Keuangan-Publik

Daftar Isi

Kata Sambutan Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan Kata Pengantar Daftar Isi

BAGIAN I PENDAHULUAN
BAB 1 GAMBARAN UMUM KEUANGAN PUBLIK Alasan Mempelajari Keuangan Publik Pentingnya Sektor publik Karakteristik Kebijakan publik Ruang Lingkup Keuangan Publik Kriteria Evaluasi Kebijakan Publik BAB 2 BARANG PUBLIK & EKSTERNALITAS Barang Publik Perbedaan antara Barang Publik dan Barang Pribadi Free Rider Problem Eksternalitas BAB 3 PENENTUAN HARGA BARANG PUBLIK Tujuan Kebijakan Harga Penentuan Harga Barang Publik Implementasi Penentuan Harga 1 2 3 5 6 7 11 11 13 17 18 31 31 32 34

BAGIAN II KONSEP DAN IMPLEMENTASI ANGGARAN
BAB 4 FUNGSI DAN AKTIVITAS PEMERINTAH DALAM PEREKONOMIAN Fungsi dan Aktivitas Pemerintah Alasan Keterlibatan Pemerintah dalam Ekonomi Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian Fungsi Alokasi. Fungsi Distribusi Fungsi Stabilisasi 43 43 45 47 48 64 74 83 85 89 91 99 99 102 109

BAB 5 KONSEP ANGGARAN Jenis-jenis Anggaran Konsep PPBS (Planning Programming and Budgeting System) Siklus Anggaran BAB 6 PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN Unsur-Unsur Pembangunan Kebijakan Struktur Perpajakan Insentif Perpajakan

Kebijakan Pengeluaran Bantuan Internasional dan Redistribusi

113 115 121 124 125 127 128 130 137 137 138 140 142 144 145 148 153 156 161 162 166 173 180 183 185 185 187 190 191 197 197 198 205 207 212 222 227 228 229

BAGIAN III PERPAJAKAN
BAB 7 DASAR-DASAR PERPAJAKAN Fungsi Pajak Prinsip-Prinsip Pajak Siklus Arus Pajak Tarif Pajak Istilah-istilah Dalam Perpajakan BAB 8 KEADILAN DAN DAMPAK PERPAJAKAN Prinsip Manfaat Prinsip Kemampuan Membayar Kriteria Umum Keadilan Perpajakan Prinsip Keadilan dan Pajak Penghasilan Prinsip Keadilan dan Pajak Penjualan Prinsip Keadilan dan Pajak Kekayaan Dampak Pajak Kriteria Tarif Pajak Kriteria Struktur Pajak yang Baik BAB 9 PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK PRIBADI Aturan Utama Prinsip-Prinsip Definisi Penghasilan Praktek Definisi Penghasilan: Pengecualian Praktik Definisi Penghasilan: Pengurangan Atas Penghasilan Neto Preferensi Pajak Problema Keadilan Pajak Bagi Wajib Pajak Berpenghasilan Tinggi Problema Keadilan Pajak Bagi Wajib Pajak Berpenghasilan Rendah Pola Progresivitas Tarif Pajak Penyesuaian Terhadap Inflasi Pilihan Unit Kena Pajak BAB 10 PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK BADAN Struktur Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan Perlukah Perseroan Dikenakan Pajak? Siapa yang Menanggung Beban Pajak? Integrasi Pajak Aspek-Aspek Khusus Definisi Basis Pajak Investment Tax Credit BAB 11 PAJAK ATAS KONSUMSI Jenis Pajak Atas Konsumsi di Indonesia Bahasan-Bahasan Dalam Pajak Atas Konsumsi

Pajak Pertambahan Nilai Distribusi Beban Pajak Pajak Pengeluaran Wajib Pajak Pribadi BAB 12 PAJAK ATAS KEKAYAAN DAN WARISAN Alasan-Alasan Pengenaan Pajak Atas Kekayaan Pajak atas Tanah Struktur dan Basis Pajak Atas Kekayaan di Indonesia Distribusi Beban Pajak Properti Pajak Atas Kekayaan Bersih Bea Atas Modal Alasan-Alasan Pengenaan Pajak atas Warisan Tujuan dan Jenis Pajak atas Warisan Permasalahan-Permasalahan Khusus BAB 13 PAJAK INTERNASIONAL Prinsip Pajak Internasional Koordinasi Pajak penghasilan Koordinasi Pajak Produk Tax Treaty Cakupan Tax Treaty Minimalisasi Pajak Berganda Pencegahan Penghindaran Pajak Ketentuan Lain Lain Tax Treaty Mengalahkan UU PPh Koordinasi Pengeluaran Koordinasi Stabilisasi

233 238 240 249 249 251 252 255 261 265 265 265 267 275 279 280 282 285 286 289 294 295 296 297 298 305 306 310 316 325 325 327 330 331 333 334 334

BAGIAN IV BELANJA PUBLIK
BAB 14 KEBIJAKAN DAN STRUKTUR BELANJA PUBLIK Konsep Welfare State Faktor-Faktor Penyebab Pertumbuhan Klasifikasi Belanja Publik BAB 15 KEBIJAKAN BELANJA PUBLIK SEKTOR-SEKTOR UMUM Perlunya Analisis Sektor Pertahanan Nasional Jalan Raya Pendidikan Fasilitas Rekreasi Global Public Goods Privatisasi Barang Publik

BAB 16 KEBIJAKAN BELANJA PUBLIK DALAM TUNJANGAN SOSIAL Program Jaminan Sosial di Amerika Serikat Sistem Jaminan Sosial di Indonesia

341 342 345 361 364 367 373 375 380 381

BAGIAN V DESENTRALISASI FISKAL
BAB 17 KEUANGAN PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH Dimensi Ekonomi dari Desentralisasi Fiskal Syarat-Syarat Keberhasilan Desentralisasi Fiskal BAB 18 TRANSFER PUSAT KE DAERAH: TEORI DAN PRAKTIK Tujuan Transfer Kriteria Desain Transfer Pusat ke Daerah Jenis-Jenis Transfer

BAB 19 PERPAJAKAN DAERAH 395 Prinsip dan Kriteria Perpajakan Daerah 396 Ciri-Ciri Tertentu Suatu Pajak Daerah 398 Ketentuan Mengenai Pungutan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah 402 Ketentuan Mengenai Bagi Hasil Pajak Propinsi dan Peruntukkannya (Pasal 2A) 404 Tarif Pajak Propinsi dan Kabupaten/Kota 405 Peranan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah dalam Pembiayaan Daerah 405

BAGIAN VI HUTANG PUBLIK
BAB 20 HUTANG PUBLIK Surat Utang Negara Pengelolaan Surat Utang Negara Hutang Luar Negeri Proses Pelaksanaan Kerjasama Pinjaman dan Hibah Luar Negeri Proses Penyusunan Perjanjian Kerjasama dan Pengusulan Program/Proyek PHLN Proses Pembuatan Loan Agreement Hutang Luar Negeri dalam Pembangunan Ekonomi BAB 21 PINJAMAN DAERAH Pendahuluan Tujuan dan Batas-Batas Pinjaman Metode dan Sumber-Sumber Pinjaman Persyaratan-Persyaratan Pinjaman Penggunaan Pinjaman dalam Pembiayaan Praktek Pinjaman Daerah di Indonesia Daftar Pustaka Biografi Penyusun 413 414 415 416 417 418 419 419 431 431 432 434 435 436 437

Kata Pengantar
Seiring dengan tuntutan terhadap penyelenggaraan pemerintahan yang baik, sektor publik cukup mendapat sorotan dari masyarakat luas terutama terkait dengan berbagai kebijakan yang diambil pemerintah. Kebijakan publik ini merupakan suatu hal yang sangat penting terutama dalam hal mempengaruhi kegiatan perekonomian nasional, melalui kebijakan moneter dan kebijakan fiskal yang dampaknya akan dirasakan langsung oleh masyarakat luas. Oleh karena itu, bahasan keuangan publik menjadi suatu hal yang perlu dipelajari seiring dengan pertumbuhan sektor publik dari waktu ke waktu dalam jumlah yang besar. Keuangan publik adalah bagian dari ilmu ekonomi yang mempelajari aktivitas finansial pemerintah dan bagaimana proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh pemerintah. Setiap keputusan yang diambil akan mempunyai pengaruh terhadap ekonomi, keuangan rumah tangga, dan swasta. Oleh karena itu, masyarakat sebagai para pemilih wakil rakyat yang membuat keputusan, perlu memonitor aktivitas para wakilnya apakah telah membuat kebijakan yang memihak pada rakyat. Keuangan publik, mempelajari pendapatan dan belanja pemerintah, juga menganalisis implikasi dari kegiatan pendapatan dan belanja pada alokasi sumber daya, distribusi pendapatan, dan stabilitas ekonomi. Buku Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi ini mencoba memberikan wawasan mengenai berbagai macam sisi dari keuangan publik dan diharapkan bisa menjawab berbagai pertanyaan mengenai aktivitas publik yang dilakukan pemerintah serta alasanalasan yang mendasari pemerintah dalam mengeluarkan suatu kebijakan. Selain berisi konsep, buku ini juga mencoba menyajikan contoh-contoh aplikasi dan kebijakan yang terkait dengan keuangan publik. Kami menyadari adanya keterbatasan sehingga buku ini masih memiliki kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Oleh karenanya, tanggapan, saran, serta kritik yang membangun dari pembaca akan menjadi nilai tambah yang sangat berarti bagi perbaikan kualitas di masa yang akan datang. Akhir kata, kami ucapkan terima kasih terhadap semua pihak yang telah membantu dalam merealisasikan buku ini. Semoga buku ini dapat menjadi buah karya yang bermanfaat bagi yang membaca dan menjadi salah satu referensi keilmuan dalam bidang keuangan publik.

Jakarta, April 2006

Penulis

GAMBARAN UMUM KEUANGAN PUBLIK

Keuangan publik adalah bagian dari ilmu ekonomi yang mempelajari aktivitas finansial pemerintah. Yang termasuk pemerintah di sini adalah seluruh unit pemerintah dan institusi atau organisasi pemegang otoritas publik lainnya yang dikendalikan dan didanai oleh pemerintah. Keuangan publik menjelaskan belanja publik dan teknik-teknik yang digunakan oleh pemerintah untuk membiayai belanja tersebut. Keuangan publik juga menganalisis pengeluaran publik untuk membantu kita dalam memahami mengapa jasa tertentu harus disediakan oleh negara dan mengapa pemerintah menggantungkannya pada jenis-jenis pajak tertentu. Hal hal yang termasuk dalam keuangan publik diantaranya adalah uraian-uraian yang menjelaskan mengapa pertahanan nasional harus dikelola oleh negara sedangkan makanan diserahkan kepada swasta dan mengapa suatu negara menggunakan komposisi berbagai jenis pajak dan bukan hanya pada pajak tunggal.

2

Bab I: Gambaran Umum Keuangan Publik

Keuangan publik mempelajari bagaimana proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh pemerintah, karena setiap keputusan akan mempunyai pengaruh terhadap ekonomi, keuangan rumah tangga dan swasta. Dengan demikian, penting bagi kita untuk mengembangkan model-model ekonomi yang dapat membantu menjelaskan arti alokasi sumber daya yang efisien atau optimal, arti keadilan, dan antisipasi akibat finansial maupun ekonomi atas suatu keputusan publik. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa fokus keuangan publik adalah mempelajari pendapatan dan belanja pemerintah, juga menganalisis implikasi dari kegiatan pendapatan dan belanja pada alokasi sumber daya, distribusi pendapatan, dan stabilitas ekonomi.

ALASAN MEMPELAJARI KEUANGAN PUBLIK
Keuangan publik erat kaitannya dalam proses pengambilan keputusan berdasarkan asas demokrasi. Apabila para pemilih wakil rakyat memonitor aktivitas para wakilnya, maka para wakil rakyat ini tentunya akan bekerja lebih keras dan berusaha meyakinkan para pemilihnya bahwa kontribusi mereka atas pembayaran-pembayaran pajak akan menyebabkan pencapaian kondisi yang lebih baik. Pertumbuhan sektor publik dari waktu ke waktu dalam jumlah yang sangat besar merupakan alasan yang kuat dalam menumbuhkan rasa ingin tahu permasalahan yang terdapat dalam keuangan publik. Dalam perkembangan selanjutnya, pertanyaan akan timbul berkaitan dengan mengapa pemerintah memerlukan anggaran sebanyak itu, digunakan untuk apa uang-uang itu, dan apakah uang tersebut digunakan dengan bijaksana? Di samping itu, akan muncul pula pertanyaan yang berkaitan dengan apakah hasil penerimaan pajak (terutama pajak penghasilan) dari rumah tangga seperti yang tercantum dalam anggaran negara memang relevan dengan aktivitas-aktivitas sektor publik ini dan apakah pengeluaran-pengeluaran untuk masing-masing jenis tersebut dilakukan dengan bijaksana? Dalam kondisi normal, dapat dikatakan bahwa semakin tinggi pendapatan rumah tangga maka akan semakin besar proporsi pajak yang harus dibayarkan. Seiring dengan itu, tentunya kepentingan dan perhatian publik akan semakin meningkat. Bagi individu yang merasa tidak puas dengan beban pajak yang menjadi tanggungan mereka, maka mereka akan memberikan pengawasan yang lebih pada aktivitas pemerintah. Namun apabila pembayar pajak merasa terpuaskan, mereka akan dengan sukarela menyerahkan sebagian pendapatan mereka. Dalam situasi ini, pembayar pajak akan memberikan otoritas lebih kepada pemerintah untuk mengelola dan mengendalikan sejumlah sumber

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi

3

daya keuangannya. Dengan asumsi ini, sistem perpajakan sebaiknya diarahkan pada kepuasan para individu pembayar pajak.

PENTINGNYA SEKTOR PUBLIK
Sektor publik dan sektor swasta merupakan kesatuan integral dalam sistem perekonomian. Namun demikian, pemerintah bertanggung jawab dalam melakukan tiga kegiatan publik utama, yang diantaranya adalah penyediaan pertahanan nasional, keadilan sosial, dan pekerjaan umum. Kebijakan publik akan merupakan suatu hal yang sangat penting terutama dalam hal mempengaruhi kegiatan perekonomian nasional, melalui kebijakan moneter dan kebijakan fiskal. John Stuart Mill (1921), menyampaikan beberapa alasan mengenai perlunya aktivitas publik yang dilakukan oleh pemerintah, diantaranya sebagai berikut: 1. Dalam hal pertahanan nasional, campur tangan pemerintah, walaupun harus membatasi kebebasan individu, tetap dibutuhkan dalam memelihara perdamaian dan melindungi masyarakat terhadap serangan yang datang dari luar maupun dari dalam. 2. Pemerintah haruslah bersifat inferior dalam melakukan kegiatan industri dan perdagangan karena usaha seperti itu dapat dijalankan oleh sektor swasta. 3. Individu akan lebih percaya diri apabila mengerjakan sesuatu untuk kepentingannya sendiri sehingga pemerintah hanya bergerak dalam area yang menyangkut kepentingan publik atau umum. Alasan-alasan yang dikemukakan oleh John Stuart Mill tersebut kemudian diterjemahkan dalam sistem perekonomian kapitalis. Sistem ini, menghendaki adanya kebebasan individu yang mutlak dan tidak membenarkan pengaturan ekonomi oleh pemerintah, kecuali dalam hal-hal yang tidak dapat diatur sendiri oleh para individu. Dalam perkembangannya, tidak ada lagi paham ekstrim seperti itu sehingga negara kapitalis pun memandang perlu adanya peranan pemerintah dalam perekonomian. Peran pemerintah tetap diperlukan dalam melakukan kegiatankegiatan ekonomi karena mekanisme pasar dalam sistem kapitalis mempunyai beberapa kelemahan. Di antara kelemahan-kelemahan mekanisme pasar tersebut adalah sebagai berikut: 1. Adanya barang publik (akan didefinisikan dan dibahas dalam bab mendatang) yang tidak dapat disediakan oleh mekanisme pasar sehingga harus disediakan oleh pemerintah.

6. manfaat pribadi dan manfaat sosial sehingga pemerintah secara nyata diperlukan dalam pengelolaan biaya dan manfaat sosial karena swasta tidak ada keinginan untuk mengelolanya. 3. Arus barang pribadi dan barang publik tidak dibiayai oleh penjualan tetapi melalui perpajakan atau melalui pinjaman. 5. Sektor publik (anggaran pemerintah) memberikan kontribusi pada pasar faktor produksi dan pasar produk sehingga merupakan bagian integral dari sistem pembentukan harga. Adanya sifat monopoli dalam bidang usaha tertentu yang menyebabkan pemerintah harus campur tangan agar monopoli tidak merugikan para pelaku ekonomi. Adanya perbedaan antara biaya pribadi dan biaya sosial. Peran tersebut dapat dilihat dalam siklus seperti dibawah ini. Barang dan jasa yang disediakan oleh pemerintah dapat saja diproduksi oleh pemerintah atau diproduksi oleh swasta . Adanya distribusi pendapatan yang tidak merata antar pelaku ekonomi pasar. dalam perekonomian.4 Bab I: Gambaran Umum Keuangan Publik 2. Adanya inflasi atau deflasi yang tidak dapat diselesaikan secara otomatis oleh mekanisme pasar. Adanya resiko yang sangat besar yang tidak mungkin dikelola oleh swasta. Itulah sebabnya dalam merancang suatu kebijakan fiskal.1. 4. perlu diperhatikan bagaimana sektor swasta akan bereaksi. Pada kenyataannya.1 terlihat bahwa akan terdapat hubungan yang erat antara arus sektor swasta (rumah tangga dan perusahaan) dan sektor pemerintah. Gambar 1. fungsi sektor publik berbeda dengan fungsi rumah tangga dan perusahaan. Hubungan antara arus sektor swasta dan sektor pemerintah Dari gambar 1.

RUANG LINGKUP KEUANGAN PUBLIK Bahasan keuangan publik dimulai dari keadaan dan alasan perlunya peran pemerintah dalam perekonomian. Peraturan pemerintah. komposisi output pengeluaran publik haruslah sesuai dengan keinginan konsumen. 3. mengoreksi dan melengkapi peranan mekanisme pasar. KARAKTERISTIK KEBIJAKAN PUBLIK Terdapat sejumlah kriteria dalam menilai pentingnya sektor publik. kedua adanya preferensi pengambilan keputusan yang terdesentralisasi. subsidi dan pajak. 5. Hal ini menyangkut kondisi-kondisi adanya eksternalitas yang perlu dikendalikan pemerintah. Kondisi ini mensyaratkan adanya informasi yang lengkap mengenai pasar. 2. melalui anggaran. dan ketiga tidak menyerahkan ekonomi hanya pada kekuatan pasar. Kriteria pertama. Hal ini diperlukan untuk mengoreksi penyimpangan yang terjadi apabila terdapat kondisi persaingan yang tidak efisien. baik bagi produsen maupun bagi konsumen dan peraturan pemerintah yang diperlukan untuk menjamin persyaratan kelengkapan informasi tersebut. karena mekanisme pasar tidak dapat melaksanakan semua fungsi ekonomi. Dengan demikian. adanya barang publik yang . Timbulnya masalah eksternalitas (akan dibahas lebih lanjut pada bab mendatang) yang perlu dipecahkan oleh pemerintah. 6. Pertukaran barang dan jasa tertentu.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 5 untuk dijual kepada pemerintah. Secara lebih terperinci karakteristik – karakteristik tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. stabilitas harga dan tingkat pertumbuhan ekonomi. 4. Peranan sektor publik dalam perhitungan GNP (Gross National Product) atau pendapatan nasional adalah bahwa pemerintah memberi kontribusi terhadap GNP melalui pembelian barang dan jasa. Untuk mencapai efisiensi pasar. karakteristik kebijakan publik mempunyai sifat mengarahkan. Perlunya peran sosial yang dilakukan oleh pemerintah dalam bentuk distribusi pendapatan dan kesejahteraan dalam mekanisme pasar. Suatu kondisi dimana produksi barang sama dengan keinginan pasar. Untuk menjamin kesempatan kerja. Dalam mekanisme pasar perlu ada proteksi dari pemerintah untuk melindungi pelaku pasar.

6 Bab I: Gambaran Umum Keuangan Publik perlu dialokasikan oleh pemerintah. kesehatan dan pertahanan). Secara khusus. KRITERIA EVALUASI KEBIJAKAN PUBLIK . dan juga alokasi dan distribusi sumber daya. bahasan keuangan publik biasanya juga menyangkut kegiatan analisis hubungan antara kebijakan pemerintah dengan perekonomian yang dikelola oleh rumah tangga dan swasta. pemerintah perlu memberikan stimulus pada perekonomian melalui kebijakan belanjanya yang mengalami pertumbuhan dari waktu ke waktu. kegiatan yang mencakup belanja publik dan kegiatan pembiayaan sering disebut sebagai struktur fiskal (fiscal structure). Bahasan yang meliputi kegiatan memperoleh pendapatan. (misalnya: belanja pemerintah yang meliputi pendidikan. sumbersumber tersebut akan dihubungkan dengan aspek keadilan dan distribusi pendapatan. dimana belanja tersebut dapat didanai oleh pendapatan yang dihasilkan dari kegiatan pemerintah. Hasil pemilihan umum ini akan menghasilkan keputusan yang diantaranya menyangkut penyediaan barang dan jasa publik. misalnya melalui hutang. Sumber pendapatan pemerintah dapat mencakup pajak dan non pajak. dan sebagainya. § Yang terakhir. § Keuangan publik akan mencakup masalah-masalah bagaimana pemerintah memperoleh pendapatannya. Secara lebih rinci dapat dijelaskan bahwa ruang lingkup keuangan publik mencakup hal hal sebagaimana dikemukakan di bawah ini: § Keuangan publik mencoba memberikan gambaran tentang pilihan publik yang menyangkut aspek institusi publik. perlunya pencapaian kondisi stabil dalam ekonomi dimana peran pemerintah sangat dominan. adanya mekanisme pasar yang perlu diintervensi pola distribusinya oleh pemerintah karena berbagai alasan. Salah satu titik penting pada sisi belanja tersebut adalah adanya efek pengganda (multiplier) yang diperankan oleh pemerintah. keseimbangan publik yang dicapai melalui proses pemilihan umum. pemerintah dapat melakukan usaha-usaha memperoleh sumber pendanaan lainnya. dimana bahasan tersebut akan dihubungkan dengan aspek efisiensi penyediaan jasa tersebut. dan dalam keuangan publik. Untuk menutup kekurangannya. § Keuangan publik membahas aspek belanja publik yang merupakan aktivitas utama pemerintah dalam penyediaan barang dan jasa publik untuk kesejahteraan masyarakat. § Aspek pembiayaan merupakan area pembahasan keuangan publik berikutnya.

apakah wajar mempertimbangkan untuk menutup suatu perusahaan yang menyebabkan polusi udara dimana dalam pertimbangan lainnya. . orang tidak akan menabung dalam jumlah yang cukup untuk pensiun sehingga pemerintah harus mengalokasikan penerimaan pajak agar penduduk usia lanjut dapat memperoleh manfaat. kebebasan individu dalam perekonomian memungkinkan pertukaran sukarela atau mempromosikan proses pengambilan keputusan sukarela yang didasarkan atas pertimbangan dagang yang bebas biaya transfer antar pihak yang bertransaksi.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 7 Terdapat beberapa kriteria yang dapat digunakan dalam melakukan evaluasi dan analisis kebijakan publik yang diantaranya adalah sebagaimana di bawah ini. apakah wajar mengenakan pajak yang digunakan untuk kebijakan pendidikan pada semua penduduk termasuk pada keluarga tanpa anak? Efisiensi Ekonomi (Economic Efficiency) Kebijakan publik dapat dianalisis dari sudut Pareto Efficiency yaitu melalui realokasi sumber daya atau melalui perubahan alokasi – sehingga mencapai kondisi dimana seseorang atau beberapa orang mengalami kepuasan lebih baik tanpa menyebabkan pihak lain terbebani. Pengujian terutama dikaitkan dengan kewajaran dalam persepsi sosial dan fair tidaknya suatu kebijakan publik terhadap isu hak kepemilikan. Dalam asas demokrasi. Sebagai contoh. perusahaan tersebut juga menyediakan banyak kesempatan kerja pada saat tingginya tingkat pengangguran? Apakah wajar mempertimbangkan untuk menutup bisnis penebangan hutan dalam rangka menyelamatkan habitat burung hantu? Atau. Keadilan dan kewajaran (Equity & Fairness) Suatu kebijakan publik dapat diuji dengan berbagai pertanyaan. Sistem Paternal (Paternalism) Kebijakan publik dapat dievaluasi dari asumsi bahwa pemerintah adalah pihak yang paling mengetahui permasalahan penduduk suatu negara dan pemerintah bebas menentukan kebijakan apa saja. Sebagai contoh. Kebebasan Individu (Freedom of choice) Salah satu indikator keberhasilan kebijakan publik adalah apakah kebijakan pemerintah dapat mendorong kebebasan individu dalam bertransaksi ekonomi.

Kemudian. RANGKUMAN § Keuangan publik adalah bagian ilmu ekonomi yang mempelajari aktivitas finansial pemerintah dan bagaimana proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh pemerintah. karena setiap keputusan akan mempunyai pengaruh terhadap ekonomi. Sektor publik telah mengalami pertumbuhan dari waktu ke waktu. keuangan rumah tangga dan swasta. Jumlah yang sangat besar nilainya ini merupakan alasan yang kuat untuk menumbuhkan rasa ingin tahu masalah keuangan publik. mungkin ada konflik yang substansial antara beberapa kriteria tersebut. tetapi hal ini mungkin tidak efisien. § § . ekonom menekankan efisiensi dan keadilan sebagai kriteria melakukan evaluasi atas kebijakan publik. ditribusi pendapatan. kebijakan upah minimum mungkin mendorong keadilan. Akan tetapi. dan stabilitas ekonomi. dan juga menganalisis implikasi dari kegiatan pendapatan dan belanja pada alokasi sumber daya. Contoh. Fokus keuangan publik adalah mempelajari pendapatan dan belanja pemerintah. Apakah manfaat agregat dapat melampaui beban agregat? Secara umum.8 Bab I: Gambaran Umum Keuangan Publik Stabilisasi (Stabilization) Kebijakan publik dapat dianalisis dengan menilai apakah kebijakan yang diambil pemerintah mampu meningkatkan pengeluaran agregat? Atau apakah ekonomi sektor swasta .yang dapat memberi pekerjaan pada setiap orang perlu diintervensi pemerintah? Trade Off Kebijakan publik dapat dievaluasi dengan pertanyaan apakah pilihan kebijakan tidak akan mengorbankan tujuan lainnya. welfare economics telah dipertimbangkan sebagai cara pemberian insentif untuk mengoreksi kebijakan berdasar keadilan sosial.

dan ketiga tidak menyerahkan ekonomi hanya pada kekuatan pasar. Terdapat beberapa kriteria yang dapat digunakan dalam melakukan evaluasi dan analisis kebijakan publik yang diantaranya adalah Equity & Fairness (Keadilan dan kewajaran).Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 9 § § § § Kebijakan publik akan merupakan suatu hal yang sangat penting terutama dalam hal mempengaruhi kegiatan perekonomian nasional. karena mekanisme pasar tidak dapat melaksanakan semua fungsi ekonomi. Jelaskan secara singkat mengapa sistem perpajakan haruslah diarahkan pada kepuasan dari sudut pandang para individu? 3. Jelaskan pengertian dari keuangan publik dan apa saja fokus dari keuangan publik tersebut? 2. komposisi output pengeluaran publik haruslah sesuai dengan keinginan konsumen. Sebutkan kelemahan-kelemahan yang ada pada mekanisme pasar tersebut? 5. Trade Off . Kriteria pertama. Dalam perkembangan perekonomian. Uraikan karakteristik tersebut? . ada sejumlah kriteria/karakteristik kebijakan publik. kedua adanya preferensi pengambilan keputusan yang terdesentralisasi. Dalam sistem perekonomian kapitalis sekalipun. peranan pemerintah semakin diperlukan dalam melakukan kegiatan-kegiatan ekonomi karena mekanisme pasar dalam sistem kapitalis mempunyai beberapa kelemahan. peran pemerintah tetap diperlukan dalam melakukan kegiatan-kegiatan ekonomi karena mekanisme pasar dalam sistem kapitalis mempunyai beberapa kelemahan. Economic Efficiency (Efisiensi Ekonomi). Terdapat sejumlah kriteria dalam menilai pentingnya sektor publik. Dengan demikian karakteristik kebijakan publik mempunyai sifat mengarahkan. mengoreksi dan melengkapi peranan mekanisme pasar. Jelaskan apa yang menjadi alasan tentang perlunya aktivitas publik yang dilakukan oleh pemerintah menurut John Stuart Mill? 4. Dalam menilai pentingnya sektor publik. Stabilization (Stabilisasi). Paternalism (Sistem Paternal). melalui kebijakan moneter dan kebijakan fiskal. Freedom of choice (Kebebasan Individu). LATIHAN 1.

Uraikan dan jelaskan pendekatan-pendekatan analisis tersebut? 9. Sebutkan dan jelaskan kriteria-kriteria yang digunakan untuk melakukan evaluasi dan analisis kebijakan publik? 10. Jelaskan yang dimaksud dengan istilah Fiscal Structure ? . Jelaskan alasan perlunya peran pemerintah dalam perekonomian dalam konteks keuangan publik? 7. Dalam melakukan analisis kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan anggaran pemerintah dapat dipakai beberapa pendekatan analisis . Apa saja ruang lingkup keuangan publik ? 8.10 Bab I: Gambaran Umum Keuangan Publik 6.

BARANG PUBLIK & EKSTERNALITAS

BARANG PUBLIK
Barang publik merupakan nonrival in consumption yang artinya adalah bahwa kuantitas dari barang publik dapat dinikmati oleh lebih dari satu konsumen tanpa mengurangi jumlah yang dinikmati oleh konsumen yang lainnnya (Heyman, 2002). Sifat pokok dari barang publik ini adalah barang ini tidak dapat dimiliki. Sekali sudah tersedia, maka barang ini akan tersedia merata bagi semua orang. Akibatnya konsumsi barang publik oleh satu orang tidak mengurangi jumlah yang tersedia bagi orang lain. Oleh karena itu tidak perlu bagi seseorang untuk memilikinya agar dapat memanfaatkannya. Terdapat dua karakteristik kunci dalam mengklasifikasikan suatu barang menjadi barang publik yakni bersifat nonrivalry (tidak ada persaingan dalam konsumsinya) dan nonexcludability (tidak dapat dikecualikan).

12

Bab 2: Barang Publik & Eksternalitas

Nonrivalry di sini adalah bahwa barang tersebut akan dapat dikonsumsi oleh sejumlah orang secara bersama-sama, tanpa mengurangi jumlah yang dapat dikonsumsi oleh konsumen yang lainnya. Dengan kata lain, dapat dikemukakan bahwa satu orang akan dapat meningkatkan kepuasannya atas barang publik tersebut tanpa mengurangi kepuasan orang lain yang juga akan menikmati barang yang sama. Contoh yang paling nyata di sini adalah matahari, yang merupakan barang publik. Bandingkan dengan sepasang sepatu yang merupakan barang privat. Dilihat dari sudut pandang tertentu, barang publik tidak dikonsumsi dalam artian dipakai habis, melainkan barang barang tersebut dapat dinikmati. Dimensi kedua dari barang publik adalah Nonexcludability. Terminologi ini menggambarkan bahwa tidak ada cara yang mungkin untuk mengecualikan siapapun agar dapat memanfaatkan barang publik, seperti misalnya pertahanan nasional. Pertahanan nasional merupakan contoh klasik dari barang publik dimana manfaatnya akan diperoleh oleh masyarakat dalam bentuk perlindungan dari serbuan luar negeri yang berlaku secara tidak terbagi untuk seluruh masyarakat, dan tidak ada yang dikecualikan dari manfaat manfaat ini. Manfaatnya akan berlaku sama bagi semua orang, meskipun mereka dapat mempunyai preferensi yang berbeda-beda. Secara umum dapat dikemukakan bahwa suatu barang publik akan mempunyai sifat-sifat berikut: 1. Konsumsi atas barang publik oleh seseorang tidak mempengaruhi penawaran barang publik tersebut untuk dikonsumsi oleh orang lain, atau suatu barang publik dapat dikonsumsi oleh beberapa orang secara bersama-sama. Sifat barang publik seperti ini disebut nonrival consumption. Contoh barang publik dengan sifat ini adalah jalan raya dan pertahanan nasional dimana konsumsi terhadap barang tersebut oleh seseorang tidak mengurangi kesempatan bagi orang lain untuk ikut mengkonsumsinya. 2. Walaupun penyedia barang menginginkan, setiap anggota masyarakat tidak akan dapat dibatasi ataupun dilarang untuk mengkonsumsi barang publik. Sifat barang publik seperti ini disebut nonexclusion. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa jika seseorang akan mengkonsumsi barang publik, apakah seseorang itu mau membayar atau tidak (free rider) dalam mengkonsumsi barang tersebut, orang tersebut akan tetap dapat memperoleh barang tersebut. 3. Walaupun setiap orang mengkonsumsi jumlah yang sama atas barang publik, tidak ada persyaratan bahwa konsumsi ini dinilai atau dihargai oleh semua orang. Kontribusi seseorang atas penggunaan barang publik dapat

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi

13

berbeda-beda. Seseorang atau sekelompok orang dapat saja terpaksa membayar lebih mahal akibat rendahnya kontribusi sebagian lainnya. 4. Sifat lain dari barang publik adalah bahwa barang publik tidak disediakan secara eksklusif oleh pihak swasta. Penyediaan barang publik yang dilakukan oleh pemerintah tidak berarti bahwa produksinya harus dilakukan oleh sektor publik, tapi mungkin disediakan oleh swasta kemudian pemerintah melakukan pembelian atas barang tersebut. Karakteristik barang publik seperti di atas tidaklah absolut, akan tetapi tergantung pada kondisi pasar dan teknologi. Misalnya saja, suatu komoditas dapat saja memenuhi satu kriteria dari barang publik, tapi mungkin tidak memenuhi kriteria yang lain. Beberapa barang tertentu yang secara konvensional tidak dipandang sebagai komoditas pribadi dapat saja mempunyai karakteristik sebagai barang publik.

Perbedaan Antara Barang Publik Dan Barang Pribadi
Terdapat beberapa perbedaan karakteristik antara barang pribadi dan barang publik. Perbedaannya adalah bahwa pertukaran barang pribadi dalam mekanisme pasar tidak akan menghasilkan eksternalitas 1 , sedangkan pertukaran barang publik selain dapat menghasilkan manfaat eksternal juga akan dapat menyebabkan beban eksternal bagi pihak lain. Contoh barang publik yang menghasilkan manfaat eksternal adalah pertahanan nasional dan contoh barang publik yang menghasilkan beban eksternal adalah penyediaan mesin atau peralatan yang menyebabkan adanya polusi udara. Perbedaan lain adalah bahwa biaya marjinal untuk distribusi barang publik kepada konsumen adalah nol. Hal ini merupakan efek dari sifat non rival consumption. Contoh: Misalkan ada sekelompok orang yang berada di satu ruangan tertentu. Setiap hari, penghuni ruang ini dapat mengkonsumsi sejumlah roti dan udara sejuk dari alat pendingin ruangan. Jumlah roti yang tersedia akan dikonsumsi dengan porsi yang sama oleh orang-orang yang berada di ruangan itu, dan bila seseorang akan mengkonsumsi lebih dari porsinya, dipastikan akan mengurangi porsi orang lain. Di lain pihak, tidak mungkin membagi temperatur yang telah diberi pendingin udara kepada orang-orang dalam ruangan tersebut. Semua orang
1

Biaya atau manfaat yang muncul yang diakibatkan karena adanya transaksi pasar dimana biaya ataupun manfaat tersebut tidak tercermin dalam harga barang.

14

Bab 2: Barang Publik & Eksternalitas

akan mengkonsumsi tingkat temperatur yang sama. Penambahan orang dalam ruangan, sampai batas tertentu, tidak akan mempengaruhi tingkat konsumsi atas udara sejuk tersebut. Tidak mungkin orang akan mengkonsumsi tingkat temperatur yang berbeda satu sama lain. Sejumlah roti mempunyai karakteristik sebagai barang pribadi sedangkan tingkat suhu seperti uraian diatas mempunyai karakteristik sebagai barang publik bagi orang-orang yang menghuni ruangan. Secara umum dapat dikemukakan bahwa terdapat beberapa alasan terjadinya perbedaan antara barang publik dengan barang pribadi, diantaranya adalah sebagai berikut:

Karena Kegagalan Mekanisme Pasar
Kebutuhan barang pribadi akan dirasakan secara perorangan, sedangkan kebutuhan barang publik akan dirasakan secara bersama-sama oleh para individu dalam masyarakat. Manfaat yang dihasilkan oleh barang publik tidak terbatas pada konsumen tertentu saja yang membeli barang itu, akan tetapi juga bagi konsumen lainnya. Contoh barang pribadi adalah roti. Konsumsi orang satu dengan orang lainnya berada dalam hubungan yang saling bersaingan (rival), karena apabila roti tadi dikonsumsi oleh seseorang, maka barang tersebut tidak tersedia bagi orang lain. Sedangkan contoh barang publik adalah alat untuk mengurangi pencemaran udara. Jika alat tersebut berfungsi dan terjadi peningkatan kualitas udara, manfaat yang dihasilkan akan tersedia bagi semua orang yang bernafas. Konsumsi atas alat anti pencemaran udara tadi oleh beberapa individu adalah tidak saling bersaing (non rival), karena keikutsertaan orang lain untuk memanfaatkan alat tidak mengurangi manfaat bagi yang lainnya. Kedua sifat barang tadi akan menimbulkan permasalahan bagaimana konsumen berperilaku dan bagaimana kedua jenis barang tadi harus disediakan. Mekanisme pasar akan secara tepat dapat menggambarkan penyediaan barang pribadi. Mekanisme ini didasarkan pada pertukaran dan pertukaran hanya terjadi jika terdapat hak eksklusif bagi pihak yang membelinya. Suatu pasar menyediakan sistem dimana produsen akan memproduksi barang jika konsumen membutuhkan barang itu. Hanya pihak yang bersedia membayar

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi

15

barang itulah yang dapat memperoleh manfaat atas barang. Dalam kondisi ini, pasar menjadi efisien, karena transaksi pemanfaatan barang dianalogikan sebagai suatu tender terbuka dan setiap orang boleh mengikuti tender sehingga tidak ada yang dirugikan. Lain halnya dengan penyediaan barang publik dimana tidak terjadi mekanisme pasar yang efisien. Satu orang tidak akan dapat secara ekslusif memanfaatkan barang publik, karena apabila orang tersebut mengkonsumsi, pada saat yang sama orang atau pihak lain dapat mengkonsumsi barang publik tersebut secara bersama-sama. Konsumen juga tidak bersedia untuk melakukan pembayaran atas barang publik tadi, dengan pertimbangan bahwa orang lain juga menikmati barang yang sama. Manfaat yang dirasakan oleh satu pihak akan sama dengan manfaat yang dirasakan pihak lain, sehingga pembayaran hanya oleh satu konsumen tidak signifikan. Hubungan antara produsen dan konsumen menjadi tidak ada dan dengan demikian maka tugas pemerintahlah yang harus bersedia memproduksi barang publik tersebut. Pemerintah juga harus mengambil tindakan apabila mekanisme pasar tersebut tidak berjalan.

Ditinjau dari Proses Penyediaan Barang Publik
Permasalahan yang mungkin timbul kemudian adalah bahwa bagaimana pemerintah harus menentukan berapa banyak barang publik yang perlu diadakan. Kesulitan akan terjadi dalam menentukan jenis dan kualitas barang publik, berapa konsumen yang harus membayar dan bagaimana manfaat ini akan dapat dinilai oleh konsumen. Dari sudut pandang konsumen, mereka tidak dapat menyatakan kepada pemerintah berapa nilai pelayanan umum yang disediakan oleh pemerintah. Persediaan barang publik tidak banyak dipengaruhi oleh kontribusi individu. Konsumen tidak mempunyai hak suara secara perorangan untuk menyatakan bagaimana nilai pelayanan yang nyata bagi mereka, kecuali ada jaminan konsumen lain juga akan melakukan hal yang sama. Konsumen akan dapat memilih sebagai free rider (dibahas lebih lanjut pada sub bab berikut) atas apa yang disediakan oleh pemerintah. Dengan demikian, cara penyediaan barang publik dan alokasinya akan berbeda dengan cara penyediaan barang pribadi. Pada tahap ini, proses politik akan menggantikan mekanisme pasar. Pemilihan dengan pemungutan suara akan menggantikan transaksi jual beli yang terjadi di mekanisme pasar. Mereka merasa berkepentingan untuk memilih apa yang akan memberi manfaat bagi mereka. Hasil pemungutan suara akan menggantikan pilihan melalui mekanisme pasar. Tingkat efisiensi

16

Bab 2: Barang Publik & Eksternalitas

proses pemilihan dan kebersamaan pilihan masyarakat akan menentukan tingkatan pencapaian pemecahan yang efisien.

Ditinjau dari Permintaan Barang Publik
Kurva permintaan barang publik harus diinterpretasikan secara berbeda dengan kurva permintaan barang pribadi. Untuk barang publik (murni), seluruh konsumen harus mengkonsumsi sejumlah kuantitas yang sama atas barang. Para pembeli barang publik tidak akan dapat menyesuaikan tingkat konsumsinya sehingga misalnya seorang individu mengkonsumsi satu unit, sementara individu lain dapat mengkonsumsi dua unit. Para konsumen tidak dapat menyesuaikan jumlah yang dibeli, misalnya sampai harga barang publik sama dengan manfaat marjinalnya atau sampai dengan transaksi pengadaan barang publik tersebut terjadi (kondisi equilibrium). Sayangnya, barang publik tidak dapat dihargai seperti itu, karena sifatnya yang non exclusion. Bila digambarkan dalam grafik, sumbu vertikal bukanlah harga pasar, tetapi jumlah maksimum seseorang bersedia membayar per unit barang publik. Sebagai fungsi dari jumlah barang yang secara nyata tersedia adalah sumbu horizontalnya. Contoh: Ada tiga orang hidup bersama dalam sebuah komunitas yang kecil dan mempunyai keinginan yang sama untuk mengadakan satuan pengamanan (satpam). Harga sewa satpam merupakan jumlah maksimal yang individu bersedia membayar dan kuantitas proteksi keamanan dapat diukur dari jumlah satpam yang disewa untuk tujuan itu, dan merupakan cerminan dari barang publik yang dapat dikonsumsi oleh ketiga orang tersebut.

Ditinjau dari Tingkat Output yang Efisien
Efisiensi dalam pasar barang pribadi mensyaratkan bahwa seluruh aktivitas ekonomi dilaksanakan sampai pada titik di mana manfaat sosial marjinal (marginal social benefit) sama dengan biaya sosial marjinal (marginal social cost). Kuantitas yang efisien per periode waktu berhubungan dengan titik di mana output meningkat sedemikian rupa sehingga jumlah manfaat marjinal konsumen sama dengan biaya sosial marjinal atas barang. Prinsip ini dapat juga berlaku untuk penerapan teori barang publik.

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi

17

Manfaat sosial marjinal adalah jumlah manfaat marjinal yang dinikmati oleh seluruh konsumen tersebut. Dimisalkan ada seseorang berkeinginan memproduksi atau membeli suatu barang (publik) untuk kepentingan pribadinya. Penyediaan barang publik oleh orang itu tidak hanya akan memberi manfaat kepada si penyedia tetapi juga kepada orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian, total manfaat sosial marjinalnya akan melebihi manfaat yang diterima oleh orang yang menyediakan barang publik tadi. Gabungan seluruh manfaat yang dinikmati oleh orang-orang di sekitarnya memberikan manfaat sosial marjinal atas tambahan unit yang disediakan.

FREE RIDER PROBLEM
Sebuah sistem yang meminta kontribusi masyarakat secara sukarela untuk penyediaan dan pembiayaan barang publik akan dapat berjalan apabila komunitas publiknya hanya terdiri dari beberapa individu. Dalam kelompok kecil dimana masing-masing orang kenal satu sama lain, apabila mereka mempunyai gagasan terhadap penyediaan suatu barang akan lebih mudah mencapai kompromi. Hal ini dikarenakan setiap anggota kelompok akan dapat dengan mudah mengidentifikasi manfaat barang tersebut. Sebagai contoh, jika sekelompok orang yang menghuni sebuah apartemen mewah dan yang mempunyai kepentingan yang sama dalam memperbaiki jalan atau mengadakan proteksi keamanan, mereka akan secara mudah untuk mencapai kompromi dalam rangka menyediakan barang publik tersebut dengan cara mendanai secara bersama-sama. Selain proses pencapaian kesepakatan menjadi tidak rumit, faktor pendukung lainnya adalah adanya keterikatan moral antar mereka. Hal ini akan sulit terjadi jika jumlah orang yang terlibat dalam proses pengambilan keputusan bertambah dan informasi tentang selera dan kemampuan ekonomi kurang. Dalam kelompok dengan skala yang lebih luas, sepertinya akan sulit untuk menggambarkan preferensi kelompok tersebut, karena sebagian besar anggota dalam kelompok besar tersebut dimungkinkan akan tidak secara akurat memperoleh informasi tentang manfaat nyata atas pengadaan barang publik. Hal ini mengakibatkan beberapa orang secara sukarela memberikan kontribusi untuk penyediaan barang publik tersebut, namun di lain pihak, akan terdapat segelintir orang yang enggan memberikan kontribusinya secara sukarela. Pada dasarnya mereka mengetahui bahwa barang publik yang akan dibeli atau diadakan tidak mungkin hanya dapat dinikmati oleh orang-orang yang membayar saja. Apabila kondisi yang seperti ini terjadi, akan ada orang-orang yang mengambil manfaat barang publik tanpa memberikan kontribusi apa pun terhadap biaya penyediaan barang tersebut.

18

Bab 2: Barang Publik & Eksternalitas

Orang ini disebut free rider. Problem akan muncul jika jumlah free rider bertambah banyak sehingga pada akhirnya penyediaan barang publik, misalnya perbaikan jalan akses ke apartemen, tidak jadi dilakukan. Semua anggota kelompok tersebut, pada akhirnya, tidak dapat menikmati kenyamanan menggunakan jalan tadi.

EKSTERNALITAS
Dalam suatu perekonomian modern, setiap aktivitas mempunyai keterkaitan dengan aktivitas lainnya. Apabila semua keterkaitan antara suatu kegiatan dengan kegiatan lainnya dilaksanakan melalui mekanisme pasar atau melalui suatu sistem, maka keterkaitan antar berbagai aktivitas tersebut tidak menimbulkan masalah. Akan tetapi banyak pula keterkaitan antar kegiatan yang tidak melalui mekanisme pasar sehingga timbul berbagai macam masalah. Keterkaitan suatu kegiatan dengan kegiatan lain yang tidak melalui mekanisme pasar adalah apa yang disebut dengan eksternalitas. Secara umum dapat dikatakan bahwa eksternalitas adalah suatu efek samping dari suatu tindakan pihak tertentu terhadap pihak lain, baik dampak yang menguntungkan maupun yang merugikan. Dalam literatur asing, efek samping mempunyai istilah seperti : external effects, externalities, neighboorhood effects, side effects, spillover effects (Mishan, 1990). Efek samping dari suatu kegiatan atau transaksi ekonomi bisa positif (positive external effects, external economic) maupun negatif (negative external effects, external diseconomic). Dalam kenyataannya, baik dampak negatif maupun efek positif bisa terjadi secara bersamaan dan simultan. Dampak yang menguntungkan misalnya seseorang yang membangun sesuatu pemandangan yang indah dan bagus pada lokasi tertentu mempunyai dampak positif bagi orang sekitar yang melewati lokasi tersebut. Sedangkan dampak negatif misalnya polusi udara, air dan suara. Ada juga ekternalitas yang dikenal sebagai eksternalitas yang berkaitan dengan uang (pecuniary externalities) yang muncul ketika dampak eksternalitas itu disebabkan oleh meningkatnya harga. Misalnya, suatu perusahaan didirikan pada lokasi tertentu atau kompleks perumahan baru dibangun, maka harga tanah tersebut akan melonjak tinggi. Meningkatnya harga tanah tersebut menimbulkan dampak eksternal yang negatif terhadap konsumen lain yang ingin membeli tanah di sekitar daerah tersebut. Dalam contoh di atas, efek tersebut dalam perubahan harga tanah dimana kesejahteraan masyarakat berubah tetapi perubahan itu akan kembali ke keadaan keseimbangan karena setiap barang akan menyamakan rasio hargaharga barang dengan marginal rate of substitution (MRS). Jadi, suatu fakta

kegiatan . Dampak atau efek yang termasuk dalam kategori ini meliputi biaya pemurnian atau pembersihan air yang dipakai (eater intake clen-up cost) oleh produsen hilir (downstream producers) yang menghadapi pencemaran air (water polution) yang diakibatkan oleh produsen hulu (upstream producers).Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 19 bahwa tindakan seseorang dapat mempengaruhi orang lain tidaklah berarti adanya kegagalan pasar selama pengaruh tersebut tercermin dalam hargaharga sehingga tidak terjadi ketidakefisienan dalam perekonomian. Dampak kategori ini bisa dipahami lebih jauh dengan contoh lain berikut ini. Dalam hal ini. Hal ini terjadi ketika produsen hilir membutuhkan air bersih untuk proses produksinya. Efek atau dampak satu produsen terhadap produsen lain (effects of producers on other producers). Jenis-jenis Eksternalitas Efisiensi alokasi sumberdaya dan distribusi konsumsi dalam ekonomi pasar dengan kompetisi bebas dan sempurna bisa terganggu. Suatu proses produksi (misalnya perusahaan pulp) menghasilkan limbah residu produk sisa yang beracun dan masuk ke aliran sungai. sehingga produksi ikan terganggu dan akhirnya merugikan produsen lain yakni para penangkap ikan (nelayan). jika aktivitas dan tindakan invividu pelaku ekonomi baik produsen maupun konsumen mempunyai dampak (externality) baik terhadap mereka sendiri maupun terhadap pihak lain. Jadi. 2. yang dimaksud dengan eksternalitas hanyalah apabila tindakan seseorang mempunyai dampak terhadap orang lain atau segolongan orang lain tanpa adanya kompensasi apapun juga sehingga timbul inefisiensi dalam alokasi faktor produksi. danau atau semacamnya. Efek atau dampak samping kegiatan produsen terhadap konsumen (effects of producers on consumers) 3. Efek atau dampak dari suatu konsumen terhadap konsumen lain (effects of consumers on consumers) 4. Eksternalitas itu dapat terjadi dari empat interaksi ekonomi berikut ini: 1. Efek akan dampak dari suatu konsumen terhadap produsen (effects of consumers on producers) Dampak Suatu Produsen Terhadap Produsen Lain Suatu kegiatan produksi dikatakan mempunyai dampak eksternal terhadap produsen lain jika kegiatannya itu mengakibatkan terjadinya perubahan atau penggeseran fungsi produksi dari produsen lain.

Dampak jenis ini misalnya terjadi ketika limbah rumahtangga terbuang ke aliran sungai dan mencemarinya sehingga mengganggu perusahaan tertentu yang memanfaatkan air baik oleh ikan (nelayan) atau perusahaan yang memanfaatkan air bersih. Konsumen seorang individu bisa dipengaruhi tidak hanya oleh efek samping dari kegiatan produksi tetapi juga oleh konsumsi oleh individu yang lain. yang semuanya mempengaruhi kenyaman konsumen atau masyarakat luas. Dampak atau efek dari kegiatan suatu seorang konsumen yang lain dapat terjadi dalam berbagai bentuk.20 Bab 2: Barang Publik & Eksternalitas produksi pulp tersebut mempunyai dampak negatif terhadap produksi lain (ikan) atau nelayan. Misalnya. Dampak atau efek samping yang sangat populer dari kategori kedua yang populer adalah pencemaran atau polusi. Kategori ini meliputi polusi suara (noise). kebisingan bunyi radio atau musik dari tetangga. bahaya radiasi dari stasiun pembangkit (polusi udara) serta polusi air. Dalam hal ini. jika aktivitasnya merubah atau menggeser fungsi utilitas rumah tangga (konsumen). Sebagai contoh. kepuasan konsumen terhadap pemanfaatan daerah-daerah rekreasi akan berkurang dengan adanya polusi udara. suatu agen ekonomi (perusahaan/produsen) yang menghasilkan limbah (waste products) ke udara atau ke aliran sungai mempengaruhi pihak dan agen lain yang memanfaatkan sumber daya alam tersebut dalam berbagai bentuk. Dampak Produsen Terhadap Konsumen Suatu produsen dikatakan mempunyai eksternal efek terhadap konsumen. Dampak Konsumen terhadap Konsumen Lain Dampak konsumen terhadap konsumen yang lain terjadi jika aktivitas seseorang atau kelompok tertentu mempengaruhi atau mengganggu fungsi utilitas konsumen yang lain. dan inilah yang dimaksud dengan efek suatu kegiatan produksi terhadap produksi komoditi lain. Dampak Konsumen terhadap Produsen Dampak konsumen terhadap produsen terjadi jika aktivitas konsumen mengganggu fungsi produksi suatu produsen atau kelompok produsen tertentu. asap rokok seseorang terhadap orang sekitarnya dan sebagainya. . berkurangnya fasilitas daya tarik alam (amenity) karena pertambangan. bisingnya suara alat pemotong rumput tetangga.

maka eksternalitas dan ketidakefisienan ini tidak bisa dihindari. Sejauh semua faktor ini tidak ditangani dengan baik. besarnya konsumsi seseorang akan barang tersebut tidak akan mengurangi konsumsi bagi yang lainnya. yang memerlukan instrumen ekonomi untuk menginternalisasikan dampak tersebut dalam aktivitas dan analisa ekonomi. § Eksternalitas yang tidak habis (an undeplate externality) adalah suatu efek eksternal yang mempunyai ciri barang publik (public goods) yang mana barang tersebut bisa dikonsumsi oleh seseorang. Keberadaan eksternalitas yang merupakan barang publik seperti polusi udara.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 21 Lebih jauh Baumol dan Oates (1975) menjelaskan tentang konsep ekternalitas dalam dua pengertian yang berbeda: § Eksternalitas yang bisa habis (a deplatable externality) yaitu suatu dampak eksternal yang mempunyai ciri barang individu (private good or bad) yang mana jika barang itu dikonsumsi oleh seseorang individu. barang itu tidak bisa dikonsumsi oleh orang lain. Faktor-faktor Penyebab Eksternalitas Eksternalitas timbul pada dasarnya karena aktivitas manusia yang tidak mengikuti prinsip-prinsip ekonomi yang berwawasan lingkungan. Selanjutnya. barang publik sempurna (pure public good) . Dari dua konsep eketernalitas ini. dan suara merupakan contoh eksternalitas jenis yang tidak habis. Bagaimana mekanisme timbulnya eksternalitas dan ketidakefisienan dari alokasi sumber daya sebagai akibat dari adanya faktor di atas diuraikan satu persatu berikut ini. dan juga bagi orang lain. Dalam pandangan ekonomi. Dengan kata lain. eksternalitas dan ketidakefisienan timbul karena salah satu atau lebih dari prinsip-prinsip alokasi sumber daya yang efisien tidak terpenuhi. maka ini akan memberikan dampak yang tidak menguntungkan terhadap ekonomi terutama dalam jangka panjang. ketidaksempurnaan pasar. Karakteristik barang atau sumberdaya publik. kegagalan pemerintah merupakan keadaan-keadaan dimana unsur hak pemikiran atau pengusahaan sumber daya (property rights) tidak terpenuhi. Keberadaan Barang Publik Barang publik (public goods) adalah barang yang apabila dikonsumsi oleh individu tertentu tidak akan mengurangi konsumsi orang lain akan barang tersebut. Kalau ini dibiarkan. eksternalitas jenis kedua merupakan masalah pelik/rumit dalam ekonomi lingkungan. air.

Karena ciri-ciri di atas. jika si A mengetahui bahwa barang tersebut akan disediakan oleh si B. public goods. barang publik tidak diperjualbelikan sehingga tidak memiliki harga. Keadaan seperti akhirnya cenderung mengakibatkan berkurangnya insentif atau rangsangan untuk memberikan kontribusi terhadap penyediaan dan pengelolaan barang publik. Satu-satunya mekanisme yang membedakannya adalah dengan menetapkan harga (nilai moneter) terhadap barang publik tersebut sehingga menjadi barang privat (dagang) sehingga benefit yang diperoleh dari harga itu bisa dipakai untuk mengendalikan atau memperbaiki kualitas lingkungan itu sendiri. hidup yang nyaman dan sejenisnya. karena sifat barang publik yang tidak ekslusif dan merupakan konsumsi umum. Kalaupun ada kontribusi. air bersih. common property resource). pemandangan yang indah. Sumber Daya Bersama Keberadaan sumber daya bersama (common resources) atau akses terbuka terhadap sumber daya tertentu ini tidak jauh berbeda dengan keberadaan . Masyarakat atau konsumen cenderung acuh tak acuh untuk menentukan harga sesungguhnya dari barang publik ini. Dalam hal ini. Barang publik yang berkaitan dengan lingkungan meliputi udara segar. Kajian ekonomi sumber daya dan lingkungan salah satunya menitikberatkan pada persoalan barang publik atau barang umum ini (common consumption. Pertama. Tetapi dalam menetapkan harga ini menjadi masalah tersendiri dalam analisa ekonomi lingkungan. mendorong sebagian masyarakat sebagai “free rider”. Kedua adalah tidak ekslusif (non-exclusive) dalam pengertian bahwa penawaran tidak hanya diperuntukan untuk seseorang dan mengabaikan yang lainnya. Ada dua ciri utama dari barang publik ini.22 Bab 2: Barang Publik & Eksternalitas didefinisikan sebagai barang yang harus disediakan dalam jumlah dan kualitas yang sama terhadap seluruh anggota masyarakat. barang publik dimanfaatkan berlebihan dan tidak mempunyai insentif untuk melestarikannya. karena masyarakat cendrung memberikan nilai yang lebih rendah dari yang seharusnya (undervalued). maka sumbangan itu tidaklah cukup besar untuk membiayai penyediaan barang publik yang efisien. barang ini merupakan konsumsi umum yang dicirikan oleh penawaran gabungan (joint supply) dan tidak bersaing dalam mengkonsumsinya (non-rivalry in consumption). maka si A tidak mau membayar untuk penyediaan barang tersebut dengan harapan bahwa barang itu akan disediakan oleh si B. maka si A bisa ikut menikmatinya karena tidak seorang pun yang bisa menghalanginya untuk mengkonsumsi barang tersebut. rekreasi. Jika akhirnya si B berkeputusan untuk menyediakan barang tersebut. Sebagai contoh.

Contoh konkrit dari praktek ini adalah Organisasi negara-negara pengekspor minyak (OPEC) dengan memproduksi dalam jumlah yang lebih sedikit sehingga mengakibatkan meningkatnya harga yang lebih tinggi dari normal. sehingga secara keseluruhan praktek monopoli ini merugikan masyarakat (worse off ). . akan mengurangi peluang bagi orang lain untuk melakukan hal yang sama. Jadi. Kelompok tertentu ini memanfaatkan pemerintah untuk mencari keuntungan (rent seeking) melalui proses politik. pemerintah juga perlu mempertimbangkan seberapa banyak pemanfaatannya yang efisien. Namun tidak seperti barang publik. Pemanfaatannya oleh seseorang. sama halnya dengan barang-barang publik. Hal ini bisa terjadi pada pasar yang tidak sempurna (imperfect market) seperti pada kasus monopoli (penjual tunggal). dan cuma-cuma. Ketidaksempurnaan pasar ini misalnya terjadi pada praktek monopoli dan kartel. keberadaan sumber daya milik bersama ini. sumber daya milik bersama memiliki sifat bersaingan. tidak ekskludabel. Kegagalan pemerintah banyak diakibatkan tarikan kepentingan pemerintah sendiri atau kelompok tertentu (interest groups) yang tidak mendorong efisiensi. Contoh klasik tentang bagaimana eksternalitas terjadi pada kasus sumberdaya bersama ini adalah seperti yang diperkenalkan oleh Hardin (1968) yang terkenal dengan istilah tragedi barang umum (the tragedy of the commons). Aksi pencarian keuntungan (rent seeking) bisa dalam berbagai bentuk: § Kelompok yang punya kepentingan tertentu (interest groups) melakukan loby dan usaha-usaha lain yang memungkinkan diberlakukannya aturan yang melindungi serta menguntungkan mereka. Pada kondisi yang demikian akan hanya berakibat terjadinya peningkatan surplus produsen yang nilainya jauh lebih kecil dari kehilangan surplus konsumen. Kegagalan Pemerintah Sumber ketidakefisienan dan atau eksternalitas tidak saja diakibatkan oleh kegagalan pasar tetapi juga karena kegagalan pemerintah (government failure). melalui kebijaksanaan dan sebagainya. Sumber-sumber daya ini terbuka bagi siapa saja yang ingin memanfaatkannya.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 23 barang publik di atas. Ketidaksempurnaan Pasar Masalah lingkungan bisa juga terjadi ketika salah satu partisipan di dalam suatu tukar menukar hak-hak kepemilikan (property rights) mampu mempengaruhi hasil yang terjadi (outcome). Sumber-sumber daya milik bersama.

24 § Bab 2: Barang Publik & Eksternalitas Praktek mencari keuntungan bisa juga berasal dari pemerintah sendiri secara sah misalnya memberlakukan proteksi berlebihan untuk barangbarang tertentu seperti mengenakan pajak impor yang tinggi dengan alasan meningkatkan efisiensi perusahaan dalam negeri. Pencari keuntungan (rent seeker) bisa dari perusahaan itu sendiri atau dari pemerintah atau oknum memungkinkan membayar kurang dari 1 milyar agar peraturan sesungguhnya tidak diberlakukan. Namun sejauh ini kita baru mengulas secara sekilas tentang cara-cara mengatasi eksternalitas tersebut. dan denda informasi ini belum tentu menjadi reveneu pemerintah. Pada dasarnya. § Praktek mencari keuntungan ini bisa juga dilakukan oleh aparat atau oknum tertentu yang mempunyai otoritas tertentu. Sehingga akhirnya dampak lingkungan yang seharusnya diselidiki dan ditangani tidak dilaksanakan dengan semestinya sehingga masalahnya menjadi bertambah serius dari waktu ke waktu. perusahaan A yang mengeluarkan limbah yang merusak lingkungan. kita sebut saja pihak-pihak non pemerintah tersebut sebagai pihak “pribadi” atau “swasta”. berkenaan dengan penanggulangan eksternalitas itu sama saja. sehingga pihak-pihak yang berkepentingan bisa memberikan uang jasa atau uang pelicin untuk keperluan tertentu. Berdasarkan perhitungan atau estimasi perusahaan A harus mengeluarkan biaya (denda) yang besar (misalnya Rp. tujuan yang hendak dicapai oleh pemerintah maupun pihak swasta (perorangan dan kelompok). baik itu pribadi/kelompok maupun perusahaan/ organisasi kemasyarakatan. Sebagai contoh. melainkan juga pihakpihak non pemerintah. yakni untuk mendorong alokasi sumber daya agar mendekati kondisi yang optimum secara sosial. Praktek jenis ini bisa mendorong terjadinya eksternalitas. . Dalam prakteknya. untuk menghindari resiko yang lebih besar kalau ketentuan atau aturan diberlakukan dengan sebenarnya. Pada bagian pembahasan berikut kita akan menelaah solusi-solusi atau upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah dan pribadi atau swasta (private solution) dalam mengatasi persoalan eksternalitas. bukan hanya pemerintah saja yang perlu dan dapat mengatasi eksternalitas itu. Untuk mudahnya. Praktek mencari keuntungan ini membuat alokasi sumber daya menjadi tidak efisien dan pelaksanaan aturan-aturan yang mendorong efisiensi tidak berjalan dengan semestinya. Solusi Pemerintah dan Swasta terhadap Eksternalitas Kita telah menyimak mengapa keberadaan eksternalitas itu dapat mengakibatkan alokasi sumber daya yang dilakukan oleh pasar menjadi tidak efisien. 1 milyar) untuk menanggulangi efek dari limbah yang dihasilkan itu.

Sebagai contoh. sehingga tidak terlalu merusak lingkungan namun juga tidak menghalangi kegiatan produksi. Di Amerika Serikat. yang dapat memadukan insentif pribadi/swasta dengan efisiensi sosial. sesungguhnya tidak mungkin terpenuhi. Pajak Pigovian dan Subsidi Selain menerapkan regulasi. seperti telah disinggung di atas pemerintah . semua kendaraan bemotor sesungguhnya mengeluarkan polusi. Terkadang EPA mewajibkan pemakaian teknologi atau peralalatan tertentu untuk mengurangi polusi di pabrik-pabrik. Namun kasus-kasus polusi umumnya tidak sesederhana itu. maka segala bentuk kendaraan bermotor harus dilarang oleh pemerintah. dan hal ini tidak mungkin dilakukan. Dalam kasus ini pemerintah menggunakan regulasi atau pendekatan komando dan kontrol untuk melenyapkan eksternalitas tadi. Jadi. untuk mengatasi kebiasaan membuang limbah beracun ke sungai. karena polusi merupakan efek samping tak terelakkan dari kegiatan produksi industri. demi memperoleh suatu peraturan yang baik dan tepat guna. Contoh yang sederhana. Jika polusi ini hendak dihapus sepenuhnya. untuk mengatasi eksternalitas pemerintah juga dapat menerapkan kebijakan-kebijakan yang didasarkan pada pendekatan pasar. Tuntutan para pecinta lingkungan untuk menghapuskan segala bentuk polusi. pemerintah dapat menyatakannya sebagai tindakan kriminal dan akan mengadili serta menghukum pelakunya. yang biaya sosialnya jauh lebih besar daripada keuntungan pihak-pihak yang melakukannya.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 25 Regulasi Pemerintah dapat mengatasi suatu eksternalitas dengan melarang atau mewajibkan perilaku tertentu dari pihak-pihak tertentu. dan berbagai alternatif teknologi yang dapat diterapkan oleh industri yang bersangkutan. Bentuk regulasi dibidang lingkungan hidup itu sendiri bisa bermacam-macam. Untuk menentukan ambang aman tersebut. yang harus diupayakan bukan penghapusan polusi total. melainkan pembatasan polusi hingga ambang tertentu. dan mengawasi berbagai regulasi yang dimaksudkan untuk melindungi lingkungan hidup. dalam rangka mengurangi atau membatasi polusi. Masalahnya. kita harus menghitung segala untung ruginya secara cermat. Adakalanya EPA langsung menetapakan batasan polusi yang diperbolehkan untuk suatu perusahaan. para pejabat pemerintah harus mengetahui spesifikasi dari setiap jenis/sektor industri. Sebagai contoh. informasi seperti ini sulit didapatkan. Badan Perlindungan Lingkungan Hidup (EPA/Environmental Protection Agency) adalah lembaga yang diserahi wewenang dan tugas untuk merumuskan. Di semua kasus. melaksanakan.

26 Bab 2: Barang Publik & Eksternalitas dapat menginternalisasikan eksternalitas dengan menggunakan pajak terhadap kegiatan-kegiatan yang menimbulkan eksternalitas negatif.5. Ini dikarenakan kapasitas dan keperluan setiap pabrik untuk berpolusi berbeda-beda. dan beniat menguranginya. karena semua pabrik bangkrut atau memilih tidak beroperasi. karena biaya penerapan pajak itu lebih murah bagi masyarakat secara keseluruhan.000 untuk setiap ton limbah yang dibuang oleh setiap pabrik. § Pajak Pigovian: EPA mengenakan pajak sebesar Rp. EPA menilai limbah itu terlalu banyak. Semakin tinggi tingkat pajaknya. mengambil nama ekonom pertama yang merumuskan dan menganjurkannya. Namun EPA juga harus hati-hati. Besar kemungkinan salah satu pabrik (misalkan pabrik kertas). Para ekonom umumnya lebih menyukai pajak Pigovian dari pada regulasi sebagai cara untuk mengendalikan polusi. akan memilih membayar pajak saja. dan sebaliknya memberi subsidi untuk kegiatan-kegiatan yang memunculkan eksternalitas positif. yang biaya penurunan polusinya lebih mahal. Ada dua pilihan solusi baginya. sedangkan pabrik baja. karena hal itu lebih murah dan lebih mudah dilakukan daripada membayar pajak. Regulasi itu langsung membatasi ambang polusi. yakni: § Regulasi: EPA mewajibkan semua pabrik untuk mengurangi limbahnya hingga 300 ton per tahun. Menurut pendapat Anda. maka operasi pabrik baja akan terganggu. Regulasi mewajibkan semua pabrik mengurangi polusinya dalam jumlah yang sama. bukan merupakan cara termurah menurunkan polusi. padahal penurunan sama rata. adalah karena cara ini lebih efektif menurunkan polusi. Pajak yang khusus diterapkan untuk mengoreksi dampak dan suatu ekstenalitas negatif lazim disebut sebagai Pajak Pigovian (Pigovian tax). polusi akan hilang. sedangkan pajak Pigovian memberikan insentif kepada para pemilik pabrik untuk sebanyak mungkin mengurangi polusinya. solusi manakah yang lebih baik? Para ekonom lebih meyukai penerapan pajak. karena pajaknya terlalu tinggi. Alasan utama para ekonom itu memilih penerapan pajak. Untuk mencapai ambang polusi tertentu. Namun melalui penerapan pajak. . yakni Arthur Pigou (1877-1959).000. Mereka yakin penerapan pajak itu sama sekali tidak kalah efektifnya dalam menurunkan polusi. Jika keduanya dipaksa menurunkan polusi sama rata. akan semakin banyak penurunan polusi yang akan terjadi. Andaikan ada dua pabrikpabrik baja dan pabrik kertas yang masing-masing membuang limbah sebanyak 500 ton per tahun ke sungai. maka pabrik kertas akan segera mengurangi polusinya. EPA tinggal menghitung tingkat pajak yang paling tepat untuk diterapkannya. lebih mampu (biayanya lebih murah) untuk menurunkan polusi dibanding pabrik lain (pabrik baja).

Pendekatan komando dan kontrol tidak akan memberikan alasan atau insentif bagi pabrik-pabrik pencipta polusi untuk berusaha mengatasi polusi semaksimal mungkin. barang . merupakan cara terbaik untuk menurunkan polusi. pajak Pigovian itu justru mendorong alokasi sumber daya mendekati titik optimum sosial. yang paling sulit menurunkan polusinya atau yang dihadapkan pada biaya paling tinggi untuk menurunkan polusi (misalkan karena biaya alat penyaring polusinya sangat mahal). Sebaliknya. Seandainya saja polusinya sudah berada di bawah ambang maksimal (misalkan 300 ton per tahun). pajak akan memberikan insentif kepada pabrik-pabrik itu untuk terus mengembangkan teknologi yang ramah terhadap lingkungan. Berapapun target penurunan polusi yang diinginkan EPA akan dapat mencapainya dengan biaya termurah melalui penerapan pajak ini. pajak Pigovian ini juga meningkatkan efisiensi ekonomi. Sama halnya dengan kerja pasar yang mengalokasikan berbagai barang ke pembeli. Pajak Pigovian diterapkan untuk mengoreksi insentif di tengah adanya eksternalitas. yang memberikan penilaian paling tinggi pajak Pigovian ini juga mengalokasikan hak berpolusi kepada perusahaan atau pabrik. Pajak umumnya juga menimbulkan beban baku berupa penurunan kesejahteraan ekonomis (turunnya surplus produsen dan surplus konsumen). Pajak Pigovian tidak seperti itu karena pajak ini memang khusus diterapkan untuk mengatasi masalah ekstemalitas. RANGKUMAN § Dengan mempertimbangkan sifat rivalry dan excludability. karena semakin sedikit polusi yang mereka ciptakan. Para ekonom juga berkeyakinan bahwa penerapan pajak Pigovian. dimana kita mengetahui bahwa pajak pada umumnya akan mendistorsikan insentif dan mendorong alokasi sumber daya menjauhi titik optimum sosialnya. masyarakat harus memperhitungkan kesejahteraan pihak lain. Akibat adanya eksternalitas.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 27 Pada dasarnya. pajak Pigovian secara langsung menetapkan harga atas hak berpolusi. sehingga tidak seperti pajak-pajak lainnya. selain memberi pendapatan tambahan pada pemerintah. Mereka akan terus terdorong menurunkan polusi. yang nilainya lebih besar daripada pendapatan yang diperoleh pemerintah dan pajak tersebut. Pajak Pigovian tidaklah sama dengan pajak-pajak lain. akan semakin sedikit pula pajak yang harus mereka bayar. Jadi. suatu barang dapat dikelompokkan kedalam empat kategori yaitu barang publik. maka perusahaan itu tidak akan membuang biaya lebih banyak agar polusinya dapat ditekan lebih rendah lagi.

Pemilihan dengan pemungutan suara akan menggantikan transaksi jual beli yang terjadi di mekanisme pasar. Perbedaannya adalah bahwa pertukaran barang pribadi dalam mekanisme pasar tidak akan menghasilkan eksternalitas.28 Bab 2: Barang Publik & Eksternalitas § § § § pribadi. LATIHAN 1. Cara penyediaan barang publik dan alokasinya akan berbeda dengan cara penyediaan barang pribadi. Terangkan bagaimana suatu aktivitas ekonomi dalam pasar barang pribadi dikatakan efisien ? . Perbedaan barang publik dengan barang pribadi juga dapat terjadi karena kegagalan suatu mekanisme pasar. Pertukaran barang pribadi dalam mekanisme pasar tidak akan menghasilkan eksternalitas. Terangkan perbedaan penyediaan barang pribadi dengan penyediaan barang publik karena kegagalan mekanisme pasar ? 6. dapat menggunakan gambar dengan Excludability dan Rivalry. Uraikan dan jelaskan karakteristik masing-masing jenis terutama sifat-sifat dasar yang dipertimbangkan dalam pembahasan aspek keuangan publik ? 2. proses politik akan menggantikan mekanisme pasar. Dalam mengklasifikasikan barang publik dan barang pribadi. Jelaskan pengertian dari non rival dan nonexclucion tersebut ? 4. sedangkan pertukaran barang publik selain dapat menghasilkan manfaat eksternal juga akan dapat menyebabkan beban eksternal bagi pihak lain. Pada tahap ini. Terdapat beberapa perbedaan karakteristik antara barang pribadi dan barang publik. Barang publik adalah barang-barang yang mempunyai dua sifat pokok yaitu Non rival dan Non exclucion. Jelaskan faktor-faktor apa saja yang menyebabkan perbedaan karakteristik antara barang pribadi dan barang publik ? 5. Mengapa barang publik tidak disediakan secara ekslusif oleh pihak swasta? 3. barang publik lokal (yang sering disebut dengan congestible goods) dan barang dengan eksternalitas. Dengan mempertimbangkan sifat rivalry dan excludability tersebut suatu barang dapat dikelompokkan ke dalam empat kategori. sedangkan pertukaran barang publik selain dapat menghasilkan manfaat eksternal juga akan dapat menyebabkan beban eksternal bagi pihak lain.

Apakah permasalahan dan kesulitan pemerintah dalam hal penyediaan barang publik? . Terangkan mengenai kurva permintaan barang publik ? 10.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 29 7. Apakah yang dimaksud dengan ungkapan “Free Rider” dan jelaskan problemnya ? 8. Jelaskan pengertian Eksternalitas ? Jelaskan tujuan-tujuan yang dapat dicapai dari Eksternalitas ? 9.

Jasa ini disediakan dengan pelayanan yang sama kepada seluruh pengguna di wilayah pemerintahan tersebut. Namun demikian. sebuah proses politik diperlukan untuk menentukan berapa jumlah barang publik yang harus disediakan serta bagaimana implikasinya terhadap distribusi biaya yang akan menjadi tanggung jawab para individu calon . bukan berarti bahwa dalam rangka penyediaan jasa publik ini dapat dilakukan dengan tanpa menimbulkan biaya. Contoh yang paling nyata adalah dalam hal pengadaan jasa pertahanan nasional dimana masyarakat akan mendapatkannya secara gratis apabila mereka ingin memanfaatkannya. Dengan demikian tentunya seluruh masayarakat akan dapat memanfaatkan jasa ini.PENENTUAN HARGA BARANG PUBLIK TUJUAN KEBIJAKAN HARGA Pada prinsipnya dapat dikatakan bahwa pemerintah suatu negara tidak akan menjual jasanya kepada masyarakat walaupun pemerintah mempunyai kewajiban untuk menyediakan jasa publik kepada masyarakat dengan tanpa dipungut bayaran. Dalam banyak kasus.

Pada prinsipnya. pemerintah juga akan terlibat dalam penyediaan barang pribadi untuk memproteksi masyarakat dari penipuan (misalnya kebenaran iklan). maupun keseragaman kualitas jasa (misal pendidikan). 3. pemerintah mempunyai banyak pilihan yang berkaitan dengan keputusan penyediaan barang atau jasanya. pemerintah akan selalu terlibat dalam penyediaan barang dan jasa publik. Pertanyaan mendasar tentang mengapa pemerintah harus terlibat dalam kegiatan penentuan harga barang merupakan pertanyaan yang cukup sulit untuk dijawab. Pada umumnya. dalam menentukan seberapa banyak suatu barang harus dibeli oleh individu-individu. Oleh karena itu. dalam usahanya untuk meminimalkan biaya ekonomi guna mencapai sasaran-sasaran yang diinginkan. Dengan analogi yang sama. suatu perusahaan hanya akan mempertimbangkan manfaat yang diperoleh secara pribadi. PENENTUAN HARGA BARANG PUBLIK Dalam menentukan harga barang publik tentunya akan tergantung pada masing-masing tujuannya. dalam kasus ini pemerintah akan melibatkan diri untuk menjamin bahwa manfaat eksternal harus juga dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan jumlah barang yang akan dikonsumsi oleh individu. . Dengan keterlibatannya dalam penentuan harga barang publik. diberikan secara gratis kepada para konsumennya. pemerintah ingin meningkatkan efisiensi alokasi sumber daya maupun keadilan dalam distribusi pendapatan. dapat dijual dengan harga pasar. Semua keterlibatan pemerintah ini tentunya ditujukan untuk mencapai penentuan harga yang efisien. dijual dengan tingkat harga tertentu yang berbeda dengan harga pasar. sehingga kesempatan bahwa barang tersebut tersedia di pasar akan sangat kecil. walaupun hal ini tidak berarti bahwa setiap tindakan pemerintah pasti akan berhasil mengatasi problem tersebut. Dengan demikian. akan selalu ada tujuan-tujuan baik ekonomi maupun non ekonomi yang dapat diikuti oleh pemerintah dengan cara melalui campur tangan. kepastian tersedianya jasa (misal jasa rumah sakit dan pos). Dalam hal ini.32 Bab 3: Penentuan Harga Barang Publik pengguna jasa publik tersebut. 2. dapat dikatakan bahwa tujuan kebijakan harga oleh pemerintah akan mencakup tindakan-tindakan yang diperlukan agar pasar bekerja lebih baik. yang diantaranya adalah: 1. Oleh karena itu. termasuk memperbaiki arus informasi atau mengurangi unsur-unsur monopoli dan batasan-batasan dalam masuknya perusahaanperusahaan baru dalam pasar.

untuk menentukan tingkat keseimbangan pasar barang pribadi. Dalam mekanisme pasar yang bersaing sempurna. Pemerintah hanya boleh mengenakan harga yang dapat menutup biaya total perusahaan-perusahaan pemerintah . tentunya cara ini akan menimbulkan biaya yang sangat tinggi dimana biaya tersebut harus ditanggung oleh pemerintah. sehingga pemerintah tidak dapat menetapkan harga tertinggi. karena konsumen akan menilai barang atau jasa yang disediakan oleh pemerintah tersebut terlalu murah dan juga mudah diperoleh. dimana p adalah price atau harga. tugas pemerintah adalah menyediakan barang untuk kepentingan orang banyak dengan harga murah. pemerintah seringkali menetapkan harga di bawah tingkat yang sebenarnya untuk memberikan perlindungan kepada konsumen barang tersebut. Itulah sebabnya. sekaligus merupakan tingginya biaya untuk menghasilkan barang tersebut oleh produsen. berlaku hukum bahwa harga sama dengan biaya marginal (marginal cost) bagi konsumen dan sama dengan pendapatan marjinal (marginal revenue) bagi produsen. Konsekuensinya adalah. pemerintah akan ditekan oleh kekuatan politik untuk tidak mengambil keuntungan dari barang atau jasa yang dihasilkannya. Pertanyaan yang akan muncul adalah apakah hukum ekonomi tersebut juga berlaku untuk barang atau jasa yang disediakan oleh pemerintah? Pada dasarnya.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 33 Masing-masing keputusan tersebut tentunya akan mempunyai konsekuensi yang berbeda beda. Pemerintah tidak diharapkan untuk memperoleh keuntungan dari penyediaan barang yang dibutuhkan oleh masyarakat banyak itu. tingkat harga merupakan suatu tanda tingginya nilai. yang menggambarkan jumlah rupiah kesediaan konsumen untuk membayar atas barang yang dihasilkan oleh produsen. Contoh tersebut menggambarkan kondisi yang tidak efisien dalam penyediaan barang dan jasa oleh pemerintah. konsumen akan membeli barang-barang sampai tercapai kondisi equilibrium tersebut. Contoh yang dapat digunakan adalah penyediaan public utilities oleh pemerintah. Dengan demikian. meskipun keputusan memberikan secara gratis kepada masyarakat akan memaksimalkan penggunaan barang atau jasa oleh masyarakat. pada tingkat equilibrium. MC adalah marginal cost atau biaya marjinal dan MR adalah marginal revenue atau pendapatan marjinal. Sebagai contoh. Dalam perekonomian. apabila konsumen akan memaksimalkan kepuasannya. Keputusan penentuan harga oleh pemerintah ditujukan untuk memperbaiki alokasi sumber daya ekonomi pada sektor publik. Sehingga. keputusan pemerintah ini menimbulkan ketidakefisienan atau terjadi pemborosan apabila dipandang dari ilmu ekonomi. atau p = MC = MR. seperti air minum dan listrik.

pemerintah berkewajiban membatasi keuntungan yang harus diperoleh oleh perusahaan-perusahaan tersebut.34 Bab 3: Penentuan Harga Barang Publik penyedia barang public utilities. seperti bahan makanan atau bahan mentah yang akan diolah menjadi barang jadi atau setengah jadi. Situasi penyediaan public utilities tersebut di atas tidak harus berlaku untuk seluruh barang dan jasa yang disediakan oleh pemerintah. tetapi produsen masih dapat melakukan perluasan usaha untuk menambah investasinya. mengingat tugas pemerintah adalah sebagai penyedia barang dan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Produk pertanian di banyak negara mempunyai posisi strategis dan erat kaitannya dengan produk non pertanian. Pemerintah akan menetapkan jumlah keuntungan maksimum. supaya tetap dapat berjalan tanpa mengalami kerugian. Dua pendekatan yang dapat dilakukan untuk melakukan analisis penyediaan produk pertanian adalah dengan menggunakan (1) kebijakan harga positif. Sebagai contoh. Sektor pertanian juga mempunyai kaitan yang erat dengan kebutuhan jasa angkutan. kebijakan publik dapat digunakan untuk mengatur tata niaga dan harga atas produk pertanian1. pendidikan dan kesehatan. artinya 1 Produk-produk pertanian merupakan barang primer. IMPLEMENTASI PENENTUAN HARGA Kebijakan penentuan harga merupakan salah satu kebijakan yang dapat digunakan oleh pemerintah untuk mencapai tujuan-tujuan khusus. misalnya mendorong produksi atau memelihara kestabilan. Penentuan harga dengan metode terakhir adalah yang sebaiknya dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan penyediaan barang publik oleh pemerintah. selain menghasilkan barang dan jasa sebanyak mungkin untuk mencukupi kebutuhan rakyat banyak. Dalam kondisi ini. Perusahaan yang mengelola public utilities dan harus menjual produksinya tanpa memperoleh keuntungan sama sekali akan menghadapi permasalahan dalam ekspansi atau melakukan perluasan usaha. artinya pemerintah di satu pihak melalui perusahaanperusahaan penghasil public utilities tetap diwajibkan menyediakan barang dan jasa publik. konsumen tidak terlalu dibebankan pada tingkat harga yang terlalu tinggi. sedangkan di lain pihak. . Kajian-kajian harus dilakukan untuk memperoleh kebijakan yang tepat sasaran. pupuk kimia dan obat pembasmi hama. pemerintah akan mengarahkan perusahaan pada kondisi bahwa. seperti alat-alat pertanian. kemudian konsumen akan membayar jumlah di atas nilai yang ditetapkan sebelumnya pada saat zero profit. perusahaan juga diijinkan untuk memperoleh keuntungan dalam jumlah tertentu. Dalam hal ini.

apabila jumlah produk pertanian tersedia di gudang. Namun. pemerintah akan mempengaruhi jumlah produksi yang dihasilkan. S. maka jumlah yang ditawarkan akan meningkat. fungsi penawaran dapat dinyatakan dengan: Q a = f ( P a. Berkaitan dengan contoh produk pertanian di atas. Hukum penawaran menyatakan bahwa jumlah yang ditawarkan akan meningkat apabila harga barang tersebut semakin tinggi (hal-hal lain tetap atau ceteris paribus). Fungsi Penawaran Fungsi penawaran menunjukkan hubungan antara jumlah barang yang ditawarkan dan berbagai tingkat harga dari barang tersebut. Dalam menggambarkan hukum penawaran. Sehingga.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 35 kebijakan harga yang ditujukan untuk mendorong peningkatan produksi. F. penyesuaian produksi akan mengikuti pola Cobweb theorem (sarang laba-laba) seperti digambarkan grafik sebagai berikut: . X dan T. peningkatan harga segera mendorong peningkatan penawaran produk tersebut. apabila peningkatan penawaran membutuhkan tenggang waktu. X. F. T ) Dimana: Qa = jumlah barang A yang ditawarkan Pa = harga barang A S = jumlah input yang tersedia F = keadaan alam X = pajak atau subsidi atau keduanya T = tingkat teknologi. Dengan mengubah harga. atau (2) kebijakan harga negatif yang berarti kebijakan harga yang ditujukan untuk mengurangi peningkatan produksi. maka yang dinyatakan tetap (ceteris paribus) adalah S. kurva penawaran merupakan garis miring dari bawah ke atas. Tentang jumlah barang yang ditawarkan akan tergantung dari tingkat elastisitas penawaran. yang berarti apabila barang yang ditawarkan harganya naik. Secara matematis. dan sebaliknya.

Dengan memberikan jaminan harga yang tinggi. Secara garis besar. para petani akan terdorong untuk meningkatkan produksi pangan. petani akan terdorong menanam atas dasar harga tersebut dan akan menghasilkan Q a1 pada akhir periode tanam. karena fungsi permintaan tetap. (2) peningkatan produksi pertanian secara total karena adanya perbaikan harga relatif komoditi pertanian . Syaratnya adalah apabila produsen cukup responsif terhadap insentif harga. maka harga pasar akan turun menjadi P a2. Karena terjadi peningkatan produksi di periode 2. Kebijakan Harga Positif Analisis di atas menunjukkan bahwa sektor pertanian merupakan sumber kapital bagi pembangunan. Dengan tingkat harga itu. Pada tingkat harga tersebut. terdapat tiga tanggapan produksi terhadap perubahan harga yang dapat dianalisis sebagai berikut: (1) perubahan komposisi produksi pertanian karena perubahan harga relatif masing-masing komoditi pertanian secara individu.1 D merupakan kurva permintaan dan S kurva penawaran. harga akan terkoreksi menjadi P a4. produsen akan terdorong untuk mengurangi produksinya dan harga akan meningkat menjadi P a3. petani akan terdorong memproduksi sebesar Q a3 di akhir periode tanam berikutnya. Akan terjadi pergerakan sepanjang waktu ke arah titik perpotongan antara kurva D dan kurva S. Hubungan tersebut mengakibatkan tingkat harga akan cenderung mencapai equlibrium pada perpotongan kurva penawaran dan kurva permintaan. Kebijakan harga yang positif dapat berperan sebagai pendorong peningkatan produksi pertanian.36 Bab 3: Penentuan Harga Barang Publik Gambar 3. Apabila pada periode tertentu harga pasar setinggi P a1. Tetapi. Kebijakan ini akan dipakai sebagai alat untuk mempengaruhi komposisi produk pertanian.

kebijakan ini akan membuat biaya produksi sektor industri dan jasa lain juga tinggi. Kebijakan Harga Negatif Kebijakan harga positif diharapkan dapat mendorong peningkatan produksi pertanian. sedangkan tanaman komersial memiliki elastisitas penawaran yang tinggi. Sektor ini menghendaki adanya harga pangan yang murah. Namun apabila faktor produksi. Hal ini dapat dijelaskan. akan menunjukkan positif. . Berdasarkan hasil studi. Namun demikian. peningkatan produksi merupakan bentuk perubahan luas areal tanam. misalnya setiap tanaman ditujukan untuk tujuan komersial.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 37 dalam perbandingannya dengan harga komoditi sektor non pertanian. Kebijakan ini juga diharapkan mampu mendorong perkembangan sektor industri dan jasa. Respon yang diharapkan pada kondisi tersebut. Banyak negara mengambil kebijakan sebaliknya untuk menekan keresahan masyarakat yang diakibatkan oleh tingginya harga pangan dan produk pertanian lainnya dengan melakukan kebijakan harga negatif. akan tetapi juga ditujukan untuk ketersediaan pasar. dan (3) peningkatan produksi pertanian yang dapat dipasarkan sebagai respon terhadap kenaikan harga komoditi pertanian (marketable surplus). Hasil studi mengenai tanggapan produksi di negara berkembang menunjukkan bahwa tanggapan pertama dapat bersifat sangat elastis untuk jenis komoditi tertentu. baik untuk produksi pertanian secara keseluruhan maupun untuk marketable surplus. apabila komoditi tanaman tidak dimaksudkan hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar atau kebutuhan sekunder. Akan tetapi tanggapan kedua dan ketiga justru sangat inelastis atau bahkan negatif dengan adanya kenaikan harga. sehingga akan menghambat perkembangan produksi sektor industri dan jasa. Kenyataan ini menunjukkan bahwa tanaman yang merupakan kebutuhan sekunder masyarakat cenderung memiliki elastisitas penawaran yang rendah. Pengecualian dapat terjadi. Artinya produksi pertanian meningkat sejalan dengan adanya insentif harga. maka produksi pertanian secara total dapat menurun. artinya persentase peningkatan produksi sama dengan persentase peningkatan pemasaran. karena hasil pertanian merupakan kebutuhan primer masyarakat (seperti makanan). bukan dalam hal peningkatan produktivitas. untuk dapat menekan tingkat upah. tingkat produksi menurun setelah diberlakukannya insentif harga. tenaga kerja dan kapital. seperti tanah. karena produktivitas berkaitan erat dengan kondisi musim maupun faktor lain. harus diserap dari produksi komoditi lain. elastisitas penawaran komoditi yang dipasarkan akan sama dengan elastisitas produksi/output.

di satu pihak. Di sinilah kewajiban pemerintah untuk melindungi kedua kepentingan tersebut agar konsumen dan produsen tidak menderita. Di satu pihak. maka pemerintah dapat mengenalkan program subsidi input yang dibarengi dengan penyuluhan peningkatan produksi pertanian secara insentif. jelas terdapat suatu konflik antara program bantuan harga dan program subsidi input. Di satu pihak. pelabuhan dan lainnya. para produsen selalu menginginkan agar hasil produksinya dapat terjual dengan harga yang layak. sedangkan harga maksimum ditujukan untuk melindungi konsumen agar jangan sampai menderita karena harga yang terlalu tinggi. untuk mencegah agar produksi pertanian tidak merosot. Langkah yang dapat ditempuh oleh pemerintah adalah dengan menentukan harga patokan berupa harga dasar (floor) dan harga maksimum (ceiling). para konsumen akan mengharapkan harga pangan – khususnya – murah. Di lain pihak. Cara ini. Kebijakan Penyangga (Buffer Stock Policy) Dalam merumuskan kebijakan harga barang dan jasa publik pada umumnya. dan di lain pihak. pemerintah menghadapi dilema kepentingan. seperti jalan. kebijakan ini juga diarahkan agar swasta dapat berkembang dengan sendirinya sebagai akibat adanya dukungan harga pangan yang murah. jembatan. Meskipun dengan menyisihkan anggaran ini akan mengakibatkan investasi di bidang lain. Kebijakan ini terkenal dengan istilah kebijakan penyangga (buffer stock policy). menjadi berkurang. Dari uraian di atas. Dengan demikian. Harga dasar ditujukan untuk melindungi produsen agar harga produk di pasar tidak turun lebih rendah dari harga yang ditetapkan. Kebijakan penyangga dapat digambarkan dalam grafik sebagai berikut: . para petani tidak terlalu dirugikan dengan rendahnya harga produksi pangan dan di lain pihak. pertumbuhan sektor industri dan jasa tidak terhambat. Cara subsidi yang terakhir ini menyebabkan pemerintah harus menyisihkan sebagian anggarannya untuk membiayai subsidi. secara politis. dan produk pertanian pada khususnya. juga merupakan alternatif yang akan menjamin ketenangan masyarakat.38 Bab 3: Penentuan Harga Barang Publik Tetapi. program subsidi input lewat harga faktor produksi pertanian yang murah akan mendorong produksi pertanian sehingga harga pangan akan murah dan dapat mendorong perkembangan ekonomi lebih lanjut. program bantuan harga membuat harga pangan dan produk pertanian mahal dan hasilnya dinikmati para petani. tetapi akan menghambat perkembangan ekonomi secara keseluruhan.

sedangkan harga cenderung merosot terus (dalam keadaan over supply). atau sebaliknya. kurva penawaran bergeser ke kanan. Kemudian. seperti kebijakan moneter. Keadaan sebaliknya dapat pula terjadi. Harga dapat saja bergerak lebih rendah dari P a2. Dengan demikian. sehingga kurva permintaan pasar bergeser kekanan menjadi D1 sampai memotong kurva penawaran S 1 tepat pada harga dasar P a2. bila ada paceklik. maka pemerintah dapat saja tidak mampu melindungi produsen. kebijakan penentuan harga perlu dukungan kebijakan lain. dalam situasi ini pemerintah turut membeli hasil panen. Apabila dana operasi terbatas. Untuk melindungi konsumen. dan harga cenderung menjadi turun. keadaan keseimbangan tercapai pada harga P ao dan Q ao.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 39 Gambar 3.2 Pada awalnya. Untuk mencegah supaya harga turun tidak terlalu drastis. bila penawaran bertambah. RANGKUMAN . misalnya bergeser dari S o menjadi S 1. Berhasil atau tidaknya kebijakan penentuan harga ini tergantung pada tersedianya dana untuk operasi (sering disebut operasi pasar). misal pada saat panen. maka pemerintah dapat mencegah naiknya harga komoditi dengan turut menjual produk pertanian ke pasar.

Namun demikian. Pemerintah terlibat dalam penyediaan barang dan jasa publik ini karena terjadinya kegagalan mekanisme pasar. Kebijakan ini akan dipakai sebagai alat untuk mempengaruhi komposisi produk pertanian. dan harga maksimum yang ditujukan untuk melindungi konsumen agar jangan sampai menderita karena harga yang terlalu tinggi. misalnya mendorong produksi atau memelihara kestabilan. Dua pendekatan yang dapat dilakukan untuk melakukan analisis penyediaan produk pertanian adalah dengan menggunakan (1) kebijakan harga positif. pemerintah suatu negara tidak menjual jasanya kepada masyarakat. Harapan pemerintah. Keputusan penentuan harga oleh pemerintah ditujukan untuk memperbaiki alokasi sumber daya ekonomi pada sektor publik. adalah ingin meningkatkan baik efisiensi alokasi sumber daya maupun keadilan dalam distribusi pendapatan. dengan keterlibatan dalam penentuan harga barang publik. Dalam hal ini pemerintah menyediakannya kepada masyarakat tanpa harus membayar. sekaligus merupakan tingginya biaya untuk menghasilkan barang tersebut oleh produsen. Kebijakan ini terkenal dengan istilah kebijakan penyangga (buffer stock policy). Kebijakan penentuan harga merupakan salah satu kebijakan yang dapat digunakan oleh pemerintah untuk mencapai tujuan-tujuan khusus. bukan berarti bahwa penyediaan jasa publik ini tanpa menimbulkan biaya. Kebijakan ini juga diharapkan mampu mendorong perkembangan sektor industri dan jasa. . artinya kebijakan harga yang ditujukan untuk mendorong peningkatan produksi. Kebijakan harga yang positif dapat berperan sebagai pendorong peningkatan produksi pertanian.40 § Bab 3: Penentuan Harga Barang Publik § § § § § § Secara umum. Dalam perekonomian. atau (2) kebijakan harga negatif yang berarti kebijakan harga yang ditujukan untuk mengurangi peningkatan produksi. tingkat harga merupakan suatu tanda tingginya nilai yang merupakan kesediaan konsumen untuk membayar atas barang yang dihasilkan oleh produsen. Langkah yang dapat ditempuh oleh pemerintah untuk melindungi produsen dan konsumen adalah dengan menentukan harga dasar yang ditujukan untuk melindungi produsen agar harga produk di pasar tidak turun lebih rendah dari harga yang ditetapkan. Tetapi banyak negara mengambil kebijakan sebaliknya untuk menekan keresahan masyarakat yang diakibatkan oleh tingginya harga pangan dan produk pertanian lainnya dengan melakukan kebijakan harga negatif.

Jelaskan yang dimaksud dengan “ceteris paribus”? 9.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 41 LATIHAN 1. Uraikan mengenai keputusan penentuan harga tersebut oleh pemerintah. Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi penawaran? 10. Apa yang dimaksud dengan fungsi penawaran? Apa bunyi hukum penawaran tersebut? 8. Jelaskan konflik tersebut! 12. Jelaskan? 4. Mengapa pemerintah ikut terlibat dalam kegiatan penentuan harga barang? 3. Jelaskan maksud dari kajian-kajian yang harus dilakukan untuk memperoleh kebijakan yag tepat sasaran sebagai perusahaan penghasil public utilitier? 6. Terangkan bagaimana mekanisme pasar barang pribadi yang bersifat persaingan sempurna dalam menentukan tingkat keseimbangan? 5. Dalam kebijakan harga negatif. Terangkan langkah-langkah yang ditempuh oleh pemerintah dalam melindungi kepentingan konsumen dan produsen! . Sebutkan tiga tanggapan produksi terhadap perubahan harga! Jelaskan hasil studi mengenai tanggapan produksi tersebut di negara berkembang! 11. Sebutkan dan jelaskan pendekatan-pendekatan yang digunakan untuk melakukan analisis penyediaan produk pertanian! 7. terdapat suatu konflik antara program bantuan harga dan program subsidi input. Terangkan tindakan-tindakan apa saja yang dilakukan oleh pemerintah dalam mencapai tujuan kebijakan harga? 2.

Dengan melihat berbagai kelemahan mekanisme pasar sebagaimana telah dibahas sebelumnya. Fungsi Alokasi Fungsi alokasi dalam kebijakan publik adalah fungsi penyediaan barang publik atau proses alokasi sumber daya untuk digunakan sebagai barang pribadi atau barang publik dan bagaimana komposisi barang publik ditetapkan. 2. sehingga dapat meningkatkan standar kehidupan penduduk pada tingkat yang layak.FUNGSI DAN AKTIVITAS PEMERINTAH DALAM PEREKONOMIAN FUNGSI DAN AKTIVITAS PEMERINTAH Pemerintah sangat diperlukan dalam perekonomian suatu negara. Fungsi Distribusi . fungsi pemerintah dapat dikelompokkan sebagai berikut. terutama untuk melaksanakan fungsinya dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi. 1.

§ Tugas mempertemukan biaya yang diperlukan untuk mendukung peraturan. . bukan mengendalikan/ mengatur sumber daya tersebut. Dengan demikian. Fungsi stabilisasi Fungsi stabilisasi dalam kebijakan publik adalah penggunaan kebijakan anggaran sebagai alat untuk mempertahankan tingkat kesempatan kerja. dengan memperhitungkan akibat kebijakan pada perdagangan dan neraca pembayaran. stabilitas ekonomi dan laju pertumbuhan ekonomi. seharusnya. misalnya pengenaan pajak dan pengeluaran publik. § Tugas membentuk dan memelihara institusi publik agar memberi manfaat yang tinggi serta kesempatan kerja kepada masyarakat1.peraturan. keterlibatan tersebut harus mempunyai tingkat yang minimal. § Tugas memproteksi setiap anggota masyarakat dari ketidakadilan dan dominasi yang dilakukan oleh anggota lain dalam masyarakat. dapat secara simultan diarahkan kepada ketiga tujuan tersebut di atas. hanya 1 Karena sifat dari institusi publik. 3. Aktivitas pemerintah. Pedoman aktivitas pemerintah yang dipromosikan oleh Milton Friedman adalah bahwa keterlibatan pemerintah harus dapat membuat dan memaksakan aturan-aturan umum yang mengatur perilaku para individu. dan bukan bertransaksi dengan pengguna. Permasalahan utama yang muncul adalah bagaimana merancang kebijakan anggaran sehingga dengan tujuan yang berbeda-beda tersebut akan dapat dicapai secara lebih terpadu. Apabila pemerintah memutuskan untuk campur tangan dalam aktivitas individu. Milton Friedman juga menyarankan pemerintah supaya membeli sumber daya yang digunakannya dalam pasar. Pada saat pemerintah memproduksi barang atau jasa.44 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian Fungsi distribusi dalam kebijakan publik adalah penyesuaian atas distribusi pendapatan dan kekayaan untuk menjamin pemerataan dan keadilan. Suatu kebijakan publik. baik secara langsung atau tidak langsung. Adam Smith mencatat empat fungsi ‘pengoreksi’ yang dapat dijalankan oleh pemerintah yakni: § Tugas memproteksi suatu kelompok masyarakat dari pelanggaran dan invasi yang dilakukan oleh kelompok masyarakat lainnya. Dalam The Wealth of Nations. laba yang diperoleh institusi sering tidak mencapai tingkat pembayaran kembali. misalnya hanya sebatas penyertaan modal saja. tidak dapat diharapkan bahwa kesempatan kerja akan disediakan dalam kuantitas yang tepat. pemerintah harus membebankan secara pro rata kepada pengguna.

Kegagalan pasar juga berhubungan dengan permasalahan dari seleksi yang tidak menguntungkan dan bahaya moral ketika pembeli atau penjual bertindak secara eksklusif atas dasar mencari keuntungan bagi dirinya sendiri. Informasi yang tidak simetris dan tidak sempurna yang mungkin mengarah pada penilaian yang salah atas barang dan jasa publik. Kegagalan Pasar 1. dan dengan demikian akan menyebabkan penawaran dan permintaan yang tidak tepat. pasar akan memproduksi barang publik tersebut secara tidak proposional. dalam mendanai. Tanpa intervensi pemerintah. 5. yang membuat tidak mungkin membebankan biaya penyediaannya kepada para pengguna. Terdapat dua argumen mengenai bagaimana perlunya intervensi pemerintah yaitu (1) kegagalan pasar dan (2) penekanan pada aspek keadilan. tergantung pada apakah eksternalitas ini baik atau buruk. Tidak bisa bergeraknya sumber daya yang produktif. Untuk itu. Namun demikian. 4. terutama tenaga kerja. mekanisme pasar akan mengarah pada alokasi sumber daya yang efisien yang timbul pada saat tidak seorangpun akab dapat dipuaskan secara lebih baik dengan tanpa menyebabkan orang lain menderita kerugian (sering disebut efisiensi Pareto).Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 45 berperan sebagai last resort. suatu masyarakat dapat saja memilih alokasi yang tidak efisien atas dasar kesetaraan atau kriteria lainnya. negara dapat mencoba turut campur mengatasi permasalahan ini. 3. Hal ini menyebabkan kegagalan pasar. . Terdapat beberapa barang publik yang bersifat non rival dan non excludable. Konsumsi atau produksi barang/jasa publik yang mungkin menghasilkan suatu akibat eksternal (positif atau negatif) kepada masyarakat yang tidak tercermin dalam harga barang. seperti pertahanan nasional dan penerangan jalan. Alasan Keterlibatan Pemerintah Dalam Ekonomi Dalam situasi tertentu. 2. dapat membantu mencegah pencapaian alokasi sumber daya yang efisien. mengatur dan menyediakan barang atau jasa secara gratis. Kondisi inilah yang menyebabkan adanya suatu intervensi pemerintah dalam operasi pasar bebas.

sektor swasta dapat berperan secara aktif dalam menciptakan kesempatan ekonomi (seperti penciptaan lapangan kerja. Lebih lanjut dapat dikemukakan bahwa peran pemerintah yang berkenaan dengan keterlibatannya dalam perekonomian adalah sebagai peran penyedia (provider role) dan peran kemitraan (partnership role). tidak semua fungsi mensyaratkan kehadiran pemerintah sebagai penyedia barang atau jasa publik dimana masih terdapat beberapa diantaranya yang difasilitasi oleh peraturan dan penciptaan ruang gerak yang tepat 2 . secara nasional dan global. saat sekarang menjadi pertanyaan publik berkaitan dengan tersedianya teknologi masa kini. pemerintah harus menyediakan barang publik untuk menjamin stabilitas ekonomi makro. 5. Dengan demikian. penyelesaian konflik. pemberdayaan dan proteksi perlu difasilitasi oleh pemerintah. mempromosikan tambahan manfaat kepada anggota masyarakat (erat hubungannya dengan produsen dan pekerja swasta). pembangunan yang lebih cepat. Tugas ini berhubungan dengan penyediaan kesempatan. Ketidakadilan sering menghasilkan situasi yang tidak aman. Kepedulian secara luas atas kebutuhan mengatasi kemiskinan secara lebih serius harus menjadi perhatian oleh pemerintah. lingkungan yang bersih. 4. Penekanan pada aspek keadilan bukan berarti bahwa hanya negara yang harus atau dapat memberikan kontribusi dalam rangka menekan kemiskinan. perlindungan hak asasi. tambang dan lain-lain. Ketiganya merupakan dimensi pokok dari kemiskinan yang tidak dimiliki secara eksklusif oleh sektor swasta. 2 Monopoli yang alami dalam sektor tertentu seperti energi. Sebagai peran penyedia (Provider Role). dan stabilitas nasional. Data empiris di seluruh dunia secara umum menyarankan bahwa peningkatan keadilan memberikan kontribusi positif pada pertumbuhan ekonomi yang tinggi. meningkatnya kejahatan dan eksternalitas negatif yang akan mempengaruhi pertumbuhan dan keadilan sosial. 3. 2. pemberdayaan dan proteksi. dan sebagainya). . Peranan sektor swasta dan kebutuhan kemitraan dalam kesempatan. dan memberikan kontribusi untuk mengurangi ketidakadilan melalui aktivitas yang sebetulnya merupakan tanggung jawab pemerintah (seperti rumah sakit umum dan sekolah yang dananya dari swasta). keadilan. dan berkurangnya kemiskinan. Namun demikian. kredit.46 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian Aspek Keadilan 1.

Kebijakan publik dapat berpengaruh terhadap distribusi pendapatan nyata. Sayangnya manfaat yang tinggi tersebut harus dibayar secara lebih mahal. Diakui secara luas bahwa baik pemerintah maupun sektor swasta tidak akan dapat berfungsi secara tepat tanpa berfungsinya peran kemitraan kedua sektor tersebut secara bersamaan. para ekonom berpendapat bahwa kebijakan publik berakibat perekonomian tidak dalam kondisi pareto optimal. suatu kebijakan publik tentang pengelolaan sumber daya alam oleh pemerintah akan memberi manfaat yang lebih tinggi kepada masyarakat dibandingkan dengan apabila pengelolaan tersebut dilakukan oleh sektor swasta. 3 Dalam contoh ini. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa pengelolaan sumber daya alam cenderung mengarah pada kondisi yang spesifik. kebijakan dalam upah minimum akan menyebabkan penerimaan upah lebih tinggi kepada pekerja. Pada masa sekarang. Dimungkinkan adanya opportunity cost dalam hubungannya dengan efisiensi dalam merubah distribusi pendapatan. Kekhususan ini akan berakibat pada sejumlah produktivitas/efisiensi yang hilang/berkurang jika terjadi perubahan dari kondisi yang relatif baik kepada kondisi yang baik. Sebagai contoh. pemerintah lebih banyak dibutuhkan dalam perannya sebagai regulator dari mekanisme pasar dan sebagai fasilitator dari lingkungan kelembagaan dan pengaturan yang kondusif atas pembangunan sektor swasta. baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Isu inilah yang disebut dengan internerational transfer. pemerintah dapat menjadi mitra swasta dalam penyediaan peraturan. .Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 47 Sedangkan sebagai peran kemitraan (Partnership Role). tetapi kesempatan kerja total mungkin turun sebagai akibat dari timbulnya kebijakan ini. Pertanyaannya adalah siapa yang memperoleh manfaat dan siapa yang menanggung beban dari suatu kebijakan distribusi tertentu? Siapa yang menanggung beban atas akibat diterapkannya kebijakan pajak penghasilan badan? Apakah kepada pengusaha. AKTIVITAS PEMERINTAH DALAM PEREKONOMIAN Tingkat konsumsi/produksi barang dan jasa oleh masyarakat dapat dirubah oleh kebijakan publik. Sebagai contoh 3 . pekerja atau konsumen? Dan siapa juga yang menerima tanggung jawab akibat adanya pajak penjualan? Konsumen atau pekerja? Inilah yang dimaksud dengan true incidence dari kebijakan. pembangunan infrastruktur dasar dan perlindungan dari risiko dan kerugian (misalnya asuransi). Beberapa kebijakan secara aktual akan menggeser distribusi pendapatan antara generasi sekarang dan generasi mendatang. yakni memindahkan alokasi hak kekayaan.

Perbedaan yang mendasar antara barang pribadi dan barang publik adalah. Permasalahan yang mungkin timbul dalam fungsi alokasi adalah berapa banyak barang publik yang harus disediakan oleh pemerintah. . Beberapa alasan yang mendasari kemungkinan tersebut adalah karena: 1. Seringkali mekanisme pasar berfungsi.48 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian FUNGSI ALOKASI Latar Belakang Adanya Fungsi Alokasi Dilihat dari fungsi alokasi. suatu barang publik – yang berbeda sifatnya dengan barang pribadi – tidak dapat disediakan melalui sistem mekanisme pasar 4 . Apabila seseorang membeli satu set pakaian. 2. Kebutuhan yang dirasakan oleh seseorang akan pakaian tentunya akan sangat berbeda dengan kebutuhan pakaian yang dirasakan oleh orang yang berbeda. Dalam kasus ini. pemerintah harus mengambil tindakan apabila mekanisme pasar tidak berjalan. Contohnya adalah jika seseorang membutuhkan pakaian. maka pakaian yang sama tidak akan tersedia untuk orang lain. Dalam 4 Sistem mekanisme pasar merupakan suatu transaksi antara konsumen dan produsen secara individu. dengan cara yang sama dapat diproduksi oleh perusahaan swasta dan dijual kepada pemerintah atau dapat juga diproduksi secara langsung oleh pemerintah. sehingga pemerintahlah yang harus bersedia memproduksi barang publik tersebut. Dalam kondisi ini. pemerintah harus menjamin bahwa proses politik dalam pengambilan keputusan penyediaan barang dan jasa publik akan dapat terjadi secara efisien. Sebagai akibat dari kegagalan mekanisme pasar yang lain dimana proses politik akan menggantikan mekanisme pasar. Untuk barang-barang pribadi (private goods). sistem pasar akan terjadi melalui transaksi antara konsumen dan produsen secara individual dan sukarela. Kondisi ini menggambarkan adanya hubungan antara permintaan dan penawaran atas barang tersebut. Sebagai akibat dari kegagalan mekanisme pasar dimana hubungan yang seharusnya terjadi antara produsen dan konsumen dalam suatu mekanisme pasar tidak berjalan. seperti misalnya pelayanan publik yang diberikan oleh pemerintah. barang pribadi dapat diproduksi dan dijual kepada pembeli baik oleh swasta maupun oleh perusahaan pemerintah. sedangkan barang publik. Sistem pasar menjadi tidak berlaku jika diterapkan pada barang-barang publik (social goods). termasuk diantaranya adalah jenis dan kualitas barang yang perlu disediakan oleh pemerintah. namun kadangkala tidak efisien.

Dalam kondisi seperti ini tentunya diperlukan campur tangan dari pemerintah. karena manfaat yang akan dirasakan oleh setiap orang akan sama saja. kemudian produsen akan menyediakan barang yang paling diinginkan oleh konsumen. Berbeda halnya dengan barang publik. penggunaan atas jalan umum. Mekanisme pasar akan terjadi apabila ada suatu permintaan dari konsumen. misalnya. aplikasi dari prinsip hubungan permintaan dan penawaran seperti ini menjadi suatu pemecahan yang efisien. Dalam hal ini dapat dilihat bahwa apabila seseorang mengambil manfaat dari adanya jalan umum tersebut. Konsumen akan berusaha mendapatkan barang yang mereka inginkan dengan harga yang serendah-rendahnya. mekanisme pasar tidak akan berfungsi secara sempurna. Di sini diasumsikan bahwa terdapat adanya hak kepemilikan eksklusif terhadap semua sumber daya produktif yang tersedia di pasar dan tidak ada individu yang mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi harga atas komoditi atau produk yang diperjualbelikan. manfaat yang dirasakan masing-masing individu akan semakin tidak berarti apa-apa. manfaat yang tersedia bagi orang lain tidak akan berkurang.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 49 kasus ini akan terjadi suatu kondisi bahwa konsumsi terhadap barang tersebut bersifat bersaing. Mekanisme pasar tersebut akan membawa konsumen dan produsen ke suatu titik harga tertentu. baik jika dia membayar ataupun tidak. kriteria efisien akan dapat digunakan untuk mengevaluasi alokasi sumber daya. Untuk barang seperti pakaian. Kebutuhan atas barang ini akan dirasakan secara bersama-sama dan begitu pula terhadap manfaat yang dihasilkan dengan tersedianya jalan umum tersebut tentunya akan dapat dinikmati oleh banyak orang (tidak untuk satu konsumen). Efisiensi Pasar dan Kegagalan Pasar Dalam suatu sistem ekonomi pasar yang bersaing sempurna. Akan banyak keuntungan yang didapat – terutama oleh produsen – apabila membatasi konsumen yang ikut dalam sistem pasar dengan mensyaratkan mereka untuk mau membayar. sedangkan produsen akan menjual barang dengan harga yang setingi-tingginya. Konsumen biasanya tidak bersedia untuk membayar pemanfaatan atas barang publik. Harga atas suatu komoditi sudah disepakati atau harus identik untuk semua pembeli dan penjual. Dari ilustrasi tersebut dapat dipahami bahwa mekanisme pasar akan sangat cocok untuk menggambarkan penyediaan barang-barang pribadi. Apalagi jika semakin banyak orang yang menggunakan barang tersebut. Akan berbeda halnya jika kebutuhan seseorang tersebut terhadap. Akibatnya tidak akan ada pembayaran yang dilakukan secara sukarela. Hal ini berarti tidak ada distorsi .

Tentu saja. Selain itu. terutama dalam hal persaingan. pemerintah sendiri seharusnya bekerja keras untuk mencapai tingkat efisiensi yang sama dengan pihak swasta. Kedua sifat tersebutlah yang kemudian akan mengakibatkan kegagalan pasar dalam memproduksi secara efisien. Alasan kedua. Namun perlu dipahami. bahwa sifat tidak bersaing bukan berarti bahwa manfaat yang diterima oleh . sehingga pasar dapat menjadi ajang persaingan yang tidak sempurna. sistem ekonomi pasar akan dapat menjamin penggunaan sumber daya secara efisien dalam penyediaan barang pribadi. Di sinilah kemudian terjadi alasan perlunya aturan pemerintah guna menjamin efisiensi dalam sistem ekonomi pasar. Barang Publik Istilah barang publik digunakan untuk menggambarkan barang atau jasa apapun yang disediakan oleh pemerintah. Sifat Tidak Bersaing (Non Rivalry) Sifat tidak bersaing berarti bahwa barang tersebut dapat dikonsumsi sebanyak-banyaknya oleh seseorang tanpa akan mengurangi jumlah barang yang tersedia untuk dikonsumsi oleh orang lain. masih banyak permasalahan lain yang tidak dapat dipecahkan oleh mekanisme pasar. namun pasar gagal dalam memproduksinya. sehubungan dengan pemenuhan kriteria efisien.50 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian pasar yang akan mengakibatkan adanya perbedaan harga antara yang diterima oleh penjual dengan yang dibayarkan oleh pembeli. Distorsi yang disebabkan oleh iklan. Alasan ketiga terletak pada hubungan rasional dari produksi pemerintah atas barang-barang publik. pandangan ini merupakan gambaran paling ekstrim dari sistem pasar. mulai dari lampu jalan sampai dengan keamanan nasional. akan mengakibatkan konsumen kekurangan informasi atau dapat tersesatkan. terutama dalam hal biaya produk dan kualitas produk yang dihasilkannya. Para ekonom secara lebih spesifik menjabarkan istilah barang publik sebagai barang-barang yang mempunyai sifat tidak bersaing (non rivalry) dan tanpa pengecualian (non excludability). Bila semua kondisi tersebut telah terpenuhi. dan hal ini berarti bahwa informasi yang dimiliki oleh kosumen dan produsen tidaklah sama. misalnya. Dalam kenyataannya banyak kesulitan yang terjadi. Alasan pertama adalah bahwa pemerintah diharapkan dapat menjamin pasar agar dapat beroperasi secara efisien. misalnya terhadap sejumlah barang tertentu yang menjadi preferensi konsumen. Efisiensi produksi pemerintah di sini akan menjadi fokus pembahasan selanjutnya.

terdapat sifat tidak bersaing yang rendah dalam konsumsinya. karena apabila pemerintah mencegah dengan cara tidak membangun jalan di sekitar rumahnya. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan ketidakmampuan dalam mencegah seseorang yang tidak memberikan kontribusi (tidak membayar) untuk ikut mengkonsumsi barang publik. selama biaya yang dikeluarkan untuk membayar staf penjaga tempat rekreasi tersebut tidak lebih besar dari pendapatan yang diterima. tanpa mengurangi kebutuhan orang lain atas lampu yang sama. tidak menutup kemungkinan sifat tanpa pengecualian ini dihilangkan. terdapat barang-barang publik yang mempunyai sifat tidak bersaing dengan kadar yang tinggi dan rendah. pemerintah mungkin saja menarik bayaran dari para pengunjung. Namun demikian. Rendah Tinggi Jalan Lokal Pendidik an Pelayanan Udara Kesehata bersih n Gambar 4. sifat tidak bersaingnya tinggi. Dari berbagai macam barang publik. Namun. sama halnya dengan sifat tidak bersaing. Misalkan. jalan lokal. Oleh karena itu. pelayanan kesehatan dan pendidikan. seseorang dapat terlindungi dari gelapnya malam. dibandingkan dengan orang yang tinggal lebih jauh dari wilayah lampu tersebut. akan sulit bagi pemerintah untuk mencegah orang tersebut agar tidak menggunakan jalan umum. akan ada kemungkinan sifat bersaing dalam penggunaan barang publik tersebut. Misalnya tempat rekreasi. Misalnya konsumsi atas lampu jalan. maka hal tersebut akan dapat merugikan orang-orang di sekitarnya yang membayar pajak. Semakin banyak orang dalam suatu wilayah.1 Sifat Tanpa Pengecualian (Non Excludability) Dimensi kedua dari barang publik adalah sifat tanpa pengecualian.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 51 setiap konsumen adalah sama. Sebaliknya. Barang publik seperti lampu jalan dan keamanan. jika biaya untuk mendapatkan kontribusi konsumen tidak lebih besar dari manfaatnya. terdapat garis spektrum yang menggambarkan tinggi rendahnya sifat tanpa pengecualian Rendah Tinggi Keamanan Lampu Jalan . A tidak memberi kontribusi dengan membayar pajak. orang yang tinggal di sekitar wilayah lampu tersebut akan lebih merasakan manfaatnya. untuk barang publik seperti.

4 di bawah ini menguraikan tentang perbedaan antara barang publik dan barang pribadi dalam suatu masyarakat yang diasumsikan hanya terdiri dari dua kelompok individu. Kurva Permintaan. Dengan catatan bahwa Qt merupakan penjumlahan dari Qa (barang yang dibeli oleh A) dan Qb (barang yang dibeli oleh B). Semua titik-titik dalam kurva permintaan pasar Dt merupakan gabungan dari titik-titik harga dan kuantitas yang diminta dalam kurva permintaan A dan B. Perpotongan antara kurva SS dan Dt menentukan titik ekuilibrium harga P1 dan titik ekuilibrium kuantitas Qt.3 mewakili barang pribadi yang mempunyai sifat bersaing dan pengecualian yang sangat tinggi. selama tingkat harga masih cukup tinggi.3.52 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian Tempat Parkir Tempat Rekreasi Perpustakaan Udara Bersih Pendidikan Jalan Lokal Gambar 4. selanjutnya pada saat tingkat harga sudah cukup rendah. Kurva permintaan pasar Dt berhimpitan dengan kurva permintaan Db. Penawaran dan Equilibrium Pasar Atas Barang Pribadi Harga S = MC P1 E Dt Db .2 Barang Publik Versus Barang Pribadi Gambar 4. Gambar 4. Kurva penawaran pasar SS memperlihatkan biaya marginal (MC) yang dapat dibebankan kepada A dan B secara bersama-sama untuk berbagai output dari barang pribadi. A dapat masuk ke dalam pasar sehingga kurva permintaan pasar Dt berbelok. yaitu A dan B. dan 4. Kurva permintaan pasar (Dt) diperoleh dengan menambahkan secara horizontal kurva permintaan A (Da) dan kurva permintaan B (Db).

karena A tidak lagi memperoleh tambahan manfaat atas barang tersebut. Penawaran dan Equilibrium Pasar Atas Barang publik Harga S = MC P1 PB E Dt PA . sehingga barang yang dikonsumsi oleh A sama jumlahnya dengan barang yang dikonsumsi B. tapi lebih kepada perbedaan dari manfaat marjinal dari setiap konsumen atau harga yang dibayarkan oleh masing-masing konsumen. dalam hal ini perbedaan terjadi bukan pada kuantitas yang dikonsumsi oleh masing-masing orang. meskipun A memiliki mobil sedangkan B tidak. Alasan atas kondisi ini. dalam kurva 4. dikarenakan manfaat marjinal atas barang tersebut masih terus diterima oleh B. Oleh karena itu. Sementara individu B masih bersedia membayar sampai ke tingkat harga PB atas barang publik yang sama. Misalnya A sebagai warga kota Jakarta dapat menggunakan seluruh jalan kota maka demikian juga halnya dengan B.4 memperlihatkan pola yang sama namun untuk barang publik. Di atas harga PA. individu A tidak lagi bersedia untuk membayar atas barang publik tersebut. karena barang publik mempunyai sifat tidak bersaing dan tanpa pengecualian.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 53 Gambar 4.3. baik manfaat yang diterima A lebih besar maupun lebih kecil. Berdasarkan karakteristik dari barang publik tersebut. karena pada titik tersebut A memperoleh manfaat yang maksimum.4 tampak bahwa terdapat suatu titik yang menunjukkan maksimum harga yang bersedia dibayar oleh individu A (PA). Gambar 4. Kurva Permintaan. Situasi yang berbeda terjadi di sini.

Barang pribadi adalah barang-barang yang diproduksi untuk dijual dan tersedia di pasar. dalam penyediaan jalan raya. Kurva Kemungkinan Produksi .5 menunjukkan alternatif kombinasi antara barang publik dan barang pribadi. keamanan nasional dan lain-lain. tampak bahwa kurva permintaan pasar (Dt) berbelok pada tingkat kuantitas barang publik yang memberikan tingkat manfaat maksimum pada A – sehingga A tidak bersedia membayar harga tambahan lagi. dengan asumsi seluruh sumber daya yang ada digunakan. Di atas harga tersebut (PA) tambahan barang publik dibayar oleh individu B. Sebagai contoh. individu B bersedia membayar lebih banyak lagi untuk penyediaan jalan raya. sebagai kompensasi atas kebutuhannya terhadap jalan tersebut. pendidikan. karena mungkin hanya itu kebutuhannya.4. seperti: jalan umum. adalah total harga yang bersedia dibayar oleh seluruh individu dalam pasar (P1=PA+PB). Penyediaan Barang Publik Ketika pemerintah melakukan fungsi penyediaan barang publik. trade off dari penyediaan barang publik oleh pemerintah dengan penyediaan barang pribadi melalui mekanisme pasar dapat digambarkan dengan kurva kemungkinan produksi. dan lain-lain. Masih dalam gambar 4. Gambar 4. individu A hanya bersedia membayar dengan harga cukup. seperti makanan. Maka total harga yang bersedia dibayar oleh pasar. Sementara di lain pihak.54 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian Gambar 4. Sedangkan barang publik adalah barang-barang yang tersedia tapi tidak untuk dijual di pasar.4. pakaian.

Pengorbanan masyarakat merupakan harga sumber daya yang seharusnya digunakan untuk memproduksi barang pribadi digunakan oleh pemerintah untuk dapat menyediakan barang publik. atau dengan kata lain meminta pengorbanan lebih besar dari MX1 ke MX2. Namun di sisi lain. Jika untuk memenuhi kebutuhan keamanan nasional tersebut pemerintah harus meningkatkan pajak penghasilan. Penyediaan Barang melalui Anggaran Sebagaimana telah diterangkan dalam bab sebelumnya. pengorbanan dari pihak masyarakat terjadi dengan menurunnya kemampuan konsumsi atas barang-barang pribadi. bahwa dalam rangka penyediaan barang publik diperlukan adanya campur tangan pemerintah. Masalah lain yang juga .5 Titik A dalam gambar menunjukkan bahwa MX1 unit adalah jumlah barang pribadi yang dikorbankan oleh masyarakat sehingga pemerintah dapat menyediakan barang publik sejumlah OG1. maka kualitas keamanan yang disediakan pemerintah akan meningkat dan masyarakat akan merasa lebih aman. Sumber daya yang dikorbankan tersebut adalah harga yang harus dibayar oleh masyarakat atau pajak yang diminta oleh pemerintah agar barang publik dapat tersedia. jika diumpamakan peningkatan jumlah barang publik per tahun merupakan respon pemerintah atas peningkatan permintaan masyarakat terhadap keamanan nasional.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 55 Gambar 4. Permasalahan yang timbul kemudian adalah tentang jenis dan kualitas barang seperti apa yang harus disediakan oleh pemerintah. Peningkatan jumlah barang publik yang tersedia di pasar dalam satu tahun dari OG1 ke OG2 (titik B) akan meminta penurunan dari jumlah barang pribadi di pasar dari OX1 ke OX2.

banyak anggota masyarakat merasa bahwa biaya yang mereka keluarkan untuk menyatakan tuntutan mereka seringkali lebih besar dari manfaatnya. Sementara itu. menyumbang bahkan sampai keluar dari pekerjaannya – jika mereka merasa bahwa ada akibat langsung dari kebijakan politik pemerintah kepada mereka. Namun dalam prakteknya. barang publik disediakan bagi semua orang yang mempunyai kepentingan atas barang tersebut. Para pemberi suara kemudian akan dihadapkan pada suatu pilihan di antara beberapa usulan pengeluaran publik berkaitan dengan sumbangan pajak mereka. karena adanya mekanisme mengikuti keputusan suara terbanyak dalam proses yang demokratis. Agar dapat berfungsi sebagai mekanisme yang efisien dalam mengungkapkan preferensi. maka proses pemungutan suara harus mengaitkan keputusan perpajakan (sebagai alat pendanaan) dengan keputusan anggaran pengeluaran atau belanja publik. Oleh karena itu.56 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian timbul adalah ketika pemerintah perlu menetapkan jumlah uang yang harus ditarik dari masyarakat untuk menyediakan barang publik tersebut. Setiap orang akan dengan senang hati ikut terlibat dalam proses pengambilan keputusan politik – mulai dari sekedar memberikan suara. diperlukan proses politik untuk mengungkapkan preferensi masyarakat kepada pemerintah tentang barang publik apa yang perlu disediakan dan melengkapinya dengan sumber-sumber pembiayaan yang dibutuhkan untuk membayar barang-barang publik tersebut. Hal ini diakibatkan tidak cukupnya informasi yang disampaikan oleh masyarakat kepada pemerintah. berkampanye. Secara normatif. Keterbatasan Jangkauan Manfaat atas Barang Publik Pada dasarnya. apabila suatu usulan kebijakan tidak berpengaruh langsung atau kecil pengaruhnya . Dasar pemikiran tentang komunikasi efektif antara pemerintah dan masyarakat mengikuti logika kepentingan setiap individu dalam masyarakat. Proses tersebut harus diawali dengan memberikan pemahaman kepada anggota masyarakat tentang pentingnya memberikan suara mereka. Namun dalam prakteknya. masyarakat dalam sistem yang demokratis akan terhindar dari apatisme anggotanya dalam proses pengambilan keputusan politik.masyarakat akan merasa enggan untuk ikut serta dalam proses pengambilan keputusan tersebut. Pengungkapan preferensi masyarakat kepada pemerintah dapat dilakukan melalui proses pemungutan suara. karena biaya yang mereka keluarkan akan lebih besar dari manfaat yang akan mereka terima. Pilihan para pemilih akan tergantung pada pengetahuan mereka sendiri serta kesadaran mereka bahwa orang lain juga menyumbang sesuai dengan rencana perpajakan yang dianut. ada .

harus ada tambahan biaya yang dikeluarkan. dia akan berpikir dari pintu tol mana dia harus masuk dan di pintu tol mana dia harus keluar.1. tapi paling dekat dengan tempat tujuannya. seperti yang terlihat pada gambar 5. maka akan sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali manfaat yang akan mereka dapatkan. Berbeda dengan pengguna jalan tol luar kota. Selain itu dalam skala lokal akan lebih dimungkinkan untuk mengatasi permasalahan free rider. Barang publik berskala lokal dalam garis kontinum. Sebagai contoh. atau retribusi pasar) dengan tarif ataupun biaya yang rendah. barang publik berskala nasional lebih tepat disediakan oleh pemerintah pusat. Melihat sifatnya tersebut. . Hal ini disebabkan. karcis parkir. dengan mempertimbangkan kondisi kemacetan (biaya oportunitas) di luar jalan tol.2. seorang pengguna jalan tol dalam kota akan masuk dari pintu terdekat dengan tempat dia berangkat dan keluar dari pintu terjauh. dari manapun dia masuk dan dimanapun dia keluar biaya yang harus dikeluarkan adalah sama. tol. dan 5.. mereka tidak akan merasa keberatan membayar untuk dapat menggunakan barang publik tersebut. kontribusi seseorang baik itu berupa waktu. sehingga akan lebih memperkecil timbulnya masalah free rider.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 57 barang publik yang dapat dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat di dalam negara (berskala nasional) dan ada barang publik yang hanya dapat dimanfaatkan oleh sekelompok orang tertentu (berskala lokal). Artinya para pengguna seharusnya akan lebih termotivasi untuk menggunakan barang-barang ini sampai pada titik dimana manfaat marjinal yang mereka peroleh sama dengan atau mendekati nol. mempunyai sifat tidak bersaing yang rendah. bagi yang sedikit memberikan berkontribusi atau bahkan tidak sama sekali. untuk setiap tambahan pintu tol yang dia lewati. maupun pemberian suara akan dapat menciptakan perubahan atas suatu keputusan. Sebaliknya. sementara barang publik berskala lokal lebih tepat disediakan oleh pemerintah lokal atau pemerintah daerah. selama tidak ada tambahan biaya yang harus mereka keluarkan. Mereka akan terus menambah konsumsi mereka atas barang publik ini sampai manfaat yang mereka dapatkan maksimal. Dari sini dapat terlihat bahwa biaya marginal dari setiap tambahan penggunaan atas barang publik ini sama dengan atau paling tidak mendekati nol. karena akan lebih jelas manfaat yang dapat mereka peroleh bila dibandingkan dengan biaya yang mereka keluarkan. Sebagai contoh. Dari sisi pengguna. dalam suatu kelompok yang kecil. uang. Tentunya akan lebih mudah bagi pemerintah lokal untuk menarik kontribusi dari para pengguna barang publik yang disediakan (seperti tiket masuk tempat rekreasi. Berpartisipasi atau tidak berpartisipasi akan menjadi sangat terlihat.

maka sifat tidak bersaingnya akan menjadi tinggi. yaitu tarif tinggi pada musim padat dan tarif rendah pada musim sepi. Di lokasi perkantoran misalnya. sehingga biaya menempatkan penjaga gerbang akan tertutup dari pembayaran tiket masuk. pemerintah dapat menghilangkan biaya parkir. Hal ini diharapkan dapat menarik minat pengunjung untuk mau masuk ke tempat rekreasi tersebut. dapat dikenakan tarif tinggi.58 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian Barang publik berskala lokal adalah barang-barang yang diproduksi oleh pemerintah lokal. dimana pada hari-hari libur hampir tidak ada mobil yang datang berkunjung. begitu juga biaya marginalnya yang tetap. ada yang disebut dengan istilah congestible goods. Strategi lain dalam memperlakukan congestible goods adalah dengan menggunakan dua macam tarif. Sementara itu. Gambar 4. jika pemerintah lokal harus menarik kontribusi atas pengguna barang publik ini. para pengunjung dapat menikmati tempat rekreasi dengan biaya yang lebih rendah. yaitu barang publik yang mempunyai sifat tidak bersaing yang rendah hanya pada waktu penggunaannya padat atau penggunanya mencapai jumlah tertentu. Misalnya pada tempat-tempat rekreasi. memperlihatkan bahwa tambahan permintaan atas congestible goods pada musim sepi jumlahnya sedikit (pergeseran dari titik O ke D1 sampai ke D2). yang dalam garis spektrum mempunyai sifat tidak bersaing yang rendah. Kurva Permintaan Congestible Goods Harga MC P1 D3 . pada musim liburan dimana pengunjungnya sangat padat. maka biaya marjinalnya bisa akan lebih mahal dari manfaat marjinalnya. sedangkan untuk hari kerja atau sekolah. jadi perlu juga tidak ada penjaga gerbang sehingga dapat mengurangi atau bahkan menghapus biaya marjinal. Sehingga. pemerintah lokal tidak perlu menarik kontribusi dari pengguna barang publik ini. Sebegitu rendah permintaannya sehingga pemerintah lokal merasa tidak perlu ada penarikan retribusi atas pengguna barang publik tersebut. pada waktu yang lain ketika jumlah pengguna barang ini hanya sedikit.6. Dari berbagai macam barang publik jenis ini. Apabila dimungkinkan.

jika suatu teknologi memungkinkan diproduksinya 10 unit barang X dan 8 unit barang Y. tidaklah mungkin untuk mengubah metode produksi. Kondisi-kondisi berikut harus terpenuhi untuk mencapai efisiensi pareto: 1. Jika perubahan itu masih dimungkinkan maka kondisi tersebut belumlah efisien dan peningkatan efisiensi masih diperlukan.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 59 Gambar 4. Efisiensi Pareto didefinisikan sebagai suatu pengaturan ekonomi tertentu adalah efisien jika di sana tidak dapat dilakukan pengaturan kembali yang akan menyebabkan seseorang menjadi lebih baik tanpa merugikan posisi orang lain. Efisiensi Penyediaan Barang Publik oleh Pemerintah Dalam hal efisiensi penyediaan barang publik oleh pemerintah. Kaidah efisiensi akan mengarah pada terpenuhinya kondisi-kondisi tertentu agar tercapai pemecahan alokasi yang efisien. Efisiensi menghendaki bahwa dengan menggunakan teknologi terbaik. seorang ekonom Italia mengusulkan konsep efisiensi yang dikenal dengan istilah Efisiensi Pareto (Pareto Efficiency).6. Artinya tingkat dimana . atau besarnya sektor pemerintah dalam usaha untuk membantu seseorang atau kelompok tanpa merugikan orang atau kelompok lain. sedangkan teknologi lain memungkinkan diproduksinya 10 unit barang X dan hanya 5 unit barang Y. Secara sederhana. 2. Sebagai contoh. jumlah tertentu barang X harus diproduksi sedemikian rupa sehingga memungkinkan diproduksinya Y sebanyak-banyaknya pada saat yang sama dan demikian pula sebaliknya. yaitu A dan B serta dua macam barang yaitu X dan Y. Tingkat substitusi marjinal dalam mengkonsumsi barang X dan Y harus sama baik bagi konsumen A maupun B. kombinasi barang yang diproduksi. Pada kondisi efisiensi pareto. maka jelas bahwa teknologi pertama yang akan terpilih. kita akan mempertimbangkan suatu perekonomian dengan hanya ada dua konsumen.

maka akan lebih diinginkan untuk meningkatkan output barang X dan mengurangi barang Y sampai kedua tingkat tersebut menjadi sama. sedangkan tingkat transformasi marjinal di dalam produksi adalah 3X untuk 1Y. tergantung pada selera dan pendapatan mereka. Jika A ingin memberikan satu unit barang X untuk dua barang Y. karena di sini konsumen didorong untuk 5 Dalam keadaan bersaing. Alokasi yang Efisien Melalui Mekanisme Pasar Sekarang kita pertimbangkan suatu kondisi dimana cukup baik tidak hanya untuk produksi barang publik tetapi juga untuk produksi barang pribadi. sedangkan B mau menukarkan tiga unit barang Y untuk satu unit barang X. maka hal ini akan menguntungkan keduanya bila melakukan pertukaran. Pemecahan efisiensi akan sangat dimudahkan dengan menggunakan pendekatan mekanisme pasar. . sampai tercapai tingkat substitusi marjinal yang sama. Harga per unit yang sama dibayar oleh semua konsumen. Dari sini. Jadi jika tingkat substitusi marjinal di dalam konsumsi adalah 3X dan 2Y. Selanjutnya.60 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian A dan B berkeinginan untuk menukarkan unit barang X dengan barang Y haruslah sama. tetapi jumlah kuantitas konsumsinya berbeda. kita dapat melihat bahwa mekanisme pasar dapat menjamin terlaksananya penggunaan sumber daya yang efisien. Tingkat transformasi marjinal dapat didefinisikan sebagai suatu tambahan unit barang X yang dapat diproduksi bila produksi barang Y dikurangi satu unit. dimana A akan dapat meningkatkan konsumsinya terhadap barang Y sedangkan B dapat meningkatkan konsumsinya terhadap barang X. Tingkat substitusi marjinal barang X untuk barang Y dalam konsumsi haruslah sama dengan tingkat transformasi marjinal di dalam produksi. produsen akan menyamakan biaya marjinal dengan harga atau pendapatan rata-rata. Bagi barang pribadi yang tersedia melalui mekanisme pasar (dimana produsen akan memproduksi barang-barang yang paling diinginkan oleh konsumen atau preferensi konsumen teridentifikasi dengan jelas). Penjual dalam upayanya untuk memaksimalkan manfaat akan menyamakan biaya marjinal dengan penerimaan marjinal 5 (memenuhi kondisi 3). produsen akan memaksimalkan keuntungan dengan menggunakan metode biaya sekecil mungkin (memenuhi kondisi 1). 3. konsumen akan mengalokasikan anggaran belanjanya di antara barang-barang tersebut sedemikian rupa sehingga menyamakan tingkat substitusi marjinal mereka dengan rasio harga barang (memenuhi kondisi 2).

sebagaimana pertama kali pernah dikembangkan oleh Samuelson. tetapi mereka dapat mengkonsumsi barang pribadi dengan jumlah yang berbeda. sekali lagi mencatat kombinasi barang pribadi dan barang publik yang dapat diproduksi dengan menggunakan seluruh sumber daya yang tersedia. Alokasi yang Efisien Atas Barang Publik Sebagaimana diperlihatkan dalam gambar 4. titik-titik ini akan berhubungan dengan kondisi bahwa jumlah barang X yang dikonsumsi oleh A dan B harus sama dengan output total barang X. jika kita perhatikan pada gambar 4. kita akan melihat bahwa kurva kemungkinan produksi pada sumbu XY paling atas. Dari gambar bagian atas. setiap penyediaan atas barang publik harus ada pengorbanan dari sumber-sumber daya yang seharusnya dapat digunakan untuk memproduksi barang pribadi. jika A berada pada titik G pada gambar di bagian tengah. Karena sifat barang publik yang tidak bersaing dan tanpa pengecualian. yang akan ditunjukkan melalui beberapa penjelasan di bawah ini. diketahui bahwa kombinasi output yang paling efisien meliputi barang publik sebanyak 0F dan barang pribadi sebanyak FE. sehingga produsen termotivasi untuk memproduksi apa yang diinginkan oleh konsumen.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 61 menyatakan preferensi mereka. Akan tetapi. artinya A mengkonsumsi barang publik sebanyak 0F dan barang pribadi sebanyak FG. maka dapat diasumsikan bahwa jumlah barang yang dikonsumsi dari setiap individu adalah sama.3 dimana kondisi seluruh sumber daya yang ada dapat digunakan untuk memproduksi barang pribadi. Artinya. . 6 Namun kembali kepada masalah bahwa tidak semua barang bisa disediakan melalui mekanisme pasar. sehingga kedua individu tersebut (A dan B) akan berada pada titik yang sama pada sumbu horizontal. penyediaan barang publik oleh pemerintah akan menyebabkan trade off dengan penyediaan barang pribadi melalui mekanisme pasar. dan sumbu XY pada gambar bagian bawah memperlihatkan jumlah barang pribadi dan publik yang dikonsumsi oleh individu B. Sebagai ilustrasi. sehingga keduanya akan berada pada titik yang berbeda pada sumbu vertikal. oleh karenanya harus disediakan oleh pemerintah. Karena FG dikonsumsi oleh A maka jumlah yang tersisa 6 Ini adalah kelebihan dari the invisible hands sebagaimana yang dikemukakan pertama kali oleh Adam Smith.7 dibawah ini. Sumbu XY pada gambar bagian tengah memperlihatkan jumlah barang pribadi dan publik yang dikonsumsi oleh individu A. Pemecahan masalah efisiensi kembali perlu untuk ditemukan. Selanjutnya.

dimana ULK bersinggungan dengan kurva indeferen ib4 dari B pada gambar bagian bawah.62 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian bagi B sama FE-FG = FH. sedangkan total output barang pribadi sebanyak NM akan dibagi antara A dan B sehingga A menerima sebanyak NP dan B menerima sebanyak NL. Selanjutnya kita akan melihat pada tingkat kesejahteraan terbaik untuk A dan B. dan V. berdasarkan alasan yang sama akan menempatkan B pada titik L. kesejahteraan A akan menjadi maksimal apabila A mendapatkan suatu titik yang akan dapat membuat B menjadi lebih baik. T. Untuk A misalnya dinyatakan oleh kurva indiferen ia2 pada gambar bagian tengah. Z dan K. Inilah kurva tertinggi yang dapat dicapai oleh B. sehingga menempatkan B pada titik H pada gambar bagian bawah. Kemudian jika A bergerak sepanjang ia2 ke titik P. menunjukkan bahwa jika A berada pada titik G maka B akan berada pada titik H pada gambar di bagian bawah. Bagi A. maka B akan berpindah ke kiri sepanjang ULK. dimana output total barang publik (yang paling efisien) sejumlah ON. Hal ini akan terjadi pada titik L. semua titik sepanjang ia2 akan sama baiknya. Jika A bergerak sepanjang ia2 dari tititk W ke kiri. Jika A berada pada kurva indiferen ia1 pemecahan terbaik adalah dengan membiarkan A dan B pada titik P dan L. Total X D M E Y 0 Jumlah X untuk A V N F U C Jumlah S P ia3 G W ia2 ia1 0 Jumlah X untuk B N F U Jumlah S K Z L H ib4 ib3 ib2 Jumlah S ib1 0 .

namun demikian penekanan teori peranan produksi lebih pada pengalokasian yang efisien. kita akan menemukan posisi baru bagi B pada gambar di bagian bawah (dihubungkan dengan ULK) dan satu hasil optimal baru (dihubungkan kepada L). Pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah ada distribusi yang adil atau merata? Bagaimana keadaan distribusi yang adil dan merata itu yang dimaksud di atas? Ketika istilah efisiensi berada dalam suatu area yang dapat dikatakan mendekati nilai obyektif. teori efisiensi alokasi faktor produksi ini bukanlah merupakan teori fungsi distribusi. Teori ini memainkan peranan yang sangat penting dalam analisis ekonomi. tanpa memperhatikan masalah .7 Jika utilitas A berubah lagi. bahwa terdapat dua masalah pokok dalam penggunaan sumber daya yang optimal yaitu masalah penggunaan sumber daya yang efisien dan masalah pendistribusian sumber daya tersebut dengan adil. FUNGSI DISTRIBUSI Sebagaimana telah dibahas dalam bab sebelumnya. Semua ini adalah efisien menurut pemikiran Pareto dan memenuhi kondisi kesamaan di antara tingkat substitusi marjinal di dalam konsumsi dan tingkat transformasi marjinal di dalam produksi. istilah keadilan berada dalam suatu area yang sangat berlawanan. Dengan cara ini. maka kita dapat mengulangi prosedur yang sama untuk B. misalnya ke kurva ia3. Istilah keadilan lebih dekat pada nilai normatif daripada obyektif. tenaga kerja dan modal. Dalam setiap kasus. alokasi faktor produksi dapat dikatakan efisien apabila dasar penetapan harga faktor produksi juga efisien. teori distribusi biasanya mengacu pada teori mengenai peranan faktor produksi. yaitu teori penetapan harga faktor produksi dan pembagian pendapatan nasional dari penghasilan atas tanah. Agar alokasi sumber daya menjadi efisien maka jumlah faktor produksi yang digunakan harus sedemikian rupa sehingga nilainya sama dengan nilai biaya marjinal.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 63 Gambar 4. Dalam ilmu ekonomi. kita akan memperoleh serangkaian pemecahan yang berkaitan dengan berbagai tingkat kesejahteraan untuk A dan B. yaitu tentang bagaimana pengalokasian sumber daya di antara berbagai kebutuhan produksi yang saling bersaing guna mencapai suatu tingkat hasil (utilitas atau kepuasan) tertentu. Sebagai contoh. Walaupun demikian. Dalam pembahasan terdahulu penekanan lebih pada efisiensi.

atau paling tidak. Pendapatan sendiri harus mencakup masalah seluruh pendapatan seumur hidup seseorang. sebagian besar pendistribusian yang dilakukan pemerintah tidak menguntungkan bagi si miskin. jumlah anggota keluarga. dari setiap orang akan ditarik pajak dengan jumlah yang sama. Apakah ada suatu cara untuk mendefinisikan keadilan? Pertanyaan ini telah memicu munculnya beberapa pemikiran terbaik dari para ekonom dalan kurun waktu dua abad terakhir ini. dan kondisi . Dalam konsep ini. umur. Sedangkan pemerintah akan menyediakan sejumlah barang publik yang sama pula. bukan hanya pendapatan dalam satu tahun. si miskin dan si kaya. Permasalahannya adalah bahwa dalam suatu perekonomian. Oleh karenanya. hal lain yang mungkin perlu dimasukkan ke dalam pertimbangan adalah masalah kekayaan. Namun pada kenyataannya. fungsi pendistribusian oleh pemerintah dapat mencakup proses penarikan dana (melalui pajak) dari si kaya dan mentransfernya kepada si miskin baik itu dalam bentuk uang ataupun jasa. Selanjutnya. kapasitasnya berada dalam suatu interval tertentu. Sedangkan. bukan dalam ukuran rupiahnya namun lebih pada utilitasnya. Konsep Keadilan Horizontal Salah satu jawaban atas dilema dalam mendefinisikan dan mengukur keadilan adalah konsep keadilan horizontal. Sehingga apabila ada dua kelompok ekstrim dalam masyarakat. penekanan utama dari teori fungsi distribusi adalah pada bagaimana pendistribusian hasil produksi kepada individu-individu atau keluargakeluarga. atau kondisi-kondisi khusus lainnya seperti ketidakmampuan (cacat). tidak hanya sekedar persoalan pendapatan. akan terasa sangat logis jika standar adil dalam pengorbanan dipenuhi melalui sistem yang menjamin bahwa kontribusi si miskin harus lebih kecil dari kontribusi si kaya. masalah distribusi pendapatan terhadap individu maupun keluarga akan dibahas lebih mendalam dalam bagian ini. Idealnya. sistem perpajakan dan belanja publik harus dapat menjamin terciptanya suatu pengorbanan yang adil dari setiap warga negara. masih dalam konteks ideal. Selain itu.64 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian distribusi akhir dari hasil penjualan produksi tersebut di pasar. diasumsikan bahwa setiap orang memiliki kapasitas yang sama untuk menikmati pendapatan. Konsep Keadilan Keadilan merupakan isu sentral dalam sektor ekonomi dan kebijakan publik. melainkan tetap lebih memihak kepada si kaya. Oleh karena itu.

melalui konsep ini.001. dimana harus menetapkan batas suatu jumlah pendapatan sehingga dapat dikatakan bahwa jumlah tersebut mempunyai kemampuan membayar pajak lebih rendah atau lebih tinggi. Bagaimana cara mengukur perbedaan jumlah pendapatan seseorang jika harus dikaitkan dengan perbedaan kemampuan orang tersebut dalam membayar pajak.000. Tarif pajak progresif – yang akan dibahas lebih lanjut di bagian mendatang – merupakan salah satu contoh konkrit dari konsep keadilan vertikal. Dalam konsep ini. pengukuran menggunakan konsep keadilan horizontal sulit ditemukan.00 lebih rendah kemampuan membayar pajaknya dibandingkan dengan seseorang yang mempunyai pendapatan Rp 50. setiap orang dianggap sama. Selanjutnya. sehingga pajak penghasilan menetapkan tarif yang berbeda. Dasar pengukuran dapat berupa pendapatannya.000. secara umum. cacat atau normal dan sebagainya. 7 . Jadi. Apakah seseorang yang mempunyai pendapatan dua kali pendapatan orang yang lain berarti bahwa orang tersebut mempunyai kemampuan membayar dua kali juga atau tidak. dan kebutuhan atau kemampuannya untuk membayar. keadilan berarti memperlakukan setiap orang secara berbeda disesuaikan dengan kondisinya masing-masing. Apakah seseorang yang mempunyai jumlah pendapatan Rp 50. Konsep keadilan vertikal juga tercermin dalam metode pengujian rata-rata yang digunakan bagi banyak program pemerintah. namun disesuaikan dengan kondisi mereka. Jadi. kekayaannya. tua atau muda. seperti pembebasan atau pengurangan biaya sekolah.-. jumlah pajak yang ditarik dari setiap orang tidaklah sama. Contoh konkrit dari konsep ini dapat ditemukan pada tiket masuk suatu tempat rekreasi yang tidak membedakan orang per orang. dan subsidi perumahan dan kesehatan bagi rakyat miskin7.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 65 kesehatan seseorang. tidak perduli kaya atau miskin. Konsep Keadilan Vertikal Konsep kedua dalam mengukur keadilan adalah konsep keadilan vertikal. Salah satu kesulitan dalam menerapkan konsep keadilan vertikal adalah bagaimana kebijakan publik dapat menetapkan dasar yang dapat dijadikan pedoman bagi pengukuran ketidaksamaan kondisi (misalnya pendapatan) seseorang. Kategori rakyat miskin adalah mereka yang memiliki pendapatan rata-rata – berdasarkan uji rata-rata – di bawah tingkat pendapatan tertentu yang ditetapkan oleh pemerintah.000. Oleh karena itu.

Namun kebijakan ini tetap diinginkan karena secara total. tanpa menyebabkan kondisi orang lain sebaliknya (lebih buruk). Prinsip kompensasi sebagian dapat terlihat dalam hal kebijakan perdagangan. Jadi dalam konsep ini akan tercipta peraturan atau kebijakan yang mau tidak mau akan terdapat pihak yang menang dan kalah. penggunaan sumber daya yang efisien akan ditentukan oleh nilai penetapan harga faktor produksi yang kompetitif. Penurunan secara bertahap terhadap hambatan perdagangan internasional akan memberikan keuntungan bagi para konsumen dan eksportir di atas beban para tenaga kerja dan produsen importir dalam industri yang bersaing.66 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian Prinsip Kompensasi Terakhir. Apabila hukum ekonomi pasar diberlakukan. Salah satu kriteria yang paling sering digunakan adalah prinsip kompensasi8. konsep ketiga dalam upaya menginterpretasikan keadilan jatuh pada prinsip kompensasi. maka tetap saja akan ada pihak-pihak yang diuntungkan sebagai pemenang dan pihak-pihak yang dirugikan sebagai yang kalah. Permasalahannya terletak pada aspek pemerataan dan keadilan. distribusi pendapatan dan kekayaan akan tergantung pada ketersediaan sumber daya alam dan kepemilikan atas kekayaan. Keadilan diterjemahkan sebagai optimalisasi pareto yang menyatakan bahwa tidak mungkin merubah kondisi seseorang menjadi lebih baik. Faktor-Faktor yang Menentukan Distribusi Tanpa adanya intervensi kebijakan. Seandainya hambatan perdagangan tetap dipertahankan sehingga tetap ada dinding yang membatasi suatu negara dalam bertransaksi dengan negara lain. para ekonom mencari beberapa kriteria untuk pengambilan keputusan dimana kondisi pareto optimal tidak mungkin dapat dicapai. kesejahteraan publik akan lebih meningkat. Hal ini sering dipandang sebagai suatu tingkat 8 Prinsip kompensasi menawarkan suatu pedoman dasar untuk memilih dari beberapa alternatif kebijakan dengan ketentuan bahwa seseorang akan menjadi lebih baik atau lebih sejahtera. Menyadari hal ini. . Ketidakmampuan dalam membandingkan utilitas dari setiap orang. sehinggga mengakibatkan distribusi pendapatan keluarga juga ditentukan oleh proses pasar. Kriteria ini akan memandu pengambil keputusan untuk memilih keputusan terbaik kedua setelah pareto optimal. menyebabkan suatu keputusan atau perubahan kebijakan sangat sulit untuk dibuat tanpa mengakibatkan adanya pihak-pihak yang diuntungkan dan pihakpihak yang dirugikan.

Distribusi pendapatan tenaga kerja berkaitan dengan distribusi kemampuan sekaligus keinginan tenaga kerja yang bersangkutan untuk memperoleh pendapatan. Oleh sebab itu. dan preferensi pelanggan. distribusi pendapatan juga bergantung pada faktor harga. tingkat harga akan sama dengan nilai dari faktor produk marjinal. Begitu pula dengan kesempatan seseorang untuk memperoleh pekerjaan akan lebih bergantung pada hubungan kekeluargaan dibandingkan dengan kemampuan produktifitasnya. pola hidup dan simpanan semasa hidup. terutama dalam distribusi pendapatan modal9. . kali ini pembahasan akan difokuskan pada distribusi 9 Distribusi pendapatan modal mencakup distribusi kesejahteraan. Hal ini dapat dilihat dengan membandingkan persentase dari pendapatan yang diperoleh tenaga kerja dengan persentase rumah tangga (pemilik modal) yang menghasilkan. Perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa terjadi kecenderungan meningkatnya ketidakadilan dalam pendistribusian pendapatan (Musgrave. Para ekonom sepakat bahwa dibutuhkan penyesuaian untuk menentukan batas minimum pendapatan untuk kelompok berpenghasilan rendah. menunjukkan tingkat ketidakadilan yang sangat mencolok. Distribusi pendapatan tenaga kerja dan modal terkait dengan investasi pendidikan. Dalam ekonomi pasar. dan akhirnya pola pernikahan juga menjadi faktor terpenting dalam pendistribusian pendapatan. hubungan keluarga. ras dan lain-lain masih memainkan peran yang sangat penting. yang merupakan pengaruh dari tingkat upah yang dapat dicapai oleh seseorang. 1991). sebagaimana telah ditentukan oleh warisan. oleh karenanya harga-harga tersebut akan bergantung langsung pada sejumlah variabel seperti faktor penawaran. Distribusi sebagai Suatu Kebijakan Jika sebelumnya pembahasan distribusi lebih terfokus sebagai hasil dari perekonomian pasar. Namun dalam banyak kasus. teknologi. status sosial. Distribusi pendapatan yang diakibatkan oleh faktor-faktor tersebut di atas. Kebijakan penyesuaian tersebut akan menimbulkan inefisiensi dengan menimbulkan tambahan biaya. tingkat pengembalian lebih ditentukan oleh pasar persaingan tidak sempurna dimana faktor-faktor institusi seperti struktur gaji.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 67 ketidakadilan yang besar. tingkat pendapatan dari berbagai macam pekerjaan mungkin berbeda sejalan dengan pertimbangan status dibandingkan dengan produk marjinal. pola perkawinan. distribusi pendapatan ditentukan oleh penjualan faktor produksi tenaga kerja dan modal. Dalam persaingan sempurna. Selain bergantung pada turunan dari faktor-faktor produksi tersebut.

Setiap kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. sampai saat ini para ekonom belum dapat menetapkan standar distribusi mana yang sebenarnya menjadi patokan. pendapatan riil dari konsumen yang menggunakan produk tersebut juga akan ikut terpengaruh. Pemecahan optimal menghendaki suatu kombinasi yang kompleks antara pajak dan subsidi.68 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian sebagai hasil dari suatu kebijakan. perlu pula diperhitungkan bobot atau biaya efisiensi. Biaya efisiensi merupakan biaya yang timbul sebagai akibat pilihan terhadap perilaku konsumen atau produsen. dan kemudian konsekuensinya dapat diamati sehingga dapat dipilih satu konsep tertentu untuk diterapkan. yaitu pengenaan pajak dimana rasio pajak terhadap penghasilan naik dengan naiknya pendapatan. (2) pajak penghasilan (biasanya progresif) digunakan untuk membiayai pelayanan umum. Adapun alternatif peralatan fiskal yang dapat diterapkan dalam fungsi distribusi adalah: (1) skema pajak progresif. maka masalah distribusi akan menjadi . Misalnya. Tetapi. Contoh lain adalah kebijakan program investasi pemerintah – seperti pembangunan jalan yang tujuannya untuk menyediakan barang publik kepada masyarakat – akan mempengaruhi kesejahteraan berbagai kelompok masyarakat dari segi ekonomi dan tentunya pola distribusi. yaitu apa yang seharusnya menjadi kriteria bagi distribusi yang adil dan wajar. meskipun tidak secara langsung. namun secara tidak langsung akan mempengaruhi pendapatan modal dan tenaga kerja pada industri yang terkait dengan kebijakan tersebut. Sedangkan di sisi lain. karena masalah distribusi sangat erat kaitannya dengan permasalahan kebijakan ekonomi. akan mempunyai dampak distribusional. kebijakan mengenai anti trust atau anti monopoli sebenarnya dirancang untuk mengefisienkan pasar. Dalam mempertimbangkan instrumen kebijakan. perancangan kebijakan publik seharusnya juga mempertimbangkan masalah distribusi. Selain itu. Konsekuensi pilihan instrumen fiskal akan menunjukkan bahwa di satu sisi setiap perubahan harus diselesaikan dengan biaya efisiensi yang minimum. semestinya para ekonom yang berurusan dengan kebijakan umum pemerintah tidak boleh melepaskan pemikiran mereka dari masalah keadilan dalam distribusi pendapatan. Oleh karena itu. Namun sayangnya. dan (3) kombinasi antara pajak atas barang mewah dengan subsidi terhadap barang tidak mewah. Pemecahan atas Distribusi yang Adil dan Merata Seandainya asumsi-asumsi yang mendasari berbagai konsep keadilan dapat digali. timbul suatu kebutuhan untuk menyeimbangkan konflik antara tujuan pemerataan dan tujuan efisiensi.

Dengan menyimpulkan berbagai faktor. maka kebijakan penarikan pajak berdasarkan pada prinsip keadilan horizontal baru akan diterapkan jika memang kondisi tersebut sudah tercapai. Misalnya jika. aspek pemerataan membahas pencegahan kemiskinan dan penentuan batas minimum pendapatan kelompok berpenghasilan rendah. yakni pemerataan secara keseluruhan. berbagai pendekatan dalam setiap konsep keadilan tidak perlu diterapkan secara murni. tetapi kriteria ini digunakan untuk menilai tingkat efisiensi pasar. Redistribusi Pada bagian sebelumnya telah dibahas mengenai fungsi distribusi yang menekankan pada pertanyaan dasar mengenai apa yang dimaksud dengan distribusi yang adil dan merata. Pertanyaan berikutnya sekarang adalah perlu tidaknya untuk mempertimbangkan atau bahkan menanggulangi masalah . tetapi dengan perpaduan satu sama lain. Sedangkan kebijakan distribusi yang optimal dapat diartikan sebagai distribusi yang adil dan distribusi yang merata. pernyataan yang telah diterima secara luas. Jika diperhatikan. hampir tidak mungkin membandingkan tingkat utilitas masing-masing individu atas pendapatannya. Fokus perhatian distribusi yang merata terletak pada aspek posisi pendapatan relatif. Distribusi yang adil mempunyai pengertian yang sangat dalam yang menyangkut pertimbangan sosial dan pertimbangan nilai. Pertama. Dalam ilmu ekonomi kesejahteraan modern berlaku prinsip bahwa suatu kondisi ekonomi disebut efisien jika. tidak dapat dipisahkan hanya dengan cara mendistribusikan pendapatan tersebut. Kedua. besarnya pendapatan yang tersedia untuk dikenakan pajak. Secara lebih detail. Namun karena belum ada alasan atau nilai-nilai yang terpilih sebagai dasar dalam menetapkan struktur masyarakat yang baik. Kaidah pemerataan mempunyai dua masalah. Kriteria ini tidak sama artinya dengan suatu tindakan pendistribusian kembali atas sumber daya yang ada kepada konsumen.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 69 lebih sederhana. maka masalah ini tetap belum terpecahkan. Simpulan umum berkaitan dengan pemerataan adalah bahwa kebijakan distribusi harus memperhitungkan cakupan tambahan biaya secara inefisiensi. orang harus dikenakan pajak sesuai dengan kemampuan mereka membayar. prinsip keadilan yang dianut menginginkan tidak adanya satu anggota masyarakat pun yang miskin. peningkatan kesejahteraan seseorang tidak akan merugikan orang lain (Pareto Optimum). dan hanya jika.

Kebijakan redistribusi mempelajari sampai sejauh mana dan dengan cara bagaimana mengubah keadaan distribusi yang telah ditentukan oleh pasar dan lembaga publik yang ada saat ini. Jika kegiatan sukarelawan ini cukup untuk membuat perubahan yang dapat diterima. Pada gilirannya. Sementara itu di pihak penerima pajak – katakanlah rakyat miskin – lebih tertarik untuk memperhatikan keadilan atas hasil dan memiliki fleksibilitas dalam menggunakan sumber-sumber dana yang mereka dapatkan. terlebih dalam kelompok masyarakat yang besar. dibelanjakan oleh pemerintah dengan seharusnya. seperti penggalangan dana di mesjid. Rasanya hampir mustahil. organisasi nirlaba dan sumbangan sosial individu. hal sebaliknya sering kali terjadi jika redistribusi didanai melalui kontribusi sukarela. Pertanyaan berikutnya bagi pemerintah adalah apakah perhatian mereka terkait dengan konsep redistribusi. meskipun hal tersebut akan lebih mudah terdeteksi. Hal ini dapat meredistribusi posisi pendapatan atau kekayaan yang telah ditentukan oleh kekuatan pasar. Tetapi apakah mungkin cukup menggantungkan keputusan redistribusi ini kepada individu atau kelompok sosial saja. Hal ini bisa dicapai melalui kebijakan redistribusi yang ditetapkan melalui proses anggaran. dan melakukan lobi politik untuk mempengaruhi pemerintah dengan berbagai cara. gereja. Di dalam masyarakat yang kecil pun. Kedua kelompok ini akan memberikan suaranya. apakah ada jaminan bahwa perubahan yang terjadi akan optimal bagi masyarakat. . orang tetap bisa menghindar dari menyumbang secara sukarela. hasil dari kebijakan ini dapat dievaluasi berdasarkan respon dari setiap pihak yang dirugikan atau diuntungkan pada proses tersebut . karena akan sangat mudah bagi setiap orang untuk menghindar dari membayar suatu sumbangan sukarela (menjadi free rider). Namun. Secara umum. Sebagian orang akan menolak adanya kebijakan redistribusi. hal ini bisa mempengaruhi bagian dari pendapatan nasional yang tersedia untuk redistribusi dan juga bisa menimbulkan biaya yang tentunya harus dipikul. Selanjutnya.70 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian distribusi yang kurang adil dan merata. jika hal tersebut merupakan kebijakan wajib dari pemerintah. terjadi penurunan atas tingkat kemiskinan dan ketidakadilan dalam masyarakat. maka campur tangan pemerintah tidak lagi dibutuhkan. Beberapa Hal yang Terkait dengan Redistribusi Pembayar pajak – dalam kasus kebijakan redistribusi oleh pemerintah – mungkin mempunyai tujuan dan kepentingan yang berbeda dengan para penerima pajak. para pembayar pajak akan lebih tertarik untuk mendapatkan keadilan atas kesempatan dan memastikan apakah dana yang telah mereka keluarkan.

Para penerima akan lebih memilih untuk menerima uang tunai. penekanannya lebih pada penurunan kesenjangan pendapatan dan penghapusan kemiskinan dengan cepat daripada menekankan pada berinvestasi pada orang miskin. 10 Keadilan atas kesempatan dapat berupa penyediaan pendidikan (terutama dalam bentuk pembebasan uang sekolah dan wajib belajar). sehingga tingkat produktivitas masyarakat menurun. maka pada tingkat tertentu sebagian besar masyarakat akan mengurangi usaha mereka dalam mencari pendapatan atau dengan kata lain mereka akan memperbanyak waktu santai mereka. sehingga membatasi fleksibilitas penggunaan dana tersebut. dan makanan. investasi dan pertumbuhan ekonomi dimana masalah serupa juga akan timbul. Seandainya diberikan dalam bentuk uang.8. cara yang termudah adalah dengan memberikan jasa pelayanan langsung seperti pelayanan kesehatan dan program pendidikan. Di sisi lain pembayar pajak lebih memilih memberikan dananya dalam bentuk barang seperti. Bagi pemerintah. . Hal ini dapat diperlihatkan dalam hubungan antara penawaran tenaga kerja dengan tabungan. kebijakan untuk melakukan redistribusi dapat mengakibatkan bagian yang tersedia untuk didistribusikan justru menjadi lebih kecil. pelayanan kesehatan atau jasa lainnya yang dapat membantu masyarakat untuk berkembang atau paling tidak tetap berproduksi. maka dia dapat makan untuk satu hari. waktu senggang dan pajak dapat dilihat pada gambar 4. ajari seseorang memancing. Hal ini diakibatkan oleh bekerjanya pengaruh perbedaan yang berlaku pada baik pihak pembayar pajak maupun pihak penerima pajak. Redistribusi yang telah dibahas sejauh ini mencakup masalah biaya dan manfaat dimana keduanya harus dipertimbangkan. Hubungan antara pendapatan. karena akan lebih memberikan fleksibilitas kepada mereka untuk menggunakan dana tersebut.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 71 atau apakah harus lebih terpusat pada keadilan atas kesempatan10 atau keadilan atas hasil11. pihak pendana akan memasukkan preferensi mereka kepada pihak penerima. keadilan atas hasil sebagai suatu strategi anti kemiskinan telah semakin menurun popularitasnya di banyak negara maju seperti Amerika Serikat dan Kanada. Isu kedua yang seringkali dipandang berbeda dari pihak pembayar dan penerima pajak adalah bentuk redistribusi. pakaian. Pertama-tama. Ketika redistribusi ditetapkan sehingga akan menurunkan tingkat pendapatan. 11 Dalam keadilan atas hasil. Secara umum. Keadilan ini lebih bersifat filosofi dalam hubungannya dengan sistem pasar. Isu penting lainnya dalam masalah redistribusi yang efisien adalah penetapan bagian yang harus diredistribusikan. maka dia dapat makan seumur hidupnya”. Perbedaan filosofi dari dua pendekatan keadilan redistribusi ini tercermin dalam pribahasa ”Berikan seseorang ikan.

menunjukkan bahwa pada tingkat dimana seseorang tidak dikenakan pajak (garis A1B). Namun. yang terjadi adalah penurunan .mungkin sebagai bentuk penolakannya terhadap pajak. kejadian seperti ini tidak akan terus berlanjut.8. Sebagai contoh. pada titik ini. pendapatan orang tersebut menurun menjadi OY2. atau dengan kata lain tingkat produktifitas meningkat. ternyata orang tersebut justru menambah waktu luangnya (OX3) .72 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian Pendapatan. jika pajak terus ditingkatkan. Waktu Senggang dan Pajak Pendapatan A1 A2 Y1 Y2 A3 Y3 0 X2 X1 X3 B Waktu Luang Gambar 4.8. masih pada gambar 4. Maka pada tingkat pajak A3B. maka tingkat pendapatan akan semakin menurun menjadi OY3. Namun dapat terlihat bahwa penurunan tingkat pendapatan jauh lebih besar daripada penurunan jumlah waktu luang.8 Gambar 4. jika pajak terus ditingkatkan (garis A3B). Kemudian. dia akan memilih tingkat pendapatan OY1 dan jumlah waktu luang OX1. begitu pula jumlah waktu luang yang dimilikinya menurun (OX2) – karena yang bersangkutan harus bekerja lebih giat guna menutupi turunnya pendapatan yang diperolehnya. ketika pajak mulai dikenakan (garis A2B).

menurunkan suku bunga dan karena itu akan menaikkan tingkat permintaan. suatu mekanisme pasar dijamin dapat diandalkan untuk menentukan alokasi sumber daya yang efisien di antara barang pribadi. tingkat stabilitas harga yang pantas. Oleh karena itu. Sistem perbankan. kebijakan pemerintah dalam fungsi stabilisasi dirancang untuk menjaga stabilitas perekonomian seperti mempertahankan atau mencapai kesempatan kerja yang tinggi. pemerintah mempunyai dua instrumen penting yakni instrumen moneter dan instrumen fiskal. Komponen kebijakan moneter antara lain meliputi ketetapan mengenai cadangan wajib bank. Tanpa adanya kebijakan tersebut. tetapi juga menimbulkan reaksi dalam permintaan kredit di pasar yang akan cenderung menimbulkan fluktuasi. Dalam hubungannya dengan persaingan yang terjadi pada ekonomi pasar. Pada intinya. keberadaan bank sentral sebagai pengawas jumlah uang beredar perlu menyesuaikan jumlah uang beredar dengan kebutuhan ekonomi. Kebijakan Moneter Jika berfungsi dengan baik.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 73 tingkat produktifitas masyarakat. baik dalam hal stabilisasi jangka pendek maupun pertumbuhan jangka panjang. tingkat diskonto. neraca pembayaran luar negeri yang sehat dan tingkat pertumbuhan ekonomi yang dapat diterima. Namun. peningkatan jumlah pengangguran dan juga akan terjadi inflasi. sementara pembatasan moneter akan berakibat sebaliknya. Oleh karena itu. para ekonom setuju bahwa mekanisme pasar tidak dapat dengan sendirinya mengatur jumlah uang yang beredar secara tepat. fungsi pemerintah sebagai pengatur (regulator) semakin dirasakan kebutuhannya. FUNGSI STABILISASI Di era globalisasi ekonomi yang semakin luas. fungsi pengatur tersebut dapat berupa beberapa kebijakan baik sebagai pemicu maupun sebagai penghambat persaingan. akan berjalan tidak teratur. perekonomian cenderung akan mengalami fluktuasi. Perluasan moneter berupa kebijakan untuk menambah jumlah uang beredar akan cenderung memperbesar likuiditas. sehingga tidak hanya akan menghasilkan jumlah uang beredar yang tidak sesuai. . kebijakan pengendalian kredit dan kebijakan pasar terbuka. penetapan tarif pajak perlu memperhatikan fenomena ini. jika tidak diawasi. Dalam fungsinya menjalankan stabilisasi ini.

khususnya pengeluaran publik. suatu kebijakan menambah pengeluaran publik jelas merupakan jenis kebijakan yang bersifat ekspansi. Mau tidak mau. Di lain pihak. yakni dengan membuat kebijakan yang lebih ekspasioner yang diikuti dengan menaikkan pengeluaran publik atau dengan menurunkan pajak. Stabilisasi Anggaran Kegiatan-kegiatan pemerintah dalam melaksanakan fungsi alokasi.74 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian Kebijakan Fiskal Kebijakan fiskal akan mempengaruhi secara langsung tingkat permintaan barang dan jasa. Sejalan dengan itu. yakni dengan mendistribusikan pendapatan ke kelompok rendah dari kelompok tinggi (atau sebaliknya ke kelompok tinggi dari kelompok rendah) yang diikuti dengan pengenaan pajak progresif (atau sebaliknya regresif). mempengaruhi tingkat permintaan agregat. jika peredaran uang diperketat. pada awalnya. Di sisi lain. Kebijakan ini. distribusi. maka pinjaman tambahan akan mempertinggi suku bunga sehingga cenderung menghambat transaksi pasar. Pembiayaan defisit akan lebih besar jika defisit tersebut ditutupi dengan pinjaman. tergantung pada bagaimana defisit tersebut dibiayai. Perubahan tingkat permintaan agregat pada akhirnya menentukan kesempatan kerja dan tingkat harga. Anggaran. Kebijakan menurunkan pajak dapat dilakukan dalam upaya pemerintah untuk memperbesar total belanja pemerintah. dan (3) tujuan stabilisasi. akan menjadi alat yang cukup efektif untuk mempengaruhi perilaku tersebut. Ketiga tujuan tersebut adalah: (1) tujuan alokasi. kebijakan defisit anggaran pemerintah akan memainkan peranan yang tidak kalah penting. dan stabilisasi akan tercermin dalam kebijakan anggaran. sehingga dimungkinkan akan ada banyak pengecualian. mempunyai beberapa tujuan berkaitan dengan pemenuhan ketiga fungsi tersebut. pada gilirannya. karena para wajib pajak akan mempunyai disposible income yang lebih besar sehingga diharapkan akan membelanjakan jumlah pendapatan yang lebih besar pula. karena juga akan meningkatkan total permintaan agregat. Suatu kebijakan publik tertentu mungkin tidak dapat memenuhi tiga tujuan sekaligus. (2) tujuan distribusi. yakni dengan meningkatan pelayanan pemerintah yang diikuti dengan kenaikan pajak. suatu kebijakan selalu berupaya meminimumkan konflik antar masing-masing tujuan. Lebih jauh lagi. akan menaikkan tingkat permintaan sektor pemerintah dan kemudian akan diikuti oleh sektor swasta. secara simultan. anggaran akan sangat dikaitkan dengan perilaku perekonomian secara makro. Kebijakan anggaran. kebijakan anggaran juga mempengaruhi tingkat distribusi output total dengan membaginya di antara konsumsi dan tabungan . Namun demikian.

Sebagai ilustrasi. dalam masalah pembiayaan kegiatan pemerintah. tujuan politik adalah untuk menyediakan barang dan jasa yang berguna bagi seluruh warga negaranya. warga negara mempunyai kesempatan untuk memberikan suaranya dalam memutuskan suatu masalah yang berisi alternatif pencapaian tujuan yang saling bertentangan. isu stabilisasi dan distribusi tersebut seharusnya dipisahkan. Akhirnya. Jika pemerintah berinisiatif dengan meningkatkan pengeluaran publik. Kemudian. dari sudut pandang ekonomi. misalnya masyarakat menginginkan penurunan tingkat penganguran. Kebijakan anggaran semestinya melibatkan beberapa tujuan yang berbeda. Kenaikan pajak pada gilirannya nanti akan dipertanyakan oleh masyarakat tentang cara pendistribusian bebannya. Hal ini bisa diwujudkan dengan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dimana salah satu faktor pendukungnya adalah peningkatan total permintaan agregat. karena dua masalah ini sulit diselesaikan secara simultan. Proses politik didasarkan pada peraturan-peraturan yang tercantum dalam undang-undang suatu negara. defisit anggaran dapat ditutupi dengan peningkatan penerimaan dari sektor pajak. Idealnya. terutama berkaitan dengan perubahan kebijakan perpajakan. wajib pajak selayaknya melihat manfaat yang dapat diambil dari kegiatan tersebut. Namun demikian. Dalam suatu negara demokrasi. Proses politik tentunya juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain selain faktor ekonomi. tanpa harus dihubungkan dengan kontribusinya. Dalam proses pemungutan suara akan ada pihak-pihak yang mendukung dan menolak terhadap perubahan atas model yang dipilih pemerintah. kita dapat mengambil simpulan bahwa penentuan anggaran lebih condong sebagai proses politik ketimbang proses pasar. RANGKUMAN § Beberapa fungsi pemerintah dalam perekonomian: . seperti ideologi. yaitu kebijakan yang benarbenar adil dalam rangka mencapai tujuan yang beraneka ragam tersebut. tetapi dalam prakteknya hal ini sering saling tumpang tindih sehingga mempersulit penyusunan kebijakan yang efisien. Hasil dari proses tersebut tergantung dari hasil pemungutan suara atau dari tingkah laku para politisi yang bermain di dalam pemerintahan tersebut.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 75 (yang membentuk modal) yang selanjutnya mempengaruhi tingkat pertumbuhan ekonomi. Masyarakat seharusnya bersedia membayar apa yang dianggap sebagai distribusi yang adil.

Harga atas suatu komoditi sudah disepakati oleh atau harus identik untuk semua pembeli dan penjual. Pemerintah diharapkan dapat menjamin pasar agar dapat beroperasi secara efisien. tidak ada distorsi yang akan mengakibatkan adanya perbedaan harga antara yang diterima oleh penjual dengan yang dibayarkan oleh pembeli. perekonomian cenderung mengalami fluktuasi. dengan memperhitungkan akibat kebijakan pada perdagangan dan neraca pembayaran. tidak dapat disediakan melalui sistem pasar melalui transaksi antara konsumen dan produsen secara individu Kondisi stabil tidak dapat dicapai secara otomatis. kriteria efisien digunakan untuk mengevaluasi alokasi sumber daya. stabilitas ekonomi dan laju pertumbuhan ekonomi. Alasan perlunya aturan pemerintah guna menjamin efisiensi dalam sistem ekonomi pasar: 1. 2. Mekanisme pasar terjadi apabila ada suatu permintaan dari konsumen. yang berbeda sifatnya dengan barang pribadi. tingkat diskonto. Komponen kebijakan moneter mencakup antara lain pembentukan cadangan wajib. . Fungsi Distribusi penyesuaian atas distribusi pendapatan dan kekayaan untuk menjamin pemerataan dan keadilan.76 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian § § § § § § § 1. pengangguran dan inflasi. 3. Dilihat dari fungsi alokasi. terutama dalam hal persaingan. suatu barang publik. Fungsi Stabilisasi Penggunaan kebijakan anggaran sebagai alat untuk mempertahankan tingkat kesempatan kerja. kebijakan pasar terbuka dan pengendalian kredit selektif. Tanpa kebijakan stabilisasi pemerintah. Dalam pasar yang efisien. Fungsi Alokasi Fungsi penyediaan barang publik atau proses alokasi sumber daya untuk digunakan sebagai barang pribadi atau barang publik dan bagaimana komposisi barang publik ditetapkan. Mekanisme pasar akan membawa konsumen dan produsen ke suatu titik harga tertentu. Dalam suatu sistem ekonomi pasar yang bersaing sempurna. kemudian produsen akan menyediakan barang yang paling diinginkan oleh konsumen.

yaitu teori penetapan harga faktor produksi dan pembagian pendapatan nasional dari penghasilan atas tanah. Terletak pada hubungan rasional dari produksi pemerintah atas barang-barang publik Barang pribadi adalah barang-barang yang diproduksi untuk dijual dan tersedia di pasar. Dua masalah pokok dalam penggunaan sumber daya yang optimal. terutama dalam hal biaya produk dan kualitas produk yang dihasilkannya. 3. setiap penyediaan atas barang publik harus ada pengorbanan dari sumbersumber daya yang seharusnya dapat digunakan untuk memproduksi barang pribadi. Konsep Keadilan Horizontal 2. Masalah pendistribusian sumber daya tersebut dengan adil Teori distribusi biasanya mengacu pada teori mengenai peranan faktor produksi. Beberapa konsep dalam mengukur keadilan: 1. dan kebutuhan atau kemampuannya untuk membayar Beberapa kesulitan dalam menerapkan konsep keadilan vertikal adalah: . sedangkan barang publik adalah barang-barang yang tersedia tapi tidak untuk dijual di pasar. Prinsip Kompensasi Dasar pengukuran konsep keadilan vertikal dapat berupa pendapatannya. Pemerintah sendiri seharusnya bekerja keras untuk mencapai tingkat efisiensi yang sama dengan pihak swasta. Barang publik yang mempunyai sifat tidak bersaing (non rivalry) 2. tenaga kerja dan modal. Masalah penggunaan sumber daya yang efisien 2. Konsep Keadilan Vertikal 3. Barang publik yang mempunyai sifat tanpa pengecualian (non excludability) Pada dasarnya. ada barang publik yang dapat dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat di dalam negara (berskala nasional) dan ada barang publik yang hanya dapat dimanfaatkan oleh sekelompok orang tertentu (berskala lokal). kekayaannya. barang publik disediakan untuk semua orang yang mempunyai kepentingan atas barang tersebut. yaitu: 1. Artinya. Penyediaan barang publik oleh pemerintah akan menyebabkan trade off dengan penyediaan barang pribadi melalui mekanisme pasar. Namun dalam prakteknya.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 77 § § § § § § § § § 2. Barang publik terbagi dua: 1.

Sebutkan dan jelaskan fungsi pemerintah tersebut! Di antara fungsi pemerintah tersebut. tingkat stabilitas harga yang pantas. Jelaskan akibat-akibat kegagalan mekanisme pasar! 4. Bagaimana cara mengukur perbedaan jumlah pendapatan seseorang jika dikaitkan dengan perbedaan kemampuan orang tersebut dalam membayar pajak. menurunkan suku bunga dan karena itu akan menaikkan tingkat permintaan. Pada intinya. Uraikan secara singkat! 3. Sebutkan dua argumen perlunya intervensi pemerintah! Mengapa intervensi pemerintah tersebut diperlukan dalam konteks kegagalan pasar? Dari intervensi pemerintah tersebut terdapat beberapa peran pemerintah. kebijakan pemerintah dalam fungsi stabilisasi dirancang untuk menjaga stabilitas perekonomian seperti mempertahankan atau mencapai kesempatan kerja yang tinggi. Dengan adanya beberapa kelemahan pada mekanisme pasar maka peran pemerintah sangat diperlukan dalam perekonomian yang memiliki fungsifungsi tertentu. Bagaimana kebijakan publik dapat menetapkan dasar yang dapat dijadikan pedoman bagi pengukuran ketidaksamaan kondisi (misalnya pendapatan) seseorang. fungsi manakah yang sulit untuk diperankan dan merupakan permasalahan utama? 2. sementara pembatasan moneter akan berakibat sebaliknya. Perluasan moneter berupa kebijakan untuk menambah jumlah uang beredar akan cenderung memperbesar likuiditas. neraca pembayaran luar negeri yang sehat dan tingkat pertumbuhan ekonomi yang dapat diterima. tingkat diskonto.78 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian § § § § 1. 2. kebijakan pengendalian kredit dan kebijakan pasar terbuka. Komponen kebijakan moneter antara lain meliputi ketetapan mengenai cadangan wajib bank. LATIHAN 1. Faktor apakah yang menentukan fungsi distribusi? 5. Salah satu kriteria yang paling sering digunakan dalam prinsip kompensasi adalah prinsip kompensasi yang menawarkan suatu pedoman kasar untuk memilih dari beberapa alternatif kebijakan dengan prinsip bahwa seseorang akan menjadi lebih baik atau sejahtera. Jelaskan mengenai perlunya kebijakan stabilisasi pemerintah dalam perekonomian? .

Mengapa barang publik dapat mengakibatkan kegagalan pasar dalam produksi secara efisien? 15. Keadilan merupakan isu sentral dalam sektor ekonomi dan kebijakan publik. Jelaskan arti dari istilah: a. Jelaskan apa yang dimaksud dengan “Dalam suatu sistem ekonomi pasar. Terangkan alasan perlunya aturan pemerintah guna menjadi efisien dalam sistem ekonomi pasar? 11. Apa saja yang termasuk dalam instrumen kebijakan stabilisasi? 7. Jelaskan penyebab adanya suatu intervensi pemerintah dalam operasi pasar bebas? 8. Dalam ilmu ekonomi. Sebutkan tiga konsep untuk mengajukan keadilan! 19. Terangkan dua masalah yang ada pada kaedah pemerataan! Apakah yang dibahas dalam aspek pemerataan tersebut? 10. teori distribusi biasanya mengacu pada teori mengenai peranan faktor produksi. Congestible Goods b. Pareto Efficiency 16. Masalah-masalah apakah yang timbul dalam fungsi alokasi? 9. Jelaskan disertai dengan contoh perbedaaan antara barang pribadi dengan barang publik! 12. 13. Sebutkan teori-teori yang dimaksud! 18. Uraikan salah satu contoh kelemahan dalam menerapkan konsep keadilan vertikal pada fungsi alokasi yang anda ketahui! 17.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 79 6. Apakah inti dari kebijakan pemerintah dalam fungsi stabilisasi? . kriteria efisien dapat digunakan untuk mengevaluasi alokasi sumber daya dimana semua pasar dalam kondisi persaingan sempurna”. Terangkan bahwa biaya marginal dari setiap tambahan penggunaan atas barang publik sama dengan atau paling tidak mendekati nol! 14.

80 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian .

Dalam beberapa periode lanjut Seda (2004). Sistem ini kemudian dikenal sebagai APBN berimbang dan dinamis.KONSEP ANGGARAN Kebijakan fiskal suatu negara secara keseluruhan terangkum dalam laporan anggaran tahunannya yang di Indonesia dikenal sebagai Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN). Tujuan utama dari diterapkannya sistem ini pada awal orde baru menurut Seda (2004) dimaksudkan mengurangi hyper-inflation yang mencapai 650% akibat adanya kegiatan pencetakan uang terus menerus untuk menutupi defisit anggaran. Selanjutnya secara terus menerus diusahakan agar penerimaan . Sedangkan pinjaman luar negeri digunakan untuk pembiayaan pembangunan. anggaran di Indonesia menganut sistem anggaran berimbang. Seluruh pengeluaran rutin dalam sistem ini diusahakan untuk ditutup dari penerimaan dalam negeri. Pada masa orde baru. Pada sistem ini pinjaman luar negeri dimasukkan sebagai unsur penerimaan negara. sistem tersebut cukup efektif mengendalikan inflasi.

Pengeluaran publik seperti pembayaran pokok hutang akan diikuti dengan pengurangan liabilitas publik sehingga tidak mengurangi kekayaan neto negara. Agar tidak terjadi tambahan inflasi akibat adanya hutang. contoh penerimaan pajak. Belanja publik pasti mengurangi kekayaan neto negara. onbudget. dan pengeluaran versus belanja. Setelah itu diberlakukan balance budget yang mengakui adanya budget surplus dan budget deficit (dibahas pada subbab berikut). Namun ada sebagian kecil anggaran yang dibiayai dengan dedicated fund tidak dibahas oleh lembaga legislatif setiap tahunnya. dapat dikatakan bahwa anggaran adalah suatu rencana keuangan yang merupakan perkiraan tentang apa yang akan dilakukan di masa yang akan datang. seperti penerimaan kembali anggaran pengeluaran yang tidak terpakai. Balance Budget Seluruh rencana pengeluaran dan penerimaan pemerintah biasanya melalui prosedur pembahasan oleh lembaga legislatif untuk disahkan setiap tahun. maka timbul budget deficit sebaliknya jika penerimaan diproyeksikan dapat lebih tinggi dari rencana pengeluaraan maka disebut budget surplus. Rencana pengeluaran sebaiknya mengindikasikan juga urutan skala prioritas serta ekspektasi kualitas dan kuantitas layanan. penerimaan publik tidak selalu berupa pendapatan publik. pengeluaran publik tidak selalu identik dengan belanja publik.84 Bab 5: Konsep Anggaran dalam negeri dapat lebih tinggi dari pengeluaran rutin sehingga tercipta tabungan pemerintah yang dapat digunakan sebagai bagian belanja pembangunan. Sedangkan pendapatan publik pasti menyebabkan kenaikan kekayaan neto negara. Yang pertama. Jika rencana pengeluaran melebihi anggaran penerimaan. dipaparkan adanya rencana pengeluaran yang didasarkan pada ekspektasi pendapatan. Dengan demikian. Pada umumnya on-budget mengalami deficit. Setiap anggaran belanja menguraikan berbagai fakta yang khusus (spesifik) tentang apa-apa yang direncanakan untuk dilakukan oleh unit organisasi yang menyusun anggaran belanja tersebut pada periode waktu yang akan datang. Apabila . seluruh nilai hutang dipergunakan untuk kegiatan pembelian barang-barang impor. misalnya pembayaran bunga hutang. dikenal sebagai offbudget. Contoh dari off-budget adalah alokasi dana yang diperuntukkan bagi program pensiun dan tunjangan hari tua. Di dalam konsep anggaran perlu dibedakan antara penerimaan versus pendapatan. Dalam anggaran. sedangkan off-budget mengalami surplus. Berikutnya. Karena ada beberapa aktivitas yang mengakibatkan aliran dana masuk yang tidak menambah kekayaan neto negara. Sistem ini berlaku sampai dengan tahun 1999.

Oleh karena itu. Pembiayaan Proyek • Rp Rp Rp Rp XXX XXX XXX XXX Kelebihan sistem anggaran line-item adalah mudah mengawasi penggunaanya. Penggolongan barang tersebut misalnya: jasa-jasa kontrak. disebut anggaran obyek pengeluaran atau anggaran belanja lineitem. disebabkan setiap instansi atau departemen mempunyai kebutuhan barang yang berbeda. Dari pengelompokan barang-barang inilah maka digunakan istilah obyek atau lineitems. karena mencantumkan dengan jelas barang-barang atau obyekobyek di mana uang itu dibelanjakan. harus disebutkan secara khusus atau spesifik. Contoh line-item budget adalah sebagai berikut. Belanja Pegawai II. apakah anggaran belanja itu dipatuhi dengan baik .Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 85 anggaran disusun dengan mengkonsolidasikan antara on-budget dan offbudget. Bunga Obl. perlengkapan dan material serta peralatan. sehingga dari catatan tersebut dapat dilihat secara tepat. tergantung pada kriteria unit atau organisasi yang bersangkutan. JENIS-JENIS ANGGARAN Jenis-jenis anggaran meliputi: a. maka anggaran yang dihasilkan disebut unified-budget. obyek-obyek atau item-item apa yang akan dibeli dengan uang yang dianggarkan itu. Anggaran Belanja Line-Item (Line-Item Budgeting) Jenis anggaran belanja yang hanya membuat daftar barang-barang atau obyek-obyek. Bila obyek yang ada dalam line-item budget cukup banyak. Restrukturisasi Perbankan II. Pembayaran Bunga & cicilan Hutang Pengeluaran Pembangunan I. Subsidi Daerah Otonom IV. Pembiayaan Rupiah 1. Bunga Kredit Program 2. Jenis Pengeluaran Jumlah Rp Rp Rp Rp XXX XXX XXX XXX • Pengeluaran Rutin I. Belanja Barang III. Setiap barang atau kelompok barang dibuat daftarnya disertai angka nilai rupiah. Anggaran memuat perkiraan dari pengeluaran uang. Pengeluaran tersebut harus jelas maksud dan tujuannya. maka perlu dibuat pengelompokan ataupun penggolongan. Apabila dikatakan untuk membeli barang. hal ini adalah sesuatu hal yang masih sangat umum.

Penggunaan kata fungsi. Anggaran berprogram mengelompokan pengeluarannya ke dalam program-program. KEUANGAN DAN FISKAL.01 02 01. dan Program PELAYANAN UMUM PEMERINTAHAN LEMBAGA EKSEKUTIF DAN LEGISLATIF. disebut anggaran berprogram (a program budget).86 Bab 5: Konsep Anggaran atau tidak. DAN LUAR NEGERI PENYELENGGARAAN PIMPINAN KENEGARAAN DAN PEMERINTAHAN PENYELENGGARAAN PIMPINAN DEPARTEMEN/ LEMBAGA PEMBINAAN PRODUK LEGISLATIF Jumlah XXX XXX XXX XXX XXX Kelebihan sistem anggaran berprogram adalah: 1. Lebih informatif. Contoh dari anggaran berprogram yang digunakan dalam menyusun APBN Indonesia Tahun 2005 adalah sebagai berikut. kegiatan. bukan perincian yang sempit sifatnya. Sub Fungsi.01 01. . Di samping itu. Anggaran Belanja Berprogram (A Program Budgeting) Suatu anggaran yang berorientasi kepada maksud dan tujuan untuk apa uang dibelanjakan.01 03 Nama Fungsi. Sedangkan kelemahan sistem anggaran line-items adalah sulit menyederhanakan berbagai jenis barang untuk dikelompokkan. Dengan kata lain. terdapat perbedaan pengelompokan barang-barang antara unit atau organisasi yang satu dengan unit atau organisasi barang yang diperlukan setiap organisasi tersebut dan tidak didasarkan atas perencanaan yang menyeluruh dan berkesinambungan. atau misi.01 01 01. Memungkinkan kita membuat daftar prioritas dalam memutuskan kegiatan-kegiatan yang akan dibelanjakan. suatu anggaran belanja yang disusun sesuai dengan tujuan. fungsi-fungsi dan kegiatan-kegiatan pengeluarannya disebut anggaran berprogram (a program budget). karena dapat diketahui tingkat kepentingan tujuan pembelanjaan itu. b. 2. Dengan demikian orang yang bertanggung jawab dalam membelanjakan uang itu mudah diperiksa melalui keharusan mengikuti pengeluaran sebagaimana yang telah direncanakan. kadang-kadang diperlukan sebagai pengganti program-program. karena perkiraan kebutuhan untuk masa mendatang tidak dikaitkan dengan maksud dan tujuan yang lebih luas. Kode 01 01.

c. dibandingkan dengan anggaran line-item (line-item budget). yang merupakan bagian program yang lebih luas. Jelasnya unit ukuran yang digunakan harus menguraikan secara nyata (konkrit) apa yang akan dikerjakan. artinya berapa banyak suatu hasil yang dapat dibuat dengan biaya itu. Kedua. Ada dua hal yang harus dilakukan dalam menyusun anggaran belanja berbasis kinerja. Sekalipun demikian. yang tidak jelas obyek-obyeknya. sebab arti ketertiban umum itu dapat pula untuk pembangunan prasarana fisik (kantor) yang mewah bagi kepentingan ketertiban umum yang menyimpan dari tujuan yang diharapkan. Misalnya X rupiah untuk kepentingan ketertiban umum. Dengan demikian. pertama. Salah satu cara untuk mengatasi kelemahan anggaran berprogram dalam segi pengawasan dan tingkat keluwesan (flexibility) adalah dengan cara mengkombinasikan sifat anggaran berprogram dengan sifat anggaran berdasarkan anggaran line-item. Kemudian. kita dapat mengetahui tujuan serta maksud membelanjakan uang tersebut. kita tidak cukup menggunakan suatu anggaran yang hanya menyebutkan daftar barang-barang yang akan dibelanjakan. disebut anggaran berprogram karena tidak hanya sekedar mendaftar barang-barang dan jasa-jasa yang akan dibelanjakan tetapi penyusunan dana itu disesuaikan dengan program-programnya. sebab suatu program terdiri atas unsur-unsur program. Anggaran belanja berbasis kinerja ini hanya menambahkan keterangan berapa banyak jenis pelayanan yang akan disediakan untuk melaksanakan suatu tujuan.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 87 Dengan anggaran berprogram. akan terdapat program yang mendapat dana jauh lebih sedikit dari yang lain sekalipun ia dianggap fungsi yang lebih penting. . Hal ini disebabkan karena dalam anggaran berprogram. langkah selanjutnya adalah menetapkan dan mengukur suatu tingkat pelayanan yang wajar. Sedangkan kelemahan anggaran berprogram adalah lebih sulit dilakukan pengawasan. Anggaran Berbasis Kinerja (Performance Budgeting) Anggaran belanja berbasis kinerja (performance budget) dibangun atas anggaran berprogram. Dengan demikian anggaran berprogram yang mempunyai perincian line-item dikaitkan dengan tujuan daripada program. anggaran belanja sistem hanya mencantumkan X rupiah untuk belanja yang satu dan Y rupiah untuk belanja yang lain. kita juga dapat menetapkan tingkat prioritas untuk membedakan bahwa program yang satu lebih penting dari program yang lain. yaitu. Oleh karena itu. harus tersedia ukuran hasil kerja (output) yang realistis.

anggaran berbasis kinerja adalah anggaran pelaksanaan yang mencakup kombinasi antara anggaran belanja line-item (line-item budget). Contoh anggaran belanja berbasis kinerja adalah sebagai berikut.000.000 Rp 500. dan data-data hasil kerja. obyek-obyek pengeluaran (seperti persediaan dan bahan).000. Dalam membicarakan teori PPBS.000 600.000. Namun dalam prakteknya. anggaran berprogram (program budget). Program: Peningkatan prasarana jalan Kegiatan I: Pembebasan tanah Ukuran hasil: Panjang lahan yang dibebaskan: 10 kilometer Biaya pembebasan per kilometer: Rp50.88 Bab 5: Konsep Anggaran Dengan demikian. Zero-based Budgeting Tidak seperti kebanyakan proses pengganggaran yang jumlah dan rincian kegiatannya didasarkan atas anggaran tahun sebelumnya seperti dinaikkan atau sama. konsep penganggaran ini sulit dilaksanakan sehingga tidak banyak digunakan. Seluruh program kegiatan pemerintah harus dijustifikasi setiap tahun dengan tidak mendasarkan atas kemiripan kegiatan yang telah diselenggarakan tahun sebelumnya.000 Jumlah Jumlah Sub Total Kegiatan II: Pembangunan jalan Ukuran hasil: Panjang jalan yang dibuat: 10 kilometer Biaya per kilometer: Rp10. dapat dijelaskan melalui konsep-konsep sebagai berikut: .000 d. KONSEP PPBS (Planning Programming and Budgeting System) PPBS dimaksudkan sebagai usaha memperbaiki sistem penyusunan anggaran belanja pemerintah yang telah diuraikan di atas.000 Jumlah Sub Total Total Biaya peningkatan prasarana jalan Rp Rp 100. Konsep ini banyak didukung oleh para pemerhati anggaran yang tidak menginginkan adanya pengeluaran-pengeluaran yang tidak perlu oleh pemerintah. zero-based budgeting menggunakan paket-paket anggaran.000.000.

yang merupakan landasan untuk penilaian kegiatan. Di samping itu dalam sistem anggaran belanja. Akan tetapi ada juga yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan hasil adalah barang-barang dan jasa-jasa yang dihasilkan untuk disalurkan keluar pemerintah.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 89 Tujuan Sebagaimana telah diuraikan bahwa suatu anggaran belanja yang berencana (planning budget) disusun dengan penentuan tujuan-tujuan. Output Sekalipun belum ada kesepakatan mengenai definisi hasil (output). Adapun kelebihan penentuan tujuan. 3) Berguna bagi tujuan akhir dari kegiatan-kegiatan suatu pemerintahan. Pendekatan sistem anggaran ini adalah mengaitkan satu sama lain segala sesuatu yang berhubungan dengan produksi. PPBS menghendaki agar dalam pengambilan keputusan yang rasional memasukkan biaya kesempatan . Oleh karena itu. ditunjukkan hubungan antara cita-cita atau tujuan pemerintah dengan kegiatan pemerintah. 2) Berguna dalam menilai keputusan-keputusan alokasi sumber. kita harus melihat secara menyeluruh biaya-biaya langsung maupun tidak langsung yang dikeluarkan secara nyata. Landasan berpikirnya bahwa dalam menghitung biaya produksi suatu produk (manfaat). Konsep output yang universal beranggapan bahwa setiap penyelesaian kerja yang nyata dari suatu karyawan pemerintah dapat dipandang sebagai output. yang dikelompokkan menurut tujuannya. karena orang ingin mengetahui mengapa suatu kegiatan dilaksanakan. Konsep tujuan sangat penting dalam sistem ini. Pengukuran Biaya dan Manfaat Kegiatan Pemerintah Konsep biaya sebagaimana digunakan dalam PPBS adalah bersifat komprehensif (lengkap). akan tetapi yang dimaksud di sini adalah setiap penyelesaian kerja yang nyata dari seorang karyawan pemerintah adalah hasil (output) pemerintah. yaitu semua manfaat dan semua biaya yang harus diperhitungkan. adalah: 1) Berguna untuk mengukur efisiensi dan produktivitas dalam pengertian manajemen. Hal ini dapat juga berupa sejumlah formulir pajak yang diproses sampai kepada pembangkit listrik yang menghasilkan sejumlah kilowatt listrik bagi kepentingan masyarakat. Pandangan yang paling umum mengenai hasil dari suatu institusi adalah konsep output yang universal.

di samping mengukur biaya-biaya maupun manfaat menurut nilai sekarang.90 Bab 5: Konsep Anggaran (opportunity cost) sebagai bagian dari biaya-biaya yang relevan terhadap output. Hal ini disebabkan karena hasil analisis itu . Hal ini berarti bahwa semua asumsi yang dipergunakan sebagai dasar pertimbangan harus dibuat dan didukung oleh data atau informasi yang tepat dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.5 (<1) Analisis yang Terbuka dan Jelas Analisis yang terbuka dan jelas merupakan asumsi yang merupakan unsurunsur kunci dan merupakan prasyarat pokok bagi keberhasilan PPBS. dibuat juga suatu perbandingan manfaat dan biaya dimana manfaat-manfaat yang dinyatakan dalam nilai uang dibagi dengan biaya-biaya. Analisis menghitung hubungan antara besarnya input (biaya) dan besarnya output (hasil-hasil yang dicapai) disebut input output analysis. maka simpulannya adalah bahwa proyek itu tidak layak. sehingga asumsi itu bersifat rasional dan objektif. Jika perbandingan itu lebih besar dari satu (>1) maka simpulannya adalah bahwa proyek tersebut layak. Yang dimaksud dengan biaya kesempatan adalah hilangnya kesempatan untuk membelanjakan uang atau waktu atau sumber-sumber lain untuk suatu alternatif tujuan. karena biayanya lebih besar dari pada manfaatnya. akan tetapi kecenderungan untuk menutupi atau menyembunyikan data kunci harus dapat dihindarkan. Misalnya : manfaat Biaya = Rp50 juta Rp25 juta = 2 1 = 2 (>1) Sebaliknya seandainya rasio itu adalah kurang dari satu (<1). Misalnya : manfaat Biaya = Rp25 juta Rp50 juta = 1 2 = 0. Mekanisme analisis data dan informasi harus jelas. PPBS menitikberatkan pada pertimbangan rasional yang didasarkan atas data dan informasi. Ukuran efektivitas biaya menunjukkan jumlah hasil-hasil yang dapat dicapai dengan mengeluarkan sejumlah rupiah tertentu. Untuk itu. Misalnya kegiatan menghadiri rapat akan menghilangkan kesempatan untuk melakukan pekerjaan lain yang memperoleh hasil. Akan tetapi efektivitas biaya (cost effectiveness) harus dipertimbangkan pula terhadap hasil-hasil dari sudut manfaat biaya (cost-benefits). Objektivitas yang selengkap-lengkapnya barang kali tidak mungkin diperoleh. karena manfaatnya melebihi biayanya.

data aktual dan proyeksi perekonomian. dan pembiayaan defisit. Penyusunan anggaran (budget formulation). dan informasi terkait lainnya. pengeluaran. transfer. termasuk lembaga legislatif. pemerintah berkewajiban menyusun dan mengajukan rancangan anggaran. Secara umum siklus anggaran terbagi atas empat tahap yaitu: 1. Istilah APBN yang dipakai di Indonesia secara formal mengacu pada anggaran pendapatan dan belanja pemerintah pusat. dan lebih dapat dipertanggungjawabkan. Proses penyusunan dapat memakan waktu hingga beberapa bulan. Pemeriksaan dan pertanggungjawaban anggaran (budget auditing and assessment). 2. yang di Indonesia disebut APBN. Penyusunan Anggaran Sebelum dibahas oleh lembaga legislatif. Pelaksanaan dan pengawasan anggaran (budget execution). transparan. Lembaga tersebut biasanya di bawah naungan Departemen Keuangan yang bertugas mengkoordinasikan dan mengorganisasikan usulan . dan kebijaksanaan pemerintah. Proses perjalanan suatu anggaran yang dimulai dari penyusunan hingga pertanggungjawaban disebut dengan siklus anggaran. Penyusunan anggaran negara merupakan rangkaian aktifitas yang melibatkan banyak pihak. 4. defisit/surplus. dan proyek.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 91 mungkin diuji oleh analis-analis lain dan mungkin diulangi lagi dengan menggunakan susunan asumsi yang berbeda. tidak termasuk anggaran pendapatan dan belanja pemerintah daerah dan perusahaan-perusahaan milik negara. Rancangan ini memuat asumsi umum yang mendasari penyusunan anggaran seperti perkiraan penerimaan. Peran lembaga legislatif dalam proses penyusunan anggaran menyebabkan proses penyusunan menjadi lebih demokratis. obyektif. Pengesahan anggaran (budget enactment). Pada umumnya proses formulasi anggaran dilakukan oleh eksekutif yang khusus menangani anggaran negara. tergantung kompleksitas struktur pemerintahan yang dilayani. 3. Selain itu juga dimuat perkiraan terperinci pengeluaran dan penerimaan departemen/lembaga. SIKLUS ANGGARAN Kebijakan fiskal pemerintah suatu negara secara ringkas tercermin dalam anggarannya.

Unit organisasi yang telah ditetapkan batas anggarannya tidak boleh melakukan pengeluaran melebihi dari batas tersebut. 3. Anggota dewan berhak menolak usulan anggaran yang diajukan pemerintah. Pemerintah dapat saja melakukan perubahan drastis terhadap beberapa pengeluaran jika dipandang perlu dipilih sebagai reaksi atas perubahan indikator-indikator perekonomian. Top – Down (dari atas ke bawah) Cara ini merupakan kebalikan dari cara bottom – up. inflasi dan karakteristik makro ekonomi lainnya seperti harga minyak mentah dunia. Hal ini biasa terjadi dikarenakan adanya kemungkinan anggota legislatif yang ditunjuk dalam komisi pembahasan anggaran tidak menguasai kerangka kerja anggaran. Beberapa indikator ekonomi yang biasa diikutkan dalam pembahasan anggaran antara lain: ekspektasi pertumbuhan ekonomi. anggaran disusun untuk masa satu tahun. Kesemua itu tidak mempengaruhi dibutuhkannya legalisasi usulan anggaran oleh dewan legislatif. Namun hal ini tidak mencerminkan bahwa seluruh kegiatan harus dibiayai secara bertahap. Kegiatan yang telah dilaksanakan pada tahun sebelumnya sering dijadikan landasan penyusunan anggaran tahun berikutnya. Faktor politik juga dapat ikut berperan dalam proses pembahasannya. 2. Bottom – Up (dari bawah ke atas) Pada cara ini. Ada tiga cara dalam menyusun anggaran yaitu: 1. Pada kebanyakan negara. beberapa negara memungkinkan anggota dewan . serta mendistribusikannya sesuai urutan prioritas kegiatan dan tersedianya dana. Dalam mengajukan usulan. unit organisasi yang paling bawah harus memperhitungkan besar kecilnya kegiatan yang akan dilakukan. Dalam hal tersebut. Proses ini dimulai ditandai dengan pengajuan usulan anggaran oleh eksekutif untuk dibahas di lembaga legislatif. atau memilih untuk mendengarkan opini publik untuk kemudian diambil keputusan. penyusunan anggaran dimulai dari unit organisasi yang paling bawah kemudian diteruskan secara berjenjang ke unit organisasi yang lebih tinggi.92 Bab 5: Konsep Anggaran anggaran pembiayaan dan pengeluaran dari instansi-instansi terkait. unit organisasi yang paling tinggi menetapkan batas tertinggi (plafond) anggaran yang dapat dibelanjakan oleh unit organisasi yang lebih rendah. Anggota dewan dapat mengundang pihak esksekutif pada waktu pembahasannya. Campuran Cara ini merupakan gabungan dari 2 cara di atas. Pada cara ini.

melakukan belanja publik terbatas maksimal sebesar tertera pada anggaran. Atau departemen-departemen dibuat lebih independen dalam realisasi belanja publik. Pengawasan melekat (waskat). Pengawasan anggaran secara kelembagaan dibagi dalam 2 bagian yaitu: 1. Pengawasan fungsional (wasnal) yaitu pengawasan yang dilakukan oleh institusi. yaitu pengawasan yang dilakukan oleh aparatur pengawasan dari luar departemen. Menteri Keuangan secara terpusat dapat menerapkan kontrol ketat terhadap prosedur aliran dana keluar. Beberapa deviasi menyebabkan beberapa pos pengeluaran tidak terealisasi sebagaimana tertera dalam anggaran. 2. Menurut subyeknya. Sedangkan tugas Departemen Keuangan hanya memonitor melalui laporan yang disampaikan oleh departemen-departemen. Bisa juga disebabkan oleh tidak efisiennya mekanisme dan kekakuan pelaksanaan teknis realisasi anggaran di lapangan. memonitor efektifitas alokasi anggaran ke departemen-departemen lainnya. pengawasan dapat dibagi menjadi: 1. Kemungkinan dari adanya perbedaan yang signifikan adalah adanya penyelewengan kekuasaan oleh lembaga eksekutif. Pengawasan intern. Prosedur pengawasan eksekusi anggaran dapat berbeda di tiap negara. Untuk mengefektifkan pelaksaaan anggaran. yaitu pengawasan yang dilakukan oleh unit inspeksi yang betugas melakukan pengawasan di lingkungan departemen yang bersangkutan. Sedangkan untuk penerimaan publik diharapkan dapat melebihi atau minimal sama dengan anggaran yang telah disetujui. dan memberi persetujuan terhadap pengeluaran-pengeluaran yang besar. Pada prakteknya. 2. dibutuhkan kegiatan pengawasan. Pengawasan ekstern.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 93 menyusun anggarannya sendiri atau memutuskan untuk menggunakan anggaran tahun sebelumnya. Proses pembahasan selesai setelah usulan anggaran diundangkan atau diamandemen. anggaran sering tidak dijalankan sama persis dengan jumlah yang disetujui. Pelaksanaan dan Pengawasan Anggaran Proses berikutnya adalah pelaksanaan anggaran yang telah disetujui dewan. Instansi dan departemen terkait. . yaitu pengawasan yang dilakukan oleh pimpinan terhadap bawahannya. Tetapi pertanyaan harus diajukan oleh tim pengawas manakala terjadi perbedaan yang signifikan tetapi tanpa dasar alasan yang dapat diterima.

Jika dimungkinkan. Masalah Umum Anggaran . pengawasan dapat dibagi menjadi: 1. Pengawasan setelah kegiatan dilaksanakan. Menurut caranya. Tapi lebih ditekankan pada bagaimana memanfaatkan seluruh kekayaan publik pada porsi yang paling menguntungkan ekonomi negara. yang disebut sebagai pengawasan preventif 2. Pengawasan selama kegiatan dilaksanakan. Pengawasan legislatif (wasleg) yaitu pengawasan yang dilakukan oleh dewan legislatif. Pengawasan masyarakat. pengawasan dapat dibagi menjadi: 1. yang disebut sebagai post audit. pihak eksekutif harus dapat melaporkan pelaksanaan kebijakan fiskalnya secara lengkap. Pengawasan tidak langsung. atau dari masyarakat. sidak. yaitu pengawasan yang dilakukan oleh masyarakat yang disampaikan secara lisan maupun tertulis kepada pemerintah. yaitu pengawasan yang dilakukan on the spot melalui inspeksi. Agar proses pemeriksaan atas pertanggungjawaban dapat dengan mudah dilakukan. BPK merupakan lembaga tinggi negara yang melakukan pengawasan terhadap pemerintah. Manajemen anggaran modern lebih menekankan pada perlunya sosialisasi dan distribusi informasi mengenai anggaran publik agar lebih dapat ditingkatkan efektifitas dan efisiensi prosesnya. Fungsi pemeriksaan dari lembaga legislatif tidak dimaksudkan untuk menekan pihak eksekutif atau sekedar mencari-cari kesalahan pejabat publik. aparat pengawasan fungsional. Pemeriksaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Siklus terakhir dari anggaran adalah pemeriksaan dan pertanggungjawaban atas efektifitas anggaran khususnya penggunaan pendapatan publik. aparat pengawasan legislatif.94 Bab 5: Konsep Anggaran 3. maupun pemeriksaan. Pengawasan sebelum kegiatan dimulai. Laporan ini harus diaudit secara reguler oleh badan independen semacam Auditor General (di Indonesia disebut BPK) yang memiliki kapasitas untuk melakukan pemeriksaan yang akurat dan tepat waktu. Menurut waktunya. 2. Di Indonesia. Pengawasan langsung. yaitu pengawasan yang dilakukan berdasarkan laporan dari pejabat yang bersangkutan. yang disebut sebagai pengawasan represif. 3. 4.

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 95 Setiap siklus anggaran memiliki problem tersendiri. Beberapa permasalahan mungkin diakibatkan oleh faktor-faktor di luar kontrol. Kelebihan sistem anggaran line-item adalah mengawasi penggunaannya. Problem pada fase penyusunan dan pembahasan lebih banyak akibat adanya campur tangan politik. koordinasi pembangunan terencana dalam jangka panjang serta berkesinambungan. akan tetapi banyak juga ketidakefisienan yang disebabkan oleh praktek penyusunan anggaran yang tidak fair. 4. Hal tersebut dapat juga disebabkan oleh lembaga-lembaga legislatif dan pemeriksa yang tidak independen atau tidak mempunyai kapasitas sebagaimana mestinya. 2. Sedangkan pada pelaksanaan dan pemeriksaan lebih mengarah pada isu-isu manajemen dan akuntansi. kombinasi konflik antara manajemen dan politik perlu diakomodasi secara memadai. karena pengeluaran publik tidak mengurangi kekayaan neto negara. Zero based budgeting. dan pengeluaran versus belanja: 1. karena mencantumkan dengan jelas barang-barang atau obyek-obyek di mana uang itu dibelanjakan. RANGKUMAN § Perbedaan antara penerimaan versus pendapatan. Negaranegara tersebut seperti halnya Indonesia. menentukan jumlah ideal penyerapan pendapatan publik melalui pajak. Untuk mencapai hasil yang diharapkan. sedangkan pendapatan publik pasti menyebabkan kenaikan kekayaan neto negara. menghadapi kerentanan tehadap fluktuasi perdagangan dunia. Jenis-jenis anggaran: 1. Sebagian anggaran mengalami kebocoran atau penggunaan yang tidak selaras dengan pembangunan perekonomian berkesinambungan. sedangkan kelemahannya adalah sulit menyederhanakan berbagai jenis barang untuk dikelompokkan. sedangkan belanja publik pasti mengurangi kekayaan neto negara. problem anggaran yang dihadapi meliputi penentuan asumsi-asumsi ekonomi dan indikator fiskal. Anggaran belanja line-item (line-item budgeting). § § . 2. Pengeluaran publik tidak selalu identik dengan belanja publik. karena penerimaan tidak menyebabkan kenaikan kekayaan neto negara. Penerimaan publik tidak selalu berupa pendapatan publik. 3. Pada umumnya negara berkembang. Anggaran belanja berprogram (a program budgeting). Anggaran berbasis kinerja (performance budgeting).

karena dapat diketahui tingkat kepentingan tujuan pembelanjaan itu. bukan perincian yang sempit sifatnya. Pengawasan Intern 2. Penyusunan Anggaran (Budget Formulation) 2. Dua hal yang harus dilakukan dalam menyusun anggaran belanja berbasis kinerja. 3. Memungkinkan kita untuk memuat daftar prioritas dalam memutuskan kegiatan-kegiatan yang akan dibelanjakan. Campuran Pengawasan anggaran secara kelembagaan dibagi 2 bagian. yaitu: 1. Pemeriksaan dan Pertanggungjawaban Anggaran (Budget Auditing and Assessment) Tiga cara dalam menyusun anggaran. Lebih normatif. 2. Bottom. Menetapkan dan mengukur suatu tingkat pelayanan yang wajar. Pengawasan Ekstern Fungsi pemeriksaan dari lembaga legislatif lebih ditekankan pada bagaimana memanfaatkan seluruh kekayaan publik pada porsi yang paling menguntungkan ekonomi negara. 5. Harus tersedia ukuran hasil kerja (output) yang realistis b. Pelaksanaan dan Pengawasan Anggaran (Budget Execution) 4. 2. yaitu: 1.96 § Bab 5: Konsep Anggaran § § § § § Kelebihan sistem anggaran berprogram: 1. Pengesehan Anggaran (Budget Enactment) 3. Siklus anggaran terbagi atas empat tahap. yaitu: a. 4. Top-Down (dari atas ke bawah) 3. Apakah perbedaan antara penerimaan versus pendapatan pengeluaran versus belanja? Jelaskan pengertian anggaran! Jelaskan hal-hal yang diuraikan dalam suatu anggaran! Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis anggaran! Jelaskan kelebihan dan kelemahan dari “line items”! dan . LATIHAN 1. yaitu: 1.Up (dari bawah ke atas) 2.

12. caranya. 7. dan waktunya. Sebutkan dan jelaskan! Jelaskan mengenai masalah umum anggaran! . pengawasan dapat dibagi menjadi beberapa hal. Jelaskan kelebihan dan kelemahan dari anggaran berprogram! Sebutkan salah satu cara untuk mengatasi kelemahan anggaran berprogram! Uraikan hal-hal yang harus dilakukan dalam menyusun anggaran belanja berbasis kinerja! Apakah konsep PPBS (Planning Programing and Budgeting System) itu? Sebutkan beberapa kelebihan penentuan tujuan! Sebutkan siklus anggaran! Sebutkan beberapa indikator ekonomi yang biasa diikutkan dalam pembahasan anggaran! Uraikan tiga cara dalam menyusun anggaran! Sebutkan dan jelaskan pengawasan anggaran secara kelembagaan! Menurut subyeknya. 9. 10. 13. 8. 11.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 97 6. 15. 16. 14.

Karena itulah masalah-masalah pembiayaan pembangunan perlu dibicarakan secara khusus dan terpisah. persyaratan yang diperlukan untuk pembangunan ekonomi di negara-negara berpendapatan rendah sama halnya seperti persyaratan yang diperlukan untuk . Sejumlah kesulitan yang mengganggu kemajuan ekonomi suatu negara harus dipecahkan oleh sektor publik.PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN Keuangan publik memainkan peranan penting dalam perekonomian negara. Namun masalah kelembagaan dan sosial yang dihadapi oleh suatu negara dapat memperpelik dan membatasi tugas kewenangan dalam menetapkan kebijakan anggaran dan stabilisasi. UNSUR-UNSUR PEMBANGUNAN Dalam rangka pertumbuhan perekonomian yang berkelanjutan.

maka konsumsi periode berjalan harus dikurangi agar sumber daya bagi investasi tersedia. prioritas akan selalu berubah. Pada tahap-tahap awal pembangunan. mobilisasi sumber daya yang terbengkalai masih mungkin diupayakan. Terdapat berbagai cara penggunaan sumber daya untuk meningkatkan produktivitas. Namun di luar itu. khususnya dalam bentuk infrastruktur. tetapi juga diperlukan sejumlah perubahan sosial dan kelembagaan yang merupakan sebab dan akibat dari tingkat pembangunan perekonomian yang masih rendah. pembentukan modal pembangunan meliputi investasi pada sumber daya manusia dalam bentuk pendidikan dan pelatihan (training) seperti halnya investasi dalam bentuk fisik. Pembentukan modal tersebut harus didefinisikan secara luas sehingga mencakup semua pengeluaran yang sifatnya menaikkan produktivitas. demikian juga dengan bauran investasi yang optimum. Lebih jauh lagi. Untuk mencapai pertumbuhan. Jika sumber daya yang terbengkalai tidak bisa dimanfaatkan atau jika sumber daya tambahan tidak dapat diperoleh dari luar negeri. Pembentukan Modal Pembangunan Sebagaimana telah diulas pada bagian terdahulu mengenai perkembangan sektor publik di negara-negara maju. investasi pemerintah sangatlah penting. tidak cukup hanya dengan cara penyediaan modal pembangunan (yang meliputi investasi fisik dan investasi sumber daya manusia) serta proses teknologi yang diperlukan. dan perpaduan berbagai cara tersebut harus ditentukan dalam proses perencanaan pengeluaran dan sumber daya. banyak negara berpendapatan rendah . Sampai pada tingkat tertentu. Lebih jauh lagi. Infrastruktur ini akan menjadi kerangka persiapan bagi investasi pada tahap berikutnya. sektor publik cenderung tumbuh sejalan dengan pertumbuhan pendapatan. Misalnya. Bisa saja pengeluaran itu berupa investasi di sektor publik dan swasta. Persyaratan fundamental untuk pembangunan ekonomi adalah tingkat pengadaan modal pembangunan yang seimbang dengan pertambahan penduduk. Dalam hal ini. masih banyak persyaratan lain yang diperlukan. sektor publik memegang peranan penting terhadap semua unsur pembangunan ini. entah itu oleh pemerintah (di negara-negara sosialis) atau oleh swasta (dalam perekonomian pasar bebas). Gambaran semacam itu yang terdapat baik pada negara berpendapatan tinggi maupun rendah. Untuk sementara waktu kita akan mengabaikan masalah perencanaan investasi dan memusatkan perhatian pada dari mana kita akan memperoleh sumber daya tambahan untuk investasi tersebut.100 Bab 6: Pembiayaan Pembangunan mempertahankan pertumbuhan ekonomi di negara yang relatif sudah maju.

Kemungkinan lain adalah dengan mengusahakan sumber daya investasi dari luar negeri dalam bentuk pinjaman dan bantuan pemerintah atau sebagai investasi swasta. Para investor swasta dari luar negeri. dan walau bagaimanapun juga bantuan tersebut tidak akan diperoleh tanpa adanya usaha pendukung dari negara penerima bantuan. Tetapi di lain pihak. Tetapi pada perekonomian yang didesentralisasi. jika keadaan cukup mendukung. semua itu tentunya tidak akan mencukupi. kenaikan tingkat tabungan secara sukarela bisa terjadi lebih besar dari sektor swasta. tak bisa dipungkiri bahwa salah satu masalah besar adalah bagaimana mengalihkan sebagian konsumsi periode berjalan untuk digunakan sebagai sumber daya pembangunan. Pada perekonomian yang dikendalikan secara terpusat di mana badan usaha milik negara memegang dominasi. Dalam kadar tertentu. Selanjutnya. pemerintah hanya perlu berperan sebagai pengorganisasi bagi pemanfaatan sumber daya. Tabungan perusahaan juga dapat dirangsang . perpajakan akan sangat berperan untuk memberikan insentif bagi tabungan atau disinsentif bagi konsumsi barang-barang mewah. Akan tetapi. pembentukan modal dari hasil internal pasti akan berasal dari tabungan pemerintah atau swasta. sumber modal pembangunan semacam ini mempunyai keterbatasan tersendiri dan penyediaan lapangan kerja bagi para pengangguran mungkin akan memerlukan investasi pendukung tertentu. Usaha terakhir ini sangat penting bagi para penabung kecil karena bagi mereka umumnya tidak tersedia sarana penabungan perorangan selain daripada meminjamkannya dengan risiko tinggi atau dengan menukarnya dengan barang berharga seperti logam mulia. Dalam kondisi seperti ini. Di sinilah diperlukan suatu usaha pemerintah untuk menjaga stabilitas moneter sehingga kebiasaan menabung tidak diredupkan oleh inflasi yang tak berkesudahan. Di samping itu. dan bendungan. pengalihan ini dapat dilakukan dengan menahan sebagian hasil pengembalian (returns) yang dibayar kepada faktor produksi sehingga pembayaran lebih kecil dari hasil produk marjinal. jalan. sebagaimana halnya dengan investor domestik. Hal ini akan mencakup ketentuan mengenai peningkatan investasi domestik yang sebagian besar dibiayai dengan pajak.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 101 mempunyai sedemikian banyak tenaga kerja yang terbengkalai dan lapangan kerja bagi mereka bisa tersedia hanya dengan usaha pembangunan yang sangat sederhana tetapi menyerap banyak tenaga kerja seperti pembangunan drainase. pemerintah juga bisa berperan dalam penyediaan dan pembentukan lembaga keuangan yang cocok guna menarik tabungan rumah tangga dan menggunakannya secara produktif. Dalam kondisi ini. irigasi. memerlukan infrastruktur yang tersedia secara memadai dan bantuan pemerintah negara lain baru akan diberikan jika telah ada rencana pembangunan yang dirumuskan dengan baik.

Rasio penerimaan pajak terhadap GNP di negara terbelakang cenderung sangat rendah. Mengapa upaya perpajakan (tax effort) di negara-negara berkembang sedemikian rendah. tetapi tidak terlihat adanya suatu hubungan yang mencolok di dalam kelompok tersebut. Pola yang sama juga akan kita jumpai sehubungan dengan rasio penerimaan pajak terhadap GNP. Pada kenyataannya persentase sektor publik jauh lebih kecil pada negara-negara berpendapatan rendah sebagai suatu kelompok. khususnya pada tahap awal pembangunan. yaitu berkisar dari 8 sampai 18 persen. tidak mungkin akan cukup. tetapi hal itu tidak bisa dianggap sebagai variabel dependen di dalam sistem tersebut yang berubah secara otomatis sesuai dengan pengenaan pajak yang diperlukan. Dalam hal ini. meskipun bermanfaat dan penting. Lembaga pemberi pinjaman internasional mungkin saja mensyaratkan agar bantuan yang diberikan dibarengi dengan upaya perpajakan yang sepadan dengan negara penerima bantuan. bagaimana kita dapat menilai kemampuan membayar pajak dari suatu negara dan bagaimana kelancaran pembayaran pajak dapat diukur? Sebagaimana telah kita pahami bersama bahwa besarnya sektor publik di negara-negara maju tidak hanya berkembang sejalan dengan pendapatan per kapita. namun kelayakan tingkat pengenaan pajak itu sendiri merupakan faktor penting yang harus diperhitungkan dalam menentukan target pertumbuhan. Rasio pada negara-negara di Asia dan Afrika dengan pendapatan per kapita yang serupa cenderung lebih tinggi. Dengan demikian lembaga itu mungkin akan menuntut agar pada . tetapi kenaikan pendapatan per kapita juga disertai dengan kenaikan persentase sektor publik dalam GNP.102 Bab 6: Pembiayaan Pembangunan melalui sistem penarikan pajak laba usaha yang mendorong ditahannya dan diinvestasikannya kembali laba usaha. Sementara rasio semacam itu di negara-negara maju adalah 40 persen atau lebih. Di negara-negara Amerika Latin rasio umumnya adalah sekitar 14 persen. Jika demikian. Tabungan swasta secara sukarela. dan benarkah rasio yang rendah itu pada kenyataannya menandakan upaya perpajakan yang rendah? Jawabannya tergantung pada bagaimana kita mengartikan upaya perpajakan itu. dan di beberapa negara sampai 8 persen. kebijakan perpajakan harus dipertimbangkan secara bersama-sama dengan aspek-aspek lain dari kebijakan pembangunan. KEBIJAKAN STRUKTUR PERPAJAKAN Kapasitas Kena Pajak dan Upaya Perpajakan Walaupun merupakan suatu hal yang esensial untuk mengetahui berapa tingkat penerimaan pajak yang diperlukan guna menjamin tingkat pertumbuhan tertentu.

dukungan pengadilan terhadap penegakan peraturan perpajakan. Karena alasan ini dan alasan-alasan lainnya. Tetapi asumsi ini tidak berlaku jika distribusi pendapatan sangat timpang yang mana akan mengakibatkan besarnya konsumsi barang-barang mewah. sektor pertanian belum terukur dengan nilai mata uang. Sekiranya dana pemerintah tidak dimaksudkan untuk menyediakan kebutuhan hidup yang sama-sama mendasar (misalnya program kesehatan) maka penggunaan dana tersebut akan menimbulkan beban berat yang tidak sepatutnya. Akhirnya. dengan cara-cara semacam ini pun tidak akan tercipta struktur perpajakan yang mapan dan adil. Pengenaan pajak tanah yang efektif sukar dilaksanakan jika hasil pangannya dikonsumsi sendiri. Terlepas dari tingkat dan distribusi pendapatan. ukuran komparatif . yaitu sistem dimana kepada para pemungut pajak diberikan persentase tertentu sebagai insentif.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 103 negara dengan pendapatan per kapita yang tinggi terdapat rasio penerimaan pajak yang tinggi guna menunjukkan keselarasannya dengan upaya perpajakan. Dengan demikian. dan papan. Di pihak lain. seperti pangan. semua pendapatan pribadi diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidup. pengelolaan pajak penghasilan akan jauh lebih sulit jika semua lapangan kerja terdapat pada perusahaan-perusahaan kecil. Pada tingkat pendapatan per kapita yang sangat rendah. pengenaan pajak sangat sederhana pada perekonomiam yang sangat terbuka di mana impor dan ekspor berlangsung melalui pelabuhan-pelabuhan utama dan terbuka bagi petugas fiskus. Keadaan ini sangat perlu diperhatikan sebagai sumber penerimaan yang potensial. kelayakan pengenaan pajak tergantung juga pada kesadaran masyarakat untuk membayar pajak. hanya bisa diandalkan untuk sementara waktu saja. Pajak produk tidak bisa dikenakan pada tingkat pengecer jika perusahaan pengecer kecil dan tidak permanen. Meskipun demikian. Negara berpendapatan rendah menghadapi keterbatasan dalam mentransfer sumber daya untuk digunakan pemerintah. maka penilaian yang realistis atas upaya perpajakan (tax effort) harus memperhitungkan penanganan pajak (tax handles) yang tersedia untuk itu. adanya penanganan pajak akan selalu berkaitan dengan struktur perekonomian suatu negara. dan hal ini sulit tercapai jika perusahaan-perusahaan yang ada berukuran kecil dan tidak stabil. demikian juga halnya dengan penetapan kuota pajak bagi para petugas pajak. Penarikan pajak laba tidaklah layak sebelum praktek akuntansi mencapai standar minimal. Pemberian jasa pungut pajak (tax farming). dan survai pertanahan belum memadai untuk menghasilkan penilaian yang semestinya. dan ketersediaan petugas fiskus yang mampu dan jujur. Dengan demikian. sandang.

peranan pajak penghasilan pun makin meningkat relatif terhadap bea. Dengan naiknya pendapatan per kapita. Karyawan perusahaan kecil dan sebagian besar masyarakat yang mengelola usaha sendiri. Meskipun demikian. Pajak Penghasilan Perorangan Pajak penghasilan perorangan tidak mungkin dan tidak dapat diharapkan untuk menduduki posisi sentral dalam struktur perpajakan pada negara sedang berkembang dan begitu juga umumnya di negara-negara maju. dan kelompok perusahaan domestik besar yang jumlahnya sangat kecil. karena itu bisa menjadi sumber penerimaan yang cukup besar untuk pembiayaan pembangunan. dan sejumlah ciri struktur perpajakan yang lazim ditemukan dalam kaitannya dengan pendapatan per kapita dapat diamati. Perbedaan juga akan timbul sebagai akibat tahap-tahap pembangunan ekonomi. dengan melihat respon pada umumnya terhadap penanganan yang tersedia. Kontribusi pajak penghasilan perorangan di negara-negara Amerika Latin lazimnya berkisar 20 persen dan karena itu merupakan bagian yang besar dari penerimaan pemerintah. pada umumnya masih di luar jangkauan pajak penghasilan. Di satu sisi hal ini akan mencerminkan . Sejalan dengan itu. demikian juga terhadap pajak penjualan dan produksi domestik. Peranan pajak upah juga makin penting dengan naiknya pendapatan per kapita. khususnya di sektor pertanian. perusahaan asing. Pengembangan Struktur Perpajakan Masalah perencanaan dan pengelolaan perpajakan akan berbeda-beda sesuai dengan struktur perekonomian suatu negara dan sikap masyarakat terhadap perpajakan. Pajak ini bersifat elastis terhadap pertumbuhan GNP. pajak penghasilan usaha seringkali lebih mirip dengan pajak penjualan daripada pajak laba sebagaimana ditemukan di negara-negara maju dan sebagainya. Pajak akan berperan besar terhadap perdagangan luar negeri (terutama bea) dan pajak atas produksi dan penjualan domestik untuk negara-negara berpendapatan rendah.104 Bab 6: Pembiayaan Pembangunan atas upaya perpajakan dapat diperoleh dengan membandingkan rasio aktual dari penerimaam terhadap GNP pada suatu negara tertentu dengan rasio yang seharusnya diperoleh. Selain itu terdapat fenomena menarik yang menyatakan bahwa pajak yang sering diklasifikasikan sebagai pajak penghasilan di negara miskin seringkali jauh berbeda dari pajak penghasilan perorangan di negara maju. pajak penghasilan harus ditata dengan baik sejak dini dan ditingkatkan selama berlangsungnya pembangunan.

sangat penting bagi negara-negara berkembang dimana urbanisasi yang pesat akan menaikkan nilai tanah. terutama dalam kaitannya dengan tanah dan bangunan. semua itu tidak akan mencukupi kecuali jika badan pengadilan mendukung penuh penegakan peraturan perpajakan. Guna menghadapinya. Hal itu. Inilah prasyarat utama yang kerapkali sukar untuk dipenuhi oleh negara-negara berkembang dalam konteks budaya dan politik. Keterlambatan pembayaran pajak atas pendapatan modal merupakan keuntungan besar. Penggunaan sistem pemungutan pajak oleh orang lain (witholding) bisa mempercepat pemungutan pajak dan hal itu sangat baik. penjatahan jumlah wajib pajak bagi setiap petugas (khususnya wajib pajak berpendapatan tinggi). namun bisa dikatakan bahwa pendapatan kena pajak akan benar-benar dicapai bila peraturan perpajakan dijalankan secara ketat. Akibatnya. khususnya jika hukumannya tidak sebanding dengan suku bunga dan nilai hutang pajak yang semakin menurun akibat inflasi. Sebagaimana dialami Amerika Serikat . diharuskannya perusahaan dan bank menyampaikan informasi tentang pembayaran bunga dan pembayaran dividen. Pemungutan pajak penghasilan atas modal bahkan lebih sukar lagi. Meskipun tidak tersedia estimasi yang andal. pengurangan keterlambatan penafsiran.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 105 tingkat pembebasan pajak yang ditetapkan relatif tinggi jika dikaitkan dengan pendapatan rata-rata. pengaruh inflasi terhadap perpajakan dinetralisir. komputerisasi dan penanganan terpusat atas surat pemberitahuan pajak. sehingga hubungan antara tarif marjinal dan pendapatan riil dipertahankan konstan. Namun. tetapi hal itu juga merupakan akibat dari upaya pengelolaan yang tidak aktif. Tidak jarang negara-negara berkembang menghadapi inflasi puluhan bahkan ratusan persen per tahun. tetapi penerapannya sangat terbatas pada jenis upah dan gaji tertentu saja sehingga lebih mudah dilaksanakan. pengelolaan pajak penghasilan diperparah oleh masalah inflasi. dan hukuman yang lebih tinggi bagi pembayaran yang tertunda. dan pembayaran akhir sangat banyak yang terlambat. Prinsip penghitungan pajak sendiri (self assessment) seperti diterapkan di Indonesia tidak berjalan lancar. Masalah keuntungan modal. Tidak ada satu obat mujarab untuk mengatasi kesulitan ini kecuali dengan menerapkan wajib pungut pajak. Penghitungan pajak oleh para petugas sering kali didasarkan pada negoisasi dan bukan ditetapkan secara objektif. Lebih jauh lagi. misalnya telah dialami Cili dan Brasil selama bertahun-tahun. badan perpajakan bisa menaikkan tingkat pembebasan dan kelompok tarif secara otomatis setiap tahunnya sejalan dengan naiknya harga-harga. tetapi peredaran inflasi secara melekat melalui pajak penghasilan progresif akan melemah.

Sesuai dengan pengamatan Henry George. juga terjadi di Indonesia terutama di Jakarta dan sekitarnya. bentuk hukum dari badan-badan usaha sering kali berbeda. Lebih jauh lagi. Pajak Penghasilan Perusahaan Masalah yang pelik akan timbul dalam pengenaan pajak penghasilan perusahaan. misalnya. yang digunakan secara luas di negara-negara Asia. padahal hal terakhir ini tidak begitu penting bagi negara yang sedang berkembang. Karena itu. metode lain harus digunakan. luasnya lahan atau jumlah ternak bisa digunakan sebagai dasar taksiran. Ini juga merupakan praktek yang bisa ditemukan pada tradisi perpajakan Eropa. pajak atas keuntungan modal bagi real estate. Hal ini terjadi karena kewajiban pajak menjadi fungsi dari penjualan dan marjin tersebut merupakan taksiran dan bukan aktual. Dalam hal pertanian. laba taksiran didasarkan pada patokan tertentu seperti luasnya lantai atau ruang kerja dan lokasi pada wilayah perkotaan. . Banyak negara menggunakan taksiran dan bukan pendekatan langsung guna menentukan laba. Di negara-negara Amerika Latin. dan praktek yang cocok bagi suatu negara seperti Amerika Serikat mungkin tidak dapat diterapkan di negara sedang berkembang dengan mengingat tradisi dan tingkat pembangunannya saat ini. Bila akuntansi perusahaan belum begitu maju sehingga belum bisa mengukur laba dengan cukup akurat. Metode ini. khususnya sehubungan dengan pendapatan profesional. akan mengubah bentuk pajak laba menjadi semacam pajak penjualan. pembayar pajak yang setia perlu diberi penghargaan. yaitu bangunan dan tanah. sementara yang bandel diberi hukuman. dikelola sebagai suatu jenis pajak tersendiri. Serentak dengan itu. sedangkan di negaranegara Asia sistem hukum kebendaan yang sangat berbeda bisa diterapkan. Proses perbaikannya harus bertahap dan tidak bisa bergerak lebih cepat dari perbaikan metode akuntansi. entah itu berupa pajak laba perseroan atau pajak persekutuan dan perusahaan perseorangan yang dikenakan menurut pajak penghasilan perorangan. Dalam keadaan lain. Caranya adalah dengan menaksir marjin laba atas penjualan dimana terdapat marjin yang beragam untuk berbagai industri. hukum Eropa daratan lebih berperan daripada tradisi common law (hukum Inggris). Para pembaharu pajak sering menyepelekan perbaikan teknik penaksiran pajak terhadap perbaikan teknis dalam pemajakan perseroan.106 Bab 6: Pembiayaan Pembangunan pada akhir abad sembilan belas.

ketiga dasar tersebut akan memberikan nilai yang sangat berbeda. Pajak penghasilan jarang diterapkan secara efektif ke sektor pertanian sehingga pendapatan dari tanah seringkali merupakan gabungan dari pajak penghasilan dan pajak atas tanah. Dengan pajak yang dikenakan secara berjenjang seperti halnya pajak pertambahan nilai. Di luar semua ini. namun jenis pajak ini penting guna melengkapi pajak penghasilan. dan pendapatan aktual akan sama dengan pendapatan potensial. Pajak dan Bea atas Komoditas Pengenaan pajak komoditas harus ditentukan berdasarkan kelayakan administratif sehingga tergantung pada struktur perekonomian negara tertentu. yang menggabungkan pajak atas sejumlah rumah dalam satu dasar pengenaan pajak guna melengkapi sistem penarikan pajak komoditas atas konsumsi barang-barang mewah di samping terhadap perumahan. Tanah seringkali tidak dimanfatkan secara penuh dan ditahan untuk tujuan spekulatif atau ditahan sesuai dengan adat istiadat setempat. Dalam sistem persaingan sempurna. khususnya selama berlangsungnya urbanisasi. karena banyaknya harta tak berwujud yang tidak termasuk dalam dasar pengenaan pajak. apakah pajak tersebut harus dikenakan atas nilai tanah. pajak kekayaan atas harta benda bersih jarang ditemukan dalam struktur perpajakan di negara sedang berkembang. yang meliputi tidak hanya penyewaan atas tanah tersebut tetapi juga peningkatan nilai atas tanah. Meskipun pajak semacam ini pada akhirnya akan lebih kecil daripada pajak bumi dan bangunan. Dalam kenyataan. Jadi bukan merupakan kehilangan total seperti pada pajak penjualan eceran. Ada baiknya jika hal tersebut di atas dikenakan pajak progresif atas tempat hunian. atas pendapatan aktual. Pasar atas tanah mungkin tidak tersedia dan nilai jualnya saat ini tidak bisa diperoleh. atau atas pendapatan potensial yang bisa dihasilkan tanah tersebut jika dimanfaatkan secara penuh. ketiga dasar tersebut akan bisa saling dipertukarkan karena nilai tanah akan sama dengan nilai pendapatannya yang dikapitalisasi. penarikan pajak atas real estate dan pertokoan juga menjadi dasar pengenaan pajak yang penting. Penggunaan metode faktur mungkin . penerimaan pemerintah yang hilang tidak akan besar meskipun tingkat pengecer tidak terjangkau.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 107 Pajak Tanah Satu pertanyaan mendasar dalam pajak atas tanah. Pajak Kekayaan dan Pajak atas Bumi dan Bangunan Di samping penerimaan dari tanah. Dengan demikian. tidak demikian halnya.

maka tidak mengherankan bahwa telah diupayakan berbagai cara untuk meminimumkan pengaruh masalah justifikasi sampai dimana pemerataan dan pertumbuhan didahulukan terhadap satu sama lain. praktek ini akan memperburuk distorsi harga. Aspek kebijakan bea masuk lainnya yang perlu ditinjau secara kritis adalah praktek pembebasan cukai atas barang modal yang digunakan di dalam negeri. Kebijakan perpajakan harus memperhatikan bahwa kenaikan tingkat pertumbuhan ekonomi tidak akan memperparah pemerataan. Keringanan pajak untuk investasi yang tidak berdiri sendiri dalam meningkatkan pertumbuhan. Jika suatu produk dengan nilai kena pajak yang sangat besar dihasilkan pada perusahaan yang relatif besar. pengenaan pajak produk dengan tarif yang berbeda-beda cenderung lebih sukar jika diterapkan dengan pendekatan nilai tambah. bukan hanya menyebabkan hilangnya penerimaan pemerintah tetapi juga . Pendekatan terbaik dengan menggunakan tarif yang cukup seragam dan memasukkan unsur bea impor barang mewah di dalam sistem pengenaan cukai domestik. biaya modal cenderung dinilai terlalu rendah.108 Bab 6: Pembiayaan Pembangunan akan membuat para wajib pajak lebih taat. Jika hal ini terjadi akan merupakan kebijakan yang buruk. Jika pemerintah ingin menggunakan bea masuk sebagai proteksi atas industri itu. tergantung mana yang paling jitu dalam keadaan tertentu. Karena adanya kemungkinan timbulnya konflik antara pajak penghasilan progresif dengan insentif untuk inventasi. Dengan demikian. harus dipilih sesuai dengan potensi pembangunan sehingga pengembangan itu bukan merupakan efek samping dari pengenaan pajak barang mewah. seringkali mengenakan bea impor yang lebih tinggi atas barang mewah. Dalam situasi dimana. pendekatan keadilan menuntut agar pendekatan ini dipadukan dengan penarikan pajak atas pendapatan modal dengan tarif progresif. Di pihak lain. Karena ingin membebani konsumsi barang mewah dengan lebih berat. bea masuk sering menjadi pelindung bagi produk barang mewah pengganti di dalam negeri. maka pengenaan cukai atas produsen akan merupakan pendekatan yang paling sederhana dan gamblang. Disamping itu. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah keterkaitannya dengan pengenaan bea cukai atas produk domestik. Kombinasi dari berbagai metode bisa diterapkan. INSENTIF PERPAJAKAN Tujuan pemerintah yang berupa pertumbuhan ekonomi dan pemerataan bisa dicapai dengan berpedoman pada pajak konsumsi progresif. Cukai domestik juga perlu untuk dikoordinasikan dengan bea impor.

maka sebaiknya insentif dirancang seefisien mungkin. Dengan alasan-alasan ini. misalnya selama lima atau tujuh tahun dimana selama jangka waktu itu pajak atas laba dibebaskan. Lebih jauh lagi. Insentif Umum Insentif investasi umum bisa berupa kredit pajak atas investasi atau penyusutan yang dipercepat seperti lazim digunakan di negara-negara maju. Insentif Domestik Dalam menangani masalah insentif. di beberapa negara sering kali diberikan pembebasan pajak (tax holiday) untuk jangka waktu tertentu. Apapun masalahnya. insentif pajak bagi investasi pada umumnya merupakan pemborosan dan tidak adil sehingga banyak pengamat terdorong untuk menolak semua bentuk insentif. Ini bisa tercapai dengan mendorong perusahaan untuk menahan laba atau dengan memberikan kredit pajak bagi tabungan atas pendapatan perorangan. beberapa kelonggaran bagi pertumbuhan mungkin layak asalkan hal itu dilaksanakan dengan cara terbaik. Insentif bisa dirancang untuk menggalakkan ekspor dan memperkuat neraca pembayaran. tidaklah bijaksana jika pemerintah mengadakan komitmen jangka panjang untuk mensubsidi pajak. Bagi perusahaan lama yang mengadakan investasi lama dan baru. Metode ini merupakan insentif bagi investasi yang memberikan laba yang tinggi pada tahap awal dan hal ini bertentangan dengan kebutuhan akan investasi yang stabil dan bersifat jangka panjang. Namun. masalah ini bisa diatasi dengan pendekatan kredit investasi atau bantuan investasi. Tentu saja masalahnya adalah bagaimana mencapai suatu jumlah tabungan tertentu tanpa mengurangi tabungan di sektor lain. Selain itu. . teristimewa jika diperkirakan bahwa subsidi semacam itu tidak akan diperlukan di masa mendatang.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 109 memperbesar ketimpangan apabila keringanan itu diberikan kepada masyarakat berpendapatan tinggi. insentif investasi umum tidak bisa efektif guna menaikkan tingkat investasi menyeluruh kecuali jika peningkatan tabungan juga mendapat perhatian. Lebih jauh lagi. Insentif domestik bisa dikaitkan dengan investasi pada umumnya atau dibatasi pada industri atau wilayah tertentu. Tekanan politik agar diberikan insentif pajak akan tetap ada dan tidak bisa dielakkan. ada baiknya kita membedakan antara insentif domestik dan masalah insentif yang berkaitan dengan modal asing. penolakan total tidak bisa diterima.

investasi semacam itu perlu dikoreksi. insentif khusus bisa diberikan demi pembangunan daerah tersebut. keadaan negara-negara berkembang bisa menuntut lain. Insentif Regional Insentif selektif lainnya dapat kita temukan dalam kebijakan regional. Untuk tujuan terakhir ini. Karena itu. Seiring daftar skala prioritas sedemikian luas sehingga hampir tidak ada yang patut dipilih. khususnya jika . kebijakan pajak bisa mempengaruhi keputusan lokasi investasi. yang seharusnya tidak mendapat prioritas utama. Seperti telah kita ketengahkan sebelumya. apakah itu untuk tenaga kerja atau modal dan umumnya diharapkan agar kebijakan pajak bersifat netral. subsidi upah akan lebih efektif. atau apakah peningkatan upah atau standar hidup masyarakatnya. Masalahnya adalah apakah insentif itu lebih baik diberikan dengan mensubsidi investasi atau mensubsidi perusahaan pekerja di wilayah bersangkutan. Sedangkan di pihak lain. Tidak dapat dipungkiri bahwa proses pembangunan mengandung dampak eksternal (external economies) yang tidak diperhatikan dalam pengambilan keputusan investasi swasta dan pasar modal yang tidak sempurna bisa mengacaukan investasi meskipun tanpa eksternalitas. Tenaga kerja mungkin tidak bisa berpindah secara luwes. Dapat diduga bahwa industri yang akan dipilih adalah industri yang memainkan peranan strategis dalam pembangunan dan yang tidak akan berkembang jika tidak mendapat bantuan khusus. pemilihan industri tertentu selalu dibarengi dengan tekanan politik dari kelompok tertentu dan dalam kesempatan lain lagi kita akan melihat bahwa insentif diberikan untuk mempertahankan pasar bagi perusahaan negara. namun insentif yang dibatasi pada sektor atau industri tertentu kiranya bisa lebih efektif dalam mengalokasikan modal data ekspor industri tersebut. Masalah utama di sini adalah bagaimana memilih industri yang akan diberi perlakuan istimewa tersebut. Tetapi pengalaman menunjukkan bahwa hal itu sangat sukar untuk dilaksanakan. penerapannya secara efisien sukar untuk dilaksanakan. seperti pabrik baja. apakah peningkatan produksi atau nilai tambah di daerah tersebut. Meskipun pada prinsipnya insentif yang selektif itu baik. Jawabannya tergantung pada tujuan yang hendak dicapai. mungkin juga tenaga kerja ingin dipertahankan di suatu daerah tertentu karena terlalu banyaknya perpindahan penduduk ke kota atau alasan non ekonomis yang menghendaki pemerataan tingkat pembangunan daerah. Karena itu. Namun.110 Bab 6: Pembiayaan Pembangunan Daftar Skala Prioritas Meskipun efektivitas investasi umum diragukan.

Pajak atas laba bisa lebih ringan dengan syarat peralatan yang digunakan harus padat tenaga kerja. kerugian ini harus dikompensasi oleh keuntungan yang diperoleh akibat pelipatgandaan modal tersebut agar insentif pajak tersebut bisa diterima. peranan insentif pajak bagi modal asing berbeda dari insentif pajak bagi modal domestik. insentif pajak harus dikaitkan dengan nilai tambah domestik sebagai akibat adanya modal asing. dan pengenaan pajak atas laba yang tidak efektif. Guna mengembalikannya ke keseimbangan semula. Biaya buruh yang tinggi umumnya disebabkan oleh peraturan upah minimum dan berbagai tuntutan serikat pekerja. Karena itu. Tidak ada manfaatnya bagi suatu negara untuk menerima modal asing lengkap dengan sumber dayanya dan hanya meminjam lokasi pada negara tersebut.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 111 terdapat banyak penganggur atau penganggur tak kentara di sektor pertanian yang dapat ditarik ke sektor industri apabila biaya upah berkurang. Hal itu juga tepat untuk menanggulangi pengangguran akibat berjubelnya perpindahan penduduk ke kota. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah insentif tersebut harus dirancang sedemikian rupa sehingga mendorong . Insentif bagi Modal Asing Dari sudut pandang nasional. pembebasan bea masuk. Insentif bagi modal domestik hanyalah melibatkan transfer dari pemerintah ke investor. subsidi upah bisa diberikan secara langsung atau tidak melalui kredit atas daftar upah yang pada prinsipnya mirip dengan kredit investasi. Cara lain untuk mendorong investasi yang padat kerja adalah dengan memberikan insentif pajak bagi pekerjaan gilir kerja (shift) malam. biaya modal yang rendah disebabkan oleh kurs valuta yang menguntungkan. Cara-cara semacam itu mungkin akan tepat dalam kaitannya dengan insentif regional dimana tujuannya adalah untuk menaikkan tingkat pendapatan di daerah terbelakang. Karena itu. Keuntungan tersebut berupa kenaikan penghasilan faktor-faktor produksi domestik akibat adanya modal asing. Insentif bagi Modal vs Insentif bagi Tenaga Kerja Penggunaan bentuk investasi yang insentif modal didorong oleh distorsi harga yang menyebabkan biaya buruh terlalu tinggi dan biaya modal menjadi rendah. tetapi keringanan pajak yang diberikan kepada investor asing akan mengurangi jatah keseluruhan negara atas laba yang dihasilkan modal asing tersebut. Perancangan insentif mungkin akan bisa mengarahkan investasi tersebut pada sektor yang menguntungkan negara bersangkutan.

Hal itu tidak hanya berfungsi sebagai penarik modal ke suatu negara yang menawarkan insentif pajak tetapi juga mendorong terlaksananya reinvestasi di negara tersebut. Dalam hal ini. suatu negara membutuhkan kerja sama dari negara asal investor asing agar insentif yang efektif bisa diberikan. penarikan pajak atas laba secara umum bagi investasi domestik harus dipertimbangkan. Dengan pendekatan ini. penundaan pajak akan menjadi sangat penting. negara asal modal akan memberikan kredit atas laba yang direpatriasi sebesar pajak yang dikenakan di negara tujuan meskipun tidak ada pajak yang dibayar menurut kesepakatan insentif tersebut. Insentif Ekspor Insentif pajak untuk ekspor merupakan kebijakan umum guna membantu pengembangan pasar luar negeri dan memperkuat neraca pembayaran. seperti lazimnya kita hadapi. Apapun masalahnya.112 Bab 6: Pembiayaan Pembangunan dilakukannya reinvestasi dan operasi permanen serta menghambat investasi yang hanya ingin mengeruk keuntungan sesaat. Hanya nilai tambah domestiklah yang menambah hasil perdagangan luar negeri bagi suatu negara. Pengeksporan . pendekatan ini tidak menggairahkan reinvestasi karena tekanan politik akan menuntut agar insentif tersebut diberlakukan secara umum bagi investasi domestik. maka pajak yang lebih rendah di negara tersebut hanya akan menjadi transfer ke negara lain tanpa adanya manfaat bagi investor yang mengirimkan labanya ke negara asalnya. negara sedang berkembang sebagai suatu kelompok akan dirugikan. Persoalan terakhir yang timbul dalam kaitannya dengan persaingan di antara negara sedang berkembang untuk memperebutkan modal asing adalah jika suatu negara mengalahkan yang lain dengan menawarkan insentif yang lebih besar. Salah satu peran utama pasar bersama antar negara sedang berkembang adalah untuk menghindarkan hal semacam itu. Karena itu. tetapi dengan nilai tambah domestik. Akan tetapi. Jika negara sumber modal tersebut menarik pajak penghasilan yang diperoleh dari luar negeri dengan tarifnya sendiri sambil tetap memberikan kredit pajak luar negeri. Cara lain untuk membuat insentif menjadi efektif bagi investor asing yang akan mengirimkan labanya ke negara asal adalah apa yang disebut sebagai kesepakatan pajak bersama (tax-sparing arrangement). insentif semacam itu tidak harus dikaitkan dengan total penjualan di luar negeri atau laba yang dihasilkannya. cukup beralasan untuk mempertahankan penundaan atas investasi di suatu negara yang sedang berkembang dan meniadakannya untuk investasi di negara maju. Untuk mengatasi hal semacam itu diperlukan semacam kerja sama antar negara sedang berkembang. Agar efektif.

untuk itu harus . Jadi manfaat dari proyek transportasi atau irigasi dapat dinilai berdasarkan penurunan biaya produk yang ditimbulkannya di pasar. Di sisi lain. seperti untuk pembangunan sistem transportasi atau pembukaan suatu daerah yang terbelakang. Hal ini juga dilandasi oleh kenyataan bahwa tipe investasi yang diperlukan pada tahap-tahap awal pembangunan sering kali memerlukan jumlah besar. Karena harga pasar mungkin tidak mencerminkan biaya sosial yang benar–benar terjadi. manfaat langsung yang tersedia disertai dengan manfaat tidak langsung atau manfaat eksternal yang lebih sukar untuk diperkirakan. Negara–negara berkembang bisa dihantui oleh pemborosan sumber daya. namun evaluasi proyek yang efisien merupakan suatu tugas yang sukar. Negara-negara berpendapatan rendah menghabiskan banyak pengeluaran untuk pendidikan dan kesehatan sementara tunjangan sosial kurang diperhatikan. Dalam konteks ini. Peranan strategis dari investasi pemerintah dalam pembangunan ekonomi sebagian dilandasi oleh belum berkembangnya pasar modal swasta dan sebagian karena kurangnya bakat entrepreneurial (kewiraswastaan) masyarakat. Di satu sisi. Besarnya tunjangan sosial di negara-negara kaya mencerminkan sistem jaminan sosial yang lebih baik. banyak pengeluaran untuk pendidikan juga mencerminkan tingginya biaya pendidikan di negara-negara ini. Karena itu. analisis biaya–manfaaat akan lebih mudah diterapkan di negara berkembang dari pada negara maju karena investasi pemerintah lazimnya dimaksudkan untuk penyediaan barang–barang antara yang nilainya bisa diukur dengan melihat pengaruhnya terhadap harga–harga barang yang disediakan oleh swasta. Suatu ukuran yang tidak bisa diperoleh jika pengeluaran publik digunakan untuk menghasilkan barang jadi untuk konsumsi. jumlah biaya lebih sulit untuk ditentukan. Lebih jauh lagi. Tetapi di pihak lain. Di satu pihak. Dalam kadar tertentu. tidak mengherankan jika pengembangan investasi pemerintah memainkan fungsi utama dalam perancangan rencana pembangunan di negara sedang berkembang. KEBIJAKAN PENGELUARAN Peranan kebijakan pengeluaran dalam pembangunan ekonomi kurang disorot bila dibandingkan dengan kebijakan perpajakan dan data pembanding lebih sukar diperoleh.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 113 kembali atas barang yang diimpor atau barang dalam transito tidak memberikan nilai tambah domestik. investasi semacam ini menghasilkan manfaat eksternal sehingga penyediaannya lebih baik dilakukan oleh pemerintah. pelaksanaan evaluasinya di negara sedang berkembang lebih sulit. pengunaan analsis biaya-manfaat sangat penting.

setelah keuntungan dari penundaan konsumsi itu diperoleh. Sejumlah studi telah memperlihatkan betapa besarnya manfaat investasi di bidang pendidikan bagi negara–negara berkembang. Dalam konteks pembangunan. investasi bagi pendidikan dirancang guna menghasilkan pekerja terampil sesuai dengan kebutuhan negara bersangkutan. Sebagaimana halnya dalam penentuan tingkat diskonto lainnya. Faktor lain yang juga penting adalah penentuan tarif/tingkat diskonto. Jika kita melihat dari sisi yang berlawanan. Investasi dalam sumber daya manusia perlu mendapat perhatian khusus dalam konteks pembangunan. pemerintah mungkin lebih praktis untuk menentukan tingkat konsumsi minimum yang secara politis dapat diterima untuk lima atau sepuluh tahun mendatang dan kemudian menghitung tingkat diskonto dari konsumsi minimum tersebut. Dengan memperhitungkan adanya manfaat eksternal. Namun di masa mendatang. Kesulitan–kesulitan itu akan makin rumit dalam konteks pembangunan yang dinamis dimana harga-harga relatif yang berlaku pada saat proyek dimulai mungkin akan sangat berbeda dari harga–harga yang berlaku setelah proyek berfungsi. kemungkinan ini menunjukkan pentingnya perencanaan jangka panjang dan evaluasi atas setiap proyek dalam konteks rencana pembangunan yang menyeluruh. tarif sosial tersebut harus ditetapkan lebih rendah daripada tarif yang berlaku sehingga menunjukkan tingkat diskonto yang lebih tinggi bagi penyediaan modal dan lebih mendukung pengadaan proyek–proyek jangka panjang. Karena pasar modal swasta yang belum berkembang sepenuhnya. utilitas marjinal dari konsumsi itu akan lebih kecil karena pendapatan sudah lebih tinggi. BANTUAN INTERNASIONAL DAN REDISTRIBUSI . taksiran yang lebih kasar mungkin akan digunakan. Program pendidikan penting bukan hanya dalam kaitannya dengan kebijakan pertumbuhan tetapi juga dengan pendistribusian hasil-hasil pembangunan di antara lapisan masyarakat dan berbagai sektor perekonomian. Yang perlu dipertimbangkan. akan kita jumpai bahwa biaya konsumsi sangat tinggi pada tingkat pendapatan yang rendah.114 Bab 6: Pembiayaan Pembangunan digunakan harga bayangan (shadow price). penggunaan harga pasar akan menimbulkan distorsi yang mengarah kepada teknologi yang sangat padat modal sebagaimana telah kita simak sebelumnya. Kenyataan ini cenderung diabaikan dalam pengambilan keputusan tabungan perorangan tetapi pemerintah harus memperhitungkannya. Sekali lagi. penggunaan tarif sosial kiranya tidak bisa dielakkan. Jika modal dinilai terlalu rendah sementara tenaga kerja dinilai terlalu tinggi.

masalahnya mirip dengan masalah antara negara bagian di suatu negara berserikat. Kelihatannya aspek–aspek dari distribusi internasional akan menjadi unsur yang semakin penting dalam politik dunia masa mendatang. mungkin saja suatu saat nanti hal itu akan menjadi suatu pemikiran pokok. Tingkat ketimpangan ini jauh lebih besar daripada ketimpangan di . Meskipun hal itu penting. Ketimpangan di dalam negeri diperparah dengan ketimpangan pendapatan rata-rata di antara berbagai negara. Jika ketimpangan di dalam negaranegara masih diperhitungkan lagi. hal itu dilaksanakan berupa redistribusi dari tingkat pendapatan dunia pada saat itu sehingga mirip dengan pajak penghasilan negatif yang diterapkan pada redistribusi domestik.Di tingkat internasional. Dalam kadar tertentu kedua masalah itu bertumpang tindih karena kebanyakan masyarakat miskin pada kenyataannya merupakan penduduk dari negara berpendapatan rendah. Jadi. Meskipun pendekatan ini tidak bisa diharapkan dalam waktu dekat. sementara 20 persen terkaya menerima 60 persen. Mungkin pada suatu saat. Jika seseorang di suatu negara memperoleh pendapatan sebesar rata-rata di antara berbagai negara tersebut. Upaya itu bisa dilaksanakan dalam bentuk bantuan internasional yang dirancang untuk menaikkan tingkat pertumbuhan negara-negara berkembang. Tidak ada gunanya jika redistribusi ke negara berpenghasilan rendah pada akhirnya hanya akan menambah kekayaan segelintir masyarakat kaya di negara tersebut. persoalan yang mungkin terjadi adalah perbedaan pendapatan rata-rata di negara-negara atau juga ketimpangan distribusi di antara masyarakat seluruh dunia tanpa memandang batas negara. Ketimpangan distribusi pendapatan di antara masyarakat dunia merupakan masalah yang sangat pelik. masalah distribusi di tingkat internasional lebih sukar untuk ditangani daripada lingkup suatu negara. Masalah Besarnya Transfer Dalam menangani distribusi pada taraf internasional. kesenjangan lebih besar dan masalah organisasi lebih pelik karena tidak ada pemerintah pusat yang harus menanganinya dan upaya mengatasi ketimpangan tersebut harus melalui transfer antar negara. maka rasio tersebut berubah menjadi 2 dan 70 persen. masalah mendasar adalah redistribusi di antara anggota masyarakat. maka bisa diperkirakan bahwa 40 persen termiskin dari penduduk dunia menerima 3 persen dari pendapatan seluruh dunia.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 115 Pertimbangan kemanusiaan atau politis yang menyangkut distribusi pendapatan di suatu negara tidak bisa dibatasi hanya pada lingkup negara itu saja. Pendekatan ini telah dilaksanakan secara cukup besar-besaran dalam beberapa dekade terakhir. Tetapi jika keduanya tidak tumpang tindih.

akan terjadi redistribusi pendapatan dari pekerja negara kaya (yang akan beroperasi dengan modal yang cukup besar) kepada pekerja di negara miskin yang produktivitasnya akan meningkat bersamaan dengan naiknya keuntungan modal pekerja. Perbaikan besar atas kemelaratan masyarakat hanya dapat dicapai dengan meningkatkan produktivitas pekerja-pekerja di negara miskin. output dunia akan meningkat karena modal akan dimanfaatkan secara efisien di negara dimana keuntungan modal pekerja sangat rendah. Akan tetapi. Bantuan Pembangunan Dari penjelasan terdahulu. Dengan penerapan itu. Salah satu upaya penting untuk ini adalah dengan menata kembali aliran modal dari negara kaya ke negara miskin. masuk akal bahwa pendapatan per kapita di negara maju akan naik lebih cepat ketimbang di negara miskin sehingga situasi tersebut akan semakin parah seperti halnya distribusi pendapatan domestik. Ini bisa dilakukan dengan memberikan preferensi dan penghapusan pembatasan perdagangan. Para pemasok modal dari negara kaya tetap mendapat keuntungan karena memperoleh hasil pengembalian yang lebih besar dari investasinya di negara-negara miskin. Lebih jauh lagi. khususnya di negara maju. Juga dipermasalahkan masuknya tenaga manajemen asing yang menyertai masuknya modal asing. Dalam kondisi ini. Dalam hal ini. Kontribusi penting kedua bagi pembangunan ekonomi adalah membuka pasar negara-negara maju lebih lebar bagi ekspor negara-negara berkembang. Tetapi di pihak lain. Tak ada manfaatnya jika kontribusi negara-negara maju terlalu dipaksakan sehingga kemampuan ekonominya untuk mempertahankan kesinambungan bantuan menjadi terganggu. . akan lebih mengena lagi pada tingkat internasional dimana skala penyesuaian potensial yang harus dicapai melalui distribusi sangat besar. terlihat jelas bahwa kebijakan redistribusi tidaklah sederhana dan pengaruhnya pertumbuhan ekonomi harus ditelaah dengan seksama. Dengan demikian. mustahil kiranya untuk meratakan ketimpangan ini. sebagai konsumen mereka akan diuntungkan karena harga barang-barang impor menjadi turun. Jika sudut pandang ini mengena pada redistribusi yang bersifat nasional. pekerja di negara maju juga dirugikan karena mereka kurang leluasa untuk berpindah jika dibandingkan dengan faktor modal.116 Bab 6: Pembiayaan Pembangunan suatu negara. di samping menambah keahlian juga menghambat pengembangan kewiraswastaan domestik dan menciptakan ketergantungan politis. Akan tetapi. perbaikan distribusi pendapatan dunia dapat dicapai meskipun dengan memperbesar ketimpangan (kendatipun hanya dalam taraf yang lebih kecil) di negara maju.

Cara untuk membuat insentif menjadi efektif bagi investor asing yang akan mengirimkan labanya ke negara asal adalah apa yang disebut sebagai kesepakatan pajak bersama. Besarnya sektor publik di negara-negara maju tidak hanya berkembang sejalan dengan pendapatan per kapita tetapi kenaikan pendapatan per kapita juga disertai dengan kenaikan persentase sektor publik dalam GNP. § § § § § § . RANGKUMAN § Untuk mencapai pertumbuhan. sindrome orang kaya baru akan tetap menggejala dan hal ini merupakan hambatan baik di tingkat nasional maupun di tingkat internasional. dukungan pengadilan terhadap penegakan peraturan perpajakan. Perkembangan sektor publik di negara-negara maju cenderung tumbuh sejalan dengan pertumbuhan pendapatan.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 117 kebijakan-kebijakan semacam ini tidak menjamin bahwa negara-negara berkembang akan mampu secara independen untuk mempertahankan pertumbuhan yang telah mereka capai. Kelayakan pengenaan pajak tergantung pada kesadaran masyarakat untuk membayar pajak. Karena itu. dan ketersediaan petugas fiskus yang mampu dan jujur. Keringanan pajak untuk investasi yang tidak berdiri sendiri dalam meningkatkan pertumbuhan bukan hanya menyebabkan hilangnya penerimaan pemerintah tetapi juga memperbesar ketimpangan apabila keringanan itu diberikan kepada masyarakat berpendapatan tinggi. Insentif pajak bagi investasi pada umunya merupakan pemborosan dan tidak adil sehingga banyak pengamat sampai terdorong untuk menolak semua bentuk insentif. tidak cukup dengan cara penyediaan modal pembangunan (yang meliputi investasi fisik dan investasi sumber daya manusia) serta proses teknologi yang diperlukan tetapi juga diperlukan sejumlah perubahan sosial dan kelembagaan yang merupakan sebab-akibat dari tingkat pembangunan perekonomian yang masih rendah.

Apakah pengertian dari pengangguran? b. 5. 2. Apakah maksud dari pembiayaan dengan pajak atau pinjaman mempunyai efek ekonomi yang seimbang? 8. Jelaskan mengenai Inflasi yang diakibatkan biaya secara tiba-tiba? 10. a. Sebutkan inflasi dari segi sebab! Uraikan inflasi yang timbul karena meningkatnya permintaan! Sebutkan alat-alat ukur inflasi! Sebutkan empat tingkatan inflasi menurut sifatnya! Nilai riil dari biaya pekerja meningkat dan pada akhirnya terjadilah pengangguran.118 Bab 6: Pembiayaan Pembangunan LATIHAN 1. 3. Apakah akibat dari tindakan ekspasioner yang tidak diantisipasi secara sempurna? . Uraikan dampak-dampak penganguran! 6. 4. Bersifat apakah kenaikan pengeluaran dan kenaikan pajak? 9. Apakah efek dari crowding out terhadap investasi? 7.

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 119 .

terdapat beberapa cara. minyak dan gas bumi) dapat dijual untuk . telegraf. Due sebagai berikut: § Penjualan Barang dan Jasa Milik Negara Barang dan jasa milik negara seperti tanah. dan barang produk perusahaan milik negara (misalnya pos. Kedua sumber tersebut digambarkan oleh John F. Dalam pencarian sumber penerimaan tersebut. barang hasil sitaan yang menjadi hak negara.DASAR-DASAR PERPAJAKAN Dalam menjalankan tugas-tugas negara. telepon. Secara garis besar. sumber penerimaan negara dapat dikelompokkan menjadi dua sumber yakni dari dalam negeri dan luar negeri. tentunya pemerintah akan memerlukan sumber-sumber penerimaan. listrik.

Ketiga bidang tersebut memang sangat . Pencetakan Uang Uang sebagai alat pembayaran yang sah. pendidikan dan sosial. Pemberian bantuan jenis ini biasanya menyalurkannya melalui badan resmi seperti WHO.122 Bab 7: Dasar-dasar Perpajakan § § § § dipergunakan sebagai pemasukan kas negara. Perpajakan Pada hakekatnya merupakan sumber dana yang berasal dari masyarakat yang diharapkan akan menjadi tulang punggung penerimaan negara. Hasil pemungutan pajak oleh pemerintah akan disalurkan kembali kepada masyarakat dalam bentuk sarana dan prasarana di bidang keamanan. Pinjaman tersebut dapat berasal dari dalam negeri. Oleh karena itu. Walaupun sumber dana tersebut mudah diadakan. apabila negara ingin menggunakan dana harus bersifat produktif. tetapi mengandung resiko. di samping mempunyai fungsi yang lain. Pinjaman Pinjaman merupakan suatu penerimaan yang mengandung konsekuensi untuk mengembalikan dalam jangka waktu tertentu ditambah jasa pinjaman berupa bunga. Biasanya. COLOMBO PLAN atau bisa juga dari negara tertentu. pajak merupakan cara yang paling efektif untuk membagi beban pemerintah kepada rakyat. International Monetary Fund dan sebagainya. retribusi. Secara umum dapat dikemukakan bahwa pajak merupakan iuran kepada negara yang dapat dipaksakan. Penerimaan negara dari sektor ini dapat berupa pajak. UNESCO. Oleh karena itu. Barang dan jasa tersebut dapat diusahakan oleh negara secara terus menerus sehingga kelangsungan sumber penerimaan dari sektor itu dapat dijaga. Asian Development Bank. pemberi bantuan tersebut dilakukan karena adanya musibah di luar kontrol manusia. Bantuan dari Negara Lain Berbeda dengan pinjaman yang mengharuskan negara penerima mengembalikan dana pinjaman. Bantuan ini biasanya bersifat kemanusiaan. misalnya berupa obligasi atau dari luar negeri berupa pinjaman dari pemerintah negara lain baik secara individu maupun kelompok seperti World Bank. FAO. yakni akan mendorong laju inflasi jika jumlahnya tidak terkontrol. iuran dan sumbangan. dicetak oleh negara untuk memenuhi kebutuhan akan dana. pemberian bantuan tersebut tidak perlu ada pengembalian (kecuali hibah yang mengandung syarat pengembalian lunak). walaupun tidak menutup kemungkinan akan ada latar belakang politik.

oleh karena itu pencetakan uang perlu dilakukan dengan hati hati. Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPn dan PPnBM). retribusi air minum. § Retribusi/Iuran Merupakan pembayaran dari masyarakat kepada pemerintah. Dalam iuran. Pajak Kendaraan Bermotor dan sebagainya. Contohnya adalah Pajak Penghasilan (PPh). terlihat adanya imbal jasa secara langsung setelah pembayaran dilakukan. Sumber dana itu setelah memperhitungkan berbagai aspek. serta sifat dan fungsi yang melekat pada tugasnya. Perumtel dan sebagainya. § Pinjaman . Namun demikian. Contohnya adalah pembayaran perizinan (lisensi) dan pungutan pada jalan-jalan tertentu. harus mendapatkan persetujuan rakyat dari wakilnya di lembaga perwakilan rakyat. namun pencetakan uang itu akan membawa resiko inflasi. § Sumbangan Berasal dari sumbangan masyarakat atas jasa-jasa yang diberikan oleh pemerintah kapada pemakai jasa. Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa. pemerintah mempunyai kewenangan untuk mencetak uang (kertas/logam). atau memohon pada bank sentral untuk memberikan pinjaman kepada pemerintah (walau tanpa jaminan). Contohnya adalah retribusi sampah. secara umum dapat digolongkan menjadi: § Pajak Pajak merupakan iuran dari rakyat (masyarakat) kepada negara (pemerintah) tanpa imbalan jasa langsung dan sifatnya dapat dipaksakan. § Pencetakan Uang Karena kekuasaan yang dimiliki negara. iuran televisi dan sebagainya. § Denda dan Sitaan Merupakan penerimaan yang berupa denda dari kegiatan pelanggaran peraturan/ undang undang serta hasil sitaan yang menjadi hak negara. tidak mudah untuk memberikan batasan secara pasti terhadap macam-macam sumber penerimaan negara tersebut. Berdasarkan cara yang dapat ditempuh untuk memperoleh sember dana.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 123 dibutuhkan oleh masyarakat. § Keuntungan dari Perusahaan Negara Merupakan penerimaan pemerintah yang berasal dari penjualan barang dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan negara. Contohnya adalah Pertamina.

dan membayar 6. Namun demikian. .000. Realokasi pajak yang bersumber dari private ke pemerintah digunakan dalam dua tahapan. karena pajak akan mengurangi pendapatan untuk pengeluaran pada pasar barang dan jasa.. FUNGSI PAJAK Pajak merupakan pembayaran yang diwajibkan yang dikaitkan dengan beberapa aktivitas (Hyman.124 Bab 7: Dasar-dasar Perpajakan § § Pinjaman diperoleh dengan konsekuensi pengembalian dalam jangka waktu tertentu ditambah dengan beban tetap berupa bunga. Misalnya adalah hadiah dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah atau dari pemerintah satu negara kepada negara lain. Yang pertama adalah kemampuan individual untuk menguasai sumber daya berkurang. Yang kedua adalah penerimaan pemerintah kemudian akan digunakan untuk menawarkan sumber daya yang dibutuhkan dalam penyediaan barang dan jasa pemerintah dan untuk menyediakan income support payments bagi penerima transfer dari pemerintah seperti social security pensiun. 2002). Misalnya: Jika seorang keluarga mempunyai pendapatan per tahunnya 30. Penerimaan yang diperoleh melalui pajak biasanya digunakan untuk membeli input yang dibutuhkan dalam memproduksi ataupun menyediakan barang dan jasa pemerintah atau untuk redistribusi kekuatan daya beli masyarakat. Hadiah Sumber dari jenis tersebut biasanya bersifat volunteer dan tanpa balas jasa baik secara langsung maupun tidak langsung.dalam pajak sehingga harus mengurangi konsumsi ataupun simpanan dalam satu tahun..000.000.000. Pinjaman itu dapat berasal dari dalam negeri atau luar negeri misalnya melalui Consultative Group on Indonesia (CGI) Hasil Undian Negara Pemerintah memperoleh dana dari kelebihan penerimaan hasil penjualan kupon berhadiah setelah dikurangi dengan biaya-biaya penyelenggaraannya. seringkali usaha memperoleh sumber dana dengan cara tersebut membawa pengaruh-pengaruh yang kurang baik. misalnya: Sumbangan Dana Sosial Berhadiah (SDSB).

adalah merupakan Opportunity costs dari penyediaan barang dan jasa pemerintah untuk keluarga tersebut. Prinsip kepastian (certainty) 3. Fungsi Mengatur (Regulator) Sedangkan pada fungsi regulator. kebijakan perpajakan harus berlandaskan pada prinsip-prinsip yang relevan. Barang dan jasa private yang semestinya dapat dibeli dengan 6.000. Prinsip ekonomi (economy) . Prinsip kenyamanan (convenience) 4. PRINSIP-PRINSIP PAJAK Pada awal bab digambarkan bahwa pajak tidak hanya berfungsi sebagai penggalangan dana masyarakat untuk membiayai pengeluaran publik tetapi juga dapat difungsikan sebagai regulator (pengatur). Prinsip keadilan (equity) 2.. Fungsi Anggaran (Budgetair) Disini..Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 125 6.000. yakni pajak digunakan untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran negara sehubungan dengan tugas-tugas untuk menyelenggarakan kesejahteraan dan kemakmuran. Untuk mengoptimalkan pelaksanaan kedua fungsi tersebut. Mekanisme perpajakan juga dapat diterapkan untuk mendorong atau mengurangi jumlah pendapatan yang dikonsumsikan. pemungutan pajak mempunyai fungsi yang lebih luas. fungsi pajak diletakkan pada tujuan memperoleh dana. Teori Adam Smith yang terkenal mengenai prinsip-prinsip pengenaan pajak mengacu pada empat hal yaitu: 1. Dengan sistem perpajakan. pajak juga dapat dipakai sebagai alat untuk mengukur kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Berdasarkan definisi pajak yang telah dikemukakan pada bagian terdahulu.000. tampaknya memberikan kesan bahwa pajak dipungut pemerintah semata-mata sebagai sumber dana bagi pelaksanaan tugas-tugasnya. yakni selain untuk mengisi kas negara. Tetapi pada kenyatannya. kebijakan perpajakan dimaksudkan untuk mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang diinginkan dengan cara mengatur pola produksi dan konsumsi barang-barang ekonomi. pemerintah dapat mendorong investasi yang menghasilkan barangbarang produksi tertentu atau sebaliknya.000.seharusnya dapat digunakan untuk membeli perlengkapan rumah tangga atau untuk membantu pembiayaan investasi pribadi.

Prinsip kenyamanan. menggarisbawahi pentingnya menciptakan kondisi yang menyenangkan bagi wajib pajak agar dengan sukarela memenuhi kewajiban-kewajibannya. Dengan kata lain. Sehingga. pajak diharapkan dapat menjadi alat distribusi pendapatan secara lebih fair dan akan mengurangi kesenjangan pendapatan. Kebijakan perpajakan harus dibuat sesederhana mungkin dan diformulasikan menggunakan kata-kata yang meminimalkan adanya penafsiran ganda. Hal ini juga perlu ditunjang dengan adanya kecukupan proses sosialisasi dengan memasukkan unsur-unsur kemajemukan masyarakat. Biaya pemungutan tidak dapat dijadikan target utama penerimaan negara dari pajak. tujuan penggunaan pajak untuk pembiayaan pengeluaran publik lebih mudah tercapai. Jumlah nominal pajak yang dibayarkan oleh golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah harus lebih kecil dari golongan masyarakat yang lebih tinggi. prinsip keadilan yang memuaskan semua pihak tidak akan pernah tercapai. Prinsip kepastian dimaksudkan agar pada pelaksanaan pemungutan pajak tidak terjadi distorsi berupa kesalahan yang disengaja (penyelewengan) atau yang tidak disengaja sebagai akibat dari kekurangpahaman. Pajak atas .126 Bab 7: Dasar-dasar Perpajakan Prinsip keadilan menekankan bahwa beban pajak harus disesuaikan dengan kemampuan relatif masyarakat. Dalam konteks ini. Kenyamanan wajib pajak dapat diberikan dengan bentuk pelayanan prima. SIKLUS ARUS PAJAK Pengenaan pajak kepada masyarakat dan dunia usaha secara umum dapat berbentuk pajak atas pendapatan dan pajak atas konsumsi. Upaya-upaya penarikan pajak harus disertai dengan kegiatan yang meminimalkan biaya pemungutan atau biaya-biaya lain yang dapat mengurangi penerimaan bersih negara. Pembahasan selanjutnya akan memaparkan bahwa apapun kebijakan yang diambil. sebisa mungkin dihindarkan adanya unsur-unsur menekan atau kekerasan. Prosedur pembayaran pajak harus dibuat semudah mungkin. Kepada mereka yang patuh harus diberikan penghargaan yang setimpal. Prinsip ekonomi menegaskan pentingnya perbandingan antara biaya dan hasil yang efisien. Wajib pajak sedapat mungkin tidak dikenakan biaya-biaya lain di luar kewajiban pajak murni.

1 Pos yang pertama adalah pendapatan rumah tangga (1). Untuk itu perlu diidentifikasi pos-pos penerimaan dan pengeluaran dalam siklus perekonomian. Sedangkan golongan masyarakat lainnya yang memiliki usaha yang menghasilkan produk dikategorikan sebagai perusahaan.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 127 pendapatan berarti adalah pengenaan tarif pajak terhadap seluruh pos-pos penerimaan rumah tangga dan perusahaan dalam siklus perekonomian. pajak atas konsumsi berarti pengenaan tarif pajak atas seluruh pengeluaran. sedangkan seluruh tabungan masyarakat diasumsikan . Siklus penerimaan dan pengeluaran dalam perekonomian pada umumnya adalah seperti gambar berikut: Gambar 7. Pendapatan rumah tangga ini kemudian akan mengalir dalam dua bentuk yaitu sebagian menjadi konsumsi rumah tangga (2) sebagai biaya pemenuhan kehidupan sehari-hari masyarakat dan sisanya menjadi tabungan rumah tangga (3). Pendapatan rumah tangga adalah pendapatan golongan masyarakat yang diperoleh dari penghasilan upah atau gaji sebagai karyawan dan pendapatan jasa modal. Sebaliknya. Jumlah pendapatan rumah tangga yang dikonsumsi kemudian akan mengalir ke pasar barang konsumsi.

Tarif Pajak Proposional (Proportional/ flat tax rate) 2. Keadilan di sini dapat diartikan sebagai adil dalam prinsip (undang undang) maupun adil dalam pelaksanaannya. dan sewa. Termasuk dalam keuntungan perusahaan adalah pendapatan jasa modal (14) yang dibayarkan kepada rumah tangga seperti bunga. Sebagian pengeluaran perusahaan akan disisihkan untuk biaya penyusutan (9). Tarif Pajak regresif (Regressive tax rate) Proportional/ flat tax rate adalah pengenaan pajak dengan tarif dalam persentase tertentu dengan tidak melihat perubahan pendapatan individu. secara umum akan terbagi atas tiga bentuk yaitu: 1. Jumlah nominal konsumsi masyarakat akan sama dengan jumlah penerimaan kotor perusahaan dari pasar barang konsumsi (4) sedangkan jumlah investasi akan sama dengan jumlah penerimaan kotor dari pasar barang modal (6). Sebagai ilustrasi. Jumlah biaya gaji yang dibayarkan perusahaan akan menjadi pendapatan gaji (13) bagi rumah tangga.128 Bab 7: Dasar-dasar Perpajakan mengalir menjadi bagian dari investasi (5) yang pada akhirnya mengalir ke pasar barang modal. yaitu dengan memberikan tekanan yang sama kepada wajib pajak. TARIF PAJAK Pada dasarnya. jumlah pengenaan tarif pajaknya sama. tujuan dari hukum pajak adalah membuat adanya keadilan dalam hal pemungutan pajak. Jika dilihat dari sudut pandang dasar penentuan tarif pajak. Tarif Pajak Progresif (Progressive tax rate) 3. dividen. jika pendapatan yang diterima oleh wajib pajak naik sebesar 100%. Adapun total penerimaan dari kedua pasar tersebut disebut penerimaan kotor perusahaan (7). Sedangkan sisa keuntungan yang tidak dibagi (15) akan menjadi tabungan perusahaan (16). berapapun jumlah kemampuan membayar seorang wajib pajak. Total penerimaan perusahaan tersebut selanjutnya sebagian akan digunakan sebagai pengeluaran perusahaan (8). Sedangkan tabungan perusahaan bersama-sama tabungan rumah tangga. diasumsikan akan menjadi investasi seluruhnya. Salah satu unsur dalam mencapai keadilan melalui penerapan tarif pajak. Dengan kata lain. dan sebagian lagi dibayarkan perusahaan sebagai biaya gaji karyawan (11) sedangkan sisanya adalah keuntungan perusahaan (12). maka secara .

semakin menurun tarif yang dikenakan.0 Dalam praktek.000 Pajak Nominal 100 200 300 % 10.0 10.000 3. Dengan kata lain. Tabel di bawah ini akan menggambarkan bagaimana pajak progesif diterapkan.000 Pajak Nominal 100 300 600 % 10.000 3. jumlah pendapatan yang lebih besar yang diterima oleh wajib pajak.0 15.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 129 otomatis jumlah pajak yang terhutang menjadi naik sebesar 100%.1: Pajak Proporsional Pendapatan 1. pajak yang menggunakan tarif proporsional adalah Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 10%. Sebagai ilustrasi. jumlah pajak yang terhutang menjadi naik melebihi 100%. Dengan kata lain.000 2.2: Pajak Progresif Pendapatan 1.0 Regressive tax rate adalah pengenaan pajak dengan tarif menurun dengan makin meningkatnya pendapatan wajib pajak.000 2. Tabel di bawah ini akan menggambarkan bagaimana pajak proporsional diterapkan. jika seorang wajib pajak mendapat kenaikan .0 20. peningkatan jumlah kemampuan membayar seorang wajib pajak. Pajak Penghasilan (PPh) pasal 26 sebesar 20% dan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)sebesar 0.5% Progressive tax rate adalah pengenaan pajak dengan tarif meningkat seiring dengan peningkatan pendapatan individu. jika kemampuan membayar seorang wajib pajak naik sebesar 100%. Tabel 7.0 10. akan dikenakan tarif yang lebih besar pula. Sebagai ilustrasi. Tabel 7.

000 3. Untuk menentukan kemampuan seseorang dalam membayar pajak atas pendapatan (personal income tax).000 100 180 240 % 10. penjualan. maka seluruh sumber pendapatan perseorangan harus digabung sebagai basis pembayar pajak. Sedangkan jika konsumsi juga akan dikenai pajak.0 9. Pajak atas transaksi jual beli yang dikenakan terhadap perusahaan akan dapat . Pajak in Rem dapat dikenakan atas rumah tangga atau badan usaha. atau pemilikan harta kekayaan.0 ISTILAH-ISTILAH DALAM PERPAJAKAN Pembahasan lebih lanjut mengenai perpajakan perlu dimulai dengan mengenal lebih jauh tentang definisi istilah yang sering muncul dalam dunia perpajakan. wajib membayar pajaknya. Tabel di bawah ini menggambarkan bagaimana tarif pajak regresif diterapkan. maka jumlah kenaikan pajaknya kurang dari 100%. Siapapun yang melakukan aktivitasaktivitas tertentu atau memiliki objek-objek pajak tertentu.3: Pajak Regresif Pendapatan Pajak Nominal 1.0 8. Aktivitas atau objek yang dikenakan pajak tidak terkait dengan karakteristik pihak-pihak yang melakukan transaksi atau pemiliknya. Tabel 7. Pajak perseorangan yang dikenakan atas transaksi rumah tangga berupa pendapatan dan konsumsi. Beberapa istilah yang perlu mendapat perhatian khusus diantaranya adalah: § Pajak Perseorangan dan Pajak in Rem § Pajak Langsung dan Pajak Tidak Langsung § Pembayaran Transfer Pajak perseorangan adalah pajak yang dikenakan kepada orang per orang yang memperoleh penghasilan di mana besarnya jumlah yang terhutang disesuaikan dengan kemampuan untuk membayar pajak.000 2.130 Bab 7: Dasar-dasar Perpajakan pendapatan sebesar 100%. maka pajak perseorangan diterapkan dalam bentuk pajak pengeluaran perseorangan (personal expenditure tax). Pajak in Rem adalah pajak atas aktivitas atau obyek tertentu misalnya pembelian.

Forward shifting merupakan pergeseran beban pajak searah dengan arus barang yaitu dari produsen ke konsumen. pabrikan (produsen) dapat menekan harga dari supplier sebesar pajak pertambahan nilai yang harus dibayar. Pergeseran beban pajak dapat ke depan (forward shifting) maupun ke belakang (backward shifting). Kedua. pajak tersebut dikenakan secara periodik pada waktu waktu tertentu sesuai dengan masa pajak berdasarkan surat ketetapan atau kohir (tindasan surat ketetapan). dan dapat beralih sampai dengan penanggung akhir beban tersebut. Pergeseran itu sifatnya menaikkan harga barang karena pembeli harus membayar harga barang ditambah dengan pajak. Contoh dari pajak langsung adalah Pajak Penghasilan (PPh) dan Pajak Bumi Bangunan (PBB). Beban pajak ini tidak dapat dipindahkan kepada orang lain. Pada sistem self assessment tidak selalu menggunakan surat ketetapan. yang berkaitan dengan nilai kekayaan dari perseorangan atau perusahaan. Hal yang sama juga berlaku ketika mengenakan pajak terhadap harta kekayaan. secara ekonomis beban pajak harus ditanggung sendiri oleh wajib pajak yang bersangkutan. Hal ini bertujuan agar pelaksanaan pemungutan menjadi lebih efisien dan efektif karena dengan satu wajib pungut akan bisa menjaring banyak wajib pajak. Pertama. dimana pembeli harus membayar harga barang ditambah dengan Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Pengenaan wajib pajak tidak langsung dilakukan dengan cara fiskus berhadapan dengan wajib pungut dan bukan dengan wajib pajak. secara administratif dipungut . Penggeseran beban pajak itu sifatnya menurunkan harga barang atau jumlah penerimaan yang diperoleh penjual. secara administratif. Misalnya. Ciri pajak tidak langsung dapat dilihat dari dua segi. hanya saja pajak tersebut tidak dipungut secara berkala. Pada dasarnya yang menjadi tujuan dari pajak tidak langsung adalah pihak ketiga (konsumen). Ciri pajak langsung dapat ditinjau dari dua segi. Pajak langsung adalah pajak yang berdasarkan surat ketetapan dikenakan terhadap perusahaan ataupun perseorangan dan dilakukan secara berkala. misalnya adalah Penjualan Kena Pajak (BKP) dari pabrikan kepada pembeli. Pajak tidak langsung adalah beban pajak yang harus dipikul oleh wajib pajak. Backward shifting merupakan pergeseran beban pajak yang berlawanan dengan arus barang dimana pembeli menggeser beban pajak kepada penjual. sedangkan produsen hanya sebagai wajib pungut. Pajak tidak langsung ini boleh dibebankan/dilimpahkan kepada pihak lain.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 131 diperlakukan juga terhadap semua rumah tangga yang melakukan transaksi. Pertama.

Terdapat beberapa kebaikan dan kekurangan dari pajak tidak langsung.BM). Hal ini dikarenakan kedua golongan tersebut dibebani tarif pajak yang sama untuk setiap transaksi atau kejadian tertentu. Hal ini tergantung dari tingkat elastisitas kurva permintaan dan penawaran untuk barang-barang terkena pajak tidak langsung. pemerintah lebih mudah memperkirakan dampak dari setiap kebijakan perpajakan yang dikeluarkan. dan perbuatan) tanpa didahului dengan surat ketetapan pajak. beban pajak dapat dilimpahkan kepada pihak lain. Kedua. keadaan.132 Bab 7: Dasar-dasar Perpajakan secara insidentil. tidak diperlukan banyak perangkat yang bertujuan untuk mensosialisasikan aturan tersebut. Tanpa pandang bulu. semua yang melakukan transaksi atau kejadian tertentu. penanggung akhir dari beban pajak tidak langsung belum tentu sesuai dengan target awal. § Teknik pemungutannya yang sederhana tidak memerlukan kegiatan administrasi yang kompleks. § Pengenaan pajak dapat mengikutsertakan seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang besar kecilnya penghasilan yang diperoleh. Dengan mudah dipahami. § Fungsi regulator yang dimiliki pemerintah dalam hal kebijakan perpajakan. secara ekonomis. § Biaya-biaya yang ditimbulkan akibat adanya penerapan pajak tidak langsung relatif lebih murah dibanding pajak langsung. Sebagai contoh. Kesederhanaan aturan juga memungkinkan dilakukannya penelusuran dan pengecekan jika terjadi kesalahan dengan cepat tanpa perlu menggunakan formula audit yang kompleks. § Karena dimungkinkannya terjadi penggeseran beban pajak kepada golongan wajib pajak lainnya. yang diantaranya adalah sebagai berikut: Kebaikan Pajak Tidak Langsung: § Pajak tidak langsung cenderung lebih stabil digunakan sebagai sarana penerimaan negara dibanding pajak langsung. dapat dengan mudah diterapkan. Jumlah nilai yang diperoleh melalui pajak tidak langsung cenderung lebih mudah diprediksi. pada waktu-waktu tertentu berdasarkan adanya tatbestand (peristiwa. Contohnya adalah Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPn. Kekurangan Pajak Tidak Langsung: § Kurangnya rasa berkeadilan antara golongan masyarakat yang berpenghasilan tinggi dengan masyarakat berpenghasilan rendah. diwajibkan melunasi pajak yang tertanggung. Dikarenakan kesederhanaan landasan aturan yang dipakai. apabila kurva permintaan .

mencerminkan masih tidak adanya rasa keadilan bagi masyarakat. Sebaliknya. pengusaha menggantikan pajak tadi dengan menekan ongkos produksi sehingga sama dengan jumlah pajak yang dipungut. Dominasi Pajak Tak Langsung Masih dominannya jenis pajak tak langsung dibandingkan dengan pajak langsung di lima Rancangan Undang-Undang (RUU) Pajak sekarang ini. karena lebih banyak pajak dikenakan pada konsumen. Sedangkan untuk negara-negara maju. Dengan kata lain. Pengusaha seperti ini termasuk langka. Misalnya Pajak Penghasilan (PPh) dan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Pajak ini langsung terkait dengan penghasilan wajib pajak atau Nilai Jual Obyek Pajak." ujar anggota Komisi IX DPR. "Dominannya pajak tak langsung ini setahu saya hanya terjadi di Indonesia.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 133 suatu barang adalah elastis sempurna maka seluruh beban pajak tidak langsung akan menjadi tanggungan produsen. . khususnya wajib pajak. Bea Masuk.com. pajak yang diterima sebagian besar negara-negara berkembang lebih banyak dari kategori pajak tidak langsung. beban yang ditanggung rakyat terus-menerus diperbesar hanya untuk meningkatkan target penerimaan negara. Misalnya. sedangkan pengusaha kena pajak hanya bertindak sebagai pemungut pajak. Hal ini berarti. krisis yang terjadi ini bukan karena kesalahan rakyat. Namun adakalanya. Padahal. pajak langsung adalah pajak yang harus ditanggung sendiri dan langsung oleh wajib pajak. pihak pengusaha tidak mau bertindak sebagai pemungut pajak. "Hanya beda sedikit. terutama bagi Wajib Pajak? Diskusikan! Menurut studi yang pernah dilakukan. Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan Barang. Hal ini terutama diakibatkan sulitnya melakukan administrasi yang baik dan teliti untuk menerapkan pajak langsung. antara 30:60. "Sebetulnya ini tidak adil." ujar anggota DPR. dan sebagainya. dalam kondisi seperti itu beban pajak tidak langsung tidak dapat dialihkan kepada konsumen. Perbandingan antara pajak tak langsung dengan pajak langsung sekarang ini. Sasaran pajak tak langsung ini sebenarnya konsumen. tetapi karena diwajibkan. Bea Balik Nama. pengusaha menekan keuntungan yang diperolehnya. di sela-sela rapat kerja Komisi IX DPR dengan Menteri Keuangan berkaitan dengan pembahasan lima RUU Pajak di Panitia Khusus (Pansus) Pajak. Dirjen Pajak membantah kalau dominasi pajak tak langsung ini hanya terjadi di Indonesia. Direktur Jenderal Pajak yang dimintai pendapatnya mengakui keadaan itu. perbandingannya tidak sebesar itu. Namun. Pajak tak langsung merupakan pajak yang bisa dialihkan ke pihak lain.".kompas. (Diadaptasi dari: www. 7 Juli 2000) Mengapa Pajak Tidak Langsung dianggap kurang memenuhi prinsip keadilan. dimana rakyat dibebankan kewajiban pajak tak langsung yang lebih besar daripada pajak langsungnya. Di saat krisis. Hal ini terjadi karena masyarakat tetap dijadikan obyek pajak oleh pemerintah untuk memperbesar target penerimaan pajak dalam negeri.

pajak atas konsumsi berarti pengenaan tarif pajak atas seluruh pengeluaran. tujuan dari hukum pajak adalah membuat adanya keadilan dalam hal pemungutan pajak. Seluruh aliran dana yang masuk kas negara akibat diterapkannya kebijakan perpajakan biasa disebut sebagai pajak positif. Keadilan di sini dapat diartikan sebagai adil dalam prinsip (undang undang) maupun adil dalam pelaksanaannya. Prinsip kenyamanan (convenience) 4. Pembayaran transfer atau grant oleh pemerintah dapat dianggap sebagai arus pajak dengan arah yang berlawanan. Pada dasarnya. sumber penerimaan negara dapat dikelompokkan menjadi dua sumber yakni dari dalam negeri dan luar negeri Pajak merupakan pembayaran yang diwajibkan yang dikaitkan dengan beberapa aktivitas Teori Adam Smith yang terkenal mengenai prinsip-prinsip pengenaan pajak mengacu pada empat hal yaitu: 1. tunjangan sosial dapat diterapkan untuk memenuhi prinsip keadilan perpajakan. Pajak atas pendapatan berarti adalah pengenaan tarif pajak terhadap seluruh pos-pos penerimaan rumah tangga dan perusahaan dalam siklus perekonomian. Sedangkan pembayaran transfer oleh pemerintah dapat dipandang sebagai pajak negatif. Akibatnya. Hal tersebut disubsidi silang oleh golongan masyarakat yang berpenghasilan menengah ke atas. Pada beberapa negara. Misalnya adalah tunjangan sosial dan subsidi pajak terhadap beberapa jenis usaha tertentu. Sebagai contoh. RANGKUMAN § § § Secara garis besar. Prinsip keadilan (equity) 2.134 Bab 7: Dasar-dasar Perpajakan peranan kebijakan fiskal adalah sangat penting. Prinsip kepastian (certainty) 3. Salah § § . Prinsip ekonomi (economy) Pengenaan pajak kepada masyarakat dan dunia usaha secara umum dapat berbentuk pajak atas pendapatan dan pajak atas konsumsi. Sebaliknya. program pensiun kepada semua pegawai akan menguntungkan golongan pendapatan yang rendah karena mereka memperoleh manfaat dari program ini melebihi jumlah kontribusi yang dibayarkan melalui pajak penghasilan yang progresif. pajak langsung lebih banyak digunakan dalam instrumen fiskal di negara-negara tersebut.

5. 8. 3. penerimaan cenderung lebih banyak didapat dari sektor pajak tidak langsung? Apa yang disebut dengan pajak positif dan pajak negatif? Jelaskan mengenai Pajak in Rem dan Pembayaran Transfer! Sebutkan kelebihan dan kekurangan dari Pajak Tidak Langsung! . 4. 6. Progressive tax rate adalah pengenaan pajak dengan tarif meningkat seiring dengan peningkatan pendapatan individu. 2. Sebutkan unsur-unsur yang terkandung dalam pengertian pajak! Sebutkan dan jelaskan mengenai prinsip dasar pengenaan pajak! Jelaskan bagaimana hubungan sistem perpajakan yang berlaku di suatu negara dengan pertumbuhan ekonomi di negara tersebut! Apa tujuan pemerintah mendirikan perusahaan-perusahaan negara? Apakah perbedaan antara pajak dengan retribusi? Mengapa dalam negara-negara berkembang. Beban pajak ini tidak dapat dipindahkan kepada orang lain Pajak tidak langsung adalah beban pajak yang harus dipikul oleh wajib pajak hanya saja pajak tersebut tidak dipungut secara berkala LATIHAN 1. 7. 9. Pajak perseorangan adalah pajak yang dikenakan kepada orang per orang yang memperoleh penghasilan dimana besarnya jumlah yang terhutang disesuaikan dengan kemampuan untuk membayar pajak. Proportional (flat) tax rate adalah pengenaan pajak dengan tarif dalam persentase tertentu dengan tidak melihat perubahan pendapatan individu. Pajak in Rem adalah pajak atas aktivitas atau obyek tertentu misalnya pembelian. Pajak langsung adalah pajak yang berdasarkan surat ketetapan dikenakan terhadap perusahaan ataupun perseorangan dan dilakukan secara berkala. atau pemilikan harta kekayaan. yaitu dengan memberikan tekanan yang sama kepada wajib pajak. Regressive tax rate adalah pengenaan pajak dengan tarif menurun dengan makin meningkatnya pendapatan wajib pajak. penjualan.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 135 § satu unsur dalam mencapai keadilan melalui penerapan tarif pajak.

136 Bab 7: Dasar-dasar Perpajakan .

Untuk itu perlu dibandingkan prinsip-prinsip yang menerangkan bagaimana konsep keadilan dapat dibakukan. PRINSIP MANFAAT Setiap orang setuju bahwa sistem perpajakan harus adil dimana setiap wajib pajak harus memberikan kontribusinya yang layak untuk membiayai kegiatan pemerintah. Suatu sistem pajak dikatakan adil bila kontribusi yang diberikan oleh setiap .KEADILAN DAN DAMPAK PERPAJAKAN Pada kenyataannya. tetapi kurang adil dari sisi yang lain. Suatu kebijakan dianggap adil jika dilihat dari satu sisi. Tidak ada suatu kebijakan yang bisa memuaskan seluruh pelaku ekonomi. Lebih lanjut pembahasan keadilan perpajakan dikaitkan dengan beberapa jenis pajak. Pendekatan pertama adalah prinsip manfaat (benefit principle). sulit sekali didapat suatu formula kebijakan perpajakan yang memenuhi seluruh aspek keadilan.

penyediaan jasa-jasa publik oleh pemerintah dilaksanakan dengan prinsip-prinsip yang sama seperti yang dilakukan oleh swasta. Dengan penetapan harga.138 Bab 8: Keadilan dan Dampak Perpajakan wajib pajak sesuai dengan manfaat yang diperoleh dari jasa-jasa pemerintah. konsumsinya bersaing secara bebas. pola konsumsi. prinsip manfaat memandang perekonomian sektor publik sebagai sektor yang melibatkan pengeluaran maupun penerimaan yang berkesinambungan. Manfaat hanya dapat diperoleh apabila pemakai dapat membayar. harus diketahui terlebih dahulu bagaimana cara mengukur kemampuan tersebut. Dalam halnya pengenaan pajak melalui pembebanan langsung terhadap pengguna. Agar prinsip manfaat dapat dilaksanakan. misalnya biaya penggunaan sarana transportasi dan penyediaan fasilitas bandar udara. Ukuran kemampuan membayar mencerminkan kesejahteraan secara menyeluruh yang dapat diperoleh seseorang. Oleh karena itu. Perekonomian memerlukan suatu jumlah penerimaan tertentu dan setiap wajib pajak diminta untuk membayar sesuai dengan kemampuannya. sistem pajak dipisahkan dari sisi pengeluaran publik. Prinsip manfaat cenderung mengalokasikan penerimaan pajak untuk membiayai jasa-jasa publik tetapi tidak terlalu mempertimbangkan pembiayaan transfer serta tujuan redistributif. manfaat yang diperoleh wajib pajak atas terjadinya pengeluaran publik harus diketahui terlebih dahulu. Menurut prinsip ini. sistem pajak yang adil akan tergantung dari struktur pengeluaran publik. Praktek penerapan kebijakan fiskal berdasarkan prinsip manfaat lebih banyak ditetapkan pada penyediaan jasa-jasa publik berdasarkan prinsip manfaat yang khusus. harus diasumsikan bahwa ketika sistem tersebut mulai diberlakukan sudah terdapat distribusi yang tepat dalam perekonomian. PRINSIP KEMAMPUAN MEMBAYAR Yang kedua adalah prinsip kemampuan membayar (ability to pay principle). Misalnya pembebanan bea (bea cukai dan bea masuk) serta pajak pengganti pembebanan seperti pajak BBM dan pajak kendaraan dalam rangka pembiayaan jalan raya. dan kekayaan. Agar prinsip kemampuan membayar dapat diterapkan. Keuntungan penyediaan jasa publik model ini adalah dapat meringankan beban keuangan pemerintah. termasuk diantaranya adalah pendapatan. Pendekatan kemampuan membayar ini lebih baik dalam hal mengatasi masalah redistribusi akan tetapi mengabaikan masalah-masalah yang berkaitan dengan penyediaan jasa-jasa publik. Mekanisme pasar dapat diterapkan untuk mendapatkan posisi tawar menawar yang efisien. Pendekatan ini menyebabkan sisi pengeluaran publik menjadi tidak jelas. Agar sistem perpajakan dengan prinsip manfaat bisa adil. Berdasarkan prinsip ini. Kemampuan membayar seseorang .

Berkeadilan vertikal adalah bahwa orang-orang yang mempunyai kemampuan yang lebih besar harus membayar pajak dengan jumlah yang lebih besar pula. pemborosan harus dikenakan pajak. Prinsip ini dianggap lebih berkeadilan secara horizontal dan vertikal1.82 0 0 0 0 10 10 10 11 99 0 11 10 Gaji Pajak Konsumsi Tabungan 100 10 90 0 100 10 0 90 100 10 90 0 100 0 0 100 Pajak Konsumsi Total Pajak Nilai Sekarang (PV) Pajak = 10%.1: Perbandingan Pajak Penghasilan dan Pajak Konsumsi Pajak Penghasilan Periode I • • • • Periode II • • • • Bunga Pajak Konsumsi Tabungan 0 0 0 0 10 10 9 0. Pendapat lain mengatakan bahwa tabungan adalah konsumsi yang ditunda. Ilustrasi pada pajak penghasilan 1 Berkeadilan horizontal adalah bahwa orang-orang yang mempunyai kemampuan yang sama harus membayar dengan jumlah yang sama. sedangkan kebajikan harus diberi penghargaan. Inflasi/Bunga = 10% Pengenaan pajak yang didasarkan atas diterimanya pendapatan (termasuk pendapatan dari bunga tabungan) akan menyebabkan total pajak yang dibayar oleh wajib pajak menjadi lebih besar dan akan berbanding lurus dengan besarnya jumlah pendapatan yang ditabung.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 139 tentunya akan meningkat jika pendapatan meningkat. jumlah pajak yang dibayar ikut meningkat apabila seluruh tabungan tersebut dikonsumsikan. Dan apabila tabungan masyarakat memperoleh bunga.9 10. Dalam arti. . Tabel 8. Adapun perbandingan dari metode pengenaan pajak terhadap pendapatan dan konsumsi dari prinsip kemampuan membayar tercermin dari tabel berikut.9 98.1 0 10. Hobbes berpendapat bahwa kewajiban membayar pajak harus dikaitkan dengan pendapatan yang dibelanjakan bukan yang ditabung.

Pada umumnya. Di samping melihat keadilan pajak dari sudut pandang dimensi vertikal. Sedangkan tambahan pajak akan dikenakan terhadap bagian gaji yang ditabung yang mendapat bunga. jumlah total pajak yang dibayar memiliki nilai sekarang yang sama2 Apabila pajak atas konsumsi yang dipilih. Keadaan ini menyebabkan orang cenderung untuk mengurangi tabungan. Bagian pendapatan itu adalah pendapatan yang ditabung dan tidak pernah dikonsumsi. Apabila kekayaan individu dapat diwariskan kepada individu lain tanpa dikenakan pajak. Dalam prakteknya. perlu juga diperhatikan keadilan pajak dari sudut pandang dimensi horizontal dimana pengenaan pajak terhadap seseorang harus lebih rendah dari kemampuannya membayar 3 dan prinsip keadilan pajak secara geografis 2 Kondisi ini diasumsikan nilai bunga sama dengan inflasi. Atas dasar ini. Hal ini disebabkan karena pajak akan tetap dipungut tanpa melihat kapan pendapatan akan dikonsumsi sehingga jumlah pajak yang harus dibayar oleh wajib pajak mempunyai nilai sekarang yang sama. pajak terhadap seorang petani harus lebih rendah dari hasil pertanian yang dimilikinya. keadilan perpajakan mengimplikasikan proses redistribusi kekayaan masyarakat dimana orang kaya membayar lebih banyak dari orang yang lebih miskin (dimensi vertikal). tidak dipungkiri jika orang kaya juga ikut menikmati sebagian keuntungan dari adanya belanja negara. dimungkinkan adanya bagian pendapatan yang tidak pernah kena pajak. negara menganut prinsip ini dalam rangka memenuhi tuntutan keadilan dalam hukum walaupun pada pelaksanaannya masih banyak menimbulkan perbedaan-perbedaan. ditabung atau dikonsumsi. Atau dengan kata lain. 3 Sebagai ilustrasi. maka tidak akan ada tambahan pendapatan pada periode II (berikutnya) dari tabungan gaji periode I. Secara konsep. KRITERIA UMUM KEADILAN PERPAJAKAN Prinsip keadilan perpajakan didasarkan pada distribusi pengenaan pajak untuk memenuhi belanja publik yang harus didasarkan pada proporsi kekayaan dan pendapatan masyarakat. yang pada akhirnya akan menjadi kekayaan individu. Ilustrasi pajak atas konsumsi tersebut di atas terlihat lebih adil.140 Bab 8: Keadilan dan Dampak Perpajakan menggambarkan bahwa apabila seluruh pendapatan setelah dikurangi pajak dikonsumsi habis. kekayaan individu dan warisan bisa dikenakan pajak. pendapatan tersebut selamanya bisa tidak dikonsumsi dan tidak kena pajak. Sebaliknya kekayaan individu bisa menambah pendapatan pemiliknya sebagai pendapatan barang-barang modal. .

masyarakat golongan ekonomi rendah akan dikenakan pajak yang ringan dan bahkan dapat dibebaskan dari kewajiban pajak seluruhnya. dan cacat dikecualikan dari subjek kena pajak. dibawah umur. Sulitnya menerapkan metode assesment yang baik juga muncul dalam hal menentukan subjek pajak yang dikecualikan. hal ini tentunya juga akan dipengaruhi oleh metode assesment dan akurasi penghitungan pajak terhutang. Struktur pajak yang progresif cenderung akan lebih mudah dicapai pada struktur perekonomian yang mapan. Beberapa penulis berpendapat bahwa pajak akan dikatakan adil jika kenaikan pajak akan dikompensasikan dengan penyediaan pendidikan dan transportasi umum yang murah. Di samping itu. Tidak jarang para pelaku ekonomi yang kuat menyuarakan keluhan-keluhannya terhadap kebijakan pajak baru yang dapat menggangu kegiatan bisnisnya. Penghasilan tersebut merupakan daya beli individu atas barang dan jasa selama satu tahun yang dapat dikonsumsikan atau disimpan untuk keperluan di masa mendatang. Kebijakan perpajakan dianggap adil jika faktor-faktor seperti lanjut usia. apa jenis pendapatannya serta bagaimana tarif pajaknya. dan pajak dikatakan tidak adil jika sumber pendapatan tertentu dikenakan pajak tinggi sementara sumber tersebut memiliki kontribusi yang besar terhadap perekonomian nasional. Ketidakakuratan dalam penghitungan pajak terhutang akan mengakibatkan ketidakadilan karena akan menimbulkan adanya pajak yang lebih bayar atau kurang bayar. kemiskinan. PRINSIP KEADILAN DAN PAJAK PENGHASILAN Pajak penghasilan biasanya dihitung atas jumlah penghasilan selama satu tahun. Dalam konsep ini. Distribusi pembebanan pajak yang adil dipengaruhi oleh cakupan faktorfaktor siapa yang membayar. 4 Pada negara-negara yang relatif maju dalam perekonomian cenderung dapat mempercayai dokumen-dokumen yang membuktikan adanya hak atas pengecualian pajak. Di samping itu. Beberapa hambatan yang mungkin terjadi dalam menentukan suatu kebijakan perpajakan adalah keadaan ekonomi dan politik suatu negara. ketakutan akan efek negatif pajak terhadap produksi dan investasi nasional.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 141 dimana orang-orang yang tinggal pada daerah tertentu akan dikenakan pajak yang lebih tinggi. . tentunya keadilan pajak juga harus memperhitungkan besarnya jumlah tanggungan dalam keluarga4. terbatasnya volume pendapatan masyarakat yang dapat dikenakan pajak. Prinsip keadilan pajak dapat juga dilihat dari sisi penerimaan dan pengeluaran. serta pengaruh kekuatan orang-orang kaya terhadap kebijakan politik nasional.

tunjangan dari pemerintah atau swasta. Pendapatan masyarakat tersebut dapat digambarkan dengan persamaan sebagai berikut: I = C + ΔNW Dimana: I = Pendapatan tahunan (annual income) C = Konsumsi tahunan (annual consumption) ΔNW = Perubahan kekayaan bersih setahun (annual change in net worth) Metode untuk mengukur pendapatan baik berdasarkan sumber perolehannya ataupun penggunaannya harus ditentukan sebelum pajak penghasilan dijalankan. Pendapatan masyarakat dapat diukur berdasarkan sumber perolehannya ataupun penggunaannya. Sebagai pajak badan. Sedangkan berdasarkan penggunaannya pendapatan masyarakat dapat berupa pembelian barang dan jasa. tentunya perlu dilakukan penghitungan berapa pendapatan yang sesungguhnya setelah dimasukkan unsur inflasi sebagai penyeimbang. dan transportasi dari/menuju tempat kerja. beban pajak. Pengeluaran-pengeluaran tersebut tentunya diperlukan dalam rangka mendapatkan penghasilan dan tidak . Beberapa ahli menyarankan untuk memasukkan unsur tambahan yakni peningkatan kekayaan sebagai bagian dari pendapatan kena pajak. Pengukuran akan relatif menjadi lebih mudah jika kekayaan yang dimiliki berupa saham dan obligasi. Sebagai pajak individu. sumbangan. pendapatan adalah seluruh penerimaan selama periode pajak yang berupa keuntungan jasa. pajak akan dikenakan atas keuntungan badan usaha yang diterima oleh para pemegang saham sesuai dengan proporsi nilai saham yang dimilikinya. Dengan demikian. dan tabungan. dan kenaikan nilai kekayaan. Kebanyakan sistem akuntansi menggunakan sisi sumber sebagai alat ukurnya. Jika dilihat dari sisi pengeluaran.142 Bab 8: Keadilan dan Dampak Perpajakan Pajak penghasilan dapat dikategorikan sebagai pajak individu dan pajak badan. biaya penitipan anak. pakaian kerja. iuran serikat pekerja. akan terdapat item-item pengeluaran yang erat kaitannya dengan kegiatan memperoleh pendapatan seperti pembelian peralatan kerja. pajak penghasilan akan dikenakan kepada setiap orang yang memiliki penghasilan tanpa melihat umur atau jumlah yang diterimanya. Berdasarkan sumber perolehannya.

hal hal yang seperti ini biasanya luput dari pengenaan pajak. akan tapi. wajib pajak dimungkinkan untuk menerima pendapatan selain uang tunai. 6 Pendapatan jenis ini sering terjadi pada usaha-usaha kecil yang memproduksi barang atau jasa.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 143 menambah kekayaan wajib pajak sehingga layak untuk dikeluarkan dari jumlah pendapatan kena pajak5. Secara horizontal. biaya kesehatan. Dengan demikian. seharusnya hal-hal yang mempengaruhi pengeluaran rumah tangga juga ikut diperhitungkan. kerumitan cenderung 5 Biaya pelatihan juga masih dalam perdebatan apakah dapat dikategorikan sebagai pengeluaran yang dapat mengurangi pendapatan kena pajak. 7 Hal-hal seperti jumlah anggota keluarga. Akan tetapi. dikatakan bahwa pengenaan pajak harus sesuai dengan kesetaraan kemampuan ekonomi masyarakatnya. Pada kenyataannya akan terjadi seorang wajib pajak memperoleh suatu produk atau menerima jasa yang dihasilkan sendiri sehingga tanpa harus mengeluarkan sejumlah uang. masih terdapat beberapa pendapat yang kurang setuju jika keadilan secara vertikal dilambangkan dengan tarif pajak progresif. perbedaan pendapat dalam hal kebijakan yang berkeadilan lebih kompleks lagi pada pajak penghasilan. Adapun alasan yang mendasari ketidaksetujuan mereka dapat dilihat dari dua kebijakan yang biasa berkaitan dengan pajak progresif. Pada beberapa kasus. Semua itu dapat dikategorikan sebagai pendapatan yang tidak tercermin dalam gaji yang tertera (nonpecuniary returns). Yang menjadi pertanyaan. dapat dikatakan bahwa konsep keadilan dalam perpajakan masih dapat diperdebatkan. apakah kesetaraan kemampuan ekonomi bisa dijewantahkan sebagai kesamaan tingkat pendapatan. kesulitan akan muncul pada saat menghitung berapa nilai tambah kekayaan yang timbul sebagai akibat dari adanya transaksi non moneter ini (income in kind)6. biaya pendidikan yang bervariasi tentunya akan sangat mempengaruhi pola pengeluaran rumah tangga. Supaya lebih adil. Pertama adalah kebijakan pendapatan tidak kena pajak. . Pada akhirnya. Secara umum. perumusan rancangan kebijakan fiskal lebih memerlukan perhatian khusus. Sedangkan secara vertikal. Baik prinsip keadilan secara horizontal maupun secara vertikal. Kompensasi dari adanya kebijakan ini adalah rumitnya pelaksanaan peraturan dalam praktek. Kegiatan ini tentunya akan menambah kekayaan bersih wajib pajak. dimana seorang wajib pajak misalnya menerima pinjaman kendaraan yang dapat digunakan untuk keperluan pribadi atau tunjangan makan yang diberikan tidak dalam bentuk uang. Contoh lain adalah fringe benefit. atau kesetaraan ini hanya diukur dari jumlah pendapatan yang diterima saja dengan sama sekali mengabaikan potensi perbedaan pengeluaran dari masing-masing rumah tangga 7 .

pinjaman tidak dikenakan pajak. Basis yang menyeluruh terhadap kajian pajak penjualan dapat diturunkan dari basis pajak penghasilan. Hal ini dipercaya akan dapat mendorong masyarakat untuk lebih meningkatkan tabungannya di samping kegiatan administrasi perpajakannya yang cenderung akan menjadi lebih mudah.144 Bab 8: Keadilan dan Dampak Perpajakan mendorong keengganan dan penyelewengan wajib pajak. Untuk menghindari akumulasi pendapatan yang tidak kena pajak sebagai akibat wajib pajak meninggal dunia. Sebagaimana telah dijelaskan oleh ilustrasi pada awal bab. Perbedaan yang menarik antara pajak penjualan dengan pajak penghasilan adalah pada dana yang tersedia berupa ‘pinjaman’. Pada pajak penjualan. Dalam pajak penjualan. pinjaman yang dikonsumsikan akan tetap dikenai pajak. capital gain harus memperhitungkan tingkat inflasi sebelum menentukan jumlah kena pajak. Pajak penjualan sama sekali tidak dipengaruhi inflasi. warisan akan dikenai pajak seketika pada saat setelah wajib pajak diumumkan meninggal dunia. pada pajak penjualan tambahan kekayaan tersebut (yang biasanya dari tabungan) dikeluarkan dari basis pajak. Hal ini dikarenakan. terdapat semacam penundaan pajak penghasilan sampai terjadi konsumsi atas bagian dari penghasilan tersebut. PRINSIP KEADILAN DAN PAJAK PENJUALAN Dalam pajak penjualan. Bebeda dengan apa yang diterapkan pada pajak penghasilan. golongan masyarakat ini cenderung untuk mengkonsumsi seluruh pendapatan yang . Hal ini disebabkan karena hanya porsi penghasilan yang dibelanjakanlah yang akan dikenai pajak. Pengenaan pajak penjualan akan lebih dirasakan dampaknya oleh golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah. Jika dalam pajak penghasilan seluruh konsumsi dan tambahan kekayaan wajib pajak akan dikenakan pajak. selisih lebih kekayaan wajib pajak secara moneter sebagai akibat dari adanya inflasi tidak akan membuat kemampuan membayarnya meningkat karena wajib pajak tersebut harus membelanjakan penghasilannya dengan harga yang telah terinflasi. Kedua adalah kebijakan pengenaan tarif pajak yang lebih tinggi untuk setiap tambahan pendapatan. Sedangkan pada pajak penghasilan. Wajib pajak cenderung mempermainkan tempo pengakuan suatu pendapatan untuk menghindari pengenaan tarif pajak yang lebih tinggi. prinsip umum yang ingin dicapai adalah bahwa jumlah pendapatan masyarakat yang ditabung seharusnya tidak perlu dikenakan pajak. Justru bunga yang timbul sebagai akibat dari adanya pinjaman tersebut akan dapat mengurangi dasar penghasilan yang dikenai pajak.

3. Seorang wajib pajak yang tidak mampu menabung.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 145 dimilikinya. 2. beberapa langkah. Banyak pendapat yang setuju jika pajak kekayaan diterapkan. Seorang wajib pajak dapat memiliki kekayaan melalui kegiatan menabung. Hal ini dikarenakan banyak wajib pajak yang berpenghasilan rendah namun pada kenyataannya mereka memiliki sejumlah kekayaan dan mereka memungut sewa atas pemanfaatan kekayaan tersebut oleh orang lain. memperoleh hibah atau mewarisi kekayaan keluarganya. Secara umum pada pajak kekayaan. Mengenakan tarif pajak yang lebih tinggi untuk beberapa jenis produk yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat berpenghasilan tinggi. 4. PRINSIP KEADILAN DAN PAJAK KEKAYAAN Kekayaan adalah akumulasi dari tabungan dan investasi suatu negara. Sedangkan golongan masyarakat yang berpenghasilan tinggi memiliki kesempatan untuk menabung sebagian pendapatannya. tidak memperoleh hibah/hadiah atau warisan tidak akan pernah disebut kaya. Mengadministrasikan pajak kekayaan cenderung lebih sulit. 2003): 1. Pengukuran nilai kekayaan akan semakin menjadi lebih sulit jika kekayaan tersebut berupa kekayaan yang tak berwujud (intangible asset). seorang penilai independen akan ditunjuk untuk mengestimasikan nilai kekayaan . Dalam hal kekayaan yang dimiliki dengan cara hutang. Mengembalikan jumlah pajak penjualan yang dibayar kepada masyarakat dengan standar penghasilan tertentu. Estimasi nilainya sering meleset dari nilai yang sesungguhnya. Memperbanyak item aktivitas penjualan kena pajak yang hanya mungkin dilakukan oleh golongan masyarakat berpenghasilan tinggi. makin tinggi pula persentase pendapatan yang ditabung. Mengurangi atau mengeliminasi pengenaan pajak yang lebih banyak dikonsumsi oleh golongan masyarakat berpenghasilan rendah. nilai bersih kekayaan harus dikurangi dulu dengan jumlah total hutang supaya tidak terjadi penghitungan ganda. Makin besar pendapatan golongan masyarakat. Jika hal ini terjadi. Untuk menghindari hal tersebut. terutama dalam hal kekayaan yang jarang diperjualbelikan. akan menjadi sangat sulit untuk mengukur berapa jumlah tambahan pendapatan dari kegiatan sewa tersebut. dapat ditempuh oleh pemerintah seperti (Ulbrich.

konsumen. Cara lain yang dapat dipakai untuk mengukur nilai sebuah kekayaan adalah dengan menghitung nilai sekarang (present value) dari potensi pendapatan sewa selama masa manfaat kekayaan tersebut. Mobil dan kekayaan lainnya. Untuk mengukurnya 8 Kekayan yang dimaksud disini adalah berupa kekayaan atas benda-benda seperti rumah. Aplikasi pengenaan pajak terhadap kekayaan tersebut akan menjadi lebih mudah diterapkan jika pemilik dan pengguna kekayaan tersebut adalah orang yang sama. yang artinya bahwa pajak kekayaan lebih menguntungkan golongan masyarakat yang berpenghasilan tinggi karena nilai uang yang dikeluarkannya sebagai pajak akan jauh lebih rendah dibandingkan dengan nilai uang untuk pajak kekayaan yang dikeluarkan oleh golongan masyarakat berpenghasilan rendah. Pajak kekayaan cenderung bersifat regresif. Sebaliknya jika tujuan yang ingin dicapai adalah pemerataan penghasilan. Hal ini mengakibatkan adanya keuntungan yang hilang sebagai akibat dari terdistorsinya keseimbangan harga pada kurva permintaan dan penawaran.146 Bab 8: Keadilan dan Dampak Perpajakan tersebut. Sistem tersebut tidak boleh terlalu membebani perekonomian. penanggung akhir dari adanya pengenaan pajak kekayaan makin sulit ditentukan karena melibatkan pemilik usaha. terkadang total excess burden tidak sama dengan total penerimaan negara. . Dalam dunia usaha. Berkaitan dengan penerimaan negara. pajak langsung yang progresif lebih tepat untuk diterapkan. Jika tujuannya adalah untuk mengoptimalkan tingkat produksi. Efficiency Effect Sistem perpajakan yang baik adalah sistem perpajakan yang memberikan pengaruh terbaik terhadap perekonomian negara. dan pemilik kekayaan. pengenaan tarif akan didasarkan atas estimasi nilai yang dihasilkan. Jika hasilnya dirasa memadai. penurunan pendapatan penjual tidak diikuti dengan peningkatan kuantitas yang tersedia untuk dibeli. kebijakan perpajakan yang dapat ditempuh dengan mengenakan pajak tidak langsung. Tentu saja hal ini harus memperhitungkan tren kenaikan harga sewa sehingga dapat mencerminkan nilai pasar sesungguhnya. para pegawai. Excess Burden adalah tambahan biaya yang membebani masyarakat di atas jumlah pajak yang seharusnya dibayar. Dengan kata lain. Problem distribusi pajak yang muncul akan menjadi lebih kompleks diprediksi keadilannya apabila kekayaan tersebut disewakan kepada pihak ketiga. Excess burden disebabkan adanya kelebihan biaya pajak yang bersedia dibayar oleh pembeli dibandingkan dengan jumlah yang diterima oleh penjual. Pada prinsipnya dapat dikatakan bahwa target pengenaan pajak kekayaan8 adalah pemiliknya.

tarif pajak dapat diturunkan tanpa mempengaruhi jumlah total penerimaan negara. perlu diformulakan sebuah teori ekonomi tentang perubahan harga yang dipengaruhi pajak. Dengan mengurangi pengenaan pajak yang menimbulkan excess burden lebih besar dalam jumlah nominal yang sama. Economic Incidence lebih sulit dianalisa dibanding Statutory Incidence. Hal ini dimungkinkan karena pelaku ekonomi yang secara hukum berkewajiban membayar pajak kepada pemerintah belum tentu menggunakan dana pribadi atau dengan kata lain dapat membebankan pajaknya kepada pelaku ekonomi yang lain. Sedangkan Economic Incidence lebih mengarah pada pengaruh pendistribusian pembebanan pajak pada tingkat ekulibrium harga atau tingkat perekonomian secara umum. Absolute Tax Incidence menggambarkan suatu kebijakan distribusi . Tax Incidence adalah teori yang mempelajari pelaku-pelaku ekonomi mana yang sesungguhnya menanggung beban pajak. Misalnya. maka akan timbul pertanyaan tentang kebijakan pajak apa yang yang dapat dibandingkan dengan pajak perseroan tersebut. misalnya elastisitas harga produk tertentu. ketika menganalisa penanggung beban pajak perseroan.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 147 digunakan efficiency-loss ratio yakni Excess Burden dibagi Tax Revenue yang dapat diformulasikan dengan persamaan sebagai berikut: efficiency-loss ratio = W/ R dimana: W = Excess Burden R = Tax Revenue Estimasi efficiency-loss ratio penting dilakukan untuk meminimalkan total excess burden pada sistem perpajakan nasional. Ketika mengidentifikasi distribusi beban pajak. Analisa tersebut kadang juga memerlukan pembahasan parameter yang tersembunyi. Kajian-kajian yang dilakukan mengenai tax incidence tergantung dari tersedianya sumber daya dan antisipasi pemindahan beban. Untuk menentukan manakala beban pajak dipindahkan. Berkenaan dengan dimungkinkannya memindahkan beban pajak kepada pelaku ekonomi lain secara keseluruhan atau sebagian (tax shifting) maka pembahasan tax incidence dapat dibagi dalam dua konsep yakni statutory incidence dan economic incidence. perlu dispesifikasikan alternatif atas kebijakan pajak tersebut. Statutory Incidence merujuk pada pelaku-pelaku ekonomi yang secara hukum terlibat dalam pendistribusian pembebanan pajak.

Kadang-kadang yang muncul adalah jumlah tabungan (S) lebih besar dari jumlah investasi (I) atau dengan kata lain. maka tidak akan pernah terjadi inflasi atau deflasi. struktur perekonomian nasional (tanpa pajak) terdiri dari pendapatan nasional (Y). jumlah konsumsi (C) dan tabungan (S). Kondisi ini menyebabkan kegairahan ekonomi dan kenaikan harga (inflasi). . Hubungan dari ketiga unsur tersebut adalah pendapatan nasional sama dengan jumlah konsumsi ditambah jumlah tabungan (Y = C + S). Apabila seluruh tabungan (S) digunakan sebagai investasi (S = I). tidak semua tabungan digunakan untuk investasi (S > I) maka akan terjadi kelesuan ekonomi. Yang sering terjadi justru jumlah tabungan lebih rendah dari jumlah investasi (S < I).148 Bab 8: Keadilan dan Dampak Perpajakan beban pajak yang tidak memiliki pembanding. Sebaliknya Differential Tax Incidence menyoroti keadaan pendistribusian beban pajak yang memiliki beberapa alternatif lain yang berfungsi sama dengan kebijakan pajak dimaksud. dan pengangguran. penurunan harga (deflasi). DAMPAK PAJAK Terhadap Sistem Ekonomi Keseluruhan Secara umum.

instrumen pajak dapat digunakan untuk menurunkan tingkat deflasi. Pada tingkat pendapatan nasional sebesar 0Y (S=I). menimbulkan adanya beberapa alternatif pilihan yang dapat diambil oleh para pelaku ekonomi. dengan tingkat konsumsi (C) dan tingkat investasi (I). Harga-harga cenderung terus naik sampai tidak ada lagi perbedaan antara tabungan dan investasi. tidak ada inflasi ataupun deflasi. jika elastisitas permintaan barang adalah sempurna.1 : Hubungan antara tingkat Pendapatan Nasional. perusahaan tidak dapat . Dengan kata lain. Pada tingkat pendapatan 0Y1 (S<I) terdapat inflationary gap. Barang-barang yang tingkat permintaannya inelastis sempurna tidak akan terpengaruh dengan adanya pengenaan pajak. instrumen pajak dapat digunakan untuk menurunkan tingkat inflasi. Pada kondisi ini. pajak dapat menyebabkan pergeseran penggunaan faktorfaktor produksi. menggeser kurva C+I ke bawah dengan menerapkan pajak atas konsumsi. Berkaitan dengan dimungkinkannya penerapan insentif pajak pada suatu daerah tertentu. Sebagai contoh. Sebaliknya pada tingkat pendapatan 0Y2 (S>I) terdapat deflationary gap dimana hargaharga cenderung terus turun sampai tidak ada lagi perbedaan antara tabungan dan investasi. perekonomian dalam keadaan seimbang. Konsumen akan membayar seluruh beban pajak yang ditambahkan pada harga barang. Pada kondisi ini. Pergeseran yang dimaksud adalah mengubah pola produksi sehingga menghasilkan barang-barang yang lebih rendah biaya produksinya akibat tarif pajak yang lebih kecil atau beralih produksi. perusahaan dapat saja mengurangi produksi barang-barang yang merupakan objek pajak dan meningkatkan produksi barang-barang lain yang masih belum merupakan kategori barang kena pajak. Perusahaan lain dapat saja berpindah lokasi industri dari suatu tempat yang mengenakan pajak yang tinggi ke tempat yang memberikan insentif pajak. Seberapa jauh pengaruh pajak terhadap penggunaan faktor-faktor produksi dipengaruhi elastisitas permintaan terhadap barang-barang yang dihasilkan. dengan tingkat Konsumsi dan tingkat Investasi Gambar di atas menunjukkan hubungan antara tingkat pendapatan nasional (Y). Terhadap Komposisi Produksi Pajak dapat digunakan sebagai pendorong kepada pelaku ekonomi untuk melakukan aktivitas tertentu dengan memberikan insentif-insentif. menggeser kurva C+I ke atas dengan menerapkan pajak atas tabungan.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 149 Gambar 8. Sebaliknya.

.7 persen. pajak akan dapat menyebabkan orang menjadi kurang giat bekerja.. PERBEDAAN PAJAK . Terhadap Usaha Kerja Sebagian besar penerimaan negara dari pajak di Indonesia adalah pajak penghasilan yang dikenakan atas pendapatan para pegawai. dikenakan pajak yang ringan. dan meningkatnya kepercayaan investor. Sehingga disarankan untuk barang-barang yang memiliki elastisitas tinggi. Jika pilihan kedua yang dilakukan maka akan dapat dikatakan bahwa pajak mempunyai pengaruh negatif terhadap kemauan usaha kerja..4 persen pada sembilan bulan pertama 2004 untuk empat negara itu... Sedangkan bagi mereka yang kurang peduli dengan gaya hidup mewah. pajak tidak menimbulkan disinsentif untuk bekerja.. Bagi golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah. Bahkan pertumbuhannya dua kali lebih tinggi dari tetangga mereka yang kaya di UE sepanjang 2004 lalu.. Slowakia mengungguli kawasan dengan pertumbuhan ekonomi 5.. pengaruh pajak terhadap kemauan kerja individu memiliki sifat yang lebih kompleks. Data terbaru dari Eurostat-kantor statistik Uni Eropa (UE)-memperlihatkan rata-rata pertumbuhan ekonomi 4.. Sehingga elastisitas penawaran usahanya adalah tinggi.. Sementara itu.... dan Ceko 3.. permintaannya terhadap penghasilan rendah sehingga elastisitas penawaran usaha dalam hubungannya dengan penghasilan adalah rendah juga. seperti Jerman dan Perancis. Bagi sebagian orang.... . turunnya pendapatan justru akan mendorong kemauan kerja yang lebih besar. Orang lebih memilih untuk mempunyai lebih banyak waktu santai... Dengan demikian. anggota lama UE.... pajak yang relatif rendah.. dan Hongaria.. anggota baru Uni Eropa-sebuah pasar tunggal diuntungkan oleh berbagai kombinasi.6 persen. Hongaria dan Ceko lebih tergantung pada ekspor ke UE seperti Jerman. Secara teoritis.. biasanya permintaannya terhadap penghasilan adalah tinggi.8 persen.. pegawai-pegawai tersebut mempunyai dua pilihan yaitu bekerja atau tidak bekerja (memanfaatkan waktu santai) akibat adanya pengenaan pajak penghasilan. yang bergabung dengan UE pada Mei 2004...9 persen pada periode yang sama. Hal itu antara lain upah buruh yang relatif murah. Tidak setiap kenaikan pajak akan memberi dampak negatif pada tabungan masyarakat ataupun investasi. Hongaria 3. Pada kenyataannya. mencatatkan pertumbuhan ekonomi masing-masing 1.150 Bab 8: Keadilan dan Dampak Perpajakan mengalihkan beban pajaknya pada harga barang. Polandia.3 persen dan 1..3 persen diikuti Polandia 4. Kombinasi itu membuat ekonomi negara-negara tersebut tumbuh lebih cepat. Reaksi individu terhadap pengenaan pajak lebih banyak ditentukan oleh elastisitas penawaran usaha. Ceko.. Rata-rata pertumbuhan untuk empat negara itu dua kali lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan ekonomi di UE. Slowakia..

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi

151

Ekspor meningkat pesat seiring dengan hilangnya birokrasi di kepabeanan dan turisme melonjak karena maspakai penerbangan murah (budget airlines) mulai menjangkau negara yang sebelumnya tidak terjamah. Investasi asing berdatangan seiring dengan keyakinan mereka akan keadaan yang jauh lebih baik di negara-negara itu. Sebuah studi yang dilakukan oleh kantor akuntan publik, Ernst & Young, memperlihatkan bahwa arus investasi asing di Eropa naik 27 persen selama enam bulan pertama 2004. Ada sebanyak 1.432 proyek baru pada tahun 2004 dibandingkan dengan hanya 1.126 proyek baru pada paruh pertama tahun 2003 lalu. Investor UE juga mengutamakan anggota baru UE itu sebagai sasaran investasi. Hongaria memenangkan proyek lebih banyak ketimbang Jerman. Republik Ceko dan Polandia jauh lebih baik dalam pemasukan investasi baru ketimbang Spanyol. Slowakia menenggelamkan Austria sebagai tujuan investasi baru. Iklim perpajakan yang merangsang di Eropa Tengah telah membuat Zona Euro merasa gugup, khususnya Jerman dan Perancis-dua perekonomian terbesar di Uni Eropa. Zona Euro adalah julukan bagi sebelas negara di Uni Eropa yang menggunakan mata uang euro. Keputusan-keputusan oleh sejumlah perusahaan untuk merelokasi dan melakukan outsourcing produksi ke Eropa Tengah telah melahirkan perdebatan panas di Uni Eropa. Outsourcing adalah tindakan melakukan produksi ke pihak lain karena bisa dilakukan dengan lebih murah…………………….

Terhadap Distribusi Pendapatan
Tujuan pembangunan suatu negara pada umumnya adalah peningkatan pendapatan per kapita nasional, penciptaan lapangan kerja, dan distribusi pendapatan yang merata dan keseimbangan dalam neraca pembayaran internasional. Secara teori, semakin tinggi pendapatan seseorang, semakin tinggi pula persentase pendapatan yang ditabung. Dari kelompok-kelompok kaya inilah diharapkan sejumlah dana tabungan yang dapat digunakan untuk investasi. Dengan kata lain, masyarakat kelompok miskin tidak punya kemampuan tabungan dan investasi. Menurut pengertian ini, pendapatan nasional yang dikenai pajak akan banyak mempengaruhi turunnya jumlah tabungan masyarakat bukan pada porsi pendapatan yang dikonsumsi yang diasumsikan tetap. Tetapi pada kenyataannya, keadaan di negara-negara berkembang termasuk Indonesia, pola konsumsi masyarakat cenderung lebih tinggi dari pola konsumsi masyarakat di negara-negara maju. Sehingga sulit didapatkan dana tabungan masyarakat. Penarikan dana masyarakat secara sukarela dengan iming-iming bunga yang tinggi pada akhirnya juga ikut berpengaruh pada tingkat inflasi nasional. Berdasarkan kenyataan tersebut, kebijakan perpajakan di Indonesia lebih banyak diterapkan untuk mengurangi kesenjangan pendapatan di masyarakat. Hal ini dilakukan dengan menerapkan tarif pajak progresif dan minimum pendapatan yang dapat dikenakan pajak. Kelemahan dari tarif pajak progresif

152

Bab 8: Keadilan dan Dampak Perpajakan

adalah menekan pada kelompok-kelompok kaya pemilik modal sehingga mereka malas bekerja, menabung, dan melakukan investasi.
PERBEDAAN PAJAK (Lanjutan................................) Perdebatan itu muncul karena relokasi produksi ke Eropa Tengah itu telah membuat terjadinya kehilangan pekerjaan Eropa Barat dan juga di Asia serta Afrika. Alasan utama relokasi adalah upah buruh murah di Eropa Tengah. Soal upah buruh, rata-rata gaji di Jerman adalah enam kali lebih tinggi dari rata-rata gaji di Eropa Tengah. Alasan kedua adalah sistem perpajakan yang lebih menguntungkan perusahaan. Pajak perusahaan di Jerman dan Perancis masing-masing 38,3 persen dan 34,3 persen. Tingkat perpajakan yang tinggi itu memberikan dampak buruk pada investor potensial dan mendorong keluar investor yang ada sekalipun dari Jerman dan Perancis. Dengan tingkat pajak yang 16 persen, Hongaria merupakan negara dengan tingkat perpajakan terendah di antara empat negara Eropa Tengah, yang diikuti Polandia 19 persen. Slowakia mengenakan pajak flat (sama rata) sebesar 19 persen-untuk korporasi, pendapatan perorangan, dan pajak pertambahan nilai. Sistem perpajakan di Slowakia itu benar-benar menjadi alat yang sangat efektif untuk merangsang masuk investor asing, yang sekaligus membuat Slowakia menjadi hub bagi manufaktur otomotif. Sementara itu, tingkat pajak di Republik Ceko adalah 28 persen, tetapi masih lebih rendah dari Jerman dan Perancis. Dalam dua tahun terakhir, PSA Peugeot Citroen (Perancis) dan Kia Motors Corporation (Korea Selatan) telah mulai membangun pabrik-pabrik di Slowakia untuk memproduksi 500.000 mobil per tahun yang akan terlaksana pada 2006. Ford Motor Co (perusahaan otomotif AS) dan Getrag Group (Jerman), Desember 2004 lalu mengumumkan rencana untuk membangun pabrik transmisi (mesin) senilai 399 juta dollar AS di Slowakia timur. Aliran masuk investasi asing ke Eropa Tengah didorong oleh keanggotaan di UE dan sumber daya manusia yang lebih berkualitas, dan faktor itu akan terus berperan sebagai pendukung utama arus masuk FDI (Foreign Direct Investment) dalam jangka menengah. Masa depan juga cukup prospektif bagi negara-negara tersebut, karena investor asing masih terus berminat melakukan ekspansi ke wilayah itu pada 2005. Paris dan Berlin telah secara terang-terangan mengkritik sistem perpajakan di Eropa Tengah. Hal itu menimbulkan tekanan pada anggota-anggota baru UE untuk meningkatkan perpajakan mereka, atau terancam kehilangan subsidi dari UE. Namun Eropa Tengah tampaknya tidak terintimidasi oleh tekanan dari rekan mereka di UE dan bahkan merencanakan melakukan penurunan perpajakan. (Diadaptasi dari: www.kompas.com 21 Februari 2005) Setujukah Saudara dengan kebijakan yang diterapkan negara-negara Eropa Tengah? Diskusikan!

KRITERIA TARIF PAJAK
Pertumbuhan ekonomi akan terjadi apabila lebih banyak masyarakat yang bekerja, menabung sebagian pendapatannya serta menginvestasikan nilai tabungannya. Hal-hal tersebut menurut Daniel J Mitchell (2003) adalah perilaku-perilaku yang dapat meningkatkan kekayaan nasional. Masyarakat tidak begitu saja bekerja secara produktif dengan diterapkannya anggaran pendapatan dan belanja berimbang. Mereka juga tidak begitu saja

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi

153

meningkatkan tabungan dan investasi apabila dikenakan tarif pajak rendah atau subsidi perpajakan lainnya. Untuk meningkatkan pendapatan nasional sesuai dengan karakteristik masyarakat di suatu negara, para pengambil keputusan bidang pajak harus mengkonsentrasikan pada hal-hal yang berakibat positif terhadap prilaku bekerja, menabung, dan berinvestasi. Mitchell (2003) memaparkan sembilan petunjuk kebijakan perpajakan yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi sebagai berikut: § Penurunan tarif pajak tidak perlu diterapkan seragam untuk seluruh wajib pajak. Beberapa opsi tarif pajak yang dipungut akan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi karena tarif pajak yang rendah dapat membuat masyarakat yang produktif menjadi semakin giat bekerja. Sedangkan bagi sebagian masyarakat lainnya yang cenderung kurang peduli dengan pungutan pajak, penurunan tarif pajak tidak akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. § Fokus pada pertumbuhan ekonomi, bukan pada penurunan tarif. Beberapa kebijakan insentif pajak atau subsidi dapat berakibat hanya mengurangi jumlah penerimaan negara tanpa menghasilkan peningkatan kegiatan ekonomi secara signifikan. Beberapa negara telah membuktikan bahwa deregulasi perpajakan yang kecil pengaruhnya terhadap turunnya penerimaan negara justru dapat meningkatkan gairah investasi dunia usaha.
Tarif Tunggal........................ "Dana Moneter Internasional (IMF) mendukung rencana pemerintah untuk menerapkan tarif tunggal pajak penghasilan (PPh) badan. Sebab, hal itu dianggap akan menyerderhanakan cara perhitungan pajak dan memberikan kepastian bagi pengusaha dibanding dengan tarif PPh berlapis yang selama ini diberlakukan. IMF yakin, pemberlakukan tarif tunggal PPh ini akan mendongkrak sumber pendapatan baru negara." "Penerapan tarif tunggal PPh itu telah banyak diberlakukan negara-negara di dunia. Hasilnya cukup mengembirakan. Namun, Indonesia tidak boleh meniru begitu saja dan perlu ada penyesuaian," ujar Kepala Perwakilan IMF untuk Indonesia akhir pekan lalu. Sebagaimana diketahui, Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak mengusulkan, pemberlakukan tarif tunggal PPh sebesar 30% untuk badan (perusahaan) besar dan nantinya diturunkan secara bertahap menjadi 25%. Masalah ini sudah diakomodasi dalam draf RUU Pajak, yang diharapkan masuk ke DPR Juni 2005. Kini RUU Pajak itu sudah diserahkan kepada Presiden. Kepala Perwakilan IMF mengatakan, rencana pemberlakukan tarif tunggal PPh itu cukup baik asalkan diikuti implementasi di lapangan oleh aparat pajak dan wajib pajak (WP). Sebab, selama ini banyak WP di Indonesia, khususnya badan, mengeluh rumitnya perhitungan pajak, sehingga tingkat kepatuhan dan ketaatan membayar pajak menjadi rendah dibanding dengan potensi WP yang ada.

154

Bab 8: Keadilan dan Dampak Perpajakan

Dia menilai, jika tarif tunggal pajak itu dapat diturunkan ke 25% pada tahun pertama, kemungkinan besar jumlah WP badan yang membayar pajak akan meningkat. Sebab, bagi sebagian besar WP perusahaan besar, tarif 30% itu masih terlalu besar. "Tapi sebagai tahap awal, hal itu sudah cukup bagus sehingga perusahaan dapat mengetahui persis berapa pajak yang harus dibayarkan setiap tahun," katanya. Selanjutnya dia mengatakan, selain penyederhanaan tarif tunggal PPh, Ditjen Pajak harus menyederhanakan cara pengisian dan pelaporan pajak lewat self-assessment (menghitung sendiri pajak). Karena tidak ada gunanya tarif disempurnakan, tapi cara perhitungan dan pengisian masih berbelit-belit, sehingga WP enggan melaporkan harta dan kekayaannya......................................

§

§

Kebijakan yang baik menghasilkan penerimaan negara lebih banyak. Jika keadaan perilaku masyarakat wajib pajak adalah produktif, penurunan tarif pajak justru meningkatkan jumlah penerimaan negara. Agar pelaksanaan kegiatan pemerintah tidak terganggu, harus diperhitungkan cara-cara yang dapat mengkompensasikan turunnya penerimaan negara akibat pengenaan tarif yang lebih rendah. Jumlah potensi tambahan konsumsi masyarakat akibat adanya penurunan tarif pajak kurang signifikan terhadap peningkatan kegiatan ekonomi dibandingkan dengan turunnya jumlah total penerimaan negara. Untuk itu perlu diupayakan suatu kebijakan pelengkap yang dapat meng-offset selisih penurunan penerimaan negara tersebut. Pada akhirnya penurunan tarif pajak tidak merubah total pengeluaran, pendapatan nasional, dan pertumbuhan ekonomi.

Tarif Tunggal (lanjutan........................) Ia mengaku, jika Ditjen Pajak mampu meningkatkan rasio pajak terhadap PDB rata-rata 2% setiap tahun, itu akan membantu sumber pendapatan negara. Sehingga, defisit APBN setiap tahun secara berangsur-angsur dapat dikurangi. Mengenai tarif tunggal PPh sebesar 10% bagi pengusaha kecil dan menengah (UKM), dia mengatakan, hal itu sangat mendorong pertumbuhan UKM sebagai salah satu lokomotif pertumbuhan ekonomi. Yang menjadi kendala, tegasnya, penentuan kriteria sebagai UKM harus jelas dan transparan. Namun Dewan Penasehat Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) menilai, usulan Ditjen Pajak tentang pemberlakuan tarif tunggal pajak penghasilan (PPh) badan sebesar 30% akan memberatkan pengusaha. Selama ini cukup banyak pengusaha yang membayar PPh dengan tarif 15% dan 20%." "Sedangkan, bagi pengusaha kecil dan menengah (UKM) yang akan dikenai tarif tunggal PPh sebesar 10%, itu sangat meringankan. Tapi bagaimana dengan perusahaan yang biasa membayar 15% dan 20%, di luar UKM," katanya Pernyataan itu menanggapi usulan Ditjen Pajak yang telah dituangkan dalam draf RUU Pajak yang baru. Selama ini, pengusaha membayar PPh 15% bila perusahaannya memperoleh laba bersih di bawah Rp 50 juta, dan 20% untuk Rp 50 juta dan 30% di atas Rp 50 juta. Lewat RUU itu, Ditjen Pajak mengusulkan agar diberlakukan tarif tunggal untuk PPh badan. Yakni 10% untuk UKM dan 30% untuk non-UKM.

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi

155

Selain mengusulkan tarif tunggal, Ditjen Pajak juga memberikan fasilitas perpajakan bagi sektor usaha tertentu. Hal itu dilakukan guna menarik minat investor melakukan bisnis di Indonesia. Di antara fasilitas perpajakan itu, yakni penghapusan kadaluarsa dipercepat dari 10 tahun menjadi lima tahun. Di samping itu, Ditjen Pajak juga memperpanjang kompensasi kerugian dari lima tahun menjadi paling lama 10 tahun. Sementara itu, pengusaha yang mendapat kredit investasi sebesar 30% dibebaskan dari pembayaran pajak selama enam tahun. Tarif PPh atas dividen turun dari 20% menjadi 10%. (Diadaptasi dari berbagai artikel yang diterbitkan Investor Daily Ind.) Diskusikan efek-efek yang mungkin timbul di Indonesia seandainya tarif pajak tunggal diterapkan!

§

§

§

§

§

Pertumbuhan ekonomi tidak diakibatkan oleh peningkatan konsumsi. Justru sebaliknya, pertumbuhan ekonomi sebagai faktor yang mendorong jumlah total konsumsi sebagai akibat dari meningkatnya jumlah daya beli masyarakat. Untuk itu, sebaiknya kebijakan publik tidak mengedepankan motif yang berupaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan jalan mendorong konsumsi. Kebijakan pajak yang berdampak positif pada jangka pendek biasanya berdampak positif pula pada jangka panjang. Sebagai contoh, insentif pajak investasi dalam jangka pendek akan menarik minat pemodal masuk ke dalam negeri. Secara jangka panjang, faktor produksi tersebut akan juga mendorong pertumbuhan ekonomi agregat menjadi lebih baik. Efisiensi belanja negara penting dilakukan. Meskipun beberapa pos-pos belanja negara membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi seperti penyediaan keamanan dan penegakan hukum, studi membuktikan bahwa banyak pengeluaran publik yang justru berefek negatif terhadap pertumbuhan ekonomi. Efisiensi belanja negara dapat dilakukan dengan merampingkan struktur pemerintahan. Pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh investasi yang produktif. Dana investasi terutama diambil dari tabungan masyarakat. Investasi dan tabungan, keduanya dipengaruhi oleh tingkat suku bunga. Sedangkan tarif pajak adalah salah satu faktor yang mempengaruhi suku bunga. Untuk itu perlu dikembangkan kebijakan pajak yang mendorong iklim investasi dan menabung. Defisit belanja negara dapat berpengaruh pada turunnya tingkat suku bunga. Tetapi pengaruhnya kurang signifikan dibanding pengaruh faktorfaktor lain seperti pasar modal. Riset akademis yang dihasilkan menunjukkan bahwa tidak ada korelasi positif antara anggaran surplus, berimbang, atau defisit dengan tingkat suku bunga.

156

Bab 8: Keadilan dan Dampak Perpajakan

Inti dari sembilan petunjuk di atas adalah segala upaya kebijakan pajak seharusnya difokuskan pada pertumbuhan ekonomi nasional dengan memberikan insentif pada aktivitas-aktivitas produktif nasional. Walaupun di beberapa negara penurunan tarif pajak justru dapat meningkatkan penerimaan negara dan pertumbuhan ekonomi, penurunan tarif bukanlah satu-satunya cara yang dapat diambil pemerintah.

KRITERIA STRUKTUR PAJAK YANG BAIK
Kebijakan perpajakan akan memberi dampak yang signifikan jika disusun secara komprehensif, dengan mempertimbangkan seluruh dampak yang dapat ditimbulkan pada level ekonomi makro. Seperti dikutip dari Musgrave (1989), kriteria yang bisa menentukan baik tidaknya sebuah kebijakan perpajakan dapat dilihat sebagai berikut: § Penerimaan/pendapatan harus ditentukan dengan tepat. § Distribusi beban pajak harus adil. Setiap orang harus dikenakan pajak sesuai dengan kemampuannya. § Penanggung akhir beban pajak harus menjadi pokok perhatian. § Peraturan perpajakan harus mendukung kebijakan perekonomian dan mendorong pasar yang efisien. § Struktur pajak harus memudahkan penggunaan kebijakan fiskal untuk mencapai stabilisasi dan pertumbuhan ekonomi. § Sistem pajak harus menerapkan administrasi yang wajar dan mudah dipahami oleh wajib pajak. § Biaya administrasi dan biaya-biaya pembayaran pajak lainnya harus dibuat serendah mungkin. Penerimaan pajak harus dirumuskan secara tepat, merefleksikan kemampuan membayar dari seluruh wajib pajak yang ada sehingga tidak terlalu besar atau terlalu kecil. Jika jumlah yang ditetapkan terlalu besar, dikhawatirkan investor tidak akan mau menanamkan modalnya di dalam negeri. Hal ini akan mengakibatkan multiplier efek yang diharapkan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi menjadi tidak tercapai, pada akhirnya, jumlah target penerimaan pajak tidak akan pernah tercapai. Sebaliknya jika jumlah yang ditetapkan terlalu kecil, dikhawatirkan jumlahnya tidak akan dapat membiayai kegiatan-kegiatan pemerintah yang bermanfaat dalam menciptakan value yang dapat merangsang perputaran gerak roda ekonomi. Keadilan perpajakan pada intinya adalah bahwa beban pajak harus terdistribusi sedemikian rupa sehingga target pencapaian penerimaan pajak

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi

157

bisa diimbangi dengan mengurangi kesenjangan pendapatan golongan masyarakat yang kaya dengan golongan masyarakat miskin. Kecilnya kesenjangan ini akan bisa mendorong stabilisasi yang kondusif bagi perbaikan ekonomi nasional. Adanya kemungkinan peralihan beban pajak kepada penanggung akhir, perlu dilakukan pengkajian mendalam dengan melakukan simulasi secara menyeluruh untuk dapat memperoleh gambaran dampak pembebanan penanggung akhir terhadap stabilisasi ekonomi. Untuk itu, perlu dibuat aturanaturan teknis yang sederhana sehingga akan dapat menghindarkan terjadinya salah sasaran. Jika pajak diterapkan atas produk-produk tertentu, hal ini perlu dikaji serius mengenai elastisitas permintaan dan penawarannya dalam ekonomi pasar. Ekonomi yang terus tumbuh dan pasar yang efisien harus terus dijaga agar kemakmuran masyarakat tidak rusak akibat adanya penerapan kebijakan perpajakan. Kemungkinan pergeseran titik ekuilibrium kurva permintaan dan penawaran harus terus diantisipasi dan terus diawasi dengan memasukkan unsur-unsur spesifik para pelaku ekonomi setempat. Kebijakan perpajakan harus tetap mengindahkan konsep stabilitas ekonomi. Harus dapat ditentukan pada awal perumusan kebijakan bahwa implementasinya pada akhirnya akan meminimalkan gejolak ekonomi, misalnya dengan adanya kegiatan sosialisasi yang memadai. Ekonomi yang sering bergejolak biasanya tidak menguntungkan iklim investasi. Dengan kata lain, investor-investor terutama para pemodal asing sangat mengharapkan adanya kepastian iklim berusaha. Segala kebijakan harus mengacu pada kesederhanaan. Rumusan-rumusan yang dipakai harus menghindari kesalahpahaman massal yang menyebabkan kekacauan pada proses administrasi. Simulasi terhadap bakal munculnya kekeliruan yang tidak diharapkan harus disiapkan secara matang. Simulasi tersebut bisa menggunakan beberapa skenario yang berbeda dan mengamati hasilnya. Segala biaya yang tidak berkaitan langsung dengan beban pajak sesungguhnya harus diminimalkan. Hal ini untuk memberikan kepastian berusaha bagi para pemilik modal dalam rangka menghitung proyeksi keuntungan investasi. Dengan demikian, risiko biaya tinggi yang tidak terduga akibat penyelewengan peraturan oleh oknum pelaku ekonomi bisa dieliminasi.

RANGKUMAN

158 §

Bab 8: Keadilan dan Dampak Perpajakan

§

§

§

§

§ §

§ §

§

§

Tidak ada suatu kebijakan yang bisa memuaskan seluruh pelaku ekonomi. Suatu kebijakan dianggap adil jika dilihat dari satu sisi, tetapi kurang adil dari sisi yang lain. Menurut prinsip manfaat (benefit principle), suatu sistem pajak dikatakan adil bila kontribusi yang diberikan oleh setiap wajib pajak sesuai dengan manfaat yang diperoleh dari jasa-jasa pemerintah. Prinsip kemampuan membayar (ability to pay principle) menginginkan sistem pajak dipisahkan dari sisi pengeluaran publik. Pendekatan kemampuan membayar ini lebih baik dalam hal mengatasi masalah redistribusi, tetapi mengabaikan masalah-masalah yang berkaitan dengan penyediaan jasa-jasa publik. Prinsip keadilan perpajakan didasarkan pada distribusi pengenaan pajak untuk memenuhi belanja publik yang mana harus didasarkan pada proporsi kekayaan dan pendapatan masyarakat. Keadilan vertikal adalah prinsip keadilan dimana pengenaan pajak untuk memenuhi belanja publik harus didasarkan pada proporsi kekayaan dan pendapatan masyarakat. Keadilan horizontal adalah prinsip keadilan dimana pengenaan pajak terhadap seseorang harus lebih rendah dari kemampuannya membayar. Excess Burden adalah tambahan biaya yang membebani masyarakat di atas jumlah pajak yang seharusnya dibayar. Excess burden disebabkan adanya kelebihan biaya pajak yang bersedia dibayar pembeli dibanding jumlah yang diterima oleh penjual. Tax Incidence adalah teori yang mempelajari pelaku ekonomi mana yang sesungguhnya menanggung beban pajak. Pada kondisi inflasi, kebijakan pajak dapat digunakan untuk mengurangi konsumsi dengan jalan menghambat investasi dan memberi insentif pada tabungan. Pada kondisi deflasi, kebijakan pajak dapat digunakan untuk mendorong konsumsi dengan jalan memberi insentif investasi dan memajaki tabungan. Pajak dapat menyebabkan pergeseran penggunaan faktor-faktor produksi dengan mengubah pola produksi sehingga menghasilkan barang-barang yang lebih rendah biaya produksinya akibat tarif pajak yang lebih kecil atau beralih produksi. Bagi sebagian orang, pajak dapat menimbulkan disinsentif untuk bekerja. Tetapi reaksi individu terhadap pengenaan pajak lebih banyak ditentukan oleh elastisitas penawaran usaha. Elastisitas penawaran yang tinggi,

Bagaimana kebijakan pajak yang berdampak positif dalam jangka pendek dapat pula berdampak positif dalam jangka panjang? Jelaskan dengan contoh! 10. justru akan mendorong kemauan kerja yang lebih besar. 2. 3. Jelaskan dengan singkat dampak perpajakan terhadap distribusi pendapatan! 8.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 159 dimana dengan turunnya pendapatan. Terangkan bagaimana insentif pajak dapat mempengaruhi komposisi produksi suatu perusahaan! 7. Definisikan Tax Incidence! Dan jelaskan konsep Statutory Incidence dan Economic Incidence yang terdapat dalam Tax Incidence! 6. Apa yang dimaksud dengan pajak kekayaan bersifat regresif? Mengapa inflasi tidak dapat mempengaruhi pengenaan pajak penjualan? Faktor apa saja yang memungkinkan seseorang mendapat hak atas pengecualian pajak? 4. Jelaskan dalam kondisi yang bagaimana penurunan pajak tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi nasional! 9. Jelaskanlan bagaimana suatu investasi mempengaruhi pertumbuhan ekonomi suatu negara! . LATIHAN 1. Apa yang dimaksud dengan Excess Burden? Apa sebab muncul dan bagaimana akibat yang dapat ditimbulkannya? 5.

Pertama kali diberlakukan dikenal dengan nama Pajak Pendapatan 1932 atau Inkomsten Belasting 1932.PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK PRIBADI Pajak penghasilan pertama kali diberlakukan di Indonesia sebagai suatu sistem perpajakan integral yang diterapkan oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. peraturan pajak ini diubah dengan Ordonansi Perpajakan tahun 1944 yang digunakan oleh Pemerintah Kolonial Jepang untuk melakukan pungutan-pungutan terhadap hasil pertanian sebagai pajak. Sehingga . Yang ada hanyalah kantor iuran negara yang menerima pembayaran pajak dari beberapa pedagang. Setelah kedaulatan diserahkan kepada Pemerintah Indonesia. Pada tahun 1944. Selama masa revolusi. tidak ada pungutan pajak yang berarti dapat dikumpulkan. peraturan perpajakan Belanda dipergunakan kembali dengan melakukan penataan dan perluasan seperlunya.

Penghasilan Bruto . dapat dipakai untuk konsumsi atau menambah kekayaan wajib pajak yang bersangkutan dalam nama dan bentuk apapun. ATURAN UTAMA Dalam penentuan besarnya pajak penghasilan yang harus dibayar oleh seorang wajib pajak pada satu tahun pajak. pajak-pajak berdasarkan peraturan perpajakan Belanda ini disatukan dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 yang berlaku sejak 1 Januari 1984. yaitu tahun 1991. disebut sebagai penghasilan bruto. Setelah reformasi perpajakan tahun 1983. Undang-Undang ini mengalami perubahan dan perbaikan sebanyak tiga kali. Saat ini sedang berlangsung perubahan dan perbaikan yang keempat berkaitan dengan program reformasi perpajakan Indonesia. Penghasilan bruto ini kemudian dikurangi dengan pengecualian-pengecualian dan penguranganpengurangan tertentu untuk mendapatkan penghasilan yang akan dikenakan pajak disebut penghasilan neto.162 Bab 9: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Pribadi sebelum reformasi perpajakan tahun 1983. Penghasilan neto ini. setelah dikurangi sejumlah tertentu yang tidak dikenakan pajak menjadi dasar pengenaan pajak yang akan dikalikan dengan tarif pajak untuk mendapatkan pajak yang menjadi beban bagi wajib pajak. Pajak Perseroan (PPs) serta Pajak atas Bunga. Penentuan Penghasilan Kena Pajak Konsep utama dalam perhitungan penghasilan kena pajak adalah penghasilan bruto dan penghasilan kena pajak. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 dan perubahannya (UU Pajak Penghasilan) mendefinisikan penghasilan yang menjadi objek pajak adalah setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh wajib pajak. penghasilan wajib pajak dari semua sumber harus digabungkan menjadi satu angka tunggal ukuran penghasilannya. Dividen dan Royalti (PBDR). 1994 dan 2000. baik yang berasal dari Indonesia maupun luar Indonesia. pajak-pajak yang berlaku di Indonesia yang dapat dikelompokkan sebagai pajak penghasilan adalah Pajak Pendapatan (PPd).

yaitu suami/istri. penghasilan ini akan meliputi: 1. Variabel utama penentu PTKP adalah jumlah anggota keluarga sampai dengan maksimal 5 orang. Penghasilan dari usaha dan pekerjaan bebas dimasukkan dalam penghasilan neto setelah dikurangkan biaya-biaya. penghasilan neto yang telah dihitung kemudian dikurangkan dengan PTKP. Beberapa penghasilan tertentu bukan merupakan penghasilan menurut UU Pajak Penghasilan. Penghasilan sehubungan dengan pekerjaan dilaporkan dalam penghasilan setelah dikurangkan dengan beberapa biaya dan penghasilan yang dikecualikan. hadiah. dan sebagainya. Penghasilan dari pekerjaan dalam hubungan kerja dan pekerjaan bebas.000. Dari angka penghasilan ini. Penghasilan lain-lain. penghasilan dari praktek profesi. sewa. kecuali bila pasangannya tidak berpenghasilan maka PTKP-nya Rp1. dividen. dan sebagainya. penghasilan dari semua sumber digabungkan untuk menentukan penghasilan bruto. Sebagaimana disebutkan dalam undang-undang tersebut. dan tiga tanggungan. 2. Penghasilan dari modal. Beberapa penghasilan non kas diabaikan (seperti imputed rent dan capital gain yang belum direalisasikan) dan beberapa penghasilan kas tertentu dikecualikan (seperti pembayaran asuransi dan pensiun). alat ukur ini ternyata tidak sekomprehensif mungkin.880. Penghasilan dari usaha dan kegiatan. keuntungan penjualan harta atau hak yang tidak dipergunakan untuk usaha. wajib pajak dapat mengurangkan biaya-biaya atau pengurangan-pengurangan tertentu untuk mendapatkan penghasilan neto.440. dan lain sebagainya.000). Walaupun penghasilan neto dimaksudkan untuk menjadi satu alat ukur yang komprehensif atas posisi penghasilan wajib pajak. seperti pembebasan utang. pasangannya. royalti. berupa harta gerak ataupun harta tak gerak seperti bunga. dan ganti kerugian asuransi. . kenikmatan dalam bentuk natura dengan persyaratan tertentu.000) ditambah tiga orang tanggungan (masing-masing Rp1. Tidak semua penghasilan dari berbagai sumber harus dilaporkan sebagai penghasilan. PTKP yang berlaku saat ini adalah wajib pajak dan pasangannya (masing-masing Rp2. Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) Untuk wajib pajak pribadi. seperti warisan atau hibah. 3.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 163 Dengan beberapa pengecualian seperti yang tertera pada UU Pajak Penghasilan. seperti gaji. honorarium.440. 4.

Batas waktu penyerahan SPT Tahunan adalah tiga bulan setelah tahun pajak berakhir. hanya wajib pajak yang tidak wajib memiliki NPWP. dapat dianggap bahwa penghasilan sampai sebesar PTKP ini dikenakan tarif pajak nol persen. pada saat wajib pajak harus menyerahkan pembayaran terakhir untuk pajak-pajak yang terutang pada tahun pajak yang telah berakhir atau menagih pengembalian pajak. Satu aspek prosedural yang juga penting adalah sistem pemungutan (pemotongan) yang didasarkan pada dua alasan utama yaitu prinsip kemudahan mengenakan pajak pada saat perolehan penghasilan (ability to pay) dan peningkatan ketaatan dari wajib pajak dengan mengharuskan pihak lain sebagai sumber penghasilan (pembayar) untuk bertindak atas nama negara memungut pajak tersebut. Skedul tarif ini ditetapkan berdasarkan Undang-Undang Pajak Penghasilan dalam bentuk tarif marjinal yang berlaku untuk tingkatan penghasilan yang naik secara berurutan.164 Bab 9: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Pribadi Penerapan Tarif Pajak Pajak dihitung dengan menerapkan angka tarif pada skedul tarif pajak dengan angka penghasilan neto setelah dikurangi PTKP. Sejak tahun 1983 sampai dengan 1994. Kewajiban Menyerahkan SPT Kewajiban menyerahkan SPT Tahunan pajak penghasilan diberlakukan kepada semua wajib pajak yang telah memiliki NPWP. sejak tahun 1995 tarif pajak diturunkan antara 10% sampai dengan 30%. Oleh karena penghasilan sampai PTKP tidak dikenakan pajak. tidak diwajibkan untuk menyerahkan SPT Tahunan. dan membayarkan beban pajaknya sesuai dengan peraturan dan perundangundangan pajak yang berlaku tersebut. Wajib pajak tersebut adalah mereka yang mempunyai penghasilan neto lebih kecil dari PTKP atau yang memperoleh penghasilan hanya dari satu pemberi kerja. Bersamaan . ada dua hal penting berkenaan dengan aspek prosedural utama pajak penghasilan: penyerahan SPT dan audit. Oleh karena itu. yaitu suatu sistem yang memberikan kewenangan kepada wajib pajak untuk menghitung dan melaporkan besarnya pajak penghasilan yang terhutang sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan pajak yang berlaku. tarif pajak yang ditetapkan antara 15% sampai dengan 35%. Prosedur Pembayaran Sistem penetapan pajak penghasilan di Indonesia dikenal dengan sebutan self assessment. melaporkan. Oleh karena itu. Wewenang otoritas pemungut pajak (dalam hal ini Direktorat Jenderal Pajak) adalah memastikan bahwa wajib pajak telah menghitung.

pemeriksaan sampel secara acak digunakan untuk membuat wajib pajak tetap patuh pada peraturan perpajakan. dan lain-lain. Pada waktu-waktu tertentu kelompok wajib pajak tertentu akan diperiksa. pengasuhan anak. Untuk itu DJP melakukan pemeriksaan atas SPT-SPT yang dilaporkan. Audit Seperti dikemukakan sebelumnya. DJP tidak dapat mengaudit semua SPT yang diterima. pembayaran pajak lebih berkaitan dengan tingkat penghasilan tahun berjalan daripada tingkat penghasilan tahun lalu. saat itu pula ia harus menyerahkan sebagian penghasilannya untuk beban pajaknya.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 165 dengan penyerahan SPT. Penerimaan pajak negara berfluktuasi sesuai dengan perubahan penghasilan masyarakat yang merupakan bagian utama dari pendapatan nasional. seperti melakukan investasi. perawatan orang tua. Dengan sistem ini. dari sisi ilmu keuangan negara. Oleh karena itu. dan setoran pajak penghasilan masa tahun berikutnya itu didasarkan pada informasi estimasi ini. wajib pajak menyerahkan estimasi pajak penghasilan yang harus dibayar tahun berikutnya. walaupun dibantu oleh fasilitas komputer dan tenaga audit yang dimilikinya. termasuk ketaatan pembayarannya. pembayaran pajak menjadi sangat responsif terhadap perubahan dalam tingkat penghasilan pribadi yang merupakan hal penting bagi efektivitas kebijakan stabilisasi. Sistem pemotongan pajak juga memastikan ketaatan sepenuhnya karena pernyataan penghasilan tidak diberikan sepenuhnya hanya kepada wajib pajak. kredit pajak merupakan pengurangan pajak yang diberikan atas aktivitas tertentu yang dilakukan oleh wajib pajak. Di Indonesia. misalnya dokter atau pengusaha retail. Sementara itu. Walaupun begitu. pajak-pajak yang dipungut oleh pihak-pihak yang melakukan pembayaran ini disebut sebagai kredit pajak bagi wajib pajak. Dengan sistem pemotongan pajak ini. Ketika wajib pajak memperoleh penghasilan. Dalam memeriksa aritmatika perhitungan pajaknya. . cakupan auditnya terbatas. Pemotongan Pajak (Withholding) Sebagian besar pajak dipungut dengan cara dipotong oleh pihak yang melakukan pembayaran dengan alasan kemudahan untuk melakukan pungutan. Biaya untuk mengaudit semua SPT tersebut akan sangat besar. Direktorat Jenderal Pajak (DJP) memiliki wewenang untuk memeriksa kebenaran perhitungan SPT Tahunan dari wajib pajak sesuai dengan peraturan perundang-undangan pajak yang berlaku. SPT yang melaporkan hal-hal yang tidak biasa (misalnya biaya yang mengurangi penghasilan yang sangat besar atau sumber penghasilan yang tidak biasa) dapat diaudit.

harus mengembalikan kelebihan pemotongan ini kepada para wajib pajak tertentu tersebut. Dari sisi manajemen bisnis.” Walaupun demikian. Pemerintah. Sebelum adanya pajak penghasilan. yaitu accretion income. para ahli ekonomi menggunakan istilah yield income untuk merujuk pada pengertian penghasilan dalam ilmu ekonomi. Dengan membuat saldo awal modal perusahaan menjadi tetap. praktek akuntansi dewasa ini memperlakukan kenaikan dan penurunan modal tersebut dengan cara berbeda. istilah accretion income disinonimkan dengan tambahan kemampuan ekonomis atau kenaikan total kekayaan seseorang. Haig dan Henry C. Jika tarif pajak yang dipotong ditetapkan cukup tinggi untuk mendapatkan penerimaan pajak setinggi-tingginya. Apresiasi pada modal hanya dicatat ketika direalisasikan sedangkan depresiasi pada modal diperkirakan dan dicatat pada setiap periode akuntansi. setiap akumulasi (apresiasi) modal diperlakukan sebagai “penghasilan” dan penurunan nilai (depresiasi) modal diperlakukan sebagai “penghasilan negatif. Yield income adalah jasa-jasa yang dihasilkan oleh modal. merupakan subset dari accretion income. Seberapa baikkah penghasilan neto digunakan sebagai suatu ukuran kapasitas pajak? UU Pajak Penghasilan di Indonesia mendefinisikan penghasilan sebagai tambahan kemampuan ekonomis yang diperoleh wajib pajak dari sumber mana pun yang dapat dipakai untuk konsumsi atau menambah kekayaannya. Simons. Menurut Irving Fisher dalam buku klasiknya The . yaitu memudahkan pengusaha untuk membandingkan berbagai aktivitas bisnis dengan suatu standar yang tetap dan menunjukkan sejarah akumulasi modal perusahaan yang dapat menunjukkan prospek kemampuan memperoleh penghasilan di masa depan. PRINSIP-PRINSIP DEFINISI PENGHASILAN Konsep penghasilan dasar yang menjadi penentuan kewajiban pajak penghasilan dalam prakteknya adalah penghasilan neto. Dalam buku ini. Konvensi ini berkembang dalam praktek pembukuan di mana suatu pos “modal” dibuat tetap selama periode akuntansi. yang sampai saat ini menjadi definisi penghasilan yang paling diterima dalam ilmu ini. Konsep accretion income ini berakar dari praktek pembukuan masa merkantilisme di Eropa yang telah menjadi bagian dari prinsip akuntansi sampai sekarang. praktek ini memiliki dua keuntungan. sistem pemotongan pajak juga menimbulkan biaya tersendiri. kelebihan pemotongan pajak akan dialami oleh para wajib pajak tertentu sehingga para wajib pajak ini yang secara riil memberikan pinjaman bebas bunga kepada pemerintah.166 Bab 9: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Pribadi Pada saat yang sama. Definisi ini sama dengan definisi penghasilan (income) oleh ahli ekonomi Robert M. dalam hal ini DJP.

Selain itu. penerapan tarif yang progresif tidak dapat menghasilkan efek yang diharapkan yaitu mengadaptasi pajak pada kemampuan membayar wajib pajak. konsep penghasilan yang mendapat banyak penerimaan dalam praktek pajak penghasilan di dunia adalah konsep tambahan kemampuan ekonomis. penghasilan dan modal merupakan kategori yang mutually exclusive. Pada dasarnya. tambahan kemampuan ekonomis sebagai indeks kapasitas pajak seseorang. suatu pengukuran atas stok. Kita tidak perlu mempertimbangkan bagaimana tambahan kemampuan ekonomis tersebut digunakan. yield income terdiri dari uang yang diperoleh tetapi tidak disimpan dan pengurangan sumber daya untuk digunakan. harus didefinisikan sebagai kenaikan total atas kekayaan seseorang. . kedua ukuran tersebut ekivalen karena nilai ekonomis dari modal sama dengan nilai tunai dari nilai ekonomis dari aliran penghasilan di masa depan yang diharapkan. baik terealisasi ataupun tidak terealisasi. Terminologi yield income ini mirip dengan (walau tidak sama persis) konsep penggunaan uang yang diperoleh untuk konsumsi. diharapkan ataupun tidak diharapkan. Kekayaan yang diukur pada suatu waktu tertentu merupakan konsep ekonomi dari modal. tetapi tidak dapat pada kedua waktu tersebut. Pandangan pajak penghasilan ini banyak diterima oleh berbagai kalangan dewasa ini. Semua tambahan kemampuan ekonomis (accretion) harus dimasukkan.1 Dengan demikian. Sekarang. penghasilan dari semua sumber harus diperlakukan secara seragam dengan cara digabungkan sebagai penghasilan global yang kemudian akan dikenakan tarif pajak.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 167 Nature of Capital and Income (1908). yaitu tambahan kemampuan ekonomis dan konsumsi. Ekivalensi ini bersumber dari fakta yang sangat penting bahwa modal tidak dapat dipisahkan dari penghasilan karena modal dan penghasilan saling terkait secara resiprokal. Tanpa penggabungan ini. dalam konsep basis pajak ada dua kandidat utama sebagai basis pajak untuk pajak penghasilan pribadi. konsep tambahan kemampuan ekonomis ini akan dianalisis secara mendalam apa implikasinya dalam praktek dan bagaimana konsep ini diterapkan secara memuaskan dalam perhitungan penghasilan neto. suatu pengukuran atas aliran. Konsep ini berakar dari praktek akuntansi selama berabad-abad oleh karenanya banyak inkonsistensi yang terjadi pada 1 Menurut para ahli ekonomi. Bila kita memilih tambahan kemampuan ekonomis sebagai basis pajak. Kekayaan dalam ukuran jangka waktu merupakan konsep ekonomi dari penghasilan. Orang dapat mengukur kekayaan pada suatu waktu tertentu atau sepanjang waktu tertentu. yaitu stok kekayaan dan aliran kekayaan. baik teratur ataupun fluktuatif. apakah akan diinvestasikan atau dikonsumsi. Irving Fisher menyatakan bahwa kekayaan menunjukkan dua aspek bila dikaitkan dengan waktu. Penghasilan Bruto versus Penghasilan Neto Seperti telah dikemukakan sebelumnya.

sama seperti dalam praktek akuntansi. kerugian operasi harus dikurangkan dalam menentukan penghasilan neto dari kegiatan usaha. Pada beberapa negara maju. peraturan perundang-undangan juga membolehkan wajib pajak mengurangkan biaya-biaya yang berkaitan dengan pekerjaan. dalam praktek-praktek perpajakan ada perbedaan perlakuan pajak antara penghasilan dari pekerjaan (upah dan gaji) dan penghasilan dari modal. maka setiap pengurangan kemampuan ekonomis juga harus dipandang sebagai penghasilan negatif. pada umumnya penghasilan yang dapat dikenakan pajak telah dinyatakan dalam satuan penghasilan neto. Peraturan perpajakan mendefinisikan penghasilan yang akan dikenakan pajak sebagai penghasilan neto karena biaya-biaya yang terjadi dalam memperoleh penghasilan pada umumnya dikurangkan dari penghasilan dengan beberapa pembatasan biaya-biaya tertentu tidak boleh dikurangkan. Walaupun peraturan perundang-undangan tidak memberikan fasilitas pengembalian pajak. kerugian harus dapat diperlakukan sebagai pengurangan sepenuhnya. Oleh karenanya.168 Bab 9: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Pribadi penentuan penghasilan kena pajak terkait dengan inkonsistensi penentuan penghasilan dalam praktek akuntansi. ada konsistensi dalam perlakuan biaya modal. ada kredit pajak bagi wajib pajak yang memperoleh penghasilan dari pekerjaan tetapi wajib pajak . Walaupun ada pengecualian-pengecualian tertentu. Akan tetapi. Oleh karena itu. seperti biaya jabatan dan iuran pensiun. Biaya bunga boleh dikurangkan tetapi dividen tidak boleh dikurangkan. Sebagaimana dalam pembukuan dimana penghasilan diukur dalam jumlah laba bersih. Penghasilan atas Modal (Capital Income) versus Penghasilan sehubungan dengan Pekerjaan (Labor Income) Konsep tambahan kemampuan ekonomis tidak mempedulikan asal dari penghasilan. Kerugian mengurangi kekayaan bersih sebagaimana keuntungan meningkatkannya. pemerintah harus konsisten memperlakukan keduanya. Agar konsisten dengan konsep tambahan kemampuan ekonomis. Penghasilan dari pekerjaan harus dikenakan beban pajak yang lebih ringan. Akan tetapi. Untuk wajib pajak pribadi. penghasilan dalam konsep tambahan kemampuan ekonomis (accretion concept) harus diukur dalam satuan penghasilan neto yaitu penghasilan setelah dikurangi dengan biaya-biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan penghasilan. Karena tambahan kemampuan ekonomis dirancang untuk mengukur konsumsi dan kenaikan dalam kekayaan bersih. para wajib pajak dapat memperlakukannya untuk mengurangi kewajiban pajak beberapa tahun yang akan datang.

Direalisasikan atau tidak adalah pilihan portofolio bagi investor dan tidak boleh mempengaruhi penghasilan yang diukur untuk keperluan perpajakan.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 169 yang hanya memperoleh penghasilan atas modal tidak memperoleh kredit pajak ini. dan hasil penjualan aset) ataupun terakumulasi dalam bentuk kenaikan nilai aset yang tidak dijual. Dengan demikian. Penghasilan yang Terakumulasi versus Penghasilan yang Terealisasi Bila konsep tambahan kemampuan ekonomis diterapkan secara konsisten. kenaikan dalam penghasilan uang yang sepadan dengan kenaikan harga-harga bukan merupakan kenaikan dalam penghasilan riil. Tidak boleh ada perbedaan apakah penghasilan tersebut telah diterima secara kas (seperti gaji. Dalam situasi ini. kemampuan ekonomis harus diukur dengan satuan riil pada awal dan akhir tahun sehingga inflasi harus diperhitungkan. setiap tambahan kemampuan tersebut baik sudah diterima dalam bentuk uang ataupun belum harus diakui sebagai penghasilan. yaitu membuat aset tersebut memberikan penghasilan kas atau mengkonsumsi aset tersebut jangka panjang. Cara kedua ini memunculkan apa yang disebut penghasilan dalam bentuk natura atau imputed income. penghasilan dalam bentuk natura atau imputed income tidak dikenakan pajak penghasilan. Hal ini dinilai sebagai ketidakkonsistenan penerapan konsep penghasilan ini. Penghasilan Riil versus Penghasilan Nominal Dengan adanya inflasi. memberlakukan pengaturan pajak seperti yang telah dikemukakan sebelumnya. kewajiban pajak dalam satuan riil sama dengan nol. upah. Praktek-praktek yang tidak konsisten ini berakar dari praktek akuntansi yang menjadi acuan otoritas perpajakan. Wajib pajak dapat menggunakan aset yang dimilikinya dengan dua cara. Secara nominal. Penghasilan dalam Bentuk Natura atau Imputed Income Karena sulitnya menghitung berapa besarnya penghasilan. kenaikan kemampuan ekonomis pada akhir tahun yang diukur dalam satuan uang tidak seluruhnya merupakan tambahan kemampuan ekonomis dalam satuan riil. Contohnya rumah yang dimiliki wajib pajak dapat disewakan kepada pihak lain dengan mendapatkan . Hal inilah yang menjadi bagian dari topik kontroversial untuk pengenaan pajak capital gains.

seperti dalam fasilitas kendaraan kantor yang dapat diganti dengan tunjangan biaya transportasi. Penerapan imputed income pada dasarnya dapat dilakukan seluas mungkin akan tetapi untuk alasan-alasan praktis hal tersebut tidak mungkin dilakukan. Pengabaian ini menyebabkan ketidakadilan perlakuan pajak bagi pemilik rumah dan penyewa. ada beberapa penghasilan yang diterima dalam bentuk natura yang tidak diperhitungkan sebagai penghasilan dalam peraturan pajak. Dengan demikian. fasilitas kendaraan kantor atau fasilitas perumahan dan akomodasi di daerah terpencil. Akan tetapi. Permasalahan yang lebih rumit lagi adalah pilihan antara bekerja atau bersantai (tidak bekerja). wajib pajak tersebut sama saja dengan memperoleh penghasilan sewa (dari dirinya sendiri) atau disebut juga “imputed rent” yang jumlahnya sama dengan penghasilan yang ia dapatkan apabila ia menyewakan rumahnya. penghasilan tersebut dikenakan pajak. memelihara anak. Apabila penghasilan tersebut dapat diuangkan (diterima dalam bentuk uang). mencuci. dalam bentuk ‘santai’ harus dimasukkan ke dalam basis pajak.170 Bab 9: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Pribadi penghasilan sewa yang dikenakan pajak. ia memperoleh penghasilan dalam bentuk uang. nilai dari konsumsi yang imputed tersebut harus dimasukkan ke dalam basis pajak. . Bila ia bekerja. jasa rumah tangga yang dilakukan ibu atau bapak rumah tangga sendiri (seperti memasak. secara konseptual. Selain imputed rent. secara logika ekonomi ia memperoleh penghasilan sebesar apabila ia bekerja. implementasi dari aturan ini tidak akan mungkin dapat dilakukan. Alasan kepraktisan yang paling utama adalah memasukkan penghasilan ini ke dalam penghasilan neto memunculkan permasalahan serius dalam hal pengukuran dan hal-hal lain yang harus diperhitungkan ketika memberlakukan pajak penghasilan atas dasar rumah tangga. penghasilan daLam bentuk natura dapat digunakan oleh wajib pajak sebagai sarana untuk menghindari pajak. Jika seseorang memutuskan untuk santai (tidak bekerja). memperbaiki rumah) merupakan imputed income bagi rumah tangga. membersihkan halaman. Bila ia bersantai. Contohnya. Beberapa negara Eropa mengenakan pajak atas imputed rent ini kepada pemilik rumah yang mendiami rumahnya sendiri dengan data dari pajak atas kekayaan yang selalu menunjukkan nilai dari rumah tersebut. Logika tambahan kemampuan ekonomis (accretion) menyatakan bahwa penghasilan yang diterima dalam bentuk natura. seperti mengkonsumsi tanaman dari kebun sendiri. ia memperoleh penghasilan tersebut dan sekaligus mengkonsumsikannya dengan bersantai. Apabila rumah tersebut didiami wajib pajak sebagai pemiliknya. Karena kenaikan kemampuan (accretion) didefinisikan sebagai peningkatan kekayaan bersih dan konsumsi.

dengan demikian harus dimasukkan ke dalam basis pajak penghasilan bagi penerimanya. Transfer yang diterima dari pemerintah atau sumber-sumber swasta (seperti donasi dan hibah) bukan merupakan komponen penghasilan dalam istilah pendapatan nasional. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya. Warisan dan Hibah Transfer pribadi. Perlakuan pajak atas transfer seharusnya tidak mengikuti aturan dalam perhitungan pendapatan nasional. Konsep tambahan kemampuan ekonomis mengenakan pajak pada sumbernya. jadi bukan merupakan biaya. Jika hal ini dilakukan. Bantuan. Transfer seperti ini tidak dikurangkan dari penghasilan oleh pemberi dan juga tidak dilaporkan sebagai penghasilan oleh penerima. pajak penghasilan menganut definisi accretion income yang dikemukakan oleh Haig-Simons. penghasilan kena pajak seseorang tidak harus sama dengan bagiannya dalam pendapatan nasional dan juga total penghasilan kena pajak dalaM suatu negara harus sama dengan total pendapatan nasional. Hal ini sebenarnya menyalahi konsep tambahan kemampuan ekonomis karena semua transfer tersebut menambah kemampuan penerimanya akan sumber daya. Dalam konsep tambahan kemampuan ekonomis (accretion). tidak dikenakan pajak penghasilan. Oleh karenanya. pendapatan nasional adalah jumlah dari pendapatan faktor selama satu periode. apakah transfer seperti ini harus dikurangkan dari basis penghasilan pajak pemberi? Apabila mengacu pada konsep tambahan kemampuan ekonomis sepenuhnya.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 171 Penghasilan versus Transfer Dari sudut pandang ahli ekonomi. seperti juga tambahan kemampuan ekonomis dari sumbersumber lain. Hal ini sesuai dengan konsep penghasilan menurut Irving Fisher. Sumbangan. perolehan warisan atau hibah merupakan tambahan kemampuan ekonomis bagi penerima. warisan dan hibah. transfer ini merupakan bentuk penggunaan penghasilan. Juga. yang juga menyatakan nilai dari output yang diproduksi oleh faktor-faktor tersebut. dan karenanya harus menjadi bagian dari penghasilannya. bantuan. Transfer oleh pemerintah. tidak ada keharusan bahwa basis pajak agregat sama dengan penghasilan total yang didefinisikan dalam pendapatan nasional. seperti sumbangan. Penghasilan Teratur versus Penghasilan Tidak Teratur . seperti subsidi sekolah dan subsidi kesehatan. bukannya penggunaan. juga tidak dikenakan pajak penghasilan.

Pada transaksi-transaksi ini. walaupun belum ada penghasilan karena transaksi tersebut belum tentu . 4. pajak langsung dibayarkan dengan sistem pemotongan dan tidak dapat dikreditkan dalam perhitungan pajak penghasilan akhir. Penghasilan-penghasilan yang Dikenakan Pajak Final Untuk memudahkan penagihan dan meningkatkan ketaatan pajak pada beberapa transaksi tertentu berlaku tarif pajak final. Penghasilan dari transaksi penjualan saham di bursa efek. Penghasilan yang diperoleh dari hak atas tanah dan bangunan. Oleh karena itu. Penghasilan dari hadiah undian Perlakuan atas pajak final ini sebenarnya melanggar prinsip keadilan pajak. karena pengenaan pajak menggunakan tarif pajak yang progresif perlakuan pajak cenderung diskriminatif terhadap penghasilan yang tidak teratur ini. Beberapa penghasilan yang dikenakan pajak final adalah: 1. PRAKTEK DEFINISI PENGHASILAN: PENGECUALIAN Peraturan perundang-undangan perpajakan banyak menunjukkan penyimpangan dari prinsip tambahan kemampuan ekonomis. penghasilan yang tidak teratur dan penghasilan yang teratur sama pengaruhnya bagi kemampuan wajib pajak. tidak ada alasan untuk membedakannya. Penghasilan yang teratur cenderung dikenakan tarif pajak yang lebih rendah daripada penghasilan yang tidak teratur.172 Bab 9: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Pribadi Beberapa pendapat menyatakan bahwa penghasilan tertentu yang tidak teratur dan tidak diharapkan sebaiknya tidak dimasukkan dalam penghasilan yang dikenakan pajak dengan berbagai alasan yang tidak begitu kuat. yaitu pengecualian (exclusion). Permasalahan ini dapat dikurangi dengan menerapkan aturan meratakan penghasilan yang tidak teratur tersebut. sebelum tahun 2000. Akan tetapi. 2. 3. Bagian ini akan membahas kategori pertama. Preferensi pajak dapat dibagi dalam tiga kategori yaitu. Penyimpangan ini disebut juga sebagai preferensi pajak yang menyebabkan perbedaan antara jumlah penghasilan kena pajak dengan ukuran penghasilan yang komprehensif. Pada kenyataannya. pengecualian. pengurangan sebagai biaya dan kredit pajak. Pada transaksi tertentu seperti transaksi penjualan saham di bursa efek. Penghasilan jasa konstruksi dan jasa konsultan.

dihitung dari nilai transaksi. Dalam setiap prospektus reksadana. "Kami mengusulkan pajak final bagi capital gain.6 triliun dana yang diputar dalam reksadana. sebenarnya yang diusulkan APRDI bukan pengenaan pajak final atas kupon bunga obligasi. Pertama. tapi keuntungan yang diperoleh dari jual beli obligasi. "Kalau tetap diterapkan. namun kemampuan perbankan untuk membiayai sektor riil yang berjangka panjang juga terbatas sehingga kehadiran reksa dana akan menjadi pendukung perbankan untuk bersama-sama membantu pembangunan ekonomi nasional. Pengenaan pajak akan membuat reksadana kehilangan salah satu nilai jualnya. capital gain dari obligasi bagi perusahaan reksadana dikenai PPh seperti umumnya. Setelah menjadi polemik. Yang aneh. usulan pajak final reksadana menyesakkan dada. Selama ini. Sumber dana pembiayaan perbankan memang dapat dipakai untuk membiayai kegiatan ekonomi berjangka panjang. wajib pajak sudah diharuskan membayar pajak. Nah. peran reksa dana dirasakan sangat penting untuk mendukung pembangunan ekonomi nasional. "Jadi.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 173 memberikan untung. reksa dana sudah diberikan dispensasi pajak sehingga pemerintah tentunya memiliki pertimbanganpertimbangan tersendiri. kalau dipajaki dengan sendirinya nasabah menjadi tidak tertarik lagi untuk membeli reksadana. salah satu yang paling dijual sang manajer adalah fasilitas bebas pajak dari penghasilan yang mereka peroleh. memang. menurutnya. Pengenaan pajak untuk reksa dana merupakan tindakan yang sah-sah saja menurut hukum karena hal tersebut adalah bagian dari kewenangan pemerintah. Bagi pengelola reksadana. Demikian pula pada transaksi-transaksi yang menguntungkan. akhirnya dalam UU Perpajakan yang baru muncul pasal yang mengatur soal itu. Pajak Final Usulan mengambil pajak dari reksadana obligasi mencuat dan menimbulkan pro-kontra. maka upaya tersebut sangat tepat mengingat reksa dana merupakan instrumen investasi jangka panjang yang masih baru sehingga diperlukan insentif tertentu untuk menarik investor. 46/1996. Di tengah-tengah minimnya sumber dana pembiayaan jangka panjang saat ini. dari sekitar Rp 5. Asal tahu saja. yang dikenai pajak final bukan kupon obligasinya. sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. Selama ini. tarif pajaknya proporsional seberapa pun besarnya penghasilan (keuntungan) yang didapat.tama. Rencana pemerintah untuk mengenakan pajak atas reksa dana haruslah ditanggapi dengan kepala dingin. Disamping itu. 60% di antaranya diinvestasikan dalam obligasi. pajak final sebesar 15% atas kupon bunga obligasi hanya diberlakukan bagi transaksi yang melalui perusahaan . yakni bertingkat (progresif). Keadilan vertikal dipengaruhi karena prinsip progresivitas tidak berlaku pada penerapan pajak final. Keadilan horizontal dilanggar karena perlakuan ini menghasilkan perbedaan dalam kewajiban pajak pada tingkatan penghasilan tertentu. seperti PPh capital gain di bursa saham. investor tetap berkewajiban untuk membayar pajak atas penghasilan yang diterima dari reksa dana maupun pendapatan lainnya dalam bentuk pajak penghasilan biasa yang harus dilaporkan setiap tahun. Walaupun saat ini tidak ada pajak final untuk pendapatan yang diperoleh dari reksa dana." ujar Manajer Portofolio PNM Investment Management. menurut pengurus APRDI. masalah pajak adalah sepenuhnya kewenangan pemerintah yang harus dihormati oleh semua pihak. BES memang mengusulkan agar reksadana juga dikenai Pajak Penghasilan (PPh) 15% atas kupon bunga obligasi. Apabila tujuan tersebut dalam rangka menggerakkan pertumbuhan reksa dana di Indonesia." katanya." ujarnya. APRDI mengusulkan agar pengenaan pajak dilakukan secara final saja. tentu reksadana akan menuntut tingkat bunga obligasi lebih tinggi lagi untuk mengompensasi pajak itu. tentu saja. Masalahnya. Nah. Maksudnya.

174 Bab 9: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Pribadi sekuritas. adalah konsep yang benar secara keilmuan.kompas. dana pensiun. Perlakuan ini jelas-jelas melanggar prinsip keadilan pajak. sering terjadi praktek washing alias jual beli obligasi secara fiktif demi menghindari pajak final tersebut. Prinsip progresivitas pajak dilanggar. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya. Tentu saja perusahaan sekuritas atau individual bisa mematok harga premium. laba modal tidak dikenakan pajak. mereka menikmati rente secara tidak langsung. (Diadaptasi dari: berbagai sumber yang dimuat dalam http://www. biarpun tidak menerima pembayaran kupon. dan (2) apakah laba yang tidak direalisasikan harus juga dipajaki. Caranya begini. selama ini. Sesuai dengan aturan. Agar tidak terkena potongan pajak final atas pencairan kupon. yaitu laba modal dari penjualan saham di bursa efek dan pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan. dia tidak akan terkena pajak atas kupon yang dicairkan. debat juga terjadi pada negara-negara ini yang berkisar pada (1) apakah laba yang direalisasikan harus diperlakukan sebagai penghasilan biasa. yaitu yield income. laba modal dikenakan pajak. Para ahli ekonomi menyatakan bahwa pengenaan pajak atas laba modal ini merupakan salah satu bentuk kesalahan penerapan konsep penghasilan dalam peraturan perpajakan. baik ketika untung maupun ketika rugi. Adapun transaksi obligasi yang dilakukan bank. . seperti di Inggris dan beberapa negara anggota the Commonwealth. Berkenaan dengan perlakuan pajak terhadap laba modal ini. Pada negara-negara yang peraturan perpajakannya mengacu pada konsep penghasilan ini. Transaksi tetap dikenakan pajak.com) Berdasarkan pemaparan diatas. Jadi. Pajak untuk transaksi-transaksi ini bersifat final dan dikenakan atas nilai transaksi. dan reksa dana bebas dari pajak itu. Dengan begitu. para ekonom sepakat bahwa konsep penghasilan menurut Irving Fisher. baik keadilan horizontal maupun keadilan vertikal. pihak reksa danalah yang akan mencairkan kupon tersebut. bukan atas labanya. perusahaan sekuritas atau individu akan menjual obligasinya kepada perusahaan reksa dana. diskusikan pengaruh kebijakan pajak final tersebut! Laba Modal (Capital gain) Pengenaan pajak atas laba modal adalah salah satu topik yang paling kontroversial dalam ilmu perpajakan. Laba modal bukanlah penghasilan karena bukan dihasilkan dari layanan yang dihasilkan oleh modal. Akibat perbedaan perlakuan seperti itu. Pada negara-negara lainnya yang menganut konsep accretion income pada peraturan perpajakannya. Perlakuan atas Laba Modal yang Direalisasikan Peraturan perpajakan memberikan perbedaan perlakuan pada laba modal yang direalisasikan.

000. Semua tambahan kemampuan ekonomis harus dimasukkan. dibandingkan jika laba modal tersebut diterima sebagai dalam bentuk pendapatan tetap. Berdasarkan definisi ini. Misalnya. Perlakuan pengenaan pajak yang mengecualikan laba modal yang belum direalisasikan ini mendorong investor untuk tidak menjual asetaset yang memiliki akumulasi laba. tidak ada alasan untuk membedakan perlakuan pajak terhadap laba yang direalisasikan terhadap penghasilan dari usaha. misalnya menjualnya untuk dikonsumsi atau diinvestasikan dalam bentuk aset lainnya. Menurut Musgrave dan . itu menunjukkan preferensinya untuk tetap terus memegangnya dalam bentuk portofolio saham bila dibandingkan dengan bentuk alternatif lainnya. yang disebut sebagai lock-in effect. Kekayaan ini dapat ia ubah dari portofolio saham menjadi kas bila ia memutuskannya. Akan tetapi. Akan tetapi berbagai argumentasi melingkupi perdebatan tentang perlakuan pajak atas laba modal yang belum direalisasikan ini. Tidak ada bedanya penghasilan yang diperoleh dari usaha atau dari laba modal. Dengan kenaikan nilai portofolio ini. Penundaan pengenaan pajak setelah realisasi memberikan perlakuan yang menguntungkan kepada jenis penghasilan yang belum direalisasikan. Perlakuan terhadap Laba yang Belum Direalisasikan Berdasarkan prinsip kemampuan membayar. keputusan untuk merealisasikan dalam bentuk kas atau tidak adalah keputusan manajemen portofolio.000. penghasilan neto dinyatakan dalam bentuk penghasilan kas dan hanya memasukkan penghasilan kas saja. Laba dari sahamnya telah membuatnya memperoleh tambahan kemampuan ekonomis.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 175 Berdasarkan prinsip keadilan. Memang laba modal sifatnya tidak teratur dan cenderung berfluktuasi sehingga harus membayar lebih banyak dalam sistem tarif pajak yang progresif. laba yang belum terealisasikan dalam bentuk kas tidak dikenakan pajak. Tuan Amir memiliki kekayaan dalam bentuk portofolio saham PT Telkom yang nilainya naik Rp100. ketidakadilan ini dapat dihilangkan dengan menggunakan aturan yang tepat untuk meratakan penghasilan yang fluktuatif. kekayaannya telah bertambah sejumlah tersebut. Hal ini jelas-jelas bertentangan dengan definisi tambahan kemampuan ekonomis. Apakah laba telah terealisasi tidak ada relevansinya dengan apakah ada peningkatan kemampuan ekonomis. Bila pada kenyataannya ia tetap memiliki dalam bentuk portofolio saham. penghasilan sebagai suatu indeks dari kapasitas wajib pajak harus diukur sebagai tambahan kekayaan. baik yang sudah terealisasi (berubah menjadi kas) maupun belum. Bahwa realisasi dalam bentuk kas memungkinkan.

Pandangan ini.176 Bab 9: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Pribadi Musgrave (1989). Prinsip akuntansi yang hati-hati hanya mengakui pendapatan setelah ada realisasi. Musgrave. 338. New York: McGraw-Hill.” Pandangan ini tepat. Public Finance in Theory and Practice. Pengukuran atas laba yang belum direalisasikan memang sulit. Akan tetapi. yang banyak mendapatkan dukungan-dukungan hukum pada tahap-tahap awal diskusi pajak penghasilan. pembedaan apakah sudah terealisasi dan belum terealisasi bukan merupakan hal yang utama. pemerintah dapat memberikan waktu yang cukup untuk itu. Pemisahan adalah pilihan investasi sedangkan penghasilan diperoleh karena nilai aset meningkat.” Pada awal munculnya pembukuan oleh para saudagar Venesia. beberapa bentuk perdebatan tersebut adalah sebagai berikut:2 § “Laba yang belum direalisasikan tidak boleh dipajaki karena pemiliknya dihalangi untuk melakukan konsumsi. Walaupun berdasarkan pajak konsumsi.) § “Laba yang belum direalisasikan tidak boleh dipajaki karena ketiadaan realisasi membuat kita tidak mengetahui keberadaannya. mereka tidak membukukan pendapatan mereka sampai nakhoda kapal telah kembali ke pelabuhan dan menyerahkan uang hasil dagangan. tetapi apakah hal itu jadi persoalan? Sebagaimana halnya hutang-hutang lainnya yang jatuh tempo. . (Berdasarkan suatu pajak konsumsi. § “Pemajakan atas laba yang belum direalisasikan mengharuskan wajib pajak membayar pajak walaupun ia tidak memiliki uang kas untuk membayarnya. adalah beralasan bagi pemerintah untuk meminta wajib pajak melikuidasi sebagian asetnya untuk membayar pajak bila diperlukan. penghasilan tersebut harus dapat dipisahkan dari aset yang menghasilkannya. hal. Laba yang sudah direalisasikan tetapi tidak dikonsumsi perlakuannya sama dengan laba yang belum direalisasikan. Musgrave dan Peggy B. sulit digunakan untuk meyakinkan para ahli ekonomi. tetapi hal ini bukan halangan yang luar biasa. tidak peduli akan digunakan untuk apa.” Walaupun tidak ada konsumsi. situasi bisnis telah berubah dan analogi seperti ini tidak tepat lagi. laba yang belum direalisasikan akan dikecualikan dan laba yang direalisasikan akan dimasukkan hanya jika dikonsumsi. Prinsipnya adalah semua penghasilan harus dipajaki. § Untuk suatu penghasilan yang akan diterima. Edisi ke-5. hal ini tidak relevan dengan definisi basis dari pajak penghasilan. Untuk situasisituasi di mana likuidasi parsial tidak memungkinkan (misalnya bisnis keluarga). misalnya untuk pemegang saham PT Telkom yang dapat menjual sahamnya sewaktu-waktu. 2 Richard A.

Pengenaan pajak secara tahunan atas laba modal yang belum direalisasikan mengharuskan adanya penilaian aset secara tahunan. Penundaan pajak ini sama dengan memperoleh pinjaman bebas bunga. Konsistensi juga harus berlaku bila terjadi rugi modal (capital loss) yang harus diperlakukan sebagai pengurangan atas penghasilan atau penghasilan negatif. seperti barang seni. untuk aset lainnya. yang bukan disebabkan oleh inflasi. Dengan laba modal. bangunan pabrik. muncul usulan untuk mengenakan pajak pada saat kematian atau pemindahan aset ini dengan menganggap seolah-olah telah terealisasi pada saat itu (realisasi konstruktif). Oleh karena itu. Laba modal yang dikenakan pajak. Dalam hal laba modal yang sudah direalisasikan. yang nilainya sangat . pengenaan pajaknya sepenuhnya dapat dilaksanakan tanpa kesulitan-kesulitan teknis yang muncul. dapat dinilai dan dikenakan pajak secara periodik. Penilaian atas aset hanya dilakukan pada saat realisasi konstruktif ini sehingga lebih praktis. tanpa mempedulikan apakah sudah direalisasikan atau belum. Para pemilik aset dapat menunda kewajiban pajaknya sampai bertahun-tahun. Bila pengenaan pajak atas laba modal tidak memperhitungkan inflasi maka akan memunculkan problema keadilan dan efisiensi pajak. nominal harus dikurangi dengan kenaikan harga dari aset karena inflasi untuk mendapatkan laba modal yang dimasukkan dalam penghasilan kena pajak. Permasalahan Penerapan Walaupun secara prinsip tidak ada lagi persoalan terhadap pengenaan pajak atas laba modal. bahkan sampai meninggal. misalnya setiap lima tahun. Walaupun realisasi konstruktif dapat memindahkan laba yang belum direalisasikan ke dalam basis pajak. seperti sekuritas. dapat dihindari likuidasi paksa untuk tujuan pengenaan pajak yang menimbulkan ketidakadilan.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 177 Jika definisi tambahan kemampuan ekonomis diikuti secara konsisten. Pengenaan pajak atas laba modal harus juga disesuaikan dengan inflasi. dan tanah. suatu praktek yang sangat tidak praktis. akan tetapi pengenaan pajaknya menghadapi kendala operasional yang cukup berat. cara ini masih memberikan beberapa keuntungan bagi laba modal. Dengan memberikan aturan perataan penghasilan dan membolehkan penyebaran pembayaran pajak pada beberapa periode. laba modal harus dimasukkan dalam penghasilan kena pajak dan digabungkan dengan penghasilan dari sumber-sumber lainnya. Beberapa aset yang memiliki pasar yang likuid. Situasinya jauh lebih sulit untuk laba yang belum direalisasikan. Akan tetapi. sulit untuk dinilai.

Kedua. bukannya asuransi. Tabungan Hari Tua dan Rencana Pensiun Tabungan hari tua atau rencana pensiun adalah tabungan atau investasi yang diakumulasi dengan cara memisahkan penghasilan tahun berjalan untuk penggunaan di masa depan dengan menyetorkan sejumlah uang kepada lembaga dana pensiun atau sejenisnya. Setoran ini semakin mendapatkan argumentasi dukungan untuk dimasukkan ke dalam basis pajak apabila dipandang sebagai skema redistribusi. Iuran pensiun dan bentuk pembayaran tabungan hari tua lainnya tidak boleh dikurangkan dari penghasilan.178 Bab 9: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Pribadi substansial terutama bagi para wajib pajak muda yang mampu menunda untuk periode waktu yang sangat panjang. hanya komponen bunganya saja yang dikenakan pajak penghasilan. jadi harus tetap dikenakan pajak. Praktek yang berlaku saat ini memunculkan ketidakadilan terhadap para penabung lainnya karena dua keuntungan bagi pembayar iuran pensiun/tabungan. pembayaran kepada dana pensium atau lembaga sejenis ini bukan merupakan biaya tetapi merupakan penggunaan penghasilan. bila menggunakan konsep accretion income. Alternatif pertama. Perlakuan yang tepat tentu saja dengan memperlakukan setoran tabungan sebagaimana bentuk tambahan kemampuan lainnya dan dikenakan pajak sebagaimana mestinya. pembayar iuran pensiun/tabungan akan mendapat pengenaan tarif pajak yang lebih rendah atas penghasilannya yang ditunda pengenaannya karena penghasilan pembayar iuran pensiun di masa depan akan lebih kecil. Ketika uang manfaat pensiun atau tabungan hari tua diterima di kemudian hari. Pertama. Alternatif kedua yang dipraktekkan saat ini adalah membolehkan pembayaran-pembayaran ini sebagai pengurang atas penghasilan dan mengenakan pajak sepenuhnya pada saat uang pensiun/tabungan dibayarkan kembali. Sebagaimana disebutkan di muka. Tabungan Hari Tua Peraturan perundang-undangan pajak penghasilan membolehkan setoran tabungan hari tua kepada PT Taspen tidak dimasukkan sebagai penghasilan kena pajak. aturan ini sama saja memberikan kepada pembayar tabungan hari tua suatu pinjaman bebas bunga dan penerapan tarif pajak yang lebih rendah di kemudian hari ketika tabungan ini diambil oleh penabung. Setoran ini tidak dikenakan pajak apabila . Ada dua alternatif pengenaan pajak atas iuran tabungan/pensium ini. penundaan pembayaran pajak oleh pembayar iuran pensiun/tabungan sama dengan perolehan pinjaman bebas bunga.

Pada umumnya wajib pajak yang berpenghasilan tinggi akan memilih pengurangan khusus karena akan memberikan jumlah pengurangan yang lebih besar daripada pengurangan standar. Sementara itu. Pembayaran premi asuransi jiwa tidak boleh digunakan untuk mengurangi penghasilan yang akan dikenakan pajak. Pajak penghasilan atas gaji/upah juga tidak dikurangkan dan menjadi bagian dari penghasilan umum dan diperlakukan sama seperti pajak-pajak lainnya. Hal ini berlaku baik iuran pensiun itu dipotong dari penghasilan para pegawai maupun dibayarkan atau ditanggung oleh perusahaan. Iuran Pensiun Iuran yang tidak dikenakan pajak penghasilan adalah iuran pensiun yang dibayarkan kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan. sebagaimana yang berlaku pada penghasilan dari sumber-sumber lainnya. Asuransi jiwa tertentu memiliki komponen tabungan (investasi) yang karena perlakuan ini bunga yang diperoleh atas tabungan ini terhindar dari pengenaan pajak. pembayaran asuransinya tidak dikenakan pajak penghasilan. Untuk asuransi jiwa yang tidak memiliki komponen investasi. Perlakuan premi asuransi telah sesuai dengan konsep tambahan kemampuan tetapi perlakuan atas pembayaran asuransinya tidak sesuai. Asuransi Jiwa Pembayaran premi kepada perusahaan asuransi jiwa dan pembayaran asuransi dari perusahaan asuransi jiwa mendapatkan perlakuan yang berbeda. Pengurangan khusus ini merupakan kategori lainnya dari preferensi pajak yang umumnya diberikan . apakah akan menggunakan pengurangan standar atau pengurangan khusus (itemized deduction). Praktek Definisi Penghasilan: Pengurangan Atas Penghasilan Neto Peraturan pajak penghasilan di Indonesia hanya membolehkan satu jenis pengurangan terhadap penghasilan neto yang disebut pengurangan standar atau Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). Pengenaan pajaknya ditunda sampai uang pensiun diterima oleh para pegawai selama masa pensiun.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 179 penghasilan penerima berada di bawah PTKP. Peraturan pajak penghasilan di Amerika Serikat memberikan pilihan bagi wajib pajak. perlakuannya sudah tepat yaitu pembayarannya dikecualikan dari pengenaan pajak tanpa memperbolehkan pengurangan atas premi yang dibayarkan.

pengurangan standar fungsinya menjadi hibrida antara pengganti pengurangan khusus dan memberikan tambahan pengurangan yang tidak berkaitan dengan ukuran rumah tangga. Akan tetapi. angka pengurangan standar ini telah dinaikkan jauh melebihi angka pengurangan khusus yang disubstitusikan. pengurangan standar ini ditujukan untuk menjadi substitusi dari pengurangan khusus sehingga memudahkan penghitungan bagi wajib pajak yang berpenghasilan rendah. Beberapa wajib pajak tertentu harus membayar pengeluaran untuk pengobatan yang sangat besar karena kondisi dirinya atau keluarganya tentu mempunyai kemampuan untuk membayar yang lebih rendah daripada para wajib pajak lainnya yang tidak menghadapi beban yang sama. tidak diperlukan adanya pengurangan-pengurangan khusus. Dalam situasi-situasi di atas. ukuran rumah tangganya (tanggungannya) ataupun hal-hal lainnya. ada beberapa alasan yang patut diperhitungkan sehingga pengurangan khusus layak diberikan. terutama untuk wajib pajak berpenghasilan rendah. Aspek Keadilan Sebagian alasan perlakuan pengurangan ini karena alasan keadilan yang terkandung dalam prinsip kemampuan untuk membayar dari wajib pajak. Wajib pajak dengan penghasilan yang sama tidak berarti memiliki kemampuan yang sama untuk membayar jika para wajib pajak berada pada posisi yang berbeda-beda karena statusnya. Di Amerika Serikat. Pengurangan standar pada mulanya diberlakukan untuk memudahkan ketaatan dan administrasi. Alasan-Alasan Memberlakukan Pengurangan Khusus Prinsip pengenaan pajak atas penghasilan mengharuskan basis pajak yang komprehensif. Jika dirancang . Misalnya. Oleh karena itu. memasukkan semua tambahan kemampuan ekonomis. Walaupun demikian. perlu dirancang suatu sistem yang mampu menyeimbangkan kemampuan para wajib pajak tersebut.180 Bab 9: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Pribadi dengan alasan bahwa aturan perpajakan harus adil terhadap unit-unit pengenaan pajak dan aturan pajak memberikan insentif atas kegiatan-kegiatan yang memberikan manfaat sosial. Pengurangan standar sebenarnya adalah penghasilan yang tarif pajaknya nol persen. terhadap wajib pajak yang selalu mengeluarkan biaya pengobatan yang besar diberikan pengurangan atas penghasilannya sejumlah tertentu sehingga kewajiban pajaknya lebih rendah karena kemampuannya lebih rendah daripada wajib pajak lainnya yang berpenghasilan sama tanpa pengeluaran biaya pengobatan. Oleh karena itu.

Penghargaan itu misalnya. Akan tetapi.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 181 dengan baik.” tuturnya dalam acara sosialisasi program Direktorat Peningkatan Peran Kelembagaan Sosial Masyarakat dan Kemitraan Depsos. usulan ini didasarkan pemikiran bahwa banyak masalah sosial di tanah air yang harus diselesaikan. Pengurangan Pajak Pemerintah perlu memberi penghargaan bagi pengusaha yang punya tanggung jawab sosial tinggi dan bersedia bekerja sama membantu memecahkan masalah sosial di Indonesia. Pertimbangan yang sama juga dapat diberlakukan bagi para wajib pajak yang cacat karena mereka membutuhkan biaya hidup yang lebih banyak bila dibandingkan dengan wajib pajak yang normal. Direktur Jenderal Perbendaharaan Depkeu mengatakan." ujarnya. Biaya untuk melakukan aktivitas tersebut diperlakukan sebagai pengurangan atas penghasilan dan dapat dipandang sebagai suatu cara untuk menyediakan insentif penggunaan penghasilan untuk hal-hal yang “mulia” seperti sumbangan sosial atau zakat. kebijakan itu sangat rawan terhadap penyimpangan yang dilakukan oleh para pengusaha dalam bentuk laporan yang tidak sesuai dengan nilai sumbangan yang diberikan. KMK tentang fasilitas penurunan pajak itu bisa diberlakukan dalam kondisi darurat dan tidak terduga. seperti investment tax credit untuk mendukung . Pemerintah jelas tidak mampu menyelesaikan persoalan tersebut sendirian karena dana yang ada sangat terbatas. Apalagi. Akan tetapi. Untuk itu. (Diadaptasi dari: berbagai sumber yang dimuat dalam http://www.kompas. “Kerja sama dengan masyarakat dan perusahaan akan membuat beban pekerjaan itu menjadi lebih ringan sehingga banyak masalah sosial bisa diselesaikan. minat para pengusaha untuk membantu pemerintah menyelesaikan masalah sosial sebenarnya cukup tinggi. Menurut Dirjen Pemberdayaan Sosial Depsos. Menurutnya. diskusikan perlu tidaknya pengurangan pajak diberikan! Aspek Insentif Peraturan perpajakan seringkali dirancang dan ditetapkan dengan tujuantujuan lain selain tujuan fiskal. Pengurangan atas penghasilan juga dapat mendorong konsumsi atas hal-hal yang menimbulkan manfaat-manfaat eksternalitas. lalu dia laporkan sebesar Rp 5 miliar. Depsos bersama pengusaha akan membuat sekretariat tetap untuk memfasilitasi dunia usaha yang berniat membantu pemerintah. fasilitas ini akan membebani anggaran pemerintah sehingga perlu dicari sumber pembiayaan lebih besar. pengurangan ini tidak saja mendapat dukungan tetapi juga mampu mendorong terciptanya basis pajak yang lebih adil. seorang pengusaha bisa menyumbang di beberapa tempat yang berlainan.com) Berdasarkan paparan diatas. praktek program pengurangan beban pajak bagi wajib pajak yang menyumbang dinilai rawan korupsi. Tentu saja. "Karena bisa saja seorang pengusaha menyumbangkan dana Rp 1 miliar. Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economic and Finance (Indef) mengatakan. Langkah awal yang segera dilakukan adalah membuat identifikasi masalah sosial yang kelak bisa diberikan kepada perusahaan. mereka tak tahu harus menghubungi siapa dan lewat jalur mana untuk bisa membantu. seperti mendorong berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat. berupa pengurangan pajak.

Dengan adanya preferensi pajak ini. Pertanyaannya adalah apakah aktivitas yang perlu didukung itu membutuhkan subsidi. preferensi pajak inilah yang menyebabkan penghasilan kena pajak berbeda dengan penghasilan komprehensif. Dalam konteks keuangan negara dan ekonomi. Hal ini akan mendorong wajib pajak untuk membelanjakan lebih banyak uangnya untuk melakukan aktivitas-aktivitas ini. apakah subsidi ini harus diberikan dalam bentuk pengurangan pajak. kehilangan potensi pajak atau penyusutan penerimaan pajak ini . Jika subsidi dibutuhkan. sering disebut sebagai kehilangan potensi pajak. Akan tetapi. tetapi juga dari aparat perpajakan yang harus melakukan audit atas laporan pajak penghasilan tersebut. penghasilan kena pajak setelah pengecualian dan pengurangan sama dengan tambahan kemampuan ekonomis. Walaupun demikian. Tidak ada larangan bagi suatu peraturan perpajakan untuk mempunyai tujuan-tujuan selain tujuan fiskal. berbagai aturan khusus ini sebagai suatu preferensi pajak ternyata menambah kerumitan perhitungan pajak sehingga secara administratif membebani tidak saja bagi wajib pajak dalam melaporkan pajak penghasilannya. Dalam hal ini. peraturan perpajakan seperti ini sebaiknya dikaji secara mendalam sehingga hanya untuk aktivitas-aktivitas yang layak didukung dan hanya jika pengurangan pajak adalah cara terbaik untuk melakukannya. Preferensi pajak dapat dipandang sebagai subsidi pada aktivitas ekonomi tertentu. tingkah laku wajib pajak berubah untuk membuat beban pajaknya menjadi lebih rendah dengan memanfaatkan aturan-aturan tertentu yang juga disebut sebagai lubang-lubang dalam peraturan perpajakan.182 Bab 9: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Pribadi iklim investasi. Preferensi pajak menyebabkan pengurangan atas basis pajak. yaitu keuntungan yang didapatkan dapat jauh melebihi kerugiannya pada aspek keadilan pajak. Seharusnya. Hanya saja. Perbedaanperbedaan substansial yang timbul karena preferensi pajak inilah yang seringkali menyebabkan penghasilan kena pajak jumlahnya di bawah dari yang ditentukan oleh konsep tambahan kemampuan atau penghasilan komprehensif. PREFERENSI PAJAK Preferensi pajak merupakan pengecualian-pengecualian dan penguranganpengurangan dari basis pajak yang komprehensif. pengurangan dapat dipandang sebagai hibah yang diberikan oleh pemerintah kepada wajib pajak sehingga biaya pelaksanaan aktivitas-aktivitas tertentu yang bermanfaat menjadi berkurang.

insiden preferensi sangat bervariasi. baik bagi wajib pajak rata-rata pada berbagai tingkat penghasilan maupun wajib pajak tertentu pada satu tingkatan pajak penghasilan. Pada dasarnya. Misalnya. aturan yang membebaskan pajak atas bunga pinjaman rumah sama dengan mengenakan pajak penuh atas bunga pinjaman kepada pemilik rumah dan kemudian secara bersamaan melakukan pengeluaran subsidi kepada mereka. Hal ini sama dengan memberikan pengurangan tarif pajak maksimal yang sama bagi seluruh wajib pajak. Keberadaan preferensi pajak tidak menjadi masalah keadilan pajak apabila basis pajak yang berkurang karena pengecualian dan pajak final dalam jumlah yang proporsional terhadap basis pajak sepenuhnya (tanpa preferensi pajak) bagi seluruh wajib pajak. sehingga menimbulkan adanya ketidakadilan secara vertikal dan horizontal. Istilah penyusutan penerimaan pajak digunakan karena kegagalan otoritas pajak mendapatkan penerimaan pajak disebabkan lubang-lubang dalam basis penghasilan kena pajak. di Amerika Serikat. wajib pajak yang menerima penghasilan dalam bentuk natura membayar lebih sedikit daripada pegawai yang menerima seluruh penghasilannya dalam bentuk kas. kehilangan potensi pajak dari aturan pajak terhadap laba modal cenderung lebih dinikmati oleh wajib pajak berpenghasilan tinggi karena merekalah yang memiliki lebih banyak aset daripada wajib pajak berpenghasilan rendah. preferensi pajak dapat dinetralisasi dengan pengenaan tarif pajak yang lebih progresif. pengeluaran pajak ini adalah sama dengan memperoleh penerimaan pajak sepenuhnya (tanpa ada aturan preferensi pajak) kemudian melakukan pengeluaran (subsidi) dengan jumlah yang sama kepada wajib pajak sehingga wajib pajak tetap pada posisi yang sama. Misalnya.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 183 disebut pengeluaran pajak (tax expenditure). Pada kenyataannya. penelitian tentang hal ini ada. Ketidakadilan pajak secara horisontal terjadi karena wajib pajak dengan penghasilan sama tidak mendapat manfaat yang sama karena perbedaan aturan. bagaimana aturan pajak menciptakan preferensi pajak bagi golongan-golongan wajib pajak dengan penghasilan tertentu. Ketidakadilan pajak secara vertikal dapat timbul karena preferensi pajak memberikan manfaat-manfaat yang hanya dinikmati oleh kelompok wajib pajak dengan penghasilan tertentu. Dalam hal ini. . Untuk di Indonesia. Misalnya.

konsep yang sangat dipengaruhi oleh praktek akuntansi. suatu perusahaan perseorangan atau firma dibentuk untuk investasi di dunia real estate. Keduanya dapat dikombinasikan sedemikian rupa untuk mengurangi beban pajak dengan membentuk suatu tax shelter. firma tersebut dapat meminjam dalam jumlah yang banyak dengan jaminan harta real estatenya. investor dapat menghapuskan kerugian yang besar tersebut pada penghasilan mereka sehingga mengurangi pajak yang dibayarkan pada periode awal tersebut. Contohnya. Dengan investasi modal yang kecil. Kedua aturan ini memang konsisten dengan konsep tentang laba bersih sebagai basis pajak. Berapa besarnya penghasilan minimal yang tidak dikenakan pajak? Pada umumnya. yaitu menciptakan kerugian dengan memunculkan biaya bunga yang besar. semua orang sependapat bahwa ada sejumlah tertentu penghasilan yang tidak boleh dikenakan pajak atau dikenakan pajak dengan . Cara penghindaran pajak yang paling utama adalah adanya tax shelter yang timbul dari kerugian usaha. Para investor dengan penghasilan yang sangat besar pada periode ini dan penghasilan kecil pada periode berikutnya akan memperoleh manfaat yang besar dengan skema pengurangan pajak seperti ini. Permasalahan Keadilan Berpenghasilan Rendah Pajak Bagi Wajib Pajak Keadilan pajak menyiratkan bahwa wajib pajak berpenghasilan tinggi harus membayar pajak dalam jumlah besar dan wajib pajak berpenghasilan rendah hanya membayar pajak dalam jumlah kecil. kerugian merupakan penghasilan negatif sehingga dapat digunakan untuk mengurangi penghasilan kena pajak.184 Bab 9: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Pribadi Permasalahan Keadilan Berpenghasilan Tinggi Pajak Bagi Wajib Pajak Wajib pajak berpenghasilan tinggi dapat menggunakan preferensi pajak untuk melakukan penghindaran pajak. Dengan melakukan investasi pada firma tersebut. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya. Bunga adalah satu-satunya biaya modal yang dapat dikurangkan sebagai biaya dalam menghitung penghasilan kena pajak. Pembayaran bunga akan mengakibatkan kerugian yang besar pada periode-periode awal beroperasinya firma tersebut sebelum memperoleh penghasilan yang cukup besar. terutama yang berkaitan dengan berbagai jenis penghasilan modal.

Batas bebas pajak tersebut tidak hanya penting dalam menentukan batas bawah untuk kewajiban pajak. besarnya penghasilan tidak kena pajak pun harus menyesuaikan dengan ukuran besarnya keluarga. Ketidakadilan didapatkan oleh wajib pajak karena sesuatu dan lain hal. Ukuran untuk menentukan jumlah PTKP ini adalah tingkat penghasilan yang rendah yang membuat wajib pajak diklasifikasikan sebagai “miskin. Penghasilan yang dikenakan pajak (yang dikenai tarif pajak lebih dari nol persen) harus didefinisikan sebagai penghasilan kena pajak dikurangi dengan PTKP (yang dikenai tarif pajak nol persen). Berikutnya.440. Pertama. walaupun kategori “miskin” ini multi interpretasi. Hal ini menimbulkan permasalahan ketidakadilan pajak karena aturan pajak telah terdistorsi untuk memenuhi tujuan-tujuan non fiskal.” Karena tingkat kemiskinan bervariasi sesuai dengan ukuran besarnya keluarga. pemerintah perlu selalu menyesuaikan besarnya PTKP sehingga mencerminkan tingkat penghasilan wajib pajak “miskin”.000. harus memiliki jumlah tanggungan lebih dari tiga orang. Dalam hal ini. Dengan demikian.000. pasangannya dan setiap tanggungan (maksimal tiga tanggungan).000 per wajib pajak. PTKP memperhitungkan ukuran keluarga dengan asumsi implisit bahwa tambahan tanggungan tidak menciptakan skala ekonomis. tetapi juga menentukan besarnya tarif pajak efektif atau pola progresivitas pada skala penghasilan menengah ke bawah. Ketika penghasilan neto naik. ada PTKP sebesar Rp1. PTKP bergantung pada jumlah tanggungan keluarga sampai dengan maksimal tertentu. PTKP adalah penghasilan yang dikenakan tarif pajak sebesar nol persen dan merupakan bagian integral dari struktur tarif pajak sehingga menentukan tingkat progresivitas tarif pajak. Berdasarkan faktor ini.800. ada PTKP bagi anggota keluarga yang memiliki penghasilan untuk wajib pajak yang bersangkutan dan pasangannya masing-masing sebesar Rp1.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 185 tarif nol persen. Ditambah dengan faktor ini maka jumlah PTKP maksimal adalah Rp10. tarif pajak efektif (yang didefinisikan sebagai rasio pajak terhadap penghasilan neto) pada tingkat penghasilan neto yang rendah jumlahnya sangat kecil karena PTKP merupakan porsi terbesar dari penghasilan neto. Titik awal beban pajak bergantung pada berbagai faktor. Kredit Pajak bagi Wajib Pajak berpenghasilan Rendah . jumlah maksimal tanggungan adalah tiga orang karena adanya tujuan tambahan untuk mendukung program keluarga kecil. jumlah PTKP maksimal adalah Rp7. Seperti dikemukakan sebelumnya.200.000. Dengan adanya PTKP ini.440. jumlah PTKP turun secara relatif terhadap penghasilan neto sehingga tarif pajak efektif naik. Di Indonesia.

Arti Progresivitas Tarif Pajak Pada saat membahas penghasilan neto. mereka harus menyediakan dana untuk menyewa pengasuh bagi anak-anak mereka. Kredit Pajak untuk Biaya Mengasuh Anak Sejalan dengan perkembangan tentang hak-hak wanita dan perlakuan yang adil terhadap penghasilan keluarga. semakin progresif pajak penghasilan. telah muncul pemikiran-pemikiran dan praktek-praktek berkaitan dengan tarif pajak negatif. tarif pajak yang dikenakan meningkat seiring dengan peningkatan penghasilan neto. Peningkatan kewajiban pajak harus lebih tinggi daripada peningkatan penghasilan untuk dapat dianggap sebagai pajak progresif. dan regresif bila tarif pajak turun pada tingkat penghasilan yang lebih tinggi. proporsional apabila tarif pajak konstan pada semua tingkat penghasilan. Progresivitas tidak hanya diukur dengan peningkatan kewajiban pajak sejalan dengan peningkatan penghasilan. Bila peningkatan kewajiban pajak lebih rendah daripada peningkatan penghasilan. Struktur tarif pajak tidak lagi selalu positif. aturan hukum di negara maju menyediakan kredit pajak bagi keluarga yang memiliki anak dan pasangannya juga bekerja. tetapi bergerak dari tarif negatif pada penghasilan nol (wajib pajak pada tingkatan penghasilan ini mendapatkan subsidi dari pemerintah) bergerak ke angka nol (titik impas) dan menjadi tarif positif pada angka di atas titik impas ini. Selain itu. Progresivitas ini memiliki arti tertentu dan diukur dengan cara tertentu. . pajak tersebut dianggap regresif. POLA PROGRESIVITAS TARIF PAJAK Pajak penghasilan merupakan suatu instrumen pajak yang progresif sesuai dengan prinsip kemampuan membayar dan keadilan pajak secara vertikal. semakin cepat kenaikan rasio pajak terhadap PNB. Pajak dikatakan progresif apabila tarif pajak cenderung meningkat sejalan dengan kenaikan tingkat penghasilan. Praktek ini dapat dilakukan dengan memberikan kredit pajak pada para wajib pajak berpenghasilan rendah. Prinsip progresivitas tidak saja menyatakan seberapa tinggi tarif pajak yang dikenakan kepada wajib pajak berpenghasilan besar tetapi juga seberapa besar transfer yang dapat diberikan kepada wajib pajak miskin. Untuk keluarga seperti ini.186 Bab 9: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Pribadi Pada negara maju.

Proporsionalitas ditunjukkan dengan nilai koefisien sama dengan satu dan progresivitas ditunjukkan dengan nilai koefisien di atas satu. hal. Musgrave dan Peggy B. Ukuran ini disebut sebagai progresivitas kewajiban pajak. cit. Koefisien ini mengukur kemiringan kurva yang diperoleh dari menggambar hasil bagi kewajiban pajak terhadap penghasilan pada bagan log-ganda. 359-360 .Rumusnya: 1 1 (Y0 − T0 ) Y1 − Y0 n Sebelum membandingkan tingkat progresivitas suatu struktur pajak atau tingkat progresivitas pada berbagai tingkatan penghasilan. mencatat elastisitas kewajiban pajak terhadap penghasilan. yaitu3: n Rasio perubahan tarif efektif terhadap perubahan penghasilan. tertentu. Ukuran ini disebut sebagai progresivitas tarif rata-rata (average-rate progression). op. perlu ditetapkan terlebih dahulu ukuran progresivitas apa yang akan digunakan. Hal ini sangat 3 Richard A. Rumusnya: T1 − T0 Y0 . T0 Y1 − Y0 Rasio persentase perubahan penghasilan setelah pajak terhadap persentase perubahan penghasilan sebelum pajak. ada beberapa ukuran dapat dipakai untuk mengukur tingkat progresivitas tarif pajak.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 187 Mengukur Tingkat Progresivitas Menurut Musgrave dan Musgrave (1989).Rumusnya: Y1 − Y0 n Rasio persentase perubahan kewajiban pajak terhadap perubahan penghasilan. merupakan ukuran kemiringan kurva yang diperoleh dari menggambar hasil bagi tarif pajak efektif terhadap penghasilan. Progresivitas pada semua indikator cenderung menurun seiring dengan kenaikan skala penghasilan setelah tingkatan penghasilan (Y − T ) − (Y0 − T0 ) Y0 . Kurva tarif efektif cenderung berkurang kemiringannya dan progresivitas cenderung menurun seiring dengan meningkatnya skala T1 − T0 Y1 Y0 penghasilan. Nilai dari koefisien ini adalah nol untuk pajak proporsional dan positif untuk pajak progresif. Ukuran ketiga atau progresivitas penghasilan residu mencatat elastisitas dari penghasilan setelah pajak Ukuran ini menunjukkan kemiringan kurva yang diperoleh dengan menggambar penghasilan sebelum dan sesudah pajak pada bagan log.. Koefisiennya juga satu untuk pajak proporsional tetapi progresivitas sekarang ditunjukkan dengan angka koefisien yang kurang dari satu. Musgrave.

Padahal kenetralan tersebut memiliki banyak interpretasi sejalan dengan adanya berbagai ukuran progresivitas. . semua tarif pajak dinaikkan sebesar persentase kenaikan yang sama. Pihak-pihak yang memperjuangkan kepentingan masyarakat yang berpenghasilan rendah tentu saja akan sangat berkeinginan untuk menginterpretasikan netralitas dalam bentuk yang paling diinginkan yaitu progresivitas tarif rata-rata. tetapi juga PTKP. besaran pajak yang dikenakan tarif tertentu. kemudian progresivitas kewajiban pajak dan yang terakhir adalah progresivitas penghasilan residu. Ada implikasi politis dari hal-hal yang sifatnya teoritis. Yang lebih menarik lagi adalah urutan preferensi tersebut akan terbalik bila yang diperjuangkan adalah pengurangan pajak. tambahan kemampuan ekonomis harus memperhitungkan tingkat inflasi sehingga hanya penghasilan dalam nilai riil saja yang layak untuk dikenai pajak penghasilan. Dengan demikian. n Jika yang dimaksud dengan netralitas adalah progresivitas kewajiban pajak ditetapkan konstan. Tarif-tarif pajak dinaikkan pada persentase yang semakin besar pada tarif-tarif yang lebih tinggi. Misalnya. pihak-pihak tertentu akan menginterpretasikan netralitas sesuai dengan kepentingannya. PENYESUAIAN TERHADAP INFLASI Pada bagian sebelumnya telah dibahas pengaruh inflasi terhadap penghasilan nominal. Ketika tarif-tarif pajak dinaikkan atau diturunkan. dan laba modal. Pihak-pihak yang memperjuangkan kepentingan masyarakat berpenghasilan tinggi akan cenderung mengambil posisi yang berlawanan. banyak pihak yang mengusulkan perubahan pada seluruh tarif untuk menjaga kenetralan kenaikan dan penurunan. tarif-tarif pajak akan dinaikkan pada persentase yang semakin kecil pada tarif-tarif yang lebih tinggi. pemerintah memutuskan untuk menaikkan tarif pajak. seperti halnya ukuran tingkat progresivitas pajak. n Jika yang dimaksud dengan netralitas adalah progresivitas tarif pajak ratarata ditetapkan konstan. n Jika yang dimaksud dengan netralitas adalah progresivitas penghasilan residu ditetapkan konstan. Debat mengenai tingkat progresivitas ini menjadi hal yang sangat penting ketika tarif-tarif pajak berubah.188 Bab 9: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Pribadi penting supaya terhindar adanya pembandingan tingkat progresivitas dengan menggunakan ukuran-ukuran progresivitas yang berbeda. Permasalahan inflasi tidak hanya berkaitan dengan angka nominal penghasilan. Secara teoritis. semua hutang pajak harus dinaikkan dengan persentase yang sama.

kewajiban pajak naik dalam nilai riil lebih cepat daripada kenaikan harga. Karena pajak di Indonesia tidak terlindung dari pengaruh inflasi. Oleh karena itu. Dengan demikian. peraturan pajak di Indonesia hanya menyesuaikan PTKP. Bila peraturan perpajakan konsisten menggunakan basis tambahan kemampuan ekonomis yang diukur dalam satuan nilai riil maka aturan perpajakan harus membolehkan kreditor mengakui kerugian dan juga mengharuskan debitor mengakui keuntungan. pengembalian dari biaya perolehan aktiva berkurang dalam nilai riil dan penyesuaian inflasi juga diperlukan dalam hal ini. Perlakuan yang sama terhadap laba modal seharusnya hanya akan mengenakan pajak atas laba dalam nilai riil (kenaikan harga dalam nilai riil). bukannya laba dalam nilai nominal (kenaikan harga dalam nilai nominal). Ketika hargaharga naik.000 sepuluh tahun yang lalu nilai riilnya lebih besar dari sekarang. Solusi atas . Nilai PTKP sebesar Rp2. Dengan demikian. Permasalahan pengaruh inflasi yang sama juga dialami oleh kreditor yang menderita kerugian penurunan nilai riil hutang yang mereka berikan kepada debitor. Tingkat penghasilan riil yang mulai dikenakan pajak dengan tarif tertentu juga semakin turun. wajib pajak di Indonesia mengalami kenaikan kewajiban pajak dalam nilai riil. Itupun tidak dilakukan setiap tahun. sebagian dikenakan pajak final dan sebagian lagi dikenakan pajak reguler. nilai riil dari PTKP cenderung turun. penurunan nilai hutang ini menjadi keuntungan bagi debitor.440. Selain itu. Laba modal yang sudah terealisasi. Berkaitan dengan pengaruh inflasi. Depresiasi adalah pos berikutnya yang dipengaruhi inflasi. tetapi beberapa tahun sekali. Salah satu solusi yang pernah diusulkan adalah mengurangi penghasilan bunga kena pajak sesuai dengan tingkat inflasi. Penghasilan/Laba Modal Masalah inflasi juga mempengaruhi besarnya kewajiban pajak atas laba modal.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 189 PTKP dan Tingkat Penghasilan yang Dikenakan Tarif Pajak Inflasi menyebabkan nilai riil dari PTKP menjadi turun. nilai riil dari tingkat penghasilan yang dikenakan tarif pajak turun. sehingga tingkat tarif pajak yang berlaku untuk tingkat penghasilan riil tertentu akan naik. Tentu saja. diperlukan penyesuaian terhadap inflasi dengan mengurangkan kenaikan harga aset dari inflasi dari laba modal nominal. tingkat penghasilan yang dikenakan tarif pajak tertentu tidak pernah disesuaikan. Sementara itu. ketika harga-harga naik.

Aturan ini menunjukkan proposisi bahwa seorang bujangan dengan penghasilan Rp 30 juta memiliki posisi (kemampuan) lebih baik daripada pasangan dengan total penghasilan keduanya juga Rp 30 juta. Pendekatan Unit Keluarga Pendapat umum dari para ahli perpajakan adalah bahwa unit kena pajak dan pengukuran kemampuan untuk membayar harus diarahkan kepada unit keluarga. yaitu4: § Unit-unit dengan penghasilan yang sama dan jumlah anggota yang sama harus membayar pajak yang sama jumlahnya. 386.190 Bab 9: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Pribadi permasalahan ini dalam perundang-undangan pajak hanyalah parsial dalam bentuk penggunaan metode penyusutan dipercepat. Problema ini muncul karena adanya kecenderungan lebih dari anggota keluarga memperoleh penghasilan sebagai akibat kecenderungan sosio ekonomis meningkatnya partisipasi wanita dalam angkatan kerja. Aturan ini tidak perlu penjelasan lebih lanjut karena aturan ini secara sederhana mewakili persyaratan bahwa hal yang sama harus diperlakukan sama juga. PILIHAN UNIT KENA PAJAK Pemilihan unit kena pajak merupakan salah satu hal yang kontroversial dalam pajak penghasilan yang belum ada solusi yang memadai saat ini. Musgrave.. Alternatif lainnya adalah pemilihan individu sebagai unit kena pajak dan pengukuran kemampuan untuk membayar. pengeluaran-pengeluaran konsumsi lainnya (misalnya kursi untuk santai) 4 Richard A. Aturan Dasar Dalam hal penetapan unit kena pajak. § Di antara unit-unit yang berpenghasilan sama. op. . unit yang jumlah anggotanya lebih kecil harus membayar pajak lebih banyak dan unit yang jumlah anggotanya lebih besar harus membayar pajak lebih sedikit. Musgrave dan Musgrave (1989) memberikan tiga aturan berikut agar pilihan unit kena pajak tersebut memenuhi asas keadilan pajak. cit. Walaupun beberapa jenis pengeluaran konsumsi (misalnya penerangan di ruang tamu) dikonsumsi dalam jumlah yang sama baik oleh satu orang atau dua orang. Ada hal yang perlu dipertegas bahwa aturan ini tidak membedakan kemampuan untuk membayar dalam konteks unit keluarga apakah penghasilan diperoleh oleh satu anggota atau lebih. Musgrave dan Peggy B. hal.

. Sistem pengenaan pajak penghasilan di Indonesia menempatkan keluarga sebagai satu kesatuan ekonomis. Perbedaan seperti ini (pada jumlah yang layak) tidak boleh dipandang sebagai pajak yang diskriminatif terhadap seorang bujangan. status dan jumlah penerima penghasilan. Penggabungan Penghasilan Ada dua cara untuk mencapai tujuan seperti yang tercantum pada aturan dasar di atas. jumlah pajak (yang dinyatakan dalam persentase terhadap penghasilan) untuk unit-unit dengan jumlah anggota yang sama harus naik seiring dengan kenaikan penghasilan unit. Kedua. Bila individu ditetapkan sebagai unit kena pajak. Pendekatan Alternatif: Unit Peroleh Penghasilan Pendekatan alternatif dalam memilih unit kena pajak adalah dengan mengabaikan unit keluarga dan menggunakan individu sebagai unit yang dikenakan pajak. Oleh karena itu. baik ketika penghasilan masih dilaporkan sendiri maupun penghasilan digabungkan. Sistem yang mengikuti aturan-aturan keadilan ini tidak akan mempengaruhi keputusan pernikahan. Seperti yang dijelaskan sebelumnya. perlakuan yang adil apabila pajak yang dikenakan kepada seorang bujangan tersebut lebih tinggi daripada pajak yang dikenakan kepada pasangan suami-istri dengan tingkat penghasilan yang sama. Penggabungan penghasilan ini tidak mengurangi jumlah PTKP yang dapat dikurangkan dari penghasilan.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 191 § lebih mahal apabila untuk pasangan. tidak menimbulkan perbedaan. baik hanya satu orang dari pasangan yang menikah tersebut yang memiliki penghasilan ataupun kedua-duanya. Dengan pengenaan pajak progresif. progresif ataupun regresif. menetapkan PTKP tertentu sesuai dengan jumlah tanggungan dan jumlah penerima penghasilan. artinya penghasilan atau kerugian dari seluruh anggota keluarga digabungkan sebagai satu kesatuan yang dikenakan pajak. Struktur tarif yang digunakan. aturan perpajakan membolehkan tambahan PTKP sesuai dengan ukuran keluarga. menggunakan struktur tarif pajak yang berbeda untuk berbagai jenis SPT yang didasarkan pada jumlah tanggungan. walaupun dibatasi hanya sampai tiga tanggungan. Pertama. Aturan ini mengikuti secara langsung prinsip progresivitas dan tidak perlu penjelasan lebih lanjut. kewajiban pajak gabungan pasangan suami istri bergantung pada bagaimana penghasilan terdistribusi di antara mereka. baik proporsional. Pendekatan ini memberikan perlakuan yang lebih menguntungkan bagi wajib pajak yang berpenghasilan rendah.

Cara lain dari perlakuan pajak terhadap tanggungan adalah PTKP.192 Bab 9: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Pribadi Tanggungan dan Pasangan yang Tidak Bekerja Jumlah tanggungan menjadi pertimbangan utama dalam mengukur kemampuan untuk membayar dari suatu unit keluarga. Ada dua pertanyaan berkenaan dengan tanggungan ini. yang harus dimasukkan sebagai tambahan kemampuan. Padahal berdasarkan aturan opsi yang sama (bekerja dan tidak bekerja) keduanya harus membayar pajak dalam jumlah yang sama. Pertanyaan terakhir dalam pajak penghasilan adalah bagaimana pengaturan tentang pasangan yang tidak bekerja dan hanya tinggal di rumah untuk mengurus rumah.000 untuk setiap tanggungan. Secara prinsip. Kemudian ada pasangan lain. siapa yang menjadi tanggungan. Pertanyaan pertama. Dalam peraturan perpajakan sekarang ini keluarga C dan D membayar pajak lebih besar daripada keluarga A dan B. yang keduanya memiliki penghasilan. Pertanyaan ini akan menyangkut masalah bagaimana memperlakukan anak-anak yang tinggal jauh dari orang tua dan yang memiliki penghasilan. Suatu keluarga besar (dengan tanggungan yang lebih banyak) dengan penghasilan neto tertentu mempunyai kemampuan untuk membayar yang lebih rendah daripada keluarga kecil (dengan tanggungan yang lebih sedikit) dengan penghasilan neto yang sama. ada sepasang suami istri A dan B dimana A memiliki penghasilan dan B tidak memiliki penghasilan. Pertanyaan ini berkenaan dengan apakah pengurangan tersebut diberikan dalam bentuk pengurang atas penghasilan atau kredit pajak. tapi dengan jumlah maksimal tiga tanggungan. Asumsikan bahwa A dan C penghasilannya sama dan bahwa B memiliki potensi penghasilan yang sama dengan D. Peraturan pajak di Indonesia menggunakan cara ini dengan memberikan pengurangan atas penghasilan neto sebesar Rp1. Pertanyaan kedua bagaimana pengurangan diberikan. Pendekatan pengurang atas penghasilan lebih tepat digunakan jika biayanya diukur dalam berapa banyak pengeluaran akan dilakukan. menjaga anak-anak.440. Karena wajib pajak dengan penghasilan yang tinggi mengeluarkan biaya untuk tanggungan (anak) yang lebih besar. sudah selayaknya diberikan keringanan pajak yang lebih besar pula. atau menganggur. Misalnya. imputed income (dalam bentuk gaji yang tidak didapatkan) dari pasangan yang tidak bekerja harus dimasukkan ke dalam dasar pengenaan . C dan D. seperti kesimpulan kita pada pembahasan tentang imputed income di muka. Pendekatan kredit pajak lebih tepat digunakan bila setiap tambahan tanggungan diukur dalam satuan pengeluaran standar (misalnya pengeluaran rata-rata).

baik yang berasal dari Indonesia maupun luar Indonesia.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 193 pajak. kesulitan ini dapat dihilangkan dengan menggunakan aturan perataan yang tepat. bila dibandingkan jika capital gain tersebut diterima sebagai pendapatan tetap. § § § § § . tidak menjadi perbedaan apakah penghasilan tersebut telah diterima secara kas (seperti gaji. Logika tambahan kemampuan ekonomis (accretion) menyatakan bahwa penghasilan yang diterima dalam bentuk imputed income (misalnya pemilikan aset jangka panjang) dan natura dalam bentuk santai harus dimasukkan ke dalam basis pajak. Penghasilan dalam konsep tambahan kemampuan ekonomis (accretion concept) harus diukur dalam satuan penghasilan neto. yaitu penghasilan setelah dikurangi dengan biaya-biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan penghasilan. dan hasil penjualan aset) ataupun terakumulasi dalam bentuk kenaikan nilai aset (capital gain) yang belum terealisasi. Perolehan warisan atau hibah merupakan tambahan kemampuan ekonomis bagi penerima sehingga harus dimasukkan ke dalam basis pajak penghasilan bagi penerimanya. Sesuai dengan definisi penghasilan. Capital gain sifatnya tidak teratur dan cenderung berfluktuasi sehingga wajib pajak harus membayar lebih banyak dalam sistem tarif pajak yang progresif. secara prinsip. Untuk memudahkan penagihan dan meningkatkan ketaatan pajak. Penghasilan bruto yang telah dihitung kemudian dikurangkan dengan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) untuk mendapatkan jumlah Penghasilan Kena Pajak (PKP). pada beberapa transaksi tertentu berlaku tarif pajak final. prosedur yang sama juga harus diberlakukan kepada bujangan yang tidak bekerja RANGKUMAN § Penghasilan yang menjadi objek pajak adalah setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh wajib pajak. yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan wajib pajak yang bersangkutan dalam nama dan bentuk apapun. upah. ditekankan bahwa penghasilan dari pekerjaan harus dikenakan beban pajak yang lebih ringan. Penghasilan harus didefinisikan dalam satuan riil. Dalam membedakan antara penghasilan dari pekerjaan (upah dan gaji) dan penghasilan dari modal. Selain itu.

LATIHAN 1. Bagaimana penerapan pajak penghasilan terhadap: a. Pengurangan khusus dapat dipandang sebagai suatu cara untuk menyediakan insentif penggunaan penghasilan untuk hal-hal yang mulia seperti sumbangan sosial. Apa yang dimaksud dengan pajak final dan apa tujuan diberlakukannya? 5. dan ketika uang manfaat pensiun atau tabungan hari tua diterima di kemudian hari. Sistem pengenaan pajak penghasilan di Indonesia menempatkan keluarga sebagai satu kesatuan ekonomis. Laba yang telah terealisasi b. Laba yang belum terealisasi . Imputed Income 4. Pada prinsipnya. Bagaimana pengenaan pajak penghasilan atas : a. Jelaskan prinsip dasar pengenaan pajak penghasilan dan bagaimana menentukan penghasilan kena pajak! 2. Jelaskan perbedaan prinsip Capital Income dan Labor Income! 3. sehingga beban pajak pun harus menyesuaikan dengan ukuran besarnya keluarga. Secara keadilan. seperti tagihan biaya pengobatan yang besar. wajib pajak dengan tagihan-tagihan darurat yang berat. hanya komponen bunganya saja yang dikenakan pajak penghasilan.194 § Bab 9: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Pribadi § § § § Iuran pensiun dan bentuk pembayaran tabungan hari tua lainnya seharusnya tidak boleh dikurangkan dari penghasilan. Prinsip progresivitas tidak saja menyatakan seberapa tinggi tarif pajak yang dikenakan kepada wajib pajak berpenghasilan besar tetapi juga seberapa besar transfer yang dapat diberikan kepada wajib pajak miskin. Mengapa perlakuan terhadap pajak final dianggap melanggar prinsip keadilan pajak? 6. artinya penghasilan atau kerugian dari seluruh anggota keluarga digabungkan sebagai satu kesatuan yang dikenakan pajak. imputed income (dalam bentuk gaji yang tidak didapatkan) dari pasangan yang tidak bekerja harus dimasukkan ke dalam dasar pengenaan pajak. Warisan b. Tingkat kemiskinan bervariasi sesuai dengan ukuran besarnya keluarga. dapat dikatakan memiliki kemampuan untuk membayar yang lebih kecil dibandingkan para wajib pajak lainnya yang tidak menghadapi tagihan-tagihan darurat tersebut. Penghasilan tidak teratur c.

Apa pengaruhnya terhadap pengenaan pajak penghasilan wajib pajak tersebut? .Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 195 c. Tabungan hari tua d. Wajib pajak yang mempunyai penghasilan tinggi cenderung menginvestasikan uang mereka dibandingkan dengan menabungnya. Jelaskan bagaimana aspek keadilan yang diberlakukan untuk pengurangan jumlah pajak penghasilan yang dikenakan terhadap wajib pajak! 8. Iuran Pensiun e. Bagaimana bentuk ketidakadilan pajak yang terjadi akibat adanya preferensi pajak ? 9. Asuransi Jiwa 7.

menagih dan memelihara penghasilan bruto yang menjadi objek pajak. . Penghasilan bruto dari perseroan dikurangi dengan biaya-biaya yang dikeluarkan dalam rangka menjalankan usaha akan menghasilkan laba bersih (identik dengan penghasilan neto) untuk dikenakan pajak. Pada dasarnya semua pengeluaran dapat dibebankan sebagai biaya apabila mempunyai hubungan langsung dengan usaha atau kegiatan untuk mendapatkan.PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK BADAN STRUKTUR PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK BADAN Prinsip dasar penentuan penghasilan kena pajak untuk wajib pajak badan tidak jauh berbeda dengan penentuan penghasilan kena pajak untuk wajib pajak pribadi yang mempunyai kegiatan usaha. Pengeluaran untuk penghasilan yang bukan merupakan objek pajak tidak boleh dibebankan sebagai biaya.

ditambah dengan masalahmasalah lain yang khusus ada pada pengenaan pajak penghasilan kepada wajib pajak badan. U. n Pajak penghasilan perseroan menurunkan standar hidup masyarakat. pajak penghasilan tidak boleh dikenakan kepada badan. Musgrave dan Musgrave (1989) berpandangan pada dasarnya berpendapat senada. Beberapa fakta berikut merupakan hal-hal yang disepakati oleh para ahli ekonomi: n Warga negara yang menanggung beban pajak penghasilan perseroan. Wawancara terhadap Paul O’Neill. oranglah yang menanggung beban pajak pada akhirnya. menambah kerumitan dalam merancang pajak penghasilan badan yang adil dan efisien. n Pajak penghasilan perseroan merupakan praktek perpajakan berganda.S. banyak ahli ekonomi yang berpandangan bahwa perseroan sebaiknya tidak dikenakan pajak. Jika konsumsi dijadikan basis pajak penghasilan. Dengan demikian. pernah mengemukakan suatu pendapat: “For a long time we’ve maintained what I think is clearly a fiction – the idea that somehow corporations and business pay taxes. Permasalahan ini diantaranya penentuan pengeluaranpengeluaran apa yang dapat dibebankan sebagai biaya dan kapan pembebanan tersebut dapat dilakukan. manajemen ataupun karyawan. Secretary of Treasury.198 Bab 10: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan Demikian juga pengeluaran yang melebihi batas kewajaran karena adanya hubungan istimewa tidak boleh dibebankan sebagai biaya.. The clear economic truth is that businesses and corporations don’t pay taxes. Paul H. Sumber penghasilan dari korporasi hanya dapat dipajaki apabila didistribusikan dan dibelanjakan oleh penerimanya. O’Neill. baik investor. suatu pajak penghasilan badan yang adil bukanlah pajak yang sederhana. they just collect them for the government . Pernyataan ini adalah jawabannya atas pertanyaan: “Bidang-bidang apa saja yang anda pandang membutuhkan perbaikan? 1 . Setiap industri memiliki kerumitan tersendiri sehingga sangat sulit untuk merancang suatu perlakuan pajak yang seragam untuk berbagai industri yang berbeda tersebut. PERLUKAH PERSEROAN DIKENAKAN PAJAK? Menteri Keuangan Amerika Serikat..”1 Hal ini sejalan dengan pandangan para ahli ekonomi bahwa perseroan hanyalah lembaga atau unit yang mengumpulkan pajak untuk pemerintah. Financial Times. Dengan adanya kerumitan hukum dari perseroan dan hubungan di antara mereka. Perseroan hanyalah alat ekonomi bagi para investor. 21 Mei 2001. manajemen dan karyawan untuk memperoleh penghasilan. Beberapa pengecualian permasalahan penghasilan yang muncul pada wajib pajak pribadi juga muncul pada wajib pajak badan.

000 didistribusikan sebagai dividen kepada A. Ada beberapa argumentasi untuk mendukung pandangan ini. Bagiannya pada laba suatu perseroan yang sahamnya ia miliki adalah Rp10.000.000. Bila tidak ada pajak penghasilan badan. sebesar Rp7. seorang wajib pajak . Pandangan kedua ini yang digunakan oleh peraturan pajak penghasilan di Indonesia.750.000 hanya akan sebesar Rp2. Ketiga. Misalkan.000. seorang wajib pajak A adalah serorang wajib pajak dengan penghasilan besar sehingga membayar pajak penghasilan pribadi pada tarif pajak 25%. Pandangan lain yang berkembang di beberapa negara maju adalah mengintegrasikan penghasilan korporasi ke dalam pajak penghasilan individu. jumlahnya menjadi Rp4. maka laba perseroan tersebut ketika didistribusikan dipajaki dua kali. dalam hal ini keadilan pajak hanya dapat diterapkan kepada pribadi.000. pengenaan pajak pada perseroan harus dipandang sebagai satu cara memasukkan semua penghasilan yang bersumber dari perseroan ke dalam basis pajak penghasilan pribadi. Pertama. Para penganut posisi integrasi memandang bahwa pajak pada akhirnya menjadi beban dari orang-orang pribadi.000. penghasilan harus dipajaki secara keseluruhan dalam konsep penghasilan global. Oleh karena itu. Dengan demikian. Berikutnya. pengenaan pajak pada perseroan sebaiknya diintegrasikan ke dalam pengenaan pajak penghasilan pribadi dari penerima penghasilan yang bersumber dari perseroan. konsep keadilan. pertama pada tingkatan perseroan dalam bentuk pajak penghasilan badan.000.000).000. Kedua pajak penghasilan perseroan sebagai pajak “absolut” terhadap penghasilan bersumber dari korporasi. dan berikutnya pada tingkatan pribadi sebagai dividen dalam perhitungan pajak penghasilan pribadi. Sisanya. tanpa memperdulikan dari mana sumbernya. ada “kelebihan pajak” sebesar Rp1. Pandangan Integrasi Pandangan integrasi ini adalah pandangan yang paling diterima oleh para ahli ekonomi. Pertama.500. Badan (dalam hal ini perseroan) dikenakan pajak dan tidak dapat dikreditkan terhadap pajak penghasilan pribadi atas penghasilan dividen. yang dikenakan pajak dengan tarif efektif sebesar 30% (atau sebesar Rp3. pengenaan pajak kepada badan juga tetap dipertanyakan. Apabila kedua pajak ini digabungkan. Kedua.250. ada dua pendapat dalam pengenaan pajak perseroan. yang kemudian akan membayar pajak atasnya sebesar Rp1. pajak penghasilan yang dibayarkan pada penghasilan yang didistribusikan (dividen) sejumlah Rp10. Bila mengenakan pajak pada laba perseroan. Dalam hal ini. pada akhirnya pajak harus menjadi beban pribadi.000.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 199 Bila penghasilan digunakan sebagai basis pajak.000.750.

200 Bab 10: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan B.500. Oleh karena itu.000. Dengan demikian. perseroan juga mempunyai kapasitas membayar pajak tersendiri. perseroan adalah kekuatan ekonomi dalam suatu negara Perseroan yang dimiliki publik secara luas – merupakan wajib pajak besar yang menjadi sumber terbesar penerimaan pajak negara – bukan hanya instrumen untuk penghasilan pribadi. telah dikenakan pajak yang terpisah dan absolut.050. sebagai wajib pajak yang berpenghasilan besar dan mempunyai banyak investasi menyebabkan proporsi dividen terhadap total penghasilan lebih besar pada wajib pajak A daripada pada wajib pajak B. Apakah laba setelah pajak . sebagai entitas yang terpisah.000. Perseroan adalah entitas legal yang memiliki keberadaan sendiri.000. Pajaknya berdasarkan sistem integrasi hanya akan sebesar Rp1. pajak gabungan sama dengan Rp3. yang berpenghasilan kecil sehingga membayar pajak penghasilan pribadi pada tarif pajak 15%. sebaiknya pajak perseroan digantikan dengan pemungutan pajak pribadi atas sumber penghasilan dari perseroan. sistem pajak di Indonesia memberikan tambahan beban pajak dan beban pajak atas penghasilan yang bersumber dari perseroan lebih besar bagi pemegang saham kecil yang pajak penghasilan pribadinya sebenarnya lebih kecil.550. Dengan tidak mengintegrasikan penghasilan. Walaupun perseroan bukan merupakan individu yang memiliki hak suara dalam pemilihan. sebagaimana paham tidak ada pajak tanpa perwakilan. pajak tambahan sebagai persentase dari total penghasilan akan lebih besar bagi A daripada bagi B.000 ditambah Rp1. Walaupun. Pada kenyataanya sebagian dari laba korporasi setelah pajak ditanamkan kembali pada operasi perusahaan sebagai tambahan pada laba yang ditahan. sehingga ada kelebihan pajak sebesar Rp2. pajak tambahan ini tidak adil bila ditinjau dari sudut pandang penganut integrasi. Pandangan Absolut Pandangan absolut memiliki pandangan yang berlawanan dengan pandangan integrasi. Beban pajak B lebih besar daripada beban pajak A. Baginya. praktek yang sesuai dengan pengenaan pajak penghasilan dengan sistem integrasi. Perseroan adalah pelaku ekonomi yang memiliki kekuatan besar dalam pengambilan keputusan ekonomi dan sosial melalui pengelolaan para profesional manajemen yang tidak secara langsung dikendalikan oleh pemegang saham secara individu. atau sebesar Rp4.000. sebab semua penghasilan (termasuk yang diperoleh dari sumber perseroan) harus dipajaki dengan tarif yang sama.050. Laba yang tidak dibagikan ini tidak diperhitungkan sebagai penghasilan pemegang saham sehingga tidak dikenakan pajak dua kali.000.

yang apabila dibagikan kepada . Pada akhirnya. yang terpisah dan seringkali tidak begitu jelas kaitannya dengan keinginan para pemegang saham. tanpa landasan rasional dalam suatu struktur pajak yang adil. Perseroan memang bertindak sebagai unit-unit pengambilan keputusan. sehingga membutuhkan kebijakan pengaturan (termasuk pengaturan pengenaan pajak) tersendiri pada tingkatan korporasi daripada tingkatan pemegang saham. Pajak ini dikatakan inferior karena tarif implisit dari pajak penjualan atau upah tidak memiliki korelasi yang jelas dengan rasio [marjin] laba atas penjualan atau rasio laba atas upah dari perseroan. alat-alat pajak dapat berguna pada situasi-situasi tertentu untuk tujuan peraturan perundang-undangan tersebut. Perseroan cenderung tidak membagikan laba untuk menghindari pengenaan pajak berganda. Secara rasional. Maka kemampuan untuk membayar ini sulit untuk diaplikasikan pada perseroan. Konsep kapasitas membayar yang digunakan dalam pendapat ini lebih berkaitan dengan efek ekonomi dari pajak bukannya kemampuan untuk membayar yang digunakan dalam konteks keadilan pajak. Selain itu. pandangan absolut atau yang disebut juga pandangan klasik ini mempunyai dukungan yang sangat kuat untuk alasan bahwa perseroan adalah keberadaan yang memiliki kekuatan ekonomi dan sosial. seluruh pajak harus dibebankan pada orang. Pajak penghasilan atas perseroan telah menjadi pajak penjualan atau pajak atas upah yang inferior dan arbiter. Bila terjadi penggeseran beban pajak. maka tujuan dari para penganut absolutisme untuk membebankan pajak tambahan pada penghasilan yang bersumber dari korporasi tidak akan tercapai.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 201 yang diperoleh akan dibagikan atau ditahan tidaklah relevan dalam konteks ini. Laba perseroan merupakan bagian penghasilan para pemegang saham untuk alasan tambahan kemampuan ekonomis. Ada pendapat yang menyatakan bahwa kemampuan ini adalah kemampuan untuk membayar pajak tanpa mengalami kebangkrutan atau mengganggu operasinya. harus dipajaki sebagai bagian dari penghasilan mereka. Para ekonomi juga telah membuktikan dengan berbagai riset bahwa praktek pengenaan pajak menurut pandangan absolut telah menimbulkan distorsi dalam perekonomian. Tidak ada alasan mengapa para pemegang saham harus membayar pajak tambahan atau diberikan perlakuan khusus. Alasan pengenaan pajak pada perseroan karena lembaga ini memiliki kemampuan membayar pajak sendiri dan oleh karenanya harus dikenakan pajak terpisah. Pandangan absolutisme mendasarkan pada asumsi bahwa beban pajak dikenakan atas laba dan tidak digeserkan kepada pihak lain yaitu para pelanggan atau pekerja.

Dengan demikian. Dengan demikian. Besarnya pajak akan bervariasi sesuai dengan nilai layanan yang . membantu transaksi-transaksi keuangan. pemerintah daerah lebih berhak untuk mengenakan pajak. memperluas pasar. ada alasan-alasan lain yang dapat mendukung keberadaan pajak tersebut sehingga pajak tersebut diberlakukan seperti sekarang ini.202 Bab 10: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan investor mungkin dapat mereka gunakan untuk investasi-investasi yang lebih menguntungkan. apa basis yang tepat digunakan untuk mengenakan pajak tersebut. Pemerintah daerah menyediakan sebagian besar layanan publik yang memberikan manfaat kepada bisnis. Kedua. biaya-biaya ini hanyalah faktor yang minor dan sulit untuk dijadikan alasan untuk mendukung pengenaan suatu pajak penghasilan. Walaupun ada beberapa biaya pemerintah yang dikeluarkan dalam kaitannya dengan keberadaan perseroan secara khusus. Alasan-Alasan Lain Mengenakan Pajak kepada Perseroan Walaupun pandangan absolut atau klasik tidak dapat memberikan argumentasi yang kuat untuk mengenakan pajak atas perseroan berdasarkan prinsip kemampuan untuk membayar. Perseroan dapat diminta untuk membayar pajak karena menerima manfaat dari berbagai layanan pemerintah. tetapi juga oleh berbagai bentuk organisasi lainnya. dan lain-lain. tidak hanya dinikmati oleh perseroan. Ada dua hal yang harus diputuskan. Pertama berkaitan dengan tingkatan pemerintahan mana yang harus mengenakan pajak. Tujuan dari pajak atas manfaat adalah mengalokasikan biaya pemberian layanan publik kepada yang menerima manfaat. Perseroan yang memiliki hak melakukan berbagai kegiatan berdasarkan kewajiban terbatas. Walaupun pajak dapat dikenakan kepada perseroan atas dasar manfaat. Akan tetapi. lembaga yang memiliki kewajiban terbatas ini tidak membebani masyarakat oleh karenanya tidak layak dikenakan pajak atas manfaat yang didapat dari haknya. Layanan-layanan tersebut misalnya memberi manfaat kepada perseroan dengan cara mengurangi biaya. Pertimbangan Manfaat Pemerintah dapat mengenakan pajak kepada siapapun dan apapun yang memperoleh manfaat dengan adanya pemerintahan. cara yang lebih rasional adalah menerapkan pajak umum atas kegiatan bisnis bukannya menerapkannya dengan menggunakan pajak penghasilan badan saja. bukannya untuk membebani manfaat yang tidak menimbulkan biaya. Akan tetapi sebagian dari layanan ini. Hak ini tentu saja sangat berharga bagi korporasi.

op. Pengendalian ini tentu saja tidak akan menggunakan pajak umum atas laba. Perusahaan-perusahaan besar dapat dimiliki oleh investor-investor kecil dan perusahaan-perusahaan kecil dapat dimiliki oleh investor-investor kaya. Progresivitas akan digunakan untuk memberlakukan diskriminasi terhadap perusahaan besar dan membatasi apa yang dianggap sebagai akibat-akibat sosial yang tidak diinginkan dari perusahaan-perusahaan besar. yang tidak akan efektif untuk mengoreksi tingkat laku monopolistik. Semua alasan ini didasarkan pada pandangan bahwa pajak adalah instrumen pengendali berkaitan dengan tingkah laku korporasi. Walaupun ukuran yang besar tidak diinginkan. 2 Richard A. . dan sebagainya. Musgrave. hal. total biaya yang dikeluarkan pada daerah operasi lebih tepat digunakan sebagai ukuran keseluruhan. Dengan demikian. cit. § Jika ada keinginan untuk membatasi ukuran absolut atau besarnya perusahaan (yang tidak sama dengan membatasi monopoli atau pangsa pasar). Musgrave dan Peggy B. 374-375.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 203 diberikan. yang berkaitan dengan tingkat pembatasan monopolistik. bukannya sesuai dengan jumlah laba yang dihasilkan. bentuk pajak atas perseroan yang tepat bergantung pada tujuan kebijakan tertentu yang akan dicapai. Pengendalian ini membutuhkan pajak bisnis yang progresif. Alasan progresivitas tentu saja bukanlah kemampuan untuk membayar seperti pada pajak penghasilan pribadi.. Pengendalian ini memerlukan suatu pajak yang lebih kompleks. Musgrave dan Musgrave (1989) menjelaskan alasan-alasan peraturan perundang-undangan tersebut sebagai berikut:2 § Pengendalian terhadap monopoli telah dilakukan dengan menggunakan alat peraturan perundang-undangan. Jika ukuran umum yang digunakan. tetapi pendekatan pajak dapat digunakan. jumlah pegawai dan menunjukkan input untuk pengeluaran sekolah umum. transportasi akan menunjukkan layanan jalan raya. Tujuan-tujuan Peraturan Perundang-Undangan Berbagai alasan lain dikemukakan untuk mengenakan pajak penghasilan kepada perseroan. nilai properti akan lebih tepat menunjukkan nilai layanan pemadam kebakaran. Oleh karena itu. suatu pajak dapat digunakan untuk mencapai tujuan ini. dengan nilai tambah (termasuk laba dan biaya-biaya faktor lainnya) sebagai kemungkinan kedua. Pertanyaan berikutnya adalah apakah pajak tersebut sebaiknya dikenakan pada laba dan bukannya ukuran aset atau penjualan.

§ Terakhir. tetapi akan muncul ketidakadilan karena perbedaan posisi awal. § Suatu pajak atas kelebihan laba dapat dikenakan pada periode-periode krisis (seperti perang) ketika diperlukan pengendalian langsung atas upah dan harga. sehingga memunculkan masalah yang sulit dalam hal menentukan tarif berapa yang cocok untuk setiap industri. Alat-alat seperti penyusutan dipercepat dan kredit pajak investasi dapat digunakan untuk tujuan ini dan juga dapat diterapkan secara siklus atau pada saat-saat tertentu. suatu tingkat pengembalian standar. Alternatif kebijakan lain. SIAPA YANG MENANGGUNG BEBAN PAJAK? . pajak korporasi dapat digunakan untuk memberikan insentif atau disinsentif investasi. yang berbeda dari saving korporasi. Kelebihan laba tersebut harus diukur dengan membandingkannya dengan periode dasar.204 Bab 10: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan itu bukan alasan memberikan penalti kepada perusahaan besar yang menguntungkan. yang memunculkan pengenaan pajak atas laba tak terduga dari kenaikan harga minyak. Tujuan ini dapat dicapai dengan mengenakan pajak atas dividen yang dibayarkan dan mengecualikan laba yang ditahan. atau. distribusi dividen perlu didukung sedangkan menahan laba perlu dihindari. dan pajak atas kelebihan laba merupakan alat-alat yang berguna dalam kaitannya dengan situasi ini. saving korporasi perlu didukung dan distribusi dividen perlu dibatasi. pajak atas kelebihan laba sulit diadministrasikan karena kelebihan laba tidak mudah didefinisikan. Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa instrumen pajak digunakan untuk mengendalikan tingkah laku perseroan dalam berbagai situasi akan tetapi bentuk pajaknya bukanlah pajak atas laba. Tujuan ini dapat dicapai dengan mengenakan pajak atas laba yang tidak dibagi dan mengecualikan laba yang dibayar sebagai dividen. dalam rangka mendukung berfungsinya pasar modal atau meningkatkan pengeluaran konsumsi. seperti krisis harga minyak dan pelepasan kendali atas harga minyak. Pembatasan atas upah dalam kondisi seperti ini tidak dapat diterapkan secara efektif tanpa juga membatasi laba. dalam hal ini disparitas risiko dapat terlewatkan. Walaupun kelihatannya baik secara prinsip. Suatu situasi lain yang berbeda di mana pajak atas kelebihan laba secara selektif dapat dikenakan karena krisis tertentu. § Sebagai stimulus bagi formasi modal dan pertumbuhan.

Pemindahan beban dengan cara penyesuaian administered pricing (dibedakan dengan pemindahan beban karena perpindahan faktor dan perubahan pasokan faktor dalam pasar yang kompetitif) dapat terjadi. jika penjualan yang dimaksimalkan. Oleh karena itu. Apabila tarif pajak perseroan berbeda antar industri. Pendekatan inipun tidak dapat menghasilkan pemahaman yang cukup jelas karena perubahan tarif pajak tidak sering terjadi. Kemungkinan yang tersisa adalah mempelajari pengalaman sektor perseroan dan bagaimana berbagai komponen dalam sektor perseroan menanggapi perubahan pajak. Demikian juga. bila pasar tenaga kerja tidak sempurna. Hal ini tidak dapat dilaksanakan dalam dunia nyata karena pajak diterapkan pada semua perseroan dengan tarif efektif yang sama. termasuk tingkat pengembalian dari pemegang saham korporasi. Ada banyak upaya telah dilakukan pada tahun-tahun terakhir untuk memberikan bukti tentang ini. sesuai dengan model kompetitif. perusahaan akan berusaha memindahkan beban pajak dengan menaikkan harga. dan marjin laba perseroan. yaitu penentuan harga bukan berdasarkan mekanisme pasar. Berbagai pemahaman dapat diperoleh dari memeriksa perubahan-perubahan harga yang terjadi dan membandingkan posisi-posisi relatif beberapa sektor sebelum dan sesudah perubahan pajak.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 205 Sebagian besar ahli ekonomi memandang beban pajak penghasilan badan jatuh kepada pemilik modal. Hal yang sama juga berlaku pada pasar tenaga kerja yang terorganisir. bagian laba perseroan dalam nilai tambah pada sektor perseroan. Demikian juga. Hal ini merupakan pandangan yang tepat bila semua pasar beroperasi untuk memaksimalkan laba sehingga pemilik modal tidak dapat memindahkan beban pajak tersebut kepada pihak lain tanpa biaya. perolehan jawabannya akan cukup sederhana. atau bila aturan harga lainnya yang berubah. pajak yang tinggi dapat dipindahkan kepada tenaga kerja dengan ditunjukkan pada keterbatasan daya tawar tenaga kerja pada perundingan dengan manajemen. pembandingan antara tingkat pengembalian dari investasi pada perseroan dan non-perseroan sulit dilakukan karena ketidaktersediaan data pada usaha-usaha non-perseroan. Hal ini dapat dilakukan bila perusahaan dalam situasi monopoli. Hasil penelitian di Amerika Serikat yang berkaitan dengan perubahan tarif pajak dalam rangka menguji adanya pemindahan beban pajak menunjukkan hasil yang berbeda-beda yang konsisten dengan hipotesa pemindahan maupun . siapa yang menanggung beban pajak bergantung pada struktur dan tingkah laku pasar yang ada. Dalam situasisituasi tersebut. Para pelaku bisnis sering memiliki pandangan berbeda dan mereka memandang bahwa pajak adalah biaya yang harus dipindahkan pembebanannya kepada pihak lain. Beberapa industri yang menggunakan administered pricing.

akan tetapi masalah ini masih kontroversial. utilisasi kapasitas. Penyesuaian-penyesuaian apa saja yang harus diberlakukan dalam struktur pajak agar terjadi integrasi pajak perseroan dan pajak pribadi. seperti tingkat permintaan konsumen. Tarif pajak efektif ini bergantung pada aturan penyusutan. yang terpenting adalah tarif pajak efektif bukannya tarif pajak nominal. Berbagai studi telah dilaksanakan dalam beberapa tahun terakhir. kondisi ekonomi dan faktor-faktor lain. Dengan memasukkan tarif pajak korporasi. Satu jenis penelitian menggunakan model bahwa tingkat pengembalian korporasi adalah suatu fungsi dari berbagai variabel yang telah ditentukan sebelumnya. Beberapa studi lainnya mengindikasikan hasil yang sebaliknya.206 Bab 10: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan hipotesa non-pemindahan. Integrasi Lengkap Integrasi lengkap adalah pendekatan pengenaan pajak penghasilan dengan mengintegrasikan seluruh bagian pendapatan dari perseroan. Beberapa studi mengindikasikan adanya pemindahan beban pajak yang cukup tinggi. Teknik ekonometrik yang lebih baik dikombinasikan dengan penggunaan data yang kurang agregatif mungkin dapat memberikan hasil yang lebih baik. tingkat inflasi. dan tarif pajak korporasi. pengeluaran pemerintah. INTEGRASI PAJAK Apabila pandangan bahwa pajak penghasilan perseroan diintegrasikan ke dalam pajak penghasilan pribadi adalah yang lebih diinginkan. Dan juga. Pada kenyataannya. tarif pajak itu sendiri merupakan konsep yang kompleks. muncul pertanyaan bagaimana cara mengintegrasikan penghasilan perseroan ke dalam penghasilan pribadi. yang dirancang untuk mengisolasi pengaruh pajak penghasilan perseroan. para analis berharap menggunakan koefisien regresi dari variabel ini untuk mengukur pengaruh perubahan tarif pada tingkat pengembalian. dan berbagai faktor yang tidak dapat dinilai dengan jelas. baik yang . kredit investasi. Analisis ekonometrik tidak mampu secara bulat memisahkan pengaruh pajak dari beberapa perubahan yang terjadi secara bersamaan dalam pengeluaran publik. Hal ini terjadi karena banyaknya faktor-faktor nonpajak yang mempengaruhi hasil penelitian sehingga penelitian tidak dapat menunjukkan siapa sebenarnya yang menanggung beban pajak. sehingga mengarahkan kepada hipotesa pemindahan beban pajak. Pendekatan lain untuk mengukur adanya pemindahan beban pajak adalah dengan menggunakan pendekatan ekonometrika.

. Ingat baik-baik bahwa ini sangat mungkin.. "Orang pajak tidak pernah salah. Anda bahkan mungkin akan berhadapan dengan wrong people. baik yang dibagikan sebagai dividen maupun tidak dibagikan sebagai dividen.. Saat diperiksa. Perusahaan Anda merugi sampai 100 milyar rupiah. Anda harus membayarnya segera.. atau bahkan saat orang pajak datang atau menghubungi Anda. Bayangkan keadaan tak terduga ini. Wrong time. masalah perpajakan akan muncul di saat-saat yang tidak tepat. Metode Firma Metode ini memperhitungkan bagian laba dari perseroan yang menjadi hak pemegang saham ke dalam penghasilan pribadi pemegang saham. Biasanya. Dalam prakteknya. sampai peraturan pajak mengatakan yang sebaliknya.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 207 dibagikan (diterima sebagai dividen) maupun yang tidak dibagikan (dalam bentuk akumulasi laba ditahan pada perseroan). jika Benjamin Franklin mengatakan "in this world. sehingga laporan keuangan yang baru menjadi laba 20 milyar. Metode pertama disebut metode firma (partnership) yang memperhitungkan bagian laba seorang wajib pajak (investor) dari laba perseroan ke dalam penghasilan pribadinya dan dikenakan pada pajak penghasilan pribadi wajib pajak tersebut... Coba kita perhatikan kapan munculnya masalah perpajakan yang sering membuat pusing kepala.... pendekatan ini harus memberikan perlakukan yang sama atas bagian laba dari perseroan yang tidak dibagikan dengan bagian laba perseroan yang dibagikan (dividen).." Dalam tataran dunia pajak para pakar perpajakan cenderung menyetujui dogma itu. Ada dua metode pengenaan pajak yang menggunakan integrasi lengkap. Metode kedua adalah metode laba modal yang mengenakan pajak atas laba modal sepenuhnya (baik yang direalisasikan maupun yang belum direalisasikan). Anda dikenai sanksi perpajakan." Pajak bukan hanya masalah yang membebani perusahaan. wrong place. metode depresiasi perusahaan Anda di-adjust. saat menerima Surat Ketetapan Pajak (SKP). ke dalam penghasilan pribadi dari sumber-sumber lain yang selama ini telah dilaporkan dalam SPT. Anda harus membayar pajak tambahan. perseroan akan memberitahukan kepada para pemegang saham berapa bagian laba yang tidak dibagikan yang menjadi bagian mereka untuk ditambahkan ke dalam kekayaan mereka. nothing is certain except death and taxes. Padahal dalam konteks hukum.. saat menerima Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan Pajak (SPHP).. Anda tidak berhak atas kompensasi kerugian. dalam banyak kasus bahkan bisa menjadi hidup dan matinya perusahaan. 1000 Alasan untuk Pajak. Untuk mendapatkan informasi mengenai besarnya penghasilan dari laba yang tidak dibagikan sebagai dividen. Apabila pendekatan integrasi lengkap yang dipilih... Tidak salah. Saat menerima Surat Tagihan Pajak (STP).... di .. Pemegang saham kemudian akan memasukkan jumlah ini ke dalam perhitungan laba kena pajak dalam SPT.

Berapapun besarnya dividen yang diterimanya dari perseroan tersebut. Misalnya.000.500.000 ke dalam penghasilan kena pajaknya. maka besarnya pajak penghasilan atas penghasilan ini adalah sebesar Rp3.000. sumber itu harus berasal dari luar pemerintahan atau negara.000. perseroan tidak saja melakukan pemotongan dan pemungutan pajak terhadap gaji. Karena ia telah dipotong sebesar Rp1.208 Bab 10: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan mana pajak juga merupakan produk hukum. upah dan dividen. Dengan demikian. telah dan akan menjadi makin sempit jika hanya berorientasi pada upaya menghindari pajak.500.. Sehingga.000.000.500. Maka.000. ia berhak mendapatkan restitusi pajak sebesar Rp500. pemegang saham akan melaporkan jumlah penghasilan brutonya dari perseroan sebesar Rp10.500. Apabila pemegang saham tersebut hanya dikenakan pajak marjinal sebesar 10% maka beban pajaknya hanya sebesar Rp1.000 yang dipotong oleh perseroan sebagai sumber penghasilan. Anda tidak bisa lagi menghindari dari pajak. Anda diistilahkan dengan sebutan Wajib Pajak……………….000. Di zaman feodalisme dan penjajahan. Praktek pemotongan pajak (withholding) juga dapat diterapkan dalam metode firma ini dengan menunjuk perseroan sebagai pemungut pajak. seorang pemegang saham memperoleh pemberitahuan dari perseroan yang sahamnya dimilikinya bahwa bagian labanya atas laba suatu perseroan adalah sebesar Rp10.) Satu hal yang pasti adalah fakta bahwa ruang gerak bagi perusahaan sebagai wajib pajak. pada . jelas tidak bisa diandalkan dari bentuk-bentuk usaha yang diupayakan oleh pemerintah atau negara sendiri.. Dalam perpajakan. Lihatlah perangkat aturan perpajakan yang diberlakukan sekarang dan di masa depan. tarif pemotongan pajaknya 15 persen. Dengan demikian. Dengan melaporkan penghasilan laba pada jumlah kotornya ini. Itu sebabnya. Bila atas penghasilan tambahan ini tarif pajak marjinalnya adalah 30%. Dalam sejarah internasional.. rakyat (termasuk dunia usaha) lah yang pada akhirnya menjadi tumpuan. ia harus menyetor kekurangan setoran pajak sebesar Rp1. Perseroan akan memotong dan memungut pajak kepada pemegang saham tersebut. yang biasa berlaku adalah asas praduga tidak bersalah.000 setelah mengkreditkan Rp1. sekalipun pada prakteknya berbagai pungutan (yang waktu itu disebut dengan upeti) ini lebih termanfaatkan untuk kepentingan pribadi raja atau keluarganya. pajak muncul dari kebutuhan akan perlunya sumber dana yang terjamin untuk menjalankan fungsi-fungsi pemerintahan atau kenegaraan.000. Sejarah dunia tax management menggeser konsep dasar dari "minimalisasi pajak" menjadi "optimalisasi pajak". sehingga pemegang saham mendapatkan sisanya sebesar Rp8.000. tetapi juga terhadap bagian laba dari perseroan yang tidak dibagikan. 1000 Alasan untuk Pajak (Lanjutan. pemegang saham akan membayar pajak sesuai dengan tarif pajak marjinalnya. Sumber itu.000. konsep itu tidak berlaku. Misalnya.

com. sebagian besar dari beban pajak telah dibayarkan ketika dipotong oleh perseroan sehingga menimbulkan masalah likuiditas pada pemegang saham. Tidak ada lagi penjajahan secara eksplisit (mungkin yang ada sekarang adalah eksploitasi. Tidak ada pembunuhan. wajib pajak hanya akan dikenakan pajak bila ia memperoleh penghasilan. pemaksaaan. Oleh karena itu.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 209 prakteknya ia tetap digunakan untuk membiayai roda pemerintahan atau bahkan kelanggengan dinasti kerajaan. kebutuhan itu tidak berubah. sejalan dengan makin majunya kebudayaan dan peradaban manusia. tidak ada kekejaman fisik atau penganiayaan. Karena pajaknya telah dikenakan ketika laba dihasilkan. metode ini umumnya diusulkan sebagai prosedur standar dalam perhitungan pajak penghasilan oleh para ahli pajak. metode ini membuat wajib pajak harus membayar pajak padahal ia tidak menerima penghasilan tersebut dalam bentuk yang dapat digunakan untuk membayar pajak. Hanya saja. Hal ini dilakukan dengan mentransformasi pajak dan pungutan lain dari pola-pola yang kejam dan tak berperikemanusiaan. yang sebenarnya bermakna sama). bahkan makin tumbuh menjadi besar dan bergeser menjadi semacam kemutlakan khususnya pada tataran ideologi demokrasi. 7 Juni 2005). laba modal (capital gain) yang berasal dari kenaikan nilai kepemilikan akibat tidak membagikan laba harus dikecualikan dari pengenaan pajak penghasilan. Maka. (Diadaptasi dari: Green version of 1000 Alasan untuk Total Tax Awareness. kita bisa memaklumi bagaimana istilah upeti sangat identik dengan kekejaman. Berdasarkan prinsip realisasi. sifat memaksanya tetap terabadikan akibat karakteristik pendanaan operasi pemerintah dan negara yang masih tidak mungkin dipenuhi oleh negara atau pemerintah sendiri. Diskusikan bagaimana konsep perpajakan dapat diterapkan secara lebih manusiawi! Dengan cara ini. http://www. Akan tetapi. otoritas pemerintahan mencoba untuk tetap mengandalkan pembiayaan roda pemerintahan dengan menggali sumber-sumber dari rakyat secara langsung. Pada era modern. Keberatan ini sama dengan yang dikemukakan dalam pembahasan pajak atas laba yang belum direalisasikan. bila digabungkan dengan pendekatan pemotongan pajak. Pertama. Sisanya baru akan menjadi beban apabila tarif pajak marjinal yang dikenakan kepada pemegang saham melebihi tarif pemotongan. Di satu sisi. Akan tetapi. tidak adil bila memasukkan laba yang ditahan ke dalam penghasilan kena pajak pribadi. kebutuhan itu ditransformasi ke bentuk-bentuk pemupukan yang lebih lunak. metode ini memiliki beberapa kesulitan dalam penerapanya. Karena dirasa cukup adil. tetapi tidak begitu meyakinkan. menjadi bentuk-bentuk pemupukan yang tetap memaksa akan tetapi dengan cara yang lebih manusiawi. yang dapat dibayar dengan . Caranya adalah basis harga pokok untuk menentukan laba modal dari penjualan investasi harus ditambahkan dengan jumlah yang sama dengan bagian dari pemegang saham tersebut atas kenaikan laba yang tidak dibagi selama masa kepemilikan investasi tersebut. pemegang saham seolah-olah merupakan anggota persekutuan suatu firma.indodigest. perampokan dan bahkan pembunuhan. Sebenarnya.

Metode Laba Modal Cara lainnya untuk mencapai integrasi sepenuhnya dengan mengenakan pajak penghasilan terhadap seluruh capital gain (termasuk yang belum direalisasikan) yang dikombinasikan dengan penghapusan pajak penghasilan atas laba perseroan. Pendekatan ini juga akan memunculkan kesulitan-kesulitan lain berkenaan dengan kebijakankebijakan pemberian insentif perpajakan. maka insentif pajak harus dirancang pada tingkatan pemegang saham atau sebagai subsidi langsung kepada perseroan. Manajemen tidak akan bereaksi terhadap pemberian insentif tersebut karena insentif tersebut hanya akan dinikmati manfaatnya oleh pemegang saham.210 Bab 10: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan menjual sebagian saham yang dimilikinya. Pemberian insentif tersebut dapat menjadi tidak efektif. sedangkan bagian yang tidak dibagikan akan muncul sebagai penghasilan laba modal. Padahal manajemen pada umumnya adalah pembuat keputusan investasi. pendekatan ini tidak mungkin diterapkan secara praktis untuk perseroan non-publik yang sahamnya tidak diperdagangkan. Metode ini tidak menghilangkan pengenaan pajak penghasilan atas perseroan itu sendiri sebagai suatu badan hukum khusus. Walaupun demikian. Kedua. mereka dapat memaksa perseroan untuk meningkatkan pembayaran dividen untuk mendapatkan kas yang dibutuhkan. Bagian yang dibagikan kepada pemegang saham akan muncul dalam penghasilan pemegang saham sebagai penghasilan dividen. Karena para pemegang saham bertransaksi saham secara cepat di pasar modal. seperti kredit pajak atas investasi. tidak ada penentuan laba kena pajak untuk perseroan. timbul kesulitan untuk mengalokasikan bagian laba di antara mereka. akan tetapi karena para pemegang saham perseroan ini memiliki pengendalian yang besar terhadap perusahaan. Pengenaan pajak terhadap penghasilan laba modal secara periodik dapat digabungkan dengan pajak penjualan ketika terjadi pemindahan aset. Karena perseroan tidak dikenakan pajak. Perlu diingat bahwa metode firma hanya mengintegrasikan penghasilan dari laba perseroan. . Integrasi dengan metode partnership tidak menyederhanakan administrasi pajak bahkan mungkin akan menambah kerumitan administrasinya. Karena pajak penghasilan tidak dikenakan atas perseroan. Pendekatan firma juga dipandang tidak praktis diterapkan pada perusahaan publik yang besar dengan kepemilikan yang menyebar luas. permasalahan-permasalahan dapat saja diatasi dengan berbagai cara bila usaha pengintegrasian penghasilan bersumber dari laba perseroan ke dalam penghasilan pribadi serius untuk dilakukan.

Akan tetapi. Bunga diperlakukan sebagai biaya bisnis. Akibatnya. karena ketiadaan definisi penghasilan yang ilmiah dan konsisten. paling tidak secara parsial. tidak dikurangkan dari penghasilan kena pajak perseroan. Cara ini dipandang mendekati perlakuan yang terintegrasi untuk laba yang tidak dibagi. di AS sebelum tahun 1986. Akan tetapi. pendapatan dividen maksimal sebesar $200 dikecualikan dari penghasilan kena pajak. Hutang versus Modal Saham Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya. bukannya sumber permodalan. tetapi “pajak berganda” tetap berlaku bagi dividen. seperti juga pembayaran gaji dan upah. Berikut ini beberapa contoh atas permasalahan pajak tersebut. Di sisi lain. mengurang progresivitas pajak penghasilan itu sendiri. dividen sebesar maksimal $200 tidak dikecualikan lagi dari penghasilan dan tarif pajak atas perseroan disamakan dengan tarif pajak untuk pajak penghasilan pribadi. lebih rumit daripada keuangan pada wajib pajak pribadi. dividen yang dibayarkan sebagai perseroan. Bunga yang dibayar oleh perseroan atas dana yang diperolehnya melalui utang dikurangkan dari penghasilan kena pajak ketika memperhitungkan pajak penghasilan badan. Sejak tahun 1986. manfaatnya dari insentif ini oleh penerima dividen akan meningkat proporsional dengan tarif pajak marjinalnya. dapat dipandang sebagai pembayaran kepada pemegang saham atas penggunaan dananya.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 211 Integrasi Parsial Sampai sekarang. sehingga permasalahan-permasalahan desain pajaknya pada perseroan tentu saja lebih rumit daripada wajib pajak pribadi. Misalnya. ASPEK-ASPEK KHUSUS DEFINISI BASIS PAJAK Permasalahan-permasalahan pada keuangan perseroan. integrasi sepenuhnya belum dapat diterima sebagai suatu pendekatan dalam penentuan penghasilan kena pajak. sehingga wajib pajak yang berpenghasilan besar akan memperoleh keuntungan yang lebih besar. peraturan pajak penghasilan “meminjam” praktek-praktek perhitungan penghasilan (laba) dari akuntansi perusahaan. muncul praktek-praktek yang mencoba pendekatan integrasi ini. . pada beberapa negara maju. keringanan ini diberikan dalam bentuk pengecualian dan bukannya kredit pajak. terjadi ketidakkonsistenan pengenaan pajak antara sumber modal dari hutang dan dari saham. Karena akuntansi perusahaan menekankan pada penentuan laba dari pemegang saham.

Ketika perusahaan pada periode-periode awal. dalam hal pembayaran dalam bentuk natura terjadi subsidi publik pada wajib pajak yang menerima pembayaran dalam bentuk natura tersebut. Dengan membayar dalam bentuk natura daripada dalam bentuk kas. perusahaan ini akan mengandalkan pendanaan dari laba perusahaan yang tidak dibagikan. pendapatan bunga hanya dikenakan dalam pajak penghasilan pribadi.212 Bab 10: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan Dengan tidak adanya integrasi penghasilan perseroan ke dalam penghasilan pribadi. Pendekatan integrasi lengkap akan mengembalikan netralitas perlakuan pajak terhadap sumber-sumber permodalan ini. Berdasarkan penelitian-penelitian di bidang manajemen keuangan. akibatnya beban untuk pengeluaran tersebut yang dirasakan oleh perseroan akan berkurang sebanyak 30 persen karena tidak dikenakan pajak (dengan asumsi pajak marjinal perseroan pada tarif tertinggi. penyedia modalnya adalah pemiliknya yang tentu saja menginvestasikan dalam bentuk ekuitas. netralitas dicapai dengan cara (1) memperluas cakupan “pajak berganda” dengan tidak membolehkan pengurangan biaya bunga pada pajak penghasilan badan (2) mengurangi cakupan “pajak berganda” dengan membolehkan pengurangan “bunga yang diperhitungkan” atas modal ekuitas dalam pajak penghasilan badan. dividen dikenai “pajak berganda”. praktek pajak ini memunculkan insentif bagi penyedia dana untuk memberikan pinjaman daripada melakukan investasi saham/modal. Dengan demikian. Mereka akan lebih memilih pendanaan hutang. Pembayaran dalam Bentuk Natura dan Biaya Entertainment Pembayaran dalam bentuk natura dan biaya entertainment merupakan topik yang banyak dibahas. Jika integrasi lengkap tidak dijalankan. Ketika biaya entertainment dapat dikurangkan dari penghasilan. sedangkan laba atas modal ekuitas tidak boleh dikurangkan. Distorsi yang sama muncul dari pihak manajemen. karena bunga yang dibayarkan dapat dikurangkan dari laba kena pajak. Demikian pula. Ketika perusahaan sudah maju dan berkembang. Hal ini sama saja dengan pemberian subsidi kepada kegiatan-kegiatan (dibiayai dengan biaya entertainment) yang sebenarnya tidak layak untuk memperoleh subsidi publik. yaitu 30 persen). perseroan telah membantu pengawainya . Walaupun ada perlakuan buruk peraturan pajak terhadap sumber permodalan saham. penyebab utama fenomena ini adalah mudahnya perseroan mendapatkan pendanaan dari sumber modal. Bila berinvestasi. sulit untuk membuktikan bahwa perlakuan pajak tidak netral terhadap sumber pendanaan dalam praktek sehari-hari. Bila meminjamkan. pada kenyataannya sebagian besar modal perseroan berasal dari modal saham.

sebagai kompensasi untuk pengembalian biaya investasi. bila sebuah mobil senilai Rp200. Kapan investor dapat memperoleh kembali pengurangan juga harus diatur karena pada saat penyusutan diperbolehkan nilai tunai dari kewajiban pajaknya menjadi turun. semakin besar . Cara yang dilakukan sekarang ini adalah jalan tengah dengan membatasi pengurangan atas pembayaran dalam bentuk natura dan biaya entertainment. Pengurangan untuk biaya-biaya modal akan memberikan penghematan pajak bagi investor. Peraturan perpajakan umumnya mengatur berapa besar setiap periode pengurangan (penyusutan) tersebut. maka semua biaya untuk memperoleh dan memelihara penghasilan harus dikurangkan dalam menghitung penghasilan kena pajak. pengurangan dapat dilakukan ketika pembayaran terjadi. Permasalahan penyusutan adalah salah satu permasalahan yang paling sulit dan paling penting Karena pajak perseroan adalah pajak atas penghasilan/laba bersih. Metode Penyusutan dan Jangka Waktu Penyusutan Permasalahan penyusutan timbul karena sulitnya mendefinisikan penghasilan. sedangkan tunjangan kendaraan tidak. Biaya dari perseroan dengan memberikan mobil tersebut (biaya penyusutan) akan sama dengan biaya karena kenaikan gaji untuk beberapa periode dengan jumlah total yang sama.000 diberikan kepada manajer perusahaan sebagai ganti kenaikan gaji selama beberapa tahun. Dalam hal pengeluaran modal. dan menentukan berapa besarnya setiap periode investor dapat memperoleh kembali biaya investasi. pengurangan itu dilakukan selama beberapa periode. Untuk pengeluaranpengeluaran tertentu. Akan tetapi.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 213 mengurangi pajak penghasilan pribadi mereka. Penyusutan timbul karena adanya periodisasi atas perhitungan laba/rugi. Semakin besar pada periode-periode awal penyusutan tersebut. seperti pembayaran gaji dan upah atau pembelian bahan mentah.000. Cara penghindaran pajak seperti ini dapat dihilangkan baik dengan cara memasukkan pembayaran dalam bentuk natura ke dalam pajak penghasilan pribadi atau melarang pengurangan biaya-biaya entertainment pada pajak penghasilan badan. Peraturan perpajakan juga menentukan kapan pengurangan (penyusutan) dapat dilakukan. Penyusutan merupakan praktek akuntansi yang didasarkan pada pendekatan praktis untuk mengukur laba secara periodik. kenaikan gaji akan menambah pajak penghasilan bagi wajib pajak pribadi. Misalnya. terutama pada perseroan sebagai suatu badan usaha.

” Ada beberapa insentif perpajakan yang dapat diberikan dengan membolehkan penyusutan dalam jangka waktu yang lebih cepat. Ada satu metode lagi yang tidak diperbolehkan berdasarkan peraturan perundang-undangan saat ini. Lama Masa Perolehan Kembali Biaya Investasi Jangka waktu yang diperbolehkan untuk perolehan kembali biaya investasi atau penyusutan umumnya ditetapkan dalam peraturan perpajakan sama dengan “masa manfaat” dari aset bersangkutan.000 akan dikurangkan pada tahun kedua. beban untuk tahun kedua adalah 9/55 dari Rp100.111.000. Beban penyusutan tahun pertama adalah 10/55 dari Rp100.000.000 akan dikurangkan pada tahun pertama. dengan persentase sebesar dua kali tarif garis lurus dikurangkan pada tahun dan persentase yang sama kemudian diterapkan pada jumlah yang belum disusutkan setiap tahunnya.111. untuk suatu aset dengan harga perolehan Rp100. seperti sistem penyusutan yang dipercepat. Jadi. Rp16. setiap tahun sejumlah Rp10. sebesar Rp20. jumlah angka tahunnya sama dengan 10 + 9 + 8 + 7 + 6 + 5 + 4 + 3 + 2 + 1 = 55.000 = Rp16.000.214 Bab 10: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan penghematan pajaknya. Seperti yang ditunjukkan pada tabel di bawah ini.000.000.000. Bangunan harus disusutkan dengan menggunakan metode garis lurus dimana jumlah yang sama sebesar C/n harus dihapuskan setiap tahun.000.000 dengan masa umur selama 10 tahun. Peralatan dan kendaraan disusutkan dengan menggunakan metode saldo menurun. Peraturan perpajakan umumnya juga menetapkan “panduan umur” untuk setiap jenis aktiva tetap yang sejalan dengan “praktek bisnis yang sehat. nilai tunai dari pajak ditentukan oleh besarnya tarif pajak dan kapan penyusutan dilakukan.000 boleh dikurangkan. dimana bagian yang dikurangkan pada setiap tahun sama dengan rasio dari sisa tahun terhadap jumlah angka tahun selama masa manfaat aset. untuk suatu aset yang bernilai Rp100. dan seterusnya.000 dan masa manfaat selama 10 tahun. Metode Penyusutan Metode penyusutan yang diperbolehkan untuk dipakai hanya dua metode yaitu metode garis lurus dan metode saldo menurun (declining balance method). Dengan demikian. dan seterusnya.363. Jadi. Oleh karena itu. yaitu metode jumlah angka tahun (sum-of-years-digits method).636. dengan C sama dengan nilai perolehan aset dan n adalah umur aset. perseroan yang menggunakan metode penyusutan dengan saldo menurun mendapatkan keuntungan penghematan pajak lebih besar daripada menggunakan metode garis lurus karena nilai tunai dari penyusutannya lebih kecil pada metode garis .000 = Rp18. yang meliputi jangka waktu pembebanan penyusutan dan kecepatan penyusutannya.

Semakin cepat tingkat penyusutannya.0 5 5 6 4 . Metode Penyusutan Ekonomis versus Metode Penyusutan Dipercepat Bila dikaitkan dengan pembebanan biaya investasi. Bila investor akan memutuskan untuk berinvestasi.8 1 1 7 5 .7 8 7 7 8 .7 1 6 5 9 . Bila kita membandingkan antara metode saldo menurun dengan metode jumlah angka tahun.4 6 0 4 0 .8 0 6 2 8 .9 3 5 D IS K O N T O 1 0 P E R S E N 7 9 .6 9 7 3 1 .5 1 5 7 9 . 1968 . metode saldo menurun lebih menguntungkan pada aset-aset berumur pendek dan metode jumlah angka tahun lebih menguntungkan pada aset-aset yang berumur panjang.0 0 0 ) J u m la h A n g k a Tahun ( IV ) 8 7 .7 5 0 8 7 .7 5 6 8 0 . The Capital Decision. Simpulan yang sama juga berlaku apabila kita membandingkan metode jumlah angka tahun dengan metode garis lurus.5 2 8 4 4 .6 6 1 3 2 . Jika nilai tunai dari penghematan pajak ini menjadi semakin besar seperti yang ditunjukkan pada tabel di atas. tarif efektif dari pajak bergantung pada tarif nominal (sekarang 30 persen untuk perseroan) dan besarnya penyusutan yang diperbolehkan. N ila i T u n a i P e n y u s u ta n ( d a la m R u p ia h . Semakin panjang waktu penyusutan semakin besar perbedaan penghematan pajaknya.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 215 lurus sehingga nilai tunai dari beban pajaknya lebih besar.4 6 9 6 8 .6 8 0 4 4 . 2d ed.6 6 3 5 1 . H a r g a P e r o le h a n A s e t = R p 1 0 0 .9 9 7 6 7 . New York: Macmillan. investor akan membandingkan nilai tunai dari arus laba bersihnya terhadap biaya perolehan dari aset. Nilai tunai dari pajak dapat dihitung dengan mengurangkan nilai tunai dari pajak kotor (sebelum dikurangi dengan penyusutan yang diperbolehkan) dengan nilai tunai dari penghematan pajak dari penyusutan.5 3 4 8 1 . Jr. and Seymour Smidt.0 9 9 5 4 . semakin rendah tarif efektif pajaknya.5 3 9 2 0 . pajaknya akan semakin turun.8 2 9 Diadaptasi dari: Harold Bierman.4 3 9 M a s a M a n fa a t ( I) 5 10 20 50 5 10 20 50 G a r is L u r u s S a ld o M e n u r u n ( II) ( III) D IS K O N T O 6 P E R S E N 8 6 .1 0 0 6 4 ..6 1 4 7 0 . Nilai tunai ini sama dengan nilai tunai dari arus laba sebelum pajak dikurangi dengan nilai tunai dari pembayaran pajaknya.

yang ditimbulkan dari semakin memburuknya kondisi aset dan penurunan nilai karena keusangan. untuk menetralisasi pengaruh tarif penyustan ini. Bila kedua arus ini dijumlahkan. yang timbul dari penggunaan aset. Hal tersebut dapat dicapai bila penyusutan dibebankan ketika nilai aset mengalami penurunan. terutama untuk investasi-investasi pada aset yang berumur panjang. aset tersebut menghasilkan arus laba bersih positif yang nilai tunainya adalah nilai aset tersebut. Dari sudut pandang investor. Netralitas Metode Penyusutan Ekonomis Dari pemaparan di atas. metode penyusutan dipercepat menghasilkan penghematan pajak yang besar. berbagai investasi berbeda dalam jangka waktu dan tingkat keuntungan sehingga hasilnya akan berbeda untuk berbagai kebijakan yang dipilih. Dengan demikian. Pada untuk keadilan. Pada kenyataannya. Supaya perlakuan pajak netral. pajak harus netral dengan tidak boleh mendistorsi pola investasi. Pola penyusutan seperti apakah yang diperlukan untuk memastikan definisi penghasilan yang adil dan netral? Sebagaimana yang dikemukakan oleh Musgrave dan Musgrave (1989) aset yang dapat disusutkan dipandang sebagai menghasilkan dua arus penghasilan. dapat dibuktikan bahwa penyusutan yang dipercepat lebih menguntungkan investor. Jika semua investasi sama. Suatu tarif pajak yang lebih rendah dan penyusutan yang lebih lambat akan memberikan nilai tunai pajak yang sama dengan suatu tarif pajak yang lebih tinggi dan penyusutan yang lebih cepat. maka kombinasi apapun antara tarif pajak dan tarif penyusutan tidak menjadi persoalan. percepatan ini ekivalen dengan pinjaman tanpa bunga. tarif penyusutan tidak netral terhadap semua investasi. pemerintah dapat memberlakukan aturan tarif pajak yang dikombinasikan dengan tarif penyusutan yang menghasilkan perlakuan yang netral atas semua investasi. Dengan demikian. Hasilnya demikian karena nilai tunai dari penghematan pajak akan semakin tinggi ketika penghematan pajak tersebut semakin cepat terealisasi. Yang lainnya adalah arus penghasilan negatif. yang dikenakan pajak adalah arus penghasilan bersih yang diterima setiap tahun. aset dengan nilai tunai arus laba bersih yang sama harus mendapat beban pajak yang sama yang didefinisikan sebagai nilai tunai pajak. Bila hanya melihat investasi tunggal. Mempercepat penyusutan (baik dengan cara memperpendek periode penyusutan atau membolehkan menyusutkan jumlah yang besar pada awal-awal masa guna aset) akan mengurangi tarif efektif pajak dengan menunda tanggal jatuh tempo dari kewajiban pajak. dengan nilai tunai dari penghematan bunganya sama dengan nilai tunai dari penghematan pajak yang dihasilkan. Pertama adalah arus penghasilan positif berupa laba.216 Bab 10: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan Dengan demikian. .

Bila penyusutan pajak sama dengan penyusutan ekonomis. cara yang terbaik adalah memakai masa manfaat seperti yang biasa dipakai dalam praktek bisnis dengan asumsi bahwa masa manfaat yang dipercepat merupakan masa manfaat yang “sebenarnya” dan jejak waktu dari arus penghasilannya. penerapannya tidak mudah. yaitu biaya modal atau penyusutan ekonomis yang harus dibebankan bersama-sama dengan biaya lain dalam menghitung laba bersih. Akan tetapi. Oleh karena itu. Aset-aset tidak aus secara seragam dan juga menjadi usang sebelum sempat digunakan sepenuhnya. nilai aset sama dengan nilai tunai dari arus penghasilan bersih selama masa manfaatnya. Tingkat keusangan akan berbeda dan tidak dapat diprediksi dengan mudah. Hal sebaliknya akan terjadi bila tarif penyusutan pajak lebih rendah daripada tarif ekonomis. pilihan-pilihan investasi akan terdistorsi dan lebih banyak modal akan mengalir pada investasi-investasi yang lebih lama. Nilai berjalan dari aset pada setiap waktu sama dengan nilai kapitalisasi dari arus penghasilan di masa depan yang dihasilkannya. Tarif efektifnya akan sama dengan tarif nominal atau tarif yang berlaku karena pengenaan pajak akan mengurangi nilai aset dikalikan dengan tarif pajak. Tarif efektif ditentukan dengan cara menghitung (rb – ra) / rb. di mana rb adalah tingkat pengembalian sebelum pajak dan ra adalan tingkat pengembalian setelah pajak. investasi yang lebih lama akan mendapat keuntungan terbanyak dan juga mendapat manfaat dari tarif pajak efektif yang lebih rendah. Oleh karenanya. ada alasan kuat untuk menggunakan penyusutan ekonomis. Tarif Pajak yang Efektif Berdasarkan diskusi sebelumnya. Oleh karena itu. penurunan dalam nilai berjalan sama dengan nilai kapitalisasi dari penurunan arus penghasilan. Tarif efektif bergantung pada tarif pajak yang berlaku dan tarif penyusutan. tarif efektif sama dengan persentase pengurangan dalam pengembalian modal karena pajak. Tarif ini independen terhadap umur aset dan karenanya tidak akan mendistorsi pilihan investasi di antara mereka. pengenaan pajak akan mengurangi nilai dari arus penghasilan bersih sebesar persentase tarif pajak yang berlaku. Dengan demikian. Investasi Tunggal versus Investasi Berkelanjutan . Jika penyusutan dapat dipercepat. walaupun prinsipnya jelas.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 217 Ingat. Dengan demikian. tampaklah jelas bahwa tingkat tarif nominal dan perubahannya tidak dapat menjadi indikator atas tingkat tarif efektif.

Misalnya. A kemudian membebankan kerugian ini pada laba dari aset Y (yang jumlahnya . Biaya-biaya ini langsung dibebankan. suatu aset diganti dengan pola penggantian yang membuat dasar penyusutannya tidak berubah. Untuk investasi yang berkelanjutan. investor tidak perlu membayar pajak dan pemerintah tidak memperoleh pendapatan pajak. Keuntungan yang didapatkan. Seluruh pembayaran pajak tersebut dapat dihindari dan tanpa pernah terjadi pembayaran pajak tertunda tersebut di masa depan. A menderita kerugian sebesar Rp100 juta. ketika pemerintah kehilangan pendapatan pajak pada tahun-tahun awal dan memperoleh kembali pendapatan pajak tersebut pada tahun-tahun akhir. Jika penyusutannya cukup cepat dan ekspansinya cukup tajam. penangguhan ini dapat berlangsung selamanya. penyusutan yang dipercepat tidak mengurangi jumlah total pajak yang akan dibayarkan. Perolehan kembali baru terjadi setelah reinvestasi berakhir. Pembebanan Sekaligus Biaya gaji dan bahan mentah dikurangkan ketika pembayaran dilakukan atau ketika terjadi. Seorang investor yang melakukan investasi tunggal. Akan tetapi. berasal dari penangguhan pajak pada awal periode. Pada pengeluaran modal pembebanan ini disebar ke dalam beberapa periode. Karena A belum mendapatkan penghasilan dari X. Setelah tahun-tahun awal ini.218 Bab 10: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan Untuk investasi tunggal yang dilakukan hanya sekali dan kemudian selesai. Misalnya. A menginvestasikan uang Rp100 juta pada aset X dan segera membebankannya sebagai penyusutan sebesar Rp100 juta. perusahaan seperti ini dapat menunda pembayaran pajak selamanya. kerugian pendapatan pemerintah akan berkurang tetapi pemerintah tidak pernah mendapatkan kembali kerugian karena penangguhan pajak pada tahuntahun awal tersebut selama reinvestasi terus menerus berlangsung. Apalagi bila dalam kenyataannya suatu perusahaan terus-menerus meningkatkan aset-asetnya yang dapat disusutkan sehingga basis penyusutannya setiap reinvestasi semakin besar. Keuntungan dari wajib pajak atas penundaan pajak (dan kerugian bagi pemerintah) akan naik pada tahuntahun awal dan kemudian akan rata seterusnya. Bila suatu perusahaan memiliki penghasilan dari investasi lain yang dapat dikurangkan dengan penyusutan sekaligus ini. ekivalen dengan pinjaman bebas bunga. ada kemungkinan pengeluaran modal tersebut dibebankan secara ekstrim sekaligus pada satu periode ketika pembayaran pengeluaran modal. Kewajiban pajaknya berkurang pada tahun-tahun awal dan bertambah pada tahun-tahun akhir. ia mungkin tidak akan dapat memanfaatkan penyusutan sekaligus ini karena ia harus memperoleh pendapatan (laba) yang cukup untuk ditandingkan dengan beban penyusutan ini.

Jika penghasilan A atas investasi pada X dengan cara ini dikenakan tarif pajak 30% akan sama posisinya dengan berinvestasi pada X sebesar Rp100 juta dan tanpa pajak. Aturan pajak biasanya hanya membolehkan sebagian (misalnya sepertiga) dari biaya investasi yang dapat diperoleh kembali dengan penyusutan segera.. penghematan pajaknya akan sebesar Rp30 juta. Laba dan Inflasi. adalah dengan mengurangkan hasil penjualan dengan harga pokok....302 x Rp100 juta . penghasilan kena pajak terlalu besar.. Penyesuaian terhadap Inflasi Dengan harga-harga yang selalu meningkat... .. mendapatkan penghematan pajak sebesar Rp9 juta... . Dalam hal ini. hanya sepertiga dari pajak yang akan dihapuskan.. Penghitungan harga pokok berkaitan dengan penentuan laba kena pajak. menimbulkan kenaikan tarif efektif pajak yang tersembunyi. Menentukan laba yang akan dijadikan dasar untuk pengenaan pajak pendapatan badan. (2) seluruh penyusutan dapat dilakukan pada tahun pertama sehingga menghilangkan pengaruh inflasi. hal ini tidak pernah bisa sampai sejauh pemaparan di atas. Untuk menghilangkan permasalahan ini sekaligus mengatasi permasalahan inflasi dengan benar. A akan berinvestasi pada X sebesar Rp100 juta + 0... Penyusutan segera dengan reinvestasi secara terus menerus dari penghematan pajak yang didapat menghilangkan beban pajak. Suatu sistem yang membolehkan sebagian dari pajak dibiayakan dan menyusutkan sisanya sesuai dengan penyusutan secara ekonomis akan netral antara investasi jangka pendek dan jangka panjang.. perolehan kembali investasi (penyusutan) berdasarkan harga perolehannya tidak akan memberikan penghematan pajak yang cukup untuk mempertahankan modal perusahaan dalam nilai riilnya..Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 219 lebih besar daripada Rp100 juta). . bila diukur dalam nilai riil..30 x Rp100 juta + 0. A kemudian menambahkan sejumlah ini ke dalam investasi pada X... membebankan tambahan Rp30 juta sebagai penyusutan. Bagaimana harga pokok harus dihitung adalah urusan yang tidak mudah. dan seterusnya. Hal ini sangat relevan terutama dalam periode inflasi tinggi... Sehingga sampai menjadi subdisiplin ilmu pengetahuan sendiri.. . Dengan tarif pajak 30%. sehingga mengurangi kewajiban pajak dari penghasilan aset Y. = Rp142.. yaitu yang dikenal dengan nama kalkulasi harga pokok atau cost accounting. Dalam praktek.. dua solusi: (1) basis penyusutan dapat diindeks untuk naik sesuai dengan biaya penggantian. Pada akibatnya. Bila kegiatan serial ini diulangi terus-menerus..857 juta.. Pendekatan ini sering disebut sebagai cadangan awal (initial allowance) yang merupakan cara yang netral dalam memberikan insentif investasi..

harga paku meningkat dengan 80 persen menjadi Rp1. Sesuai inflasi. tetapi dalam jumlah kilogram emas. Hasil penjualan seolah-olah dipakai untuk membeli jumlah kilogram emas yang sama. tafsiran tentang berapa besar laba yang diperoleh perusahaan menjadi lain. Artinya. sudah sejak sangat lama orang mempertanyakan apa betul labanya Rp5. sisanya adalah Rp10. Daya beli labanya dipangkas drastis pula.000. labanya Rp5.000. Pedagang tetap harus membayar pajak atas dasar keutuhan modal uang.000. modal pokok usaha tidak dinyatakan dengan uang. karena barang-barang konsumsi kebutuhannya juga meningkat drastis. karena kalau ini dipakai untuk membayar pajak dan dikonsumsi volume perdagangannya tetap. ataukah yang dinamakan pokok jumlah barang dagangan.000. yang dinamakan pokok adalah 10 kg paku dengan harga baru atau Rp12.200 atau 20 persen.555. Modal uang masih utuh. sehingga memperoleh hasil penjualan Rp15. inflasinya dari Rp1. Maka.000 dan setelah dikenakan pajak dikonsumsi.000. walaupun modal kuantitas barang menciut drastis.000.000 = Rp1.800. yaitu Rp1. jelas bahwa mempertahankan keutuhan modal uang akan memperkecil volume perdagangannya secara drastis. hasilnya sama saja.000.000. pedagang paku sangat menderita penciutan kuantitas barang dagangannya sampai hampir separuh. Modal pokoknya utuh.000 ke Rp1. Jadi kena tarif 30 persen atau Rp150.000. pimpinan perusahaan mempermasalahkan yang dinamakan laba. tetapi harus membayar pajak yang didasarkan atas keutuhan modal uang sebagai harga pokok. Kita bayangkan berapa barang yang dapat dibeli dari laba bersih yang relatif sama jumlah nominalnya.000. Ketika seluruh 10 kg pakunya dijual dengan harga Rp1. Maka labanya hanya Rp3. Dalam ekonomi yang harganya naik terus atau inflasi. yang sama dengan modal pokoknya. Dalam contoh di atas. Dari gambaran di atas terlihat bahwa laba akan sama saja. apakah yang dinamakan pokok itu jumlah uang. Hasil penjualannya 1 juta kali Rp1.000 : 1.000.000. Ketika di zaman orde lama inflasi berkecamuk hebat. Supaya pokok dalam bentuk barang tidak menyusut.000.220 Bab 10: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan Sebagai subdisiplin ilmu dalam rangka ilmu ekonomi perusahaan.200 per kg. Laba menurut fiskus Rp500. apakah modal yang dipertahankan harus utuh itu modal uang atau modal kuantitas barang dagangan. memang demikian halnya dengan perkembangan ilmu dalam bidang cost accounting. Kalau dikatakan perkembangan ilmu pengetahuan mempengaruhi praktek bisnis.000.000.200? Bukankah labanya Rp3. seandainya harga paku tidak naik dari Rp1. kalau ada pedagang paku membeli 10 kg paku dengan harga Rp1. Jadi tinggal sebagian.200 = 8.000. Tadi dikatakan bahwa seandainya tidak ada inflasi. Mengapa? Kalau Rp5. sisa uang yang Rp10.000.000? Mengapa? Karena kalau laba dianggap Rp5. Dari sini jelas.000 menjadi Rp1. Laba adalah jumlah uang yang dapat dikonsumsi tanpa mengurangi pokoknya.000 per kg.33 kg. Pengusaha mulai dengan modal yang sama dengan jumlah kilogram emas tertentu.000.800 = 555.500. Sudah sejak lama.000:1. Laba bersih yang dapat dihabiskan untuk konsumsi adalah Rp350. Bagaimana kenyataan bahwa di tahun 1998 inflasi Indonesia 80 persen? Mari sekarang kita lihat bagaimana jadinya dengan pedagang paku kalau yang diperdagangkan 1 juta kg paku. Bagaimana kalau ketika si pedagang ingin memperbarui stoknya yang 10 kg itu.500 = Rp1. Sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan.000.56 kg.000.500 per kg. harga per kilogramnya melonjak menjadi Rp1.000.000. . falsafah fiskus menganut asas keutuhan modal uang. Kalau ada sisanya barulah dikonsumsi. Tetapi kalau inflasinya hebat. cost accounting terus berkembang. yaitu 10 kg paku. Modal uang yang utuh kalau dibelikan barang dagangan paku menjadi 1. Pedagang sudah menderita karena volume bisnisnya yang menyusut.000. harga pokoknya Rp10. Modal awal adalah 1 juta kali Rp1. sedangkan harga barang konsumsi yang dibutuhkan tentunya juga meningkat sesuai dengan inflasi atau sekitar 80 persen.000 kalau dibelikan paku lagi sebagai barang dagangannya. kuantitas barang menyusut menjadi 10.000 itu dipakai untuk membayar pajak dan dikonsumsi.

peraturan pajak membolehkan perseroan untuk mengkreditkan sebagian (pada tahun 1985 sebesar 10%) dari biaya investasi yang dikualifikasikan. cara penghitungan laba kena pajak mana yang paling tepat diterapkan di Indonesia? Diskusikan! INVESTMENT TAX CREDIT Di Amerika Serikat. Yang mana pun yang dipilih. 5 April 1999) Menurut saudara.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 221 Benarkah pengusaha yang mendasarkan harga pokoknya atas jumlah kilogram emas? Benar kalau tujuannya berusaha adalah mempertahankan jumlah kilogram emas tanpa peduli kuantitas barang dagangannya menggelembung atau menciut. kedua pendekatan itu akan berbeda dalam berbagai investasi. yaitu yang bertolak dari pikiran. apakah kuantitas barang dagangan. bahwa tujuan pengusaha adalah mempertahankan paket barang dan jasa untuk mempertahankan tingkat hidupnya. jumlah kilogram emas. kredit pajak investasi (investment tax credit) merupakan alat insentif yang utama. dalam waktu singkat. sedangkan kredit pajak memberikan keuntungan bagi aset berumur pendek. atau daya beli. (Diadaptasi dari: Kwik Kian Gie. sebagai alat insentif pajak. barang dagangan akan menjadi nihil. maka laba harus dikoreksi dengan angka inflasi yang ditentukan oleh paket barang dan jasa yang menjadi pola konsumsi hidup yang dianggap wajar. Bila ini tujuannya. dapat diperbandingkan? Keduanya dapat digunakan untuk mengurangi pajak. Aset yang berumur lebih pendek dapat diganti lebih sering sehingga dapat dimungkinkan untuk mendapatkan kredit pajak lebih sering lagi. yaitu modal pokok uangnya saja yang dipertahankan. maka barang dagangannya bisa menggelembung atau menciut. tetapi juga alat yang memberi hak untuk pengurangan pajak. Kuantitas barang dagangan ini dengan sendirinya takkan menggelembung atau menciut. Bila seorang investor yang membeli aset dengan harga Rp100 juta. Kompas. pada dua dekade sebelum reformasi pajak tahun 1986. Kalau tidak sama. Aliran lain lagi. Apakah penyusutan yang dipercepat dan kredit pajak atas investasi. Kredit investasi tidak hanya merupakan alat penunda pajak. . Kalau inflasi menghebat terus. Untuk suatu investasi tertentu dengan lama masa manfaat tertentu. dan pedagang disuruh sejalan pikirannya dengan pemerintah mengenakan pajak. semuanya bertentangan frontal dengan falsafah yang melulu hanya menginginkan mempertahankan keutuhan modal uang. tetapi mekanismenya berbeda. Akan tetapi. dapat dirancang suatu peraturan pajak untuk penyusutan yang dipercepat dan kredit atas investasi yang menghasilkan nilai tunai yang sama kepada investor. Penyusutan dipercepat lebih tepat untuk investasi jangka panjang. Investasi yang dikualifikasikan untuk kredit pajak tersebut adalah semua aset yang dapat disusutkan kecuali gedung. Ketika pertama kali diperkenalkan tahun 1964. maka ia memperolehnya pada biaya perolehan bersih sebesar Rp90 juta. kalau kadar inflasi barang dagangannya sama dengan kadar inflasi dari emas.

Jika tujuan menahan ukuran bisnis yang ditetapkan. Akan tetapi tujuan ini pun dapat dipertanyakan. ada pandangan bahwa ada kebutuhan sosial untuk memelihara UKM walaupun tidak efisien. keringanan pajak untuk usaha-usaha kecil selalu menjadi perbincangan politik yang penting. Selain itu. Bantuan kepada UKM Untuk menghilangkan penerapan pajak berganda bagi usaha kecil berbentuk perseroan. Walaupun demikian. seperti telah dikemukakan oleh Paul O’Neill di muka. Untuk menghindari pemanfaatan oleh wajib pajak . maka pajak yang progresif dapat diberlakukan tetapi diterapkan pada ukuran usaha (ukuran aset). suatu penerapan integrasi yang lengkap. Pengenaan tarif pajak progresif tentu akan didasarkan pada alasan-alasan lain. Tidak ada hubungan positif antara ukuran usaha perusahaan dan penghasilan pemiliknya. seperti menahan ukuran bisnis sehingga tidak terlalu besar atau mendukung usaha-usaha kecil. Posisi ini dapat dipandang benar untuk mengurangi kemampuan perusahaan-perusahaan besar untuk beroperasi pada pasar-pasar modal yang tidak sempurna dan mendapat manfaat dari praktek-praktek monopolistik. Perseroan kecil ini dipandang sebagai mekanisme pemungutan/pemotongan pajak saja. Perseroan pada dasarnya tidak memiliki kemampuan untuk membayar seperti halnya yang dimiliki individu dan beban pajak pada akhirnya ditanggung oleh individu. ada aturan khusus pada peraturan-peraturan pajak negara tertentu bahwa usaha-usaha kecil sampai dengan ukuran aset atau ukuran penjualan tertentu boleh kenakan pajak sebagai suatu firma. bukannya tingkat laba. Pemerintah dapat pula memberikan bantuan kepada UKM dengan mengenakan tarif terendah pajak yang lebih rendah. Tarif terendah yang lebih rendah ini tidak banyak manfaatnya bagi usaha-usaha besar. walaupun sedikit sekali bukti bahwa ukuran usaha yang besar diperlukan untuk mencapai efisiensi. Banyak perusahaan kecil dimiliki oleh individu-individu berpenghasilan tinggi dan sebagian besar dividen yang dibayarkan oleh perseroan besar diterima oleh individu-individu dengan penghasilan menengah. walaupun tarif terendah yang lebih rendah ini dapat digunakan oleh wajib pajak pribadi untuk mengurangi pajaknya. pada umumnya perusahaan-perusahaan ukuran menengah dan besar lebih efisien daripada usaha kecil.222 Bab 10: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan Haruskah tarif pajak bagi UKM berbeda? Alasan pengenaan tarif pajak progresif untuk pajak penghasilan wajib pajak pribadi tidak dapat diterapkan pada sektor perseroan.

Suatu tarif pajak yang lebih rendah dan penyusutan yang lebih lambat akan memberikan nilai tunai pajak yang sama dengan suatu tarif pajak yang lebih tinggi dan penyusutan yang lebih cepat. Natura adalah penghasilan yang tidak berbentuk kas. Permasalahan yang mungkin timbul untuk pajak badan adalah: (1) Hutang versus Modal Saham. Dalam hal pembayaran gaji dan upah atau pembelian bahan mentah. Dalam metode partnership. dan (3) Penyusutan. Pajak tidak boleh mendistorsi pola investasi. Pemilik dana cenderung untuk meminjamkan daripada melakukan investasi saham. Tetapi dalam hal investasi modal. pengurangan dapat dilakukan ketika pembayaran terjadi. Permasalahan lain yang dapat muncul adalah aturan ini dapat dimanfaatkan oleh perusahaan besar dengan memecahnya menjadi unit-unit kecil dengan melakukan spin off. Dengan membayar dalam bentuk natura. Metode integrasi tidak memerlukan penentuan laba kena pajak untuk perusahaan. (2) Natura. Seorang pemilik modal yang membeli aset dengan harga tertentu dapat mengkreditkan dengan beban pajak yang harus dibayar sebesar biaya perolehan. termasuk yang belum direalisasikan. pemegang saham diperlakukan seolah-olah adalah partner dalam suatu bisnis. Integrasi penuh akan mengembalikan netralitas perlakuan pajak. (2) Membatasi ukuran atau besarnya perusahaan. Bunga boleh dikurangkan dari penghasilan perusahaan kena pajak. perusahaan membantu pengawainya mengurangi pajak penghasilan pribadi mereka. pengurangan itu dilakukan selama beberapa periode. § § § § § § § . RANGKUMAN § Pengenaan pajak perusahaan dapat dilakukan sebagai instrumen pengendali tingkah laku perusahaan. Pendapatan bunga hanya dikenakan dalam pajak penghasilan pribadi. Permasalahan ini dapat diatasi dengan memberikan penalti kepada suatu perusahaan induk yang memiliki banyak anak perusahaan. seperti juga pembayaran gaji dan upah. (3) Pembatasan laba. Pajak dikenakan atas semua capital gain. dan (5) Insentif atau disinsentif investasi. Bunga diperlakukan sebagai biaya bisnis. (4) Pemupukan modal atau pertumbuhan ekonomi. dibuat aturan pajak berbeda untuk wajib pajak pribadi. (1) Pengendalian terhadap monopoli.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 223 pribadi.

Jelaskan perbedaan pandangan integrasi dan pandangan absolute dalam pengenaan pajak atas suatu perusahaan! 3. Bagaimana bentuk pajak perusahaan yang tepat jika ada keinginan untuk membatasi besarnya perusahaan? Jelaskan! 5. memberikan pinjaman hutang atau menginvestasikan uangnya untuk modal saham? Apa Alasannya? 8. Bagaimana solusi untuk mengatasi masalah inflasi dengan baik? Jelaskan dan berikan contoh! 11. Mengapa secara teori dianggap lebih menguntungkan menggunakan metode penyusutan declining balance method? 9.224 § Bab 10: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan Sebagian besar ekonom memandang beban pajak penghasilan badan seharusnya jatuh kepada pemodal. Apa yang dimaksud dengan penerapan pajak atas pertimbangan manfaat? 4. Mengapa tarif pajak progresif untuk pajak penghasilan wajib pajak pribadi tidak dapat diterapkan pada sektor perusahaan? 12. jika perusahaan ingin meningkatkan pengeluaran konsumsi dan mendukung berfungsinya pasar modal! 6. dari sisi permasalahan perpajakan. sesuai dengan model ekonomi kompetitif. Bagaimana peran pemerintah dalam rangka membantu Usaha Kecil dan Menengah untuk memenuhi kewajibannya membayar pajak penghasilan badan? . Partnership b. Mana yang lebih menguntungkan. Capital Gain 7. Dilihat dari sisi kewajiban pajaknya. Jelaskan integrasi pajak secara penuh dengan metode : a. perusahaan akan berusaha memindahkan beban pajaknya dengan harga yang lebih tinggi. Akan tetapi jika berada dalam situasi monopolistik. Sebutkan hambatan – hambatan dalam menerapkan prinsip keadilan. LATIHAN 1. Jelaskan pengenaan pajak yang diterapkan. bedakan pengaruh investasi tunggal dan investasi berkelanjutan! 10. pajak penghasilan WP badan! 2.

Bila pajak penghasilan didasarkan pada . atas penghasilan yang diterima oleh rumah tangga) maka pajak penjualan dikenakan pada sisi penjual dari transaksi produksi (misalnya atas penjualan yang dilakukan perusahaan). dengan angka penjualan diukur dalam ukuran unit produk atau penerimaan kotor. Pajak penjualan atas barang konsumsi dapat dipandang sebagai ekivalen dengan pajak yang dikenakan atas pembelian-pembelian rumah tangga karena barang-barang konsumsi adalah pembelian-pembelian rumah tangga.PAJAK KONSUMSI Pajak penjualan pada dasarnya mirip dengan pajak penghasilan karena pajak ini dikenakan arus yang diciptakan oleh produksi output tahun berjalan. Bila pajak penghasilan dikenakan pada sisi penjual dari faktor-faktor produksi (misalnya.

warung dan sejenisnya. n Makanan dan minuman yang disajikan di hotel. Oleh karena itu. Pajak Pertambahan Nilai atas Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 tahun 1984. restoran. untuk konsumsi barang-barang tertentu yang dikelompokkan sebagai barang mewah di dalam negeri.228 Bab 11: Pajak Konsumsi sisi sumber suatu rumah tangga maka pajak penjualan didasarkan pada sisi penggunaan suatu rumah tangga. Selain itu. Khusus untuk PPnBM hanya dikenakan satu kali ketika dijual oleh pabrikan atau ketika diimpor. dalam pajak penjualan tidak ada situasi-situasi pribadi konsumen sebagaimana halnya dalam pajak penghasilan individu. Dalam pajak umum atas barang-barang konsumsi. PPN merupakan pajak konsumsi yang dikenakan atas konsumsi barang-barang dan jasa-jasa tertentu di dalam negeri (di dalam Daerah Pabean). seperti aturan-aturan pengecualian. pajak penjualan inferior baik dalam hal keadilan vertikal maupun keadilan horizontal. JENIS PAJAK ATAS KONSUMSI DI INDONESIAA Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah Pajak atas konsumsi yang pertama kali berlaku di Indonesia adalah Pajak Penjualan (PPn) yang mulai diberlakukan sejak tahun 1951. . semua penggunaan dikenakan kecuali untuk menabung. Pajak penjualan merupakan pajak in rem yang berbeda dari pajak penghasilan yang merupakan pajak pribadi. yang telah mengalami perubahan-perubahan yang terakhir diubah dengan UndangUndang Nomor 18 tahun 2000. Pajak. rumah makan. Tidak semua konsumsi barang dan jasa dikenakan pajak. Oleh karenanya. selain dikenakan PPN juga dikenakan PPnBM. dan tarif progresif. Proses penggantian Pajak Penjualan menjadi Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) merupakan salah satu rangkaian perombakan sistem perpajakan nasional sebagai Reformasi Perpajakan tahun 1983 dan mulai berlaku sejak tanggal 1 April 1985. Pajak penjualan adalah pajak penghasilan bila definisi penghasilan mengacu pada definisi yield income dari Irving Fisher. n Barang-barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh rakyat banyak. pengurangan. Jenis barang yang tidak dikenakan PPN adalah: n Barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yang diambil langsung dari sumbernya.

cukai adalah pajak atas konsumsi. Cukai Cukai adalah pungutan atau pajak yang dikenakan terhadap konsumsi barang-barang tertentu. Pada prinsipnya. seperti yang telah dibahas dalam bab-bab sebelumnya. jasa pelayanan sosial. bensin dan minuman keras. PPN dan PPnBM merupakan contoh pajak penjualan yang dikenakan berdasarkan ad valorem. Ruang Lingkup Cakupan Pajak Penjualan Umum Karena perbedaan basis pengenaannya. Jasa-jasa yang tidak dikenakan PPN cukup banyak. tetapi hanya dikenakan pada barang-barang tertentu seperti tembakau. seperti pajak penjualan. . Pajak per Unit versus Pajak atas Nilai (Ad valorem) Pajak penjualan dapat dikenakan per unit produk dan dapat dikenakan atas nilai produk (ad valorem). bentuk ad valorem lebih berarti daripada bentuk per unit. Pajak Reklame dan Pajak Parkir. dan surat-surat berharga. terdiri dari beberapa jenis. Pajak Restoran. emas batangan. Pajak Hiburan. jasa keuangan. Cukai merupakan hak atas pemerintah pusat. seperti yang dijelaskan pada bagian sebelumnya. BAHASAN-BAHASAN DALAM PAJAK ATAS KONSUMSI BPajak penjualan. jasa keagamaan. jasa pendidikan dan lain-lain. jasa pengiriman surat dengan perangko. Sebagian besar cukai atau pajak penjualan atas produk-produk tertentu dikenakan berdasarkan unit produk. Pajak-pajak tersebut dapat mencakup semua transaksi atau basisnya sama dengan PNB atau hanya konsumsi saja. cukai tembakau dan cukai minuman keras. termasuk definisi basis pajak. Pajakpajak ini diantaranya Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor. gula. Di antara dua basis ini.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 229 n Uang. pajak-pajak penjualan umum dapat berbeda dalam cakupan pengenaannya. Pajak Hotel. misalnya pajak atas BBM. cakupan dan saat pengenaannya. Pajak Konsumsi di Daerah Jenis pajak konsumsi lainnya diberlakukan pada tingkatan daerah dengan besarnya tarif pajak bergantung pada peraturan masing-masing daerah. seperti jasa pelayanan kesehatan.

untuk menghindari pajak. Cara ini sangat menarik perhatian pemerintah karena kemampuannya menghasilkan pajak yang besar dengan penerapan tarif yang kecil. penerapan pajak berdasarkan perputaran yang komprehensif sebesar 1% akan menghasilkan pendapatan pemerintah sebesar Rp46 trilyun. perusahaan-perusahaan akan bergabung dengan para pemasok mereka. Pada umumnya. basis pajaknya akan berjumlah beberapa kali lipat dari PNB dan hasil pajak yang besar akan didapatkan hanya dengan pengenaan tarif pajak yang rendah. suatu produk dikenakan pajak berkali-kali sepanjang tahapan produksi. Basis Produk Nasional Bruto (PNB) versus Basis Penghasilan atau Konsumsi Karena basis transaksi menimbulkan pengenaan ganda dan harus dihindari maka pilihan lainnya adalah basis PNB. atau sepertiga hasil dari pajak penghasilan. pendapatan nasional atau konsumsi. pajak berdasarkan perputaran dipandang sebagai bentuk pajak yang inferior. pajak berdasarkan perputaran menimbulkan diskriminasi pengenaan pajak terhadap produkproduk yang harus melalui banyak tahapan produksi dan distribusi. pajak penjualan yang dikenakan di berbagai negara didasarkan pada basis konsumsi. Dengan PNB Indonesia yang diperkirakan sebesar Rp1180 trilyun misalnya. penjualan besi baja dikenakan pajak ketika besi baja berpindah dari pabrik baja ke pabrik produksi lembaran baja. penjualan biji besi dikenakan pajak ketika biji besi tersebut berpindah dari tambang ke pabrik baja. Pendekatan ini tidak akan menimbulkan permasalahan bila setiap produk melalui jumlah transaksi yang sama sehingga persentase total kewajiban pajak berdasarkan perputaran terhadap nilai pada penjualan akhir akan sama. Selain itu. Bahkan beberapa negara Eropa telah menggantikan bentuk pajak ini dengan pajak pertambahan nilai sebagai bukti inferioritas pajak atas perputaran ini. .230 Bab 11: Pajak Konsumsi Basis Transaksi yang Inferior Pajak berdasarkan perputaran (turnover tax) yang dikenakan pada jumlah total seluruh transaksi adalah pajak yang paling tidak diinginkan untuk diterapkan. Misalnya. Akibatnya. dan seterusnya sampai pajak terakhir dikenakan pada penjualan mobil eceran. sehingga mendorong timbulnya integrasi vertikal yang pada gilirannya akan mengurangi kompetisi. Atas dasar inilah. setiap produk melalui jumlah transaksi yang berbeda-beda. Dengan demikian. Dalam kenyataannya. Dalam pajak jenis ini. penjualan lembaran baja dikenakan pajak ketika lembaran baja berpindah dari pabrik produksi lembaran baja ke pabrik mobil.

Pajak seperti ini akan memiliki basis yang sama dengan pajak penghasilan dan dapat diadakan dengan memberlakukan pajak pertambahan nilai jenis penghasilan. Dengan demikian. Karena basis penghasilan telah digunakan dalam pajak pribadi pada bagian sebelumnya dengan pengenaan pajak penghasilan. yang akan dijelaskan pada bagian berikutnya. Karena sama dengan pengenaan pajak atas penghasilan. Tahap Pengenaan Keputusan mengenai tahap pengenaan didasarkan pada pilihan tahapan terbaik untuk pengenaan pajak satu kali dan pilihan mengenakan pajak satu kali atau beberapa kali. jasa kesehatan dan lain-lain.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 231 Pajak penjualan jenis PNB akan mengenakan pajak penjualan atas barangbarang konsumsi dan barang-barang produksi. Pajak Konsumsi Komprehensif versus Pajak Konsumsi Tertentu Pajak penjualan umum atau eceran bertujuan mengenakan pajak yang mencakup seluruh konsumsi secara komprehensif. Dengan pengeluaran konsumsi sebesar Rp1. Akan tetapi jumlah dalam basis ini akan berkurang karena beberapa konsumsi tertentu dikecualikan dari pengenaan pajak penjualan. Kelemahan ini tidak terjadi bila pajak hanya dikenakan pada basis yang sama dengan pendapatan nasional atau PNB dikurangi dengan pajak-pajak tidak langsung dan penyusutan. Dalam hal efisiensi.170 trilyun. . Basis inilah yang paling banyak digunakan dalam pajak penjualan. konsumsi makanan rumah. basis ini akan sama dengan yang dipakai dalam pajak atas penghasilan bruto. seperti konsumsi perumahan (sewa rumah dan imputed-rent bagi pemilik rumah). Bilamana penetapan cakupan pajak merupakan hal yang substantif dalam menentukan jenis pajak yang akan diberlakukan. satu-satunya basis yang tersisa sebagai kandidat basis pajak adalah basis konsumsi. pajak penjualan yang komprehensif sebesar 10% akan menghasilkan pendapatan negara sebesar Rp117 trilyun. bukan dalam jumlah brutonya. Dalam hal keadilan. pajak ini akan memberikan perlakuan lebih diskriminatif terhadap tabungan yang telah mendapat perlakuan diskriminatif dalam pajak penghasilan bila dibandingkan dengan bentuk tabungan rencana pensiun. pajak ini akan melanggar prinsip dasar pajak penghasilan yang menyatakan bahwa penghasilan dari semua sumber harus dikenakan pajak sepenuhnya dan dalam jumlah netonya. yaitu penghasilan tanpa diperhitungkan biaya penyusutan. pajak jenis ini memiliki kelemahan dalam hal keadilan dan efisiensi.

Selain itu. Pengenaan tarif yang berbeda untuk menghilangkan perbedaan rasio harga eceran terhadap harga produksi ini akan sangat sulit dan merupakan cara yang tidak seefisien dan seefektif pengenaan pajak pada tingkatan penjualan eceran. maka pengenaan sebaiknya dilakukan pada tahapan eceran. Jika pajak akan dikenakan secara selektif (PPnBM). pengenaan pada saat penjualan eceran lebih baik karena memungkinkan pengenaan tarif ad valorem yang seragam. karena rasio harga eceran terhadap harga produksi berbedabeda untuk berbagai produk. karena pengenaan pajak secara selektif pada tingkatan eceran akan sangat sulit. tahapan mana akan dikenakan pajak merupakan hal yang sulit untuk ditentukan. Pengenaan pajak ad valorem dengan tarif yang sama pada tingkatan produksi menghasilkan tarif ekivalen yang tidak sama dengan pengenaan pada tingkatan penjualan eceran. Saat Produksi versus Saat Penjualan Eceran Bila menggunakan pajak yang dikenakan satu kali.232 Bab 11: Pajak Konsumsi pemilihan tahap pengenaan lebih merupakan masalah administratif dalam rangka efisiensi pengenaan pajak atas basis yang dipilih. Negara-negara berkembang dapat memperoleh hasil yang lebih baik dengan pajak penjualan yang dikenakan pada tahapan produksi karena . Dalam situasi lain (misalnya bahan kain yang digunakan untuk pakaian mewah atau pakaian murah) dimana identifikasi produk tidak memungkinkan. dan lebih memiliki pembukuan yang baik daripada badan-badan usaha eceran. Walaupun demikian. Pembedaan dalam situasi ini lebih berkaitan dengan sifat dari produk final pada tahapan penjualan eceran. lebih permanen. Jika pajaknya bersifat umum. Karakteristik-karakteristik mampu memberikan perbaikan dalam kualitas perhitungan pajak di negara-negara berkembang. Pajak dikenakan pada produsen yang jumlahnya pasti lebih sedikit daripada pengecer/penjual ataupun konsumen. pilihan pengenaan pajak biasanya antara saat selesai produksi atau saat dijual secara eceran kepada konsumen. badan-badan usaha produksi cenderung lebih besar. pandangan umum lebih condong kepada pengenaan pada tahapan penjualan eceran untuk diterapkan pada pajak penjualan umum dan tidak begitu sering digunakan pada pajak-pajak penjualan selektif. akan lebih menguntungkan mengenakan pajak pada tahapan ini. pengenaan pajak pada tahapan produksi lebih menguntungkan karena cara ini akan mengurangi jumlah pembayar pajak yang harus ditagih pajaknya sehingga mempermudah administrasi. Di negara-negara berkembang. misalnya mobil murah atau televisi. Jika produknya dapat diidentifikasi pada tahapan produksi.

Dengan menelusuri ke berbagai tahapan produksi. dengan nilai atau harga final dari produk tersebut sama dengan jumlah kenaikan atau pertambahan nilai pada seluruh tahapan. Saat Penjualan Eceran versus Pertambahan Nilai Pertanyaan lebih lanjut pengumpulan pajaknya. kita akan mulai dengan peternak yang menjual kulit hewan kepada penyamak. Walaupun ada perbedaan dalam teknik. yaitu pada saat pengenaan di titik penjualan final dan dikumpulkan secara bertahap dengan menggunakan prosedur nilai tambah. basis nilai tambah dari pajak penjualan jenis konsumsi sama dengan basis penjualan eceran. nilai barang meningkat dan harga jual juga meningkat sejalan dengan peningkatan nilai tersebut. Dengan cara kedua. PAJAK PERTAMBAHAN NILAI Menurut sudut pandang ahli ekonomi.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 233 jumlah titik penagihan pajak yang lebih sedikit. Pemilihan keduanya lebih didasarkan pada kemudahan administrasi. Penggunaan pendekatan beberapa tahapan dalam konteks pertambahan nilai harus dibedakan dengan yang sebelumnya dibahas dalam diskusi tentang pajak atas perputaran. Suatu pajak . misalnya sepatu. Nilai Akhir sebagai Agregat dari Pertambahan Nilai Mari kita lihat suatu produk. Setiap kenaikan harga menunjukkan tambahan nilai pada setiap tahapan. Ada dua cara pengumpulan pajak penjualan. penyamak menjual kulit bahan sepatu kepada produsen sepatu. Yang dikenakan di sini adalah pajak atas pertambahan nilainya sedangkan pada pajak atas perputaran dikenakan atas seluruh jumlah perputarannya di setiap tahapan produksi. pajak pertambahan nilai bukan bentuk pajak yang baru seperti pajak pengeluaran. walaupun dampaknya dapat berbeda bila pajak tersebut dikenakan pada tingkatan penjualan eceran. Oleh karena itu. produsen sepatu menjual sepatu kepada distributor utama. hanya cara penagihannya yang berbeda. yang akhirnya akan menjual sepatu tersebut kepada konsumen. nilai produk dibagi dalam potongan-potongan (nilai tambah pada setiap tahapan) dimana pajak dikenakan pada tahapan-tahapan sepanjang proses produksi. Pada setiap tahapan. pajak ini hanyalah pajak penjualan yang diadministrasikan dengan cara berbeda. pajak pertambahan nilai yang diselenggarakan dengan benar akan ekivalen dengan penerapan pajak dalam satu tahapan pada titik penjualan. distributor utama menjual sepatu kepada toko eceran.

Dengan PNB Indonesia sebesar Rp1. atau oleh suatu perusahaan untuk pembelian barangbarang modal. Pajak ini akan merupakan bentuk yang paling komprehensif dari pajak pertambahan nilai dan disebut sebagai pajak pertambahan nilai jenis PNB. Pajak ini akan dibayarkan oleh penjual ketika produk dijual kepada pembeli terakhir. Jenis PNB Bila semua barang dan jasa final yang diproduksi dan dijual dalam suatu periode. yaitu PNB. Produk Nasional Neto (PNN). pajak tersebut akan dikenakan baik pada barang konsumsi maupun barang modal. Pajak atas NNP dapat dikenakan dalam bentuk beberapa tahapan dengan mengenakan pajak pada nilai bersih yang ditambahkan oleh setiap perusahaan. menjadi subyek pajak penjualan umum. bunga. oleh suatu perusahaan untuk menambah persediaan barangnya. baik oleh konsumen rumah tangga. dengan nilai bersih didefinisikan sebagai penerimaan kotor dikurangi pembelian atas barang setengah jadi dan penyusutan. Seperti kita ketahui NNP sama dengan PNB dikurangi cadangan untuk konsumsi modal atau penyusutan. Basis pajak pada setiap tahapan akan sama dengan penyusutan. tetapi hanya jenis konsumsi yang dapat diterapkan secara praktis. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya. pajak ini ekivalen dengan pajak penjualan yang diterapkan pada barang konsumsi dan barang modal. pajak.5 trilyun pendapatan pajak bagi negara. Jenis Pajak Pertambahan Nilai Ada tiga jenis pajak pertambahan nilai sesuai dengan basis PNB. Jumlah yang sama dapat diperoleh dengan menggunakan pendekatan nilai tambah. pajak dengan tarif 5% yang mencakup semua barang tersebut akan menghasilkan Rp58.234 Bab 11: Pajak Konsumsi yang dikenakan pada pertambahan nilai akan identik basisnya dengan suatu pajak yang dikenakan pada nilai final dari produk tersebut. yang dihitung dari penerimaan kotor dikurangi dengan biaya pembelian barang setengah jadi dari produsen sebelumnya dalam lini produksi. laba dan biaya-biaya. juga dapat digunakan untuk menyelenggarakan pajak penjualan pada produk neto. dan konsumsi. Jenis Penghasilan Pendekatan nilai tambah ini.170 trilyun. yaitu mengenakan pajak kepada setiap penjual dengan tarif 5 persen dari nilai tambah. seperti yang telah dibahas sebelumnya. Hasil yang sama dapat diperoleh dengan menerapkan pajak penghasilan umum karena basis suatu pajak produk neto sama dengan pajak .

Pajak pertambahan nilai jenis penghasilan berbeda dari jenis konsumsi. Basis konsumsi ditentukan dengan menambahkan pembayaran-pembayaran kepada faktor dengan penyusutan (baris 05 dan 07) kemudian dikurangi dengan pembelian barang modal (baris 09). Ilustrasi Perhitungan PPN untuk Setiap Jenis Ilustrasi perhitungan dari berbagai jenis pajak pertambahan nilai disajikan pada tabel berikut. Pajak seperti ini akan sama dengan pajak penjualan eceran umum atas barang konsumsi. Untuk basis penghasilan. hanya pendekatan nilai tambah yang secara praktis digunakan apabila pajak penjualan akan dikenakan pada produk neto. Dengan membolehkan setiap perusahaan untuk mengurangkan pengeluaran modalnya. Jadi. Alternatif lainnya yang dapat digunakan adalah metode penambahan. dengan perbedaan hanya pada prosedur administrasi saja. yaitu pembelian barang-barang modal. Tabel ini menunjukkan perhitungan ketiga basis dengan menggunakan metode yang disebut metode pengurangan. Jadi metode penambahan langsung menghasilkan angka pada pajak pertambahan nilai jenis penghasilan tetapi agak membingungkan pada pajak pertambahan nilai jenis konsumsi. Pajak ini tidak dapat dikenakan sebagai pajak atas total nilai bersih dari barang pada saat penjualan terakhir dilakukan karena prosedur ini mengharuskan pencatatan biaya-biaya penyusutan yang dibebankan oleh semua produsen sepanjang lini produksi. Basis PNB dihitung dengan cara menambahkan pembayaranpembayaran kepada faktor dengan penyusutan (baris 05 dan 07).Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 235 penghasilan. PPN jenis penghasilan membolehkan perusahaan mengurangkan penyusutan sedangkan PPN jenis konsumsi membolehkan perusahaan mengurangkan investasi bruto. Jenis Konsumsi Basis untuk pajak pertambahan nilai jenis ini didefinisikan sebagai pendapatan bruto perusahaan dikurang nilai dari seluruh pembelian produkproduk setengah jadi (bahan mentah dan barang dalam proses) dan juga pengeluaran modalnya atas pabrik dan peralatan-peralatan. . perhitungan dengan metode penambahan adalah dengan cara menambahkan semua pembayaran kepada berbagai faktor yang dinyatakan pada baris 05. yang tersisa hanyalah nilai dari output barang konsumsi saja.

seperti yang ditunjukkan pada kolom terakhir. 402 Basis konsumsi. Penjualan barang modal 04. Penjualan produk setengah jadi 03. dihitung untuk setiap perusahaan dengan mendapatkan angka penjualannya dan dikurangi dengan pembelian barang-barang setengah jadi dan barang-barang modal (baris 06 dan 09). Pembelian produk setengah jadi 07. . pendapatan nasional. Konsumsi 14. 06. Metode Penagihan Bila kita melihat jenis konsumsi dari pajak pertambahan nilai. Basis penghasilan. Penjualan barang konsumsi 02. Musgrave dan Peggy B. dihitung untuk setiap perusahaan dengan cara penjualan dikurangi dengan biaya barang-barang setengah jadi dan penyusutan (baris 06 dan 07). GNP 16. dan PNB yang ditentukan dalam perhitungan pendapatan nasional. NNP atau Pendapatan Nasional PERUSAHAAN B C Ekonomi 120 120 70 145 100 315 151 151 221 265 100 100 20 120 80 120 15 215 90 45 16 151 270 165 51 - - 100 100 120 100 120 195 180 95 6 90 106 321 370 321 - - - 221 100 321 51 270 Sumber: Richard A. kita akan menghitung basis pajak untuk setiap perusahaan adalah penjualan dikurangi dengan pembelian-pembelian barang-barang setengah jadi dan barang modal. seperti yang ditunjukkan pada baris 10. dsb.236 Bab 11: Pajak Konsumsi A Pendapatan 01. akan sama dengan penjualan total (baris 04) dikurangi pembelian barang-barang setengah jadi (baris 06). Plus Investasi 15. Public Finance in Theory and Practice. Musgrave. McGraw-Hill. Jumlah total Biaya Modal 09. seperti yang ditunjukkan pada baris 11. Basis penghasilan (baris 04 dikurangi baris 06 dikurangi baris 07) 12. New York: 1989. Basis konsumsi (baris 04 dikurangi baris 06 dikurangi baris 09) 11. Basis PNB. hal. Jumlah total Biaya 05. Penjumlahan basis-basis pada setiap perusahaan ini menghasilkan basis-basis untuk seluruh ekonomi. Upah. Penyusutan 08. Minus Penyusutan 17. seperti yang ditunjukkan pada baris 12. laba. 5th Edition. Pembelian barang-barang modal Basis-basis pajak 10. Basis GNP Perhitungan Pendapatan Nasional 13. bunga. Jumlah total basis-basis ini sama dengan nilai dari konsumsi.

Dalam pajak pertambahan nilai. konsumen akan menyadari adanya pajak pada kedua pendekatan ini.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 237 Bila perhitungan pajak telah selesai. DISTRIBUSI BEBAN PAJAK . Selain itu. pengecualian barang-barang modal dapat dilakukan dengan lebih efektif daripada dalam pajak penjualan eceran karena sulitnya menelusuri penggunaan barang-barang yang dibeli dari para pengecer. Akan tetapi. Selain pertimbangan politis. yaitu metode yang mengharuskan perusahaan menghitung pajak brutonya dengan mengalikan tarif pajak terhadap total penjualan dan mengkreditkan atas pajak bruto ini jumlah yang sama dengan pajak yang telah dibayarkan oleh para pemasok yang barang-barang setengah jadi dan barangbarang modalnya dibeli oleh perusahaan. metode faktur. ada perbedaan pendapat yang cukup tajam di antara kedua pajak ini mengenai yang lebih baik. Dengan membuat aturan bahwa kredit pajaknya bergantung pada penyajian bukti setor pajak yang dilakukan oleh para pemasok. dengan menggunakan metode faktur. sehingga memudahkan administrasi karena para pengecer dapat diakses secara efektif. pajak penjualan eceran tidak akan efektif. pajak pertambahan nilai memiliki elemen ketaatan yang tidak dimiliki dalam pajak penjualan eceran. Kedua. Jumlah pembayar pajak dalam pajak penjualan eceran lebih sedikit daripada dalam pajak pertambahan nilai. metode faktur memiliki elemen ketaatan karena setiap pembeli akan meminta salinan dari bukti setor tersebut. Satu perbedaan pandangan politis. dikenal dengan nama metode perhitungan. hal ini mudah dilakukan. yaitu metode yang meminta perusahaan membayar pajak atas basis yang telah dihitung tersebut. Pertama. ada beberapa perbedaan teknis dalam implementasi yang cukup penting. Di negara maju yang usaha ritelnya sudah mapan. Pendukung pajak pertambahan nilai merasa bahwa pajak ini “tampak” berbeda sehingga tidak terkontaminasi reputasi buruk dari pajak penjualan eceran yang menyembunyikan beban pajak dari konsumen karena pajak sering tidak disajikan terpisah dari harga konsumen. ada dua cara untuk menagihnya. tetapi di negara berkembang di mana usaha ritel umumnya usaha kecil. Metode ini cocok di negara yang ketaatan pajaknya rendah. Jika pajak bruto pengecer disajikan terpisah dari harga konsumen. Simpulan Kita telah melihat bahwa pajak pertambahan nilai jenis konsumsi memiliki basis yang sama dengan pajak penjualan eceran dengan cakupan yang sama.

cukai akan menimbulkan biaya efisiensi yang lebih besar daripada pajak yang lebih umum. Cukai juga dikenakan untuk memenuhi rasa keadilan karena barang-barang konsumsi tertentu hanya dinikmati oleh konsumen-konsumen berpenghasilan tinggi. sedangkan beban dari pajak atas barang-barang mewah cenderung progresif. Cukai Pada diskusi kita sebelumnya tentang tax incidence dari pajak penjualan. Bila dilihat dari keadilan horizontal. yaitu berdasarkan pola pengeluaran konsumsi atas produk yang dikenakan pajak. Karena hanya dikenakan pada barang-barang tertentu. seperti rokok dan minuman beralkohol. seperti minuman beralkohol dan rokok. Konsumen dengan penghasilan berbeda dikenakan tarif cukai yang sama. suatu pajak penjualan umum memenuhi keadilan pajak bila indeks keadilan dinyatakan dalam bentuk konsumsi tetapi akan tidak memenuhi keadilan pajak bila indeksnya dinyatakan dalam bentuk . Cukai tetap dikenakan karena berbagai alasan. Hal yang sama tidak berlaku untuk pajak penjualan dan cukai. tetapi hal ini belum menjadi kebijakan yang telah diterapkan. Cukai juga diskriminatif terhadap konsumen dengan penghasilan yang sama tetapi dengan preferensi yang berbeda.238 Bab 11: Pajak Konsumsi Pajak penghasilan memiliki peringkat yang tinggi dalam hal keadilan karena dikenakan sebagai suatu pajak pribadi yang berusaha mencapai kemampuan membayar dari wajib pajak. pajak-pajak ini tidak mengindahkan aturan kemampuan untuk membayar. mereka ini dikenai beban cukai yang berbeda. Cukai cenderung regresif karena dikenakan atas barang-barang konsumsi massal. Oleh karena itu. Pajak Penjualan Umum Pajak penjualan umum dalam bentuk pajak penjualan eceran atas barangbarang konsumsi pada dasarnya sama dengan pajak umum bertarif tetap atas pengeluaran konsumen. Cukai juga dikenakan dalam rangka meminimalkan dead weight loss. cukai memiliki peringkat yang rendah dalam hal keadilan horizontal dan vertikal. kita menyimpulkan bahwa distribusi beban pajak berdasarkan kelompok penghasilan didominasi dari sisi penggunaan. Karena tidak dibebankan secara pribadi. Cukai umumnya dikenakan kepada barang-barang konsumsi massal yang dipandang “kurang baik untuk dikonsumsi”. Beban dari pajak atas barang-barang kebutuhan sehari-hari cenderung regresif. Konsumen yang memiliki preferensi lebih pada produk-produk kena cukai membayar cukai lebih banyak.

pendukung pajak penghasilan cenderung berasal dari pendukung progresivitas pajak. Pola ini kurang regresif bila dihitung dalam jangka waktu seumur hidup dan bukannya tahunan. sehingga melanggar keadilan horizontal dalam bentuk penghasilan.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 239 penghasilan. Pajak seperti ini pernah dicobakan di India dan Sri Lanka. Penggunaan suatu jenis pajak pribadi dari pajak pengeluaran akan menghilangkan perbedaan ini dan membuat pengenaan pajak atas konsumsi menjadi bersifat pribadi dan progresif. tetapi pengenaan pajak ini dalam situasi modern belum pernah ada. penghindaran atas pajak penjualan hanya dapat dilakukan dengan melalui warisan. Pajak ini merupakan ide yang baru dan menarik dan telah banyak mendapat dukungan dari para akademisi di dunia perpajakan. suatu pajak penjualan umum akan proporsional berkenaan dengan tingkat konsumsi tetapi akan regresif berkenaan dengan tingkat penghasilan. PAJAK PENGELUARAN WAJIB PAJAK PRIBADI Pajak konsumsi baik melalui cara selektif (cukai) maupun pajak penjualan umum (PPN bila di Indonesia) tetap bersifat regresif karena pengeluaran konsumsi dalam persentase penghasilan cenderung menurun sejalan dengan peningkatan penghasilan. karena konsumsi dalam persentase atas penghasilan menurun (menabung dalam persentase atas penghasilan naik) sejalan dengan kenaikan penghasilan. sedangkan pajak konsumsi telah ditetapkan sebagai kerangka dalam pendekatan non pribadi atau in rem dari pajak penjualan. . Keluarga-keluarga seperti itu akan membayar jumlah pajak yang berbeda. seperti makanan. Keluarga-keluarga dengan penghasilan yang sama mungkin saja memiliki tingkat konsumsi (menabung) yang berbeda karena faktor usia atau faktor-faktor lainnya. Perlu dicatat pula bahwa sifat regresif dari pajak penjualan telah dimodifikasi dengan mengecualikan beberapa produk konsumsi massal.Oleh karena itu. sedangkan pendukung pajak penjualan cenderung berasal dari penentang progresivitas pajak. pajak penghasilan dipandang sebagai pajak yang progresif dan pajak penjualan dipandang sebagai pajak regresif. Berikut ini pembahasan teknis apabila pajak ini diterapkan. Dengan demikian. Bila dipandang dari keadilan vertikal. Bila dihitung dalam jangka waktu seumur hidup. Perbedaan progresivitas di antara kedua jenis pajak ini muncul karena pajak penghasilan telah dikembangkan dalam kerangka pajak pribadi.

Musgrave. dan menerapkan tarif pajak progresif kepada jumlah sisanya yang merupakan konsumsi kena pajak. atau penambahan atas kekayaan bersih. Pendekatan inipun bukan hal yang mudah. Perhitungan konsumsi dengan meminta individu menambahkan pengeluaran rupiah untuk konsumsi tidak mungkin diterapkan. definisi global yang diterapkan dalam basis pajak penghasilan berlaku juga pada pajak konsumsi. disesuaikan 1 Richard A. jumlah tambahan tabungan harus didefinisikan sebagai tabungan neto (tambahan tabungan dikurangi penarikan tabungan). Musgrave dan Peggy B. Untuk mendapatkan angka konsumsi. Konsumsi dihitung dari perubahan dalam saldo bank dan uang dan arus penerimaan dan pembayaran-pembayaran non konsumsi selama tahun berjalan. SPT harus digunakan untuk membuat wajib pajak menyatakan jumlah-jumlah tersebut secara rinci seperti pelaporan penghasilan dalam pajak penghasilan. Ide ini tampaknya sederhana.240 Bab 11: Pajak Konsumsi Penentuan Konsumsi Kena Pajak Apabila konsumsi digunakan sebagai indeks atas kemampuan untuk membayar. Dengan menggunakan analogi pajak penghasilan. wajib pajak akan menentukan konsumsinya pada suatu tahun pajak. Konsep penerimaan yang digunakan dalam skedul perhitungan di atas sama dengan penghasilan yang didefinisikan dalam pajak penghasilan. Semua konsumsi harus dimasukkan ke dalam basis pajak dan kewajiban pajak para wajib pajak tidak dipengaruhi oleh pola tertentu dari pengeluaran konsumsi mereka. . Pendekatan kedua dimulai dari penghasilan dan mengurangkannya dengan jumlah tambahan tabungan. Hal 405-406. kemudian akan mengurangkan konsumsi tidak kena pajak yang diperbolehkan. akan tetapi penentuan konsumsi kena pajak dalam praktek bukan hal yang mudah. terutama untuk menentukan penambahan atas kekayaan bersih. Pendekatan ketiga merupakan paling baik dan yang paling mungkin untuk menentukan konsumsi tahunan wajib pajak adalah dengan menggunakan cara berikut:1 § Saldo bank dan uang pada awal tahun § + penerimaan uang § + tambahan pinjaman bersih (pinjaman baru dikurangi pembayaran pinjaman atau memberikan pinjaman) § – investasi bersih (biaya pembelian aset-aset dikurangi hasil dari aset-aset yang dijual) § – saldo bank dan uang pada akhir tahun § = konsumsi untuk tahun berjalan.

dengan membolehkan penggunaan tarif rata-rata untuk menghindari ketidakadilan. bukan hal yang relevan sampai realisasi terjadi dan hasilnya disalurkan ke dalam konsumsi. Untuk memastikan peminjaman dipertanggungjawabkan. Selain itu. Karena pemotongan pajak hanya dapat dilakukan terhadap penghasilan penghasilan. Sulit untuk memberlakukan metode pemotongan dan pemungutan pajak dalam pajak pengeluaran untuk urusan kemudahan administrasi pajak. Permasalahan lainnya adalah pentingnya mencatat secara lengkap saldosaldo kas pada awal tahun. suatu situasi yang menyulitkan dalam dalam kasus penghasilan modal. maka harus ada suatu rasio yang ditetapkan sebelumnya dari penghasilan terhadap konsumsi dan penghasilan dikurangkan sebesar rasio ini untuk pemotongan pajak konsumsi. Untuk tujuan ini. akan diperlakukan sebagai konsumsi tahun berjalan. Dengan demikian. Permasalahan sulit dari akuntansi penyusutan juga akan hilang. Perlakuan atas Warisan dan Hibah . Dividen akan muncul sebagai penerimaan. Jika aset dijual. pengecekan silang akan lebih banyak dilakukan. hasil yang diterima akan masuk ke dalam basis pajak kecuali dikurangi dengan pembelian aset-aset lain atau kenaikan dalam saldo-saldo aset. pembelian barang-barang konsumsi jangka panjang (seperti mobil). yang diperoleh dengan menahan laba. Dibalik kelebihan-kelebihan tersebut. Hal yang sama juga diperlakukan untuk penjualanpenjualan aset. pajak pengeluaran akan memunculkan kesulitan-kesulitan baru. dan capital gain yang belum direalisasikan. pemberi pinjaman diharuskan untuk melaporkan informasi mengenai pinjamanpinjaman yang diberikan. Dilema dalam memperlakukan capital gain yang belum direalisasikan tidak ada. Penyesuaian terhadap inflasi hanya diperlukan untuk indeks tarif-tarif pajak. Walaupun konsumsi rumah akan dimasukkan dengan cara memasukkan komponen imputed rent. wajib pajak diharuskan untuk melaporkan neraca atau daftar harta mereka dalam SPT. Tidak ada kebutuhan untuk menentukan laba perseroan.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 241 dengan mengecualikan capital gain tetapi memasukkan imputed rent dari rumah-rumah yang dihuni pemiliknya juga warisan dan hadiah yang diterima. akan terjadi penghindaran pajak konsumsi dengan menggunakan uang dari saldo-saldo kas tersebut untuk konsumsi. pemotongan pajak dalam sistem tarif yang progresif mempersulit penerapan karena tarif pajak yang tepat bergantung pada apakah penerimaan tersebut akan dibelanjakan atau diinvestasikan kembali. Bila tidak dilakukan. Pendekatan ini lebih sederhana daripada yang dipakai dalam pajak penghasilan.

Seorang pembayar pajak dapat menghindari pajak apabila ia memutuskan sebagian penghasilannya digunakan sebagai warisan/hibah. penghasilan tersebut tetap tidak dikenakan pajak. Menggantikan pajak penghasilan dengan pajak pengeluaran akan menyederhanakan beberapa hal penting.242 Bab 11: Pajak Konsumsi Dalam konsep pajak pengeluaran wajib pajak pribadi. seperti yang telah dikemukakan sebelumnya. basis pajak yang adil bukan hanya konsumsi saja tetapi semua penggunaan penghasilan. akan tetapi ada hal yang harus dijawab terlebih dahulu. Cara terbaik untuk mengatasi penghindaran pajak ini adalah dengan memasukkan warisan/hibah sebagai basis pajak pengeluaran. Kedua. Apabila penerima warisan/hibah tidak membelanjakannya. Walaupun pajak pengeluaran berbasis konsumsi merupakan cara yang lebih baik. Walaupun demikian. konsep penghasilan yang berdasarkan tambahan kemampuan ekonomis memberikan perlakuan yang diskriminatif terhadap konsumsi di masa depan. . terutama yang berkaitan dengan permasalahan inflasi. Dengan demikian. penggantian ini juga akan menimbulkan kesulitan-kesulitan baru seperti masalah pemotongan pajak. basis mana yang lebih baik (penghasilan atau konsumsi). perlakuan terhadap warisan/hibah masih menimbulkan tanda tanya. Berdasarkan filosofi tambahan kemampuan ekonomis. Pajak pengeluaran juga tidak akan menghilangkan perlakuan-perlakuan khusus dan loophole yang selama ini ada pada pajak penghasilan. bagaimana memperlakukan warisan/hibah. Pertama. penerimaan suatu warisan/hibah akan dimasukkan ke dalam basis pajak penerima warisan/hibah. Akan tetapi. Pajak konsumsi. memberikan perlakuan yang sama dengan menerapkannya pada nilai tunai konsumsi sehingga beban pajak tidak dipengaruhi oleh faktor waktu. baik itu untuk konsumsi ataupun untuk diwariskan. Akan tetapi. pendekatan pajak pengeluaran lebih tepat daripada pemberlakuan pengecualian secara sepotongpotong dalam sistem pajak penghasilan. Evaluasi Penggunaan pajak pengeluaran wajib pajak pribadi akan meningkatkan kualitas perpajakan konsumsi karena memungkinkan penerapan prinsip kemampuan untuk membayar dan menghilangkan sifat regresif yang melekat pada pajak penjualan umum. Apabla sistem pajak berupaya mendukung kegiatan menabung. ada suatu permasalahan khusus timbul karena penghasilan tidak digunakan untuk konsumsi tetapi akan diwariskan atau dihibahkan.

dan (4) uang. Pajak Reklame. beban dari pajak atas barang-barang kebutuhan sehari-hari cenderung regresif. dan lain-lain. seperti Pajak Bahan Bakar. rumah makan.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 243 RANGKUMAN § Pajak konsumsi dikenakan dikarenakan adanya transaksi produk. Pajak Kendaraan Bermotor. (2) barangbarang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh rakyat banyak. emas batangan. Pajak konsumsi tidak memperhitungkan kondisi pribadi konsumen. Kebijakan ini diambil untuk mengatur peredaran dan konsumsi barangbarang yang dipandang kurang baik. warung dan sejenisnya. (3) makanan dan minuman yang disajikan di hotel. Pajak penjualan dapat dipandang ekuivalen dengan pajak yang dikenakan atas pembelian-pembelian rumah tangga. dan surat-surat berharga. (5) jasa keagamaan. selain dikenakan PPN juga dikenakan PPnBM. bensin dan minuman keras. gula. PPN merupakan pajak konsumsi yang dikenakan atas konsumsi barangbarang dan jasa-jasa tertentu di dalam negeri. (3) jasa pengiriman surat dengan perangko. Adapun jasa bebas PPN antara lain: (1) jasa pelayanan kesehatan. sedangkan beban dari pajak atas barang-barang mewah cenderung progresif. (6) jasa pendidikan dan lain-lain. Sedangkan pada pajak penjualan umum berbentuk pajak penjualan eceran dengan tarif tetap atas pengeluaran konsumen. Pajak Parkir. (4) jasa keuangan. restoran. Pada pajak penjualan selektif. dan menimbulkan biaya efisiensi yang lebih besar daripada pajak penjualan umum. Yang termasuk barang bebas PPN antara lain: (1) barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yang diambil langsung dari sumbernya. Pajak konsumsi dihitung dalam ukuran unit produk atau jumlah penerimaan kotor. Pajak Restoran. atau dalam rangka meminimalkan dead weight loss. (2) jasa pelayanan sosial. Cukai adalah pungutan atau pajak yang dikenakan terhadap konsumsi barang-barang tertentu. Porsi penghasilan yang ditabung tidak dikenakan pajak. Untuk konsumsi barangbarang tertentu yang dikelompokkan sebagai barang mewah di dalam negeri. Pajak Hiburan. Pajak konsumsi daerah adalah jenis pajak konsumsi yang diberlakukan pada tingkatan daerah dengan besarnya tarif pajak bergantung pada peraturan masing-masing daerah. seperti rokok dan minuman beralkohol. Pajak ini memiliki peringkat yang rendah dalam hal keadilan horizontal dan vertikal. Pajak ini proporsional § § § . Pajak konsumsi didasarkan pada sisi penggunaan (pengeluaran). Pajak Hotel. PPnBM hanya dikenakan satu kali ketika dijual oleh pabrikan atau ketika diimpor. seperti tembakau.

Hasil pajak yang besar akan didapatkan hanya dengan pengenaan tarif pajak yang rendah. Kelemahan dalam hal keadilan. cukai tembakau dan cukai minuman keras. pajak akan memberikan perlakuan diskriminatif dengan mengecualikan penghasilan yang ditabung (tidak dikonsumsikan). Metode turn over menimbulkan diskriminasi pengenaan pajak terhadap produk-produk yang harus melalui banyak tahapan (piramida) produksi dan distribusi. misalnya pajak atas bahan bakar minyak. atau perhitungan laba sebelum dikurangi biaya penyusutan. Sebagian besar cukai atau pajak penjualan atas produk-produk tertentu dikenakan berdasarkan unit produk. Menurut metode total transaksi. atau berdasarkan atas nilai produknya.244 Bab 11: Pajak Konsumsi § § § § berkenaan dengan tingkat konsumsi tetapi akan regresif berkenaan dengan tingkat penghasilan. Penerapan pajak berdasarkan perputaran yang komprehensif sebesar 1% saja akan menghasilkan pendapatan pemerintah sebesar sepertiga hasil dari pajak penghasilan. Pajak konsumsi dapat dikenakan atas penjualan barang berdasarkan unit produk yang terjual. Perhitungan pajak menggunakan basis GNP akan mengenakan pajak penjualan atas barang-barang konsumsi dan barang-barang produksi (modal). 1989). Pajak dikenakan dalam beberapa tahapan pada nilai bersih yang ditambahkan oleh setiap perusahaan. Nilai bersih didefinisikan sebagai penerimaan kotor dikurangi harga pokok produksi dan penyusutan. Bentuk ad valorem lebih berarti daripada bentuk per unit dalam rangka meminimalkan perubahan pilihan konsumen. Pajak pertambahan nilai jenis . Basis ini akan sama dengan yang dipakai dalam pajak atas penghasilan kotor. Kelemahan dalam hal efisiensi. Ini berarti bentuk ad valorem dapat lebih meminimalkan dead weight loss suatu kebijakan pajak (Musgrave and Musgrave. yang sama dengan GNP dikurangi cadangan untuk pembelian barang modal atau penyusutan. Sedangkan PPN dan PPnBM merupakan contoh pajak penjualan yang dikenakan berdasarkan ad valorem. Tujuannya adalah mengenakan pajak pada total penghasilan bersih atau Net National Product (NNP). pajak ini akan melanggar prinsip dasar pajak penghasilan yang menyatakan bahwa penghasilan dari semua sumber dikenakan pajak sepenuhnya dalam jumlah netonya. Suatu produk dikenakan pajak berkali-kali sejalan dengan pergerakannya sepanjang tahapan produksi. karena konsumsi dalam persentase atas penghasilan menurun. dimana dalam pajak penghasilan tidak dikecualikan. pajak dikenakan berdasarkan perputaran (turnover tax). Penghindaran atas pajak penjualan dapat dilakukan dengan melalui warisan.

Total pengecualiannya dapat mencapai 50% dari potensi penerimaan komprehensif. Tarif yang berbeda untuk setiap produk sulit diaplikasikan dan tidak efisien. yaitu pembelian barang-barang modal. perkembangan badan-badan usaha manufaktur cenderung lebih besar. Di negara berkembang. . konsumsi makanan rumah. Hanya pendekatan nilai tambah setiap tahapan yang layak digunakan apabila pajak penjualan akan dikenakan pada produk neto. Jika pajak bersifat selektif. jasa kesehatan dll. tahapan pengenaan tarif ad valorem akan lebih mudah dilakukan pada proses produksinya. lebih permanen. Pajak penjualan umum bertujuan mengenakan pajak yang mencakup seluruh konsumsi secara komprehensif. pengenaan pada saat penjualan eceran terasa lebih baik karena memungkinkan pengenaan tarif ad valorem yang seragam. Di negara-negara berkembang. seperti konsumsi perumahan (sewa rumah dan imputed-rent bagi pemilik rumah). pengenaan pajak pada tahapan produksi lebih menguntungkan. cenderung akan lebih menguntungkan kemudahan administrasi pemungutan pajaknya dibanding pada tingkatan eceran. walaupun hal ini dapat menghasilkan revenue yang berbeda jika diterapkan pada tahap penjualan eceran. Walaupun dalam situasi lain (misalnya bahan kain yang digunakan untuk pakaian mewah atau pakaian murah).170 trilyun. dan lebih memiliki pembukuan yang baik daripada badan-badan usaha eceran. Sedangkan pengenaan pajak ad valorem pada tingkatan produksi. misalnya mobil murah atau televisi. Dengan pengeluaran konsumsi sebesar Rp1. Negara-negara berkembang dapat memperoleh hasil yang lebih baik dengan pajak penjualan yang dikenakan pada tahapan produksi karena jumlah kegiatan penagihan yang lebih sedikit. pajak penjualan komprehensif sebesar 10% menghasilkan revenue sebesar Rp117 trilyun. Pembedaan dalam situasi ini lebih berkaitan dengan bentuk akhir dari produk pada tahapan penjualan eceran. Pajak pertambahan nilai jenis konsumsi membolehkan perusahaan mengurangkan investasi bruto. Akan tetapi jumlah dalam basis ini akan berkurang karena beberapa konsumsi tertentu dikecualikan dari pengenaan pajak penjualan. Proses identifikasi pada tahapan produksi. Hal ini dikarenakan rasio harga eceran terhadap harga produksi tidak selalu seragam untuk berbagai produk. Jika pajaknya bersifat umum. identifikasi menggunakan kriteria bahan baku produk tidak memungkinkan. menghasilkan revenue yang tidak sama dengan pengenaan tarif ad valorem pada tingkatan penjualan eceran.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 245 § § § § penghasilan membolehkan perusahaan mengurangkan penyusutan untuk jenis penghasilan.

nilai produk dibagi dalam potongan-potongan dimana pajak dikenakan pada tahapantahapan sepanjang proses produksi. LATIHAN 1) 2) 3) 4) Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis pajak atas konsumsi di Indonesia! Bagaimana tahapan pengenaan pajak konsumsi dapat diterapkan? Apa yang dimaksud dengan pajak penjualan atas nilai akhir sama dengan jumlah pajak konsumsi atas pertambahan nilai? Jelaskan metode-metode yang digunakan dalam penagihan pajak konsumsi! . basis nilai tambah dari pajak konsumsi bertahap sama dengan basis penjualan akhir secara eceran. Perusahaan kemudian mengkreditkan atas pajak bruto ini jumlah pajak yang telah dipungut dan disetorkan oleh para pemasok barang-barang antara dan barang-barang modalnya. wajib pajak akan menentukan konsumsinya pada suatu tahun pajak. Problema pajak konsumsi antara lain: (1) Basis Konsumsi Kena Pajak. Pertama. kemudian akan mengurangkan konsumsi tidak kena pajak yang diperbolehkan. Walaupun ada perbedaan.246 § Bab 11: Pajak Konsumsi § § Pajak konsumsi dapat dikumpulkan dalam satu kali pengenaan. (2) Warisan dan Hibah. pada titik penjualan final. metode faktur (invoice). dimana analogi dengan pajak penghasilan. dan menerapkan tarif pajak progresif kepada jumlah sisanya yang merupakan konsumsi kena pajak. Pemilihan satu di antara keduanya lebih didasarkan pada pertimbangan lebih mudahnya proses administrasi. Kedua. dikenal dengan nama metode account. penghasilan tersebut tetap tidak dikenakan pajak. sehingga seorang pembayar pajak dapat menghindari pajak apabila ia memutuskan sebagian penghasilannya digunakan sebagai warisan/hibah. Apabila penerima warisan/hibah tidak membelanjakannya. yaitu metode yang mengharuskan perusahaan menghitung pajak brutonya dengan mengalikan tarif pajak terhadap total penjualan. yaitu metode yang meminta perusahaan membayar pajak atas basis yang telah dihitung. Dengan cara kedua. hanya cara penagihannya yang berbeda. atau dikumpulkan secara bertahap dengan menggunakan prosedur nilai tambah. Menghitung basis pajak untuk setiap perusahaan adalah penjualan dikurangi dengan pembelian-pembelian barang-barang antara dan barang modal.

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 247 5) Dilihat dari sisi permasalahan politik. Mengapa pemerintah tetap memberlakukan cukai? Lengkapi jawaban Anda dengan contoh-contoh yang memadai 7) Jelaskan bagaimana efek penerapan pajak penjualan jika dipandang menurut keadilan vertikal dan keadilan horizontal? 8) Bagaimana efisiensi penentuan basis konsumsi kena pajak jika dianalogikan dengan penghasilan kena pajak? 9) Apa perbedaan pajak penjualan yang dikenakan atas turn over dengan pajak atas ad valorem? 10) Didalam konsep pajak pengeluaran atas konsumsi. bagaimana dukungan pajak pertambahan nilai dibandingkan dengan pajak penjualan? 6) Beberapa ahli berpendapat bahwa pajak penjualan selektif seperti cukai bersifat regresif. bagaimana perlakuan atas warisan/hibah? .

Alasan manfaat mengarah pada pemberlakuan pajak bumi dan bangunan jenis in-rem sedangkan pertimbangan kemampuan untuk membayar mengarah pada pemberlakuan pajak kekayaan wajib pajak pribadi.PAJAK ATAS KEKAYAAN DAN WARISAN ALASAN-ALASAN KEKAYAAN PENGENAAN PAJAK ATAS Pajak dikenakan atas kekayaan dengan alasan bahwa kekayaan menerima manfaat publik dan kemampuan untuk membayar. Akan tetapi. mengapa kekayaan hanya dikenakan pada bumi dan bangunan belum ada penjelasan yang masuk akal. Alasan Manfaat Pajak atas Kekayaan Pajak dikenakan atas kekayaan karena layanan-layanan publik meningkatkan nilai dari bumi dan bangunan dan oleh karenanya harus dibayarkan oleh pemiliknya. Argumentasi dukungan ini dapat diturunkan dari .

yang pasti tidak semua biaya dari fungsi negara harus diperoleh dari pengenaan pajak ini. Walaupun berapa besarnya biaya tersebut masih dapat diperdebatkan. seperti pembangunan trotoar yang meningkatkan nilai gedung di belakang trotoar tersebut dan juga perlindungan khusus oleh polisi pada daerah-daerah tertentu. Sebagian besar pajak yang dipungut oleh negara diterima dalam bentuk barang. kepemilikan harta tak bergerak dan harta bergerak (seperti hewan ternak) merupakan indeks yang paling mudah untuk menentukan kemampuan untuk membayar. Cara pengenaan seperti ini sangat tepat dikenakan pada pajak-pajak pemda untuk mendanai layananlayanan khusus tadi.250 Bab 12: Pajak atas Kekayaan dan Warisan teori Locke yang menyatakan bahwa negara adalah pelindung bumi dan bangunan. Pada tingkat pemerintah daerah. Demikian juga. dalam kondisi modern di mana penghasilan sebagian besar diterima dalam bentuk uang. adalah pelindung properti. Dengan demikian. yaitu kekayaan wajib pajak dikurangi dengan kewajibannya. basis pajaknya adalah seluruh kekayaan yang dimiliki oleh seseorang atau dapat menggunakan basis pajak kekayaan bersih. yang dinyatakan pada akhir abad ke-17. penerapan alasan manfaat dapat menjadi lebih spesifik lagi. Oleh karena itu. Dalam kasus-kasus lain. misalnya pendidikan atau kesehatan. kekayaan lebih sulit diukur daripada penghasilan. pendapatan dari pajak harus dibatasi hanya sebesar biaya yang diperlukan untuk melaksanakan layanan perlindungan. seperti biaya penegakan hukum. Salah satu dari fungsi dasar suatu negara. Akan tetapi. tidak memiliki dasar yang rasional. Penggunaan pajak kekayaan untuk mendanai fungsi lain. Berdasarkan situasi ini. berdasarkan konsep ini. sebagaimana pendapat para ahli teori hukum alam. Pada masa lalu. suatu pajak khusus dapat dikenakan untuk mendanai suatu layanan tertentu. manfaat yang dinikmati harus diperkirakan secara relatif terhadap nilai dari properti. pemilik properti diharuskan membayar untuk layananlayanan khusus yang meningkatkan nilai dari properti. pemilik properti membayar kepada negara untuk biaya-biaya negara tersebut. Alasan Kemampuan Membayar Pajak Alasan kemampuan untuk membayar pajak sebagai argumentasi untuk mengenakan pajak atas kekayaan harus dilihat dari konteks sejarahnya. manfaat khusus yang dinikmati oleh setiap properti dapat diukur dengan suatu indeks seperti panjang jalan di depannya atau lokasinya. administrasi perundangundangan dan administrasi pengadilan. Dalam kasuskasus tertentu. Bila teori tersebut yang menjadi acuan. dapatkah pajak kekayaan dibenarkan untuk alasan kemampuan untuk membayar? .

PAJAK ATAS TANAH Pengenaan pajak khusus atas tanah yang terpisah dari properti telah diusulkan berdasarkan alasan efisiensi dan keadilan. Untuk alasan efisiensi. Sebagaimana berdasarkan pendekatan kemampuan untuk membayar. jika kekayaan dikenakan pajak karena alasan kemampuan untuk membayar. Untuk alasan keadilan. suatu pajak progresif atas kekayaan dan bukannya atas penghasilan adalah instrumen yang tepat. Konsekuensi sosial dari ketidakmerataan dalam distribusi kekayaan berbeda dengan konsekuensi sosial dari ketidakmerataan dalam distribusi konsumsi. Perbedaannya adalah basisnya lebih cocok menggunakan kekayaan kotor daripada kekayaan bersih karena kekayaan kotor lebih menunjukkan kemampuan kendali ekonomis yang diperoleh oleh pemiliknya. tanah dapat dipajaki tanpa menimbulkan suatu “excess burden. Juga berdasarkan konsep pajak atas konsumsi. pajak tambahan atas kekayaan dapat dibenarkan karena alasan manfaat-manfaat yang dapat timbul dari penumpukkan kekayaan. beban pajaknya merupakan pajak pribadi dengan definisi kekayaan secara global. Bila penghasilan digunakan sebagai indeks kesetaraan dan penghasilan didefinisikan sebagai secara komprehensif mencakup seluruh tambahan kemampuan ekonomis. kenaikan tanah dapat dipandang sebagai peningkatan kekayaan yang tidak adil sehingga pengenaan pajak atas tanah akan mengembalikan keadilan.” Pajak atas tanah juga dapat digunakan untuk mendorong penggunaan tanah yang lebih intensif. . Alasan Pengendalian Sosial Alasan lain untuk pengenaan pajak kekayaan adalah pengendalian sosial sebagai dampak dari distribusi kekayaan yang tidak merata. karena pengembalian atas tanah adalah dalam bentuk rente ekonomis (yaitu suatu tingkat pengembalian dari suatu faktor produksi dalam penawaran yang tidak elastis). yang diperlukan bukanlah pajak atas bumi dan bangunan tetapi pajak atas kekayaan bersih wajib pajak pribadi. dan karenanya masyarakat perlu menanganinya secara terpisah. Walaupun demikian. Akan tetapi dalam prakteknya tidak semua penghasilan dapat dicakup dalam pajak penghasilan sehingga memunculkan kebutuhan akan pajak kekayaan sebagai pelengkap. Untuk tujuan ini. tidak diperlukan lagi pajak kekayaan sebagai pelengkap.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 251 Ada dua kesimpulan yang diambil.

Setelah reformasi pajak. hutan suaka alam. pagar mewah. n Hutan lindung. dan fasilitas lain yang memberikan manfaat. sosial. dasar hukum yang mengatur pajak atas bumi dan bangunan adalah Undang-Undang Nomor 12 tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). taman mewah. dan tanah negara yang belum dibebani suatu hak. n Objek pajak yang digunakan oleh perwakilan diplomatik dan konsulat berdasarkan asas perlakuan timbal balik. peraturan yang berkaitan dengan pajak atas tanah dan bangunan ini adalah UndangUndang Nomor 11 Prp 1959 untuk pajak atas tanah yang tunduk pada hukum adat. galangan kapal. yang tidak dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan. Sebelum reformasi perpajakan tahun 1983. yang meliputi tanah dan perairan pedalaman serta laut wilayah Indonesia. Tarif Nominal. meliputi jalan lingkungan yang terletak dalam suatu kompleks bangunan. yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 tahun 1994. kolam renang. . hutan wisata. Beberapa objek pajak dikecualikan dari pengenaan pajak. dermaga. atau yang sejenisnya dengan itu. jalan tol. Rasio Penilaian dan Tarif Efektif Yang menjadi objek PBB adalah bumi dan bangunan. Ordonansi Verponding Indonesia 1923 dan Ordonansi Verponding 1928 untuk pajak atas tanah yang tunduk pada hukum Belanda (Barat). yaitu: n Objek pajak yang digunakan semata-mata untuk melayani kepentingan umum di bidang ibadah. tempat olah raga. Bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap pada tanah dan/atau perairan. n Objek pajak yang digunakan untuk kuburan. peninggalan purbakala. Basis Pajak. dan Ordonansi Pajak Rumah Tangga 1908 untuk pungutan-pungutan lain daerah atas tanah dan bangunan. taman nasional. tanah penggembalaan yang dikuasai oleh desa. kesehatan.252 Bab 12: Pajak atas Kekayaan dan Warisan Struktur Dan Basis Pajak Atas Kekayaan Di Indonesia (Pajak Bumi Dan Bangunan) Jenis pajak atas kekayaan yang berlaku di Indonesia adalah pajak atas bumi (tanah) dan bangunan. Bumi mencakup permukaan bumi dan tubuh bumi yang ada di bawahnya. n Objek pajak yang digunakan oleh badan atau perwakilan organisasi internasional yang ditentukan oleh Menteri Keuangan. pendidikan dan kebudayaan nasional.

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 253 Basis pajak untuk objek-objek pajak ini adalah harga pasar wajar atau harga rata-rata yang diperoleh dari transaksi jual beli yang terjadi secara wajar. menggunakan penghasilan sewa aktual yang diperoleh dari harta tersebut. penetapannya dilakukan setiap tahun. bergantung pada jenis objek pajaknya. n Objek pajak perkebunan yang luasnya sama dengan atau lebih dari 25 Ha yang dikuasai BUMN dan Badan Usaha Swasta. Nilai Pasar versus Penghasilan sebagai Basis Penilaian Pertanyaan yang paling mendasar dalam pajak atas kekayaan adalah bagaimana mengukur nilai kekayaan. Berdasarkan Pasal 1 Peraturan Pemerintah No. Dalam kenyataannya. Pada prakteknya. n Objek pajak kehutanan. 74 tahun 1998. hak pemungutan hasil hutan dan pemegang ijin pemanfaatan kayu. kecuali untuk daerah yang mengalami perkembangan pembangunan yang cepat. hal ini tidak terjadi. Dari basis pajak ini tidak seluruhnya akan diterapkan PBB. Pada umumnya. seperti Inggris. . seperti Amerika Serikat dan Indonesia. pensiunan janda/duda yang semata-mata dari gaji/uang pensiun. Basis yang akan diterapkan pajak serendah-rendahnya 20% dan setinggi-tingginya 100%. pengenaan tarif pajak hanya akan dikenakan sebesar 20% dari basis pajak kecuali untuk objek-objek pajak tertentu.5 persen yang merupakan tarif tunggal. yang juga akan sama dengan potensi penghasilannya. yang sering dilakukan adalah menggunakan harga objek lain yang sejenis atau nilai perolehan baru atau nilai pengganti. yaitu: n Objek pajak perumahan yang WP-nya perseorangan dengan basis pajak sama dengan atau di atas Rp1 milyar. Jika pasar yang sempurna tersedia dan penggunaan optimal terjadi. Tarif pajak yang dikenakan atas objek pajak adalah 0. tarif efektif PBB yang berlaku sekarang ini secara nasional adalah 1 persen dan 2 persen. menggunakan harga jual atau harga pasar sebagai nilai kekayaan. tidak berlaku untuk PNS. hanya 40% dan 20% dari basis pajak saja yang akan dikenakan. basis pajak ini ditetapkan oleh Menteri Keuangan setiap tiga tahun sekali. Apakah kekayaan tersebut diukur dengan nilai jualnya atau nilai sewanya dan apakah nilai yang digunakan adalah nilai aktual atau nilai potensialnya? Negara-negara tertentu. sedangkan negara-negara lain. perbedaan ini akan hilang karena harga jual dari properti akan sama dengan nilai tunai dari penghasilan sewa aktual di masa depan. ABRI. Dengan demikian. termasuk areal blok tebangan dalam kegiatan pemegang HPH. Karena harga ini sulit didapat.

Properti yang pertama terletak pada daerah-daerah bisnis yang perekonomiannya sedang melesu yang menyebabkan properti-properti pada daerah ini memiliki tingkat hasil yang tinggi atas penghasilan bila dibandingkan secara relatif terhadap nilai pasarnya. suatu faktor yang sangat penting bagi negara-negara berkembang. berdasarkan jenis rumah dan lokasinya. Untuk situasi-situasi seperti ini. terpaksa digunakan. Selain itu. Seperti dikemukakan sebelumnya. pengenaan pajak atas tanah dapat memenuhi unsur efisiensi pajak dan keadilan pajak. Walaupun penilaian dengan menggunakan nilai jual lebih disukai. yang mengaitkan nilai rumah terhadap berbagai karakteristik. sedangkan properti lainnya dengan penghasilan yang sama dapat memiliki nilai pasar dua kali lipat. pengenaan pajak atas rente tanah atau mengenakan pajak atas nilai tanah (yang menunjukkan nilai kapitalisasi dari rentenya) telah lama diakui sebagai suatu bentuk pemajakan yang paling kecil kemungkinannya menghambat insentif untuk menginvestasikan pada penyempurnaan tanah (bangunan). akan tetapi penjualan rumah-rumah sejenis tidak terjadi dalam frekuensi yang cukup untuk memberikan basis evaluasi nilai jual. yang menjadi sangat penting pada periode-periode inflasi.254 Bab 12: Pajak atas Kekayaan dan Warisan Jika properti kurang didayagunakan maka properti kurang menghasilkan. basis pengenaan pajak yang paling baik adalah pendekatan nilai pasar karena memperhitungkan perbedaan tingkat risiko atas properti-properti tersebut. Prosedur seperti ini memiliki keunggulan dalam hal memungkinkan dilakukannya penyesuaian atas nilai tanah dan bangunan lebih sering lagi. Pada negaranegara tertentu. Karena penawaran atas tanah jumlahnya tetap. Penghasilan dikapitalisasi dengan tingkat bunga yang berbeda karena adanya premi risiko yang harus dibebankan pada properti yang pertama. pengenaan pajak berdasarkan basis penghasilan akan menghasilkan pajak yang rendah. Dalam sudut pandang ekonomi. keuntungan yang timbul dari . telah dikembangkan prosedur yang canggih untuk melakukan evaluasi atas nilai jual dengan menggunakan persamaan regresi yang berisi sejumlah variabel. Perbedaan lainnya antara pendekatan nilai pasar dan pendekatan penghasilan muncul dari perbedaan dalam menilai risiko. pembendaan ini penting sekali karena berkaitan dengan pembebanan pajak. Tanah versus Bangunan sebagai Komponen Basis Pajak properti dikenakan atas nilai pasar suatu real estate tanpa membedakan apakah dikenakan pada komponen tanah atau komponen penyempurnaan tanah (bangunan). Penilaian dengan perkiraan. Satu properti dengan penghasilan tahunan sebesar Rp100 juta dapat memiliki nilai pasar sebesar Rp500 juta.

Beberapa aturan telah dikembangkan di berbagai negara untuk menyediakan pengurangan beban pajak kepada penduduk berusia lanjut dan keluarga miskin. Sejumlah besar pemilik rumah yang berpenghasilan rendah adalah orang-orang yang berusia lanjut. Pajak Properti sebagai Pajak atas Penghasilan Modal Bila Pajak Properti Dikenakan secara Nasional Misalnya suatu negara memberlakukan suatu pajak nasional atas semua barang modal. Pandangan lain membedakan berdasarkan jenis pengenaan dan menempatkan lebih banyak pembahasan pada konsekuensi-konsekuensi dari ketidaksempurnaan pasar. Angka ini sama dengan 50 persen dari penghasilan aset tersebut. Satu pandangan menyatakan bahwa pajak properti merupakan pajak atas penghasilan modal apabila dikenakan dalam pasar-pasar yang kompetitif. nilai suatu aset sama dengan nilai tunai dari penghasilannya di masa depan. Dalam prakteknya. terutama investasi untuk rumah-rumah murah. pengenaan pajak atas penyempurnaan tanah (bangunan) telah menghambat investasi pada sektor perumahan. Hutang pajak berdasarkan pajak 5 persen atas nilai aset akan sebesar Rp5 juta. Dalam negara tersebut. Ingat. Pengurangan Beban Pajak Pajak properti atas rumah tinggal merupakan beban bagi penduduk yang berusia lanjut. pajak seperti ini dapat juga dipandang sebagai pajak atas penghasilan modal. yang sesuai dengan tingkat bunga pasar yang sebesar 10 persen.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 255 kenaikan nilai tanah karena pertumbuhan populasi dan pendapatan dapat dipandang sebagai laba yang tidak diinginkan secara sosial. Pada kota-kota besar negara maju. Dengan asumsi pasar modal yang sempurna dan penentuan nilai barang modal yang sempurna. yang disebut juga dengan circuit breaker. suatu pajak sebesar 5 persen yang dikenakan atas nilai dari suatu aset dapat segera diterjemahkan sebagai suatu pajak penghasilan atas penghasilan yang diperoleh dari aset tersebut. pengenaan pajak terjadi sebaliknya. Misalkan aset tersebut memiliki nilai Rp100 juta dan memperoleh penghasilan tahunan sebesar Rp10 juta. DISTRIBUSI BEBAN PAJAK PROPERTI (PBB) Beban atas pajak properti merupakan hal yang kontroversial. Pajak sebesar 5 persen atas nilai aset .

nilai dari suatu aset pada pasar modal yang sempurna ditentukan dengan persamaan Y = iV. Dalam jangka panjang. sehingga beban pajaknya progresif. maka kejadian pajak akan terjadi dalam jangka pendek dan jangka panjang. Dengan pengecualian pada orang-orang yang berpenghasilan kecil. beban pajak dari suatu pajak kekayaan atas nilai aset modal yang dikenakan dengan tarif Rp5 juta per Rp100 juta nilai aset akan sama dengan beban pajak dari suatu pajak atas penghasilan dari barang modal dengan tarif 50 persen. Dengan menggunakan rumus umum. Y adalah penghasilan tahunan. modal yang diinvestasikan pada daerah-daerah bertarif tinggi tidak dapat bergerak dan pemiliknya harus menanggung beban pajak yang tinggi. sehingga beban pajak akan terdistribusi. Untuk mengilustrasikan fakta ini. . Penerima beban pajak dalam jangka pendek adalah pemilik dari properti lokal terkena beban pajak yang lebih tinggi. seperti yang berlaku di Amerika Serikat. kita mengasumsikan kembali bahwa tingkat pengembalian atas modal sebelum pajak adalah 10 persen.1. Jika hasil yang sama akan diperoleh dari pajak properti pada tingkat pajak tp dan suatu pajak atas penghasilan aset tersebut pada tingkat pajak ty. Mereka tidak dapat mengurangi beban pajak dengan menjual aset yang yang terkena pajak karena nilai properti pun segera terkoreksi. Dalam jangka pendek. 419-420. di mana V adalah nilai aset. hal. Dengan demikian. pajak seperti itu akan mengurangi tingkat pengembalian bersih dari barang modal dan menjadi beban penerima penghasilan barang modal. Beban pajak diterima oleh pemilik properti pada saat pajak tersebut dinaikkan. penurunan dalam tingkat pengembalian bersih dari modal akan menekan persediaan modal. maka tpY/i = ty atau tp = ity. sehingga 1 Ibid. dan i adalah tingkat bunga pasar. Bila PBB Dikenakan secara Lokal Jika daerah dibebaskan untuk menentukan tarif atas pajak properti. sehingga mengurangi produktivitas tenaga kerja di masa depan. Dengan beban yang dikenakan dari sisi sumber. Dalam suatu pasar di mana barang modal menghasilkan tingkat pengembalian sebesar 10 persen. terbukti bahwa pajak kekayaan sama dengan pajak penghasilan atas modal. baik untuk bangunan maupun tanah.256 Bab 12: Pajak atas Kekayaan dan Warisan (pajak properti) adalah sama dengan pajak sebesar 50 persen atas penghasilan properti (pajak penghasilan). sehingga V = Y/i. persentase penghasilan dari barang modal ini sebagai bagian dari total penghasilan akan meningkat besarnya sejalan dengan peningkatan penghasilan. Beban dari pajak atas penghasilan modal ini akan dikapitalisasi dan mengurangi nilai properti.

Beban pajak jatuh pada pemilik aset mula-mula. ia harus menanggung kerugian pajak tersebut karena pembeli akan meminta suatu tingkat pengembalian sebesar 10 persen. Pemilik berikutnya yang membeli aset tersebut akan melakukannya hanya pada harga yang lebih rendah sehingga tidak dibebani oleh pajak tersebut. sama dengan tingkat pengembalian investasi-investasi lain yang tersedia. Terjadi penurunan persediaan modal pada daerah berpajak tinggi dan kenaikan persediaan modal pada daerah berpajak rendah. Tanah tidak dapat dipindahkan. Jika . Tingkat pengembalian kotor atas modal pada daerah berpajak tinggi akan naik sedangkan tingkat pengembalian kotor atas modal pada daerah berpajak rendah akan turun. Situasinya berbeda apabila yang dikenakan pajak adalah modal. kepemilikan tanah lebih banyak pada wajib pajak berpenghasilan tinggi. Sekarang asumsikan suatu daerah tempat aset tersebut mengenakan pajak properti sebesar Rp5 juta untuk setiap Rp100 juta nilai aset. seperti yang diinvestasikan pada penyempurnaan tanah (bangunan) yang tidak akan melekat selamanya. Pada umumnya. pajak ini sama dengan pajak penghasilan sebesar 50 persen. Tidak ada perbedaan dalam jangka pendek dan jangka panjang. Kerugiannya telah dikapitalisasikan dan tetap berada pada pemilik aslinya. Jika pemilik aset yang semula ingin menjual aset tersebut. Dalam jangka panjang. sehingga pemilik asli dari tanah pada daerah-daerah berpajak tinggi akan menderita kerugian permanen yang besarnya sama dengan kapitalisasi bagiannya dalam pajak. bagian pajak yang mengurangi nilai dari tanah tidak berubah. Pengeluaran pemeliharaan atas aset-aset tua akan berkurang sehingga aset-aset tersebut akan pensiun dan investasi baru pada daerah berpajak tinggi akan menurun. yaitu pemilik aset sebelum pengenaan pajak tersebut. Seperti yang telah dibahas sebelumnya. yang bila dikapitalisasikan pada tingkat 10 persen akan menurunkan nilai aset menjadi sebesar Rp50 juta. Seperti situasi pada pajak perseroan. maka beban pajaknya bersifat progresif. suatu pajak yang dikenakan pada modal dalam satu sektor ekonomi akan dibagi bebannya oleh semua pemilik modal. modal ini akan pindah dari daerah yang berpajak tinggi ke daerah yang berpajak rendah. Penghasilan bersih berkurang menjadi Rp5 juta. Seberapa besar perpindahan modal dari daerah yang berpajak tinggi bergantung pada mobilitas keluar dari tenaga kerja. tenaga kerja tersebut harus dibayar sebesar apa yang ia terima di tempat lain dan perpindahan modal akan semakin besar. Pergerakan ini akan terus berlangsung sampai tingkat pengembalian bersih dari investasi pada daerah berpajak tinggi sama dengan tingkat pengembalian pajak daerah-daerah lain.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 257 suatu aset yang menghasilkan Rp10 juta per tahun memiliki nilai sebesar Rp100 juta. Jika tenaga kerja dapat berpindah dengan segera. Dalam jangka panjang.

Karena tenaga kerja yang tidak terampil cenderung kurang mudah bergerak daripada tenaga kerja terampil. Semakin besar perpindahan modal. Demikian juga. situasi seperti ini akan memunculkan pengaruh regresif.258 Bab 12: Pajak atas Kekayaan dan Warisan tenaga kerja tidak dapat berpindah. sarana rekreasi. Pengaruh ini adalah yang paling penting bila dipandang dari perspektif suatu daerah khusus. Tidak hanya penduduk lokal tidak mampu mengekspor beban pajak tersebut ketika ditagihkan. Bila tenaga kerja pada daerah berpajak tinggi cenderung merugi. Dengan demikian kebijakan pajak pemda akan memunculkan pilihan sulit antara (1) laba yang diperoleh dari pemindahan beban pajak kepada penduduk luar daerah melalui pemajakan atas modal yang dimiliki oleh “orang asing” dan (2) bahaya kerugian pada ekonomi lokal dari berpindahnya modal “asing. tetapi mereka juga mengalami kerugian terhadap pihak luar daerah karena modal makin sedikit tersedia untuk mereka. Akan tetapi. penduduk lokal merasakan bahwa sewa meningkat dan upah turun sedangkan penduduk luar daerah mengalami keuntungan. Akibatnya. demikian pula penyediaan tambahan layanan publik akan meningkatkan nilai dari properti dan menarik modal masuk. Sekolah. Dalam jangka panjang. pajak akan dinyatakan dalam bentuk pengurangan upah. Beban Pajak: Penduduk Lokal versus Penduduk Luar Pajak nasional dan lokal yang akan menjadi perhatian suatu daerah lokal hanya bagian yang akan terbeban bagi penduduknya dan bukan bagian yang menjadi beban penduduk daerah lain. beban jangka pendek akan berada pada penduduk luar daerah tersebut sedangkan penduduk lokal menikmati free ride. tenaga kerja pada daerah berpajak rendah cenderung beruntung.” Hal ini juga terjadi pada tingkatan internasional dalam hal perbedaan pajak antar negara. Perbedaan Manfaat Sebagaimana kenaikan dalam tarif pajak properti akan mengurangi nilai dari properti dan mendorong perpindahan modal ke luar. pemilik tanah dan pemilik modal lainnya. walaupun secara nasional tidak berpengaruh terhadap distribusi beban pajak. semakin kecil pendapatan yang diperoleh dan semakin besar juga kenaikan sewa dan penurunan penghasilan yang dialami oleh penduduk yang berpajak tinggi. Jadi misalkan suatu properti yang berada pada daerah A dimiliki oleh penduduk daerah B. free ride tidak akan dinikmati dalam jangka panjang karena modal akan berpindah ke luar. jalan raya atau layanan-layanan lokal .

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 259 yang lebih baik akan membuat suatu kota atau daerah menjadi tempat yang lebih menarik untuk ditinggali dan menjadi lokasi bisnis. kedua pengaruh tadi akan saling menghilangkan dengan nilai properti tidak bergantung pada tarif pajak. sehingga menyatakan secara jelas pentingnya mempertimbangkan kedua aspek tersebut. Jika semua pajak properti dikenakan sesuai dengan prinsip manfaat. bergantung pada berapa besar pungutan pajak diperoleh dan berapa besar manfaat yang diperoleh oleh properti. Hasil ini menunjukkan adanya beban tambahan yang harus ditanggung oleh pemegang saham karena pajak berganda dari pajak penghasilan perseroan dan juga perlakuan yang lebih baik kepada pemilik rumah berdasarkan pajak penghasilan wajib pajak pribadi. Dengan demikian. tetapi juga pajak penghasilan wajib pajak pribadi dan pajak penghasilan perseroan. tidak berpengaruh atau naik. Keadilan Pengenaan PBB dan Pajak Penghasilan Karena keberatan utama atas pajak properti berasal dari pemilik rumah. Walaupun demikian. Walaupun investor pada jasa-jasa perumahan akan membayar pajak lebih tinggi berdasarkan pajak properti. penyelidikan empiris menunjukkan bahwa nilai properti berkaitan dengan pengeluaran pemerintah yang memberikan manfaat kepada properti dan juga perbedaan pajak. Efek yang terjadi adalah kebalikan dari kenaikan tarif pajak properti seperti yang diterangkan sebelumnya. Pajak properti. seperti PBB. digunakan sebagai sumber pendapatan umum dan digunakan untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran yang manfaatnya tidak selalu sejalan dengan kontribusi pajak. mari kita bandingkan posisi mereka sebagai investor dalam jasa perumahan dengan posisi investor saham perusahaan. mendorong pada peningkatan nilai properti. manfaat-manfaat dari pengeluaran-pengeluaran tersebut dapat dikapitalisasi harus lebih besar daripada beban pajaknya supaya nilai properti tidak turun. Kombinasi pajak dan pengeluaran pemerintah daerah akan menyebabkan nilai perumahan menjadi turun. Pola-Pola Alternatif Bagian pajak yang dikenakan atas tanah dapat segera dibebankan kepada pemilik tanah. keseluruhan beban pajaknya masih lebih rendah daripada kombinasi ketiga pajak ini. dengan mempertimbangkan tidak hanya pajak properti. Perbaikan ini akan meningkatkan permintaan akan rumah dan bangunan. karena penawaran atas tanah bersifat tidak elastis dan tanah . Kenyataannya tidak demikian.

Distribusi pembebanannya cenderung progresif. pemilik yang menempati akan bersedia menerima sewa imputed yang lebih rendah pada perumahan daripada pada investasi lainnya. Sebagian dari beban pajak akan terserap dalam sewa-kepemilikan ini dan didistribusikan sejalan dengan konsumsi dan bukannya dibagikan kepada semua penghasilan modal. dapat direkonsiliasikan dengan interpretasi yang lebih awal. Jika pasarnya kompetitif. Karena itu. pajak ini dipandang sebagai pajak atas jasa-jasa konsumsi perumahan. Penjelasan di atas tidak berlaku untuk properti yang disewakan. yaitu pajak atas penghasilan modal? Perumahan dapat dipandang sebagai pos investasi dan juga (dalam kasus perumahan yang ditinggali pemiliknya) sebagai barang konsumsi yang tahan lama. Tambahan beban pajak ini akan ditanggung pula oleh penyewa. distribusi bebannya sejalan dengan penghasilan modal. Dengan demikian.260 Bab 12: Pajak atas Kekayaan dan Warisan tidak dapat dipindahkan. tidak ada penghindaran atas pajak. Tingkat pajak properti efektif cenderung akan tinggi pada lingkungan berpenghasilan rendah dan sebagian disebabkan oleh pengenaan pajak pada tarif yang lebih tinggi di tengah-tengah kota pada lingkungan berpenghasilan rendah. PAJAK ATAS KEKAYAAN BERSIH Pengalaman berbagai Negara yang Menerapkan Pajak atas Kekayaan Bersih . pajaknya akan bersifat regresif. dipindahkan kepada konsumen. Yang tersisa adalah pajak atas rumah tinggal. kita dapat mengasumsikan suatu pasar yang tidak sempurna dan mempostulasikan bahwa sebagian dari pajak tersebut. Karena pengeluaran perumahan akan menjadi bagian yang semakin kecil sejalan dengan kenaikan skala penghasilan. modal yang diinvestasikan pada rumah sewaan akan meminta tingkat penghasilan yang sama dengan modal-modal lain. yang merupakan pajak atas pengeluaran perumahan. Bagaimana pandangan pajak ini. Dalam kasus ini. Sebagaimana masyarakat melihatnya. misalkan separuhnya. Akan tetapi hasilnya akan berbeda bila pasar sewa tidak sempurna sebagaimana yang sering terjadi. Pajak yang dikenakan pada bangunan komersial dapat dipandang sebagai sama dengan pajak penghasilan perseroan. Pajak dapat mengarah pada peningkatan batas atas sewa atau pelonggaran dari penentuan harga monopoli yang dibatasi sebelumnya. Bagian dari distribusi beban pajak ini kemudian akan menjadi regresif. dimana pemiliknya hanya mempertimbangkan pilihan investasi.

Dengan demikian beberapa aspek atau diskusi tentang basis pajak pada pajak penghasilan juga berlaku pada pajak kekayaan bersih ini. Pajak atas kekayaan bersih. Pajak ini merupakan salah satu komponen penting dalam struktur pajak karena pajak ini dapat digunakan sebagai pelengkap terhadap cakupan atas penghasilan modal yang tidak efektif dalam pengenaan pajak penghasilan. Basisnya juga harus didefinisikan secara global sehingga dapat memberikan perlakuan yang sama pada semua komponen kekayaan bersih. Selain itu. kecuali di Swiss. kekayaan bersih dari perseroan harus diperhitungkan kepada pemiliknya. merupakan pajak pusat. Akan tetapi. Seperti. Definisi dari aset kena pajak biasanya mencakup aset berwujud dan aset tak berwujud. Orang pribadi diberikan pengecualian dan tarif pajak dapat proporsional (umumnya 1 persen atau kurang) atau progresif ( berkisar sampai 2. aset berpenghasilan dan yang tidak berpenghasilan semuanya dimasukkan.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 261 Pajak atas kekayaan bersih diberlakukan pada beberapa negara. Semua aset berwujud dan tak berwujud.5 persen). Negara yang menggunakan pajak ini umumnya menerapkannya sebagai pajak tambahan atas pajak properti sehingga pendapatan dari pajak atas kekayaan bersih hanya merupakan bagian kecil (di bawah 5 persen) dari total pendapatan pajak. Demikian juga. pajak ini dikenakan hanya kepada individu. suatu aspek yang sangat penting pada negara-negara berkembang karena sulitnya mengenakan pajak atas penghasilan modal. Jerman. pajak ini dapat digunakan sebagai pelengkap untuk pajak pengeluaran. Untuk negaranegara lain. Di kebanyakan negara. beberapa negara tidak membolehkan kewajiban tidak berkaitan dengan perolehan aset kena pajak. prinsip keseragaman harus diterapkan baik kepada sisi aset maupun sisi kewajiban pada neraca. . semua kewajiban hutang juga dikurangkan. Swiss. Kewajiban hutang juga dapat dikurangkan untuk memperoleh angka kekayaan bersih. Oleh karena itu. negara-negara Skandinavia. Struktur dan Basis Pajak Basis Pajak Pajak atas kekayaan bersih sangat berkaitan dengan kemampuan untuk membayar. seperti Belanda. walaupun pada beberapa negara (seperti Jerman dan India) juga dikenakan kepada perseroan. India dan beberapa negara Amerika Latin. sejalan dengan metode integrasi dari pajak laba perseroan. pajak ini harus dikenakan pada orang pribadi dan perseroan.

Berkenaan pelaporan tersebut ada beberapa permasalahan yang harus diperhatikan pemerintah terhadap laporan yang diberikan: n Pemerintah harus memastikan bahwa semua aset telah dinyatakan. kesulitan ini tidaklah sangat besar. Untuk sisanya. Dengan demikian. Oleh karena itu. yang posisi kekayaannya adalah berikut: . dan secara khusus dengan administrasi pajak pengeluaran. Semua instrumen hutang adalah antara orang pribadi.262 Bab 12: Pajak atas Kekayaan dan Warisan Mengukur Kekayaan Bersih Administrasi pajak atas kekayaan bersih mengharuskan adanya identifikasi atas aset kena pajak dan verifikasi atas hutang yang dapat dikurangkan dari kekayaan. Bila dikaitkan dengan administrasi pajak penghasilan. pernyataan ini akan menambah basis dari pajak atas kekayaan bersih. perkiraan yang kasar (seperti biaya perolehan dikurangi dengan penyusutan) harus digunakan. Perolehan aset harus dinyatakan untuk meminimalkan pajak pengeluaran. aset yang menjadi subjek pajak properti (terutama bila pengenaannya disamakan) dapat dinilai dengan cara itu. Akan tetapi. seperti sekuritas yang diperdagangkan. n Penilaian aset. yaitu A dan B. Kesulitan-kesulitan yang melekat dalam penilaian aset seperti yang telah didiskusikan dalam kaitannya dengan pajak atas penghasilan modal juga terjadi dalam penerapan pajak kekayaan bersih ini. sedangkan aset lain. SPT-nya harus melampirkan neraca tahunan yang berisi daftar harta dan kewajiban pembayar pajak. Misalnya hanya ada dua orang. Peranan Harta Tak Berwujud (Intangibles) Klaim kepada swasta Asumsikan suatu keadaan di mana tidak ada hutang publik atau uang yang dikeluarkan pemerintah. Seringkali diperlukan estimasi dalam menentukan nilai-nilai aset. n Penentuan hutang-hutang yang dapat dikurangkan. dapat dinilai berdasarkan harga penawaran di pasar. Kesulitan dalam mengadministrasikan suatu pajak atas kekayaan bersih yang baik sangat banyak sehingga lama-lama pajak ini terdegenerasi menjadi pajak atas bumi dan bangunan saja. dapat memunculkan elemen self enforcement. terutama yang tidak diperjualbelikan.

000 150. kita dapat melihat bahwa distribusi beban dari suatu tarif progresif pada properti (di mana basis A dua kali basis B) akan berbeda dengan yang dikenakan pada basis kekayaan bersih (di mana basis A hanya lebih besar 50 persen daripada basis B). A akan membayar sebesar Rp10.000 Sebagaimana ditunjukkan dalam tabel di atas. keduanya berbeda apabila pajak diterapkan dengan tarif progresif.000 60.000 90. Pada akhirnya. apakah klaim itu dalam bentuk hutang publik atau uang yang didukung oleh kredit bank sentral.000 dan B akan membayar sebesar Rp6. yaitu sejalan dengan distribusi kekayaan. Akan tetapi. sehingga sebagian beban pajak dipindahkan dari A ke B. Pemberi pinjaman harus puas dengan suatu tingkat bunga yang lebih rendah.000 A+B 150. Jika kita menagih sebesar Rp15.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 263 A B 50. Sebaliknya.000.000 Harta berwujud Hutang Piutang Kekayaan bersih 100. yaitu sebesar Rp150.000 dari suatu pajak sebesar 10 persen atas semua harta berwujud. basis total untuk suatu pajak atas harta berwujud dan kekayaan bersih akan sama. Klaim seperti ini akan menambah .000 10. Jika suatu tarif proposional dikenakan. A akan membayar sebesar Rp9.000 10. Klaim terhadap Pemerintah Perbedaan lebih lanjut dapat terjadi jika kita mengasumsikan adanya klaim terhadap pemerintah. pasar akan menyesuaikan sedemikian rupa sehingga ketika pajak atas properti dikenakan. distribusi beban pajak akan sama dengan yang terjadi berdasarkan pajak atas kekayaan bersih. pilihan di antara keduanya tidak ada permasalahan.000 dan B akan membayar sebesar Rp5. Sesuai dengan tabel di atas. Karena pajak pribadi mengharuskan adanya pengenaan pajak berdasarkan prinsip kemampuan untuk membayar. pajak atas kekayaan bersih adalah bentuk yang paling baik dari pajak atas kekayaan.000. hal ini menyarankan bahwa A akan lebih menyukai pajak atas kekayaan bersih sedangkan B akan lebih menyukai pajak properti. peminjam tidak akan bersedia membayar pada tingkat bunga yang sama seperti yang mereka lakukan sebelumnya karena penghasilan bersih mereka dari investasi pada properti akan menurun. Jika kita mengumpulkan jumlah yang sama dengan menggunakan pajak atas kekayaan bersih.000. Pada awalnya.

penagihan sebesar Rp15.000 160. Pasar sekali lagi akan mengkompensasikan untuk pengurangan tingkat pengembalian bersih dari properti. Untuk mendapatkan sejumlah pendapatan yang sama dengan pajak properti. Dikenakan sekali dan selamanya.000 B 60.000 20. bea ini telah digunakan oleh beberapa negara dalam situasi-situasi mendesak seperti reformasi moneter untuk menghentikan inflasi setelah perang.000 240.000 masing-masing. BEA ATAS MODAL Satu bentuk pajak kekayaan lainnya adalah bea atas modal.000 80. ALASAN-ALASAN PENGENAAN PAJAK ATAS WARISAN APajak atas warisan adalah salah satu jenis pajak kekayaan yang dikenakan pada saat pemindahan dengan mewariskan atau menghibahkan. Jika sifatnya benar-benar satu kali dan selamanya. Hal ini menambah daya tarik pajak jenis ini sebagai instrumen pajak redistribusi. tetapi beban A akan tetap lebih tinggi berdasarkan pajak atas kekayaan bersih daripada pajak atas properti.112 dari B.2 persen. yang tidak diharapkan akan terjadi kembali.000 A+B 150. Misalnya tabel di atas dimodifikasi sebagai berikut: A Kekayaan bersih dari tabel sebelumnya Klaim terhadap pemerintah Kekayaan bersih 90. dan mendapatkan Rp9.888 dari A dan Rp5.000 70.000 90.000 dan Rp5. Klaim-klaim seperti ini dapat menjadi tambahan pada basis kekayaan bersih bagi seluruh kelompok secara keseluruhan.000 berdasarkan pajak atas kekayaan bersih tarif tetap akan mengharuskan pengenaan tarif sebesar 6.264 Bab 12: Pajak atas Kekayaan dan Warisan kekayaan dari seseorang tanpa mengurangi kekayaan dari orang lainnya. dengan pembayaran sebesar Rp10. akan tetapi asumsi mendasar tentang aplikasinya yang unik dan tanpa diharapkan terjadi kembali menyebabkan pajak ini tidak termasuk bagian dari struktur pajak normal.000 Dalam kasus ini. bea seperti itu berbeda dari bentuk pajak kekayaan lainnya karena ketiadaan efek-efek mengganggu terhadap ekonomi. jadi tidak . suatu tarif sebesar 10 persen.

Pajak dapat dikenakan pada warisan secara keseluruhan atau atas jumlah yang diterima oleh ahli waris. § Masyarakat juga dapat membatasi hak seseorang untuk mendapatkan kekayaan dari warisan yang merupakan perolehan kekayaan tanpa usahanya sendiri. Jika masyarakat ingin membolehkan orang untuk mewariskan secara bebas sampai sejumlah tertentu. Walaupun basisnya telah berkembang secara substansial di negara-negara maju. Jika diinginkan. tingkatan tarif pajak atas warisan yang dapat diterapkan akan naik ketika kekayaan diwariskan pada generasi berikutnya. Untuk alasan inilah pajak atas warisan secara potensial merupakan elemen yang penting dalam struktur pajak. suatu pendekatan yang pertama kali disarankan oleh ahli ekonomi Italia. pajak atas warisan mendapat perhatian luas karena filosofi sosial dan sebagai instrumen kebijakan untuk menyesuaikan distribusi kekayaan. Pajak atas warisan dapat dikenakan dalam berbagai bentuk. apabila tarif pajak yang dipakai tidak proporsional. Pajak atas warisan dapat diterapkan pada tingkatan nasional maupun pada tingkatan lokal. Dalam hal ini. Sepintas. Akan tetapi. Dalam hal ini. Akan tetapi. § Masyarakat dapat membuat batas sampai generasi tertentu suatu warisan dapat dipindahkan sepanjang generasi.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 265 dikenakan setiap tahun. perbedaan pengenaan ini dapat menimbulkan perbedaan jumlah pajak. pajak dapat dikenakan kepada ahli waris. Dalam hal ini. pajak atas warisan tidak akan menjadi sumber pendapatan utama suatu negara. tidak ada perbedaan apakah pajak dikenakan atas warisan atau kepada penerima warisan. Jika masyarakat ingin menyita warisan yang melebihi suatu jumlah tertentu. Eugino Rignano. sejumlah warisan di atas sejumlah tertentu dikenakan pajak 100 persen. TUJUAN DAN JENIS PAJAK ATAS WARISAN Beberapa hal berikut yang memunculkan pengenaan pajak atas warisan pada suatu masyarakat: § Masyarakat mungkin ingin membatasi hak seseorang untuk membagikan hartanya pada saat meninggal. Orang pribadi dapat menggunakan harta mereka ketika mereka masih hidup tetapi hak kepemilikan mereka berakhir ketika meninggal. Pajak ini juga dikenakan dengan berbagai alasan tertentu. dapat diberlakukan suatu pengecualian. dapat diatur perolehan harta tertentu melalui warisan dapat . suatu pajak atas kekayaan dapat diberlakukan.

Hanya jika tarif pajaknya proporsional tidak ada perbedaan apakah dikenakan atas warisan atau dikenakan kepada ahli waris. Bila warisan dikecualikan dari pengenaan pajak penghasilan. Tradisi pewarisan merupakan satu faktor utama yang menimbulkan konsentrasi kekayaan. Pilihan di antara tujuan-tujuan ini dan pemilihan pajak yang tepat bukanlah permasalahan yang sama dengan pertanyaan bagaimana transaksi-transaksi pada saat kematian (penerimaan suatu warisan atau memberikan warisan) harus diperlakukan dalam suatu pajak penghasilan atau pengeluaran. Tarif progresif dapat diterapkan juga untuk cara ini. Berdasarkan pendekatan tambahan kemampuan ekonomis dari pajak penghasilan. suatu pajak atas warisan (yang tarifnya disesuaikan dengan penghasilan dari ahli waris) dapat dipandang sebagai koreksi atas definisi penghasilan yang kurang baik dalam pengenaan pajak penghasilan. masyarakat dapat menerapkan pajak atas warisan (yang mengurangi hak pewaris membagikan hartanya) dan pajak kepada ahli waris yang dirancang untuk membatasi hak ahli waris untuk menerima dan/atau mengkompensasikan ketidaktercakupan warisan ke dalam penghasilan kena pajak. Dalam mencapai tujuan 1 dan 3 di atas. penerimaan dari suatu warisan menambah kemampuan ekonomis penerimanya sehingga selayaknya dimasukkan sebagai penghasilan bagi ahli waris. § Pajak pada saat kematian dapat dipandang sebagai pelengkap atas pajak penghasilan. pilihan antara pendekatan pajak atas warisan atau pajak kepada ahli waris bergantung pada tujuan-tujuan yang akan dicapai dengan merancang pajak tersebut. Hal yang sama juga dapat dinyatakan untuk peranan dari pajak atas warisan (yang dikaitkan dengan konsumsi dari pewaris) sebagai koreksi untuk definisi basis yang efektif dalam hal pajak pengeluaran yang tidak memasukkan warisan dalam basisnya. PERMASALAHAN-PERMASALAHAN KHUSUS . keduanya tidak harus mutually exclusice. § Masyarakat juga dapat menggunakan pajak untuk mencapai tujuan yang lebih umum mencapai distribusi kekayaan yang lebih adil. § Pajak atas warisan dapat dipandang sebagai suatu alternatif terhadap pajak atas penghasilan modal selama masa hidup penerimanya. Penggantian pajak penghasilan modal yang progresif menjadi pajak atas warisan akan mengurangi pengaruh disinsentif pada menabung dan investasi. Walaupun tujuannya berbeda. Oleh karena itu.266 Bab 12: Pajak atas Kekayaan dan Warisan dibebaskan tetapi membedakan antara perolehan-perolehan besar dan kecil. Pajak atas warisan dapat digunakan untuk mengurangi ketidakadilan dalam distribusi kekayaan ini.

sosial dan politik yang sudah di luar pembahasan kebijakan pajak. walaupun sebelum kematian kepemilikannya terpisah. sebagaimana juga dalam pajak penghasilan. Jadi. warisan dapat diberikan kepada pasangannya yang masih hidup tanpa dikenakan pajak. Bisnis Keluarga Para kritikus dari pajak atas warisan menyatakan bahwa pajak ini mengancam kelangsungan institusi perusahaan yang dimiliki keluarga. Salah satu keberatan yang dimunculkan adalah pajak atas warisan dapat membuat . Sumbangan kepada Lembaga Sosial Sumbangan sosial juga penting dalam pajak atas warisan/hibah.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 267 Capital gain Di Amerika Serikat. Aturan yang sama tidak berlaku untuk anak dan anggota keluarga lainnya. akan tetapi pembebasan pajak ini mendorong timbulnya kendali privat yang tinggi dalam penggunaan dana yang sebenarnya dana publik. Peranan dari sumbangan sosial dalam pajak warisan. Walaupun demikian. bukannya sebesar harga perolehan aslinya. Pada umumnya tidak ada batasan pengurangan atas sumbangan sosial dalam kerangka pajak atas warisan. melibatkan faktor-faktor budaya. membuat peningkatan harga sebelum kematian tidak dipajaki. Basis yang baru ini kemudian digunakan untuk tujuan pengenaan pajak atas penghasilan modal pada saat penjualan aset tersebut oleh ahli waris. aset untuk tujuan pajak warisan dinilai berdasarkan harga pasarnya pada saat pemiliknya meninggal. Apabila salah satu pasangan meninggal. aturan sampai seberapa jauh hubungan kekeluargaan menyebabkan pengecualian dari pengenaan pajak sangat bergantung pada peranan keluarga dalam kaitannya dengan hak untuk memindahkan harta setelah meninggal. Pengurangan karena Status Pernikahan Permasalahan perlakuan terhadap unit keluarga yang muncul pada pajak penghasilan. hanya peningkatan harga dari saat kematian saja yang diperhitungkan. Harta yang diwariskan kepada pasangan yang masih hidup diperlakukan seolah-olah harta tersebut adalah harta bersama. Hal ini sesuai dengan pendekatan unit keluarga dalam pajak penghasilan. Organisasi-organisasi yang didukung oleh sumbangan-sumbangan tidak kena pajak telah mencapai tujuan-tujuan yang berguna bagi masyarakat yang tidak dapat dicapai melalui anggaran negara. terjadi juga pada pajak warisan.

RANGKUMAN § Pajak atas bumi dan bangunan adalah jenis praktek pajak kekayaan yang paling sering muncul. Alasan kemampuan dimana pada masa lalu. § . Oleh karenanya pemilik kekayaan dapat diharuskan membayar kepada negara untuk biaya-biaya negara tersebut. manfaat khusus yang dinikmati oleh setiap kekayaan dapat diukur dengan suatu indeks seperti panjang jalan di depannya atau lokasinya. Dalam kasus-kasus tertentu. Walaupun demikian. Tidak semua biaya dari fungsi negara harus diperoleh dari pengenaan pajak ini. pajak kekayaan tidak diperlukan apabila pajak penghasilan didefinisikan secara komprehensif mencakup seluruh tambahan kemampuan ekonomis. Penggunaan pajak kekayaan untuk mendanai pendidikan. yang tidak harus melibatkan pemecahan unit usaha. Unit tersebut dapat dijual secara keseluruhan atau sebagian dari ekuitas dapat dipindahkan kepada pihak luar. Keberatan ini sebenarnya bukan masalah besar karena dapat diatasi dengan aturan-aturan yang liberal untuk pembayaran yang dicicil atau ditunda. pembayaran pajak akan mengharuskan suatu likuidasi. Dengan konsep kesetaraan. kepemilikan harta tak bergerak dan harta bergerak (seperti hewan ternak) merupakan kriteria yang paling mudah untuk menentukan kemampuan untuk membayar.268 Bab 12: Pajak atas Kekayaan dan Warisan ahli waris harus melikuidasi perusahaan dengan persyaratan-persyaratan yang tidak menguntungkan dalam rangka membayar pajak tersebut. Konsekuensi yang mungkin sulit dicegah adalah gangguan atau pengurangan terhadap kendali keluarga atas bisnis sebagai akibat dari pengenaan pajak apabila kekayaan yang diwariskan dalam bentuk bisnis keluarga. Alasan pengenaan pajak kekayaan atas dasar manfaat adalah bahwa layanan-layanan publik meningkatkan nilai dari bumi dan bangunan. misalnya. Dalam hal konsep pajak atas konsumsi. tidak memiliki dasar yang rasional. pajak kekayaan dapat dibenarkan karena alasan mengurangi penumpukkan kekayaan.

Dengan asumsi pasar modal dan prosedur penilaian yang sempurna. Perbedaan lainnya ada dalam risiko yang ditanggung.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 269 § § § § § § Konsekuensi sosial dari ketidakmerataan dalam distribusi kekayaan berbeda dengan konsekuensi sosial dari ketidakmerataan dalam distribusi konsumsi. pengenaan pajak atas pematangan tanah telah menghambat investasi perumahan. Dalam jangka pendek beban dari pajak atas penghasilan modal ini akan dikapitalisasi dan mengurangi nilai dari kekayaan. Pengenaan pajak khusus atas tanah yang terpisah dari kekayaan telah diusulkan berdasarkan alasan efisiensi dan keadilan. Circuit breaker berupa kredit pajak dapat berakibat pajak negatif. Alasan efisiensi karena tanah dapat dipajaki tanpa menimbulkan suatu excess burden. Jika terdapat perbedaan hasil. pajak atas tanah juga dapat digunakan untuk mendorong penggunaan tanah yang lebih intensif. yang disebut juga dengan circuit breaker. Basisnya lebih tepat didefinisikan sebagai kekayaan kotor daripada kekayaan bersih karena kekayaan kotor lebih menunjukkan cakupan kendali ekonomis yang diperoleh oleh pemiliknya. pengenaan pajak tanah dapat berakibat sebaliknya. Dalam prakteknya. Terutama pada kota-kota besar dan negara-negara maju. Pajak tanah telah lama diakui sebagai suatu bentuk pemajakan yang paling kecil kemungkinannya menghambat insentif investasi real estate. terutama investasi untuk rumah-rumah murah. karena memperhitungkan adanya perbedaan tingkat risiko atas kekayaan-kekayaan tersebut. tidak ada perbedaan karena harga pasar dari kekayaan sama dengan nilai kapitalisasi dari penghasilan aktual. basis pengenaan pajak yang paling baik adalah pendekatan nilai pasar. Jika pasar yang sempurna tersedia dan penggunaan optimal terjadi. Alasan keadilan karena kenaikan nilai tanah dapat dipandang sebagai peningkatan kekayaan yang tidak adil. Dalam jangka . suatu pajak yang dikenakan atas nilai dari suatu aset dapat segera diterjemahkan sebagai suatu pajak penghasilan atas penghasilan yang diperoleh dari aset tersebut. Karena pengembalian atas tanah berada dalam posisi penawaran yang tidak elastis. Selain itu. Jika kekayaan kurang didayagunakan. Beberapa aturan telah dikembangkan di berbagai negara untuk menyediakan pengurangan beban pajak kepada penduduk berusia tua dan keluarga dengan penghasilan rendah. pengenaan pajak berdasarkan basis penghasilan aktual akan menyajikan nilainya yang terlalu rendah. dan karenanya masyarakat perlu menanganinya secara terpisah. nilai kapitalisasi penghasilan aktual dan nilai pasar tidak selalu menghasilkan angka yang sama. Dalam kenyataannya.

mendorong peningkatan nilai kekayaan. Lebih lanjut. misalkan separuhnya. keseluruhan beban pajaknya masih lebih rendah dibanding kombinasi pajak kekayaan. dan bahaya kerugian pada ekonomi lokal dari berpindahnya modal asing. Distribusi pajak atas tanah progresif. Pajak atas tanah dapat segera dibebankan kepada pemilik tanah. pajak atas bangunan dibedakan menjadi bangunan komersial dan bangunan perumahan. Penyediaan tambahan layanan publik akan meningkatkan nilai kekayaan dan menarik modal masuk. Rumah tidak hanya dapat dipandang sebagai pos investasi. dan karenanya menimbulkan efek kebalikan dari kenaikan tarif pajak kekayaan.270 Bab 12: Pajak atas Kekayaan dan Warisan § § § § panjang. Pajak atas bangunan perumahan dapat dikenakan . akan terus berlangsung sampai tingkat pengembalian bersih dari investasi pada daerah berpajak tinggi sama dengan tingkat pengembalian pajak daerah-daerah lain Dalam menyikapi pajak nasional dan pajak lokal. karena penawaran atas tanah bersifat tidak elastis. Pajak yang dikenakan pada bangunan komersial dapat dipandang sebagai sama dengan pajak penghasilan badan. dipindahkan kepada konsumen. untuk barang tetap: pemilik tanah pertama akan menderita kerugian permanen yang besarnya sama dengan kapitalisasi beban pajak. Pajak kekayaan dapat digunakan untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran yang manfaatnya tidak selalu sejalan dengan kontribusi wajib pajak. Kebijakan distribusi beban pajak properti pada dasarnya berbentuk: pajak atas tanah dan pajak atas bangunan. tetapi juga dipandang sebagai barang konsumsi yang tahan lama (ketika rumah ditempati pemiliknya). pajak penghasilan perorangan. dan pajak penghasilan perseroan yang diderita investor saham. Keberatan utama atas pajak kekayaan datang dari individu yang memiliki banyak rumah sebagai investasinya. Perbaikan layanan publik ini pada akhirnya akan meningkatkan permintaan rumah dan bangunan. Semakin besar kenaikan sewa berarti penurunan penghasilan oleh penduduk daerah yang berpajak tinggi. Dalam pasar yang tidak sempurna. Walaupun investor pada jasa perumahan akan membayar pajak lebih tinggi dalam kerangka pajak kekayaan. Semakin besar perpindahan modal berarti semakin kecil pendapatan yang diperoleh. Distribusi pajak bangunan komersial regresif. kebijakan suatu pemda hanya memperhatikan bagian yang penduduknya: keuntungan dari penggeseran beban pajak kepada pihak luar melalui pemajakan atas modal yang dimiliki oleh bukan penduduk lokal. Untuk barang bergerak: modal ini akan pindah dari daerah yang berpajak tinggi ke daerah yang berpajak rendah. sebagian dari pajak tersebut.

Tarif pajak kekayaan yang tinggi di kota-kota metropolitan. Prinsip self enforcement dapat digunakan dimana pembelian aset dapat dikeluarkan dari basis pajak konsumsi. Walaupun pasar akan tetap menyesuaikan. pajaknya bersifat regresif. Metode ini telah digunakan oleh beberapa negara dalam situasi-situasi mendesak seperti reformasi moneter untuk menghentikan hyper inflasi setelah perang. pajak ini harus dikenakan pada orang pribadi. Oleh karena itu. aset berpenghasilan dan yang tidak berpenghasilan diperhitungkan. harga pasar. Pengenaan tarif pajak kekayaan proposional (flat) tidak menghasilkan nilai yang berbeda untuk basis kekayaan bruto dan neto. Sedangkan kekayaan bersih perusahaan harus diperhitungkan kepada pemiliknya (sebagai orang pribadi). tetapi harus menambah jumlah basis kekayaan bersih kena pajak. hasil distribusi akan berbeda apabila pajak diterapkan dengan tarif progresif. dan harga pokok dengan penyusutan. Hal ini dengan asumsi tidak ada hutang publik dan pasar yang kompetitif akan menyesuaikan perbedaan nilai yang didapat dari kedua metode. tetapi pola distribusi beban pajak kekayaan tidak sama antara metode kekayaan bruto dengan metode kekayaan bersih. Sifat pungutan yang sekali untuk selamanya tidak mengganggu perekonomian . Pajak atas kekayaan bersih umumnya dikenakan sebagai pajak pusat.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 271 § § § § § § sebagai pajak konsumsi atas jasa-jasa perumahan. Menghitung kekayaan bersih menghadapi permasalahan dalam hal penilaian aset (asset valuation) dan menentukan hutang-hutang yang dapat dikurangkan. Bea atas modal dikenakan sekali untuk selamanya. Pajak atas kekayaan bersih sangat berkaitan dengan kemampuan untuk membayar. Hutang Publik (klaim kepada pemerintah) dapat menambah kekayaan seseorang tanpa mengurangi kekayaan orang lain. Sebaliknya. Semua aset berwujud dan tak berwujud. Demikian juga. bukan perseroan. semua kewajiban hutang dikurangkan. sebagian dibayar oleh masyarakat berpenghasilan rendah. yang diterapkan hampir seragam sebagai pajak in rem. Definisi dari aset kena pajak biasanya mencakup aset berwujud dan aset tak berwujud dan dalam banyak kasus semua kewajiban atau hutang berkaitan kepemilikan aset dapat dikurangkan. Penilaian aset menggunakan estimasi. atas tanah dan bangunan sering tidak mengarah pada pajak perseorangan dan tidak atas basis kekayaan bersih. Karena pengeluaran konsumsi rumah tinggal akan semakin kecil sejalan dengan kenaikan skala penghasilan rumah. Praktek pajak kekayaan di seluruh dunia.

misalnya karena tanpa usahanya sendiri. membatasi hak seseorang untuk memindahkan kekayaannya ke generasi-generasi berikutnya. yaitu pada saat pemindahan dengan mewariskan atau menghibahkan. Pajak dapat dikenakan pada warisan secara keseluruhan atau atas jumlah yang diterima oleh ahli waris. 2. Pajak warisan adalah salah satu jenis pajak kekayaan yang dikenakan satu kali saja. (2) Status pernikahan dimana warisan dapat diberikan kepada pasangannya yang masih hidup bebas dari pajak. LATIHAN 1. (3) Lembaga sosial dimana sumbangan sosial dikecualikan dalam pajak warisan. Pajak warisan mendapat perhatian luas karena filosofi sosial dan sebagai instrumen kebijakan untuk menyesuaikan distribusi kekayaan. Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis pajak atas konsumsi! Sebutkan dan jelaskan metode-metode yang digunakan dalam penagihan pajak! . Permasalahan khusus dalam pajak warisan antara lain: (1) Capital gain dimana pajak warisan dinilai berdasarkan harga pasarnya pada saat pemiliknya meninggal. Tetapi jenis pajak ini tidak termasuk bagian dari struktur pajak normal.272 Bab 12: Pajak atas Kekayaan dan Warisan § § § § secara keseluruhan. perbedaan basis pengenaan dapat menimbulkan perbedaan jumlah pajak. Jika tarif pajak yang dipakai tidak proporsional (flat). mencapai distribusi kekayaan yang lebih adil serta menghindari konsentrasi kekayaan. Pajak warisan bermanfaat untuk: membatasi hak seseorang untuk membagikan hartanya pada saat meninggal. Aturan yang sama tidak berlaku untuk anak dan anggota keluarga lainnya. melengkapi pajak penghasilan. bukannya harga perolehan aslinya. (4) Bisnis keluarga dimana para kritikus dari pajak atas warisan menyatakan bahwa pajak ini mengancam kelangsungan institusi perusahaan yang dimiliki keluarga. membatasi hak seseorang untuk mendapatkan kekayaan dari warisan. dan menjadi alternatif dari pajak atas penghasilan modal selama masa hidupnya. Pilihan antara pendekatan (1) pajak atas warisan atau (2) pajak kepada ahli waris bergantung pada tujuan-tujuan yang akan dicapai. Pajak warisan dapat diterapkan pada tingkatan nasional maupun lokal. Walaupun tujuannya berbeda. keduanya tidak harus saling menghilangkan (mutually exclusice).

c. b. tetapi mengapa pemerintah tetap memberlakukan cukai? Apa alasannya? 6. Dilihat dari sisi permasalahan politik. Jelaskan dan berikan contoh. Jelaskan bagaimana keadilan vertikal dan keadilan horizontal suatu pajak penjualan umum? 7. 4. Produk selesai diproduksi. Bagaimana pengenaan pajak apabila kekayaan yang diwariskan dalam bentuk bisnis keluarga? . Produk sedang diproduksi (dibagi pertahapan produksi). Produk siap dipasarkan secara eceran. Cukai hanya dikenakan pada barang-barang tertentu dan membutuhkan biaya ekstra. Apa yang dimaksud dengan pajak warisan? 9. Mengapa pajak kekayaan dapat dipandang sebagai pelengkap atas pajak penghasilan? 11. Jelaskan manfaat pajak warisan! 10. Bagaimana cara menentukan konsumsi tahunan wajib pajak? 8.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 273 3. tahapan pengenaan pajak yang tepat pada saat : a. apa perbedaan Pajak Pertambahan Nilai dengan pajak penjualan? 5. Bagaimana efek pengenaan pajak dalam pajak atas warisan yang dipergunakan sebagai kontribusi bagi lembaga sosial? 12.

274 Bab 12: Pajak atas Kekayaan dan Warisan .

Negara dengan kemampuan teknologi tinggi sebaiknya memproduksi barang seperti komputer atau perangkat lunak. mengekspor barang tersebut dan mengimpor barang dari negara lain yang bisa memproduksi barang lain dengan lebih efisien. Ekonom klasik menaruh perhatian terhadap perdagangan internasional.PAJAK INTERNASIONAL Transaksi internasional bukan merupakan hal yang baru. Sebagai contoh. seperti tekstil dan sepatu. Transaksi tersebut sudah dilakukan sejak jauh sebelum abad Masehi. Kemudian kedua negara tersebut akan melakukan pertukaran: negara yang satu mengekspor tekstil dan mengimpor komputer. negara dengan tenaga kerja murah akan lebih baik memproduksi barang bercirikan padat karya. Adam Smith atau David Ricardo berpendapat bahwa negara akan lebih baik apabila melakukan spesialisasi produksi barang berdasarkan keuntungan komparatifnya. sedangkan yang lainnya .

terdapat beberapa asas yang perlu diperhatikan yang diantaranya adalah: . teknologi tidak dipertimbangkan dalam teori tersebut. kemudian barang jadi dijual ke Amerika Serikat. bukannya barang yang terdiferensiasi. Perusahaan multinasional berusaha mengoptimalkan sumber daya yang ada di dunia ini tidak terbatas pada batas-batas negara. Keputusan ini tentunya akan diambil secara bersama-sama dengan negara lain dan perjanjian pajak internasional merupakan suatu media yang dapat mengkoordinasikan masalah-masalah tersebut. Koordinasi dan alokasi sumber daya menjadi kunci pengelolaan perusahaan multinasional. produk didesain di prancis. Daya saing suatu negara sudah ditentukan (given). perusahaan multinasional dibangun dengan asumsi bahwa faktor produksi sangat mobile. makin meningkatnya peranan perusahaan multinasional. kemudian memperoleh modal dari pasar keuangan eropa. skala ekonomi. tergantung sumber daya yang dipunyai. Juga teori tersebut mengasumsikan pertukaran barang komoditi. Perusahaan multinasional bisa memproduksi barang di Indonesia (karena tenaga kerja murah). Setiap negara tentunya akan mengatur bagaimana negara tersebut akan menarik pajak terhadap pendapatan warga negaranya yang diperolehnya dari luar negeri dan pendapatan warga negara asing yang berasal dari dalam negeri. Gambaran mengenai perusahaan multinasional tersebut di atas menunjukkan fakta bahwa semakin hari akan semakin meningkat saling ketergantungan perekonomian dunia dan kondisi ini akan semakin mempengaruhi aspek internasional dalam hal keuangan publik. Asumsi dalam teori tersebut adalah bahwa faktor produksi seperti tenaga kerja. Faktor lain seperti ketidakpastian. Sejalan dengan kondisi tersebut suatu negara tentunya juga harus mengatur bagaimana pajak produk dan pajak penjualan dari negara bersangkutan akan diterapkan pada sistem ekspor impornya. Teori tersebut kemudian dikenal sebagai doktrin keunggulan komparatif. tanah dan mesin tidak mudah berpindah (tidak mobile). sedangkan pusat perusahaan tersebut di Jepang. Penyatuan perekonomian Eropa ke dalam pasar bersama. Perusahaan multinasional tumbuh dengan menyalahi doktrin keunggulan komparatif. tetapi sudah melintas batas-batas negara. Faktor produksi tidak dibatasi oleh batas-batas negara. dan ketimpangan distribusi pendapatan internasional akan mengarah kepada perlunya koordinasi fiskal internasional.276 Bab 13: Pajak Internasional mengekspor komputer dan mengimpor tekstil. Dengan cara semacam itu kemakmuran dunia akan semakin meningkat. Dalam hal penerapan koordinasi pajak internasional. sedangkan barang yang dihasilkan bisa dipindahkan dengan mudah. modal. pembiayaan badan kerjasama internasional seperti Perserikatan Bangsa Bangsa dan NATO. Jika ekonomi klasik mengasumsikan bahwa faktor produksi tidak mudah berpindah.

B keadilan diinterpretasikan dalam artian nasional. tetapi berapa tarif yang akan dikenakan masih menjadi persoalan. B. yang menerima pendapatan total yang sama tetapi seluruhnya berasal dari Amerika Serikat? Atau sudah cukupkah kiranya jika Amerika Serikat menganggap pajak yang di bayar ke negara lain sebagai pengurangan pendapatan dan menyamakan beban pajak sesuai dengan pengenaan pajak di Amerika Serikat saja? Dalam kasus Mr. Dalam kasus ini yang menjadi pertanyaan adalah. Misalnya adalah Mr. tentunya Mr.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 277 § § § Keadilan antar perorangan. masalah ini akan timbul baik dalam hal pajak penghasilan maupun pajak produk. Efisiensi. secara umum disetujui bahwa negara di mana pendapatan itu dihasilkan (juga disebut sebagai negara sumber) berhak menarik pajak atas pendapatan tersebut. Meskipun dengan cara yang berbeda. Keadilan Antar Negara Masalah keadilan yang lebih pelik akan kita temui dalam menentukan pembagian penerimaan pajak di antara ditjen pajak atau departemen keuangan di berbagai negara. akan membayar pajak sesuai dengan ketentuan Indonesia atas penghasilan yang diperolehnya di Indonesia. sedangkan dalam kasus Mr. apakah keadilan horizontal (keadilan antar perorangan) yang mengharuskan bahwa pajak total yang dibayarnya (baik di dalam maupun luar negeri) akan sama dengan pajak yang di bayar oleh Mr. A juga melakukan investasi di Indonesia dan menerima dividen yang dikenakan pajak oleh Indonesia. jika seseorang menerima pendapatan yang berasal dari berbagai negara. Dalam kasus lain. A. Konsekuensi dari kondisi tersebut di atas adalah bahwa pajak Indonesia yang dikenakan terhadap penghasilan atas modal Amerika Serikat yang ditanamkan di Indonesia tentunya akan mengurangi pengembalian (return) bagi Amerika Serikat. Keadilan Antar Perorangan Dalam prakteknya. keadilan diinterpretasikan dalam artian internasional. Keadilan antar negara. A juga akan dikenakan pajak oleh pemerintah Amerika Serikat. Karena dia juga menerima pendapatan sebagai warga negara Amerika Serikat. Sehubungan dengan pajak penghasilan. dia akan dikenakan pajak lebih dari satu kali. seorang warga negara Amerika Serikat. A. Mr. yang dalam masa tertentu bekerja di Indonesia. Berbeda halnya dengan pajak tambahan yang mungkin dikenakan oleh .

Kondisi ini akan mengakibatkan bahwa lokasi produksi tidak lagi ditentukan oleh keunggulan komparatif (atau biaya sumber daya relatif). akan tercipta efisiensi alokasi sumber daya di . pemasok luar negeri harus menjual produknya dengan harga yang lebih rendah. Jika kita menerima kriteria bahwa suatu negara harus membayar pajaknya sendiri. sehingga tidak akan merugikan bagi Amerika Serikat tetapi hanya merupakan transfer dari warga negara Amerika Serikat ke Departemen Keuangan Amerika Serikat.C. jika Impor dikenakan pajak. PRINSIP PAJAK INTERNASIONAL Berbagai struktur sistem pajak negara mempunyai dampak yang sangat penting terhadap arah dan aliran baik barang maupun modal secara internasional. permasalahannya adalah bagaimana mengelola pengenaan pajak atas pendapatan dan investasi internasional sehingga tidak mengganggu efisiensi alokasi modal secara global. masalah keadilan berkaitan dengan kemungkinan untuk membebani warga asing melalui perubahan harga. maka Mr C akan menanamkan lebih banyak modalnya di Vietnam. Dalam hal pajak produk. harga ekspor akan naik dan konsumen di luar negeri akan membayar lebih mahal.278 Bab 13: Pajak Internasional Amerika Serikat. Konsekuensinya. Dengan demikian. Kondisi ini bisa disebut sebagai prinsip berbalasan. Efisiensi Perbedaan tarif pajak tentunya akan mempengaruhi lokasi dari kegiatan perekonomian dan cenderung menghambat penggunaan sumber daya yang paling efisien. Hal ini juga menunjukkan bahwa sebagian beban pajak akan digeser ke luar negeri. Jadi. Oleh karena itu. Jika Mr. seorang investor merasakan bahwa pajaknya akan lebih rendah apabila dia menanamkan modal di Vietnam daripada di Indonesia. Sejalan dengan itu. Jika negara tersebut mendominasi pasar ekspor. tentunya biaya ekspor akan naik. tetapi dimodifikasi oleh perbedaan biaya pajak. Salah satu pandangan mengenai keadilan antar negara adalah bahwa negara sumber harus diperbolehkan menarik pajak atas pendapatan yang diperoleh investor asing dengan tarif sebesar yang di kenakan negara lain atas pendapatan warganya di negara tersebut. yang merupakan persyaratan bagi perdagangan yang efisien. Jika negara A mengenakan pajak atas ekspor. sebagian dari beban pajak akan digeser ke luar negeri. kerugian yang diderita Amerika Serikat hanya akan tergantung pada tarif pajak atas modal Amerika Serikat yang dikenakan di Indonesia. maka penggeseran beban semacam itu bisa dianggap sebagai hambatan bagi keadilan antar negara.

tanpa memperhatikan tempat domisili penerima pendapatan tersebut. Artinya. seseorang subjek pajak akan dianggap sebagai penduduk dalam negeri (resident taxpayer) apabila memenuhi syarat-syarat tertentu. misalnya dividen. Prinsip pajak berdasarkan asas domisili menyatakan bahwa penduduk akan dikenakan pajak di negara di mana ia berdomisili tanpa memperhatikan darimana sumber penghasilan yang diperolehnya baik pendapatan yang diperolehnya di dalam negeri maupun di luar negeri. setiap negara mempunyai definisi penduduk sendiri-sendiri. Penentuan sumber penghasilan tergantung dari dua hal yang pokok. yang berbeda dari negara lain. Pada umumnya. § Penghasilan dari modal (passive income). royalty dan penghasilan dari harta. Syarat-syarat ini tergantung pada undang-undang masing-masing negara. yaitu: § Penghasilan dari usaha (active income). Prinsip pajak berdasarkan asas dari sumber pendapatan menyatakan bahwa seluruh pendapatan yang diperoleh di suatu negara akan dikenakan pajak. Walaupun kemungkinan tidak ada satu negara pun yang secara ketat menerapkan prinsip-prinsip pajak internasional. untuk menentukan letak sumber penghasilan. Bagi yang bukan merupakan penduduk tidak akan ditarik pajak terhadap pendapatan yang diperolehnya di negara tersebut. Pada dasarnya terdapat dua pendekatan dalam pajak internasional yang lazim dipergunakan yakni pajak penghasilan internasional dan pajak komoditi. Di samping itu. . bunga. jenis-jenis penghasilan dibagi menjadi dua. tergantung dari falsafah yang dianutnya. yaitu (a) jenis penghasilan itu sendiri dan (b) penentuan sumber penghasilan berdasarkan undang-undang pajak dari suatu negara. Yang berkaitan erat dengan asas domisili ini adalah penentuan domisili bagi subjek pajak. baik itu warga negara ataupun bukan warga negara. Pajak Penghasilan Internasional Dua prinsip dalam pajak penghasilan internasional adalah prinsip pajak berdasarkan asas domisili dan prinsip pajak berdasarkan asas sumber pendapatan.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 279 seluruh dunia dalam integrasi perekonomi dunia. penduduk suatu negara tidak akan dikenakan pajak terhadap pendapatan yang diperolehnya di luar negeri dan warga negara asing akan dikenakan pajak sama dengan pendapatan penduduk yang diterima di negara tersebut. Jadi.

kondisi ini selaras dengan pandangan internasional mengenai keadilan antar perorangan. terdapat dua prinsip pajak komoditi yang berlawanan satu sama lain (khususnya untuk pajak pertambahan nilai) yakni prinsip pajak tujuan dan prinsip pajak sumber. Berkaitan dengan pengertian tersebut berikut illustrasi yang mungkin terjadi jika seseorang warga negara Amerika Serikat bekerja di Inggris. Seorang warga negara Amerika Serikat. Investor yang menerima pendapatan investasi dari luar negeri akan membayar pajak penghasilan atas pendapatan tersebut. meskipun menyebabkan menurunnya penerimaan negara bersangkutan. Secara umum prinsipnya adalah memperbolehkan pengenaan pajak atas pendapatan di negara sumber sedangkan negara asal warga bersangkutan akan memberikan kredit pajak.280 Bab 13: Pajak Internasional Pajak Komoditi Dengan menganalogikan pada pajak domisili dan pajak sumber pendapatan pada pajak penghasilan internasional. Pemerintah di negara sumber pendapatan lazimnya akan mengenakan withholding tax. yang bekerja selama enam bulan di Inggris dan kemudian kembali ke Amerika Serikat. yang selanjutnya akan dikreditkan terhadap pajak yang akan dibayarkan di negara asal investor. Menurut prinsip pajak tujuan. akan membayar pajak Inggris Raya atas pendapatan yang diperolehnya di Inggris. Menurut prinsip pajak sumber. segala barang maupun jasa yang bertujuan untuk konsumsi akhir pada suatu negara akan dikenakan pajak. misalnya sebesar 15 persen. Koordinasi pajak perorangan juga berlaku bagi investor perorangan yang menerima dividen. tanpa memperhatikan sumber ataupun asal produksi. KOORDINASI PAJAK PENGHASILAN Koordinasi Pajak Perorangan Setiap negara berhak untuk menarik pajak atas pendapatan warganya entah di mana pun pendapatan itu diperoleh. Demikian juga dengan pemberian kredit pajak oleh negara asal warga bersangkutan. Kondisi ini selaras dengan konsep keadilan antar negara yang menyatakan bahwa negara sumber pendapatan tidak boleh melakukan diskriminasi. baik barang atau jasa tersebut dibuat di dalam negeri ataupun barang import. pendapatan di Inggris juga . barang atau jasa yang dibeli oleh penduduk dikenakan pajak. Guna menentukan pajak yang akan di bayarnya di Amerika Serikat. tetapi bisa menerapkan tarifnya sendiri terhadap penghasilan orang asing. Jadi barang-barang impor akan dikenakan pajak sedangkan barang-barang ekspor dibebaskan dari pajak.

Penangguhan pajak hampir tidak menimbulkan perbedaan apa pun bagi perusahaan induk jika tarif pajak luar negeri lebih tinggi dari tarif pajak yang akan dikenakan di dalam negeri. laba perusahan induk dan kantor cabang akan dianggap sebagai satu unit. perusahaan yang mengoperasikan kantor cabang di luar negeri akan dikenakan pajak atas laba kantor cabang sesuai dengan peraturan pajak perseroan negara bersangkutan. Labanya akan dikenakan pajak laba perseroan negara asing dan pajak untuk negara asal akan ditangguhkan sampai laba perusahaan anak tersebut dikirimkan ke perusahan induk sebagai dividen. tetapi pajak yang telah dibayar di Inggris akan dikreditkan terhadap kewajiban pajaknya di Amerika Serikat. maka laba bisa digeser dari satu negara ke negara lain guna memanipulasi pajak agar diperoleh pajak yang terendah. secara hukum merupakan satuan perusahaan terpisah. akan menyebabkan perlunya ditentukan berapa besar laba yang timbul pada setiap negara. Pertama. Hal ini merupakan persoalan yang rumit. Sesuai dengan konsep keadilan antar negara. karena hal itu merupakan pajak seharusnya akan dibayar seandainya pendapatan tersebut diperoleh di Amerika Serikat. Koordinasi Pajak Laba Pada umumnya terdapat dua ketentuan dalam memperlakukan pendapatan investasi asing. sebuah perusahaan Amerika Serikat mengoperasikan sebuah perusahaan anak di Kanada. Jika kondisi sebaliknya terjadi (biasanya pada negara–negara yang sedang berkembang. Kedua. dimana mungkin tarif pajak sangat rendah). perusahaan anak yang didirikan di luar negeri (foreign incomporated subsidiary). Ketentuan mengenai penangguhan pajak didasarkan pada asumsi bahwa perusahaan anak di luar negeri benar-benar merupakan satuan usaha yang tepisah. Sebagai contoh. perusahaan anak akan condong menginvestasikan kembali labanya di negara domisili (yang disebut sebagai surga pajak). kelihatannya hal ini akan bertentangan dengan ketentuan mengenai pengkreditan yang mengganggap pajak perusahaan anak pada kenyataannya merupakan pajak perusahaan induk. Paling tidak itulah prosedurnya seandainya pajak yang dikenakan Inggris tidak melebihi pajak yang akan dikenakan Amerika Serikat atas pendapatan yang diperoleh di Inggris tersebut. Tetapi dengan cara apakah laba ini benar-benar bisa dipisahkan dari laba perusahaan induknya di Amerika Serikat? Jika terjadi transaksi jual beli yang terjadi antara perusahan induk dan perusahaan anak. Jika dikaitkan dengan perusahaan multinasional. implementasi dari aturan ini. Kesulitan akan . Kanada berhak menarik pajak perusahaan anak tersebut. Untuk pengenan pajak di negara asal.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 281 akan diperhitungkan. Jadi.

pertanyaannya apakah pajak bersangkutan mempengaruhi harga relatif antara barang produksi dalam negeri dan barang impor. Dalam menentukan apakah berbagai pajak yang ada berpengaruh atau tidak terhadap lokasi produksi. namun pelaksanaan pendekatan ini memerlukan pengaturan pajak internasional dan karena itu masih merupakan alternatif yang tak terjangkau. Akan tetapi. pajak tidak hanya mempengaruhi produksi barang substitusi tetapi juga lokasi produksi. konsumen akan mensubstitusikan kedua jenis barang itu satu sama lain . negara A akan memperoleh pendapatan riil yang lebih tinggi daripada jika ia memproduksi semua Y yang dibutuhkannya. negara A akan tetap memproduksi sebagian dari Y dan negara B memproduksi sebagian dari X yang dibutuhkannya. Laba sebagai dasar pengenaan pajak (profit base) dari perusahaan multinasional dapat dialokasikan di antara negara-negara tidak berdasarkan lokasi dari perusahaan anak. Hal ini akan semakin terasa jika kurs valuta asing bersifat fleksibel. Karena kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam menghitung laba yang terpisah bagi satuan satuan usaha yang terkait. Dengan mengekspor X dan mengimpor Y. maka pernah disarankan suatu cara yang berbeda sama sekali. maka pajak produk mengarahkan perhatian kita pada pengaruhnya terhadap aliran produk. KOORDINASI PAJAK PRODUK Jika pajak penghasilan mempengaruhi aliran atau perpindahan modal. Perdagangan internasional yang berlangsung secara bebas didasarkan pada argumen dasar bahwa semua negara yang berdagang akan mendapat manfaat jika masing-masing berspesalisasi pada produk dimana ia memiliki keunggulan komparatif. Jika pajak mempengaruhi harga. karena biaya produksi semakin meningkat untuk jumlah yang makin besar. hal sebaliknya berlaku untuk B. misalnya: persyaratan agar harga ditentukan berdasarkan transaksi yang wajar dengan pihak ketiga atau transaksi tanpa hubungan istimewa (arm’s-length-basis).282 Bab 13: Pajak Internasional berlipat ganda apabila serangkaian perusahaan anak beroperasi di berbagai negara. Pada gilirannya. nilai tambah dan penjualan. Negara asal tersebut bisa ditentukan dengan menggunakan rumus yang memperhitungkan lokasi. tetapi lebih berdasarkan negara asal laba yang diperoleh oleh group usaha tersebut secara keseluruhan. telah diupayakan berbagai aturan untuk menghambat penggeseran laba. Baik A maupun B akan lebih makmur daripada jika tidak ada perdagangan. Meskipun cukup menarik. Untuk mengantisipasi kondisi ini. Anggaplah negara A mempunyai keunggulan komparatif dalam menghasilkan produk X sementara negara B mengimpor X dan mengekspor Y.

Pertama-tama anggaplah bahwa negara B mengenakan pajak penjualan umum (misalnya PPN) sebesar 10 persen terhadap barang lokal dan barang impor. Pajak atau bea semacam itu akan melemahkan perdagangan yang efisien. misalnya X. dewasa ini telah banyak cara diupayakan untuk mengurangi perdagangan yang bersifat proteksionis. sebagai contoh pajak dalam bentuk bea masuk dan cukai.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 283 dan lokasi produksi yang mengenakan pajak akan berbeda dari lokasi produksi dengan pajak yang netral. Pajak ini akan menyebabkan perbedaan harga relatif antara produk domestik dan impor. Akibatnya. nilai mata uang A terhadap mata uang B akan naik. ekspor dari A juga akan menurun sampai tercapai suatu titik ekuilibrium pada tingkat perdagangan yang lebih rendah dan dengan kondisi komposisi produksi yang kurang efisien diantara negara A dan B. Ini tidak akan mempengaruhi perdagangan karena harga relatif antara produk dalam negeri dan produk impor tidak berubah. Karena merasa bahwa harga produk lokal. Jadi. Adapun jenis-jenis pajak yang dapat mempengaruhi lokasi produksi dapat dikategorikan sebagai (1) destination taxes dan (2) origin taxes. Yaitu jika terhadap impor dikenakan bea masuk. dalam negeri telah naik jika dibandingkan dengan harga produk impor X. kita bisa melihat bahwa distorsi atau penyimpangan bisa saja terjadi meskipun tidak ada upaya untuk mendiskriminasikan produk luar negeri. konsumen negara B akan memperbesar impor X. Dengan menurunnya impor. . Pajak konsumsi umum bisa mempengaruhi tingkat perdagangan tetapi lokasi untuk kedua produk itu (pada tingkat produksi yang baru) masih akan tetap sejalan dengan keunggulan komparatif. harga barang di negara B akan naik sejalan dengan pajak tersebut. sehingga produk dalam negeri akan mensubstitusi impor. Situasinya akan sangat jauh berbeda jika negara A mengenakan pajak hanya terhadap produk impor saja (melakukan diskriminasi). Misalkan negara A mengenakan pajak terhadap konsumsi secara umum atas semua produk yang diproduksi di dalam negeri maupun yang diimpor. Pajak Produksi Dalam mempermasalahkan pajak produksi atau pajak asal produk (origin taxes). Konsumen negara A akan merasakan hal sebaliknya. Pajak Konsumsi Pajak konsumsi atau pajak tujuan produk (destination taxes) tidak akan mempengaruhi lokasi produksi kecuali jika terdapat diskriminasi antara barang produksi dalam negeri dan barang impor.

misalnya atas produk Y yang diekspornya. Biaya impor bagi konsumen A menjadi naik dan karena itu impor Y dikurangi. Ini akan menghambat keinginan konsumen B untuk menambah impor X dan keinginan konsumen A untuk mengurangi impor Y. Artinya hal itu sejajar dengan pajak penjualan umum atas seluruh produk di negara B yang seperti telah kita lihat sebelumnya. Dengan menurunnya impor A atas barang Y (asumsi ekspor A atas barang X ke B tetap). Tindakan B akan membatalkan efek kenaikan harga barang impor di negara A sehingga tidak perlu mensubstitusinya dengan memproduksi di dalam negeri. kenaikan permintaan atas mata uang A dan penurunan permintaan atas mata uang B akan menyebabkan naiknya nilai mata uang A terhadap B. sehingga harga barang impor Y bagi konsumen negara A menjadi lebih mahal sehingga impor Y akan dikurangi. penurunan ekspor dan konsumsi produk Y di negara B lambat laun akan membuat negara tersebut memproduksi lebih banyak barang X daripada sebelumnya dan menjadi tidak efisien. Pada akhirnya. Sebaliknya. Konsumen B dalam hal ini akan melakukan substitusi dengan produk impor X dan penyesuaian selanjutnya akan terjadi. Situasinya akan berbeda jika pajak produksi negara B dikenakan hanya pada satu jenis produk saja. Jika kurs valuta asing bersifat fleksibel. maka pajak atas barang impor di negara A dapat diubah dari pajak produksi (origin taxes) menjadi pajak konsumsi (destination taxes). Titik ekuilibrium yang baru akan dicapai pada tingkat perdagangan yang lebih rendah dengan disertai perubahan distribusi lokasi produksi. Negara A kemudian memproduksi lebih banyak barang Y dan mengurangi produksi barang X. misalnya Y. Dengan dihapusnya pajak atas barang ekspor oleh negara B. Efek distorsi efisiensi perekonomian internasional juga akan terjadi jika negara B memajaki produk lokal X tetapi tidak terhadap produk impor X. Pada akhirnya. Sekali lagi konsumen A akan merasakan naiknya biaya (harga) Y dan akan mensubstitusinya dengan Y produksi dalam negeri. nilai mata uang A terhadap B akan naik. Karena itu.284 Bab 13: Pajak Internasional Eksportir negara B akan menambahkan pajak tersebut ke harga produknya. perbandingan harga antara ekspor dan impor tidak akan berubah dan nilai riil perdagangan tidak terpengaruh. Makin banyak X . tingkat perdagangan riil akan naik tetapi lokasi produksi akan mengalami distorsi. Pajak penjualan umum tidak mendistorsikan lokasi produksi sejauh dikenakan secara umum terhadap produk impor dan produk dalam negeri. pengenaan pajak ekspor di negara B menimbulkan efek distorsi yang mirip dengan efek distorsi yang timbul akibat dikenakannya bea masuk atas barang impor di negara A. Distorsi ini bisa dihindarkan seandainya negara B memberikan penghapusan pajak atas barang yang diekspornya.

(5) saat berlakunya atau entry into force. Perjanjian ini akan digunakan oleh penduduk dua negara untuk menentukan aspek perpajakan yang timbul dari suatu transaksi di antara mereka. (3) definisi penduduk atau residence.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 285 diproduksi di A atau makin banyak Y diproduksi di B daripada sebelumnya. Pasal-pasal ataupun ayat-ayat yang terdapat dalam sebuah tax treaty pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi empat bagian besar yaitu bagian yang mengungkapkan (1) cakupan tax treaty. (4) permanent establishment. Distorsi dalam hal ini bisa dihindarkan jika B juga mengenakan bea masuk atas X untuk mengkompensasi pajak produk lokal X. . bagian tentang (3) pencegahan penghindaran pajak dan bagian yang mencakup (4) ketentuan lainnya. sebuah treaty merupakan suatu kontrak yang mengikat suatu negara dengan negara lain dalam hal perlakuan perpajakan. Oleh karena itu. pasal-pasal dan ayat-ayat yang berkaitan dengan suatu aspek transaksi dan pihak tertentu. Pada dasarnya terdapat dua model treaty yang sering dijadikan acuan dalam menyusun suatu treaty yaitu model OECD dan model PBB. (2) jenis-jenis pajak atau tax covered. Sebagai suatu perjanjian. Penentuan aspek perpajakan tersebut dilakukan berdasarkan klausul-klausul yang terdapat dalam tax treaty yang bersangkutan sesuai dengan transaksi yang dihadapi. dan (6) saat berakhirnya atau termination. CAKUPAN TAX TREATY Cakupan perjanjian antar negara dalam hal penghindaran pajak berganda biasanya meliputi: (1) cakupan personal atau personal scope. TAX TREATY Tax Treaty atau perjanjian penghindaran pajak berganda merupakan suatu perjanjian perpajakan antara dua negara yang dibuat dalam rangka mengantisipasi pemajakan ganda dan berbagai usaha penghindaran pajak. bagian yang mengatur (2) minimalisasi pajak berganda. Setiap tax treaty mempunyai prinsip-prinsip dasar yang kurang lebih sama. di dalamnya selalu berisi klausul-klausul. sebagai bagian dari konvensi internasional dimana setiap negara yang terlibat dalam suatu tax treaty menyusun perjanjiannya masing-masing berdasarkan model-model perjanjian yang diakui secara internasional.

badan usaha dan entitas lainnya yang berdasarkan treaty tersebut dianggap sebagai penduduk dari salah satu negara yang terikat perjanjian. sehingga subyek pajak yang menjadi sasaran adalah mereka yang menjadi penduduk dari kedua negara tersebut (Rachmanto Surachmat. domisili. enterprise (badan usaha) dan lain lain. pengertian personal scope akan berkaitan dengan pengertian-pengertian tentang kedua klausul tersebut. tempat kedudukan manajemen atau sebab-sebab lain . yaitu tentang ketentuan yang menentukan tidak berlakunya status residence atas suatu pihak dengan karakteristik tertentu. Dalam pasal dan ayat ini akan diatur ketentuan tentang siapa saja yang merupakan orang pribadi. Dalam beberapa hal. badan atau entitas lainnya yang dianggap sebagai penduduk dengan status kependudukan ganda (double residence). Dengan kata lain. Tax Covered Klausul ini mengatur tentang jenis-jenis pajak yang perlakuannya menggunakan ketentuan tax treaty yang bersangkutan. Oleh karena itu. international traffic (lalu lintas internasional). diatur tentang definisi istilah-istilah umum yang berkaitan dengan definisi persons (orang atau badan). Jenis pajak yang diatur di sini akan mengikuti ketentuan sesuai dengan tax treaty dan mengabaikan ketentuan internal yang berlaku di masing-masing negara. ketentuan personal scope mengatur tentang kepada siapa sajaketentuan-ketentuan dalam suatu treaty yang bersangkutan bisa diterapkan. Residence Dalam kriteria ini akan diatur tentang dua hal yakni definisi penduduk (berkaitan dengan personal scope) serta tie breaker rule.286 Bab 13: Pajak Internasional Personal Scope Tax treaty adalah persetujuan yang ditandatangani oleh dua negara. termasuk di dalamnya orang pribadi. Atas pajak tidak langsung seperti Pajak Pertambahan Nilai atau pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah tidak diatur dalam tax treaty. Aturan dalam tax treaty hanya diberlakukan untuk jenis pajak langsung seperti Pajak Penghasilan (PPh). ketentuan suatu tax treaty memiliki suatu kekuatan yang berada di atas sistem perundang-undangan yang berlaku secara internal di dalam suatu negara. Kedua hal tersebut akan diatur dalam klausul lain yaitu dalam klausul tentang general definitions dan tentang residence. Dalam ketentuan umum (general definitions). 2001). Definisi penduduk adalah setiap orang pribadi atau badan yang berdasarkan ketentuan internal suatu negara – seperti keberadaan. national (negara atau kewarganegaraan). Biasanya di sini definisi mengenai penduduk maupun perihal kependudukan ganda tidak diartikan lebih lanjut.

2001). pasal residence selanjutnya mengatur langkah yang dapat digunakan untuk menghilangkan status kependudukan ganda yang sering disebut dengan tie breaker rule. Tie breaker rule dibedakan menjadi dua yaitu yang diterapkan untuk orang pribadi dan yang diterapkan untuk selain orang pribadi. Perundangan nasional dari banyak negara umumnya mengenakan pajak berdasarkan hubungannya dengan negara yang bersangkutan (Rachmanto Surachmat. artinya apabila dengan menggunakan ketentuan pertama masalah kependudukan ganda telah bisa dipecahkan. national (kewarganegaraan) serta mutual agreement (perjanjian antar otoritas perpajakan). Hal ini bisa terjadi karena setiap negara pada dasarnya berhak mengatur definisi penduduk sesuai dengan versinya masing-masing. Menyadari efek-efek negatif tersebut. Dengan kata lain. center of economic and social interests (pusat kepentingan ekonomi dan sosial). Di negara lain pun suatu pihak melakukan usaha. penduduk adalah subjek pajak dalam negeri suatu negara yang dikenai pajak sesuai dengan ketentuan perundang-undangan lokal yang berlaku di negara tersebut. maka langkah kedua dan seterusnya tidak perlu digunakan lagi. Sementara itu tie breaker rule untuk pihak selain orang pribadi hanya ada satu ketentuan yaitu tempat di mana manajemennya efektif berada. Apabila usaha di negara lain itu ternyata berhasil. yang sekaligus merupakan investasi di negara tersebut. Permanent Establishment Klausul ini mengatur tentang seberapa jauh jangkauan suatu negara dalam mengenakan pajak atas penghasilan yang bersumber dari negara tersebut. suatu usaha tidak hanya dilakukan di negara sendiri. Namun berkaitan dengan keinginan tersebut.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 287 yang mempunyai karakteristik yang sama – dapat dikenai pajak di negara tersebut. Langkah-langkah tersebut secara berurutan bersifat prioritas. pengenaan pajak tidak hanya mendasarkan pada alasan tempat tinggal. adalah hal yang logis jika otoritas pajak di negara tersebut ingin mengenakan pajak atas penghasilan yang diterima. tetapi juga karena keberadaan secara teratur di negara tersebut. orang pribadi atau badan dapat dianggap sebagai penduduk dari dua negara berdasarkan asas world wide income. Pada jaman sekarang. Dalam klausul ini juga menegaskan bahwa orang pibadi atau badan tidak dapat langsung dianggap sebagai penduduk suatu negara hanya karena mendapatkan penghasilan yang bersumber dari negara tersebut. Dalam prakteknya. Cerminan dari batas atau aturan . Artinya. tentunya harus ada batasan-batasan ataupun aturan yang jelas hingga bisnis yang dilakukan. tetap berjalan dengan baik. Tie breaker rule untuk orang pribadi terdiri dari penentuan permanent home (tempat tinggal tetap). habitual abode (tempat kebiasaan untuk tinggal).

Timbulnya BUT tipe ini ditandai dengan adanya aktivitas yang melebihi batas waktu tertentu (time test) yang dilakukan di negara lain. Pembentukan sebuah tax treaty yang dimulai dengan penandatanganan oleh kedua otoritas yang berwenang dan dilanjutkan dengan ratifikasi di kedua negara. § BUT Keagenan.288 Bab 13: Pajak Internasional tersebut adalah ketentuan tentang permanent establishment atau Bentuk Usaha Tetap (BUT). Time test ini disesuaikan dengan kesepakatan dari kedua negara. BUT tipe ini merupakan tipe yang paling mudah diketahui keberadaannya. tempat yang hanya dipergunakan untuk pembelian barang dagangan atau mengumpulkan informasi dan sebagainya. Tax treaty dapat berakhir setelah periode tertentu yang telah disepakati oleh kedua negara. pabrik. Saat berlakunya tax treaty sangat bergantung dari selesainya tahap-tahap pembentukannya. Setelah kedua negara selesai meratifikasi. Termination Klausul ini menjelaskan tentang saat berakhirnya sebuah tax treaty. Setelah pertukaran dokumen ratifikasi ini selesai dilakukan. tax treaty pun dapat diberlakukan. Timbulnya BUT Asuransi ditandai dengan keadaan dimana suatu perusahaan asuransi menerima premi atau menanggung risiko di negara lain. Aktivitas tersebut bisa berupa pelaksanaan berbagai macam jasa (seperti jasa konstruksi dan jasa jasa lainnya). Dalam klausul ini juga ditentukan kondisi-kondisi dimana BUT dianggap tidak muncul seperti dalam hal tempat yang hanya berfungsi untuk memajang barang-barang dagangan. Lamanya time test yang digunakan dapat berbeda beda antara satu tax treaty dengan tax treaty yang lain. BUT timbul karena adanya fasilitas fisik seperti gedung. § BUT Aktivitas. Salah satu negara dapat mengakhiri sebuah tax treaty dengan cara . selanjutnya dilakukan pertukaran dokumen-dokumen ratifikasi. BUT tipe keagenan timbul jika terdapat agen di negara lain yang memiliki wewenang untuk menentukan kontrak atau mengurus barang-barang dagang di negara lain. bengkel dan lain lain. Entry Into Force Klausul ini menjelaskan tentang saat berlakunya sebuah tax treaty. kantor perwakilan. Contoh-contoh dari BUT dapat dikategorikan menjadi empat macam yaitu: § BUT Fasilitas Fisik. § BUT Asuransi.

(10) director’s fee. (11) penghasilan artis dan olahragawan.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 289 mengadakan pemberitahuan terlebih dahulu yang harus dilakukan dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan yang telah disepakati. (5) pendapatan bunga. (6) royalti. Laba usaha milik penduduk suatu negara pada dasarnya hanya dapat dikenakan pajak di negara tersebut. (7) capital gains. Business Profits Klausul ini merupakan perluasan dari klausul permanent establishment yang mengatur tentang pengenaan pajak atas laba usaha milik penduduk suatu negara yang bersumber dari negara treaty partner (negara pasangan dalam tax treaty). Namun apabila penduduk suatu negara mendapatkan penghasilan di negara treaty partner melalui BUT-nya. (3) laba perusahaan transportasi. Perusahaan yang bergerak di bidang ini bisa memperoleh penghasilan dari beberapa . (9) penghasilan jasa terbatas. dan (13) gaji pegawai negeri sipil di luar negeri. maka laba usaha dari kegiatan itu hanya dikenai pajak di negara domisili (Rachmanto Surachmat. Bila kegiatan usaha yang dilakukan penduduk negara domisili di negara sumber tidak melalui BUT. sangat tergantung pada ada atau tidaknya BUT di suatu negara. Di dalamnya diatur bahwa negara tempat harta tak bergerak tersebut terletak juga dapat mengenakan pajak atas penghasilan dari harta tersebut. (2) laba usaha. maka negara treaty partner tersebut berhak mengenakan pajak atas penghasilan yang diterima melalui BUT itu. (4) dividen. 2001) Bisnis Transportasi Klausul ini menjelaskan tentang pemajakan atas penghasilan yang diterima oleh perusahaan pelayaran (termasuk pengangkutan di sungai dan danau) dan perusahaan penerbangan yang beroperasi di jalur internasional. (12) pendapatan pensiun. Penentuan dapat atau tidaknya negara treaty partner mengenakan pajak. MINIMALISASI PAJAK BERGANDA Klausul yang berisi ketentuan untuk meminimalisasi pajak berganda biasanya mencakup: (1) penghasilan barang-barang tak bergerak. Income from Immovable Property Klausul ini mengatur tentang pemajakan atas penghasilan yang berasal dari harta tak bergerak termasuk penghasilan yang bersumber dari pertanian atau sektor perhutanan. (8) penghasilan jasa bebas.

artikel royalti ini juga memberikan definisi royalti mengatur bahwa negara tempat di mana royalti berasal dapat pajak sesuai dengan tarif maksimal yang disepakati. royalti yang dividend dan di samping mengenakan . Alternatif kedua. sebagaimana namanya. klausul ini juga mengatur bahwa negara tempat penghasilan bunga berasal (treaty partner) juga dapat mengenakan pajak atas bunga tersebut. memberikan hak pemajakan kepada negara tempat di mana manajemen efektif berada. Royalties Klausul ini mengatur tentang pemajakan atas penghasilan diterima dari negara treaty partner. Dalam artikel ini juga menyatakan tentang tarif pajak maksimal yang dapat dikenakan di negara asal dividen tersebut yang dibedakan menjadi dua yaitu tarif untuk dividen portofolio (saham dengan kepentingan semata mata investasi) dan untuk dividen dari penyertaan langsung ( saham dengan kepentingan kontrol) Interest Klausul ini mengatur tentang pemajakan atas penghasilan bunga yang diterima dari negara treaty partner.290 Bab 13: Pajak Internasional negara. artikel bunga pun mengatur tentang tarif maksimal pemotongan pajak untuk negara tempat dividen berasal. Indonesia pun mengenakan pajak atas dividen baik yang diterima oleh wajib pajak dalam negeri maupun wajib pajak luar negeri. Tak berbeda dengan artikel dividen. Dividends Dividen merupakan penghasilan yang diterima oleh pemegang saham dari suatu perusahaan. Dalam klausul ini dinyatakan bahwa negara tempat dividen berasal juga berhak mengenakan pajak atas dividen tersebut. Tak berbeda dengan artikel bunga. Tak sedikit negara yang mengenakan pajak atas penghasilan berupa dividen ini. Jika setiap negara mengenakan pajak atas laba yang diterimanya maka perusahaan pelayaran dan penerbangan tersebut tentunya akan menanggung beban pajak yang terlalu besar. Klausul dividen. Dalam menghadapi permasalahan ini pada umumnya diatur dua alternatif pengenaan pajak. memang merupakan aturan mengenai pengenaan pajak atas penghasilan yang berupa dividen. sama dengan alternatif pertama dengan pengecualian untuk penghasilan dari pengoperasian kapal laut yang hak pemajakannya diberikan kepada kedua negara sekaligus. Selain memberikan definisi tentang bunga. Alternatif pertama.

jasa yang diberikan oleh orang pribadi yang dimaksud di sini merupakan jasa yang dilakukan untuk dan atas nama pihak lain yang memiliki hubungan kerja dengannya. Karena itu. Dalam bukunya. Dependent Personal Services Klausul ini mengatur tentang pemajakan atas penghasilan yang diterima oleh orang pribadi sehubungan dengan pemberian jasa yang dilakukannya di negara lain dalam suatu hubungan kerja. Termasuk dalam pengertian harta dalam artikel ini adalah harta berupa perumahan dalam suatu kawasan real estate. Hal ini diserahkan kepada undang undang pajak domestik masing-masing negara. Berbeda dari pemberian jasa oleh independent personal yang dilakukan untuk dan atas namanya sendiri. Ketentuan dalam tax treaty pada umumnya mengatur bahwa negara tempat harta tersebut terletak sebelum dipindahkan juga berhak untuk mengenakan pajak. Di sini diatur bahwa negara tempat orang pribadi tersebut bekerja dapat mengenakan pajak atas penghasilan yang diterimanya. pengacara) untuk dan atas namanya sendiri di negara treaty partner. tanpa membedakan apakah keuntungan itu diberlakukan sebagai gain dari usaha. persetujuan penghindaran pajak berganda tidak memerlukan aturan khusus yang membedakan capital gain dari business profit. yaitu negara yang berhak mengenakan pajak atas business profit (negara tempat perusahaan berdomisili). ada beberapa syarat kumulatif yang terlebih dahulu harus dipenuhi yaitu: (1) Orang pribadi yang bersangkutan berada di .Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 291 Capital Gains Klausul ini mengatur tentang penghasilan berupa keuntungan pemindahtanganan harta. Rachmanto Surachmat (2001) memaparkan bahwa hak mengenakan pajak atas keuntungan karena pemindahtanganan harta yang digunakan untuk berusaha harus diberikan kepada negara yang sama. Negara treaty partner tempat jasa tersebut dilakukan dapat mengenakan pajak sepanjang orang pribadi tersebut memiliki tempat tetap (fixed base) di sana atau berada di negara treaty partner melebihi batas waktu yang disepakati bersama. Aturan ini pada dasarnya sejalan dengan aturan permanent establishment dan business profits namun secara khusus ditujukan untuk orang pribadi yang memberikan jasajasa profesional (seperti dokter.. Independent Personal Services Klausul ini mengatur tentang pemajakan atas penghasilan yang diterima orang pribadi yang bersumber dari negara treaty partner sebagai imbalan dari jasa-jasa profesional yang diberikan di negara tersebut. Namun untuk mengenakan pajak tersebut.

contohnya agen). artis radio atau musisi. prinsip ini berbeda dengan prinsip pemajakan atas penghasilan orang pribadi yang lain sebagaimana diatur dalam klausul dependent dan independent personal services yang menggunakan syarat jangka waktu keberadaan sebagai alat menentukan aspek pemajakan. Prinsip pemajakan yang diatur dalam artikel ini adalah negara tempat penghasilan tersebut bersumber dapat mengenakan pajak atas penghasilan yang diterima oleh artis ataupun atlit. Menurut Rachmanto Surachmat (2001). apabila pekerjaan yang dilakukan tidak lagi murni sebagai seorang direktur maka pemajakan atas penghasilan tersebut tidak lagi mengikuti ketentuan dalam klausul ini. sebab seringkali penentuan di mana kegiatan pekerjaan dilakukan – dalam kedudukannya sebagai anggota dewan direksi – adalah sulit. Penentuan aspek pemajakannya disesuaikan dengan jenis kegiatan (pekerjaan) yang dilakukan oleh direktur tersebut. aspek pemajakannya mengacu pada klausul dependent personal services. dan (3) Penghasilan tersebut tidak dibebankan kepada BUT. Namun demikian. Termasuk dalam pengertian entertainer dalam artikel ini antara lain yaitu artis televisi. aspek pemajakannya dalam hal ini akan mengacu pada klausul independent personal services. (2) Penghasilan yang diterima oleh orang pribadi tersebut dibayarkan oleh pemberi kerja. Bila diperhatikan. Director’s Fees Klausul ini mengatur tentang pemajakan atas penghasilan yang diterima oleh direktur yang bekerja pada perusahaan yang berada di negara lain (merupakan penduduk di negara tersebut). karena itu yang diberikan hak pemajakan adalah negara di mana pihak yang membayarkan gaji berkedudukan. Jika direktur tersebut melakukan tugas-tugas manajerial misalnya. Fungsi sebagai direktur bisa saja dilakukan di negara dimana ia berdomisili. Prinsip ini juga berlaku meskipun penghasilan tersebut tidak langsung dibayarkan kepada sang artis/atlit (dibayarkan kepada pihak lain. Namun apabila direktur tersebut bekerja sebagai konsultan pada perusahaan. hal ini untuk menyederhanakan pengenaan pajaknya.292 Bab 13: Pajak Internasional negara lain melebihi time test yang telah disepakati. Dalam klausul ini dinyatakan bahwa penghasilan yang diterima oleh direktur dalam kapasitasnya yang murni sebagai seorang direktur dapat dikenai pajak di negara domisili perusahaanya tanpa memandang jangka waktu keberadannya di sana. Artists and Sportsmen Klausul ini mengatur tentang pemajakan atas penghasilan yang diterima oleh artis (entertainer) dan olahragawan (sportsmen) dari negara lain. Sedangkan termasuk .

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 293 dalam olahragawan antara lain adalah pemain sepakbola. Harga yang wajar adalah harga yang terjadi antara dua pihak yang tidak mempunyai hubungan istimewa. Transaksi Internal Klausul ini mengatur tentang perlakuan perpajakan atas pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa. Klausul tentang pencegahan penghindaran pajak mencakup: (1) transaksi internal dan kesepakatan (2) pertukaran informasi. penghasilan berupa pensiun dikenai pajak di negara tempat di mana pekerjaan itu dilakukan. Namun demikian. Dalam kondisi demikian. pemain catur atau pemain bridge. akan ada kecenderungan di mana harga transaksi yang disepakati bukan merupakan harga yang wajar. Salah satu efek dari adanya harga yang tidak wajar itu adalah terjadinya pergeseran laba dari suatu negara kepada negara yang lainnya. pemain tenis. pemain golf. Apabila terjadi transaksi antara pihak-pihak di kedua negara yang memiliki hubungan istimewa. Pensions Klausul ini mengatur tentang penghasilan yang diterima oleh pensiunan swasta. PENCEGAHAN PENGHINDARAN PAJAKPE Penghindaran pajak menyebabkan salah satu negara mengalami kerugian akibat tidak diterimanya pajak seperti yang seharusnya. kepada negara yang bersangkutan . Namun sebagian besar tax treaty mengatur bahwa penghasilan tersebut dikenai pajak di negara di mana yang bersangkutan menjadi penduduk pada saat pensiun Government Services Klausul ini mengatur tentang perlakuan perpajakan atas penghasilan yang diterima oleh para pegawai negeri. Hal ini dipandang sebagai suatu usaha untuk menghindari pajak dari suatu negara. Pada prinsipnya. apabila pegawai negeri atau pensiunan tersebut merupakan warga negara dari salah satu negara dan sudah sejak awal menjadi penduduk di negara tersebut maka penghasilan yang diterimanya hanya dikenakan pajak di sana. hak pemajakan atas penghasilan yang diterima oleh para pegawai negeri diberikan kepada negara di mana ia bekerja. Pada umumnya. Hal yang sama juga berlaku atas penghasilan yang diterima oleh pensiunan pegawai negeri.

294

Bab 13: Pajak Internasional

diberikan hak untuk mengadakan penyesuaian penyesuaian sehubungan dengan pergeseran laba tersebut.

Exchange of Information
Klausul ini mengatur tentang perjanjian pertukaran informasi antar otoritas pajak di kedua negara yang terkait dalam suatu tax treaty. Dengan adanya pertukaran informasi, dapat dikatakan bahwa klausul ini merupakan salah satu senjata dalam menanggulangi praktek-praktek penyelundupan atau penggelapan pajak. Pertukaran informasi dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu pertukaran informasi secara rutin dan pertukaran informasi berdasarkan permintaan.

KETENTUAN LAIN-LAIN
Adapun ketentuan-ketentuan lainnya yang biasa muncul dalam tax treaty meliputi: (1) perlakuan tanpa diskriminasi, (2) prosedur penyelesaian perselisihan, dan (3) pajak atas utusan diplomatik.

Non Discrimination
Klausul ini mengatur tentang persamaan perlakuan perpajakan yang diberikan oleh suatu negara kepada warga negara dan kepada bukan warga negara. Secara khusus Rachmato Surachmat (2001) dalam bukunya menyatakan bahwa klausul ini adalah aturan dalam hukum internasional yang memberikan perlindungan dari diskriminasi. Suatu negara yang terikat tax treaty memiliki kewajiban untuk memberikan perlakuan perpajakan yang sama untuk warga negaranya. Perlakuan perpajakan yang sama ini mengandung arti bahwa dalam suatu kondisi yang sama, pihak yang bukan warga negara dari suatu negara tidak boleh menanggung kewajiban pajak yang lebih berat daripada yang ditanggung oleh warga negara dari negara tersebut. Perlakuan yang sama juga harus diberikan kepada mereka yang bukan merupakan warga negara dari kedua negara yang terikat perjanjian.

Prosedur Penyelesaian Perselisihan
Klausul ini mengatur tentang prosedur yang digunakan oleh kedua negara untuk berkomunikasi dalam menyelesaikan berbagai perbedaan pandangan antara pembayar pajak dengan otoritas pajak mengenai perpajakan tertentu. Klausul ini dapat dipandang sebagai semacam sarana bagi para pembayar pajak untuk “protes” atas suatu perlakuan perpajakan yang tidak disetujuinya.

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi

295

Melalui ketentuan dalam klausul ini, otoritas perpajakan pun memiliki sarana untuk memecahkan kesulitan yang timbul sebagai akibat dari perbedaan interpretasi atas suatu ketentuan dalam sebuah tax treaty. Namun demikian perlu diingat bahwa mutual agreement procedure tidak mencakup seluruh klausul yang terdapat dalam sebuah tax treaty. Klausul-klausul yang dapat menikmati ketentuan dalam mutual agreement procedure antara lain adalah business profits, related persons dan royalty.

Member of Diplomatic Missions and Consular Posts
Klausul ini mengatur tentang perlakuan perpajakan yang diberikan kepada anggota dari suatu misi diplomatik dan konsulat. Menurut Rachmato Surachmat (2001), maksud dari klausul ini adalah untuk menjamin bahwa para diplomat, berdasarkan tax treaty, tidak memperoleh perlakuan yang kurang menguntungkan dibandingkan dengan perlakuan yang diberikan berdasarkan hukum internasional. Dalam kesepakatan internasional, setiap penghasilan yang diterima oleh anggota suatu korps diplomatik atau konsulat, ditetapkan hanya dikenai pajak di negara di mana mereka berasal. Ketentuan dalam klausul ini pun mengatur hal yang sama. Jadi, meskipun anggota korps diplomatik atau konsulat mendapatkan penghasilan yang bersumber dari negara di mana mereka bertugas, negara tersebut tidak dapat mengenakan pajak atasnya.

TAX TREATY MENGALAHKAN UU PPh
Bisa disimpulkan bahwa tax treaty muncul karena dua sebab yang mendasar. Pertama, keinginan untuk menghindari pemajakan berganda yang bisa menimbulkan distorsi ekonomi, yang berakibat buruk bagi investasi. Kedua, tax treaty juga dimaksudkan untuk mencegah usaha-usaha penghindaran pajak yang dapat berpengaruh terhadap penerimaan pajak suatu negara. Mengingat sifat perjanjiannya yang bilateral, antara dua negara, tax treaty mengalahkan UU PPh yang berlaku di masing masing negara treaty partner. Setiap tax treaty antara suatu negara dan negara lainnya adalah suatu perjanjian yang bersifat spesifik hanya mengikat negara-negara yang terlibat dalam perjanjian tersebut. Namun demikian, secara umum setiap tax treaty mengikuti prinsipprinsip dasar dari model model tax treaty yang ada seperti model OECD atau model PBB, yang dijadikan sebagai acuan pada saat pembuatannya. Memahami prinsip prinsip dasar tersebut akan memudahkan setiap pihak dalam memahami berbagai tax treaty yang ada, antara berbagai negara pada

296

Bab 13: Pajak Internasional

umumnya dan antara Indonesia dengan negara negara lain pada khususnya. Yang perlu diperhatikan adalah, dalam tax treaty pada umumnya sudah disepakati bahwa setiap negara treaty partner berhak menentukan prosedur dan tata cara untuk membuktikan bahwa suatu pihak benar-benar berdomisili atau berkedudukan dan berstatus sebagai pembayar pajak di negara treaty partner. Bukti dimaksud seringkali disebut Surat Keterangan Domisili (SKD) atau Certificate of Residence Taxpayer (CRT) yang diterbitkan oleh competent authority atau pejabat yang berwenang yang ditunjuk oleh suatu negara treaty partner. Surat keterangan yang diterbitkan oleh Kantor Pelayanan Pajak (KPP) atau instansi sejenis di negara treaty Partner juga bisa dipersamakan dengan SKD/CRT. Dengan memiliki SKD/CRT, maka suatu pihak berhak untuk menerapkan suatu ketentuan tax treaty dengan negara di mana yang bersangkutan berkedudukan atau berdomisili. Jika tidak memiliki SKD/CRT, maka pengenaan pajaknya kembali pada undang-undang yang berlaku di negara masing-masing. Sebagai contoh, jika wajib pajak luar negeri yang berkedudukan di Inggris, maka wajib pajak luar negeri tersebut hanya dapat menerapkan ketentuan tax treaty Indonesia – Inggris apabila memiliki SKD/CRT dari competent authority yang ditunjuk negara Inggris. Jika tidak, maka penghasilan wajib pajak luar negeri yang bersumber dari Indonesia langsung dikenakan PPh Pasal 26 dengan tarif 26% dari penghasilan bruto.

KOORDINASI PENGELUARAN
Di antara sejumlah negara, sebagaimana halnya dengan pemerintah daerah, terdapat kepentingan bersama yang mendorong mereka untuk bekerja sama dalam proyek patungan. Ini bisa saja menyangkut pembangunan jalan di perbatasan dua negara, usaha pertahanan bersama seperti NATO, usaha bersama dalam memerangi penyakit, jaringan narkotik, dan pasar bersama. Semua ini menyebabkan perlunya pembagian beban biaya yang harus dipikul. Jika jumlah anggota kelompok atau pesertanya kecil, pembagian beban biaya bisa dirundingkan dengan membandingkan manfaat yang akan diperoleh setiap pihak. Khusus mengenai pertahanan, kerja sama akan lebih menguntungkan negara sekutu yang kecil karena peningkatan pertahanan yang kecil sekalipun oleh negara sekutu yang besar akan merupakan tambahan perlindungan yang sangat berarti bagi sekutu kecil tersebut. Jika anggotanya sangat banyak, maka masalahnya akan mirip dengan masalah penentuan anggaran antar perorangan. Jika tarif perkiraan (assesment rate) yang proposional digunakan, setiap negara mungkin akan diharuskan untuk membayar dalam persentase GNP atau persentase pendapatan nasional yang sama. Jika perhitungan progresif

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi

297

digunakan, akan timbul pertanyaan apakah kelompok tarif tersebut hanya dikaitkan dengan pendapatan per kapita dari penduduk di berbagai negara (dimana penduduk dianggap sebagai patokan dasar). Kedua macam pertimbangan di atas diperhitungkan dalam menentukan kontribusi bagi anggaran Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pembagian beban biaya ditentukan melalui pemungutan suara setiap tahun dan direvisi berkali-kali. Prosedurnya adalah: biaya total dibagi diantara negara anggota sesuai perbandingan kontribusi dasar atau GNP. Ini akan menimbulkan pajak proporsional dalam kaitannya dengan GNP, terlepas dari pendapatan per kapita. Selanjutnya prinsip ini dimatangkan lagi dengan menambah sejumlah ketentuan seperti pembebasan beban bagi negara miskin, ketentuan kontribusi minimum, dan pembatasan jumlah yang harus dikontribusikan oleh suatu negara, dengan bagian tertinggi (sekarang 25 persen) disumbangkan oleh Amerika Serikat. Organisasi-organisasi lain menerapkan pola yang berbeda. Kontribusi bagi dana moneter internasional (IMF) tidak ditentukan berdasarkan manfaat yang diperoleh, melainkan dengan hak penarikan (drawing rights) yang ditetapkan sesuai dengan kemungkinan diperlukan kredit-kredit IMF. Prosedur yang kirakira sama diikuti dalam pemesanan modal saham International Bank for Reconstruction and Development (IBRD). Harus dicatat bahwa semua kontribusi ini relatif kecil jumlahnya sehingga pengecualian atau penyimpanan bagi negara tertentu tidak begitu berpengaruh. Kontribusi untuk NATO, yang melibatkan jumlah yang besar, tidak ditentukan dengan suatu dasar perumusan yang ditetapkan tetapi pada hakikatnya tergantung pada negosiasi. Amerika Serikat merupakan penanggung terbesar atas biaya NATO. Suatu nilai kontribusi yang mungkin melebihi bagian yang seharusnya ditanggungnya seandainya hal itu ditentukan berdasarkan persentase GNP.

KOORDINASI STABILISASI
Dengan makin meningkatnya saling ketergantungan dunia, maka nasib suatu negara ditentukan juga oleh apa yang terjadi di negara lain. Suatu negara tidak mungkin lagi bertindak sendiri untuk mengendalikan persoalan yang dihadapinya. Kerja sama internasional diperlukan dalam bidang kebijaksanaan stabilisasi. Hal ini khususnya berlaku untuk negara-negara dengan perekonomian yang terkait erat seperti pasar bersama, tetapi juga berlaku bagi negara dengan perdagangan luar negeri yang terkecil seperti Amerika Serikat. Koordinasi khususnya diperlukan karena saling ketergantungan tidak hanya menyangkut perdagangan tetapi juga aliran atau perpindahan modal.

298

Bab 13: Pajak Internasional

Perdagangan
Dengan asumsi bahwa keadaan kurs valuta asing yang bersifat tetap, menurunnya pendapatan dan kesempatan kerja di negara A akan menyebabkan impornya akan menurun sehingga menyebarkan kelesuan perekonomian atau malaise tersebut ke negara B yang menghadapi penurunan ekspor. Jika A mengambil kebijakan ekspansionir, pendapatannya naik dan begitu juga halnya dengan impornya. Timbulnya impor akan memperkecil faktor pengganda (multiplier) dan karena itu kebijakan A menjadi kurang efektif, hal itu juga turut memulihkan keadaan negara B karena ekspornya jadi meningkat. Karena itu, kebijakan suatu negara akan berpengaruh terhadap negara lain sehingga diperlukan koordinasi kebijakan untuk menampung kebutuhan kedua negara. Pengaruh kebijakan ekspansioner dari negara A terhadap perdagangan akan diperlemah jika kurs valuta asing bersifat fleksibel. Dengan naiknya impor A, nilai mata uangnya akan turun. Karena itu, biaya impornya menjadi tinggi sehingga membatasi atau memperkecil defisit perdagangan negara A dan ekspor negara B. Dengan demikian kurs valuta asing yang fleksibel cenderung mengurangi saling ketergantungan. Hal yang sama berlaku juga untuk keadaan inflasi, dengan kurs yang tetap, kebijakan inflasioner negara akan memperlemah (mendefisitkan) neraca perdagangannya dan menimbulkan besarnya permintaan ke negara B. Dengan kurs yang fleksibel, pengalihan permintaan ke negara B ini tidak akan begitu saja terjadi karena adanya penurunan nilai mata uang A. Sekali lagi, kurs yang fleksibel akan mengurangi gejolak perdagangan. Akan tetapi gambaran ini telalu disederhanakan. Penyesuaian kurs tidak berlangsung dalam sekejap dan perubahan kurs secara diskresioner dapat menjadi faktor pengganggu pengendalian atas kurs itu sendiri merupakan alat kebijakan yang memerlukan kerja sama lebih lanjut.

Aliran Modal
Pengaruh kebijakan yang ekspansioner atau restriktif terhadap perdagangan bisa dikatakan sama, entah itu kebijakan fiskal atau moneter. Akan tetapi, bauran kebijakan stabilisasi akan menjadi masalah besar jika dikaitkan dengan aliran modal. Aliran modal dipengaruhi oleh tingkat pengembalian yang dihasilkan di berbagai negara. Perpaduan kebijakan fiskal yang longgar dengan kebijakan moneter yang ketat akan menghasilkan suku bunga yang tinggi sehingga mengundang masuknya modal asing, dan begitu juga sebaliknya.

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi

299

Peranan aliran modal menjadi penting jika kita mempertimbangkan pengaruh kebijakan stabilitasi terhadap pertumbuhan ekonomi. Banyak hal tergantung pada bagaimana bentuk dari surplus impor yang ditimbulkan tersebut. Jika surplus impor tersebut berupa investasi riil, akan terjadi peningkatan modal di negara bersangkutan yang akan tercermin pada kenaikan produktivitas tenaga kerjanya. Pendapatan modal di masa mendatang akan dikirimkan ke luar negeri, sehingga keuntungan bagi negara tempat penanaman modal tersebut adalah berupa kenaikan produktivitas tenaga kerja dan produktivitas faktor-faktor domestik lainnya.

RANGKUMAN
§ Adam Smith atau David Ricardo berpendapat bahwa negara akan lebih baik apabila melakukan spesialisasi produksi barang berdasarkan keuntungan komparatifnya, mengekspor barang tersebut dan mengimpor barang dari negara lain yang bisa memproduksi barang lain dengan lebih efisien. Asumsi dalam teori tersebut adalah: (1) Faktor produksi seperti tenaga kerja, modal, tanah dan mesin tidak mudah berpindah, sedangkan barang yang dihasilkan bisa dipindahkan dengan mudah; (2) yang dipertukarkan adalah barang komoditi, bukannya barang yang terdiferensiasi; dan (3) daya saing suatu negara sudah ditentukan, tergantung sumber daya yang dipunyai. Faktor lain seperti ketidakpastian, skala ekonomi, teknologi tidak dipertimbangkan. Perusahaan multinasional tumbuh dengan menyalahi doktrin keunggulan komparatif. Perjanjian pajak internasional merupakan suatu media yang dapat mengkoordinasikan masalah-masalah penghasilan perorangan dan perseroan lintas negara. Beberapa asas yang perlu diperhatikan dalam koordinasi pajak internasional: (1) keadilan antar perorangan; (2) keadilan antar negara; dan (3) efisiensi Berbagai struktur sistem pajak negara mempunyai dampak yang sangat penting terhadap arah dan aliran baik barang maupun modal secara internasional. Pada dasarnya terdapat dua pendekatan dalam pajak internasional yang lazim dipergunakan yakni (1) pajak penghasilan internasional dan (2) pajak komoditi. Dua prinsip dalam pajak penghasilan internasional adalah (a) prinsip pajak berdasarkan asas domisili dan (b) prinsip pajak berdasarkan asas sumber pendapatan. Dua prinsip pajak komoditi yang berlawanan satu sama lain (khususnya untuk pajak pertambahan nilai) yakni (1) prinsip pajak tujuan dan (2) prinsip pajak sumber.

§

§

300 §

Bab 13: Pajak Internasional

§

§

§

Perhitungan pajak di negara asal, laba perusahan induk dan kantor cabang akan dianggap sebagai satu unit. Laba perusahaan anak akan dikenakan pajak laba perseroan negara asing sehingga porsi pajak untuk negara asal akan ditangguhkan sampai laba dikirimkan sebagai dividen. Penangguhan pajak hampir tidak menimbulkan masalah jika tarif pajak luar negeri lebih tinggi dari tarif pajak yang akan dikenakan di dalam negeri. Kondisi sebaliknya mendorong perusahaan anak menginvestasikan kembali labanya di negara domisili. Transaksi antara perusahaan induk dan perusahaan anak dapat menyebabkan pergeseran laba. Pajak bersama-sama kurs valas yang fleksibel mempengaruhi harga pokok produk. Harga pokok produk yang bervariasi pada gilirannya akan mempengaruhi pemilihan lokasi produksi. Pajak juga mempengaruhi preferensi masyarakat akan barang substitusi. Pajak konsumsi atau pajak tujuan produk (destination taxes) tidak mempengaruhi lokasi produksi kecuali jika terdapat diskriminasi antara barang lokal dan barang impor. Pajak konsumsi spesifik akan melemahkan perdagangan internasional yang efisien. Pengenaan pajak ekspor di suatu negara menimbulkan efek distorsi yang mirip dengan bea masuk atas barang impor. Pengenaan pajak atas produk lokal tetapi tidak terhadap produk impor akan mereposisi lokasi produksi. Tax treaty merupakan suatu perjanjian perpajakan antara dua negara yang dibuat dalam rangka (1) mengantisipasi pemajakan ganda dan (2) berbagai usaha penghindaran pajak. Sebagai suatu perjanjian, treaty adalah suatu kontrak yang mengikat suatu negara dengan negara lain dalam hal perlakuan perpajakan. Personal scope mengatur tentang kepada siapa saja ketentuan-ketentuan dalam suatu treaty yang bersangkutan bisa diterapkan. Tax covered mengatur tentang jenis-jenis pajak yang perlakuannya menggunakan ketentuan tax treaty. Tie breaker rule, yaitu tentang ketentuan yang menentukan tidak berlakunya status residence atas suatu pihak dengan karakteristik tertentu. Bentuk BUT: (1) BUT fasilitas fisik timbul karena adanya fasilitas fisik seperti gedung, kantor perwakilan, pabrik, bengkel dan lain-lain; (2) BUT aktivitas ditandai dengan adanya aktivitas yang melebihi batas waktu tertentu (time test) yang dilakukan di negara lain. Aktivitas tersebut bisa berupa pelaksanaan berbagai macam jasa (seperti jasa konstruksi dan jasa jasa lainnya). Lamanya time test disesuaikan dengan kesepakatan dari kedua negara; (3) BUT asuransi ditandai dengan keadaan dimana suatu perusahaan asuransi menerima premi atau menanggung risiko di negara lain; dan (4) BUT keagenan timbul jika terdapat agen di negara lain yang

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi

301

§

§

§

§

memiliki wewenang menentukan kontrak atau mengurus barang-barang dagang di negara lain. Pembentukan sebuah tax treaty yang dimulai dengan penandatanganan oleh kedua otoritas yang berwenang dan dilanjutkan dengan ratifikasi di kedua negara. Setelah kedua negara selesai meratifikasi, selanjutnya dilakukan pertukaran dokumen-dokumen ratifikasi. Setelah pertukaran dokumen ratifikasi ini selesai dilakukan maka tax treaty pun dapat diberlakukan. Tax treaty dapat berakhir setelah periode tertentu yang telah disepakati oleh kedua negara. Salah satu negara dapat mengakhiri sebuah tax treaty dengan cara mengadakan pemberitahuan terlebih dahulu yang harus dilakukan dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan yang telah disepakati. Cakupan minimalisasi pajak berganda: (1) penghasilan barang-barang tak bergerak, (2) laba usaha, (3) laba perusahaan transportasi, (4) dividen, (5) pendapatan bunga, (6) royalti, (7) capital gains, (8) penghasilan jasa bebas, (9) penghasilan jasa terbatas, (10) director’s fee, (11) penghasilan artis dan olahragawan, (12) pendapatan pensiun, dan (13) gaji pegawai negeri sipil di luar negeri. Transaksi internal terjadi apabila terdapat transaksi antara pihak-pihak di kedua negara yang memiliki hubungan istimewa, dimana akan ada kecenderungan harga transaksi yang disepakati bukan merupakan harga yang wajar. Pertukaran informasi antar negara dapat menjadi salah satu senjata dalam menanggulangi praktek-praktek penyelundupan atau penggelapan pajak. Perlakuan perpajakan yang non discrimination mengandung arti bahwa dalam suatu kondisi yang sama, pihak yang bukan warga negara dari suatu negara tidak boleh menanggung kewajiban pajak yang lebih berat daripada yang ditanggung oleh warga negara dari negara tersebut. Mutual agreement procedure sebagai sarana untuk memecahkan kesulitan yang timbul sebagai akibat dari perbedaan interpretasi atas suatu ketentuan dalam sebuah tax treaty. Dalam kesepakatan internasional, setiap penghasilan yang diterima oleh anggota suatu korps diplomatik atau konsulat, ditetapkan hanya dikenai pajak di negara di mana mereka berasal. Mengingat sifat perjanjiannya yang bilateral, antara dua negara, tax treaty mengalahkan UU PPh yang berlaku di masing masing negara treaty partner. Setiap tax treaty antara suatu negara dan negara lainnya adalah suatu perjanjian yang bersifat spesifik hanya mengikat negaranegara yang terlibat dalam perjanjian tersebut. Di antara sejumlah negara terdapat kepentingan bersama yang mendorong mereka untuk bekerja sama dalam proyek patungan. Ini menyebabkan

302

Bab 13: Pajak Internasional

§

perlunya pembagian beban biaya yang harus dipikul. Kontribusi sesuai dengan GNP, drawing rights, dan negosiasi. Nasib suatu negara ditentukan juga oleh apa yang terjadi di negara lain. Kerja sama internasional diperlukan dalam bidang kebijaksanaan stabilisasi. Koordinasi khususnya diperlukan menyangkut perdagangan dan perpindahan modal. Menurunnya pendapatan dan kesempatan kerja di suatu negara, akan menyebabkan impornya akan menurun sehingga menyebarkan kelesuan perekonomian atau malaise tersebut ke negara lain yang menghadapi penurunan ekspor. Kurs valuta asing yang fleksibel cenderung mengurangi saling ketergantungan antar negara. Aliran modal dipengaruhi oleh tingkat pengembalian yang dihasilkan di berbagai negara. Perpaduan kebijakan fiskal yang longgar dengan kebijakan moneter yang ketat akan menghasilkan suku bunga yang tinggi sehingga mengundang masuknya modal asing, dan begitu juga sebaliknya. Keuntungan bagi negara tempat penanaman modal tersebut adalah berupa kenaikan produktivitas tenaga kerja dan produktivitas faktor-faktor domestik lainnya.

LATIHAN
1) 2) 3) 4) Apa yang dimaksud dengan doktrin keunggulan komparatif ? Mengapa dikatakan perusahaan multinasional tumbuh dengan menyalahi doktrin keunggulan komparatif? Apa saja hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penerapan koordinasi pajak internasional! Jika seorang warga negara asing melakukan investasi di Indonesia, bagaimana pengenaan pajak yang dapat diberlakukan terhadapnya menurut asas keadilan antar perorangan? Jelaskan bagaimana terjadinya pergeseran beban pajak antar negara dalam hal pajak produk untuk eksport dan import! Jelaskan prinsip pajak berdasarkan : a) Asas Domisili

5) 6)

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi

303

7) 8) 9)

10) 11)

12) 13) 14)

b) Asas Sumber Pendapatan Jelaskan prinsip-prinsip pajak yang mendasari pengenaan pajak komoditi! Jelaskan secara singkat aspek efisiensi koordinasi pajak produk! Jelaskan apa yang dimaksud dengan : a) Destination Taxes b) Origin Taxes Jelaskan pengaruh pengenaan pajak produksi umum suatu negara dalam ekspor, impor, dan kurs valuta asing negara tersebut! Jelaskan mengapa dikatakan kurs valuta asing yang fleksibel cenderung mengurangi saling ketergantungan dan gejolak perdagangan di antara dua negara yang bekerja sama! Apa yang anda ketahui tentang Tax Treaty dan cakupannya? Jelaskan konsep Tie Breaker Rule untuk orang pribadi dan pihak ketiga! Diskusikan mengapa dikatakan Tax Treaty mengalahkan UU PPh?

KEBIJAKAN DAN STRUKTUR BELANJA PUBLIK

Bab ini akan membahas struktur belanja publik dan permasalahan kebijakan dalam penyusunan program belanja. Sebagai penyelenggara negara, salah satu fungsi pemerintah adalah menjadi penyedia barang dan jasa pada sektor tertentu dan menjadi fasilitator dalam hal penyelenggaraan barang dan jasa lain yang diadakan oleh sektor swasta. Khusus dalam penyediaan public goods atau barang publik1, pemerintah dapat berperan baik sebagai penyedia maupun sebagai regulator ketika barang publik ini diadakan oleh swasta. Adapun barang publik yang dimaksud di sini adalah jalan raya, pelabuhan (baik laut maupun udara), listrik, telekomunikasi, pembuangan sampah, limbah dan lain sebagainya.
1

Keterangan mengenai barang publik dapat dibaca di bab-bab awal

306

Bab 14: Kebijakan dan Struktur Belanja Publik

Dalam prakteknya, tidak ada rumus yang pasti mengenai bentuk maupun ukuran besarnya sektor publik. Namun demikian, ada beberapa prinsip umum yang dapat dijadikan alasan penyelenggaraan sektor umum ini oleh negara, misalnya kegagalan pasar dimana pasar tidak dapat mengalokasikan sumber daya secara efisien dan aspek distribusi ke seluruh pelosok negara. Secara umum dapat dikatakan bahwa perencanaan dan penerapan prioritas pengeluaran publik serta perpaduan yang serasi antara sektor publik dan swasta, memerlukan penjajakan yang terinci dan sangat tergantung dari keadaan masing-masing negara. Dalam setiap sektor, cara terbaik dengan menganalisa kebutuhan-kebutuhan yang saling bersaing dalam masing-masing program. Tujuan negara, potensi trade-off, dan indikator ekonomi dan sosial seperti berapa kilometer jalan yang harus dibangun, akses ke air bersih dan sanitasi, angka masuk sekolah, angka kematian bayi dan angka harapan hidup dapat digunakan untuk menentukan prioritas kebutuhan-kebutuhan di berbagai sektor. Di bawah ini akan dibahas hal-hal yang menjadi dasar kebijakan belanja publik serta hal-hal yang berpengaruh terhadap struktur belanja publik.

KONSEP WELFARE STATE
Kebijakan yang dibuat oleh pemerintah suatu negara hampir bisa dipastikan mempunyai landasan filosofis yang dapat ditarik ke akar ideologisnya. Kebijakan keuangan publik pun tidak terkecuali. Kebijakan pengeluaran publik sangat dipengaruhi oleh bagaimana suatu negara memandang dirinya dalam hubungannya dengan rakyatnya, terutama dalam konsep kesejahteraan atau welfare. Konsep welfare state ini dipahami secara berbeda oleh berbagai negara, yang menghasilkan pola pengeluaran publik yang berbeda pula. Esping-Andersen mengkategorikan tiga jenis pokok dari welfare regime, yaitu: § Corporatist regimes, berorientasi kerja dan diatur berdasarkan kontribusi individual. § Social democratic regimes, mengacu pada nilai-nilai dan prinsipprinsip universal. § Liberal regimes, cenderung bersifat residualis. Sistem residual cenderung tidak melembagakan jaminan sosial. Namun demikian, dalam hal terjadinya kemiskinan dan ketidakmampuan membayar jasa kesehatan, maka negara pembayaran jasa kesehatan ini ditanggung oleh negara melalui program jaring pangaman sosial.

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi

307

Sebagai contoh, kita akan melihat bagaimana konsep ini diterapkan pada berbagai negara.

Inggris
Briggs (1961) dalam literaturnya yang terkenal mengenai belanja publik berkaitan dengan kesejahteraan, mengidentifikasikan tiga hal pokok dalam belanja publik yang berkaitan dengan kesejahteraan, yaitu: § Jaminan standar minimum, termasuk penghasilan minimum § Perlindungan sosial bila diperlukan § Penyediaan jasa pelayanan umum sebaik-baiknya Uraian Briggs ini kemudian menjadi “pakem” atau model kesejahteraan dimana elemen kuncinya adalah perlindungan sosial, diikuti dengan penyediaan pelayanan kesejahteraan sesuai hak warga negara. Dalam prakteknya, kesejahteraan sosial di Inggris sangat jauh dari nilai ideal ini. Tingkat cakupan (coverage) layanan memang tinggi, dalam arti pelayanan ini menjangkau sekuruh masyarakat (sebagai contoh, National Health Service berlaku bagi seluruh warga negara Inggris tanpa pandang bulu) namun mutu pelayanan masih belum maksimal. Sedangkan perlindungan sosial yang diselenggarakan bagi rakyat Inggris juga masih bersifat tambal sulam.

Perancis
Sistem kesejahteraan di Perancis dirancang berdasarkan prinsip solidaritas, yang berarti bahwa kesejahteraan masyarakat merupakan tanggung jawab bersama dan risiko ditanggung bersama. Sistem ini berusaha mencapai fullcoverage. Pada awalnya, hal ini dilakukan dengan memperluas jaminan sosial yang mencakup kesehatan dan jaminan sosial lain yang bersifat ekstensif atau mencakup semua penduduk termasuk mereka yang tadinya terpinggirkan. Mulai tahun 1988, diperkenalkan sistem terbaru dimana jaminan atas kebutuhan dasar ditambah dengan hal-hal lain sesuai dengan kebutuhan masing-masing orang. Sistem semacam ini selain kompleks juga mahal untuk dilaksanakan, sehingga akan menimbulkan masalah pada anggaran pengeluaran publik negara tersebut. Hal yang menjadi keprihatinan pemerintah setempat bukanlah pengangguran, melainkan usia lanjut, karena adanya keistimewaan yang diberikan kepada kelompok masyarakat tertentu. Selain itu pengeluaran untuk kesehatan masyarakat juga menjadi bermasalah dalam era swastanisasi dan

308

Bab 14: Kebijakan dan Struktur Belanja Publik

liberalisasi dimana jasa sangat tergantung pada pasar. Karena liberalisasi kesehatan ini menjadikan jasa pelayanan kesehatan menjadi mahal.

Amerika Serikat
Amerika Serikat seringkali digolongkan sebagai negara yang menganut paham liberal dalam hal penyediaan kesejahteraan bagi rakyatnya, yang tercermin dalam konsep individualisme, laissez-faire (mengikuti arah pasar), paham residualisme, dan pandangan miring mengenai kemiskinan. Hal-hal tersebut di atas seringkali mewarnai debat mengenai konsep kesejahteraan di AS. Walaupun demikian, sistem kesejahteraan di AS tidak seragam. Federalisme mengakibatkan banyak keputusan penting, termasuk yang menyangkut kesejahteraan sosial, diatur di tingkat negara bagian. Sebagai contoh, di Minnesota dan Hawaii kesehatan masyarakat dibiayai oleh negara. Sebagai perbandingan dengan negara-negara berkembang, pemerintah pusat memiliki peran yang terbatas dalam penyediaan kesejahteraan sosial. Dalam prakteknya, AS memiliki sistem pluralistik, bukan sekedar liberal. Terdapat perbedaan yang signifikan dari model residual, misalnya sekolah negeri, jaminan sosial, maupun Veteran’s Administration menjamin kesejahteraan lebih dari empat puluh juta jiwa. Selain aktivitas di level pemerintah federal dan negara bagian, penyedia jaminan kesejahteraan juga mencakup sektor swasta. Hasilnya, sistem yang ada juga kompleks dan mahal.

Negara-negara Berkembang
Masalah utama yang dihadapi oleh negara berkembang adalah kemiskinan. Menurut World Bank, setengah dari populasi dunia hidup dengan pendapatan kurang dari dua dollar per hari. Menurut Amartya Sen, kemiskinan bukan saja berakar dari kekurangan sumber daya, tapi lebih disebabkan oleh kurangnya entitlement:. Kelaparan terjadi bukan karena kurang pangan, melainkan karena orang miskin tidak boleh makan makanan yang ada. Untuk itulah perlu adanya pembangunan ekonomi, karena pembangunan ekonomi akan memproduksi barang materil, meningkatkan persatuan dan ketergantungan antar bangsa, yang paling penting dapat meningkatkan entitlement. Namun pada saat yang sama, pembangunan ekonomi juga menimbulkan korban. Pembangunan juga menjadikan orang miskin lebih rentan, karena akar kehidupan tradisionalnya dirombak, dan selanjutnya dapat mengakibatkan polarisasi sosial. Structural adjustment yang dipersyaratkan oleh lembaga keuangan internasional yang bertujuan untuk mendorong negara berkembang memasuki pasar bebas,

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi

309

ternyata banyak dituding sebagai penyebab makin rentan dan tidak terlindunginya masyarakat miskin. Pada tahun 1980an, badan keuangan internasional yaitu IMF dan World Bank meluncurkan suatu program yang disebut Structural Adjustment Program (SAP) untuk membantu negara-negara berkembang mengatasi kemiskinannya dan memasuki perekonomian pasar bebas. Program ini terdiri atas paket pinjaman dan saran-saran tentang langkah-langkah restrukturisasi yang harus diambil pemerintah dalam kebijakan perekonomian negara. Salah satu persyaratan untuk dapat memperoleh paket bantuan tersebut adalah negara yang bersangkutan harus melakukan ’efisiensi’ dengan cara mengurangi anggaran pengeluaran untuk sektor-sektor yang tidak menguntungkan (dalam hal ini adalah sektor-sektor sosial) seperti kesehatan, pendidikan dan sektor sosial lain. Secara bertahap, penyelenggaraan sektorsektor tersebut dan dialihkan ke sektor swasta. Peran negara sebagai penyelenggara dikurangi sedapat mungkin dan beralih fasilitator bagi sektor swasta yang terlibat. Hal ini tentu saja mengakibatkan pengeluaran negara dalam sektor publik menjadi berkurang. Ketika paket pinjaman bersyarat ini diambil dan dilaksanakan oleh negaranegara berkembang yang membutuhkan bantuan, memang terjadi sedikit peningkatan pertumbuhan. Namun, dampak sosial yang semula tidak diantisipasi ternyata sangat parah. Peningkatan pertumbuhan yang dihasilkan oleh paket ini ternyata hanya dicapai oleh segelintir orang sedangkan sejumlah besar lainnya justru terjerumus ke jurang kemiskinan akibat dihapuskannya sebagian anggaran kesejahteraan dari anggaran pemerintah. Pengelolaan sektor tersebut oleh pihak swasta yang bertujuan untuk memaksimalkan keuntungan, mengakibatkan meningkatnya harga jual barang dan jasa publik. Konsekuensi dari hal ini adalah bahwa jasa tersebut hanya dapat dinikmati oleh pihak yang mampu. Sedangkan kaum marjinal makin terpinggirkan. Trickle down effect yang semula diyakini akan terjadi ternyata tidak menjadi kenyataan (Sen, 1999). Hal ini kemudian diusahakan untuk diperbaiki dengan pola pinjaman bersyarat yang baru yaitu Poverty Reduction Strategy Paper, yang menurut banyak pihak hanya nama baru dari wajah lama.

310

Bab 14: Kebijakan dan Struktur Belanja Publik

www.globalissues.org Pertumbuhan belanja publik sangat erat kaitannya dengan tuntutan kemajuan masyarakat dan dikehendakinya pertimbangan sosial yang diperankan oleh pemerintah dalam menjalankan kebijakannya. Dari studi empiris di Amerika Serikat telah dibuktikan bahwa belanja publik menunjukkan angka yang cenderung mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Belanja publik juga cenderung mengalami kenaikan porsinya, apabila dibandingkan dengan total pendapatan nasional. Kajian-kajian struktur belanja publik perlu mempertimbangkan kondisi objektif ini.

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB PERTUMBUHAN
Dalam memahami faktor penyebab pertumbuhan belanja publik, perlu dibedakan faktor antara belanja barang jasa dan belanja transfer. Kedua faktor ini mempunyai karakteristik yang berbeda satu sama lain.

Faktor belanja barang dan jasa
Faktor-faktor yang mempengaruhi belanja barang dan jasa di antaranya adalah sebagai berikut: § Pertumbuhan Pendapatan per Kapita Proporsi antara barang pribadi dan barang publik selalu berubah sesuai dengan kenaikan pendapatan per kapita, porsi barang publik selalu menunjukkan peningkatan. Implikasinya adalah bahwa kebijakan anggaran yang efisien menghendaki adanya peningkatan rasio pembelian pemerintah terhadap pendapatan nasional. Biasanya, peningkatan per kapita seiring dengan perkembangan perekonomian yang berubah dari negara agraris (yang diasumsikan berpendapatan rendah) menjadi negara industri (yang diasumsikan berpendapatan tinggi). Permintaan barang publik akan semakin meningkat dengan meningkatnya pendapatan per kapita. Ernst Engel seperti dikutip oleh Musgrave mengatakan bahwa semakin tinggi pendapatan maka semakin tinggi pengeluaran untuk barang-barang tertentu. Selama pendapatan rata-rata

dapat disimpulkan bahwa tidak dapat diestimasikan secara tepat kecenderungan yang akan terjadi pada belanja publik untuk barang konsumsi dan barang modal yang diakibatkan pertumbuhan pendapatan per kapita. Jika teknologi berubah. Sedangkan kebutuhan lainnya. Pola pertumbuhan belanja publik untuk penyediaan barang modal kelihatannya terbalik tetapi pengembangan industri akan menimbulkan akibat sampingan.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 311 meningkat. maka proses produksi juga berubah. Akhirnya. Barang modal tersebut mempunyai manfaat yang bersifat eksternal dimana belanja modal diperlukan dalam jumlah yang besar yang memerlukan pengembalian jangka panjang. barang-barang pelayanan umum yang merupakan barang mewah. Untuk barang publik. apabila sektor swasta telah terbuka kesempatannya menanamkan modal dalam pengembangan industri. § Perubahan Teknologi Perubahan teknologi mempunyai pengaruh penting dalam pertumbuhan porsi belanja publik. Pada tahap awal. Kebutuhan akan barang modal ini harus lebih besar pada awal pembangunan ekonomi dan peran pemerintah akan semakin menurun dalam pengadaan barang modal. seperti penyelidikan angkasa luar dan pangkalan perahu. investasi dalam sumber daya manusia dan biaya pendidikan akan mengalami peningkatan selama pendapatan meningkat seiring dengan laju pembangunan. . Pengamatan bisa dilakukan juga pada belanja publik dalam penyediaan barang modal. pelabuhan dan instalasi listrik. pendidikan dasar dan sanitasi . Dengan demikian. Perubahan teknologi dapat meningkatkan atau menurunkan kepentingan penyediaan barang publik yang mempunyai manfaat eskternal besar sehingga harus disediakan oleh pemerintah.mengalami kecenderungan menurun. kecenderungan seperti di atas mempunyai dua kemungkinan. sehingga tidak mudah dilakukan oleh pihak swasta. terdapat kecenderungan yang meningkat. seperti pendidikan tinggi dan pelayanan kesehatan akan mengalami kecenderungan yang semakin meningkat bila pendapatan meningkat. Kadang kecenderungannya meningkat dan kadang menurun. seperti jalan. pembangunan ekonomi menimbulkan kebutuhan khusus terhadap barang modal.seperti keamanan. Ditambah. Barang publik yang merupakan kebutuhan dasar (bukan kemewahan) . maka pola konsumsi bagi perekonomian diharapkan akan meningkat pula. seperti polusi dan kemacetan kota yang pada gilirannya akan menyebabkan peningkatan investasi pemerintah.

penemuan mesin pembakaran mengakibatkan berkembangnya industri mobil. Contoh lain adalah perubahan teknologi persenjataan yang mengakibatkan meningkatnya pengeluaran militer. kecuali bila permintaan barang publik bersifat inelastis.312 Bab 14: Kebijakan dan Struktur Belanja Publik Sebagai contoh. bisa diestimasikan bahwa porsi belanja publik akan meningkat. § Perubahan Populasi Perubahan populasi terutama akan meningkatkan belanja pendidikan dan kesehatan karena terjadi perubahan komposisi umur. Sebuah barang publik dapat disubstitusi dengan barang pribadi. Dalam jangka panjang. permintaan jalan raya bergerak sangat cepat. tak kalah penting adanya pengaruh perubahan biaya jasa publik terhadap pengeluaran publik. karena sifatnya yang elastis. perbedaan respon terhadap inflasi bukanlah merupakan faktor utama. sehingga belanja sektor publik meningkat dibandingkan masa kereta kuda dan mesin uap yang digunakan untuk kereta api. Perubahan teknologi di masa datang yang menyebabkan membengkaknya anggaran pemerintah adalah bidang teknologi angkasa luar yang merupakan faktor penting dalam porsi pengeluaran negara. kecuali terbukti teknologi angkasa luar menjadi barang pribadi. pada akhirnya menyebabkan pertumbuhan anggaran. sifat penyediaan barang dan jasa publik yang dapat mengubah komponen pendapatan nasional menjadi kurang apabila dibandingkan dengan perubahan teknologi. bukan berarti porsi belanja publik dalam pendapatan nasional harus meningkat. Hal ini terutama disebabkan oleh adanya inflasi harga faktor produksi yang dibeli pemerintah lebih cepat dibanding dengan rasio deflasi dalam pendapatan nasional. Perubahan teknologi juga mempercepat barang menjadi usang sehingga biaya penggantian akan meningkat. Kebutuhan pendidikan juga akan mendorong peningkatan permintaan perumahan dan penyediaan jaminan hari tua. Dengan meningkatnya industri mobil. Biaya Relatif Selain perubahan-perubahan kuantitas seperti diuraikan di atas. Sebagai contoh. Menurut Musgrave. kemacetan di perkotaan mengakibatkan meningkatnya § . § Urbanisasi Proses urbanisasi dapat menimbulkan permasalahan bagi pemerintah. Meskipun biaya jasa publik menjadi lebih mahal. Peningkatan populasi yang disertai mobilitas populasi juga mendorong pertumbuhan kota baru yang menyebabkan kebutuhan peningkatan pelayanan umum.

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 313 kebutuhan akan infrastruktur dan pelayanan umum. Contohnya adalah peningkatan asuransi hari tua. perubahan hanya terjadi pada tingkat yang tidak signifikan atau distribusi pendapatan tetap stabil dan hanya sedikit mengarah pada pemerataan. Adanya perubahan ruang lingkup redistribusi pendapatan dapat timbul sebagai akibat dari faktor-faktor demografi. Namun demikian. Kedua. . Pertama. porsi belanja keperluan sosial dalam pendapatan nasional di Amerika Serikat meningkat seiring dengan peningkatan pertumbuhan transfer. jika tujuannya untuk mencapai tingkat minimum pendapatan. Sistem ini ditujukan untuk menyeimbangkan besarnya distribusi pendapatan melalui transfer dari anggaran pengeluaran ke program pembelian pemerintah yang ditujukan bagi penyediaan barang dan jasa untuk kelompok berpenghasilan rendah. jika terdapat ketimpangan pendapatan oleh karena peningkatan pendapatan per kapita. jika tujuan pendistribusian kembali pendapatan adalah untuk menyesuaikan pendapatan keluarga. Hal ini mendorong meningkatnya kebutuhan barang-barang yang perlu disediakan oleh pemerintah. Apabila terjadi penurunan pertumbuhan populasi dalam bentuk meningkatnya penduduk yang lanjut usia. Kecuali. Tingkat pendapatan minimum ditentukan dalam pengertian ratarata. kebutuhan untuk pendistibusian kembali pendapatan akan menurun jika pendapatan rata-rata meningkat. Faktor Belanja Transfer Sejak tahun 1930-an. penyesuaian atau perbaikan atas ketimpangan tersebut yang perlu dilakukan. Sehingga. Penjelasan ini perlu dihubungkan dengan perubahan sosial dan politik. peningkatan pendapatan rata-rata tidak mengubah kebutuhan untuk mendistribusikan kembali pendapatan. Program ini lebih merupakan alat untuk menyediakan jaminan hari tua dengan dasar pembiayaan swadaya. perubahan tersebut diikuti dengan pergeseran rasio penduduk pensiun ke usia kerja sehingga memerlukan peningkatan dalam rasio pengeluaran publik untuk penduduk usia lanjut terhadap pendapatan nasional. apakah ada tekanan politis untuk mendistribusikan pendapatan kembali atau tidak. Tindakan pendistribusian kembali pendapatan tersebut dapat dipengaruhi dari dua arah. diperlukan peningkatan penyediaan kebutuhan penduduk berusia lanjut. sehingga ruang lingkup pendistribusian kembali – yaitu transfer pendapatan sebagai suatu persentase dari pendapatan nasional – akan tetap konstan.

dimisalkan ada dua buah proyek yang dipertimbangkan dimana kedua proyek mempunyai biaya dan tingkat penggunaan yang sama. Karena nilai manfaat lebih besar dari biayanya. jumlah agregat manfaat bersih senilai $30. sehingga manfaat agregat adalah $180. efisiensi proyek tetap ada apabila orang-orang yang diuntungkan (A dan B) dapat menutupi kerugian pihak lain ( C ) dan dipandang masih lebih baik dibandingkan dengan tidak ada proyek. Cara yang lebih tepat adalah mendistribusikan beban pajak sedemikian rupa sehingga tidak seorang pun mengalami kerugian bersih dan kondisi ini menghasilkan proyek yang efisien menurut prinsip pareto optimum. Proyek I. Petimbangan distribusi dimulai dengan penentuan apakah bobot distribusi dapat digunakan dalam menilai besarnya manfaat dan biaya. tingkat efisien semacam itu dapat dicapai. Akan tetapi dalam kenyataannya. Aspek Keadilan Dalam meninjau aspek keadilan dalam belanja publik. proyek semacam itu sangat sulit dicapai sehingga diusulkan agar konsep efisiensi diperlunak.000 dan C adalah $40. Berdasarkan kriteria ini.000. Yang pertama. Perlu diadakan persyaratan tambahan agar proyek tetap dikatakan efisien yaitu bahwa penggantian kerugian harus benar-benar dilaksanakan dalam bentuk transfer dari A dan B kepada C. pertimbangan mengenai distribusi dan fungsi obyektif dapat dipertimbangkan dalam menentukan kebijakan proyek. .000 dapat disahkan dan proyek dikatakan efisien. Problem utamanya adalah preferensi seseorang tidak mudah untuk diungkapkan dan mungkin saja proyek tersebut tidak efisien. B. sementara dana terbatas untuk satu proyek. dikatakan bahwa proyek tersebut layak dibangun. sehingga salah satu harus dikorbankan. meskipun C mengalami kerugian. dengan memperlunak konsep.000. pihak C tidak menerima manfaat dan kerugiannya belum tentu akan diganti. Namun demikian. Secara teoritis.314 Bab 14: Kebijakan dan Struktur Belanja Publik Efisiensi dan Keadilan dalam Belanja Publik Prinsip pareto optimum mengatakan bahwa proyek dikatakan efisien jika memberi manfaat paling tidak kepada satu orang dan tidak merugikan orang lain.000 yang akan dibebankan dari general fund. Misalkan suatu jalan akan dibangun dengan biaya $150. prinsip pareto optimum dilanggar. dan C harus membiayai masing-masing senilai $50.000. Pada kasus ini. sehingga A. Manfaat yang akan diperoleh A dan B masing-masing $70. Efisiensi proyek tergantung bagaimana mendefinisikan efisiensi tersebut. Tetapi dalam kenyataan.

berdasarkan asumsi bahwa dalam menerapkan tarif pajak. Tetapi. karena memberikan manfaat kepada mereka yang berpenghasilan rendah. Hasil yang berisiko dapat diestimasikan dengan cara pembobotan . Bobot ditentukan dari kejadian yang ditunjukkan oleh perilaku di masa lalu. Kondisi yang sama juga muncul jika ada dua proyek yang menghasilkan jasa yang sama. Tetapi. penilaian proyek yang didasarkan pada permintaan konsumen juga akan optimal dipandang dari segi sosial. dimisalkan. jika distribusi yang berlaku tidak optimal. Tanpa mempertimbangkan aspek distribusi. berupa penyediaan taman serupa untuk kelompok masyarakat berpenghasilan rendah. masyarakat berpenghasilan tinggi akan menerapkan nilai yang lebih tinggi dibanding masyarakat berpenghasilan rendah karena mereka mampu membayar lebih tinggi dan proyek I dianggap lebih layak. Akan tetapi. jika distribusi pendapatan tidak optimal. Dapat disimpulkan. Atau bobot dapat diperoleh dari analisis pajak penghasilan. evaluasi sosial yang tercermin dari kesejahteraan sosial akan menyimpang dari evaluasi swasta dan proyek II akan dipandang lebih layak. proyek II akan lebih diutamakan. Alternatif I akan memilih lokasi konstruksi di daerah yang upahnya tinggi. karena nilai manfaat bersih lebih tinggi. berupa penyediaan taman bermain di lingkungan masyarakat berpenghasilan tinggi dan proyek II. sementara alternatif II memilih lokasi yang tingkat upahnya rendah. Risiko Perubahan Perekonomian Perencanaan proyek berlangsung dalam ketidakpastian dan risiko ketidakpastian manfaat di masa akan datang akan mengurangi nilai sekarang dan harus diperhitungkan dalam perencanaan pengeluaran investasi pemerintah. bahan baku dan transportasi di lokasi I lebih rendah. Setiap rupiah yang dibelanjakan oleh masyarakat miskin dapat dinilai lebih tinggi sehingga proyek II akan dipandang lebih layak. bila bobot distribusi pendapatan diperhitungkan. lokasi I dianggap lebih layak. sehingga total biaya di lokasi I akan lebih rendah. Dimisalkan akan dibangun sebuah kapal laut. Fungsi obyektif dapat digunakan sebagai alat untuk menghitung pembobotan dalam rangka memaksimalkan kesejahteraan sosial. Permasalahan timbul dalam menyusun peringkat manfaat kedua proyek tersebut. pertimbangan sosial dapat menyimpulkan sebaliknya. Apabila nilai nominal proyek yang dijadikan dasar pertimbangan. Misalkan juga biaya modal. pemerintah bermaksud mendistribusikan beban pajak sedemikian rupa sehingga sesuai dengan prinsip pengorbanan yang sama. Hal ini menunjukkan kecocokan dengan konsep efisiensi yang lebih luas. tetapi dengan biaya yang berbeda. penggunaan bobot distribusi dalam perhitungan biaya-manfaat dapat digunakan sebagai alat pengoreksi aspek distribusi.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 315 dimisalkan. Jika kondisi yang berlaku adalah distribusi optimal.

jasa pemadam kebakaran. jasa pengadilan. belanja untuk jasa-jasa umum. analisis manfaat biaya harus dibuat dalam berbagai alternatif saat dimulainya proyek. jasa rumah tahanan dan penjara. Penjumlahan hasil tertimbang ini kemudian akan digunakan dalam analisis nilai manfaat yang diharapkan. Akibatnya. karena adanya dimensi waktu. Salah satu kriteria yang sering digunakan untuk mengklasifikasikan belanja pemerintah adalah seperti diuraikan dalam Government Finance Statistics Manual. Belanja Jasa Publik Umum Belanja-belanja yang termasuk dalam kategori ini antara lain belanja operasi untuk organisasi eksekutif dan legislatif. riset pertahanan dan sebagainya.316 Bab 14: Kebijakan dan Struktur Belanja Publik berbagai hasil berdasarkan angka probabilitasnya dimana jumlah probabilitas adalah sama dengan satu. belanja riset dasar. belanja komersial dan ekonomi. Belanja Pertahanan Belanja-belanja dalam kategori ini antara lain belanja pertahanan militer dan sipil. KLASIFIKASI BELANJA PUBLIK Klasifikasi belanja publik dapat dikategorikan berdasar berbagai macam kriteria. belanja kehutanan dan . Belanja Urusan Ekonomi Belanja yang termasuk dalam kategori ini diantaranya belanja urusan ketenagakerjaan. Klasifikasi belanja menurut fungsi pemerintah adalah sebagai berikut: 1. Evaluasi proyek jangka panjang perlu mempertimbangkan dinamika perkembangan perekonomian yang berkaitan dengan harga relatif dan pengaruh distorsi harga. dan belanja administrasi transfer antar unit pemerintah. di antara contohnya adalah belanja jasa kepolisian. dan juga riset untuk perlindungan publik. Risiko perubahan perekonomian mempunyai implikasi perlunya pendiskontoan atas manfaat maupun biaya. bantuan militer untuk asing. belanja transaksi hutang. 4. 3. Belanja Perlindungan Umum Belanja dalam kategori ini dibedakan dengan belanja pertahanan. 2. Pengaruh penundaan satu tahun akan menyebabkan perubahan nilai sekarang atas perhitungan neto manfaat dan biaya.

Sebagai akibatnya. World Bank menggarisbawahi tiga pertanyaan penting yang harus dihadapi oleh pemerintah. Bagaimana cara memenuhi kebutuhan publik dengan anggaran yang terbatas? 3. sistem penyediaan air bersih. belanja penerangan jalan. Bagaimana menilai dampak pengeluaran publik bagi masyarakat? . yaitu: Apakah inti dari tujuan distribusi dari pengeluaran publik? 2. jasa penyiaran.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 317 pertanian. proteksi keragaman hewani maupun tata kota. dan pekerjaan-pekerjaan umum lainnya. dan belanja sosial lainnya. pertambangan. termasuk risetnya. Belanja Perlindungan Sosial Belanja-belanja yang termasuk dalam kategori ini diantaranya belanja perlindungan terhadap manusia lanjut usia (manula). Budaya dan Agama Di antara belanja yang termasuk dalam kategori ini adalah belanja jasa olahraga dan rekreasi. 5. Belanja Kesehatan Belanja kesehatan meliputi perlengkapan dan peralatan kesehatan. 10. transportasi. Belanja Perlindungan Lingkungan Belanja yang termasuk di sini diantaranya adalah belanja pengelolaan limbah dan polusi. jasa rumah sakit umum. seringkali terjadi pertentangan kepentingan antara keinginan untuk menghapuskan kemiskinan dengan kemampuan keuangan negara yang bersangkutan untuk mendanai proyek-proyek yang bertujuan mengurangi kemiskinan tersebut. belanja perlindungan anak dan keluarga. belanja untuk mengatasi pengangguran. Belanja Pendidikan Pendidikan mencakup belanja pendidikan dasar. pemerintah menghadapi adanya permintaan yang saling bersaing dan juga perdebatan apakah pola pengeluaran publik yang diterapkan dapat benar-benar memenuhi tujuan distribusi. dan lain-lain. komunikasi dan belanja untuk perindustrian lainnya. belanja jasa kebudayaan. pendidikan menengah. 7. 8. Secara umum. termasuk belanja pendukung pendidikan lainnya. namun harus diingat bahwa anggaran pengeluaran juga sangat terbatas. Sehingga. Belanja Perumahan dan Public Utilities Belanja dalam kategori ini diantaranya adalah pengembangan perumahan dan pemukiman. Belanja Rekreasi. jasa kepada pasien. dan pendidikan tinggi. belanja energi dan bahan bakar. jasa urusan keagamaan dan komunitas. Dalam hal ini. 6. Belanja Publik dan Prinsip Keadilan Dalam praktek penyelenggaraan negara. pengeluaran publik yang tepat tentu saja akan membantu. terutama negara-negara berkembang yang memiliki sumber daya terbatas. satu hal penting yang harus dilakukan adalah dengan memperbaiki aspek distribusi. 9. dan risetnya. 1.

Contoh yang paling sering digunakan adalah dengan mentargetkan jasa sosial dasar. Dalam hal ini. Pendapatan seseorang/keluarga dapat berfluktuasi sepanjang waktu. dilakukan dengan menargetkan individu atau keluarga yang masuk kategori miskin. Peran pemerintah dalam penyediaan beberapa jenis barang dan jasa tidak dapat dipungkiri. Misalnya dengan melaksanakan program Jaring Pengaman Sosial yang diadakan setelah Indonesia mengalami krisis moneter. pemberian susu dan makanan tambahan bagi balita miskin. Dengan demikian. mungkin juga ada masalah kesenjangan pembangunan antara daerah yang satu dengan lainnya. Mereka inilah yang menjadi target group dari kebijakan belanja publik tertentu. Bagaimana caranya agar belanja publik dapat memenuhi ketiga kriteria ini dengan sumber daya yang terbatas? Jawaban yang sering diberikan bagi pertanyaan ini adalah “targeting”. seperti pendidikan dasar dan kesehatan masyarakat. dimana consumption smoothing juga tidak sempurna. yaitu dengan mengarahkan belanja publik untuk memenuhi kebutuhan kelompok masyarakat yang membutuhkan: yang miskin. Mungkin akan makan waktu agak lama bagi beberapa kelompok masyarakat untuk dapat berperan serta dalam pembangunan. yang bahkan memang tidak akan mungkin dapat berpartisipasi dalam pembangunan. . karena tanpa campur tangan pemerintah ketersediaan barang dan jasa tersebut tidak dapat terpenuhi.318 Bab 14: Kebijakan dan Struktur Belanja Publik Inti dari tujuan distribusi dari pengeluaran publik adalah: § Mengutamakan pertumbuhan ekonomi yang berpihak pada kaum miskin/marginal. perubahan harga maupun hancurnya dukungan masyarakat setempat selama terjadinya krisis. § Membantu mengatasi masalah kerentanan (vulnerability). serta infrastruktur dasar seperti air bersih dan sanitasi. proyek padat karya serta pembangunan daerah tertinggal. namun mereka dijangkau melalui pentargetan jasa atau komoditi yang paling banyak mereka konsumsi. Dalam prakteknya. Kelompok inilah yang memerlukan perhatian khusus. Selain itu. yang juga menjangkau rakyat miskin. yang tertinggal. misalnya kelompok lanjut usia dan penderita cacat fisik. peran pemerintah merupakan kunci keberhasilan pertumbuhan ekonomi secara utuh. kaum miskin sangat rentan terhadap risiko yang disebabkan oleh perubahan cuaca. Yang juga sering dilakukan adalah dengan mentargetkan aktivitas pembangunan pedesaan. yaitu targeting secara sempit. pendekatan targeting dapat dikategorikan menjadi dua hal. § Membantu mereka yang terpinggirkan/tertinggal dalam proses pertumbuhan ekonomi. Sehingga. Pendekatan kedua. kaum marjinal tidak menjadi target secara individual. Pertama adalah broad targeting atau pentargetan secara luas. terutama pada perekonomian pedesaan. program kredit mikro yang ditujukan bagi wanita pedesaan. yang terbelakang dan yang rentan terhadap risiko.

Hammer et al..7 6. terutama bagi masyarakat miskin.5 6 5. Tidak ada aturan yang baku tentang mana yang lebih baik antara kedua pendekatan ini.9 4 2. serta keadaan spesifik dari negara yang bersangkutan seperti tingkat kemampuan administratif. Akan selalu ada pihak yang sebenarnya tidak termasuk target namun mendapatkan manfaat.2 1.7 4. . . ..9 2..6 3. tujuan kebijakan.4 5. Kedua pendekatan ini memiliki kekuatan dan kelemahan.3 0.1 2 2. . . dapat membantu untuk memilih prioritas belanja publik.2 6.8 5. Tabel 13.. bila tidak hati-hati digunakan bisa menimbulkan bias pada perkiraan dampak dari proyek pembangunan. terutama bagaimana rakyat miskin bisa mendapatkan manfaat pembangunan. Bagaimana kita bisa mengukur dampak dari kebijakan publik? Informasi mengenai dampak distribusi.9 1.4 . ekonomi politis.. Sampai seberapakah pengukuran ini dapat diandalkan? Metode-metode pengukuran yang ada dapat diklasifikasikan sebagai "benefit incidence studies" (Demery 1997.1.4 7.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 319 Masing-masing pendekatan ini memiliki kelebihan dan kekurangan.4 6. . Biasanya yang efektif adalah kombinasi keduanya.1 1. .2 5 5. Kebijakan yang tepat akan sangat tergantung pada peta kemiskinan. .. van de Walle 1998a) dan "behavioural approaches" (Grossman 1994.. Ekonometri sendiri. pembangunan infrastruktur.2 6.9 6. Misalnya.. dan van de Walle 1998a untuk tinjauan ini).. Banyak keputusan/kebijakan yang ada dibuat berdasarkan pengukuran kuantitatif dari dampak belanja publik untuk standar hidup. benefit incidence analysis terfokus pada manfaat rata-rata dari belanja publik dimana kesimpulan kebijakan atas reformasi belanja publik didasari oleh dampak atas margin perubahan tersebut.6 4..8 5.7 4.5 5. . .8 7..6 5. 4.6 4. .. ataupun yang sebenarnya harus dibantu namun tidak mendapat bantuan..9 1. (1995) menguraikan cara untuk menggunakan kedua pendekatan ini agar saling melengkapi. Prioritas Belanja Publik Berbagai Negara Belanja Pendidikan (% dr GDP) HDI rank 1990 1999-2001 Belanja Kesehatan (% dr GDP) 1990 2001 Belanja militer (% dr GDP) 1990 2002 Total debt service (% dr GDP) 1990 2002 High human development 1 2 3 4 5 8 9 12 Medium human Norwegia Swedia Australia Kanada Belanda Amerika Serikat Japan Inggris 7.6 3.2 6.6 5.3 6.1 6.6 5. .1 7. Sedangkan pendekatan perilaku (behavioural approaches) menggunakan ekonometri maupun metode eksperimental. .3 2.. . Para ekonom serta para peneliti lain secara berkala mengevaluasi dampak distribusi dari kebijakan belanja publik..8 7... .4 1 2.6 6.1 6.6 2. . serta hambatan-hambatan lain dalam instrumen kebijakan.2 .

Esping-Andersen mengkategorikan tiga jenis pokok dari welfare regime: (a) corporatist regimes.4 4.6 0.2 4.3 4.1 3.4 3.8 6.7 3.6 2.9 2 2.5 3.5 0.7 2.8 9.6 8.8 4. Khusus dalam penyediaan barang publik.8 3.1 6.7 1.4 7.2 3.5 2.4 3. salah satu fungsi pemerintah adalah menjadi penyedia barang jasa pada sektor tertentu dan fasilitator jika penyelenggaraan barang jasa diadakan oleh swasta.3 1.7 2.1 1.9 10. (c) liberal regimes Konsep welfare state di Inggris sebagaimana dikemukakan oleh Briggs menekankan pada perlindungan sosial dan penyediaan pelayanan kesejahteraan .2 8.6 2.6 8.1 3.5 2.7 4.3 9.9 2.4 1.8 6.2 Sumber: Human Development Report.2 3. Prinsip umum yang dapat dijadikan alasan penyelenggaraan sektor umum oleh negara yaitu market failure (kegagalan pasar dimana pasar tidak dapat mengalokasikan sumber daya secara efisien) dan aspek distribusi ke seluruh pelosok negara. RANGKUMAN § Sebagai penyelenggara negara.2 2.4 1.7 2.5 15.6 1.4 1.6 6. Kebijakan pengeluaran publik dipengaruhi oleh konsep welfare state yaitu bagaimana suatu negara memandang dirinya dalam hubungannya dengan rakyatnya mengenai kesejahteraan.6 4.9 7.7 4 2.8 2.320 development 59 76 83 90 111 127 Low human development 142 145 148 171 173 Pakistan Lesotho Kenya Mozambique Burundi 2.9 3.5 0.2 2.9 1.1 5.5 4.7 2. pemerintah dapat berperan sebagai penyedia dan regulator jika barang publik diadakan oleh swasta.9 8.1 2.6 1.9 5 3.6 0.1 15.8 2.9 1.6 1.4 9.6 Malaysia Thailand Filipina Yordania Indonesia India 5.2 3. Tiga hal pokok dalam belanja publik yang berkaitan § § § § . UNDP 2004.6 0.8 9.4 1 3.6 11.3 9.3 1.7 2.1 Bab 14: Kebijakan dan Struktur Belanja Publik 1.1 1 4.4 1 8.8 10 6. (b) social democratic regimes.4 3.

Sistem kesejahteraan di Perancis dirancang berdasarkan prinsip solidaritas. (b) perubahan teknologi. dan pandangan miring mengenai kemiskinan. Structural Adjustment Program (SAP) yang dibuat oleh badan keuangan internasional yaitu IMF dan World Bank untuk membantu negara-negara berkembang menyebabkan pengeluaran negara dalam sektor publik berkurang dan dialihkan ke sektor swasta. (c) perubahan populasi. (d) biaya relatif.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 321 § § § § § § dengan kesejahteraan yaitu: (a) jaminan standar minimum termasuk penghasilan minimum. tidak mengubah kebutuhan untuk mendistribusikan kembali pendapatan. (c) pelayanan jasa pelayanan umum sebaik-baiknya. Akibatnya. jika pendapatan rata-rata . Faktor-faktor yang mempengaruhi belanja barang dan jasa antara lain: (a) pertumbuhan pendapatan per kapita. yang dipengaruhi oleh dua arah. maka perubahan tidak signifikan dan distribusi pendapatan tetap stabil. Faktor-faktor penyebab pertumbuhan belanja publik dibedakan atas (a) faktor belanja barang dan jasa dan (b) faktor belanja dari transfer porsi pendapatan. (e) urbanisasi Belanja transfer merupakan distribusi pendapatan (transfer pendapatan sebagai suatu persentase dari pendapatan nasional). Jika dilakukan penyesuaian atau perbaikan atas ketimpangan tersebut. Negara-negara berkembang mempunyai masalah utama yaitu kemiskinan. Namun. laissez-faire (mengikuti arah pasar). Amerika Serikat menganut paham liberal dalam hal penyediaan kesejahteraan yang tercermin dalam konsep individualisme. yaitu: (a) Distribusi pendapatan yang dilakukan untuk mengatasi ketimpangan pendapatan karena peningkatan pendapatan per kapita. Amartya Sen berpendapat bahwa kemisikinan bukan saja terjadi karena kekurangan sumber daya tetapi juga kurangnya entitlement. paham residualisme. sehingga harga jual barang dan jasa semakin meningkat. (b) perlindungan sosial bila diperlukan. bahwa kesejahteraan masyarakat merupakan tanggung jawab bersama dan risiko ditanggung bersama. Jika pendapatan rata-rata meningkat. (b) Distribusi pendapatan yang dilakukan untuk menyesuaikan pendapatan keluarga. pertumbuhan ekonomi hanya dirasakan segelintir orang dan sejumlah besar lainnya justru terjerumus ke jurang kemiskinan. Kecuali tujuannya untuk mencapai tingkat minimum pendapatan. tiap negara bagian mengatur sistem kesejahteraannya masing-masing sehingga Amerika memiliki sistem pluralistik. karena itulah diperlukan pembangunan ekonomi.

sehingga cara yang paling tepat adalah dengan mendistribusikan beban pajak sedemikian rupa sehingga tidak seorang pun mengalami kerugian bersih. pentargetan jasa atau komoditi yang paling banyak dikonsumsi. (d) belanja perlindungan umum. Bobot ditentukan dari kejadian yang ditunjukkan oleh perilaku di masa lalu. budaya. Tetapi jika distribusi pendapatan tidak optimal. terdapat dua pendekatan: (a) broad targetting atau pentargetan secara luas. Pada kenyataannya prinsip ini sangat susah dicapai. (f) belanja perlindungan lingkungan. (b) membantu mereka yang terpinggirkan/tertinggal dalam proses pertumbuhan ekonomi. (h) belanja kesehatan. dan agama. seberapa besar manfaat yang dapat diberikan bagi mereka yang berpenghasilan rendah. (e) belanja urusan ekonomi. Government Finance Statistics Manual menguraikan klasifikasi belanja menurut fungsi pemerintah sebagai berikut: (a) belanja jasa publik umum. (c) belanja pertahanan. Jika distribusi pendapatan optimal. penilaian proyek yang didasarkan pada permintaan konsumen akan dipandang layak dari segi sosial. Inti dari distribusi pengeluaran publik. yaitu: (a) mengutamakan pertumbuhan ekonomi yang berpihak pada kaum miskin/marginal. Prinsip pareto optimum mengatakan bahwa proyek dikatakan efisien jika memberi manfaat paling tidak kepada satu orang dan tidak merugikan orang lain. (g) belanja perumahan dan public utilities.322 Bab 14: Kebijakan dan Struktur Belanja Publik § § § § § § meningkat maka kebutuhan untuk pendistribusian kembali pendapatan akan menurun. (b) . sebagai alat untuk menghitung pembobotan dalam rangka memaksimalkan kesejahteraan sosial. (k) belanja perlindungan sosial. penggunaan bobot distribusi dalam perhitungan biaya-manfaat dapat digunakan. (i) belanja rekreasi. Analisis manfaat biaya harus dibuat dalam berbagai alternatif untuk mengatasi risiko perubahan ekonomi ini. (b) belanja pertahanan. Cara memenuhi kebutuhan publik dengan anggaran yang terbatas adalah dengan melakukan “targetting” yaitu mengarahkan belanja publik untuk memenuhi kebutuhan kelompok masyarakat yang membutuhkan. Aspek keadilan dalam belanja publik untuk menentukan kebijakan proyek dipengaruhi oleh pertimbangan sebagai berikut: (a) Distribusi pendapatan. Perencanaan proyek berlangsung dalam ketidakpastian dan risiko ketidakpastian manfaat di masa yang akan datang akan mengurangi nilai sekarang dan harus diperhitungkan dalam perencanaan pengeluaran investasi pemerintah. (j) belanja pendidikan. (b) Fungsi obyektif. (c) membantu mengatasi masalah kerentanan (vulnerability).

terfokus pada manfaat rata-rata dari belanja publik dimana kesimpulan kebijakan atas reformasi belanja publik didasari oleh dampak atas margin perubahan tersebut. Informasi mengenai dampak distribusi yang dapat membantu untuk memilih prioritas belanja publik dapat diperoleh dengan melakukan dua metode pengukuran. Apa yang dimakud dengan kondisi distribusi optimal? 9. Sebutkan faktor-faktor penyebab pertumbuhan belanja publik dari : a. tetapi bukan berarti belanja publik dalam pendapatan nasional meningkat? 4. b. faktor pengeluaran dari transfer posisi pendapatan.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 323 § targetting secara sempit. menargetkan individu atau keluarga yang masuk kategori miskin. (b) behavioural approaches (pendekatan perilaku). menggunakan ekonometri maupun metode eksperimental. LATIHAN 1. Mengapa perubahan biaya jasa publik berpengaruh terhadap belanja publik? 5. Sebutkan klasifikasi belanja publik menurut fungsi pemerintah! 11. Mengapa meskipun biaya jasa publik menjadi lebih mahal. yaitu: (a) benefit incidence studies. Apa manfaat fungsi objektif dan apa yang dimaksud bobot? 10. Bagaimana membuat efisiensi proyek tetap ada walaupun ada pihak yang dirugikan? 8. Jelaskan mengapa pertumbuhan pendapatan per kapita bisa membuat belanja publik mengalami peningkatan dan dapat juga mengalami penurunan! 3. Bagaimana cara mengestimasi manfaat dari hasil yang berisiko? 12. dan sebutkan apa saja yang mempengaruhinya! 6. Apa yang dimaksud dengan distribusi pendapatan. faktor belanja dan jasa. Mengapa analisis manfaat biaya harus dibuat dalam berbagai alternatif saat dimulainya proyek? . 2. Apa yang dimaksud dengan prinsip Pareto Optimum? 7.

Bagaimana jika distribusi pendapatan tidak optimal? .324 Bab 14: Kebijakan dan Struktur Belanja Publik 13. Sebutkan yang termasuk dalam belanja urusan ekonomi! 14. Sebutkan yang termasuk dalam kategori belanja pertahanan! 15.

pembangunan jalan raya.KEBIJAKAN BELANJA PUBLIK SEKTOR-SEKTOR UMUM Dalam bab ini akan dibahas lebih rinci berbagai jenis belanja serta masalahmasalah yang ditimbulkannya. belanja pendidikan dan perlindungan lingkungan berupa pembangunan taman rekreasi. PERLUNYA ANALISIS SEKTOR Banyak pendapat tentang pengelompokan pengeluaran publik kepada sektor. Sehingga. akan tetapi sektor-sektor yang dibahas disini didasarkan pada klasifikasi Bank Dunia. pendekatan pengelompokan sektor diasumsikan mengacu pada laporan-laporan Bank Dunia. dengan melihat pengalaman-pengalaman empiris di berbagai negara. . Pembahasan akan dimulai dari jenis belanja pertahanan nasional. untuk lebih fokus pada pembahasan materi.

PERTAHANAN NASIONAL Di Amerika Serikat. Ada beberapa cara atau metode yang dapat digunakan dalam analisis sektor: § Melengkapi cakupan ekonomi makro dengan menganalisis pengaruh terhadap sektor. § Memungkinkan penilaian strategis dan kebijakan pembangunan sektor yang mendorong kontribusi sektor terhadap pembangunan ekonomi negara. Perencanaan yang berhasil memerlukan penerjemahan tujuan dan kebijakan sektor ke dalam kebutuhan sektor dan subsektor secara individual dan juga ke dalam rincian yang lebih detail pada proyek-proyek tertentu. dan kebutuhan investasi untuk sektor secara keseluruhan sebagai masukan bagi keputusan badan perencana mengenai program dan prioritas investasi nasional. . dan hubungan antar sektor di antara proyek dan program yang dilaksanakan pemerintah. § Mengevaluasi kapasitas lembaga-lembaga tiap sektor dalam melaksanakan kebijakan-kebijakan publik. § Menentukan prioritas investasi dalam rangka identifikasi proyek-proyek khusus lain dan studi pra investasi tambahan yang diperlukan. Dengan demikian. tujuan analisis sektor adalah untuk menjembatani kesenjangan antara kebijakan ekonomi makro tingkat nasional. kebijakan upah dan tingkat bunga. prioritas. § Analisis sektor membantu menjamin bahwa proyek-proyek individu terpilih didasarkan pada perencanaan dasar kebutuhan dan prioritas sektor. variabel-variabel kebijakan umum seperti nilai tukar. subsektor dan proyek. struktur pajak. perubahan kebijakan dan kelembagaan perlu berprestasi baik pada tingkat proyek atau tingkat ekonomi mikro.326 Bab 15: Kebijakan Belanja Publik Sektor-sektor Umum Tujuan analisis sektor menyangkut beberapa tujuan: § Membantu pertimbangan strategis dan kebijakan untuk seluruh perekonomian. § Analisis sektor memberikan perkiraan potensi hasil. program-program investasi dan kebijakan ekonomi mikro dari proyek individu. Dalam dekade tersebut. selama tahun 80-an. belanja pertahanan nasional merupakan kontributor utama terhadap pertumbuhan anggaran. lapangan kerja. meskipun akhirnya dilampaui oleh pertumbuhan program sosial. Analisis sektor diperlukan untuk menjawab pertanyaan tentang pilihan.

tapi orang lain dapat berpandangan bahwa kebijakan tersebut ofensif. mengingat peran Amerika dalam perang . sehingga contoh penyediaan jasa pertahanan menjadi contoh klasik yang dapat dibahas. mengingat risikonya yang sangat tinggi. submarine-based missiles. seperti kesediaan untuk menerima risiko konflik militer. mulai dari landbased missiles. Masalah Utama dalam Belanja Pertahanan Masyarakat tidak dapat menyediakan sendiri keamanan bagi dirinya dan proteksi yang diberikan haruslah secara kolektif. operasi dan pemeliharaan.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 327 belanja pertahanan menjadi faktor utama anggaran pemerintah dalam pembelian barang dan jasa dari swasta. pembelian barang dan jasa. Suatu kebijakan pertahanan dapat dipandang sebagai kebijakan subyektif. regional atau internasional. juga melibatkan masalah-masalah kebijakan luar negeri. sangat sulit memperkirakan apakah akan ada pembatasan persenjataan strategis dengan melakukan pemotongan anggaran. perencanaan pertahanan nasional harus menemukan keseimbangan antara senjata konvensional dan modern. Efektifitas Biaya Modernisasi Kekuatan Strategis Kebutuhan pertahanan nasional dan berbagai masalahnya memerlukan perancangan yang kesemuanya harus dipenuhi dengan seefisien mungkin. masalah kekuatan militer tidak hanya meningkatkan akibat pengrusakan tetapi juga bisa mencegah konflik yang menimbulkan pengrusakan. dan pemilihan sistem persenjataan tertentu. maupun Administrations Strategic Defensive Initiative (sering disebut perang bintang) sampai sekarang masih dipertentangkan oleh para ilmuwan. seseorang dapat saja memandang kebijakan tersebut defensif. Dengan melihat anggaran pertahanan Amerika Serikat saat ini. Masalah lainnya adalah menyangkut keseimbangan antara angkatan darat. Terakhir. Perdebatan yang muncul di Amerika Serikat tentang sistem persenjataan. Belanja pertahanan dibagi menjadi belanja personel. apakah harus memodernisasi kekuatan strategis ataukah harus membangun kekuatan strategis baru. Alasannya. ruang lingkup nasional. Kelayakan proyek-proyek militer. penelitian dan pengembangan. Yang paling penting. Keputusan politik memegang peranan sangat penting dalam menentukan pola kebijakan pertahanan ini meskipun menjadi kebijakan yang sulit diperkirakan. udara dan marinir. laut. Belanja pertahanan selain menghadapi masalah yang kompleks dalam perencanaan.

terserapnya bakat ilmiah oleh industri pertahanan akan menyebabkan industri swasta tersebut ke arah penurunan. Pertumbuhan produktivitas jangka panjang akan tergantung pada peningkatan jumlah orang berbakat ilmiah dan kontribusi anggaran dalam peningkatan aktivitas ilmiah tersebut. seperti Amerika Serikat. Dampak Terhadap Pertumbuhan Produktivitas Program riset dan pengembangan yang dilakukan untuk kepentingan pertahanan nasional berpengaruh besar terhadap perkembangan teknologi dan pertumbuhan produktivitas. misalnya Jerman dan Jepang. BELANJA PERTAHANAN DAN MASALAH PEMBANGUNAN Perang di Irak dan di Afganistan. seperti aerospace. konflik antara Israel dan Palestina serta adanya serangan teroris di seluruh penjuru dunia (terutama setelah serangan menghebohkan pada tanggal 9 September 2001 yang terkenal dengan insiden 9/11) telah menjadi berita utama di seluruh surat kabar dunia. Tahun 2004 telah ditandai dengan meningkatnya belanja . Dampak Terhadap Industri Karena pertahanan merupakan kontributor utama dalam defisit anggaran pemerintah federal AS. Di lain pihak. Terdapat pergeseran dari permintaan swasta untuk barang konsumsi dan perumahan kepada pembelian pemerintah untuk sektor pertahanan. Sementara itu. sektor ini secara nyata juga mendukung kesempatan kerja di sektor swasta. Industri pertahanan mencakup sektor manufaktur. Hanya sedikit yang menghubungkan bahwa sebetulnya peningkatan belanja pertahanan telah menciutkan sumber daya yang seharusnya disediakan untuk pembangunan.328 Bab 15: Kebijakan Belanja Publik Sektor-sektor Umum melawan terorisme sangat besar bahkan menjadi sponsor bagi program internasional ini. ketidakstabilan makin terasa di dunia ini. dampaknya terhadap perkenomian negara layak dilakukan pembahasan. pabrik pembuatan kapal laut. Dari satu pihak. produktivitas yang ditimbulkan oleh sektor pertahanan akan dialihkan ke sektor swasta . ternyata mengalami pertumbuhan produktivitas yang lebih cepat dibanding dengan negara dengan persentase belanja pertahanan yang lebih besar. dan pabrik persenjataan elektronik. Bukti empiris menunjukkan bahwa negara dengan persentase belanja pertahanan terhadap pendapatan nasionalnya kecil. Millenium Development Goals (yang dicanangkan untuk mengurangi kemiskinan di dunia menjadi 50% dari jumlah sekarang pada tahun 2015) dan program-program penghapusan kemiskinan terasa terpinggirkan.seperti komputer namun di lain pihak. Dampak pertama terjadi pada besarnya pengeluaran untuk pengadaan struktur industri serta pertumbuhan produktivitas dalam bidang peralatan pertahanan.

yaitu 8% dan 6. analisa yang cukup terpercaya mengungkapkan bahwa pengurangan belanja militer AS mengakibatkan menurunnya defisit pemerintah dan tingkat bunga pada tahun 90an. total belanja pertahanan dan militer telah mengalami kenaikan kembali. baik dari sisi kemanusiaan maupun sisi ekonomis. Namun demikian. Perang Irak yang diawali dengan serangan Inggris dan Amerika Serikat ke Irak telah menambahkan total belanja pertahanan dan militer secara signifikan. membuat AS menjadi lokomotif ekonomi dunia. sifat ketidakamanan (insecurity) telah berubah. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa negara-negara berkembang tersebut di atas baru saja keluar dari kemelut dan peperangan. Burundi dan Ethiopia juga membelanjakan lebih dari AS. belanja militer mengganggu belanja pendidikan. yang disinyalir mencapai tiga perempat dari total kenaikan belanja pertahanan dan militer dunia antara tahun 1996 dan 2002. Pada tahun 2003. Saudi Arabia membelanjakan lebih dari jumlah tersebut. Selama beberapa puluh tahun terakhir ini. Seperti hasil penelitian yang dilakukan oleh IDS. Dividen Perdamaian Sama dengan yang dilakukan oleh banyak negara lainnya. Jepang. belanja pertahanan dan militer seluruh dunia mengalami penurunan drastis selama sepuluh tahun. Yordania. antara tahun 1988 sampai dengan 1998. kesehatan dan pembangunan sosial. Namun demikian. juga bila tidak ada konflik lokal di tingkat regional negara-negara miskin tersebut. Kuwait. Pada saat yang sama. antara lain perlu dicatat bahwa pada negara-negara miskin. Inggris. dengan trend yang terus meningkat. Apabila tujuan utama dari belanja publik adalah untuk meningkatkan keamanan dan pembangunan manusia. yang menyebabkan banyak orang merasa bahwa dividen perdamaian tidak terlaksana. Dari sisi ekonomis. Namun demikian. peningkatan belanja militer dalam persentase atas GDP berhubungan dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi. Setelah berakhirnya perang dingin. Insecurity tidak lagi terutama bersumber dari negara . Amerika Serikat membelanjakan 6% dari GDPnya untuk belanja pertahanan dan militer. Dampak menguntungkan dari pengurangan belanja pertahanan AS ini sebetulnya akan dapat lebih dinikmati oleh negara-negara miskin kalau saja Bretton Woods Institution (World Bank dan IMF) tidak memaksakan kebijakannya. negara ini juga mengurangi belanja pemerintah. Namun demikian. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa prospek perekonomian AS dan seluruh dunia tampaknya tidak begitu baik. yang membuat era ini merupakan masa terpanjang bagi pertumbuhan ekonomi AS. Antara tahun 1998 dan 2002.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 329 pertahanan dan militer seluruh dunia dan kurangnya pengeluaran untuk mengatasi tantangan kesejahteraan masyarakat dan pembangunan manusia. Lima belas negara yang belanja pertahanan dan militernya teratas di dunia adalah negara maju seperti Amerika Serikat. Amerika Serikat menandai akhir perang dingin dengan pengurangan besar-besaran atas belanja militernya pada tahun 90an. dimana hal ini sangat menguntungkan (baik secara nyata maupun secara potensial) negara-negara miskin. belanja militer AS untuk perang di Irak dan di Afganistan telah membuat anggaran belanja AS defisit. belanja pertahanan dan militer dalam jumlah besar ini tetap merupakan satu hal yang menjadi keprihatinan pemerhati negara berkembang.2% dari GDP mereka untuk militer. banyak negara berkembang yang membelanjakan lebih besar bagian dari sumber daya nasionalnya untuk belanja pertahanan dibandingkan dengan negara-negara maju tersebut di atas. pada tahun 2001 lima negara Timur Tengah yaitu Israel. Pertumbuhan ini telah memberikan dampak positif terhadap perekonomian global. Setelah 1998 sampai buku ini dibuat tahun 2005. Perancis dan Jerman. Namun demikian. Belanja pertahanan dan militer merupakan masalah pembangunan. dan tahun 2003 diperkirakan total belanja pertahanan dan militer melebihi satu trilyun dolar AS. uang tersebut seringkali dibelanjakan ke tempat yang salah. masalah pokok tidak hanya terdapat pada terlalu banyaknya uang yang dibelanjakan untuk peralatan dan personel militer. India dan Cina yang termasuk negara berkembang telah meningkatkan belanja pertahanan dan militernya sebanyak 18% dan 9%. Pengurangan defisit ini merupakan pendorong utama bagi pertumbuhan ekonomi AS tahun 90an. Apabila kita melihat perbandingan antara belanja pertahanan terhadap sumber daya nasional. dan pertambahan ini didominasi oleh kenaikan belanja pertahanan dan militer Amerika Serikat. belanja pertahanan seluruh dunia telah meningkat sebanyak US$ 800 milyar. yaitu antara 8% sampai 13% dari GDP mereka untuk militer. mengingat bahwa peningkatan belanja militer di satu negara di dunia akan mempunyai dampak terhadap kesejahteraan dan penghidupan bangsa lain (yang bukan saja bersumber dari serangan yang dilancarkan oleh negara yang belanja militernya meningkat tersebut terhadap bangsa lain). Dari sisi kemanusiaan.

dimana negara tersebut merasakan manfaat yang besar dari menghapuskan belanja militer dan mengalokasikannya secara langsung kepada sektor kesehatan. terhadap faktor-faktor baru. dominasi militer dalam pengambilan keputusan dan tidak adanya pertanggungjawaban publik. termasuk jalan antar negara bagian. malaria. pemerintah daerah dan antar pemerintah daerah lainnya. Sebagian yang lain dilakukan oleh pemerintah federal dengan mentransfer hampir seluruh penerimaannya melalui grant kepada tingkat pemerintah di bawahnya dan sebagian besar diterima oleh negara bagian. Hal yang mutlak untuk dilaksanakan adalah menganalisa dengan menjabarkan berbagai pilihan yang tersedia untuk mengalokasikan sumber daya. maka respon yang diberikan tentunya juga harus berubah. § Perkiraan pajak yang besar. juga untuk menyikapi kenyataan masa kini dimana hanya ada satu negara adikuasa. Pembagian kerja dan . dan kekerasan berbasis gender. Human security approach inilah yang mendasari banyak lembaga non pemerintah internasional seperti Oxfam International mengadakan kampanye untuk mengingatkan pemerintah negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Inggris untuk tidak menjual peralatan militer kepada negara-negara berkembang. tanpa memperhatikan dan mengatasi akar masalah dari tingginya belanja militer: lemahnya pemerintahan. HIV/AIDS. Dengan berubahnya konteks permasalahan. Pendekatan ini dikenal dengan nama human security approach. paling banyak dilakukan pada tingkat negara bagian. banyak pihak juga mengecam tindakan beberapa negara donor yang mempersyaratkan negara berkembang untuk melakukan pengurangan senjata dan pengurangan belanja militer dan pertahanan. Ancaman utama saat ini lebih banyak merupakan ancaman terhadap human insecurity. Perlucutan senjata dan pembangunan masa kini memerlukan pendekatan baru. § Jalan raya membutuhkan pembiayaan yang sangat besar. Setiap negara perlu memilih mana yang akan dijadikan prioritas. bencana alam dan lain-lain yang bersumber dari berbagai hal namun memiliki dampak yang sama: membuat hidup banyak orang terancam dan menjadi makin rentan. yang berkaitan dengan ancaman baru (dan terus berubah) terhadap keamanan. saat ini pemerintah baik negara maju maupun negara berkembang perlu mengalokasikan sumber dayanya untuk mengatasi tantangan yang paling mengancam kesejahteraan warganya. dengan alasan bahwa akan jauh lebih bermanfaat bagi negara-negara ini apabila dana tersebut dialokasikan ke sektor kesejahteraan. JALAN RAYA Keunikan sistem jalan raya sebagai barang publik menyangkut tiga hal yaitu: § Kerjasama yang rapi antara pemerintah pusat.330 Bab 15: Kebijakan Belanja Publik Sektor-sektor Umum tetangga karena masalah pertikaian perbatasan dengan negara tetangga sebagai musuh yang jelas. Namun pengalaman negara seperti Costa Rica dapat dijadikan contoh. TBC. Karena itulah. yang terdapat dalam bentuk kejahatan perkotaan. setelah menimbang-nimbang berbagai kombinasi pilihan yang paling tepat untuk mengatasi human insecurity. Di pihak lain. pengungsian. Namun demikian. Sedangkan pemerintah lokal bertanggung jawab terhadap jalan raya di daerahnya. Kerjasama Antar Unit Pemerintah Pengeluaran untuk jalan raya di Amerika Serikat. pendidikan dan sektor lain yang berkaitan langsung dengan pembangunan manusia. negara produsen peralatan militer perlu juga menimbang-nimbang antara pentingnya memperoleh pendapatan dari penjualan senjata dibandingkan dengan komitmen mereka untuk mendukung pembangunan berkelanjutan. Analisa semacam ini tidak mudah dan tidak akan pernah mudah.

penerimaan berasal dari pajak bahan bakar. Negara bagian pada umumnya mempunyai kebebasan yang cukup memadai dalam merancang struktur fiskal masing-masing dan dalam mengendalikan . penerimaan jalan raya diperoleh dari retribusi dan pajak kendaraan bermotor. terutama dibiayai oleh pemerintah lokal dan negara bagian meskipun pengendalian sistem pendidikan tetap berada di bawah pemerintah lokal. Pada tingkat negara bagian. yaitu penghasilan yang ditransfer dari Highway Trust Fund dalam bentuk grant antar pemerintahan. Masalah-Masalah Kebijakan Pendidikan Permasalahan yang ada dalam kebijakan pendidikan menyangkut apa yang seharusnya diajarkan di sekolah negeri (kurikulum).Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 331 pembiayaan ini menunjukkan perhatian yang besar dari pemerintah. siapa yang berhak memperoleh pendidikan. Sedangkan pada tingkat pemerintah lokal. jalan raya dibiayai dari general fund. yang selanjutnya dipakai untuk membangun jalan negara bagian dan sebagian lainnya ditransfer ke pemerintah lokal dalam bentuk grant. negara bagian. meskipun tidak terlalu besar karena pendidikan pada dasarnya tetap merupakan jasa publik yang harus disediakan oleh pemerintah. PENDIDIKAN Anggaran pendidikan di Amerika Serikat. Dana negara bagian yang disalurkan kepada pemerintah lokal dalam bentuk bantuan dan subsidi terutama untuk mendanai pendidikan tingkat tinggi. maupun pemerintah lokal lainnya. bagaimana proses pengajaran berlangsung. Penerimaan dari tarif tol tidak terlalu siginifikan dibanding dengan sumber pendanaan lainnya. Pemerintah federal juga ikut membiayai pembangunan pendidikan. Swasta ikut memberikan andil membiayai pendidikan juga meskipun kontribusinya tidak sebesar pemerintah. Untuk tingkat federal. Pembiayaan Melalui Pungutan Kepada Pemakai Pembangunan jalan raya sebagian besar didanai oleh pemakai jalan. dan apakah sebaiknya pemerintah memberikan bantuan kepada lembaga pendidikan swasta juga. yang salah satunya berasal dari pajak atas kekayaan yang dimiliki penduduk lokal serta dari pembebanan khusus lainnya. baik federal.

Karena itulah. Namun demikian. Studi yang dilakukan oleh Institute of Development Studies di Inggris pada tahun 2004 menganalisa belanja publik bagi sektor pendidikan di subSaharan Afrika dan Asia Selatan. Penganjur pendidikan berpendapat bahwa pendidikan merupakan kepentingan umum sehingga harus disediakan oleh pemerintah. serta memberikan prioritas yang tinggi terhadap pendidikan dasar. agar pendidikan dasar dapat dicapai oleh semua anak usia sekolah. akan tetapi merupakan persoalan politik.332 Bab 15: Kebijakan Belanja Publik Sektor-sektor Umum pemerintah lokal yang secara langsung bertanggung jawab dalam penyediaan pendidikan. Pengukuran cara pertama dengan menghitung pungutan kepada pemakai. Pada tingkat ini. FASILITAS REKREASI Pembangunan fasilitas rekreasi memberi manfaat ganda yakni manfaat bagi pemakai. Masalah pokok yang juga timbul adalah berkaitan dengan tingkat kualitas pendidikan. perlu adanya komitmen pemerintah untuk mereformasi belanja publik dan sektor swasta. Konsumen pendidikan mengharapkan pemberian pendidikan yang sama atau paling tidak ada standar minimum. kelayakan proyek dihitung berdasarkan rencana tarif yang . tidak ada keharusan menurut konstitusi bahwa pendidikan harus sebanding di seluruh negara bagian. Hasil yang efisien akan dapat diperoleh jika terdapat persaingan yang sehat antara lembaga pendidikan negeri dan swasta. Persoalan pendidikan bukanlah hanya persoalan fiskal saja. dengan fokus utama pada pendidikan dasar. Pengukuran manfaat atas barang ini dapat dilakukan dengan berbagai cara. manfaat bagi masyarakat di sekitarnya dan manfaat lain . Fasilitas rekreasi merupakan barang publik yang bersifat barang akhir atau barang konsumsi. meningkatkan efisiensi. Dengan cara ini. Persaingan yang dapat dilakukan oleh sekolah-sekolah swasta perlu didukung dengan kebijakan dalam menjamin persaingan yang sehat oleh pemerintah.seperti keindahan alam. timbul perdebatan tentang perlunya monopoli pemerintah atas sekolah pada tingkatan itu. Problem utama dalam penyediaan fasilitas rekreasi adalah seberapa besar manfaat barang tersebut dapat dinikmati oleh publik. Pendidikan dasar dan menengah sebagian besar disediakan oleh pemerintah melalui sekolah negeri. akan tetapi mereka juga setuju bahwa tidaklah berarti bahwa pendidikan harus disediakan oleh sekolah negeri. Hal ini telah mendapat dukungan undang-undang di negara bagian dan telah pula diakui oleh Mahkamah Agung bahwa setiap warga negara berhak atas perlakukan yang sama dalam bidang pendidikan. Studi ini menemukan bahwa tingginya angka masuk sekolah berkaitan tidak hanya pada belanja publik untuk pendidikan dasar melainkan juga dengan adanya unit cost yang jelas dan sederhana. tidak seperti jalan raya yang bersifat barang antara.

Misalnya lapisan ozon di cakrawala. pengendalian banjir. Sebagai alternatif. Kemudian. Barang publik bisa juga dapat menjadi global melalui konsensus atau kesepakatan dunia.misalnya pada saat berbagai negara menyepakati suatu strategi internasional untuk menanggulangi penyakit menular. harus dipertimbangkan. GLOBAL PUBLIC GOODS Penjelasan mengenai public goods sudah Anda dapatkan pada bab terdahulu. Analisis pasar dapat digunakan dalam penilaian manfaat atas fasilitas rekreasi. meskipun tidak dapat diukur dengan mudah melalui pengujian pasar. Selain berbagai manfaat di atas. misalnya keindahan alam dan margasatwa. dapat dilakukan pembobotan dalam menilai waktu para pemakai fasilitas ini dengan membandingkan efisiensi dari setiap alternatif penggunaan dana. Cara kedua adalah dengan melakukan penghitungan kesediaan membayar para pemakai untuk penyediaan fasilitas rekreasi. Fasilitas rekreasi merupakan barang publik sehingga penilaian dan pembobotan sosial atas fasilitas rekreasi harus lebih diutamakan. Cara lain adalah dengan penghitungan manfaat yang dapat dilakukan dengan menghitung biaya yang dikeluarkan oleh pemakai dalam melakukan rekreasi keluar rumah. yang mengacu pada barang publik yang kegunaannya mendunia atau bisa bermanfaat tidak saja bagi satu kelompok masyarakat tertentu melainkan bagi seluruh dunia dan berbagai generasi. yang penting bagi seluruh dunia sepanjang masa. hal ini dapat dianggap sebagai subsidi untuk jenis jasa swasta. Contoh lain adalah sebuah bendungan dapat dinilai manfaatnya sebagai pembangkit tenaga listrik. ada cara ketiga dengan analogi fasilitas swasta yang menarik iuran dari para anggotanya sebagai dasar penghitungan manfaat. Sebagai contoh. Dan. perlu juga dipertimbangkan manfaat dalam bentuk lain dari suatu fasilitas rekreasi. atau mengamankan hak cipta. meski pun bukan satu-satunya cara. Dari penghitungan tersebut. Tujuan non finansial tertentu. . bukan penilaian seperti yang dilakukan dalam pengadaan fasilitas swasta.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 333 akan dibebankan kepada para pengguna yang kemudian dibandingkan dengan biaya proyek. proyek sumber daya air dapat mempunyai manfaat ganda. selain untuk rekreasi juga dapat digunakan untuk konservasi sumber daya air. kurva permintaan dapat disimulasikan sehingga dapat dijadikan dasar pengukuran manfaat. Saat ini. di era globalisasi ada istilah global public goods. selain ditujukan untuk rekreasi. irigasi.

Salah satunya adalah untuk menyelamatkan perusahaan negara yang terus menerus merugi dan menghabiskan keuangan negara. telekomunikasi. kesehatan. Karena itulah. listrik. tugas pemerintah hanya mengawasi. menurut mereka. Argumentasi ini berakar dari ketidakpercayaan mereka terhadap kinerja pemerintah yang dinilai lamban dan tidak efisien. tanpa menghiraukan misi sosial dalam pelaksanaannya. menurut data World Bank (2001). Kekhawatiran lain yang lebih mendasar adalah apabila privatisasi atau swastanisasi ini . Walaupun trend untuk melakukan privatisasi di negara maju telah dimulai pada tahun 80-an. saat ini privatisasi juga telah menjadi praktek umum di negara berkembang. Misalnya dengan meningkatkan harga air dan tarif dasar listrik tanpa memandang kemampuan masyarakat. manajemen yang lebih profesional dan penggunaan teknologi yang lebih canggih. dan transportasi seringkali dialihkan ke sektor swasta oleh pemerintah pusat maupun daerah. belum lagi ditambah dengan masalah korupsi yang ditudingkan pada aparat pemerintah. Alasan privatisasi bisa berbagai macam. memberikan pelayanan yang lebih baik daripada negara dengan suntikan dana segar. dengan menjual sumber daya alam. Oleh karena itu. Namun demikian. keputusan untuk melakukan privatisasi seringkali merupakan keputusan yang kontroversial. privatisasi termasuk salah satu yang dianjurkan oleh lembaga keuangan internasional seperti World Bank dan IMF bagi negara-negara berkembang. barang dan jasa publik sebaiknya diserahkan pada sektor swasta. dalam hal pemerintah tidak capable sebagai penyelenggara barang dan jasa publik. pendidikan. migas. Misalnya. Alasan lain adalah harapan bahwa pihak swasta akan dapat mengelola perusahaan-perusahaan tersebut dengan lebih efisien.334 Bab 15: Kebijakan Belanja Publik Sektor-sektor Umum PRIVATISASI BARANG PUBLIK Penyediaan barang publik oleh pemerintah saat ini banyak mendapat tantangan. Kekhawatiran yang ada menyangkut kemungkinan bahwa perusahaan swasta akan meningkatkan efisiensi perusahaan. 40 persen dari pendapatan negara-negara maju yang didapat dari privatisasi pada tahun 1999 diperoleh dari penjualan hak atas pertambangan migas. pertanian dan kehutanan. dan biarkan mekanisme pasar yang menentukan. merupakan fenomena yang umum terjadi di dunia ini. terutama dari kaum neo-liberalist. Alasan utama yang dikemukakan adalah bahwa market failure juga bisa terjadi dalam hal barang dan jasa publik diselenggarakan oleh pemerintah. Privatisasi (yaitu penjualan barang publik) kepada pihak swasta. Tidak ada jasa yang luput dari privatisasi: perbankan. air. terutama bila pemerintah menyerahkan pengelolaan air minum dan listrik kepada sektor swasta. barang tambang.

peningkatan pelayanan. Bolivia oleh Bechtel Corporation. dimana konsumen membayar harga yang meliputi seluruh biaya. dan mempercepat investasi bagi perluasan jasa penyediaan” (World Bank. menyatakan bahwa 80 persen populasi belum memiliki akses kepada air yang mengalir (running water). yang merupakan hasil dari pemikiran liberal (pasar) dari bank dunia. 1992). Dengan demikian privatisasi. Hak atas air yang setara juga diteguhkan dalam Ecosoc Declaration (Deklarasi Ekonomi. dan bukan komoditas ekonomi belaka. Banyak perusahaan air swasta yang berkecimpung dalam bisnis air minum juga merupakan produsen air minum dalam kemasan. identik dengan kenaikan harga tarif air. Laporan Pemerintah Indonesia pada World Water Forum III di Kyoto. sebagaimana yang telah terjadi di sejumlah negara.7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. memberlakukan air sebagai komoditas yang bernilai komersial. dimana pengelolaan oleh sektor swasta tidak saja mengakibatkan harga yang mahal namun juga mengakibatkan sebagian masyarakat yang tidak mampu membayar tersingkirkan (excluded). . Undang-Undang No. 41. banyak pihak beranggapan bahwa pasal-pasal dan ayat dalam UU No. Baik World Bank dan ADB dalam “Kebijakan Air”-nya mendorong diterapkannya mekanisme harga yang mengadopsi Full Cost Recovery. seperti di Cochabamba. Pada tingkat internasional.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 335 menyangkut sumber daya alam yang merupakan hajat hidup orang banyak. Oleh karena itulah. 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air tersebut memberi ruang bagi peran swasta dalam penyelenggaran air. Kalimat tersebut mengandung makna tanggung jawab negara untuk menjamin dan menyelengarakan penyediaan air yang menjangkau setiap individu warga negara. Konsep hak guna. 40. dengan disahkannya Undang-undang No. air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”. Privatisasi Air Minum Salah satu contoh privatisasi barang publik yang sedang menjadi sorotan masyarakat akhir-akhir ini adalah pengelolaan air. maupun pengelolaan sumber-sumber air di pedesaan oleh swasta. air yang diperoleh masyarakat saat ini masih berada di bawah harga pasar dan perlu dinaikkan. Padahal. Jepang.Menurut World Bank. World Bank menyatakan “ Manajemen sumber daya air yang efektif haruslah memperlakukan air sebagai “komoditas ekonomis” dan “ partisipasi swasta dalam penyediaan air umumnya menghasilkan hasil yang efisien. Undang-Undang Sumber Daya Air ini merupakan persyaratan pencairan pinjaman ketiga proyek WATSAL tersebut. 7/2004 tersebut mengingkari penghargaan terhadap hak asasi manusia dan welfare state. menunjukkan bahwa privatisasi dapat membuat kenaikan harga yang mempersulit akses rakyat miskin untuk mendapatkan air bersih. dan Budaya) PBB pada bulan November 2002. Komite ini juga menyatakan bahwa air adalah harus diberlakukan sebagai barang sosial dan kultural. dan pasalpasal pelaksana lain. 10. Bank dunia menyatakan harus ada perubahan kebijakan (policy reform) dalam pengelolaan air di Indonesia ke depan sebagai syarat dari pinjaman tersebut. 1995). Privatisasi air akan meliputi jasa penyediaan air di perkotaan. undang-undang ini merupakan bagian dari syarat pencairan pinjaman ketiga proyek WATSAL (Water Sector Adjustment Loan) didanai bank dunia. Secara kronologis. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah sesungguhnya masih memiliki kewajiban yang besar untuk memenuhi hak dasar rakyat Indonesia atas air. 80. Undang-undang ini juga memungkinkan penguasaan sumber-sumber air oleh pemodal. Pengalaman masa lalu tentang privatisasi air. UUD 1945 pasal 33 ayat 2 menjamin hak dasar tersebut. Pasal 33 ayat 2 tersebut menyatakan. Konferensi Dublin mengenai Air dan Lingkungan di tahun 1992 menyatakan bahwa hak dasar (basic right) yang pertama bagi semua umat manusia adalah akses kepada air dan sanitasi dengan harga yang terjangkau (FAO. 45. yang berkaitan dengan pasal tersebut. “Bumi. Sosial. dengan diberikannya Hak Guna Usaha kepada individu dan badan usaha. 26. sebagaimana disebutkan dalam pasal 9.

penyediaan dana tersebut menjadi kendala tersendiri bagi pemerintah. Hal ini telah dialami oleh banyak negara berkembang lain. Prinsip pembuat polusi harus membayar mahal (polluters pay principle) harus diterapkan secara konsisten untuk mencegah kerusakan sumber daya air yang lebih luas. melakukan pengawasan dan kontrol yang ketat terhadap biaya modal dari suatu investasi swasta dalam pengusahaan sumber daya air untuk mencegah pembebanan harga/tarif yang berlebihan kepada publik. Analisis sektor diperlukan untuk menjawab pertanyaan tentang pilihan. Kedua. Prinsip-prinsip konservasi dan pemeliharaan harus mendapatkan prioritas utama. dan perawatan sumber daya air. (4) mengevaluasi kapasitas lembaga-lembaga tiap sektor dalam melaksanakan kebijakan-kebijakan publik. pemulihan. RANGKUMAN § Pengeluaran publik dikelompokkan ke dalam sektor-sektor. bertanggung jawab. Mekanisme ini dapat menjadi alat pemerataan keadilan jika dirancang secara baik dan tepat. (3) menentukan prioritas investasi dalam rangka identifikasi proyek-proyek khusus lain dan studi pra investasi tambahan yang diperlukan. jika tidak diatur dengan hati-hati. dampaknya akan meningkatkan harga jual air yang justru dapat membatasi dan mengurangi akses masyarakat atas air bersih dan sanitasi. masyarakat harus mulai belajar melakukan penghematan penggunaan air sebagai wujud pengakuan hak orang lain atas air. prioritas.336 Bab 15: Kebijakan Belanja Publik Sektor-sektor Umum Namun demikian. Pertama. Contoh di mana telah terjadi kekerasan akibat privatisasi air ini dialami oleh wilayah Cochabamba di Bolivia. antara lain: (1) membantu pertimbangan strategis dan kebijakan untuk seluruh perekonomian. Rumitnya pengelolaan penyediaan air ini bukan hanya milik Indonesia. Mekanisme lain yang menjamin hak dasar rakyat atas air dan perlindungan dari eksploitasi yang berlebihan akibat ketidaksempurnaan pasar harus terus dielaborasi dan direalisasikan. pemerintah membutuhkan dana sebesar Rp 5. Diperkirakan.Untuk mengatasi masalah ini. Keterlibatan sektor swasta dalam berinvestasi di sektor ini mungkin dapat menjadi salah satu solusi. dan hubungan antara sektor di antara proyek dan program yang dilaksanakan pemerintah. Ketiga. Tantangan lainnya adalah bagaimana agenda-agenda reformasi sumber daya air dapat diarahkan pada upaya-upaya yang berwawasan lingkungan dalam rangka memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat dan menjamin ketersediaan air bagi generasi yang akan datang. (2) memungkinkan penilaian strategis dan kebijakan pembangunan sektor yang mendorong kontribusi sektor terhadap pembangunan ekonomi negara. dan melibatkan partisipasi publik yang efektif guna menjamin check and balances. diperlukan sumber dana yang besar untuk pembangunan infrastruktur pengairan. pemerintah perlu melakukan beberapa hal. Tujuan analisis sektor. Di lain pihak. untuk dapat memenuhi kewajiban penyediaan air tersebut. Tujuan analisis sektor adalah untuk menjembatani kesenjangan antara kebijakan ekonomi makro tingkat § . perlu mekanisme subsidi yang terarah yang menutupi kesenjangan (gap) antara tingkat kemampuan membayar masyarakat dan harga penyediaan air yang wajar. Akan tetapi.1 triliun setiap tahun untuk menyediakan air bersih bagi 40 persen populasi sampai tahun 2015. mendorong otoritas-otoritas yang bertanggung jawab atas penyediaan dan pengusahaan air untuk menjalankan sistem yang transparan. Di tengah masalah ekonomi.

masalah kebijakan luar negeri seperti kesediaan menerima resiko konflik militer. masalah pemilihan sistem persenjataan. dan antar pemerintah daerah lainnya. . (3) analisis sektor membantu menjamin bahwa proyek-proyek individu terpilih didasarkan pada perencanaan dasar kebutuhan dan prioritas sektor. diantaranya pajak atas kekayaan yang dimiliki penduduk lokal. kebijakan upah dan tingkat bunga. (3) perkiraan pajak yang besar. program-program investasi dan kebijakan ekonomi mikro dari proyek individu. dan masalah kekuatan militer yang meningkatkan akibat pengrusakan. Sementara untuk tingkat pemerintah lokal penerimaan diperoleh dari general fund. Sementara dampak terhadap pertumbuhan produktivitas yang didapat dari bukti empiris menunjukkan bahwa negara dengan persentase belanja pertahanan yang kecil mengalami pertumbuhan produktivitas yang lebih cepat dibandingkan negara dengan persentase belanja pertahanan yang lebih besar. yaitu: (1) kerjasama yang rapi antara pemerintah pusat. dan kebutuhan investasi untuk sektor secara keseluruhan sebagai masukan bagi keputusan badan perencana mengenai program dan prioritas investasi nasional. masalah keseimbangan antara angkatan darat. Pada tingkat federal di Amerika Serikat. perencanaan yang kompleks. struktur pajak. dan perubahan kebijakan dan kelembagaan perlu berprestasi baik pada tingkat proyek atau tingkat ekonomi mikro. pemerintah daerah. seperti nilai tukar.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 337 § § § § § nasional. Sistem jalan raya sebagai barang publik memiliki tiga hal keunikan. lapangan kerja. Untuk negara bagian penerimaan diperoleh dari retribusi dan pajak kendaraan bermotor lalu sebagian ditransfer dalam bentuk grant kepada pemerintah lokal. Dampak besarnya belanja pertahanan bagi industri yaitu besarnya pengeluaran untuk pengadaan struktur industri serta pertumbuhan produktivitas dalam bidang peralatan pertahanan. yaitu penghasilan yang ditransfer dalam bentuk grant antar pemerintahan. sub sektor dan proyek. (2) jalan raya membutuhkan pembiayaan yang sangat besar. Metode yang dapat digunakan dalam analisis sektor: (1) melengkapi cakupan ekonomi makro dengan menganalisis pengaruh terhadap sektor. variabel-variabel kebijakan umum. Masalah utama dalam belanja pertahanan antara lain. pembangunan jalan raya dibiayai dari penerimaan yang berasal dari pajak bahan bakar. laut. udara dan marinir. (2) analisis sektor memberikan perkiraan potensi hasil.

(c) analogi fasilitas swasta yang menarik iuran dari para anggotanya sebagai dasar penghitungan manfaat. Privatisasi (penjualan barang publik) dilakukan dengan berbagai alasan: (a) untuk menyelamatkan perusahaan negara yang terus menerus merugi dan menghabiskan keuangan negara. kurva permintaan sebagai dasar pengukuran manfaat. memberikan pelayanan yang lebih baik dengan suntikan dana segar (c) manajemen yang lebih profesional dan (d) penggunaan teknologi yang lebih canggih. kinerja pemerintah yang lambat dan tidak efisien dan masalah korupsi di tingkat pemerintahan. (b) melakukan penghitungan kesediaan membayar para pemakai untuk penyediaan fasilitas rekreasi. Barang publik bisa juga dapat menjadi global melalui konsensus atau kesepakatan dunia. dan manfaat lain seperti keindahan alam. bagi pemakai. (d) apakah sebaiknya pemerintah memberikan bantuan kepada lembaga pendidikan swasta serta (e) tingkat kualitas pendidikan. masyarakat sekitar. Fasilitas rekreasi merupakan barang akhir atau konsumsi sementara jalan raya merupakan barang antara. Perlu adanya kebijakan yang menjamin persaingan yang dilakukan sekolah-sekolah swasta. .338 § Bab 15: Kebijakan Belanja Publik Sektor-sektor Umum § § § § § § Permasalahan dalam kebijakan pendidikan antara lain: (a) apa yang seharusnya diajarkan di sekolah negeri (kurrikulum). Cara mengukur manfaat atas fasilitas rekreasi dapat dilakukan dengan cara: (a) kelayakan proyek dihitung berdasarkan rencana tarif yang akan dibebankan kepada pengguna lalu dibandingkan dengan biaya proyek. (c) siapa yang berhak memperoleh pendidikan. Problem utama dalam penyediaan fasilitas rekreasi adalah seberapa besar manfaat atas barang ini dapat dinikmati oleh publik. Contoh: lapisan ozon. Pembangunan fasilitas rekreasi memberi manfaat ganda. (e) melakukan pembobotan dalam menilai waktu para pemakai dengan membandingkan efisiensi dari setiap alternatif penggunaan dana. (b) bagaimana proses pengajaran berlangsung. (d) menghitung biaya yang dikeluarkan oleh pemakai dalam melakukan rekreasi ke luar rumah. Global Public Goods adalah barang publik yang kegunaannya mendunia atau bisa bermanfaat tidak saja bagi satu kelompok masyarakat melainkan bagi seluruh alam. Kaum neo-liberalist menginginkan agar penyediaan barang publik diserahkan kepada sektor swasta karena market failure juga bisa terjadi pada barang dan jasa publik yang diselenggarakan oleh pemerintah. (b) harapan bahwa pihak swasta akan dapat mengelola perusahaan dengan lebih efisien.

Sebutkan metode apa saja yang dapat digunakan dalam analisis sektor ? 3. Jelaskan sistem/mekanisme kerjasama antar unit pemerintah dalam pengeluaran biaya untuk pengadaan fasilitas jalan raya ! 15. antara lain jika perusahaan swasta meningkatkan efisiensi tanpa menghiraukan misi sosial dengan menaikkan harga tanpa memandang kemampuan masyarakat dan mengakibatkan sebagian masyarakat yang tidak mampu membayar tersingkirkan (excluded). Mengapa persoalan pendidikan bukan hanya persoalan fiskal tetapi juga persoalan politik.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 339 § Keputusan untuk melakukan privatisasi merupakan keputusan yang kontroversial karena menimbulkan beberapa kekhawatiran. Mengapa analisis sektor diperlukan ? 12. Mengapa suatu kebijakan pertahanan dapat dipandang sebagai kebijakan subjektif? 4. Mengapa fasilitas rekreasi memberikan manfaat ganda ? 8. Sebutkan keunikan sistem jalan raya sebagai barang publik ! 6. Apa yang dimaksud dengan cara pengukuran analogi fasilitas swasta ? 9. Bagaimana dampak belanja pertahanan nasional terhadap industri ? 14. LATIHAN 1. Jelaskan tujuan analisis sektor dan mengapa diperlukan ? 2. Jelaskan dampak terhadap pertumbuhan produktivitas atas belanja pertahanan nasional! 5. Mengapa belanja pertahanan diperlukan bagi suatu negara ? 13. Apa dasar pengukuran manfaat failitas rekreasi dengan cara pertama ? 11. Bagaimana bentuk pembiayaan di dalam pengadaan barang dan jasa milik umum khususnya jalan tol ? . 10. Jelaskan masalah-masalah yang ada dalam kebijakan pendidikan ! 7.

Sampai sejauh mana tingkat tunjangan diberikan tergantung pada kemampuan finansial masing-masing negara dan juga aliran pemikiran ekonomis negara tersebut.KEBIJAKAN BELANJA PUBLIK DALAM TUNJANGAN SOSIAL Terdapat berbagai macam bentuk tunjangan sosial yang dikelola pemerintah. serta di Indonesia sebagai sebuah negara berkembang yang masih mencari model yang cocok untuk kebijakan sosialnya. Berikut ini diuraikan kebijakan belanja publik dalam bentuk tunjangan sosial di Amerika Serikat (negara maju yang menganut sistem welfare state dalam arti bahwa negara hanya sebagai pengatur dan bukan pemain). PROGRAM JAMINAN SOSIAL DI AMERIKA SERIKAT .

Perumahan Murah Program ini merupakan program pemerintah federal dimana subsidi perumahan diberikan dalam bentuk hipotik berbunga rendah bagi petani berpenghasilan rendah. Kupon Makanan Rumah tangga (tidak terbatas umur) berhak memperoleh kupon makanan jika mempunyai aktiva atau berpenghasilan kotor yang kurang dari nilai yang ditetapkan oleh pemerintah federal. serta semua orang yang berumur diatas 65 tahun. Tunjangan Kesejahteraan . Program ini biasanya dirancang dan dikelola oleh negara bagian dengan berpedoman pada standar ketentuan yang ditetapkan oleh pemerintah federal. program ini diberikan melalui pemerintah lokal. terdapat sejumlah program tunjangan yang ditujukan untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Kriteria-kriteria tersebut antara lain adalah orang yang mempunyai pendapatan terbatas menurut kriteria SSA (Supplementary Security Income). Bantuan diberikan dalam bentuk Medicare yaitu asuransi kesehatan yang preminya dibayar oleh pemerintah suatu negara.342 Bab 16: Kebijakan Belanja Publik dalam Tunjangan Sosial Tunjangan kepada Penghasilan Rendah Di Amerika Serikat. Meskipun demikian. Komponen-komponen utama program tersebut antara lain sebagai berikut: Medicaid Program ini ditujukan bagi semua orang yang memenuhi kriteria AFDC (Aid to Families with Dependent Children) yang sering disebut sebagai program kesejahteraan. Jaminan Penghasilan Tambahan Tunjangan ini diberikan dalam bentuk pembayaran tunai kepada orangorang yang penghasilannya atau aset seseorang kurang dari jumlah minimum yang ditetapkan. Program ini dikelola oleh pemerintah federal.

kebijakan pemberian tunjangan alternatif ini dapat mengurangi jumlah bantuan yang dapat diberikan kepada golongan yang paling membutuhkan. maka pajak negatif akan menurun sampai pada titik mencapai nol dan sesudah itu terjadi pajak positif yang terhutang. Cara paling efektif dalam menunjang keluarga berpenghasilan rendah adalah dengan membagikan dana melalui pemenuhan kekurangan pendapatan mulai pendapatan tingkat bawah. Program ini dipandang sebagai program yang merendahkan martabat karena persyaratannya dibatasi pada keluarga yang tidak mempunyai kepala keluarga pria. Dengan demikian alternatif ini akan menjamin tingkat minimum yang cukup sesuai ketersediaan dana sosial pemerintah. HI (Health Insurance). Prinsip ini merupakan perluasan prinsip perpajakan progresif yang telah diterima umum dan berbagai cara untuk menggabungkan prinsip pajak negatif ke dalam struktur pajak positif telah dipertimbangkan. Program kesejahteraan ini paling banyak menimbulkan perdebatan. Selain itu. Asuransi Pensiun dan Cacat . pola tunjangan alternatif mulai dipertimbangkan. Jika pendapatan kotor meningkat. Namun demikian. Pola alternatif lain adalah bentuk pajak penghasilan negatif. Bantuan diberikan kepada orang-orang dengan pendapatan rendah atau yang tidak berpendapatan. dan DI (Disability Insurance). program ini dipandang tidak mendorong orang untuk bekerja lebih giat. Untuk mengatasi kritik ini. Tunjangan yang diberikan dinilai tidak memadai untuk standar kehidupan minimum yang layak. Asuransi Sosial Komponen-komponen utama dari asuransi sosial ini di Amerika Serikat meliputi sistem asuransi sosial OASI (Old Age and Survivors Insurance). karena tunjangan akan menurun jika pendapatan meningkat – sering disebut tarif pajak marjinal. Standar yang digunakan dapat berbeda antara satu negara bagian dengan negara bagian lain.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 343 Program AFDC menetapkan bahwa pemerintah federal memberikan bantuan kepada setiap negara bagian – baik uang tunai maupun dalam bentuk lain – yang kemudian dipakai untuk menunjang keluarga yang mempunyai anak di bawah 18 tahun yang belum mandiri. Titik permasalahan telah berubah dari memberikan keringanan dalam ekonomi kepada kesejahteraan anak dalam keluarga yang berorang tua tunggal.

Aturan tersebut menciptakan program kesejahteraan yang disebut Temporary Aid for Needy Families (disingkat TANF) yang pada intinya mengatur hal-hal dibawah ini. Sistem tunjangan dalam bentuk tunai dipandang oleh para ekonom dapat menimbulkan efek yang negatif bagi golongan penghasilan rendah dalam hal produktivitasnya.344 Bab 16: Kebijakan Belanja Publik dalam Tunjangan Sosial Peraturan OASI menetapkan bahwa program ini mencakup semua pekerja berusia dibawah 65 tahun dan bekerja di bidang komersial serta industri kecuali jalan kereta api dan karyawan pemerintahan yang mempunyai skema lain . Asuransi Kesehatan Setiap individu berhak atas jaminan sosial pensiun dan juga berhak atas Medicare pada usia 65 tahun. Sistem Tunjangan Sosial Terkini Seiring dengan perkembangan pemikiran aspek keadilan. Asuransi Pengangguran Program ini dibiayai dari pajak upah dan gaji federal dan pajak tambahan dari negara bagian yang dibayarkan oleh pemberi kerja. setiap orang yang mempunyai pendapatan di bawah batasan tertentu dan memenuhi persyaratan tertentu diberikan . Semua kontribusi dari pemerintah federal dan negara bagian dibayarkan kepada dan dikelola oleh Federal Unemployment Trust Fund. Prinsipnya adalah menggabungkan kontribusi pemberi kerja dan karyawan. dan jasa perawatan kesehatan rumah.berhak mendapatkan asuransi pensiun dan cacat yang preminya bersumber dari penerimaan pajak penghasilan upah dan gaji (payroll tax). biaya rawat jalan. pengaruhnya terhadap jasa medis yang diberikan. Salah satu perubahan yang substansial dari sistem kesejahteraan di Amerika Serikat berubah sejak diundangkannya Undang Undang Rekonsiliasi Kesempatan Kerja dan Tanggungjawab Personal tahun 1996. dan peranan asuransi swasta. sistem tunjangan sosial juga mengalami perubahan. Perdebatan sekitar asuransi kesehatan ini menyangkut apakah asuransi hanya mencakup orang yang berusia lanjut atau harus diperluas kepada seluruh penduduk. Perdebatan muncul karena menyangkut pembiayaan yang sangat besar. dan kalau diperluas bagaimana bentuknya. kebebasan memilih dokter. Tunjangan ini untuk memberikan perlindungan dasar terhadap biaya jasa rumah sakit. sehingga golongan penghasilan tinggi mempunyai preferensi memberikan kontribusinya dalam bentuk non tunai. § Menurut aturan AFDC.

jaminan kecelakaan kerja. TANF mengubah aturan bantuan tunai tersebut kecuali dalam hal bahwa bantuan secara tunai tersedia hanya temporer – tidak setiap saat . Setiap orang dewasa yang normal (tidak cacat) yang telah menerima pembayaran bantuan tunai selama dua tahun diharuskan mengambil bagian dalam suatu kegiatan yang ditujukan untuk membuat individu tersebut dapat menghidupi dirinya sendiri. Indonesia telah menjalankan beberapa program jaminan sosial. yang mencakup program jaminan pemeliharaan kesehatan. Selama beberapa dekade terakhir ini. Setiap negara bagian diberikan grant dari pemerintah federal untuk mendanai program kesejahteraan dimana jumlahnya adalah tetap. SISTEM JAMINAN SOSIAL DI INDONESIA Menurut UUD 1945. Untuk Pegawai Negeri Sipil (PNS). kemudian negara bagian tersebut melaksanakan program kesejahteraannya sepanjang tepat sasaran dalam batasan grant tersebut.berdasarkan ada tidaknya program tunjangan tunai tersebut. kehilangan pekerjaan. Undang-Undang yang secara khusus mengatur jaminan sosial bagi tenaga kerja swasta adalah Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (JAMSOSTEK). telah dikembangkan program Dana Tabungan dan Asuransi Pegawai Negeri (TASPEN) yang dibentuk dengan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 1981 dan program Asuransi Kesehatan . Melalui program ini. struktur pemberian bantuan kesejahteraan negara bagian dikendalikan oleh pemerintah federal. TANF mengatur bahwa individu tidak diijinkan menerima bantuan tunai untuk masa lebih dari lima tahun. Secara umum. Dengan demikian. Suatu negara bagian dapat menggunakan grant tersebut untuk membayar bantuan secara tunai. atau pensiun. Sistem Jaminan Sosial Nasional pada dasarnya merupakan program negara yang bertujuan memberi kepastian perlindungan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. jaminan sosial merupakan hak setiap warga negara dan oleh karena itu negara wajib menyediakannya. memasuki usia lanjut. melaksanakan program pelatihan kerja. karena menderita sakit. jaminan hari tua dan jaminan kematian. mengalami kecelakaan. setiap penduduk diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dasar hidup yang layak apabila terjadi hal-hal yang dapat mengakibatkan hilang atau berkurangnya pendapatan. atau program lainnya yang sejenis.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 345 § § § bantuan manfaat tunai secara mutlak tanpa pandang bulu. melaksanakan program pembatasan kehamilan.

Prinsip Sistem Jaminan Sosial Nasional adalah sebagai berikut: § Prinsip kegotong-royongan. akan tetapi tujuan utama penyelenggaraan jaminan sosial adalah untuk memenuhi sebesar-besarnya kepentingan peserta. telah dilaksanakan program Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ASABRI) sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 67 tahun 1991 yang merupakan perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1971. dan surplus anggaran akan dimanfaatkan sebesarbesarnya untuk kepentingan peserta. akuntabilitas. Prinsip ini diwujudkan dalam mekanisme gotong royong dari peserta yang mampu kepada peserta yang kurang mampu dalam bentuk kepesertaan wajib bagi seluruh rakyat. Sehubungan dengan hal di atas.346 Bab 16: Kebijakan Belanja Publik dalam Tunjangan Sosial (ASKES) yang diselenggarakan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1991 yang bersifat wajib bagi PNS/Penerima Pensiun/Perintis Kemerdekaan/ Veteran dan anggota keluarganya. Dana amanat. Untuk prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI). dipandang perlu menyusun Sistem Jaminan Sosial Nasional yang mampu mensinkronisasikan penyelenggaraan berbagai bentuk jaminan sosial yang dilaksanakan oleh beberapa penyelenggara agar dapat menjangkau kepesertaan yang lebih luas serta memberikan manfaat yang lebih besar bagi setiap peserta. dan peserta yang sehat membantu yang sakit. efisiensi dan efektivitas. peserta yang berisiko rendah membantu yang berisiko tinggi. dan PNS Departemen Pertahanan/TNI/POLRI beserta keluarganya. Di samping itu. Pengelolaan dana amanat tidak dimaksudkan untuk mencari laba (nirlaba) bagi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. . Prinsip-prinsip manajemen ini diterapkan dan mendasari seluruh kegiatan pengelolaan dana yang berasal dari iuran peserta dan hasil pengembangannya. jaminan sosial dapat menumbuhkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sebagian besar rakyat belum memperoleh perlindungan yang memadai. hasil pengembangannya. anggota Kepolisian Republik Indonesia (POLRI). § Prinsip nirlaba. kehati-hatian. § Prinsip keterbukaan. Berbagai program tersebut di atas baru mencakup sebagian kecil masyarakat. Melalui prinsip kegotong-royongan ini. pelaksanaan berbagai program jaminan sosial tersebut belum mampu memberikan perlindungan yang adil dan memadai kepada para peserta sesuai dengan manfaat program yang menjadi hak peserta.

Kepesertaan wajib dimaksudkan agar seluruh rakyat menjadi peserta sehingga dapat terlindungi. jaminan kecelakaan kerja. bersamaan dengan itu sektor informal dapat menjadi peserta secara sukarela.40/2004 adalah: . Badan Penyelenggara Jaminan Sosial dalam undang-undang ini adalah transformasi dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial yang sekarang telah berjalan dan dimungkinkan membentuk badan penyelenggara baru sesuai dengan dinamika perkembangan jaminan sosial. sehingga pada akhirnya Sistem Jaminan Sosial Nasional dapat mencakup seluruh rakyat. Prinsip kepesertaan bersifat wajib. Dana yang terkumpul dari iuran peserta merupakan titipan kepada badan-badan penyelenggara untuk dikelola sebaik-baiknya dalam rangka mengoptimalkan dana tersebut untuk kesejahteraan peserta. penerapannya tetap disesuaikan dengan kemampuan ekonomi rakyat dan pemerintah serta kelayakan penyelenggaraan program.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 347 § § § § § Prinsip portabilitas. jaminan pensiun. Prinsip dana amanat. Prinsip hasil pengelolaan Dana Jaminan Sosial Nasional dalam UndangUndang ini adalah hasil berupa dividen dari pemegang saham yang dikembalikan untuk kepentingan peserta jaminan sosial. Tahapan pertama dimulai dari pekerja di sektor formal. Meskipun kepesertaan bersifat wajib bagi seluruh rakyat. sehingga dapat mencakup petani. dan jaminan kematian bagi seluruh penduduk melalui iuran wajib pekerja. jaminan hari tua. Dalam Undang-Undang ini diatur penyelenggaraan Sistem Jaminan Sosial Nasional yang meliputi jaminan kesehatan. nelayan. dan mereka yang bekerja secara mandiri. Program-program jaminan sosial tersebut diselenggarakan oleh beberapa Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. Jaminan sosial dimaksudkan untuk memberikan jaminan yang berkelanjutan meskipun peserta berpindah pekerjaan atau tempat tinggal dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial sesuai UU No.

jaminan sosial yang ada saat ini masih sangat terbatas. terdapat lima jenis program jaminan sosial di Indonesia. Jenis program jaminan sosial meliputi: a. Sedangkan untuk anggota masyarakat yang tidak tergabung dalam sektor formal. jaminan kematian (JK). jaminan hari tua. Program JKK. Perusahaan Perseroan (Persero) Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ASABRI) d. Arifianto 2004). jaminan kecelakaan kerja (JKK). b. jaminan kematian. JK dan JHT diinvestasikan dalam sebuah dana tabungan wajib (provident fund) yang dikelola oleh sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Perusahaan Perseroan (Persero) Jaminan Sosial Tenaga Kerja (JAMSOSTEK) b. c. b. Perusahaan Perseroan (Persero) Dana Tabungan dan Asuransi Pegawai Negeri (TASPEN) c. sementara program JKP dapat dikontrakkan ke perusahaan asuransi kesehatan swasta apabila perusahaan dapat menunjukkan bahwa manfaat asuransi kesehatan swasta akan sama atau melebihi manfaat program JKP yang dikelola oleh PT (ILO. . jaminan kesehatan. yaitu: a. Perusahaan Perseroan (Persero) Asuransi Kesehatan Indonesia (ASKES) Menurut Undang-Undang Jaminan Sosial Nasional yang berlaku sekarang (UU No 40/2004). dan jaminan tersebut bersifat contributory. 93. c. dan d. dan JKP dibayar seluruhnya oleh perusahaan. Program jaminan sosial yang disebutkan di atas tersedia bagi angkatan kerja yang aktif bekerja di sektor formal.348 Bab 16: Kebijakan Belanja Publik dalam Tunjangan Sosial a. sementara premi program JHT dibayar bersama oleh perusahaan dan pekerja. dan d. dimana pihak penerima manfaat memberikan kontribusi dalam bentuk pembayaran premi yang dipotong dari gaji mereka. jaminan pensiun. JK. jaminan hari tua (JHT). Undang-undang di atas mengatur bahwa premi untuk program JKK. b. yaitu PT (Persero) Jamsostek. jaminan kesehatan pekerja (JKP). jaminan kecelakaan kerja.

875% dari gaji pokok 1 Replacement rate didefinisikan sebagai proporsi dari upah tertentu (biasanya gaji final seorang pegawai) yang dibayar sebagai uang pensiun setelah mengakhiri masa kerja. Dana pensiun tersebut dikelola oleh sebuah PT dimana pemerintah merupakan pemegang saham tunggal. barulah suatu sistem pensiun diadakan. dan bahkan janda/duda yang ditinggalkannya masih dapat menikmati hasil kerja pasangannya dengan mendapatkan pensiun janda/duda. Pegawai Negeri Sipil (PNS) Indonesia memiliki jaminan kesehatan dan pensiun sampai akhir hidupnya. manfaat yang diperoleh meliputi asuransi kesehatan. Replacement Rates1 Bagi PNS yang memiliki masa kerja 20 tahun atau lebih pada saat pensiun. sedangkan sisanya didanai oleh Pemerintah. yang dibiayai dari pajak dan pendapatan negara yang lain. dan 2% untuk jaminan kesehatan.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 349 Jaminan Sosial Untuk Pegawai Negeri Walaupun masih dianggap jauh dari memadai.25% uang pensiun. Pendanaan Sampai tahun 1994. semua tunjangan yang diterima oleh PNS dibayar seluruhnya dari APBN. sedangkan untuk anggota ABRI dan kepolisian. anggota ABRI dan PNS di lingkungan Hankam juga menerima pensiun serupa dengan yang diterima para PNS. uang pensiun bulanan dihitung sebagai berikut: 1. kontribusi dari para pegawai ini hanya mencapai 22% dari manfaat pensiun. Namun jumlah ini tentu saja masih jauh dari cukup. Untuk PNS. serta uang pensiun bulanan yang tetap terus dibayarkan dengan persentase yang lebih kecil kepada pasangannya apabila PNS yang bersangkutan meninggal dunia. pensiun dikelola oleh ASABRI. Pada awalnya. skema ini didanai dari kontribusi PNS sebesar 10% dari gaji pokok. pensiun dikelola oleh PT Taspen. Sejak 1971. sistem pensiun ini adalah dengan memberikan sejumlah uang secara lump-sum ketika seorang PNS memasuki masa pensiun atau apabila yang bersangkutan meninggal sebelum pensiun. Pada tahun 1969. Sejak 1994.7% sebagai pensiun bulanan. . PNS dan anggota ABRI. Jumlah ini terdiri atas: 4. Untuk asuransi kesehatan. Sistem dana pensiun bagi PNS telah ada sejak tahun 1963. Saat ini. 3. dikelola oleh PT ASKES. Menurut Asher (1998:8). sejumlah uang pada saat pensiun.

Sehingga. kebanyakan tunjangan pensiun untuk PNS terus menjadi satu program terpisah. tunjangan cacat dan tunjangan kematian untuk pegawai negeri sudah ada sebelum adanya program jaminan sosial untuk pegawai swasta. yaitu 0. dan karyawan BUMN. Walaupun program pensiun semacam ini didirikan oleh negara sebagai employer untuk para pegawainya (sehingga dalam hal ini hubungan kerja yang ada adalah sama dengan di perusahaan swasta). Coverage Secara otomatis. seperti tentara. penyelenggaraan jaminan hari tua. bahkan setelah adanya broad based national . dimana 3. yang terdiri atas PNS serta keluarga yang menjadi tanggungannya. PNS yang berhenti bekerja sebelum 20 tahun masa kerja tidak mendapatkan pensiun dalam bentuk apa pun. PNS akan didaftarkan dalam skema tadi. Hal ini berarti cakupan mencapai 4% dari tenaga kerja. ASABRI memiliki anggota sebanyak 600. Menurut INSSA (1995. dimana keanggotaan Taspen mencapai 5. yang pada akhirnya berdampak pada keuangan negara. guru. dan prospek untuk memperoleh pensiun yang memadai pada saat yang bersangkutan mencapai usia pensiun merupakan hal lain yang dipandang sebagai daya tarik untuk bergabung menjadi pegawai negeri. Angka terkini didapat dari Asian Development Bank 2001. Di negara-negara industri.350 Bab 16: Kebijakan Belanja Publik dalam Tunjangan Sosial dikalikan dengan masa kerja.6% dari total tenaga kerja.7 juta orang diantaranya merupakan kontributor (pembayar premi). keanggotaan Taspen meningkat dari 3. polisi. Pekerjaan seumur hidup tampaknya sudah merupakan pola dalam karir pegawai negeri. maka replacement rate adalah antara 75100% untuk masa kerja 20-35 tahun. Keistimewaan juga kadang diberikan kepada kelompok pekerja tertentu di bidang pelayanan masyarakat.12 juta pada tahun 1993. Setelah ditambahkan dengan uang lump sump yang diterima pada akhir masa kerja. Walaupun demikian. seperti dikutip oleh Tambunan dan Purwoko 2002).74 juta pada tahun 1989 menjadi 4. tunjangan ini diberikan sebagai bentuk terima kasih atas pengabdian mereka.000 orang. Sedangkan pada tahun 1993 sebanyak 1.48 juta pensiunan menerima uang pensiun bulanan.7 juta orang. Dari sejarahnya. perbedaan terbesar adalah bahwa tunjangan-tunjangan ini dibayar dengan menggunakan pendapatan negara. sehingga cakupan keanggotaan di kalangan PNS tentu saja 100%. Keanggotaan ASKES secara kasar mencakup 16 juta jiwa. Perspektif Mancanegara Di banyak negara. dapat dilihat bahwa hal ini meningkatkan konsumsi negara.

yang pada tahun 1992 berganti nama menjadi JAMSOSTEK. 3. dalam arti rasio pensiunan yang semakin meningkat pada sepuluh tahun terakhir. Di negara-negara miskin (terutama di Afrika). Pada awalnya asuransi mencakup asuransi kecelakaan kerja.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 351 social insurance system. PNS merupakan satu-satunya kelompok yang mendapatkan uang pensiun bulanan. Mengingat pembiayaan pensiun PNS dibayarkan atau ditunjang oleh penerimaan negara. terutama di negara-negara di mana proporsi PNS dalam ketenagakerjaan tinggi. asuransi kematian pada kasus dimana yang bersangkutan meninggal . sistem ini merupakan peninggalan jaman kolonial. Karena itu. World Bank (2004) menganjurkan negaranegara berkembang tersebut untuk mengambil langkah-langkah sebagai berikut: 1. Asuransi Sosial untuk Pegawai Swasta Asuransi sosial yang diwajibkan bagi pegawai di sektor swasta dimulai pada tahun 1977 dengan dibentuknya ASTEK. 2. Mengurangi kewajiban pembayaran pensiun melalui perubahan parameter (contohnya dengan mengurangi item-item yang dalam tunjangan atau mengurangi jumlahnya). Dalam berbagai hal. Menyeimbangkan komponen yang dikompensasi untuk menarik. dan sampai hari ini. yang pada akhirnya menambah jumlah pensiunan di berbagai negara. banyak yang mengatasi masalah keuangan negara dengan cara yang kurang tepat. Sejak perang dunia kedua. Dengan dikembangkannya broad based national social insurance system yang berdasarkan prinsip-prinsip universal dan keadilan. yang kemudian diikuti dengan masa stabilisasi dan penciutan jumlah PNS. karena system ini secara nyata mengistimewakan PNS. tekanan finansial yang dihadapi oleh program pensiun pegawai negeri kurang-lebih sama di seluruh dunia. Kebanyakan negara mengalami periode di mana perekrutan PNS yang sangat besar (terutama di tahun 70 dan 80-an). mempertahankan dan memotivasi PNS. Hal ini diperparah dengan pengenalan sistem pensiun dini untuk mengurangi beban anggaran belanja pegawai. yang tidak membawa hasil dalam mengembalikan keseimbangan fiskal. sistem ini banyak sekali mendapat kritikan. Membuat sistem pensiun yang lebih luwes dan dapat diterapkan dalam jangka panjang. Fenomena ini sangat nyata. makin terasa bahwa sistem terpisah ini kurang adil. Secara berkala berpindah ke sistem cost-sharing dengan PNS. 4.

100.352 Bab 16: Kebijakan Belanja Publik dalam Tunjangan Sosial sebelum memasuki masa pensiun.510. Angka dari ILO Report (2003:99) sedikit lebih optimistis. Replacement Rates Replacement rate untuk jaminan hari tua bagi pegawai swasta jumlahnya sangat rendah.2. Perlu juga ditambahkan bahwa hal ini tidak bisa disebut sebagai pensiun. Jaminan hari tua yang disediakan oleh JAMSOSTEK merupakan asuransi iuran pasti (defined contribution scheme) dimana manfaat yang diperoleh bergantung pada kontribusi yang dibayarkan: para pekerja akan menerima akumulasi dari tabungan mereka ditambah dengan bunga pada usia 55 tahun. Sedangkan jaminan hari tua didanai dari 5. mengingat tidak adanya ketentuan untuk menghitung anuitas dari jumlah yang diterima pada saat pensiun. bahkan dengan menggunakan asumsi optimistik mengenai tingkat penegembalian investasi dan setelah kontribusi (yaitu masa kerja) selama 35 tahun. sedangkan asuransi kesehatan (yang dibayarkan oleh pemberi kerja sejumlah 3% untuk single dan 6% untuk pegawai yang berumah tangga) dapat dihindari bila perusahaan memiliki paket lain yang layak. Pendanaan Asuransi kecelakaan kerja dan kesehatan didanai dari kontribusi yang dibayar oleh pegawai. PT Jamsostek merupakan PT.000. Namun demikian. .000. Menurut Gough (2001b).7% dibayar oleh pihak pemberi kerja dan 2% oleh pekerja).7% dari gaji pokok bulanan (3. Seperti halnya dengan Taspen dan Asabri. kelahiran dan rawat inap di rumah sakit ditambahkan pada skema ini. Menurut Asher (1998). Mengingat rata-rata jumlah lump sum yang dibayarkan pada akhir masa kerja seseorang adalah sebesar Rp. saldo rata-rata dalam provident fund pada akhir masa kerja adalah Rp. sekitar dua bulan upah minimum. Asuransi kecelakaan kerja dan manfaat pensiun merupakan hal yang wajib. serta tunjangan hari tua yang diberikan dalam bentuk sejumlah uang pada saat memasuki masa pensiun..maka hal ini kira-kira setara dengan delapan setengah bulan upah minimum. skema ini hanya memiliki replacement rate sekitar 10%. sistem ini tidak selamanya ditaati oleh pihak pemberi kerja. namun dalam hal ini pemerintah Indonesia hanya salah satu di antara pemegang saham kepada siapa PT Jamsostek wajib membayar dividen. sehingga masih banyak pihak pemberi kerja yang tidak membayar asuransi kesehatan sama sekali (Asher 2000a). Pada tahun 1992 jaminan kesehatan mencakup pelayanan pertama.

Kedua. tingkat kepatuhan perusahaan sangat rendah. atau memiliki payroll sebesar satu juta rupiah atau lebih. padahal kewajiban membayar pensiun adalah jangka panjang. Sebagian besar aset diinvestasikan pada deposito berjangka (41%). banyak penarikan dana yang terjadi bukan karena pensiun melainkan karena PHK. Selain itu. Ketiga. sehingga penyebaran risiko sangat terbatas. Selain itu. Tentu saja. wajib bergabung dengan Jamsostek dan mendaftarkan karyawannya. hanya 57% karywan dari sektor formal swasta yang benar-benar tercover oleh asuransi PT Jamsostek. obligasi (11%). Coverage Menurut peraturan. Pada kenyataannya. perusahaan-perusahaan swasta yang mempekerjakan 10 karyawan atau lebih. dan sektor formal berkembang lebih cepat daripada tingkat coverage PT Jamsostek. pada sektor formal pun banyak pemberi kerja yang menolak untuk mengcover pekerja kontrak dan . Lebih jauh lagi. Sehingga. replacement rate rendah disebabkan oleh kesalahan investasi dan tingginya biaya administrasi. surat berharga pemerintah (30%). property (10%) dan saham (8%). karena Jamsostek hanya terbatas pada pekerja di sektor formal. Hal ini berarti bahwa setelah krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada tahun 1998. Coverage dari PT Jamsostek sangat rendah. sedangkan banyak perusahaan lain yang diduga tidak melaporkan jumlah yang sesungguhnya untuk mengurangi jumlah kontribusi yang harus mereka bayar. kontibusi yang dibayar menurut tingkat upah minimum ataupun dibayarkan secara terputus-putus (biasanya terjadi di kalangan pekerja musiman dan para perempuan pekerja) secara otomatis menghasilkan jumlah pembayaran manfaat yang kecil pula. Menurut Tambunan dan Purwoko (2002:45). Menurut suatu laporan yang tidak dipublikasikan (Gough 2001b). apabila yang bersangkutan berhenti bekerja. sebagian besar investasi bersifat jangka pendek. Investment pada aset luar negeri tidak diperkenankan oleh peraturan.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 353 Ada beberapa alasan mengapa replacement rate di sektor swasta ini sangat rendah. pekerja di sektor non formal dan wiraswasta tidak termasuk di dalamnya. anggota asuransi diperkenankan untuk menarik/mengambil dananya setelah lima tahun bergabung dalam skema asuransi. namun menerima penghasilan lainlain dalam bentuk tunjangan dan bonus. Pertama. Hanya 25% anggota yang benar-benar mematuhi peraturan (Asher 2000b). banyak pekerja di sektor formal digaji dengan upah minimum (yang merupakan dasar pembayaran asuransi). 57% anggota membayar kontribusi pada tingkat upah minimum. sebagian besar pekerja di sektor swasta (walaupun berada di sektor formal) berpenghasilan sangat rendah sehingga kontribusi yang diberikan (yang berdasarkan persentase) juga sangat rendah.

jumlah mereka sangat banyak Satu hal lagi. c. b. Jaring Pengaman Sosial Program ini muncul setelah Indonesia dilanda krisis ekonomi pada tahun 1997 dan sebagian dari program ini masih berlanjut hingga kini. o Meningkatkan penyediaan fasilitas pendidikan dan bantuan biaya pendidikan bagi peserta didik yang berasal dari kelompok masyarakat miskin. pemerintah juga menganggarkan sejumlah dana dari APBN bagi kesejahteraan warga negaranya. Padahal. banyak pihak pemberi kerja yang tidak mendaftarkan diri (pendaftaran anggota dilakukan melalui pihak pemberi kerja. namun bentuk jaminan sosial ini lebih bersifat sekali-sekali dan belum terlembagakan seperti jaminan sosial bagi sektor formal yang diuraikan di atas. bukan secara langsung dari karyawan/pekerja). Kegiatankegiatan JPS dapat dikelompokkan menjadi empat program besar. Menggerakkan kembali ekonomi rakyat dengan mendorong pembangunan kegiatan usaha ekonomi berskala kecil. Meningkatkan penciptaan kesempatan kerja langsung dan kesempatan berusaha untuk menumbuhkan daya beli masyarakat miskin di pedesaan dan perkotaan (employment creation). baik di pedesaan maupun perkotaan. Perlindungan sosial (social protection) yang terdiri dari: o Meningkatkan penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dasar dan bantuan obat-obatan bagi masyarakat miskin di pedesaan dan perkotaan. karena buruknya reputasi PT Jamsostek.168 . 2. Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Miskin Dana program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Miskin (JPKMM) yang bersumber dari Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak (PKPSBBM) tahun 2005 sebesar Rp 2. yaitu: a. Tunjangan Bagi Masyarakat Miskin Seperti sudah disebutkan di atas. Jaminan sosial yang dapat diidentifikasi sampai saat ini adalah: 1. Meningkatkan penyediaan dan penyaluran bahan kebutuhan pokok serta bantuan bahan pangan bagi masyarakat miskin di pedesaan dan perkotaan (food security). d. Contoh dari program ini adalah Raskin atau program pemberian beras bagi rakyat miskin (lihat boks).354 Bab 16: Kebijakan Belanja Publik dalam Tunjangan Sosial pekerja musiman.

orang miskin di Indonesia yang akan diikutkan dalam program JPKMM sebanyak 36. Maka dana untuk membayar premi selama satu tahun adalah Rp 2. Ini untuk efisiensi. c. Jumlah beras yang disalurkan tidak tergantung pada permintaan pasar. untuk membantu keluarga miskin/rawan pangan tersebut.000. yang ditentukan atas dasar . Tujuan Raskin adalah membantu keluarga miskin/rawan pangan dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan pokoknya sebagai upaya peningkatan ketahanan pangan di tingkat keluarga melalui penjualan beras kepada keluarga penerima manfaat Raskin pada tingkat harga bersubsidi dengan jumlah yang telah ditentukan dan dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan pemerintah. dan transparansi.000. keluarga tidak mampu makan dua kali sehari. Program Beras Untuk Keluarga Miskin (Raskin) Dan Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak (PKPS-BBM) Bidang Pangan Tahun 2003 Kebijakan subsidi pangan terarah (targeted food subsidy) sebagai kebijakan income transfer untuk keluarga miskin. pekerja/buruh kasar. e. b. Program ini dirancang untuk tidak menghambat perkembangan pangan lokal serta tidak mendorong perubahan pola konsumsi yang terlalu cenderung ke beras atau gandum.441.700 orang dengan premi sebesar Rp 5. Tidak disalurkan melalui pasar umum.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 355 triliun akan dibayarkan langsung kepada PT Asuransi Kesehatan (Askes) tanpa melalui Departemen Kesehatan.146. keluarga tidak mampu mengobatkan anggota keluarga yang sakit ke pelayanan kesehatan. keluarga dengan anak drop out sekolah karena alasan ekonomi. tetapi berdasarkan jumlah keluarga penerima manfaat. Mereka yang masuk kriteria miskin adalah keluarga yang tidak bisa makan dua kali sehari. Masyarakat yang termasuk kelompok rawan pangan ini juga merupakan masyarakat miskin yang daya belinya rendah dan sebagian besar pengeluarannya adalah dibelanjakan untuk konsumsi pangan pokok. Penerima manfaat adalah keluarga miskin rawan pangan yang memenuhi satu atau lebih kriteria: a. tetapi untuk membantu pemenuhan kebutuhan beras keluarga yang menjadi sasaran penerima manfaat Raskin. b.000 per orang per bulan. keluarga tidak mampu mengkonsumsi pangan sumber protein minimal seminggu sekali. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik. Tidak ditujukan dalam upaya stabilisasi harga pasar. tetapi penjualan langsung kepada keluarga penerima manfaat (bersubsidi). akuntabilitas.168. maka langkah penanggulangan yang ditempuh adalah melanjutkan Program Beras Untuk Masyarakat Miskin (Raskin) yang memiliki ciri spesifik antara lain: a. c. Titik distribusi adalah tempat penyerahan/pendistribusian beras di tingkat kelurahan/desa yang terdekat dengan keluarga sasaran penerima manfaat.mampu lagi ke fasilitas kesehatan serta dengan kriteria lainnya yang ditetapkan berdasarkan pertimbangan Pemerintah Daerah setempat. menjadi penting sebagai program nasional. bila anggota keluarga sakit tidak. sudah ada anaknya yang putus sekolah. d.

. sesuai tingkatan wilayah operasionalnya. dan (e) Tunjangan Kesejahteraan. maka penetapan titik distribusi dilakukan atas kesepakatan dengan pihak Pemda.356 Bab 16: Kebijakan Belanja Publik dalam Tunjangan Sosial kesepakatan/musyawarah antar instansi pelaksana Raskin yang terkait.0 7.0 2.8 8. dimana tunjangan akan menurun jika pendapatan meningkat. Selain itu. sehingga tidak mendorong orang untuk bekerja lebih giat. Program ini ditujukan bagi semua orang yang memenuhi kriteria AFDC (Aid to Families with Dependent Children) atau yang disebut program kesejahteraan.0 6. persyaratannya dibatasi pada keluarga yang tidak mempunyai kepala keluarga pria dan jumlah tunjangan yang diberikan dianggap tidak memadai.5 8.0 4. (d) Perumahan Murah. (c) Kupon Makanan. § Program kesejahteraan AFDC menerapkan tarif pajak marjinal.9 RANGKUMAN § Tunjangan kepada masyarakat yang berpenghasilan rendah di Amerika Serikat terdiri atas komponen-komponen utama program sebagai berikut: (a) Medicaid.3 2. (b) Jaminan Penghasilan Tambahan.3 4.6 2. Tabel Asuransi Sosial Berbagai Negara Group/Negara Low Income § India § Kenya § Indonesia Middle Income § Filipina § Turki § Korea Selatan § Paraguay High Income § Jerman § Jepang § Perancis § Belanda Prosentase Jumlah Penduduk yang Tercakup 5 10 13 38 58 90 18 75 100 100 100 Prosentase Pembiayaan Kesehatan Askes Sosial/Sektor Publik 9 7 17 12 26 50 24 76 64 95 94 Prosentase Pembiayaan Kesehatan Askes Sosial/Total Pembiayaan Kesehatan 2 4 6 6 14 25 13 63 56 71 73 Total Biaya Kesehatan Prosentase GNP 6. Untuk daerah-daerah yang tidak memungkinkan titik distribusi di tingkat kelurahan/desa seperti daerah terpencil dan sulit transportasinya.0 6.

jika pendapatan kotor meningkat maka pajak negatif akan menurun sampai pada titik mencapai nol dan sesudah itu terjadi pajak positif terutang. hari tua. dan jaminan kematian bagi seluruh penduduk melalui iuran wajib kerja yang diselenggarakan oleh beberapa Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. (d) prinsip portabilitas. kecelakaan kerja. § Prinsip Sistem Jaminan Sosial Nasional. (2) Asuransi kesehatan. kehatihatian. § Beberapa jenis asuransi sosial yaitu: (1) Asuransi pensiun dan cacat. (f) prinsip dana amanat. berbeda dengan AFDC yang memberikan bantuan manfaat tunai secara mutlak bagi orang yang mempunyai pendapatan di bawah batasan tertentu. § TANF mengatur hal-hal sebagai berikut: (1) bantuan tunai hanya temporer (tidak setiap saat). § Sistem Jaminan Sosial Nasional merupakan program negara yang bertujuan memberi kepastian perlindungan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia agar dapat memenuhi kebutuhan dasar hidup yang layak. § Karena dianggap memberikan dampak negatif. akuntabilitas.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 357 § Cara paling efektif dalam menunjang keluarga berpenghasilan rendah adalah dengan membagikan dana melalui pemenuhan kekurangan pendapatan mulai pendapatan tingkat bawah. HI (Health Insurance). (3) orang dewasa normal (tidak cacat) yang menerima bantuan tunai selama dua tahun diharuskan mengambil bagian dalam kegiatan yang dapat menghidupi dirinya. Struktur pemberian bantuan dikendalikan pelaksanaannya oleh pemerintah federal. § Asuransi sosial di Amerika Serikat memiliki komponen-komponen utama yang terdiri atas sistem asuransi OASI (Old Age and Survivors Insurance). (b) prinsip nirlaba. § Alternatif tunjangan lain dengan bentuk pajak penghasilan negatif. (2) individu tidak diijinkan menerima bantuan tunai untuk masa lebih dari lima tahun. dan (3) Asuransi pengangguran. Aturan tersebut menciptakan program kesejahteraan yang disebut Temporary Aid for Needy Families (TANF). tunjangan sosial terkini tidak lagi memberikan tunjangan dalam bentuk tunai tetapi beralih ke bentuk non tunai. (c) prinsip keterbukaan. dan DI (Disability Insurance). dan efektivitas. sebagai berikut: (a) prinsip kegotong-royongan. (4) setiap negara bagian memperoleh grant untuk melaksanakan program kesejahteraan dari pemerintah federal yang jumlahnya tetap. (e) prinsip kepesertaan bersifat wajib. (g) prinsip hasil pengelolaan Dana Jaminan Sosial Nasional berupa dividen dari pemegang saham yang dikembalikan untuk kepentingan peserta jaminan sosial. efisiensi. dan (h) Sistem Jaminan Sosial Nasional meliputi jaminan kesehatan. pensiun. .

(c) Perusahaan Perseroan (Persero) Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ASABRI). . (b) jaminan kecelakaan kerja. dan memotivasi PNS. (b) banyak penarikan dana asuransi yang terjadi bukan karena pensiun.40/2004 adalah: (a) Perusahaan Perseroan (Persero) Jaminan Sosial Tenaga Kerja (JAMSOSTEK). dimana pihak penerima manfaat memberikan kontribusi dalam bentuk pembayaran premi yang dipotong dari gaji mereka. (3) membuat sistem pensiun yang lebih luwes dan dapat diterapkan dalam jangka panjang. dan (e) jaminan kematian. dengan replacement rates antara 75-100% untuk masa kerja 20-35 tahun. bersifat contributory. hal ini disebabkan: (a) sebagian besar pekerja swasta berpenghasilan sangat rendah. § Menurut UU Jaminan Sosial Nasional (UU No 40/2004) terdapat lima jenis program jaminan sosial: (a) jaminan kesehatan. dan mencakup seluruh keanggotaan di kalangan PNS. asuransi jaminan hari tua dan asuransi kesehatan yang didanai oleh pegawai dan pemberi kerja (khusus untuk jaminan hari tua). (c) kesalahan investasi dan tingginya biaya administrasi. (2) secara berkala berpindah ke sistem costsharing dengan PNS. (c) jaminan hari tua. (4) menyeimbangkan komponen yang dikompensasi untuk menarik. asuransi kematian.358 Bab 16: Kebijakan Belanja Publik dalam Tunjangan Sosial § Badan Penyelenggara Jaminan Sosial sesuai UU No. § Asuransi sosial untuk pegawai swasta mencakup asuransi kecelakaan kerja. § Dalam mengatasi pembiayaan pensiun yang semakin besar. sehingga kontribusi yang diberikan juga sangat rendah. melainkan PHK. sebagian investasi berjangka pendek sedangkan kewajiban membayar pensiun berjangka panjang. dan (d) Perusahaan Perseroan (Persero) Asuransi Kesehatan Indonesia (ASKES). (d) jaminan pensiun. § Jaminan sosial untuk pegawai negeri didanai oleh APBN. § Program jaminan sosial disediakan bagi angkatan kerja yang aktif bekerja di sektor formal. § Replacement rates di sektor swasta sangat rendah. mempertahankan. (b) Perusahaan Perseroan (Persero) Dana Tabungan dan Asuransi Pegawai Negeri (TASPEN). § Jaminan sosial di Indonesia yang dapat diidentifikasikan sampai saat ini adalah Jaring Pengaman Sosial (JPS) dan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Miskin (JPKMM). World Bank menganjurkan negara-negara berkembang untuk mengambil langkahlangkah sebagai berikut: (1) mengurangi kewajiban pembayaran pensiun melalui perubahan parameter.

(c) employment creation. dibayarkan langsung ke PT. yaitu: (a) food security. Sebutkan hal-hal yang diatur dalam Temporary Aid for Needy Families (TANF)! 6. meningkatkan penyediaan dan penyaluran bahan kebutuhan pokok serta bantuan pangan bagi masyarakat miskin di pedesaan dan perkotaan. Sebutkan komponen-komponen utama dari asuransi sosial di Amerika dan jelaskan siapa saja yang berhak mendapat asuransi sosial tersebut! . ASKES tanpa melalui Departemen Kesehatan untuk efisiensi. bantuan pendidikan. Dalam bentuk apa saja tunjangan kepada masyarakat berpenghasilan rendah? 7. pajak penghasilan negatif. § Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Miskin (JPKMM) mendapat dana yang bersumber dari Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak (PKPSBBM).Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 359 § Jaring Pengaman Sosial (JPS) dikelompokkan menjadi empat program besar. 3. meningkatkan penciptaan kesempatan kerja langsung dan kesempatan berusaha untuk menumbuhkan daya beli masyarakat miskin. Apa yang dimaksud dengan: a. Mengapa program tunjangan kesejahteraan di Amerika banyak menuai protes dari masyarakat? 2. (b) social protection (perlindungan sosial). meningkatkan penyediaan fasililtas pelayanan kesehatan dasar dan bantuan obat-obatan. b. pendidikan. Jelaskan masalah yang terjadi dalam asuransi sosial untuk kesehatan! 4. akuntabilitas. Jelaskan cara yang paling efektif dalam menunjang keluarga berpenghasilan rendah ! 8. LATIHAN 1. Apa dampak sistem tunjangan dalam bentuk tunai! 5. dan transparansi. (d) menggerakan kembali ekonomi rakyat dengan mendorong pembangunan kegiatan usaha ekonomi berskala kecil. tarif pajak marjinal.

Apa yang dilakukan dan dikelola oleh Federal Unemployment Trust Fund? 10.360 Bab 16: Kebijakan Belanja Publik dalam Tunjangan Sosial 9. Apa saja yang dapat oleh pemerintah daerah dalam menggunakan grant yang diberikan pemerintah pusat ? .

baik itu negara federal maupun negara kesatuan (unitary). apapun bentuk pemerintahan suatu negara. terdapat perbedaan-perbedaan dalam interval luas dalam struktur kelembagaan dan hubungan keuangan pusat dan daerah.KEUANGAN PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH Dalam konteks desentralisasi fiskal. baik dalam negara-negara yang pada dasarnya berbentuk federal maupun negara yang berbentuk kesatuan. Dan sebagaimana dikemukakan oleh Norregaard (1995). akan selalu memunculkan pola hubungan fiskal antar pemerintahan (fiscal intergovernmental relationship). .

1990).362 Bab 17: Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah Tabel 17. terdapat dua model hubungan fiskal antar pemerintahan yang berlaku saat ini (lihat Tabel 17. walaupun wewenang terakhir tetap pada pihak pemberi wewenang (sovereign-authority). Tunisia Afrika Selatan Cina. Dalam perspektif ini. kerangka yang sesuai untuk desentralisasi adalah bersifat “top down” dan berpola dekonsentrasi2 atau maksimalnya berpola delegasi3. Vietnam Rusia. konsentrasi kekuasaan di pusat demikian tinggi. Perancis dan Inggris mencerminkan pola ini untuk kelompok negara-negara maju (Bennet. dan kerangka analisis yang sesuai adalah agency theory4. Pendelegasian wewenang ini biasanya diatur dengan ketentuan perundang-undangan.Kolumbia. Delegasi adalah pelimpahan wewenang untuk tugas tertentu kepada organisasi yang berada di luar struktur birokrasi reguler yang dikontrol secara tidak langsung oleh Pemerintah Pusat. Dalam model federalisme fiskal. keuangan federal (federal finance). Implikasi 1 Indonesia di sini maksudnya adalah sebelum keluarnya Undang-undang Nomor 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-undang Nomor 25/1999 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah. Brasil. Jepang Keuangan Federal Amerika Serikat. Pihak yang menerima wewenang mempunyai keleluasaan (discretion) dalam penyelenggaraan pendelegasian tersebut. serta Cina dan Vietnam adalah contoh negara transisi (Bank Dunia. Pakistan. Maroko. 1996a). di beberapa negara yang berbentuk federal. principal (Pemerintah Pusat) dapat secara sepihak menentukan dan mengubah baik tanggung jawab pengeluaran maupun pendapatan Pemerintah Daerah dan pengaturan hubungan keuangan antar pemerintahan dalam upaya mengatasi permasalahan4 3 . 2 Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang dari Pemerintah Pusat kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah dan atau perangkat pusat di Daerah. Argentina. Bosnia Herzegovina Sumber: Bird dan Vaillancourt (1998) Menurut Bird dan Vaillancourt (1998).1: Susunan Rak Desentralisasi Fiskal Kelompok Negara Negara Maju Negara Berkembang Negara Transisi Federalisme Fiskal Perancis. Maroko dan Tunisia adalah untuk negara berkembang. India.1). Pertama. Kedua. Menurut teori ini. sementara Indonesia1. Konsep federalisme fiskal maksudnya adalah Pemerintahan Daerah Tingkat II (kabupaten/kota) merupakan kepanjangan tangan dari pusat. Kanada Indonesia. pemerintahan negara bagian (state) bukan merupakan pelaku otonom. federalisme fiskal (fiscal federalism). Atau.

1996). terutama negaranegara yang memiliki keanekaragaman dalam aspek geografis dan etnis (Bird. negara yang berbentuk federal. tetapi pada prakteknya tidak selalu demikian. atau townships (Kota). Meski secara teoritis negara yang berbentuk federal akan menerapkan model keuangan federal. state dibagi ke dalam counties (wilayah kabupaten). di Amerika Serikat. model keuangan federal juga berlaku. Contoh yang paling aktual adalah Amerika Serikat dan Kanada. yaitu Lousiana). serta pembiayaannya sudah secara umum ditetapkan melalui sebuah undang-undang. Menurut Bank Dunia (1995b) negara-negara seperti Pakistan. namun prakteknya sejauh ini masih sentralisasi fiskal dan federalisme fiskal. serta pembiayaan sesuai dengan konstitusi federal. counties merupakan agen utama pemerintahan regional dari pemerintahan propinsi dan memiliki memiliki kewenangan (authority) independensi yang signifikan. penyerahan fungsi. dan Afrika Selatan adalah negara-negara berbentuk federal. sejak diberlakukannya Undang-Undang Nomor 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 25/1999 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah. beberapa dewan sekolah (school board) di Amerika Serikat memiliki kekuasaan untuk mengenakan pajak (Davey. 5 Di Amerika Serikat (yang berbentuk negara federal). 1994b serta Bird dan Chen. serta perbedaan-perbedaan tujuan antara principal dan agent (Pemerintah Daerah). Secara teoritis. 1983). model hubungan fiskal yang terjadi adalah hubungan fiskal antara pemerintah federal (pusat) dengan pemerintah negara bagian/propinsi (state) dan hubungan fiskal antara pemerintah negara bagian/propinsi (state) dengan pemerintah lokal (kabupaten/kota). biasanya akan dibelanjakan oleh pemerintah daerah sesuai dengan pedoman dan sektor-sektor yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat. permasalahan informasi yang tidak simetri. Sesungguhnya. Ini terbukti.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 363 dari hubungan fiskal model federalisme fiskal ini adalah berbagai bentuk transfer dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah (Dati I dan Dati II) dalam rangka untuk menggalakkan otonomi regional dan untuk memperbaiki infrastruktur lokal. Di Amerika Serikat. Dalam model keuangan federal. Pada negara yang berbentuk kesatuan (unitary). model keuangan federal (federal finance) lebih cocok diterapkan untuk beberapa negara. pada umumnya menganut model keuangan federal. . parishes (suatu wilayah pemerintahan gereja. batas-batas resmi.5 Dimana masing-masing pemerintahan memiliki kewenangan (otonomi) yang jelas terhadap wilayah. Namun. Bahkan. Berbeda dengan model federalisme fiskal. Argentina. wewenang. fungsi. Indonesia secara tidak langsung telah menerapkan model keuangan federal.

364 Bab 17: Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah sebagaimana diatur oleh Undang-Undang Nomor 25/1999. aspek efisiensi tidaklah satu-satunya dimensi ekonomi untuk mengevaluasi desentralisasi fiskal. DIMENSI EKONOMI DARI DESENTRALISASI FISKAL Dimensi ekonomi baku dari suatu kebijakan keuangan publik adalah stabilitas makro ekonomi. (2) Persaingan Antar Pemerintah Daerah (Competition Among Local Governments) . Namun demikian. terdapat keuntungan efisiensi potensial dari desentralisasi fiskal. sesuai dengan argumen ini. Oleh karenanya. Menurut para ahli ekonomi. yaitu: (1) Efisiensi Alokasi Sumber Daya (Efficient Allocation of Resources) Desentralisasi akan meningkatkan efisiensi karena pemerintah daerah memiliki informasi yang lebih baik mengenai kebutuhan penduduknya dibandingkan pemerintah pusat. aspek efisiensi merupakan raison d'etre untuk desentralisasi fiskal. keadilan (equity). Efisiensi Teori desentralisasi didasarkan pada asumsi bahwa pemerintah pusat hanya dapat menyediakan barang dan jasa secara lintas wilayah secara konsisten. Bahkan. Desain fiskal antar pemerintahan juga memiliki implikasi penting atas keadilan dan stabilitas makro ekonomi. Karena preferensi setiap individu terhadap barang publik berbeda. pemerintah daerah memiliki kewenangan untuk menetapkan pajak serta melakukan pinjaman secara mandiri. setiap individu dapat memilih untuk tinggal di sebuah komunitas atau masyarakat yang sesuai dengan preferensi mereka dalam rangka untuk memaksimalkan kesejahteraan sosial. derajat desentralisasi fiskal di Indonesia lebih tinggi. Keputusan mengenai pengeluaran publik yang dibuat oleh pemerintah daerah akan lebih responsif terhadap keinginan konstituennya dibandingkan dengan keputusan yang dibuat oleh pemerintah pusat. Argumentasi ekonomi tentang efisiensi berasal dari fakta bahwa pemerintah daerah dapat memenuhi berbagai kepentingan dan pendapat dari para penduduk dan dapat mengalokasikan berbagai sumber daya (resources) secara lebih efisien dibandingkan pemerintah pusat. 1989). dan efisiensi (Musgrave dan Musgrave. dibandingkan dengan Amerika Serikat. maka dalam suatu sistem fiskal yang terdesentralisasi.

daerah akan menekan pusat untuk mendapatkan tambahan kucuran dana yang lebih besar. maka tingkat pelayanan akan menurun. Ketika masyarakat tidak senang pada kebijakan pemerintah lokal dalam pembebanan pajak untuk pembiayaan barang publik bersifat lokal. Stabilitas Makro Ekonomi Penilitian empiris tentang desentralisasi dan pengelolaan makro ekonomi (macroeconomic governance) memberikan sedikit dukungan bahwa desentralisasi inheren dengan destabilisasi. stabilitas makro ekonomi bukanlah hal yang otomatis dapat terwujud dengan diterapkannya desentralisasi fiskal. Tiebout menekankan bahwa tingkat dan kombinasi pembiayaan barang publik bertaraf lokal dan pajak yang dibayar oleh masyarakat merupakan kepentingan politisi masyakarat lokal dengan pemerintah daerahnya. Salah satu contoh terjelas adalah kasus-kasus di negara . negara-negara federal yang terdesentralisasi secara tinggi seperti Swiss. Atau. Namun demikian. dan Amerika Serikat memiliki kinerja makro ekonomi yang sangat stabil dan tingkat inflasi yang rendah (Shah. Pengalaman internasional memperlihatkan bahwa jika suatu negara mendesentralisasikan tanggung jawab pengeluaran lebih besar dibandingkan dengan sumber-sumber yang tersedia. maka hanya ada dua pilihan bagi warga masyarakat. Jerman. Suatu analogi argumen untuk menjelaskan hal ini dikemukakan oleh Tiebot (1956) yang kemudian dikenal sebagai "The Tiebout Model". khusus bagi negara-negara berkembang. Faktanya. Austria. yaitu meninggalkan wilayah tersebut atau tetap tinggal di wilayah tersebut dengan berusaha mengubah kebijakan pemerintah lokal melalui DPRD-nya (Hyman. 1997). atau pinjaman yang lebih besar. Hipotesis tersebut memberikan petunjuk bahwa terdapat potensi untuk mencapai efisiensi ekonomi (maximizing social welfare) dalam penyediaan barang publik pada tingkat lokal. 2002). atau kedua-duanya. Studi terkini mengenai hubungan antara desentralisasi fiskal dengan pengelolaan makro ekonomi menemukan bahwa “sistem desentralisasi fiskal menawarkan perbaikan potensial yang lebih besar terhadap perbaikan pengelolaan makro ekonomi dibandingkan sistem fiskal yang tersentralisasi”.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 365 Persaingan antar daerah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakatnya akan mendorong pemerintah lokal untuk meningkatkan inovasinya. Masyarakat akan memilih untuk tinggal di lingkungan yang anggaran daerahnya memenuhi preferensi yang paling tinggi antara pelayanan publik dari pemerintah daerahnya dengan pajak yang dibayar oleh masyarakat.

redistribusi biasanya berupa suatu transfer dana kepada rumah tangga berpendapatan rendah untuk mencapai keseimbangan dalam distribusi pendapatan. Sebab. penyediaan resources yang lebih banyak kepada daerah miskin hanyalah satu aspek dari problem keadilan. jika lebih banyak penerimaan daripada pengeluaran yang didesentralisasikan. itu berarti pajak bagi penduduk kaya dan subsidi bagi penduduk miskin.366 Bab 17: Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah Federasi Rusia (Wallich. Dengan kata lain. maka perlu dirancang kebijakan untuk memberikan sumber daya (resources) yang lebih besar kepada daerah yang lebih miskin. Namun demikian. Sebaliknya. Keadilan (Equity) Aspek keadilan dari sebuah kebijakan keuangan publik berkaitan dengan redistribusi pendapatan untuk mencapai keadilan sosial. Terdapat dua faktor utama yang memberikan kontribusi munculnya ketidakadilan horisontal: (1) basis pajak (taxes bases) sangat berbeda secara signifikan antara daerah satu dengan daerah yang lain dan (2) karakteristik regional yang mengakibatkan perbedaan biaya penyediaan pelayanan. Mobilitas rumah tangga adalah hambatan riil pemerintah daerah untuk menggunakan kebijakan redistribusi. ia akan menciptakan suatu insentif yang kuat bagi penduduk berpendapatan rendah untuk datang dan akan mendorong penduduk berpenghasilan tinggi untuk pindah kemana saja. isu redistribusi memiliki dua dimensi: keadilan horisontal (horizontal equity) dan keadilan lokal (within-locality equity). pemerintah daerah tidak dapat mengambil kebijakan redistribusi secara efektif. 1996). Dalam definisi klasik. Kesuksesan dalam kebijakan redistribusi juga memerlukan perhatian yang khusus terhadap keadilan dalam wilayah lokal setempat (within-locality equity). maka mobilisasi dana daerah dapat menurun dan ketidakseimbangan makro ekonomi dapat kembali muncul (Yu. Keadilan horizontal merujuk pada tingkat kapasitas pemerintah daerah (subnational governments) dalam memenuhi pelayanan publik. pemerintah daerah memerlukan dukungan dari pemerintah pusat. . dengan program redistribusi pendapatan. Untuk mengurangi ketidakadilan horisontal ini. Dalam merancang kebijakan redistribusi. 1994). Jika pemerintah daerah mengeluarkan program redistribusi pendapatan secara agresif. adalah alat yang biasa digunakan untuk mengoreksi ketidakadilan horisontal tersebut. Dalam konteks desentralisasi. Bantuan pemerataan (equalization grant).

Di negara federal. Pelaksanaan desentralisasi fiskal akan berjalan baik dengan mempedomani hal-hal sebagai berikut: (1) adanya pemerintah pusat yang kapabel dalam melakukan pengawasan dan enforcement. Untuk itu. Di samping itu. dan (2) terdapat keseimbangan antara akuntabilitas dan kewenangan dalam melakukan pungutan pajak dan retribusi daerah. maupun masyarakat secara keseluruhan. seharusnya tidak perlu terjadi “ekspor pajak” dan tidak ada tambahan transfer dari level pemerintahan yang lain. § Federalisme fiskal merupakan model konsentrasi kekuasaan di pusat yang semakin tinggi. perubahan sistem nilai dan perilaku birokrasi dalam memenuhi keinginan masyarakat khususnya dalam pelayanan sektor publik. yaitu pengambilan keputusan tentang manfaat dan biayanya harus transparan dan pihak-pihak yang terkait harus memiliki kesempatan untuk mempengaruhi keputusan-keputusan tersebut. maka pemerintah daerah harus didukung sumbersumber keuangan yang memadai. Sidik (2002) juga berpendapat untuk mendukung pelaksanaan desentralisasi. biaya-biaya dari pengambilan keputusan tersebut sepenuhnya harus ditanggung oleh masyarakat. Sidik (2002) menyebutkan bahwa keberhasilan pelaksanaan desentralisasi akan sangat tergantung pada desain. sehingga kerangka yang sesuai untuk desentralisasi adalah . pinjaman. mekanisme koordinasi untuk meningkatkan kinerja aparat birokrasi. RANGKUMAN § Menurut Bird dan Vaillancourt. Sementara itu. Pertama.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 367 Syarat-Syarat Keberhasilan Desentralisasi Fiskal Bird dan Vaillancourt (1998) mengisyaratkan ada dua prasyarat penting bagi kesuksesan desentralisasi. pemerintah negara bagian bukan merupakan pelaku otonom. proses pengambilan keputusan di daerah harus demokratis. terlepas dari keseimbangan makro atau efisiensi mikro. maupun transfer dari pemerintah pusat. dukungan politis baik pada tingkat pengambilan keputusan di masing-masing tingkat pemerintahan. Kedua. kesiapan administrasi pemerintahan. proses implementasi. terdapat dua pola hubungan fiskal antar pemerintahan (fiscal intergovernmental relationship) yaitu federalisme fiskal (fiscal federalism) dan keuangan federal (federal finance). § Konsep federalisme fiskal menganggap Pemerintah Daerah Tingkat II merupakan kepanjangan tangan dari pusat. baik yang berasal dari local revenue. pengembangan kelembagaan dan sumber daya manusia.

penyerahan fungsi. sehingga keputusan mengenai pengeluaran publik yang dibuat oleh pemerintah daerah lebih responsif terhadap keinginan konstituennya. dimana sistem desentralisasi fiskal menawarkan perbaikan potensial yang lebih besar terhadap perbaikan pengelolaan makro ekonomi dibandingkan . Persaingan antar pemerintah daerah. Model keuangan federal biasanya diterapkan di negara-negara yang memiliki keragaman dalam aspek geografis dan etnis. Efisiensi alokasi sumber daya. berarti bahwa pemerintah daerah memiliki informasi yang lebih baik mengenai kebutuhan penduduknya dibandingkan pemerintah pusat. yaitu: (1) efisiensi alokasi sumber daya (efficient allocation of resources). Hipotesis ini menunjukkan bahwa terdapat potensi untuk mencapai efisiensi ekonomi (maximizing social welfare) dalam penyediaan barang publik pada tingkat lokal. Dimensi ekonomi dari suatu kebijakan keuangan publik adalah stabilitas makro ekonomi. dan kerangka analisis yang sesuai adalah agency theory. (2) persaingan antar pemerintah daerah (competition among local government). yaitu Pemerintah Daerah memiliki kewenangan untuk menetapkan pajak serta melakukan pinjaman secara mandiri. Menurut penelitian empiris. berpola dekonsentrasi atau delegasi. desentralisasi fiskal memiliki keuntungan efisiensi potensial. Seperti yang dikemukakan “Tiebout Model” bahwa tingkat dan kombinasi pembiayaan barang publik bertaraf lokal dan pajak yang dibayar oleh masyarakat merupakan kepentingan politisi masyarakat lokal dengan pemerintah daerah. fungsi. serta pembiayaan sesuai dengan konstitusi federal. desentralisasi inheren dengan destabilisasi. hal ini terjadi sejak diberlakukannya Undang Undang Nomor 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang Undang Nomor 25/1999 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah. Di mana pemerintah negara bagian ataupun pemerintah lokal memiliki kewenangan (otonomi) yang jelas terhadap wilayah. Berdasarkan aspek efisiensi. serta pembiayaannya sudah secara umum ditetapkan dengan undang-undang. Hal ini dapat terbukti. dan efisiensi. Batas-batas resmi. Aspek-aspek inilah yang dapat digunakan untuk mengevaluasi desentralisasi fiskal. wewenang. keadilan (equity). yaitu persaingan antar daerah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakatnya akan mendorong pemerintah lokal untuk meningkatkan inovasinya. Indonesia secara tidak langsung menerapkan model keuangan federal.368 Bab 17: Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah § § § § § § § bersifat “top down’.

Bantuan pemerataan (equalizational grant) adalah alat yang digunakan untuk mengoreksi ketidakadilan horisontal tersebut. Redistribusi memiliki dua dimensi. Keadilan horisontal merujuk pada tingkat kapasitas pemerintah daerah dalam memenuhi pelayanan publik. maka akan menciptakan suatu insentif bagi penduduk berpendapatan rendah untuk datang dan mendorong penduduk berpendapatan tinggi untuk pindah ke mana saja. (b) karakteristik regional yang mengakibatkan perbedaan biaya penyediaan pelayanan. proses. maka tingkat pelayanan akan menurun. Redistribusi berupa suatu transfer dana kepada rumah tangga berpendapatan rendah untuk mencapai keseimbangan dalam distribusi pendapatan. Jika dilakukan secara agresif. Aspek keadilan dari sebuah kebijakan keuangan publik berkaitan dengan redistribusi pendapatan untuk mencapai keadilan sosial. Jika tanggung jawab pengeluaran lebih besar daripada sumber yang tersedia.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 369 § § § § § § sistem fiskal yang tersentralisasi. implementasi. stabilitas makro ekonomi bukanlah hal yang otomatis terwujud dengan diterapkannya desentralisasi. yaitu keadilan horisontal dan keadilan lokal. Untuk mengatasinya. dukungan politis baik pada tingkat pengambilan keputusan di masing-masing tingkat pemerintahan dan masyarakat secara keseluruhan. Sebaliknya. Terdapat dua faktor utama penyebab munculnya ketidakadilan horisontal: (a) basis pajak (tax bases) sangat berbeda secara signifikan antara daerah satu dengan yang lain. Keberhasilan pelaksanaan desentralisasi menurut Sidik (2002) tergantung pada: desain. Khusus bagi negara berkembang. perlu dirancang kebijakan untuk memberikan sumber daya yang lebih besar ke daerah yang miskin. kesiapan administrasi pemerintahan. Negara federal yang terdesentralisasi secara tinggi memiliki kinerja makro ekonomi yang sangat stabil dan tingkat inflasi yang rendah. (2) biaya-biaya dari pengambilan keputusan tersebut sepenuhnya harus ditanggung oleh masyarakat sehingga tidak ada ekspor pajak dan tambahan transfer level pemerintahan yang lain. Prasyarat penting bagi kesuksesan desentralisasi terlepas dari keseimbangan makro atau efisiensi mikro menurut Bird dan Vaillancourt adalah: (1) proses pengambilan keputusan di daerah harus demokratis dan transparan. . jika penerimaan lebih banyak daripada pengeluaran yang didesentralisasikan. maka mobilisasi dana daerah dapat menurun dan ketidakseimbangan makro ekonomi kembali muncul. Mobilitas rumah tangga adalah hambatan riil pemerintah daerah untuk menggunakan kebijakan redistribusi.

LATIHAN 1. dan (2) terdapat keseimbangan antara akuntabilitas dan kewenangan dalam melakukan pungutan pajak dan retribusi daerah. keadilan vertikal. Apa akibatnya jika pemerintah daerah mengeluarkan program redistribusi pendapatan secara agresif ? . Jelaskan keuntungan efisiensi potensial dari desentralisasi fiskal ! 11. keadilan horisontal.370 Bab 17: Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah pengembangan kelembagaan dan sumber daya manusia. Mengapa desentralisasi akan meningkatkan efisiensi alokasi sumber daya ? 5. Apa yang dimaksud dengan dekonsentrasi ? 10. mekanisme koordinasi untuk meningkatkan kinerja aparat birokrasi. 14. Sebutkan faktor utama yang memberikan kontribusi munculnya ketidakadilan horisontal ! 8. Mengapa khusus untuk negara-negara berkembang. stabilitas makroekonomi tidak otomatis terwujud dengan diterapkan desentralisasi fiskal ? 7. Jelaskan yang dimaksud dengan : a. perubahan sistem nilai dan perilaku birokrasi dalam memenuhi keinginan masyarakat khususnya dalam pelayanan sektor publik. Sebutkan 2 model hubungan fiskal antar pemerintah yang berlaku saat ini. Mengapa Indonesia dibandingkan dengan Amerika Serikat derajat desentralisasi fiskalnya lebih tinggi ? 4. § Pelaksanaan desentralisasi fiskal akan berjalan baik dengan mempedomani hal-hal sebagai berikut: (1) adanya pemerintah pusat yang kapabel dalam melakukan pengawasan dan enforcement. Sebutkan syarat-syarat keberhasilan desentralisasi fiskal menurut Bird dan Vaillancourt ! 9. Apa yang dimaksud dengan Agency Theory ? 3. Jelaskan yang dimaksud dengan Tiebout Model ? 6. jelaskan ! 2. b. Apa yang dimaksud dengan redistribusi ? 13. Jelaskan hubungan antara desentralisaasi fiskal dengan pengelolaan makro ekonomi ! 12.

Sebutkan tiga dimensi ekonomi baku dari suatu kebijakan keuangan publik! 18. Menurut sidik (2002) pedoman apa saja yang harus dijalani agar pelaksanaan desentralisasi fiskal berjalan dengan baik ? 17.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 371 15. Bagaimana caranya untuk mengurangi ketidakadilan horisontal ? 16. Jelaskan fakta di Pemerintah Daerah mengenai argumentasi ekonomi tentang efisiensi ! .

aspek pembiayaannya juga ikut terdesentralisasi.1. Implikasinya. tidak ada satupun pemerintah daerah di berbagai negara yang disurvei memiliki pendapatan yang dapat membiayai seluruh pengeluarannya. transfer dana dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Dari Tabel 16. . Desentralisasi memang merupakan pelimpahan wewenang dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. Namun. terlihat bahwa.1). Sejalan dengan desentralisasi tersebut. ternyata banyak daerah di berbagai negara ini local government revenue tidak cukup untuk membiayai seluruh pengeluaran daerah (lihat Tabel 18. daerah dituntut untuk dapat membiayai sendiri biaya pembangunannya.TRANSFER PUSAT KE DAERAH: TEORI DAN PRAKTIK Dalam konteks desentralisasi fiskal.

85% 99.33% *Pemerintah Daerah di negara-negara federal adalah kelompok Pemerintah Daerah yang terendah tingkat pendapatannya.76% 73.52% 62.28% 85.97% 84.69% 66.60% 29.50% 56. .68% 72.28% 85. 1998. Government Finance Statistics Year Book 1998.35% 93.37% 81.02% 64.31% 71.69% 61.65% 82.89% 85.93% 72.91% 60.47% 1996 6.88% 27.97% 73.10% 66.04% 85.374 Bab 18: Transfer Pusat ke Daerah: Teori dan Praktik Tabel 18.85% 68.10% 65.26% N/A 75.71% 40.82% 39.80% 83.91% 1998 4.82% 71.21% 79.51% 72.69% 80.05% 58.35% 62.64% 73.75% 81.74% 58.31% 1997 3.55% 73.49% 89.18% 75.08% 80.65% 42.1: Persentase Pendapatan atas Pengeluaran Daerah Negara Kesatuan Albania Azerbaijan Belarusia Bulgaria Kroasia Republik Cekoslowakia Denmark Estonia Irlandia Kazakhstan Latvia Lithuania Mauritius Moldova Mongolia Norwegia Polandia Republik Slovakia Slovenia Inggris Negara Federal* Australia Austria Bolivia México Switzerland United States 85.83% 72.30% 81.72% 81.27% 98.50% 66.62% 60.10% 61.74% 58. Catatan: Pendapatan Pemerintah Daerah tidak termasuk transfer antar pemerintahan (intergovernmental transfers) Sumber: International Monetary Fund.91% 63.10% 84.63% 66.28% 57.11% 72.76% N/A 82.46% 60.32% 81.83% 73.25% 72.51% 81. Country Tables.71% 64.22% 39.96% 64.66% 60.29% 78.98% 81.96% 71.92% 87.65% 70.80% 59.78% 77.83% 27.43% 83.18% 57.52% N/A 77.49% 57.08% 89.93% 97.32% 59.64% 97.19% 93.74% 85.31% 85.26% 57.73% 82.92% 62.31% 27.73% 65.30% 66.51% 1995 5.68% 58.95% 87.64% N/A 77.53% 73.

Sumber ini membiayai sekitar 85% dari pengeluaran pemerintah daerah di Afrika Selatan. transfer pusat ke daerah dapat dibedakan atas bagi hasil pendapatan (revenue sharing) dan bantuan (grants). pemerintah pusat menguasai sebagian besar sumbersumber penerimaan (pajak) utama negara yang bersangkutan. Kemudian. GRS untuk tingkat negara bagian diberlakukan secara tuntas pada tahun 1982 dan untuk tingkat lokal diberlakukan pada secara tuntas pada tahun 1986. mengatasi persoalan efek pelayanan publik (correcting spatial externalities). Dengan demikian. Adapun tujuan dari transfer ini bermacam-macam yaitu pemerataan vertikal (vertical equalization). 2002). Kondisi ini akhirnya menimbulkan ketimpangan vertikal (vertical imbalance) antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. 70% sampai 90% pengeluaran negara bagian yang miskin di Meksiko. pemerintah negara bagian (state). an Transfer TUJUAN TRANSFER Pada dasarnya. Sementara itu. pada pertengahan era 1960-an hingga pertengahan 1980-an lahirlah kebijakan bagi hasil penerimaan umum (General Revenue Sharing/GRS). melakukan eksperimen dengan ide-ide baru (experimenting with new ideas). 72% pengeluaran propinsi dan 86% pengeluaran kabupaten/kota pada dekade 1990-an di Indonesia (Simanjuntak. transfer dana dari pusat (intergovernmental transfer) merupakan sumber penerimaan yang sangat dominan bagi pemerintah daerah di banyak negara. stabilisasi. dan kewajiban untuk menjaga tercapainya standar pelayanan minimum di setiap daerah.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 375 Implikasi dari kondisi tersebut. Pada era tahun 1960-an. pemerintah daerah hanya menguasai sebagian kecil sumber-sumber penerimaan negara. Pemerintah Federal Amerika Serikat sangat memonopoli sumber-sumber penerimaan. atau hanya berwenang untuk memungut pajak-pajak yang basis pajaknya bersifat lokal dan mobilitas yang rendah dengan karakteristik besaran penerimaannya relatif kurang signifikan. mengarahkan prioritas (redirecting priorities). pemerataan horisontal (horizontal equalization). . terutama negara berkembang. Vertical Equalization Transfer Di banyak negara. antara 67% sampai 95% pengeluaran negara bagian di Nigeria. Tidak terkecuali Indonesia. dan pemerintahan lokal. tujuan dari vertical equalization transfer ini adalah untuk mengkoreksi kesenjangan pendapatan yang diperoleh setiap level pemerintahan. Kondisi ini akhirnya bisa menimbulkan ketimpangan antara pemerintah federal.

25/1999 (dalam %) No Jenis Penerimaan Sebelum UU No. dimana sarana-prasarana transportasi . Pengalaman empiris di berbagai negara menunjukkan ternyata kemampuan daerah untuk menghasilkan pendapatan sangat bervariasi. dimana pemerintah pusat begitu dominan dalam menguasai sumber-sumber penerimaan negara yang berujung pada timbulnya ketimpangan fiskal secara vertikal antara pemerintah pusat dengan daerah. Proporsi Bagi Hasil Beberapa Penerimaan Negara Sebelum dan Sesudah UU No. Dengan bagi hasil yang lebih besar ini.2. Kondisi ini berimplikasi kepada besarnya basis pajak atau kapasitas fiskal (fiscal capacity) di daerah-daerah bersangkutan. 3. Daerah-daerah yang kaya akan sumber daya alam. Menurut Undang-Undang No. seperti Aceh dan Irian Jaya. Ada pula daerahdaerah yang berbentuk kepulauan luas. Tabel 17. 9.8 64 15 15 64 64 - 20 20 20 20 20 85 70 60 80 16. terpaksa harus menjadi daerah miskin karena hasil dari sumber-sumber kekayaan alam mereka diangkut ke pusat.2. 5. 6. 10. 25/1999 Pusat Dati I Dati II Pusat Sesudah UU No. PBB BPHTB IHH PSDH/IHPH Land Rent/Iuran Tetap Royalty Pertambangan Umum Perikanan Minyak Gas Alam Dana Reboisasi PPh 10 20 55 55 20 20 100 100 100 100 100 16.2 16 16 16 16 16 3 6 8 Sumber : Sidik 2002. 25/1999 ini. daerah penghasil penerimaan (baik itu pajak maupun sumber daya alam) mendapat porsi yang besar dalam bagi hasil penerimaan umum (general revenue sharing) yang lebih besar dibandingkan sebelum diberlakukannya Undang-Undang No. Terdapat daerah-daerah dengan penduduk miskin. taxing power yang diterima daerah menjadi lebih besar dan ketimpangan vertikal dapat dikurangi. dengan tarif pajak yang sama seharusnya juga menghasilkan penerimaan yang sama di antara daerah. 4. penduduk lanjut usia. 25/1999 (lihat Tabel 2. Kondisi ini kemudian berubah dengan keluarnya Undang-Undang Nomor 25/1999. 2. dan anak-anak serta remaja yang tinggi proporsinya.2 16 30 30 16 16 - 64.1: PRAKTEK VERTICAL EQUALIZATION DI INDONESIA Penerapan vertical equalization di Indonesia berlaku sejak dikeluarkannya Undang-undang Nomor 25/1999 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah. 7.376 Bab 18: Transfer Pusat ke Daerah: Teori dan Praktik KOTAK 17. tergantung kondisi daerah bersangkutan yang memiliki kekayaan sumber daya alam atau tidak. Artinya. Di sisi lain. daerah-daerah juga memiliki kebutuhan belanja yang sangat bervariasi. 11.8(+) 64(+) 64 32 64 32 6 12 40 12 Pemertaan Kab/Kota Lainnya + + 32 32 80 6 12 - 1. 25/1999 Pro-pinsi Kab/ Kota 64. ataupun daerah dengan intensitas kegiatan ekonomi yang tinggi atau rendah. Latar belakang diberlakukannya formula vertical equalization ini didasari oleh suatu kondisi selama Orde Baru. 8. berdasarkan UU Nomor 25 Tahun 1999 Horizontal Equalization Transfer Keseimbangan antara kebutuhan pendapatan (revenue needs) dan kemampuan untuk menghasilkan pendapatan juga memiliki dimensi horisontal.

Variabel-variabel yang digunakan untuk menentukan kebutuhan daerah adalah (a) jumlah penduduk. Bobot daerah harus dirumuskan dengan menggunakan suatu formula yang didasarkan atas pertimbangan kebutuhan dan potensi penerimaan. pendidikan tinggi (universitas). Faktor formula DAU terdiri dari dua. 4. melalui suatu formula ini. ada daerah-daerah dengan jumlah penduduk yang tidak terlalu besar. Secara faktual. namun memiliki sarana dan prasasarana yang telah lengkap. sistem . dan (4) jumlah penduduk miskin. Sementara di lain pihak. Faktor penyeimbang juga diarahkan untuk mengatasi permasalahan pendanaan akibat terjadinya transfer pegawai dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah yang tentunya membawa konsekuensi pada gaji dan biaya-biaya terkait lainnya. 3. Sehingga.2: PRAKTEK HORIZONTAL EQUALIZATION DI INDONESIA Dana Alokasi Umum (DAU) merupakan contoh yang paling tepat sebagai bentuk horizontal equalizataion di Indonesia. peran DAU dapat dijadikan counter atas pembagian dana bagian daerah yang didasarkan atas dasar penghasil daerah (by origin atau vertical equalization) yang cenderung menimbulkan ketimpangan antar daerah. Sebagai horizontal equalization. (b) PDRB sektor industri dan jasa lainnya (non primer). Variabel-variabel yang digunakan untuk menentukan potensi penerimaan adalah (a) PDRB sektor sumber daya alam (primer). maka dapat dihitung celah fiskal (fiscal gap) yang akan ditutup dengan transfer DAU dari pusat. yaitu potensi penerimaan dan kebutuhan fiskal. pemadam kebakaran. dan besarnya angkatan kerja (SDM). Faktor lump sum intinya adalah suatu mekanisme untuk membagi habis total DAU yang sudah dianggarkan dalam APBN 925% dari penerimaan bersih domestik). (3) indeks harga bangunan. Faktor Penyeimbang adalah suatu mekanisme untuk mencegah penurunan kapasitas pemerintah daerah dalam membiayai kewajiban-kewajiban mereka. DAU dirancang dengan sebuah formula yang digunakan untuk menghitung potensi penerimaan daerah atau kapasitas fiskal (fiscal capacity) dan kebutuhan fiskal daerah (fiscal needs). Sumber: Brodjonegoro dan Pakpahan (2002) Correcting Spatial Externalities Beberapa jenis pelayanan publik di satu wilayah memiliki “efek menyebar” (eksternalitas) ke wilayah-wilayah lainnya. Dalam prakteknya. karena daerah yang mempunyai potensi pajak dan SDA yang terbatas pada daerah-daerah tertentu. Penentuan bobot dan alokasi daerah. 2. maka dapat dihitung kesenjangan atau celah fiskal (fiscal gap) dari masingmasing daerah yang seyogyanya ditutup oleh transfer dari pemerintah pusat. Ini mencerminkan tinggi rendahnya kebutuhan fiskal (fiscal need) dari daerah-daerah yang bersangkutan. DAU akan dialokasikan kepada daerah dengan menggunakan bobot daerah.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 377 dan infrastruktur lainnya masih belum memadai. Rumus umum DAU 2001 adalah sebagai berikut: 1. Besarnya DAU setelah formula paling tidak sama dengan besarnya bantuan Subsidi Daerah Otonom (SDO) dan Inpres tahun 2000. Oleh karenanya. (b) luas wilayah. Membandingkan kebutuhan fiskal dengan kapasitas fiskal tersebut di atas. dalam alokasi DAU 2001 terdapat faktor penyeimbang dan faktor lump sum. KOTAK 17. Dengan kata lain tujuan dari horizontal equalization transfer adalah untuk menutup celah fiskal yang dimiliki oleh setiap daerah. Misalnya. jalan raya penghubung antar daerah. terjadi selisih hitung antara total DAU yang dianggarkan dengan total faktor penyeimbang dan faktor formula.

perguruan tinggi). Namun. Koreksi “Spillovers” Melalui Transfer P MC P1 PB PA DA QB QT DB Q DT Gambar 18.1 Berdasarkan Gambar 18. maka jumlah permintaannya akan sangat rendah. yang bagi daerah . dan rumah sakit daerah. biasanya pemerintah daerah enggan untuk berinvestasi di sini. total permintaan atas barang publik tersebut adalah DT dengan harga (biaya) sebesar P1.378 Bab 18: Transfer Pusat ke Daerah: Teori dan Praktik pengendali polusi (udara dan air). pemerintah pusat perlu memberikan semacam insentif ataupun menyerahkan sumber-sumber keuangan agar pelayanan-pelayanan publik demikian dapat dipenuhi oleh daerah. Oleh karena itu. peminatnya juga berasal dari luar daerah (nonresident demands). tidak bisa dibatasi manfaatnya hanya untuk masyarakat tertentu saja.1. yaitu sebesar DB dengan harga (biaya) sebesar PB. yaitu sebesar DA dan harganya (biayanya) pun relatif murah (PA) sehingga daerah setempat dipastikan dapat mengadakannya. Sehingga. tanpa adanya “imbalan” (dalam bentuk pendapatan) yang berarti dari proyek-proyek serupa di atas. Namun. jika permintaan dari penduduk (resident demands) setempat yang diperhitungkan. untuk permintaan atas barang publik tertentu (misalnya.

Ini terkait dengan pemenuhan harapan para konstituen pemilih ketika pemilihan umum berlangsung. akhirnya bertentangan dengan prioritas yang sedang dibangun oleh level pemerintahan lainya.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 379 bersangkutan akan sangat sulit untuk dapat mengadakannya. . karena biayanya terlalu mahal. Misalnya. Agar keinginan pemerintah pusat dan pemerintah daerah dapat berjalan secara paralel. Pemerintah daerah ternyata menginginkan pembangunan di sektor kesehatan lebih mendapat prioritas karena pertimbangan kondisi masyarakat setempat. Agar penyediaan barang publik tersebut tetap dilakukan oleh daerah bersangkutan. Dengan demikian. pemerintah pusat berkeinginan mengedepankan pembangunan di sektor pendidikan secara murah dan terjangkau. Alasan perlunya bantuan dari pusat kepada daerah sehubungan dengan uji coba program baru tersebut. Transfer pemerintah pusat kepada daerah semacam ini akan membantu mengarahkan kembali prioritas daerah dan pusat sesuai dengan keinginan yang diharapkan oleh masing-masing level pemerintahan. Namun ternyata. maka daerah bersangkutan dapat menyediakan barang publik tersebut. keinginan tersebut ternyata tidak sinkron dengan pola kebijakan daerah. Dengan adanya subsidi ini. seyogyanya pemerintah pusat memberikan transfer atau insentif kepada daerah. yaitu sebesar perbedaan antara PB dan P1. Dan seringkali prioritas yang dikembangkan oleh setiap level pemerintahan tersebut. karena biayanya berada dalam jangkauan anggaran daerah. maka pemerintah pusat memberikan transfer (subsidi). Redirecting Priorities Setiap level pemerintahan memiliki prioritas masing-masing di dalam penyediaan pelayanan publik kepada masyarakatnya. sesungguhnya bantuan untuk tujuan uji coba program baru ini tidak lebih dari sebuah kompensasi atas kesediaan daerah menjadi ajang uji coba suatu program baru dari pusat. karena daerah yang menjadi tempat uji coba tidak mau menanggung kerugian dan risiko manakala terjadi dampak negatif terhadap program baru tersebut. Experimenting with New Ideas Bantuan (grants) seperti ini berawal dari adanya keinginan pemerintah pusat untuk mengujicobakan suatu program baru di suatu daerah sebelum program tersebut diberlakukan terhadap seluruh daerah.

dapat kiranya sebagai acuan untuk mendesain sistem atau model transfer bagaimana yang akan diterapkan. apakah negara tersebut berbentuk federal maupun negara kesatuan. bagi hasil (revenue sharing) berdasarkan formula. Penerimaan yang Memadai (Revenue Adequacy) Pemerintah daerah semestinya memiliki pendapatan (termasuk transfer) yang cukup untuk menjalankan segala kewajiban atau fungsi yang diembannya. Pajak-pajak dimana daerah bisa ikut memungut di atas tingkat yang ditetapkan pusat (piggyback). maka penerapan standar pelayanan minimum di setiap daerah pun akan lebih bisa dijamin pelaksanaannya oleh pemerintah pusat. Namun kecermatan dalam mengkalkulasi amat diperlukan agar tindakan menaikkan/menurunkan dana transfer itu tidak berakibat merusak atau bertentangan dengan tujuan stabilisasi. bisa saja dana transfer ke daerah dikurangi manakala perekonomian sedang booming. Prinsip ini menekankan agar pemerintah daerah memiliki independensi dan fleksibilitas dalam menentukan prioritas-prioritas mereka. ataupun transfer yang bersifat umum (block grant) adalah sumber-sumber penerimaan daerah yang konsisten dengan tujuan tersebut. Jika dikaitkan dengan postulat Musgrave (1983) yang menyatakan bahwa peran redistributif dari sektor publik akan dijalankan oleh pemerintah pusat. Transfer untuk dana-dana pembangunan (capital grants) adalah merupakan instrumen yang cocok untuk tujuan ini. Memenuhi Standar Pelayanan Minimum Daerah-daerah dengan sumber daya yang sedikit memerlukan subsidi agar dapat mencapai standar pelayanan minimum. . Berikut adalah beberapa kriteria umum yang biasa digunakan di banyak negara di dunia.380 Bab 18: Transfer Pusat ke Daerah: Teori dan Praktik Stabilisasi Transfer dana dapat ditingkatkann oleh pemerintah ketika aktivitas perekonomian sedang lesu. 1. Otonomi Prinsip ini merupakan dasar desentralisasi fiskal di dunia. Tidak boleh ada pembatasan yang sedemikian ketat sehingga sebagian besar keputusan di daerah harus mengikuti atau mengacu kepada ketentuan pusat. KRITERIA DESAIN TRANSFER PUSAT KE DAERAH Dari berbagai tujuan yang hendak dicapai dalam rangka transfer antar tingkat pemerintahan. 2. Di saat lain.

Di samping itu juga formula yang dipakai seyogyanya relatif mudah untuk dipahami. Insentif Desain dari transfer ini harus sedemikian sehingga memberikan semacam insentif bagi daerah dengan manajemen fiskal yang baik. sehingga memudahkan penyusunan anggaran. 4. general purpose grant. Dengan demikian. tidak perlu ada transfer khusus/spesifik untuk membiayai defisit anggaran pemerintah daerah. Transparan dan Stabil Formula transfer mesti diumumkan sehingga dapat diakses masyarakat. Transfer Tanpa Syarat Pada umumnya transfer jenis ini ditujukan untuk menjamin adanya pemerataan dalam kemampuan fiskal antar daerah. categorial grant. sehingga setiap daerah dapat melaksanakan urusan rumah tangganya sendiri pada tingkat yang layak. 6. Hal yang lebih penting lagi adalah setiap daerah dapat memperkirakan berapa penerimaan totalnya (termasuk transfer). Formula tersebut seyogyanya dipakai untuk jangka menengah (misalnya 3-5 tahun). yaitu (1) transfer tanpa syarat (unconditional grant. Sederhana (Simplicity) Alokasi dana kepada pemerintah daerah semestinya didasarkan pada faktor-faktor obyektif dimana unit-unit individual tidak memiliki kontrol atau dapat mempengaruhinya. 5.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 381 3. spesific purpose grant). agar perencanaan jangka menengah dan panjang dapat dilakukan oleh daerah. atau ada semacam kontrol terhadap belanja daerah. Keadilan (Equity) Besarnya dana transfer dari pusat ke daerah seyogyanya berhubungan positif dengan kebutuhan fiskal daerah dan berkebalikan dengan besarnya kapasitas fiskal daerah yang bersangkutan. . JENIS-JENIS TRANSFER Pengalaman empiris dari berbagai negara menunjukkan bahwa pemberian transfer oleh pemerintah pusat kepada daerah dapat disertai dengan syaratsyarat tertentu atau tidak bersyarat sama sekali. block grant dan (2) transfer dengan syarat (conditional grant. sebaliknya menangkal praktek-praktek yang tidak efisien. Dengan demikian. pada dasarnya jenis-jenis transfer dapat dikelompokkan menjadi dua kategori besar.

DAU ditetapkan sekurang-kurangnya 25% (dua puluh lima persen) dari penerimaan dalam negeri yang ditetapkan dalam APBN. . persentase Dana Alokasi Umum untuk daerah propinsi dan daerah kabupaten/kota disesuaikan dengan perubahan tersebut. 5. DAU adalah dana yang berasal dari APBN.382 Bab 18: Transfer Pusat ke Daerah: Teori dan Praktik Tujuan dari transfer ini adalah untuk mengurangi ketimpangan fiskal yang bersifat horisontal (horizontal equalization). Penghitungan DAU berdasarkan rumus di atas dilakukan oleh Sekretariat Bidang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. 25/1999 ketentuan mengenai aturan alokasi DAU adalah sebagai berikut: 1. DAU untuk suatu daerah propinsi tertentu ditetapkan berdasarkan perkalian jumlah DAU untuk seluruh daerah propinsi yang ditetapkan dalam APBN. • potensi ekonomi daerah.3: PRAKTEK TRANSFER TANPA SYARAT DI INDONESIA Dana Alokasi Umum (DAU) merupakan bentuk yang masuk dalam kategori transfer tanpa syarat (unconditional grant) untuk kasus di Indonesia. 7. Menurut UU No. 9. 4. 8. Porsi daerah propinsi merupakan proporsi bobot daerah propinsi yang bersangkutan terhadap jumlah bobot semua daerah propinsi di seluruh Indonesia. 2. 6. Bobot daerah ditetapkan berdasarkan: • kebutuhan wilayah otonomi daerah. KOTAK 17. yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk membiayai kebutuhan pengeluarannya dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. DAU untuk suatu daerah kabupaten/kota tertentu ditetapkan berdasarkan perkalian jumlah DAU untuk seluruh daerah kabupaten/kota yang ditetapkan dalam APBN dengan porsi daerah kabupaten/kota yang bersangkutan. Dalam hal terjadi perubahan kewenangan di antara daerah propinsi dan daerah kabupaten/kota. Porsi daerah kabupaten/kota merupakan proporsi bobot daerah kabupaten/kota yang bersangkutan terhadap jumlah bobot semua daerah kabupaten/kota di seluruh Indonesia. DAU untuk daerah propinsi dan untuk daerah kabupaten/kota ditetapkan masing-masing 10% (sepuluh persen) dan 90% (sembilan puluh persen) dari total DAU nasional. dengan porsi daerah propinsi yang bersangkutan. 3.

jumlah barang yang dapat dipenuhi menjadi lebih banyak. Hal ini digambarkan dengan adanya pergeseran (shifting) budget line yang sejajar dari AB menjadi FG. sebagaimana digambarkan pergeseran kurva indiferensi yaitu dari i1i1 menjadi i2i2 dan titik keseimbangan baru menjadi E1. Kurva i1i1. i2i2. Asumsikan terdapat dua jenis barang publik (public goods). Ini mengingat.Karena tidak ada batasan pada cara pembelanjaan fasilitas publik manapun. Penjelasan efek dari unconditional grant terhadap pembiayaan daerah. maka yang bertambah akibat adanya transfer adalah jumlah anggaran. dimana posisi E ini merupakan posisi tinggi dalam hal kepuasan tertinggi pada anggaran yang tersedia. dapat dilihat pada Gambar 18. Sehingga. dengan unconditional grants memungkinkan tercapainya kesejahteraan yang Garis anggaran (budget line) adalah kurva yang menunjukkan kombinasi konsumsi dua macam barang yang membutuhkan biaya (anggaran) yang sama besar. posisi permintaan (demand) barang A adalah OC dan barang B adalah OD sehingga titik keseimbangan awal adalah E. Garis AB adalah garis anggaran1 daerah setempat (community budget line). formula apa yang tepat untuk menjamin meratanya kemampuan fiskal (fiscal capacity) daerah dalam menjalankan pelayanan publik minimum. 2 1 . dalam kasus ini adalah barang A dan barang B. yaitu barang publik yang akan dibantu dengan transfer (assisted public goods/B) yang digambarkan dengan garis horisontal (horizontal axis) dan barang publik yang tidak dibantu (other public goods/A) yang digambarkan dengan garis vertikal (vertical axis).Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 383 Ciri utama dari transfer ini adalah daerah memiliki keleluasaan (diskresi) penuh dalam memanfaatkan dana transfer ini sesuai dengan pertimbanganpertimbangannya sendiri atau sesuai dengan aturan apa yang menjadi prioritas daerahnya. tingkat kepuasan masyarakat pun menjadi lebih besar. Dengan demikian. yang memperlihatkan kombinasi berbagai konsumsi barang yang tersedia.Transfer tanpa syarat biasanya dibagikan berdasarkan suatu formula tertentu. Kurva indiferensi (indifference curve) adalah kurva yang menunjukkan berbagai kombinasi konsumsi dua macam barang yang memberikan tingkat kepuasan sama bagi seorang konsumen. yaitu menjadi OK (untuk assested public goods) dan menjadi OH (untuk other public goods). Pada kondisi sebelum ada transfer. Kondisi inilah yang menyebabkan mengapa penerima lebih memilih unconditional grants dibandingkan bentuk transfer lainnya. Namun.2. dan seterusnya adalah kurva indiferensi (indifference curve)2. amat tergantung kepada kondisi atau keadaan di masingmasing negara.

384 Bab 18: Transfer Pusat ke Daerah: Teori dan Praktik lebih baik bagi daerah yang muncul dari kemungkinan untuk memilih yang lebih besar. yaitu: . Efek Unconditional Grant Terhadap Pembiayaan Daerah Other Public Goods i2 F i1 A H E E1 i2 C i1 O D K B G Assested Public Goods Gambar 18-2 Transfer dengan Syarat (Conditional Transfer) Transfer ini biasanya digunakan untuk keperluan yang dianggap penting oleh pemerintah pusat namun kurang dianggap penting oleh daerah. bagi pemberi. hal ini bisa juga menjadi suatu kerugian karena tidak ada kepastian tercapainya tujuan bersama sesuai dengan maksud pemberian grants tersebut. Transfer ini dapat dikelompokkan ke dalam dua jenis. Contohnya adalah proyek-proyek yang menimbulkan efek eksternalitas positif bagi daerah-daerah lain ataupun proyek-proyek dari pemerintah pusat yang sifatnya uji coba atas suatu program atau ide baru (experimenting with new ideas). Namun.

Penjelasan efek dari open-ended matching grants dapat disajikan dalam Gambar 18.3.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 385 Transfer Pengimbang (Matching Grants) Transfer pengimbang adalah transfer yang diberikan oleh pusat kepada daerah untuk menutup sebagian atau seluruh kekurangan pembiayaan satu jenis urusan tertentu. Dengan demikian. daerah hanya mampu menyediakan dana sebesar 10% dari total kebutuhan dana atau sebesar Rp10 miliar. yang memperlihatkan kombinasi berbagai konsumsi barang yang tersedia. Misalnya. dan seterusnya adalah kurva indiferensi (indifference curve). kurva garis anggaran (budget line) akan mengalami pergeseran dari AB menjadi AM. i2i2. yaitu barang publik yang akan dibantu dengan transfer (assisted public goods/B) yang digambarkan dengan garis horisontal (horizontal axis) dan barang publik yang tidak dibantu (other public goods/A) yang digambarkan dengan garis vertikal (vertical axis). sementara barang A tetap. dimana posisi E ini merupakan posisi tinggi dalam hal kepuasan tertinggi pada anggaran yang tersedia. yaitu sebesar Rp90 miliar ditanggung sepenuhnya oleh pusat. . asumsikan terdapat dua jenis barang publik (public goods). Transfer dari pemerintah pusat dalam hal ini berfungsi untuk membantu mengatasi kekurangan dana tersebut. Pemerintah pusat dan daerah berniat meningkatkan kuantitas barang B. Transfer pengimbang ini juga dapat dibedakan menjadi 2 (dua) jenis: 1) Transfer pengimbang tidak terbatas (open-ended matching grants). posisi permintaan (demand) barang A adalah OC dan barang B adalah OD sehingga titik keseimbangan awal adalah E. dalam kasus ini adalah barang A dan barang B. Jadi. kekurangan tersebut. dana daerah belum cukup untuk menjamin penyelenggaraan urusan tersebut dengan baik. Sama dengan kasus sebelumnya. Pada kondisi sebelum ada transfer. sedangkan barang A dibiarkan tetap. sebuah proyek pembangunan universitas membutuhkan dana sekitar Rp100 miliar. Hanya saja. Sementara itu. Garis AB adalah garis anggaran daerah setempat (community budget line). yaitu misalnya pusat 90% dan daerah 10%. di sini pemerintah daerah telah mengalokasikan sejumlah dana dari pendapatan daerahnya untuk penyelenggaraan urusan tersebut. pemerintah pusat dan daerah sepakat memberikan kontribusinya masing-masing. Kurva i1i1. yaitu hanya menggeser kuantitas barang B. Maka. Untuk tujuan ini. Transfer ini diperuntukkan apabila transfer tersebut dapat dan memang ditujukan untuk menutup seluruh kekurangan dana yang terjadi.

daerah yang kaya akan mampu membuat proyek yang kaya pula dan menjadi semakin kaya. namun untuk barang A tetap. Dengan demikian. 2) Transfer pengimbang terbatas (closed-ended matching grants). sementara daerah yang miskin akan tetap miskin karena mereka tidak dapat membuat proyek kaya. Pada transfer ini terdapat batasan jumlah dana maksimum yang dapat digunakan. karena sifat grant ini yang tidak terbatas.386 Bab 18: Transfer Pusat ke Daerah: Teori dan Praktik Sehingga. tingkat kepuasan untuk barang B pun menjadi lebih besar. Akibatnya. sebagaimana digambarkan pergeseran kurva indiferensi yaitu dari i1i1 menjadi i2i2 dan titik keseimbangan baru menjadi E1.3 Efek negatif dari open-ended matching grants adalah grant yang diberikan oleh pemerintah pusat justru akan menyebabkan ketidakmerataan antar daerah. yaitu dari OD menjadi OP. Efek dari Open-Ended Matching Grants Other Public Goods i2 A i1 S N E Q O D B P i1 M Assested Public Goods E1 i2 C Gambar 18. yang pembiayaannya bisa sebagian besar dari pemerintah pusat. jumlah barang B (untuk assested public goods) yang dapat dipenuhi menjadi lebih banyak. Hal ini sangat disukai oleh pemberi bantuan (pemerintah .

Dengan demikian. yang memperlihatkan kombinasi berbagai konsumsi barang yang tersedia. dan seterusnya adalah kurva indiferensi (indifference curve). Pada kondisi sebelum ada transfer. karena walaupun dana yang diberikan sesuai dengan besar proyek. Untuk tujuan ini. yaitu sebesar Rp90 miliar ditanggung sepenuhnya oleh pusat. yaitu hanya menggeser kuantitas barang B. pemerintah pusat dan daerah berniat meningkatkan kuantitas barang B. Dengan demikian. dalam kasus ini adalah barang A dan barang B. sementara barang A tetap. tingkat kepuasan untuk barang B pun menjadi lebih besar. dimana posisi E0 ini merupakan posisi tinggi dalam hal kepuasan tertinggi pada anggaran yang tersedia. yaitu dari OD menjadi OP. pemberi bantuan dapat mencukupkan bantuannya. Sehingga. namun untuk barang A tetap. asumsikan terdapat dua jenis barang publik (public goods). Kurva i1i1. i2i2. Karena pemerintah pusat tidak lagi mau mengucurkan dananya. Penjelasan efek dari closed-ended matching grants dapat disajikan dalam Gambar 18. Misalnya. posisi permintaan (demand) barang A adalah OC dan barang B adalah OD sehingga titik keseimbangan awal adalah E0. Namun. Maka. kekurangan tersebut. . estimasi biaya ternyata membengkak menjadi Rp110 miliar atau mengalami kekurangan Rp10 miliar lagi. jumlah barang B (untuk assested public goods) yang dapat dipenuhi menjadi lebih banyak.4. Misalnya. Sama dengan kasus sebelumnya. kurva garis anggaran (budget line) akan mengalami pergeseran dari AB menjadi AM. daerah hanya mampu menyediakan dana sebesar 10% dari total kebutuhan dana atau sebesar Rp10 miliar. pemerintah pusat akan memberikan kontribusinya sebesar 90% dan daerah 10%. pemerintah pusat dan daerah sepakat memberikan kontribusinya masing-masing. Sementara itu.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 387 pusat). sebuah proyek pembangunan universitas awalnya membutuhkan dana sekitar Rp100 miliar. sedangkan barang A dibiarkan tetap. Dalam rencana awal. Garis AB adalah garis anggaran daerah setempat (community budget line). dengan sendirinya proyek tersebut harus disesuaikan dengan jumlah anggaran semula. dari proyek senilai Rp100 miliar. yaitu Rp100 miliar. yaitu barang publik yang akan dibantu dengan transfer (assisted public goods/B) yang digambarkan dengan garis horisontal (horizontal axis) dan barang publik yang tidak dibantu (other public goods/A) yang digambarkan dengan garis vertikal (vertical axis). namun setelah besarnya biaya proyek melampaui jumlah tertentu. dalam perjalanannya.

Asumsikan terdapat dua jenis barang publik (public goods). dapat dilihat pada Gambar 18. dengan sendirinya proyek tersebut harus disesuaikan dengan jumlah anggaran semula. i2i2. tetapi dari AB menjadi AT yang berarti jumlah barang A yang dapat dihasilkan akan lebih sedikit dibandingkan perkiraan semula. Penjelasan efek dari non-matching grants terhadap pembiayaan daerah. . namun karena pelaksanaannya menghasilkan limpahan manfaat besar kepada daerah-daerah lain. dan seterusnya adalah kurva indiferensi (indifference curve). slope-nya menjadi sejajar pada budget line awalnya. terjadi kenaikan bahan baku sehingga budget seharusnya dinaikkan menjadi Rp110 miliar. yaitu Rp100 miliar. yaitu barang publik yang akan dibantu dengan transfer (assisted public goods/B) yang digambarkan dengan garis horisontal (horizontal axis) dan barang publik yang tidak dibantu (other public goods/A) yang digambarkan dengan garis vertikal (vertical axis). yang memperlihatkan kombinasi berbagai konsumsi barang yang tersedia. Transfer Bukan Pengimbang (Non-Matching Grants) Transfer bukan pengimbang adalah transfer yang diberikan oleh pusat kepada daerah untuk menambah dana penyelenggaraan suatu jenis urusan tertentu tanpa mempertimbangkan bahwa pemerintah daerah sendiri telah/akan mengalokasikan dananya dengan jumlah besar atau kecil. Implikasinya. Jadi. transfer diberikan oleh pusat untuk mendorong daerah agar tetap bersemangat dan mau mengalokasikan pendapatan daerahnya untuk pelaksanaan fungsi tersebut. Kurva i1i1.388 Bab 18: Transfer Pusat ke Daerah: Teori dan Praktik sebagaimana digambarkan pergeseran kurva indiferensi yaitu dari i1i1 menjadi i2i2 dan titik keseimbangan baru menjadi E1. Jenis transfer ini dapat dipakai oleh pemerintah pusat untuk menjadi sarana menginternalisasikan limpahan manfaat. dimana posisi permintaan (demand) barang B adalah tetap OD. dalam kasus ini adalah barang A dan barang B. Dalam gambar terlihat bahwa rotasi pada budget line setelah batas tertentu. Garis AB adalah garis anggaran daerah setempat (community budget line). kendati pemerintah daerah yang bersangkutan telah mengalokasikan pendapatan daerahnya (local revenue) untuk pembiayaan penyelenggaraan urusan itu. Namun dalam perkembangannya. Implikasinya. (eksternalitas) terutama kepada daerah yang menghasilkan limpahan manfaat tersebut. Karena pemerintah pusat tidak lagi mau mengucurkan dananya. garis anggaran tidak jadi bergeser dari AB menjadi AM.5. terjadi titik keseimbangan baru dari E menjadi E1.

maka budget line dari barang publik yang dibantu (assested public goods) mengalami pergeseran (shifting). .4 Pada kondisi sebelum ada transfer. dimana posisi E ini merupakan posisi tinggi dalam hal kepuasan tertinggi pada anggaran yang tersedia. namun tidak mengubah batas maksimum fasilitas publik lainnya (other public goods).Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 389 Efek Closed-Ended Matching Grants Other Public Goods i2 A i1 S N E Q T O D B P i1 M Assested Public Goods E1 i2 C Gambar 18. Dengan adanya transfer dari pusat ke daerah untuk keperluan khusus tanpa diperlukannya dana pendamping. posisi permintaan (demand) barang A adalah OC dan barang B adalah OD sehingga titik keseimbangan awal adalah E.

. (e) melakukan eksperimen dengan ide-ide baru. (b) pemerataan horisontal. transfer dana dari pusat (intergovernmental transfer) merupakan sumber penerimaan yang amat dominan bagi pemerintah daerah. oleh karena itu. antara lain: (a) pemerataan vertikal. (c) mengatasi persoalan efek pelayanan publik. § Tujuan transfer dari pusat ke daerah. (d) mengarahkan prioritas. Transfer pusat ke daerah dapat dibedakan atas bagi hasil pendapatan (revenue sharing) dan bantuan (grants).5 RANGKUMAN § Konsep desentralisasi fiskal merupakan pelimpahan wewenang dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah.390 Bab 18: Transfer Pusat ke Daerah: Teori dan Praktik Efek Non-Matching Grants Other Public Goods i2 i1 A H E F E1 i2 C i1 O D K B G Gambar 18. Daerah juga dituntut untuk membiayai sendiri biaya pembangunannya padahal pendapatan daerah tidak bisa membiayai seluruh pengeluarannya.

Subsidi dibutuhkan sebesar selisih akibat peningkatan permintaan sehingga biayanya berada dalam jangkauan daerah. . antara pemerintah pusat dan daerah yang disebabkan perbedaan atas penguasaan sumber-sumber penerimaan (pajak). Kebijakan yang dilakukan dengan melakukan GRS (general revenue sharing) yaitu bagi hasil penerimaan umum. bertujuan agar keinginan pemerintah pusat dan pemerintah daerah dapat berjalan secara paralel walaupun memiliki perbedaan prioritas. Perbedaan ini diatasi dengan memberi transfer/insentif ke daerah sehingga membantu mengarahkan kembali prioritas daerah dan pusat sesuai harapan. Pemerataan vertikal (vertical equalization). Memenuhi standar pelayanan minimum. maksudnya pemerintah pusat memberikan (transfer) subsidi kepada pemerintah daerah untuk penyediaan barang publik yang memiliki efek ‘menyebar’ ke wilayah-wilayah lainnya. Instrumennya berupa transfer untuk dana-dana pembangunan (capital grants). Transfer dari pusat ke daerah akan digunakan untuk menutup celah fiskal tersebut. berarti membutuhkan tempat uji coba.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 391 § § § § § § § (f) stabilisasi. dan (g) menjaga tercapainya standar pelayanan minimum di setiap daerah. Hal ini dilakukan karena dengan adanya externalities (penyebaran). dan sulit bagi daerah untuk mengadakannya karena biayanya terlalu mahal. Stabilisasi. yaitu besarnya kebutuhan belanja/pengeluaran suatu daerah. Mengatasi persoalan efek pelayanan publik (Correcting Spatial Externalities). bertujuan untuk menutup celah fiskal yang dimiliki oleh daerah. yaitu menstabilkan kondisi perekonomian yang lesu dengan memberikan transfer maupun mengurangi transfer ketika perekonomian sedang booming. Melakukan eksperimen dengan ide-ide baru (Experimenting with New Ideas). Bantuan (grants) ke daerah diperlukan sebagai kompensasi atas daerah yang menjadi ajang uji coba suatu program baru dari pusat karena daerah tidak mau menanggung kerugian dan risiko sendiri. Pemerataan horisontal (horisontal equalization). permintaan meningkat. bertujuan untuk mengoreksi kesenjangan pendapatan yang diperoleh setiap level pemerintahan. yaitu kemampuan untuk menghasilkan pendapatan dan kebutuhan fiskal. Mengarahkan prioritas (redirecting proprities). Celah fiskal ini terjadi karena adanya perbedaan antara kapasitas fiskal. bertujuan memberikan subsidi ke daerah dengan sumber daya sedikit agar dapat mencapai standar pelayanan umum.

392 Bab 18: Transfer Pusat ke Daerah: Teori dan Praktik § Kriteria desain transfer pusat ke daerah. Unconditional grants lebih disukai karena memungkinkan tercapainya kesejahteraan yang lebih baik bagi daerah. yang memang ditujukan untuk menutup seluruh kekurangan dana dari proyek. bertujuan utnuk mengurangi ketimpangan fiskal yang bersifat horisontal dan menjamin adanya pemerataan kemampuan fiskal antar daerah. § Transfer pengimbang adalah transfer yang diberikan oleh pusat ke daerah untuk menutup sebagian atau seluruh kekurangan pembiayaan satu jenis urusan tertentu. § Jenis-jenis transfer dapat dikelompokkan menjadi dua kategori besar: (1) transfer tanpa syarat (unconditional grant. (3) keadilan (equity). terdapat batasan jumlah dana maksimal yang dapat digunakan. § Transfer dengan syarat. § Transfer tanpa syarat. Sehingga daerah kaya membuat proyek kaya menjadi lebih kaya. yaitu: (1) Transfer pengimbang tidak terbatas (open ended matching grants). (5) sederhana (simplicity). jika biaya proyek melebihi jumlah tertentu. dan (6) insentif. daerah memiliki keleluasaan (diskresi) penuh dalam memanfaatkannya sesuai dengan pertimbangan dan aturan yang menjadi prioritas. Transfer ini dikelompokkan menjadi dua jenis. Transfer pengimbang dibedakan menjadi dua jenis. (4) transparan dan stabil. Efek negatif dari transfer ini dapat menyebabkan ketidakmerataan daerah. block grant). spesific purpose grant). (2) Transfer pengimbang terbatas (closed-ended matching grants). pemberi bantuan akan mencukupkan bantuannya. karena sifatnya yang tidak terbatas. (2) penerimaan yang memadai (revenue adequacy). yaitu: transfer pengimbang (matching grants) dan transfer bukan pengimbang (non-matching grants). dikarenakan dana daerah yang tidak cukup. Hal ini dilakukan untuk mendorong daerah agar . categorial grant. Transfer ini disukai oleh pemberi bantuan. Ciri utamanya. dan (2) transfer dengan syarat (conditional grant. walaupun dana yang diberikan sesuai dengan besar proyek. general purpose grant. diberikan oleh pusat kepada daerah untuk menambah dana penyelenggaraan suatu jenis urusan tertentu tanpa mempertimbangkan bahwa pemerintah daerah telah mengalokasikan dananya. tapi bagi pemberi bisa menjadi kerugian karena tidak ada kepastian tercapainya tujuan bersama sesuai dengan tujuan pemberian grants. antara lain: (1) otonomi. § Transfer bukan pengimbang (non-matching grants). digunakan untuk keperluan yang dianggap penting oleh pemerintah pusat namun kurang dianggap penting oleh pemerintah daerah seperti proyek yang memiliki eksternalitas positif dan proyek yang bersifat uji coba.

Mengapa diberlakukan praktek vertical equalization di Indonesia. keadilan. LATIHAN 1. Apa saja tujuan dari transfer pusat ke daerah ? 2. Jelaskan yang dimaksud dengan transfer bukan pengimbang ! 9. Apa implikasi dari aspek pembiayaan yang juga ikut terdesentralisasi ? 11. faktor lump sum.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 393 tetap bersemangat melaksanakan fungsi tersebut karena menghasilkan limpahan manfaat besar kepada daerah-daerah lain. Sebutkan dua macam transfer pusat ke daerah ! 12. jelaskan dengan contohnya ! 13. Apa yang dimaksud efek menyebar yang dimiliki pelayanan publik di suatu wilayah ? 17. 15. transparan dan stabil. c. Jelaskan yang dimaksud dengan desentralisasi ? 10. 6. b. Sebutkan tujuan dari vertical equalization transfer dan horizontal equalization transfer ! 4. Jelaskan adanya transfer tanpa syarat dan tujuannya ! 7. Jelaskan kriteria desain transfer ke daerah dari sudut pandang : a. insentif. Apa yang dimaksud dengan transfer pengimbang tidak terbatas dan transfer pengimbang terbatas ! 8. Jelaskan faktor formula Dana Alokasi Umum (DAU) dan sebutkan variabel-variabelnya ! 16. Mengapa bisa timbul ketimpangan vertikal (vertical imbalance) ? 3. b. Apa yang dimaksud dengan : a. Suatu kondisi yang seperti apa di dalam kurva jika daerah setempat dapat mengadakan fasilitas publik yang dimaksud ? . Apa yang dimaksud dengan horizontal equalization transfer dan mengapa hal itu diperlukan ? 14. Jelaskan mengapa Dana Alokasi Umum (DAU) merupakan contoh yang paling tepat sebagai bentuk horizontal equalization transfer di Indonesia ! 5. faktor penyeimbang.

Jelaskan yang dimaksud dengan Pustulat Musgrave yang berkaitan dengan standar pelayanan minimum di daerah ! 21. Bagaimana cara pemerintah pusat melakukan redirecting priorities terhadap pemerintah daerah ! 19. Apakah ciri utama dari transfer tanpa syarat di daerah ? 23. kurva indeferensi 24. Apa yang dimaksud dengan experimenting with new ideas yang dilakukan pemerintah pusat pada pemerintah daerah ? 20. Sebutkan kriteria umum desain transfer pusat ke daerah ! 22. garis anggaran b. Mengapa penerima lebih memilih unconditional grants dibandingkan dengan bentuk transfer lainnya dan mengapa pemberi dapat merasa dirugikan ? . Apa yang dimaksud dengan : a.394 Bab 18: Transfer Pusat ke Daerah: Teori dan Praktik 18.

sebagaimana telah dibahas sebelumnya. Dalam konteks Indonesia. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). para wajib pajak di wilayah (daerah) mereka. surchage di atas suatu pajak yang dipungut dan dikumpulkan oleh pemerintah pusat. 25/1999. pemerintah daerah dapat memungut tambahan pajak (opsen. Pertama. Menurut pengertian ini. pajak pemerintah pusat yang dibagikan adalah Pajak Penghasilan (PPh). pada umumnya membayar pungutan tambahan beserta pajak-pajaknya kepada pemerintah pusat. dan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB). Praktek seperti ini diterapkan di . Kemudian. pemerintah pusat membayarkan pendapatan opsen tersebut kepada pemerintah daerah. Kedua. adalah melalui pembagian hasil pajak-pajak (revenue sharing) yang dikenakan dan dipungut oleh pemerintah pusat. menurut Undang-Undang No.PERPAJAKAN DAERAH Pemerintah daerah dapat memperoleh pendapatan dari perpajakan dengan tiga cara.

Di Amerika Serikat. pemerataan. precept pemerintah propinsi merupakan proporsi yang tinggi dari seluruh pungutan pungutan wajib wajib pajak. Untuk lebih jelas memahami opsen. Dalam konteks di Indonesia. adalah pungutan-pungutan yang dikumpulkan dan ditahan oleh pemerintah daerah sendiri.396 Bab 19: Perpajakan Daerah Swedia. kurang relevan dengan sistem perpajakan di Indonesia. sedangkan di daerah-daerah non metropolitan. pajak daerah jenis ini diatur dalam UU No. adalah (i) tax revenue sharing telah dibahas pada bagian sebelumnya. Davey (1983) mendefinisikan bahwa opsen adalah semacam pungutan pajak (precept) yang dipungut oleh propinsi (country) atau dewan desa (parish council) di Inggris di atas rate (pajak atas harta tetap. PRINSIP DAN KRITERIA PERPAJAKAN DAERAH Menurut Davey (1983) terdapat empat kriteria mengenai pajak Daerah. Bagian ini hanya akan mendiskusikan mengenai pajak yang diperoleh oleh pemerintah daerah sendiri. Keempat kriteria tersebut adalah kecukupan dan elastisitas. Seringkali dijumpai pemerintah daerah mempunyai banyak jenis pajak. pemerintah daerah mengenakan opsen atas pajak penjualan di tingkat negara bagian (state). Amerika Serikat. . Opsen tersebut mungkin dipungut sebagai persentase tambahan atas pendapatan kena pajak (PKP).18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. semacam PBB) dewan kabupaten (district council). dan (ii) pembahasan mengenai opsen. dan India. Sedangkan. Alasan pembatasan ini. beberapa panchayats (pemerintah kabupaten) di India menikmati opsen atas pajak tanah. Suatu jenis pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah mungkin ditetapkan berdasarkan ketentuan perundangan pemerintah pusat. Kriteria pertama. 34 Tahun 2000 tentang perubahan atas UU No. misalnya. sebagai suatu persentase tambahan atas pajak yang sebenarnya dibayarkan kepada pemerintah pusat atau negara bagian. Kecukupan maksudnya bahwa sumber pendapatan tersebut harus menghasilkan pendapatan yang besar dalam kaitannya dengan seluruh atau sebagian biaya pelayanan yang akan dikeluarkan. karena Indonesia tidak menerapkan sistem opsen. Adapun variabel yang utama adalah dasar hukumnya (kewenangannya). Ketiga. kecukupan dan elastisitas. dalam hal pajak penghasilan atau alternatifnya. memungut opsen atas pajak penghasilan nasional. Pemerintah Daerah Swedia. tetapi pendapatan yang dihasilkan tidak mampu melebihi biaya yang dikeluarkan untuk memungutnya. kemampuan administratif. dan dapat diterma secara politik.

mudah dihitung. maka dibutuhkan suatu administrasi yang baik dan fleksibel. Keadilan memiliki tiga dimensi.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 397 Sedangkan elastis maksudnya adalah kemampuan untuk menghasilkan tambahan pendapatan agar dapat menutup tuntutan yang sama atas kenaikan pengeluaran pemerintah daerah. maka pajaknya harus sama dengan pegawai kantor (swasta atau negeri) yang memiliki gaji sebesar Rp100 juta per tahun. yaitu dalam konteks hubungan pembebanan pajak berdasarkan sumber pendapatan. Elastisitas juga dengan mudah dapat diukur dengan membandingkan hasil penerimaan selama beberapa tahun dengan perubahan dalam indeks harga. Dalam konteks ini. pelayanan memuaskan bagi si wajib pajak. maka dengan sendirinya pajak juga harus meningkat. misalnya. pemerataan secara vertikal. Pertama. yakni persentase pendapatan yang dibayarkan untuk pajak berkurang dengan adanya kenaikan pendapatan. kemudahan untuk memungut pertumbuhan pajak tersebut. adalah keadilan geografis. apabila harga-harga meningkat. Petani yang memiliki pendapatan Rp100 juta per tahun. Ketiga. Dengan konsep keadilan horisontal seperti ini. Maksudnya adalah seseorang yang memiliki jumlah pendapatan yang sama. Seseorang seharusnya tidak dibebani pajak lebih berat hanya karena mereka tinggal di suatu daerah tertentu. yakni persentase pendapatan seseorang yang dibayarkan untuk pajak bertambah sesuai dengan tingkat pendapatannya. yaitu dalam hubungan pembebanan pajak atas tingkat pendapatan yang berbeda-beda. Kriteria kedua. maka diharapkan tidak ada penduduk yang yang kebal pajak. pajak dapat dikatakan baik kalau pajak tersebut bersifat progresif. Untuk menilai suatu pajak agar dapat memenuhi tuntutan keadilan dan pemerataan. Kedua. Dimana. jika pajak tersebut bersifat regresif. Pertama. . adalah keadilan. elastisitas mempunyai dua dimensi. dan dasar pengenaan pajaknya berkembang secara otomatis. Kedua. dan pendapatan individu meningkat. Prinsip keadilan ini adalah bahwa beban pengeluaran pemerintah haruslah dipikul oleh semua golongan dalam masyarakat sesuai dengan kekayaan dan kesanggupan masing-masing golongan. Elastisitas merupakan kualitas suatu sumber pajak yang penting. pajak dikatakan tidak baik. seharusnya dikenakan pajak dalam jumlah yang sama. penduduk di suatu daerah meningkat. atau PDRB. penduduk. Sedangkan. Pembebanan pajak harus adil antarpenduduk di berbagai daerah. Kriteria ketiga adalah kemampuan adiministratif. pertumbuhan potensi dari dasar pengenaan pajak itu sendiri. pemerataan secara horisontal. Dalam hubungan ini. administrasi pemungutan pajak harus sederhana.

khususnya yang terjadi di banyak negara sedang berkembang. Semua orang pada dasarnya ingin menolak membayar pajak. sehingga akan merugikan masyarakat secara menyeluruh (dead-weight loss). Pada dasarnya setiap pajak atau pungutan akan menimbulkan suatu beban baik bagi konsumen maupun produsen. jangan sampai suatu pajak atau pungutan menimbulkan beban tambahan (extra burden) yang berlebihan. maka perpajakan daerah harus memiliki ciri-ciri tertentu. memungut pajak secara fisik. Sidik (2002) menambahkan bahwa selain keempat kriteria yang ditetapkan Davey (1983) di atas. pajak daerah juga harus memenuhi kriteria non distorsi terhadap perekonomian. Dengan adanya kemauan politik seperti ini. artinya penerimaan pajaknya tidak berfluktuasi terlalu besar. kriteria non distorsi terhadap perekonomian merupakan alasan keluarnya UU No. kemauan politik diperlukan dalam mengenakan pajak. § Relatif stabil. Dalam konteks Indonesia. maka pemberian kewenangan untuk mengadakan pemungutan pajak . adalah sebagai berikut: § Pajak daerah secara ekonomis dapat dipungut. maka diharapkan pajak pun dapat secara politis diterima oleh masyarakat. Tidak ada pajak yang populer. Artinya. Bahkan. dalam beberapa jenis pajak. adalah adanya kesepakatan politik. Adapun ciri-ciri dimaksud. Namun demikian. CIRI-CIRI TERTENTU SUATU PAJAK DAERAH Untuk mempertahankan prinsip-prinsip pajak daerah tersebut di atas. Dengan adanya UU No. Dalam konteks Indonesia.398 Bab 19: Perpajakan Daerah Kriteria keempat. sehingga timbul motivasi dan kesadaran pribadi untuk membayar pajak. memutuskan siapa yang harus membayar dan bagaimana pajak tersebut ditetapkan. dan memaksakan sanksi terhadap para pelanggar. kalau diperbolehkan. menetapkan struktur tarif. § Tax base-nya harus merupakan perpaduan antara prinsip keuntungan (benefit) dan kemampuan untuk membayar (ability to pay). implikasi pajak atau pungutan yang hanya menimbulkan pengaruh minimal terhadap perekonomian. terutama kaitannya dengan pelaksanaan otonomi daerah.18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. lebih tidak populer dibandingkan jenis pajak yang lain. 34 Tahun 2000 tentang perubahan atas UU No. berarti perbandingan antara penerimaan pajak harus lebih besar dibandingkan ongkos pemungutannya. Dalam kondisi seperti ini. kadang-kadang meningkat secara drastis dan adakalanya menurun secara tajam. 34 Tahun 2000 ini diharapkan pajak daerah tidak menimbulkan beban tambahan bagi masyarakat.

propinsi dan kabupaten/kota. basis pajak yang tidak terlalu “mobile” akan mempermudah daerah untuk menetapkan tarif pajak yang berbeda sebagai cerminan dari kemampuan masyarakat. Pajak daerah yang baik merupakan pajak yang akan mendukung pemberian kewenangan kepada daerah dalam rangka pembiayaan desentralisasi. beberapa kriteria dan pertimbangan yang diperlukan dalam pemberian kewenangan perpajakan kepada tingkat pemerintahan pusat. juga harus mempertimbangkan ketepatan suatu pajak sebagai pajak daerah. dalam arti bahwa pajak seharusnya jelas bagi pembayar pajak daerah. yaitu: fungsi budgeter dan fungsi regulator. 4. Pajak daerah yang sangat “mobile” akan mendorong pembayar pajak merelokasi usahanya dari daerah yang beban pajaknya tinggi ke daerah yang beban pajaknya rendah. Pajak yang dimaksudkan untuk tujuan stabilisasi ekonomi dan cocok untuk tujuan distribusi pendapatan seharusnya tetap menjadi tanggung jawab Pemerintah Pusat. pemerintah daerah dalam melakukan pungutan pajak harus tetap “menempatkan” sesuai dengan fungsinya. Dengan demikian. seharusnya diserahkan kepada pemerintah pusat. yaitu: 1. seyogyanya. Untuk alasan ini pajak konsumsi di banyak negara yang diserahkan kepada daerah hanya karena pertimbangan wilayah daerah yang cukup luas (seperti propinsi di Canada). Menurut Teresa Ter-Minassian (1997). Pajak daerah seharusnya “visible”. 2. objek dan subjek pajak dan besarnya . 3. Basis pajak yang distribusinya sangat timpang antar daerah. Fungsi budgeter yaitu bila pajak sebagai alat untuk mengisi kas negara (daerah) yang digunakan untuk membiayai kegiatan pemerintahan dan pembangunan. misalnya: pajak minuman keras dimaksudkan agar rakyat menghindari atau mengurangi konsumsi minuman keras. pajak ekspor dimaksudkan untuk mengekang pertumbuhan ekspor komoditi tertentu dalam rangka menghindari kelangkaan produk tersebut di dalam negeri. fungsi regulator yaitu bila pajak dipergunakan sebagai alat mengatur untuk mencapai tujuan.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 399 selain mempertimbangkan kriteria-kriteria perpajakan yang berlaku secara umum. Basis pajak yang diserahkan kepada daerah seharusnya tidak terlalu “mobile”. basis pajak yang “mobile” merupakan persyaratan utama untuk mempertahankan di tingkat pemerintah yang lebih tinggi (pusat/propinsi). Untuk itu. Sementara. Adapun fungsi pajak dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua). Sebaliknya.

Formulasi model ini dikenal sebagai Model Leviathan. Model Leviathan Penggalian sumber-sumber keuangan daerah khususnya yang berasal dari pajak daerah pada dasarnya perlu memperhatikan 2 (dua) hal. yaitu : (i) dasar pengenaan pajak dan (ii) tarif pajak. 8. Pemerintah daerah cenderung untuk menggunakan tarif yang tinggi agar diperoleh total penerimaan pajak daerah yang maksimal. Hasil penerimaan. namun penyerahan kewenangan pemungutannya kepada daerah akan tepat sepanjang manfaatnya dapat dilokalisasi bagi pembayar pajak lokal. penegakkan hukum (law-enforcement) dan komputerisasi. Pajak dan retribusi berdasarkan prinsip manfaat dapat digunakan secukupnya pada semua tingkat pemerintahan. 7. Pajak yang diserahkan kepada daerah seharusnya relatif mudah diadministrasikan atau dengan kata lain perlu pertimbangan efisiensi secara ekonomi berkaitan dengan kebutuhan data. harus elastis sepanjang waktu dan seharusnya tidak terlalu berfluktuasi.400 Bab 19: Perpajakan Daerah 5. idealnya. Pajak daerah seharusnya dapat menjadi sumber penerimaan yang memadai untuk menghindari ketimpangan fiskal vertikal yang besar. karena akan memperlemah hubungan antar pembayar pajak dengan pelayanan yang diterima (pajak adalah fungsi dari pelayanan). pajak terutang dapat dengan mudah dihitung sehingga dapat mendorong akuntabilitas daerah. secara teoritis tidak selalu menghasilkan total penerimaan maksimum. seperti identifikasi jumlah pembayar pajak. Pengenaan tarif pajak yang lebih tinggi. Hal ini tergantung pada respons wajib pajak. Model Leviathan Tarif Pajak Daerah Kurva Laffer t* . 6. permintaan dan penawaran barang yang dikenakan tarif pajak lebih tinggi. Pajak daerah seharusnya tidak dapat dibebankan kepada penduduk daerah lain.

maka akan dicapai total penerimaan maksimum. Model Leviathan ini dapat dikembangkan untuk menganalisis hubungan lebih lanjut antara tarif dan dasar pengenaan pajak untuk mencapai total penerimaan pajak maksimal. menghasilkan Total Penerimaan Pajak Maksimum yang ditentukan oleh kemampuan wajib pajak untuk menghindari beban pajak baik legal maupun illegal dengan mengubah “economic behavior” dari wajib pajak.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 401 Gambar 19.1 di bawah ini menunjukkan hubungan antara tarif pajak proporsional atas basis pajak tertentu. tetapi dapat dicapai total penerimaan pajak maksimum. Bentuk kurva (“Laffer”) yang berbentuk parabola menghadap sumbu Y (tarif pajak). Gambar 19. Pada kondisi ini dikenal sebagai revenue maximizing tax rate. maka Gambar 19. Ketentuan Mengenai Pungutan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah .1 Dengan asumsi bahwa biaya administrasi perpajakan dianggap tidak signifikan dan ceteris-paribus level pelayanan publik yang dibiayai dari penerimaan pajak. menunjukkan bukanlah tarif tertinggi. Pada tarif t*. Model Leviathan akan mencapai total penerimaan pajak maksimum (T*) pada tarif t*. Model Leviathan ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa peningkatan penerimaan pajak daerah tidak harus dicapai dengan mengenakan tarif pajak yang terlalu tinggi. tetapi dengan pengenaan tarif pajak yang lebih rendah dikombinasikan dengan struktur pajak yang meminimalkan penghindaran pajak dan respon harga dan kuantitas barang terhadap pengenaan pajak sedemikian rupa. dan hanya kegiatan ekonomi saja yang dipengaruhi oleh besaran pajak.1 ini juga mengasumsikan bahwa penyesuaian wajib pajak terhadap pengenaan tarif pajak tertentu adalah independen terhadap jenis pajak dan tarif pajak lainnya.

18 Tahun 1997 dianggap kurang memberikan peluang kepada daerah untuk mengadakan pungutan baru. Selain itu. UU No. Berkaitan dengan besarnya tarif. Namun demikian. maka UU No. Jenis pajak propinsi bersifat limitatif yang berarti propinsi tidak dapat memungut pajak lain selain yang telah ditetapkan. pengaturan agar Peraturan Daerah (Perda) tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah harus mendapat pengesahan dari pusat juga dianggap telah mengurangi otonomi daerah.34 Tahun 2000 dan PP pendukungnya.402 Bab 19: Perpajakan Daerah Pengaturan kewenangan pengenaan pemungutan pajak daerah dan retribusi daerah di Indoneia telah diatur sejak lama. 18 Tahun 1997 berlaku belum ada satu pun daerah yang mengusulkan pungutan baru karena dianggap hal tersebut sulit dilakukan. yaitu : (i) Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air (PKB & KAA). (ii) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air (BBNKB & KAA).66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah menjelaskan perbedaan antara jenis pajak daerah yang dipungut oleh propinsi dan jenis pajak yang dipungut oleh kabupaten/kota.18 Tahun 1997 menjadi UU No. Namun. Jenis-Jenis Pajak Daerah Propinsi Pajak propinsi ditetapkan sebanyak 4 (empat) jenis pajak.18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Sehingga pada waktu UU No. Dalam UU No. 25/1999. serta kewenangan bidang pemerintahan tertentu. (iv) Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan (P3ABT & AP). (iii) Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB).65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah dan PP No. Adanya pembatasan jenis pajak yang dapat dipungut oleh propinsi terkait dengan kewenangan propinsi sebagai daerah otonom yang terbatas yang hanya meliputi kewenangan dalam bidang pemerintahan yang bersifat lintas daerah kabupaten/kota dan kewenangan yang tidak atau belum dapat dilaksanakan daerah kabupaten/kota. terutama sejak tahun 1997 dengan dikeluarkannya UU No. yaitu PP No. Seiring dengan keluarnya UU No. dalam perkembangannya.34 Tahun 2000. 22/1999 dan UU No. Dengan diubahnya UU No. diharapkan pajak daerah dan retribusi daerah akan menjadi salah satu PAD yang penting guna membiayai penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah. dan hanya dapat menambah jenis retribusi lainnya sesuai dengan kriteria yang ditetapkan dalam UU. berlaku definitif untuk pajak propinsi yang . dalam pelaksanaannya propinsi dapat tidak memungut jenis pajak yang telah ditetapkan tersebut jika dipandang hasilnya kurang memadai. Walaupun dalam UU tersebut sebenarnya memberikan kewenangan kepada daerah. namun harus ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah (PP).18 Tahun 1997 diubah dengan UU No.34 Tahun 2000.

Objek pajak terletak atau terdapat di wilayah daerah kabupaten/kota yang bersangkutan dan mempunyai mobilitas yang cukup rendah serta hanya melayani masyarakat di wilayah daerah kabupaten/kota yang bersangkutan. Ketentuan Mengenai Bagi Peruntukannya (Pasal 2a) Hasil Pajak Propinsi Dan Hasil penerimaan pajak propinsi sebagian diperuntukkan bagi daerah kabupaten/kota di wilayah propinsi yang bersangkutan dengan ketentuan sebagai berikut: a. Jenis-Jenis Pajak Daerah Kabupaten Pemerintah daerah kabupaten/kota diberi kewenangan untuk memungut 7 (tujuh) jenis pajak (Pasal 2 ayat 2). c. Bersifat pajak dan bukan retribusi. yaitu : (i) pajak hotel. artinya kabupaten/kota diberi peluang untuk menggali potensi sumber-sumber keuangannya selain yang ditetapkan secara eksplisit dalam UU No. dengan menetapkan sendiri jenis pajak yang bersifat spesifik dengan memperhatikan kriteria yang ditetapkan dalam UU tersebut. g. Kriteria dimaksud (Pasal 2 ayat 4): a.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 403 ditetapkan secara seragam di seluruh Indonesia dan diatur dalam PP No. Memperhatikan aspek keadilan dan kemampuan masyarakat. Menjaga kelestarian lingkungan. (vii) pajak parkir. Tidak memberikan dampak ekonomi yang negatif. Jenis pajak kabupaten/kota tidak bersifat limitatif. Objek dan dasar pengenaan pajak tidak bertentangan dengan kepentingan umum. Hasil penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air . d. 34 Tahun 2000. (v) pajak penerangan jalan. (ii) pajak restoran. (iii) pajak hiburan. Potensinya memadai. h. Objek pajak bukan merupakan objek pajak propinsi dan/atau objek pajak pusat. (iv) pajak reklame. (vi) pajak pengambilan bahan galian golongan C.65 Tahun 2001. e. f. b.

404 Bab 19: Perpajakan Daerah diserahkan kepada daerah kabupaten/kota paling sedikit 30% (tiga puluh persen). . Hasil penerimaan pajak kabupaten diperuntukkan paling sedikit 10% (sepuluh persen) bagi desa di wilayah daerah kabupaten yang bersangkutan. Dalam hal hasil penerimaan pajak kabupaten/kota dalam suatu propinsi terkonsentrasi pada sejumlah kecil daerah kabupaten/kota. b. Sedangkan ketentuan mengenai realokasi dilakukan oleh gubernur atas dasar kesepakatan yang dicapai antar daerah kabupaten/kota yang terkait dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten/kota yang bersangkutan. 34/2000 Pasal 3 ayat (1). tarif jenis pajak ditetapkan paling tinggi sebesar: a. Dengan adanya pemisahan jenis pajak yang dipungut oleh propinsi dan yang dipungut oleh kabupaten/kota diharapkan tidak adanya pengenaan pajak berganda. Dalam hal objek pajak kabupaten/kota dalam satu propinsi yang bersifat lintas daerah kabupaten/kota. Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air 5% (lima persen). Bagian daerah kabupaten/kota ditetapkan lebih lanjut dengan peraturan daerah propinsi dengan memperhatikan aspek pemerataan dan potensi antar daerah kabupaten/kota. Hasil penerimaan Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan diserahkan kepada daerah kabupaten/kota paling sedikit 70% (tujuh puluh persen). Disebutkan dalam UU No. Penggunaan bagian daerah kabupaten/kota ditetapkan sepenuhnya oleh daerah kabupaten/kota. Hasil penerimaan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor diserahkan kepada daerah kabupaten/kota paling sedikit 70% (tujuh puluh persen). namun tidak boleh lebih tinggi dari tarif maksimum yang telah ditentukan dalam UU tersebut. gubernur berwenang merealokasikan hasil penerimaan pajak tersebut kepada daerah kabupaten/kota dalam propinsi yang bersangkutan. c. Bagian desa ditetapkan dengan peraturan daerah kabupaten dengan memperhatikan aspek pemerataan dan potensi antar desa. gubernur berwenang untuk merealokasikan hasil penerimaan pajak tersebut kepada daerah kabupaten/kota yang terkait. TARIF PAJAK PROPINSI DAN KABUPATEN/KOTA Besarnya tarif yang berlaku definitif untuk pajak propinsi dan kabupaten/kota ditetapkan dengan peraturan daerah.

adalah belum memberikan kontribusi yang signifikan terhadap penerimaan daerah secara keseluruhan. Pajak Reklame 25 % (dua puluh lima persen). bupaten/Kota Peranan Pajak Daerah Dan Mendukung Pembiayaan Daerah Retribusi Daerah dalam Pajak daerah dan retribusi daerah merupakan salah satu bentuk peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan otonomi daerah. Pajak Parkir 20% (dua puluh persen). tampaknya pungutan pajak dan retribusi daerah masih belum dapat diandalkan oleh daerah sebagai sumber pembiayaan desentralisasi. Pajak daerah dan retribusi daerah merupakan sumber pendapatan daerah yang penting untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah. khususnya kriteria pajak daerah tidak boleh tumpang tindih dengan pajak pusat dan pajak propinsi. Keadaan ini diperlihatkan dalam suatu studi yang dilakukan oleh LPEM-UI bekerjasama dengan Clean Urban Project. Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C 20% (dua puluh persen). f. Untuk mengantisipasi desentralisasi dan proses otonomi daerah. terutama hal ini disebabkan oleh: • Relatif rendahnya basis pajak dan retribusi daerah. LPEM Universitas Indonsia bekerjasama dengan Clean Urban Project. h. Pajak Restoran 10% (sepuluh persen). j. Jakarta. Pajak Penerangan Jalan 10% (sepuluh persen). melihat kriteria pengadaan pajak baru sangat ketat.34 Tahun 2000 daerah kabupaten/kota dimungkinkan untuk menetapkan jenis pajak dan retribusi baru. sebagai salah satu komponen dari PAD. g. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor 5% (lima persen). 1999. Pajak Hiburan 35% (tiga puluh lima persen). e. c. RTI1 bahwa banyak permasalahan yang terjadi di daerah berkaitan dengan penggalian dan peningkatan PAD. i. Pajak Hotel 10% (sepuluh persen). RTI. Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan 20% (dua puluh persen). diperkirakan daerah memiliki basis 1 Laporan Studi Dampak Krisis Ekonomi Terhadap Keuangan Daerah di Indonesia.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 405 b. k. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air 10% (sepuluh persen). Berdasarkan UU No. . Namun. Permasalahan yang dihadapi oleh daerah terkait penggalian sumber-sumber pajak daerah dan retribusi daerah. d.

Selama ini. Dari segi upaya pemungutan pajak. Rendahnya basis pajak ini bagi sementara daerah berarti memperkecil kemampuan manuver keuangan daerah dalam menghadapi krisis ekonomi. 3 2 Nota Keuangan dan RAPBN Tahun Anggaran 2001. banyaknya bantuan dan subsidi ini mengurangi “usaha” daerah dalam pemungutan PAD-nya. PAD masih tergolong memiliki tingkat buoyancy2 yang rendah. beberapa daerah lebih condong memenuhi target tersebut. Sebagian besar daerah propinsi hanya dapat membiayai kebutuhan pengeluarannya kurang dari 10%3. • Kemampuan administrasi pemungutan di daerah yang masih rendah. dan kemampuan masyarakat. Demikian pula. dan lebih mengandalkan kemampuan “negosiasi” daerah terhadap pusat untuk memperoleh tambahan bantuan. Dengan kata lain. peranan PAD dalam membiayai kebutuhan pengeluaran daerah sangat kecil dan bervariasi antar daerah yaitu kurang dari 10% hingga 50%. keadaan geografis (berdampak pada biaya yang relatif mahal). • Kemampuan perencanaan dan pengawasan keuangan yang lemah. Variasi dalam penerimaan ini diperparah lagi dengan sistem bagi hasil (bagi hasil didasarkan pada daerah penghasil sehingga hanya menguntungkan daerah tertentu). buoyancy adalah elastisitas penerimaan perpajakan terhadap PDB yang menunjukkan berapa persen perubahan penerimaan perpajakan apabila PDB berubah 1%. distribusi pajak antar daerah juga sangat timpang karena basis pajak antar daerah sangat bervariasi (ratio PAD tertinggi dengan terendah mencapai 600). Buoyancy adalah perbandingan persentase perubahan penerimaan pajak terhadap persentase perubahan pendapatan nasional.406 Bab 19: Perpajakan Daerah pungutan yang relatif rendah dan terbatas. serta sifatnya bervariasi antar daerah. sehingga mengakibatkan biaya penyediaan pelayanan kepada masyarakat sangat bervariasi. Peranan pajak dan retribusi daerah dalam pembiayaan yang sangat rendah dan bervariasi juga terjadi karena adanya perbedaan yang sangat besar dalam jumlah penduduk. Hal ini mengakibatkan bahwa pemungutan pajak cenderung dibebani oleh biaya pungut yang besar. . Salah satu sebabnya adalah diterapkan sistem “target” dalam pungutan daerah. Hal ini mengakibatkan kebocoran-kebocoran yang sangat berarti bagi daerah. • Perannya yang tergolong kecil dalam total penerimaan daerah. Sebagai akibatnya. Sebagian besar penerimaan daerah masih berasal dari bantuan pusat. walaupun dari sisi pertumbuhan ekonomi sebenarnya pemasukkan pajak dan retribusi daerah dapat melampaui target yang ditetapkan.

RANGKUMAN § Pemerintah daerah dapat memperoleh pendapatan dari perpajakan dengan cara: (1) melalui pembagian hasil pajak-pajak (revenue sharing) yang dikenakan dan dipungut oleh pemerintah pusat. dan BPHTB menurut UU No.39% dari total penerimaan pajak (pajak pusat dan pajak daerah). (3) kemampuan administratif. bahwa beban pengeluaran pemerintah haruslah dipikul oleh semua golongan dalam masyarakat sesuai dengan kekayaan dan kesanggupan masing-masing golongan. (3) Pungutan-pungutan yang dikumpulkan dan ditahan oleh pemerintah daerah sendiri yang diatur dalam UU No. hal. yaitu PPh. surchage) di atas suatu pajak yang dipungut dan dikumpulkan oleh pemerintah pusat. pajak pertambahan nilai dan bea masuk. Keadilan memiliki tiga dimensi: (a) pemerataan vertikal. (2) pemerataan/ keadilan. . (2) Pemerintah daerah dapat memungut tambahan pajak (opsen. 8. PBB. 2002. dalam hubungan pembebanan pajak atas 4 Machfud Sidik. Kenyataan selama ini menunjukkan bahwa distribusi kewenangan perpajakan antara daerah dan pusat sangat timpang.34 Tahun 2000. dan (4) dapat diterima secara politik.25/1999. yaitu jumlah penerimaan pajak yang dipungut oleh daerah hanya sebesar 3. § Kriteria perpajakan daerah antara lain: (1) kecukupan dan elastisitas. seperti: pajak penghasilan. op. § Pemerataan/keadilan.4 Ketimpangan dalam penguasaaan sumber-sumber penerimaan pajak tersebut memberikan petunjuk bahwa perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah di Indonesia dari sisi revenue assignment masih terlalu ”sentralistis”.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 407 Tidak signifikannya peran PAD dalam anggaran daerah tidak lepas dari ‘sistem tax assignment’ di Indonesia yang masih memberikan kewenangan penuh kepada pemerintah pusat untuk mengumpulkan pajak-pajak potensial (yang tentunya dilakukan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu).cit. § Kecukupan maksudnya bahwa sumber pendapatan tersebut harus menghasilkan pendapatan yang besar dalam kaitannya dengan seluruh atau sebagian biaya pelayanan yang akan dikeluarkan. Elastisitas adalah kemampuan untuk menghasilkan tambahan pendapatan agar dapat menutup tuntutan yang sama atas kenaikan pengeluaran pemerintah daerah dan dasar pengenaan pajaknya berkembang secara otomatis.

timbul motivasi dan kesadaran pribadi untuk membayar pajak. (c) tax base-nya harus merupakan perpaduan antara prinsip keuntungan (benefit) dan kemampuan untuk membayar (ability to pay). (b) pemerataan horisontal.408 Bab 19: Perpajakan Daerah § § § § § § § tingkat pendapatan yang berbeda-beda. (2) fungsi regulator. Dengan kemauan politik. (b) relatif stabil. Adanya kesepakatan politik. Pajak daerah yang baik merupakan pajak yang akan mendukung pemberian kewenangan kepada daerah dalam rangka pembiayaan desentralisasi. artinya penerimaan pajaknya tidak berfluktuasi terlalu besar. Selain empat kriteria. memungut pajak secara fisik. Kemampuan administratif berarti administrasi pemungutan pajak harus sederhana. pembebanan pajak harus adil antar penduduk di berbagai daerah. misalnya pajak minuman keras untuk mengurangi konsumsi minuman keras. Pajak yang baik adalah pajak yang bersifat progresif dan pajak yang tidak baik bersifat regresif. Kriteria dan pertimbangan dalam pemberian kewenangan perpajakan kepada tingkat pemerintahan pusat/propinsi dan kabupaten/kota menurut Tersa Ter-Minassian. (3) basis pajak yang distribusinya sangat timpang antar daerah dipertahankan di pemerintah pusat. untuk memunculkan kemauan politik yang diperlukan dalam mengenakan pajak. memutuskan siapa yang harus membayar dan bagaimana pajak tersebut diterapkan. (4) pajak daerah bersifat “visible” jelas bagi pembayar . basis pajak yang diserahkan kepada daerah tidak terlalu “mobile” sehingga mempermudah daerah untuk menetapkan tarif pajak yang berbeda sebagai cerminan dari kemampuan masyarakat. implikasi pajak atau pungutan yang hanya menimbulkan pengaruh minimal terhadap perekonomian. Ciri-ciri tertentu suatu pajak daerah. Artinya. Fungsi pajak dapat dikelompokkan menjadi dua: (1) fungsi budgeter. pajak daerah juga harus memenuhi kriteria nondistorsi terhadap perekonomian. pajak sebagai alat untuk mengisi kas negara (daerah) yang digunakan untuk membiayai kegiatan pemerintahan dan pembangunan. (c) keadilan geografis. mudah dihitung. pelayanan memuaskan bagi si wajib pajak. antara lain: (a) secara ekonomis dapat dipungut. menetapkan struktur tarif. pajak sebagai alat pengatur untuk mencapai tujuan. berarti perbandingan antara penerimaan pajak harus lebih besar dibandingkan ongkos pemungutannya. dalam konteks hubungan pajak berdasarkan sumber pendapatan. dan memaksakan sanksi terhadap para pelanggar. (2) pajak yang terlalu “mobile” dipertahankan di pemerintah yang lebih tinggi. yaitu: (1) pajak yang ditujukan untuk stabilisasi ekonomi dan distribusi pendapatan menjadi tanggung jawab pemerintah pusat.

Pajak propinsi terdiri atas empat jenis. (b) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air. (2) pajak restoran. (5) pajak penerangan jalan. (4) pajak reklame. 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah dan PP No. Pajak daerah kabupaten/kota terdiri atas tujuh jenis pajak. yaitu objek. yaitu: (1) pajak hotel. (6) pajak pengambilan bahan galian golongan C. maka akan dicapai total penerimaan maksimum. yaitu diberi peluang untuk menggali potensi sumber-sumber keuangannya selain yang ditetapkan secara eksplisit dalam UU No. Model Leviathan yang menganalisis hubungan lebih lanjut antara tarif dan dasar pengenaan pajak dengan penerimaan total maksimum. Dalam UU No.34 Tahun 2000 dan PP pendukungnya yaitu PP No. menunjukkan bahwa peningkatan penerimaan pajak daerah tidak harus dicapai dengan mengenakan tarif pajak yang terlalu tinggi. Pajak kabupaten/kota tidak bersifat limitatif. dengan menetapkan sendiri . (7) pajak daerah harusnya relatif mudah diadministrasikan. (d) Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan. (5) pajak daerah tidak dapat dibebankan kepada penduduk daerah lain.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 409 § § § § § § pajak. (3) pajak hiburan. dan (7) pajak parkir. subjek pajak dan besarnya pajak terutang dapat dengan mudah dihitung. tetapi dengan pengenaan tarif pajak yang lebih rendah dikombinasikan dengan struktur pajak yang meminimalkan penghindaran pajak dan respon harga dan kuantitas barang terhadap penggunaan pajak sedemikian rupa. Penggalian sumber-sumber keuangan daerah yang berasal dari pajak daerah perlu memperhatikan dasar pengenaan pajak dan tarif pajak. (6) pajak daerah dapat menjadi sumber penerimaan yang memadai untuk menghindari ketimpangan fiskal vertikal yang besar. Pajak propinsi bersifat limitatif yang berarti tidak dapat memungut pajak lain selain yang telah ditetapkan dan hanya dapat menambah jenis retribusi lainnya sesuai dengan kriteria yang ditetapkan dalam UU. berlaku definitif untuk pajak propinsi yang ditetapkan secara seragam di seluruh Indonesia dan diatur dalam PP No.65 Tahun 2001. (c) Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor. Berkaitan dengan besarnya tarif. 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah menjelaskan perbedaan antara jenis pajak daerah yang dipungut oleh propinsi dan kabupaten/kota. 34 Tahun 2000. yaitu: (a) Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air. (8) pajak dan retribusi berdasarkan prinsip manfaat dapat digunakan pada semua tingkat pemerintahan.

Hasil penerimaan pajak kabupaten/kota diperuntukkan paling sedikit 10% bagi desa di wilayah kabupaten/kota. Ketentuan mengenai bagi hasil pajak propinsi dan peruntukannya. (d) objek pajak bukan merupakan objek pajak propinsi dan atau pajak pusat. (e) potensinya memadai.410 Bab 19: Perpajakan Daerah § § § § § jenis pajak yang bersifat spesifik dengan memperhatikan kriteria sebagai berikut: (a) bersifat pajak dan bukan retribusi. (f) tidak memberikan dampak ekonomi yang negatif. (f) Pajak Restoran 10% (sepuluh persen). (g) Pajak Hiburan 35% (tiga puluh lima persen). pelaksanaannya belum memberikan kontribusi yang signifikan terhadap penerimaan daerah secara keseluruhan. Gubernur berwenang untuk merealokasikan hasil penerimaan pajak jika penerimaan terkonsentrasi pada sejumlah kecil daerah saja. (c) objek dan dasar pengenaan pajak tidak bertentangan dengan kepentingan umum. disebabkan oleh: (a) relatif rendahnya basis pajak dan . (c) Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor 5% (lima persen). Permasalahan yang terjadi di daerah berkaitan dengan penggalian dan peningkatan PAD. Pajak daerah dan retribusi daerah merupakan salah satu bentuk peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan otonomi daerah sebagai salah satu komponen PAD. tarif pajak propinsi dan kabupaten/kota ditetapkan paling tinggi sebesar: (a) Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air 5% (lima persen). Menurut UU No. (b) objek pajak terletak di wilayah daerah kabupaten/kota dan mempunyai mobilitas yang cukup rendah serta hanya melayani masyarakat di wilayah yang bersangkutan. (c) hasil penerimaan Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan diserahkan kepada kabupaten/kota paling sedikit 70%. (h) menjaga kelestarian lingkungan. (b) hasil penerimaan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor diserahkan kepada kabupaten/kota paling sedikit 70%. (h) Pajak Reklame 25% (dua puluh lima persen).34/2000 . sebagai berikut: (a) hasil penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air diserahkan pada kabupaten/kota paling sedikit 30%. (e) Pajak Hotel 10% (sepuluh persen). (i) Pajak Penerangan Jalan 10% (sepuluh persen). (k) Pajak Parkir 20% (dua puluh persen). Namun. (d) Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan 20% (dua puluh persen). (j) Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C 20% (dua puluh persen). (g) memperhatikan aspek keadilan dan kemampuan masyarakat. (b) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air 10% (sepuluh persen).

tidak lepas dari ‘’ tax assignment system” di Indonesia yang masih memberikan kewenangan penuh kepada pemerintah pusat untuk mengumpulkan pajak-pajak potensial. (b) perannya yang tergolong kecil dalam total penerimaan daerah. Sebutkan ciri-ciri tertentu yang dimiliki suatu pajak daerah khususnya di negara yang sedang berkembang ? 10. (d) kemampuan perencanaan dan pengawasan keuangan yang lemah. Berdasarkan model Leviathan. keadilan geografis 3. Jelaskan yang dimaksud dengan opsen ? 8. jelaskan yang dimaksud dengan : a. Jelaskan fungsi pajak sebagai : a. mengapa total penerimaan pajak maksimum bukan pada saat tarif tertinggi? 6.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 411 retribusi daerah. Sebutkan empat kriteria perpajakan daerah ! 4. Mengapa terdapat banyak permasalahan yang terjadi di daerah berkaitan dengan penggalian Pendapatan Asli Daerah (PAD) ? 7. 34 tahun 2000 ! 5. pemerataan secara horizontal c. Ketimpangan dalam penguasaan sumber-sumber penerimaan pajak tersebut memberikan petunjuk bahwa perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah di Indonesia masih “sentralistis”. pemerataan secara vertical b. Jelaskan dua dimensi dari elastisitas sehubungan dengan pajak ? 9. Sebutkan dua cara pemerintah daerah memperoleh pendapatan dari perpajakan di Indonesia ! 2. (c) kemampuan administrasi pemungutan di daerah yang masih rendah. § Peran PAD yang tidak signifikan. Fungsi Budgetair . dan apa tujuan dikeluarkannya UU no. LATIHAN 1. Berdasarkan prinsip keadilan dari perpajakan daerah. Apa yang dimaksud dengan kriteria non distorsi terhadap perekonomian.

Fungsi Regulator 11. Bagaimana ketentuan pembagian dari hasil pajak propinsi ? 18. Sebutkan yang termasuk jenis pajak propinsi ! 16. Apa yang dimaksud dengan pajak propinsi bersifat limitatif dan mengapa pajak kabupaten/kota tidak bersifat limitatif ? 15. Jelaskan dengan singkat pertimbangan yang diperlukan dalam pemebrian kewenangan perpajakan kepada tingkat pemerintahan ? 13. Sebutkan jenis-jenis pajak daerah kabupaten/kota ! 17. Apa yang dimaksud dengan pajak daerah seharusnya visible ? 14. Mengapa basis pajak yang diserahkan kepada daerah seharusnya tidak terlalu mobile ? 12.412 Bab 19: Perpajakan Daerah b. Mengapa peran Pendapatan Asli Daerah (PAD) belum signifikan dalam anggaran daerah ? .

Untuk menutup defisit anggaran pemerintah ini salah satunya adalah dengan jalan hutang. . Hasil dari hutang publik ini akan memainkan peranan yang sangat penting baik sebagai sumber dana pada saat terjadinya pinjaman maupun pada saat kita harus melunasi hutang tersebut. Adakalanya pada saat tertentu pemerintah akan mengalami defisit anggaran. 2001).HUTANG PUBLIK Sebagaimana telah dijelaskan pada bagian awal bahwa pemerintah harus melakukan berbagai macam kegiatan dalam melaksanakan fungsinya sebagai penyelenggara negara. Kegiatan kegiatan ini tentunya perlu ditunjang oleh pengeluaran pengeluaran pemerintah yang pada gilirannya pengeluaran pemerintah itu harus dibiayai dengan penerimaan pemerintah. Hal yang demikian ini dialami terutama oleh negara negara yang dalam masa berkembang termasuk Indonesia. Penutupan defisit anggaran pemerintah dengan melalui pinjaman baik dari dalam maupun dari luar inilah yang dinamakan pinjaman pemerintah (Mankiw.

Sedangkan dead weight debt merupakan hutang yang tanpa disertai dengan jaminan kekayaan. Pada bagian berikut. Pengertian Surat Utang Negara adalah surat berharga yang berupa surat pengakuan utang dalam mata uang rupiah maupun valuta asing yang dijamin pembayaran bunga dan pokoknya oleh negara Republik Indonesia sesuai dengan masa berlakunya. Pada pelaksanaannya. Pembedaan jenis pinjaman yang lain adalah antara pinjaman dalam negeri dan pinjaman luar negeri (internal debt dan external debt). akan dibahas mengenai kedua jenis hutang tersebut. Pinjaman dalam negeri adalah pinjaman yang berasal dari orang-orang atau lembaga-lembaga yang ada dalam negara itu sendiri. Surat Utang Negara diterbitkan dalam bentuk “warkat”. diperdagangkan atau tidak diperdagangkan di pasar sekunder dan “tanpa warkat” (scripless). diperdagangkan atau tidak diperdagangkan di Pasar Sekunder. SURAT UTANG NEGARA (SUN) Pengertian Surat Utang Negara diatur berdasarkan Undang-Undang No. Pinjaman dalam negeri dapat bersifat paksa maupun bersifat sukarela. Persetujuan akan diberikan oleh DPR dengan catatan bahwa . Kewenangan penerbitan Surat Utang Negara berada pada pemerintah yang diwakili oleh Menteri Keuangan dengan melakukan konsultasi dengan Bank Indonesia dan terlebih dahulu harus mendapat persetujuan DPR. Reproductive debt merupakan hutang yang dijamin seluruhnya dengan kekayaan negara yang berhutang atas dasar nilai yang sama besarnya. Pinjaman luar negeri adalah pinjaman yang berasal dari orang-orang atau lembaga-lembaga negara lain. sedangkan pinjaman luar negeri biasanya bersifat sukarela. 24/2002. Tujuan diterbitkannya Surat Utang Negara adalah untuk membiayai defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. terkecuali bila ada suatu kekuasaan dari suatu negara atas negara lain.414 Bab 20: Hutang Publik Hutang negara seringkali dibedakan menjadi dua yakni “reproductive debt” dan “dead weight debt”. dalam membiayai pembangunan jenis hutang publik yang dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia adalah Surat Utang Negara (SUN) dan hutang atau pinjaman luar negeri. menutup kekurangan kas jangka pendek akibat ketidaksesuaian antara arus kas penerimaan dan pengeluaran dari rekening kas negara dalam satu tahun anggaran dan mengelola portofolio utang negara. Surat Utang Negara terdiri dari surat perbendaharaan negara berjangka waktu sampai dengan 12 (dua belas) bulan dengan pembayaran bunga secara diskonto dan obligasi negara berjangka waktu lebih dari 12 (dua belas) bulan dengan kupon dan/atau dengan pembayaran bunga secara diskonto.

Menteri Keuangan juga dapat menunjuk Bank Indonesia dan atau pihak lain sebagai agen untuk membeli atau menjual Surat Utang Negara di pasar sekunder. pembelian kembali (buyback). serta agen pembayar bunga dan pokok Surat Utang Negara dilakukan oleh Bank Indonesia. PENGELOLAAN SURAT UTANG NEGARA Surat Utang Negara dikelola oleh Menteri Keuangan dan aktivitas pengelolaan tersebut meliputi hal hal yang diantaranya adalah penetapan strategi & kebijakan pengelolaan surat utang negara. Dalam hal ini. Adapun kegiatan penataausahaan Surat Utang Negara yang mencakup pencatatan kepemilikan. Peserta lelang Surat Utang Negara adalah bank. penerbitan dan penjualan surat utang negara di pasar perdana melalui lelang dan atau tanpa lelang (issuance). Ketentuan mengenai metode lelang. Penukaran (debt switching/exchange offer). Pengaturan dan pengawasan kegiatan perdagangan Surat . Dalam pelaksanaan lelang Surat Utang Negara. perusahaan pialang pasar uang dan perusahaan efek. 502. serta agen pembayar bunga dan pokok surat utang negara dilaksanakan oleh Bank Indonesia (Central Registry). Dengan adanya persetujuan ini maka pemerintah wajib membayar bunga & pokok saat jatuh tempo dengan dana pembayaran bunga dan pokok disediakan di dalam APBN. Menteri Keuangan membuka rekening dalam rangka pengelolaan Surat Utang Negara yang merupakan bagian dari rekening kas negara (Rek. kriteria peserta lelang dan hasil akhir lelang ditetapkan oleh Menteri Keuangan. 502. kliring dan settlemen. pelunasan surat utang negara (redemption) dan aktivitas lain dalam rangka pengembangan pasar Surat Utang Negara. Kegiatan penatausahaan yang mencakup pencatatan kepemilikan.001).Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 415 atas nilai bersih maksimal surat utang negara dalam 1 tahun anggaran dan pada saat pengesahan APBN.000. kliring dan setlement. Di samping itu Menteri Keuangan dapat menunjuk Bank Indonesia sebagai agen pelaksana lelang obligasi negara di pasar perdana.000.003 dan Rek. Menteri Keuangan akan menunjuk Bank Indonesia sebagai agen pelaksana lelang surat perbendaharaan negara di pasar perdana (Auction Agent). jadwal pelaksanaan lelang. Penjualan Surat Utang Negara adalah dengan cara peserta lelang mengajukan penawaran pembelian kompetitif dan penawaran pembelian nonkompetitif dalam suatu periode waktu penawaran yang telah ditentukan dan diumumkan sebelumnya. Penawaran Surat Utang Negara dilakukan melalui lelang dan yang ditunjuk sebagai agen lelang Surat Utang Negara yaitu Bank Indonesia. perencanaan & penetapan struktur portofolio utang negara.

416 Bab 20: Hutang Publik Utang Negara dilakukan oleh instansi pemerintah yang melakukan pengaturan dan pengawasan di bidang pasar modal (saat ini Bapepam). Ketentuan yang diberlakukan untuk soft loan.5%. Proses Pelaksanaan Kerjasama Pinjaman Dan Hibah Luar Negeri (PHLN) Dalam pelaksanaan kerjasama PHLN. dan harus dikembalikan sesuai ketentuan dalam loan agreement. Pinjaman ini terdiri dari Soft Loan dan Export Credit. HUTANG LUAR NEGERI Pinjaman luar negeri adalah penerimaan negara baik dalam bentuk devisa dan atau devisa yang dirupiahkan. dan pembayaran angsuran dalam 25 tahun (termasuk grace period). yang diperoleh dari pemberi pinjaman luar negeri (Lender). dan kegiatan proyek bersifat non komersial serta telah disetujui oleh CGI. merupakan suku bunga yang umumnya dikenakan bagi pinjaman – pinjaman antar Eurobank . bersifat komersial. sebagai bagian dari rangkaian suatu perundingan. Berkaitan dengan akuntabilitas dan transparansinya. Pertanggungjawaban di atas akan disampaikan secara bersamaan dengan pertanggungjawaban pelaksanaan APBN.031/KET/5/1995 2 LIBOR (London Interbank Offer Rate). sedangkan untuk Export Credit.1 Kredit/pinjaman merupakan penerimaan negara. Hasil pertemuan ini kemudian dirangkum dalam catatan pertemuan.5% dan maksimum LIBOR2 rate. dan pengalokasiannya disetujui oleh Menko Bidang Perekonomian. summary record. agreed minutes. grace period 7 tahun.03/1995 dan KEP. interest rate maksimum adalah 3. Di samping itu juga akan dilakukan publikasi secara berkala atas informasi kegiatan pengelolaan Surat Utang Negara yang akan dilakukan oleh Menteri Keuangan. penatausahaan dan pertanggungjawaban atas pengelolaan Surat Utang Negara dan dana yang dikelola dilakukan oleh Menteri Keuangan. prosesnya dimulai dari pertemuan awal dimana akan dilakukan pembicaraan/pembahasan kerjasama antar lembaga/ instansi terkait pada acara kunjungan resmi/tidak resmi. interest rate lebih dari 3. record 1 Pengertian Pinjaman Luar Negeri berdasarkan SKB Menteri Keuangan dan Ketua Bappenas No. pemerintah harus menyediakan down payment sebesar 15% dari biaya proyek. dalam bentuk devisa / barang / jasa. dalam bentuk barang dan atau jasa yang diperoleh dari pemberi pinjaman luar negeri yang harus dibayar kembali dengan persyaratan tertentu.185/KMK.

Isi perjanjian mencakup hal-hal yang terinci dari suatu kegiatan kerjasama. yang dapat berfungsi hanya sebagai payung kerjasama. Setelah terjadi persetujuan antar pihak. . Hasilnya disebut kesepakatan bersama. maka akan dilanjutkan dengan perjanjian pelaksanaan kerjasama (implementing arrangement). Kesepakatan ini dapat mencakup lebih dari satu kegiatan yang melibatkan instansi-instansi tertentu. sebagai tindak lanjut atau sebagai petunjuk pelaksanaan teknis dari MoU (yang merupakan payung kerjasama). Catatan di atas sifatnya belum mengikat dan tidak perlu mendapat persetujuan sekretariat kabinet. atau Letter of Intent (LoI). atau minutes of meeting. namun tidak mengikat lembaga/instansi tersebut secara keseluruhan. Hasil kesepakatan atau komitmen disebut naskah keinginan bersama. maupun perjanjian pelaksanaan. dalam batas-batas yang telah disepakati oleh pihak-pihak yang terlibat. Langkah selanjutnya adalah adanya persetujuan antar pihak. dan sudah mengikat lembaga/instansi tersebut secara keseluruhan. nota kesepakatan. atau sebagai petunjuk teknis pelaksanaan dari suatu persetujuan yang sudah ada. Implementing arrangement merupakan perjanjian yuridis antar lembaga/instansi yang mengatur kerjasama (teknis). Pertemuan awal ini kemudian dilanjutkan oleh kegiatan “keinginan antar pihak” yang merupakan tindak lanjut dari pertemuan awal. Isi kesepakatan ini mencakup pokokpokok perjanjian secara umum/garis besar. yang menghasilkan komitmen untuk melaksanakan kerjasama dalam bidang tertentu di masa mendatang. atau naskah persetujuan. Masing-masing pihak berniat untuk menindaklanjuti pembicaraan tentang kerjasama yang pernah didiskusikan sebelumnya. dengan ruang lingkup yang lebih spesifik sampai pada jadwal pelaksanaan serta kualifikasi personel yang ditugaskan dan sebagainya. namun belum perlu mendapat persetujuan sekretariat kabinet. Draft perjanjian ini kemudian diajukan ke sekretariat kabinet untuk mendapat persetujuan. yang merupakan suatu kesepakatan yuridis antar lembaga/instansi. Memorandum of Understanding.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 417 of discussion. kesepakatan pendahuluan. dengan ruang lingkup bidang kerjasama tertentu/spesifik. namun belum siap untuk merumuskannya secara formal dalam bentuk agreement. Implementing arrangement dapat mencakup lebih dari satu macam perjanjian pelaksanaan. MoU. Naskah ini ditandatangani oleh pejabat lembaga/instansi yang terlibat. yang diajukan dalam bentuk proposal perjanjian pelaksanaan kerjasama pinjaman luar negeri. Tujuannya untuk menjabarkan rencana pelaksanaan kerjasama (teknik) secara rinci. Tujuannya adalah untuk merealisasikan keinginan bersama yang telah dituangkan dalam LoI.

03/1995 – No. naskah awal menjadi naskah akhir. Naskah ini kemudian dibahas dalam rapat pimpinan departemen/lembaga instansi. masing-masing untuk usulan bantuan proyek (project assistance) dan usulan bantuan teknis (technical assistance). Di sini. termasuk kredit ekspor. biro perencanaan akan merumuskan naskah perjanjian pelaksanaan kerja sama. sebagaimana dimaksud dalam SKB Menkeu dan Ketua Bappenas No. atau bagi proyek/program yang belum ada kepastian pembiayaan dari negara/lembaga donor). memuat berbagai usulan proyek yang dinilai layak mendapat pembiayaan dari PHLN. perwakilan negara asing/lender/donor (pihak ke dua). Dalam proses pengusulan program/proyek PHLN. Proses penyusunan perjanjian kerjasama dan pengusulan program/proyek PHLN ini terdiri dari 2 (dua) tahap yakni penyusunan naskah perjanjian pelaksanaan kerjasama PHLN dan pengusulan program/proyek PHLN. Setelah dibahas dan mendapat persetujuan sekretariat kabinet. lalu disampaikan ke biro perencanaan. usulan program/proyek PHLN. yang dilampiri salinan naskah kerjasama. 3 Blue Book adalah suatu catatan yang berisikan Daftar Rencana Pinjaman dan Hibah Luar Negeri (DRPHLN). Dalam penyusunan naskah perjanjian pelaksanaan kerjasama PHLN. .418 Bab 20: Hutang Publik Proses Penyusunan Perjanjian Kerjasama Dan Pengusulan Program/Proyek PHLN Tujuan proses ini adalah agar program/proyek pinjaman luar negeri tersebut mendapat persetujuan sekretariat kabinet. Hasil appraisal I dituangkan dalam Surat Keputusan (SK) Deputi II Bappenas. serta instansi lain yang terkait. diajukan oleh departemen/lembaga pengusul kepada Menteri Negara PPN/Ketua Bappenas untuk dicantumkan ke dalam blue book3 (khusus bagi program/proyek yang belum tercantum. semua usulan program/proyek (yang sudah memiliki SK) dikonsolidasikan oleh Bappenas. dan dapat dicantumkan ke dalam blue book oleh Bappenas. Kemudian. sekretariat kabinet. Setelah itu. sehingga menjadi ”naskah awal”. Naskah awal dibahas di sekretariat kabinet bersama instansi pengusul (pihak pertama). tanggal 5 Mei 1995.031/KET/5/1995.:Kep. Deplu. yang kemudian dikirim oleh pihak pertama ke pihak kedua untuk disetujui dan ditandatangani bersama menjadi naskah kerja sama. dan dimasukkan ke dalam blue book. bersama dengan biro hukum. Usulan ini disusun dalam 2 (dua) daftar yang terpisah.: 185/KMK. Bappenas akan melakukan evaluasi (appraisal I) terhadap usulan program/ proyek bersangkutan. draft perjanjian disusun berdasarkan MoU oleh unit pengusul. untuk mendapat persetujuan. Selanjutnya ”naskah awal” disampaikan ke Biro Kerjasama Teknik Luar Negeri (KTLN) sekretariat kabinet.

Muatan urgensi tersebut maksudnya adalah utang mungkin dipilih sebagai sumber pembiayaan karena derajat urgensi kebutuhan yang membutuhkan penyelesaian segera.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 419 PROSES PEMBUATAN LOAN AGREEMENT Dalam pembuatan loan agreement. atau OECF model. Dalam tahap ini hasil appraisal II kembali dibahas bersama oleh Bappenas. sebagai bahan tindak lanjut bagi proses pembahasan teknik berikutnya. dan konsultan independen (appraisal III). multilateral model (World Bank & ADB). tergantung jenis program/proyek dan dari mana sumber dana diperoleh. dan program ini kemudian dikenal dengan Marshall Plan (Todaro. lalu dievaluasi ulang (appraisal II). negara/lembaga donor. Dari perspektif negara donor setidak-tidaknya ada dua hal penting yang dianggap memotivasi dan melandasi mengalirnya bantuan luar negeri ke negara-negara debitor. Appraisal result kemudian akan dievaluasi lagi (reviewing) oleh Bappenas. blue book dikirimkan oleh Bappenas ke Departemen Keuangan. penyusunan dan penandatanganan loan agreement. instansi pengusul (excecuting agency). Motivasi pertama inilah yang kemudian menjadi acuan bagi Amerika Serikat untuk mengucurkan dana bantuan dalam merekonstruksi kembali perekonomian Eropa Barat setelah hancur saat Perang Dunia II. untuk diidentifikasi. Hasil review inilah yang akan dijadikan dasar untuk melaksanakan persiapan perundingan (negotiation) untuk membuat loan agreement. Kesuksesan kembali membangun Eropa Barat menjadikan program ini sebagai cetak biru (blue print) yang kemudian digunakan dalam proses pengembangan ekonomi di . dan Departemen Keuangan. Hasil identifikasi tersebut kemudian akan dikaji kembali oleh Bappenas. 1985). Dalam alasan-alasan yang rasional itu ada muatan urgensi dan ada pula muatan ekspansi. diproses berdasarkan basic model. dan hasilnya adalah appraisal result. yang berupa appraised project. excecuting agency. Kedua hal tersebut memotivasi politik (political motivation) dan memotivasi ekonomi (economic motivation) dimana keduanya mempunyai keterkaitan yang sangat erat satu dengan yang lain. Sedangkan muatan ekspansi berarti utang dianggap sebagai alternatif pembiayaan yang melalui berbagai perhitungan teknis dan ekonomis dianggap dapat memberikan keuntungan. dan negara/lembaga donor. Hasil appraisal II. Hutang Luar Negeri dalam Pembangunan Ekonomi Utang pada dasarnya adalah salah satu alternatif yang dilakukan karena berbagai alasan yang rasional.

Hal ini harus dilakukan untuk menjamin bahwa aliran dana yang masuk dapat digunakan dengan sangat efisien dalam proses memicu kenaikan pertumbuhan ekonomi. Ketiga. adalah foreign exchange constraints. Karena tingginya tingkat pertumbuhan di negara-negara berkembang akan turut meningkatkan atau berkorelasi positif terhadap kenaikan keuntungan yang bisa dinikmati di negara-negara maju seperti yang dibuktikan studi Cooper (1995). Sedangkan motivasi ekonomi sebagai landasan kedua yang digunakan dalam memberikan bantuan. yakni untuk memfasilitai dan mengakselerasi proses pembangunan dengan cara meningkatkan pertambahan tabungan domestik sebagai akibat dari tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi. Sekelompok ekonom pada tahun 1950-an dan 1960- . Asia Tenggara bahkan selanjutnya sampai menyentuh Afrika serta Amerika Tengah. setidak-tidaknya tercermin dari 4 argumen penting (Todaro. 1997). adalah growth and savings. Dan yang terkahir (keempat). pertumbuhan dan pembangunan ekonomi negaraberkembang telah lama menjadi perdebatan hangat di antara kelompokkelompok ekonomi dunia. Kedua. Dengan demikian untuk menutupi kedua kekurangan tersebut maka andalannya adalah bantuan luar negeri. Meskipun demikian peranan dana bantuan luar negeri dan modal asing terhadap kemajuan. adalah technical assistance. yang merupakan pendamping dari bantuan keuangan yang bentuknya adalah transfer sumber daya manusia tingkat tinggi kepada negara-negara penerima bantuan. Terlepas dari faktor-faktor yang dikemukakan di atas ada satu hal lagi yang perlu diingat bahwa faktor pendorong dan faktor penarik (push and pull factors) adalah dua kata yang turut menentukan terjadinya capital movement ke negara-negara berkembang (Taylor dan Sarno. Faktor-faktor ini tentu saja perpaduan antara motif ekonomi dan politik yang menjadi pertimbangan utama bagi seorang investor yang rasional. adalah absorptive capacity yakni dalam bentuk apa dana tersebut akan digunakan. 1985) yaitu: Pertama. Dan pada sisi lain adalah kekurangan yang dialami oleh negara yang bersangkutan dalam memenuhi kebutuhan nilai tukar asing (foreign exchange) untuk membiayai kebutuhan impor barang modal (capital goods) dan impor barang-barang intermediate (Intermediae goods).420 Bab 20: Hutang Publik berbagai belahan dunia lainnya seperti Asia Selatan. Argumen ini didasari atas two gap model dimana negara-negara penerima bantuan khususnya negara-negara berkembang mengalami kekurangan dalam mengakumulasi tabungan domestik (domestic saving) sehingga tingkat tabungan yang ada tidak mampu memenuhi kebutuhan akan tingkat investasi yang dibutuhkan dalam proses memicu pertumbuhan ekonomi.

modal asing dapat berperan penting dalam memobilisasi sumber dana dan transformasi struktural. Teori yang berbicara tentang penggunaan bantuan luar negeri dalam pembiayaan pembangunan ini. Kedua. Pemikiran di atas sedemikian kuatnya mempengaruhi proses perencanaan pembangunan di negara-negara sedang berkembang. Ketiga. menjadi dasar kelompok tersebut untuk menganjurkannya diterapkan di negara-negara berkembang. Alan Strout dan lain-lain pada tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an. Asumsi yang mereka gunakan dalam proses penganjurannya adalah bantuan luar negeri akan menambah sumber-sumber yang produktif tanpa menimbulkan dampak substitusi terhadap alokasi dan efisiensi sumber daya terutama tingkat efisiensi dalam penggunaan modal yang tercermin dari tingkat ICOR (Incremental Capital Output Ratio) dan sumber-sumber tersebut di atas sangat langka di negara-negara sedang berkembang. Pengalaman keberhasilan pembangunan kembali perekonomian negara-negara Eropa Barat melalui Marshall plan seperti telah disinggung.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 421 an berpendapat dan meyakini bahwa bantuan luar negeri mempunyai dampak yang positif terhadap pembangunan ekonomi suatu negara tanpa menimbulkan gangguan pada masa sesudahnya bagi negara-negara debitor tersebut. selanjutnya dikembangkan lagi oleh beberapa ekonom seperti Hollis Chenery. untuk menjaga dan mempertahankan tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi diperlukan perubahan dan perombakan yang substansial dalam struktur produksi dan perdagangan. Domar (AS) yang kemudian dikenal dengan teori Harrod-Domar. sehingga hampir tidak ada negara berkembang yang semata-mata hanya mengandalkan upaya proses pembangunannya pada sumber-sumber daya domestik. Pemikiran mereka ini seperti yang diungkapkan oleh Chenery dan Carter (1973) dapat dikelompokkan ke dalam empat pemikiran mendasar: Pertama. kebutuhan akan modal asing akan menjadi menurun segera setelah perubahan struktural terjadi (meskipun modal yang masuk belakangan menjadi lebih produktif). Keempat. tapi telah menjadi sumber utama dalam membiayai pembangunan. jika digunakan untuk investasi yang tingkat pengembalian investasinya (return on investment) dapat memicu kenaikan sumber daya ekonomi yang lebih besar. Malahan porsi bantuan luar negeri tidak lagi diperlakukan sebagai faktor pelengkap (complementary factor). Memang bantuan luar negeri sebenarnya dapat mencapai arah dan sasarannya. sumber dana eksternal (modal asing) dapat dimanfaatkan oleh negara sedang berkembang sebagai suatu dasar yang signifikan untuk memacu kenaikan investasi serta pertumbuhan ekonomi. maka diharapkan bantuan luar negeri tidak saja menambah sumber daya ekonomi tapi juga sekaligus mampu membayar . Pengalaman seperti yang diuraikan di atas juga mengilhami teori yang dikembangkan oleh Sir Roy Harrod (Inggris) dan kemudian dilanjutkan serta disempurnakan oleh Evsey D.

tetapi juga dibutuhkan dalam perekonomian suatu negara untuk menunjang proses produksi dalam negeri. Masuknya modal dari luar negeri juga dianggap sebagai salah satu cara mengatasi hambatan dalam pengelolaan kekayaan alam yang begitu melimpah ketika perekonomian dalam negeri tidak begitu mampu menyediakan dana untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi kekayaan alamnya. Dalam pemahaman ini sulit sekali menyatakan bahwa suatu negara bisa saja tidak berutang sama sekali. masuknya dana ke dalam negeri tanpa usaha dan kerja keras telah ”meninabobokkan” negara-negara pengutang. . Tetapi jelas sekali bahwa jumlah dan pemanfaatan utang tersebut harus dikendalikan dan dikelola secara benar sehingga justru tidak menjadi beban yang berkepanjangan. utang luar negeri merupakan mata rantai yang menghubungkan kegiatan internal dan eksternal perekonomian suatu negara. Kucuran dana dari luar juga membentuk birokrasi yang sangat sensitif terhadap berbagai kebocoran. serta Brazil adalah contoh konkrit dari kasus yang terakhir ini. penggunaan komponen utang luar negeri sebagai sumber pembiayaan disadari begitu menguntungkan. utang luar negeri juga dapat dilihat dari tinjauan pemberian bantuan tenaga ahli dan usaha joint venture perusahaan asing ke dalam negeri. Dalam tahap-tahap awal pembangunan.422 Bab 20: Hutang Publik kembali cicilan pinjaman sebelumnya. Utang luar negeri bukan hanya dibutuhkan dalam proses perdagangan. Bahaya utang luar negeri belum dianggap serius oleh sebagian besar negara pengutang mengingat mereka sangat kaya akan sumber daya alam. korupsi dan penyalahgunaan. Tetapi sebaliknya. dalam perkembangannya. Sementara masyarakat belum bisa maksimal digerakkan dalam partisipasi pembangunan selama ini cenderung lebih meletakkan posisi rakyat sebagai obyek pembangunan dan mempasifkan peranan mereka. Kasus-kasus Amerika Latin seperti Mexico. Kondisi semakin sulit ketika kekayaan alam yang dimiliki dengan ujung tombak komoditas primer mengalami kerontokan di pasaran dunia serta makin proteksionalisnya negara-negara maju. Sehingga tidaklah mengherankan apabila selain masuknya dana berupa fresh money ke dalam negeri. banyak juga negara-negara berkembang yang gagal dalam memanfaatkan utang luar negeri dengan baik. utang luar negeri berubah menjadi perangkap utang (debt trap) bagi negara-negara tersebut. Keadaan ini telah dibuktikan oleh negara-negara yang tergabung dalam kelompok negara-negara industri baru (Newly Industrialized Countries/ NICs) seperti Korea Selatan dan Taiwan di mana utang luar negeri telah dengan sukses menjadi mesin pertumbuhan (engine of growth) dalam perekonomian mereka. Artinya. Argentina. Namun. Akibatnya.

pihak swasta juga memerlukan dana. Apapun argumennya. Membesarnya pinjaman komersial ini akan membawa berbagai dampak kepada perekonomian nasional. Indonesia. Di era globalisasi dan dengan tingkat persaingan yang begitu besar. akan mengakibatkan perburuan pinjaman yang bersyarat lunak akan meningkat dan tentunya akan semakin sulit diperoleh. diperkirakan akan terjadi peningkatan dalam pinjaman komersial seiring dengan meningkatnya peran swasta dan langkanya pinjaman resmi yang bersyarat lunak. pinjaman komersial ini dibutuhkan sebagai sumber pembiayaan dan juga untuk memperkuat cadangan devisa nasional. Melihat kondisi ini. di samping pemerintah. Hal ini disebabkan karena masalah utang luar negeri yang dihadapi Indonesia mencapai tahap yang demikian kompleks sehingga sulit untuk diupayakan pemecahan dalam waktu yang definitif. Sementara di sisi lain. namun munculnya bentuk intervensi dalam penentuan pengambil kebijaksanaan ekonomi negara pengutang yang disponsori oleh IMF dan Bank Dunia. tentu banyak faktor yang mempengaruhinya. tidaklah heran untuk masa datang perspektif utang luar negeri Indonesia dicirikan pada meningkatnya pinjaman yang bersifat komersial. masalah utang.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 423 Perangkap utang yang terbangun dalam frame bantuan pinjaman ini makin memojokkan negara-negara pengutang dan makin memperlemah posisi bargaining power mereka. Lemahnya posisi tawar menawar ini tidak saja dilihat dari makin kalahnya negara pengutang dalam kancah perdagangan dunia. sangat sulit mengatakan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap utang luar negeri akan berkurang untuk setidak-tidaknya 10 (sepuluh) tahun ke depan. Dampak pertama yang ditimbulkan akibat pinjaman komersial ini adalah terjadinya ekspansi moneter yang akan mempengaruhi kestabilan ekonomi . Dengan mencermati ketahanan ekonomi Indonesia saat ini. sebagai salah satu negara pengutang terbesar. pinjaman komersial memiliki dampakdampak yang apabila tidak diwaspadai dapat membahayakan keseimbangan makro. implikasi dan kemauan melakukan pembayaran bunga dan cicilan utang merupakan hal yang perlu dikaji lebih lanjut. Indonesia untuk masa mendatang masih bergantung pada komponen ini. Di satu sisi. Seberapa besar tingkat ketergantungannya. untuk saat ini mengalirnya dana dari luar negeri merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi Indonesia untuk menginjeksi dana pembangunannya. Oleh karena itu. Sebagai negara berkembang yang tetap konsisten dalam mempergunakan utang luar negeri dalam politik pembangunannya. baik perannya dalam pembangunan.

Perekonomian dunia yang semakin terbuka semakin memperbesar ketidakpastian dari nilai tukar mata uang negara-negara maju. Dampak terakhir dari kecenderungan peningkatan pinjaman komersial ini adalah makin tingginya country risk dari Indonesia. namun resiko perubahan nilai tukar terhadap kemampuan membayar utang luar negeri tetap harus diperhatikan. Dampak ekspansi ini akan menjadi sulit lagi sebagai konsekuensi sistem perekonomian terbuka yang dianut Indonesia. Hal ini dikarenakan bahwa pinjaman-pinjaman komersial jangka pendek yang dilakukan oleh pihak swasta menyebabkan penarikan pinjaman ini tanpa pemantauan otoritas moneter. Konsekuensi dari ekonomi terbuka membuka banyak peluang kepada sumber dana dari luar negeri yang dapat berimplikasi pada membesarnya pinjaman luar negeri. misalnya dengan melakukan hedging di pasar finansial. Dalam prakteknya. Bahkan. besarnya pinjaman luar negeri ini akan mengurangi kepercayaan pihak luar sehingga meningkatkan country risk dari Indonesia. Masalah utang luar negeri Indonesia celakanya hanya dilihat dari mampu atau tidaknya dalam melakukan pembayaran. para pengambil kebijakan dengan mudahnya mengandai-andai bahwa jumlah utang tersebut akan segera ”dibereskan” dengan menjual seluruh asset yang dimiliki oleh BUMN. ketika ada kekhawatiran bahwa anak cucu yang baru lahir sudah ”terbebani” oleh warisan sejumlah utang. Sementara di sisi lain. Dampak lain dari pinjaman komersial ini berkaitan dengan adanya gejolak nilai tukar mata uang dunia yang dapat dengan seketika melonjakkan beban pembayaran kembali pinjaman. misalnya. Meskipun berbagai langkah telah dilakukan.424 Bab 20: Hutang Publik makro dan neraca pembayaran. bukan rahasia lagi jika proyek-proyek yang dibiayai melalui pinjaman luar negeri banyak yang kurang efisien dengan berbagai praktek korupsi serta memberikan multiplier effect yang sangat kecil. daftar kekurangan ini semakin panjang jika proyek-proyek yang dibangun . Efeknya adalah kebijakan moneter yang dijalankan tidak akan mencapai sasaran yang juga pada akhirnya akan menganggu pencapaian sasaran ekonomi makro. Hal ini tercermin dari terus menigkatnya angka DRS (Debt Service Ratio) dan persentase dari defisit transaksi berjalan terhadap GDP (Gross Domestic Product). Persoalannya adalah bahwa cara pandang seperti itu terlampau memudahkan persoalan dan tidak dengan rendah hati ditempatkan pada basis pemikiran: seberapa besar manfaat nyata yang diperoleh dari pembiayaan melalui komponen utang luar negeri tersebut?. yang menyebabkan arus keluar masuk modal menjadi lebih mudah dengan jangka waktu yang sangat pendek. Fenomena Yendaka. penarikan yang berlebihan memliki potensi untuk memanaskan perekonomian (over heating). menimbulkan beban berat bagi Indonesia. Selain itu. Bahkan.

Persoalan utang luar negeri dikaitkan dengan krisis yang menimpa sekarang ini tidak hanya berkaitan dengan kelanjutan pembangunan. namun yang paling pokok adalah sudah bersentuhan pada persoalan dasar kebutuhan hidup rakyat yaitu tersedianya kebutuhan pokok yang cukup dengan harga terjangkau dan tertutupinya pengeluaran rutin agar operasional pelaksanaan aparat negara bisa tetap berjalan. § SUN adalah surat berharga berupa surat pengakuan utang dalm mata uang rupiah maupun valuta asing yang dijamin pembayaran bunga dan pokoknya oleh Negara Republik Indonesia sesuai dengan masa berlakunya. oleh karena sistem moneter yang begitu bebas terlihat sering ”keteter” dalam mengatur pinjaman dari pihak swasta yang kadang justru disebabkan oleh kebijaksanaan moneter dalam negeri sendiri yang mendorong terjadinya arus masuk pinjaman luar negeri swasta yang membumbung tinggi tersebut. bersifat paksa maupun sukarela sementara pinjaman luar negeri bersifat sukarela. § Hutang publik yang dilaksanakan pemerintah Indonesia berupa Surat Utang Negara (SUN) dan hutang/pinjaman luar negeri. § SUN diterbitkan dalam bentuk “warkat” dan “tanpa warkat” (scripless) yang diperdagangkan atau tidak diperdagangkan di pasar sekunder. hutang yang tanpa disertai dengan jaminan kekayaan. . Diatur berdasarkan Undang-Undang No. Hal ini tentu menjadi masalah yang sangat urgen dewasa ini mengingat berbagai krisis yang telah melanda perekonomian Indonesia. Otoritas moneter. Pinjaman dalam negeri. § Dapat dibedakan juga pinjaman dalam negeri dan pinjaman luar negeri (internal debt dan external debt).Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 425 dengan mempergunakan bantuan dari pihak luar seringkali tidak mengindahkan hak-hak asasi penduduk di mana proyek tersebut dibangun. 2001).24/2002. yaitu (1) reproductive debt. Hutang negara dibedakan menjadi dua. RANGKUMAN § Pinjaman pemerintah adalah penutupan defisit anggaran pemerintah dengan melalui pinjaman baik dari dalam maupun luar negeri (Mankiw. hutang yang dijamin seluruhnya dengan kekayaan negara yang berhutang atas dasar nilai yang sama besarnya. Persoalan utang luar negeri mesti disadari dengan kesadaran akan seberapa besar kemampuan dalam melakukan kewajibannya yang berkaitan dengan utang yang dipinjam. dan (2) dead weight debt.

§ Penawaran SUN dilakukan melalui lelang. Peserta lelang antara lain bank. § Pinjaman luar negeri adalah penerimaan negara baik dalam bentuk devisa dan atau devisa yang dirupiahkan. (4) pembelian kembali (buyback). . serta agen pembayar bunga dan pokok SUN dilakukan oleh Bank Indonesia (Central Registry). Pengaturan dan pengawasan kegiatan perdagangan SUN dilakukan oleh BAPEPAM. (b) menutup kekurangan kas jangka pendek.426 Bab 20: Hutang Publik § SUN terdiri atas: (1) Surat Perbendaharaan Negara yang berjangka waktu sampai dengan 12 (dua belas) bulan dengan pembayaran bunga secara diskonto. disertai catatan atas nilai bersih maksimal SUN dalam 1 tahun anggaran dan pada saat pengesahan APBN. diwakili Menteri Keuangan setelah berkonsultasi dengan Bank Indonesia dan disetujui oleh DPR. (3) penerbitan dan penjualan SUN di pasar perdana melalui lelang atau tanpa lelang (issuance). § Tujuan penerbitan SUN: (a) membiayai defisit APBN. dalam bentuk barang dan atau jasa yang diperoleh dari pemeberi pijaman luar negeri (lender) yang harus dibayar kembali dengan persyaratan tertentu (loan agreement). Pinjaman luar negeri terdiri dari: (a) Soft Loan dan (b) Export Credit. kliring dan setlement. Pertanggungjawaban atas SUN dan dana yang dikelola disampaikan bersamaan dengan pertanggungjawaban pelaksanaan APBN demi akuntabilitas dan transparansi. § Kegiatan penatausahaan SUN yang mencakup pencatatan kepemilikan. dan (c) mengelola portofolio utang negara. Menteri Keuangan menunjuk Bank Indonesia sebagai agen pelaksana lelang (Auction Agent) surat perbendaharaan negara dan obligasi negara di pasar perdana. (2) perencanaan dan penetapan struktur portofolio utang negara. (6) pelunasan SUN (redemption) dan aktivitas lain dalam pengembangan pasar SUN. Ketentuan mengenai metode lelang. dan hasil akhir lelang ditetapkan oleh Menteri Keuangan. dan (2) Obligasi Negara berjangka waktu lebih dari 12 (dua belas) bulan dengan kupon dan atau dengan pembayaran bunga secara diskonto. § Menteri Keuangan juga menunjuk BI atau pihak lain sebagai agen untuk membeli dan menjual SUN di pasar sekunder. jadwal pelaksanaan lelang. (5) penukaran (debt switching/exchange offer). perusahaan pialang pasar uang dan perusahaan efek. § Kewenangan penerbitan SUN berada di tangan pemerintah. § Pengelolaan SUN dilakukan oleh Menteri Keuangan yang meliputi: (1) penetapan strategi dan kebijakan pengelolaan SUN. kriteria peserta lelang.

Disusun dalam dua . nota kesepakatan atau Letter of Intent (LoI). namun tidak mengikat. yaitu: (a)pertemuan awal membicarakan/membahas kerjasama antar lembaga/instansi pada acara kunjungan resmi/tidak resmi. usulan program/proyek PHLN dilampiri salinan naskah kerja sama yang diajukan oleh departemen/lembaga pengusul kepada Menteri Negara PPN/Ketua Bappenas untuk dicantumkan ke dalam blue book. kesepakatan pendahuluan. setelah dibahas dan mendapat persetujuan sekretaris kabinet. (d) perjanjian pelaksanaan kerja sama (implementing agreement). naskah awal menjadi naskah akhir yang disetujui dan ditandatangani bersama menjadi naskah kerja sama. (c) adanya “persetujuan antar pihak” merupakan suatu kesepakatan yuridis antar lembaga/instansi. hasil pertemuan dirangkum dalam catatan ertemuan yang belum mengikat dan tidak perlu persetujuan sekretaris kabinet. mencakup lebih dari satu macam perjanjian pelaksanaan. MoU. Implementing agreement bertujuan untuk menjabarkan rencana pelaksanaan kerjasama (teknis) secara rinci. sudah mengikat lembaga-lembaga secara keseluruhan dalam batas-batas yang telah disepakati. merupakan perjanjian yuridis antar lembaga/instansi yang mengatur kerjasama (teknis). (b) kegiatan “keinginan antar pihak” yang menghasilkan komitmen untuk bekerjasama dalam bidang tertentu di masa mendatang. Terdiri dari 2 (dua) tahap yaitu (a) penyusunan naskah perjanjian pelaksanaan kerjasama PHLN dan (b) pengusulan program/proyek PHLN.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 427 § Tahap-tahap pelaksanaan kerjasama Pinjaman dan Hibah Luar Negeri (PHLN). § Tujuan proses penyusunan perjanjian kerjasama dan pengusulan program/proyek PHLN adalah agar program/proyek pinjaman luar negeri mendapat persetujuan dari sekretaris kabinet dan dicantumkan ke dalam Blue Book oleh Bappenas. Kemudian bersama biro hukum merumuskan naskah perjanjian pelaksanaan kerja sama sehingga menjadi naskah awal. Diajukan dalam bentuk proposal perjanjian pelaksanaan kerjasama pinjaman luar negeri ke sekretaris kabinet untuk mendapatkan persetujuan. draft perjanjian disusun berdasarkan MoU oleh unit pengusul. Hasil kesepakatan disebut naskah keinginan bersama. atau naskah persetujuan sebagai payung bersama atau petunjuk teknis pelaksanaan dari suatu persetujuan yang sudah ada. § Dalam proses pengusulan program/proyek PHLN. § Dalam penyusunan naskah perjanjian pelaksanaan kerjasama PHLN. Hasilnya disebut kesepakatan bersama. disampaikan ke biro perencanaan. ditandatangani pejabat terkait namun belum mendapat persetujuan sekretaris kabinet.

dimana negara-negara pemberi bantuan khususnya negara berkembang. bahwa bantuan luar negeri akan digunakan untuk memfasilitasi dan mengakselerasi tingkat pertumbuhan yang tinggi. kekurangan yang dialami negara tersebut dalam memenuhi kebutuhan nilai tukar asing (foreign exchange) untuk membiayai kebutuhan impor barang modal dan intermediate. Foreign exchange constraints. Kemudian dilakukan evaluasi ulang sehingga dihasilkan appraisal result yang akan direview lagi. (3) technical assistance. sehingga terjadi pertambahan tabungan domestik yang akan berkorelasi positif terhadap kenaikan keuntungan yang dinikmati negara-negara maju. penyusunan.428 Bab 20: Hutang Publik § § § § § § § § daftar yang terpisah. (2) growth and savings. yaitu usulan bantuan proyek (project assistent) dan usulan bantuan teknis (technical assistance). didasari oleh two gap model. Teori Harrod-Domar berbicara tentang penggunaan bantuan luar negeri dalam pembiayaan pembangunan terdiri dari empat pemikiran mendasar: (1) modal asing (dana eksternal) dimanfaatkan untuk memacu kenaikan investasi serta pertumbuhan ekonomi. Technical assistance. pendamping dari bantuan keuangan yang bentuknya transfer sumber daya manusia tingkat tinggi untuk menjamin aliran dana digunakan secara efisien dalam memicu pertumbuhan ekonomi. (2) untuk menjaga dan mempertahankan tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi diperlukan perubahan yang substansial dalam struktur produksi dan perdagangan. Absorptive capacity. Growth and savings. blue book dikirimkan oleh Bappenas ke Departemen Keuangan. Hasil review yang akan dijadikan dasar untuk melaksanakan persiapan perundingan (negotiation) untuk membuat loan agreement. dan penandatanganan loan agreement. mengalami kekurangan dalam mengakumulasi tabungan domestik (domestic saving) yang tidak mampu memenuhi kebutuhan akan tingkat investasi yang dibutuhkan dalam memicu pertumbuhan ekonomi. yakni dalam bentuk apa dana itu akan digunakan. (3) modal asing berperan penting dalam memobilisasi sumber dana dan . Selain itu. (4) absorptive capacity. Dalam pembuatan loan agreement. Dua hal penting yang memotivasi dan melandasi mengalirnya bantuan luar negeri ke negara-negara debitor yaitu: (a) memotivasi politik (political motivation) dan (b) memotivasi ekonomi (economic motivation) Motivasi ekonomi dalam memberikan bantuan. memiliki empat argumen penting: (1) foreign exchange constraints. instansi pengusul dan negara/lembaga donor.

§ Dampak-dampak dari pinjaman komersial selain sumber pembiayaan dan memperkuat cadangan devisa nasional. 4. (4) kebutuhan modal asing akan menurun segera setelah perubahan struktural terjadi. . berkurangnya kepercayaan pihak luar karena jumlah pinjaman luar negeri yang semakin besar dengan meningkatnya DRS dan persentase dari defisit transaksi berjalan terhadap GDP. yaitu: (a) terjadinya ekspansi moneter yang akan mempengaruhi kestabilan ekonomi makro dan neraca pembayaran.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 429 transformasi struktural. Bagaimana proses penyusunan naskah perjanjian kerja sama PHLN dilakukan? 8. 2. Jelaskan proses pelaksanaan Pinjaman dan Hibah Luar Negeri (PHLN)! 6. 3. (c) makin tingginya country risk dari Indonesia. Jelaskan bagaimana proses pembuatan loan agreement! 9. Jelaskan beberapa argumen penting yang menjadi dasar negara-negara donor untuk mengalirkan bantuan ke negara debitor secara motivasi ekonomi! 10. LATIHAN Jelaskan perbedaan reproductive debt dan dead weight debt! Apa yang dimaksud dengan Surat Utang Negara (SUN)? Sebutkan tujuan diterbitkannya SUN! Apa saja tugas Menteri Keuangan dalam pengelolaan Surat Utang Negara (SUN)? 5. Apa perbedaan antara soft loan dan export credit? 7. (b) gejolak nilai tukar mata uang dunia yang dapat dengan seketika melonjakkan beban pembayaran kembali pinjaman. Bagaimana pendapatmu tentang penggunaan hutang luar negeri terkait dengan pembangunan ekonomi yang dilakukan oleh bangsa Indonesia. apakah sesuai dengan sasaran? 11. Sebutkan beberapa dampak dari membesarnya pinjaman komersial! 1.

430 Bab 20: Hutang Publik .

namun perlu diperhatikan adanya batas meminjam yang . Banyaknya pihak yang dapat dijadikan sumber pinjaman membuat pembiayaan pembangunan dengan pinjaman mampu mengumpulkan dana yang cukup besar. dan sumber lainnya seperti pinjaman dari daerah lain. Pinjaman yang berasal dari masyarakat penghimpunan dana dapat melalui penerbitan obligasi daerah. lembaga keuangan bank. pemerintah pusat.PINJAMAN DAERAH PENDAHULUAN Pinjaman merupakan alternatif lain yang bisa dipilih untuk membiayai pembangunan daerah. masyarakat. Sumber pinjaman dapat berasal dari berbagai pihak. Pinjaman dalam negeri dapat berasal dari. baik dari dalam negeri maupun luar negeri. lembaga keuangan bukan bank. Walaupun kemungkinan nilai pinjaman yang mampu dikumpulkan cukup besar karena banyaknya sumber yang bisa digunakan.

untuk membiayai investasi yang diharapkan dapat menghasilkan penerimaan bagi daerah. Bentuk pinjaman yang umum berupa bank overdraft. dalam subbagian selanjutnya akan disajikan praktek pinjaman daerah di Indonesia. Pada dasarnya kewenangan daerah melakukan pinjaman adalah seperti yang dituliskan oleh Davey (1983). 5. 3. Pinjaman dengan maksud untuk menutup kebutuhan dana jangka pendek adalah sangat umum dilakukan. dan kemampuan meminjam (ability to borrowing). Pada tahun 1975. dengan jangka waktu sampai tiga bulan. akan tetapi pemerintah daerah seringkali mencari pinjaman langsung dari deposito jangka pendek dari masyarakat berupa short-term bills. Tetapi jarang diperkenankan bagi pemerintah daerah. untuk membiayai pembangunan modal jangka panjang (prasarana atau penyediaan pelayanan umum). Kekurangan dana dari anggaran tahunan adalah hal yang umum terjadi untuk pemerintah pusat. pemerintah daerah di Italia meminjam 61% dari penerimaan kotor mereka untuk membiayai pengeluaran modal. Dalam konstitusi di berbagai negara.432 Bab 21: Pinjaman Daerah disesuaikan dengan kemampuan tiap-tiap daerah. jangka pendek dan jangka panjang. Risiko yang terkandung dalam melakukan pinjaman. bahwa berbagai pinjaman dilakukan dengan tujuan sebagai berikut: 1. Agar pembahasan ini lebih riil di lapangan. untuk membiayai kekurangan dana anggaran tahunan berupa biaya rutin dan beban hutang. harus menjadi pertimbangan dalam melakukan pinjaman. untuk membeli pabrik dan peralatan dengan unsur jangka menengah. . masalah kewenangan daerah untuk meminjam ini telah diatur. Pemilihan jangka waktu akan sangat tergantung pada jenis proyek yang akan dibiayai. metode dan sumber-sumber pinjaman. persyaratan-persyaratan pinjaman. Pinjaman juga dapat dibedakan berdasarkan jangka waktu. membayar hutang dan membiayai sebagaian besar dari biaya-biaya rutin (operating cost). Pada bagian ini akan dibahas mengenai tujuan dan batas-batas pinjaman. biasanya sebagai suatu keharusan karena pola pengumpulan penerimaan daerah yang tidak seimbang. terutama risiko dalam pembayaran bunga maupun pokok. 4. 2. TUJUAN DAN BATAS-BATAS PINJAMAN Pemerintah daerah dapat membiayai sebagian pengeluarannya dengan melakukan pinjaman. untuk menutup kebutuhan dana (cash) jangka pendek.

Dari pembahasan ini prinsip dasar yang harus dipegang ketika pemerintah daerah melakukan pinjaman adalah bahwa penggunaan dana pinjaman harus sesuai dengan karakteristik dari pinjaman itu sendiri. penggunaan dana pinjaman untuk membiayai pembangunan prasarana dan penyediaan pelayanan umum. . Oleh karenanya. Pengembalian pinjaman tersebut dari hasil penjualan rumah-rumah dan toko-toko yang dibangun oleh British. Dengan kata lain. Sebagai contoh. Pinjaman yang bersifat jangka pendek. pembangunan British New Town Corporation dibiayai oleh Pemerintah Pusat Inggris. tidak boleh digunakan untuk membiayai kegiatan atau investasi jangka panjang. Pemerintah negara bagian di Amerika Serikat juga mengadakan pinjaman melalui industrial aid bonds untuk menyediakan dana investasi perusahaan manufaktur perorangan. Praktek-praktek seperti ini antara lain sering diterapkan di negaranegara maju. Sementara itu. selain mendapatkan sumber penerimaan bagi daerah. Pembelian sebuah pabrik dan peralatan lainnya juga dapat dibiayai dengan pinjaman. Praktek dan konsep yang secara luas dapat diterima adalah dana pinjaman untuk membiayai kegiatan investasi yang dapat “membiayai sendiri”. Maksudnya adalah. karena akan menimbulkan mismatch (ketidaktepatan) antara pembayaran pinjaman yang jatuh tempo dengan waktu penerimaan penghasilan. Manfaat dari pinjaman seperti ini adalah. Suatu cara penyelesaian yang umum untuk membeli peralatan dengan pinjaman adalah dengan membeda-bedakan perkiraan umur masingmasing peralatan. Pilihan lain adalah dengan cara pinjam sewa (leasing).Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 433 Pemerintahan New York juga pernah melakukan pinjaman untuk membayar gaji pegawai dan uang pensiunan dan membayar hutang yang telah jatuh tempo. pemerintah daerah juga mampu menyediakan pelayanan publik secara lebih baik. biasanya diarahkan untuk membiayai prasarana publik yang relatif cenderung lebih mengedepankan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat dibandingkan dengan revenue yang dihasilkan. Cara leasing ini semakin dikenal untuk menghindari pembelian peralatan yang cepat menjadi usang sebagai akibat perubahan teknologi. sesungguhnya batasan-batasan atau teknik-teknik pembiayaan yang berlaku dalam dunia korporasi juga berlaku bagi pemerintah daerah. sumber pinjaman untuk pembiayaan jenis ini biasanya berasal dari negara-negara donor dengan tingkat bunga yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan bunga komersial. proyek yang dibiayai tersebut dapat menghasilkan penerimaan (revenue) yang dapat digunakan untuk membayar kembali dana pinjaman.

Ketiga. di Indonesia. Bank Pembangunan Islam (Islamic Development Bank/IDB). 6. Pinjaman jangka pendek yang diberikan oleh bank-bank komersial. Pertama. 9. Bahkan. Pinjaman yang bersumber dari pemerintah yang lebih atas (umumnya dari pemerintah pusat). Pembahasan lebih lanjut untuk kasus di Indonesia ini akan dibahas secara khusus di subbagian berikutnya. seperti Bank Dunia (World Bank). 7. ada tiga cara yang paling sering digunakan oleh pemerintah daerah di berbagai negara. Dana kontraktor untuk pembangunan proyek-proyek. yang biasanya pinjaman ini diberikan kepada pemerintah pusat negara yang bersangkutan melalui mekanisme pinjaman two step loan atau subsidary loan aggreement. hampir 100% pinjaman jangka panjang pemerintah daerah berasal dari pemerintah pusat. Di antara sistem pinjaman tersebut di atas. PERSYARATAN-PERSYARATAN PINJAMAN 1 Mekanisme pinjaman two step loan dan subsidiary loan aggreement adalah pinjaman dari luar negeri ke Pemerintah Pusat. Bank Asia Afrika dan bantuan bilateral. pinjaman tersebut diteruskan ke Pemerintah Daerah. misalnya dana pensiun. Bank Pembangunan Amerika Latin (untuk negara-negara di kawasan Amerika Latin). Praktek ini diterapkan oleh India. 5. Pinjaman yang berasal dari bank sentral di negara masing-masing. Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB). 8.434 Bab 21: Pinjaman Daerah METODE DAN SUMBER-SUMBER PINJAMAN Terdapat beberapa sumber pinjaman dan metode pinjaman yang dapat dilakukan oleh pemerintah daerah. dimana 71. Pinjaman internal yang berasal dari dana cadangan. khusus untuk pinjaman jangka pendek untuk memenuhi cash flow pemerintah daerah. dengan mengeluarkan obligasi (bonds) di pasar modal. melalui bank-bank komersial.6% pinjaman daerah berasal dari pemerintah pusat pada tahun 1979. Misalnya. . yaitu: 1. karena ada larangan dari pemerintah pusat bagi pemerintah daerah untuk meminjam di luar skema pemerintah pusat. Dana untuk sewa beli peralatan (leasing). Pinjaman hipotek atas aset tetap. Obligasi jangka panjang (bond).1 3. sumber dana yang berasal dari pasar keuangan. Pinjaman yang bersumber dari badan-badan internasional. kemudian oleh Pemerintah Pusat. pemerintah pusat memberikan pinjaman kepada pemerintah daerah. 4. Kedua. 2.

25% dari pinjaman yang belum ditarik. Sebagai pilihan yang dapat dilakukan adalah jangka waktu pinjaman dapat diturunkan sesuai penerimaan dari pajak dan retribusi untuk mengimbangi beban pinjaman tersebut. pengalaman menunjukkan bahwa bila cara sinking fund telah diterapkan dan untuk memenuhi kewajibannya disanggupi dengan baik. maka pemerintah daerah harus mendapatkan pinjaman dengan jangka waktu yang setidaknya sama dengan umur proyek. pinjaman dari lembaga-lembaga internasional tersebut juga memberlakukan fee. (iii) tingkat bunga. Sementara itu. misalnya. Persyaratan cara pembayaran kembali akan tergantung pada metode pembayaran yang dilakukan. management fee dan commitment fee sekitar 0. (ii) cara pembayaran kembali. Akan tetapi. sehingga hutang pokok yang dibayarkan adalah kumulatif selama masa pinjaman. Komponen dalam setiap kali pembayaran tersebut adalah pokok pinjaman dan bunga pinjaman. namun dalam prakteknya metode ini sering lebih merupakan usaha penyelematan terhadap utang kepada pihak luar (external debt). Yang terpenting adalah bahwa jangka waktu pinjaman bergantung pada sikap pasar serta suku bunga yang berlaku. Untuk tujuan capital investment. pinjaman yang bersumber dari pemerintah pusat atau lembaga keuanga internasional sering mencari turnover dana yang dipinjamkan secepat mungkin. dan (v) persetujuan dan penyidikan. tingkat bunga pun akan semakin tinggi. . misalnya pinjaman untuk masa 10 tahun. (iv) keamanan pinjaman. Persyaratan tingkat bunga pinjaman yang bersumber dari pasar keuangan pasti didasarkan pada bunga pasar. Pada umumnya. Namun.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 435 Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dalam ketentuan pinjaman adalah (i) jangka waktu pinjaman. dengan maksud agar dapat meningkatkan kemampuan finansial pemerintah daerah. pinjaman dari lembaga-lembaga internasional oleh suatu pemerintah biasanya memberlakukan bunga yang lebih rendah dibandingkan dengan bunga pasar. Jika menggunakan metode anuitas berarti membayar beberapa kali angsuran dalam jumlah yang sama besarnya setiap kali pembayaran hingga masa pembayaran selesai. dimana angsuran pinjaman dibayar secara tetap. Di Indonesia. Jangka waktu pinjaman pemerintah daerah bisa saja berkisar antara 24 jam (overnight) hingga 40 tahun. semakin lama suatu pinjaman. berupa management fee dan commitment fee yang besarnya sangat tergantung dari negosiasi antara kedua belah pihak. Jangka waktu pinjaman sangat tergantung dengan tujuan penggunaan pinjaman. Metode pembayaran yang lain adalah menggunakan metode sinking fund. Biasanya.

sedangkan pinjaman daerah yang berasal dari sumber non-pemerintah (private debt sources) akan meningkatkan efisiensi penggunaannya. PENGGUNAAN PINJAMAN DALAM PEMBIAYAAN Kebutuhan akan pinjaman daerah muncul akibat kecenderungan yang terjadi dimana peningkatan peran pemerintah daerah dalam pengelolaan dan pembiayaan pembangunan proyek-proyek investasi daerah. dalam berbagai klausul pinjaman oleh pemerintah daerah. Keterbatasan pemerintah daerah dalam memobilisasi sumber-sumber penerimaan daerah yang berasal dari daerahnya sendiri menjadi alasan penggunaan pinjaman dalam pembiayaan suatu daerah. Dalam konteks di Indonesia. Hal ini dilandasi dengan perkembangan tingkat urbanisasi yang lebih tinggi daripada kemampuan daerah menyediakan berbagai infrastruktur dan fasilitas pelayanan publik. misalnya lembaga perwakilan daerah. Kewenangan yang lebih besar kepada daerah untuk menentukan prioritas investasi daerah dan pelaksanaan proyek-proyek pembangunan daerah. 2001).436 Bab 21: Pinjaman Daerah Persyaratan keamanan pinjaman muncul karena pihak pemberi pinjaman biasanya menghendaki suatu keadaan aman terhadap kegagalan pembayaran kembali. semakin besar. pendapat yang mendukung pinjaman daerah mengacu pada prinsip keadilan antar generasi (intergenerational equity considerations). tidak jarang pemberi pinjaman meminta adanya jaminan dari pemerintah pusat atau dijamin dengan aset tertentu. Dari sisi teori fiskal. Masyarakat yang menerima manfaat proyek di masa mendatang secara prinsip harus ikut menanggung beban biaya pengadaan proyek tersebut. misalnya proyekproyek infrastruktur. biasanya tidak dapat dilakukan sebelum ada persetujuan dari lembaga yang berwenang. Proyek-proyek yang bersifat jangka panjang dengan manfaat ekonomi dan sosial selayaknya didanai oleh pembiayaan jangka panjang. karena pemerintah daerah harus memperhitungkan secara tepat nilai opportunity cost of capital yang sesungguhnya dan memprioritaskan proyek-proyek yang akan dilaksanakannya sesuai dengan tingkat manfaat sosial dan ekonomi (Alisjahbana. Persyaratan persetujuan muncul karena suatu pinjaman yang dilakukan oleh pemerintah daerah. 2000): . pinjaman yang dilakukan oleh pemerintah daerah baru dapat dijalankan jika DPRD setempat memberikan persetujuan. Prasyarat utama bagi diperbolehkannya daerah meminjam adalah dengan menerapkan “the golden rule guidelines” bagi pinjaman daerah (Magrassi. Makanya. Keterbatasan keuangan pemerintah pusat yang berimplikasi pada dana perimbangan pusat dan daerah.

local government should only use sub-national debt to finance capital projects that are anticipated to produce financial rate of returns that. perlunya persetujuan pemerintah pusat harus ada evaluasi yang menyeluruh tentang aspek-aspek dapat tidaknya usulan pinjaman untuk diproses lebih lanjut. § Pemerintahan Pusat § Lembaga Keuangan Bank § Lembaga Keuangan Bukan Bank § Masyarakat § Sumber Lainnya Pinjaman daerah menurut PP No 107 Tahun 2000 adalah: semua transaksi yang mengakibatkan daerah menerima dari pihak lain sejumlah uang atau manfaat bernilai . PRAKTEK PINJAMAN DAERAH DI INDONESIA Ketentuan Dasar Pinjaman Daerah di Indonesia Undang-undang No. Pinjaman dari dalam negeri dapat bersumber dari (PP 107/2000 pasal 2 ayat 2). Untuk menghindari risiko yang dapat terjadi atas penggunaan pinjaman daerah dalam pembiayaan hendaknya memperhatikan kaidah yang berlaku dalam memperkirakan kapasitas meminjam pemerintah daerah. justify the debt service paid to lenders”... vis-a-vis the project socioeconomic benefits..Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 437 “ .. Dua ukuran yang sering digunakan untuk itu adalah Debt Service Ratio (DSR) dan Debt Coverage Ratio (DCR). Sedangkan untuk pinjaman dari dalam negeri dapat secara langsung dilakukan bila disetujui oleh DPRD dengan prinsip pinjaman tersebut harus secara langsung dikaitkan dengan kemampuan daerah untuk membayar pinjamannya. Istilah disisihkan dimaksudkan untuk mempertegas adanya rencana untuk membiayai proyek melalui dana pinjaman daerah. Pinjaman daerah yang berasal dari luar negeri harus melalui pemerintah pusat. Sedangkan DCR pada prinsipnya merupakan angka perbandingan antara perkiraan kemampuan daerah yang dapat disisihkan (tabungan neto) dengan total rencana pembayaran pinjaman setiap tahunnya. DSR merupakan ambang batas kemampuan pelunasan daerah yang pada prinsipnya digunakan Pemerintah Daerah untuk mengendalikan jumlah pinjaman yang relatif aman. dan terutama tersedianya dana untuk pengembalian pinjaman secara aman.. Undang-undang No 25 Tahun 1999 Pasal 11 ayat 1 menyebutkan bahwa: "Daerah dapat melakukan pinjaman dari sumber dalam negeri untuk membiayai sebagian anggarannya". (a) sumber dalam negeri (b) sumber luar negeri. 25 Tahun 1999 menyebutkan bahwa daerah dapat melakukan pinjaman yang bersumber dari.

Pemerintah RI memberlakukan dua undang-undang penting yang berkaitan dengan desentralisasi. 25/1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. serta memberikan manfaat bagi pelayanan masyarakat. khususnya dalam bidang administrasi pemerintahan maupun dalam hubungan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah. Salah satu hal penting yang membedakan derajat desentralisasi fiskal antara sebelum dan sesudah keluarnya UU No. pembiayaan investasi yang diharapkan dapat secara langsung menghasilkan pendapatan. a. baik yang bersumber dari dalam negeri maupun dari luar negeri. b. tidak termasuk kredit jangka pendek yang lazim terjadi dalam perdagangan. Pelaksanaan Undang-undang Nomor 22 dan 25 Tahun 1999 telah menyebabkan terjadi perubahan yang sangat mendasar mengenai pengaturan hubungan pusat dan daerah. 2001). yaitu UU No. 25/1999 adalah diperkenankannya daerah melakukan pinjaman sendiri secara langsung. Pinjaman jangka pendek dapat digunakan untuk membantu kelancaran arus kas dan dana awal bagi investasi jangka panjang. dan pembiayaan investasi jangka panjang yang tidak menghasilkan pendapatan secara langsung. sehingga daerah tersebut dibebani kewajiban untuk membayar kembali. Beberapa Isu yang Terkait dengan Regulasi Pinjaman Daerah Pada tahun 1999. pinjaman harus didefinisikan sebagai sumber dana pelengkap untuk mempercepat proses pembangunan daerah. Dalam hal ini. 22/1999 dan UU No. Walaupun demikian. yang dalam banyak literatur disebut intergovernment fiscal relation yang dalam UU 25/1999 disebut perimbangan keuangan. 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. pembelian peralatan dan kendaraan yang memiliki umur ekonomis jangka menengah. Pinjaman harus secara langsung dikaitkan dengan kemampuan mengangsur serta cara mengalokasikan pada pembangunan dan atau penyediaan layanan publik yang produktif. pembiayaan defisit anggaran rutin tahunan. Berdasarkan penggunaan dan melihat jangka waktunya maka. Pinjaman daerah sebaiknya bersifat jangka panjang guna membiayai pembangunan prasarana yang merupakan aset daerah dan dapat menghasilkan penerimaan untuk pembayaran kembali pinjaman serta memberikan manfaat bagi pelayanan masyarakat (Wiratmo.438 Bab 21: Pinjaman Daerah uang. yang artinya . Pinjaman pada dasarnya dapat digunakan untuk pembiayaan defisit aliran kas jangka pendek. Pinjaman jangka panjang dapat digunakan untuk membiayai pembangunan prasarana yang dapat menghasilkan penerimaan untuk pembayaran kembali.

World Bank. 25/1999 menyebutkan bahwa: (1) Daerah dapat melakukan pinjaman dari sumber dalam negeri untuk membiayai sebagian anggarannya. pada kenyataannya lembaga lender multilateral (ADB. 25/1999 (lihat Tabel 21. 2004). serta memberikan manfaat bagi pelayanan masyarakat. (4) Daerah dapat melakukan pinjaman jangka pendek guna pengaturan arus kas dalam rangka pengelolaan kas daerah. 25/1999 PP 107/2000 . yang dalam hal ini adalah pemerintah pusat. berkenaan • dengan persetujuan batas • DPRD maksimum pinjaman dan persetujuan pemberian. • Menteri Keuangan. Pasal 11 UU No. Namun. sebagai pengawas RPD dan UU No. (3) Daerah dapat melakukan pinjaman jangka panjang guna membiayai pembangunan prasarana yang merupakan aset daerah dan dapat menghasilkan penerimaan untuk pembayaran kembali pinjaman. Hal yang sama juga berlaku untuk pinjaman bilateral. Kondisi ini sangat berbeda dengan ketentuan mengenai pinjaman daerah sebelum UU No. 22/1999 dan UU No. dan lain-lain) mensyaratkan perjanjian pinjaman dilakukan oleh negara sebagai anggota.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 439 pemerintah pusat tidak menjadi penjamin (sovereign guarantor). (2) Daerah melakukan pinjaman dari sumber luar negeri melalui pemerintah pusat. Tabel 21. 5/1974 Institutional Setting Persetujuan (Approval) Persetujuan (Approval) Menteri Keuangan • Menteri Dalam Negeri.1: Pinjaman Daerah Sebelum dan Setelah Kebijakan Desentralisasi SEBELUM DESENTRALISASI SETELAH DESENTRALISASI Legal Foundation UU No. dimana negara lender hanya melakukan pinjaman dengan pemerintah pusat sebagai peminjam (Pakpahan.1 ).

Beberapa komponen kunci tentang pinjaman daerah yang ditetapkan oleh UU No.5 berdasarkan proyeksi penerimaan dan pengeluaran selama jangka waktu pinjaman. yaitu PP 107/2000 tentang Pinjaman Daerah. Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan regulasi/peraturan. 2000 Lebih jauh. • Jumlah maksimum pinjaman jangka pendek adalah 1/6 jumlah belanja APBD tahun anggaran berjalan.5 Bab 21: Pinjaman Daerah Batasan Pinjaman (Persyaratan) • Jumlah kumulatif pokok pinjaman yang wajib dibayar tidak melebihi 75% dari jumlah penerimaan umum APBD tahun sebelumnya. 25/1999.440 persetujuannya Batasan Pinjaman (Persyaratan) • 1982: Debt Service Coverage Ratio (DSCR) < 15% • Kepmendagri Nomor 96 Tahun 1994: § Minimum DSCR = 1 § Average DSCR > 1. • DSCR minimal 2. 25/1999 dan PP 107/2000 adalah sebagai berikut: Sumber Pinjaman Indonesia/Dalam Negeri Institusi tempat Meminjam • Pemerintah Pusat Sumber Dalam Negeri: § Pemerintah Pusat § Perbankan § Lembaga keuangan non-bank § Sumber-sumber lain Sumber Luar Negeri § Bilateral § Multilateral . Sumber-Sumber Pinjaman • Pinjaman Luar Negeri Pemerintah • Pusat • Pinjaman Pemerintah Pusat melalui RDI • INPRES untuk Pembangunan Pasar • • IPEDA • Sumber-sumber Lain (BPD dan sektor swasta) • Pemerintah Pusat melalui RPD Sumber: Alm & Mulyani. dalam rangka mengimplementasikan Pasal 11 UU No.

Daerah dapat melakukan pinjaman jangka pendek guna pengaturan arus kas dalam rangka pengelolaan kas daerah.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 441 • • • • Lembaga Keuangan Bank Lembaga Keuangan Bukan Bank Masyarakat Sumber Lainnya Bilateral Multilateral Luar Negeri • • Sumber: Pasal 11 UU No. Debt Service Coverage Ratio Jangka Panjang (Long • Term) • . 25/1999 dan Pasal 2 PP 107/2000 Jenis/Tipe Pinjaman Penggunaannya Hanya dapat digunakan untuk membiayai pembangunan prasarana yang merupakan aset daerah dan dapat menghasilkan penerimaan untuk pembayaran kembali pinjaman. dan Berdasarkan proyeksi penerimaan dan pengeluaran Daerah tahunan selama jangka waktu pinjaman. Jangka Panjang (Long • Term) Jangka Term) Pendek (Short • Sumber: Pasal 11 UU No. 25/1999 dan Pasal 4 & 5 PP 107/2000 Persyaratan Keterangan Jumlah kumulatif pokok pinjaman daerah yang wajib dibayar tidak melebihi 75% (tujuh puluh lima persen) dari jumlah penerimaan umum APBD tahun sebelumnya. serta memberikan manfaat bagi pelayanan masyarakat.

Sumber: Pasal 6 & 7 PP 107/2000 Prosedur Pinjaman Daerah dari Pemerintah Pusat • Untuk memperoleh pinjaman yang bersumber dari pemerintah pusat. pemerintah daerah mengadakan perundingan dengan calon pemberi pinjaman yang hasilnya dilaporkan untuk mendapatkan persetujuan pemerintah pusat. • Perjanjian pinjaman yang bersumber dari pemerintah pusat ditandatangani oleh Menteri Keuangan dan kepala daerah. • Apabila pemerintah pusat telah memberikan persetujuan.442 Bab 21: Pinjaman Daerah (DSCR) paling sedikit 2. Sumber: Pasal 12 PP 107/2000 Prosedur Pinjaman Daerah dari Luar Negeri • Pinjaman daerah yang bersumber dari luar negeri dilakukan melalui pemerintah pusat.5 (dua setengah). Jangka Term) Pendek (Short • Jumlah maksimum pinjaman jangka pendek adalah 1/6 (satu per enam) dari jumlah belanja APBD tahun anggaran yang berjalan. studi kelayakan dan dokumen-dokumen lain yang diperlukan. . • Daerah mengajukan usulan pinjaman kepada pemerintah pusat disertai surat persetujuan DPRD. daerah mengajukan usulan kepada Menteri Keuangan disertai surat persetujuan DPRD. • Daerah dapat melakukan pinjaman daerah yang bersumber dari luar negeri. studi kelayakan dan dokumen-dokumen lain yang diperlukan untuk dilakukan evaluasi. • Pemerintah pusat melakukan evaluasi dari berbagai aspek untuk dapat tidaknya menyetujui usulan tersebut.

• Pembayaran kembali Pinjaman Daerah yang bersumber dari luar negeri oleh Daerah. Sumber: Pasal 13 PP 107/2000 Pembayaran Kembali Pinjaman Daerah • Semua pembayaran yang menjadi kewajiban Daerah yang jatuh tempo atas Pinjaman Daerah merupakan prioritas dan dianggarkan dalam pengeluaran APBD. • Dalam hal Daerah tidak memenuhi kewajiban pembayaran atas Pinjaman Daerah dari Pemerintah Pusat. Sumber: Pasal 14 PP 107/2000 Larangan Penjaminan • Daerah dilarang melakukan perjanjian yang bersifat penjaminan terhadap pinjaman pihak lain yang mengakibatkan beban atas keuangan Daerah. • Dalam hal Daerah tidak memenuhi kewajiban pembayaran atas Pinjaman Daerah yang bersumber dari luar negeri. • Barang milik Daerah yang digunakan untuk melayani kepentingan umum tidak dapat dijadikan jaminan dalam memperoleh Pinjaman Daerah. • Perjanjian pinjaman daerah yang bersumber dari luar negeri ditandatangani oleh kepala daerah dengan pemberi pinjaman luar negeri. maka kewajiban tersebut diselesaikan sesuai perjanjian pinjaman. Sumber: Pasal 10 PP 107/2000 .Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 443 setelah terlebih dahulu mendapat persetujuan dari pemerintah pusat. maka Pemerintah Pusat memperhitungkan kewajiban tersebut dengan Dana Alokasi Umum (DAU) kepada Daerah. dilakukan dalam mata uang sesuai yang ditetapkan dalam perjanjian pinjaman luar negeri.

(7) pinjaman internal yang berasal dari dana cadangan. (2) pinjaman yang bersumber dari badan-badan internasional. (c) tingkat bunga. . (b) cara pembayaran kembali. § Prinsip pemerintah daerah dalam melakukan pinjaman adalah bahwa penggunaan dana pinjaman harus sesuai dengan karakteristiknya. (4) keterbatasan keuangan pemerintah pusat. (9) dana kontraktor untuk pembangunan proyek-proyek. yaitu: (1) pinjaman yang bersumber dari pemerintah yang lebih atas. § Sumber-sumber pinjaman yang dapat dilakukan oleh pemerintah daerah. § Kebutuhan pinjaman daerah muncul karena alasan sebagai berikut: (1) peningkatan peran pemerintah daerah dalam pengelolaan dan pembiayaan pembangunan proyek-proyek investasi daerah. (3) kewenangan daerah untuk menentukan prioritas investasi daerah. (3) pinjaman yang berasal dari bank sentral di negara masing-masing. dan (5) membiayai pembangunan modal jangka panjang (prasarana atau penyediaan pelayanan umum). Pinjaman jangka panjang tidak boleh untuk membiayai kegiatan/investasi jangka panjang. (5) pinjaman jangka pendek yang diberikan oleh bankbank komersial. Pinjaman daerah dari sumber non-pemerintah (private debt sources) akan meningkatkan efisiensi penggunaannya. (2) membiayai kekurangan dana anggaran tahunan berupa biaya rutin dan beban hutang. § Pendapat yang mendukung pinjaman daerah mengacu pada prinsip keadilan antar generasi (intergenerational equity considerations). (4) obligasi jangka panjang (bond). Proyekproyek yang bersifat jangka panjang dengan manfaat ekonomi dan sosial didanai oleh pembiayaan jangka panjang. (3) membeli pabrik dan peralatan dengan unsur jangka menengah. § Persyaratan yang harus dipenuhi dalam ketentuan pinjaman adalah : (a) jangka waktu pinjaman. (2) tingkat urbanisasi yang lebih tinggi. (d) keamanan pinjaman dan (e) persetujuan dan penyidikan. (6) pinjaman hipotek atas aset tetap.444 Bab 21: Pinjaman Daerah RANGKUMAN § Pinjaman daerah dilakukan dengan tujuan sebagai berikut: (1) menutup kebutuhan dana jangka pendek. karena pemerintah daerah harus memperhitungkan opportunity cost of capital yang sesungguhnya dan memprioritaskan proyek sesuai dengan tingkat manfaat sosial dan ekonomi. dan (5) keterbatasan pemerintah daerah dalam memobilisasi sumber-sumber penerimaan daerah. karena akan menimbulkan mismatch (ketidaktepatan) antara pembayaran yang jatuh tempo dengan waktu penerimaan pengahasilan. (4) membiayai investasi yang diharapkan dapat menghasilkan penerimaan bagi daerah. (8) dana untuk sewa peralatan (leasing).

sehingga daerah tersebut dibebani kewajiban untuk membayar kembali. daerah dapat melakukan pinjaman yang bersumber dari: (a) dalam negeri. metode singking fund. metode anuitas. LATIHAN 1. (b) pinjaman jangka panjang dapat digunakan untuk membiayai pembangunan prasarana yang dapat menghasilkan penerimaan untuk pembayaran kembali serta bermanfaat bagi pelayanan masyarakat. merupakan ambang batas kemampuan pelunasan daerah untuk mengendalikan jumlah pinjaman yang relatif aman. 107 Tahun 2000. yaitu: (1) DSR (Debt Service Ratio). § Dengan berlakunya UU No. b. World Bank. (b) luar negeri. § Berdasarkan Undang-Undang No. merupakan angka perbandingan antara perkiraan kemampuan daerah yang dapat disisihkan (tabungan netto) dengan total rencana pembayaran pinjaman setiap tahunnya. Termasuk kredit jangka pendek yang lazim dalam perdagangan. Jelaskan cara pembayaran kembali dengan : a. melalui pemerintah pusat.22/1999 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. artinya pemerintah pusat tidak menjadi penjamin (sovereign guarantor). dll) mensyaratkan perjanjian pinjaman dilakukan oleh pemerintah pusat.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 445 § Digunakan dua ukuran untuk memperkirakan kapasitas meminjam pemerintah daerah agar terhindar dari resiko. maka: (a) pinjaman jangka pendek dapat digunakan untuk membantu kelancaran kas dan dana awal bagi investasi jangka panjang. Salah satunya. § Berdasarkan penggunaan dan melihat jangka waktunya. diperkenankannya daerah melakukan pinjaman sendiri secara langsung. yaitu semua transaksi yang mengakibatkan daerah menerima dari pihak lain sejumlah uang atau manfaat bernilai uang. secara langsung bila disetujui oleh DPRD. (2) DCR (Debt Coverage Ratio). Sebutkan persyaratan yang harus dipenuhi didalam ketentuan pinjaman ! 2.25 Tahun 1999. pada kenyataannya lembaga lender multilateral (ADB. § Pinjaman daerah menurut PP No. Namun.25/1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah banyak perubahan yang terjadi terkait dengan hubungan antara pusat dan daerah. .

Bagaimana cara menghindari mismatch (ketidaktepatan) antara pembayaran pinjaman yang jatuh tempo dengan waktu penerimaan penghasilan ? 10. 22 tahun 1999 dan UU no.446 Bab 21: Pinjaman Daerah 3. Apa perbedaan manfaaat dari pinjaman jangka pendek dan pinjaman jangka panjang ? 5. Jelaskan mengenai Debt Service Fund (DSR) dan Debt Coverage Ratio (DCR)! 4. Darimana saja pinjaman dalam negeri dapat diperoleh (PP 107/2000 pasal 2 ayat 2) ? 7. Jelaskan batasan pinjaman (persyaratan) dari pinjaman daerah setelah kebijakan desentralisasi ! 17. 28 tahun 1999 ? 6. Apa yang dimaksud dengan mekanisme pinjaman two step loan dan subsidiary loan agreement ? 12. Bagaimana prosedur pinjaman daerah dari luar negeri ? . Apa yang membedakan derajat desentralisasi fiskal antara sebelum dan sesudah keluarnya UU no. Jelaskan mengenai larangan penjaminan dalam pinjaman daerah ? 18. Jelaskan tujuan pemerintah daerah melakukan pinjaman menurut Davey (1983) ? 8. Jelaskan yang dimaksud dengan prinsip keadilan antar generasi (intergenerational equity considerations) dari pendapat yang mendukung pinjaman daerah ! 14. Mengapa persyaratan persetujuan diperlukan dalam persyaratan pinjaman daerah? 13. Sebutkan sumber pinjaman dan metode pinjaman yang dapat dilakukan oleh pemerintah daerah ! 11. Apa definisi dari pinjaman daerah menurut PP no 107 tahun 2000 ? 16. Apa manfaat dari cara pinjam sewa (leasing) ? 9. Bagaimana prosedur pinjaman daerah dari pemerintah pusat ? 15.

M. Robert J. Bambang dan Arlen T. 1992. Batam. dkk. MIT Press. 1983. 2002. Brown. Banting. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. Public Finance.Daftar Pustaka Alisjahbana. Brennan. Cnossen. Kingston. Richard M. “Tinjauan Permasalahan serta Prakondisi yang Diperlukan Bagi Pengembangan Penggunaan Pinjaman Daerah di Indonesia”. International Centre for Tax Studies. 1985. Government Finance: Economics of the Public Sector.G. Nurjaman. Makalah pada sidang ISEI. K. Aronson. Richard D Irwin. editor. Richard. 1981. Hettich. 1998. Indonesia. J. ”Evaluasi atas Alokasi DAU 2001 dan Permasalahannya” dalam Machfud Sidik. Inc. “Federal Finance and Fiscal Federalism: The Two Worlds of Canadian Public Finance”. Intermedia. Due. James. 14 April. Oxford: Clarendon Press.J. Financing Regional Government: International Practices and Their Relevance to the Third World. dan T.J. Richard M. dan Francois Vaillancourt. Sijbren & Hans-Werner Sinn.: Queen’s University School of Public Policy. Inc. Courchence. Public Finance and Public Policy in the New Century. United Kingdom: Cambridge University Press. Bird. Discussion Paper No. 1996. Richard M dan Chen. Jakarta. McGraw Hill. Cambridge University Press. L. “Tax Limits and The Logic of Constitutional Restriction. Dana Alokasi Umum. Cambridge. Davey. Duanjie. D. Fiscal Decentralization in Developing Countries. University of Toronto (July). Decentralisation.. Geoffrey dan Buchanan. 2002. . Bird. John. London. editor. F. 1968. Bennet. The Future of Fiscal Federalism. 2003. 1990. 6. Stanley. 2001. Brodjonegoro. University of Birmingham: Institute of Local Government Studies. dkk. Keuangan Negara. Local Governments and Markets.Walter dan Winer. Pakpahan. Ont. Arsjad. Bird. Armida S. 1994b. “A Comparative Perspective on Federal Finance” dalam K. dalam “Democratic Choice and Taxation: A Theoritical and Empirical Analysis”.

Inc. Harcourt Colledge Publishers. Jogjakarta dengan United States Agency for International Development (USAID). J. DC: International Monetary Fund. Tax Incidence. Hyman. 1984. Kadjatmiko. Don dan Metcalf. 2002. Stanford University and NBER Andres Rodriguez-Clare. Departemen Keuangan RI. Cambridge. “Intergovernmental Fiscal Relations” dalam P. Capitalism Magazine. Tax Policy Handbook.S. Jakarta. Longmans. 2004. 1921. Debt and Taxes in The Theory of Public Finance. Public Finance. United States: McGraw-Hill. Magrassi. Cambridge (Maret). N.. United States: South-Western. Richard A dan Peggy B. Massachusets. 2003. Laporan Akhir Pengembangan Obligasi Daerah di Indonesia. 2001. Mills. International Edition. Inter-American Development Bank (IADB) (December). Musgrave. Peter J. A Contemporary Application of Theory to Policy. Working Paper.Feldstein. Mankiw. USA. Second Edition. Klenow. “Laporan Studi Dampak Krisis Ekonomi Terhadap Keuangan Daerah di Indonesia”. Bunga Rampai Desentralisasi Fiskal. John. National Bureau of Economic Research. Gilbert. LPEM Universitas Indonesia bekerjasama dengan Clean Urban Project. Gregory. “Subnational Investment Needs and Financial Market Response”. editor. Nine Simple Guidelines for Pro-Growth Tax Policy. 1989. Washington. . Shome. RTI (1999). Fullerton. London. Daniel J. David N. Studi yang dilakukan oleh Sustainable Indonesian Growth Alliance (SIAGA) Project A Banking Industry Reform. yang merupakan kerjasama Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada. “Transfer Antar Tingkat Pemerintahan (Intergovernmental Transfer)” dalam Machfud Sidik. Edisi Ketujuh. Externalities and Growth. National Bereau of Economics Reserach. Principle of Economics. Inter-American Development Bank.Working Paper 8829. (15 April). Thompson Learning. Principle of Political Economy. 2002. 2004. Public Finance in Theory and Practice. 2002. Musgrave. 1995. dkk. Martin. 2004. 2000. Norregaard. Mitchell. Jakarta: Direktoral Jenderal Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. Marco..

Departemen Keuangan RI. Republik Indonesia.25 Tahun 1999 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pusar dan Daerah”. 2004. 1991. McGraw Hill. Makalah yang disampaikan dalam Acara Orasi Ilmiah dengan Thema “Strategi Meningkatkan Kemampuan Keuangan daerah Melalui Penggalian Potensi Daerah Dalam Rangka Otonomi Daerah” Acara Wisuda XXI STIA LAN Bandung Tahun Akademik 2001/2002. Massachusets. Machfud. Dana Alokasi Umum. 2002. dkk. Efraim. dkk. Sidik. “Undang-undang No. Public Finance (Sixth Edition). Robert A. Bunga Rampai Desentralisasi Fiskal. “Pinjaman Daerah Sebagai Alternatif Pembiayaan Daerah” dalam Machfud Sidik. Simandjuntak. ”Implementasi UU Nomor 25 Tahun 1999 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat Dan Daerah (Kebijakan Pemerintah Dalam Perimbangan Keuangan)”. “Optimalisasi Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dalam Rangka Meningkatkan Kemampuan Keuangan Daerah”.Pakpahan. 2002.22 Tahun 1999 Tentang Pemerintah Daerah”. “Undang-undang No. Republik Indonesia. Sidik. Rosen. Razin. Republik Indonesia. Machfud. 2002.Fraksi Utusan Daerah MPR-RI. Bunga Rampai Desentralisasi Fiskal. Bandung. Cambridge. International Fiscal Policy Coordination and Competition: An Exposition.34 Tahun 2000 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah”. 2004. Working Paper. 4 April. Makalah yang disampaikan Seminar Nasional Rencana Revisi Undang-Undang Otonomi Daerah Kerja sama Forum Rektor . Jakarta: Direktoral Jenderal Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. 2004. Jakarta: Direktoral Jenderal Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. Sidik. Machfud. National Bureau of Economic Research. 2002. Harvey S. Sidik. USA. Jakarta. 2002. 10 April. . 2002. dkk. New York. Machfud. “Undang-undang No. Dana Alokasi Umum. dkk. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. Arlen T. ”Transfer Pusat ke Daerah: Konsep dan Praktik di Beberapa Negara” Machfud Sidik. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. Assaf and Sadka. Departemen Keuangan RI.

United States: South-Western. Yogyakarta. Indonesia. Kompas. Heru dan Singgih Riphat. A Guide to Budget Work for NGOs. Makalah pada Worskhop Manajemen Strategik Penerimaan Daerah dan Keuangan Daerah. 2001.. The International Budget Project. 2001. . Suparmoko..Subiyantoro. International Monetary Fund. 2003. editor. Public Finance in Theory and Practice. Drs. M. Masykur. Washington DC (Desember). Ter-Minassian. Thompson Learning.A. Holley. Konsep dan Implementasi. “Fiscal Federalism in Theory and Practice”.D. Wiratmo. “Perencanaan Pembiayaan Daerah”. Washington. 1996a. Keuangan Negara: Dalam Teori dan Praktek (Edisi 4). Report No. 26-27 September. 15745-VN. Jakarta. DC (Oktober). M. 1996. Malang. World Bank. The Center on Budget and Policy Priorities. 2003. Ulbrich. Kebijakan Fiskal: Pemikiran. DC. BPFE. 1997. “Vietnam: Fiscal Decentralization and the Delivery of Rural Services”.Teresa. Washington. Ph.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful