sama dengan output total barang X.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 61 menyatakan preferensi mereka. setiap penyediaan atas barang publik harus ada pengorbanan dari sumber-sumber daya yang seharusnya dapat digunakan untuk memproduksi barang pribadi. Karena sifat barang publik yang tidak bersaing dan tanpa pengecualian. Akan tetapi. tetapi mereka dapat mengkonsumsi barang pribadi dengan jumlah yang berbeda. Selanjutnya. Sumbu XY pada gambar bagian tengah memperlihatkan jumlah barang pribadi dan publik yang dikonsumsi oleh individu A. Pemecahan masalah efisiensi kembali perlu untuk ditemukan. Karena FG dikonsumsi oleh A maka jumlah yang tersisa 6 Ini adalah kelebihan dari the invisible hands sebagaimana yang dikemukakan pertama kali oleh Adam Smith.3 dimana kondisi seluruh sumber daya yang ada dapat digunakan untuk memproduksi barang pribadi. dan sumbu XY pada gambar bagian bawah memperlihatkan jumlah barang pribadi dan publik yang dikonsumsi oleh individu B. jika kita perhatikan pada gambar 4. sehingga produsen termotivasi untuk memproduksi apa yang diinginkan oleh konsumen. artinya A mengkonsumsi barang publik sebanyak 0F dan barang pribadi sebanyak FG. sebagaimana pertama kali pernah dikembangkan oleh Samuelson. . Alokasi yang Efisien Atas Barang Publik Sebagaimana diperlihatkan dalam gambar 4. sekali lagi mencatat kombinasi barang pribadi dan barang publik yang dapat diproduksi dengan menggunakan seluruh sumber daya yang tersedia. sehingga keduanya akan berada pada titik yang berbeda pada sumbu vertikal. oleh karenanya harus disediakan oleh pemerintah. sehingga kedua individu tersebut (A dan B) akan berada pada titik yang sama pada sumbu horizontal. Sebagai ilustrasi. maka dapat diasumsikan bahwa jumlah barang yang dikonsumsi dari setiap individu adalah sama. yang akan ditunjukkan melalui beberapa penjelasan di bawah ini. kita akan melihat bahwa kurva kemungkinan produksi pada sumbu XY paling atas. 6 Namun kembali kepada masalah bahwa tidak semua barang bisa disediakan melalui mekanisme pasar. penyediaan barang publik oleh pemerintah akan menyebabkan trade off dengan penyediaan barang pribadi melalui mekanisme pasar.

kesejahteraan A akan menjadi maksimal apabila A mendapatkan suatu titik yang akan dapat membuat B menjadi lebih baik. Z dan K. Jika A berada pada kurva indiferen ia1 pemecahan terbaik adalah dengan membiarkan A dan B pada titik P dan L. dimana output total barang publik (yang paling efisien) sejumlah ON. dan V. dimana ULK bersinggungan dengan kurva indeferen ib4 dari B pada gambar bagian bawah. berdasarkan alasan yang sama akan menempatkan B pada titik L. menunjukkan bahwa jika A berada pada titik G maka B akan berada pada titik H pada gambar di bagian bawah. sedangkan total output barang pribadi sebanyak NM akan dibagi antara A dan B sehingga A menerima sebanyak NP dan B menerima sebanyak NL. Kemudian jika A bergerak sepanjang ia2 ke titik P. Untuk A misalnya dinyatakan oleh kurva indiferen ia2 pada gambar bagian tengah.62 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian bagi B sama FE-FG = FH. semua titik sepanjang ia2 akan sama baiknya. Inilah kurva tertinggi yang dapat dicapai oleh B. Selanjutnya kita akan melihat pada tingkat kesejahteraan terbaik untuk A dan B. Hal ini akan terjadi pada titik L. T. Total X D M E Y 0 Jumlah X untuk A V N F U C Jumlah S P ia3 G W ia2 ia1 0 Jumlah X untuk B N F U Jumlah S K Z L H ib4 ib3 ib2 Jumlah S ib1 0 . maka B akan berpindah ke kiri sepanjang ULK. Bagi A. sehingga menempatkan B pada titik H pada gambar bagian bawah. Jika A bergerak sepanjang ia2 dari tititk W ke kiri.

istilah keadilan berada dalam suatu area yang sangat berlawanan.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 63 Gambar 4. Dalam ilmu ekonomi. bahwa terdapat dua masalah pokok dalam penggunaan sumber daya yang optimal yaitu masalah penggunaan sumber daya yang efisien dan masalah pendistribusian sumber daya tersebut dengan adil. teori efisiensi alokasi faktor produksi ini bukanlah merupakan teori fungsi distribusi.7 Jika utilitas A berubah lagi. Dalam pembahasan terdahulu penekanan lebih pada efisiensi. kita akan menemukan posisi baru bagi B pada gambar di bagian bawah (dihubungkan dengan ULK) dan satu hasil optimal baru (dihubungkan kepada L). Walaupun demikian. tenaga kerja dan modal. Semua ini adalah efisien menurut pemikiran Pareto dan memenuhi kondisi kesamaan di antara tingkat substitusi marjinal di dalam konsumsi dan tingkat transformasi marjinal di dalam produksi. Agar alokasi sumber daya menjadi efisien maka jumlah faktor produksi yang digunakan harus sedemikian rupa sehingga nilainya sama dengan nilai biaya marjinal. teori distribusi biasanya mengacu pada teori mengenai peranan faktor produksi. alokasi faktor produksi dapat dikatakan efisien apabila dasar penetapan harga faktor produksi juga efisien. maka kita dapat mengulangi prosedur yang sama untuk B. FUNGSI DISTRIBUSI Sebagaimana telah dibahas dalam bab sebelumnya. Istilah keadilan lebih dekat pada nilai normatif daripada obyektif. misalnya ke kurva ia3. tanpa memperhatikan masalah . Pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah ada distribusi yang adil atau merata? Bagaimana keadaan distribusi yang adil dan merata itu yang dimaksud di atas? Ketika istilah efisiensi berada dalam suatu area yang dapat dikatakan mendekati nilai obyektif. yaitu tentang bagaimana pengalokasian sumber daya di antara berbagai kebutuhan produksi yang saling bersaing guna mencapai suatu tingkat hasil (utilitas atau kepuasan) tertentu. Sebagai contoh. yaitu teori penetapan harga faktor produksi dan pembagian pendapatan nasional dari penghasilan atas tanah. Dalam setiap kasus. Teori ini memainkan peranan yang sangat penting dalam analisis ekonomi. Dengan cara ini. namun demikian penekanan teori peranan produksi lebih pada pengalokasian yang efisien. kita akan memperoleh serangkaian pemecahan yang berkaitan dengan berbagai tingkat kesejahteraan untuk A dan B.

Konsep Keadilan Keadilan merupakan isu sentral dalam sektor ekonomi dan kebijakan publik. diasumsikan bahwa setiap orang memiliki kapasitas yang sama untuk menikmati pendapatan. Oleh karena itu. masih dalam konteks ideal. bukan dalam ukuran rupiahnya namun lebih pada utilitasnya. sistem perpajakan dan belanja publik harus dapat menjamin terciptanya suatu pengorbanan yang adil dari setiap warga negara. hal lain yang mungkin perlu dimasukkan ke dalam pertimbangan adalah masalah kekayaan. Namun pada kenyataannya. melainkan tetap lebih memihak kepada si kaya. penekanan utama dari teori fungsi distribusi adalah pada bagaimana pendistribusian hasil produksi kepada individu-individu atau keluargakeluarga. Permasalahannya adalah bahwa dalam suatu perekonomian. kapasitasnya berada dalam suatu interval tertentu. Selain itu. masalah distribusi pendapatan terhadap individu maupun keluarga akan dibahas lebih mendalam dalam bagian ini. Sedangkan pemerintah akan menyediakan sejumlah barang publik yang sama pula. Sedangkan. atau kondisi-kondisi khusus lainnya seperti ketidakmampuan (cacat). Oleh karenanya. Apakah ada suatu cara untuk mendefinisikan keadilan? Pertanyaan ini telah memicu munculnya beberapa pemikiran terbaik dari para ekonom dalan kurun waktu dua abad terakhir ini. sebagian besar pendistribusian yang dilakukan pemerintah tidak menguntungkan bagi si miskin. Sehingga apabila ada dua kelompok ekstrim dalam masyarakat. Idealnya. atau paling tidak. umur.64 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian distribusi akhir dari hasil penjualan produksi tersebut di pasar. Pendapatan sendiri harus mencakup masalah seluruh pendapatan seumur hidup seseorang. dari setiap orang akan ditarik pajak dengan jumlah yang sama. si miskin dan si kaya. tidak hanya sekedar persoalan pendapatan. jumlah anggota keluarga. akan terasa sangat logis jika standar adil dalam pengorbanan dipenuhi melalui sistem yang menjamin bahwa kontribusi si miskin harus lebih kecil dari kontribusi si kaya. bukan hanya pendapatan dalam satu tahun. Selanjutnya. dan kondisi . fungsi pendistribusian oleh pemerintah dapat mencakup proses penarikan dana (melalui pajak) dari si kaya dan mentransfernya kepada si miskin baik itu dalam bentuk uang ataupun jasa. Dalam konsep ini. Konsep Keadilan Horizontal Salah satu jawaban atas dilema dalam mendefinisikan dan mengukur keadilan adalah konsep keadilan horizontal.

kekayaannya. tidak perduli kaya atau miskin.000. cacat atau normal dan sebagainya. Oleh karena itu.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 65 kesehatan seseorang. sehingga pajak penghasilan menetapkan tarif yang berbeda. Dalam konsep ini. Contoh konkrit dari konsep ini dapat ditemukan pada tiket masuk suatu tempat rekreasi yang tidak membedakan orang per orang. 7 . dimana harus menetapkan batas suatu jumlah pendapatan sehingga dapat dikatakan bahwa jumlah tersebut mempunyai kemampuan membayar pajak lebih rendah atau lebih tinggi. tua atau muda.001. Jadi. melalui konsep ini. Apakah seseorang yang mempunyai pendapatan dua kali pendapatan orang yang lain berarti bahwa orang tersebut mempunyai kemampuan membayar dua kali juga atau tidak. dan subsidi perumahan dan kesehatan bagi rakyat miskin7. Dasar pengukuran dapat berupa pendapatannya. Selanjutnya. secara umum. pengukuran menggunakan konsep keadilan horizontal sulit ditemukan. namun disesuaikan dengan kondisi mereka. Kategori rakyat miskin adalah mereka yang memiliki pendapatan rata-rata – berdasarkan uji rata-rata – di bawah tingkat pendapatan tertentu yang ditetapkan oleh pemerintah. dan kebutuhan atau kemampuannya untuk membayar. setiap orang dianggap sama. Salah satu kesulitan dalam menerapkan konsep keadilan vertikal adalah bagaimana kebijakan publik dapat menetapkan dasar yang dapat dijadikan pedoman bagi pengukuran ketidaksamaan kondisi (misalnya pendapatan) seseorang. Konsep keadilan vertikal juga tercermin dalam metode pengujian rata-rata yang digunakan bagi banyak program pemerintah.-.000. Tarif pajak progresif – yang akan dibahas lebih lanjut di bagian mendatang – merupakan salah satu contoh konkrit dari konsep keadilan vertikal. Jadi. Bagaimana cara mengukur perbedaan jumlah pendapatan seseorang jika harus dikaitkan dengan perbedaan kemampuan orang tersebut dalam membayar pajak. Konsep Keadilan Vertikal Konsep kedua dalam mengukur keadilan adalah konsep keadilan vertikal.000. jumlah pajak yang ditarik dari setiap orang tidaklah sama. seperti pembebasan atau pengurangan biaya sekolah.00 lebih rendah kemampuan membayar pajaknya dibandingkan dengan seseorang yang mempunyai pendapatan Rp 50. Apakah seseorang yang mempunyai jumlah pendapatan Rp 50. keadilan berarti memperlakukan setiap orang secara berbeda disesuaikan dengan kondisinya masing-masing.

konsep ketiga dalam upaya menginterpretasikan keadilan jatuh pada prinsip kompensasi. Seandainya hambatan perdagangan tetap dipertahankan sehingga tetap ada dinding yang membatasi suatu negara dalam bertransaksi dengan negara lain. maka tetap saja akan ada pihak-pihak yang diuntungkan sebagai pemenang dan pihak-pihak yang dirugikan sebagai yang kalah.66 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian Prinsip Kompensasi Terakhir. Kriteria ini akan memandu pengambil keputusan untuk memilih keputusan terbaik kedua setelah pareto optimal. Prinsip kompensasi sebagian dapat terlihat dalam hal kebijakan perdagangan. para ekonom mencari beberapa kriteria untuk pengambilan keputusan dimana kondisi pareto optimal tidak mungkin dapat dicapai. Menyadari hal ini. penggunaan sumber daya yang efisien akan ditentukan oleh nilai penetapan harga faktor produksi yang kompetitif. . Hal ini sering dipandang sebagai suatu tingkat 8 Prinsip kompensasi menawarkan suatu pedoman dasar untuk memilih dari beberapa alternatif kebijakan dengan ketentuan bahwa seseorang akan menjadi lebih baik atau lebih sejahtera. Salah satu kriteria yang paling sering digunakan adalah prinsip kompensasi8. menyebabkan suatu keputusan atau perubahan kebijakan sangat sulit untuk dibuat tanpa mengakibatkan adanya pihak-pihak yang diuntungkan dan pihakpihak yang dirugikan. sehinggga mengakibatkan distribusi pendapatan keluarga juga ditentukan oleh proses pasar. tanpa menyebabkan kondisi orang lain sebaliknya (lebih buruk). Jadi dalam konsep ini akan tercipta peraturan atau kebijakan yang mau tidak mau akan terdapat pihak yang menang dan kalah. Keadilan diterjemahkan sebagai optimalisasi pareto yang menyatakan bahwa tidak mungkin merubah kondisi seseorang menjadi lebih baik. kesejahteraan publik akan lebih meningkat. Ketidakmampuan dalam membandingkan utilitas dari setiap orang. Faktor-Faktor yang Menentukan Distribusi Tanpa adanya intervensi kebijakan. Permasalahannya terletak pada aspek pemerataan dan keadilan. Penurunan secara bertahap terhadap hambatan perdagangan internasional akan memberikan keuntungan bagi para konsumen dan eksportir di atas beban para tenaga kerja dan produsen importir dalam industri yang bersaing. Apabila hukum ekonomi pasar diberlakukan. distribusi pendapatan dan kekayaan akan tergantung pada ketersediaan sumber daya alam dan kepemilikan atas kekayaan. Namun kebijakan ini tetap diinginkan karena secara total.

Distribusi sebagai Suatu Kebijakan Jika sebelumnya pembahasan distribusi lebih terfokus sebagai hasil dari perekonomian pasar. dan akhirnya pola pernikahan juga menjadi faktor terpenting dalam pendistribusian pendapatan. Namun dalam banyak kasus. pola hidup dan simpanan semasa hidup. Distribusi pendapatan yang diakibatkan oleh faktor-faktor tersebut di atas. Distribusi pendapatan tenaga kerja dan modal terkait dengan investasi pendidikan. tingkat pendapatan dari berbagai macam pekerjaan mungkin berbeda sejalan dengan pertimbangan status dibandingkan dengan produk marjinal. menunjukkan tingkat ketidakadilan yang sangat mencolok. oleh karenanya harga-harga tersebut akan bergantung langsung pada sejumlah variabel seperti faktor penawaran. dan preferensi pelanggan. distribusi pendapatan juga bergantung pada faktor harga. Hal ini dapat dilihat dengan membandingkan persentase dari pendapatan yang diperoleh tenaga kerja dengan persentase rumah tangga (pemilik modal) yang menghasilkan. Dalam ekonomi pasar. Para ekonom sepakat bahwa dibutuhkan penyesuaian untuk menentukan batas minimum pendapatan untuk kelompok berpenghasilan rendah. teknologi. Dalam persaingan sempurna. pola perkawinan. tingkat harga akan sama dengan nilai dari faktor produk marjinal. kali ini pembahasan akan difokuskan pada distribusi 9 Distribusi pendapatan modal mencakup distribusi kesejahteraan. Kebijakan penyesuaian tersebut akan menimbulkan inefisiensi dengan menimbulkan tambahan biaya. distribusi pendapatan ditentukan oleh penjualan faktor produksi tenaga kerja dan modal. Perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa terjadi kecenderungan meningkatnya ketidakadilan dalam pendistribusian pendapatan (Musgrave. ras dan lain-lain masih memainkan peran yang sangat penting. terutama dalam distribusi pendapatan modal9. tingkat pengembalian lebih ditentukan oleh pasar persaingan tidak sempurna dimana faktor-faktor institusi seperti struktur gaji. hubungan keluarga. status sosial. Begitu pula dengan kesempatan seseorang untuk memperoleh pekerjaan akan lebih bergantung pada hubungan kekeluargaan dibandingkan dengan kemampuan produktifitasnya. Distribusi pendapatan tenaga kerja berkaitan dengan distribusi kemampuan sekaligus keinginan tenaga kerja yang bersangkutan untuk memperoleh pendapatan. 1991). .Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 67 ketidakadilan yang besar. yang merupakan pengaruh dari tingkat upah yang dapat dicapai oleh seseorang. Oleh sebab itu. Selain bergantung pada turunan dari faktor-faktor produksi tersebut. sebagaimana telah ditentukan oleh warisan.

meskipun tidak secara langsung. Pemecahan optimal menghendaki suatu kombinasi yang kompleks antara pajak dan subsidi. Setiap kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Sedangkan di sisi lain. Tetapi. Namun sayangnya. dan (3) kombinasi antara pajak atas barang mewah dengan subsidi terhadap barang tidak mewah. maka masalah distribusi akan menjadi . karena masalah distribusi sangat erat kaitannya dengan permasalahan kebijakan ekonomi. semestinya para ekonom yang berurusan dengan kebijakan umum pemerintah tidak boleh melepaskan pemikiran mereka dari masalah keadilan dalam distribusi pendapatan.68 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian sebagai hasil dari suatu kebijakan. Pemecahan atas Distribusi yang Adil dan Merata Seandainya asumsi-asumsi yang mendasari berbagai konsep keadilan dapat digali. yaitu pengenaan pajak dimana rasio pajak terhadap penghasilan naik dengan naiknya pendapatan. Contoh lain adalah kebijakan program investasi pemerintah – seperti pembangunan jalan yang tujuannya untuk menyediakan barang publik kepada masyarakat – akan mempengaruhi kesejahteraan berbagai kelompok masyarakat dari segi ekonomi dan tentunya pola distribusi. perlu pula diperhitungkan bobot atau biaya efisiensi. yaitu apa yang seharusnya menjadi kriteria bagi distribusi yang adil dan wajar. pendapatan riil dari konsumen yang menggunakan produk tersebut juga akan ikut terpengaruh. Konsekuensi pilihan instrumen fiskal akan menunjukkan bahwa di satu sisi setiap perubahan harus diselesaikan dengan biaya efisiensi yang minimum. kebijakan mengenai anti trust atau anti monopoli sebenarnya dirancang untuk mengefisienkan pasar. sampai saat ini para ekonom belum dapat menetapkan standar distribusi mana yang sebenarnya menjadi patokan. timbul suatu kebutuhan untuk menyeimbangkan konflik antara tujuan pemerataan dan tujuan efisiensi. Dalam mempertimbangkan instrumen kebijakan. Selain itu. (2) pajak penghasilan (biasanya progresif) digunakan untuk membiayai pelayanan umum. akan mempunyai dampak distribusional. perancangan kebijakan publik seharusnya juga mempertimbangkan masalah distribusi. dan kemudian konsekuensinya dapat diamati sehingga dapat dipilih satu konsep tertentu untuk diterapkan. Misalnya. namun secara tidak langsung akan mempengaruhi pendapatan modal dan tenaga kerja pada industri yang terkait dengan kebijakan tersebut. Biaya efisiensi merupakan biaya yang timbul sebagai akibat pilihan terhadap perilaku konsumen atau produsen. Oleh karena itu. Adapun alternatif peralatan fiskal yang dapat diterapkan dalam fungsi distribusi adalah: (1) skema pajak progresif.

maka kebijakan penarikan pajak berdasarkan pada prinsip keadilan horizontal baru akan diterapkan jika memang kondisi tersebut sudah tercapai. maka masalah ini tetap belum terpecahkan. prinsip keadilan yang dianut menginginkan tidak adanya satu anggota masyarakat pun yang miskin. Kaidah pemerataan mempunyai dua masalah.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 69 lebih sederhana. aspek pemerataan membahas pencegahan kemiskinan dan penentuan batas minimum pendapatan kelompok berpenghasilan rendah. besarnya pendapatan yang tersedia untuk dikenakan pajak. Redistribusi Pada bagian sebelumnya telah dibahas mengenai fungsi distribusi yang menekankan pada pertanyaan dasar mengenai apa yang dimaksud dengan distribusi yang adil dan merata. Kedua. orang harus dikenakan pajak sesuai dengan kemampuan mereka membayar. peningkatan kesejahteraan seseorang tidak akan merugikan orang lain (Pareto Optimum). Distribusi yang adil mempunyai pengertian yang sangat dalam yang menyangkut pertimbangan sosial dan pertimbangan nilai. Kriteria ini tidak sama artinya dengan suatu tindakan pendistribusian kembali atas sumber daya yang ada kepada konsumen. Simpulan umum berkaitan dengan pemerataan adalah bahwa kebijakan distribusi harus memperhitungkan cakupan tambahan biaya secara inefisiensi. Dalam ilmu ekonomi kesejahteraan modern berlaku prinsip bahwa suatu kondisi ekonomi disebut efisien jika. hampir tidak mungkin membandingkan tingkat utilitas masing-masing individu atas pendapatannya. Secara lebih detail. Jika diperhatikan. tetapi dengan perpaduan satu sama lain. tidak dapat dipisahkan hanya dengan cara mendistribusikan pendapatan tersebut. Pertama. Sedangkan kebijakan distribusi yang optimal dapat diartikan sebagai distribusi yang adil dan distribusi yang merata. Misalnya jika. dan hanya jika. tetapi kriteria ini digunakan untuk menilai tingkat efisiensi pasar. Pertanyaan berikutnya sekarang adalah perlu tidaknya untuk mempertimbangkan atau bahkan menanggulangi masalah . pernyataan yang telah diterima secara luas. Fokus perhatian distribusi yang merata terletak pada aspek posisi pendapatan relatif. Dengan menyimpulkan berbagai faktor. berbagai pendekatan dalam setiap konsep keadilan tidak perlu diterapkan secara murni. Namun karena belum ada alasan atau nilai-nilai yang terpilih sebagai dasar dalam menetapkan struktur masyarakat yang baik. yakni pemerataan secara keseluruhan.

para pembayar pajak akan lebih tertarik untuk mendapatkan keadilan atas kesempatan dan memastikan apakah dana yang telah mereka keluarkan. seperti penggalangan dana di mesjid. meskipun hal tersebut akan lebih mudah terdeteksi. Beberapa Hal yang Terkait dengan Redistribusi Pembayar pajak – dalam kasus kebijakan redistribusi oleh pemerintah – mungkin mempunyai tujuan dan kepentingan yang berbeda dengan para penerima pajak. Pada gilirannya. apakah ada jaminan bahwa perubahan yang terjadi akan optimal bagi masyarakat. hasil dari kebijakan ini dapat dievaluasi berdasarkan respon dari setiap pihak yang dirugikan atau diuntungkan pada proses tersebut . dibelanjakan oleh pemerintah dengan seharusnya. Jika kegiatan sukarelawan ini cukup untuk membuat perubahan yang dapat diterima. Pertanyaan berikutnya bagi pemerintah adalah apakah perhatian mereka terkait dengan konsep redistribusi. Namun. Hal ini bisa dicapai melalui kebijakan redistribusi yang ditetapkan melalui proses anggaran. organisasi nirlaba dan sumbangan sosial individu. Hal ini dapat meredistribusi posisi pendapatan atau kekayaan yang telah ditentukan oleh kekuatan pasar. Sebagian orang akan menolak adanya kebijakan redistribusi. Di dalam masyarakat yang kecil pun. Tetapi apakah mungkin cukup menggantungkan keputusan redistribusi ini kepada individu atau kelompok sosial saja. karena akan sangat mudah bagi setiap orang untuk menghindar dari membayar suatu sumbangan sukarela (menjadi free rider). Kedua kelompok ini akan memberikan suaranya. jika hal tersebut merupakan kebijakan wajib dari pemerintah. Rasanya hampir mustahil. dan melakukan lobi politik untuk mempengaruhi pemerintah dengan berbagai cara. gereja. . maka campur tangan pemerintah tidak lagi dibutuhkan. Secara umum. Sementara itu di pihak penerima pajak – katakanlah rakyat miskin – lebih tertarik untuk memperhatikan keadilan atas hasil dan memiliki fleksibilitas dalam menggunakan sumber-sumber dana yang mereka dapatkan. Kebijakan redistribusi mempelajari sampai sejauh mana dan dengan cara bagaimana mengubah keadaan distribusi yang telah ditentukan oleh pasar dan lembaga publik yang ada saat ini. terjadi penurunan atas tingkat kemiskinan dan ketidakadilan dalam masyarakat. hal ini bisa mempengaruhi bagian dari pendapatan nasional yang tersedia untuk redistribusi dan juga bisa menimbulkan biaya yang tentunya harus dipikul.70 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian distribusi yang kurang adil dan merata. hal sebaliknya sering kali terjadi jika redistribusi didanai melalui kontribusi sukarela. terlebih dalam kelompok masyarakat yang besar. orang tetap bisa menghindar dari menyumbang secara sukarela. Selanjutnya.

Ketika redistribusi ditetapkan sehingga akan menurunkan tingkat pendapatan. 10 Keadilan atas kesempatan dapat berupa penyediaan pendidikan (terutama dalam bentuk pembebasan uang sekolah dan wajib belajar). karena akan lebih memberikan fleksibilitas kepada mereka untuk menggunakan dana tersebut. kebijakan untuk melakukan redistribusi dapat mengakibatkan bagian yang tersedia untuk didistribusikan justru menjadi lebih kecil. Keadilan ini lebih bersifat filosofi dalam hubungannya dengan sistem pasar. maka dia dapat makan untuk satu hari. Hal ini dapat diperlihatkan dalam hubungan antara penawaran tenaga kerja dengan tabungan. cara yang termudah adalah dengan memberikan jasa pelayanan langsung seperti pelayanan kesehatan dan program pendidikan. Redistribusi yang telah dibahas sejauh ini mencakup masalah biaya dan manfaat dimana keduanya harus dipertimbangkan. waktu senggang dan pajak dapat dilihat pada gambar 4. Seandainya diberikan dalam bentuk uang. Bagi pemerintah. Isu kedua yang seringkali dipandang berbeda dari pihak pembayar dan penerima pajak adalah bentuk redistribusi. . Perbedaan filosofi dari dua pendekatan keadilan redistribusi ini tercermin dalam pribahasa ”Berikan seseorang ikan. pakaian. Hal ini diakibatkan oleh bekerjanya pengaruh perbedaan yang berlaku pada baik pihak pembayar pajak maupun pihak penerima pajak.8.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 71 atau apakah harus lebih terpusat pada keadilan atas kesempatan10 atau keadilan atas hasil11. maka dia dapat makan seumur hidupnya”. penekanannya lebih pada penurunan kesenjangan pendapatan dan penghapusan kemiskinan dengan cepat daripada menekankan pada berinvestasi pada orang miskin. keadilan atas hasil sebagai suatu strategi anti kemiskinan telah semakin menurun popularitasnya di banyak negara maju seperti Amerika Serikat dan Kanada. Secara umum. ajari seseorang memancing. 11 Dalam keadilan atas hasil. Hubungan antara pendapatan. Para penerima akan lebih memilih untuk menerima uang tunai. sehingga membatasi fleksibilitas penggunaan dana tersebut. Isu penting lainnya dalam masalah redistribusi yang efisien adalah penetapan bagian yang harus diredistribusikan. pihak pendana akan memasukkan preferensi mereka kepada pihak penerima. dan makanan. pelayanan kesehatan atau jasa lainnya yang dapat membantu masyarakat untuk berkembang atau paling tidak tetap berproduksi. investasi dan pertumbuhan ekonomi dimana masalah serupa juga akan timbul. sehingga tingkat produktivitas masyarakat menurun. maka pada tingkat tertentu sebagian besar masyarakat akan mengurangi usaha mereka dalam mencari pendapatan atau dengan kata lain mereka akan memperbanyak waktu santai mereka. Di sisi lain pembayar pajak lebih memilih memberikan dananya dalam bentuk barang seperti. Pertama-tama.

jika pajak terus ditingkatkan (garis A3B).8. ketika pajak mulai dikenakan (garis A2B). begitu pula jumlah waktu luang yang dimilikinya menurun (OX2) – karena yang bersangkutan harus bekerja lebih giat guna menutupi turunnya pendapatan yang diperolehnya. yang terjadi adalah penurunan .8. pada titik ini. menunjukkan bahwa pada tingkat dimana seseorang tidak dikenakan pajak (garis A1B). Namun. dia akan memilih tingkat pendapatan OY1 dan jumlah waktu luang OX1.72 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian Pendapatan.mungkin sebagai bentuk penolakannya terhadap pajak. Kemudian.8 Gambar 4. Namun dapat terlihat bahwa penurunan tingkat pendapatan jauh lebih besar daripada penurunan jumlah waktu luang. jika pajak terus ditingkatkan. masih pada gambar 4. Maka pada tingkat pajak A3B. Waktu Senggang dan Pajak Pendapatan A1 A2 Y1 Y2 A3 Y3 0 X2 X1 X3 B Waktu Luang Gambar 4. ternyata orang tersebut justru menambah waktu luangnya (OX3) . pendapatan orang tersebut menurun menjadi OY2. atau dengan kata lain tingkat produktifitas meningkat. maka tingkat pendapatan akan semakin menurun menjadi OY3. kejadian seperti ini tidak akan terus berlanjut. Sebagai contoh.

neraca pembayaran luar negeri yang sehat dan tingkat pertumbuhan ekonomi yang dapat diterima. jika tidak diawasi. sehingga tidak hanya akan menghasilkan jumlah uang beredar yang tidak sesuai. peningkatan jumlah pengangguran dan juga akan terjadi inflasi. Dalam hubungannya dengan persaingan yang terjadi pada ekonomi pasar. Perluasan moneter berupa kebijakan untuk menambah jumlah uang beredar akan cenderung memperbesar likuiditas. keberadaan bank sentral sebagai pengawas jumlah uang beredar perlu menyesuaikan jumlah uang beredar dengan kebutuhan ekonomi. menurunkan suku bunga dan karena itu akan menaikkan tingkat permintaan. . sementara pembatasan moneter akan berakibat sebaliknya. Sistem perbankan. Pada intinya. fungsi pemerintah sebagai pengatur (regulator) semakin dirasakan kebutuhannya. kebijakan pengendalian kredit dan kebijakan pasar terbuka. Komponen kebijakan moneter antara lain meliputi ketetapan mengenai cadangan wajib bank. para ekonom setuju bahwa mekanisme pasar tidak dapat dengan sendirinya mengatur jumlah uang yang beredar secara tepat. suatu mekanisme pasar dijamin dapat diandalkan untuk menentukan alokasi sumber daya yang efisien di antara barang pribadi.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 73 tingkat produktifitas masyarakat. fungsi pengatur tersebut dapat berupa beberapa kebijakan baik sebagai pemicu maupun sebagai penghambat persaingan. Oleh karena itu. Dalam fungsinya menjalankan stabilisasi ini. tetapi juga menimbulkan reaksi dalam permintaan kredit di pasar yang akan cenderung menimbulkan fluktuasi. Namun. baik dalam hal stabilisasi jangka pendek maupun pertumbuhan jangka panjang. perekonomian cenderung akan mengalami fluktuasi. penetapan tarif pajak perlu memperhatikan fenomena ini. pemerintah mempunyai dua instrumen penting yakni instrumen moneter dan instrumen fiskal. kebijakan pemerintah dalam fungsi stabilisasi dirancang untuk menjaga stabilitas perekonomian seperti mempertahankan atau mencapai kesempatan kerja yang tinggi. Kebijakan Moneter Jika berfungsi dengan baik. tingkat stabilitas harga yang pantas. akan berjalan tidak teratur. tingkat diskonto. FUNGSI STABILISASI Di era globalisasi ekonomi yang semakin luas. Tanpa adanya kebijakan tersebut. Oleh karena itu.

maka pinjaman tambahan akan mempertinggi suku bunga sehingga cenderung menghambat transaksi pasar. yakni dengan membuat kebijakan yang lebih ekspasioner yang diikuti dengan menaikkan pengeluaran publik atau dengan menurunkan pajak. Ketiga tujuan tersebut adalah: (1) tujuan alokasi. distribusi. dan (3) tujuan stabilisasi. akan menjadi alat yang cukup efektif untuk mempengaruhi perilaku tersebut. Lebih jauh lagi. Kebijakan menurunkan pajak dapat dilakukan dalam upaya pemerintah untuk memperbesar total belanja pemerintah.74 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian Kebijakan Fiskal Kebijakan fiskal akan mempengaruhi secara langsung tingkat permintaan barang dan jasa. kebijakan anggaran juga mempengaruhi tingkat distribusi output total dengan membaginya di antara konsumsi dan tabungan . anggaran akan sangat dikaitkan dengan perilaku perekonomian secara makro. pada awalnya. Kebijakan anggaran. sehingga dimungkinkan akan ada banyak pengecualian. pada gilirannya. yakni dengan meningkatan pelayanan pemerintah yang diikuti dengan kenaikan pajak. karena juga akan meningkatkan total permintaan agregat. dan stabilisasi akan tercermin dalam kebijakan anggaran. Mau tidak mau. khususnya pengeluaran publik. secara simultan. yakni dengan mendistribusikan pendapatan ke kelompok rendah dari kelompok tinggi (atau sebaliknya ke kelompok tinggi dari kelompok rendah) yang diikuti dengan pengenaan pajak progresif (atau sebaliknya regresif). Kebijakan ini. (2) tujuan distribusi. Perubahan tingkat permintaan agregat pada akhirnya menentukan kesempatan kerja dan tingkat harga. Namun demikian. tergantung pada bagaimana defisit tersebut dibiayai. akan menaikkan tingkat permintaan sektor pemerintah dan kemudian akan diikuti oleh sektor swasta. suatu kebijakan selalu berupaya meminimumkan konflik antar masing-masing tujuan. karena para wajib pajak akan mempunyai disposible income yang lebih besar sehingga diharapkan akan membelanjakan jumlah pendapatan yang lebih besar pula. Di lain pihak. mempengaruhi tingkat permintaan agregat. Anggaran. Suatu kebijakan publik tertentu mungkin tidak dapat memenuhi tiga tujuan sekaligus. Pembiayaan defisit akan lebih besar jika defisit tersebut ditutupi dengan pinjaman. kebijakan defisit anggaran pemerintah akan memainkan peranan yang tidak kalah penting. Di sisi lain. Sejalan dengan itu. jika peredaran uang diperketat. suatu kebijakan menambah pengeluaran publik jelas merupakan jenis kebijakan yang bersifat ekspansi. Stabilisasi Anggaran Kegiatan-kegiatan pemerintah dalam melaksanakan fungsi alokasi. mempunyai beberapa tujuan berkaitan dengan pemenuhan ketiga fungsi tersebut.

Hal ini bisa diwujudkan dengan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dimana salah satu faktor pendukungnya adalah peningkatan total permintaan agregat. dari sudut pandang ekonomi. isu stabilisasi dan distribusi tersebut seharusnya dipisahkan. terutama berkaitan dengan perubahan kebijakan perpajakan. yaitu kebijakan yang benarbenar adil dalam rangka mencapai tujuan yang beraneka ragam tersebut. Jika pemerintah berinisiatif dengan meningkatkan pengeluaran publik. karena dua masalah ini sulit diselesaikan secara simultan.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 75 (yang membentuk modal) yang selanjutnya mempengaruhi tingkat pertumbuhan ekonomi. tujuan politik adalah untuk menyediakan barang dan jasa yang berguna bagi seluruh warga negaranya. Kemudian. Masyarakat seharusnya bersedia membayar apa yang dianggap sebagai distribusi yang adil. Hasil dari proses tersebut tergantung dari hasil pemungutan suara atau dari tingkah laku para politisi yang bermain di dalam pemerintahan tersebut. RANGKUMAN § Beberapa fungsi pemerintah dalam perekonomian: . wajib pajak selayaknya melihat manfaat yang dapat diambil dari kegiatan tersebut. misalnya masyarakat menginginkan penurunan tingkat penganguran. Kebijakan anggaran semestinya melibatkan beberapa tujuan yang berbeda. seperti ideologi. Idealnya. tanpa harus dihubungkan dengan kontribusinya. defisit anggaran dapat ditutupi dengan peningkatan penerimaan dari sektor pajak. Dalam proses pemungutan suara akan ada pihak-pihak yang mendukung dan menolak terhadap perubahan atas model yang dipilih pemerintah. Namun demikian. Dalam suatu negara demokrasi. Kenaikan pajak pada gilirannya nanti akan dipertanyakan oleh masyarakat tentang cara pendistribusian bebannya. Proses politik didasarkan pada peraturan-peraturan yang tercantum dalam undang-undang suatu negara. warga negara mempunyai kesempatan untuk memberikan suaranya dalam memutuskan suatu masalah yang berisi alternatif pencapaian tujuan yang saling bertentangan. tetapi dalam prakteknya hal ini sering saling tumpang tindih sehingga mempersulit penyusunan kebijakan yang efisien. Sebagai ilustrasi. Proses politik tentunya juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain selain faktor ekonomi. dalam masalah pembiayaan kegiatan pemerintah. Akhirnya. kita dapat mengambil simpulan bahwa penentuan anggaran lebih condong sebagai proses politik ketimbang proses pasar.

76 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian § § § § § § § 1. . Tanpa kebijakan stabilisasi pemerintah. Komponen kebijakan moneter mencakup antara lain pembentukan cadangan wajib. Harga atas suatu komoditi sudah disepakati oleh atau harus identik untuk semua pembeli dan penjual. suatu barang publik. 3. 2. Dilihat dari fungsi alokasi. Mekanisme pasar terjadi apabila ada suatu permintaan dari konsumen. Pemerintah diharapkan dapat menjamin pasar agar dapat beroperasi secara efisien. yang berbeda sifatnya dengan barang pribadi. Alasan perlunya aturan pemerintah guna menjamin efisiensi dalam sistem ekonomi pasar: 1. terutama dalam hal persaingan. tidak ada distorsi yang akan mengakibatkan adanya perbedaan harga antara yang diterima oleh penjual dengan yang dibayarkan oleh pembeli. pengangguran dan inflasi. Fungsi Alokasi Fungsi penyediaan barang publik atau proses alokasi sumber daya untuk digunakan sebagai barang pribadi atau barang publik dan bagaimana komposisi barang publik ditetapkan. kebijakan pasar terbuka dan pengendalian kredit selektif. Fungsi Distribusi penyesuaian atas distribusi pendapatan dan kekayaan untuk menjamin pemerataan dan keadilan. dengan memperhitungkan akibat kebijakan pada perdagangan dan neraca pembayaran. kemudian produsen akan menyediakan barang yang paling diinginkan oleh konsumen. Mekanisme pasar akan membawa konsumen dan produsen ke suatu titik harga tertentu. Dalam pasar yang efisien. tingkat diskonto. Dalam suatu sistem ekonomi pasar yang bersaing sempurna. kriteria efisien digunakan untuk mengevaluasi alokasi sumber daya. perekonomian cenderung mengalami fluktuasi. stabilitas ekonomi dan laju pertumbuhan ekonomi. tidak dapat disediakan melalui sistem pasar melalui transaksi antara konsumen dan produsen secara individu Kondisi stabil tidak dapat dicapai secara otomatis. Fungsi Stabilisasi Penggunaan kebijakan anggaran sebagai alat untuk mempertahankan tingkat kesempatan kerja.

tenaga kerja dan modal. terutama dalam hal biaya produk dan kualitas produk yang dihasilkannya. Barang publik terbagi dua: 1. yaitu: 1. 3. Konsep Keadilan Horizontal 2. Terletak pada hubungan rasional dari produksi pemerintah atas barang-barang publik Barang pribadi adalah barang-barang yang diproduksi untuk dijual dan tersedia di pasar. Masalah penggunaan sumber daya yang efisien 2. Masalah pendistribusian sumber daya tersebut dengan adil Teori distribusi biasanya mengacu pada teori mengenai peranan faktor produksi. Artinya. Penyediaan barang publik oleh pemerintah akan menyebabkan trade off dengan penyediaan barang pribadi melalui mekanisme pasar.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 77 § § § § § § § § § 2. Prinsip Kompensasi Dasar pengukuran konsep keadilan vertikal dapat berupa pendapatannya. Barang publik yang mempunyai sifat tidak bersaing (non rivalry) 2. Dua masalah pokok dalam penggunaan sumber daya yang optimal. setiap penyediaan atas barang publik harus ada pengorbanan dari sumbersumber daya yang seharusnya dapat digunakan untuk memproduksi barang pribadi. Barang publik yang mempunyai sifat tanpa pengecualian (non excludability) Pada dasarnya. Pemerintah sendiri seharusnya bekerja keras untuk mencapai tingkat efisiensi yang sama dengan pihak swasta. dan kebutuhan atau kemampuannya untuk membayar Beberapa kesulitan dalam menerapkan konsep keadilan vertikal adalah: . kekayaannya. barang publik disediakan untuk semua orang yang mempunyai kepentingan atas barang tersebut. ada barang publik yang dapat dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat di dalam negara (berskala nasional) dan ada barang publik yang hanya dapat dimanfaatkan oleh sekelompok orang tertentu (berskala lokal). sedangkan barang publik adalah barang-barang yang tersedia tapi tidak untuk dijual di pasar. Beberapa konsep dalam mengukur keadilan: 1. Namun dalam prakteknya. yaitu teori penetapan harga faktor produksi dan pembagian pendapatan nasional dari penghasilan atas tanah. Konsep Keadilan Vertikal 3.

kebijakan pengendalian kredit dan kebijakan pasar terbuka. tingkat stabilitas harga yang pantas. Faktor apakah yang menentukan fungsi distribusi? 5. menurunkan suku bunga dan karena itu akan menaikkan tingkat permintaan. Perluasan moneter berupa kebijakan untuk menambah jumlah uang beredar akan cenderung memperbesar likuiditas. Komponen kebijakan moneter antara lain meliputi ketetapan mengenai cadangan wajib bank. Sebutkan dan jelaskan fungsi pemerintah tersebut! Di antara fungsi pemerintah tersebut. LATIHAN 1. kebijakan pemerintah dalam fungsi stabilisasi dirancang untuk menjaga stabilitas perekonomian seperti mempertahankan atau mencapai kesempatan kerja yang tinggi. tingkat diskonto. Salah satu kriteria yang paling sering digunakan dalam prinsip kompensasi adalah prinsip kompensasi yang menawarkan suatu pedoman kasar untuk memilih dari beberapa alternatif kebijakan dengan prinsip bahwa seseorang akan menjadi lebih baik atau sejahtera. Jelaskan akibat-akibat kegagalan mekanisme pasar! 4. Dengan adanya beberapa kelemahan pada mekanisme pasar maka peran pemerintah sangat diperlukan dalam perekonomian yang memiliki fungsifungsi tertentu. fungsi manakah yang sulit untuk diperankan dan merupakan permasalahan utama? 2. Bagaimana cara mengukur perbedaan jumlah pendapatan seseorang jika dikaitkan dengan perbedaan kemampuan orang tersebut dalam membayar pajak. Pada intinya. neraca pembayaran luar negeri yang sehat dan tingkat pertumbuhan ekonomi yang dapat diterima. Bagaimana kebijakan publik dapat menetapkan dasar yang dapat dijadikan pedoman bagi pengukuran ketidaksamaan kondisi (misalnya pendapatan) seseorang. 2.78 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian § § § § 1. Jelaskan mengenai perlunya kebijakan stabilisasi pemerintah dalam perekonomian? . Uraikan secara singkat! 3. Sebutkan dua argumen perlunya intervensi pemerintah! Mengapa intervensi pemerintah tersebut diperlukan dalam konteks kegagalan pasar? Dari intervensi pemerintah tersebut terdapat beberapa peran pemerintah. sementara pembatasan moneter akan berakibat sebaliknya.

teori distribusi biasanya mengacu pada teori mengenai peranan faktor produksi. Jelaskan apa yang dimaksud dengan “Dalam suatu sistem ekonomi pasar. Congestible Goods b. Apakah inti dari kebijakan pemerintah dalam fungsi stabilisasi? . Jelaskan penyebab adanya suatu intervensi pemerintah dalam operasi pasar bebas? 8. Mengapa barang publik dapat mengakibatkan kegagalan pasar dalam produksi secara efisien? 15. Terangkan bahwa biaya marginal dari setiap tambahan penggunaan atas barang publik sama dengan atau paling tidak mendekati nol! 14. Dalam ilmu ekonomi. Uraikan salah satu contoh kelemahan dalam menerapkan konsep keadilan vertikal pada fungsi alokasi yang anda ketahui! 17. Jelaskan disertai dengan contoh perbedaaan antara barang pribadi dengan barang publik! 12. Keadilan merupakan isu sentral dalam sektor ekonomi dan kebijakan publik.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 79 6. kriteria efisien dapat digunakan untuk mengevaluasi alokasi sumber daya dimana semua pasar dalam kondisi persaingan sempurna”. Apa saja yang termasuk dalam instrumen kebijakan stabilisasi? 7. Terangkan dua masalah yang ada pada kaedah pemerataan! Apakah yang dibahas dalam aspek pemerataan tersebut? 10. Sebutkan teori-teori yang dimaksud! 18. Masalah-masalah apakah yang timbul dalam fungsi alokasi? 9. Pareto Efficiency 16. Sebutkan tiga konsep untuk mengajukan keadilan! 19. Jelaskan arti dari istilah: a. 13. Terangkan alasan perlunya aturan pemerintah guna menjadi efisien dalam sistem ekonomi pasar? 11.

80 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian .

Sedangkan pinjaman luar negeri digunakan untuk pembiayaan pembangunan.KONSEP ANGGARAN Kebijakan fiskal suatu negara secara keseluruhan terangkum dalam laporan anggaran tahunannya yang di Indonesia dikenal sebagai Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN). Selanjutnya secara terus menerus diusahakan agar penerimaan . Tujuan utama dari diterapkannya sistem ini pada awal orde baru menurut Seda (2004) dimaksudkan mengurangi hyper-inflation yang mencapai 650% akibat adanya kegiatan pencetakan uang terus menerus untuk menutupi defisit anggaran. Pada sistem ini pinjaman luar negeri dimasukkan sebagai unsur penerimaan negara. Seluruh pengeluaran rutin dalam sistem ini diusahakan untuk ditutup dari penerimaan dalam negeri. anggaran di Indonesia menganut sistem anggaran berimbang. sistem tersebut cukup efektif mengendalikan inflasi. Pada masa orde baru. Sistem ini kemudian dikenal sebagai APBN berimbang dan dinamis. Dalam beberapa periode lanjut Seda (2004).

Yang pertama. Dalam anggaran. dipaparkan adanya rencana pengeluaran yang didasarkan pada ekspektasi pendapatan. Karena ada beberapa aktivitas yang mengakibatkan aliran dana masuk yang tidak menambah kekayaan neto negara. Setiap anggaran belanja menguraikan berbagai fakta yang khusus (spesifik) tentang apa-apa yang direncanakan untuk dilakukan oleh unit organisasi yang menyusun anggaran belanja tersebut pada periode waktu yang akan datang. dapat dikatakan bahwa anggaran adalah suatu rencana keuangan yang merupakan perkiraan tentang apa yang akan dilakukan di masa yang akan datang. sedangkan off-budget mengalami surplus. misalnya pembayaran bunga hutang. Sistem ini berlaku sampai dengan tahun 1999. penerimaan publik tidak selalu berupa pendapatan publik. Dengan demikian. Berikutnya. Pada umumnya on-budget mengalami deficit. contoh penerimaan pajak. maka timbul budget deficit sebaliknya jika penerimaan diproyeksikan dapat lebih tinggi dari rencana pengeluaraan maka disebut budget surplus. Belanja publik pasti mengurangi kekayaan neto negara. Setelah itu diberlakukan balance budget yang mengakui adanya budget surplus dan budget deficit (dibahas pada subbab berikut). Rencana pengeluaran sebaiknya mengindikasikan juga urutan skala prioritas serta ekspektasi kualitas dan kuantitas layanan. Balance Budget Seluruh rencana pengeluaran dan penerimaan pemerintah biasanya melalui prosedur pembahasan oleh lembaga legislatif untuk disahkan setiap tahun. dikenal sebagai offbudget. seluruh nilai hutang dipergunakan untuk kegiatan pembelian barang-barang impor.84 Bab 5: Konsep Anggaran dalam negeri dapat lebih tinggi dari pengeluaran rutin sehingga tercipta tabungan pemerintah yang dapat digunakan sebagai bagian belanja pembangunan. Jika rencana pengeluaran melebihi anggaran penerimaan. Contoh dari off-budget adalah alokasi dana yang diperuntukkan bagi program pensiun dan tunjangan hari tua. Agar tidak terjadi tambahan inflasi akibat adanya hutang. Pengeluaran publik seperti pembayaran pokok hutang akan diikuti dengan pengurangan liabilitas publik sehingga tidak mengurangi kekayaan neto negara. seperti penerimaan kembali anggaran pengeluaran yang tidak terpakai. Namun ada sebagian kecil anggaran yang dibiayai dengan dedicated fund tidak dibahas oleh lembaga legislatif setiap tahunnya. onbudget. dan pengeluaran versus belanja. pengeluaran publik tidak selalu identik dengan belanja publik. Apabila . Di dalam konsep anggaran perlu dibedakan antara penerimaan versus pendapatan. Sedangkan pendapatan publik pasti menyebabkan kenaikan kekayaan neto negara.

disebut anggaran obyek pengeluaran atau anggaran belanja lineitem. Jenis Pengeluaran Jumlah Rp Rp Rp Rp XXX XXX XXX XXX • Pengeluaran Rutin I. Pembiayaan Proyek • Rp Rp Rp Rp XXX XXX XXX XXX Kelebihan sistem anggaran line-item adalah mudah mengawasi penggunaanya. JENIS-JENIS ANGGARAN Jenis-jenis anggaran meliputi: a. karena mencantumkan dengan jelas barang-barang atau obyekobyek di mana uang itu dibelanjakan. Pembayaran Bunga & cicilan Hutang Pengeluaran Pembangunan I. Belanja Pegawai II. tergantung pada kriteria unit atau organisasi yang bersangkutan. obyek-obyek atau item-item apa yang akan dibeli dengan uang yang dianggarkan itu. Apabila dikatakan untuk membeli barang. Contoh line-item budget adalah sebagai berikut. maka perlu dibuat pengelompokan ataupun penggolongan. Restrukturisasi Perbankan II. Pembiayaan Rupiah 1. hal ini adalah sesuatu hal yang masih sangat umum. Bunga Obl. Penggolongan barang tersebut misalnya: jasa-jasa kontrak. Dari pengelompokan barang-barang inilah maka digunakan istilah obyek atau lineitems. Oleh karena itu. harus disebutkan secara khusus atau spesifik.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 85 anggaran disusun dengan mengkonsolidasikan antara on-budget dan offbudget. Belanja Barang III. Anggaran Belanja Line-Item (Line-Item Budgeting) Jenis anggaran belanja yang hanya membuat daftar barang-barang atau obyek-obyek. sehingga dari catatan tersebut dapat dilihat secara tepat. perlengkapan dan material serta peralatan. disebabkan setiap instansi atau departemen mempunyai kebutuhan barang yang berbeda. Pengeluaran tersebut harus jelas maksud dan tujuannya. Bila obyek yang ada dalam line-item budget cukup banyak. apakah anggaran belanja itu dipatuhi dengan baik . Bunga Kredit Program 2. Setiap barang atau kelompok barang dibuat daftarnya disertai angka nilai rupiah. Anggaran memuat perkiraan dari pengeluaran uang. maka anggaran yang dihasilkan disebut unified-budget. Subsidi Daerah Otonom IV.

Di samping itu. fungsi-fungsi dan kegiatan-kegiatan pengeluarannya disebut anggaran berprogram (a program budget). DAN LUAR NEGERI PENYELENGGARAAN PIMPINAN KENEGARAAN DAN PEMERINTAHAN PENYELENGGARAAN PIMPINAN DEPARTEMEN/ LEMBAGA PEMBINAAN PRODUK LEGISLATIF Jumlah XXX XXX XXX XXX XXX Kelebihan sistem anggaran berprogram adalah: 1. suatu anggaran belanja yang disusun sesuai dengan tujuan. Sub Fungsi. 2. Anggaran berprogram mengelompokan pengeluarannya ke dalam program-program. Contoh dari anggaran berprogram yang digunakan dalam menyusun APBN Indonesia Tahun 2005 adalah sebagai berikut.01 01 01. Sedangkan kelemahan sistem anggaran line-items adalah sulit menyederhanakan berbagai jenis barang untuk dikelompokkan.86 Bab 5: Konsep Anggaran atau tidak. Dengan demikian orang yang bertanggung jawab dalam membelanjakan uang itu mudah diperiksa melalui keharusan mengikuti pengeluaran sebagaimana yang telah direncanakan.01 02 01. kadang-kadang diperlukan sebagai pengganti program-program. kegiatan. Kode 01 01. dan Program PELAYANAN UMUM PEMERINTAHAN LEMBAGA EKSEKUTIF DAN LEGISLATIF. karena dapat diketahui tingkat kepentingan tujuan pembelanjaan itu. Penggunaan kata fungsi. terdapat perbedaan pengelompokan barang-barang antara unit atau organisasi yang satu dengan unit atau organisasi barang yang diperlukan setiap organisasi tersebut dan tidak didasarkan atas perencanaan yang menyeluruh dan berkesinambungan. Anggaran Belanja Berprogram (A Program Budgeting) Suatu anggaran yang berorientasi kepada maksud dan tujuan untuk apa uang dibelanjakan. atau misi. KEUANGAN DAN FISKAL. Lebih informatif.01 03 Nama Fungsi. . Memungkinkan kita membuat daftar prioritas dalam memutuskan kegiatan-kegiatan yang akan dibelanjakan. disebut anggaran berprogram (a program budget). bukan perincian yang sempit sifatnya. b. karena perkiraan kebutuhan untuk masa mendatang tidak dikaitkan dengan maksud dan tujuan yang lebih luas. Dengan kata lain.01 01.

langkah selanjutnya adalah menetapkan dan mengukur suatu tingkat pelayanan yang wajar. disebut anggaran berprogram karena tidak hanya sekedar mendaftar barang-barang dan jasa-jasa yang akan dibelanjakan tetapi penyusunan dana itu disesuaikan dengan program-programnya. Dengan demikian anggaran berprogram yang mempunyai perincian line-item dikaitkan dengan tujuan daripada program. Kedua. yang tidak jelas obyek-obyeknya. dibandingkan dengan anggaran line-item (line-item budget). Dengan demikian. Salah satu cara untuk mengatasi kelemahan anggaran berprogram dalam segi pengawasan dan tingkat keluwesan (flexibility) adalah dengan cara mengkombinasikan sifat anggaran berprogram dengan sifat anggaran berdasarkan anggaran line-item. Oleh karena itu. c. Anggaran belanja berbasis kinerja ini hanya menambahkan keterangan berapa banyak jenis pelayanan yang akan disediakan untuk melaksanakan suatu tujuan. Sedangkan kelemahan anggaran berprogram adalah lebih sulit dilakukan pengawasan. yang merupakan bagian program yang lebih luas. harus tersedia ukuran hasil kerja (output) yang realistis. kita juga dapat menetapkan tingkat prioritas untuk membedakan bahwa program yang satu lebih penting dari program yang lain. Hal ini disebabkan karena dalam anggaran berprogram. Jelasnya unit ukuran yang digunakan harus menguraikan secara nyata (konkrit) apa yang akan dikerjakan. sebab arti ketertiban umum itu dapat pula untuk pembangunan prasarana fisik (kantor) yang mewah bagi kepentingan ketertiban umum yang menyimpan dari tujuan yang diharapkan. pertama. kita dapat mengetahui tujuan serta maksud membelanjakan uang tersebut. artinya berapa banyak suatu hasil yang dapat dibuat dengan biaya itu. Anggaran Berbasis Kinerja (Performance Budgeting) Anggaran belanja berbasis kinerja (performance budget) dibangun atas anggaran berprogram.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 87 Dengan anggaran berprogram. kita tidak cukup menggunakan suatu anggaran yang hanya menyebutkan daftar barang-barang yang akan dibelanjakan. Kemudian. sebab suatu program terdiri atas unsur-unsur program. akan terdapat program yang mendapat dana jauh lebih sedikit dari yang lain sekalipun ia dianggap fungsi yang lebih penting. anggaran belanja sistem hanya mencantumkan X rupiah untuk belanja yang satu dan Y rupiah untuk belanja yang lain. yaitu. Misalnya X rupiah untuk kepentingan ketertiban umum. Sekalipun demikian. Ada dua hal yang harus dilakukan dalam menyusun anggaran belanja berbasis kinerja. .

Seluruh program kegiatan pemerintah harus dijustifikasi setiap tahun dengan tidak mendasarkan atas kemiripan kegiatan yang telah diselenggarakan tahun sebelumnya.000 Jumlah Sub Total Total Biaya peningkatan prasarana jalan Rp Rp 100.000.000. Namun dalam prakteknya.88 Bab 5: Konsep Anggaran Dengan demikian. konsep penganggaran ini sulit dilaksanakan sehingga tidak banyak digunakan. Konsep ini banyak didukung oleh para pemerhati anggaran yang tidak menginginkan adanya pengeluaran-pengeluaran yang tidak perlu oleh pemerintah.000 Rp 500. dapat dijelaskan melalui konsep-konsep sebagai berikut: . dan data-data hasil kerja. anggaran berprogram (program budget). Program: Peningkatan prasarana jalan Kegiatan I: Pembebasan tanah Ukuran hasil: Panjang lahan yang dibebaskan: 10 kilometer Biaya pembebasan per kilometer: Rp50. Zero-based Budgeting Tidak seperti kebanyakan proses pengganggaran yang jumlah dan rincian kegiatannya didasarkan atas anggaran tahun sebelumnya seperti dinaikkan atau sama.000 600. Contoh anggaran belanja berbasis kinerja adalah sebagai berikut.000 d. KONSEP PPBS (Planning Programming and Budgeting System) PPBS dimaksudkan sebagai usaha memperbaiki sistem penyusunan anggaran belanja pemerintah yang telah diuraikan di atas. zero-based budgeting menggunakan paket-paket anggaran.000.000 Jumlah Jumlah Sub Total Kegiatan II: Pembangunan jalan Ukuran hasil: Panjang jalan yang dibuat: 10 kilometer Biaya per kilometer: Rp10. anggaran berbasis kinerja adalah anggaran pelaksanaan yang mencakup kombinasi antara anggaran belanja line-item (line-item budget). obyek-obyek pengeluaran (seperti persediaan dan bahan).000.000. Dalam membicarakan teori PPBS.

Pendekatan sistem anggaran ini adalah mengaitkan satu sama lain segala sesuatu yang berhubungan dengan produksi. ditunjukkan hubungan antara cita-cita atau tujuan pemerintah dengan kegiatan pemerintah. yang merupakan landasan untuk penilaian kegiatan.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 89 Tujuan Sebagaimana telah diuraikan bahwa suatu anggaran belanja yang berencana (planning budget) disusun dengan penentuan tujuan-tujuan. karena orang ingin mengetahui mengapa suatu kegiatan dilaksanakan. akan tetapi yang dimaksud di sini adalah setiap penyelesaian kerja yang nyata dari seorang karyawan pemerintah adalah hasil (output) pemerintah. kita harus melihat secara menyeluruh biaya-biaya langsung maupun tidak langsung yang dikeluarkan secara nyata. Oleh karena itu. yang dikelompokkan menurut tujuannya. Pandangan yang paling umum mengenai hasil dari suatu institusi adalah konsep output yang universal. Akan tetapi ada juga yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan hasil adalah barang-barang dan jasa-jasa yang dihasilkan untuk disalurkan keluar pemerintah. Adapun kelebihan penentuan tujuan. Landasan berpikirnya bahwa dalam menghitung biaya produksi suatu produk (manfaat). Konsep tujuan sangat penting dalam sistem ini. yaitu semua manfaat dan semua biaya yang harus diperhitungkan. Output Sekalipun belum ada kesepakatan mengenai definisi hasil (output). PPBS menghendaki agar dalam pengambilan keputusan yang rasional memasukkan biaya kesempatan . Pengukuran Biaya dan Manfaat Kegiatan Pemerintah Konsep biaya sebagaimana digunakan dalam PPBS adalah bersifat komprehensif (lengkap). adalah: 1) Berguna untuk mengukur efisiensi dan produktivitas dalam pengertian manajemen. Konsep output yang universal beranggapan bahwa setiap penyelesaian kerja yang nyata dari suatu karyawan pemerintah dapat dipandang sebagai output. Hal ini dapat juga berupa sejumlah formulir pajak yang diproses sampai kepada pembangkit listrik yang menghasilkan sejumlah kilowatt listrik bagi kepentingan masyarakat. Di samping itu dalam sistem anggaran belanja. 3) Berguna bagi tujuan akhir dari kegiatan-kegiatan suatu pemerintahan. 2) Berguna dalam menilai keputusan-keputusan alokasi sumber.

Misalnya : manfaat Biaya = Rp25 juta Rp50 juta = 1 2 = 0. Akan tetapi efektivitas biaya (cost effectiveness) harus dipertimbangkan pula terhadap hasil-hasil dari sudut manfaat biaya (cost-benefits). Untuk itu. Jika perbandingan itu lebih besar dari satu (>1) maka simpulannya adalah bahwa proyek tersebut layak. di samping mengukur biaya-biaya maupun manfaat menurut nilai sekarang.5 (<1) Analisis yang Terbuka dan Jelas Analisis yang terbuka dan jelas merupakan asumsi yang merupakan unsurunsur kunci dan merupakan prasyarat pokok bagi keberhasilan PPBS. Hal ini disebabkan karena hasil analisis itu . karena biayanya lebih besar dari pada manfaatnya.90 Bab 5: Konsep Anggaran (opportunity cost) sebagai bagian dari biaya-biaya yang relevan terhadap output. Misalnya kegiatan menghadiri rapat akan menghilangkan kesempatan untuk melakukan pekerjaan lain yang memperoleh hasil. karena manfaatnya melebihi biayanya. Ukuran efektivitas biaya menunjukkan jumlah hasil-hasil yang dapat dicapai dengan mengeluarkan sejumlah rupiah tertentu. PPBS menitikberatkan pada pertimbangan rasional yang didasarkan atas data dan informasi. akan tetapi kecenderungan untuk menutupi atau menyembunyikan data kunci harus dapat dihindarkan. Misalnya : manfaat Biaya = Rp50 juta Rp25 juta = 2 1 = 2 (>1) Sebaliknya seandainya rasio itu adalah kurang dari satu (<1). maka simpulannya adalah bahwa proyek itu tidak layak. Analisis menghitung hubungan antara besarnya input (biaya) dan besarnya output (hasil-hasil yang dicapai) disebut input output analysis. sehingga asumsi itu bersifat rasional dan objektif. dibuat juga suatu perbandingan manfaat dan biaya dimana manfaat-manfaat yang dinyatakan dalam nilai uang dibagi dengan biaya-biaya. Mekanisme analisis data dan informasi harus jelas. Objektivitas yang selengkap-lengkapnya barang kali tidak mungkin diperoleh. Yang dimaksud dengan biaya kesempatan adalah hilangnya kesempatan untuk membelanjakan uang atau waktu atau sumber-sumber lain untuk suatu alternatif tujuan. Hal ini berarti bahwa semua asumsi yang dipergunakan sebagai dasar pertimbangan harus dibuat dan didukung oleh data atau informasi yang tepat dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

dan lebih dapat dipertanggungjawabkan. Secara umum siklus anggaran terbagi atas empat tahap yaitu: 1. dan proyek. Pelaksanaan dan pengawasan anggaran (budget execution). 4. dan pembiayaan defisit. Istilah APBN yang dipakai di Indonesia secara formal mengacu pada anggaran pendapatan dan belanja pemerintah pusat. dan kebijaksanaan pemerintah. SIKLUS ANGGARAN Kebijakan fiskal pemerintah suatu negara secara ringkas tercermin dalam anggarannya. Pada umumnya proses formulasi anggaran dilakukan oleh eksekutif yang khusus menangani anggaran negara. 2. 3. Penyusunan Anggaran Sebelum dibahas oleh lembaga legislatif. pengeluaran. Proses penyusunan dapat memakan waktu hingga beberapa bulan. Lembaga tersebut biasanya di bawah naungan Departemen Keuangan yang bertugas mengkoordinasikan dan mengorganisasikan usulan . Rancangan ini memuat asumsi umum yang mendasari penyusunan anggaran seperti perkiraan penerimaan. yang di Indonesia disebut APBN. defisit/surplus. Selain itu juga dimuat perkiraan terperinci pengeluaran dan penerimaan departemen/lembaga. Proses perjalanan suatu anggaran yang dimulai dari penyusunan hingga pertanggungjawaban disebut dengan siklus anggaran. dan informasi terkait lainnya. Pemeriksaan dan pertanggungjawaban anggaran (budget auditing and assessment). pemerintah berkewajiban menyusun dan mengajukan rancangan anggaran. tergantung kompleksitas struktur pemerintahan yang dilayani. tidak termasuk anggaran pendapatan dan belanja pemerintah daerah dan perusahaan-perusahaan milik negara. Penyusunan anggaran negara merupakan rangkaian aktifitas yang melibatkan banyak pihak. Peran lembaga legislatif dalam proses penyusunan anggaran menyebabkan proses penyusunan menjadi lebih demokratis. Pengesahan anggaran (budget enactment). transparan. data aktual dan proyeksi perekonomian.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 91 mungkin diuji oleh analis-analis lain dan mungkin diulangi lagi dengan menggunakan susunan asumsi yang berbeda. Penyusunan anggaran (budget formulation). obyektif. transfer. termasuk lembaga legislatif.

Kesemua itu tidak mempengaruhi dibutuhkannya legalisasi usulan anggaran oleh dewan legislatif. Ada tiga cara dalam menyusun anggaran yaitu: 1. Dalam hal tersebut. Pada kebanyakan negara. Pada cara ini. Anggota dewan berhak menolak usulan anggaran yang diajukan pemerintah. Beberapa indikator ekonomi yang biasa diikutkan dalam pembahasan anggaran antara lain: ekspektasi pertumbuhan ekonomi. beberapa negara memungkinkan anggota dewan . Kegiatan yang telah dilaksanakan pada tahun sebelumnya sering dijadikan landasan penyusunan anggaran tahun berikutnya. Faktor politik juga dapat ikut berperan dalam proses pembahasannya. Campuran Cara ini merupakan gabungan dari 2 cara di atas. unit organisasi yang paling bawah harus memperhitungkan besar kecilnya kegiatan yang akan dilakukan. inflasi dan karakteristik makro ekonomi lainnya seperti harga minyak mentah dunia. Unit organisasi yang telah ditetapkan batas anggarannya tidak boleh melakukan pengeluaran melebihi dari batas tersebut. Pemerintah dapat saja melakukan perubahan drastis terhadap beberapa pengeluaran jika dipandang perlu dipilih sebagai reaksi atas perubahan indikator-indikator perekonomian. Namun hal ini tidak mencerminkan bahwa seluruh kegiatan harus dibiayai secara bertahap. Top – Down (dari atas ke bawah) Cara ini merupakan kebalikan dari cara bottom – up. 3. penyusunan anggaran dimulai dari unit organisasi yang paling bawah kemudian diteruskan secara berjenjang ke unit organisasi yang lebih tinggi. serta mendistribusikannya sesuai urutan prioritas kegiatan dan tersedianya dana. Dalam mengajukan usulan. anggaran disusun untuk masa satu tahun. Hal ini biasa terjadi dikarenakan adanya kemungkinan anggota legislatif yang ditunjuk dalam komisi pembahasan anggaran tidak menguasai kerangka kerja anggaran. unit organisasi yang paling tinggi menetapkan batas tertinggi (plafond) anggaran yang dapat dibelanjakan oleh unit organisasi yang lebih rendah. atau memilih untuk mendengarkan opini publik untuk kemudian diambil keputusan. 2.92 Bab 5: Konsep Anggaran anggaran pembiayaan dan pengeluaran dari instansi-instansi terkait. Proses ini dimulai ditandai dengan pengajuan usulan anggaran oleh eksekutif untuk dibahas di lembaga legislatif. Anggota dewan dapat mengundang pihak esksekutif pada waktu pembahasannya. Bottom – Up (dari bawah ke atas) Pada cara ini.

Bisa juga disebabkan oleh tidak efisiennya mekanisme dan kekakuan pelaksanaan teknis realisasi anggaran di lapangan. Pengawasan fungsional (wasnal) yaitu pengawasan yang dilakukan oleh institusi. Untuk mengefektifkan pelaksaaan anggaran.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 93 menyusun anggarannya sendiri atau memutuskan untuk menggunakan anggaran tahun sebelumnya. pengawasan dapat dibagi menjadi: 1. Pelaksanaan dan Pengawasan Anggaran Proses berikutnya adalah pelaksanaan anggaran yang telah disetujui dewan. Pengawasan intern. 2. dibutuhkan kegiatan pengawasan. yaitu pengawasan yang dilakukan oleh pimpinan terhadap bawahannya. Pengawasan melekat (waskat). yaitu pengawasan yang dilakukan oleh aparatur pengawasan dari luar departemen. Beberapa deviasi menyebabkan beberapa pos pengeluaran tidak terealisasi sebagaimana tertera dalam anggaran. Menurut subyeknya. Pada prakteknya. anggaran sering tidak dijalankan sama persis dengan jumlah yang disetujui. memonitor efektifitas alokasi anggaran ke departemen-departemen lainnya. Menteri Keuangan secara terpusat dapat menerapkan kontrol ketat terhadap prosedur aliran dana keluar. dan memberi persetujuan terhadap pengeluaran-pengeluaran yang besar. melakukan belanja publik terbatas maksimal sebesar tertera pada anggaran. yaitu pengawasan yang dilakukan oleh unit inspeksi yang betugas melakukan pengawasan di lingkungan departemen yang bersangkutan. Pengawasan ekstern. Atau departemen-departemen dibuat lebih independen dalam realisasi belanja publik. . Tetapi pertanyaan harus diajukan oleh tim pengawas manakala terjadi perbedaan yang signifikan tetapi tanpa dasar alasan yang dapat diterima. 2. Pengawasan anggaran secara kelembagaan dibagi dalam 2 bagian yaitu: 1. Instansi dan departemen terkait. Sedangkan tugas Departemen Keuangan hanya memonitor melalui laporan yang disampaikan oleh departemen-departemen. Prosedur pengawasan eksekusi anggaran dapat berbeda di tiap negara. Sedangkan untuk penerimaan publik diharapkan dapat melebihi atau minimal sama dengan anggaran yang telah disetujui. Kemungkinan dari adanya perbedaan yang signifikan adalah adanya penyelewengan kekuasaan oleh lembaga eksekutif. Proses pembahasan selesai setelah usulan anggaran diundangkan atau diamandemen.

yaitu pengawasan yang dilakukan oleh masyarakat yang disampaikan secara lisan maupun tertulis kepada pemerintah. pihak eksekutif harus dapat melaporkan pelaksanaan kebijakan fiskalnya secara lengkap. maupun pemeriksaan. Pemeriksaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Siklus terakhir dari anggaran adalah pemeriksaan dan pertanggungjawaban atas efektifitas anggaran khususnya penggunaan pendapatan publik. 2. Pengawasan legislatif (wasleg) yaitu pengawasan yang dilakukan oleh dewan legislatif. Laporan ini harus diaudit secara reguler oleh badan independen semacam Auditor General (di Indonesia disebut BPK) yang memiliki kapasitas untuk melakukan pemeriksaan yang akurat dan tepat waktu. sidak. aparat pengawasan legislatif. BPK merupakan lembaga tinggi negara yang melakukan pengawasan terhadap pemerintah. Pengawasan masyarakat. Pengawasan langsung. Masalah Umum Anggaran . yang disebut sebagai post audit. Jika dimungkinkan. 4. Tapi lebih ditekankan pada bagaimana memanfaatkan seluruh kekayaan publik pada porsi yang paling menguntungkan ekonomi negara. Pengawasan selama kegiatan dilaksanakan. yang disebut sebagai pengawasan represif. Menurut caranya. yaitu pengawasan yang dilakukan on the spot melalui inspeksi.94 Bab 5: Konsep Anggaran 3. Agar proses pemeriksaan atas pertanggungjawaban dapat dengan mudah dilakukan. Fungsi pemeriksaan dari lembaga legislatif tidak dimaksudkan untuk menekan pihak eksekutif atau sekedar mencari-cari kesalahan pejabat publik. Di Indonesia. pengawasan dapat dibagi menjadi: 1. 3. Pengawasan setelah kegiatan dilaksanakan. Pengawasan sebelum kegiatan dimulai. Manajemen anggaran modern lebih menekankan pada perlunya sosialisasi dan distribusi informasi mengenai anggaran publik agar lebih dapat ditingkatkan efektifitas dan efisiensi prosesnya. pengawasan dapat dibagi menjadi: 1. aparat pengawasan fungsional. yaitu pengawasan yang dilakukan berdasarkan laporan dari pejabat yang bersangkutan. yang disebut sebagai pengawasan preventif 2. atau dari masyarakat. Menurut waktunya. Pengawasan tidak langsung.

sedangkan kelemahannya adalah sulit menyederhanakan berbagai jenis barang untuk dikelompokkan.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 95 Setiap siklus anggaran memiliki problem tersendiri. Pengeluaran publik tidak selalu identik dengan belanja publik. menghadapi kerentanan tehadap fluktuasi perdagangan dunia. Penerimaan publik tidak selalu berupa pendapatan publik. § § . Hal tersebut dapat juga disebabkan oleh lembaga-lembaga legislatif dan pemeriksa yang tidak independen atau tidak mempunyai kapasitas sebagaimana mestinya. dan pengeluaran versus belanja: 1. Pada umumnya negara berkembang. menentukan jumlah ideal penyerapan pendapatan publik melalui pajak. RANGKUMAN § Perbedaan antara penerimaan versus pendapatan. Problem pada fase penyusunan dan pembahasan lebih banyak akibat adanya campur tangan politik. Anggaran belanja line-item (line-item budgeting). Jenis-jenis anggaran: 1. problem anggaran yang dihadapi meliputi penentuan asumsi-asumsi ekonomi dan indikator fiskal. 2. 3. karena mencantumkan dengan jelas barang-barang atau obyek-obyek di mana uang itu dibelanjakan. karena pengeluaran publik tidak mengurangi kekayaan neto negara. Anggaran belanja berprogram (a program budgeting). Sebagian anggaran mengalami kebocoran atau penggunaan yang tidak selaras dengan pembangunan perekonomian berkesinambungan. Sedangkan pada pelaksanaan dan pemeriksaan lebih mengarah pada isu-isu manajemen dan akuntansi. sedangkan belanja publik pasti mengurangi kekayaan neto negara. Anggaran berbasis kinerja (performance budgeting). Beberapa permasalahan mungkin diakibatkan oleh faktor-faktor di luar kontrol. Untuk mencapai hasil yang diharapkan. karena penerimaan tidak menyebabkan kenaikan kekayaan neto negara. kombinasi konflik antara manajemen dan politik perlu diakomodasi secara memadai. akan tetapi banyak juga ketidakefisienan yang disebabkan oleh praktek penyusunan anggaran yang tidak fair. Negaranegara tersebut seperti halnya Indonesia. 4. sedangkan pendapatan publik pasti menyebabkan kenaikan kekayaan neto negara. koordinasi pembangunan terencana dalam jangka panjang serta berkesinambungan. 2. Zero based budgeting. Kelebihan sistem anggaran line-item adalah mengawasi penggunaannya.

LATIHAN 1. karena dapat diketahui tingkat kepentingan tujuan pembelanjaan itu. yaitu: 1. 2.96 § Bab 5: Konsep Anggaran § § § § § Kelebihan sistem anggaran berprogram: 1. Pemeriksaan dan Pertanggungjawaban Anggaran (Budget Auditing and Assessment) Tiga cara dalam menyusun anggaran. 5. yaitu: a. Harus tersedia ukuran hasil kerja (output) yang realistis b. Pengawasan Intern 2. Pengesehan Anggaran (Budget Enactment) 3. Memungkinkan kita untuk memuat daftar prioritas dalam memutuskan kegiatan-kegiatan yang akan dibelanjakan. 4. 2. yaitu: 1. Menetapkan dan mengukur suatu tingkat pelayanan yang wajar. Lebih normatif. Dua hal yang harus dilakukan dalam menyusun anggaran belanja berbasis kinerja. Apakah perbedaan antara penerimaan versus pendapatan pengeluaran versus belanja? Jelaskan pengertian anggaran! Jelaskan hal-hal yang diuraikan dalam suatu anggaran! Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis anggaran! Jelaskan kelebihan dan kelemahan dari “line items”! dan . yaitu: 1. 3. Siklus anggaran terbagi atas empat tahap. Bottom. bukan perincian yang sempit sifatnya.Up (dari bawah ke atas) 2. Pengawasan Ekstern Fungsi pemeriksaan dari lembaga legislatif lebih ditekankan pada bagaimana memanfaatkan seluruh kekayaan publik pada porsi yang paling menguntungkan ekonomi negara. Penyusunan Anggaran (Budget Formulation) 2. Campuran Pengawasan anggaran secara kelembagaan dibagi 2 bagian. Top-Down (dari atas ke bawah) 3. Pelaksanaan dan Pengawasan Anggaran (Budget Execution) 4.

13. 15. pengawasan dapat dibagi menjadi beberapa hal. 16. 8. 12. Jelaskan kelebihan dan kelemahan dari anggaran berprogram! Sebutkan salah satu cara untuk mengatasi kelemahan anggaran berprogram! Uraikan hal-hal yang harus dilakukan dalam menyusun anggaran belanja berbasis kinerja! Apakah konsep PPBS (Planning Programing and Budgeting System) itu? Sebutkan beberapa kelebihan penentuan tujuan! Sebutkan siklus anggaran! Sebutkan beberapa indikator ekonomi yang biasa diikutkan dalam pembahasan anggaran! Uraikan tiga cara dalam menyusun anggaran! Sebutkan dan jelaskan pengawasan anggaran secara kelembagaan! Menurut subyeknya. dan waktunya. 9. 14. caranya. Sebutkan dan jelaskan! Jelaskan mengenai masalah umum anggaran! .Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 97 6. 11. 7. 10.

persyaratan yang diperlukan untuk pembangunan ekonomi di negara-negara berpendapatan rendah sama halnya seperti persyaratan yang diperlukan untuk .PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN Keuangan publik memainkan peranan penting dalam perekonomian negara. Namun masalah kelembagaan dan sosial yang dihadapi oleh suatu negara dapat memperpelik dan membatasi tugas kewenangan dalam menetapkan kebijakan anggaran dan stabilisasi. Sejumlah kesulitan yang mengganggu kemajuan ekonomi suatu negara harus dipecahkan oleh sektor publik. Karena itulah masalah-masalah pembiayaan pembangunan perlu dibicarakan secara khusus dan terpisah. UNSUR-UNSUR PEMBANGUNAN Dalam rangka pertumbuhan perekonomian yang berkelanjutan.

Namun di luar itu. investasi pemerintah sangatlah penting. Dalam hal ini. Pembentukan Modal Pembangunan Sebagaimana telah diulas pada bagian terdahulu mengenai perkembangan sektor publik di negara-negara maju. Untuk sementara waktu kita akan mengabaikan masalah perencanaan investasi dan memusatkan perhatian pada dari mana kita akan memperoleh sumber daya tambahan untuk investasi tersebut. Sampai pada tingkat tertentu.100 Bab 6: Pembiayaan Pembangunan mempertahankan pertumbuhan ekonomi di negara yang relatif sudah maju. tidak cukup hanya dengan cara penyediaan modal pembangunan (yang meliputi investasi fisik dan investasi sumber daya manusia) serta proses teknologi yang diperlukan. dan perpaduan berbagai cara tersebut harus ditentukan dalam proses perencanaan pengeluaran dan sumber daya. entah itu oleh pemerintah (di negara-negara sosialis) atau oleh swasta (dalam perekonomian pasar bebas). Untuk mencapai pertumbuhan. Infrastruktur ini akan menjadi kerangka persiapan bagi investasi pada tahap berikutnya. masih banyak persyaratan lain yang diperlukan. prioritas akan selalu berubah. mobilisasi sumber daya yang terbengkalai masih mungkin diupayakan. banyak negara berpendapatan rendah . Pembentukan modal tersebut harus didefinisikan secara luas sehingga mencakup semua pengeluaran yang sifatnya menaikkan produktivitas. Lebih jauh lagi. maka konsumsi periode berjalan harus dikurangi agar sumber daya bagi investasi tersedia. demikian juga dengan bauran investasi yang optimum. Misalnya. khususnya dalam bentuk infrastruktur. Bisa saja pengeluaran itu berupa investasi di sektor publik dan swasta. Gambaran semacam itu yang terdapat baik pada negara berpendapatan tinggi maupun rendah. Persyaratan fundamental untuk pembangunan ekonomi adalah tingkat pengadaan modal pembangunan yang seimbang dengan pertambahan penduduk. sektor publik cenderung tumbuh sejalan dengan pertumbuhan pendapatan. pembentukan modal pembangunan meliputi investasi pada sumber daya manusia dalam bentuk pendidikan dan pelatihan (training) seperti halnya investasi dalam bentuk fisik. Terdapat berbagai cara penggunaan sumber daya untuk meningkatkan produktivitas. sektor publik memegang peranan penting terhadap semua unsur pembangunan ini. tetapi juga diperlukan sejumlah perubahan sosial dan kelembagaan yang merupakan sebab dan akibat dari tingkat pembangunan perekonomian yang masih rendah. Lebih jauh lagi. Jika sumber daya yang terbengkalai tidak bisa dimanfaatkan atau jika sumber daya tambahan tidak dapat diperoleh dari luar negeri. Pada tahap-tahap awal pembangunan.

sebagaimana halnya dengan investor domestik. Tetapi di lain pihak. jalan. dan bendungan. dan walau bagaimanapun juga bantuan tersebut tidak akan diperoleh tanpa adanya usaha pendukung dari negara penerima bantuan. pemerintah hanya perlu berperan sebagai pengorganisasi bagi pemanfaatan sumber daya. Tetapi pada perekonomian yang didesentralisasi. Usaha terakhir ini sangat penting bagi para penabung kecil karena bagi mereka umumnya tidak tersedia sarana penabungan perorangan selain daripada meminjamkannya dengan risiko tinggi atau dengan menukarnya dengan barang berharga seperti logam mulia. Kemungkinan lain adalah dengan mengusahakan sumber daya investasi dari luar negeri dalam bentuk pinjaman dan bantuan pemerintah atau sebagai investasi swasta. jika keadaan cukup mendukung. Akan tetapi. semua itu tentunya tidak akan mencukupi. pengalihan ini dapat dilakukan dengan menahan sebagian hasil pengembalian (returns) yang dibayar kepada faktor produksi sehingga pembayaran lebih kecil dari hasil produk marjinal. Hal ini akan mencakup ketentuan mengenai peningkatan investasi domestik yang sebagian besar dibiayai dengan pajak.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 101 mempunyai sedemikian banyak tenaga kerja yang terbengkalai dan lapangan kerja bagi mereka bisa tersedia hanya dengan usaha pembangunan yang sangat sederhana tetapi menyerap banyak tenaga kerja seperti pembangunan drainase. perpajakan akan sangat berperan untuk memberikan insentif bagi tabungan atau disinsentif bagi konsumsi barang-barang mewah. Pada perekonomian yang dikendalikan secara terpusat di mana badan usaha milik negara memegang dominasi. Tabungan perusahaan juga dapat dirangsang . pembentukan modal dari hasil internal pasti akan berasal dari tabungan pemerintah atau swasta. pemerintah juga bisa berperan dalam penyediaan dan pembentukan lembaga keuangan yang cocok guna menarik tabungan rumah tangga dan menggunakannya secara produktif. memerlukan infrastruktur yang tersedia secara memadai dan bantuan pemerintah negara lain baru akan diberikan jika telah ada rencana pembangunan yang dirumuskan dengan baik. Para investor swasta dari luar negeri. Dalam kondisi seperti ini. Di sinilah diperlukan suatu usaha pemerintah untuk menjaga stabilitas moneter sehingga kebiasaan menabung tidak diredupkan oleh inflasi yang tak berkesudahan. tak bisa dipungkiri bahwa salah satu masalah besar adalah bagaimana mengalihkan sebagian konsumsi periode berjalan untuk digunakan sebagai sumber daya pembangunan. irigasi. sumber modal pembangunan semacam ini mempunyai keterbatasan tersendiri dan penyediaan lapangan kerja bagi para pengangguran mungkin akan memerlukan investasi pendukung tertentu. kenaikan tingkat tabungan secara sukarela bisa terjadi lebih besar dari sektor swasta. Dalam kadar tertentu. Dalam kondisi ini. Selanjutnya. Di samping itu.

dan di beberapa negara sampai 8 persen. khususnya pada tahap awal pembangunan. tetapi kenaikan pendapatan per kapita juga disertai dengan kenaikan persentase sektor publik dalam GNP. tetapi hal itu tidak bisa dianggap sebagai variabel dependen di dalam sistem tersebut yang berubah secara otomatis sesuai dengan pengenaan pajak yang diperlukan. namun kelayakan tingkat pengenaan pajak itu sendiri merupakan faktor penting yang harus diperhitungkan dalam menentukan target pertumbuhan. Rasio penerimaan pajak terhadap GNP di negara terbelakang cenderung sangat rendah. tetapi tidak terlihat adanya suatu hubungan yang mencolok di dalam kelompok tersebut. bagaimana kita dapat menilai kemampuan membayar pajak dari suatu negara dan bagaimana kelancaran pembayaran pajak dapat diukur? Sebagaimana telah kita pahami bersama bahwa besarnya sektor publik di negara-negara maju tidak hanya berkembang sejalan dengan pendapatan per kapita. Dalam hal ini. Jika demikian. Rasio pada negara-negara di Asia dan Afrika dengan pendapatan per kapita yang serupa cenderung lebih tinggi. Pola yang sama juga akan kita jumpai sehubungan dengan rasio penerimaan pajak terhadap GNP. tidak mungkin akan cukup.102 Bab 6: Pembiayaan Pembangunan melalui sistem penarikan pajak laba usaha yang mendorong ditahannya dan diinvestasikannya kembali laba usaha. Di negara-negara Amerika Latin rasio umumnya adalah sekitar 14 persen. dan benarkah rasio yang rendah itu pada kenyataannya menandakan upaya perpajakan yang rendah? Jawabannya tergantung pada bagaimana kita mengartikan upaya perpajakan itu. meskipun bermanfaat dan penting. yaitu berkisar dari 8 sampai 18 persen. KEBIJAKAN STRUKTUR PERPAJAKAN Kapasitas Kena Pajak dan Upaya Perpajakan Walaupun merupakan suatu hal yang esensial untuk mengetahui berapa tingkat penerimaan pajak yang diperlukan guna menjamin tingkat pertumbuhan tertentu. Mengapa upaya perpajakan (tax effort) di negara-negara berkembang sedemikian rendah. kebijakan perpajakan harus dipertimbangkan secara bersama-sama dengan aspek-aspek lain dari kebijakan pembangunan. Lembaga pemberi pinjaman internasional mungkin saja mensyaratkan agar bantuan yang diberikan dibarengi dengan upaya perpajakan yang sepadan dengan negara penerima bantuan. Dengan demikian lembaga itu mungkin akan menuntut agar pada . Sementara rasio semacam itu di negara-negara maju adalah 40 persen atau lebih. Pada kenyataannya persentase sektor publik jauh lebih kecil pada negara-negara berpendapatan rendah sebagai suatu kelompok. Tabungan swasta secara sukarela.

Karena alasan ini dan alasan-alasan lainnya. Terlepas dari tingkat dan distribusi pendapatan. hanya bisa diandalkan untuk sementara waktu saja. ukuran komparatif . Pemberian jasa pungut pajak (tax farming). dan papan. pengelolaan pajak penghasilan akan jauh lebih sulit jika semua lapangan kerja terdapat pada perusahaan-perusahaan kecil. Sekiranya dana pemerintah tidak dimaksudkan untuk menyediakan kebutuhan hidup yang sama-sama mendasar (misalnya program kesehatan) maka penggunaan dana tersebut akan menimbulkan beban berat yang tidak sepatutnya. Pada tingkat pendapatan per kapita yang sangat rendah. maka penilaian yang realistis atas upaya perpajakan (tax effort) harus memperhitungkan penanganan pajak (tax handles) yang tersedia untuk itu. pengenaan pajak sangat sederhana pada perekonomiam yang sangat terbuka di mana impor dan ekspor berlangsung melalui pelabuhan-pelabuhan utama dan terbuka bagi petugas fiskus. dan ketersediaan petugas fiskus yang mampu dan jujur. dengan cara-cara semacam ini pun tidak akan tercipta struktur perpajakan yang mapan dan adil. Keadaan ini sangat perlu diperhatikan sebagai sumber penerimaan yang potensial. Pengenaan pajak tanah yang efektif sukar dilaksanakan jika hasil pangannya dikonsumsi sendiri. Meskipun demikian. demikian juga halnya dengan penetapan kuota pajak bagi para petugas pajak. Penarikan pajak laba tidaklah layak sebelum praktek akuntansi mencapai standar minimal. Di pihak lain. Pajak produk tidak bisa dikenakan pada tingkat pengecer jika perusahaan pengecer kecil dan tidak permanen. Akhirnya. Dengan demikian. sandang. dukungan pengadilan terhadap penegakan peraturan perpajakan. kelayakan pengenaan pajak tergantung juga pada kesadaran masyarakat untuk membayar pajak. adanya penanganan pajak akan selalu berkaitan dengan struktur perekonomian suatu negara. sektor pertanian belum terukur dengan nilai mata uang. yaitu sistem dimana kepada para pemungut pajak diberikan persentase tertentu sebagai insentif. Negara berpendapatan rendah menghadapi keterbatasan dalam mentransfer sumber daya untuk digunakan pemerintah. seperti pangan. dan hal ini sulit tercapai jika perusahaan-perusahaan yang ada berukuran kecil dan tidak stabil.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 103 negara dengan pendapatan per kapita yang tinggi terdapat rasio penerimaan pajak yang tinggi guna menunjukkan keselarasannya dengan upaya perpajakan. Tetapi asumsi ini tidak berlaku jika distribusi pendapatan sangat timpang yang mana akan mengakibatkan besarnya konsumsi barang-barang mewah. semua pendapatan pribadi diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dengan demikian. dan survai pertanahan belum memadai untuk menghasilkan penilaian yang semestinya.

Pengembangan Struktur Perpajakan Masalah perencanaan dan pengelolaan perpajakan akan berbeda-beda sesuai dengan struktur perekonomian suatu negara dan sikap masyarakat terhadap perpajakan. khususnya di sektor pertanian. Meskipun demikian. Sejalan dengan itu. Selain itu terdapat fenomena menarik yang menyatakan bahwa pajak yang sering diklasifikasikan sebagai pajak penghasilan di negara miskin seringkali jauh berbeda dari pajak penghasilan perorangan di negara maju. peranan pajak penghasilan pun makin meningkat relatif terhadap bea. demikian juga terhadap pajak penjualan dan produksi domestik. Pajak akan berperan besar terhadap perdagangan luar negeri (terutama bea) dan pajak atas produksi dan penjualan domestik untuk negara-negara berpendapatan rendah. Di satu sisi hal ini akan mencerminkan . dengan melihat respon pada umumnya terhadap penanganan yang tersedia. dan kelompok perusahaan domestik besar yang jumlahnya sangat kecil. Dengan naiknya pendapatan per kapita. pajak penghasilan usaha seringkali lebih mirip dengan pajak penjualan daripada pajak laba sebagaimana ditemukan di negara-negara maju dan sebagainya. Peranan pajak upah juga makin penting dengan naiknya pendapatan per kapita. Pajak ini bersifat elastis terhadap pertumbuhan GNP. Perbedaan juga akan timbul sebagai akibat tahap-tahap pembangunan ekonomi. Pajak Penghasilan Perorangan Pajak penghasilan perorangan tidak mungkin dan tidak dapat diharapkan untuk menduduki posisi sentral dalam struktur perpajakan pada negara sedang berkembang dan begitu juga umumnya di negara-negara maju. dan sejumlah ciri struktur perpajakan yang lazim ditemukan dalam kaitannya dengan pendapatan per kapita dapat diamati. karena itu bisa menjadi sumber penerimaan yang cukup besar untuk pembiayaan pembangunan. Kontribusi pajak penghasilan perorangan di negara-negara Amerika Latin lazimnya berkisar 20 persen dan karena itu merupakan bagian yang besar dari penerimaan pemerintah. pajak penghasilan harus ditata dengan baik sejak dini dan ditingkatkan selama berlangsungnya pembangunan. Karyawan perusahaan kecil dan sebagian besar masyarakat yang mengelola usaha sendiri. pada umumnya masih di luar jangkauan pajak penghasilan.104 Bab 6: Pembiayaan Pembangunan atas upaya perpajakan dapat diperoleh dengan membandingkan rasio aktual dari penerimaam terhadap GNP pada suatu negara tertentu dengan rasio yang seharusnya diperoleh. perusahaan asing.

namun bisa dikatakan bahwa pendapatan kena pajak akan benar-benar dicapai bila peraturan perpajakan dijalankan secara ketat. Prinsip penghitungan pajak sendiri (self assessment) seperti diterapkan di Indonesia tidak berjalan lancar. Inilah prasyarat utama yang kerapkali sukar untuk dipenuhi oleh negara-negara berkembang dalam konteks budaya dan politik. Penghitungan pajak oleh para petugas sering kali didasarkan pada negoisasi dan bukan ditetapkan secara objektif. pengaruh inflasi terhadap perpajakan dinetralisir. Lebih jauh lagi. semua itu tidak akan mencukupi kecuali jika badan pengadilan mendukung penuh penegakan peraturan perpajakan. Meskipun tidak tersedia estimasi yang andal. dan pembayaran akhir sangat banyak yang terlambat. sehingga hubungan antara tarif marjinal dan pendapatan riil dipertahankan konstan. Masalah keuntungan modal. khususnya jika hukumannya tidak sebanding dengan suku bunga dan nilai hutang pajak yang semakin menurun akibat inflasi. Pemungutan pajak penghasilan atas modal bahkan lebih sukar lagi. misalnya telah dialami Cili dan Brasil selama bertahun-tahun. badan perpajakan bisa menaikkan tingkat pembebasan dan kelompok tarif secara otomatis setiap tahunnya sejalan dengan naiknya harga-harga. sangat penting bagi negara-negara berkembang dimana urbanisasi yang pesat akan menaikkan nilai tanah. Namun. terutama dalam kaitannya dengan tanah dan bangunan. Keterlambatan pembayaran pajak atas pendapatan modal merupakan keuntungan besar. diharuskannya perusahaan dan bank menyampaikan informasi tentang pembayaran bunga dan pembayaran dividen. tetapi hal itu juga merupakan akibat dari upaya pengelolaan yang tidak aktif. Penggunaan sistem pemungutan pajak oleh orang lain (witholding) bisa mempercepat pemungutan pajak dan hal itu sangat baik. pengurangan keterlambatan penafsiran. tetapi peredaran inflasi secara melekat melalui pajak penghasilan progresif akan melemah. Tidak jarang negara-negara berkembang menghadapi inflasi puluhan bahkan ratusan persen per tahun. Tidak ada satu obat mujarab untuk mengatasi kesulitan ini kecuali dengan menerapkan wajib pungut pajak. pengelolaan pajak penghasilan diperparah oleh masalah inflasi. penjatahan jumlah wajib pajak bagi setiap petugas (khususnya wajib pajak berpendapatan tinggi). tetapi penerapannya sangat terbatas pada jenis upah dan gaji tertentu saja sehingga lebih mudah dilaksanakan. Guna menghadapinya. komputerisasi dan penanganan terpusat atas surat pemberitahuan pajak.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 105 tingkat pembebasan pajak yang ditetapkan relatif tinggi jika dikaitkan dengan pendapatan rata-rata. Sebagaimana dialami Amerika Serikat . Akibatnya. Hal itu. dan hukuman yang lebih tinggi bagi pembayaran yang tertunda.

padahal hal terakhir ini tidak begitu penting bagi negara yang sedang berkembang. Sesuai dengan pengamatan Henry George. metode lain harus digunakan. Banyak negara menggunakan taksiran dan bukan pendekatan langsung guna menentukan laba. khususnya sehubungan dengan pendapatan profesional. Dalam hal pertanian. Hal ini terjadi karena kewajiban pajak menjadi fungsi dari penjualan dan marjin tersebut merupakan taksiran dan bukan aktual. Karena itu.106 Bab 6: Pembiayaan Pembangunan pada akhir abad sembilan belas. laba taksiran didasarkan pada patokan tertentu seperti luasnya lantai atau ruang kerja dan lokasi pada wilayah perkotaan. Pajak Penghasilan Perusahaan Masalah yang pelik akan timbul dalam pengenaan pajak penghasilan perusahaan. dikelola sebagai suatu jenis pajak tersendiri. sementara yang bandel diberi hukuman. hukum Eropa daratan lebih berperan daripada tradisi common law (hukum Inggris). . luasnya lahan atau jumlah ternak bisa digunakan sebagai dasar taksiran. entah itu berupa pajak laba perseroan atau pajak persekutuan dan perusahaan perseorangan yang dikenakan menurut pajak penghasilan perorangan. akan mengubah bentuk pajak laba menjadi semacam pajak penjualan. Serentak dengan itu. Bila akuntansi perusahaan belum begitu maju sehingga belum bisa mengukur laba dengan cukup akurat. juga terjadi di Indonesia terutama di Jakarta dan sekitarnya. Lebih jauh lagi. pembayar pajak yang setia perlu diberi penghargaan. dan praktek yang cocok bagi suatu negara seperti Amerika Serikat mungkin tidak dapat diterapkan di negara sedang berkembang dengan mengingat tradisi dan tingkat pembangunannya saat ini. Di negara-negara Amerika Latin. Para pembaharu pajak sering menyepelekan perbaikan teknik penaksiran pajak terhadap perbaikan teknis dalam pemajakan perseroan. yaitu bangunan dan tanah. Metode ini. Dalam keadaan lain. sedangkan di negaranegara Asia sistem hukum kebendaan yang sangat berbeda bisa diterapkan. yang digunakan secara luas di negara-negara Asia. Ini juga merupakan praktek yang bisa ditemukan pada tradisi perpajakan Eropa. pajak atas keuntungan modal bagi real estate. bentuk hukum dari badan-badan usaha sering kali berbeda. Proses perbaikannya harus bertahap dan tidak bisa bergerak lebih cepat dari perbaikan metode akuntansi. Caranya adalah dengan menaksir marjin laba atas penjualan dimana terdapat marjin yang beragam untuk berbagai industri. misalnya.

atau atas pendapatan potensial yang bisa dihasilkan tanah tersebut jika dimanfaatkan secara penuh. Tanah seringkali tidak dimanfatkan secara penuh dan ditahan untuk tujuan spekulatif atau ditahan sesuai dengan adat istiadat setempat. pajak kekayaan atas harta benda bersih jarang ditemukan dalam struktur perpajakan di negara sedang berkembang. apakah pajak tersebut harus dikenakan atas nilai tanah. tidak demikian halnya. Penggunaan metode faktur mungkin . yang menggabungkan pajak atas sejumlah rumah dalam satu dasar pengenaan pajak guna melengkapi sistem penarikan pajak komoditas atas konsumsi barang-barang mewah di samping terhadap perumahan. Pasar atas tanah mungkin tidak tersedia dan nilai jualnya saat ini tidak bisa diperoleh. Dengan pajak yang dikenakan secara berjenjang seperti halnya pajak pertambahan nilai. ketiga dasar tersebut akan bisa saling dipertukarkan karena nilai tanah akan sama dengan nilai pendapatannya yang dikapitalisasi. Di luar semua ini. penarikan pajak atas real estate dan pertokoan juga menjadi dasar pengenaan pajak yang penting. ketiga dasar tersebut akan memberikan nilai yang sangat berbeda. Meskipun pajak semacam ini pada akhirnya akan lebih kecil daripada pajak bumi dan bangunan. penerimaan pemerintah yang hilang tidak akan besar meskipun tingkat pengecer tidak terjangkau. khususnya selama berlangsungnya urbanisasi. Pajak Kekayaan dan Pajak atas Bumi dan Bangunan Di samping penerimaan dari tanah. dan pendapatan aktual akan sama dengan pendapatan potensial. yang meliputi tidak hanya penyewaan atas tanah tersebut tetapi juga peningkatan nilai atas tanah. karena banyaknya harta tak berwujud yang tidak termasuk dalam dasar pengenaan pajak. Dengan demikian. Dalam kenyataan. Ada baiknya jika hal tersebut di atas dikenakan pajak progresif atas tempat hunian. atas pendapatan aktual. Pajak dan Bea atas Komoditas Pengenaan pajak komoditas harus ditentukan berdasarkan kelayakan administratif sehingga tergantung pada struktur perekonomian negara tertentu. Pajak penghasilan jarang diterapkan secara efektif ke sektor pertanian sehingga pendapatan dari tanah seringkali merupakan gabungan dari pajak penghasilan dan pajak atas tanah. Dalam sistem persaingan sempurna.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 107 Pajak Tanah Satu pertanyaan mendasar dalam pajak atas tanah. Jadi bukan merupakan kehilangan total seperti pada pajak penjualan eceran. namun jenis pajak ini penting guna melengkapi pajak penghasilan.

Jika pemerintah ingin menggunakan bea masuk sebagai proteksi atas industri itu. Karena ingin membebani konsumsi barang mewah dengan lebih berat. maka tidak mengherankan bahwa telah diupayakan berbagai cara untuk meminimumkan pengaruh masalah justifikasi sampai dimana pemerataan dan pertumbuhan didahulukan terhadap satu sama lain. Jika hal ini terjadi akan merupakan kebijakan yang buruk.108 Bab 6: Pembiayaan Pembangunan akan membuat para wajib pajak lebih taat. Keringanan pajak untuk investasi yang tidak berdiri sendiri dalam meningkatkan pertumbuhan. maka pengenaan cukai atas produsen akan merupakan pendekatan yang paling sederhana dan gamblang. Cukai domestik juga perlu untuk dikoordinasikan dengan bea impor. INSENTIF PERPAJAKAN Tujuan pemerintah yang berupa pertumbuhan ekonomi dan pemerataan bisa dicapai dengan berpedoman pada pajak konsumsi progresif. pengenaan pajak produk dengan tarif yang berbeda-beda cenderung lebih sukar jika diterapkan dengan pendekatan nilai tambah. seringkali mengenakan bea impor yang lebih tinggi atas barang mewah. Dengan demikian. bukan hanya menyebabkan hilangnya penerimaan pemerintah tetapi juga . praktek ini akan memperburuk distorsi harga. Pendekatan terbaik dengan menggunakan tarif yang cukup seragam dan memasukkan unsur bea impor barang mewah di dalam sistem pengenaan cukai domestik. Kebijakan perpajakan harus memperhatikan bahwa kenaikan tingkat pertumbuhan ekonomi tidak akan memperparah pemerataan. pendekatan keadilan menuntut agar pendekatan ini dipadukan dengan penarikan pajak atas pendapatan modal dengan tarif progresif. Aspek kebijakan bea masuk lainnya yang perlu ditinjau secara kritis adalah praktek pembebasan cukai atas barang modal yang digunakan di dalam negeri. tergantung mana yang paling jitu dalam keadaan tertentu. harus dipilih sesuai dengan potensi pembangunan sehingga pengembangan itu bukan merupakan efek samping dari pengenaan pajak barang mewah. Di pihak lain. Dalam situasi dimana. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah keterkaitannya dengan pengenaan bea cukai atas produk domestik. Jika suatu produk dengan nilai kena pajak yang sangat besar dihasilkan pada perusahaan yang relatif besar. bea masuk sering menjadi pelindung bagi produk barang mewah pengganti di dalam negeri. Kombinasi dari berbagai metode bisa diterapkan. Karena adanya kemungkinan timbulnya konflik antara pajak penghasilan progresif dengan insentif untuk inventasi. biaya modal cenderung dinilai terlalu rendah. Disamping itu.

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 109 memperbesar ketimpangan apabila keringanan itu diberikan kepada masyarakat berpendapatan tinggi. Lebih jauh lagi. maka sebaiknya insentif dirancang seefisien mungkin. . Tekanan politik agar diberikan insentif pajak akan tetap ada dan tidak bisa dielakkan. Ini bisa tercapai dengan mendorong perusahaan untuk menahan laba atau dengan memberikan kredit pajak bagi tabungan atas pendapatan perorangan. Metode ini merupakan insentif bagi investasi yang memberikan laba yang tinggi pada tahap awal dan hal ini bertentangan dengan kebutuhan akan investasi yang stabil dan bersifat jangka panjang. Selain itu. Bagi perusahaan lama yang mengadakan investasi lama dan baru. teristimewa jika diperkirakan bahwa subsidi semacam itu tidak akan diperlukan di masa mendatang. penolakan total tidak bisa diterima. Insentif Umum Insentif investasi umum bisa berupa kredit pajak atas investasi atau penyusutan yang dipercepat seperti lazim digunakan di negara-negara maju. misalnya selama lima atau tujuh tahun dimana selama jangka waktu itu pajak atas laba dibebaskan. Tentu saja masalahnya adalah bagaimana mencapai suatu jumlah tabungan tertentu tanpa mengurangi tabungan di sektor lain. Namun. insentif investasi umum tidak bisa efektif guna menaikkan tingkat investasi menyeluruh kecuali jika peningkatan tabungan juga mendapat perhatian. masalah ini bisa diatasi dengan pendekatan kredit investasi atau bantuan investasi. Lebih jauh lagi. tidaklah bijaksana jika pemerintah mengadakan komitmen jangka panjang untuk mensubsidi pajak. di beberapa negara sering kali diberikan pembebasan pajak (tax holiday) untuk jangka waktu tertentu. beberapa kelonggaran bagi pertumbuhan mungkin layak asalkan hal itu dilaksanakan dengan cara terbaik. Insentif bisa dirancang untuk menggalakkan ekspor dan memperkuat neraca pembayaran. Apapun masalahnya. Insentif domestik bisa dikaitkan dengan investasi pada umumnya atau dibatasi pada industri atau wilayah tertentu. insentif pajak bagi investasi pada umumnya merupakan pemborosan dan tidak adil sehingga banyak pengamat terdorong untuk menolak semua bentuk insentif. ada baiknya kita membedakan antara insentif domestik dan masalah insentif yang berkaitan dengan modal asing. Dengan alasan-alasan ini. Insentif Domestik Dalam menangani masalah insentif.

Tidak dapat dipungkiri bahwa proses pembangunan mengandung dampak eksternal (external economies) yang tidak diperhatikan dalam pengambilan keputusan investasi swasta dan pasar modal yang tidak sempurna bisa mengacaukan investasi meskipun tanpa eksternalitas. atau apakah peningkatan upah atau standar hidup masyarakatnya. Karena itu.110 Bab 6: Pembiayaan Pembangunan Daftar Skala Prioritas Meskipun efektivitas investasi umum diragukan. Sedangkan di pihak lain. Untuk tujuan terakhir ini. namun insentif yang dibatasi pada sektor atau industri tertentu kiranya bisa lebih efektif dalam mengalokasikan modal data ekspor industri tersebut. Tenaga kerja mungkin tidak bisa berpindah secara luwes. pemilihan industri tertentu selalu dibarengi dengan tekanan politik dari kelompok tertentu dan dalam kesempatan lain lagi kita akan melihat bahwa insentif diberikan untuk mempertahankan pasar bagi perusahaan negara. apakah peningkatan produksi atau nilai tambah di daerah tersebut. insentif khusus bisa diberikan demi pembangunan daerah tersebut. apakah itu untuk tenaga kerja atau modal dan umumnya diharapkan agar kebijakan pajak bersifat netral. investasi semacam itu perlu dikoreksi. subsidi upah akan lebih efektif. Tetapi pengalaman menunjukkan bahwa hal itu sangat sukar untuk dilaksanakan. Seiring daftar skala prioritas sedemikian luas sehingga hampir tidak ada yang patut dipilih. mungkin juga tenaga kerja ingin dipertahankan di suatu daerah tertentu karena terlalu banyaknya perpindahan penduduk ke kota atau alasan non ekonomis yang menghendaki pemerataan tingkat pembangunan daerah. Karena itu. Namun. khususnya jika . Masalah utama di sini adalah bagaimana memilih industri yang akan diberi perlakuan istimewa tersebut. keadaan negara-negara berkembang bisa menuntut lain. seperti pabrik baja. Jawabannya tergantung pada tujuan yang hendak dicapai. penerapannya secara efisien sukar untuk dilaksanakan. Insentif Regional Insentif selektif lainnya dapat kita temukan dalam kebijakan regional. Seperti telah kita ketengahkan sebelumya. yang seharusnya tidak mendapat prioritas utama. Meskipun pada prinsipnya insentif yang selektif itu baik. Dapat diduga bahwa industri yang akan dipilih adalah industri yang memainkan peranan strategis dalam pembangunan dan yang tidak akan berkembang jika tidak mendapat bantuan khusus. kebijakan pajak bisa mempengaruhi keputusan lokasi investasi. Masalahnya adalah apakah insentif itu lebih baik diberikan dengan mensubsidi investasi atau mensubsidi perusahaan pekerja di wilayah bersangkutan.

Biaya buruh yang tinggi umumnya disebabkan oleh peraturan upah minimum dan berbagai tuntutan serikat pekerja. Cara-cara semacam itu mungkin akan tepat dalam kaitannya dengan insentif regional dimana tujuannya adalah untuk menaikkan tingkat pendapatan di daerah terbelakang. Keuntungan tersebut berupa kenaikan penghasilan faktor-faktor produksi domestik akibat adanya modal asing. Hal itu juga tepat untuk menanggulangi pengangguran akibat berjubelnya perpindahan penduduk ke kota. tetapi keringanan pajak yang diberikan kepada investor asing akan mengurangi jatah keseluruhan negara atas laba yang dihasilkan modal asing tersebut.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 111 terdapat banyak penganggur atau penganggur tak kentara di sektor pertanian yang dapat ditarik ke sektor industri apabila biaya upah berkurang. Guna mengembalikannya ke keseimbangan semula. Cara lain untuk mendorong investasi yang padat kerja adalah dengan memberikan insentif pajak bagi pekerjaan gilir kerja (shift) malam. dan pengenaan pajak atas laba yang tidak efektif. Karena itu. subsidi upah bisa diberikan secara langsung atau tidak melalui kredit atas daftar upah yang pada prinsipnya mirip dengan kredit investasi. Insentif bagi Modal vs Insentif bagi Tenaga Kerja Penggunaan bentuk investasi yang insentif modal didorong oleh distorsi harga yang menyebabkan biaya buruh terlalu tinggi dan biaya modal menjadi rendah. insentif pajak harus dikaitkan dengan nilai tambah domestik sebagai akibat adanya modal asing. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah insentif tersebut harus dirancang sedemikian rupa sehingga mendorong . Karena itu. Tidak ada manfaatnya bagi suatu negara untuk menerima modal asing lengkap dengan sumber dayanya dan hanya meminjam lokasi pada negara tersebut. biaya modal yang rendah disebabkan oleh kurs valuta yang menguntungkan. Insentif bagi modal domestik hanyalah melibatkan transfer dari pemerintah ke investor. Insentif bagi Modal Asing Dari sudut pandang nasional. Perancangan insentif mungkin akan bisa mengarahkan investasi tersebut pada sektor yang menguntungkan negara bersangkutan. pembebasan bea masuk. peranan insentif pajak bagi modal asing berbeda dari insentif pajak bagi modal domestik. Pajak atas laba bisa lebih ringan dengan syarat peralatan yang digunakan harus padat tenaga kerja. kerugian ini harus dikompensasi oleh keuntungan yang diperoleh akibat pelipatgandaan modal tersebut agar insentif pajak tersebut bisa diterima.

Akan tetapi. seperti lazimnya kita hadapi. Apapun masalahnya. pendekatan ini tidak menggairahkan reinvestasi karena tekanan politik akan menuntut agar insentif tersebut diberlakukan secara umum bagi investasi domestik. Jika negara sumber modal tersebut menarik pajak penghasilan yang diperoleh dari luar negeri dengan tarifnya sendiri sambil tetap memberikan kredit pajak luar negeri. Hal itu tidak hanya berfungsi sebagai penarik modal ke suatu negara yang menawarkan insentif pajak tetapi juga mendorong terlaksananya reinvestasi di negara tersebut. Hanya nilai tambah domestiklah yang menambah hasil perdagangan luar negeri bagi suatu negara. Pengeksporan . Insentif Ekspor Insentif pajak untuk ekspor merupakan kebijakan umum guna membantu pengembangan pasar luar negeri dan memperkuat neraca pembayaran. negara sedang berkembang sebagai suatu kelompok akan dirugikan. Persoalan terakhir yang timbul dalam kaitannya dengan persaingan di antara negara sedang berkembang untuk memperebutkan modal asing adalah jika suatu negara mengalahkan yang lain dengan menawarkan insentif yang lebih besar. Agar efektif. Dengan pendekatan ini. Salah satu peran utama pasar bersama antar negara sedang berkembang adalah untuk menghindarkan hal semacam itu. Karena itu. suatu negara membutuhkan kerja sama dari negara asal investor asing agar insentif yang efektif bisa diberikan. tetapi dengan nilai tambah domestik. negara asal modal akan memberikan kredit atas laba yang direpatriasi sebesar pajak yang dikenakan di negara tujuan meskipun tidak ada pajak yang dibayar menurut kesepakatan insentif tersebut. Dalam hal ini. penarikan pajak atas laba secara umum bagi investasi domestik harus dipertimbangkan. Untuk mengatasi hal semacam itu diperlukan semacam kerja sama antar negara sedang berkembang. maka pajak yang lebih rendah di negara tersebut hanya akan menjadi transfer ke negara lain tanpa adanya manfaat bagi investor yang mengirimkan labanya ke negara asalnya. cukup beralasan untuk mempertahankan penundaan atas investasi di suatu negara yang sedang berkembang dan meniadakannya untuk investasi di negara maju. Cara lain untuk membuat insentif menjadi efektif bagi investor asing yang akan mengirimkan labanya ke negara asal adalah apa yang disebut sebagai kesepakatan pajak bersama (tax-sparing arrangement).112 Bab 6: Pembiayaan Pembangunan dilakukannya reinvestasi dan operasi permanen serta menghambat investasi yang hanya ingin mengeruk keuntungan sesaat. penundaan pajak akan menjadi sangat penting. insentif semacam itu tidak harus dikaitkan dengan total penjualan di luar negeri atau laba yang dihasilkannya.

Negara-negara berpendapatan rendah menghabiskan banyak pengeluaran untuk pendidikan dan kesehatan sementara tunjangan sosial kurang diperhatikan. Lebih jauh lagi. Jadi manfaat dari proyek transportasi atau irigasi dapat dinilai berdasarkan penurunan biaya produk yang ditimbulkannya di pasar. namun evaluasi proyek yang efisien merupakan suatu tugas yang sukar. pengunaan analsis biaya-manfaat sangat penting. Di satu pihak. Karena harga pasar mungkin tidak mencerminkan biaya sosial yang benar–benar terjadi.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 113 kembali atas barang yang diimpor atau barang dalam transito tidak memberikan nilai tambah domestik. jumlah biaya lebih sulit untuk ditentukan. Tetapi di pihak lain. pelaksanaan evaluasinya di negara sedang berkembang lebih sulit. manfaat langsung yang tersedia disertai dengan manfaat tidak langsung atau manfaat eksternal yang lebih sukar untuk diperkirakan. Di satu sisi. investasi semacam ini menghasilkan manfaat eksternal sehingga penyediaannya lebih baik dilakukan oleh pemerintah. KEBIJAKAN PENGELUARAN Peranan kebijakan pengeluaran dalam pembangunan ekonomi kurang disorot bila dibandingkan dengan kebijakan perpajakan dan data pembanding lebih sukar diperoleh. untuk itu harus . Karena itu. tidak mengherankan jika pengembangan investasi pemerintah memainkan fungsi utama dalam perancangan rencana pembangunan di negara sedang berkembang. Hal ini juga dilandasi oleh kenyataan bahwa tipe investasi yang diperlukan pada tahap-tahap awal pembangunan sering kali memerlukan jumlah besar. banyak pengeluaran untuk pendidikan juga mencerminkan tingginya biaya pendidikan di negara-negara ini. Negara–negara berkembang bisa dihantui oleh pemborosan sumber daya. Besarnya tunjangan sosial di negara-negara kaya mencerminkan sistem jaminan sosial yang lebih baik. Suatu ukuran yang tidak bisa diperoleh jika pengeluaran publik digunakan untuk menghasilkan barang jadi untuk konsumsi. seperti untuk pembangunan sistem transportasi atau pembukaan suatu daerah yang terbelakang. analisis biaya–manfaaat akan lebih mudah diterapkan di negara berkembang dari pada negara maju karena investasi pemerintah lazimnya dimaksudkan untuk penyediaan barang–barang antara yang nilainya bisa diukur dengan melihat pengaruhnya terhadap harga–harga barang yang disediakan oleh swasta. Dalam konteks ini. Dalam kadar tertentu. Peranan strategis dari investasi pemerintah dalam pembangunan ekonomi sebagian dilandasi oleh belum berkembangnya pasar modal swasta dan sebagian karena kurangnya bakat entrepreneurial (kewiraswastaan) masyarakat. Di sisi lain.

114 Bab 6: Pembiayaan Pembangunan digunakan harga bayangan (shadow price). taksiran yang lebih kasar mungkin akan digunakan. Sekali lagi. Faktor lain yang juga penting adalah penentuan tarif/tingkat diskonto. akan kita jumpai bahwa biaya konsumsi sangat tinggi pada tingkat pendapatan yang rendah. Jika kita melihat dari sisi yang berlawanan. penggunaan tarif sosial kiranya tidak bisa dielakkan. investasi bagi pendidikan dirancang guna menghasilkan pekerja terampil sesuai dengan kebutuhan negara bersangkutan. tarif sosial tersebut harus ditetapkan lebih rendah daripada tarif yang berlaku sehingga menunjukkan tingkat diskonto yang lebih tinggi bagi penyediaan modal dan lebih mendukung pengadaan proyek–proyek jangka panjang. BANTUAN INTERNASIONAL DAN REDISTRIBUSI . pemerintah mungkin lebih praktis untuk menentukan tingkat konsumsi minimum yang secara politis dapat diterima untuk lima atau sepuluh tahun mendatang dan kemudian menghitung tingkat diskonto dari konsumsi minimum tersebut. penggunaan harga pasar akan menimbulkan distorsi yang mengarah kepada teknologi yang sangat padat modal sebagaimana telah kita simak sebelumnya. Kenyataan ini cenderung diabaikan dalam pengambilan keputusan tabungan perorangan tetapi pemerintah harus memperhitungkannya. Program pendidikan penting bukan hanya dalam kaitannya dengan kebijakan pertumbuhan tetapi juga dengan pendistribusian hasil-hasil pembangunan di antara lapisan masyarakat dan berbagai sektor perekonomian. Sejumlah studi telah memperlihatkan betapa besarnya manfaat investasi di bidang pendidikan bagi negara–negara berkembang. Investasi dalam sumber daya manusia perlu mendapat perhatian khusus dalam konteks pembangunan. Dalam konteks pembangunan. Sebagaimana halnya dalam penentuan tingkat diskonto lainnya. utilitas marjinal dari konsumsi itu akan lebih kecil karena pendapatan sudah lebih tinggi. Jika modal dinilai terlalu rendah sementara tenaga kerja dinilai terlalu tinggi. setelah keuntungan dari penundaan konsumsi itu diperoleh. Dengan memperhitungkan adanya manfaat eksternal. Karena pasar modal swasta yang belum berkembang sepenuhnya. Kesulitan–kesulitan itu akan makin rumit dalam konteks pembangunan yang dinamis dimana harga-harga relatif yang berlaku pada saat proyek dimulai mungkin akan sangat berbeda dari harga–harga yang berlaku setelah proyek berfungsi. Yang perlu dipertimbangkan. kemungkinan ini menunjukkan pentingnya perencanaan jangka panjang dan evaluasi atas setiap proyek dalam konteks rencana pembangunan yang menyeluruh. Namun di masa mendatang.

Kelihatannya aspek–aspek dari distribusi internasional akan menjadi unsur yang semakin penting dalam politik dunia masa mendatang.Di tingkat internasional. Mungkin pada suatu saat. maka rasio tersebut berubah menjadi 2 dan 70 persen. hal itu dilaksanakan berupa redistribusi dari tingkat pendapatan dunia pada saat itu sehingga mirip dengan pajak penghasilan negatif yang diterapkan pada redistribusi domestik. Tetapi jika keduanya tidak tumpang tindih. Upaya itu bisa dilaksanakan dalam bentuk bantuan internasional yang dirancang untuk menaikkan tingkat pertumbuhan negara-negara berkembang.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 115 Pertimbangan kemanusiaan atau politis yang menyangkut distribusi pendapatan di suatu negara tidak bisa dibatasi hanya pada lingkup negara itu saja. Masalah Besarnya Transfer Dalam menangani distribusi pada taraf internasional. persoalan yang mungkin terjadi adalah perbedaan pendapatan rata-rata di negara-negara atau juga ketimpangan distribusi di antara masyarakat seluruh dunia tanpa memandang batas negara. Tidak ada gunanya jika redistribusi ke negara berpenghasilan rendah pada akhirnya hanya akan menambah kekayaan segelintir masyarakat kaya di negara tersebut. masalahnya mirip dengan masalah antara negara bagian di suatu negara berserikat. sementara 20 persen terkaya menerima 60 persen. Jika seseorang di suatu negara memperoleh pendapatan sebesar rata-rata di antara berbagai negara tersebut. Ketimpangan distribusi pendapatan di antara masyarakat dunia merupakan masalah yang sangat pelik. Dalam kadar tertentu kedua masalah itu bertumpang tindih karena kebanyakan masyarakat miskin pada kenyataannya merupakan penduduk dari negara berpendapatan rendah. mungkin saja suatu saat nanti hal itu akan menjadi suatu pemikiran pokok. Meskipun hal itu penting. Jika ketimpangan di dalam negaranegara masih diperhitungkan lagi. Pendekatan ini telah dilaksanakan secara cukup besar-besaran dalam beberapa dekade terakhir. masalah distribusi di tingkat internasional lebih sukar untuk ditangani daripada lingkup suatu negara. kesenjangan lebih besar dan masalah organisasi lebih pelik karena tidak ada pemerintah pusat yang harus menanganinya dan upaya mengatasi ketimpangan tersebut harus melalui transfer antar negara. maka bisa diperkirakan bahwa 40 persen termiskin dari penduduk dunia menerima 3 persen dari pendapatan seluruh dunia. masalah mendasar adalah redistribusi di antara anggota masyarakat. Jadi. Tingkat ketimpangan ini jauh lebih besar daripada ketimpangan di . Ketimpangan di dalam negeri diperparah dengan ketimpangan pendapatan rata-rata di antara berbagai negara. Meskipun pendekatan ini tidak bisa diharapkan dalam waktu dekat.

Para pemasok modal dari negara kaya tetap mendapat keuntungan karena memperoleh hasil pengembalian yang lebih besar dari investasinya di negara-negara miskin. Tak ada manfaatnya jika kontribusi negara-negara maju terlalu dipaksakan sehingga kemampuan ekonominya untuk mempertahankan kesinambungan bantuan menjadi terganggu. akan lebih mengena lagi pada tingkat internasional dimana skala penyesuaian potensial yang harus dicapai melalui distribusi sangat besar. perbaikan distribusi pendapatan dunia dapat dicapai meskipun dengan memperbesar ketimpangan (kendatipun hanya dalam taraf yang lebih kecil) di negara maju. . pekerja di negara maju juga dirugikan karena mereka kurang leluasa untuk berpindah jika dibandingkan dengan faktor modal. Tetapi di pihak lain. akan terjadi redistribusi pendapatan dari pekerja negara kaya (yang akan beroperasi dengan modal yang cukup besar) kepada pekerja di negara miskin yang produktivitasnya akan meningkat bersamaan dengan naiknya keuntungan modal pekerja. Jika sudut pandang ini mengena pada redistribusi yang bersifat nasional. Lebih jauh lagi. mustahil kiranya untuk meratakan ketimpangan ini. output dunia akan meningkat karena modal akan dimanfaatkan secara efisien di negara dimana keuntungan modal pekerja sangat rendah. terlihat jelas bahwa kebijakan redistribusi tidaklah sederhana dan pengaruhnya pertumbuhan ekonomi harus ditelaah dengan seksama. Ini bisa dilakukan dengan memberikan preferensi dan penghapusan pembatasan perdagangan. Akan tetapi. Dalam kondisi ini. Dengan demikian. Perbaikan besar atas kemelaratan masyarakat hanya dapat dicapai dengan meningkatkan produktivitas pekerja-pekerja di negara miskin.116 Bab 6: Pembiayaan Pembangunan suatu negara. Akan tetapi. masuk akal bahwa pendapatan per kapita di negara maju akan naik lebih cepat ketimbang di negara miskin sehingga situasi tersebut akan semakin parah seperti halnya distribusi pendapatan domestik. Dalam hal ini. khususnya di negara maju. di samping menambah keahlian juga menghambat pengembangan kewiraswastaan domestik dan menciptakan ketergantungan politis. Juga dipermasalahkan masuknya tenaga manajemen asing yang menyertai masuknya modal asing. Dengan penerapan itu. Salah satu upaya penting untuk ini adalah dengan menata kembali aliran modal dari negara kaya ke negara miskin. Kontribusi penting kedua bagi pembangunan ekonomi adalah membuka pasar negara-negara maju lebih lebar bagi ekspor negara-negara berkembang. Bantuan Pembangunan Dari penjelasan terdahulu. sebagai konsumen mereka akan diuntungkan karena harga barang-barang impor menjadi turun.

sindrome orang kaya baru akan tetap menggejala dan hal ini merupakan hambatan baik di tingkat nasional maupun di tingkat internasional. tidak cukup dengan cara penyediaan modal pembangunan (yang meliputi investasi fisik dan investasi sumber daya manusia) serta proses teknologi yang diperlukan tetapi juga diperlukan sejumlah perubahan sosial dan kelembagaan yang merupakan sebab-akibat dari tingkat pembangunan perekonomian yang masih rendah. Insentif pajak bagi investasi pada umunya merupakan pemborosan dan tidak adil sehingga banyak pengamat sampai terdorong untuk menolak semua bentuk insentif. Besarnya sektor publik di negara-negara maju tidak hanya berkembang sejalan dengan pendapatan per kapita tetapi kenaikan pendapatan per kapita juga disertai dengan kenaikan persentase sektor publik dalam GNP. dan ketersediaan petugas fiskus yang mampu dan jujur. Keringanan pajak untuk investasi yang tidak berdiri sendiri dalam meningkatkan pertumbuhan bukan hanya menyebabkan hilangnya penerimaan pemerintah tetapi juga memperbesar ketimpangan apabila keringanan itu diberikan kepada masyarakat berpendapatan tinggi. RANGKUMAN § Untuk mencapai pertumbuhan. dukungan pengadilan terhadap penegakan peraturan perpajakan. Kelayakan pengenaan pajak tergantung pada kesadaran masyarakat untuk membayar pajak. Karena itu.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 117 kebijakan-kebijakan semacam ini tidak menjamin bahwa negara-negara berkembang akan mampu secara independen untuk mempertahankan pertumbuhan yang telah mereka capai. Cara untuk membuat insentif menjadi efektif bagi investor asing yang akan mengirimkan labanya ke negara asal adalah apa yang disebut sebagai kesepakatan pajak bersama. § § § § § § . Perkembangan sektor publik di negara-negara maju cenderung tumbuh sejalan dengan pertumbuhan pendapatan.

Apakah efek dari crowding out terhadap investasi? 7. 4. Bersifat apakah kenaikan pengeluaran dan kenaikan pajak? 9. Jelaskan mengenai Inflasi yang diakibatkan biaya secara tiba-tiba? 10. 5. 2. a.118 Bab 6: Pembiayaan Pembangunan LATIHAN 1. 3. Apakah maksud dari pembiayaan dengan pajak atau pinjaman mempunyai efek ekonomi yang seimbang? 8. Apakah akibat dari tindakan ekspasioner yang tidak diantisipasi secara sempurna? . Sebutkan inflasi dari segi sebab! Uraikan inflasi yang timbul karena meningkatnya permintaan! Sebutkan alat-alat ukur inflasi! Sebutkan empat tingkatan inflasi menurut sifatnya! Nilai riil dari biaya pekerja meningkat dan pada akhirnya terjadilah pengangguran. Uraikan dampak-dampak penganguran! 6. Apakah pengertian dari pengangguran? b.

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 119 .

Dalam pencarian sumber penerimaan tersebut. Kedua sumber tersebut digambarkan oleh John F. Secara garis besar. minyak dan gas bumi) dapat dijual untuk . tentunya pemerintah akan memerlukan sumber-sumber penerimaan. sumber penerimaan negara dapat dikelompokkan menjadi dua sumber yakni dari dalam negeri dan luar negeri. listrik. terdapat beberapa cara. telepon.DASAR-DASAR PERPAJAKAN Dalam menjalankan tugas-tugas negara. Due sebagai berikut: § Penjualan Barang dan Jasa Milik Negara Barang dan jasa milik negara seperti tanah. dan barang produk perusahaan milik negara (misalnya pos. barang hasil sitaan yang menjadi hak negara. telegraf.

dicetak oleh negara untuk memenuhi kebutuhan akan dana. pemberi bantuan tersebut dilakukan karena adanya musibah di luar kontrol manusia. Bantuan ini biasanya bersifat kemanusiaan. Ketiga bidang tersebut memang sangat . Perpajakan Pada hakekatnya merupakan sumber dana yang berasal dari masyarakat yang diharapkan akan menjadi tulang punggung penerimaan negara.122 Bab 7: Dasar-dasar Perpajakan § § § § dipergunakan sebagai pemasukan kas negara. Pencetakan Uang Uang sebagai alat pembayaran yang sah. Penerimaan negara dari sektor ini dapat berupa pajak. Biasanya. walaupun tidak menutup kemungkinan akan ada latar belakang politik. apabila negara ingin menggunakan dana harus bersifat produktif. Pemberian bantuan jenis ini biasanya menyalurkannya melalui badan resmi seperti WHO. Walaupun sumber dana tersebut mudah diadakan. misalnya berupa obligasi atau dari luar negeri berupa pinjaman dari pemerintah negara lain baik secara individu maupun kelompok seperti World Bank. Asian Development Bank. pemberian bantuan tersebut tidak perlu ada pengembalian (kecuali hibah yang mengandung syarat pengembalian lunak). Oleh karena itu. tetapi mengandung resiko. pendidikan dan sosial. Hasil pemungutan pajak oleh pemerintah akan disalurkan kembali kepada masyarakat dalam bentuk sarana dan prasarana di bidang keamanan. FAO. di samping mempunyai fungsi yang lain. Oleh karena itu. International Monetary Fund dan sebagainya. Pinjaman Pinjaman merupakan suatu penerimaan yang mengandung konsekuensi untuk mengembalikan dalam jangka waktu tertentu ditambah jasa pinjaman berupa bunga. yakni akan mendorong laju inflasi jika jumlahnya tidak terkontrol. iuran dan sumbangan. COLOMBO PLAN atau bisa juga dari negara tertentu. Barang dan jasa tersebut dapat diusahakan oleh negara secara terus menerus sehingga kelangsungan sumber penerimaan dari sektor itu dapat dijaga. Bantuan dari Negara Lain Berbeda dengan pinjaman yang mengharuskan negara penerima mengembalikan dana pinjaman. UNESCO. Pinjaman tersebut dapat berasal dari dalam negeri. pajak merupakan cara yang paling efektif untuk membagi beban pemerintah kepada rakyat. Secara umum dapat dikemukakan bahwa pajak merupakan iuran kepada negara yang dapat dipaksakan. retribusi.

secara umum dapat digolongkan menjadi: § Pajak Pajak merupakan iuran dari rakyat (masyarakat) kepada negara (pemerintah) tanpa imbalan jasa langsung dan sifatnya dapat dipaksakan.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 123 dibutuhkan oleh masyarakat. pemerintah mempunyai kewenangan untuk mencetak uang (kertas/logam). § Sumbangan Berasal dari sumbangan masyarakat atas jasa-jasa yang diberikan oleh pemerintah kapada pemakai jasa. Pajak Kendaraan Bermotor dan sebagainya. Contohnya adalah Pertamina. iuran televisi dan sebagainya. Contohnya adalah Pajak Penghasilan (PPh). terlihat adanya imbal jasa secara langsung setelah pembayaran dilakukan. namun pencetakan uang itu akan membawa resiko inflasi. retribusi air minum. tidak mudah untuk memberikan batasan secara pasti terhadap macam-macam sumber penerimaan negara tersebut. § Keuntungan dari Perusahaan Negara Merupakan penerimaan pemerintah yang berasal dari penjualan barang dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan negara. Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPn dan PPnBM). Sumber dana itu setelah memperhitungkan berbagai aspek. Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa. Dalam iuran. § Pencetakan Uang Karena kekuasaan yang dimiliki negara. atau memohon pada bank sentral untuk memberikan pinjaman kepada pemerintah (walau tanpa jaminan). § Denda dan Sitaan Merupakan penerimaan yang berupa denda dari kegiatan pelanggaran peraturan/ undang undang serta hasil sitaan yang menjadi hak negara. serta sifat dan fungsi yang melekat pada tugasnya. § Pinjaman . oleh karena itu pencetakan uang perlu dilakukan dengan hati hati. Perumtel dan sebagainya. Contohnya adalah pembayaran perizinan (lisensi) dan pungutan pada jalan-jalan tertentu. Berdasarkan cara yang dapat ditempuh untuk memperoleh sember dana. Namun demikian. § Retribusi/Iuran Merupakan pembayaran dari masyarakat kepada pemerintah. harus mendapatkan persetujuan rakyat dari wakilnya di lembaga perwakilan rakyat. Contohnya adalah retribusi sampah.

2002).dalam pajak sehingga harus mengurangi konsumsi ataupun simpanan dalam satu tahun.000.124 Bab 7: Dasar-dasar Perpajakan § § Pinjaman diperoleh dengan konsekuensi pengembalian dalam jangka waktu tertentu ditambah dengan beban tetap berupa bunga. Penerimaan yang diperoleh melalui pajak biasanya digunakan untuk membeli input yang dibutuhkan dalam memproduksi ataupun menyediakan barang dan jasa pemerintah atau untuk redistribusi kekuatan daya beli masyarakat. Yang kedua adalah penerimaan pemerintah kemudian akan digunakan untuk menawarkan sumber daya yang dibutuhkan dalam penyediaan barang dan jasa pemerintah dan untuk menyediakan income support payments bagi penerima transfer dari pemerintah seperti social security pensiun. misalnya: Sumbangan Dana Sosial Berhadiah (SDSB).000.dan membayar 6. Misalnya adalah hadiah dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah atau dari pemerintah satu negara kepada negara lain. Pinjaman itu dapat berasal dari dalam negeri atau luar negeri misalnya melalui Consultative Group on Indonesia (CGI) Hasil Undian Negara Pemerintah memperoleh dana dari kelebihan penerimaan hasil penjualan kupon berhadiah setelah dikurangi dengan biaya-biaya penyelenggaraannya. FUNGSI PAJAK Pajak merupakan pembayaran yang diwajibkan yang dikaitkan dengan beberapa aktivitas (Hyman.000. . Realokasi pajak yang bersumber dari private ke pemerintah digunakan dalam dua tahapan. karena pajak akan mengurangi pendapatan untuk pengeluaran pada pasar barang dan jasa.000. Yang pertama adalah kemampuan individual untuk menguasai sumber daya berkurang. Hadiah Sumber dari jenis tersebut biasanya bersifat volunteer dan tanpa balas jasa baik secara langsung maupun tidak langsung. Namun demikian.. Misalnya: Jika seorang keluarga mempunyai pendapatan per tahunnya 30.. seringkali usaha memperoleh sumber dana dengan cara tersebut membawa pengaruh-pengaruh yang kurang baik.

fungsi pajak diletakkan pada tujuan memperoleh dana. Teori Adam Smith yang terkenal mengenai prinsip-prinsip pengenaan pajak mengacu pada empat hal yaitu: 1..000. Mekanisme perpajakan juga dapat diterapkan untuk mendorong atau mengurangi jumlah pendapatan yang dikonsumsikan. Barang dan jasa private yang semestinya dapat dibeli dengan 6. pemungutan pajak mempunyai fungsi yang lebih luas. Prinsip keadilan (equity) 2.000.000.. Prinsip kepastian (certainty) 3. Berdasarkan definisi pajak yang telah dikemukakan pada bagian terdahulu. Fungsi Anggaran (Budgetair) Disini.adalah merupakan Opportunity costs dari penyediaan barang dan jasa pemerintah untuk keluarga tersebut. yakni selain untuk mengisi kas negara. Untuk mengoptimalkan pelaksanaan kedua fungsi tersebut. pajak juga dapat dipakai sebagai alat untuk mengukur kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Prinsip ekonomi (economy) . Dengan sistem perpajakan. pemerintah dapat mendorong investasi yang menghasilkan barangbarang produksi tertentu atau sebaliknya. Tetapi pada kenyatannya.seharusnya dapat digunakan untuk membeli perlengkapan rumah tangga atau untuk membantu pembiayaan investasi pribadi. PRINSIP-PRINSIP PAJAK Pada awal bab digambarkan bahwa pajak tidak hanya berfungsi sebagai penggalangan dana masyarakat untuk membiayai pengeluaran publik tetapi juga dapat difungsikan sebagai regulator (pengatur).Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 125 6. kebijakan perpajakan dimaksudkan untuk mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang diinginkan dengan cara mengatur pola produksi dan konsumsi barang-barang ekonomi. Fungsi Mengatur (Regulator) Sedangkan pada fungsi regulator. Prinsip kenyamanan (convenience) 4. kebijakan perpajakan harus berlandaskan pada prinsip-prinsip yang relevan.000. yakni pajak digunakan untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran negara sehubungan dengan tugas-tugas untuk menyelenggarakan kesejahteraan dan kemakmuran. tampaknya memberikan kesan bahwa pajak dipungut pemerintah semata-mata sebagai sumber dana bagi pelaksanaan tugas-tugasnya.

SIKLUS ARUS PAJAK Pengenaan pajak kepada masyarakat dan dunia usaha secara umum dapat berbentuk pajak atas pendapatan dan pajak atas konsumsi. Prosedur pembayaran pajak harus dibuat semudah mungkin. Sehingga. Prinsip kenyamanan. sebisa mungkin dihindarkan adanya unsur-unsur menekan atau kekerasan. Upaya-upaya penarikan pajak harus disertai dengan kegiatan yang meminimalkan biaya pemungutan atau biaya-biaya lain yang dapat mengurangi penerimaan bersih negara. Wajib pajak sedapat mungkin tidak dikenakan biaya-biaya lain di luar kewajiban pajak murni. Prinsip ekonomi menegaskan pentingnya perbandingan antara biaya dan hasil yang efisien. Pembahasan selanjutnya akan memaparkan bahwa apapun kebijakan yang diambil. Jumlah nominal pajak yang dibayarkan oleh golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah harus lebih kecil dari golongan masyarakat yang lebih tinggi. tujuan penggunaan pajak untuk pembiayaan pengeluaran publik lebih mudah tercapai.126 Bab 7: Dasar-dasar Perpajakan Prinsip keadilan menekankan bahwa beban pajak harus disesuaikan dengan kemampuan relatif masyarakat. Hal ini juga perlu ditunjang dengan adanya kecukupan proses sosialisasi dengan memasukkan unsur-unsur kemajemukan masyarakat. Prinsip kepastian dimaksudkan agar pada pelaksanaan pemungutan pajak tidak terjadi distorsi berupa kesalahan yang disengaja (penyelewengan) atau yang tidak disengaja sebagai akibat dari kekurangpahaman. Kenyamanan wajib pajak dapat diberikan dengan bentuk pelayanan prima. Biaya pemungutan tidak dapat dijadikan target utama penerimaan negara dari pajak. menggarisbawahi pentingnya menciptakan kondisi yang menyenangkan bagi wajib pajak agar dengan sukarela memenuhi kewajiban-kewajibannya. Pajak atas . Kepada mereka yang patuh harus diberikan penghargaan yang setimpal. Dengan kata lain. pajak diharapkan dapat menjadi alat distribusi pendapatan secara lebih fair dan akan mengurangi kesenjangan pendapatan. Kebijakan perpajakan harus dibuat sesederhana mungkin dan diformulasikan menggunakan kata-kata yang meminimalkan adanya penafsiran ganda. prinsip keadilan yang memuaskan semua pihak tidak akan pernah tercapai. Dalam konteks ini.

pajak atas konsumsi berarti pengenaan tarif pajak atas seluruh pengeluaran.1 Pos yang pertama adalah pendapatan rumah tangga (1). Pendapatan rumah tangga ini kemudian akan mengalir dalam dua bentuk yaitu sebagian menjadi konsumsi rumah tangga (2) sebagai biaya pemenuhan kehidupan sehari-hari masyarakat dan sisanya menjadi tabungan rumah tangga (3).Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 127 pendapatan berarti adalah pengenaan tarif pajak terhadap seluruh pos-pos penerimaan rumah tangga dan perusahaan dalam siklus perekonomian. Untuk itu perlu diidentifikasi pos-pos penerimaan dan pengeluaran dalam siklus perekonomian. Sedangkan golongan masyarakat lainnya yang memiliki usaha yang menghasilkan produk dikategorikan sebagai perusahaan. Jumlah pendapatan rumah tangga yang dikonsumsi kemudian akan mengalir ke pasar barang konsumsi. sedangkan seluruh tabungan masyarakat diasumsikan . Siklus penerimaan dan pengeluaran dalam perekonomian pada umumnya adalah seperti gambar berikut: Gambar 7. Pendapatan rumah tangga adalah pendapatan golongan masyarakat yang diperoleh dari penghasilan upah atau gaji sebagai karyawan dan pendapatan jasa modal. Sebaliknya.

dan sewa. Adapun total penerimaan dari kedua pasar tersebut disebut penerimaan kotor perusahaan (7). jumlah pengenaan tarif pajaknya sama. jika pendapatan yang diterima oleh wajib pajak naik sebesar 100%. Sedangkan tabungan perusahaan bersama-sama tabungan rumah tangga. tujuan dari hukum pajak adalah membuat adanya keadilan dalam hal pemungutan pajak. secara umum akan terbagi atas tiga bentuk yaitu: 1. Sebagian pengeluaran perusahaan akan disisihkan untuk biaya penyusutan (9).128 Bab 7: Dasar-dasar Perpajakan mengalir menjadi bagian dari investasi (5) yang pada akhirnya mengalir ke pasar barang modal. dividen. berapapun jumlah kemampuan membayar seorang wajib pajak. maka secara . yaitu dengan memberikan tekanan yang sama kepada wajib pajak. Jumlah biaya gaji yang dibayarkan perusahaan akan menjadi pendapatan gaji (13) bagi rumah tangga. TARIF PAJAK Pada dasarnya. dan sebagian lagi dibayarkan perusahaan sebagai biaya gaji karyawan (11) sedangkan sisanya adalah keuntungan perusahaan (12). Sebagai ilustrasi. Dengan kata lain. Tarif Pajak Proposional (Proportional/ flat tax rate) 2. Keadilan di sini dapat diartikan sebagai adil dalam prinsip (undang undang) maupun adil dalam pelaksanaannya. Termasuk dalam keuntungan perusahaan adalah pendapatan jasa modal (14) yang dibayarkan kepada rumah tangga seperti bunga. Jika dilihat dari sudut pandang dasar penentuan tarif pajak. Tarif Pajak regresif (Regressive tax rate) Proportional/ flat tax rate adalah pengenaan pajak dengan tarif dalam persentase tertentu dengan tidak melihat perubahan pendapatan individu. Tarif Pajak Progresif (Progressive tax rate) 3. Sedangkan sisa keuntungan yang tidak dibagi (15) akan menjadi tabungan perusahaan (16). Salah satu unsur dalam mencapai keadilan melalui penerapan tarif pajak. Total penerimaan perusahaan tersebut selanjutnya sebagian akan digunakan sebagai pengeluaran perusahaan (8). Jumlah nominal konsumsi masyarakat akan sama dengan jumlah penerimaan kotor perusahaan dari pasar barang konsumsi (4) sedangkan jumlah investasi akan sama dengan jumlah penerimaan kotor dari pasar barang modal (6). diasumsikan akan menjadi investasi seluruhnya.

0 20.000 2. Sebagai ilustrasi.2: Pajak Progresif Pendapatan 1. Dengan kata lain. jika seorang wajib pajak mendapat kenaikan . Tabel di bawah ini akan menggambarkan bagaimana pajak progesif diterapkan. jumlah pendapatan yang lebih besar yang diterima oleh wajib pajak.0 Dalam praktek. jumlah pajak yang terhutang menjadi naik melebihi 100%.5% Progressive tax rate adalah pengenaan pajak dengan tarif meningkat seiring dengan peningkatan pendapatan individu. peningkatan jumlah kemampuan membayar seorang wajib pajak. Pajak Penghasilan (PPh) pasal 26 sebesar 20% dan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)sebesar 0.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 129 otomatis jumlah pajak yang terhutang menjadi naik sebesar 100%. jika kemampuan membayar seorang wajib pajak naik sebesar 100%. Sebagai ilustrasi.000 2.0 10.000 3. pajak yang menggunakan tarif proporsional adalah Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 10%.0 Regressive tax rate adalah pengenaan pajak dengan tarif menurun dengan makin meningkatnya pendapatan wajib pajak. akan dikenakan tarif yang lebih besar pula. Tabel 7.0 15. Tabel di bawah ini akan menggambarkan bagaimana pajak proporsional diterapkan.000 Pajak Nominal 100 200 300 % 10. semakin menurun tarif yang dikenakan.0 10.1: Pajak Proporsional Pendapatan 1. Dengan kata lain. Tabel 7.000 Pajak Nominal 100 300 600 % 10.000 3.

Pajak in Rem adalah pajak atas aktivitas atau obyek tertentu misalnya pembelian. Siapapun yang melakukan aktivitasaktivitas tertentu atau memiliki objek-objek pajak tertentu. Sedangkan jika konsumsi juga akan dikenai pajak.0 9. Tabel di bawah ini menggambarkan bagaimana tarif pajak regresif diterapkan.3: Pajak Regresif Pendapatan Pajak Nominal 1.000 2.0 8. atau pemilikan harta kekayaan. Pajak atas transaksi jual beli yang dikenakan terhadap perusahaan akan dapat . Pajak in Rem dapat dikenakan atas rumah tangga atau badan usaha.0 ISTILAH-ISTILAH DALAM PERPAJAKAN Pembahasan lebih lanjut mengenai perpajakan perlu dimulai dengan mengenal lebih jauh tentang definisi istilah yang sering muncul dalam dunia perpajakan. maka seluruh sumber pendapatan perseorangan harus digabung sebagai basis pembayar pajak.000 100 180 240 % 10. Aktivitas atau objek yang dikenakan pajak tidak terkait dengan karakteristik pihak-pihak yang melakukan transaksi atau pemiliknya. Pajak perseorangan yang dikenakan atas transaksi rumah tangga berupa pendapatan dan konsumsi. wajib membayar pajaknya. maka jumlah kenaikan pajaknya kurang dari 100%. Tabel 7. penjualan.130 Bab 7: Dasar-dasar Perpajakan pendapatan sebesar 100%. Beberapa istilah yang perlu mendapat perhatian khusus diantaranya adalah: § Pajak Perseorangan dan Pajak in Rem § Pajak Langsung dan Pajak Tidak Langsung § Pembayaran Transfer Pajak perseorangan adalah pajak yang dikenakan kepada orang per orang yang memperoleh penghasilan di mana besarnya jumlah yang terhutang disesuaikan dengan kemampuan untuk membayar pajak. Untuk menentukan kemampuan seseorang dalam membayar pajak atas pendapatan (personal income tax).000 3. maka pajak perseorangan diterapkan dalam bentuk pajak pengeluaran perseorangan (personal expenditure tax).

Pajak tidak langsung ini boleh dibebankan/dilimpahkan kepada pihak lain. misalnya adalah Penjualan Kena Pajak (BKP) dari pabrikan kepada pembeli. Pajak langsung adalah pajak yang berdasarkan surat ketetapan dikenakan terhadap perusahaan ataupun perseorangan dan dilakukan secara berkala. Ciri pajak langsung dapat ditinjau dari dua segi. Beban pajak ini tidak dapat dipindahkan kepada orang lain. Hal ini bertujuan agar pelaksanaan pemungutan menjadi lebih efisien dan efektif karena dengan satu wajib pungut akan bisa menjaring banyak wajib pajak. secara administratif. sedangkan produsen hanya sebagai wajib pungut. hanya saja pajak tersebut tidak dipungut secara berkala. Penggeseran beban pajak itu sifatnya menurunkan harga barang atau jumlah penerimaan yang diperoleh penjual. Pertama. Pergeseran beban pajak dapat ke depan (forward shifting) maupun ke belakang (backward shifting). secara administratif dipungut . yang berkaitan dengan nilai kekayaan dari perseorangan atau perusahaan. Pada dasarnya yang menjadi tujuan dari pajak tidak langsung adalah pihak ketiga (konsumen). Forward shifting merupakan pergeseran beban pajak searah dengan arus barang yaitu dari produsen ke konsumen. Pada sistem self assessment tidak selalu menggunakan surat ketetapan. secara ekonomis beban pajak harus ditanggung sendiri oleh wajib pajak yang bersangkutan. pajak tersebut dikenakan secara periodik pada waktu waktu tertentu sesuai dengan masa pajak berdasarkan surat ketetapan atau kohir (tindasan surat ketetapan). Kedua. Hal yang sama juga berlaku ketika mengenakan pajak terhadap harta kekayaan. pabrikan (produsen) dapat menekan harga dari supplier sebesar pajak pertambahan nilai yang harus dibayar. dimana pembeli harus membayar harga barang ditambah dengan Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Pergeseran itu sifatnya menaikkan harga barang karena pembeli harus membayar harga barang ditambah dengan pajak. Pajak tidak langsung adalah beban pajak yang harus dipikul oleh wajib pajak. Contoh dari pajak langsung adalah Pajak Penghasilan (PPh) dan Pajak Bumi Bangunan (PBB). Misalnya. Ciri pajak tidak langsung dapat dilihat dari dua segi. Pengenaan wajib pajak tidak langsung dilakukan dengan cara fiskus berhadapan dengan wajib pungut dan bukan dengan wajib pajak. Backward shifting merupakan pergeseran beban pajak yang berlawanan dengan arus barang dimana pembeli menggeser beban pajak kepada penjual. dan dapat beralih sampai dengan penanggung akhir beban tersebut. Pertama.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 131 diperlakukan juga terhadap semua rumah tangga yang melakukan transaksi.

BM). secara ekonomis. apabila kurva permintaan . Kesederhanaan aturan juga memungkinkan dilakukannya penelusuran dan pengecekan jika terjadi kesalahan dengan cepat tanpa perlu menggunakan formula audit yang kompleks. Dengan mudah dipahami. § Fungsi regulator yang dimiliki pemerintah dalam hal kebijakan perpajakan. dan perbuatan) tanpa didahului dengan surat ketetapan pajak. Hal ini dikarenakan kedua golongan tersebut dibebani tarif pajak yang sama untuk setiap transaksi atau kejadian tertentu. Hal ini tergantung dari tingkat elastisitas kurva permintaan dan penawaran untuk barang-barang terkena pajak tidak langsung. semua yang melakukan transaksi atau kejadian tertentu. Terdapat beberapa kebaikan dan kekurangan dari pajak tidak langsung. pada waktu-waktu tertentu berdasarkan adanya tatbestand (peristiwa. keadaan. yang diantaranya adalah sebagai berikut: Kebaikan Pajak Tidak Langsung: § Pajak tidak langsung cenderung lebih stabil digunakan sebagai sarana penerimaan negara dibanding pajak langsung. pemerintah lebih mudah memperkirakan dampak dari setiap kebijakan perpajakan yang dikeluarkan.132 Bab 7: Dasar-dasar Perpajakan secara insidentil. Kekurangan Pajak Tidak Langsung: § Kurangnya rasa berkeadilan antara golongan masyarakat yang berpenghasilan tinggi dengan masyarakat berpenghasilan rendah. diwajibkan melunasi pajak yang tertanggung. Kedua. § Karena dimungkinkannya terjadi penggeseran beban pajak kepada golongan wajib pajak lainnya. dapat dengan mudah diterapkan. § Teknik pemungutannya yang sederhana tidak memerlukan kegiatan administrasi yang kompleks. Contohnya adalah Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPn. penanggung akhir dari beban pajak tidak langsung belum tentu sesuai dengan target awal. tidak diperlukan banyak perangkat yang bertujuan untuk mensosialisasikan aturan tersebut. Jumlah nilai yang diperoleh melalui pajak tidak langsung cenderung lebih mudah diprediksi. Tanpa pandang bulu. § Biaya-biaya yang ditimbulkan akibat adanya penerapan pajak tidak langsung relatif lebih murah dibanding pajak langsung. Sebagai contoh. beban pajak dapat dilimpahkan kepada pihak lain. Dikarenakan kesederhanaan landasan aturan yang dipakai. § Pengenaan pajak dapat mengikutsertakan seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang besar kecilnya penghasilan yang diperoleh.

" ujar anggota Komisi IX DPR. Hal ini terutama diakibatkan sulitnya melakukan administrasi yang baik dan teliti untuk menerapkan pajak langsung. perbandingannya tidak sebesar itu. dan sebagainya. Pajak ini langsung terkait dengan penghasilan wajib pajak atau Nilai Jual Obyek Pajak. Dirjen Pajak membantah kalau dominasi pajak tak langsung ini hanya terjadi di Indonesia. karena lebih banyak pajak dikenakan pada konsumen. sedangkan pengusaha kena pajak hanya bertindak sebagai pemungut pajak. Misalnya. Perbandingan antara pajak tak langsung dengan pajak langsung sekarang ini. Misalnya Pajak Penghasilan (PPh) dan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Hal ini terjadi karena masyarakat tetap dijadikan obyek pajak oleh pemerintah untuk memperbesar target penerimaan pajak dalam negeri. Bea Masuk. Di saat krisis. Hal ini berarti. "Dominannya pajak tak langsung ini setahu saya hanya terjadi di Indonesia. Bea Balik Nama.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 133 suatu barang adalah elastis sempurna maka seluruh beban pajak tidak langsung akan menjadi tanggungan produsen. Direktur Jenderal Pajak yang dimintai pendapatnya mengakui keadaan itu. terutama bagi Wajib Pajak? Diskusikan! Menurut studi yang pernah dilakukan. mencerminkan masih tidak adanya rasa keadilan bagi masyarakat. antara 30:60. . pajak yang diterima sebagian besar negara-negara berkembang lebih banyak dari kategori pajak tidak langsung. krisis yang terjadi ini bukan karena kesalahan rakyat. Dengan kata lain. (Diadaptasi dari: www. pengusaha menggantikan pajak tadi dengan menekan ongkos produksi sehingga sama dengan jumlah pajak yang dipungut. pengusaha menekan keuntungan yang diperolehnya. Pengusaha seperti ini termasuk langka. 7 Juli 2000) Mengapa Pajak Tidak Langsung dianggap kurang memenuhi prinsip keadilan. tetapi karena diwajibkan." ujar anggota DPR. dimana rakyat dibebankan kewajiban pajak tak langsung yang lebih besar daripada pajak langsungnya. di sela-sela rapat kerja Komisi IX DPR dengan Menteri Keuangan berkaitan dengan pembahasan lima RUU Pajak di Panitia Khusus (Pansus) Pajak. Pajak tak langsung merupakan pajak yang bisa dialihkan ke pihak lain. Dominasi Pajak Tak Langsung Masih dominannya jenis pajak tak langsung dibandingkan dengan pajak langsung di lima Rancangan Undang-Undang (RUU) Pajak sekarang ini. beban yang ditanggung rakyat terus-menerus diperbesar hanya untuk meningkatkan target penerimaan negara. Sasaran pajak tak langsung ini sebenarnya konsumen. khususnya wajib pajak. Namun adakalanya.". dalam kondisi seperti itu beban pajak tidak langsung tidak dapat dialihkan kepada konsumen. "Hanya beda sedikit. Padahal.kompas. "Sebetulnya ini tidak adil. Namun. Sedangkan untuk negara-negara maju. Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan Barang.com. Sebaliknya. pihak pengusaha tidak mau bertindak sebagai pemungut pajak. pajak langsung adalah pajak yang harus ditanggung sendiri dan langsung oleh wajib pajak.

pajak langsung lebih banyak digunakan dalam instrumen fiskal di negara-negara tersebut. Prinsip kepastian (certainty) 3. Akibatnya. RANGKUMAN § § § Secara garis besar. Sedangkan pembayaran transfer oleh pemerintah dapat dipandang sebagai pajak negatif. tujuan dari hukum pajak adalah membuat adanya keadilan dalam hal pemungutan pajak. Keadilan di sini dapat diartikan sebagai adil dalam prinsip (undang undang) maupun adil dalam pelaksanaannya. Seluruh aliran dana yang masuk kas negara akibat diterapkannya kebijakan perpajakan biasa disebut sebagai pajak positif. Sebagai contoh. pajak atas konsumsi berarti pengenaan tarif pajak atas seluruh pengeluaran. Pada beberapa negara. sumber penerimaan negara dapat dikelompokkan menjadi dua sumber yakni dari dalam negeri dan luar negeri Pajak merupakan pembayaran yang diwajibkan yang dikaitkan dengan beberapa aktivitas Teori Adam Smith yang terkenal mengenai prinsip-prinsip pengenaan pajak mengacu pada empat hal yaitu: 1.134 Bab 7: Dasar-dasar Perpajakan peranan kebijakan fiskal adalah sangat penting. tunjangan sosial dapat diterapkan untuk memenuhi prinsip keadilan perpajakan. Pada dasarnya. Salah § § . Prinsip ekonomi (economy) Pengenaan pajak kepada masyarakat dan dunia usaha secara umum dapat berbentuk pajak atas pendapatan dan pajak atas konsumsi. Pajak atas pendapatan berarti adalah pengenaan tarif pajak terhadap seluruh pos-pos penerimaan rumah tangga dan perusahaan dalam siklus perekonomian. Misalnya adalah tunjangan sosial dan subsidi pajak terhadap beberapa jenis usaha tertentu. Sebaliknya. Prinsip kenyamanan (convenience) 4. Hal tersebut disubsidi silang oleh golongan masyarakat yang berpenghasilan menengah ke atas. Prinsip keadilan (equity) 2. program pensiun kepada semua pegawai akan menguntungkan golongan pendapatan yang rendah karena mereka memperoleh manfaat dari program ini melebihi jumlah kontribusi yang dibayarkan melalui pajak penghasilan yang progresif. Pembayaran transfer atau grant oleh pemerintah dapat dianggap sebagai arus pajak dengan arah yang berlawanan.

Pajak perseorangan adalah pajak yang dikenakan kepada orang per orang yang memperoleh penghasilan dimana besarnya jumlah yang terhutang disesuaikan dengan kemampuan untuk membayar pajak. 4. penerimaan cenderung lebih banyak didapat dari sektor pajak tidak langsung? Apa yang disebut dengan pajak positif dan pajak negatif? Jelaskan mengenai Pajak in Rem dan Pembayaran Transfer! Sebutkan kelebihan dan kekurangan dari Pajak Tidak Langsung! . 9. Progressive tax rate adalah pengenaan pajak dengan tarif meningkat seiring dengan peningkatan pendapatan individu. Sebutkan unsur-unsur yang terkandung dalam pengertian pajak! Sebutkan dan jelaskan mengenai prinsip dasar pengenaan pajak! Jelaskan bagaimana hubungan sistem perpajakan yang berlaku di suatu negara dengan pertumbuhan ekonomi di negara tersebut! Apa tujuan pemerintah mendirikan perusahaan-perusahaan negara? Apakah perbedaan antara pajak dengan retribusi? Mengapa dalam negara-negara berkembang. Proportional (flat) tax rate adalah pengenaan pajak dengan tarif dalam persentase tertentu dengan tidak melihat perubahan pendapatan individu. yaitu dengan memberikan tekanan yang sama kepada wajib pajak. penjualan. 7. 3. Beban pajak ini tidak dapat dipindahkan kepada orang lain Pajak tidak langsung adalah beban pajak yang harus dipikul oleh wajib pajak hanya saja pajak tersebut tidak dipungut secara berkala LATIHAN 1. Pajak langsung adalah pajak yang berdasarkan surat ketetapan dikenakan terhadap perusahaan ataupun perseorangan dan dilakukan secara berkala.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 135 § satu unsur dalam mencapai keadilan melalui penerapan tarif pajak. atau pemilikan harta kekayaan. 6. 2. 5. 8. Regressive tax rate adalah pengenaan pajak dengan tarif menurun dengan makin meningkatnya pendapatan wajib pajak. Pajak in Rem adalah pajak atas aktivitas atau obyek tertentu misalnya pembelian.

136 Bab 7: Dasar-dasar Perpajakan .

KEADILAN DAN DAMPAK PERPAJAKAN Pada kenyataannya. Suatu sistem pajak dikatakan adil bila kontribusi yang diberikan oleh setiap . tetapi kurang adil dari sisi yang lain. Pendekatan pertama adalah prinsip manfaat (benefit principle). Lebih lanjut pembahasan keadilan perpajakan dikaitkan dengan beberapa jenis pajak. sulit sekali didapat suatu formula kebijakan perpajakan yang memenuhi seluruh aspek keadilan. Suatu kebijakan dianggap adil jika dilihat dari satu sisi. Tidak ada suatu kebijakan yang bisa memuaskan seluruh pelaku ekonomi. PRINSIP MANFAAT Setiap orang setuju bahwa sistem perpajakan harus adil dimana setiap wajib pajak harus memberikan kontribusinya yang layak untuk membiayai kegiatan pemerintah. Untuk itu perlu dibandingkan prinsip-prinsip yang menerangkan bagaimana konsep keadilan dapat dibakukan.

sistem pajak dipisahkan dari sisi pengeluaran publik. termasuk diantaranya adalah pendapatan. Praktek penerapan kebijakan fiskal berdasarkan prinsip manfaat lebih banyak ditetapkan pada penyediaan jasa-jasa publik berdasarkan prinsip manfaat yang khusus. pola konsumsi. dan kekayaan. Agar sistem perpajakan dengan prinsip manfaat bisa adil. prinsip manfaat memandang perekonomian sektor publik sebagai sektor yang melibatkan pengeluaran maupun penerimaan yang berkesinambungan. Agar prinsip manfaat dapat dilaksanakan. Keuntungan penyediaan jasa publik model ini adalah dapat meringankan beban keuangan pemerintah. PRINSIP KEMAMPUAN MEMBAYAR Yang kedua adalah prinsip kemampuan membayar (ability to pay principle). Kemampuan membayar seseorang . sistem pajak yang adil akan tergantung dari struktur pengeluaran publik. Oleh karena itu. Perekonomian memerlukan suatu jumlah penerimaan tertentu dan setiap wajib pajak diminta untuk membayar sesuai dengan kemampuannya. Dalam halnya pengenaan pajak melalui pembebanan langsung terhadap pengguna. Berdasarkan prinsip ini. penyediaan jasa-jasa publik oleh pemerintah dilaksanakan dengan prinsip-prinsip yang sama seperti yang dilakukan oleh swasta. Pendekatan ini menyebabkan sisi pengeluaran publik menjadi tidak jelas. Ukuran kemampuan membayar mencerminkan kesejahteraan secara menyeluruh yang dapat diperoleh seseorang. konsumsinya bersaing secara bebas. Mekanisme pasar dapat diterapkan untuk mendapatkan posisi tawar menawar yang efisien.138 Bab 8: Keadilan dan Dampak Perpajakan wajib pajak sesuai dengan manfaat yang diperoleh dari jasa-jasa pemerintah. Prinsip manfaat cenderung mengalokasikan penerimaan pajak untuk membiayai jasa-jasa publik tetapi tidak terlalu mempertimbangkan pembiayaan transfer serta tujuan redistributif. manfaat yang diperoleh wajib pajak atas terjadinya pengeluaran publik harus diketahui terlebih dahulu. harus diasumsikan bahwa ketika sistem tersebut mulai diberlakukan sudah terdapat distribusi yang tepat dalam perekonomian. Manfaat hanya dapat diperoleh apabila pemakai dapat membayar. Agar prinsip kemampuan membayar dapat diterapkan. harus diketahui terlebih dahulu bagaimana cara mengukur kemampuan tersebut. Misalnya pembebanan bea (bea cukai dan bea masuk) serta pajak pengganti pembebanan seperti pajak BBM dan pajak kendaraan dalam rangka pembiayaan jalan raya. Pendekatan kemampuan membayar ini lebih baik dalam hal mengatasi masalah redistribusi akan tetapi mengabaikan masalah-masalah yang berkaitan dengan penyediaan jasa-jasa publik. misalnya biaya penggunaan sarana transportasi dan penyediaan fasilitas bandar udara. Menurut prinsip ini. Dengan penetapan harga.

. Dalam arti.9 10. Adapun perbandingan dari metode pengenaan pajak terhadap pendapatan dan konsumsi dari prinsip kemampuan membayar tercermin dari tabel berikut. Ilustrasi pada pajak penghasilan 1 Berkeadilan horizontal adalah bahwa orang-orang yang mempunyai kemampuan yang sama harus membayar dengan jumlah yang sama.82 0 0 0 0 10 10 10 11 99 0 11 10 Gaji Pajak Konsumsi Tabungan 100 10 90 0 100 10 0 90 100 10 90 0 100 0 0 100 Pajak Konsumsi Total Pajak Nilai Sekarang (PV) Pajak = 10%. pemborosan harus dikenakan pajak. Pendapat lain mengatakan bahwa tabungan adalah konsumsi yang ditunda. Inflasi/Bunga = 10% Pengenaan pajak yang didasarkan atas diterimanya pendapatan (termasuk pendapatan dari bunga tabungan) akan menyebabkan total pajak yang dibayar oleh wajib pajak menjadi lebih besar dan akan berbanding lurus dengan besarnya jumlah pendapatan yang ditabung.1 0 10. Prinsip ini dianggap lebih berkeadilan secara horizontal dan vertikal1.1: Perbandingan Pajak Penghasilan dan Pajak Konsumsi Pajak Penghasilan Periode I • • • • Periode II • • • • Bunga Pajak Konsumsi Tabungan 0 0 0 0 10 10 9 0.9 98. Berkeadilan vertikal adalah bahwa orang-orang yang mempunyai kemampuan yang lebih besar harus membayar pajak dengan jumlah yang lebih besar pula. Tabel 8. sedangkan kebajikan harus diberi penghargaan. Dan apabila tabungan masyarakat memperoleh bunga. Hobbes berpendapat bahwa kewajiban membayar pajak harus dikaitkan dengan pendapatan yang dibelanjakan bukan yang ditabung.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 139 tentunya akan meningkat jika pendapatan meningkat. jumlah pajak yang dibayar ikut meningkat apabila seluruh tabungan tersebut dikonsumsikan.

perlu juga diperhatikan keadilan pajak dari sudut pandang dimensi horizontal dimana pengenaan pajak terhadap seseorang harus lebih rendah dari kemampuannya membayar 3 dan prinsip keadilan pajak secara geografis 2 Kondisi ini diasumsikan nilai bunga sama dengan inflasi. 3 Sebagai ilustrasi.140 Bab 8: Keadilan dan Dampak Perpajakan menggambarkan bahwa apabila seluruh pendapatan setelah dikurangi pajak dikonsumsi habis. . Apabila kekayaan individu dapat diwariskan kepada individu lain tanpa dikenakan pajak. Di samping melihat keadilan pajak dari sudut pandang dimensi vertikal. maka tidak akan ada tambahan pendapatan pada periode II (berikutnya) dari tabungan gaji periode I. Sebaliknya kekayaan individu bisa menambah pendapatan pemiliknya sebagai pendapatan barang-barang modal. KRITERIA UMUM KEADILAN PERPAJAKAN Prinsip keadilan perpajakan didasarkan pada distribusi pengenaan pajak untuk memenuhi belanja publik yang harus didasarkan pada proporsi kekayaan dan pendapatan masyarakat. kekayaan individu dan warisan bisa dikenakan pajak. Atas dasar ini. pendapatan tersebut selamanya bisa tidak dikonsumsi dan tidak kena pajak. Hal ini disebabkan karena pajak akan tetap dipungut tanpa melihat kapan pendapatan akan dikonsumsi sehingga jumlah pajak yang harus dibayar oleh wajib pajak mempunyai nilai sekarang yang sama. Sedangkan tambahan pajak akan dikenakan terhadap bagian gaji yang ditabung yang mendapat bunga. Ilustrasi pajak atas konsumsi tersebut di atas terlihat lebih adil. jumlah total pajak yang dibayar memiliki nilai sekarang yang sama2 Apabila pajak atas konsumsi yang dipilih. Secara konsep. tidak dipungkiri jika orang kaya juga ikut menikmati sebagian keuntungan dari adanya belanja negara. keadilan perpajakan mengimplikasikan proses redistribusi kekayaan masyarakat dimana orang kaya membayar lebih banyak dari orang yang lebih miskin (dimensi vertikal). Dalam prakteknya. yang pada akhirnya akan menjadi kekayaan individu. pajak terhadap seorang petani harus lebih rendah dari hasil pertanian yang dimilikinya. ditabung atau dikonsumsi. Keadaan ini menyebabkan orang cenderung untuk mengurangi tabungan. Pada umumnya. Bagian pendapatan itu adalah pendapatan yang ditabung dan tidak pernah dikonsumsi. dimungkinkan adanya bagian pendapatan yang tidak pernah kena pajak. Atau dengan kata lain. negara menganut prinsip ini dalam rangka memenuhi tuntutan keadilan dalam hukum walaupun pada pelaksanaannya masih banyak menimbulkan perbedaan-perbedaan.

Di samping itu. Ketidakakuratan dalam penghitungan pajak terhutang akan mengakibatkan ketidakadilan karena akan menimbulkan adanya pajak yang lebih bayar atau kurang bayar. masyarakat golongan ekonomi rendah akan dikenakan pajak yang ringan dan bahkan dapat dibebaskan dari kewajiban pajak seluruhnya. Dalam konsep ini. hal ini tentunya juga akan dipengaruhi oleh metode assesment dan akurasi penghitungan pajak terhutang.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 141 dimana orang-orang yang tinggal pada daerah tertentu akan dikenakan pajak yang lebih tinggi. Distribusi pembebanan pajak yang adil dipengaruhi oleh cakupan faktorfaktor siapa yang membayar. dan pajak dikatakan tidak adil jika sumber pendapatan tertentu dikenakan pajak tinggi sementara sumber tersebut memiliki kontribusi yang besar terhadap perekonomian nasional. Penghasilan tersebut merupakan daya beli individu atas barang dan jasa selama satu tahun yang dapat dikonsumsikan atau disimpan untuk keperluan di masa mendatang. apa jenis pendapatannya serta bagaimana tarif pajaknya. Tidak jarang para pelaku ekonomi yang kuat menyuarakan keluhan-keluhannya terhadap kebijakan pajak baru yang dapat menggangu kegiatan bisnisnya. Sulitnya menerapkan metode assesment yang baik juga muncul dalam hal menentukan subjek pajak yang dikecualikan. . Beberapa penulis berpendapat bahwa pajak akan dikatakan adil jika kenaikan pajak akan dikompensasikan dengan penyediaan pendidikan dan transportasi umum yang murah. PRINSIP KEADILAN DAN PAJAK PENGHASILAN Pajak penghasilan biasanya dihitung atas jumlah penghasilan selama satu tahun. Struktur pajak yang progresif cenderung akan lebih mudah dicapai pada struktur perekonomian yang mapan. kemiskinan. tentunya keadilan pajak juga harus memperhitungkan besarnya jumlah tanggungan dalam keluarga4. dibawah umur. serta pengaruh kekuatan orang-orang kaya terhadap kebijakan politik nasional. dan cacat dikecualikan dari subjek kena pajak. Beberapa hambatan yang mungkin terjadi dalam menentukan suatu kebijakan perpajakan adalah keadaan ekonomi dan politik suatu negara. 4 Pada negara-negara yang relatif maju dalam perekonomian cenderung dapat mempercayai dokumen-dokumen yang membuktikan adanya hak atas pengecualian pajak. ketakutan akan efek negatif pajak terhadap produksi dan investasi nasional. Kebijakan perpajakan dianggap adil jika faktor-faktor seperti lanjut usia. Prinsip keadilan pajak dapat juga dilihat dari sisi penerimaan dan pengeluaran. Di samping itu. terbatasnya volume pendapatan masyarakat yang dapat dikenakan pajak.

beban pajak. dan kenaikan nilai kekayaan. Pengukuran akan relatif menjadi lebih mudah jika kekayaan yang dimiliki berupa saham dan obligasi. akan terdapat item-item pengeluaran yang erat kaitannya dengan kegiatan memperoleh pendapatan seperti pembelian peralatan kerja. biaya penitipan anak.142 Bab 8: Keadilan dan Dampak Perpajakan Pajak penghasilan dapat dikategorikan sebagai pajak individu dan pajak badan. pakaian kerja. dan tabungan. tentunya perlu dilakukan penghitungan berapa pendapatan yang sesungguhnya setelah dimasukkan unsur inflasi sebagai penyeimbang. tunjangan dari pemerintah atau swasta. Sedangkan berdasarkan penggunaannya pendapatan masyarakat dapat berupa pembelian barang dan jasa. sumbangan. Kebanyakan sistem akuntansi menggunakan sisi sumber sebagai alat ukurnya. Jika dilihat dari sisi pengeluaran. Pengeluaran-pengeluaran tersebut tentunya diperlukan dalam rangka mendapatkan penghasilan dan tidak . Pendapatan masyarakat dapat diukur berdasarkan sumber perolehannya ataupun penggunaannya. Berdasarkan sumber perolehannya. pajak penghasilan akan dikenakan kepada setiap orang yang memiliki penghasilan tanpa melihat umur atau jumlah yang diterimanya. Sebagai pajak individu. Beberapa ahli menyarankan untuk memasukkan unsur tambahan yakni peningkatan kekayaan sebagai bagian dari pendapatan kena pajak. iuran serikat pekerja. dan transportasi dari/menuju tempat kerja. pajak akan dikenakan atas keuntungan badan usaha yang diterima oleh para pemegang saham sesuai dengan proporsi nilai saham yang dimilikinya. Dengan demikian. Sebagai pajak badan. pendapatan adalah seluruh penerimaan selama periode pajak yang berupa keuntungan jasa. Pendapatan masyarakat tersebut dapat digambarkan dengan persamaan sebagai berikut: I = C + ΔNW Dimana: I = Pendapatan tahunan (annual income) C = Konsumsi tahunan (annual consumption) ΔNW = Perubahan kekayaan bersih setahun (annual change in net worth) Metode untuk mengukur pendapatan baik berdasarkan sumber perolehannya ataupun penggunaannya harus ditentukan sebelum pajak penghasilan dijalankan.

seharusnya hal-hal yang mempengaruhi pengeluaran rumah tangga juga ikut diperhitungkan. wajib pajak dimungkinkan untuk menerima pendapatan selain uang tunai. biaya pendidikan yang bervariasi tentunya akan sangat mempengaruhi pola pengeluaran rumah tangga. dimana seorang wajib pajak misalnya menerima pinjaman kendaraan yang dapat digunakan untuk keperluan pribadi atau tunjangan makan yang diberikan tidak dalam bentuk uang. 7 Hal-hal seperti jumlah anggota keluarga. Pada akhirnya. Baik prinsip keadilan secara horizontal maupun secara vertikal. 6 Pendapatan jenis ini sering terjadi pada usaha-usaha kecil yang memproduksi barang atau jasa. Akan tetapi. Yang menjadi pertanyaan. kerumitan cenderung 5 Biaya pelatihan juga masih dalam perdebatan apakah dapat dikategorikan sebagai pengeluaran yang dapat mengurangi pendapatan kena pajak. Contoh lain adalah fringe benefit. Semua itu dapat dikategorikan sebagai pendapatan yang tidak tercermin dalam gaji yang tertera (nonpecuniary returns). Supaya lebih adil. perbedaan pendapat dalam hal kebijakan yang berkeadilan lebih kompleks lagi pada pajak penghasilan. dapat dikatakan bahwa konsep keadilan dalam perpajakan masih dapat diperdebatkan. Adapun alasan yang mendasari ketidaksetujuan mereka dapat dilihat dari dua kebijakan yang biasa berkaitan dengan pajak progresif. Kegiatan ini tentunya akan menambah kekayaan bersih wajib pajak. Pada kenyataannya akan terjadi seorang wajib pajak memperoleh suatu produk atau menerima jasa yang dihasilkan sendiri sehingga tanpa harus mengeluarkan sejumlah uang. biaya kesehatan. Pertama adalah kebijakan pendapatan tidak kena pajak. perumusan rancangan kebijakan fiskal lebih memerlukan perhatian khusus. Kompensasi dari adanya kebijakan ini adalah rumitnya pelaksanaan peraturan dalam praktek. kesulitan akan muncul pada saat menghitung berapa nilai tambah kekayaan yang timbul sebagai akibat dari adanya transaksi non moneter ini (income in kind)6. Sedangkan secara vertikal. hal hal yang seperti ini biasanya luput dari pengenaan pajak. . apakah kesetaraan kemampuan ekonomi bisa dijewantahkan sebagai kesamaan tingkat pendapatan. Dengan demikian.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 143 menambah kekayaan wajib pajak sehingga layak untuk dikeluarkan dari jumlah pendapatan kena pajak5. akan tapi. Pada beberapa kasus. masih terdapat beberapa pendapat yang kurang setuju jika keadilan secara vertikal dilambangkan dengan tarif pajak progresif. dikatakan bahwa pengenaan pajak harus sesuai dengan kesetaraan kemampuan ekonomi masyarakatnya. Secara umum. Secara horizontal. atau kesetaraan ini hanya diukur dari jumlah pendapatan yang diterima saja dengan sama sekali mengabaikan potensi perbedaan pengeluaran dari masing-masing rumah tangga 7 .

Hal ini dipercaya akan dapat mendorong masyarakat untuk lebih meningkatkan tabungannya di samping kegiatan administrasi perpajakannya yang cenderung akan menjadi lebih mudah. Wajib pajak cenderung mempermainkan tempo pengakuan suatu pendapatan untuk menghindari pengenaan tarif pajak yang lebih tinggi. golongan masyarakat ini cenderung untuk mengkonsumsi seluruh pendapatan yang . warisan akan dikenai pajak seketika pada saat setelah wajib pajak diumumkan meninggal dunia. pinjaman yang dikonsumsikan akan tetap dikenai pajak. pinjaman tidak dikenakan pajak. Pada pajak penjualan. Dalam pajak penjualan. PRINSIP KEADILAN DAN PAJAK PENJUALAN Dalam pajak penjualan. terdapat semacam penundaan pajak penghasilan sampai terjadi konsumsi atas bagian dari penghasilan tersebut. Hal ini disebabkan karena hanya porsi penghasilan yang dibelanjakanlah yang akan dikenai pajak. Jika dalam pajak penghasilan seluruh konsumsi dan tambahan kekayaan wajib pajak akan dikenakan pajak. Bebeda dengan apa yang diterapkan pada pajak penghasilan.144 Bab 8: Keadilan dan Dampak Perpajakan mendorong keengganan dan penyelewengan wajib pajak. Pengenaan pajak penjualan akan lebih dirasakan dampaknya oleh golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah. Pajak penjualan sama sekali tidak dipengaruhi inflasi. Kedua adalah kebijakan pengenaan tarif pajak yang lebih tinggi untuk setiap tambahan pendapatan. Untuk menghindari akumulasi pendapatan yang tidak kena pajak sebagai akibat wajib pajak meninggal dunia. Perbedaan yang menarik antara pajak penjualan dengan pajak penghasilan adalah pada dana yang tersedia berupa ‘pinjaman’. pada pajak penjualan tambahan kekayaan tersebut (yang biasanya dari tabungan) dikeluarkan dari basis pajak. selisih lebih kekayaan wajib pajak secara moneter sebagai akibat dari adanya inflasi tidak akan membuat kemampuan membayarnya meningkat karena wajib pajak tersebut harus membelanjakan penghasilannya dengan harga yang telah terinflasi. prinsip umum yang ingin dicapai adalah bahwa jumlah pendapatan masyarakat yang ditabung seharusnya tidak perlu dikenakan pajak. Basis yang menyeluruh terhadap kajian pajak penjualan dapat diturunkan dari basis pajak penghasilan. capital gain harus memperhitungkan tingkat inflasi sebelum menentukan jumlah kena pajak. Sebagaimana telah dijelaskan oleh ilustrasi pada awal bab. Sedangkan pada pajak penghasilan. Justru bunga yang timbul sebagai akibat dari adanya pinjaman tersebut akan dapat mengurangi dasar penghasilan yang dikenai pajak. Hal ini dikarenakan.

PRINSIP KEADILAN DAN PAJAK KEKAYAAN Kekayaan adalah akumulasi dari tabungan dan investasi suatu negara. akan menjadi sangat sulit untuk mengukur berapa jumlah tambahan pendapatan dari kegiatan sewa tersebut. memperoleh hibah atau mewarisi kekayaan keluarganya. Seorang wajib pajak yang tidak mampu menabung. Mengembalikan jumlah pajak penjualan yang dibayar kepada masyarakat dengan standar penghasilan tertentu. seorang penilai independen akan ditunjuk untuk mengestimasikan nilai kekayaan . 2003): 1. Seorang wajib pajak dapat memiliki kekayaan melalui kegiatan menabung. 3. Jika hal ini terjadi. Mengenakan tarif pajak yang lebih tinggi untuk beberapa jenis produk yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat berpenghasilan tinggi. Mengurangi atau mengeliminasi pengenaan pajak yang lebih banyak dikonsumsi oleh golongan masyarakat berpenghasilan rendah. Pengukuran nilai kekayaan akan semakin menjadi lebih sulit jika kekayaan tersebut berupa kekayaan yang tak berwujud (intangible asset). Banyak pendapat yang setuju jika pajak kekayaan diterapkan. tidak memperoleh hibah/hadiah atau warisan tidak akan pernah disebut kaya. terutama dalam hal kekayaan yang jarang diperjualbelikan. Makin besar pendapatan golongan masyarakat. Estimasi nilainya sering meleset dari nilai yang sesungguhnya. 4. Dalam hal kekayaan yang dimiliki dengan cara hutang. Memperbanyak item aktivitas penjualan kena pajak yang hanya mungkin dilakukan oleh golongan masyarakat berpenghasilan tinggi.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 145 dimilikinya. dapat ditempuh oleh pemerintah seperti (Ulbrich. makin tinggi pula persentase pendapatan yang ditabung. Mengadministrasikan pajak kekayaan cenderung lebih sulit. Secara umum pada pajak kekayaan. Untuk menghindari hal tersebut. Hal ini dikarenakan banyak wajib pajak yang berpenghasilan rendah namun pada kenyataannya mereka memiliki sejumlah kekayaan dan mereka memungut sewa atas pemanfaatan kekayaan tersebut oleh orang lain. beberapa langkah. Sedangkan golongan masyarakat yang berpenghasilan tinggi memiliki kesempatan untuk menabung sebagian pendapatannya. 2. nilai bersih kekayaan harus dikurangi dulu dengan jumlah total hutang supaya tidak terjadi penghitungan ganda.

pengenaan tarif akan didasarkan atas estimasi nilai yang dihasilkan. Berkaitan dengan penerimaan negara. Jika tujuannya adalah untuk mengoptimalkan tingkat produksi. kebijakan perpajakan yang dapat ditempuh dengan mengenakan pajak tidak langsung.146 Bab 8: Keadilan dan Dampak Perpajakan tersebut. Untuk mengukurnya 8 Kekayan yang dimaksud disini adalah berupa kekayaan atas benda-benda seperti rumah. Jika hasilnya dirasa memadai. para pegawai. pajak langsung yang progresif lebih tepat untuk diterapkan. Pajak kekayaan cenderung bersifat regresif. penanggung akhir dari adanya pengenaan pajak kekayaan makin sulit ditentukan karena melibatkan pemilik usaha. Mobil dan kekayaan lainnya. terkadang total excess burden tidak sama dengan total penerimaan negara. yang artinya bahwa pajak kekayaan lebih menguntungkan golongan masyarakat yang berpenghasilan tinggi karena nilai uang yang dikeluarkannya sebagai pajak akan jauh lebih rendah dibandingkan dengan nilai uang untuk pajak kekayaan yang dikeluarkan oleh golongan masyarakat berpenghasilan rendah. . Dalam dunia usaha. Sistem tersebut tidak boleh terlalu membebani perekonomian. Sebaliknya jika tujuan yang ingin dicapai adalah pemerataan penghasilan. dan pemilik kekayaan. konsumen. penurunan pendapatan penjual tidak diikuti dengan peningkatan kuantitas yang tersedia untuk dibeli. Excess Burden adalah tambahan biaya yang membebani masyarakat di atas jumlah pajak yang seharusnya dibayar. Tentu saja hal ini harus memperhitungkan tren kenaikan harga sewa sehingga dapat mencerminkan nilai pasar sesungguhnya. Excess burden disebabkan adanya kelebihan biaya pajak yang bersedia dibayar oleh pembeli dibandingkan dengan jumlah yang diterima oleh penjual. Efficiency Effect Sistem perpajakan yang baik adalah sistem perpajakan yang memberikan pengaruh terbaik terhadap perekonomian negara. Dengan kata lain. Problem distribusi pajak yang muncul akan menjadi lebih kompleks diprediksi keadilannya apabila kekayaan tersebut disewakan kepada pihak ketiga. Aplikasi pengenaan pajak terhadap kekayaan tersebut akan menjadi lebih mudah diterapkan jika pemilik dan pengguna kekayaan tersebut adalah orang yang sama. Hal ini mengakibatkan adanya keuntungan yang hilang sebagai akibat dari terdistorsinya keseimbangan harga pada kurva permintaan dan penawaran. Pada prinsipnya dapat dikatakan bahwa target pengenaan pajak kekayaan8 adalah pemiliknya. Cara lain yang dapat dipakai untuk mengukur nilai sebuah kekayaan adalah dengan menghitung nilai sekarang (present value) dari potensi pendapatan sewa selama masa manfaat kekayaan tersebut.

Analisa tersebut kadang juga memerlukan pembahasan parameter yang tersembunyi. Statutory Incidence merujuk pada pelaku-pelaku ekonomi yang secara hukum terlibat dalam pendistribusian pembebanan pajak. Kajian-kajian yang dilakukan mengenai tax incidence tergantung dari tersedianya sumber daya dan antisipasi pemindahan beban. Absolute Tax Incidence menggambarkan suatu kebijakan distribusi . ketika menganalisa penanggung beban pajak perseroan. perlu diformulakan sebuah teori ekonomi tentang perubahan harga yang dipengaruhi pajak. Hal ini dimungkinkan karena pelaku ekonomi yang secara hukum berkewajiban membayar pajak kepada pemerintah belum tentu menggunakan dana pribadi atau dengan kata lain dapat membebankan pajaknya kepada pelaku ekonomi yang lain. misalnya elastisitas harga produk tertentu. Ketika mengidentifikasi distribusi beban pajak. Sedangkan Economic Incidence lebih mengarah pada pengaruh pendistribusian pembebanan pajak pada tingkat ekulibrium harga atau tingkat perekonomian secara umum. maka akan timbul pertanyaan tentang kebijakan pajak apa yang yang dapat dibandingkan dengan pajak perseroan tersebut. Dengan mengurangi pengenaan pajak yang menimbulkan excess burden lebih besar dalam jumlah nominal yang sama. tarif pajak dapat diturunkan tanpa mempengaruhi jumlah total penerimaan negara. Untuk menentukan manakala beban pajak dipindahkan. Berkenaan dengan dimungkinkannya memindahkan beban pajak kepada pelaku ekonomi lain secara keseluruhan atau sebagian (tax shifting) maka pembahasan tax incidence dapat dibagi dalam dua konsep yakni statutory incidence dan economic incidence. Misalnya.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 147 digunakan efficiency-loss ratio yakni Excess Burden dibagi Tax Revenue yang dapat diformulasikan dengan persamaan sebagai berikut: efficiency-loss ratio = W/ R dimana: W = Excess Burden R = Tax Revenue Estimasi efficiency-loss ratio penting dilakukan untuk meminimalkan total excess burden pada sistem perpajakan nasional. Economic Incidence lebih sulit dianalisa dibanding Statutory Incidence. Tax Incidence adalah teori yang mempelajari pelaku-pelaku ekonomi mana yang sesungguhnya menanggung beban pajak. perlu dispesifikasikan alternatif atas kebijakan pajak tersebut.

Hubungan dari ketiga unsur tersebut adalah pendapatan nasional sama dengan jumlah konsumsi ditambah jumlah tabungan (Y = C + S). Kadang-kadang yang muncul adalah jumlah tabungan (S) lebih besar dari jumlah investasi (I) atau dengan kata lain. dan pengangguran. Sebaliknya Differential Tax Incidence menyoroti keadaan pendistribusian beban pajak yang memiliki beberapa alternatif lain yang berfungsi sama dengan kebijakan pajak dimaksud. Apabila seluruh tabungan (S) digunakan sebagai investasi (S = I). maka tidak akan pernah terjadi inflasi atau deflasi. Kondisi ini menyebabkan kegairahan ekonomi dan kenaikan harga (inflasi). DAMPAK PAJAK Terhadap Sistem Ekonomi Keseluruhan Secara umum. penurunan harga (deflasi).148 Bab 8: Keadilan dan Dampak Perpajakan beban pajak yang tidak memiliki pembanding. Yang sering terjadi justru jumlah tabungan lebih rendah dari jumlah investasi (S < I). tidak semua tabungan digunakan untuk investasi (S > I) maka akan terjadi kelesuan ekonomi. jumlah konsumsi (C) dan tabungan (S). struktur perekonomian nasional (tanpa pajak) terdiri dari pendapatan nasional (Y). .

Harga-harga cenderung terus naik sampai tidak ada lagi perbedaan antara tabungan dan investasi. Sebaliknya. Sebagai contoh. Barang-barang yang tingkat permintaannya inelastis sempurna tidak akan terpengaruh dengan adanya pengenaan pajak. Pada tingkat pendapatan nasional sebesar 0Y (S=I). menggeser kurva C+I ke atas dengan menerapkan pajak atas tabungan. Sebaliknya pada tingkat pendapatan 0Y2 (S>I) terdapat deflationary gap dimana hargaharga cenderung terus turun sampai tidak ada lagi perbedaan antara tabungan dan investasi. pajak dapat menyebabkan pergeseran penggunaan faktorfaktor produksi. Seberapa jauh pengaruh pajak terhadap penggunaan faktor-faktor produksi dipengaruhi elastisitas permintaan terhadap barang-barang yang dihasilkan.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 149 Gambar 8. tidak ada inflasi ataupun deflasi.1 : Hubungan antara tingkat Pendapatan Nasional. menimbulkan adanya beberapa alternatif pilihan yang dapat diambil oleh para pelaku ekonomi. Konsumen akan membayar seluruh beban pajak yang ditambahkan pada harga barang. dengan tingkat Konsumsi dan tingkat Investasi Gambar di atas menunjukkan hubungan antara tingkat pendapatan nasional (Y). Pada tingkat pendapatan 0Y1 (S<I) terdapat inflationary gap. perusahaan dapat saja mengurangi produksi barang-barang yang merupakan objek pajak dan meningkatkan produksi barang-barang lain yang masih belum merupakan kategori barang kena pajak. Pada kondisi ini. jika elastisitas permintaan barang adalah sempurna. instrumen pajak dapat digunakan untuk menurunkan tingkat inflasi. perekonomian dalam keadaan seimbang. Terhadap Komposisi Produksi Pajak dapat digunakan sebagai pendorong kepada pelaku ekonomi untuk melakukan aktivitas tertentu dengan memberikan insentif-insentif. menggeser kurva C+I ke bawah dengan menerapkan pajak atas konsumsi. Berkaitan dengan dimungkinkannya penerapan insentif pajak pada suatu daerah tertentu. dengan tingkat konsumsi (C) dan tingkat investasi (I). Dengan kata lain. Pada kondisi ini. Perusahaan lain dapat saja berpindah lokasi industri dari suatu tempat yang mengenakan pajak yang tinggi ke tempat yang memberikan insentif pajak. Pergeseran yang dimaksud adalah mengubah pola produksi sehingga menghasilkan barang-barang yang lebih rendah biaya produksinya akibat tarif pajak yang lebih kecil atau beralih produksi. perusahaan tidak dapat . instrumen pajak dapat digunakan untuk menurunkan tingkat deflasi.

. permintaannya terhadap penghasilan rendah sehingga elastisitas penawaran usaha dalam hubungannya dengan penghasilan adalah rendah juga.. Bahkan pertumbuhannya dua kali lebih tinggi dari tetangga mereka yang kaya di UE sepanjang 2004 lalu. Bagi sebagian orang.. Sedangkan bagi mereka yang kurang peduli dengan gaya hidup mewah.. Polandia.. anggota lama UE. Terhadap Usaha Kerja Sebagian besar penerimaan negara dari pajak di Indonesia adalah pajak penghasilan yang dikenakan atas pendapatan para pegawai. pajak yang relatif rendah. seperti Jerman dan Perancis.. PERBEDAAN PAJAK ... Hal itu antara lain upah buruh yang relatif murah. Hongaria dan Ceko lebih tergantung pada ekspor ke UE seperti Jerman. Jika pilihan kedua yang dilakukan maka akan dapat dikatakan bahwa pajak mempunyai pengaruh negatif terhadap kemauan usaha kerja.. yang bergabung dengan UE pada Mei 2004. ... Sementara itu...6 persen. Secara teoritis.. Sehingga elastisitas penawaran usahanya adalah tinggi.. pengaruh pajak terhadap kemauan kerja individu memiliki sifat yang lebih kompleks.. pegawai-pegawai tersebut mempunyai dua pilihan yaitu bekerja atau tidak bekerja (memanfaatkan waktu santai) akibat adanya pengenaan pajak penghasilan. turunnya pendapatan justru akan mendorong kemauan kerja yang lebih besar. Reaksi individu terhadap pengenaan pajak lebih banyak ditentukan oleh elastisitas penawaran usaha. pajak akan dapat menyebabkan orang menjadi kurang giat bekerja.. Kombinasi itu membuat ekonomi negara-negara tersebut tumbuh lebih cepat. Hongaria 3.. Data terbaru dari Eurostat-kantor statistik Uni Eropa (UE)-memperlihatkan rata-rata pertumbuhan ekonomi 4. dikenakan pajak yang ringan.4 persen pada sembilan bulan pertama 2004 untuk empat negara itu.9 persen pada periode yang sama..3 persen diikuti Polandia 4. dan meningkatnya kepercayaan investor. dan Hongaria.. Bagi golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah.. Tidak setiap kenaikan pajak akan memberi dampak negatif pada tabungan masyarakat ataupun investasi. Dengan demikian... Slowakia. Pada kenyataannya.. Sehingga disarankan untuk barang-barang yang memiliki elastisitas tinggi.. anggota baru Uni Eropa-sebuah pasar tunggal diuntungkan oleh berbagai kombinasi. mencatatkan pertumbuhan ekonomi masing-masing 1..8 persen.. Slowakia mengungguli kawasan dengan pertumbuhan ekonomi 5. biasanya permintaannya terhadap penghasilan adalah tinggi.3 persen dan 1. Ceko.. Orang lebih memilih untuk mempunyai lebih banyak waktu santai.150 Bab 8: Keadilan dan Dampak Perpajakan mengalihkan beban pajaknya pada harga barang..7 persen. Rata-rata pertumbuhan untuk empat negara itu dua kali lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan ekonomi di UE.. dan Ceko 3. pajak tidak menimbulkan disinsentif untuk bekerja..

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi

151

Ekspor meningkat pesat seiring dengan hilangnya birokrasi di kepabeanan dan turisme melonjak karena maspakai penerbangan murah (budget airlines) mulai menjangkau negara yang sebelumnya tidak terjamah. Investasi asing berdatangan seiring dengan keyakinan mereka akan keadaan yang jauh lebih baik di negara-negara itu. Sebuah studi yang dilakukan oleh kantor akuntan publik, Ernst & Young, memperlihatkan bahwa arus investasi asing di Eropa naik 27 persen selama enam bulan pertama 2004. Ada sebanyak 1.432 proyek baru pada tahun 2004 dibandingkan dengan hanya 1.126 proyek baru pada paruh pertama tahun 2003 lalu. Investor UE juga mengutamakan anggota baru UE itu sebagai sasaran investasi. Hongaria memenangkan proyek lebih banyak ketimbang Jerman. Republik Ceko dan Polandia jauh lebih baik dalam pemasukan investasi baru ketimbang Spanyol. Slowakia menenggelamkan Austria sebagai tujuan investasi baru. Iklim perpajakan yang merangsang di Eropa Tengah telah membuat Zona Euro merasa gugup, khususnya Jerman dan Perancis-dua perekonomian terbesar di Uni Eropa. Zona Euro adalah julukan bagi sebelas negara di Uni Eropa yang menggunakan mata uang euro. Keputusan-keputusan oleh sejumlah perusahaan untuk merelokasi dan melakukan outsourcing produksi ke Eropa Tengah telah melahirkan perdebatan panas di Uni Eropa. Outsourcing adalah tindakan melakukan produksi ke pihak lain karena bisa dilakukan dengan lebih murah…………………….

Terhadap Distribusi Pendapatan
Tujuan pembangunan suatu negara pada umumnya adalah peningkatan pendapatan per kapita nasional, penciptaan lapangan kerja, dan distribusi pendapatan yang merata dan keseimbangan dalam neraca pembayaran internasional. Secara teori, semakin tinggi pendapatan seseorang, semakin tinggi pula persentase pendapatan yang ditabung. Dari kelompok-kelompok kaya inilah diharapkan sejumlah dana tabungan yang dapat digunakan untuk investasi. Dengan kata lain, masyarakat kelompok miskin tidak punya kemampuan tabungan dan investasi. Menurut pengertian ini, pendapatan nasional yang dikenai pajak akan banyak mempengaruhi turunnya jumlah tabungan masyarakat bukan pada porsi pendapatan yang dikonsumsi yang diasumsikan tetap. Tetapi pada kenyataannya, keadaan di negara-negara berkembang termasuk Indonesia, pola konsumsi masyarakat cenderung lebih tinggi dari pola konsumsi masyarakat di negara-negara maju. Sehingga sulit didapatkan dana tabungan masyarakat. Penarikan dana masyarakat secara sukarela dengan iming-iming bunga yang tinggi pada akhirnya juga ikut berpengaruh pada tingkat inflasi nasional. Berdasarkan kenyataan tersebut, kebijakan perpajakan di Indonesia lebih banyak diterapkan untuk mengurangi kesenjangan pendapatan di masyarakat. Hal ini dilakukan dengan menerapkan tarif pajak progresif dan minimum pendapatan yang dapat dikenakan pajak. Kelemahan dari tarif pajak progresif

152

Bab 8: Keadilan dan Dampak Perpajakan

adalah menekan pada kelompok-kelompok kaya pemilik modal sehingga mereka malas bekerja, menabung, dan melakukan investasi.
PERBEDAAN PAJAK (Lanjutan................................) Perdebatan itu muncul karena relokasi produksi ke Eropa Tengah itu telah membuat terjadinya kehilangan pekerjaan Eropa Barat dan juga di Asia serta Afrika. Alasan utama relokasi adalah upah buruh murah di Eropa Tengah. Soal upah buruh, rata-rata gaji di Jerman adalah enam kali lebih tinggi dari rata-rata gaji di Eropa Tengah. Alasan kedua adalah sistem perpajakan yang lebih menguntungkan perusahaan. Pajak perusahaan di Jerman dan Perancis masing-masing 38,3 persen dan 34,3 persen. Tingkat perpajakan yang tinggi itu memberikan dampak buruk pada investor potensial dan mendorong keluar investor yang ada sekalipun dari Jerman dan Perancis. Dengan tingkat pajak yang 16 persen, Hongaria merupakan negara dengan tingkat perpajakan terendah di antara empat negara Eropa Tengah, yang diikuti Polandia 19 persen. Slowakia mengenakan pajak flat (sama rata) sebesar 19 persen-untuk korporasi, pendapatan perorangan, dan pajak pertambahan nilai. Sistem perpajakan di Slowakia itu benar-benar menjadi alat yang sangat efektif untuk merangsang masuk investor asing, yang sekaligus membuat Slowakia menjadi hub bagi manufaktur otomotif. Sementara itu, tingkat pajak di Republik Ceko adalah 28 persen, tetapi masih lebih rendah dari Jerman dan Perancis. Dalam dua tahun terakhir, PSA Peugeot Citroen (Perancis) dan Kia Motors Corporation (Korea Selatan) telah mulai membangun pabrik-pabrik di Slowakia untuk memproduksi 500.000 mobil per tahun yang akan terlaksana pada 2006. Ford Motor Co (perusahaan otomotif AS) dan Getrag Group (Jerman), Desember 2004 lalu mengumumkan rencana untuk membangun pabrik transmisi (mesin) senilai 399 juta dollar AS di Slowakia timur. Aliran masuk investasi asing ke Eropa Tengah didorong oleh keanggotaan di UE dan sumber daya manusia yang lebih berkualitas, dan faktor itu akan terus berperan sebagai pendukung utama arus masuk FDI (Foreign Direct Investment) dalam jangka menengah. Masa depan juga cukup prospektif bagi negara-negara tersebut, karena investor asing masih terus berminat melakukan ekspansi ke wilayah itu pada 2005. Paris dan Berlin telah secara terang-terangan mengkritik sistem perpajakan di Eropa Tengah. Hal itu menimbulkan tekanan pada anggota-anggota baru UE untuk meningkatkan perpajakan mereka, atau terancam kehilangan subsidi dari UE. Namun Eropa Tengah tampaknya tidak terintimidasi oleh tekanan dari rekan mereka di UE dan bahkan merencanakan melakukan penurunan perpajakan. (Diadaptasi dari: www.kompas.com 21 Februari 2005) Setujukah Saudara dengan kebijakan yang diterapkan negara-negara Eropa Tengah? Diskusikan!

KRITERIA TARIF PAJAK
Pertumbuhan ekonomi akan terjadi apabila lebih banyak masyarakat yang bekerja, menabung sebagian pendapatannya serta menginvestasikan nilai tabungannya. Hal-hal tersebut menurut Daniel J Mitchell (2003) adalah perilaku-perilaku yang dapat meningkatkan kekayaan nasional. Masyarakat tidak begitu saja bekerja secara produktif dengan diterapkannya anggaran pendapatan dan belanja berimbang. Mereka juga tidak begitu saja

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi

153

meningkatkan tabungan dan investasi apabila dikenakan tarif pajak rendah atau subsidi perpajakan lainnya. Untuk meningkatkan pendapatan nasional sesuai dengan karakteristik masyarakat di suatu negara, para pengambil keputusan bidang pajak harus mengkonsentrasikan pada hal-hal yang berakibat positif terhadap prilaku bekerja, menabung, dan berinvestasi. Mitchell (2003) memaparkan sembilan petunjuk kebijakan perpajakan yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi sebagai berikut: § Penurunan tarif pajak tidak perlu diterapkan seragam untuk seluruh wajib pajak. Beberapa opsi tarif pajak yang dipungut akan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi karena tarif pajak yang rendah dapat membuat masyarakat yang produktif menjadi semakin giat bekerja. Sedangkan bagi sebagian masyarakat lainnya yang cenderung kurang peduli dengan pungutan pajak, penurunan tarif pajak tidak akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. § Fokus pada pertumbuhan ekonomi, bukan pada penurunan tarif. Beberapa kebijakan insentif pajak atau subsidi dapat berakibat hanya mengurangi jumlah penerimaan negara tanpa menghasilkan peningkatan kegiatan ekonomi secara signifikan. Beberapa negara telah membuktikan bahwa deregulasi perpajakan yang kecil pengaruhnya terhadap turunnya penerimaan negara justru dapat meningkatkan gairah investasi dunia usaha.
Tarif Tunggal........................ "Dana Moneter Internasional (IMF) mendukung rencana pemerintah untuk menerapkan tarif tunggal pajak penghasilan (PPh) badan. Sebab, hal itu dianggap akan menyerderhanakan cara perhitungan pajak dan memberikan kepastian bagi pengusaha dibanding dengan tarif PPh berlapis yang selama ini diberlakukan. IMF yakin, pemberlakukan tarif tunggal PPh ini akan mendongkrak sumber pendapatan baru negara." "Penerapan tarif tunggal PPh itu telah banyak diberlakukan negara-negara di dunia. Hasilnya cukup mengembirakan. Namun, Indonesia tidak boleh meniru begitu saja dan perlu ada penyesuaian," ujar Kepala Perwakilan IMF untuk Indonesia akhir pekan lalu. Sebagaimana diketahui, Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak mengusulkan, pemberlakukan tarif tunggal PPh sebesar 30% untuk badan (perusahaan) besar dan nantinya diturunkan secara bertahap menjadi 25%. Masalah ini sudah diakomodasi dalam draf RUU Pajak, yang diharapkan masuk ke DPR Juni 2005. Kini RUU Pajak itu sudah diserahkan kepada Presiden. Kepala Perwakilan IMF mengatakan, rencana pemberlakukan tarif tunggal PPh itu cukup baik asalkan diikuti implementasi di lapangan oleh aparat pajak dan wajib pajak (WP). Sebab, selama ini banyak WP di Indonesia, khususnya badan, mengeluh rumitnya perhitungan pajak, sehingga tingkat kepatuhan dan ketaatan membayar pajak menjadi rendah dibanding dengan potensi WP yang ada.

154

Bab 8: Keadilan dan Dampak Perpajakan

Dia menilai, jika tarif tunggal pajak itu dapat diturunkan ke 25% pada tahun pertama, kemungkinan besar jumlah WP badan yang membayar pajak akan meningkat. Sebab, bagi sebagian besar WP perusahaan besar, tarif 30% itu masih terlalu besar. "Tapi sebagai tahap awal, hal itu sudah cukup bagus sehingga perusahaan dapat mengetahui persis berapa pajak yang harus dibayarkan setiap tahun," katanya. Selanjutnya dia mengatakan, selain penyederhanaan tarif tunggal PPh, Ditjen Pajak harus menyederhanakan cara pengisian dan pelaporan pajak lewat self-assessment (menghitung sendiri pajak). Karena tidak ada gunanya tarif disempurnakan, tapi cara perhitungan dan pengisian masih berbelit-belit, sehingga WP enggan melaporkan harta dan kekayaannya......................................

§

§

Kebijakan yang baik menghasilkan penerimaan negara lebih banyak. Jika keadaan perilaku masyarakat wajib pajak adalah produktif, penurunan tarif pajak justru meningkatkan jumlah penerimaan negara. Agar pelaksanaan kegiatan pemerintah tidak terganggu, harus diperhitungkan cara-cara yang dapat mengkompensasikan turunnya penerimaan negara akibat pengenaan tarif yang lebih rendah. Jumlah potensi tambahan konsumsi masyarakat akibat adanya penurunan tarif pajak kurang signifikan terhadap peningkatan kegiatan ekonomi dibandingkan dengan turunnya jumlah total penerimaan negara. Untuk itu perlu diupayakan suatu kebijakan pelengkap yang dapat meng-offset selisih penurunan penerimaan negara tersebut. Pada akhirnya penurunan tarif pajak tidak merubah total pengeluaran, pendapatan nasional, dan pertumbuhan ekonomi.

Tarif Tunggal (lanjutan........................) Ia mengaku, jika Ditjen Pajak mampu meningkatkan rasio pajak terhadap PDB rata-rata 2% setiap tahun, itu akan membantu sumber pendapatan negara. Sehingga, defisit APBN setiap tahun secara berangsur-angsur dapat dikurangi. Mengenai tarif tunggal PPh sebesar 10% bagi pengusaha kecil dan menengah (UKM), dia mengatakan, hal itu sangat mendorong pertumbuhan UKM sebagai salah satu lokomotif pertumbuhan ekonomi. Yang menjadi kendala, tegasnya, penentuan kriteria sebagai UKM harus jelas dan transparan. Namun Dewan Penasehat Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) menilai, usulan Ditjen Pajak tentang pemberlakuan tarif tunggal pajak penghasilan (PPh) badan sebesar 30% akan memberatkan pengusaha. Selama ini cukup banyak pengusaha yang membayar PPh dengan tarif 15% dan 20%." "Sedangkan, bagi pengusaha kecil dan menengah (UKM) yang akan dikenai tarif tunggal PPh sebesar 10%, itu sangat meringankan. Tapi bagaimana dengan perusahaan yang biasa membayar 15% dan 20%, di luar UKM," katanya Pernyataan itu menanggapi usulan Ditjen Pajak yang telah dituangkan dalam draf RUU Pajak yang baru. Selama ini, pengusaha membayar PPh 15% bila perusahaannya memperoleh laba bersih di bawah Rp 50 juta, dan 20% untuk Rp 50 juta dan 30% di atas Rp 50 juta. Lewat RUU itu, Ditjen Pajak mengusulkan agar diberlakukan tarif tunggal untuk PPh badan. Yakni 10% untuk UKM dan 30% untuk non-UKM.

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi

155

Selain mengusulkan tarif tunggal, Ditjen Pajak juga memberikan fasilitas perpajakan bagi sektor usaha tertentu. Hal itu dilakukan guna menarik minat investor melakukan bisnis di Indonesia. Di antara fasilitas perpajakan itu, yakni penghapusan kadaluarsa dipercepat dari 10 tahun menjadi lima tahun. Di samping itu, Ditjen Pajak juga memperpanjang kompensasi kerugian dari lima tahun menjadi paling lama 10 tahun. Sementara itu, pengusaha yang mendapat kredit investasi sebesar 30% dibebaskan dari pembayaran pajak selama enam tahun. Tarif PPh atas dividen turun dari 20% menjadi 10%. (Diadaptasi dari berbagai artikel yang diterbitkan Investor Daily Ind.) Diskusikan efek-efek yang mungkin timbul di Indonesia seandainya tarif pajak tunggal diterapkan!

§

§

§

§

§

Pertumbuhan ekonomi tidak diakibatkan oleh peningkatan konsumsi. Justru sebaliknya, pertumbuhan ekonomi sebagai faktor yang mendorong jumlah total konsumsi sebagai akibat dari meningkatnya jumlah daya beli masyarakat. Untuk itu, sebaiknya kebijakan publik tidak mengedepankan motif yang berupaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan jalan mendorong konsumsi. Kebijakan pajak yang berdampak positif pada jangka pendek biasanya berdampak positif pula pada jangka panjang. Sebagai contoh, insentif pajak investasi dalam jangka pendek akan menarik minat pemodal masuk ke dalam negeri. Secara jangka panjang, faktor produksi tersebut akan juga mendorong pertumbuhan ekonomi agregat menjadi lebih baik. Efisiensi belanja negara penting dilakukan. Meskipun beberapa pos-pos belanja negara membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi seperti penyediaan keamanan dan penegakan hukum, studi membuktikan bahwa banyak pengeluaran publik yang justru berefek negatif terhadap pertumbuhan ekonomi. Efisiensi belanja negara dapat dilakukan dengan merampingkan struktur pemerintahan. Pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh investasi yang produktif. Dana investasi terutama diambil dari tabungan masyarakat. Investasi dan tabungan, keduanya dipengaruhi oleh tingkat suku bunga. Sedangkan tarif pajak adalah salah satu faktor yang mempengaruhi suku bunga. Untuk itu perlu dikembangkan kebijakan pajak yang mendorong iklim investasi dan menabung. Defisit belanja negara dapat berpengaruh pada turunnya tingkat suku bunga. Tetapi pengaruhnya kurang signifikan dibanding pengaruh faktorfaktor lain seperti pasar modal. Riset akademis yang dihasilkan menunjukkan bahwa tidak ada korelasi positif antara anggaran surplus, berimbang, atau defisit dengan tingkat suku bunga.

156

Bab 8: Keadilan dan Dampak Perpajakan

Inti dari sembilan petunjuk di atas adalah segala upaya kebijakan pajak seharusnya difokuskan pada pertumbuhan ekonomi nasional dengan memberikan insentif pada aktivitas-aktivitas produktif nasional. Walaupun di beberapa negara penurunan tarif pajak justru dapat meningkatkan penerimaan negara dan pertumbuhan ekonomi, penurunan tarif bukanlah satu-satunya cara yang dapat diambil pemerintah.

KRITERIA STRUKTUR PAJAK YANG BAIK
Kebijakan perpajakan akan memberi dampak yang signifikan jika disusun secara komprehensif, dengan mempertimbangkan seluruh dampak yang dapat ditimbulkan pada level ekonomi makro. Seperti dikutip dari Musgrave (1989), kriteria yang bisa menentukan baik tidaknya sebuah kebijakan perpajakan dapat dilihat sebagai berikut: § Penerimaan/pendapatan harus ditentukan dengan tepat. § Distribusi beban pajak harus adil. Setiap orang harus dikenakan pajak sesuai dengan kemampuannya. § Penanggung akhir beban pajak harus menjadi pokok perhatian. § Peraturan perpajakan harus mendukung kebijakan perekonomian dan mendorong pasar yang efisien. § Struktur pajak harus memudahkan penggunaan kebijakan fiskal untuk mencapai stabilisasi dan pertumbuhan ekonomi. § Sistem pajak harus menerapkan administrasi yang wajar dan mudah dipahami oleh wajib pajak. § Biaya administrasi dan biaya-biaya pembayaran pajak lainnya harus dibuat serendah mungkin. Penerimaan pajak harus dirumuskan secara tepat, merefleksikan kemampuan membayar dari seluruh wajib pajak yang ada sehingga tidak terlalu besar atau terlalu kecil. Jika jumlah yang ditetapkan terlalu besar, dikhawatirkan investor tidak akan mau menanamkan modalnya di dalam negeri. Hal ini akan mengakibatkan multiplier efek yang diharapkan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi menjadi tidak tercapai, pada akhirnya, jumlah target penerimaan pajak tidak akan pernah tercapai. Sebaliknya jika jumlah yang ditetapkan terlalu kecil, dikhawatirkan jumlahnya tidak akan dapat membiayai kegiatan-kegiatan pemerintah yang bermanfaat dalam menciptakan value yang dapat merangsang perputaran gerak roda ekonomi. Keadilan perpajakan pada intinya adalah bahwa beban pajak harus terdistribusi sedemikian rupa sehingga target pencapaian penerimaan pajak

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi

157

bisa diimbangi dengan mengurangi kesenjangan pendapatan golongan masyarakat yang kaya dengan golongan masyarakat miskin. Kecilnya kesenjangan ini akan bisa mendorong stabilisasi yang kondusif bagi perbaikan ekonomi nasional. Adanya kemungkinan peralihan beban pajak kepada penanggung akhir, perlu dilakukan pengkajian mendalam dengan melakukan simulasi secara menyeluruh untuk dapat memperoleh gambaran dampak pembebanan penanggung akhir terhadap stabilisasi ekonomi. Untuk itu, perlu dibuat aturanaturan teknis yang sederhana sehingga akan dapat menghindarkan terjadinya salah sasaran. Jika pajak diterapkan atas produk-produk tertentu, hal ini perlu dikaji serius mengenai elastisitas permintaan dan penawarannya dalam ekonomi pasar. Ekonomi yang terus tumbuh dan pasar yang efisien harus terus dijaga agar kemakmuran masyarakat tidak rusak akibat adanya penerapan kebijakan perpajakan. Kemungkinan pergeseran titik ekuilibrium kurva permintaan dan penawaran harus terus diantisipasi dan terus diawasi dengan memasukkan unsur-unsur spesifik para pelaku ekonomi setempat. Kebijakan perpajakan harus tetap mengindahkan konsep stabilitas ekonomi. Harus dapat ditentukan pada awal perumusan kebijakan bahwa implementasinya pada akhirnya akan meminimalkan gejolak ekonomi, misalnya dengan adanya kegiatan sosialisasi yang memadai. Ekonomi yang sering bergejolak biasanya tidak menguntungkan iklim investasi. Dengan kata lain, investor-investor terutama para pemodal asing sangat mengharapkan adanya kepastian iklim berusaha. Segala kebijakan harus mengacu pada kesederhanaan. Rumusan-rumusan yang dipakai harus menghindari kesalahpahaman massal yang menyebabkan kekacauan pada proses administrasi. Simulasi terhadap bakal munculnya kekeliruan yang tidak diharapkan harus disiapkan secara matang. Simulasi tersebut bisa menggunakan beberapa skenario yang berbeda dan mengamati hasilnya. Segala biaya yang tidak berkaitan langsung dengan beban pajak sesungguhnya harus diminimalkan. Hal ini untuk memberikan kepastian berusaha bagi para pemilik modal dalam rangka menghitung proyeksi keuntungan investasi. Dengan demikian, risiko biaya tinggi yang tidak terduga akibat penyelewengan peraturan oleh oknum pelaku ekonomi bisa dieliminasi.

RANGKUMAN

158 §

Bab 8: Keadilan dan Dampak Perpajakan

§

§

§

§

§ §

§ §

§

§

Tidak ada suatu kebijakan yang bisa memuaskan seluruh pelaku ekonomi. Suatu kebijakan dianggap adil jika dilihat dari satu sisi, tetapi kurang adil dari sisi yang lain. Menurut prinsip manfaat (benefit principle), suatu sistem pajak dikatakan adil bila kontribusi yang diberikan oleh setiap wajib pajak sesuai dengan manfaat yang diperoleh dari jasa-jasa pemerintah. Prinsip kemampuan membayar (ability to pay principle) menginginkan sistem pajak dipisahkan dari sisi pengeluaran publik. Pendekatan kemampuan membayar ini lebih baik dalam hal mengatasi masalah redistribusi, tetapi mengabaikan masalah-masalah yang berkaitan dengan penyediaan jasa-jasa publik. Prinsip keadilan perpajakan didasarkan pada distribusi pengenaan pajak untuk memenuhi belanja publik yang mana harus didasarkan pada proporsi kekayaan dan pendapatan masyarakat. Keadilan vertikal adalah prinsip keadilan dimana pengenaan pajak untuk memenuhi belanja publik harus didasarkan pada proporsi kekayaan dan pendapatan masyarakat. Keadilan horizontal adalah prinsip keadilan dimana pengenaan pajak terhadap seseorang harus lebih rendah dari kemampuannya membayar. Excess Burden adalah tambahan biaya yang membebani masyarakat di atas jumlah pajak yang seharusnya dibayar. Excess burden disebabkan adanya kelebihan biaya pajak yang bersedia dibayar pembeli dibanding jumlah yang diterima oleh penjual. Tax Incidence adalah teori yang mempelajari pelaku ekonomi mana yang sesungguhnya menanggung beban pajak. Pada kondisi inflasi, kebijakan pajak dapat digunakan untuk mengurangi konsumsi dengan jalan menghambat investasi dan memberi insentif pada tabungan. Pada kondisi deflasi, kebijakan pajak dapat digunakan untuk mendorong konsumsi dengan jalan memberi insentif investasi dan memajaki tabungan. Pajak dapat menyebabkan pergeseran penggunaan faktor-faktor produksi dengan mengubah pola produksi sehingga menghasilkan barang-barang yang lebih rendah biaya produksinya akibat tarif pajak yang lebih kecil atau beralih produksi. Bagi sebagian orang, pajak dapat menimbulkan disinsentif untuk bekerja. Tetapi reaksi individu terhadap pengenaan pajak lebih banyak ditentukan oleh elastisitas penawaran usaha. Elastisitas penawaran yang tinggi,

Jelaskan dengan singkat dampak perpajakan terhadap distribusi pendapatan! 8. Apa yang dimaksud dengan pajak kekayaan bersifat regresif? Mengapa inflasi tidak dapat mempengaruhi pengenaan pajak penjualan? Faktor apa saja yang memungkinkan seseorang mendapat hak atas pengecualian pajak? 4. 3. Apa yang dimaksud dengan Excess Burden? Apa sebab muncul dan bagaimana akibat yang dapat ditimbulkannya? 5. 2. justru akan mendorong kemauan kerja yang lebih besar. Jelaskanlan bagaimana suatu investasi mempengaruhi pertumbuhan ekonomi suatu negara! . Terangkan bagaimana insentif pajak dapat mempengaruhi komposisi produksi suatu perusahaan! 7. LATIHAN 1.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 159 dimana dengan turunnya pendapatan. Definisikan Tax Incidence! Dan jelaskan konsep Statutory Incidence dan Economic Incidence yang terdapat dalam Tax Incidence! 6. Jelaskan dalam kondisi yang bagaimana penurunan pajak tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi nasional! 9. Bagaimana kebijakan pajak yang berdampak positif dalam jangka pendek dapat pula berdampak positif dalam jangka panjang? Jelaskan dengan contoh! 10.

Setelah kedaulatan diserahkan kepada Pemerintah Indonesia. Selama masa revolusi. Yang ada hanyalah kantor iuran negara yang menerima pembayaran pajak dari beberapa pedagang. peraturan pajak ini diubah dengan Ordonansi Perpajakan tahun 1944 yang digunakan oleh Pemerintah Kolonial Jepang untuk melakukan pungutan-pungutan terhadap hasil pertanian sebagai pajak. Pada tahun 1944. peraturan perpajakan Belanda dipergunakan kembali dengan melakukan penataan dan perluasan seperlunya. tidak ada pungutan pajak yang berarti dapat dikumpulkan.PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK PRIBADI Pajak penghasilan pertama kali diberlakukan di Indonesia sebagai suatu sistem perpajakan integral yang diterapkan oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Pertama kali diberlakukan dikenal dengan nama Pajak Pendapatan 1932 atau Inkomsten Belasting 1932. Sehingga .

Pajak Perseroan (PPs) serta Pajak atas Bunga. Penghasilan Bruto . Setelah reformasi perpajakan tahun 1983. Dividen dan Royalti (PBDR). Undang-Undang ini mengalami perubahan dan perbaikan sebanyak tiga kali. disebut sebagai penghasilan bruto. dapat dipakai untuk konsumsi atau menambah kekayaan wajib pajak yang bersangkutan dalam nama dan bentuk apapun. penghasilan wajib pajak dari semua sumber harus digabungkan menjadi satu angka tunggal ukuran penghasilannya. Penghasilan neto ini. yaitu tahun 1991. Penentuan Penghasilan Kena Pajak Konsep utama dalam perhitungan penghasilan kena pajak adalah penghasilan bruto dan penghasilan kena pajak. setelah dikurangi sejumlah tertentu yang tidak dikenakan pajak menjadi dasar pengenaan pajak yang akan dikalikan dengan tarif pajak untuk mendapatkan pajak yang menjadi beban bagi wajib pajak. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 dan perubahannya (UU Pajak Penghasilan) mendefinisikan penghasilan yang menjadi objek pajak adalah setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh wajib pajak.162 Bab 9: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Pribadi sebelum reformasi perpajakan tahun 1983. Saat ini sedang berlangsung perubahan dan perbaikan yang keempat berkaitan dengan program reformasi perpajakan Indonesia. 1994 dan 2000. baik yang berasal dari Indonesia maupun luar Indonesia. pajak-pajak yang berlaku di Indonesia yang dapat dikelompokkan sebagai pajak penghasilan adalah Pajak Pendapatan (PPd). Penghasilan bruto ini kemudian dikurangi dengan pengecualian-pengecualian dan penguranganpengurangan tertentu untuk mendapatkan penghasilan yang akan dikenakan pajak disebut penghasilan neto. pajak-pajak berdasarkan peraturan perpajakan Belanda ini disatukan dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 yang berlaku sejak 1 Januari 1984. ATURAN UTAMA Dalam penentuan besarnya pajak penghasilan yang harus dibayar oleh seorang wajib pajak pada satu tahun pajak.

Penghasilan dari pekerjaan dalam hubungan kerja dan pekerjaan bebas.000). Penghasilan sehubungan dengan pekerjaan dilaporkan dalam penghasilan setelah dikurangkan dengan beberapa biaya dan penghasilan yang dikecualikan. Beberapa penghasilan tertentu bukan merupakan penghasilan menurut UU Pajak Penghasilan. dan sebagainya. seperti pembebasan utang. dan ganti kerugian asuransi. Sebagaimana disebutkan dalam undang-undang tersebut. 3. penghasilan dari praktek profesi. seperti warisan atau hibah.000) ditambah tiga orang tanggungan (masing-masing Rp1. alat ukur ini ternyata tidak sekomprehensif mungkin. Penghasilan dari usaha dan kegiatan.000.440. Dari angka penghasilan ini. Variabel utama penentu PTKP adalah jumlah anggota keluarga sampai dengan maksimal 5 orang. 2. pasangannya.440. seperti gaji. Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) Untuk wajib pajak pribadi. dan sebagainya. Penghasilan dari modal. penghasilan ini akan meliputi: 1. dividen. kecuali bila pasangannya tidak berpenghasilan maka PTKP-nya Rp1. Beberapa penghasilan non kas diabaikan (seperti imputed rent dan capital gain yang belum direalisasikan) dan beberapa penghasilan kas tertentu dikecualikan (seperti pembayaran asuransi dan pensiun). keuntungan penjualan harta atau hak yang tidak dipergunakan untuk usaha. Penghasilan lain-lain. hadiah.880. wajib pajak dapat mengurangkan biaya-biaya atau pengurangan-pengurangan tertentu untuk mendapatkan penghasilan neto. dan tiga tanggungan. PTKP yang berlaku saat ini adalah wajib pajak dan pasangannya (masing-masing Rp2. sewa.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 163 Dengan beberapa pengecualian seperti yang tertera pada UU Pajak Penghasilan. 4. royalti. honorarium. kenikmatan dalam bentuk natura dengan persyaratan tertentu. berupa harta gerak ataupun harta tak gerak seperti bunga. penghasilan neto yang telah dihitung kemudian dikurangkan dengan PTKP. dan lain sebagainya. Penghasilan dari usaha dan pekerjaan bebas dimasukkan dalam penghasilan neto setelah dikurangkan biaya-biaya. Tidak semua penghasilan dari berbagai sumber harus dilaporkan sebagai penghasilan. yaitu suami/istri. penghasilan dari semua sumber digabungkan untuk menentukan penghasilan bruto. . Walaupun penghasilan neto dimaksudkan untuk menjadi satu alat ukur yang komprehensif atas posisi penghasilan wajib pajak.

Sejak tahun 1983 sampai dengan 1994. hanya wajib pajak yang tidak wajib memiliki NPWP. Satu aspek prosedural yang juga penting adalah sistem pemungutan (pemotongan) yang didasarkan pada dua alasan utama yaitu prinsip kemudahan mengenakan pajak pada saat perolehan penghasilan (ability to pay) dan peningkatan ketaatan dari wajib pajak dengan mengharuskan pihak lain sebagai sumber penghasilan (pembayar) untuk bertindak atas nama negara memungut pajak tersebut. Kewajiban Menyerahkan SPT Kewajiban menyerahkan SPT Tahunan pajak penghasilan diberlakukan kepada semua wajib pajak yang telah memiliki NPWP. Wewenang otoritas pemungut pajak (dalam hal ini Direktorat Jenderal Pajak) adalah memastikan bahwa wajib pajak telah menghitung. pada saat wajib pajak harus menyerahkan pembayaran terakhir untuk pajak-pajak yang terutang pada tahun pajak yang telah berakhir atau menagih pengembalian pajak. tidak diwajibkan untuk menyerahkan SPT Tahunan. Batas waktu penyerahan SPT Tahunan adalah tiga bulan setelah tahun pajak berakhir. yaitu suatu sistem yang memberikan kewenangan kepada wajib pajak untuk menghitung dan melaporkan besarnya pajak penghasilan yang terhutang sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan pajak yang berlaku. tarif pajak yang ditetapkan antara 15% sampai dengan 35%.164 Bab 9: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Pribadi Penerapan Tarif Pajak Pajak dihitung dengan menerapkan angka tarif pada skedul tarif pajak dengan angka penghasilan neto setelah dikurangi PTKP. Prosedur Pembayaran Sistem penetapan pajak penghasilan di Indonesia dikenal dengan sebutan self assessment. Oleh karena penghasilan sampai PTKP tidak dikenakan pajak. melaporkan. Wajib pajak tersebut adalah mereka yang mempunyai penghasilan neto lebih kecil dari PTKP atau yang memperoleh penghasilan hanya dari satu pemberi kerja. dan membayarkan beban pajaknya sesuai dengan peraturan dan perundangundangan pajak yang berlaku tersebut. Oleh karena itu. Skedul tarif ini ditetapkan berdasarkan Undang-Undang Pajak Penghasilan dalam bentuk tarif marjinal yang berlaku untuk tingkatan penghasilan yang naik secara berurutan. Bersamaan . sejak tahun 1995 tarif pajak diturunkan antara 10% sampai dengan 30%. Oleh karena itu. ada dua hal penting berkenaan dengan aspek prosedural utama pajak penghasilan: penyerahan SPT dan audit. dapat dianggap bahwa penghasilan sampai sebesar PTKP ini dikenakan tarif pajak nol persen.

perawatan orang tua. Direktorat Jenderal Pajak (DJP) memiliki wewenang untuk memeriksa kebenaran perhitungan SPT Tahunan dari wajib pajak sesuai dengan peraturan perundang-undangan pajak yang berlaku. Pada waktu-waktu tertentu kelompok wajib pajak tertentu akan diperiksa. Dengan sistem ini. DJP tidak dapat mengaudit semua SPT yang diterima. misalnya dokter atau pengusaha retail. Untuk itu DJP melakukan pemeriksaan atas SPT-SPT yang dilaporkan. termasuk ketaatan pembayarannya. pajak-pajak yang dipungut oleh pihak-pihak yang melakukan pembayaran ini disebut sebagai kredit pajak bagi wajib pajak. wajib pajak menyerahkan estimasi pajak penghasilan yang harus dibayar tahun berikutnya. pengasuhan anak. seperti melakukan investasi. cakupan auditnya terbatas.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 165 dengan penyerahan SPT. Pemotongan Pajak (Withholding) Sebagian besar pajak dipungut dengan cara dipotong oleh pihak yang melakukan pembayaran dengan alasan kemudahan untuk melakukan pungutan. Ketika wajib pajak memperoleh penghasilan. Biaya untuk mengaudit semua SPT tersebut akan sangat besar. Audit Seperti dikemukakan sebelumnya. Dengan sistem pemotongan pajak ini. Penerimaan pajak negara berfluktuasi sesuai dengan perubahan penghasilan masyarakat yang merupakan bagian utama dari pendapatan nasional. SPT yang melaporkan hal-hal yang tidak biasa (misalnya biaya yang mengurangi penghasilan yang sangat besar atau sumber penghasilan yang tidak biasa) dapat diaudit. . dan setoran pajak penghasilan masa tahun berikutnya itu didasarkan pada informasi estimasi ini. pembayaran pajak lebih berkaitan dengan tingkat penghasilan tahun berjalan daripada tingkat penghasilan tahun lalu. saat itu pula ia harus menyerahkan sebagian penghasilannya untuk beban pajaknya. Sistem pemotongan pajak juga memastikan ketaatan sepenuhnya karena pernyataan penghasilan tidak diberikan sepenuhnya hanya kepada wajib pajak. Sementara itu. kredit pajak merupakan pengurangan pajak yang diberikan atas aktivitas tertentu yang dilakukan oleh wajib pajak. Di Indonesia. walaupun dibantu oleh fasilitas komputer dan tenaga audit yang dimilikinya. Walaupun begitu. pembayaran pajak menjadi sangat responsif terhadap perubahan dalam tingkat penghasilan pribadi yang merupakan hal penting bagi efektivitas kebijakan stabilisasi. dari sisi ilmu keuangan negara. Oleh karena itu. Dalam memeriksa aritmatika perhitungan pajaknya. pemeriksaan sampel secara acak digunakan untuk membuat wajib pajak tetap patuh pada peraturan perpajakan. dan lain-lain.

praktek ini memiliki dua keuntungan. sistem pemotongan pajak juga menimbulkan biaya tersendiri.” Walaupun demikian. Jika tarif pajak yang dipotong ditetapkan cukup tinggi untuk mendapatkan penerimaan pajak setinggi-tingginya. Simons. Seberapa baikkah penghasilan neto digunakan sebagai suatu ukuran kapasitas pajak? UU Pajak Penghasilan di Indonesia mendefinisikan penghasilan sebagai tambahan kemampuan ekonomis yang diperoleh wajib pajak dari sumber mana pun yang dapat dipakai untuk konsumsi atau menambah kekayaannya. Pemerintah. yaitu memudahkan pengusaha untuk membandingkan berbagai aktivitas bisnis dengan suatu standar yang tetap dan menunjukkan sejarah akumulasi modal perusahaan yang dapat menunjukkan prospek kemampuan memperoleh penghasilan di masa depan. yaitu accretion income. PRINSIP-PRINSIP DEFINISI PENGHASILAN Konsep penghasilan dasar yang menjadi penentuan kewajiban pajak penghasilan dalam prakteknya adalah penghasilan neto. Yield income adalah jasa-jasa yang dihasilkan oleh modal. Konvensi ini berkembang dalam praktek pembukuan di mana suatu pos “modal” dibuat tetap selama periode akuntansi. Dengan membuat saldo awal modal perusahaan menjadi tetap. praktek akuntansi dewasa ini memperlakukan kenaikan dan penurunan modal tersebut dengan cara berbeda. harus mengembalikan kelebihan pemotongan ini kepada para wajib pajak tertentu tersebut. istilah accretion income disinonimkan dengan tambahan kemampuan ekonomis atau kenaikan total kekayaan seseorang. yang sampai saat ini menjadi definisi penghasilan yang paling diterima dalam ilmu ini. Haig dan Henry C. Menurut Irving Fisher dalam buku klasiknya The . Sebelum adanya pajak penghasilan. Apresiasi pada modal hanya dicatat ketika direalisasikan sedangkan depresiasi pada modal diperkirakan dan dicatat pada setiap periode akuntansi. setiap akumulasi (apresiasi) modal diperlakukan sebagai “penghasilan” dan penurunan nilai (depresiasi) modal diperlakukan sebagai “penghasilan negatif. kelebihan pemotongan pajak akan dialami oleh para wajib pajak tertentu sehingga para wajib pajak ini yang secara riil memberikan pinjaman bebas bunga kepada pemerintah.166 Bab 9: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Pribadi Pada saat yang sama. merupakan subset dari accretion income. dalam hal ini DJP. Konsep accretion income ini berakar dari praktek pembukuan masa merkantilisme di Eropa yang telah menjadi bagian dari prinsip akuntansi sampai sekarang. Dari sisi manajemen bisnis. Definisi ini sama dengan definisi penghasilan (income) oleh ahli ekonomi Robert M. Dalam buku ini. para ahli ekonomi menggunakan istilah yield income untuk merujuk pada pengertian penghasilan dalam ilmu ekonomi.

Konsep ini berakar dari praktek akuntansi selama berabad-abad oleh karenanya banyak inkonsistensi yang terjadi pada 1 Menurut para ahli ekonomi. yaitu stok kekayaan dan aliran kekayaan. harus didefinisikan sebagai kenaikan total atas kekayaan seseorang. kedua ukuran tersebut ekivalen karena nilai ekonomis dari modal sama dengan nilai tunai dari nilai ekonomis dari aliran penghasilan di masa depan yang diharapkan. Penghasilan Bruto versus Penghasilan Neto Seperti telah dikemukakan sebelumnya. tetapi tidak dapat pada kedua waktu tersebut. penghasilan dan modal merupakan kategori yang mutually exclusive. Orang dapat mengukur kekayaan pada suatu waktu tertentu atau sepanjang waktu tertentu. konsep tambahan kemampuan ekonomis ini akan dianalisis secara mendalam apa implikasinya dalam praktek dan bagaimana konsep ini diterapkan secara memuaskan dalam perhitungan penghasilan neto. Pada dasarnya. Kekayaan yang diukur pada suatu waktu tertentu merupakan konsep ekonomi dari modal. baik teratur ataupun fluktuatif. suatu pengukuran atas aliran. Semua tambahan kemampuan ekonomis (accretion) harus dimasukkan. penerapan tarif yang progresif tidak dapat menghasilkan efek yang diharapkan yaitu mengadaptasi pajak pada kemampuan membayar wajib pajak. Irving Fisher menyatakan bahwa kekayaan menunjukkan dua aspek bila dikaitkan dengan waktu. dalam konsep basis pajak ada dua kandidat utama sebagai basis pajak untuk pajak penghasilan pribadi.1 Dengan demikian. yaitu tambahan kemampuan ekonomis dan konsumsi. Terminologi yield income ini mirip dengan (walau tidak sama persis) konsep penggunaan uang yang diperoleh untuk konsumsi. diharapkan ataupun tidak diharapkan. penghasilan dari semua sumber harus diperlakukan secara seragam dengan cara digabungkan sebagai penghasilan global yang kemudian akan dikenakan tarif pajak. Kita tidak perlu mempertimbangkan bagaimana tambahan kemampuan ekonomis tersebut digunakan. Ekivalensi ini bersumber dari fakta yang sangat penting bahwa modal tidak dapat dipisahkan dari penghasilan karena modal dan penghasilan saling terkait secara resiprokal. apakah akan diinvestasikan atau dikonsumsi. Selain itu. Bila kita memilih tambahan kemampuan ekonomis sebagai basis pajak. tambahan kemampuan ekonomis sebagai indeks kapasitas pajak seseorang. Tanpa penggabungan ini. Pandangan pajak penghasilan ini banyak diterima oleh berbagai kalangan dewasa ini. baik terealisasi ataupun tidak terealisasi. yield income terdiri dari uang yang diperoleh tetapi tidak disimpan dan pengurangan sumber daya untuk digunakan. Kekayaan dalam ukuran jangka waktu merupakan konsep ekonomi dari penghasilan. . suatu pengukuran atas stok.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 167 Nature of Capital and Income (1908). Sekarang. konsep penghasilan yang mendapat banyak penerimaan dalam praktek pajak penghasilan di dunia adalah konsep tambahan kemampuan ekonomis.

seperti biaya jabatan dan iuran pensiun. Oleh karenanya. Pada beberapa negara maju. Kerugian mengurangi kekayaan bersih sebagaimana keuntungan meningkatkannya. Walaupun peraturan perundang-undangan tidak memberikan fasilitas pengembalian pajak. pada umumnya penghasilan yang dapat dikenakan pajak telah dinyatakan dalam satuan penghasilan neto.168 Bab 9: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Pribadi penentuan penghasilan kena pajak terkait dengan inkonsistensi penentuan penghasilan dalam praktek akuntansi. peraturan perundang-undangan juga membolehkan wajib pajak mengurangkan biaya-biaya yang berkaitan dengan pekerjaan. Akan tetapi. kerugian harus dapat diperlakukan sebagai pengurangan sepenuhnya. Walaupun ada pengecualian-pengecualian tertentu. pemerintah harus konsisten memperlakukan keduanya. Sebagaimana dalam pembukuan dimana penghasilan diukur dalam jumlah laba bersih. Agar konsisten dengan konsep tambahan kemampuan ekonomis. dalam praktek-praktek perpajakan ada perbedaan perlakuan pajak antara penghasilan dari pekerjaan (upah dan gaji) dan penghasilan dari modal. Karena tambahan kemampuan ekonomis dirancang untuk mengukur konsumsi dan kenaikan dalam kekayaan bersih. sama seperti dalam praktek akuntansi. Biaya bunga boleh dikurangkan tetapi dividen tidak boleh dikurangkan. ada kredit pajak bagi wajib pajak yang memperoleh penghasilan dari pekerjaan tetapi wajib pajak . kerugian operasi harus dikurangkan dalam menentukan penghasilan neto dari kegiatan usaha. Penghasilan atas Modal (Capital Income) versus Penghasilan sehubungan dengan Pekerjaan (Labor Income) Konsep tambahan kemampuan ekonomis tidak mempedulikan asal dari penghasilan. Oleh karena itu. penghasilan dalam konsep tambahan kemampuan ekonomis (accretion concept) harus diukur dalam satuan penghasilan neto yaitu penghasilan setelah dikurangi dengan biaya-biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan penghasilan. para wajib pajak dapat memperlakukannya untuk mengurangi kewajiban pajak beberapa tahun yang akan datang. Untuk wajib pajak pribadi. ada konsistensi dalam perlakuan biaya modal. maka setiap pengurangan kemampuan ekonomis juga harus dipandang sebagai penghasilan negatif. Peraturan perpajakan mendefinisikan penghasilan yang akan dikenakan pajak sebagai penghasilan neto karena biaya-biaya yang terjadi dalam memperoleh penghasilan pada umumnya dikurangkan dari penghasilan dengan beberapa pembatasan biaya-biaya tertentu tidak boleh dikurangkan. Penghasilan dari pekerjaan harus dikenakan beban pajak yang lebih ringan. Akan tetapi.

kemampuan ekonomis harus diukur dengan satuan riil pada awal dan akhir tahun sehingga inflasi harus diperhitungkan. Tidak boleh ada perbedaan apakah penghasilan tersebut telah diterima secara kas (seperti gaji. Dengan demikian. kewajiban pajak dalam satuan riil sama dengan nol. Dalam situasi ini. penghasilan dalam bentuk natura atau imputed income tidak dikenakan pajak penghasilan. Praktek-praktek yang tidak konsisten ini berakar dari praktek akuntansi yang menjadi acuan otoritas perpajakan. Penghasilan yang Terakumulasi versus Penghasilan yang Terealisasi Bila konsep tambahan kemampuan ekonomis diterapkan secara konsisten. Wajib pajak dapat menggunakan aset yang dimilikinya dengan dua cara. Contohnya rumah yang dimiliki wajib pajak dapat disewakan kepada pihak lain dengan mendapatkan . Hal ini dinilai sebagai ketidakkonsistenan penerapan konsep penghasilan ini. dan hasil penjualan aset) ataupun terakumulasi dalam bentuk kenaikan nilai aset yang tidak dijual. Direalisasikan atau tidak adalah pilihan portofolio bagi investor dan tidak boleh mempengaruhi penghasilan yang diukur untuk keperluan perpajakan. kenaikan kemampuan ekonomis pada akhir tahun yang diukur dalam satuan uang tidak seluruhnya merupakan tambahan kemampuan ekonomis dalam satuan riil. yaitu membuat aset tersebut memberikan penghasilan kas atau mengkonsumsi aset tersebut jangka panjang. upah.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 169 yang hanya memperoleh penghasilan atas modal tidak memperoleh kredit pajak ini. setiap tambahan kemampuan tersebut baik sudah diterima dalam bentuk uang ataupun belum harus diakui sebagai penghasilan. Penghasilan dalam Bentuk Natura atau Imputed Income Karena sulitnya menghitung berapa besarnya penghasilan. Hal inilah yang menjadi bagian dari topik kontroversial untuk pengenaan pajak capital gains. Secara nominal. Penghasilan Riil versus Penghasilan Nominal Dengan adanya inflasi. kenaikan dalam penghasilan uang yang sepadan dengan kenaikan harga-harga bukan merupakan kenaikan dalam penghasilan riil. Cara kedua ini memunculkan apa yang disebut penghasilan dalam bentuk natura atau imputed income. memberlakukan pengaturan pajak seperti yang telah dikemukakan sebelumnya.

secara konseptual. penghasilan daLam bentuk natura dapat digunakan oleh wajib pajak sebagai sarana untuk menghindari pajak. . wajib pajak tersebut sama saja dengan memperoleh penghasilan sewa (dari dirinya sendiri) atau disebut juga “imputed rent” yang jumlahnya sama dengan penghasilan yang ia dapatkan apabila ia menyewakan rumahnya. seperti mengkonsumsi tanaman dari kebun sendiri. Bila ia bersantai. memperbaiki rumah) merupakan imputed income bagi rumah tangga. Pengabaian ini menyebabkan ketidakadilan perlakuan pajak bagi pemilik rumah dan penyewa. memelihara anak. Bila ia bekerja. Penerapan imputed income pada dasarnya dapat dilakukan seluas mungkin akan tetapi untuk alasan-alasan praktis hal tersebut tidak mungkin dilakukan. ia memperoleh penghasilan tersebut dan sekaligus mengkonsumsikannya dengan bersantai. Akan tetapi. seperti dalam fasilitas kendaraan kantor yang dapat diganti dengan tunjangan biaya transportasi. jasa rumah tangga yang dilakukan ibu atau bapak rumah tangga sendiri (seperti memasak. Selain imputed rent. mencuci. ada beberapa penghasilan yang diterima dalam bentuk natura yang tidak diperhitungkan sebagai penghasilan dalam peraturan pajak. Dengan demikian. secara logika ekonomi ia memperoleh penghasilan sebesar apabila ia bekerja. fasilitas kendaraan kantor atau fasilitas perumahan dan akomodasi di daerah terpencil. membersihkan halaman. penghasilan tersebut dikenakan pajak. Logika tambahan kemampuan ekonomis (accretion) menyatakan bahwa penghasilan yang diterima dalam bentuk natura. ia memperoleh penghasilan dalam bentuk uang. implementasi dari aturan ini tidak akan mungkin dapat dilakukan. Beberapa negara Eropa mengenakan pajak atas imputed rent ini kepada pemilik rumah yang mendiami rumahnya sendiri dengan data dari pajak atas kekayaan yang selalu menunjukkan nilai dari rumah tersebut. Permasalahan yang lebih rumit lagi adalah pilihan antara bekerja atau bersantai (tidak bekerja). Apabila rumah tersebut didiami wajib pajak sebagai pemiliknya. nilai dari konsumsi yang imputed tersebut harus dimasukkan ke dalam basis pajak. Karena kenaikan kemampuan (accretion) didefinisikan sebagai peningkatan kekayaan bersih dan konsumsi. Alasan kepraktisan yang paling utama adalah memasukkan penghasilan ini ke dalam penghasilan neto memunculkan permasalahan serius dalam hal pengukuran dan hal-hal lain yang harus diperhitungkan ketika memberlakukan pajak penghasilan atas dasar rumah tangga.170 Bab 9: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Pribadi penghasilan sewa yang dikenakan pajak. Apabila penghasilan tersebut dapat diuangkan (diterima dalam bentuk uang). dalam bentuk ‘santai’ harus dimasukkan ke dalam basis pajak. Contohnya. Jika seseorang memutuskan untuk santai (tidak bekerja).

Konsep tambahan kemampuan ekonomis mengenakan pajak pada sumbernya. Hal ini sebenarnya menyalahi konsep tambahan kemampuan ekonomis karena semua transfer tersebut menambah kemampuan penerimanya akan sumber daya. transfer ini merupakan bentuk penggunaan penghasilan. Jika hal ini dilakukan. Oleh karenanya.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 171 Penghasilan versus Transfer Dari sudut pandang ahli ekonomi. dan karenanya harus menjadi bagian dari penghasilannya. bukannya penggunaan. Warisan dan Hibah Transfer pribadi. jadi bukan merupakan biaya. tidak dikenakan pajak penghasilan. apakah transfer seperti ini harus dikurangkan dari basis penghasilan pajak pemberi? Apabila mengacu pada konsep tambahan kemampuan ekonomis sepenuhnya. penghasilan kena pajak seseorang tidak harus sama dengan bagiannya dalam pendapatan nasional dan juga total penghasilan kena pajak dalaM suatu negara harus sama dengan total pendapatan nasional. perolehan warisan atau hibah merupakan tambahan kemampuan ekonomis bagi penerima. seperti subsidi sekolah dan subsidi kesehatan. Bantuan. bantuan. dengan demikian harus dimasukkan ke dalam basis pajak penghasilan bagi penerimanya. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya. Perlakuan pajak atas transfer seharusnya tidak mengikuti aturan dalam perhitungan pendapatan nasional. warisan dan hibah. Sumbangan. Hal ini sesuai dengan konsep penghasilan menurut Irving Fisher. tidak ada keharusan bahwa basis pajak agregat sama dengan penghasilan total yang didefinisikan dalam pendapatan nasional. juga tidak dikenakan pajak penghasilan. pendapatan nasional adalah jumlah dari pendapatan faktor selama satu periode. Dalam konsep tambahan kemampuan ekonomis (accretion). Transfer oleh pemerintah. Transfer yang diterima dari pemerintah atau sumber-sumber swasta (seperti donasi dan hibah) bukan merupakan komponen penghasilan dalam istilah pendapatan nasional. yang juga menyatakan nilai dari output yang diproduksi oleh faktor-faktor tersebut. Juga. Transfer seperti ini tidak dikurangkan dari penghasilan oleh pemberi dan juga tidak dilaporkan sebagai penghasilan oleh penerima. seperti sumbangan. seperti juga tambahan kemampuan ekonomis dari sumbersumber lain. pajak penghasilan menganut definisi accretion income yang dikemukakan oleh Haig-Simons. Penghasilan Teratur versus Penghasilan Tidak Teratur .

Penyimpangan ini disebut juga sebagai preferensi pajak yang menyebabkan perbedaan antara jumlah penghasilan kena pajak dengan ukuran penghasilan yang komprehensif. Penghasilan-penghasilan yang Dikenakan Pajak Final Untuk memudahkan penagihan dan meningkatkan ketaatan pajak pada beberapa transaksi tertentu berlaku tarif pajak final. 4. Preferensi pajak dapat dibagi dalam tiga kategori yaitu. Beberapa penghasilan yang dikenakan pajak final adalah: 1. PRAKTEK DEFINISI PENGHASILAN: PENGECUALIAN Peraturan perundang-undangan perpajakan banyak menunjukkan penyimpangan dari prinsip tambahan kemampuan ekonomis. Penghasilan jasa konstruksi dan jasa konsultan. Pada transaksi-transaksi ini. Penghasilan dari transaksi penjualan saham di bursa efek. 2. pengecualian. pajak langsung dibayarkan dengan sistem pemotongan dan tidak dapat dikreditkan dalam perhitungan pajak penghasilan akhir. Pada kenyataannya. Penghasilan dari hadiah undian Perlakuan atas pajak final ini sebenarnya melanggar prinsip keadilan pajak. sebelum tahun 2000. pengurangan sebagai biaya dan kredit pajak. tidak ada alasan untuk membedakannya. Penghasilan yang teratur cenderung dikenakan tarif pajak yang lebih rendah daripada penghasilan yang tidak teratur. walaupun belum ada penghasilan karena transaksi tersebut belum tentu . Oleh karena itu. Permasalahan ini dapat dikurangi dengan menerapkan aturan meratakan penghasilan yang tidak teratur tersebut. 3. Bagian ini akan membahas kategori pertama. penghasilan yang tidak teratur dan penghasilan yang teratur sama pengaruhnya bagi kemampuan wajib pajak. yaitu pengecualian (exclusion). Penghasilan yang diperoleh dari hak atas tanah dan bangunan. Pada transaksi tertentu seperti transaksi penjualan saham di bursa efek.172 Bab 9: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Pribadi Beberapa pendapat menyatakan bahwa penghasilan tertentu yang tidak teratur dan tidak diharapkan sebaiknya tidak dimasukkan dalam penghasilan yang dikenakan pajak dengan berbagai alasan yang tidak begitu kuat. karena pengenaan pajak menggunakan tarif pajak yang progresif perlakuan pajak cenderung diskriminatif terhadap penghasilan yang tidak teratur ini. Akan tetapi.

yakni bertingkat (progresif). tentu saja. Dalam setiap prospektus reksadana. Nah. seperti PPh capital gain di bursa saham. akhirnya dalam UU Perpajakan yang baru muncul pasal yang mengatur soal itu. menurut pengurus APRDI. yang dikenai pajak final bukan kupon obligasinya. Selama ini. dari sekitar Rp 5.tama. Selama ini. BES memang mengusulkan agar reksadana juga dikenai Pajak Penghasilan (PPh) 15% atas kupon bunga obligasi. Demikian pula pada transaksi-transaksi yang menguntungkan. 46/1996. investor tetap berkewajiban untuk membayar pajak atas penghasilan yang diterima dari reksa dana maupun pendapatan lainnya dalam bentuk pajak penghasilan biasa yang harus dilaporkan setiap tahun. reksa dana sudah diberikan dispensasi pajak sehingga pemerintah tentunya memiliki pertimbanganpertimbangan tersendiri. "Kami mengusulkan pajak final bagi capital gain. Asal tahu saja.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 173 memberikan untung. Yang aneh. memang.6 triliun dana yang diputar dalam reksadana. sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. Disamping itu. Rencana pemerintah untuk mengenakan pajak atas reksa dana haruslah ditanggapi dengan kepala dingin. Apabila tujuan tersebut dalam rangka menggerakkan pertumbuhan reksa dana di Indonesia. "Jadi. Nah. maka upaya tersebut sangat tepat mengingat reksa dana merupakan instrumen investasi jangka panjang yang masih baru sehingga diperlukan insentif tertentu untuk menarik investor. tentu reksadana akan menuntut tingkat bunga obligasi lebih tinggi lagi untuk mengompensasi pajak itu. namun kemampuan perbankan untuk membiayai sektor riil yang berjangka panjang juga terbatas sehingga kehadiran reksa dana akan menjadi pendukung perbankan untuk bersama-sama membantu pembangunan ekonomi nasional. tarif pajaknya proporsional seberapa pun besarnya penghasilan (keuntungan) yang didapat. capital gain dari obligasi bagi perusahaan reksadana dikenai PPh seperti umumnya. usulan pajak final reksadana menyesakkan dada. Sumber dana pembiayaan perbankan memang dapat dipakai untuk membiayai kegiatan ekonomi berjangka panjang." katanya. Setelah menjadi polemik. salah satu yang paling dijual sang manajer adalah fasilitas bebas pajak dari penghasilan yang mereka peroleh. Bagi pengelola reksadana. dihitung dari nilai transaksi. APRDI mengusulkan agar pengenaan pajak dilakukan secara final saja. Pengenaan pajak untuk reksa dana merupakan tindakan yang sah-sah saja menurut hukum karena hal tersebut adalah bagian dari kewenangan pemerintah. wajib pajak sudah diharuskan membayar pajak. Di tengah-tengah minimnya sumber dana pembiayaan jangka panjang saat ini. peran reksa dana dirasakan sangat penting untuk mendukung pembangunan ekonomi nasional. Masalahnya. masalah pajak adalah sepenuhnya kewenangan pemerintah yang harus dihormati oleh semua pihak. kalau dipajaki dengan sendirinya nasabah menjadi tidak tertarik lagi untuk membeli reksadana. sebenarnya yang diusulkan APRDI bukan pengenaan pajak final atas kupon bunga obligasi. Keadilan horizontal dilanggar karena perlakuan ini menghasilkan perbedaan dalam kewajiban pajak pada tingkatan penghasilan tertentu. pajak final sebesar 15% atas kupon bunga obligasi hanya diberlakukan bagi transaksi yang melalui perusahaan . menurutnya. 60% di antaranya diinvestasikan dalam obligasi." ujarnya. "Kalau tetap diterapkan. Walaupun saat ini tidak ada pajak final untuk pendapatan yang diperoleh dari reksa dana. tapi keuntungan yang diperoleh dari jual beli obligasi. Pengenaan pajak akan membuat reksadana kehilangan salah satu nilai jualnya. Maksudnya. Pertama. Keadilan vertikal dipengaruhi karena prinsip progresivitas tidak berlaku pada penerapan pajak final." ujar Manajer Portofolio PNM Investment Management. Pajak Final Usulan mengambil pajak dari reksadana obligasi mencuat dan menimbulkan pro-kontra.

dan (2) apakah laba yang tidak direalisasikan harus juga dipajaki. laba modal tidak dikenakan pajak. Berkenaan dengan perlakuan pajak terhadap laba modal ini. Adapun transaksi obligasi yang dilakukan bank. yaitu yield income. diskusikan pengaruh kebijakan pajak final tersebut! Laba Modal (Capital gain) Pengenaan pajak atas laba modal adalah salah satu topik yang paling kontroversial dalam ilmu perpajakan. Pada negara-negara lainnya yang menganut konsep accretion income pada peraturan perpajakannya. Laba modal bukanlah penghasilan karena bukan dihasilkan dari layanan yang dihasilkan oleh modal. Jadi. baik keadilan horizontal maupun keadilan vertikal. Transaksi tetap dikenakan pajak. perusahaan sekuritas atau individu akan menjual obligasinya kepada perusahaan reksa dana. Pada negara-negara yang peraturan perpajakannya mengacu pada konsep penghasilan ini. dana pensiun. Perlakuan ini jelas-jelas melanggar prinsip keadilan pajak. adalah konsep yang benar secara keilmuan. biarpun tidak menerima pembayaran kupon.174 Bab 9: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Pribadi sekuritas. (Diadaptasi dari: berbagai sumber yang dimuat dalam http://www. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya. bukan atas labanya. Sesuai dengan aturan. selama ini. Perlakuan atas Laba Modal yang Direalisasikan Peraturan perpajakan memberikan perbedaan perlakuan pada laba modal yang direalisasikan. yaitu laba modal dari penjualan saham di bursa efek dan pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan. Caranya begini. Para ahli ekonomi menyatakan bahwa pengenaan pajak atas laba modal ini merupakan salah satu bentuk kesalahan penerapan konsep penghasilan dalam peraturan perpajakan. baik ketika untung maupun ketika rugi. Prinsip progresivitas pajak dilanggar. mereka menikmati rente secara tidak langsung. laba modal dikenakan pajak. Akibat perbedaan perlakuan seperti itu.kompas. para ekonom sepakat bahwa konsep penghasilan menurut Irving Fisher. debat juga terjadi pada negara-negara ini yang berkisar pada (1) apakah laba yang direalisasikan harus diperlakukan sebagai penghasilan biasa. . seperti di Inggris dan beberapa negara anggota the Commonwealth. sering terjadi praktek washing alias jual beli obligasi secara fiktif demi menghindari pajak final tersebut. Tentu saja perusahaan sekuritas atau individual bisa mematok harga premium. Pajak untuk transaksi-transaksi ini bersifat final dan dikenakan atas nilai transaksi.com) Berdasarkan pemaparan diatas. Agar tidak terkena potongan pajak final atas pencairan kupon. Dengan begitu. dia tidak akan terkena pajak atas kupon yang dicairkan. dan reksa dana bebas dari pajak itu. pihak reksa danalah yang akan mencairkan kupon tersebut.

Kekayaan ini dapat ia ubah dari portofolio saham menjadi kas bila ia memutuskannya. Penundaan pengenaan pajak setelah realisasi memberikan perlakuan yang menguntungkan kepada jenis penghasilan yang belum direalisasikan. Perlakuan terhadap Laba yang Belum Direalisasikan Berdasarkan prinsip kemampuan membayar. kekayaannya telah bertambah sejumlah tersebut. misalnya menjualnya untuk dikonsumsi atau diinvestasikan dalam bentuk aset lainnya. Akan tetapi berbagai argumentasi melingkupi perdebatan tentang perlakuan pajak atas laba modal yang belum direalisasikan ini. laba yang belum terealisasikan dalam bentuk kas tidak dikenakan pajak. Memang laba modal sifatnya tidak teratur dan cenderung berfluktuasi sehingga harus membayar lebih banyak dalam sistem tarif pajak yang progresif. yang disebut sebagai lock-in effect. penghasilan sebagai suatu indeks dari kapasitas wajib pajak harus diukur sebagai tambahan kekayaan.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 175 Berdasarkan prinsip keadilan. keputusan untuk merealisasikan dalam bentuk kas atau tidak adalah keputusan manajemen portofolio. Bila pada kenyataannya ia tetap memiliki dalam bentuk portofolio saham.000. Apakah laba telah terealisasi tidak ada relevansinya dengan apakah ada peningkatan kemampuan ekonomis. Menurut Musgrave dan . Tidak ada bedanya penghasilan yang diperoleh dari usaha atau dari laba modal. Perlakuan pengenaan pajak yang mengecualikan laba modal yang belum direalisasikan ini mendorong investor untuk tidak menjual asetaset yang memiliki akumulasi laba. Laba dari sahamnya telah membuatnya memperoleh tambahan kemampuan ekonomis. penghasilan neto dinyatakan dalam bentuk penghasilan kas dan hanya memasukkan penghasilan kas saja. itu menunjukkan preferensinya untuk tetap terus memegangnya dalam bentuk portofolio saham bila dibandingkan dengan bentuk alternatif lainnya.000. baik yang sudah terealisasi (berubah menjadi kas) maupun belum. Akan tetapi. dibandingkan jika laba modal tersebut diterima sebagai dalam bentuk pendapatan tetap. tidak ada alasan untuk membedakan perlakuan pajak terhadap laba yang direalisasikan terhadap penghasilan dari usaha. ketidakadilan ini dapat dihilangkan dengan menggunakan aturan yang tepat untuk meratakan penghasilan yang fluktuatif. Tuan Amir memiliki kekayaan dalam bentuk portofolio saham PT Telkom yang nilainya naik Rp100. Misalnya. Semua tambahan kemampuan ekonomis harus dimasukkan. Dengan kenaikan nilai portofolio ini. Hal ini jelas-jelas bertentangan dengan definisi tambahan kemampuan ekonomis. Bahwa realisasi dalam bentuk kas memungkinkan. Berdasarkan definisi ini.

sulit digunakan untuk meyakinkan para ahli ekonomi.” Pada awal munculnya pembukuan oleh para saudagar Venesia. (Berdasarkan suatu pajak konsumsi. tetapi hal ini bukan halangan yang luar biasa. tidak peduli akan digunakan untuk apa.) § “Laba yang belum direalisasikan tidak boleh dipajaki karena ketiadaan realisasi membuat kita tidak mengetahui keberadaannya. Prinsip akuntansi yang hati-hati hanya mengakui pendapatan setelah ada realisasi. 2 Richard A. mereka tidak membukukan pendapatan mereka sampai nakhoda kapal telah kembali ke pelabuhan dan menyerahkan uang hasil dagangan. Prinsipnya adalah semua penghasilan harus dipajaki. pembedaan apakah sudah terealisasi dan belum terealisasi bukan merupakan hal yang utama. Pengukuran atas laba yang belum direalisasikan memang sulit. § “Pemajakan atas laba yang belum direalisasikan mengharuskan wajib pajak membayar pajak walaupun ia tidak memiliki uang kas untuk membayarnya. adalah beralasan bagi pemerintah untuk meminta wajib pajak melikuidasi sebagian asetnya untuk membayar pajak bila diperlukan. Laba yang sudah direalisasikan tetapi tidak dikonsumsi perlakuannya sama dengan laba yang belum direalisasikan. beberapa bentuk perdebatan tersebut adalah sebagai berikut:2 § “Laba yang belum direalisasikan tidak boleh dipajaki karena pemiliknya dihalangi untuk melakukan konsumsi. Untuk situasisituasi di mana likuidasi parsial tidak memungkinkan (misalnya bisnis keluarga). 338. hal ini tidak relevan dengan definisi basis dari pajak penghasilan. Akan tetapi. yang banyak mendapatkan dukungan-dukungan hukum pada tahap-tahap awal diskusi pajak penghasilan. Public Finance in Theory and Practice. tetapi apakah hal itu jadi persoalan? Sebagaimana halnya hutang-hutang lainnya yang jatuh tempo.” Walaupun tidak ada konsumsi.” Pandangan ini tepat. Walaupun berdasarkan pajak konsumsi. laba yang belum direalisasikan akan dikecualikan dan laba yang direalisasikan akan dimasukkan hanya jika dikonsumsi. Musgrave dan Peggy B. New York: McGraw-Hill. penghasilan tersebut harus dapat dipisahkan dari aset yang menghasilkannya.176 Bab 9: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Pribadi Musgrave (1989). Pemisahan adalah pilihan investasi sedangkan penghasilan diperoleh karena nilai aset meningkat. pemerintah dapat memberikan waktu yang cukup untuk itu. Musgrave. Pandangan ini. Edisi ke-5. misalnya untuk pemegang saham PT Telkom yang dapat menjual sahamnya sewaktu-waktu. § Untuk suatu penghasilan yang akan diterima. hal. . situasi bisnis telah berubah dan analogi seperti ini tidak tepat lagi.

Pengenaan pajak secara tahunan atas laba modal yang belum direalisasikan mengharuskan adanya penilaian aset secara tahunan. akan tetapi pengenaan pajaknya menghadapi kendala operasional yang cukup berat. Situasinya jauh lebih sulit untuk laba yang belum direalisasikan. dapat dihindari likuidasi paksa untuk tujuan pengenaan pajak yang menimbulkan ketidakadilan. Akan tetapi. Pengenaan pajak atas laba modal harus juga disesuaikan dengan inflasi. Bila pengenaan pajak atas laba modal tidak memperhitungkan inflasi maka akan memunculkan problema keadilan dan efisiensi pajak. Walaupun realisasi konstruktif dapat memindahkan laba yang belum direalisasikan ke dalam basis pajak. bangunan pabrik. Permasalahan Penerapan Walaupun secara prinsip tidak ada lagi persoalan terhadap pengenaan pajak atas laba modal. Laba modal yang dikenakan pajak. dapat dinilai dan dikenakan pajak secara periodik. bahkan sampai meninggal. dan tanah. misalnya setiap lima tahun. Dengan memberikan aturan perataan penghasilan dan membolehkan penyebaran pembayaran pajak pada beberapa periode. suatu praktek yang sangat tidak praktis. yang nilainya sangat . sulit untuk dinilai. seperti barang seni.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 177 Jika definisi tambahan kemampuan ekonomis diikuti secara konsisten. Dalam hal laba modal yang sudah direalisasikan. seperti sekuritas. Penilaian atas aset hanya dilakukan pada saat realisasi konstruktif ini sehingga lebih praktis. Dengan laba modal. cara ini masih memberikan beberapa keuntungan bagi laba modal. laba modal harus dimasukkan dalam penghasilan kena pajak dan digabungkan dengan penghasilan dari sumber-sumber lainnya. Konsistensi juga harus berlaku bila terjadi rugi modal (capital loss) yang harus diperlakukan sebagai pengurangan atas penghasilan atau penghasilan negatif. Penundaan pajak ini sama dengan memperoleh pinjaman bebas bunga. yang bukan disebabkan oleh inflasi. pengenaan pajaknya sepenuhnya dapat dilaksanakan tanpa kesulitan-kesulitan teknis yang muncul. Oleh karena itu. Beberapa aset yang memiliki pasar yang likuid. muncul usulan untuk mengenakan pajak pada saat kematian atau pemindahan aset ini dengan menganggap seolah-olah telah terealisasi pada saat itu (realisasi konstruktif). Para pemilik aset dapat menunda kewajiban pajaknya sampai bertahun-tahun. untuk aset lainnya. nominal harus dikurangi dengan kenaikan harga dari aset karena inflasi untuk mendapatkan laba modal yang dimasukkan dalam penghasilan kena pajak. tanpa mempedulikan apakah sudah direalisasikan atau belum.

Setoran ini semakin mendapatkan argumentasi dukungan untuk dimasukkan ke dalam basis pajak apabila dipandang sebagai skema redistribusi. Alternatif kedua yang dipraktekkan saat ini adalah membolehkan pembayaran-pembayaran ini sebagai pengurang atas penghasilan dan mengenakan pajak sepenuhnya pada saat uang pensiun/tabungan dibayarkan kembali. pembayar iuran pensiun/tabungan akan mendapat pengenaan tarif pajak yang lebih rendah atas penghasilannya yang ditunda pengenaannya karena penghasilan pembayar iuran pensiun di masa depan akan lebih kecil. Kedua. Ada dua alternatif pengenaan pajak atas iuran tabungan/pensium ini. Praktek yang berlaku saat ini memunculkan ketidakadilan terhadap para penabung lainnya karena dua keuntungan bagi pembayar iuran pensiun/tabungan. Perlakuan yang tepat tentu saja dengan memperlakukan setoran tabungan sebagaimana bentuk tambahan kemampuan lainnya dan dikenakan pajak sebagaimana mestinya. Tabungan Hari Tua dan Rencana Pensiun Tabungan hari tua atau rencana pensiun adalah tabungan atau investasi yang diakumulasi dengan cara memisahkan penghasilan tahun berjalan untuk penggunaan di masa depan dengan menyetorkan sejumlah uang kepada lembaga dana pensiun atau sejenisnya. bila menggunakan konsep accretion income. penundaan pembayaran pajak oleh pembayar iuran pensiun/tabungan sama dengan perolehan pinjaman bebas bunga. Ketika uang manfaat pensiun atau tabungan hari tua diterima di kemudian hari. bukannya asuransi. aturan ini sama saja memberikan kepada pembayar tabungan hari tua suatu pinjaman bebas bunga dan penerapan tarif pajak yang lebih rendah di kemudian hari ketika tabungan ini diambil oleh penabung. Sebagaimana disebutkan di muka. Setoran ini tidak dikenakan pajak apabila . Alternatif pertama.178 Bab 9: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Pribadi substansial terutama bagi para wajib pajak muda yang mampu menunda untuk periode waktu yang sangat panjang. jadi harus tetap dikenakan pajak. Iuran pensiun dan bentuk pembayaran tabungan hari tua lainnya tidak boleh dikurangkan dari penghasilan. pembayaran kepada dana pensium atau lembaga sejenis ini bukan merupakan biaya tetapi merupakan penggunaan penghasilan. Pertama. Tabungan Hari Tua Peraturan perundang-undangan pajak penghasilan membolehkan setoran tabungan hari tua kepada PT Taspen tidak dimasukkan sebagai penghasilan kena pajak. hanya komponen bunganya saja yang dikenakan pajak penghasilan.

sebagaimana yang berlaku pada penghasilan dari sumber-sumber lainnya. Pengenaan pajaknya ditunda sampai uang pensiun diterima oleh para pegawai selama masa pensiun. Pengurangan khusus ini merupakan kategori lainnya dari preferensi pajak yang umumnya diberikan . Pembayaran premi asuransi jiwa tidak boleh digunakan untuk mengurangi penghasilan yang akan dikenakan pajak. Hal ini berlaku baik iuran pensiun itu dipotong dari penghasilan para pegawai maupun dibayarkan atau ditanggung oleh perusahaan. Iuran Pensiun Iuran yang tidak dikenakan pajak penghasilan adalah iuran pensiun yang dibayarkan kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan. Untuk asuransi jiwa yang tidak memiliki komponen investasi. Asuransi jiwa tertentu memiliki komponen tabungan (investasi) yang karena perlakuan ini bunga yang diperoleh atas tabungan ini terhindar dari pengenaan pajak. Perlakuan premi asuransi telah sesuai dengan konsep tambahan kemampuan tetapi perlakuan atas pembayaran asuransinya tidak sesuai. Pajak penghasilan atas gaji/upah juga tidak dikurangkan dan menjadi bagian dari penghasilan umum dan diperlakukan sama seperti pajak-pajak lainnya.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 179 penghasilan penerima berada di bawah PTKP. Asuransi Jiwa Pembayaran premi kepada perusahaan asuransi jiwa dan pembayaran asuransi dari perusahaan asuransi jiwa mendapatkan perlakuan yang berbeda. apakah akan menggunakan pengurangan standar atau pengurangan khusus (itemized deduction). perlakuannya sudah tepat yaitu pembayarannya dikecualikan dari pengenaan pajak tanpa memperbolehkan pengurangan atas premi yang dibayarkan. Praktek Definisi Penghasilan: Pengurangan Atas Penghasilan Neto Peraturan pajak penghasilan di Indonesia hanya membolehkan satu jenis pengurangan terhadap penghasilan neto yang disebut pengurangan standar atau Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). pembayaran asuransinya tidak dikenakan pajak penghasilan. Peraturan pajak penghasilan di Amerika Serikat memberikan pilihan bagi wajib pajak. Sementara itu. Pada umumnya wajib pajak yang berpenghasilan tinggi akan memilih pengurangan khusus karena akan memberikan jumlah pengurangan yang lebih besar daripada pengurangan standar.

terhadap wajib pajak yang selalu mengeluarkan biaya pengobatan yang besar diberikan pengurangan atas penghasilannya sejumlah tertentu sehingga kewajiban pajaknya lebih rendah karena kemampuannya lebih rendah daripada wajib pajak lainnya yang berpenghasilan sama tanpa pengeluaran biaya pengobatan. Alasan-Alasan Memberlakukan Pengurangan Khusus Prinsip pengenaan pajak atas penghasilan mengharuskan basis pajak yang komprehensif. Misalnya. memasukkan semua tambahan kemampuan ekonomis. ukuran rumah tangganya (tanggungannya) ataupun hal-hal lainnya. terutama untuk wajib pajak berpenghasilan rendah. Walaupun demikian. Aspek Keadilan Sebagian alasan perlakuan pengurangan ini karena alasan keadilan yang terkandung dalam prinsip kemampuan untuk membayar dari wajib pajak. ada beberapa alasan yang patut diperhitungkan sehingga pengurangan khusus layak diberikan. Jika dirancang . Pengurangan standar pada mulanya diberlakukan untuk memudahkan ketaatan dan administrasi. Dalam situasi-situasi di atas. angka pengurangan standar ini telah dinaikkan jauh melebihi angka pengurangan khusus yang disubstitusikan. Pengurangan standar sebenarnya adalah penghasilan yang tarif pajaknya nol persen.180 Bab 9: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Pribadi dengan alasan bahwa aturan perpajakan harus adil terhadap unit-unit pengenaan pajak dan aturan pajak memberikan insentif atas kegiatan-kegiatan yang memberikan manfaat sosial. pengurangan standar ini ditujukan untuk menjadi substitusi dari pengurangan khusus sehingga memudahkan penghitungan bagi wajib pajak yang berpenghasilan rendah. tidak diperlukan adanya pengurangan-pengurangan khusus. Di Amerika Serikat. Beberapa wajib pajak tertentu harus membayar pengeluaran untuk pengobatan yang sangat besar karena kondisi dirinya atau keluarganya tentu mempunyai kemampuan untuk membayar yang lebih rendah daripada para wajib pajak lainnya yang tidak menghadapi beban yang sama. perlu dirancang suatu sistem yang mampu menyeimbangkan kemampuan para wajib pajak tersebut. Wajib pajak dengan penghasilan yang sama tidak berarti memiliki kemampuan yang sama untuk membayar jika para wajib pajak berada pada posisi yang berbeda-beda karena statusnya. Oleh karena itu. Akan tetapi. Oleh karena itu. pengurangan standar fungsinya menjadi hibrida antara pengganti pengurangan khusus dan memberikan tambahan pengurangan yang tidak berkaitan dengan ukuran rumah tangga.

Pertimbangan yang sama juga dapat diberlakukan bagi para wajib pajak yang cacat karena mereka membutuhkan biaya hidup yang lebih banyak bila dibandingkan dengan wajib pajak yang normal. Penghargaan itu misalnya. Menurutnya. Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economic and Finance (Indef) mengatakan. usulan ini didasarkan pemikiran bahwa banyak masalah sosial di tanah air yang harus diselesaikan. berupa pengurangan pajak. Pemerintah jelas tidak mampu menyelesaikan persoalan tersebut sendirian karena dana yang ada sangat terbatas. fasilitas ini akan membebani anggaran pemerintah sehingga perlu dicari sumber pembiayaan lebih besar.” tuturnya dalam acara sosialisasi program Direktorat Peningkatan Peran Kelembagaan Sosial Masyarakat dan Kemitraan Depsos. seperti mendorong berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat. “Kerja sama dengan masyarakat dan perusahaan akan membuat beban pekerjaan itu menjadi lebih ringan sehingga banyak masalah sosial bisa diselesaikan. Akan tetapi. praktek program pengurangan beban pajak bagi wajib pajak yang menyumbang dinilai rawan korupsi. Depsos bersama pengusaha akan membuat sekretariat tetap untuk memfasilitasi dunia usaha yang berniat membantu pemerintah. Tentu saja. Direktur Jenderal Perbendaharaan Depkeu mengatakan." ujarnya. Pengurangan Pajak Pemerintah perlu memberi penghargaan bagi pengusaha yang punya tanggung jawab sosial tinggi dan bersedia bekerja sama membantu memecahkan masalah sosial di Indonesia. kebijakan itu sangat rawan terhadap penyimpangan yang dilakukan oleh para pengusaha dalam bentuk laporan yang tidak sesuai dengan nilai sumbangan yang diberikan. Apalagi.com) Berdasarkan paparan diatas. lalu dia laporkan sebesar Rp 5 miliar. seperti investment tax credit untuk mendukung . "Karena bisa saja seorang pengusaha menyumbangkan dana Rp 1 miliar. Pengurangan atas penghasilan juga dapat mendorong konsumsi atas hal-hal yang menimbulkan manfaat-manfaat eksternalitas. Biaya untuk melakukan aktivitas tersebut diperlakukan sebagai pengurangan atas penghasilan dan dapat dipandang sebagai suatu cara untuk menyediakan insentif penggunaan penghasilan untuk hal-hal yang “mulia” seperti sumbangan sosial atau zakat. minat para pengusaha untuk membantu pemerintah menyelesaikan masalah sosial sebenarnya cukup tinggi. Langkah awal yang segera dilakukan adalah membuat identifikasi masalah sosial yang kelak bisa diberikan kepada perusahaan. seorang pengusaha bisa menyumbang di beberapa tempat yang berlainan. KMK tentang fasilitas penurunan pajak itu bisa diberlakukan dalam kondisi darurat dan tidak terduga.kompas. (Diadaptasi dari: berbagai sumber yang dimuat dalam http://www. pengurangan ini tidak saja mendapat dukungan tetapi juga mampu mendorong terciptanya basis pajak yang lebih adil.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 181 dengan baik. mereka tak tahu harus menghubungi siapa dan lewat jalur mana untuk bisa membantu. Untuk itu. Menurut Dirjen Pemberdayaan Sosial Depsos. Akan tetapi. diskusikan perlu tidaknya pengurangan pajak diberikan! Aspek Insentif Peraturan perpajakan seringkali dirancang dan ditetapkan dengan tujuantujuan lain selain tujuan fiskal.

tingkah laku wajib pajak berubah untuk membuat beban pajaknya menjadi lebih rendah dengan memanfaatkan aturan-aturan tertentu yang juga disebut sebagai lubang-lubang dalam peraturan perpajakan. Dalam konteks keuangan negara dan ekonomi. Hal ini akan mendorong wajib pajak untuk membelanjakan lebih banyak uangnya untuk melakukan aktivitas-aktivitas ini. Tidak ada larangan bagi suatu peraturan perpajakan untuk mempunyai tujuan-tujuan selain tujuan fiskal. PREFERENSI PAJAK Preferensi pajak merupakan pengecualian-pengecualian dan penguranganpengurangan dari basis pajak yang komprehensif. peraturan perpajakan seperti ini sebaiknya dikaji secara mendalam sehingga hanya untuk aktivitas-aktivitas yang layak didukung dan hanya jika pengurangan pajak adalah cara terbaik untuk melakukannya. tetapi juga dari aparat perpajakan yang harus melakukan audit atas laporan pajak penghasilan tersebut. Dengan adanya preferensi pajak ini. Dalam hal ini. Seharusnya. Walaupun demikian. Perbedaanperbedaan substansial yang timbul karena preferensi pajak inilah yang seringkali menyebabkan penghasilan kena pajak jumlahnya di bawah dari yang ditentukan oleh konsep tambahan kemampuan atau penghasilan komprehensif. preferensi pajak inilah yang menyebabkan penghasilan kena pajak berbeda dengan penghasilan komprehensif. Akan tetapi. Preferensi pajak dapat dipandang sebagai subsidi pada aktivitas ekonomi tertentu. berbagai aturan khusus ini sebagai suatu preferensi pajak ternyata menambah kerumitan perhitungan pajak sehingga secara administratif membebani tidak saja bagi wajib pajak dalam melaporkan pajak penghasilannya. sering disebut sebagai kehilangan potensi pajak. kehilangan potensi pajak atau penyusutan penerimaan pajak ini . apakah subsidi ini harus diberikan dalam bentuk pengurangan pajak. pengurangan dapat dipandang sebagai hibah yang diberikan oleh pemerintah kepada wajib pajak sehingga biaya pelaksanaan aktivitas-aktivitas tertentu yang bermanfaat menjadi berkurang. yaitu keuntungan yang didapatkan dapat jauh melebihi kerugiannya pada aspek keadilan pajak. penghasilan kena pajak setelah pengecualian dan pengurangan sama dengan tambahan kemampuan ekonomis. Pertanyaannya adalah apakah aktivitas yang perlu didukung itu membutuhkan subsidi.182 Bab 9: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Pribadi iklim investasi. Preferensi pajak menyebabkan pengurangan atas basis pajak. Jika subsidi dibutuhkan. Hanya saja.

pengeluaran pajak ini adalah sama dengan memperoleh penerimaan pajak sepenuhnya (tanpa ada aturan preferensi pajak) kemudian melakukan pengeluaran (subsidi) dengan jumlah yang sama kepada wajib pajak sehingga wajib pajak tetap pada posisi yang sama. preferensi pajak dapat dinetralisasi dengan pengenaan tarif pajak yang lebih progresif. Dalam hal ini. Misalnya. wajib pajak yang menerima penghasilan dalam bentuk natura membayar lebih sedikit daripada pegawai yang menerima seluruh penghasilannya dalam bentuk kas. Keberadaan preferensi pajak tidak menjadi masalah keadilan pajak apabila basis pajak yang berkurang karena pengecualian dan pajak final dalam jumlah yang proporsional terhadap basis pajak sepenuhnya (tanpa preferensi pajak) bagi seluruh wajib pajak.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 183 disebut pengeluaran pajak (tax expenditure). Pada kenyataannya. Pada dasarnya. bagaimana aturan pajak menciptakan preferensi pajak bagi golongan-golongan wajib pajak dengan penghasilan tertentu. sehingga menimbulkan adanya ketidakadilan secara vertikal dan horizontal. . Hal ini sama dengan memberikan pengurangan tarif pajak maksimal yang sama bagi seluruh wajib pajak. Ketidakadilan pajak secara vertikal dapat timbul karena preferensi pajak memberikan manfaat-manfaat yang hanya dinikmati oleh kelompok wajib pajak dengan penghasilan tertentu. Ketidakadilan pajak secara horisontal terjadi karena wajib pajak dengan penghasilan sama tidak mendapat manfaat yang sama karena perbedaan aturan. kehilangan potensi pajak dari aturan pajak terhadap laba modal cenderung lebih dinikmati oleh wajib pajak berpenghasilan tinggi karena merekalah yang memiliki lebih banyak aset daripada wajib pajak berpenghasilan rendah. di Amerika Serikat. insiden preferensi sangat bervariasi. Untuk di Indonesia. aturan yang membebaskan pajak atas bunga pinjaman rumah sama dengan mengenakan pajak penuh atas bunga pinjaman kepada pemilik rumah dan kemudian secara bersamaan melakukan pengeluaran subsidi kepada mereka. penelitian tentang hal ini ada. Misalnya. Misalnya. Istilah penyusutan penerimaan pajak digunakan karena kegagalan otoritas pajak mendapatkan penerimaan pajak disebabkan lubang-lubang dalam basis penghasilan kena pajak. baik bagi wajib pajak rata-rata pada berbagai tingkat penghasilan maupun wajib pajak tertentu pada satu tingkatan pajak penghasilan.

konsep yang sangat dipengaruhi oleh praktek akuntansi. Pembayaran bunga akan mengakibatkan kerugian yang besar pada periode-periode awal beroperasinya firma tersebut sebelum memperoleh penghasilan yang cukup besar. firma tersebut dapat meminjam dalam jumlah yang banyak dengan jaminan harta real estatenya.184 Bab 9: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Pribadi Permasalahan Keadilan Berpenghasilan Tinggi Pajak Bagi Wajib Pajak Wajib pajak berpenghasilan tinggi dapat menggunakan preferensi pajak untuk melakukan penghindaran pajak. Para investor dengan penghasilan yang sangat besar pada periode ini dan penghasilan kecil pada periode berikutnya akan memperoleh manfaat yang besar dengan skema pengurangan pajak seperti ini. Berapa besarnya penghasilan minimal yang tidak dikenakan pajak? Pada umumnya. Permasalahan Keadilan Berpenghasilan Rendah Pajak Bagi Wajib Pajak Keadilan pajak menyiratkan bahwa wajib pajak berpenghasilan tinggi harus membayar pajak dalam jumlah besar dan wajib pajak berpenghasilan rendah hanya membayar pajak dalam jumlah kecil. investor dapat menghapuskan kerugian yang besar tersebut pada penghasilan mereka sehingga mengurangi pajak yang dibayarkan pada periode awal tersebut. Dengan melakukan investasi pada firma tersebut. Contohnya. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya. Dengan investasi modal yang kecil. suatu perusahaan perseorangan atau firma dibentuk untuk investasi di dunia real estate. Cara penghindaran pajak yang paling utama adalah adanya tax shelter yang timbul dari kerugian usaha. Kedua aturan ini memang konsisten dengan konsep tentang laba bersih sebagai basis pajak. kerugian merupakan penghasilan negatif sehingga dapat digunakan untuk mengurangi penghasilan kena pajak. terutama yang berkaitan dengan berbagai jenis penghasilan modal. Keduanya dapat dikombinasikan sedemikian rupa untuk mengurangi beban pajak dengan membentuk suatu tax shelter. yaitu menciptakan kerugian dengan memunculkan biaya bunga yang besar. Bunga adalah satu-satunya biaya modal yang dapat dikurangkan sebagai biaya dalam menghitung penghasilan kena pajak. semua orang sependapat bahwa ada sejumlah tertentu penghasilan yang tidak boleh dikenakan pajak atau dikenakan pajak dengan .

Hal ini menimbulkan permasalahan ketidakadilan pajak karena aturan pajak telah terdistorsi untuk memenuhi tujuan-tujuan non fiskal. ada PTKP bagi anggota keluarga yang memiliki penghasilan untuk wajib pajak yang bersangkutan dan pasangannya masing-masing sebesar Rp1. Batas bebas pajak tersebut tidak hanya penting dalam menentukan batas bawah untuk kewajiban pajak.000 per wajib pajak.000.440.000. tarif pajak efektif (yang didefinisikan sebagai rasio pajak terhadap penghasilan neto) pada tingkat penghasilan neto yang rendah jumlahnya sangat kecil karena PTKP merupakan porsi terbesar dari penghasilan neto.440. pasangannya dan setiap tanggungan (maksimal tiga tanggungan). Penghasilan yang dikenakan pajak (yang dikenai tarif pajak lebih dari nol persen) harus didefinisikan sebagai penghasilan kena pajak dikurangi dengan PTKP (yang dikenai tarif pajak nol persen). ada PTKP sebesar Rp1. tetapi juga menentukan besarnya tarif pajak efektif atau pola progresivitas pada skala penghasilan menengah ke bawah.000. PTKP adalah penghasilan yang dikenakan tarif pajak sebesar nol persen dan merupakan bagian integral dari struktur tarif pajak sehingga menentukan tingkat progresivitas tarif pajak. jumlah maksimal tanggungan adalah tiga orang karena adanya tujuan tambahan untuk mendukung program keluarga kecil. Kredit Pajak bagi Wajib Pajak berpenghasilan Rendah . jumlah PTKP turun secara relatif terhadap penghasilan neto sehingga tarif pajak efektif naik. Berikutnya. Pertama. jumlah PTKP maksimal adalah Rp7. Seperti dikemukakan sebelumnya. harus memiliki jumlah tanggungan lebih dari tiga orang. Titik awal beban pajak bergantung pada berbagai faktor. Ketika penghasilan neto naik. PTKP memperhitungkan ukuran keluarga dengan asumsi implisit bahwa tambahan tanggungan tidak menciptakan skala ekonomis. pemerintah perlu selalu menyesuaikan besarnya PTKP sehingga mencerminkan tingkat penghasilan wajib pajak “miskin”.200. Berdasarkan faktor ini. Di Indonesia.800. besarnya penghasilan tidak kena pajak pun harus menyesuaikan dengan ukuran besarnya keluarga. Ditambah dengan faktor ini maka jumlah PTKP maksimal adalah Rp10. PTKP bergantung pada jumlah tanggungan keluarga sampai dengan maksimal tertentu. Ukuran untuk menentukan jumlah PTKP ini adalah tingkat penghasilan yang rendah yang membuat wajib pajak diklasifikasikan sebagai “miskin. Dalam hal ini. Dengan adanya PTKP ini. walaupun kategori “miskin” ini multi interpretasi. Dengan demikian.” Karena tingkat kemiskinan bervariasi sesuai dengan ukuran besarnya keluarga.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 185 tarif nol persen. Ketidakadilan didapatkan oleh wajib pajak karena sesuatu dan lain hal.

proporsional apabila tarif pajak konstan pada semua tingkat penghasilan. Untuk keluarga seperti ini. Prinsip progresivitas tidak saja menyatakan seberapa tinggi tarif pajak yang dikenakan kepada wajib pajak berpenghasilan besar tetapi juga seberapa besar transfer yang dapat diberikan kepada wajib pajak miskin. Pajak dikatakan progresif apabila tarif pajak cenderung meningkat sejalan dengan kenaikan tingkat penghasilan. Bila peningkatan kewajiban pajak lebih rendah daripada peningkatan penghasilan.186 Bab 9: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Pribadi Pada negara maju. Praktek ini dapat dilakukan dengan memberikan kredit pajak pada para wajib pajak berpenghasilan rendah. Progresivitas tidak hanya diukur dengan peningkatan kewajiban pajak sejalan dengan peningkatan penghasilan. POLA PROGRESIVITAS TARIF PAJAK Pajak penghasilan merupakan suatu instrumen pajak yang progresif sesuai dengan prinsip kemampuan membayar dan keadilan pajak secara vertikal. Progresivitas ini memiliki arti tertentu dan diukur dengan cara tertentu. Kredit Pajak untuk Biaya Mengasuh Anak Sejalan dengan perkembangan tentang hak-hak wanita dan perlakuan yang adil terhadap penghasilan keluarga. Arti Progresivitas Tarif Pajak Pada saat membahas penghasilan neto. Struktur tarif pajak tidak lagi selalu positif. tarif pajak yang dikenakan meningkat seiring dengan peningkatan penghasilan neto. mereka harus menyediakan dana untuk menyewa pengasuh bagi anak-anak mereka. Peningkatan kewajiban pajak harus lebih tinggi daripada peningkatan penghasilan untuk dapat dianggap sebagai pajak progresif. dan regresif bila tarif pajak turun pada tingkat penghasilan yang lebih tinggi. telah muncul pemikiran-pemikiran dan praktek-praktek berkaitan dengan tarif pajak negatif. Selain itu. semakin progresif pajak penghasilan. semakin cepat kenaikan rasio pajak terhadap PNB. . aturan hukum di negara maju menyediakan kredit pajak bagi keluarga yang memiliki anak dan pasangannya juga bekerja. tetapi bergerak dari tarif negatif pada penghasilan nol (wajib pajak pada tingkatan penghasilan ini mendapatkan subsidi dari pemerintah) bergerak ke angka nol (titik impas) dan menjadi tarif positif pada angka di atas titik impas ini. pajak tersebut dianggap regresif.

Ukuran ini disebut sebagai progresivitas kewajiban pajak. Progresivitas pada semua indikator cenderung menurun seiring dengan kenaikan skala penghasilan setelah tingkatan penghasilan (Y − T ) − (Y0 − T0 ) Y0 . Kurva tarif efektif cenderung berkurang kemiringannya dan progresivitas cenderung menurun seiring dengan meningkatnya skala T1 − T0 Y1 Y0 penghasilan. cit.Rumusnya: Y1 − Y0 n Rasio persentase perubahan kewajiban pajak terhadap perubahan penghasilan. 359-360 . Koefisien ini mengukur kemiringan kurva yang diperoleh dari menggambar hasil bagi kewajiban pajak terhadap penghasilan pada bagan log-ganda. Musgrave dan Peggy B. hal. Ukuran ketiga atau progresivitas penghasilan residu mencatat elastisitas dari penghasilan setelah pajak Ukuran ini menunjukkan kemiringan kurva yang diperoleh dengan menggambar penghasilan sebelum dan sesudah pajak pada bagan log. Rumusnya: T1 − T0 Y0 . Koefisiennya juga satu untuk pajak proporsional tetapi progresivitas sekarang ditunjukkan dengan angka koefisien yang kurang dari satu. ada beberapa ukuran dapat dipakai untuk mengukur tingkat progresivitas tarif pajak.Rumusnya: 1 1 (Y0 − T0 ) Y1 − Y0 n Sebelum membandingkan tingkat progresivitas suatu struktur pajak atau tingkat progresivitas pada berbagai tingkatan penghasilan. mencatat elastisitas kewajiban pajak terhadap penghasilan. T0 Y1 − Y0 Rasio persentase perubahan penghasilan setelah pajak terhadap persentase perubahan penghasilan sebelum pajak. yaitu3: n Rasio perubahan tarif efektif terhadap perubahan penghasilan. Nilai dari koefisien ini adalah nol untuk pajak proporsional dan positif untuk pajak progresif. Hal ini sangat 3 Richard A.. Musgrave. tertentu. merupakan ukuran kemiringan kurva yang diperoleh dari menggambar hasil bagi tarif pajak efektif terhadap penghasilan. Ukuran ini disebut sebagai progresivitas tarif rata-rata (average-rate progression). Proporsionalitas ditunjukkan dengan nilai koefisien sama dengan satu dan progresivitas ditunjukkan dengan nilai koefisien di atas satu.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 187 Mengukur Tingkat Progresivitas Menurut Musgrave dan Musgrave (1989). perlu ditetapkan terlebih dahulu ukuran progresivitas apa yang akan digunakan. op.

PENYESUAIAN TERHADAP INFLASI Pada bagian sebelumnya telah dibahas pengaruh inflasi terhadap penghasilan nominal. Tarif-tarif pajak dinaikkan pada persentase yang semakin besar pada tarif-tarif yang lebih tinggi. Permasalahan inflasi tidak hanya berkaitan dengan angka nominal penghasilan. tetapi juga PTKP. n Jika yang dimaksud dengan netralitas adalah progresivitas kewajiban pajak ditetapkan konstan. pemerintah memutuskan untuk menaikkan tarif pajak. banyak pihak yang mengusulkan perubahan pada seluruh tarif untuk menjaga kenetralan kenaikan dan penurunan. Pihak-pihak yang memperjuangkan kepentingan masyarakat yang berpenghasilan rendah tentu saja akan sangat berkeinginan untuk menginterpretasikan netralitas dalam bentuk yang paling diinginkan yaitu progresivitas tarif rata-rata. Ketika tarif-tarif pajak dinaikkan atau diturunkan. Misalnya. dan laba modal. besaran pajak yang dikenakan tarif tertentu. semua hutang pajak harus dinaikkan dengan persentase yang sama. tarif-tarif pajak akan dinaikkan pada persentase yang semakin kecil pada tarif-tarif yang lebih tinggi. . Debat mengenai tingkat progresivitas ini menjadi hal yang sangat penting ketika tarif-tarif pajak berubah. Padahal kenetralan tersebut memiliki banyak interpretasi sejalan dengan adanya berbagai ukuran progresivitas. Yang lebih menarik lagi adalah urutan preferensi tersebut akan terbalik bila yang diperjuangkan adalah pengurangan pajak. Secara teoritis.188 Bab 9: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Pribadi penting supaya terhindar adanya pembandingan tingkat progresivitas dengan menggunakan ukuran-ukuran progresivitas yang berbeda. Ada implikasi politis dari hal-hal yang sifatnya teoritis. seperti halnya ukuran tingkat progresivitas pajak. tambahan kemampuan ekonomis harus memperhitungkan tingkat inflasi sehingga hanya penghasilan dalam nilai riil saja yang layak untuk dikenai pajak penghasilan. n Jika yang dimaksud dengan netralitas adalah progresivitas penghasilan residu ditetapkan konstan. pihak-pihak tertentu akan menginterpretasikan netralitas sesuai dengan kepentingannya. kemudian progresivitas kewajiban pajak dan yang terakhir adalah progresivitas penghasilan residu. semua tarif pajak dinaikkan sebesar persentase kenaikan yang sama. n Jika yang dimaksud dengan netralitas adalah progresivitas tarif pajak ratarata ditetapkan konstan. Dengan demikian. Pihak-pihak yang memperjuangkan kepentingan masyarakat berpenghasilan tinggi akan cenderung mengambil posisi yang berlawanan.

sebagian dikenakan pajak final dan sebagian lagi dikenakan pajak reguler. Itupun tidak dilakukan setiap tahun. Tingkat penghasilan riil yang mulai dikenakan pajak dengan tarif tertentu juga semakin turun. peraturan pajak di Indonesia hanya menyesuaikan PTKP.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 189 PTKP dan Tingkat Penghasilan yang Dikenakan Tarif Pajak Inflasi menyebabkan nilai riil dari PTKP menjadi turun. Ketika hargaharga naik. Dengan demikian. wajib pajak di Indonesia mengalami kenaikan kewajiban pajak dalam nilai riil. Oleh karena itu. Penghasilan/Laba Modal Masalah inflasi juga mempengaruhi besarnya kewajiban pajak atas laba modal. Bila peraturan perpajakan konsisten menggunakan basis tambahan kemampuan ekonomis yang diukur dalam satuan nilai riil maka aturan perpajakan harus membolehkan kreditor mengakui kerugian dan juga mengharuskan debitor mengakui keuntungan. tetapi beberapa tahun sekali. Dengan demikian. Sementara itu.000 sepuluh tahun yang lalu nilai riilnya lebih besar dari sekarang. penurunan nilai hutang ini menjadi keuntungan bagi debitor. Nilai PTKP sebesar Rp2. nilai riil dari tingkat penghasilan yang dikenakan tarif pajak turun. nilai riil dari PTKP cenderung turun. diperlukan penyesuaian terhadap inflasi dengan mengurangkan kenaikan harga aset dari inflasi dari laba modal nominal. Depresiasi adalah pos berikutnya yang dipengaruhi inflasi.440. kewajiban pajak naik dalam nilai riil lebih cepat daripada kenaikan harga. sehingga tingkat tarif pajak yang berlaku untuk tingkat penghasilan riil tertentu akan naik. ketika harga-harga naik. Selain itu. tingkat penghasilan yang dikenakan tarif pajak tertentu tidak pernah disesuaikan. Karena pajak di Indonesia tidak terlindung dari pengaruh inflasi. Permasalahan pengaruh inflasi yang sama juga dialami oleh kreditor yang menderita kerugian penurunan nilai riil hutang yang mereka berikan kepada debitor. Salah satu solusi yang pernah diusulkan adalah mengurangi penghasilan bunga kena pajak sesuai dengan tingkat inflasi. Berkaitan dengan pengaruh inflasi. bukannya laba dalam nilai nominal (kenaikan harga dalam nilai nominal). Solusi atas . pengembalian dari biaya perolehan aktiva berkurang dalam nilai riil dan penyesuaian inflasi juga diperlukan dalam hal ini. Perlakuan yang sama terhadap laba modal seharusnya hanya akan mengenakan pajak atas laba dalam nilai riil (kenaikan harga dalam nilai riil). Tentu saja. Laba modal yang sudah terealisasi.

Pendekatan Unit Keluarga Pendapat umum dari para ahli perpajakan adalah bahwa unit kena pajak dan pengukuran kemampuan untuk membayar harus diarahkan kepada unit keluarga. Musgrave dan Musgrave (1989) memberikan tiga aturan berikut agar pilihan unit kena pajak tersebut memenuhi asas keadilan pajak. Alternatif lainnya adalah pemilihan individu sebagai unit kena pajak dan pengukuran kemampuan untuk membayar. Aturan Dasar Dalam hal penetapan unit kena pajak. Aturan ini tidak perlu penjelasan lebih lanjut karena aturan ini secara sederhana mewakili persyaratan bahwa hal yang sama harus diperlakukan sama juga. 386. hal. Ada hal yang perlu dipertegas bahwa aturan ini tidak membedakan kemampuan untuk membayar dalam konteks unit keluarga apakah penghasilan diperoleh oleh satu anggota atau lebih. pengeluaran-pengeluaran konsumsi lainnya (misalnya kursi untuk santai) 4 Richard A. yaitu4: § Unit-unit dengan penghasilan yang sama dan jumlah anggota yang sama harus membayar pajak yang sama jumlahnya. § Di antara unit-unit yang berpenghasilan sama. PILIHAN UNIT KENA PAJAK Pemilihan unit kena pajak merupakan salah satu hal yang kontroversial dalam pajak penghasilan yang belum ada solusi yang memadai saat ini. . Musgrave dan Peggy B.. unit yang jumlah anggotanya lebih kecil harus membayar pajak lebih banyak dan unit yang jumlah anggotanya lebih besar harus membayar pajak lebih sedikit. Walaupun beberapa jenis pengeluaran konsumsi (misalnya penerangan di ruang tamu) dikonsumsi dalam jumlah yang sama baik oleh satu orang atau dua orang. Musgrave. Aturan ini menunjukkan proposisi bahwa seorang bujangan dengan penghasilan Rp 30 juta memiliki posisi (kemampuan) lebih baik daripada pasangan dengan total penghasilan keduanya juga Rp 30 juta. cit. op.190 Bab 9: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Pribadi permasalahan ini dalam perundang-undangan pajak hanyalah parsial dalam bentuk penggunaan metode penyusutan dipercepat. Problema ini muncul karena adanya kecenderungan lebih dari anggota keluarga memperoleh penghasilan sebagai akibat kecenderungan sosio ekonomis meningkatnya partisipasi wanita dalam angkatan kerja.

kewajiban pajak gabungan pasangan suami istri bergantung pada bagaimana penghasilan terdistribusi di antara mereka. Perbedaan seperti ini (pada jumlah yang layak) tidak boleh dipandang sebagai pajak yang diskriminatif terhadap seorang bujangan. baik proporsional. Oleh karena itu.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 191 § lebih mahal apabila untuk pasangan. Sistem pengenaan pajak penghasilan di Indonesia menempatkan keluarga sebagai satu kesatuan ekonomis. Pendekatan Alternatif: Unit Peroleh Penghasilan Pendekatan alternatif dalam memilih unit kena pajak adalah dengan mengabaikan unit keluarga dan menggunakan individu sebagai unit yang dikenakan pajak. Dengan pengenaan pajak progresif. Penggabungan penghasilan ini tidak mengurangi jumlah PTKP yang dapat dikurangkan dari penghasilan. Seperti yang dijelaskan sebelumnya. menggunakan struktur tarif pajak yang berbeda untuk berbagai jenis SPT yang didasarkan pada jumlah tanggungan. perlakuan yang adil apabila pajak yang dikenakan kepada seorang bujangan tersebut lebih tinggi daripada pajak yang dikenakan kepada pasangan suami-istri dengan tingkat penghasilan yang sama. baik hanya satu orang dari pasangan yang menikah tersebut yang memiliki penghasilan ataupun kedua-duanya. baik ketika penghasilan masih dilaporkan sendiri maupun penghasilan digabungkan. aturan perpajakan membolehkan tambahan PTKP sesuai dengan ukuran keluarga. walaupun dibatasi hanya sampai tiga tanggungan. . Struktur tarif yang digunakan. tidak menimbulkan perbedaan. Pendekatan ini memberikan perlakuan yang lebih menguntungkan bagi wajib pajak yang berpenghasilan rendah. Pertama. Aturan ini mengikuti secara langsung prinsip progresivitas dan tidak perlu penjelasan lebih lanjut. artinya penghasilan atau kerugian dari seluruh anggota keluarga digabungkan sebagai satu kesatuan yang dikenakan pajak. Bila individu ditetapkan sebagai unit kena pajak. menetapkan PTKP tertentu sesuai dengan jumlah tanggungan dan jumlah penerima penghasilan. Kedua. progresif ataupun regresif. Sistem yang mengikuti aturan-aturan keadilan ini tidak akan mempengaruhi keputusan pernikahan. jumlah pajak (yang dinyatakan dalam persentase terhadap penghasilan) untuk unit-unit dengan jumlah anggota yang sama harus naik seiring dengan kenaikan penghasilan unit. Penggabungan Penghasilan Ada dua cara untuk mencapai tujuan seperti yang tercantum pada aturan dasar di atas. status dan jumlah penerima penghasilan.

Pertanyaan ini berkenaan dengan apakah pengurangan tersebut diberikan dalam bentuk pengurang atas penghasilan atau kredit pajak. Pendekatan pengurang atas penghasilan lebih tepat digunakan jika biayanya diukur dalam berapa banyak pengeluaran akan dilakukan. sudah selayaknya diberikan keringanan pajak yang lebih besar pula. Pendekatan kredit pajak lebih tepat digunakan bila setiap tambahan tanggungan diukur dalam satuan pengeluaran standar (misalnya pengeluaran rata-rata). Suatu keluarga besar (dengan tanggungan yang lebih banyak) dengan penghasilan neto tertentu mempunyai kemampuan untuk membayar yang lebih rendah daripada keluarga kecil (dengan tanggungan yang lebih sedikit) dengan penghasilan neto yang sama. seperti kesimpulan kita pada pembahasan tentang imputed income di muka.192 Bab 9: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Pribadi Tanggungan dan Pasangan yang Tidak Bekerja Jumlah tanggungan menjadi pertimbangan utama dalam mengukur kemampuan untuk membayar dari suatu unit keluarga. yang keduanya memiliki penghasilan. atau menganggur. C dan D. yang harus dimasukkan sebagai tambahan kemampuan. Pertanyaan pertama. Pertanyaan ini akan menyangkut masalah bagaimana memperlakukan anak-anak yang tinggal jauh dari orang tua dan yang memiliki penghasilan. Peraturan pajak di Indonesia menggunakan cara ini dengan memberikan pengurangan atas penghasilan neto sebesar Rp1.000 untuk setiap tanggungan. menjaga anak-anak. Cara lain dari perlakuan pajak terhadap tanggungan adalah PTKP. siapa yang menjadi tanggungan. Pertanyaan kedua bagaimana pengurangan diberikan. ada sepasang suami istri A dan B dimana A memiliki penghasilan dan B tidak memiliki penghasilan. Pertanyaan terakhir dalam pajak penghasilan adalah bagaimana pengaturan tentang pasangan yang tidak bekerja dan hanya tinggal di rumah untuk mengurus rumah. Asumsikan bahwa A dan C penghasilannya sama dan bahwa B memiliki potensi penghasilan yang sama dengan D. Misalnya. Ada dua pertanyaan berkenaan dengan tanggungan ini. imputed income (dalam bentuk gaji yang tidak didapatkan) dari pasangan yang tidak bekerja harus dimasukkan ke dalam dasar pengenaan . Karena wajib pajak dengan penghasilan yang tinggi mengeluarkan biaya untuk tanggungan (anak) yang lebih besar. Dalam peraturan perpajakan sekarang ini keluarga C dan D membayar pajak lebih besar daripada keluarga A dan B. Padahal berdasarkan aturan opsi yang sama (bekerja dan tidak bekerja) keduanya harus membayar pajak dalam jumlah yang sama.440. Secara prinsip. Kemudian ada pasangan lain. tapi dengan jumlah maksimal tiga tanggungan.

baik yang berasal dari Indonesia maupun luar Indonesia. Untuk memudahkan penagihan dan meningkatkan ketaatan pajak. kesulitan ini dapat dihilangkan dengan menggunakan aturan perataan yang tepat. Penghasilan harus didefinisikan dalam satuan riil. upah. dan hasil penjualan aset) ataupun terakumulasi dalam bentuk kenaikan nilai aset (capital gain) yang belum terealisasi. Dalam membedakan antara penghasilan dari pekerjaan (upah dan gaji) dan penghasilan dari modal. secara prinsip. tidak menjadi perbedaan apakah penghasilan tersebut telah diterima secara kas (seperti gaji. bila dibandingkan jika capital gain tersebut diterima sebagai pendapatan tetap. Perolehan warisan atau hibah merupakan tambahan kemampuan ekonomis bagi penerima sehingga harus dimasukkan ke dalam basis pajak penghasilan bagi penerimanya. § § § § § . Sesuai dengan definisi penghasilan. pada beberapa transaksi tertentu berlaku tarif pajak final. Capital gain sifatnya tidak teratur dan cenderung berfluktuasi sehingga wajib pajak harus membayar lebih banyak dalam sistem tarif pajak yang progresif. Penghasilan dalam konsep tambahan kemampuan ekonomis (accretion concept) harus diukur dalam satuan penghasilan neto. yaitu penghasilan setelah dikurangi dengan biaya-biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan penghasilan. Penghasilan bruto yang telah dihitung kemudian dikurangkan dengan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) untuk mendapatkan jumlah Penghasilan Kena Pajak (PKP). Logika tambahan kemampuan ekonomis (accretion) menyatakan bahwa penghasilan yang diterima dalam bentuk imputed income (misalnya pemilikan aset jangka panjang) dan natura dalam bentuk santai harus dimasukkan ke dalam basis pajak. ditekankan bahwa penghasilan dari pekerjaan harus dikenakan beban pajak yang lebih ringan.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 193 pajak. Selain itu. yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan wajib pajak yang bersangkutan dalam nama dan bentuk apapun. prosedur yang sama juga harus diberlakukan kepada bujangan yang tidak bekerja RANGKUMAN § Penghasilan yang menjadi objek pajak adalah setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh wajib pajak.

Laba yang belum terealisasi . Pengurangan khusus dapat dipandang sebagai suatu cara untuk menyediakan insentif penggunaan penghasilan untuk hal-hal yang mulia seperti sumbangan sosial. Laba yang telah terealisasi b. seperti tagihan biaya pengobatan yang besar.194 § Bab 9: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Pribadi § § § § Iuran pensiun dan bentuk pembayaran tabungan hari tua lainnya seharusnya tidak boleh dikurangkan dari penghasilan. Prinsip progresivitas tidak saja menyatakan seberapa tinggi tarif pajak yang dikenakan kepada wajib pajak berpenghasilan besar tetapi juga seberapa besar transfer yang dapat diberikan kepada wajib pajak miskin. Imputed Income 4. Bagaimana pengenaan pajak penghasilan atas : a. Mengapa perlakuan terhadap pajak final dianggap melanggar prinsip keadilan pajak? 6. wajib pajak dengan tagihan-tagihan darurat yang berat. Pada prinsipnya. Jelaskan prinsip dasar pengenaan pajak penghasilan dan bagaimana menentukan penghasilan kena pajak! 2. Penghasilan tidak teratur c. dan ketika uang manfaat pensiun atau tabungan hari tua diterima di kemudian hari. Warisan b. Jelaskan perbedaan prinsip Capital Income dan Labor Income! 3. Tingkat kemiskinan bervariasi sesuai dengan ukuran besarnya keluarga. Bagaimana penerapan pajak penghasilan terhadap: a. Secara keadilan. artinya penghasilan atau kerugian dari seluruh anggota keluarga digabungkan sebagai satu kesatuan yang dikenakan pajak. imputed income (dalam bentuk gaji yang tidak didapatkan) dari pasangan yang tidak bekerja harus dimasukkan ke dalam dasar pengenaan pajak. LATIHAN 1. sehingga beban pajak pun harus menyesuaikan dengan ukuran besarnya keluarga. hanya komponen bunganya saja yang dikenakan pajak penghasilan. Sistem pengenaan pajak penghasilan di Indonesia menempatkan keluarga sebagai satu kesatuan ekonomis. dapat dikatakan memiliki kemampuan untuk membayar yang lebih kecil dibandingkan para wajib pajak lainnya yang tidak menghadapi tagihan-tagihan darurat tersebut. Apa yang dimaksud dengan pajak final dan apa tujuan diberlakukannya? 5.

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 195 c. Jelaskan bagaimana aspek keadilan yang diberlakukan untuk pengurangan jumlah pajak penghasilan yang dikenakan terhadap wajib pajak! 8. Bagaimana bentuk ketidakadilan pajak yang terjadi akibat adanya preferensi pajak ? 9. Tabungan hari tua d. Apa pengaruhnya terhadap pengenaan pajak penghasilan wajib pajak tersebut? . Wajib pajak yang mempunyai penghasilan tinggi cenderung menginvestasikan uang mereka dibandingkan dengan menabungnya. Asuransi Jiwa 7. Iuran Pensiun e.

Pada dasarnya semua pengeluaran dapat dibebankan sebagai biaya apabila mempunyai hubungan langsung dengan usaha atau kegiatan untuk mendapatkan. Pengeluaran untuk penghasilan yang bukan merupakan objek pajak tidak boleh dibebankan sebagai biaya.PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK BADAN STRUKTUR PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK BADAN Prinsip dasar penentuan penghasilan kena pajak untuk wajib pajak badan tidak jauh berbeda dengan penentuan penghasilan kena pajak untuk wajib pajak pribadi yang mempunyai kegiatan usaha. menagih dan memelihara penghasilan bruto yang menjadi objek pajak. . Penghasilan bruto dari perseroan dikurangi dengan biaya-biaya yang dikeluarkan dalam rangka menjalankan usaha akan menghasilkan laba bersih (identik dengan penghasilan neto) untuk dikenakan pajak.

ditambah dengan masalahmasalah lain yang khusus ada pada pengenaan pajak penghasilan kepada wajib pajak badan. Wawancara terhadap Paul O’Neill.198 Bab 10: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan Demikian juga pengeluaran yang melebihi batas kewajaran karena adanya hubungan istimewa tidak boleh dibebankan sebagai biaya. O’Neill. oranglah yang menanggung beban pajak pada akhirnya. n Pajak penghasilan perseroan menurunkan standar hidup masyarakat.”1 Hal ini sejalan dengan pandangan para ahli ekonomi bahwa perseroan hanyalah lembaga atau unit yang mengumpulkan pajak untuk pemerintah. manajemen dan karyawan untuk memperoleh penghasilan. Jika konsumsi dijadikan basis pajak penghasilan. U. pajak penghasilan tidak boleh dikenakan kepada badan. The clear economic truth is that businesses and corporations don’t pay taxes. Secretary of Treasury. Beberapa fakta berikut merupakan hal-hal yang disepakati oleh para ahli ekonomi: n Warga negara yang menanggung beban pajak penghasilan perseroan. Perseroan hanyalah alat ekonomi bagi para investor. Sumber penghasilan dari korporasi hanya dapat dipajaki apabila didistribusikan dan dibelanjakan oleh penerimanya. n Pajak penghasilan perseroan merupakan praktek perpajakan berganda.S. banyak ahli ekonomi yang berpandangan bahwa perseroan sebaiknya tidak dikenakan pajak. Permasalahan ini diantaranya penentuan pengeluaranpengeluaran apa yang dapat dibebankan sebagai biaya dan kapan pembebanan tersebut dapat dilakukan. 21 Mei 2001.. they just collect them for the government . Dengan adanya kerumitan hukum dari perseroan dan hubungan di antara mereka. menambah kerumitan dalam merancang pajak penghasilan badan yang adil dan efisien. suatu pajak penghasilan badan yang adil bukanlah pajak yang sederhana.. PERLUKAH PERSEROAN DIKENAKAN PAJAK? Menteri Keuangan Amerika Serikat. pernah mengemukakan suatu pendapat: “For a long time we’ve maintained what I think is clearly a fiction – the idea that somehow corporations and business pay taxes. Dengan demikian. Pernyataan ini adalah jawabannya atas pertanyaan: “Bidang-bidang apa saja yang anda pandang membutuhkan perbaikan? 1 . Setiap industri memiliki kerumitan tersendiri sehingga sangat sulit untuk merancang suatu perlakuan pajak yang seragam untuk berbagai industri yang berbeda tersebut. Paul H. Musgrave dan Musgrave (1989) berpandangan pada dasarnya berpendapat senada. Beberapa pengecualian permasalahan penghasilan yang muncul pada wajib pajak pribadi juga muncul pada wajib pajak badan. Financial Times. manajemen ataupun karyawan. baik investor.

sebesar Rp7.000 didistribusikan sebagai dividen kepada A. Pertama. pertama pada tingkatan perseroan dalam bentuk pajak penghasilan badan. pengenaan pajak pada perseroan sebaiknya diintegrasikan ke dalam pengenaan pajak penghasilan pribadi dari penerima penghasilan yang bersumber dari perseroan. konsep keadilan. Pandangan Integrasi Pandangan integrasi ini adalah pandangan yang paling diterima oleh para ahli ekonomi. Apabila kedua pajak ini digabungkan.000. Bila mengenakan pajak pada laba perseroan. jumlahnya menjadi Rp4.000.000. Bagiannya pada laba suatu perseroan yang sahamnya ia miliki adalah Rp10. Pandangan lain yang berkembang di beberapa negara maju adalah mengintegrasikan penghasilan korporasi ke dalam pajak penghasilan individu. dan berikutnya pada tingkatan pribadi sebagai dividen dalam perhitungan pajak penghasilan pribadi. yang kemudian akan membayar pajak atasnya sebesar Rp1. Berikutnya. maka laba perseroan tersebut ketika didistribusikan dipajaki dua kali. dalam hal ini keadilan pajak hanya dapat diterapkan kepada pribadi. tanpa memperdulikan dari mana sumbernya. seorang wajib pajak . Kedua. Oleh karena itu. Pertama. Ketiga. pengenaan pajak kepada badan juga tetap dipertanyakan. seorang wajib pajak A adalah serorang wajib pajak dengan penghasilan besar sehingga membayar pajak penghasilan pribadi pada tarif pajak 25%. Badan (dalam hal ini perseroan) dikenakan pajak dan tidak dapat dikreditkan terhadap pajak penghasilan pribadi atas penghasilan dividen.000. Bila tidak ada pajak penghasilan badan. ada “kelebihan pajak” sebesar Rp1. Pandangan kedua ini yang digunakan oleh peraturan pajak penghasilan di Indonesia.000. Ada beberapa argumentasi untuk mendukung pandangan ini.000. ada dua pendapat dalam pengenaan pajak perseroan.750. Kedua pajak penghasilan perseroan sebagai pajak “absolut” terhadap penghasilan bersumber dari korporasi.000 hanya akan sebesar Rp2. Dengan demikian.000.500. Dalam hal ini. Sisanya. Para penganut posisi integrasi memandang bahwa pajak pada akhirnya menjadi beban dari orang-orang pribadi.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 199 Bila penghasilan digunakan sebagai basis pajak.250.750. penghasilan harus dipajaki secara keseluruhan dalam konsep penghasilan global.000.000). yang dikenakan pajak dengan tarif efektif sebesar 30% (atau sebesar Rp3. Misalkan. pengenaan pajak pada perseroan harus dipandang sebagai satu cara memasukkan semua penghasilan yang bersumber dari perseroan ke dalam basis pajak penghasilan pribadi.000. pada akhirnya pajak harus menjadi beban pribadi. pajak penghasilan yang dibayarkan pada penghasilan yang didistribusikan (dividen) sejumlah Rp10.

sebagai entitas yang terpisah.050. Dengan demikian. praktek yang sesuai dengan pengenaan pajak penghasilan dengan sistem integrasi. atau sebesar Rp4. Oleh karena itu.000.000.000. Baginya.000. sehingga ada kelebihan pajak sebesar Rp2. Apakah laba setelah pajak . sebagai wajib pajak yang berpenghasilan besar dan mempunyai banyak investasi menyebabkan proporsi dividen terhadap total penghasilan lebih besar pada wajib pajak A daripada pada wajib pajak B.500.050. pajak gabungan sama dengan Rp3. yang berpenghasilan kecil sehingga membayar pajak penghasilan pribadi pada tarif pajak 15%. pajak tambahan sebagai persentase dari total penghasilan akan lebih besar bagi A daripada bagi B.550. Pada kenyataanya sebagian dari laba korporasi setelah pajak ditanamkan kembali pada operasi perusahaan sebagai tambahan pada laba yang ditahan. perseroan adalah kekuatan ekonomi dalam suatu negara Perseroan yang dimiliki publik secara luas – merupakan wajib pajak besar yang menjadi sumber terbesar penerimaan pajak negara – bukan hanya instrumen untuk penghasilan pribadi. perseroan juga mempunyai kapasitas membayar pajak tersendiri. sebab semua penghasilan (termasuk yang diperoleh dari sumber perseroan) harus dipajaki dengan tarif yang sama. Beban pajak B lebih besar daripada beban pajak A. Walaupun perseroan bukan merupakan individu yang memiliki hak suara dalam pemilihan. Dengan tidak mengintegrasikan penghasilan. telah dikenakan pajak yang terpisah dan absolut. Pajaknya berdasarkan sistem integrasi hanya akan sebesar Rp1. sebagaimana paham tidak ada pajak tanpa perwakilan. Perseroan adalah pelaku ekonomi yang memiliki kekuatan besar dalam pengambilan keputusan ekonomi dan sosial melalui pengelolaan para profesional manajemen yang tidak secara langsung dikendalikan oleh pemegang saham secara individu.200 Bab 10: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan B. Walaupun.000. sistem pajak di Indonesia memberikan tambahan beban pajak dan beban pajak atas penghasilan yang bersumber dari perseroan lebih besar bagi pemegang saham kecil yang pajak penghasilan pribadinya sebenarnya lebih kecil. Laba yang tidak dibagikan ini tidak diperhitungkan sebagai penghasilan pemegang saham sehingga tidak dikenakan pajak dua kali.000 ditambah Rp1. pajak tambahan ini tidak adil bila ditinjau dari sudut pandang penganut integrasi. Perseroan adalah entitas legal yang memiliki keberadaan sendiri. sebaiknya pajak perseroan digantikan dengan pemungutan pajak pribadi atas sumber penghasilan dari perseroan. Pandangan Absolut Pandangan absolut memiliki pandangan yang berlawanan dengan pandangan integrasi.

Selain itu. seluruh pajak harus dibebankan pada orang. Maka kemampuan untuk membayar ini sulit untuk diaplikasikan pada perseroan. Bila terjadi penggeseran beban pajak. maka tujuan dari para penganut absolutisme untuk membebankan pajak tambahan pada penghasilan yang bersumber dari korporasi tidak akan tercapai. Konsep kapasitas membayar yang digunakan dalam pendapat ini lebih berkaitan dengan efek ekonomi dari pajak bukannya kemampuan untuk membayar yang digunakan dalam konteks keadilan pajak. Pajak ini dikatakan inferior karena tarif implisit dari pajak penjualan atau upah tidak memiliki korelasi yang jelas dengan rasio [marjin] laba atas penjualan atau rasio laba atas upah dari perseroan. harus dipajaki sebagai bagian dari penghasilan mereka. Pandangan absolutisme mendasarkan pada asumsi bahwa beban pajak dikenakan atas laba dan tidak digeserkan kepada pihak lain yaitu para pelanggan atau pekerja. tanpa landasan rasional dalam suatu struktur pajak yang adil. Pajak penghasilan atas perseroan telah menjadi pajak penjualan atau pajak atas upah yang inferior dan arbiter. alat-alat pajak dapat berguna pada situasi-situasi tertentu untuk tujuan peraturan perundang-undangan tersebut. yang terpisah dan seringkali tidak begitu jelas kaitannya dengan keinginan para pemegang saham. Pada akhirnya. Ada pendapat yang menyatakan bahwa kemampuan ini adalah kemampuan untuk membayar pajak tanpa mengalami kebangkrutan atau mengganggu operasinya. Tidak ada alasan mengapa para pemegang saham harus membayar pajak tambahan atau diberikan perlakuan khusus. sehingga membutuhkan kebijakan pengaturan (termasuk pengaturan pengenaan pajak) tersendiri pada tingkatan korporasi daripada tingkatan pemegang saham. Perseroan cenderung tidak membagikan laba untuk menghindari pengenaan pajak berganda. yang apabila dibagikan kepada . Para ekonomi juga telah membuktikan dengan berbagai riset bahwa praktek pengenaan pajak menurut pandangan absolut telah menimbulkan distorsi dalam perekonomian. Alasan pengenaan pajak pada perseroan karena lembaga ini memiliki kemampuan membayar pajak sendiri dan oleh karenanya harus dikenakan pajak terpisah.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 201 yang diperoleh akan dibagikan atau ditahan tidaklah relevan dalam konteks ini. pandangan absolut atau yang disebut juga pandangan klasik ini mempunyai dukungan yang sangat kuat untuk alasan bahwa perseroan adalah keberadaan yang memiliki kekuatan ekonomi dan sosial. Secara rasional. Laba perseroan merupakan bagian penghasilan para pemegang saham untuk alasan tambahan kemampuan ekonomis. Perseroan memang bertindak sebagai unit-unit pengambilan keputusan.

Akan tetapi. Dengan demikian. Hak ini tentu saja sangat berharga bagi korporasi. membantu transaksi-transaksi keuangan. Perseroan yang memiliki hak melakukan berbagai kegiatan berdasarkan kewajiban terbatas. Tujuan dari pajak atas manfaat adalah mengalokasikan biaya pemberian layanan publik kepada yang menerima manfaat. Akan tetapi sebagian dari layanan ini. biaya-biaya ini hanyalah faktor yang minor dan sulit untuk dijadikan alasan untuk mendukung pengenaan suatu pajak penghasilan. tetapi juga oleh berbagai bentuk organisasi lainnya. pemerintah daerah lebih berhak untuk mengenakan pajak. tidak hanya dinikmati oleh perseroan. Pertimbangan Manfaat Pemerintah dapat mengenakan pajak kepada siapapun dan apapun yang memperoleh manfaat dengan adanya pemerintahan. cara yang lebih rasional adalah menerapkan pajak umum atas kegiatan bisnis bukannya menerapkannya dengan menggunakan pajak penghasilan badan saja. apa basis yang tepat digunakan untuk mengenakan pajak tersebut. Besarnya pajak akan bervariasi sesuai dengan nilai layanan yang . Perseroan dapat diminta untuk membayar pajak karena menerima manfaat dari berbagai layanan pemerintah. Layanan-layanan tersebut misalnya memberi manfaat kepada perseroan dengan cara mengurangi biaya. bukannya untuk membebani manfaat yang tidak menimbulkan biaya. Pertama berkaitan dengan tingkatan pemerintahan mana yang harus mengenakan pajak. Walaupun pajak dapat dikenakan kepada perseroan atas dasar manfaat. Ada dua hal yang harus diputuskan. dan lain-lain. Dengan demikian. Kedua.202 Bab 10: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan investor mungkin dapat mereka gunakan untuk investasi-investasi yang lebih menguntungkan. Walaupun ada beberapa biaya pemerintah yang dikeluarkan dalam kaitannya dengan keberadaan perseroan secara khusus. memperluas pasar. Alasan-Alasan Lain Mengenakan Pajak kepada Perseroan Walaupun pandangan absolut atau klasik tidak dapat memberikan argumentasi yang kuat untuk mengenakan pajak atas perseroan berdasarkan prinsip kemampuan untuk membayar. lembaga yang memiliki kewajiban terbatas ini tidak membebani masyarakat oleh karenanya tidak layak dikenakan pajak atas manfaat yang didapat dari haknya. ada alasan-alasan lain yang dapat mendukung keberadaan pajak tersebut sehingga pajak tersebut diberlakukan seperti sekarang ini. Pemerintah daerah menyediakan sebagian besar layanan publik yang memberikan manfaat kepada bisnis.

yang tidak akan efektif untuk mengoreksi tingkat laku monopolistik. cit. dan sebagainya. Pengendalian ini tentu saja tidak akan menggunakan pajak umum atas laba. nilai properti akan lebih tepat menunjukkan nilai layanan pemadam kebakaran. Pengendalian ini membutuhkan pajak bisnis yang progresif. Tujuan-tujuan Peraturan Perundang-Undangan Berbagai alasan lain dikemukakan untuk mengenakan pajak penghasilan kepada perseroan. Dengan demikian. suatu pajak dapat digunakan untuk mencapai tujuan ini. transportasi akan menunjukkan layanan jalan raya. yang berkaitan dengan tingkat pembatasan monopolistik. Semua alasan ini didasarkan pada pandangan bahwa pajak adalah instrumen pengendali berkaitan dengan tingkah laku korporasi.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 203 diberikan. jumlah pegawai dan menunjukkan input untuk pengeluaran sekolah umum. Musgrave. . Oleh karena itu. Pengendalian ini memerlukan suatu pajak yang lebih kompleks. total biaya yang dikeluarkan pada daerah operasi lebih tepat digunakan sebagai ukuran keseluruhan. § Jika ada keinginan untuk membatasi ukuran absolut atau besarnya perusahaan (yang tidak sama dengan membatasi monopoli atau pangsa pasar). Pertanyaan berikutnya adalah apakah pajak tersebut sebaiknya dikenakan pada laba dan bukannya ukuran aset atau penjualan. Perusahaan-perusahaan besar dapat dimiliki oleh investor-investor kecil dan perusahaan-perusahaan kecil dapat dimiliki oleh investor-investor kaya. Jika ukuran umum yang digunakan. 2 Richard A. hal. bukannya sesuai dengan jumlah laba yang dihasilkan. Musgrave dan Musgrave (1989) menjelaskan alasan-alasan peraturan perundang-undangan tersebut sebagai berikut:2 § Pengendalian terhadap monopoli telah dilakukan dengan menggunakan alat peraturan perundang-undangan.. Musgrave dan Peggy B. op. tetapi pendekatan pajak dapat digunakan. Alasan progresivitas tentu saja bukanlah kemampuan untuk membayar seperti pada pajak penghasilan pribadi. bentuk pajak atas perseroan yang tepat bergantung pada tujuan kebijakan tertentu yang akan dicapai. 374-375. Progresivitas akan digunakan untuk memberlakukan diskriminasi terhadap perusahaan besar dan membatasi apa yang dianggap sebagai akibat-akibat sosial yang tidak diinginkan dari perusahaan-perusahaan besar. Walaupun ukuran yang besar tidak diinginkan. dengan nilai tambah (termasuk laba dan biaya-biaya faktor lainnya) sebagai kemungkinan kedua.

204 Bab 10: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan itu bukan alasan memberikan penalti kepada perusahaan besar yang menguntungkan. SIAPA YANG MENANGGUNG BEBAN PAJAK? . yang berbeda dari saving korporasi. Suatu situasi lain yang berbeda di mana pajak atas kelebihan laba secara selektif dapat dikenakan karena krisis tertentu. pajak atas kelebihan laba sulit diadministrasikan karena kelebihan laba tidak mudah didefinisikan. Pembatasan atas upah dalam kondisi seperti ini tidak dapat diterapkan secara efektif tanpa juga membatasi laba. sehingga memunculkan masalah yang sulit dalam hal menentukan tarif berapa yang cocok untuk setiap industri. § Suatu pajak atas kelebihan laba dapat dikenakan pada periode-periode krisis (seperti perang) ketika diperlukan pengendalian langsung atas upah dan harga. atau. suatu tingkat pengembalian standar. § Sebagai stimulus bagi formasi modal dan pertumbuhan. distribusi dividen perlu didukung sedangkan menahan laba perlu dihindari. dalam rangka mendukung berfungsinya pasar modal atau meningkatkan pengeluaran konsumsi. dalam hal ini disparitas risiko dapat terlewatkan. Kelebihan laba tersebut harus diukur dengan membandingkannya dengan periode dasar. seperti krisis harga minyak dan pelepasan kendali atas harga minyak. Alternatif kebijakan lain. yang memunculkan pengenaan pajak atas laba tak terduga dari kenaikan harga minyak. Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa instrumen pajak digunakan untuk mengendalikan tingkah laku perseroan dalam berbagai situasi akan tetapi bentuk pajaknya bukanlah pajak atas laba. saving korporasi perlu didukung dan distribusi dividen perlu dibatasi. Walaupun kelihatannya baik secara prinsip. Tujuan ini dapat dicapai dengan mengenakan pajak atas laba yang tidak dibagi dan mengecualikan laba yang dibayar sebagai dividen. pajak korporasi dapat digunakan untuk memberikan insentif atau disinsentif investasi. Tujuan ini dapat dicapai dengan mengenakan pajak atas dividen yang dibayarkan dan mengecualikan laba yang ditahan. Alat-alat seperti penyusutan dipercepat dan kredit pajak investasi dapat digunakan untuk tujuan ini dan juga dapat diterapkan secara siklus atau pada saat-saat tertentu. § Terakhir. tetapi akan muncul ketidakadilan karena perbedaan posisi awal. dan pajak atas kelebihan laba merupakan alat-alat yang berguna dalam kaitannya dengan situasi ini.

Hal ini dapat dilakukan bila perusahaan dalam situasi monopoli. jika penjualan yang dimaksimalkan. termasuk tingkat pengembalian dari pemegang saham korporasi. Demikian juga. Kemungkinan yang tersisa adalah mempelajari pengalaman sektor perseroan dan bagaimana berbagai komponen dalam sektor perseroan menanggapi perubahan pajak. sesuai dengan model kompetitif. Ada banyak upaya telah dilakukan pada tahun-tahun terakhir untuk memberikan bukti tentang ini. Hal ini merupakan pandangan yang tepat bila semua pasar beroperasi untuk memaksimalkan laba sehingga pemilik modal tidak dapat memindahkan beban pajak tersebut kepada pihak lain tanpa biaya. Beberapa industri yang menggunakan administered pricing. perolehan jawabannya akan cukup sederhana. Berbagai pemahaman dapat diperoleh dari memeriksa perubahan-perubahan harga yang terjadi dan membandingkan posisi-posisi relatif beberapa sektor sebelum dan sesudah perubahan pajak. Oleh karena itu. Para pelaku bisnis sering memiliki pandangan berbeda dan mereka memandang bahwa pajak adalah biaya yang harus dipindahkan pembebanannya kepada pihak lain. Hal ini tidak dapat dilaksanakan dalam dunia nyata karena pajak diterapkan pada semua perseroan dengan tarif efektif yang sama. perusahaan akan berusaha memindahkan beban pajak dengan menaikkan harga. siapa yang menanggung beban pajak bergantung pada struktur dan tingkah laku pasar yang ada. dan marjin laba perseroan. Hasil penelitian di Amerika Serikat yang berkaitan dengan perubahan tarif pajak dalam rangka menguji adanya pemindahan beban pajak menunjukkan hasil yang berbeda-beda yang konsisten dengan hipotesa pemindahan maupun . Dalam situasisituasi tersebut. Pemindahan beban dengan cara penyesuaian administered pricing (dibedakan dengan pemindahan beban karena perpindahan faktor dan perubahan pasokan faktor dalam pasar yang kompetitif) dapat terjadi. Apabila tarif pajak perseroan berbeda antar industri. Demikian juga. pembandingan antara tingkat pengembalian dari investasi pada perseroan dan non-perseroan sulit dilakukan karena ketidaktersediaan data pada usaha-usaha non-perseroan. bila pasar tenaga kerja tidak sempurna. atau bila aturan harga lainnya yang berubah. bagian laba perseroan dalam nilai tambah pada sektor perseroan. yaitu penentuan harga bukan berdasarkan mekanisme pasar.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 205 Sebagian besar ahli ekonomi memandang beban pajak penghasilan badan jatuh kepada pemilik modal. Pendekatan inipun tidak dapat menghasilkan pemahaman yang cukup jelas karena perubahan tarif pajak tidak sering terjadi. Hal yang sama juga berlaku pada pasar tenaga kerja yang terorganisir. pajak yang tinggi dapat dipindahkan kepada tenaga kerja dengan ditunjukkan pada keterbatasan daya tawar tenaga kerja pada perundingan dengan manajemen.

Beberapa studi lainnya mengindikasikan hasil yang sebaliknya. muncul pertanyaan bagaimana cara mengintegrasikan penghasilan perseroan ke dalam penghasilan pribadi. Dengan memasukkan tarif pajak korporasi. pengeluaran pemerintah. tingkat inflasi.206 Bab 10: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan hipotesa non-pemindahan. Integrasi Lengkap Integrasi lengkap adalah pendekatan pengenaan pajak penghasilan dengan mengintegrasikan seluruh bagian pendapatan dari perseroan. dan tarif pajak korporasi. INTEGRASI PAJAK Apabila pandangan bahwa pajak penghasilan perseroan diintegrasikan ke dalam pajak penghasilan pribadi adalah yang lebih diinginkan. Berbagai studi telah dilaksanakan dalam beberapa tahun terakhir. Dan juga. Tarif pajak efektif ini bergantung pada aturan penyusutan. kondisi ekonomi dan faktor-faktor lain. Pada kenyataannya. utilisasi kapasitas. yang terpenting adalah tarif pajak efektif bukannya tarif pajak nominal. Analisis ekonometrik tidak mampu secara bulat memisahkan pengaruh pajak dari beberapa perubahan yang terjadi secara bersamaan dalam pengeluaran publik. tarif pajak itu sendiri merupakan konsep yang kompleks. Hal ini terjadi karena banyaknya faktor-faktor nonpajak yang mempengaruhi hasil penelitian sehingga penelitian tidak dapat menunjukkan siapa sebenarnya yang menanggung beban pajak. para analis berharap menggunakan koefisien regresi dari variabel ini untuk mengukur pengaruh perubahan tarif pada tingkat pengembalian. Penyesuaian-penyesuaian apa saja yang harus diberlakukan dalam struktur pajak agar terjadi integrasi pajak perseroan dan pajak pribadi. baik yang . sehingga mengarahkan kepada hipotesa pemindahan beban pajak. kredit investasi. Teknik ekonometrik yang lebih baik dikombinasikan dengan penggunaan data yang kurang agregatif mungkin dapat memberikan hasil yang lebih baik. yang dirancang untuk mengisolasi pengaruh pajak penghasilan perseroan. Beberapa studi mengindikasikan adanya pemindahan beban pajak yang cukup tinggi. Satu jenis penelitian menggunakan model bahwa tingkat pengembalian korporasi adalah suatu fungsi dari berbagai variabel yang telah ditentukan sebelumnya. akan tetapi masalah ini masih kontroversial. dan berbagai faktor yang tidak dapat dinilai dengan jelas. Pendekatan lain untuk mengukur adanya pemindahan beban pajak adalah dengan menggunakan pendekatan ekonometrika. seperti tingkat permintaan konsumen.

saat menerima Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan Pajak (SPHP). Bayangkan keadaan tak terduga ini. saat menerima Surat Ketetapan Pajak (SKP). Padahal dalam konteks hukum... Untuk mendapatkan informasi mengenai besarnya penghasilan dari laba yang tidak dibagikan sebagai dividen. perseroan akan memberitahukan kepada para pemegang saham berapa bagian laba yang tidak dibagikan yang menjadi bagian mereka untuk ditambahkan ke dalam kekayaan mereka. "Orang pajak tidak pernah salah. nothing is certain except death and taxes. jika Benjamin Franklin mengatakan "in this world.. Anda bahkan mungkin akan berhadapan dengan wrong people... Saat diperiksa.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 207 dibagikan (diterima sebagai dividen) maupun yang tidak dibagikan (dalam bentuk akumulasi laba ditahan pada perseroan). Anda harus membayar pajak tambahan. Metode kedua adalah metode laba modal yang mengenakan pajak atas laba modal sepenuhnya (baik yang direalisasikan maupun yang belum direalisasikan).... Anda harus membayarnya segera. atau bahkan saat orang pajak datang atau menghubungi Anda. Tidak salah.. Coba kita perhatikan kapan munculnya masalah perpajakan yang sering membuat pusing kepala. Perusahaan Anda merugi sampai 100 milyar rupiah. Biasanya.. Anda dikenai sanksi perpajakan. wrong place. baik yang dibagikan sebagai dividen maupun tidak dibagikan sebagai dividen. pendekatan ini harus memberikan perlakukan yang sama atas bagian laba dari perseroan yang tidak dibagikan dengan bagian laba perseroan yang dibagikan (dividen)." Dalam tataran dunia pajak para pakar perpajakan cenderung menyetujui dogma itu. di . ke dalam penghasilan pribadi dari sumber-sumber lain yang selama ini telah dilaporkan dalam SPT. Metode pertama disebut metode firma (partnership) yang memperhitungkan bagian laba seorang wajib pajak (investor) dari laba perseroan ke dalam penghasilan pribadinya dan dikenakan pada pajak penghasilan pribadi wajib pajak tersebut.... Apabila pendekatan integrasi lengkap yang dipilih. Pemegang saham kemudian akan memasukkan jumlah ini ke dalam perhitungan laba kena pajak dalam SPT. metode depresiasi perusahaan Anda di-adjust. Ada dua metode pengenaan pajak yang menggunakan integrasi lengkap.. 1000 Alasan untuk Pajak. Saat menerima Surat Tagihan Pajak (STP)." Pajak bukan hanya masalah yang membebani perusahaan. masalah perpajakan akan muncul di saat-saat yang tidak tepat. Metode Firma Metode ini memperhitungkan bagian laba dari perseroan yang menjadi hak pemegang saham ke dalam penghasilan pribadi pemegang saham. Anda tidak berhak atas kompensasi kerugian. Wrong time. sampai peraturan pajak mengatakan yang sebaliknya. Ingat baik-baik bahwa ini sangat mungkin. Dalam prakteknya..... sehingga laporan keuangan yang baru menjadi laba 20 milyar. dalam banyak kasus bahkan bisa menjadi hidup dan matinya perusahaan.

yang biasa berlaku adalah asas praduga tidak bersalah.500.000 setelah mengkreditkan Rp1. telah dan akan menjadi makin sempit jika hanya berorientasi pada upaya menghindari pajak.000. Maka. konsep itu tidak berlaku. seorang pemegang saham memperoleh pemberitahuan dari perseroan yang sahamnya dimilikinya bahwa bagian labanya atas laba suatu perseroan adalah sebesar Rp10. Sumber itu.500. Berapapun besarnya dividen yang diterimanya dari perseroan tersebut.000.000. jelas tidak bisa diandalkan dari bentuk-bentuk usaha yang diupayakan oleh pemerintah atau negara sendiri. Dalam sejarah internasional. pajak muncul dari kebutuhan akan perlunya sumber dana yang terjamin untuk menjalankan fungsi-fungsi pemerintahan atau kenegaraan. Praktek pemotongan pajak (withholding) juga dapat diterapkan dalam metode firma ini dengan menunjuk perseroan sebagai pemungut pajak. Perseroan akan memotong dan memungut pajak kepada pemegang saham tersebut. rakyat (termasuk dunia usaha) lah yang pada akhirnya menjadi tumpuan. Dalam perpajakan.000.000 ke dalam penghasilan kena pajaknya. ia berhak mendapatkan restitusi pajak sebesar Rp500. tarif pemotongan pajaknya 15 persen. tetapi juga terhadap bagian laba dari perseroan yang tidak dibagikan. Lihatlah perangkat aturan perpajakan yang diberlakukan sekarang dan di masa depan. upah dan dividen. sumber itu harus berasal dari luar pemerintahan atau negara. Apabila pemegang saham tersebut hanya dikenakan pajak marjinal sebesar 10% maka beban pajaknya hanya sebesar Rp1. maka besarnya pajak penghasilan atas penghasilan ini adalah sebesar Rp3. sekalipun pada prakteknya berbagai pungutan (yang waktu itu disebut dengan upeti) ini lebih termanfaatkan untuk kepentingan pribadi raja atau keluarganya. Anda diistilahkan dengan sebutan Wajib Pajak………………. Itu sebabnya.. ia harus menyetor kekurangan setoran pajak sebesar Rp1.208 Bab 10: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan mana pajak juga merupakan produk hukum. Di zaman feodalisme dan penjajahan. Sejarah dunia tax management menggeser konsep dasar dari "minimalisasi pajak" menjadi "optimalisasi pajak". Misalnya. Karena ia telah dipotong sebesar Rp1. pemegang saham akan melaporkan jumlah penghasilan brutonya dari perseroan sebesar Rp10.000. Bila atas penghasilan tambahan ini tarif pajak marjinalnya adalah 30%.000 yang dipotong oleh perseroan sebagai sumber penghasilan..000. pada . Dengan demikian. perseroan tidak saja melakukan pemotongan dan pemungutan pajak terhadap gaji. Anda tidak bisa lagi menghindari dari pajak.000. Dengan melaporkan penghasilan laba pada jumlah kotornya ini.000.000.) Satu hal yang pasti adalah fakta bahwa ruang gerak bagi perusahaan sebagai wajib pajak.000.500. Dengan demikian. 1000 Alasan untuk Pajak (Lanjutan. sehingga pemegang saham mendapatkan sisanya sebesar Rp8. Misalnya. pemegang saham akan membayar pajak sesuai dengan tarif pajak marjinalnya.500.. Sehingga.

menjadi bentuk-bentuk pemupukan yang tetap memaksa akan tetapi dengan cara yang lebih manusiawi. Caranya adalah basis harga pokok untuk menentukan laba modal dari penjualan investasi harus ditambahkan dengan jumlah yang sama dengan bagian dari pemegang saham tersebut atas kenaikan laba yang tidak dibagi selama masa kepemilikan investasi tersebut. pemegang saham seolah-olah merupakan anggota persekutuan suatu firma. Sisanya baru akan menjadi beban apabila tarif pajak marjinal yang dikenakan kepada pemegang saham melebihi tarif pemotongan. metode ini umumnya diusulkan sebagai prosedur standar dalam perhitungan pajak penghasilan oleh para ahli pajak. Tidak ada pembunuhan. tidak ada kekejaman fisik atau penganiayaan. Akan tetapi. http://www. Hanya saja. tidak adil bila memasukkan laba yang ditahan ke dalam penghasilan kena pajak pribadi. Maka. yang sebenarnya bermakna sama). laba modal (capital gain) yang berasal dari kenaikan nilai kepemilikan akibat tidak membagikan laba harus dikecualikan dari pengenaan pajak penghasilan. bila digabungkan dengan pendekatan pemotongan pajak. Akan tetapi. Karena dirasa cukup adil. 7 Juni 2005). Pada era modern. bahkan makin tumbuh menjadi besar dan bergeser menjadi semacam kemutlakan khususnya pada tataran ideologi demokrasi. perampokan dan bahkan pembunuhan. Berdasarkan prinsip realisasi. Diskusikan bagaimana konsep perpajakan dapat diterapkan secara lebih manusiawi! Dengan cara ini. kebutuhan itu ditransformasi ke bentuk-bentuk pemupukan yang lebih lunak. otoritas pemerintahan mencoba untuk tetap mengandalkan pembiayaan roda pemerintahan dengan menggali sumber-sumber dari rakyat secara langsung. Keberatan ini sama dengan yang dikemukakan dalam pembahasan pajak atas laba yang belum direalisasikan. yang dapat dibayar dengan . Sebenarnya.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 209 prakteknya ia tetap digunakan untuk membiayai roda pemerintahan atau bahkan kelanggengan dinasti kerajaan. metode ini memiliki beberapa kesulitan dalam penerapanya. Oleh karena itu. sebagian besar dari beban pajak telah dibayarkan ketika dipotong oleh perseroan sehingga menimbulkan masalah likuiditas pada pemegang saham. Hal ini dilakukan dengan mentransformasi pajak dan pungutan lain dari pola-pola yang kejam dan tak berperikemanusiaan. pemaksaaan. Pertama. Di satu sisi. sifat memaksanya tetap terabadikan akibat karakteristik pendanaan operasi pemerintah dan negara yang masih tidak mungkin dipenuhi oleh negara atau pemerintah sendiri. wajib pajak hanya akan dikenakan pajak bila ia memperoleh penghasilan.com. sejalan dengan makin majunya kebudayaan dan peradaban manusia. tetapi tidak begitu meyakinkan. kita bisa memaklumi bagaimana istilah upeti sangat identik dengan kekejaman. Karena pajaknya telah dikenakan ketika laba dihasilkan.indodigest. metode ini membuat wajib pajak harus membayar pajak padahal ia tidak menerima penghasilan tersebut dalam bentuk yang dapat digunakan untuk membayar pajak. Tidak ada lagi penjajahan secara eksplisit (mungkin yang ada sekarang adalah eksploitasi. (Diadaptasi dari: Green version of 1000 Alasan untuk Total Tax Awareness. kebutuhan itu tidak berubah.

Bagian yang dibagikan kepada pemegang saham akan muncul dalam penghasilan pemegang saham sebagai penghasilan dividen. seperti kredit pajak atas investasi. Manajemen tidak akan bereaksi terhadap pemberian insentif tersebut karena insentif tersebut hanya akan dinikmati manfaatnya oleh pemegang saham. Pemberian insentif tersebut dapat menjadi tidak efektif. Karena para pemegang saham bertransaksi saham secara cepat di pasar modal. permasalahan-permasalahan dapat saja diatasi dengan berbagai cara bila usaha pengintegrasian penghasilan bersumber dari laba perseroan ke dalam penghasilan pribadi serius untuk dilakukan. timbul kesulitan untuk mengalokasikan bagian laba di antara mereka.210 Bab 10: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan menjual sebagian saham yang dimilikinya. Karena perseroan tidak dikenakan pajak. Kedua. tidak ada penentuan laba kena pajak untuk perseroan. Pendekatan firma juga dipandang tidak praktis diterapkan pada perusahaan publik yang besar dengan kepemilikan yang menyebar luas. akan tetapi karena para pemegang saham perseroan ini memiliki pengendalian yang besar terhadap perusahaan. mereka dapat memaksa perseroan untuk meningkatkan pembayaran dividen untuk mendapatkan kas yang dibutuhkan. pendekatan ini tidak mungkin diterapkan secara praktis untuk perseroan non-publik yang sahamnya tidak diperdagangkan. Walaupun demikian. Pengenaan pajak terhadap penghasilan laba modal secara periodik dapat digabungkan dengan pajak penjualan ketika terjadi pemindahan aset. Padahal manajemen pada umumnya adalah pembuat keputusan investasi. sedangkan bagian yang tidak dibagikan akan muncul sebagai penghasilan laba modal. Karena pajak penghasilan tidak dikenakan atas perseroan. maka insentif pajak harus dirancang pada tingkatan pemegang saham atau sebagai subsidi langsung kepada perseroan. . Integrasi dengan metode partnership tidak menyederhanakan administrasi pajak bahkan mungkin akan menambah kerumitan administrasinya. Perlu diingat bahwa metode firma hanya mengintegrasikan penghasilan dari laba perseroan. Metode ini tidak menghilangkan pengenaan pajak penghasilan atas perseroan itu sendiri sebagai suatu badan hukum khusus. Pendekatan ini juga akan memunculkan kesulitan-kesulitan lain berkenaan dengan kebijakankebijakan pemberian insentif perpajakan. Metode Laba Modal Cara lainnya untuk mencapai integrasi sepenuhnya dengan mengenakan pajak penghasilan terhadap seluruh capital gain (termasuk yang belum direalisasikan) yang dikombinasikan dengan penghapusan pajak penghasilan atas laba perseroan.

sehingga permasalahan-permasalahan desain pajaknya pada perseroan tentu saja lebih rumit daripada wajib pajak pribadi. dividen sebesar maksimal $200 tidak dikecualikan lagi dari penghasilan dan tarif pajak atas perseroan disamakan dengan tarif pajak untuk pajak penghasilan pribadi. Bunga yang dibayar oleh perseroan atas dana yang diperolehnya melalui utang dikurangkan dari penghasilan kena pajak ketika memperhitungkan pajak penghasilan badan. Akan tetapi. manfaatnya dari insentif ini oleh penerima dividen akan meningkat proporsional dengan tarif pajak marjinalnya. . lebih rumit daripada keuangan pada wajib pajak pribadi. karena ketiadaan definisi penghasilan yang ilmiah dan konsisten. terjadi ketidakkonsistenan pengenaan pajak antara sumber modal dari hutang dan dari saham. Cara ini dipandang mendekati perlakuan yang terintegrasi untuk laba yang tidak dibagi. di AS sebelum tahun 1986. pendapatan dividen maksimal sebesar $200 dikecualikan dari penghasilan kena pajak. Hutang versus Modal Saham Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya. muncul praktek-praktek yang mencoba pendekatan integrasi ini. Misalnya. Akan tetapi. dividen yang dibayarkan sebagai perseroan. Akibatnya. seperti juga pembayaran gaji dan upah. dapat dipandang sebagai pembayaran kepada pemegang saham atas penggunaan dananya. Karena akuntansi perusahaan menekankan pada penentuan laba dari pemegang saham.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 211 Integrasi Parsial Sampai sekarang. Berikut ini beberapa contoh atas permasalahan pajak tersebut. peraturan pajak penghasilan “meminjam” praktek-praktek perhitungan penghasilan (laba) dari akuntansi perusahaan. sehingga wajib pajak yang berpenghasilan besar akan memperoleh keuntungan yang lebih besar. mengurang progresivitas pajak penghasilan itu sendiri. integrasi sepenuhnya belum dapat diterima sebagai suatu pendekatan dalam penentuan penghasilan kena pajak. keringanan ini diberikan dalam bentuk pengecualian dan bukannya kredit pajak. Bunga diperlakukan sebagai biaya bisnis. Di sisi lain. tidak dikurangkan dari penghasilan kena pajak perseroan. ASPEK-ASPEK KHUSUS DEFINISI BASIS PAJAK Permasalahan-permasalahan pada keuangan perseroan. Sejak tahun 1986. tetapi “pajak berganda” tetap berlaku bagi dividen. pada beberapa negara maju. paling tidak secara parsial. bukannya sumber permodalan.

Ketika biaya entertainment dapat dikurangkan dari penghasilan. Ketika perusahaan sudah maju dan berkembang.212 Bab 10: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan Dengan tidak adanya integrasi penghasilan perseroan ke dalam penghasilan pribadi. Bila berinvestasi. Distorsi yang sama muncul dari pihak manajemen. Dengan demikian. Bila meminjamkan. penyebab utama fenomena ini adalah mudahnya perseroan mendapatkan pendanaan dari sumber modal. pendapatan bunga hanya dikenakan dalam pajak penghasilan pribadi. Pembayaran dalam Bentuk Natura dan Biaya Entertainment Pembayaran dalam bentuk natura dan biaya entertainment merupakan topik yang banyak dibahas. netralitas dicapai dengan cara (1) memperluas cakupan “pajak berganda” dengan tidak membolehkan pengurangan biaya bunga pada pajak penghasilan badan (2) mengurangi cakupan “pajak berganda” dengan membolehkan pengurangan “bunga yang diperhitungkan” atas modal ekuitas dalam pajak penghasilan badan. perseroan telah membantu pengawainya . pada kenyataannya sebagian besar modal perseroan berasal dari modal saham. Dengan membayar dalam bentuk natura daripada dalam bentuk kas. dividen dikenai “pajak berganda”. sulit untuk membuktikan bahwa perlakuan pajak tidak netral terhadap sumber pendanaan dalam praktek sehari-hari. perusahaan ini akan mengandalkan pendanaan dari laba perusahaan yang tidak dibagikan. sedangkan laba atas modal ekuitas tidak boleh dikurangkan. Pendekatan integrasi lengkap akan mengembalikan netralitas perlakuan pajak terhadap sumber-sumber permodalan ini. Ketika perusahaan pada periode-periode awal. akibatnya beban untuk pengeluaran tersebut yang dirasakan oleh perseroan akan berkurang sebanyak 30 persen karena tidak dikenakan pajak (dengan asumsi pajak marjinal perseroan pada tarif tertinggi. Mereka akan lebih memilih pendanaan hutang. Hal ini sama saja dengan pemberian subsidi kepada kegiatan-kegiatan (dibiayai dengan biaya entertainment) yang sebenarnya tidak layak untuk memperoleh subsidi publik. penyedia modalnya adalah pemiliknya yang tentu saja menginvestasikan dalam bentuk ekuitas. karena bunga yang dibayarkan dapat dikurangkan dari laba kena pajak. Walaupun ada perlakuan buruk peraturan pajak terhadap sumber permodalan saham. Jika integrasi lengkap tidak dijalankan. Demikian pula. yaitu 30 persen). Berdasarkan penelitian-penelitian di bidang manajemen keuangan. dalam hal pembayaran dalam bentuk natura terjadi subsidi publik pada wajib pajak yang menerima pembayaran dalam bentuk natura tersebut. praktek pajak ini memunculkan insentif bagi penyedia dana untuk memberikan pinjaman daripada melakukan investasi saham/modal.

semakin besar . Cara penghindaran pajak seperti ini dapat dihilangkan baik dengan cara memasukkan pembayaran dalam bentuk natura ke dalam pajak penghasilan pribadi atau melarang pengurangan biaya-biaya entertainment pada pajak penghasilan badan. Peraturan perpajakan umumnya mengatur berapa besar setiap periode pengurangan (penyusutan) tersebut. kenaikan gaji akan menambah pajak penghasilan bagi wajib pajak pribadi. Pengurangan untuk biaya-biaya modal akan memberikan penghematan pajak bagi investor. sebagai kompensasi untuk pengembalian biaya investasi.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 213 mengurangi pajak penghasilan pribadi mereka. Semakin besar pada periode-periode awal penyusutan tersebut. Dalam hal pengeluaran modal. Akan tetapi. Kapan investor dapat memperoleh kembali pengurangan juga harus diatur karena pada saat penyusutan diperbolehkan nilai tunai dari kewajiban pajaknya menjadi turun. terutama pada perseroan sebagai suatu badan usaha. Biaya dari perseroan dengan memberikan mobil tersebut (biaya penyusutan) akan sama dengan biaya karena kenaikan gaji untuk beberapa periode dengan jumlah total yang sama.000. Cara yang dilakukan sekarang ini adalah jalan tengah dengan membatasi pengurangan atas pembayaran dalam bentuk natura dan biaya entertainment. seperti pembayaran gaji dan upah atau pembelian bahan mentah. Permasalahan penyusutan adalah salah satu permasalahan yang paling sulit dan paling penting Karena pajak perseroan adalah pajak atas penghasilan/laba bersih. pengurangan dapat dilakukan ketika pembayaran terjadi. sedangkan tunjangan kendaraan tidak. bila sebuah mobil senilai Rp200. dan menentukan berapa besarnya setiap periode investor dapat memperoleh kembali biaya investasi.000 diberikan kepada manajer perusahaan sebagai ganti kenaikan gaji selama beberapa tahun. pengurangan itu dilakukan selama beberapa periode. Metode Penyusutan dan Jangka Waktu Penyusutan Permasalahan penyusutan timbul karena sulitnya mendefinisikan penghasilan. maka semua biaya untuk memperoleh dan memelihara penghasilan harus dikurangkan dalam menghitung penghasilan kena pajak. Penyusutan merupakan praktek akuntansi yang didasarkan pada pendekatan praktis untuk mengukur laba secara periodik. Untuk pengeluaranpengeluaran tertentu. Misalnya. Peraturan perpajakan juga menentukan kapan pengurangan (penyusutan) dapat dilakukan. Penyusutan timbul karena adanya periodisasi atas perhitungan laba/rugi.

dan seterusnya. Peraturan perpajakan umumnya juga menetapkan “panduan umur” untuk setiap jenis aktiva tetap yang sejalan dengan “praktek bisnis yang sehat. Dengan demikian.111. jumlah angka tahunnya sama dengan 10 + 9 + 8 + 7 + 6 + 5 + 4 + 3 + 2 + 1 = 55.000 = Rp16. Peralatan dan kendaraan disusutkan dengan menggunakan metode saldo menurun.000.000 boleh dikurangkan. perseroan yang menggunakan metode penyusutan dengan saldo menurun mendapatkan keuntungan penghematan pajak lebih besar daripada menggunakan metode garis lurus karena nilai tunai dari penyusutannya lebih kecil pada metode garis .” Ada beberapa insentif perpajakan yang dapat diberikan dengan membolehkan penyusutan dalam jangka waktu yang lebih cepat.000 akan dikurangkan pada tahun pertama. Lama Masa Perolehan Kembali Biaya Investasi Jangka waktu yang diperbolehkan untuk perolehan kembali biaya investasi atau penyusutan umumnya ditetapkan dalam peraturan perpajakan sama dengan “masa manfaat” dari aset bersangkutan.000. Seperti yang ditunjukkan pada tabel di bawah ini. yang meliputi jangka waktu pembebanan penyusutan dan kecepatan penyusutannya.363. Oleh karena itu.000. Bangunan harus disusutkan dengan menggunakan metode garis lurus dimana jumlah yang sama sebesar C/n harus dihapuskan setiap tahun.000 akan dikurangkan pada tahun kedua. Metode Penyusutan Metode penyusutan yang diperbolehkan untuk dipakai hanya dua metode yaitu metode garis lurus dan metode saldo menurun (declining balance method). untuk suatu aset dengan harga perolehan Rp100. nilai tunai dari pajak ditentukan oleh besarnya tarif pajak dan kapan penyusutan dilakukan.000 dan masa manfaat selama 10 tahun.000.111. Jadi.000. dan seterusnya.000. Beban penyusutan tahun pertama adalah 10/55 dari Rp100. beban untuk tahun kedua adalah 9/55 dari Rp100. Ada satu metode lagi yang tidak diperbolehkan berdasarkan peraturan perundang-undangan saat ini.636.000 = Rp18.000 dengan masa umur selama 10 tahun. dengan C sama dengan nilai perolehan aset dan n adalah umur aset. setiap tahun sejumlah Rp10. dimana bagian yang dikurangkan pada setiap tahun sama dengan rasio dari sisa tahun terhadap jumlah angka tahun selama masa manfaat aset. untuk suatu aset yang bernilai Rp100.000. seperti sistem penyusutan yang dipercepat. yaitu metode jumlah angka tahun (sum-of-years-digits method). Rp16.214 Bab 10: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan penghematan pajaknya. Jadi. sebesar Rp20. dengan persentase sebesar dua kali tarif garis lurus dikurangkan pada tahun dan persentase yang sama kemudian diterapkan pada jumlah yang belum disusutkan setiap tahunnya.

0 0 0 ) J u m la h A n g k a Tahun ( IV ) 8 7 .5 2 8 4 4 . Bila investor akan memutuskan untuk berinvestasi.9 3 5 D IS K O N T O 1 0 P E R S E N 7 9 .7 5 6 8 0 . Semakin panjang waktu penyusutan semakin besar perbedaan penghematan pajaknya.4 6 9 6 8 .7 1 6 5 9 .6 6 3 5 1 . Jr.6 6 1 3 2 .7 8 7 7 8 . Metode Penyusutan Ekonomis versus Metode Penyusutan Dipercepat Bila dikaitkan dengan pembebanan biaya investasi. semakin rendah tarif efektif pajaknya.6 1 4 7 0 .6 9 7 3 1 .8 0 6 2 8 . Bila kita membandingkan antara metode saldo menurun dengan metode jumlah angka tahun. Simpulan yang sama juga berlaku apabila kita membandingkan metode jumlah angka tahun dengan metode garis lurus.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 215 lurus sehingga nilai tunai dari beban pajaknya lebih besar. New York: Macmillan. Nilai tunai dari pajak dapat dihitung dengan mengurangkan nilai tunai dari pajak kotor (sebelum dikurangi dengan penyusutan yang diperbolehkan) dengan nilai tunai dari penghematan pajak dari penyusutan.8 1 1 7 5 .7 5 0 8 7 . investor akan membandingkan nilai tunai dari arus laba bersihnya terhadap biaya perolehan dari aset. Semakin cepat tingkat penyusutannya.0 5 5 6 4 .8 2 9 Diadaptasi dari: Harold Bierman.6 8 0 4 4 .5 3 4 8 1 .0 9 9 5 4 . Nilai tunai ini sama dengan nilai tunai dari arus laba sebelum pajak dikurangi dengan nilai tunai dari pembayaran pajaknya. 1968 . metode saldo menurun lebih menguntungkan pada aset-aset berumur pendek dan metode jumlah angka tahun lebih menguntungkan pada aset-aset yang berumur panjang.4 6 0 4 0 . Jika nilai tunai dari penghematan pajak ini menjadi semakin besar seperti yang ditunjukkan pada tabel di atas.5 3 9 2 0 . tarif efektif dari pajak bergantung pada tarif nominal (sekarang 30 persen untuk perseroan) dan besarnya penyusutan yang diperbolehkan.9 9 7 6 7 . 2d ed.4 3 9 M a s a M a n fa a t ( I) 5 10 20 50 5 10 20 50 G a r is L u r u s S a ld o M e n u r u n ( II) ( III) D IS K O N T O 6 P E R S E N 8 6 . H a r g a P e r o le h a n A s e t = R p 1 0 0 . pajaknya akan semakin turun..5 1 5 7 9 . and Seymour Smidt. The Capital Decision. N ila i T u n a i P e n y u s u ta n ( d a la m R u p ia h .1 0 0 6 4 .

dapat dibuktikan bahwa penyusutan yang dipercepat lebih menguntungkan investor. Suatu tarif pajak yang lebih rendah dan penyusutan yang lebih lambat akan memberikan nilai tunai pajak yang sama dengan suatu tarif pajak yang lebih tinggi dan penyusutan yang lebih cepat. Pada untuk keadilan. . yang timbul dari penggunaan aset. Pertama adalah arus penghasilan positif berupa laba. aset dengan nilai tunai arus laba bersih yang sama harus mendapat beban pajak yang sama yang didefinisikan sebagai nilai tunai pajak. Mempercepat penyusutan (baik dengan cara memperpendek periode penyusutan atau membolehkan menyusutkan jumlah yang besar pada awal-awal masa guna aset) akan mengurangi tarif efektif pajak dengan menunda tanggal jatuh tempo dari kewajiban pajak.216 Bab 10: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan Dengan demikian. Dengan demikian. Yang lainnya adalah arus penghasilan negatif. Dari sudut pandang investor. percepatan ini ekivalen dengan pinjaman tanpa bunga. pemerintah dapat memberlakukan aturan tarif pajak yang dikombinasikan dengan tarif penyusutan yang menghasilkan perlakuan yang netral atas semua investasi. aset tersebut menghasilkan arus laba bersih positif yang nilai tunainya adalah nilai aset tersebut. tarif penyusutan tidak netral terhadap semua investasi. dengan nilai tunai dari penghematan bunganya sama dengan nilai tunai dari penghematan pajak yang dihasilkan. Bila hanya melihat investasi tunggal. yang dikenakan pajak adalah arus penghasilan bersih yang diterima setiap tahun. untuk menetralisasi pengaruh tarif penyustan ini. metode penyusutan dipercepat menghasilkan penghematan pajak yang besar. Hal tersebut dapat dicapai bila penyusutan dibebankan ketika nilai aset mengalami penurunan. Bila kedua arus ini dijumlahkan. Pada kenyataannya. Netralitas Metode Penyusutan Ekonomis Dari pemaparan di atas. berbagai investasi berbeda dalam jangka waktu dan tingkat keuntungan sehingga hasilnya akan berbeda untuk berbagai kebijakan yang dipilih. Supaya perlakuan pajak netral. pajak harus netral dengan tidak boleh mendistorsi pola investasi. terutama untuk investasi-investasi pada aset yang berumur panjang. maka kombinasi apapun antara tarif pajak dan tarif penyusutan tidak menjadi persoalan. Hasilnya demikian karena nilai tunai dari penghematan pajak akan semakin tinggi ketika penghematan pajak tersebut semakin cepat terealisasi. Dengan demikian. Jika semua investasi sama. yang ditimbulkan dari semakin memburuknya kondisi aset dan penurunan nilai karena keusangan. Pola penyusutan seperti apakah yang diperlukan untuk memastikan definisi penghasilan yang adil dan netral? Sebagaimana yang dikemukakan oleh Musgrave dan Musgrave (1989) aset yang dapat disusutkan dipandang sebagai menghasilkan dua arus penghasilan.

penurunan dalam nilai berjalan sama dengan nilai kapitalisasi dari penurunan arus penghasilan.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 217 Ingat. Oleh karena itu. Tarif Pajak yang Efektif Berdasarkan diskusi sebelumnya. Oleh karenanya. Tarif efektif bergantung pada tarif pajak yang berlaku dan tarif penyusutan. di mana rb adalah tingkat pengembalian sebelum pajak dan ra adalan tingkat pengembalian setelah pajak. Jika penyusutan dapat dipercepat. tampaklah jelas bahwa tingkat tarif nominal dan perubahannya tidak dapat menjadi indikator atas tingkat tarif efektif. nilai aset sama dengan nilai tunai dari arus penghasilan bersih selama masa manfaatnya. Tarif ini independen terhadap umur aset dan karenanya tidak akan mendistorsi pilihan investasi di antara mereka. Oleh karena itu. Dengan demikian. Tarif efektif ditentukan dengan cara menghitung (rb – ra) / rb. cara yang terbaik adalah memakai masa manfaat seperti yang biasa dipakai dalam praktek bisnis dengan asumsi bahwa masa manfaat yang dipercepat merupakan masa manfaat yang “sebenarnya” dan jejak waktu dari arus penghasilannya. Bila penyusutan pajak sama dengan penyusutan ekonomis. Aset-aset tidak aus secara seragam dan juga menjadi usang sebelum sempat digunakan sepenuhnya. walaupun prinsipnya jelas. pilihan-pilihan investasi akan terdistorsi dan lebih banyak modal akan mengalir pada investasi-investasi yang lebih lama. yaitu biaya modal atau penyusutan ekonomis yang harus dibebankan bersama-sama dengan biaya lain dalam menghitung laba bersih. Akan tetapi. ada alasan kuat untuk menggunakan penyusutan ekonomis. Investasi Tunggal versus Investasi Berkelanjutan . penerapannya tidak mudah. Tarif efektifnya akan sama dengan tarif nominal atau tarif yang berlaku karena pengenaan pajak akan mengurangi nilai aset dikalikan dengan tarif pajak. Dengan demikian. investasi yang lebih lama akan mendapat keuntungan terbanyak dan juga mendapat manfaat dari tarif pajak efektif yang lebih rendah. Hal sebaliknya akan terjadi bila tarif penyusutan pajak lebih rendah daripada tarif ekonomis. tarif efektif sama dengan persentase pengurangan dalam pengembalian modal karena pajak. Nilai berjalan dari aset pada setiap waktu sama dengan nilai kapitalisasi dari arus penghasilan di masa depan yang dihasilkannya. pengenaan pajak akan mengurangi nilai dari arus penghasilan bersih sebesar persentase tarif pajak yang berlaku. Tingkat keusangan akan berbeda dan tidak dapat diprediksi dengan mudah.

Biaya-biaya ini langsung dibebankan. ekivalen dengan pinjaman bebas bunga. suatu aset diganti dengan pola penggantian yang membuat dasar penyusutannya tidak berubah. ada kemungkinan pengeluaran modal tersebut dibebankan secara ekstrim sekaligus pada satu periode ketika pembayaran pengeluaran modal. ketika pemerintah kehilangan pendapatan pajak pada tahun-tahun awal dan memperoleh kembali pendapatan pajak tersebut pada tahun-tahun akhir. Setelah tahun-tahun awal ini. Seorang investor yang melakukan investasi tunggal. Keuntungan dari wajib pajak atas penundaan pajak (dan kerugian bagi pemerintah) akan naik pada tahuntahun awal dan kemudian akan rata seterusnya. Misalnya. Kewajiban pajaknya berkurang pada tahun-tahun awal dan bertambah pada tahun-tahun akhir. Untuk investasi yang berkelanjutan. Karena A belum mendapatkan penghasilan dari X. kerugian pendapatan pemerintah akan berkurang tetapi pemerintah tidak pernah mendapatkan kembali kerugian karena penangguhan pajak pada tahuntahun awal tersebut selama reinvestasi terus menerus berlangsung. berasal dari penangguhan pajak pada awal periode. Akan tetapi. Jika penyusutannya cukup cepat dan ekspansinya cukup tajam. Seluruh pembayaran pajak tersebut dapat dihindari dan tanpa pernah terjadi pembayaran pajak tertunda tersebut di masa depan. A menderita kerugian sebesar Rp100 juta. penyusutan yang dipercepat tidak mengurangi jumlah total pajak yang akan dibayarkan. Pembebanan Sekaligus Biaya gaji dan bahan mentah dikurangkan ketika pembayaran dilakukan atau ketika terjadi. Apalagi bila dalam kenyataannya suatu perusahaan terus-menerus meningkatkan aset-asetnya yang dapat disusutkan sehingga basis penyusutannya setiap reinvestasi semakin besar. investor tidak perlu membayar pajak dan pemerintah tidak memperoleh pendapatan pajak. A menginvestasikan uang Rp100 juta pada aset X dan segera membebankannya sebagai penyusutan sebesar Rp100 juta. ia mungkin tidak akan dapat memanfaatkan penyusutan sekaligus ini karena ia harus memperoleh pendapatan (laba) yang cukup untuk ditandingkan dengan beban penyusutan ini. Perolehan kembali baru terjadi setelah reinvestasi berakhir. Bila suatu perusahaan memiliki penghasilan dari investasi lain yang dapat dikurangkan dengan penyusutan sekaligus ini. A kemudian membebankan kerugian ini pada laba dari aset Y (yang jumlahnya . Keuntungan yang didapatkan. perusahaan seperti ini dapat menunda pembayaran pajak selamanya.218 Bab 10: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan Untuk investasi tunggal yang dilakukan hanya sekali dan kemudian selesai. penangguhan ini dapat berlangsung selamanya. Misalnya. Pada pengeluaran modal pembebanan ini disebar ke dalam beberapa periode.

.857 juta. yaitu yang dikenal dengan nama kalkulasi harga pokok atau cost accounting. bila diukur dalam nilai riil.. dua solusi: (1) basis penyusutan dapat diindeks untuk naik sesuai dengan biaya penggantian. perolehan kembali investasi (penyusutan) berdasarkan harga perolehannya tidak akan memberikan penghematan pajak yang cukup untuk mempertahankan modal perusahaan dalam nilai riilnya. penghematan pajaknya akan sebesar Rp30 juta. . A kemudian menambahkan sejumlah ini ke dalam investasi pada X.... . Jika penghasilan A atas investasi pada X dengan cara ini dikenakan tarif pajak 30% akan sama posisinya dengan berinvestasi pada X sebesar Rp100 juta dan tanpa pajak. Aturan pajak biasanya hanya membolehkan sebagian (misalnya sepertiga) dari biaya investasi yang dapat diperoleh kembali dengan penyusutan segera. (2) seluruh penyusutan dapat dilakukan pada tahun pertama sehingga menghilangkan pengaruh inflasi..Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 219 lebih besar daripada Rp100 juta). = Rp142. menimbulkan kenaikan tarif efektif pajak yang tersembunyi. penghasilan kena pajak terlalu besar. Dengan tarif pajak 30%.. Penyusutan segera dengan reinvestasi secara terus menerus dari penghematan pajak yang didapat menghilangkan beban pajak. Hal ini sangat relevan terutama dalam periode inflasi tinggi... hal ini tidak pernah bisa sampai sejauh pemaparan di atas. Penyesuaian terhadap Inflasi Dengan harga-harga yang selalu meningkat.... Bagaimana harga pokok harus dihitung adalah urusan yang tidak mudah. Penghitungan harga pokok berkaitan dengan penentuan laba kena pajak.30 x Rp100 juta + 0. sehingga mengurangi kewajiban pajak dari penghasilan aset Y. Laba dan Inflasi... . Dalam hal ini.. mendapatkan penghematan pajak sebesar Rp9 juta.. Bila kegiatan serial ini diulangi terus-menerus.. Sehingga sampai menjadi subdisiplin ilmu pengetahuan sendiri. .. dan seterusnya... membebankan tambahan Rp30 juta sebagai penyusutan.. A akan berinvestasi pada X sebesar Rp100 juta + 0. Menentukan laba yang akan dijadikan dasar untuk pengenaan pajak pendapatan badan. Pada akibatnya. hanya sepertiga dari pajak yang akan dihapuskan..302 x Rp100 juta ... Dalam praktek. Suatu sistem yang membolehkan sebagian dari pajak dibiayakan dan menyusutkan sisanya sesuai dengan penyusutan secara ekonomis akan netral antara investasi jangka pendek dan jangka panjang. Untuk menghilangkan permasalahan ini sekaligus mengatasi permasalahan inflasi dengan benar. adalah dengan mengurangkan hasil penjualan dengan harga pokok. Pendekatan ini sering disebut sebagai cadangan awal (initial allowance) yang merupakan cara yang netral dalam memberikan insentif investasi...

000 dan setelah dikenakan pajak dikonsumsi. harga pokoknya Rp10. Sesuai inflasi. Modal pokoknya utuh. karena kalau ini dipakai untuk membayar pajak dan dikonsumsi volume perdagangannya tetap. Artinya.000 = Rp1. Bagaimana kenyataan bahwa di tahun 1998 inflasi Indonesia 80 persen? Mari sekarang kita lihat bagaimana jadinya dengan pedagang paku kalau yang diperdagangkan 1 juta kg paku. Hasil penjualan seolah-olah dipakai untuk membeli jumlah kilogram emas yang sama.000 : 1.800 = 555. tetapi harus membayar pajak yang didasarkan atas keutuhan modal uang sebagai harga pokok. ataukah yang dinamakan pokok jumlah barang dagangan. jelas bahwa mempertahankan keutuhan modal uang akan memperkecil volume perdagangannya secara drastis.000. Sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan. hasilnya sama saja.220 Bab 10: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan Sebagai subdisiplin ilmu dalam rangka ilmu ekonomi perusahaan. sisanya adalah Rp10.000. Hasil penjualannya 1 juta kali Rp1. Jadi tinggal sebagian.000.000 per kg. tetapi dalam jumlah kilogram emas. Modal uang masih utuh. Kalau dikatakan perkembangan ilmu pengetahuan mempengaruhi praktek bisnis.000.33 kg.000.56 kg. Kalau ada sisanya barulah dikonsumsi.000? Mengapa? Karena kalau laba dianggap Rp5. modal pokok usaha tidak dinyatakan dengan uang. Supaya pokok dalam bentuk barang tidak menyusut. memang demikian halnya dengan perkembangan ilmu dalam bidang cost accounting.500 per kg.000:1. Ketika seluruh 10 kg pakunya dijual dengan harga Rp1. Laba bersih yang dapat dihabiskan untuk konsumsi adalah Rp350.000 itu dipakai untuk membayar pajak dan dikonsumsi.000. apakah modal yang dipertahankan harus utuh itu modal uang atau modal kuantitas barang dagangan.000. kuantitas barang menyusut menjadi 10.000.000. sedangkan harga barang konsumsi yang dibutuhkan tentunya juga meningkat sesuai dengan inflasi atau sekitar 80 persen. Modal uang yang utuh kalau dibelikan barang dagangan paku menjadi 1. pedagang paku sangat menderita penciutan kuantitas barang dagangannya sampai hampir separuh. kalau ada pedagang paku membeli 10 kg paku dengan harga Rp1.000. Mengapa? Kalau Rp5. pimpinan perusahaan mempermasalahkan yang dinamakan laba. Bagaimana kalau ketika si pedagang ingin memperbarui stoknya yang 10 kg itu. labanya Rp5. Pedagang tetap harus membayar pajak atas dasar keutuhan modal uang.800.200? Bukankah labanya Rp3. Daya beli labanya dipangkas drastis pula.000. Maka. walaupun modal kuantitas barang menciut drastis.200 atau 20 persen.000. cost accounting terus berkembang. yaitu 10 kg paku.000. Pengusaha mulai dengan modal yang sama dengan jumlah kilogram emas tertentu. tafsiran tentang berapa besar laba yang diperoleh perusahaan menjadi lain. yaitu Rp1.000. harga per kilogramnya melonjak menjadi Rp1.200 = 8. sisa uang yang Rp10. karena barang-barang konsumsi kebutuhannya juga meningkat drastis. Dari sini jelas. Ketika di zaman orde lama inflasi berkecamuk hebat.000. falsafah fiskus menganut asas keutuhan modal uang. Laba menurut fiskus Rp500.000 menjadi Rp1. inflasinya dari Rp1.000. Pedagang sudah menderita karena volume bisnisnya yang menyusut.000.000 ke Rp1. sehingga memperoleh hasil penjualan Rp15.200 per kg.000. harga paku meningkat dengan 80 persen menjadi Rp1. Modal awal adalah 1 juta kali Rp1.000. yang dinamakan pokok adalah 10 kg paku dengan harga baru atau Rp12.500. Laba adalah jumlah uang yang dapat dikonsumsi tanpa mengurangi pokoknya.000 kalau dibelikan paku lagi sebagai barang dagangannya. Tadi dikatakan bahwa seandainya tidak ada inflasi. . Sudah sejak lama.000.500 = Rp1. Dalam ekonomi yang harganya naik terus atau inflasi. yang sama dengan modal pokoknya. seandainya harga paku tidak naik dari Rp1.000. Kita bayangkan berapa barang yang dapat dibeli dari laba bersih yang relatif sama jumlah nominalnya.555. sudah sejak sangat lama orang mempertanyakan apa betul labanya Rp5. apakah yang dinamakan pokok itu jumlah uang.000. Dalam contoh di atas.000. Dari gambaran di atas terlihat bahwa laba akan sama saja. Maka labanya hanya Rp3. Jadi kena tarif 30 persen atau Rp150. Tetapi kalau inflasinya hebat.

Kalau tidak sama. Untuk suatu investasi tertentu dengan lama masa manfaat tertentu. bahwa tujuan pengusaha adalah mempertahankan paket barang dan jasa untuk mempertahankan tingkat hidupnya. cara penghitungan laba kena pajak mana yang paling tepat diterapkan di Indonesia? Diskusikan! INVESTMENT TAX CREDIT Di Amerika Serikat. Kalau inflasi menghebat terus. Yang mana pun yang dipilih. Bila seorang investor yang membeli aset dengan harga Rp100 juta. apakah kuantitas barang dagangan. yaitu modal pokok uangnya saja yang dipertahankan. kredit pajak investasi (investment tax credit) merupakan alat insentif yang utama. atau daya beli. sedangkan kredit pajak memberikan keuntungan bagi aset berumur pendek. Investasi yang dikualifikasikan untuk kredit pajak tersebut adalah semua aset yang dapat disusutkan kecuali gedung. pada dua dekade sebelum reformasi pajak tahun 1986. kedua pendekatan itu akan berbeda dalam berbagai investasi. maka ia memperolehnya pada biaya perolehan bersih sebesar Rp90 juta. Aliran lain lagi.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 221 Benarkah pengusaha yang mendasarkan harga pokoknya atas jumlah kilogram emas? Benar kalau tujuannya berusaha adalah mempertahankan jumlah kilogram emas tanpa peduli kuantitas barang dagangannya menggelembung atau menciut. peraturan pajak membolehkan perseroan untuk mengkreditkan sebagian (pada tahun 1985 sebesar 10%) dari biaya investasi yang dikualifikasikan. semuanya bertentangan frontal dengan falsafah yang melulu hanya menginginkan mempertahankan keutuhan modal uang. Aset yang berumur lebih pendek dapat diganti lebih sering sehingga dapat dimungkinkan untuk mendapatkan kredit pajak lebih sering lagi. Ketika pertama kali diperkenalkan tahun 1964. dapat dirancang suatu peraturan pajak untuk penyusutan yang dipercepat dan kredit atas investasi yang menghasilkan nilai tunai yang sama kepada investor. Apakah penyusutan yang dipercepat dan kredit pajak atas investasi. Bila ini tujuannya. barang dagangan akan menjadi nihil. Akan tetapi. sebagai alat insentif pajak. kalau kadar inflasi barang dagangannya sama dengan kadar inflasi dari emas. Penyusutan dipercepat lebih tepat untuk investasi jangka panjang. Kuantitas barang dagangan ini dengan sendirinya takkan menggelembung atau menciut. dapat diperbandingkan? Keduanya dapat digunakan untuk mengurangi pajak. dan pedagang disuruh sejalan pikirannya dengan pemerintah mengenakan pajak. (Diadaptasi dari: Kwik Kian Gie. 5 April 1999) Menurut saudara. dalam waktu singkat. maka barang dagangannya bisa menggelembung atau menciut. yaitu yang bertolak dari pikiran. Kompas. Kredit investasi tidak hanya merupakan alat penunda pajak. tetapi mekanismenya berbeda. maka laba harus dikoreksi dengan angka inflasi yang ditentukan oleh paket barang dan jasa yang menjadi pola konsumsi hidup yang dianggap wajar. . jumlah kilogram emas. tetapi juga alat yang memberi hak untuk pengurangan pajak.

suatu penerapan integrasi yang lengkap. maka pajak yang progresif dapat diberlakukan tetapi diterapkan pada ukuran usaha (ukuran aset). Selain itu. seperti telah dikemukakan oleh Paul O’Neill di muka. Tarif terendah yang lebih rendah ini tidak banyak manfaatnya bagi usaha-usaha besar. Akan tetapi tujuan ini pun dapat dipertanyakan. pada umumnya perusahaan-perusahaan ukuran menengah dan besar lebih efisien daripada usaha kecil. seperti menahan ukuran bisnis sehingga tidak terlalu besar atau mendukung usaha-usaha kecil. keringanan pajak untuk usaha-usaha kecil selalu menjadi perbincangan politik yang penting. Perseroan kecil ini dipandang sebagai mekanisme pemungutan/pemotongan pajak saja. ada pandangan bahwa ada kebutuhan sosial untuk memelihara UKM walaupun tidak efisien. walaupun sedikit sekali bukti bahwa ukuran usaha yang besar diperlukan untuk mencapai efisiensi. bukannya tingkat laba. Pemerintah dapat pula memberikan bantuan kepada UKM dengan mengenakan tarif terendah pajak yang lebih rendah.222 Bab 10: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan Haruskah tarif pajak bagi UKM berbeda? Alasan pengenaan tarif pajak progresif untuk pajak penghasilan wajib pajak pribadi tidak dapat diterapkan pada sektor perseroan. Banyak perusahaan kecil dimiliki oleh individu-individu berpenghasilan tinggi dan sebagian besar dividen yang dibayarkan oleh perseroan besar diterima oleh individu-individu dengan penghasilan menengah. ada aturan khusus pada peraturan-peraturan pajak negara tertentu bahwa usaha-usaha kecil sampai dengan ukuran aset atau ukuran penjualan tertentu boleh kenakan pajak sebagai suatu firma. Tidak ada hubungan positif antara ukuran usaha perusahaan dan penghasilan pemiliknya. Walaupun demikian. Posisi ini dapat dipandang benar untuk mengurangi kemampuan perusahaan-perusahaan besar untuk beroperasi pada pasar-pasar modal yang tidak sempurna dan mendapat manfaat dari praktek-praktek monopolistik. Pengenaan tarif pajak progresif tentu akan didasarkan pada alasan-alasan lain. Bantuan kepada UKM Untuk menghilangkan penerapan pajak berganda bagi usaha kecil berbentuk perseroan. walaupun tarif terendah yang lebih rendah ini dapat digunakan oleh wajib pajak pribadi untuk mengurangi pajaknya. Perseroan pada dasarnya tidak memiliki kemampuan untuk membayar seperti halnya yang dimiliki individu dan beban pajak pada akhirnya ditanggung oleh individu. Untuk menghindari pemanfaatan oleh wajib pajak . Jika tujuan menahan ukuran bisnis yang ditetapkan.

Pajak tidak boleh mendistorsi pola investasi. § § § § § § § . Pemilik dana cenderung untuk meminjamkan daripada melakukan investasi saham. Pendapatan bunga hanya dikenakan dalam pajak penghasilan pribadi. RANGKUMAN § Pengenaan pajak perusahaan dapat dilakukan sebagai instrumen pengendali tingkah laku perusahaan. Dengan membayar dalam bentuk natura. Dalam hal pembayaran gaji dan upah atau pembelian bahan mentah. termasuk yang belum direalisasikan. Permasalahan lain yang dapat muncul adalah aturan ini dapat dimanfaatkan oleh perusahaan besar dengan memecahnya menjadi unit-unit kecil dengan melakukan spin off. Pajak dikenakan atas semua capital gain. Seorang pemilik modal yang membeli aset dengan harga tertentu dapat mengkreditkan dengan beban pajak yang harus dibayar sebesar biaya perolehan. seperti juga pembayaran gaji dan upah. Permasalahan ini dapat diatasi dengan memberikan penalti kepada suatu perusahaan induk yang memiliki banyak anak perusahaan. dibuat aturan pajak berbeda untuk wajib pajak pribadi.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 223 pribadi. Dalam metode partnership. Natura adalah penghasilan yang tidak berbentuk kas. Metode integrasi tidak memerlukan penentuan laba kena pajak untuk perusahaan. (3) Pembatasan laba. Bunga boleh dikurangkan dari penghasilan perusahaan kena pajak. perusahaan membantu pengawainya mengurangi pajak penghasilan pribadi mereka. Tetapi dalam hal investasi modal. Suatu tarif pajak yang lebih rendah dan penyusutan yang lebih lambat akan memberikan nilai tunai pajak yang sama dengan suatu tarif pajak yang lebih tinggi dan penyusutan yang lebih cepat. Permasalahan yang mungkin timbul untuk pajak badan adalah: (1) Hutang versus Modal Saham. Bunga diperlakukan sebagai biaya bisnis. (4) Pemupukan modal atau pertumbuhan ekonomi. dan (3) Penyusutan. (1) Pengendalian terhadap monopoli. pemegang saham diperlakukan seolah-olah adalah partner dalam suatu bisnis. dan (5) Insentif atau disinsentif investasi. (2) Membatasi ukuran atau besarnya perusahaan. (2) Natura. pengurangan dapat dilakukan ketika pembayaran terjadi. pengurangan itu dilakukan selama beberapa periode. Integrasi penuh akan mengembalikan netralitas perlakuan pajak.

sesuai dengan model ekonomi kompetitif. memberikan pinjaman hutang atau menginvestasikan uangnya untuk modal saham? Apa Alasannya? 8. Jelaskan perbedaan pandangan integrasi dan pandangan absolute dalam pengenaan pajak atas suatu perusahaan! 3. Capital Gain 7. Bagaimana bentuk pajak perusahaan yang tepat jika ada keinginan untuk membatasi besarnya perusahaan? Jelaskan! 5. Partnership b. bedakan pengaruh investasi tunggal dan investasi berkelanjutan! 10. Bagaimana peran pemerintah dalam rangka membantu Usaha Kecil dan Menengah untuk memenuhi kewajibannya membayar pajak penghasilan badan? . Bagaimana solusi untuk mengatasi masalah inflasi dengan baik? Jelaskan dan berikan contoh! 11. jika perusahaan ingin meningkatkan pengeluaran konsumsi dan mendukung berfungsinya pasar modal! 6. Apa yang dimaksud dengan penerapan pajak atas pertimbangan manfaat? 4. Sebutkan hambatan – hambatan dalam menerapkan prinsip keadilan. Mengapa secara teori dianggap lebih menguntungkan menggunakan metode penyusutan declining balance method? 9. Jelaskan pengenaan pajak yang diterapkan. pajak penghasilan WP badan! 2. perusahaan akan berusaha memindahkan beban pajaknya dengan harga yang lebih tinggi. Mengapa tarif pajak progresif untuk pajak penghasilan wajib pajak pribadi tidak dapat diterapkan pada sektor perusahaan? 12. Dilihat dari sisi kewajiban pajaknya. Jelaskan integrasi pajak secara penuh dengan metode : a. LATIHAN 1. Mana yang lebih menguntungkan.224 § Bab 10: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan Sebagian besar ekonom memandang beban pajak penghasilan badan seharusnya jatuh kepada pemodal. Akan tetapi jika berada dalam situasi monopolistik. dari sisi permasalahan perpajakan.

Pajak penjualan atas barang konsumsi dapat dipandang sebagai ekivalen dengan pajak yang dikenakan atas pembelian-pembelian rumah tangga karena barang-barang konsumsi adalah pembelian-pembelian rumah tangga. dengan angka penjualan diukur dalam ukuran unit produk atau penerimaan kotor. Bila pajak penghasilan dikenakan pada sisi penjual dari faktor-faktor produksi (misalnya. atas penghasilan yang diterima oleh rumah tangga) maka pajak penjualan dikenakan pada sisi penjual dari transaksi produksi (misalnya atas penjualan yang dilakukan perusahaan). Bila pajak penghasilan didasarkan pada .PAJAK KONSUMSI Pajak penjualan pada dasarnya mirip dengan pajak penghasilan karena pajak ini dikenakan arus yang diciptakan oleh produksi output tahun berjalan.

Pajak. Oleh karena itu. semua penggunaan dikenakan kecuali untuk menabung. rumah makan. pajak penjualan inferior baik dalam hal keadilan vertikal maupun keadilan horizontal. pengurangan. yang telah mengalami perubahan-perubahan yang terakhir diubah dengan UndangUndang Nomor 18 tahun 2000. dalam pajak penjualan tidak ada situasi-situasi pribadi konsumen sebagaimana halnya dalam pajak penghasilan individu. Selain itu. Jenis barang yang tidak dikenakan PPN adalah: n Barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yang diambil langsung dari sumbernya. Dalam pajak umum atas barang-barang konsumsi. Pajak Pertambahan Nilai atas Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 tahun 1984. untuk konsumsi barang-barang tertentu yang dikelompokkan sebagai barang mewah di dalam negeri. . Khusus untuk PPnBM hanya dikenakan satu kali ketika dijual oleh pabrikan atau ketika diimpor. restoran. n Makanan dan minuman yang disajikan di hotel. Proses penggantian Pajak Penjualan menjadi Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) merupakan salah satu rangkaian perombakan sistem perpajakan nasional sebagai Reformasi Perpajakan tahun 1983 dan mulai berlaku sejak tanggal 1 April 1985. selain dikenakan PPN juga dikenakan PPnBM. seperti aturan-aturan pengecualian. warung dan sejenisnya.228 Bab 11: Pajak Konsumsi sisi sumber suatu rumah tangga maka pajak penjualan didasarkan pada sisi penggunaan suatu rumah tangga. Pajak penjualan adalah pajak penghasilan bila definisi penghasilan mengacu pada definisi yield income dari Irving Fisher. PPN merupakan pajak konsumsi yang dikenakan atas konsumsi barang-barang dan jasa-jasa tertentu di dalam negeri (di dalam Daerah Pabean). Tidak semua konsumsi barang dan jasa dikenakan pajak. n Barang-barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh rakyat banyak. Pajak penjualan merupakan pajak in rem yang berbeda dari pajak penghasilan yang merupakan pajak pribadi. dan tarif progresif. JENIS PAJAK ATAS KONSUMSI DI INDONESIAA Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah Pajak atas konsumsi yang pertama kali berlaku di Indonesia adalah Pajak Penjualan (PPn) yang mulai diberlakukan sejak tahun 1951. Oleh karenanya.

Sebagian besar cukai atau pajak penjualan atas produk-produk tertentu dikenakan berdasarkan unit produk. cukai tembakau dan cukai minuman keras. dan surat-surat berharga. terdiri dari beberapa jenis. seperti yang telah dibahas dalam bab-bab sebelumnya.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 229 n Uang. cukai adalah pajak atas konsumsi. seperti pajak penjualan. . tetapi hanya dikenakan pada barang-barang tertentu seperti tembakau. jasa pengiriman surat dengan perangko. Di antara dua basis ini. jasa pelayanan sosial. Pajak Konsumsi di Daerah Jenis pajak konsumsi lainnya diberlakukan pada tingkatan daerah dengan besarnya tarif pajak bergantung pada peraturan masing-masing daerah. Jasa-jasa yang tidak dikenakan PPN cukup banyak. Pajak per Unit versus Pajak atas Nilai (Ad valorem) Pajak penjualan dapat dikenakan per unit produk dan dapat dikenakan atas nilai produk (ad valorem). Cukai Cukai adalah pungutan atau pajak yang dikenakan terhadap konsumsi barang-barang tertentu. Pajak Hiburan. BAHASAN-BAHASAN DALAM PAJAK ATAS KONSUMSI BPajak penjualan. bentuk ad valorem lebih berarti daripada bentuk per unit. Pajak Restoran. emas batangan. gula. PPN dan PPnBM merupakan contoh pajak penjualan yang dikenakan berdasarkan ad valorem. jasa keagamaan. Cukai merupakan hak atas pemerintah pusat. Pajak-pajak tersebut dapat mencakup semua transaksi atau basisnya sama dengan PNB atau hanya konsumsi saja. jasa keuangan. Pajak Hotel. bensin dan minuman keras. Pada prinsipnya. cakupan dan saat pengenaannya. seperti jasa pelayanan kesehatan. Ruang Lingkup Cakupan Pajak Penjualan Umum Karena perbedaan basis pengenaannya. pajak-pajak penjualan umum dapat berbeda dalam cakupan pengenaannya. jasa pendidikan dan lain-lain. Pajak Reklame dan Pajak Parkir. termasuk definisi basis pajak. misalnya pajak atas BBM. Pajakpajak ini diantaranya Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor. seperti yang dijelaskan pada bagian sebelumnya.

Dalam pajak jenis ini. Selain itu. penjualan besi baja dikenakan pajak ketika besi baja berpindah dari pabrik baja ke pabrik produksi lembaran baja. . penjualan lembaran baja dikenakan pajak ketika lembaran baja berpindah dari pabrik produksi lembaran baja ke pabrik mobil. Akibatnya. atau sepertiga hasil dari pajak penghasilan. pajak berdasarkan perputaran menimbulkan diskriminasi pengenaan pajak terhadap produkproduk yang harus melalui banyak tahapan produksi dan distribusi. Pendekatan ini tidak akan menimbulkan permasalahan bila setiap produk melalui jumlah transaksi yang sama sehingga persentase total kewajiban pajak berdasarkan perputaran terhadap nilai pada penjualan akhir akan sama. Pada umumnya.230 Bab 11: Pajak Konsumsi Basis Transaksi yang Inferior Pajak berdasarkan perputaran (turnover tax) yang dikenakan pada jumlah total seluruh transaksi adalah pajak yang paling tidak diinginkan untuk diterapkan. perusahaan-perusahaan akan bergabung dengan para pemasok mereka. sehingga mendorong timbulnya integrasi vertikal yang pada gilirannya akan mengurangi kompetisi. suatu produk dikenakan pajak berkali-kali sepanjang tahapan produksi. basis pajaknya akan berjumlah beberapa kali lipat dari PNB dan hasil pajak yang besar akan didapatkan hanya dengan pengenaan tarif pajak yang rendah. Bahkan beberapa negara Eropa telah menggantikan bentuk pajak ini dengan pajak pertambahan nilai sebagai bukti inferioritas pajak atas perputaran ini. untuk menghindari pajak. Dengan PNB Indonesia yang diperkirakan sebesar Rp1180 trilyun misalnya. Dengan demikian. Misalnya. penerapan pajak berdasarkan perputaran yang komprehensif sebesar 1% akan menghasilkan pendapatan pemerintah sebesar Rp46 trilyun. Dalam kenyataannya. Atas dasar inilah. penjualan biji besi dikenakan pajak ketika biji besi tersebut berpindah dari tambang ke pabrik baja. Cara ini sangat menarik perhatian pemerintah karena kemampuannya menghasilkan pajak yang besar dengan penerapan tarif yang kecil. Basis Produk Nasional Bruto (PNB) versus Basis Penghasilan atau Konsumsi Karena basis transaksi menimbulkan pengenaan ganda dan harus dihindari maka pilihan lainnya adalah basis PNB. pendapatan nasional atau konsumsi. setiap produk melalui jumlah transaksi yang berbeda-beda. pajak berdasarkan perputaran dipandang sebagai bentuk pajak yang inferior. pajak penjualan yang dikenakan di berbagai negara didasarkan pada basis konsumsi. dan seterusnya sampai pajak terakhir dikenakan pada penjualan mobil eceran.

Tahap Pengenaan Keputusan mengenai tahap pengenaan didasarkan pada pilihan tahapan terbaik untuk pengenaan pajak satu kali dan pilihan mengenakan pajak satu kali atau beberapa kali. bukan dalam jumlah brutonya. yang akan dijelaskan pada bagian berikutnya.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 231 Pajak penjualan jenis PNB akan mengenakan pajak penjualan atas barangbarang konsumsi dan barang-barang produksi. konsumsi makanan rumah. seperti konsumsi perumahan (sewa rumah dan imputed-rent bagi pemilik rumah). satu-satunya basis yang tersisa sebagai kandidat basis pajak adalah basis konsumsi. Dalam hal keadilan. pajak jenis ini memiliki kelemahan dalam hal keadilan dan efisiensi. Karena basis penghasilan telah digunakan dalam pajak pribadi pada bagian sebelumnya dengan pengenaan pajak penghasilan.170 trilyun. Pajak Konsumsi Komprehensif versus Pajak Konsumsi Tertentu Pajak penjualan umum atau eceran bertujuan mengenakan pajak yang mencakup seluruh konsumsi secara komprehensif. Dengan demikian. pajak ini akan memberikan perlakuan lebih diskriminatif terhadap tabungan yang telah mendapat perlakuan diskriminatif dalam pajak penghasilan bila dibandingkan dengan bentuk tabungan rencana pensiun. Akan tetapi jumlah dalam basis ini akan berkurang karena beberapa konsumsi tertentu dikecualikan dari pengenaan pajak penjualan. Pajak seperti ini akan memiliki basis yang sama dengan pajak penghasilan dan dapat diadakan dengan memberlakukan pajak pertambahan nilai jenis penghasilan. yaitu penghasilan tanpa diperhitungkan biaya penyusutan. Kelemahan ini tidak terjadi bila pajak hanya dikenakan pada basis yang sama dengan pendapatan nasional atau PNB dikurangi dengan pajak-pajak tidak langsung dan penyusutan. Basis inilah yang paling banyak digunakan dalam pajak penjualan. Dalam hal efisiensi. basis ini akan sama dengan yang dipakai dalam pajak atas penghasilan bruto. pajak ini akan melanggar prinsip dasar pajak penghasilan yang menyatakan bahwa penghasilan dari semua sumber harus dikenakan pajak sepenuhnya dan dalam jumlah netonya. . Karena sama dengan pengenaan pajak atas penghasilan. Bilamana penetapan cakupan pajak merupakan hal yang substantif dalam menentukan jenis pajak yang akan diberlakukan. jasa kesehatan dan lain-lain. Dengan pengeluaran konsumsi sebesar Rp1. pajak penjualan yang komprehensif sebesar 10% akan menghasilkan pendapatan negara sebesar Rp117 trilyun.

Jika pajaknya bersifat umum. pengenaan pajak pada tahapan produksi lebih menguntungkan karena cara ini akan mengurangi jumlah pembayar pajak yang harus ditagih pajaknya sehingga mempermudah administrasi. karena rasio harga eceran terhadap harga produksi berbedabeda untuk berbagai produk. Jika pajak akan dikenakan secara selektif (PPnBM). Pajak dikenakan pada produsen yang jumlahnya pasti lebih sedikit daripada pengecer/penjual ataupun konsumen. Pembedaan dalam situasi ini lebih berkaitan dengan sifat dari produk final pada tahapan penjualan eceran. akan lebih menguntungkan mengenakan pajak pada tahapan ini. maka pengenaan sebaiknya dilakukan pada tahapan eceran. Selain itu. pilihan pengenaan pajak biasanya antara saat selesai produksi atau saat dijual secara eceran kepada konsumen. karena pengenaan pajak secara selektif pada tingkatan eceran akan sangat sulit. dan lebih memiliki pembukuan yang baik daripada badan-badan usaha eceran. Di negara-negara berkembang. tahapan mana akan dikenakan pajak merupakan hal yang sulit untuk ditentukan. Jika produknya dapat diidentifikasi pada tahapan produksi. Negara-negara berkembang dapat memperoleh hasil yang lebih baik dengan pajak penjualan yang dikenakan pada tahapan produksi karena . Pengenaan tarif yang berbeda untuk menghilangkan perbedaan rasio harga eceran terhadap harga produksi ini akan sangat sulit dan merupakan cara yang tidak seefisien dan seefektif pengenaan pajak pada tingkatan penjualan eceran. Saat Produksi versus Saat Penjualan Eceran Bila menggunakan pajak yang dikenakan satu kali. pengenaan pada saat penjualan eceran lebih baik karena memungkinkan pengenaan tarif ad valorem yang seragam. Pengenaan pajak ad valorem dengan tarif yang sama pada tingkatan produksi menghasilkan tarif ekivalen yang tidak sama dengan pengenaan pada tingkatan penjualan eceran.232 Bab 11: Pajak Konsumsi pemilihan tahap pengenaan lebih merupakan masalah administratif dalam rangka efisiensi pengenaan pajak atas basis yang dipilih. Walaupun demikian. lebih permanen. Dalam situasi lain (misalnya bahan kain yang digunakan untuk pakaian mewah atau pakaian murah) dimana identifikasi produk tidak memungkinkan. misalnya mobil murah atau televisi. pandangan umum lebih condong kepada pengenaan pada tahapan penjualan eceran untuk diterapkan pada pajak penjualan umum dan tidak begitu sering digunakan pada pajak-pajak penjualan selektif. Karakteristik-karakteristik mampu memberikan perbaikan dalam kualitas perhitungan pajak di negara-negara berkembang. badan-badan usaha produksi cenderung lebih besar.

produsen sepatu menjual sepatu kepada distributor utama. pajak pertambahan nilai bukan bentuk pajak yang baru seperti pajak pengeluaran. pajak pertambahan nilai yang diselenggarakan dengan benar akan ekivalen dengan penerapan pajak dalam satu tahapan pada titik penjualan. Oleh karena itu. Penggunaan pendekatan beberapa tahapan dalam konteks pertambahan nilai harus dibedakan dengan yang sebelumnya dibahas dalam diskusi tentang pajak atas perputaran. penyamak menjual kulit bahan sepatu kepada produsen sepatu. Dengan menelusuri ke berbagai tahapan produksi. pajak ini hanyalah pajak penjualan yang diadministrasikan dengan cara berbeda. Ada dua cara pengumpulan pajak penjualan. Dengan cara kedua. distributor utama menjual sepatu kepada toko eceran. Pada setiap tahapan. dengan nilai atau harga final dari produk tersebut sama dengan jumlah kenaikan atau pertambahan nilai pada seluruh tahapan. misalnya sepatu. Suatu pajak . Saat Penjualan Eceran versus Pertambahan Nilai Pertanyaan lebih lanjut pengumpulan pajaknya. nilai produk dibagi dalam potongan-potongan (nilai tambah pada setiap tahapan) dimana pajak dikenakan pada tahapan-tahapan sepanjang proses produksi. basis nilai tambah dari pajak penjualan jenis konsumsi sama dengan basis penjualan eceran. yang akhirnya akan menjual sepatu tersebut kepada konsumen. Pemilihan keduanya lebih didasarkan pada kemudahan administrasi. yaitu pada saat pengenaan di titik penjualan final dan dikumpulkan secara bertahap dengan menggunakan prosedur nilai tambah. Yang dikenakan di sini adalah pajak atas pertambahan nilainya sedangkan pada pajak atas perputaran dikenakan atas seluruh jumlah perputarannya di setiap tahapan produksi. Setiap kenaikan harga menunjukkan tambahan nilai pada setiap tahapan. Nilai Akhir sebagai Agregat dari Pertambahan Nilai Mari kita lihat suatu produk. walaupun dampaknya dapat berbeda bila pajak tersebut dikenakan pada tingkatan penjualan eceran. PAJAK PERTAMBAHAN NILAI Menurut sudut pandang ahli ekonomi.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 233 jumlah titik penagihan pajak yang lebih sedikit. Walaupun ada perbedaan dalam teknik. kita akan mulai dengan peternak yang menjual kulit hewan kepada penyamak. hanya cara penagihannya yang berbeda. nilai barang meningkat dan harga jual juga meningkat sejalan dengan peningkatan nilai tersebut.

bunga. yang dihitung dari penerimaan kotor dikurangi dengan biaya pembelian barang setengah jadi dari produsen sebelumnya dalam lini produksi. atau oleh suatu perusahaan untuk pembelian barangbarang modal. pajak tersebut akan dikenakan baik pada barang konsumsi maupun barang modal. laba dan biaya-biaya. Pajak ini akan merupakan bentuk yang paling komprehensif dari pajak pertambahan nilai dan disebut sebagai pajak pertambahan nilai jenis PNB. baik oleh konsumen rumah tangga. yaitu mengenakan pajak kepada setiap penjual dengan tarif 5 persen dari nilai tambah.170 trilyun. dengan nilai bersih didefinisikan sebagai penerimaan kotor dikurangi pembelian atas barang setengah jadi dan penyusutan. Jenis Penghasilan Pendekatan nilai tambah ini. Jenis PNB Bila semua barang dan jasa final yang diproduksi dan dijual dalam suatu periode.5 trilyun pendapatan pajak bagi negara. Hasil yang sama dapat diperoleh dengan menerapkan pajak penghasilan umum karena basis suatu pajak produk neto sama dengan pajak . Seperti kita ketahui NNP sama dengan PNB dikurangi cadangan untuk konsumsi modal atau penyusutan. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya. Basis pajak pada setiap tahapan akan sama dengan penyusutan. Pajak ini akan dibayarkan oleh penjual ketika produk dijual kepada pembeli terakhir. pajak ini ekivalen dengan pajak penjualan yang diterapkan pada barang konsumsi dan barang modal. dan konsumsi. Dengan PNB Indonesia sebesar Rp1.234 Bab 11: Pajak Konsumsi yang dikenakan pada pertambahan nilai akan identik basisnya dengan suatu pajak yang dikenakan pada nilai final dari produk tersebut. Produk Nasional Neto (PNN). pajak. juga dapat digunakan untuk menyelenggarakan pajak penjualan pada produk neto. menjadi subyek pajak penjualan umum. tetapi hanya jenis konsumsi yang dapat diterapkan secara praktis. seperti yang telah dibahas sebelumnya. Jenis Pajak Pertambahan Nilai Ada tiga jenis pajak pertambahan nilai sesuai dengan basis PNB. Pajak atas NNP dapat dikenakan dalam bentuk beberapa tahapan dengan mengenakan pajak pada nilai bersih yang ditambahkan oleh setiap perusahaan. Jumlah yang sama dapat diperoleh dengan menggunakan pendekatan nilai tambah. pajak dengan tarif 5% yang mencakup semua barang tersebut akan menghasilkan Rp58. oleh suatu perusahaan untuk menambah persediaan barangnya. yaitu PNB.

yaitu pembelian barang-barang modal. Untuk basis penghasilan. .Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 235 penghasilan. Tabel ini menunjukkan perhitungan ketiga basis dengan menggunakan metode yang disebut metode pengurangan. Jadi metode penambahan langsung menghasilkan angka pada pajak pertambahan nilai jenis penghasilan tetapi agak membingungkan pada pajak pertambahan nilai jenis konsumsi. Ilustrasi Perhitungan PPN untuk Setiap Jenis Ilustrasi perhitungan dari berbagai jenis pajak pertambahan nilai disajikan pada tabel berikut. Pajak pertambahan nilai jenis penghasilan berbeda dari jenis konsumsi. hanya pendekatan nilai tambah yang secara praktis digunakan apabila pajak penjualan akan dikenakan pada produk neto. Pajak ini tidak dapat dikenakan sebagai pajak atas total nilai bersih dari barang pada saat penjualan terakhir dilakukan karena prosedur ini mengharuskan pencatatan biaya-biaya penyusutan yang dibebankan oleh semua produsen sepanjang lini produksi. dengan perbedaan hanya pada prosedur administrasi saja. Basis konsumsi ditentukan dengan menambahkan pembayaran-pembayaran kepada faktor dengan penyusutan (baris 05 dan 07) kemudian dikurangi dengan pembelian barang modal (baris 09). Jenis Konsumsi Basis untuk pajak pertambahan nilai jenis ini didefinisikan sebagai pendapatan bruto perusahaan dikurang nilai dari seluruh pembelian produkproduk setengah jadi (bahan mentah dan barang dalam proses) dan juga pengeluaran modalnya atas pabrik dan peralatan-peralatan. Dengan membolehkan setiap perusahaan untuk mengurangkan pengeluaran modalnya. Alternatif lainnya yang dapat digunakan adalah metode penambahan. Jadi. yang tersisa hanyalah nilai dari output barang konsumsi saja. PPN jenis penghasilan membolehkan perusahaan mengurangkan penyusutan sedangkan PPN jenis konsumsi membolehkan perusahaan mengurangkan investasi bruto. perhitungan dengan metode penambahan adalah dengan cara menambahkan semua pembayaran kepada berbagai faktor yang dinyatakan pada baris 05. Pajak seperti ini akan sama dengan pajak penjualan eceran umum atas barang konsumsi. Basis PNB dihitung dengan cara menambahkan pembayaranpembayaran kepada faktor dengan penyusutan (baris 05 dan 07).

Musgrave. . NNP atau Pendapatan Nasional PERUSAHAAN B C Ekonomi 120 120 70 145 100 315 151 151 221 265 100 100 20 120 80 120 15 215 90 45 16 151 270 165 51 - - 100 100 120 100 120 195 180 95 6 90 106 321 370 321 - - - 221 100 321 51 270 Sumber: Richard A. Konsumsi 14. seperti yang ditunjukkan pada baris 12. laba.236 Bab 11: Pajak Konsumsi A Pendapatan 01. Plus Investasi 15. Basis konsumsi (baris 04 dikurangi baris 06 dikurangi baris 09) 11. Minus Penyusutan 17. dihitung untuk setiap perusahaan dengan cara penjualan dikurangi dengan biaya barang-barang setengah jadi dan penyusutan (baris 06 dan 07). Jumlah total Biaya Modal 09. Public Finance in Theory and Practice. Jumlah total basis-basis ini sama dengan nilai dari konsumsi. Pembelian barang-barang modal Basis-basis pajak 10. akan sama dengan penjualan total (baris 04) dikurangi pembelian barang-barang setengah jadi (baris 06). Penjualan barang konsumsi 02. 06. dan PNB yang ditentukan dalam perhitungan pendapatan nasional. Penjualan barang modal 04. seperti yang ditunjukkan pada kolom terakhir. Basis GNP Perhitungan Pendapatan Nasional 13. Musgrave dan Peggy B. Metode Penagihan Bila kita melihat jenis konsumsi dari pajak pertambahan nilai. hal. Jumlah total Biaya 05. seperti yang ditunjukkan pada baris 11. pendapatan nasional. Basis PNB. Pembelian produk setengah jadi 07. New York: 1989. bunga. Upah. Basis penghasilan. Penyusutan 08. Penjumlahan basis-basis pada setiap perusahaan ini menghasilkan basis-basis untuk seluruh ekonomi. 5th Edition. seperti yang ditunjukkan pada baris 10. dihitung untuk setiap perusahaan dengan mendapatkan angka penjualannya dan dikurangi dengan pembelian barang-barang setengah jadi dan barang-barang modal (baris 06 dan 09). Basis penghasilan (baris 04 dikurangi baris 06 dikurangi baris 07) 12. GNP 16. kita akan menghitung basis pajak untuk setiap perusahaan adalah penjualan dikurangi dengan pembelian-pembelian barang-barang setengah jadi dan barang modal. Penjualan produk setengah jadi 03. McGraw-Hill. dsb. 402 Basis konsumsi.

Pendukung pajak pertambahan nilai merasa bahwa pajak ini “tampak” berbeda sehingga tidak terkontaminasi reputasi buruk dari pajak penjualan eceran yang menyembunyikan beban pajak dari konsumen karena pajak sering tidak disajikan terpisah dari harga konsumen. ada perbedaan pendapat yang cukup tajam di antara kedua pajak ini mengenai yang lebih baik. Jika pajak bruto pengecer disajikan terpisah dari harga konsumen. Pertama. tetapi di negara berkembang di mana usaha ritel umumnya usaha kecil. Akan tetapi. sehingga memudahkan administrasi karena para pengecer dapat diakses secara efektif. dengan menggunakan metode faktur. metode faktur memiliki elemen ketaatan karena setiap pembeli akan meminta salinan dari bukti setor tersebut. yaitu metode yang meminta perusahaan membayar pajak atas basis yang telah dihitung tersebut. Di negara maju yang usaha ritelnya sudah mapan. Simpulan Kita telah melihat bahwa pajak pertambahan nilai jenis konsumsi memiliki basis yang sama dengan pajak penjualan eceran dengan cakupan yang sama.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 237 Bila perhitungan pajak telah selesai. pajak pertambahan nilai memiliki elemen ketaatan yang tidak dimiliki dalam pajak penjualan eceran. pengecualian barang-barang modal dapat dilakukan dengan lebih efektif daripada dalam pajak penjualan eceran karena sulitnya menelusuri penggunaan barang-barang yang dibeli dari para pengecer. Selain itu. Metode ini cocok di negara yang ketaatan pajaknya rendah. ada dua cara untuk menagihnya. Kedua. DISTRIBUSI BEBAN PAJAK . Satu perbedaan pandangan politis. Dengan membuat aturan bahwa kredit pajaknya bergantung pada penyajian bukti setor pajak yang dilakukan oleh para pemasok. pajak penjualan eceran tidak akan efektif. Selain pertimbangan politis. Dalam pajak pertambahan nilai. yaitu metode yang mengharuskan perusahaan menghitung pajak brutonya dengan mengalikan tarif pajak terhadap total penjualan dan mengkreditkan atas pajak bruto ini jumlah yang sama dengan pajak yang telah dibayarkan oleh para pemasok yang barang-barang setengah jadi dan barangbarang modalnya dibeli oleh perusahaan. dikenal dengan nama metode perhitungan. Jumlah pembayar pajak dalam pajak penjualan eceran lebih sedikit daripada dalam pajak pertambahan nilai. metode faktur. hal ini mudah dilakukan. ada beberapa perbedaan teknis dalam implementasi yang cukup penting. konsumen akan menyadari adanya pajak pada kedua pendekatan ini.

Hal yang sama tidak berlaku untuk pajak penjualan dan cukai. seperti rokok dan minuman beralkohol. Cukai juga dikenakan untuk memenuhi rasa keadilan karena barang-barang konsumsi tertentu hanya dinikmati oleh konsumen-konsumen berpenghasilan tinggi. Pajak Penjualan Umum Pajak penjualan umum dalam bentuk pajak penjualan eceran atas barangbarang konsumsi pada dasarnya sama dengan pajak umum bertarif tetap atas pengeluaran konsumen. Cukai tetap dikenakan karena berbagai alasan. sedangkan beban dari pajak atas barang-barang mewah cenderung progresif. Cukai cenderung regresif karena dikenakan atas barang-barang konsumsi massal. Beban dari pajak atas barang-barang kebutuhan sehari-hari cenderung regresif. Oleh karena itu. Karena tidak dibebankan secara pribadi. tetapi hal ini belum menjadi kebijakan yang telah diterapkan. Cukai Pada diskusi kita sebelumnya tentang tax incidence dari pajak penjualan. Karena hanya dikenakan pada barang-barang tertentu. Cukai umumnya dikenakan kepada barang-barang konsumsi massal yang dipandang “kurang baik untuk dikonsumsi”. Cukai juga dikenakan dalam rangka meminimalkan dead weight loss. cukai akan menimbulkan biaya efisiensi yang lebih besar daripada pajak yang lebih umum. Konsumen dengan penghasilan berbeda dikenakan tarif cukai yang sama. yaitu berdasarkan pola pengeluaran konsumsi atas produk yang dikenakan pajak. Konsumen yang memiliki preferensi lebih pada produk-produk kena cukai membayar cukai lebih banyak. Cukai juga diskriminatif terhadap konsumen dengan penghasilan yang sama tetapi dengan preferensi yang berbeda. mereka ini dikenai beban cukai yang berbeda. kita menyimpulkan bahwa distribusi beban pajak berdasarkan kelompok penghasilan didominasi dari sisi penggunaan. pajak-pajak ini tidak mengindahkan aturan kemampuan untuk membayar. Bila dilihat dari keadilan horizontal. cukai memiliki peringkat yang rendah dalam hal keadilan horizontal dan vertikal.238 Bab 11: Pajak Konsumsi Pajak penghasilan memiliki peringkat yang tinggi dalam hal keadilan karena dikenakan sebagai suatu pajak pribadi yang berusaha mencapai kemampuan membayar dari wajib pajak. seperti minuman beralkohol dan rokok. suatu pajak penjualan umum memenuhi keadilan pajak bila indeks keadilan dinyatakan dalam bentuk konsumsi tetapi akan tidak memenuhi keadilan pajak bila indeksnya dinyatakan dalam bentuk .

. tetapi pengenaan pajak ini dalam situasi modern belum pernah ada. Keluarga-keluarga dengan penghasilan yang sama mungkin saja memiliki tingkat konsumsi (menabung) yang berbeda karena faktor usia atau faktor-faktor lainnya. seperti makanan.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 239 penghasilan. sehingga melanggar keadilan horizontal dalam bentuk penghasilan. Perlu dicatat pula bahwa sifat regresif dari pajak penjualan telah dimodifikasi dengan mengecualikan beberapa produk konsumsi massal. Penggunaan suatu jenis pajak pribadi dari pajak pengeluaran akan menghilangkan perbedaan ini dan membuat pengenaan pajak atas konsumsi menjadi bersifat pribadi dan progresif. pendukung pajak penghasilan cenderung berasal dari pendukung progresivitas pajak. Pajak ini merupakan ide yang baru dan menarik dan telah banyak mendapat dukungan dari para akademisi di dunia perpajakan.Oleh karena itu. Pola ini kurang regresif bila dihitung dalam jangka waktu seumur hidup dan bukannya tahunan. Keluarga-keluarga seperti itu akan membayar jumlah pajak yang berbeda. Perbedaan progresivitas di antara kedua jenis pajak ini muncul karena pajak penghasilan telah dikembangkan dalam kerangka pajak pribadi. suatu pajak penjualan umum akan proporsional berkenaan dengan tingkat konsumsi tetapi akan regresif berkenaan dengan tingkat penghasilan. sedangkan pendukung pajak penjualan cenderung berasal dari penentang progresivitas pajak. sedangkan pajak konsumsi telah ditetapkan sebagai kerangka dalam pendekatan non pribadi atau in rem dari pajak penjualan. penghindaran atas pajak penjualan hanya dapat dilakukan dengan melalui warisan. pajak penghasilan dipandang sebagai pajak yang progresif dan pajak penjualan dipandang sebagai pajak regresif. Bila dipandang dari keadilan vertikal. Dengan demikian. Berikut ini pembahasan teknis apabila pajak ini diterapkan. karena konsumsi dalam persentase atas penghasilan menurun (menabung dalam persentase atas penghasilan naik) sejalan dengan kenaikan penghasilan. PAJAK PENGELUARAN WAJIB PAJAK PRIBADI Pajak konsumsi baik melalui cara selektif (cukai) maupun pajak penjualan umum (PPN bila di Indonesia) tetap bersifat regresif karena pengeluaran konsumsi dalam persentase penghasilan cenderung menurun sejalan dengan peningkatan penghasilan. Bila dihitung dalam jangka waktu seumur hidup. Pajak seperti ini pernah dicobakan di India dan Sri Lanka.

Dengan menggunakan analogi pajak penghasilan. definisi global yang diterapkan dalam basis pajak penghasilan berlaku juga pada pajak konsumsi. kemudian akan mengurangkan konsumsi tidak kena pajak yang diperbolehkan. terutama untuk menentukan penambahan atas kekayaan bersih. Perhitungan konsumsi dengan meminta individu menambahkan pengeluaran rupiah untuk konsumsi tidak mungkin diterapkan. Semua konsumsi harus dimasukkan ke dalam basis pajak dan kewajiban pajak para wajib pajak tidak dipengaruhi oleh pola tertentu dari pengeluaran konsumsi mereka. Pendekatan ketiga merupakan paling baik dan yang paling mungkin untuk menentukan konsumsi tahunan wajib pajak adalah dengan menggunakan cara berikut:1 § Saldo bank dan uang pada awal tahun § + penerimaan uang § + tambahan pinjaman bersih (pinjaman baru dikurangi pembayaran pinjaman atau memberikan pinjaman) § – investasi bersih (biaya pembelian aset-aset dikurangi hasil dari aset-aset yang dijual) § – saldo bank dan uang pada akhir tahun § = konsumsi untuk tahun berjalan.240 Bab 11: Pajak Konsumsi Penentuan Konsumsi Kena Pajak Apabila konsumsi digunakan sebagai indeks atas kemampuan untuk membayar. jumlah tambahan tabungan harus didefinisikan sebagai tabungan neto (tambahan tabungan dikurangi penarikan tabungan). wajib pajak akan menentukan konsumsinya pada suatu tahun pajak. Untuk mendapatkan angka konsumsi. Pendekatan kedua dimulai dari penghasilan dan mengurangkannya dengan jumlah tambahan tabungan. Konsumsi dihitung dari perubahan dalam saldo bank dan uang dan arus penerimaan dan pembayaran-pembayaran non konsumsi selama tahun berjalan. Konsep penerimaan yang digunakan dalam skedul perhitungan di atas sama dengan penghasilan yang didefinisikan dalam pajak penghasilan. disesuaikan 1 Richard A. SPT harus digunakan untuk membuat wajib pajak menyatakan jumlah-jumlah tersebut secara rinci seperti pelaporan penghasilan dalam pajak penghasilan. akan tetapi penentuan konsumsi kena pajak dalam praktek bukan hal yang mudah. Hal 405-406. dan menerapkan tarif pajak progresif kepada jumlah sisanya yang merupakan konsumsi kena pajak. Musgrave. . Musgrave dan Peggy B. atau penambahan atas kekayaan bersih. Ide ini tampaknya sederhana. Pendekatan inipun bukan hal yang mudah.

maka harus ada suatu rasio yang ditetapkan sebelumnya dari penghasilan terhadap konsumsi dan penghasilan dikurangkan sebesar rasio ini untuk pemotongan pajak konsumsi. hasil yang diterima akan masuk ke dalam basis pajak kecuali dikurangi dengan pembelian aset-aset lain atau kenaikan dalam saldo-saldo aset. Sulit untuk memberlakukan metode pemotongan dan pemungutan pajak dalam pajak pengeluaran untuk urusan kemudahan administrasi pajak. dan capital gain yang belum direalisasikan. Permasalahan sulit dari akuntansi penyusutan juga akan hilang. Untuk tujuan ini. Untuk memastikan peminjaman dipertanggungjawabkan. Karena pemotongan pajak hanya dapat dilakukan terhadap penghasilan penghasilan. pajak pengeluaran akan memunculkan kesulitan-kesulitan baru. suatu situasi yang menyulitkan dalam dalam kasus penghasilan modal. pemotongan pajak dalam sistem tarif yang progresif mempersulit penerapan karena tarif pajak yang tepat bergantung pada apakah penerimaan tersebut akan dibelanjakan atau diinvestasikan kembali. Pendekatan ini lebih sederhana daripada yang dipakai dalam pajak penghasilan. akan terjadi penghindaran pajak konsumsi dengan menggunakan uang dari saldo-saldo kas tersebut untuk konsumsi. Penyesuaian terhadap inflasi hanya diperlukan untuk indeks tarif-tarif pajak. dengan membolehkan penggunaan tarif rata-rata untuk menghindari ketidakadilan. Selain itu. Permasalahan lainnya adalah pentingnya mencatat secara lengkap saldosaldo kas pada awal tahun. akan diperlakukan sebagai konsumsi tahun berjalan. pengecekan silang akan lebih banyak dilakukan. Bila tidak dilakukan. Dilema dalam memperlakukan capital gain yang belum direalisasikan tidak ada. Tidak ada kebutuhan untuk menentukan laba perseroan. pembelian barang-barang konsumsi jangka panjang (seperti mobil). pemberi pinjaman diharuskan untuk melaporkan informasi mengenai pinjamanpinjaman yang diberikan.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 241 dengan mengecualikan capital gain tetapi memasukkan imputed rent dari rumah-rumah yang dihuni pemiliknya juga warisan dan hadiah yang diterima. Dividen akan muncul sebagai penerimaan. Jika aset dijual. Perlakuan atas Warisan dan Hibah . Dibalik kelebihan-kelebihan tersebut. yang diperoleh dengan menahan laba. wajib pajak diharuskan untuk melaporkan neraca atau daftar harta mereka dalam SPT. Hal yang sama juga diperlakukan untuk penjualanpenjualan aset. Walaupun konsumsi rumah akan dimasukkan dengan cara memasukkan komponen imputed rent. Dengan demikian. bukan hal yang relevan sampai realisasi terjadi dan hasilnya disalurkan ke dalam konsumsi.

konsep penghasilan yang berdasarkan tambahan kemampuan ekonomis memberikan perlakuan yang diskriminatif terhadap konsumsi di masa depan. penghasilan tersebut tetap tidak dikenakan pajak. basis pajak yang adil bukan hanya konsumsi saja tetapi semua penggunaan penghasilan. Akan tetapi. baik itu untuk konsumsi ataupun untuk diwariskan. penggantian ini juga akan menimbulkan kesulitan-kesulitan baru seperti masalah pemotongan pajak. Apabla sistem pajak berupaya mendukung kegiatan menabung. terutama yang berkaitan dengan permasalahan inflasi. Akan tetapi. Apabila penerima warisan/hibah tidak membelanjakannya. seperti yang telah dikemukakan sebelumnya. Dengan demikian. akan tetapi ada hal yang harus dijawab terlebih dahulu. Pajak pengeluaran juga tidak akan menghilangkan perlakuan-perlakuan khusus dan loophole yang selama ini ada pada pajak penghasilan. Seorang pembayar pajak dapat menghindari pajak apabila ia memutuskan sebagian penghasilannya digunakan sebagai warisan/hibah. Kedua. Berdasarkan filosofi tambahan kemampuan ekonomis. Walaupun demikian. Cara terbaik untuk mengatasi penghindaran pajak ini adalah dengan memasukkan warisan/hibah sebagai basis pajak pengeluaran. bagaimana memperlakukan warisan/hibah. Pertama. perlakuan terhadap warisan/hibah masih menimbulkan tanda tanya. Evaluasi Penggunaan pajak pengeluaran wajib pajak pribadi akan meningkatkan kualitas perpajakan konsumsi karena memungkinkan penerapan prinsip kemampuan untuk membayar dan menghilangkan sifat regresif yang melekat pada pajak penjualan umum. Menggantikan pajak penghasilan dengan pajak pengeluaran akan menyederhanakan beberapa hal penting. Pajak konsumsi. ada suatu permasalahan khusus timbul karena penghasilan tidak digunakan untuk konsumsi tetapi akan diwariskan atau dihibahkan.242 Bab 11: Pajak Konsumsi Dalam konsep pajak pengeluaran wajib pajak pribadi. Walaupun pajak pengeluaran berbasis konsumsi merupakan cara yang lebih baik. . basis mana yang lebih baik (penghasilan atau konsumsi). pendekatan pajak pengeluaran lebih tepat daripada pemberlakuan pengecualian secara sepotongpotong dalam sistem pajak penghasilan. memberikan perlakuan yang sama dengan menerapkannya pada nilai tunai konsumsi sehingga beban pajak tidak dipengaruhi oleh faktor waktu. penerimaan suatu warisan/hibah akan dimasukkan ke dalam basis pajak penerima warisan/hibah.

Kebijakan ini diambil untuk mengatur peredaran dan konsumsi barangbarang yang dipandang kurang baik. (3) jasa pengiriman surat dengan perangko. Pada pajak penjualan selektif. Untuk konsumsi barangbarang tertentu yang dikelompokkan sebagai barang mewah di dalam negeri. Porsi penghasilan yang ditabung tidak dikenakan pajak. (4) jasa keuangan. Pajak ini proporsional § § § . (5) jasa keagamaan. PPN merupakan pajak konsumsi yang dikenakan atas konsumsi barangbarang dan jasa-jasa tertentu di dalam negeri. (2) barangbarang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh rakyat banyak. gula. restoran. Pajak Reklame. (3) makanan dan minuman yang disajikan di hotel. dan menimbulkan biaya efisiensi yang lebih besar daripada pajak penjualan umum. Pajak ini memiliki peringkat yang rendah dalam hal keadilan horizontal dan vertikal. bensin dan minuman keras. sedangkan beban dari pajak atas barang-barang mewah cenderung progresif. seperti rokok dan minuman beralkohol. dan surat-surat berharga. Sedangkan pada pajak penjualan umum berbentuk pajak penjualan eceran dengan tarif tetap atas pengeluaran konsumen. Pajak konsumsi tidak memperhitungkan kondisi pribadi konsumen. Pajak konsumsi daerah adalah jenis pajak konsumsi yang diberlakukan pada tingkatan daerah dengan besarnya tarif pajak bergantung pada peraturan masing-masing daerah. emas batangan. beban dari pajak atas barang-barang kebutuhan sehari-hari cenderung regresif. selain dikenakan PPN juga dikenakan PPnBM. Pajak Kendaraan Bermotor. warung dan sejenisnya.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 243 RANGKUMAN § Pajak konsumsi dikenakan dikarenakan adanya transaksi produk. Pajak konsumsi dihitung dalam ukuran unit produk atau jumlah penerimaan kotor. (2) jasa pelayanan sosial. Pajak Parkir. dan (4) uang. Pajak Restoran. PPnBM hanya dikenakan satu kali ketika dijual oleh pabrikan atau ketika diimpor. atau dalam rangka meminimalkan dead weight loss. seperti Pajak Bahan Bakar. Adapun jasa bebas PPN antara lain: (1) jasa pelayanan kesehatan. Pajak Hotel. Pajak Hiburan. Cukai adalah pungutan atau pajak yang dikenakan terhadap konsumsi barang-barang tertentu. dan lain-lain. rumah makan. (6) jasa pendidikan dan lain-lain. Pajak penjualan dapat dipandang ekuivalen dengan pajak yang dikenakan atas pembelian-pembelian rumah tangga. seperti tembakau. Pajak konsumsi didasarkan pada sisi penggunaan (pengeluaran). Yang termasuk barang bebas PPN antara lain: (1) barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yang diambil langsung dari sumbernya.

pajak dikenakan berdasarkan perputaran (turnover tax). Tujuannya adalah mengenakan pajak pada total penghasilan bersih atau Net National Product (NNP). Suatu produk dikenakan pajak berkali-kali sejalan dengan pergerakannya sepanjang tahapan produksi. misalnya pajak atas bahan bakar minyak. cukai tembakau dan cukai minuman keras. Hasil pajak yang besar akan didapatkan hanya dengan pengenaan tarif pajak yang rendah. atau perhitungan laba sebelum dikurangi biaya penyusutan. Penerapan pajak berdasarkan perputaran yang komprehensif sebesar 1% saja akan menghasilkan pendapatan pemerintah sebesar sepertiga hasil dari pajak penghasilan. Nilai bersih didefinisikan sebagai penerimaan kotor dikurangi harga pokok produksi dan penyusutan. Sedangkan PPN dan PPnBM merupakan contoh pajak penjualan yang dikenakan berdasarkan ad valorem. Bentuk ad valorem lebih berarti daripada bentuk per unit dalam rangka meminimalkan perubahan pilihan konsumen. dimana dalam pajak penghasilan tidak dikecualikan. 1989). Kelemahan dalam hal keadilan. pajak ini akan melanggar prinsip dasar pajak penghasilan yang menyatakan bahwa penghasilan dari semua sumber dikenakan pajak sepenuhnya dalam jumlah netonya.244 Bab 11: Pajak Konsumsi § § § § berkenaan dengan tingkat konsumsi tetapi akan regresif berkenaan dengan tingkat penghasilan. pajak akan memberikan perlakuan diskriminatif dengan mengecualikan penghasilan yang ditabung (tidak dikonsumsikan). Penghindaran atas pajak penjualan dapat dilakukan dengan melalui warisan. Ini berarti bentuk ad valorem dapat lebih meminimalkan dead weight loss suatu kebijakan pajak (Musgrave and Musgrave. Kelemahan dalam hal efisiensi. Pajak konsumsi dapat dikenakan atas penjualan barang berdasarkan unit produk yang terjual. Perhitungan pajak menggunakan basis GNP akan mengenakan pajak penjualan atas barang-barang konsumsi dan barang-barang produksi (modal). Pajak pertambahan nilai jenis . Menurut metode total transaksi. Basis ini akan sama dengan yang dipakai dalam pajak atas penghasilan kotor. atau berdasarkan atas nilai produknya. Sebagian besar cukai atau pajak penjualan atas produk-produk tertentu dikenakan berdasarkan unit produk. yang sama dengan GNP dikurangi cadangan untuk pembelian barang modal atau penyusutan. Pajak dikenakan dalam beberapa tahapan pada nilai bersih yang ditambahkan oleh setiap perusahaan. Metode turn over menimbulkan diskriminasi pengenaan pajak terhadap produk-produk yang harus melalui banyak tahapan (piramida) produksi dan distribusi. karena konsumsi dalam persentase atas penghasilan menurun.

Pembedaan dalam situasi ini lebih berkaitan dengan bentuk akhir dari produk pada tahapan penjualan eceran. pengenaan pada saat penjualan eceran terasa lebih baik karena memungkinkan pengenaan tarif ad valorem yang seragam. Sedangkan pengenaan pajak ad valorem pada tingkatan produksi. menghasilkan revenue yang tidak sama dengan pengenaan tarif ad valorem pada tingkatan penjualan eceran. Hal ini dikarenakan rasio harga eceran terhadap harga produksi tidak selalu seragam untuk berbagai produk. yaitu pembelian barang-barang modal. Walaupun dalam situasi lain (misalnya bahan kain yang digunakan untuk pakaian mewah atau pakaian murah). tahapan pengenaan tarif ad valorem akan lebih mudah dilakukan pada proses produksinya.170 trilyun. . Hanya pendekatan nilai tambah setiap tahapan yang layak digunakan apabila pajak penjualan akan dikenakan pada produk neto. misalnya mobil murah atau televisi. Negara-negara berkembang dapat memperoleh hasil yang lebih baik dengan pajak penjualan yang dikenakan pada tahapan produksi karena jumlah kegiatan penagihan yang lebih sedikit. perkembangan badan-badan usaha manufaktur cenderung lebih besar. Dengan pengeluaran konsumsi sebesar Rp1. pengenaan pajak pada tahapan produksi lebih menguntungkan.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 245 § § § § penghasilan membolehkan perusahaan mengurangkan penyusutan untuk jenis penghasilan. Akan tetapi jumlah dalam basis ini akan berkurang karena beberapa konsumsi tertentu dikecualikan dari pengenaan pajak penjualan. Pajak pertambahan nilai jenis konsumsi membolehkan perusahaan mengurangkan investasi bruto. seperti konsumsi perumahan (sewa rumah dan imputed-rent bagi pemilik rumah). Jika pajaknya bersifat umum. pajak penjualan komprehensif sebesar 10% menghasilkan revenue sebesar Rp117 trilyun. walaupun hal ini dapat menghasilkan revenue yang berbeda jika diterapkan pada tahap penjualan eceran. cenderung akan lebih menguntungkan kemudahan administrasi pemungutan pajaknya dibanding pada tingkatan eceran. dan lebih memiliki pembukuan yang baik daripada badan-badan usaha eceran. Proses identifikasi pada tahapan produksi. konsumsi makanan rumah. Total pengecualiannya dapat mencapai 50% dari potensi penerimaan komprehensif. Di negara berkembang. Jika pajak bersifat selektif. Pajak penjualan umum bertujuan mengenakan pajak yang mencakup seluruh konsumsi secara komprehensif. Di negara-negara berkembang. lebih permanen. identifikasi menggunakan kriteria bahan baku produk tidak memungkinkan. jasa kesehatan dll. Tarif yang berbeda untuk setiap produk sulit diaplikasikan dan tidak efisien.

atau dikumpulkan secara bertahap dengan menggunakan prosedur nilai tambah. Dengan cara kedua. nilai produk dibagi dalam potongan-potongan dimana pajak dikenakan pada tahapantahapan sepanjang proses produksi. Pertama. Problema pajak konsumsi antara lain: (1) Basis Konsumsi Kena Pajak. Apabila penerima warisan/hibah tidak membelanjakannya. dan menerapkan tarif pajak progresif kepada jumlah sisanya yang merupakan konsumsi kena pajak. kemudian akan mengurangkan konsumsi tidak kena pajak yang diperbolehkan. Walaupun ada perbedaan. yaitu metode yang mengharuskan perusahaan menghitung pajak brutonya dengan mengalikan tarif pajak terhadap total penjualan. Pemilihan satu di antara keduanya lebih didasarkan pada pertimbangan lebih mudahnya proses administrasi. dimana analogi dengan pajak penghasilan. Perusahaan kemudian mengkreditkan atas pajak bruto ini jumlah pajak yang telah dipungut dan disetorkan oleh para pemasok barang-barang antara dan barang-barang modalnya. yaitu metode yang meminta perusahaan membayar pajak atas basis yang telah dihitung. metode faktur (invoice). penghasilan tersebut tetap tidak dikenakan pajak. pada titik penjualan final. Menghitung basis pajak untuk setiap perusahaan adalah penjualan dikurangi dengan pembelian-pembelian barang-barang antara dan barang modal. hanya cara penagihannya yang berbeda. basis nilai tambah dari pajak konsumsi bertahap sama dengan basis penjualan akhir secara eceran. (2) Warisan dan Hibah. dikenal dengan nama metode account. Kedua. sehingga seorang pembayar pajak dapat menghindari pajak apabila ia memutuskan sebagian penghasilannya digunakan sebagai warisan/hibah.246 § Bab 11: Pajak Konsumsi § § Pajak konsumsi dapat dikumpulkan dalam satu kali pengenaan. wajib pajak akan menentukan konsumsinya pada suatu tahun pajak. LATIHAN 1) 2) 3) 4) Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis pajak atas konsumsi di Indonesia! Bagaimana tahapan pengenaan pajak konsumsi dapat diterapkan? Apa yang dimaksud dengan pajak penjualan atas nilai akhir sama dengan jumlah pajak konsumsi atas pertambahan nilai? Jelaskan metode-metode yang digunakan dalam penagihan pajak konsumsi! .

bagaimana perlakuan atas warisan/hibah? . Mengapa pemerintah tetap memberlakukan cukai? Lengkapi jawaban Anda dengan contoh-contoh yang memadai 7) Jelaskan bagaimana efek penerapan pajak penjualan jika dipandang menurut keadilan vertikal dan keadilan horizontal? 8) Bagaimana efisiensi penentuan basis konsumsi kena pajak jika dianalogikan dengan penghasilan kena pajak? 9) Apa perbedaan pajak penjualan yang dikenakan atas turn over dengan pajak atas ad valorem? 10) Didalam konsep pajak pengeluaran atas konsumsi.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 247 5) Dilihat dari sisi permasalahan politik. bagaimana dukungan pajak pertambahan nilai dibandingkan dengan pajak penjualan? 6) Beberapa ahli berpendapat bahwa pajak penjualan selektif seperti cukai bersifat regresif.

PAJAK ATAS KEKAYAAN DAN WARISAN ALASAN-ALASAN KEKAYAAN PENGENAAN PAJAK ATAS Pajak dikenakan atas kekayaan dengan alasan bahwa kekayaan menerima manfaat publik dan kemampuan untuk membayar. Akan tetapi. Alasan manfaat mengarah pada pemberlakuan pajak bumi dan bangunan jenis in-rem sedangkan pertimbangan kemampuan untuk membayar mengarah pada pemberlakuan pajak kekayaan wajib pajak pribadi. mengapa kekayaan hanya dikenakan pada bumi dan bangunan belum ada penjelasan yang masuk akal. Alasan Manfaat Pajak atas Kekayaan Pajak dikenakan atas kekayaan karena layanan-layanan publik meningkatkan nilai dari bumi dan bangunan dan oleh karenanya harus dibayarkan oleh pemiliknya. Argumentasi dukungan ini dapat diturunkan dari .

sebagaimana pendapat para ahli teori hukum alam. misalnya pendidikan atau kesehatan. dalam kondisi modern di mana penghasilan sebagian besar diterima dalam bentuk uang. berdasarkan konsep ini. Demikian juga. tidak memiliki dasar yang rasional. penerapan alasan manfaat dapat menjadi lebih spesifik lagi. Penggunaan pajak kekayaan untuk mendanai fungsi lain. basis pajaknya adalah seluruh kekayaan yang dimiliki oleh seseorang atau dapat menggunakan basis pajak kekayaan bersih. yaitu kekayaan wajib pajak dikurangi dengan kewajibannya. Akan tetapi. seperti pembangunan trotoar yang meningkatkan nilai gedung di belakang trotoar tersebut dan juga perlindungan khusus oleh polisi pada daerah-daerah tertentu. Dalam kasus-kasus lain. yang pasti tidak semua biaya dari fungsi negara harus diperoleh dari pengenaan pajak ini. Oleh karena itu. kekayaan lebih sulit diukur daripada penghasilan. manfaat khusus yang dinikmati oleh setiap properti dapat diukur dengan suatu indeks seperti panjang jalan di depannya atau lokasinya. pendapatan dari pajak harus dibatasi hanya sebesar biaya yang diperlukan untuk melaksanakan layanan perlindungan. suatu pajak khusus dapat dikenakan untuk mendanai suatu layanan tertentu. Walaupun berapa besarnya biaya tersebut masih dapat diperdebatkan. Salah satu dari fungsi dasar suatu negara. Sebagian besar pajak yang dipungut oleh negara diterima dalam bentuk barang. seperti biaya penegakan hukum. Bila teori tersebut yang menjadi acuan. Dalam kasuskasus tertentu. yang dinyatakan pada akhir abad ke-17. pemilik properti membayar kepada negara untuk biaya-biaya negara tersebut. kepemilikan harta tak bergerak dan harta bergerak (seperti hewan ternak) merupakan indeks yang paling mudah untuk menentukan kemampuan untuk membayar. Alasan Kemampuan Membayar Pajak Alasan kemampuan untuk membayar pajak sebagai argumentasi untuk mengenakan pajak atas kekayaan harus dilihat dari konteks sejarahnya. manfaat yang dinikmati harus diperkirakan secara relatif terhadap nilai dari properti.250 Bab 12: Pajak atas Kekayaan dan Warisan teori Locke yang menyatakan bahwa negara adalah pelindung bumi dan bangunan. Pada tingkat pemerintah daerah. Dengan demikian. pemilik properti diharuskan membayar untuk layananlayanan khusus yang meningkatkan nilai dari properti. administrasi perundangundangan dan administrasi pengadilan. dapatkah pajak kekayaan dibenarkan untuk alasan kemampuan untuk membayar? . Berdasarkan situasi ini. Pada masa lalu. Cara pengenaan seperti ini sangat tepat dikenakan pada pajak-pajak pemda untuk mendanai layananlayanan khusus tadi. adalah pelindung properti.

Juga berdasarkan konsep pajak atas konsumsi. Untuk tujuan ini. PAJAK ATAS TANAH Pengenaan pajak khusus atas tanah yang terpisah dari properti telah diusulkan berdasarkan alasan efisiensi dan keadilan. jika kekayaan dikenakan pajak karena alasan kemampuan untuk membayar. Sebagaimana berdasarkan pendekatan kemampuan untuk membayar. suatu pajak progresif atas kekayaan dan bukannya atas penghasilan adalah instrumen yang tepat. beban pajaknya merupakan pajak pribadi dengan definisi kekayaan secara global. Untuk alasan efisiensi. tanah dapat dipajaki tanpa menimbulkan suatu “excess burden.” Pajak atas tanah juga dapat digunakan untuk mendorong penggunaan tanah yang lebih intensif. Perbedaannya adalah basisnya lebih cocok menggunakan kekayaan kotor daripada kekayaan bersih karena kekayaan kotor lebih menunjukkan kemampuan kendali ekonomis yang diperoleh oleh pemiliknya. Konsekuensi sosial dari ketidakmerataan dalam distribusi kekayaan berbeda dengan konsekuensi sosial dari ketidakmerataan dalam distribusi konsumsi. Walaupun demikian. karena pengembalian atas tanah adalah dalam bentuk rente ekonomis (yaitu suatu tingkat pengembalian dari suatu faktor produksi dalam penawaran yang tidak elastis). Untuk alasan keadilan. tidak diperlukan lagi pajak kekayaan sebagai pelengkap. pajak tambahan atas kekayaan dapat dibenarkan karena alasan manfaat-manfaat yang dapat timbul dari penumpukkan kekayaan. kenaikan tanah dapat dipandang sebagai peningkatan kekayaan yang tidak adil sehingga pengenaan pajak atas tanah akan mengembalikan keadilan. Alasan Pengendalian Sosial Alasan lain untuk pengenaan pajak kekayaan adalah pengendalian sosial sebagai dampak dari distribusi kekayaan yang tidak merata. yang diperlukan bukanlah pajak atas bumi dan bangunan tetapi pajak atas kekayaan bersih wajib pajak pribadi.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 251 Ada dua kesimpulan yang diambil. . Bila penghasilan digunakan sebagai indeks kesetaraan dan penghasilan didefinisikan sebagai secara komprehensif mencakup seluruh tambahan kemampuan ekonomis. dan karenanya masyarakat perlu menanganinya secara terpisah. Akan tetapi dalam prakteknya tidak semua penghasilan dapat dicakup dalam pajak penghasilan sehingga memunculkan kebutuhan akan pajak kekayaan sebagai pelengkap.

n Objek pajak yang digunakan oleh badan atau perwakilan organisasi internasional yang ditentukan oleh Menteri Keuangan.252 Bab 12: Pajak atas Kekayaan dan Warisan Struktur Dan Basis Pajak Atas Kekayaan Di Indonesia (Pajak Bumi Dan Bangunan) Jenis pajak atas kekayaan yang berlaku di Indonesia adalah pajak atas bumi (tanah) dan bangunan. yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 tahun 1994. peninggalan purbakala. tempat olah raga. kolam renang. Sebelum reformasi perpajakan tahun 1983. . Setelah reformasi pajak. taman mewah. galangan kapal. pagar mewah. Basis Pajak. Beberapa objek pajak dikecualikan dari pengenaan pajak. n Objek pajak yang digunakan oleh perwakilan diplomatik dan konsulat berdasarkan asas perlakuan timbal balik. meliputi jalan lingkungan yang terletak dalam suatu kompleks bangunan. dasar hukum yang mengatur pajak atas bumi dan bangunan adalah Undang-Undang Nomor 12 tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). n Hutan lindung. n Objek pajak yang digunakan untuk kuburan. jalan tol. taman nasional. yang tidak dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan. dermaga. Ordonansi Verponding Indonesia 1923 dan Ordonansi Verponding 1928 untuk pajak atas tanah yang tunduk pada hukum Belanda (Barat). Tarif Nominal. yaitu: n Objek pajak yang digunakan semata-mata untuk melayani kepentingan umum di bidang ibadah. Bumi mencakup permukaan bumi dan tubuh bumi yang ada di bawahnya. atau yang sejenisnya dengan itu. dan Ordonansi Pajak Rumah Tangga 1908 untuk pungutan-pungutan lain daerah atas tanah dan bangunan. Bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap pada tanah dan/atau perairan. pendidikan dan kebudayaan nasional. dan tanah negara yang belum dibebani suatu hak. yang meliputi tanah dan perairan pedalaman serta laut wilayah Indonesia. dan fasilitas lain yang memberikan manfaat. peraturan yang berkaitan dengan pajak atas tanah dan bangunan ini adalah UndangUndang Nomor 11 Prp 1959 untuk pajak atas tanah yang tunduk pada hukum adat. Rasio Penilaian dan Tarif Efektif Yang menjadi objek PBB adalah bumi dan bangunan. kesehatan. sosial. hutan wisata. tanah penggembalaan yang dikuasai oleh desa. hutan suaka alam.

menggunakan penghasilan sewa aktual yang diperoleh dari harta tersebut. n Objek pajak perkebunan yang luasnya sama dengan atau lebih dari 25 Ha yang dikuasai BUMN dan Badan Usaha Swasta. pengenaan tarif pajak hanya akan dikenakan sebesar 20% dari basis pajak kecuali untuk objek-objek pajak tertentu. penetapannya dilakukan setiap tahun. bergantung pada jenis objek pajaknya. termasuk areal blok tebangan dalam kegiatan pemegang HPH. perbedaan ini akan hilang karena harga jual dari properti akan sama dengan nilai tunai dari penghasilan sewa aktual di masa depan. yaitu: n Objek pajak perumahan yang WP-nya perseorangan dengan basis pajak sama dengan atau di atas Rp1 milyar. kecuali untuk daerah yang mengalami perkembangan pembangunan yang cepat. Pada prakteknya. Dalam kenyataannya. hanya 40% dan 20% dari basis pajak saja yang akan dikenakan. Jika pasar yang sempurna tersedia dan penggunaan optimal terjadi. Karena harga ini sulit didapat. yang juga akan sama dengan potensi penghasilannya. tarif efektif PBB yang berlaku sekarang ini secara nasional adalah 1 persen dan 2 persen. yang sering dilakukan adalah menggunakan harga objek lain yang sejenis atau nilai perolehan baru atau nilai pengganti. Berdasarkan Pasal 1 Peraturan Pemerintah No. pensiunan janda/duda yang semata-mata dari gaji/uang pensiun. . Nilai Pasar versus Penghasilan sebagai Basis Penilaian Pertanyaan yang paling mendasar dalam pajak atas kekayaan adalah bagaimana mengukur nilai kekayaan. tidak berlaku untuk PNS. 74 tahun 1998. Apakah kekayaan tersebut diukur dengan nilai jualnya atau nilai sewanya dan apakah nilai yang digunakan adalah nilai aktual atau nilai potensialnya? Negara-negara tertentu. hak pemungutan hasil hutan dan pemegang ijin pemanfaatan kayu. Basis yang akan diterapkan pajak serendah-rendahnya 20% dan setinggi-tingginya 100%. n Objek pajak kehutanan. seperti Amerika Serikat dan Indonesia. menggunakan harga jual atau harga pasar sebagai nilai kekayaan. sedangkan negara-negara lain. basis pajak ini ditetapkan oleh Menteri Keuangan setiap tiga tahun sekali. ABRI. Tarif pajak yang dikenakan atas objek pajak adalah 0.5 persen yang merupakan tarif tunggal. seperti Inggris. Dengan demikian. Pada umumnya. hal ini tidak terjadi.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 253 Basis pajak untuk objek-objek pajak ini adalah harga pasar wajar atau harga rata-rata yang diperoleh dari transaksi jual beli yang terjadi secara wajar. Dari basis pajak ini tidak seluruhnya akan diterapkan PBB.

Untuk situasi-situasi seperti ini. Prosedur seperti ini memiliki keunggulan dalam hal memungkinkan dilakukannya penyesuaian atas nilai tanah dan bangunan lebih sering lagi. Pada negaranegara tertentu. Tanah versus Bangunan sebagai Komponen Basis Pajak properti dikenakan atas nilai pasar suatu real estate tanpa membedakan apakah dikenakan pada komponen tanah atau komponen penyempurnaan tanah (bangunan). basis pengenaan pajak yang paling baik adalah pendekatan nilai pasar karena memperhitungkan perbedaan tingkat risiko atas properti-properti tersebut. Satu properti dengan penghasilan tahunan sebesar Rp100 juta dapat memiliki nilai pasar sebesar Rp500 juta. Seperti dikemukakan sebelumnya. Karena penawaran atas tanah jumlahnya tetap. Selain itu. yang mengaitkan nilai rumah terhadap berbagai karakteristik. telah dikembangkan prosedur yang canggih untuk melakukan evaluasi atas nilai jual dengan menggunakan persamaan regresi yang berisi sejumlah variabel. Penghasilan dikapitalisasi dengan tingkat bunga yang berbeda karena adanya premi risiko yang harus dibebankan pada properti yang pertama. pembendaan ini penting sekali karena berkaitan dengan pembebanan pajak. terpaksa digunakan. akan tetapi penjualan rumah-rumah sejenis tidak terjadi dalam frekuensi yang cukup untuk memberikan basis evaluasi nilai jual. Perbedaan lainnya antara pendekatan nilai pasar dan pendekatan penghasilan muncul dari perbedaan dalam menilai risiko.254 Bab 12: Pajak atas Kekayaan dan Warisan Jika properti kurang didayagunakan maka properti kurang menghasilkan. Dalam sudut pandang ekonomi. pengenaan pajak atas rente tanah atau mengenakan pajak atas nilai tanah (yang menunjukkan nilai kapitalisasi dari rentenya) telah lama diakui sebagai suatu bentuk pemajakan yang paling kecil kemungkinannya menghambat insentif untuk menginvestasikan pada penyempurnaan tanah (bangunan). Walaupun penilaian dengan menggunakan nilai jual lebih disukai. berdasarkan jenis rumah dan lokasinya. sedangkan properti lainnya dengan penghasilan yang sama dapat memiliki nilai pasar dua kali lipat. yang menjadi sangat penting pada periode-periode inflasi. suatu faktor yang sangat penting bagi negara-negara berkembang. pengenaan pajak berdasarkan basis penghasilan akan menghasilkan pajak yang rendah. pengenaan pajak atas tanah dapat memenuhi unsur efisiensi pajak dan keadilan pajak. Penilaian dengan perkiraan. Properti yang pertama terletak pada daerah-daerah bisnis yang perekonomiannya sedang melesu yang menyebabkan properti-properti pada daerah ini memiliki tingkat hasil yang tinggi atas penghasilan bila dibandingkan secara relatif terhadap nilai pasarnya. keuntungan yang timbul dari .

yang disebut juga dengan circuit breaker. pengenaan pajak atas penyempurnaan tanah (bangunan) telah menghambat investasi pada sektor perumahan. Sejumlah besar pemilik rumah yang berpenghasilan rendah adalah orang-orang yang berusia lanjut. terutama investasi untuk rumah-rumah murah. Ingat. pajak seperti ini dapat juga dipandang sebagai pajak atas penghasilan modal. Pada kota-kota besar negara maju. Dengan asumsi pasar modal yang sempurna dan penentuan nilai barang modal yang sempurna. suatu pajak sebesar 5 persen yang dikenakan atas nilai dari suatu aset dapat segera diterjemahkan sebagai suatu pajak penghasilan atas penghasilan yang diperoleh dari aset tersebut. pengenaan pajak terjadi sebaliknya. nilai suatu aset sama dengan nilai tunai dari penghasilannya di masa depan. Pandangan lain membedakan berdasarkan jenis pengenaan dan menempatkan lebih banyak pembahasan pada konsekuensi-konsekuensi dari ketidaksempurnaan pasar. Pajak Properti sebagai Pajak atas Penghasilan Modal Bila Pajak Properti Dikenakan secara Nasional Misalnya suatu negara memberlakukan suatu pajak nasional atas semua barang modal.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 255 kenaikan nilai tanah karena pertumbuhan populasi dan pendapatan dapat dipandang sebagai laba yang tidak diinginkan secara sosial. yang sesuai dengan tingkat bunga pasar yang sebesar 10 persen. Dalam prakteknya. Beberapa aturan telah dikembangkan di berbagai negara untuk menyediakan pengurangan beban pajak kepada penduduk berusia lanjut dan keluarga miskin. Pengurangan Beban Pajak Pajak properti atas rumah tinggal merupakan beban bagi penduduk yang berusia lanjut. Pajak sebesar 5 persen atas nilai aset . Misalkan aset tersebut memiliki nilai Rp100 juta dan memperoleh penghasilan tahunan sebesar Rp10 juta. Satu pandangan menyatakan bahwa pajak properti merupakan pajak atas penghasilan modal apabila dikenakan dalam pasar-pasar yang kompetitif. Dalam negara tersebut. Hutang pajak berdasarkan pajak 5 persen atas nilai aset akan sebesar Rp5 juta. DISTRIBUSI BEBAN PAJAK PROPERTI (PBB) Beban atas pajak properti merupakan hal yang kontroversial. Angka ini sama dengan 50 persen dari penghasilan aset tersebut.

maka tpY/i = ty atau tp = ity. sehingga 1 Ibid. persentase penghasilan dari barang modal ini sebagai bagian dari total penghasilan akan meningkat besarnya sejalan dengan peningkatan penghasilan. Penerima beban pajak dalam jangka pendek adalah pemilik dari properti lokal terkena beban pajak yang lebih tinggi. Dengan menggunakan rumus umum. dan i adalah tingkat bunga pasar. Mereka tidak dapat mengurangi beban pajak dengan menjual aset yang yang terkena pajak karena nilai properti pun segera terkoreksi. . modal yang diinvestasikan pada daerah-daerah bertarif tinggi tidak dapat bergerak dan pemiliknya harus menanggung beban pajak yang tinggi. di mana V adalah nilai aset. Dalam suatu pasar di mana barang modal menghasilkan tingkat pengembalian sebesar 10 persen. kita mengasumsikan kembali bahwa tingkat pengembalian atas modal sebelum pajak adalah 10 persen. Dengan demikian. Beban pajak diterima oleh pemilik properti pada saat pajak tersebut dinaikkan.1. Jika hasil yang sama akan diperoleh dari pajak properti pada tingkat pajak tp dan suatu pajak atas penghasilan aset tersebut pada tingkat pajak ty.256 Bab 12: Pajak atas Kekayaan dan Warisan (pajak properti) adalah sama dengan pajak sebesar 50 persen atas penghasilan properti (pajak penghasilan). Y adalah penghasilan tahunan. sehingga mengurangi produktivitas tenaga kerja di masa depan. seperti yang berlaku di Amerika Serikat. baik untuk bangunan maupun tanah. penurunan dalam tingkat pengembalian bersih dari modal akan menekan persediaan modal. terbukti bahwa pajak kekayaan sama dengan pajak penghasilan atas modal. Beban dari pajak atas penghasilan modal ini akan dikapitalisasi dan mengurangi nilai properti. Dalam jangka panjang. Dengan pengecualian pada orang-orang yang berpenghasilan kecil. nilai dari suatu aset pada pasar modal yang sempurna ditentukan dengan persamaan Y = iV. sehingga beban pajaknya progresif. Dalam jangka pendek. hal. 419-420. sehingga V = Y/i. pajak seperti itu akan mengurangi tingkat pengembalian bersih dari barang modal dan menjadi beban penerima penghasilan barang modal. maka kejadian pajak akan terjadi dalam jangka pendek dan jangka panjang. sehingga beban pajak akan terdistribusi. Untuk mengilustrasikan fakta ini. Bila PBB Dikenakan secara Lokal Jika daerah dibebaskan untuk menentukan tarif atas pajak properti. Dengan beban yang dikenakan dari sisi sumber. beban pajak dari suatu pajak kekayaan atas nilai aset modal yang dikenakan dengan tarif Rp5 juta per Rp100 juta nilai aset akan sama dengan beban pajak dari suatu pajak atas penghasilan dari barang modal dengan tarif 50 persen.

Seberapa besar perpindahan modal dari daerah yang berpajak tinggi bergantung pada mobilitas keluar dari tenaga kerja. Penghasilan bersih berkurang menjadi Rp5 juta. seperti yang diinvestasikan pada penyempurnaan tanah (bangunan) yang tidak akan melekat selamanya. yaitu pemilik aset sebelum pengenaan pajak tersebut. kepemilikan tanah lebih banyak pada wajib pajak berpenghasilan tinggi. Terjadi penurunan persediaan modal pada daerah berpajak tinggi dan kenaikan persediaan modal pada daerah berpajak rendah. Situasinya berbeda apabila yang dikenakan pajak adalah modal. Jika pemilik aset yang semula ingin menjual aset tersebut.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 257 suatu aset yang menghasilkan Rp10 juta per tahun memiliki nilai sebesar Rp100 juta. ia harus menanggung kerugian pajak tersebut karena pembeli akan meminta suatu tingkat pengembalian sebesar 10 persen. maka beban pajaknya bersifat progresif. Tidak ada perbedaan dalam jangka pendek dan jangka panjang. tenaga kerja tersebut harus dibayar sebesar apa yang ia terima di tempat lain dan perpindahan modal akan semakin besar. Pada umumnya. Dalam jangka panjang. yang bila dikapitalisasikan pada tingkat 10 persen akan menurunkan nilai aset menjadi sebesar Rp50 juta. Pemilik berikutnya yang membeli aset tersebut akan melakukannya hanya pada harga yang lebih rendah sehingga tidak dibebani oleh pajak tersebut. Jika . bagian pajak yang mengurangi nilai dari tanah tidak berubah. Seperti yang telah dibahas sebelumnya. pajak ini sama dengan pajak penghasilan sebesar 50 persen. Tingkat pengembalian kotor atas modal pada daerah berpajak tinggi akan naik sedangkan tingkat pengembalian kotor atas modal pada daerah berpajak rendah akan turun. Kerugiannya telah dikapitalisasikan dan tetap berada pada pemilik aslinya. Beban pajak jatuh pada pemilik aset mula-mula. Pengeluaran pemeliharaan atas aset-aset tua akan berkurang sehingga aset-aset tersebut akan pensiun dan investasi baru pada daerah berpajak tinggi akan menurun. Seperti situasi pada pajak perseroan. Pergerakan ini akan terus berlangsung sampai tingkat pengembalian bersih dari investasi pada daerah berpajak tinggi sama dengan tingkat pengembalian pajak daerah-daerah lain. modal ini akan pindah dari daerah yang berpajak tinggi ke daerah yang berpajak rendah. Tanah tidak dapat dipindahkan. Jika tenaga kerja dapat berpindah dengan segera. sehingga pemilik asli dari tanah pada daerah-daerah berpajak tinggi akan menderita kerugian permanen yang besarnya sama dengan kapitalisasi bagiannya dalam pajak. Sekarang asumsikan suatu daerah tempat aset tersebut mengenakan pajak properti sebesar Rp5 juta untuk setiap Rp100 juta nilai aset. sama dengan tingkat pengembalian investasi-investasi lain yang tersedia. suatu pajak yang dikenakan pada modal dalam satu sektor ekonomi akan dibagi bebannya oleh semua pemilik modal. Dalam jangka panjang.

Akan tetapi. beban jangka pendek akan berada pada penduduk luar daerah tersebut sedangkan penduduk lokal menikmati free ride.” Hal ini juga terjadi pada tingkatan internasional dalam hal perbedaan pajak antar negara. Akibatnya. tenaga kerja pada daerah berpajak rendah cenderung beruntung. pemilik tanah dan pemilik modal lainnya. free ride tidak akan dinikmati dalam jangka panjang karena modal akan berpindah ke luar. sarana rekreasi. penduduk lokal merasakan bahwa sewa meningkat dan upah turun sedangkan penduduk luar daerah mengalami keuntungan. pajak akan dinyatakan dalam bentuk pengurangan upah. Dalam jangka panjang. Dengan demikian kebijakan pajak pemda akan memunculkan pilihan sulit antara (1) laba yang diperoleh dari pemindahan beban pajak kepada penduduk luar daerah melalui pemajakan atas modal yang dimiliki oleh “orang asing” dan (2) bahaya kerugian pada ekonomi lokal dari berpindahnya modal “asing. Bila tenaga kerja pada daerah berpajak tinggi cenderung merugi. jalan raya atau layanan-layanan lokal . tetapi mereka juga mengalami kerugian terhadap pihak luar daerah karena modal makin sedikit tersedia untuk mereka. demikian pula penyediaan tambahan layanan publik akan meningkatkan nilai dari properti dan menarik modal masuk. semakin kecil pendapatan yang diperoleh dan semakin besar juga kenaikan sewa dan penurunan penghasilan yang dialami oleh penduduk yang berpajak tinggi. Beban Pajak: Penduduk Lokal versus Penduduk Luar Pajak nasional dan lokal yang akan menjadi perhatian suatu daerah lokal hanya bagian yang akan terbeban bagi penduduknya dan bukan bagian yang menjadi beban penduduk daerah lain. Perbedaan Manfaat Sebagaimana kenaikan dalam tarif pajak properti akan mengurangi nilai dari properti dan mendorong perpindahan modal ke luar. Sekolah. Jadi misalkan suatu properti yang berada pada daerah A dimiliki oleh penduduk daerah B. Karena tenaga kerja yang tidak terampil cenderung kurang mudah bergerak daripada tenaga kerja terampil. situasi seperti ini akan memunculkan pengaruh regresif. Semakin besar perpindahan modal. Demikian juga. Tidak hanya penduduk lokal tidak mampu mengekspor beban pajak tersebut ketika ditagihkan. walaupun secara nasional tidak berpengaruh terhadap distribusi beban pajak. Pengaruh ini adalah yang paling penting bila dipandang dari perspektif suatu daerah khusus.258 Bab 12: Pajak atas Kekayaan dan Warisan tenaga kerja tidak dapat berpindah.

Kenyataannya tidak demikian. Pola-Pola Alternatif Bagian pajak yang dikenakan atas tanah dapat segera dibebankan kepada pemilik tanah. bergantung pada berapa besar pungutan pajak diperoleh dan berapa besar manfaat yang diperoleh oleh properti. manfaat-manfaat dari pengeluaran-pengeluaran tersebut dapat dikapitalisasi harus lebih besar daripada beban pajaknya supaya nilai properti tidak turun. Efek yang terjadi adalah kebalikan dari kenaikan tarif pajak properti seperti yang diterangkan sebelumnya. Hasil ini menunjukkan adanya beban tambahan yang harus ditanggung oleh pemegang saham karena pajak berganda dari pajak penghasilan perseroan dan juga perlakuan yang lebih baik kepada pemilik rumah berdasarkan pajak penghasilan wajib pajak pribadi. karena penawaran atas tanah bersifat tidak elastis dan tanah . tetapi juga pajak penghasilan wajib pajak pribadi dan pajak penghasilan perseroan. dengan mempertimbangkan tidak hanya pajak properti. tidak berpengaruh atau naik. mari kita bandingkan posisi mereka sebagai investor dalam jasa perumahan dengan posisi investor saham perusahaan. Keadilan Pengenaan PBB dan Pajak Penghasilan Karena keberatan utama atas pajak properti berasal dari pemilik rumah. Dengan demikian. Walaupun investor pada jasa-jasa perumahan akan membayar pajak lebih tinggi berdasarkan pajak properti. digunakan sebagai sumber pendapatan umum dan digunakan untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran yang manfaatnya tidak selalu sejalan dengan kontribusi pajak. kedua pengaruh tadi akan saling menghilangkan dengan nilai properti tidak bergantung pada tarif pajak. penyelidikan empiris menunjukkan bahwa nilai properti berkaitan dengan pengeluaran pemerintah yang memberikan manfaat kepada properti dan juga perbedaan pajak. keseluruhan beban pajaknya masih lebih rendah daripada kombinasi ketiga pajak ini. Jika semua pajak properti dikenakan sesuai dengan prinsip manfaat.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 259 yang lebih baik akan membuat suatu kota atau daerah menjadi tempat yang lebih menarik untuk ditinggali dan menjadi lokasi bisnis. Perbaikan ini akan meningkatkan permintaan akan rumah dan bangunan. Kombinasi pajak dan pengeluaran pemerintah daerah akan menyebabkan nilai perumahan menjadi turun. sehingga menyatakan secara jelas pentingnya mempertimbangkan kedua aspek tersebut. seperti PBB. mendorong pada peningkatan nilai properti. Pajak properti. Walaupun demikian.

tidak ada penghindaran atas pajak. kita dapat mengasumsikan suatu pasar yang tidak sempurna dan mempostulasikan bahwa sebagian dari pajak tersebut. Distribusi pembebanannya cenderung progresif. pajaknya akan bersifat regresif. Sebagian dari beban pajak akan terserap dalam sewa-kepemilikan ini dan didistribusikan sejalan dengan konsumsi dan bukannya dibagikan kepada semua penghasilan modal. Penjelasan di atas tidak berlaku untuk properti yang disewakan. distribusi bebannya sejalan dengan penghasilan modal. Akan tetapi hasilnya akan berbeda bila pasar sewa tidak sempurna sebagaimana yang sering terjadi. misalkan separuhnya. Karena pengeluaran perumahan akan menjadi bagian yang semakin kecil sejalan dengan kenaikan skala penghasilan. dimana pemiliknya hanya mempertimbangkan pilihan investasi. Pajak yang dikenakan pada bangunan komersial dapat dipandang sebagai sama dengan pajak penghasilan perseroan. dipindahkan kepada konsumen. Dengan demikian. Bagian dari distribusi beban pajak ini kemudian akan menjadi regresif. Pajak dapat mengarah pada peningkatan batas atas sewa atau pelonggaran dari penentuan harga monopoli yang dibatasi sebelumnya. dapat direkonsiliasikan dengan interpretasi yang lebih awal. Tambahan beban pajak ini akan ditanggung pula oleh penyewa. Yang tersisa adalah pajak atas rumah tinggal. yang merupakan pajak atas pengeluaran perumahan. Tingkat pajak properti efektif cenderung akan tinggi pada lingkungan berpenghasilan rendah dan sebagian disebabkan oleh pengenaan pajak pada tarif yang lebih tinggi di tengah-tengah kota pada lingkungan berpenghasilan rendah. pajak ini dipandang sebagai pajak atas jasa-jasa konsumsi perumahan.260 Bab 12: Pajak atas Kekayaan dan Warisan tidak dapat dipindahkan. Sebagaimana masyarakat melihatnya. pemilik yang menempati akan bersedia menerima sewa imputed yang lebih rendah pada perumahan daripada pada investasi lainnya. modal yang diinvestasikan pada rumah sewaan akan meminta tingkat penghasilan yang sama dengan modal-modal lain. Bagaimana pandangan pajak ini. Karena itu. Jika pasarnya kompetitif. yaitu pajak atas penghasilan modal? Perumahan dapat dipandang sebagai pos investasi dan juga (dalam kasus perumahan yang ditinggali pemiliknya) sebagai barang konsumsi yang tahan lama. PAJAK ATAS KEKAYAAN BERSIH Pengalaman berbagai Negara yang Menerapkan Pajak atas Kekayaan Bersih . Dalam kasus ini.

Selain itu. Demikian juga. Untuk negaranegara lain. Oleh karena itu. pajak ini dikenakan hanya kepada individu. pajak ini dapat digunakan sebagai pelengkap untuk pajak pengeluaran. merupakan pajak pusat. semua kewajiban hutang juga dikurangkan.5 persen). sejalan dengan metode integrasi dari pajak laba perseroan. Seperti.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 261 Pajak atas kekayaan bersih diberlakukan pada beberapa negara. Semua aset berwujud dan tak berwujud. seperti Belanda. Dengan demikian beberapa aspek atau diskusi tentang basis pajak pada pajak penghasilan juga berlaku pada pajak kekayaan bersih ini. Negara yang menggunakan pajak ini umumnya menerapkannya sebagai pajak tambahan atas pajak properti sehingga pendapatan dari pajak atas kekayaan bersih hanya merupakan bagian kecil (di bawah 5 persen) dari total pendapatan pajak. Di kebanyakan negara. beberapa negara tidak membolehkan kewajiban tidak berkaitan dengan perolehan aset kena pajak. Jerman. Kewajiban hutang juga dapat dikurangkan untuk memperoleh angka kekayaan bersih. pajak ini harus dikenakan pada orang pribadi dan perseroan. kecuali di Swiss. suatu aspek yang sangat penting pada negara-negara berkembang karena sulitnya mengenakan pajak atas penghasilan modal. prinsip keseragaman harus diterapkan baik kepada sisi aset maupun sisi kewajiban pada neraca. Pajak ini merupakan salah satu komponen penting dalam struktur pajak karena pajak ini dapat digunakan sebagai pelengkap terhadap cakupan atas penghasilan modal yang tidak efektif dalam pengenaan pajak penghasilan. kekayaan bersih dari perseroan harus diperhitungkan kepada pemiliknya. Pajak atas kekayaan bersih. Struktur dan Basis Pajak Basis Pajak Pajak atas kekayaan bersih sangat berkaitan dengan kemampuan untuk membayar. Orang pribadi diberikan pengecualian dan tarif pajak dapat proporsional (umumnya 1 persen atau kurang) atau progresif ( berkisar sampai 2. . Akan tetapi. aset berpenghasilan dan yang tidak berpenghasilan semuanya dimasukkan. India dan beberapa negara Amerika Latin. Swiss. walaupun pada beberapa negara (seperti Jerman dan India) juga dikenakan kepada perseroan. negara-negara Skandinavia. Definisi dari aset kena pajak biasanya mencakup aset berwujud dan aset tak berwujud. Basisnya juga harus didefinisikan secara global sehingga dapat memberikan perlakuan yang sama pada semua komponen kekayaan bersih.

Semua instrumen hutang adalah antara orang pribadi. pernyataan ini akan menambah basis dari pajak atas kekayaan bersih. n Penentuan hutang-hutang yang dapat dikurangkan. sedangkan aset lain. Kesulitan dalam mengadministrasikan suatu pajak atas kekayaan bersih yang baik sangat banyak sehingga lama-lama pajak ini terdegenerasi menjadi pajak atas bumi dan bangunan saja. Misalnya hanya ada dua orang. Kesulitan-kesulitan yang melekat dalam penilaian aset seperti yang telah didiskusikan dalam kaitannya dengan pajak atas penghasilan modal juga terjadi dalam penerapan pajak kekayaan bersih ini. aset yang menjadi subjek pajak properti (terutama bila pengenaannya disamakan) dapat dinilai dengan cara itu. dan secara khusus dengan administrasi pajak pengeluaran. Bila dikaitkan dengan administrasi pajak penghasilan. dapat memunculkan elemen self enforcement. Untuk sisanya.262 Bab 12: Pajak atas Kekayaan dan Warisan Mengukur Kekayaan Bersih Administrasi pajak atas kekayaan bersih mengharuskan adanya identifikasi atas aset kena pajak dan verifikasi atas hutang yang dapat dikurangkan dari kekayaan. Oleh karena itu. Seringkali diperlukan estimasi dalam menentukan nilai-nilai aset. SPT-nya harus melampirkan neraca tahunan yang berisi daftar harta dan kewajiban pembayar pajak. dapat dinilai berdasarkan harga penawaran di pasar. Dengan demikian. terutama yang tidak diperjualbelikan. yaitu A dan B. kesulitan ini tidaklah sangat besar. Perolehan aset harus dinyatakan untuk meminimalkan pajak pengeluaran. seperti sekuritas yang diperdagangkan. perkiraan yang kasar (seperti biaya perolehan dikurangi dengan penyusutan) harus digunakan. n Penilaian aset. yang posisi kekayaannya adalah berikut: . Akan tetapi. Peranan Harta Tak Berwujud (Intangibles) Klaim kepada swasta Asumsikan suatu keadaan di mana tidak ada hutang publik atau uang yang dikeluarkan pemerintah. Berkenaan pelaporan tersebut ada beberapa permasalahan yang harus diperhatikan pemerintah terhadap laporan yang diberikan: n Pemerintah harus memastikan bahwa semua aset telah dinyatakan.

peminjam tidak akan bersedia membayar pada tingkat bunga yang sama seperti yang mereka lakukan sebelumnya karena penghasilan bersih mereka dari investasi pada properti akan menurun.000 A+B 150.000 Sebagaimana ditunjukkan dalam tabel di atas. Klaim terhadap Pemerintah Perbedaan lebih lanjut dapat terjadi jika kita mengasumsikan adanya klaim terhadap pemerintah. distribusi beban pajak akan sama dengan yang terjadi berdasarkan pajak atas kekayaan bersih. Pemberi pinjaman harus puas dengan suatu tingkat bunga yang lebih rendah. Karena pajak pribadi mengharuskan adanya pengenaan pajak berdasarkan prinsip kemampuan untuk membayar. Sesuai dengan tabel di atas. Pada awalnya.000 dari suatu pajak sebesar 10 persen atas semua harta berwujud. Sebaliknya. A akan membayar sebesar Rp9.000 dan B akan membayar sebesar Rp5. keduanya berbeda apabila pajak diterapkan dengan tarif progresif. Pada akhirnya.000 150. basis total untuk suatu pajak atas harta berwujud dan kekayaan bersih akan sama. yaitu sebesar Rp150. Akan tetapi.000. A akan membayar sebesar Rp10. hal ini menyarankan bahwa A akan lebih menyukai pajak atas kekayaan bersih sedangkan B akan lebih menyukai pajak properti.000 10. apakah klaim itu dalam bentuk hutang publik atau uang yang didukung oleh kredit bank sentral. sehingga sebagian beban pajak dipindahkan dari A ke B. Jika suatu tarif proposional dikenakan.000 90.000.000.000 dan B akan membayar sebesar Rp6.000 Harta berwujud Hutang Piutang Kekayaan bersih 100. pajak atas kekayaan bersih adalah bentuk yang paling baik dari pajak atas kekayaan.000 60. Klaim seperti ini akan menambah .Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 263 A B 50. Jika kita mengumpulkan jumlah yang sama dengan menggunakan pajak atas kekayaan bersih. pilihan di antara keduanya tidak ada permasalahan. Jika kita menagih sebesar Rp15.000 10. kita dapat melihat bahwa distribusi beban dari suatu tarif progresif pada properti (di mana basis A dua kali basis B) akan berbeda dengan yang dikenakan pada basis kekayaan bersih (di mana basis A hanya lebih besar 50 persen daripada basis B). yaitu sejalan dengan distribusi kekayaan. pasar akan menyesuaikan sedemikian rupa sehingga ketika pajak atas properti dikenakan.

dengan pembayaran sebesar Rp10. BEA ATAS MODAL Satu bentuk pajak kekayaan lainnya adalah bea atas modal.000 70.000 80. Hal ini menambah daya tarik pajak jenis ini sebagai instrumen pajak redistribusi. ALASAN-ALASAN PENGENAAN PAJAK ATAS WARISAN APajak atas warisan adalah salah satu jenis pajak kekayaan yang dikenakan pada saat pemindahan dengan mewariskan atau menghibahkan.264 Bab 12: Pajak atas Kekayaan dan Warisan kekayaan dari seseorang tanpa mengurangi kekayaan dari orang lainnya. jadi tidak . bea seperti itu berbeda dari bentuk pajak kekayaan lainnya karena ketiadaan efek-efek mengganggu terhadap ekonomi. yang tidak diharapkan akan terjadi kembali.2 persen.000 A+B 150.000 160.000 90. penagihan sebesar Rp15. Jika sifatnya benar-benar satu kali dan selamanya.000 B 60. Dikenakan sekali dan selamanya.000 dan Rp5.000 20. suatu tarif sebesar 10 persen.000 masing-masing.888 dari A dan Rp5. Misalnya tabel di atas dimodifikasi sebagai berikut: A Kekayaan bersih dari tabel sebelumnya Klaim terhadap pemerintah Kekayaan bersih 90.000 240. Pasar sekali lagi akan mengkompensasikan untuk pengurangan tingkat pengembalian bersih dari properti.000 berdasarkan pajak atas kekayaan bersih tarif tetap akan mengharuskan pengenaan tarif sebesar 6. Klaim-klaim seperti ini dapat menjadi tambahan pada basis kekayaan bersih bagi seluruh kelompok secara keseluruhan. bea ini telah digunakan oleh beberapa negara dalam situasi-situasi mendesak seperti reformasi moneter untuk menghentikan inflasi setelah perang. Untuk mendapatkan sejumlah pendapatan yang sama dengan pajak properti.000 Dalam kasus ini.112 dari B. akan tetapi asumsi mendasar tentang aplikasinya yang unik dan tanpa diharapkan terjadi kembali menyebabkan pajak ini tidak termasuk bagian dari struktur pajak normal. dan mendapatkan Rp9. tetapi beban A akan tetap lebih tinggi berdasarkan pajak atas kekayaan bersih daripada pajak atas properti.

sejumlah warisan di atas sejumlah tertentu dikenakan pajak 100 persen. Pajak dapat dikenakan pada warisan secara keseluruhan atau atas jumlah yang diterima oleh ahli waris. suatu pajak atas kekayaan dapat diberlakukan. Pajak atas warisan dapat dikenakan dalam berbagai bentuk. Jika masyarakat ingin membolehkan orang untuk mewariskan secara bebas sampai sejumlah tertentu. Dalam hal ini. Dalam hal ini. dapat diberlakukan suatu pengecualian. Walaupun basisnya telah berkembang secara substansial di negara-negara maju. § Masyarakat dapat membuat batas sampai generasi tertentu suatu warisan dapat dipindahkan sepanjang generasi. dapat diatur perolehan harta tertentu melalui warisan dapat . apabila tarif pajak yang dipakai tidak proporsional. pajak atas warisan mendapat perhatian luas karena filosofi sosial dan sebagai instrumen kebijakan untuk menyesuaikan distribusi kekayaan. Akan tetapi. TUJUAN DAN JENIS PAJAK ATAS WARISAN Beberapa hal berikut yang memunculkan pengenaan pajak atas warisan pada suatu masyarakat: § Masyarakat mungkin ingin membatasi hak seseorang untuk membagikan hartanya pada saat meninggal. Pajak atas warisan dapat diterapkan pada tingkatan nasional maupun pada tingkatan lokal. tidak ada perbedaan apakah pajak dikenakan atas warisan atau kepada penerima warisan. Eugino Rignano. Dalam hal ini. Jika masyarakat ingin menyita warisan yang melebihi suatu jumlah tertentu. pajak dapat dikenakan kepada ahli waris. Sepintas. tingkatan tarif pajak atas warisan yang dapat diterapkan akan naik ketika kekayaan diwariskan pada generasi berikutnya. Jika diinginkan. Pajak ini juga dikenakan dengan berbagai alasan tertentu. § Masyarakat juga dapat membatasi hak seseorang untuk mendapatkan kekayaan dari warisan yang merupakan perolehan kekayaan tanpa usahanya sendiri. Orang pribadi dapat menggunakan harta mereka ketika mereka masih hidup tetapi hak kepemilikan mereka berakhir ketika meninggal.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 265 dikenakan setiap tahun. Untuk alasan inilah pajak atas warisan secara potensial merupakan elemen yang penting dalam struktur pajak. pajak atas warisan tidak akan menjadi sumber pendapatan utama suatu negara. suatu pendekatan yang pertama kali disarankan oleh ahli ekonomi Italia. Akan tetapi. perbedaan pengenaan ini dapat menimbulkan perbedaan jumlah pajak.

Oleh karena itu. Hal yang sama juga dapat dinyatakan untuk peranan dari pajak atas warisan (yang dikaitkan dengan konsumsi dari pewaris) sebagai koreksi untuk definisi basis yang efektif dalam hal pajak pengeluaran yang tidak memasukkan warisan dalam basisnya.266 Bab 12: Pajak atas Kekayaan dan Warisan dibebaskan tetapi membedakan antara perolehan-perolehan besar dan kecil. Pilihan di antara tujuan-tujuan ini dan pemilihan pajak yang tepat bukanlah permasalahan yang sama dengan pertanyaan bagaimana transaksi-transaksi pada saat kematian (penerimaan suatu warisan atau memberikan warisan) harus diperlakukan dalam suatu pajak penghasilan atau pengeluaran. Tarif progresif dapat diterapkan juga untuk cara ini. Hanya jika tarif pajaknya proporsional tidak ada perbedaan apakah dikenakan atas warisan atau dikenakan kepada ahli waris. masyarakat dapat menerapkan pajak atas warisan (yang mengurangi hak pewaris membagikan hartanya) dan pajak kepada ahli waris yang dirancang untuk membatasi hak ahli waris untuk menerima dan/atau mengkompensasikan ketidaktercakupan warisan ke dalam penghasilan kena pajak. penerimaan dari suatu warisan menambah kemampuan ekonomis penerimanya sehingga selayaknya dimasukkan sebagai penghasilan bagi ahli waris. Pajak atas warisan dapat digunakan untuk mengurangi ketidakadilan dalam distribusi kekayaan ini. keduanya tidak harus mutually exclusice. Walaupun tujuannya berbeda. suatu pajak atas warisan (yang tarifnya disesuaikan dengan penghasilan dari ahli waris) dapat dipandang sebagai koreksi atas definisi penghasilan yang kurang baik dalam pengenaan pajak penghasilan. Dalam mencapai tujuan 1 dan 3 di atas. Penggantian pajak penghasilan modal yang progresif menjadi pajak atas warisan akan mengurangi pengaruh disinsentif pada menabung dan investasi. Bila warisan dikecualikan dari pengenaan pajak penghasilan. PERMASALAHAN-PERMASALAHAN KHUSUS . Berdasarkan pendekatan tambahan kemampuan ekonomis dari pajak penghasilan. § Pajak pada saat kematian dapat dipandang sebagai pelengkap atas pajak penghasilan. pilihan antara pendekatan pajak atas warisan atau pajak kepada ahli waris bergantung pada tujuan-tujuan yang akan dicapai dengan merancang pajak tersebut. Tradisi pewarisan merupakan satu faktor utama yang menimbulkan konsentrasi kekayaan. § Masyarakat juga dapat menggunakan pajak untuk mencapai tujuan yang lebih umum mencapai distribusi kekayaan yang lebih adil. § Pajak atas warisan dapat dipandang sebagai suatu alternatif terhadap pajak atas penghasilan modal selama masa hidup penerimanya.

Harta yang diwariskan kepada pasangan yang masih hidup diperlakukan seolah-olah harta tersebut adalah harta bersama. Peranan dari sumbangan sosial dalam pajak warisan. akan tetapi pembebasan pajak ini mendorong timbulnya kendali privat yang tinggi dalam penggunaan dana yang sebenarnya dana publik. Bisnis Keluarga Para kritikus dari pajak atas warisan menyatakan bahwa pajak ini mengancam kelangsungan institusi perusahaan yang dimiliki keluarga. Apabila salah satu pasangan meninggal. sosial dan politik yang sudah di luar pembahasan kebijakan pajak. Pada umumnya tidak ada batasan pengurangan atas sumbangan sosial dalam kerangka pajak atas warisan. sebagaimana juga dalam pajak penghasilan. walaupun sebelum kematian kepemilikannya terpisah. Jadi. Basis yang baru ini kemudian digunakan untuk tujuan pengenaan pajak atas penghasilan modal pada saat penjualan aset tersebut oleh ahli waris. Pengurangan karena Status Pernikahan Permasalahan perlakuan terhadap unit keluarga yang muncul pada pajak penghasilan. Walaupun demikian. membuat peningkatan harga sebelum kematian tidak dipajaki. Sumbangan kepada Lembaga Sosial Sumbangan sosial juga penting dalam pajak atas warisan/hibah. Hal ini sesuai dengan pendekatan unit keluarga dalam pajak penghasilan. aturan sampai seberapa jauh hubungan kekeluargaan menyebabkan pengecualian dari pengenaan pajak sangat bergantung pada peranan keluarga dalam kaitannya dengan hak untuk memindahkan harta setelah meninggal. warisan dapat diberikan kepada pasangannya yang masih hidup tanpa dikenakan pajak. Organisasi-organisasi yang didukung oleh sumbangan-sumbangan tidak kena pajak telah mencapai tujuan-tujuan yang berguna bagi masyarakat yang tidak dapat dicapai melalui anggaran negara. aset untuk tujuan pajak warisan dinilai berdasarkan harga pasarnya pada saat pemiliknya meninggal. hanya peningkatan harga dari saat kematian saja yang diperhitungkan.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 267 Capital gain Di Amerika Serikat. melibatkan faktor-faktor budaya. bukannya sebesar harga perolehan aslinya. Salah satu keberatan yang dimunculkan adalah pajak atas warisan dapat membuat . Aturan yang sama tidak berlaku untuk anak dan anggota keluarga lainnya. terjadi juga pada pajak warisan.

Unit tersebut dapat dijual secara keseluruhan atau sebagian dari ekuitas dapat dipindahkan kepada pihak luar. Dengan konsep kesetaraan.268 Bab 12: Pajak atas Kekayaan dan Warisan ahli waris harus melikuidasi perusahaan dengan persyaratan-persyaratan yang tidak menguntungkan dalam rangka membayar pajak tersebut. § . kepemilikan harta tak bergerak dan harta bergerak (seperti hewan ternak) merupakan kriteria yang paling mudah untuk menentukan kemampuan untuk membayar. Dalam kasus-kasus tertentu. manfaat khusus yang dinikmati oleh setiap kekayaan dapat diukur dengan suatu indeks seperti panjang jalan di depannya atau lokasinya. yang tidak harus melibatkan pemecahan unit usaha. Konsekuensi yang mungkin sulit dicegah adalah gangguan atau pengurangan terhadap kendali keluarga atas bisnis sebagai akibat dari pengenaan pajak apabila kekayaan yang diwariskan dalam bentuk bisnis keluarga. Tidak semua biaya dari fungsi negara harus diperoleh dari pengenaan pajak ini. Alasan kemampuan dimana pada masa lalu. pembayaran pajak akan mengharuskan suatu likuidasi. misalnya. Keberatan ini sebenarnya bukan masalah besar karena dapat diatasi dengan aturan-aturan yang liberal untuk pembayaran yang dicicil atau ditunda. RANGKUMAN § Pajak atas bumi dan bangunan adalah jenis praktek pajak kekayaan yang paling sering muncul. pajak kekayaan tidak diperlukan apabila pajak penghasilan didefinisikan secara komprehensif mencakup seluruh tambahan kemampuan ekonomis. Oleh karenanya pemilik kekayaan dapat diharuskan membayar kepada negara untuk biaya-biaya negara tersebut. pajak kekayaan dapat dibenarkan karena alasan mengurangi penumpukkan kekayaan. Walaupun demikian. Dalam hal konsep pajak atas konsumsi. Penggunaan pajak kekayaan untuk mendanai pendidikan. tidak memiliki dasar yang rasional. Alasan pengenaan pajak kekayaan atas dasar manfaat adalah bahwa layanan-layanan publik meningkatkan nilai dari bumi dan bangunan.

Dalam prakteknya. tidak ada perbedaan karena harga pasar dari kekayaan sama dengan nilai kapitalisasi dari penghasilan aktual. pengenaan pajak berdasarkan basis penghasilan aktual akan menyajikan nilainya yang terlalu rendah. dan karenanya masyarakat perlu menanganinya secara terpisah. Pajak tanah telah lama diakui sebagai suatu bentuk pemajakan yang paling kecil kemungkinannya menghambat insentif investasi real estate. Jika pasar yang sempurna tersedia dan penggunaan optimal terjadi. pengenaan pajak atas pematangan tanah telah menghambat investasi perumahan. Circuit breaker berupa kredit pajak dapat berakibat pajak negatif. Dengan asumsi pasar modal dan prosedur penilaian yang sempurna.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 269 § § § § § § Konsekuensi sosial dari ketidakmerataan dalam distribusi kekayaan berbeda dengan konsekuensi sosial dari ketidakmerataan dalam distribusi konsumsi. basis pengenaan pajak yang paling baik adalah pendekatan nilai pasar. suatu pajak yang dikenakan atas nilai dari suatu aset dapat segera diterjemahkan sebagai suatu pajak penghasilan atas penghasilan yang diperoleh dari aset tersebut. Pengenaan pajak khusus atas tanah yang terpisah dari kekayaan telah diusulkan berdasarkan alasan efisiensi dan keadilan. terutama investasi untuk rumah-rumah murah. Dalam jangka . Karena pengembalian atas tanah berada dalam posisi penawaran yang tidak elastis. Basisnya lebih tepat didefinisikan sebagai kekayaan kotor daripada kekayaan bersih karena kekayaan kotor lebih menunjukkan cakupan kendali ekonomis yang diperoleh oleh pemiliknya. Selain itu. karena memperhitungkan adanya perbedaan tingkat risiko atas kekayaan-kekayaan tersebut. Jika terdapat perbedaan hasil. Beberapa aturan telah dikembangkan di berbagai negara untuk menyediakan pengurangan beban pajak kepada penduduk berusia tua dan keluarga dengan penghasilan rendah. Dalam jangka pendek beban dari pajak atas penghasilan modal ini akan dikapitalisasi dan mengurangi nilai dari kekayaan. Dalam kenyataannya. Jika kekayaan kurang didayagunakan. Terutama pada kota-kota besar dan negara-negara maju. Perbedaan lainnya ada dalam risiko yang ditanggung. Alasan keadilan karena kenaikan nilai tanah dapat dipandang sebagai peningkatan kekayaan yang tidak adil. pengenaan pajak tanah dapat berakibat sebaliknya. yang disebut juga dengan circuit breaker. nilai kapitalisasi penghasilan aktual dan nilai pasar tidak selalu menghasilkan angka yang sama. Alasan efisiensi karena tanah dapat dipajaki tanpa menimbulkan suatu excess burden. pajak atas tanah juga dapat digunakan untuk mendorong penggunaan tanah yang lebih intensif.

dan pajak penghasilan perseroan yang diderita investor saham. Kebijakan distribusi beban pajak properti pada dasarnya berbentuk: pajak atas tanah dan pajak atas bangunan. Perbaikan layanan publik ini pada akhirnya akan meningkatkan permintaan rumah dan bangunan. keseluruhan beban pajaknya masih lebih rendah dibanding kombinasi pajak kekayaan. tetapi juga dipandang sebagai barang konsumsi yang tahan lama (ketika rumah ditempati pemiliknya). pajak penghasilan perorangan. akan terus berlangsung sampai tingkat pengembalian bersih dari investasi pada daerah berpajak tinggi sama dengan tingkat pengembalian pajak daerah-daerah lain Dalam menyikapi pajak nasional dan pajak lokal. Pajak kekayaan dapat digunakan untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran yang manfaatnya tidak selalu sejalan dengan kontribusi wajib pajak. kebijakan suatu pemda hanya memperhatikan bagian yang penduduknya: keuntungan dari penggeseran beban pajak kepada pihak luar melalui pemajakan atas modal yang dimiliki oleh bukan penduduk lokal. Lebih lanjut. Untuk barang bergerak: modal ini akan pindah dari daerah yang berpajak tinggi ke daerah yang berpajak rendah. misalkan separuhnya. Semakin besar perpindahan modal berarti semakin kecil pendapatan yang diperoleh. Keberatan utama atas pajak kekayaan datang dari individu yang memiliki banyak rumah sebagai investasinya. dan karenanya menimbulkan efek kebalikan dari kenaikan tarif pajak kekayaan. Pajak atas bangunan perumahan dapat dikenakan . karena penawaran atas tanah bersifat tidak elastis. Penyediaan tambahan layanan publik akan meningkatkan nilai kekayaan dan menarik modal masuk. Semakin besar kenaikan sewa berarti penurunan penghasilan oleh penduduk daerah yang berpajak tinggi. dipindahkan kepada konsumen. sebagian dari pajak tersebut. mendorong peningkatan nilai kekayaan. Rumah tidak hanya dapat dipandang sebagai pos investasi. Pajak yang dikenakan pada bangunan komersial dapat dipandang sebagai sama dengan pajak penghasilan badan. dan bahaya kerugian pada ekonomi lokal dari berpindahnya modal asing. Pajak atas tanah dapat segera dibebankan kepada pemilik tanah. Walaupun investor pada jasa perumahan akan membayar pajak lebih tinggi dalam kerangka pajak kekayaan. pajak atas bangunan dibedakan menjadi bangunan komersial dan bangunan perumahan. untuk barang tetap: pemilik tanah pertama akan menderita kerugian permanen yang besarnya sama dengan kapitalisasi beban pajak. Dalam pasar yang tidak sempurna. Distribusi pajak atas tanah progresif. Distribusi pajak bangunan komersial regresif.270 Bab 12: Pajak atas Kekayaan dan Warisan § § § § panjang.

atas tanah dan bangunan sering tidak mengarah pada pajak perseorangan dan tidak atas basis kekayaan bersih. Sifat pungutan yang sekali untuk selamanya tidak mengganggu perekonomian . Prinsip self enforcement dapat digunakan dimana pembelian aset dapat dikeluarkan dari basis pajak konsumsi. Oleh karena itu. hasil distribusi akan berbeda apabila pajak diterapkan dengan tarif progresif. Karena pengeluaran konsumsi rumah tinggal akan semakin kecil sejalan dengan kenaikan skala penghasilan rumah. yang diterapkan hampir seragam sebagai pajak in rem. Sebaliknya. Menghitung kekayaan bersih menghadapi permasalahan dalam hal penilaian aset (asset valuation) dan menentukan hutang-hutang yang dapat dikurangkan. pajak ini harus dikenakan pada orang pribadi. tetapi harus menambah jumlah basis kekayaan bersih kena pajak. Demikian juga. semua kewajiban hutang dikurangkan. Sedangkan kekayaan bersih perusahaan harus diperhitungkan kepada pemiliknya (sebagai orang pribadi). Tarif pajak kekayaan yang tinggi di kota-kota metropolitan. Pajak atas kekayaan bersih sangat berkaitan dengan kemampuan untuk membayar. Penilaian aset menggunakan estimasi. Definisi dari aset kena pajak biasanya mencakup aset berwujud dan aset tak berwujud dan dalam banyak kasus semua kewajiban atau hutang berkaitan kepemilikan aset dapat dikurangkan. harga pasar. Bea atas modal dikenakan sekali untuk selamanya. sebagian dibayar oleh masyarakat berpenghasilan rendah. aset berpenghasilan dan yang tidak berpenghasilan diperhitungkan. Hal ini dengan asumsi tidak ada hutang publik dan pasar yang kompetitif akan menyesuaikan perbedaan nilai yang didapat dari kedua metode. Hutang Publik (klaim kepada pemerintah) dapat menambah kekayaan seseorang tanpa mengurangi kekayaan orang lain. Pajak atas kekayaan bersih umumnya dikenakan sebagai pajak pusat. dan harga pokok dengan penyusutan. pajaknya bersifat regresif. Pengenaan tarif pajak kekayaan proposional (flat) tidak menghasilkan nilai yang berbeda untuk basis kekayaan bruto dan neto. Metode ini telah digunakan oleh beberapa negara dalam situasi-situasi mendesak seperti reformasi moneter untuk menghentikan hyper inflasi setelah perang. bukan perseroan. Walaupun pasar akan tetap menyesuaikan. Semua aset berwujud dan tak berwujud. Praktek pajak kekayaan di seluruh dunia.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 271 § § § § § § sebagai pajak konsumsi atas jasa-jasa perumahan. tetapi pola distribusi beban pajak kekayaan tidak sama antara metode kekayaan bruto dengan metode kekayaan bersih.

272 Bab 12: Pajak atas Kekayaan dan Warisan § § § § secara keseluruhan. Pajak warisan dapat diterapkan pada tingkatan nasional maupun lokal. (3) Lembaga sosial dimana sumbangan sosial dikecualikan dalam pajak warisan. Pilihan antara pendekatan (1) pajak atas warisan atau (2) pajak kepada ahli waris bergantung pada tujuan-tujuan yang akan dicapai. Pajak warisan mendapat perhatian luas karena filosofi sosial dan sebagai instrumen kebijakan untuk menyesuaikan distribusi kekayaan. Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis pajak atas konsumsi! Sebutkan dan jelaskan metode-metode yang digunakan dalam penagihan pajak! . dan menjadi alternatif dari pajak atas penghasilan modal selama masa hidupnya. Pajak warisan adalah salah satu jenis pajak kekayaan yang dikenakan satu kali saja. melengkapi pajak penghasilan. yaitu pada saat pemindahan dengan mewariskan atau menghibahkan. Pajak warisan bermanfaat untuk: membatasi hak seseorang untuk membagikan hartanya pada saat meninggal. Permasalahan khusus dalam pajak warisan antara lain: (1) Capital gain dimana pajak warisan dinilai berdasarkan harga pasarnya pada saat pemiliknya meninggal. Aturan yang sama tidak berlaku untuk anak dan anggota keluarga lainnya. Jika tarif pajak yang dipakai tidak proporsional (flat). mencapai distribusi kekayaan yang lebih adil serta menghindari konsentrasi kekayaan. 2. membatasi hak seseorang untuk mendapatkan kekayaan dari warisan. Pajak dapat dikenakan pada warisan secara keseluruhan atau atas jumlah yang diterima oleh ahli waris. (4) Bisnis keluarga dimana para kritikus dari pajak atas warisan menyatakan bahwa pajak ini mengancam kelangsungan institusi perusahaan yang dimiliki keluarga. perbedaan basis pengenaan dapat menimbulkan perbedaan jumlah pajak. LATIHAN 1. keduanya tidak harus saling menghilangkan (mutually exclusice). bukannya harga perolehan aslinya. Walaupun tujuannya berbeda. membatasi hak seseorang untuk memindahkan kekayaannya ke generasi-generasi berikutnya. (2) Status pernikahan dimana warisan dapat diberikan kepada pasangannya yang masih hidup bebas dari pajak. misalnya karena tanpa usahanya sendiri. Tetapi jenis pajak ini tidak termasuk bagian dari struktur pajak normal.

Bagaimana cara menentukan konsumsi tahunan wajib pajak? 8. Bagaimana efek pengenaan pajak dalam pajak atas warisan yang dipergunakan sebagai kontribusi bagi lembaga sosial? 12. Produk selesai diproduksi. Mengapa pajak kekayaan dapat dipandang sebagai pelengkap atas pajak penghasilan? 11. 4. Bagaimana pengenaan pajak apabila kekayaan yang diwariskan dalam bentuk bisnis keluarga? . Apa yang dimaksud dengan pajak warisan? 9. Produk sedang diproduksi (dibagi pertahapan produksi).Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 273 3. b. Cukai hanya dikenakan pada barang-barang tertentu dan membutuhkan biaya ekstra. Dilihat dari sisi permasalahan politik. c. Jelaskan dan berikan contoh. Jelaskan bagaimana keadilan vertikal dan keadilan horizontal suatu pajak penjualan umum? 7. Produk siap dipasarkan secara eceran. tetapi mengapa pemerintah tetap memberlakukan cukai? Apa alasannya? 6. Jelaskan manfaat pajak warisan! 10. apa perbedaan Pajak Pertambahan Nilai dengan pajak penjualan? 5. tahapan pengenaan pajak yang tepat pada saat : a.

274 Bab 12: Pajak atas Kekayaan dan Warisan .

mengekspor barang tersebut dan mengimpor barang dari negara lain yang bisa memproduksi barang lain dengan lebih efisien. Ekonom klasik menaruh perhatian terhadap perdagangan internasional.PAJAK INTERNASIONAL Transaksi internasional bukan merupakan hal yang baru. Kemudian kedua negara tersebut akan melakukan pertukaran: negara yang satu mengekspor tekstil dan mengimpor komputer. Negara dengan kemampuan teknologi tinggi sebaiknya memproduksi barang seperti komputer atau perangkat lunak. seperti tekstil dan sepatu. Adam Smith atau David Ricardo berpendapat bahwa negara akan lebih baik apabila melakukan spesialisasi produksi barang berdasarkan keuntungan komparatifnya. sedangkan yang lainnya . negara dengan tenaga kerja murah akan lebih baik memproduksi barang bercirikan padat karya. Sebagai contoh. Transaksi tersebut sudah dilakukan sejak jauh sebelum abad Masehi.

produk didesain di prancis. Juga teori tersebut mengasumsikan pertukaran barang komoditi. Setiap negara tentunya akan mengatur bagaimana negara tersebut akan menarik pajak terhadap pendapatan warga negaranya yang diperolehnya dari luar negeri dan pendapatan warga negara asing yang berasal dari dalam negeri. kemudian barang jadi dijual ke Amerika Serikat. pembiayaan badan kerjasama internasional seperti Perserikatan Bangsa Bangsa dan NATO. sedangkan barang yang dihasilkan bisa dipindahkan dengan mudah. terdapat beberapa asas yang perlu diperhatikan yang diantaranya adalah: . Asumsi dalam teori tersebut adalah bahwa faktor produksi seperti tenaga kerja. Keputusan ini tentunya akan diambil secara bersama-sama dengan negara lain dan perjanjian pajak internasional merupakan suatu media yang dapat mengkoordinasikan masalah-masalah tersebut. bukannya barang yang terdiferensiasi. Faktor produksi tidak dibatasi oleh batas-batas negara. perusahaan multinasional dibangun dengan asumsi bahwa faktor produksi sangat mobile. tanah dan mesin tidak mudah berpindah (tidak mobile). Gambaran mengenai perusahaan multinasional tersebut di atas menunjukkan fakta bahwa semakin hari akan semakin meningkat saling ketergantungan perekonomian dunia dan kondisi ini akan semakin mempengaruhi aspek internasional dalam hal keuangan publik. Koordinasi dan alokasi sumber daya menjadi kunci pengelolaan perusahaan multinasional. Dengan cara semacam itu kemakmuran dunia akan semakin meningkat. sedangkan pusat perusahaan tersebut di Jepang. Jika ekonomi klasik mengasumsikan bahwa faktor produksi tidak mudah berpindah. skala ekonomi. Perusahaan multinasional berusaha mengoptimalkan sumber daya yang ada di dunia ini tidak terbatas pada batas-batas negara. dan ketimpangan distribusi pendapatan internasional akan mengarah kepada perlunya koordinasi fiskal internasional. modal. kemudian memperoleh modal dari pasar keuangan eropa. Sejalan dengan kondisi tersebut suatu negara tentunya juga harus mengatur bagaimana pajak produk dan pajak penjualan dari negara bersangkutan akan diterapkan pada sistem ekspor impornya. Perusahaan multinasional bisa memproduksi barang di Indonesia (karena tenaga kerja murah). Penyatuan perekonomian Eropa ke dalam pasar bersama. tergantung sumber daya yang dipunyai. Perusahaan multinasional tumbuh dengan menyalahi doktrin keunggulan komparatif. Teori tersebut kemudian dikenal sebagai doktrin keunggulan komparatif. tetapi sudah melintas batas-batas negara. Dalam hal penerapan koordinasi pajak internasional. teknologi tidak dipertimbangkan dalam teori tersebut. makin meningkatnya peranan perusahaan multinasional. Daya saing suatu negara sudah ditentukan (given). Faktor lain seperti ketidakpastian.276 Bab 13: Pajak Internasional mengekspor komputer dan mengimpor tekstil.

seorang warga negara Amerika Serikat. A juga melakukan investasi di Indonesia dan menerima dividen yang dikenakan pajak oleh Indonesia. Keadilan Antar Perorangan Dalam prakteknya. Efisiensi. apakah keadilan horizontal (keadilan antar perorangan) yang mengharuskan bahwa pajak total yang dibayarnya (baik di dalam maupun luar negeri) akan sama dengan pajak yang di bayar oleh Mr. yang menerima pendapatan total yang sama tetapi seluruhnya berasal dari Amerika Serikat? Atau sudah cukupkah kiranya jika Amerika Serikat menganggap pajak yang di bayar ke negara lain sebagai pengurangan pendapatan dan menyamakan beban pajak sesuai dengan pengenaan pajak di Amerika Serikat saja? Dalam kasus Mr. sedangkan dalam kasus Mr.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 277 § § § Keadilan antar perorangan. secara umum disetujui bahwa negara di mana pendapatan itu dihasilkan (juga disebut sebagai negara sumber) berhak menarik pajak atas pendapatan tersebut. dia akan dikenakan pajak lebih dari satu kali. Dalam kasus ini yang menjadi pertanyaan adalah. B keadilan diinterpretasikan dalam artian nasional. yang dalam masa tertentu bekerja di Indonesia. B. Dalam kasus lain. Karena dia juga menerima pendapatan sebagai warga negara Amerika Serikat. Keadilan antar negara. keadilan diinterpretasikan dalam artian internasional. Meskipun dengan cara yang berbeda. tentunya Mr. Keadilan Antar Negara Masalah keadilan yang lebih pelik akan kita temui dalam menentukan pembagian penerimaan pajak di antara ditjen pajak atau departemen keuangan di berbagai negara. akan membayar pajak sesuai dengan ketentuan Indonesia atas penghasilan yang diperolehnya di Indonesia. A. Sehubungan dengan pajak penghasilan. Konsekuensi dari kondisi tersebut di atas adalah bahwa pajak Indonesia yang dikenakan terhadap penghasilan atas modal Amerika Serikat yang ditanamkan di Indonesia tentunya akan mengurangi pengembalian (return) bagi Amerika Serikat. Misalnya adalah Mr. tetapi berapa tarif yang akan dikenakan masih menjadi persoalan. Mr. jika seseorang menerima pendapatan yang berasal dari berbagai negara. A juga akan dikenakan pajak oleh pemerintah Amerika Serikat. A. masalah ini akan timbul baik dalam hal pajak penghasilan maupun pajak produk. Berbeda halnya dengan pajak tambahan yang mungkin dikenakan oleh .

kerugian yang diderita Amerika Serikat hanya akan tergantung pada tarif pajak atas modal Amerika Serikat yang dikenakan di Indonesia. Jadi. Kondisi ini bisa disebut sebagai prinsip berbalasan. Dalam hal pajak produk. Oleh karena itu. sebagian dari beban pajak akan digeser ke luar negeri. tentunya biaya ekspor akan naik. yang merupakan persyaratan bagi perdagangan yang efisien. masalah keadilan berkaitan dengan kemungkinan untuk membebani warga asing melalui perubahan harga. Jika negara A mengenakan pajak atas ekspor. permasalahannya adalah bagaimana mengelola pengenaan pajak atas pendapatan dan investasi internasional sehingga tidak mengganggu efisiensi alokasi modal secara global. maka penggeseran beban semacam itu bisa dianggap sebagai hambatan bagi keadilan antar negara. akan tercipta efisiensi alokasi sumber daya di . sehingga tidak akan merugikan bagi Amerika Serikat tetapi hanya merupakan transfer dari warga negara Amerika Serikat ke Departemen Keuangan Amerika Serikat. Dengan demikian. Jika Mr. seorang investor merasakan bahwa pajaknya akan lebih rendah apabila dia menanamkan modal di Vietnam daripada di Indonesia. Efisiensi Perbedaan tarif pajak tentunya akan mempengaruhi lokasi dari kegiatan perekonomian dan cenderung menghambat penggunaan sumber daya yang paling efisien. PRINSIP PAJAK INTERNASIONAL Berbagai struktur sistem pajak negara mempunyai dampak yang sangat penting terhadap arah dan aliran baik barang maupun modal secara internasional. Hal ini juga menunjukkan bahwa sebagian beban pajak akan digeser ke luar negeri. Sejalan dengan itu. tetapi dimodifikasi oleh perbedaan biaya pajak. maka Mr C akan menanamkan lebih banyak modalnya di Vietnam. Salah satu pandangan mengenai keadilan antar negara adalah bahwa negara sumber harus diperbolehkan menarik pajak atas pendapatan yang diperoleh investor asing dengan tarif sebesar yang di kenakan negara lain atas pendapatan warganya di negara tersebut.278 Bab 13: Pajak Internasional Amerika Serikat. pemasok luar negeri harus menjual produknya dengan harga yang lebih rendah. Jika kita menerima kriteria bahwa suatu negara harus membayar pajaknya sendiri.C. Kondisi ini akan mengakibatkan bahwa lokasi produksi tidak lagi ditentukan oleh keunggulan komparatif (atau biaya sumber daya relatif). Konsekuensinya. Jika negara tersebut mendominasi pasar ekspor. jika Impor dikenakan pajak. harga ekspor akan naik dan konsumen di luar negeri akan membayar lebih mahal.

Prinsip pajak berdasarkan asas domisili menyatakan bahwa penduduk akan dikenakan pajak di negara di mana ia berdomisili tanpa memperhatikan darimana sumber penghasilan yang diperolehnya baik pendapatan yang diperolehnya di dalam negeri maupun di luar negeri. jenis-jenis penghasilan dibagi menjadi dua. Pada dasarnya terdapat dua pendekatan dalam pajak internasional yang lazim dipergunakan yakni pajak penghasilan internasional dan pajak komoditi. yaitu: § Penghasilan dari usaha (active income). § Penghasilan dari modal (passive income). Prinsip pajak berdasarkan asas dari sumber pendapatan menyatakan bahwa seluruh pendapatan yang diperoleh di suatu negara akan dikenakan pajak. Pada umumnya. Pajak Penghasilan Internasional Dua prinsip dalam pajak penghasilan internasional adalah prinsip pajak berdasarkan asas domisili dan prinsip pajak berdasarkan asas sumber pendapatan. penduduk suatu negara tidak akan dikenakan pajak terhadap pendapatan yang diperolehnya di luar negeri dan warga negara asing akan dikenakan pajak sama dengan pendapatan penduduk yang diterima di negara tersebut. seseorang subjek pajak akan dianggap sebagai penduduk dalam negeri (resident taxpayer) apabila memenuhi syarat-syarat tertentu.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 279 seluruh dunia dalam integrasi perekonomi dunia. baik itu warga negara ataupun bukan warga negara. Penentuan sumber penghasilan tergantung dari dua hal yang pokok. yang berbeda dari negara lain. Bagi yang bukan merupakan penduduk tidak akan ditarik pajak terhadap pendapatan yang diperolehnya di negara tersebut. setiap negara mempunyai definisi penduduk sendiri-sendiri. Artinya. untuk menentukan letak sumber penghasilan. yaitu (a) jenis penghasilan itu sendiri dan (b) penentuan sumber penghasilan berdasarkan undang-undang pajak dari suatu negara. Syarat-syarat ini tergantung pada undang-undang masing-masing negara. Walaupun kemungkinan tidak ada satu negara pun yang secara ketat menerapkan prinsip-prinsip pajak internasional. royalty dan penghasilan dari harta. bunga. Jadi. tanpa memperhatikan tempat domisili penerima pendapatan tersebut. misalnya dividen. Yang berkaitan erat dengan asas domisili ini adalah penentuan domisili bagi subjek pajak. . Di samping itu. tergantung dari falsafah yang dianutnya.

Investor yang menerima pendapatan investasi dari luar negeri akan membayar pajak penghasilan atas pendapatan tersebut. KOORDINASI PAJAK PENGHASILAN Koordinasi Pajak Perorangan Setiap negara berhak untuk menarik pajak atas pendapatan warganya entah di mana pun pendapatan itu diperoleh. akan membayar pajak Inggris Raya atas pendapatan yang diperolehnya di Inggris. Demikian juga dengan pemberian kredit pajak oleh negara asal warga bersangkutan. Koordinasi pajak perorangan juga berlaku bagi investor perorangan yang menerima dividen. tanpa memperhatikan sumber ataupun asal produksi. kondisi ini selaras dengan pandangan internasional mengenai keadilan antar perorangan. segala barang maupun jasa yang bertujuan untuk konsumsi akhir pada suatu negara akan dikenakan pajak. barang atau jasa yang dibeli oleh penduduk dikenakan pajak. Jadi barang-barang impor akan dikenakan pajak sedangkan barang-barang ekspor dibebaskan dari pajak. Pemerintah di negara sumber pendapatan lazimnya akan mengenakan withholding tax. Kondisi ini selaras dengan konsep keadilan antar negara yang menyatakan bahwa negara sumber pendapatan tidak boleh melakukan diskriminasi. misalnya sebesar 15 persen. tetapi bisa menerapkan tarifnya sendiri terhadap penghasilan orang asing. terdapat dua prinsip pajak komoditi yang berlawanan satu sama lain (khususnya untuk pajak pertambahan nilai) yakni prinsip pajak tujuan dan prinsip pajak sumber. Seorang warga negara Amerika Serikat. Berkaitan dengan pengertian tersebut berikut illustrasi yang mungkin terjadi jika seseorang warga negara Amerika Serikat bekerja di Inggris. Menurut prinsip pajak sumber. meskipun menyebabkan menurunnya penerimaan negara bersangkutan. Menurut prinsip pajak tujuan. yang selanjutnya akan dikreditkan terhadap pajak yang akan dibayarkan di negara asal investor. Guna menentukan pajak yang akan di bayarnya di Amerika Serikat. baik barang atau jasa tersebut dibuat di dalam negeri ataupun barang import.280 Bab 13: Pajak Internasional Pajak Komoditi Dengan menganalogikan pada pajak domisili dan pajak sumber pendapatan pada pajak penghasilan internasional. Secara umum prinsipnya adalah memperbolehkan pengenaan pajak atas pendapatan di negara sumber sedangkan negara asal warga bersangkutan akan memberikan kredit pajak. yang bekerja selama enam bulan di Inggris dan kemudian kembali ke Amerika Serikat. pendapatan di Inggris juga .

Labanya akan dikenakan pajak laba perseroan negara asing dan pajak untuk negara asal akan ditangguhkan sampai laba perusahaan anak tersebut dikirimkan ke perusahan induk sebagai dividen. perusahaan anak yang didirikan di luar negeri (foreign incomporated subsidiary). Kedua. Penangguhan pajak hampir tidak menimbulkan perbedaan apa pun bagi perusahaan induk jika tarif pajak luar negeri lebih tinggi dari tarif pajak yang akan dikenakan di dalam negeri.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 281 akan diperhitungkan. Koordinasi Pajak Laba Pada umumnya terdapat dua ketentuan dalam memperlakukan pendapatan investasi asing. laba perusahan induk dan kantor cabang akan dianggap sebagai satu unit. perusahaan anak akan condong menginvestasikan kembali labanya di negara domisili (yang disebut sebagai surga pajak). Paling tidak itulah prosedurnya seandainya pajak yang dikenakan Inggris tidak melebihi pajak yang akan dikenakan Amerika Serikat atas pendapatan yang diperoleh di Inggris tersebut. Kanada berhak menarik pajak perusahaan anak tersebut. Kesulitan akan . perusahaan yang mengoperasikan kantor cabang di luar negeri akan dikenakan pajak atas laba kantor cabang sesuai dengan peraturan pajak perseroan negara bersangkutan. maka laba bisa digeser dari satu negara ke negara lain guna memanipulasi pajak agar diperoleh pajak yang terendah. Untuk pengenan pajak di negara asal. secara hukum merupakan satuan perusahaan terpisah. Sebagai contoh. karena hal itu merupakan pajak seharusnya akan dibayar seandainya pendapatan tersebut diperoleh di Amerika Serikat. dimana mungkin tarif pajak sangat rendah). Jika kondisi sebaliknya terjadi (biasanya pada negara–negara yang sedang berkembang. sebuah perusahaan Amerika Serikat mengoperasikan sebuah perusahaan anak di Kanada. implementasi dari aturan ini. Ketentuan mengenai penangguhan pajak didasarkan pada asumsi bahwa perusahaan anak di luar negeri benar-benar merupakan satuan usaha yang tepisah. tetapi pajak yang telah dibayar di Inggris akan dikreditkan terhadap kewajiban pajaknya di Amerika Serikat. kelihatannya hal ini akan bertentangan dengan ketentuan mengenai pengkreditan yang mengganggap pajak perusahaan anak pada kenyataannya merupakan pajak perusahaan induk. akan menyebabkan perlunya ditentukan berapa besar laba yang timbul pada setiap negara. Hal ini merupakan persoalan yang rumit. Sesuai dengan konsep keadilan antar negara. Jika dikaitkan dengan perusahaan multinasional. Jadi. Tetapi dengan cara apakah laba ini benar-benar bisa dipisahkan dari laba perusahaan induknya di Amerika Serikat? Jika terjadi transaksi jual beli yang terjadi antara perusahan induk dan perusahaan anak. Pertama.

namun pelaksanaan pendekatan ini memerlukan pengaturan pajak internasional dan karena itu masih merupakan alternatif yang tak terjangkau. hal sebaliknya berlaku untuk B. negara A akan tetap memproduksi sebagian dari Y dan negara B memproduksi sebagian dari X yang dibutuhkannya. misalnya: persyaratan agar harga ditentukan berdasarkan transaksi yang wajar dengan pihak ketiga atau transaksi tanpa hubungan istimewa (arm’s-length-basis). pertanyaannya apakah pajak bersangkutan mempengaruhi harga relatif antara barang produksi dalam negeri dan barang impor. Anggaplah negara A mempunyai keunggulan komparatif dalam menghasilkan produk X sementara negara B mengimpor X dan mengekspor Y. Dalam menentukan apakah berbagai pajak yang ada berpengaruh atau tidak terhadap lokasi produksi. KOORDINASI PAJAK PRODUK Jika pajak penghasilan mempengaruhi aliran atau perpindahan modal. Perdagangan internasional yang berlangsung secara bebas didasarkan pada argumen dasar bahwa semua negara yang berdagang akan mendapat manfaat jika masing-masing berspesalisasi pada produk dimana ia memiliki keunggulan komparatif. Baik A maupun B akan lebih makmur daripada jika tidak ada perdagangan. konsumen akan mensubstitusikan kedua jenis barang itu satu sama lain . nilai tambah dan penjualan. negara A akan memperoleh pendapatan riil yang lebih tinggi daripada jika ia memproduksi semua Y yang dibutuhkannya. Dengan mengekspor X dan mengimpor Y. telah diupayakan berbagai aturan untuk menghambat penggeseran laba. Jika pajak mempengaruhi harga. pajak tidak hanya mempengaruhi produksi barang substitusi tetapi juga lokasi produksi. tetapi lebih berdasarkan negara asal laba yang diperoleh oleh group usaha tersebut secara keseluruhan. Akan tetapi. Meskipun cukup menarik. karena biaya produksi semakin meningkat untuk jumlah yang makin besar. Negara asal tersebut bisa ditentukan dengan menggunakan rumus yang memperhitungkan lokasi. Pada gilirannya.282 Bab 13: Pajak Internasional berlipat ganda apabila serangkaian perusahaan anak beroperasi di berbagai negara. maka pernah disarankan suatu cara yang berbeda sama sekali. maka pajak produk mengarahkan perhatian kita pada pengaruhnya terhadap aliran produk. Laba sebagai dasar pengenaan pajak (profit base) dari perusahaan multinasional dapat dialokasikan di antara negara-negara tidak berdasarkan lokasi dari perusahaan anak. Untuk mengantisipasi kondisi ini. Karena kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam menghitung laba yang terpisah bagi satuan satuan usaha yang terkait. Hal ini akan semakin terasa jika kurs valuta asing bersifat fleksibel.

Pajak konsumsi umum bisa mempengaruhi tingkat perdagangan tetapi lokasi untuk kedua produk itu (pada tingkat produksi yang baru) masih akan tetap sejalan dengan keunggulan komparatif. Pertama-tama anggaplah bahwa negara B mengenakan pajak penjualan umum (misalnya PPN) sebesar 10 persen terhadap barang lokal dan barang impor. kita bisa melihat bahwa distorsi atau penyimpangan bisa saja terjadi meskipun tidak ada upaya untuk mendiskriminasikan produk luar negeri. Dengan menurunnya impor. Pajak ini akan menyebabkan perbedaan harga relatif antara produk domestik dan impor. nilai mata uang A terhadap mata uang B akan naik. . Situasinya akan sangat jauh berbeda jika negara A mengenakan pajak hanya terhadap produk impor saja (melakukan diskriminasi). ekspor dari A juga akan menurun sampai tercapai suatu titik ekuilibrium pada tingkat perdagangan yang lebih rendah dan dengan kondisi komposisi produksi yang kurang efisien diantara negara A dan B. Akibatnya. Ini tidak akan mempengaruhi perdagangan karena harga relatif antara produk dalam negeri dan produk impor tidak berubah. Yaitu jika terhadap impor dikenakan bea masuk. konsumen negara B akan memperbesar impor X. Jadi. dewasa ini telah banyak cara diupayakan untuk mengurangi perdagangan yang bersifat proteksionis. Adapun jenis-jenis pajak yang dapat mempengaruhi lokasi produksi dapat dikategorikan sebagai (1) destination taxes dan (2) origin taxes. sebagai contoh pajak dalam bentuk bea masuk dan cukai. Misalkan negara A mengenakan pajak terhadap konsumsi secara umum atas semua produk yang diproduksi di dalam negeri maupun yang diimpor. Pajak atau bea semacam itu akan melemahkan perdagangan yang efisien. misalnya X. harga barang di negara B akan naik sejalan dengan pajak tersebut. sehingga produk dalam negeri akan mensubstitusi impor. Konsumen negara A akan merasakan hal sebaliknya. Pajak Konsumsi Pajak konsumsi atau pajak tujuan produk (destination taxes) tidak akan mempengaruhi lokasi produksi kecuali jika terdapat diskriminasi antara barang produksi dalam negeri dan barang impor.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 283 dan lokasi produksi yang mengenakan pajak akan berbeda dari lokasi produksi dengan pajak yang netral. Karena merasa bahwa harga produk lokal. Pajak Produksi Dalam mempermasalahkan pajak produksi atau pajak asal produk (origin taxes). dalam negeri telah naik jika dibandingkan dengan harga produk impor X.

Efek distorsi efisiensi perekonomian internasional juga akan terjadi jika negara B memajaki produk lokal X tetapi tidak terhadap produk impor X. penurunan ekspor dan konsumsi produk Y di negara B lambat laun akan membuat negara tersebut memproduksi lebih banyak barang X daripada sebelumnya dan menjadi tidak efisien. misalnya atas produk Y yang diekspornya. Dengan menurunnya impor A atas barang Y (asumsi ekspor A atas barang X ke B tetap). Pajak penjualan umum tidak mendistorsikan lokasi produksi sejauh dikenakan secara umum terhadap produk impor dan produk dalam negeri. Sebaliknya. Biaya impor bagi konsumen A menjadi naik dan karena itu impor Y dikurangi. pengenaan pajak ekspor di negara B menimbulkan efek distorsi yang mirip dengan efek distorsi yang timbul akibat dikenakannya bea masuk atas barang impor di negara A. Distorsi ini bisa dihindarkan seandainya negara B memberikan penghapusan pajak atas barang yang diekspornya. Pada akhirnya. Ini akan menghambat keinginan konsumen B untuk menambah impor X dan keinginan konsumen A untuk mengurangi impor Y. Makin banyak X . Pada akhirnya. Dengan dihapusnya pajak atas barang ekspor oleh negara B. Jika kurs valuta asing bersifat fleksibel. Artinya hal itu sejajar dengan pajak penjualan umum atas seluruh produk di negara B yang seperti telah kita lihat sebelumnya. tingkat perdagangan riil akan naik tetapi lokasi produksi akan mengalami distorsi. Sekali lagi konsumen A akan merasakan naiknya biaya (harga) Y dan akan mensubstitusinya dengan Y produksi dalam negeri. Negara A kemudian memproduksi lebih banyak barang Y dan mengurangi produksi barang X. kenaikan permintaan atas mata uang A dan penurunan permintaan atas mata uang B akan menyebabkan naiknya nilai mata uang A terhadap B. nilai mata uang A terhadap B akan naik. misalnya Y. Konsumen B dalam hal ini akan melakukan substitusi dengan produk impor X dan penyesuaian selanjutnya akan terjadi. Tindakan B akan membatalkan efek kenaikan harga barang impor di negara A sehingga tidak perlu mensubstitusinya dengan memproduksi di dalam negeri. Situasinya akan berbeda jika pajak produksi negara B dikenakan hanya pada satu jenis produk saja. perbandingan harga antara ekspor dan impor tidak akan berubah dan nilai riil perdagangan tidak terpengaruh.284 Bab 13: Pajak Internasional Eksportir negara B akan menambahkan pajak tersebut ke harga produknya. Karena itu. maka pajak atas barang impor di negara A dapat diubah dari pajak produksi (origin taxes) menjadi pajak konsumsi (destination taxes). sehingga harga barang impor Y bagi konsumen negara A menjadi lebih mahal sehingga impor Y akan dikurangi. Titik ekuilibrium yang baru akan dicapai pada tingkat perdagangan yang lebih rendah dengan disertai perubahan distribusi lokasi produksi.

sebuah treaty merupakan suatu kontrak yang mengikat suatu negara dengan negara lain dalam hal perlakuan perpajakan. bagian yang mengatur (2) minimalisasi pajak berganda. CAKUPAN TAX TREATY Cakupan perjanjian antar negara dalam hal penghindaran pajak berganda biasanya meliputi: (1) cakupan personal atau personal scope. Pasal-pasal ataupun ayat-ayat yang terdapat dalam sebuah tax treaty pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi empat bagian besar yaitu bagian yang mengungkapkan (1) cakupan tax treaty. TAX TREATY Tax Treaty atau perjanjian penghindaran pajak berganda merupakan suatu perjanjian perpajakan antara dua negara yang dibuat dalam rangka mengantisipasi pemajakan ganda dan berbagai usaha penghindaran pajak. Setiap tax treaty mempunyai prinsip-prinsip dasar yang kurang lebih sama. dan (6) saat berakhirnya atau termination. (3) definisi penduduk atau residence. Sebagai suatu perjanjian. Pada dasarnya terdapat dua model treaty yang sering dijadikan acuan dalam menyusun suatu treaty yaitu model OECD dan model PBB. sebagai bagian dari konvensi internasional dimana setiap negara yang terlibat dalam suatu tax treaty menyusun perjanjiannya masing-masing berdasarkan model-model perjanjian yang diakui secara internasional. Oleh karena itu. . Distorsi dalam hal ini bisa dihindarkan jika B juga mengenakan bea masuk atas X untuk mengkompensasi pajak produk lokal X. pasal-pasal dan ayat-ayat yang berkaitan dengan suatu aspek transaksi dan pihak tertentu. bagian tentang (3) pencegahan penghindaran pajak dan bagian yang mencakup (4) ketentuan lainnya. (4) permanent establishment. (2) jenis-jenis pajak atau tax covered. di dalamnya selalu berisi klausul-klausul.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 285 diproduksi di A atau makin banyak Y diproduksi di B daripada sebelumnya. Perjanjian ini akan digunakan oleh penduduk dua negara untuk menentukan aspek perpajakan yang timbul dari suatu transaksi di antara mereka. Penentuan aspek perpajakan tersebut dilakukan berdasarkan klausul-klausul yang terdapat dalam tax treaty yang bersangkutan sesuai dengan transaksi yang dihadapi. (5) saat berlakunya atau entry into force.

2001). enterprise (badan usaha) dan lain lain. badan atau entitas lainnya yang dianggap sebagai penduduk dengan status kependudukan ganda (double residence). Jenis pajak yang diatur di sini akan mengikuti ketentuan sesuai dengan tax treaty dan mengabaikan ketentuan internal yang berlaku di masing-masing negara. Dalam pasal dan ayat ini akan diatur ketentuan tentang siapa saja yang merupakan orang pribadi. Dengan kata lain. Biasanya di sini definisi mengenai penduduk maupun perihal kependudukan ganda tidak diartikan lebih lanjut. termasuk di dalamnya orang pribadi.286 Bab 13: Pajak Internasional Personal Scope Tax treaty adalah persetujuan yang ditandatangani oleh dua negara. Tax Covered Klausul ini mengatur tentang jenis-jenis pajak yang perlakuannya menggunakan ketentuan tax treaty yang bersangkutan. diatur tentang definisi istilah-istilah umum yang berkaitan dengan definisi persons (orang atau badan). sehingga subyek pajak yang menjadi sasaran adalah mereka yang menjadi penduduk dari kedua negara tersebut (Rachmanto Surachmat. domisili. Dalam beberapa hal. Dalam ketentuan umum (general definitions). Definisi penduduk adalah setiap orang pribadi atau badan yang berdasarkan ketentuan internal suatu negara – seperti keberadaan. international traffic (lalu lintas internasional). ketentuan personal scope mengatur tentang kepada siapa sajaketentuan-ketentuan dalam suatu treaty yang bersangkutan bisa diterapkan. badan usaha dan entitas lainnya yang berdasarkan treaty tersebut dianggap sebagai penduduk dari salah satu negara yang terikat perjanjian. national (negara atau kewarganegaraan). pengertian personal scope akan berkaitan dengan pengertian-pengertian tentang kedua klausul tersebut. Atas pajak tidak langsung seperti Pajak Pertambahan Nilai atau pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah tidak diatur dalam tax treaty. Aturan dalam tax treaty hanya diberlakukan untuk jenis pajak langsung seperti Pajak Penghasilan (PPh). Kedua hal tersebut akan diatur dalam klausul lain yaitu dalam klausul tentang general definitions dan tentang residence. yaitu tentang ketentuan yang menentukan tidak berlakunya status residence atas suatu pihak dengan karakteristik tertentu. ketentuan suatu tax treaty memiliki suatu kekuatan yang berada di atas sistem perundang-undangan yang berlaku secara internal di dalam suatu negara. tempat kedudukan manajemen atau sebab-sebab lain . Oleh karena itu. Residence Dalam kriteria ini akan diatur tentang dua hal yakni definisi penduduk (berkaitan dengan personal scope) serta tie breaker rule.

maka langkah kedua dan seterusnya tidak perlu digunakan lagi. Tie breaker rule untuk orang pribadi terdiri dari penentuan permanent home (tempat tinggal tetap). penduduk adalah subjek pajak dalam negeri suatu negara yang dikenai pajak sesuai dengan ketentuan perundang-undangan lokal yang berlaku di negara tersebut. Langkah-langkah tersebut secara berurutan bersifat prioritas. artinya apabila dengan menggunakan ketentuan pertama masalah kependudukan ganda telah bisa dipecahkan. Menyadari efek-efek negatif tersebut.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 287 yang mempunyai karakteristik yang sama – dapat dikenai pajak di negara tersebut. Namun berkaitan dengan keinginan tersebut. Apabila usaha di negara lain itu ternyata berhasil. center of economic and social interests (pusat kepentingan ekonomi dan sosial). suatu usaha tidak hanya dilakukan di negara sendiri. national (kewarganegaraan) serta mutual agreement (perjanjian antar otoritas perpajakan). tetapi juga karena keberadaan secara teratur di negara tersebut. Di negara lain pun suatu pihak melakukan usaha. Hal ini bisa terjadi karena setiap negara pada dasarnya berhak mengatur definisi penduduk sesuai dengan versinya masing-masing. adalah hal yang logis jika otoritas pajak di negara tersebut ingin mengenakan pajak atas penghasilan yang diterima. tentunya harus ada batasan-batasan ataupun aturan yang jelas hingga bisnis yang dilakukan. Sementara itu tie breaker rule untuk pihak selain orang pribadi hanya ada satu ketentuan yaitu tempat di mana manajemennya efektif berada. Cerminan dari batas atau aturan . Dengan kata lain. Artinya. yang sekaligus merupakan investasi di negara tersebut. habitual abode (tempat kebiasaan untuk tinggal). tetap berjalan dengan baik. Dalam prakteknya. Tie breaker rule dibedakan menjadi dua yaitu yang diterapkan untuk orang pribadi dan yang diterapkan untuk selain orang pribadi. pengenaan pajak tidak hanya mendasarkan pada alasan tempat tinggal. 2001). Dalam klausul ini juga menegaskan bahwa orang pibadi atau badan tidak dapat langsung dianggap sebagai penduduk suatu negara hanya karena mendapatkan penghasilan yang bersumber dari negara tersebut. Perundangan nasional dari banyak negara umumnya mengenakan pajak berdasarkan hubungannya dengan negara yang bersangkutan (Rachmanto Surachmat. Permanent Establishment Klausul ini mengatur tentang seberapa jauh jangkauan suatu negara dalam mengenakan pajak atas penghasilan yang bersumber dari negara tersebut. pasal residence selanjutnya mengatur langkah yang dapat digunakan untuk menghilangkan status kependudukan ganda yang sering disebut dengan tie breaker rule. Pada jaman sekarang. orang pribadi atau badan dapat dianggap sebagai penduduk dari dua negara berdasarkan asas world wide income.

BUT tipe keagenan timbul jika terdapat agen di negara lain yang memiliki wewenang untuk menentukan kontrak atau mengurus barang-barang dagang di negara lain. Pembentukan sebuah tax treaty yang dimulai dengan penandatanganan oleh kedua otoritas yang berwenang dan dilanjutkan dengan ratifikasi di kedua negara. tax treaty pun dapat diberlakukan. kantor perwakilan. Aktivitas tersebut bisa berupa pelaksanaan berbagai macam jasa (seperti jasa konstruksi dan jasa jasa lainnya). Salah satu negara dapat mengakhiri sebuah tax treaty dengan cara . Contoh-contoh dari BUT dapat dikategorikan menjadi empat macam yaitu: § BUT Fasilitas Fisik. § BUT Asuransi. BUT timbul karena adanya fasilitas fisik seperti gedung. § BUT Keagenan. Lamanya time test yang digunakan dapat berbeda beda antara satu tax treaty dengan tax treaty yang lain. Tax treaty dapat berakhir setelah periode tertentu yang telah disepakati oleh kedua negara. tempat yang hanya dipergunakan untuk pembelian barang dagangan atau mengumpulkan informasi dan sebagainya. Entry Into Force Klausul ini menjelaskan tentang saat berlakunya sebuah tax treaty. Timbulnya BUT tipe ini ditandai dengan adanya aktivitas yang melebihi batas waktu tertentu (time test) yang dilakukan di negara lain. Termination Klausul ini menjelaskan tentang saat berakhirnya sebuah tax treaty. bengkel dan lain lain. § BUT Aktivitas. Dalam klausul ini juga ditentukan kondisi-kondisi dimana BUT dianggap tidak muncul seperti dalam hal tempat yang hanya berfungsi untuk memajang barang-barang dagangan.288 Bab 13: Pajak Internasional tersebut adalah ketentuan tentang permanent establishment atau Bentuk Usaha Tetap (BUT). pabrik. Time test ini disesuaikan dengan kesepakatan dari kedua negara. Saat berlakunya tax treaty sangat bergantung dari selesainya tahap-tahap pembentukannya. Timbulnya BUT Asuransi ditandai dengan keadaan dimana suatu perusahaan asuransi menerima premi atau menanggung risiko di negara lain. Setelah pertukaran dokumen ratifikasi ini selesai dilakukan. Setelah kedua negara selesai meratifikasi. selanjutnya dilakukan pertukaran dokumen-dokumen ratifikasi. BUT tipe ini merupakan tipe yang paling mudah diketahui keberadaannya.

(12) pendapatan pensiun. (4) dividen. sangat tergantung pada ada atau tidaknya BUT di suatu negara. (9) penghasilan jasa terbatas. MINIMALISASI PAJAK BERGANDA Klausul yang berisi ketentuan untuk meminimalisasi pajak berganda biasanya mencakup: (1) penghasilan barang-barang tak bergerak. Bila kegiatan usaha yang dilakukan penduduk negara domisili di negara sumber tidak melalui BUT. (10) director’s fee. Laba usaha milik penduduk suatu negara pada dasarnya hanya dapat dikenakan pajak di negara tersebut. (6) royalti. Income from Immovable Property Klausul ini mengatur tentang pemajakan atas penghasilan yang berasal dari harta tak bergerak termasuk penghasilan yang bersumber dari pertanian atau sektor perhutanan.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 289 mengadakan pemberitahuan terlebih dahulu yang harus dilakukan dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan yang telah disepakati. (11) penghasilan artis dan olahragawan. (2) laba usaha. (7) capital gains. Penentuan dapat atau tidaknya negara treaty partner mengenakan pajak. 2001) Bisnis Transportasi Klausul ini menjelaskan tentang pemajakan atas penghasilan yang diterima oleh perusahaan pelayaran (termasuk pengangkutan di sungai dan danau) dan perusahaan penerbangan yang beroperasi di jalur internasional. (8) penghasilan jasa bebas. maka negara treaty partner tersebut berhak mengenakan pajak atas penghasilan yang diterima melalui BUT itu. Business Profits Klausul ini merupakan perluasan dari klausul permanent establishment yang mengatur tentang pengenaan pajak atas laba usaha milik penduduk suatu negara yang bersumber dari negara treaty partner (negara pasangan dalam tax treaty). (5) pendapatan bunga. (3) laba perusahaan transportasi. dan (13) gaji pegawai negeri sipil di luar negeri. Perusahaan yang bergerak di bidang ini bisa memperoleh penghasilan dari beberapa . Di dalamnya diatur bahwa negara tempat harta tak bergerak tersebut terletak juga dapat mengenakan pajak atas penghasilan dari harta tersebut. maka laba usaha dari kegiatan itu hanya dikenai pajak di negara domisili (Rachmanto Surachmat. Namun apabila penduduk suatu negara mendapatkan penghasilan di negara treaty partner melalui BUT-nya.

Dividends Dividen merupakan penghasilan yang diterima oleh pemegang saham dari suatu perusahaan. sama dengan alternatif pertama dengan pengecualian untuk penghasilan dari pengoperasian kapal laut yang hak pemajakannya diberikan kepada kedua negara sekaligus. Dalam menghadapi permasalahan ini pada umumnya diatur dua alternatif pengenaan pajak. Dalam artikel ini juga menyatakan tentang tarif pajak maksimal yang dapat dikenakan di negara asal dividen tersebut yang dibedakan menjadi dua yaitu tarif untuk dividen portofolio (saham dengan kepentingan semata mata investasi) dan untuk dividen dari penyertaan langsung ( saham dengan kepentingan kontrol) Interest Klausul ini mengatur tentang pemajakan atas penghasilan bunga yang diterima dari negara treaty partner. memang merupakan aturan mengenai pengenaan pajak atas penghasilan yang berupa dividen. Selain memberikan definisi tentang bunga.290 Bab 13: Pajak Internasional negara. Jika setiap negara mengenakan pajak atas laba yang diterimanya maka perusahaan pelayaran dan penerbangan tersebut tentunya akan menanggung beban pajak yang terlalu besar. artikel bunga pun mengatur tentang tarif maksimal pemotongan pajak untuk negara tempat dividen berasal. Klausul dividen. Dalam klausul ini dinyatakan bahwa negara tempat dividen berasal juga berhak mengenakan pajak atas dividen tersebut. Indonesia pun mengenakan pajak atas dividen baik yang diterima oleh wajib pajak dalam negeri maupun wajib pajak luar negeri. royalti yang dividend dan di samping mengenakan . Tak berbeda dengan artikel bunga. Alternatif kedua. klausul ini juga mengatur bahwa negara tempat penghasilan bunga berasal (treaty partner) juga dapat mengenakan pajak atas bunga tersebut. Tak sedikit negara yang mengenakan pajak atas penghasilan berupa dividen ini. Royalties Klausul ini mengatur tentang pemajakan atas penghasilan diterima dari negara treaty partner. memberikan hak pemajakan kepada negara tempat di mana manajemen efektif berada. Alternatif pertama. sebagaimana namanya. Tak berbeda dengan artikel dividen. artikel royalti ini juga memberikan definisi royalti mengatur bahwa negara tempat di mana royalti berasal dapat pajak sesuai dengan tarif maksimal yang disepakati.

yaitu negara yang berhak mengenakan pajak atas business profit (negara tempat perusahaan berdomisili). Independent Personal Services Klausul ini mengatur tentang pemajakan atas penghasilan yang diterima orang pribadi yang bersumber dari negara treaty partner sebagai imbalan dari jasa-jasa profesional yang diberikan di negara tersebut. Termasuk dalam pengertian harta dalam artikel ini adalah harta berupa perumahan dalam suatu kawasan real estate. Di sini diatur bahwa negara tempat orang pribadi tersebut bekerja dapat mengenakan pajak atas penghasilan yang diterimanya. Dependent Personal Services Klausul ini mengatur tentang pemajakan atas penghasilan yang diterima oleh orang pribadi sehubungan dengan pemberian jasa yang dilakukannya di negara lain dalam suatu hubungan kerja.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 291 Capital Gains Klausul ini mengatur tentang penghasilan berupa keuntungan pemindahtanganan harta. persetujuan penghindaran pajak berganda tidak memerlukan aturan khusus yang membedakan capital gain dari business profit. pengacara) untuk dan atas namanya sendiri di negara treaty partner. ada beberapa syarat kumulatif yang terlebih dahulu harus dipenuhi yaitu: (1) Orang pribadi yang bersangkutan berada di . jasa yang diberikan oleh orang pribadi yang dimaksud di sini merupakan jasa yang dilakukan untuk dan atas nama pihak lain yang memiliki hubungan kerja dengannya. Dalam bukunya. Karena itu. Namun untuk mengenakan pajak tersebut. Negara treaty partner tempat jasa tersebut dilakukan dapat mengenakan pajak sepanjang orang pribadi tersebut memiliki tempat tetap (fixed base) di sana atau berada di negara treaty partner melebihi batas waktu yang disepakati bersama. Berbeda dari pemberian jasa oleh independent personal yang dilakukan untuk dan atas namanya sendiri.. Hal ini diserahkan kepada undang undang pajak domestik masing-masing negara. tanpa membedakan apakah keuntungan itu diberlakukan sebagai gain dari usaha. Rachmanto Surachmat (2001) memaparkan bahwa hak mengenakan pajak atas keuntungan karena pemindahtanganan harta yang digunakan untuk berusaha harus diberikan kepada negara yang sama. Ketentuan dalam tax treaty pada umumnya mengatur bahwa negara tempat harta tersebut terletak sebelum dipindahkan juga berhak untuk mengenakan pajak. Aturan ini pada dasarnya sejalan dengan aturan permanent establishment dan business profits namun secara khusus ditujukan untuk orang pribadi yang memberikan jasajasa profesional (seperti dokter.

(2) Penghasilan yang diterima oleh orang pribadi tersebut dibayarkan oleh pemberi kerja. Prinsip ini juga berlaku meskipun penghasilan tersebut tidak langsung dibayarkan kepada sang artis/atlit (dibayarkan kepada pihak lain. contohnya agen). Prinsip pemajakan yang diatur dalam artikel ini adalah negara tempat penghasilan tersebut bersumber dapat mengenakan pajak atas penghasilan yang diterima oleh artis ataupun atlit. Menurut Rachmanto Surachmat (2001). Sedangkan termasuk . Director’s Fees Klausul ini mengatur tentang pemajakan atas penghasilan yang diterima oleh direktur yang bekerja pada perusahaan yang berada di negara lain (merupakan penduduk di negara tersebut). Artists and Sportsmen Klausul ini mengatur tentang pemajakan atas penghasilan yang diterima oleh artis (entertainer) dan olahragawan (sportsmen) dari negara lain. aspek pemajakannya dalam hal ini akan mengacu pada klausul independent personal services. Termasuk dalam pengertian entertainer dalam artikel ini antara lain yaitu artis televisi. dan (3) Penghasilan tersebut tidak dibebankan kepada BUT. Fungsi sebagai direktur bisa saja dilakukan di negara dimana ia berdomisili. prinsip ini berbeda dengan prinsip pemajakan atas penghasilan orang pribadi yang lain sebagaimana diatur dalam klausul dependent dan independent personal services yang menggunakan syarat jangka waktu keberadaan sebagai alat menentukan aspek pemajakan. Jika direktur tersebut melakukan tugas-tugas manajerial misalnya. apabila pekerjaan yang dilakukan tidak lagi murni sebagai seorang direktur maka pemajakan atas penghasilan tersebut tidak lagi mengikuti ketentuan dalam klausul ini.292 Bab 13: Pajak Internasional negara lain melebihi time test yang telah disepakati. karena itu yang diberikan hak pemajakan adalah negara di mana pihak yang membayarkan gaji berkedudukan. Namun demikian. hal ini untuk menyederhanakan pengenaan pajaknya. aspek pemajakannya mengacu pada klausul dependent personal services. sebab seringkali penentuan di mana kegiatan pekerjaan dilakukan – dalam kedudukannya sebagai anggota dewan direksi – adalah sulit. Dalam klausul ini dinyatakan bahwa penghasilan yang diterima oleh direktur dalam kapasitasnya yang murni sebagai seorang direktur dapat dikenai pajak di negara domisili perusahaanya tanpa memandang jangka waktu keberadannya di sana. Bila diperhatikan. Namun apabila direktur tersebut bekerja sebagai konsultan pada perusahaan. artis radio atau musisi. Penentuan aspek pemajakannya disesuaikan dengan jenis kegiatan (pekerjaan) yang dilakukan oleh direktur tersebut.

Dalam kondisi demikian. Salah satu efek dari adanya harga yang tidak wajar itu adalah terjadinya pergeseran laba dari suatu negara kepada negara yang lainnya. Pada prinsipnya. Transaksi Internal Klausul ini mengatur tentang perlakuan perpajakan atas pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa. kepada negara yang bersangkutan . Pada umumnya. Namun sebagian besar tax treaty mengatur bahwa penghasilan tersebut dikenai pajak di negara di mana yang bersangkutan menjadi penduduk pada saat pensiun Government Services Klausul ini mengatur tentang perlakuan perpajakan atas penghasilan yang diterima oleh para pegawai negeri. Harga yang wajar adalah harga yang terjadi antara dua pihak yang tidak mempunyai hubungan istimewa. pemain golf. Hal ini dipandang sebagai suatu usaha untuk menghindari pajak dari suatu negara.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 293 dalam olahragawan antara lain adalah pemain sepakbola. Namun demikian. Apabila terjadi transaksi antara pihak-pihak di kedua negara yang memiliki hubungan istimewa. pemain tenis. penghasilan berupa pensiun dikenai pajak di negara tempat di mana pekerjaan itu dilakukan. akan ada kecenderungan di mana harga transaksi yang disepakati bukan merupakan harga yang wajar. apabila pegawai negeri atau pensiunan tersebut merupakan warga negara dari salah satu negara dan sudah sejak awal menjadi penduduk di negara tersebut maka penghasilan yang diterimanya hanya dikenakan pajak di sana. PENCEGAHAN PENGHINDARAN PAJAKPE Penghindaran pajak menyebabkan salah satu negara mengalami kerugian akibat tidak diterimanya pajak seperti yang seharusnya. pemain catur atau pemain bridge. Klausul tentang pencegahan penghindaran pajak mencakup: (1) transaksi internal dan kesepakatan (2) pertukaran informasi. Hal yang sama juga berlaku atas penghasilan yang diterima oleh pensiunan pegawai negeri. Pensions Klausul ini mengatur tentang penghasilan yang diterima oleh pensiunan swasta. hak pemajakan atas penghasilan yang diterima oleh para pegawai negeri diberikan kepada negara di mana ia bekerja.

294

Bab 13: Pajak Internasional

diberikan hak untuk mengadakan penyesuaian penyesuaian sehubungan dengan pergeseran laba tersebut.

Exchange of Information
Klausul ini mengatur tentang perjanjian pertukaran informasi antar otoritas pajak di kedua negara yang terkait dalam suatu tax treaty. Dengan adanya pertukaran informasi, dapat dikatakan bahwa klausul ini merupakan salah satu senjata dalam menanggulangi praktek-praktek penyelundupan atau penggelapan pajak. Pertukaran informasi dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu pertukaran informasi secara rutin dan pertukaran informasi berdasarkan permintaan.

KETENTUAN LAIN-LAIN
Adapun ketentuan-ketentuan lainnya yang biasa muncul dalam tax treaty meliputi: (1) perlakuan tanpa diskriminasi, (2) prosedur penyelesaian perselisihan, dan (3) pajak atas utusan diplomatik.

Non Discrimination
Klausul ini mengatur tentang persamaan perlakuan perpajakan yang diberikan oleh suatu negara kepada warga negara dan kepada bukan warga negara. Secara khusus Rachmato Surachmat (2001) dalam bukunya menyatakan bahwa klausul ini adalah aturan dalam hukum internasional yang memberikan perlindungan dari diskriminasi. Suatu negara yang terikat tax treaty memiliki kewajiban untuk memberikan perlakuan perpajakan yang sama untuk warga negaranya. Perlakuan perpajakan yang sama ini mengandung arti bahwa dalam suatu kondisi yang sama, pihak yang bukan warga negara dari suatu negara tidak boleh menanggung kewajiban pajak yang lebih berat daripada yang ditanggung oleh warga negara dari negara tersebut. Perlakuan yang sama juga harus diberikan kepada mereka yang bukan merupakan warga negara dari kedua negara yang terikat perjanjian.

Prosedur Penyelesaian Perselisihan
Klausul ini mengatur tentang prosedur yang digunakan oleh kedua negara untuk berkomunikasi dalam menyelesaikan berbagai perbedaan pandangan antara pembayar pajak dengan otoritas pajak mengenai perpajakan tertentu. Klausul ini dapat dipandang sebagai semacam sarana bagi para pembayar pajak untuk “protes” atas suatu perlakuan perpajakan yang tidak disetujuinya.

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi

295

Melalui ketentuan dalam klausul ini, otoritas perpajakan pun memiliki sarana untuk memecahkan kesulitan yang timbul sebagai akibat dari perbedaan interpretasi atas suatu ketentuan dalam sebuah tax treaty. Namun demikian perlu diingat bahwa mutual agreement procedure tidak mencakup seluruh klausul yang terdapat dalam sebuah tax treaty. Klausul-klausul yang dapat menikmati ketentuan dalam mutual agreement procedure antara lain adalah business profits, related persons dan royalty.

Member of Diplomatic Missions and Consular Posts
Klausul ini mengatur tentang perlakuan perpajakan yang diberikan kepada anggota dari suatu misi diplomatik dan konsulat. Menurut Rachmato Surachmat (2001), maksud dari klausul ini adalah untuk menjamin bahwa para diplomat, berdasarkan tax treaty, tidak memperoleh perlakuan yang kurang menguntungkan dibandingkan dengan perlakuan yang diberikan berdasarkan hukum internasional. Dalam kesepakatan internasional, setiap penghasilan yang diterima oleh anggota suatu korps diplomatik atau konsulat, ditetapkan hanya dikenai pajak di negara di mana mereka berasal. Ketentuan dalam klausul ini pun mengatur hal yang sama. Jadi, meskipun anggota korps diplomatik atau konsulat mendapatkan penghasilan yang bersumber dari negara di mana mereka bertugas, negara tersebut tidak dapat mengenakan pajak atasnya.

TAX TREATY MENGALAHKAN UU PPh
Bisa disimpulkan bahwa tax treaty muncul karena dua sebab yang mendasar. Pertama, keinginan untuk menghindari pemajakan berganda yang bisa menimbulkan distorsi ekonomi, yang berakibat buruk bagi investasi. Kedua, tax treaty juga dimaksudkan untuk mencegah usaha-usaha penghindaran pajak yang dapat berpengaruh terhadap penerimaan pajak suatu negara. Mengingat sifat perjanjiannya yang bilateral, antara dua negara, tax treaty mengalahkan UU PPh yang berlaku di masing masing negara treaty partner. Setiap tax treaty antara suatu negara dan negara lainnya adalah suatu perjanjian yang bersifat spesifik hanya mengikat negara-negara yang terlibat dalam perjanjian tersebut. Namun demikian, secara umum setiap tax treaty mengikuti prinsipprinsip dasar dari model model tax treaty yang ada seperti model OECD atau model PBB, yang dijadikan sebagai acuan pada saat pembuatannya. Memahami prinsip prinsip dasar tersebut akan memudahkan setiap pihak dalam memahami berbagai tax treaty yang ada, antara berbagai negara pada

296

Bab 13: Pajak Internasional

umumnya dan antara Indonesia dengan negara negara lain pada khususnya. Yang perlu diperhatikan adalah, dalam tax treaty pada umumnya sudah disepakati bahwa setiap negara treaty partner berhak menentukan prosedur dan tata cara untuk membuktikan bahwa suatu pihak benar-benar berdomisili atau berkedudukan dan berstatus sebagai pembayar pajak di negara treaty partner. Bukti dimaksud seringkali disebut Surat Keterangan Domisili (SKD) atau Certificate of Residence Taxpayer (CRT) yang diterbitkan oleh competent authority atau pejabat yang berwenang yang ditunjuk oleh suatu negara treaty partner. Surat keterangan yang diterbitkan oleh Kantor Pelayanan Pajak (KPP) atau instansi sejenis di negara treaty Partner juga bisa dipersamakan dengan SKD/CRT. Dengan memiliki SKD/CRT, maka suatu pihak berhak untuk menerapkan suatu ketentuan tax treaty dengan negara di mana yang bersangkutan berkedudukan atau berdomisili. Jika tidak memiliki SKD/CRT, maka pengenaan pajaknya kembali pada undang-undang yang berlaku di negara masing-masing. Sebagai contoh, jika wajib pajak luar negeri yang berkedudukan di Inggris, maka wajib pajak luar negeri tersebut hanya dapat menerapkan ketentuan tax treaty Indonesia – Inggris apabila memiliki SKD/CRT dari competent authority yang ditunjuk negara Inggris. Jika tidak, maka penghasilan wajib pajak luar negeri yang bersumber dari Indonesia langsung dikenakan PPh Pasal 26 dengan tarif 26% dari penghasilan bruto.

KOORDINASI PENGELUARAN
Di antara sejumlah negara, sebagaimana halnya dengan pemerintah daerah, terdapat kepentingan bersama yang mendorong mereka untuk bekerja sama dalam proyek patungan. Ini bisa saja menyangkut pembangunan jalan di perbatasan dua negara, usaha pertahanan bersama seperti NATO, usaha bersama dalam memerangi penyakit, jaringan narkotik, dan pasar bersama. Semua ini menyebabkan perlunya pembagian beban biaya yang harus dipikul. Jika jumlah anggota kelompok atau pesertanya kecil, pembagian beban biaya bisa dirundingkan dengan membandingkan manfaat yang akan diperoleh setiap pihak. Khusus mengenai pertahanan, kerja sama akan lebih menguntungkan negara sekutu yang kecil karena peningkatan pertahanan yang kecil sekalipun oleh negara sekutu yang besar akan merupakan tambahan perlindungan yang sangat berarti bagi sekutu kecil tersebut. Jika anggotanya sangat banyak, maka masalahnya akan mirip dengan masalah penentuan anggaran antar perorangan. Jika tarif perkiraan (assesment rate) yang proposional digunakan, setiap negara mungkin akan diharuskan untuk membayar dalam persentase GNP atau persentase pendapatan nasional yang sama. Jika perhitungan progresif

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi

297

digunakan, akan timbul pertanyaan apakah kelompok tarif tersebut hanya dikaitkan dengan pendapatan per kapita dari penduduk di berbagai negara (dimana penduduk dianggap sebagai patokan dasar). Kedua macam pertimbangan di atas diperhitungkan dalam menentukan kontribusi bagi anggaran Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pembagian beban biaya ditentukan melalui pemungutan suara setiap tahun dan direvisi berkali-kali. Prosedurnya adalah: biaya total dibagi diantara negara anggota sesuai perbandingan kontribusi dasar atau GNP. Ini akan menimbulkan pajak proporsional dalam kaitannya dengan GNP, terlepas dari pendapatan per kapita. Selanjutnya prinsip ini dimatangkan lagi dengan menambah sejumlah ketentuan seperti pembebasan beban bagi negara miskin, ketentuan kontribusi minimum, dan pembatasan jumlah yang harus dikontribusikan oleh suatu negara, dengan bagian tertinggi (sekarang 25 persen) disumbangkan oleh Amerika Serikat. Organisasi-organisasi lain menerapkan pola yang berbeda. Kontribusi bagi dana moneter internasional (IMF) tidak ditentukan berdasarkan manfaat yang diperoleh, melainkan dengan hak penarikan (drawing rights) yang ditetapkan sesuai dengan kemungkinan diperlukan kredit-kredit IMF. Prosedur yang kirakira sama diikuti dalam pemesanan modal saham International Bank for Reconstruction and Development (IBRD). Harus dicatat bahwa semua kontribusi ini relatif kecil jumlahnya sehingga pengecualian atau penyimpanan bagi negara tertentu tidak begitu berpengaruh. Kontribusi untuk NATO, yang melibatkan jumlah yang besar, tidak ditentukan dengan suatu dasar perumusan yang ditetapkan tetapi pada hakikatnya tergantung pada negosiasi. Amerika Serikat merupakan penanggung terbesar atas biaya NATO. Suatu nilai kontribusi yang mungkin melebihi bagian yang seharusnya ditanggungnya seandainya hal itu ditentukan berdasarkan persentase GNP.

KOORDINASI STABILISASI
Dengan makin meningkatnya saling ketergantungan dunia, maka nasib suatu negara ditentukan juga oleh apa yang terjadi di negara lain. Suatu negara tidak mungkin lagi bertindak sendiri untuk mengendalikan persoalan yang dihadapinya. Kerja sama internasional diperlukan dalam bidang kebijaksanaan stabilisasi. Hal ini khususnya berlaku untuk negara-negara dengan perekonomian yang terkait erat seperti pasar bersama, tetapi juga berlaku bagi negara dengan perdagangan luar negeri yang terkecil seperti Amerika Serikat. Koordinasi khususnya diperlukan karena saling ketergantungan tidak hanya menyangkut perdagangan tetapi juga aliran atau perpindahan modal.

298

Bab 13: Pajak Internasional

Perdagangan
Dengan asumsi bahwa keadaan kurs valuta asing yang bersifat tetap, menurunnya pendapatan dan kesempatan kerja di negara A akan menyebabkan impornya akan menurun sehingga menyebarkan kelesuan perekonomian atau malaise tersebut ke negara B yang menghadapi penurunan ekspor. Jika A mengambil kebijakan ekspansionir, pendapatannya naik dan begitu juga halnya dengan impornya. Timbulnya impor akan memperkecil faktor pengganda (multiplier) dan karena itu kebijakan A menjadi kurang efektif, hal itu juga turut memulihkan keadaan negara B karena ekspornya jadi meningkat. Karena itu, kebijakan suatu negara akan berpengaruh terhadap negara lain sehingga diperlukan koordinasi kebijakan untuk menampung kebutuhan kedua negara. Pengaruh kebijakan ekspansioner dari negara A terhadap perdagangan akan diperlemah jika kurs valuta asing bersifat fleksibel. Dengan naiknya impor A, nilai mata uangnya akan turun. Karena itu, biaya impornya menjadi tinggi sehingga membatasi atau memperkecil defisit perdagangan negara A dan ekspor negara B. Dengan demikian kurs valuta asing yang fleksibel cenderung mengurangi saling ketergantungan. Hal yang sama berlaku juga untuk keadaan inflasi, dengan kurs yang tetap, kebijakan inflasioner negara akan memperlemah (mendefisitkan) neraca perdagangannya dan menimbulkan besarnya permintaan ke negara B. Dengan kurs yang fleksibel, pengalihan permintaan ke negara B ini tidak akan begitu saja terjadi karena adanya penurunan nilai mata uang A. Sekali lagi, kurs yang fleksibel akan mengurangi gejolak perdagangan. Akan tetapi gambaran ini telalu disederhanakan. Penyesuaian kurs tidak berlangsung dalam sekejap dan perubahan kurs secara diskresioner dapat menjadi faktor pengganggu pengendalian atas kurs itu sendiri merupakan alat kebijakan yang memerlukan kerja sama lebih lanjut.

Aliran Modal
Pengaruh kebijakan yang ekspansioner atau restriktif terhadap perdagangan bisa dikatakan sama, entah itu kebijakan fiskal atau moneter. Akan tetapi, bauran kebijakan stabilisasi akan menjadi masalah besar jika dikaitkan dengan aliran modal. Aliran modal dipengaruhi oleh tingkat pengembalian yang dihasilkan di berbagai negara. Perpaduan kebijakan fiskal yang longgar dengan kebijakan moneter yang ketat akan menghasilkan suku bunga yang tinggi sehingga mengundang masuknya modal asing, dan begitu juga sebaliknya.

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi

299

Peranan aliran modal menjadi penting jika kita mempertimbangkan pengaruh kebijakan stabilitasi terhadap pertumbuhan ekonomi. Banyak hal tergantung pada bagaimana bentuk dari surplus impor yang ditimbulkan tersebut. Jika surplus impor tersebut berupa investasi riil, akan terjadi peningkatan modal di negara bersangkutan yang akan tercermin pada kenaikan produktivitas tenaga kerjanya. Pendapatan modal di masa mendatang akan dikirimkan ke luar negeri, sehingga keuntungan bagi negara tempat penanaman modal tersebut adalah berupa kenaikan produktivitas tenaga kerja dan produktivitas faktor-faktor domestik lainnya.

RANGKUMAN
§ Adam Smith atau David Ricardo berpendapat bahwa negara akan lebih baik apabila melakukan spesialisasi produksi barang berdasarkan keuntungan komparatifnya, mengekspor barang tersebut dan mengimpor barang dari negara lain yang bisa memproduksi barang lain dengan lebih efisien. Asumsi dalam teori tersebut adalah: (1) Faktor produksi seperti tenaga kerja, modal, tanah dan mesin tidak mudah berpindah, sedangkan barang yang dihasilkan bisa dipindahkan dengan mudah; (2) yang dipertukarkan adalah barang komoditi, bukannya barang yang terdiferensiasi; dan (3) daya saing suatu negara sudah ditentukan, tergantung sumber daya yang dipunyai. Faktor lain seperti ketidakpastian, skala ekonomi, teknologi tidak dipertimbangkan. Perusahaan multinasional tumbuh dengan menyalahi doktrin keunggulan komparatif. Perjanjian pajak internasional merupakan suatu media yang dapat mengkoordinasikan masalah-masalah penghasilan perorangan dan perseroan lintas negara. Beberapa asas yang perlu diperhatikan dalam koordinasi pajak internasional: (1) keadilan antar perorangan; (2) keadilan antar negara; dan (3) efisiensi Berbagai struktur sistem pajak negara mempunyai dampak yang sangat penting terhadap arah dan aliran baik barang maupun modal secara internasional. Pada dasarnya terdapat dua pendekatan dalam pajak internasional yang lazim dipergunakan yakni (1) pajak penghasilan internasional dan (2) pajak komoditi. Dua prinsip dalam pajak penghasilan internasional adalah (a) prinsip pajak berdasarkan asas domisili dan (b) prinsip pajak berdasarkan asas sumber pendapatan. Dua prinsip pajak komoditi yang berlawanan satu sama lain (khususnya untuk pajak pertambahan nilai) yakni (1) prinsip pajak tujuan dan (2) prinsip pajak sumber.

§

§

300 §

Bab 13: Pajak Internasional

§

§

§

Perhitungan pajak di negara asal, laba perusahan induk dan kantor cabang akan dianggap sebagai satu unit. Laba perusahaan anak akan dikenakan pajak laba perseroan negara asing sehingga porsi pajak untuk negara asal akan ditangguhkan sampai laba dikirimkan sebagai dividen. Penangguhan pajak hampir tidak menimbulkan masalah jika tarif pajak luar negeri lebih tinggi dari tarif pajak yang akan dikenakan di dalam negeri. Kondisi sebaliknya mendorong perusahaan anak menginvestasikan kembali labanya di negara domisili. Transaksi antara perusahaan induk dan perusahaan anak dapat menyebabkan pergeseran laba. Pajak bersama-sama kurs valas yang fleksibel mempengaruhi harga pokok produk. Harga pokok produk yang bervariasi pada gilirannya akan mempengaruhi pemilihan lokasi produksi. Pajak juga mempengaruhi preferensi masyarakat akan barang substitusi. Pajak konsumsi atau pajak tujuan produk (destination taxes) tidak mempengaruhi lokasi produksi kecuali jika terdapat diskriminasi antara barang lokal dan barang impor. Pajak konsumsi spesifik akan melemahkan perdagangan internasional yang efisien. Pengenaan pajak ekspor di suatu negara menimbulkan efek distorsi yang mirip dengan bea masuk atas barang impor. Pengenaan pajak atas produk lokal tetapi tidak terhadap produk impor akan mereposisi lokasi produksi. Tax treaty merupakan suatu perjanjian perpajakan antara dua negara yang dibuat dalam rangka (1) mengantisipasi pemajakan ganda dan (2) berbagai usaha penghindaran pajak. Sebagai suatu perjanjian, treaty adalah suatu kontrak yang mengikat suatu negara dengan negara lain dalam hal perlakuan perpajakan. Personal scope mengatur tentang kepada siapa saja ketentuan-ketentuan dalam suatu treaty yang bersangkutan bisa diterapkan. Tax covered mengatur tentang jenis-jenis pajak yang perlakuannya menggunakan ketentuan tax treaty. Tie breaker rule, yaitu tentang ketentuan yang menentukan tidak berlakunya status residence atas suatu pihak dengan karakteristik tertentu. Bentuk BUT: (1) BUT fasilitas fisik timbul karena adanya fasilitas fisik seperti gedung, kantor perwakilan, pabrik, bengkel dan lain-lain; (2) BUT aktivitas ditandai dengan adanya aktivitas yang melebihi batas waktu tertentu (time test) yang dilakukan di negara lain. Aktivitas tersebut bisa berupa pelaksanaan berbagai macam jasa (seperti jasa konstruksi dan jasa jasa lainnya). Lamanya time test disesuaikan dengan kesepakatan dari kedua negara; (3) BUT asuransi ditandai dengan keadaan dimana suatu perusahaan asuransi menerima premi atau menanggung risiko di negara lain; dan (4) BUT keagenan timbul jika terdapat agen di negara lain yang

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi

301

§

§

§

§

memiliki wewenang menentukan kontrak atau mengurus barang-barang dagang di negara lain. Pembentukan sebuah tax treaty yang dimulai dengan penandatanganan oleh kedua otoritas yang berwenang dan dilanjutkan dengan ratifikasi di kedua negara. Setelah kedua negara selesai meratifikasi, selanjutnya dilakukan pertukaran dokumen-dokumen ratifikasi. Setelah pertukaran dokumen ratifikasi ini selesai dilakukan maka tax treaty pun dapat diberlakukan. Tax treaty dapat berakhir setelah periode tertentu yang telah disepakati oleh kedua negara. Salah satu negara dapat mengakhiri sebuah tax treaty dengan cara mengadakan pemberitahuan terlebih dahulu yang harus dilakukan dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan yang telah disepakati. Cakupan minimalisasi pajak berganda: (1) penghasilan barang-barang tak bergerak, (2) laba usaha, (3) laba perusahaan transportasi, (4) dividen, (5) pendapatan bunga, (6) royalti, (7) capital gains, (8) penghasilan jasa bebas, (9) penghasilan jasa terbatas, (10) director’s fee, (11) penghasilan artis dan olahragawan, (12) pendapatan pensiun, dan (13) gaji pegawai negeri sipil di luar negeri. Transaksi internal terjadi apabila terdapat transaksi antara pihak-pihak di kedua negara yang memiliki hubungan istimewa, dimana akan ada kecenderungan harga transaksi yang disepakati bukan merupakan harga yang wajar. Pertukaran informasi antar negara dapat menjadi salah satu senjata dalam menanggulangi praktek-praktek penyelundupan atau penggelapan pajak. Perlakuan perpajakan yang non discrimination mengandung arti bahwa dalam suatu kondisi yang sama, pihak yang bukan warga negara dari suatu negara tidak boleh menanggung kewajiban pajak yang lebih berat daripada yang ditanggung oleh warga negara dari negara tersebut. Mutual agreement procedure sebagai sarana untuk memecahkan kesulitan yang timbul sebagai akibat dari perbedaan interpretasi atas suatu ketentuan dalam sebuah tax treaty. Dalam kesepakatan internasional, setiap penghasilan yang diterima oleh anggota suatu korps diplomatik atau konsulat, ditetapkan hanya dikenai pajak di negara di mana mereka berasal. Mengingat sifat perjanjiannya yang bilateral, antara dua negara, tax treaty mengalahkan UU PPh yang berlaku di masing masing negara treaty partner. Setiap tax treaty antara suatu negara dan negara lainnya adalah suatu perjanjian yang bersifat spesifik hanya mengikat negaranegara yang terlibat dalam perjanjian tersebut. Di antara sejumlah negara terdapat kepentingan bersama yang mendorong mereka untuk bekerja sama dalam proyek patungan. Ini menyebabkan

302

Bab 13: Pajak Internasional

§

perlunya pembagian beban biaya yang harus dipikul. Kontribusi sesuai dengan GNP, drawing rights, dan negosiasi. Nasib suatu negara ditentukan juga oleh apa yang terjadi di negara lain. Kerja sama internasional diperlukan dalam bidang kebijaksanaan stabilisasi. Koordinasi khususnya diperlukan menyangkut perdagangan dan perpindahan modal. Menurunnya pendapatan dan kesempatan kerja di suatu negara, akan menyebabkan impornya akan menurun sehingga menyebarkan kelesuan perekonomian atau malaise tersebut ke negara lain yang menghadapi penurunan ekspor. Kurs valuta asing yang fleksibel cenderung mengurangi saling ketergantungan antar negara. Aliran modal dipengaruhi oleh tingkat pengembalian yang dihasilkan di berbagai negara. Perpaduan kebijakan fiskal yang longgar dengan kebijakan moneter yang ketat akan menghasilkan suku bunga yang tinggi sehingga mengundang masuknya modal asing, dan begitu juga sebaliknya. Keuntungan bagi negara tempat penanaman modal tersebut adalah berupa kenaikan produktivitas tenaga kerja dan produktivitas faktor-faktor domestik lainnya.

LATIHAN
1) 2) 3) 4) Apa yang dimaksud dengan doktrin keunggulan komparatif ? Mengapa dikatakan perusahaan multinasional tumbuh dengan menyalahi doktrin keunggulan komparatif? Apa saja hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penerapan koordinasi pajak internasional! Jika seorang warga negara asing melakukan investasi di Indonesia, bagaimana pengenaan pajak yang dapat diberlakukan terhadapnya menurut asas keadilan antar perorangan? Jelaskan bagaimana terjadinya pergeseran beban pajak antar negara dalam hal pajak produk untuk eksport dan import! Jelaskan prinsip pajak berdasarkan : a) Asas Domisili

5) 6)

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi

303

7) 8) 9)

10) 11)

12) 13) 14)

b) Asas Sumber Pendapatan Jelaskan prinsip-prinsip pajak yang mendasari pengenaan pajak komoditi! Jelaskan secara singkat aspek efisiensi koordinasi pajak produk! Jelaskan apa yang dimaksud dengan : a) Destination Taxes b) Origin Taxes Jelaskan pengaruh pengenaan pajak produksi umum suatu negara dalam ekspor, impor, dan kurs valuta asing negara tersebut! Jelaskan mengapa dikatakan kurs valuta asing yang fleksibel cenderung mengurangi saling ketergantungan dan gejolak perdagangan di antara dua negara yang bekerja sama! Apa yang anda ketahui tentang Tax Treaty dan cakupannya? Jelaskan konsep Tie Breaker Rule untuk orang pribadi dan pihak ketiga! Diskusikan mengapa dikatakan Tax Treaty mengalahkan UU PPh?

KEBIJAKAN DAN STRUKTUR BELANJA PUBLIK

Bab ini akan membahas struktur belanja publik dan permasalahan kebijakan dalam penyusunan program belanja. Sebagai penyelenggara negara, salah satu fungsi pemerintah adalah menjadi penyedia barang dan jasa pada sektor tertentu dan menjadi fasilitator dalam hal penyelenggaraan barang dan jasa lain yang diadakan oleh sektor swasta. Khusus dalam penyediaan public goods atau barang publik1, pemerintah dapat berperan baik sebagai penyedia maupun sebagai regulator ketika barang publik ini diadakan oleh swasta. Adapun barang publik yang dimaksud di sini adalah jalan raya, pelabuhan (baik laut maupun udara), listrik, telekomunikasi, pembuangan sampah, limbah dan lain sebagainya.
1

Keterangan mengenai barang publik dapat dibaca di bab-bab awal

306

Bab 14: Kebijakan dan Struktur Belanja Publik

Dalam prakteknya, tidak ada rumus yang pasti mengenai bentuk maupun ukuran besarnya sektor publik. Namun demikian, ada beberapa prinsip umum yang dapat dijadikan alasan penyelenggaraan sektor umum ini oleh negara, misalnya kegagalan pasar dimana pasar tidak dapat mengalokasikan sumber daya secara efisien dan aspek distribusi ke seluruh pelosok negara. Secara umum dapat dikatakan bahwa perencanaan dan penerapan prioritas pengeluaran publik serta perpaduan yang serasi antara sektor publik dan swasta, memerlukan penjajakan yang terinci dan sangat tergantung dari keadaan masing-masing negara. Dalam setiap sektor, cara terbaik dengan menganalisa kebutuhan-kebutuhan yang saling bersaing dalam masing-masing program. Tujuan negara, potensi trade-off, dan indikator ekonomi dan sosial seperti berapa kilometer jalan yang harus dibangun, akses ke air bersih dan sanitasi, angka masuk sekolah, angka kematian bayi dan angka harapan hidup dapat digunakan untuk menentukan prioritas kebutuhan-kebutuhan di berbagai sektor. Di bawah ini akan dibahas hal-hal yang menjadi dasar kebijakan belanja publik serta hal-hal yang berpengaruh terhadap struktur belanja publik.

KONSEP WELFARE STATE
Kebijakan yang dibuat oleh pemerintah suatu negara hampir bisa dipastikan mempunyai landasan filosofis yang dapat ditarik ke akar ideologisnya. Kebijakan keuangan publik pun tidak terkecuali. Kebijakan pengeluaran publik sangat dipengaruhi oleh bagaimana suatu negara memandang dirinya dalam hubungannya dengan rakyatnya, terutama dalam konsep kesejahteraan atau welfare. Konsep welfare state ini dipahami secara berbeda oleh berbagai negara, yang menghasilkan pola pengeluaran publik yang berbeda pula. Esping-Andersen mengkategorikan tiga jenis pokok dari welfare regime, yaitu: § Corporatist regimes, berorientasi kerja dan diatur berdasarkan kontribusi individual. § Social democratic regimes, mengacu pada nilai-nilai dan prinsipprinsip universal. § Liberal regimes, cenderung bersifat residualis. Sistem residual cenderung tidak melembagakan jaminan sosial. Namun demikian, dalam hal terjadinya kemiskinan dan ketidakmampuan membayar jasa kesehatan, maka negara pembayaran jasa kesehatan ini ditanggung oleh negara melalui program jaring pangaman sosial.

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi

307

Sebagai contoh, kita akan melihat bagaimana konsep ini diterapkan pada berbagai negara.

Inggris
Briggs (1961) dalam literaturnya yang terkenal mengenai belanja publik berkaitan dengan kesejahteraan, mengidentifikasikan tiga hal pokok dalam belanja publik yang berkaitan dengan kesejahteraan, yaitu: § Jaminan standar minimum, termasuk penghasilan minimum § Perlindungan sosial bila diperlukan § Penyediaan jasa pelayanan umum sebaik-baiknya Uraian Briggs ini kemudian menjadi “pakem” atau model kesejahteraan dimana elemen kuncinya adalah perlindungan sosial, diikuti dengan penyediaan pelayanan kesejahteraan sesuai hak warga negara. Dalam prakteknya, kesejahteraan sosial di Inggris sangat jauh dari nilai ideal ini. Tingkat cakupan (coverage) layanan memang tinggi, dalam arti pelayanan ini menjangkau sekuruh masyarakat (sebagai contoh, National Health Service berlaku bagi seluruh warga negara Inggris tanpa pandang bulu) namun mutu pelayanan masih belum maksimal. Sedangkan perlindungan sosial yang diselenggarakan bagi rakyat Inggris juga masih bersifat tambal sulam.

Perancis
Sistem kesejahteraan di Perancis dirancang berdasarkan prinsip solidaritas, yang berarti bahwa kesejahteraan masyarakat merupakan tanggung jawab bersama dan risiko ditanggung bersama. Sistem ini berusaha mencapai fullcoverage. Pada awalnya, hal ini dilakukan dengan memperluas jaminan sosial yang mencakup kesehatan dan jaminan sosial lain yang bersifat ekstensif atau mencakup semua penduduk termasuk mereka yang tadinya terpinggirkan. Mulai tahun 1988, diperkenalkan sistem terbaru dimana jaminan atas kebutuhan dasar ditambah dengan hal-hal lain sesuai dengan kebutuhan masing-masing orang. Sistem semacam ini selain kompleks juga mahal untuk dilaksanakan, sehingga akan menimbulkan masalah pada anggaran pengeluaran publik negara tersebut. Hal yang menjadi keprihatinan pemerintah setempat bukanlah pengangguran, melainkan usia lanjut, karena adanya keistimewaan yang diberikan kepada kelompok masyarakat tertentu. Selain itu pengeluaran untuk kesehatan masyarakat juga menjadi bermasalah dalam era swastanisasi dan

308

Bab 14: Kebijakan dan Struktur Belanja Publik

liberalisasi dimana jasa sangat tergantung pada pasar. Karena liberalisasi kesehatan ini menjadikan jasa pelayanan kesehatan menjadi mahal.

Amerika Serikat
Amerika Serikat seringkali digolongkan sebagai negara yang menganut paham liberal dalam hal penyediaan kesejahteraan bagi rakyatnya, yang tercermin dalam konsep individualisme, laissez-faire (mengikuti arah pasar), paham residualisme, dan pandangan miring mengenai kemiskinan. Hal-hal tersebut di atas seringkali mewarnai debat mengenai konsep kesejahteraan di AS. Walaupun demikian, sistem kesejahteraan di AS tidak seragam. Federalisme mengakibatkan banyak keputusan penting, termasuk yang menyangkut kesejahteraan sosial, diatur di tingkat negara bagian. Sebagai contoh, di Minnesota dan Hawaii kesehatan masyarakat dibiayai oleh negara. Sebagai perbandingan dengan negara-negara berkembang, pemerintah pusat memiliki peran yang terbatas dalam penyediaan kesejahteraan sosial. Dalam prakteknya, AS memiliki sistem pluralistik, bukan sekedar liberal. Terdapat perbedaan yang signifikan dari model residual, misalnya sekolah negeri, jaminan sosial, maupun Veteran’s Administration menjamin kesejahteraan lebih dari empat puluh juta jiwa. Selain aktivitas di level pemerintah federal dan negara bagian, penyedia jaminan kesejahteraan juga mencakup sektor swasta. Hasilnya, sistem yang ada juga kompleks dan mahal.

Negara-negara Berkembang
Masalah utama yang dihadapi oleh negara berkembang adalah kemiskinan. Menurut World Bank, setengah dari populasi dunia hidup dengan pendapatan kurang dari dua dollar per hari. Menurut Amartya Sen, kemiskinan bukan saja berakar dari kekurangan sumber daya, tapi lebih disebabkan oleh kurangnya entitlement:. Kelaparan terjadi bukan karena kurang pangan, melainkan karena orang miskin tidak boleh makan makanan yang ada. Untuk itulah perlu adanya pembangunan ekonomi, karena pembangunan ekonomi akan memproduksi barang materil, meningkatkan persatuan dan ketergantungan antar bangsa, yang paling penting dapat meningkatkan entitlement. Namun pada saat yang sama, pembangunan ekonomi juga menimbulkan korban. Pembangunan juga menjadikan orang miskin lebih rentan, karena akar kehidupan tradisionalnya dirombak, dan selanjutnya dapat mengakibatkan polarisasi sosial. Structural adjustment yang dipersyaratkan oleh lembaga keuangan internasional yang bertujuan untuk mendorong negara berkembang memasuki pasar bebas,

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi

309

ternyata banyak dituding sebagai penyebab makin rentan dan tidak terlindunginya masyarakat miskin. Pada tahun 1980an, badan keuangan internasional yaitu IMF dan World Bank meluncurkan suatu program yang disebut Structural Adjustment Program (SAP) untuk membantu negara-negara berkembang mengatasi kemiskinannya dan memasuki perekonomian pasar bebas. Program ini terdiri atas paket pinjaman dan saran-saran tentang langkah-langkah restrukturisasi yang harus diambil pemerintah dalam kebijakan perekonomian negara. Salah satu persyaratan untuk dapat memperoleh paket bantuan tersebut adalah negara yang bersangkutan harus melakukan ’efisiensi’ dengan cara mengurangi anggaran pengeluaran untuk sektor-sektor yang tidak menguntungkan (dalam hal ini adalah sektor-sektor sosial) seperti kesehatan, pendidikan dan sektor sosial lain. Secara bertahap, penyelenggaraan sektorsektor tersebut dan dialihkan ke sektor swasta. Peran negara sebagai penyelenggara dikurangi sedapat mungkin dan beralih fasilitator bagi sektor swasta yang terlibat. Hal ini tentu saja mengakibatkan pengeluaran negara dalam sektor publik menjadi berkurang. Ketika paket pinjaman bersyarat ini diambil dan dilaksanakan oleh negaranegara berkembang yang membutuhkan bantuan, memang terjadi sedikit peningkatan pertumbuhan. Namun, dampak sosial yang semula tidak diantisipasi ternyata sangat parah. Peningkatan pertumbuhan yang dihasilkan oleh paket ini ternyata hanya dicapai oleh segelintir orang sedangkan sejumlah besar lainnya justru terjerumus ke jurang kemiskinan akibat dihapuskannya sebagian anggaran kesejahteraan dari anggaran pemerintah. Pengelolaan sektor tersebut oleh pihak swasta yang bertujuan untuk memaksimalkan keuntungan, mengakibatkan meningkatnya harga jual barang dan jasa publik. Konsekuensi dari hal ini adalah bahwa jasa tersebut hanya dapat dinikmati oleh pihak yang mampu. Sedangkan kaum marjinal makin terpinggirkan. Trickle down effect yang semula diyakini akan terjadi ternyata tidak menjadi kenyataan (Sen, 1999). Hal ini kemudian diusahakan untuk diperbaiki dengan pola pinjaman bersyarat yang baru yaitu Poverty Reduction Strategy Paper, yang menurut banyak pihak hanya nama baru dari wajah lama.

310

Bab 14: Kebijakan dan Struktur Belanja Publik

www.globalissues.org Pertumbuhan belanja publik sangat erat kaitannya dengan tuntutan kemajuan masyarakat dan dikehendakinya pertimbangan sosial yang diperankan oleh pemerintah dalam menjalankan kebijakannya. Dari studi empiris di Amerika Serikat telah dibuktikan bahwa belanja publik menunjukkan angka yang cenderung mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Belanja publik juga cenderung mengalami kenaikan porsinya, apabila dibandingkan dengan total pendapatan nasional. Kajian-kajian struktur belanja publik perlu mempertimbangkan kondisi objektif ini.

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB PERTUMBUHAN
Dalam memahami faktor penyebab pertumbuhan belanja publik, perlu dibedakan faktor antara belanja barang jasa dan belanja transfer. Kedua faktor ini mempunyai karakteristik yang berbeda satu sama lain.

Faktor belanja barang dan jasa
Faktor-faktor yang mempengaruhi belanja barang dan jasa di antaranya adalah sebagai berikut: § Pertumbuhan Pendapatan per Kapita Proporsi antara barang pribadi dan barang publik selalu berubah sesuai dengan kenaikan pendapatan per kapita, porsi barang publik selalu menunjukkan peningkatan. Implikasinya adalah bahwa kebijakan anggaran yang efisien menghendaki adanya peningkatan rasio pembelian pemerintah terhadap pendapatan nasional. Biasanya, peningkatan per kapita seiring dengan perkembangan perekonomian yang berubah dari negara agraris (yang diasumsikan berpendapatan rendah) menjadi negara industri (yang diasumsikan berpendapatan tinggi). Permintaan barang publik akan semakin meningkat dengan meningkatnya pendapatan per kapita. Ernst Engel seperti dikutip oleh Musgrave mengatakan bahwa semakin tinggi pendapatan maka semakin tinggi pengeluaran untuk barang-barang tertentu. Selama pendapatan rata-rata

Pada tahap awal. maka proses produksi juga berubah. Perubahan teknologi dapat meningkatkan atau menurunkan kepentingan penyediaan barang publik yang mempunyai manfaat eskternal besar sehingga harus disediakan oleh pemerintah. seperti pendidikan tinggi dan pelayanan kesehatan akan mengalami kecenderungan yang semakin meningkat bila pendapatan meningkat. Barang publik yang merupakan kebutuhan dasar (bukan kemewahan) . Pola pertumbuhan belanja publik untuk penyediaan barang modal kelihatannya terbalik tetapi pengembangan industri akan menimbulkan akibat sampingan. kecenderungan seperti di atas mempunyai dua kemungkinan. Kebutuhan akan barang modal ini harus lebih besar pada awal pembangunan ekonomi dan peran pemerintah akan semakin menurun dalam pengadaan barang modal. Pengamatan bisa dilakukan juga pada belanja publik dalam penyediaan barang modal. Akhirnya. pembangunan ekonomi menimbulkan kebutuhan khusus terhadap barang modal. terdapat kecenderungan yang meningkat. pendidikan dasar dan sanitasi . apabila sektor swasta telah terbuka kesempatannya menanamkan modal dalam pengembangan industri.seperti keamanan. Sedangkan kebutuhan lainnya. seperti polusi dan kemacetan kota yang pada gilirannya akan menyebabkan peningkatan investasi pemerintah. . Ditambah. sehingga tidak mudah dilakukan oleh pihak swasta. investasi dalam sumber daya manusia dan biaya pendidikan akan mengalami peningkatan selama pendapatan meningkat seiring dengan laju pembangunan. Jika teknologi berubah.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 311 meningkat. barang-barang pelayanan umum yang merupakan barang mewah. Dengan demikian. seperti penyelidikan angkasa luar dan pangkalan perahu. pelabuhan dan instalasi listrik. seperti jalan. § Perubahan Teknologi Perubahan teknologi mempunyai pengaruh penting dalam pertumbuhan porsi belanja publik.mengalami kecenderungan menurun. Kadang kecenderungannya meningkat dan kadang menurun. Barang modal tersebut mempunyai manfaat yang bersifat eksternal dimana belanja modal diperlukan dalam jumlah yang besar yang memerlukan pengembalian jangka panjang. Untuk barang publik. dapat disimpulkan bahwa tidak dapat diestimasikan secara tepat kecenderungan yang akan terjadi pada belanja publik untuk barang konsumsi dan barang modal yang diakibatkan pertumbuhan pendapatan per kapita. maka pola konsumsi bagi perekonomian diharapkan akan meningkat pula.

§ Perubahan Populasi Perubahan populasi terutama akan meningkatkan belanja pendidikan dan kesehatan karena terjadi perubahan komposisi umur. Dalam jangka panjang. kecuali terbukti teknologi angkasa luar menjadi barang pribadi. Hal ini terutama disebabkan oleh adanya inflasi harga faktor produksi yang dibeli pemerintah lebih cepat dibanding dengan rasio deflasi dalam pendapatan nasional. Meskipun biaya jasa publik menjadi lebih mahal.312 Bab 14: Kebijakan dan Struktur Belanja Publik Sebagai contoh. pada akhirnya menyebabkan pertumbuhan anggaran. sifat penyediaan barang dan jasa publik yang dapat mengubah komponen pendapatan nasional menjadi kurang apabila dibandingkan dengan perubahan teknologi. karena sifatnya yang elastis. Dengan meningkatnya industri mobil. Sebagai contoh. Kebutuhan pendidikan juga akan mendorong peningkatan permintaan perumahan dan penyediaan jaminan hari tua. Biaya Relatif Selain perubahan-perubahan kuantitas seperti diuraikan di atas. bukan berarti porsi belanja publik dalam pendapatan nasional harus meningkat. Peningkatan populasi yang disertai mobilitas populasi juga mendorong pertumbuhan kota baru yang menyebabkan kebutuhan peningkatan pelayanan umum. permintaan jalan raya bergerak sangat cepat. Menurut Musgrave. Perubahan teknologi juga mempercepat barang menjadi usang sehingga biaya penggantian akan meningkat. Sebuah barang publik dapat disubstitusi dengan barang pribadi. perbedaan respon terhadap inflasi bukanlah merupakan faktor utama. bisa diestimasikan bahwa porsi belanja publik akan meningkat. sehingga belanja sektor publik meningkat dibandingkan masa kereta kuda dan mesin uap yang digunakan untuk kereta api. tak kalah penting adanya pengaruh perubahan biaya jasa publik terhadap pengeluaran publik. kecuali bila permintaan barang publik bersifat inelastis. Perubahan teknologi di masa datang yang menyebabkan membengkaknya anggaran pemerintah adalah bidang teknologi angkasa luar yang merupakan faktor penting dalam porsi pengeluaran negara. Contoh lain adalah perubahan teknologi persenjataan yang mengakibatkan meningkatnya pengeluaran militer. kemacetan di perkotaan mengakibatkan meningkatnya § . § Urbanisasi Proses urbanisasi dapat menimbulkan permasalahan bagi pemerintah. penemuan mesin pembakaran mengakibatkan berkembangnya industri mobil.

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 313 kebutuhan akan infrastruktur dan pelayanan umum. perubahan tersebut diikuti dengan pergeseran rasio penduduk pensiun ke usia kerja sehingga memerlukan peningkatan dalam rasio pengeluaran publik untuk penduduk usia lanjut terhadap pendapatan nasional. jika tujuan pendistribusian kembali pendapatan adalah untuk menyesuaikan pendapatan keluarga. perubahan hanya terjadi pada tingkat yang tidak signifikan atau distribusi pendapatan tetap stabil dan hanya sedikit mengarah pada pemerataan. Sistem ini ditujukan untuk menyeimbangkan besarnya distribusi pendapatan melalui transfer dari anggaran pengeluaran ke program pembelian pemerintah yang ditujukan bagi penyediaan barang dan jasa untuk kelompok berpenghasilan rendah. Tingkat pendapatan minimum ditentukan dalam pengertian ratarata. sehingga ruang lingkup pendistribusian kembali – yaitu transfer pendapatan sebagai suatu persentase dari pendapatan nasional – akan tetap konstan. kebutuhan untuk pendistibusian kembali pendapatan akan menurun jika pendapatan rata-rata meningkat. jika tujuannya untuk mencapai tingkat minimum pendapatan. diperlukan peningkatan penyediaan kebutuhan penduduk berusia lanjut. Faktor Belanja Transfer Sejak tahun 1930-an. Pertama. peningkatan pendapatan rata-rata tidak mengubah kebutuhan untuk mendistribusikan kembali pendapatan. Sehingga. jika terdapat ketimpangan pendapatan oleh karena peningkatan pendapatan per kapita. Kecuali. Program ini lebih merupakan alat untuk menyediakan jaminan hari tua dengan dasar pembiayaan swadaya. Hal ini mendorong meningkatnya kebutuhan barang-barang yang perlu disediakan oleh pemerintah. Penjelasan ini perlu dihubungkan dengan perubahan sosial dan politik. apakah ada tekanan politis untuk mendistribusikan pendapatan kembali atau tidak. Contohnya adalah peningkatan asuransi hari tua. porsi belanja keperluan sosial dalam pendapatan nasional di Amerika Serikat meningkat seiring dengan peningkatan pertumbuhan transfer. . Namun demikian. penyesuaian atau perbaikan atas ketimpangan tersebut yang perlu dilakukan. Adanya perubahan ruang lingkup redistribusi pendapatan dapat timbul sebagai akibat dari faktor-faktor demografi. Apabila terjadi penurunan pertumbuhan populasi dalam bentuk meningkatnya penduduk yang lanjut usia. Kedua. Tindakan pendistribusian kembali pendapatan tersebut dapat dipengaruhi dari dua arah.

Cara yang lebih tepat adalah mendistribusikan beban pajak sedemikian rupa sehingga tidak seorang pun mengalami kerugian bersih dan kondisi ini menghasilkan proyek yang efisien menurut prinsip pareto optimum. sementara dana terbatas untuk satu proyek. Manfaat yang akan diperoleh A dan B masing-masing $70. Akan tetapi dalam kenyataannya. proyek semacam itu sangat sulit dicapai sehingga diusulkan agar konsep efisiensi diperlunak. jumlah agregat manfaat bersih senilai $30. dengan memperlunak konsep. Yang pertama. dimisalkan ada dua buah proyek yang dipertimbangkan dimana kedua proyek mempunyai biaya dan tingkat penggunaan yang sama.314 Bab 14: Kebijakan dan Struktur Belanja Publik Efisiensi dan Keadilan dalam Belanja Publik Prinsip pareto optimum mengatakan bahwa proyek dikatakan efisien jika memberi manfaat paling tidak kepada satu orang dan tidak merugikan orang lain. dikatakan bahwa proyek tersebut layak dibangun. Aspek Keadilan Dalam meninjau aspek keadilan dalam belanja publik. tingkat efisien semacam itu dapat dicapai. Pada kasus ini. Petimbangan distribusi dimulai dengan penentuan apakah bobot distribusi dapat digunakan dalam menilai besarnya manfaat dan biaya.000. B. Misalkan suatu jalan akan dibangun dengan biaya $150.000 dapat disahkan dan proyek dikatakan efisien. prinsip pareto optimum dilanggar. meskipun C mengalami kerugian. sehingga A. sehingga salah satu harus dikorbankan. Perlu diadakan persyaratan tambahan agar proyek tetap dikatakan efisien yaitu bahwa penggantian kerugian harus benar-benar dilaksanakan dalam bentuk transfer dari A dan B kepada C. Efisiensi proyek tergantung bagaimana mendefinisikan efisiensi tersebut. efisiensi proyek tetap ada apabila orang-orang yang diuntungkan (A dan B) dapat menutupi kerugian pihak lain ( C ) dan dipandang masih lebih baik dibandingkan dengan tidak ada proyek.000.000 yang akan dibebankan dari general fund. Tetapi dalam kenyataan. Karena nilai manfaat lebih besar dari biayanya. Namun demikian. dan C harus membiayai masing-masing senilai $50.000 dan C adalah $40. Secara teoritis. sehingga manfaat agregat adalah $180.000. pihak C tidak menerima manfaat dan kerugiannya belum tentu akan diganti. Berdasarkan kriteria ini. Problem utamanya adalah preferensi seseorang tidak mudah untuk diungkapkan dan mungkin saja proyek tersebut tidak efisien. . Proyek I. pertimbangan mengenai distribusi dan fungsi obyektif dapat dipertimbangkan dalam menentukan kebijakan proyek.

lokasi I dianggap lebih layak. penilaian proyek yang didasarkan pada permintaan konsumen juga akan optimal dipandang dari segi sosial. Fungsi obyektif dapat digunakan sebagai alat untuk menghitung pembobotan dalam rangka memaksimalkan kesejahteraan sosial. masyarakat berpenghasilan tinggi akan menerapkan nilai yang lebih tinggi dibanding masyarakat berpenghasilan rendah karena mereka mampu membayar lebih tinggi dan proyek I dianggap lebih layak. proyek II akan lebih diutamakan. berupa penyediaan taman serupa untuk kelompok masyarakat berpenghasilan rendah. Dimisalkan akan dibangun sebuah kapal laut. Tetapi. sementara alternatif II memilih lokasi yang tingkat upahnya rendah. Risiko Perubahan Perekonomian Perencanaan proyek berlangsung dalam ketidakpastian dan risiko ketidakpastian manfaat di masa akan datang akan mengurangi nilai sekarang dan harus diperhitungkan dalam perencanaan pengeluaran investasi pemerintah. Permasalahan timbul dalam menyusun peringkat manfaat kedua proyek tersebut. Akan tetapi. pertimbangan sosial dapat menyimpulkan sebaliknya. tetapi dengan biaya yang berbeda. evaluasi sosial yang tercermin dari kesejahteraan sosial akan menyimpang dari evaluasi swasta dan proyek II akan dipandang lebih layak. Misalkan juga biaya modal. Hal ini menunjukkan kecocokan dengan konsep efisiensi yang lebih luas. Dapat disimpulkan. penggunaan bobot distribusi dalam perhitungan biaya-manfaat dapat digunakan sebagai alat pengoreksi aspek distribusi. Setiap rupiah yang dibelanjakan oleh masyarakat miskin dapat dinilai lebih tinggi sehingga proyek II akan dipandang lebih layak. bila bobot distribusi pendapatan diperhitungkan. bahan baku dan transportasi di lokasi I lebih rendah. Alternatif I akan memilih lokasi konstruksi di daerah yang upahnya tinggi. Kondisi yang sama juga muncul jika ada dua proyek yang menghasilkan jasa yang sama. jika distribusi yang berlaku tidak optimal. Tetapi. berdasarkan asumsi bahwa dalam menerapkan tarif pajak. Bobot ditentukan dari kejadian yang ditunjukkan oleh perilaku di masa lalu. pemerintah bermaksud mendistribusikan beban pajak sedemikian rupa sehingga sesuai dengan prinsip pengorbanan yang sama. Hasil yang berisiko dapat diestimasikan dengan cara pembobotan . Atau bobot dapat diperoleh dari analisis pajak penghasilan. Tanpa mempertimbangkan aspek distribusi. sehingga total biaya di lokasi I akan lebih rendah.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 315 dimisalkan. jika distribusi pendapatan tidak optimal. Apabila nilai nominal proyek yang dijadikan dasar pertimbangan. berupa penyediaan taman bermain di lingkungan masyarakat berpenghasilan tinggi dan proyek II. karena memberikan manfaat kepada mereka yang berpenghasilan rendah. karena nilai manfaat bersih lebih tinggi. Jika kondisi yang berlaku adalah distribusi optimal. dimisalkan.

belanja transaksi hutang. jasa pemadam kebakaran. Klasifikasi belanja menurut fungsi pemerintah adalah sebagai berikut: 1.316 Bab 14: Kebijakan dan Struktur Belanja Publik berbagai hasil berdasarkan angka probabilitasnya dimana jumlah probabilitas adalah sama dengan satu. belanja untuk jasa-jasa umum. Evaluasi proyek jangka panjang perlu mempertimbangkan dinamika perkembangan perekonomian yang berkaitan dengan harga relatif dan pengaruh distorsi harga. jasa pengadilan. belanja komersial dan ekonomi. belanja kehutanan dan . Akibatnya. Belanja Pertahanan Belanja-belanja dalam kategori ini antara lain belanja pertahanan militer dan sipil. 2. 3. Pengaruh penundaan satu tahun akan menyebabkan perubahan nilai sekarang atas perhitungan neto manfaat dan biaya. analisis manfaat biaya harus dibuat dalam berbagai alternatif saat dimulainya proyek. Salah satu kriteria yang sering digunakan untuk mengklasifikasikan belanja pemerintah adalah seperti diuraikan dalam Government Finance Statistics Manual. Penjumlahan hasil tertimbang ini kemudian akan digunakan dalam analisis nilai manfaat yang diharapkan. bantuan militer untuk asing. belanja riset dasar. Belanja Jasa Publik Umum Belanja-belanja yang termasuk dalam kategori ini antara lain belanja operasi untuk organisasi eksekutif dan legislatif. KLASIFIKASI BELANJA PUBLIK Klasifikasi belanja publik dapat dikategorikan berdasar berbagai macam kriteria. Belanja Urusan Ekonomi Belanja yang termasuk dalam kategori ini diantaranya belanja urusan ketenagakerjaan. di antara contohnya adalah belanja jasa kepolisian. riset pertahanan dan sebagainya. Belanja Perlindungan Umum Belanja dalam kategori ini dibedakan dengan belanja pertahanan. 4. jasa rumah tahanan dan penjara. karena adanya dimensi waktu. Risiko perubahan perekonomian mempunyai implikasi perlunya pendiskontoan atas manfaat maupun biaya. dan belanja administrasi transfer antar unit pemerintah. dan juga riset untuk perlindungan publik.

dan pendidikan tinggi. termasuk risetnya. Bagaimana menilai dampak pengeluaran publik bagi masyarakat? . 9. terutama negara-negara berkembang yang memiliki sumber daya terbatas. transportasi. yaitu: Apakah inti dari tujuan distribusi dari pengeluaran publik? 2. dan belanja sosial lainnya. jasa rumah sakit umum. jasa urusan keagamaan dan komunitas. 5. Belanja Perlindungan Lingkungan Belanja yang termasuk di sini diantaranya adalah belanja pengelolaan limbah dan polusi. komunikasi dan belanja untuk perindustrian lainnya. Sehingga. belanja perlindungan anak dan keluarga. belanja untuk mengatasi pengangguran. pertambangan. belanja jasa kebudayaan. namun harus diingat bahwa anggaran pengeluaran juga sangat terbatas. Belanja Pendidikan Pendidikan mencakup belanja pendidikan dasar. Sebagai akibatnya. 8.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 317 pertanian. 10. pendidikan menengah. Belanja Perumahan dan Public Utilities Belanja dalam kategori ini diantaranya adalah pengembangan perumahan dan pemukiman. Belanja Kesehatan Belanja kesehatan meliputi perlengkapan dan peralatan kesehatan. dan lain-lain. dan risetnya. 6. Budaya dan Agama Di antara belanja yang termasuk dalam kategori ini adalah belanja jasa olahraga dan rekreasi. 7. Bagaimana cara memenuhi kebutuhan publik dengan anggaran yang terbatas? 3. seringkali terjadi pertentangan kepentingan antara keinginan untuk menghapuskan kemiskinan dengan kemampuan keuangan negara yang bersangkutan untuk mendanai proyek-proyek yang bertujuan mengurangi kemiskinan tersebut. Dalam hal ini. 1. satu hal penting yang harus dilakukan adalah dengan memperbaiki aspek distribusi. Belanja Publik dan Prinsip Keadilan Dalam praktek penyelenggaraan negara. belanja penerangan jalan. termasuk belanja pendukung pendidikan lainnya. belanja energi dan bahan bakar. jasa penyiaran. jasa kepada pasien. pengeluaran publik yang tepat tentu saja akan membantu. proteksi keragaman hewani maupun tata kota. sistem penyediaan air bersih. Belanja Perlindungan Sosial Belanja-belanja yang termasuk dalam kategori ini diantaranya belanja perlindungan terhadap manusia lanjut usia (manula). World Bank menggarisbawahi tiga pertanyaan penting yang harus dihadapi oleh pemerintah. pemerintah menghadapi adanya permintaan yang saling bersaing dan juga perdebatan apakah pola pengeluaran publik yang diterapkan dapat benar-benar memenuhi tujuan distribusi. dan pekerjaan-pekerjaan umum lainnya. Secara umum. Belanja Rekreasi.

§ Membantu mengatasi masalah kerentanan (vulnerability). dilakukan dengan menargetkan individu atau keluarga yang masuk kategori miskin. Mereka inilah yang menjadi target group dari kebijakan belanja publik tertentu. Pendapatan seseorang/keluarga dapat berfluktuasi sepanjang waktu. namun mereka dijangkau melalui pentargetan jasa atau komoditi yang paling banyak mereka konsumsi. program kredit mikro yang ditujukan bagi wanita pedesaan. misalnya kelompok lanjut usia dan penderita cacat fisik. yaitu targeting secara sempit. Peran pemerintah dalam penyediaan beberapa jenis barang dan jasa tidak dapat dipungkiri. pendekatan targeting dapat dikategorikan menjadi dua hal. karena tanpa campur tangan pemerintah ketersediaan barang dan jasa tersebut tidak dapat terpenuhi. Dalam hal ini. Bagaimana caranya agar belanja publik dapat memenuhi ketiga kriteria ini dengan sumber daya yang terbatas? Jawaban yang sering diberikan bagi pertanyaan ini adalah “targeting”. yang bahkan memang tidak akan mungkin dapat berpartisipasi dalam pembangunan. Sehingga. Mungkin akan makan waktu agak lama bagi beberapa kelompok masyarakat untuk dapat berperan serta dalam pembangunan. peran pemerintah merupakan kunci keberhasilan pertumbuhan ekonomi secara utuh. Kelompok inilah yang memerlukan perhatian khusus. Yang juga sering dilakukan adalah dengan mentargetkan aktivitas pembangunan pedesaan. Dalam prakteknya. yang tertinggal. Contoh yang paling sering digunakan adalah dengan mentargetkan jasa sosial dasar. pemberian susu dan makanan tambahan bagi balita miskin. kaum miskin sangat rentan terhadap risiko yang disebabkan oleh perubahan cuaca.318 Bab 14: Kebijakan dan Struktur Belanja Publik Inti dari tujuan distribusi dari pengeluaran publik adalah: § Mengutamakan pertumbuhan ekonomi yang berpihak pada kaum miskin/marginal. Pertama adalah broad targeting atau pentargetan secara luas. seperti pendidikan dasar dan kesehatan masyarakat. dimana consumption smoothing juga tidak sempurna. Misalnya dengan melaksanakan program Jaring Pengaman Sosial yang diadakan setelah Indonesia mengalami krisis moneter. Selain itu. serta infrastruktur dasar seperti air bersih dan sanitasi. proyek padat karya serta pembangunan daerah tertinggal. § Membantu mereka yang terpinggirkan/tertinggal dalam proses pertumbuhan ekonomi. yaitu dengan mengarahkan belanja publik untuk memenuhi kebutuhan kelompok masyarakat yang membutuhkan: yang miskin. terutama pada perekonomian pedesaan. yang juga menjangkau rakyat miskin. Dengan demikian. perubahan harga maupun hancurnya dukungan masyarakat setempat selama terjadinya krisis. yang terbelakang dan yang rentan terhadap risiko. mungkin juga ada masalah kesenjangan pembangunan antara daerah yang satu dengan lainnya. Pendekatan kedua. . kaum marjinal tidak menjadi target secara individual.

Banyak keputusan/kebijakan yang ada dibuat berdasarkan pengukuran kuantitatif dari dampak belanja publik untuk standar hidup. Tidak ada aturan yang baku tentang mana yang lebih baik antara kedua pendekatan ini. Hammer et al..9 2. pembangunan infrastruktur.. van de Walle 1998a) dan "behavioural approaches" (Grossman 1994.2 6.. terutama bagaimana rakyat miskin bisa mendapatkan manfaat pembangunan. Biasanya yang efektif adalah kombinasi keduanya. . Tabel 13.6 3. dapat membantu untuk memilih prioritas belanja publik..2 1.. . ..9 1.1 6. Sampai seberapakah pengukuran ini dapat diandalkan? Metode-metode pengukuran yang ada dapat diklasifikasikan sebagai "benefit incidence studies" (Demery 1997.. . .8 5.. . Bagaimana kita bisa mengukur dampak dari kebijakan publik? Informasi mengenai dampak distribusi.6 3..1 1.8 7.6 5.3 0. .1 7.9 6... Misalnya.1 2 2..9 4 2.4 7.2 6. . terutama bagi masyarakat miskin... .2 5 5.6 5.9 1. .. Sedangkan pendekatan perilaku (behavioural approaches) menggunakan ekonometri maupun metode eksperimental.4 .1 6. Kebijakan yang tepat akan sangat tergantung pada peta kemiskinan. Prioritas Belanja Publik Berbagai Negara Belanja Pendidikan (% dr GDP) HDI rank 1990 1999-2001 Belanja Kesehatan (% dr GDP) 1990 2001 Belanja militer (% dr GDP) 1990 2002 Total debt service (% dr GDP) 1990 2002 High human development 1 2 3 4 5 8 9 12 Medium human Norwegia Swedia Australia Kanada Belanda Amerika Serikat Japan Inggris 7.3 2. Kedua pendekatan ini memiliki kekuatan dan kelemahan.6 5. serta keadaan spesifik dari negara yang bersangkutan seperti tingkat kemampuan administratif. . ataupun yang sebenarnya harus dibantu namun tidak mendapat bantuan.4 5. . Para ekonom serta para peneliti lain secara berkala mengevaluasi dampak distribusi dari kebijakan belanja publik.1.2 6. ..8 5.5 5.6 4.7 4. 4.6 6.8 7.6 2. serta hambatan-hambatan lain dalam instrumen kebijakan. tujuan kebijakan. Ekonometri sendiri.5 6 5. benefit incidence analysis terfokus pada manfaat rata-rata dari belanja publik dimana kesimpulan kebijakan atas reformasi belanja publik didasari oleh dampak atas margin perubahan tersebut. Akan selalu ada pihak yang sebenarnya tidak termasuk target namun mendapatkan manfaat.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 319 Masing-masing pendekatan ini memiliki kelebihan dan kekurangan.3 6.4 6. dan van de Walle 1998a untuk tinjauan ini). ..4 1 2. . ekonomi politis.7 4. (1995) menguraikan cara untuk menggunakan kedua pendekatan ini agar saling melengkapi.2 . .6 4.7 6. bila tidak hati-hati digunakan bisa menimbulkan bias pada perkiraan dampak dari proyek pembangunan.

6 0.7 2.4 3.9 3.6 1. (c) liberal regimes Konsep welfare state di Inggris sebagaimana dikemukakan oleh Briggs menekankan pada perlindungan sosial dan penyediaan pelayanan kesejahteraan .2 2.2 3.1 Bab 14: Kebijakan dan Struktur Belanja Publik 1.8 6.3 9.4 3.7 4.6 2.6 11.8 2.6 0. (b) social democratic regimes.2 2.2 4.1 6.6 8.5 0.9 10. UNDP 2004.1 15.2 8.2 Sumber: Human Development Report.7 1.9 2 2.7 4 2.6 Malaysia Thailand Filipina Yordania Indonesia India 5.2 3.8 2.6 1.1 3.5 0.9 1. Kebijakan pengeluaran publik dipengaruhi oleh konsep welfare state yaitu bagaimana suatu negara memandang dirinya dalam hubungannya dengan rakyatnya mengenai kesejahteraan.7 2.4 1 8.5 3. Khusus dalam penyediaan barang publik.8 3.1 2.3 9.2 3.9 5 3.3 4.1 1 4.4 1 3.9 2.1 5.8 6.9 7. salah satu fungsi pemerintah adalah menjadi penyedia barang jasa pada sektor tertentu dan fasilitator jika penyelenggaraan barang jasa diadakan oleh swasta.5 2.9 8.4 4. pemerintah dapat berperan sebagai penyedia dan regulator jika barang publik diadakan oleh swasta.6 6.7 2.8 4.4 1.3 1.6 8.8 9. Tiga hal pokok dalam belanja publik yang berkaitan § § § § . Esping-Andersen mengkategorikan tiga jenis pokok dari welfare regime: (a) corporatist regimes.4 1.1 3.5 15.6 0.7 3.4 9.8 9.5 4.4 1.3 1.6 4. Prinsip umum yang dapat dijadikan alasan penyelenggaraan sektor umum oleh negara yaitu market failure (kegagalan pasar dimana pasar tidak dapat mengalokasikan sumber daya secara efisien) dan aspek distribusi ke seluruh pelosok negara.7 2.1 1.7 2.4 7.9 1.6 2.5 2.8 10 6.4 3. RANGKUMAN § Sebagai penyelenggara negara.6 1.320 development 59 76 83 90 111 127 Low human development 142 145 148 171 173 Pakistan Lesotho Kenya Mozambique Burundi 2.

(b) perlindungan sosial bila diperlukan. Negara-negara berkembang mempunyai masalah utama yaitu kemiskinan. maka perubahan tidak signifikan dan distribusi pendapatan tetap stabil. laissez-faire (mengikuti arah pasar). Faktor-faktor penyebab pertumbuhan belanja publik dibedakan atas (a) faktor belanja barang dan jasa dan (b) faktor belanja dari transfer porsi pendapatan. tidak mengubah kebutuhan untuk mendistribusikan kembali pendapatan.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 321 § § § § § § dengan kesejahteraan yaitu: (a) jaminan standar minimum termasuk penghasilan minimum. (d) biaya relatif. Kecuali tujuannya untuk mencapai tingkat minimum pendapatan. paham residualisme. (c) pelayanan jasa pelayanan umum sebaik-baiknya. (b) Distribusi pendapatan yang dilakukan untuk menyesuaikan pendapatan keluarga. tiap negara bagian mengatur sistem kesejahteraannya masing-masing sehingga Amerika memiliki sistem pluralistik. Akibatnya. bahwa kesejahteraan masyarakat merupakan tanggung jawab bersama dan risiko ditanggung bersama. yang dipengaruhi oleh dua arah. Namun. pertumbuhan ekonomi hanya dirasakan segelintir orang dan sejumlah besar lainnya justru terjerumus ke jurang kemiskinan. (e) urbanisasi Belanja transfer merupakan distribusi pendapatan (transfer pendapatan sebagai suatu persentase dari pendapatan nasional). Structural Adjustment Program (SAP) yang dibuat oleh badan keuangan internasional yaitu IMF dan World Bank untuk membantu negara-negara berkembang menyebabkan pengeluaran negara dalam sektor publik berkurang dan dialihkan ke sektor swasta. karena itulah diperlukan pembangunan ekonomi. Amartya Sen berpendapat bahwa kemisikinan bukan saja terjadi karena kekurangan sumber daya tetapi juga kurangnya entitlement. sehingga harga jual barang dan jasa semakin meningkat. Amerika Serikat menganut paham liberal dalam hal penyediaan kesejahteraan yang tercermin dalam konsep individualisme. yaitu: (a) Distribusi pendapatan yang dilakukan untuk mengatasi ketimpangan pendapatan karena peningkatan pendapatan per kapita. (c) perubahan populasi. Jika dilakukan penyesuaian atau perbaikan atas ketimpangan tersebut. dan pandangan miring mengenai kemiskinan. Sistem kesejahteraan di Perancis dirancang berdasarkan prinsip solidaritas. jika pendapatan rata-rata . (b) perubahan teknologi. Faktor-faktor yang mempengaruhi belanja barang dan jasa antara lain: (a) pertumbuhan pendapatan per kapita. Jika pendapatan rata-rata meningkat.

seberapa besar manfaat yang dapat diberikan bagi mereka yang berpenghasilan rendah. Bobot ditentukan dari kejadian yang ditunjukkan oleh perilaku di masa lalu. Aspek keadilan dalam belanja publik untuk menentukan kebijakan proyek dipengaruhi oleh pertimbangan sebagai berikut: (a) Distribusi pendapatan. (d) belanja perlindungan umum. (f) belanja perlindungan lingkungan. (e) belanja urusan ekonomi. (b) membantu mereka yang terpinggirkan/tertinggal dalam proses pertumbuhan ekonomi. (b) . (h) belanja kesehatan. penilaian proyek yang didasarkan pada permintaan konsumen akan dipandang layak dari segi sosial. Prinsip pareto optimum mengatakan bahwa proyek dikatakan efisien jika memberi manfaat paling tidak kepada satu orang dan tidak merugikan orang lain. Jika distribusi pendapatan optimal. terdapat dua pendekatan: (a) broad targetting atau pentargetan secara luas. Tetapi jika distribusi pendapatan tidak optimal. Pada kenyataannya prinsip ini sangat susah dicapai. (g) belanja perumahan dan public utilities. (j) belanja pendidikan. penggunaan bobot distribusi dalam perhitungan biaya-manfaat dapat digunakan. budaya. (b) belanja pertahanan. (b) Fungsi obyektif. Inti dari distribusi pengeluaran publik. pentargetan jasa atau komoditi yang paling banyak dikonsumsi. (c) membantu mengatasi masalah kerentanan (vulnerability). Perencanaan proyek berlangsung dalam ketidakpastian dan risiko ketidakpastian manfaat di masa yang akan datang akan mengurangi nilai sekarang dan harus diperhitungkan dalam perencanaan pengeluaran investasi pemerintah. (k) belanja perlindungan sosial. dan agama. yaitu: (a) mengutamakan pertumbuhan ekonomi yang berpihak pada kaum miskin/marginal. sebagai alat untuk menghitung pembobotan dalam rangka memaksimalkan kesejahteraan sosial. Cara memenuhi kebutuhan publik dengan anggaran yang terbatas adalah dengan melakukan “targetting” yaitu mengarahkan belanja publik untuk memenuhi kebutuhan kelompok masyarakat yang membutuhkan. Analisis manfaat biaya harus dibuat dalam berbagai alternatif untuk mengatasi risiko perubahan ekonomi ini. sehingga cara yang paling tepat adalah dengan mendistribusikan beban pajak sedemikian rupa sehingga tidak seorang pun mengalami kerugian bersih. (c) belanja pertahanan.322 Bab 14: Kebijakan dan Struktur Belanja Publik § § § § § § meningkat maka kebutuhan untuk pendistribusian kembali pendapatan akan menurun. Government Finance Statistics Manual menguraikan klasifikasi belanja menurut fungsi pemerintah sebagai berikut: (a) belanja jasa publik umum. (i) belanja rekreasi.

Mengapa analisis manfaat biaya harus dibuat dalam berbagai alternatif saat dimulainya proyek? . Apa yang dimakud dengan kondisi distribusi optimal? 9. faktor pengeluaran dari transfer posisi pendapatan. Apa yang dimaksud dengan prinsip Pareto Optimum? 7. Bagaimana membuat efisiensi proyek tetap ada walaupun ada pihak yang dirugikan? 8. Sebutkan faktor-faktor penyebab pertumbuhan belanja publik dari : a. Apa manfaat fungsi objektif dan apa yang dimaksud bobot? 10. b. Apa yang dimaksud dengan distribusi pendapatan. (b) behavioural approaches (pendekatan perilaku). Jelaskan mengapa pertumbuhan pendapatan per kapita bisa membuat belanja publik mengalami peningkatan dan dapat juga mengalami penurunan! 3. Bagaimana cara mengestimasi manfaat dari hasil yang berisiko? 12. Informasi mengenai dampak distribusi yang dapat membantu untuk memilih prioritas belanja publik dapat diperoleh dengan melakukan dua metode pengukuran.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 323 § targetting secara sempit. 2. terfokus pada manfaat rata-rata dari belanja publik dimana kesimpulan kebijakan atas reformasi belanja publik didasari oleh dampak atas margin perubahan tersebut. dan sebutkan apa saja yang mempengaruhinya! 6. Mengapa perubahan biaya jasa publik berpengaruh terhadap belanja publik? 5. tetapi bukan berarti belanja publik dalam pendapatan nasional meningkat? 4. Sebutkan klasifikasi belanja publik menurut fungsi pemerintah! 11. Mengapa meskipun biaya jasa publik menjadi lebih mahal. menggunakan ekonometri maupun metode eksperimental. faktor belanja dan jasa. menargetkan individu atau keluarga yang masuk kategori miskin. LATIHAN 1. yaitu: (a) benefit incidence studies.

324 Bab 14: Kebijakan dan Struktur Belanja Publik 13. Sebutkan yang termasuk dalam kategori belanja pertahanan! 15. Bagaimana jika distribusi pendapatan tidak optimal? . Sebutkan yang termasuk dalam belanja urusan ekonomi! 14.

untuk lebih fokus pada pembahasan materi. Sehingga. belanja pendidikan dan perlindungan lingkungan berupa pembangunan taman rekreasi.KEBIJAKAN BELANJA PUBLIK SEKTOR-SEKTOR UMUM Dalam bab ini akan dibahas lebih rinci berbagai jenis belanja serta masalahmasalah yang ditimbulkannya. Pembahasan akan dimulai dari jenis belanja pertahanan nasional. pendekatan pengelompokan sektor diasumsikan mengacu pada laporan-laporan Bank Dunia. akan tetapi sektor-sektor yang dibahas disini didasarkan pada klasifikasi Bank Dunia. pembangunan jalan raya. dengan melihat pengalaman-pengalaman empiris di berbagai negara. PERLUNYA ANALISIS SEKTOR Banyak pendapat tentang pengelompokan pengeluaran publik kepada sektor. .

prioritas. . dan hubungan antar sektor di antara proyek dan program yang dilaksanakan pemerintah. Perencanaan yang berhasil memerlukan penerjemahan tujuan dan kebijakan sektor ke dalam kebutuhan sektor dan subsektor secara individual dan juga ke dalam rincian yang lebih detail pada proyek-proyek tertentu. dan kebutuhan investasi untuk sektor secara keseluruhan sebagai masukan bagi keputusan badan perencana mengenai program dan prioritas investasi nasional. § Menentukan prioritas investasi dalam rangka identifikasi proyek-proyek khusus lain dan studi pra investasi tambahan yang diperlukan. Ada beberapa cara atau metode yang dapat digunakan dalam analisis sektor: § Melengkapi cakupan ekonomi makro dengan menganalisis pengaruh terhadap sektor. meskipun akhirnya dilampaui oleh pertumbuhan program sosial. Dalam dekade tersebut.326 Bab 15: Kebijakan Belanja Publik Sektor-sektor Umum Tujuan analisis sektor menyangkut beberapa tujuan: § Membantu pertimbangan strategis dan kebijakan untuk seluruh perekonomian. tujuan analisis sektor adalah untuk menjembatani kesenjangan antara kebijakan ekonomi makro tingkat nasional. selama tahun 80-an. variabel-variabel kebijakan umum seperti nilai tukar. Analisis sektor diperlukan untuk menjawab pertanyaan tentang pilihan. lapangan kerja. § Mengevaluasi kapasitas lembaga-lembaga tiap sektor dalam melaksanakan kebijakan-kebijakan publik. subsektor dan proyek. kebijakan upah dan tingkat bunga. PERTAHANAN NASIONAL Di Amerika Serikat. perubahan kebijakan dan kelembagaan perlu berprestasi baik pada tingkat proyek atau tingkat ekonomi mikro. § Analisis sektor memberikan perkiraan potensi hasil. struktur pajak. § Memungkinkan penilaian strategis dan kebijakan pembangunan sektor yang mendorong kontribusi sektor terhadap pembangunan ekonomi negara. § Analisis sektor membantu menjamin bahwa proyek-proyek individu terpilih didasarkan pada perencanaan dasar kebutuhan dan prioritas sektor. Dengan demikian. belanja pertahanan nasional merupakan kontributor utama terhadap pertumbuhan anggaran. program-program investasi dan kebijakan ekonomi mikro dari proyek individu.

sangat sulit memperkirakan apakah akan ada pembatasan persenjataan strategis dengan melakukan pemotongan anggaran. laut. seseorang dapat saja memandang kebijakan tersebut defensif.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 327 belanja pertahanan menjadi faktor utama anggaran pemerintah dalam pembelian barang dan jasa dari swasta. tapi orang lain dapat berpandangan bahwa kebijakan tersebut ofensif. operasi dan pemeliharaan. maupun Administrations Strategic Defensive Initiative (sering disebut perang bintang) sampai sekarang masih dipertentangkan oleh para ilmuwan. regional atau internasional. Belanja pertahanan selain menghadapi masalah yang kompleks dalam perencanaan. mengingat risikonya yang sangat tinggi. Keputusan politik memegang peranan sangat penting dalam menentukan pola kebijakan pertahanan ini meskipun menjadi kebijakan yang sulit diperkirakan. apakah harus memodernisasi kekuatan strategis ataukah harus membangun kekuatan strategis baru. ruang lingkup nasional. udara dan marinir. Masalah Utama dalam Belanja Pertahanan Masyarakat tidak dapat menyediakan sendiri keamanan bagi dirinya dan proteksi yang diberikan haruslah secara kolektif. pembelian barang dan jasa. juga melibatkan masalah-masalah kebijakan luar negeri. dan pemilihan sistem persenjataan tertentu. mulai dari landbased missiles. Alasannya. penelitian dan pengembangan. Masalah lainnya adalah menyangkut keseimbangan antara angkatan darat. perencanaan pertahanan nasional harus menemukan keseimbangan antara senjata konvensional dan modern. Suatu kebijakan pertahanan dapat dipandang sebagai kebijakan subyektif. Perdebatan yang muncul di Amerika Serikat tentang sistem persenjataan. Yang paling penting. masalah kekuatan militer tidak hanya meningkatkan akibat pengrusakan tetapi juga bisa mencegah konflik yang menimbulkan pengrusakan. sehingga contoh penyediaan jasa pertahanan menjadi contoh klasik yang dapat dibahas. mengingat peran Amerika dalam perang . Belanja pertahanan dibagi menjadi belanja personel. seperti kesediaan untuk menerima risiko konflik militer. Efektifitas Biaya Modernisasi Kekuatan Strategis Kebutuhan pertahanan nasional dan berbagai masalahnya memerlukan perancangan yang kesemuanya harus dipenuhi dengan seefisien mungkin. submarine-based missiles. Kelayakan proyek-proyek militer. Terakhir. Dengan melihat anggaran pertahanan Amerika Serikat saat ini.

Hanya sedikit yang menghubungkan bahwa sebetulnya peningkatan belanja pertahanan telah menciutkan sumber daya yang seharusnya disediakan untuk pembangunan. Pertumbuhan produktivitas jangka panjang akan tergantung pada peningkatan jumlah orang berbakat ilmiah dan kontribusi anggaran dalam peningkatan aktivitas ilmiah tersebut. seperti aerospace. konflik antara Israel dan Palestina serta adanya serangan teroris di seluruh penjuru dunia (terutama setelah serangan menghebohkan pada tanggal 9 September 2001 yang terkenal dengan insiden 9/11) telah menjadi berita utama di seluruh surat kabar dunia. Sementara itu. ketidakstabilan makin terasa di dunia ini.seperti komputer namun di lain pihak. Di lain pihak. seperti Amerika Serikat. terserapnya bakat ilmiah oleh industri pertahanan akan menyebabkan industri swasta tersebut ke arah penurunan. Dampak pertama terjadi pada besarnya pengeluaran untuk pengadaan struktur industri serta pertumbuhan produktivitas dalam bidang peralatan pertahanan. Dampak Terhadap Industri Karena pertahanan merupakan kontributor utama dalam defisit anggaran pemerintah federal AS. sektor ini secara nyata juga mendukung kesempatan kerja di sektor swasta. misalnya Jerman dan Jepang.328 Bab 15: Kebijakan Belanja Publik Sektor-sektor Umum melawan terorisme sangat besar bahkan menjadi sponsor bagi program internasional ini. dampaknya terhadap perkenomian negara layak dilakukan pembahasan. ternyata mengalami pertumbuhan produktivitas yang lebih cepat dibanding dengan negara dengan persentase belanja pertahanan yang lebih besar. dan pabrik persenjataan elektronik. Terdapat pergeseran dari permintaan swasta untuk barang konsumsi dan perumahan kepada pembelian pemerintah untuk sektor pertahanan. Dampak Terhadap Pertumbuhan Produktivitas Program riset dan pengembangan yang dilakukan untuk kepentingan pertahanan nasional berpengaruh besar terhadap perkembangan teknologi dan pertumbuhan produktivitas. Bukti empiris menunjukkan bahwa negara dengan persentase belanja pertahanan terhadap pendapatan nasionalnya kecil. Dari satu pihak. produktivitas yang ditimbulkan oleh sektor pertahanan akan dialihkan ke sektor swasta . pabrik pembuatan kapal laut. Millenium Development Goals (yang dicanangkan untuk mengurangi kemiskinan di dunia menjadi 50% dari jumlah sekarang pada tahun 2015) dan program-program penghapusan kemiskinan terasa terpinggirkan. Tahun 2004 telah ditandai dengan meningkatnya belanja . BELANJA PERTAHANAN DAN MASALAH PEMBANGUNAN Perang di Irak dan di Afganistan. Industri pertahanan mencakup sektor manufaktur.

Namun demikian. yang membuat era ini merupakan masa terpanjang bagi pertumbuhan ekonomi AS. Dividen Perdamaian Sama dengan yang dilakukan oleh banyak negara lainnya. Kuwait. belanja militer AS untuk perang di Irak dan di Afganistan telah membuat anggaran belanja AS defisit. yaitu 8% dan 6. kesehatan dan pembangunan sosial. Namun demikian. masalah pokok tidak hanya terdapat pada terlalu banyaknya uang yang dibelanjakan untuk peralatan dan personel militer. uang tersebut seringkali dibelanjakan ke tempat yang salah. Namun demikian. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa prospek perekonomian AS dan seluruh dunia tampaknya tidak begitu baik. membuat AS menjadi lokomotif ekonomi dunia. Setelah 1998 sampai buku ini dibuat tahun 2005. Jepang. analisa yang cukup terpercaya mengungkapkan bahwa pengurangan belanja militer AS mengakibatkan menurunnya defisit pemerintah dan tingkat bunga pada tahun 90an. pada tahun 2001 lima negara Timur Tengah yaitu Israel. Belanja pertahanan dan militer merupakan masalah pembangunan. total belanja pertahanan dan militer telah mengalami kenaikan kembali. antara tahun 1988 sampai dengan 1998. Burundi dan Ethiopia juga membelanjakan lebih dari AS. yaitu antara 8% sampai 13% dari GDP mereka untuk militer. Namun demikian. Pertumbuhan ini telah memberikan dampak positif terhadap perekonomian global. Setelah berakhirnya perang dingin. peningkatan belanja militer dalam persentase atas GDP berhubungan dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi.2% dari GDP mereka untuk militer. Apabila tujuan utama dari belanja publik adalah untuk meningkatkan keamanan dan pembangunan manusia. Perang Irak yang diawali dengan serangan Inggris dan Amerika Serikat ke Irak telah menambahkan total belanja pertahanan dan militer secara signifikan. Dampak menguntungkan dari pengurangan belanja pertahanan AS ini sebetulnya akan dapat lebih dinikmati oleh negara-negara miskin kalau saja Bretton Woods Institution (World Bank dan IMF) tidak memaksakan kebijakannya. Saudi Arabia membelanjakan lebih dari jumlah tersebut. negara ini juga mengurangi belanja pemerintah.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 329 pertahanan dan militer seluruh dunia dan kurangnya pengeluaran untuk mengatasi tantangan kesejahteraan masyarakat dan pembangunan manusia. Pada tahun 2003. belanja militer mengganggu belanja pendidikan. banyak negara berkembang yang membelanjakan lebih besar bagian dari sumber daya nasionalnya untuk belanja pertahanan dibandingkan dengan negara-negara maju tersebut di atas. belanja pertahanan seluruh dunia telah meningkat sebanyak US$ 800 milyar. yang disinyalir mencapai tiga perempat dari total kenaikan belanja pertahanan dan militer dunia antara tahun 1996 dan 2002. Amerika Serikat menandai akhir perang dingin dengan pengurangan besar-besaran atas belanja militernya pada tahun 90an. belanja pertahanan dan militer dalam jumlah besar ini tetap merupakan satu hal yang menjadi keprihatinan pemerhati negara berkembang. Apabila kita melihat perbandingan antara belanja pertahanan terhadap sumber daya nasional. belanja pertahanan dan militer seluruh dunia mengalami penurunan drastis selama sepuluh tahun. Perancis dan Jerman. sifat ketidakamanan (insecurity) telah berubah. India dan Cina yang termasuk negara berkembang telah meningkatkan belanja pertahanan dan militernya sebanyak 18% dan 9%. dan tahun 2003 diperkirakan total belanja pertahanan dan militer melebihi satu trilyun dolar AS. Amerika Serikat membelanjakan 6% dari GDPnya untuk belanja pertahanan dan militer. Selama beberapa puluh tahun terakhir ini. baik dari sisi kemanusiaan maupun sisi ekonomis. Insecurity tidak lagi terutama bersumber dari negara . juga bila tidak ada konflik lokal di tingkat regional negara-negara miskin tersebut. Yordania. yang menyebabkan banyak orang merasa bahwa dividen perdamaian tidak terlaksana. Lima belas negara yang belanja pertahanan dan militernya teratas di dunia adalah negara maju seperti Amerika Serikat. antara lain perlu dicatat bahwa pada negara-negara miskin. Antara tahun 1998 dan 2002. dan pertambahan ini didominasi oleh kenaikan belanja pertahanan dan militer Amerika Serikat. Dari sisi ekonomis. Inggris. Pada saat yang sama. Pengurangan defisit ini merupakan pendorong utama bagi pertumbuhan ekonomi AS tahun 90an. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa negara-negara berkembang tersebut di atas baru saja keluar dari kemelut dan peperangan. Seperti hasil penelitian yang dilakukan oleh IDS. mengingat bahwa peningkatan belanja militer di satu negara di dunia akan mempunyai dampak terhadap kesejahteraan dan penghidupan bangsa lain (yang bukan saja bersumber dari serangan yang dilancarkan oleh negara yang belanja militernya meningkat tersebut terhadap bangsa lain). Dari sisi kemanusiaan. dengan trend yang terus meningkat. dimana hal ini sangat menguntungkan (baik secara nyata maupun secara potensial) negara-negara miskin. Namun demikian.

juga untuk menyikapi kenyataan masa kini dimana hanya ada satu negara adikuasa. Pendekatan ini dikenal dengan nama human security approach. Setiap negara perlu memilih mana yang akan dijadikan prioritas. paling banyak dilakukan pada tingkat negara bagian. termasuk jalan antar negara bagian. Dengan berubahnya konteks permasalahan. Human security approach inilah yang mendasari banyak lembaga non pemerintah internasional seperti Oxfam International mengadakan kampanye untuk mengingatkan pemerintah negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Inggris untuk tidak menjual peralatan militer kepada negara-negara berkembang. Hal yang mutlak untuk dilaksanakan adalah menganalisa dengan menjabarkan berbagai pilihan yang tersedia untuk mengalokasikan sumber daya. tanpa memperhatikan dan mengatasi akar masalah dari tingginya belanja militer: lemahnya pemerintahan. yang terdapat dalam bentuk kejahatan perkotaan. § Jalan raya membutuhkan pembiayaan yang sangat besar. dimana negara tersebut merasakan manfaat yang besar dari menghapuskan belanja militer dan mengalokasikannya secara langsung kepada sektor kesehatan. Ancaman utama saat ini lebih banyak merupakan ancaman terhadap human insecurity. Kerjasama Antar Unit Pemerintah Pengeluaran untuk jalan raya di Amerika Serikat. § Perkiraan pajak yang besar. Di pihak lain. malaria. Perlucutan senjata dan pembangunan masa kini memerlukan pendekatan baru. Sebagian yang lain dilakukan oleh pemerintah federal dengan mentransfer hampir seluruh penerimaannya melalui grant kepada tingkat pemerintah di bawahnya dan sebagian besar diterima oleh negara bagian. pemerintah daerah dan antar pemerintah daerah lainnya. maka respon yang diberikan tentunya juga harus berubah. bencana alam dan lain-lain yang bersumber dari berbagai hal namun memiliki dampak yang sama: membuat hidup banyak orang terancam dan menjadi makin rentan. Namun demikian. Analisa semacam ini tidak mudah dan tidak akan pernah mudah. dominasi militer dalam pengambilan keputusan dan tidak adanya pertanggungjawaban publik. pengungsian. banyak pihak juga mengecam tindakan beberapa negara donor yang mempersyaratkan negara berkembang untuk melakukan pengurangan senjata dan pengurangan belanja militer dan pertahanan.330 Bab 15: Kebijakan Belanja Publik Sektor-sektor Umum tetangga karena masalah pertikaian perbatasan dengan negara tetangga sebagai musuh yang jelas. setelah menimbang-nimbang berbagai kombinasi pilihan yang paling tepat untuk mengatasi human insecurity. terhadap faktor-faktor baru. saat ini pemerintah baik negara maju maupun negara berkembang perlu mengalokasikan sumber dayanya untuk mengatasi tantangan yang paling mengancam kesejahteraan warganya. JALAN RAYA Keunikan sistem jalan raya sebagai barang publik menyangkut tiga hal yaitu: § Kerjasama yang rapi antara pemerintah pusat. pendidikan dan sektor lain yang berkaitan langsung dengan pembangunan manusia. HIV/AIDS. yang berkaitan dengan ancaman baru (dan terus berubah) terhadap keamanan. dengan alasan bahwa akan jauh lebih bermanfaat bagi negara-negara ini apabila dana tersebut dialokasikan ke sektor kesejahteraan. TBC. negara produsen peralatan militer perlu juga menimbang-nimbang antara pentingnya memperoleh pendapatan dari penjualan senjata dibandingkan dengan komitmen mereka untuk mendukung pembangunan berkelanjutan. Karena itulah. Namun pengalaman negara seperti Costa Rica dapat dijadikan contoh. Sedangkan pemerintah lokal bertanggung jawab terhadap jalan raya di daerahnya. Pembagian kerja dan . dan kekerasan berbasis gender.

maupun pemerintah lokal lainnya. Sedangkan pada tingkat pemerintah lokal. Untuk tingkat federal.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 331 pembiayaan ini menunjukkan perhatian yang besar dari pemerintah. dan apakah sebaiknya pemerintah memberikan bantuan kepada lembaga pendidikan swasta juga. bagaimana proses pengajaran berlangsung. jalan raya dibiayai dari general fund. Negara bagian pada umumnya mempunyai kebebasan yang cukup memadai dalam merancang struktur fiskal masing-masing dan dalam mengendalikan . terutama dibiayai oleh pemerintah lokal dan negara bagian meskipun pengendalian sistem pendidikan tetap berada di bawah pemerintah lokal. penerimaan jalan raya diperoleh dari retribusi dan pajak kendaraan bermotor. yang salah satunya berasal dari pajak atas kekayaan yang dimiliki penduduk lokal serta dari pembebanan khusus lainnya. Swasta ikut memberikan andil membiayai pendidikan juga meskipun kontribusinya tidak sebesar pemerintah. Pada tingkat negara bagian. meskipun tidak terlalu besar karena pendidikan pada dasarnya tetap merupakan jasa publik yang harus disediakan oleh pemerintah. penerimaan berasal dari pajak bahan bakar. Pemerintah federal juga ikut membiayai pembangunan pendidikan. yaitu penghasilan yang ditransfer dari Highway Trust Fund dalam bentuk grant antar pemerintahan. Dana negara bagian yang disalurkan kepada pemerintah lokal dalam bentuk bantuan dan subsidi terutama untuk mendanai pendidikan tingkat tinggi. Penerimaan dari tarif tol tidak terlalu siginifikan dibanding dengan sumber pendanaan lainnya. PENDIDIKAN Anggaran pendidikan di Amerika Serikat. Pembiayaan Melalui Pungutan Kepada Pemakai Pembangunan jalan raya sebagian besar didanai oleh pemakai jalan. siapa yang berhak memperoleh pendidikan. Masalah-Masalah Kebijakan Pendidikan Permasalahan yang ada dalam kebijakan pendidikan menyangkut apa yang seharusnya diajarkan di sekolah negeri (kurikulum). negara bagian. yang selanjutnya dipakai untuk membangun jalan negara bagian dan sebagian lainnya ditransfer ke pemerintah lokal dalam bentuk grant. baik federal.

perlu adanya komitmen pemerintah untuk mereformasi belanja publik dan sektor swasta. Studi ini menemukan bahwa tingginya angka masuk sekolah berkaitan tidak hanya pada belanja publik untuk pendidikan dasar melainkan juga dengan adanya unit cost yang jelas dan sederhana. tidak ada keharusan menurut konstitusi bahwa pendidikan harus sebanding di seluruh negara bagian. Dengan cara ini. kelayakan proyek dihitung berdasarkan rencana tarif yang . Pada tingkat ini. tidak seperti jalan raya yang bersifat barang antara. Hal ini telah mendapat dukungan undang-undang di negara bagian dan telah pula diakui oleh Mahkamah Agung bahwa setiap warga negara berhak atas perlakukan yang sama dalam bidang pendidikan. akan tetapi merupakan persoalan politik. Studi yang dilakukan oleh Institute of Development Studies di Inggris pada tahun 2004 menganalisa belanja publik bagi sektor pendidikan di subSaharan Afrika dan Asia Selatan. Pendidikan dasar dan menengah sebagian besar disediakan oleh pemerintah melalui sekolah negeri. Penganjur pendidikan berpendapat bahwa pendidikan merupakan kepentingan umum sehingga harus disediakan oleh pemerintah. Pengukuran cara pertama dengan menghitung pungutan kepada pemakai. serta memberikan prioritas yang tinggi terhadap pendidikan dasar. Namun demikian. manfaat bagi masyarakat di sekitarnya dan manfaat lain .332 Bab 15: Kebijakan Belanja Publik Sektor-sektor Umum pemerintah lokal yang secara langsung bertanggung jawab dalam penyediaan pendidikan. Persoalan pendidikan bukanlah hanya persoalan fiskal saja. akan tetapi mereka juga setuju bahwa tidaklah berarti bahwa pendidikan harus disediakan oleh sekolah negeri. Problem utama dalam penyediaan fasilitas rekreasi adalah seberapa besar manfaat barang tersebut dapat dinikmati oleh publik. Fasilitas rekreasi merupakan barang publik yang bersifat barang akhir atau barang konsumsi. meningkatkan efisiensi. Persaingan yang dapat dilakukan oleh sekolah-sekolah swasta perlu didukung dengan kebijakan dalam menjamin persaingan yang sehat oleh pemerintah. Pengukuran manfaat atas barang ini dapat dilakukan dengan berbagai cara. Hasil yang efisien akan dapat diperoleh jika terdapat persaingan yang sehat antara lembaga pendidikan negeri dan swasta. Konsumen pendidikan mengharapkan pemberian pendidikan yang sama atau paling tidak ada standar minimum. timbul perdebatan tentang perlunya monopoli pemerintah atas sekolah pada tingkatan itu. Masalah pokok yang juga timbul adalah berkaitan dengan tingkat kualitas pendidikan.seperti keindahan alam. dengan fokus utama pada pendidikan dasar. agar pendidikan dasar dapat dicapai oleh semua anak usia sekolah. FASILITAS REKREASI Pembangunan fasilitas rekreasi memberi manfaat ganda yakni manfaat bagi pemakai. Karena itulah.

yang penting bagi seluruh dunia sepanjang masa. Selain berbagai manfaat di atas. dapat dilakukan pembobotan dalam menilai waktu para pemakai fasilitas ini dengan membandingkan efisiensi dari setiap alternatif penggunaan dana. hal ini dapat dianggap sebagai subsidi untuk jenis jasa swasta. irigasi.misalnya pada saat berbagai negara menyepakati suatu strategi internasional untuk menanggulangi penyakit menular. Barang publik bisa juga dapat menjadi global melalui konsensus atau kesepakatan dunia. proyek sumber daya air dapat mempunyai manfaat ganda. perlu juga dipertimbangkan manfaat dalam bentuk lain dari suatu fasilitas rekreasi. Fasilitas rekreasi merupakan barang publik sehingga penilaian dan pembobotan sosial atas fasilitas rekreasi harus lebih diutamakan. Dan. Contoh lain adalah sebuah bendungan dapat dinilai manfaatnya sebagai pembangkit tenaga listrik. selain ditujukan untuk rekreasi. meski pun bukan satu-satunya cara. pengendalian banjir. atau mengamankan hak cipta.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 333 akan dibebankan kepada para pengguna yang kemudian dibandingkan dengan biaya proyek. Misalnya lapisan ozon di cakrawala. Tujuan non finansial tertentu. meskipun tidak dapat diukur dengan mudah melalui pengujian pasar. ada cara ketiga dengan analogi fasilitas swasta yang menarik iuran dari para anggotanya sebagai dasar penghitungan manfaat. . kurva permintaan dapat disimulasikan sehingga dapat dijadikan dasar pengukuran manfaat. Dari penghitungan tersebut. selain untuk rekreasi juga dapat digunakan untuk konservasi sumber daya air. Cara kedua adalah dengan melakukan penghitungan kesediaan membayar para pemakai untuk penyediaan fasilitas rekreasi. yang mengacu pada barang publik yang kegunaannya mendunia atau bisa bermanfaat tidak saja bagi satu kelompok masyarakat tertentu melainkan bagi seluruh dunia dan berbagai generasi. GLOBAL PUBLIC GOODS Penjelasan mengenai public goods sudah Anda dapatkan pada bab terdahulu. bukan penilaian seperti yang dilakukan dalam pengadaan fasilitas swasta. Kemudian. Saat ini. harus dipertimbangkan. misalnya keindahan alam dan margasatwa. Sebagai alternatif. Sebagai contoh. di era globalisasi ada istilah global public goods. Analisis pasar dapat digunakan dalam penilaian manfaat atas fasilitas rekreasi. Cara lain adalah dengan penghitungan manfaat yang dapat dilakukan dengan menghitung biaya yang dikeluarkan oleh pemakai dalam melakukan rekreasi keluar rumah.

barang dan jasa publik sebaiknya diserahkan pada sektor swasta. Tidak ada jasa yang luput dari privatisasi: perbankan. menurut data World Bank (2001). tanpa menghiraukan misi sosial dalam pelaksanaannya. tugas pemerintah hanya mengawasi. merupakan fenomena yang umum terjadi di dunia ini. Misalnya. manajemen yang lebih profesional dan penggunaan teknologi yang lebih canggih. keputusan untuk melakukan privatisasi seringkali merupakan keputusan yang kontroversial. Karena itulah. Namun demikian. air. pendidikan. menurut mereka. telekomunikasi. dan biarkan mekanisme pasar yang menentukan. dan transportasi seringkali dialihkan ke sektor swasta oleh pemerintah pusat maupun daerah. pertanian dan kehutanan. Argumentasi ini berakar dari ketidakpercayaan mereka terhadap kinerja pemerintah yang dinilai lamban dan tidak efisien. terutama dari kaum neo-liberalist. terutama bila pemerintah menyerahkan pengelolaan air minum dan listrik kepada sektor swasta. privatisasi termasuk salah satu yang dianjurkan oleh lembaga keuangan internasional seperti World Bank dan IMF bagi negara-negara berkembang. Alasan lain adalah harapan bahwa pihak swasta akan dapat mengelola perusahaan-perusahaan tersebut dengan lebih efisien. barang tambang. listrik. Walaupun trend untuk melakukan privatisasi di negara maju telah dimulai pada tahun 80-an. migas.334 Bab 15: Kebijakan Belanja Publik Sektor-sektor Umum PRIVATISASI BARANG PUBLIK Penyediaan barang publik oleh pemerintah saat ini banyak mendapat tantangan. memberikan pelayanan yang lebih baik daripada negara dengan suntikan dana segar. Salah satunya adalah untuk menyelamatkan perusahaan negara yang terus menerus merugi dan menghabiskan keuangan negara. Oleh karena itu. 40 persen dari pendapatan negara-negara maju yang didapat dari privatisasi pada tahun 1999 diperoleh dari penjualan hak atas pertambangan migas. dengan menjual sumber daya alam. belum lagi ditambah dengan masalah korupsi yang ditudingkan pada aparat pemerintah. Kekhawatiran yang ada menyangkut kemungkinan bahwa perusahaan swasta akan meningkatkan efisiensi perusahaan. dalam hal pemerintah tidak capable sebagai penyelenggara barang dan jasa publik. saat ini privatisasi juga telah menjadi praktek umum di negara berkembang. Alasan utama yang dikemukakan adalah bahwa market failure juga bisa terjadi dalam hal barang dan jasa publik diselenggarakan oleh pemerintah. kesehatan. Alasan privatisasi bisa berbagai macam. Privatisasi (yaitu penjualan barang publik) kepada pihak swasta. Kekhawatiran lain yang lebih mendasar adalah apabila privatisasi atau swastanisasi ini . Misalnya dengan meningkatkan harga air dan tarif dasar listrik tanpa memandang kemampuan masyarakat.

40. World Bank menyatakan “ Manajemen sumber daya air yang efektif haruslah memperlakukan air sebagai “komoditas ekonomis” dan “ partisipasi swasta dalam penyediaan air umumnya menghasilkan hasil yang efisien. Komite ini juga menyatakan bahwa air adalah harus diberlakukan sebagai barang sosial dan kultural. Baik World Bank dan ADB dalam “Kebijakan Air”-nya mendorong diterapkannya mekanisme harga yang mengadopsi Full Cost Recovery. 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air tersebut memberi ruang bagi peran swasta dalam penyelenggaran air. 1995). yang berkaitan dengan pasal tersebut. 1992). 41. Sosial. Privatisasi Air Minum Salah satu contoh privatisasi barang publik yang sedang menjadi sorotan masyarakat akhir-akhir ini adalah pengelolaan air. “Bumi. Jepang. menunjukkan bahwa privatisasi dapat membuat kenaikan harga yang mempersulit akses rakyat miskin untuk mendapatkan air bersih. dan bukan komoditas ekonomi belaka. 10. Konferensi Dublin mengenai Air dan Lingkungan di tahun 1992 menyatakan bahwa hak dasar (basic right) yang pertama bagi semua umat manusia adalah akses kepada air dan sanitasi dengan harga yang terjangkau (FAO. Undang-undang ini juga memungkinkan penguasaan sumber-sumber air oleh pemodal. Undang-Undang Sumber Daya Air ini merupakan persyaratan pencairan pinjaman ketiga proyek WATSAL tersebut. Oleh karena itulah. Konsep hak guna. 80. 7/2004 tersebut mengingkari penghargaan terhadap hak asasi manusia dan welfare state. maupun pengelolaan sumber-sumber air di pedesaan oleh swasta. air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah sesungguhnya masih memiliki kewajiban yang besar untuk memenuhi hak dasar rakyat Indonesia atas air. Undang-Undang No. menyatakan bahwa 80 persen populasi belum memiliki akses kepada air yang mengalir (running water).Menurut World Bank. dan Budaya) PBB pada bulan November 2002. Kalimat tersebut mengandung makna tanggung jawab negara untuk menjamin dan menyelengarakan penyediaan air yang menjangkau setiap individu warga negara. dengan diberikannya Hak Guna Usaha kepada individu dan badan usaha. air yang diperoleh masyarakat saat ini masih berada di bawah harga pasar dan perlu dinaikkan. Dengan demikian privatisasi. 26. dimana konsumen membayar harga yang meliputi seluruh biaya. Banyak perusahaan air swasta yang berkecimpung dalam bisnis air minum juga merupakan produsen air minum dalam kemasan. seperti di Cochabamba. identik dengan kenaikan harga tarif air. dan pasalpasal pelaksana lain. 45. peningkatan pelayanan. dan mempercepat investasi bagi perluasan jasa penyediaan” (World Bank. Bank dunia menyatakan harus ada perubahan kebijakan (policy reform) dalam pengelolaan air di Indonesia ke depan sebagai syarat dari pinjaman tersebut.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 335 menyangkut sumber daya alam yang merupakan hajat hidup orang banyak. Laporan Pemerintah Indonesia pada World Water Forum III di Kyoto. Bolivia oleh Bechtel Corporation. Pada tingkat internasional. sebagaimana yang telah terjadi di sejumlah negara. sebagaimana disebutkan dalam pasal 9. Pasal 33 ayat 2 tersebut menyatakan. dimana pengelolaan oleh sektor swasta tidak saja mengakibatkan harga yang mahal namun juga mengakibatkan sebagian masyarakat yang tidak mampu membayar tersingkirkan (excluded). Padahal. . banyak pihak beranggapan bahwa pasal-pasal dan ayat dalam UU No. Hak atas air yang setara juga diteguhkan dalam Ecosoc Declaration (Deklarasi Ekonomi. dengan disahkannya Undang-undang No. UUD 1945 pasal 33 ayat 2 menjamin hak dasar tersebut. undang-undang ini merupakan bagian dari syarat pencairan pinjaman ketiga proyek WATSAL (Water Sector Adjustment Loan) didanai bank dunia. Secara kronologis. Privatisasi air akan meliputi jasa penyediaan air di perkotaan. Pengalaman masa lalu tentang privatisasi air. memberlakukan air sebagai komoditas yang bernilai komersial.7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. yang merupakan hasil dari pemikiran liberal (pasar) dari bank dunia.

Kedua. (2) memungkinkan penilaian strategis dan kebijakan pembangunan sektor yang mendorong kontribusi sektor terhadap pembangunan ekonomi negara. Prinsip-prinsip konservasi dan pemeliharaan harus mendapatkan prioritas utama. Mekanisme lain yang menjamin hak dasar rakyat atas air dan perlindungan dari eksploitasi yang berlebihan akibat ketidaksempurnaan pasar harus terus dielaborasi dan direalisasikan. Analisis sektor diperlukan untuk menjawab pertanyaan tentang pilihan. masyarakat harus mulai belajar melakukan penghematan penggunaan air sebagai wujud pengakuan hak orang lain atas air. melakukan pengawasan dan kontrol yang ketat terhadap biaya modal dari suatu investasi swasta dalam pengusahaan sumber daya air untuk mencegah pembebanan harga/tarif yang berlebihan kepada publik. untuk dapat memenuhi kewajiban penyediaan air tersebut. penyediaan dana tersebut menjadi kendala tersendiri bagi pemerintah.336 Bab 15: Kebijakan Belanja Publik Sektor-sektor Umum Namun demikian. Pertama. mendorong otoritas-otoritas yang bertanggung jawab atas penyediaan dan pengusahaan air untuk menjalankan sistem yang transparan.Untuk mengatasi masalah ini. pemerintah membutuhkan dana sebesar Rp 5. Mekanisme ini dapat menjadi alat pemerataan keadilan jika dirancang secara baik dan tepat. Diperkirakan. prioritas. diperlukan sumber dana yang besar untuk pembangunan infrastruktur pengairan. Di tengah masalah ekonomi. Ketiga. (3) menentukan prioritas investasi dalam rangka identifikasi proyek-proyek khusus lain dan studi pra investasi tambahan yang diperlukan. Rumitnya pengelolaan penyediaan air ini bukan hanya milik Indonesia. perlu mekanisme subsidi yang terarah yang menutupi kesenjangan (gap) antara tingkat kemampuan membayar masyarakat dan harga penyediaan air yang wajar.1 triliun setiap tahun untuk menyediakan air bersih bagi 40 persen populasi sampai tahun 2015. Tantangan lainnya adalah bagaimana agenda-agenda reformasi sumber daya air dapat diarahkan pada upaya-upaya yang berwawasan lingkungan dalam rangka memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat dan menjamin ketersediaan air bagi generasi yang akan datang. Tujuan analisis sektor. Di lain pihak. jika tidak diatur dengan hati-hati. antara lain: (1) membantu pertimbangan strategis dan kebijakan untuk seluruh perekonomian. dan perawatan sumber daya air. RANGKUMAN § Pengeluaran publik dikelompokkan ke dalam sektor-sektor. dampaknya akan meningkatkan harga jual air yang justru dapat membatasi dan mengurangi akses masyarakat atas air bersih dan sanitasi. Prinsip pembuat polusi harus membayar mahal (polluters pay principle) harus diterapkan secara konsisten untuk mencegah kerusakan sumber daya air yang lebih luas. pemerintah perlu melakukan beberapa hal. dan hubungan antara sektor di antara proyek dan program yang dilaksanakan pemerintah. Akan tetapi. bertanggung jawab. dan melibatkan partisipasi publik yang efektif guna menjamin check and balances. Hal ini telah dialami oleh banyak negara berkembang lain. (4) mengevaluasi kapasitas lembaga-lembaga tiap sektor dalam melaksanakan kebijakan-kebijakan publik. pemulihan. Keterlibatan sektor swasta dalam berinvestasi di sektor ini mungkin dapat menjadi salah satu solusi. Contoh di mana telah terjadi kekerasan akibat privatisasi air ini dialami oleh wilayah Cochabamba di Bolivia. Tujuan analisis sektor adalah untuk menjembatani kesenjangan antara kebijakan ekonomi makro tingkat § .

Dampak besarnya belanja pertahanan bagi industri yaitu besarnya pengeluaran untuk pengadaan struktur industri serta pertumbuhan produktivitas dalam bidang peralatan pertahanan. Untuk negara bagian penerimaan diperoleh dari retribusi dan pajak kendaraan bermotor lalu sebagian ditransfer dalam bentuk grant kepada pemerintah lokal. laut. struktur pajak. masalah kebijakan luar negeri seperti kesediaan menerima resiko konflik militer. perencanaan yang kompleks. . yaitu: (1) kerjasama yang rapi antara pemerintah pusat. (3) analisis sektor membantu menjamin bahwa proyek-proyek individu terpilih didasarkan pada perencanaan dasar kebutuhan dan prioritas sektor. masalah pemilihan sistem persenjataan. Sistem jalan raya sebagai barang publik memiliki tiga hal keunikan. masalah keseimbangan antara angkatan darat. pemerintah daerah. Masalah utama dalam belanja pertahanan antara lain. dan kebutuhan investasi untuk sektor secara keseluruhan sebagai masukan bagi keputusan badan perencana mengenai program dan prioritas investasi nasional. Sementara untuk tingkat pemerintah lokal penerimaan diperoleh dari general fund. (2) jalan raya membutuhkan pembiayaan yang sangat besar. Sementara dampak terhadap pertumbuhan produktivitas yang didapat dari bukti empiris menunjukkan bahwa negara dengan persentase belanja pertahanan yang kecil mengalami pertumbuhan produktivitas yang lebih cepat dibandingkan negara dengan persentase belanja pertahanan yang lebih besar.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 337 § § § § § nasional. (3) perkiraan pajak yang besar. Pada tingkat federal di Amerika Serikat. sub sektor dan proyek. dan masalah kekuatan militer yang meningkatkan akibat pengrusakan. Metode yang dapat digunakan dalam analisis sektor: (1) melengkapi cakupan ekonomi makro dengan menganalisis pengaruh terhadap sektor. dan antar pemerintah daerah lainnya. (2) analisis sektor memberikan perkiraan potensi hasil. program-program investasi dan kebijakan ekonomi mikro dari proyek individu. diantaranya pajak atas kekayaan yang dimiliki penduduk lokal. pembangunan jalan raya dibiayai dari penerimaan yang berasal dari pajak bahan bakar. variabel-variabel kebijakan umum. seperti nilai tukar. yaitu penghasilan yang ditransfer dalam bentuk grant antar pemerintahan. lapangan kerja. kebijakan upah dan tingkat bunga. udara dan marinir. dan perubahan kebijakan dan kelembagaan perlu berprestasi baik pada tingkat proyek atau tingkat ekonomi mikro.

bagi pemakai. (b) melakukan penghitungan kesediaan membayar para pemakai untuk penyediaan fasilitas rekreasi.338 § Bab 15: Kebijakan Belanja Publik Sektor-sektor Umum § § § § § § Permasalahan dalam kebijakan pendidikan antara lain: (a) apa yang seharusnya diajarkan di sekolah negeri (kurrikulum). . Pembangunan fasilitas rekreasi memberi manfaat ganda. Fasilitas rekreasi merupakan barang akhir atau konsumsi sementara jalan raya merupakan barang antara. (c) analogi fasilitas swasta yang menarik iuran dari para anggotanya sebagai dasar penghitungan manfaat. Global Public Goods adalah barang publik yang kegunaannya mendunia atau bisa bermanfaat tidak saja bagi satu kelompok masyarakat melainkan bagi seluruh alam. Cara mengukur manfaat atas fasilitas rekreasi dapat dilakukan dengan cara: (a) kelayakan proyek dihitung berdasarkan rencana tarif yang akan dibebankan kepada pengguna lalu dibandingkan dengan biaya proyek. Barang publik bisa juga dapat menjadi global melalui konsensus atau kesepakatan dunia. (c) siapa yang berhak memperoleh pendidikan. kinerja pemerintah yang lambat dan tidak efisien dan masalah korupsi di tingkat pemerintahan. dan manfaat lain seperti keindahan alam. (e) melakukan pembobotan dalam menilai waktu para pemakai dengan membandingkan efisiensi dari setiap alternatif penggunaan dana. masyarakat sekitar. (d) apakah sebaiknya pemerintah memberikan bantuan kepada lembaga pendidikan swasta serta (e) tingkat kualitas pendidikan. kurva permintaan sebagai dasar pengukuran manfaat. Privatisasi (penjualan barang publik) dilakukan dengan berbagai alasan: (a) untuk menyelamatkan perusahaan negara yang terus menerus merugi dan menghabiskan keuangan negara. (b) harapan bahwa pihak swasta akan dapat mengelola perusahaan dengan lebih efisien. Contoh: lapisan ozon. Kaum neo-liberalist menginginkan agar penyediaan barang publik diserahkan kepada sektor swasta karena market failure juga bisa terjadi pada barang dan jasa publik yang diselenggarakan oleh pemerintah. memberikan pelayanan yang lebih baik dengan suntikan dana segar (c) manajemen yang lebih profesional dan (d) penggunaan teknologi yang lebih canggih. Perlu adanya kebijakan yang menjamin persaingan yang dilakukan sekolah-sekolah swasta. (b) bagaimana proses pengajaran berlangsung. (d) menghitung biaya yang dikeluarkan oleh pemakai dalam melakukan rekreasi ke luar rumah. Problem utama dalam penyediaan fasilitas rekreasi adalah seberapa besar manfaat atas barang ini dapat dinikmati oleh publik.

Mengapa belanja pertahanan diperlukan bagi suatu negara ? 13. LATIHAN 1. antara lain jika perusahaan swasta meningkatkan efisiensi tanpa menghiraukan misi sosial dengan menaikkan harga tanpa memandang kemampuan masyarakat dan mengakibatkan sebagian masyarakat yang tidak mampu membayar tersingkirkan (excluded). Jelaskan sistem/mekanisme kerjasama antar unit pemerintah dalam pengeluaran biaya untuk pengadaan fasilitas jalan raya ! 15. Jelaskan tujuan analisis sektor dan mengapa diperlukan ? 2. 10. Sebutkan keunikan sistem jalan raya sebagai barang publik ! 6. Apa yang dimaksud dengan cara pengukuran analogi fasilitas swasta ? 9. Mengapa suatu kebijakan pertahanan dapat dipandang sebagai kebijakan subjektif? 4. Mengapa persoalan pendidikan bukan hanya persoalan fiskal tetapi juga persoalan politik. Bagaimana bentuk pembiayaan di dalam pengadaan barang dan jasa milik umum khususnya jalan tol ? . Apa dasar pengukuran manfaat failitas rekreasi dengan cara pertama ? 11. Bagaimana dampak belanja pertahanan nasional terhadap industri ? 14.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 339 § Keputusan untuk melakukan privatisasi merupakan keputusan yang kontroversial karena menimbulkan beberapa kekhawatiran. Mengapa fasilitas rekreasi memberikan manfaat ganda ? 8. Jelaskan dampak terhadap pertumbuhan produktivitas atas belanja pertahanan nasional! 5. Sebutkan metode apa saja yang dapat digunakan dalam analisis sektor ? 3. Mengapa analisis sektor diperlukan ? 12. Jelaskan masalah-masalah yang ada dalam kebijakan pendidikan ! 7.

PROGRAM JAMINAN SOSIAL DI AMERIKA SERIKAT .KEBIJAKAN BELANJA PUBLIK DALAM TUNJANGAN SOSIAL Terdapat berbagai macam bentuk tunjangan sosial yang dikelola pemerintah. Sampai sejauh mana tingkat tunjangan diberikan tergantung pada kemampuan finansial masing-masing negara dan juga aliran pemikiran ekonomis negara tersebut. Berikut ini diuraikan kebijakan belanja publik dalam bentuk tunjangan sosial di Amerika Serikat (negara maju yang menganut sistem welfare state dalam arti bahwa negara hanya sebagai pengatur dan bukan pemain). serta di Indonesia sebagai sebuah negara berkembang yang masih mencari model yang cocok untuk kebijakan sosialnya.

Kriteria-kriteria tersebut antara lain adalah orang yang mempunyai pendapatan terbatas menurut kriteria SSA (Supplementary Security Income). Program ini biasanya dirancang dan dikelola oleh negara bagian dengan berpedoman pada standar ketentuan yang ditetapkan oleh pemerintah federal. serta semua orang yang berumur diatas 65 tahun. terdapat sejumlah program tunjangan yang ditujukan untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Jaminan Penghasilan Tambahan Tunjangan ini diberikan dalam bentuk pembayaran tunai kepada orangorang yang penghasilannya atau aset seseorang kurang dari jumlah minimum yang ditetapkan. Tunjangan Kesejahteraan . Bantuan diberikan dalam bentuk Medicare yaitu asuransi kesehatan yang preminya dibayar oleh pemerintah suatu negara. program ini diberikan melalui pemerintah lokal. Komponen-komponen utama program tersebut antara lain sebagai berikut: Medicaid Program ini ditujukan bagi semua orang yang memenuhi kriteria AFDC (Aid to Families with Dependent Children) yang sering disebut sebagai program kesejahteraan. Kupon Makanan Rumah tangga (tidak terbatas umur) berhak memperoleh kupon makanan jika mempunyai aktiva atau berpenghasilan kotor yang kurang dari nilai yang ditetapkan oleh pemerintah federal.342 Bab 16: Kebijakan Belanja Publik dalam Tunjangan Sosial Tunjangan kepada Penghasilan Rendah Di Amerika Serikat. Program ini dikelola oleh pemerintah federal. Perumahan Murah Program ini merupakan program pemerintah federal dimana subsidi perumahan diberikan dalam bentuk hipotik berbunga rendah bagi petani berpenghasilan rendah. Meskipun demikian.

Pola alternatif lain adalah bentuk pajak penghasilan negatif.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 343 Program AFDC menetapkan bahwa pemerintah federal memberikan bantuan kepada setiap negara bagian – baik uang tunai maupun dalam bentuk lain – yang kemudian dipakai untuk menunjang keluarga yang mempunyai anak di bawah 18 tahun yang belum mandiri. Prinsip ini merupakan perluasan prinsip perpajakan progresif yang telah diterima umum dan berbagai cara untuk menggabungkan prinsip pajak negatif ke dalam struktur pajak positif telah dipertimbangkan. dan DI (Disability Insurance). HI (Health Insurance). karena tunjangan akan menurun jika pendapatan meningkat – sering disebut tarif pajak marjinal. Tunjangan yang diberikan dinilai tidak memadai untuk standar kehidupan minimum yang layak. maka pajak negatif akan menurun sampai pada titik mencapai nol dan sesudah itu terjadi pajak positif yang terhutang. Asuransi Pensiun dan Cacat . Program ini dipandang sebagai program yang merendahkan martabat karena persyaratannya dibatasi pada keluarga yang tidak mempunyai kepala keluarga pria. Untuk mengatasi kritik ini. Asuransi Sosial Komponen-komponen utama dari asuransi sosial ini di Amerika Serikat meliputi sistem asuransi sosial OASI (Old Age and Survivors Insurance). Jika pendapatan kotor meningkat. Titik permasalahan telah berubah dari memberikan keringanan dalam ekonomi kepada kesejahteraan anak dalam keluarga yang berorang tua tunggal. Bantuan diberikan kepada orang-orang dengan pendapatan rendah atau yang tidak berpendapatan. Dengan demikian alternatif ini akan menjamin tingkat minimum yang cukup sesuai ketersediaan dana sosial pemerintah. Standar yang digunakan dapat berbeda antara satu negara bagian dengan negara bagian lain. pola tunjangan alternatif mulai dipertimbangkan. Program kesejahteraan ini paling banyak menimbulkan perdebatan. kebijakan pemberian tunjangan alternatif ini dapat mengurangi jumlah bantuan yang dapat diberikan kepada golongan yang paling membutuhkan. Namun demikian. Selain itu. Cara paling efektif dalam menunjang keluarga berpenghasilan rendah adalah dengan membagikan dana melalui pemenuhan kekurangan pendapatan mulai pendapatan tingkat bawah. program ini dipandang tidak mendorong orang untuk bekerja lebih giat.

kebebasan memilih dokter. Semua kontribusi dari pemerintah federal dan negara bagian dibayarkan kepada dan dikelola oleh Federal Unemployment Trust Fund. Sistem tunjangan dalam bentuk tunai dipandang oleh para ekonom dapat menimbulkan efek yang negatif bagi golongan penghasilan rendah dalam hal produktivitasnya. Prinsipnya adalah menggabungkan kontribusi pemberi kerja dan karyawan. biaya rawat jalan. Sistem Tunjangan Sosial Terkini Seiring dengan perkembangan pemikiran aspek keadilan. dan kalau diperluas bagaimana bentuknya. dan jasa perawatan kesehatan rumah. Perdebatan sekitar asuransi kesehatan ini menyangkut apakah asuransi hanya mencakup orang yang berusia lanjut atau harus diperluas kepada seluruh penduduk. Salah satu perubahan yang substansial dari sistem kesejahteraan di Amerika Serikat berubah sejak diundangkannya Undang Undang Rekonsiliasi Kesempatan Kerja dan Tanggungjawab Personal tahun 1996. Asuransi Kesehatan Setiap individu berhak atas jaminan sosial pensiun dan juga berhak atas Medicare pada usia 65 tahun. Asuransi Pengangguran Program ini dibiayai dari pajak upah dan gaji federal dan pajak tambahan dari negara bagian yang dibayarkan oleh pemberi kerja. Perdebatan muncul karena menyangkut pembiayaan yang sangat besar. Aturan tersebut menciptakan program kesejahteraan yang disebut Temporary Aid for Needy Families (disingkat TANF) yang pada intinya mengatur hal-hal dibawah ini.344 Bab 16: Kebijakan Belanja Publik dalam Tunjangan Sosial Peraturan OASI menetapkan bahwa program ini mencakup semua pekerja berusia dibawah 65 tahun dan bekerja di bidang komersial serta industri kecuali jalan kereta api dan karyawan pemerintahan yang mempunyai skema lain . sehingga golongan penghasilan tinggi mempunyai preferensi memberikan kontribusinya dalam bentuk non tunai. pengaruhnya terhadap jasa medis yang diberikan. § Menurut aturan AFDC. Tunjangan ini untuk memberikan perlindungan dasar terhadap biaya jasa rumah sakit. dan peranan asuransi swasta. sistem tunjangan sosial juga mengalami perubahan. setiap orang yang mempunyai pendapatan di bawah batasan tertentu dan memenuhi persyaratan tertentu diberikan .berhak mendapatkan asuransi pensiun dan cacat yang preminya bersumber dari penerimaan pajak penghasilan upah dan gaji (payroll tax).

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 345 § § § bantuan manfaat tunai secara mutlak tanpa pandang bulu. atau pensiun. jaminan sosial merupakan hak setiap warga negara dan oleh karena itu negara wajib menyediakannya. TANF mengubah aturan bantuan tunai tersebut kecuali dalam hal bahwa bantuan secara tunai tersedia hanya temporer – tidak setiap saat . yang mencakup program jaminan pemeliharaan kesehatan. melaksanakan program pembatasan kehamilan. SISTEM JAMINAN SOSIAL DI INDONESIA Menurut UUD 1945. Setiap orang dewasa yang normal (tidak cacat) yang telah menerima pembayaran bantuan tunai selama dua tahun diharuskan mengambil bagian dalam suatu kegiatan yang ditujukan untuk membuat individu tersebut dapat menghidupi dirinya sendiri. melaksanakan program pelatihan kerja. Indonesia telah menjalankan beberapa program jaminan sosial. Dengan demikian. Sistem Jaminan Sosial Nasional pada dasarnya merupakan program negara yang bertujuan memberi kepastian perlindungan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. jaminan hari tua dan jaminan kematian. Undang-Undang yang secara khusus mengatur jaminan sosial bagi tenaga kerja swasta adalah Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (JAMSOSTEK). Suatu negara bagian dapat menggunakan grant tersebut untuk membayar bantuan secara tunai. struktur pemberian bantuan kesejahteraan negara bagian dikendalikan oleh pemerintah federal. Setiap negara bagian diberikan grant dari pemerintah federal untuk mendanai program kesejahteraan dimana jumlahnya adalah tetap. Melalui program ini. Selama beberapa dekade terakhir ini. TANF mengatur bahwa individu tidak diijinkan menerima bantuan tunai untuk masa lebih dari lima tahun. setiap penduduk diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dasar hidup yang layak apabila terjadi hal-hal yang dapat mengakibatkan hilang atau berkurangnya pendapatan. Untuk Pegawai Negeri Sipil (PNS). kehilangan pekerjaan. jaminan kecelakaan kerja. kemudian negara bagian tersebut melaksanakan program kesejahteraannya sepanjang tepat sasaran dalam batasan grant tersebut. karena menderita sakit. telah dikembangkan program Dana Tabungan dan Asuransi Pegawai Negeri (TASPEN) yang dibentuk dengan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 1981 dan program Asuransi Kesehatan . mengalami kecelakaan. Secara umum. memasuki usia lanjut.berdasarkan ada tidaknya program tunjangan tunai tersebut. atau program lainnya yang sejenis.

§ Prinsip keterbukaan. Berbagai program tersebut di atas baru mencakup sebagian kecil masyarakat. dan PNS Departemen Pertahanan/TNI/POLRI beserta keluarganya. kehati-hatian. Melalui prinsip kegotong-royongan ini. Prinsip Sistem Jaminan Sosial Nasional adalah sebagai berikut: § Prinsip kegotong-royongan. § Prinsip nirlaba. dan peserta yang sehat membantu yang sakit. akan tetapi tujuan utama penyelenggaraan jaminan sosial adalah untuk memenuhi sebesar-besarnya kepentingan peserta. Dana amanat.346 Bab 16: Kebijakan Belanja Publik dalam Tunjangan Sosial (ASKES) yang diselenggarakan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1991 yang bersifat wajib bagi PNS/Penerima Pensiun/Perintis Kemerdekaan/ Veteran dan anggota keluarganya. jaminan sosial dapat menumbuhkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. dipandang perlu menyusun Sistem Jaminan Sosial Nasional yang mampu mensinkronisasikan penyelenggaraan berbagai bentuk jaminan sosial yang dilaksanakan oleh beberapa penyelenggara agar dapat menjangkau kepesertaan yang lebih luas serta memberikan manfaat yang lebih besar bagi setiap peserta. Sehubungan dengan hal di atas. Untuk prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI). efisiensi dan efektivitas. hasil pengembangannya. pelaksanaan berbagai program jaminan sosial tersebut belum mampu memberikan perlindungan yang adil dan memadai kepada para peserta sesuai dengan manfaat program yang menjadi hak peserta. Di samping itu. telah dilaksanakan program Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ASABRI) sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 67 tahun 1991 yang merupakan perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1971. akuntabilitas. peserta yang berisiko rendah membantu yang berisiko tinggi. Prinsip-prinsip manajemen ini diterapkan dan mendasari seluruh kegiatan pengelolaan dana yang berasal dari iuran peserta dan hasil pengembangannya. anggota Kepolisian Republik Indonesia (POLRI). Prinsip ini diwujudkan dalam mekanisme gotong royong dari peserta yang mampu kepada peserta yang kurang mampu dalam bentuk kepesertaan wajib bagi seluruh rakyat. Sebagian besar rakyat belum memperoleh perlindungan yang memadai. Pengelolaan dana amanat tidak dimaksudkan untuk mencari laba (nirlaba) bagi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. dan surplus anggaran akan dimanfaatkan sebesarbesarnya untuk kepentingan peserta. .

penerapannya tetap disesuaikan dengan kemampuan ekonomi rakyat dan pemerintah serta kelayakan penyelenggaraan program. bersamaan dengan itu sektor informal dapat menjadi peserta secara sukarela. Kepesertaan wajib dimaksudkan agar seluruh rakyat menjadi peserta sehingga dapat terlindungi. dan jaminan kematian bagi seluruh penduduk melalui iuran wajib pekerja.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 347 § § § § § Prinsip portabilitas. Prinsip dana amanat. Tahapan pertama dimulai dari pekerja di sektor formal. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial sesuai UU No. dan mereka yang bekerja secara mandiri. sehingga pada akhirnya Sistem Jaminan Sosial Nasional dapat mencakup seluruh rakyat. Jaminan sosial dimaksudkan untuk memberikan jaminan yang berkelanjutan meskipun peserta berpindah pekerjaan atau tempat tinggal dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. jaminan pensiun. Prinsip kepesertaan bersifat wajib. jaminan hari tua. Meskipun kepesertaan bersifat wajib bagi seluruh rakyat. Dalam Undang-Undang ini diatur penyelenggaraan Sistem Jaminan Sosial Nasional yang meliputi jaminan kesehatan.40/2004 adalah: . nelayan. jaminan kecelakaan kerja. sehingga dapat mencakup petani. Prinsip hasil pengelolaan Dana Jaminan Sosial Nasional dalam UndangUndang ini adalah hasil berupa dividen dari pemegang saham yang dikembalikan untuk kepentingan peserta jaminan sosial. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial dalam undang-undang ini adalah transformasi dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial yang sekarang telah berjalan dan dimungkinkan membentuk badan penyelenggara baru sesuai dengan dinamika perkembangan jaminan sosial. Dana yang terkumpul dari iuran peserta merupakan titipan kepada badan-badan penyelenggara untuk dikelola sebaik-baiknya dalam rangka mengoptimalkan dana tersebut untuk kesejahteraan peserta. Program-program jaminan sosial tersebut diselenggarakan oleh beberapa Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.

terdapat lima jenis program jaminan sosial di Indonesia. b. c. jaminan kematian. Perusahaan Perseroan (Persero) Dana Tabungan dan Asuransi Pegawai Negeri (TASPEN) c.348 Bab 16: Kebijakan Belanja Publik dalam Tunjangan Sosial a. Arifianto 2004). Undang-undang di atas mengatur bahwa premi untuk program JKK. . jaminan kesehatan. 93. yaitu PT (Persero) Jamsostek. Jenis program jaminan sosial meliputi: a. jaminan pensiun. dimana pihak penerima manfaat memberikan kontribusi dalam bentuk pembayaran premi yang dipotong dari gaji mereka. b. Sedangkan untuk anggota masyarakat yang tidak tergabung dalam sektor formal. dan d. JK. Perusahaan Perseroan (Persero) Jaminan Sosial Tenaga Kerja (JAMSOSTEK) b. jaminan hari tua. Perusahaan Perseroan (Persero) Asuransi Kesehatan Indonesia (ASKES) Menurut Undang-Undang Jaminan Sosial Nasional yang berlaku sekarang (UU No 40/2004). Perusahaan Perseroan (Persero) Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ASABRI) d. dan d. jaminan sosial yang ada saat ini masih sangat terbatas. b. jaminan kecelakaan kerja (JKK). dan JKP dibayar seluruhnya oleh perusahaan. JK dan JHT diinvestasikan dalam sebuah dana tabungan wajib (provident fund) yang dikelola oleh sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Program jaminan sosial yang disebutkan di atas tersedia bagi angkatan kerja yang aktif bekerja di sektor formal. jaminan kesehatan pekerja (JKP). sementara program JKP dapat dikontrakkan ke perusahaan asuransi kesehatan swasta apabila perusahaan dapat menunjukkan bahwa manfaat asuransi kesehatan swasta akan sama atau melebihi manfaat program JKP yang dikelola oleh PT (ILO. jaminan hari tua (JHT). jaminan kecelakaan kerja. dan jaminan tersebut bersifat contributory. jaminan kematian (JK). sementara premi program JHT dibayar bersama oleh perusahaan dan pekerja. Program JKK. yaitu: a. c.

Untuk PNS. sedangkan sisanya didanai oleh Pemerintah. skema ini didanai dari kontribusi PNS sebesar 10% dari gaji pokok. sistem pensiun ini adalah dengan memberikan sejumlah uang secara lump-sum ketika seorang PNS memasuki masa pensiun atau apabila yang bersangkutan meninggal sebelum pensiun. manfaat yang diperoleh meliputi asuransi kesehatan. Pada awalnya. Namun jumlah ini tentu saja masih jauh dari cukup. dikelola oleh PT ASKES. kontribusi dari para pegawai ini hanya mencapai 22% dari manfaat pensiun. semua tunjangan yang diterima oleh PNS dibayar seluruhnya dari APBN. PNS dan anggota ABRI. pensiun dikelola oleh PT Taspen. Pegawai Negeri Sipil (PNS) Indonesia memiliki jaminan kesehatan dan pensiun sampai akhir hidupnya. Untuk asuransi kesehatan. Sejak 1971. Dana pensiun tersebut dikelola oleh sebuah PT dimana pemerintah merupakan pemegang saham tunggal. Sistem dana pensiun bagi PNS telah ada sejak tahun 1963. Pendanaan Sampai tahun 1994. barulah suatu sistem pensiun diadakan. Saat ini. 3. yang dibiayai dari pajak dan pendapatan negara yang lain. serta uang pensiun bulanan yang tetap terus dibayarkan dengan persentase yang lebih kecil kepada pasangannya apabila PNS yang bersangkutan meninggal dunia.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 349 Jaminan Sosial Untuk Pegawai Negeri Walaupun masih dianggap jauh dari memadai. Jumlah ini terdiri atas: 4. Pada tahun 1969. dan bahkan janda/duda yang ditinggalkannya masih dapat menikmati hasil kerja pasangannya dengan mendapatkan pensiun janda/duda. Menurut Asher (1998:8). Replacement Rates1 Bagi PNS yang memiliki masa kerja 20 tahun atau lebih pada saat pensiun. sejumlah uang pada saat pensiun. pensiun dikelola oleh ASABRI.25% uang pensiun.875% dari gaji pokok 1 Replacement rate didefinisikan sebagai proporsi dari upah tertentu (biasanya gaji final seorang pegawai) yang dibayar sebagai uang pensiun setelah mengakhiri masa kerja. dan 2% untuk jaminan kesehatan. Sejak 1994. uang pensiun bulanan dihitung sebagai berikut: 1. sedangkan untuk anggota ABRI dan kepolisian.7% sebagai pensiun bulanan. . anggota ABRI dan PNS di lingkungan Hankam juga menerima pensiun serupa dengan yang diterima para PNS.

kebanyakan tunjangan pensiun untuk PNS terus menjadi satu program terpisah.7 juta orang. Coverage Secara otomatis. maka replacement rate adalah antara 75100% untuk masa kerja 20-35 tahun. bahkan setelah adanya broad based national .12 juta pada tahun 1993. penyelenggaraan jaminan hari tua. tunjangan cacat dan tunjangan kematian untuk pegawai negeri sudah ada sebelum adanya program jaminan sosial untuk pegawai swasta. keanggotaan Taspen meningkat dari 3.350 Bab 16: Kebijakan Belanja Publik dalam Tunjangan Sosial dikalikan dengan masa kerja. ASABRI memiliki anggota sebanyak 600. yang pada akhirnya berdampak pada keuangan negara. Walaupun demikian. perbedaan terbesar adalah bahwa tunjangan-tunjangan ini dibayar dengan menggunakan pendapatan negara. yaitu 0.48 juta pensiunan menerima uang pensiun bulanan.000 orang. dan prospek untuk memperoleh pensiun yang memadai pada saat yang bersangkutan mencapai usia pensiun merupakan hal lain yang dipandang sebagai daya tarik untuk bergabung menjadi pegawai negeri. Sehingga. Hal ini berarti cakupan mencapai 4% dari tenaga kerja. Sedangkan pada tahun 1993 sebanyak 1. Walaupun program pensiun semacam ini didirikan oleh negara sebagai employer untuk para pegawainya (sehingga dalam hal ini hubungan kerja yang ada adalah sama dengan di perusahaan swasta). Dari sejarahnya. dimana 3. Menurut INSSA (1995. yang terdiri atas PNS serta keluarga yang menjadi tanggungannya. seperti dikutip oleh Tambunan dan Purwoko 2002). dimana keanggotaan Taspen mencapai 5.7 juta orang diantaranya merupakan kontributor (pembayar premi). guru. Keistimewaan juga kadang diberikan kepada kelompok pekerja tertentu di bidang pelayanan masyarakat. Di negara-negara industri. dan karyawan BUMN. PNS akan didaftarkan dalam skema tadi. tunjangan ini diberikan sebagai bentuk terima kasih atas pengabdian mereka. sehingga cakupan keanggotaan di kalangan PNS tentu saja 100%. Angka terkini didapat dari Asian Development Bank 2001. Setelah ditambahkan dengan uang lump sump yang diterima pada akhir masa kerja.74 juta pada tahun 1989 menjadi 4. Pekerjaan seumur hidup tampaknya sudah merupakan pola dalam karir pegawai negeri. PNS yang berhenti bekerja sebelum 20 tahun masa kerja tidak mendapatkan pensiun dalam bentuk apa pun. dapat dilihat bahwa hal ini meningkatkan konsumsi negara. seperti tentara. polisi. Perspektif Mancanegara Di banyak negara. Keanggotaan ASKES secara kasar mencakup 16 juta jiwa.6% dari total tenaga kerja.

Pada awalnya asuransi mencakup asuransi kecelakaan kerja. yang tidak membawa hasil dalam mengembalikan keseimbangan fiskal. banyak yang mengatasi masalah keuangan negara dengan cara yang kurang tepat. 4. Di negara-negara miskin (terutama di Afrika). Kebanyakan negara mengalami periode di mana perekrutan PNS yang sangat besar (terutama di tahun 70 dan 80-an). Menyeimbangkan komponen yang dikompensasi untuk menarik. Dengan dikembangkannya broad based national social insurance system yang berdasarkan prinsip-prinsip universal dan keadilan. Hal ini diperparah dengan pengenalan sistem pensiun dini untuk mengurangi beban anggaran belanja pegawai. Fenomena ini sangat nyata. 2. Dalam berbagai hal. asuransi kematian pada kasus dimana yang bersangkutan meninggal . Sejak perang dunia kedua. Karena itu. Mengingat pembiayaan pensiun PNS dibayarkan atau ditunjang oleh penerimaan negara. World Bank (2004) menganjurkan negaranegara berkembang tersebut untuk mengambil langkah-langkah sebagai berikut: 1. Asuransi Sosial untuk Pegawai Swasta Asuransi sosial yang diwajibkan bagi pegawai di sektor swasta dimulai pada tahun 1977 dengan dibentuknya ASTEK. terutama di negara-negara di mana proporsi PNS dalam ketenagakerjaan tinggi. sistem ini banyak sekali mendapat kritikan.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 351 social insurance system. mempertahankan dan memotivasi PNS. dalam arti rasio pensiunan yang semakin meningkat pada sepuluh tahun terakhir. dan sampai hari ini. tekanan finansial yang dihadapi oleh program pensiun pegawai negeri kurang-lebih sama di seluruh dunia. yang pada tahun 1992 berganti nama menjadi JAMSOSTEK. makin terasa bahwa sistem terpisah ini kurang adil. Mengurangi kewajiban pembayaran pensiun melalui perubahan parameter (contohnya dengan mengurangi item-item yang dalam tunjangan atau mengurangi jumlahnya). yang pada akhirnya menambah jumlah pensiunan di berbagai negara. Secara berkala berpindah ke sistem cost-sharing dengan PNS. Membuat sistem pensiun yang lebih luwes dan dapat diterapkan dalam jangka panjang. yang kemudian diikuti dengan masa stabilisasi dan penciutan jumlah PNS. PNS merupakan satu-satunya kelompok yang mendapatkan uang pensiun bulanan. 3. sistem ini merupakan peninggalan jaman kolonial. karena system ini secara nyata mengistimewakan PNS.

sistem ini tidak selamanya ditaati oleh pihak pemberi kerja. skema ini hanya memiliki replacement rate sekitar 10%. Asuransi kecelakaan kerja dan manfaat pensiun merupakan hal yang wajib. namun dalam hal ini pemerintah Indonesia hanya salah satu di antara pemegang saham kepada siapa PT Jamsostek wajib membayar dividen.100. Jaminan hari tua yang disediakan oleh JAMSOSTEK merupakan asuransi iuran pasti (defined contribution scheme) dimana manfaat yang diperoleh bergantung pada kontribusi yang dibayarkan: para pekerja akan menerima akumulasi dari tabungan mereka ditambah dengan bunga pada usia 55 tahun.maka hal ini kira-kira setara dengan delapan setengah bulan upah minimum.000.510. Seperti halnya dengan Taspen dan Asabri. Sedangkan jaminan hari tua didanai dari 5. Replacement Rates Replacement rate untuk jaminan hari tua bagi pegawai swasta jumlahnya sangat rendah. Pendanaan Asuransi kecelakaan kerja dan kesehatan didanai dari kontribusi yang dibayar oleh pegawai. mengingat tidak adanya ketentuan untuk menghitung anuitas dari jumlah yang diterima pada saat pensiun. Mengingat rata-rata jumlah lump sum yang dibayarkan pada akhir masa kerja seseorang adalah sebesar Rp. Angka dari ILO Report (2003:99) sedikit lebih optimistis. sekitar dua bulan upah minimum.352 Bab 16: Kebijakan Belanja Publik dalam Tunjangan Sosial sebelum memasuki masa pensiun. Pada tahun 1992 jaminan kesehatan mencakup pelayanan pertama. bahkan dengan menggunakan asumsi optimistik mengenai tingkat penegembalian investasi dan setelah kontribusi (yaitu masa kerja) selama 35 tahun. Namun demikian.2.7% dibayar oleh pihak pemberi kerja dan 2% oleh pekerja). PT Jamsostek merupakan PT. sedangkan asuransi kesehatan (yang dibayarkan oleh pemberi kerja sejumlah 3% untuk single dan 6% untuk pegawai yang berumah tangga) dapat dihindari bila perusahaan memiliki paket lain yang layak. kelahiran dan rawat inap di rumah sakit ditambahkan pada skema ini. . Menurut Asher (1998). Menurut Gough (2001b).. Perlu juga ditambahkan bahwa hal ini tidak bisa disebut sebagai pensiun. saldo rata-rata dalam provident fund pada akhir masa kerja adalah Rp.7% dari gaji pokok bulanan (3. serta tunjangan hari tua yang diberikan dalam bentuk sejumlah uang pada saat memasuki masa pensiun.000. sehingga masih banyak pihak pemberi kerja yang tidak membayar asuransi kesehatan sama sekali (Asher 2000a).

namun menerima penghasilan lainlain dalam bentuk tunjangan dan bonus. Pada kenyataannya. Hal ini berarti bahwa setelah krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada tahun 1998. Selain itu. perusahaan-perusahaan swasta yang mempekerjakan 10 karyawan atau lebih. banyak pekerja di sektor formal digaji dengan upah minimum (yang merupakan dasar pembayaran asuransi). 57% anggota membayar kontribusi pada tingkat upah minimum. sedangkan banyak perusahaan lain yang diduga tidak melaporkan jumlah yang sesungguhnya untuk mengurangi jumlah kontribusi yang harus mereka bayar. tingkat kepatuhan perusahaan sangat rendah. Tentu saja. karena Jamsostek hanya terbatas pada pekerja di sektor formal. Menurut Tambunan dan Purwoko (2002:45). Coverage dari PT Jamsostek sangat rendah. obligasi (11%). anggota asuransi diperkenankan untuk menarik/mengambil dananya setelah lima tahun bergabung dalam skema asuransi. property (10%) dan saham (8%). Pertama. hanya 57% karywan dari sektor formal swasta yang benar-benar tercover oleh asuransi PT Jamsostek. Hanya 25% anggota yang benar-benar mematuhi peraturan (Asher 2000b). replacement rate rendah disebabkan oleh kesalahan investasi dan tingginya biaya administrasi. kontibusi yang dibayar menurut tingkat upah minimum ataupun dibayarkan secara terputus-putus (biasanya terjadi di kalangan pekerja musiman dan para perempuan pekerja) secara otomatis menghasilkan jumlah pembayaran manfaat yang kecil pula. surat berharga pemerintah (30%). atau memiliki payroll sebesar satu juta rupiah atau lebih. dan sektor formal berkembang lebih cepat daripada tingkat coverage PT Jamsostek. sebagian besar investasi bersifat jangka pendek. Selain itu. Ketiga. Lebih jauh lagi. wajib bergabung dengan Jamsostek dan mendaftarkan karyawannya. padahal kewajiban membayar pensiun adalah jangka panjang. pekerja di sektor non formal dan wiraswasta tidak termasuk di dalamnya. Sebagian besar aset diinvestasikan pada deposito berjangka (41%). Kedua. banyak penarikan dana yang terjadi bukan karena pensiun melainkan karena PHK. Sehingga. Investment pada aset luar negeri tidak diperkenankan oleh peraturan. Coverage Menurut peraturan.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 353 Ada beberapa alasan mengapa replacement rate di sektor swasta ini sangat rendah. sebagian besar pekerja di sektor swasta (walaupun berada di sektor formal) berpenghasilan sangat rendah sehingga kontribusi yang diberikan (yang berdasarkan persentase) juga sangat rendah. pada sektor formal pun banyak pemberi kerja yang menolak untuk mengcover pekerja kontrak dan . apabila yang bersangkutan berhenti bekerja. sehingga penyebaran risiko sangat terbatas. Menurut suatu laporan yang tidak dipublikasikan (Gough 2001b).

o Meningkatkan penyediaan fasilitas pendidikan dan bantuan biaya pendidikan bagi peserta didik yang berasal dari kelompok masyarakat miskin. Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Miskin Dana program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Miskin (JPKMM) yang bersumber dari Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak (PKPSBBM) tahun 2005 sebesar Rp 2. yaitu: a. Meningkatkan penciptaan kesempatan kerja langsung dan kesempatan berusaha untuk menumbuhkan daya beli masyarakat miskin di pedesaan dan perkotaan (employment creation). Meningkatkan penyediaan dan penyaluran bahan kebutuhan pokok serta bantuan bahan pangan bagi masyarakat miskin di pedesaan dan perkotaan (food security). baik di pedesaan maupun perkotaan.354 Bab 16: Kebijakan Belanja Publik dalam Tunjangan Sosial pekerja musiman. Contoh dari program ini adalah Raskin atau program pemberian beras bagi rakyat miskin (lihat boks).168 . Perlindungan sosial (social protection) yang terdiri dari: o Meningkatkan penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dasar dan bantuan obat-obatan bagi masyarakat miskin di pedesaan dan perkotaan. bukan secara langsung dari karyawan/pekerja). Jaminan sosial yang dapat diidentifikasi sampai saat ini adalah: 1. Padahal. pemerintah juga menganggarkan sejumlah dana dari APBN bagi kesejahteraan warga negaranya. Kegiatankegiatan JPS dapat dikelompokkan menjadi empat program besar. c. karena buruknya reputasi PT Jamsostek. banyak pihak pemberi kerja yang tidak mendaftarkan diri (pendaftaran anggota dilakukan melalui pihak pemberi kerja. 2. jumlah mereka sangat banyak Satu hal lagi. Tunjangan Bagi Masyarakat Miskin Seperti sudah disebutkan di atas. Jaring Pengaman Sosial Program ini muncul setelah Indonesia dilanda krisis ekonomi pada tahun 1997 dan sebagian dari program ini masih berlanjut hingga kini. Menggerakkan kembali ekonomi rakyat dengan mendorong pembangunan kegiatan usaha ekonomi berskala kecil. d. namun bentuk jaminan sosial ini lebih bersifat sekali-sekali dan belum terlembagakan seperti jaminan sosial bagi sektor formal yang diuraikan di atas. b.

c. bila anggota keluarga sakit tidak. Titik distribusi adalah tempat penyerahan/pendistribusian beras di tingkat kelurahan/desa yang terdekat dengan keluarga sasaran penerima manfaat. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik. tetapi penjualan langsung kepada keluarga penerima manfaat (bersubsidi).000. sudah ada anaknya yang putus sekolah.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 355 triliun akan dibayarkan langsung kepada PT Asuransi Kesehatan (Askes) tanpa melalui Departemen Kesehatan.146. Tidak ditujukan dalam upaya stabilisasi harga pasar. Ini untuk efisiensi. keluarga tidak mampu mengobatkan anggota keluarga yang sakit ke pelayanan kesehatan. Jumlah beras yang disalurkan tidak tergantung pada permintaan pasar. maka langkah penanggulangan yang ditempuh adalah melanjutkan Program Beras Untuk Masyarakat Miskin (Raskin) yang memiliki ciri spesifik antara lain: a. b. Tidak disalurkan melalui pasar umum.441. b. Program Beras Untuk Keluarga Miskin (Raskin) Dan Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak (PKPS-BBM) Bidang Pangan Tahun 2003 Kebijakan subsidi pangan terarah (targeted food subsidy) sebagai kebijakan income transfer untuk keluarga miskin. Tujuan Raskin adalah membantu keluarga miskin/rawan pangan dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan pokoknya sebagai upaya peningkatan ketahanan pangan di tingkat keluarga melalui penjualan beras kepada keluarga penerima manfaat Raskin pada tingkat harga bersubsidi dengan jumlah yang telah ditentukan dan dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan pemerintah.000. untuk membantu keluarga miskin/rawan pangan tersebut.mampu lagi ke fasilitas kesehatan serta dengan kriteria lainnya yang ditetapkan berdasarkan pertimbangan Pemerintah Daerah setempat. Maka dana untuk membayar premi selama satu tahun adalah Rp 2. keluarga tidak mampu makan dua kali sehari. orang miskin di Indonesia yang akan diikutkan dalam program JPKMM sebanyak 36. Program ini dirancang untuk tidak menghambat perkembangan pangan lokal serta tidak mendorong perubahan pola konsumsi yang terlalu cenderung ke beras atau gandum. Penerima manfaat adalah keluarga miskin rawan pangan yang memenuhi satu atau lebih kriteria: a. tetapi berdasarkan jumlah keluarga penerima manfaat. akuntabilitas. d. Mereka yang masuk kriteria miskin adalah keluarga yang tidak bisa makan dua kali sehari.000 per orang per bulan. pekerja/buruh kasar. keluarga tidak mampu mengkonsumsi pangan sumber protein minimal seminggu sekali.168. tetapi untuk membantu pemenuhan kebutuhan beras keluarga yang menjadi sasaran penerima manfaat Raskin. menjadi penting sebagai program nasional.700 orang dengan premi sebesar Rp 5. c. dan transparansi. e. yang ditentukan atas dasar . Masyarakat yang termasuk kelompok rawan pangan ini juga merupakan masyarakat miskin yang daya belinya rendah dan sebagian besar pengeluarannya adalah dibelanjakan untuk konsumsi pangan pokok. keluarga dengan anak drop out sekolah karena alasan ekonomi.

§ Program kesejahteraan AFDC menerapkan tarif pajak marjinal.3 2. dimana tunjangan akan menurun jika pendapatan meningkat. maka penetapan titik distribusi dilakukan atas kesepakatan dengan pihak Pemda. Selain itu.0 7. sehingga tidak mendorong orang untuk bekerja lebih giat.0 4. sesuai tingkatan wilayah operasionalnya.6 2. Tabel Asuransi Sosial Berbagai Negara Group/Negara Low Income § India § Kenya § Indonesia Middle Income § Filipina § Turki § Korea Selatan § Paraguay High Income § Jerman § Jepang § Perancis § Belanda Prosentase Jumlah Penduduk yang Tercakup 5 10 13 38 58 90 18 75 100 100 100 Prosentase Pembiayaan Kesehatan Askes Sosial/Sektor Publik 9 7 17 12 26 50 24 76 64 95 94 Prosentase Pembiayaan Kesehatan Askes Sosial/Total Pembiayaan Kesehatan 2 4 6 6 14 25 13 63 56 71 73 Total Biaya Kesehatan Prosentase GNP 6. (b) Jaminan Penghasilan Tambahan. (d) Perumahan Murah.0 6.3 4.8 8.0 6.9 RANGKUMAN § Tunjangan kepada masyarakat yang berpenghasilan rendah di Amerika Serikat terdiri atas komponen-komponen utama program sebagai berikut: (a) Medicaid.5 8. (c) Kupon Makanan. persyaratannya dibatasi pada keluarga yang tidak mempunyai kepala keluarga pria dan jumlah tunjangan yang diberikan dianggap tidak memadai.0 2. Program ini ditujukan bagi semua orang yang memenuhi kriteria AFDC (Aid to Families with Dependent Children) atau yang disebut program kesejahteraan. Untuk daerah-daerah yang tidak memungkinkan titik distribusi di tingkat kelurahan/desa seperti daerah terpencil dan sulit transportasinya.356 Bab 16: Kebijakan Belanja Publik dalam Tunjangan Sosial kesepakatan/musyawarah antar instansi pelaksana Raskin yang terkait. dan (e) Tunjangan Kesejahteraan. .

§ Asuransi sosial di Amerika Serikat memiliki komponen-komponen utama yang terdiri atas sistem asuransi OASI (Old Age and Survivors Insurance). berbeda dengan AFDC yang memberikan bantuan manfaat tunai secara mutlak bagi orang yang mempunyai pendapatan di bawah batasan tertentu. kehatihatian. akuntabilitas. efisiensi. (3) orang dewasa normal (tidak cacat) yang menerima bantuan tunai selama dua tahun diharuskan mengambil bagian dalam kegiatan yang dapat menghidupi dirinya. dan (h) Sistem Jaminan Sosial Nasional meliputi jaminan kesehatan. HI (Health Insurance). (2) individu tidak diijinkan menerima bantuan tunai untuk masa lebih dari lima tahun. kecelakaan kerja. dan efektivitas. § Beberapa jenis asuransi sosial yaitu: (1) Asuransi pensiun dan cacat. jika pendapatan kotor meningkat maka pajak negatif akan menurun sampai pada titik mencapai nol dan sesudah itu terjadi pajak positif terutang. (f) prinsip dana amanat. (e) prinsip kepesertaan bersifat wajib. (d) prinsip portabilitas. dan DI (Disability Insurance). § Sistem Jaminan Sosial Nasional merupakan program negara yang bertujuan memberi kepastian perlindungan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia agar dapat memenuhi kebutuhan dasar hidup yang layak. hari tua. Struktur pemberian bantuan dikendalikan pelaksanaannya oleh pemerintah federal. § Alternatif tunjangan lain dengan bentuk pajak penghasilan negatif. (4) setiap negara bagian memperoleh grant untuk melaksanakan program kesejahteraan dari pemerintah federal yang jumlahnya tetap. § TANF mengatur hal-hal sebagai berikut: (1) bantuan tunai hanya temporer (tidak setiap saat). sebagai berikut: (a) prinsip kegotong-royongan. (b) prinsip nirlaba. § Prinsip Sistem Jaminan Sosial Nasional.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 357 § Cara paling efektif dalam menunjang keluarga berpenghasilan rendah adalah dengan membagikan dana melalui pemenuhan kekurangan pendapatan mulai pendapatan tingkat bawah. Aturan tersebut menciptakan program kesejahteraan yang disebut Temporary Aid for Needy Families (TANF). § Karena dianggap memberikan dampak negatif. pensiun. dan (3) Asuransi pengangguran. . tunjangan sosial terkini tidak lagi memberikan tunjangan dalam bentuk tunai tetapi beralih ke bentuk non tunai. (c) prinsip keterbukaan. dan jaminan kematian bagi seluruh penduduk melalui iuran wajib kerja yang diselenggarakan oleh beberapa Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. (g) prinsip hasil pengelolaan Dana Jaminan Sosial Nasional berupa dividen dari pemegang saham yang dikembalikan untuk kepentingan peserta jaminan sosial. (2) Asuransi kesehatan.

asuransi kematian. § Dalam mengatasi pembiayaan pensiun yang semakin besar. sehingga kontribusi yang diberikan juga sangat rendah. . bersifat contributory. (c) kesalahan investasi dan tingginya biaya administrasi. (b) jaminan kecelakaan kerja. § Program jaminan sosial disediakan bagi angkatan kerja yang aktif bekerja di sektor formal. § Menurut UU Jaminan Sosial Nasional (UU No 40/2004) terdapat lima jenis program jaminan sosial: (a) jaminan kesehatan. asuransi jaminan hari tua dan asuransi kesehatan yang didanai oleh pegawai dan pemberi kerja (khusus untuk jaminan hari tua). dan (d) Perusahaan Perseroan (Persero) Asuransi Kesehatan Indonesia (ASKES). (b) Perusahaan Perseroan (Persero) Dana Tabungan dan Asuransi Pegawai Negeri (TASPEN). mempertahankan. (d) jaminan pensiun. dengan replacement rates antara 75-100% untuk masa kerja 20-35 tahun. § Jaminan sosial untuk pegawai negeri didanai oleh APBN. sebagian investasi berjangka pendek sedangkan kewajiban membayar pensiun berjangka panjang. hal ini disebabkan: (a) sebagian besar pekerja swasta berpenghasilan sangat rendah. (4) menyeimbangkan komponen yang dikompensasi untuk menarik.40/2004 adalah: (a) Perusahaan Perseroan (Persero) Jaminan Sosial Tenaga Kerja (JAMSOSTEK). dan mencakup seluruh keanggotaan di kalangan PNS. § Replacement rates di sektor swasta sangat rendah. dimana pihak penerima manfaat memberikan kontribusi dalam bentuk pembayaran premi yang dipotong dari gaji mereka. dan (e) jaminan kematian. dan memotivasi PNS. melainkan PHK.358 Bab 16: Kebijakan Belanja Publik dalam Tunjangan Sosial § Badan Penyelenggara Jaminan Sosial sesuai UU No. § Jaminan sosial di Indonesia yang dapat diidentifikasikan sampai saat ini adalah Jaring Pengaman Sosial (JPS) dan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Miskin (JPKMM). § Asuransi sosial untuk pegawai swasta mencakup asuransi kecelakaan kerja. (b) banyak penarikan dana asuransi yang terjadi bukan karena pensiun. (c) jaminan hari tua. (3) membuat sistem pensiun yang lebih luwes dan dapat diterapkan dalam jangka panjang. (c) Perusahaan Perseroan (Persero) Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ASABRI). (2) secara berkala berpindah ke sistem costsharing dengan PNS. World Bank menganjurkan negara-negara berkembang untuk mengambil langkahlangkah sebagai berikut: (1) mengurangi kewajiban pembayaran pensiun melalui perubahan parameter.

Mengapa program tunjangan kesejahteraan di Amerika banyak menuai protes dari masyarakat? 2. (c) employment creation. Sebutkan hal-hal yang diatur dalam Temporary Aid for Needy Families (TANF)! 6. pajak penghasilan negatif. 3. dan transparansi. akuntabilitas. (b) social protection (perlindungan sosial). meningkatkan penciptaan kesempatan kerja langsung dan kesempatan berusaha untuk menumbuhkan daya beli masyarakat miskin. (d) menggerakan kembali ekonomi rakyat dengan mendorong pembangunan kegiatan usaha ekonomi berskala kecil. Apa yang dimaksud dengan: a. Apa dampak sistem tunjangan dalam bentuk tunai! 5. yaitu: (a) food security. § Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Miskin (JPKMM) mendapat dana yang bersumber dari Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak (PKPSBBM). Sebutkan komponen-komponen utama dari asuransi sosial di Amerika dan jelaskan siapa saja yang berhak mendapat asuransi sosial tersebut! . meningkatkan penyediaan fasililtas pelayanan kesehatan dasar dan bantuan obat-obatan. b. Jelaskan masalah yang terjadi dalam asuransi sosial untuk kesehatan! 4. LATIHAN 1. bantuan pendidikan. Jelaskan cara yang paling efektif dalam menunjang keluarga berpenghasilan rendah ! 8. ASKES tanpa melalui Departemen Kesehatan untuk efisiensi. Dalam bentuk apa saja tunjangan kepada masyarakat berpenghasilan rendah? 7. tarif pajak marjinal.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 359 § Jaring Pengaman Sosial (JPS) dikelompokkan menjadi empat program besar. pendidikan. meningkatkan penyediaan dan penyaluran bahan kebutuhan pokok serta bantuan pangan bagi masyarakat miskin di pedesaan dan perkotaan. dibayarkan langsung ke PT.

Apa saja yang dapat oleh pemerintah daerah dalam menggunakan grant yang diberikan pemerintah pusat ? .360 Bab 16: Kebijakan Belanja Publik dalam Tunjangan Sosial 9. Apa yang dilakukan dan dikelola oleh Federal Unemployment Trust Fund? 10.

KEUANGAN PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH Dalam konteks desentralisasi fiskal. baik itu negara federal maupun negara kesatuan (unitary). . Dan sebagaimana dikemukakan oleh Norregaard (1995). apapun bentuk pemerintahan suatu negara. baik dalam negara-negara yang pada dasarnya berbentuk federal maupun negara yang berbentuk kesatuan. akan selalu memunculkan pola hubungan fiskal antar pemerintahan (fiscal intergovernmental relationship). terdapat perbedaan-perbedaan dalam interval luas dalam struktur kelembagaan dan hubungan keuangan pusat dan daerah.

di beberapa negara yang berbentuk federal.362 Bab 17: Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah Tabel 17. sementara Indonesia1. principal (Pemerintah Pusat) dapat secara sepihak menentukan dan mengubah baik tanggung jawab pengeluaran maupun pendapatan Pemerintah Daerah dan pengaturan hubungan keuangan antar pemerintahan dalam upaya mengatasi permasalahan4 3 . walaupun wewenang terakhir tetap pada pihak pemberi wewenang (sovereign-authority). Menurut teori ini. serta Cina dan Vietnam adalah contoh negara transisi (Bank Dunia. kerangka yang sesuai untuk desentralisasi adalah bersifat “top down” dan berpola dekonsentrasi2 atau maksimalnya berpola delegasi3. Kanada Indonesia. Bosnia Herzegovina Sumber: Bird dan Vaillancourt (1998) Menurut Bird dan Vaillancourt (1998). Pertama. Dalam model federalisme fiskal. Maroko dan Tunisia adalah untuk negara berkembang. Konsep federalisme fiskal maksudnya adalah Pemerintahan Daerah Tingkat II (kabupaten/kota) merupakan kepanjangan tangan dari pusat. Pihak yang menerima wewenang mempunyai keleluasaan (discretion) dalam penyelenggaraan pendelegasian tersebut. federalisme fiskal (fiscal federalism). Perancis dan Inggris mencerminkan pola ini untuk kelompok negara-negara maju (Bennet. Atau. konsentrasi kekuasaan di pusat demikian tinggi.1). Vietnam Rusia. Tunisia Afrika Selatan Cina. Pendelegasian wewenang ini biasanya diatur dengan ketentuan perundang-undangan. Kedua. Brasil. Implikasi 1 Indonesia di sini maksudnya adalah sebelum keluarnya Undang-undang Nomor 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-undang Nomor 25/1999 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah.1: Susunan Rak Desentralisasi Fiskal Kelompok Negara Negara Maju Negara Berkembang Negara Transisi Federalisme Fiskal Perancis. Argentina. 2 Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang dari Pemerintah Pusat kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah dan atau perangkat pusat di Daerah. Maroko. keuangan federal (federal finance). terdapat dua model hubungan fiskal antar pemerintahan yang berlaku saat ini (lihat Tabel 17. Dalam perspektif ini. pemerintahan negara bagian (state) bukan merupakan pelaku otonom. 1996a). Jepang Keuangan Federal Amerika Serikat. Delegasi adalah pelimpahan wewenang untuk tugas tertentu kepada organisasi yang berada di luar struktur birokrasi reguler yang dikontrol secara tidak langsung oleh Pemerintah Pusat.Kolumbia. dan kerangka analisis yang sesuai adalah agency theory4. India. Pakistan. 1990).

5 Di Amerika Serikat (yang berbentuk negara federal).5 Dimana masing-masing pemerintahan memiliki kewenangan (otonomi) yang jelas terhadap wilayah. Menurut Bank Dunia (1995b) negara-negara seperti Pakistan. Pada negara yang berbentuk kesatuan (unitary). permasalahan informasi yang tidak simetri. 1983). tetapi pada prakteknya tidak selalu demikian. serta pembiayaan sesuai dengan konstitusi federal. serta pembiayaannya sudah secara umum ditetapkan melalui sebuah undang-undang. pada umumnya menganut model keuangan federal. model keuangan federal (federal finance) lebih cocok diterapkan untuk beberapa negara. beberapa dewan sekolah (school board) di Amerika Serikat memiliki kekuasaan untuk mengenakan pajak (Davey. Contoh yang paling aktual adalah Amerika Serikat dan Kanada.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 363 dari hubungan fiskal model federalisme fiskal ini adalah berbagai bentuk transfer dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah (Dati I dan Dati II) dalam rangka untuk menggalakkan otonomi regional dan untuk memperbaiki infrastruktur lokal. counties merupakan agen utama pemerintahan regional dari pemerintahan propinsi dan memiliki memiliki kewenangan (authority) independensi yang signifikan. serta perbedaan-perbedaan tujuan antara principal dan agent (Pemerintah Daerah). atau townships (Kota). model hubungan fiskal yang terjadi adalah hubungan fiskal antara pemerintah federal (pusat) dengan pemerintah negara bagian/propinsi (state) dan hubungan fiskal antara pemerintah negara bagian/propinsi (state) dengan pemerintah lokal (kabupaten/kota). Indonesia secara tidak langsung telah menerapkan model keuangan federal. Berbeda dengan model federalisme fiskal. namun prakteknya sejauh ini masih sentralisasi fiskal dan federalisme fiskal. biasanya akan dibelanjakan oleh pemerintah daerah sesuai dengan pedoman dan sektor-sektor yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat. Argentina. batas-batas resmi. 1994b serta Bird dan Chen. wewenang. Sesungguhnya. negara yang berbentuk federal. Dalam model keuangan federal. Namun. Di Amerika Serikat. Meski secara teoritis negara yang berbentuk federal akan menerapkan model keuangan federal. di Amerika Serikat. model keuangan federal juga berlaku. yaitu Lousiana). . sejak diberlakukannya Undang-Undang Nomor 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 25/1999 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah. Bahkan. penyerahan fungsi. Secara teoritis. terutama negaranegara yang memiliki keanekaragaman dalam aspek geografis dan etnis (Bird. fungsi. Ini terbukti. parishes (suatu wilayah pemerintahan gereja. state dibagi ke dalam counties (wilayah kabupaten). dan Afrika Selatan adalah negara-negara berbentuk federal. 1996).

Argumentasi ekonomi tentang efisiensi berasal dari fakta bahwa pemerintah daerah dapat memenuhi berbagai kepentingan dan pendapat dari para penduduk dan dapat mengalokasikan berbagai sumber daya (resources) secara lebih efisien dibandingkan pemerintah pusat. Keputusan mengenai pengeluaran publik yang dibuat oleh pemerintah daerah akan lebih responsif terhadap keinginan konstituennya dibandingkan dengan keputusan yang dibuat oleh pemerintah pusat. Karena preferensi setiap individu terhadap barang publik berbeda. DIMENSI EKONOMI DARI DESENTRALISASI FISKAL Dimensi ekonomi baku dari suatu kebijakan keuangan publik adalah stabilitas makro ekonomi. dibandingkan dengan Amerika Serikat. Efisiensi Teori desentralisasi didasarkan pada asumsi bahwa pemerintah pusat hanya dapat menyediakan barang dan jasa secara lintas wilayah secara konsisten. maka dalam suatu sistem fiskal yang terdesentralisasi. (2) Persaingan Antar Pemerintah Daerah (Competition Among Local Governments) . Menurut para ahli ekonomi. dan efisiensi (Musgrave dan Musgrave. setiap individu dapat memilih untuk tinggal di sebuah komunitas atau masyarakat yang sesuai dengan preferensi mereka dalam rangka untuk memaksimalkan kesejahteraan sosial. derajat desentralisasi fiskal di Indonesia lebih tinggi. aspek efisiensi merupakan raison d'etre untuk desentralisasi fiskal. Bahkan. Desain fiskal antar pemerintahan juga memiliki implikasi penting atas keadilan dan stabilitas makro ekonomi. keadilan (equity). Namun demikian. yaitu: (1) Efisiensi Alokasi Sumber Daya (Efficient Allocation of Resources) Desentralisasi akan meningkatkan efisiensi karena pemerintah daerah memiliki informasi yang lebih baik mengenai kebutuhan penduduknya dibandingkan pemerintah pusat. Oleh karenanya. 1989).364 Bab 17: Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah sebagaimana diatur oleh Undang-Undang Nomor 25/1999. aspek efisiensi tidaklah satu-satunya dimensi ekonomi untuk mengevaluasi desentralisasi fiskal. pemerintah daerah memiliki kewenangan untuk menetapkan pajak serta melakukan pinjaman secara mandiri. sesuai dengan argumen ini. terdapat keuntungan efisiensi potensial dari desentralisasi fiskal.

Namun demikian. Ketika masyarakat tidak senang pada kebijakan pemerintah lokal dalam pembebanan pajak untuk pembiayaan barang publik bersifat lokal. Masyarakat akan memilih untuk tinggal di lingkungan yang anggaran daerahnya memenuhi preferensi yang paling tinggi antara pelayanan publik dari pemerintah daerahnya dengan pajak yang dibayar oleh masyarakat. Jerman. stabilitas makro ekonomi bukanlah hal yang otomatis dapat terwujud dengan diterapkannya desentralisasi fiskal. Suatu analogi argumen untuk menjelaskan hal ini dikemukakan oleh Tiebot (1956) yang kemudian dikenal sebagai "The Tiebout Model". Salah satu contoh terjelas adalah kasus-kasus di negara . yaitu meninggalkan wilayah tersebut atau tetap tinggal di wilayah tersebut dengan berusaha mengubah kebijakan pemerintah lokal melalui DPRD-nya (Hyman. Faktanya. Hipotesis tersebut memberikan petunjuk bahwa terdapat potensi untuk mencapai efisiensi ekonomi (maximizing social welfare) dalam penyediaan barang publik pada tingkat lokal. Pengalaman internasional memperlihatkan bahwa jika suatu negara mendesentralisasikan tanggung jawab pengeluaran lebih besar dibandingkan dengan sumber-sumber yang tersedia. Stabilitas Makro Ekonomi Penilitian empiris tentang desentralisasi dan pengelolaan makro ekonomi (macroeconomic governance) memberikan sedikit dukungan bahwa desentralisasi inheren dengan destabilisasi.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 365 Persaingan antar daerah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakatnya akan mendorong pemerintah lokal untuk meningkatkan inovasinya. Studi terkini mengenai hubungan antara desentralisasi fiskal dengan pengelolaan makro ekonomi menemukan bahwa “sistem desentralisasi fiskal menawarkan perbaikan potensial yang lebih besar terhadap perbaikan pengelolaan makro ekonomi dibandingkan sistem fiskal yang tersentralisasi”. khusus bagi negara-negara berkembang. 2002). 1997). Atau. maka hanya ada dua pilihan bagi warga masyarakat. daerah akan menekan pusat untuk mendapatkan tambahan kucuran dana yang lebih besar. Tiebout menekankan bahwa tingkat dan kombinasi pembiayaan barang publik bertaraf lokal dan pajak yang dibayar oleh masyarakat merupakan kepentingan politisi masyakarat lokal dengan pemerintah daerahnya. maka tingkat pelayanan akan menurun. Austria. dan Amerika Serikat memiliki kinerja makro ekonomi yang sangat stabil dan tingkat inflasi yang rendah (Shah. atau kedua-duanya. atau pinjaman yang lebih besar. negara-negara federal yang terdesentralisasi secara tinggi seperti Swiss.

1994). pemerintah daerah memerlukan dukungan dari pemerintah pusat. Dalam konteks desentralisasi. 1996). Kesuksesan dalam kebijakan redistribusi juga memerlukan perhatian yang khusus terhadap keadilan dalam wilayah lokal setempat (within-locality equity). Terdapat dua faktor utama yang memberikan kontribusi munculnya ketidakadilan horisontal: (1) basis pajak (taxes bases) sangat berbeda secara signifikan antara daerah satu dengan daerah yang lain dan (2) karakteristik regional yang mengakibatkan perbedaan biaya penyediaan pelayanan. maka mobilisasi dana daerah dapat menurun dan ketidakseimbangan makro ekonomi dapat kembali muncul (Yu. jika lebih banyak penerimaan daripada pengeluaran yang didesentralisasikan. Keadilan horizontal merujuk pada tingkat kapasitas pemerintah daerah (subnational governments) dalam memenuhi pelayanan publik. redistribusi biasanya berupa suatu transfer dana kepada rumah tangga berpendapatan rendah untuk mencapai keseimbangan dalam distribusi pendapatan. Sebaliknya. itu berarti pajak bagi penduduk kaya dan subsidi bagi penduduk miskin. isu redistribusi memiliki dua dimensi: keadilan horisontal (horizontal equity) dan keadilan lokal (within-locality equity). Bantuan pemerataan (equalization grant). penyediaan resources yang lebih banyak kepada daerah miskin hanyalah satu aspek dari problem keadilan. ia akan menciptakan suatu insentif yang kuat bagi penduduk berpendapatan rendah untuk datang dan akan mendorong penduduk berpenghasilan tinggi untuk pindah kemana saja. adalah alat yang biasa digunakan untuk mengoreksi ketidakadilan horisontal tersebut. Mobilitas rumah tangga adalah hambatan riil pemerintah daerah untuk menggunakan kebijakan redistribusi. pemerintah daerah tidak dapat mengambil kebijakan redistribusi secara efektif. Jika pemerintah daerah mengeluarkan program redistribusi pendapatan secara agresif. maka perlu dirancang kebijakan untuk memberikan sumber daya (resources) yang lebih besar kepada daerah yang lebih miskin. Untuk mengurangi ketidakadilan horisontal ini. Keadilan (Equity) Aspek keadilan dari sebuah kebijakan keuangan publik berkaitan dengan redistribusi pendapatan untuk mencapai keadilan sosial. dengan program redistribusi pendapatan. Dalam definisi klasik. Dalam merancang kebijakan redistribusi. Sebab. . Dengan kata lain.366 Bab 17: Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah Federasi Rusia (Wallich. Namun demikian.

§ Konsep federalisme fiskal menganggap Pemerintah Daerah Tingkat II merupakan kepanjangan tangan dari pusat. terlepas dari keseimbangan makro atau efisiensi mikro. maupun transfer dari pemerintah pusat. kesiapan administrasi pemerintahan. § Federalisme fiskal merupakan model konsentrasi kekuasaan di pusat yang semakin tinggi. mekanisme koordinasi untuk meningkatkan kinerja aparat birokrasi. pengembangan kelembagaan dan sumber daya manusia. dukungan politis baik pada tingkat pengambilan keputusan di masing-masing tingkat pemerintahan. RANGKUMAN § Menurut Bird dan Vaillancourt. Pelaksanaan desentralisasi fiskal akan berjalan baik dengan mempedomani hal-hal sebagai berikut: (1) adanya pemerintah pusat yang kapabel dalam melakukan pengawasan dan enforcement. terdapat dua pola hubungan fiskal antar pemerintahan (fiscal intergovernmental relationship) yaitu federalisme fiskal (fiscal federalism) dan keuangan federal (federal finance). Pertama. Untuk itu. seharusnya tidak perlu terjadi “ekspor pajak” dan tidak ada tambahan transfer dari level pemerintahan yang lain. pemerintah negara bagian bukan merupakan pelaku otonom. proses implementasi. Sementara itu. Sidik (2002) menyebutkan bahwa keberhasilan pelaksanaan desentralisasi akan sangat tergantung pada desain. pinjaman. perubahan sistem nilai dan perilaku birokrasi dalam memenuhi keinginan masyarakat khususnya dalam pelayanan sektor publik.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 367 Syarat-Syarat Keberhasilan Desentralisasi Fiskal Bird dan Vaillancourt (1998) mengisyaratkan ada dua prasyarat penting bagi kesuksesan desentralisasi. Di samping itu. Sidik (2002) juga berpendapat untuk mendukung pelaksanaan desentralisasi. maupun masyarakat secara keseluruhan. maka pemerintah daerah harus didukung sumbersumber keuangan yang memadai. biaya-biaya dari pengambilan keputusan tersebut sepenuhnya harus ditanggung oleh masyarakat. yaitu pengambilan keputusan tentang manfaat dan biayanya harus transparan dan pihak-pihak yang terkait harus memiliki kesempatan untuk mempengaruhi keputusan-keputusan tersebut. baik yang berasal dari local revenue. Kedua. proses pengambilan keputusan di daerah harus demokratis. sehingga kerangka yang sesuai untuk desentralisasi adalah . Di negara federal. dan (2) terdapat keseimbangan antara akuntabilitas dan kewenangan dalam melakukan pungutan pajak dan retribusi daerah.

desentralisasi fiskal memiliki keuntungan efisiensi potensial. fungsi. hal ini terjadi sejak diberlakukannya Undang Undang Nomor 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang Undang Nomor 25/1999 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah. yaitu Pemerintah Daerah memiliki kewenangan untuk menetapkan pajak serta melakukan pinjaman secara mandiri. serta pembiayaan sesuai dengan konstitusi federal. yaitu: (1) efisiensi alokasi sumber daya (efficient allocation of resources). Hal ini dapat terbukti. Aspek-aspek inilah yang dapat digunakan untuk mengevaluasi desentralisasi fiskal. penyerahan fungsi. (2) persaingan antar pemerintah daerah (competition among local government). Dimensi ekonomi dari suatu kebijakan keuangan publik adalah stabilitas makro ekonomi. Menurut penelitian empiris. Model keuangan federal biasanya diterapkan di negara-negara yang memiliki keragaman dalam aspek geografis dan etnis. berpola dekonsentrasi atau delegasi. dan kerangka analisis yang sesuai adalah agency theory. Hipotesis ini menunjukkan bahwa terdapat potensi untuk mencapai efisiensi ekonomi (maximizing social welfare) dalam penyediaan barang publik pada tingkat lokal. yaitu persaingan antar daerah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakatnya akan mendorong pemerintah lokal untuk meningkatkan inovasinya. dan efisiensi. Berdasarkan aspek efisiensi. dimana sistem desentralisasi fiskal menawarkan perbaikan potensial yang lebih besar terhadap perbaikan pengelolaan makro ekonomi dibandingkan . Indonesia secara tidak langsung menerapkan model keuangan federal. keadilan (equity). sehingga keputusan mengenai pengeluaran publik yang dibuat oleh pemerintah daerah lebih responsif terhadap keinginan konstituennya. Seperti yang dikemukakan “Tiebout Model” bahwa tingkat dan kombinasi pembiayaan barang publik bertaraf lokal dan pajak yang dibayar oleh masyarakat merupakan kepentingan politisi masyarakat lokal dengan pemerintah daerah. Persaingan antar pemerintah daerah. serta pembiayaannya sudah secara umum ditetapkan dengan undang-undang. Efisiensi alokasi sumber daya. desentralisasi inheren dengan destabilisasi. Di mana pemerintah negara bagian ataupun pemerintah lokal memiliki kewenangan (otonomi) yang jelas terhadap wilayah. berarti bahwa pemerintah daerah memiliki informasi yang lebih baik mengenai kebutuhan penduduknya dibandingkan pemerintah pusat. Batas-batas resmi. wewenang.368 Bab 17: Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah § § § § § § § bersifat “top down’.

maka mobilisasi dana daerah dapat menurun dan ketidakseimbangan makro ekonomi kembali muncul. maka akan menciptakan suatu insentif bagi penduduk berpendapatan rendah untuk datang dan mendorong penduduk berpendapatan tinggi untuk pindah ke mana saja. Aspek keadilan dari sebuah kebijakan keuangan publik berkaitan dengan redistribusi pendapatan untuk mencapai keadilan sosial. Keberhasilan pelaksanaan desentralisasi menurut Sidik (2002) tergantung pada: desain. yaitu keadilan horisontal dan keadilan lokal. . Redistribusi memiliki dua dimensi. Sebaliknya. implementasi. Redistribusi berupa suatu transfer dana kepada rumah tangga berpendapatan rendah untuk mencapai keseimbangan dalam distribusi pendapatan. Keadilan horisontal merujuk pada tingkat kapasitas pemerintah daerah dalam memenuhi pelayanan publik. maka tingkat pelayanan akan menurun. kesiapan administrasi pemerintahan. dukungan politis baik pada tingkat pengambilan keputusan di masing-masing tingkat pemerintahan dan masyarakat secara keseluruhan.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 369 § § § § § § sistem fiskal yang tersentralisasi. proses. jika penerimaan lebih banyak daripada pengeluaran yang didesentralisasikan. stabilitas makro ekonomi bukanlah hal yang otomatis terwujud dengan diterapkannya desentralisasi. Mobilitas rumah tangga adalah hambatan riil pemerintah daerah untuk menggunakan kebijakan redistribusi. Untuk mengatasinya. (2) biaya-biaya dari pengambilan keputusan tersebut sepenuhnya harus ditanggung oleh masyarakat sehingga tidak ada ekspor pajak dan tambahan transfer level pemerintahan yang lain. Jika dilakukan secara agresif. (b) karakteristik regional yang mengakibatkan perbedaan biaya penyediaan pelayanan. Negara federal yang terdesentralisasi secara tinggi memiliki kinerja makro ekonomi yang sangat stabil dan tingkat inflasi yang rendah. perlu dirancang kebijakan untuk memberikan sumber daya yang lebih besar ke daerah yang miskin. Khusus bagi negara berkembang. Bantuan pemerataan (equalizational grant) adalah alat yang digunakan untuk mengoreksi ketidakadilan horisontal tersebut. Terdapat dua faktor utama penyebab munculnya ketidakadilan horisontal: (a) basis pajak (tax bases) sangat berbeda secara signifikan antara daerah satu dengan yang lain. Prasyarat penting bagi kesuksesan desentralisasi terlepas dari keseimbangan makro atau efisiensi mikro menurut Bird dan Vaillancourt adalah: (1) proses pengambilan keputusan di daerah harus demokratis dan transparan. Jika tanggung jawab pengeluaran lebih besar daripada sumber yang tersedia.

Jelaskan yang dimaksud dengan : a. Apa yang dimaksud dengan dekonsentrasi ? 10. Mengapa Indonesia dibandingkan dengan Amerika Serikat derajat desentralisasi fiskalnya lebih tinggi ? 4. Apa yang dimaksud dengan redistribusi ? 13. Apa yang dimaksud dengan Agency Theory ? 3. Sebutkan 2 model hubungan fiskal antar pemerintah yang berlaku saat ini.370 Bab 17: Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah pengembangan kelembagaan dan sumber daya manusia. Jelaskan keuntungan efisiensi potensial dari desentralisasi fiskal ! 11. b. LATIHAN 1. Jelaskan yang dimaksud dengan Tiebout Model ? 6. stabilitas makroekonomi tidak otomatis terwujud dengan diterapkan desentralisasi fiskal ? 7. Sebutkan syarat-syarat keberhasilan desentralisasi fiskal menurut Bird dan Vaillancourt ! 9. mekanisme koordinasi untuk meningkatkan kinerja aparat birokrasi. Jelaskan hubungan antara desentralisaasi fiskal dengan pengelolaan makro ekonomi ! 12. Mengapa khusus untuk negara-negara berkembang. keadilan vertikal. Sebutkan faktor utama yang memberikan kontribusi munculnya ketidakadilan horisontal ! 8. keadilan horisontal. § Pelaksanaan desentralisasi fiskal akan berjalan baik dengan mempedomani hal-hal sebagai berikut: (1) adanya pemerintah pusat yang kapabel dalam melakukan pengawasan dan enforcement. jelaskan ! 2. 14. Apa akibatnya jika pemerintah daerah mengeluarkan program redistribusi pendapatan secara agresif ? . perubahan sistem nilai dan perilaku birokrasi dalam memenuhi keinginan masyarakat khususnya dalam pelayanan sektor publik. dan (2) terdapat keseimbangan antara akuntabilitas dan kewenangan dalam melakukan pungutan pajak dan retribusi daerah. Mengapa desentralisasi akan meningkatkan efisiensi alokasi sumber daya ? 5.

Menurut sidik (2002) pedoman apa saja yang harus dijalani agar pelaksanaan desentralisasi fiskal berjalan dengan baik ? 17.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 371 15. Sebutkan tiga dimensi ekonomi baku dari suatu kebijakan keuangan publik! 18. Jelaskan fakta di Pemerintah Daerah mengenai argumentasi ekonomi tentang efisiensi ! . Bagaimana caranya untuk mengurangi ketidakadilan horisontal ? 16.

daerah dituntut untuk dapat membiayai sendiri biaya pembangunannya. Implikasinya. Sejalan dengan desentralisasi tersebut.1). tidak ada satupun pemerintah daerah di berbagai negara yang disurvei memiliki pendapatan yang dapat membiayai seluruh pengeluarannya. ternyata banyak daerah di berbagai negara ini local government revenue tidak cukup untuk membiayai seluruh pengeluaran daerah (lihat Tabel 18.TRANSFER PUSAT KE DAERAH: TEORI DAN PRAKTIK Dalam konteks desentralisasi fiskal. transfer dana dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Dari Tabel 16. aspek pembiayaannya juga ikut terdesentralisasi. Namun. Desentralisasi memang merupakan pelimpahan wewenang dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. . terlihat bahwa.1.

28% 57.62% 60.32% 81.26% N/A 75.92% 62.08% 89.1: Persentase Pendapatan atas Pengeluaran Daerah Negara Kesatuan Albania Azerbaijan Belarusia Bulgaria Kroasia Republik Cekoslowakia Denmark Estonia Irlandia Kazakhstan Latvia Lithuania Mauritius Moldova Mongolia Norwegia Polandia Republik Slovakia Slovenia Inggris Negara Federal* Australia Austria Bolivia México Switzerland United States 85.27% 98.66% 60.35% 93.22% 39.76% N/A 82.26% 57.97% 84. Catatan: Pendapatan Pemerintah Daerah tidak termasuk transfer antar pemerintahan (intergovernmental transfers) Sumber: International Monetary Fund.69% 66.91% 1998 4. Government Finance Statistics Year Book 1998. 1998.64% N/A 77.93% 97.65% 82. Country Tables.21% 79.80% 83.49% 57.78% 77.88% 27.83% 72.31% 71.74% 58.10% 61.68% 58.98% 81.74% 85.31% 85.83% 27.75% 81.10% 65.71% 40.50% 56.43% 83.28% 85.69% 80.50% 66.73% 65.55% 73.35% 62.10% 66.95% 87.374 Bab 18: Transfer Pusat ke Daerah: Teori dan Praktik Tabel 18.85% 68.82% 39.10% 84.96% 71.52% N/A 77.73% 82.74% 58.91% 60.96% 64.31% 1997 3.93% 72.76% 73.64% 97.60% 29.72% 81.71% 64.85% 99.02% 64.37% 81.11% 72.68% 72.69% 61.80% 59. .51% 72.49% 89.82% 71.97% 73.30% 66.47% 1996 6.63% 66.33% *Pemerintah Daerah di negara-negara federal adalah kelompok Pemerintah Daerah yang terendah tingkat pendapatannya.31% 27.30% 81.92% 87.19% 93.29% 78.65% 70.05% 58.52% 62.53% 73.32% 59.25% 72.65% 42.08% 80.04% 85.18% 75.64% 73.28% 85.46% 60.91% 63.89% 85.51% 81.51% 1995 5.83% 73.18% 57.

Dengan demikian. 2002). Vertical Equalization Transfer Di banyak negara. Pemerintah Federal Amerika Serikat sangat memonopoli sumber-sumber penerimaan. pemerintah daerah hanya menguasai sebagian kecil sumber-sumber penerimaan negara. Kemudian. transfer pusat ke daerah dapat dibedakan atas bagi hasil pendapatan (revenue sharing) dan bantuan (grants). pemerataan horisontal (horizontal equalization). mengarahkan prioritas (redirecting priorities). dan pemerintahan lokal. 72% pengeluaran propinsi dan 86% pengeluaran kabupaten/kota pada dekade 1990-an di Indonesia (Simanjuntak. terutama negara berkembang. Sementara itu. . GRS untuk tingkat negara bagian diberlakukan secara tuntas pada tahun 1982 dan untuk tingkat lokal diberlakukan pada secara tuntas pada tahun 1986. melakukan eksperimen dengan ide-ide baru (experimenting with new ideas). an Transfer TUJUAN TRANSFER Pada dasarnya. pemerintah pusat menguasai sebagian besar sumbersumber penerimaan (pajak) utama negara yang bersangkutan. mengatasi persoalan efek pelayanan publik (correcting spatial externalities). pada pertengahan era 1960-an hingga pertengahan 1980-an lahirlah kebijakan bagi hasil penerimaan umum (General Revenue Sharing/GRS). 70% sampai 90% pengeluaran negara bagian yang miskin di Meksiko. tujuan dari vertical equalization transfer ini adalah untuk mengkoreksi kesenjangan pendapatan yang diperoleh setiap level pemerintahan. Adapun tujuan dari transfer ini bermacam-macam yaitu pemerataan vertikal (vertical equalization). antara 67% sampai 95% pengeluaran negara bagian di Nigeria. Sumber ini membiayai sekitar 85% dari pengeluaran pemerintah daerah di Afrika Selatan. pemerintah negara bagian (state). stabilisasi. Tidak terkecuali Indonesia. dan kewajiban untuk menjaga tercapainya standar pelayanan minimum di setiap daerah.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 375 Implikasi dari kondisi tersebut. Pada era tahun 1960-an. Kondisi ini akhirnya menimbulkan ketimpangan vertikal (vertical imbalance) antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Kondisi ini akhirnya bisa menimbulkan ketimpangan antara pemerintah federal. atau hanya berwenang untuk memungut pajak-pajak yang basis pajaknya bersifat lokal dan mobilitas yang rendah dengan karakteristik besaran penerimaannya relatif kurang signifikan. transfer dana dari pusat (intergovernmental transfer) merupakan sumber penerimaan yang sangat dominan bagi pemerintah daerah di banyak negara.

5. Daerah-daerah yang kaya akan sumber daya alam. 25/1999 (lihat Tabel 2. PBB BPHTB IHH PSDH/IHPH Land Rent/Iuran Tetap Royalty Pertambangan Umum Perikanan Minyak Gas Alam Dana Reboisasi PPh 10 20 55 55 20 20 100 100 100 100 100 16. penduduk lanjut usia. dengan tarif pajak yang sama seharusnya juga menghasilkan penerimaan yang sama di antara daerah.8(+) 64(+) 64 32 64 32 6 12 40 12 Pemertaan Kab/Kota Lainnya + + 32 32 80 6 12 - 1. ataupun daerah dengan intensitas kegiatan ekonomi yang tinggi atau rendah. daerah penghasil penerimaan (baik itu pajak maupun sumber daya alam) mendapat porsi yang besar dalam bagi hasil penerimaan umum (general revenue sharing) yang lebih besar dibandingkan sebelum diberlakukannya Undang-Undang No. 2. Pengalaman empiris di berbagai negara menunjukkan ternyata kemampuan daerah untuk menghasilkan pendapatan sangat bervariasi. 25/1999 ini. seperti Aceh dan Irian Jaya. Kondisi ini kemudian berubah dengan keluarnya Undang-Undang Nomor 25/1999. Latar belakang diberlakukannya formula vertical equalization ini didasari oleh suatu kondisi selama Orde Baru.2 16 16 16 16 16 3 6 8 Sumber : Sidik 2002.2. 7. berdasarkan UU Nomor 25 Tahun 1999 Horizontal Equalization Transfer Keseimbangan antara kebutuhan pendapatan (revenue needs) dan kemampuan untuk menghasilkan pendapatan juga memiliki dimensi horisontal. 25/1999 (dalam %) No Jenis Penerimaan Sebelum UU No. dimana sarana-prasarana transportasi . 11.376 Bab 18: Transfer Pusat ke Daerah: Teori dan Praktik KOTAK 17. Di sisi lain. Artinya.2 16 30 30 16 16 - 64. Ada pula daerahdaerah yang berbentuk kepulauan luas. Menurut Undang-Undang No. Tabel 17. 10.1: PRAKTEK VERTICAL EQUALIZATION DI INDONESIA Penerapan vertical equalization di Indonesia berlaku sejak dikeluarkannya Undang-undang Nomor 25/1999 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah.8 64 15 15 64 64 - 20 20 20 20 20 85 70 60 80 16. terpaksa harus menjadi daerah miskin karena hasil dari sumber-sumber kekayaan alam mereka diangkut ke pusat. taxing power yang diterima daerah menjadi lebih besar dan ketimpangan vertikal dapat dikurangi.2. Proporsi Bagi Hasil Beberapa Penerimaan Negara Sebelum dan Sesudah UU No. 4. dimana pemerintah pusat begitu dominan dalam menguasai sumber-sumber penerimaan negara yang berujung pada timbulnya ketimpangan fiskal secara vertikal antara pemerintah pusat dengan daerah. 6. 9. Terdapat daerah-daerah dengan penduduk miskin. 3. 25/1999 Pusat Dati I Dati II Pusat Sesudah UU No. Dengan bagi hasil yang lebih besar ini. Kondisi ini berimplikasi kepada besarnya basis pajak atau kapasitas fiskal (fiscal capacity) di daerah-daerah bersangkutan. daerah-daerah juga memiliki kebutuhan belanja yang sangat bervariasi. 8. dan anak-anak serta remaja yang tinggi proporsinya. tergantung kondisi daerah bersangkutan yang memiliki kekayaan sumber daya alam atau tidak. 25/1999 Pro-pinsi Kab/ Kota 64.

4. (b) PDRB sektor industri dan jasa lainnya (non primer). Dalam prakteknya.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 377 dan infrastruktur lainnya masih belum memadai. 3. melalui suatu formula ini. Besarnya DAU setelah formula paling tidak sama dengan besarnya bantuan Subsidi Daerah Otonom (SDO) dan Inpres tahun 2000. Variabel-variabel yang digunakan untuk menentukan potensi penerimaan adalah (a) PDRB sektor sumber daya alam (primer). jalan raya penghubung antar daerah. sistem . Sementara di lain pihak. Dengan kata lain tujuan dari horizontal equalization transfer adalah untuk menutup celah fiskal yang dimiliki oleh setiap daerah. karena daerah yang mempunyai potensi pajak dan SDA yang terbatas pada daerah-daerah tertentu. Variabel-variabel yang digunakan untuk menentukan kebutuhan daerah adalah (a) jumlah penduduk. pemadam kebakaran. Sebagai horizontal equalization. yaitu potensi penerimaan dan kebutuhan fiskal. dalam alokasi DAU 2001 terdapat faktor penyeimbang dan faktor lump sum. Sumber: Brodjonegoro dan Pakpahan (2002) Correcting Spatial Externalities Beberapa jenis pelayanan publik di satu wilayah memiliki “efek menyebar” (eksternalitas) ke wilayah-wilayah lainnya. Secara faktual.2: PRAKTEK HORIZONTAL EQUALIZATION DI INDONESIA Dana Alokasi Umum (DAU) merupakan contoh yang paling tepat sebagai bentuk horizontal equalizataion di Indonesia. pendidikan tinggi (universitas). Faktor Penyeimbang adalah suatu mekanisme untuk mencegah penurunan kapasitas pemerintah daerah dalam membiayai kewajiban-kewajiban mereka. peran DAU dapat dijadikan counter atas pembagian dana bagian daerah yang didasarkan atas dasar penghasil daerah (by origin atau vertical equalization) yang cenderung menimbulkan ketimpangan antar daerah. Sehingga. Penentuan bobot dan alokasi daerah. Rumus umum DAU 2001 adalah sebagai berikut: 1. Faktor formula DAU terdiri dari dua. namun memiliki sarana dan prasasarana yang telah lengkap. terjadi selisih hitung antara total DAU yang dianggarkan dengan total faktor penyeimbang dan faktor formula. (b) luas wilayah. Bobot daerah harus dirumuskan dengan menggunakan suatu formula yang didasarkan atas pertimbangan kebutuhan dan potensi penerimaan. Ini mencerminkan tinggi rendahnya kebutuhan fiskal (fiscal need) dari daerah-daerah yang bersangkutan. DAU dirancang dengan sebuah formula yang digunakan untuk menghitung potensi penerimaan daerah atau kapasitas fiskal (fiscal capacity) dan kebutuhan fiskal daerah (fiscal needs). (3) indeks harga bangunan. 2. maka dapat dihitung celah fiskal (fiscal gap) yang akan ditutup dengan transfer DAU dari pusat. Membandingkan kebutuhan fiskal dengan kapasitas fiskal tersebut di atas. Faktor penyeimbang juga diarahkan untuk mengatasi permasalahan pendanaan akibat terjadinya transfer pegawai dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah yang tentunya membawa konsekuensi pada gaji dan biaya-biaya terkait lainnya. Faktor lump sum intinya adalah suatu mekanisme untuk membagi habis total DAU yang sudah dianggarkan dalam APBN 925% dari penerimaan bersih domestik). Oleh karenanya. dan besarnya angkatan kerja (SDM). dan (4) jumlah penduduk miskin. maka dapat dihitung kesenjangan atau celah fiskal (fiscal gap) dari masingmasing daerah yang seyogyanya ditutup oleh transfer dari pemerintah pusat. Misalnya. KOTAK 17. DAU akan dialokasikan kepada daerah dengan menggunakan bobot daerah. ada daerah-daerah dengan jumlah penduduk yang tidak terlalu besar.

Namun.1 Berdasarkan Gambar 18. maka jumlah permintaannya akan sangat rendah. tanpa adanya “imbalan” (dalam bentuk pendapatan) yang berarti dari proyek-proyek serupa di atas. Namun. pemerintah pusat perlu memberikan semacam insentif ataupun menyerahkan sumber-sumber keuangan agar pelayanan-pelayanan publik demikian dapat dipenuhi oleh daerah. jika permintaan dari penduduk (resident demands) setempat yang diperhitungkan. yaitu sebesar DA dan harganya (biayanya) pun relatif murah (PA) sehingga daerah setempat dipastikan dapat mengadakannya.1. yang bagi daerah . yaitu sebesar DB dengan harga (biaya) sebesar PB. untuk permintaan atas barang publik tertentu (misalnya. dan rumah sakit daerah.378 Bab 18: Transfer Pusat ke Daerah: Teori dan Praktik pengendali polusi (udara dan air). perguruan tinggi). Sehingga. tidak bisa dibatasi manfaatnya hanya untuk masyarakat tertentu saja. total permintaan atas barang publik tersebut adalah DT dengan harga (biaya) sebesar P1. biasanya pemerintah daerah enggan untuk berinvestasi di sini. Oleh karena itu. Koreksi “Spillovers” Melalui Transfer P MC P1 PB PA DA QB QT DB Q DT Gambar 18. peminatnya juga berasal dari luar daerah (nonresident demands).

Alasan perlunya bantuan dari pusat kepada daerah sehubungan dengan uji coba program baru tersebut. seyogyanya pemerintah pusat memberikan transfer atau insentif kepada daerah. Transfer pemerintah pusat kepada daerah semacam ini akan membantu mengarahkan kembali prioritas daerah dan pusat sesuai dengan keinginan yang diharapkan oleh masing-masing level pemerintahan.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 379 bersangkutan akan sangat sulit untuk dapat mengadakannya. Namun ternyata. Ini terkait dengan pemenuhan harapan para konstituen pemilih ketika pemilihan umum berlangsung. akhirnya bertentangan dengan prioritas yang sedang dibangun oleh level pemerintahan lainya. Agar penyediaan barang publik tersebut tetap dilakukan oleh daerah bersangkutan. Dengan demikian. Redirecting Priorities Setiap level pemerintahan memiliki prioritas masing-masing di dalam penyediaan pelayanan publik kepada masyarakatnya. yaitu sebesar perbedaan antara PB dan P1. pemerintah pusat berkeinginan mengedepankan pembangunan di sektor pendidikan secara murah dan terjangkau. Experimenting with New Ideas Bantuan (grants) seperti ini berawal dari adanya keinginan pemerintah pusat untuk mengujicobakan suatu program baru di suatu daerah sebelum program tersebut diberlakukan terhadap seluruh daerah. Dengan adanya subsidi ini. keinginan tersebut ternyata tidak sinkron dengan pola kebijakan daerah. maka pemerintah pusat memberikan transfer (subsidi). karena biayanya berada dalam jangkauan anggaran daerah. Pemerintah daerah ternyata menginginkan pembangunan di sektor kesehatan lebih mendapat prioritas karena pertimbangan kondisi masyarakat setempat. Agar keinginan pemerintah pusat dan pemerintah daerah dapat berjalan secara paralel. maka daerah bersangkutan dapat menyediakan barang publik tersebut. sesungguhnya bantuan untuk tujuan uji coba program baru ini tidak lebih dari sebuah kompensasi atas kesediaan daerah menjadi ajang uji coba suatu program baru dari pusat. Misalnya. karena biayanya terlalu mahal. Dan seringkali prioritas yang dikembangkan oleh setiap level pemerintahan tersebut. karena daerah yang menjadi tempat uji coba tidak mau menanggung kerugian dan risiko manakala terjadi dampak negatif terhadap program baru tersebut. .

1. Penerimaan yang Memadai (Revenue Adequacy) Pemerintah daerah semestinya memiliki pendapatan (termasuk transfer) yang cukup untuk menjalankan segala kewajiban atau fungsi yang diembannya. KRITERIA DESAIN TRANSFER PUSAT KE DAERAH Dari berbagai tujuan yang hendak dicapai dalam rangka transfer antar tingkat pemerintahan. Pajak-pajak dimana daerah bisa ikut memungut di atas tingkat yang ditetapkan pusat (piggyback). Jika dikaitkan dengan postulat Musgrave (1983) yang menyatakan bahwa peran redistributif dari sektor publik akan dijalankan oleh pemerintah pusat. Di saat lain. Namun kecermatan dalam mengkalkulasi amat diperlukan agar tindakan menaikkan/menurunkan dana transfer itu tidak berakibat merusak atau bertentangan dengan tujuan stabilisasi.380 Bab 18: Transfer Pusat ke Daerah: Teori dan Praktik Stabilisasi Transfer dana dapat ditingkatkann oleh pemerintah ketika aktivitas perekonomian sedang lesu. Memenuhi Standar Pelayanan Minimum Daerah-daerah dengan sumber daya yang sedikit memerlukan subsidi agar dapat mencapai standar pelayanan minimum. apakah negara tersebut berbentuk federal maupun negara kesatuan. . bisa saja dana transfer ke daerah dikurangi manakala perekonomian sedang booming. Berikut adalah beberapa kriteria umum yang biasa digunakan di banyak negara di dunia. ataupun transfer yang bersifat umum (block grant) adalah sumber-sumber penerimaan daerah yang konsisten dengan tujuan tersebut. dapat kiranya sebagai acuan untuk mendesain sistem atau model transfer bagaimana yang akan diterapkan. Otonomi Prinsip ini merupakan dasar desentralisasi fiskal di dunia. Prinsip ini menekankan agar pemerintah daerah memiliki independensi dan fleksibilitas dalam menentukan prioritas-prioritas mereka. maka penerapan standar pelayanan minimum di setiap daerah pun akan lebih bisa dijamin pelaksanaannya oleh pemerintah pusat. 2. Transfer untuk dana-dana pembangunan (capital grants) adalah merupakan instrumen yang cocok untuk tujuan ini. Tidak boleh ada pembatasan yang sedemikian ketat sehingga sebagian besar keputusan di daerah harus mengikuti atau mengacu kepada ketentuan pusat. bagi hasil (revenue sharing) berdasarkan formula.

Dengan demikian. general purpose grant. . Transfer Tanpa Syarat Pada umumnya transfer jenis ini ditujukan untuk menjamin adanya pemerataan dalam kemampuan fiskal antar daerah. 4. JENIS-JENIS TRANSFER Pengalaman empiris dari berbagai negara menunjukkan bahwa pemberian transfer oleh pemerintah pusat kepada daerah dapat disertai dengan syaratsyarat tertentu atau tidak bersyarat sama sekali. 5. yaitu (1) transfer tanpa syarat (unconditional grant. sehingga setiap daerah dapat melaksanakan urusan rumah tangganya sendiri pada tingkat yang layak. Formula tersebut seyogyanya dipakai untuk jangka menengah (misalnya 3-5 tahun). categorial grant. pada dasarnya jenis-jenis transfer dapat dikelompokkan menjadi dua kategori besar. tidak perlu ada transfer khusus/spesifik untuk membiayai defisit anggaran pemerintah daerah. atau ada semacam kontrol terhadap belanja daerah. Keadilan (Equity) Besarnya dana transfer dari pusat ke daerah seyogyanya berhubungan positif dengan kebutuhan fiskal daerah dan berkebalikan dengan besarnya kapasitas fiskal daerah yang bersangkutan. sebaliknya menangkal praktek-praktek yang tidak efisien. Insentif Desain dari transfer ini harus sedemikian sehingga memberikan semacam insentif bagi daerah dengan manajemen fiskal yang baik. sehingga memudahkan penyusunan anggaran. agar perencanaan jangka menengah dan panjang dapat dilakukan oleh daerah. 6. Sederhana (Simplicity) Alokasi dana kepada pemerintah daerah semestinya didasarkan pada faktor-faktor obyektif dimana unit-unit individual tidak memiliki kontrol atau dapat mempengaruhinya. Transparan dan Stabil Formula transfer mesti diumumkan sehingga dapat diakses masyarakat. Di samping itu juga formula yang dipakai seyogyanya relatif mudah untuk dipahami. Hal yang lebih penting lagi adalah setiap daerah dapat memperkirakan berapa penerimaan totalnya (termasuk transfer). Dengan demikian.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 381 3. block grant dan (2) transfer dengan syarat (conditional grant. spesific purpose grant).

9. • potensi ekonomi daerah. 2. yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk membiayai kebutuhan pengeluarannya dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. 25/1999 ketentuan mengenai aturan alokasi DAU adalah sebagai berikut: 1. Dalam hal terjadi perubahan kewenangan di antara daerah propinsi dan daerah kabupaten/kota. persentase Dana Alokasi Umum untuk daerah propinsi dan daerah kabupaten/kota disesuaikan dengan perubahan tersebut. KOTAK 17. 8. DAU untuk suatu daerah kabupaten/kota tertentu ditetapkan berdasarkan perkalian jumlah DAU untuk seluruh daerah kabupaten/kota yang ditetapkan dalam APBN dengan porsi daerah kabupaten/kota yang bersangkutan. 5. DAU untuk daerah propinsi dan untuk daerah kabupaten/kota ditetapkan masing-masing 10% (sepuluh persen) dan 90% (sembilan puluh persen) dari total DAU nasional. 6. dengan porsi daerah propinsi yang bersangkutan. Bobot daerah ditetapkan berdasarkan: • kebutuhan wilayah otonomi daerah. 4. Porsi daerah propinsi merupakan proporsi bobot daerah propinsi yang bersangkutan terhadap jumlah bobot semua daerah propinsi di seluruh Indonesia. Penghitungan DAU berdasarkan rumus di atas dilakukan oleh Sekretariat Bidang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. DAU ditetapkan sekurang-kurangnya 25% (dua puluh lima persen) dari penerimaan dalam negeri yang ditetapkan dalam APBN.3: PRAKTEK TRANSFER TANPA SYARAT DI INDONESIA Dana Alokasi Umum (DAU) merupakan bentuk yang masuk dalam kategori transfer tanpa syarat (unconditional grant) untuk kasus di Indonesia. DAU adalah dana yang berasal dari APBN. . 3. DAU untuk suatu daerah propinsi tertentu ditetapkan berdasarkan perkalian jumlah DAU untuk seluruh daerah propinsi yang ditetapkan dalam APBN. 7.382 Bab 18: Transfer Pusat ke Daerah: Teori dan Praktik Tujuan dari transfer ini adalah untuk mengurangi ketimpangan fiskal yang bersifat horisontal (horizontal equalization). Porsi daerah kabupaten/kota merupakan proporsi bobot daerah kabupaten/kota yang bersangkutan terhadap jumlah bobot semua daerah kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Menurut UU No.

Karena tidak ada batasan pada cara pembelanjaan fasilitas publik manapun. sebagaimana digambarkan pergeseran kurva indiferensi yaitu dari i1i1 menjadi i2i2 dan titik keseimbangan baru menjadi E1. yaitu barang publik yang akan dibantu dengan transfer (assisted public goods/B) yang digambarkan dengan garis horisontal (horizontal axis) dan barang publik yang tidak dibantu (other public goods/A) yang digambarkan dengan garis vertikal (vertical axis). Pada kondisi sebelum ada transfer.Transfer tanpa syarat biasanya dibagikan berdasarkan suatu formula tertentu. Hal ini digambarkan dengan adanya pergeseran (shifting) budget line yang sejajar dari AB menjadi FG. Dengan demikian. posisi permintaan (demand) barang A adalah OC dan barang B adalah OD sehingga titik keseimbangan awal adalah E. jumlah barang yang dapat dipenuhi menjadi lebih banyak.2. Garis AB adalah garis anggaran1 daerah setempat (community budget line).Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 383 Ciri utama dari transfer ini adalah daerah memiliki keleluasaan (diskresi) penuh dalam memanfaatkan dana transfer ini sesuai dengan pertimbanganpertimbangannya sendiri atau sesuai dengan aturan apa yang menjadi prioritas daerahnya. yang memperlihatkan kombinasi berbagai konsumsi barang yang tersedia. Kurva indiferensi (indifference curve) adalah kurva yang menunjukkan berbagai kombinasi konsumsi dua macam barang yang memberikan tingkat kepuasan sama bagi seorang konsumen. Kurva i1i1. Penjelasan efek dari unconditional grant terhadap pembiayaan daerah. dan seterusnya adalah kurva indiferensi (indifference curve)2. formula apa yang tepat untuk menjamin meratanya kemampuan fiskal (fiscal capacity) daerah dalam menjalankan pelayanan publik minimum. amat tergantung kepada kondisi atau keadaan di masingmasing negara. i2i2. dapat dilihat pada Gambar 18. maka yang bertambah akibat adanya transfer adalah jumlah anggaran. 2 1 . yaitu menjadi OK (untuk assested public goods) dan menjadi OH (untuk other public goods). Ini mengingat. Sehingga. Namun. Kondisi inilah yang menyebabkan mengapa penerima lebih memilih unconditional grants dibandingkan bentuk transfer lainnya. dengan unconditional grants memungkinkan tercapainya kesejahteraan yang Garis anggaran (budget line) adalah kurva yang menunjukkan kombinasi konsumsi dua macam barang yang membutuhkan biaya (anggaran) yang sama besar. tingkat kepuasan masyarakat pun menjadi lebih besar. Asumsikan terdapat dua jenis barang publik (public goods). dalam kasus ini adalah barang A dan barang B. dimana posisi E ini merupakan posisi tinggi dalam hal kepuasan tertinggi pada anggaran yang tersedia.

384 Bab 18: Transfer Pusat ke Daerah: Teori dan Praktik lebih baik bagi daerah yang muncul dari kemungkinan untuk memilih yang lebih besar. Transfer ini dapat dikelompokkan ke dalam dua jenis. bagi pemberi. yaitu: . Contohnya adalah proyek-proyek yang menimbulkan efek eksternalitas positif bagi daerah-daerah lain ataupun proyek-proyek dari pemerintah pusat yang sifatnya uji coba atas suatu program atau ide baru (experimenting with new ideas). hal ini bisa juga menjadi suatu kerugian karena tidak ada kepastian tercapainya tujuan bersama sesuai dengan maksud pemberian grants tersebut. Efek Unconditional Grant Terhadap Pembiayaan Daerah Other Public Goods i2 F i1 A H E E1 i2 C i1 O D K B G Assested Public Goods Gambar 18-2 Transfer dengan Syarat (Conditional Transfer) Transfer ini biasanya digunakan untuk keperluan yang dianggap penting oleh pemerintah pusat namun kurang dianggap penting oleh daerah. Namun.

pemerintah pusat dan daerah sepakat memberikan kontribusinya masing-masing. Pemerintah pusat dan daerah berniat meningkatkan kuantitas barang B. dana daerah belum cukup untuk menjamin penyelenggaraan urusan tersebut dengan baik. Transfer dari pemerintah pusat dalam hal ini berfungsi untuk membantu mengatasi kekurangan dana tersebut. . Dengan demikian. i2i2. dimana posisi E ini merupakan posisi tinggi dalam hal kepuasan tertinggi pada anggaran yang tersedia. dan seterusnya adalah kurva indiferensi (indifference curve).3.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 385 Transfer Pengimbang (Matching Grants) Transfer pengimbang adalah transfer yang diberikan oleh pusat kepada daerah untuk menutup sebagian atau seluruh kekurangan pembiayaan satu jenis urusan tertentu. yaitu hanya menggeser kuantitas barang B. Misalnya. posisi permintaan (demand) barang A adalah OC dan barang B adalah OD sehingga titik keseimbangan awal adalah E. Untuk tujuan ini. sedangkan barang A dibiarkan tetap. Pada kondisi sebelum ada transfer. yaitu misalnya pusat 90% dan daerah 10%. yaitu barang publik yang akan dibantu dengan transfer (assisted public goods/B) yang digambarkan dengan garis horisontal (horizontal axis) dan barang publik yang tidak dibantu (other public goods/A) yang digambarkan dengan garis vertikal (vertical axis). Jadi. Hanya saja. daerah hanya mampu menyediakan dana sebesar 10% dari total kebutuhan dana atau sebesar Rp10 miliar. Garis AB adalah garis anggaran daerah setempat (community budget line). di sini pemerintah daerah telah mengalokasikan sejumlah dana dari pendapatan daerahnya untuk penyelenggaraan urusan tersebut. sementara barang A tetap. asumsikan terdapat dua jenis barang publik (public goods). yaitu sebesar Rp90 miliar ditanggung sepenuhnya oleh pusat. Sama dengan kasus sebelumnya. Transfer ini diperuntukkan apabila transfer tersebut dapat dan memang ditujukan untuk menutup seluruh kekurangan dana yang terjadi. yang memperlihatkan kombinasi berbagai konsumsi barang yang tersedia. kurva garis anggaran (budget line) akan mengalami pergeseran dari AB menjadi AM. sebuah proyek pembangunan universitas membutuhkan dana sekitar Rp100 miliar. Penjelasan efek dari open-ended matching grants dapat disajikan dalam Gambar 18. Sementara itu. kekurangan tersebut. Kurva i1i1. Maka. Transfer pengimbang ini juga dapat dibedakan menjadi 2 (dua) jenis: 1) Transfer pengimbang tidak terbatas (open-ended matching grants). dalam kasus ini adalah barang A dan barang B.

3 Efek negatif dari open-ended matching grants adalah grant yang diberikan oleh pemerintah pusat justru akan menyebabkan ketidakmerataan antar daerah. Akibatnya. sementara daerah yang miskin akan tetap miskin karena mereka tidak dapat membuat proyek kaya. yang pembiayaannya bisa sebagian besar dari pemerintah pusat. karena sifat grant ini yang tidak terbatas. namun untuk barang A tetap. yaitu dari OD menjadi OP. tingkat kepuasan untuk barang B pun menjadi lebih besar. Dengan demikian. daerah yang kaya akan mampu membuat proyek yang kaya pula dan menjadi semakin kaya. Pada transfer ini terdapat batasan jumlah dana maksimum yang dapat digunakan. Efek dari Open-Ended Matching Grants Other Public Goods i2 A i1 S N E Q O D B P i1 M Assested Public Goods E1 i2 C Gambar 18. sebagaimana digambarkan pergeseran kurva indiferensi yaitu dari i1i1 menjadi i2i2 dan titik keseimbangan baru menjadi E1.386 Bab 18: Transfer Pusat ke Daerah: Teori dan Praktik Sehingga. 2) Transfer pengimbang terbatas (closed-ended matching grants). jumlah barang B (untuk assested public goods) yang dapat dipenuhi menjadi lebih banyak. Hal ini sangat disukai oleh pemberi bantuan (pemerintah .

dan seterusnya adalah kurva indiferensi (indifference curve). Misalnya. Garis AB adalah garis anggaran daerah setempat (community budget line). dalam perjalanannya. Kurva i1i1. yaitu sebesar Rp90 miliar ditanggung sepenuhnya oleh pusat. pemberi bantuan dapat mencukupkan bantuannya. daerah hanya mampu menyediakan dana sebesar 10% dari total kebutuhan dana atau sebesar Rp10 miliar. pemerintah pusat akan memberikan kontribusinya sebesar 90% dan daerah 10%. kurva garis anggaran (budget line) akan mengalami pergeseran dari AB menjadi AM. Maka. yang memperlihatkan kombinasi berbagai konsumsi barang yang tersedia. dalam kasus ini adalah barang A dan barang B. yaitu barang publik yang akan dibantu dengan transfer (assisted public goods/B) yang digambarkan dengan garis horisontal (horizontal axis) dan barang publik yang tidak dibantu (other public goods/A) yang digambarkan dengan garis vertikal (vertical axis). dari proyek senilai Rp100 miliar. . Penjelasan efek dari closed-ended matching grants dapat disajikan dalam Gambar 18. estimasi biaya ternyata membengkak menjadi Rp110 miliar atau mengalami kekurangan Rp10 miliar lagi. Dengan demikian. yaitu Rp100 miliar. Pada kondisi sebelum ada transfer. pemerintah pusat dan daerah berniat meningkatkan kuantitas barang B. namun setelah besarnya biaya proyek melampaui jumlah tertentu. Sementara itu. yaitu dari OD menjadi OP. jumlah barang B (untuk assested public goods) yang dapat dipenuhi menjadi lebih banyak. Dengan demikian. tingkat kepuasan untuk barang B pun menjadi lebih besar. posisi permintaan (demand) barang A adalah OC dan barang B adalah OD sehingga titik keseimbangan awal adalah E0. sementara barang A tetap. dimana posisi E0 ini merupakan posisi tinggi dalam hal kepuasan tertinggi pada anggaran yang tersedia. karena walaupun dana yang diberikan sesuai dengan besar proyek. sedangkan barang A dibiarkan tetap. Misalnya. yaitu hanya menggeser kuantitas barang B. Sehingga. i2i2. Namun.4. namun untuk barang A tetap. sebuah proyek pembangunan universitas awalnya membutuhkan dana sekitar Rp100 miliar.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 387 pusat). Sama dengan kasus sebelumnya. Untuk tujuan ini. asumsikan terdapat dua jenis barang publik (public goods). Dalam rencana awal. pemerintah pusat dan daerah sepakat memberikan kontribusinya masing-masing. kekurangan tersebut. dengan sendirinya proyek tersebut harus disesuaikan dengan jumlah anggaran semula. Karena pemerintah pusat tidak lagi mau mengucurkan dananya.

dalam kasus ini adalah barang A dan barang B. Garis AB adalah garis anggaran daerah setempat (community budget line). slope-nya menjadi sejajar pada budget line awalnya. Dalam gambar terlihat bahwa rotasi pada budget line setelah batas tertentu. i2i2. dimana posisi permintaan (demand) barang B adalah tetap OD. terjadi kenaikan bahan baku sehingga budget seharusnya dinaikkan menjadi Rp110 miliar. yang memperlihatkan kombinasi berbagai konsumsi barang yang tersedia. yaitu barang publik yang akan dibantu dengan transfer (assisted public goods/B) yang digambarkan dengan garis horisontal (horizontal axis) dan barang publik yang tidak dibantu (other public goods/A) yang digambarkan dengan garis vertikal (vertical axis). dan seterusnya adalah kurva indiferensi (indifference curve). kendati pemerintah daerah yang bersangkutan telah mengalokasikan pendapatan daerahnya (local revenue) untuk pembiayaan penyelenggaraan urusan itu. transfer diberikan oleh pusat untuk mendorong daerah agar tetap bersemangat dan mau mengalokasikan pendapatan daerahnya untuk pelaksanaan fungsi tersebut. garis anggaran tidak jadi bergeser dari AB menjadi AM. namun karena pelaksanaannya menghasilkan limpahan manfaat besar kepada daerah-daerah lain. yaitu Rp100 miliar. dapat dilihat pada Gambar 18. terjadi titik keseimbangan baru dari E menjadi E1. Jenis transfer ini dapat dipakai oleh pemerintah pusat untuk menjadi sarana menginternalisasikan limpahan manfaat. Implikasinya. Namun dalam perkembangannya. Transfer Bukan Pengimbang (Non-Matching Grants) Transfer bukan pengimbang adalah transfer yang diberikan oleh pusat kepada daerah untuk menambah dana penyelenggaraan suatu jenis urusan tertentu tanpa mempertimbangkan bahwa pemerintah daerah sendiri telah/akan mengalokasikan dananya dengan jumlah besar atau kecil.388 Bab 18: Transfer Pusat ke Daerah: Teori dan Praktik sebagaimana digambarkan pergeseran kurva indiferensi yaitu dari i1i1 menjadi i2i2 dan titik keseimbangan baru menjadi E1. Karena pemerintah pusat tidak lagi mau mengucurkan dananya. tetapi dari AB menjadi AT yang berarti jumlah barang A yang dapat dihasilkan akan lebih sedikit dibandingkan perkiraan semula. Kurva i1i1. Penjelasan efek dari non-matching grants terhadap pembiayaan daerah. . Asumsikan terdapat dua jenis barang publik (public goods).5. dengan sendirinya proyek tersebut harus disesuaikan dengan jumlah anggaran semula. (eksternalitas) terutama kepada daerah yang menghasilkan limpahan manfaat tersebut. Implikasinya. Jadi.

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 389 Efek Closed-Ended Matching Grants Other Public Goods i2 A i1 S N E Q T O D B P i1 M Assested Public Goods E1 i2 C Gambar 18.4 Pada kondisi sebelum ada transfer. . maka budget line dari barang publik yang dibantu (assested public goods) mengalami pergeseran (shifting). posisi permintaan (demand) barang A adalah OC dan barang B adalah OD sehingga titik keseimbangan awal adalah E. namun tidak mengubah batas maksimum fasilitas publik lainnya (other public goods). Dengan adanya transfer dari pusat ke daerah untuk keperluan khusus tanpa diperlukannya dana pendamping. dimana posisi E ini merupakan posisi tinggi dalam hal kepuasan tertinggi pada anggaran yang tersedia.

(c) mengatasi persoalan efek pelayanan publik. (b) pemerataan horisontal. oleh karena itu. (e) melakukan eksperimen dengan ide-ide baru. transfer dana dari pusat (intergovernmental transfer) merupakan sumber penerimaan yang amat dominan bagi pemerintah daerah.390 Bab 18: Transfer Pusat ke Daerah: Teori dan Praktik Efek Non-Matching Grants Other Public Goods i2 i1 A H E F E1 i2 C i1 O D K B G Gambar 18. Transfer pusat ke daerah dapat dibedakan atas bagi hasil pendapatan (revenue sharing) dan bantuan (grants). . § Tujuan transfer dari pusat ke daerah. Daerah juga dituntut untuk membiayai sendiri biaya pembangunannya padahal pendapatan daerah tidak bisa membiayai seluruh pengeluarannya.5 RANGKUMAN § Konsep desentralisasi fiskal merupakan pelimpahan wewenang dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah. (d) mengarahkan prioritas. antara lain: (a) pemerataan vertikal.

. berarti membutuhkan tempat uji coba. Mengatasi persoalan efek pelayanan publik (Correcting Spatial Externalities). bertujuan untuk mengoreksi kesenjangan pendapatan yang diperoleh setiap level pemerintahan. antara pemerintah pusat dan daerah yang disebabkan perbedaan atas penguasaan sumber-sumber penerimaan (pajak). yaitu menstabilkan kondisi perekonomian yang lesu dengan memberikan transfer maupun mengurangi transfer ketika perekonomian sedang booming. permintaan meningkat. Kebijakan yang dilakukan dengan melakukan GRS (general revenue sharing) yaitu bagi hasil penerimaan umum. Memenuhi standar pelayanan minimum. Celah fiskal ini terjadi karena adanya perbedaan antara kapasitas fiskal. bertujuan untuk menutup celah fiskal yang dimiliki oleh daerah. maksudnya pemerintah pusat memberikan (transfer) subsidi kepada pemerintah daerah untuk penyediaan barang publik yang memiliki efek ‘menyebar’ ke wilayah-wilayah lainnya. bertujuan agar keinginan pemerintah pusat dan pemerintah daerah dapat berjalan secara paralel walaupun memiliki perbedaan prioritas. yaitu kemampuan untuk menghasilkan pendapatan dan kebutuhan fiskal. bertujuan memberikan subsidi ke daerah dengan sumber daya sedikit agar dapat mencapai standar pelayanan umum. dan (g) menjaga tercapainya standar pelayanan minimum di setiap daerah. Pemerataan horisontal (horisontal equalization). Bantuan (grants) ke daerah diperlukan sebagai kompensasi atas daerah yang menjadi ajang uji coba suatu program baru dari pusat karena daerah tidak mau menanggung kerugian dan risiko sendiri. Perbedaan ini diatasi dengan memberi transfer/insentif ke daerah sehingga membantu mengarahkan kembali prioritas daerah dan pusat sesuai harapan. Melakukan eksperimen dengan ide-ide baru (Experimenting with New Ideas). Pemerataan vertikal (vertical equalization). Subsidi dibutuhkan sebesar selisih akibat peningkatan permintaan sehingga biayanya berada dalam jangkauan daerah. Hal ini dilakukan karena dengan adanya externalities (penyebaran). Mengarahkan prioritas (redirecting proprities). yaitu besarnya kebutuhan belanja/pengeluaran suatu daerah.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 391 § § § § § § § (f) stabilisasi. Stabilisasi. Transfer dari pusat ke daerah akan digunakan untuk menutup celah fiskal tersebut. dan sulit bagi daerah untuk mengadakannya karena biayanya terlalu mahal. Instrumennya berupa transfer untuk dana-dana pembangunan (capital grants).

categorial grant. general purpose grant. tapi bagi pemberi bisa menjadi kerugian karena tidak ada kepastian tercapainya tujuan bersama sesuai dengan tujuan pemberian grants.392 Bab 18: Transfer Pusat ke Daerah: Teori dan Praktik § Kriteria desain transfer pusat ke daerah. yang memang ditujukan untuk menutup seluruh kekurangan dana dari proyek. dikarenakan dana daerah yang tidak cukup. (3) keadilan (equity). Ciri utamanya. Unconditional grants lebih disukai karena memungkinkan tercapainya kesejahteraan yang lebih baik bagi daerah. dan (6) insentif. diberikan oleh pusat kepada daerah untuk menambah dana penyelenggaraan suatu jenis urusan tertentu tanpa mempertimbangkan bahwa pemerintah daerah telah mengalokasikan dananya. daerah memiliki keleluasaan (diskresi) penuh dalam memanfaatkannya sesuai dengan pertimbangan dan aturan yang menjadi prioritas. § Transfer tanpa syarat. Transfer ini dikelompokkan menjadi dua jenis. Sehingga daerah kaya membuat proyek kaya menjadi lebih kaya. § Jenis-jenis transfer dapat dikelompokkan menjadi dua kategori besar: (1) transfer tanpa syarat (unconditional grant. dan (2) transfer dengan syarat (conditional grant. (4) transparan dan stabil. pemberi bantuan akan mencukupkan bantuannya. bertujuan utnuk mengurangi ketimpangan fiskal yang bersifat horisontal dan menjamin adanya pemerataan kemampuan fiskal antar daerah. (5) sederhana (simplicity). yaitu: transfer pengimbang (matching grants) dan transfer bukan pengimbang (non-matching grants). (2) penerimaan yang memadai (revenue adequacy). block grant). jika biaya proyek melebihi jumlah tertentu. terdapat batasan jumlah dana maksimal yang dapat digunakan. § Transfer dengan syarat. Transfer ini disukai oleh pemberi bantuan. Efek negatif dari transfer ini dapat menyebabkan ketidakmerataan daerah. walaupun dana yang diberikan sesuai dengan besar proyek. (2) Transfer pengimbang terbatas (closed-ended matching grants). Hal ini dilakukan untuk mendorong daerah agar . karena sifatnya yang tidak terbatas. § Transfer pengimbang adalah transfer yang diberikan oleh pusat ke daerah untuk menutup sebagian atau seluruh kekurangan pembiayaan satu jenis urusan tertentu. antara lain: (1) otonomi. spesific purpose grant). § Transfer bukan pengimbang (non-matching grants). digunakan untuk keperluan yang dianggap penting oleh pemerintah pusat namun kurang dianggap penting oleh pemerintah daerah seperti proyek yang memiliki eksternalitas positif dan proyek yang bersifat uji coba. Transfer pengimbang dibedakan menjadi dua jenis. yaitu: (1) Transfer pengimbang tidak terbatas (open ended matching grants).

Sebutkan tujuan dari vertical equalization transfer dan horizontal equalization transfer ! 4. Jelaskan yang dimaksud dengan desentralisasi ? 10. Sebutkan dua macam transfer pusat ke daerah ! 12. Apa yang dimaksud efek menyebar yang dimiliki pelayanan publik di suatu wilayah ? 17. Apa implikasi dari aspek pembiayaan yang juga ikut terdesentralisasi ? 11. Apa yang dimaksud dengan horizontal equalization transfer dan mengapa hal itu diperlukan ? 14. Mengapa diberlakukan praktek vertical equalization di Indonesia. Apa yang dimaksud dengan : a. insentif. Jelaskan faktor formula Dana Alokasi Umum (DAU) dan sebutkan variabel-variabelnya ! 16. Jelaskan adanya transfer tanpa syarat dan tujuannya ! 7. 15. Jelaskan kriteria desain transfer ke daerah dari sudut pandang : a. 6. faktor lump sum.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 393 tetap bersemangat melaksanakan fungsi tersebut karena menghasilkan limpahan manfaat besar kepada daerah-daerah lain. Suatu kondisi yang seperti apa di dalam kurva jika daerah setempat dapat mengadakan fasilitas publik yang dimaksud ? . Apa yang dimaksud dengan transfer pengimbang tidak terbatas dan transfer pengimbang terbatas ! 8. b. transparan dan stabil. Mengapa bisa timbul ketimpangan vertikal (vertical imbalance) ? 3. faktor penyeimbang. b. Apa saja tujuan dari transfer pusat ke daerah ? 2. Jelaskan yang dimaksud dengan transfer bukan pengimbang ! 9. Jelaskan mengapa Dana Alokasi Umum (DAU) merupakan contoh yang paling tepat sebagai bentuk horizontal equalization transfer di Indonesia ! 5. c. LATIHAN 1. jelaskan dengan contohnya ! 13. keadilan.

Apakah ciri utama dari transfer tanpa syarat di daerah ? 23.394 Bab 18: Transfer Pusat ke Daerah: Teori dan Praktik 18. kurva indeferensi 24. Jelaskan yang dimaksud dengan Pustulat Musgrave yang berkaitan dengan standar pelayanan minimum di daerah ! 21. garis anggaran b. Mengapa penerima lebih memilih unconditional grants dibandingkan dengan bentuk transfer lainnya dan mengapa pemberi dapat merasa dirugikan ? . Apa yang dimaksud dengan : a. Bagaimana cara pemerintah pusat melakukan redirecting priorities terhadap pemerintah daerah ! 19. Sebutkan kriteria umum desain transfer pusat ke daerah ! 22. Apa yang dimaksud dengan experimenting with new ideas yang dilakukan pemerintah pusat pada pemerintah daerah ? 20.

menurut Undang-Undang No. pajak pemerintah pusat yang dibagikan adalah Pajak Penghasilan (PPh). 25/1999. pada umumnya membayar pungutan tambahan beserta pajak-pajaknya kepada pemerintah pusat. Kedua. Praktek seperti ini diterapkan di . Pertama.PERPAJAKAN DAERAH Pemerintah daerah dapat memperoleh pendapatan dari perpajakan dengan tiga cara. adalah melalui pembagian hasil pajak-pajak (revenue sharing) yang dikenakan dan dipungut oleh pemerintah pusat. Kemudian. sebagaimana telah dibahas sebelumnya. Menurut pengertian ini. pemerintah daerah dapat memungut tambahan pajak (opsen. dan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB). para wajib pajak di wilayah (daerah) mereka. pemerintah pusat membayarkan pendapatan opsen tersebut kepada pemerintah daerah. Dalam konteks Indonesia. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). surchage di atas suatu pajak yang dipungut dan dikumpulkan oleh pemerintah pusat.

precept pemerintah propinsi merupakan proporsi yang tinggi dari seluruh pungutan pungutan wajib wajib pajak. Suatu jenis pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah mungkin ditetapkan berdasarkan ketentuan perundangan pemerintah pusat. adalah (i) tax revenue sharing telah dibahas pada bagian sebelumnya. dan India. Untuk lebih jelas memahami opsen. semacam PBB) dewan kabupaten (district council). Amerika Serikat. PRINSIP DAN KRITERIA PERPAJAKAN DAERAH Menurut Davey (1983) terdapat empat kriteria mengenai pajak Daerah. dalam hal pajak penghasilan atau alternatifnya. Kriteria pertama. sebagai suatu persentase tambahan atas pajak yang sebenarnya dibayarkan kepada pemerintah pusat atau negara bagian. pajak daerah jenis ini diatur dalam UU No. dan dapat diterma secara politik. Alasan pembatasan ini. Kecukupan maksudnya bahwa sumber pendapatan tersebut harus menghasilkan pendapatan yang besar dalam kaitannya dengan seluruh atau sebagian biaya pelayanan yang akan dikeluarkan. tetapi pendapatan yang dihasilkan tidak mampu melebihi biaya yang dikeluarkan untuk memungutnya. Dalam konteks di Indonesia. Di Amerika Serikat. . Pemerintah Daerah Swedia. pemerataan. Ketiga. Seringkali dijumpai pemerintah daerah mempunyai banyak jenis pajak. adalah pungutan-pungutan yang dikumpulkan dan ditahan oleh pemerintah daerah sendiri. misalnya.18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. 34 Tahun 2000 tentang perubahan atas UU No. memungut opsen atas pajak penghasilan nasional. kurang relevan dengan sistem perpajakan di Indonesia. kemampuan administratif. beberapa panchayats (pemerintah kabupaten) di India menikmati opsen atas pajak tanah. dan (ii) pembahasan mengenai opsen. Sedangkan. karena Indonesia tidak menerapkan sistem opsen. Keempat kriteria tersebut adalah kecukupan dan elastisitas. pemerintah daerah mengenakan opsen atas pajak penjualan di tingkat negara bagian (state). kecukupan dan elastisitas. Davey (1983) mendefinisikan bahwa opsen adalah semacam pungutan pajak (precept) yang dipungut oleh propinsi (country) atau dewan desa (parish council) di Inggris di atas rate (pajak atas harta tetap. Opsen tersebut mungkin dipungut sebagai persentase tambahan atas pendapatan kena pajak (PKP). Bagian ini hanya akan mendiskusikan mengenai pajak yang diperoleh oleh pemerintah daerah sendiri. Adapun variabel yang utama adalah dasar hukumnya (kewenangannya).396 Bab 19: Perpajakan Daerah Swedia. sedangkan di daerah-daerah non metropolitan.

Dimana. pelayanan memuaskan bagi si wajib pajak. penduduk di suatu daerah meningkat. mudah dihitung. maka dibutuhkan suatu administrasi yang baik dan fleksibel. dan pendapatan individu meningkat. adalah keadilan. maka dengan sendirinya pajak juga harus meningkat. Dalam konteks ini. penduduk. yakni persentase pendapatan seseorang yang dibayarkan untuk pajak bertambah sesuai dengan tingkat pendapatannya. kemudahan untuk memungut pertumbuhan pajak tersebut. pajak dikatakan tidak baik. maka pajaknya harus sama dengan pegawai kantor (swasta atau negeri) yang memiliki gaji sebesar Rp100 juta per tahun. Elastisitas juga dengan mudah dapat diukur dengan membandingkan hasil penerimaan selama beberapa tahun dengan perubahan dalam indeks harga. Kedua. atau PDRB. misalnya. pemerataan secara horisontal. Pembebanan pajak harus adil antarpenduduk di berbagai daerah. apabila harga-harga meningkat. Ketiga. Elastisitas merupakan kualitas suatu sumber pajak yang penting. Maksudnya adalah seseorang yang memiliki jumlah pendapatan yang sama. Seseorang seharusnya tidak dibebani pajak lebih berat hanya karena mereka tinggal di suatu daerah tertentu. yakni persentase pendapatan yang dibayarkan untuk pajak berkurang dengan adanya kenaikan pendapatan. Pertama. Dalam hubungan ini. yaitu dalam konteks hubungan pembebanan pajak berdasarkan sumber pendapatan. Kriteria ketiga adalah kemampuan adiministratif. jika pajak tersebut bersifat regresif. dan dasar pengenaan pajaknya berkembang secara otomatis. yaitu dalam hubungan pembebanan pajak atas tingkat pendapatan yang berbeda-beda. maka diharapkan tidak ada penduduk yang yang kebal pajak. adalah keadilan geografis. Dengan konsep keadilan horisontal seperti ini. Kedua. elastisitas mempunyai dua dimensi.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 397 Sedangkan elastis maksudnya adalah kemampuan untuk menghasilkan tambahan pendapatan agar dapat menutup tuntutan yang sama atas kenaikan pengeluaran pemerintah daerah. Petani yang memiliki pendapatan Rp100 juta per tahun. seharusnya dikenakan pajak dalam jumlah yang sama. administrasi pemungutan pajak harus sederhana. Prinsip keadilan ini adalah bahwa beban pengeluaran pemerintah haruslah dipikul oleh semua golongan dalam masyarakat sesuai dengan kekayaan dan kesanggupan masing-masing golongan. Kriteria kedua. Pertama. pajak dapat dikatakan baik kalau pajak tersebut bersifat progresif. pertumbuhan potensi dari dasar pengenaan pajak itu sendiri. Sedangkan. Untuk menilai suatu pajak agar dapat memenuhi tuntutan keadilan dan pemerataan. . pemerataan secara vertikal. Keadilan memiliki tiga dimensi.

maka pemberian kewenangan untuk mengadakan pemungutan pajak . Dalam kondisi seperti ini. Pada dasarnya setiap pajak atau pungutan akan menimbulkan suatu beban baik bagi konsumen maupun produsen. maka diharapkan pajak pun dapat secara politis diterima oleh masyarakat. § Tax base-nya harus merupakan perpaduan antara prinsip keuntungan (benefit) dan kemampuan untuk membayar (ability to pay). 34 Tahun 2000 tentang perubahan atas UU No. CIRI-CIRI TERTENTU SUATU PAJAK DAERAH Untuk mempertahankan prinsip-prinsip pajak daerah tersebut di atas. khususnya yang terjadi di banyak negara sedang berkembang.18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. implikasi pajak atau pungutan yang hanya menimbulkan pengaruh minimal terhadap perekonomian. berarti perbandingan antara penerimaan pajak harus lebih besar dibandingkan ongkos pemungutannya. maka perpajakan daerah harus memiliki ciri-ciri tertentu. jangan sampai suatu pajak atau pungutan menimbulkan beban tambahan (extra burden) yang berlebihan. 34 Tahun 2000 ini diharapkan pajak daerah tidak menimbulkan beban tambahan bagi masyarakat. Sidik (2002) menambahkan bahwa selain keempat kriteria yang ditetapkan Davey (1983) di atas. Dengan adanya kemauan politik seperti ini.398 Bab 19: Perpajakan Daerah Kriteria keempat. adalah sebagai berikut: § Pajak daerah secara ekonomis dapat dipungut. Namun demikian. memutuskan siapa yang harus membayar dan bagaimana pajak tersebut ditetapkan. dalam beberapa jenis pajak. Adapun ciri-ciri dimaksud. Artinya. terutama kaitannya dengan pelaksanaan otonomi daerah. Dengan adanya UU No. memungut pajak secara fisik. adalah adanya kesepakatan politik. kadang-kadang meningkat secara drastis dan adakalanya menurun secara tajam. Dalam konteks Indonesia. dan memaksakan sanksi terhadap para pelanggar. Dalam konteks Indonesia. Bahkan. Tidak ada pajak yang populer. kemauan politik diperlukan dalam mengenakan pajak. sehingga akan merugikan masyarakat secara menyeluruh (dead-weight loss). artinya penerimaan pajaknya tidak berfluktuasi terlalu besar. menetapkan struktur tarif. § Relatif stabil. kalau diperbolehkan. pajak daerah juga harus memenuhi kriteria non distorsi terhadap perekonomian. sehingga timbul motivasi dan kesadaran pribadi untuk membayar pajak. kriteria non distorsi terhadap perekonomian merupakan alasan keluarnya UU No. Semua orang pada dasarnya ingin menolak membayar pajak. lebih tidak populer dibandingkan jenis pajak yang lain.

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 399 selain mempertimbangkan kriteria-kriteria perpajakan yang berlaku secara umum. yaitu: fungsi budgeter dan fungsi regulator. Menurut Teresa Ter-Minassian (1997). Sementara. Basis pajak yang diserahkan kepada daerah seharusnya tidak terlalu “mobile”. misalnya: pajak minuman keras dimaksudkan agar rakyat menghindari atau mengurangi konsumsi minuman keras. Dengan demikian. fungsi regulator yaitu bila pajak dipergunakan sebagai alat mengatur untuk mencapai tujuan. basis pajak yang “mobile” merupakan persyaratan utama untuk mempertahankan di tingkat pemerintah yang lebih tinggi (pusat/propinsi). seyogyanya. pajak ekspor dimaksudkan untuk mengekang pertumbuhan ekspor komoditi tertentu dalam rangka menghindari kelangkaan produk tersebut di dalam negeri. seharusnya diserahkan kepada pemerintah pusat. Pajak daerah yang baik merupakan pajak yang akan mendukung pemberian kewenangan kepada daerah dalam rangka pembiayaan desentralisasi. Untuk itu. Pajak daerah seharusnya “visible”. Pajak daerah yang sangat “mobile” akan mendorong pembayar pajak merelokasi usahanya dari daerah yang beban pajaknya tinggi ke daerah yang beban pajaknya rendah. dalam arti bahwa pajak seharusnya jelas bagi pembayar pajak daerah. beberapa kriteria dan pertimbangan yang diperlukan dalam pemberian kewenangan perpajakan kepada tingkat pemerintahan pusat. Adapun fungsi pajak dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua). basis pajak yang tidak terlalu “mobile” akan mempermudah daerah untuk menetapkan tarif pajak yang berbeda sebagai cerminan dari kemampuan masyarakat. propinsi dan kabupaten/kota. juga harus mempertimbangkan ketepatan suatu pajak sebagai pajak daerah. objek dan subjek pajak dan besarnya . Sebaliknya. yaitu: 1. 3. 2. Pajak yang dimaksudkan untuk tujuan stabilisasi ekonomi dan cocok untuk tujuan distribusi pendapatan seharusnya tetap menjadi tanggung jawab Pemerintah Pusat. Basis pajak yang distribusinya sangat timpang antar daerah. pemerintah daerah dalam melakukan pungutan pajak harus tetap “menempatkan” sesuai dengan fungsinya. 4. Fungsi budgeter yaitu bila pajak sebagai alat untuk mengisi kas negara (daerah) yang digunakan untuk membiayai kegiatan pemerintahan dan pembangunan. Untuk alasan ini pajak konsumsi di banyak negara yang diserahkan kepada daerah hanya karena pertimbangan wilayah daerah yang cukup luas (seperti propinsi di Canada).

namun penyerahan kewenangan pemungutannya kepada daerah akan tepat sepanjang manfaatnya dapat dilokalisasi bagi pembayar pajak lokal. idealnya. harus elastis sepanjang waktu dan seharusnya tidak terlalu berfluktuasi. yaitu : (i) dasar pengenaan pajak dan (ii) tarif pajak. secara teoritis tidak selalu menghasilkan total penerimaan maksimum.400 Bab 19: Perpajakan Daerah 5. Pengenaan tarif pajak yang lebih tinggi. Pemerintah daerah cenderung untuk menggunakan tarif yang tinggi agar diperoleh total penerimaan pajak daerah yang maksimal. Pajak dan retribusi berdasarkan prinsip manfaat dapat digunakan secukupnya pada semua tingkat pemerintahan. Pajak yang diserahkan kepada daerah seharusnya relatif mudah diadministrasikan atau dengan kata lain perlu pertimbangan efisiensi secara ekonomi berkaitan dengan kebutuhan data. Model Leviathan Penggalian sumber-sumber keuangan daerah khususnya yang berasal dari pajak daerah pada dasarnya perlu memperhatikan 2 (dua) hal. seperti identifikasi jumlah pembayar pajak. Pajak daerah seharusnya tidak dapat dibebankan kepada penduduk daerah lain. 6. penegakkan hukum (law-enforcement) dan komputerisasi. 8. Formulasi model ini dikenal sebagai Model Leviathan. karena akan memperlemah hubungan antar pembayar pajak dengan pelayanan yang diterima (pajak adalah fungsi dari pelayanan). Hal ini tergantung pada respons wajib pajak. Pajak daerah seharusnya dapat menjadi sumber penerimaan yang memadai untuk menghindari ketimpangan fiskal vertikal yang besar. permintaan dan penawaran barang yang dikenakan tarif pajak lebih tinggi. Hasil penerimaan. Model Leviathan Tarif Pajak Daerah Kurva Laffer t* . 7. pajak terutang dapat dengan mudah dihitung sehingga dapat mendorong akuntabilitas daerah.

Pada kondisi ini dikenal sebagai revenue maximizing tax rate. maka Gambar 19. Pada tarif t*.1 di bawah ini menunjukkan hubungan antara tarif pajak proporsional atas basis pajak tertentu. Model Leviathan akan mencapai total penerimaan pajak maksimum (T*) pada tarif t*. menghasilkan Total Penerimaan Pajak Maksimum yang ditentukan oleh kemampuan wajib pajak untuk menghindari beban pajak baik legal maupun illegal dengan mengubah “economic behavior” dari wajib pajak. maka akan dicapai total penerimaan maksimum. Bentuk kurva (“Laffer”) yang berbentuk parabola menghadap sumbu Y (tarif pajak).1 ini juga mengasumsikan bahwa penyesuaian wajib pajak terhadap pengenaan tarif pajak tertentu adalah independen terhadap jenis pajak dan tarif pajak lainnya. Ketentuan Mengenai Pungutan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah . Model Leviathan ini dapat dikembangkan untuk menganalisis hubungan lebih lanjut antara tarif dan dasar pengenaan pajak untuk mencapai total penerimaan pajak maksimal. dan hanya kegiatan ekonomi saja yang dipengaruhi oleh besaran pajak. tetapi dengan pengenaan tarif pajak yang lebih rendah dikombinasikan dengan struktur pajak yang meminimalkan penghindaran pajak dan respon harga dan kuantitas barang terhadap pengenaan pajak sedemikian rupa. Model Leviathan ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa peningkatan penerimaan pajak daerah tidak harus dicapai dengan mengenakan tarif pajak yang terlalu tinggi. menunjukkan bukanlah tarif tertinggi.1 Dengan asumsi bahwa biaya administrasi perpajakan dianggap tidak signifikan dan ceteris-paribus level pelayanan publik yang dibiayai dari penerimaan pajak. Gambar 19.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 401 Gambar 19. tetapi dapat dicapai total penerimaan pajak maksimum.

18 Tahun 1997 menjadi UU No. Jenis pajak propinsi bersifat limitatif yang berarti propinsi tidak dapat memungut pajak lain selain yang telah ditetapkan. berlaku definitif untuk pajak propinsi yang .34 Tahun 2000 dan PP pendukungnya. Namun demikian.18 Tahun 1997 dianggap kurang memberikan peluang kepada daerah untuk mengadakan pungutan baru. (iv) Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan (P3ABT & AP).402 Bab 19: Perpajakan Daerah Pengaturan kewenangan pengenaan pemungutan pajak daerah dan retribusi daerah di Indoneia telah diatur sejak lama. Dengan diubahnya UU No.34 Tahun 2000. Namun. dan hanya dapat menambah jenis retribusi lainnya sesuai dengan kriteria yang ditetapkan dalam UU. namun harus ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah (PP). (ii) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air (BBNKB & KAA). dalam perkembangannya. 22/1999 dan UU No.18 Tahun 1997 diubah dengan UU No. UU No. Selain itu. Berkaitan dengan besarnya tarif. Jenis-Jenis Pajak Daerah Propinsi Pajak propinsi ditetapkan sebanyak 4 (empat) jenis pajak. Dalam UU No. yaitu : (i) Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air (PKB & KAA). maka UU No. Sehingga pada waktu UU No.66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah menjelaskan perbedaan antara jenis pajak daerah yang dipungut oleh propinsi dan jenis pajak yang dipungut oleh kabupaten/kota.65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah dan PP No. Walaupun dalam UU tersebut sebenarnya memberikan kewenangan kepada daerah. yaitu PP No. Adanya pembatasan jenis pajak yang dapat dipungut oleh propinsi terkait dengan kewenangan propinsi sebagai daerah otonom yang terbatas yang hanya meliputi kewenangan dalam bidang pemerintahan yang bersifat lintas daerah kabupaten/kota dan kewenangan yang tidak atau belum dapat dilaksanakan daerah kabupaten/kota. (iii) Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB). dalam pelaksanaannya propinsi dapat tidak memungut jenis pajak yang telah ditetapkan tersebut jika dipandang hasilnya kurang memadai. pengaturan agar Peraturan Daerah (Perda) tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah harus mendapat pengesahan dari pusat juga dianggap telah mengurangi otonomi daerah. 18 Tahun 1997 berlaku belum ada satu pun daerah yang mengusulkan pungutan baru karena dianggap hal tersebut sulit dilakukan. 25/1999.34 Tahun 2000. Seiring dengan keluarnya UU No. diharapkan pajak daerah dan retribusi daerah akan menjadi salah satu PAD yang penting guna membiayai penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah. serta kewenangan bidang pemerintahan tertentu. terutama sejak tahun 1997 dengan dikeluarkannya UU No.18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.

Potensinya memadai. Jenis pajak kabupaten/kota tidak bersifat limitatif. Objek pajak bukan merupakan objek pajak propinsi dan/atau objek pajak pusat. Kriteria dimaksud (Pasal 2 ayat 4): a. 34 Tahun 2000. yaitu : (i) pajak hotel. Jenis-Jenis Pajak Daerah Kabupaten Pemerintah daerah kabupaten/kota diberi kewenangan untuk memungut 7 (tujuh) jenis pajak (Pasal 2 ayat 2). h. Menjaga kelestarian lingkungan. c. artinya kabupaten/kota diberi peluang untuk menggali potensi sumber-sumber keuangannya selain yang ditetapkan secara eksplisit dalam UU No. (v) pajak penerangan jalan. (ii) pajak restoran. Hasil penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air . (iv) pajak reklame. g. (iii) pajak hiburan. e. Memperhatikan aspek keadilan dan kemampuan masyarakat. Bersifat pajak dan bukan retribusi. b. d. f.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 403 ditetapkan secara seragam di seluruh Indonesia dan diatur dalam PP No. Objek dan dasar pengenaan pajak tidak bertentangan dengan kepentingan umum.65 Tahun 2001. Ketentuan Mengenai Bagi Peruntukannya (Pasal 2a) Hasil Pajak Propinsi Dan Hasil penerimaan pajak propinsi sebagian diperuntukkan bagi daerah kabupaten/kota di wilayah propinsi yang bersangkutan dengan ketentuan sebagai berikut: a. Tidak memberikan dampak ekonomi yang negatif. dengan menetapkan sendiri jenis pajak yang bersifat spesifik dengan memperhatikan kriteria yang ditetapkan dalam UU tersebut. Objek pajak terletak atau terdapat di wilayah daerah kabupaten/kota yang bersangkutan dan mempunyai mobilitas yang cukup rendah serta hanya melayani masyarakat di wilayah daerah kabupaten/kota yang bersangkutan. (vi) pajak pengambilan bahan galian golongan C. (vii) pajak parkir.

b. namun tidak boleh lebih tinggi dari tarif maksimum yang telah ditentukan dalam UU tersebut.404 Bab 19: Perpajakan Daerah diserahkan kepada daerah kabupaten/kota paling sedikit 30% (tiga puluh persen). gubernur berwenang merealokasikan hasil penerimaan pajak tersebut kepada daerah kabupaten/kota dalam propinsi yang bersangkutan. Sedangkan ketentuan mengenai realokasi dilakukan oleh gubernur atas dasar kesepakatan yang dicapai antar daerah kabupaten/kota yang terkait dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten/kota yang bersangkutan. tarif jenis pajak ditetapkan paling tinggi sebesar: a. Bagian desa ditetapkan dengan peraturan daerah kabupaten dengan memperhatikan aspek pemerataan dan potensi antar desa. Disebutkan dalam UU No. Hasil penerimaan pajak kabupaten diperuntukkan paling sedikit 10% (sepuluh persen) bagi desa di wilayah daerah kabupaten yang bersangkutan. . Hasil penerimaan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor diserahkan kepada daerah kabupaten/kota paling sedikit 70% (tujuh puluh persen). Dengan adanya pemisahan jenis pajak yang dipungut oleh propinsi dan yang dipungut oleh kabupaten/kota diharapkan tidak adanya pengenaan pajak berganda. Bagian daerah kabupaten/kota ditetapkan lebih lanjut dengan peraturan daerah propinsi dengan memperhatikan aspek pemerataan dan potensi antar daerah kabupaten/kota. Penggunaan bagian daerah kabupaten/kota ditetapkan sepenuhnya oleh daerah kabupaten/kota. gubernur berwenang untuk merealokasikan hasil penerimaan pajak tersebut kepada daerah kabupaten/kota yang terkait. Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air 5% (lima persen). Dalam hal hasil penerimaan pajak kabupaten/kota dalam suatu propinsi terkonsentrasi pada sejumlah kecil daerah kabupaten/kota. Dalam hal objek pajak kabupaten/kota dalam satu propinsi yang bersifat lintas daerah kabupaten/kota. Hasil penerimaan Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan diserahkan kepada daerah kabupaten/kota paling sedikit 70% (tujuh puluh persen). 34/2000 Pasal 3 ayat (1). c. TARIF PAJAK PROPINSI DAN KABUPATEN/KOTA Besarnya tarif yang berlaku definitif untuk pajak propinsi dan kabupaten/kota ditetapkan dengan peraturan daerah.

RTI1 bahwa banyak permasalahan yang terjadi di daerah berkaitan dengan penggalian dan peningkatan PAD. f. d. Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C 20% (dua puluh persen).34 Tahun 2000 daerah kabupaten/kota dimungkinkan untuk menetapkan jenis pajak dan retribusi baru. khususnya kriteria pajak daerah tidak boleh tumpang tindih dengan pajak pusat dan pajak propinsi. e. terutama hal ini disebabkan oleh: • Relatif rendahnya basis pajak dan retribusi daerah. Keadaan ini diperlihatkan dalam suatu studi yang dilakukan oleh LPEM-UI bekerjasama dengan Clean Urban Project. k. Pajak Restoran 10% (sepuluh persen). . Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan 20% (dua puluh persen). Pajak Hotel 10% (sepuluh persen). diperkirakan daerah memiliki basis 1 Laporan Studi Dampak Krisis Ekonomi Terhadap Keuangan Daerah di Indonesia. j. Pajak Hiburan 35% (tiga puluh lima persen). g. Namun. Jakarta. adalah belum memberikan kontribusi yang signifikan terhadap penerimaan daerah secara keseluruhan. Untuk mengantisipasi desentralisasi dan proses otonomi daerah.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 405 b. Pajak Reklame 25 % (dua puluh lima persen). Pajak Penerangan Jalan 10% (sepuluh persen). Berdasarkan UU No. Pajak daerah dan retribusi daerah merupakan sumber pendapatan daerah yang penting untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah. i. sebagai salah satu komponen dari PAD. c. Permasalahan yang dihadapi oleh daerah terkait penggalian sumber-sumber pajak daerah dan retribusi daerah. melihat kriteria pengadaan pajak baru sangat ketat. Pajak Parkir 20% (dua puluh persen). tampaknya pungutan pajak dan retribusi daerah masih belum dapat diandalkan oleh daerah sebagai sumber pembiayaan desentralisasi. LPEM Universitas Indonsia bekerjasama dengan Clean Urban Project. bupaten/Kota Peranan Pajak Daerah Dan Mendukung Pembiayaan Daerah Retribusi Daerah dalam Pajak daerah dan retribusi daerah merupakan salah satu bentuk peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan otonomi daerah. h. RTI. 1999. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor 5% (lima persen). Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air 10% (sepuluh persen).

• Perannya yang tergolong kecil dalam total penerimaan daerah. 3 2 Nota Keuangan dan RAPBN Tahun Anggaran 2001. Hal ini mengakibatkan bahwa pemungutan pajak cenderung dibebani oleh biaya pungut yang besar. Hal ini mengakibatkan kebocoran-kebocoran yang sangat berarti bagi daerah.406 Bab 19: Perpajakan Daerah pungutan yang relatif rendah dan terbatas. Peranan pajak dan retribusi daerah dalam pembiayaan yang sangat rendah dan bervariasi juga terjadi karena adanya perbedaan yang sangat besar dalam jumlah penduduk. • Kemampuan administrasi pemungutan di daerah yang masih rendah. serta sifatnya bervariasi antar daerah. • Kemampuan perencanaan dan pengawasan keuangan yang lemah. Buoyancy adalah perbandingan persentase perubahan penerimaan pajak terhadap persentase perubahan pendapatan nasional. Sebagai akibatnya. Dengan kata lain. Rendahnya basis pajak ini bagi sementara daerah berarti memperkecil kemampuan manuver keuangan daerah dalam menghadapi krisis ekonomi. Selama ini. keadaan geografis (berdampak pada biaya yang relatif mahal). dan lebih mengandalkan kemampuan “negosiasi” daerah terhadap pusat untuk memperoleh tambahan bantuan. banyaknya bantuan dan subsidi ini mengurangi “usaha” daerah dalam pemungutan PAD-nya. Dari segi upaya pemungutan pajak. Sebagian besar daerah propinsi hanya dapat membiayai kebutuhan pengeluarannya kurang dari 10%3. Sebagian besar penerimaan daerah masih berasal dari bantuan pusat. buoyancy adalah elastisitas penerimaan perpajakan terhadap PDB yang menunjukkan berapa persen perubahan penerimaan perpajakan apabila PDB berubah 1%. beberapa daerah lebih condong memenuhi target tersebut. dan kemampuan masyarakat. Variasi dalam penerimaan ini diperparah lagi dengan sistem bagi hasil (bagi hasil didasarkan pada daerah penghasil sehingga hanya menguntungkan daerah tertentu). peranan PAD dalam membiayai kebutuhan pengeluaran daerah sangat kecil dan bervariasi antar daerah yaitu kurang dari 10% hingga 50%. walaupun dari sisi pertumbuhan ekonomi sebenarnya pemasukkan pajak dan retribusi daerah dapat melampaui target yang ditetapkan. sehingga mengakibatkan biaya penyediaan pelayanan kepada masyarakat sangat bervariasi. PAD masih tergolong memiliki tingkat buoyancy2 yang rendah. . Salah satu sebabnya adalah diterapkan sistem “target” dalam pungutan daerah. distribusi pajak antar daerah juga sangat timpang karena basis pajak antar daerah sangat bervariasi (ratio PAD tertinggi dengan terendah mencapai 600). Demikian pula.

yaitu PPh. yaitu jumlah penerimaan pajak yang dipungut oleh daerah hanya sebesar 3.34 Tahun 2000.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 407 Tidak signifikannya peran PAD dalam anggaran daerah tidak lepas dari ‘sistem tax assignment’ di Indonesia yang masih memberikan kewenangan penuh kepada pemerintah pusat untuk mengumpulkan pajak-pajak potensial (yang tentunya dilakukan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu). 2002. (2) pemerataan/ keadilan.39% dari total penerimaan pajak (pajak pusat dan pajak daerah). (2) Pemerintah daerah dapat memungut tambahan pajak (opsen. RANGKUMAN § Pemerintah daerah dapat memperoleh pendapatan dari perpajakan dengan cara: (1) melalui pembagian hasil pajak-pajak (revenue sharing) yang dikenakan dan dipungut oleh pemerintah pusat. PBB. surchage) di atas suatu pajak yang dipungut dan dikumpulkan oleh pemerintah pusat.4 Ketimpangan dalam penguasaaan sumber-sumber penerimaan pajak tersebut memberikan petunjuk bahwa perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah di Indonesia dari sisi revenue assignment masih terlalu ”sentralistis”. . hal. op. seperti: pajak penghasilan. § Pemerataan/keadilan. (3) kemampuan administratif. 8.cit. Elastisitas adalah kemampuan untuk menghasilkan tambahan pendapatan agar dapat menutup tuntutan yang sama atas kenaikan pengeluaran pemerintah daerah dan dasar pengenaan pajaknya berkembang secara otomatis. Keadilan memiliki tiga dimensi: (a) pemerataan vertikal. dan BPHTB menurut UU No. bahwa beban pengeluaran pemerintah haruslah dipikul oleh semua golongan dalam masyarakat sesuai dengan kekayaan dan kesanggupan masing-masing golongan.25/1999. dan (4) dapat diterima secara politik. pajak pertambahan nilai dan bea masuk. (3) Pungutan-pungutan yang dikumpulkan dan ditahan oleh pemerintah daerah sendiri yang diatur dalam UU No. § Kriteria perpajakan daerah antara lain: (1) kecukupan dan elastisitas. dalam hubungan pembebanan pajak atas 4 Machfud Sidik. Kenyataan selama ini menunjukkan bahwa distribusi kewenangan perpajakan antara daerah dan pusat sangat timpang. § Kecukupan maksudnya bahwa sumber pendapatan tersebut harus menghasilkan pendapatan yang besar dalam kaitannya dengan seluruh atau sebagian biaya pelayanan yang akan dikeluarkan.

basis pajak yang diserahkan kepada daerah tidak terlalu “mobile” sehingga mempermudah daerah untuk menetapkan tarif pajak yang berbeda sebagai cerminan dari kemampuan masyarakat. pajak daerah juga harus memenuhi kriteria nondistorsi terhadap perekonomian. (b) relatif stabil. memutuskan siapa yang harus membayar dan bagaimana pajak tersebut diterapkan. Pajak daerah yang baik merupakan pajak yang akan mendukung pemberian kewenangan kepada daerah dalam rangka pembiayaan desentralisasi. implikasi pajak atau pungutan yang hanya menimbulkan pengaruh minimal terhadap perekonomian. (b) pemerataan horisontal. (c) keadilan geografis. antara lain: (a) secara ekonomis dapat dipungut. (c) tax base-nya harus merupakan perpaduan antara prinsip keuntungan (benefit) dan kemampuan untuk membayar (ability to pay). dalam konteks hubungan pajak berdasarkan sumber pendapatan. Artinya. (3) basis pajak yang distribusinya sangat timpang antar daerah dipertahankan di pemerintah pusat. Selain empat kriteria. Kriteria dan pertimbangan dalam pemberian kewenangan perpajakan kepada tingkat pemerintahan pusat/propinsi dan kabupaten/kota menurut Tersa Ter-Minassian. (4) pajak daerah bersifat “visible” jelas bagi pembayar . untuk memunculkan kemauan politik yang diperlukan dalam mengenakan pajak. yaitu: (1) pajak yang ditujukan untuk stabilisasi ekonomi dan distribusi pendapatan menjadi tanggung jawab pemerintah pusat. pajak sebagai alat untuk mengisi kas negara (daerah) yang digunakan untuk membiayai kegiatan pemerintahan dan pembangunan. menetapkan struktur tarif. (2) pajak yang terlalu “mobile” dipertahankan di pemerintah yang lebih tinggi. dan memaksakan sanksi terhadap para pelanggar. Dengan kemauan politik. Fungsi pajak dapat dikelompokkan menjadi dua: (1) fungsi budgeter. pajak sebagai alat pengatur untuk mencapai tujuan. pelayanan memuaskan bagi si wajib pajak. artinya penerimaan pajaknya tidak berfluktuasi terlalu besar. Ciri-ciri tertentu suatu pajak daerah. misalnya pajak minuman keras untuk mengurangi konsumsi minuman keras.408 Bab 19: Perpajakan Daerah § § § § § § § tingkat pendapatan yang berbeda-beda. berarti perbandingan antara penerimaan pajak harus lebih besar dibandingkan ongkos pemungutannya. Adanya kesepakatan politik. timbul motivasi dan kesadaran pribadi untuk membayar pajak. Kemampuan administratif berarti administrasi pemungutan pajak harus sederhana. pembebanan pajak harus adil antar penduduk di berbagai daerah. mudah dihitung. Pajak yang baik adalah pajak yang bersifat progresif dan pajak yang tidak baik bersifat regresif. memungut pajak secara fisik. (2) fungsi regulator.

yaitu diberi peluang untuk menggali potensi sumber-sumber keuangannya selain yang ditetapkan secara eksplisit dalam UU No. (c) Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor. menunjukkan bahwa peningkatan penerimaan pajak daerah tidak harus dicapai dengan mengenakan tarif pajak yang terlalu tinggi. Pajak propinsi bersifat limitatif yang berarti tidak dapat memungut pajak lain selain yang telah ditetapkan dan hanya dapat menambah jenis retribusi lainnya sesuai dengan kriteria yang ditetapkan dalam UU. (6) pajak pengambilan bahan galian golongan C. 34 Tahun 2000. 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah dan PP No.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 409 § § § § § § pajak. yaitu: (a) Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air. Pajak propinsi terdiri atas empat jenis.34 Tahun 2000 dan PP pendukungnya yaitu PP No. Pajak kabupaten/kota tidak bersifat limitatif. Penggalian sumber-sumber keuangan daerah yang berasal dari pajak daerah perlu memperhatikan dasar pengenaan pajak dan tarif pajak. (2) pajak restoran. Dalam UU No. (5) pajak penerangan jalan. (4) pajak reklame.65 Tahun 2001. yaitu objek. 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah menjelaskan perbedaan antara jenis pajak daerah yang dipungut oleh propinsi dan kabupaten/kota. Model Leviathan yang menganalisis hubungan lebih lanjut antara tarif dan dasar pengenaan pajak dengan penerimaan total maksimum. maka akan dicapai total penerimaan maksimum. (6) pajak daerah dapat menjadi sumber penerimaan yang memadai untuk menghindari ketimpangan fiskal vertikal yang besar. Berkaitan dengan besarnya tarif. (3) pajak hiburan. dan (7) pajak parkir. (7) pajak daerah harusnya relatif mudah diadministrasikan. (d) Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan. subjek pajak dan besarnya pajak terutang dapat dengan mudah dihitung. tetapi dengan pengenaan tarif pajak yang lebih rendah dikombinasikan dengan struktur pajak yang meminimalkan penghindaran pajak dan respon harga dan kuantitas barang terhadap penggunaan pajak sedemikian rupa. berlaku definitif untuk pajak propinsi yang ditetapkan secara seragam di seluruh Indonesia dan diatur dalam PP No. (5) pajak daerah tidak dapat dibebankan kepada penduduk daerah lain. Pajak daerah kabupaten/kota terdiri atas tujuh jenis pajak. dengan menetapkan sendiri . yaitu: (1) pajak hotel. (b) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air. (8) pajak dan retribusi berdasarkan prinsip manfaat dapat digunakan pada semua tingkat pemerintahan.

(c) Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor 5% (lima persen). (g) memperhatikan aspek keadilan dan kemampuan masyarakat.410 Bab 19: Perpajakan Daerah § § § § § jenis pajak yang bersifat spesifik dengan memperhatikan kriteria sebagai berikut: (a) bersifat pajak dan bukan retribusi. disebabkan oleh: (a) relatif rendahnya basis pajak dan . Menurut UU No.34/2000 . (f) tidak memberikan dampak ekonomi yang negatif. (c) hasil penerimaan Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan diserahkan kepada kabupaten/kota paling sedikit 70%. (i) Pajak Penerangan Jalan 10% (sepuluh persen). (j) Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C 20% (dua puluh persen). Permasalahan yang terjadi di daerah berkaitan dengan penggalian dan peningkatan PAD. pelaksanaannya belum memberikan kontribusi yang signifikan terhadap penerimaan daerah secara keseluruhan. Pajak daerah dan retribusi daerah merupakan salah satu bentuk peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan otonomi daerah sebagai salah satu komponen PAD. (f) Pajak Restoran 10% (sepuluh persen). (b) objek pajak terletak di wilayah daerah kabupaten/kota dan mempunyai mobilitas yang cukup rendah serta hanya melayani masyarakat di wilayah yang bersangkutan. (h) menjaga kelestarian lingkungan. Namun. (d) objek pajak bukan merupakan objek pajak propinsi dan atau pajak pusat. (c) objek dan dasar pengenaan pajak tidak bertentangan dengan kepentingan umum. (b) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air 10% (sepuluh persen). Hasil penerimaan pajak kabupaten/kota diperuntukkan paling sedikit 10% bagi desa di wilayah kabupaten/kota. (h) Pajak Reklame 25% (dua puluh lima persen). Ketentuan mengenai bagi hasil pajak propinsi dan peruntukannya. (g) Pajak Hiburan 35% (tiga puluh lima persen). Gubernur berwenang untuk merealokasikan hasil penerimaan pajak jika penerimaan terkonsentrasi pada sejumlah kecil daerah saja. sebagai berikut: (a) hasil penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air diserahkan pada kabupaten/kota paling sedikit 30%. tarif pajak propinsi dan kabupaten/kota ditetapkan paling tinggi sebesar: (a) Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air 5% (lima persen). (d) Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan 20% (dua puluh persen). (e) potensinya memadai. (b) hasil penerimaan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor diserahkan kepada kabupaten/kota paling sedikit 70%. (e) Pajak Hotel 10% (sepuluh persen). (k) Pajak Parkir 20% (dua puluh persen).

§ Peran PAD yang tidak signifikan. Jelaskan fungsi pajak sebagai : a. Sebutkan dua cara pemerintah daerah memperoleh pendapatan dari perpajakan di Indonesia ! 2. dan apa tujuan dikeluarkannya UU no. (c) kemampuan administrasi pemungutan di daerah yang masih rendah. Jelaskan yang dimaksud dengan opsen ? 8. keadilan geografis 3. mengapa total penerimaan pajak maksimum bukan pada saat tarif tertinggi? 6. Sebutkan empat kriteria perpajakan daerah ! 4. Berdasarkan prinsip keadilan dari perpajakan daerah. Apa yang dimaksud dengan kriteria non distorsi terhadap perekonomian. LATIHAN 1. 34 tahun 2000 ! 5. Jelaskan dua dimensi dari elastisitas sehubungan dengan pajak ? 9. Ketimpangan dalam penguasaan sumber-sumber penerimaan pajak tersebut memberikan petunjuk bahwa perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah di Indonesia masih “sentralistis”. tidak lepas dari ‘’ tax assignment system” di Indonesia yang masih memberikan kewenangan penuh kepada pemerintah pusat untuk mengumpulkan pajak-pajak potensial. (b) perannya yang tergolong kecil dalam total penerimaan daerah. Mengapa terdapat banyak permasalahan yang terjadi di daerah berkaitan dengan penggalian Pendapatan Asli Daerah (PAD) ? 7. Fungsi Budgetair . pemerataan secara horizontal c. Berdasarkan model Leviathan. pemerataan secara vertical b. Sebutkan ciri-ciri tertentu yang dimiliki suatu pajak daerah khususnya di negara yang sedang berkembang ? 10. jelaskan yang dimaksud dengan : a. (d) kemampuan perencanaan dan pengawasan keuangan yang lemah.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 411 retribusi daerah.

Mengapa peran Pendapatan Asli Daerah (PAD) belum signifikan dalam anggaran daerah ? . Apa yang dimaksud dengan pajak daerah seharusnya visible ? 14. Fungsi Regulator 11. Bagaimana ketentuan pembagian dari hasil pajak propinsi ? 18. Mengapa basis pajak yang diserahkan kepada daerah seharusnya tidak terlalu mobile ? 12. Sebutkan jenis-jenis pajak daerah kabupaten/kota ! 17.412 Bab 19: Perpajakan Daerah b. Jelaskan dengan singkat pertimbangan yang diperlukan dalam pemebrian kewenangan perpajakan kepada tingkat pemerintahan ? 13. Sebutkan yang termasuk jenis pajak propinsi ! 16. Apa yang dimaksud dengan pajak propinsi bersifat limitatif dan mengapa pajak kabupaten/kota tidak bersifat limitatif ? 15.

Hasil dari hutang publik ini akan memainkan peranan yang sangat penting baik sebagai sumber dana pada saat terjadinya pinjaman maupun pada saat kita harus melunasi hutang tersebut. Hal yang demikian ini dialami terutama oleh negara negara yang dalam masa berkembang termasuk Indonesia. Penutupan defisit anggaran pemerintah dengan melalui pinjaman baik dari dalam maupun dari luar inilah yang dinamakan pinjaman pemerintah (Mankiw. Kegiatan kegiatan ini tentunya perlu ditunjang oleh pengeluaran pengeluaran pemerintah yang pada gilirannya pengeluaran pemerintah itu harus dibiayai dengan penerimaan pemerintah. . Untuk menutup defisit anggaran pemerintah ini salah satunya adalah dengan jalan hutang. Adakalanya pada saat tertentu pemerintah akan mengalami defisit anggaran. 2001).HUTANG PUBLIK Sebagaimana telah dijelaskan pada bagian awal bahwa pemerintah harus melakukan berbagai macam kegiatan dalam melaksanakan fungsinya sebagai penyelenggara negara.

Reproductive debt merupakan hutang yang dijamin seluruhnya dengan kekayaan negara yang berhutang atas dasar nilai yang sama besarnya. terkecuali bila ada suatu kekuasaan dari suatu negara atas negara lain. Pinjaman luar negeri adalah pinjaman yang berasal dari orang-orang atau lembaga-lembaga negara lain. Pinjaman dalam negeri dapat bersifat paksa maupun bersifat sukarela. Kewenangan penerbitan Surat Utang Negara berada pada pemerintah yang diwakili oleh Menteri Keuangan dengan melakukan konsultasi dengan Bank Indonesia dan terlebih dahulu harus mendapat persetujuan DPR. Surat Utang Negara diterbitkan dalam bentuk “warkat”. akan dibahas mengenai kedua jenis hutang tersebut. Tujuan diterbitkannya Surat Utang Negara adalah untuk membiayai defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Pada bagian berikut. Pengertian Surat Utang Negara adalah surat berharga yang berupa surat pengakuan utang dalam mata uang rupiah maupun valuta asing yang dijamin pembayaran bunga dan pokoknya oleh negara Republik Indonesia sesuai dengan masa berlakunya. Surat Utang Negara terdiri dari surat perbendaharaan negara berjangka waktu sampai dengan 12 (dua belas) bulan dengan pembayaran bunga secara diskonto dan obligasi negara berjangka waktu lebih dari 12 (dua belas) bulan dengan kupon dan/atau dengan pembayaran bunga secara diskonto. Pada pelaksanaannya. dalam membiayai pembangunan jenis hutang publik yang dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia adalah Surat Utang Negara (SUN) dan hutang atau pinjaman luar negeri. Persetujuan akan diberikan oleh DPR dengan catatan bahwa .414 Bab 20: Hutang Publik Hutang negara seringkali dibedakan menjadi dua yakni “reproductive debt” dan “dead weight debt”. Sedangkan dead weight debt merupakan hutang yang tanpa disertai dengan jaminan kekayaan. Pembedaan jenis pinjaman yang lain adalah antara pinjaman dalam negeri dan pinjaman luar negeri (internal debt dan external debt). menutup kekurangan kas jangka pendek akibat ketidaksesuaian antara arus kas penerimaan dan pengeluaran dari rekening kas negara dalam satu tahun anggaran dan mengelola portofolio utang negara. diperdagangkan atau tidak diperdagangkan di pasar sekunder dan “tanpa warkat” (scripless). SURAT UTANG NEGARA (SUN) Pengertian Surat Utang Negara diatur berdasarkan Undang-Undang No. Pinjaman dalam negeri adalah pinjaman yang berasal dari orang-orang atau lembaga-lembaga yang ada dalam negara itu sendiri. sedangkan pinjaman luar negeri biasanya bersifat sukarela. 24/2002. diperdagangkan atau tidak diperdagangkan di Pasar Sekunder.

Dalam pelaksanaan lelang Surat Utang Negara. Kegiatan penatausahaan yang mencakup pencatatan kepemilikan. Dalam hal ini. perencanaan & penetapan struktur portofolio utang negara. 502. Penawaran Surat Utang Negara dilakukan melalui lelang dan yang ditunjuk sebagai agen lelang Surat Utang Negara yaitu Bank Indonesia.000. jadwal pelaksanaan lelang.000. PENGELOLAAN SURAT UTANG NEGARA Surat Utang Negara dikelola oleh Menteri Keuangan dan aktivitas pengelolaan tersebut meliputi hal hal yang diantaranya adalah penetapan strategi & kebijakan pengelolaan surat utang negara. kliring dan setlement. 502.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 415 atas nilai bersih maksimal surat utang negara dalam 1 tahun anggaran dan pada saat pengesahan APBN. Adapun kegiatan penataausahaan Surat Utang Negara yang mencakup pencatatan kepemilikan. serta agen pembayar bunga dan pokok Surat Utang Negara dilakukan oleh Bank Indonesia. Pengaturan dan pengawasan kegiatan perdagangan Surat . Penjualan Surat Utang Negara adalah dengan cara peserta lelang mengajukan penawaran pembelian kompetitif dan penawaran pembelian nonkompetitif dalam suatu periode waktu penawaran yang telah ditentukan dan diumumkan sebelumnya. Dengan adanya persetujuan ini maka pemerintah wajib membayar bunga & pokok saat jatuh tempo dengan dana pembayaran bunga dan pokok disediakan di dalam APBN. Menteri Keuangan akan menunjuk Bank Indonesia sebagai agen pelaksana lelang surat perbendaharaan negara di pasar perdana (Auction Agent). Di samping itu Menteri Keuangan dapat menunjuk Bank Indonesia sebagai agen pelaksana lelang obligasi negara di pasar perdana. Menteri Keuangan membuka rekening dalam rangka pengelolaan Surat Utang Negara yang merupakan bagian dari rekening kas negara (Rek. pelunasan surat utang negara (redemption) dan aktivitas lain dalam rangka pengembangan pasar Surat Utang Negara.001). Penukaran (debt switching/exchange offer). kliring dan settlemen. penerbitan dan penjualan surat utang negara di pasar perdana melalui lelang dan atau tanpa lelang (issuance). kriteria peserta lelang dan hasil akhir lelang ditetapkan oleh Menteri Keuangan. Ketentuan mengenai metode lelang. pembelian kembali (buyback).003 dan Rek. Peserta lelang Surat Utang Negara adalah bank. serta agen pembayar bunga dan pokok surat utang negara dilaksanakan oleh Bank Indonesia (Central Registry). perusahaan pialang pasar uang dan perusahaan efek. Menteri Keuangan juga dapat menunjuk Bank Indonesia dan atau pihak lain sebagai agen untuk membeli atau menjual Surat Utang Negara di pasar sekunder.

summary record. dan pembayaran angsuran dalam 25 tahun (termasuk grace period). Pinjaman ini terdiri dari Soft Loan dan Export Credit. dan kegiatan proyek bersifat non komersial serta telah disetujui oleh CGI. Proses Pelaksanaan Kerjasama Pinjaman Dan Hibah Luar Negeri (PHLN) Dalam pelaksanaan kerjasama PHLN. interest rate lebih dari 3.5%. grace period 7 tahun. prosesnya dimulai dari pertemuan awal dimana akan dilakukan pembicaraan/pembahasan kerjasama antar lembaga/ instansi terkait pada acara kunjungan resmi/tidak resmi. Hasil pertemuan ini kemudian dirangkum dalam catatan pertemuan. sebagai bagian dari rangkaian suatu perundingan.416 Bab 20: Hutang Publik Utang Negara dilakukan oleh instansi pemerintah yang melakukan pengaturan dan pengawasan di bidang pasar modal (saat ini Bapepam). Di samping itu juga akan dilakukan publikasi secara berkala atas informasi kegiatan pengelolaan Surat Utang Negara yang akan dilakukan oleh Menteri Keuangan.185/KMK. dan pengalokasiannya disetujui oleh Menko Bidang Perekonomian. penatausahaan dan pertanggungjawaban atas pengelolaan Surat Utang Negara dan dana yang dikelola dilakukan oleh Menteri Keuangan.031/KET/5/1995 2 LIBOR (London Interbank Offer Rate).5% dan maksimum LIBOR2 rate. bersifat komersial. dalam bentuk devisa / barang / jasa. Berkaitan dengan akuntabilitas dan transparansinya. record 1 Pengertian Pinjaman Luar Negeri berdasarkan SKB Menteri Keuangan dan Ketua Bappenas No. dalam bentuk barang dan atau jasa yang diperoleh dari pemberi pinjaman luar negeri yang harus dibayar kembali dengan persyaratan tertentu. yang diperoleh dari pemberi pinjaman luar negeri (Lender). HUTANG LUAR NEGERI Pinjaman luar negeri adalah penerimaan negara baik dalam bentuk devisa dan atau devisa yang dirupiahkan. Ketentuan yang diberlakukan untuk soft loan. sedangkan untuk Export Credit. pemerintah harus menyediakan down payment sebesar 15% dari biaya proyek. interest rate maksimum adalah 3.03/1995 dan KEP. Pertanggungjawaban di atas akan disampaikan secara bersamaan dengan pertanggungjawaban pelaksanaan APBN. dan harus dikembalikan sesuai ketentuan dalam loan agreement. merupakan suku bunga yang umumnya dikenakan bagi pinjaman – pinjaman antar Eurobank . agreed minutes.1 Kredit/pinjaman merupakan penerimaan negara.

Implementing arrangement merupakan perjanjian yuridis antar lembaga/instansi yang mengatur kerjasama (teknis). Isi perjanjian mencakup hal-hal yang terinci dari suatu kegiatan kerjasama. Memorandum of Understanding.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 417 of discussion. maupun perjanjian pelaksanaan. Catatan di atas sifatnya belum mengikat dan tidak perlu mendapat persetujuan sekretariat kabinet. Masing-masing pihak berniat untuk menindaklanjuti pembicaraan tentang kerjasama yang pernah didiskusikan sebelumnya. namun tidak mengikat lembaga/instansi tersebut secara keseluruhan. kesepakatan pendahuluan. dalam batas-batas yang telah disepakati oleh pihak-pihak yang terlibat. Implementing arrangement dapat mencakup lebih dari satu macam perjanjian pelaksanaan. Kesepakatan ini dapat mencakup lebih dari satu kegiatan yang melibatkan instansi-instansi tertentu. Tujuannya adalah untuk merealisasikan keinginan bersama yang telah dituangkan dalam LoI. yang diajukan dalam bentuk proposal perjanjian pelaksanaan kerjasama pinjaman luar negeri. Langkah selanjutnya adalah adanya persetujuan antar pihak. atau Letter of Intent (LoI). atau minutes of meeting. yang menghasilkan komitmen untuk melaksanakan kerjasama dalam bidang tertentu di masa mendatang. atau naskah persetujuan. . Pertemuan awal ini kemudian dilanjutkan oleh kegiatan “keinginan antar pihak” yang merupakan tindak lanjut dari pertemuan awal. Tujuannya untuk menjabarkan rencana pelaksanaan kerjasama (teknik) secara rinci. Draft perjanjian ini kemudian diajukan ke sekretariat kabinet untuk mendapat persetujuan. Hasil kesepakatan atau komitmen disebut naskah keinginan bersama. dan sudah mengikat lembaga/instansi tersebut secara keseluruhan. Setelah terjadi persetujuan antar pihak. MoU. nota kesepakatan. Isi kesepakatan ini mencakup pokokpokok perjanjian secara umum/garis besar. yang dapat berfungsi hanya sebagai payung kerjasama. maka akan dilanjutkan dengan perjanjian pelaksanaan kerjasama (implementing arrangement). yang merupakan suatu kesepakatan yuridis antar lembaga/instansi. namun belum perlu mendapat persetujuan sekretariat kabinet. namun belum siap untuk merumuskannya secara formal dalam bentuk agreement. dengan ruang lingkup yang lebih spesifik sampai pada jadwal pelaksanaan serta kualifikasi personel yang ditugaskan dan sebagainya. Naskah ini ditandatangani oleh pejabat lembaga/instansi yang terlibat. dengan ruang lingkup bidang kerjasama tertentu/spesifik. sebagai tindak lanjut atau sebagai petunjuk pelaksanaan teknis dari MoU (yang merupakan payung kerjasama). Hasilnya disebut kesepakatan bersama. atau sebagai petunjuk teknis pelaksanaan dari suatu persetujuan yang sudah ada.

yang kemudian dikirim oleh pihak pertama ke pihak kedua untuk disetujui dan ditandatangani bersama menjadi naskah kerja sama.418 Bab 20: Hutang Publik Proses Penyusunan Perjanjian Kerjasama Dan Pengusulan Program/Proyek PHLN Tujuan proses ini adalah agar program/proyek pinjaman luar negeri tersebut mendapat persetujuan sekretariat kabinet. 3 Blue Book adalah suatu catatan yang berisikan Daftar Rencana Pinjaman dan Hibah Luar Negeri (DRPHLN). masing-masing untuk usulan bantuan proyek (project assistance) dan usulan bantuan teknis (technical assistance).: 185/KMK. .03/1995 – No. Hasil appraisal I dituangkan dalam Surat Keputusan (SK) Deputi II Bappenas. memuat berbagai usulan proyek yang dinilai layak mendapat pembiayaan dari PHLN. termasuk kredit ekspor. Naskah ini kemudian dibahas dalam rapat pimpinan departemen/lembaga instansi. tanggal 5 Mei 1995. yang dilampiri salinan naskah kerjasama. Bappenas akan melakukan evaluasi (appraisal I) terhadap usulan program/ proyek bersangkutan. lalu disampaikan ke biro perencanaan.031/KET/5/1995. Setelah dibahas dan mendapat persetujuan sekretariat kabinet. Selanjutnya ”naskah awal” disampaikan ke Biro Kerjasama Teknik Luar Negeri (KTLN) sekretariat kabinet. serta instansi lain yang terkait. bersama dengan biro hukum. biro perencanaan akan merumuskan naskah perjanjian pelaksanaan kerja sama.:Kep. perwakilan negara asing/lender/donor (pihak ke dua). dan dapat dicantumkan ke dalam blue book oleh Bappenas. diajukan oleh departemen/lembaga pengusul kepada Menteri Negara PPN/Ketua Bappenas untuk dicantumkan ke dalam blue book3 (khusus bagi program/proyek yang belum tercantum. Kemudian. naskah awal menjadi naskah akhir. Dalam proses pengusulan program/proyek PHLN. sekretariat kabinet. Setelah itu. Dalam penyusunan naskah perjanjian pelaksanaan kerjasama PHLN. sebagaimana dimaksud dalam SKB Menkeu dan Ketua Bappenas No. Di sini. Naskah awal dibahas di sekretariat kabinet bersama instansi pengusul (pihak pertama). sehingga menjadi ”naskah awal”. dan dimasukkan ke dalam blue book. Proses penyusunan perjanjian kerjasama dan pengusulan program/proyek PHLN ini terdiri dari 2 (dua) tahap yakni penyusunan naskah perjanjian pelaksanaan kerjasama PHLN dan pengusulan program/proyek PHLN. usulan program/proyek PHLN. Usulan ini disusun dalam 2 (dua) daftar yang terpisah. draft perjanjian disusun berdasarkan MoU oleh unit pengusul. untuk mendapat persetujuan. semua usulan program/proyek (yang sudah memiliki SK) dikonsolidasikan oleh Bappenas. atau bagi proyek/program yang belum ada kepastian pembiayaan dari negara/lembaga donor). Deplu.

tergantung jenis program/proyek dan dari mana sumber dana diperoleh. dan hasilnya adalah appraisal result. Dari perspektif negara donor setidak-tidaknya ada dua hal penting yang dianggap memotivasi dan melandasi mengalirnya bantuan luar negeri ke negara-negara debitor. atau OECF model. 1985). multilateral model (World Bank & ADB). dan Departemen Keuangan. Dalam tahap ini hasil appraisal II kembali dibahas bersama oleh Bappenas.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 419 PROSES PEMBUATAN LOAN AGREEMENT Dalam pembuatan loan agreement. dan negara/lembaga donor. sebagai bahan tindak lanjut bagi proses pembahasan teknik berikutnya. Motivasi pertama inilah yang kemudian menjadi acuan bagi Amerika Serikat untuk mengucurkan dana bantuan dalam merekonstruksi kembali perekonomian Eropa Barat setelah hancur saat Perang Dunia II. penyusunan dan penandatanganan loan agreement. blue book dikirimkan oleh Bappenas ke Departemen Keuangan. lalu dievaluasi ulang (appraisal II). Appraisal result kemudian akan dievaluasi lagi (reviewing) oleh Bappenas. diproses berdasarkan basic model. Kedua hal tersebut memotivasi politik (political motivation) dan memotivasi ekonomi (economic motivation) dimana keduanya mempunyai keterkaitan yang sangat erat satu dengan yang lain. Hasil identifikasi tersebut kemudian akan dikaji kembali oleh Bappenas. Dalam alasan-alasan yang rasional itu ada muatan urgensi dan ada pula muatan ekspansi. negara/lembaga donor. yang berupa appraised project. instansi pengusul (excecuting agency). Sedangkan muatan ekspansi berarti utang dianggap sebagai alternatif pembiayaan yang melalui berbagai perhitungan teknis dan ekonomis dianggap dapat memberikan keuntungan. Hasil review inilah yang akan dijadikan dasar untuk melaksanakan persiapan perundingan (negotiation) untuk membuat loan agreement. Kesuksesan kembali membangun Eropa Barat menjadikan program ini sebagai cetak biru (blue print) yang kemudian digunakan dalam proses pengembangan ekonomi di . dan konsultan independen (appraisal III). untuk diidentifikasi. excecuting agency. Muatan urgensi tersebut maksudnya adalah utang mungkin dipilih sebagai sumber pembiayaan karena derajat urgensi kebutuhan yang membutuhkan penyelesaian segera. Hutang Luar Negeri dalam Pembangunan Ekonomi Utang pada dasarnya adalah salah satu alternatif yang dilakukan karena berbagai alasan yang rasional. dan program ini kemudian dikenal dengan Marshall Plan (Todaro. Hasil appraisal II.

yakni untuk memfasilitai dan mengakselerasi proses pembangunan dengan cara meningkatkan pertambahan tabungan domestik sebagai akibat dari tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi. 1985) yaitu: Pertama. Faktor-faktor ini tentu saja perpaduan antara motif ekonomi dan politik yang menjadi pertimbangan utama bagi seorang investor yang rasional. 1997). Terlepas dari faktor-faktor yang dikemukakan di atas ada satu hal lagi yang perlu diingat bahwa faktor pendorong dan faktor penarik (push and pull factors) adalah dua kata yang turut menentukan terjadinya capital movement ke negara-negara berkembang (Taylor dan Sarno. Karena tingginya tingkat pertumbuhan di negara-negara berkembang akan turut meningkatkan atau berkorelasi positif terhadap kenaikan keuntungan yang bisa dinikmati di negara-negara maju seperti yang dibuktikan studi Cooper (1995). Meskipun demikian peranan dana bantuan luar negeri dan modal asing terhadap kemajuan. Dengan demikian untuk menutupi kedua kekurangan tersebut maka andalannya adalah bantuan luar negeri. Sedangkan motivasi ekonomi sebagai landasan kedua yang digunakan dalam memberikan bantuan. Ketiga. Kedua. pertumbuhan dan pembangunan ekonomi negaraberkembang telah lama menjadi perdebatan hangat di antara kelompokkelompok ekonomi dunia. adalah foreign exchange constraints. setidak-tidaknya tercermin dari 4 argumen penting (Todaro. Asia Tenggara bahkan selanjutnya sampai menyentuh Afrika serta Amerika Tengah. Dan yang terkahir (keempat). adalah technical assistance. Hal ini harus dilakukan untuk menjamin bahwa aliran dana yang masuk dapat digunakan dengan sangat efisien dalam proses memicu kenaikan pertumbuhan ekonomi. adalah absorptive capacity yakni dalam bentuk apa dana tersebut akan digunakan.420 Bab 20: Hutang Publik berbagai belahan dunia lainnya seperti Asia Selatan. Argumen ini didasari atas two gap model dimana negara-negara penerima bantuan khususnya negara-negara berkembang mengalami kekurangan dalam mengakumulasi tabungan domestik (domestic saving) sehingga tingkat tabungan yang ada tidak mampu memenuhi kebutuhan akan tingkat investasi yang dibutuhkan dalam proses memicu pertumbuhan ekonomi. Sekelompok ekonom pada tahun 1950-an dan 1960- . adalah growth and savings. Dan pada sisi lain adalah kekurangan yang dialami oleh negara yang bersangkutan dalam memenuhi kebutuhan nilai tukar asing (foreign exchange) untuk membiayai kebutuhan impor barang modal (capital goods) dan impor barang-barang intermediate (Intermediae goods). yang merupakan pendamping dari bantuan keuangan yang bentuknya adalah transfer sumber daya manusia tingkat tinggi kepada negara-negara penerima bantuan.

sumber dana eksternal (modal asing) dapat dimanfaatkan oleh negara sedang berkembang sebagai suatu dasar yang signifikan untuk memacu kenaikan investasi serta pertumbuhan ekonomi. Pemikiran di atas sedemikian kuatnya mempengaruhi proses perencanaan pembangunan di negara-negara sedang berkembang. Pemikiran mereka ini seperti yang diungkapkan oleh Chenery dan Carter (1973) dapat dikelompokkan ke dalam empat pemikiran mendasar: Pertama. Pengalaman keberhasilan pembangunan kembali perekonomian negara-negara Eropa Barat melalui Marshall plan seperti telah disinggung. Asumsi yang mereka gunakan dalam proses penganjurannya adalah bantuan luar negeri akan menambah sumber-sumber yang produktif tanpa menimbulkan dampak substitusi terhadap alokasi dan efisiensi sumber daya terutama tingkat efisiensi dalam penggunaan modal yang tercermin dari tingkat ICOR (Incremental Capital Output Ratio) dan sumber-sumber tersebut di atas sangat langka di negara-negara sedang berkembang.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 421 an berpendapat dan meyakini bahwa bantuan luar negeri mempunyai dampak yang positif terhadap pembangunan ekonomi suatu negara tanpa menimbulkan gangguan pada masa sesudahnya bagi negara-negara debitor tersebut. untuk menjaga dan mempertahankan tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi diperlukan perubahan dan perombakan yang substansial dalam struktur produksi dan perdagangan. Domar (AS) yang kemudian dikenal dengan teori Harrod-Domar. tapi telah menjadi sumber utama dalam membiayai pembangunan. kebutuhan akan modal asing akan menjadi menurun segera setelah perubahan struktural terjadi (meskipun modal yang masuk belakangan menjadi lebih produktif). Malahan porsi bantuan luar negeri tidak lagi diperlakukan sebagai faktor pelengkap (complementary factor). Kedua. maka diharapkan bantuan luar negeri tidak saja menambah sumber daya ekonomi tapi juga sekaligus mampu membayar . Ketiga. Keempat. Teori yang berbicara tentang penggunaan bantuan luar negeri dalam pembiayaan pembangunan ini. menjadi dasar kelompok tersebut untuk menganjurkannya diterapkan di negara-negara berkembang. Memang bantuan luar negeri sebenarnya dapat mencapai arah dan sasarannya. sehingga hampir tidak ada negara berkembang yang semata-mata hanya mengandalkan upaya proses pembangunannya pada sumber-sumber daya domestik. modal asing dapat berperan penting dalam memobilisasi sumber dana dan transformasi struktural. jika digunakan untuk investasi yang tingkat pengembalian investasinya (return on investment) dapat memicu kenaikan sumber daya ekonomi yang lebih besar. Pengalaman seperti yang diuraikan di atas juga mengilhami teori yang dikembangkan oleh Sir Roy Harrod (Inggris) dan kemudian dilanjutkan serta disempurnakan oleh Evsey D. selanjutnya dikembangkan lagi oleh beberapa ekonom seperti Hollis Chenery. Alan Strout dan lain-lain pada tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an.

Sementara masyarakat belum bisa maksimal digerakkan dalam partisipasi pembangunan selama ini cenderung lebih meletakkan posisi rakyat sebagai obyek pembangunan dan mempasifkan peranan mereka. korupsi dan penyalahgunaan. Kondisi semakin sulit ketika kekayaan alam yang dimiliki dengan ujung tombak komoditas primer mengalami kerontokan di pasaran dunia serta makin proteksionalisnya negara-negara maju. serta Brazil adalah contoh konkrit dari kasus yang terakhir ini. utang luar negeri juga dapat dilihat dari tinjauan pemberian bantuan tenaga ahli dan usaha joint venture perusahaan asing ke dalam negeri. Namun. utang luar negeri merupakan mata rantai yang menghubungkan kegiatan internal dan eksternal perekonomian suatu negara. Dalam pemahaman ini sulit sekali menyatakan bahwa suatu negara bisa saja tidak berutang sama sekali. Kasus-kasus Amerika Latin seperti Mexico. Artinya. Argentina. Bahaya utang luar negeri belum dianggap serius oleh sebagian besar negara pengutang mengingat mereka sangat kaya akan sumber daya alam. Dalam tahap-tahap awal pembangunan. masuknya dana ke dalam negeri tanpa usaha dan kerja keras telah ”meninabobokkan” negara-negara pengutang. Kucuran dana dari luar juga membentuk birokrasi yang sangat sensitif terhadap berbagai kebocoran. banyak juga negara-negara berkembang yang gagal dalam memanfaatkan utang luar negeri dengan baik.422 Bab 20: Hutang Publik kembali cicilan pinjaman sebelumnya. dalam perkembangannya. Akibatnya. Masuknya modal dari luar negeri juga dianggap sebagai salah satu cara mengatasi hambatan dalam pengelolaan kekayaan alam yang begitu melimpah ketika perekonomian dalam negeri tidak begitu mampu menyediakan dana untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi kekayaan alamnya. Tetapi jelas sekali bahwa jumlah dan pemanfaatan utang tersebut harus dikendalikan dan dikelola secara benar sehingga justru tidak menjadi beban yang berkepanjangan. . Tetapi sebaliknya. utang luar negeri berubah menjadi perangkap utang (debt trap) bagi negara-negara tersebut. tetapi juga dibutuhkan dalam perekonomian suatu negara untuk menunjang proses produksi dalam negeri. Utang luar negeri bukan hanya dibutuhkan dalam proses perdagangan. Sehingga tidaklah mengherankan apabila selain masuknya dana berupa fresh money ke dalam negeri. penggunaan komponen utang luar negeri sebagai sumber pembiayaan disadari begitu menguntungkan. Keadaan ini telah dibuktikan oleh negara-negara yang tergabung dalam kelompok negara-negara industri baru (Newly Industrialized Countries/ NICs) seperti Korea Selatan dan Taiwan di mana utang luar negeri telah dengan sukses menjadi mesin pertumbuhan (engine of growth) dalam perekonomian mereka.

untuk saat ini mengalirnya dana dari luar negeri merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi Indonesia untuk menginjeksi dana pembangunannya. pinjaman komersial memiliki dampakdampak yang apabila tidak diwaspadai dapat membahayakan keseimbangan makro. Indonesia untuk masa mendatang masih bergantung pada komponen ini. akan mengakibatkan perburuan pinjaman yang bersyarat lunak akan meningkat dan tentunya akan semakin sulit diperoleh. Melihat kondisi ini. di samping pemerintah. Di satu sisi. Sebagai negara berkembang yang tetap konsisten dalam mempergunakan utang luar negeri dalam politik pembangunannya. Indonesia. implikasi dan kemauan melakukan pembayaran bunga dan cicilan utang merupakan hal yang perlu dikaji lebih lanjut. masalah utang. baik perannya dalam pembangunan. Hal ini disebabkan karena masalah utang luar negeri yang dihadapi Indonesia mencapai tahap yang demikian kompleks sehingga sulit untuk diupayakan pemecahan dalam waktu yang definitif. namun munculnya bentuk intervensi dalam penentuan pengambil kebijaksanaan ekonomi negara pengutang yang disponsori oleh IMF dan Bank Dunia. tentu banyak faktor yang mempengaruhinya. Di era globalisasi dan dengan tingkat persaingan yang begitu besar. diperkirakan akan terjadi peningkatan dalam pinjaman komersial seiring dengan meningkatnya peran swasta dan langkanya pinjaman resmi yang bersyarat lunak. Dampak pertama yang ditimbulkan akibat pinjaman komersial ini adalah terjadinya ekspansi moneter yang akan mempengaruhi kestabilan ekonomi . Lemahnya posisi tawar menawar ini tidak saja dilihat dari makin kalahnya negara pengutang dalam kancah perdagangan dunia. Seberapa besar tingkat ketergantungannya. sangat sulit mengatakan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap utang luar negeri akan berkurang untuk setidak-tidaknya 10 (sepuluh) tahun ke depan. pinjaman komersial ini dibutuhkan sebagai sumber pembiayaan dan juga untuk memperkuat cadangan devisa nasional. pihak swasta juga memerlukan dana. Membesarnya pinjaman komersial ini akan membawa berbagai dampak kepada perekonomian nasional. Dengan mencermati ketahanan ekonomi Indonesia saat ini. Sementara di sisi lain. Oleh karena itu. tidaklah heran untuk masa datang perspektif utang luar negeri Indonesia dicirikan pada meningkatnya pinjaman yang bersifat komersial.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 423 Perangkap utang yang terbangun dalam frame bantuan pinjaman ini makin memojokkan negara-negara pengutang dan makin memperlemah posisi bargaining power mereka. Apapun argumennya. sebagai salah satu negara pengutang terbesar.

Sementara di sisi lain. Hal ini dikarenakan bahwa pinjaman-pinjaman komersial jangka pendek yang dilakukan oleh pihak swasta menyebabkan penarikan pinjaman ini tanpa pemantauan otoritas moneter.424 Bab 20: Hutang Publik makro dan neraca pembayaran. para pengambil kebijakan dengan mudahnya mengandai-andai bahwa jumlah utang tersebut akan segera ”dibereskan” dengan menjual seluruh asset yang dimiliki oleh BUMN. misalnya. Selain itu. besarnya pinjaman luar negeri ini akan mengurangi kepercayaan pihak luar sehingga meningkatkan country risk dari Indonesia. misalnya dengan melakukan hedging di pasar finansial. daftar kekurangan ini semakin panjang jika proyek-proyek yang dibangun . namun resiko perubahan nilai tukar terhadap kemampuan membayar utang luar negeri tetap harus diperhatikan. Masalah utang luar negeri Indonesia celakanya hanya dilihat dari mampu atau tidaknya dalam melakukan pembayaran. Konsekuensi dari ekonomi terbuka membuka banyak peluang kepada sumber dana dari luar negeri yang dapat berimplikasi pada membesarnya pinjaman luar negeri. Dampak ekspansi ini akan menjadi sulit lagi sebagai konsekuensi sistem perekonomian terbuka yang dianut Indonesia. Dampak lain dari pinjaman komersial ini berkaitan dengan adanya gejolak nilai tukar mata uang dunia yang dapat dengan seketika melonjakkan beban pembayaran kembali pinjaman. ketika ada kekhawatiran bahwa anak cucu yang baru lahir sudah ”terbebani” oleh warisan sejumlah utang. Bahkan. Meskipun berbagai langkah telah dilakukan. Dalam prakteknya. penarikan yang berlebihan memliki potensi untuk memanaskan perekonomian (over heating). yang menyebabkan arus keluar masuk modal menjadi lebih mudah dengan jangka waktu yang sangat pendek. Fenomena Yendaka. Dampak terakhir dari kecenderungan peningkatan pinjaman komersial ini adalah makin tingginya country risk dari Indonesia. bukan rahasia lagi jika proyek-proyek yang dibiayai melalui pinjaman luar negeri banyak yang kurang efisien dengan berbagai praktek korupsi serta memberikan multiplier effect yang sangat kecil. menimbulkan beban berat bagi Indonesia. Persoalannya adalah bahwa cara pandang seperti itu terlampau memudahkan persoalan dan tidak dengan rendah hati ditempatkan pada basis pemikiran: seberapa besar manfaat nyata yang diperoleh dari pembiayaan melalui komponen utang luar negeri tersebut?. Bahkan. Perekonomian dunia yang semakin terbuka semakin memperbesar ketidakpastian dari nilai tukar mata uang negara-negara maju. Hal ini tercermin dari terus menigkatnya angka DRS (Debt Service Ratio) dan persentase dari defisit transaksi berjalan terhadap GDP (Gross Domestic Product). Efeknya adalah kebijakan moneter yang dijalankan tidak akan mencapai sasaran yang juga pada akhirnya akan menganggu pencapaian sasaran ekonomi makro.

namun yang paling pokok adalah sudah bersentuhan pada persoalan dasar kebutuhan hidup rakyat yaitu tersedianya kebutuhan pokok yang cukup dengan harga terjangkau dan tertutupinya pengeluaran rutin agar operasional pelaksanaan aparat negara bisa tetap berjalan. Pinjaman dalam negeri. hutang yang tanpa disertai dengan jaminan kekayaan. Persoalan utang luar negeri dikaitkan dengan krisis yang menimpa sekarang ini tidak hanya berkaitan dengan kelanjutan pembangunan. 2001). § SUN adalah surat berharga berupa surat pengakuan utang dalm mata uang rupiah maupun valuta asing yang dijamin pembayaran bunga dan pokoknya oleh Negara Republik Indonesia sesuai dengan masa berlakunya. § Dapat dibedakan juga pinjaman dalam negeri dan pinjaman luar negeri (internal debt dan external debt). Otoritas moneter. . Persoalan utang luar negeri mesti disadari dengan kesadaran akan seberapa besar kemampuan dalam melakukan kewajibannya yang berkaitan dengan utang yang dipinjam.24/2002. dan (2) dead weight debt.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 425 dengan mempergunakan bantuan dari pihak luar seringkali tidak mengindahkan hak-hak asasi penduduk di mana proyek tersebut dibangun. hutang yang dijamin seluruhnya dengan kekayaan negara yang berhutang atas dasar nilai yang sama besarnya. bersifat paksa maupun sukarela sementara pinjaman luar negeri bersifat sukarela. Diatur berdasarkan Undang-Undang No. § Hutang publik yang dilaksanakan pemerintah Indonesia berupa Surat Utang Negara (SUN) dan hutang/pinjaman luar negeri. RANGKUMAN § Pinjaman pemerintah adalah penutupan defisit anggaran pemerintah dengan melalui pinjaman baik dari dalam maupun luar negeri (Mankiw. oleh karena sistem moneter yang begitu bebas terlihat sering ”keteter” dalam mengatur pinjaman dari pihak swasta yang kadang justru disebabkan oleh kebijaksanaan moneter dalam negeri sendiri yang mendorong terjadinya arus masuk pinjaman luar negeri swasta yang membumbung tinggi tersebut. yaitu (1) reproductive debt. § SUN diterbitkan dalam bentuk “warkat” dan “tanpa warkat” (scripless) yang diperdagangkan atau tidak diperdagangkan di pasar sekunder. Hutang negara dibedakan menjadi dua. Hal ini tentu menjadi masalah yang sangat urgen dewasa ini mengingat berbagai krisis yang telah melanda perekonomian Indonesia.

kriteria peserta lelang. perusahaan pialang pasar uang dan perusahaan efek. diwakili Menteri Keuangan setelah berkonsultasi dengan Bank Indonesia dan disetujui oleh DPR. dan (c) mengelola portofolio utang negara. § Penawaran SUN dilakukan melalui lelang. . Peserta lelang antara lain bank. dan hasil akhir lelang ditetapkan oleh Menteri Keuangan. (4) pembelian kembali (buyback). § Tujuan penerbitan SUN: (a) membiayai defisit APBN. jadwal pelaksanaan lelang. Pengaturan dan pengawasan kegiatan perdagangan SUN dilakukan oleh BAPEPAM. (6) pelunasan SUN (redemption) dan aktivitas lain dalam pengembangan pasar SUN. kliring dan setlement. § Menteri Keuangan juga menunjuk BI atau pihak lain sebagai agen untuk membeli dan menjual SUN di pasar sekunder. § Pengelolaan SUN dilakukan oleh Menteri Keuangan yang meliputi: (1) penetapan strategi dan kebijakan pengelolaan SUN. serta agen pembayar bunga dan pokok SUN dilakukan oleh Bank Indonesia (Central Registry). (5) penukaran (debt switching/exchange offer). § Kewenangan penerbitan SUN berada di tangan pemerintah. (b) menutup kekurangan kas jangka pendek. disertai catatan atas nilai bersih maksimal SUN dalam 1 tahun anggaran dan pada saat pengesahan APBN. dan (2) Obligasi Negara berjangka waktu lebih dari 12 (dua belas) bulan dengan kupon dan atau dengan pembayaran bunga secara diskonto. Ketentuan mengenai metode lelang. dalam bentuk barang dan atau jasa yang diperoleh dari pemeberi pijaman luar negeri (lender) yang harus dibayar kembali dengan persyaratan tertentu (loan agreement). § Pinjaman luar negeri adalah penerimaan negara baik dalam bentuk devisa dan atau devisa yang dirupiahkan. Pinjaman luar negeri terdiri dari: (a) Soft Loan dan (b) Export Credit.426 Bab 20: Hutang Publik § SUN terdiri atas: (1) Surat Perbendaharaan Negara yang berjangka waktu sampai dengan 12 (dua belas) bulan dengan pembayaran bunga secara diskonto. § Kegiatan penatausahaan SUN yang mencakup pencatatan kepemilikan. (3) penerbitan dan penjualan SUN di pasar perdana melalui lelang atau tanpa lelang (issuance). Menteri Keuangan menunjuk Bank Indonesia sebagai agen pelaksana lelang (Auction Agent) surat perbendaharaan negara dan obligasi negara di pasar perdana. Pertanggungjawaban atas SUN dan dana yang dikelola disampaikan bersamaan dengan pertanggungjawaban pelaksanaan APBN demi akuntabilitas dan transparansi. (2) perencanaan dan penetapan struktur portofolio utang negara.

Kemudian bersama biro hukum merumuskan naskah perjanjian pelaksanaan kerja sama sehingga menjadi naskah awal. merupakan perjanjian yuridis antar lembaga/instansi yang mengatur kerjasama (teknis). § Tujuan proses penyusunan perjanjian kerjasama dan pengusulan program/proyek PHLN adalah agar program/proyek pinjaman luar negeri mendapat persetujuan dari sekretaris kabinet dan dicantumkan ke dalam Blue Book oleh Bappenas. setelah dibahas dan mendapat persetujuan sekretaris kabinet. usulan program/proyek PHLN dilampiri salinan naskah kerja sama yang diajukan oleh departemen/lembaga pengusul kepada Menteri Negara PPN/Ketua Bappenas untuk dicantumkan ke dalam blue book. atau naskah persetujuan sebagai payung bersama atau petunjuk teknis pelaksanaan dari suatu persetujuan yang sudah ada. nota kesepakatan atau Letter of Intent (LoI). Hasil kesepakatan disebut naskah keinginan bersama. ditandatangani pejabat terkait namun belum mendapat persetujuan sekretaris kabinet. sudah mengikat lembaga-lembaga secara keseluruhan dalam batas-batas yang telah disepakati.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 427 § Tahap-tahap pelaksanaan kerjasama Pinjaman dan Hibah Luar Negeri (PHLN). kesepakatan pendahuluan. § Dalam penyusunan naskah perjanjian pelaksanaan kerjasama PHLN. disampaikan ke biro perencanaan. draft perjanjian disusun berdasarkan MoU oleh unit pengusul. namun tidak mengikat. (c) adanya “persetujuan antar pihak” merupakan suatu kesepakatan yuridis antar lembaga/instansi. (b) kegiatan “keinginan antar pihak” yang menghasilkan komitmen untuk bekerjasama dalam bidang tertentu di masa mendatang. MoU. (d) perjanjian pelaksanaan kerja sama (implementing agreement). Implementing agreement bertujuan untuk menjabarkan rencana pelaksanaan kerjasama (teknis) secara rinci. Diajukan dalam bentuk proposal perjanjian pelaksanaan kerjasama pinjaman luar negeri ke sekretaris kabinet untuk mendapatkan persetujuan. yaitu: (a)pertemuan awal membicarakan/membahas kerjasama antar lembaga/instansi pada acara kunjungan resmi/tidak resmi. hasil pertemuan dirangkum dalam catatan ertemuan yang belum mengikat dan tidak perlu persetujuan sekretaris kabinet. Terdiri dari 2 (dua) tahap yaitu (a) penyusunan naskah perjanjian pelaksanaan kerjasama PHLN dan (b) pengusulan program/proyek PHLN. Hasilnya disebut kesepakatan bersama. Disusun dalam dua . naskah awal menjadi naskah akhir yang disetujui dan ditandatangani bersama menjadi naskah kerja sama. mencakup lebih dari satu macam perjanjian pelaksanaan. § Dalam proses pengusulan program/proyek PHLN.

sehingga terjadi pertambahan tabungan domestik yang akan berkorelasi positif terhadap kenaikan keuntungan yang dinikmati negara-negara maju. (2) untuk menjaga dan mempertahankan tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi diperlukan perubahan yang substansial dalam struktur produksi dan perdagangan. yaitu usulan bantuan proyek (project assistent) dan usulan bantuan teknis (technical assistance). Selain itu. Foreign exchange constraints. Growth and savings. didasari oleh two gap model. Hasil review yang akan dijadikan dasar untuk melaksanakan persiapan perundingan (negotiation) untuk membuat loan agreement. Dua hal penting yang memotivasi dan melandasi mengalirnya bantuan luar negeri ke negara-negara debitor yaitu: (a) memotivasi politik (political motivation) dan (b) memotivasi ekonomi (economic motivation) Motivasi ekonomi dalam memberikan bantuan. dan penandatanganan loan agreement. (4) absorptive capacity.428 Bab 20: Hutang Publik § § § § § § § § daftar yang terpisah. yakni dalam bentuk apa dana itu akan digunakan. Teori Harrod-Domar berbicara tentang penggunaan bantuan luar negeri dalam pembiayaan pembangunan terdiri dari empat pemikiran mendasar: (1) modal asing (dana eksternal) dimanfaatkan untuk memacu kenaikan investasi serta pertumbuhan ekonomi. penyusunan. dimana negara-negara pemberi bantuan khususnya negara berkembang. (2) growth and savings. memiliki empat argumen penting: (1) foreign exchange constraints. kekurangan yang dialami negara tersebut dalam memenuhi kebutuhan nilai tukar asing (foreign exchange) untuk membiayai kebutuhan impor barang modal dan intermediate. instansi pengusul dan negara/lembaga donor. Absorptive capacity. Dalam pembuatan loan agreement. blue book dikirimkan oleh Bappenas ke Departemen Keuangan. bahwa bantuan luar negeri akan digunakan untuk memfasilitasi dan mengakselerasi tingkat pertumbuhan yang tinggi. (3) technical assistance. Kemudian dilakukan evaluasi ulang sehingga dihasilkan appraisal result yang akan direview lagi. pendamping dari bantuan keuangan yang bentuknya transfer sumber daya manusia tingkat tinggi untuk menjamin aliran dana digunakan secara efisien dalam memicu pertumbuhan ekonomi. Technical assistance. mengalami kekurangan dalam mengakumulasi tabungan domestik (domestic saving) yang tidak mampu memenuhi kebutuhan akan tingkat investasi yang dibutuhkan dalam memicu pertumbuhan ekonomi. (3) modal asing berperan penting dalam memobilisasi sumber dana dan .

4. Jelaskan bagaimana proses pembuatan loan agreement! 9. Sebutkan beberapa dampak dari membesarnya pinjaman komersial! 1. § Dampak-dampak dari pinjaman komersial selain sumber pembiayaan dan memperkuat cadangan devisa nasional. 2. LATIHAN Jelaskan perbedaan reproductive debt dan dead weight debt! Apa yang dimaksud dengan Surat Utang Negara (SUN)? Sebutkan tujuan diterbitkannya SUN! Apa saja tugas Menteri Keuangan dalam pengelolaan Surat Utang Negara (SUN)? 5. berkurangnya kepercayaan pihak luar karena jumlah pinjaman luar negeri yang semakin besar dengan meningkatnya DRS dan persentase dari defisit transaksi berjalan terhadap GDP. (c) makin tingginya country risk dari Indonesia. Bagaimana proses penyusunan naskah perjanjian kerja sama PHLN dilakukan? 8. 3.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 429 transformasi struktural. Jelaskan beberapa argumen penting yang menjadi dasar negara-negara donor untuk mengalirkan bantuan ke negara debitor secara motivasi ekonomi! 10. apakah sesuai dengan sasaran? 11. yaitu: (a) terjadinya ekspansi moneter yang akan mempengaruhi kestabilan ekonomi makro dan neraca pembayaran. (b) gejolak nilai tukar mata uang dunia yang dapat dengan seketika melonjakkan beban pembayaran kembali pinjaman. Bagaimana pendapatmu tentang penggunaan hutang luar negeri terkait dengan pembangunan ekonomi yang dilakukan oleh bangsa Indonesia. (4) kebutuhan modal asing akan menurun segera setelah perubahan struktural terjadi. Jelaskan proses pelaksanaan Pinjaman dan Hibah Luar Negeri (PHLN)! 6. Apa perbedaan antara soft loan dan export credit? 7. .

430 Bab 20: Hutang Publik .

Pinjaman dalam negeri dapat berasal dari. Pinjaman yang berasal dari masyarakat penghimpunan dana dapat melalui penerbitan obligasi daerah. pemerintah pusat. lembaga keuangan bank. namun perlu diperhatikan adanya batas meminjam yang . Walaupun kemungkinan nilai pinjaman yang mampu dikumpulkan cukup besar karena banyaknya sumber yang bisa digunakan. baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Sumber pinjaman dapat berasal dari berbagai pihak. masyarakat. lembaga keuangan bukan bank.PINJAMAN DAERAH PENDAHULUAN Pinjaman merupakan alternatif lain yang bisa dipilih untuk membiayai pembangunan daerah. Banyaknya pihak yang dapat dijadikan sumber pinjaman membuat pembiayaan pembangunan dengan pinjaman mampu mengumpulkan dana yang cukup besar. dan sumber lainnya seperti pinjaman dari daerah lain.

Pemilihan jangka waktu akan sangat tergantung pada jenis proyek yang akan dibiayai. dan kemampuan meminjam (ability to borrowing). untuk membiayai investasi yang diharapkan dapat menghasilkan penerimaan bagi daerah. membayar hutang dan membiayai sebagaian besar dari biaya-biaya rutin (operating cost). harus menjadi pertimbangan dalam melakukan pinjaman. metode dan sumber-sumber pinjaman. biasanya sebagai suatu keharusan karena pola pengumpulan penerimaan daerah yang tidak seimbang. 2. bahwa berbagai pinjaman dilakukan dengan tujuan sebagai berikut: 1. untuk membeli pabrik dan peralatan dengan unsur jangka menengah. 5. TUJUAN DAN BATAS-BATAS PINJAMAN Pemerintah daerah dapat membiayai sebagian pengeluarannya dengan melakukan pinjaman. 4. Dalam konstitusi di berbagai negara. . pemerintah daerah di Italia meminjam 61% dari penerimaan kotor mereka untuk membiayai pengeluaran modal. masalah kewenangan daerah untuk meminjam ini telah diatur. Bentuk pinjaman yang umum berupa bank overdraft. dengan jangka waktu sampai tiga bulan. Pada bagian ini akan dibahas mengenai tujuan dan batas-batas pinjaman. Pinjaman juga dapat dibedakan berdasarkan jangka waktu.432 Bab 21: Pinjaman Daerah disesuaikan dengan kemampuan tiap-tiap daerah. untuk menutup kebutuhan dana (cash) jangka pendek. Tetapi jarang diperkenankan bagi pemerintah daerah. dalam subbagian selanjutnya akan disajikan praktek pinjaman daerah di Indonesia. Kekurangan dana dari anggaran tahunan adalah hal yang umum terjadi untuk pemerintah pusat. untuk membiayai kekurangan dana anggaran tahunan berupa biaya rutin dan beban hutang. Pada dasarnya kewenangan daerah melakukan pinjaman adalah seperti yang dituliskan oleh Davey (1983). akan tetapi pemerintah daerah seringkali mencari pinjaman langsung dari deposito jangka pendek dari masyarakat berupa short-term bills. Pinjaman dengan maksud untuk menutup kebutuhan dana jangka pendek adalah sangat umum dilakukan. Pada tahun 1975. jangka pendek dan jangka panjang. persyaratan-persyaratan pinjaman. terutama risiko dalam pembayaran bunga maupun pokok. untuk membiayai pembangunan modal jangka panjang (prasarana atau penyediaan pelayanan umum). 3. Agar pembahasan ini lebih riil di lapangan. Risiko yang terkandung dalam melakukan pinjaman.

sumber pinjaman untuk pembiayaan jenis ini biasanya berasal dari negara-negara donor dengan tingkat bunga yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan bunga komersial. selain mendapatkan sumber penerimaan bagi daerah. Sebagai contoh. Dengan kata lain. Maksudnya adalah. Sementara itu. biasanya diarahkan untuk membiayai prasarana publik yang relatif cenderung lebih mengedepankan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat dibandingkan dengan revenue yang dihasilkan. Suatu cara penyelesaian yang umum untuk membeli peralatan dengan pinjaman adalah dengan membeda-bedakan perkiraan umur masingmasing peralatan. Oleh karenanya. Dari pembahasan ini prinsip dasar yang harus dipegang ketika pemerintah daerah melakukan pinjaman adalah bahwa penggunaan dana pinjaman harus sesuai dengan karakteristik dari pinjaman itu sendiri. sesungguhnya batasan-batasan atau teknik-teknik pembiayaan yang berlaku dalam dunia korporasi juga berlaku bagi pemerintah daerah. Pinjaman yang bersifat jangka pendek. Pemerintah negara bagian di Amerika Serikat juga mengadakan pinjaman melalui industrial aid bonds untuk menyediakan dana investasi perusahaan manufaktur perorangan. Praktek dan konsep yang secara luas dapat diterima adalah dana pinjaman untuk membiayai kegiatan investasi yang dapat “membiayai sendiri”. Manfaat dari pinjaman seperti ini adalah. pembangunan British New Town Corporation dibiayai oleh Pemerintah Pusat Inggris. tidak boleh digunakan untuk membiayai kegiatan atau investasi jangka panjang. Praktek-praktek seperti ini antara lain sering diterapkan di negaranegara maju. karena akan menimbulkan mismatch (ketidaktepatan) antara pembayaran pinjaman yang jatuh tempo dengan waktu penerimaan penghasilan. . Pengembalian pinjaman tersebut dari hasil penjualan rumah-rumah dan toko-toko yang dibangun oleh British. pemerintah daerah juga mampu menyediakan pelayanan publik secara lebih baik. Cara leasing ini semakin dikenal untuk menghindari pembelian peralatan yang cepat menjadi usang sebagai akibat perubahan teknologi.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 433 Pemerintahan New York juga pernah melakukan pinjaman untuk membayar gaji pegawai dan uang pensiunan dan membayar hutang yang telah jatuh tempo. proyek yang dibiayai tersebut dapat menghasilkan penerimaan (revenue) yang dapat digunakan untuk membayar kembali dana pinjaman. Pembelian sebuah pabrik dan peralatan lainnya juga dapat dibiayai dengan pinjaman. penggunaan dana pinjaman untuk membiayai pembangunan prasarana dan penyediaan pelayanan umum. Pilihan lain adalah dengan cara pinjam sewa (leasing).

Kedua. Pinjaman internal yang berasal dari dana cadangan. khusus untuk pinjaman jangka pendek untuk memenuhi cash flow pemerintah daerah. Dana untuk sewa beli peralatan (leasing). Bank Pembangunan Amerika Latin (untuk negara-negara di kawasan Amerika Latin). 4. hampir 100% pinjaman jangka panjang pemerintah daerah berasal dari pemerintah pusat. Bahkan. misalnya dana pensiun. 5. 2. Praktek ini diterapkan oleh India.434 Bab 21: Pinjaman Daerah METODE DAN SUMBER-SUMBER PINJAMAN Terdapat beberapa sumber pinjaman dan metode pinjaman yang dapat dilakukan oleh pemerintah daerah. 7. PERSYARATAN-PERSYARATAN PINJAMAN 1 Mekanisme pinjaman two step loan dan subsidiary loan aggreement adalah pinjaman dari luar negeri ke Pemerintah Pusat. melalui bank-bank komersial. Pinjaman yang berasal dari bank sentral di negara masing-masing. 8. dimana 71. 6. Pinjaman yang bersumber dari badan-badan internasional. Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB). Obligasi jangka panjang (bond). Misalnya. karena ada larangan dari pemerintah pusat bagi pemerintah daerah untuk meminjam di luar skema pemerintah pusat. 9. yang biasanya pinjaman ini diberikan kepada pemerintah pusat negara yang bersangkutan melalui mekanisme pinjaman two step loan atau subsidary loan aggreement. sumber dana yang berasal dari pasar keuangan. Pinjaman jangka pendek yang diberikan oleh bank-bank komersial. dengan mengeluarkan obligasi (bonds) di pasar modal. Bank Pembangunan Islam (Islamic Development Bank/IDB). seperti Bank Dunia (World Bank). Pembahasan lebih lanjut untuk kasus di Indonesia ini akan dibahas secara khusus di subbagian berikutnya. yaitu: 1.1 3. Pertama. Bank Asia Afrika dan bantuan bilateral.6% pinjaman daerah berasal dari pemerintah pusat pada tahun 1979. Pinjaman yang bersumber dari pemerintah yang lebih atas (umumnya dari pemerintah pusat). Di antara sistem pinjaman tersebut di atas. . ada tiga cara yang paling sering digunakan oleh pemerintah daerah di berbagai negara. kemudian oleh Pemerintah Pusat. Ketiga. di Indonesia. pemerintah pusat memberikan pinjaman kepada pemerintah daerah. Pinjaman hipotek atas aset tetap. pinjaman tersebut diteruskan ke Pemerintah Daerah. Dana kontraktor untuk pembangunan proyek-proyek.

(ii) cara pembayaran kembali. sehingga hutang pokok yang dibayarkan adalah kumulatif selama masa pinjaman. Di Indonesia. maka pemerintah daerah harus mendapatkan pinjaman dengan jangka waktu yang setidaknya sama dengan umur proyek. Jangka waktu pinjaman sangat tergantung dengan tujuan penggunaan pinjaman. pinjaman dari lembaga-lembaga internasional oleh suatu pemerintah biasanya memberlakukan bunga yang lebih rendah dibandingkan dengan bunga pasar. Pada umumnya. Persyaratan tingkat bunga pinjaman yang bersumber dari pasar keuangan pasti didasarkan pada bunga pasar. Biasanya. (iv) keamanan pinjaman. Jika menggunakan metode anuitas berarti membayar beberapa kali angsuran dalam jumlah yang sama besarnya setiap kali pembayaran hingga masa pembayaran selesai. Persyaratan cara pembayaran kembali akan tergantung pada metode pembayaran yang dilakukan. pinjaman dari lembaga-lembaga internasional tersebut juga memberlakukan fee. pinjaman yang bersumber dari pemerintah pusat atau lembaga keuanga internasional sering mencari turnover dana yang dipinjamkan secepat mungkin. semakin lama suatu pinjaman. dimana angsuran pinjaman dibayar secara tetap. dan (v) persetujuan dan penyidikan. Untuk tujuan capital investment. Jangka waktu pinjaman pemerintah daerah bisa saja berkisar antara 24 jam (overnight) hingga 40 tahun. dengan maksud agar dapat meningkatkan kemampuan finansial pemerintah daerah. Yang terpenting adalah bahwa jangka waktu pinjaman bergantung pada sikap pasar serta suku bunga yang berlaku. Komponen dalam setiap kali pembayaran tersebut adalah pokok pinjaman dan bunga pinjaman.25% dari pinjaman yang belum ditarik. berupa management fee dan commitment fee yang besarnya sangat tergantung dari negosiasi antara kedua belah pihak. misalnya. Sementara itu.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 435 Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dalam ketentuan pinjaman adalah (i) jangka waktu pinjaman. management fee dan commitment fee sekitar 0. . (iii) tingkat bunga. tingkat bunga pun akan semakin tinggi. Namun. namun dalam prakteknya metode ini sering lebih merupakan usaha penyelematan terhadap utang kepada pihak luar (external debt). Akan tetapi. pengalaman menunjukkan bahwa bila cara sinking fund telah diterapkan dan untuk memenuhi kewajibannya disanggupi dengan baik. Sebagai pilihan yang dapat dilakukan adalah jangka waktu pinjaman dapat diturunkan sesuai penerimaan dari pajak dan retribusi untuk mengimbangi beban pinjaman tersebut. Metode pembayaran yang lain adalah menggunakan metode sinking fund. misalnya pinjaman untuk masa 10 tahun.

misalnya lembaga perwakilan daerah. PENGGUNAAN PINJAMAN DALAM PEMBIAYAAN Kebutuhan akan pinjaman daerah muncul akibat kecenderungan yang terjadi dimana peningkatan peran pemerintah daerah dalam pengelolaan dan pembiayaan pembangunan proyek-proyek investasi daerah. 2000): . semakin besar. Kewenangan yang lebih besar kepada daerah untuk menentukan prioritas investasi daerah dan pelaksanaan proyek-proyek pembangunan daerah. Proyek-proyek yang bersifat jangka panjang dengan manfaat ekonomi dan sosial selayaknya didanai oleh pembiayaan jangka panjang. Makanya. pinjaman yang dilakukan oleh pemerintah daerah baru dapat dijalankan jika DPRD setempat memberikan persetujuan. Persyaratan persetujuan muncul karena suatu pinjaman yang dilakukan oleh pemerintah daerah. Dalam konteks di Indonesia. Dari sisi teori fiskal. sedangkan pinjaman daerah yang berasal dari sumber non-pemerintah (private debt sources) akan meningkatkan efisiensi penggunaannya. Prasyarat utama bagi diperbolehkannya daerah meminjam adalah dengan menerapkan “the golden rule guidelines” bagi pinjaman daerah (Magrassi. Keterbatasan pemerintah daerah dalam memobilisasi sumber-sumber penerimaan daerah yang berasal dari daerahnya sendiri menjadi alasan penggunaan pinjaman dalam pembiayaan suatu daerah. biasanya tidak dapat dilakukan sebelum ada persetujuan dari lembaga yang berwenang. misalnya proyekproyek infrastruktur. dalam berbagai klausul pinjaman oleh pemerintah daerah. 2001). Masyarakat yang menerima manfaat proyek di masa mendatang secara prinsip harus ikut menanggung beban biaya pengadaan proyek tersebut. pendapat yang mendukung pinjaman daerah mengacu pada prinsip keadilan antar generasi (intergenerational equity considerations). Hal ini dilandasi dengan perkembangan tingkat urbanisasi yang lebih tinggi daripada kemampuan daerah menyediakan berbagai infrastruktur dan fasilitas pelayanan publik. Keterbatasan keuangan pemerintah pusat yang berimplikasi pada dana perimbangan pusat dan daerah. karena pemerintah daerah harus memperhitungkan secara tepat nilai opportunity cost of capital yang sesungguhnya dan memprioritaskan proyek-proyek yang akan dilaksanakannya sesuai dengan tingkat manfaat sosial dan ekonomi (Alisjahbana. tidak jarang pemberi pinjaman meminta adanya jaminan dari pemerintah pusat atau dijamin dengan aset tertentu.436 Bab 21: Pinjaman Daerah Persyaratan keamanan pinjaman muncul karena pihak pemberi pinjaman biasanya menghendaki suatu keadaan aman terhadap kegagalan pembayaran kembali.

Untuk menghindari risiko yang dapat terjadi atas penggunaan pinjaman daerah dalam pembiayaan hendaknya memperhatikan kaidah yang berlaku dalam memperkirakan kapasitas meminjam pemerintah daerah. Istilah disisihkan dimaksudkan untuk mempertegas adanya rencana untuk membiayai proyek melalui dana pinjaman daerah. § Pemerintahan Pusat § Lembaga Keuangan Bank § Lembaga Keuangan Bukan Bank § Masyarakat § Sumber Lainnya Pinjaman daerah menurut PP No 107 Tahun 2000 adalah: semua transaksi yang mengakibatkan daerah menerima dari pihak lain sejumlah uang atau manfaat bernilai . DSR merupakan ambang batas kemampuan pelunasan daerah yang pada prinsipnya digunakan Pemerintah Daerah untuk mengendalikan jumlah pinjaman yang relatif aman. Dua ukuran yang sering digunakan untuk itu adalah Debt Service Ratio (DSR) dan Debt Coverage Ratio (DCR)..Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 437 “ . local government should only use sub-national debt to finance capital projects that are anticipated to produce financial rate of returns that. Sedangkan DCR pada prinsipnya merupakan angka perbandingan antara perkiraan kemampuan daerah yang dapat disisihkan (tabungan neto) dengan total rencana pembayaran pinjaman setiap tahunnya. Undang-undang No 25 Tahun 1999 Pasal 11 ayat 1 menyebutkan bahwa: "Daerah dapat melakukan pinjaman dari sumber dalam negeri untuk membiayai sebagian anggarannya". Sedangkan untuk pinjaman dari dalam negeri dapat secara langsung dilakukan bila disetujui oleh DPRD dengan prinsip pinjaman tersebut harus secara langsung dikaitkan dengan kemampuan daerah untuk membayar pinjamannya.. (a) sumber dalam negeri (b) sumber luar negeri. PRAKTEK PINJAMAN DAERAH DI INDONESIA Ketentuan Dasar Pinjaman Daerah di Indonesia Undang-undang No. Pinjaman daerah yang berasal dari luar negeri harus melalui pemerintah pusat. Pinjaman dari dalam negeri dapat bersumber dari (PP 107/2000 pasal 2 ayat 2).. dan terutama tersedianya dana untuk pengembalian pinjaman secara aman.. 25 Tahun 1999 menyebutkan bahwa daerah dapat melakukan pinjaman yang bersumber dari. vis-a-vis the project socioeconomic benefits.. perlunya persetujuan pemerintah pusat harus ada evaluasi yang menyeluruh tentang aspek-aspek dapat tidaknya usulan pinjaman untuk diproses lebih lanjut. justify the debt service paid to lenders”.

Pelaksanaan Undang-undang Nomor 22 dan 25 Tahun 1999 telah menyebabkan terjadi perubahan yang sangat mendasar mengenai pengaturan hubungan pusat dan daerah.438 Bab 21: Pinjaman Daerah uang. pembiayaan investasi yang diharapkan dapat secara langsung menghasilkan pendapatan. 2001). baik yang bersumber dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Walaupun demikian. Pinjaman jangka panjang dapat digunakan untuk membiayai pembangunan prasarana yang dapat menghasilkan penerimaan untuk pembayaran kembali. b. pinjaman harus didefinisikan sebagai sumber dana pelengkap untuk mempercepat proses pembangunan daerah. Beberapa Isu yang Terkait dengan Regulasi Pinjaman Daerah Pada tahun 1999. Berdasarkan penggunaan dan melihat jangka waktunya maka. yang artinya . Pinjaman harus secara langsung dikaitkan dengan kemampuan mengangsur serta cara mengalokasikan pada pembangunan dan atau penyediaan layanan publik yang produktif. 25/1999 adalah diperkenankannya daerah melakukan pinjaman sendiri secara langsung. Pemerintah RI memberlakukan dua undang-undang penting yang berkaitan dengan desentralisasi. khususnya dalam bidang administrasi pemerintahan maupun dalam hubungan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah. dan pembiayaan investasi jangka panjang yang tidak menghasilkan pendapatan secara langsung. pembiayaan defisit anggaran rutin tahunan. serta memberikan manfaat bagi pelayanan masyarakat. Dalam hal ini. Salah satu hal penting yang membedakan derajat desentralisasi fiskal antara sebelum dan sesudah keluarnya UU No. Pinjaman jangka pendek dapat digunakan untuk membantu kelancaran arus kas dan dana awal bagi investasi jangka panjang. 22/1999 dan UU No. tidak termasuk kredit jangka pendek yang lazim terjadi dalam perdagangan. 25/1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. yaitu UU No. sehingga daerah tersebut dibebani kewajiban untuk membayar kembali. pembelian peralatan dan kendaraan yang memiliki umur ekonomis jangka menengah. a. Pinjaman pada dasarnya dapat digunakan untuk pembiayaan defisit aliran kas jangka pendek. yang dalam banyak literatur disebut intergovernment fiscal relation yang dalam UU 25/1999 disebut perimbangan keuangan. Pinjaman daerah sebaiknya bersifat jangka panjang guna membiayai pembangunan prasarana yang merupakan aset daerah dan dapat menghasilkan penerimaan untuk pembayaran kembali pinjaman serta memberikan manfaat bagi pelayanan masyarakat (Wiratmo. 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No.

1: Pinjaman Daerah Sebelum dan Setelah Kebijakan Desentralisasi SEBELUM DESENTRALISASI SETELAH DESENTRALISASI Legal Foundation UU No.1 ). sebagai pengawas RPD dan UU No. Hal yang sama juga berlaku untuk pinjaman bilateral. serta memberikan manfaat bagi pelayanan masyarakat. Namun. Tabel 21. 25/1999 (lihat Tabel 21. (4) Daerah dapat melakukan pinjaman jangka pendek guna pengaturan arus kas dalam rangka pengelolaan kas daerah. dan lain-lain) mensyaratkan perjanjian pinjaman dilakukan oleh negara sebagai anggota. berkenaan • dengan persetujuan batas • DPRD maksimum pinjaman dan persetujuan pemberian. • Menteri Keuangan. 5/1974 Institutional Setting Persetujuan (Approval) Persetujuan (Approval) Menteri Keuangan • Menteri Dalam Negeri. pada kenyataannya lembaga lender multilateral (ADB. dimana negara lender hanya melakukan pinjaman dengan pemerintah pusat sebagai peminjam (Pakpahan. 2004). World Bank. (3) Daerah dapat melakukan pinjaman jangka panjang guna membiayai pembangunan prasarana yang merupakan aset daerah dan dapat menghasilkan penerimaan untuk pembayaran kembali pinjaman. yang dalam hal ini adalah pemerintah pusat.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 439 pemerintah pusat tidak menjadi penjamin (sovereign guarantor). 25/1999 PP 107/2000 . (2) Daerah melakukan pinjaman dari sumber luar negeri melalui pemerintah pusat. 22/1999 dan UU No. Kondisi ini sangat berbeda dengan ketentuan mengenai pinjaman daerah sebelum UU No. Pasal 11 UU No. 25/1999 menyebutkan bahwa: (1) Daerah dapat melakukan pinjaman dari sumber dalam negeri untuk membiayai sebagian anggarannya.

5 berdasarkan proyeksi penerimaan dan pengeluaran selama jangka waktu pinjaman. Sumber-Sumber Pinjaman • Pinjaman Luar Negeri Pemerintah • Pusat • Pinjaman Pemerintah Pusat melalui RDI • INPRES untuk Pembangunan Pasar • • IPEDA • Sumber-sumber Lain (BPD dan sektor swasta) • Pemerintah Pusat melalui RPD Sumber: Alm & Mulyani. • DSCR minimal 2. 25/1999 dan PP 107/2000 adalah sebagai berikut: Sumber Pinjaman Indonesia/Dalam Negeri Institusi tempat Meminjam • Pemerintah Pusat Sumber Dalam Negeri: § Pemerintah Pusat § Perbankan § Lembaga keuangan non-bank § Sumber-sumber lain Sumber Luar Negeri § Bilateral § Multilateral . Beberapa komponen kunci tentang pinjaman daerah yang ditetapkan oleh UU No.440 persetujuannya Batasan Pinjaman (Persyaratan) • 1982: Debt Service Coverage Ratio (DSCR) < 15% • Kepmendagri Nomor 96 Tahun 1994: § Minimum DSCR = 1 § Average DSCR > 1. dalam rangka mengimplementasikan Pasal 11 UU No. 25/1999. 2000 Lebih jauh. Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan regulasi/peraturan. • Jumlah maksimum pinjaman jangka pendek adalah 1/6 jumlah belanja APBD tahun anggaran berjalan.5 Bab 21: Pinjaman Daerah Batasan Pinjaman (Persyaratan) • Jumlah kumulatif pokok pinjaman yang wajib dibayar tidak melebihi 75% dari jumlah penerimaan umum APBD tahun sebelumnya. yaitu PP 107/2000 tentang Pinjaman Daerah.

25/1999 dan Pasal 4 & 5 PP 107/2000 Persyaratan Keterangan Jumlah kumulatif pokok pinjaman daerah yang wajib dibayar tidak melebihi 75% (tujuh puluh lima persen) dari jumlah penerimaan umum APBD tahun sebelumnya. 25/1999 dan Pasal 2 PP 107/2000 Jenis/Tipe Pinjaman Penggunaannya Hanya dapat digunakan untuk membiayai pembangunan prasarana yang merupakan aset daerah dan dapat menghasilkan penerimaan untuk pembayaran kembali pinjaman. Debt Service Coverage Ratio Jangka Panjang (Long • Term) • . dan Berdasarkan proyeksi penerimaan dan pengeluaran Daerah tahunan selama jangka waktu pinjaman. Jangka Panjang (Long • Term) Jangka Term) Pendek (Short • Sumber: Pasal 11 UU No. Daerah dapat melakukan pinjaman jangka pendek guna pengaturan arus kas dalam rangka pengelolaan kas daerah. serta memberikan manfaat bagi pelayanan masyarakat.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 441 • • • • Lembaga Keuangan Bank Lembaga Keuangan Bukan Bank Masyarakat Sumber Lainnya Bilateral Multilateral Luar Negeri • • Sumber: Pasal 11 UU No.

Sumber: Pasal 6 & 7 PP 107/2000 Prosedur Pinjaman Daerah dari Pemerintah Pusat • Untuk memperoleh pinjaman yang bersumber dari pemerintah pusat. • Apabila pemerintah pusat telah memberikan persetujuan.5 (dua setengah). . daerah mengajukan usulan kepada Menteri Keuangan disertai surat persetujuan DPRD. Jangka Term) Pendek (Short • Jumlah maksimum pinjaman jangka pendek adalah 1/6 (satu per enam) dari jumlah belanja APBD tahun anggaran yang berjalan. studi kelayakan dan dokumen-dokumen lain yang diperlukan untuk dilakukan evaluasi. studi kelayakan dan dokumen-dokumen lain yang diperlukan. pemerintah daerah mengadakan perundingan dengan calon pemberi pinjaman yang hasilnya dilaporkan untuk mendapatkan persetujuan pemerintah pusat.442 Bab 21: Pinjaman Daerah (DSCR) paling sedikit 2. • Perjanjian pinjaman yang bersumber dari pemerintah pusat ditandatangani oleh Menteri Keuangan dan kepala daerah. Sumber: Pasal 12 PP 107/2000 Prosedur Pinjaman Daerah dari Luar Negeri • Pinjaman daerah yang bersumber dari luar negeri dilakukan melalui pemerintah pusat. • Daerah mengajukan usulan pinjaman kepada pemerintah pusat disertai surat persetujuan DPRD. • Pemerintah pusat melakukan evaluasi dari berbagai aspek untuk dapat tidaknya menyetujui usulan tersebut. • Daerah dapat melakukan pinjaman daerah yang bersumber dari luar negeri.

• Dalam hal Daerah tidak memenuhi kewajiban pembayaran atas Pinjaman Daerah yang bersumber dari luar negeri. • Perjanjian pinjaman daerah yang bersumber dari luar negeri ditandatangani oleh kepala daerah dengan pemberi pinjaman luar negeri. Sumber: Pasal 13 PP 107/2000 Pembayaran Kembali Pinjaman Daerah • Semua pembayaran yang menjadi kewajiban Daerah yang jatuh tempo atas Pinjaman Daerah merupakan prioritas dan dianggarkan dalam pengeluaran APBD.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 443 setelah terlebih dahulu mendapat persetujuan dari pemerintah pusat. dilakukan dalam mata uang sesuai yang ditetapkan dalam perjanjian pinjaman luar negeri. • Barang milik Daerah yang digunakan untuk melayani kepentingan umum tidak dapat dijadikan jaminan dalam memperoleh Pinjaman Daerah. Sumber: Pasal 10 PP 107/2000 . maka Pemerintah Pusat memperhitungkan kewajiban tersebut dengan Dana Alokasi Umum (DAU) kepada Daerah. maka kewajiban tersebut diselesaikan sesuai perjanjian pinjaman. • Pembayaran kembali Pinjaman Daerah yang bersumber dari luar negeri oleh Daerah. Sumber: Pasal 14 PP 107/2000 Larangan Penjaminan • Daerah dilarang melakukan perjanjian yang bersifat penjaminan terhadap pinjaman pihak lain yang mengakibatkan beban atas keuangan Daerah. • Dalam hal Daerah tidak memenuhi kewajiban pembayaran atas Pinjaman Daerah dari Pemerintah Pusat.

§ Pendapat yang mendukung pinjaman daerah mengacu pada prinsip keadilan antar generasi (intergenerational equity considerations). (3) membeli pabrik dan peralatan dengan unsur jangka menengah. (5) pinjaman jangka pendek yang diberikan oleh bankbank komersial. Pinjaman daerah dari sumber non-pemerintah (private debt sources) akan meningkatkan efisiensi penggunaannya. (3) pinjaman yang berasal dari bank sentral di negara masing-masing. Proyekproyek yang bersifat jangka panjang dengan manfaat ekonomi dan sosial didanai oleh pembiayaan jangka panjang. .444 Bab 21: Pinjaman Daerah RANGKUMAN § Pinjaman daerah dilakukan dengan tujuan sebagai berikut: (1) menutup kebutuhan dana jangka pendek. (3) kewenangan daerah untuk menentukan prioritas investasi daerah. (b) cara pembayaran kembali. (7) pinjaman internal yang berasal dari dana cadangan. § Prinsip pemerintah daerah dalam melakukan pinjaman adalah bahwa penggunaan dana pinjaman harus sesuai dengan karakteristiknya. (2) membiayai kekurangan dana anggaran tahunan berupa biaya rutin dan beban hutang. § Kebutuhan pinjaman daerah muncul karena alasan sebagai berikut: (1) peningkatan peran pemerintah daerah dalam pengelolaan dan pembiayaan pembangunan proyek-proyek investasi daerah. karena akan menimbulkan mismatch (ketidaktepatan) antara pembayaran yang jatuh tempo dengan waktu penerimaan pengahasilan. (2) tingkat urbanisasi yang lebih tinggi. karena pemerintah daerah harus memperhitungkan opportunity cost of capital yang sesungguhnya dan memprioritaskan proyek sesuai dengan tingkat manfaat sosial dan ekonomi. § Persyaratan yang harus dipenuhi dalam ketentuan pinjaman adalah : (a) jangka waktu pinjaman. dan (5) membiayai pembangunan modal jangka panjang (prasarana atau penyediaan pelayanan umum). (2) pinjaman yang bersumber dari badan-badan internasional. (c) tingkat bunga. (d) keamanan pinjaman dan (e) persetujuan dan penyidikan. § Sumber-sumber pinjaman yang dapat dilakukan oleh pemerintah daerah. (4) obligasi jangka panjang (bond). Pinjaman jangka panjang tidak boleh untuk membiayai kegiatan/investasi jangka panjang. (8) dana untuk sewa peralatan (leasing). (9) dana kontraktor untuk pembangunan proyek-proyek. yaitu: (1) pinjaman yang bersumber dari pemerintah yang lebih atas. (6) pinjaman hipotek atas aset tetap. (4) keterbatasan keuangan pemerintah pusat. dan (5) keterbatasan pemerintah daerah dalam memobilisasi sumber-sumber penerimaan daerah. (4) membiayai investasi yang diharapkan dapat menghasilkan penerimaan bagi daerah.

b. Jelaskan cara pembayaran kembali dengan : a. daerah dapat melakukan pinjaman yang bersumber dari: (a) dalam negeri. merupakan angka perbandingan antara perkiraan kemampuan daerah yang dapat disisihkan (tabungan netto) dengan total rencana pembayaran pinjaman setiap tahunnya. World Bank. dll) mensyaratkan perjanjian pinjaman dilakukan oleh pemerintah pusat. yaitu: (1) DSR (Debt Service Ratio). Sebutkan persyaratan yang harus dipenuhi didalam ketentuan pinjaman ! 2. metode anuitas. (b) luar negeri. (2) DCR (Debt Coverage Ratio). Salah satunya.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 445 § Digunakan dua ukuran untuk memperkirakan kapasitas meminjam pemerintah daerah agar terhindar dari resiko. metode singking fund. secara langsung bila disetujui oleh DPRD. § Berdasarkan Undang-Undang No.25 Tahun 1999. artinya pemerintah pusat tidak menjadi penjamin (sovereign guarantor). diperkenankannya daerah melakukan pinjaman sendiri secara langsung. § Berdasarkan penggunaan dan melihat jangka waktunya. . Namun. 107 Tahun 2000. maka: (a) pinjaman jangka pendek dapat digunakan untuk membantu kelancaran kas dan dana awal bagi investasi jangka panjang. yaitu semua transaksi yang mengakibatkan daerah menerima dari pihak lain sejumlah uang atau manfaat bernilai uang.25/1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah banyak perubahan yang terjadi terkait dengan hubungan antara pusat dan daerah. § Dengan berlakunya UU No. LATIHAN 1. Termasuk kredit jangka pendek yang lazim dalam perdagangan. § Pinjaman daerah menurut PP No. sehingga daerah tersebut dibebani kewajiban untuk membayar kembali. melalui pemerintah pusat. (b) pinjaman jangka panjang dapat digunakan untuk membiayai pembangunan prasarana yang dapat menghasilkan penerimaan untuk pembayaran kembali serta bermanfaat bagi pelayanan masyarakat.22/1999 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. merupakan ambang batas kemampuan pelunasan daerah untuk mengendalikan jumlah pinjaman yang relatif aman. pada kenyataannya lembaga lender multilateral (ADB.

Mengapa persyaratan persetujuan diperlukan dalam persyaratan pinjaman daerah? 13. Jelaskan batasan pinjaman (persyaratan) dari pinjaman daerah setelah kebijakan desentralisasi ! 17. Jelaskan tujuan pemerintah daerah melakukan pinjaman menurut Davey (1983) ? 8.446 Bab 21: Pinjaman Daerah 3. Bagaimana prosedur pinjaman daerah dari luar negeri ? . Apa definisi dari pinjaman daerah menurut PP no 107 tahun 2000 ? 16. Apa manfaat dari cara pinjam sewa (leasing) ? 9. Bagaimana cara menghindari mismatch (ketidaktepatan) antara pembayaran pinjaman yang jatuh tempo dengan waktu penerimaan penghasilan ? 10. Darimana saja pinjaman dalam negeri dapat diperoleh (PP 107/2000 pasal 2 ayat 2) ? 7. Sebutkan sumber pinjaman dan metode pinjaman yang dapat dilakukan oleh pemerintah daerah ! 11. Bagaimana prosedur pinjaman daerah dari pemerintah pusat ? 15. Apa perbedaan manfaaat dari pinjaman jangka pendek dan pinjaman jangka panjang ? 5. 22 tahun 1999 dan UU no. Jelaskan mengenai Debt Service Fund (DSR) dan Debt Coverage Ratio (DCR)! 4. Jelaskan mengenai larangan penjaminan dalam pinjaman daerah ? 18. Apa yang dimaksud dengan mekanisme pinjaman two step loan dan subsidiary loan agreement ? 12. 28 tahun 1999 ? 6. Apa yang membedakan derajat desentralisasi fiskal antara sebelum dan sesudah keluarnya UU no. Jelaskan yang dimaksud dengan prinsip keadilan antar generasi (intergenerational equity considerations) dari pendapat yang mendukung pinjaman daerah ! 14.

dkk. Decentralisation.J. Robert J. Indonesia. Arsjad. dalam “Democratic Choice and Taxation: A Theoritical and Empirical Analysis”.J. London. Hettich. editor. MIT Press. “Federal Finance and Fiscal Federalism: The Two Worlds of Canadian Public Finance”. Jakarta. ”Evaluasi atas Alokasi DAU 2001 dan Permasalahannya” dalam Machfud Sidik. Richard D Irwin. 1985.M. Keuangan Negara. Inc. Cambridge University Press. Makalah pada sidang ISEI. United Kingdom: Cambridge University Press. 1968. 1992. . 14 April. International Centre for Tax Studies. Dana Alokasi Umum. J. Richard M. 1994b. Brennan. “Tinjauan Permasalahan serta Prakondisi yang Diperlukan Bagi Pengembangan Penggunaan Pinjaman Daerah di Indonesia”. Bennet. Nurjaman.: Queen’s University School of Public Policy. Banting. Financing Regional Government: International Practices and Their Relevance to the Third World. K. Public Finance and Public Policy in the New Century. 1990. Bird. University of Toronto (July). Due. Stanley. Courchence. Richard. John. McGraw Hill.G. Government Finance: Economics of the Public Sector. Sijbren & Hans-Werner Sinn.Walter dan Winer. editor. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. 1983. 2002. Pakpahan. Bird. Kingston. Fiscal Decentralization in Developing Countries. L. Armida S.. Inc. James. Bird. Bambang dan Arlen T. 6. Brown. Oxford: Clarendon Press. 1996. Intermedia. F. 1998. Ont. D. Brodjonegoro. dan T. Aronson. Local Governments and Markets. dan Francois Vaillancourt. dkk. Davey. Cnossen. 1981. Batam. “Tax Limits and The Logic of Constitutional Restriction. Geoffrey dan Buchanan. Cambridge. Richard M. 2002. University of Birmingham: Institute of Local Government Studies. 2003. 2001.Daftar Pustaka Alisjahbana. Public Finance. Discussion Paper No. Duanjie. “A Comparative Perspective on Federal Finance” dalam K. Richard M dan Chen. The Future of Fiscal Federalism.

. 2000. Norregaard. Nine Simple Guidelines for Pro-Growth Tax Policy. Richard A dan Peggy B. dkk. Musgrave. Jakarta. . Working Paper. Tax Incidence. Inter-American Development Bank. United States: South-Western. Cambridge. Tax Policy Handbook.S. Kadjatmiko. Public Finance in Theory and Practice. Mitchell. 2003. Stanford University and NBER Andres Rodriguez-Clare. 2002. John. LPEM Universitas Indonesia bekerjasama dengan Clean Urban Project. Externalities and Growth. 1989. Hyman. (15 April). yang merupakan kerjasama Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada. David N. Don dan Metcalf. National Bureau of Economic Research.. London. editor. Departemen Keuangan RI. DC: International Monetary Fund. USA. 2004. 2004. Cambridge (Maret). Bunga Rampai Desentralisasi Fiskal. 2004. “Laporan Studi Dampak Krisis Ekonomi Terhadap Keuangan Daerah di Indonesia”. Gregory. National Bereau of Economics Reserach. J. RTI (1999). 1984. 2001. Peter J. Edisi Ketujuh. 2002. “Transfer Antar Tingkat Pemerintahan (Intergovernmental Transfer)” dalam Machfud Sidik. Jogjakarta dengan United States Agency for International Development (USAID).Working Paper 8829. Longmans. Inter-American Development Bank (IADB) (December). Mills. Thompson Learning. Gilbert. Musgrave. Principle of Political Economy. Debt and Taxes in The Theory of Public Finance. Magrassi. International Edition. A Contemporary Application of Theory to Policy. United States: McGraw-Hill. Jakarta: Direktoral Jenderal Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. Martin. Public Finance. 1995. Capitalism Magazine. “Subnational Investment Needs and Financial Market Response”.Feldstein. Klenow. “Intergovernmental Fiscal Relations” dalam P. Laporan Akhir Pengembangan Obligasi Daerah di Indonesia. Marco. 1921. Washington. Shome. Inc. Daniel J. Second Edition. Massachusets. Fullerton. N. Studi yang dilakukan oleh Sustainable Indonesian Growth Alliance (SIAGA) Project A Banking Industry Reform. 2002. Harcourt Colledge Publishers. Principle of Economics. Mankiw.

Sidik. Dana Alokasi Umum. Machfud. Republik Indonesia. Efraim. ”Implementasi UU Nomor 25 Tahun 1999 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat Dan Daerah (Kebijakan Pemerintah Dalam Perimbangan Keuangan)”. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. “Optimalisasi Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dalam Rangka Meningkatkan Kemampuan Keuangan Daerah”. “Undang-undang No. Bandung. 10 April. Jakarta. Sidik. 2004. Sidik. Sidik. 2002. dkk. Jakarta: Direktoral Jenderal Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. ”Transfer Pusat ke Daerah: Konsep dan Praktik di Beberapa Negara” Machfud Sidik. Public Finance (Sixth Edition). Razin. 1991. Machfud.Fraksi Utusan Daerah MPR-RI. dkk. USA. “Undang-undang No. Harvey S. Bunga Rampai Desentralisasi Fiskal. Robert A. “Undang-undang No. Republik Indonesia. Dana Alokasi Umum. McGraw Hill. Arlen T. 2002. Makalah yang disampaikan dalam Acara Orasi Ilmiah dengan Thema “Strategi Meningkatkan Kemampuan Keuangan daerah Melalui Penggalian Potensi Daerah Dalam Rangka Otonomi Daerah” Acara Wisuda XXI STIA LAN Bandung Tahun Akademik 2001/2002. Republik Indonesia. Working Paper. Cambridge. 2004. Machfud. 2002. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. 2004. dkk. dkk. New York. Bunga Rampai Desentralisasi Fiskal. Machfud. International Fiscal Policy Coordination and Competition: An Exposition. 4 April.34 Tahun 2000 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah”.25 Tahun 1999 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pusar dan Daerah”. 2002. Assaf and Sadka. “Pinjaman Daerah Sebagai Alternatif Pembiayaan Daerah” dalam Machfud Sidik. Jakarta: Direktoral Jenderal Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. Rosen. Simandjuntak. 2002. Makalah yang disampaikan Seminar Nasional Rencana Revisi Undang-Undang Otonomi Daerah Kerja sama Forum Rektor . Departemen Keuangan RI. National Bureau of Economic Research. Massachusets. 2002.22 Tahun 1999 Tentang Pemerintah Daerah”. Departemen Keuangan RI. .Pakpahan.

United States: South-Western. The Center on Budget and Policy Priorities. editor. A Guide to Budget Work for NGOs. Indonesia. DC. Masykur. 2001. 15745-VN. Suparmoko. World Bank. M. Washington. Konsep dan Implementasi. M. Public Finance in Theory and Practice. Ter-Minassian. Wiratmo. Heru dan Singgih Riphat. Holley. 1996. Kompas. Ulbrich. International Monetary Fund. 1997..A.Subiyantoro. Yogyakarta. 1996a.D. Makalah pada Worskhop Manajemen Strategik Penerimaan Daerah dan Keuangan Daerah. The International Budget Project. “Fiscal Federalism in Theory and Practice”. 2001. 2003. Keuangan Negara: Dalam Teori dan Praktek (Edisi 4). . Washington. Kebijakan Fiskal: Pemikiran. Ph. DC (Oktober). Washington DC (Desember). Jakarta. BPFE. 26-27 September. “Vietnam: Fiscal Decentralization and the Delivery of Rural Services”.Teresa. “Perencanaan Pembiayaan Daerah”. Report No.. Drs. 2003. Malang. Thompson Learning.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful