P. 1
Keuangan-Publik

Keuangan-Publik

|Views: 1,094|Likes:
Published by Andre Tri Hermawan

More info:

Published by: Andre Tri Hermawan on Jan 08, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/19/2013

pdf

text

original

Daftar Isi

Kata Sambutan Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan Kata Pengantar Daftar Isi

BAGIAN I PENDAHULUAN
BAB 1 GAMBARAN UMUM KEUANGAN PUBLIK Alasan Mempelajari Keuangan Publik Pentingnya Sektor publik Karakteristik Kebijakan publik Ruang Lingkup Keuangan Publik Kriteria Evaluasi Kebijakan Publik BAB 2 BARANG PUBLIK & EKSTERNALITAS Barang Publik Perbedaan antara Barang Publik dan Barang Pribadi Free Rider Problem Eksternalitas BAB 3 PENENTUAN HARGA BARANG PUBLIK Tujuan Kebijakan Harga Penentuan Harga Barang Publik Implementasi Penentuan Harga 1 2 3 5 6 7 11 11 13 17 18 31 31 32 34

BAGIAN II KONSEP DAN IMPLEMENTASI ANGGARAN
BAB 4 FUNGSI DAN AKTIVITAS PEMERINTAH DALAM PEREKONOMIAN Fungsi dan Aktivitas Pemerintah Alasan Keterlibatan Pemerintah dalam Ekonomi Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian Fungsi Alokasi. Fungsi Distribusi Fungsi Stabilisasi 43 43 45 47 48 64 74 83 85 89 91 99 99 102 109

BAB 5 KONSEP ANGGARAN Jenis-jenis Anggaran Konsep PPBS (Planning Programming and Budgeting System) Siklus Anggaran BAB 6 PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN Unsur-Unsur Pembangunan Kebijakan Struktur Perpajakan Insentif Perpajakan

Kebijakan Pengeluaran Bantuan Internasional dan Redistribusi

113 115 121 124 125 127 128 130 137 137 138 140 142 144 145 148 153 156 161 162 166 173 180 183 185 185 187 190 191 197 197 198 205 207 212 222 227 228 229

BAGIAN III PERPAJAKAN
BAB 7 DASAR-DASAR PERPAJAKAN Fungsi Pajak Prinsip-Prinsip Pajak Siklus Arus Pajak Tarif Pajak Istilah-istilah Dalam Perpajakan BAB 8 KEADILAN DAN DAMPAK PERPAJAKAN Prinsip Manfaat Prinsip Kemampuan Membayar Kriteria Umum Keadilan Perpajakan Prinsip Keadilan dan Pajak Penghasilan Prinsip Keadilan dan Pajak Penjualan Prinsip Keadilan dan Pajak Kekayaan Dampak Pajak Kriteria Tarif Pajak Kriteria Struktur Pajak yang Baik BAB 9 PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK PRIBADI Aturan Utama Prinsip-Prinsip Definisi Penghasilan Praktek Definisi Penghasilan: Pengecualian Praktik Definisi Penghasilan: Pengurangan Atas Penghasilan Neto Preferensi Pajak Problema Keadilan Pajak Bagi Wajib Pajak Berpenghasilan Tinggi Problema Keadilan Pajak Bagi Wajib Pajak Berpenghasilan Rendah Pola Progresivitas Tarif Pajak Penyesuaian Terhadap Inflasi Pilihan Unit Kena Pajak BAB 10 PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK BADAN Struktur Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan Perlukah Perseroan Dikenakan Pajak? Siapa yang Menanggung Beban Pajak? Integrasi Pajak Aspek-Aspek Khusus Definisi Basis Pajak Investment Tax Credit BAB 11 PAJAK ATAS KONSUMSI Jenis Pajak Atas Konsumsi di Indonesia Bahasan-Bahasan Dalam Pajak Atas Konsumsi

Pajak Pertambahan Nilai Distribusi Beban Pajak Pajak Pengeluaran Wajib Pajak Pribadi BAB 12 PAJAK ATAS KEKAYAAN DAN WARISAN Alasan-Alasan Pengenaan Pajak Atas Kekayaan Pajak atas Tanah Struktur dan Basis Pajak Atas Kekayaan di Indonesia Distribusi Beban Pajak Properti Pajak Atas Kekayaan Bersih Bea Atas Modal Alasan-Alasan Pengenaan Pajak atas Warisan Tujuan dan Jenis Pajak atas Warisan Permasalahan-Permasalahan Khusus BAB 13 PAJAK INTERNASIONAL Prinsip Pajak Internasional Koordinasi Pajak penghasilan Koordinasi Pajak Produk Tax Treaty Cakupan Tax Treaty Minimalisasi Pajak Berganda Pencegahan Penghindaran Pajak Ketentuan Lain Lain Tax Treaty Mengalahkan UU PPh Koordinasi Pengeluaran Koordinasi Stabilisasi

233 238 240 249 249 251 252 255 261 265 265 265 267 275 279 280 282 285 286 289 294 295 296 297 298 305 306 310 316 325 325 327 330 331 333 334 334

BAGIAN IV BELANJA PUBLIK
BAB 14 KEBIJAKAN DAN STRUKTUR BELANJA PUBLIK Konsep Welfare State Faktor-Faktor Penyebab Pertumbuhan Klasifikasi Belanja Publik BAB 15 KEBIJAKAN BELANJA PUBLIK SEKTOR-SEKTOR UMUM Perlunya Analisis Sektor Pertahanan Nasional Jalan Raya Pendidikan Fasilitas Rekreasi Global Public Goods Privatisasi Barang Publik

BAB 16 KEBIJAKAN BELANJA PUBLIK DALAM TUNJANGAN SOSIAL Program Jaminan Sosial di Amerika Serikat Sistem Jaminan Sosial di Indonesia

341 342 345 361 364 367 373 375 380 381

BAGIAN V DESENTRALISASI FISKAL
BAB 17 KEUANGAN PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH Dimensi Ekonomi dari Desentralisasi Fiskal Syarat-Syarat Keberhasilan Desentralisasi Fiskal BAB 18 TRANSFER PUSAT KE DAERAH: TEORI DAN PRAKTIK Tujuan Transfer Kriteria Desain Transfer Pusat ke Daerah Jenis-Jenis Transfer

BAB 19 PERPAJAKAN DAERAH 395 Prinsip dan Kriteria Perpajakan Daerah 396 Ciri-Ciri Tertentu Suatu Pajak Daerah 398 Ketentuan Mengenai Pungutan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah 402 Ketentuan Mengenai Bagi Hasil Pajak Propinsi dan Peruntukkannya (Pasal 2A) 404 Tarif Pajak Propinsi dan Kabupaten/Kota 405 Peranan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah dalam Pembiayaan Daerah 405

BAGIAN VI HUTANG PUBLIK
BAB 20 HUTANG PUBLIK Surat Utang Negara Pengelolaan Surat Utang Negara Hutang Luar Negeri Proses Pelaksanaan Kerjasama Pinjaman dan Hibah Luar Negeri Proses Penyusunan Perjanjian Kerjasama dan Pengusulan Program/Proyek PHLN Proses Pembuatan Loan Agreement Hutang Luar Negeri dalam Pembangunan Ekonomi BAB 21 PINJAMAN DAERAH Pendahuluan Tujuan dan Batas-Batas Pinjaman Metode dan Sumber-Sumber Pinjaman Persyaratan-Persyaratan Pinjaman Penggunaan Pinjaman dalam Pembiayaan Praktek Pinjaman Daerah di Indonesia Daftar Pustaka Biografi Penyusun 413 414 415 416 417 418 419 419 431 431 432 434 435 436 437

Kata Pengantar
Seiring dengan tuntutan terhadap penyelenggaraan pemerintahan yang baik, sektor publik cukup mendapat sorotan dari masyarakat luas terutama terkait dengan berbagai kebijakan yang diambil pemerintah. Kebijakan publik ini merupakan suatu hal yang sangat penting terutama dalam hal mempengaruhi kegiatan perekonomian nasional, melalui kebijakan moneter dan kebijakan fiskal yang dampaknya akan dirasakan langsung oleh masyarakat luas. Oleh karena itu, bahasan keuangan publik menjadi suatu hal yang perlu dipelajari seiring dengan pertumbuhan sektor publik dari waktu ke waktu dalam jumlah yang besar. Keuangan publik adalah bagian dari ilmu ekonomi yang mempelajari aktivitas finansial pemerintah dan bagaimana proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh pemerintah. Setiap keputusan yang diambil akan mempunyai pengaruh terhadap ekonomi, keuangan rumah tangga, dan swasta. Oleh karena itu, masyarakat sebagai para pemilih wakil rakyat yang membuat keputusan, perlu memonitor aktivitas para wakilnya apakah telah membuat kebijakan yang memihak pada rakyat. Keuangan publik, mempelajari pendapatan dan belanja pemerintah, juga menganalisis implikasi dari kegiatan pendapatan dan belanja pada alokasi sumber daya, distribusi pendapatan, dan stabilitas ekonomi. Buku Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi ini mencoba memberikan wawasan mengenai berbagai macam sisi dari keuangan publik dan diharapkan bisa menjawab berbagai pertanyaan mengenai aktivitas publik yang dilakukan pemerintah serta alasanalasan yang mendasari pemerintah dalam mengeluarkan suatu kebijakan. Selain berisi konsep, buku ini juga mencoba menyajikan contoh-contoh aplikasi dan kebijakan yang terkait dengan keuangan publik. Kami menyadari adanya keterbatasan sehingga buku ini masih memiliki kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Oleh karenanya, tanggapan, saran, serta kritik yang membangun dari pembaca akan menjadi nilai tambah yang sangat berarti bagi perbaikan kualitas di masa yang akan datang. Akhir kata, kami ucapkan terima kasih terhadap semua pihak yang telah membantu dalam merealisasikan buku ini. Semoga buku ini dapat menjadi buah karya yang bermanfaat bagi yang membaca dan menjadi salah satu referensi keilmuan dalam bidang keuangan publik.

Jakarta, April 2006

Penulis

GAMBARAN UMUM KEUANGAN PUBLIK

Keuangan publik adalah bagian dari ilmu ekonomi yang mempelajari aktivitas finansial pemerintah. Yang termasuk pemerintah di sini adalah seluruh unit pemerintah dan institusi atau organisasi pemegang otoritas publik lainnya yang dikendalikan dan didanai oleh pemerintah. Keuangan publik menjelaskan belanja publik dan teknik-teknik yang digunakan oleh pemerintah untuk membiayai belanja tersebut. Keuangan publik juga menganalisis pengeluaran publik untuk membantu kita dalam memahami mengapa jasa tertentu harus disediakan oleh negara dan mengapa pemerintah menggantungkannya pada jenis-jenis pajak tertentu. Hal hal yang termasuk dalam keuangan publik diantaranya adalah uraian-uraian yang menjelaskan mengapa pertahanan nasional harus dikelola oleh negara sedangkan makanan diserahkan kepada swasta dan mengapa suatu negara menggunakan komposisi berbagai jenis pajak dan bukan hanya pada pajak tunggal.

2

Bab I: Gambaran Umum Keuangan Publik

Keuangan publik mempelajari bagaimana proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh pemerintah, karena setiap keputusan akan mempunyai pengaruh terhadap ekonomi, keuangan rumah tangga dan swasta. Dengan demikian, penting bagi kita untuk mengembangkan model-model ekonomi yang dapat membantu menjelaskan arti alokasi sumber daya yang efisien atau optimal, arti keadilan, dan antisipasi akibat finansial maupun ekonomi atas suatu keputusan publik. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa fokus keuangan publik adalah mempelajari pendapatan dan belanja pemerintah, juga menganalisis implikasi dari kegiatan pendapatan dan belanja pada alokasi sumber daya, distribusi pendapatan, dan stabilitas ekonomi.

ALASAN MEMPELAJARI KEUANGAN PUBLIK
Keuangan publik erat kaitannya dalam proses pengambilan keputusan berdasarkan asas demokrasi. Apabila para pemilih wakil rakyat memonitor aktivitas para wakilnya, maka para wakil rakyat ini tentunya akan bekerja lebih keras dan berusaha meyakinkan para pemilihnya bahwa kontribusi mereka atas pembayaran-pembayaran pajak akan menyebabkan pencapaian kondisi yang lebih baik. Pertumbuhan sektor publik dari waktu ke waktu dalam jumlah yang sangat besar merupakan alasan yang kuat dalam menumbuhkan rasa ingin tahu permasalahan yang terdapat dalam keuangan publik. Dalam perkembangan selanjutnya, pertanyaan akan timbul berkaitan dengan mengapa pemerintah memerlukan anggaran sebanyak itu, digunakan untuk apa uang-uang itu, dan apakah uang tersebut digunakan dengan bijaksana? Di samping itu, akan muncul pula pertanyaan yang berkaitan dengan apakah hasil penerimaan pajak (terutama pajak penghasilan) dari rumah tangga seperti yang tercantum dalam anggaran negara memang relevan dengan aktivitas-aktivitas sektor publik ini dan apakah pengeluaran-pengeluaran untuk masing-masing jenis tersebut dilakukan dengan bijaksana? Dalam kondisi normal, dapat dikatakan bahwa semakin tinggi pendapatan rumah tangga maka akan semakin besar proporsi pajak yang harus dibayarkan. Seiring dengan itu, tentunya kepentingan dan perhatian publik akan semakin meningkat. Bagi individu yang merasa tidak puas dengan beban pajak yang menjadi tanggungan mereka, maka mereka akan memberikan pengawasan yang lebih pada aktivitas pemerintah. Namun apabila pembayar pajak merasa terpuaskan, mereka akan dengan sukarela menyerahkan sebagian pendapatan mereka. Dalam situasi ini, pembayar pajak akan memberikan otoritas lebih kepada pemerintah untuk mengelola dan mengendalikan sejumlah sumber

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi

3

daya keuangannya. Dengan asumsi ini, sistem perpajakan sebaiknya diarahkan pada kepuasan para individu pembayar pajak.

PENTINGNYA SEKTOR PUBLIK
Sektor publik dan sektor swasta merupakan kesatuan integral dalam sistem perekonomian. Namun demikian, pemerintah bertanggung jawab dalam melakukan tiga kegiatan publik utama, yang diantaranya adalah penyediaan pertahanan nasional, keadilan sosial, dan pekerjaan umum. Kebijakan publik akan merupakan suatu hal yang sangat penting terutama dalam hal mempengaruhi kegiatan perekonomian nasional, melalui kebijakan moneter dan kebijakan fiskal. John Stuart Mill (1921), menyampaikan beberapa alasan mengenai perlunya aktivitas publik yang dilakukan oleh pemerintah, diantaranya sebagai berikut: 1. Dalam hal pertahanan nasional, campur tangan pemerintah, walaupun harus membatasi kebebasan individu, tetap dibutuhkan dalam memelihara perdamaian dan melindungi masyarakat terhadap serangan yang datang dari luar maupun dari dalam. 2. Pemerintah haruslah bersifat inferior dalam melakukan kegiatan industri dan perdagangan karena usaha seperti itu dapat dijalankan oleh sektor swasta. 3. Individu akan lebih percaya diri apabila mengerjakan sesuatu untuk kepentingannya sendiri sehingga pemerintah hanya bergerak dalam area yang menyangkut kepentingan publik atau umum. Alasan-alasan yang dikemukakan oleh John Stuart Mill tersebut kemudian diterjemahkan dalam sistem perekonomian kapitalis. Sistem ini, menghendaki adanya kebebasan individu yang mutlak dan tidak membenarkan pengaturan ekonomi oleh pemerintah, kecuali dalam hal-hal yang tidak dapat diatur sendiri oleh para individu. Dalam perkembangannya, tidak ada lagi paham ekstrim seperti itu sehingga negara kapitalis pun memandang perlu adanya peranan pemerintah dalam perekonomian. Peran pemerintah tetap diperlukan dalam melakukan kegiatankegiatan ekonomi karena mekanisme pasar dalam sistem kapitalis mempunyai beberapa kelemahan. Di antara kelemahan-kelemahan mekanisme pasar tersebut adalah sebagai berikut: 1. Adanya barang publik (akan didefinisikan dan dibahas dalam bab mendatang) yang tidak dapat disediakan oleh mekanisme pasar sehingga harus disediakan oleh pemerintah.

perlu diperhatikan bagaimana sektor swasta akan bereaksi. Adanya distribusi pendapatan yang tidak merata antar pelaku ekonomi pasar. Adanya perbedaan antara biaya pribadi dan biaya sosial. Sektor publik (anggaran pemerintah) memberikan kontribusi pada pasar faktor produksi dan pasar produk sehingga merupakan bagian integral dari sistem pembentukan harga. Arus barang pribadi dan barang publik tidak dibiayai oleh penjualan tetapi melalui perpajakan atau melalui pinjaman. Adanya sifat monopoli dalam bidang usaha tertentu yang menyebabkan pemerintah harus campur tangan agar monopoli tidak merugikan para pelaku ekonomi. Barang dan jasa yang disediakan oleh pemerintah dapat saja diproduksi oleh pemerintah atau diproduksi oleh swasta . Peran tersebut dapat dilihat dalam siklus seperti dibawah ini.4 Bab I: Gambaran Umum Keuangan Publik 2. 3. dalam perekonomian. Hubungan antara arus sektor swasta dan sektor pemerintah Dari gambar 1.1 terlihat bahwa akan terdapat hubungan yang erat antara arus sektor swasta (rumah tangga dan perusahaan) dan sektor pemerintah. Adanya resiko yang sangat besar yang tidak mungkin dikelola oleh swasta. 5. 6. manfaat pribadi dan manfaat sosial sehingga pemerintah secara nyata diperlukan dalam pengelolaan biaya dan manfaat sosial karena swasta tidak ada keinginan untuk mengelolanya.1. fungsi sektor publik berbeda dengan fungsi rumah tangga dan perusahaan. Pada kenyataannya. Gambar 1. 4. Itulah sebabnya dalam merancang suatu kebijakan fiskal. Adanya inflasi atau deflasi yang tidak dapat diselesaikan secara otomatis oleh mekanisme pasar.

Untuk menjamin kesempatan kerja. komposisi output pengeluaran publik haruslah sesuai dengan keinginan konsumen. 4. karena mekanisme pasar tidak dapat melaksanakan semua fungsi ekonomi. Pertukaran barang dan jasa tertentu. Kondisi ini mensyaratkan adanya informasi yang lengkap mengenai pasar. subsidi dan pajak. 5. Perlunya peran sosial yang dilakukan oleh pemerintah dalam bentuk distribusi pendapatan dan kesejahteraan dalam mekanisme pasar. Untuk mencapai efisiensi pasar. Peraturan pemerintah. Secara lebih terperinci karakteristik – karakteristik tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Dengan demikian. 2. 3. Hal ini diperlukan untuk mengoreksi penyimpangan yang terjadi apabila terdapat kondisi persaingan yang tidak efisien.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 5 untuk dijual kepada pemerintah. baik bagi produsen maupun bagi konsumen dan peraturan pemerintah yang diperlukan untuk menjamin persyaratan kelengkapan informasi tersebut. Hal ini menyangkut kondisi-kondisi adanya eksternalitas yang perlu dikendalikan pemerintah. Peranan sektor publik dalam perhitungan GNP (Gross National Product) atau pendapatan nasional adalah bahwa pemerintah memberi kontribusi terhadap GNP melalui pembelian barang dan jasa. Suatu kondisi dimana produksi barang sama dengan keinginan pasar. adanya barang publik yang . Kriteria pertama. 6. Dalam mekanisme pasar perlu ada proteksi dari pemerintah untuk melindungi pelaku pasar. dan ketiga tidak menyerahkan ekonomi hanya pada kekuatan pasar. karakteristik kebijakan publik mempunyai sifat mengarahkan. mengoreksi dan melengkapi peranan mekanisme pasar. melalui anggaran. Timbulnya masalah eksternalitas (akan dibahas lebih lanjut pada bab mendatang) yang perlu dipecahkan oleh pemerintah. KARAKTERISTIK KEBIJAKAN PUBLIK Terdapat sejumlah kriteria dalam menilai pentingnya sektor publik. RUANG LINGKUP KEUANGAN PUBLIK Bahasan keuangan publik dimulai dari keadaan dan alasan perlunya peran pemerintah dalam perekonomian. kedua adanya preferensi pengambilan keputusan yang terdesentralisasi. stabilitas harga dan tingkat pertumbuhan ekonomi.

dan juga alokasi dan distribusi sumber daya. kesehatan dan pertahanan). misalnya melalui hutang. Untuk menutup kekurangannya. Secara lebih rinci dapat dijelaskan bahwa ruang lingkup keuangan publik mencakup hal hal sebagaimana dikemukakan di bawah ini: § Keuangan publik mencoba memberikan gambaran tentang pilihan publik yang menyangkut aspek institusi publik. Bahasan yang meliputi kegiatan memperoleh pendapatan. § Keuangan publik akan mencakup masalah-masalah bagaimana pemerintah memperoleh pendapatannya. pemerintah perlu memberikan stimulus pada perekonomian melalui kebijakan belanjanya yang mengalami pertumbuhan dari waktu ke waktu. dan dalam keuangan publik. § Yang terakhir. pemerintah dapat melakukan usaha-usaha memperoleh sumber pendanaan lainnya. Salah satu titik penting pada sisi belanja tersebut adalah adanya efek pengganda (multiplier) yang diperankan oleh pemerintah. kegiatan yang mencakup belanja publik dan kegiatan pembiayaan sering disebut sebagai struktur fiskal (fiscal structure). § Keuangan publik membahas aspek belanja publik yang merupakan aktivitas utama pemerintah dalam penyediaan barang dan jasa publik untuk kesejahteraan masyarakat. Secara khusus.6 Bab I: Gambaran Umum Keuangan Publik perlu dialokasikan oleh pemerintah. Hasil pemilihan umum ini akan menghasilkan keputusan yang diantaranya menyangkut penyediaan barang dan jasa publik. bahasan keuangan publik biasanya juga menyangkut kegiatan analisis hubungan antara kebijakan pemerintah dengan perekonomian yang dikelola oleh rumah tangga dan swasta. dimana bahasan tersebut akan dihubungkan dengan aspek efisiensi penyediaan jasa tersebut. adanya mekanisme pasar yang perlu diintervensi pola distribusinya oleh pemerintah karena berbagai alasan. sumbersumber tersebut akan dihubungkan dengan aspek keadilan dan distribusi pendapatan. perlunya pencapaian kondisi stabil dalam ekonomi dimana peran pemerintah sangat dominan. dan sebagainya. (misalnya: belanja pemerintah yang meliputi pendidikan. keseimbangan publik yang dicapai melalui proses pemilihan umum. § Aspek pembiayaan merupakan area pembahasan keuangan publik berikutnya. KRITERIA EVALUASI KEBIJAKAN PUBLIK . dimana belanja tersebut dapat didanai oleh pendapatan yang dihasilkan dari kegiatan pemerintah. Sumber pendapatan pemerintah dapat mencakup pajak dan non pajak.

orang tidak akan menabung dalam jumlah yang cukup untuk pensiun sehingga pemerintah harus mengalokasikan penerimaan pajak agar penduduk usia lanjut dapat memperoleh manfaat. Keadilan dan kewajaran (Equity & Fairness) Suatu kebijakan publik dapat diuji dengan berbagai pertanyaan. Sistem Paternal (Paternalism) Kebijakan publik dapat dievaluasi dari asumsi bahwa pemerintah adalah pihak yang paling mengetahui permasalahan penduduk suatu negara dan pemerintah bebas menentukan kebijakan apa saja. Kebebasan Individu (Freedom of choice) Salah satu indikator keberhasilan kebijakan publik adalah apakah kebijakan pemerintah dapat mendorong kebebasan individu dalam bertransaksi ekonomi. Sebagai contoh. kebebasan individu dalam perekonomian memungkinkan pertukaran sukarela atau mempromosikan proses pengambilan keputusan sukarela yang didasarkan atas pertimbangan dagang yang bebas biaya transfer antar pihak yang bertransaksi. Dalam asas demokrasi. Sebagai contoh.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 7 Terdapat beberapa kriteria yang dapat digunakan dalam melakukan evaluasi dan analisis kebijakan publik yang diantaranya adalah sebagaimana di bawah ini. apakah wajar mempertimbangkan untuk menutup suatu perusahaan yang menyebabkan polusi udara dimana dalam pertimbangan lainnya. . perusahaan tersebut juga menyediakan banyak kesempatan kerja pada saat tingginya tingkat pengangguran? Apakah wajar mempertimbangkan untuk menutup bisnis penebangan hutan dalam rangka menyelamatkan habitat burung hantu? Atau. Pengujian terutama dikaitkan dengan kewajaran dalam persepsi sosial dan fair tidaknya suatu kebijakan publik terhadap isu hak kepemilikan. apakah wajar mengenakan pajak yang digunakan untuk kebijakan pendidikan pada semua penduduk termasuk pada keluarga tanpa anak? Efisiensi Ekonomi (Economic Efficiency) Kebijakan publik dapat dianalisis dari sudut Pareto Efficiency yaitu melalui realokasi sumber daya atau melalui perubahan alokasi – sehingga mencapai kondisi dimana seseorang atau beberapa orang mengalami kepuasan lebih baik tanpa menyebabkan pihak lain terbebani.

8 Bab I: Gambaran Umum Keuangan Publik Stabilisasi (Stabilization) Kebijakan publik dapat dianalisis dengan menilai apakah kebijakan yang diambil pemerintah mampu meningkatkan pengeluaran agregat? Atau apakah ekonomi sektor swasta . karena setiap keputusan akan mempunyai pengaruh terhadap ekonomi. mungkin ada konflik yang substansial antara beberapa kriteria tersebut. keuangan rumah tangga dan swasta. § § . dan juga menganalisis implikasi dari kegiatan pendapatan dan belanja pada alokasi sumber daya. kebijakan upah minimum mungkin mendorong keadilan. dan stabilitas ekonomi. tetapi hal ini mungkin tidak efisien.yang dapat memberi pekerjaan pada setiap orang perlu diintervensi pemerintah? Trade Off Kebijakan publik dapat dievaluasi dengan pertanyaan apakah pilihan kebijakan tidak akan mengorbankan tujuan lainnya. ekonom menekankan efisiensi dan keadilan sebagai kriteria melakukan evaluasi atas kebijakan publik. Sektor publik telah mengalami pertumbuhan dari waktu ke waktu. Akan tetapi. welfare economics telah dipertimbangkan sebagai cara pemberian insentif untuk mengoreksi kebijakan berdasar keadilan sosial. Contoh. Kemudian. RANGKUMAN § Keuangan publik adalah bagian ilmu ekonomi yang mempelajari aktivitas finansial pemerintah dan bagaimana proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh pemerintah. Jumlah yang sangat besar nilainya ini merupakan alasan yang kuat untuk menumbuhkan rasa ingin tahu masalah keuangan publik. ditribusi pendapatan. Apakah manfaat agregat dapat melampaui beban agregat? Secara umum. Fokus keuangan publik adalah mempelajari pendapatan dan belanja pemerintah.

karena mekanisme pasar tidak dapat melaksanakan semua fungsi ekonomi. Sebutkan kelemahan-kelemahan yang ada pada mekanisme pasar tersebut? 5. Dalam sistem perekonomian kapitalis sekalipun. Economic Efficiency (Efisiensi Ekonomi). Dalam perkembangan perekonomian. Jelaskan apa yang menjadi alasan tentang perlunya aktivitas publik yang dilakukan oleh pemerintah menurut John Stuart Mill? 4. Jelaskan secara singkat mengapa sistem perpajakan haruslah diarahkan pada kepuasan dari sudut pandang para individu? 3. peran pemerintah tetap diperlukan dalam melakukan kegiatan-kegiatan ekonomi karena mekanisme pasar dalam sistem kapitalis mempunyai beberapa kelemahan. Dalam menilai pentingnya sektor publik. Freedom of choice (Kebebasan Individu). Uraikan karakteristik tersebut? . dan ketiga tidak menyerahkan ekonomi hanya pada kekuatan pasar. peranan pemerintah semakin diperlukan dalam melakukan kegiatan-kegiatan ekonomi karena mekanisme pasar dalam sistem kapitalis mempunyai beberapa kelemahan. komposisi output pengeluaran publik haruslah sesuai dengan keinginan konsumen. ada sejumlah kriteria/karakteristik kebijakan publik. LATIHAN 1. melalui kebijakan moneter dan kebijakan fiskal. Paternalism (Sistem Paternal). Terdapat sejumlah kriteria dalam menilai pentingnya sektor publik. Jelaskan pengertian dari keuangan publik dan apa saja fokus dari keuangan publik tersebut? 2. Kriteria pertama. Stabilization (Stabilisasi). kedua adanya preferensi pengambilan keputusan yang terdesentralisasi.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 9 § § § § Kebijakan publik akan merupakan suatu hal yang sangat penting terutama dalam hal mempengaruhi kegiatan perekonomian nasional. Terdapat beberapa kriteria yang dapat digunakan dalam melakukan evaluasi dan analisis kebijakan publik yang diantaranya adalah Equity & Fairness (Keadilan dan kewajaran). Dengan demikian karakteristik kebijakan publik mempunyai sifat mengarahkan. Trade Off . mengoreksi dan melengkapi peranan mekanisme pasar.

Sebutkan dan jelaskan kriteria-kriteria yang digunakan untuk melakukan evaluasi dan analisis kebijakan publik? 10.10 Bab I: Gambaran Umum Keuangan Publik 6. Jelaskan alasan perlunya peran pemerintah dalam perekonomian dalam konteks keuangan publik? 7. Jelaskan yang dimaksud dengan istilah Fiscal Structure ? . Uraikan dan jelaskan pendekatan-pendekatan analisis tersebut? 9. Apa saja ruang lingkup keuangan publik ? 8. Dalam melakukan analisis kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan anggaran pemerintah dapat dipakai beberapa pendekatan analisis .

BARANG PUBLIK & EKSTERNALITAS

BARANG PUBLIK
Barang publik merupakan nonrival in consumption yang artinya adalah bahwa kuantitas dari barang publik dapat dinikmati oleh lebih dari satu konsumen tanpa mengurangi jumlah yang dinikmati oleh konsumen yang lainnnya (Heyman, 2002). Sifat pokok dari barang publik ini adalah barang ini tidak dapat dimiliki. Sekali sudah tersedia, maka barang ini akan tersedia merata bagi semua orang. Akibatnya konsumsi barang publik oleh satu orang tidak mengurangi jumlah yang tersedia bagi orang lain. Oleh karena itu tidak perlu bagi seseorang untuk memilikinya agar dapat memanfaatkannya. Terdapat dua karakteristik kunci dalam mengklasifikasikan suatu barang menjadi barang publik yakni bersifat nonrivalry (tidak ada persaingan dalam konsumsinya) dan nonexcludability (tidak dapat dikecualikan).

12

Bab 2: Barang Publik & Eksternalitas

Nonrivalry di sini adalah bahwa barang tersebut akan dapat dikonsumsi oleh sejumlah orang secara bersama-sama, tanpa mengurangi jumlah yang dapat dikonsumsi oleh konsumen yang lainnya. Dengan kata lain, dapat dikemukakan bahwa satu orang akan dapat meningkatkan kepuasannya atas barang publik tersebut tanpa mengurangi kepuasan orang lain yang juga akan menikmati barang yang sama. Contoh yang paling nyata di sini adalah matahari, yang merupakan barang publik. Bandingkan dengan sepasang sepatu yang merupakan barang privat. Dilihat dari sudut pandang tertentu, barang publik tidak dikonsumsi dalam artian dipakai habis, melainkan barang barang tersebut dapat dinikmati. Dimensi kedua dari barang publik adalah Nonexcludability. Terminologi ini menggambarkan bahwa tidak ada cara yang mungkin untuk mengecualikan siapapun agar dapat memanfaatkan barang publik, seperti misalnya pertahanan nasional. Pertahanan nasional merupakan contoh klasik dari barang publik dimana manfaatnya akan diperoleh oleh masyarakat dalam bentuk perlindungan dari serbuan luar negeri yang berlaku secara tidak terbagi untuk seluruh masyarakat, dan tidak ada yang dikecualikan dari manfaat manfaat ini. Manfaatnya akan berlaku sama bagi semua orang, meskipun mereka dapat mempunyai preferensi yang berbeda-beda. Secara umum dapat dikemukakan bahwa suatu barang publik akan mempunyai sifat-sifat berikut: 1. Konsumsi atas barang publik oleh seseorang tidak mempengaruhi penawaran barang publik tersebut untuk dikonsumsi oleh orang lain, atau suatu barang publik dapat dikonsumsi oleh beberapa orang secara bersama-sama. Sifat barang publik seperti ini disebut nonrival consumption. Contoh barang publik dengan sifat ini adalah jalan raya dan pertahanan nasional dimana konsumsi terhadap barang tersebut oleh seseorang tidak mengurangi kesempatan bagi orang lain untuk ikut mengkonsumsinya. 2. Walaupun penyedia barang menginginkan, setiap anggota masyarakat tidak akan dapat dibatasi ataupun dilarang untuk mengkonsumsi barang publik. Sifat barang publik seperti ini disebut nonexclusion. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa jika seseorang akan mengkonsumsi barang publik, apakah seseorang itu mau membayar atau tidak (free rider) dalam mengkonsumsi barang tersebut, orang tersebut akan tetap dapat memperoleh barang tersebut. 3. Walaupun setiap orang mengkonsumsi jumlah yang sama atas barang publik, tidak ada persyaratan bahwa konsumsi ini dinilai atau dihargai oleh semua orang. Kontribusi seseorang atas penggunaan barang publik dapat

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi

13

berbeda-beda. Seseorang atau sekelompok orang dapat saja terpaksa membayar lebih mahal akibat rendahnya kontribusi sebagian lainnya. 4. Sifat lain dari barang publik adalah bahwa barang publik tidak disediakan secara eksklusif oleh pihak swasta. Penyediaan barang publik yang dilakukan oleh pemerintah tidak berarti bahwa produksinya harus dilakukan oleh sektor publik, tapi mungkin disediakan oleh swasta kemudian pemerintah melakukan pembelian atas barang tersebut. Karakteristik barang publik seperti di atas tidaklah absolut, akan tetapi tergantung pada kondisi pasar dan teknologi. Misalnya saja, suatu komoditas dapat saja memenuhi satu kriteria dari barang publik, tapi mungkin tidak memenuhi kriteria yang lain. Beberapa barang tertentu yang secara konvensional tidak dipandang sebagai komoditas pribadi dapat saja mempunyai karakteristik sebagai barang publik.

Perbedaan Antara Barang Publik Dan Barang Pribadi
Terdapat beberapa perbedaan karakteristik antara barang pribadi dan barang publik. Perbedaannya adalah bahwa pertukaran barang pribadi dalam mekanisme pasar tidak akan menghasilkan eksternalitas 1 , sedangkan pertukaran barang publik selain dapat menghasilkan manfaat eksternal juga akan dapat menyebabkan beban eksternal bagi pihak lain. Contoh barang publik yang menghasilkan manfaat eksternal adalah pertahanan nasional dan contoh barang publik yang menghasilkan beban eksternal adalah penyediaan mesin atau peralatan yang menyebabkan adanya polusi udara. Perbedaan lain adalah bahwa biaya marjinal untuk distribusi barang publik kepada konsumen adalah nol. Hal ini merupakan efek dari sifat non rival consumption. Contoh: Misalkan ada sekelompok orang yang berada di satu ruangan tertentu. Setiap hari, penghuni ruang ini dapat mengkonsumsi sejumlah roti dan udara sejuk dari alat pendingin ruangan. Jumlah roti yang tersedia akan dikonsumsi dengan porsi yang sama oleh orang-orang yang berada di ruangan itu, dan bila seseorang akan mengkonsumsi lebih dari porsinya, dipastikan akan mengurangi porsi orang lain. Di lain pihak, tidak mungkin membagi temperatur yang telah diberi pendingin udara kepada orang-orang dalam ruangan tersebut. Semua orang
1

Biaya atau manfaat yang muncul yang diakibatkan karena adanya transaksi pasar dimana biaya ataupun manfaat tersebut tidak tercermin dalam harga barang.

14

Bab 2: Barang Publik & Eksternalitas

akan mengkonsumsi tingkat temperatur yang sama. Penambahan orang dalam ruangan, sampai batas tertentu, tidak akan mempengaruhi tingkat konsumsi atas udara sejuk tersebut. Tidak mungkin orang akan mengkonsumsi tingkat temperatur yang berbeda satu sama lain. Sejumlah roti mempunyai karakteristik sebagai barang pribadi sedangkan tingkat suhu seperti uraian diatas mempunyai karakteristik sebagai barang publik bagi orang-orang yang menghuni ruangan. Secara umum dapat dikemukakan bahwa terdapat beberapa alasan terjadinya perbedaan antara barang publik dengan barang pribadi, diantaranya adalah sebagai berikut:

Karena Kegagalan Mekanisme Pasar
Kebutuhan barang pribadi akan dirasakan secara perorangan, sedangkan kebutuhan barang publik akan dirasakan secara bersama-sama oleh para individu dalam masyarakat. Manfaat yang dihasilkan oleh barang publik tidak terbatas pada konsumen tertentu saja yang membeli barang itu, akan tetapi juga bagi konsumen lainnya. Contoh barang pribadi adalah roti. Konsumsi orang satu dengan orang lainnya berada dalam hubungan yang saling bersaingan (rival), karena apabila roti tadi dikonsumsi oleh seseorang, maka barang tersebut tidak tersedia bagi orang lain. Sedangkan contoh barang publik adalah alat untuk mengurangi pencemaran udara. Jika alat tersebut berfungsi dan terjadi peningkatan kualitas udara, manfaat yang dihasilkan akan tersedia bagi semua orang yang bernafas. Konsumsi atas alat anti pencemaran udara tadi oleh beberapa individu adalah tidak saling bersaing (non rival), karena keikutsertaan orang lain untuk memanfaatkan alat tidak mengurangi manfaat bagi yang lainnya. Kedua sifat barang tadi akan menimbulkan permasalahan bagaimana konsumen berperilaku dan bagaimana kedua jenis barang tadi harus disediakan. Mekanisme pasar akan secara tepat dapat menggambarkan penyediaan barang pribadi. Mekanisme ini didasarkan pada pertukaran dan pertukaran hanya terjadi jika terdapat hak eksklusif bagi pihak yang membelinya. Suatu pasar menyediakan sistem dimana produsen akan memproduksi barang jika konsumen membutuhkan barang itu. Hanya pihak yang bersedia membayar

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi

15

barang itulah yang dapat memperoleh manfaat atas barang. Dalam kondisi ini, pasar menjadi efisien, karena transaksi pemanfaatan barang dianalogikan sebagai suatu tender terbuka dan setiap orang boleh mengikuti tender sehingga tidak ada yang dirugikan. Lain halnya dengan penyediaan barang publik dimana tidak terjadi mekanisme pasar yang efisien. Satu orang tidak akan dapat secara ekslusif memanfaatkan barang publik, karena apabila orang tersebut mengkonsumsi, pada saat yang sama orang atau pihak lain dapat mengkonsumsi barang publik tersebut secara bersama-sama. Konsumen juga tidak bersedia untuk melakukan pembayaran atas barang publik tadi, dengan pertimbangan bahwa orang lain juga menikmati barang yang sama. Manfaat yang dirasakan oleh satu pihak akan sama dengan manfaat yang dirasakan pihak lain, sehingga pembayaran hanya oleh satu konsumen tidak signifikan. Hubungan antara produsen dan konsumen menjadi tidak ada dan dengan demikian maka tugas pemerintahlah yang harus bersedia memproduksi barang publik tersebut. Pemerintah juga harus mengambil tindakan apabila mekanisme pasar tersebut tidak berjalan.

Ditinjau dari Proses Penyediaan Barang Publik
Permasalahan yang mungkin timbul kemudian adalah bahwa bagaimana pemerintah harus menentukan berapa banyak barang publik yang perlu diadakan. Kesulitan akan terjadi dalam menentukan jenis dan kualitas barang publik, berapa konsumen yang harus membayar dan bagaimana manfaat ini akan dapat dinilai oleh konsumen. Dari sudut pandang konsumen, mereka tidak dapat menyatakan kepada pemerintah berapa nilai pelayanan umum yang disediakan oleh pemerintah. Persediaan barang publik tidak banyak dipengaruhi oleh kontribusi individu. Konsumen tidak mempunyai hak suara secara perorangan untuk menyatakan bagaimana nilai pelayanan yang nyata bagi mereka, kecuali ada jaminan konsumen lain juga akan melakukan hal yang sama. Konsumen akan dapat memilih sebagai free rider (dibahas lebih lanjut pada sub bab berikut) atas apa yang disediakan oleh pemerintah. Dengan demikian, cara penyediaan barang publik dan alokasinya akan berbeda dengan cara penyediaan barang pribadi. Pada tahap ini, proses politik akan menggantikan mekanisme pasar. Pemilihan dengan pemungutan suara akan menggantikan transaksi jual beli yang terjadi di mekanisme pasar. Mereka merasa berkepentingan untuk memilih apa yang akan memberi manfaat bagi mereka. Hasil pemungutan suara akan menggantikan pilihan melalui mekanisme pasar. Tingkat efisiensi

16

Bab 2: Barang Publik & Eksternalitas

proses pemilihan dan kebersamaan pilihan masyarakat akan menentukan tingkatan pencapaian pemecahan yang efisien.

Ditinjau dari Permintaan Barang Publik
Kurva permintaan barang publik harus diinterpretasikan secara berbeda dengan kurva permintaan barang pribadi. Untuk barang publik (murni), seluruh konsumen harus mengkonsumsi sejumlah kuantitas yang sama atas barang. Para pembeli barang publik tidak akan dapat menyesuaikan tingkat konsumsinya sehingga misalnya seorang individu mengkonsumsi satu unit, sementara individu lain dapat mengkonsumsi dua unit. Para konsumen tidak dapat menyesuaikan jumlah yang dibeli, misalnya sampai harga barang publik sama dengan manfaat marjinalnya atau sampai dengan transaksi pengadaan barang publik tersebut terjadi (kondisi equilibrium). Sayangnya, barang publik tidak dapat dihargai seperti itu, karena sifatnya yang non exclusion. Bila digambarkan dalam grafik, sumbu vertikal bukanlah harga pasar, tetapi jumlah maksimum seseorang bersedia membayar per unit barang publik. Sebagai fungsi dari jumlah barang yang secara nyata tersedia adalah sumbu horizontalnya. Contoh: Ada tiga orang hidup bersama dalam sebuah komunitas yang kecil dan mempunyai keinginan yang sama untuk mengadakan satuan pengamanan (satpam). Harga sewa satpam merupakan jumlah maksimal yang individu bersedia membayar dan kuantitas proteksi keamanan dapat diukur dari jumlah satpam yang disewa untuk tujuan itu, dan merupakan cerminan dari barang publik yang dapat dikonsumsi oleh ketiga orang tersebut.

Ditinjau dari Tingkat Output yang Efisien
Efisiensi dalam pasar barang pribadi mensyaratkan bahwa seluruh aktivitas ekonomi dilaksanakan sampai pada titik di mana manfaat sosial marjinal (marginal social benefit) sama dengan biaya sosial marjinal (marginal social cost). Kuantitas yang efisien per periode waktu berhubungan dengan titik di mana output meningkat sedemikian rupa sehingga jumlah manfaat marjinal konsumen sama dengan biaya sosial marjinal atas barang. Prinsip ini dapat juga berlaku untuk penerapan teori barang publik.

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi

17

Manfaat sosial marjinal adalah jumlah manfaat marjinal yang dinikmati oleh seluruh konsumen tersebut. Dimisalkan ada seseorang berkeinginan memproduksi atau membeli suatu barang (publik) untuk kepentingan pribadinya. Penyediaan barang publik oleh orang itu tidak hanya akan memberi manfaat kepada si penyedia tetapi juga kepada orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian, total manfaat sosial marjinalnya akan melebihi manfaat yang diterima oleh orang yang menyediakan barang publik tadi. Gabungan seluruh manfaat yang dinikmati oleh orang-orang di sekitarnya memberikan manfaat sosial marjinal atas tambahan unit yang disediakan.

FREE RIDER PROBLEM
Sebuah sistem yang meminta kontribusi masyarakat secara sukarela untuk penyediaan dan pembiayaan barang publik akan dapat berjalan apabila komunitas publiknya hanya terdiri dari beberapa individu. Dalam kelompok kecil dimana masing-masing orang kenal satu sama lain, apabila mereka mempunyai gagasan terhadap penyediaan suatu barang akan lebih mudah mencapai kompromi. Hal ini dikarenakan setiap anggota kelompok akan dapat dengan mudah mengidentifikasi manfaat barang tersebut. Sebagai contoh, jika sekelompok orang yang menghuni sebuah apartemen mewah dan yang mempunyai kepentingan yang sama dalam memperbaiki jalan atau mengadakan proteksi keamanan, mereka akan secara mudah untuk mencapai kompromi dalam rangka menyediakan barang publik tersebut dengan cara mendanai secara bersama-sama. Selain proses pencapaian kesepakatan menjadi tidak rumit, faktor pendukung lainnya adalah adanya keterikatan moral antar mereka. Hal ini akan sulit terjadi jika jumlah orang yang terlibat dalam proses pengambilan keputusan bertambah dan informasi tentang selera dan kemampuan ekonomi kurang. Dalam kelompok dengan skala yang lebih luas, sepertinya akan sulit untuk menggambarkan preferensi kelompok tersebut, karena sebagian besar anggota dalam kelompok besar tersebut dimungkinkan akan tidak secara akurat memperoleh informasi tentang manfaat nyata atas pengadaan barang publik. Hal ini mengakibatkan beberapa orang secara sukarela memberikan kontribusi untuk penyediaan barang publik tersebut, namun di lain pihak, akan terdapat segelintir orang yang enggan memberikan kontribusinya secara sukarela. Pada dasarnya mereka mengetahui bahwa barang publik yang akan dibeli atau diadakan tidak mungkin hanya dapat dinikmati oleh orang-orang yang membayar saja. Apabila kondisi yang seperti ini terjadi, akan ada orang-orang yang mengambil manfaat barang publik tanpa memberikan kontribusi apa pun terhadap biaya penyediaan barang tersebut.

18

Bab 2: Barang Publik & Eksternalitas

Orang ini disebut free rider. Problem akan muncul jika jumlah free rider bertambah banyak sehingga pada akhirnya penyediaan barang publik, misalnya perbaikan jalan akses ke apartemen, tidak jadi dilakukan. Semua anggota kelompok tersebut, pada akhirnya, tidak dapat menikmati kenyamanan menggunakan jalan tadi.

EKSTERNALITAS
Dalam suatu perekonomian modern, setiap aktivitas mempunyai keterkaitan dengan aktivitas lainnya. Apabila semua keterkaitan antara suatu kegiatan dengan kegiatan lainnya dilaksanakan melalui mekanisme pasar atau melalui suatu sistem, maka keterkaitan antar berbagai aktivitas tersebut tidak menimbulkan masalah. Akan tetapi banyak pula keterkaitan antar kegiatan yang tidak melalui mekanisme pasar sehingga timbul berbagai macam masalah. Keterkaitan suatu kegiatan dengan kegiatan lain yang tidak melalui mekanisme pasar adalah apa yang disebut dengan eksternalitas. Secara umum dapat dikatakan bahwa eksternalitas adalah suatu efek samping dari suatu tindakan pihak tertentu terhadap pihak lain, baik dampak yang menguntungkan maupun yang merugikan. Dalam literatur asing, efek samping mempunyai istilah seperti : external effects, externalities, neighboorhood effects, side effects, spillover effects (Mishan, 1990). Efek samping dari suatu kegiatan atau transaksi ekonomi bisa positif (positive external effects, external economic) maupun negatif (negative external effects, external diseconomic). Dalam kenyataannya, baik dampak negatif maupun efek positif bisa terjadi secara bersamaan dan simultan. Dampak yang menguntungkan misalnya seseorang yang membangun sesuatu pemandangan yang indah dan bagus pada lokasi tertentu mempunyai dampak positif bagi orang sekitar yang melewati lokasi tersebut. Sedangkan dampak negatif misalnya polusi udara, air dan suara. Ada juga ekternalitas yang dikenal sebagai eksternalitas yang berkaitan dengan uang (pecuniary externalities) yang muncul ketika dampak eksternalitas itu disebabkan oleh meningkatnya harga. Misalnya, suatu perusahaan didirikan pada lokasi tertentu atau kompleks perumahan baru dibangun, maka harga tanah tersebut akan melonjak tinggi. Meningkatnya harga tanah tersebut menimbulkan dampak eksternal yang negatif terhadap konsumen lain yang ingin membeli tanah di sekitar daerah tersebut. Dalam contoh di atas, efek tersebut dalam perubahan harga tanah dimana kesejahteraan masyarakat berubah tetapi perubahan itu akan kembali ke keadaan keseimbangan karena setiap barang akan menyamakan rasio hargaharga barang dengan marginal rate of substitution (MRS). Jadi, suatu fakta

sehingga produksi ikan terganggu dan akhirnya merugikan produsen lain yakni para penangkap ikan (nelayan). Dampak atau efek yang termasuk dalam kategori ini meliputi biaya pemurnian atau pembersihan air yang dipakai (eater intake clen-up cost) oleh produsen hilir (downstream producers) yang menghadapi pencemaran air (water polution) yang diakibatkan oleh produsen hulu (upstream producers). Efek atau dampak satu produsen terhadap produsen lain (effects of producers on other producers). Jenis-jenis Eksternalitas Efisiensi alokasi sumberdaya dan distribusi konsumsi dalam ekonomi pasar dengan kompetisi bebas dan sempurna bisa terganggu. Hal ini terjadi ketika produsen hilir membutuhkan air bersih untuk proses produksinya. 2. Efek atau dampak dari suatu konsumen terhadap konsumen lain (effects of consumers on consumers) 4. Efek akan dampak dari suatu konsumen terhadap produsen (effects of consumers on producers) Dampak Suatu Produsen Terhadap Produsen Lain Suatu kegiatan produksi dikatakan mempunyai dampak eksternal terhadap produsen lain jika kegiatannya itu mengakibatkan terjadinya perubahan atau penggeseran fungsi produksi dari produsen lain. Jadi.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 19 bahwa tindakan seseorang dapat mempengaruhi orang lain tidaklah berarti adanya kegagalan pasar selama pengaruh tersebut tercermin dalam hargaharga sehingga tidak terjadi ketidakefisienan dalam perekonomian. Eksternalitas itu dapat terjadi dari empat interaksi ekonomi berikut ini: 1. jika aktivitas dan tindakan invividu pelaku ekonomi baik produsen maupun konsumen mempunyai dampak (externality) baik terhadap mereka sendiri maupun terhadap pihak lain. Efek atau dampak samping kegiatan produsen terhadap konsumen (effects of producers on consumers) 3. yang dimaksud dengan eksternalitas hanyalah apabila tindakan seseorang mempunyai dampak terhadap orang lain atau segolongan orang lain tanpa adanya kompensasi apapun juga sehingga timbul inefisiensi dalam alokasi faktor produksi. kegiatan . Dalam hal ini. danau atau semacamnya. Dampak kategori ini bisa dipahami lebih jauh dengan contoh lain berikut ini. Suatu proses produksi (misalnya perusahaan pulp) menghasilkan limbah residu produk sisa yang beracun dan masuk ke aliran sungai.

. suatu agen ekonomi (perusahaan/produsen) yang menghasilkan limbah (waste products) ke udara atau ke aliran sungai mempengaruhi pihak dan agen lain yang memanfaatkan sumber daya alam tersebut dalam berbagai bentuk. yang semuanya mempengaruhi kenyaman konsumen atau masyarakat luas. Dampak Konsumen terhadap Produsen Dampak konsumen terhadap produsen terjadi jika aktivitas konsumen mengganggu fungsi produksi suatu produsen atau kelompok produsen tertentu. Konsumen seorang individu bisa dipengaruhi tidak hanya oleh efek samping dari kegiatan produksi tetapi juga oleh konsumsi oleh individu yang lain.20 Bab 2: Barang Publik & Eksternalitas produksi pulp tersebut mempunyai dampak negatif terhadap produksi lain (ikan) atau nelayan. Dampak Produsen Terhadap Konsumen Suatu produsen dikatakan mempunyai eksternal efek terhadap konsumen. berkurangnya fasilitas daya tarik alam (amenity) karena pertambangan. Dalam hal ini. Misalnya. kepuasan konsumen terhadap pemanfaatan daerah-daerah rekreasi akan berkurang dengan adanya polusi udara. bahaya radiasi dari stasiun pembangkit (polusi udara) serta polusi air. asap rokok seseorang terhadap orang sekitarnya dan sebagainya. dan inilah yang dimaksud dengan efek suatu kegiatan produksi terhadap produksi komoditi lain. Dampak Konsumen terhadap Konsumen Lain Dampak konsumen terhadap konsumen yang lain terjadi jika aktivitas seseorang atau kelompok tertentu mempengaruhi atau mengganggu fungsi utilitas konsumen yang lain. kebisingan bunyi radio atau musik dari tetangga. Kategori ini meliputi polusi suara (noise). Dampak jenis ini misalnya terjadi ketika limbah rumahtangga terbuang ke aliran sungai dan mencemarinya sehingga mengganggu perusahaan tertentu yang memanfaatkan air baik oleh ikan (nelayan) atau perusahaan yang memanfaatkan air bersih. Dampak atau efek samping yang sangat populer dari kategori kedua yang populer adalah pencemaran atau polusi. bisingnya suara alat pemotong rumput tetangga. Dampak atau efek dari kegiatan suatu seorang konsumen yang lain dapat terjadi dalam berbagai bentuk. jika aktivitasnya merubah atau menggeser fungsi utilitas rumah tangga (konsumen). Sebagai contoh.

eksternalitas jenis kedua merupakan masalah pelik/rumit dalam ekonomi lingkungan. besarnya konsumsi seseorang akan barang tersebut tidak akan mengurangi konsumsi bagi yang lainnya. Bagaimana mekanisme timbulnya eksternalitas dan ketidakefisienan dari alokasi sumber daya sebagai akibat dari adanya faktor di atas diuraikan satu persatu berikut ini. Kalau ini dibiarkan. yang memerlukan instrumen ekonomi untuk menginternalisasikan dampak tersebut dalam aktivitas dan analisa ekonomi. maka ini akan memberikan dampak yang tidak menguntungkan terhadap ekonomi terutama dalam jangka panjang. kegagalan pemerintah merupakan keadaan-keadaan dimana unsur hak pemikiran atau pengusahaan sumber daya (property rights) tidak terpenuhi. eksternalitas dan ketidakefisienan timbul karena salah satu atau lebih dari prinsip-prinsip alokasi sumber daya yang efisien tidak terpenuhi. Dari dua konsep eketernalitas ini. air. Keberadaan eksternalitas yang merupakan barang publik seperti polusi udara. ketidaksempurnaan pasar. Dalam pandangan ekonomi. barang publik sempurna (pure public good) .Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 21 Lebih jauh Baumol dan Oates (1975) menjelaskan tentang konsep ekternalitas dalam dua pengertian yang berbeda: § Eksternalitas yang bisa habis (a deplatable externality) yaitu suatu dampak eksternal yang mempunyai ciri barang individu (private good or bad) yang mana jika barang itu dikonsumsi oleh seseorang individu. Karakteristik barang atau sumberdaya publik. maka eksternalitas dan ketidakefisienan ini tidak bisa dihindari. § Eksternalitas yang tidak habis (an undeplate externality) adalah suatu efek eksternal yang mempunyai ciri barang publik (public goods) yang mana barang tersebut bisa dikonsumsi oleh seseorang. dan juga bagi orang lain. Sejauh semua faktor ini tidak ditangani dengan baik. Keberadaan Barang Publik Barang publik (public goods) adalah barang yang apabila dikonsumsi oleh individu tertentu tidak akan mengurangi konsumsi orang lain akan barang tersebut. Faktor-faktor Penyebab Eksternalitas Eksternalitas timbul pada dasarnya karena aktivitas manusia yang tidak mengikuti prinsip-prinsip ekonomi yang berwawasan lingkungan. barang itu tidak bisa dikonsumsi oleh orang lain. dan suara merupakan contoh eksternalitas jenis yang tidak habis. Selanjutnya. Dengan kata lain.

Ada dua ciri utama dari barang publik ini. pemandangan yang indah. Pertama. rekreasi. Barang publik yang berkaitan dengan lingkungan meliputi udara segar. Karena ciri-ciri di atas. barang ini merupakan konsumsi umum yang dicirikan oleh penawaran gabungan (joint supply) dan tidak bersaing dalam mengkonsumsinya (non-rivalry in consumption). maka si A bisa ikut menikmatinya karena tidak seorang pun yang bisa menghalanginya untuk mengkonsumsi barang tersebut. maka si A tidak mau membayar untuk penyediaan barang tersebut dengan harapan bahwa barang itu akan disediakan oleh si B. barang publik dimanfaatkan berlebihan dan tidak mempunyai insentif untuk melestarikannya. Sebagai contoh. Dalam hal ini. Kalaupun ada kontribusi. Kedua adalah tidak ekslusif (non-exclusive) dalam pengertian bahwa penawaran tidak hanya diperuntukan untuk seseorang dan mengabaikan yang lainnya. Jika akhirnya si B berkeputusan untuk menyediakan barang tersebut. public goods. jika si A mengetahui bahwa barang tersebut akan disediakan oleh si B. Satu-satunya mekanisme yang membedakannya adalah dengan menetapkan harga (nilai moneter) terhadap barang publik tersebut sehingga menjadi barang privat (dagang) sehingga benefit yang diperoleh dari harga itu bisa dipakai untuk mengendalikan atau memperbaiki kualitas lingkungan itu sendiri. mendorong sebagian masyarakat sebagai “free rider”. Keadaan seperti akhirnya cenderung mengakibatkan berkurangnya insentif atau rangsangan untuk memberikan kontribusi terhadap penyediaan dan pengelolaan barang publik. Sumber Daya Bersama Keberadaan sumber daya bersama (common resources) atau akses terbuka terhadap sumber daya tertentu ini tidak jauh berbeda dengan keberadaan .22 Bab 2: Barang Publik & Eksternalitas didefinisikan sebagai barang yang harus disediakan dalam jumlah dan kualitas yang sama terhadap seluruh anggota masyarakat. Kajian ekonomi sumber daya dan lingkungan salah satunya menitikberatkan pada persoalan barang publik atau barang umum ini (common consumption. karena masyarakat cendrung memberikan nilai yang lebih rendah dari yang seharusnya (undervalued). common property resource). karena sifat barang publik yang tidak ekslusif dan merupakan konsumsi umum. hidup yang nyaman dan sejenisnya. Tetapi dalam menetapkan harga ini menjadi masalah tersendiri dalam analisa ekonomi lingkungan. Masyarakat atau konsumen cenderung acuh tak acuh untuk menentukan harga sesungguhnya dari barang publik ini. air bersih. maka sumbangan itu tidaklah cukup besar untuk membiayai penyediaan barang publik yang efisien. barang publik tidak diperjualbelikan sehingga tidak memiliki harga.

Pada kondisi yang demikian akan hanya berakibat terjadinya peningkatan surplus produsen yang nilainya jauh lebih kecil dari kehilangan surplus konsumen. tidak ekskludabel. Pemanfaatannya oleh seseorang. Hal ini bisa terjadi pada pasar yang tidak sempurna (imperfect market) seperti pada kasus monopoli (penjual tunggal). akan mengurangi peluang bagi orang lain untuk melakukan hal yang sama. sehingga secara keseluruhan praktek monopoli ini merugikan masyarakat (worse off ). dan cuma-cuma. Ketidaksempurnaan pasar ini misalnya terjadi pada praktek monopoli dan kartel. Sumber-sumber daya milik bersama. Kelompok tertentu ini memanfaatkan pemerintah untuk mencari keuntungan (rent seeking) melalui proses politik. Ketidaksempurnaan Pasar Masalah lingkungan bisa juga terjadi ketika salah satu partisipan di dalam suatu tukar menukar hak-hak kepemilikan (property rights) mampu mempengaruhi hasil yang terjadi (outcome). Sumber-sumber daya ini terbuka bagi siapa saja yang ingin memanfaatkannya. . keberadaan sumber daya milik bersama ini. Jadi. Contoh konkrit dari praktek ini adalah Organisasi negara-negara pengekspor minyak (OPEC) dengan memproduksi dalam jumlah yang lebih sedikit sehingga mengakibatkan meningkatnya harga yang lebih tinggi dari normal. sama halnya dengan barang-barang publik. Namun tidak seperti barang publik. Contoh klasik tentang bagaimana eksternalitas terjadi pada kasus sumberdaya bersama ini adalah seperti yang diperkenalkan oleh Hardin (1968) yang terkenal dengan istilah tragedi barang umum (the tragedy of the commons). pemerintah juga perlu mempertimbangkan seberapa banyak pemanfaatannya yang efisien. Aksi pencarian keuntungan (rent seeking) bisa dalam berbagai bentuk: § Kelompok yang punya kepentingan tertentu (interest groups) melakukan loby dan usaha-usaha lain yang memungkinkan diberlakukannya aturan yang melindungi serta menguntungkan mereka. Kegagalan pemerintah banyak diakibatkan tarikan kepentingan pemerintah sendiri atau kelompok tertentu (interest groups) yang tidak mendorong efisiensi. Kegagalan Pemerintah Sumber ketidakefisienan dan atau eksternalitas tidak saja diakibatkan oleh kegagalan pasar tetapi juga karena kegagalan pemerintah (government failure).Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 23 barang publik di atas. melalui kebijaksanaan dan sebagainya. sumber daya milik bersama memiliki sifat bersaingan.

Berdasarkan perhitungan atau estimasi perusahaan A harus mengeluarkan biaya (denda) yang besar (misalnya Rp. untuk menghindari resiko yang lebih besar kalau ketentuan atau aturan diberlakukan dengan sebenarnya. sehingga pihak-pihak yang berkepentingan bisa memberikan uang jasa atau uang pelicin untuk keperluan tertentu. Solusi Pemerintah dan Swasta terhadap Eksternalitas Kita telah menyimak mengapa keberadaan eksternalitas itu dapat mengakibatkan alokasi sumber daya yang dilakukan oleh pasar menjadi tidak efisien. . Namun sejauh ini kita baru mengulas secara sekilas tentang cara-cara mengatasi eksternalitas tersebut. Dalam prakteknya. Untuk mudahnya. Praktek jenis ini bisa mendorong terjadinya eksternalitas. tujuan yang hendak dicapai oleh pemerintah maupun pihak swasta (perorangan dan kelompok). baik itu pribadi/kelompok maupun perusahaan/ organisasi kemasyarakatan. § Praktek mencari keuntungan ini bisa juga dilakukan oleh aparat atau oknum tertentu yang mempunyai otoritas tertentu. kita sebut saja pihak-pihak non pemerintah tersebut sebagai pihak “pribadi” atau “swasta”. dan denda informasi ini belum tentu menjadi reveneu pemerintah. 1 milyar) untuk menanggulangi efek dari limbah yang dihasilkan itu. Sehingga akhirnya dampak lingkungan yang seharusnya diselidiki dan ditangani tidak dilaksanakan dengan semestinya sehingga masalahnya menjadi bertambah serius dari waktu ke waktu. yakni untuk mendorong alokasi sumber daya agar mendekati kondisi yang optimum secara sosial. melainkan juga pihakpihak non pemerintah. Pada bagian pembahasan berikut kita akan menelaah solusi-solusi atau upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah dan pribadi atau swasta (private solution) dalam mengatasi persoalan eksternalitas. Pada dasarnya. Pencari keuntungan (rent seeker) bisa dari perusahaan itu sendiri atau dari pemerintah atau oknum memungkinkan membayar kurang dari 1 milyar agar peraturan sesungguhnya tidak diberlakukan. berkenaan dengan penanggulangan eksternalitas itu sama saja. perusahaan A yang mengeluarkan limbah yang merusak lingkungan. Sebagai contoh.24 § Bab 2: Barang Publik & Eksternalitas Praktek mencari keuntungan bisa juga berasal dari pemerintah sendiri secara sah misalnya memberlakukan proteksi berlebihan untuk barangbarang tertentu seperti mengenakan pajak impor yang tinggi dengan alasan meningkatkan efisiensi perusahaan dalam negeri. bukan hanya pemerintah saja yang perlu dan dapat mengatasi eksternalitas itu. Praktek mencari keuntungan ini membuat alokasi sumber daya menjadi tidak efisien dan pelaksanaan aturan-aturan yang mendorong efisiensi tidak berjalan dengan semestinya.

Jadi. melaksanakan. informasi seperti ini sulit didapatkan. kita harus menghitung segala untung ruginya secara cermat. melainkan pembatasan polusi hingga ambang tertentu. Adakalanya EPA langsung menetapakan batasan polusi yang diperbolehkan untuk suatu perusahaan. seperti telah disinggung di atas pemerintah . dan berbagai alternatif teknologi yang dapat diterapkan oleh industri yang bersangkutan. maka segala bentuk kendaraan bermotor harus dilarang oleh pemerintah. Namun kasus-kasus polusi umumnya tidak sesederhana itu. Contoh yang sederhana. Untuk menentukan ambang aman tersebut. sehingga tidak terlalu merusak lingkungan namun juga tidak menghalangi kegiatan produksi. Terkadang EPA mewajibkan pemakaian teknologi atau peralalatan tertentu untuk mengurangi polusi di pabrik-pabrik. Masalahnya. dan mengawasi berbagai regulasi yang dimaksudkan untuk melindungi lingkungan hidup. Jika polusi ini hendak dihapus sepenuhnya. Tuntutan para pecinta lingkungan untuk menghapuskan segala bentuk polusi. Pajak Pigovian dan Subsidi Selain menerapkan regulasi.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 25 Regulasi Pemerintah dapat mengatasi suatu eksternalitas dengan melarang atau mewajibkan perilaku tertentu dari pihak-pihak tertentu. yang dapat memadukan insentif pribadi/swasta dengan efisiensi sosial. Di semua kasus. yang biaya sosialnya jauh lebih besar daripada keuntungan pihak-pihak yang melakukannya. Dalam kasus ini pemerintah menggunakan regulasi atau pendekatan komando dan kontrol untuk melenyapkan eksternalitas tadi. Sebagai contoh. karena polusi merupakan efek samping tak terelakkan dari kegiatan produksi industri. dan hal ini tidak mungkin dilakukan. Di Amerika Serikat. demi memperoleh suatu peraturan yang baik dan tepat guna. Badan Perlindungan Lingkungan Hidup (EPA/Environmental Protection Agency) adalah lembaga yang diserahi wewenang dan tugas untuk merumuskan. Bentuk regulasi dibidang lingkungan hidup itu sendiri bisa bermacam-macam. untuk mengatasi kebiasaan membuang limbah beracun ke sungai. para pejabat pemerintah harus mengetahui spesifikasi dari setiap jenis/sektor industri. semua kendaraan bemotor sesungguhnya mengeluarkan polusi. pemerintah dapat menyatakannya sebagai tindakan kriminal dan akan mengadili serta menghukum pelakunya. untuk mengatasi eksternalitas pemerintah juga dapat menerapkan kebijakan-kebijakan yang didasarkan pada pendekatan pasar. yang harus diupayakan bukan penghapusan polusi total. sesungguhnya tidak mungkin terpenuhi. Sebagai contoh. dalam rangka mengurangi atau membatasi polusi.

padahal penurunan sama rata. Namun melalui penerapan pajak. akan memilih membayar pajak saja. adalah karena cara ini lebih efektif menurunkan polusi. dan sebaliknya memberi subsidi untuk kegiatan-kegiatan yang memunculkan eksternalitas positif. solusi manakah yang lebih baik? Para ekonom lebih meyukai penerapan pajak. sedangkan pajak Pigovian memberikan insentif kepada para pemilik pabrik untuk sebanyak mungkin mengurangi polusinya. polusi akan hilang. Mereka yakin penerapan pajak itu sama sekali tidak kalah efektifnya dalam menurunkan polusi. karena biaya penerapan pajak itu lebih murah bagi masyarakat secara keseluruhan. Andaikan ada dua pabrikpabrik baja dan pabrik kertas yang masing-masing membuang limbah sebanyak 500 ton per tahun ke sungai. Regulasi mewajibkan semua pabrik mengurangi polusinya dalam jumlah yang sama.000 untuk setiap ton limbah yang dibuang oleh setiap pabrik. karena hal itu lebih murah dan lebih mudah dilakukan daripada membayar pajak. lebih mampu (biayanya lebih murah) untuk menurunkan polusi dibanding pabrik lain (pabrik baja). Para ekonom umumnya lebih menyukai pajak Pigovian dari pada regulasi sebagai cara untuk mengendalikan polusi. maka pabrik kertas akan segera mengurangi polusinya. bukan merupakan cara termurah menurunkan polusi. EPA menilai limbah itu terlalu banyak. Jika keduanya dipaksa menurunkan polusi sama rata.26 Bab 2: Barang Publik & Eksternalitas dapat menginternalisasikan eksternalitas dengan menggunakan pajak terhadap kegiatan-kegiatan yang menimbulkan eksternalitas negatif. karena semua pabrik bangkrut atau memilih tidak beroperasi. Pajak yang khusus diterapkan untuk mengoreksi dampak dan suatu ekstenalitas negatif lazim disebut sebagai Pajak Pigovian (Pigovian tax). Regulasi itu langsung membatasi ambang polusi. Menurut pendapat Anda. maka operasi pabrik baja akan terganggu. karena pajaknya terlalu tinggi. Namun EPA juga harus hati-hati. dan beniat menguranginya. Besar kemungkinan salah satu pabrik (misalkan pabrik kertas). Ada dua pilihan solusi baginya. Alasan utama para ekonom itu memilih penerapan pajak.5. § Pajak Pigovian: EPA mengenakan pajak sebesar Rp. yakni Arthur Pigou (1877-1959). akan semakin banyak penurunan polusi yang akan terjadi. Untuk mencapai ambang polusi tertentu. sedangkan pabrik baja. Semakin tinggi tingkat pajaknya. yakni: § Regulasi: EPA mewajibkan semua pabrik untuk mengurangi limbahnya hingga 300 ton per tahun. mengambil nama ekonom pertama yang merumuskan dan menganjurkannya. EPA tinggal menghitung tingkat pajak yang paling tepat untuk diterapkannya. yang biaya penurunan polusinya lebih mahal. . Ini dikarenakan kapasitas dan keperluan setiap pabrik untuk berpolusi berbeda-beda.000.

RANGKUMAN § Dengan mempertimbangkan sifat rivalry dan excludability. Pendekatan komando dan kontrol tidak akan memberikan alasan atau insentif bagi pabrik-pabrik pencipta polusi untuk berusaha mengatasi polusi semaksimal mungkin. pajak Pigovian itu justru mendorong alokasi sumber daya mendekati titik optimum sosial. sehingga tidak seperti pajak-pajak lainnya. selain memberi pendapatan tambahan pada pemerintah. Pajak Pigovian tidak seperti itu karena pajak ini memang khusus diterapkan untuk mengatasi masalah ekstemalitas. Pajak Pigovian diterapkan untuk mengoreksi insentif di tengah adanya eksternalitas. Jadi. Berapapun target penurunan polusi yang diinginkan EPA akan dapat mencapainya dengan biaya termurah melalui penerapan pajak ini. Pajak Pigovian tidaklah sama dengan pajak-pajak lain. merupakan cara terbaik untuk menurunkan polusi. akan semakin sedikit pula pajak yang harus mereka bayar. yang nilainya lebih besar daripada pendapatan yang diperoleh pemerintah dan pajak tersebut. Sebaliknya. pajak akan memberikan insentif kepada pabrik-pabrik itu untuk terus mengembangkan teknologi yang ramah terhadap lingkungan. Sama halnya dengan kerja pasar yang mengalokasikan berbagai barang ke pembeli. Pajak umumnya juga menimbulkan beban baku berupa penurunan kesejahteraan ekonomis (turunnya surplus produsen dan surplus konsumen). yang paling sulit menurunkan polusinya atau yang dihadapkan pada biaya paling tinggi untuk menurunkan polusi (misalkan karena biaya alat penyaring polusinya sangat mahal). Para ekonom juga berkeyakinan bahwa penerapan pajak Pigovian. Akibat adanya eksternalitas. suatu barang dapat dikelompokkan kedalam empat kategori yaitu barang publik. karena semakin sedikit polusi yang mereka ciptakan. masyarakat harus memperhitungkan kesejahteraan pihak lain. pajak Pigovian ini juga meningkatkan efisiensi ekonomi. yang memberikan penilaian paling tinggi pajak Pigovian ini juga mengalokasikan hak berpolusi kepada perusahaan atau pabrik. pajak Pigovian secara langsung menetapkan harga atas hak berpolusi. Mereka akan terus terdorong menurunkan polusi. barang . Seandainya saja polusinya sudah berada di bawah ambang maksimal (misalkan 300 ton per tahun). maka perusahaan itu tidak akan membuang biaya lebih banyak agar polusinya dapat ditekan lebih rendah lagi. dimana kita mengetahui bahwa pajak pada umumnya akan mendistorsikan insentif dan mendorong alokasi sumber daya menjauhi titik optimum sosialnya.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 27 Pada dasarnya.

Terangkan perbedaan penyediaan barang pribadi dengan penyediaan barang publik karena kegagalan mekanisme pasar ? 6. Perbedaannya adalah bahwa pertukaran barang pribadi dalam mekanisme pasar tidak akan menghasilkan eksternalitas. Pertukaran barang pribadi dalam mekanisme pasar tidak akan menghasilkan eksternalitas. Dalam mengklasifikasikan barang publik dan barang pribadi. Terdapat beberapa perbedaan karakteristik antara barang pribadi dan barang publik. sedangkan pertukaran barang publik selain dapat menghasilkan manfaat eksternal juga akan dapat menyebabkan beban eksternal bagi pihak lain. Mengapa barang publik tidak disediakan secara ekslusif oleh pihak swasta? 3. Jelaskan faktor-faktor apa saja yang menyebabkan perbedaan karakteristik antara barang pribadi dan barang publik ? 5. barang publik lokal (yang sering disebut dengan congestible goods) dan barang dengan eksternalitas. Pada tahap ini. Jelaskan pengertian dari non rival dan nonexclucion tersebut ? 4. Pemilihan dengan pemungutan suara akan menggantikan transaksi jual beli yang terjadi di mekanisme pasar. Barang publik adalah barang-barang yang mempunyai dua sifat pokok yaitu Non rival dan Non exclucion. LATIHAN 1. Dengan mempertimbangkan sifat rivalry dan excludability tersebut suatu barang dapat dikelompokkan ke dalam empat kategori.28 Bab 2: Barang Publik & Eksternalitas § § § § pribadi. Perbedaan barang publik dengan barang pribadi juga dapat terjadi karena kegagalan suatu mekanisme pasar. Uraikan dan jelaskan karakteristik masing-masing jenis terutama sifat-sifat dasar yang dipertimbangkan dalam pembahasan aspek keuangan publik ? 2. Cara penyediaan barang publik dan alokasinya akan berbeda dengan cara penyediaan barang pribadi. dapat menggunakan gambar dengan Excludability dan Rivalry. proses politik akan menggantikan mekanisme pasar. Terangkan bagaimana suatu aktivitas ekonomi dalam pasar barang pribadi dikatakan efisien ? . sedangkan pertukaran barang publik selain dapat menghasilkan manfaat eksternal juga akan dapat menyebabkan beban eksternal bagi pihak lain.

Terangkan mengenai kurva permintaan barang publik ? 10. Apakah permasalahan dan kesulitan pemerintah dalam hal penyediaan barang publik? . Jelaskan pengertian Eksternalitas ? Jelaskan tujuan-tujuan yang dapat dicapai dari Eksternalitas ? 9.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 29 7. Apakah yang dimaksud dengan ungkapan “Free Rider” dan jelaskan problemnya ? 8.

PENENTUAN HARGA BARANG PUBLIK TUJUAN KEBIJAKAN HARGA Pada prinsipnya dapat dikatakan bahwa pemerintah suatu negara tidak akan menjual jasanya kepada masyarakat walaupun pemerintah mempunyai kewajiban untuk menyediakan jasa publik kepada masyarakat dengan tanpa dipungut bayaran. sebuah proses politik diperlukan untuk menentukan berapa jumlah barang publik yang harus disediakan serta bagaimana implikasinya terhadap distribusi biaya yang akan menjadi tanggung jawab para individu calon . Dalam banyak kasus. Namun demikian. Contoh yang paling nyata adalah dalam hal pengadaan jasa pertahanan nasional dimana masyarakat akan mendapatkannya secara gratis apabila mereka ingin memanfaatkannya. Dengan demikian tentunya seluruh masayarakat akan dapat memanfaatkan jasa ini. bukan berarti bahwa dalam rangka penyediaan jasa publik ini dapat dilakukan dengan tanpa menimbulkan biaya. Jasa ini disediakan dengan pelayanan yang sama kepada seluruh pengguna di wilayah pemerintahan tersebut.

diberikan secara gratis kepada para konsumennya. Pada prinsipnya. suatu perusahaan hanya akan mempertimbangkan manfaat yang diperoleh secara pribadi. Semua keterlibatan pemerintah ini tentunya ditujukan untuk mencapai penentuan harga yang efisien. Pada umumnya. PENENTUAN HARGA BARANG PUBLIK Dalam menentukan harga barang publik tentunya akan tergantung pada masing-masing tujuannya. dalam kasus ini pemerintah akan melibatkan diri untuk menjamin bahwa manfaat eksternal harus juga dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan jumlah barang yang akan dikonsumsi oleh individu. Dalam hal ini. pemerintah juga akan terlibat dalam penyediaan barang pribadi untuk memproteksi masyarakat dari penipuan (misalnya kebenaran iklan). Oleh karena itu. Dengan demikian. pemerintah mempunyai banyak pilihan yang berkaitan dengan keputusan penyediaan barang atau jasanya.32 Bab 3: Penentuan Harga Barang Publik pengguna jasa publik tersebut. pemerintah akan selalu terlibat dalam penyediaan barang dan jasa publik. walaupun hal ini tidak berarti bahwa setiap tindakan pemerintah pasti akan berhasil mengatasi problem tersebut. dijual dengan tingkat harga tertentu yang berbeda dengan harga pasar. maupun keseragaman kualitas jasa (misal pendidikan). pemerintah ingin meningkatkan efisiensi alokasi sumber daya maupun keadilan dalam distribusi pendapatan. Pertanyaan mendasar tentang mengapa pemerintah harus terlibat dalam kegiatan penentuan harga barang merupakan pertanyaan yang cukup sulit untuk dijawab. dapat dikatakan bahwa tujuan kebijakan harga oleh pemerintah akan mencakup tindakan-tindakan yang diperlukan agar pasar bekerja lebih baik. dalam usahanya untuk meminimalkan biaya ekonomi guna mencapai sasaran-sasaran yang diinginkan. akan selalu ada tujuan-tujuan baik ekonomi maupun non ekonomi yang dapat diikuti oleh pemerintah dengan cara melalui campur tangan. Dengan analogi yang sama. dapat dijual dengan harga pasar. 2. kepastian tersedianya jasa (misal jasa rumah sakit dan pos). termasuk memperbaiki arus informasi atau mengurangi unsur-unsur monopoli dan batasan-batasan dalam masuknya perusahaanperusahaan baru dalam pasar. . Oleh karena itu. Dengan keterlibatannya dalam penentuan harga barang publik. 3. yang diantaranya adalah: 1. dalam menentukan seberapa banyak suatu barang harus dibeli oleh individu-individu. sehingga kesempatan bahwa barang tersebut tersedia di pasar akan sangat kecil.

Keputusan penentuan harga oleh pemerintah ditujukan untuk memperbaiki alokasi sumber daya ekonomi pada sektor publik. untuk menentukan tingkat keseimbangan pasar barang pribadi. pemerintah seringkali menetapkan harga di bawah tingkat yang sebenarnya untuk memberikan perlindungan kepada konsumen barang tersebut. atau p = MC = MR. Dengan demikian. Sehingga. pemerintah akan ditekan oleh kekuatan politik untuk tidak mengambil keuntungan dari barang atau jasa yang dihasilkannya. Dalam mekanisme pasar yang bersaing sempurna. dimana p adalah price atau harga. pada tingkat equilibrium. apabila konsumen akan memaksimalkan kepuasannya. keputusan pemerintah ini menimbulkan ketidakefisienan atau terjadi pemborosan apabila dipandang dari ilmu ekonomi. meskipun keputusan memberikan secara gratis kepada masyarakat akan memaksimalkan penggunaan barang atau jasa oleh masyarakat. sehingga pemerintah tidak dapat menetapkan harga tertinggi. konsumen akan membeli barang-barang sampai tercapai kondisi equilibrium tersebut. Pemerintah hanya boleh mengenakan harga yang dapat menutup biaya total perusahaan-perusahaan pemerintah . Konsekuensinya adalah. berlaku hukum bahwa harga sama dengan biaya marginal (marginal cost) bagi konsumen dan sama dengan pendapatan marjinal (marginal revenue) bagi produsen. Pertanyaan yang akan muncul adalah apakah hukum ekonomi tersebut juga berlaku untuk barang atau jasa yang disediakan oleh pemerintah? Pada dasarnya. tugas pemerintah adalah menyediakan barang untuk kepentingan orang banyak dengan harga murah. tentunya cara ini akan menimbulkan biaya yang sangat tinggi dimana biaya tersebut harus ditanggung oleh pemerintah. Pemerintah tidak diharapkan untuk memperoleh keuntungan dari penyediaan barang yang dibutuhkan oleh masyarakat banyak itu. MC adalah marginal cost atau biaya marjinal dan MR adalah marginal revenue atau pendapatan marjinal. sekaligus merupakan tingginya biaya untuk menghasilkan barang tersebut oleh produsen.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 33 Masing-masing keputusan tersebut tentunya akan mempunyai konsekuensi yang berbeda beda. karena konsumen akan menilai barang atau jasa yang disediakan oleh pemerintah tersebut terlalu murah dan juga mudah diperoleh. Itulah sebabnya. Contoh tersebut menggambarkan kondisi yang tidak efisien dalam penyediaan barang dan jasa oleh pemerintah. seperti air minum dan listrik. Sebagai contoh. Contoh yang dapat digunakan adalah penyediaan public utilities oleh pemerintah. yang menggambarkan jumlah rupiah kesediaan konsumen untuk membayar atas barang yang dihasilkan oleh produsen. Dalam perekonomian. tingkat harga merupakan suatu tanda tingginya nilai.

kemudian konsumen akan membayar jumlah di atas nilai yang ditetapkan sebelumnya pada saat zero profit. Pemerintah akan menetapkan jumlah keuntungan maksimum. pupuk kimia dan obat pembasmi hama. Situasi penyediaan public utilities tersebut di atas tidak harus berlaku untuk seluruh barang dan jasa yang disediakan oleh pemerintah. perusahaan juga diijinkan untuk memperoleh keuntungan dalam jumlah tertentu. supaya tetap dapat berjalan tanpa mengalami kerugian. selain menghasilkan barang dan jasa sebanyak mungkin untuk mencukupi kebutuhan rakyat banyak. Perusahaan yang mengelola public utilities dan harus menjual produksinya tanpa memperoleh keuntungan sama sekali akan menghadapi permasalahan dalam ekspansi atau melakukan perluasan usaha. pendidikan dan kesehatan. kebijakan publik dapat digunakan untuk mengatur tata niaga dan harga atas produk pertanian1. seperti bahan makanan atau bahan mentah yang akan diolah menjadi barang jadi atau setengah jadi. Produk pertanian di banyak negara mempunyai posisi strategis dan erat kaitannya dengan produk non pertanian. Penentuan harga dengan metode terakhir adalah yang sebaiknya dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan penyediaan barang publik oleh pemerintah. mengingat tugas pemerintah adalah sebagai penyedia barang dan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat. misalnya mendorong produksi atau memelihara kestabilan. pemerintah akan mengarahkan perusahaan pada kondisi bahwa. sedangkan di lain pihak. Sektor pertanian juga mempunyai kaitan yang erat dengan kebutuhan jasa angkutan. konsumen tidak terlalu dibebankan pada tingkat harga yang terlalu tinggi. seperti alat-alat pertanian. IMPLEMENTASI PENENTUAN HARGA Kebijakan penentuan harga merupakan salah satu kebijakan yang dapat digunakan oleh pemerintah untuk mencapai tujuan-tujuan khusus. pemerintah berkewajiban membatasi keuntungan yang harus diperoleh oleh perusahaan-perusahaan tersebut. Dalam hal ini. . Sebagai contoh. Dalam kondisi ini. Dua pendekatan yang dapat dilakukan untuk melakukan analisis penyediaan produk pertanian adalah dengan menggunakan (1) kebijakan harga positif. Kajian-kajian harus dilakukan untuk memperoleh kebijakan yang tepat sasaran. artinya 1 Produk-produk pertanian merupakan barang primer.34 Bab 3: Penentuan Harga Barang Publik penyedia barang public utilities. tetapi produsen masih dapat melakukan perluasan usaha untuk menambah investasinya. artinya pemerintah di satu pihak melalui perusahaanperusahaan penghasil public utilities tetap diwajibkan menyediakan barang dan jasa publik.

Berkaitan dengan contoh produk pertanian di atas. Sehingga. apabila jumlah produk pertanian tersedia di gudang. fungsi penawaran dapat dinyatakan dengan: Q a = f ( P a. F. dan sebaliknya. Tentang jumlah barang yang ditawarkan akan tergantung dari tingkat elastisitas penawaran. maka yang dinyatakan tetap (ceteris paribus) adalah S. Dengan mengubah harga. T ) Dimana: Qa = jumlah barang A yang ditawarkan Pa = harga barang A S = jumlah input yang tersedia F = keadaan alam X = pajak atau subsidi atau keduanya T = tingkat teknologi. X dan T. S. yang berarti apabila barang yang ditawarkan harganya naik. Secara matematis. apabila peningkatan penawaran membutuhkan tenggang waktu. Hukum penawaran menyatakan bahwa jumlah yang ditawarkan akan meningkat apabila harga barang tersebut semakin tinggi (hal-hal lain tetap atau ceteris paribus). atau (2) kebijakan harga negatif yang berarti kebijakan harga yang ditujukan untuk mengurangi peningkatan produksi. peningkatan harga segera mendorong peningkatan penawaran produk tersebut. Fungsi Penawaran Fungsi penawaran menunjukkan hubungan antara jumlah barang yang ditawarkan dan berbagai tingkat harga dari barang tersebut. kurva penawaran merupakan garis miring dari bawah ke atas.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 35 kebijakan harga yang ditujukan untuk mendorong peningkatan produksi. pemerintah akan mempengaruhi jumlah produksi yang dihasilkan. maka jumlah yang ditawarkan akan meningkat. penyesuaian produksi akan mengikuti pola Cobweb theorem (sarang laba-laba) seperti digambarkan grafik sebagai berikut: . X. F. Namun. Dalam menggambarkan hukum penawaran.

36 Bab 3: Penentuan Harga Barang Publik Gambar 3. Secara garis besar. (2) peningkatan produksi pertanian secara total karena adanya perbaikan harga relatif komoditi pertanian . maka harga pasar akan turun menjadi P a2. karena fungsi permintaan tetap. petani akan terdorong menanam atas dasar harga tersebut dan akan menghasilkan Q a1 pada akhir periode tanam. Akan terjadi pergerakan sepanjang waktu ke arah titik perpotongan antara kurva D dan kurva S. Kebijakan ini akan dipakai sebagai alat untuk mempengaruhi komposisi produk pertanian. Karena terjadi peningkatan produksi di periode 2.1 D merupakan kurva permintaan dan S kurva penawaran. Syaratnya adalah apabila produsen cukup responsif terhadap insentif harga. Dengan memberikan jaminan harga yang tinggi. petani akan terdorong memproduksi sebesar Q a3 di akhir periode tanam berikutnya. Apabila pada periode tertentu harga pasar setinggi P a1. Dengan tingkat harga itu. Hubungan tersebut mengakibatkan tingkat harga akan cenderung mencapai equlibrium pada perpotongan kurva penawaran dan kurva permintaan. terdapat tiga tanggapan produksi terhadap perubahan harga yang dapat dianalisis sebagai berikut: (1) perubahan komposisi produksi pertanian karena perubahan harga relatif masing-masing komoditi pertanian secara individu. Kebijakan Harga Positif Analisis di atas menunjukkan bahwa sektor pertanian merupakan sumber kapital bagi pembangunan. Tetapi. produsen akan terdorong untuk mengurangi produksinya dan harga akan meningkat menjadi P a3. harga akan terkoreksi menjadi P a4. Kebijakan harga yang positif dapat berperan sebagai pendorong peningkatan produksi pertanian. Pada tingkat harga tersebut. para petani akan terdorong untuk meningkatkan produksi pangan.

sedangkan tanaman komersial memiliki elastisitas penawaran yang tinggi. Namun apabila faktor produksi. . misalnya setiap tanaman ditujukan untuk tujuan komersial. Berdasarkan hasil studi. Artinya produksi pertanian meningkat sejalan dengan adanya insentif harga. akan menunjukkan positif. akan tetapi juga ditujukan untuk ketersediaan pasar. untuk dapat menekan tingkat upah. Akan tetapi tanggapan kedua dan ketiga justru sangat inelastis atau bahkan negatif dengan adanya kenaikan harga. Namun demikian. Kebijakan ini juga diharapkan mampu mendorong perkembangan sektor industri dan jasa. Sektor ini menghendaki adanya harga pangan yang murah. maka produksi pertanian secara total dapat menurun. Banyak negara mengambil kebijakan sebaliknya untuk menekan keresahan masyarakat yang diakibatkan oleh tingginya harga pangan dan produk pertanian lainnya dengan melakukan kebijakan harga negatif. Pengecualian dapat terjadi. sehingga akan menghambat perkembangan produksi sektor industri dan jasa. Kenyataan ini menunjukkan bahwa tanaman yang merupakan kebutuhan sekunder masyarakat cenderung memiliki elastisitas penawaran yang rendah. kebijakan ini akan membuat biaya produksi sektor industri dan jasa lain juga tinggi. tingkat produksi menurun setelah diberlakukannya insentif harga. bukan dalam hal peningkatan produktivitas. seperti tanah. artinya persentase peningkatan produksi sama dengan persentase peningkatan pemasaran. Kebijakan Harga Negatif Kebijakan harga positif diharapkan dapat mendorong peningkatan produksi pertanian. karena hasil pertanian merupakan kebutuhan primer masyarakat (seperti makanan). karena produktivitas berkaitan erat dengan kondisi musim maupun faktor lain. baik untuk produksi pertanian secara keseluruhan maupun untuk marketable surplus. Respon yang diharapkan pada kondisi tersebut. harus diserap dari produksi komoditi lain. peningkatan produksi merupakan bentuk perubahan luas areal tanam. elastisitas penawaran komoditi yang dipasarkan akan sama dengan elastisitas produksi/output. apabila komoditi tanaman tidak dimaksudkan hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar atau kebutuhan sekunder. Hasil studi mengenai tanggapan produksi di negara berkembang menunjukkan bahwa tanggapan pertama dapat bersifat sangat elastis untuk jenis komoditi tertentu.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 37 dalam perbandingannya dengan harga komoditi sektor non pertanian. dan (3) peningkatan produksi pertanian yang dapat dipasarkan sebagai respon terhadap kenaikan harga komoditi pertanian (marketable surplus). Hal ini dapat dijelaskan. tenaga kerja dan kapital.

Kebijakan ini terkenal dengan istilah kebijakan penyangga (buffer stock policy). menjadi berkurang. maka pemerintah dapat mengenalkan program subsidi input yang dibarengi dengan penyuluhan peningkatan produksi pertanian secara insentif. jelas terdapat suatu konflik antara program bantuan harga dan program subsidi input. Di sinilah kewajiban pemerintah untuk melindungi kedua kepentingan tersebut agar konsumen dan produsen tidak menderita.38 Bab 3: Penentuan Harga Barang Publik Tetapi. dan produk pertanian pada khususnya. Dari uraian di atas. untuk mencegah agar produksi pertanian tidak merosot. program subsidi input lewat harga faktor produksi pertanian yang murah akan mendorong produksi pertanian sehingga harga pangan akan murah dan dapat mendorong perkembangan ekonomi lebih lanjut. Meskipun dengan menyisihkan anggaran ini akan mengakibatkan investasi di bidang lain. Di satu pihak. pemerintah menghadapi dilema kepentingan. sedangkan harga maksimum ditujukan untuk melindungi konsumen agar jangan sampai menderita karena harga yang terlalu tinggi. juga merupakan alternatif yang akan menjamin ketenangan masyarakat. para konsumen akan mengharapkan harga pangan – khususnya – murah. secara politis. kebijakan ini juga diarahkan agar swasta dapat berkembang dengan sendirinya sebagai akibat adanya dukungan harga pangan yang murah. Dengan demikian. para petani tidak terlalu dirugikan dengan rendahnya harga produksi pangan dan di lain pihak. Cara ini. dan di lain pihak. Harga dasar ditujukan untuk melindungi produsen agar harga produk di pasar tidak turun lebih rendah dari harga yang ditetapkan. program bantuan harga membuat harga pangan dan produk pertanian mahal dan hasilnya dinikmati para petani. pertumbuhan sektor industri dan jasa tidak terhambat. di satu pihak. Di satu pihak. Kebijakan penyangga dapat digambarkan dalam grafik sebagai berikut: . pelabuhan dan lainnya. Cara subsidi yang terakhir ini menyebabkan pemerintah harus menyisihkan sebagian anggarannya untuk membiayai subsidi. Langkah yang dapat ditempuh oleh pemerintah adalah dengan menentukan harga patokan berupa harga dasar (floor) dan harga maksimum (ceiling). Di lain pihak. para produsen selalu menginginkan agar hasil produksinya dapat terjual dengan harga yang layak. tetapi akan menghambat perkembangan ekonomi secara keseluruhan. Kebijakan Penyangga (Buffer Stock Policy) Dalam merumuskan kebijakan harga barang dan jasa publik pada umumnya. seperti jalan. jembatan.

Harga dapat saja bergerak lebih rendah dari P a2. bila ada paceklik. seperti kebijakan moneter. bila penawaran bertambah. maka pemerintah dapat mencegah naiknya harga komoditi dengan turut menjual produk pertanian ke pasar. Dengan demikian. Untuk melindungi konsumen. misal pada saat panen. sehingga kurva permintaan pasar bergeser kekanan menjadi D1 sampai memotong kurva penawaran S 1 tepat pada harga dasar P a2. keadaan keseimbangan tercapai pada harga P ao dan Q ao. Apabila dana operasi terbatas.2 Pada awalnya.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 39 Gambar 3. Keadaan sebaliknya dapat pula terjadi. Berhasil atau tidaknya kebijakan penentuan harga ini tergantung pada tersedianya dana untuk operasi (sering disebut operasi pasar). kebijakan penentuan harga perlu dukungan kebijakan lain. maka pemerintah dapat saja tidak mampu melindungi produsen. sedangkan harga cenderung merosot terus (dalam keadaan over supply). atau sebaliknya. misalnya bergeser dari S o menjadi S 1. dan harga cenderung menjadi turun. dalam situasi ini pemerintah turut membeli hasil panen. RANGKUMAN . kurva penawaran bergeser ke kanan. Untuk mencegah supaya harga turun tidak terlalu drastis. Kemudian.

Langkah yang dapat ditempuh oleh pemerintah untuk melindungi produsen dan konsumen adalah dengan menentukan harga dasar yang ditujukan untuk melindungi produsen agar harga produk di pasar tidak turun lebih rendah dari harga yang ditetapkan. Tetapi banyak negara mengambil kebijakan sebaliknya untuk menekan keresahan masyarakat yang diakibatkan oleh tingginya harga pangan dan produk pertanian lainnya dengan melakukan kebijakan harga negatif. sekaligus merupakan tingginya biaya untuk menghasilkan barang tersebut oleh produsen. Dalam perekonomian. tingkat harga merupakan suatu tanda tingginya nilai yang merupakan kesediaan konsumen untuk membayar atas barang yang dihasilkan oleh produsen. Harapan pemerintah. . adalah ingin meningkatkan baik efisiensi alokasi sumber daya maupun keadilan dalam distribusi pendapatan. Kebijakan ini akan dipakai sebagai alat untuk mempengaruhi komposisi produk pertanian. bukan berarti bahwa penyediaan jasa publik ini tanpa menimbulkan biaya. Kebijakan penentuan harga merupakan salah satu kebijakan yang dapat digunakan oleh pemerintah untuk mencapai tujuan-tujuan khusus. atau (2) kebijakan harga negatif yang berarti kebijakan harga yang ditujukan untuk mengurangi peningkatan produksi. Pemerintah terlibat dalam penyediaan barang dan jasa publik ini karena terjadinya kegagalan mekanisme pasar. Kebijakan harga yang positif dapat berperan sebagai pendorong peningkatan produksi pertanian. Kebijakan ini juga diharapkan mampu mendorong perkembangan sektor industri dan jasa. Kebijakan ini terkenal dengan istilah kebijakan penyangga (buffer stock policy). Keputusan penentuan harga oleh pemerintah ditujukan untuk memperbaiki alokasi sumber daya ekonomi pada sektor publik. misalnya mendorong produksi atau memelihara kestabilan. Namun demikian. dan harga maksimum yang ditujukan untuk melindungi konsumen agar jangan sampai menderita karena harga yang terlalu tinggi. artinya kebijakan harga yang ditujukan untuk mendorong peningkatan produksi. dengan keterlibatan dalam penentuan harga barang publik. pemerintah suatu negara tidak menjual jasanya kepada masyarakat. Dalam hal ini pemerintah menyediakannya kepada masyarakat tanpa harus membayar.40 § Bab 3: Penentuan Harga Barang Publik § § § § § § Secara umum. Dua pendekatan yang dapat dilakukan untuk melakukan analisis penyediaan produk pertanian adalah dengan menggunakan (1) kebijakan harga positif.

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 41 LATIHAN 1. Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi penawaran? 10. Terangkan langkah-langkah yang ditempuh oleh pemerintah dalam melindungi kepentingan konsumen dan produsen! . Mengapa pemerintah ikut terlibat dalam kegiatan penentuan harga barang? 3. Apa yang dimaksud dengan fungsi penawaran? Apa bunyi hukum penawaran tersebut? 8. Dalam kebijakan harga negatif. Terangkan bagaimana mekanisme pasar barang pribadi yang bersifat persaingan sempurna dalam menentukan tingkat keseimbangan? 5. Terangkan tindakan-tindakan apa saja yang dilakukan oleh pemerintah dalam mencapai tujuan kebijakan harga? 2. Sebutkan tiga tanggapan produksi terhadap perubahan harga! Jelaskan hasil studi mengenai tanggapan produksi tersebut di negara berkembang! 11. Jelaskan maksud dari kajian-kajian yang harus dilakukan untuk memperoleh kebijakan yag tepat sasaran sebagai perusahaan penghasil public utilitier? 6. terdapat suatu konflik antara program bantuan harga dan program subsidi input. Jelaskan yang dimaksud dengan “ceteris paribus”? 9. Jelaskan? 4. Uraikan mengenai keputusan penentuan harga tersebut oleh pemerintah. Sebutkan dan jelaskan pendekatan-pendekatan yang digunakan untuk melakukan analisis penyediaan produk pertanian! 7. Jelaskan konflik tersebut! 12.

terutama untuk melaksanakan fungsinya dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi.FUNGSI DAN AKTIVITAS PEMERINTAH DALAM PEREKONOMIAN FUNGSI DAN AKTIVITAS PEMERINTAH Pemerintah sangat diperlukan dalam perekonomian suatu negara. fungsi pemerintah dapat dikelompokkan sebagai berikut. Fungsi Distribusi . sehingga dapat meningkatkan standar kehidupan penduduk pada tingkat yang layak. Fungsi Alokasi Fungsi alokasi dalam kebijakan publik adalah fungsi penyediaan barang publik atau proses alokasi sumber daya untuk digunakan sebagai barang pribadi atau barang publik dan bagaimana komposisi barang publik ditetapkan. Dengan melihat berbagai kelemahan mekanisme pasar sebagaimana telah dibahas sebelumnya. 2. 1.

baik secara langsung atau tidak langsung. Suatu kebijakan publik.peraturan. tidak dapat diharapkan bahwa kesempatan kerja akan disediakan dalam kuantitas yang tepat. § Tugas memproteksi setiap anggota masyarakat dari ketidakadilan dan dominasi yang dilakukan oleh anggota lain dalam masyarakat. Aktivitas pemerintah. Fungsi stabilisasi Fungsi stabilisasi dalam kebijakan publik adalah penggunaan kebijakan anggaran sebagai alat untuk mempertahankan tingkat kesempatan kerja. seharusnya. pemerintah harus membebankan secara pro rata kepada pengguna. 3.44 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian Fungsi distribusi dalam kebijakan publik adalah penyesuaian atas distribusi pendapatan dan kekayaan untuk menjamin pemerataan dan keadilan. keterlibatan tersebut harus mempunyai tingkat yang minimal. Milton Friedman juga menyarankan pemerintah supaya membeli sumber daya yang digunakannya dalam pasar. misalnya pengenaan pajak dan pengeluaran publik. Pada saat pemerintah memproduksi barang atau jasa. dapat secara simultan diarahkan kepada ketiga tujuan tersebut di atas. dan bukan bertransaksi dengan pengguna. bukan mengendalikan/ mengatur sumber daya tersebut. stabilitas ekonomi dan laju pertumbuhan ekonomi. Pedoman aktivitas pemerintah yang dipromosikan oleh Milton Friedman adalah bahwa keterlibatan pemerintah harus dapat membuat dan memaksakan aturan-aturan umum yang mengatur perilaku para individu. laba yang diperoleh institusi sering tidak mencapai tingkat pembayaran kembali. § Tugas membentuk dan memelihara institusi publik agar memberi manfaat yang tinggi serta kesempatan kerja kepada masyarakat1. misalnya hanya sebatas penyertaan modal saja. Dengan demikian. hanya 1 Karena sifat dari institusi publik. Permasalahan utama yang muncul adalah bagaimana merancang kebijakan anggaran sehingga dengan tujuan yang berbeda-beda tersebut akan dapat dicapai secara lebih terpadu. dengan memperhitungkan akibat kebijakan pada perdagangan dan neraca pembayaran. . Dalam The Wealth of Nations. Adam Smith mencatat empat fungsi ‘pengoreksi’ yang dapat dijalankan oleh pemerintah yakni: § Tugas memproteksi suatu kelompok masyarakat dari pelanggaran dan invasi yang dilakukan oleh kelompok masyarakat lainnya. Apabila pemerintah memutuskan untuk campur tangan dalam aktivitas individu. § Tugas mempertemukan biaya yang diperlukan untuk mendukung peraturan.

3. Alasan Keterlibatan Pemerintah Dalam Ekonomi Dalam situasi tertentu. Kondisi inilah yang menyebabkan adanya suatu intervensi pemerintah dalam operasi pasar bebas. seperti pertahanan nasional dan penerangan jalan. Terdapat beberapa barang publik yang bersifat non rival dan non excludable. negara dapat mencoba turut campur mengatasi permasalahan ini. Tanpa intervensi pemerintah. dalam mendanai. suatu masyarakat dapat saja memilih alokasi yang tidak efisien atas dasar kesetaraan atau kriteria lainnya. 5. Kegagalan pasar juga berhubungan dengan permasalahan dari seleksi yang tidak menguntungkan dan bahaya moral ketika pembeli atau penjual bertindak secara eksklusif atas dasar mencari keuntungan bagi dirinya sendiri. pasar akan memproduksi barang publik tersebut secara tidak proposional. Namun demikian. mengatur dan menyediakan barang atau jasa secara gratis. Konsumsi atau produksi barang/jasa publik yang mungkin menghasilkan suatu akibat eksternal (positif atau negatif) kepada masyarakat yang tidak tercermin dalam harga barang. Informasi yang tidak simetris dan tidak sempurna yang mungkin mengarah pada penilaian yang salah atas barang dan jasa publik. 2. 4. yang membuat tidak mungkin membebankan biaya penyediaannya kepada para pengguna. Tidak bisa bergeraknya sumber daya yang produktif. Kegagalan Pasar 1. dapat membantu mencegah pencapaian alokasi sumber daya yang efisien. terutama tenaga kerja. Untuk itu. . Terdapat dua argumen mengenai bagaimana perlunya intervensi pemerintah yaitu (1) kegagalan pasar dan (2) penekanan pada aspek keadilan. Hal ini menyebabkan kegagalan pasar. tergantung pada apakah eksternalitas ini baik atau buruk. mekanisme pasar akan mengarah pada alokasi sumber daya yang efisien yang timbul pada saat tidak seorangpun akab dapat dipuaskan secara lebih baik dengan tanpa menyebabkan orang lain menderita kerugian (sering disebut efisiensi Pareto).Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 45 berperan sebagai last resort. dan dengan demikian akan menyebabkan penawaran dan permintaan yang tidak tepat.

Dengan demikian. Data empiris di seluruh dunia secara umum menyarankan bahwa peningkatan keadilan memberikan kontribusi positif pada pertumbuhan ekonomi yang tinggi. meningkatnya kejahatan dan eksternalitas negatif yang akan mempengaruhi pertumbuhan dan keadilan sosial.46 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian Aspek Keadilan 1. perlindungan hak asasi. Kepedulian secara luas atas kebutuhan mengatasi kemiskinan secara lebih serius harus menjadi perhatian oleh pemerintah. Lebih lanjut dapat dikemukakan bahwa peran pemerintah yang berkenaan dengan keterlibatannya dalam perekonomian adalah sebagai peran penyedia (provider role) dan peran kemitraan (partnership role). pemberdayaan dan proteksi perlu difasilitasi oleh pemerintah. pembangunan yang lebih cepat. Sebagai peran penyedia (Provider Role). dan memberikan kontribusi untuk mengurangi ketidakadilan melalui aktivitas yang sebetulnya merupakan tanggung jawab pemerintah (seperti rumah sakit umum dan sekolah yang dananya dari swasta). pemberdayaan dan proteksi. Ketiganya merupakan dimensi pokok dari kemiskinan yang tidak dimiliki secara eksklusif oleh sektor swasta. kredit. 3. Ketidakadilan sering menghasilkan situasi yang tidak aman. Peranan sektor swasta dan kebutuhan kemitraan dalam kesempatan. Tugas ini berhubungan dengan penyediaan kesempatan. tidak semua fungsi mensyaratkan kehadiran pemerintah sebagai penyedia barang atau jasa publik dimana masih terdapat beberapa diantaranya yang difasilitasi oleh peraturan dan penciptaan ruang gerak yang tepat 2 . dan stabilitas nasional. penyelesaian konflik. dan sebagainya). Penekanan pada aspek keadilan bukan berarti bahwa hanya negara yang harus atau dapat memberikan kontribusi dalam rangka menekan kemiskinan. Namun demikian. sektor swasta dapat berperan secara aktif dalam menciptakan kesempatan ekonomi (seperti penciptaan lapangan kerja. saat sekarang menjadi pertanyaan publik berkaitan dengan tersedianya teknologi masa kini. 2. tambang dan lain-lain. 2 Monopoli yang alami dalam sektor tertentu seperti energi. mempromosikan tambahan manfaat kepada anggota masyarakat (erat hubungannya dengan produsen dan pekerja swasta). keadilan. lingkungan yang bersih. 4. 5. dan berkurangnya kemiskinan. pemerintah harus menyediakan barang publik untuk menjamin stabilitas ekonomi makro. secara nasional dan global. .

para ekonom berpendapat bahwa kebijakan publik berakibat perekonomian tidak dalam kondisi pareto optimal. . Sayangnya manfaat yang tinggi tersebut harus dibayar secara lebih mahal. baik secara langsung maupun secara tidak langsung. suatu kebijakan publik tentang pengelolaan sumber daya alam oleh pemerintah akan memberi manfaat yang lebih tinggi kepada masyarakat dibandingkan dengan apabila pengelolaan tersebut dilakukan oleh sektor swasta. Sebagai contoh. pekerja atau konsumen? Dan siapa juga yang menerima tanggung jawab akibat adanya pajak penjualan? Konsumen atau pekerja? Inilah yang dimaksud dengan true incidence dari kebijakan. pemerintah lebih banyak dibutuhkan dalam perannya sebagai regulator dari mekanisme pasar dan sebagai fasilitator dari lingkungan kelembagaan dan pengaturan yang kondusif atas pembangunan sektor swasta. AKTIVITAS PEMERINTAH DALAM PEREKONOMIAN Tingkat konsumsi/produksi barang dan jasa oleh masyarakat dapat dirubah oleh kebijakan publik. tetapi kesempatan kerja total mungkin turun sebagai akibat dari timbulnya kebijakan ini. Diakui secara luas bahwa baik pemerintah maupun sektor swasta tidak akan dapat berfungsi secara tepat tanpa berfungsinya peran kemitraan kedua sektor tersebut secara bersamaan. Pertanyaannya adalah siapa yang memperoleh manfaat dan siapa yang menanggung beban dari suatu kebijakan distribusi tertentu? Siapa yang menanggung beban atas akibat diterapkannya kebijakan pajak penghasilan badan? Apakah kepada pengusaha. pembangunan infrastruktur dasar dan perlindungan dari risiko dan kerugian (misalnya asuransi). Sebagai contoh 3 . pemerintah dapat menjadi mitra swasta dalam penyediaan peraturan. Kekhususan ini akan berakibat pada sejumlah produktivitas/efisiensi yang hilang/berkurang jika terjadi perubahan dari kondisi yang relatif baik kepada kondisi yang baik. Isu inilah yang disebut dengan internerational transfer. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa pengelolaan sumber daya alam cenderung mengarah pada kondisi yang spesifik. Kebijakan publik dapat berpengaruh terhadap distribusi pendapatan nyata. Dimungkinkan adanya opportunity cost dalam hubungannya dengan efisiensi dalam merubah distribusi pendapatan.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 47 Sedangkan sebagai peran kemitraan (Partnership Role). yakni memindahkan alokasi hak kekayaan. 3 Dalam contoh ini. kebijakan dalam upah minimum akan menyebabkan penerimaan upah lebih tinggi kepada pekerja. Beberapa kebijakan secara aktual akan menggeser distribusi pendapatan antara generasi sekarang dan generasi mendatang. Pada masa sekarang.

Kondisi ini menggambarkan adanya hubungan antara permintaan dan penawaran atas barang tersebut. Dalam kondisi ini. Dalam kasus ini. seperti misalnya pelayanan publik yang diberikan oleh pemerintah. Perbedaan yang mendasar antara barang pribadi dan barang publik adalah.48 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian FUNGSI ALOKASI Latar Belakang Adanya Fungsi Alokasi Dilihat dari fungsi alokasi. sedangkan barang publik. sehingga pemerintahlah yang harus bersedia memproduksi barang publik tersebut. Dalam 4 Sistem mekanisme pasar merupakan suatu transaksi antara konsumen dan produsen secara individu. . Contohnya adalah jika seseorang membutuhkan pakaian. Beberapa alasan yang mendasari kemungkinan tersebut adalah karena: 1. maka pakaian yang sama tidak akan tersedia untuk orang lain. dengan cara yang sama dapat diproduksi oleh perusahaan swasta dan dijual kepada pemerintah atau dapat juga diproduksi secara langsung oleh pemerintah. sistem pasar akan terjadi melalui transaksi antara konsumen dan produsen secara individual dan sukarela. Seringkali mekanisme pasar berfungsi. Untuk barang-barang pribadi (private goods). Kebutuhan yang dirasakan oleh seseorang akan pakaian tentunya akan sangat berbeda dengan kebutuhan pakaian yang dirasakan oleh orang yang berbeda. namun kadangkala tidak efisien. Sebagai akibat dari kegagalan mekanisme pasar yang lain dimana proses politik akan menggantikan mekanisme pasar. termasuk diantaranya adalah jenis dan kualitas barang yang perlu disediakan oleh pemerintah. 2. barang pribadi dapat diproduksi dan dijual kepada pembeli baik oleh swasta maupun oleh perusahaan pemerintah. pemerintah harus menjamin bahwa proses politik dalam pengambilan keputusan penyediaan barang dan jasa publik akan dapat terjadi secara efisien. Permasalahan yang mungkin timbul dalam fungsi alokasi adalah berapa banyak barang publik yang harus disediakan oleh pemerintah. pemerintah harus mengambil tindakan apabila mekanisme pasar tidak berjalan. Apabila seseorang membeli satu set pakaian. suatu barang publik – yang berbeda sifatnya dengan barang pribadi – tidak dapat disediakan melalui sistem mekanisme pasar 4 . Sebagai akibat dari kegagalan mekanisme pasar dimana hubungan yang seharusnya terjadi antara produsen dan konsumen dalam suatu mekanisme pasar tidak berjalan. Sistem pasar menjadi tidak berlaku jika diterapkan pada barang-barang publik (social goods).

penggunaan atas jalan umum. kemudian produsen akan menyediakan barang yang paling diinginkan oleh konsumen. manfaat yang tersedia bagi orang lain tidak akan berkurang. Harga atas suatu komoditi sudah disepakati atau harus identik untuk semua pembeli dan penjual. Untuk barang seperti pakaian. sedangkan produsen akan menjual barang dengan harga yang setingi-tingginya. Dalam kondisi seperti ini tentunya diperlukan campur tangan dari pemerintah. Berbeda halnya dengan barang publik. Akan banyak keuntungan yang didapat – terutama oleh produsen – apabila membatasi konsumen yang ikut dalam sistem pasar dengan mensyaratkan mereka untuk mau membayar. Mekanisme pasar akan terjadi apabila ada suatu permintaan dari konsumen. Konsumen akan berusaha mendapatkan barang yang mereka inginkan dengan harga yang serendah-rendahnya.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 49 kasus ini akan terjadi suatu kondisi bahwa konsumsi terhadap barang tersebut bersifat bersaing. Di sini diasumsikan bahwa terdapat adanya hak kepemilikan eksklusif terhadap semua sumber daya produktif yang tersedia di pasar dan tidak ada individu yang mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi harga atas komoditi atau produk yang diperjualbelikan. Konsumen biasanya tidak bersedia untuk membayar pemanfaatan atas barang publik. karena manfaat yang akan dirasakan oleh setiap orang akan sama saja. Akan berbeda halnya jika kebutuhan seseorang tersebut terhadap. mekanisme pasar tidak akan berfungsi secara sempurna. Akibatnya tidak akan ada pembayaran yang dilakukan secara sukarela. aplikasi dari prinsip hubungan permintaan dan penawaran seperti ini menjadi suatu pemecahan yang efisien. Kebutuhan atas barang ini akan dirasakan secara bersama-sama dan begitu pula terhadap manfaat yang dihasilkan dengan tersedianya jalan umum tersebut tentunya akan dapat dinikmati oleh banyak orang (tidak untuk satu konsumen). baik jika dia membayar ataupun tidak. manfaat yang dirasakan masing-masing individu akan semakin tidak berarti apa-apa. Hal ini berarti tidak ada distorsi . Dari ilustrasi tersebut dapat dipahami bahwa mekanisme pasar akan sangat cocok untuk menggambarkan penyediaan barang-barang pribadi. misalnya. Efisiensi Pasar dan Kegagalan Pasar Dalam suatu sistem ekonomi pasar yang bersaing sempurna. Apalagi jika semakin banyak orang yang menggunakan barang tersebut. kriteria efisien akan dapat digunakan untuk mengevaluasi alokasi sumber daya. Dalam hal ini dapat dilihat bahwa apabila seseorang mengambil manfaat dari adanya jalan umum tersebut. Mekanisme pasar tersebut akan membawa konsumen dan produsen ke suatu titik harga tertentu.

sistem ekonomi pasar akan dapat menjamin penggunaan sumber daya secara efisien dalam penyediaan barang pribadi. Sifat Tidak Bersaing (Non Rivalry) Sifat tidak bersaing berarti bahwa barang tersebut dapat dikonsumsi sebanyak-banyaknya oleh seseorang tanpa akan mengurangi jumlah barang yang tersedia untuk dikonsumsi oleh orang lain. misalnya terhadap sejumlah barang tertentu yang menjadi preferensi konsumen. Alasan pertama adalah bahwa pemerintah diharapkan dapat menjamin pasar agar dapat beroperasi secara efisien. Kedua sifat tersebutlah yang kemudian akan mengakibatkan kegagalan pasar dalam memproduksi secara efisien. akan mengakibatkan konsumen kekurangan informasi atau dapat tersesatkan. Efisiensi produksi pemerintah di sini akan menjadi fokus pembahasan selanjutnya. Di sinilah kemudian terjadi alasan perlunya aturan pemerintah guna menjamin efisiensi dalam sistem ekonomi pasar. sehubungan dengan pemenuhan kriteria efisien. Tentu saja. pandangan ini merupakan gambaran paling ekstrim dari sistem pasar. bahwa sifat tidak bersaing bukan berarti bahwa manfaat yang diterima oleh . dan hal ini berarti bahwa informasi yang dimiliki oleh kosumen dan produsen tidaklah sama. Barang Publik Istilah barang publik digunakan untuk menggambarkan barang atau jasa apapun yang disediakan oleh pemerintah. Alasan kedua. mulai dari lampu jalan sampai dengan keamanan nasional. sehingga pasar dapat menjadi ajang persaingan yang tidak sempurna. Bila semua kondisi tersebut telah terpenuhi. terutama dalam hal biaya produk dan kualitas produk yang dihasilkannya. Para ekonom secara lebih spesifik menjabarkan istilah barang publik sebagai barang-barang yang mempunyai sifat tidak bersaing (non rivalry) dan tanpa pengecualian (non excludability). terutama dalam hal persaingan. misalnya. Namun perlu dipahami. Dalam kenyataannya banyak kesulitan yang terjadi.50 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian pasar yang akan mengakibatkan adanya perbedaan harga antara yang diterima oleh penjual dengan yang dibayarkan oleh pembeli. namun pasar gagal dalam memproduksinya. Selain itu. Alasan ketiga terletak pada hubungan rasional dari produksi pemerintah atas barang-barang publik. pemerintah sendiri seharusnya bekerja keras untuk mencapai tingkat efisiensi yang sama dengan pihak swasta. masih banyak permasalahan lain yang tidak dapat dipecahkan oleh mekanisme pasar. Distorsi yang disebabkan oleh iklan.

1 Sifat Tanpa Pengecualian (Non Excludability) Dimensi kedua dari barang publik adalah sifat tanpa pengecualian. akan ada kemungkinan sifat bersaing dalam penggunaan barang publik tersebut. Misalnya tempat rekreasi. seseorang dapat terlindungi dari gelapnya malam. sifat tidak bersaingnya tinggi. jalan lokal. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan ketidakmampuan dalam mencegah seseorang yang tidak memberikan kontribusi (tidak membayar) untuk ikut mengkonsumsi barang publik. sama halnya dengan sifat tidak bersaing. tanpa mengurangi kebutuhan orang lain atas lampu yang sama. terdapat garis spektrum yang menggambarkan tinggi rendahnya sifat tanpa pengecualian Rendah Tinggi Keamanan Lampu Jalan . pemerintah mungkin saja menarik bayaran dari para pengunjung. tidak menutup kemungkinan sifat tanpa pengecualian ini dihilangkan. selama biaya yang dikeluarkan untuk membayar staf penjaga tempat rekreasi tersebut tidak lebih besar dari pendapatan yang diterima. orang yang tinggal di sekitar wilayah lampu tersebut akan lebih merasakan manfaatnya. Barang publik seperti lampu jalan dan keamanan. Dari berbagai macam barang publik. A tidak memberi kontribusi dengan membayar pajak.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 51 setiap konsumen adalah sama. Semakin banyak orang dalam suatu wilayah. Rendah Tinggi Jalan Lokal Pendidik an Pelayanan Udara Kesehata bersih n Gambar 4. pelayanan kesehatan dan pendidikan. Oleh karena itu. Namun demikian. karena apabila pemerintah mencegah dengan cara tidak membangun jalan di sekitar rumahnya. terdapat sifat tidak bersaing yang rendah dalam konsumsinya. Misalkan. untuk barang publik seperti. maka hal tersebut akan dapat merugikan orang-orang di sekitarnya yang membayar pajak. jika biaya untuk mendapatkan kontribusi konsumen tidak lebih besar dari manfaatnya. terdapat barang-barang publik yang mempunyai sifat tidak bersaing dengan kadar yang tinggi dan rendah. akan sulit bagi pemerintah untuk mencegah orang tersebut agar tidak menggunakan jalan umum. Namun. dibandingkan dengan orang yang tinggal lebih jauh dari wilayah lampu tersebut. Sebaliknya. Misalnya konsumsi atas lampu jalan.

3. yaitu A dan B. dan 4.2 Barang Publik Versus Barang Pribadi Gambar 4. Perpotongan antara kurva SS dan Dt menentukan titik ekuilibrium harga P1 dan titik ekuilibrium kuantitas Qt. Gambar 4. Kurva permintaan pasar Dt berhimpitan dengan kurva permintaan Db. Kurva Permintaan. A dapat masuk ke dalam pasar sehingga kurva permintaan pasar Dt berbelok. Semua titik-titik dalam kurva permintaan pasar Dt merupakan gabungan dari titik-titik harga dan kuantitas yang diminta dalam kurva permintaan A dan B. Kurva penawaran pasar SS memperlihatkan biaya marginal (MC) yang dapat dibebankan kepada A dan B secara bersama-sama untuk berbagai output dari barang pribadi. selama tingkat harga masih cukup tinggi.4 di bawah ini menguraikan tentang perbedaan antara barang publik dan barang pribadi dalam suatu masyarakat yang diasumsikan hanya terdiri dari dua kelompok individu. selanjutnya pada saat tingkat harga sudah cukup rendah. Kurva permintaan pasar (Dt) diperoleh dengan menambahkan secara horizontal kurva permintaan A (Da) dan kurva permintaan B (Db). Dengan catatan bahwa Qt merupakan penjumlahan dari Qa (barang yang dibeli oleh A) dan Qb (barang yang dibeli oleh B).3 mewakili barang pribadi yang mempunyai sifat bersaing dan pengecualian yang sangat tinggi. Penawaran dan Equilibrium Pasar Atas Barang Pribadi Harga S = MC P1 E Dt Db .52 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian Tempat Parkir Tempat Rekreasi Perpustakaan Udara Bersih Pendidikan Jalan Lokal Gambar 4.

individu A tidak lagi bersedia untuk membayar atas barang publik tersebut. Alasan atas kondisi ini. meskipun A memiliki mobil sedangkan B tidak. karena barang publik mempunyai sifat tidak bersaing dan tanpa pengecualian.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 53 Gambar 4. Kurva Permintaan. dalam hal ini perbedaan terjadi bukan pada kuantitas yang dikonsumsi oleh masing-masing orang. karena pada titik tersebut A memperoleh manfaat yang maksimum.3. sehingga barang yang dikonsumsi oleh A sama jumlahnya dengan barang yang dikonsumsi B. Gambar 4. tapi lebih kepada perbedaan dari manfaat marjinal dari setiap konsumen atau harga yang dibayarkan oleh masing-masing konsumen.4 tampak bahwa terdapat suatu titik yang menunjukkan maksimum harga yang bersedia dibayar oleh individu A (PA). baik manfaat yang diterima A lebih besar maupun lebih kecil.4 memperlihatkan pola yang sama namun untuk barang publik. Di atas harga PA. dikarenakan manfaat marjinal atas barang tersebut masih terus diterima oleh B. Situasi yang berbeda terjadi di sini. dalam kurva 4. karena A tidak lagi memperoleh tambahan manfaat atas barang tersebut. Misalnya A sebagai warga kota Jakarta dapat menggunakan seluruh jalan kota maka demikian juga halnya dengan B. Oleh karena itu. Berdasarkan karakteristik dari barang publik tersebut. Sementara individu B masih bersedia membayar sampai ke tingkat harga PB atas barang publik yang sama. Penawaran dan Equilibrium Pasar Atas Barang publik Harga S = MC P1 PB E Dt PA .

seperti: jalan umum. pendidikan. seperti makanan. Maka total harga yang bersedia dibayar oleh pasar. dengan asumsi seluruh sumber daya yang ada digunakan. individu B bersedia membayar lebih banyak lagi untuk penyediaan jalan raya. Gambar 4. Sebagai contoh. adalah total harga yang bersedia dibayar oleh seluruh individu dalam pasar (P1=PA+PB). karena mungkin hanya itu kebutuhannya. pakaian. Penyediaan Barang Publik Ketika pemerintah melakukan fungsi penyediaan barang publik.54 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian Gambar 4. dan lain-lain. Sementara di lain pihak. Kurva Kemungkinan Produksi . individu A hanya bersedia membayar dengan harga cukup.4. keamanan nasional dan lain-lain. sebagai kompensasi atas kebutuhannya terhadap jalan tersebut. Sedangkan barang publik adalah barang-barang yang tersedia tapi tidak untuk dijual di pasar. dalam penyediaan jalan raya. Barang pribadi adalah barang-barang yang diproduksi untuk dijual dan tersedia di pasar. tampak bahwa kurva permintaan pasar (Dt) berbelok pada tingkat kuantitas barang publik yang memberikan tingkat manfaat maksimum pada A – sehingga A tidak bersedia membayar harga tambahan lagi. Di atas harga tersebut (PA) tambahan barang publik dibayar oleh individu B. trade off dari penyediaan barang publik oleh pemerintah dengan penyediaan barang pribadi melalui mekanisme pasar dapat digambarkan dengan kurva kemungkinan produksi. Masih dalam gambar 4.4.5 menunjukkan alternatif kombinasi antara barang publik dan barang pribadi.

maka kualitas keamanan yang disediakan pemerintah akan meningkat dan masyarakat akan merasa lebih aman. Peningkatan jumlah barang publik yang tersedia di pasar dalam satu tahun dari OG1 ke OG2 (titik B) akan meminta penurunan dari jumlah barang pribadi di pasar dari OX1 ke OX2. Permasalahan yang timbul kemudian adalah tentang jenis dan kualitas barang seperti apa yang harus disediakan oleh pemerintah. atau dengan kata lain meminta pengorbanan lebih besar dari MX1 ke MX2.5 Titik A dalam gambar menunjukkan bahwa MX1 unit adalah jumlah barang pribadi yang dikorbankan oleh masyarakat sehingga pemerintah dapat menyediakan barang publik sejumlah OG1.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 55 Gambar 4. Penyediaan Barang melalui Anggaran Sebagaimana telah diterangkan dalam bab sebelumnya. jika diumpamakan peningkatan jumlah barang publik per tahun merupakan respon pemerintah atas peningkatan permintaan masyarakat terhadap keamanan nasional. Masalah lain yang juga . Namun di sisi lain. pengorbanan dari pihak masyarakat terjadi dengan menurunnya kemampuan konsumsi atas barang-barang pribadi. Sumber daya yang dikorbankan tersebut adalah harga yang harus dibayar oleh masyarakat atau pajak yang diminta oleh pemerintah agar barang publik dapat tersedia. Pengorbanan masyarakat merupakan harga sumber daya yang seharusnya digunakan untuk memproduksi barang pribadi digunakan oleh pemerintah untuk dapat menyediakan barang publik. Jika untuk memenuhi kebutuhan keamanan nasional tersebut pemerintah harus meningkatkan pajak penghasilan. bahwa dalam rangka penyediaan barang publik diperlukan adanya campur tangan pemerintah.

masyarakat akan merasa enggan untuk ikut serta dalam proses pengambilan keputusan tersebut. Keterbatasan Jangkauan Manfaat atas Barang Publik Pada dasarnya. ada . karena biaya yang mereka keluarkan akan lebih besar dari manfaat yang akan mereka terima. masyarakat dalam sistem yang demokratis akan terhindar dari apatisme anggotanya dalam proses pengambilan keputusan politik. barang publik disediakan bagi semua orang yang mempunyai kepentingan atas barang tersebut. Proses tersebut harus diawali dengan memberikan pemahaman kepada anggota masyarakat tentang pentingnya memberikan suara mereka.56 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian timbul adalah ketika pemerintah perlu menetapkan jumlah uang yang harus ditarik dari masyarakat untuk menyediakan barang publik tersebut. apabila suatu usulan kebijakan tidak berpengaruh langsung atau kecil pengaruhnya . Para pemberi suara kemudian akan dihadapkan pada suatu pilihan di antara beberapa usulan pengeluaran publik berkaitan dengan sumbangan pajak mereka. Oleh karena itu. Namun dalam prakteknya. berkampanye. Dasar pemikiran tentang komunikasi efektif antara pemerintah dan masyarakat mengikuti logika kepentingan setiap individu dalam masyarakat. Secara normatif. menyumbang bahkan sampai keluar dari pekerjaannya – jika mereka merasa bahwa ada akibat langsung dari kebijakan politik pemerintah kepada mereka. Agar dapat berfungsi sebagai mekanisme yang efisien dalam mengungkapkan preferensi. diperlukan proses politik untuk mengungkapkan preferensi masyarakat kepada pemerintah tentang barang publik apa yang perlu disediakan dan melengkapinya dengan sumber-sumber pembiayaan yang dibutuhkan untuk membayar barang-barang publik tersebut. banyak anggota masyarakat merasa bahwa biaya yang mereka keluarkan untuk menyatakan tuntutan mereka seringkali lebih besar dari manfaatnya. maka proses pemungutan suara harus mengaitkan keputusan perpajakan (sebagai alat pendanaan) dengan keputusan anggaran pengeluaran atau belanja publik. Pilihan para pemilih akan tergantung pada pengetahuan mereka sendiri serta kesadaran mereka bahwa orang lain juga menyumbang sesuai dengan rencana perpajakan yang dianut. Namun dalam prakteknya. Setiap orang akan dengan senang hati ikut terlibat dalam proses pengambilan keputusan politik – mulai dari sekedar memberikan suara. karena adanya mekanisme mengikuti keputusan suara terbanyak dalam proses yang demokratis. Hal ini diakibatkan tidak cukupnya informasi yang disampaikan oleh masyarakat kepada pemerintah. Pengungkapan preferensi masyarakat kepada pemerintah dapat dilakukan melalui proses pemungutan suara. Sementara itu.

karena akan lebih jelas manfaat yang dapat mereka peroleh bila dibandingkan dengan biaya yang mereka keluarkan. bagi yang sedikit memberikan berkontribusi atau bahkan tidak sama sekali. kontribusi seseorang baik itu berupa waktu. mereka tidak akan merasa keberatan membayar untuk dapat menggunakan barang publik tersebut. Berpartisipasi atau tidak berpartisipasi akan menjadi sangat terlihat. seorang pengguna jalan tol dalam kota akan masuk dari pintu terdekat dengan tempat dia berangkat dan keluar dari pintu terjauh. uang.. dari manapun dia masuk dan dimanapun dia keluar biaya yang harus dikeluarkan adalah sama. Tentunya akan lebih mudah bagi pemerintah lokal untuk menarik kontribusi dari para pengguna barang publik yang disediakan (seperti tiket masuk tempat rekreasi. sehingga akan lebih memperkecil timbulnya masalah free rider. dia akan berpikir dari pintu tol mana dia harus masuk dan di pintu tol mana dia harus keluar.2. untuk setiap tambahan pintu tol yang dia lewati. sementara barang publik berskala lokal lebih tepat disediakan oleh pemerintah lokal atau pemerintah daerah. Sebagai contoh. atau retribusi pasar) dengan tarif ataupun biaya yang rendah. tapi paling dekat dengan tempat tujuannya. dalam suatu kelompok yang kecil. harus ada tambahan biaya yang dikeluarkan.1. dan 5. seperti yang terlihat pada gambar 5. maupun pemberian suara akan dapat menciptakan perubahan atas suatu keputusan. selama tidak ada tambahan biaya yang harus mereka keluarkan. Hal ini disebabkan. Selain itu dalam skala lokal akan lebih dimungkinkan untuk mengatasi permasalahan free rider. Artinya para pengguna seharusnya akan lebih termotivasi untuk menggunakan barang-barang ini sampai pada titik dimana manfaat marjinal yang mereka peroleh sama dengan atau mendekati nol. Barang publik berskala lokal dalam garis kontinum. barang publik berskala nasional lebih tepat disediakan oleh pemerintah pusat.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 57 barang publik yang dapat dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat di dalam negara (berskala nasional) dan ada barang publik yang hanya dapat dimanfaatkan oleh sekelompok orang tertentu (berskala lokal). tol. Dari sini dapat terlihat bahwa biaya marginal dari setiap tambahan penggunaan atas barang publik ini sama dengan atau paling tidak mendekati nol. Melihat sifatnya tersebut. . Sebagai contoh. Dari sisi pengguna. dengan mempertimbangkan kondisi kemacetan (biaya oportunitas) di luar jalan tol. Sebaliknya. mempunyai sifat tidak bersaing yang rendah. karcis parkir. Berbeda dengan pengguna jalan tol luar kota. Mereka akan terus menambah konsumsi mereka atas barang publik ini sampai manfaat yang mereka dapatkan maksimal. maka akan sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali manfaat yang akan mereka dapatkan.

pada musim liburan dimana pengunjungnya sangat padat. Gambar 4. yang dalam garis spektrum mempunyai sifat tidak bersaing yang rendah. pada waktu yang lain ketika jumlah pengguna barang ini hanya sedikit. Di lokasi perkantoran misalnya. Hal ini diharapkan dapat menarik minat pengunjung untuk mau masuk ke tempat rekreasi tersebut. Strategi lain dalam memperlakukan congestible goods adalah dengan menggunakan dua macam tarif. pemerintah lokal tidak perlu menarik kontribusi dari pengguna barang publik ini. sedangkan untuk hari kerja atau sekolah. para pengunjung dapat menikmati tempat rekreasi dengan biaya yang lebih rendah. Sebegitu rendah permintaannya sehingga pemerintah lokal merasa tidak perlu ada penarikan retribusi atas pengguna barang publik tersebut. dapat dikenakan tarif tinggi. Sementara itu. dimana pada hari-hari libur hampir tidak ada mobil yang datang berkunjung. Dari berbagai macam barang publik jenis ini. memperlihatkan bahwa tambahan permintaan atas congestible goods pada musim sepi jumlahnya sedikit (pergeseran dari titik O ke D1 sampai ke D2). jika pemerintah lokal harus menarik kontribusi atas pengguna barang publik ini. maka biaya marjinalnya bisa akan lebih mahal dari manfaat marjinalnya. Apabila dimungkinkan. maka sifat tidak bersaingnya akan menjadi tinggi. Sehingga. pemerintah dapat menghilangkan biaya parkir. yaitu tarif tinggi pada musim padat dan tarif rendah pada musim sepi. begitu juga biaya marginalnya yang tetap. Kurva Permintaan Congestible Goods Harga MC P1 D3 . sehingga biaya menempatkan penjaga gerbang akan tertutup dari pembayaran tiket masuk.58 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian Barang publik berskala lokal adalah barang-barang yang diproduksi oleh pemerintah lokal. ada yang disebut dengan istilah congestible goods. Misalnya pada tempat-tempat rekreasi.6. yaitu barang publik yang mempunyai sifat tidak bersaing yang rendah hanya pada waktu penggunaannya padat atau penggunanya mencapai jumlah tertentu. jadi perlu juga tidak ada penjaga gerbang sehingga dapat mengurangi atau bahkan menghapus biaya marjinal.

kombinasi barang yang diproduksi. Kondisi-kondisi berikut harus terpenuhi untuk mencapai efisiensi pareto: 1. sedangkan teknologi lain memungkinkan diproduksinya 10 unit barang X dan hanya 5 unit barang Y. Kaidah efisiensi akan mengarah pada terpenuhinya kondisi-kondisi tertentu agar tercapai pemecahan alokasi yang efisien. 2. Artinya tingkat dimana . kita akan mempertimbangkan suatu perekonomian dengan hanya ada dua konsumen.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 59 Gambar 4. jumlah tertentu barang X harus diproduksi sedemikian rupa sehingga memungkinkan diproduksinya Y sebanyak-banyaknya pada saat yang sama dan demikian pula sebaliknya. Efisiensi Penyediaan Barang Publik oleh Pemerintah Dalam hal efisiensi penyediaan barang publik oleh pemerintah. Tingkat substitusi marjinal dalam mengkonsumsi barang X dan Y harus sama baik bagi konsumen A maupun B. Efisiensi Pareto didefinisikan sebagai suatu pengaturan ekonomi tertentu adalah efisien jika di sana tidak dapat dilakukan pengaturan kembali yang akan menyebabkan seseorang menjadi lebih baik tanpa merugikan posisi orang lain. Jika perubahan itu masih dimungkinkan maka kondisi tersebut belumlah efisien dan peningkatan efisiensi masih diperlukan. yaitu A dan B serta dua macam barang yaitu X dan Y. atau besarnya sektor pemerintah dalam usaha untuk membantu seseorang atau kelompok tanpa merugikan orang atau kelompok lain. seorang ekonom Italia mengusulkan konsep efisiensi yang dikenal dengan istilah Efisiensi Pareto (Pareto Efficiency). maka jelas bahwa teknologi pertama yang akan terpilih. Pada kondisi efisiensi pareto. Sebagai contoh. Efisiensi menghendaki bahwa dengan menggunakan teknologi terbaik.6. Secara sederhana. jika suatu teknologi memungkinkan diproduksinya 10 unit barang X dan 8 unit barang Y. tidaklah mungkin untuk mengubah metode produksi.

60 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian A dan B berkeinginan untuk menukarkan unit barang X dengan barang Y haruslah sama. maka akan lebih diinginkan untuk meningkatkan output barang X dan mengurangi barang Y sampai kedua tingkat tersebut menjadi sama. sedangkan B mau menukarkan tiga unit barang Y untuk satu unit barang X. sedangkan tingkat transformasi marjinal di dalam produksi adalah 3X untuk 1Y. Tingkat substitusi marjinal barang X untuk barang Y dalam konsumsi haruslah sama dengan tingkat transformasi marjinal di dalam produksi. Selanjutnya. tergantung pada selera dan pendapatan mereka. konsumen akan mengalokasikan anggaran belanjanya di antara barang-barang tersebut sedemikian rupa sehingga menyamakan tingkat substitusi marjinal mereka dengan rasio harga barang (memenuhi kondisi 2). dimana A akan dapat meningkatkan konsumsinya terhadap barang Y sedangkan B dapat meningkatkan konsumsinya terhadap barang X. Penjual dalam upayanya untuk memaksimalkan manfaat akan menyamakan biaya marjinal dengan penerimaan marjinal 5 (memenuhi kondisi 3). Jadi jika tingkat substitusi marjinal di dalam konsumsi adalah 3X dan 2Y. tetapi jumlah kuantitas konsumsinya berbeda. Alokasi yang Efisien Melalui Mekanisme Pasar Sekarang kita pertimbangkan suatu kondisi dimana cukup baik tidak hanya untuk produksi barang publik tetapi juga untuk produksi barang pribadi. . produsen akan memaksimalkan keuntungan dengan menggunakan metode biaya sekecil mungkin (memenuhi kondisi 1). sampai tercapai tingkat substitusi marjinal yang sama. karena di sini konsumen didorong untuk 5 Dalam keadaan bersaing. Pemecahan efisiensi akan sangat dimudahkan dengan menggunakan pendekatan mekanisme pasar. Harga per unit yang sama dibayar oleh semua konsumen. Tingkat transformasi marjinal dapat didefinisikan sebagai suatu tambahan unit barang X yang dapat diproduksi bila produksi barang Y dikurangi satu unit. maka hal ini akan menguntungkan keduanya bila melakukan pertukaran. kita dapat melihat bahwa mekanisme pasar dapat menjamin terlaksananya penggunaan sumber daya yang efisien. 3. Dari sini. Bagi barang pribadi yang tersedia melalui mekanisme pasar (dimana produsen akan memproduksi barang-barang yang paling diinginkan oleh konsumen atau preferensi konsumen teridentifikasi dengan jelas). produsen akan menyamakan biaya marjinal dengan harga atau pendapatan rata-rata. Jika A ingin memberikan satu unit barang X untuk dua barang Y.

kita akan melihat bahwa kurva kemungkinan produksi pada sumbu XY paling atas. diketahui bahwa kombinasi output yang paling efisien meliputi barang publik sebanyak 0F dan barang pribadi sebanyak FE. sehingga produsen termotivasi untuk memproduksi apa yang diinginkan oleh konsumen. jika kita perhatikan pada gambar 4. . Pemecahan masalah efisiensi kembali perlu untuk ditemukan. Sumbu XY pada gambar bagian tengah memperlihatkan jumlah barang pribadi dan publik yang dikonsumsi oleh individu A. Dari gambar bagian atas.3 dimana kondisi seluruh sumber daya yang ada dapat digunakan untuk memproduksi barang pribadi.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 61 menyatakan preferensi mereka. artinya A mengkonsumsi barang publik sebanyak 0F dan barang pribadi sebanyak FG. Sebagai ilustrasi. setiap penyediaan atas barang publik harus ada pengorbanan dari sumber-sumber daya yang seharusnya dapat digunakan untuk memproduksi barang pribadi. Artinya. yang akan ditunjukkan melalui beberapa penjelasan di bawah ini. tetapi mereka dapat mengkonsumsi barang pribadi dengan jumlah yang berbeda. titik-titik ini akan berhubungan dengan kondisi bahwa jumlah barang X yang dikonsumsi oleh A dan B harus sama dengan output total barang X. Selanjutnya. maka dapat diasumsikan bahwa jumlah barang yang dikonsumsi dari setiap individu adalah sama. oleh karenanya harus disediakan oleh pemerintah. Karena sifat barang publik yang tidak bersaing dan tanpa pengecualian.7 dibawah ini. Alokasi yang Efisien Atas Barang Publik Sebagaimana diperlihatkan dalam gambar 4. sebagaimana pertama kali pernah dikembangkan oleh Samuelson. Akan tetapi. penyediaan barang publik oleh pemerintah akan menyebabkan trade off dengan penyediaan barang pribadi melalui mekanisme pasar. dan sumbu XY pada gambar bagian bawah memperlihatkan jumlah barang pribadi dan publik yang dikonsumsi oleh individu B. sehingga kedua individu tersebut (A dan B) akan berada pada titik yang sama pada sumbu horizontal. sekali lagi mencatat kombinasi barang pribadi dan barang publik yang dapat diproduksi dengan menggunakan seluruh sumber daya yang tersedia. jika A berada pada titik G pada gambar di bagian tengah. sehingga keduanya akan berada pada titik yang berbeda pada sumbu vertikal. 6 Namun kembali kepada masalah bahwa tidak semua barang bisa disediakan melalui mekanisme pasar. Karena FG dikonsumsi oleh A maka jumlah yang tersisa 6 Ini adalah kelebihan dari the invisible hands sebagaimana yang dikemukakan pertama kali oleh Adam Smith.

Total X D M E Y 0 Jumlah X untuk A V N F U C Jumlah S P ia3 G W ia2 ia1 0 Jumlah X untuk B N F U Jumlah S K Z L H ib4 ib3 ib2 Jumlah S ib1 0 . dan V. Inilah kurva tertinggi yang dapat dicapai oleh B. Jika A berada pada kurva indiferen ia1 pemecahan terbaik adalah dengan membiarkan A dan B pada titik P dan L. Kemudian jika A bergerak sepanjang ia2 ke titik P. dimana ULK bersinggungan dengan kurva indeferen ib4 dari B pada gambar bagian bawah. dimana output total barang publik (yang paling efisien) sejumlah ON. Bagi A. Jika A bergerak sepanjang ia2 dari tititk W ke kiri. Hal ini akan terjadi pada titik L. Selanjutnya kita akan melihat pada tingkat kesejahteraan terbaik untuk A dan B. sehingga menempatkan B pada titik H pada gambar bagian bawah. Untuk A misalnya dinyatakan oleh kurva indiferen ia2 pada gambar bagian tengah. semua titik sepanjang ia2 akan sama baiknya. berdasarkan alasan yang sama akan menempatkan B pada titik L. T. kesejahteraan A akan menjadi maksimal apabila A mendapatkan suatu titik yang akan dapat membuat B menjadi lebih baik. sedangkan total output barang pribadi sebanyak NM akan dibagi antara A dan B sehingga A menerima sebanyak NP dan B menerima sebanyak NL. Z dan K. menunjukkan bahwa jika A berada pada titik G maka B akan berada pada titik H pada gambar di bagian bawah.62 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian bagi B sama FE-FG = FH. maka B akan berpindah ke kiri sepanjang ULK.

yaitu teori penetapan harga faktor produksi dan pembagian pendapatan nasional dari penghasilan atas tanah. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah ada distribusi yang adil atau merata? Bagaimana keadaan distribusi yang adil dan merata itu yang dimaksud di atas? Ketika istilah efisiensi berada dalam suatu area yang dapat dikatakan mendekati nilai obyektif. alokasi faktor produksi dapat dikatakan efisien apabila dasar penetapan harga faktor produksi juga efisien. kita akan memperoleh serangkaian pemecahan yang berkaitan dengan berbagai tingkat kesejahteraan untuk A dan B. misalnya ke kurva ia3. Semua ini adalah efisien menurut pemikiran Pareto dan memenuhi kondisi kesamaan di antara tingkat substitusi marjinal di dalam konsumsi dan tingkat transformasi marjinal di dalam produksi. teori efisiensi alokasi faktor produksi ini bukanlah merupakan teori fungsi distribusi. Sebagai contoh. teori distribusi biasanya mengacu pada teori mengenai peranan faktor produksi. Agar alokasi sumber daya menjadi efisien maka jumlah faktor produksi yang digunakan harus sedemikian rupa sehingga nilainya sama dengan nilai biaya marjinal. kita akan menemukan posisi baru bagi B pada gambar di bagian bawah (dihubungkan dengan ULK) dan satu hasil optimal baru (dihubungkan kepada L). maka kita dapat mengulangi prosedur yang sama untuk B. Dalam pembahasan terdahulu penekanan lebih pada efisiensi.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 63 Gambar 4. Dalam ilmu ekonomi. namun demikian penekanan teori peranan produksi lebih pada pengalokasian yang efisien. Dalam setiap kasus. yaitu tentang bagaimana pengalokasian sumber daya di antara berbagai kebutuhan produksi yang saling bersaing guna mencapai suatu tingkat hasil (utilitas atau kepuasan) tertentu. Teori ini memainkan peranan yang sangat penting dalam analisis ekonomi. Walaupun demikian. Istilah keadilan lebih dekat pada nilai normatif daripada obyektif. FUNGSI DISTRIBUSI Sebagaimana telah dibahas dalam bab sebelumnya. istilah keadilan berada dalam suatu area yang sangat berlawanan. tanpa memperhatikan masalah .7 Jika utilitas A berubah lagi. bahwa terdapat dua masalah pokok dalam penggunaan sumber daya yang optimal yaitu masalah penggunaan sumber daya yang efisien dan masalah pendistribusian sumber daya tersebut dengan adil. tenaga kerja dan modal. Dengan cara ini.

kapasitasnya berada dalam suatu interval tertentu. Sedangkan pemerintah akan menyediakan sejumlah barang publik yang sama pula. atau kondisi-kondisi khusus lainnya seperti ketidakmampuan (cacat). Dalam konsep ini. hal lain yang mungkin perlu dimasukkan ke dalam pertimbangan adalah masalah kekayaan. masih dalam konteks ideal. Oleh karenanya. Oleh karena itu. melainkan tetap lebih memihak kepada si kaya. jumlah anggota keluarga. Konsep Keadilan Keadilan merupakan isu sentral dalam sektor ekonomi dan kebijakan publik. Apakah ada suatu cara untuk mendefinisikan keadilan? Pertanyaan ini telah memicu munculnya beberapa pemikiran terbaik dari para ekonom dalan kurun waktu dua abad terakhir ini. bukan dalam ukuran rupiahnya namun lebih pada utilitasnya. dan kondisi . Selain itu. fungsi pendistribusian oleh pemerintah dapat mencakup proses penarikan dana (melalui pajak) dari si kaya dan mentransfernya kepada si miskin baik itu dalam bentuk uang ataupun jasa. bukan hanya pendapatan dalam satu tahun. Permasalahannya adalah bahwa dalam suatu perekonomian. sebagian besar pendistribusian yang dilakukan pemerintah tidak menguntungkan bagi si miskin. Namun pada kenyataannya.64 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian distribusi akhir dari hasil penjualan produksi tersebut di pasar. umur. penekanan utama dari teori fungsi distribusi adalah pada bagaimana pendistribusian hasil produksi kepada individu-individu atau keluargakeluarga. Idealnya. akan terasa sangat logis jika standar adil dalam pengorbanan dipenuhi melalui sistem yang menjamin bahwa kontribusi si miskin harus lebih kecil dari kontribusi si kaya. masalah distribusi pendapatan terhadap individu maupun keluarga akan dibahas lebih mendalam dalam bagian ini. atau paling tidak. tidak hanya sekedar persoalan pendapatan. Selanjutnya. diasumsikan bahwa setiap orang memiliki kapasitas yang sama untuk menikmati pendapatan. Sehingga apabila ada dua kelompok ekstrim dalam masyarakat. si miskin dan si kaya. sistem perpajakan dan belanja publik harus dapat menjamin terciptanya suatu pengorbanan yang adil dari setiap warga negara. Konsep Keadilan Horizontal Salah satu jawaban atas dilema dalam mendefinisikan dan mengukur keadilan adalah konsep keadilan horizontal. dari setiap orang akan ditarik pajak dengan jumlah yang sama. Pendapatan sendiri harus mencakup masalah seluruh pendapatan seumur hidup seseorang. Sedangkan.

dan subsidi perumahan dan kesehatan bagi rakyat miskin7. Oleh karena itu. Bagaimana cara mengukur perbedaan jumlah pendapatan seseorang jika harus dikaitkan dengan perbedaan kemampuan orang tersebut dalam membayar pajak. dan kebutuhan atau kemampuannya untuk membayar. 7 .00 lebih rendah kemampuan membayar pajaknya dibandingkan dengan seseorang yang mempunyai pendapatan Rp 50. namun disesuaikan dengan kondisi mereka. Kategori rakyat miskin adalah mereka yang memiliki pendapatan rata-rata – berdasarkan uji rata-rata – di bawah tingkat pendapatan tertentu yang ditetapkan oleh pemerintah.-. Dasar pengukuran dapat berupa pendapatannya. Tarif pajak progresif – yang akan dibahas lebih lanjut di bagian mendatang – merupakan salah satu contoh konkrit dari konsep keadilan vertikal.000. Apakah seseorang yang mempunyai jumlah pendapatan Rp 50.000. sehingga pajak penghasilan menetapkan tarif yang berbeda. Jadi. tua atau muda. jumlah pajak yang ditarik dari setiap orang tidaklah sama.001. Salah satu kesulitan dalam menerapkan konsep keadilan vertikal adalah bagaimana kebijakan publik dapat menetapkan dasar yang dapat dijadikan pedoman bagi pengukuran ketidaksamaan kondisi (misalnya pendapatan) seseorang. keadilan berarti memperlakukan setiap orang secara berbeda disesuaikan dengan kondisinya masing-masing. Selanjutnya. seperti pembebasan atau pengurangan biaya sekolah. Konsep keadilan vertikal juga tercermin dalam metode pengujian rata-rata yang digunakan bagi banyak program pemerintah. secara umum. setiap orang dianggap sama. tidak perduli kaya atau miskin.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 65 kesehatan seseorang.000. pengukuran menggunakan konsep keadilan horizontal sulit ditemukan. Jadi. dimana harus menetapkan batas suatu jumlah pendapatan sehingga dapat dikatakan bahwa jumlah tersebut mempunyai kemampuan membayar pajak lebih rendah atau lebih tinggi. melalui konsep ini. Dalam konsep ini. cacat atau normal dan sebagainya. Konsep Keadilan Vertikal Konsep kedua dalam mengukur keadilan adalah konsep keadilan vertikal. Contoh konkrit dari konsep ini dapat ditemukan pada tiket masuk suatu tempat rekreasi yang tidak membedakan orang per orang. kekayaannya. Apakah seseorang yang mempunyai pendapatan dua kali pendapatan orang yang lain berarti bahwa orang tersebut mempunyai kemampuan membayar dua kali juga atau tidak.

distribusi pendapatan dan kekayaan akan tergantung pada ketersediaan sumber daya alam dan kepemilikan atas kekayaan. maka tetap saja akan ada pihak-pihak yang diuntungkan sebagai pemenang dan pihak-pihak yang dirugikan sebagai yang kalah. Ketidakmampuan dalam membandingkan utilitas dari setiap orang. tanpa menyebabkan kondisi orang lain sebaliknya (lebih buruk). Namun kebijakan ini tetap diinginkan karena secara total. Seandainya hambatan perdagangan tetap dipertahankan sehingga tetap ada dinding yang membatasi suatu negara dalam bertransaksi dengan negara lain. Prinsip kompensasi sebagian dapat terlihat dalam hal kebijakan perdagangan. penggunaan sumber daya yang efisien akan ditentukan oleh nilai penetapan harga faktor produksi yang kompetitif. Kriteria ini akan memandu pengambil keputusan untuk memilih keputusan terbaik kedua setelah pareto optimal. Jadi dalam konsep ini akan tercipta peraturan atau kebijakan yang mau tidak mau akan terdapat pihak yang menang dan kalah. kesejahteraan publik akan lebih meningkat. Hal ini sering dipandang sebagai suatu tingkat 8 Prinsip kompensasi menawarkan suatu pedoman dasar untuk memilih dari beberapa alternatif kebijakan dengan ketentuan bahwa seseorang akan menjadi lebih baik atau lebih sejahtera. para ekonom mencari beberapa kriteria untuk pengambilan keputusan dimana kondisi pareto optimal tidak mungkin dapat dicapai. Faktor-Faktor yang Menentukan Distribusi Tanpa adanya intervensi kebijakan. Permasalahannya terletak pada aspek pemerataan dan keadilan. Apabila hukum ekonomi pasar diberlakukan.66 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian Prinsip Kompensasi Terakhir. Salah satu kriteria yang paling sering digunakan adalah prinsip kompensasi8. menyebabkan suatu keputusan atau perubahan kebijakan sangat sulit untuk dibuat tanpa mengakibatkan adanya pihak-pihak yang diuntungkan dan pihakpihak yang dirugikan. Menyadari hal ini. Keadilan diterjemahkan sebagai optimalisasi pareto yang menyatakan bahwa tidak mungkin merubah kondisi seseorang menjadi lebih baik. . sehinggga mengakibatkan distribusi pendapatan keluarga juga ditentukan oleh proses pasar. konsep ketiga dalam upaya menginterpretasikan keadilan jatuh pada prinsip kompensasi. Penurunan secara bertahap terhadap hambatan perdagangan internasional akan memberikan keuntungan bagi para konsumen dan eksportir di atas beban para tenaga kerja dan produsen importir dalam industri yang bersaing.

menunjukkan tingkat ketidakadilan yang sangat mencolok. dan preferensi pelanggan. sebagaimana telah ditentukan oleh warisan. distribusi pendapatan juga bergantung pada faktor harga. Dalam persaingan sempurna. 1991). Namun dalam banyak kasus. Para ekonom sepakat bahwa dibutuhkan penyesuaian untuk menentukan batas minimum pendapatan untuk kelompok berpenghasilan rendah. ras dan lain-lain masih memainkan peran yang sangat penting. oleh karenanya harga-harga tersebut akan bergantung langsung pada sejumlah variabel seperti faktor penawaran. Distribusi sebagai Suatu Kebijakan Jika sebelumnya pembahasan distribusi lebih terfokus sebagai hasil dari perekonomian pasar. Kebijakan penyesuaian tersebut akan menimbulkan inefisiensi dengan menimbulkan tambahan biaya. distribusi pendapatan ditentukan oleh penjualan faktor produksi tenaga kerja dan modal. tingkat pengembalian lebih ditentukan oleh pasar persaingan tidak sempurna dimana faktor-faktor institusi seperti struktur gaji. teknologi. tingkat harga akan sama dengan nilai dari faktor produk marjinal. yang merupakan pengaruh dari tingkat upah yang dapat dicapai oleh seseorang. Dalam ekonomi pasar. Perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa terjadi kecenderungan meningkatnya ketidakadilan dalam pendistribusian pendapatan (Musgrave. Hal ini dapat dilihat dengan membandingkan persentase dari pendapatan yang diperoleh tenaga kerja dengan persentase rumah tangga (pemilik modal) yang menghasilkan. terutama dalam distribusi pendapatan modal9.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 67 ketidakadilan yang besar. kali ini pembahasan akan difokuskan pada distribusi 9 Distribusi pendapatan modal mencakup distribusi kesejahteraan. hubungan keluarga. Distribusi pendapatan tenaga kerja berkaitan dengan distribusi kemampuan sekaligus keinginan tenaga kerja yang bersangkutan untuk memperoleh pendapatan. Distribusi pendapatan yang diakibatkan oleh faktor-faktor tersebut di atas. . pola perkawinan. pola hidup dan simpanan semasa hidup. Selain bergantung pada turunan dari faktor-faktor produksi tersebut. Begitu pula dengan kesempatan seseorang untuk memperoleh pekerjaan akan lebih bergantung pada hubungan kekeluargaan dibandingkan dengan kemampuan produktifitasnya. dan akhirnya pola pernikahan juga menjadi faktor terpenting dalam pendistribusian pendapatan. tingkat pendapatan dari berbagai macam pekerjaan mungkin berbeda sejalan dengan pertimbangan status dibandingkan dengan produk marjinal. Oleh sebab itu. Distribusi pendapatan tenaga kerja dan modal terkait dengan investasi pendidikan. status sosial.

yaitu pengenaan pajak dimana rasio pajak terhadap penghasilan naik dengan naiknya pendapatan. karena masalah distribusi sangat erat kaitannya dengan permasalahan kebijakan ekonomi.68 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian sebagai hasil dari suatu kebijakan. perlu pula diperhitungkan bobot atau biaya efisiensi. Pemecahan atas Distribusi yang Adil dan Merata Seandainya asumsi-asumsi yang mendasari berbagai konsep keadilan dapat digali. Adapun alternatif peralatan fiskal yang dapat diterapkan dalam fungsi distribusi adalah: (1) skema pajak progresif. Setiap kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. pendapatan riil dari konsumen yang menggunakan produk tersebut juga akan ikut terpengaruh. Contoh lain adalah kebijakan program investasi pemerintah – seperti pembangunan jalan yang tujuannya untuk menyediakan barang publik kepada masyarakat – akan mempengaruhi kesejahteraan berbagai kelompok masyarakat dari segi ekonomi dan tentunya pola distribusi. Biaya efisiensi merupakan biaya yang timbul sebagai akibat pilihan terhadap perilaku konsumen atau produsen. (2) pajak penghasilan (biasanya progresif) digunakan untuk membiayai pelayanan umum. Oleh karena itu. Misalnya. kebijakan mengenai anti trust atau anti monopoli sebenarnya dirancang untuk mengefisienkan pasar. meskipun tidak secara langsung. Pemecahan optimal menghendaki suatu kombinasi yang kompleks antara pajak dan subsidi. semestinya para ekonom yang berurusan dengan kebijakan umum pemerintah tidak boleh melepaskan pemikiran mereka dari masalah keadilan dalam distribusi pendapatan. Selain itu. Sedangkan di sisi lain. dan kemudian konsekuensinya dapat diamati sehingga dapat dipilih satu konsep tertentu untuk diterapkan. Tetapi. perancangan kebijakan publik seharusnya juga mempertimbangkan masalah distribusi. yaitu apa yang seharusnya menjadi kriteria bagi distribusi yang adil dan wajar. sampai saat ini para ekonom belum dapat menetapkan standar distribusi mana yang sebenarnya menjadi patokan. Konsekuensi pilihan instrumen fiskal akan menunjukkan bahwa di satu sisi setiap perubahan harus diselesaikan dengan biaya efisiensi yang minimum. maka masalah distribusi akan menjadi . dan (3) kombinasi antara pajak atas barang mewah dengan subsidi terhadap barang tidak mewah. Namun sayangnya. akan mempunyai dampak distribusional. namun secara tidak langsung akan mempengaruhi pendapatan modal dan tenaga kerja pada industri yang terkait dengan kebijakan tersebut. timbul suatu kebutuhan untuk menyeimbangkan konflik antara tujuan pemerataan dan tujuan efisiensi. Dalam mempertimbangkan instrumen kebijakan.

Pertanyaan berikutnya sekarang adalah perlu tidaknya untuk mempertimbangkan atau bahkan menanggulangi masalah . dan hanya jika. Namun karena belum ada alasan atau nilai-nilai yang terpilih sebagai dasar dalam menetapkan struktur masyarakat yang baik. Dalam ilmu ekonomi kesejahteraan modern berlaku prinsip bahwa suatu kondisi ekonomi disebut efisien jika. prinsip keadilan yang dianut menginginkan tidak adanya satu anggota masyarakat pun yang miskin. hampir tidak mungkin membandingkan tingkat utilitas masing-masing individu atas pendapatannya. Pertama.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 69 lebih sederhana. Fokus perhatian distribusi yang merata terletak pada aspek posisi pendapatan relatif. tidak dapat dipisahkan hanya dengan cara mendistribusikan pendapatan tersebut. maka masalah ini tetap belum terpecahkan. Misalnya jika. peningkatan kesejahteraan seseorang tidak akan merugikan orang lain (Pareto Optimum). Sedangkan kebijakan distribusi yang optimal dapat diartikan sebagai distribusi yang adil dan distribusi yang merata. berbagai pendekatan dalam setiap konsep keadilan tidak perlu diterapkan secara murni. tetapi kriteria ini digunakan untuk menilai tingkat efisiensi pasar. maka kebijakan penarikan pajak berdasarkan pada prinsip keadilan horizontal baru akan diterapkan jika memang kondisi tersebut sudah tercapai. Secara lebih detail. Dengan menyimpulkan berbagai faktor. Jika diperhatikan. tetapi dengan perpaduan satu sama lain. Kaidah pemerataan mempunyai dua masalah. Simpulan umum berkaitan dengan pemerataan adalah bahwa kebijakan distribusi harus memperhitungkan cakupan tambahan biaya secara inefisiensi. aspek pemerataan membahas pencegahan kemiskinan dan penentuan batas minimum pendapatan kelompok berpenghasilan rendah. Distribusi yang adil mempunyai pengertian yang sangat dalam yang menyangkut pertimbangan sosial dan pertimbangan nilai. orang harus dikenakan pajak sesuai dengan kemampuan mereka membayar. Redistribusi Pada bagian sebelumnya telah dibahas mengenai fungsi distribusi yang menekankan pada pertanyaan dasar mengenai apa yang dimaksud dengan distribusi yang adil dan merata. yakni pemerataan secara keseluruhan. besarnya pendapatan yang tersedia untuk dikenakan pajak. pernyataan yang telah diterima secara luas. Kriteria ini tidak sama artinya dengan suatu tindakan pendistribusian kembali atas sumber daya yang ada kepada konsumen. Kedua.

dan melakukan lobi politik untuk mempengaruhi pemerintah dengan berbagai cara. Hal ini bisa dicapai melalui kebijakan redistribusi yang ditetapkan melalui proses anggaran. hal ini bisa mempengaruhi bagian dari pendapatan nasional yang tersedia untuk redistribusi dan juga bisa menimbulkan biaya yang tentunya harus dipikul. gereja. Sementara itu di pihak penerima pajak – katakanlah rakyat miskin – lebih tertarik untuk memperhatikan keadilan atas hasil dan memiliki fleksibilitas dalam menggunakan sumber-sumber dana yang mereka dapatkan. terjadi penurunan atas tingkat kemiskinan dan ketidakadilan dalam masyarakat. seperti penggalangan dana di mesjid. Secara umum. apakah ada jaminan bahwa perubahan yang terjadi akan optimal bagi masyarakat. karena akan sangat mudah bagi setiap orang untuk menghindar dari membayar suatu sumbangan sukarela (menjadi free rider). dibelanjakan oleh pemerintah dengan seharusnya. para pembayar pajak akan lebih tertarik untuk mendapatkan keadilan atas kesempatan dan memastikan apakah dana yang telah mereka keluarkan. Jika kegiatan sukarelawan ini cukup untuk membuat perubahan yang dapat diterima. Rasanya hampir mustahil. meskipun hal tersebut akan lebih mudah terdeteksi. . Kedua kelompok ini akan memberikan suaranya.70 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian distribusi yang kurang adil dan merata. Pertanyaan berikutnya bagi pemerintah adalah apakah perhatian mereka terkait dengan konsep redistribusi. Kebijakan redistribusi mempelajari sampai sejauh mana dan dengan cara bagaimana mengubah keadaan distribusi yang telah ditentukan oleh pasar dan lembaga publik yang ada saat ini. maka campur tangan pemerintah tidak lagi dibutuhkan. Hal ini dapat meredistribusi posisi pendapatan atau kekayaan yang telah ditentukan oleh kekuatan pasar. jika hal tersebut merupakan kebijakan wajib dari pemerintah. terlebih dalam kelompok masyarakat yang besar. orang tetap bisa menghindar dari menyumbang secara sukarela. Sebagian orang akan menolak adanya kebijakan redistribusi. organisasi nirlaba dan sumbangan sosial individu. hasil dari kebijakan ini dapat dievaluasi berdasarkan respon dari setiap pihak yang dirugikan atau diuntungkan pada proses tersebut . Beberapa Hal yang Terkait dengan Redistribusi Pembayar pajak – dalam kasus kebijakan redistribusi oleh pemerintah – mungkin mempunyai tujuan dan kepentingan yang berbeda dengan para penerima pajak. Di dalam masyarakat yang kecil pun. Namun. hal sebaliknya sering kali terjadi jika redistribusi didanai melalui kontribusi sukarela. Selanjutnya. Pada gilirannya. Tetapi apakah mungkin cukup menggantungkan keputusan redistribusi ini kepada individu atau kelompok sosial saja.

maka dia dapat makan seumur hidupnya”. Perbedaan filosofi dari dua pendekatan keadilan redistribusi ini tercermin dalam pribahasa ”Berikan seseorang ikan. Para penerima akan lebih memilih untuk menerima uang tunai. Secara umum. investasi dan pertumbuhan ekonomi dimana masalah serupa juga akan timbul. Pertama-tama. keadilan atas hasil sebagai suatu strategi anti kemiskinan telah semakin menurun popularitasnya di banyak negara maju seperti Amerika Serikat dan Kanada.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 71 atau apakah harus lebih terpusat pada keadilan atas kesempatan10 atau keadilan atas hasil11. Ketika redistribusi ditetapkan sehingga akan menurunkan tingkat pendapatan. Hubungan antara pendapatan. Keadilan ini lebih bersifat filosofi dalam hubungannya dengan sistem pasar.8. Redistribusi yang telah dibahas sejauh ini mencakup masalah biaya dan manfaat dimana keduanya harus dipertimbangkan. pihak pendana akan memasukkan preferensi mereka kepada pihak penerima. pakaian. 10 Keadilan atas kesempatan dapat berupa penyediaan pendidikan (terutama dalam bentuk pembebasan uang sekolah dan wajib belajar). Di sisi lain pembayar pajak lebih memilih memberikan dananya dalam bentuk barang seperti. maka dia dapat makan untuk satu hari. . waktu senggang dan pajak dapat dilihat pada gambar 4. Bagi pemerintah. sehingga membatasi fleksibilitas penggunaan dana tersebut. pelayanan kesehatan atau jasa lainnya yang dapat membantu masyarakat untuk berkembang atau paling tidak tetap berproduksi. 11 Dalam keadilan atas hasil. maka pada tingkat tertentu sebagian besar masyarakat akan mengurangi usaha mereka dalam mencari pendapatan atau dengan kata lain mereka akan memperbanyak waktu santai mereka. Isu penting lainnya dalam masalah redistribusi yang efisien adalah penetapan bagian yang harus diredistribusikan. Seandainya diberikan dalam bentuk uang. kebijakan untuk melakukan redistribusi dapat mengakibatkan bagian yang tersedia untuk didistribusikan justru menjadi lebih kecil. cara yang termudah adalah dengan memberikan jasa pelayanan langsung seperti pelayanan kesehatan dan program pendidikan. penekanannya lebih pada penurunan kesenjangan pendapatan dan penghapusan kemiskinan dengan cepat daripada menekankan pada berinvestasi pada orang miskin. Isu kedua yang seringkali dipandang berbeda dari pihak pembayar dan penerima pajak adalah bentuk redistribusi. karena akan lebih memberikan fleksibilitas kepada mereka untuk menggunakan dana tersebut. ajari seseorang memancing. sehingga tingkat produktivitas masyarakat menurun. dan makanan. Hal ini dapat diperlihatkan dalam hubungan antara penawaran tenaga kerja dengan tabungan. Hal ini diakibatkan oleh bekerjanya pengaruh perbedaan yang berlaku pada baik pihak pembayar pajak maupun pihak penerima pajak.

Namun. jika pajak terus ditingkatkan. pendapatan orang tersebut menurun menjadi OY2. kejadian seperti ini tidak akan terus berlanjut. maka tingkat pendapatan akan semakin menurun menjadi OY3. Maka pada tingkat pajak A3B. Waktu Senggang dan Pajak Pendapatan A1 A2 Y1 Y2 A3 Y3 0 X2 X1 X3 B Waktu Luang Gambar 4. Namun dapat terlihat bahwa penurunan tingkat pendapatan jauh lebih besar daripada penurunan jumlah waktu luang.mungkin sebagai bentuk penolakannya terhadap pajak. jika pajak terus ditingkatkan (garis A3B). Kemudian. ketika pajak mulai dikenakan (garis A2B). ternyata orang tersebut justru menambah waktu luangnya (OX3) . menunjukkan bahwa pada tingkat dimana seseorang tidak dikenakan pajak (garis A1B). Sebagai contoh.8 Gambar 4. atau dengan kata lain tingkat produktifitas meningkat. pada titik ini.8. begitu pula jumlah waktu luang yang dimilikinya menurun (OX2) – karena yang bersangkutan harus bekerja lebih giat guna menutupi turunnya pendapatan yang diperolehnya.72 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian Pendapatan. dia akan memilih tingkat pendapatan OY1 dan jumlah waktu luang OX1.8. masih pada gambar 4. yang terjadi adalah penurunan .

peningkatan jumlah pengangguran dan juga akan terjadi inflasi. penetapan tarif pajak perlu memperhatikan fenomena ini. para ekonom setuju bahwa mekanisme pasar tidak dapat dengan sendirinya mengatur jumlah uang yang beredar secara tepat. Dalam hubungannya dengan persaingan yang terjadi pada ekonomi pasar. Komponen kebijakan moneter antara lain meliputi ketetapan mengenai cadangan wajib bank. baik dalam hal stabilisasi jangka pendek maupun pertumbuhan jangka panjang. akan berjalan tidak teratur. fungsi pemerintah sebagai pengatur (regulator) semakin dirasakan kebutuhannya. menurunkan suku bunga dan karena itu akan menaikkan tingkat permintaan. keberadaan bank sentral sebagai pengawas jumlah uang beredar perlu menyesuaikan jumlah uang beredar dengan kebutuhan ekonomi. Oleh karena itu.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 73 tingkat produktifitas masyarakat. kebijakan pengendalian kredit dan kebijakan pasar terbuka. Namun. Pada intinya. tingkat stabilitas harga yang pantas. Sistem perbankan. kebijakan pemerintah dalam fungsi stabilisasi dirancang untuk menjaga stabilitas perekonomian seperti mempertahankan atau mencapai kesempatan kerja yang tinggi. tetapi juga menimbulkan reaksi dalam permintaan kredit di pasar yang akan cenderung menimbulkan fluktuasi. Dalam fungsinya menjalankan stabilisasi ini. sehingga tidak hanya akan menghasilkan jumlah uang beredar yang tidak sesuai. pemerintah mempunyai dua instrumen penting yakni instrumen moneter dan instrumen fiskal. perekonomian cenderung akan mengalami fluktuasi. FUNGSI STABILISASI Di era globalisasi ekonomi yang semakin luas. Oleh karena itu. Kebijakan Moneter Jika berfungsi dengan baik. . jika tidak diawasi. sementara pembatasan moneter akan berakibat sebaliknya. Perluasan moneter berupa kebijakan untuk menambah jumlah uang beredar akan cenderung memperbesar likuiditas. tingkat diskonto. suatu mekanisme pasar dijamin dapat diandalkan untuk menentukan alokasi sumber daya yang efisien di antara barang pribadi. neraca pembayaran luar negeri yang sehat dan tingkat pertumbuhan ekonomi yang dapat diterima. Tanpa adanya kebijakan tersebut. fungsi pengatur tersebut dapat berupa beberapa kebijakan baik sebagai pemicu maupun sebagai penghambat persaingan.

distribusi. (2) tujuan distribusi.74 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian Kebijakan Fiskal Kebijakan fiskal akan mempengaruhi secara langsung tingkat permintaan barang dan jasa. Mau tidak mau. yakni dengan meningkatan pelayanan pemerintah yang diikuti dengan kenaikan pajak. maka pinjaman tambahan akan mempertinggi suku bunga sehingga cenderung menghambat transaksi pasar. akan menjadi alat yang cukup efektif untuk mempengaruhi perilaku tersebut. karena para wajib pajak akan mempunyai disposible income yang lebih besar sehingga diharapkan akan membelanjakan jumlah pendapatan yang lebih besar pula. kebijakan anggaran juga mempengaruhi tingkat distribusi output total dengan membaginya di antara konsumsi dan tabungan . tergantung pada bagaimana defisit tersebut dibiayai. Ketiga tujuan tersebut adalah: (1) tujuan alokasi. yakni dengan mendistribusikan pendapatan ke kelompok rendah dari kelompok tinggi (atau sebaliknya ke kelompok tinggi dari kelompok rendah) yang diikuti dengan pengenaan pajak progresif (atau sebaliknya regresif). pada gilirannya. dan (3) tujuan stabilisasi. mempengaruhi tingkat permintaan agregat. Di lain pihak. Kebijakan menurunkan pajak dapat dilakukan dalam upaya pemerintah untuk memperbesar total belanja pemerintah. Lebih jauh lagi. Perubahan tingkat permintaan agregat pada akhirnya menentukan kesempatan kerja dan tingkat harga. akan menaikkan tingkat permintaan sektor pemerintah dan kemudian akan diikuti oleh sektor swasta. yakni dengan membuat kebijakan yang lebih ekspasioner yang diikuti dengan menaikkan pengeluaran publik atau dengan menurunkan pajak. Kebijakan ini. Suatu kebijakan publik tertentu mungkin tidak dapat memenuhi tiga tujuan sekaligus. sehingga dimungkinkan akan ada banyak pengecualian. khususnya pengeluaran publik. kebijakan defisit anggaran pemerintah akan memainkan peranan yang tidak kalah penting. karena juga akan meningkatkan total permintaan agregat. jika peredaran uang diperketat. mempunyai beberapa tujuan berkaitan dengan pemenuhan ketiga fungsi tersebut. Di sisi lain. Stabilisasi Anggaran Kegiatan-kegiatan pemerintah dalam melaksanakan fungsi alokasi. Pembiayaan defisit akan lebih besar jika defisit tersebut ditutupi dengan pinjaman. suatu kebijakan menambah pengeluaran publik jelas merupakan jenis kebijakan yang bersifat ekspansi. suatu kebijakan selalu berupaya meminimumkan konflik antar masing-masing tujuan. secara simultan. Kebijakan anggaran. Sejalan dengan itu. anggaran akan sangat dikaitkan dengan perilaku perekonomian secara makro. dan stabilisasi akan tercermin dalam kebijakan anggaran. Anggaran. pada awalnya. Namun demikian.

RANGKUMAN § Beberapa fungsi pemerintah dalam perekonomian: . Hasil dari proses tersebut tergantung dari hasil pemungutan suara atau dari tingkah laku para politisi yang bermain di dalam pemerintahan tersebut. dalam masalah pembiayaan kegiatan pemerintah. seperti ideologi. Hal ini bisa diwujudkan dengan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dimana salah satu faktor pendukungnya adalah peningkatan total permintaan agregat. misalnya masyarakat menginginkan penurunan tingkat penganguran. Kebijakan anggaran semestinya melibatkan beberapa tujuan yang berbeda. karena dua masalah ini sulit diselesaikan secara simultan. terutama berkaitan dengan perubahan kebijakan perpajakan. Proses politik didasarkan pada peraturan-peraturan yang tercantum dalam undang-undang suatu negara.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 75 (yang membentuk modal) yang selanjutnya mempengaruhi tingkat pertumbuhan ekonomi. tujuan politik adalah untuk menyediakan barang dan jasa yang berguna bagi seluruh warga negaranya. Proses politik tentunya juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain selain faktor ekonomi. Kemudian. Dalam proses pemungutan suara akan ada pihak-pihak yang mendukung dan menolak terhadap perubahan atas model yang dipilih pemerintah. Sebagai ilustrasi. yaitu kebijakan yang benarbenar adil dalam rangka mencapai tujuan yang beraneka ragam tersebut. Jika pemerintah berinisiatif dengan meningkatkan pengeluaran publik. dari sudut pandang ekonomi. wajib pajak selayaknya melihat manfaat yang dapat diambil dari kegiatan tersebut. tanpa harus dihubungkan dengan kontribusinya. isu stabilisasi dan distribusi tersebut seharusnya dipisahkan. Masyarakat seharusnya bersedia membayar apa yang dianggap sebagai distribusi yang adil. defisit anggaran dapat ditutupi dengan peningkatan penerimaan dari sektor pajak. Namun demikian. Kenaikan pajak pada gilirannya nanti akan dipertanyakan oleh masyarakat tentang cara pendistribusian bebannya. tetapi dalam prakteknya hal ini sering saling tumpang tindih sehingga mempersulit penyusunan kebijakan yang efisien. Dalam suatu negara demokrasi. Akhirnya. Idealnya. kita dapat mengambil simpulan bahwa penentuan anggaran lebih condong sebagai proses politik ketimbang proses pasar. warga negara mempunyai kesempatan untuk memberikan suaranya dalam memutuskan suatu masalah yang berisi alternatif pencapaian tujuan yang saling bertentangan.

Fungsi Stabilisasi Penggunaan kebijakan anggaran sebagai alat untuk mempertahankan tingkat kesempatan kerja. kriteria efisien digunakan untuk mengevaluasi alokasi sumber daya. yang berbeda sifatnya dengan barang pribadi. pengangguran dan inflasi. dengan memperhitungkan akibat kebijakan pada perdagangan dan neraca pembayaran. 2. Tanpa kebijakan stabilisasi pemerintah. Dilihat dari fungsi alokasi.76 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian § § § § § § § 1. Dalam suatu sistem ekonomi pasar yang bersaing sempurna. kebijakan pasar terbuka dan pengendalian kredit selektif. 3. terutama dalam hal persaingan. tidak ada distorsi yang akan mengakibatkan adanya perbedaan harga antara yang diterima oleh penjual dengan yang dibayarkan oleh pembeli. tingkat diskonto. suatu barang publik. Fungsi Distribusi penyesuaian atas distribusi pendapatan dan kekayaan untuk menjamin pemerataan dan keadilan. Mekanisme pasar akan membawa konsumen dan produsen ke suatu titik harga tertentu. Alasan perlunya aturan pemerintah guna menjamin efisiensi dalam sistem ekonomi pasar: 1. . Mekanisme pasar terjadi apabila ada suatu permintaan dari konsumen. Harga atas suatu komoditi sudah disepakati oleh atau harus identik untuk semua pembeli dan penjual. Komponen kebijakan moneter mencakup antara lain pembentukan cadangan wajib. kemudian produsen akan menyediakan barang yang paling diinginkan oleh konsumen. stabilitas ekonomi dan laju pertumbuhan ekonomi. perekonomian cenderung mengalami fluktuasi. tidak dapat disediakan melalui sistem pasar melalui transaksi antara konsumen dan produsen secara individu Kondisi stabil tidak dapat dicapai secara otomatis. Pemerintah diharapkan dapat menjamin pasar agar dapat beroperasi secara efisien. Fungsi Alokasi Fungsi penyediaan barang publik atau proses alokasi sumber daya untuk digunakan sebagai barang pribadi atau barang publik dan bagaimana komposisi barang publik ditetapkan. Dalam pasar yang efisien.

Namun dalam prakteknya. barang publik disediakan untuk semua orang yang mempunyai kepentingan atas barang tersebut. Konsep Keadilan Vertikal 3. Beberapa konsep dalam mengukur keadilan: 1. yaitu teori penetapan harga faktor produksi dan pembagian pendapatan nasional dari penghasilan atas tanah. Masalah penggunaan sumber daya yang efisien 2. Barang publik terbagi dua: 1. tenaga kerja dan modal.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 77 § § § § § § § § § 2. 3. kekayaannya. terutama dalam hal biaya produk dan kualitas produk yang dihasilkannya. Konsep Keadilan Horizontal 2. ada barang publik yang dapat dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat di dalam negara (berskala nasional) dan ada barang publik yang hanya dapat dimanfaatkan oleh sekelompok orang tertentu (berskala lokal). Barang publik yang mempunyai sifat tanpa pengecualian (non excludability) Pada dasarnya. sedangkan barang publik adalah barang-barang yang tersedia tapi tidak untuk dijual di pasar. setiap penyediaan atas barang publik harus ada pengorbanan dari sumbersumber daya yang seharusnya dapat digunakan untuk memproduksi barang pribadi. dan kebutuhan atau kemampuannya untuk membayar Beberapa kesulitan dalam menerapkan konsep keadilan vertikal adalah: . Terletak pada hubungan rasional dari produksi pemerintah atas barang-barang publik Barang pribadi adalah barang-barang yang diproduksi untuk dijual dan tersedia di pasar. Masalah pendistribusian sumber daya tersebut dengan adil Teori distribusi biasanya mengacu pada teori mengenai peranan faktor produksi. Pemerintah sendiri seharusnya bekerja keras untuk mencapai tingkat efisiensi yang sama dengan pihak swasta. Artinya. Barang publik yang mempunyai sifat tidak bersaing (non rivalry) 2. Prinsip Kompensasi Dasar pengukuran konsep keadilan vertikal dapat berupa pendapatannya. Penyediaan barang publik oleh pemerintah akan menyebabkan trade off dengan penyediaan barang pribadi melalui mekanisme pasar. yaitu: 1. Dua masalah pokok dalam penggunaan sumber daya yang optimal.

tingkat diskonto. Faktor apakah yang menentukan fungsi distribusi? 5. fungsi manakah yang sulit untuk diperankan dan merupakan permasalahan utama? 2. kebijakan pemerintah dalam fungsi stabilisasi dirancang untuk menjaga stabilitas perekonomian seperti mempertahankan atau mencapai kesempatan kerja yang tinggi. Dengan adanya beberapa kelemahan pada mekanisme pasar maka peran pemerintah sangat diperlukan dalam perekonomian yang memiliki fungsifungsi tertentu. LATIHAN 1. Jelaskan mengenai perlunya kebijakan stabilisasi pemerintah dalam perekonomian? . Pada intinya. sementara pembatasan moneter akan berakibat sebaliknya. menurunkan suku bunga dan karena itu akan menaikkan tingkat permintaan. Uraikan secara singkat! 3. Perluasan moneter berupa kebijakan untuk menambah jumlah uang beredar akan cenderung memperbesar likuiditas. Sebutkan dua argumen perlunya intervensi pemerintah! Mengapa intervensi pemerintah tersebut diperlukan dalam konteks kegagalan pasar? Dari intervensi pemerintah tersebut terdapat beberapa peran pemerintah. Sebutkan dan jelaskan fungsi pemerintah tersebut! Di antara fungsi pemerintah tersebut. 2. Komponen kebijakan moneter antara lain meliputi ketetapan mengenai cadangan wajib bank. Bagaimana kebijakan publik dapat menetapkan dasar yang dapat dijadikan pedoman bagi pengukuran ketidaksamaan kondisi (misalnya pendapatan) seseorang. Salah satu kriteria yang paling sering digunakan dalam prinsip kompensasi adalah prinsip kompensasi yang menawarkan suatu pedoman kasar untuk memilih dari beberapa alternatif kebijakan dengan prinsip bahwa seseorang akan menjadi lebih baik atau sejahtera. neraca pembayaran luar negeri yang sehat dan tingkat pertumbuhan ekonomi yang dapat diterima. kebijakan pengendalian kredit dan kebijakan pasar terbuka. tingkat stabilitas harga yang pantas.78 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian § § § § 1. Jelaskan akibat-akibat kegagalan mekanisme pasar! 4. Bagaimana cara mengukur perbedaan jumlah pendapatan seseorang jika dikaitkan dengan perbedaan kemampuan orang tersebut dalam membayar pajak.

Congestible Goods b. Mengapa barang publik dapat mengakibatkan kegagalan pasar dalam produksi secara efisien? 15. Sebutkan teori-teori yang dimaksud! 18. 13. kriteria efisien dapat digunakan untuk mengevaluasi alokasi sumber daya dimana semua pasar dalam kondisi persaingan sempurna”. Sebutkan tiga konsep untuk mengajukan keadilan! 19. Jelaskan penyebab adanya suatu intervensi pemerintah dalam operasi pasar bebas? 8. Terangkan alasan perlunya aturan pemerintah guna menjadi efisien dalam sistem ekonomi pasar? 11. Apa saja yang termasuk dalam instrumen kebijakan stabilisasi? 7. Terangkan bahwa biaya marginal dari setiap tambahan penggunaan atas barang publik sama dengan atau paling tidak mendekati nol! 14. Uraikan salah satu contoh kelemahan dalam menerapkan konsep keadilan vertikal pada fungsi alokasi yang anda ketahui! 17. Jelaskan disertai dengan contoh perbedaaan antara barang pribadi dengan barang publik! 12. Pareto Efficiency 16. Masalah-masalah apakah yang timbul dalam fungsi alokasi? 9. Apakah inti dari kebijakan pemerintah dalam fungsi stabilisasi? . Keadilan merupakan isu sentral dalam sektor ekonomi dan kebijakan publik. Terangkan dua masalah yang ada pada kaedah pemerataan! Apakah yang dibahas dalam aspek pemerataan tersebut? 10. Jelaskan arti dari istilah: a. Jelaskan apa yang dimaksud dengan “Dalam suatu sistem ekonomi pasar.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 79 6. Dalam ilmu ekonomi. teori distribusi biasanya mengacu pada teori mengenai peranan faktor produksi.

80 Bab 4: Fungsi dan Aktivitas Pemerintah dalam Perekonomian .

KONSEP ANGGARAN Kebijakan fiskal suatu negara secara keseluruhan terangkum dalam laporan anggaran tahunannya yang di Indonesia dikenal sebagai Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN). Sistem ini kemudian dikenal sebagai APBN berimbang dan dinamis. Seluruh pengeluaran rutin dalam sistem ini diusahakan untuk ditutup dari penerimaan dalam negeri. Tujuan utama dari diterapkannya sistem ini pada awal orde baru menurut Seda (2004) dimaksudkan mengurangi hyper-inflation yang mencapai 650% akibat adanya kegiatan pencetakan uang terus menerus untuk menutupi defisit anggaran. anggaran di Indonesia menganut sistem anggaran berimbang. Dalam beberapa periode lanjut Seda (2004). Sedangkan pinjaman luar negeri digunakan untuk pembiayaan pembangunan. Pada masa orde baru. Selanjutnya secara terus menerus diusahakan agar penerimaan . sistem tersebut cukup efektif mengendalikan inflasi. Pada sistem ini pinjaman luar negeri dimasukkan sebagai unsur penerimaan negara.

Rencana pengeluaran sebaiknya mengindikasikan juga urutan skala prioritas serta ekspektasi kualitas dan kuantitas layanan. Contoh dari off-budget adalah alokasi dana yang diperuntukkan bagi program pensiun dan tunjangan hari tua. Sistem ini berlaku sampai dengan tahun 1999. Jika rencana pengeluaran melebihi anggaran penerimaan. Agar tidak terjadi tambahan inflasi akibat adanya hutang. Dalam anggaran. Pengeluaran publik seperti pembayaran pokok hutang akan diikuti dengan pengurangan liabilitas publik sehingga tidak mengurangi kekayaan neto negara. Pada umumnya on-budget mengalami deficit. Belanja publik pasti mengurangi kekayaan neto negara. Berikutnya. dikenal sebagai offbudget. Setiap anggaran belanja menguraikan berbagai fakta yang khusus (spesifik) tentang apa-apa yang direncanakan untuk dilakukan oleh unit organisasi yang menyusun anggaran belanja tersebut pada periode waktu yang akan datang. maka timbul budget deficit sebaliknya jika penerimaan diproyeksikan dapat lebih tinggi dari rencana pengeluaraan maka disebut budget surplus. Balance Budget Seluruh rencana pengeluaran dan penerimaan pemerintah biasanya melalui prosedur pembahasan oleh lembaga legislatif untuk disahkan setiap tahun. Karena ada beberapa aktivitas yang mengakibatkan aliran dana masuk yang tidak menambah kekayaan neto negara. Namun ada sebagian kecil anggaran yang dibiayai dengan dedicated fund tidak dibahas oleh lembaga legislatif setiap tahunnya. pengeluaran publik tidak selalu identik dengan belanja publik. dipaparkan adanya rencana pengeluaran yang didasarkan pada ekspektasi pendapatan. Di dalam konsep anggaran perlu dibedakan antara penerimaan versus pendapatan. dapat dikatakan bahwa anggaran adalah suatu rencana keuangan yang merupakan perkiraan tentang apa yang akan dilakukan di masa yang akan datang. seluruh nilai hutang dipergunakan untuk kegiatan pembelian barang-barang impor. Setelah itu diberlakukan balance budget yang mengakui adanya budget surplus dan budget deficit (dibahas pada subbab berikut). Dengan demikian.84 Bab 5: Konsep Anggaran dalam negeri dapat lebih tinggi dari pengeluaran rutin sehingga tercipta tabungan pemerintah yang dapat digunakan sebagai bagian belanja pembangunan. seperti penerimaan kembali anggaran pengeluaran yang tidak terpakai. contoh penerimaan pajak. Yang pertama. Sedangkan pendapatan publik pasti menyebabkan kenaikan kekayaan neto negara. sedangkan off-budget mengalami surplus. misalnya pembayaran bunga hutang. onbudget. Apabila . penerimaan publik tidak selalu berupa pendapatan publik. dan pengeluaran versus belanja.

apakah anggaran belanja itu dipatuhi dengan baik . Belanja Barang III. Restrukturisasi Perbankan II. sehingga dari catatan tersebut dapat dilihat secara tepat. Belanja Pegawai II. tergantung pada kriteria unit atau organisasi yang bersangkutan. Jenis Pengeluaran Jumlah Rp Rp Rp Rp XXX XXX XXX XXX • Pengeluaran Rutin I. disebabkan setiap instansi atau departemen mempunyai kebutuhan barang yang berbeda. Apabila dikatakan untuk membeli barang. Anggaran memuat perkiraan dari pengeluaran uang. maka perlu dibuat pengelompokan ataupun penggolongan. Oleh karena itu. hal ini adalah sesuatu hal yang masih sangat umum. Pembiayaan Proyek • Rp Rp Rp Rp XXX XXX XXX XXX Kelebihan sistem anggaran line-item adalah mudah mengawasi penggunaanya. Setiap barang atau kelompok barang dibuat daftarnya disertai angka nilai rupiah. Anggaran Belanja Line-Item (Line-Item Budgeting) Jenis anggaran belanja yang hanya membuat daftar barang-barang atau obyek-obyek. Dari pengelompokan barang-barang inilah maka digunakan istilah obyek atau lineitems. harus disebutkan secara khusus atau spesifik. disebut anggaran obyek pengeluaran atau anggaran belanja lineitem. Pengeluaran tersebut harus jelas maksud dan tujuannya. Penggolongan barang tersebut misalnya: jasa-jasa kontrak. maka anggaran yang dihasilkan disebut unified-budget. JENIS-JENIS ANGGARAN Jenis-jenis anggaran meliputi: a. Pembayaran Bunga & cicilan Hutang Pengeluaran Pembangunan I. Bila obyek yang ada dalam line-item budget cukup banyak. Bunga Kredit Program 2. obyek-obyek atau item-item apa yang akan dibeli dengan uang yang dianggarkan itu. Contoh line-item budget adalah sebagai berikut.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 85 anggaran disusun dengan mengkonsolidasikan antara on-budget dan offbudget. karena mencantumkan dengan jelas barang-barang atau obyekobyek di mana uang itu dibelanjakan. Pembiayaan Rupiah 1. Bunga Obl. perlengkapan dan material serta peralatan. Subsidi Daerah Otonom IV.

01 01. Memungkinkan kita membuat daftar prioritas dalam memutuskan kegiatan-kegiatan yang akan dibelanjakan. suatu anggaran belanja yang disusun sesuai dengan tujuan. bukan perincian yang sempit sifatnya. kegiatan. KEUANGAN DAN FISKAL. Anggaran Belanja Berprogram (A Program Budgeting) Suatu anggaran yang berorientasi kepada maksud dan tujuan untuk apa uang dibelanjakan. karena perkiraan kebutuhan untuk masa mendatang tidak dikaitkan dengan maksud dan tujuan yang lebih luas. Contoh dari anggaran berprogram yang digunakan dalam menyusun APBN Indonesia Tahun 2005 adalah sebagai berikut. Kode 01 01. fungsi-fungsi dan kegiatan-kegiatan pengeluarannya disebut anggaran berprogram (a program budget). Dengan kata lain. Lebih informatif. .01 03 Nama Fungsi. Anggaran berprogram mengelompokan pengeluarannya ke dalam program-program. Sub Fungsi. Di samping itu. dan Program PELAYANAN UMUM PEMERINTAHAN LEMBAGA EKSEKUTIF DAN LEGISLATIF. terdapat perbedaan pengelompokan barang-barang antara unit atau organisasi yang satu dengan unit atau organisasi barang yang diperlukan setiap organisasi tersebut dan tidak didasarkan atas perencanaan yang menyeluruh dan berkesinambungan. Penggunaan kata fungsi.01 01 01. atau misi. Dengan demikian orang yang bertanggung jawab dalam membelanjakan uang itu mudah diperiksa melalui keharusan mengikuti pengeluaran sebagaimana yang telah direncanakan.86 Bab 5: Konsep Anggaran atau tidak. DAN LUAR NEGERI PENYELENGGARAAN PIMPINAN KENEGARAAN DAN PEMERINTAHAN PENYELENGGARAAN PIMPINAN DEPARTEMEN/ LEMBAGA PEMBINAAN PRODUK LEGISLATIF Jumlah XXX XXX XXX XXX XXX Kelebihan sistem anggaran berprogram adalah: 1.01 02 01. Sedangkan kelemahan sistem anggaran line-items adalah sulit menyederhanakan berbagai jenis barang untuk dikelompokkan. kadang-kadang diperlukan sebagai pengganti program-program. karena dapat diketahui tingkat kepentingan tujuan pembelanjaan itu. b. 2. disebut anggaran berprogram (a program budget).

disebut anggaran berprogram karena tidak hanya sekedar mendaftar barang-barang dan jasa-jasa yang akan dibelanjakan tetapi penyusunan dana itu disesuaikan dengan program-programnya. anggaran belanja sistem hanya mencantumkan X rupiah untuk belanja yang satu dan Y rupiah untuk belanja yang lain. pertama. Sedangkan kelemahan anggaran berprogram adalah lebih sulit dilakukan pengawasan. kita tidak cukup menggunakan suatu anggaran yang hanya menyebutkan daftar barang-barang yang akan dibelanjakan. langkah selanjutnya adalah menetapkan dan mengukur suatu tingkat pelayanan yang wajar. Oleh karena itu. c.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 87 Dengan anggaran berprogram. Misalnya X rupiah untuk kepentingan ketertiban umum. sebab arti ketertiban umum itu dapat pula untuk pembangunan prasarana fisik (kantor) yang mewah bagi kepentingan ketertiban umum yang menyimpan dari tujuan yang diharapkan. artinya berapa banyak suatu hasil yang dapat dibuat dengan biaya itu. Anggaran belanja berbasis kinerja ini hanya menambahkan keterangan berapa banyak jenis pelayanan yang akan disediakan untuk melaksanakan suatu tujuan. Kemudian. dibandingkan dengan anggaran line-item (line-item budget). kita juga dapat menetapkan tingkat prioritas untuk membedakan bahwa program yang satu lebih penting dari program yang lain. Ada dua hal yang harus dilakukan dalam menyusun anggaran belanja berbasis kinerja. Hal ini disebabkan karena dalam anggaran berprogram. yang merupakan bagian program yang lebih luas. Sekalipun demikian. yang tidak jelas obyek-obyeknya. Anggaran Berbasis Kinerja (Performance Budgeting) Anggaran belanja berbasis kinerja (performance budget) dibangun atas anggaran berprogram. Jelasnya unit ukuran yang digunakan harus menguraikan secara nyata (konkrit) apa yang akan dikerjakan. . Dengan demikian. sebab suatu program terdiri atas unsur-unsur program. Dengan demikian anggaran berprogram yang mempunyai perincian line-item dikaitkan dengan tujuan daripada program. Salah satu cara untuk mengatasi kelemahan anggaran berprogram dalam segi pengawasan dan tingkat keluwesan (flexibility) adalah dengan cara mengkombinasikan sifat anggaran berprogram dengan sifat anggaran berdasarkan anggaran line-item. kita dapat mengetahui tujuan serta maksud membelanjakan uang tersebut. Kedua. akan terdapat program yang mendapat dana jauh lebih sedikit dari yang lain sekalipun ia dianggap fungsi yang lebih penting. yaitu. harus tersedia ukuran hasil kerja (output) yang realistis.

000.000. dapat dijelaskan melalui konsep-konsep sebagai berikut: .000. anggaran berbasis kinerja adalah anggaran pelaksanaan yang mencakup kombinasi antara anggaran belanja line-item (line-item budget). obyek-obyek pengeluaran (seperti persediaan dan bahan).000 Jumlah Sub Total Total Biaya peningkatan prasarana jalan Rp Rp 100. Namun dalam prakteknya. anggaran berprogram (program budget). Dalam membicarakan teori PPBS.88 Bab 5: Konsep Anggaran Dengan demikian. dan data-data hasil kerja. konsep penganggaran ini sulit dilaksanakan sehingga tidak banyak digunakan. Zero-based Budgeting Tidak seperti kebanyakan proses pengganggaran yang jumlah dan rincian kegiatannya didasarkan atas anggaran tahun sebelumnya seperti dinaikkan atau sama. zero-based budgeting menggunakan paket-paket anggaran.000.000 600. Contoh anggaran belanja berbasis kinerja adalah sebagai berikut. Seluruh program kegiatan pemerintah harus dijustifikasi setiap tahun dengan tidak mendasarkan atas kemiripan kegiatan yang telah diselenggarakan tahun sebelumnya.000 Jumlah Jumlah Sub Total Kegiatan II: Pembangunan jalan Ukuran hasil: Panjang jalan yang dibuat: 10 kilometer Biaya per kilometer: Rp10.000 d.000 Rp 500.000. Konsep ini banyak didukung oleh para pemerhati anggaran yang tidak menginginkan adanya pengeluaran-pengeluaran yang tidak perlu oleh pemerintah. Program: Peningkatan prasarana jalan Kegiatan I: Pembebasan tanah Ukuran hasil: Panjang lahan yang dibebaskan: 10 kilometer Biaya pembebasan per kilometer: Rp50. KONSEP PPBS (Planning Programming and Budgeting System) PPBS dimaksudkan sebagai usaha memperbaiki sistem penyusunan anggaran belanja pemerintah yang telah diuraikan di atas.

akan tetapi yang dimaksud di sini adalah setiap penyelesaian kerja yang nyata dari seorang karyawan pemerintah adalah hasil (output) pemerintah. 2) Berguna dalam menilai keputusan-keputusan alokasi sumber. Di samping itu dalam sistem anggaran belanja. Pandangan yang paling umum mengenai hasil dari suatu institusi adalah konsep output yang universal. karena orang ingin mengetahui mengapa suatu kegiatan dilaksanakan. Konsep tujuan sangat penting dalam sistem ini. ditunjukkan hubungan antara cita-cita atau tujuan pemerintah dengan kegiatan pemerintah. yaitu semua manfaat dan semua biaya yang harus diperhitungkan. adalah: 1) Berguna untuk mengukur efisiensi dan produktivitas dalam pengertian manajemen. Pengukuran Biaya dan Manfaat Kegiatan Pemerintah Konsep biaya sebagaimana digunakan dalam PPBS adalah bersifat komprehensif (lengkap). Akan tetapi ada juga yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan hasil adalah barang-barang dan jasa-jasa yang dihasilkan untuk disalurkan keluar pemerintah. yang merupakan landasan untuk penilaian kegiatan. Oleh karena itu. yang dikelompokkan menurut tujuannya.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 89 Tujuan Sebagaimana telah diuraikan bahwa suatu anggaran belanja yang berencana (planning budget) disusun dengan penentuan tujuan-tujuan. Konsep output yang universal beranggapan bahwa setiap penyelesaian kerja yang nyata dari suatu karyawan pemerintah dapat dipandang sebagai output. Adapun kelebihan penentuan tujuan. Landasan berpikirnya bahwa dalam menghitung biaya produksi suatu produk (manfaat). Output Sekalipun belum ada kesepakatan mengenai definisi hasil (output). kita harus melihat secara menyeluruh biaya-biaya langsung maupun tidak langsung yang dikeluarkan secara nyata. PPBS menghendaki agar dalam pengambilan keputusan yang rasional memasukkan biaya kesempatan . Hal ini dapat juga berupa sejumlah formulir pajak yang diproses sampai kepada pembangkit listrik yang menghasilkan sejumlah kilowatt listrik bagi kepentingan masyarakat. Pendekatan sistem anggaran ini adalah mengaitkan satu sama lain segala sesuatu yang berhubungan dengan produksi. 3) Berguna bagi tujuan akhir dari kegiatan-kegiatan suatu pemerintahan.

Misalnya : manfaat Biaya = Rp25 juta Rp50 juta = 1 2 = 0. Misalnya : manfaat Biaya = Rp50 juta Rp25 juta = 2 1 = 2 (>1) Sebaliknya seandainya rasio itu adalah kurang dari satu (<1). Objektivitas yang selengkap-lengkapnya barang kali tidak mungkin diperoleh. PPBS menitikberatkan pada pertimbangan rasional yang didasarkan atas data dan informasi. Analisis menghitung hubungan antara besarnya input (biaya) dan besarnya output (hasil-hasil yang dicapai) disebut input output analysis. Akan tetapi efektivitas biaya (cost effectiveness) harus dipertimbangkan pula terhadap hasil-hasil dari sudut manfaat biaya (cost-benefits). Misalnya kegiatan menghadiri rapat akan menghilangkan kesempatan untuk melakukan pekerjaan lain yang memperoleh hasil. sehingga asumsi itu bersifat rasional dan objektif. karena manfaatnya melebihi biayanya.5 (<1) Analisis yang Terbuka dan Jelas Analisis yang terbuka dan jelas merupakan asumsi yang merupakan unsurunsur kunci dan merupakan prasyarat pokok bagi keberhasilan PPBS. di samping mengukur biaya-biaya maupun manfaat menurut nilai sekarang. Untuk itu. dibuat juga suatu perbandingan manfaat dan biaya dimana manfaat-manfaat yang dinyatakan dalam nilai uang dibagi dengan biaya-biaya. Hal ini disebabkan karena hasil analisis itu . Ukuran efektivitas biaya menunjukkan jumlah hasil-hasil yang dapat dicapai dengan mengeluarkan sejumlah rupiah tertentu. Jika perbandingan itu lebih besar dari satu (>1) maka simpulannya adalah bahwa proyek tersebut layak. Mekanisme analisis data dan informasi harus jelas. Hal ini berarti bahwa semua asumsi yang dipergunakan sebagai dasar pertimbangan harus dibuat dan didukung oleh data atau informasi yang tepat dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. maka simpulannya adalah bahwa proyek itu tidak layak. Yang dimaksud dengan biaya kesempatan adalah hilangnya kesempatan untuk membelanjakan uang atau waktu atau sumber-sumber lain untuk suatu alternatif tujuan. akan tetapi kecenderungan untuk menutupi atau menyembunyikan data kunci harus dapat dihindarkan.90 Bab 5: Konsep Anggaran (opportunity cost) sebagai bagian dari biaya-biaya yang relevan terhadap output. karena biayanya lebih besar dari pada manfaatnya.

dan kebijaksanaan pemerintah. pemerintah berkewajiban menyusun dan mengajukan rancangan anggaran. dan lebih dapat dipertanggungjawabkan. Pemeriksaan dan pertanggungjawaban anggaran (budget auditing and assessment). Penyusunan anggaran (budget formulation). 4. tergantung kompleksitas struktur pemerintahan yang dilayani. yang di Indonesia disebut APBN. Pada umumnya proses formulasi anggaran dilakukan oleh eksekutif yang khusus menangani anggaran negara.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 91 mungkin diuji oleh analis-analis lain dan mungkin diulangi lagi dengan menggunakan susunan asumsi yang berbeda. dan proyek. tidak termasuk anggaran pendapatan dan belanja pemerintah daerah dan perusahaan-perusahaan milik negara. Selain itu juga dimuat perkiraan terperinci pengeluaran dan penerimaan departemen/lembaga. Peran lembaga legislatif dalam proses penyusunan anggaran menyebabkan proses penyusunan menjadi lebih demokratis. Secara umum siklus anggaran terbagi atas empat tahap yaitu: 1. defisit/surplus. Lembaga tersebut biasanya di bawah naungan Departemen Keuangan yang bertugas mengkoordinasikan dan mengorganisasikan usulan . Pengesahan anggaran (budget enactment). 3. obyektif. dan pembiayaan defisit. SIKLUS ANGGARAN Kebijakan fiskal pemerintah suatu negara secara ringkas tercermin dalam anggarannya. transparan. pengeluaran. Proses penyusunan dapat memakan waktu hingga beberapa bulan. transfer. 2. Proses perjalanan suatu anggaran yang dimulai dari penyusunan hingga pertanggungjawaban disebut dengan siklus anggaran. Istilah APBN yang dipakai di Indonesia secara formal mengacu pada anggaran pendapatan dan belanja pemerintah pusat. termasuk lembaga legislatif. Penyusunan Anggaran Sebelum dibahas oleh lembaga legislatif. dan informasi terkait lainnya. Penyusunan anggaran negara merupakan rangkaian aktifitas yang melibatkan banyak pihak. data aktual dan proyeksi perekonomian. Pelaksanaan dan pengawasan anggaran (budget execution). Rancangan ini memuat asumsi umum yang mendasari penyusunan anggaran seperti perkiraan penerimaan.

atau memilih untuk mendengarkan opini publik untuk kemudian diambil keputusan. Proses ini dimulai ditandai dengan pengajuan usulan anggaran oleh eksekutif untuk dibahas di lembaga legislatif. Faktor politik juga dapat ikut berperan dalam proses pembahasannya. Top – Down (dari atas ke bawah) Cara ini merupakan kebalikan dari cara bottom – up. Beberapa indikator ekonomi yang biasa diikutkan dalam pembahasan anggaran antara lain: ekspektasi pertumbuhan ekonomi. serta mendistribusikannya sesuai urutan prioritas kegiatan dan tersedianya dana. Campuran Cara ini merupakan gabungan dari 2 cara di atas. Anggota dewan berhak menolak usulan anggaran yang diajukan pemerintah.92 Bab 5: Konsep Anggaran anggaran pembiayaan dan pengeluaran dari instansi-instansi terkait. Kesemua itu tidak mempengaruhi dibutuhkannya legalisasi usulan anggaran oleh dewan legislatif. Namun hal ini tidak mencerminkan bahwa seluruh kegiatan harus dibiayai secara bertahap. Pada cara ini. unit organisasi yang paling tinggi menetapkan batas tertinggi (plafond) anggaran yang dapat dibelanjakan oleh unit organisasi yang lebih rendah. Bottom – Up (dari bawah ke atas) Pada cara ini. Pemerintah dapat saja melakukan perubahan drastis terhadap beberapa pengeluaran jika dipandang perlu dipilih sebagai reaksi atas perubahan indikator-indikator perekonomian. 3. beberapa negara memungkinkan anggota dewan . Dalam mengajukan usulan. penyusunan anggaran dimulai dari unit organisasi yang paling bawah kemudian diteruskan secara berjenjang ke unit organisasi yang lebih tinggi. inflasi dan karakteristik makro ekonomi lainnya seperti harga minyak mentah dunia. Hal ini biasa terjadi dikarenakan adanya kemungkinan anggota legislatif yang ditunjuk dalam komisi pembahasan anggaran tidak menguasai kerangka kerja anggaran. Dalam hal tersebut. 2. Anggota dewan dapat mengundang pihak esksekutif pada waktu pembahasannya. Kegiatan yang telah dilaksanakan pada tahun sebelumnya sering dijadikan landasan penyusunan anggaran tahun berikutnya. anggaran disusun untuk masa satu tahun. unit organisasi yang paling bawah harus memperhitungkan besar kecilnya kegiatan yang akan dilakukan. Ada tiga cara dalam menyusun anggaran yaitu: 1. Pada kebanyakan negara. Unit organisasi yang telah ditetapkan batas anggarannya tidak boleh melakukan pengeluaran melebihi dari batas tersebut.

Sedangkan tugas Departemen Keuangan hanya memonitor melalui laporan yang disampaikan oleh departemen-departemen. Menteri Keuangan secara terpusat dapat menerapkan kontrol ketat terhadap prosedur aliran dana keluar. Menurut subyeknya. Tetapi pertanyaan harus diajukan oleh tim pengawas manakala terjadi perbedaan yang signifikan tetapi tanpa dasar alasan yang dapat diterima. . Kemungkinan dari adanya perbedaan yang signifikan adalah adanya penyelewengan kekuasaan oleh lembaga eksekutif. Beberapa deviasi menyebabkan beberapa pos pengeluaran tidak terealisasi sebagaimana tertera dalam anggaran.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 93 menyusun anggarannya sendiri atau memutuskan untuk menggunakan anggaran tahun sebelumnya. Instansi dan departemen terkait. Bisa juga disebabkan oleh tidak efisiennya mekanisme dan kekakuan pelaksanaan teknis realisasi anggaran di lapangan. Proses pembahasan selesai setelah usulan anggaran diundangkan atau diamandemen. melakukan belanja publik terbatas maksimal sebesar tertera pada anggaran. Prosedur pengawasan eksekusi anggaran dapat berbeda di tiap negara. yaitu pengawasan yang dilakukan oleh aparatur pengawasan dari luar departemen. anggaran sering tidak dijalankan sama persis dengan jumlah yang disetujui. Pengawasan ekstern. pengawasan dapat dibagi menjadi: 1. dan memberi persetujuan terhadap pengeluaran-pengeluaran yang besar. Pengawasan anggaran secara kelembagaan dibagi dalam 2 bagian yaitu: 1. Pengawasan intern. Untuk mengefektifkan pelaksaaan anggaran. Atau departemen-departemen dibuat lebih independen dalam realisasi belanja publik. 2. Pengawasan melekat (waskat). memonitor efektifitas alokasi anggaran ke departemen-departemen lainnya. Pengawasan fungsional (wasnal) yaitu pengawasan yang dilakukan oleh institusi. Sedangkan untuk penerimaan publik diharapkan dapat melebihi atau minimal sama dengan anggaran yang telah disetujui. Pada prakteknya. Pelaksanaan dan Pengawasan Anggaran Proses berikutnya adalah pelaksanaan anggaran yang telah disetujui dewan. dibutuhkan kegiatan pengawasan. yaitu pengawasan yang dilakukan oleh pimpinan terhadap bawahannya. 2. yaitu pengawasan yang dilakukan oleh unit inspeksi yang betugas melakukan pengawasan di lingkungan departemen yang bersangkutan.

aparat pengawasan legislatif. pengawasan dapat dibagi menjadi: 1. Pemeriksaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Siklus terakhir dari anggaran adalah pemeriksaan dan pertanggungjawaban atas efektifitas anggaran khususnya penggunaan pendapatan publik. 3. maupun pemeriksaan. Pengawasan setelah kegiatan dilaksanakan. Fungsi pemeriksaan dari lembaga legislatif tidak dimaksudkan untuk menekan pihak eksekutif atau sekedar mencari-cari kesalahan pejabat publik. 2. Pengawasan langsung. Menurut waktunya. Pengawasan sebelum kegiatan dimulai. Pengawasan tidak langsung. BPK merupakan lembaga tinggi negara yang melakukan pengawasan terhadap pemerintah. Tapi lebih ditekankan pada bagaimana memanfaatkan seluruh kekayaan publik pada porsi yang paling menguntungkan ekonomi negara. pengawasan dapat dibagi menjadi: 1. Pengawasan selama kegiatan dilaksanakan. yaitu pengawasan yang dilakukan on the spot melalui inspeksi. Masalah Umum Anggaran . pihak eksekutif harus dapat melaporkan pelaksanaan kebijakan fiskalnya secara lengkap. Menurut caranya. atau dari masyarakat. yang disebut sebagai post audit. yaitu pengawasan yang dilakukan berdasarkan laporan dari pejabat yang bersangkutan. Pengawasan masyarakat. Pengawasan legislatif (wasleg) yaitu pengawasan yang dilakukan oleh dewan legislatif. Agar proses pemeriksaan atas pertanggungjawaban dapat dengan mudah dilakukan.94 Bab 5: Konsep Anggaran 3. 4. Laporan ini harus diaudit secara reguler oleh badan independen semacam Auditor General (di Indonesia disebut BPK) yang memiliki kapasitas untuk melakukan pemeriksaan yang akurat dan tepat waktu. yang disebut sebagai pengawasan preventif 2. aparat pengawasan fungsional. sidak. yang disebut sebagai pengawasan represif. Manajemen anggaran modern lebih menekankan pada perlunya sosialisasi dan distribusi informasi mengenai anggaran publik agar lebih dapat ditingkatkan efektifitas dan efisiensi prosesnya. Jika dimungkinkan. yaitu pengawasan yang dilakukan oleh masyarakat yang disampaikan secara lisan maupun tertulis kepada pemerintah. Di Indonesia.

problem anggaran yang dihadapi meliputi penentuan asumsi-asumsi ekonomi dan indikator fiskal. Pengeluaran publik tidak selalu identik dengan belanja publik. 4. karena penerimaan tidak menyebabkan kenaikan kekayaan neto negara. akan tetapi banyak juga ketidakefisienan yang disebabkan oleh praktek penyusunan anggaran yang tidak fair. dan pengeluaran versus belanja: 1. koordinasi pembangunan terencana dalam jangka panjang serta berkesinambungan. Hal tersebut dapat juga disebabkan oleh lembaga-lembaga legislatif dan pemeriksa yang tidak independen atau tidak mempunyai kapasitas sebagaimana mestinya. Anggaran berbasis kinerja (performance budgeting). Anggaran belanja line-item (line-item budgeting). karena mencantumkan dengan jelas barang-barang atau obyek-obyek di mana uang itu dibelanjakan. 3. sedangkan belanja publik pasti mengurangi kekayaan neto negara. Pada umumnya negara berkembang. Sedangkan pada pelaksanaan dan pemeriksaan lebih mengarah pada isu-isu manajemen dan akuntansi. menentukan jumlah ideal penyerapan pendapatan publik melalui pajak. Jenis-jenis anggaran: 1. Beberapa permasalahan mungkin diakibatkan oleh faktor-faktor di luar kontrol. Untuk mencapai hasil yang diharapkan. Penerimaan publik tidak selalu berupa pendapatan publik. 2. sedangkan pendapatan publik pasti menyebabkan kenaikan kekayaan neto negara. Problem pada fase penyusunan dan pembahasan lebih banyak akibat adanya campur tangan politik. karena pengeluaran publik tidak mengurangi kekayaan neto negara. Kelebihan sistem anggaran line-item adalah mengawasi penggunaannya. 2. menghadapi kerentanan tehadap fluktuasi perdagangan dunia. RANGKUMAN § Perbedaan antara penerimaan versus pendapatan. § § . Negaranegara tersebut seperti halnya Indonesia. Anggaran belanja berprogram (a program budgeting). Sebagian anggaran mengalami kebocoran atau penggunaan yang tidak selaras dengan pembangunan perekonomian berkesinambungan.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 95 Setiap siklus anggaran memiliki problem tersendiri. kombinasi konflik antara manajemen dan politik perlu diakomodasi secara memadai. Zero based budgeting. sedangkan kelemahannya adalah sulit menyederhanakan berbagai jenis barang untuk dikelompokkan.

bukan perincian yang sempit sifatnya. Pelaksanaan dan Pengawasan Anggaran (Budget Execution) 4. karena dapat diketahui tingkat kepentingan tujuan pembelanjaan itu. Dua hal yang harus dilakukan dalam menyusun anggaran belanja berbasis kinerja.Up (dari bawah ke atas) 2. Pengawasan Ekstern Fungsi pemeriksaan dari lembaga legislatif lebih ditekankan pada bagaimana memanfaatkan seluruh kekayaan publik pada porsi yang paling menguntungkan ekonomi negara. yaitu: 1. 2. 4. Penyusunan Anggaran (Budget Formulation) 2. Menetapkan dan mengukur suatu tingkat pelayanan yang wajar. yaitu: a. Pengesehan Anggaran (Budget Enactment) 3. LATIHAN 1. Siklus anggaran terbagi atas empat tahap. Bottom. Pengawasan Intern 2. 3. Pemeriksaan dan Pertanggungjawaban Anggaran (Budget Auditing and Assessment) Tiga cara dalam menyusun anggaran. yaitu: 1. Top-Down (dari atas ke bawah) 3. Lebih normatif. Apakah perbedaan antara penerimaan versus pendapatan pengeluaran versus belanja? Jelaskan pengertian anggaran! Jelaskan hal-hal yang diuraikan dalam suatu anggaran! Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis anggaran! Jelaskan kelebihan dan kelemahan dari “line items”! dan .96 § Bab 5: Konsep Anggaran § § § § § Kelebihan sistem anggaran berprogram: 1. Campuran Pengawasan anggaran secara kelembagaan dibagi 2 bagian. 5. Harus tersedia ukuran hasil kerja (output) yang realistis b. 2. Memungkinkan kita untuk memuat daftar prioritas dalam memutuskan kegiatan-kegiatan yang akan dibelanjakan. yaitu: 1.

16. 13. 7. 9. dan waktunya. 11. Sebutkan dan jelaskan! Jelaskan mengenai masalah umum anggaran! .Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 97 6. 15. pengawasan dapat dibagi menjadi beberapa hal. 12. 14. 10. caranya. Jelaskan kelebihan dan kelemahan dari anggaran berprogram! Sebutkan salah satu cara untuk mengatasi kelemahan anggaran berprogram! Uraikan hal-hal yang harus dilakukan dalam menyusun anggaran belanja berbasis kinerja! Apakah konsep PPBS (Planning Programing and Budgeting System) itu? Sebutkan beberapa kelebihan penentuan tujuan! Sebutkan siklus anggaran! Sebutkan beberapa indikator ekonomi yang biasa diikutkan dalam pembahasan anggaran! Uraikan tiga cara dalam menyusun anggaran! Sebutkan dan jelaskan pengawasan anggaran secara kelembagaan! Menurut subyeknya. 8.

persyaratan yang diperlukan untuk pembangunan ekonomi di negara-negara berpendapatan rendah sama halnya seperti persyaratan yang diperlukan untuk . Karena itulah masalah-masalah pembiayaan pembangunan perlu dibicarakan secara khusus dan terpisah.PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN Keuangan publik memainkan peranan penting dalam perekonomian negara. Sejumlah kesulitan yang mengganggu kemajuan ekonomi suatu negara harus dipecahkan oleh sektor publik. UNSUR-UNSUR PEMBANGUNAN Dalam rangka pertumbuhan perekonomian yang berkelanjutan. Namun masalah kelembagaan dan sosial yang dihadapi oleh suatu negara dapat memperpelik dan membatasi tugas kewenangan dalam menetapkan kebijakan anggaran dan stabilisasi.

Pada tahap-tahap awal pembangunan. Sampai pada tingkat tertentu. Dalam hal ini. prioritas akan selalu berubah. banyak negara berpendapatan rendah . tidak cukup hanya dengan cara penyediaan modal pembangunan (yang meliputi investasi fisik dan investasi sumber daya manusia) serta proses teknologi yang diperlukan. entah itu oleh pemerintah (di negara-negara sosialis) atau oleh swasta (dalam perekonomian pasar bebas). sektor publik cenderung tumbuh sejalan dengan pertumbuhan pendapatan. Untuk mencapai pertumbuhan. Misalnya. maka konsumsi periode berjalan harus dikurangi agar sumber daya bagi investasi tersedia. Terdapat berbagai cara penggunaan sumber daya untuk meningkatkan produktivitas. khususnya dalam bentuk infrastruktur. sektor publik memegang peranan penting terhadap semua unsur pembangunan ini. Untuk sementara waktu kita akan mengabaikan masalah perencanaan investasi dan memusatkan perhatian pada dari mana kita akan memperoleh sumber daya tambahan untuk investasi tersebut. Gambaran semacam itu yang terdapat baik pada negara berpendapatan tinggi maupun rendah. investasi pemerintah sangatlah penting. Lebih jauh lagi. Persyaratan fundamental untuk pembangunan ekonomi adalah tingkat pengadaan modal pembangunan yang seimbang dengan pertambahan penduduk. masih banyak persyaratan lain yang diperlukan. Namun di luar itu. Pembentukan modal tersebut harus didefinisikan secara luas sehingga mencakup semua pengeluaran yang sifatnya menaikkan produktivitas. Pembentukan Modal Pembangunan Sebagaimana telah diulas pada bagian terdahulu mengenai perkembangan sektor publik di negara-negara maju. pembentukan modal pembangunan meliputi investasi pada sumber daya manusia dalam bentuk pendidikan dan pelatihan (training) seperti halnya investasi dalam bentuk fisik. dan perpaduan berbagai cara tersebut harus ditentukan dalam proses perencanaan pengeluaran dan sumber daya. Lebih jauh lagi. Jika sumber daya yang terbengkalai tidak bisa dimanfaatkan atau jika sumber daya tambahan tidak dapat diperoleh dari luar negeri. Infrastruktur ini akan menjadi kerangka persiapan bagi investasi pada tahap berikutnya. demikian juga dengan bauran investasi yang optimum. Bisa saja pengeluaran itu berupa investasi di sektor publik dan swasta. tetapi juga diperlukan sejumlah perubahan sosial dan kelembagaan yang merupakan sebab dan akibat dari tingkat pembangunan perekonomian yang masih rendah. mobilisasi sumber daya yang terbengkalai masih mungkin diupayakan.100 Bab 6: Pembiayaan Pembangunan mempertahankan pertumbuhan ekonomi di negara yang relatif sudah maju.

Tetapi di lain pihak. Dalam kadar tertentu. kenaikan tingkat tabungan secara sukarela bisa terjadi lebih besar dari sektor swasta. irigasi. jika keadaan cukup mendukung. sumber modal pembangunan semacam ini mempunyai keterbatasan tersendiri dan penyediaan lapangan kerja bagi para pengangguran mungkin akan memerlukan investasi pendukung tertentu. tak bisa dipungkiri bahwa salah satu masalah besar adalah bagaimana mengalihkan sebagian konsumsi periode berjalan untuk digunakan sebagai sumber daya pembangunan. pemerintah hanya perlu berperan sebagai pengorganisasi bagi pemanfaatan sumber daya. pemerintah juga bisa berperan dalam penyediaan dan pembentukan lembaga keuangan yang cocok guna menarik tabungan rumah tangga dan menggunakannya secara produktif. perpajakan akan sangat berperan untuk memberikan insentif bagi tabungan atau disinsentif bagi konsumsi barang-barang mewah. Kemungkinan lain adalah dengan mengusahakan sumber daya investasi dari luar negeri dalam bentuk pinjaman dan bantuan pemerintah atau sebagai investasi swasta. Selanjutnya. pembentukan modal dari hasil internal pasti akan berasal dari tabungan pemerintah atau swasta. Di sinilah diperlukan suatu usaha pemerintah untuk menjaga stabilitas moneter sehingga kebiasaan menabung tidak diredupkan oleh inflasi yang tak berkesudahan. Di samping itu. Akan tetapi. memerlukan infrastruktur yang tersedia secara memadai dan bantuan pemerintah negara lain baru akan diberikan jika telah ada rencana pembangunan yang dirumuskan dengan baik. Para investor swasta dari luar negeri. Hal ini akan mencakup ketentuan mengenai peningkatan investasi domestik yang sebagian besar dibiayai dengan pajak. semua itu tentunya tidak akan mencukupi. jalan. Tabungan perusahaan juga dapat dirangsang . Usaha terakhir ini sangat penting bagi para penabung kecil karena bagi mereka umumnya tidak tersedia sarana penabungan perorangan selain daripada meminjamkannya dengan risiko tinggi atau dengan menukarnya dengan barang berharga seperti logam mulia. pengalihan ini dapat dilakukan dengan menahan sebagian hasil pengembalian (returns) yang dibayar kepada faktor produksi sehingga pembayaran lebih kecil dari hasil produk marjinal. Dalam kondisi seperti ini. Pada perekonomian yang dikendalikan secara terpusat di mana badan usaha milik negara memegang dominasi. dan bendungan. sebagaimana halnya dengan investor domestik.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 101 mempunyai sedemikian banyak tenaga kerja yang terbengkalai dan lapangan kerja bagi mereka bisa tersedia hanya dengan usaha pembangunan yang sangat sederhana tetapi menyerap banyak tenaga kerja seperti pembangunan drainase. dan walau bagaimanapun juga bantuan tersebut tidak akan diperoleh tanpa adanya usaha pendukung dari negara penerima bantuan. Tetapi pada perekonomian yang didesentralisasi. Dalam kondisi ini.

Dalam hal ini. yaitu berkisar dari 8 sampai 18 persen.102 Bab 6: Pembiayaan Pembangunan melalui sistem penarikan pajak laba usaha yang mendorong ditahannya dan diinvestasikannya kembali laba usaha. KEBIJAKAN STRUKTUR PERPAJAKAN Kapasitas Kena Pajak dan Upaya Perpajakan Walaupun merupakan suatu hal yang esensial untuk mengetahui berapa tingkat penerimaan pajak yang diperlukan guna menjamin tingkat pertumbuhan tertentu. dan di beberapa negara sampai 8 persen. Pada kenyataannya persentase sektor publik jauh lebih kecil pada negara-negara berpendapatan rendah sebagai suatu kelompok. tidak mungkin akan cukup. Rasio pada negara-negara di Asia dan Afrika dengan pendapatan per kapita yang serupa cenderung lebih tinggi. Jika demikian. namun kelayakan tingkat pengenaan pajak itu sendiri merupakan faktor penting yang harus diperhitungkan dalam menentukan target pertumbuhan. bagaimana kita dapat menilai kemampuan membayar pajak dari suatu negara dan bagaimana kelancaran pembayaran pajak dapat diukur? Sebagaimana telah kita pahami bersama bahwa besarnya sektor publik di negara-negara maju tidak hanya berkembang sejalan dengan pendapatan per kapita. Lembaga pemberi pinjaman internasional mungkin saja mensyaratkan agar bantuan yang diberikan dibarengi dengan upaya perpajakan yang sepadan dengan negara penerima bantuan. Mengapa upaya perpajakan (tax effort) di negara-negara berkembang sedemikian rendah. tetapi tidak terlihat adanya suatu hubungan yang mencolok di dalam kelompok tersebut. Dengan demikian lembaga itu mungkin akan menuntut agar pada . tetapi kenaikan pendapatan per kapita juga disertai dengan kenaikan persentase sektor publik dalam GNP. kebijakan perpajakan harus dipertimbangkan secara bersama-sama dengan aspek-aspek lain dari kebijakan pembangunan. dan benarkah rasio yang rendah itu pada kenyataannya menandakan upaya perpajakan yang rendah? Jawabannya tergantung pada bagaimana kita mengartikan upaya perpajakan itu. Pola yang sama juga akan kita jumpai sehubungan dengan rasio penerimaan pajak terhadap GNP. meskipun bermanfaat dan penting. Rasio penerimaan pajak terhadap GNP di negara terbelakang cenderung sangat rendah. Tabungan swasta secara sukarela. Sementara rasio semacam itu di negara-negara maju adalah 40 persen atau lebih. tetapi hal itu tidak bisa dianggap sebagai variabel dependen di dalam sistem tersebut yang berubah secara otomatis sesuai dengan pengenaan pajak yang diperlukan. khususnya pada tahap awal pembangunan. Di negara-negara Amerika Latin rasio umumnya adalah sekitar 14 persen.

semua pendapatan pribadi diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Terlepas dari tingkat dan distribusi pendapatan. dan hal ini sulit tercapai jika perusahaan-perusahaan yang ada berukuran kecil dan tidak stabil. Karena alasan ini dan alasan-alasan lainnya. Pemberian jasa pungut pajak (tax farming). dan survai pertanahan belum memadai untuk menghasilkan penilaian yang semestinya. sandang. Pajak produk tidak bisa dikenakan pada tingkat pengecer jika perusahaan pengecer kecil dan tidak permanen. seperti pangan. Tetapi asumsi ini tidak berlaku jika distribusi pendapatan sangat timpang yang mana akan mengakibatkan besarnya konsumsi barang-barang mewah.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 103 negara dengan pendapatan per kapita yang tinggi terdapat rasio penerimaan pajak yang tinggi guna menunjukkan keselarasannya dengan upaya perpajakan. dengan cara-cara semacam ini pun tidak akan tercipta struktur perpajakan yang mapan dan adil. Meskipun demikian. Sekiranya dana pemerintah tidak dimaksudkan untuk menyediakan kebutuhan hidup yang sama-sama mendasar (misalnya program kesehatan) maka penggunaan dana tersebut akan menimbulkan beban berat yang tidak sepatutnya. Pengenaan pajak tanah yang efektif sukar dilaksanakan jika hasil pangannya dikonsumsi sendiri. hanya bisa diandalkan untuk sementara waktu saja. dan ketersediaan petugas fiskus yang mampu dan jujur. Negara berpendapatan rendah menghadapi keterbatasan dalam mentransfer sumber daya untuk digunakan pemerintah. maka penilaian yang realistis atas upaya perpajakan (tax effort) harus memperhitungkan penanganan pajak (tax handles) yang tersedia untuk itu. pengelolaan pajak penghasilan akan jauh lebih sulit jika semua lapangan kerja terdapat pada perusahaan-perusahaan kecil. yaitu sistem dimana kepada para pemungut pajak diberikan persentase tertentu sebagai insentif. Dengan demikian. Akhirnya. sektor pertanian belum terukur dengan nilai mata uang. kelayakan pengenaan pajak tergantung juga pada kesadaran masyarakat untuk membayar pajak. Keadaan ini sangat perlu diperhatikan sebagai sumber penerimaan yang potensial. Di pihak lain. Dengan demikian. dan papan. pengenaan pajak sangat sederhana pada perekonomiam yang sangat terbuka di mana impor dan ekspor berlangsung melalui pelabuhan-pelabuhan utama dan terbuka bagi petugas fiskus. demikian juga halnya dengan penetapan kuota pajak bagi para petugas pajak. ukuran komparatif . Penarikan pajak laba tidaklah layak sebelum praktek akuntansi mencapai standar minimal. Pada tingkat pendapatan per kapita yang sangat rendah. dukungan pengadilan terhadap penegakan peraturan perpajakan. adanya penanganan pajak akan selalu berkaitan dengan struktur perekonomian suatu negara.

demikian juga terhadap pajak penjualan dan produksi domestik. Pengembangan Struktur Perpajakan Masalah perencanaan dan pengelolaan perpajakan akan berbeda-beda sesuai dengan struktur perekonomian suatu negara dan sikap masyarakat terhadap perpajakan. dengan melihat respon pada umumnya terhadap penanganan yang tersedia. khususnya di sektor pertanian. pada umumnya masih di luar jangkauan pajak penghasilan. Kontribusi pajak penghasilan perorangan di negara-negara Amerika Latin lazimnya berkisar 20 persen dan karena itu merupakan bagian yang besar dari penerimaan pemerintah. dan kelompok perusahaan domestik besar yang jumlahnya sangat kecil. Pajak Penghasilan Perorangan Pajak penghasilan perorangan tidak mungkin dan tidak dapat diharapkan untuk menduduki posisi sentral dalam struktur perpajakan pada negara sedang berkembang dan begitu juga umumnya di negara-negara maju. Selain itu terdapat fenomena menarik yang menyatakan bahwa pajak yang sering diklasifikasikan sebagai pajak penghasilan di negara miskin seringkali jauh berbeda dari pajak penghasilan perorangan di negara maju. Pajak ini bersifat elastis terhadap pertumbuhan GNP. Peranan pajak upah juga makin penting dengan naiknya pendapatan per kapita. dan sejumlah ciri struktur perpajakan yang lazim ditemukan dalam kaitannya dengan pendapatan per kapita dapat diamati. Karyawan perusahaan kecil dan sebagian besar masyarakat yang mengelola usaha sendiri. Di satu sisi hal ini akan mencerminkan . peranan pajak penghasilan pun makin meningkat relatif terhadap bea. pajak penghasilan harus ditata dengan baik sejak dini dan ditingkatkan selama berlangsungnya pembangunan. pajak penghasilan usaha seringkali lebih mirip dengan pajak penjualan daripada pajak laba sebagaimana ditemukan di negara-negara maju dan sebagainya. Meskipun demikian. Sejalan dengan itu. Pajak akan berperan besar terhadap perdagangan luar negeri (terutama bea) dan pajak atas produksi dan penjualan domestik untuk negara-negara berpendapatan rendah. Perbedaan juga akan timbul sebagai akibat tahap-tahap pembangunan ekonomi. karena itu bisa menjadi sumber penerimaan yang cukup besar untuk pembiayaan pembangunan. perusahaan asing. Dengan naiknya pendapatan per kapita.104 Bab 6: Pembiayaan Pembangunan atas upaya perpajakan dapat diperoleh dengan membandingkan rasio aktual dari penerimaam terhadap GNP pada suatu negara tertentu dengan rasio yang seharusnya diperoleh.

Tidak jarang negara-negara berkembang menghadapi inflasi puluhan bahkan ratusan persen per tahun. Penghitungan pajak oleh para petugas sering kali didasarkan pada negoisasi dan bukan ditetapkan secara objektif. dan hukuman yang lebih tinggi bagi pembayaran yang tertunda. diharuskannya perusahaan dan bank menyampaikan informasi tentang pembayaran bunga dan pembayaran dividen. Akibatnya. khususnya jika hukumannya tidak sebanding dengan suku bunga dan nilai hutang pajak yang semakin menurun akibat inflasi. tetapi penerapannya sangat terbatas pada jenis upah dan gaji tertentu saja sehingga lebih mudah dilaksanakan. sangat penting bagi negara-negara berkembang dimana urbanisasi yang pesat akan menaikkan nilai tanah. misalnya telah dialami Cili dan Brasil selama bertahun-tahun. Namun. Sebagaimana dialami Amerika Serikat . Meskipun tidak tersedia estimasi yang andal. tetapi peredaran inflasi secara melekat melalui pajak penghasilan progresif akan melemah. Inilah prasyarat utama yang kerapkali sukar untuk dipenuhi oleh negara-negara berkembang dalam konteks budaya dan politik. Lebih jauh lagi. Penggunaan sistem pemungutan pajak oleh orang lain (witholding) bisa mempercepat pemungutan pajak dan hal itu sangat baik. Hal itu. Keterlambatan pembayaran pajak atas pendapatan modal merupakan keuntungan besar. Prinsip penghitungan pajak sendiri (self assessment) seperti diterapkan di Indonesia tidak berjalan lancar. pengaruh inflasi terhadap perpajakan dinetralisir. namun bisa dikatakan bahwa pendapatan kena pajak akan benar-benar dicapai bila peraturan perpajakan dijalankan secara ketat. terutama dalam kaitannya dengan tanah dan bangunan. pengurangan keterlambatan penafsiran. Masalah keuntungan modal. pengelolaan pajak penghasilan diperparah oleh masalah inflasi. sehingga hubungan antara tarif marjinal dan pendapatan riil dipertahankan konstan. Guna menghadapinya. penjatahan jumlah wajib pajak bagi setiap petugas (khususnya wajib pajak berpendapatan tinggi).Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 105 tingkat pembebasan pajak yang ditetapkan relatif tinggi jika dikaitkan dengan pendapatan rata-rata. dan pembayaran akhir sangat banyak yang terlambat. Tidak ada satu obat mujarab untuk mengatasi kesulitan ini kecuali dengan menerapkan wajib pungut pajak. badan perpajakan bisa menaikkan tingkat pembebasan dan kelompok tarif secara otomatis setiap tahunnya sejalan dengan naiknya harga-harga. tetapi hal itu juga merupakan akibat dari upaya pengelolaan yang tidak aktif. komputerisasi dan penanganan terpusat atas surat pemberitahuan pajak. Pemungutan pajak penghasilan atas modal bahkan lebih sukar lagi. semua itu tidak akan mencukupi kecuali jika badan pengadilan mendukung penuh penegakan peraturan perpajakan.

Caranya adalah dengan menaksir marjin laba atas penjualan dimana terdapat marjin yang beragam untuk berbagai industri. yang digunakan secara luas di negara-negara Asia. Para pembaharu pajak sering menyepelekan perbaikan teknik penaksiran pajak terhadap perbaikan teknis dalam pemajakan perseroan. pajak atas keuntungan modal bagi real estate. Pajak Penghasilan Perusahaan Masalah yang pelik akan timbul dalam pengenaan pajak penghasilan perusahaan. Sesuai dengan pengamatan Henry George. dan praktek yang cocok bagi suatu negara seperti Amerika Serikat mungkin tidak dapat diterapkan di negara sedang berkembang dengan mengingat tradisi dan tingkat pembangunannya saat ini. Banyak negara menggunakan taksiran dan bukan pendekatan langsung guna menentukan laba. metode lain harus digunakan. Ini juga merupakan praktek yang bisa ditemukan pada tradisi perpajakan Eropa. juga terjadi di Indonesia terutama di Jakarta dan sekitarnya. Di negara-negara Amerika Latin. . Lebih jauh lagi. Serentak dengan itu. akan mengubah bentuk pajak laba menjadi semacam pajak penjualan. laba taksiran didasarkan pada patokan tertentu seperti luasnya lantai atau ruang kerja dan lokasi pada wilayah perkotaan. padahal hal terakhir ini tidak begitu penting bagi negara yang sedang berkembang. sedangkan di negaranegara Asia sistem hukum kebendaan yang sangat berbeda bisa diterapkan. sementara yang bandel diberi hukuman. hukum Eropa daratan lebih berperan daripada tradisi common law (hukum Inggris). Metode ini. yaitu bangunan dan tanah. pembayar pajak yang setia perlu diberi penghargaan. Bila akuntansi perusahaan belum begitu maju sehingga belum bisa mengukur laba dengan cukup akurat. misalnya. Dalam hal pertanian.106 Bab 6: Pembiayaan Pembangunan pada akhir abad sembilan belas. khususnya sehubungan dengan pendapatan profesional. Proses perbaikannya harus bertahap dan tidak bisa bergerak lebih cepat dari perbaikan metode akuntansi. dikelola sebagai suatu jenis pajak tersendiri. Karena itu. luasnya lahan atau jumlah ternak bisa digunakan sebagai dasar taksiran. Hal ini terjadi karena kewajiban pajak menjadi fungsi dari penjualan dan marjin tersebut merupakan taksiran dan bukan aktual. entah itu berupa pajak laba perseroan atau pajak persekutuan dan perusahaan perseorangan yang dikenakan menurut pajak penghasilan perorangan. Dalam keadaan lain. bentuk hukum dari badan-badan usaha sering kali berbeda.

Dengan pajak yang dikenakan secara berjenjang seperti halnya pajak pertambahan nilai. Meskipun pajak semacam ini pada akhirnya akan lebih kecil daripada pajak bumi dan bangunan. Dengan demikian. Pajak dan Bea atas Komoditas Pengenaan pajak komoditas harus ditentukan berdasarkan kelayakan administratif sehingga tergantung pada struktur perekonomian negara tertentu. Di luar semua ini. pajak kekayaan atas harta benda bersih jarang ditemukan dalam struktur perpajakan di negara sedang berkembang. ketiga dasar tersebut akan memberikan nilai yang sangat berbeda. ketiga dasar tersebut akan bisa saling dipertukarkan karena nilai tanah akan sama dengan nilai pendapatannya yang dikapitalisasi. Dalam kenyataan. Pajak Kekayaan dan Pajak atas Bumi dan Bangunan Di samping penerimaan dari tanah. yang meliputi tidak hanya penyewaan atas tanah tersebut tetapi juga peningkatan nilai atas tanah. Dalam sistem persaingan sempurna. karena banyaknya harta tak berwujud yang tidak termasuk dalam dasar pengenaan pajak. Pajak penghasilan jarang diterapkan secara efektif ke sektor pertanian sehingga pendapatan dari tanah seringkali merupakan gabungan dari pajak penghasilan dan pajak atas tanah. atas pendapatan aktual. tidak demikian halnya. Pasar atas tanah mungkin tidak tersedia dan nilai jualnya saat ini tidak bisa diperoleh. Jadi bukan merupakan kehilangan total seperti pada pajak penjualan eceran. atau atas pendapatan potensial yang bisa dihasilkan tanah tersebut jika dimanfaatkan secara penuh. penerimaan pemerintah yang hilang tidak akan besar meskipun tingkat pengecer tidak terjangkau. Tanah seringkali tidak dimanfatkan secara penuh dan ditahan untuk tujuan spekulatif atau ditahan sesuai dengan adat istiadat setempat. apakah pajak tersebut harus dikenakan atas nilai tanah. namun jenis pajak ini penting guna melengkapi pajak penghasilan. penarikan pajak atas real estate dan pertokoan juga menjadi dasar pengenaan pajak yang penting. dan pendapatan aktual akan sama dengan pendapatan potensial. khususnya selama berlangsungnya urbanisasi. yang menggabungkan pajak atas sejumlah rumah dalam satu dasar pengenaan pajak guna melengkapi sistem penarikan pajak komoditas atas konsumsi barang-barang mewah di samping terhadap perumahan.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 107 Pajak Tanah Satu pertanyaan mendasar dalam pajak atas tanah. Penggunaan metode faktur mungkin . Ada baiknya jika hal tersebut di atas dikenakan pajak progresif atas tempat hunian.

bea masuk sering menjadi pelindung bagi produk barang mewah pengganti di dalam negeri. Disamping itu. pengenaan pajak produk dengan tarif yang berbeda-beda cenderung lebih sukar jika diterapkan dengan pendekatan nilai tambah. biaya modal cenderung dinilai terlalu rendah. Keringanan pajak untuk investasi yang tidak berdiri sendiri dalam meningkatkan pertumbuhan. Dengan demikian. INSENTIF PERPAJAKAN Tujuan pemerintah yang berupa pertumbuhan ekonomi dan pemerataan bisa dicapai dengan berpedoman pada pajak konsumsi progresif. Cukai domestik juga perlu untuk dikoordinasikan dengan bea impor. maka tidak mengherankan bahwa telah diupayakan berbagai cara untuk meminimumkan pengaruh masalah justifikasi sampai dimana pemerataan dan pertumbuhan didahulukan terhadap satu sama lain. Karena adanya kemungkinan timbulnya konflik antara pajak penghasilan progresif dengan insentif untuk inventasi. Pendekatan terbaik dengan menggunakan tarif yang cukup seragam dan memasukkan unsur bea impor barang mewah di dalam sistem pengenaan cukai domestik. Jika suatu produk dengan nilai kena pajak yang sangat besar dihasilkan pada perusahaan yang relatif besar. pendekatan keadilan menuntut agar pendekatan ini dipadukan dengan penarikan pajak atas pendapatan modal dengan tarif progresif.108 Bab 6: Pembiayaan Pembangunan akan membuat para wajib pajak lebih taat. maka pengenaan cukai atas produsen akan merupakan pendekatan yang paling sederhana dan gamblang. Karena ingin membebani konsumsi barang mewah dengan lebih berat. Di pihak lain. seringkali mengenakan bea impor yang lebih tinggi atas barang mewah. praktek ini akan memperburuk distorsi harga. Dalam situasi dimana. Jika hal ini terjadi akan merupakan kebijakan yang buruk. Kebijakan perpajakan harus memperhatikan bahwa kenaikan tingkat pertumbuhan ekonomi tidak akan memperparah pemerataan. tergantung mana yang paling jitu dalam keadaan tertentu. Aspek kebijakan bea masuk lainnya yang perlu ditinjau secara kritis adalah praktek pembebasan cukai atas barang modal yang digunakan di dalam negeri. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah keterkaitannya dengan pengenaan bea cukai atas produk domestik. bukan hanya menyebabkan hilangnya penerimaan pemerintah tetapi juga . Jika pemerintah ingin menggunakan bea masuk sebagai proteksi atas industri itu. harus dipilih sesuai dengan potensi pembangunan sehingga pengembangan itu bukan merupakan efek samping dari pengenaan pajak barang mewah. Kombinasi dari berbagai metode bisa diterapkan.

beberapa kelonggaran bagi pertumbuhan mungkin layak asalkan hal itu dilaksanakan dengan cara terbaik. Lebih jauh lagi. tidaklah bijaksana jika pemerintah mengadakan komitmen jangka panjang untuk mensubsidi pajak. Tentu saja masalahnya adalah bagaimana mencapai suatu jumlah tabungan tertentu tanpa mengurangi tabungan di sektor lain. misalnya selama lima atau tujuh tahun dimana selama jangka waktu itu pajak atas laba dibebaskan. teristimewa jika diperkirakan bahwa subsidi semacam itu tidak akan diperlukan di masa mendatang. insentif investasi umum tidak bisa efektif guna menaikkan tingkat investasi menyeluruh kecuali jika peningkatan tabungan juga mendapat perhatian. penolakan total tidak bisa diterima. Namun. insentif pajak bagi investasi pada umumnya merupakan pemborosan dan tidak adil sehingga banyak pengamat terdorong untuk menolak semua bentuk insentif. Insentif Umum Insentif investasi umum bisa berupa kredit pajak atas investasi atau penyusutan yang dipercepat seperti lazim digunakan di negara-negara maju. . Bagi perusahaan lama yang mengadakan investasi lama dan baru. di beberapa negara sering kali diberikan pembebasan pajak (tax holiday) untuk jangka waktu tertentu. ada baiknya kita membedakan antara insentif domestik dan masalah insentif yang berkaitan dengan modal asing. Insentif bisa dirancang untuk menggalakkan ekspor dan memperkuat neraca pembayaran.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 109 memperbesar ketimpangan apabila keringanan itu diberikan kepada masyarakat berpendapatan tinggi. Selain itu. Metode ini merupakan insentif bagi investasi yang memberikan laba yang tinggi pada tahap awal dan hal ini bertentangan dengan kebutuhan akan investasi yang stabil dan bersifat jangka panjang. Ini bisa tercapai dengan mendorong perusahaan untuk menahan laba atau dengan memberikan kredit pajak bagi tabungan atas pendapatan perorangan. Apapun masalahnya. Insentif domestik bisa dikaitkan dengan investasi pada umumnya atau dibatasi pada industri atau wilayah tertentu. Dengan alasan-alasan ini. Tekanan politik agar diberikan insentif pajak akan tetap ada dan tidak bisa dielakkan. masalah ini bisa diatasi dengan pendekatan kredit investasi atau bantuan investasi. maka sebaiknya insentif dirancang seefisien mungkin. Insentif Domestik Dalam menangani masalah insentif. Lebih jauh lagi.

Seiring daftar skala prioritas sedemikian luas sehingga hampir tidak ada yang patut dipilih. pemilihan industri tertentu selalu dibarengi dengan tekanan politik dari kelompok tertentu dan dalam kesempatan lain lagi kita akan melihat bahwa insentif diberikan untuk mempertahankan pasar bagi perusahaan negara. Insentif Regional Insentif selektif lainnya dapat kita temukan dalam kebijakan regional. keadaan negara-negara berkembang bisa menuntut lain. Karena itu. Tenaga kerja mungkin tidak bisa berpindah secara luwes. Masalahnya adalah apakah insentif itu lebih baik diberikan dengan mensubsidi investasi atau mensubsidi perusahaan pekerja di wilayah bersangkutan. apakah peningkatan produksi atau nilai tambah di daerah tersebut. investasi semacam itu perlu dikoreksi. mungkin juga tenaga kerja ingin dipertahankan di suatu daerah tertentu karena terlalu banyaknya perpindahan penduduk ke kota atau alasan non ekonomis yang menghendaki pemerataan tingkat pembangunan daerah. Dapat diduga bahwa industri yang akan dipilih adalah industri yang memainkan peranan strategis dalam pembangunan dan yang tidak akan berkembang jika tidak mendapat bantuan khusus. Jawabannya tergantung pada tujuan yang hendak dicapai. insentif khusus bisa diberikan demi pembangunan daerah tersebut. yang seharusnya tidak mendapat prioritas utama. seperti pabrik baja. Karena itu. khususnya jika . Tetapi pengalaman menunjukkan bahwa hal itu sangat sukar untuk dilaksanakan. Tidak dapat dipungkiri bahwa proses pembangunan mengandung dampak eksternal (external economies) yang tidak diperhatikan dalam pengambilan keputusan investasi swasta dan pasar modal yang tidak sempurna bisa mengacaukan investasi meskipun tanpa eksternalitas. Untuk tujuan terakhir ini. penerapannya secara efisien sukar untuk dilaksanakan. Sedangkan di pihak lain. Masalah utama di sini adalah bagaimana memilih industri yang akan diberi perlakuan istimewa tersebut. Seperti telah kita ketengahkan sebelumya. subsidi upah akan lebih efektif. kebijakan pajak bisa mempengaruhi keputusan lokasi investasi. Meskipun pada prinsipnya insentif yang selektif itu baik. apakah itu untuk tenaga kerja atau modal dan umumnya diharapkan agar kebijakan pajak bersifat netral. atau apakah peningkatan upah atau standar hidup masyarakatnya. namun insentif yang dibatasi pada sektor atau industri tertentu kiranya bisa lebih efektif dalam mengalokasikan modal data ekspor industri tersebut. Namun.110 Bab 6: Pembiayaan Pembangunan Daftar Skala Prioritas Meskipun efektivitas investasi umum diragukan.

insentif pajak harus dikaitkan dengan nilai tambah domestik sebagai akibat adanya modal asing. Guna mengembalikannya ke keseimbangan semula. Hal itu juga tepat untuk menanggulangi pengangguran akibat berjubelnya perpindahan penduduk ke kota. dan pengenaan pajak atas laba yang tidak efektif. Perancangan insentif mungkin akan bisa mengarahkan investasi tersebut pada sektor yang menguntungkan negara bersangkutan. tetapi keringanan pajak yang diberikan kepada investor asing akan mengurangi jatah keseluruhan negara atas laba yang dihasilkan modal asing tersebut. pembebasan bea masuk. Cara lain untuk mendorong investasi yang padat kerja adalah dengan memberikan insentif pajak bagi pekerjaan gilir kerja (shift) malam. Insentif bagi modal domestik hanyalah melibatkan transfer dari pemerintah ke investor. subsidi upah bisa diberikan secara langsung atau tidak melalui kredit atas daftar upah yang pada prinsipnya mirip dengan kredit investasi.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 111 terdapat banyak penganggur atau penganggur tak kentara di sektor pertanian yang dapat ditarik ke sektor industri apabila biaya upah berkurang. kerugian ini harus dikompensasi oleh keuntungan yang diperoleh akibat pelipatgandaan modal tersebut agar insentif pajak tersebut bisa diterima. Insentif bagi Modal vs Insentif bagi Tenaga Kerja Penggunaan bentuk investasi yang insentif modal didorong oleh distorsi harga yang menyebabkan biaya buruh terlalu tinggi dan biaya modal menjadi rendah. Tidak ada manfaatnya bagi suatu negara untuk menerima modal asing lengkap dengan sumber dayanya dan hanya meminjam lokasi pada negara tersebut. Pajak atas laba bisa lebih ringan dengan syarat peralatan yang digunakan harus padat tenaga kerja. Keuntungan tersebut berupa kenaikan penghasilan faktor-faktor produksi domestik akibat adanya modal asing. biaya modal yang rendah disebabkan oleh kurs valuta yang menguntungkan. Karena itu. Cara-cara semacam itu mungkin akan tepat dalam kaitannya dengan insentif regional dimana tujuannya adalah untuk menaikkan tingkat pendapatan di daerah terbelakang. Insentif bagi Modal Asing Dari sudut pandang nasional. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah insentif tersebut harus dirancang sedemikian rupa sehingga mendorong . peranan insentif pajak bagi modal asing berbeda dari insentif pajak bagi modal domestik. Karena itu. Biaya buruh yang tinggi umumnya disebabkan oleh peraturan upah minimum dan berbagai tuntutan serikat pekerja.

negara sedang berkembang sebagai suatu kelompok akan dirugikan. maka pajak yang lebih rendah di negara tersebut hanya akan menjadi transfer ke negara lain tanpa adanya manfaat bagi investor yang mengirimkan labanya ke negara asalnya. penundaan pajak akan menjadi sangat penting.112 Bab 6: Pembiayaan Pembangunan dilakukannya reinvestasi dan operasi permanen serta menghambat investasi yang hanya ingin mengeruk keuntungan sesaat. Dalam hal ini. cukup beralasan untuk mempertahankan penundaan atas investasi di suatu negara yang sedang berkembang dan meniadakannya untuk investasi di negara maju. pendekatan ini tidak menggairahkan reinvestasi karena tekanan politik akan menuntut agar insentif tersebut diberlakukan secara umum bagi investasi domestik. penarikan pajak atas laba secara umum bagi investasi domestik harus dipertimbangkan. Insentif Ekspor Insentif pajak untuk ekspor merupakan kebijakan umum guna membantu pengembangan pasar luar negeri dan memperkuat neraca pembayaran. Persoalan terakhir yang timbul dalam kaitannya dengan persaingan di antara negara sedang berkembang untuk memperebutkan modal asing adalah jika suatu negara mengalahkan yang lain dengan menawarkan insentif yang lebih besar. seperti lazimnya kita hadapi. tetapi dengan nilai tambah domestik. Untuk mengatasi hal semacam itu diperlukan semacam kerja sama antar negara sedang berkembang. insentif semacam itu tidak harus dikaitkan dengan total penjualan di luar negeri atau laba yang dihasilkannya. Jika negara sumber modal tersebut menarik pajak penghasilan yang diperoleh dari luar negeri dengan tarifnya sendiri sambil tetap memberikan kredit pajak luar negeri. Akan tetapi. Apapun masalahnya. suatu negara membutuhkan kerja sama dari negara asal investor asing agar insentif yang efektif bisa diberikan. negara asal modal akan memberikan kredit atas laba yang direpatriasi sebesar pajak yang dikenakan di negara tujuan meskipun tidak ada pajak yang dibayar menurut kesepakatan insentif tersebut. Dengan pendekatan ini. Hanya nilai tambah domestiklah yang menambah hasil perdagangan luar negeri bagi suatu negara. Agar efektif. Karena itu. Pengeksporan . Cara lain untuk membuat insentif menjadi efektif bagi investor asing yang akan mengirimkan labanya ke negara asal adalah apa yang disebut sebagai kesepakatan pajak bersama (tax-sparing arrangement). Salah satu peran utama pasar bersama antar negara sedang berkembang adalah untuk menghindarkan hal semacam itu. Hal itu tidak hanya berfungsi sebagai penarik modal ke suatu negara yang menawarkan insentif pajak tetapi juga mendorong terlaksananya reinvestasi di negara tersebut.

Di satu pihak. KEBIJAKAN PENGELUARAN Peranan kebijakan pengeluaran dalam pembangunan ekonomi kurang disorot bila dibandingkan dengan kebijakan perpajakan dan data pembanding lebih sukar diperoleh. manfaat langsung yang tersedia disertai dengan manfaat tidak langsung atau manfaat eksternal yang lebih sukar untuk diperkirakan. Dalam kadar tertentu. Lebih jauh lagi. Hal ini juga dilandasi oleh kenyataan bahwa tipe investasi yang diperlukan pada tahap-tahap awal pembangunan sering kali memerlukan jumlah besar. Tetapi di pihak lain. pelaksanaan evaluasinya di negara sedang berkembang lebih sulit. Negara-negara berpendapatan rendah menghabiskan banyak pengeluaran untuk pendidikan dan kesehatan sementara tunjangan sosial kurang diperhatikan. banyak pengeluaran untuk pendidikan juga mencerminkan tingginya biaya pendidikan di negara-negara ini. Suatu ukuran yang tidak bisa diperoleh jika pengeluaran publik digunakan untuk menghasilkan barang jadi untuk konsumsi. Karena itu. Jadi manfaat dari proyek transportasi atau irigasi dapat dinilai berdasarkan penurunan biaya produk yang ditimbulkannya di pasar. pengunaan analsis biaya-manfaat sangat penting. Dalam konteks ini. Peranan strategis dari investasi pemerintah dalam pembangunan ekonomi sebagian dilandasi oleh belum berkembangnya pasar modal swasta dan sebagian karena kurangnya bakat entrepreneurial (kewiraswastaan) masyarakat.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 113 kembali atas barang yang diimpor atau barang dalam transito tidak memberikan nilai tambah domestik. analisis biaya–manfaaat akan lebih mudah diterapkan di negara berkembang dari pada negara maju karena investasi pemerintah lazimnya dimaksudkan untuk penyediaan barang–barang antara yang nilainya bisa diukur dengan melihat pengaruhnya terhadap harga–harga barang yang disediakan oleh swasta. Di satu sisi. investasi semacam ini menghasilkan manfaat eksternal sehingga penyediaannya lebih baik dilakukan oleh pemerintah. Besarnya tunjangan sosial di negara-negara kaya mencerminkan sistem jaminan sosial yang lebih baik. Di sisi lain. untuk itu harus . Negara–negara berkembang bisa dihantui oleh pemborosan sumber daya. Karena harga pasar mungkin tidak mencerminkan biaya sosial yang benar–benar terjadi. jumlah biaya lebih sulit untuk ditentukan. seperti untuk pembangunan sistem transportasi atau pembukaan suatu daerah yang terbelakang. namun evaluasi proyek yang efisien merupakan suatu tugas yang sukar. tidak mengherankan jika pengembangan investasi pemerintah memainkan fungsi utama dalam perancangan rencana pembangunan di negara sedang berkembang.

Investasi dalam sumber daya manusia perlu mendapat perhatian khusus dalam konteks pembangunan. investasi bagi pendidikan dirancang guna menghasilkan pekerja terampil sesuai dengan kebutuhan negara bersangkutan. tarif sosial tersebut harus ditetapkan lebih rendah daripada tarif yang berlaku sehingga menunjukkan tingkat diskonto yang lebih tinggi bagi penyediaan modal dan lebih mendukung pengadaan proyek–proyek jangka panjang. Karena pasar modal swasta yang belum berkembang sepenuhnya.114 Bab 6: Pembiayaan Pembangunan digunakan harga bayangan (shadow price). penggunaan harga pasar akan menimbulkan distorsi yang mengarah kepada teknologi yang sangat padat modal sebagaimana telah kita simak sebelumnya. Program pendidikan penting bukan hanya dalam kaitannya dengan kebijakan pertumbuhan tetapi juga dengan pendistribusian hasil-hasil pembangunan di antara lapisan masyarakat dan berbagai sektor perekonomian. Faktor lain yang juga penting adalah penentuan tarif/tingkat diskonto. taksiran yang lebih kasar mungkin akan digunakan. Jika kita melihat dari sisi yang berlawanan. Sekali lagi. utilitas marjinal dari konsumsi itu akan lebih kecil karena pendapatan sudah lebih tinggi. Dalam konteks pembangunan. akan kita jumpai bahwa biaya konsumsi sangat tinggi pada tingkat pendapatan yang rendah. Jika modal dinilai terlalu rendah sementara tenaga kerja dinilai terlalu tinggi. kemungkinan ini menunjukkan pentingnya perencanaan jangka panjang dan evaluasi atas setiap proyek dalam konteks rencana pembangunan yang menyeluruh. pemerintah mungkin lebih praktis untuk menentukan tingkat konsumsi minimum yang secara politis dapat diterima untuk lima atau sepuluh tahun mendatang dan kemudian menghitung tingkat diskonto dari konsumsi minimum tersebut. Sejumlah studi telah memperlihatkan betapa besarnya manfaat investasi di bidang pendidikan bagi negara–negara berkembang. penggunaan tarif sosial kiranya tidak bisa dielakkan. BANTUAN INTERNASIONAL DAN REDISTRIBUSI . setelah keuntungan dari penundaan konsumsi itu diperoleh. Sebagaimana halnya dalam penentuan tingkat diskonto lainnya. Kenyataan ini cenderung diabaikan dalam pengambilan keputusan tabungan perorangan tetapi pemerintah harus memperhitungkannya. Dengan memperhitungkan adanya manfaat eksternal. Namun di masa mendatang. Kesulitan–kesulitan itu akan makin rumit dalam konteks pembangunan yang dinamis dimana harga-harga relatif yang berlaku pada saat proyek dimulai mungkin akan sangat berbeda dari harga–harga yang berlaku setelah proyek berfungsi. Yang perlu dipertimbangkan.

Masalah Besarnya Transfer Dalam menangani distribusi pada taraf internasional. hal itu dilaksanakan berupa redistribusi dari tingkat pendapatan dunia pada saat itu sehingga mirip dengan pajak penghasilan negatif yang diterapkan pada redistribusi domestik. sementara 20 persen terkaya menerima 60 persen. Mungkin pada suatu saat. masalah distribusi di tingkat internasional lebih sukar untuk ditangani daripada lingkup suatu negara. masalahnya mirip dengan masalah antara negara bagian di suatu negara berserikat. Pendekatan ini telah dilaksanakan secara cukup besar-besaran dalam beberapa dekade terakhir. Jika ketimpangan di dalam negaranegara masih diperhitungkan lagi. Jika seseorang di suatu negara memperoleh pendapatan sebesar rata-rata di antara berbagai negara tersebut. masalah mendasar adalah redistribusi di antara anggota masyarakat.Di tingkat internasional. persoalan yang mungkin terjadi adalah perbedaan pendapatan rata-rata di negara-negara atau juga ketimpangan distribusi di antara masyarakat seluruh dunia tanpa memandang batas negara. maka rasio tersebut berubah menjadi 2 dan 70 persen. kesenjangan lebih besar dan masalah organisasi lebih pelik karena tidak ada pemerintah pusat yang harus menanganinya dan upaya mengatasi ketimpangan tersebut harus melalui transfer antar negara. Meskipun hal itu penting. Tingkat ketimpangan ini jauh lebih besar daripada ketimpangan di . Jadi. Dalam kadar tertentu kedua masalah itu bertumpang tindih karena kebanyakan masyarakat miskin pada kenyataannya merupakan penduduk dari negara berpendapatan rendah. Meskipun pendekatan ini tidak bisa diharapkan dalam waktu dekat. Upaya itu bisa dilaksanakan dalam bentuk bantuan internasional yang dirancang untuk menaikkan tingkat pertumbuhan negara-negara berkembang. Ketimpangan di dalam negeri diperparah dengan ketimpangan pendapatan rata-rata di antara berbagai negara. Tidak ada gunanya jika redistribusi ke negara berpenghasilan rendah pada akhirnya hanya akan menambah kekayaan segelintir masyarakat kaya di negara tersebut. Tetapi jika keduanya tidak tumpang tindih. Kelihatannya aspek–aspek dari distribusi internasional akan menjadi unsur yang semakin penting dalam politik dunia masa mendatang. Ketimpangan distribusi pendapatan di antara masyarakat dunia merupakan masalah yang sangat pelik. mungkin saja suatu saat nanti hal itu akan menjadi suatu pemikiran pokok. maka bisa diperkirakan bahwa 40 persen termiskin dari penduduk dunia menerima 3 persen dari pendapatan seluruh dunia.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 115 Pertimbangan kemanusiaan atau politis yang menyangkut distribusi pendapatan di suatu negara tidak bisa dibatasi hanya pada lingkup negara itu saja.

Dengan demikian.116 Bab 6: Pembiayaan Pembangunan suatu negara. Ini bisa dilakukan dengan memberikan preferensi dan penghapusan pembatasan perdagangan. pekerja di negara maju juga dirugikan karena mereka kurang leluasa untuk berpindah jika dibandingkan dengan faktor modal. Salah satu upaya penting untuk ini adalah dengan menata kembali aliran modal dari negara kaya ke negara miskin. Jika sudut pandang ini mengena pada redistribusi yang bersifat nasional. Lebih jauh lagi. Para pemasok modal dari negara kaya tetap mendapat keuntungan karena memperoleh hasil pengembalian yang lebih besar dari investasinya di negara-negara miskin. akan lebih mengena lagi pada tingkat internasional dimana skala penyesuaian potensial yang harus dicapai melalui distribusi sangat besar. Bantuan Pembangunan Dari penjelasan terdahulu. output dunia akan meningkat karena modal akan dimanfaatkan secara efisien di negara dimana keuntungan modal pekerja sangat rendah. khususnya di negara maju. Tak ada manfaatnya jika kontribusi negara-negara maju terlalu dipaksakan sehingga kemampuan ekonominya untuk mempertahankan kesinambungan bantuan menjadi terganggu. Perbaikan besar atas kemelaratan masyarakat hanya dapat dicapai dengan meningkatkan produktivitas pekerja-pekerja di negara miskin. sebagai konsumen mereka akan diuntungkan karena harga barang-barang impor menjadi turun. Dalam kondisi ini. di samping menambah keahlian juga menghambat pengembangan kewiraswastaan domestik dan menciptakan ketergantungan politis. Kontribusi penting kedua bagi pembangunan ekonomi adalah membuka pasar negara-negara maju lebih lebar bagi ekspor negara-negara berkembang. Akan tetapi. Juga dipermasalahkan masuknya tenaga manajemen asing yang menyertai masuknya modal asing. Dalam hal ini. terlihat jelas bahwa kebijakan redistribusi tidaklah sederhana dan pengaruhnya pertumbuhan ekonomi harus ditelaah dengan seksama. masuk akal bahwa pendapatan per kapita di negara maju akan naik lebih cepat ketimbang di negara miskin sehingga situasi tersebut akan semakin parah seperti halnya distribusi pendapatan domestik. . Tetapi di pihak lain. Akan tetapi. perbaikan distribusi pendapatan dunia dapat dicapai meskipun dengan memperbesar ketimpangan (kendatipun hanya dalam taraf yang lebih kecil) di negara maju. Dengan penerapan itu. akan terjadi redistribusi pendapatan dari pekerja negara kaya (yang akan beroperasi dengan modal yang cukup besar) kepada pekerja di negara miskin yang produktivitasnya akan meningkat bersamaan dengan naiknya keuntungan modal pekerja. mustahil kiranya untuk meratakan ketimpangan ini.

sindrome orang kaya baru akan tetap menggejala dan hal ini merupakan hambatan baik di tingkat nasional maupun di tingkat internasional. § § § § § § .Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 117 kebijakan-kebijakan semacam ini tidak menjamin bahwa negara-negara berkembang akan mampu secara independen untuk mempertahankan pertumbuhan yang telah mereka capai. dan ketersediaan petugas fiskus yang mampu dan jujur. Perkembangan sektor publik di negara-negara maju cenderung tumbuh sejalan dengan pertumbuhan pendapatan. Keringanan pajak untuk investasi yang tidak berdiri sendiri dalam meningkatkan pertumbuhan bukan hanya menyebabkan hilangnya penerimaan pemerintah tetapi juga memperbesar ketimpangan apabila keringanan itu diberikan kepada masyarakat berpendapatan tinggi. RANGKUMAN § Untuk mencapai pertumbuhan. Insentif pajak bagi investasi pada umunya merupakan pemborosan dan tidak adil sehingga banyak pengamat sampai terdorong untuk menolak semua bentuk insentif. Cara untuk membuat insentif menjadi efektif bagi investor asing yang akan mengirimkan labanya ke negara asal adalah apa yang disebut sebagai kesepakatan pajak bersama. Karena itu. Kelayakan pengenaan pajak tergantung pada kesadaran masyarakat untuk membayar pajak. dukungan pengadilan terhadap penegakan peraturan perpajakan. Besarnya sektor publik di negara-negara maju tidak hanya berkembang sejalan dengan pendapatan per kapita tetapi kenaikan pendapatan per kapita juga disertai dengan kenaikan persentase sektor publik dalam GNP. tidak cukup dengan cara penyediaan modal pembangunan (yang meliputi investasi fisik dan investasi sumber daya manusia) serta proses teknologi yang diperlukan tetapi juga diperlukan sejumlah perubahan sosial dan kelembagaan yang merupakan sebab-akibat dari tingkat pembangunan perekonomian yang masih rendah.

Apakah akibat dari tindakan ekspasioner yang tidak diantisipasi secara sempurna? . Jelaskan mengenai Inflasi yang diakibatkan biaya secara tiba-tiba? 10. Apakah efek dari crowding out terhadap investasi? 7. a.118 Bab 6: Pembiayaan Pembangunan LATIHAN 1. 2. Apakah maksud dari pembiayaan dengan pajak atau pinjaman mempunyai efek ekonomi yang seimbang? 8. Uraikan dampak-dampak penganguran! 6. Sebutkan inflasi dari segi sebab! Uraikan inflasi yang timbul karena meningkatnya permintaan! Sebutkan alat-alat ukur inflasi! Sebutkan empat tingkatan inflasi menurut sifatnya! Nilai riil dari biaya pekerja meningkat dan pada akhirnya terjadilah pengangguran. 4. 3. 5. Bersifat apakah kenaikan pengeluaran dan kenaikan pajak? 9. Apakah pengertian dari pengangguran? b.

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 119 .

dan barang produk perusahaan milik negara (misalnya pos. telegraf.DASAR-DASAR PERPAJAKAN Dalam menjalankan tugas-tugas negara. Due sebagai berikut: § Penjualan Barang dan Jasa Milik Negara Barang dan jasa milik negara seperti tanah. telepon. minyak dan gas bumi) dapat dijual untuk . barang hasil sitaan yang menjadi hak negara. listrik. sumber penerimaan negara dapat dikelompokkan menjadi dua sumber yakni dari dalam negeri dan luar negeri. tentunya pemerintah akan memerlukan sumber-sumber penerimaan. terdapat beberapa cara. Dalam pencarian sumber penerimaan tersebut. Secara garis besar. Kedua sumber tersebut digambarkan oleh John F.

yakni akan mendorong laju inflasi jika jumlahnya tidak terkontrol. Asian Development Bank. Penerimaan negara dari sektor ini dapat berupa pajak. Perpajakan Pada hakekatnya merupakan sumber dana yang berasal dari masyarakat yang diharapkan akan menjadi tulang punggung penerimaan negara. pemberi bantuan tersebut dilakukan karena adanya musibah di luar kontrol manusia. COLOMBO PLAN atau bisa juga dari negara tertentu. tetapi mengandung resiko. UNESCO. Pinjaman tersebut dapat berasal dari dalam negeri. Bantuan dari Negara Lain Berbeda dengan pinjaman yang mengharuskan negara penerima mengembalikan dana pinjaman. FAO. dicetak oleh negara untuk memenuhi kebutuhan akan dana. di samping mempunyai fungsi yang lain.122 Bab 7: Dasar-dasar Perpajakan § § § § dipergunakan sebagai pemasukan kas negara. Barang dan jasa tersebut dapat diusahakan oleh negara secara terus menerus sehingga kelangsungan sumber penerimaan dari sektor itu dapat dijaga. International Monetary Fund dan sebagainya. Oleh karena itu. pajak merupakan cara yang paling efektif untuk membagi beban pemerintah kepada rakyat. Hasil pemungutan pajak oleh pemerintah akan disalurkan kembali kepada masyarakat dalam bentuk sarana dan prasarana di bidang keamanan. Biasanya. Ketiga bidang tersebut memang sangat . retribusi. Secara umum dapat dikemukakan bahwa pajak merupakan iuran kepada negara yang dapat dipaksakan. pemberian bantuan tersebut tidak perlu ada pengembalian (kecuali hibah yang mengandung syarat pengembalian lunak). Oleh karena itu. apabila negara ingin menggunakan dana harus bersifat produktif. misalnya berupa obligasi atau dari luar negeri berupa pinjaman dari pemerintah negara lain baik secara individu maupun kelompok seperti World Bank. Pemberian bantuan jenis ini biasanya menyalurkannya melalui badan resmi seperti WHO. Pinjaman Pinjaman merupakan suatu penerimaan yang mengandung konsekuensi untuk mengembalikan dalam jangka waktu tertentu ditambah jasa pinjaman berupa bunga. pendidikan dan sosial. Bantuan ini biasanya bersifat kemanusiaan. iuran dan sumbangan. Walaupun sumber dana tersebut mudah diadakan. Pencetakan Uang Uang sebagai alat pembayaran yang sah. walaupun tidak menutup kemungkinan akan ada latar belakang politik.

Contohnya adalah Pertamina. Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa. serta sifat dan fungsi yang melekat pada tugasnya.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 123 dibutuhkan oleh masyarakat. retribusi air minum. secara umum dapat digolongkan menjadi: § Pajak Pajak merupakan iuran dari rakyat (masyarakat) kepada negara (pemerintah) tanpa imbalan jasa langsung dan sifatnya dapat dipaksakan. iuran televisi dan sebagainya. Contohnya adalah pembayaran perizinan (lisensi) dan pungutan pada jalan-jalan tertentu. Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPn dan PPnBM). § Keuntungan dari Perusahaan Negara Merupakan penerimaan pemerintah yang berasal dari penjualan barang dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan negara. Perumtel dan sebagainya. § Sumbangan Berasal dari sumbangan masyarakat atas jasa-jasa yang diberikan oleh pemerintah kapada pemakai jasa. § Denda dan Sitaan Merupakan penerimaan yang berupa denda dari kegiatan pelanggaran peraturan/ undang undang serta hasil sitaan yang menjadi hak negara. terlihat adanya imbal jasa secara langsung setelah pembayaran dilakukan. namun pencetakan uang itu akan membawa resiko inflasi. oleh karena itu pencetakan uang perlu dilakukan dengan hati hati. pemerintah mempunyai kewenangan untuk mencetak uang (kertas/logam). § Pencetakan Uang Karena kekuasaan yang dimiliki negara. Contohnya adalah Pajak Penghasilan (PPh). Namun demikian. Pajak Kendaraan Bermotor dan sebagainya. Berdasarkan cara yang dapat ditempuh untuk memperoleh sember dana. Dalam iuran. § Retribusi/Iuran Merupakan pembayaran dari masyarakat kepada pemerintah. Sumber dana itu setelah memperhitungkan berbagai aspek. § Pinjaman . harus mendapatkan persetujuan rakyat dari wakilnya di lembaga perwakilan rakyat. Contohnya adalah retribusi sampah. atau memohon pada bank sentral untuk memberikan pinjaman kepada pemerintah (walau tanpa jaminan). tidak mudah untuk memberikan batasan secara pasti terhadap macam-macam sumber penerimaan negara tersebut.

2002). Yang pertama adalah kemampuan individual untuk menguasai sumber daya berkurang. . Misalnya: Jika seorang keluarga mempunyai pendapatan per tahunnya 30.000. Penerimaan yang diperoleh melalui pajak biasanya digunakan untuk membeli input yang dibutuhkan dalam memproduksi ataupun menyediakan barang dan jasa pemerintah atau untuk redistribusi kekuatan daya beli masyarakat.. misalnya: Sumbangan Dana Sosial Berhadiah (SDSB). seringkali usaha memperoleh sumber dana dengan cara tersebut membawa pengaruh-pengaruh yang kurang baik..dalam pajak sehingga harus mengurangi konsumsi ataupun simpanan dalam satu tahun. FUNGSI PAJAK Pajak merupakan pembayaran yang diwajibkan yang dikaitkan dengan beberapa aktivitas (Hyman.000.dan membayar 6. karena pajak akan mengurangi pendapatan untuk pengeluaran pada pasar barang dan jasa.000.124 Bab 7: Dasar-dasar Perpajakan § § Pinjaman diperoleh dengan konsekuensi pengembalian dalam jangka waktu tertentu ditambah dengan beban tetap berupa bunga. Hadiah Sumber dari jenis tersebut biasanya bersifat volunteer dan tanpa balas jasa baik secara langsung maupun tidak langsung. Namun demikian. Misalnya adalah hadiah dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah atau dari pemerintah satu negara kepada negara lain. Pinjaman itu dapat berasal dari dalam negeri atau luar negeri misalnya melalui Consultative Group on Indonesia (CGI) Hasil Undian Negara Pemerintah memperoleh dana dari kelebihan penerimaan hasil penjualan kupon berhadiah setelah dikurangi dengan biaya-biaya penyelenggaraannya. Realokasi pajak yang bersumber dari private ke pemerintah digunakan dalam dua tahapan.000. Yang kedua adalah penerimaan pemerintah kemudian akan digunakan untuk menawarkan sumber daya yang dibutuhkan dalam penyediaan barang dan jasa pemerintah dan untuk menyediakan income support payments bagi penerima transfer dari pemerintah seperti social security pensiun.

pemerintah dapat mendorong investasi yang menghasilkan barangbarang produksi tertentu atau sebaliknya. Prinsip ekonomi (economy) . kebijakan perpajakan dimaksudkan untuk mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang diinginkan dengan cara mengatur pola produksi dan konsumsi barang-barang ekonomi.000. Fungsi Anggaran (Budgetair) Disini. PRINSIP-PRINSIP PAJAK Pada awal bab digambarkan bahwa pajak tidak hanya berfungsi sebagai penggalangan dana masyarakat untuk membiayai pengeluaran publik tetapi juga dapat difungsikan sebagai regulator (pengatur). Tetapi pada kenyatannya. Fungsi Mengatur (Regulator) Sedangkan pada fungsi regulator. fungsi pajak diletakkan pada tujuan memperoleh dana. pemungutan pajak mempunyai fungsi yang lebih luas.. Prinsip kepastian (certainty) 3. Untuk mengoptimalkan pelaksanaan kedua fungsi tersebut. Prinsip kenyamanan (convenience) 4. yakni selain untuk mengisi kas negara.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 125 6. Teori Adam Smith yang terkenal mengenai prinsip-prinsip pengenaan pajak mengacu pada empat hal yaitu: 1. pajak juga dapat dipakai sebagai alat untuk mengukur kehidupan sosial ekonomi masyarakat.000. Dengan sistem perpajakan. Mekanisme perpajakan juga dapat diterapkan untuk mendorong atau mengurangi jumlah pendapatan yang dikonsumsikan. Prinsip keadilan (equity) 2. tampaknya memberikan kesan bahwa pajak dipungut pemerintah semata-mata sebagai sumber dana bagi pelaksanaan tugas-tugasnya.000. Berdasarkan definisi pajak yang telah dikemukakan pada bagian terdahulu.seharusnya dapat digunakan untuk membeli perlengkapan rumah tangga atau untuk membantu pembiayaan investasi pribadi.adalah merupakan Opportunity costs dari penyediaan barang dan jasa pemerintah untuk keluarga tersebut.000. yakni pajak digunakan untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran negara sehubungan dengan tugas-tugas untuk menyelenggarakan kesejahteraan dan kemakmuran.. kebijakan perpajakan harus berlandaskan pada prinsip-prinsip yang relevan. Barang dan jasa private yang semestinya dapat dibeli dengan 6.

Prinsip kenyamanan. Kebijakan perpajakan harus dibuat sesederhana mungkin dan diformulasikan menggunakan kata-kata yang meminimalkan adanya penafsiran ganda. Dengan kata lain. menggarisbawahi pentingnya menciptakan kondisi yang menyenangkan bagi wajib pajak agar dengan sukarela memenuhi kewajiban-kewajibannya. Kenyamanan wajib pajak dapat diberikan dengan bentuk pelayanan prima. Pembahasan selanjutnya akan memaparkan bahwa apapun kebijakan yang diambil. Prinsip ekonomi menegaskan pentingnya perbandingan antara biaya dan hasil yang efisien. Sehingga. Kepada mereka yang patuh harus diberikan penghargaan yang setimpal. Pajak atas . Upaya-upaya penarikan pajak harus disertai dengan kegiatan yang meminimalkan biaya pemungutan atau biaya-biaya lain yang dapat mengurangi penerimaan bersih negara. prinsip keadilan yang memuaskan semua pihak tidak akan pernah tercapai. tujuan penggunaan pajak untuk pembiayaan pengeluaran publik lebih mudah tercapai. Prosedur pembayaran pajak harus dibuat semudah mungkin. SIKLUS ARUS PAJAK Pengenaan pajak kepada masyarakat dan dunia usaha secara umum dapat berbentuk pajak atas pendapatan dan pajak atas konsumsi. Prinsip kepastian dimaksudkan agar pada pelaksanaan pemungutan pajak tidak terjadi distorsi berupa kesalahan yang disengaja (penyelewengan) atau yang tidak disengaja sebagai akibat dari kekurangpahaman. Dalam konteks ini. Jumlah nominal pajak yang dibayarkan oleh golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah harus lebih kecil dari golongan masyarakat yang lebih tinggi.126 Bab 7: Dasar-dasar Perpajakan Prinsip keadilan menekankan bahwa beban pajak harus disesuaikan dengan kemampuan relatif masyarakat. pajak diharapkan dapat menjadi alat distribusi pendapatan secara lebih fair dan akan mengurangi kesenjangan pendapatan. sebisa mungkin dihindarkan adanya unsur-unsur menekan atau kekerasan. Wajib pajak sedapat mungkin tidak dikenakan biaya-biaya lain di luar kewajiban pajak murni. Hal ini juga perlu ditunjang dengan adanya kecukupan proses sosialisasi dengan memasukkan unsur-unsur kemajemukan masyarakat. Biaya pemungutan tidak dapat dijadikan target utama penerimaan negara dari pajak.

Sedangkan golongan masyarakat lainnya yang memiliki usaha yang menghasilkan produk dikategorikan sebagai perusahaan. Sebaliknya. Siklus penerimaan dan pengeluaran dalam perekonomian pada umumnya adalah seperti gambar berikut: Gambar 7. Untuk itu perlu diidentifikasi pos-pos penerimaan dan pengeluaran dalam siklus perekonomian. Jumlah pendapatan rumah tangga yang dikonsumsi kemudian akan mengalir ke pasar barang konsumsi.1 Pos yang pertama adalah pendapatan rumah tangga (1).Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 127 pendapatan berarti adalah pengenaan tarif pajak terhadap seluruh pos-pos penerimaan rumah tangga dan perusahaan dalam siklus perekonomian. pajak atas konsumsi berarti pengenaan tarif pajak atas seluruh pengeluaran. sedangkan seluruh tabungan masyarakat diasumsikan . Pendapatan rumah tangga ini kemudian akan mengalir dalam dua bentuk yaitu sebagian menjadi konsumsi rumah tangga (2) sebagai biaya pemenuhan kehidupan sehari-hari masyarakat dan sisanya menjadi tabungan rumah tangga (3). Pendapatan rumah tangga adalah pendapatan golongan masyarakat yang diperoleh dari penghasilan upah atau gaji sebagai karyawan dan pendapatan jasa modal.

jika pendapatan yang diterima oleh wajib pajak naik sebesar 100%. jumlah pengenaan tarif pajaknya sama. yaitu dengan memberikan tekanan yang sama kepada wajib pajak. Termasuk dalam keuntungan perusahaan adalah pendapatan jasa modal (14) yang dibayarkan kepada rumah tangga seperti bunga. berapapun jumlah kemampuan membayar seorang wajib pajak. tujuan dari hukum pajak adalah membuat adanya keadilan dalam hal pemungutan pajak. dividen. Jika dilihat dari sudut pandang dasar penentuan tarif pajak. diasumsikan akan menjadi investasi seluruhnya. Jumlah biaya gaji yang dibayarkan perusahaan akan menjadi pendapatan gaji (13) bagi rumah tangga. Sebagian pengeluaran perusahaan akan disisihkan untuk biaya penyusutan (9). secara umum akan terbagi atas tiga bentuk yaitu: 1. Sedangkan sisa keuntungan yang tidak dibagi (15) akan menjadi tabungan perusahaan (16). Salah satu unsur dalam mencapai keadilan melalui penerapan tarif pajak. TARIF PAJAK Pada dasarnya. Tarif Pajak regresif (Regressive tax rate) Proportional/ flat tax rate adalah pengenaan pajak dengan tarif dalam persentase tertentu dengan tidak melihat perubahan pendapatan individu. Dengan kata lain.128 Bab 7: Dasar-dasar Perpajakan mengalir menjadi bagian dari investasi (5) yang pada akhirnya mengalir ke pasar barang modal. dan sewa. Sedangkan tabungan perusahaan bersama-sama tabungan rumah tangga. maka secara . Jumlah nominal konsumsi masyarakat akan sama dengan jumlah penerimaan kotor perusahaan dari pasar barang konsumsi (4) sedangkan jumlah investasi akan sama dengan jumlah penerimaan kotor dari pasar barang modal (6). Tarif Pajak Progresif (Progressive tax rate) 3. Adapun total penerimaan dari kedua pasar tersebut disebut penerimaan kotor perusahaan (7). Tarif Pajak Proposional (Proportional/ flat tax rate) 2. Keadilan di sini dapat diartikan sebagai adil dalam prinsip (undang undang) maupun adil dalam pelaksanaannya. Sebagai ilustrasi. Total penerimaan perusahaan tersebut selanjutnya sebagian akan digunakan sebagai pengeluaran perusahaan (8). dan sebagian lagi dibayarkan perusahaan sebagai biaya gaji karyawan (11) sedangkan sisanya adalah keuntungan perusahaan (12).

pajak yang menggunakan tarif proporsional adalah Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 10%.000 Pajak Nominal 100 200 300 % 10. Sebagai ilustrasi.0 Dalam praktek.0 10.000 2.0 Regressive tax rate adalah pengenaan pajak dengan tarif menurun dengan makin meningkatnya pendapatan wajib pajak.2: Pajak Progresif Pendapatan 1. Sebagai ilustrasi.0 10. semakin menurun tarif yang dikenakan. jumlah pendapatan yang lebih besar yang diterima oleh wajib pajak.000 Pajak Nominal 100 300 600 % 10.1: Pajak Proporsional Pendapatan 1. Tabel di bawah ini akan menggambarkan bagaimana pajak proporsional diterapkan.0 20. jika seorang wajib pajak mendapat kenaikan .Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 129 otomatis jumlah pajak yang terhutang menjadi naik sebesar 100%. jika kemampuan membayar seorang wajib pajak naik sebesar 100%. Dengan kata lain.0 15. Tabel 7.000 2.000 3. Pajak Penghasilan (PPh) pasal 26 sebesar 20% dan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)sebesar 0.000 3. Tabel 7. akan dikenakan tarif yang lebih besar pula. Tabel di bawah ini akan menggambarkan bagaimana pajak progesif diterapkan.5% Progressive tax rate adalah pengenaan pajak dengan tarif meningkat seiring dengan peningkatan pendapatan individu. jumlah pajak yang terhutang menjadi naik melebihi 100%. peningkatan jumlah kemampuan membayar seorang wajib pajak. Dengan kata lain.

Siapapun yang melakukan aktivitasaktivitas tertentu atau memiliki objek-objek pajak tertentu.130 Bab 7: Dasar-dasar Perpajakan pendapatan sebesar 100%. Pajak in Rem dapat dikenakan atas rumah tangga atau badan usaha.3: Pajak Regresif Pendapatan Pajak Nominal 1. maka seluruh sumber pendapatan perseorangan harus digabung sebagai basis pembayar pajak.0 9.0 8. atau pemilikan harta kekayaan.000 2. Untuk menentukan kemampuan seseorang dalam membayar pajak atas pendapatan (personal income tax). Aktivitas atau objek yang dikenakan pajak tidak terkait dengan karakteristik pihak-pihak yang melakukan transaksi atau pemiliknya.000 3. Beberapa istilah yang perlu mendapat perhatian khusus diantaranya adalah: § Pajak Perseorangan dan Pajak in Rem § Pajak Langsung dan Pajak Tidak Langsung § Pembayaran Transfer Pajak perseorangan adalah pajak yang dikenakan kepada orang per orang yang memperoleh penghasilan di mana besarnya jumlah yang terhutang disesuaikan dengan kemampuan untuk membayar pajak. Sedangkan jika konsumsi juga akan dikenai pajak. wajib membayar pajaknya. Pajak atas transaksi jual beli yang dikenakan terhadap perusahaan akan dapat .0 ISTILAH-ISTILAH DALAM PERPAJAKAN Pembahasan lebih lanjut mengenai perpajakan perlu dimulai dengan mengenal lebih jauh tentang definisi istilah yang sering muncul dalam dunia perpajakan. Pajak in Rem adalah pajak atas aktivitas atau obyek tertentu misalnya pembelian.000 100 180 240 % 10. Tabel 7. Pajak perseorangan yang dikenakan atas transaksi rumah tangga berupa pendapatan dan konsumsi. Tabel di bawah ini menggambarkan bagaimana tarif pajak regresif diterapkan. maka jumlah kenaikan pajaknya kurang dari 100%. maka pajak perseorangan diterapkan dalam bentuk pajak pengeluaran perseorangan (personal expenditure tax). penjualan.

hanya saja pajak tersebut tidak dipungut secara berkala. sedangkan produsen hanya sebagai wajib pungut. Pergeseran beban pajak dapat ke depan (forward shifting) maupun ke belakang (backward shifting). Hal yang sama juga berlaku ketika mengenakan pajak terhadap harta kekayaan. secara ekonomis beban pajak harus ditanggung sendiri oleh wajib pajak yang bersangkutan. Hal ini bertujuan agar pelaksanaan pemungutan menjadi lebih efisien dan efektif karena dengan satu wajib pungut akan bisa menjaring banyak wajib pajak. Pajak tidak langsung adalah beban pajak yang harus dipikul oleh wajib pajak. yang berkaitan dengan nilai kekayaan dari perseorangan atau perusahaan. misalnya adalah Penjualan Kena Pajak (BKP) dari pabrikan kepada pembeli. secara administratif dipungut . pabrikan (produsen) dapat menekan harga dari supplier sebesar pajak pertambahan nilai yang harus dibayar. Pertama. Misalnya. Pajak langsung adalah pajak yang berdasarkan surat ketetapan dikenakan terhadap perusahaan ataupun perseorangan dan dilakukan secara berkala. Forward shifting merupakan pergeseran beban pajak searah dengan arus barang yaitu dari produsen ke konsumen.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 131 diperlakukan juga terhadap semua rumah tangga yang melakukan transaksi. dan dapat beralih sampai dengan penanggung akhir beban tersebut. Pergeseran itu sifatnya menaikkan harga barang karena pembeli harus membayar harga barang ditambah dengan pajak. dimana pembeli harus membayar harga barang ditambah dengan Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Pertama. Ciri pajak tidak langsung dapat dilihat dari dua segi. Contoh dari pajak langsung adalah Pajak Penghasilan (PPh) dan Pajak Bumi Bangunan (PBB). Pada sistem self assessment tidak selalu menggunakan surat ketetapan. secara administratif. Kedua. Pada dasarnya yang menjadi tujuan dari pajak tidak langsung adalah pihak ketiga (konsumen). pajak tersebut dikenakan secara periodik pada waktu waktu tertentu sesuai dengan masa pajak berdasarkan surat ketetapan atau kohir (tindasan surat ketetapan). Ciri pajak langsung dapat ditinjau dari dua segi. Penggeseran beban pajak itu sifatnya menurunkan harga barang atau jumlah penerimaan yang diperoleh penjual. Pajak tidak langsung ini boleh dibebankan/dilimpahkan kepada pihak lain. Beban pajak ini tidak dapat dipindahkan kepada orang lain. Pengenaan wajib pajak tidak langsung dilakukan dengan cara fiskus berhadapan dengan wajib pungut dan bukan dengan wajib pajak. Backward shifting merupakan pergeseran beban pajak yang berlawanan dengan arus barang dimana pembeli menggeser beban pajak kepada penjual.

Terdapat beberapa kebaikan dan kekurangan dari pajak tidak langsung. keadaan. Sebagai contoh. semua yang melakukan transaksi atau kejadian tertentu. Jumlah nilai yang diperoleh melalui pajak tidak langsung cenderung lebih mudah diprediksi. dapat dengan mudah diterapkan. Hal ini tergantung dari tingkat elastisitas kurva permintaan dan penawaran untuk barang-barang terkena pajak tidak langsung. dan perbuatan) tanpa didahului dengan surat ketetapan pajak. Kesederhanaan aturan juga memungkinkan dilakukannya penelusuran dan pengecekan jika terjadi kesalahan dengan cepat tanpa perlu menggunakan formula audit yang kompleks. § Pengenaan pajak dapat mengikutsertakan seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang besar kecilnya penghasilan yang diperoleh. tidak diperlukan banyak perangkat yang bertujuan untuk mensosialisasikan aturan tersebut. Dengan mudah dipahami. Dikarenakan kesederhanaan landasan aturan yang dipakai. secara ekonomis. § Biaya-biaya yang ditimbulkan akibat adanya penerapan pajak tidak langsung relatif lebih murah dibanding pajak langsung. beban pajak dapat dilimpahkan kepada pihak lain. penanggung akhir dari beban pajak tidak langsung belum tentu sesuai dengan target awal. pemerintah lebih mudah memperkirakan dampak dari setiap kebijakan perpajakan yang dikeluarkan.BM). diwajibkan melunasi pajak yang tertanggung.132 Bab 7: Dasar-dasar Perpajakan secara insidentil. Kekurangan Pajak Tidak Langsung: § Kurangnya rasa berkeadilan antara golongan masyarakat yang berpenghasilan tinggi dengan masyarakat berpenghasilan rendah. Kedua. Hal ini dikarenakan kedua golongan tersebut dibebani tarif pajak yang sama untuk setiap transaksi atau kejadian tertentu. apabila kurva permintaan . Contohnya adalah Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPn. Tanpa pandang bulu. § Teknik pemungutannya yang sederhana tidak memerlukan kegiatan administrasi yang kompleks. yang diantaranya adalah sebagai berikut: Kebaikan Pajak Tidak Langsung: § Pajak tidak langsung cenderung lebih stabil digunakan sebagai sarana penerimaan negara dibanding pajak langsung. pada waktu-waktu tertentu berdasarkan adanya tatbestand (peristiwa. § Fungsi regulator yang dimiliki pemerintah dalam hal kebijakan perpajakan. § Karena dimungkinkannya terjadi penggeseran beban pajak kepada golongan wajib pajak lainnya.

". Hal ini terutama diakibatkan sulitnya melakukan administrasi yang baik dan teliti untuk menerapkan pajak langsung. pengusaha menekan keuntungan yang diperolehnya. tetapi karena diwajibkan. Sedangkan untuk negara-negara maju. dan sebagainya. Bea Balik Nama. Namun. terutama bagi Wajib Pajak? Diskusikan! Menurut studi yang pernah dilakukan. dalam kondisi seperti itu beban pajak tidak langsung tidak dapat dialihkan kepada konsumen. "Dominannya pajak tak langsung ini setahu saya hanya terjadi di Indonesia. Dominasi Pajak Tak Langsung Masih dominannya jenis pajak tak langsung dibandingkan dengan pajak langsung di lima Rancangan Undang-Undang (RUU) Pajak sekarang ini. Sebaliknya. pajak langsung adalah pajak yang harus ditanggung sendiri dan langsung oleh wajib pajak. Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan Barang. 7 Juli 2000) Mengapa Pajak Tidak Langsung dianggap kurang memenuhi prinsip keadilan. krisis yang terjadi ini bukan karena kesalahan rakyat. Pengusaha seperti ini termasuk langka. Dengan kata lain. (Diadaptasi dari: www. pengusaha menggantikan pajak tadi dengan menekan ongkos produksi sehingga sama dengan jumlah pajak yang dipungut." ujar anggota DPR. antara 30:60. Misalnya.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 133 suatu barang adalah elastis sempurna maka seluruh beban pajak tidak langsung akan menjadi tanggungan produsen. Pajak ini langsung terkait dengan penghasilan wajib pajak atau Nilai Jual Obyek Pajak.kompas. beban yang ditanggung rakyat terus-menerus diperbesar hanya untuk meningkatkan target penerimaan negara. pihak pengusaha tidak mau bertindak sebagai pemungut pajak. Padahal. dimana rakyat dibebankan kewajiban pajak tak langsung yang lebih besar daripada pajak langsungnya. "Hanya beda sedikit. Namun adakalanya. Hal ini berarti. khususnya wajib pajak. . Misalnya Pajak Penghasilan (PPh) dan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). karena lebih banyak pajak dikenakan pada konsumen. Pajak tak langsung merupakan pajak yang bisa dialihkan ke pihak lain. sedangkan pengusaha kena pajak hanya bertindak sebagai pemungut pajak. di sela-sela rapat kerja Komisi IX DPR dengan Menteri Keuangan berkaitan dengan pembahasan lima RUU Pajak di Panitia Khusus (Pansus) Pajak.com. Bea Masuk. mencerminkan masih tidak adanya rasa keadilan bagi masyarakat." ujar anggota Komisi IX DPR. Hal ini terjadi karena masyarakat tetap dijadikan obyek pajak oleh pemerintah untuk memperbesar target penerimaan pajak dalam negeri. Di saat krisis. perbandingannya tidak sebesar itu. Sasaran pajak tak langsung ini sebenarnya konsumen. Direktur Jenderal Pajak yang dimintai pendapatnya mengakui keadaan itu. pajak yang diterima sebagian besar negara-negara berkembang lebih banyak dari kategori pajak tidak langsung. "Sebetulnya ini tidak adil. Dirjen Pajak membantah kalau dominasi pajak tak langsung ini hanya terjadi di Indonesia. Perbandingan antara pajak tak langsung dengan pajak langsung sekarang ini.

Prinsip ekonomi (economy) Pengenaan pajak kepada masyarakat dan dunia usaha secara umum dapat berbentuk pajak atas pendapatan dan pajak atas konsumsi. program pensiun kepada semua pegawai akan menguntungkan golongan pendapatan yang rendah karena mereka memperoleh manfaat dari program ini melebihi jumlah kontribusi yang dibayarkan melalui pajak penghasilan yang progresif. tunjangan sosial dapat diterapkan untuk memenuhi prinsip keadilan perpajakan. Sedangkan pembayaran transfer oleh pemerintah dapat dipandang sebagai pajak negatif. Salah § § . Pembayaran transfer atau grant oleh pemerintah dapat dianggap sebagai arus pajak dengan arah yang berlawanan. Akibatnya. Prinsip keadilan (equity) 2. pajak langsung lebih banyak digunakan dalam instrumen fiskal di negara-negara tersebut. Misalnya adalah tunjangan sosial dan subsidi pajak terhadap beberapa jenis usaha tertentu. Sebaliknya. Sebagai contoh. tujuan dari hukum pajak adalah membuat adanya keadilan dalam hal pemungutan pajak. Pada beberapa negara. Pada dasarnya.134 Bab 7: Dasar-dasar Perpajakan peranan kebijakan fiskal adalah sangat penting. Seluruh aliran dana yang masuk kas negara akibat diterapkannya kebijakan perpajakan biasa disebut sebagai pajak positif. Prinsip kepastian (certainty) 3. sumber penerimaan negara dapat dikelompokkan menjadi dua sumber yakni dari dalam negeri dan luar negeri Pajak merupakan pembayaran yang diwajibkan yang dikaitkan dengan beberapa aktivitas Teori Adam Smith yang terkenal mengenai prinsip-prinsip pengenaan pajak mengacu pada empat hal yaitu: 1. Pajak atas pendapatan berarti adalah pengenaan tarif pajak terhadap seluruh pos-pos penerimaan rumah tangga dan perusahaan dalam siklus perekonomian. Hal tersebut disubsidi silang oleh golongan masyarakat yang berpenghasilan menengah ke atas. Keadilan di sini dapat diartikan sebagai adil dalam prinsip (undang undang) maupun adil dalam pelaksanaannya. Prinsip kenyamanan (convenience) 4. RANGKUMAN § § § Secara garis besar. pajak atas konsumsi berarti pengenaan tarif pajak atas seluruh pengeluaran.

Sebutkan unsur-unsur yang terkandung dalam pengertian pajak! Sebutkan dan jelaskan mengenai prinsip dasar pengenaan pajak! Jelaskan bagaimana hubungan sistem perpajakan yang berlaku di suatu negara dengan pertumbuhan ekonomi di negara tersebut! Apa tujuan pemerintah mendirikan perusahaan-perusahaan negara? Apakah perbedaan antara pajak dengan retribusi? Mengapa dalam negara-negara berkembang. penerimaan cenderung lebih banyak didapat dari sektor pajak tidak langsung? Apa yang disebut dengan pajak positif dan pajak negatif? Jelaskan mengenai Pajak in Rem dan Pembayaran Transfer! Sebutkan kelebihan dan kekurangan dari Pajak Tidak Langsung! . Beban pajak ini tidak dapat dipindahkan kepada orang lain Pajak tidak langsung adalah beban pajak yang harus dipikul oleh wajib pajak hanya saja pajak tersebut tidak dipungut secara berkala LATIHAN 1. 8. 3. 4. Proportional (flat) tax rate adalah pengenaan pajak dengan tarif dalam persentase tertentu dengan tidak melihat perubahan pendapatan individu. Regressive tax rate adalah pengenaan pajak dengan tarif menurun dengan makin meningkatnya pendapatan wajib pajak. 5. Pajak perseorangan adalah pajak yang dikenakan kepada orang per orang yang memperoleh penghasilan dimana besarnya jumlah yang terhutang disesuaikan dengan kemampuan untuk membayar pajak. atau pemilikan harta kekayaan. 7.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 135 § satu unsur dalam mencapai keadilan melalui penerapan tarif pajak. 2. penjualan. Pajak langsung adalah pajak yang berdasarkan surat ketetapan dikenakan terhadap perusahaan ataupun perseorangan dan dilakukan secara berkala. Progressive tax rate adalah pengenaan pajak dengan tarif meningkat seiring dengan peningkatan pendapatan individu. yaitu dengan memberikan tekanan yang sama kepada wajib pajak. Pajak in Rem adalah pajak atas aktivitas atau obyek tertentu misalnya pembelian. 9. 6.

136 Bab 7: Dasar-dasar Perpajakan .

tetapi kurang adil dari sisi yang lain. sulit sekali didapat suatu formula kebijakan perpajakan yang memenuhi seluruh aspek keadilan. Suatu sistem pajak dikatakan adil bila kontribusi yang diberikan oleh setiap . Tidak ada suatu kebijakan yang bisa memuaskan seluruh pelaku ekonomi. Suatu kebijakan dianggap adil jika dilihat dari satu sisi. Untuk itu perlu dibandingkan prinsip-prinsip yang menerangkan bagaimana konsep keadilan dapat dibakukan.KEADILAN DAN DAMPAK PERPAJAKAN Pada kenyataannya. Pendekatan pertama adalah prinsip manfaat (benefit principle). PRINSIP MANFAAT Setiap orang setuju bahwa sistem perpajakan harus adil dimana setiap wajib pajak harus memberikan kontribusinya yang layak untuk membiayai kegiatan pemerintah. Lebih lanjut pembahasan keadilan perpajakan dikaitkan dengan beberapa jenis pajak.

Menurut prinsip ini. harus diketahui terlebih dahulu bagaimana cara mengukur kemampuan tersebut. Keuntungan penyediaan jasa publik model ini adalah dapat meringankan beban keuangan pemerintah. dan kekayaan. sistem pajak yang adil akan tergantung dari struktur pengeluaran publik.138 Bab 8: Keadilan dan Dampak Perpajakan wajib pajak sesuai dengan manfaat yang diperoleh dari jasa-jasa pemerintah. Misalnya pembebanan bea (bea cukai dan bea masuk) serta pajak pengganti pembebanan seperti pajak BBM dan pajak kendaraan dalam rangka pembiayaan jalan raya. pola konsumsi. Prinsip manfaat cenderung mengalokasikan penerimaan pajak untuk membiayai jasa-jasa publik tetapi tidak terlalu mempertimbangkan pembiayaan transfer serta tujuan redistributif. Dalam halnya pengenaan pajak melalui pembebanan langsung terhadap pengguna. Berdasarkan prinsip ini. penyediaan jasa-jasa publik oleh pemerintah dilaksanakan dengan prinsip-prinsip yang sama seperti yang dilakukan oleh swasta. sistem pajak dipisahkan dari sisi pengeluaran publik. Kemampuan membayar seseorang . Praktek penerapan kebijakan fiskal berdasarkan prinsip manfaat lebih banyak ditetapkan pada penyediaan jasa-jasa publik berdasarkan prinsip manfaat yang khusus. Agar prinsip manfaat dapat dilaksanakan. Ukuran kemampuan membayar mencerminkan kesejahteraan secara menyeluruh yang dapat diperoleh seseorang. Agar prinsip kemampuan membayar dapat diterapkan. Agar sistem perpajakan dengan prinsip manfaat bisa adil. konsumsinya bersaing secara bebas. Oleh karena itu. Perekonomian memerlukan suatu jumlah penerimaan tertentu dan setiap wajib pajak diminta untuk membayar sesuai dengan kemampuannya. termasuk diantaranya adalah pendapatan. prinsip manfaat memandang perekonomian sektor publik sebagai sektor yang melibatkan pengeluaran maupun penerimaan yang berkesinambungan. Pendekatan kemampuan membayar ini lebih baik dalam hal mengatasi masalah redistribusi akan tetapi mengabaikan masalah-masalah yang berkaitan dengan penyediaan jasa-jasa publik. PRINSIP KEMAMPUAN MEMBAYAR Yang kedua adalah prinsip kemampuan membayar (ability to pay principle). misalnya biaya penggunaan sarana transportasi dan penyediaan fasilitas bandar udara. Dengan penetapan harga. Manfaat hanya dapat diperoleh apabila pemakai dapat membayar. Pendekatan ini menyebabkan sisi pengeluaran publik menjadi tidak jelas. manfaat yang diperoleh wajib pajak atas terjadinya pengeluaran publik harus diketahui terlebih dahulu. harus diasumsikan bahwa ketika sistem tersebut mulai diberlakukan sudah terdapat distribusi yang tepat dalam perekonomian. Mekanisme pasar dapat diterapkan untuk mendapatkan posisi tawar menawar yang efisien.

Ilustrasi pada pajak penghasilan 1 Berkeadilan horizontal adalah bahwa orang-orang yang mempunyai kemampuan yang sama harus membayar dengan jumlah yang sama.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 139 tentunya akan meningkat jika pendapatan meningkat.9 98. jumlah pajak yang dibayar ikut meningkat apabila seluruh tabungan tersebut dikonsumsikan. sedangkan kebajikan harus diberi penghargaan. Pendapat lain mengatakan bahwa tabungan adalah konsumsi yang ditunda. pemborosan harus dikenakan pajak. Adapun perbandingan dari metode pengenaan pajak terhadap pendapatan dan konsumsi dari prinsip kemampuan membayar tercermin dari tabel berikut. Dalam arti. Tabel 8.82 0 0 0 0 10 10 10 11 99 0 11 10 Gaji Pajak Konsumsi Tabungan 100 10 90 0 100 10 0 90 100 10 90 0 100 0 0 100 Pajak Konsumsi Total Pajak Nilai Sekarang (PV) Pajak = 10%.1 0 10. Hobbes berpendapat bahwa kewajiban membayar pajak harus dikaitkan dengan pendapatan yang dibelanjakan bukan yang ditabung.9 10. Berkeadilan vertikal adalah bahwa orang-orang yang mempunyai kemampuan yang lebih besar harus membayar pajak dengan jumlah yang lebih besar pula.1: Perbandingan Pajak Penghasilan dan Pajak Konsumsi Pajak Penghasilan Periode I • • • • Periode II • • • • Bunga Pajak Konsumsi Tabungan 0 0 0 0 10 10 9 0. Prinsip ini dianggap lebih berkeadilan secara horizontal dan vertikal1. Dan apabila tabungan masyarakat memperoleh bunga. Inflasi/Bunga = 10% Pengenaan pajak yang didasarkan atas diterimanya pendapatan (termasuk pendapatan dari bunga tabungan) akan menyebabkan total pajak yang dibayar oleh wajib pajak menjadi lebih besar dan akan berbanding lurus dengan besarnya jumlah pendapatan yang ditabung. .

Dalam prakteknya. ditabung atau dikonsumsi. kekayaan individu dan warisan bisa dikenakan pajak. Di samping melihat keadilan pajak dari sudut pandang dimensi vertikal. maka tidak akan ada tambahan pendapatan pada periode II (berikutnya) dari tabungan gaji periode I. keadilan perpajakan mengimplikasikan proses redistribusi kekayaan masyarakat dimana orang kaya membayar lebih banyak dari orang yang lebih miskin (dimensi vertikal). pajak terhadap seorang petani harus lebih rendah dari hasil pertanian yang dimilikinya. Pada umumnya. Secara konsep. Sedangkan tambahan pajak akan dikenakan terhadap bagian gaji yang ditabung yang mendapat bunga. Keadaan ini menyebabkan orang cenderung untuk mengurangi tabungan. Apabila kekayaan individu dapat diwariskan kepada individu lain tanpa dikenakan pajak. 3 Sebagai ilustrasi. Atas dasar ini. Hal ini disebabkan karena pajak akan tetap dipungut tanpa melihat kapan pendapatan akan dikonsumsi sehingga jumlah pajak yang harus dibayar oleh wajib pajak mempunyai nilai sekarang yang sama. pendapatan tersebut selamanya bisa tidak dikonsumsi dan tidak kena pajak. jumlah total pajak yang dibayar memiliki nilai sekarang yang sama2 Apabila pajak atas konsumsi yang dipilih. tidak dipungkiri jika orang kaya juga ikut menikmati sebagian keuntungan dari adanya belanja negara. perlu juga diperhatikan keadilan pajak dari sudut pandang dimensi horizontal dimana pengenaan pajak terhadap seseorang harus lebih rendah dari kemampuannya membayar 3 dan prinsip keadilan pajak secara geografis 2 Kondisi ini diasumsikan nilai bunga sama dengan inflasi. . Ilustrasi pajak atas konsumsi tersebut di atas terlihat lebih adil. dimungkinkan adanya bagian pendapatan yang tidak pernah kena pajak. Sebaliknya kekayaan individu bisa menambah pendapatan pemiliknya sebagai pendapatan barang-barang modal. Atau dengan kata lain. Bagian pendapatan itu adalah pendapatan yang ditabung dan tidak pernah dikonsumsi.140 Bab 8: Keadilan dan Dampak Perpajakan menggambarkan bahwa apabila seluruh pendapatan setelah dikurangi pajak dikonsumsi habis. yang pada akhirnya akan menjadi kekayaan individu. KRITERIA UMUM KEADILAN PERPAJAKAN Prinsip keadilan perpajakan didasarkan pada distribusi pengenaan pajak untuk memenuhi belanja publik yang harus didasarkan pada proporsi kekayaan dan pendapatan masyarakat. negara menganut prinsip ini dalam rangka memenuhi tuntutan keadilan dalam hukum walaupun pada pelaksanaannya masih banyak menimbulkan perbedaan-perbedaan.

dan cacat dikecualikan dari subjek kena pajak. serta pengaruh kekuatan orang-orang kaya terhadap kebijakan politik nasional. Distribusi pembebanan pajak yang adil dipengaruhi oleh cakupan faktorfaktor siapa yang membayar. Kebijakan perpajakan dianggap adil jika faktor-faktor seperti lanjut usia. tentunya keadilan pajak juga harus memperhitungkan besarnya jumlah tanggungan dalam keluarga4.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 141 dimana orang-orang yang tinggal pada daerah tertentu akan dikenakan pajak yang lebih tinggi. terbatasnya volume pendapatan masyarakat yang dapat dikenakan pajak. dibawah umur. Struktur pajak yang progresif cenderung akan lebih mudah dicapai pada struktur perekonomian yang mapan. dan pajak dikatakan tidak adil jika sumber pendapatan tertentu dikenakan pajak tinggi sementara sumber tersebut memiliki kontribusi yang besar terhadap perekonomian nasional. Sulitnya menerapkan metode assesment yang baik juga muncul dalam hal menentukan subjek pajak yang dikecualikan. Di samping itu. apa jenis pendapatannya serta bagaimana tarif pajaknya. PRINSIP KEADILAN DAN PAJAK PENGHASILAN Pajak penghasilan biasanya dihitung atas jumlah penghasilan selama satu tahun. Penghasilan tersebut merupakan daya beli individu atas barang dan jasa selama satu tahun yang dapat dikonsumsikan atau disimpan untuk keperluan di masa mendatang. kemiskinan. . ketakutan akan efek negatif pajak terhadap produksi dan investasi nasional. hal ini tentunya juga akan dipengaruhi oleh metode assesment dan akurasi penghitungan pajak terhutang. Dalam konsep ini. Ketidakakuratan dalam penghitungan pajak terhutang akan mengakibatkan ketidakadilan karena akan menimbulkan adanya pajak yang lebih bayar atau kurang bayar. Di samping itu. Beberapa hambatan yang mungkin terjadi dalam menentukan suatu kebijakan perpajakan adalah keadaan ekonomi dan politik suatu negara. masyarakat golongan ekonomi rendah akan dikenakan pajak yang ringan dan bahkan dapat dibebaskan dari kewajiban pajak seluruhnya. Beberapa penulis berpendapat bahwa pajak akan dikatakan adil jika kenaikan pajak akan dikompensasikan dengan penyediaan pendidikan dan transportasi umum yang murah. 4 Pada negara-negara yang relatif maju dalam perekonomian cenderung dapat mempercayai dokumen-dokumen yang membuktikan adanya hak atas pengecualian pajak. Tidak jarang para pelaku ekonomi yang kuat menyuarakan keluhan-keluhannya terhadap kebijakan pajak baru yang dapat menggangu kegiatan bisnisnya. Prinsip keadilan pajak dapat juga dilihat dari sisi penerimaan dan pengeluaran.

akan terdapat item-item pengeluaran yang erat kaitannya dengan kegiatan memperoleh pendapatan seperti pembelian peralatan kerja. dan kenaikan nilai kekayaan. iuran serikat pekerja. Sebagai pajak individu. pendapatan adalah seluruh penerimaan selama periode pajak yang berupa keuntungan jasa. Pendapatan masyarakat tersebut dapat digambarkan dengan persamaan sebagai berikut: I = C + ΔNW Dimana: I = Pendapatan tahunan (annual income) C = Konsumsi tahunan (annual consumption) ΔNW = Perubahan kekayaan bersih setahun (annual change in net worth) Metode untuk mengukur pendapatan baik berdasarkan sumber perolehannya ataupun penggunaannya harus ditentukan sebelum pajak penghasilan dijalankan. pakaian kerja. Kebanyakan sistem akuntansi menggunakan sisi sumber sebagai alat ukurnya. Sedangkan berdasarkan penggunaannya pendapatan masyarakat dapat berupa pembelian barang dan jasa. dan transportasi dari/menuju tempat kerja. Pengeluaran-pengeluaran tersebut tentunya diperlukan dalam rangka mendapatkan penghasilan dan tidak . pajak penghasilan akan dikenakan kepada setiap orang yang memiliki penghasilan tanpa melihat umur atau jumlah yang diterimanya. Pendapatan masyarakat dapat diukur berdasarkan sumber perolehannya ataupun penggunaannya. dan tabungan. sumbangan. Beberapa ahli menyarankan untuk memasukkan unsur tambahan yakni peningkatan kekayaan sebagai bagian dari pendapatan kena pajak. tentunya perlu dilakukan penghitungan berapa pendapatan yang sesungguhnya setelah dimasukkan unsur inflasi sebagai penyeimbang. pajak akan dikenakan atas keuntungan badan usaha yang diterima oleh para pemegang saham sesuai dengan proporsi nilai saham yang dimilikinya. tunjangan dari pemerintah atau swasta. Berdasarkan sumber perolehannya. biaya penitipan anak. Sebagai pajak badan. Jika dilihat dari sisi pengeluaran. Pengukuran akan relatif menjadi lebih mudah jika kekayaan yang dimiliki berupa saham dan obligasi. Dengan demikian.142 Bab 8: Keadilan dan Dampak Perpajakan Pajak penghasilan dapat dikategorikan sebagai pajak individu dan pajak badan. beban pajak.

Kompensasi dari adanya kebijakan ini adalah rumitnya pelaksanaan peraturan dalam praktek. akan tapi. dapat dikatakan bahwa konsep keadilan dalam perpajakan masih dapat diperdebatkan. Dengan demikian. Semua itu dapat dikategorikan sebagai pendapatan yang tidak tercermin dalam gaji yang tertera (nonpecuniary returns). Pada akhirnya. Kegiatan ini tentunya akan menambah kekayaan bersih wajib pajak. kerumitan cenderung 5 Biaya pelatihan juga masih dalam perdebatan apakah dapat dikategorikan sebagai pengeluaran yang dapat mengurangi pendapatan kena pajak. Contoh lain adalah fringe benefit. apakah kesetaraan kemampuan ekonomi bisa dijewantahkan sebagai kesamaan tingkat pendapatan. atau kesetaraan ini hanya diukur dari jumlah pendapatan yang diterima saja dengan sama sekali mengabaikan potensi perbedaan pengeluaran dari masing-masing rumah tangga 7 . perbedaan pendapat dalam hal kebijakan yang berkeadilan lebih kompleks lagi pada pajak penghasilan. Secara umum. masih terdapat beberapa pendapat yang kurang setuju jika keadilan secara vertikal dilambangkan dengan tarif pajak progresif. biaya kesehatan. Sedangkan secara vertikal. Adapun alasan yang mendasari ketidaksetujuan mereka dapat dilihat dari dua kebijakan yang biasa berkaitan dengan pajak progresif. kesulitan akan muncul pada saat menghitung berapa nilai tambah kekayaan yang timbul sebagai akibat dari adanya transaksi non moneter ini (income in kind)6. biaya pendidikan yang bervariasi tentunya akan sangat mempengaruhi pola pengeluaran rumah tangga. Pada kenyataannya akan terjadi seorang wajib pajak memperoleh suatu produk atau menerima jasa yang dihasilkan sendiri sehingga tanpa harus mengeluarkan sejumlah uang. seharusnya hal-hal yang mempengaruhi pengeluaran rumah tangga juga ikut diperhitungkan. Secara horizontal. 7 Hal-hal seperti jumlah anggota keluarga. Baik prinsip keadilan secara horizontal maupun secara vertikal. Yang menjadi pertanyaan. dimana seorang wajib pajak misalnya menerima pinjaman kendaraan yang dapat digunakan untuk keperluan pribadi atau tunjangan makan yang diberikan tidak dalam bentuk uang. dikatakan bahwa pengenaan pajak harus sesuai dengan kesetaraan kemampuan ekonomi masyarakatnya. 6 Pendapatan jenis ini sering terjadi pada usaha-usaha kecil yang memproduksi barang atau jasa. . hal hal yang seperti ini biasanya luput dari pengenaan pajak. Pada beberapa kasus. Supaya lebih adil. Pertama adalah kebijakan pendapatan tidak kena pajak. Akan tetapi. wajib pajak dimungkinkan untuk menerima pendapatan selain uang tunai.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 143 menambah kekayaan wajib pajak sehingga layak untuk dikeluarkan dari jumlah pendapatan kena pajak5. perumusan rancangan kebijakan fiskal lebih memerlukan perhatian khusus.

Pengenaan pajak penjualan akan lebih dirasakan dampaknya oleh golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah. pada pajak penjualan tambahan kekayaan tersebut (yang biasanya dari tabungan) dikeluarkan dari basis pajak. pinjaman yang dikonsumsikan akan tetap dikenai pajak.144 Bab 8: Keadilan dan Dampak Perpajakan mendorong keengganan dan penyelewengan wajib pajak. Wajib pajak cenderung mempermainkan tempo pengakuan suatu pendapatan untuk menghindari pengenaan tarif pajak yang lebih tinggi. Sedangkan pada pajak penghasilan. prinsip umum yang ingin dicapai adalah bahwa jumlah pendapatan masyarakat yang ditabung seharusnya tidak perlu dikenakan pajak. golongan masyarakat ini cenderung untuk mengkonsumsi seluruh pendapatan yang . Justru bunga yang timbul sebagai akibat dari adanya pinjaman tersebut akan dapat mengurangi dasar penghasilan yang dikenai pajak. selisih lebih kekayaan wajib pajak secara moneter sebagai akibat dari adanya inflasi tidak akan membuat kemampuan membayarnya meningkat karena wajib pajak tersebut harus membelanjakan penghasilannya dengan harga yang telah terinflasi. Perbedaan yang menarik antara pajak penjualan dengan pajak penghasilan adalah pada dana yang tersedia berupa ‘pinjaman’. pinjaman tidak dikenakan pajak. Basis yang menyeluruh terhadap kajian pajak penjualan dapat diturunkan dari basis pajak penghasilan. Kedua adalah kebijakan pengenaan tarif pajak yang lebih tinggi untuk setiap tambahan pendapatan. Hal ini disebabkan karena hanya porsi penghasilan yang dibelanjakanlah yang akan dikenai pajak. Dalam pajak penjualan. PRINSIP KEADILAN DAN PAJAK PENJUALAN Dalam pajak penjualan. Pada pajak penjualan. warisan akan dikenai pajak seketika pada saat setelah wajib pajak diumumkan meninggal dunia. Untuk menghindari akumulasi pendapatan yang tidak kena pajak sebagai akibat wajib pajak meninggal dunia. Hal ini dipercaya akan dapat mendorong masyarakat untuk lebih meningkatkan tabungannya di samping kegiatan administrasi perpajakannya yang cenderung akan menjadi lebih mudah. Sebagaimana telah dijelaskan oleh ilustrasi pada awal bab. Hal ini dikarenakan. terdapat semacam penundaan pajak penghasilan sampai terjadi konsumsi atas bagian dari penghasilan tersebut. Pajak penjualan sama sekali tidak dipengaruhi inflasi. Bebeda dengan apa yang diterapkan pada pajak penghasilan. capital gain harus memperhitungkan tingkat inflasi sebelum menentukan jumlah kena pajak. Jika dalam pajak penghasilan seluruh konsumsi dan tambahan kekayaan wajib pajak akan dikenakan pajak.

memperoleh hibah atau mewarisi kekayaan keluarganya. seorang penilai independen akan ditunjuk untuk mengestimasikan nilai kekayaan . Seorang wajib pajak dapat memiliki kekayaan melalui kegiatan menabung. Sedangkan golongan masyarakat yang berpenghasilan tinggi memiliki kesempatan untuk menabung sebagian pendapatannya. dapat ditempuh oleh pemerintah seperti (Ulbrich. Memperbanyak item aktivitas penjualan kena pajak yang hanya mungkin dilakukan oleh golongan masyarakat berpenghasilan tinggi. Mengembalikan jumlah pajak penjualan yang dibayar kepada masyarakat dengan standar penghasilan tertentu.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 145 dimilikinya. beberapa langkah. Untuk menghindari hal tersebut. Mengadministrasikan pajak kekayaan cenderung lebih sulit. PRINSIP KEADILAN DAN PAJAK KEKAYAAN Kekayaan adalah akumulasi dari tabungan dan investasi suatu negara. tidak memperoleh hibah/hadiah atau warisan tidak akan pernah disebut kaya. Secara umum pada pajak kekayaan. 2003): 1. Estimasi nilainya sering meleset dari nilai yang sesungguhnya. 4. Mengurangi atau mengeliminasi pengenaan pajak yang lebih banyak dikonsumsi oleh golongan masyarakat berpenghasilan rendah. terutama dalam hal kekayaan yang jarang diperjualbelikan. 2. Mengenakan tarif pajak yang lebih tinggi untuk beberapa jenis produk yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat berpenghasilan tinggi. Hal ini dikarenakan banyak wajib pajak yang berpenghasilan rendah namun pada kenyataannya mereka memiliki sejumlah kekayaan dan mereka memungut sewa atas pemanfaatan kekayaan tersebut oleh orang lain. Seorang wajib pajak yang tidak mampu menabung. 3. nilai bersih kekayaan harus dikurangi dulu dengan jumlah total hutang supaya tidak terjadi penghitungan ganda. Makin besar pendapatan golongan masyarakat. Banyak pendapat yang setuju jika pajak kekayaan diterapkan. Dalam hal kekayaan yang dimiliki dengan cara hutang. Jika hal ini terjadi. akan menjadi sangat sulit untuk mengukur berapa jumlah tambahan pendapatan dari kegiatan sewa tersebut. Pengukuran nilai kekayaan akan semakin menjadi lebih sulit jika kekayaan tersebut berupa kekayaan yang tak berwujud (intangible asset). makin tinggi pula persentase pendapatan yang ditabung.

Excess burden disebabkan adanya kelebihan biaya pajak yang bersedia dibayar oleh pembeli dibandingkan dengan jumlah yang diterima oleh penjual.146 Bab 8: Keadilan dan Dampak Perpajakan tersebut. Excess Burden adalah tambahan biaya yang membebani masyarakat di atas jumlah pajak yang seharusnya dibayar. Sebaliknya jika tujuan yang ingin dicapai adalah pemerataan penghasilan. Tentu saja hal ini harus memperhitungkan tren kenaikan harga sewa sehingga dapat mencerminkan nilai pasar sesungguhnya. Jika hasilnya dirasa memadai. konsumen. Problem distribusi pajak yang muncul akan menjadi lebih kompleks diprediksi keadilannya apabila kekayaan tersebut disewakan kepada pihak ketiga. kebijakan perpajakan yang dapat ditempuh dengan mengenakan pajak tidak langsung. Berkaitan dengan penerimaan negara. pengenaan tarif akan didasarkan atas estimasi nilai yang dihasilkan. Hal ini mengakibatkan adanya keuntungan yang hilang sebagai akibat dari terdistorsinya keseimbangan harga pada kurva permintaan dan penawaran. terkadang total excess burden tidak sama dengan total penerimaan negara. Jika tujuannya adalah untuk mengoptimalkan tingkat produksi. . Dalam dunia usaha. dan pemilik kekayaan. Aplikasi pengenaan pajak terhadap kekayaan tersebut akan menjadi lebih mudah diterapkan jika pemilik dan pengguna kekayaan tersebut adalah orang yang sama. Dengan kata lain. pajak langsung yang progresif lebih tepat untuk diterapkan. Efficiency Effect Sistem perpajakan yang baik adalah sistem perpajakan yang memberikan pengaruh terbaik terhadap perekonomian negara. Untuk mengukurnya 8 Kekayan yang dimaksud disini adalah berupa kekayaan atas benda-benda seperti rumah. penanggung akhir dari adanya pengenaan pajak kekayaan makin sulit ditentukan karena melibatkan pemilik usaha. para pegawai. Sistem tersebut tidak boleh terlalu membebani perekonomian. Pada prinsipnya dapat dikatakan bahwa target pengenaan pajak kekayaan8 adalah pemiliknya. yang artinya bahwa pajak kekayaan lebih menguntungkan golongan masyarakat yang berpenghasilan tinggi karena nilai uang yang dikeluarkannya sebagai pajak akan jauh lebih rendah dibandingkan dengan nilai uang untuk pajak kekayaan yang dikeluarkan oleh golongan masyarakat berpenghasilan rendah. Pajak kekayaan cenderung bersifat regresif. Mobil dan kekayaan lainnya. Cara lain yang dapat dipakai untuk mengukur nilai sebuah kekayaan adalah dengan menghitung nilai sekarang (present value) dari potensi pendapatan sewa selama masa manfaat kekayaan tersebut. penurunan pendapatan penjual tidak diikuti dengan peningkatan kuantitas yang tersedia untuk dibeli.

Economic Incidence lebih sulit dianalisa dibanding Statutory Incidence. maka akan timbul pertanyaan tentang kebijakan pajak apa yang yang dapat dibandingkan dengan pajak perseroan tersebut. Misalnya. Kajian-kajian yang dilakukan mengenai tax incidence tergantung dari tersedianya sumber daya dan antisipasi pemindahan beban. perlu dispesifikasikan alternatif atas kebijakan pajak tersebut. Berkenaan dengan dimungkinkannya memindahkan beban pajak kepada pelaku ekonomi lain secara keseluruhan atau sebagian (tax shifting) maka pembahasan tax incidence dapat dibagi dalam dua konsep yakni statutory incidence dan economic incidence. Analisa tersebut kadang juga memerlukan pembahasan parameter yang tersembunyi. misalnya elastisitas harga produk tertentu. perlu diformulakan sebuah teori ekonomi tentang perubahan harga yang dipengaruhi pajak. ketika menganalisa penanggung beban pajak perseroan. tarif pajak dapat diturunkan tanpa mempengaruhi jumlah total penerimaan negara. Ketika mengidentifikasi distribusi beban pajak. Hal ini dimungkinkan karena pelaku ekonomi yang secara hukum berkewajiban membayar pajak kepada pemerintah belum tentu menggunakan dana pribadi atau dengan kata lain dapat membebankan pajaknya kepada pelaku ekonomi yang lain. Dengan mengurangi pengenaan pajak yang menimbulkan excess burden lebih besar dalam jumlah nominal yang sama. Tax Incidence adalah teori yang mempelajari pelaku-pelaku ekonomi mana yang sesungguhnya menanggung beban pajak. Statutory Incidence merujuk pada pelaku-pelaku ekonomi yang secara hukum terlibat dalam pendistribusian pembebanan pajak. Absolute Tax Incidence menggambarkan suatu kebijakan distribusi .Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 147 digunakan efficiency-loss ratio yakni Excess Burden dibagi Tax Revenue yang dapat diformulasikan dengan persamaan sebagai berikut: efficiency-loss ratio = W/ R dimana: W = Excess Burden R = Tax Revenue Estimasi efficiency-loss ratio penting dilakukan untuk meminimalkan total excess burden pada sistem perpajakan nasional. Untuk menentukan manakala beban pajak dipindahkan. Sedangkan Economic Incidence lebih mengarah pada pengaruh pendistribusian pembebanan pajak pada tingkat ekulibrium harga atau tingkat perekonomian secara umum.

maka tidak akan pernah terjadi inflasi atau deflasi. Kadang-kadang yang muncul adalah jumlah tabungan (S) lebih besar dari jumlah investasi (I) atau dengan kata lain. penurunan harga (deflasi). . tidak semua tabungan digunakan untuk investasi (S > I) maka akan terjadi kelesuan ekonomi. Sebaliknya Differential Tax Incidence menyoroti keadaan pendistribusian beban pajak yang memiliki beberapa alternatif lain yang berfungsi sama dengan kebijakan pajak dimaksud. jumlah konsumsi (C) dan tabungan (S). dan pengangguran. Hubungan dari ketiga unsur tersebut adalah pendapatan nasional sama dengan jumlah konsumsi ditambah jumlah tabungan (Y = C + S).148 Bab 8: Keadilan dan Dampak Perpajakan beban pajak yang tidak memiliki pembanding. Kondisi ini menyebabkan kegairahan ekonomi dan kenaikan harga (inflasi). Yang sering terjadi justru jumlah tabungan lebih rendah dari jumlah investasi (S < I). DAMPAK PAJAK Terhadap Sistem Ekonomi Keseluruhan Secara umum. Apabila seluruh tabungan (S) digunakan sebagai investasi (S = I). struktur perekonomian nasional (tanpa pajak) terdiri dari pendapatan nasional (Y).

Pergeseran yang dimaksud adalah mengubah pola produksi sehingga menghasilkan barang-barang yang lebih rendah biaya produksinya akibat tarif pajak yang lebih kecil atau beralih produksi.1 : Hubungan antara tingkat Pendapatan Nasional. jika elastisitas permintaan barang adalah sempurna. menggeser kurva C+I ke bawah dengan menerapkan pajak atas konsumsi. tidak ada inflasi ataupun deflasi. perusahaan tidak dapat . pajak dapat menyebabkan pergeseran penggunaan faktorfaktor produksi. Pada kondisi ini. dengan tingkat Konsumsi dan tingkat Investasi Gambar di atas menunjukkan hubungan antara tingkat pendapatan nasional (Y). Konsumen akan membayar seluruh beban pajak yang ditambahkan pada harga barang. instrumen pajak dapat digunakan untuk menurunkan tingkat inflasi. Pada tingkat pendapatan 0Y1 (S<I) terdapat inflationary gap. Berkaitan dengan dimungkinkannya penerapan insentif pajak pada suatu daerah tertentu. dengan tingkat konsumsi (C) dan tingkat investasi (I). perekonomian dalam keadaan seimbang. Seberapa jauh pengaruh pajak terhadap penggunaan faktor-faktor produksi dipengaruhi elastisitas permintaan terhadap barang-barang yang dihasilkan. menggeser kurva C+I ke atas dengan menerapkan pajak atas tabungan. Sebaliknya. Sebagai contoh. Barang-barang yang tingkat permintaannya inelastis sempurna tidak akan terpengaruh dengan adanya pengenaan pajak. Pada tingkat pendapatan nasional sebesar 0Y (S=I). Dengan kata lain. Sebaliknya pada tingkat pendapatan 0Y2 (S>I) terdapat deflationary gap dimana hargaharga cenderung terus turun sampai tidak ada lagi perbedaan antara tabungan dan investasi.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 149 Gambar 8. Pada kondisi ini. Terhadap Komposisi Produksi Pajak dapat digunakan sebagai pendorong kepada pelaku ekonomi untuk melakukan aktivitas tertentu dengan memberikan insentif-insentif. instrumen pajak dapat digunakan untuk menurunkan tingkat deflasi. menimbulkan adanya beberapa alternatif pilihan yang dapat diambil oleh para pelaku ekonomi. Harga-harga cenderung terus naik sampai tidak ada lagi perbedaan antara tabungan dan investasi. perusahaan dapat saja mengurangi produksi barang-barang yang merupakan objek pajak dan meningkatkan produksi barang-barang lain yang masih belum merupakan kategori barang kena pajak. Perusahaan lain dapat saja berpindah lokasi industri dari suatu tempat yang mengenakan pajak yang tinggi ke tempat yang memberikan insentif pajak.

Orang lebih memilih untuk mempunyai lebih banyak waktu santai. Kombinasi itu membuat ekonomi negara-negara tersebut tumbuh lebih cepat.. Bahkan pertumbuhannya dua kali lebih tinggi dari tetangga mereka yang kaya di UE sepanjang 2004 lalu.3 persen diikuti Polandia 4. pajak akan dapat menyebabkan orang menjadi kurang giat bekerja. Secara teoritis. Hongaria 3. permintaannya terhadap penghasilan rendah sehingga elastisitas penawaran usaha dalam hubungannya dengan penghasilan adalah rendah juga. Sementara itu.. Polandia.3 persen dan 1.. Rata-rata pertumbuhan untuk empat negara itu dua kali lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan ekonomi di UE. Slowakia mengungguli kawasan dengan pertumbuhan ekonomi 5... mencatatkan pertumbuhan ekonomi masing-masing 1.. . Sehingga disarankan untuk barang-barang yang memiliki elastisitas tinggi.9 persen pada periode yang sama. biasanya permintaannya terhadap penghasilan adalah tinggi...8 persen. pengaruh pajak terhadap kemauan kerja individu memiliki sifat yang lebih kompleks. dan Hongaria. Terhadap Usaha Kerja Sebagian besar penerimaan negara dari pajak di Indonesia adalah pajak penghasilan yang dikenakan atas pendapatan para pegawai... Sehingga elastisitas penawaran usahanya adalah tinggi. Hongaria dan Ceko lebih tergantung pada ekspor ke UE seperti Jerman.. Tidak setiap kenaikan pajak akan memberi dampak negatif pada tabungan masyarakat ataupun investasi. pajak tidak menimbulkan disinsentif untuk bekerja. Dengan demikian. Jika pilihan kedua yang dilakukan maka akan dapat dikatakan bahwa pajak mempunyai pengaruh negatif terhadap kemauan usaha kerja. Bagi golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah..6 persen... pegawai-pegawai tersebut mempunyai dua pilihan yaitu bekerja atau tidak bekerja (memanfaatkan waktu santai) akibat adanya pengenaan pajak penghasilan. Slowakia. anggota baru Uni Eropa-sebuah pasar tunggal diuntungkan oleh berbagai kombinasi. Reaksi individu terhadap pengenaan pajak lebih banyak ditentukan oleh elastisitas penawaran usaha.... Sedangkan bagi mereka yang kurang peduli dengan gaya hidup mewah. turunnya pendapatan justru akan mendorong kemauan kerja yang lebih besar. Pada kenyataannya... PERBEDAAN PAJAK . dan meningkatnya kepercayaan investor. Ceko.150 Bab 8: Keadilan dan Dampak Perpajakan mengalihkan beban pajaknya pada harga barang. dan Ceko 3.. seperti Jerman dan Perancis. anggota lama UE. yang bergabung dengan UE pada Mei 2004..... pajak yang relatif rendah... dikenakan pajak yang ringan. Hal itu antara lain upah buruh yang relatif murah.....7 persen..4 persen pada sembilan bulan pertama 2004 untuk empat negara itu. Bagi sebagian orang. Data terbaru dari Eurostat-kantor statistik Uni Eropa (UE)-memperlihatkan rata-rata pertumbuhan ekonomi 4.

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi

151

Ekspor meningkat pesat seiring dengan hilangnya birokrasi di kepabeanan dan turisme melonjak karena maspakai penerbangan murah (budget airlines) mulai menjangkau negara yang sebelumnya tidak terjamah. Investasi asing berdatangan seiring dengan keyakinan mereka akan keadaan yang jauh lebih baik di negara-negara itu. Sebuah studi yang dilakukan oleh kantor akuntan publik, Ernst & Young, memperlihatkan bahwa arus investasi asing di Eropa naik 27 persen selama enam bulan pertama 2004. Ada sebanyak 1.432 proyek baru pada tahun 2004 dibandingkan dengan hanya 1.126 proyek baru pada paruh pertama tahun 2003 lalu. Investor UE juga mengutamakan anggota baru UE itu sebagai sasaran investasi. Hongaria memenangkan proyek lebih banyak ketimbang Jerman. Republik Ceko dan Polandia jauh lebih baik dalam pemasukan investasi baru ketimbang Spanyol. Slowakia menenggelamkan Austria sebagai tujuan investasi baru. Iklim perpajakan yang merangsang di Eropa Tengah telah membuat Zona Euro merasa gugup, khususnya Jerman dan Perancis-dua perekonomian terbesar di Uni Eropa. Zona Euro adalah julukan bagi sebelas negara di Uni Eropa yang menggunakan mata uang euro. Keputusan-keputusan oleh sejumlah perusahaan untuk merelokasi dan melakukan outsourcing produksi ke Eropa Tengah telah melahirkan perdebatan panas di Uni Eropa. Outsourcing adalah tindakan melakukan produksi ke pihak lain karena bisa dilakukan dengan lebih murah…………………….

Terhadap Distribusi Pendapatan
Tujuan pembangunan suatu negara pada umumnya adalah peningkatan pendapatan per kapita nasional, penciptaan lapangan kerja, dan distribusi pendapatan yang merata dan keseimbangan dalam neraca pembayaran internasional. Secara teori, semakin tinggi pendapatan seseorang, semakin tinggi pula persentase pendapatan yang ditabung. Dari kelompok-kelompok kaya inilah diharapkan sejumlah dana tabungan yang dapat digunakan untuk investasi. Dengan kata lain, masyarakat kelompok miskin tidak punya kemampuan tabungan dan investasi. Menurut pengertian ini, pendapatan nasional yang dikenai pajak akan banyak mempengaruhi turunnya jumlah tabungan masyarakat bukan pada porsi pendapatan yang dikonsumsi yang diasumsikan tetap. Tetapi pada kenyataannya, keadaan di negara-negara berkembang termasuk Indonesia, pola konsumsi masyarakat cenderung lebih tinggi dari pola konsumsi masyarakat di negara-negara maju. Sehingga sulit didapatkan dana tabungan masyarakat. Penarikan dana masyarakat secara sukarela dengan iming-iming bunga yang tinggi pada akhirnya juga ikut berpengaruh pada tingkat inflasi nasional. Berdasarkan kenyataan tersebut, kebijakan perpajakan di Indonesia lebih banyak diterapkan untuk mengurangi kesenjangan pendapatan di masyarakat. Hal ini dilakukan dengan menerapkan tarif pajak progresif dan minimum pendapatan yang dapat dikenakan pajak. Kelemahan dari tarif pajak progresif

152

Bab 8: Keadilan dan Dampak Perpajakan

adalah menekan pada kelompok-kelompok kaya pemilik modal sehingga mereka malas bekerja, menabung, dan melakukan investasi.
PERBEDAAN PAJAK (Lanjutan................................) Perdebatan itu muncul karena relokasi produksi ke Eropa Tengah itu telah membuat terjadinya kehilangan pekerjaan Eropa Barat dan juga di Asia serta Afrika. Alasan utama relokasi adalah upah buruh murah di Eropa Tengah. Soal upah buruh, rata-rata gaji di Jerman adalah enam kali lebih tinggi dari rata-rata gaji di Eropa Tengah. Alasan kedua adalah sistem perpajakan yang lebih menguntungkan perusahaan. Pajak perusahaan di Jerman dan Perancis masing-masing 38,3 persen dan 34,3 persen. Tingkat perpajakan yang tinggi itu memberikan dampak buruk pada investor potensial dan mendorong keluar investor yang ada sekalipun dari Jerman dan Perancis. Dengan tingkat pajak yang 16 persen, Hongaria merupakan negara dengan tingkat perpajakan terendah di antara empat negara Eropa Tengah, yang diikuti Polandia 19 persen. Slowakia mengenakan pajak flat (sama rata) sebesar 19 persen-untuk korporasi, pendapatan perorangan, dan pajak pertambahan nilai. Sistem perpajakan di Slowakia itu benar-benar menjadi alat yang sangat efektif untuk merangsang masuk investor asing, yang sekaligus membuat Slowakia menjadi hub bagi manufaktur otomotif. Sementara itu, tingkat pajak di Republik Ceko adalah 28 persen, tetapi masih lebih rendah dari Jerman dan Perancis. Dalam dua tahun terakhir, PSA Peugeot Citroen (Perancis) dan Kia Motors Corporation (Korea Selatan) telah mulai membangun pabrik-pabrik di Slowakia untuk memproduksi 500.000 mobil per tahun yang akan terlaksana pada 2006. Ford Motor Co (perusahaan otomotif AS) dan Getrag Group (Jerman), Desember 2004 lalu mengumumkan rencana untuk membangun pabrik transmisi (mesin) senilai 399 juta dollar AS di Slowakia timur. Aliran masuk investasi asing ke Eropa Tengah didorong oleh keanggotaan di UE dan sumber daya manusia yang lebih berkualitas, dan faktor itu akan terus berperan sebagai pendukung utama arus masuk FDI (Foreign Direct Investment) dalam jangka menengah. Masa depan juga cukup prospektif bagi negara-negara tersebut, karena investor asing masih terus berminat melakukan ekspansi ke wilayah itu pada 2005. Paris dan Berlin telah secara terang-terangan mengkritik sistem perpajakan di Eropa Tengah. Hal itu menimbulkan tekanan pada anggota-anggota baru UE untuk meningkatkan perpajakan mereka, atau terancam kehilangan subsidi dari UE. Namun Eropa Tengah tampaknya tidak terintimidasi oleh tekanan dari rekan mereka di UE dan bahkan merencanakan melakukan penurunan perpajakan. (Diadaptasi dari: www.kompas.com 21 Februari 2005) Setujukah Saudara dengan kebijakan yang diterapkan negara-negara Eropa Tengah? Diskusikan!

KRITERIA TARIF PAJAK
Pertumbuhan ekonomi akan terjadi apabila lebih banyak masyarakat yang bekerja, menabung sebagian pendapatannya serta menginvestasikan nilai tabungannya. Hal-hal tersebut menurut Daniel J Mitchell (2003) adalah perilaku-perilaku yang dapat meningkatkan kekayaan nasional. Masyarakat tidak begitu saja bekerja secara produktif dengan diterapkannya anggaran pendapatan dan belanja berimbang. Mereka juga tidak begitu saja

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi

153

meningkatkan tabungan dan investasi apabila dikenakan tarif pajak rendah atau subsidi perpajakan lainnya. Untuk meningkatkan pendapatan nasional sesuai dengan karakteristik masyarakat di suatu negara, para pengambil keputusan bidang pajak harus mengkonsentrasikan pada hal-hal yang berakibat positif terhadap prilaku bekerja, menabung, dan berinvestasi. Mitchell (2003) memaparkan sembilan petunjuk kebijakan perpajakan yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi sebagai berikut: § Penurunan tarif pajak tidak perlu diterapkan seragam untuk seluruh wajib pajak. Beberapa opsi tarif pajak yang dipungut akan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi karena tarif pajak yang rendah dapat membuat masyarakat yang produktif menjadi semakin giat bekerja. Sedangkan bagi sebagian masyarakat lainnya yang cenderung kurang peduli dengan pungutan pajak, penurunan tarif pajak tidak akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. § Fokus pada pertumbuhan ekonomi, bukan pada penurunan tarif. Beberapa kebijakan insentif pajak atau subsidi dapat berakibat hanya mengurangi jumlah penerimaan negara tanpa menghasilkan peningkatan kegiatan ekonomi secara signifikan. Beberapa negara telah membuktikan bahwa deregulasi perpajakan yang kecil pengaruhnya terhadap turunnya penerimaan negara justru dapat meningkatkan gairah investasi dunia usaha.
Tarif Tunggal........................ "Dana Moneter Internasional (IMF) mendukung rencana pemerintah untuk menerapkan tarif tunggal pajak penghasilan (PPh) badan. Sebab, hal itu dianggap akan menyerderhanakan cara perhitungan pajak dan memberikan kepastian bagi pengusaha dibanding dengan tarif PPh berlapis yang selama ini diberlakukan. IMF yakin, pemberlakukan tarif tunggal PPh ini akan mendongkrak sumber pendapatan baru negara." "Penerapan tarif tunggal PPh itu telah banyak diberlakukan negara-negara di dunia. Hasilnya cukup mengembirakan. Namun, Indonesia tidak boleh meniru begitu saja dan perlu ada penyesuaian," ujar Kepala Perwakilan IMF untuk Indonesia akhir pekan lalu. Sebagaimana diketahui, Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak mengusulkan, pemberlakukan tarif tunggal PPh sebesar 30% untuk badan (perusahaan) besar dan nantinya diturunkan secara bertahap menjadi 25%. Masalah ini sudah diakomodasi dalam draf RUU Pajak, yang diharapkan masuk ke DPR Juni 2005. Kini RUU Pajak itu sudah diserahkan kepada Presiden. Kepala Perwakilan IMF mengatakan, rencana pemberlakukan tarif tunggal PPh itu cukup baik asalkan diikuti implementasi di lapangan oleh aparat pajak dan wajib pajak (WP). Sebab, selama ini banyak WP di Indonesia, khususnya badan, mengeluh rumitnya perhitungan pajak, sehingga tingkat kepatuhan dan ketaatan membayar pajak menjadi rendah dibanding dengan potensi WP yang ada.

154

Bab 8: Keadilan dan Dampak Perpajakan

Dia menilai, jika tarif tunggal pajak itu dapat diturunkan ke 25% pada tahun pertama, kemungkinan besar jumlah WP badan yang membayar pajak akan meningkat. Sebab, bagi sebagian besar WP perusahaan besar, tarif 30% itu masih terlalu besar. "Tapi sebagai tahap awal, hal itu sudah cukup bagus sehingga perusahaan dapat mengetahui persis berapa pajak yang harus dibayarkan setiap tahun," katanya. Selanjutnya dia mengatakan, selain penyederhanaan tarif tunggal PPh, Ditjen Pajak harus menyederhanakan cara pengisian dan pelaporan pajak lewat self-assessment (menghitung sendiri pajak). Karena tidak ada gunanya tarif disempurnakan, tapi cara perhitungan dan pengisian masih berbelit-belit, sehingga WP enggan melaporkan harta dan kekayaannya......................................

§

§

Kebijakan yang baik menghasilkan penerimaan negara lebih banyak. Jika keadaan perilaku masyarakat wajib pajak adalah produktif, penurunan tarif pajak justru meningkatkan jumlah penerimaan negara. Agar pelaksanaan kegiatan pemerintah tidak terganggu, harus diperhitungkan cara-cara yang dapat mengkompensasikan turunnya penerimaan negara akibat pengenaan tarif yang lebih rendah. Jumlah potensi tambahan konsumsi masyarakat akibat adanya penurunan tarif pajak kurang signifikan terhadap peningkatan kegiatan ekonomi dibandingkan dengan turunnya jumlah total penerimaan negara. Untuk itu perlu diupayakan suatu kebijakan pelengkap yang dapat meng-offset selisih penurunan penerimaan negara tersebut. Pada akhirnya penurunan tarif pajak tidak merubah total pengeluaran, pendapatan nasional, dan pertumbuhan ekonomi.

Tarif Tunggal (lanjutan........................) Ia mengaku, jika Ditjen Pajak mampu meningkatkan rasio pajak terhadap PDB rata-rata 2% setiap tahun, itu akan membantu sumber pendapatan negara. Sehingga, defisit APBN setiap tahun secara berangsur-angsur dapat dikurangi. Mengenai tarif tunggal PPh sebesar 10% bagi pengusaha kecil dan menengah (UKM), dia mengatakan, hal itu sangat mendorong pertumbuhan UKM sebagai salah satu lokomotif pertumbuhan ekonomi. Yang menjadi kendala, tegasnya, penentuan kriteria sebagai UKM harus jelas dan transparan. Namun Dewan Penasehat Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) menilai, usulan Ditjen Pajak tentang pemberlakuan tarif tunggal pajak penghasilan (PPh) badan sebesar 30% akan memberatkan pengusaha. Selama ini cukup banyak pengusaha yang membayar PPh dengan tarif 15% dan 20%." "Sedangkan, bagi pengusaha kecil dan menengah (UKM) yang akan dikenai tarif tunggal PPh sebesar 10%, itu sangat meringankan. Tapi bagaimana dengan perusahaan yang biasa membayar 15% dan 20%, di luar UKM," katanya Pernyataan itu menanggapi usulan Ditjen Pajak yang telah dituangkan dalam draf RUU Pajak yang baru. Selama ini, pengusaha membayar PPh 15% bila perusahaannya memperoleh laba bersih di bawah Rp 50 juta, dan 20% untuk Rp 50 juta dan 30% di atas Rp 50 juta. Lewat RUU itu, Ditjen Pajak mengusulkan agar diberlakukan tarif tunggal untuk PPh badan. Yakni 10% untuk UKM dan 30% untuk non-UKM.

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi

155

Selain mengusulkan tarif tunggal, Ditjen Pajak juga memberikan fasilitas perpajakan bagi sektor usaha tertentu. Hal itu dilakukan guna menarik minat investor melakukan bisnis di Indonesia. Di antara fasilitas perpajakan itu, yakni penghapusan kadaluarsa dipercepat dari 10 tahun menjadi lima tahun. Di samping itu, Ditjen Pajak juga memperpanjang kompensasi kerugian dari lima tahun menjadi paling lama 10 tahun. Sementara itu, pengusaha yang mendapat kredit investasi sebesar 30% dibebaskan dari pembayaran pajak selama enam tahun. Tarif PPh atas dividen turun dari 20% menjadi 10%. (Diadaptasi dari berbagai artikel yang diterbitkan Investor Daily Ind.) Diskusikan efek-efek yang mungkin timbul di Indonesia seandainya tarif pajak tunggal diterapkan!

§

§

§

§

§

Pertumbuhan ekonomi tidak diakibatkan oleh peningkatan konsumsi. Justru sebaliknya, pertumbuhan ekonomi sebagai faktor yang mendorong jumlah total konsumsi sebagai akibat dari meningkatnya jumlah daya beli masyarakat. Untuk itu, sebaiknya kebijakan publik tidak mengedepankan motif yang berupaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan jalan mendorong konsumsi. Kebijakan pajak yang berdampak positif pada jangka pendek biasanya berdampak positif pula pada jangka panjang. Sebagai contoh, insentif pajak investasi dalam jangka pendek akan menarik minat pemodal masuk ke dalam negeri. Secara jangka panjang, faktor produksi tersebut akan juga mendorong pertumbuhan ekonomi agregat menjadi lebih baik. Efisiensi belanja negara penting dilakukan. Meskipun beberapa pos-pos belanja negara membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi seperti penyediaan keamanan dan penegakan hukum, studi membuktikan bahwa banyak pengeluaran publik yang justru berefek negatif terhadap pertumbuhan ekonomi. Efisiensi belanja negara dapat dilakukan dengan merampingkan struktur pemerintahan. Pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh investasi yang produktif. Dana investasi terutama diambil dari tabungan masyarakat. Investasi dan tabungan, keduanya dipengaruhi oleh tingkat suku bunga. Sedangkan tarif pajak adalah salah satu faktor yang mempengaruhi suku bunga. Untuk itu perlu dikembangkan kebijakan pajak yang mendorong iklim investasi dan menabung. Defisit belanja negara dapat berpengaruh pada turunnya tingkat suku bunga. Tetapi pengaruhnya kurang signifikan dibanding pengaruh faktorfaktor lain seperti pasar modal. Riset akademis yang dihasilkan menunjukkan bahwa tidak ada korelasi positif antara anggaran surplus, berimbang, atau defisit dengan tingkat suku bunga.

156

Bab 8: Keadilan dan Dampak Perpajakan

Inti dari sembilan petunjuk di atas adalah segala upaya kebijakan pajak seharusnya difokuskan pada pertumbuhan ekonomi nasional dengan memberikan insentif pada aktivitas-aktivitas produktif nasional. Walaupun di beberapa negara penurunan tarif pajak justru dapat meningkatkan penerimaan negara dan pertumbuhan ekonomi, penurunan tarif bukanlah satu-satunya cara yang dapat diambil pemerintah.

KRITERIA STRUKTUR PAJAK YANG BAIK
Kebijakan perpajakan akan memberi dampak yang signifikan jika disusun secara komprehensif, dengan mempertimbangkan seluruh dampak yang dapat ditimbulkan pada level ekonomi makro. Seperti dikutip dari Musgrave (1989), kriteria yang bisa menentukan baik tidaknya sebuah kebijakan perpajakan dapat dilihat sebagai berikut: § Penerimaan/pendapatan harus ditentukan dengan tepat. § Distribusi beban pajak harus adil. Setiap orang harus dikenakan pajak sesuai dengan kemampuannya. § Penanggung akhir beban pajak harus menjadi pokok perhatian. § Peraturan perpajakan harus mendukung kebijakan perekonomian dan mendorong pasar yang efisien. § Struktur pajak harus memudahkan penggunaan kebijakan fiskal untuk mencapai stabilisasi dan pertumbuhan ekonomi. § Sistem pajak harus menerapkan administrasi yang wajar dan mudah dipahami oleh wajib pajak. § Biaya administrasi dan biaya-biaya pembayaran pajak lainnya harus dibuat serendah mungkin. Penerimaan pajak harus dirumuskan secara tepat, merefleksikan kemampuan membayar dari seluruh wajib pajak yang ada sehingga tidak terlalu besar atau terlalu kecil. Jika jumlah yang ditetapkan terlalu besar, dikhawatirkan investor tidak akan mau menanamkan modalnya di dalam negeri. Hal ini akan mengakibatkan multiplier efek yang diharapkan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi menjadi tidak tercapai, pada akhirnya, jumlah target penerimaan pajak tidak akan pernah tercapai. Sebaliknya jika jumlah yang ditetapkan terlalu kecil, dikhawatirkan jumlahnya tidak akan dapat membiayai kegiatan-kegiatan pemerintah yang bermanfaat dalam menciptakan value yang dapat merangsang perputaran gerak roda ekonomi. Keadilan perpajakan pada intinya adalah bahwa beban pajak harus terdistribusi sedemikian rupa sehingga target pencapaian penerimaan pajak

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi

157

bisa diimbangi dengan mengurangi kesenjangan pendapatan golongan masyarakat yang kaya dengan golongan masyarakat miskin. Kecilnya kesenjangan ini akan bisa mendorong stabilisasi yang kondusif bagi perbaikan ekonomi nasional. Adanya kemungkinan peralihan beban pajak kepada penanggung akhir, perlu dilakukan pengkajian mendalam dengan melakukan simulasi secara menyeluruh untuk dapat memperoleh gambaran dampak pembebanan penanggung akhir terhadap stabilisasi ekonomi. Untuk itu, perlu dibuat aturanaturan teknis yang sederhana sehingga akan dapat menghindarkan terjadinya salah sasaran. Jika pajak diterapkan atas produk-produk tertentu, hal ini perlu dikaji serius mengenai elastisitas permintaan dan penawarannya dalam ekonomi pasar. Ekonomi yang terus tumbuh dan pasar yang efisien harus terus dijaga agar kemakmuran masyarakat tidak rusak akibat adanya penerapan kebijakan perpajakan. Kemungkinan pergeseran titik ekuilibrium kurva permintaan dan penawaran harus terus diantisipasi dan terus diawasi dengan memasukkan unsur-unsur spesifik para pelaku ekonomi setempat. Kebijakan perpajakan harus tetap mengindahkan konsep stabilitas ekonomi. Harus dapat ditentukan pada awal perumusan kebijakan bahwa implementasinya pada akhirnya akan meminimalkan gejolak ekonomi, misalnya dengan adanya kegiatan sosialisasi yang memadai. Ekonomi yang sering bergejolak biasanya tidak menguntungkan iklim investasi. Dengan kata lain, investor-investor terutama para pemodal asing sangat mengharapkan adanya kepastian iklim berusaha. Segala kebijakan harus mengacu pada kesederhanaan. Rumusan-rumusan yang dipakai harus menghindari kesalahpahaman massal yang menyebabkan kekacauan pada proses administrasi. Simulasi terhadap bakal munculnya kekeliruan yang tidak diharapkan harus disiapkan secara matang. Simulasi tersebut bisa menggunakan beberapa skenario yang berbeda dan mengamati hasilnya. Segala biaya yang tidak berkaitan langsung dengan beban pajak sesungguhnya harus diminimalkan. Hal ini untuk memberikan kepastian berusaha bagi para pemilik modal dalam rangka menghitung proyeksi keuntungan investasi. Dengan demikian, risiko biaya tinggi yang tidak terduga akibat penyelewengan peraturan oleh oknum pelaku ekonomi bisa dieliminasi.

RANGKUMAN

158 §

Bab 8: Keadilan dan Dampak Perpajakan

§

§

§

§

§ §

§ §

§

§

Tidak ada suatu kebijakan yang bisa memuaskan seluruh pelaku ekonomi. Suatu kebijakan dianggap adil jika dilihat dari satu sisi, tetapi kurang adil dari sisi yang lain. Menurut prinsip manfaat (benefit principle), suatu sistem pajak dikatakan adil bila kontribusi yang diberikan oleh setiap wajib pajak sesuai dengan manfaat yang diperoleh dari jasa-jasa pemerintah. Prinsip kemampuan membayar (ability to pay principle) menginginkan sistem pajak dipisahkan dari sisi pengeluaran publik. Pendekatan kemampuan membayar ini lebih baik dalam hal mengatasi masalah redistribusi, tetapi mengabaikan masalah-masalah yang berkaitan dengan penyediaan jasa-jasa publik. Prinsip keadilan perpajakan didasarkan pada distribusi pengenaan pajak untuk memenuhi belanja publik yang mana harus didasarkan pada proporsi kekayaan dan pendapatan masyarakat. Keadilan vertikal adalah prinsip keadilan dimana pengenaan pajak untuk memenuhi belanja publik harus didasarkan pada proporsi kekayaan dan pendapatan masyarakat. Keadilan horizontal adalah prinsip keadilan dimana pengenaan pajak terhadap seseorang harus lebih rendah dari kemampuannya membayar. Excess Burden adalah tambahan biaya yang membebani masyarakat di atas jumlah pajak yang seharusnya dibayar. Excess burden disebabkan adanya kelebihan biaya pajak yang bersedia dibayar pembeli dibanding jumlah yang diterima oleh penjual. Tax Incidence adalah teori yang mempelajari pelaku ekonomi mana yang sesungguhnya menanggung beban pajak. Pada kondisi inflasi, kebijakan pajak dapat digunakan untuk mengurangi konsumsi dengan jalan menghambat investasi dan memberi insentif pada tabungan. Pada kondisi deflasi, kebijakan pajak dapat digunakan untuk mendorong konsumsi dengan jalan memberi insentif investasi dan memajaki tabungan. Pajak dapat menyebabkan pergeseran penggunaan faktor-faktor produksi dengan mengubah pola produksi sehingga menghasilkan barang-barang yang lebih rendah biaya produksinya akibat tarif pajak yang lebih kecil atau beralih produksi. Bagi sebagian orang, pajak dapat menimbulkan disinsentif untuk bekerja. Tetapi reaksi individu terhadap pengenaan pajak lebih banyak ditentukan oleh elastisitas penawaran usaha. Elastisitas penawaran yang tinggi,

Jelaskan dalam kondisi yang bagaimana penurunan pajak tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi nasional! 9. Terangkan bagaimana insentif pajak dapat mempengaruhi komposisi produksi suatu perusahaan! 7. Bagaimana kebijakan pajak yang berdampak positif dalam jangka pendek dapat pula berdampak positif dalam jangka panjang? Jelaskan dengan contoh! 10. Apa yang dimaksud dengan pajak kekayaan bersifat regresif? Mengapa inflasi tidak dapat mempengaruhi pengenaan pajak penjualan? Faktor apa saja yang memungkinkan seseorang mendapat hak atas pengecualian pajak? 4.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 159 dimana dengan turunnya pendapatan. 3. Jelaskanlan bagaimana suatu investasi mempengaruhi pertumbuhan ekonomi suatu negara! . justru akan mendorong kemauan kerja yang lebih besar. 2. Definisikan Tax Incidence! Dan jelaskan konsep Statutory Incidence dan Economic Incidence yang terdapat dalam Tax Incidence! 6. LATIHAN 1. Apa yang dimaksud dengan Excess Burden? Apa sebab muncul dan bagaimana akibat yang dapat ditimbulkannya? 5. Jelaskan dengan singkat dampak perpajakan terhadap distribusi pendapatan! 8.

Sehingga . Pada tahun 1944. Selama masa revolusi.PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK PRIBADI Pajak penghasilan pertama kali diberlakukan di Indonesia sebagai suatu sistem perpajakan integral yang diterapkan oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. peraturan perpajakan Belanda dipergunakan kembali dengan melakukan penataan dan perluasan seperlunya. tidak ada pungutan pajak yang berarti dapat dikumpulkan. peraturan pajak ini diubah dengan Ordonansi Perpajakan tahun 1944 yang digunakan oleh Pemerintah Kolonial Jepang untuk melakukan pungutan-pungutan terhadap hasil pertanian sebagai pajak. Setelah kedaulatan diserahkan kepada Pemerintah Indonesia. Pertama kali diberlakukan dikenal dengan nama Pajak Pendapatan 1932 atau Inkomsten Belasting 1932. Yang ada hanyalah kantor iuran negara yang menerima pembayaran pajak dari beberapa pedagang.

Setelah reformasi perpajakan tahun 1983. Penghasilan Bruto . Dividen dan Royalti (PBDR). Penghasilan neto ini. setelah dikurangi sejumlah tertentu yang tidak dikenakan pajak menjadi dasar pengenaan pajak yang akan dikalikan dengan tarif pajak untuk mendapatkan pajak yang menjadi beban bagi wajib pajak. Saat ini sedang berlangsung perubahan dan perbaikan yang keempat berkaitan dengan program reformasi perpajakan Indonesia. Pajak Perseroan (PPs) serta Pajak atas Bunga. dapat dipakai untuk konsumsi atau menambah kekayaan wajib pajak yang bersangkutan dalam nama dan bentuk apapun. penghasilan wajib pajak dari semua sumber harus digabungkan menjadi satu angka tunggal ukuran penghasilannya. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 dan perubahannya (UU Pajak Penghasilan) mendefinisikan penghasilan yang menjadi objek pajak adalah setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh wajib pajak.162 Bab 9: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Pribadi sebelum reformasi perpajakan tahun 1983. disebut sebagai penghasilan bruto. Undang-Undang ini mengalami perubahan dan perbaikan sebanyak tiga kali. ATURAN UTAMA Dalam penentuan besarnya pajak penghasilan yang harus dibayar oleh seorang wajib pajak pada satu tahun pajak. pajak-pajak yang berlaku di Indonesia yang dapat dikelompokkan sebagai pajak penghasilan adalah Pajak Pendapatan (PPd). Penghasilan bruto ini kemudian dikurangi dengan pengecualian-pengecualian dan penguranganpengurangan tertentu untuk mendapatkan penghasilan yang akan dikenakan pajak disebut penghasilan neto. baik yang berasal dari Indonesia maupun luar Indonesia. yaitu tahun 1991. 1994 dan 2000. pajak-pajak berdasarkan peraturan perpajakan Belanda ini disatukan dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 yang berlaku sejak 1 Januari 1984. Penentuan Penghasilan Kena Pajak Konsep utama dalam perhitungan penghasilan kena pajak adalah penghasilan bruto dan penghasilan kena pajak.

Penghasilan dari pekerjaan dalam hubungan kerja dan pekerjaan bebas. honorarium.880. royalti. Penghasilan dari modal. PTKP yang berlaku saat ini adalah wajib pajak dan pasangannya (masing-masing Rp2. penghasilan neto yang telah dihitung kemudian dikurangkan dengan PTKP. dan ganti kerugian asuransi. dan sebagainya. Beberapa penghasilan tertentu bukan merupakan penghasilan menurut UU Pajak Penghasilan. Walaupun penghasilan neto dimaksudkan untuk menjadi satu alat ukur yang komprehensif atas posisi penghasilan wajib pajak. berupa harta gerak ataupun harta tak gerak seperti bunga.000. seperti pembebasan utang. sewa. penghasilan dari semua sumber digabungkan untuk menentukan penghasilan bruto. Variabel utama penentu PTKP adalah jumlah anggota keluarga sampai dengan maksimal 5 orang. pasangannya. kenikmatan dalam bentuk natura dengan persyaratan tertentu. dan sebagainya.440. kecuali bila pasangannya tidak berpenghasilan maka PTKP-nya Rp1. . 2. Penghasilan lain-lain. Tidak semua penghasilan dari berbagai sumber harus dilaporkan sebagai penghasilan. Penghasilan sehubungan dengan pekerjaan dilaporkan dalam penghasilan setelah dikurangkan dengan beberapa biaya dan penghasilan yang dikecualikan. dan tiga tanggungan. Beberapa penghasilan non kas diabaikan (seperti imputed rent dan capital gain yang belum direalisasikan) dan beberapa penghasilan kas tertentu dikecualikan (seperti pembayaran asuransi dan pensiun). 4.440.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 163 Dengan beberapa pengecualian seperti yang tertera pada UU Pajak Penghasilan. yaitu suami/istri. Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) Untuk wajib pajak pribadi. seperti gaji. Penghasilan dari usaha dan pekerjaan bebas dimasukkan dalam penghasilan neto setelah dikurangkan biaya-biaya. Sebagaimana disebutkan dalam undang-undang tersebut. penghasilan dari praktek profesi. 3. dan lain sebagainya. Penghasilan dari usaha dan kegiatan. hadiah. Dari angka penghasilan ini. seperti warisan atau hibah. dividen. wajib pajak dapat mengurangkan biaya-biaya atau pengurangan-pengurangan tertentu untuk mendapatkan penghasilan neto.000).000) ditambah tiga orang tanggungan (masing-masing Rp1. keuntungan penjualan harta atau hak yang tidak dipergunakan untuk usaha. penghasilan ini akan meliputi: 1. alat ukur ini ternyata tidak sekomprehensif mungkin.

yaitu suatu sistem yang memberikan kewenangan kepada wajib pajak untuk menghitung dan melaporkan besarnya pajak penghasilan yang terhutang sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan pajak yang berlaku. tarif pajak yang ditetapkan antara 15% sampai dengan 35%. hanya wajib pajak yang tidak wajib memiliki NPWP. sejak tahun 1995 tarif pajak diturunkan antara 10% sampai dengan 30%. dan membayarkan beban pajaknya sesuai dengan peraturan dan perundangundangan pajak yang berlaku tersebut. Oleh karena penghasilan sampai PTKP tidak dikenakan pajak. ada dua hal penting berkenaan dengan aspek prosedural utama pajak penghasilan: penyerahan SPT dan audit. Prosedur Pembayaran Sistem penetapan pajak penghasilan di Indonesia dikenal dengan sebutan self assessment. Oleh karena itu. Skedul tarif ini ditetapkan berdasarkan Undang-Undang Pajak Penghasilan dalam bentuk tarif marjinal yang berlaku untuk tingkatan penghasilan yang naik secara berurutan.164 Bab 9: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Pribadi Penerapan Tarif Pajak Pajak dihitung dengan menerapkan angka tarif pada skedul tarif pajak dengan angka penghasilan neto setelah dikurangi PTKP. Satu aspek prosedural yang juga penting adalah sistem pemungutan (pemotongan) yang didasarkan pada dua alasan utama yaitu prinsip kemudahan mengenakan pajak pada saat perolehan penghasilan (ability to pay) dan peningkatan ketaatan dari wajib pajak dengan mengharuskan pihak lain sebagai sumber penghasilan (pembayar) untuk bertindak atas nama negara memungut pajak tersebut. Kewajiban Menyerahkan SPT Kewajiban menyerahkan SPT Tahunan pajak penghasilan diberlakukan kepada semua wajib pajak yang telah memiliki NPWP. tidak diwajibkan untuk menyerahkan SPT Tahunan. dapat dianggap bahwa penghasilan sampai sebesar PTKP ini dikenakan tarif pajak nol persen. Wajib pajak tersebut adalah mereka yang mempunyai penghasilan neto lebih kecil dari PTKP atau yang memperoleh penghasilan hanya dari satu pemberi kerja. Batas waktu penyerahan SPT Tahunan adalah tiga bulan setelah tahun pajak berakhir. pada saat wajib pajak harus menyerahkan pembayaran terakhir untuk pajak-pajak yang terutang pada tahun pajak yang telah berakhir atau menagih pengembalian pajak. melaporkan. Wewenang otoritas pemungut pajak (dalam hal ini Direktorat Jenderal Pajak) adalah memastikan bahwa wajib pajak telah menghitung. Sejak tahun 1983 sampai dengan 1994. Bersamaan . Oleh karena itu.

dan setoran pajak penghasilan masa tahun berikutnya itu didasarkan pada informasi estimasi ini. Ketika wajib pajak memperoleh penghasilan. Biaya untuk mengaudit semua SPT tersebut akan sangat besar. pajak-pajak yang dipungut oleh pihak-pihak yang melakukan pembayaran ini disebut sebagai kredit pajak bagi wajib pajak. seperti melakukan investasi. termasuk ketaatan pembayarannya. DJP tidak dapat mengaudit semua SPT yang diterima. Penerimaan pajak negara berfluktuasi sesuai dengan perubahan penghasilan masyarakat yang merupakan bagian utama dari pendapatan nasional. Direktorat Jenderal Pajak (DJP) memiliki wewenang untuk memeriksa kebenaran perhitungan SPT Tahunan dari wajib pajak sesuai dengan peraturan perundang-undangan pajak yang berlaku. pembayaran pajak menjadi sangat responsif terhadap perubahan dalam tingkat penghasilan pribadi yang merupakan hal penting bagi efektivitas kebijakan stabilisasi. pemeriksaan sampel secara acak digunakan untuk membuat wajib pajak tetap patuh pada peraturan perpajakan. perawatan orang tua. Oleh karena itu. pembayaran pajak lebih berkaitan dengan tingkat penghasilan tahun berjalan daripada tingkat penghasilan tahun lalu. SPT yang melaporkan hal-hal yang tidak biasa (misalnya biaya yang mengurangi penghasilan yang sangat besar atau sumber penghasilan yang tidak biasa) dapat diaudit. Di Indonesia. Walaupun begitu. cakupan auditnya terbatas. Pemotongan Pajak (Withholding) Sebagian besar pajak dipungut dengan cara dipotong oleh pihak yang melakukan pembayaran dengan alasan kemudahan untuk melakukan pungutan. Audit Seperti dikemukakan sebelumnya. Untuk itu DJP melakukan pemeriksaan atas SPT-SPT yang dilaporkan. Sistem pemotongan pajak juga memastikan ketaatan sepenuhnya karena pernyataan penghasilan tidak diberikan sepenuhnya hanya kepada wajib pajak. Dengan sistem ini. Dengan sistem pemotongan pajak ini. wajib pajak menyerahkan estimasi pajak penghasilan yang harus dibayar tahun berikutnya. pengasuhan anak.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 165 dengan penyerahan SPT. . Pada waktu-waktu tertentu kelompok wajib pajak tertentu akan diperiksa. dari sisi ilmu keuangan negara. Sementara itu. kredit pajak merupakan pengurangan pajak yang diberikan atas aktivitas tertentu yang dilakukan oleh wajib pajak. saat itu pula ia harus menyerahkan sebagian penghasilannya untuk beban pajaknya. misalnya dokter atau pengusaha retail. Dalam memeriksa aritmatika perhitungan pajaknya. dan lain-lain. walaupun dibantu oleh fasilitas komputer dan tenaga audit yang dimilikinya.

praktek ini memiliki dua keuntungan. merupakan subset dari accretion income.166 Bab 9: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Pribadi Pada saat yang sama. Yield income adalah jasa-jasa yang dihasilkan oleh modal. praktek akuntansi dewasa ini memperlakukan kenaikan dan penurunan modal tersebut dengan cara berbeda. yaitu accretion income. istilah accretion income disinonimkan dengan tambahan kemampuan ekonomis atau kenaikan total kekayaan seseorang. Apresiasi pada modal hanya dicatat ketika direalisasikan sedangkan depresiasi pada modal diperkirakan dan dicatat pada setiap periode akuntansi. Konsep accretion income ini berakar dari praktek pembukuan masa merkantilisme di Eropa yang telah menjadi bagian dari prinsip akuntansi sampai sekarang. Menurut Irving Fisher dalam buku klasiknya The . harus mengembalikan kelebihan pemotongan ini kepada para wajib pajak tertentu tersebut. Simons. Dengan membuat saldo awal modal perusahaan menjadi tetap. Dari sisi manajemen bisnis. setiap akumulasi (apresiasi) modal diperlakukan sebagai “penghasilan” dan penurunan nilai (depresiasi) modal diperlakukan sebagai “penghasilan negatif. dalam hal ini DJP. Pemerintah. Definisi ini sama dengan definisi penghasilan (income) oleh ahli ekonomi Robert M. yang sampai saat ini menjadi definisi penghasilan yang paling diterima dalam ilmu ini. PRINSIP-PRINSIP DEFINISI PENGHASILAN Konsep penghasilan dasar yang menjadi penentuan kewajiban pajak penghasilan dalam prakteknya adalah penghasilan neto. yaitu memudahkan pengusaha untuk membandingkan berbagai aktivitas bisnis dengan suatu standar yang tetap dan menunjukkan sejarah akumulasi modal perusahaan yang dapat menunjukkan prospek kemampuan memperoleh penghasilan di masa depan. kelebihan pemotongan pajak akan dialami oleh para wajib pajak tertentu sehingga para wajib pajak ini yang secara riil memberikan pinjaman bebas bunga kepada pemerintah. Haig dan Henry C. Jika tarif pajak yang dipotong ditetapkan cukup tinggi untuk mendapatkan penerimaan pajak setinggi-tingginya.” Walaupun demikian. Seberapa baikkah penghasilan neto digunakan sebagai suatu ukuran kapasitas pajak? UU Pajak Penghasilan di Indonesia mendefinisikan penghasilan sebagai tambahan kemampuan ekonomis yang diperoleh wajib pajak dari sumber mana pun yang dapat dipakai untuk konsumsi atau menambah kekayaannya. para ahli ekonomi menggunakan istilah yield income untuk merujuk pada pengertian penghasilan dalam ilmu ekonomi. sistem pemotongan pajak juga menimbulkan biaya tersendiri. Sebelum adanya pajak penghasilan. Konvensi ini berkembang dalam praktek pembukuan di mana suatu pos “modal” dibuat tetap selama periode akuntansi. Dalam buku ini.

Bila kita memilih tambahan kemampuan ekonomis sebagai basis pajak. Pandangan pajak penghasilan ini banyak diterima oleh berbagai kalangan dewasa ini.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 167 Nature of Capital and Income (1908). penerapan tarif yang progresif tidak dapat menghasilkan efek yang diharapkan yaitu mengadaptasi pajak pada kemampuan membayar wajib pajak. Selain itu. apakah akan diinvestasikan atau dikonsumsi. harus didefinisikan sebagai kenaikan total atas kekayaan seseorang. suatu pengukuran atas aliran. Ekivalensi ini bersumber dari fakta yang sangat penting bahwa modal tidak dapat dipisahkan dari penghasilan karena modal dan penghasilan saling terkait secara resiprokal. baik terealisasi ataupun tidak terealisasi. diharapkan ataupun tidak diharapkan. penghasilan dari semua sumber harus diperlakukan secara seragam dengan cara digabungkan sebagai penghasilan global yang kemudian akan dikenakan tarif pajak. Kita tidak perlu mempertimbangkan bagaimana tambahan kemampuan ekonomis tersebut digunakan. Irving Fisher menyatakan bahwa kekayaan menunjukkan dua aspek bila dikaitkan dengan waktu. Kekayaan dalam ukuran jangka waktu merupakan konsep ekonomi dari penghasilan. Pada dasarnya. penghasilan dan modal merupakan kategori yang mutually exclusive. Kekayaan yang diukur pada suatu waktu tertentu merupakan konsep ekonomi dari modal. Semua tambahan kemampuan ekonomis (accretion) harus dimasukkan. kedua ukuran tersebut ekivalen karena nilai ekonomis dari modal sama dengan nilai tunai dari nilai ekonomis dari aliran penghasilan di masa depan yang diharapkan. Sekarang. Konsep ini berakar dari praktek akuntansi selama berabad-abad oleh karenanya banyak inkonsistensi yang terjadi pada 1 Menurut para ahli ekonomi. .1 Dengan demikian. baik teratur ataupun fluktuatif. suatu pengukuran atas stok. yield income terdiri dari uang yang diperoleh tetapi tidak disimpan dan pengurangan sumber daya untuk digunakan. Terminologi yield income ini mirip dengan (walau tidak sama persis) konsep penggunaan uang yang diperoleh untuk konsumsi. Orang dapat mengukur kekayaan pada suatu waktu tertentu atau sepanjang waktu tertentu. tambahan kemampuan ekonomis sebagai indeks kapasitas pajak seseorang. konsep tambahan kemampuan ekonomis ini akan dianalisis secara mendalam apa implikasinya dalam praktek dan bagaimana konsep ini diterapkan secara memuaskan dalam perhitungan penghasilan neto. Penghasilan Bruto versus Penghasilan Neto Seperti telah dikemukakan sebelumnya. yaitu stok kekayaan dan aliran kekayaan. tetapi tidak dapat pada kedua waktu tersebut. yaitu tambahan kemampuan ekonomis dan konsumsi. konsep penghasilan yang mendapat banyak penerimaan dalam praktek pajak penghasilan di dunia adalah konsep tambahan kemampuan ekonomis. dalam konsep basis pajak ada dua kandidat utama sebagai basis pajak untuk pajak penghasilan pribadi. Tanpa penggabungan ini.

kerugian operasi harus dikurangkan dalam menentukan penghasilan neto dari kegiatan usaha. ada kredit pajak bagi wajib pajak yang memperoleh penghasilan dari pekerjaan tetapi wajib pajak . Peraturan perpajakan mendefinisikan penghasilan yang akan dikenakan pajak sebagai penghasilan neto karena biaya-biaya yang terjadi dalam memperoleh penghasilan pada umumnya dikurangkan dari penghasilan dengan beberapa pembatasan biaya-biaya tertentu tidak boleh dikurangkan. seperti biaya jabatan dan iuran pensiun. kerugian harus dapat diperlakukan sebagai pengurangan sepenuhnya. maka setiap pengurangan kemampuan ekonomis juga harus dipandang sebagai penghasilan negatif. dalam praktek-praktek perpajakan ada perbedaan perlakuan pajak antara penghasilan dari pekerjaan (upah dan gaji) dan penghasilan dari modal. Akan tetapi. Agar konsisten dengan konsep tambahan kemampuan ekonomis. Biaya bunga boleh dikurangkan tetapi dividen tidak boleh dikurangkan. Oleh karenanya. Untuk wajib pajak pribadi. Sebagaimana dalam pembukuan dimana penghasilan diukur dalam jumlah laba bersih. sama seperti dalam praktek akuntansi. Oleh karena itu. Penghasilan dari pekerjaan harus dikenakan beban pajak yang lebih ringan. pada umumnya penghasilan yang dapat dikenakan pajak telah dinyatakan dalam satuan penghasilan neto. Pada beberapa negara maju. Walaupun ada pengecualian-pengecualian tertentu. Karena tambahan kemampuan ekonomis dirancang untuk mengukur konsumsi dan kenaikan dalam kekayaan bersih. para wajib pajak dapat memperlakukannya untuk mengurangi kewajiban pajak beberapa tahun yang akan datang. peraturan perundang-undangan juga membolehkan wajib pajak mengurangkan biaya-biaya yang berkaitan dengan pekerjaan. Walaupun peraturan perundang-undangan tidak memberikan fasilitas pengembalian pajak. Akan tetapi. ada konsistensi dalam perlakuan biaya modal. Kerugian mengurangi kekayaan bersih sebagaimana keuntungan meningkatkannya.168 Bab 9: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Pribadi penentuan penghasilan kena pajak terkait dengan inkonsistensi penentuan penghasilan dalam praktek akuntansi. penghasilan dalam konsep tambahan kemampuan ekonomis (accretion concept) harus diukur dalam satuan penghasilan neto yaitu penghasilan setelah dikurangi dengan biaya-biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan penghasilan. pemerintah harus konsisten memperlakukan keduanya. Penghasilan atas Modal (Capital Income) versus Penghasilan sehubungan dengan Pekerjaan (Labor Income) Konsep tambahan kemampuan ekonomis tidak mempedulikan asal dari penghasilan.

kemampuan ekonomis harus diukur dengan satuan riil pada awal dan akhir tahun sehingga inflasi harus diperhitungkan. yaitu membuat aset tersebut memberikan penghasilan kas atau mengkonsumsi aset tersebut jangka panjang. Tidak boleh ada perbedaan apakah penghasilan tersebut telah diterima secara kas (seperti gaji. dan hasil penjualan aset) ataupun terakumulasi dalam bentuk kenaikan nilai aset yang tidak dijual. Penghasilan dalam Bentuk Natura atau Imputed Income Karena sulitnya menghitung berapa besarnya penghasilan. Secara nominal. upah. Penghasilan Riil versus Penghasilan Nominal Dengan adanya inflasi. Praktek-praktek yang tidak konsisten ini berakar dari praktek akuntansi yang menjadi acuan otoritas perpajakan. Wajib pajak dapat menggunakan aset yang dimilikinya dengan dua cara. Hal ini dinilai sebagai ketidakkonsistenan penerapan konsep penghasilan ini. Dengan demikian. kewajiban pajak dalam satuan riil sama dengan nol. memberlakukan pengaturan pajak seperti yang telah dikemukakan sebelumnya. Contohnya rumah yang dimiliki wajib pajak dapat disewakan kepada pihak lain dengan mendapatkan . Cara kedua ini memunculkan apa yang disebut penghasilan dalam bentuk natura atau imputed income. setiap tambahan kemampuan tersebut baik sudah diterima dalam bentuk uang ataupun belum harus diakui sebagai penghasilan. kenaikan dalam penghasilan uang yang sepadan dengan kenaikan harga-harga bukan merupakan kenaikan dalam penghasilan riil.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 169 yang hanya memperoleh penghasilan atas modal tidak memperoleh kredit pajak ini. penghasilan dalam bentuk natura atau imputed income tidak dikenakan pajak penghasilan. Direalisasikan atau tidak adalah pilihan portofolio bagi investor dan tidak boleh mempengaruhi penghasilan yang diukur untuk keperluan perpajakan. Penghasilan yang Terakumulasi versus Penghasilan yang Terealisasi Bila konsep tambahan kemampuan ekonomis diterapkan secara konsisten. kenaikan kemampuan ekonomis pada akhir tahun yang diukur dalam satuan uang tidak seluruhnya merupakan tambahan kemampuan ekonomis dalam satuan riil. Hal inilah yang menjadi bagian dari topik kontroversial untuk pengenaan pajak capital gains. Dalam situasi ini.

seperti dalam fasilitas kendaraan kantor yang dapat diganti dengan tunjangan biaya transportasi. Penerapan imputed income pada dasarnya dapat dilakukan seluas mungkin akan tetapi untuk alasan-alasan praktis hal tersebut tidak mungkin dilakukan. Akan tetapi. jasa rumah tangga yang dilakukan ibu atau bapak rumah tangga sendiri (seperti memasak. ia memperoleh penghasilan dalam bentuk uang. Apabila rumah tersebut didiami wajib pajak sebagai pemiliknya. . implementasi dari aturan ini tidak akan mungkin dapat dilakukan. Contohnya. penghasilan tersebut dikenakan pajak. memperbaiki rumah) merupakan imputed income bagi rumah tangga. mencuci. Alasan kepraktisan yang paling utama adalah memasukkan penghasilan ini ke dalam penghasilan neto memunculkan permasalahan serius dalam hal pengukuran dan hal-hal lain yang harus diperhitungkan ketika memberlakukan pajak penghasilan atas dasar rumah tangga. secara konseptual. Bila ia bersantai. Jika seseorang memutuskan untuk santai (tidak bekerja). Bila ia bekerja. seperti mengkonsumsi tanaman dari kebun sendiri. Dengan demikian. ia memperoleh penghasilan tersebut dan sekaligus mengkonsumsikannya dengan bersantai. membersihkan halaman. Permasalahan yang lebih rumit lagi adalah pilihan antara bekerja atau bersantai (tidak bekerja). Apabila penghasilan tersebut dapat diuangkan (diterima dalam bentuk uang).170 Bab 9: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Pribadi penghasilan sewa yang dikenakan pajak. Pengabaian ini menyebabkan ketidakadilan perlakuan pajak bagi pemilik rumah dan penyewa. fasilitas kendaraan kantor atau fasilitas perumahan dan akomodasi di daerah terpencil. Beberapa negara Eropa mengenakan pajak atas imputed rent ini kepada pemilik rumah yang mendiami rumahnya sendiri dengan data dari pajak atas kekayaan yang selalu menunjukkan nilai dari rumah tersebut. ada beberapa penghasilan yang diterima dalam bentuk natura yang tidak diperhitungkan sebagai penghasilan dalam peraturan pajak. secara logika ekonomi ia memperoleh penghasilan sebesar apabila ia bekerja. nilai dari konsumsi yang imputed tersebut harus dimasukkan ke dalam basis pajak. Logika tambahan kemampuan ekonomis (accretion) menyatakan bahwa penghasilan yang diterima dalam bentuk natura. Selain imputed rent. Karena kenaikan kemampuan (accretion) didefinisikan sebagai peningkatan kekayaan bersih dan konsumsi. dalam bentuk ‘santai’ harus dimasukkan ke dalam basis pajak. wajib pajak tersebut sama saja dengan memperoleh penghasilan sewa (dari dirinya sendiri) atau disebut juga “imputed rent” yang jumlahnya sama dengan penghasilan yang ia dapatkan apabila ia menyewakan rumahnya. penghasilan daLam bentuk natura dapat digunakan oleh wajib pajak sebagai sarana untuk menghindari pajak. memelihara anak.

tidak dikenakan pajak penghasilan. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya. Oleh karenanya. Penghasilan Teratur versus Penghasilan Tidak Teratur . seperti sumbangan. seperti subsidi sekolah dan subsidi kesehatan. Juga. Konsep tambahan kemampuan ekonomis mengenakan pajak pada sumbernya. juga tidak dikenakan pajak penghasilan. Jika hal ini dilakukan. Dalam konsep tambahan kemampuan ekonomis (accretion). dengan demikian harus dimasukkan ke dalam basis pajak penghasilan bagi penerimanya. apakah transfer seperti ini harus dikurangkan dari basis penghasilan pajak pemberi? Apabila mengacu pada konsep tambahan kemampuan ekonomis sepenuhnya. penghasilan kena pajak seseorang tidak harus sama dengan bagiannya dalam pendapatan nasional dan juga total penghasilan kena pajak dalaM suatu negara harus sama dengan total pendapatan nasional.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 171 Penghasilan versus Transfer Dari sudut pandang ahli ekonomi. Transfer seperti ini tidak dikurangkan dari penghasilan oleh pemberi dan juga tidak dilaporkan sebagai penghasilan oleh penerima. Hal ini sebenarnya menyalahi konsep tambahan kemampuan ekonomis karena semua transfer tersebut menambah kemampuan penerimanya akan sumber daya. yang juga menyatakan nilai dari output yang diproduksi oleh faktor-faktor tersebut. perolehan warisan atau hibah merupakan tambahan kemampuan ekonomis bagi penerima. pendapatan nasional adalah jumlah dari pendapatan faktor selama satu periode. Perlakuan pajak atas transfer seharusnya tidak mengikuti aturan dalam perhitungan pendapatan nasional. Transfer yang diterima dari pemerintah atau sumber-sumber swasta (seperti donasi dan hibah) bukan merupakan komponen penghasilan dalam istilah pendapatan nasional. dan karenanya harus menjadi bagian dari penghasilannya. Warisan dan Hibah Transfer pribadi. tidak ada keharusan bahwa basis pajak agregat sama dengan penghasilan total yang didefinisikan dalam pendapatan nasional. pajak penghasilan menganut definisi accretion income yang dikemukakan oleh Haig-Simons. Sumbangan. jadi bukan merupakan biaya. Transfer oleh pemerintah. transfer ini merupakan bentuk penggunaan penghasilan. Hal ini sesuai dengan konsep penghasilan menurut Irving Fisher. bukannya penggunaan. warisan dan hibah. bantuan. seperti juga tambahan kemampuan ekonomis dari sumbersumber lain. Bantuan.

Permasalahan ini dapat dikurangi dengan menerapkan aturan meratakan penghasilan yang tidak teratur tersebut. walaupun belum ada penghasilan karena transaksi tersebut belum tentu . Preferensi pajak dapat dibagi dalam tiga kategori yaitu. Beberapa penghasilan yang dikenakan pajak final adalah: 1. karena pengenaan pajak menggunakan tarif pajak yang progresif perlakuan pajak cenderung diskriminatif terhadap penghasilan yang tidak teratur ini. Penghasilan dari hadiah undian Perlakuan atas pajak final ini sebenarnya melanggar prinsip keadilan pajak. pengecualian. Pada transaksi-transaksi ini. Oleh karena itu. pengurangan sebagai biaya dan kredit pajak. Akan tetapi. tidak ada alasan untuk membedakannya. Penghasilan yang diperoleh dari hak atas tanah dan bangunan. sebelum tahun 2000. Penghasilan jasa konstruksi dan jasa konsultan. penghasilan yang tidak teratur dan penghasilan yang teratur sama pengaruhnya bagi kemampuan wajib pajak. yaitu pengecualian (exclusion). Penghasilan-penghasilan yang Dikenakan Pajak Final Untuk memudahkan penagihan dan meningkatkan ketaatan pajak pada beberapa transaksi tertentu berlaku tarif pajak final.172 Bab 9: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Pribadi Beberapa pendapat menyatakan bahwa penghasilan tertentu yang tidak teratur dan tidak diharapkan sebaiknya tidak dimasukkan dalam penghasilan yang dikenakan pajak dengan berbagai alasan yang tidak begitu kuat. Pada transaksi tertentu seperti transaksi penjualan saham di bursa efek. Bagian ini akan membahas kategori pertama. Penghasilan dari transaksi penjualan saham di bursa efek. 4. pajak langsung dibayarkan dengan sistem pemotongan dan tidak dapat dikreditkan dalam perhitungan pajak penghasilan akhir. Pada kenyataannya. PRAKTEK DEFINISI PENGHASILAN: PENGECUALIAN Peraturan perundang-undangan perpajakan banyak menunjukkan penyimpangan dari prinsip tambahan kemampuan ekonomis. Penghasilan yang teratur cenderung dikenakan tarif pajak yang lebih rendah daripada penghasilan yang tidak teratur. 2. Penyimpangan ini disebut juga sebagai preferensi pajak yang menyebabkan perbedaan antara jumlah penghasilan kena pajak dengan ukuran penghasilan yang komprehensif. 3.

46/1996. "Kalau tetap diterapkan." ujarnya. maka upaya tersebut sangat tepat mengingat reksa dana merupakan instrumen investasi jangka panjang yang masih baru sehingga diperlukan insentif tertentu untuk menarik investor. salah satu yang paling dijual sang manajer adalah fasilitas bebas pajak dari penghasilan yang mereka peroleh. kalau dipajaki dengan sendirinya nasabah menjadi tidak tertarik lagi untuk membeli reksadana. sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. Bagi pengelola reksadana. Pajak Final Usulan mengambil pajak dari reksadana obligasi mencuat dan menimbulkan pro-kontra. Keadilan vertikal dipengaruhi karena prinsip progresivitas tidak berlaku pada penerapan pajak final. Demikian pula pada transaksi-transaksi yang menguntungkan. reksa dana sudah diberikan dispensasi pajak sehingga pemerintah tentunya memiliki pertimbanganpertimbangan tersendiri. wajib pajak sudah diharuskan membayar pajak. namun kemampuan perbankan untuk membiayai sektor riil yang berjangka panjang juga terbatas sehingga kehadiran reksa dana akan menjadi pendukung perbankan untuk bersama-sama membantu pembangunan ekonomi nasional. 60% di antaranya diinvestasikan dalam obligasi. APRDI mengusulkan agar pengenaan pajak dilakukan secara final saja. menurut pengurus APRDI. "Jadi. menurutnya. Walaupun saat ini tidak ada pajak final untuk pendapatan yang diperoleh dari reksa dana. Dalam setiap prospektus reksadana. pajak final sebesar 15% atas kupon bunga obligasi hanya diberlakukan bagi transaksi yang melalui perusahaan . Nah. dihitung dari nilai transaksi. Selama ini. Di tengah-tengah minimnya sumber dana pembiayaan jangka panjang saat ini. Keadilan horizontal dilanggar karena perlakuan ini menghasilkan perbedaan dalam kewajiban pajak pada tingkatan penghasilan tertentu. dari sekitar Rp 5. Nah. yakni bertingkat (progresif). Pengenaan pajak akan membuat reksadana kehilangan salah satu nilai jualnya. Asal tahu saja. tentu saja.tama. investor tetap berkewajiban untuk membayar pajak atas penghasilan yang diterima dari reksa dana maupun pendapatan lainnya dalam bentuk pajak penghasilan biasa yang harus dilaporkan setiap tahun. Apabila tujuan tersebut dalam rangka menggerakkan pertumbuhan reksa dana di Indonesia. Yang aneh. usulan pajak final reksadana menyesakkan dada. peran reksa dana dirasakan sangat penting untuk mendukung pembangunan ekonomi nasional. "Kami mengusulkan pajak final bagi capital gain. Setelah menjadi polemik. masalah pajak adalah sepenuhnya kewenangan pemerintah yang harus dihormati oleh semua pihak.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 173 memberikan untung. BES memang mengusulkan agar reksadana juga dikenai Pajak Penghasilan (PPh) 15% atas kupon bunga obligasi. tapi keuntungan yang diperoleh dari jual beli obligasi. Disamping itu." ujar Manajer Portofolio PNM Investment Management. Selama ini. memang. akhirnya dalam UU Perpajakan yang baru muncul pasal yang mengatur soal itu. capital gain dari obligasi bagi perusahaan reksadana dikenai PPh seperti umumnya. Sumber dana pembiayaan perbankan memang dapat dipakai untuk membiayai kegiatan ekonomi berjangka panjang." katanya. Maksudnya. Pertama. Masalahnya. Rencana pemerintah untuk mengenakan pajak atas reksa dana haruslah ditanggapi dengan kepala dingin. tarif pajaknya proporsional seberapa pun besarnya penghasilan (keuntungan) yang didapat. sebenarnya yang diusulkan APRDI bukan pengenaan pajak final atas kupon bunga obligasi. yang dikenai pajak final bukan kupon obligasinya.6 triliun dana yang diputar dalam reksadana. tentu reksadana akan menuntut tingkat bunga obligasi lebih tinggi lagi untuk mengompensasi pajak itu. Pengenaan pajak untuk reksa dana merupakan tindakan yang sah-sah saja menurut hukum karena hal tersebut adalah bagian dari kewenangan pemerintah. seperti PPh capital gain di bursa saham.

adalah konsep yang benar secara keilmuan. sering terjadi praktek washing alias jual beli obligasi secara fiktif demi menghindari pajak final tersebut. Adapun transaksi obligasi yang dilakukan bank. Para ahli ekonomi menyatakan bahwa pengenaan pajak atas laba modal ini merupakan salah satu bentuk kesalahan penerapan konsep penghasilan dalam peraturan perpajakan. baik keadilan horizontal maupun keadilan vertikal. laba modal tidak dikenakan pajak. debat juga terjadi pada negara-negara ini yang berkisar pada (1) apakah laba yang direalisasikan harus diperlakukan sebagai penghasilan biasa.com) Berdasarkan pemaparan diatas. dia tidak akan terkena pajak atas kupon yang dicairkan. Pada negara-negara lainnya yang menganut konsep accretion income pada peraturan perpajakannya. Agar tidak terkena potongan pajak final atas pencairan kupon. pihak reksa danalah yang akan mencairkan kupon tersebut. Caranya begini. Perlakuan atas Laba Modal yang Direalisasikan Peraturan perpajakan memberikan perbedaan perlakuan pada laba modal yang direalisasikan. (Diadaptasi dari: berbagai sumber yang dimuat dalam http://www. biarpun tidak menerima pembayaran kupon. bukan atas labanya. diskusikan pengaruh kebijakan pajak final tersebut! Laba Modal (Capital gain) Pengenaan pajak atas laba modal adalah salah satu topik yang paling kontroversial dalam ilmu perpajakan. Sesuai dengan aturan. dana pensiun. seperti di Inggris dan beberapa negara anggota the Commonwealth. baik ketika untung maupun ketika rugi. dan (2) apakah laba yang tidak direalisasikan harus juga dipajaki. laba modal dikenakan pajak. Pada negara-negara yang peraturan perpajakannya mengacu pada konsep penghasilan ini. yaitu laba modal dari penjualan saham di bursa efek dan pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan. Tentu saja perusahaan sekuritas atau individual bisa mematok harga premium. para ekonom sepakat bahwa konsep penghasilan menurut Irving Fisher.kompas. Pajak untuk transaksi-transaksi ini bersifat final dan dikenakan atas nilai transaksi. . Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya. perusahaan sekuritas atau individu akan menjual obligasinya kepada perusahaan reksa dana. Jadi. Laba modal bukanlah penghasilan karena bukan dihasilkan dari layanan yang dihasilkan oleh modal. Berkenaan dengan perlakuan pajak terhadap laba modal ini. selama ini. yaitu yield income. Akibat perbedaan perlakuan seperti itu. Prinsip progresivitas pajak dilanggar. Perlakuan ini jelas-jelas melanggar prinsip keadilan pajak. Dengan begitu. dan reksa dana bebas dari pajak itu. mereka menikmati rente secara tidak langsung. Transaksi tetap dikenakan pajak.174 Bab 9: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Pribadi sekuritas.

Kekayaan ini dapat ia ubah dari portofolio saham menjadi kas bila ia memutuskannya. Bahwa realisasi dalam bentuk kas memungkinkan. Laba dari sahamnya telah membuatnya memperoleh tambahan kemampuan ekonomis. Tuan Amir memiliki kekayaan dalam bentuk portofolio saham PT Telkom yang nilainya naik Rp100. ketidakadilan ini dapat dihilangkan dengan menggunakan aturan yang tepat untuk meratakan penghasilan yang fluktuatif. Perlakuan pengenaan pajak yang mengecualikan laba modal yang belum direalisasikan ini mendorong investor untuk tidak menjual asetaset yang memiliki akumulasi laba. Hal ini jelas-jelas bertentangan dengan definisi tambahan kemampuan ekonomis. Akan tetapi berbagai argumentasi melingkupi perdebatan tentang perlakuan pajak atas laba modal yang belum direalisasikan ini. laba yang belum terealisasikan dalam bentuk kas tidak dikenakan pajak. keputusan untuk merealisasikan dalam bentuk kas atau tidak adalah keputusan manajemen portofolio. Berdasarkan definisi ini. Memang laba modal sifatnya tidak teratur dan cenderung berfluktuasi sehingga harus membayar lebih banyak dalam sistem tarif pajak yang progresif. Semua tambahan kemampuan ekonomis harus dimasukkan. Perlakuan terhadap Laba yang Belum Direalisasikan Berdasarkan prinsip kemampuan membayar. yang disebut sebagai lock-in effect. Dengan kenaikan nilai portofolio ini.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 175 Berdasarkan prinsip keadilan. Menurut Musgrave dan . tidak ada alasan untuk membedakan perlakuan pajak terhadap laba yang direalisasikan terhadap penghasilan dari usaha. Apakah laba telah terealisasi tidak ada relevansinya dengan apakah ada peningkatan kemampuan ekonomis. Misalnya.000. Tidak ada bedanya penghasilan yang diperoleh dari usaha atau dari laba modal. kekayaannya telah bertambah sejumlah tersebut. Akan tetapi. penghasilan sebagai suatu indeks dari kapasitas wajib pajak harus diukur sebagai tambahan kekayaan.000. Bila pada kenyataannya ia tetap memiliki dalam bentuk portofolio saham. dibandingkan jika laba modal tersebut diterima sebagai dalam bentuk pendapatan tetap. itu menunjukkan preferensinya untuk tetap terus memegangnya dalam bentuk portofolio saham bila dibandingkan dengan bentuk alternatif lainnya. penghasilan neto dinyatakan dalam bentuk penghasilan kas dan hanya memasukkan penghasilan kas saja. Penundaan pengenaan pajak setelah realisasi memberikan perlakuan yang menguntungkan kepada jenis penghasilan yang belum direalisasikan. baik yang sudah terealisasi (berubah menjadi kas) maupun belum. misalnya menjualnya untuk dikonsumsi atau diinvestasikan dalam bentuk aset lainnya.

Walaupun berdasarkan pajak konsumsi. New York: McGraw-Hill. § Untuk suatu penghasilan yang akan diterima. situasi bisnis telah berubah dan analogi seperti ini tidak tepat lagi. sulit digunakan untuk meyakinkan para ahli ekonomi. 2 Richard A. hal. Edisi ke-5. . yang banyak mendapatkan dukungan-dukungan hukum pada tahap-tahap awal diskusi pajak penghasilan. Akan tetapi. tetapi hal ini bukan halangan yang luar biasa. Pengukuran atas laba yang belum direalisasikan memang sulit. pembedaan apakah sudah terealisasi dan belum terealisasi bukan merupakan hal yang utama. Untuk situasisituasi di mana likuidasi parsial tidak memungkinkan (misalnya bisnis keluarga). Pandangan ini.” Pada awal munculnya pembukuan oleh para saudagar Venesia. adalah beralasan bagi pemerintah untuk meminta wajib pajak melikuidasi sebagian asetnya untuk membayar pajak bila diperlukan. § “Pemajakan atas laba yang belum direalisasikan mengharuskan wajib pajak membayar pajak walaupun ia tidak memiliki uang kas untuk membayarnya.176 Bab 9: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Pribadi Musgrave (1989).” Walaupun tidak ada konsumsi. misalnya untuk pemegang saham PT Telkom yang dapat menjual sahamnya sewaktu-waktu. 338. Pemisahan adalah pilihan investasi sedangkan penghasilan diperoleh karena nilai aset meningkat. Laba yang sudah direalisasikan tetapi tidak dikonsumsi perlakuannya sama dengan laba yang belum direalisasikan. beberapa bentuk perdebatan tersebut adalah sebagai berikut:2 § “Laba yang belum direalisasikan tidak boleh dipajaki karena pemiliknya dihalangi untuk melakukan konsumsi. hal ini tidak relevan dengan definisi basis dari pajak penghasilan. Prinsipnya adalah semua penghasilan harus dipajaki. (Berdasarkan suatu pajak konsumsi. pemerintah dapat memberikan waktu yang cukup untuk itu. tetapi apakah hal itu jadi persoalan? Sebagaimana halnya hutang-hutang lainnya yang jatuh tempo. Musgrave dan Peggy B. Musgrave. laba yang belum direalisasikan akan dikecualikan dan laba yang direalisasikan akan dimasukkan hanya jika dikonsumsi. Prinsip akuntansi yang hati-hati hanya mengakui pendapatan setelah ada realisasi.” Pandangan ini tepat. penghasilan tersebut harus dapat dipisahkan dari aset yang menghasilkannya. mereka tidak membukukan pendapatan mereka sampai nakhoda kapal telah kembali ke pelabuhan dan menyerahkan uang hasil dagangan. Public Finance in Theory and Practice.) § “Laba yang belum direalisasikan tidak boleh dipajaki karena ketiadaan realisasi membuat kita tidak mengetahui keberadaannya. tidak peduli akan digunakan untuk apa.

dapat dinilai dan dikenakan pajak secara periodik. Laba modal yang dikenakan pajak. muncul usulan untuk mengenakan pajak pada saat kematian atau pemindahan aset ini dengan menganggap seolah-olah telah terealisasi pada saat itu (realisasi konstruktif). Pengenaan pajak secara tahunan atas laba modal yang belum direalisasikan mengharuskan adanya penilaian aset secara tahunan. Konsistensi juga harus berlaku bila terjadi rugi modal (capital loss) yang harus diperlakukan sebagai pengurangan atas penghasilan atau penghasilan negatif. yang bukan disebabkan oleh inflasi. Pengenaan pajak atas laba modal harus juga disesuaikan dengan inflasi. Beberapa aset yang memiliki pasar yang likuid. suatu praktek yang sangat tidak praktis. Dengan laba modal. bangunan pabrik. yang nilainya sangat . Penilaian atas aset hanya dilakukan pada saat realisasi konstruktif ini sehingga lebih praktis. Dengan memberikan aturan perataan penghasilan dan membolehkan penyebaran pembayaran pajak pada beberapa periode. laba modal harus dimasukkan dalam penghasilan kena pajak dan digabungkan dengan penghasilan dari sumber-sumber lainnya.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 177 Jika definisi tambahan kemampuan ekonomis diikuti secara konsisten. Para pemilik aset dapat menunda kewajiban pajaknya sampai bertahun-tahun. dapat dihindari likuidasi paksa untuk tujuan pengenaan pajak yang menimbulkan ketidakadilan. nominal harus dikurangi dengan kenaikan harga dari aset karena inflasi untuk mendapatkan laba modal yang dimasukkan dalam penghasilan kena pajak. cara ini masih memberikan beberapa keuntungan bagi laba modal. Penundaan pajak ini sama dengan memperoleh pinjaman bebas bunga. bahkan sampai meninggal. misalnya setiap lima tahun. Permasalahan Penerapan Walaupun secara prinsip tidak ada lagi persoalan terhadap pengenaan pajak atas laba modal. dan tanah. untuk aset lainnya. Oleh karena itu. tanpa mempedulikan apakah sudah direalisasikan atau belum. akan tetapi pengenaan pajaknya menghadapi kendala operasional yang cukup berat. sulit untuk dinilai. Akan tetapi. seperti barang seni. Bila pengenaan pajak atas laba modal tidak memperhitungkan inflasi maka akan memunculkan problema keadilan dan efisiensi pajak. pengenaan pajaknya sepenuhnya dapat dilaksanakan tanpa kesulitan-kesulitan teknis yang muncul. Walaupun realisasi konstruktif dapat memindahkan laba yang belum direalisasikan ke dalam basis pajak. seperti sekuritas. Dalam hal laba modal yang sudah direalisasikan. Situasinya jauh lebih sulit untuk laba yang belum direalisasikan.

Setoran ini semakin mendapatkan argumentasi dukungan untuk dimasukkan ke dalam basis pajak apabila dipandang sebagai skema redistribusi. jadi harus tetap dikenakan pajak. Tabungan Hari Tua dan Rencana Pensiun Tabungan hari tua atau rencana pensiun adalah tabungan atau investasi yang diakumulasi dengan cara memisahkan penghasilan tahun berjalan untuk penggunaan di masa depan dengan menyetorkan sejumlah uang kepada lembaga dana pensiun atau sejenisnya. pembayaran kepada dana pensium atau lembaga sejenis ini bukan merupakan biaya tetapi merupakan penggunaan penghasilan. Pertama. Iuran pensiun dan bentuk pembayaran tabungan hari tua lainnya tidak boleh dikurangkan dari penghasilan. Ada dua alternatif pengenaan pajak atas iuran tabungan/pensium ini. Praktek yang berlaku saat ini memunculkan ketidakadilan terhadap para penabung lainnya karena dua keuntungan bagi pembayar iuran pensiun/tabungan. Tabungan Hari Tua Peraturan perundang-undangan pajak penghasilan membolehkan setoran tabungan hari tua kepada PT Taspen tidak dimasukkan sebagai penghasilan kena pajak. bila menggunakan konsep accretion income. Sebagaimana disebutkan di muka. Perlakuan yang tepat tentu saja dengan memperlakukan setoran tabungan sebagaimana bentuk tambahan kemampuan lainnya dan dikenakan pajak sebagaimana mestinya. aturan ini sama saja memberikan kepada pembayar tabungan hari tua suatu pinjaman bebas bunga dan penerapan tarif pajak yang lebih rendah di kemudian hari ketika tabungan ini diambil oleh penabung. hanya komponen bunganya saja yang dikenakan pajak penghasilan.178 Bab 9: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Pribadi substansial terutama bagi para wajib pajak muda yang mampu menunda untuk periode waktu yang sangat panjang. pembayar iuran pensiun/tabungan akan mendapat pengenaan tarif pajak yang lebih rendah atas penghasilannya yang ditunda pengenaannya karena penghasilan pembayar iuran pensiun di masa depan akan lebih kecil. bukannya asuransi. penundaan pembayaran pajak oleh pembayar iuran pensiun/tabungan sama dengan perolehan pinjaman bebas bunga. Kedua. Alternatif pertama. Setoran ini tidak dikenakan pajak apabila . Ketika uang manfaat pensiun atau tabungan hari tua diterima di kemudian hari. Alternatif kedua yang dipraktekkan saat ini adalah membolehkan pembayaran-pembayaran ini sebagai pengurang atas penghasilan dan mengenakan pajak sepenuhnya pada saat uang pensiun/tabungan dibayarkan kembali.

apakah akan menggunakan pengurangan standar atau pengurangan khusus (itemized deduction). Asuransi jiwa tertentu memiliki komponen tabungan (investasi) yang karena perlakuan ini bunga yang diperoleh atas tabungan ini terhindar dari pengenaan pajak. Hal ini berlaku baik iuran pensiun itu dipotong dari penghasilan para pegawai maupun dibayarkan atau ditanggung oleh perusahaan. pembayaran asuransinya tidak dikenakan pajak penghasilan. Praktek Definisi Penghasilan: Pengurangan Atas Penghasilan Neto Peraturan pajak penghasilan di Indonesia hanya membolehkan satu jenis pengurangan terhadap penghasilan neto yang disebut pengurangan standar atau Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). Untuk asuransi jiwa yang tidak memiliki komponen investasi. perlakuannya sudah tepat yaitu pembayarannya dikecualikan dari pengenaan pajak tanpa memperbolehkan pengurangan atas premi yang dibayarkan. Pengenaan pajaknya ditunda sampai uang pensiun diterima oleh para pegawai selama masa pensiun. Peraturan pajak penghasilan di Amerika Serikat memberikan pilihan bagi wajib pajak. Pembayaran premi asuransi jiwa tidak boleh digunakan untuk mengurangi penghasilan yang akan dikenakan pajak. Asuransi Jiwa Pembayaran premi kepada perusahaan asuransi jiwa dan pembayaran asuransi dari perusahaan asuransi jiwa mendapatkan perlakuan yang berbeda. Sementara itu. Pada umumnya wajib pajak yang berpenghasilan tinggi akan memilih pengurangan khusus karena akan memberikan jumlah pengurangan yang lebih besar daripada pengurangan standar. Iuran Pensiun Iuran yang tidak dikenakan pajak penghasilan adalah iuran pensiun yang dibayarkan kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan. sebagaimana yang berlaku pada penghasilan dari sumber-sumber lainnya. Pajak penghasilan atas gaji/upah juga tidak dikurangkan dan menjadi bagian dari penghasilan umum dan diperlakukan sama seperti pajak-pajak lainnya.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 179 penghasilan penerima berada di bawah PTKP. Pengurangan khusus ini merupakan kategori lainnya dari preferensi pajak yang umumnya diberikan . Perlakuan premi asuransi telah sesuai dengan konsep tambahan kemampuan tetapi perlakuan atas pembayaran asuransinya tidak sesuai.

180 Bab 9: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Pribadi dengan alasan bahwa aturan perpajakan harus adil terhadap unit-unit pengenaan pajak dan aturan pajak memberikan insentif atas kegiatan-kegiatan yang memberikan manfaat sosial. Alasan-Alasan Memberlakukan Pengurangan Khusus Prinsip pengenaan pajak atas penghasilan mengharuskan basis pajak yang komprehensif. Dalam situasi-situasi di atas. Jika dirancang . ada beberapa alasan yang patut diperhitungkan sehingga pengurangan khusus layak diberikan. terutama untuk wajib pajak berpenghasilan rendah. ukuran rumah tangganya (tanggungannya) ataupun hal-hal lainnya. angka pengurangan standar ini telah dinaikkan jauh melebihi angka pengurangan khusus yang disubstitusikan. Oleh karena itu. pengurangan standar fungsinya menjadi hibrida antara pengganti pengurangan khusus dan memberikan tambahan pengurangan yang tidak berkaitan dengan ukuran rumah tangga. Di Amerika Serikat. Wajib pajak dengan penghasilan yang sama tidak berarti memiliki kemampuan yang sama untuk membayar jika para wajib pajak berada pada posisi yang berbeda-beda karena statusnya. tidak diperlukan adanya pengurangan-pengurangan khusus. Beberapa wajib pajak tertentu harus membayar pengeluaran untuk pengobatan yang sangat besar karena kondisi dirinya atau keluarganya tentu mempunyai kemampuan untuk membayar yang lebih rendah daripada para wajib pajak lainnya yang tidak menghadapi beban yang sama. perlu dirancang suatu sistem yang mampu menyeimbangkan kemampuan para wajib pajak tersebut. Aspek Keadilan Sebagian alasan perlakuan pengurangan ini karena alasan keadilan yang terkandung dalam prinsip kemampuan untuk membayar dari wajib pajak. Pengurangan standar pada mulanya diberlakukan untuk memudahkan ketaatan dan administrasi. Misalnya. pengurangan standar ini ditujukan untuk menjadi substitusi dari pengurangan khusus sehingga memudahkan penghitungan bagi wajib pajak yang berpenghasilan rendah. Oleh karena itu. Akan tetapi. Walaupun demikian. Pengurangan standar sebenarnya adalah penghasilan yang tarif pajaknya nol persen. terhadap wajib pajak yang selalu mengeluarkan biaya pengobatan yang besar diberikan pengurangan atas penghasilannya sejumlah tertentu sehingga kewajiban pajaknya lebih rendah karena kemampuannya lebih rendah daripada wajib pajak lainnya yang berpenghasilan sama tanpa pengeluaran biaya pengobatan. memasukkan semua tambahan kemampuan ekonomis.

(Diadaptasi dari: berbagai sumber yang dimuat dalam http://www. "Karena bisa saja seorang pengusaha menyumbangkan dana Rp 1 miliar. seorang pengusaha bisa menyumbang di beberapa tempat yang berlainan. Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economic and Finance (Indef) mengatakan. praktek program pengurangan beban pajak bagi wajib pajak yang menyumbang dinilai rawan korupsi. Menurut Dirjen Pemberdayaan Sosial Depsos. Pengurangan Pajak Pemerintah perlu memberi penghargaan bagi pengusaha yang punya tanggung jawab sosial tinggi dan bersedia bekerja sama membantu memecahkan masalah sosial di Indonesia. seperti mendorong berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat. lalu dia laporkan sebesar Rp 5 miliar. Biaya untuk melakukan aktivitas tersebut diperlakukan sebagai pengurangan atas penghasilan dan dapat dipandang sebagai suatu cara untuk menyediakan insentif penggunaan penghasilan untuk hal-hal yang “mulia” seperti sumbangan sosial atau zakat. Akan tetapi. Pertimbangan yang sama juga dapat diberlakukan bagi para wajib pajak yang cacat karena mereka membutuhkan biaya hidup yang lebih banyak bila dibandingkan dengan wajib pajak yang normal. Apalagi. diskusikan perlu tidaknya pengurangan pajak diberikan! Aspek Insentif Peraturan perpajakan seringkali dirancang dan ditetapkan dengan tujuantujuan lain selain tujuan fiskal. “Kerja sama dengan masyarakat dan perusahaan akan membuat beban pekerjaan itu menjadi lebih ringan sehingga banyak masalah sosial bisa diselesaikan." ujarnya. Penghargaan itu misalnya.” tuturnya dalam acara sosialisasi program Direktorat Peningkatan Peran Kelembagaan Sosial Masyarakat dan Kemitraan Depsos. Langkah awal yang segera dilakukan adalah membuat identifikasi masalah sosial yang kelak bisa diberikan kepada perusahaan.kompas. Pemerintah jelas tidak mampu menyelesaikan persoalan tersebut sendirian karena dana yang ada sangat terbatas. usulan ini didasarkan pemikiran bahwa banyak masalah sosial di tanah air yang harus diselesaikan. kebijakan itu sangat rawan terhadap penyimpangan yang dilakukan oleh para pengusaha dalam bentuk laporan yang tidak sesuai dengan nilai sumbangan yang diberikan. Akan tetapi.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 181 dengan baik. fasilitas ini akan membebani anggaran pemerintah sehingga perlu dicari sumber pembiayaan lebih besar. Untuk itu. pengurangan ini tidak saja mendapat dukungan tetapi juga mampu mendorong terciptanya basis pajak yang lebih adil. minat para pengusaha untuk membantu pemerintah menyelesaikan masalah sosial sebenarnya cukup tinggi. Direktur Jenderal Perbendaharaan Depkeu mengatakan. Depsos bersama pengusaha akan membuat sekretariat tetap untuk memfasilitasi dunia usaha yang berniat membantu pemerintah. seperti investment tax credit untuk mendukung .com) Berdasarkan paparan diatas. mereka tak tahu harus menghubungi siapa dan lewat jalur mana untuk bisa membantu. Tentu saja. Menurutnya. berupa pengurangan pajak. KMK tentang fasilitas penurunan pajak itu bisa diberlakukan dalam kondisi darurat dan tidak terduga. Pengurangan atas penghasilan juga dapat mendorong konsumsi atas hal-hal yang menimbulkan manfaat-manfaat eksternalitas.

Seharusnya. Perbedaanperbedaan substansial yang timbul karena preferensi pajak inilah yang seringkali menyebabkan penghasilan kena pajak jumlahnya di bawah dari yang ditentukan oleh konsep tambahan kemampuan atau penghasilan komprehensif. Jika subsidi dibutuhkan. apakah subsidi ini harus diberikan dalam bentuk pengurangan pajak. peraturan perpajakan seperti ini sebaiknya dikaji secara mendalam sehingga hanya untuk aktivitas-aktivitas yang layak didukung dan hanya jika pengurangan pajak adalah cara terbaik untuk melakukannya. berbagai aturan khusus ini sebagai suatu preferensi pajak ternyata menambah kerumitan perhitungan pajak sehingga secara administratif membebani tidak saja bagi wajib pajak dalam melaporkan pajak penghasilannya. Hal ini akan mendorong wajib pajak untuk membelanjakan lebih banyak uangnya untuk melakukan aktivitas-aktivitas ini.182 Bab 9: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Pribadi iklim investasi. preferensi pajak inilah yang menyebabkan penghasilan kena pajak berbeda dengan penghasilan komprehensif. Dalam hal ini. Dalam konteks keuangan negara dan ekonomi. Hanya saja. PREFERENSI PAJAK Preferensi pajak merupakan pengecualian-pengecualian dan penguranganpengurangan dari basis pajak yang komprehensif. kehilangan potensi pajak atau penyusutan penerimaan pajak ini . Preferensi pajak dapat dipandang sebagai subsidi pada aktivitas ekonomi tertentu. Dengan adanya preferensi pajak ini. pengurangan dapat dipandang sebagai hibah yang diberikan oleh pemerintah kepada wajib pajak sehingga biaya pelaksanaan aktivitas-aktivitas tertentu yang bermanfaat menjadi berkurang. tetapi juga dari aparat perpajakan yang harus melakukan audit atas laporan pajak penghasilan tersebut. Akan tetapi. Tidak ada larangan bagi suatu peraturan perpajakan untuk mempunyai tujuan-tujuan selain tujuan fiskal. tingkah laku wajib pajak berubah untuk membuat beban pajaknya menjadi lebih rendah dengan memanfaatkan aturan-aturan tertentu yang juga disebut sebagai lubang-lubang dalam peraturan perpajakan. yaitu keuntungan yang didapatkan dapat jauh melebihi kerugiannya pada aspek keadilan pajak. sering disebut sebagai kehilangan potensi pajak. Pertanyaannya adalah apakah aktivitas yang perlu didukung itu membutuhkan subsidi. penghasilan kena pajak setelah pengecualian dan pengurangan sama dengan tambahan kemampuan ekonomis. Preferensi pajak menyebabkan pengurangan atas basis pajak. Walaupun demikian.

Ketidakadilan pajak secara horisontal terjadi karena wajib pajak dengan penghasilan sama tidak mendapat manfaat yang sama karena perbedaan aturan. wajib pajak yang menerima penghasilan dalam bentuk natura membayar lebih sedikit daripada pegawai yang menerima seluruh penghasilannya dalam bentuk kas. insiden preferensi sangat bervariasi. Istilah penyusutan penerimaan pajak digunakan karena kegagalan otoritas pajak mendapatkan penerimaan pajak disebabkan lubang-lubang dalam basis penghasilan kena pajak. Untuk di Indonesia. Pada kenyataannya. bagaimana aturan pajak menciptakan preferensi pajak bagi golongan-golongan wajib pajak dengan penghasilan tertentu. penelitian tentang hal ini ada. Misalnya. Keberadaan preferensi pajak tidak menjadi masalah keadilan pajak apabila basis pajak yang berkurang karena pengecualian dan pajak final dalam jumlah yang proporsional terhadap basis pajak sepenuhnya (tanpa preferensi pajak) bagi seluruh wajib pajak. di Amerika Serikat. Dalam hal ini. aturan yang membebaskan pajak atas bunga pinjaman rumah sama dengan mengenakan pajak penuh atas bunga pinjaman kepada pemilik rumah dan kemudian secara bersamaan melakukan pengeluaran subsidi kepada mereka. Misalnya. pengeluaran pajak ini adalah sama dengan memperoleh penerimaan pajak sepenuhnya (tanpa ada aturan preferensi pajak) kemudian melakukan pengeluaran (subsidi) dengan jumlah yang sama kepada wajib pajak sehingga wajib pajak tetap pada posisi yang sama. preferensi pajak dapat dinetralisasi dengan pengenaan tarif pajak yang lebih progresif.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 183 disebut pengeluaran pajak (tax expenditure). kehilangan potensi pajak dari aturan pajak terhadap laba modal cenderung lebih dinikmati oleh wajib pajak berpenghasilan tinggi karena merekalah yang memiliki lebih banyak aset daripada wajib pajak berpenghasilan rendah. Misalnya. . Ketidakadilan pajak secara vertikal dapat timbul karena preferensi pajak memberikan manfaat-manfaat yang hanya dinikmati oleh kelompok wajib pajak dengan penghasilan tertentu. baik bagi wajib pajak rata-rata pada berbagai tingkat penghasilan maupun wajib pajak tertentu pada satu tingkatan pajak penghasilan. Hal ini sama dengan memberikan pengurangan tarif pajak maksimal yang sama bagi seluruh wajib pajak. sehingga menimbulkan adanya ketidakadilan secara vertikal dan horizontal. Pada dasarnya.

Keduanya dapat dikombinasikan sedemikian rupa untuk mengurangi beban pajak dengan membentuk suatu tax shelter. Contohnya. Pembayaran bunga akan mengakibatkan kerugian yang besar pada periode-periode awal beroperasinya firma tersebut sebelum memperoleh penghasilan yang cukup besar. Cara penghindaran pajak yang paling utama adalah adanya tax shelter yang timbul dari kerugian usaha. terutama yang berkaitan dengan berbagai jenis penghasilan modal. Permasalahan Keadilan Berpenghasilan Rendah Pajak Bagi Wajib Pajak Keadilan pajak menyiratkan bahwa wajib pajak berpenghasilan tinggi harus membayar pajak dalam jumlah besar dan wajib pajak berpenghasilan rendah hanya membayar pajak dalam jumlah kecil. Berapa besarnya penghasilan minimal yang tidak dikenakan pajak? Pada umumnya. suatu perusahaan perseorangan atau firma dibentuk untuk investasi di dunia real estate. yaitu menciptakan kerugian dengan memunculkan biaya bunga yang besar. investor dapat menghapuskan kerugian yang besar tersebut pada penghasilan mereka sehingga mengurangi pajak yang dibayarkan pada periode awal tersebut. Kedua aturan ini memang konsisten dengan konsep tentang laba bersih sebagai basis pajak. Dengan melakukan investasi pada firma tersebut. Dengan investasi modal yang kecil. konsep yang sangat dipengaruhi oleh praktek akuntansi. kerugian merupakan penghasilan negatif sehingga dapat digunakan untuk mengurangi penghasilan kena pajak. Bunga adalah satu-satunya biaya modal yang dapat dikurangkan sebagai biaya dalam menghitung penghasilan kena pajak. Para investor dengan penghasilan yang sangat besar pada periode ini dan penghasilan kecil pada periode berikutnya akan memperoleh manfaat yang besar dengan skema pengurangan pajak seperti ini. firma tersebut dapat meminjam dalam jumlah yang banyak dengan jaminan harta real estatenya. semua orang sependapat bahwa ada sejumlah tertentu penghasilan yang tidak boleh dikenakan pajak atau dikenakan pajak dengan . Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya.184 Bab 9: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Pribadi Permasalahan Keadilan Berpenghasilan Tinggi Pajak Bagi Wajib Pajak Wajib pajak berpenghasilan tinggi dapat menggunakan preferensi pajak untuk melakukan penghindaran pajak.

000.440. Dengan demikian.440.000 per wajib pajak. PTKP adalah penghasilan yang dikenakan tarif pajak sebesar nol persen dan merupakan bagian integral dari struktur tarif pajak sehingga menentukan tingkat progresivitas tarif pajak. ada PTKP bagi anggota keluarga yang memiliki penghasilan untuk wajib pajak yang bersangkutan dan pasangannya masing-masing sebesar Rp1. Di Indonesia. ada PTKP sebesar Rp1. walaupun kategori “miskin” ini multi interpretasi.000. Berikutnya. Berdasarkan faktor ini. Pertama. Hal ini menimbulkan permasalahan ketidakadilan pajak karena aturan pajak telah terdistorsi untuk memenuhi tujuan-tujuan non fiskal. Seperti dikemukakan sebelumnya. Kredit Pajak bagi Wajib Pajak berpenghasilan Rendah . jumlah PTKP turun secara relatif terhadap penghasilan neto sehingga tarif pajak efektif naik. Ukuran untuk menentukan jumlah PTKP ini adalah tingkat penghasilan yang rendah yang membuat wajib pajak diklasifikasikan sebagai “miskin. harus memiliki jumlah tanggungan lebih dari tiga orang.200.000. Ditambah dengan faktor ini maka jumlah PTKP maksimal adalah Rp10. jumlah PTKP maksimal adalah Rp7. PTKP bergantung pada jumlah tanggungan keluarga sampai dengan maksimal tertentu. tarif pajak efektif (yang didefinisikan sebagai rasio pajak terhadap penghasilan neto) pada tingkat penghasilan neto yang rendah jumlahnya sangat kecil karena PTKP merupakan porsi terbesar dari penghasilan neto. Ketika penghasilan neto naik. Titik awal beban pajak bergantung pada berbagai faktor. Dalam hal ini. tetapi juga menentukan besarnya tarif pajak efektif atau pola progresivitas pada skala penghasilan menengah ke bawah. pemerintah perlu selalu menyesuaikan besarnya PTKP sehingga mencerminkan tingkat penghasilan wajib pajak “miskin”. Ketidakadilan didapatkan oleh wajib pajak karena sesuatu dan lain hal. Penghasilan yang dikenakan pajak (yang dikenai tarif pajak lebih dari nol persen) harus didefinisikan sebagai penghasilan kena pajak dikurangi dengan PTKP (yang dikenai tarif pajak nol persen). Dengan adanya PTKP ini.800. Batas bebas pajak tersebut tidak hanya penting dalam menentukan batas bawah untuk kewajiban pajak.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 185 tarif nol persen. PTKP memperhitungkan ukuran keluarga dengan asumsi implisit bahwa tambahan tanggungan tidak menciptakan skala ekonomis. besarnya penghasilan tidak kena pajak pun harus menyesuaikan dengan ukuran besarnya keluarga. pasangannya dan setiap tanggungan (maksimal tiga tanggungan). jumlah maksimal tanggungan adalah tiga orang karena adanya tujuan tambahan untuk mendukung program keluarga kecil.” Karena tingkat kemiskinan bervariasi sesuai dengan ukuran besarnya keluarga.

POLA PROGRESIVITAS TARIF PAJAK Pajak penghasilan merupakan suatu instrumen pajak yang progresif sesuai dengan prinsip kemampuan membayar dan keadilan pajak secara vertikal.186 Bab 9: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Pribadi Pada negara maju. . Bila peningkatan kewajiban pajak lebih rendah daripada peningkatan penghasilan. semakin cepat kenaikan rasio pajak terhadap PNB. Arti Progresivitas Tarif Pajak Pada saat membahas penghasilan neto. tarif pajak yang dikenakan meningkat seiring dengan peningkatan penghasilan neto. Struktur tarif pajak tidak lagi selalu positif. Prinsip progresivitas tidak saja menyatakan seberapa tinggi tarif pajak yang dikenakan kepada wajib pajak berpenghasilan besar tetapi juga seberapa besar transfer yang dapat diberikan kepada wajib pajak miskin. Kredit Pajak untuk Biaya Mengasuh Anak Sejalan dengan perkembangan tentang hak-hak wanita dan perlakuan yang adil terhadap penghasilan keluarga. tetapi bergerak dari tarif negatif pada penghasilan nol (wajib pajak pada tingkatan penghasilan ini mendapatkan subsidi dari pemerintah) bergerak ke angka nol (titik impas) dan menjadi tarif positif pada angka di atas titik impas ini. Peningkatan kewajiban pajak harus lebih tinggi daripada peningkatan penghasilan untuk dapat dianggap sebagai pajak progresif. semakin progresif pajak penghasilan. mereka harus menyediakan dana untuk menyewa pengasuh bagi anak-anak mereka. aturan hukum di negara maju menyediakan kredit pajak bagi keluarga yang memiliki anak dan pasangannya juga bekerja. proporsional apabila tarif pajak konstan pada semua tingkat penghasilan. pajak tersebut dianggap regresif. Progresivitas ini memiliki arti tertentu dan diukur dengan cara tertentu. Progresivitas tidak hanya diukur dengan peningkatan kewajiban pajak sejalan dengan peningkatan penghasilan. dan regresif bila tarif pajak turun pada tingkat penghasilan yang lebih tinggi. Praktek ini dapat dilakukan dengan memberikan kredit pajak pada para wajib pajak berpenghasilan rendah. telah muncul pemikiran-pemikiran dan praktek-praktek berkaitan dengan tarif pajak negatif. Untuk keluarga seperti ini. Pajak dikatakan progresif apabila tarif pajak cenderung meningkat sejalan dengan kenaikan tingkat penghasilan. Selain itu.

Ukuran ketiga atau progresivitas penghasilan residu mencatat elastisitas dari penghasilan setelah pajak Ukuran ini menunjukkan kemiringan kurva yang diperoleh dengan menggambar penghasilan sebelum dan sesudah pajak pada bagan log.Rumusnya: 1 1 (Y0 − T0 ) Y1 − Y0 n Sebelum membandingkan tingkat progresivitas suatu struktur pajak atau tingkat progresivitas pada berbagai tingkatan penghasilan.. mencatat elastisitas kewajiban pajak terhadap penghasilan. hal. Kurva tarif efektif cenderung berkurang kemiringannya dan progresivitas cenderung menurun seiring dengan meningkatnya skala T1 − T0 Y1 Y0 penghasilan. Musgrave. 359-360 . Ukuran ini disebut sebagai progresivitas kewajiban pajak. Rumusnya: T1 − T0 Y0 . Ukuran ini disebut sebagai progresivitas tarif rata-rata (average-rate progression). Progresivitas pada semua indikator cenderung menurun seiring dengan kenaikan skala penghasilan setelah tingkatan penghasilan (Y − T ) − (Y0 − T0 ) Y0 . Hal ini sangat 3 Richard A.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 187 Mengukur Tingkat Progresivitas Menurut Musgrave dan Musgrave (1989). tertentu. Musgrave dan Peggy B. Koefisiennya juga satu untuk pajak proporsional tetapi progresivitas sekarang ditunjukkan dengan angka koefisien yang kurang dari satu. yaitu3: n Rasio perubahan tarif efektif terhadap perubahan penghasilan. ada beberapa ukuran dapat dipakai untuk mengukur tingkat progresivitas tarif pajak. Proporsionalitas ditunjukkan dengan nilai koefisien sama dengan satu dan progresivitas ditunjukkan dengan nilai koefisien di atas satu. Nilai dari koefisien ini adalah nol untuk pajak proporsional dan positif untuk pajak progresif. op. merupakan ukuran kemiringan kurva yang diperoleh dari menggambar hasil bagi tarif pajak efektif terhadap penghasilan. perlu ditetapkan terlebih dahulu ukuran progresivitas apa yang akan digunakan. cit. Koefisien ini mengukur kemiringan kurva yang diperoleh dari menggambar hasil bagi kewajiban pajak terhadap penghasilan pada bagan log-ganda. T0 Y1 − Y0 Rasio persentase perubahan penghasilan setelah pajak terhadap persentase perubahan penghasilan sebelum pajak.Rumusnya: Y1 − Y0 n Rasio persentase perubahan kewajiban pajak terhadap perubahan penghasilan.

Secara teoritis. besaran pajak yang dikenakan tarif tertentu. Ada implikasi politis dari hal-hal yang sifatnya teoritis. Tarif-tarif pajak dinaikkan pada persentase yang semakin besar pada tarif-tarif yang lebih tinggi. . Padahal kenetralan tersebut memiliki banyak interpretasi sejalan dengan adanya berbagai ukuran progresivitas. Misalnya.188 Bab 9: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Pribadi penting supaya terhindar adanya pembandingan tingkat progresivitas dengan menggunakan ukuran-ukuran progresivitas yang berbeda. banyak pihak yang mengusulkan perubahan pada seluruh tarif untuk menjaga kenetralan kenaikan dan penurunan. n Jika yang dimaksud dengan netralitas adalah progresivitas kewajiban pajak ditetapkan konstan. Ketika tarif-tarif pajak dinaikkan atau diturunkan. Dengan demikian. tambahan kemampuan ekonomis harus memperhitungkan tingkat inflasi sehingga hanya penghasilan dalam nilai riil saja yang layak untuk dikenai pajak penghasilan. Permasalahan inflasi tidak hanya berkaitan dengan angka nominal penghasilan. Yang lebih menarik lagi adalah urutan preferensi tersebut akan terbalik bila yang diperjuangkan adalah pengurangan pajak. seperti halnya ukuran tingkat progresivitas pajak. semua hutang pajak harus dinaikkan dengan persentase yang sama. kemudian progresivitas kewajiban pajak dan yang terakhir adalah progresivitas penghasilan residu. Debat mengenai tingkat progresivitas ini menjadi hal yang sangat penting ketika tarif-tarif pajak berubah. Pihak-pihak yang memperjuangkan kepentingan masyarakat yang berpenghasilan rendah tentu saja akan sangat berkeinginan untuk menginterpretasikan netralitas dalam bentuk yang paling diinginkan yaitu progresivitas tarif rata-rata. n Jika yang dimaksud dengan netralitas adalah progresivitas tarif pajak ratarata ditetapkan konstan. Pihak-pihak yang memperjuangkan kepentingan masyarakat berpenghasilan tinggi akan cenderung mengambil posisi yang berlawanan. tarif-tarif pajak akan dinaikkan pada persentase yang semakin kecil pada tarif-tarif yang lebih tinggi. pemerintah memutuskan untuk menaikkan tarif pajak. tetapi juga PTKP. pihak-pihak tertentu akan menginterpretasikan netralitas sesuai dengan kepentingannya. semua tarif pajak dinaikkan sebesar persentase kenaikan yang sama. dan laba modal. PENYESUAIAN TERHADAP INFLASI Pada bagian sebelumnya telah dibahas pengaruh inflasi terhadap penghasilan nominal. n Jika yang dimaksud dengan netralitas adalah progresivitas penghasilan residu ditetapkan konstan.

nilai riil dari tingkat penghasilan yang dikenakan tarif pajak turun. ketika harga-harga naik. kewajiban pajak naik dalam nilai riil lebih cepat daripada kenaikan harga. Perlakuan yang sama terhadap laba modal seharusnya hanya akan mengenakan pajak atas laba dalam nilai riil (kenaikan harga dalam nilai riil). Sementara itu. Itupun tidak dilakukan setiap tahun. Solusi atas . Tentu saja. peraturan pajak di Indonesia hanya menyesuaikan PTKP. diperlukan penyesuaian terhadap inflasi dengan mengurangkan kenaikan harga aset dari inflasi dari laba modal nominal. Dengan demikian. Permasalahan pengaruh inflasi yang sama juga dialami oleh kreditor yang menderita kerugian penurunan nilai riil hutang yang mereka berikan kepada debitor. tingkat penghasilan yang dikenakan tarif pajak tertentu tidak pernah disesuaikan. sehingga tingkat tarif pajak yang berlaku untuk tingkat penghasilan riil tertentu akan naik. nilai riil dari PTKP cenderung turun. Tingkat penghasilan riil yang mulai dikenakan pajak dengan tarif tertentu juga semakin turun. Depresiasi adalah pos berikutnya yang dipengaruhi inflasi. Oleh karena itu.440. Ketika hargaharga naik. sebagian dikenakan pajak final dan sebagian lagi dikenakan pajak reguler. Berkaitan dengan pengaruh inflasi. Dengan demikian. Karena pajak di Indonesia tidak terlindung dari pengaruh inflasi. Nilai PTKP sebesar Rp2. wajib pajak di Indonesia mengalami kenaikan kewajiban pajak dalam nilai riil. tetapi beberapa tahun sekali.000 sepuluh tahun yang lalu nilai riilnya lebih besar dari sekarang. Bila peraturan perpajakan konsisten menggunakan basis tambahan kemampuan ekonomis yang diukur dalam satuan nilai riil maka aturan perpajakan harus membolehkan kreditor mengakui kerugian dan juga mengharuskan debitor mengakui keuntungan. Selain itu. penurunan nilai hutang ini menjadi keuntungan bagi debitor. Salah satu solusi yang pernah diusulkan adalah mengurangi penghasilan bunga kena pajak sesuai dengan tingkat inflasi. bukannya laba dalam nilai nominal (kenaikan harga dalam nilai nominal). pengembalian dari biaya perolehan aktiva berkurang dalam nilai riil dan penyesuaian inflasi juga diperlukan dalam hal ini. Penghasilan/Laba Modal Masalah inflasi juga mempengaruhi besarnya kewajiban pajak atas laba modal. Laba modal yang sudah terealisasi.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 189 PTKP dan Tingkat Penghasilan yang Dikenakan Tarif Pajak Inflasi menyebabkan nilai riil dari PTKP menjadi turun.

yaitu4: § Unit-unit dengan penghasilan yang sama dan jumlah anggota yang sama harus membayar pajak yang sama jumlahnya. unit yang jumlah anggotanya lebih kecil harus membayar pajak lebih banyak dan unit yang jumlah anggotanya lebih besar harus membayar pajak lebih sedikit.190 Bab 9: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Pribadi permasalahan ini dalam perundang-undangan pajak hanyalah parsial dalam bentuk penggunaan metode penyusutan dipercepat. Problema ini muncul karena adanya kecenderungan lebih dari anggota keluarga memperoleh penghasilan sebagai akibat kecenderungan sosio ekonomis meningkatnya partisipasi wanita dalam angkatan kerja. hal. . Walaupun beberapa jenis pengeluaran konsumsi (misalnya penerangan di ruang tamu) dikonsumsi dalam jumlah yang sama baik oleh satu orang atau dua orang. Aturan Dasar Dalam hal penetapan unit kena pajak.. § Di antara unit-unit yang berpenghasilan sama. Ada hal yang perlu dipertegas bahwa aturan ini tidak membedakan kemampuan untuk membayar dalam konteks unit keluarga apakah penghasilan diperoleh oleh satu anggota atau lebih. Pendekatan Unit Keluarga Pendapat umum dari para ahli perpajakan adalah bahwa unit kena pajak dan pengukuran kemampuan untuk membayar harus diarahkan kepada unit keluarga. Alternatif lainnya adalah pemilihan individu sebagai unit kena pajak dan pengukuran kemampuan untuk membayar. 386. PILIHAN UNIT KENA PAJAK Pemilihan unit kena pajak merupakan salah satu hal yang kontroversial dalam pajak penghasilan yang belum ada solusi yang memadai saat ini. cit. Musgrave. Musgrave dan Musgrave (1989) memberikan tiga aturan berikut agar pilihan unit kena pajak tersebut memenuhi asas keadilan pajak. Musgrave dan Peggy B. Aturan ini tidak perlu penjelasan lebih lanjut karena aturan ini secara sederhana mewakili persyaratan bahwa hal yang sama harus diperlakukan sama juga. pengeluaran-pengeluaran konsumsi lainnya (misalnya kursi untuk santai) 4 Richard A. op. Aturan ini menunjukkan proposisi bahwa seorang bujangan dengan penghasilan Rp 30 juta memiliki posisi (kemampuan) lebih baik daripada pasangan dengan total penghasilan keduanya juga Rp 30 juta.

Bila individu ditetapkan sebagai unit kena pajak. kewajiban pajak gabungan pasangan suami istri bergantung pada bagaimana penghasilan terdistribusi di antara mereka. Sistem yang mengikuti aturan-aturan keadilan ini tidak akan mempengaruhi keputusan pernikahan. menetapkan PTKP tertentu sesuai dengan jumlah tanggungan dan jumlah penerima penghasilan. Aturan ini mengikuti secara langsung prinsip progresivitas dan tidak perlu penjelasan lebih lanjut. . status dan jumlah penerima penghasilan. aturan perpajakan membolehkan tambahan PTKP sesuai dengan ukuran keluarga. baik proporsional. progresif ataupun regresif. jumlah pajak (yang dinyatakan dalam persentase terhadap penghasilan) untuk unit-unit dengan jumlah anggota yang sama harus naik seiring dengan kenaikan penghasilan unit. Pendekatan Alternatif: Unit Peroleh Penghasilan Pendekatan alternatif dalam memilih unit kena pajak adalah dengan mengabaikan unit keluarga dan menggunakan individu sebagai unit yang dikenakan pajak. Penggabungan Penghasilan Ada dua cara untuk mencapai tujuan seperti yang tercantum pada aturan dasar di atas. Penggabungan penghasilan ini tidak mengurangi jumlah PTKP yang dapat dikurangkan dari penghasilan. menggunakan struktur tarif pajak yang berbeda untuk berbagai jenis SPT yang didasarkan pada jumlah tanggungan. Struktur tarif yang digunakan. Pertama. perlakuan yang adil apabila pajak yang dikenakan kepada seorang bujangan tersebut lebih tinggi daripada pajak yang dikenakan kepada pasangan suami-istri dengan tingkat penghasilan yang sama. Sistem pengenaan pajak penghasilan di Indonesia menempatkan keluarga sebagai satu kesatuan ekonomis. tidak menimbulkan perbedaan. Pendekatan ini memberikan perlakuan yang lebih menguntungkan bagi wajib pajak yang berpenghasilan rendah. Seperti yang dijelaskan sebelumnya. Kedua. artinya penghasilan atau kerugian dari seluruh anggota keluarga digabungkan sebagai satu kesatuan yang dikenakan pajak. Dengan pengenaan pajak progresif. Perbedaan seperti ini (pada jumlah yang layak) tidak boleh dipandang sebagai pajak yang diskriminatif terhadap seorang bujangan. baik ketika penghasilan masih dilaporkan sendiri maupun penghasilan digabungkan. baik hanya satu orang dari pasangan yang menikah tersebut yang memiliki penghasilan ataupun kedua-duanya. Oleh karena itu.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 191 § lebih mahal apabila untuk pasangan. walaupun dibatasi hanya sampai tiga tanggungan.

imputed income (dalam bentuk gaji yang tidak didapatkan) dari pasangan yang tidak bekerja harus dimasukkan ke dalam dasar pengenaan . Dalam peraturan perpajakan sekarang ini keluarga C dan D membayar pajak lebih besar daripada keluarga A dan B. atau menganggur. siapa yang menjadi tanggungan. menjaga anak-anak. Cara lain dari perlakuan pajak terhadap tanggungan adalah PTKP. Pertanyaan ini berkenaan dengan apakah pengurangan tersebut diberikan dalam bentuk pengurang atas penghasilan atau kredit pajak. Karena wajib pajak dengan penghasilan yang tinggi mengeluarkan biaya untuk tanggungan (anak) yang lebih besar. ada sepasang suami istri A dan B dimana A memiliki penghasilan dan B tidak memiliki penghasilan. Pendekatan kredit pajak lebih tepat digunakan bila setiap tambahan tanggungan diukur dalam satuan pengeluaran standar (misalnya pengeluaran rata-rata). Asumsikan bahwa A dan C penghasilannya sama dan bahwa B memiliki potensi penghasilan yang sama dengan D. Pertanyaan ini akan menyangkut masalah bagaimana memperlakukan anak-anak yang tinggal jauh dari orang tua dan yang memiliki penghasilan. seperti kesimpulan kita pada pembahasan tentang imputed income di muka. Peraturan pajak di Indonesia menggunakan cara ini dengan memberikan pengurangan atas penghasilan neto sebesar Rp1. Pendekatan pengurang atas penghasilan lebih tepat digunakan jika biayanya diukur dalam berapa banyak pengeluaran akan dilakukan. C dan D. Kemudian ada pasangan lain.192 Bab 9: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Pribadi Tanggungan dan Pasangan yang Tidak Bekerja Jumlah tanggungan menjadi pertimbangan utama dalam mengukur kemampuan untuk membayar dari suatu unit keluarga. yang keduanya memiliki penghasilan. Misalnya. Secara prinsip. yang harus dimasukkan sebagai tambahan kemampuan. sudah selayaknya diberikan keringanan pajak yang lebih besar pula. Pertanyaan terakhir dalam pajak penghasilan adalah bagaimana pengaturan tentang pasangan yang tidak bekerja dan hanya tinggal di rumah untuk mengurus rumah. Pertanyaan pertama. Pertanyaan kedua bagaimana pengurangan diberikan.000 untuk setiap tanggungan.440. tapi dengan jumlah maksimal tiga tanggungan. Ada dua pertanyaan berkenaan dengan tanggungan ini. Padahal berdasarkan aturan opsi yang sama (bekerja dan tidak bekerja) keduanya harus membayar pajak dalam jumlah yang sama. Suatu keluarga besar (dengan tanggungan yang lebih banyak) dengan penghasilan neto tertentu mempunyai kemampuan untuk membayar yang lebih rendah daripada keluarga kecil (dengan tanggungan yang lebih sedikit) dengan penghasilan neto yang sama.

secara prinsip. § § § § § . pada beberapa transaksi tertentu berlaku tarif pajak final. tidak menjadi perbedaan apakah penghasilan tersebut telah diterima secara kas (seperti gaji. Selain itu. yaitu penghasilan setelah dikurangi dengan biaya-biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan penghasilan. prosedur yang sama juga harus diberlakukan kepada bujangan yang tidak bekerja RANGKUMAN § Penghasilan yang menjadi objek pajak adalah setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh wajib pajak. baik yang berasal dari Indonesia maupun luar Indonesia. Penghasilan harus didefinisikan dalam satuan riil. Sesuai dengan definisi penghasilan. ditekankan bahwa penghasilan dari pekerjaan harus dikenakan beban pajak yang lebih ringan. bila dibandingkan jika capital gain tersebut diterima sebagai pendapatan tetap. Penghasilan dalam konsep tambahan kemampuan ekonomis (accretion concept) harus diukur dalam satuan penghasilan neto. Dalam membedakan antara penghasilan dari pekerjaan (upah dan gaji) dan penghasilan dari modal. Capital gain sifatnya tidak teratur dan cenderung berfluktuasi sehingga wajib pajak harus membayar lebih banyak dalam sistem tarif pajak yang progresif. upah.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 193 pajak. Untuk memudahkan penagihan dan meningkatkan ketaatan pajak. Penghasilan bruto yang telah dihitung kemudian dikurangkan dengan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) untuk mendapatkan jumlah Penghasilan Kena Pajak (PKP). yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan wajib pajak yang bersangkutan dalam nama dan bentuk apapun. Logika tambahan kemampuan ekonomis (accretion) menyatakan bahwa penghasilan yang diterima dalam bentuk imputed income (misalnya pemilikan aset jangka panjang) dan natura dalam bentuk santai harus dimasukkan ke dalam basis pajak. Perolehan warisan atau hibah merupakan tambahan kemampuan ekonomis bagi penerima sehingga harus dimasukkan ke dalam basis pajak penghasilan bagi penerimanya. dan hasil penjualan aset) ataupun terakumulasi dalam bentuk kenaikan nilai aset (capital gain) yang belum terealisasi. kesulitan ini dapat dihilangkan dengan menggunakan aturan perataan yang tepat.

Prinsip progresivitas tidak saja menyatakan seberapa tinggi tarif pajak yang dikenakan kepada wajib pajak berpenghasilan besar tetapi juga seberapa besar transfer yang dapat diberikan kepada wajib pajak miskin. Pada prinsipnya. Penghasilan tidak teratur c. Sistem pengenaan pajak penghasilan di Indonesia menempatkan keluarga sebagai satu kesatuan ekonomis. Laba yang belum terealisasi . Imputed Income 4. Pengurangan khusus dapat dipandang sebagai suatu cara untuk menyediakan insentif penggunaan penghasilan untuk hal-hal yang mulia seperti sumbangan sosial. Jelaskan perbedaan prinsip Capital Income dan Labor Income! 3. Mengapa perlakuan terhadap pajak final dianggap melanggar prinsip keadilan pajak? 6. wajib pajak dengan tagihan-tagihan darurat yang berat. sehingga beban pajak pun harus menyesuaikan dengan ukuran besarnya keluarga. Laba yang telah terealisasi b. dapat dikatakan memiliki kemampuan untuk membayar yang lebih kecil dibandingkan para wajib pajak lainnya yang tidak menghadapi tagihan-tagihan darurat tersebut. Apa yang dimaksud dengan pajak final dan apa tujuan diberlakukannya? 5. imputed income (dalam bentuk gaji yang tidak didapatkan) dari pasangan yang tidak bekerja harus dimasukkan ke dalam dasar pengenaan pajak. Secara keadilan. hanya komponen bunganya saja yang dikenakan pajak penghasilan. Bagaimana pengenaan pajak penghasilan atas : a. Jelaskan prinsip dasar pengenaan pajak penghasilan dan bagaimana menentukan penghasilan kena pajak! 2. Bagaimana penerapan pajak penghasilan terhadap: a. LATIHAN 1.194 § Bab 9: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Pribadi § § § § Iuran pensiun dan bentuk pembayaran tabungan hari tua lainnya seharusnya tidak boleh dikurangkan dari penghasilan. seperti tagihan biaya pengobatan yang besar. Warisan b. dan ketika uang manfaat pensiun atau tabungan hari tua diterima di kemudian hari. artinya penghasilan atau kerugian dari seluruh anggota keluarga digabungkan sebagai satu kesatuan yang dikenakan pajak. Tingkat kemiskinan bervariasi sesuai dengan ukuran besarnya keluarga.

Wajib pajak yang mempunyai penghasilan tinggi cenderung menginvestasikan uang mereka dibandingkan dengan menabungnya. Apa pengaruhnya terhadap pengenaan pajak penghasilan wajib pajak tersebut? . Asuransi Jiwa 7. Iuran Pensiun e. Jelaskan bagaimana aspek keadilan yang diberlakukan untuk pengurangan jumlah pajak penghasilan yang dikenakan terhadap wajib pajak! 8. Bagaimana bentuk ketidakadilan pajak yang terjadi akibat adanya preferensi pajak ? 9. Tabungan hari tua d.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 195 c.

menagih dan memelihara penghasilan bruto yang menjadi objek pajak. Pada dasarnya semua pengeluaran dapat dibebankan sebagai biaya apabila mempunyai hubungan langsung dengan usaha atau kegiatan untuk mendapatkan. Penghasilan bruto dari perseroan dikurangi dengan biaya-biaya yang dikeluarkan dalam rangka menjalankan usaha akan menghasilkan laba bersih (identik dengan penghasilan neto) untuk dikenakan pajak. . Pengeluaran untuk penghasilan yang bukan merupakan objek pajak tidak boleh dibebankan sebagai biaya.PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK BADAN STRUKTUR PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK BADAN Prinsip dasar penentuan penghasilan kena pajak untuk wajib pajak badan tidak jauh berbeda dengan penentuan penghasilan kena pajak untuk wajib pajak pribadi yang mempunyai kegiatan usaha.

manajemen dan karyawan untuk memperoleh penghasilan.S. Permasalahan ini diantaranya penentuan pengeluaranpengeluaran apa yang dapat dibebankan sebagai biaya dan kapan pembebanan tersebut dapat dilakukan. The clear economic truth is that businesses and corporations don’t pay taxes. manajemen ataupun karyawan. n Pajak penghasilan perseroan menurunkan standar hidup masyarakat. Beberapa fakta berikut merupakan hal-hal yang disepakati oleh para ahli ekonomi: n Warga negara yang menanggung beban pajak penghasilan perseroan. 21 Mei 2001. O’Neill. they just collect them for the government .198 Bab 10: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan Demikian juga pengeluaran yang melebihi batas kewajaran karena adanya hubungan istimewa tidak boleh dibebankan sebagai biaya. ditambah dengan masalahmasalah lain yang khusus ada pada pengenaan pajak penghasilan kepada wajib pajak badan. Paul H. pajak penghasilan tidak boleh dikenakan kepada badan. Setiap industri memiliki kerumitan tersendiri sehingga sangat sulit untuk merancang suatu perlakuan pajak yang seragam untuk berbagai industri yang berbeda tersebut. menambah kerumitan dalam merancang pajak penghasilan badan yang adil dan efisien. n Pajak penghasilan perseroan merupakan praktek perpajakan berganda. U. baik investor. pernah mengemukakan suatu pendapat: “For a long time we’ve maintained what I think is clearly a fiction – the idea that somehow corporations and business pay taxes. Dengan adanya kerumitan hukum dari perseroan dan hubungan di antara mereka. Beberapa pengecualian permasalahan penghasilan yang muncul pada wajib pajak pribadi juga muncul pada wajib pajak badan. Sumber penghasilan dari korporasi hanya dapat dipajaki apabila didistribusikan dan dibelanjakan oleh penerimanya. Pernyataan ini adalah jawabannya atas pertanyaan: “Bidang-bidang apa saja yang anda pandang membutuhkan perbaikan? 1 .”1 Hal ini sejalan dengan pandangan para ahli ekonomi bahwa perseroan hanyalah lembaga atau unit yang mengumpulkan pajak untuk pemerintah. Jika konsumsi dijadikan basis pajak penghasilan. Dengan demikian. Wawancara terhadap Paul O’Neill.. suatu pajak penghasilan badan yang adil bukanlah pajak yang sederhana. Perseroan hanyalah alat ekonomi bagi para investor.. oranglah yang menanggung beban pajak pada akhirnya. PERLUKAH PERSEROAN DIKENAKAN PAJAK? Menteri Keuangan Amerika Serikat. banyak ahli ekonomi yang berpandangan bahwa perseroan sebaiknya tidak dikenakan pajak. Financial Times. Musgrave dan Musgrave (1989) berpandangan pada dasarnya berpendapat senada. Secretary of Treasury.

500. Bila tidak ada pajak penghasilan badan. Pandangan Integrasi Pandangan integrasi ini adalah pandangan yang paling diterima oleh para ahli ekonomi.000.000 hanya akan sebesar Rp2. ada dua pendapat dalam pengenaan pajak perseroan.000). Kedua. maka laba perseroan tersebut ketika didistribusikan dipajaki dua kali. pengenaan pajak pada perseroan sebaiknya diintegrasikan ke dalam pengenaan pajak penghasilan pribadi dari penerima penghasilan yang bersumber dari perseroan. Dengan demikian. pengenaan pajak kepada badan juga tetap dipertanyakan. Dalam hal ini.000.000. Pandangan lain yang berkembang di beberapa negara maju adalah mengintegrasikan penghasilan korporasi ke dalam pajak penghasilan individu. Ketiga. pertama pada tingkatan perseroan dalam bentuk pajak penghasilan badan. Misalkan. Bila mengenakan pajak pada laba perseroan. seorang wajib pajak . Ada beberapa argumentasi untuk mendukung pandangan ini.000.000. Pertama.000.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 199 Bila penghasilan digunakan sebagai basis pajak.000. Pandangan kedua ini yang digunakan oleh peraturan pajak penghasilan di Indonesia. pajak penghasilan yang dibayarkan pada penghasilan yang didistribusikan (dividen) sejumlah Rp10. Sisanya. Para penganut posisi integrasi memandang bahwa pajak pada akhirnya menjadi beban dari orang-orang pribadi. konsep keadilan. yang dikenakan pajak dengan tarif efektif sebesar 30% (atau sebesar Rp3. penghasilan harus dipajaki secara keseluruhan dalam konsep penghasilan global. dalam hal ini keadilan pajak hanya dapat diterapkan kepada pribadi. Kedua pajak penghasilan perseroan sebagai pajak “absolut” terhadap penghasilan bersumber dari korporasi.000 didistribusikan sebagai dividen kepada A. dan berikutnya pada tingkatan pribadi sebagai dividen dalam perhitungan pajak penghasilan pribadi. Bagiannya pada laba suatu perseroan yang sahamnya ia miliki adalah Rp10. Pertama. tanpa memperdulikan dari mana sumbernya. sebesar Rp7.750. pengenaan pajak pada perseroan harus dipandang sebagai satu cara memasukkan semua penghasilan yang bersumber dari perseroan ke dalam basis pajak penghasilan pribadi. Oleh karena itu. jumlahnya menjadi Rp4. seorang wajib pajak A adalah serorang wajib pajak dengan penghasilan besar sehingga membayar pajak penghasilan pribadi pada tarif pajak 25%.000.000.750. Berikutnya. pada akhirnya pajak harus menjadi beban pribadi. Apabila kedua pajak ini digabungkan.250. ada “kelebihan pajak” sebesar Rp1. Badan (dalam hal ini perseroan) dikenakan pajak dan tidak dapat dikreditkan terhadap pajak penghasilan pribadi atas penghasilan dividen. yang kemudian akan membayar pajak atasnya sebesar Rp1.

pajak tambahan ini tidak adil bila ditinjau dari sudut pandang penganut integrasi. praktek yang sesuai dengan pengenaan pajak penghasilan dengan sistem integrasi. sebagaimana paham tidak ada pajak tanpa perwakilan. Beban pajak B lebih besar daripada beban pajak A. yang berpenghasilan kecil sehingga membayar pajak penghasilan pribadi pada tarif pajak 15%. telah dikenakan pajak yang terpisah dan absolut. pajak tambahan sebagai persentase dari total penghasilan akan lebih besar bagi A daripada bagi B.200 Bab 10: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan B. sebagai entitas yang terpisah. Dengan demikian. Dengan tidak mengintegrasikan penghasilan.000. perseroan juga mempunyai kapasitas membayar pajak tersendiri. sebaiknya pajak perseroan digantikan dengan pemungutan pajak pribadi atas sumber penghasilan dari perseroan. pajak gabungan sama dengan Rp3. Perseroan adalah pelaku ekonomi yang memiliki kekuatan besar dalam pengambilan keputusan ekonomi dan sosial melalui pengelolaan para profesional manajemen yang tidak secara langsung dikendalikan oleh pemegang saham secara individu.000. Oleh karena itu. perseroan adalah kekuatan ekonomi dalam suatu negara Perseroan yang dimiliki publik secara luas – merupakan wajib pajak besar yang menjadi sumber terbesar penerimaan pajak negara – bukan hanya instrumen untuk penghasilan pribadi. Pada kenyataanya sebagian dari laba korporasi setelah pajak ditanamkan kembali pada operasi perusahaan sebagai tambahan pada laba yang ditahan. Apakah laba setelah pajak .050. Baginya.000. sebagai wajib pajak yang berpenghasilan besar dan mempunyai banyak investasi menyebabkan proporsi dividen terhadap total penghasilan lebih besar pada wajib pajak A daripada pada wajib pajak B.050. Pajaknya berdasarkan sistem integrasi hanya akan sebesar Rp1. atau sebesar Rp4.000 ditambah Rp1.550. sebab semua penghasilan (termasuk yang diperoleh dari sumber perseroan) harus dipajaki dengan tarif yang sama. Laba yang tidak dibagikan ini tidak diperhitungkan sebagai penghasilan pemegang saham sehingga tidak dikenakan pajak dua kali.000.000.500. Walaupun. Pandangan Absolut Pandangan absolut memiliki pandangan yang berlawanan dengan pandangan integrasi. Perseroan adalah entitas legal yang memiliki keberadaan sendiri. sistem pajak di Indonesia memberikan tambahan beban pajak dan beban pajak atas penghasilan yang bersumber dari perseroan lebih besar bagi pemegang saham kecil yang pajak penghasilan pribadinya sebenarnya lebih kecil. sehingga ada kelebihan pajak sebesar Rp2. Walaupun perseroan bukan merupakan individu yang memiliki hak suara dalam pemilihan.

maka tujuan dari para penganut absolutisme untuk membebankan pajak tambahan pada penghasilan yang bersumber dari korporasi tidak akan tercapai. sehingga membutuhkan kebijakan pengaturan (termasuk pengaturan pengenaan pajak) tersendiri pada tingkatan korporasi daripada tingkatan pemegang saham. Tidak ada alasan mengapa para pemegang saham harus membayar pajak tambahan atau diberikan perlakuan khusus. seluruh pajak harus dibebankan pada orang. alat-alat pajak dapat berguna pada situasi-situasi tertentu untuk tujuan peraturan perundang-undangan tersebut. Ada pendapat yang menyatakan bahwa kemampuan ini adalah kemampuan untuk membayar pajak tanpa mengalami kebangkrutan atau mengganggu operasinya. Selain itu. Perseroan memang bertindak sebagai unit-unit pengambilan keputusan. Pada akhirnya. Secara rasional. Pandangan absolutisme mendasarkan pada asumsi bahwa beban pajak dikenakan atas laba dan tidak digeserkan kepada pihak lain yaitu para pelanggan atau pekerja. Laba perseroan merupakan bagian penghasilan para pemegang saham untuk alasan tambahan kemampuan ekonomis. Perseroan cenderung tidak membagikan laba untuk menghindari pengenaan pajak berganda. yang apabila dibagikan kepada . Bila terjadi penggeseran beban pajak. Para ekonomi juga telah membuktikan dengan berbagai riset bahwa praktek pengenaan pajak menurut pandangan absolut telah menimbulkan distorsi dalam perekonomian. Pajak ini dikatakan inferior karena tarif implisit dari pajak penjualan atau upah tidak memiliki korelasi yang jelas dengan rasio [marjin] laba atas penjualan atau rasio laba atas upah dari perseroan. Pajak penghasilan atas perseroan telah menjadi pajak penjualan atau pajak atas upah yang inferior dan arbiter. harus dipajaki sebagai bagian dari penghasilan mereka. pandangan absolut atau yang disebut juga pandangan klasik ini mempunyai dukungan yang sangat kuat untuk alasan bahwa perseroan adalah keberadaan yang memiliki kekuatan ekonomi dan sosial. yang terpisah dan seringkali tidak begitu jelas kaitannya dengan keinginan para pemegang saham. Alasan pengenaan pajak pada perseroan karena lembaga ini memiliki kemampuan membayar pajak sendiri dan oleh karenanya harus dikenakan pajak terpisah. tanpa landasan rasional dalam suatu struktur pajak yang adil.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 201 yang diperoleh akan dibagikan atau ditahan tidaklah relevan dalam konteks ini. Konsep kapasitas membayar yang digunakan dalam pendapat ini lebih berkaitan dengan efek ekonomi dari pajak bukannya kemampuan untuk membayar yang digunakan dalam konteks keadilan pajak. Maka kemampuan untuk membayar ini sulit untuk diaplikasikan pada perseroan.

pemerintah daerah lebih berhak untuk mengenakan pajak. dan lain-lain. Pertama berkaitan dengan tingkatan pemerintahan mana yang harus mengenakan pajak. Dengan demikian. Perseroan dapat diminta untuk membayar pajak karena menerima manfaat dari berbagai layanan pemerintah. Perseroan yang memiliki hak melakukan berbagai kegiatan berdasarkan kewajiban terbatas. Besarnya pajak akan bervariasi sesuai dengan nilai layanan yang . Pertimbangan Manfaat Pemerintah dapat mengenakan pajak kepada siapapun dan apapun yang memperoleh manfaat dengan adanya pemerintahan.202 Bab 10: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan investor mungkin dapat mereka gunakan untuk investasi-investasi yang lebih menguntungkan. cara yang lebih rasional adalah menerapkan pajak umum atas kegiatan bisnis bukannya menerapkannya dengan menggunakan pajak penghasilan badan saja. ada alasan-alasan lain yang dapat mendukung keberadaan pajak tersebut sehingga pajak tersebut diberlakukan seperti sekarang ini. Dengan demikian. Hak ini tentu saja sangat berharga bagi korporasi. Walaupun pajak dapat dikenakan kepada perseroan atas dasar manfaat. tidak hanya dinikmati oleh perseroan. bukannya untuk membebani manfaat yang tidak menimbulkan biaya. membantu transaksi-transaksi keuangan. Alasan-Alasan Lain Mengenakan Pajak kepada Perseroan Walaupun pandangan absolut atau klasik tidak dapat memberikan argumentasi yang kuat untuk mengenakan pajak atas perseroan berdasarkan prinsip kemampuan untuk membayar. apa basis yang tepat digunakan untuk mengenakan pajak tersebut. Pemerintah daerah menyediakan sebagian besar layanan publik yang memberikan manfaat kepada bisnis. Kedua. Walaupun ada beberapa biaya pemerintah yang dikeluarkan dalam kaitannya dengan keberadaan perseroan secara khusus. Tujuan dari pajak atas manfaat adalah mengalokasikan biaya pemberian layanan publik kepada yang menerima manfaat. Ada dua hal yang harus diputuskan. Akan tetapi. biaya-biaya ini hanyalah faktor yang minor dan sulit untuk dijadikan alasan untuk mendukung pengenaan suatu pajak penghasilan. Akan tetapi sebagian dari layanan ini. Layanan-layanan tersebut misalnya memberi manfaat kepada perseroan dengan cara mengurangi biaya. memperluas pasar. tetapi juga oleh berbagai bentuk organisasi lainnya. lembaga yang memiliki kewajiban terbatas ini tidak membebani masyarakat oleh karenanya tidak layak dikenakan pajak atas manfaat yang didapat dari haknya.

Jika ukuran umum yang digunakan. total biaya yang dikeluarkan pada daerah operasi lebih tepat digunakan sebagai ukuran keseluruhan. Musgrave dan Peggy B. op.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 203 diberikan. § Jika ada keinginan untuk membatasi ukuran absolut atau besarnya perusahaan (yang tidak sama dengan membatasi monopoli atau pangsa pasar). Tujuan-tujuan Peraturan Perundang-Undangan Berbagai alasan lain dikemukakan untuk mengenakan pajak penghasilan kepada perseroan. Pengendalian ini memerlukan suatu pajak yang lebih kompleks. Semua alasan ini didasarkan pada pandangan bahwa pajak adalah instrumen pengendali berkaitan dengan tingkah laku korporasi. dengan nilai tambah (termasuk laba dan biaya-biaya faktor lainnya) sebagai kemungkinan kedua. Walaupun ukuran yang besar tidak diinginkan. yang berkaitan dengan tingkat pembatasan monopolistik. hal. Progresivitas akan digunakan untuk memberlakukan diskriminasi terhadap perusahaan besar dan membatasi apa yang dianggap sebagai akibat-akibat sosial yang tidak diinginkan dari perusahaan-perusahaan besar. cit. Musgrave. Musgrave dan Musgrave (1989) menjelaskan alasan-alasan peraturan perundang-undangan tersebut sebagai berikut:2 § Pengendalian terhadap monopoli telah dilakukan dengan menggunakan alat peraturan perundang-undangan. jumlah pegawai dan menunjukkan input untuk pengeluaran sekolah umum. Alasan progresivitas tentu saja bukanlah kemampuan untuk membayar seperti pada pajak penghasilan pribadi. Dengan demikian. bukannya sesuai dengan jumlah laba yang dihasilkan. bentuk pajak atas perseroan yang tepat bergantung pada tujuan kebijakan tertentu yang akan dicapai. nilai properti akan lebih tepat menunjukkan nilai layanan pemadam kebakaran. Pengendalian ini tentu saja tidak akan menggunakan pajak umum atas laba. transportasi akan menunjukkan layanan jalan raya. Pengendalian ini membutuhkan pajak bisnis yang progresif. Oleh karena itu. tetapi pendekatan pajak dapat digunakan. 374-375. 2 Richard A. suatu pajak dapat digunakan untuk mencapai tujuan ini. yang tidak akan efektif untuk mengoreksi tingkat laku monopolistik. Perusahaan-perusahaan besar dapat dimiliki oleh investor-investor kecil dan perusahaan-perusahaan kecil dapat dimiliki oleh investor-investor kaya. dan sebagainya. Pertanyaan berikutnya adalah apakah pajak tersebut sebaiknya dikenakan pada laba dan bukannya ukuran aset atau penjualan. ..

seperti krisis harga minyak dan pelepasan kendali atas harga minyak. distribusi dividen perlu didukung sedangkan menahan laba perlu dihindari. Alternatif kebijakan lain. Tujuan ini dapat dicapai dengan mengenakan pajak atas laba yang tidak dibagi dan mengecualikan laba yang dibayar sebagai dividen. yang berbeda dari saving korporasi. Walaupun kelihatannya baik secara prinsip. yang memunculkan pengenaan pajak atas laba tak terduga dari kenaikan harga minyak. SIAPA YANG MENANGGUNG BEBAN PAJAK? . Tujuan ini dapat dicapai dengan mengenakan pajak atas dividen yang dibayarkan dan mengecualikan laba yang ditahan. Suatu situasi lain yang berbeda di mana pajak atas kelebihan laba secara selektif dapat dikenakan karena krisis tertentu. sehingga memunculkan masalah yang sulit dalam hal menentukan tarif berapa yang cocok untuk setiap industri. pajak atas kelebihan laba sulit diadministrasikan karena kelebihan laba tidak mudah didefinisikan. § Suatu pajak atas kelebihan laba dapat dikenakan pada periode-periode krisis (seperti perang) ketika diperlukan pengendalian langsung atas upah dan harga. dalam hal ini disparitas risiko dapat terlewatkan. § Sebagai stimulus bagi formasi modal dan pertumbuhan. suatu tingkat pengembalian standar. Kelebihan laba tersebut harus diukur dengan membandingkannya dengan periode dasar. pajak korporasi dapat digunakan untuk memberikan insentif atau disinsentif investasi. saving korporasi perlu didukung dan distribusi dividen perlu dibatasi. § Terakhir. atau. Alat-alat seperti penyusutan dipercepat dan kredit pajak investasi dapat digunakan untuk tujuan ini dan juga dapat diterapkan secara siklus atau pada saat-saat tertentu.204 Bab 10: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan itu bukan alasan memberikan penalti kepada perusahaan besar yang menguntungkan. Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa instrumen pajak digunakan untuk mengendalikan tingkah laku perseroan dalam berbagai situasi akan tetapi bentuk pajaknya bukanlah pajak atas laba. tetapi akan muncul ketidakadilan karena perbedaan posisi awal. dan pajak atas kelebihan laba merupakan alat-alat yang berguna dalam kaitannya dengan situasi ini. Pembatasan atas upah dalam kondisi seperti ini tidak dapat diterapkan secara efektif tanpa juga membatasi laba. dalam rangka mendukung berfungsinya pasar modal atau meningkatkan pengeluaran konsumsi.

Demikian juga. Oleh karena itu. jika penjualan yang dimaksimalkan. Demikian juga. dan marjin laba perseroan. sesuai dengan model kompetitif. Kemungkinan yang tersisa adalah mempelajari pengalaman sektor perseroan dan bagaimana berbagai komponen dalam sektor perseroan menanggapi perubahan pajak. Pendekatan inipun tidak dapat menghasilkan pemahaman yang cukup jelas karena perubahan tarif pajak tidak sering terjadi. Hasil penelitian di Amerika Serikat yang berkaitan dengan perubahan tarif pajak dalam rangka menguji adanya pemindahan beban pajak menunjukkan hasil yang berbeda-beda yang konsisten dengan hipotesa pemindahan maupun . Berbagai pemahaman dapat diperoleh dari memeriksa perubahan-perubahan harga yang terjadi dan membandingkan posisi-posisi relatif beberapa sektor sebelum dan sesudah perubahan pajak. Hal ini tidak dapat dilaksanakan dalam dunia nyata karena pajak diterapkan pada semua perseroan dengan tarif efektif yang sama. yaitu penentuan harga bukan berdasarkan mekanisme pasar. Pemindahan beban dengan cara penyesuaian administered pricing (dibedakan dengan pemindahan beban karena perpindahan faktor dan perubahan pasokan faktor dalam pasar yang kompetitif) dapat terjadi. termasuk tingkat pengembalian dari pemegang saham korporasi. Apabila tarif pajak perseroan berbeda antar industri. Hal ini dapat dilakukan bila perusahaan dalam situasi monopoli. Beberapa industri yang menggunakan administered pricing. Dalam situasisituasi tersebut. bila pasar tenaga kerja tidak sempurna. Para pelaku bisnis sering memiliki pandangan berbeda dan mereka memandang bahwa pajak adalah biaya yang harus dipindahkan pembebanannya kepada pihak lain. pajak yang tinggi dapat dipindahkan kepada tenaga kerja dengan ditunjukkan pada keterbatasan daya tawar tenaga kerja pada perundingan dengan manajemen. Hal yang sama juga berlaku pada pasar tenaga kerja yang terorganisir. Hal ini merupakan pandangan yang tepat bila semua pasar beroperasi untuk memaksimalkan laba sehingga pemilik modal tidak dapat memindahkan beban pajak tersebut kepada pihak lain tanpa biaya. perolehan jawabannya akan cukup sederhana. perusahaan akan berusaha memindahkan beban pajak dengan menaikkan harga. siapa yang menanggung beban pajak bergantung pada struktur dan tingkah laku pasar yang ada. atau bila aturan harga lainnya yang berubah. bagian laba perseroan dalam nilai tambah pada sektor perseroan.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 205 Sebagian besar ahli ekonomi memandang beban pajak penghasilan badan jatuh kepada pemilik modal. pembandingan antara tingkat pengembalian dari investasi pada perseroan dan non-perseroan sulit dilakukan karena ketidaktersediaan data pada usaha-usaha non-perseroan. Ada banyak upaya telah dilakukan pada tahun-tahun terakhir untuk memberikan bukti tentang ini.

tingkat inflasi. kredit investasi. Hal ini terjadi karena banyaknya faktor-faktor nonpajak yang mempengaruhi hasil penelitian sehingga penelitian tidak dapat menunjukkan siapa sebenarnya yang menanggung beban pajak. Dengan memasukkan tarif pajak korporasi. yang dirancang untuk mengisolasi pengaruh pajak penghasilan perseroan. seperti tingkat permintaan konsumen. pengeluaran pemerintah. utilisasi kapasitas. Pada kenyataannya. yang terpenting adalah tarif pajak efektif bukannya tarif pajak nominal. Teknik ekonometrik yang lebih baik dikombinasikan dengan penggunaan data yang kurang agregatif mungkin dapat memberikan hasil yang lebih baik. dan berbagai faktor yang tidak dapat dinilai dengan jelas. Beberapa studi lainnya mengindikasikan hasil yang sebaliknya. Analisis ekonometrik tidak mampu secara bulat memisahkan pengaruh pajak dari beberapa perubahan yang terjadi secara bersamaan dalam pengeluaran publik. sehingga mengarahkan kepada hipotesa pemindahan beban pajak. dan tarif pajak korporasi.206 Bab 10: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan hipotesa non-pemindahan. akan tetapi masalah ini masih kontroversial. Tarif pajak efektif ini bergantung pada aturan penyusutan. para analis berharap menggunakan koefisien regresi dari variabel ini untuk mengukur pengaruh perubahan tarif pada tingkat pengembalian. Penyesuaian-penyesuaian apa saja yang harus diberlakukan dalam struktur pajak agar terjadi integrasi pajak perseroan dan pajak pribadi. INTEGRASI PAJAK Apabila pandangan bahwa pajak penghasilan perseroan diintegrasikan ke dalam pajak penghasilan pribadi adalah yang lebih diinginkan. Beberapa studi mengindikasikan adanya pemindahan beban pajak yang cukup tinggi. kondisi ekonomi dan faktor-faktor lain. Dan juga. Satu jenis penelitian menggunakan model bahwa tingkat pengembalian korporasi adalah suatu fungsi dari berbagai variabel yang telah ditentukan sebelumnya. Integrasi Lengkap Integrasi lengkap adalah pendekatan pengenaan pajak penghasilan dengan mengintegrasikan seluruh bagian pendapatan dari perseroan. Berbagai studi telah dilaksanakan dalam beberapa tahun terakhir. muncul pertanyaan bagaimana cara mengintegrasikan penghasilan perseroan ke dalam penghasilan pribadi. baik yang . tarif pajak itu sendiri merupakan konsep yang kompleks. Pendekatan lain untuk mengukur adanya pemindahan beban pajak adalah dengan menggunakan pendekatan ekonometrika.

. Saat menerima Surat Tagihan Pajak (STP). ke dalam penghasilan pribadi dari sumber-sumber lain yang selama ini telah dilaporkan dalam SPT..." Pajak bukan hanya masalah yang membebani perusahaan.. Ingat baik-baik bahwa ini sangat mungkin. Coba kita perhatikan kapan munculnya masalah perpajakan yang sering membuat pusing kepala. wrong place. perseroan akan memberitahukan kepada para pemegang saham berapa bagian laba yang tidak dibagikan yang menjadi bagian mereka untuk ditambahkan ke dalam kekayaan mereka. Pemegang saham kemudian akan memasukkan jumlah ini ke dalam perhitungan laba kena pajak dalam SPT." Dalam tataran dunia pajak para pakar perpajakan cenderung menyetujui dogma itu. Ada dua metode pengenaan pajak yang menggunakan integrasi lengkap. Saat diperiksa. Untuk mendapatkan informasi mengenai besarnya penghasilan dari laba yang tidak dibagikan sebagai dividen. Wrong time..... Bayangkan keadaan tak terduga ini..Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 207 dibagikan (diterima sebagai dividen) maupun yang tidak dibagikan (dalam bentuk akumulasi laba ditahan pada perseroan). saat menerima Surat Ketetapan Pajak (SKP). baik yang dibagikan sebagai dividen maupun tidak dibagikan sebagai dividen. pendekatan ini harus memberikan perlakukan yang sama atas bagian laba dari perseroan yang tidak dibagikan dengan bagian laba perseroan yang dibagikan (dividen).. jika Benjamin Franklin mengatakan "in this world. di . Padahal dalam konteks hukum. "Orang pajak tidak pernah salah.. sehingga laporan keuangan yang baru menjadi laba 20 milyar. Apabila pendekatan integrasi lengkap yang dipilih.. Metode Firma Metode ini memperhitungkan bagian laba dari perseroan yang menjadi hak pemegang saham ke dalam penghasilan pribadi pemegang saham. nothing is certain except death and taxes.. Anda dikenai sanksi perpajakan. Metode pertama disebut metode firma (partnership) yang memperhitungkan bagian laba seorang wajib pajak (investor) dari laba perseroan ke dalam penghasilan pribadinya dan dikenakan pada pajak penghasilan pribadi wajib pajak tersebut. sampai peraturan pajak mengatakan yang sebaliknya. Metode kedua adalah metode laba modal yang mengenakan pajak atas laba modal sepenuhnya (baik yang direalisasikan maupun yang belum direalisasikan). Perusahaan Anda merugi sampai 100 milyar rupiah.. Anda bahkan mungkin akan berhadapan dengan wrong people. atau bahkan saat orang pajak datang atau menghubungi Anda. Anda tidak berhak atas kompensasi kerugian. Anda harus membayarnya segera.... masalah perpajakan akan muncul di saat-saat yang tidak tepat. metode depresiasi perusahaan Anda di-adjust. 1000 Alasan untuk Pajak. Dalam prakteknya. saat menerima Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan Pajak (SPHP). Tidak salah. dalam banyak kasus bahkan bisa menjadi hidup dan matinya perusahaan. Anda harus membayar pajak tambahan. Biasanya..

000 ke dalam penghasilan kena pajaknya.500.000. Itu sebabnya. ia harus menyetor kekurangan setoran pajak sebesar Rp1. Sumber itu.000. 1000 Alasan untuk Pajak (Lanjutan.000.500. Dalam sejarah internasional. yang biasa berlaku adalah asas praduga tidak bersalah. seorang pemegang saham memperoleh pemberitahuan dari perseroan yang sahamnya dimilikinya bahwa bagian labanya atas laba suatu perseroan adalah sebesar Rp10. pemegang saham akan melaporkan jumlah penghasilan brutonya dari perseroan sebesar Rp10.000. rakyat (termasuk dunia usaha) lah yang pada akhirnya menjadi tumpuan. Bila atas penghasilan tambahan ini tarif pajak marjinalnya adalah 30%. Praktek pemotongan pajak (withholding) juga dapat diterapkan dalam metode firma ini dengan menunjuk perseroan sebagai pemungut pajak.500. jelas tidak bisa diandalkan dari bentuk-bentuk usaha yang diupayakan oleh pemerintah atau negara sendiri.000 setelah mengkreditkan Rp1. pada . pajak muncul dari kebutuhan akan perlunya sumber dana yang terjamin untuk menjalankan fungsi-fungsi pemerintahan atau kenegaraan. Misalnya. ia berhak mendapatkan restitusi pajak sebesar Rp500.000. sekalipun pada prakteknya berbagai pungutan (yang waktu itu disebut dengan upeti) ini lebih termanfaatkan untuk kepentingan pribadi raja atau keluarganya.000.000. Dengan demikian.000. Misalnya. perseroan tidak saja melakukan pemotongan dan pemungutan pajak terhadap gaji. Apabila pemegang saham tersebut hanya dikenakan pajak marjinal sebesar 10% maka beban pajaknya hanya sebesar Rp1. Anda diistilahkan dengan sebutan Wajib Pajak………………. tarif pemotongan pajaknya 15 persen. Dengan melaporkan penghasilan laba pada jumlah kotornya ini. tetapi juga terhadap bagian laba dari perseroan yang tidak dibagikan. Anda tidak bisa lagi menghindari dari pajak.000. konsep itu tidak berlaku.500. Maka. sehingga pemegang saham mendapatkan sisanya sebesar Rp8. Dengan demikian.. Sejarah dunia tax management menggeser konsep dasar dari "minimalisasi pajak" menjadi "optimalisasi pajak". maka besarnya pajak penghasilan atas penghasilan ini adalah sebesar Rp3. Lihatlah perangkat aturan perpajakan yang diberlakukan sekarang dan di masa depan.208 Bab 10: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan mana pajak juga merupakan produk hukum.000 yang dipotong oleh perseroan sebagai sumber penghasilan. sumber itu harus berasal dari luar pemerintahan atau negara.000.) Satu hal yang pasti adalah fakta bahwa ruang gerak bagi perusahaan sebagai wajib pajak. Di zaman feodalisme dan penjajahan.. Perseroan akan memotong dan memungut pajak kepada pemegang saham tersebut. Berapapun besarnya dividen yang diterimanya dari perseroan tersebut. Sehingga. pemegang saham akan membayar pajak sesuai dengan tarif pajak marjinalnya.. Karena ia telah dipotong sebesar Rp1. upah dan dividen. Dalam perpajakan. telah dan akan menjadi makin sempit jika hanya berorientasi pada upaya menghindari pajak.

laba modal (capital gain) yang berasal dari kenaikan nilai kepemilikan akibat tidak membagikan laba harus dikecualikan dari pengenaan pajak penghasilan. Oleh karena itu. kebutuhan itu ditransformasi ke bentuk-bentuk pemupukan yang lebih lunak. metode ini umumnya diusulkan sebagai prosedur standar dalam perhitungan pajak penghasilan oleh para ahli pajak. Tidak ada lagi penjajahan secara eksplisit (mungkin yang ada sekarang adalah eksploitasi. 7 Juni 2005). menjadi bentuk-bentuk pemupukan yang tetap memaksa akan tetapi dengan cara yang lebih manusiawi. bila digabungkan dengan pendekatan pemotongan pajak.com. Karena dirasa cukup adil. Akan tetapi. Tidak ada pembunuhan. Berdasarkan prinsip realisasi. Diskusikan bagaimana konsep perpajakan dapat diterapkan secara lebih manusiawi! Dengan cara ini. otoritas pemerintahan mencoba untuk tetap mengandalkan pembiayaan roda pemerintahan dengan menggali sumber-sumber dari rakyat secara langsung. yang dapat dibayar dengan .Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 209 prakteknya ia tetap digunakan untuk membiayai roda pemerintahan atau bahkan kelanggengan dinasti kerajaan. sifat memaksanya tetap terabadikan akibat karakteristik pendanaan operasi pemerintah dan negara yang masih tidak mungkin dipenuhi oleh negara atau pemerintah sendiri. wajib pajak hanya akan dikenakan pajak bila ia memperoleh penghasilan. tetapi tidak begitu meyakinkan.indodigest. (Diadaptasi dari: Green version of 1000 Alasan untuk Total Tax Awareness. Hal ini dilakukan dengan mentransformasi pajak dan pungutan lain dari pola-pola yang kejam dan tak berperikemanusiaan. Karena pajaknya telah dikenakan ketika laba dihasilkan. Caranya adalah basis harga pokok untuk menentukan laba modal dari penjualan investasi harus ditambahkan dengan jumlah yang sama dengan bagian dari pemegang saham tersebut atas kenaikan laba yang tidak dibagi selama masa kepemilikan investasi tersebut. Di satu sisi. Pada era modern. sebagian besar dari beban pajak telah dibayarkan ketika dipotong oleh perseroan sehingga menimbulkan masalah likuiditas pada pemegang saham. Akan tetapi. tidak adil bila memasukkan laba yang ditahan ke dalam penghasilan kena pajak pribadi. Keberatan ini sama dengan yang dikemukakan dalam pembahasan pajak atas laba yang belum direalisasikan. pemaksaaan. Maka. perampokan dan bahkan pembunuhan. bahkan makin tumbuh menjadi besar dan bergeser menjadi semacam kemutlakan khususnya pada tataran ideologi demokrasi. Sebenarnya. Hanya saja. Pertama. metode ini memiliki beberapa kesulitan dalam penerapanya. kebutuhan itu tidak berubah. sejalan dengan makin majunya kebudayaan dan peradaban manusia. http://www. tidak ada kekejaman fisik atau penganiayaan. yang sebenarnya bermakna sama). Sisanya baru akan menjadi beban apabila tarif pajak marjinal yang dikenakan kepada pemegang saham melebihi tarif pemotongan. kita bisa memaklumi bagaimana istilah upeti sangat identik dengan kekejaman. metode ini membuat wajib pajak harus membayar pajak padahal ia tidak menerima penghasilan tersebut dalam bentuk yang dapat digunakan untuk membayar pajak. pemegang saham seolah-olah merupakan anggota persekutuan suatu firma.

Kedua. Pengenaan pajak terhadap penghasilan laba modal secara periodik dapat digabungkan dengan pajak penjualan ketika terjadi pemindahan aset. pendekatan ini tidak mungkin diterapkan secara praktis untuk perseroan non-publik yang sahamnya tidak diperdagangkan. . Pendekatan ini juga akan memunculkan kesulitan-kesulitan lain berkenaan dengan kebijakankebijakan pemberian insentif perpajakan. seperti kredit pajak atas investasi. Karena para pemegang saham bertransaksi saham secara cepat di pasar modal. Karena perseroan tidak dikenakan pajak. Karena pajak penghasilan tidak dikenakan atas perseroan. akan tetapi karena para pemegang saham perseroan ini memiliki pengendalian yang besar terhadap perusahaan. mereka dapat memaksa perseroan untuk meningkatkan pembayaran dividen untuk mendapatkan kas yang dibutuhkan. Metode Laba Modal Cara lainnya untuk mencapai integrasi sepenuhnya dengan mengenakan pajak penghasilan terhadap seluruh capital gain (termasuk yang belum direalisasikan) yang dikombinasikan dengan penghapusan pajak penghasilan atas laba perseroan. sedangkan bagian yang tidak dibagikan akan muncul sebagai penghasilan laba modal. Integrasi dengan metode partnership tidak menyederhanakan administrasi pajak bahkan mungkin akan menambah kerumitan administrasinya. timbul kesulitan untuk mengalokasikan bagian laba di antara mereka. Padahal manajemen pada umumnya adalah pembuat keputusan investasi.210 Bab 10: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan menjual sebagian saham yang dimilikinya. maka insentif pajak harus dirancang pada tingkatan pemegang saham atau sebagai subsidi langsung kepada perseroan. permasalahan-permasalahan dapat saja diatasi dengan berbagai cara bila usaha pengintegrasian penghasilan bersumber dari laba perseroan ke dalam penghasilan pribadi serius untuk dilakukan. tidak ada penentuan laba kena pajak untuk perseroan. Metode ini tidak menghilangkan pengenaan pajak penghasilan atas perseroan itu sendiri sebagai suatu badan hukum khusus. Manajemen tidak akan bereaksi terhadap pemberian insentif tersebut karena insentif tersebut hanya akan dinikmati manfaatnya oleh pemegang saham. Walaupun demikian. Bagian yang dibagikan kepada pemegang saham akan muncul dalam penghasilan pemegang saham sebagai penghasilan dividen. Perlu diingat bahwa metode firma hanya mengintegrasikan penghasilan dari laba perseroan. Pendekatan firma juga dipandang tidak praktis diterapkan pada perusahaan publik yang besar dengan kepemilikan yang menyebar luas. Pemberian insentif tersebut dapat menjadi tidak efektif.

paling tidak secara parsial. di AS sebelum tahun 1986. dividen sebesar maksimal $200 tidak dikecualikan lagi dari penghasilan dan tarif pajak atas perseroan disamakan dengan tarif pajak untuk pajak penghasilan pribadi. Hutang versus Modal Saham Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya. dividen yang dibayarkan sebagai perseroan. tidak dikurangkan dari penghasilan kena pajak perseroan. pendapatan dividen maksimal sebesar $200 dikecualikan dari penghasilan kena pajak. keringanan ini diberikan dalam bentuk pengecualian dan bukannya kredit pajak. Cara ini dipandang mendekati perlakuan yang terintegrasi untuk laba yang tidak dibagi. mengurang progresivitas pajak penghasilan itu sendiri. peraturan pajak penghasilan “meminjam” praktek-praktek perhitungan penghasilan (laba) dari akuntansi perusahaan. bukannya sumber permodalan. pada beberapa negara maju. Akan tetapi. terjadi ketidakkonsistenan pengenaan pajak antara sumber modal dari hutang dan dari saham. Bunga yang dibayar oleh perseroan atas dana yang diperolehnya melalui utang dikurangkan dari penghasilan kena pajak ketika memperhitungkan pajak penghasilan badan. Misalnya. Akibatnya. Berikut ini beberapa contoh atas permasalahan pajak tersebut. Di sisi lain. integrasi sepenuhnya belum dapat diterima sebagai suatu pendekatan dalam penentuan penghasilan kena pajak. manfaatnya dari insentif ini oleh penerima dividen akan meningkat proporsional dengan tarif pajak marjinalnya. ASPEK-ASPEK KHUSUS DEFINISI BASIS PAJAK Permasalahan-permasalahan pada keuangan perseroan. tetapi “pajak berganda” tetap berlaku bagi dividen. sehingga wajib pajak yang berpenghasilan besar akan memperoleh keuntungan yang lebih besar. Akan tetapi. Sejak tahun 1986.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 211 Integrasi Parsial Sampai sekarang. karena ketiadaan definisi penghasilan yang ilmiah dan konsisten. Karena akuntansi perusahaan menekankan pada penentuan laba dari pemegang saham. Bunga diperlakukan sebagai biaya bisnis. sehingga permasalahan-permasalahan desain pajaknya pada perseroan tentu saja lebih rumit daripada wajib pajak pribadi. muncul praktek-praktek yang mencoba pendekatan integrasi ini. seperti juga pembayaran gaji dan upah. lebih rumit daripada keuangan pada wajib pajak pribadi. dapat dipandang sebagai pembayaran kepada pemegang saham atas penggunaan dananya. .

Ketika biaya entertainment dapat dikurangkan dari penghasilan. Berdasarkan penelitian-penelitian di bidang manajemen keuangan. Bila berinvestasi. Walaupun ada perlakuan buruk peraturan pajak terhadap sumber permodalan saham. Pembayaran dalam Bentuk Natura dan Biaya Entertainment Pembayaran dalam bentuk natura dan biaya entertainment merupakan topik yang banyak dibahas. Bila meminjamkan. Ketika perusahaan pada periode-periode awal. Hal ini sama saja dengan pemberian subsidi kepada kegiatan-kegiatan (dibiayai dengan biaya entertainment) yang sebenarnya tidak layak untuk memperoleh subsidi publik. Dengan demikian. Pendekatan integrasi lengkap akan mengembalikan netralitas perlakuan pajak terhadap sumber-sumber permodalan ini. netralitas dicapai dengan cara (1) memperluas cakupan “pajak berganda” dengan tidak membolehkan pengurangan biaya bunga pada pajak penghasilan badan (2) mengurangi cakupan “pajak berganda” dengan membolehkan pengurangan “bunga yang diperhitungkan” atas modal ekuitas dalam pajak penghasilan badan.212 Bab 10: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan Dengan tidak adanya integrasi penghasilan perseroan ke dalam penghasilan pribadi. penyedia modalnya adalah pemiliknya yang tentu saja menginvestasikan dalam bentuk ekuitas. Dengan membayar dalam bentuk natura daripada dalam bentuk kas. pendapatan bunga hanya dikenakan dalam pajak penghasilan pribadi. penyebab utama fenomena ini adalah mudahnya perseroan mendapatkan pendanaan dari sumber modal. karena bunga yang dibayarkan dapat dikurangkan dari laba kena pajak. Distorsi yang sama muncul dari pihak manajemen. Ketika perusahaan sudah maju dan berkembang. dalam hal pembayaran dalam bentuk natura terjadi subsidi publik pada wajib pajak yang menerima pembayaran dalam bentuk natura tersebut. praktek pajak ini memunculkan insentif bagi penyedia dana untuk memberikan pinjaman daripada melakukan investasi saham/modal. perseroan telah membantu pengawainya . Jika integrasi lengkap tidak dijalankan. pada kenyataannya sebagian besar modal perseroan berasal dari modal saham. Demikian pula. dividen dikenai “pajak berganda”. perusahaan ini akan mengandalkan pendanaan dari laba perusahaan yang tidak dibagikan. akibatnya beban untuk pengeluaran tersebut yang dirasakan oleh perseroan akan berkurang sebanyak 30 persen karena tidak dikenakan pajak (dengan asumsi pajak marjinal perseroan pada tarif tertinggi. yaitu 30 persen). Mereka akan lebih memilih pendanaan hutang. sedangkan laba atas modal ekuitas tidak boleh dikurangkan. sulit untuk membuktikan bahwa perlakuan pajak tidak netral terhadap sumber pendanaan dalam praktek sehari-hari.

Akan tetapi. Metode Penyusutan dan Jangka Waktu Penyusutan Permasalahan penyusutan timbul karena sulitnya mendefinisikan penghasilan. Untuk pengeluaranpengeluaran tertentu. Peraturan perpajakan umumnya mengatur berapa besar setiap periode pengurangan (penyusutan) tersebut. Cara penghindaran pajak seperti ini dapat dihilangkan baik dengan cara memasukkan pembayaran dalam bentuk natura ke dalam pajak penghasilan pribadi atau melarang pengurangan biaya-biaya entertainment pada pajak penghasilan badan. pengurangan dapat dilakukan ketika pembayaran terjadi. Penyusutan merupakan praktek akuntansi yang didasarkan pada pendekatan praktis untuk mengukur laba secara periodik. semakin besar . dan menentukan berapa besarnya setiap periode investor dapat memperoleh kembali biaya investasi. Kapan investor dapat memperoleh kembali pengurangan juga harus diatur karena pada saat penyusutan diperbolehkan nilai tunai dari kewajiban pajaknya menjadi turun. Pengurangan untuk biaya-biaya modal akan memberikan penghematan pajak bagi investor.000 diberikan kepada manajer perusahaan sebagai ganti kenaikan gaji selama beberapa tahun. seperti pembayaran gaji dan upah atau pembelian bahan mentah. Penyusutan timbul karena adanya periodisasi atas perhitungan laba/rugi. sebagai kompensasi untuk pengembalian biaya investasi. Cara yang dilakukan sekarang ini adalah jalan tengah dengan membatasi pengurangan atas pembayaran dalam bentuk natura dan biaya entertainment. terutama pada perseroan sebagai suatu badan usaha. bila sebuah mobil senilai Rp200.000. Biaya dari perseroan dengan memberikan mobil tersebut (biaya penyusutan) akan sama dengan biaya karena kenaikan gaji untuk beberapa periode dengan jumlah total yang sama. Misalnya. maka semua biaya untuk memperoleh dan memelihara penghasilan harus dikurangkan dalam menghitung penghasilan kena pajak. Peraturan perpajakan juga menentukan kapan pengurangan (penyusutan) dapat dilakukan. kenaikan gaji akan menambah pajak penghasilan bagi wajib pajak pribadi.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 213 mengurangi pajak penghasilan pribadi mereka. Semakin besar pada periode-periode awal penyusutan tersebut. Permasalahan penyusutan adalah salah satu permasalahan yang paling sulit dan paling penting Karena pajak perseroan adalah pajak atas penghasilan/laba bersih. sedangkan tunjangan kendaraan tidak. Dalam hal pengeluaran modal. pengurangan itu dilakukan selama beberapa periode.

seperti sistem penyusutan yang dipercepat. perseroan yang menggunakan metode penyusutan dengan saldo menurun mendapatkan keuntungan penghematan pajak lebih besar daripada menggunakan metode garis lurus karena nilai tunai dari penyusutannya lebih kecil pada metode garis .214 Bab 10: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan penghematan pajaknya. Oleh karena itu. dimana bagian yang dikurangkan pada setiap tahun sama dengan rasio dari sisa tahun terhadap jumlah angka tahun selama masa manfaat aset.000. dengan persentase sebesar dua kali tarif garis lurus dikurangkan pada tahun dan persentase yang sama kemudian diterapkan pada jumlah yang belum disusutkan setiap tahunnya.111. Peraturan perpajakan umumnya juga menetapkan “panduan umur” untuk setiap jenis aktiva tetap yang sejalan dengan “praktek bisnis yang sehat. setiap tahun sejumlah Rp10.000.636. Ada satu metode lagi yang tidak diperbolehkan berdasarkan peraturan perundang-undangan saat ini.111.000 boleh dikurangkan. nilai tunai dari pajak ditentukan oleh besarnya tarif pajak dan kapan penyusutan dilakukan. sebesar Rp20. yang meliputi jangka waktu pembebanan penyusutan dan kecepatan penyusutannya. untuk suatu aset yang bernilai Rp100.” Ada beberapa insentif perpajakan yang dapat diberikan dengan membolehkan penyusutan dalam jangka waktu yang lebih cepat. Dengan demikian. untuk suatu aset dengan harga perolehan Rp100. yaitu metode jumlah angka tahun (sum-of-years-digits method). Lama Masa Perolehan Kembali Biaya Investasi Jangka waktu yang diperbolehkan untuk perolehan kembali biaya investasi atau penyusutan umumnya ditetapkan dalam peraturan perpajakan sama dengan “masa manfaat” dari aset bersangkutan. Jadi.000 akan dikurangkan pada tahun pertama.000 dan masa manfaat selama 10 tahun.000 dengan masa umur selama 10 tahun.000. Beban penyusutan tahun pertama adalah 10/55 dari Rp100. Jadi. dengan C sama dengan nilai perolehan aset dan n adalah umur aset. Bangunan harus disusutkan dengan menggunakan metode garis lurus dimana jumlah yang sama sebesar C/n harus dihapuskan setiap tahun. beban untuk tahun kedua adalah 9/55 dari Rp100.000 = Rp16.363. Seperti yang ditunjukkan pada tabel di bawah ini. dan seterusnya. Rp16.000.000.000. Metode Penyusutan Metode penyusutan yang diperbolehkan untuk dipakai hanya dua metode yaitu metode garis lurus dan metode saldo menurun (declining balance method).000.000 akan dikurangkan pada tahun kedua. Peralatan dan kendaraan disusutkan dengan menggunakan metode saldo menurun. dan seterusnya. jumlah angka tahunnya sama dengan 10 + 9 + 8 + 7 + 6 + 5 + 4 + 3 + 2 + 1 = 55.000 = Rp18.

8 0 6 2 8 .9 3 5 D IS K O N T O 1 0 P E R S E N 7 9 . 1968 . The Capital Decision. N ila i T u n a i P e n y u s u ta n ( d a la m R u p ia h .6 6 1 3 2 .. pajaknya akan semakin turun.0 9 9 5 4 .5 3 4 8 1 . metode saldo menurun lebih menguntungkan pada aset-aset berumur pendek dan metode jumlah angka tahun lebih menguntungkan pada aset-aset yang berumur panjang. tarif efektif dari pajak bergantung pada tarif nominal (sekarang 30 persen untuk perseroan) dan besarnya penyusutan yang diperbolehkan. Semakin panjang waktu penyusutan semakin besar perbedaan penghematan pajaknya. Jika nilai tunai dari penghematan pajak ini menjadi semakin besar seperti yang ditunjukkan pada tabel di atas. Metode Penyusutan Ekonomis versus Metode Penyusutan Dipercepat Bila dikaitkan dengan pembebanan biaya investasi.9 9 7 6 7 .5 1 5 7 9 . Bila kita membandingkan antara metode saldo menurun dengan metode jumlah angka tahun. Semakin cepat tingkat penyusutannya.0 5 5 6 4 .6 1 4 7 0 .5 2 8 4 4 .7 5 0 8 7 .4 6 9 6 8 . Simpulan yang sama juga berlaku apabila kita membandingkan metode jumlah angka tahun dengan metode garis lurus. Bila investor akan memutuskan untuk berinvestasi.6 6 3 5 1 . and Seymour Smidt.0 0 0 ) J u m la h A n g k a Tahun ( IV ) 8 7 .6 8 0 4 4 . New York: Macmillan. semakin rendah tarif efektif pajaknya.5 3 9 2 0 . Nilai tunai ini sama dengan nilai tunai dari arus laba sebelum pajak dikurangi dengan nilai tunai dari pembayaran pajaknya.4 3 9 M a s a M a n fa a t ( I) 5 10 20 50 5 10 20 50 G a r is L u r u s S a ld o M e n u r u n ( II) ( III) D IS K O N T O 6 P E R S E N 8 6 . Nilai tunai dari pajak dapat dihitung dengan mengurangkan nilai tunai dari pajak kotor (sebelum dikurangi dengan penyusutan yang diperbolehkan) dengan nilai tunai dari penghematan pajak dari penyusutan.7 1 6 5 9 .6 9 7 3 1 . investor akan membandingkan nilai tunai dari arus laba bersihnya terhadap biaya perolehan dari aset.4 6 0 4 0 .8 1 1 7 5 .7 5 6 8 0 .7 8 7 7 8 .8 2 9 Diadaptasi dari: Harold Bierman. H a r g a P e r o le h a n A s e t = R p 1 0 0 .Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 215 lurus sehingga nilai tunai dari beban pajaknya lebih besar. 2d ed. Jr.1 0 0 6 4 .

aset tersebut menghasilkan arus laba bersih positif yang nilai tunainya adalah nilai aset tersebut. berbagai investasi berbeda dalam jangka waktu dan tingkat keuntungan sehingga hasilnya akan berbeda untuk berbagai kebijakan yang dipilih. yang ditimbulkan dari semakin memburuknya kondisi aset dan penurunan nilai karena keusangan. Netralitas Metode Penyusutan Ekonomis Dari pemaparan di atas. pemerintah dapat memberlakukan aturan tarif pajak yang dikombinasikan dengan tarif penyusutan yang menghasilkan perlakuan yang netral atas semua investasi. yang timbul dari penggunaan aset. metode penyusutan dipercepat menghasilkan penghematan pajak yang besar. yang dikenakan pajak adalah arus penghasilan bersih yang diterima setiap tahun. percepatan ini ekivalen dengan pinjaman tanpa bunga. Jika semua investasi sama. Hal tersebut dapat dicapai bila penyusutan dibebankan ketika nilai aset mengalami penurunan. Pada kenyataannya. Dari sudut pandang investor. Pada untuk keadilan. maka kombinasi apapun antara tarif pajak dan tarif penyusutan tidak menjadi persoalan. Pertama adalah arus penghasilan positif berupa laba. Suatu tarif pajak yang lebih rendah dan penyusutan yang lebih lambat akan memberikan nilai tunai pajak yang sama dengan suatu tarif pajak yang lebih tinggi dan penyusutan yang lebih cepat. dapat dibuktikan bahwa penyusutan yang dipercepat lebih menguntungkan investor. Yang lainnya adalah arus penghasilan negatif. Hasilnya demikian karena nilai tunai dari penghematan pajak akan semakin tinggi ketika penghematan pajak tersebut semakin cepat terealisasi.216 Bab 10: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan Dengan demikian. terutama untuk investasi-investasi pada aset yang berumur panjang. Dengan demikian. Dengan demikian. Mempercepat penyusutan (baik dengan cara memperpendek periode penyusutan atau membolehkan menyusutkan jumlah yang besar pada awal-awal masa guna aset) akan mengurangi tarif efektif pajak dengan menunda tanggal jatuh tempo dari kewajiban pajak. Bila hanya melihat investasi tunggal. Bila kedua arus ini dijumlahkan. . pajak harus netral dengan tidak boleh mendistorsi pola investasi. Pola penyusutan seperti apakah yang diperlukan untuk memastikan definisi penghasilan yang adil dan netral? Sebagaimana yang dikemukakan oleh Musgrave dan Musgrave (1989) aset yang dapat disusutkan dipandang sebagai menghasilkan dua arus penghasilan. Supaya perlakuan pajak netral. untuk menetralisasi pengaruh tarif penyustan ini. aset dengan nilai tunai arus laba bersih yang sama harus mendapat beban pajak yang sama yang didefinisikan sebagai nilai tunai pajak. dengan nilai tunai dari penghematan bunganya sama dengan nilai tunai dari penghematan pajak yang dihasilkan. tarif penyusutan tidak netral terhadap semua investasi.

cara yang terbaik adalah memakai masa manfaat seperti yang biasa dipakai dalam praktek bisnis dengan asumsi bahwa masa manfaat yang dipercepat merupakan masa manfaat yang “sebenarnya” dan jejak waktu dari arus penghasilannya. penerapannya tidak mudah. Oleh karenanya. investasi yang lebih lama akan mendapat keuntungan terbanyak dan juga mendapat manfaat dari tarif pajak efektif yang lebih rendah. tarif efektif sama dengan persentase pengurangan dalam pengembalian modal karena pajak. Dengan demikian. walaupun prinsipnya jelas. Bila penyusutan pajak sama dengan penyusutan ekonomis. Hal sebaliknya akan terjadi bila tarif penyusutan pajak lebih rendah daripada tarif ekonomis. Tingkat keusangan akan berbeda dan tidak dapat diprediksi dengan mudah. yaitu biaya modal atau penyusutan ekonomis yang harus dibebankan bersama-sama dengan biaya lain dalam menghitung laba bersih. Nilai berjalan dari aset pada setiap waktu sama dengan nilai kapitalisasi dari arus penghasilan di masa depan yang dihasilkannya. Tarif efektif bergantung pada tarif pajak yang berlaku dan tarif penyusutan. tampaklah jelas bahwa tingkat tarif nominal dan perubahannya tidak dapat menjadi indikator atas tingkat tarif efektif. Oleh karena itu. ada alasan kuat untuk menggunakan penyusutan ekonomis.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 217 Ingat. di mana rb adalah tingkat pengembalian sebelum pajak dan ra adalan tingkat pengembalian setelah pajak. pilihan-pilihan investasi akan terdistorsi dan lebih banyak modal akan mengalir pada investasi-investasi yang lebih lama. Tarif Pajak yang Efektif Berdasarkan diskusi sebelumnya. Tarif ini independen terhadap umur aset dan karenanya tidak akan mendistorsi pilihan investasi di antara mereka. Oleh karena itu. pengenaan pajak akan mengurangi nilai dari arus penghasilan bersih sebesar persentase tarif pajak yang berlaku. Tarif efektif ditentukan dengan cara menghitung (rb – ra) / rb. Investasi Tunggal versus Investasi Berkelanjutan . Jika penyusutan dapat dipercepat. Aset-aset tidak aus secara seragam dan juga menjadi usang sebelum sempat digunakan sepenuhnya. penurunan dalam nilai berjalan sama dengan nilai kapitalisasi dari penurunan arus penghasilan. Dengan demikian. Akan tetapi. nilai aset sama dengan nilai tunai dari arus penghasilan bersih selama masa manfaatnya. Tarif efektifnya akan sama dengan tarif nominal atau tarif yang berlaku karena pengenaan pajak akan mengurangi nilai aset dikalikan dengan tarif pajak.

Perolehan kembali baru terjadi setelah reinvestasi berakhir. Misalnya. investor tidak perlu membayar pajak dan pemerintah tidak memperoleh pendapatan pajak. penangguhan ini dapat berlangsung selamanya. Kewajiban pajaknya berkurang pada tahun-tahun awal dan bertambah pada tahun-tahun akhir.218 Bab 10: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan Untuk investasi tunggal yang dilakukan hanya sekali dan kemudian selesai. Misalnya. ekivalen dengan pinjaman bebas bunga. Pada pengeluaran modal pembebanan ini disebar ke dalam beberapa periode. Biaya-biaya ini langsung dibebankan. Untuk investasi yang berkelanjutan. Akan tetapi. penyusutan yang dipercepat tidak mengurangi jumlah total pajak yang akan dibayarkan. ia mungkin tidak akan dapat memanfaatkan penyusutan sekaligus ini karena ia harus memperoleh pendapatan (laba) yang cukup untuk ditandingkan dengan beban penyusutan ini. Jika penyusutannya cukup cepat dan ekspansinya cukup tajam. ada kemungkinan pengeluaran modal tersebut dibebankan secara ekstrim sekaligus pada satu periode ketika pembayaran pengeluaran modal. ketika pemerintah kehilangan pendapatan pajak pada tahun-tahun awal dan memperoleh kembali pendapatan pajak tersebut pada tahun-tahun akhir. Keuntungan yang didapatkan. A kemudian membebankan kerugian ini pada laba dari aset Y (yang jumlahnya . kerugian pendapatan pemerintah akan berkurang tetapi pemerintah tidak pernah mendapatkan kembali kerugian karena penangguhan pajak pada tahuntahun awal tersebut selama reinvestasi terus menerus berlangsung. Bila suatu perusahaan memiliki penghasilan dari investasi lain yang dapat dikurangkan dengan penyusutan sekaligus ini. suatu aset diganti dengan pola penggantian yang membuat dasar penyusutannya tidak berubah. Seorang investor yang melakukan investasi tunggal. Pembebanan Sekaligus Biaya gaji dan bahan mentah dikurangkan ketika pembayaran dilakukan atau ketika terjadi. perusahaan seperti ini dapat menunda pembayaran pajak selamanya. berasal dari penangguhan pajak pada awal periode. Apalagi bila dalam kenyataannya suatu perusahaan terus-menerus meningkatkan aset-asetnya yang dapat disusutkan sehingga basis penyusutannya setiap reinvestasi semakin besar. Karena A belum mendapatkan penghasilan dari X. A menderita kerugian sebesar Rp100 juta. Keuntungan dari wajib pajak atas penundaan pajak (dan kerugian bagi pemerintah) akan naik pada tahuntahun awal dan kemudian akan rata seterusnya. Setelah tahun-tahun awal ini. A menginvestasikan uang Rp100 juta pada aset X dan segera membebankannya sebagai penyusutan sebesar Rp100 juta. Seluruh pembayaran pajak tersebut dapat dihindari dan tanpa pernah terjadi pembayaran pajak tertunda tersebut di masa depan.

penghematan pajaknya akan sebesar Rp30 juta. Bila kegiatan serial ini diulangi terus-menerus. . Bagaimana harga pokok harus dihitung adalah urusan yang tidak mudah. . yaitu yang dikenal dengan nama kalkulasi harga pokok atau cost accounting. Penyesuaian terhadap Inflasi Dengan harga-harga yang selalu meningkat. Dalam hal ini.857 juta. Pada akibatnya.. A akan berinvestasi pada X sebesar Rp100 juta + 0. Hal ini sangat relevan terutama dalam periode inflasi tinggi. bila diukur dalam nilai riil. Aturan pajak biasanya hanya membolehkan sebagian (misalnya sepertiga) dari biaya investasi yang dapat diperoleh kembali dengan penyusutan segera. Dalam praktek. Untuk menghilangkan permasalahan ini sekaligus mengatasi permasalahan inflasi dengan benar....... menimbulkan kenaikan tarif efektif pajak yang tersembunyi. Penghitungan harga pokok berkaitan dengan penentuan laba kena pajak. hal ini tidak pernah bisa sampai sejauh pemaparan di atas. dan seterusnya. Jika penghasilan A atas investasi pada X dengan cara ini dikenakan tarif pajak 30% akan sama posisinya dengan berinvestasi pada X sebesar Rp100 juta dan tanpa pajak. .30 x Rp100 juta + 0. adalah dengan mengurangkan hasil penjualan dengan harga pokok..... hanya sepertiga dari pajak yang akan dihapuskan.. perolehan kembali investasi (penyusutan) berdasarkan harga perolehannya tidak akan memberikan penghematan pajak yang cukup untuk mempertahankan modal perusahaan dalam nilai riilnya. . Penyusutan segera dengan reinvestasi secara terus menerus dari penghematan pajak yang didapat menghilangkan beban pajak. Dengan tarif pajak 30%.302 x Rp100 juta . Pendekatan ini sering disebut sebagai cadangan awal (initial allowance) yang merupakan cara yang netral dalam memberikan insentif investasi.. Sehingga sampai menjadi subdisiplin ilmu pengetahuan sendiri... Menentukan laba yang akan dijadikan dasar untuk pengenaan pajak pendapatan badan... A kemudian menambahkan sejumlah ini ke dalam investasi pada X. Suatu sistem yang membolehkan sebagian dari pajak dibiayakan dan menyusutkan sisanya sesuai dengan penyusutan secara ekonomis akan netral antara investasi jangka pendek dan jangka panjang. membebankan tambahan Rp30 juta sebagai penyusutan. dua solusi: (1) basis penyusutan dapat diindeks untuk naik sesuai dengan biaya penggantian.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 219 lebih besar daripada Rp100 juta)... mendapatkan penghematan pajak sebesar Rp9 juta... = Rp142.. Laba dan Inflasi.... sehingga mengurangi kewajiban pajak dari penghasilan aset Y. (2) seluruh penyusutan dapat dilakukan pada tahun pertama sehingga menghilangkan pengaruh inflasi.. penghasilan kena pajak terlalu besar.

pimpinan perusahaan mempermasalahkan yang dinamakan laba. ataukah yang dinamakan pokok jumlah barang dagangan.000. Supaya pokok dalam bentuk barang tidak menyusut. Modal uang masih utuh.000.000. Jadi tinggal sebagian. harga per kilogramnya melonjak menjadi Rp1. Dari gambaran di atas terlihat bahwa laba akan sama saja. pedagang paku sangat menderita penciutan kuantitas barang dagangannya sampai hampir separuh. Daya beli labanya dipangkas drastis pula. inflasinya dari Rp1. . tetapi dalam jumlah kilogram emas. modal pokok usaha tidak dinyatakan dengan uang. Pedagang tetap harus membayar pajak atas dasar keutuhan modal uang. hasilnya sama saja.500 = Rp1.000. kalau ada pedagang paku membeli 10 kg paku dengan harga Rp1.200 per kg. sudah sejak sangat lama orang mempertanyakan apa betul labanya Rp5.000. Ketika seluruh 10 kg pakunya dijual dengan harga Rp1.000.000.000. kuantitas barang menyusut menjadi 10. apakah modal yang dipertahankan harus utuh itu modal uang atau modal kuantitas barang dagangan. Modal awal adalah 1 juta kali Rp1. Ketika di zaman orde lama inflasi berkecamuk hebat. sehingga memperoleh hasil penjualan Rp15. Tetapi kalau inflasinya hebat. Sudah sejak lama.000. Maka.000.000 dan setelah dikenakan pajak dikonsumsi. Kita bayangkan berapa barang yang dapat dibeli dari laba bersih yang relatif sama jumlah nominalnya.000. sisanya adalah Rp10. labanya Rp5. Mengapa? Kalau Rp5. harga paku meningkat dengan 80 persen menjadi Rp1. sisa uang yang Rp10. Dalam ekonomi yang harganya naik terus atau inflasi. Artinya.555. Bagaimana kenyataan bahwa di tahun 1998 inflasi Indonesia 80 persen? Mari sekarang kita lihat bagaimana jadinya dengan pedagang paku kalau yang diperdagangkan 1 juta kg paku. Sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan. yang dinamakan pokok adalah 10 kg paku dengan harga baru atau Rp12.500 per kg. Hasil penjualannya 1 juta kali Rp1. sedangkan harga barang konsumsi yang dibutuhkan tentunya juga meningkat sesuai dengan inflasi atau sekitar 80 persen.000 per kg.000. Pengusaha mulai dengan modal yang sama dengan jumlah kilogram emas tertentu. Tadi dikatakan bahwa seandainya tidak ada inflasi. walaupun modal kuantitas barang menciut drastis.000.000. Laba bersih yang dapat dihabiskan untuk konsumsi adalah Rp350. Jadi kena tarif 30 persen atau Rp150.000.000. falsafah fiskus menganut asas keutuhan modal uang. Modal uang yang utuh kalau dibelikan barang dagangan paku menjadi 1. jelas bahwa mempertahankan keutuhan modal uang akan memperkecil volume perdagangannya secara drastis. Dalam contoh di atas. yang sama dengan modal pokoknya.220 Bab 10: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan Sebagai subdisiplin ilmu dalam rangka ilmu ekonomi perusahaan. Hasil penjualan seolah-olah dipakai untuk membeli jumlah kilogram emas yang sama.000.000 = Rp1. karena barang-barang konsumsi kebutuhannya juga meningkat drastis. Maka labanya hanya Rp3.800.200 atau 20 persen.000. tafsiran tentang berapa besar laba yang diperoleh perusahaan menjadi lain.000. Kalau ada sisanya barulah dikonsumsi.800 = 555. cost accounting terus berkembang. karena kalau ini dipakai untuk membayar pajak dan dikonsumsi volume perdagangannya tetap.000:1.000 kalau dibelikan paku lagi sebagai barang dagangannya.200 = 8. Laba menurut fiskus Rp500.000 menjadi Rp1.000. Bagaimana kalau ketika si pedagang ingin memperbarui stoknya yang 10 kg itu. yaitu 10 kg paku.000? Mengapa? Karena kalau laba dianggap Rp5.000 : 1. yaitu Rp1.000 itu dipakai untuk membayar pajak dan dikonsumsi. tetapi harus membayar pajak yang didasarkan atas keutuhan modal uang sebagai harga pokok. Laba adalah jumlah uang yang dapat dikonsumsi tanpa mengurangi pokoknya.33 kg.000. harga pokoknya Rp10.000. Kalau dikatakan perkembangan ilmu pengetahuan mempengaruhi praktek bisnis.56 kg.200? Bukankah labanya Rp3. Pedagang sudah menderita karena volume bisnisnya yang menyusut.000. apakah yang dinamakan pokok itu jumlah uang. memang demikian halnya dengan perkembangan ilmu dalam bidang cost accounting. seandainya harga paku tidak naik dari Rp1.500. Sesuai inflasi. Modal pokoknya utuh. Dari sini jelas.000 ke Rp1.

dapat diperbandingkan? Keduanya dapat digunakan untuk mengurangi pajak. maka ia memperolehnya pada biaya perolehan bersih sebesar Rp90 juta. Apakah penyusutan yang dipercepat dan kredit pajak atas investasi. Kredit investasi tidak hanya merupakan alat penunda pajak. dalam waktu singkat. Bila seorang investor yang membeli aset dengan harga Rp100 juta. 5 April 1999) Menurut saudara.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 221 Benarkah pengusaha yang mendasarkan harga pokoknya atas jumlah kilogram emas? Benar kalau tujuannya berusaha adalah mempertahankan jumlah kilogram emas tanpa peduli kuantitas barang dagangannya menggelembung atau menciut. pada dua dekade sebelum reformasi pajak tahun 1986. Investasi yang dikualifikasikan untuk kredit pajak tersebut adalah semua aset yang dapat disusutkan kecuali gedung. cara penghitungan laba kena pajak mana yang paling tepat diterapkan di Indonesia? Diskusikan! INVESTMENT TAX CREDIT Di Amerika Serikat. dapat dirancang suatu peraturan pajak untuk penyusutan yang dipercepat dan kredit atas investasi yang menghasilkan nilai tunai yang sama kepada investor. maka laba harus dikoreksi dengan angka inflasi yang ditentukan oleh paket barang dan jasa yang menjadi pola konsumsi hidup yang dianggap wajar. Penyusutan dipercepat lebih tepat untuk investasi jangka panjang. Kompas. Aliran lain lagi. Kalau inflasi menghebat terus. yaitu yang bertolak dari pikiran. dan pedagang disuruh sejalan pikirannya dengan pemerintah mengenakan pajak. maka barang dagangannya bisa menggelembung atau menciut. tetapi juga alat yang memberi hak untuk pengurangan pajak. kedua pendekatan itu akan berbeda dalam berbagai investasi. Bila ini tujuannya. semuanya bertentangan frontal dengan falsafah yang melulu hanya menginginkan mempertahankan keutuhan modal uang. Ketika pertama kali diperkenalkan tahun 1964. Akan tetapi. sedangkan kredit pajak memberikan keuntungan bagi aset berumur pendek. Yang mana pun yang dipilih. sebagai alat insentif pajak. apakah kuantitas barang dagangan. . atau daya beli. Aset yang berumur lebih pendek dapat diganti lebih sering sehingga dapat dimungkinkan untuk mendapatkan kredit pajak lebih sering lagi. (Diadaptasi dari: Kwik Kian Gie. kalau kadar inflasi barang dagangannya sama dengan kadar inflasi dari emas. peraturan pajak membolehkan perseroan untuk mengkreditkan sebagian (pada tahun 1985 sebesar 10%) dari biaya investasi yang dikualifikasikan. Untuk suatu investasi tertentu dengan lama masa manfaat tertentu. tetapi mekanismenya berbeda. yaitu modal pokok uangnya saja yang dipertahankan. kredit pajak investasi (investment tax credit) merupakan alat insentif yang utama. Kuantitas barang dagangan ini dengan sendirinya takkan menggelembung atau menciut. Kalau tidak sama. barang dagangan akan menjadi nihil. bahwa tujuan pengusaha adalah mempertahankan paket barang dan jasa untuk mempertahankan tingkat hidupnya. jumlah kilogram emas.

pada umumnya perusahaan-perusahaan ukuran menengah dan besar lebih efisien daripada usaha kecil. Jika tujuan menahan ukuran bisnis yang ditetapkan. bukannya tingkat laba. ada pandangan bahwa ada kebutuhan sosial untuk memelihara UKM walaupun tidak efisien. maka pajak yang progresif dapat diberlakukan tetapi diterapkan pada ukuran usaha (ukuran aset). suatu penerapan integrasi yang lengkap. Akan tetapi tujuan ini pun dapat dipertanyakan. seperti menahan ukuran bisnis sehingga tidak terlalu besar atau mendukung usaha-usaha kecil. walaupun sedikit sekali bukti bahwa ukuran usaha yang besar diperlukan untuk mencapai efisiensi. walaupun tarif terendah yang lebih rendah ini dapat digunakan oleh wajib pajak pribadi untuk mengurangi pajaknya. Bantuan kepada UKM Untuk menghilangkan penerapan pajak berganda bagi usaha kecil berbentuk perseroan. keringanan pajak untuk usaha-usaha kecil selalu menjadi perbincangan politik yang penting. Banyak perusahaan kecil dimiliki oleh individu-individu berpenghasilan tinggi dan sebagian besar dividen yang dibayarkan oleh perseroan besar diterima oleh individu-individu dengan penghasilan menengah. Perseroan kecil ini dipandang sebagai mekanisme pemungutan/pemotongan pajak saja. Tidak ada hubungan positif antara ukuran usaha perusahaan dan penghasilan pemiliknya. Walaupun demikian. seperti telah dikemukakan oleh Paul O’Neill di muka. Selain itu. Pemerintah dapat pula memberikan bantuan kepada UKM dengan mengenakan tarif terendah pajak yang lebih rendah. Pengenaan tarif pajak progresif tentu akan didasarkan pada alasan-alasan lain. ada aturan khusus pada peraturan-peraturan pajak negara tertentu bahwa usaha-usaha kecil sampai dengan ukuran aset atau ukuran penjualan tertentu boleh kenakan pajak sebagai suatu firma. Tarif terendah yang lebih rendah ini tidak banyak manfaatnya bagi usaha-usaha besar. Untuk menghindari pemanfaatan oleh wajib pajak .222 Bab 10: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan Haruskah tarif pajak bagi UKM berbeda? Alasan pengenaan tarif pajak progresif untuk pajak penghasilan wajib pajak pribadi tidak dapat diterapkan pada sektor perseroan. Perseroan pada dasarnya tidak memiliki kemampuan untuk membayar seperti halnya yang dimiliki individu dan beban pajak pada akhirnya ditanggung oleh individu. Posisi ini dapat dipandang benar untuk mengurangi kemampuan perusahaan-perusahaan besar untuk beroperasi pada pasar-pasar modal yang tidak sempurna dan mendapat manfaat dari praktek-praktek monopolistik.

Suatu tarif pajak yang lebih rendah dan penyusutan yang lebih lambat akan memberikan nilai tunai pajak yang sama dengan suatu tarif pajak yang lebih tinggi dan penyusutan yang lebih cepat. Permasalahan yang mungkin timbul untuk pajak badan adalah: (1) Hutang versus Modal Saham. dan (3) Penyusutan. Metode integrasi tidak memerlukan penentuan laba kena pajak untuk perusahaan. (2) Natura. pemegang saham diperlakukan seolah-olah adalah partner dalam suatu bisnis. Permasalahan ini dapat diatasi dengan memberikan penalti kepada suatu perusahaan induk yang memiliki banyak anak perusahaan. Dalam hal pembayaran gaji dan upah atau pembelian bahan mentah. Pajak dikenakan atas semua capital gain. Tetapi dalam hal investasi modal. termasuk yang belum direalisasikan. perusahaan membantu pengawainya mengurangi pajak penghasilan pribadi mereka. (1) Pengendalian terhadap monopoli. dibuat aturan pajak berbeda untuk wajib pajak pribadi. (3) Pembatasan laba. Pemilik dana cenderung untuk meminjamkan daripada melakukan investasi saham. Dengan membayar dalam bentuk natura. seperti juga pembayaran gaji dan upah. pengurangan dapat dilakukan ketika pembayaran terjadi. Bunga boleh dikurangkan dari penghasilan perusahaan kena pajak. (4) Pemupukan modal atau pertumbuhan ekonomi.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 223 pribadi. Bunga diperlakukan sebagai biaya bisnis. RANGKUMAN § Pengenaan pajak perusahaan dapat dilakukan sebagai instrumen pengendali tingkah laku perusahaan. Pendapatan bunga hanya dikenakan dalam pajak penghasilan pribadi. pengurangan itu dilakukan selama beberapa periode. dan (5) Insentif atau disinsentif investasi. Permasalahan lain yang dapat muncul adalah aturan ini dapat dimanfaatkan oleh perusahaan besar dengan memecahnya menjadi unit-unit kecil dengan melakukan spin off. (2) Membatasi ukuran atau besarnya perusahaan. § § § § § § § . Seorang pemilik modal yang membeli aset dengan harga tertentu dapat mengkreditkan dengan beban pajak yang harus dibayar sebesar biaya perolehan. Integrasi penuh akan mengembalikan netralitas perlakuan pajak. Natura adalah penghasilan yang tidak berbentuk kas. Pajak tidak boleh mendistorsi pola investasi. Dalam metode partnership.

Jelaskan pengenaan pajak yang diterapkan. Jelaskan perbedaan pandangan integrasi dan pandangan absolute dalam pengenaan pajak atas suatu perusahaan! 3. pajak penghasilan WP badan! 2. Mana yang lebih menguntungkan. Bagaimana solusi untuk mengatasi masalah inflasi dengan baik? Jelaskan dan berikan contoh! 11. Sebutkan hambatan – hambatan dalam menerapkan prinsip keadilan. perusahaan akan berusaha memindahkan beban pajaknya dengan harga yang lebih tinggi. Bagaimana peran pemerintah dalam rangka membantu Usaha Kecil dan Menengah untuk memenuhi kewajibannya membayar pajak penghasilan badan? . Apa yang dimaksud dengan penerapan pajak atas pertimbangan manfaat? 4. LATIHAN 1.224 § Bab 10: Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan Sebagian besar ekonom memandang beban pajak penghasilan badan seharusnya jatuh kepada pemodal. dari sisi permasalahan perpajakan. Capital Gain 7. sesuai dengan model ekonomi kompetitif. Akan tetapi jika berada dalam situasi monopolistik. Jelaskan integrasi pajak secara penuh dengan metode : a. bedakan pengaruh investasi tunggal dan investasi berkelanjutan! 10. Mengapa secara teori dianggap lebih menguntungkan menggunakan metode penyusutan declining balance method? 9. Bagaimana bentuk pajak perusahaan yang tepat jika ada keinginan untuk membatasi besarnya perusahaan? Jelaskan! 5. jika perusahaan ingin meningkatkan pengeluaran konsumsi dan mendukung berfungsinya pasar modal! 6. Dilihat dari sisi kewajiban pajaknya. Mengapa tarif pajak progresif untuk pajak penghasilan wajib pajak pribadi tidak dapat diterapkan pada sektor perusahaan? 12. memberikan pinjaman hutang atau menginvestasikan uangnya untuk modal saham? Apa Alasannya? 8. Partnership b.

Bila pajak penghasilan didasarkan pada . atas penghasilan yang diterima oleh rumah tangga) maka pajak penjualan dikenakan pada sisi penjual dari transaksi produksi (misalnya atas penjualan yang dilakukan perusahaan).PAJAK KONSUMSI Pajak penjualan pada dasarnya mirip dengan pajak penghasilan karena pajak ini dikenakan arus yang diciptakan oleh produksi output tahun berjalan. Pajak penjualan atas barang konsumsi dapat dipandang sebagai ekivalen dengan pajak yang dikenakan atas pembelian-pembelian rumah tangga karena barang-barang konsumsi adalah pembelian-pembelian rumah tangga. dengan angka penjualan diukur dalam ukuran unit produk atau penerimaan kotor. Bila pajak penghasilan dikenakan pada sisi penjual dari faktor-faktor produksi (misalnya.

dalam pajak penjualan tidak ada situasi-situasi pribadi konsumen sebagaimana halnya dalam pajak penghasilan individu. Pajak penjualan merupakan pajak in rem yang berbeda dari pajak penghasilan yang merupakan pajak pribadi. pajak penjualan inferior baik dalam hal keadilan vertikal maupun keadilan horizontal. Selain itu. untuk konsumsi barang-barang tertentu yang dikelompokkan sebagai barang mewah di dalam negeri. Khusus untuk PPnBM hanya dikenakan satu kali ketika dijual oleh pabrikan atau ketika diimpor. JENIS PAJAK ATAS KONSUMSI DI INDONESIAA Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah Pajak atas konsumsi yang pertama kali berlaku di Indonesia adalah Pajak Penjualan (PPn) yang mulai diberlakukan sejak tahun 1951. Tidak semua konsumsi barang dan jasa dikenakan pajak. Dalam pajak umum atas barang-barang konsumsi. Pajak. n Makanan dan minuman yang disajikan di hotel. seperti aturan-aturan pengecualian. warung dan sejenisnya. selain dikenakan PPN juga dikenakan PPnBM. Oleh karena itu. Pajak penjualan adalah pajak penghasilan bila definisi penghasilan mengacu pada definisi yield income dari Irving Fisher. . Jenis barang yang tidak dikenakan PPN adalah: n Barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yang diambil langsung dari sumbernya. pengurangan. yang telah mengalami perubahan-perubahan yang terakhir diubah dengan UndangUndang Nomor 18 tahun 2000. Oleh karenanya. restoran.228 Bab 11: Pajak Konsumsi sisi sumber suatu rumah tangga maka pajak penjualan didasarkan pada sisi penggunaan suatu rumah tangga. Proses penggantian Pajak Penjualan menjadi Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) merupakan salah satu rangkaian perombakan sistem perpajakan nasional sebagai Reformasi Perpajakan tahun 1983 dan mulai berlaku sejak tanggal 1 April 1985. dan tarif progresif. semua penggunaan dikenakan kecuali untuk menabung. PPN merupakan pajak konsumsi yang dikenakan atas konsumsi barang-barang dan jasa-jasa tertentu di dalam negeri (di dalam Daerah Pabean). n Barang-barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh rakyat banyak. Pajak Pertambahan Nilai atas Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 tahun 1984. rumah makan.

jasa keuangan. dan surat-surat berharga. cakupan dan saat pengenaannya. BAHASAN-BAHASAN DALAM PAJAK ATAS KONSUMSI BPajak penjualan. jasa pendidikan dan lain-lain. Cukai Cukai adalah pungutan atau pajak yang dikenakan terhadap konsumsi barang-barang tertentu. termasuk definisi basis pajak. pajak-pajak penjualan umum dapat berbeda dalam cakupan pengenaannya. seperti pajak penjualan. Pada prinsipnya. Pajak Hiburan. cukai adalah pajak atas konsumsi. Pajak Hotel. jasa pelayanan sosial. misalnya pajak atas BBM. Pajak Reklame dan Pajak Parkir. Cukai merupakan hak atas pemerintah pusat. Pajak Konsumsi di Daerah Jenis pajak konsumsi lainnya diberlakukan pada tingkatan daerah dengan besarnya tarif pajak bergantung pada peraturan masing-masing daerah. jasa pengiriman surat dengan perangko. Di antara dua basis ini. Sebagian besar cukai atau pajak penjualan atas produk-produk tertentu dikenakan berdasarkan unit produk. jasa keagamaan. Pajak per Unit versus Pajak atas Nilai (Ad valorem) Pajak penjualan dapat dikenakan per unit produk dan dapat dikenakan atas nilai produk (ad valorem). seperti yang telah dibahas dalam bab-bab sebelumnya. Pajak Restoran.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 229 n Uang. cukai tembakau dan cukai minuman keras. gula. PPN dan PPnBM merupakan contoh pajak penjualan yang dikenakan berdasarkan ad valorem. bentuk ad valorem lebih berarti daripada bentuk per unit. bensin dan minuman keras. . Jasa-jasa yang tidak dikenakan PPN cukup banyak. Ruang Lingkup Cakupan Pajak Penjualan Umum Karena perbedaan basis pengenaannya. seperti jasa pelayanan kesehatan. Pajakpajak ini diantaranya Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor. tetapi hanya dikenakan pada barang-barang tertentu seperti tembakau. terdiri dari beberapa jenis. seperti yang dijelaskan pada bagian sebelumnya. emas batangan. Pajak-pajak tersebut dapat mencakup semua transaksi atau basisnya sama dengan PNB atau hanya konsumsi saja.

. Pendekatan ini tidak akan menimbulkan permasalahan bila setiap produk melalui jumlah transaksi yang sama sehingga persentase total kewajiban pajak berdasarkan perputaran terhadap nilai pada penjualan akhir akan sama. basis pajaknya akan berjumlah beberapa kali lipat dari PNB dan hasil pajak yang besar akan didapatkan hanya dengan pengenaan tarif pajak yang rendah. Basis Produk Nasional Bruto (PNB) versus Basis Penghasilan atau Konsumsi Karena basis transaksi menimbulkan pengenaan ganda dan harus dihindari maka pilihan lainnya adalah basis PNB. Pada umumnya. Dalam kenyataannya. Dengan PNB Indonesia yang diperkirakan sebesar Rp1180 trilyun misalnya. pajak berdasarkan perputaran menimbulkan diskriminasi pengenaan pajak terhadap produkproduk yang harus melalui banyak tahapan produksi dan distribusi. atau sepertiga hasil dari pajak penghasilan. pajak penjualan yang dikenakan di berbagai negara didasarkan pada basis konsumsi. Cara ini sangat menarik perhatian pemerintah karena kemampuannya menghasilkan pajak yang besar dengan penerapan tarif yang kecil. Selain itu.230 Bab 11: Pajak Konsumsi Basis Transaksi yang Inferior Pajak berdasarkan perputaran (turnover tax) yang dikenakan pada jumlah total seluruh transaksi adalah pajak yang paling tidak diinginkan untuk diterapkan. Dalam pajak jenis ini. Dengan demikian. penjualan lembaran baja dikenakan pajak ketika lembaran baja berpindah dari pabrik produksi lembaran baja ke pabrik mobil. Akibatnya. setiap produk melalui jumlah transaksi yang berbeda-beda. perusahaan-perusahaan akan bergabung dengan para pemasok mereka. penjualan biji besi dikenakan pajak ketika biji besi tersebut berpindah dari tambang ke pabrik baja. dan seterusnya sampai pajak terakhir dikenakan pada penjualan mobil eceran. Atas dasar inilah. penerapan pajak berdasarkan perputaran yang komprehensif sebesar 1% akan menghasilkan pendapatan pemerintah sebesar Rp46 trilyun. untuk menghindari pajak. Misalnya. Bahkan beberapa negara Eropa telah menggantikan bentuk pajak ini dengan pajak pertambahan nilai sebagai bukti inferioritas pajak atas perputaran ini. pajak berdasarkan perputaran dipandang sebagai bentuk pajak yang inferior. sehingga mendorong timbulnya integrasi vertikal yang pada gilirannya akan mengurangi kompetisi. pendapatan nasional atau konsumsi. penjualan besi baja dikenakan pajak ketika besi baja berpindah dari pabrik baja ke pabrik produksi lembaran baja. suatu produk dikenakan pajak berkali-kali sepanjang tahapan produksi.

pajak penjualan yang komprehensif sebesar 10% akan menghasilkan pendapatan negara sebesar Rp117 trilyun. Kelemahan ini tidak terjadi bila pajak hanya dikenakan pada basis yang sama dengan pendapatan nasional atau PNB dikurangi dengan pajak-pajak tidak langsung dan penyusutan. Tahap Pengenaan Keputusan mengenai tahap pengenaan didasarkan pada pilihan tahapan terbaik untuk pengenaan pajak satu kali dan pilihan mengenakan pajak satu kali atau beberapa kali. konsumsi makanan rumah. Basis inilah yang paling banyak digunakan dalam pajak penjualan. pajak ini akan memberikan perlakuan lebih diskriminatif terhadap tabungan yang telah mendapat perlakuan diskriminatif dalam pajak penghasilan bila dibandingkan dengan bentuk tabungan rencana pensiun. Dalam hal keadilan.170 trilyun. . pajak jenis ini memiliki kelemahan dalam hal keadilan dan efisiensi. satu-satunya basis yang tersisa sebagai kandidat basis pajak adalah basis konsumsi. basis ini akan sama dengan yang dipakai dalam pajak atas penghasilan bruto.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 231 Pajak penjualan jenis PNB akan mengenakan pajak penjualan atas barangbarang konsumsi dan barang-barang produksi. Bilamana penetapan cakupan pajak merupakan hal yang substantif dalam menentukan jenis pajak yang akan diberlakukan. pajak ini akan melanggar prinsip dasar pajak penghasilan yang menyatakan bahwa penghasilan dari semua sumber harus dikenakan pajak sepenuhnya dan dalam jumlah netonya. yang akan dijelaskan pada bagian berikutnya. seperti konsumsi perumahan (sewa rumah dan imputed-rent bagi pemilik rumah). jasa kesehatan dan lain-lain. Akan tetapi jumlah dalam basis ini akan berkurang karena beberapa konsumsi tertentu dikecualikan dari pengenaan pajak penjualan. Dengan demikian. Pajak seperti ini akan memiliki basis yang sama dengan pajak penghasilan dan dapat diadakan dengan memberlakukan pajak pertambahan nilai jenis penghasilan. Pajak Konsumsi Komprehensif versus Pajak Konsumsi Tertentu Pajak penjualan umum atau eceran bertujuan mengenakan pajak yang mencakup seluruh konsumsi secara komprehensif. Karena basis penghasilan telah digunakan dalam pajak pribadi pada bagian sebelumnya dengan pengenaan pajak penghasilan. Karena sama dengan pengenaan pajak atas penghasilan. Dalam hal efisiensi. yaitu penghasilan tanpa diperhitungkan biaya penyusutan. Dengan pengeluaran konsumsi sebesar Rp1. bukan dalam jumlah brutonya.

Pengenaan pajak ad valorem dengan tarif yang sama pada tingkatan produksi menghasilkan tarif ekivalen yang tidak sama dengan pengenaan pada tingkatan penjualan eceran. Pembedaan dalam situasi ini lebih berkaitan dengan sifat dari produk final pada tahapan penjualan eceran. akan lebih menguntungkan mengenakan pajak pada tahapan ini. Pengenaan tarif yang berbeda untuk menghilangkan perbedaan rasio harga eceran terhadap harga produksi ini akan sangat sulit dan merupakan cara yang tidak seefisien dan seefektif pengenaan pajak pada tingkatan penjualan eceran. pandangan umum lebih condong kepada pengenaan pada tahapan penjualan eceran untuk diterapkan pada pajak penjualan umum dan tidak begitu sering digunakan pada pajak-pajak penjualan selektif. Jika pajaknya bersifat umum. Karakteristik-karakteristik mampu memberikan perbaikan dalam kualitas perhitungan pajak di negara-negara berkembang. lebih permanen. Dalam situasi lain (misalnya bahan kain yang digunakan untuk pakaian mewah atau pakaian murah) dimana identifikasi produk tidak memungkinkan. pengenaan pajak pada tahapan produksi lebih menguntungkan karena cara ini akan mengurangi jumlah pembayar pajak yang harus ditagih pajaknya sehingga mempermudah administrasi. pengenaan pada saat penjualan eceran lebih baik karena memungkinkan pengenaan tarif ad valorem yang seragam. dan lebih memiliki pembukuan yang baik daripada badan-badan usaha eceran. Jika produknya dapat diidentifikasi pada tahapan produksi. Di negara-negara berkembang. Selain itu. badan-badan usaha produksi cenderung lebih besar. karena rasio harga eceran terhadap harga produksi berbedabeda untuk berbagai produk. maka pengenaan sebaiknya dilakukan pada tahapan eceran. tahapan mana akan dikenakan pajak merupakan hal yang sulit untuk ditentukan. Pajak dikenakan pada produsen yang jumlahnya pasti lebih sedikit daripada pengecer/penjual ataupun konsumen. Jika pajak akan dikenakan secara selektif (PPnBM). Negara-negara berkembang dapat memperoleh hasil yang lebih baik dengan pajak penjualan yang dikenakan pada tahapan produksi karena . Walaupun demikian. karena pengenaan pajak secara selektif pada tingkatan eceran akan sangat sulit. misalnya mobil murah atau televisi.232 Bab 11: Pajak Konsumsi pemilihan tahap pengenaan lebih merupakan masalah administratif dalam rangka efisiensi pengenaan pajak atas basis yang dipilih. Saat Produksi versus Saat Penjualan Eceran Bila menggunakan pajak yang dikenakan satu kali. pilihan pengenaan pajak biasanya antara saat selesai produksi atau saat dijual secara eceran kepada konsumen.

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 233 jumlah titik penagihan pajak yang lebih sedikit. Dengan menelusuri ke berbagai tahapan produksi. Walaupun ada perbedaan dalam teknik. pajak pertambahan nilai yang diselenggarakan dengan benar akan ekivalen dengan penerapan pajak dalam satu tahapan pada titik penjualan. penyamak menjual kulit bahan sepatu kepada produsen sepatu. Dengan cara kedua. dengan nilai atau harga final dari produk tersebut sama dengan jumlah kenaikan atau pertambahan nilai pada seluruh tahapan. distributor utama menjual sepatu kepada toko eceran. Penggunaan pendekatan beberapa tahapan dalam konteks pertambahan nilai harus dibedakan dengan yang sebelumnya dibahas dalam diskusi tentang pajak atas perputaran. yaitu pada saat pengenaan di titik penjualan final dan dikumpulkan secara bertahap dengan menggunakan prosedur nilai tambah. Saat Penjualan Eceran versus Pertambahan Nilai Pertanyaan lebih lanjut pengumpulan pajaknya. nilai barang meningkat dan harga jual juga meningkat sejalan dengan peningkatan nilai tersebut. produsen sepatu menjual sepatu kepada distributor utama. basis nilai tambah dari pajak penjualan jenis konsumsi sama dengan basis penjualan eceran. nilai produk dibagi dalam potongan-potongan (nilai tambah pada setiap tahapan) dimana pajak dikenakan pada tahapan-tahapan sepanjang proses produksi. walaupun dampaknya dapat berbeda bila pajak tersebut dikenakan pada tingkatan penjualan eceran. Oleh karena itu. Suatu pajak . misalnya sepatu. PAJAK PERTAMBAHAN NILAI Menurut sudut pandang ahli ekonomi. Ada dua cara pengumpulan pajak penjualan. yang akhirnya akan menjual sepatu tersebut kepada konsumen. Setiap kenaikan harga menunjukkan tambahan nilai pada setiap tahapan. Pemilihan keduanya lebih didasarkan pada kemudahan administrasi. pajak pertambahan nilai bukan bentuk pajak yang baru seperti pajak pengeluaran. pajak ini hanyalah pajak penjualan yang diadministrasikan dengan cara berbeda. Yang dikenakan di sini adalah pajak atas pertambahan nilainya sedangkan pada pajak atas perputaran dikenakan atas seluruh jumlah perputarannya di setiap tahapan produksi. Nilai Akhir sebagai Agregat dari Pertambahan Nilai Mari kita lihat suatu produk. kita akan mulai dengan peternak yang menjual kulit hewan kepada penyamak. Pada setiap tahapan. hanya cara penagihannya yang berbeda.

Basis pajak pada setiap tahapan akan sama dengan penyusutan. Pajak ini akan merupakan bentuk yang paling komprehensif dari pajak pertambahan nilai dan disebut sebagai pajak pertambahan nilai jenis PNB. Pajak atas NNP dapat dikenakan dalam bentuk beberapa tahapan dengan mengenakan pajak pada nilai bersih yang ditambahkan oleh setiap perusahaan. Hasil yang sama dapat diperoleh dengan menerapkan pajak penghasilan umum karena basis suatu pajak produk neto sama dengan pajak . yaitu mengenakan pajak kepada setiap penjual dengan tarif 5 persen dari nilai tambah. Pajak ini akan dibayarkan oleh penjual ketika produk dijual kepada pembeli terakhir.5 trilyun pendapatan pajak bagi negara. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya. tetapi hanya jenis konsumsi yang dapat diterapkan secara praktis. atau oleh suatu perusahaan untuk pembelian barangbarang modal. dan konsumsi. Jenis Penghasilan Pendekatan nilai tambah ini. seperti yang telah dibahas sebelumnya. Jenis Pajak Pertambahan Nilai Ada tiga jenis pajak pertambahan nilai sesuai dengan basis PNB. Produk Nasional Neto (PNN). oleh suatu perusahaan untuk menambah persediaan barangnya. pajak ini ekivalen dengan pajak penjualan yang diterapkan pada barang konsumsi dan barang modal. yaitu PNB. juga dapat digunakan untuk menyelenggarakan pajak penjualan pada produk neto. pajak. Dengan PNB Indonesia sebesar Rp1. menjadi subyek pajak penjualan umum. yang dihitung dari penerimaan kotor dikurangi dengan biaya pembelian barang setengah jadi dari produsen sebelumnya dalam lini produksi. dengan nilai bersih didefinisikan sebagai penerimaan kotor dikurangi pembelian atas barang setengah jadi dan penyusutan. Jenis PNB Bila semua barang dan jasa final yang diproduksi dan dijual dalam suatu periode. Seperti kita ketahui NNP sama dengan PNB dikurangi cadangan untuk konsumsi modal atau penyusutan. Jumlah yang sama dapat diperoleh dengan menggunakan pendekatan nilai tambah.170 trilyun. pajak dengan tarif 5% yang mencakup semua barang tersebut akan menghasilkan Rp58. bunga. laba dan biaya-biaya.234 Bab 11: Pajak Konsumsi yang dikenakan pada pertambahan nilai akan identik basisnya dengan suatu pajak yang dikenakan pada nilai final dari produk tersebut. baik oleh konsumen rumah tangga. pajak tersebut akan dikenakan baik pada barang konsumsi maupun barang modal.

yang tersisa hanyalah nilai dari output barang konsumsi saja. Alternatif lainnya yang dapat digunakan adalah metode penambahan. dengan perbedaan hanya pada prosedur administrasi saja. Pajak ini tidak dapat dikenakan sebagai pajak atas total nilai bersih dari barang pada saat penjualan terakhir dilakukan karena prosedur ini mengharuskan pencatatan biaya-biaya penyusutan yang dibebankan oleh semua produsen sepanjang lini produksi. Untuk basis penghasilan. Jadi. Basis konsumsi ditentukan dengan menambahkan pembayaran-pembayaran kepada faktor dengan penyusutan (baris 05 dan 07) kemudian dikurangi dengan pembelian barang modal (baris 09). Tabel ini menunjukkan perhitungan ketiga basis dengan menggunakan metode yang disebut metode pengurangan. PPN jenis penghasilan membolehkan perusahaan mengurangkan penyusutan sedangkan PPN jenis konsumsi membolehkan perusahaan mengurangkan investasi bruto. Pajak pertambahan nilai jenis penghasilan berbeda dari jenis konsumsi. Basis PNB dihitung dengan cara menambahkan pembayaranpembayaran kepada faktor dengan penyusutan (baris 05 dan 07). Ilustrasi Perhitungan PPN untuk Setiap Jenis Ilustrasi perhitungan dari berbagai jenis pajak pertambahan nilai disajikan pada tabel berikut. . Jadi metode penambahan langsung menghasilkan angka pada pajak pertambahan nilai jenis penghasilan tetapi agak membingungkan pada pajak pertambahan nilai jenis konsumsi. Jenis Konsumsi Basis untuk pajak pertambahan nilai jenis ini didefinisikan sebagai pendapatan bruto perusahaan dikurang nilai dari seluruh pembelian produkproduk setengah jadi (bahan mentah dan barang dalam proses) dan juga pengeluaran modalnya atas pabrik dan peralatan-peralatan.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 235 penghasilan. Pajak seperti ini akan sama dengan pajak penjualan eceran umum atas barang konsumsi. perhitungan dengan metode penambahan adalah dengan cara menambahkan semua pembayaran kepada berbagai faktor yang dinyatakan pada baris 05. hanya pendekatan nilai tambah yang secara praktis digunakan apabila pajak penjualan akan dikenakan pada produk neto. yaitu pembelian barang-barang modal. Dengan membolehkan setiap perusahaan untuk mengurangkan pengeluaran modalnya.

Musgrave dan Peggy B. Penjumlahan basis-basis pada setiap perusahaan ini menghasilkan basis-basis untuk seluruh ekonomi. NNP atau Pendapatan Nasional PERUSAHAAN B C Ekonomi 120 120 70 145 100 315 151 151 221 265 100 100 20 120 80 120 15 215 90 45 16 151 270 165 51 - - 100 100 120 100 120 195 180 95 6 90 106 321 370 321 - - - 221 100 321 51 270 Sumber: Richard A. Musgrave. Penjualan produk setengah jadi 03. New York: 1989. 5th Edition. Basis GNP Perhitungan Pendapatan Nasional 13. Basis konsumsi (baris 04 dikurangi baris 06 dikurangi baris 09) 11. McGraw-Hill. Pembelian barang-barang modal Basis-basis pajak 10. Konsumsi 14.236 Bab 11: Pajak Konsumsi A Pendapatan 01. Basis penghasilan. 402 Basis konsumsi. Penjualan barang modal 04. dihitung untuk setiap perusahaan dengan mendapatkan angka penjualannya dan dikurangi dengan pembelian barang-barang setengah jadi dan barang-barang modal (baris 06 dan 09). Jumlah total basis-basis ini sama dengan nilai dari konsumsi. 06. Minus Penyusutan 17. Public Finance in Theory and Practice. Upah. seperti yang ditunjukkan pada baris 10. Basis penghasilan (baris 04 dikurangi baris 06 dikurangi baris 07) 12. Pembelian produk setengah jadi 07. seperti yang ditunjukkan pada baris 11. Penjualan barang konsumsi 02. GNP 16. Jumlah total Biaya 05. pendapatan nasional. hal. akan sama dengan penjualan total (baris 04) dikurangi pembelian barang-barang setengah jadi (baris 06). seperti yang ditunjukkan pada baris 12. Penyusutan 08. bunga. dsb. laba. Jumlah total Biaya Modal 09. dan PNB yang ditentukan dalam perhitungan pendapatan nasional. kita akan menghitung basis pajak untuk setiap perusahaan adalah penjualan dikurangi dengan pembelian-pembelian barang-barang setengah jadi dan barang modal. seperti yang ditunjukkan pada kolom terakhir. . Plus Investasi 15. Metode Penagihan Bila kita melihat jenis konsumsi dari pajak pertambahan nilai. Basis PNB. dihitung untuk setiap perusahaan dengan cara penjualan dikurangi dengan biaya barang-barang setengah jadi dan penyusutan (baris 06 dan 07).

Jumlah pembayar pajak dalam pajak penjualan eceran lebih sedikit daripada dalam pajak pertambahan nilai. Kedua. dikenal dengan nama metode perhitungan. pajak penjualan eceran tidak akan efektif. Pertama. Akan tetapi. pajak pertambahan nilai memiliki elemen ketaatan yang tidak dimiliki dalam pajak penjualan eceran. Dalam pajak pertambahan nilai. Simpulan Kita telah melihat bahwa pajak pertambahan nilai jenis konsumsi memiliki basis yang sama dengan pajak penjualan eceran dengan cakupan yang sama. pengecualian barang-barang modal dapat dilakukan dengan lebih efektif daripada dalam pajak penjualan eceran karena sulitnya menelusuri penggunaan barang-barang yang dibeli dari para pengecer. Selain itu. konsumen akan menyadari adanya pajak pada kedua pendekatan ini. Dengan membuat aturan bahwa kredit pajaknya bergantung pada penyajian bukti setor pajak yang dilakukan oleh para pemasok. yaitu metode yang mengharuskan perusahaan menghitung pajak brutonya dengan mengalikan tarif pajak terhadap total penjualan dan mengkreditkan atas pajak bruto ini jumlah yang sama dengan pajak yang telah dibayarkan oleh para pemasok yang barang-barang setengah jadi dan barangbarang modalnya dibeli oleh perusahaan. ada perbedaan pendapat yang cukup tajam di antara kedua pajak ini mengenai yang lebih baik. DISTRIBUSI BEBAN PAJAK . Jika pajak bruto pengecer disajikan terpisah dari harga konsumen. tetapi di negara berkembang di mana usaha ritel umumnya usaha kecil. Satu perbedaan pandangan politis. metode faktur memiliki elemen ketaatan karena setiap pembeli akan meminta salinan dari bukti setor tersebut. hal ini mudah dilakukan.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 237 Bila perhitungan pajak telah selesai. Metode ini cocok di negara yang ketaatan pajaknya rendah. metode faktur. dengan menggunakan metode faktur. Pendukung pajak pertambahan nilai merasa bahwa pajak ini “tampak” berbeda sehingga tidak terkontaminasi reputasi buruk dari pajak penjualan eceran yang menyembunyikan beban pajak dari konsumen karena pajak sering tidak disajikan terpisah dari harga konsumen. ada beberapa perbedaan teknis dalam implementasi yang cukup penting. sehingga memudahkan administrasi karena para pengecer dapat diakses secara efektif. ada dua cara untuk menagihnya. Selain pertimbangan politis. yaitu metode yang meminta perusahaan membayar pajak atas basis yang telah dihitung tersebut. Di negara maju yang usaha ritelnya sudah mapan.

pajak-pajak ini tidak mengindahkan aturan kemampuan untuk membayar. seperti minuman beralkohol dan rokok. cukai memiliki peringkat yang rendah dalam hal keadilan horizontal dan vertikal. Konsumen dengan penghasilan berbeda dikenakan tarif cukai yang sama. cukai akan menimbulkan biaya efisiensi yang lebih besar daripada pajak yang lebih umum. Hal yang sama tidak berlaku untuk pajak penjualan dan cukai. Cukai cenderung regresif karena dikenakan atas barang-barang konsumsi massal.238 Bab 11: Pajak Konsumsi Pajak penghasilan memiliki peringkat yang tinggi dalam hal keadilan karena dikenakan sebagai suatu pajak pribadi yang berusaha mencapai kemampuan membayar dari wajib pajak. Karena hanya dikenakan pada barang-barang tertentu. suatu pajak penjualan umum memenuhi keadilan pajak bila indeks keadilan dinyatakan dalam bentuk konsumsi tetapi akan tidak memenuhi keadilan pajak bila indeksnya dinyatakan dalam bentuk . Cukai juga dikenakan dalam rangka meminimalkan dead weight loss. Pajak Penjualan Umum Pajak penjualan umum dalam bentuk pajak penjualan eceran atas barangbarang konsumsi pada dasarnya sama dengan pajak umum bertarif tetap atas pengeluaran konsumen. seperti rokok dan minuman beralkohol. Cukai umumnya dikenakan kepada barang-barang konsumsi massal yang dipandang “kurang baik untuk dikonsumsi”. Oleh karena itu. sedangkan beban dari pajak atas barang-barang mewah cenderung progresif. tetapi hal ini belum menjadi kebijakan yang telah diterapkan. Cukai tetap dikenakan karena berbagai alasan. Karena tidak dibebankan secara pribadi. Bila dilihat dari keadilan horizontal. Beban dari pajak atas barang-barang kebutuhan sehari-hari cenderung regresif. Konsumen yang memiliki preferensi lebih pada produk-produk kena cukai membayar cukai lebih banyak. yaitu berdasarkan pola pengeluaran konsumsi atas produk yang dikenakan pajak. mereka ini dikenai beban cukai yang berbeda. Cukai juga dikenakan untuk memenuhi rasa keadilan karena barang-barang konsumsi tertentu hanya dinikmati oleh konsumen-konsumen berpenghasilan tinggi. kita menyimpulkan bahwa distribusi beban pajak berdasarkan kelompok penghasilan didominasi dari sisi penggunaan. Cukai juga diskriminatif terhadap konsumen dengan penghasilan yang sama tetapi dengan preferensi yang berbeda. Cukai Pada diskusi kita sebelumnya tentang tax incidence dari pajak penjualan.

Pajak ini merupakan ide yang baru dan menarik dan telah banyak mendapat dukungan dari para akademisi di dunia perpajakan. Pajak seperti ini pernah dicobakan di India dan Sri Lanka. pajak penghasilan dipandang sebagai pajak yang progresif dan pajak penjualan dipandang sebagai pajak regresif.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 239 penghasilan. Perlu dicatat pula bahwa sifat regresif dari pajak penjualan telah dimodifikasi dengan mengecualikan beberapa produk konsumsi massal. tetapi pengenaan pajak ini dalam situasi modern belum pernah ada. Keluarga-keluarga dengan penghasilan yang sama mungkin saja memiliki tingkat konsumsi (menabung) yang berbeda karena faktor usia atau faktor-faktor lainnya.Oleh karena itu. sedangkan pendukung pajak penjualan cenderung berasal dari penentang progresivitas pajak. sehingga melanggar keadilan horizontal dalam bentuk penghasilan. Berikut ini pembahasan teknis apabila pajak ini diterapkan. PAJAK PENGELUARAN WAJIB PAJAK PRIBADI Pajak konsumsi baik melalui cara selektif (cukai) maupun pajak penjualan umum (PPN bila di Indonesia) tetap bersifat regresif karena pengeluaran konsumsi dalam persentase penghasilan cenderung menurun sejalan dengan peningkatan penghasilan. . Pola ini kurang regresif bila dihitung dalam jangka waktu seumur hidup dan bukannya tahunan. pendukung pajak penghasilan cenderung berasal dari pendukung progresivitas pajak. suatu pajak penjualan umum akan proporsional berkenaan dengan tingkat konsumsi tetapi akan regresif berkenaan dengan tingkat penghasilan. seperti makanan. sedangkan pajak konsumsi telah ditetapkan sebagai kerangka dalam pendekatan non pribadi atau in rem dari pajak penjualan. Bila dihitung dalam jangka waktu seumur hidup. karena konsumsi dalam persentase atas penghasilan menurun (menabung dalam persentase atas penghasilan naik) sejalan dengan kenaikan penghasilan. Penggunaan suatu jenis pajak pribadi dari pajak pengeluaran akan menghilangkan perbedaan ini dan membuat pengenaan pajak atas konsumsi menjadi bersifat pribadi dan progresif. penghindaran atas pajak penjualan hanya dapat dilakukan dengan melalui warisan. Keluarga-keluarga seperti itu akan membayar jumlah pajak yang berbeda. Bila dipandang dari keadilan vertikal. Dengan demikian. Perbedaan progresivitas di antara kedua jenis pajak ini muncul karena pajak penghasilan telah dikembangkan dalam kerangka pajak pribadi.

Musgrave dan Peggy B. terutama untuk menentukan penambahan atas kekayaan bersih. definisi global yang diterapkan dalam basis pajak penghasilan berlaku juga pada pajak konsumsi. kemudian akan mengurangkan konsumsi tidak kena pajak yang diperbolehkan. Perhitungan konsumsi dengan meminta individu menambahkan pengeluaran rupiah untuk konsumsi tidak mungkin diterapkan. atau penambahan atas kekayaan bersih. Dengan menggunakan analogi pajak penghasilan. jumlah tambahan tabungan harus didefinisikan sebagai tabungan neto (tambahan tabungan dikurangi penarikan tabungan). akan tetapi penentuan konsumsi kena pajak dalam praktek bukan hal yang mudah. disesuaikan 1 Richard A. Konsep penerimaan yang digunakan dalam skedul perhitungan di atas sama dengan penghasilan yang didefinisikan dalam pajak penghasilan. Konsumsi dihitung dari perubahan dalam saldo bank dan uang dan arus penerimaan dan pembayaran-pembayaran non konsumsi selama tahun berjalan. Semua konsumsi harus dimasukkan ke dalam basis pajak dan kewajiban pajak para wajib pajak tidak dipengaruhi oleh pola tertentu dari pengeluaran konsumsi mereka. . Untuk mendapatkan angka konsumsi. Pendekatan kedua dimulai dari penghasilan dan mengurangkannya dengan jumlah tambahan tabungan. Pendekatan ketiga merupakan paling baik dan yang paling mungkin untuk menentukan konsumsi tahunan wajib pajak adalah dengan menggunakan cara berikut:1 § Saldo bank dan uang pada awal tahun § + penerimaan uang § + tambahan pinjaman bersih (pinjaman baru dikurangi pembayaran pinjaman atau memberikan pinjaman) § – investasi bersih (biaya pembelian aset-aset dikurangi hasil dari aset-aset yang dijual) § – saldo bank dan uang pada akhir tahun § = konsumsi untuk tahun berjalan.240 Bab 11: Pajak Konsumsi Penentuan Konsumsi Kena Pajak Apabila konsumsi digunakan sebagai indeks atas kemampuan untuk membayar. Ide ini tampaknya sederhana. Pendekatan inipun bukan hal yang mudah. Hal 405-406. dan menerapkan tarif pajak progresif kepada jumlah sisanya yang merupakan konsumsi kena pajak. Musgrave. SPT harus digunakan untuk membuat wajib pajak menyatakan jumlah-jumlah tersebut secara rinci seperti pelaporan penghasilan dalam pajak penghasilan. wajib pajak akan menentukan konsumsinya pada suatu tahun pajak.

pajak pengeluaran akan memunculkan kesulitan-kesulitan baru. Walaupun konsumsi rumah akan dimasukkan dengan cara memasukkan komponen imputed rent. Dibalik kelebihan-kelebihan tersebut. dengan membolehkan penggunaan tarif rata-rata untuk menghindari ketidakadilan. Tidak ada kebutuhan untuk menentukan laba perseroan. akan terjadi penghindaran pajak konsumsi dengan menggunakan uang dari saldo-saldo kas tersebut untuk konsumsi. Selain itu. pemotongan pajak dalam sistem tarif yang progresif mempersulit penerapan karena tarif pajak yang tepat bergantung pada apakah penerimaan tersebut akan dibelanjakan atau diinvestasikan kembali. yang diperoleh dengan menahan laba. pengecekan silang akan lebih banyak dilakukan. Bila tidak dilakukan. Permasalahan lainnya adalah pentingnya mencatat secara lengkap saldosaldo kas pada awal tahun. bukan hal yang relevan sampai realisasi terjadi dan hasilnya disalurkan ke dalam konsumsi. Dengan demikian. Perlakuan atas Warisan dan Hibah . pembelian barang-barang konsumsi jangka panjang (seperti mobil). maka harus ada suatu rasio yang ditetapkan sebelumnya dari penghasilan terhadap konsumsi dan penghasilan dikurangkan sebesar rasio ini untuk pemotongan pajak konsumsi. Untuk memastikan peminjaman dipertanggungjawabkan. Jika aset dijual. wajib pajak diharuskan untuk melaporkan neraca atau daftar harta mereka dalam SPT. Karena pemotongan pajak hanya dapat dilakukan terhadap penghasilan penghasilan. pemberi pinjaman diharuskan untuk melaporkan informasi mengenai pinjamanpinjaman yang diberikan. Pendekatan ini lebih sederhana daripada yang dipakai dalam pajak penghasilan. Sulit untuk memberlakukan metode pemotongan dan pemungutan pajak dalam pajak pengeluaran untuk urusan kemudahan administrasi pajak. Permasalahan sulit dari akuntansi penyusutan juga akan hilang. akan diperlakukan sebagai konsumsi tahun berjalan. Penyesuaian terhadap inflasi hanya diperlukan untuk indeks tarif-tarif pajak. Untuk tujuan ini.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 241 dengan mengecualikan capital gain tetapi memasukkan imputed rent dari rumah-rumah yang dihuni pemiliknya juga warisan dan hadiah yang diterima. hasil yang diterima akan masuk ke dalam basis pajak kecuali dikurangi dengan pembelian aset-aset lain atau kenaikan dalam saldo-saldo aset. dan capital gain yang belum direalisasikan. Hal yang sama juga diperlakukan untuk penjualanpenjualan aset. Dividen akan muncul sebagai penerimaan. Dilema dalam memperlakukan capital gain yang belum direalisasikan tidak ada. suatu situasi yang menyulitkan dalam dalam kasus penghasilan modal.

Walaupun demikian. bagaimana memperlakukan warisan/hibah. perlakuan terhadap warisan/hibah masih menimbulkan tanda tanya. Pajak pengeluaran juga tidak akan menghilangkan perlakuan-perlakuan khusus dan loophole yang selama ini ada pada pajak penghasilan. . baik itu untuk konsumsi ataupun untuk diwariskan. Menggantikan pajak penghasilan dengan pajak pengeluaran akan menyederhanakan beberapa hal penting. seperti yang telah dikemukakan sebelumnya.242 Bab 11: Pajak Konsumsi Dalam konsep pajak pengeluaran wajib pajak pribadi. Evaluasi Penggunaan pajak pengeluaran wajib pajak pribadi akan meningkatkan kualitas perpajakan konsumsi karena memungkinkan penerapan prinsip kemampuan untuk membayar dan menghilangkan sifat regresif yang melekat pada pajak penjualan umum. Kedua. basis pajak yang adil bukan hanya konsumsi saja tetapi semua penggunaan penghasilan. Pajak konsumsi. terutama yang berkaitan dengan permasalahan inflasi. konsep penghasilan yang berdasarkan tambahan kemampuan ekonomis memberikan perlakuan yang diskriminatif terhadap konsumsi di masa depan. Seorang pembayar pajak dapat menghindari pajak apabila ia memutuskan sebagian penghasilannya digunakan sebagai warisan/hibah. Walaupun pajak pengeluaran berbasis konsumsi merupakan cara yang lebih baik. Apabla sistem pajak berupaya mendukung kegiatan menabung. akan tetapi ada hal yang harus dijawab terlebih dahulu. penggantian ini juga akan menimbulkan kesulitan-kesulitan baru seperti masalah pemotongan pajak. memberikan perlakuan yang sama dengan menerapkannya pada nilai tunai konsumsi sehingga beban pajak tidak dipengaruhi oleh faktor waktu. pendekatan pajak pengeluaran lebih tepat daripada pemberlakuan pengecualian secara sepotongpotong dalam sistem pajak penghasilan. Akan tetapi. Berdasarkan filosofi tambahan kemampuan ekonomis. Akan tetapi. penerimaan suatu warisan/hibah akan dimasukkan ke dalam basis pajak penerima warisan/hibah. ada suatu permasalahan khusus timbul karena penghasilan tidak digunakan untuk konsumsi tetapi akan diwariskan atau dihibahkan. basis mana yang lebih baik (penghasilan atau konsumsi). penghasilan tersebut tetap tidak dikenakan pajak. Dengan demikian. Cara terbaik untuk mengatasi penghindaran pajak ini adalah dengan memasukkan warisan/hibah sebagai basis pajak pengeluaran. Apabila penerima warisan/hibah tidak membelanjakannya. Pertama.

(5) jasa keagamaan. Pada pajak penjualan selektif. Porsi penghasilan yang ditabung tidak dikenakan pajak. Kebijakan ini diambil untuk mengatur peredaran dan konsumsi barangbarang yang dipandang kurang baik. atau dalam rangka meminimalkan dead weight loss. Pajak ini proporsional § § § . Pajak Kendaraan Bermotor. Pajak Reklame. warung dan sejenisnya. Pajak Restoran. (6) jasa pendidikan dan lain-lain. Yang termasuk barang bebas PPN antara lain: (1) barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yang diambil langsung dari sumbernya. dan menimbulkan biaya efisiensi yang lebih besar daripada pajak penjualan umum. Pajak konsumsi didasarkan pada sisi penggunaan (pengeluaran). dan surat-surat berharga. (2) barangbarang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh rakyat banyak. bensin dan minuman keras. emas batangan. beban dari pajak atas barang-barang kebutuhan sehari-hari cenderung regresif. Sedangkan pada pajak penjualan umum berbentuk pajak penjualan eceran dengan tarif tetap atas pengeluaran konsumen. Adapun jasa bebas PPN antara lain: (1) jasa pelayanan kesehatan. Untuk konsumsi barangbarang tertentu yang dikelompokkan sebagai barang mewah di dalam negeri. PPN merupakan pajak konsumsi yang dikenakan atas konsumsi barangbarang dan jasa-jasa tertentu di dalam negeri. (2) jasa pelayanan sosial. selain dikenakan PPN juga dikenakan PPnBM. PPnBM hanya dikenakan satu kali ketika dijual oleh pabrikan atau ketika diimpor. gula. seperti tembakau. (4) jasa keuangan. dan lain-lain. sedangkan beban dari pajak atas barang-barang mewah cenderung progresif. Pajak konsumsi dihitung dalam ukuran unit produk atau jumlah penerimaan kotor. Cukai adalah pungutan atau pajak yang dikenakan terhadap konsumsi barang-barang tertentu. Pajak Parkir. Pajak konsumsi daerah adalah jenis pajak konsumsi yang diberlakukan pada tingkatan daerah dengan besarnya tarif pajak bergantung pada peraturan masing-masing daerah. rumah makan. restoran. seperti Pajak Bahan Bakar. Pajak Hotel. Pajak konsumsi tidak memperhitungkan kondisi pribadi konsumen. dan (4) uang. Pajak penjualan dapat dipandang ekuivalen dengan pajak yang dikenakan atas pembelian-pembelian rumah tangga. (3) makanan dan minuman yang disajikan di hotel.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 243 RANGKUMAN § Pajak konsumsi dikenakan dikarenakan adanya transaksi produk. Pajak ini memiliki peringkat yang rendah dalam hal keadilan horizontal dan vertikal. (3) jasa pengiriman surat dengan perangko. Pajak Hiburan. seperti rokok dan minuman beralkohol.

Perhitungan pajak menggunakan basis GNP akan mengenakan pajak penjualan atas barang-barang konsumsi dan barang-barang produksi (modal). Basis ini akan sama dengan yang dipakai dalam pajak atas penghasilan kotor. Tujuannya adalah mengenakan pajak pada total penghasilan bersih atau Net National Product (NNP). pajak akan memberikan perlakuan diskriminatif dengan mengecualikan penghasilan yang ditabung (tidak dikonsumsikan). Penerapan pajak berdasarkan perputaran yang komprehensif sebesar 1% saja akan menghasilkan pendapatan pemerintah sebesar sepertiga hasil dari pajak penghasilan. Nilai bersih didefinisikan sebagai penerimaan kotor dikurangi harga pokok produksi dan penyusutan. misalnya pajak atas bahan bakar minyak. Menurut metode total transaksi. Kelemahan dalam hal efisiensi. Ini berarti bentuk ad valorem dapat lebih meminimalkan dead weight loss suatu kebijakan pajak (Musgrave and Musgrave. Hasil pajak yang besar akan didapatkan hanya dengan pengenaan tarif pajak yang rendah. pajak ini akan melanggar prinsip dasar pajak penghasilan yang menyatakan bahwa penghasilan dari semua sumber dikenakan pajak sepenuhnya dalam jumlah netonya. Pajak dikenakan dalam beberapa tahapan pada nilai bersih yang ditambahkan oleh setiap perusahaan. Pajak konsumsi dapat dikenakan atas penjualan barang berdasarkan unit produk yang terjual. Metode turn over menimbulkan diskriminasi pengenaan pajak terhadap produk-produk yang harus melalui banyak tahapan (piramida) produksi dan distribusi. Sebagian besar cukai atau pajak penjualan atas produk-produk tertentu dikenakan berdasarkan unit produk. cukai tembakau dan cukai minuman keras. Suatu produk dikenakan pajak berkali-kali sejalan dengan pergerakannya sepanjang tahapan produksi. dimana dalam pajak penghasilan tidak dikecualikan.244 Bab 11: Pajak Konsumsi § § § § berkenaan dengan tingkat konsumsi tetapi akan regresif berkenaan dengan tingkat penghasilan. atau perhitungan laba sebelum dikurangi biaya penyusutan. Sedangkan PPN dan PPnBM merupakan contoh pajak penjualan yang dikenakan berdasarkan ad valorem. Kelemahan dalam hal keadilan. Bentuk ad valorem lebih berarti daripada bentuk per unit dalam rangka meminimalkan perubahan pilihan konsumen. 1989). Pajak pertambahan nilai jenis . karena konsumsi dalam persentase atas penghasilan menurun. Penghindaran atas pajak penjualan dapat dilakukan dengan melalui warisan. pajak dikenakan berdasarkan perputaran (turnover tax). atau berdasarkan atas nilai produknya. yang sama dengan GNP dikurangi cadangan untuk pembelian barang modal atau penyusutan.

Jika pajak bersifat selektif. yaitu pembelian barang-barang modal. Jika pajaknya bersifat umum. pengenaan pajak pada tahapan produksi lebih menguntungkan. seperti konsumsi perumahan (sewa rumah dan imputed-rent bagi pemilik rumah). Sedangkan pengenaan pajak ad valorem pada tingkatan produksi. perkembangan badan-badan usaha manufaktur cenderung lebih besar. pengenaan pada saat penjualan eceran terasa lebih baik karena memungkinkan pengenaan tarif ad valorem yang seragam. cenderung akan lebih menguntungkan kemudahan administrasi pemungutan pajaknya dibanding pada tingkatan eceran.170 trilyun. Di negara berkembang. Pajak penjualan umum bertujuan mengenakan pajak yang mencakup seluruh konsumsi secara komprehensif. jasa kesehatan dll. identifikasi menggunakan kriteria bahan baku produk tidak memungkinkan. Proses identifikasi pada tahapan produksi. Negara-negara berkembang dapat memperoleh hasil yang lebih baik dengan pajak penjualan yang dikenakan pada tahapan produksi karena jumlah kegiatan penagihan yang lebih sedikit. tahapan pengenaan tarif ad valorem akan lebih mudah dilakukan pada proses produksinya. Akan tetapi jumlah dalam basis ini akan berkurang karena beberapa konsumsi tertentu dikecualikan dari pengenaan pajak penjualan. misalnya mobil murah atau televisi. pajak penjualan komprehensif sebesar 10% menghasilkan revenue sebesar Rp117 trilyun. Di negara-negara berkembang.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 245 § § § § penghasilan membolehkan perusahaan mengurangkan penyusutan untuk jenis penghasilan. Total pengecualiannya dapat mencapai 50% dari potensi penerimaan komprehensif. Hal ini dikarenakan rasio harga eceran terhadap harga produksi tidak selalu seragam untuk berbagai produk. lebih permanen. Pembedaan dalam situasi ini lebih berkaitan dengan bentuk akhir dari produk pada tahapan penjualan eceran. Dengan pengeluaran konsumsi sebesar Rp1. Walaupun dalam situasi lain (misalnya bahan kain yang digunakan untuk pakaian mewah atau pakaian murah). Tarif yang berbeda untuk setiap produk sulit diaplikasikan dan tidak efisien. menghasilkan revenue yang tidak sama dengan pengenaan tarif ad valorem pada tingkatan penjualan eceran. . walaupun hal ini dapat menghasilkan revenue yang berbeda jika diterapkan pada tahap penjualan eceran. konsumsi makanan rumah. Pajak pertambahan nilai jenis konsumsi membolehkan perusahaan mengurangkan investasi bruto. Hanya pendekatan nilai tambah setiap tahapan yang layak digunakan apabila pajak penjualan akan dikenakan pada produk neto. dan lebih memiliki pembukuan yang baik daripada badan-badan usaha eceran.

Perusahaan kemudian mengkreditkan atas pajak bruto ini jumlah pajak yang telah dipungut dan disetorkan oleh para pemasok barang-barang antara dan barang-barang modalnya. basis nilai tambah dari pajak konsumsi bertahap sama dengan basis penjualan akhir secara eceran. (2) Warisan dan Hibah. nilai produk dibagi dalam potongan-potongan dimana pajak dikenakan pada tahapantahapan sepanjang proses produksi. penghasilan tersebut tetap tidak dikenakan pajak. Kedua. Problema pajak konsumsi antara lain: (1) Basis Konsumsi Kena Pajak. hanya cara penagihannya yang berbeda. Pemilihan satu di antara keduanya lebih didasarkan pada pertimbangan lebih mudahnya proses administrasi. Pertama. Dengan cara kedua. sehingga seorang pembayar pajak dapat menghindari pajak apabila ia memutuskan sebagian penghasilannya digunakan sebagai warisan/hibah. wajib pajak akan menentukan konsumsinya pada suatu tahun pajak. LATIHAN 1) 2) 3) 4) Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis pajak atas konsumsi di Indonesia! Bagaimana tahapan pengenaan pajak konsumsi dapat diterapkan? Apa yang dimaksud dengan pajak penjualan atas nilai akhir sama dengan jumlah pajak konsumsi atas pertambahan nilai? Jelaskan metode-metode yang digunakan dalam penagihan pajak konsumsi! . yaitu metode yang mengharuskan perusahaan menghitung pajak brutonya dengan mengalikan tarif pajak terhadap total penjualan. Apabila penerima warisan/hibah tidak membelanjakannya. Walaupun ada perbedaan. atau dikumpulkan secara bertahap dengan menggunakan prosedur nilai tambah. pada titik penjualan final. yaitu metode yang meminta perusahaan membayar pajak atas basis yang telah dihitung. dikenal dengan nama metode account. Menghitung basis pajak untuk setiap perusahaan adalah penjualan dikurangi dengan pembelian-pembelian barang-barang antara dan barang modal. kemudian akan mengurangkan konsumsi tidak kena pajak yang diperbolehkan.246 § Bab 11: Pajak Konsumsi § § Pajak konsumsi dapat dikumpulkan dalam satu kali pengenaan. dan menerapkan tarif pajak progresif kepada jumlah sisanya yang merupakan konsumsi kena pajak. metode faktur (invoice). dimana analogi dengan pajak penghasilan.

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 247 5) Dilihat dari sisi permasalahan politik. Mengapa pemerintah tetap memberlakukan cukai? Lengkapi jawaban Anda dengan contoh-contoh yang memadai 7) Jelaskan bagaimana efek penerapan pajak penjualan jika dipandang menurut keadilan vertikal dan keadilan horizontal? 8) Bagaimana efisiensi penentuan basis konsumsi kena pajak jika dianalogikan dengan penghasilan kena pajak? 9) Apa perbedaan pajak penjualan yang dikenakan atas turn over dengan pajak atas ad valorem? 10) Didalam konsep pajak pengeluaran atas konsumsi. bagaimana dukungan pajak pertambahan nilai dibandingkan dengan pajak penjualan? 6) Beberapa ahli berpendapat bahwa pajak penjualan selektif seperti cukai bersifat regresif. bagaimana perlakuan atas warisan/hibah? .

Alasan manfaat mengarah pada pemberlakuan pajak bumi dan bangunan jenis in-rem sedangkan pertimbangan kemampuan untuk membayar mengarah pada pemberlakuan pajak kekayaan wajib pajak pribadi. mengapa kekayaan hanya dikenakan pada bumi dan bangunan belum ada penjelasan yang masuk akal.PAJAK ATAS KEKAYAAN DAN WARISAN ALASAN-ALASAN KEKAYAAN PENGENAAN PAJAK ATAS Pajak dikenakan atas kekayaan dengan alasan bahwa kekayaan menerima manfaat publik dan kemampuan untuk membayar. Akan tetapi. Alasan Manfaat Pajak atas Kekayaan Pajak dikenakan atas kekayaan karena layanan-layanan publik meningkatkan nilai dari bumi dan bangunan dan oleh karenanya harus dibayarkan oleh pemiliknya. Argumentasi dukungan ini dapat diturunkan dari .

manfaat yang dinikmati harus diperkirakan secara relatif terhadap nilai dari properti. Dalam kasus-kasus lain. berdasarkan konsep ini. Walaupun berapa besarnya biaya tersebut masih dapat diperdebatkan. kekayaan lebih sulit diukur daripada penghasilan. Demikian juga. seperti biaya penegakan hukum. Pada tingkat pemerintah daerah. misalnya pendidikan atau kesehatan. Cara pengenaan seperti ini sangat tepat dikenakan pada pajak-pajak pemda untuk mendanai layananlayanan khusus tadi. Alasan Kemampuan Membayar Pajak Alasan kemampuan untuk membayar pajak sebagai argumentasi untuk mengenakan pajak atas kekayaan harus dilihat dari konteks sejarahnya. Dengan demikian. Oleh karena itu. yang dinyatakan pada akhir abad ke-17. Pada masa lalu. basis pajaknya adalah seluruh kekayaan yang dimiliki oleh seseorang atau dapat menggunakan basis pajak kekayaan bersih. adalah pelindung properti. suatu pajak khusus dapat dikenakan untuk mendanai suatu layanan tertentu. yang pasti tidak semua biaya dari fungsi negara harus diperoleh dari pengenaan pajak ini. Dalam kasuskasus tertentu. Berdasarkan situasi ini. Penggunaan pajak kekayaan untuk mendanai fungsi lain. dalam kondisi modern di mana penghasilan sebagian besar diterima dalam bentuk uang. seperti pembangunan trotoar yang meningkatkan nilai gedung di belakang trotoar tersebut dan juga perlindungan khusus oleh polisi pada daerah-daerah tertentu. pemilik properti diharuskan membayar untuk layananlayanan khusus yang meningkatkan nilai dari properti. dapatkah pajak kekayaan dibenarkan untuk alasan kemampuan untuk membayar? . penerapan alasan manfaat dapat menjadi lebih spesifik lagi. Akan tetapi. Salah satu dari fungsi dasar suatu negara. manfaat khusus yang dinikmati oleh setiap properti dapat diukur dengan suatu indeks seperti panjang jalan di depannya atau lokasinya. pendapatan dari pajak harus dibatasi hanya sebesar biaya yang diperlukan untuk melaksanakan layanan perlindungan. tidak memiliki dasar yang rasional. kepemilikan harta tak bergerak dan harta bergerak (seperti hewan ternak) merupakan indeks yang paling mudah untuk menentukan kemampuan untuk membayar.250 Bab 12: Pajak atas Kekayaan dan Warisan teori Locke yang menyatakan bahwa negara adalah pelindung bumi dan bangunan. pemilik properti membayar kepada negara untuk biaya-biaya negara tersebut. Bila teori tersebut yang menjadi acuan. Sebagian besar pajak yang dipungut oleh negara diterima dalam bentuk barang. sebagaimana pendapat para ahli teori hukum alam. yaitu kekayaan wajib pajak dikurangi dengan kewajibannya. administrasi perundangundangan dan administrasi pengadilan.

Walaupun demikian. tanah dapat dipajaki tanpa menimbulkan suatu “excess burden. Konsekuensi sosial dari ketidakmerataan dalam distribusi kekayaan berbeda dengan konsekuensi sosial dari ketidakmerataan dalam distribusi konsumsi. PAJAK ATAS TANAH Pengenaan pajak khusus atas tanah yang terpisah dari properti telah diusulkan berdasarkan alasan efisiensi dan keadilan. .Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 251 Ada dua kesimpulan yang diambil. yang diperlukan bukanlah pajak atas bumi dan bangunan tetapi pajak atas kekayaan bersih wajib pajak pribadi. jika kekayaan dikenakan pajak karena alasan kemampuan untuk membayar. suatu pajak progresif atas kekayaan dan bukannya atas penghasilan adalah instrumen yang tepat. dan karenanya masyarakat perlu menanganinya secara terpisah. Bila penghasilan digunakan sebagai indeks kesetaraan dan penghasilan didefinisikan sebagai secara komprehensif mencakup seluruh tambahan kemampuan ekonomis. Perbedaannya adalah basisnya lebih cocok menggunakan kekayaan kotor daripada kekayaan bersih karena kekayaan kotor lebih menunjukkan kemampuan kendali ekonomis yang diperoleh oleh pemiliknya. Untuk tujuan ini. beban pajaknya merupakan pajak pribadi dengan definisi kekayaan secara global. Untuk alasan efisiensi. kenaikan tanah dapat dipandang sebagai peningkatan kekayaan yang tidak adil sehingga pengenaan pajak atas tanah akan mengembalikan keadilan. Sebagaimana berdasarkan pendekatan kemampuan untuk membayar. Akan tetapi dalam prakteknya tidak semua penghasilan dapat dicakup dalam pajak penghasilan sehingga memunculkan kebutuhan akan pajak kekayaan sebagai pelengkap.” Pajak atas tanah juga dapat digunakan untuk mendorong penggunaan tanah yang lebih intensif. Juga berdasarkan konsep pajak atas konsumsi. pajak tambahan atas kekayaan dapat dibenarkan karena alasan manfaat-manfaat yang dapat timbul dari penumpukkan kekayaan. karena pengembalian atas tanah adalah dalam bentuk rente ekonomis (yaitu suatu tingkat pengembalian dari suatu faktor produksi dalam penawaran yang tidak elastis). Alasan Pengendalian Sosial Alasan lain untuk pengenaan pajak kekayaan adalah pengendalian sosial sebagai dampak dari distribusi kekayaan yang tidak merata. Untuk alasan keadilan. tidak diperlukan lagi pajak kekayaan sebagai pelengkap.

peninggalan purbakala. atau yang sejenisnya dengan itu. n Objek pajak yang digunakan oleh perwakilan diplomatik dan konsulat berdasarkan asas perlakuan timbal balik. peraturan yang berkaitan dengan pajak atas tanah dan bangunan ini adalah UndangUndang Nomor 11 Prp 1959 untuk pajak atas tanah yang tunduk pada hukum adat. Sebelum reformasi perpajakan tahun 1983. taman nasional. n Objek pajak yang digunakan oleh badan atau perwakilan organisasi internasional yang ditentukan oleh Menteri Keuangan. dan fasilitas lain yang memberikan manfaat. kolam renang. Tarif Nominal. dermaga. dan tanah negara yang belum dibebani suatu hak. dan Ordonansi Pajak Rumah Tangga 1908 untuk pungutan-pungutan lain daerah atas tanah dan bangunan. hutan wisata. meliputi jalan lingkungan yang terletak dalam suatu kompleks bangunan. yang meliputi tanah dan perairan pedalaman serta laut wilayah Indonesia. pendidikan dan kebudayaan nasional. taman mewah. hutan suaka alam. kesehatan. Basis Pajak. yaitu: n Objek pajak yang digunakan semata-mata untuk melayani kepentingan umum di bidang ibadah. tanah penggembalaan yang dikuasai oleh desa. n Objek pajak yang digunakan untuk kuburan. sosial. Setelah reformasi pajak. yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 tahun 1994.252 Bab 12: Pajak atas Kekayaan dan Warisan Struktur Dan Basis Pajak Atas Kekayaan Di Indonesia (Pajak Bumi Dan Bangunan) Jenis pajak atas kekayaan yang berlaku di Indonesia adalah pajak atas bumi (tanah) dan bangunan. dasar hukum yang mengatur pajak atas bumi dan bangunan adalah Undang-Undang Nomor 12 tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). . galangan kapal. jalan tol. yang tidak dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan. pagar mewah. Bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap pada tanah dan/atau perairan. Bumi mencakup permukaan bumi dan tubuh bumi yang ada di bawahnya. tempat olah raga. Ordonansi Verponding Indonesia 1923 dan Ordonansi Verponding 1928 untuk pajak atas tanah yang tunduk pada hukum Belanda (Barat). Beberapa objek pajak dikecualikan dari pengenaan pajak. n Hutan lindung. Rasio Penilaian dan Tarif Efektif Yang menjadi objek PBB adalah bumi dan bangunan.

bergantung pada jenis objek pajaknya. penetapannya dilakukan setiap tahun. hal ini tidak terjadi. seperti Amerika Serikat dan Indonesia.5 persen yang merupakan tarif tunggal. hanya 40% dan 20% dari basis pajak saja yang akan dikenakan. Apakah kekayaan tersebut diukur dengan nilai jualnya atau nilai sewanya dan apakah nilai yang digunakan adalah nilai aktual atau nilai potensialnya? Negara-negara tertentu. perbedaan ini akan hilang karena harga jual dari properti akan sama dengan nilai tunai dari penghasilan sewa aktual di masa depan. menggunakan penghasilan sewa aktual yang diperoleh dari harta tersebut. Karena harga ini sulit didapat. Tarif pajak yang dikenakan atas objek pajak adalah 0. tidak berlaku untuk PNS. 74 tahun 1998. sedangkan negara-negara lain. pengenaan tarif pajak hanya akan dikenakan sebesar 20% dari basis pajak kecuali untuk objek-objek pajak tertentu. Basis yang akan diterapkan pajak serendah-rendahnya 20% dan setinggi-tingginya 100%. Jika pasar yang sempurna tersedia dan penggunaan optimal terjadi. yaitu: n Objek pajak perumahan yang WP-nya perseorangan dengan basis pajak sama dengan atau di atas Rp1 milyar. n Objek pajak kehutanan. n Objek pajak perkebunan yang luasnya sama dengan atau lebih dari 25 Ha yang dikuasai BUMN dan Badan Usaha Swasta. hak pemungutan hasil hutan dan pemegang ijin pemanfaatan kayu. Berdasarkan Pasal 1 Peraturan Pemerintah No. kecuali untuk daerah yang mengalami perkembangan pembangunan yang cepat. Nilai Pasar versus Penghasilan sebagai Basis Penilaian Pertanyaan yang paling mendasar dalam pajak atas kekayaan adalah bagaimana mengukur nilai kekayaan. menggunakan harga jual atau harga pasar sebagai nilai kekayaan. Dengan demikian. .Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 253 Basis pajak untuk objek-objek pajak ini adalah harga pasar wajar atau harga rata-rata yang diperoleh dari transaksi jual beli yang terjadi secara wajar. yang sering dilakukan adalah menggunakan harga objek lain yang sejenis atau nilai perolehan baru atau nilai pengganti. termasuk areal blok tebangan dalam kegiatan pemegang HPH. Dalam kenyataannya. Dari basis pajak ini tidak seluruhnya akan diterapkan PBB. seperti Inggris. Pada prakteknya. basis pajak ini ditetapkan oleh Menteri Keuangan setiap tiga tahun sekali. tarif efektif PBB yang berlaku sekarang ini secara nasional adalah 1 persen dan 2 persen. pensiunan janda/duda yang semata-mata dari gaji/uang pensiun. ABRI. Pada umumnya. yang juga akan sama dengan potensi penghasilannya.

Penilaian dengan perkiraan. telah dikembangkan prosedur yang canggih untuk melakukan evaluasi atas nilai jual dengan menggunakan persamaan regresi yang berisi sejumlah variabel. Walaupun penilaian dengan menggunakan nilai jual lebih disukai. berdasarkan jenis rumah dan lokasinya. sedangkan properti lainnya dengan penghasilan yang sama dapat memiliki nilai pasar dua kali lipat. Prosedur seperti ini memiliki keunggulan dalam hal memungkinkan dilakukannya penyesuaian atas nilai tanah dan bangunan lebih sering lagi. Untuk situasi-situasi seperti ini. akan tetapi penjualan rumah-rumah sejenis tidak terjadi dalam frekuensi yang cukup untuk memberikan basis evaluasi nilai jual. pengenaan pajak berdasarkan basis penghasilan akan menghasilkan pajak yang rendah. yang mengaitkan nilai rumah terhadap berbagai karakteristik. terpaksa digunakan. suatu faktor yang sangat penting bagi negara-negara berkembang. Selain itu. yang menjadi sangat penting pada periode-periode inflasi. Dalam sudut pandang ekonomi. Satu properti dengan penghasilan tahunan sebesar Rp100 juta dapat memiliki nilai pasar sebesar Rp500 juta. Perbedaan lainnya antara pendekatan nilai pasar dan pendekatan penghasilan muncul dari perbedaan dalam menilai risiko.254 Bab 12: Pajak atas Kekayaan dan Warisan Jika properti kurang didayagunakan maka properti kurang menghasilkan. pengenaan pajak atas rente tanah atau mengenakan pajak atas nilai tanah (yang menunjukkan nilai kapitalisasi dari rentenya) telah lama diakui sebagai suatu bentuk pemajakan yang paling kecil kemungkinannya menghambat insentif untuk menginvestasikan pada penyempurnaan tanah (bangunan). Seperti dikemukakan sebelumnya. basis pengenaan pajak yang paling baik adalah pendekatan nilai pasar karena memperhitungkan perbedaan tingkat risiko atas properti-properti tersebut. Pada negaranegara tertentu. keuntungan yang timbul dari . pengenaan pajak atas tanah dapat memenuhi unsur efisiensi pajak dan keadilan pajak. Penghasilan dikapitalisasi dengan tingkat bunga yang berbeda karena adanya premi risiko yang harus dibebankan pada properti yang pertama. pembendaan ini penting sekali karena berkaitan dengan pembebanan pajak. Properti yang pertama terletak pada daerah-daerah bisnis yang perekonomiannya sedang melesu yang menyebabkan properti-properti pada daerah ini memiliki tingkat hasil yang tinggi atas penghasilan bila dibandingkan secara relatif terhadap nilai pasarnya. Karena penawaran atas tanah jumlahnya tetap. Tanah versus Bangunan sebagai Komponen Basis Pajak properti dikenakan atas nilai pasar suatu real estate tanpa membedakan apakah dikenakan pada komponen tanah atau komponen penyempurnaan tanah (bangunan).

pajak seperti ini dapat juga dipandang sebagai pajak atas penghasilan modal. Dengan asumsi pasar modal yang sempurna dan penentuan nilai barang modal yang sempurna. Misalkan aset tersebut memiliki nilai Rp100 juta dan memperoleh penghasilan tahunan sebesar Rp10 juta. yang sesuai dengan tingkat bunga pasar yang sebesar 10 persen. Angka ini sama dengan 50 persen dari penghasilan aset tersebut. suatu pajak sebesar 5 persen yang dikenakan atas nilai dari suatu aset dapat segera diterjemahkan sebagai suatu pajak penghasilan atas penghasilan yang diperoleh dari aset tersebut. Ingat. Pengurangan Beban Pajak Pajak properti atas rumah tinggal merupakan beban bagi penduduk yang berusia lanjut. pengenaan pajak atas penyempurnaan tanah (bangunan) telah menghambat investasi pada sektor perumahan. pengenaan pajak terjadi sebaliknya. Beberapa aturan telah dikembangkan di berbagai negara untuk menyediakan pengurangan beban pajak kepada penduduk berusia lanjut dan keluarga miskin.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 255 kenaikan nilai tanah karena pertumbuhan populasi dan pendapatan dapat dipandang sebagai laba yang tidak diinginkan secara sosial. Pajak sebesar 5 persen atas nilai aset . nilai suatu aset sama dengan nilai tunai dari penghasilannya di masa depan. Satu pandangan menyatakan bahwa pajak properti merupakan pajak atas penghasilan modal apabila dikenakan dalam pasar-pasar yang kompetitif. Pandangan lain membedakan berdasarkan jenis pengenaan dan menempatkan lebih banyak pembahasan pada konsekuensi-konsekuensi dari ketidaksempurnaan pasar. Pada kota-kota besar negara maju. Dalam negara tersebut. DISTRIBUSI BEBAN PAJAK PROPERTI (PBB) Beban atas pajak properti merupakan hal yang kontroversial. Sejumlah besar pemilik rumah yang berpenghasilan rendah adalah orang-orang yang berusia lanjut. Dalam prakteknya. terutama investasi untuk rumah-rumah murah. Pajak Properti sebagai Pajak atas Penghasilan Modal Bila Pajak Properti Dikenakan secara Nasional Misalnya suatu negara memberlakukan suatu pajak nasional atas semua barang modal. yang disebut juga dengan circuit breaker. Hutang pajak berdasarkan pajak 5 persen atas nilai aset akan sebesar Rp5 juta.

terbukti bahwa pajak kekayaan sama dengan pajak penghasilan atas modal. sehingga beban pajaknya progresif. maka kejadian pajak akan terjadi dalam jangka pendek dan jangka panjang. Bila PBB Dikenakan secara Lokal Jika daerah dibebaskan untuk menentukan tarif atas pajak properti.256 Bab 12: Pajak atas Kekayaan dan Warisan (pajak properti) adalah sama dengan pajak sebesar 50 persen atas penghasilan properti (pajak penghasilan). Jika hasil yang sama akan diperoleh dari pajak properti pada tingkat pajak tp dan suatu pajak atas penghasilan aset tersebut pada tingkat pajak ty. modal yang diinvestasikan pada daerah-daerah bertarif tinggi tidak dapat bergerak dan pemiliknya harus menanggung beban pajak yang tinggi. Dalam jangka pendek. Beban dari pajak atas penghasilan modal ini akan dikapitalisasi dan mengurangi nilai properti.1. Untuk mengilustrasikan fakta ini. Dengan demikian. sehingga V = Y/i. Dalam suatu pasar di mana barang modal menghasilkan tingkat pengembalian sebesar 10 persen. Dengan pengecualian pada orang-orang yang berpenghasilan kecil. penurunan dalam tingkat pengembalian bersih dari modal akan menekan persediaan modal. di mana V adalah nilai aset. pajak seperti itu akan mengurangi tingkat pengembalian bersih dari barang modal dan menjadi beban penerima penghasilan barang modal. maka tpY/i = ty atau tp = ity. sehingga beban pajak akan terdistribusi. Mereka tidak dapat mengurangi beban pajak dengan menjual aset yang yang terkena pajak karena nilai properti pun segera terkoreksi. dan i adalah tingkat bunga pasar. Y adalah penghasilan tahunan. sehingga mengurangi produktivitas tenaga kerja di masa depan. baik untuk bangunan maupun tanah. persentase penghasilan dari barang modal ini sebagai bagian dari total penghasilan akan meningkat besarnya sejalan dengan peningkatan penghasilan. Dengan menggunakan rumus umum. . seperti yang berlaku di Amerika Serikat. Dengan beban yang dikenakan dari sisi sumber. beban pajak dari suatu pajak kekayaan atas nilai aset modal yang dikenakan dengan tarif Rp5 juta per Rp100 juta nilai aset akan sama dengan beban pajak dari suatu pajak atas penghasilan dari barang modal dengan tarif 50 persen. Beban pajak diterima oleh pemilik properti pada saat pajak tersebut dinaikkan. 419-420. hal. Penerima beban pajak dalam jangka pendek adalah pemilik dari properti lokal terkena beban pajak yang lebih tinggi. Dalam jangka panjang. sehingga 1 Ibid. nilai dari suatu aset pada pasar modal yang sempurna ditentukan dengan persamaan Y = iV. kita mengasumsikan kembali bahwa tingkat pengembalian atas modal sebelum pajak adalah 10 persen.

maka beban pajaknya bersifat progresif. Jika . kepemilikan tanah lebih banyak pada wajib pajak berpenghasilan tinggi. Tanah tidak dapat dipindahkan. Dalam jangka panjang. Jika pemilik aset yang semula ingin menjual aset tersebut. sama dengan tingkat pengembalian investasi-investasi lain yang tersedia. Seberapa besar perpindahan modal dari daerah yang berpajak tinggi bergantung pada mobilitas keluar dari tenaga kerja. suatu pajak yang dikenakan pada modal dalam satu sektor ekonomi akan dibagi bebannya oleh semua pemilik modal. yaitu pemilik aset sebelum pengenaan pajak tersebut. Dalam jangka panjang. Terjadi penurunan persediaan modal pada daerah berpajak tinggi dan kenaikan persediaan modal pada daerah berpajak rendah. bagian pajak yang mengurangi nilai dari tanah tidak berubah. Jika tenaga kerja dapat berpindah dengan segera. Seperti situasi pada pajak perseroan. Pada umumnya. Tingkat pengembalian kotor atas modal pada daerah berpajak tinggi akan naik sedangkan tingkat pengembalian kotor atas modal pada daerah berpajak rendah akan turun.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 257 suatu aset yang menghasilkan Rp10 juta per tahun memiliki nilai sebesar Rp100 juta. Beban pajak jatuh pada pemilik aset mula-mula. Seperti yang telah dibahas sebelumnya. Sekarang asumsikan suatu daerah tempat aset tersebut mengenakan pajak properti sebesar Rp5 juta untuk setiap Rp100 juta nilai aset. Pergerakan ini akan terus berlangsung sampai tingkat pengembalian bersih dari investasi pada daerah berpajak tinggi sama dengan tingkat pengembalian pajak daerah-daerah lain. ia harus menanggung kerugian pajak tersebut karena pembeli akan meminta suatu tingkat pengembalian sebesar 10 persen. modal ini akan pindah dari daerah yang berpajak tinggi ke daerah yang berpajak rendah. sehingga pemilik asli dari tanah pada daerah-daerah berpajak tinggi akan menderita kerugian permanen yang besarnya sama dengan kapitalisasi bagiannya dalam pajak. yang bila dikapitalisasikan pada tingkat 10 persen akan menurunkan nilai aset menjadi sebesar Rp50 juta. Tidak ada perbedaan dalam jangka pendek dan jangka panjang. tenaga kerja tersebut harus dibayar sebesar apa yang ia terima di tempat lain dan perpindahan modal akan semakin besar. Pemilik berikutnya yang membeli aset tersebut akan melakukannya hanya pada harga yang lebih rendah sehingga tidak dibebani oleh pajak tersebut. Kerugiannya telah dikapitalisasikan dan tetap berada pada pemilik aslinya. Pengeluaran pemeliharaan atas aset-aset tua akan berkurang sehingga aset-aset tersebut akan pensiun dan investasi baru pada daerah berpajak tinggi akan menurun. seperti yang diinvestasikan pada penyempurnaan tanah (bangunan) yang tidak akan melekat selamanya. Situasinya berbeda apabila yang dikenakan pajak adalah modal. pajak ini sama dengan pajak penghasilan sebesar 50 persen. Penghasilan bersih berkurang menjadi Rp5 juta.

Pengaruh ini adalah yang paling penting bila dipandang dari perspektif suatu daerah khusus. walaupun secara nasional tidak berpengaruh terhadap distribusi beban pajak.258 Bab 12: Pajak atas Kekayaan dan Warisan tenaga kerja tidak dapat berpindah. Tidak hanya penduduk lokal tidak mampu mengekspor beban pajak tersebut ketika ditagihkan. demikian pula penyediaan tambahan layanan publik akan meningkatkan nilai dari properti dan menarik modal masuk. Bila tenaga kerja pada daerah berpajak tinggi cenderung merugi. Jadi misalkan suatu properti yang berada pada daerah A dimiliki oleh penduduk daerah B. tenaga kerja pada daerah berpajak rendah cenderung beruntung. penduduk lokal merasakan bahwa sewa meningkat dan upah turun sedangkan penduduk luar daerah mengalami keuntungan. Demikian juga. Dalam jangka panjang. pemilik tanah dan pemilik modal lainnya. free ride tidak akan dinikmati dalam jangka panjang karena modal akan berpindah ke luar. Sekolah. sarana rekreasi. semakin kecil pendapatan yang diperoleh dan semakin besar juga kenaikan sewa dan penurunan penghasilan yang dialami oleh penduduk yang berpajak tinggi. beban jangka pendek akan berada pada penduduk luar daerah tersebut sedangkan penduduk lokal menikmati free ride. jalan raya atau layanan-layanan lokal . Beban Pajak: Penduduk Lokal versus Penduduk Luar Pajak nasional dan lokal yang akan menjadi perhatian suatu daerah lokal hanya bagian yang akan terbeban bagi penduduknya dan bukan bagian yang menjadi beban penduduk daerah lain. Akan tetapi. Karena tenaga kerja yang tidak terampil cenderung kurang mudah bergerak daripada tenaga kerja terampil.” Hal ini juga terjadi pada tingkatan internasional dalam hal perbedaan pajak antar negara. pajak akan dinyatakan dalam bentuk pengurangan upah. Akibatnya. Semakin besar perpindahan modal. tetapi mereka juga mengalami kerugian terhadap pihak luar daerah karena modal makin sedikit tersedia untuk mereka. Dengan demikian kebijakan pajak pemda akan memunculkan pilihan sulit antara (1) laba yang diperoleh dari pemindahan beban pajak kepada penduduk luar daerah melalui pemajakan atas modal yang dimiliki oleh “orang asing” dan (2) bahaya kerugian pada ekonomi lokal dari berpindahnya modal “asing. Perbedaan Manfaat Sebagaimana kenaikan dalam tarif pajak properti akan mengurangi nilai dari properti dan mendorong perpindahan modal ke luar. situasi seperti ini akan memunculkan pengaruh regresif.

Pola-Pola Alternatif Bagian pajak yang dikenakan atas tanah dapat segera dibebankan kepada pemilik tanah. Efek yang terjadi adalah kebalikan dari kenaikan tarif pajak properti seperti yang diterangkan sebelumnya. kedua pengaruh tadi akan saling menghilangkan dengan nilai properti tidak bergantung pada tarif pajak. dengan mempertimbangkan tidak hanya pajak properti. digunakan sebagai sumber pendapatan umum dan digunakan untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran yang manfaatnya tidak selalu sejalan dengan kontribusi pajak. Walaupun demikian. Keadilan Pengenaan PBB dan Pajak Penghasilan Karena keberatan utama atas pajak properti berasal dari pemilik rumah. Dengan demikian. Walaupun investor pada jasa-jasa perumahan akan membayar pajak lebih tinggi berdasarkan pajak properti. sehingga menyatakan secara jelas pentingnya mempertimbangkan kedua aspek tersebut. Kenyataannya tidak demikian. Perbaikan ini akan meningkatkan permintaan akan rumah dan bangunan. Hasil ini menunjukkan adanya beban tambahan yang harus ditanggung oleh pemegang saham karena pajak berganda dari pajak penghasilan perseroan dan juga perlakuan yang lebih baik kepada pemilik rumah berdasarkan pajak penghasilan wajib pajak pribadi. Kombinasi pajak dan pengeluaran pemerintah daerah akan menyebabkan nilai perumahan menjadi turun.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 259 yang lebih baik akan membuat suatu kota atau daerah menjadi tempat yang lebih menarik untuk ditinggali dan menjadi lokasi bisnis. keseluruhan beban pajaknya masih lebih rendah daripada kombinasi ketiga pajak ini. bergantung pada berapa besar pungutan pajak diperoleh dan berapa besar manfaat yang diperoleh oleh properti. penyelidikan empiris menunjukkan bahwa nilai properti berkaitan dengan pengeluaran pemerintah yang memberikan manfaat kepada properti dan juga perbedaan pajak. Jika semua pajak properti dikenakan sesuai dengan prinsip manfaat. mendorong pada peningkatan nilai properti. seperti PBB. mari kita bandingkan posisi mereka sebagai investor dalam jasa perumahan dengan posisi investor saham perusahaan. tidak berpengaruh atau naik. tetapi juga pajak penghasilan wajib pajak pribadi dan pajak penghasilan perseroan. karena penawaran atas tanah bersifat tidak elastis dan tanah . manfaat-manfaat dari pengeluaran-pengeluaran tersebut dapat dikapitalisasi harus lebih besar daripada beban pajaknya supaya nilai properti tidak turun. Pajak properti.

260 Bab 12: Pajak atas Kekayaan dan Warisan tidak dapat dipindahkan. Dengan demikian. Karena pengeluaran perumahan akan menjadi bagian yang semakin kecil sejalan dengan kenaikan skala penghasilan. kita dapat mengasumsikan suatu pasar yang tidak sempurna dan mempostulasikan bahwa sebagian dari pajak tersebut. Pajak yang dikenakan pada bangunan komersial dapat dipandang sebagai sama dengan pajak penghasilan perseroan. Tingkat pajak properti efektif cenderung akan tinggi pada lingkungan berpenghasilan rendah dan sebagian disebabkan oleh pengenaan pajak pada tarif yang lebih tinggi di tengah-tengah kota pada lingkungan berpenghasilan rendah. Penjelasan di atas tidak berlaku untuk properti yang disewakan. distribusi bebannya sejalan dengan penghasilan modal. yaitu pajak atas penghasilan modal? Perumahan dapat dipandang sebagai pos investasi dan juga (dalam kasus perumahan yang ditinggali pemiliknya) sebagai barang konsumsi yang tahan lama. modal yang diinvestasikan pada rumah sewaan akan meminta tingkat penghasilan yang sama dengan modal-modal lain. dipindahkan kepada konsumen. Jika pasarnya kompetitif. PAJAK ATAS KEKAYAAN BERSIH Pengalaman berbagai Negara yang Menerapkan Pajak atas Kekayaan Bersih . tidak ada penghindaran atas pajak. Pajak dapat mengarah pada peningkatan batas atas sewa atau pelonggaran dari penentuan harga monopoli yang dibatasi sebelumnya. Bagaimana pandangan pajak ini. Dalam kasus ini. Yang tersisa adalah pajak atas rumah tinggal. pajaknya akan bersifat regresif. Sebagian dari beban pajak akan terserap dalam sewa-kepemilikan ini dan didistribusikan sejalan dengan konsumsi dan bukannya dibagikan kepada semua penghasilan modal. Bagian dari distribusi beban pajak ini kemudian akan menjadi regresif. Akan tetapi hasilnya akan berbeda bila pasar sewa tidak sempurna sebagaimana yang sering terjadi. dapat direkonsiliasikan dengan interpretasi yang lebih awal. pajak ini dipandang sebagai pajak atas jasa-jasa konsumsi perumahan. Tambahan beban pajak ini akan ditanggung pula oleh penyewa. misalkan separuhnya. dimana pemiliknya hanya mempertimbangkan pilihan investasi. pemilik yang menempati akan bersedia menerima sewa imputed yang lebih rendah pada perumahan daripada pada investasi lainnya. yang merupakan pajak atas pengeluaran perumahan. Sebagaimana masyarakat melihatnya. Distribusi pembebanannya cenderung progresif. Karena itu.

Untuk negaranegara lain. . Basisnya juga harus didefinisikan secara global sehingga dapat memberikan perlakuan yang sama pada semua komponen kekayaan bersih. aset berpenghasilan dan yang tidak berpenghasilan semuanya dimasukkan. Akan tetapi. Swiss. Negara yang menggunakan pajak ini umumnya menerapkannya sebagai pajak tambahan atas pajak properti sehingga pendapatan dari pajak atas kekayaan bersih hanya merupakan bagian kecil (di bawah 5 persen) dari total pendapatan pajak. Dengan demikian beberapa aspek atau diskusi tentang basis pajak pada pajak penghasilan juga berlaku pada pajak kekayaan bersih ini. pajak ini dikenakan hanya kepada individu. Oleh karena itu.5 persen). walaupun pada beberapa negara (seperti Jerman dan India) juga dikenakan kepada perseroan. Demikian juga.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 261 Pajak atas kekayaan bersih diberlakukan pada beberapa negara. Definisi dari aset kena pajak biasanya mencakup aset berwujud dan aset tak berwujud. Selain itu. Di kebanyakan negara. pajak ini harus dikenakan pada orang pribadi dan perseroan. Pajak ini merupakan salah satu komponen penting dalam struktur pajak karena pajak ini dapat digunakan sebagai pelengkap terhadap cakupan atas penghasilan modal yang tidak efektif dalam pengenaan pajak penghasilan. Semua aset berwujud dan tak berwujud. kecuali di Swiss. merupakan pajak pusat. kekayaan bersih dari perseroan harus diperhitungkan kepada pemiliknya. suatu aspek yang sangat penting pada negara-negara berkembang karena sulitnya mengenakan pajak atas penghasilan modal. Jerman. sejalan dengan metode integrasi dari pajak laba perseroan. beberapa negara tidak membolehkan kewajiban tidak berkaitan dengan perolehan aset kena pajak. Pajak atas kekayaan bersih. India dan beberapa negara Amerika Latin. Seperti. Orang pribadi diberikan pengecualian dan tarif pajak dapat proporsional (umumnya 1 persen atau kurang) atau progresif ( berkisar sampai 2. seperti Belanda. semua kewajiban hutang juga dikurangkan. Kewajiban hutang juga dapat dikurangkan untuk memperoleh angka kekayaan bersih. negara-negara Skandinavia. prinsip keseragaman harus diterapkan baik kepada sisi aset maupun sisi kewajiban pada neraca. Struktur dan Basis Pajak Basis Pajak Pajak atas kekayaan bersih sangat berkaitan dengan kemampuan untuk membayar. pajak ini dapat digunakan sebagai pelengkap untuk pajak pengeluaran.

Oleh karena itu. Akan tetapi. Berkenaan pelaporan tersebut ada beberapa permasalahan yang harus diperhatikan pemerintah terhadap laporan yang diberikan: n Pemerintah harus memastikan bahwa semua aset telah dinyatakan. Kesulitan dalam mengadministrasikan suatu pajak atas kekayaan bersih yang baik sangat banyak sehingga lama-lama pajak ini terdegenerasi menjadi pajak atas bumi dan bangunan saja. n Penentuan hutang-hutang yang dapat dikurangkan. terutama yang tidak diperjualbelikan.262 Bab 12: Pajak atas Kekayaan dan Warisan Mengukur Kekayaan Bersih Administrasi pajak atas kekayaan bersih mengharuskan adanya identifikasi atas aset kena pajak dan verifikasi atas hutang yang dapat dikurangkan dari kekayaan. sedangkan aset lain. kesulitan ini tidaklah sangat besar. dan secara khusus dengan administrasi pajak pengeluaran. n Penilaian aset. Untuk sisanya. Dengan demikian. Semua instrumen hutang adalah antara orang pribadi. Misalnya hanya ada dua orang. Seringkali diperlukan estimasi dalam menentukan nilai-nilai aset. SPT-nya harus melampirkan neraca tahunan yang berisi daftar harta dan kewajiban pembayar pajak. yang posisi kekayaannya adalah berikut: . pernyataan ini akan menambah basis dari pajak atas kekayaan bersih. seperti sekuritas yang diperdagangkan. Bila dikaitkan dengan administrasi pajak penghasilan. aset yang menjadi subjek pajak properti (terutama bila pengenaannya disamakan) dapat dinilai dengan cara itu. Kesulitan-kesulitan yang melekat dalam penilaian aset seperti yang telah didiskusikan dalam kaitannya dengan pajak atas penghasilan modal juga terjadi dalam penerapan pajak kekayaan bersih ini. dapat dinilai berdasarkan harga penawaran di pasar. dapat memunculkan elemen self enforcement. Perolehan aset harus dinyatakan untuk meminimalkan pajak pengeluaran. yaitu A dan B. Peranan Harta Tak Berwujud (Intangibles) Klaim kepada swasta Asumsikan suatu keadaan di mana tidak ada hutang publik atau uang yang dikeluarkan pemerintah. perkiraan yang kasar (seperti biaya perolehan dikurangi dengan penyusutan) harus digunakan.

Pada awalnya. peminjam tidak akan bersedia membayar pada tingkat bunga yang sama seperti yang mereka lakukan sebelumnya karena penghasilan bersih mereka dari investasi pada properti akan menurun.000. pasar akan menyesuaikan sedemikian rupa sehingga ketika pajak atas properti dikenakan.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 263 A B 50. basis total untuk suatu pajak atas harta berwujud dan kekayaan bersih akan sama.000 A+B 150.000 Sebagaimana ditunjukkan dalam tabel di atas.000 dari suatu pajak sebesar 10 persen atas semua harta berwujud.000 dan B akan membayar sebesar Rp5. Akan tetapi. Sebaliknya. A akan membayar sebesar Rp10. pajak atas kekayaan bersih adalah bentuk yang paling baik dari pajak atas kekayaan.000 Harta berwujud Hutang Piutang Kekayaan bersih 100. Jika suatu tarif proposional dikenakan. Klaim terhadap Pemerintah Perbedaan lebih lanjut dapat terjadi jika kita mengasumsikan adanya klaim terhadap pemerintah. Jika kita mengumpulkan jumlah yang sama dengan menggunakan pajak atas kekayaan bersih.000 90. apakah klaim itu dalam bentuk hutang publik atau uang yang didukung oleh kredit bank sentral. Pemberi pinjaman harus puas dengan suatu tingkat bunga yang lebih rendah. keduanya berbeda apabila pajak diterapkan dengan tarif progresif. hal ini menyarankan bahwa A akan lebih menyukai pajak atas kekayaan bersih sedangkan B akan lebih menyukai pajak properti. Jika kita menagih sebesar Rp15. Klaim seperti ini akan menambah . distribusi beban pajak akan sama dengan yang terjadi berdasarkan pajak atas kekayaan bersih.000 60. pilihan di antara keduanya tidak ada permasalahan.000 150. yaitu sejalan dengan distribusi kekayaan. yaitu sebesar Rp150.000 10. Sesuai dengan tabel di atas. Pada akhirnya.000.000 10. sehingga sebagian beban pajak dipindahkan dari A ke B.000.000 dan B akan membayar sebesar Rp6. A akan membayar sebesar Rp9. Karena pajak pribadi mengharuskan adanya pengenaan pajak berdasarkan prinsip kemampuan untuk membayar. kita dapat melihat bahwa distribusi beban dari suatu tarif progresif pada properti (di mana basis A dua kali basis B) akan berbeda dengan yang dikenakan pada basis kekayaan bersih (di mana basis A hanya lebih besar 50 persen daripada basis B).

Klaim-klaim seperti ini dapat menjadi tambahan pada basis kekayaan bersih bagi seluruh kelompok secara keseluruhan.000 20.888 dari A dan Rp5.264 Bab 12: Pajak atas Kekayaan dan Warisan kekayaan dari seseorang tanpa mengurangi kekayaan dari orang lainnya.000 160.000 70.000 dan Rp5. yang tidak diharapkan akan terjadi kembali.000 B 60. Pasar sekali lagi akan mengkompensasikan untuk pengurangan tingkat pengembalian bersih dari properti. penagihan sebesar Rp15.000 240.000 Dalam kasus ini. tetapi beban A akan tetap lebih tinggi berdasarkan pajak atas kekayaan bersih daripada pajak atas properti. bea seperti itu berbeda dari bentuk pajak kekayaan lainnya karena ketiadaan efek-efek mengganggu terhadap ekonomi. ALASAN-ALASAN PENGENAAN PAJAK ATAS WARISAN APajak atas warisan adalah salah satu jenis pajak kekayaan yang dikenakan pada saat pemindahan dengan mewariskan atau menghibahkan. suatu tarif sebesar 10 persen.000 80. dan mendapatkan Rp9. jadi tidak . bea ini telah digunakan oleh beberapa negara dalam situasi-situasi mendesak seperti reformasi moneter untuk menghentikan inflasi setelah perang.112 dari B. Dikenakan sekali dan selamanya. Jika sifatnya benar-benar satu kali dan selamanya.000 masing-masing. Untuk mendapatkan sejumlah pendapatan yang sama dengan pajak properti. dengan pembayaran sebesar Rp10.000 A+B 150. Misalnya tabel di atas dimodifikasi sebagai berikut: A Kekayaan bersih dari tabel sebelumnya Klaim terhadap pemerintah Kekayaan bersih 90.2 persen.000 90.000 berdasarkan pajak atas kekayaan bersih tarif tetap akan mengharuskan pengenaan tarif sebesar 6. akan tetapi asumsi mendasar tentang aplikasinya yang unik dan tanpa diharapkan terjadi kembali menyebabkan pajak ini tidak termasuk bagian dari struktur pajak normal. Hal ini menambah daya tarik pajak jenis ini sebagai instrumen pajak redistribusi. BEA ATAS MODAL Satu bentuk pajak kekayaan lainnya adalah bea atas modal.

Pajak dapat dikenakan pada warisan secara keseluruhan atau atas jumlah yang diterima oleh ahli waris. suatu pajak atas kekayaan dapat diberlakukan. Pajak atas warisan dapat dikenakan dalam berbagai bentuk.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 265 dikenakan setiap tahun. suatu pendekatan yang pertama kali disarankan oleh ahli ekonomi Italia. dapat diberlakukan suatu pengecualian. Dalam hal ini. Untuk alasan inilah pajak atas warisan secara potensial merupakan elemen yang penting dalam struktur pajak. Pajak ini juga dikenakan dengan berbagai alasan tertentu. apabila tarif pajak yang dipakai tidak proporsional. tingkatan tarif pajak atas warisan yang dapat diterapkan akan naik ketika kekayaan diwariskan pada generasi berikutnya. TUJUAN DAN JENIS PAJAK ATAS WARISAN Beberapa hal berikut yang memunculkan pengenaan pajak atas warisan pada suatu masyarakat: § Masyarakat mungkin ingin membatasi hak seseorang untuk membagikan hartanya pada saat meninggal. Dalam hal ini. Sepintas. Eugino Rignano. § Masyarakat dapat membuat batas sampai generasi tertentu suatu warisan dapat dipindahkan sepanjang generasi. Dalam hal ini. Pajak atas warisan dapat diterapkan pada tingkatan nasional maupun pada tingkatan lokal. tidak ada perbedaan apakah pajak dikenakan atas warisan atau kepada penerima warisan. pajak dapat dikenakan kepada ahli waris. Orang pribadi dapat menggunakan harta mereka ketika mereka masih hidup tetapi hak kepemilikan mereka berakhir ketika meninggal. Jika diinginkan. § Masyarakat juga dapat membatasi hak seseorang untuk mendapatkan kekayaan dari warisan yang merupakan perolehan kekayaan tanpa usahanya sendiri. Akan tetapi. perbedaan pengenaan ini dapat menimbulkan perbedaan jumlah pajak. Walaupun basisnya telah berkembang secara substansial di negara-negara maju. Jika masyarakat ingin membolehkan orang untuk mewariskan secara bebas sampai sejumlah tertentu. pajak atas warisan tidak akan menjadi sumber pendapatan utama suatu negara. pajak atas warisan mendapat perhatian luas karena filosofi sosial dan sebagai instrumen kebijakan untuk menyesuaikan distribusi kekayaan. sejumlah warisan di atas sejumlah tertentu dikenakan pajak 100 persen. Akan tetapi. dapat diatur perolehan harta tertentu melalui warisan dapat . Jika masyarakat ingin menyita warisan yang melebihi suatu jumlah tertentu.

266 Bab 12: Pajak atas Kekayaan dan Warisan dibebaskan tetapi membedakan antara perolehan-perolehan besar dan kecil. Tarif progresif dapat diterapkan juga untuk cara ini. Tradisi pewarisan merupakan satu faktor utama yang menimbulkan konsentrasi kekayaan. § Pajak atas warisan dapat dipandang sebagai suatu alternatif terhadap pajak atas penghasilan modal selama masa hidup penerimanya. § Masyarakat juga dapat menggunakan pajak untuk mencapai tujuan yang lebih umum mencapai distribusi kekayaan yang lebih adil. PERMASALAHAN-PERMASALAHAN KHUSUS . Hanya jika tarif pajaknya proporsional tidak ada perbedaan apakah dikenakan atas warisan atau dikenakan kepada ahli waris. § Pajak pada saat kematian dapat dipandang sebagai pelengkap atas pajak penghasilan. Dalam mencapai tujuan 1 dan 3 di atas. Bila warisan dikecualikan dari pengenaan pajak penghasilan. Walaupun tujuannya berbeda. Berdasarkan pendekatan tambahan kemampuan ekonomis dari pajak penghasilan. pilihan antara pendekatan pajak atas warisan atau pajak kepada ahli waris bergantung pada tujuan-tujuan yang akan dicapai dengan merancang pajak tersebut. Pilihan di antara tujuan-tujuan ini dan pemilihan pajak yang tepat bukanlah permasalahan yang sama dengan pertanyaan bagaimana transaksi-transaksi pada saat kematian (penerimaan suatu warisan atau memberikan warisan) harus diperlakukan dalam suatu pajak penghasilan atau pengeluaran. suatu pajak atas warisan (yang tarifnya disesuaikan dengan penghasilan dari ahli waris) dapat dipandang sebagai koreksi atas definisi penghasilan yang kurang baik dalam pengenaan pajak penghasilan. Penggantian pajak penghasilan modal yang progresif menjadi pajak atas warisan akan mengurangi pengaruh disinsentif pada menabung dan investasi. Hal yang sama juga dapat dinyatakan untuk peranan dari pajak atas warisan (yang dikaitkan dengan konsumsi dari pewaris) sebagai koreksi untuk definisi basis yang efektif dalam hal pajak pengeluaran yang tidak memasukkan warisan dalam basisnya. Pajak atas warisan dapat digunakan untuk mengurangi ketidakadilan dalam distribusi kekayaan ini. penerimaan dari suatu warisan menambah kemampuan ekonomis penerimanya sehingga selayaknya dimasukkan sebagai penghasilan bagi ahli waris. masyarakat dapat menerapkan pajak atas warisan (yang mengurangi hak pewaris membagikan hartanya) dan pajak kepada ahli waris yang dirancang untuk membatasi hak ahli waris untuk menerima dan/atau mengkompensasikan ketidaktercakupan warisan ke dalam penghasilan kena pajak. Oleh karena itu. keduanya tidak harus mutually exclusice.

Organisasi-organisasi yang didukung oleh sumbangan-sumbangan tidak kena pajak telah mencapai tujuan-tujuan yang berguna bagi masyarakat yang tidak dapat dicapai melalui anggaran negara. Jadi. hanya peningkatan harga dari saat kematian saja yang diperhitungkan. Bisnis Keluarga Para kritikus dari pajak atas warisan menyatakan bahwa pajak ini mengancam kelangsungan institusi perusahaan yang dimiliki keluarga. melibatkan faktor-faktor budaya. bukannya sebesar harga perolehan aslinya. membuat peningkatan harga sebelum kematian tidak dipajaki.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 267 Capital gain Di Amerika Serikat. Pada umumnya tidak ada batasan pengurangan atas sumbangan sosial dalam kerangka pajak atas warisan. walaupun sebelum kematian kepemilikannya terpisah. sebagaimana juga dalam pajak penghasilan. Walaupun demikian. Harta yang diwariskan kepada pasangan yang masih hidup diperlakukan seolah-olah harta tersebut adalah harta bersama. Pengurangan karena Status Pernikahan Permasalahan perlakuan terhadap unit keluarga yang muncul pada pajak penghasilan. aturan sampai seberapa jauh hubungan kekeluargaan menyebabkan pengecualian dari pengenaan pajak sangat bergantung pada peranan keluarga dalam kaitannya dengan hak untuk memindahkan harta setelah meninggal. Peranan dari sumbangan sosial dalam pajak warisan. terjadi juga pada pajak warisan. Hal ini sesuai dengan pendekatan unit keluarga dalam pajak penghasilan. Salah satu keberatan yang dimunculkan adalah pajak atas warisan dapat membuat . Aturan yang sama tidak berlaku untuk anak dan anggota keluarga lainnya. Sumbangan kepada Lembaga Sosial Sumbangan sosial juga penting dalam pajak atas warisan/hibah. akan tetapi pembebasan pajak ini mendorong timbulnya kendali privat yang tinggi dalam penggunaan dana yang sebenarnya dana publik. Apabila salah satu pasangan meninggal. warisan dapat diberikan kepada pasangannya yang masih hidup tanpa dikenakan pajak. sosial dan politik yang sudah di luar pembahasan kebijakan pajak. aset untuk tujuan pajak warisan dinilai berdasarkan harga pasarnya pada saat pemiliknya meninggal. Basis yang baru ini kemudian digunakan untuk tujuan pengenaan pajak atas penghasilan modal pada saat penjualan aset tersebut oleh ahli waris.

Unit tersebut dapat dijual secara keseluruhan atau sebagian dari ekuitas dapat dipindahkan kepada pihak luar. Dalam kasus-kasus tertentu. § . Penggunaan pajak kekayaan untuk mendanai pendidikan. Tidak semua biaya dari fungsi negara harus diperoleh dari pengenaan pajak ini. yang tidak harus melibatkan pemecahan unit usaha. manfaat khusus yang dinikmati oleh setiap kekayaan dapat diukur dengan suatu indeks seperti panjang jalan di depannya atau lokasinya. Alasan pengenaan pajak kekayaan atas dasar manfaat adalah bahwa layanan-layanan publik meningkatkan nilai dari bumi dan bangunan. Alasan kemampuan dimana pada masa lalu. kepemilikan harta tak bergerak dan harta bergerak (seperti hewan ternak) merupakan kriteria yang paling mudah untuk menentukan kemampuan untuk membayar. Keberatan ini sebenarnya bukan masalah besar karena dapat diatasi dengan aturan-aturan yang liberal untuk pembayaran yang dicicil atau ditunda. Konsekuensi yang mungkin sulit dicegah adalah gangguan atau pengurangan terhadap kendali keluarga atas bisnis sebagai akibat dari pengenaan pajak apabila kekayaan yang diwariskan dalam bentuk bisnis keluarga. pembayaran pajak akan mengharuskan suatu likuidasi. tidak memiliki dasar yang rasional. Walaupun demikian. RANGKUMAN § Pajak atas bumi dan bangunan adalah jenis praktek pajak kekayaan yang paling sering muncul. pajak kekayaan tidak diperlukan apabila pajak penghasilan didefinisikan secara komprehensif mencakup seluruh tambahan kemampuan ekonomis. Dalam hal konsep pajak atas konsumsi. pajak kekayaan dapat dibenarkan karena alasan mengurangi penumpukkan kekayaan. misalnya. Oleh karenanya pemilik kekayaan dapat diharuskan membayar kepada negara untuk biaya-biaya negara tersebut.268 Bab 12: Pajak atas Kekayaan dan Warisan ahli waris harus melikuidasi perusahaan dengan persyaratan-persyaratan yang tidak menguntungkan dalam rangka membayar pajak tersebut. Dengan konsep kesetaraan.

Alasan keadilan karena kenaikan nilai tanah dapat dipandang sebagai peningkatan kekayaan yang tidak adil. Terutama pada kota-kota besar dan negara-negara maju. pengenaan pajak berdasarkan basis penghasilan aktual akan menyajikan nilainya yang terlalu rendah. Circuit breaker berupa kredit pajak dapat berakibat pajak negatif. Dalam kenyataannya. Karena pengembalian atas tanah berada dalam posisi penawaran yang tidak elastis. Dalam jangka pendek beban dari pajak atas penghasilan modal ini akan dikapitalisasi dan mengurangi nilai dari kekayaan. nilai kapitalisasi penghasilan aktual dan nilai pasar tidak selalu menghasilkan angka yang sama. Dalam jangka . Jika pasar yang sempurna tersedia dan penggunaan optimal terjadi. Selain itu. suatu pajak yang dikenakan atas nilai dari suatu aset dapat segera diterjemahkan sebagai suatu pajak penghasilan atas penghasilan yang diperoleh dari aset tersebut. Dalam prakteknya. tidak ada perbedaan karena harga pasar dari kekayaan sama dengan nilai kapitalisasi dari penghasilan aktual.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 269 § § § § § § Konsekuensi sosial dari ketidakmerataan dalam distribusi kekayaan berbeda dengan konsekuensi sosial dari ketidakmerataan dalam distribusi konsumsi. Perbedaan lainnya ada dalam risiko yang ditanggung. karena memperhitungkan adanya perbedaan tingkat risiko atas kekayaan-kekayaan tersebut. dan karenanya masyarakat perlu menanganinya secara terpisah. yang disebut juga dengan circuit breaker. pengenaan pajak atas pematangan tanah telah menghambat investasi perumahan. Alasan efisiensi karena tanah dapat dipajaki tanpa menimbulkan suatu excess burden. terutama investasi untuk rumah-rumah murah. Pengenaan pajak khusus atas tanah yang terpisah dari kekayaan telah diusulkan berdasarkan alasan efisiensi dan keadilan. Jika kekayaan kurang didayagunakan. Dengan asumsi pasar modal dan prosedur penilaian yang sempurna. Jika terdapat perbedaan hasil. pajak atas tanah juga dapat digunakan untuk mendorong penggunaan tanah yang lebih intensif. Basisnya lebih tepat didefinisikan sebagai kekayaan kotor daripada kekayaan bersih karena kekayaan kotor lebih menunjukkan cakupan kendali ekonomis yang diperoleh oleh pemiliknya. basis pengenaan pajak yang paling baik adalah pendekatan nilai pasar. Beberapa aturan telah dikembangkan di berbagai negara untuk menyediakan pengurangan beban pajak kepada penduduk berusia tua dan keluarga dengan penghasilan rendah. pengenaan pajak tanah dapat berakibat sebaliknya. Pajak tanah telah lama diakui sebagai suatu bentuk pemajakan yang paling kecil kemungkinannya menghambat insentif investasi real estate.

Pajak atas bangunan perumahan dapat dikenakan . Penyediaan tambahan layanan publik akan meningkatkan nilai kekayaan dan menarik modal masuk. dipindahkan kepada konsumen. Dalam pasar yang tidak sempurna.270 Bab 12: Pajak atas Kekayaan dan Warisan § § § § panjang. Untuk barang bergerak: modal ini akan pindah dari daerah yang berpajak tinggi ke daerah yang berpajak rendah. kebijakan suatu pemda hanya memperhatikan bagian yang penduduknya: keuntungan dari penggeseran beban pajak kepada pihak luar melalui pemajakan atas modal yang dimiliki oleh bukan penduduk lokal. Distribusi pajak bangunan komersial regresif. keseluruhan beban pajaknya masih lebih rendah dibanding kombinasi pajak kekayaan. Distribusi pajak atas tanah progresif. Pajak atas tanah dapat segera dibebankan kepada pemilik tanah. Lebih lanjut. mendorong peningkatan nilai kekayaan. Pajak kekayaan dapat digunakan untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran yang manfaatnya tidak selalu sejalan dengan kontribusi wajib pajak. Pajak yang dikenakan pada bangunan komersial dapat dipandang sebagai sama dengan pajak penghasilan badan. Rumah tidak hanya dapat dipandang sebagai pos investasi. Semakin besar kenaikan sewa berarti penurunan penghasilan oleh penduduk daerah yang berpajak tinggi. untuk barang tetap: pemilik tanah pertama akan menderita kerugian permanen yang besarnya sama dengan kapitalisasi beban pajak. dan karenanya menimbulkan efek kebalikan dari kenaikan tarif pajak kekayaan. dan pajak penghasilan perseroan yang diderita investor saham. akan terus berlangsung sampai tingkat pengembalian bersih dari investasi pada daerah berpajak tinggi sama dengan tingkat pengembalian pajak daerah-daerah lain Dalam menyikapi pajak nasional dan pajak lokal. Kebijakan distribusi beban pajak properti pada dasarnya berbentuk: pajak atas tanah dan pajak atas bangunan. Semakin besar perpindahan modal berarti semakin kecil pendapatan yang diperoleh. sebagian dari pajak tersebut. Keberatan utama atas pajak kekayaan datang dari individu yang memiliki banyak rumah sebagai investasinya. misalkan separuhnya. Walaupun investor pada jasa perumahan akan membayar pajak lebih tinggi dalam kerangka pajak kekayaan. Perbaikan layanan publik ini pada akhirnya akan meningkatkan permintaan rumah dan bangunan. pajak atas bangunan dibedakan menjadi bangunan komersial dan bangunan perumahan. dan bahaya kerugian pada ekonomi lokal dari berpindahnya modal asing. tetapi juga dipandang sebagai barang konsumsi yang tahan lama (ketika rumah ditempati pemiliknya). pajak penghasilan perorangan. karena penawaran atas tanah bersifat tidak elastis.

Praktek pajak kekayaan di seluruh dunia. pajaknya bersifat regresif. Semua aset berwujud dan tak berwujud. Prinsip self enforcement dapat digunakan dimana pembelian aset dapat dikeluarkan dari basis pajak konsumsi. Karena pengeluaran konsumsi rumah tinggal akan semakin kecil sejalan dengan kenaikan skala penghasilan rumah. Pengenaan tarif pajak kekayaan proposional (flat) tidak menghasilkan nilai yang berbeda untuk basis kekayaan bruto dan neto. Sedangkan kekayaan bersih perusahaan harus diperhitungkan kepada pemiliknya (sebagai orang pribadi). tetapi pola distribusi beban pajak kekayaan tidak sama antara metode kekayaan bruto dengan metode kekayaan bersih. yang diterapkan hampir seragam sebagai pajak in rem. Hutang Publik (klaim kepada pemerintah) dapat menambah kekayaan seseorang tanpa mengurangi kekayaan orang lain. Tarif pajak kekayaan yang tinggi di kota-kota metropolitan. hasil distribusi akan berbeda apabila pajak diterapkan dengan tarif progresif. tetapi harus menambah jumlah basis kekayaan bersih kena pajak. dan harga pokok dengan penyusutan. Sifat pungutan yang sekali untuk selamanya tidak mengganggu perekonomian . atas tanah dan bangunan sering tidak mengarah pada pajak perseorangan dan tidak atas basis kekayaan bersih. Penilaian aset menggunakan estimasi. Bea atas modal dikenakan sekali untuk selamanya. Sebaliknya. Definisi dari aset kena pajak biasanya mencakup aset berwujud dan aset tak berwujud dan dalam banyak kasus semua kewajiban atau hutang berkaitan kepemilikan aset dapat dikurangkan. harga pasar. Pajak atas kekayaan bersih sangat berkaitan dengan kemampuan untuk membayar. sebagian dibayar oleh masyarakat berpenghasilan rendah. Demikian juga. Oleh karena itu. semua kewajiban hutang dikurangkan.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 271 § § § § § § sebagai pajak konsumsi atas jasa-jasa perumahan. pajak ini harus dikenakan pada orang pribadi. Pajak atas kekayaan bersih umumnya dikenakan sebagai pajak pusat. Menghitung kekayaan bersih menghadapi permasalahan dalam hal penilaian aset (asset valuation) dan menentukan hutang-hutang yang dapat dikurangkan. bukan perseroan. aset berpenghasilan dan yang tidak berpenghasilan diperhitungkan. Walaupun pasar akan tetap menyesuaikan. Hal ini dengan asumsi tidak ada hutang publik dan pasar yang kompetitif akan menyesuaikan perbedaan nilai yang didapat dari kedua metode. Metode ini telah digunakan oleh beberapa negara dalam situasi-situasi mendesak seperti reformasi moneter untuk menghentikan hyper inflasi setelah perang.

Aturan yang sama tidak berlaku untuk anak dan anggota keluarga lainnya. 2. Walaupun tujuannya berbeda. Pajak warisan bermanfaat untuk: membatasi hak seseorang untuk membagikan hartanya pada saat meninggal. yaitu pada saat pemindahan dengan mewariskan atau menghibahkan. membatasi hak seseorang untuk mendapatkan kekayaan dari warisan. Permasalahan khusus dalam pajak warisan antara lain: (1) Capital gain dimana pajak warisan dinilai berdasarkan harga pasarnya pada saat pemiliknya meninggal. mencapai distribusi kekayaan yang lebih adil serta menghindari konsentrasi kekayaan. keduanya tidak harus saling menghilangkan (mutually exclusice). Pilihan antara pendekatan (1) pajak atas warisan atau (2) pajak kepada ahli waris bergantung pada tujuan-tujuan yang akan dicapai. Pajak warisan dapat diterapkan pada tingkatan nasional maupun lokal. misalnya karena tanpa usahanya sendiri. Pajak warisan mendapat perhatian luas karena filosofi sosial dan sebagai instrumen kebijakan untuk menyesuaikan distribusi kekayaan. Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis pajak atas konsumsi! Sebutkan dan jelaskan metode-metode yang digunakan dalam penagihan pajak! . dan menjadi alternatif dari pajak atas penghasilan modal selama masa hidupnya. perbedaan basis pengenaan dapat menimbulkan perbedaan jumlah pajak. Tetapi jenis pajak ini tidak termasuk bagian dari struktur pajak normal. LATIHAN 1. (2) Status pernikahan dimana warisan dapat diberikan kepada pasangannya yang masih hidup bebas dari pajak. membatasi hak seseorang untuk memindahkan kekayaannya ke generasi-generasi berikutnya.272 Bab 12: Pajak atas Kekayaan dan Warisan § § § § secara keseluruhan. melengkapi pajak penghasilan. bukannya harga perolehan aslinya. (3) Lembaga sosial dimana sumbangan sosial dikecualikan dalam pajak warisan. Pajak dapat dikenakan pada warisan secara keseluruhan atau atas jumlah yang diterima oleh ahli waris. (4) Bisnis keluarga dimana para kritikus dari pajak atas warisan menyatakan bahwa pajak ini mengancam kelangsungan institusi perusahaan yang dimiliki keluarga. Jika tarif pajak yang dipakai tidak proporsional (flat). Pajak warisan adalah salah satu jenis pajak kekayaan yang dikenakan satu kali saja.

Produk selesai diproduksi. Dilihat dari sisi permasalahan politik. tetapi mengapa pemerintah tetap memberlakukan cukai? Apa alasannya? 6. Cukai hanya dikenakan pada barang-barang tertentu dan membutuhkan biaya ekstra. c. Jelaskan manfaat pajak warisan! 10. Jelaskan dan berikan contoh. Apa yang dimaksud dengan pajak warisan? 9. 4. Mengapa pajak kekayaan dapat dipandang sebagai pelengkap atas pajak penghasilan? 11. Produk sedang diproduksi (dibagi pertahapan produksi). Produk siap dipasarkan secara eceran. Bagaimana efek pengenaan pajak dalam pajak atas warisan yang dipergunakan sebagai kontribusi bagi lembaga sosial? 12. Jelaskan bagaimana keadilan vertikal dan keadilan horizontal suatu pajak penjualan umum? 7. Bagaimana cara menentukan konsumsi tahunan wajib pajak? 8. apa perbedaan Pajak Pertambahan Nilai dengan pajak penjualan? 5. tahapan pengenaan pajak yang tepat pada saat : a. Bagaimana pengenaan pajak apabila kekayaan yang diwariskan dalam bentuk bisnis keluarga? .Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 273 3. b.

274 Bab 12: Pajak atas Kekayaan dan Warisan .

Negara dengan kemampuan teknologi tinggi sebaiknya memproduksi barang seperti komputer atau perangkat lunak. Transaksi tersebut sudah dilakukan sejak jauh sebelum abad Masehi. Adam Smith atau David Ricardo berpendapat bahwa negara akan lebih baik apabila melakukan spesialisasi produksi barang berdasarkan keuntungan komparatifnya. seperti tekstil dan sepatu. Ekonom klasik menaruh perhatian terhadap perdagangan internasional. mengekspor barang tersebut dan mengimpor barang dari negara lain yang bisa memproduksi barang lain dengan lebih efisien.PAJAK INTERNASIONAL Transaksi internasional bukan merupakan hal yang baru. sedangkan yang lainnya . Kemudian kedua negara tersebut akan melakukan pertukaran: negara yang satu mengekspor tekstil dan mengimpor komputer. Sebagai contoh. negara dengan tenaga kerja murah akan lebih baik memproduksi barang bercirikan padat karya.

Teori tersebut kemudian dikenal sebagai doktrin keunggulan komparatif. Faktor lain seperti ketidakpastian. Dalam hal penerapan koordinasi pajak internasional. kemudian barang jadi dijual ke Amerika Serikat. Faktor produksi tidak dibatasi oleh batas-batas negara. tanah dan mesin tidak mudah berpindah (tidak mobile). Keputusan ini tentunya akan diambil secara bersama-sama dengan negara lain dan perjanjian pajak internasional merupakan suatu media yang dapat mengkoordinasikan masalah-masalah tersebut. Dengan cara semacam itu kemakmuran dunia akan semakin meningkat. tergantung sumber daya yang dipunyai. Perusahaan multinasional berusaha mengoptimalkan sumber daya yang ada di dunia ini tidak terbatas pada batas-batas negara. Jika ekonomi klasik mengasumsikan bahwa faktor produksi tidak mudah berpindah. Asumsi dalam teori tersebut adalah bahwa faktor produksi seperti tenaga kerja. makin meningkatnya peranan perusahaan multinasional. Koordinasi dan alokasi sumber daya menjadi kunci pengelolaan perusahaan multinasional. perusahaan multinasional dibangun dengan asumsi bahwa faktor produksi sangat mobile. kemudian memperoleh modal dari pasar keuangan eropa. Perusahaan multinasional bisa memproduksi barang di Indonesia (karena tenaga kerja murah). pembiayaan badan kerjasama internasional seperti Perserikatan Bangsa Bangsa dan NATO. Sejalan dengan kondisi tersebut suatu negara tentunya juga harus mengatur bagaimana pajak produk dan pajak penjualan dari negara bersangkutan akan diterapkan pada sistem ekspor impornya. Penyatuan perekonomian Eropa ke dalam pasar bersama. dan ketimpangan distribusi pendapatan internasional akan mengarah kepada perlunya koordinasi fiskal internasional. Juga teori tersebut mengasumsikan pertukaran barang komoditi. produk didesain di prancis. Daya saing suatu negara sudah ditentukan (given). sedangkan pusat perusahaan tersebut di Jepang. Gambaran mengenai perusahaan multinasional tersebut di atas menunjukkan fakta bahwa semakin hari akan semakin meningkat saling ketergantungan perekonomian dunia dan kondisi ini akan semakin mempengaruhi aspek internasional dalam hal keuangan publik. skala ekonomi. sedangkan barang yang dihasilkan bisa dipindahkan dengan mudah.276 Bab 13: Pajak Internasional mengekspor komputer dan mengimpor tekstil. tetapi sudah melintas batas-batas negara. bukannya barang yang terdiferensiasi. Setiap negara tentunya akan mengatur bagaimana negara tersebut akan menarik pajak terhadap pendapatan warga negaranya yang diperolehnya dari luar negeri dan pendapatan warga negara asing yang berasal dari dalam negeri. Perusahaan multinasional tumbuh dengan menyalahi doktrin keunggulan komparatif. terdapat beberapa asas yang perlu diperhatikan yang diantaranya adalah: . teknologi tidak dipertimbangkan dalam teori tersebut. modal.

Keadilan Antar Perorangan Dalam prakteknya. yang dalam masa tertentu bekerja di Indonesia. yang menerima pendapatan total yang sama tetapi seluruhnya berasal dari Amerika Serikat? Atau sudah cukupkah kiranya jika Amerika Serikat menganggap pajak yang di bayar ke negara lain sebagai pengurangan pendapatan dan menyamakan beban pajak sesuai dengan pengenaan pajak di Amerika Serikat saja? Dalam kasus Mr. masalah ini akan timbul baik dalam hal pajak penghasilan maupun pajak produk. Berbeda halnya dengan pajak tambahan yang mungkin dikenakan oleh . tetapi berapa tarif yang akan dikenakan masih menjadi persoalan. seorang warga negara Amerika Serikat. Karena dia juga menerima pendapatan sebagai warga negara Amerika Serikat. Dalam kasus lain. Dalam kasus ini yang menjadi pertanyaan adalah. Misalnya adalah Mr. Keadilan antar negara. A. A juga akan dikenakan pajak oleh pemerintah Amerika Serikat. A. dia akan dikenakan pajak lebih dari satu kali. B keadilan diinterpretasikan dalam artian nasional. jika seseorang menerima pendapatan yang berasal dari berbagai negara. apakah keadilan horizontal (keadilan antar perorangan) yang mengharuskan bahwa pajak total yang dibayarnya (baik di dalam maupun luar negeri) akan sama dengan pajak yang di bayar oleh Mr. keadilan diinterpretasikan dalam artian internasional. A juga melakukan investasi di Indonesia dan menerima dividen yang dikenakan pajak oleh Indonesia. tentunya Mr. Konsekuensi dari kondisi tersebut di atas adalah bahwa pajak Indonesia yang dikenakan terhadap penghasilan atas modal Amerika Serikat yang ditanamkan di Indonesia tentunya akan mengurangi pengembalian (return) bagi Amerika Serikat. Sehubungan dengan pajak penghasilan. akan membayar pajak sesuai dengan ketentuan Indonesia atas penghasilan yang diperolehnya di Indonesia. Keadilan Antar Negara Masalah keadilan yang lebih pelik akan kita temui dalam menentukan pembagian penerimaan pajak di antara ditjen pajak atau departemen keuangan di berbagai negara. sedangkan dalam kasus Mr. Efisiensi. secara umum disetujui bahwa negara di mana pendapatan itu dihasilkan (juga disebut sebagai negara sumber) berhak menarik pajak atas pendapatan tersebut. B.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 277 § § § Keadilan antar perorangan. Mr. Meskipun dengan cara yang berbeda.

Dengan demikian. Salah satu pandangan mengenai keadilan antar negara adalah bahwa negara sumber harus diperbolehkan menarik pajak atas pendapatan yang diperoleh investor asing dengan tarif sebesar yang di kenakan negara lain atas pendapatan warganya di negara tersebut. Oleh karena itu. Jika Mr. maka penggeseran beban semacam itu bisa dianggap sebagai hambatan bagi keadilan antar negara. sehingga tidak akan merugikan bagi Amerika Serikat tetapi hanya merupakan transfer dari warga negara Amerika Serikat ke Departemen Keuangan Amerika Serikat. tetapi dimodifikasi oleh perbedaan biaya pajak. sebagian dari beban pajak akan digeser ke luar negeri. masalah keadilan berkaitan dengan kemungkinan untuk membebani warga asing melalui perubahan harga. Kondisi ini akan mengakibatkan bahwa lokasi produksi tidak lagi ditentukan oleh keunggulan komparatif (atau biaya sumber daya relatif). Efisiensi Perbedaan tarif pajak tentunya akan mempengaruhi lokasi dari kegiatan perekonomian dan cenderung menghambat penggunaan sumber daya yang paling efisien. Jika kita menerima kriteria bahwa suatu negara harus membayar pajaknya sendiri. Dalam hal pajak produk.C. Konsekuensinya. tentunya biaya ekspor akan naik. akan tercipta efisiensi alokasi sumber daya di . maka Mr C akan menanamkan lebih banyak modalnya di Vietnam. yang merupakan persyaratan bagi perdagangan yang efisien. Jadi. seorang investor merasakan bahwa pajaknya akan lebih rendah apabila dia menanamkan modal di Vietnam daripada di Indonesia. kerugian yang diderita Amerika Serikat hanya akan tergantung pada tarif pajak atas modal Amerika Serikat yang dikenakan di Indonesia. Sejalan dengan itu. permasalahannya adalah bagaimana mengelola pengenaan pajak atas pendapatan dan investasi internasional sehingga tidak mengganggu efisiensi alokasi modal secara global. Kondisi ini bisa disebut sebagai prinsip berbalasan. Jika negara tersebut mendominasi pasar ekspor.278 Bab 13: Pajak Internasional Amerika Serikat. Hal ini juga menunjukkan bahwa sebagian beban pajak akan digeser ke luar negeri. Jika negara A mengenakan pajak atas ekspor. pemasok luar negeri harus menjual produknya dengan harga yang lebih rendah. harga ekspor akan naik dan konsumen di luar negeri akan membayar lebih mahal. PRINSIP PAJAK INTERNASIONAL Berbagai struktur sistem pajak negara mempunyai dampak yang sangat penting terhadap arah dan aliran baik barang maupun modal secara internasional. jika Impor dikenakan pajak.

yaitu (a) jenis penghasilan itu sendiri dan (b) penentuan sumber penghasilan berdasarkan undang-undang pajak dari suatu negara. Pada umumnya. tanpa memperhatikan tempat domisili penerima pendapatan tersebut. § Penghasilan dari modal (passive income). Artinya. untuk menentukan letak sumber penghasilan. Prinsip pajak berdasarkan asas domisili menyatakan bahwa penduduk akan dikenakan pajak di negara di mana ia berdomisili tanpa memperhatikan darimana sumber penghasilan yang diperolehnya baik pendapatan yang diperolehnya di dalam negeri maupun di luar negeri. bunga. Jadi. penduduk suatu negara tidak akan dikenakan pajak terhadap pendapatan yang diperolehnya di luar negeri dan warga negara asing akan dikenakan pajak sama dengan pendapatan penduduk yang diterima di negara tersebut. baik itu warga negara ataupun bukan warga negara. royalty dan penghasilan dari harta. Pada dasarnya terdapat dua pendekatan dalam pajak internasional yang lazim dipergunakan yakni pajak penghasilan internasional dan pajak komoditi. Syarat-syarat ini tergantung pada undang-undang masing-masing negara. . Bagi yang bukan merupakan penduduk tidak akan ditarik pajak terhadap pendapatan yang diperolehnya di negara tersebut. jenis-jenis penghasilan dibagi menjadi dua. Yang berkaitan erat dengan asas domisili ini adalah penentuan domisili bagi subjek pajak. yaitu: § Penghasilan dari usaha (active income). Pajak Penghasilan Internasional Dua prinsip dalam pajak penghasilan internasional adalah prinsip pajak berdasarkan asas domisili dan prinsip pajak berdasarkan asas sumber pendapatan. Prinsip pajak berdasarkan asas dari sumber pendapatan menyatakan bahwa seluruh pendapatan yang diperoleh di suatu negara akan dikenakan pajak. Walaupun kemungkinan tidak ada satu negara pun yang secara ketat menerapkan prinsip-prinsip pajak internasional. setiap negara mempunyai definisi penduduk sendiri-sendiri.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 279 seluruh dunia dalam integrasi perekonomi dunia. misalnya dividen. tergantung dari falsafah yang dianutnya. Penentuan sumber penghasilan tergantung dari dua hal yang pokok. yang berbeda dari negara lain. Di samping itu. seseorang subjek pajak akan dianggap sebagai penduduk dalam negeri (resident taxpayer) apabila memenuhi syarat-syarat tertentu.

Secara umum prinsipnya adalah memperbolehkan pengenaan pajak atas pendapatan di negara sumber sedangkan negara asal warga bersangkutan akan memberikan kredit pajak. Guna menentukan pajak yang akan di bayarnya di Amerika Serikat. meskipun menyebabkan menurunnya penerimaan negara bersangkutan. misalnya sebesar 15 persen. Koordinasi pajak perorangan juga berlaku bagi investor perorangan yang menerima dividen. terdapat dua prinsip pajak komoditi yang berlawanan satu sama lain (khususnya untuk pajak pertambahan nilai) yakni prinsip pajak tujuan dan prinsip pajak sumber. Investor yang menerima pendapatan investasi dari luar negeri akan membayar pajak penghasilan atas pendapatan tersebut. baik barang atau jasa tersebut dibuat di dalam negeri ataupun barang import. segala barang maupun jasa yang bertujuan untuk konsumsi akhir pada suatu negara akan dikenakan pajak. pendapatan di Inggris juga . Kondisi ini selaras dengan konsep keadilan antar negara yang menyatakan bahwa negara sumber pendapatan tidak boleh melakukan diskriminasi.280 Bab 13: Pajak Internasional Pajak Komoditi Dengan menganalogikan pada pajak domisili dan pajak sumber pendapatan pada pajak penghasilan internasional. Pemerintah di negara sumber pendapatan lazimnya akan mengenakan withholding tax. kondisi ini selaras dengan pandangan internasional mengenai keadilan antar perorangan. akan membayar pajak Inggris Raya atas pendapatan yang diperolehnya di Inggris. Demikian juga dengan pemberian kredit pajak oleh negara asal warga bersangkutan. Berkaitan dengan pengertian tersebut berikut illustrasi yang mungkin terjadi jika seseorang warga negara Amerika Serikat bekerja di Inggris. tetapi bisa menerapkan tarifnya sendiri terhadap penghasilan orang asing. yang selanjutnya akan dikreditkan terhadap pajak yang akan dibayarkan di negara asal investor. Jadi barang-barang impor akan dikenakan pajak sedangkan barang-barang ekspor dibebaskan dari pajak. Menurut prinsip pajak sumber. KOORDINASI PAJAK PENGHASILAN Koordinasi Pajak Perorangan Setiap negara berhak untuk menarik pajak atas pendapatan warganya entah di mana pun pendapatan itu diperoleh. barang atau jasa yang dibeli oleh penduduk dikenakan pajak. tanpa memperhatikan sumber ataupun asal produksi. Menurut prinsip pajak tujuan. yang bekerja selama enam bulan di Inggris dan kemudian kembali ke Amerika Serikat. Seorang warga negara Amerika Serikat.

Paling tidak itulah prosedurnya seandainya pajak yang dikenakan Inggris tidak melebihi pajak yang akan dikenakan Amerika Serikat atas pendapatan yang diperoleh di Inggris tersebut. karena hal itu merupakan pajak seharusnya akan dibayar seandainya pendapatan tersebut diperoleh di Amerika Serikat. sebuah perusahaan Amerika Serikat mengoperasikan sebuah perusahaan anak di Kanada. perusahaan anak yang didirikan di luar negeri (foreign incomporated subsidiary). kelihatannya hal ini akan bertentangan dengan ketentuan mengenai pengkreditan yang mengganggap pajak perusahaan anak pada kenyataannya merupakan pajak perusahaan induk. Koordinasi Pajak Laba Pada umumnya terdapat dua ketentuan dalam memperlakukan pendapatan investasi asing. Hal ini merupakan persoalan yang rumit. Tetapi dengan cara apakah laba ini benar-benar bisa dipisahkan dari laba perusahaan induknya di Amerika Serikat? Jika terjadi transaksi jual beli yang terjadi antara perusahan induk dan perusahaan anak. dimana mungkin tarif pajak sangat rendah). maka laba bisa digeser dari satu negara ke negara lain guna memanipulasi pajak agar diperoleh pajak yang terendah. Sesuai dengan konsep keadilan antar negara. Jika dikaitkan dengan perusahaan multinasional. Ketentuan mengenai penangguhan pajak didasarkan pada asumsi bahwa perusahaan anak di luar negeri benar-benar merupakan satuan usaha yang tepisah. tetapi pajak yang telah dibayar di Inggris akan dikreditkan terhadap kewajiban pajaknya di Amerika Serikat. Kanada berhak menarik pajak perusahaan anak tersebut. Untuk pengenan pajak di negara asal. Kedua. Labanya akan dikenakan pajak laba perseroan negara asing dan pajak untuk negara asal akan ditangguhkan sampai laba perusahaan anak tersebut dikirimkan ke perusahan induk sebagai dividen. implementasi dari aturan ini. perusahaan anak akan condong menginvestasikan kembali labanya di negara domisili (yang disebut sebagai surga pajak). Jadi. secara hukum merupakan satuan perusahaan terpisah. Penangguhan pajak hampir tidak menimbulkan perbedaan apa pun bagi perusahaan induk jika tarif pajak luar negeri lebih tinggi dari tarif pajak yang akan dikenakan di dalam negeri. Sebagai contoh. laba perusahan induk dan kantor cabang akan dianggap sebagai satu unit.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 281 akan diperhitungkan. Jika kondisi sebaliknya terjadi (biasanya pada negara–negara yang sedang berkembang. perusahaan yang mengoperasikan kantor cabang di luar negeri akan dikenakan pajak atas laba kantor cabang sesuai dengan peraturan pajak perseroan negara bersangkutan. Pertama. akan menyebabkan perlunya ditentukan berapa besar laba yang timbul pada setiap negara. Kesulitan akan .

tetapi lebih berdasarkan negara asal laba yang diperoleh oleh group usaha tersebut secara keseluruhan. nilai tambah dan penjualan. konsumen akan mensubstitusikan kedua jenis barang itu satu sama lain . hal sebaliknya berlaku untuk B. pertanyaannya apakah pajak bersangkutan mempengaruhi harga relatif antara barang produksi dalam negeri dan barang impor. maka pajak produk mengarahkan perhatian kita pada pengaruhnya terhadap aliran produk. namun pelaksanaan pendekatan ini memerlukan pengaturan pajak internasional dan karena itu masih merupakan alternatif yang tak terjangkau. misalnya: persyaratan agar harga ditentukan berdasarkan transaksi yang wajar dengan pihak ketiga atau transaksi tanpa hubungan istimewa (arm’s-length-basis). KOORDINASI PAJAK PRODUK Jika pajak penghasilan mempengaruhi aliran atau perpindahan modal. Untuk mengantisipasi kondisi ini. karena biaya produksi semakin meningkat untuk jumlah yang makin besar. telah diupayakan berbagai aturan untuk menghambat penggeseran laba. Meskipun cukup menarik. Perdagangan internasional yang berlangsung secara bebas didasarkan pada argumen dasar bahwa semua negara yang berdagang akan mendapat manfaat jika masing-masing berspesalisasi pada produk dimana ia memiliki keunggulan komparatif. Dengan mengekspor X dan mengimpor Y. negara A akan tetap memproduksi sebagian dari Y dan negara B memproduksi sebagian dari X yang dibutuhkannya. Laba sebagai dasar pengenaan pajak (profit base) dari perusahaan multinasional dapat dialokasikan di antara negara-negara tidak berdasarkan lokasi dari perusahaan anak. negara A akan memperoleh pendapatan riil yang lebih tinggi daripada jika ia memproduksi semua Y yang dibutuhkannya. Pada gilirannya. Negara asal tersebut bisa ditentukan dengan menggunakan rumus yang memperhitungkan lokasi. Hal ini akan semakin terasa jika kurs valuta asing bersifat fleksibel. Anggaplah negara A mempunyai keunggulan komparatif dalam menghasilkan produk X sementara negara B mengimpor X dan mengekspor Y. Akan tetapi.282 Bab 13: Pajak Internasional berlipat ganda apabila serangkaian perusahaan anak beroperasi di berbagai negara. Dalam menentukan apakah berbagai pajak yang ada berpengaruh atau tidak terhadap lokasi produksi. pajak tidak hanya mempengaruhi produksi barang substitusi tetapi juga lokasi produksi. Baik A maupun B akan lebih makmur daripada jika tidak ada perdagangan. maka pernah disarankan suatu cara yang berbeda sama sekali. Karena kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam menghitung laba yang terpisah bagi satuan satuan usaha yang terkait. Jika pajak mempengaruhi harga.

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 283 dan lokasi produksi yang mengenakan pajak akan berbeda dari lokasi produksi dengan pajak yang netral. Konsumen negara A akan merasakan hal sebaliknya. Pajak ini akan menyebabkan perbedaan harga relatif antara produk domestik dan impor. Yaitu jika terhadap impor dikenakan bea masuk. kita bisa melihat bahwa distorsi atau penyimpangan bisa saja terjadi meskipun tidak ada upaya untuk mendiskriminasikan produk luar negeri. Adapun jenis-jenis pajak yang dapat mempengaruhi lokasi produksi dapat dikategorikan sebagai (1) destination taxes dan (2) origin taxes. Pajak Konsumsi Pajak konsumsi atau pajak tujuan produk (destination taxes) tidak akan mempengaruhi lokasi produksi kecuali jika terdapat diskriminasi antara barang produksi dalam negeri dan barang impor. ekspor dari A juga akan menurun sampai tercapai suatu titik ekuilibrium pada tingkat perdagangan yang lebih rendah dan dengan kondisi komposisi produksi yang kurang efisien diantara negara A dan B. Akibatnya. Situasinya akan sangat jauh berbeda jika negara A mengenakan pajak hanya terhadap produk impor saja (melakukan diskriminasi). Karena merasa bahwa harga produk lokal. nilai mata uang A terhadap mata uang B akan naik. Ini tidak akan mempengaruhi perdagangan karena harga relatif antara produk dalam negeri dan produk impor tidak berubah. Pertama-tama anggaplah bahwa negara B mengenakan pajak penjualan umum (misalnya PPN) sebesar 10 persen terhadap barang lokal dan barang impor. Pajak atau bea semacam itu akan melemahkan perdagangan yang efisien. sehingga produk dalam negeri akan mensubstitusi impor. Pajak Produksi Dalam mempermasalahkan pajak produksi atau pajak asal produk (origin taxes). Dengan menurunnya impor. misalnya X. sebagai contoh pajak dalam bentuk bea masuk dan cukai. dalam negeri telah naik jika dibandingkan dengan harga produk impor X. konsumen negara B akan memperbesar impor X. harga barang di negara B akan naik sejalan dengan pajak tersebut. Jadi. Misalkan negara A mengenakan pajak terhadap konsumsi secara umum atas semua produk yang diproduksi di dalam negeri maupun yang diimpor. Pajak konsumsi umum bisa mempengaruhi tingkat perdagangan tetapi lokasi untuk kedua produk itu (pada tingkat produksi yang baru) masih akan tetap sejalan dengan keunggulan komparatif. dewasa ini telah banyak cara diupayakan untuk mengurangi perdagangan yang bersifat proteksionis. .

Konsumen B dalam hal ini akan melakukan substitusi dengan produk impor X dan penyesuaian selanjutnya akan terjadi. Negara A kemudian memproduksi lebih banyak barang Y dan mengurangi produksi barang X. Biaya impor bagi konsumen A menjadi naik dan karena itu impor Y dikurangi. penurunan ekspor dan konsumsi produk Y di negara B lambat laun akan membuat negara tersebut memproduksi lebih banyak barang X daripada sebelumnya dan menjadi tidak efisien. kenaikan permintaan atas mata uang A dan penurunan permintaan atas mata uang B akan menyebabkan naiknya nilai mata uang A terhadap B. Jika kurs valuta asing bersifat fleksibel. Sebaliknya. Distorsi ini bisa dihindarkan seandainya negara B memberikan penghapusan pajak atas barang yang diekspornya. Karena itu. tingkat perdagangan riil akan naik tetapi lokasi produksi akan mengalami distorsi. Tindakan B akan membatalkan efek kenaikan harga barang impor di negara A sehingga tidak perlu mensubstitusinya dengan memproduksi di dalam negeri. Artinya hal itu sejajar dengan pajak penjualan umum atas seluruh produk di negara B yang seperti telah kita lihat sebelumnya. Pada akhirnya. Makin banyak X . Pajak penjualan umum tidak mendistorsikan lokasi produksi sejauh dikenakan secara umum terhadap produk impor dan produk dalam negeri. Titik ekuilibrium yang baru akan dicapai pada tingkat perdagangan yang lebih rendah dengan disertai perubahan distribusi lokasi produksi. misalnya atas produk Y yang diekspornya. Dengan dihapusnya pajak atas barang ekspor oleh negara B. sehingga harga barang impor Y bagi konsumen negara A menjadi lebih mahal sehingga impor Y akan dikurangi.284 Bab 13: Pajak Internasional Eksportir negara B akan menambahkan pajak tersebut ke harga produknya. maka pajak atas barang impor di negara A dapat diubah dari pajak produksi (origin taxes) menjadi pajak konsumsi (destination taxes). perbandingan harga antara ekspor dan impor tidak akan berubah dan nilai riil perdagangan tidak terpengaruh. Sekali lagi konsumen A akan merasakan naiknya biaya (harga) Y dan akan mensubstitusinya dengan Y produksi dalam negeri. Dengan menurunnya impor A atas barang Y (asumsi ekspor A atas barang X ke B tetap). Ini akan menghambat keinginan konsumen B untuk menambah impor X dan keinginan konsumen A untuk mengurangi impor Y. Efek distorsi efisiensi perekonomian internasional juga akan terjadi jika negara B memajaki produk lokal X tetapi tidak terhadap produk impor X. pengenaan pajak ekspor di negara B menimbulkan efek distorsi yang mirip dengan efek distorsi yang timbul akibat dikenakannya bea masuk atas barang impor di negara A. misalnya Y. nilai mata uang A terhadap B akan naik. Situasinya akan berbeda jika pajak produksi negara B dikenakan hanya pada satu jenis produk saja. Pada akhirnya.

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 285 diproduksi di A atau makin banyak Y diproduksi di B daripada sebelumnya. TAX TREATY Tax Treaty atau perjanjian penghindaran pajak berganda merupakan suatu perjanjian perpajakan antara dua negara yang dibuat dalam rangka mengantisipasi pemajakan ganda dan berbagai usaha penghindaran pajak. di dalamnya selalu berisi klausul-klausul. (4) permanent establishment. Oleh karena itu. (2) jenis-jenis pajak atau tax covered. Pasal-pasal ataupun ayat-ayat yang terdapat dalam sebuah tax treaty pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi empat bagian besar yaitu bagian yang mengungkapkan (1) cakupan tax treaty. bagian tentang (3) pencegahan penghindaran pajak dan bagian yang mencakup (4) ketentuan lainnya. Sebagai suatu perjanjian. Penentuan aspek perpajakan tersebut dilakukan berdasarkan klausul-klausul yang terdapat dalam tax treaty yang bersangkutan sesuai dengan transaksi yang dihadapi. CAKUPAN TAX TREATY Cakupan perjanjian antar negara dalam hal penghindaran pajak berganda biasanya meliputi: (1) cakupan personal atau personal scope. bagian yang mengatur (2) minimalisasi pajak berganda. (3) definisi penduduk atau residence. Distorsi dalam hal ini bisa dihindarkan jika B juga mengenakan bea masuk atas X untuk mengkompensasi pajak produk lokal X. dan (6) saat berakhirnya atau termination. Pada dasarnya terdapat dua model treaty yang sering dijadikan acuan dalam menyusun suatu treaty yaitu model OECD dan model PBB. pasal-pasal dan ayat-ayat yang berkaitan dengan suatu aspek transaksi dan pihak tertentu. sebagai bagian dari konvensi internasional dimana setiap negara yang terlibat dalam suatu tax treaty menyusun perjanjiannya masing-masing berdasarkan model-model perjanjian yang diakui secara internasional. sebuah treaty merupakan suatu kontrak yang mengikat suatu negara dengan negara lain dalam hal perlakuan perpajakan. Setiap tax treaty mempunyai prinsip-prinsip dasar yang kurang lebih sama. Perjanjian ini akan digunakan oleh penduduk dua negara untuk menentukan aspek perpajakan yang timbul dari suatu transaksi di antara mereka. (5) saat berlakunya atau entry into force. .

yaitu tentang ketentuan yang menentukan tidak berlakunya status residence atas suatu pihak dengan karakteristik tertentu.286 Bab 13: Pajak Internasional Personal Scope Tax treaty adalah persetujuan yang ditandatangani oleh dua negara. badan atau entitas lainnya yang dianggap sebagai penduduk dengan status kependudukan ganda (double residence). pengertian personal scope akan berkaitan dengan pengertian-pengertian tentang kedua klausul tersebut. Residence Dalam kriteria ini akan diatur tentang dua hal yakni definisi penduduk (berkaitan dengan personal scope) serta tie breaker rule. Kedua hal tersebut akan diatur dalam klausul lain yaitu dalam klausul tentang general definitions dan tentang residence. Tax Covered Klausul ini mengatur tentang jenis-jenis pajak yang perlakuannya menggunakan ketentuan tax treaty yang bersangkutan. Jenis pajak yang diatur di sini akan mengikuti ketentuan sesuai dengan tax treaty dan mengabaikan ketentuan internal yang berlaku di masing-masing negara. Definisi penduduk adalah setiap orang pribadi atau badan yang berdasarkan ketentuan internal suatu negara – seperti keberadaan. domisili. Dalam pasal dan ayat ini akan diatur ketentuan tentang siapa saja yang merupakan orang pribadi. Oleh karena itu. badan usaha dan entitas lainnya yang berdasarkan treaty tersebut dianggap sebagai penduduk dari salah satu negara yang terikat perjanjian. national (negara atau kewarganegaraan). diatur tentang definisi istilah-istilah umum yang berkaitan dengan definisi persons (orang atau badan). sehingga subyek pajak yang menjadi sasaran adalah mereka yang menjadi penduduk dari kedua negara tersebut (Rachmanto Surachmat. tempat kedudukan manajemen atau sebab-sebab lain . ketentuan suatu tax treaty memiliki suatu kekuatan yang berada di atas sistem perundang-undangan yang berlaku secara internal di dalam suatu negara. ketentuan personal scope mengatur tentang kepada siapa sajaketentuan-ketentuan dalam suatu treaty yang bersangkutan bisa diterapkan. international traffic (lalu lintas internasional). Dalam ketentuan umum (general definitions). Dalam beberapa hal. 2001). Dengan kata lain. Atas pajak tidak langsung seperti Pajak Pertambahan Nilai atau pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah tidak diatur dalam tax treaty. Aturan dalam tax treaty hanya diberlakukan untuk jenis pajak langsung seperti Pajak Penghasilan (PPh). Biasanya di sini definisi mengenai penduduk maupun perihal kependudukan ganda tidak diartikan lebih lanjut. enterprise (badan usaha) dan lain lain. termasuk di dalamnya orang pribadi.

Namun berkaitan dengan keinginan tersebut. penduduk adalah subjek pajak dalam negeri suatu negara yang dikenai pajak sesuai dengan ketentuan perundang-undangan lokal yang berlaku di negara tersebut. artinya apabila dengan menggunakan ketentuan pertama masalah kependudukan ganda telah bisa dipecahkan. Dengan kata lain. tetap berjalan dengan baik. pasal residence selanjutnya mengatur langkah yang dapat digunakan untuk menghilangkan status kependudukan ganda yang sering disebut dengan tie breaker rule. Menyadari efek-efek negatif tersebut. adalah hal yang logis jika otoritas pajak di negara tersebut ingin mengenakan pajak atas penghasilan yang diterima. Pada jaman sekarang. Perundangan nasional dari banyak negara umumnya mengenakan pajak berdasarkan hubungannya dengan negara yang bersangkutan (Rachmanto Surachmat. Langkah-langkah tersebut secara berurutan bersifat prioritas. maka langkah kedua dan seterusnya tidak perlu digunakan lagi. center of economic and social interests (pusat kepentingan ekonomi dan sosial). orang pribadi atau badan dapat dianggap sebagai penduduk dari dua negara berdasarkan asas world wide income. habitual abode (tempat kebiasaan untuk tinggal). Permanent Establishment Klausul ini mengatur tentang seberapa jauh jangkauan suatu negara dalam mengenakan pajak atas penghasilan yang bersumber dari negara tersebut. Artinya. national (kewarganegaraan) serta mutual agreement (perjanjian antar otoritas perpajakan). pengenaan pajak tidak hanya mendasarkan pada alasan tempat tinggal. Hal ini bisa terjadi karena setiap negara pada dasarnya berhak mengatur definisi penduduk sesuai dengan versinya masing-masing.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 287 yang mempunyai karakteristik yang sama – dapat dikenai pajak di negara tersebut. yang sekaligus merupakan investasi di negara tersebut. tetapi juga karena keberadaan secara teratur di negara tersebut. Dalam klausul ini juga menegaskan bahwa orang pibadi atau badan tidak dapat langsung dianggap sebagai penduduk suatu negara hanya karena mendapatkan penghasilan yang bersumber dari negara tersebut. Apabila usaha di negara lain itu ternyata berhasil. Tie breaker rule dibedakan menjadi dua yaitu yang diterapkan untuk orang pribadi dan yang diterapkan untuk selain orang pribadi. suatu usaha tidak hanya dilakukan di negara sendiri. Sementara itu tie breaker rule untuk pihak selain orang pribadi hanya ada satu ketentuan yaitu tempat di mana manajemennya efektif berada. 2001). Cerminan dari batas atau aturan . Dalam prakteknya. tentunya harus ada batasan-batasan ataupun aturan yang jelas hingga bisnis yang dilakukan. Di negara lain pun suatu pihak melakukan usaha. Tie breaker rule untuk orang pribadi terdiri dari penentuan permanent home (tempat tinggal tetap).

Salah satu negara dapat mengakhiri sebuah tax treaty dengan cara . BUT tipe keagenan timbul jika terdapat agen di negara lain yang memiliki wewenang untuk menentukan kontrak atau mengurus barang-barang dagang di negara lain. Entry Into Force Klausul ini menjelaskan tentang saat berlakunya sebuah tax treaty. Tax treaty dapat berakhir setelah periode tertentu yang telah disepakati oleh kedua negara. Time test ini disesuaikan dengan kesepakatan dari kedua negara. Timbulnya BUT tipe ini ditandai dengan adanya aktivitas yang melebihi batas waktu tertentu (time test) yang dilakukan di negara lain. Lamanya time test yang digunakan dapat berbeda beda antara satu tax treaty dengan tax treaty yang lain. Aktivitas tersebut bisa berupa pelaksanaan berbagai macam jasa (seperti jasa konstruksi dan jasa jasa lainnya). Setelah kedua negara selesai meratifikasi. BUT tipe ini merupakan tipe yang paling mudah diketahui keberadaannya. Termination Klausul ini menjelaskan tentang saat berakhirnya sebuah tax treaty. tax treaty pun dapat diberlakukan. Pembentukan sebuah tax treaty yang dimulai dengan penandatanganan oleh kedua otoritas yang berwenang dan dilanjutkan dengan ratifikasi di kedua negara. § BUT Aktivitas. bengkel dan lain lain.288 Bab 13: Pajak Internasional tersebut adalah ketentuan tentang permanent establishment atau Bentuk Usaha Tetap (BUT). Dalam klausul ini juga ditentukan kondisi-kondisi dimana BUT dianggap tidak muncul seperti dalam hal tempat yang hanya berfungsi untuk memajang barang-barang dagangan. Timbulnya BUT Asuransi ditandai dengan keadaan dimana suatu perusahaan asuransi menerima premi atau menanggung risiko di negara lain. kantor perwakilan. pabrik. § BUT Keagenan. Contoh-contoh dari BUT dapat dikategorikan menjadi empat macam yaitu: § BUT Fasilitas Fisik. tempat yang hanya dipergunakan untuk pembelian barang dagangan atau mengumpulkan informasi dan sebagainya. selanjutnya dilakukan pertukaran dokumen-dokumen ratifikasi. Setelah pertukaran dokumen ratifikasi ini selesai dilakukan. § BUT Asuransi. Saat berlakunya tax treaty sangat bergantung dari selesainya tahap-tahap pembentukannya. BUT timbul karena adanya fasilitas fisik seperti gedung.

(11) penghasilan artis dan olahragawan. sangat tergantung pada ada atau tidaknya BUT di suatu negara. maka negara treaty partner tersebut berhak mengenakan pajak atas penghasilan yang diterima melalui BUT itu. Business Profits Klausul ini merupakan perluasan dari klausul permanent establishment yang mengatur tentang pengenaan pajak atas laba usaha milik penduduk suatu negara yang bersumber dari negara treaty partner (negara pasangan dalam tax treaty). (5) pendapatan bunga. Perusahaan yang bergerak di bidang ini bisa memperoleh penghasilan dari beberapa . (9) penghasilan jasa terbatas. Penentuan dapat atau tidaknya negara treaty partner mengenakan pajak. Namun apabila penduduk suatu negara mendapatkan penghasilan di negara treaty partner melalui BUT-nya. MINIMALISASI PAJAK BERGANDA Klausul yang berisi ketentuan untuk meminimalisasi pajak berganda biasanya mencakup: (1) penghasilan barang-barang tak bergerak.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 289 mengadakan pemberitahuan terlebih dahulu yang harus dilakukan dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan yang telah disepakati. (12) pendapatan pensiun. maka laba usaha dari kegiatan itu hanya dikenai pajak di negara domisili (Rachmanto Surachmat. (4) dividen. Income from Immovable Property Klausul ini mengatur tentang pemajakan atas penghasilan yang berasal dari harta tak bergerak termasuk penghasilan yang bersumber dari pertanian atau sektor perhutanan. (10) director’s fee. (8) penghasilan jasa bebas. Laba usaha milik penduduk suatu negara pada dasarnya hanya dapat dikenakan pajak di negara tersebut. (6) royalti. 2001) Bisnis Transportasi Klausul ini menjelaskan tentang pemajakan atas penghasilan yang diterima oleh perusahaan pelayaran (termasuk pengangkutan di sungai dan danau) dan perusahaan penerbangan yang beroperasi di jalur internasional. (3) laba perusahaan transportasi. (7) capital gains. Di dalamnya diatur bahwa negara tempat harta tak bergerak tersebut terletak juga dapat mengenakan pajak atas penghasilan dari harta tersebut. (2) laba usaha. Bila kegiatan usaha yang dilakukan penduduk negara domisili di negara sumber tidak melalui BUT. dan (13) gaji pegawai negeri sipil di luar negeri.

Dalam artikel ini juga menyatakan tentang tarif pajak maksimal yang dapat dikenakan di negara asal dividen tersebut yang dibedakan menjadi dua yaitu tarif untuk dividen portofolio (saham dengan kepentingan semata mata investasi) dan untuk dividen dari penyertaan langsung ( saham dengan kepentingan kontrol) Interest Klausul ini mengatur tentang pemajakan atas penghasilan bunga yang diterima dari negara treaty partner. artikel bunga pun mengatur tentang tarif maksimal pemotongan pajak untuk negara tempat dividen berasal. Royalties Klausul ini mengatur tentang pemajakan atas penghasilan diterima dari negara treaty partner. Dalam menghadapi permasalahan ini pada umumnya diatur dua alternatif pengenaan pajak.290 Bab 13: Pajak Internasional negara. Jika setiap negara mengenakan pajak atas laba yang diterimanya maka perusahaan pelayaran dan penerbangan tersebut tentunya akan menanggung beban pajak yang terlalu besar. Selain memberikan definisi tentang bunga. Alternatif kedua. Indonesia pun mengenakan pajak atas dividen baik yang diterima oleh wajib pajak dalam negeri maupun wajib pajak luar negeri. Dividends Dividen merupakan penghasilan yang diterima oleh pemegang saham dari suatu perusahaan. memberikan hak pemajakan kepada negara tempat di mana manajemen efektif berada. klausul ini juga mengatur bahwa negara tempat penghasilan bunga berasal (treaty partner) juga dapat mengenakan pajak atas bunga tersebut. Tak sedikit negara yang mengenakan pajak atas penghasilan berupa dividen ini. Tak berbeda dengan artikel bunga. Alternatif pertama. Tak berbeda dengan artikel dividen. memang merupakan aturan mengenai pengenaan pajak atas penghasilan yang berupa dividen. artikel royalti ini juga memberikan definisi royalti mengatur bahwa negara tempat di mana royalti berasal dapat pajak sesuai dengan tarif maksimal yang disepakati. royalti yang dividend dan di samping mengenakan . sama dengan alternatif pertama dengan pengecualian untuk penghasilan dari pengoperasian kapal laut yang hak pemajakannya diberikan kepada kedua negara sekaligus. sebagaimana namanya. Dalam klausul ini dinyatakan bahwa negara tempat dividen berasal juga berhak mengenakan pajak atas dividen tersebut. Klausul dividen.

Rachmanto Surachmat (2001) memaparkan bahwa hak mengenakan pajak atas keuntungan karena pemindahtanganan harta yang digunakan untuk berusaha harus diberikan kepada negara yang sama. yaitu negara yang berhak mengenakan pajak atas business profit (negara tempat perusahaan berdomisili). Karena itu. pengacara) untuk dan atas namanya sendiri di negara treaty partner. Di sini diatur bahwa negara tempat orang pribadi tersebut bekerja dapat mengenakan pajak atas penghasilan yang diterimanya. Ketentuan dalam tax treaty pada umumnya mengatur bahwa negara tempat harta tersebut terletak sebelum dipindahkan juga berhak untuk mengenakan pajak. ada beberapa syarat kumulatif yang terlebih dahulu harus dipenuhi yaitu: (1) Orang pribadi yang bersangkutan berada di . Aturan ini pada dasarnya sejalan dengan aturan permanent establishment dan business profits namun secara khusus ditujukan untuk orang pribadi yang memberikan jasajasa profesional (seperti dokter. Berbeda dari pemberian jasa oleh independent personal yang dilakukan untuk dan atas namanya sendiri. tanpa membedakan apakah keuntungan itu diberlakukan sebagai gain dari usaha. persetujuan penghindaran pajak berganda tidak memerlukan aturan khusus yang membedakan capital gain dari business profit. Dependent Personal Services Klausul ini mengatur tentang pemajakan atas penghasilan yang diterima oleh orang pribadi sehubungan dengan pemberian jasa yang dilakukannya di negara lain dalam suatu hubungan kerja. Termasuk dalam pengertian harta dalam artikel ini adalah harta berupa perumahan dalam suatu kawasan real estate. jasa yang diberikan oleh orang pribadi yang dimaksud di sini merupakan jasa yang dilakukan untuk dan atas nama pihak lain yang memiliki hubungan kerja dengannya. Dalam bukunya.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 291 Capital Gains Klausul ini mengatur tentang penghasilan berupa keuntungan pemindahtanganan harta. Independent Personal Services Klausul ini mengatur tentang pemajakan atas penghasilan yang diterima orang pribadi yang bersumber dari negara treaty partner sebagai imbalan dari jasa-jasa profesional yang diberikan di negara tersebut. Negara treaty partner tempat jasa tersebut dilakukan dapat mengenakan pajak sepanjang orang pribadi tersebut memiliki tempat tetap (fixed base) di sana atau berada di negara treaty partner melebihi batas waktu yang disepakati bersama. Hal ini diserahkan kepada undang undang pajak domestik masing-masing negara.. Namun untuk mengenakan pajak tersebut.

Prinsip pemajakan yang diatur dalam artikel ini adalah negara tempat penghasilan tersebut bersumber dapat mengenakan pajak atas penghasilan yang diterima oleh artis ataupun atlit. Director’s Fees Klausul ini mengatur tentang pemajakan atas penghasilan yang diterima oleh direktur yang bekerja pada perusahaan yang berada di negara lain (merupakan penduduk di negara tersebut). Termasuk dalam pengertian entertainer dalam artikel ini antara lain yaitu artis televisi. karena itu yang diberikan hak pemajakan adalah negara di mana pihak yang membayarkan gaji berkedudukan. prinsip ini berbeda dengan prinsip pemajakan atas penghasilan orang pribadi yang lain sebagaimana diatur dalam klausul dependent dan independent personal services yang menggunakan syarat jangka waktu keberadaan sebagai alat menentukan aspek pemajakan. apabila pekerjaan yang dilakukan tidak lagi murni sebagai seorang direktur maka pemajakan atas penghasilan tersebut tidak lagi mengikuti ketentuan dalam klausul ini. Penentuan aspek pemajakannya disesuaikan dengan jenis kegiatan (pekerjaan) yang dilakukan oleh direktur tersebut. Artists and Sportsmen Klausul ini mengatur tentang pemajakan atas penghasilan yang diterima oleh artis (entertainer) dan olahragawan (sportsmen) dari negara lain. contohnya agen). Sedangkan termasuk . Bila diperhatikan. Namun apabila direktur tersebut bekerja sebagai konsultan pada perusahaan. dan (3) Penghasilan tersebut tidak dibebankan kepada BUT. Prinsip ini juga berlaku meskipun penghasilan tersebut tidak langsung dibayarkan kepada sang artis/atlit (dibayarkan kepada pihak lain.292 Bab 13: Pajak Internasional negara lain melebihi time test yang telah disepakati. Dalam klausul ini dinyatakan bahwa penghasilan yang diterima oleh direktur dalam kapasitasnya yang murni sebagai seorang direktur dapat dikenai pajak di negara domisili perusahaanya tanpa memandang jangka waktu keberadannya di sana. Fungsi sebagai direktur bisa saja dilakukan di negara dimana ia berdomisili. artis radio atau musisi. aspek pemajakannya mengacu pada klausul dependent personal services. sebab seringkali penentuan di mana kegiatan pekerjaan dilakukan – dalam kedudukannya sebagai anggota dewan direksi – adalah sulit. Menurut Rachmanto Surachmat (2001). Namun demikian. (2) Penghasilan yang diterima oleh orang pribadi tersebut dibayarkan oleh pemberi kerja. Jika direktur tersebut melakukan tugas-tugas manajerial misalnya. aspek pemajakannya dalam hal ini akan mengacu pada klausul independent personal services. hal ini untuk menyederhanakan pengenaan pajaknya.

kepada negara yang bersangkutan . Klausul tentang pencegahan penghindaran pajak mencakup: (1) transaksi internal dan kesepakatan (2) pertukaran informasi. apabila pegawai negeri atau pensiunan tersebut merupakan warga negara dari salah satu negara dan sudah sejak awal menjadi penduduk di negara tersebut maka penghasilan yang diterimanya hanya dikenakan pajak di sana. PENCEGAHAN PENGHINDARAN PAJAKPE Penghindaran pajak menyebabkan salah satu negara mengalami kerugian akibat tidak diterimanya pajak seperti yang seharusnya. hak pemajakan atas penghasilan yang diterima oleh para pegawai negeri diberikan kepada negara di mana ia bekerja. Pada umumnya. pemain catur atau pemain bridge. Pada prinsipnya. Dalam kondisi demikian. akan ada kecenderungan di mana harga transaksi yang disepakati bukan merupakan harga yang wajar. Namun sebagian besar tax treaty mengatur bahwa penghasilan tersebut dikenai pajak di negara di mana yang bersangkutan menjadi penduduk pada saat pensiun Government Services Klausul ini mengatur tentang perlakuan perpajakan atas penghasilan yang diterima oleh para pegawai negeri. penghasilan berupa pensiun dikenai pajak di negara tempat di mana pekerjaan itu dilakukan. Salah satu efek dari adanya harga yang tidak wajar itu adalah terjadinya pergeseran laba dari suatu negara kepada negara yang lainnya. pemain golf. Apabila terjadi transaksi antara pihak-pihak di kedua negara yang memiliki hubungan istimewa. Harga yang wajar adalah harga yang terjadi antara dua pihak yang tidak mempunyai hubungan istimewa. Transaksi Internal Klausul ini mengatur tentang perlakuan perpajakan atas pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa. Pensions Klausul ini mengatur tentang penghasilan yang diterima oleh pensiunan swasta. Hal ini dipandang sebagai suatu usaha untuk menghindari pajak dari suatu negara. Hal yang sama juga berlaku atas penghasilan yang diterima oleh pensiunan pegawai negeri.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 293 dalam olahragawan antara lain adalah pemain sepakbola. pemain tenis. Namun demikian.

294

Bab 13: Pajak Internasional

diberikan hak untuk mengadakan penyesuaian penyesuaian sehubungan dengan pergeseran laba tersebut.

Exchange of Information
Klausul ini mengatur tentang perjanjian pertukaran informasi antar otoritas pajak di kedua negara yang terkait dalam suatu tax treaty. Dengan adanya pertukaran informasi, dapat dikatakan bahwa klausul ini merupakan salah satu senjata dalam menanggulangi praktek-praktek penyelundupan atau penggelapan pajak. Pertukaran informasi dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu pertukaran informasi secara rutin dan pertukaran informasi berdasarkan permintaan.

KETENTUAN LAIN-LAIN
Adapun ketentuan-ketentuan lainnya yang biasa muncul dalam tax treaty meliputi: (1) perlakuan tanpa diskriminasi, (2) prosedur penyelesaian perselisihan, dan (3) pajak atas utusan diplomatik.

Non Discrimination
Klausul ini mengatur tentang persamaan perlakuan perpajakan yang diberikan oleh suatu negara kepada warga negara dan kepada bukan warga negara. Secara khusus Rachmato Surachmat (2001) dalam bukunya menyatakan bahwa klausul ini adalah aturan dalam hukum internasional yang memberikan perlindungan dari diskriminasi. Suatu negara yang terikat tax treaty memiliki kewajiban untuk memberikan perlakuan perpajakan yang sama untuk warga negaranya. Perlakuan perpajakan yang sama ini mengandung arti bahwa dalam suatu kondisi yang sama, pihak yang bukan warga negara dari suatu negara tidak boleh menanggung kewajiban pajak yang lebih berat daripada yang ditanggung oleh warga negara dari negara tersebut. Perlakuan yang sama juga harus diberikan kepada mereka yang bukan merupakan warga negara dari kedua negara yang terikat perjanjian.

Prosedur Penyelesaian Perselisihan
Klausul ini mengatur tentang prosedur yang digunakan oleh kedua negara untuk berkomunikasi dalam menyelesaikan berbagai perbedaan pandangan antara pembayar pajak dengan otoritas pajak mengenai perpajakan tertentu. Klausul ini dapat dipandang sebagai semacam sarana bagi para pembayar pajak untuk “protes” atas suatu perlakuan perpajakan yang tidak disetujuinya.

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi

295

Melalui ketentuan dalam klausul ini, otoritas perpajakan pun memiliki sarana untuk memecahkan kesulitan yang timbul sebagai akibat dari perbedaan interpretasi atas suatu ketentuan dalam sebuah tax treaty. Namun demikian perlu diingat bahwa mutual agreement procedure tidak mencakup seluruh klausul yang terdapat dalam sebuah tax treaty. Klausul-klausul yang dapat menikmati ketentuan dalam mutual agreement procedure antara lain adalah business profits, related persons dan royalty.

Member of Diplomatic Missions and Consular Posts
Klausul ini mengatur tentang perlakuan perpajakan yang diberikan kepada anggota dari suatu misi diplomatik dan konsulat. Menurut Rachmato Surachmat (2001), maksud dari klausul ini adalah untuk menjamin bahwa para diplomat, berdasarkan tax treaty, tidak memperoleh perlakuan yang kurang menguntungkan dibandingkan dengan perlakuan yang diberikan berdasarkan hukum internasional. Dalam kesepakatan internasional, setiap penghasilan yang diterima oleh anggota suatu korps diplomatik atau konsulat, ditetapkan hanya dikenai pajak di negara di mana mereka berasal. Ketentuan dalam klausul ini pun mengatur hal yang sama. Jadi, meskipun anggota korps diplomatik atau konsulat mendapatkan penghasilan yang bersumber dari negara di mana mereka bertugas, negara tersebut tidak dapat mengenakan pajak atasnya.

TAX TREATY MENGALAHKAN UU PPh
Bisa disimpulkan bahwa tax treaty muncul karena dua sebab yang mendasar. Pertama, keinginan untuk menghindari pemajakan berganda yang bisa menimbulkan distorsi ekonomi, yang berakibat buruk bagi investasi. Kedua, tax treaty juga dimaksudkan untuk mencegah usaha-usaha penghindaran pajak yang dapat berpengaruh terhadap penerimaan pajak suatu negara. Mengingat sifat perjanjiannya yang bilateral, antara dua negara, tax treaty mengalahkan UU PPh yang berlaku di masing masing negara treaty partner. Setiap tax treaty antara suatu negara dan negara lainnya adalah suatu perjanjian yang bersifat spesifik hanya mengikat negara-negara yang terlibat dalam perjanjian tersebut. Namun demikian, secara umum setiap tax treaty mengikuti prinsipprinsip dasar dari model model tax treaty yang ada seperti model OECD atau model PBB, yang dijadikan sebagai acuan pada saat pembuatannya. Memahami prinsip prinsip dasar tersebut akan memudahkan setiap pihak dalam memahami berbagai tax treaty yang ada, antara berbagai negara pada

296

Bab 13: Pajak Internasional

umumnya dan antara Indonesia dengan negara negara lain pada khususnya. Yang perlu diperhatikan adalah, dalam tax treaty pada umumnya sudah disepakati bahwa setiap negara treaty partner berhak menentukan prosedur dan tata cara untuk membuktikan bahwa suatu pihak benar-benar berdomisili atau berkedudukan dan berstatus sebagai pembayar pajak di negara treaty partner. Bukti dimaksud seringkali disebut Surat Keterangan Domisili (SKD) atau Certificate of Residence Taxpayer (CRT) yang diterbitkan oleh competent authority atau pejabat yang berwenang yang ditunjuk oleh suatu negara treaty partner. Surat keterangan yang diterbitkan oleh Kantor Pelayanan Pajak (KPP) atau instansi sejenis di negara treaty Partner juga bisa dipersamakan dengan SKD/CRT. Dengan memiliki SKD/CRT, maka suatu pihak berhak untuk menerapkan suatu ketentuan tax treaty dengan negara di mana yang bersangkutan berkedudukan atau berdomisili. Jika tidak memiliki SKD/CRT, maka pengenaan pajaknya kembali pada undang-undang yang berlaku di negara masing-masing. Sebagai contoh, jika wajib pajak luar negeri yang berkedudukan di Inggris, maka wajib pajak luar negeri tersebut hanya dapat menerapkan ketentuan tax treaty Indonesia – Inggris apabila memiliki SKD/CRT dari competent authority yang ditunjuk negara Inggris. Jika tidak, maka penghasilan wajib pajak luar negeri yang bersumber dari Indonesia langsung dikenakan PPh Pasal 26 dengan tarif 26% dari penghasilan bruto.

KOORDINASI PENGELUARAN
Di antara sejumlah negara, sebagaimana halnya dengan pemerintah daerah, terdapat kepentingan bersama yang mendorong mereka untuk bekerja sama dalam proyek patungan. Ini bisa saja menyangkut pembangunan jalan di perbatasan dua negara, usaha pertahanan bersama seperti NATO, usaha bersama dalam memerangi penyakit, jaringan narkotik, dan pasar bersama. Semua ini menyebabkan perlunya pembagian beban biaya yang harus dipikul. Jika jumlah anggota kelompok atau pesertanya kecil, pembagian beban biaya bisa dirundingkan dengan membandingkan manfaat yang akan diperoleh setiap pihak. Khusus mengenai pertahanan, kerja sama akan lebih menguntungkan negara sekutu yang kecil karena peningkatan pertahanan yang kecil sekalipun oleh negara sekutu yang besar akan merupakan tambahan perlindungan yang sangat berarti bagi sekutu kecil tersebut. Jika anggotanya sangat banyak, maka masalahnya akan mirip dengan masalah penentuan anggaran antar perorangan. Jika tarif perkiraan (assesment rate) yang proposional digunakan, setiap negara mungkin akan diharuskan untuk membayar dalam persentase GNP atau persentase pendapatan nasional yang sama. Jika perhitungan progresif

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi

297

digunakan, akan timbul pertanyaan apakah kelompok tarif tersebut hanya dikaitkan dengan pendapatan per kapita dari penduduk di berbagai negara (dimana penduduk dianggap sebagai patokan dasar). Kedua macam pertimbangan di atas diperhitungkan dalam menentukan kontribusi bagi anggaran Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pembagian beban biaya ditentukan melalui pemungutan suara setiap tahun dan direvisi berkali-kali. Prosedurnya adalah: biaya total dibagi diantara negara anggota sesuai perbandingan kontribusi dasar atau GNP. Ini akan menimbulkan pajak proporsional dalam kaitannya dengan GNP, terlepas dari pendapatan per kapita. Selanjutnya prinsip ini dimatangkan lagi dengan menambah sejumlah ketentuan seperti pembebasan beban bagi negara miskin, ketentuan kontribusi minimum, dan pembatasan jumlah yang harus dikontribusikan oleh suatu negara, dengan bagian tertinggi (sekarang 25 persen) disumbangkan oleh Amerika Serikat. Organisasi-organisasi lain menerapkan pola yang berbeda. Kontribusi bagi dana moneter internasional (IMF) tidak ditentukan berdasarkan manfaat yang diperoleh, melainkan dengan hak penarikan (drawing rights) yang ditetapkan sesuai dengan kemungkinan diperlukan kredit-kredit IMF. Prosedur yang kirakira sama diikuti dalam pemesanan modal saham International Bank for Reconstruction and Development (IBRD). Harus dicatat bahwa semua kontribusi ini relatif kecil jumlahnya sehingga pengecualian atau penyimpanan bagi negara tertentu tidak begitu berpengaruh. Kontribusi untuk NATO, yang melibatkan jumlah yang besar, tidak ditentukan dengan suatu dasar perumusan yang ditetapkan tetapi pada hakikatnya tergantung pada negosiasi. Amerika Serikat merupakan penanggung terbesar atas biaya NATO. Suatu nilai kontribusi yang mungkin melebihi bagian yang seharusnya ditanggungnya seandainya hal itu ditentukan berdasarkan persentase GNP.

KOORDINASI STABILISASI
Dengan makin meningkatnya saling ketergantungan dunia, maka nasib suatu negara ditentukan juga oleh apa yang terjadi di negara lain. Suatu negara tidak mungkin lagi bertindak sendiri untuk mengendalikan persoalan yang dihadapinya. Kerja sama internasional diperlukan dalam bidang kebijaksanaan stabilisasi. Hal ini khususnya berlaku untuk negara-negara dengan perekonomian yang terkait erat seperti pasar bersama, tetapi juga berlaku bagi negara dengan perdagangan luar negeri yang terkecil seperti Amerika Serikat. Koordinasi khususnya diperlukan karena saling ketergantungan tidak hanya menyangkut perdagangan tetapi juga aliran atau perpindahan modal.

298

Bab 13: Pajak Internasional

Perdagangan
Dengan asumsi bahwa keadaan kurs valuta asing yang bersifat tetap, menurunnya pendapatan dan kesempatan kerja di negara A akan menyebabkan impornya akan menurun sehingga menyebarkan kelesuan perekonomian atau malaise tersebut ke negara B yang menghadapi penurunan ekspor. Jika A mengambil kebijakan ekspansionir, pendapatannya naik dan begitu juga halnya dengan impornya. Timbulnya impor akan memperkecil faktor pengganda (multiplier) dan karena itu kebijakan A menjadi kurang efektif, hal itu juga turut memulihkan keadaan negara B karena ekspornya jadi meningkat. Karena itu, kebijakan suatu negara akan berpengaruh terhadap negara lain sehingga diperlukan koordinasi kebijakan untuk menampung kebutuhan kedua negara. Pengaruh kebijakan ekspansioner dari negara A terhadap perdagangan akan diperlemah jika kurs valuta asing bersifat fleksibel. Dengan naiknya impor A, nilai mata uangnya akan turun. Karena itu, biaya impornya menjadi tinggi sehingga membatasi atau memperkecil defisit perdagangan negara A dan ekspor negara B. Dengan demikian kurs valuta asing yang fleksibel cenderung mengurangi saling ketergantungan. Hal yang sama berlaku juga untuk keadaan inflasi, dengan kurs yang tetap, kebijakan inflasioner negara akan memperlemah (mendefisitkan) neraca perdagangannya dan menimbulkan besarnya permintaan ke negara B. Dengan kurs yang fleksibel, pengalihan permintaan ke negara B ini tidak akan begitu saja terjadi karena adanya penurunan nilai mata uang A. Sekali lagi, kurs yang fleksibel akan mengurangi gejolak perdagangan. Akan tetapi gambaran ini telalu disederhanakan. Penyesuaian kurs tidak berlangsung dalam sekejap dan perubahan kurs secara diskresioner dapat menjadi faktor pengganggu pengendalian atas kurs itu sendiri merupakan alat kebijakan yang memerlukan kerja sama lebih lanjut.

Aliran Modal
Pengaruh kebijakan yang ekspansioner atau restriktif terhadap perdagangan bisa dikatakan sama, entah itu kebijakan fiskal atau moneter. Akan tetapi, bauran kebijakan stabilisasi akan menjadi masalah besar jika dikaitkan dengan aliran modal. Aliran modal dipengaruhi oleh tingkat pengembalian yang dihasilkan di berbagai negara. Perpaduan kebijakan fiskal yang longgar dengan kebijakan moneter yang ketat akan menghasilkan suku bunga yang tinggi sehingga mengundang masuknya modal asing, dan begitu juga sebaliknya.

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi

299

Peranan aliran modal menjadi penting jika kita mempertimbangkan pengaruh kebijakan stabilitasi terhadap pertumbuhan ekonomi. Banyak hal tergantung pada bagaimana bentuk dari surplus impor yang ditimbulkan tersebut. Jika surplus impor tersebut berupa investasi riil, akan terjadi peningkatan modal di negara bersangkutan yang akan tercermin pada kenaikan produktivitas tenaga kerjanya. Pendapatan modal di masa mendatang akan dikirimkan ke luar negeri, sehingga keuntungan bagi negara tempat penanaman modal tersebut adalah berupa kenaikan produktivitas tenaga kerja dan produktivitas faktor-faktor domestik lainnya.

RANGKUMAN
§ Adam Smith atau David Ricardo berpendapat bahwa negara akan lebih baik apabila melakukan spesialisasi produksi barang berdasarkan keuntungan komparatifnya, mengekspor barang tersebut dan mengimpor barang dari negara lain yang bisa memproduksi barang lain dengan lebih efisien. Asumsi dalam teori tersebut adalah: (1) Faktor produksi seperti tenaga kerja, modal, tanah dan mesin tidak mudah berpindah, sedangkan barang yang dihasilkan bisa dipindahkan dengan mudah; (2) yang dipertukarkan adalah barang komoditi, bukannya barang yang terdiferensiasi; dan (3) daya saing suatu negara sudah ditentukan, tergantung sumber daya yang dipunyai. Faktor lain seperti ketidakpastian, skala ekonomi, teknologi tidak dipertimbangkan. Perusahaan multinasional tumbuh dengan menyalahi doktrin keunggulan komparatif. Perjanjian pajak internasional merupakan suatu media yang dapat mengkoordinasikan masalah-masalah penghasilan perorangan dan perseroan lintas negara. Beberapa asas yang perlu diperhatikan dalam koordinasi pajak internasional: (1) keadilan antar perorangan; (2) keadilan antar negara; dan (3) efisiensi Berbagai struktur sistem pajak negara mempunyai dampak yang sangat penting terhadap arah dan aliran baik barang maupun modal secara internasional. Pada dasarnya terdapat dua pendekatan dalam pajak internasional yang lazim dipergunakan yakni (1) pajak penghasilan internasional dan (2) pajak komoditi. Dua prinsip dalam pajak penghasilan internasional adalah (a) prinsip pajak berdasarkan asas domisili dan (b) prinsip pajak berdasarkan asas sumber pendapatan. Dua prinsip pajak komoditi yang berlawanan satu sama lain (khususnya untuk pajak pertambahan nilai) yakni (1) prinsip pajak tujuan dan (2) prinsip pajak sumber.

§

§

300 §

Bab 13: Pajak Internasional

§

§

§

Perhitungan pajak di negara asal, laba perusahan induk dan kantor cabang akan dianggap sebagai satu unit. Laba perusahaan anak akan dikenakan pajak laba perseroan negara asing sehingga porsi pajak untuk negara asal akan ditangguhkan sampai laba dikirimkan sebagai dividen. Penangguhan pajak hampir tidak menimbulkan masalah jika tarif pajak luar negeri lebih tinggi dari tarif pajak yang akan dikenakan di dalam negeri. Kondisi sebaliknya mendorong perusahaan anak menginvestasikan kembali labanya di negara domisili. Transaksi antara perusahaan induk dan perusahaan anak dapat menyebabkan pergeseran laba. Pajak bersama-sama kurs valas yang fleksibel mempengaruhi harga pokok produk. Harga pokok produk yang bervariasi pada gilirannya akan mempengaruhi pemilihan lokasi produksi. Pajak juga mempengaruhi preferensi masyarakat akan barang substitusi. Pajak konsumsi atau pajak tujuan produk (destination taxes) tidak mempengaruhi lokasi produksi kecuali jika terdapat diskriminasi antara barang lokal dan barang impor. Pajak konsumsi spesifik akan melemahkan perdagangan internasional yang efisien. Pengenaan pajak ekspor di suatu negara menimbulkan efek distorsi yang mirip dengan bea masuk atas barang impor. Pengenaan pajak atas produk lokal tetapi tidak terhadap produk impor akan mereposisi lokasi produksi. Tax treaty merupakan suatu perjanjian perpajakan antara dua negara yang dibuat dalam rangka (1) mengantisipasi pemajakan ganda dan (2) berbagai usaha penghindaran pajak. Sebagai suatu perjanjian, treaty adalah suatu kontrak yang mengikat suatu negara dengan negara lain dalam hal perlakuan perpajakan. Personal scope mengatur tentang kepada siapa saja ketentuan-ketentuan dalam suatu treaty yang bersangkutan bisa diterapkan. Tax covered mengatur tentang jenis-jenis pajak yang perlakuannya menggunakan ketentuan tax treaty. Tie breaker rule, yaitu tentang ketentuan yang menentukan tidak berlakunya status residence atas suatu pihak dengan karakteristik tertentu. Bentuk BUT: (1) BUT fasilitas fisik timbul karena adanya fasilitas fisik seperti gedung, kantor perwakilan, pabrik, bengkel dan lain-lain; (2) BUT aktivitas ditandai dengan adanya aktivitas yang melebihi batas waktu tertentu (time test) yang dilakukan di negara lain. Aktivitas tersebut bisa berupa pelaksanaan berbagai macam jasa (seperti jasa konstruksi dan jasa jasa lainnya). Lamanya time test disesuaikan dengan kesepakatan dari kedua negara; (3) BUT asuransi ditandai dengan keadaan dimana suatu perusahaan asuransi menerima premi atau menanggung risiko di negara lain; dan (4) BUT keagenan timbul jika terdapat agen di negara lain yang

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi

301

§

§

§

§

memiliki wewenang menentukan kontrak atau mengurus barang-barang dagang di negara lain. Pembentukan sebuah tax treaty yang dimulai dengan penandatanganan oleh kedua otoritas yang berwenang dan dilanjutkan dengan ratifikasi di kedua negara. Setelah kedua negara selesai meratifikasi, selanjutnya dilakukan pertukaran dokumen-dokumen ratifikasi. Setelah pertukaran dokumen ratifikasi ini selesai dilakukan maka tax treaty pun dapat diberlakukan. Tax treaty dapat berakhir setelah periode tertentu yang telah disepakati oleh kedua negara. Salah satu negara dapat mengakhiri sebuah tax treaty dengan cara mengadakan pemberitahuan terlebih dahulu yang harus dilakukan dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan yang telah disepakati. Cakupan minimalisasi pajak berganda: (1) penghasilan barang-barang tak bergerak, (2) laba usaha, (3) laba perusahaan transportasi, (4) dividen, (5) pendapatan bunga, (6) royalti, (7) capital gains, (8) penghasilan jasa bebas, (9) penghasilan jasa terbatas, (10) director’s fee, (11) penghasilan artis dan olahragawan, (12) pendapatan pensiun, dan (13) gaji pegawai negeri sipil di luar negeri. Transaksi internal terjadi apabila terdapat transaksi antara pihak-pihak di kedua negara yang memiliki hubungan istimewa, dimana akan ada kecenderungan harga transaksi yang disepakati bukan merupakan harga yang wajar. Pertukaran informasi antar negara dapat menjadi salah satu senjata dalam menanggulangi praktek-praktek penyelundupan atau penggelapan pajak. Perlakuan perpajakan yang non discrimination mengandung arti bahwa dalam suatu kondisi yang sama, pihak yang bukan warga negara dari suatu negara tidak boleh menanggung kewajiban pajak yang lebih berat daripada yang ditanggung oleh warga negara dari negara tersebut. Mutual agreement procedure sebagai sarana untuk memecahkan kesulitan yang timbul sebagai akibat dari perbedaan interpretasi atas suatu ketentuan dalam sebuah tax treaty. Dalam kesepakatan internasional, setiap penghasilan yang diterima oleh anggota suatu korps diplomatik atau konsulat, ditetapkan hanya dikenai pajak di negara di mana mereka berasal. Mengingat sifat perjanjiannya yang bilateral, antara dua negara, tax treaty mengalahkan UU PPh yang berlaku di masing masing negara treaty partner. Setiap tax treaty antara suatu negara dan negara lainnya adalah suatu perjanjian yang bersifat spesifik hanya mengikat negaranegara yang terlibat dalam perjanjian tersebut. Di antara sejumlah negara terdapat kepentingan bersama yang mendorong mereka untuk bekerja sama dalam proyek patungan. Ini menyebabkan

302

Bab 13: Pajak Internasional

§

perlunya pembagian beban biaya yang harus dipikul. Kontribusi sesuai dengan GNP, drawing rights, dan negosiasi. Nasib suatu negara ditentukan juga oleh apa yang terjadi di negara lain. Kerja sama internasional diperlukan dalam bidang kebijaksanaan stabilisasi. Koordinasi khususnya diperlukan menyangkut perdagangan dan perpindahan modal. Menurunnya pendapatan dan kesempatan kerja di suatu negara, akan menyebabkan impornya akan menurun sehingga menyebarkan kelesuan perekonomian atau malaise tersebut ke negara lain yang menghadapi penurunan ekspor. Kurs valuta asing yang fleksibel cenderung mengurangi saling ketergantungan antar negara. Aliran modal dipengaruhi oleh tingkat pengembalian yang dihasilkan di berbagai negara. Perpaduan kebijakan fiskal yang longgar dengan kebijakan moneter yang ketat akan menghasilkan suku bunga yang tinggi sehingga mengundang masuknya modal asing, dan begitu juga sebaliknya. Keuntungan bagi negara tempat penanaman modal tersebut adalah berupa kenaikan produktivitas tenaga kerja dan produktivitas faktor-faktor domestik lainnya.

LATIHAN
1) 2) 3) 4) Apa yang dimaksud dengan doktrin keunggulan komparatif ? Mengapa dikatakan perusahaan multinasional tumbuh dengan menyalahi doktrin keunggulan komparatif? Apa saja hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penerapan koordinasi pajak internasional! Jika seorang warga negara asing melakukan investasi di Indonesia, bagaimana pengenaan pajak yang dapat diberlakukan terhadapnya menurut asas keadilan antar perorangan? Jelaskan bagaimana terjadinya pergeseran beban pajak antar negara dalam hal pajak produk untuk eksport dan import! Jelaskan prinsip pajak berdasarkan : a) Asas Domisili

5) 6)

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi

303

7) 8) 9)

10) 11)

12) 13) 14)

b) Asas Sumber Pendapatan Jelaskan prinsip-prinsip pajak yang mendasari pengenaan pajak komoditi! Jelaskan secara singkat aspek efisiensi koordinasi pajak produk! Jelaskan apa yang dimaksud dengan : a) Destination Taxes b) Origin Taxes Jelaskan pengaruh pengenaan pajak produksi umum suatu negara dalam ekspor, impor, dan kurs valuta asing negara tersebut! Jelaskan mengapa dikatakan kurs valuta asing yang fleksibel cenderung mengurangi saling ketergantungan dan gejolak perdagangan di antara dua negara yang bekerja sama! Apa yang anda ketahui tentang Tax Treaty dan cakupannya? Jelaskan konsep Tie Breaker Rule untuk orang pribadi dan pihak ketiga! Diskusikan mengapa dikatakan Tax Treaty mengalahkan UU PPh?

KEBIJAKAN DAN STRUKTUR BELANJA PUBLIK

Bab ini akan membahas struktur belanja publik dan permasalahan kebijakan dalam penyusunan program belanja. Sebagai penyelenggara negara, salah satu fungsi pemerintah adalah menjadi penyedia barang dan jasa pada sektor tertentu dan menjadi fasilitator dalam hal penyelenggaraan barang dan jasa lain yang diadakan oleh sektor swasta. Khusus dalam penyediaan public goods atau barang publik1, pemerintah dapat berperan baik sebagai penyedia maupun sebagai regulator ketika barang publik ini diadakan oleh swasta. Adapun barang publik yang dimaksud di sini adalah jalan raya, pelabuhan (baik laut maupun udara), listrik, telekomunikasi, pembuangan sampah, limbah dan lain sebagainya.
1

Keterangan mengenai barang publik dapat dibaca di bab-bab awal

306

Bab 14: Kebijakan dan Struktur Belanja Publik

Dalam prakteknya, tidak ada rumus yang pasti mengenai bentuk maupun ukuran besarnya sektor publik. Namun demikian, ada beberapa prinsip umum yang dapat dijadikan alasan penyelenggaraan sektor umum ini oleh negara, misalnya kegagalan pasar dimana pasar tidak dapat mengalokasikan sumber daya secara efisien dan aspek distribusi ke seluruh pelosok negara. Secara umum dapat dikatakan bahwa perencanaan dan penerapan prioritas pengeluaran publik serta perpaduan yang serasi antara sektor publik dan swasta, memerlukan penjajakan yang terinci dan sangat tergantung dari keadaan masing-masing negara. Dalam setiap sektor, cara terbaik dengan menganalisa kebutuhan-kebutuhan yang saling bersaing dalam masing-masing program. Tujuan negara, potensi trade-off, dan indikator ekonomi dan sosial seperti berapa kilometer jalan yang harus dibangun, akses ke air bersih dan sanitasi, angka masuk sekolah, angka kematian bayi dan angka harapan hidup dapat digunakan untuk menentukan prioritas kebutuhan-kebutuhan di berbagai sektor. Di bawah ini akan dibahas hal-hal yang menjadi dasar kebijakan belanja publik serta hal-hal yang berpengaruh terhadap struktur belanja publik.

KONSEP WELFARE STATE
Kebijakan yang dibuat oleh pemerintah suatu negara hampir bisa dipastikan mempunyai landasan filosofis yang dapat ditarik ke akar ideologisnya. Kebijakan keuangan publik pun tidak terkecuali. Kebijakan pengeluaran publik sangat dipengaruhi oleh bagaimana suatu negara memandang dirinya dalam hubungannya dengan rakyatnya, terutama dalam konsep kesejahteraan atau welfare. Konsep welfare state ini dipahami secara berbeda oleh berbagai negara, yang menghasilkan pola pengeluaran publik yang berbeda pula. Esping-Andersen mengkategorikan tiga jenis pokok dari welfare regime, yaitu: § Corporatist regimes, berorientasi kerja dan diatur berdasarkan kontribusi individual. § Social democratic regimes, mengacu pada nilai-nilai dan prinsipprinsip universal. § Liberal regimes, cenderung bersifat residualis. Sistem residual cenderung tidak melembagakan jaminan sosial. Namun demikian, dalam hal terjadinya kemiskinan dan ketidakmampuan membayar jasa kesehatan, maka negara pembayaran jasa kesehatan ini ditanggung oleh negara melalui program jaring pangaman sosial.

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi

307

Sebagai contoh, kita akan melihat bagaimana konsep ini diterapkan pada berbagai negara.

Inggris
Briggs (1961) dalam literaturnya yang terkenal mengenai belanja publik berkaitan dengan kesejahteraan, mengidentifikasikan tiga hal pokok dalam belanja publik yang berkaitan dengan kesejahteraan, yaitu: § Jaminan standar minimum, termasuk penghasilan minimum § Perlindungan sosial bila diperlukan § Penyediaan jasa pelayanan umum sebaik-baiknya Uraian Briggs ini kemudian menjadi “pakem” atau model kesejahteraan dimana elemen kuncinya adalah perlindungan sosial, diikuti dengan penyediaan pelayanan kesejahteraan sesuai hak warga negara. Dalam prakteknya, kesejahteraan sosial di Inggris sangat jauh dari nilai ideal ini. Tingkat cakupan (coverage) layanan memang tinggi, dalam arti pelayanan ini menjangkau sekuruh masyarakat (sebagai contoh, National Health Service berlaku bagi seluruh warga negara Inggris tanpa pandang bulu) namun mutu pelayanan masih belum maksimal. Sedangkan perlindungan sosial yang diselenggarakan bagi rakyat Inggris juga masih bersifat tambal sulam.

Perancis
Sistem kesejahteraan di Perancis dirancang berdasarkan prinsip solidaritas, yang berarti bahwa kesejahteraan masyarakat merupakan tanggung jawab bersama dan risiko ditanggung bersama. Sistem ini berusaha mencapai fullcoverage. Pada awalnya, hal ini dilakukan dengan memperluas jaminan sosial yang mencakup kesehatan dan jaminan sosial lain yang bersifat ekstensif atau mencakup semua penduduk termasuk mereka yang tadinya terpinggirkan. Mulai tahun 1988, diperkenalkan sistem terbaru dimana jaminan atas kebutuhan dasar ditambah dengan hal-hal lain sesuai dengan kebutuhan masing-masing orang. Sistem semacam ini selain kompleks juga mahal untuk dilaksanakan, sehingga akan menimbulkan masalah pada anggaran pengeluaran publik negara tersebut. Hal yang menjadi keprihatinan pemerintah setempat bukanlah pengangguran, melainkan usia lanjut, karena adanya keistimewaan yang diberikan kepada kelompok masyarakat tertentu. Selain itu pengeluaran untuk kesehatan masyarakat juga menjadi bermasalah dalam era swastanisasi dan

308

Bab 14: Kebijakan dan Struktur Belanja Publik

liberalisasi dimana jasa sangat tergantung pada pasar. Karena liberalisasi kesehatan ini menjadikan jasa pelayanan kesehatan menjadi mahal.

Amerika Serikat
Amerika Serikat seringkali digolongkan sebagai negara yang menganut paham liberal dalam hal penyediaan kesejahteraan bagi rakyatnya, yang tercermin dalam konsep individualisme, laissez-faire (mengikuti arah pasar), paham residualisme, dan pandangan miring mengenai kemiskinan. Hal-hal tersebut di atas seringkali mewarnai debat mengenai konsep kesejahteraan di AS. Walaupun demikian, sistem kesejahteraan di AS tidak seragam. Federalisme mengakibatkan banyak keputusan penting, termasuk yang menyangkut kesejahteraan sosial, diatur di tingkat negara bagian. Sebagai contoh, di Minnesota dan Hawaii kesehatan masyarakat dibiayai oleh negara. Sebagai perbandingan dengan negara-negara berkembang, pemerintah pusat memiliki peran yang terbatas dalam penyediaan kesejahteraan sosial. Dalam prakteknya, AS memiliki sistem pluralistik, bukan sekedar liberal. Terdapat perbedaan yang signifikan dari model residual, misalnya sekolah negeri, jaminan sosial, maupun Veteran’s Administration menjamin kesejahteraan lebih dari empat puluh juta jiwa. Selain aktivitas di level pemerintah federal dan negara bagian, penyedia jaminan kesejahteraan juga mencakup sektor swasta. Hasilnya, sistem yang ada juga kompleks dan mahal.

Negara-negara Berkembang
Masalah utama yang dihadapi oleh negara berkembang adalah kemiskinan. Menurut World Bank, setengah dari populasi dunia hidup dengan pendapatan kurang dari dua dollar per hari. Menurut Amartya Sen, kemiskinan bukan saja berakar dari kekurangan sumber daya, tapi lebih disebabkan oleh kurangnya entitlement:. Kelaparan terjadi bukan karena kurang pangan, melainkan karena orang miskin tidak boleh makan makanan yang ada. Untuk itulah perlu adanya pembangunan ekonomi, karena pembangunan ekonomi akan memproduksi barang materil, meningkatkan persatuan dan ketergantungan antar bangsa, yang paling penting dapat meningkatkan entitlement. Namun pada saat yang sama, pembangunan ekonomi juga menimbulkan korban. Pembangunan juga menjadikan orang miskin lebih rentan, karena akar kehidupan tradisionalnya dirombak, dan selanjutnya dapat mengakibatkan polarisasi sosial. Structural adjustment yang dipersyaratkan oleh lembaga keuangan internasional yang bertujuan untuk mendorong negara berkembang memasuki pasar bebas,

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi

309

ternyata banyak dituding sebagai penyebab makin rentan dan tidak terlindunginya masyarakat miskin. Pada tahun 1980an, badan keuangan internasional yaitu IMF dan World Bank meluncurkan suatu program yang disebut Structural Adjustment Program (SAP) untuk membantu negara-negara berkembang mengatasi kemiskinannya dan memasuki perekonomian pasar bebas. Program ini terdiri atas paket pinjaman dan saran-saran tentang langkah-langkah restrukturisasi yang harus diambil pemerintah dalam kebijakan perekonomian negara. Salah satu persyaratan untuk dapat memperoleh paket bantuan tersebut adalah negara yang bersangkutan harus melakukan ’efisiensi’ dengan cara mengurangi anggaran pengeluaran untuk sektor-sektor yang tidak menguntungkan (dalam hal ini adalah sektor-sektor sosial) seperti kesehatan, pendidikan dan sektor sosial lain. Secara bertahap, penyelenggaraan sektorsektor tersebut dan dialihkan ke sektor swasta. Peran negara sebagai penyelenggara dikurangi sedapat mungkin dan beralih fasilitator bagi sektor swasta yang terlibat. Hal ini tentu saja mengakibatkan pengeluaran negara dalam sektor publik menjadi berkurang. Ketika paket pinjaman bersyarat ini diambil dan dilaksanakan oleh negaranegara berkembang yang membutuhkan bantuan, memang terjadi sedikit peningkatan pertumbuhan. Namun, dampak sosial yang semula tidak diantisipasi ternyata sangat parah. Peningkatan pertumbuhan yang dihasilkan oleh paket ini ternyata hanya dicapai oleh segelintir orang sedangkan sejumlah besar lainnya justru terjerumus ke jurang kemiskinan akibat dihapuskannya sebagian anggaran kesejahteraan dari anggaran pemerintah. Pengelolaan sektor tersebut oleh pihak swasta yang bertujuan untuk memaksimalkan keuntungan, mengakibatkan meningkatnya harga jual barang dan jasa publik. Konsekuensi dari hal ini adalah bahwa jasa tersebut hanya dapat dinikmati oleh pihak yang mampu. Sedangkan kaum marjinal makin terpinggirkan. Trickle down effect yang semula diyakini akan terjadi ternyata tidak menjadi kenyataan (Sen, 1999). Hal ini kemudian diusahakan untuk diperbaiki dengan pola pinjaman bersyarat yang baru yaitu Poverty Reduction Strategy Paper, yang menurut banyak pihak hanya nama baru dari wajah lama.

310

Bab 14: Kebijakan dan Struktur Belanja Publik

www.globalissues.org Pertumbuhan belanja publik sangat erat kaitannya dengan tuntutan kemajuan masyarakat dan dikehendakinya pertimbangan sosial yang diperankan oleh pemerintah dalam menjalankan kebijakannya. Dari studi empiris di Amerika Serikat telah dibuktikan bahwa belanja publik menunjukkan angka yang cenderung mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Belanja publik juga cenderung mengalami kenaikan porsinya, apabila dibandingkan dengan total pendapatan nasional. Kajian-kajian struktur belanja publik perlu mempertimbangkan kondisi objektif ini.

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB PERTUMBUHAN
Dalam memahami faktor penyebab pertumbuhan belanja publik, perlu dibedakan faktor antara belanja barang jasa dan belanja transfer. Kedua faktor ini mempunyai karakteristik yang berbeda satu sama lain.

Faktor belanja barang dan jasa
Faktor-faktor yang mempengaruhi belanja barang dan jasa di antaranya adalah sebagai berikut: § Pertumbuhan Pendapatan per Kapita Proporsi antara barang pribadi dan barang publik selalu berubah sesuai dengan kenaikan pendapatan per kapita, porsi barang publik selalu menunjukkan peningkatan. Implikasinya adalah bahwa kebijakan anggaran yang efisien menghendaki adanya peningkatan rasio pembelian pemerintah terhadap pendapatan nasional. Biasanya, peningkatan per kapita seiring dengan perkembangan perekonomian yang berubah dari negara agraris (yang diasumsikan berpendapatan rendah) menjadi negara industri (yang diasumsikan berpendapatan tinggi). Permintaan barang publik akan semakin meningkat dengan meningkatnya pendapatan per kapita. Ernst Engel seperti dikutip oleh Musgrave mengatakan bahwa semakin tinggi pendapatan maka semakin tinggi pengeluaran untuk barang-barang tertentu. Selama pendapatan rata-rata

mengalami kecenderungan menurun. Barang modal tersebut mempunyai manfaat yang bersifat eksternal dimana belanja modal diperlukan dalam jumlah yang besar yang memerlukan pengembalian jangka panjang. Akhirnya. Kebutuhan akan barang modal ini harus lebih besar pada awal pembangunan ekonomi dan peran pemerintah akan semakin menurun dalam pengadaan barang modal. Pola pertumbuhan belanja publik untuk penyediaan barang modal kelihatannya terbalik tetapi pengembangan industri akan menimbulkan akibat sampingan. Jika teknologi berubah. Untuk barang publik. seperti polusi dan kemacetan kota yang pada gilirannya akan menyebabkan peningkatan investasi pemerintah. kecenderungan seperti di atas mempunyai dua kemungkinan.seperti keamanan. maka proses produksi juga berubah. seperti jalan. barang-barang pelayanan umum yang merupakan barang mewah. maka pola konsumsi bagi perekonomian diharapkan akan meningkat pula. pembangunan ekonomi menimbulkan kebutuhan khusus terhadap barang modal. Perubahan teknologi dapat meningkatkan atau menurunkan kepentingan penyediaan barang publik yang mempunyai manfaat eskternal besar sehingga harus disediakan oleh pemerintah. investasi dalam sumber daya manusia dan biaya pendidikan akan mengalami peningkatan selama pendapatan meningkat seiring dengan laju pembangunan. Kadang kecenderungannya meningkat dan kadang menurun. Pengamatan bisa dilakukan juga pada belanja publik dalam penyediaan barang modal. . pendidikan dasar dan sanitasi .Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 311 meningkat. seperti pendidikan tinggi dan pelayanan kesehatan akan mengalami kecenderungan yang semakin meningkat bila pendapatan meningkat. Ditambah. § Perubahan Teknologi Perubahan teknologi mempunyai pengaruh penting dalam pertumbuhan porsi belanja publik. sehingga tidak mudah dilakukan oleh pihak swasta. apabila sektor swasta telah terbuka kesempatannya menanamkan modal dalam pengembangan industri. Pada tahap awal. Sedangkan kebutuhan lainnya. seperti penyelidikan angkasa luar dan pangkalan perahu. Dengan demikian. pelabuhan dan instalasi listrik. Barang publik yang merupakan kebutuhan dasar (bukan kemewahan) . dapat disimpulkan bahwa tidak dapat diestimasikan secara tepat kecenderungan yang akan terjadi pada belanja publik untuk barang konsumsi dan barang modal yang diakibatkan pertumbuhan pendapatan per kapita. terdapat kecenderungan yang meningkat.

bukan berarti porsi belanja publik dalam pendapatan nasional harus meningkat. bisa diestimasikan bahwa porsi belanja publik akan meningkat. sifat penyediaan barang dan jasa publik yang dapat mengubah komponen pendapatan nasional menjadi kurang apabila dibandingkan dengan perubahan teknologi. Sebuah barang publik dapat disubstitusi dengan barang pribadi. Menurut Musgrave. kecuali bila permintaan barang publik bersifat inelastis. Sebagai contoh. sehingga belanja sektor publik meningkat dibandingkan masa kereta kuda dan mesin uap yang digunakan untuk kereta api. perbedaan respon terhadap inflasi bukanlah merupakan faktor utama. tak kalah penting adanya pengaruh perubahan biaya jasa publik terhadap pengeluaran publik. penemuan mesin pembakaran mengakibatkan berkembangnya industri mobil. § Urbanisasi Proses urbanisasi dapat menimbulkan permasalahan bagi pemerintah. Kebutuhan pendidikan juga akan mendorong peningkatan permintaan perumahan dan penyediaan jaminan hari tua. Perubahan teknologi di masa datang yang menyebabkan membengkaknya anggaran pemerintah adalah bidang teknologi angkasa luar yang merupakan faktor penting dalam porsi pengeluaran negara. Meskipun biaya jasa publik menjadi lebih mahal. karena sifatnya yang elastis. Dalam jangka panjang. Dengan meningkatnya industri mobil. Hal ini terutama disebabkan oleh adanya inflasi harga faktor produksi yang dibeli pemerintah lebih cepat dibanding dengan rasio deflasi dalam pendapatan nasional. kemacetan di perkotaan mengakibatkan meningkatnya § . pada akhirnya menyebabkan pertumbuhan anggaran. Perubahan teknologi juga mempercepat barang menjadi usang sehingga biaya penggantian akan meningkat. Peningkatan populasi yang disertai mobilitas populasi juga mendorong pertumbuhan kota baru yang menyebabkan kebutuhan peningkatan pelayanan umum. permintaan jalan raya bergerak sangat cepat. kecuali terbukti teknologi angkasa luar menjadi barang pribadi. Contoh lain adalah perubahan teknologi persenjataan yang mengakibatkan meningkatnya pengeluaran militer.312 Bab 14: Kebijakan dan Struktur Belanja Publik Sebagai contoh. § Perubahan Populasi Perubahan populasi terutama akan meningkatkan belanja pendidikan dan kesehatan karena terjadi perubahan komposisi umur. Biaya Relatif Selain perubahan-perubahan kuantitas seperti diuraikan di atas.

Pertama. . diperlukan peningkatan penyediaan kebutuhan penduduk berusia lanjut. jika tujuan pendistribusian kembali pendapatan adalah untuk menyesuaikan pendapatan keluarga. penyesuaian atau perbaikan atas ketimpangan tersebut yang perlu dilakukan. Namun demikian. Penjelasan ini perlu dihubungkan dengan perubahan sosial dan politik. jika tujuannya untuk mencapai tingkat minimum pendapatan. Tingkat pendapatan minimum ditentukan dalam pengertian ratarata. Faktor Belanja Transfer Sejak tahun 1930-an.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 313 kebutuhan akan infrastruktur dan pelayanan umum. apakah ada tekanan politis untuk mendistribusikan pendapatan kembali atau tidak. sehingga ruang lingkup pendistribusian kembali – yaitu transfer pendapatan sebagai suatu persentase dari pendapatan nasional – akan tetap konstan. Kecuali. peningkatan pendapatan rata-rata tidak mengubah kebutuhan untuk mendistribusikan kembali pendapatan. Sehingga. Contohnya adalah peningkatan asuransi hari tua. porsi belanja keperluan sosial dalam pendapatan nasional di Amerika Serikat meningkat seiring dengan peningkatan pertumbuhan transfer. Kedua. Adanya perubahan ruang lingkup redistribusi pendapatan dapat timbul sebagai akibat dari faktor-faktor demografi. Tindakan pendistribusian kembali pendapatan tersebut dapat dipengaruhi dari dua arah. kebutuhan untuk pendistibusian kembali pendapatan akan menurun jika pendapatan rata-rata meningkat. Program ini lebih merupakan alat untuk menyediakan jaminan hari tua dengan dasar pembiayaan swadaya. Hal ini mendorong meningkatnya kebutuhan barang-barang yang perlu disediakan oleh pemerintah. jika terdapat ketimpangan pendapatan oleh karena peningkatan pendapatan per kapita. perubahan hanya terjadi pada tingkat yang tidak signifikan atau distribusi pendapatan tetap stabil dan hanya sedikit mengarah pada pemerataan. Sistem ini ditujukan untuk menyeimbangkan besarnya distribusi pendapatan melalui transfer dari anggaran pengeluaran ke program pembelian pemerintah yang ditujukan bagi penyediaan barang dan jasa untuk kelompok berpenghasilan rendah. perubahan tersebut diikuti dengan pergeseran rasio penduduk pensiun ke usia kerja sehingga memerlukan peningkatan dalam rasio pengeluaran publik untuk penduduk usia lanjut terhadap pendapatan nasional. Apabila terjadi penurunan pertumbuhan populasi dalam bentuk meningkatnya penduduk yang lanjut usia.

pertimbangan mengenai distribusi dan fungsi obyektif dapat dipertimbangkan dalam menentukan kebijakan proyek. Karena nilai manfaat lebih besar dari biayanya. dengan memperlunak konsep.000. B. Misalkan suatu jalan akan dibangun dengan biaya $150. proyek semacam itu sangat sulit dicapai sehingga diusulkan agar konsep efisiensi diperlunak.000 dan C adalah $40. tingkat efisien semacam itu dapat dicapai. jumlah agregat manfaat bersih senilai $30. dikatakan bahwa proyek tersebut layak dibangun. efisiensi proyek tetap ada apabila orang-orang yang diuntungkan (A dan B) dapat menutupi kerugian pihak lain ( C ) dan dipandang masih lebih baik dibandingkan dengan tidak ada proyek. Berdasarkan kriteria ini. prinsip pareto optimum dilanggar. . Pada kasus ini. Petimbangan distribusi dimulai dengan penentuan apakah bobot distribusi dapat digunakan dalam menilai besarnya manfaat dan biaya. Manfaat yang akan diperoleh A dan B masing-masing $70. Cara yang lebih tepat adalah mendistribusikan beban pajak sedemikian rupa sehingga tidak seorang pun mengalami kerugian bersih dan kondisi ini menghasilkan proyek yang efisien menurut prinsip pareto optimum. Problem utamanya adalah preferensi seseorang tidak mudah untuk diungkapkan dan mungkin saja proyek tersebut tidak efisien. pihak C tidak menerima manfaat dan kerugiannya belum tentu akan diganti.314 Bab 14: Kebijakan dan Struktur Belanja Publik Efisiensi dan Keadilan dalam Belanja Publik Prinsip pareto optimum mengatakan bahwa proyek dikatakan efisien jika memberi manfaat paling tidak kepada satu orang dan tidak merugikan orang lain.000. sehingga manfaat agregat adalah $180. dimisalkan ada dua buah proyek yang dipertimbangkan dimana kedua proyek mempunyai biaya dan tingkat penggunaan yang sama.000 dapat disahkan dan proyek dikatakan efisien. Yang pertama. Akan tetapi dalam kenyataannya.000 yang akan dibebankan dari general fund. sementara dana terbatas untuk satu proyek. dan C harus membiayai masing-masing senilai $50. sehingga A.000. Aspek Keadilan Dalam meninjau aspek keadilan dalam belanja publik. Perlu diadakan persyaratan tambahan agar proyek tetap dikatakan efisien yaitu bahwa penggantian kerugian harus benar-benar dilaksanakan dalam bentuk transfer dari A dan B kepada C. meskipun C mengalami kerugian. Proyek I. Secara teoritis. Namun demikian. sehingga salah satu harus dikorbankan. Tetapi dalam kenyataan. Efisiensi proyek tergantung bagaimana mendefinisikan efisiensi tersebut.

Setiap rupiah yang dibelanjakan oleh masyarakat miskin dapat dinilai lebih tinggi sehingga proyek II akan dipandang lebih layak. masyarakat berpenghasilan tinggi akan menerapkan nilai yang lebih tinggi dibanding masyarakat berpenghasilan rendah karena mereka mampu membayar lebih tinggi dan proyek I dianggap lebih layak. Hasil yang berisiko dapat diestimasikan dengan cara pembobotan . Alternatif I akan memilih lokasi konstruksi di daerah yang upahnya tinggi. jika distribusi yang berlaku tidak optimal. Apabila nilai nominal proyek yang dijadikan dasar pertimbangan. Jika kondisi yang berlaku adalah distribusi optimal. penggunaan bobot distribusi dalam perhitungan biaya-manfaat dapat digunakan sebagai alat pengoreksi aspek distribusi. pertimbangan sosial dapat menyimpulkan sebaliknya. berupa penyediaan taman bermain di lingkungan masyarakat berpenghasilan tinggi dan proyek II. Hal ini menunjukkan kecocokan dengan konsep efisiensi yang lebih luas. penilaian proyek yang didasarkan pada permintaan konsumen juga akan optimal dipandang dari segi sosial. Tetapi. Dimisalkan akan dibangun sebuah kapal laut. berdasarkan asumsi bahwa dalam menerapkan tarif pajak. tetapi dengan biaya yang berbeda. jika distribusi pendapatan tidak optimal. karena nilai manfaat bersih lebih tinggi. Risiko Perubahan Perekonomian Perencanaan proyek berlangsung dalam ketidakpastian dan risiko ketidakpastian manfaat di masa akan datang akan mengurangi nilai sekarang dan harus diperhitungkan dalam perencanaan pengeluaran investasi pemerintah. proyek II akan lebih diutamakan. Tanpa mempertimbangkan aspek distribusi.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 315 dimisalkan. sehingga total biaya di lokasi I akan lebih rendah. sementara alternatif II memilih lokasi yang tingkat upahnya rendah. evaluasi sosial yang tercermin dari kesejahteraan sosial akan menyimpang dari evaluasi swasta dan proyek II akan dipandang lebih layak. dimisalkan. berupa penyediaan taman serupa untuk kelompok masyarakat berpenghasilan rendah. Tetapi. Fungsi obyektif dapat digunakan sebagai alat untuk menghitung pembobotan dalam rangka memaksimalkan kesejahteraan sosial. bahan baku dan transportasi di lokasi I lebih rendah. Akan tetapi. Misalkan juga biaya modal. Atau bobot dapat diperoleh dari analisis pajak penghasilan. Bobot ditentukan dari kejadian yang ditunjukkan oleh perilaku di masa lalu. pemerintah bermaksud mendistribusikan beban pajak sedemikian rupa sehingga sesuai dengan prinsip pengorbanan yang sama. lokasi I dianggap lebih layak. Kondisi yang sama juga muncul jika ada dua proyek yang menghasilkan jasa yang sama. bila bobot distribusi pendapatan diperhitungkan. Permasalahan timbul dalam menyusun peringkat manfaat kedua proyek tersebut. karena memberikan manfaat kepada mereka yang berpenghasilan rendah. Dapat disimpulkan.

Belanja Urusan Ekonomi Belanja yang termasuk dalam kategori ini diantaranya belanja urusan ketenagakerjaan. belanja riset dasar. Akibatnya. jasa rumah tahanan dan penjara. karena adanya dimensi waktu. bantuan militer untuk asing. di antara contohnya adalah belanja jasa kepolisian. Salah satu kriteria yang sering digunakan untuk mengklasifikasikan belanja pemerintah adalah seperti diuraikan dalam Government Finance Statistics Manual. Belanja Perlindungan Umum Belanja dalam kategori ini dibedakan dengan belanja pertahanan. KLASIFIKASI BELANJA PUBLIK Klasifikasi belanja publik dapat dikategorikan berdasar berbagai macam kriteria. analisis manfaat biaya harus dibuat dalam berbagai alternatif saat dimulainya proyek. Pengaruh penundaan satu tahun akan menyebabkan perubahan nilai sekarang atas perhitungan neto manfaat dan biaya. Evaluasi proyek jangka panjang perlu mempertimbangkan dinamika perkembangan perekonomian yang berkaitan dengan harga relatif dan pengaruh distorsi harga. jasa pengadilan. Belanja Jasa Publik Umum Belanja-belanja yang termasuk dalam kategori ini antara lain belanja operasi untuk organisasi eksekutif dan legislatif. jasa pemadam kebakaran. belanja untuk jasa-jasa umum. belanja kehutanan dan . belanja komersial dan ekonomi. 2.316 Bab 14: Kebijakan dan Struktur Belanja Publik berbagai hasil berdasarkan angka probabilitasnya dimana jumlah probabilitas adalah sama dengan satu. 4. belanja transaksi hutang. riset pertahanan dan sebagainya. dan juga riset untuk perlindungan publik. Belanja Pertahanan Belanja-belanja dalam kategori ini antara lain belanja pertahanan militer dan sipil. Risiko perubahan perekonomian mempunyai implikasi perlunya pendiskontoan atas manfaat maupun biaya. dan belanja administrasi transfer antar unit pemerintah. 3. Penjumlahan hasil tertimbang ini kemudian akan digunakan dalam analisis nilai manfaat yang diharapkan. Klasifikasi belanja menurut fungsi pemerintah adalah sebagai berikut: 1.

transportasi. belanja perlindungan anak dan keluarga. Bagaimana menilai dampak pengeluaran publik bagi masyarakat? . pemerintah menghadapi adanya permintaan yang saling bersaing dan juga perdebatan apakah pola pengeluaran publik yang diterapkan dapat benar-benar memenuhi tujuan distribusi. Belanja Perlindungan Sosial Belanja-belanja yang termasuk dalam kategori ini diantaranya belanja perlindungan terhadap manusia lanjut usia (manula). namun harus diingat bahwa anggaran pengeluaran juga sangat terbatas. dan risetnya. proteksi keragaman hewani maupun tata kota. terutama negara-negara berkembang yang memiliki sumber daya terbatas. 6. dan pendidikan tinggi. jasa urusan keagamaan dan komunitas. Dalam hal ini. belanja penerangan jalan. jasa rumah sakit umum. belanja untuk mengatasi pengangguran. World Bank menggarisbawahi tiga pertanyaan penting yang harus dihadapi oleh pemerintah. pengeluaran publik yang tepat tentu saja akan membantu. Secara umum. dan belanja sosial lainnya. dan lain-lain. Belanja Publik dan Prinsip Keadilan Dalam praktek penyelenggaraan negara. Bagaimana cara memenuhi kebutuhan publik dengan anggaran yang terbatas? 3. yaitu: Apakah inti dari tujuan distribusi dari pengeluaran publik? 2. belanja jasa kebudayaan. termasuk risetnya. Belanja Kesehatan Belanja kesehatan meliputi perlengkapan dan peralatan kesehatan. komunikasi dan belanja untuk perindustrian lainnya. 5. satu hal penting yang harus dilakukan adalah dengan memperbaiki aspek distribusi. Belanja Perumahan dan Public Utilities Belanja dalam kategori ini diantaranya adalah pengembangan perumahan dan pemukiman. belanja energi dan bahan bakar. Belanja Pendidikan Pendidikan mencakup belanja pendidikan dasar. 10. Belanja Rekreasi. 7.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 317 pertanian. Budaya dan Agama Di antara belanja yang termasuk dalam kategori ini adalah belanja jasa olahraga dan rekreasi. seringkali terjadi pertentangan kepentingan antara keinginan untuk menghapuskan kemiskinan dengan kemampuan keuangan negara yang bersangkutan untuk mendanai proyek-proyek yang bertujuan mengurangi kemiskinan tersebut. Sehingga. pertambangan. sistem penyediaan air bersih. dan pekerjaan-pekerjaan umum lainnya. termasuk belanja pendukung pendidikan lainnya. 9. Sebagai akibatnya. Belanja Perlindungan Lingkungan Belanja yang termasuk di sini diantaranya adalah belanja pengelolaan limbah dan polusi. jasa kepada pasien. pendidikan menengah. 1. jasa penyiaran. 8.

perubahan harga maupun hancurnya dukungan masyarakat setempat selama terjadinya krisis. Selain itu. Peran pemerintah dalam penyediaan beberapa jenis barang dan jasa tidak dapat dipungkiri. yang terbelakang dan yang rentan terhadap risiko. kaum miskin sangat rentan terhadap risiko yang disebabkan oleh perubahan cuaca. pendekatan targeting dapat dikategorikan menjadi dua hal. Dalam hal ini. yang bahkan memang tidak akan mungkin dapat berpartisipasi dalam pembangunan. Yang juga sering dilakukan adalah dengan mentargetkan aktivitas pembangunan pedesaan. peran pemerintah merupakan kunci keberhasilan pertumbuhan ekonomi secara utuh. . Mungkin akan makan waktu agak lama bagi beberapa kelompok masyarakat untuk dapat berperan serta dalam pembangunan. yang tertinggal. yaitu dengan mengarahkan belanja publik untuk memenuhi kebutuhan kelompok masyarakat yang membutuhkan: yang miskin. Bagaimana caranya agar belanja publik dapat memenuhi ketiga kriteria ini dengan sumber daya yang terbatas? Jawaban yang sering diberikan bagi pertanyaan ini adalah “targeting”. proyek padat karya serta pembangunan daerah tertinggal. Pendekatan kedua. dilakukan dengan menargetkan individu atau keluarga yang masuk kategori miskin. kaum marjinal tidak menjadi target secara individual. Sehingga. yaitu targeting secara sempit. Dalam prakteknya. serta infrastruktur dasar seperti air bersih dan sanitasi. Contoh yang paling sering digunakan adalah dengan mentargetkan jasa sosial dasar. Kelompok inilah yang memerlukan perhatian khusus. Dengan demikian. Pertama adalah broad targeting atau pentargetan secara luas. yang juga menjangkau rakyat miskin.318 Bab 14: Kebijakan dan Struktur Belanja Publik Inti dari tujuan distribusi dari pengeluaran publik adalah: § Mengutamakan pertumbuhan ekonomi yang berpihak pada kaum miskin/marginal. misalnya kelompok lanjut usia dan penderita cacat fisik. terutama pada perekonomian pedesaan. § Membantu mereka yang terpinggirkan/tertinggal dalam proses pertumbuhan ekonomi. namun mereka dijangkau melalui pentargetan jasa atau komoditi yang paling banyak mereka konsumsi. § Membantu mengatasi masalah kerentanan (vulnerability). pemberian susu dan makanan tambahan bagi balita miskin. dimana consumption smoothing juga tidak sempurna. karena tanpa campur tangan pemerintah ketersediaan barang dan jasa tersebut tidak dapat terpenuhi. seperti pendidikan dasar dan kesehatan masyarakat. program kredit mikro yang ditujukan bagi wanita pedesaan. Pendapatan seseorang/keluarga dapat berfluktuasi sepanjang waktu. mungkin juga ada masalah kesenjangan pembangunan antara daerah yang satu dengan lainnya. Misalnya dengan melaksanakan program Jaring Pengaman Sosial yang diadakan setelah Indonesia mengalami krisis moneter. Mereka inilah yang menjadi target group dari kebijakan belanja publik tertentu.

Ekonometri sendiri. bila tidak hati-hati digunakan bisa menimbulkan bias pada perkiraan dampak dari proyek pembangunan. .1 2 2. Kedua pendekatan ini memiliki kekuatan dan kelemahan. Tidak ada aturan yang baku tentang mana yang lebih baik antara kedua pendekatan ini.. .. van de Walle 1998a) dan "behavioural approaches" (Grossman 1994.6 3.6 2.2 6. . . . Tabel 13. Banyak keputusan/kebijakan yang ada dibuat berdasarkan pengukuran kuantitatif dari dampak belanja publik untuk standar hidup.7 6. Kebijakan yang tepat akan sangat tergantung pada peta kemiskinan.6 5.3 0.9 1.6 5. Prioritas Belanja Publik Berbagai Negara Belanja Pendidikan (% dr GDP) HDI rank 1990 1999-2001 Belanja Kesehatan (% dr GDP) 1990 2001 Belanja militer (% dr GDP) 1990 2002 Total debt service (% dr GDP) 1990 2002 High human development 1 2 3 4 5 8 9 12 Medium human Norwegia Swedia Australia Kanada Belanda Amerika Serikat Japan Inggris 7.. Misalnya. 4. Akan selalu ada pihak yang sebenarnya tidak termasuk target namun mendapatkan manfaat. .4 6.5 5. .2 6.9 6. dapat membantu untuk memilih prioritas belanja publik.. . Sampai seberapakah pengukuran ini dapat diandalkan? Metode-metode pengukuran yang ada dapat diklasifikasikan sebagai "benefit incidence studies" (Demery 1997.1.6 6.3 2. . . .9 4 2...4 5. serta hambatan-hambatan lain dalam instrumen kebijakan. . .3 6.1 7.9 2.. dan van de Walle 1998a untuk tinjauan ini).7 4.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 319 Masing-masing pendekatan ini memiliki kelebihan dan kekurangan.2 6.8 7.8 5.5 6 5. Hammer et al.9 1..8 7. Para ekonom serta para peneliti lain secara berkala mengevaluasi dampak distribusi dari kebijakan belanja publik.4 7. ataupun yang sebenarnya harus dibantu namun tidak mendapat bantuan.2 . terutama bagaimana rakyat miskin bisa mendapatkan manfaat pembangunan.. benefit incidence analysis terfokus pada manfaat rata-rata dari belanja publik dimana kesimpulan kebijakan atas reformasi belanja publik didasari oleh dampak atas margin perubahan tersebut.6 3.1 6.6 5. (1995) menguraikan cara untuk menggunakan kedua pendekatan ini agar saling melengkapi.. terutama bagi masyarakat miskin.. .1 6.. ekonomi politis.7 4.2 5 5.8 5.2 1. Sedangkan pendekatan perilaku (behavioural approaches) menggunakan ekonometri maupun metode eksperimental.4 1 2. . Biasanya yang efektif adalah kombinasi keduanya.. Bagaimana kita bisa mengukur dampak dari kebijakan publik? Informasi mengenai dampak distribusi.1 1.. pembangunan infrastruktur. ..6 4...4 .6 4. serta keadaan spesifik dari negara yang bersangkutan seperti tingkat kemampuan administratif. tujuan kebijakan.

6 4. pemerintah dapat berperan sebagai penyedia dan regulator jika barang publik diadakan oleh swasta.7 2. Tiga hal pokok dalam belanja publik yang berkaitan § § § § .1 5.8 4.7 4.8 9.6 1.4 4.5 4.6 2.9 3.7 3.5 0.4 1 8.6 11.8 6.6 2.6 0.4 1.8 6.3 1.5 2.5 0.6 8.1 1 4. Esping-Andersen mengkategorikan tiga jenis pokok dari welfare regime: (a) corporatist regimes.9 10.3 9.9 1.8 2.5 2.4 9. (b) social democratic regimes. RANGKUMAN § Sebagai penyelenggara negara.6 Malaysia Thailand Filipina Yordania Indonesia India 5.7 2. salah satu fungsi pemerintah adalah menjadi penyedia barang jasa pada sektor tertentu dan fasilitator jika penyelenggaraan barang jasa diadakan oleh swasta.2 2.6 8.2 3.3 1.6 0.9 2 2.2 3.5 3.9 2.4 3.2 Sumber: Human Development Report.7 4 2.3 4. Prinsip umum yang dapat dijadikan alasan penyelenggaraan sektor umum oleh negara yaitu market failure (kegagalan pasar dimana pasar tidak dapat mengalokasikan sumber daya secara efisien) dan aspek distribusi ke seluruh pelosok negara.7 2.7 1.9 1.6 0. (c) liberal regimes Konsep welfare state di Inggris sebagaimana dikemukakan oleh Briggs menekankan pada perlindungan sosial dan penyediaan pelayanan kesejahteraan .6 1. Kebijakan pengeluaran publik dipengaruhi oleh konsep welfare state yaitu bagaimana suatu negara memandang dirinya dalam hubungannya dengan rakyatnya mengenai kesejahteraan.1 15.3 9.9 7.4 3.1 Bab 14: Kebijakan dan Struktur Belanja Publik 1.8 2.8 3.4 1.2 3.8 9.4 3.5 15.320 development 59 76 83 90 111 127 Low human development 142 145 148 171 173 Pakistan Lesotho Kenya Mozambique Burundi 2.9 5 3.6 1.7 2.2 8.1 1.9 8.7 2.4 1 3.1 2.4 7.2 2.2 4.1 6. Khusus dalam penyediaan barang publik.4 1.1 3. UNDP 2004.1 3.8 10 6.6 6.

Negara-negara berkembang mempunyai masalah utama yaitu kemiskinan. (b) Distribusi pendapatan yang dilakukan untuk menyesuaikan pendapatan keluarga. Faktor-faktor yang mempengaruhi belanja barang dan jasa antara lain: (a) pertumbuhan pendapatan per kapita. dan pandangan miring mengenai kemiskinan. laissez-faire (mengikuti arah pasar). karena itulah diperlukan pembangunan ekonomi. (b) perubahan teknologi. tidak mengubah kebutuhan untuk mendistribusikan kembali pendapatan. sehingga harga jual barang dan jasa semakin meningkat. Faktor-faktor penyebab pertumbuhan belanja publik dibedakan atas (a) faktor belanja barang dan jasa dan (b) faktor belanja dari transfer porsi pendapatan. Akibatnya. (c) perubahan populasi. Sistem kesejahteraan di Perancis dirancang berdasarkan prinsip solidaritas. (c) pelayanan jasa pelayanan umum sebaik-baiknya. Jika dilakukan penyesuaian atau perbaikan atas ketimpangan tersebut. (d) biaya relatif. (e) urbanisasi Belanja transfer merupakan distribusi pendapatan (transfer pendapatan sebagai suatu persentase dari pendapatan nasional). tiap negara bagian mengatur sistem kesejahteraannya masing-masing sehingga Amerika memiliki sistem pluralistik. Jika pendapatan rata-rata meningkat. Namun. maka perubahan tidak signifikan dan distribusi pendapatan tetap stabil. Amerika Serikat menganut paham liberal dalam hal penyediaan kesejahteraan yang tercermin dalam konsep individualisme. (b) perlindungan sosial bila diperlukan. paham residualisme. Amartya Sen berpendapat bahwa kemisikinan bukan saja terjadi karena kekurangan sumber daya tetapi juga kurangnya entitlement.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 321 § § § § § § dengan kesejahteraan yaitu: (a) jaminan standar minimum termasuk penghasilan minimum. Structural Adjustment Program (SAP) yang dibuat oleh badan keuangan internasional yaitu IMF dan World Bank untuk membantu negara-negara berkembang menyebabkan pengeluaran negara dalam sektor publik berkurang dan dialihkan ke sektor swasta. yang dipengaruhi oleh dua arah. pertumbuhan ekonomi hanya dirasakan segelintir orang dan sejumlah besar lainnya justru terjerumus ke jurang kemiskinan. bahwa kesejahteraan masyarakat merupakan tanggung jawab bersama dan risiko ditanggung bersama. jika pendapatan rata-rata . Kecuali tujuannya untuk mencapai tingkat minimum pendapatan. yaitu: (a) Distribusi pendapatan yang dilakukan untuk mengatasi ketimpangan pendapatan karena peningkatan pendapatan per kapita.

(b) belanja pertahanan. (k) belanja perlindungan sosial. penilaian proyek yang didasarkan pada permintaan konsumen akan dipandang layak dari segi sosial. Government Finance Statistics Manual menguraikan klasifikasi belanja menurut fungsi pemerintah sebagai berikut: (a) belanja jasa publik umum. Prinsip pareto optimum mengatakan bahwa proyek dikatakan efisien jika memberi manfaat paling tidak kepada satu orang dan tidak merugikan orang lain. dan agama. (i) belanja rekreasi. Analisis manfaat biaya harus dibuat dalam berbagai alternatif untuk mengatasi risiko perubahan ekonomi ini. Jika distribusi pendapatan optimal. budaya. Pada kenyataannya prinsip ini sangat susah dicapai. Perencanaan proyek berlangsung dalam ketidakpastian dan risiko ketidakpastian manfaat di masa yang akan datang akan mengurangi nilai sekarang dan harus diperhitungkan dalam perencanaan pengeluaran investasi pemerintah. Tetapi jika distribusi pendapatan tidak optimal.322 Bab 14: Kebijakan dan Struktur Belanja Publik § § § § § § meningkat maka kebutuhan untuk pendistribusian kembali pendapatan akan menurun. pentargetan jasa atau komoditi yang paling banyak dikonsumsi. (d) belanja perlindungan umum. sebagai alat untuk menghitung pembobotan dalam rangka memaksimalkan kesejahteraan sosial. Inti dari distribusi pengeluaran publik. (b) . Cara memenuhi kebutuhan publik dengan anggaran yang terbatas adalah dengan melakukan “targetting” yaitu mengarahkan belanja publik untuk memenuhi kebutuhan kelompok masyarakat yang membutuhkan. Bobot ditentukan dari kejadian yang ditunjukkan oleh perilaku di masa lalu. (b) membantu mereka yang terpinggirkan/tertinggal dalam proses pertumbuhan ekonomi. (c) membantu mengatasi masalah kerentanan (vulnerability). (b) Fungsi obyektif. (h) belanja kesehatan. (f) belanja perlindungan lingkungan. terdapat dua pendekatan: (a) broad targetting atau pentargetan secara luas. yaitu: (a) mengutamakan pertumbuhan ekonomi yang berpihak pada kaum miskin/marginal. (c) belanja pertahanan. Aspek keadilan dalam belanja publik untuk menentukan kebijakan proyek dipengaruhi oleh pertimbangan sebagai berikut: (a) Distribusi pendapatan. penggunaan bobot distribusi dalam perhitungan biaya-manfaat dapat digunakan. (e) belanja urusan ekonomi. (j) belanja pendidikan. seberapa besar manfaat yang dapat diberikan bagi mereka yang berpenghasilan rendah. sehingga cara yang paling tepat adalah dengan mendistribusikan beban pajak sedemikian rupa sehingga tidak seorang pun mengalami kerugian bersih. (g) belanja perumahan dan public utilities.

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 323 § targetting secara sempit. terfokus pada manfaat rata-rata dari belanja publik dimana kesimpulan kebijakan atas reformasi belanja publik didasari oleh dampak atas margin perubahan tersebut. Mengapa analisis manfaat biaya harus dibuat dalam berbagai alternatif saat dimulainya proyek? . menggunakan ekonometri maupun metode eksperimental. Sebutkan faktor-faktor penyebab pertumbuhan belanja publik dari : a. menargetkan individu atau keluarga yang masuk kategori miskin. Apa yang dimaksud dengan prinsip Pareto Optimum? 7. Sebutkan klasifikasi belanja publik menurut fungsi pemerintah! 11. dan sebutkan apa saja yang mempengaruhinya! 6. Informasi mengenai dampak distribusi yang dapat membantu untuk memilih prioritas belanja publik dapat diperoleh dengan melakukan dua metode pengukuran. LATIHAN 1. Jelaskan mengapa pertumbuhan pendapatan per kapita bisa membuat belanja publik mengalami peningkatan dan dapat juga mengalami penurunan! 3. 2. Bagaimana cara mengestimasi manfaat dari hasil yang berisiko? 12. faktor belanja dan jasa. Apa manfaat fungsi objektif dan apa yang dimaksud bobot? 10. tetapi bukan berarti belanja publik dalam pendapatan nasional meningkat? 4. Apa yang dimakud dengan kondisi distribusi optimal? 9. faktor pengeluaran dari transfer posisi pendapatan. b. Mengapa perubahan biaya jasa publik berpengaruh terhadap belanja publik? 5. yaitu: (a) benefit incidence studies. (b) behavioural approaches (pendekatan perilaku). Bagaimana membuat efisiensi proyek tetap ada walaupun ada pihak yang dirugikan? 8. Apa yang dimaksud dengan distribusi pendapatan. Mengapa meskipun biaya jasa publik menjadi lebih mahal.

Sebutkan yang termasuk dalam belanja urusan ekonomi! 14. Sebutkan yang termasuk dalam kategori belanja pertahanan! 15.324 Bab 14: Kebijakan dan Struktur Belanja Publik 13. Bagaimana jika distribusi pendapatan tidak optimal? .

untuk lebih fokus pada pembahasan materi. pendekatan pengelompokan sektor diasumsikan mengacu pada laporan-laporan Bank Dunia. . akan tetapi sektor-sektor yang dibahas disini didasarkan pada klasifikasi Bank Dunia. PERLUNYA ANALISIS SEKTOR Banyak pendapat tentang pengelompokan pengeluaran publik kepada sektor.KEBIJAKAN BELANJA PUBLIK SEKTOR-SEKTOR UMUM Dalam bab ini akan dibahas lebih rinci berbagai jenis belanja serta masalahmasalah yang ditimbulkannya. Sehingga. pembangunan jalan raya. belanja pendidikan dan perlindungan lingkungan berupa pembangunan taman rekreasi. dengan melihat pengalaman-pengalaman empiris di berbagai negara. Pembahasan akan dimulai dari jenis belanja pertahanan nasional.

§ Analisis sektor membantu menjamin bahwa proyek-proyek individu terpilih didasarkan pada perencanaan dasar kebutuhan dan prioritas sektor. dan kebutuhan investasi untuk sektor secara keseluruhan sebagai masukan bagi keputusan badan perencana mengenai program dan prioritas investasi nasional. Ada beberapa cara atau metode yang dapat digunakan dalam analisis sektor: § Melengkapi cakupan ekonomi makro dengan menganalisis pengaruh terhadap sektor. prioritas. meskipun akhirnya dilampaui oleh pertumbuhan program sosial. . § Mengevaluasi kapasitas lembaga-lembaga tiap sektor dalam melaksanakan kebijakan-kebijakan publik. program-program investasi dan kebijakan ekonomi mikro dari proyek individu.326 Bab 15: Kebijakan Belanja Publik Sektor-sektor Umum Tujuan analisis sektor menyangkut beberapa tujuan: § Membantu pertimbangan strategis dan kebijakan untuk seluruh perekonomian. § Menentukan prioritas investasi dalam rangka identifikasi proyek-proyek khusus lain dan studi pra investasi tambahan yang diperlukan. Dengan demikian. Dalam dekade tersebut. § Analisis sektor memberikan perkiraan potensi hasil. struktur pajak. kebijakan upah dan tingkat bunga. lapangan kerja. PERTAHANAN NASIONAL Di Amerika Serikat. subsektor dan proyek. variabel-variabel kebijakan umum seperti nilai tukar. tujuan analisis sektor adalah untuk menjembatani kesenjangan antara kebijakan ekonomi makro tingkat nasional. dan hubungan antar sektor di antara proyek dan program yang dilaksanakan pemerintah. § Memungkinkan penilaian strategis dan kebijakan pembangunan sektor yang mendorong kontribusi sektor terhadap pembangunan ekonomi negara. perubahan kebijakan dan kelembagaan perlu berprestasi baik pada tingkat proyek atau tingkat ekonomi mikro. selama tahun 80-an. belanja pertahanan nasional merupakan kontributor utama terhadap pertumbuhan anggaran. Perencanaan yang berhasil memerlukan penerjemahan tujuan dan kebijakan sektor ke dalam kebutuhan sektor dan subsektor secara individual dan juga ke dalam rincian yang lebih detail pada proyek-proyek tertentu. Analisis sektor diperlukan untuk menjawab pertanyaan tentang pilihan.

penelitian dan pengembangan. sangat sulit memperkirakan apakah akan ada pembatasan persenjataan strategis dengan melakukan pemotongan anggaran. udara dan marinir. Belanja pertahanan dibagi menjadi belanja personel. Masalah lainnya adalah menyangkut keseimbangan antara angkatan darat. regional atau internasional. pembelian barang dan jasa. perencanaan pertahanan nasional harus menemukan keseimbangan antara senjata konvensional dan modern. Masalah Utama dalam Belanja Pertahanan Masyarakat tidak dapat menyediakan sendiri keamanan bagi dirinya dan proteksi yang diberikan haruslah secara kolektif. Belanja pertahanan selain menghadapi masalah yang kompleks dalam perencanaan. laut. Alasannya. submarine-based missiles. tapi orang lain dapat berpandangan bahwa kebijakan tersebut ofensif. maupun Administrations Strategic Defensive Initiative (sering disebut perang bintang) sampai sekarang masih dipertentangkan oleh para ilmuwan. Dengan melihat anggaran pertahanan Amerika Serikat saat ini. dan pemilihan sistem persenjataan tertentu. juga melibatkan masalah-masalah kebijakan luar negeri. Kelayakan proyek-proyek militer. ruang lingkup nasional. seperti kesediaan untuk menerima risiko konflik militer. mulai dari landbased missiles. sehingga contoh penyediaan jasa pertahanan menjadi contoh klasik yang dapat dibahas. Keputusan politik memegang peranan sangat penting dalam menentukan pola kebijakan pertahanan ini meskipun menjadi kebijakan yang sulit diperkirakan. Efektifitas Biaya Modernisasi Kekuatan Strategis Kebutuhan pertahanan nasional dan berbagai masalahnya memerlukan perancangan yang kesemuanya harus dipenuhi dengan seefisien mungkin. Perdebatan yang muncul di Amerika Serikat tentang sistem persenjataan. operasi dan pemeliharaan. Suatu kebijakan pertahanan dapat dipandang sebagai kebijakan subyektif. Yang paling penting. mengingat risikonya yang sangat tinggi. seseorang dapat saja memandang kebijakan tersebut defensif. mengingat peran Amerika dalam perang .Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 327 belanja pertahanan menjadi faktor utama anggaran pemerintah dalam pembelian barang dan jasa dari swasta. Terakhir. masalah kekuatan militer tidak hanya meningkatkan akibat pengrusakan tetapi juga bisa mencegah konflik yang menimbulkan pengrusakan. apakah harus memodernisasi kekuatan strategis ataukah harus membangun kekuatan strategis baru.

ketidakstabilan makin terasa di dunia ini. Terdapat pergeseran dari permintaan swasta untuk barang konsumsi dan perumahan kepada pembelian pemerintah untuk sektor pertahanan. Dampak Terhadap Pertumbuhan Produktivitas Program riset dan pengembangan yang dilakukan untuk kepentingan pertahanan nasional berpengaruh besar terhadap perkembangan teknologi dan pertumbuhan produktivitas. Dari satu pihak. seperti aerospace. ternyata mengalami pertumbuhan produktivitas yang lebih cepat dibanding dengan negara dengan persentase belanja pertahanan yang lebih besar. dampaknya terhadap perkenomian negara layak dilakukan pembahasan. konflik antara Israel dan Palestina serta adanya serangan teroris di seluruh penjuru dunia (terutama setelah serangan menghebohkan pada tanggal 9 September 2001 yang terkenal dengan insiden 9/11) telah menjadi berita utama di seluruh surat kabar dunia. terserapnya bakat ilmiah oleh industri pertahanan akan menyebabkan industri swasta tersebut ke arah penurunan. Bukti empiris menunjukkan bahwa negara dengan persentase belanja pertahanan terhadap pendapatan nasionalnya kecil. Millenium Development Goals (yang dicanangkan untuk mengurangi kemiskinan di dunia menjadi 50% dari jumlah sekarang pada tahun 2015) dan program-program penghapusan kemiskinan terasa terpinggirkan. seperti Amerika Serikat.328 Bab 15: Kebijakan Belanja Publik Sektor-sektor Umum melawan terorisme sangat besar bahkan menjadi sponsor bagi program internasional ini. Di lain pihak.seperti komputer namun di lain pihak. sektor ini secara nyata juga mendukung kesempatan kerja di sektor swasta. Dampak Terhadap Industri Karena pertahanan merupakan kontributor utama dalam defisit anggaran pemerintah federal AS. dan pabrik persenjataan elektronik. produktivitas yang ditimbulkan oleh sektor pertahanan akan dialihkan ke sektor swasta . misalnya Jerman dan Jepang. BELANJA PERTAHANAN DAN MASALAH PEMBANGUNAN Perang di Irak dan di Afganistan. Sementara itu. Industri pertahanan mencakup sektor manufaktur. Pertumbuhan produktivitas jangka panjang akan tergantung pada peningkatan jumlah orang berbakat ilmiah dan kontribusi anggaran dalam peningkatan aktivitas ilmiah tersebut. Dampak pertama terjadi pada besarnya pengeluaran untuk pengadaan struktur industri serta pertumbuhan produktivitas dalam bidang peralatan pertahanan. pabrik pembuatan kapal laut. Hanya sedikit yang menghubungkan bahwa sebetulnya peningkatan belanja pertahanan telah menciutkan sumber daya yang seharusnya disediakan untuk pembangunan. Tahun 2004 telah ditandai dengan meningkatnya belanja .

yaitu antara 8% sampai 13% dari GDP mereka untuk militer. Perancis dan Jerman. Dividen Perdamaian Sama dengan yang dilakukan oleh banyak negara lainnya. Setelah 1998 sampai buku ini dibuat tahun 2005. baik dari sisi kemanusiaan maupun sisi ekonomis. Antara tahun 1998 dan 2002.2% dari GDP mereka untuk militer. belanja pertahanan seluruh dunia telah meningkat sebanyak US$ 800 milyar. masalah pokok tidak hanya terdapat pada terlalu banyaknya uang yang dibelanjakan untuk peralatan dan personel militer. dan pertambahan ini didominasi oleh kenaikan belanja pertahanan dan militer Amerika Serikat. Apabila kita melihat perbandingan antara belanja pertahanan terhadap sumber daya nasional. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa negara-negara berkembang tersebut di atas baru saja keluar dari kemelut dan peperangan. belanja pertahanan dan militer dalam jumlah besar ini tetap merupakan satu hal yang menjadi keprihatinan pemerhati negara berkembang. juga bila tidak ada konflik lokal di tingkat regional negara-negara miskin tersebut. yang disinyalir mencapai tiga perempat dari total kenaikan belanja pertahanan dan militer dunia antara tahun 1996 dan 2002. mengingat bahwa peningkatan belanja militer di satu negara di dunia akan mempunyai dampak terhadap kesejahteraan dan penghidupan bangsa lain (yang bukan saja bersumber dari serangan yang dilancarkan oleh negara yang belanja militernya meningkat tersebut terhadap bangsa lain). Perang Irak yang diawali dengan serangan Inggris dan Amerika Serikat ke Irak telah menambahkan total belanja pertahanan dan militer secara signifikan. analisa yang cukup terpercaya mengungkapkan bahwa pengurangan belanja militer AS mengakibatkan menurunnya defisit pemerintah dan tingkat bunga pada tahun 90an. belanja militer mengganggu belanja pendidikan. Setelah berakhirnya perang dingin. yang menyebabkan banyak orang merasa bahwa dividen perdamaian tidak terlaksana. kesehatan dan pembangunan sosial. Kuwait. Dari sisi ekonomis. banyak negara berkembang yang membelanjakan lebih besar bagian dari sumber daya nasionalnya untuk belanja pertahanan dibandingkan dengan negara-negara maju tersebut di atas. Yordania. Namun demikian. Lima belas negara yang belanja pertahanan dan militernya teratas di dunia adalah negara maju seperti Amerika Serikat. pada tahun 2001 lima negara Timur Tengah yaitu Israel. Namun demikian. Namun demikian. Pengurangan defisit ini merupakan pendorong utama bagi pertumbuhan ekonomi AS tahun 90an. Namun demikian. Pertumbuhan ini telah memberikan dampak positif terhadap perekonomian global. Dari sisi kemanusiaan. Insecurity tidak lagi terutama bersumber dari negara . total belanja pertahanan dan militer telah mengalami kenaikan kembali. belanja militer AS untuk perang di Irak dan di Afganistan telah membuat anggaran belanja AS defisit. Amerika Serikat membelanjakan 6% dari GDPnya untuk belanja pertahanan dan militer. Namun demikian. Dampak menguntungkan dari pengurangan belanja pertahanan AS ini sebetulnya akan dapat lebih dinikmati oleh negara-negara miskin kalau saja Bretton Woods Institution (World Bank dan IMF) tidak memaksakan kebijakannya. Saudi Arabia membelanjakan lebih dari jumlah tersebut. Selama beberapa puluh tahun terakhir ini. Belanja pertahanan dan militer merupakan masalah pembangunan. antara lain perlu dicatat bahwa pada negara-negara miskin. sifat ketidakamanan (insecurity) telah berubah. antara tahun 1988 sampai dengan 1998. peningkatan belanja militer dalam persentase atas GDP berhubungan dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi. dan tahun 2003 diperkirakan total belanja pertahanan dan militer melebihi satu trilyun dolar AS. negara ini juga mengurangi belanja pemerintah. membuat AS menjadi lokomotif ekonomi dunia. Pada saat yang sama. yang membuat era ini merupakan masa terpanjang bagi pertumbuhan ekonomi AS. Amerika Serikat menandai akhir perang dingin dengan pengurangan besar-besaran atas belanja militernya pada tahun 90an. Inggris. dengan trend yang terus meningkat. Pada tahun 2003. Seperti hasil penelitian yang dilakukan oleh IDS. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa prospek perekonomian AS dan seluruh dunia tampaknya tidak begitu baik. dimana hal ini sangat menguntungkan (baik secara nyata maupun secara potensial) negara-negara miskin.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 329 pertahanan dan militer seluruh dunia dan kurangnya pengeluaran untuk mengatasi tantangan kesejahteraan masyarakat dan pembangunan manusia. Apabila tujuan utama dari belanja publik adalah untuk meningkatkan keamanan dan pembangunan manusia. yaitu 8% dan 6. belanja pertahanan dan militer seluruh dunia mengalami penurunan drastis selama sepuluh tahun. Burundi dan Ethiopia juga membelanjakan lebih dari AS. India dan Cina yang termasuk negara berkembang telah meningkatkan belanja pertahanan dan militernya sebanyak 18% dan 9%. uang tersebut seringkali dibelanjakan ke tempat yang salah. Jepang.

Ancaman utama saat ini lebih banyak merupakan ancaman terhadap human insecurity. HIV/AIDS. Sedangkan pemerintah lokal bertanggung jawab terhadap jalan raya di daerahnya. Karena itulah. setelah menimbang-nimbang berbagai kombinasi pilihan yang paling tepat untuk mengatasi human insecurity. Namun pengalaman negara seperti Costa Rica dapat dijadikan contoh. TBC. dimana negara tersebut merasakan manfaat yang besar dari menghapuskan belanja militer dan mengalokasikannya secara langsung kepada sektor kesehatan. dominasi militer dalam pengambilan keputusan dan tidak adanya pertanggungjawaban publik. § Jalan raya membutuhkan pembiayaan yang sangat besar. yang berkaitan dengan ancaman baru (dan terus berubah) terhadap keamanan. banyak pihak juga mengecam tindakan beberapa negara donor yang mempersyaratkan negara berkembang untuk melakukan pengurangan senjata dan pengurangan belanja militer dan pertahanan. juga untuk menyikapi kenyataan masa kini dimana hanya ada satu negara adikuasa. Analisa semacam ini tidak mudah dan tidak akan pernah mudah. Sebagian yang lain dilakukan oleh pemerintah federal dengan mentransfer hampir seluruh penerimaannya melalui grant kepada tingkat pemerintah di bawahnya dan sebagian besar diterima oleh negara bagian. Human security approach inilah yang mendasari banyak lembaga non pemerintah internasional seperti Oxfam International mengadakan kampanye untuk mengingatkan pemerintah negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Inggris untuk tidak menjual peralatan militer kepada negara-negara berkembang. dengan alasan bahwa akan jauh lebih bermanfaat bagi negara-negara ini apabila dana tersebut dialokasikan ke sektor kesejahteraan. malaria. Hal yang mutlak untuk dilaksanakan adalah menganalisa dengan menjabarkan berbagai pilihan yang tersedia untuk mengalokasikan sumber daya. saat ini pemerintah baik negara maju maupun negara berkembang perlu mengalokasikan sumber dayanya untuk mengatasi tantangan yang paling mengancam kesejahteraan warganya. paling banyak dilakukan pada tingkat negara bagian. Perlucutan senjata dan pembangunan masa kini memerlukan pendekatan baru. pemerintah daerah dan antar pemerintah daerah lainnya. JALAN RAYA Keunikan sistem jalan raya sebagai barang publik menyangkut tiga hal yaitu: § Kerjasama yang rapi antara pemerintah pusat. § Perkiraan pajak yang besar.330 Bab 15: Kebijakan Belanja Publik Sektor-sektor Umum tetangga karena masalah pertikaian perbatasan dengan negara tetangga sebagai musuh yang jelas. termasuk jalan antar negara bagian. yang terdapat dalam bentuk kejahatan perkotaan. pengungsian. negara produsen peralatan militer perlu juga menimbang-nimbang antara pentingnya memperoleh pendapatan dari penjualan senjata dibandingkan dengan komitmen mereka untuk mendukung pembangunan berkelanjutan. Kerjasama Antar Unit Pemerintah Pengeluaran untuk jalan raya di Amerika Serikat. terhadap faktor-faktor baru. pendidikan dan sektor lain yang berkaitan langsung dengan pembangunan manusia. Pembagian kerja dan . Pendekatan ini dikenal dengan nama human security approach. tanpa memperhatikan dan mengatasi akar masalah dari tingginya belanja militer: lemahnya pemerintahan. dan kekerasan berbasis gender. Di pihak lain. Dengan berubahnya konteks permasalahan. Setiap negara perlu memilih mana yang akan dijadikan prioritas. maka respon yang diberikan tentunya juga harus berubah. Namun demikian. bencana alam dan lain-lain yang bersumber dari berbagai hal namun memiliki dampak yang sama: membuat hidup banyak orang terancam dan menjadi makin rentan.

penerimaan berasal dari pajak bahan bakar. Swasta ikut memberikan andil membiayai pendidikan juga meskipun kontribusinya tidak sebesar pemerintah. yang salah satunya berasal dari pajak atas kekayaan yang dimiliki penduduk lokal serta dari pembebanan khusus lainnya. Pada tingkat negara bagian. bagaimana proses pengajaran berlangsung. dan apakah sebaiknya pemerintah memberikan bantuan kepada lembaga pendidikan swasta juga. jalan raya dibiayai dari general fund. penerimaan jalan raya diperoleh dari retribusi dan pajak kendaraan bermotor. Pembiayaan Melalui Pungutan Kepada Pemakai Pembangunan jalan raya sebagian besar didanai oleh pemakai jalan. PENDIDIKAN Anggaran pendidikan di Amerika Serikat. yang selanjutnya dipakai untuk membangun jalan negara bagian dan sebagian lainnya ditransfer ke pemerintah lokal dalam bentuk grant. baik federal.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 331 pembiayaan ini menunjukkan perhatian yang besar dari pemerintah. Negara bagian pada umumnya mempunyai kebebasan yang cukup memadai dalam merancang struktur fiskal masing-masing dan dalam mengendalikan . Penerimaan dari tarif tol tidak terlalu siginifikan dibanding dengan sumber pendanaan lainnya. Untuk tingkat federal. Sedangkan pada tingkat pemerintah lokal. meskipun tidak terlalu besar karena pendidikan pada dasarnya tetap merupakan jasa publik yang harus disediakan oleh pemerintah. terutama dibiayai oleh pemerintah lokal dan negara bagian meskipun pengendalian sistem pendidikan tetap berada di bawah pemerintah lokal. siapa yang berhak memperoleh pendidikan. Dana negara bagian yang disalurkan kepada pemerintah lokal dalam bentuk bantuan dan subsidi terutama untuk mendanai pendidikan tingkat tinggi. Masalah-Masalah Kebijakan Pendidikan Permasalahan yang ada dalam kebijakan pendidikan menyangkut apa yang seharusnya diajarkan di sekolah negeri (kurikulum). Pemerintah federal juga ikut membiayai pembangunan pendidikan. negara bagian. yaitu penghasilan yang ditransfer dari Highway Trust Fund dalam bentuk grant antar pemerintahan. maupun pemerintah lokal lainnya.

Fasilitas rekreasi merupakan barang publik yang bersifat barang akhir atau barang konsumsi. meningkatkan efisiensi. serta memberikan prioritas yang tinggi terhadap pendidikan dasar. Pendidikan dasar dan menengah sebagian besar disediakan oleh pemerintah melalui sekolah negeri. Studi ini menemukan bahwa tingginya angka masuk sekolah berkaitan tidak hanya pada belanja publik untuk pendidikan dasar melainkan juga dengan adanya unit cost yang jelas dan sederhana. Namun demikian. Problem utama dalam penyediaan fasilitas rekreasi adalah seberapa besar manfaat barang tersebut dapat dinikmati oleh publik. Pada tingkat ini. Konsumen pendidikan mengharapkan pemberian pendidikan yang sama atau paling tidak ada standar minimum. timbul perdebatan tentang perlunya monopoli pemerintah atas sekolah pada tingkatan itu.seperti keindahan alam. Hal ini telah mendapat dukungan undang-undang di negara bagian dan telah pula diakui oleh Mahkamah Agung bahwa setiap warga negara berhak atas perlakukan yang sama dalam bidang pendidikan. akan tetapi mereka juga setuju bahwa tidaklah berarti bahwa pendidikan harus disediakan oleh sekolah negeri. kelayakan proyek dihitung berdasarkan rencana tarif yang . tidak ada keharusan menurut konstitusi bahwa pendidikan harus sebanding di seluruh negara bagian. akan tetapi merupakan persoalan politik. Studi yang dilakukan oleh Institute of Development Studies di Inggris pada tahun 2004 menganalisa belanja publik bagi sektor pendidikan di subSaharan Afrika dan Asia Selatan. perlu adanya komitmen pemerintah untuk mereformasi belanja publik dan sektor swasta. tidak seperti jalan raya yang bersifat barang antara. agar pendidikan dasar dapat dicapai oleh semua anak usia sekolah. Pengukuran manfaat atas barang ini dapat dilakukan dengan berbagai cara. Hasil yang efisien akan dapat diperoleh jika terdapat persaingan yang sehat antara lembaga pendidikan negeri dan swasta. Dengan cara ini. Penganjur pendidikan berpendapat bahwa pendidikan merupakan kepentingan umum sehingga harus disediakan oleh pemerintah. Masalah pokok yang juga timbul adalah berkaitan dengan tingkat kualitas pendidikan. Pengukuran cara pertama dengan menghitung pungutan kepada pemakai. dengan fokus utama pada pendidikan dasar. Persoalan pendidikan bukanlah hanya persoalan fiskal saja.332 Bab 15: Kebijakan Belanja Publik Sektor-sektor Umum pemerintah lokal yang secara langsung bertanggung jawab dalam penyediaan pendidikan. Karena itulah. FASILITAS REKREASI Pembangunan fasilitas rekreasi memberi manfaat ganda yakni manfaat bagi pemakai. Persaingan yang dapat dilakukan oleh sekolah-sekolah swasta perlu didukung dengan kebijakan dalam menjamin persaingan yang sehat oleh pemerintah. manfaat bagi masyarakat di sekitarnya dan manfaat lain .

atau mengamankan hak cipta. kurva permintaan dapat disimulasikan sehingga dapat dijadikan dasar pengukuran manfaat. Kemudian. pengendalian banjir. dapat dilakukan pembobotan dalam menilai waktu para pemakai fasilitas ini dengan membandingkan efisiensi dari setiap alternatif penggunaan dana. Contoh lain adalah sebuah bendungan dapat dinilai manfaatnya sebagai pembangkit tenaga listrik. hal ini dapat dianggap sebagai subsidi untuk jenis jasa swasta. ada cara ketiga dengan analogi fasilitas swasta yang menarik iuran dari para anggotanya sebagai dasar penghitungan manfaat. proyek sumber daya air dapat mempunyai manfaat ganda. Selain berbagai manfaat di atas. Analisis pasar dapat digunakan dalam penilaian manfaat atas fasilitas rekreasi. Dan. yang penting bagi seluruh dunia sepanjang masa. misalnya keindahan alam dan margasatwa.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 333 akan dibebankan kepada para pengguna yang kemudian dibandingkan dengan biaya proyek. yang mengacu pada barang publik yang kegunaannya mendunia atau bisa bermanfaat tidak saja bagi satu kelompok masyarakat tertentu melainkan bagi seluruh dunia dan berbagai generasi. bukan penilaian seperti yang dilakukan dalam pengadaan fasilitas swasta. Barang publik bisa juga dapat menjadi global melalui konsensus atau kesepakatan dunia. Saat ini. di era globalisasi ada istilah global public goods. Fasilitas rekreasi merupakan barang publik sehingga penilaian dan pembobotan sosial atas fasilitas rekreasi harus lebih diutamakan. harus dipertimbangkan. Dari penghitungan tersebut. meskipun tidak dapat diukur dengan mudah melalui pengujian pasar. Cara lain adalah dengan penghitungan manfaat yang dapat dilakukan dengan menghitung biaya yang dikeluarkan oleh pemakai dalam melakukan rekreasi keluar rumah. . Misalnya lapisan ozon di cakrawala. Sebagai contoh. GLOBAL PUBLIC GOODS Penjelasan mengenai public goods sudah Anda dapatkan pada bab terdahulu. perlu juga dipertimbangkan manfaat dalam bentuk lain dari suatu fasilitas rekreasi. Sebagai alternatif. Tujuan non finansial tertentu. Cara kedua adalah dengan melakukan penghitungan kesediaan membayar para pemakai untuk penyediaan fasilitas rekreasi. selain ditujukan untuk rekreasi.misalnya pada saat berbagai negara menyepakati suatu strategi internasional untuk menanggulangi penyakit menular. selain untuk rekreasi juga dapat digunakan untuk konservasi sumber daya air. meski pun bukan satu-satunya cara. irigasi.

privatisasi termasuk salah satu yang dianjurkan oleh lembaga keuangan internasional seperti World Bank dan IMF bagi negara-negara berkembang. Tidak ada jasa yang luput dari privatisasi: perbankan. dan transportasi seringkali dialihkan ke sektor swasta oleh pemerintah pusat maupun daerah. pertanian dan kehutanan. Oleh karena itu. keputusan untuk melakukan privatisasi seringkali merupakan keputusan yang kontroversial. merupakan fenomena yang umum terjadi di dunia ini. dengan menjual sumber daya alam. 40 persen dari pendapatan negara-negara maju yang didapat dari privatisasi pada tahun 1999 diperoleh dari penjualan hak atas pertambangan migas. Kekhawatiran yang ada menyangkut kemungkinan bahwa perusahaan swasta akan meningkatkan efisiensi perusahaan. Alasan privatisasi bisa berbagai macam. belum lagi ditambah dengan masalah korupsi yang ditudingkan pada aparat pemerintah. Argumentasi ini berakar dari ketidakpercayaan mereka terhadap kinerja pemerintah yang dinilai lamban dan tidak efisien. tanpa menghiraukan misi sosial dalam pelaksanaannya. Alasan lain adalah harapan bahwa pihak swasta akan dapat mengelola perusahaan-perusahaan tersebut dengan lebih efisien. telekomunikasi. dalam hal pemerintah tidak capable sebagai penyelenggara barang dan jasa publik. migas. Alasan utama yang dikemukakan adalah bahwa market failure juga bisa terjadi dalam hal barang dan jasa publik diselenggarakan oleh pemerintah. listrik. saat ini privatisasi juga telah menjadi praktek umum di negara berkembang. Misalnya. menurut mereka. terutama bila pemerintah menyerahkan pengelolaan air minum dan listrik kepada sektor swasta. dan biarkan mekanisme pasar yang menentukan. Karena itulah. manajemen yang lebih profesional dan penggunaan teknologi yang lebih canggih. Privatisasi (yaitu penjualan barang publik) kepada pihak swasta. Namun demikian. tugas pemerintah hanya mengawasi. kesehatan.334 Bab 15: Kebijakan Belanja Publik Sektor-sektor Umum PRIVATISASI BARANG PUBLIK Penyediaan barang publik oleh pemerintah saat ini banyak mendapat tantangan. Salah satunya adalah untuk menyelamatkan perusahaan negara yang terus menerus merugi dan menghabiskan keuangan negara. memberikan pelayanan yang lebih baik daripada negara dengan suntikan dana segar. pendidikan. barang tambang. barang dan jasa publik sebaiknya diserahkan pada sektor swasta. Walaupun trend untuk melakukan privatisasi di negara maju telah dimulai pada tahun 80-an. terutama dari kaum neo-liberalist. menurut data World Bank (2001). Kekhawatiran lain yang lebih mendasar adalah apabila privatisasi atau swastanisasi ini . air. Misalnya dengan meningkatkan harga air dan tarif dasar listrik tanpa memandang kemampuan masyarakat.

Sosial. Jepang. Bank dunia menyatakan harus ada perubahan kebijakan (policy reform) dalam pengelolaan air di Indonesia ke depan sebagai syarat dari pinjaman tersebut. banyak pihak beranggapan bahwa pasal-pasal dan ayat dalam UU No. Undang-Undang No. dan Budaya) PBB pada bulan November 2002. sebagaimana disebutkan dalam pasal 9. Privatisasi Air Minum Salah satu contoh privatisasi barang publik yang sedang menjadi sorotan masyarakat akhir-akhir ini adalah pengelolaan air. dan pasalpasal pelaksana lain. Hak atas air yang setara juga diteguhkan dalam Ecosoc Declaration (Deklarasi Ekonomi. air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”. air yang diperoleh masyarakat saat ini masih berada di bawah harga pasar dan perlu dinaikkan. peningkatan pelayanan. Secara kronologis. 40. Konsep hak guna. 7/2004 tersebut mengingkari penghargaan terhadap hak asasi manusia dan welfare state. Pengalaman masa lalu tentang privatisasi air. maupun pengelolaan sumber-sumber air di pedesaan oleh swasta. World Bank menyatakan “ Manajemen sumber daya air yang efektif haruslah memperlakukan air sebagai “komoditas ekonomis” dan “ partisipasi swasta dalam penyediaan air umumnya menghasilkan hasil yang efisien. undang-undang ini merupakan bagian dari syarat pencairan pinjaman ketiga proyek WATSAL (Water Sector Adjustment Loan) didanai bank dunia. 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air tersebut memberi ruang bagi peran swasta dalam penyelenggaran air. sebagaimana yang telah terjadi di sejumlah negara. yang berkaitan dengan pasal tersebut. Padahal. menyatakan bahwa 80 persen populasi belum memiliki akses kepada air yang mengalir (running water). UUD 1945 pasal 33 ayat 2 menjamin hak dasar tersebut. . Baik World Bank dan ADB dalam “Kebijakan Air”-nya mendorong diterapkannya mekanisme harga yang mengadopsi Full Cost Recovery. Konferensi Dublin mengenai Air dan Lingkungan di tahun 1992 menyatakan bahwa hak dasar (basic right) yang pertama bagi semua umat manusia adalah akses kepada air dan sanitasi dengan harga yang terjangkau (FAO. dan mempercepat investasi bagi perluasan jasa penyediaan” (World Bank. 1992). Dengan demikian privatisasi. Laporan Pemerintah Indonesia pada World Water Forum III di Kyoto.7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. memberlakukan air sebagai komoditas yang bernilai komersial. Banyak perusahaan air swasta yang berkecimpung dalam bisnis air minum juga merupakan produsen air minum dalam kemasan.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 335 menyangkut sumber daya alam yang merupakan hajat hidup orang banyak. Oleh karena itulah. Undang-undang ini juga memungkinkan penguasaan sumber-sumber air oleh pemodal. 1995). 45. identik dengan kenaikan harga tarif air. “Bumi.Menurut World Bank. dimana pengelolaan oleh sektor swasta tidak saja mengakibatkan harga yang mahal namun juga mengakibatkan sebagian masyarakat yang tidak mampu membayar tersingkirkan (excluded). dengan diberikannya Hak Guna Usaha kepada individu dan badan usaha. Pada tingkat internasional. dengan disahkannya Undang-undang No. 41. Bolivia oleh Bechtel Corporation. menunjukkan bahwa privatisasi dapat membuat kenaikan harga yang mempersulit akses rakyat miskin untuk mendapatkan air bersih. Kalimat tersebut mengandung makna tanggung jawab negara untuk menjamin dan menyelengarakan penyediaan air yang menjangkau setiap individu warga negara. Undang-Undang Sumber Daya Air ini merupakan persyaratan pencairan pinjaman ketiga proyek WATSAL tersebut. 26. Privatisasi air akan meliputi jasa penyediaan air di perkotaan. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah sesungguhnya masih memiliki kewajiban yang besar untuk memenuhi hak dasar rakyat Indonesia atas air. Komite ini juga menyatakan bahwa air adalah harus diberlakukan sebagai barang sosial dan kultural. 10. dimana konsumen membayar harga yang meliputi seluruh biaya. 80. Pasal 33 ayat 2 tersebut menyatakan. dan bukan komoditas ekonomi belaka. yang merupakan hasil dari pemikiran liberal (pasar) dari bank dunia. seperti di Cochabamba.

(4) mengevaluasi kapasitas lembaga-lembaga tiap sektor dalam melaksanakan kebijakan-kebijakan publik. Tantangan lainnya adalah bagaimana agenda-agenda reformasi sumber daya air dapat diarahkan pada upaya-upaya yang berwawasan lingkungan dalam rangka memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat dan menjamin ketersediaan air bagi generasi yang akan datang. RANGKUMAN § Pengeluaran publik dikelompokkan ke dalam sektor-sektor. prioritas. jika tidak diatur dengan hati-hati. untuk dapat memenuhi kewajiban penyediaan air tersebut. Prinsip pembuat polusi harus membayar mahal (polluters pay principle) harus diterapkan secara konsisten untuk mencegah kerusakan sumber daya air yang lebih luas. Tujuan analisis sektor. dan perawatan sumber daya air. dampaknya akan meningkatkan harga jual air yang justru dapat membatasi dan mengurangi akses masyarakat atas air bersih dan sanitasi. perlu mekanisme subsidi yang terarah yang menutupi kesenjangan (gap) antara tingkat kemampuan membayar masyarakat dan harga penyediaan air yang wajar. Hal ini telah dialami oleh banyak negara berkembang lain. dan hubungan antara sektor di antara proyek dan program yang dilaksanakan pemerintah. diperlukan sumber dana yang besar untuk pembangunan infrastruktur pengairan. Rumitnya pengelolaan penyediaan air ini bukan hanya milik Indonesia. (3) menentukan prioritas investasi dalam rangka identifikasi proyek-proyek khusus lain dan studi pra investasi tambahan yang diperlukan. pemulihan.336 Bab 15: Kebijakan Belanja Publik Sektor-sektor Umum Namun demikian. Diperkirakan. Tujuan analisis sektor adalah untuk menjembatani kesenjangan antara kebijakan ekonomi makro tingkat § . Contoh di mana telah terjadi kekerasan akibat privatisasi air ini dialami oleh wilayah Cochabamba di Bolivia. Prinsip-prinsip konservasi dan pemeliharaan harus mendapatkan prioritas utama.1 triliun setiap tahun untuk menyediakan air bersih bagi 40 persen populasi sampai tahun 2015. Pertama. Ketiga. masyarakat harus mulai belajar melakukan penghematan penggunaan air sebagai wujud pengakuan hak orang lain atas air. dan melibatkan partisipasi publik yang efektif guna menjamin check and balances. Mekanisme ini dapat menjadi alat pemerataan keadilan jika dirancang secara baik dan tepat. Di tengah masalah ekonomi. melakukan pengawasan dan kontrol yang ketat terhadap biaya modal dari suatu investasi swasta dalam pengusahaan sumber daya air untuk mencegah pembebanan harga/tarif yang berlebihan kepada publik. Kedua. Mekanisme lain yang menjamin hak dasar rakyat atas air dan perlindungan dari eksploitasi yang berlebihan akibat ketidaksempurnaan pasar harus terus dielaborasi dan direalisasikan.Untuk mengatasi masalah ini. penyediaan dana tersebut menjadi kendala tersendiri bagi pemerintah. Akan tetapi. bertanggung jawab. Analisis sektor diperlukan untuk menjawab pertanyaan tentang pilihan. mendorong otoritas-otoritas yang bertanggung jawab atas penyediaan dan pengusahaan air untuk menjalankan sistem yang transparan. Di lain pihak. (2) memungkinkan penilaian strategis dan kebijakan pembangunan sektor yang mendorong kontribusi sektor terhadap pembangunan ekonomi negara. Keterlibatan sektor swasta dalam berinvestasi di sektor ini mungkin dapat menjadi salah satu solusi. antara lain: (1) membantu pertimbangan strategis dan kebijakan untuk seluruh perekonomian. pemerintah perlu melakukan beberapa hal. pemerintah membutuhkan dana sebesar Rp 5.

seperti nilai tukar. diantaranya pajak atas kekayaan yang dimiliki penduduk lokal. yaitu: (1) kerjasama yang rapi antara pemerintah pusat. Sementara untuk tingkat pemerintah lokal penerimaan diperoleh dari general fund. Sementara dampak terhadap pertumbuhan produktivitas yang didapat dari bukti empiris menunjukkan bahwa negara dengan persentase belanja pertahanan yang kecil mengalami pertumbuhan produktivitas yang lebih cepat dibandingkan negara dengan persentase belanja pertahanan yang lebih besar. Pada tingkat federal di Amerika Serikat. masalah keseimbangan antara angkatan darat. variabel-variabel kebijakan umum. kebijakan upah dan tingkat bunga. lapangan kerja. sub sektor dan proyek. dan perubahan kebijakan dan kelembagaan perlu berprestasi baik pada tingkat proyek atau tingkat ekonomi mikro. dan masalah kekuatan militer yang meningkatkan akibat pengrusakan. yaitu penghasilan yang ditransfer dalam bentuk grant antar pemerintahan. perencanaan yang kompleks. Sistem jalan raya sebagai barang publik memiliki tiga hal keunikan. struktur pajak. (2) analisis sektor memberikan perkiraan potensi hasil. (3) perkiraan pajak yang besar. dan antar pemerintah daerah lainnya. . pemerintah daerah. laut. (2) jalan raya membutuhkan pembiayaan yang sangat besar. (3) analisis sektor membantu menjamin bahwa proyek-proyek individu terpilih didasarkan pada perencanaan dasar kebutuhan dan prioritas sektor. dan kebutuhan investasi untuk sektor secara keseluruhan sebagai masukan bagi keputusan badan perencana mengenai program dan prioritas investasi nasional. udara dan marinir. program-program investasi dan kebijakan ekonomi mikro dari proyek individu. pembangunan jalan raya dibiayai dari penerimaan yang berasal dari pajak bahan bakar. masalah kebijakan luar negeri seperti kesediaan menerima resiko konflik militer. Untuk negara bagian penerimaan diperoleh dari retribusi dan pajak kendaraan bermotor lalu sebagian ditransfer dalam bentuk grant kepada pemerintah lokal.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 337 § § § § § nasional. Masalah utama dalam belanja pertahanan antara lain. Dampak besarnya belanja pertahanan bagi industri yaitu besarnya pengeluaran untuk pengadaan struktur industri serta pertumbuhan produktivitas dalam bidang peralatan pertahanan. masalah pemilihan sistem persenjataan. Metode yang dapat digunakan dalam analisis sektor: (1) melengkapi cakupan ekonomi makro dengan menganalisis pengaruh terhadap sektor.

Barang publik bisa juga dapat menjadi global melalui konsensus atau kesepakatan dunia. (d) apakah sebaiknya pemerintah memberikan bantuan kepada lembaga pendidikan swasta serta (e) tingkat kualitas pendidikan. Cara mengukur manfaat atas fasilitas rekreasi dapat dilakukan dengan cara: (a) kelayakan proyek dihitung berdasarkan rencana tarif yang akan dibebankan kepada pengguna lalu dibandingkan dengan biaya proyek. Problem utama dalam penyediaan fasilitas rekreasi adalah seberapa besar manfaat atas barang ini dapat dinikmati oleh publik. Kaum neo-liberalist menginginkan agar penyediaan barang publik diserahkan kepada sektor swasta karena market failure juga bisa terjadi pada barang dan jasa publik yang diselenggarakan oleh pemerintah. (d) menghitung biaya yang dikeluarkan oleh pemakai dalam melakukan rekreasi ke luar rumah. Perlu adanya kebijakan yang menjamin persaingan yang dilakukan sekolah-sekolah swasta. (b) melakukan penghitungan kesediaan membayar para pemakai untuk penyediaan fasilitas rekreasi. (b) harapan bahwa pihak swasta akan dapat mengelola perusahaan dengan lebih efisien. Fasilitas rekreasi merupakan barang akhir atau konsumsi sementara jalan raya merupakan barang antara. Contoh: lapisan ozon. memberikan pelayanan yang lebih baik dengan suntikan dana segar (c) manajemen yang lebih profesional dan (d) penggunaan teknologi yang lebih canggih. kurva permintaan sebagai dasar pengukuran manfaat. (e) melakukan pembobotan dalam menilai waktu para pemakai dengan membandingkan efisiensi dari setiap alternatif penggunaan dana.338 § Bab 15: Kebijakan Belanja Publik Sektor-sektor Umum § § § § § § Permasalahan dalam kebijakan pendidikan antara lain: (a) apa yang seharusnya diajarkan di sekolah negeri (kurrikulum). masyarakat sekitar. (c) analogi fasilitas swasta yang menarik iuran dari para anggotanya sebagai dasar penghitungan manfaat. bagi pemakai. kinerja pemerintah yang lambat dan tidak efisien dan masalah korupsi di tingkat pemerintahan. Privatisasi (penjualan barang publik) dilakukan dengan berbagai alasan: (a) untuk menyelamatkan perusahaan negara yang terus menerus merugi dan menghabiskan keuangan negara. Global Public Goods adalah barang publik yang kegunaannya mendunia atau bisa bermanfaat tidak saja bagi satu kelompok masyarakat melainkan bagi seluruh alam. (c) siapa yang berhak memperoleh pendidikan. dan manfaat lain seperti keindahan alam. Pembangunan fasilitas rekreasi memberi manfaat ganda. . (b) bagaimana proses pengajaran berlangsung.

Bagaimana dampak belanja pertahanan nasional terhadap industri ? 14. Mengapa analisis sektor diperlukan ? 12. Mengapa persoalan pendidikan bukan hanya persoalan fiskal tetapi juga persoalan politik. Apa yang dimaksud dengan cara pengukuran analogi fasilitas swasta ? 9. Sebutkan keunikan sistem jalan raya sebagai barang publik ! 6. Jelaskan tujuan analisis sektor dan mengapa diperlukan ? 2.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 339 § Keputusan untuk melakukan privatisasi merupakan keputusan yang kontroversial karena menimbulkan beberapa kekhawatiran. Mengapa belanja pertahanan diperlukan bagi suatu negara ? 13. antara lain jika perusahaan swasta meningkatkan efisiensi tanpa menghiraukan misi sosial dengan menaikkan harga tanpa memandang kemampuan masyarakat dan mengakibatkan sebagian masyarakat yang tidak mampu membayar tersingkirkan (excluded). Bagaimana bentuk pembiayaan di dalam pengadaan barang dan jasa milik umum khususnya jalan tol ? . Jelaskan masalah-masalah yang ada dalam kebijakan pendidikan ! 7. Jelaskan sistem/mekanisme kerjasama antar unit pemerintah dalam pengeluaran biaya untuk pengadaan fasilitas jalan raya ! 15. LATIHAN 1. Apa dasar pengukuran manfaat failitas rekreasi dengan cara pertama ? 11. Jelaskan dampak terhadap pertumbuhan produktivitas atas belanja pertahanan nasional! 5. Mengapa fasilitas rekreasi memberikan manfaat ganda ? 8. Mengapa suatu kebijakan pertahanan dapat dipandang sebagai kebijakan subjektif? 4. Sebutkan metode apa saja yang dapat digunakan dalam analisis sektor ? 3. 10.

serta di Indonesia sebagai sebuah negara berkembang yang masih mencari model yang cocok untuk kebijakan sosialnya. PROGRAM JAMINAN SOSIAL DI AMERIKA SERIKAT . Sampai sejauh mana tingkat tunjangan diberikan tergantung pada kemampuan finansial masing-masing negara dan juga aliran pemikiran ekonomis negara tersebut. Berikut ini diuraikan kebijakan belanja publik dalam bentuk tunjangan sosial di Amerika Serikat (negara maju yang menganut sistem welfare state dalam arti bahwa negara hanya sebagai pengatur dan bukan pemain).KEBIJAKAN BELANJA PUBLIK DALAM TUNJANGAN SOSIAL Terdapat berbagai macam bentuk tunjangan sosial yang dikelola pemerintah.

Meskipun demikian. Program ini biasanya dirancang dan dikelola oleh negara bagian dengan berpedoman pada standar ketentuan yang ditetapkan oleh pemerintah federal. Kupon Makanan Rumah tangga (tidak terbatas umur) berhak memperoleh kupon makanan jika mempunyai aktiva atau berpenghasilan kotor yang kurang dari nilai yang ditetapkan oleh pemerintah federal. Jaminan Penghasilan Tambahan Tunjangan ini diberikan dalam bentuk pembayaran tunai kepada orangorang yang penghasilannya atau aset seseorang kurang dari jumlah minimum yang ditetapkan. Bantuan diberikan dalam bentuk Medicare yaitu asuransi kesehatan yang preminya dibayar oleh pemerintah suatu negara. Program ini dikelola oleh pemerintah federal. serta semua orang yang berumur diatas 65 tahun.342 Bab 16: Kebijakan Belanja Publik dalam Tunjangan Sosial Tunjangan kepada Penghasilan Rendah Di Amerika Serikat. Perumahan Murah Program ini merupakan program pemerintah federal dimana subsidi perumahan diberikan dalam bentuk hipotik berbunga rendah bagi petani berpenghasilan rendah. terdapat sejumlah program tunjangan yang ditujukan untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Kriteria-kriteria tersebut antara lain adalah orang yang mempunyai pendapatan terbatas menurut kriteria SSA (Supplementary Security Income). Tunjangan Kesejahteraan . program ini diberikan melalui pemerintah lokal. Komponen-komponen utama program tersebut antara lain sebagai berikut: Medicaid Program ini ditujukan bagi semua orang yang memenuhi kriteria AFDC (Aid to Families with Dependent Children) yang sering disebut sebagai program kesejahteraan.

Tunjangan yang diberikan dinilai tidak memadai untuk standar kehidupan minimum yang layak. program ini dipandang tidak mendorong orang untuk bekerja lebih giat. Dengan demikian alternatif ini akan menjamin tingkat minimum yang cukup sesuai ketersediaan dana sosial pemerintah. Bantuan diberikan kepada orang-orang dengan pendapatan rendah atau yang tidak berpendapatan. Asuransi Sosial Komponen-komponen utama dari asuransi sosial ini di Amerika Serikat meliputi sistem asuransi sosial OASI (Old Age and Survivors Insurance). Cara paling efektif dalam menunjang keluarga berpenghasilan rendah adalah dengan membagikan dana melalui pemenuhan kekurangan pendapatan mulai pendapatan tingkat bawah. Pola alternatif lain adalah bentuk pajak penghasilan negatif. Prinsip ini merupakan perluasan prinsip perpajakan progresif yang telah diterima umum dan berbagai cara untuk menggabungkan prinsip pajak negatif ke dalam struktur pajak positif telah dipertimbangkan. maka pajak negatif akan menurun sampai pada titik mencapai nol dan sesudah itu terjadi pajak positif yang terhutang. Standar yang digunakan dapat berbeda antara satu negara bagian dengan negara bagian lain. HI (Health Insurance). pola tunjangan alternatif mulai dipertimbangkan. Selain itu.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 343 Program AFDC menetapkan bahwa pemerintah federal memberikan bantuan kepada setiap negara bagian – baik uang tunai maupun dalam bentuk lain – yang kemudian dipakai untuk menunjang keluarga yang mempunyai anak di bawah 18 tahun yang belum mandiri. Untuk mengatasi kritik ini. dan DI (Disability Insurance). Titik permasalahan telah berubah dari memberikan keringanan dalam ekonomi kepada kesejahteraan anak dalam keluarga yang berorang tua tunggal. Program kesejahteraan ini paling banyak menimbulkan perdebatan. Jika pendapatan kotor meningkat. Program ini dipandang sebagai program yang merendahkan martabat karena persyaratannya dibatasi pada keluarga yang tidak mempunyai kepala keluarga pria. Asuransi Pensiun dan Cacat . karena tunjangan akan menurun jika pendapatan meningkat – sering disebut tarif pajak marjinal. Namun demikian. kebijakan pemberian tunjangan alternatif ini dapat mengurangi jumlah bantuan yang dapat diberikan kepada golongan yang paling membutuhkan.

Sistem tunjangan dalam bentuk tunai dipandang oleh para ekonom dapat menimbulkan efek yang negatif bagi golongan penghasilan rendah dalam hal produktivitasnya. Asuransi Kesehatan Setiap individu berhak atas jaminan sosial pensiun dan juga berhak atas Medicare pada usia 65 tahun. Semua kontribusi dari pemerintah federal dan negara bagian dibayarkan kepada dan dikelola oleh Federal Unemployment Trust Fund. § Menurut aturan AFDC. dan jasa perawatan kesehatan rumah. Perdebatan sekitar asuransi kesehatan ini menyangkut apakah asuransi hanya mencakup orang yang berusia lanjut atau harus diperluas kepada seluruh penduduk. Sistem Tunjangan Sosial Terkini Seiring dengan perkembangan pemikiran aspek keadilan. Prinsipnya adalah menggabungkan kontribusi pemberi kerja dan karyawan. Salah satu perubahan yang substansial dari sistem kesejahteraan di Amerika Serikat berubah sejak diundangkannya Undang Undang Rekonsiliasi Kesempatan Kerja dan Tanggungjawab Personal tahun 1996. Aturan tersebut menciptakan program kesejahteraan yang disebut Temporary Aid for Needy Families (disingkat TANF) yang pada intinya mengatur hal-hal dibawah ini. sistem tunjangan sosial juga mengalami perubahan. pengaruhnya terhadap jasa medis yang diberikan. Asuransi Pengangguran Program ini dibiayai dari pajak upah dan gaji federal dan pajak tambahan dari negara bagian yang dibayarkan oleh pemberi kerja. sehingga golongan penghasilan tinggi mempunyai preferensi memberikan kontribusinya dalam bentuk non tunai. setiap orang yang mempunyai pendapatan di bawah batasan tertentu dan memenuhi persyaratan tertentu diberikan . Perdebatan muncul karena menyangkut pembiayaan yang sangat besar.344 Bab 16: Kebijakan Belanja Publik dalam Tunjangan Sosial Peraturan OASI menetapkan bahwa program ini mencakup semua pekerja berusia dibawah 65 tahun dan bekerja di bidang komersial serta industri kecuali jalan kereta api dan karyawan pemerintahan yang mempunyai skema lain . Tunjangan ini untuk memberikan perlindungan dasar terhadap biaya jasa rumah sakit. dan kalau diperluas bagaimana bentuknya. biaya rawat jalan. dan peranan asuransi swasta. kebebasan memilih dokter.berhak mendapatkan asuransi pensiun dan cacat yang preminya bersumber dari penerimaan pajak penghasilan upah dan gaji (payroll tax).

struktur pemberian bantuan kesejahteraan negara bagian dikendalikan oleh pemerintah federal. Melalui program ini. setiap penduduk diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dasar hidup yang layak apabila terjadi hal-hal yang dapat mengakibatkan hilang atau berkurangnya pendapatan. karena menderita sakit. jaminan kecelakaan kerja. SISTEM JAMINAN SOSIAL DI INDONESIA Menurut UUD 1945. jaminan sosial merupakan hak setiap warga negara dan oleh karena itu negara wajib menyediakannya. melaksanakan program pembatasan kehamilan. kehilangan pekerjaan. kemudian negara bagian tersebut melaksanakan program kesejahteraannya sepanjang tepat sasaran dalam batasan grant tersebut. Undang-Undang yang secara khusus mengatur jaminan sosial bagi tenaga kerja swasta adalah Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (JAMSOSTEK). Suatu negara bagian dapat menggunakan grant tersebut untuk membayar bantuan secara tunai. melaksanakan program pelatihan kerja.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 345 § § § bantuan manfaat tunai secara mutlak tanpa pandang bulu. atau pensiun. telah dikembangkan program Dana Tabungan dan Asuransi Pegawai Negeri (TASPEN) yang dibentuk dengan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 1981 dan program Asuransi Kesehatan . Setiap negara bagian diberikan grant dari pemerintah federal untuk mendanai program kesejahteraan dimana jumlahnya adalah tetap. Dengan demikian. Secara umum. atau program lainnya yang sejenis. Selama beberapa dekade terakhir ini. Indonesia telah menjalankan beberapa program jaminan sosial.berdasarkan ada tidaknya program tunjangan tunai tersebut. Setiap orang dewasa yang normal (tidak cacat) yang telah menerima pembayaran bantuan tunai selama dua tahun diharuskan mengambil bagian dalam suatu kegiatan yang ditujukan untuk membuat individu tersebut dapat menghidupi dirinya sendiri. yang mencakup program jaminan pemeliharaan kesehatan. jaminan hari tua dan jaminan kematian. mengalami kecelakaan. memasuki usia lanjut. Untuk Pegawai Negeri Sipil (PNS). Sistem Jaminan Sosial Nasional pada dasarnya merupakan program negara yang bertujuan memberi kepastian perlindungan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. TANF mengatur bahwa individu tidak diijinkan menerima bantuan tunai untuk masa lebih dari lima tahun. TANF mengubah aturan bantuan tunai tersebut kecuali dalam hal bahwa bantuan secara tunai tersedia hanya temporer – tidak setiap saat .

Prinsip Sistem Jaminan Sosial Nasional adalah sebagai berikut: § Prinsip kegotong-royongan. peserta yang berisiko rendah membantu yang berisiko tinggi. akuntabilitas. Sebagian besar rakyat belum memperoleh perlindungan yang memadai. Sehubungan dengan hal di atas. § Prinsip nirlaba. Berbagai program tersebut di atas baru mencakup sebagian kecil masyarakat. § Prinsip keterbukaan. pelaksanaan berbagai program jaminan sosial tersebut belum mampu memberikan perlindungan yang adil dan memadai kepada para peserta sesuai dengan manfaat program yang menjadi hak peserta. telah dilaksanakan program Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ASABRI) sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 67 tahun 1991 yang merupakan perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1971. Pengelolaan dana amanat tidak dimaksudkan untuk mencari laba (nirlaba) bagi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. jaminan sosial dapat menumbuhkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. .346 Bab 16: Kebijakan Belanja Publik dalam Tunjangan Sosial (ASKES) yang diselenggarakan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1991 yang bersifat wajib bagi PNS/Penerima Pensiun/Perintis Kemerdekaan/ Veteran dan anggota keluarganya. dan surplus anggaran akan dimanfaatkan sebesarbesarnya untuk kepentingan peserta. Prinsip ini diwujudkan dalam mekanisme gotong royong dari peserta yang mampu kepada peserta yang kurang mampu dalam bentuk kepesertaan wajib bagi seluruh rakyat. Untuk prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI). dan PNS Departemen Pertahanan/TNI/POLRI beserta keluarganya. hasil pengembangannya. Melalui prinsip kegotong-royongan ini. Dana amanat. Di samping itu. dipandang perlu menyusun Sistem Jaminan Sosial Nasional yang mampu mensinkronisasikan penyelenggaraan berbagai bentuk jaminan sosial yang dilaksanakan oleh beberapa penyelenggara agar dapat menjangkau kepesertaan yang lebih luas serta memberikan manfaat yang lebih besar bagi setiap peserta. efisiensi dan efektivitas. kehati-hatian. akan tetapi tujuan utama penyelenggaraan jaminan sosial adalah untuk memenuhi sebesar-besarnya kepentingan peserta. dan peserta yang sehat membantu yang sakit. Prinsip-prinsip manajemen ini diterapkan dan mendasari seluruh kegiatan pengelolaan dana yang berasal dari iuran peserta dan hasil pengembangannya. anggota Kepolisian Republik Indonesia (POLRI).

Dalam Undang-Undang ini diatur penyelenggaraan Sistem Jaminan Sosial Nasional yang meliputi jaminan kesehatan. Dana yang terkumpul dari iuran peserta merupakan titipan kepada badan-badan penyelenggara untuk dikelola sebaik-baiknya dalam rangka mengoptimalkan dana tersebut untuk kesejahteraan peserta. dan mereka yang bekerja secara mandiri. Program-program jaminan sosial tersebut diselenggarakan oleh beberapa Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 347 § § § § § Prinsip portabilitas. bersamaan dengan itu sektor informal dapat menjadi peserta secara sukarela. sehingga pada akhirnya Sistem Jaminan Sosial Nasional dapat mencakup seluruh rakyat. penerapannya tetap disesuaikan dengan kemampuan ekonomi rakyat dan pemerintah serta kelayakan penyelenggaraan program. jaminan pensiun. nelayan. jaminan hari tua. Prinsip dana amanat. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial sesuai UU No. Tahapan pertama dimulai dari pekerja di sektor formal. Jaminan sosial dimaksudkan untuk memberikan jaminan yang berkelanjutan meskipun peserta berpindah pekerjaan atau tempat tinggal dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial dalam undang-undang ini adalah transformasi dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial yang sekarang telah berjalan dan dimungkinkan membentuk badan penyelenggara baru sesuai dengan dinamika perkembangan jaminan sosial. Prinsip hasil pengelolaan Dana Jaminan Sosial Nasional dalam UndangUndang ini adalah hasil berupa dividen dari pemegang saham yang dikembalikan untuk kepentingan peserta jaminan sosial. Prinsip kepesertaan bersifat wajib. sehingga dapat mencakup petani. Meskipun kepesertaan bersifat wajib bagi seluruh rakyat.40/2004 adalah: . dan jaminan kematian bagi seluruh penduduk melalui iuran wajib pekerja. jaminan kecelakaan kerja. Kepesertaan wajib dimaksudkan agar seluruh rakyat menjadi peserta sehingga dapat terlindungi.

jaminan sosial yang ada saat ini masih sangat terbatas. sementara premi program JHT dibayar bersama oleh perusahaan dan pekerja. dan d. Perusahaan Perseroan (Persero) Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ASABRI) d. JK dan JHT diinvestasikan dalam sebuah dana tabungan wajib (provident fund) yang dikelola oleh sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN). yaitu PT (Persero) Jamsostek. .348 Bab 16: Kebijakan Belanja Publik dalam Tunjangan Sosial a. b. c. Jenis program jaminan sosial meliputi: a. dan jaminan tersebut bersifat contributory. jaminan kesehatan. b. Perusahaan Perseroan (Persero) Asuransi Kesehatan Indonesia (ASKES) Menurut Undang-Undang Jaminan Sosial Nasional yang berlaku sekarang (UU No 40/2004). dan JKP dibayar seluruhnya oleh perusahaan. Perusahaan Perseroan (Persero) Jaminan Sosial Tenaga Kerja (JAMSOSTEK) b. jaminan pensiun. Program jaminan sosial yang disebutkan di atas tersedia bagi angkatan kerja yang aktif bekerja di sektor formal. terdapat lima jenis program jaminan sosial di Indonesia. jaminan hari tua. jaminan kematian (JK). Program JKK. jaminan kecelakaan kerja (JKK). jaminan kecelakaan kerja. sementara program JKP dapat dikontrakkan ke perusahaan asuransi kesehatan swasta apabila perusahaan dapat menunjukkan bahwa manfaat asuransi kesehatan swasta akan sama atau melebihi manfaat program JKP yang dikelola oleh PT (ILO. jaminan kesehatan pekerja (JKP). Perusahaan Perseroan (Persero) Dana Tabungan dan Asuransi Pegawai Negeri (TASPEN) c. b. c. Arifianto 2004). jaminan hari tua (JHT). Undang-undang di atas mengatur bahwa premi untuk program JKK. Sedangkan untuk anggota masyarakat yang tidak tergabung dalam sektor formal. dan d. JK. 93. dimana pihak penerima manfaat memberikan kontribusi dalam bentuk pembayaran premi yang dipotong dari gaji mereka. yaitu: a. jaminan kematian.

Menurut Asher (1998:8). Namun jumlah ini tentu saja masih jauh dari cukup. pensiun dikelola oleh ASABRI. yang dibiayai dari pajak dan pendapatan negara yang lain. Saat ini. uang pensiun bulanan dihitung sebagai berikut: 1.7% sebagai pensiun bulanan. dan 2% untuk jaminan kesehatan. Untuk asuransi kesehatan. dan bahkan janda/duda yang ditinggalkannya masih dapat menikmati hasil kerja pasangannya dengan mendapatkan pensiun janda/duda. Sistem dana pensiun bagi PNS telah ada sejak tahun 1963. sistem pensiun ini adalah dengan memberikan sejumlah uang secara lump-sum ketika seorang PNS memasuki masa pensiun atau apabila yang bersangkutan meninggal sebelum pensiun. pensiun dikelola oleh PT Taspen. anggota ABRI dan PNS di lingkungan Hankam juga menerima pensiun serupa dengan yang diterima para PNS. . serta uang pensiun bulanan yang tetap terus dibayarkan dengan persentase yang lebih kecil kepada pasangannya apabila PNS yang bersangkutan meninggal dunia. Untuk PNS. sedangkan untuk anggota ABRI dan kepolisian. barulah suatu sistem pensiun diadakan. PNS dan anggota ABRI. Pegawai Negeri Sipil (PNS) Indonesia memiliki jaminan kesehatan dan pensiun sampai akhir hidupnya. Sejak 1971.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 349 Jaminan Sosial Untuk Pegawai Negeri Walaupun masih dianggap jauh dari memadai. Jumlah ini terdiri atas: 4. manfaat yang diperoleh meliputi asuransi kesehatan. Dana pensiun tersebut dikelola oleh sebuah PT dimana pemerintah merupakan pemegang saham tunggal. sedangkan sisanya didanai oleh Pemerintah. sejumlah uang pada saat pensiun. Replacement Rates1 Bagi PNS yang memiliki masa kerja 20 tahun atau lebih pada saat pensiun.25% uang pensiun. Sejak 1994. skema ini didanai dari kontribusi PNS sebesar 10% dari gaji pokok. 3. Pada tahun 1969. Pada awalnya.875% dari gaji pokok 1 Replacement rate didefinisikan sebagai proporsi dari upah tertentu (biasanya gaji final seorang pegawai) yang dibayar sebagai uang pensiun setelah mengakhiri masa kerja. kontribusi dari para pegawai ini hanya mencapai 22% dari manfaat pensiun. dikelola oleh PT ASKES. Pendanaan Sampai tahun 1994. semua tunjangan yang diterima oleh PNS dibayar seluruhnya dari APBN.

Coverage Secara otomatis. perbedaan terbesar adalah bahwa tunjangan-tunjangan ini dibayar dengan menggunakan pendapatan negara. yang pada akhirnya berdampak pada keuangan negara. maka replacement rate adalah antara 75100% untuk masa kerja 20-35 tahun. dimana 3. Keistimewaan juga kadang diberikan kepada kelompok pekerja tertentu di bidang pelayanan masyarakat. tunjangan cacat dan tunjangan kematian untuk pegawai negeri sudah ada sebelum adanya program jaminan sosial untuk pegawai swasta. penyelenggaraan jaminan hari tua. dan prospek untuk memperoleh pensiun yang memadai pada saat yang bersangkutan mencapai usia pensiun merupakan hal lain yang dipandang sebagai daya tarik untuk bergabung menjadi pegawai negeri. seperti tentara. guru. keanggotaan Taspen meningkat dari 3. Sehingga.350 Bab 16: Kebijakan Belanja Publik dalam Tunjangan Sosial dikalikan dengan masa kerja. tunjangan ini diberikan sebagai bentuk terima kasih atas pengabdian mereka. Walaupun program pensiun semacam ini didirikan oleh negara sebagai employer untuk para pegawainya (sehingga dalam hal ini hubungan kerja yang ada adalah sama dengan di perusahaan swasta). ASABRI memiliki anggota sebanyak 600. Perspektif Mancanegara Di banyak negara.74 juta pada tahun 1989 menjadi 4. yang terdiri atas PNS serta keluarga yang menjadi tanggungannya. Dari sejarahnya.000 orang.12 juta pada tahun 1993. yaitu 0. Pekerjaan seumur hidup tampaknya sudah merupakan pola dalam karir pegawai negeri. Sedangkan pada tahun 1993 sebanyak 1. dimana keanggotaan Taspen mencapai 5. sehingga cakupan keanggotaan di kalangan PNS tentu saja 100%. Walaupun demikian. bahkan setelah adanya broad based national . Keanggotaan ASKES secara kasar mencakup 16 juta jiwa.7 juta orang diantaranya merupakan kontributor (pembayar premi). Angka terkini didapat dari Asian Development Bank 2001. seperti dikutip oleh Tambunan dan Purwoko 2002).6% dari total tenaga kerja. kebanyakan tunjangan pensiun untuk PNS terus menjadi satu program terpisah. dapat dilihat bahwa hal ini meningkatkan konsumsi negara. PNS yang berhenti bekerja sebelum 20 tahun masa kerja tidak mendapatkan pensiun dalam bentuk apa pun. Menurut INSSA (1995. Hal ini berarti cakupan mencapai 4% dari tenaga kerja.48 juta pensiunan menerima uang pensiun bulanan.7 juta orang. PNS akan didaftarkan dalam skema tadi. dan karyawan BUMN. Setelah ditambahkan dengan uang lump sump yang diterima pada akhir masa kerja. polisi. Di negara-negara industri.

2. mempertahankan dan memotivasi PNS.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 351 social insurance system. asuransi kematian pada kasus dimana yang bersangkutan meninggal . yang tidak membawa hasil dalam mengembalikan keseimbangan fiskal. Kebanyakan negara mengalami periode di mana perekrutan PNS yang sangat besar (terutama di tahun 70 dan 80-an). yang kemudian diikuti dengan masa stabilisasi dan penciutan jumlah PNS. Menyeimbangkan komponen yang dikompensasi untuk menarik. Asuransi Sosial untuk Pegawai Swasta Asuransi sosial yang diwajibkan bagi pegawai di sektor swasta dimulai pada tahun 1977 dengan dibentuknya ASTEK. 4. sistem ini banyak sekali mendapat kritikan. Di negara-negara miskin (terutama di Afrika). Hal ini diperparah dengan pengenalan sistem pensiun dini untuk mengurangi beban anggaran belanja pegawai. sistem ini merupakan peninggalan jaman kolonial. 3. Karena itu. yang pada akhirnya menambah jumlah pensiunan di berbagai negara. makin terasa bahwa sistem terpisah ini kurang adil. terutama di negara-negara di mana proporsi PNS dalam ketenagakerjaan tinggi. tekanan finansial yang dihadapi oleh program pensiun pegawai negeri kurang-lebih sama di seluruh dunia. Fenomena ini sangat nyata. yang pada tahun 1992 berganti nama menjadi JAMSOSTEK. karena system ini secara nyata mengistimewakan PNS. Secara berkala berpindah ke sistem cost-sharing dengan PNS. Mengurangi kewajiban pembayaran pensiun melalui perubahan parameter (contohnya dengan mengurangi item-item yang dalam tunjangan atau mengurangi jumlahnya). Membuat sistem pensiun yang lebih luwes dan dapat diterapkan dalam jangka panjang. dan sampai hari ini. Pada awalnya asuransi mencakup asuransi kecelakaan kerja. Dengan dikembangkannya broad based national social insurance system yang berdasarkan prinsip-prinsip universal dan keadilan. Sejak perang dunia kedua. Dalam berbagai hal. dalam arti rasio pensiunan yang semakin meningkat pada sepuluh tahun terakhir. World Bank (2004) menganjurkan negaranegara berkembang tersebut untuk mengambil langkah-langkah sebagai berikut: 1. PNS merupakan satu-satunya kelompok yang mendapatkan uang pensiun bulanan. Mengingat pembiayaan pensiun PNS dibayarkan atau ditunjang oleh penerimaan negara. banyak yang mengatasi masalah keuangan negara dengan cara yang kurang tepat.

000. kelahiran dan rawat inap di rumah sakit ditambahkan pada skema ini.352 Bab 16: Kebijakan Belanja Publik dalam Tunjangan Sosial sebelum memasuki masa pensiun. namun dalam hal ini pemerintah Indonesia hanya salah satu di antara pemegang saham kepada siapa PT Jamsostek wajib membayar dividen. Mengingat rata-rata jumlah lump sum yang dibayarkan pada akhir masa kerja seseorang adalah sebesar Rp. serta tunjangan hari tua yang diberikan dalam bentuk sejumlah uang pada saat memasuki masa pensiun. Seperti halnya dengan Taspen dan Asabri.. Menurut Asher (1998).2. skema ini hanya memiliki replacement rate sekitar 10%. sehingga masih banyak pihak pemberi kerja yang tidak membayar asuransi kesehatan sama sekali (Asher 2000a).7% dibayar oleh pihak pemberi kerja dan 2% oleh pekerja).100. Perlu juga ditambahkan bahwa hal ini tidak bisa disebut sebagai pensiun. Asuransi kecelakaan kerja dan manfaat pensiun merupakan hal yang wajib. Angka dari ILO Report (2003:99) sedikit lebih optimistis. Jaminan hari tua yang disediakan oleh JAMSOSTEK merupakan asuransi iuran pasti (defined contribution scheme) dimana manfaat yang diperoleh bergantung pada kontribusi yang dibayarkan: para pekerja akan menerima akumulasi dari tabungan mereka ditambah dengan bunga pada usia 55 tahun.7% dari gaji pokok bulanan (3. bahkan dengan menggunakan asumsi optimistik mengenai tingkat penegembalian investasi dan setelah kontribusi (yaitu masa kerja) selama 35 tahun. . Pendanaan Asuransi kecelakaan kerja dan kesehatan didanai dari kontribusi yang dibayar oleh pegawai. saldo rata-rata dalam provident fund pada akhir masa kerja adalah Rp. PT Jamsostek merupakan PT. Sedangkan jaminan hari tua didanai dari 5. sedangkan asuransi kesehatan (yang dibayarkan oleh pemberi kerja sejumlah 3% untuk single dan 6% untuk pegawai yang berumah tangga) dapat dihindari bila perusahaan memiliki paket lain yang layak. sekitar dua bulan upah minimum. Namun demikian. sistem ini tidak selamanya ditaati oleh pihak pemberi kerja. Pada tahun 1992 jaminan kesehatan mencakup pelayanan pertama.000. Menurut Gough (2001b). mengingat tidak adanya ketentuan untuk menghitung anuitas dari jumlah yang diterima pada saat pensiun.maka hal ini kira-kira setara dengan delapan setengah bulan upah minimum.510. Replacement Rates Replacement rate untuk jaminan hari tua bagi pegawai swasta jumlahnya sangat rendah.

Coverage Menurut peraturan. namun menerima penghasilan lainlain dalam bentuk tunjangan dan bonus. Lebih jauh lagi. karena Jamsostek hanya terbatas pada pekerja di sektor formal. surat berharga pemerintah (30%). Ketiga. property (10%) dan saham (8%). sehingga penyebaran risiko sangat terbatas. Kedua. dan sektor formal berkembang lebih cepat daripada tingkat coverage PT Jamsostek. apabila yang bersangkutan berhenti bekerja. Pada kenyataannya. Hal ini berarti bahwa setelah krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada tahun 1998. Menurut suatu laporan yang tidak dipublikasikan (Gough 2001b). banyak penarikan dana yang terjadi bukan karena pensiun melainkan karena PHK. Sehingga. atau memiliki payroll sebesar satu juta rupiah atau lebih. banyak pekerja di sektor formal digaji dengan upah minimum (yang merupakan dasar pembayaran asuransi). kontibusi yang dibayar menurut tingkat upah minimum ataupun dibayarkan secara terputus-putus (biasanya terjadi di kalangan pekerja musiman dan para perempuan pekerja) secara otomatis menghasilkan jumlah pembayaran manfaat yang kecil pula. Menurut Tambunan dan Purwoko (2002:45). padahal kewajiban membayar pensiun adalah jangka panjang. pekerja di sektor non formal dan wiraswasta tidak termasuk di dalamnya. Sebagian besar aset diinvestasikan pada deposito berjangka (41%). pada sektor formal pun banyak pemberi kerja yang menolak untuk mengcover pekerja kontrak dan . obligasi (11%). Hanya 25% anggota yang benar-benar mematuhi peraturan (Asher 2000b). Coverage dari PT Jamsostek sangat rendah. perusahaan-perusahaan swasta yang mempekerjakan 10 karyawan atau lebih. tingkat kepatuhan perusahaan sangat rendah. wajib bergabung dengan Jamsostek dan mendaftarkan karyawannya. Pertama. replacement rate rendah disebabkan oleh kesalahan investasi dan tingginya biaya administrasi. Selain itu.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 353 Ada beberapa alasan mengapa replacement rate di sektor swasta ini sangat rendah. anggota asuransi diperkenankan untuk menarik/mengambil dananya setelah lima tahun bergabung dalam skema asuransi. hanya 57% karywan dari sektor formal swasta yang benar-benar tercover oleh asuransi PT Jamsostek. sedangkan banyak perusahaan lain yang diduga tidak melaporkan jumlah yang sesungguhnya untuk mengurangi jumlah kontribusi yang harus mereka bayar. Selain itu. 57% anggota membayar kontribusi pada tingkat upah minimum. sebagian besar investasi bersifat jangka pendek. Investment pada aset luar negeri tidak diperkenankan oleh peraturan. sebagian besar pekerja di sektor swasta (walaupun berada di sektor formal) berpenghasilan sangat rendah sehingga kontribusi yang diberikan (yang berdasarkan persentase) juga sangat rendah. Tentu saja.

Contoh dari program ini adalah Raskin atau program pemberian beras bagi rakyat miskin (lihat boks). Tunjangan Bagi Masyarakat Miskin Seperti sudah disebutkan di atas. Meningkatkan penyediaan dan penyaluran bahan kebutuhan pokok serta bantuan bahan pangan bagi masyarakat miskin di pedesaan dan perkotaan (food security). Meningkatkan penciptaan kesempatan kerja langsung dan kesempatan berusaha untuk menumbuhkan daya beli masyarakat miskin di pedesaan dan perkotaan (employment creation). pemerintah juga menganggarkan sejumlah dana dari APBN bagi kesejahteraan warga negaranya. banyak pihak pemberi kerja yang tidak mendaftarkan diri (pendaftaran anggota dilakukan melalui pihak pemberi kerja. Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Miskin Dana program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Miskin (JPKMM) yang bersumber dari Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak (PKPSBBM) tahun 2005 sebesar Rp 2. yaitu: a. d. Perlindungan sosial (social protection) yang terdiri dari: o Meningkatkan penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dasar dan bantuan obat-obatan bagi masyarakat miskin di pedesaan dan perkotaan. bukan secara langsung dari karyawan/pekerja). o Meningkatkan penyediaan fasilitas pendidikan dan bantuan biaya pendidikan bagi peserta didik yang berasal dari kelompok masyarakat miskin. namun bentuk jaminan sosial ini lebih bersifat sekali-sekali dan belum terlembagakan seperti jaminan sosial bagi sektor formal yang diuraikan di atas. Jaring Pengaman Sosial Program ini muncul setelah Indonesia dilanda krisis ekonomi pada tahun 1997 dan sebagian dari program ini masih berlanjut hingga kini. c. b. baik di pedesaan maupun perkotaan. Padahal. karena buruknya reputasi PT Jamsostek.354 Bab 16: Kebijakan Belanja Publik dalam Tunjangan Sosial pekerja musiman. Jaminan sosial yang dapat diidentifikasi sampai saat ini adalah: 1. 2.168 . Kegiatankegiatan JPS dapat dikelompokkan menjadi empat program besar. jumlah mereka sangat banyak Satu hal lagi. Menggerakkan kembali ekonomi rakyat dengan mendorong pembangunan kegiatan usaha ekonomi berskala kecil.

Jumlah beras yang disalurkan tidak tergantung pada permintaan pasar.000. b. untuk membantu keluarga miskin/rawan pangan tersebut. Program Beras Untuk Keluarga Miskin (Raskin) Dan Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak (PKPS-BBM) Bidang Pangan Tahun 2003 Kebijakan subsidi pangan terarah (targeted food subsidy) sebagai kebijakan income transfer untuk keluarga miskin. bila anggota keluarga sakit tidak. Tujuan Raskin adalah membantu keluarga miskin/rawan pangan dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan pokoknya sebagai upaya peningkatan ketahanan pangan di tingkat keluarga melalui penjualan beras kepada keluarga penerima manfaat Raskin pada tingkat harga bersubsidi dengan jumlah yang telah ditentukan dan dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan pemerintah. keluarga tidak mampu mengobatkan anggota keluarga yang sakit ke pelayanan kesehatan. yang ditentukan atas dasar . Titik distribusi adalah tempat penyerahan/pendistribusian beras di tingkat kelurahan/desa yang terdekat dengan keluarga sasaran penerima manfaat. keluarga tidak mampu mengkonsumsi pangan sumber protein minimal seminggu sekali. maka langkah penanggulangan yang ditempuh adalah melanjutkan Program Beras Untuk Masyarakat Miskin (Raskin) yang memiliki ciri spesifik antara lain: a. sudah ada anaknya yang putus sekolah. e. keluarga dengan anak drop out sekolah karena alasan ekonomi. pekerja/buruh kasar. Penerima manfaat adalah keluarga miskin rawan pangan yang memenuhi satu atau lebih kriteria: a.700 orang dengan premi sebesar Rp 5. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik. Tidak ditujukan dalam upaya stabilisasi harga pasar. tetapi penjualan langsung kepada keluarga penerima manfaat (bersubsidi). tetapi untuk membantu pemenuhan kebutuhan beras keluarga yang menjadi sasaran penerima manfaat Raskin. Ini untuk efisiensi. menjadi penting sebagai program nasional.441. b.168. c. Maka dana untuk membayar premi selama satu tahun adalah Rp 2. tetapi berdasarkan jumlah keluarga penerima manfaat.000 per orang per bulan. akuntabilitas.000. Tidak disalurkan melalui pasar umum. Masyarakat yang termasuk kelompok rawan pangan ini juga merupakan masyarakat miskin yang daya belinya rendah dan sebagian besar pengeluarannya adalah dibelanjakan untuk konsumsi pangan pokok. keluarga tidak mampu makan dua kali sehari.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 355 triliun akan dibayarkan langsung kepada PT Asuransi Kesehatan (Askes) tanpa melalui Departemen Kesehatan. dan transparansi. Mereka yang masuk kriteria miskin adalah keluarga yang tidak bisa makan dua kali sehari.mampu lagi ke fasilitas kesehatan serta dengan kriteria lainnya yang ditetapkan berdasarkan pertimbangan Pemerintah Daerah setempat. d.146. c. orang miskin di Indonesia yang akan diikutkan dalam program JPKMM sebanyak 36. Program ini dirancang untuk tidak menghambat perkembangan pangan lokal serta tidak mendorong perubahan pola konsumsi yang terlalu cenderung ke beras atau gandum.

0 2.0 7.3 4.0 4. (b) Jaminan Penghasilan Tambahan. dimana tunjangan akan menurun jika pendapatan meningkat. (c) Kupon Makanan.8 8. persyaratannya dibatasi pada keluarga yang tidak mempunyai kepala keluarga pria dan jumlah tunjangan yang diberikan dianggap tidak memadai.9 RANGKUMAN § Tunjangan kepada masyarakat yang berpenghasilan rendah di Amerika Serikat terdiri atas komponen-komponen utama program sebagai berikut: (a) Medicaid. Program ini ditujukan bagi semua orang yang memenuhi kriteria AFDC (Aid to Families with Dependent Children) atau yang disebut program kesejahteraan. . Tabel Asuransi Sosial Berbagai Negara Group/Negara Low Income § India § Kenya § Indonesia Middle Income § Filipina § Turki § Korea Selatan § Paraguay High Income § Jerman § Jepang § Perancis § Belanda Prosentase Jumlah Penduduk yang Tercakup 5 10 13 38 58 90 18 75 100 100 100 Prosentase Pembiayaan Kesehatan Askes Sosial/Sektor Publik 9 7 17 12 26 50 24 76 64 95 94 Prosentase Pembiayaan Kesehatan Askes Sosial/Total Pembiayaan Kesehatan 2 4 6 6 14 25 13 63 56 71 73 Total Biaya Kesehatan Prosentase GNP 6. (d) Perumahan Murah.0 6. maka penetapan titik distribusi dilakukan atas kesepakatan dengan pihak Pemda. sehingga tidak mendorong orang untuk bekerja lebih giat.5 8. § Program kesejahteraan AFDC menerapkan tarif pajak marjinal. sesuai tingkatan wilayah operasionalnya.356 Bab 16: Kebijakan Belanja Publik dalam Tunjangan Sosial kesepakatan/musyawarah antar instansi pelaksana Raskin yang terkait.3 2. Selain itu. Untuk daerah-daerah yang tidak memungkinkan titik distribusi di tingkat kelurahan/desa seperti daerah terpencil dan sulit transportasinya.0 6. dan (e) Tunjangan Kesejahteraan.6 2.

dan (h) Sistem Jaminan Sosial Nasional meliputi jaminan kesehatan. § Karena dianggap memberikan dampak negatif.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 357 § Cara paling efektif dalam menunjang keluarga berpenghasilan rendah adalah dengan membagikan dana melalui pemenuhan kekurangan pendapatan mulai pendapatan tingkat bawah. Aturan tersebut menciptakan program kesejahteraan yang disebut Temporary Aid for Needy Families (TANF). dan DI (Disability Insurance). (f) prinsip dana amanat. (3) orang dewasa normal (tidak cacat) yang menerima bantuan tunai selama dua tahun diharuskan mengambil bagian dalam kegiatan yang dapat menghidupi dirinya. (d) prinsip portabilitas. (b) prinsip nirlaba. § Asuransi sosial di Amerika Serikat memiliki komponen-komponen utama yang terdiri atas sistem asuransi OASI (Old Age and Survivors Insurance). HI (Health Insurance). akuntabilitas. . jika pendapatan kotor meningkat maka pajak negatif akan menurun sampai pada titik mencapai nol dan sesudah itu terjadi pajak positif terutang. § Alternatif tunjangan lain dengan bentuk pajak penghasilan negatif. dan (3) Asuransi pengangguran. (g) prinsip hasil pengelolaan Dana Jaminan Sosial Nasional berupa dividen dari pemegang saham yang dikembalikan untuk kepentingan peserta jaminan sosial. (2) individu tidak diijinkan menerima bantuan tunai untuk masa lebih dari lima tahun. sebagai berikut: (a) prinsip kegotong-royongan. (4) setiap negara bagian memperoleh grant untuk melaksanakan program kesejahteraan dari pemerintah federal yang jumlahnya tetap. (e) prinsip kepesertaan bersifat wajib. kehatihatian. kecelakaan kerja. (2) Asuransi kesehatan. efisiensi. dan jaminan kematian bagi seluruh penduduk melalui iuran wajib kerja yang diselenggarakan oleh beberapa Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. pensiun. berbeda dengan AFDC yang memberikan bantuan manfaat tunai secara mutlak bagi orang yang mempunyai pendapatan di bawah batasan tertentu. tunjangan sosial terkini tidak lagi memberikan tunjangan dalam bentuk tunai tetapi beralih ke bentuk non tunai. Struktur pemberian bantuan dikendalikan pelaksanaannya oleh pemerintah federal. § Sistem Jaminan Sosial Nasional merupakan program negara yang bertujuan memberi kepastian perlindungan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia agar dapat memenuhi kebutuhan dasar hidup yang layak. § Prinsip Sistem Jaminan Sosial Nasional. § Beberapa jenis asuransi sosial yaitu: (1) Asuransi pensiun dan cacat. dan efektivitas. § TANF mengatur hal-hal sebagai berikut: (1) bantuan tunai hanya temporer (tidak setiap saat). (c) prinsip keterbukaan. hari tua.

sehingga kontribusi yang diberikan juga sangat rendah. asuransi jaminan hari tua dan asuransi kesehatan yang didanai oleh pegawai dan pemberi kerja (khusus untuk jaminan hari tua). (c) Perusahaan Perseroan (Persero) Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ASABRI). sebagian investasi berjangka pendek sedangkan kewajiban membayar pensiun berjangka panjang. § Asuransi sosial untuk pegawai swasta mencakup asuransi kecelakaan kerja. melainkan PHK. § Replacement rates di sektor swasta sangat rendah.358 Bab 16: Kebijakan Belanja Publik dalam Tunjangan Sosial § Badan Penyelenggara Jaminan Sosial sesuai UU No. (b) jaminan kecelakaan kerja. (d) jaminan pensiun. asuransi kematian. § Jaminan sosial untuk pegawai negeri didanai oleh APBN. (c) jaminan hari tua. § Program jaminan sosial disediakan bagi angkatan kerja yang aktif bekerja di sektor formal. dimana pihak penerima manfaat memberikan kontribusi dalam bentuk pembayaran premi yang dipotong dari gaji mereka. dengan replacement rates antara 75-100% untuk masa kerja 20-35 tahun.40/2004 adalah: (a) Perusahaan Perseroan (Persero) Jaminan Sosial Tenaga Kerja (JAMSOSTEK). hal ini disebabkan: (a) sebagian besar pekerja swasta berpenghasilan sangat rendah. (4) menyeimbangkan komponen yang dikompensasi untuk menarik. § Dalam mengatasi pembiayaan pensiun yang semakin besar. (2) secara berkala berpindah ke sistem costsharing dengan PNS. mempertahankan. dan mencakup seluruh keanggotaan di kalangan PNS. (b) banyak penarikan dana asuransi yang terjadi bukan karena pensiun. . (3) membuat sistem pensiun yang lebih luwes dan dapat diterapkan dalam jangka panjang. dan (e) jaminan kematian. (c) kesalahan investasi dan tingginya biaya administrasi. § Menurut UU Jaminan Sosial Nasional (UU No 40/2004) terdapat lima jenis program jaminan sosial: (a) jaminan kesehatan. bersifat contributory. dan memotivasi PNS. § Jaminan sosial di Indonesia yang dapat diidentifikasikan sampai saat ini adalah Jaring Pengaman Sosial (JPS) dan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Miskin (JPKMM). World Bank menganjurkan negara-negara berkembang untuk mengambil langkahlangkah sebagai berikut: (1) mengurangi kewajiban pembayaran pensiun melalui perubahan parameter. dan (d) Perusahaan Perseroan (Persero) Asuransi Kesehatan Indonesia (ASKES). (b) Perusahaan Perseroan (Persero) Dana Tabungan dan Asuransi Pegawai Negeri (TASPEN).

dan transparansi. meningkatkan penyediaan dan penyaluran bahan kebutuhan pokok serta bantuan pangan bagi masyarakat miskin di pedesaan dan perkotaan. meningkatkan penyediaan fasililtas pelayanan kesehatan dasar dan bantuan obat-obatan. Jelaskan masalah yang terjadi dalam asuransi sosial untuk kesehatan! 4. meningkatkan penciptaan kesempatan kerja langsung dan kesempatan berusaha untuk menumbuhkan daya beli masyarakat miskin. akuntabilitas. § Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Miskin (JPKMM) mendapat dana yang bersumber dari Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak (PKPSBBM). Sebutkan komponen-komponen utama dari asuransi sosial di Amerika dan jelaskan siapa saja yang berhak mendapat asuransi sosial tersebut! . (b) social protection (perlindungan sosial). yaitu: (a) food security. bantuan pendidikan. dibayarkan langsung ke PT.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 359 § Jaring Pengaman Sosial (JPS) dikelompokkan menjadi empat program besar. Apa yang dimaksud dengan: a. Sebutkan hal-hal yang diatur dalam Temporary Aid for Needy Families (TANF)! 6. Apa dampak sistem tunjangan dalam bentuk tunai! 5. pendidikan. (c) employment creation. b. Mengapa program tunjangan kesejahteraan di Amerika banyak menuai protes dari masyarakat? 2. Jelaskan cara yang paling efektif dalam menunjang keluarga berpenghasilan rendah ! 8. pajak penghasilan negatif. Dalam bentuk apa saja tunjangan kepada masyarakat berpenghasilan rendah? 7. LATIHAN 1. 3. (d) menggerakan kembali ekonomi rakyat dengan mendorong pembangunan kegiatan usaha ekonomi berskala kecil. ASKES tanpa melalui Departemen Kesehatan untuk efisiensi. tarif pajak marjinal.

360 Bab 16: Kebijakan Belanja Publik dalam Tunjangan Sosial 9. Apa yang dilakukan dan dikelola oleh Federal Unemployment Trust Fund? 10. Apa saja yang dapat oleh pemerintah daerah dalam menggunakan grant yang diberikan pemerintah pusat ? .

KEUANGAN PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH Dalam konteks desentralisasi fiskal. Dan sebagaimana dikemukakan oleh Norregaard (1995). baik dalam negara-negara yang pada dasarnya berbentuk federal maupun negara yang berbentuk kesatuan. terdapat perbedaan-perbedaan dalam interval luas dalam struktur kelembagaan dan hubungan keuangan pusat dan daerah. akan selalu memunculkan pola hubungan fiskal antar pemerintahan (fiscal intergovernmental relationship). apapun bentuk pemerintahan suatu negara. baik itu negara federal maupun negara kesatuan (unitary). .

Pertama. Pendelegasian wewenang ini biasanya diatur dengan ketentuan perundang-undangan.362 Bab 17: Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah Tabel 17. di beberapa negara yang berbentuk federal. walaupun wewenang terakhir tetap pada pihak pemberi wewenang (sovereign-authority). terdapat dua model hubungan fiskal antar pemerintahan yang berlaku saat ini (lihat Tabel 17. pemerintahan negara bagian (state) bukan merupakan pelaku otonom.1). Tunisia Afrika Selatan Cina. Pakistan. principal (Pemerintah Pusat) dapat secara sepihak menentukan dan mengubah baik tanggung jawab pengeluaran maupun pendapatan Pemerintah Daerah dan pengaturan hubungan keuangan antar pemerintahan dalam upaya mengatasi permasalahan4 3 . Konsep federalisme fiskal maksudnya adalah Pemerintahan Daerah Tingkat II (kabupaten/kota) merupakan kepanjangan tangan dari pusat. Delegasi adalah pelimpahan wewenang untuk tugas tertentu kepada organisasi yang berada di luar struktur birokrasi reguler yang dikontrol secara tidak langsung oleh Pemerintah Pusat.Kolumbia. Vietnam Rusia. Kedua. Perancis dan Inggris mencerminkan pola ini untuk kelompok negara-negara maju (Bennet. Dalam perspektif ini. federalisme fiskal (fiscal federalism). Jepang Keuangan Federal Amerika Serikat. Argentina. konsentrasi kekuasaan di pusat demikian tinggi. India. kerangka yang sesuai untuk desentralisasi adalah bersifat “top down” dan berpola dekonsentrasi2 atau maksimalnya berpola delegasi3. Maroko dan Tunisia adalah untuk negara berkembang. Dalam model federalisme fiskal. Menurut teori ini. serta Cina dan Vietnam adalah contoh negara transisi (Bank Dunia. sementara Indonesia1. Implikasi 1 Indonesia di sini maksudnya adalah sebelum keluarnya Undang-undang Nomor 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-undang Nomor 25/1999 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah. Kanada Indonesia. Maroko. dan kerangka analisis yang sesuai adalah agency theory4. 2 Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang dari Pemerintah Pusat kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah dan atau perangkat pusat di Daerah. 1996a). keuangan federal (federal finance). Bosnia Herzegovina Sumber: Bird dan Vaillancourt (1998) Menurut Bird dan Vaillancourt (1998). 1990). Brasil. Atau. Pihak yang menerima wewenang mempunyai keleluasaan (discretion) dalam penyelenggaraan pendelegasian tersebut.1: Susunan Rak Desentralisasi Fiskal Kelompok Negara Negara Maju Negara Berkembang Negara Transisi Federalisme Fiskal Perancis.

Ini terbukti.5 Dimana masing-masing pemerintahan memiliki kewenangan (otonomi) yang jelas terhadap wilayah. wewenang. model hubungan fiskal yang terjadi adalah hubungan fiskal antara pemerintah federal (pusat) dengan pemerintah negara bagian/propinsi (state) dan hubungan fiskal antara pemerintah negara bagian/propinsi (state) dengan pemerintah lokal (kabupaten/kota). Argentina. Dalam model keuangan federal. permasalahan informasi yang tidak simetri.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 363 dari hubungan fiskal model federalisme fiskal ini adalah berbagai bentuk transfer dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah (Dati I dan Dati II) dalam rangka untuk menggalakkan otonomi regional dan untuk memperbaiki infrastruktur lokal. namun prakteknya sejauh ini masih sentralisasi fiskal dan federalisme fiskal. 5 Di Amerika Serikat (yang berbentuk negara federal). terutama negaranegara yang memiliki keanekaragaman dalam aspek geografis dan etnis (Bird. . model keuangan federal (federal finance) lebih cocok diterapkan untuk beberapa negara. Bahkan. model keuangan federal juga berlaku. atau townships (Kota). di Amerika Serikat. state dibagi ke dalam counties (wilayah kabupaten). tetapi pada prakteknya tidak selalu demikian. serta perbedaan-perbedaan tujuan antara principal dan agent (Pemerintah Daerah). fungsi. parishes (suatu wilayah pemerintahan gereja. serta pembiayaannya sudah secara umum ditetapkan melalui sebuah undang-undang. Meski secara teoritis negara yang berbentuk federal akan menerapkan model keuangan federal. yaitu Lousiana). 1994b serta Bird dan Chen. pada umumnya menganut model keuangan federal. Menurut Bank Dunia (1995b) negara-negara seperti Pakistan. Indonesia secara tidak langsung telah menerapkan model keuangan federal. Berbeda dengan model federalisme fiskal. serta pembiayaan sesuai dengan konstitusi federal. sejak diberlakukannya Undang-Undang Nomor 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 25/1999 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah. Secara teoritis. Di Amerika Serikat. biasanya akan dibelanjakan oleh pemerintah daerah sesuai dengan pedoman dan sektor-sektor yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat. Pada negara yang berbentuk kesatuan (unitary). Sesungguhnya. batas-batas resmi. beberapa dewan sekolah (school board) di Amerika Serikat memiliki kekuasaan untuk mengenakan pajak (Davey. dan Afrika Selatan adalah negara-negara berbentuk federal. Namun. penyerahan fungsi. 1996). negara yang berbentuk federal. 1983). counties merupakan agen utama pemerintahan regional dari pemerintahan propinsi dan memiliki memiliki kewenangan (authority) independensi yang signifikan. Contoh yang paling aktual adalah Amerika Serikat dan Kanada.

Namun demikian. derajat desentralisasi fiskal di Indonesia lebih tinggi. dibandingkan dengan Amerika Serikat. aspek efisiensi tidaklah satu-satunya dimensi ekonomi untuk mengevaluasi desentralisasi fiskal. Argumentasi ekonomi tentang efisiensi berasal dari fakta bahwa pemerintah daerah dapat memenuhi berbagai kepentingan dan pendapat dari para penduduk dan dapat mengalokasikan berbagai sumber daya (resources) secara lebih efisien dibandingkan pemerintah pusat. Karena preferensi setiap individu terhadap barang publik berbeda. setiap individu dapat memilih untuk tinggal di sebuah komunitas atau masyarakat yang sesuai dengan preferensi mereka dalam rangka untuk memaksimalkan kesejahteraan sosial.364 Bab 17: Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah sebagaimana diatur oleh Undang-Undang Nomor 25/1999. Menurut para ahli ekonomi. DIMENSI EKONOMI DARI DESENTRALISASI FISKAL Dimensi ekonomi baku dari suatu kebijakan keuangan publik adalah stabilitas makro ekonomi. pemerintah daerah memiliki kewenangan untuk menetapkan pajak serta melakukan pinjaman secara mandiri. Bahkan. Oleh karenanya. terdapat keuntungan efisiensi potensial dari desentralisasi fiskal. Desain fiskal antar pemerintahan juga memiliki implikasi penting atas keadilan dan stabilitas makro ekonomi. Efisiensi Teori desentralisasi didasarkan pada asumsi bahwa pemerintah pusat hanya dapat menyediakan barang dan jasa secara lintas wilayah secara konsisten. aspek efisiensi merupakan raison d'etre untuk desentralisasi fiskal. keadilan (equity). 1989). maka dalam suatu sistem fiskal yang terdesentralisasi. (2) Persaingan Antar Pemerintah Daerah (Competition Among Local Governments) . sesuai dengan argumen ini. dan efisiensi (Musgrave dan Musgrave. Keputusan mengenai pengeluaran publik yang dibuat oleh pemerintah daerah akan lebih responsif terhadap keinginan konstituennya dibandingkan dengan keputusan yang dibuat oleh pemerintah pusat. yaitu: (1) Efisiensi Alokasi Sumber Daya (Efficient Allocation of Resources) Desentralisasi akan meningkatkan efisiensi karena pemerintah daerah memiliki informasi yang lebih baik mengenai kebutuhan penduduknya dibandingkan pemerintah pusat.

Atau. Austria. Stabilitas Makro Ekonomi Penilitian empiris tentang desentralisasi dan pengelolaan makro ekonomi (macroeconomic governance) memberikan sedikit dukungan bahwa desentralisasi inheren dengan destabilisasi. 2002).Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 365 Persaingan antar daerah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakatnya akan mendorong pemerintah lokal untuk meningkatkan inovasinya. stabilitas makro ekonomi bukanlah hal yang otomatis dapat terwujud dengan diterapkannya desentralisasi fiskal. Namun demikian. 1997). Salah satu contoh terjelas adalah kasus-kasus di negara . dan Amerika Serikat memiliki kinerja makro ekonomi yang sangat stabil dan tingkat inflasi yang rendah (Shah. maka tingkat pelayanan akan menurun. Masyarakat akan memilih untuk tinggal di lingkungan yang anggaran daerahnya memenuhi preferensi yang paling tinggi antara pelayanan publik dari pemerintah daerahnya dengan pajak yang dibayar oleh masyarakat. maka hanya ada dua pilihan bagi warga masyarakat. Jerman. yaitu meninggalkan wilayah tersebut atau tetap tinggal di wilayah tersebut dengan berusaha mengubah kebijakan pemerintah lokal melalui DPRD-nya (Hyman. Pengalaman internasional memperlihatkan bahwa jika suatu negara mendesentralisasikan tanggung jawab pengeluaran lebih besar dibandingkan dengan sumber-sumber yang tersedia. khusus bagi negara-negara berkembang. atau pinjaman yang lebih besar. Hipotesis tersebut memberikan petunjuk bahwa terdapat potensi untuk mencapai efisiensi ekonomi (maximizing social welfare) dalam penyediaan barang publik pada tingkat lokal. Tiebout menekankan bahwa tingkat dan kombinasi pembiayaan barang publik bertaraf lokal dan pajak yang dibayar oleh masyarakat merupakan kepentingan politisi masyakarat lokal dengan pemerintah daerahnya. Studi terkini mengenai hubungan antara desentralisasi fiskal dengan pengelolaan makro ekonomi menemukan bahwa “sistem desentralisasi fiskal menawarkan perbaikan potensial yang lebih besar terhadap perbaikan pengelolaan makro ekonomi dibandingkan sistem fiskal yang tersentralisasi”. daerah akan menekan pusat untuk mendapatkan tambahan kucuran dana yang lebih besar. Ketika masyarakat tidak senang pada kebijakan pemerintah lokal dalam pembebanan pajak untuk pembiayaan barang publik bersifat lokal. Faktanya. negara-negara federal yang terdesentralisasi secara tinggi seperti Swiss. Suatu analogi argumen untuk menjelaskan hal ini dikemukakan oleh Tiebot (1956) yang kemudian dikenal sebagai "The Tiebout Model". atau kedua-duanya.

Dalam definisi klasik. ia akan menciptakan suatu insentif yang kuat bagi penduduk berpendapatan rendah untuk datang dan akan mendorong penduduk berpenghasilan tinggi untuk pindah kemana saja. Mobilitas rumah tangga adalah hambatan riil pemerintah daerah untuk menggunakan kebijakan redistribusi. isu redistribusi memiliki dua dimensi: keadilan horisontal (horizontal equity) dan keadilan lokal (within-locality equity). jika lebih banyak penerimaan daripada pengeluaran yang didesentralisasikan. Untuk mengurangi ketidakadilan horisontal ini. Dalam merancang kebijakan redistribusi. 1996). Terdapat dua faktor utama yang memberikan kontribusi munculnya ketidakadilan horisontal: (1) basis pajak (taxes bases) sangat berbeda secara signifikan antara daerah satu dengan daerah yang lain dan (2) karakteristik regional yang mengakibatkan perbedaan biaya penyediaan pelayanan. Namun demikian. redistribusi biasanya berupa suatu transfer dana kepada rumah tangga berpendapatan rendah untuk mencapai keseimbangan dalam distribusi pendapatan. Dengan kata lain. pemerintah daerah tidak dapat mengambil kebijakan redistribusi secara efektif. Bantuan pemerataan (equalization grant). . Jika pemerintah daerah mengeluarkan program redistribusi pendapatan secara agresif. dengan program redistribusi pendapatan. maka perlu dirancang kebijakan untuk memberikan sumber daya (resources) yang lebih besar kepada daerah yang lebih miskin. penyediaan resources yang lebih banyak kepada daerah miskin hanyalah satu aspek dari problem keadilan. Keadilan horizontal merujuk pada tingkat kapasitas pemerintah daerah (subnational governments) dalam memenuhi pelayanan publik. Sebaliknya. Kesuksesan dalam kebijakan redistribusi juga memerlukan perhatian yang khusus terhadap keadilan dalam wilayah lokal setempat (within-locality equity). Keadilan (Equity) Aspek keadilan dari sebuah kebijakan keuangan publik berkaitan dengan redistribusi pendapatan untuk mencapai keadilan sosial. adalah alat yang biasa digunakan untuk mengoreksi ketidakadilan horisontal tersebut. Dalam konteks desentralisasi. itu berarti pajak bagi penduduk kaya dan subsidi bagi penduduk miskin. maka mobilisasi dana daerah dapat menurun dan ketidakseimbangan makro ekonomi dapat kembali muncul (Yu. Sebab. pemerintah daerah memerlukan dukungan dari pemerintah pusat.366 Bab 17: Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah Federasi Rusia (Wallich. 1994).

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 367 Syarat-Syarat Keberhasilan Desentralisasi Fiskal Bird dan Vaillancourt (1998) mengisyaratkan ada dua prasyarat penting bagi kesuksesan desentralisasi. § Federalisme fiskal merupakan model konsentrasi kekuasaan di pusat yang semakin tinggi. biaya-biaya dari pengambilan keputusan tersebut sepenuhnya harus ditanggung oleh masyarakat. maka pemerintah daerah harus didukung sumbersumber keuangan yang memadai. Kedua. terlepas dari keseimbangan makro atau efisiensi mikro. pinjaman. Pertama. proses pengambilan keputusan di daerah harus demokratis. RANGKUMAN § Menurut Bird dan Vaillancourt. Pelaksanaan desentralisasi fiskal akan berjalan baik dengan mempedomani hal-hal sebagai berikut: (1) adanya pemerintah pusat yang kapabel dalam melakukan pengawasan dan enforcement. pengembangan kelembagaan dan sumber daya manusia. Di samping itu. maupun transfer dari pemerintah pusat. yaitu pengambilan keputusan tentang manfaat dan biayanya harus transparan dan pihak-pihak yang terkait harus memiliki kesempatan untuk mempengaruhi keputusan-keputusan tersebut. mekanisme koordinasi untuk meningkatkan kinerja aparat birokrasi. Sementara itu. Sidik (2002) juga berpendapat untuk mendukung pelaksanaan desentralisasi. Sidik (2002) menyebutkan bahwa keberhasilan pelaksanaan desentralisasi akan sangat tergantung pada desain. sehingga kerangka yang sesuai untuk desentralisasi adalah . dan (2) terdapat keseimbangan antara akuntabilitas dan kewenangan dalam melakukan pungutan pajak dan retribusi daerah. baik yang berasal dari local revenue. proses implementasi. seharusnya tidak perlu terjadi “ekspor pajak” dan tidak ada tambahan transfer dari level pemerintahan yang lain. kesiapan administrasi pemerintahan. maupun masyarakat secara keseluruhan. terdapat dua pola hubungan fiskal antar pemerintahan (fiscal intergovernmental relationship) yaitu federalisme fiskal (fiscal federalism) dan keuangan federal (federal finance). Untuk itu. dukungan politis baik pada tingkat pengambilan keputusan di masing-masing tingkat pemerintahan. § Konsep federalisme fiskal menganggap Pemerintah Daerah Tingkat II merupakan kepanjangan tangan dari pusat. Di negara federal. pemerintah negara bagian bukan merupakan pelaku otonom. perubahan sistem nilai dan perilaku birokrasi dalam memenuhi keinginan masyarakat khususnya dalam pelayanan sektor publik.

Model keuangan federal biasanya diterapkan di negara-negara yang memiliki keragaman dalam aspek geografis dan etnis. desentralisasi fiskal memiliki keuntungan efisiensi potensial. Hal ini dapat terbukti. hal ini terjadi sejak diberlakukannya Undang Undang Nomor 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang Undang Nomor 25/1999 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah. berarti bahwa pemerintah daerah memiliki informasi yang lebih baik mengenai kebutuhan penduduknya dibandingkan pemerintah pusat. dan efisiensi. dimana sistem desentralisasi fiskal menawarkan perbaikan potensial yang lebih besar terhadap perbaikan pengelolaan makro ekonomi dibandingkan . Persaingan antar pemerintah daerah. Seperti yang dikemukakan “Tiebout Model” bahwa tingkat dan kombinasi pembiayaan barang publik bertaraf lokal dan pajak yang dibayar oleh masyarakat merupakan kepentingan politisi masyarakat lokal dengan pemerintah daerah. serta pembiayaannya sudah secara umum ditetapkan dengan undang-undang. yaitu: (1) efisiensi alokasi sumber daya (efficient allocation of resources). berpola dekonsentrasi atau delegasi. keadilan (equity). Aspek-aspek inilah yang dapat digunakan untuk mengevaluasi desentralisasi fiskal. Berdasarkan aspek efisiensi. desentralisasi inheren dengan destabilisasi. Hipotesis ini menunjukkan bahwa terdapat potensi untuk mencapai efisiensi ekonomi (maximizing social welfare) dalam penyediaan barang publik pada tingkat lokal. yaitu persaingan antar daerah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakatnya akan mendorong pemerintah lokal untuk meningkatkan inovasinya. Dimensi ekonomi dari suatu kebijakan keuangan publik adalah stabilitas makro ekonomi. yaitu Pemerintah Daerah memiliki kewenangan untuk menetapkan pajak serta melakukan pinjaman secara mandiri. wewenang. serta pembiayaan sesuai dengan konstitusi federal. (2) persaingan antar pemerintah daerah (competition among local government). fungsi. dan kerangka analisis yang sesuai adalah agency theory. Efisiensi alokasi sumber daya.368 Bab 17: Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah § § § § § § § bersifat “top down’. Di mana pemerintah negara bagian ataupun pemerintah lokal memiliki kewenangan (otonomi) yang jelas terhadap wilayah. penyerahan fungsi. Batas-batas resmi. sehingga keputusan mengenai pengeluaran publik yang dibuat oleh pemerintah daerah lebih responsif terhadap keinginan konstituennya. Indonesia secara tidak langsung menerapkan model keuangan federal. Menurut penelitian empiris.

. jika penerimaan lebih banyak daripada pengeluaran yang didesentralisasikan. perlu dirancang kebijakan untuk memberikan sumber daya yang lebih besar ke daerah yang miskin. dukungan politis baik pada tingkat pengambilan keputusan di masing-masing tingkat pemerintahan dan masyarakat secara keseluruhan. Negara federal yang terdesentralisasi secara tinggi memiliki kinerja makro ekonomi yang sangat stabil dan tingkat inflasi yang rendah. (b) karakteristik regional yang mengakibatkan perbedaan biaya penyediaan pelayanan. maka akan menciptakan suatu insentif bagi penduduk berpendapatan rendah untuk datang dan mendorong penduduk berpendapatan tinggi untuk pindah ke mana saja.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 369 § § § § § § sistem fiskal yang tersentralisasi. Redistribusi memiliki dua dimensi. Terdapat dua faktor utama penyebab munculnya ketidakadilan horisontal: (a) basis pajak (tax bases) sangat berbeda secara signifikan antara daerah satu dengan yang lain. Aspek keadilan dari sebuah kebijakan keuangan publik berkaitan dengan redistribusi pendapatan untuk mencapai keadilan sosial. Sebaliknya. (2) biaya-biaya dari pengambilan keputusan tersebut sepenuhnya harus ditanggung oleh masyarakat sehingga tidak ada ekspor pajak dan tambahan transfer level pemerintahan yang lain. Jika tanggung jawab pengeluaran lebih besar daripada sumber yang tersedia. Khusus bagi negara berkembang. yaitu keadilan horisontal dan keadilan lokal. maka tingkat pelayanan akan menurun. maka mobilisasi dana daerah dapat menurun dan ketidakseimbangan makro ekonomi kembali muncul. Untuk mengatasinya. proses. Keadilan horisontal merujuk pada tingkat kapasitas pemerintah daerah dalam memenuhi pelayanan publik. implementasi. kesiapan administrasi pemerintahan. Prasyarat penting bagi kesuksesan desentralisasi terlepas dari keseimbangan makro atau efisiensi mikro menurut Bird dan Vaillancourt adalah: (1) proses pengambilan keputusan di daerah harus demokratis dan transparan. Jika dilakukan secara agresif. Bantuan pemerataan (equalizational grant) adalah alat yang digunakan untuk mengoreksi ketidakadilan horisontal tersebut. stabilitas makro ekonomi bukanlah hal yang otomatis terwujud dengan diterapkannya desentralisasi. Mobilitas rumah tangga adalah hambatan riil pemerintah daerah untuk menggunakan kebijakan redistribusi. Keberhasilan pelaksanaan desentralisasi menurut Sidik (2002) tergantung pada: desain. Redistribusi berupa suatu transfer dana kepada rumah tangga berpendapatan rendah untuk mencapai keseimbangan dalam distribusi pendapatan.

Sebutkan 2 model hubungan fiskal antar pemerintah yang berlaku saat ini. keadilan vertikal. Jelaskan yang dimaksud dengan : a. perubahan sistem nilai dan perilaku birokrasi dalam memenuhi keinginan masyarakat khususnya dalam pelayanan sektor publik. Mengapa Indonesia dibandingkan dengan Amerika Serikat derajat desentralisasi fiskalnya lebih tinggi ? 4. b. Jelaskan yang dimaksud dengan Tiebout Model ? 6. LATIHAN 1. stabilitas makroekonomi tidak otomatis terwujud dengan diterapkan desentralisasi fiskal ? 7. Apa yang dimaksud dengan redistribusi ? 13. Apa yang dimaksud dengan Agency Theory ? 3. Sebutkan syarat-syarat keberhasilan desentralisasi fiskal menurut Bird dan Vaillancourt ! 9. Apa yang dimaksud dengan dekonsentrasi ? 10. Sebutkan faktor utama yang memberikan kontribusi munculnya ketidakadilan horisontal ! 8.370 Bab 17: Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah pengembangan kelembagaan dan sumber daya manusia. § Pelaksanaan desentralisasi fiskal akan berjalan baik dengan mempedomani hal-hal sebagai berikut: (1) adanya pemerintah pusat yang kapabel dalam melakukan pengawasan dan enforcement. Mengapa desentralisasi akan meningkatkan efisiensi alokasi sumber daya ? 5. 14. Jelaskan hubungan antara desentralisaasi fiskal dengan pengelolaan makro ekonomi ! 12. Jelaskan keuntungan efisiensi potensial dari desentralisasi fiskal ! 11. Apa akibatnya jika pemerintah daerah mengeluarkan program redistribusi pendapatan secara agresif ? . dan (2) terdapat keseimbangan antara akuntabilitas dan kewenangan dalam melakukan pungutan pajak dan retribusi daerah. jelaskan ! 2. Mengapa khusus untuk negara-negara berkembang. keadilan horisontal. mekanisme koordinasi untuk meningkatkan kinerja aparat birokrasi.

Bagaimana caranya untuk mengurangi ketidakadilan horisontal ? 16.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 371 15. Menurut sidik (2002) pedoman apa saja yang harus dijalani agar pelaksanaan desentralisasi fiskal berjalan dengan baik ? 17. Sebutkan tiga dimensi ekonomi baku dari suatu kebijakan keuangan publik! 18. Jelaskan fakta di Pemerintah Daerah mengenai argumentasi ekonomi tentang efisiensi ! .

1). ternyata banyak daerah di berbagai negara ini local government revenue tidak cukup untuk membiayai seluruh pengeluaran daerah (lihat Tabel 18. . transfer dana dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Namun.TRANSFER PUSAT KE DAERAH: TEORI DAN PRAKTIK Dalam konteks desentralisasi fiskal. aspek pembiayaannya juga ikut terdesentralisasi.1. Implikasinya. tidak ada satupun pemerintah daerah di berbagai negara yang disurvei memiliki pendapatan yang dapat membiayai seluruh pengeluarannya. daerah dituntut untuk dapat membiayai sendiri biaya pembangunannya. Desentralisasi memang merupakan pelimpahan wewenang dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. Dari Tabel 16. terlihat bahwa. Sejalan dengan desentralisasi tersebut.

43% 83.91% 1998 4.18% 75.27% 98.31% 1997 3.75% 81. Country Tables.11% 72.80% 59.08% 80.74% 85.63% 66.74% 58. Catatan: Pendapatan Pemerintah Daerah tidak termasuk transfer antar pemerintahan (intergovernmental transfers) Sumber: International Monetary Fund. Government Finance Statistics Year Book 1998.46% 60.97% 73.93% 97.85% 99.64% N/A 77.31% 85.26% 57.10% 66.21% 79.60% 29.26% N/A 75.31% 27.91% 63.69% 66.22% 39.28% 85.10% 61.95% 87.19% 93.02% 64.92% 87.64% 73.04% 85. .30% 66.35% 62.31% 71.72% 81.35% 93.76% 73.91% 60.80% 83.62% 60.65% 42.66% 60.83% 27.50% 66.89% 85.49% 57.68% 58.51% 1995 5.47% 1996 6.78% 77.69% 80.1: Persentase Pendapatan atas Pengeluaran Daerah Negara Kesatuan Albania Azerbaijan Belarusia Bulgaria Kroasia Republik Cekoslowakia Denmark Estonia Irlandia Kazakhstan Latvia Lithuania Mauritius Moldova Mongolia Norwegia Polandia Republik Slovakia Slovenia Inggris Negara Federal* Australia Austria Bolivia México Switzerland United States 85.71% 40.55% 73.65% 70.83% 73.10% 65.33% *Pemerintah Daerah di negara-negara federal adalah kelompok Pemerintah Daerah yang terendah tingkat pendapatannya.85% 68.82% 71.32% 59.05% 58.08% 89.76% N/A 82.83% 72.97% 84.25% 72.29% 78.51% 72. 1998.53% 73.10% 84.73% 82.18% 57.73% 65.96% 71.71% 64.92% 62.28% 85.52% 62.68% 72.74% 58.51% 81.64% 97.30% 81.98% 81.49% 89.374 Bab 18: Transfer Pusat ke Daerah: Teori dan Praktik Tabel 18.37% 81.32% 81.65% 82.88% 27.52% N/A 77.69% 61.82% 39.28% 57.96% 64.50% 56.93% 72.

pemerintah daerah hanya menguasai sebagian kecil sumber-sumber penerimaan negara. stabilisasi. tujuan dari vertical equalization transfer ini adalah untuk mengkoreksi kesenjangan pendapatan yang diperoleh setiap level pemerintahan. transfer dana dari pusat (intergovernmental transfer) merupakan sumber penerimaan yang sangat dominan bagi pemerintah daerah di banyak negara. pemerintah pusat menguasai sebagian besar sumbersumber penerimaan (pajak) utama negara yang bersangkutan. pemerataan horisontal (horizontal equalization). Pada era tahun 1960-an. 72% pengeluaran propinsi dan 86% pengeluaran kabupaten/kota pada dekade 1990-an di Indonesia (Simanjuntak. Adapun tujuan dari transfer ini bermacam-macam yaitu pemerataan vertikal (vertical equalization). Sumber ini membiayai sekitar 85% dari pengeluaran pemerintah daerah di Afrika Selatan. mengatasi persoalan efek pelayanan publik (correcting spatial externalities). Kondisi ini akhirnya menimbulkan ketimpangan vertikal (vertical imbalance) antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. an Transfer TUJUAN TRANSFER Pada dasarnya. Tidak terkecuali Indonesia. terutama negara berkembang. Sementara itu. melakukan eksperimen dengan ide-ide baru (experimenting with new ideas). atau hanya berwenang untuk memungut pajak-pajak yang basis pajaknya bersifat lokal dan mobilitas yang rendah dengan karakteristik besaran penerimaannya relatif kurang signifikan.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 375 Implikasi dari kondisi tersebut. dan pemerintahan lokal. pada pertengahan era 1960-an hingga pertengahan 1980-an lahirlah kebijakan bagi hasil penerimaan umum (General Revenue Sharing/GRS). pemerintah negara bagian (state). . mengarahkan prioritas (redirecting priorities). dan kewajiban untuk menjaga tercapainya standar pelayanan minimum di setiap daerah. 70% sampai 90% pengeluaran negara bagian yang miskin di Meksiko. Dengan demikian. 2002). Pemerintah Federal Amerika Serikat sangat memonopoli sumber-sumber penerimaan. Kondisi ini akhirnya bisa menimbulkan ketimpangan antara pemerintah federal. GRS untuk tingkat negara bagian diberlakukan secara tuntas pada tahun 1982 dan untuk tingkat lokal diberlakukan pada secara tuntas pada tahun 1986. Vertical Equalization Transfer Di banyak negara. antara 67% sampai 95% pengeluaran negara bagian di Nigeria. transfer pusat ke daerah dapat dibedakan atas bagi hasil pendapatan (revenue sharing) dan bantuan (grants). Kemudian.

8 64 15 15 64 64 - 20 20 20 20 20 85 70 60 80 16. 11. daerah-daerah juga memiliki kebutuhan belanja yang sangat bervariasi. Artinya. taxing power yang diterima daerah menjadi lebih besar dan ketimpangan vertikal dapat dikurangi. Kondisi ini kemudian berubah dengan keluarnya Undang-Undang Nomor 25/1999. 25/1999 Pusat Dati I Dati II Pusat Sesudah UU No.2.2 16 30 30 16 16 - 64. Latar belakang diberlakukannya formula vertical equalization ini didasari oleh suatu kondisi selama Orde Baru. dimana pemerintah pusat begitu dominan dalam menguasai sumber-sumber penerimaan negara yang berujung pada timbulnya ketimpangan fiskal secara vertikal antara pemerintah pusat dengan daerah.8(+) 64(+) 64 32 64 32 6 12 40 12 Pemertaan Kab/Kota Lainnya + + 32 32 80 6 12 - 1. 25/1999 (dalam %) No Jenis Penerimaan Sebelum UU No. ataupun daerah dengan intensitas kegiatan ekonomi yang tinggi atau rendah. 25/1999 (lihat Tabel 2. daerah penghasil penerimaan (baik itu pajak maupun sumber daya alam) mendapat porsi yang besar dalam bagi hasil penerimaan umum (general revenue sharing) yang lebih besar dibandingkan sebelum diberlakukannya Undang-Undang No. Di sisi lain. 25/1999 Pro-pinsi Kab/ Kota 64. tergantung kondisi daerah bersangkutan yang memiliki kekayaan sumber daya alam atau tidak.2. Terdapat daerah-daerah dengan penduduk miskin. 7. Daerah-daerah yang kaya akan sumber daya alam. 4. Kondisi ini berimplikasi kepada besarnya basis pajak atau kapasitas fiskal (fiscal capacity) di daerah-daerah bersangkutan.2 16 16 16 16 16 3 6 8 Sumber : Sidik 2002. Dengan bagi hasil yang lebih besar ini. Menurut Undang-Undang No. 8. Tabel 17. Pengalaman empiris di berbagai negara menunjukkan ternyata kemampuan daerah untuk menghasilkan pendapatan sangat bervariasi. Proporsi Bagi Hasil Beberapa Penerimaan Negara Sebelum dan Sesudah UU No. PBB BPHTB IHH PSDH/IHPH Land Rent/Iuran Tetap Royalty Pertambangan Umum Perikanan Minyak Gas Alam Dana Reboisasi PPh 10 20 55 55 20 20 100 100 100 100 100 16.1: PRAKTEK VERTICAL EQUALIZATION DI INDONESIA Penerapan vertical equalization di Indonesia berlaku sejak dikeluarkannya Undang-undang Nomor 25/1999 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah. 6. dan anak-anak serta remaja yang tinggi proporsinya. dimana sarana-prasarana transportasi . 5. 2. penduduk lanjut usia.376 Bab 18: Transfer Pusat ke Daerah: Teori dan Praktik KOTAK 17. seperti Aceh dan Irian Jaya. 3. Ada pula daerahdaerah yang berbentuk kepulauan luas. 9. 25/1999 ini. berdasarkan UU Nomor 25 Tahun 1999 Horizontal Equalization Transfer Keseimbangan antara kebutuhan pendapatan (revenue needs) dan kemampuan untuk menghasilkan pendapatan juga memiliki dimensi horisontal. 10. dengan tarif pajak yang sama seharusnya juga menghasilkan penerimaan yang sama di antara daerah. terpaksa harus menjadi daerah miskin karena hasil dari sumber-sumber kekayaan alam mereka diangkut ke pusat.

4.2: PRAKTEK HORIZONTAL EQUALIZATION DI INDONESIA Dana Alokasi Umum (DAU) merupakan contoh yang paling tepat sebagai bentuk horizontal equalizataion di Indonesia. Penentuan bobot dan alokasi daerah. Ini mencerminkan tinggi rendahnya kebutuhan fiskal (fiscal need) dari daerah-daerah yang bersangkutan. Sumber: Brodjonegoro dan Pakpahan (2002) Correcting Spatial Externalities Beberapa jenis pelayanan publik di satu wilayah memiliki “efek menyebar” (eksternalitas) ke wilayah-wilayah lainnya. Faktor penyeimbang juga diarahkan untuk mengatasi permasalahan pendanaan akibat terjadinya transfer pegawai dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah yang tentunya membawa konsekuensi pada gaji dan biaya-biaya terkait lainnya. sistem . terjadi selisih hitung antara total DAU yang dianggarkan dengan total faktor penyeimbang dan faktor formula. Membandingkan kebutuhan fiskal dengan kapasitas fiskal tersebut di atas. karena daerah yang mempunyai potensi pajak dan SDA yang terbatas pada daerah-daerah tertentu. maka dapat dihitung celah fiskal (fiscal gap) yang akan ditutup dengan transfer DAU dari pusat. DAU dirancang dengan sebuah formula yang digunakan untuk menghitung potensi penerimaan daerah atau kapasitas fiskal (fiscal capacity) dan kebutuhan fiskal daerah (fiscal needs). dan (4) jumlah penduduk miskin. Sehingga.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 377 dan infrastruktur lainnya masih belum memadai. Sementara di lain pihak. (b) luas wilayah. namun memiliki sarana dan prasasarana yang telah lengkap. Sebagai horizontal equalization. Rumus umum DAU 2001 adalah sebagai berikut: 1. (3) indeks harga bangunan. 2. peran DAU dapat dijadikan counter atas pembagian dana bagian daerah yang didasarkan atas dasar penghasil daerah (by origin atau vertical equalization) yang cenderung menimbulkan ketimpangan antar daerah. Secara faktual. Besarnya DAU setelah formula paling tidak sama dengan besarnya bantuan Subsidi Daerah Otonom (SDO) dan Inpres tahun 2000. maka dapat dihitung kesenjangan atau celah fiskal (fiscal gap) dari masingmasing daerah yang seyogyanya ditutup oleh transfer dari pemerintah pusat. pendidikan tinggi (universitas). Dalam prakteknya. dan besarnya angkatan kerja (SDM). Faktor Penyeimbang adalah suatu mekanisme untuk mencegah penurunan kapasitas pemerintah daerah dalam membiayai kewajiban-kewajiban mereka. DAU akan dialokasikan kepada daerah dengan menggunakan bobot daerah. yaitu potensi penerimaan dan kebutuhan fiskal. Variabel-variabel yang digunakan untuk menentukan potensi penerimaan adalah (a) PDRB sektor sumber daya alam (primer). Bobot daerah harus dirumuskan dengan menggunakan suatu formula yang didasarkan atas pertimbangan kebutuhan dan potensi penerimaan. Dengan kata lain tujuan dari horizontal equalization transfer adalah untuk menutup celah fiskal yang dimiliki oleh setiap daerah. Variabel-variabel yang digunakan untuk menentukan kebutuhan daerah adalah (a) jumlah penduduk. Misalnya. melalui suatu formula ini. KOTAK 17. dalam alokasi DAU 2001 terdapat faktor penyeimbang dan faktor lump sum. pemadam kebakaran. Faktor lump sum intinya adalah suatu mekanisme untuk membagi habis total DAU yang sudah dianggarkan dalam APBN 925% dari penerimaan bersih domestik). ada daerah-daerah dengan jumlah penduduk yang tidak terlalu besar. (b) PDRB sektor industri dan jasa lainnya (non primer). Faktor formula DAU terdiri dari dua. jalan raya penghubung antar daerah. 3. Oleh karenanya.

yaitu sebesar DB dengan harga (biaya) sebesar PB. Namun. yaitu sebesar DA dan harganya (biayanya) pun relatif murah (PA) sehingga daerah setempat dipastikan dapat mengadakannya. biasanya pemerintah daerah enggan untuk berinvestasi di sini. yang bagi daerah . total permintaan atas barang publik tersebut adalah DT dengan harga (biaya) sebesar P1. maka jumlah permintaannya akan sangat rendah. Oleh karena itu.1. tanpa adanya “imbalan” (dalam bentuk pendapatan) yang berarti dari proyek-proyek serupa di atas. Sehingga. jika permintaan dari penduduk (resident demands) setempat yang diperhitungkan. tidak bisa dibatasi manfaatnya hanya untuk masyarakat tertentu saja. perguruan tinggi).1 Berdasarkan Gambar 18. Namun. untuk permintaan atas barang publik tertentu (misalnya.378 Bab 18: Transfer Pusat ke Daerah: Teori dan Praktik pengendali polusi (udara dan air). dan rumah sakit daerah. Koreksi “Spillovers” Melalui Transfer P MC P1 PB PA DA QB QT DB Q DT Gambar 18. pemerintah pusat perlu memberikan semacam insentif ataupun menyerahkan sumber-sumber keuangan agar pelayanan-pelayanan publik demikian dapat dipenuhi oleh daerah. peminatnya juga berasal dari luar daerah (nonresident demands).

Agar keinginan pemerintah pusat dan pemerintah daerah dapat berjalan secara paralel. . Ini terkait dengan pemenuhan harapan para konstituen pemilih ketika pemilihan umum berlangsung. maka pemerintah pusat memberikan transfer (subsidi). karena daerah yang menjadi tempat uji coba tidak mau menanggung kerugian dan risiko manakala terjadi dampak negatif terhadap program baru tersebut. seyogyanya pemerintah pusat memberikan transfer atau insentif kepada daerah. pemerintah pusat berkeinginan mengedepankan pembangunan di sektor pendidikan secara murah dan terjangkau.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 379 bersangkutan akan sangat sulit untuk dapat mengadakannya. Dengan adanya subsidi ini. karena biayanya terlalu mahal. yaitu sebesar perbedaan antara PB dan P1. Misalnya. Alasan perlunya bantuan dari pusat kepada daerah sehubungan dengan uji coba program baru tersebut. Transfer pemerintah pusat kepada daerah semacam ini akan membantu mengarahkan kembali prioritas daerah dan pusat sesuai dengan keinginan yang diharapkan oleh masing-masing level pemerintahan. Dengan demikian. Pemerintah daerah ternyata menginginkan pembangunan di sektor kesehatan lebih mendapat prioritas karena pertimbangan kondisi masyarakat setempat. Redirecting Priorities Setiap level pemerintahan memiliki prioritas masing-masing di dalam penyediaan pelayanan publik kepada masyarakatnya. karena biayanya berada dalam jangkauan anggaran daerah. Experimenting with New Ideas Bantuan (grants) seperti ini berawal dari adanya keinginan pemerintah pusat untuk mengujicobakan suatu program baru di suatu daerah sebelum program tersebut diberlakukan terhadap seluruh daerah. akhirnya bertentangan dengan prioritas yang sedang dibangun oleh level pemerintahan lainya. keinginan tersebut ternyata tidak sinkron dengan pola kebijakan daerah. Dan seringkali prioritas yang dikembangkan oleh setiap level pemerintahan tersebut. sesungguhnya bantuan untuk tujuan uji coba program baru ini tidak lebih dari sebuah kompensasi atas kesediaan daerah menjadi ajang uji coba suatu program baru dari pusat. Namun ternyata. maka daerah bersangkutan dapat menyediakan barang publik tersebut. Agar penyediaan barang publik tersebut tetap dilakukan oleh daerah bersangkutan.

Tidak boleh ada pembatasan yang sedemikian ketat sehingga sebagian besar keputusan di daerah harus mengikuti atau mengacu kepada ketentuan pusat. Berikut adalah beberapa kriteria umum yang biasa digunakan di banyak negara di dunia. bagi hasil (revenue sharing) berdasarkan formula. Namun kecermatan dalam mengkalkulasi amat diperlukan agar tindakan menaikkan/menurunkan dana transfer itu tidak berakibat merusak atau bertentangan dengan tujuan stabilisasi. Transfer untuk dana-dana pembangunan (capital grants) adalah merupakan instrumen yang cocok untuk tujuan ini. ataupun transfer yang bersifat umum (block grant) adalah sumber-sumber penerimaan daerah yang konsisten dengan tujuan tersebut. bisa saja dana transfer ke daerah dikurangi manakala perekonomian sedang booming. Penerimaan yang Memadai (Revenue Adequacy) Pemerintah daerah semestinya memiliki pendapatan (termasuk transfer) yang cukup untuk menjalankan segala kewajiban atau fungsi yang diembannya.380 Bab 18: Transfer Pusat ke Daerah: Teori dan Praktik Stabilisasi Transfer dana dapat ditingkatkann oleh pemerintah ketika aktivitas perekonomian sedang lesu. Di saat lain. . Memenuhi Standar Pelayanan Minimum Daerah-daerah dengan sumber daya yang sedikit memerlukan subsidi agar dapat mencapai standar pelayanan minimum. KRITERIA DESAIN TRANSFER PUSAT KE DAERAH Dari berbagai tujuan yang hendak dicapai dalam rangka transfer antar tingkat pemerintahan. 1. Jika dikaitkan dengan postulat Musgrave (1983) yang menyatakan bahwa peran redistributif dari sektor publik akan dijalankan oleh pemerintah pusat. Otonomi Prinsip ini merupakan dasar desentralisasi fiskal di dunia. Pajak-pajak dimana daerah bisa ikut memungut di atas tingkat yang ditetapkan pusat (piggyback). maka penerapan standar pelayanan minimum di setiap daerah pun akan lebih bisa dijamin pelaksanaannya oleh pemerintah pusat. apakah negara tersebut berbentuk federal maupun negara kesatuan. dapat kiranya sebagai acuan untuk mendesain sistem atau model transfer bagaimana yang akan diterapkan. Prinsip ini menekankan agar pemerintah daerah memiliki independensi dan fleksibilitas dalam menentukan prioritas-prioritas mereka. 2.

5. sebaliknya menangkal praktek-praktek yang tidak efisien. . 4. Di samping itu juga formula yang dipakai seyogyanya relatif mudah untuk dipahami. spesific purpose grant). general purpose grant. tidak perlu ada transfer khusus/spesifik untuk membiayai defisit anggaran pemerintah daerah. Hal yang lebih penting lagi adalah setiap daerah dapat memperkirakan berapa penerimaan totalnya (termasuk transfer). sehingga memudahkan penyusunan anggaran. atau ada semacam kontrol terhadap belanja daerah. sehingga setiap daerah dapat melaksanakan urusan rumah tangganya sendiri pada tingkat yang layak. 6. Insentif Desain dari transfer ini harus sedemikian sehingga memberikan semacam insentif bagi daerah dengan manajemen fiskal yang baik. JENIS-JENIS TRANSFER Pengalaman empiris dari berbagai negara menunjukkan bahwa pemberian transfer oleh pemerintah pusat kepada daerah dapat disertai dengan syaratsyarat tertentu atau tidak bersyarat sama sekali. block grant dan (2) transfer dengan syarat (conditional grant. Transparan dan Stabil Formula transfer mesti diumumkan sehingga dapat diakses masyarakat. agar perencanaan jangka menengah dan panjang dapat dilakukan oleh daerah. Formula tersebut seyogyanya dipakai untuk jangka menengah (misalnya 3-5 tahun). Dengan demikian. Dengan demikian. Transfer Tanpa Syarat Pada umumnya transfer jenis ini ditujukan untuk menjamin adanya pemerataan dalam kemampuan fiskal antar daerah. Keadilan (Equity) Besarnya dana transfer dari pusat ke daerah seyogyanya berhubungan positif dengan kebutuhan fiskal daerah dan berkebalikan dengan besarnya kapasitas fiskal daerah yang bersangkutan.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 381 3. categorial grant. yaitu (1) transfer tanpa syarat (unconditional grant. pada dasarnya jenis-jenis transfer dapat dikelompokkan menjadi dua kategori besar. Sederhana (Simplicity) Alokasi dana kepada pemerintah daerah semestinya didasarkan pada faktor-faktor obyektif dimana unit-unit individual tidak memiliki kontrol atau dapat mempengaruhinya.

DAU untuk suatu daerah kabupaten/kota tertentu ditetapkan berdasarkan perkalian jumlah DAU untuk seluruh daerah kabupaten/kota yang ditetapkan dalam APBN dengan porsi daerah kabupaten/kota yang bersangkutan. • potensi ekonomi daerah. 4. 9. 5. DAU untuk suatu daerah propinsi tertentu ditetapkan berdasarkan perkalian jumlah DAU untuk seluruh daerah propinsi yang ditetapkan dalam APBN. 7.382 Bab 18: Transfer Pusat ke Daerah: Teori dan Praktik Tujuan dari transfer ini adalah untuk mengurangi ketimpangan fiskal yang bersifat horisontal (horizontal equalization). 25/1999 ketentuan mengenai aturan alokasi DAU adalah sebagai berikut: 1. DAU untuk daerah propinsi dan untuk daerah kabupaten/kota ditetapkan masing-masing 10% (sepuluh persen) dan 90% (sembilan puluh persen) dari total DAU nasional. Dalam hal terjadi perubahan kewenangan di antara daerah propinsi dan daerah kabupaten/kota. 2. Porsi daerah kabupaten/kota merupakan proporsi bobot daerah kabupaten/kota yang bersangkutan terhadap jumlah bobot semua daerah kabupaten/kota di seluruh Indonesia. KOTAK 17.3: PRAKTEK TRANSFER TANPA SYARAT DI INDONESIA Dana Alokasi Umum (DAU) merupakan bentuk yang masuk dalam kategori transfer tanpa syarat (unconditional grant) untuk kasus di Indonesia. Menurut UU No. 3. Penghitungan DAU berdasarkan rumus di atas dilakukan oleh Sekretariat Bidang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. Bobot daerah ditetapkan berdasarkan: • kebutuhan wilayah otonomi daerah. . Porsi daerah propinsi merupakan proporsi bobot daerah propinsi yang bersangkutan terhadap jumlah bobot semua daerah propinsi di seluruh Indonesia. 8. persentase Dana Alokasi Umum untuk daerah propinsi dan daerah kabupaten/kota disesuaikan dengan perubahan tersebut. 6. dengan porsi daerah propinsi yang bersangkutan. DAU adalah dana yang berasal dari APBN. DAU ditetapkan sekurang-kurangnya 25% (dua puluh lima persen) dari penerimaan dalam negeri yang ditetapkan dalam APBN. yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk membiayai kebutuhan pengeluarannya dalam rangka pelaksanaan desentralisasi.

maka yang bertambah akibat adanya transfer adalah jumlah anggaran. 2 1 . yaitu menjadi OK (untuk assested public goods) dan menjadi OH (untuk other public goods). Ini mengingat. Kondisi inilah yang menyebabkan mengapa penerima lebih memilih unconditional grants dibandingkan bentuk transfer lainnya. Sehingga. sebagaimana digambarkan pergeseran kurva indiferensi yaitu dari i1i1 menjadi i2i2 dan titik keseimbangan baru menjadi E1. formula apa yang tepat untuk menjamin meratanya kemampuan fiskal (fiscal capacity) daerah dalam menjalankan pelayanan publik minimum. dan seterusnya adalah kurva indiferensi (indifference curve)2. dimana posisi E ini merupakan posisi tinggi dalam hal kepuasan tertinggi pada anggaran yang tersedia. posisi permintaan (demand) barang A adalah OC dan barang B adalah OD sehingga titik keseimbangan awal adalah E. Namun. Hal ini digambarkan dengan adanya pergeseran (shifting) budget line yang sejajar dari AB menjadi FG. jumlah barang yang dapat dipenuhi menjadi lebih banyak. Dengan demikian. Kurva i1i1. dengan unconditional grants memungkinkan tercapainya kesejahteraan yang Garis anggaran (budget line) adalah kurva yang menunjukkan kombinasi konsumsi dua macam barang yang membutuhkan biaya (anggaran) yang sama besar. Kurva indiferensi (indifference curve) adalah kurva yang menunjukkan berbagai kombinasi konsumsi dua macam barang yang memberikan tingkat kepuasan sama bagi seorang konsumen. yang memperlihatkan kombinasi berbagai konsumsi barang yang tersedia.Transfer tanpa syarat biasanya dibagikan berdasarkan suatu formula tertentu. Garis AB adalah garis anggaran1 daerah setempat (community budget line). Asumsikan terdapat dua jenis barang publik (public goods). i2i2.2. amat tergantung kepada kondisi atau keadaan di masingmasing negara. dalam kasus ini adalah barang A dan barang B. Penjelasan efek dari unconditional grant terhadap pembiayaan daerah. Pada kondisi sebelum ada transfer. tingkat kepuasan masyarakat pun menjadi lebih besar.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 383 Ciri utama dari transfer ini adalah daerah memiliki keleluasaan (diskresi) penuh dalam memanfaatkan dana transfer ini sesuai dengan pertimbanganpertimbangannya sendiri atau sesuai dengan aturan apa yang menjadi prioritas daerahnya. yaitu barang publik yang akan dibantu dengan transfer (assisted public goods/B) yang digambarkan dengan garis horisontal (horizontal axis) dan barang publik yang tidak dibantu (other public goods/A) yang digambarkan dengan garis vertikal (vertical axis).Karena tidak ada batasan pada cara pembelanjaan fasilitas publik manapun. dapat dilihat pada Gambar 18.

384 Bab 18: Transfer Pusat ke Daerah: Teori dan Praktik lebih baik bagi daerah yang muncul dari kemungkinan untuk memilih yang lebih besar. Efek Unconditional Grant Terhadap Pembiayaan Daerah Other Public Goods i2 F i1 A H E E1 i2 C i1 O D K B G Assested Public Goods Gambar 18-2 Transfer dengan Syarat (Conditional Transfer) Transfer ini biasanya digunakan untuk keperluan yang dianggap penting oleh pemerintah pusat namun kurang dianggap penting oleh daerah. Contohnya adalah proyek-proyek yang menimbulkan efek eksternalitas positif bagi daerah-daerah lain ataupun proyek-proyek dari pemerintah pusat yang sifatnya uji coba atas suatu program atau ide baru (experimenting with new ideas). hal ini bisa juga menjadi suatu kerugian karena tidak ada kepastian tercapainya tujuan bersama sesuai dengan maksud pemberian grants tersebut. bagi pemberi. Namun. yaitu: . Transfer ini dapat dikelompokkan ke dalam dua jenis.

Pemerintah pusat dan daerah berniat meningkatkan kuantitas barang B. sementara barang A tetap. dana daerah belum cukup untuk menjamin penyelenggaraan urusan tersebut dengan baik. kurva garis anggaran (budget line) akan mengalami pergeseran dari AB menjadi AM. Garis AB adalah garis anggaran daerah setempat (community budget line). Hanya saja. daerah hanya mampu menyediakan dana sebesar 10% dari total kebutuhan dana atau sebesar Rp10 miliar. . yaitu hanya menggeser kuantitas barang B. yaitu misalnya pusat 90% dan daerah 10%. Transfer pengimbang ini juga dapat dibedakan menjadi 2 (dua) jenis: 1) Transfer pengimbang tidak terbatas (open-ended matching grants). Penjelasan efek dari open-ended matching grants dapat disajikan dalam Gambar 18. sedangkan barang A dibiarkan tetap. dimana posisi E ini merupakan posisi tinggi dalam hal kepuasan tertinggi pada anggaran yang tersedia.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 385 Transfer Pengimbang (Matching Grants) Transfer pengimbang adalah transfer yang diberikan oleh pusat kepada daerah untuk menutup sebagian atau seluruh kekurangan pembiayaan satu jenis urusan tertentu. Dengan demikian. Sama dengan kasus sebelumnya. pemerintah pusat dan daerah sepakat memberikan kontribusinya masing-masing. dan seterusnya adalah kurva indiferensi (indifference curve). Maka. Untuk tujuan ini. Jadi. Kurva i1i1. Misalnya. asumsikan terdapat dua jenis barang publik (public goods). Sementara itu. i2i2. Pada kondisi sebelum ada transfer. Transfer dari pemerintah pusat dalam hal ini berfungsi untuk membantu mengatasi kekurangan dana tersebut. Transfer ini diperuntukkan apabila transfer tersebut dapat dan memang ditujukan untuk menutup seluruh kekurangan dana yang terjadi. yaitu sebesar Rp90 miliar ditanggung sepenuhnya oleh pusat.3. sebuah proyek pembangunan universitas membutuhkan dana sekitar Rp100 miliar. yaitu barang publik yang akan dibantu dengan transfer (assisted public goods/B) yang digambarkan dengan garis horisontal (horizontal axis) dan barang publik yang tidak dibantu (other public goods/A) yang digambarkan dengan garis vertikal (vertical axis). posisi permintaan (demand) barang A adalah OC dan barang B adalah OD sehingga titik keseimbangan awal adalah E. dalam kasus ini adalah barang A dan barang B. di sini pemerintah daerah telah mengalokasikan sejumlah dana dari pendapatan daerahnya untuk penyelenggaraan urusan tersebut. yang memperlihatkan kombinasi berbagai konsumsi barang yang tersedia. kekurangan tersebut.

karena sifat grant ini yang tidak terbatas. tingkat kepuasan untuk barang B pun menjadi lebih besar.386 Bab 18: Transfer Pusat ke Daerah: Teori dan Praktik Sehingga. Efek dari Open-Ended Matching Grants Other Public Goods i2 A i1 S N E Q O D B P i1 M Assested Public Goods E1 i2 C Gambar 18. yang pembiayaannya bisa sebagian besar dari pemerintah pusat. Pada transfer ini terdapat batasan jumlah dana maksimum yang dapat digunakan. 2) Transfer pengimbang terbatas (closed-ended matching grants). daerah yang kaya akan mampu membuat proyek yang kaya pula dan menjadi semakin kaya. Akibatnya.3 Efek negatif dari open-ended matching grants adalah grant yang diberikan oleh pemerintah pusat justru akan menyebabkan ketidakmerataan antar daerah. sementara daerah yang miskin akan tetap miskin karena mereka tidak dapat membuat proyek kaya. sebagaimana digambarkan pergeseran kurva indiferensi yaitu dari i1i1 menjadi i2i2 dan titik keseimbangan baru menjadi E1. jumlah barang B (untuk assested public goods) yang dapat dipenuhi menjadi lebih banyak. yaitu dari OD menjadi OP. Dengan demikian. Hal ini sangat disukai oleh pemberi bantuan (pemerintah . namun untuk barang A tetap.

namun untuk barang A tetap. Maka. Penjelasan efek dari closed-ended matching grants dapat disajikan dalam Gambar 18. dalam kasus ini adalah barang A dan barang B. i2i2. Namun. yaitu sebesar Rp90 miliar ditanggung sepenuhnya oleh pusat. pemberi bantuan dapat mencukupkan bantuannya. dengan sendirinya proyek tersebut harus disesuaikan dengan jumlah anggaran semula. pemerintah pusat akan memberikan kontribusinya sebesar 90% dan daerah 10%. sedangkan barang A dibiarkan tetap. yaitu hanya menggeser kuantitas barang B. yaitu Rp100 miliar. yaitu dari OD menjadi OP. estimasi biaya ternyata membengkak menjadi Rp110 miliar atau mengalami kekurangan Rp10 miliar lagi. Misalnya. tingkat kepuasan untuk barang B pun menjadi lebih besar. Dalam rencana awal. Karena pemerintah pusat tidak lagi mau mengucurkan dananya. Dengan demikian. dalam perjalanannya. kekurangan tersebut. asumsikan terdapat dua jenis barang publik (public goods). yang memperlihatkan kombinasi berbagai konsumsi barang yang tersedia. Kurva i1i1. jumlah barang B (untuk assested public goods) yang dapat dipenuhi menjadi lebih banyak. sementara barang A tetap. daerah hanya mampu menyediakan dana sebesar 10% dari total kebutuhan dana atau sebesar Rp10 miliar. kurva garis anggaran (budget line) akan mengalami pergeseran dari AB menjadi AM. pemerintah pusat dan daerah sepakat memberikan kontribusinya masing-masing. dan seterusnya adalah kurva indiferensi (indifference curve). Dengan demikian. Misalnya. namun setelah besarnya biaya proyek melampaui jumlah tertentu. yaitu barang publik yang akan dibantu dengan transfer (assisted public goods/B) yang digambarkan dengan garis horisontal (horizontal axis) dan barang publik yang tidak dibantu (other public goods/A) yang digambarkan dengan garis vertikal (vertical axis). pemerintah pusat dan daerah berniat meningkatkan kuantitas barang B.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 387 pusat). dari proyek senilai Rp100 miliar. Pada kondisi sebelum ada transfer. Sementara itu. Garis AB adalah garis anggaran daerah setempat (community budget line). Untuk tujuan ini. sebuah proyek pembangunan universitas awalnya membutuhkan dana sekitar Rp100 miliar.4. posisi permintaan (demand) barang A adalah OC dan barang B adalah OD sehingga titik keseimbangan awal adalah E0. Sehingga. Sama dengan kasus sebelumnya. karena walaupun dana yang diberikan sesuai dengan besar proyek. . dimana posisi E0 ini merupakan posisi tinggi dalam hal kepuasan tertinggi pada anggaran yang tersedia.

Kurva i1i1. Transfer Bukan Pengimbang (Non-Matching Grants) Transfer bukan pengimbang adalah transfer yang diberikan oleh pusat kepada daerah untuk menambah dana penyelenggaraan suatu jenis urusan tertentu tanpa mempertimbangkan bahwa pemerintah daerah sendiri telah/akan mengalokasikan dananya dengan jumlah besar atau kecil. dengan sendirinya proyek tersebut harus disesuaikan dengan jumlah anggaran semula. Jadi. tetapi dari AB menjadi AT yang berarti jumlah barang A yang dapat dihasilkan akan lebih sedikit dibandingkan perkiraan semula. kendati pemerintah daerah yang bersangkutan telah mengalokasikan pendapatan daerahnya (local revenue) untuk pembiayaan penyelenggaraan urusan itu. Penjelasan efek dari non-matching grants terhadap pembiayaan daerah. namun karena pelaksanaannya menghasilkan limpahan manfaat besar kepada daerah-daerah lain. (eksternalitas) terutama kepada daerah yang menghasilkan limpahan manfaat tersebut. Garis AB adalah garis anggaran daerah setempat (community budget line). Implikasinya. Implikasinya. transfer diberikan oleh pusat untuk mendorong daerah agar tetap bersemangat dan mau mengalokasikan pendapatan daerahnya untuk pelaksanaan fungsi tersebut. yang memperlihatkan kombinasi berbagai konsumsi barang yang tersedia. dan seterusnya adalah kurva indiferensi (indifference curve). dapat dilihat pada Gambar 18.388 Bab 18: Transfer Pusat ke Daerah: Teori dan Praktik sebagaimana digambarkan pergeseran kurva indiferensi yaitu dari i1i1 menjadi i2i2 dan titik keseimbangan baru menjadi E1.5. Asumsikan terdapat dua jenis barang publik (public goods). . Jenis transfer ini dapat dipakai oleh pemerintah pusat untuk menjadi sarana menginternalisasikan limpahan manfaat. Dalam gambar terlihat bahwa rotasi pada budget line setelah batas tertentu. garis anggaran tidak jadi bergeser dari AB menjadi AM. Karena pemerintah pusat tidak lagi mau mengucurkan dananya. i2i2. slope-nya menjadi sejajar pada budget line awalnya. dalam kasus ini adalah barang A dan barang B. dimana posisi permintaan (demand) barang B adalah tetap OD. yaitu barang publik yang akan dibantu dengan transfer (assisted public goods/B) yang digambarkan dengan garis horisontal (horizontal axis) dan barang publik yang tidak dibantu (other public goods/A) yang digambarkan dengan garis vertikal (vertical axis). Namun dalam perkembangannya. terjadi kenaikan bahan baku sehingga budget seharusnya dinaikkan menjadi Rp110 miliar. terjadi titik keseimbangan baru dari E menjadi E1. yaitu Rp100 miliar.

namun tidak mengubah batas maksimum fasilitas publik lainnya (other public goods). posisi permintaan (demand) barang A adalah OC dan barang B adalah OD sehingga titik keseimbangan awal adalah E.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 389 Efek Closed-Ended Matching Grants Other Public Goods i2 A i1 S N E Q T O D B P i1 M Assested Public Goods E1 i2 C Gambar 18. .4 Pada kondisi sebelum ada transfer. Dengan adanya transfer dari pusat ke daerah untuk keperluan khusus tanpa diperlukannya dana pendamping. maka budget line dari barang publik yang dibantu (assested public goods) mengalami pergeseran (shifting). dimana posisi E ini merupakan posisi tinggi dalam hal kepuasan tertinggi pada anggaran yang tersedia.

oleh karena itu. (e) melakukan eksperimen dengan ide-ide baru. .390 Bab 18: Transfer Pusat ke Daerah: Teori dan Praktik Efek Non-Matching Grants Other Public Goods i2 i1 A H E F E1 i2 C i1 O D K B G Gambar 18. (b) pemerataan horisontal. (c) mengatasi persoalan efek pelayanan publik. Daerah juga dituntut untuk membiayai sendiri biaya pembangunannya padahal pendapatan daerah tidak bisa membiayai seluruh pengeluarannya. Transfer pusat ke daerah dapat dibedakan atas bagi hasil pendapatan (revenue sharing) dan bantuan (grants). transfer dana dari pusat (intergovernmental transfer) merupakan sumber penerimaan yang amat dominan bagi pemerintah daerah. antara lain: (a) pemerataan vertikal. (d) mengarahkan prioritas.5 RANGKUMAN § Konsep desentralisasi fiskal merupakan pelimpahan wewenang dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah. § Tujuan transfer dari pusat ke daerah.

Mengarahkan prioritas (redirecting proprities). bertujuan agar keinginan pemerintah pusat dan pemerintah daerah dapat berjalan secara paralel walaupun memiliki perbedaan prioritas. yaitu besarnya kebutuhan belanja/pengeluaran suatu daerah. dan (g) menjaga tercapainya standar pelayanan minimum di setiap daerah. Celah fiskal ini terjadi karena adanya perbedaan antara kapasitas fiskal. permintaan meningkat. bertujuan untuk mengoreksi kesenjangan pendapatan yang diperoleh setiap level pemerintahan. Hal ini dilakukan karena dengan adanya externalities (penyebaran). maksudnya pemerintah pusat memberikan (transfer) subsidi kepada pemerintah daerah untuk penyediaan barang publik yang memiliki efek ‘menyebar’ ke wilayah-wilayah lainnya. Pemerataan horisontal (horisontal equalization). antara pemerintah pusat dan daerah yang disebabkan perbedaan atas penguasaan sumber-sumber penerimaan (pajak). Transfer dari pusat ke daerah akan digunakan untuk menutup celah fiskal tersebut. Perbedaan ini diatasi dengan memberi transfer/insentif ke daerah sehingga membantu mengarahkan kembali prioritas daerah dan pusat sesuai harapan. bertujuan untuk menutup celah fiskal yang dimiliki oleh daerah. Subsidi dibutuhkan sebesar selisih akibat peningkatan permintaan sehingga biayanya berada dalam jangkauan daerah. Stabilisasi. bertujuan memberikan subsidi ke daerah dengan sumber daya sedikit agar dapat mencapai standar pelayanan umum. Kebijakan yang dilakukan dengan melakukan GRS (general revenue sharing) yaitu bagi hasil penerimaan umum. Pemerataan vertikal (vertical equalization). berarti membutuhkan tempat uji coba. yaitu kemampuan untuk menghasilkan pendapatan dan kebutuhan fiskal. yaitu menstabilkan kondisi perekonomian yang lesu dengan memberikan transfer maupun mengurangi transfer ketika perekonomian sedang booming. Mengatasi persoalan efek pelayanan publik (Correcting Spatial Externalities). Instrumennya berupa transfer untuk dana-dana pembangunan (capital grants). Melakukan eksperimen dengan ide-ide baru (Experimenting with New Ideas). Bantuan (grants) ke daerah diperlukan sebagai kompensasi atas daerah yang menjadi ajang uji coba suatu program baru dari pusat karena daerah tidak mau menanggung kerugian dan risiko sendiri.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 391 § § § § § § § (f) stabilisasi. . Memenuhi standar pelayanan minimum. dan sulit bagi daerah untuk mengadakannya karena biayanya terlalu mahal.

yang memang ditujukan untuk menutup seluruh kekurangan dana dari proyek. jika biaya proyek melebihi jumlah tertentu. (4) transparan dan stabil. Unconditional grants lebih disukai karena memungkinkan tercapainya kesejahteraan yang lebih baik bagi daerah. § Jenis-jenis transfer dapat dikelompokkan menjadi dua kategori besar: (1) transfer tanpa syarat (unconditional grant. Ciri utamanya. dikarenakan dana daerah yang tidak cukup. spesific purpose grant). tapi bagi pemberi bisa menjadi kerugian karena tidak ada kepastian tercapainya tujuan bersama sesuai dengan tujuan pemberian grants. (3) keadilan (equity). (2) penerimaan yang memadai (revenue adequacy). karena sifatnya yang tidak terbatas.392 Bab 18: Transfer Pusat ke Daerah: Teori dan Praktik § Kriteria desain transfer pusat ke daerah. bertujuan utnuk mengurangi ketimpangan fiskal yang bersifat horisontal dan menjamin adanya pemerataan kemampuan fiskal antar daerah. Transfer ini dikelompokkan menjadi dua jenis. diberikan oleh pusat kepada daerah untuk menambah dana penyelenggaraan suatu jenis urusan tertentu tanpa mempertimbangkan bahwa pemerintah daerah telah mengalokasikan dananya. § Transfer tanpa syarat. block grant). (5) sederhana (simplicity). daerah memiliki keleluasaan (diskresi) penuh dalam memanfaatkannya sesuai dengan pertimbangan dan aturan yang menjadi prioritas. pemberi bantuan akan mencukupkan bantuannya. terdapat batasan jumlah dana maksimal yang dapat digunakan. § Transfer pengimbang adalah transfer yang diberikan oleh pusat ke daerah untuk menutup sebagian atau seluruh kekurangan pembiayaan satu jenis urusan tertentu. antara lain: (1) otonomi. yaitu: transfer pengimbang (matching grants) dan transfer bukan pengimbang (non-matching grants). Efek negatif dari transfer ini dapat menyebabkan ketidakmerataan daerah. dan (6) insentif. categorial grant. § Transfer dengan syarat. yaitu: (1) Transfer pengimbang tidak terbatas (open ended matching grants). general purpose grant. Transfer ini disukai oleh pemberi bantuan. digunakan untuk keperluan yang dianggap penting oleh pemerintah pusat namun kurang dianggap penting oleh pemerintah daerah seperti proyek yang memiliki eksternalitas positif dan proyek yang bersifat uji coba. § Transfer bukan pengimbang (non-matching grants). walaupun dana yang diberikan sesuai dengan besar proyek. dan (2) transfer dengan syarat (conditional grant. Transfer pengimbang dibedakan menjadi dua jenis. Hal ini dilakukan untuk mendorong daerah agar . Sehingga daerah kaya membuat proyek kaya menjadi lebih kaya. (2) Transfer pengimbang terbatas (closed-ended matching grants).

Apa yang dimaksud dengan transfer pengimbang tidak terbatas dan transfer pengimbang terbatas ! 8. b. 15. faktor lump sum. Apa implikasi dari aspek pembiayaan yang juga ikut terdesentralisasi ? 11.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 393 tetap bersemangat melaksanakan fungsi tersebut karena menghasilkan limpahan manfaat besar kepada daerah-daerah lain. Sebutkan dua macam transfer pusat ke daerah ! 12. Apa yang dimaksud dengan horizontal equalization transfer dan mengapa hal itu diperlukan ? 14. Jelaskan yang dimaksud dengan transfer bukan pengimbang ! 9. Suatu kondisi yang seperti apa di dalam kurva jika daerah setempat dapat mengadakan fasilitas publik yang dimaksud ? . Jelaskan yang dimaksud dengan desentralisasi ? 10. Mengapa diberlakukan praktek vertical equalization di Indonesia. Apa yang dimaksud efek menyebar yang dimiliki pelayanan publik di suatu wilayah ? 17. Mengapa bisa timbul ketimpangan vertikal (vertical imbalance) ? 3. Jelaskan mengapa Dana Alokasi Umum (DAU) merupakan contoh yang paling tepat sebagai bentuk horizontal equalization transfer di Indonesia ! 5. insentif. Jelaskan kriteria desain transfer ke daerah dari sudut pandang : a. faktor penyeimbang. Jelaskan faktor formula Dana Alokasi Umum (DAU) dan sebutkan variabel-variabelnya ! 16. Apa yang dimaksud dengan : a. c. Jelaskan adanya transfer tanpa syarat dan tujuannya ! 7. keadilan. Apa saja tujuan dari transfer pusat ke daerah ? 2. b. 6. Sebutkan tujuan dari vertical equalization transfer dan horizontal equalization transfer ! 4. LATIHAN 1. transparan dan stabil. jelaskan dengan contohnya ! 13.

Sebutkan kriteria umum desain transfer pusat ke daerah ! 22. Jelaskan yang dimaksud dengan Pustulat Musgrave yang berkaitan dengan standar pelayanan minimum di daerah ! 21. Apa yang dimaksud dengan : a. Mengapa penerima lebih memilih unconditional grants dibandingkan dengan bentuk transfer lainnya dan mengapa pemberi dapat merasa dirugikan ? . garis anggaran b.394 Bab 18: Transfer Pusat ke Daerah: Teori dan Praktik 18. Bagaimana cara pemerintah pusat melakukan redirecting priorities terhadap pemerintah daerah ! 19. Apakah ciri utama dari transfer tanpa syarat di daerah ? 23. kurva indeferensi 24. Apa yang dimaksud dengan experimenting with new ideas yang dilakukan pemerintah pusat pada pemerintah daerah ? 20.

pemerintah daerah dapat memungut tambahan pajak (opsen. dan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB). Kedua.PERPAJAKAN DAERAH Pemerintah daerah dapat memperoleh pendapatan dari perpajakan dengan tiga cara. menurut Undang-Undang No. Dalam konteks Indonesia. pada umumnya membayar pungutan tambahan beserta pajak-pajaknya kepada pemerintah pusat. pajak pemerintah pusat yang dibagikan adalah Pajak Penghasilan (PPh). adalah melalui pembagian hasil pajak-pajak (revenue sharing) yang dikenakan dan dipungut oleh pemerintah pusat. 25/1999. Kemudian. Menurut pengertian ini. Praktek seperti ini diterapkan di . Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). pemerintah pusat membayarkan pendapatan opsen tersebut kepada pemerintah daerah. Pertama. surchage di atas suatu pajak yang dipungut dan dikumpulkan oleh pemerintah pusat. para wajib pajak di wilayah (daerah) mereka. sebagaimana telah dibahas sebelumnya.

tetapi pendapatan yang dihasilkan tidak mampu melebihi biaya yang dikeluarkan untuk memungutnya. Dalam konteks di Indonesia. Kriteria pertama.396 Bab 19: Perpajakan Daerah Swedia. Seringkali dijumpai pemerintah daerah mempunyai banyak jenis pajak. Keempat kriteria tersebut adalah kecukupan dan elastisitas. misalnya. dan dapat diterma secara politik. Kecukupan maksudnya bahwa sumber pendapatan tersebut harus menghasilkan pendapatan yang besar dalam kaitannya dengan seluruh atau sebagian biaya pelayanan yang akan dikeluarkan. Sedangkan. Ketiga. . semacam PBB) dewan kabupaten (district council). Amerika Serikat. adalah (i) tax revenue sharing telah dibahas pada bagian sebelumnya. dan India. kemampuan administratif. Opsen tersebut mungkin dipungut sebagai persentase tambahan atas pendapatan kena pajak (PKP). dalam hal pajak penghasilan atau alternatifnya. Alasan pembatasan ini. Untuk lebih jelas memahami opsen.18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. pajak daerah jenis ini diatur dalam UU No. sedangkan di daerah-daerah non metropolitan. 34 Tahun 2000 tentang perubahan atas UU No. Adapun variabel yang utama adalah dasar hukumnya (kewenangannya). memungut opsen atas pajak penghasilan nasional. karena Indonesia tidak menerapkan sistem opsen. adalah pungutan-pungutan yang dikumpulkan dan ditahan oleh pemerintah daerah sendiri. precept pemerintah propinsi merupakan proporsi yang tinggi dari seluruh pungutan pungutan wajib wajib pajak. Davey (1983) mendefinisikan bahwa opsen adalah semacam pungutan pajak (precept) yang dipungut oleh propinsi (country) atau dewan desa (parish council) di Inggris di atas rate (pajak atas harta tetap. kecukupan dan elastisitas. kurang relevan dengan sistem perpajakan di Indonesia. pemerintah daerah mengenakan opsen atas pajak penjualan di tingkat negara bagian (state). Suatu jenis pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah mungkin ditetapkan berdasarkan ketentuan perundangan pemerintah pusat. dan (ii) pembahasan mengenai opsen. sebagai suatu persentase tambahan atas pajak yang sebenarnya dibayarkan kepada pemerintah pusat atau negara bagian. Bagian ini hanya akan mendiskusikan mengenai pajak yang diperoleh oleh pemerintah daerah sendiri. pemerataan. PRINSIP DAN KRITERIA PERPAJAKAN DAERAH Menurut Davey (1983) terdapat empat kriteria mengenai pajak Daerah. Pemerintah Daerah Swedia. Di Amerika Serikat. beberapa panchayats (pemerintah kabupaten) di India menikmati opsen atas pajak tanah.

kemudahan untuk memungut pertumbuhan pajak tersebut. Kriteria ketiga adalah kemampuan adiministratif. maka dibutuhkan suatu administrasi yang baik dan fleksibel. adalah keadilan geografis. pajak dapat dikatakan baik kalau pajak tersebut bersifat progresif. pemerataan secara horisontal. Elastisitas merupakan kualitas suatu sumber pajak yang penting. penduduk. elastisitas mempunyai dua dimensi. misalnya. Dimana.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 397 Sedangkan elastis maksudnya adalah kemampuan untuk menghasilkan tambahan pendapatan agar dapat menutup tuntutan yang sama atas kenaikan pengeluaran pemerintah daerah. maka pajaknya harus sama dengan pegawai kantor (swasta atau negeri) yang memiliki gaji sebesar Rp100 juta per tahun. atau PDRB. pajak dikatakan tidak baik. Dalam konteks ini. yaitu dalam konteks hubungan pembebanan pajak berdasarkan sumber pendapatan. Dengan konsep keadilan horisontal seperti ini. maka dengan sendirinya pajak juga harus meningkat. Pembebanan pajak harus adil antarpenduduk di berbagai daerah. dan dasar pengenaan pajaknya berkembang secara otomatis. pelayanan memuaskan bagi si wajib pajak. Kedua. Sedangkan. adalah keadilan. maka diharapkan tidak ada penduduk yang yang kebal pajak. yakni persentase pendapatan yang dibayarkan untuk pajak berkurang dengan adanya kenaikan pendapatan. Keadilan memiliki tiga dimensi. Kriteria kedua. Maksudnya adalah seseorang yang memiliki jumlah pendapatan yang sama. administrasi pemungutan pajak harus sederhana. Ketiga. seharusnya dikenakan pajak dalam jumlah yang sama. apabila harga-harga meningkat. . yakni persentase pendapatan seseorang yang dibayarkan untuk pajak bertambah sesuai dengan tingkat pendapatannya. mudah dihitung. penduduk di suatu daerah meningkat. Pertama. Kedua. Pertama. Dalam hubungan ini. Elastisitas juga dengan mudah dapat diukur dengan membandingkan hasil penerimaan selama beberapa tahun dengan perubahan dalam indeks harga. pemerataan secara vertikal. pertumbuhan potensi dari dasar pengenaan pajak itu sendiri. dan pendapatan individu meningkat. Untuk menilai suatu pajak agar dapat memenuhi tuntutan keadilan dan pemerataan. Prinsip keadilan ini adalah bahwa beban pengeluaran pemerintah haruslah dipikul oleh semua golongan dalam masyarakat sesuai dengan kekayaan dan kesanggupan masing-masing golongan. Seseorang seharusnya tidak dibebani pajak lebih berat hanya karena mereka tinggal di suatu daerah tertentu. Petani yang memiliki pendapatan Rp100 juta per tahun. jika pajak tersebut bersifat regresif. yaitu dalam hubungan pembebanan pajak atas tingkat pendapatan yang berbeda-beda.

398 Bab 19: Perpajakan Daerah Kriteria keempat. Artinya. sehingga timbul motivasi dan kesadaran pribadi untuk membayar pajak. § Tax base-nya harus merupakan perpaduan antara prinsip keuntungan (benefit) dan kemampuan untuk membayar (ability to pay). adalah sebagai berikut: § Pajak daerah secara ekonomis dapat dipungut. maka perpajakan daerah harus memiliki ciri-ciri tertentu. Dengan adanya UU No. maka diharapkan pajak pun dapat secara politis diterima oleh masyarakat. memutuskan siapa yang harus membayar dan bagaimana pajak tersebut ditetapkan. Sidik (2002) menambahkan bahwa selain keempat kriteria yang ditetapkan Davey (1983) di atas. Semua orang pada dasarnya ingin menolak membayar pajak. § Relatif stabil. Bahkan. Namun demikian. berarti perbandingan antara penerimaan pajak harus lebih besar dibandingkan ongkos pemungutannya. kadang-kadang meningkat secara drastis dan adakalanya menurun secara tajam. terutama kaitannya dengan pelaksanaan otonomi daerah. jangan sampai suatu pajak atau pungutan menimbulkan beban tambahan (extra burden) yang berlebihan. Dalam kondisi seperti ini. khususnya yang terjadi di banyak negara sedang berkembang. Dengan adanya kemauan politik seperti ini. Dalam konteks Indonesia.18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. 34 Tahun 2000 tentang perubahan atas UU No. 34 Tahun 2000 ini diharapkan pajak daerah tidak menimbulkan beban tambahan bagi masyarakat. lebih tidak populer dibandingkan jenis pajak yang lain. Dalam konteks Indonesia. Pada dasarnya setiap pajak atau pungutan akan menimbulkan suatu beban baik bagi konsumen maupun produsen. adalah adanya kesepakatan politik. kriteria non distorsi terhadap perekonomian merupakan alasan keluarnya UU No. dan memaksakan sanksi terhadap para pelanggar. kalau diperbolehkan. Adapun ciri-ciri dimaksud. implikasi pajak atau pungutan yang hanya menimbulkan pengaruh minimal terhadap perekonomian. sehingga akan merugikan masyarakat secara menyeluruh (dead-weight loss). menetapkan struktur tarif. Tidak ada pajak yang populer. pajak daerah juga harus memenuhi kriteria non distorsi terhadap perekonomian. kemauan politik diperlukan dalam mengenakan pajak. maka pemberian kewenangan untuk mengadakan pemungutan pajak . dalam beberapa jenis pajak. artinya penerimaan pajaknya tidak berfluktuasi terlalu besar. memungut pajak secara fisik. CIRI-CIRI TERTENTU SUATU PAJAK DAERAH Untuk mempertahankan prinsip-prinsip pajak daerah tersebut di atas.

fungsi regulator yaitu bila pajak dipergunakan sebagai alat mengatur untuk mencapai tujuan. Sementara. Untuk alasan ini pajak konsumsi di banyak negara yang diserahkan kepada daerah hanya karena pertimbangan wilayah daerah yang cukup luas (seperti propinsi di Canada). propinsi dan kabupaten/kota. seyogyanya. pajak ekspor dimaksudkan untuk mengekang pertumbuhan ekspor komoditi tertentu dalam rangka menghindari kelangkaan produk tersebut di dalam negeri. Untuk itu. Sebaliknya. beberapa kriteria dan pertimbangan yang diperlukan dalam pemberian kewenangan perpajakan kepada tingkat pemerintahan pusat. Menurut Teresa Ter-Minassian (1997). basis pajak yang “mobile” merupakan persyaratan utama untuk mempertahankan di tingkat pemerintah yang lebih tinggi (pusat/propinsi). Basis pajak yang distribusinya sangat timpang antar daerah. juga harus mempertimbangkan ketepatan suatu pajak sebagai pajak daerah. objek dan subjek pajak dan besarnya . 3. Pajak daerah yang baik merupakan pajak yang akan mendukung pemberian kewenangan kepada daerah dalam rangka pembiayaan desentralisasi.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 399 selain mempertimbangkan kriteria-kriteria perpajakan yang berlaku secara umum. basis pajak yang tidak terlalu “mobile” akan mempermudah daerah untuk menetapkan tarif pajak yang berbeda sebagai cerminan dari kemampuan masyarakat. pemerintah daerah dalam melakukan pungutan pajak harus tetap “menempatkan” sesuai dengan fungsinya. Basis pajak yang diserahkan kepada daerah seharusnya tidak terlalu “mobile”. Pajak daerah seharusnya “visible”. seharusnya diserahkan kepada pemerintah pusat. yaitu: 1. Dengan demikian. Adapun fungsi pajak dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua). 4. yaitu: fungsi budgeter dan fungsi regulator. Pajak yang dimaksudkan untuk tujuan stabilisasi ekonomi dan cocok untuk tujuan distribusi pendapatan seharusnya tetap menjadi tanggung jawab Pemerintah Pusat. dalam arti bahwa pajak seharusnya jelas bagi pembayar pajak daerah. Pajak daerah yang sangat “mobile” akan mendorong pembayar pajak merelokasi usahanya dari daerah yang beban pajaknya tinggi ke daerah yang beban pajaknya rendah. 2. misalnya: pajak minuman keras dimaksudkan agar rakyat menghindari atau mengurangi konsumsi minuman keras. Fungsi budgeter yaitu bila pajak sebagai alat untuk mengisi kas negara (daerah) yang digunakan untuk membiayai kegiatan pemerintahan dan pembangunan.

Pajak daerah seharusnya tidak dapat dibebankan kepada penduduk daerah lain. harus elastis sepanjang waktu dan seharusnya tidak terlalu berfluktuasi. Formulasi model ini dikenal sebagai Model Leviathan. idealnya. Model Leviathan Tarif Pajak Daerah Kurva Laffer t* . Hasil penerimaan. karena akan memperlemah hubungan antar pembayar pajak dengan pelayanan yang diterima (pajak adalah fungsi dari pelayanan). Pemerintah daerah cenderung untuk menggunakan tarif yang tinggi agar diperoleh total penerimaan pajak daerah yang maksimal. seperti identifikasi jumlah pembayar pajak. pajak terutang dapat dengan mudah dihitung sehingga dapat mendorong akuntabilitas daerah. Pengenaan tarif pajak yang lebih tinggi. namun penyerahan kewenangan pemungutannya kepada daerah akan tepat sepanjang manfaatnya dapat dilokalisasi bagi pembayar pajak lokal. Model Leviathan Penggalian sumber-sumber keuangan daerah khususnya yang berasal dari pajak daerah pada dasarnya perlu memperhatikan 2 (dua) hal. penegakkan hukum (law-enforcement) dan komputerisasi.400 Bab 19: Perpajakan Daerah 5. 6. Pajak daerah seharusnya dapat menjadi sumber penerimaan yang memadai untuk menghindari ketimpangan fiskal vertikal yang besar. 7. Hal ini tergantung pada respons wajib pajak. secara teoritis tidak selalu menghasilkan total penerimaan maksimum. yaitu : (i) dasar pengenaan pajak dan (ii) tarif pajak. permintaan dan penawaran barang yang dikenakan tarif pajak lebih tinggi. Pajak dan retribusi berdasarkan prinsip manfaat dapat digunakan secukupnya pada semua tingkat pemerintahan. Pajak yang diserahkan kepada daerah seharusnya relatif mudah diadministrasikan atau dengan kata lain perlu pertimbangan efisiensi secara ekonomi berkaitan dengan kebutuhan data. 8.

dan hanya kegiatan ekonomi saja yang dipengaruhi oleh besaran pajak. Bentuk kurva (“Laffer”) yang berbentuk parabola menghadap sumbu Y (tarif pajak). tetapi dengan pengenaan tarif pajak yang lebih rendah dikombinasikan dengan struktur pajak yang meminimalkan penghindaran pajak dan respon harga dan kuantitas barang terhadap pengenaan pajak sedemikian rupa. Pada kondisi ini dikenal sebagai revenue maximizing tax rate. Model Leviathan akan mencapai total penerimaan pajak maksimum (T*) pada tarif t*.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 401 Gambar 19. Model Leviathan ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa peningkatan penerimaan pajak daerah tidak harus dicapai dengan mengenakan tarif pajak yang terlalu tinggi. Gambar 19. maka Gambar 19. menghasilkan Total Penerimaan Pajak Maksimum yang ditentukan oleh kemampuan wajib pajak untuk menghindari beban pajak baik legal maupun illegal dengan mengubah “economic behavior” dari wajib pajak. Model Leviathan ini dapat dikembangkan untuk menganalisis hubungan lebih lanjut antara tarif dan dasar pengenaan pajak untuk mencapai total penerimaan pajak maksimal. Pada tarif t*.1 Dengan asumsi bahwa biaya administrasi perpajakan dianggap tidak signifikan dan ceteris-paribus level pelayanan publik yang dibiayai dari penerimaan pajak. tetapi dapat dicapai total penerimaan pajak maksimum. menunjukkan bukanlah tarif tertinggi.1 ini juga mengasumsikan bahwa penyesuaian wajib pajak terhadap pengenaan tarif pajak tertentu adalah independen terhadap jenis pajak dan tarif pajak lainnya.1 di bawah ini menunjukkan hubungan antara tarif pajak proporsional atas basis pajak tertentu. maka akan dicapai total penerimaan maksimum. Ketentuan Mengenai Pungutan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah .

dalam perkembangannya. diharapkan pajak daerah dan retribusi daerah akan menjadi salah satu PAD yang penting guna membiayai penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah. 25/1999. Berkaitan dengan besarnya tarif. terutama sejak tahun 1997 dengan dikeluarkannya UU No. UU No. pengaturan agar Peraturan Daerah (Perda) tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah harus mendapat pengesahan dari pusat juga dianggap telah mengurangi otonomi daerah. dan hanya dapat menambah jenis retribusi lainnya sesuai dengan kriteria yang ditetapkan dalam UU. Dalam UU No.402 Bab 19: Perpajakan Daerah Pengaturan kewenangan pengenaan pemungutan pajak daerah dan retribusi daerah di Indoneia telah diatur sejak lama. berlaku definitif untuk pajak propinsi yang . Adanya pembatasan jenis pajak yang dapat dipungut oleh propinsi terkait dengan kewenangan propinsi sebagai daerah otonom yang terbatas yang hanya meliputi kewenangan dalam bidang pemerintahan yang bersifat lintas daerah kabupaten/kota dan kewenangan yang tidak atau belum dapat dilaksanakan daerah kabupaten/kota. yaitu PP No.18 Tahun 1997 menjadi UU No.18 Tahun 1997 dianggap kurang memberikan peluang kepada daerah untuk mengadakan pungutan baru. serta kewenangan bidang pemerintahan tertentu. maka UU No. Namun demikian. (iii) Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB). Jenis pajak propinsi bersifat limitatif yang berarti propinsi tidak dapat memungut pajak lain selain yang telah ditetapkan. Selain itu. Jenis-Jenis Pajak Daerah Propinsi Pajak propinsi ditetapkan sebanyak 4 (empat) jenis pajak.34 Tahun 2000.34 Tahun 2000. yaitu : (i) Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air (PKB & KAA).34 Tahun 2000 dan PP pendukungnya. (iv) Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan (P3ABT & AP). 18 Tahun 1997 berlaku belum ada satu pun daerah yang mengusulkan pungutan baru karena dianggap hal tersebut sulit dilakukan.66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah menjelaskan perbedaan antara jenis pajak daerah yang dipungut oleh propinsi dan jenis pajak yang dipungut oleh kabupaten/kota. namun harus ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah (PP). Sehingga pada waktu UU No.18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Dengan diubahnya UU No. 22/1999 dan UU No. (ii) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air (BBNKB & KAA).65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah dan PP No. Namun. Seiring dengan keluarnya UU No. Walaupun dalam UU tersebut sebenarnya memberikan kewenangan kepada daerah.18 Tahun 1997 diubah dengan UU No. dalam pelaksanaannya propinsi dapat tidak memungut jenis pajak yang telah ditetapkan tersebut jika dipandang hasilnya kurang memadai.

34 Tahun 2000. (iv) pajak reklame. Kriteria dimaksud (Pasal 2 ayat 4): a. Potensinya memadai. yaitu : (i) pajak hotel. (vii) pajak parkir. Objek pajak bukan merupakan objek pajak propinsi dan/atau objek pajak pusat. dengan menetapkan sendiri jenis pajak yang bersifat spesifik dengan memperhatikan kriteria yang ditetapkan dalam UU tersebut. (v) pajak penerangan jalan. c. h. (ii) pajak restoran. e. Objek dan dasar pengenaan pajak tidak bertentangan dengan kepentingan umum.65 Tahun 2001. f. Ketentuan Mengenai Bagi Peruntukannya (Pasal 2a) Hasil Pajak Propinsi Dan Hasil penerimaan pajak propinsi sebagian diperuntukkan bagi daerah kabupaten/kota di wilayah propinsi yang bersangkutan dengan ketentuan sebagai berikut: a. b. artinya kabupaten/kota diberi peluang untuk menggali potensi sumber-sumber keuangannya selain yang ditetapkan secara eksplisit dalam UU No. Jenis pajak kabupaten/kota tidak bersifat limitatif. d. (vi) pajak pengambilan bahan galian golongan C. Jenis-Jenis Pajak Daerah Kabupaten Pemerintah daerah kabupaten/kota diberi kewenangan untuk memungut 7 (tujuh) jenis pajak (Pasal 2 ayat 2). Objek pajak terletak atau terdapat di wilayah daerah kabupaten/kota yang bersangkutan dan mempunyai mobilitas yang cukup rendah serta hanya melayani masyarakat di wilayah daerah kabupaten/kota yang bersangkutan. Menjaga kelestarian lingkungan.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 403 ditetapkan secara seragam di seluruh Indonesia dan diatur dalam PP No. Hasil penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air . Bersifat pajak dan bukan retribusi. Memperhatikan aspek keadilan dan kemampuan masyarakat. g. Tidak memberikan dampak ekonomi yang negatif. (iii) pajak hiburan.

Penggunaan bagian daerah kabupaten/kota ditetapkan sepenuhnya oleh daerah kabupaten/kota. b. Hasil penerimaan pajak kabupaten diperuntukkan paling sedikit 10% (sepuluh persen) bagi desa di wilayah daerah kabupaten yang bersangkutan. Sedangkan ketentuan mengenai realokasi dilakukan oleh gubernur atas dasar kesepakatan yang dicapai antar daerah kabupaten/kota yang terkait dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten/kota yang bersangkutan. gubernur berwenang merealokasikan hasil penerimaan pajak tersebut kepada daerah kabupaten/kota dalam propinsi yang bersangkutan. Bagian desa ditetapkan dengan peraturan daerah kabupaten dengan memperhatikan aspek pemerataan dan potensi antar desa. Dalam hal hasil penerimaan pajak kabupaten/kota dalam suatu propinsi terkonsentrasi pada sejumlah kecil daerah kabupaten/kota. Bagian daerah kabupaten/kota ditetapkan lebih lanjut dengan peraturan daerah propinsi dengan memperhatikan aspek pemerataan dan potensi antar daerah kabupaten/kota. Dalam hal objek pajak kabupaten/kota dalam satu propinsi yang bersifat lintas daerah kabupaten/kota. namun tidak boleh lebih tinggi dari tarif maksimum yang telah ditentukan dalam UU tersebut. Hasil penerimaan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor diserahkan kepada daerah kabupaten/kota paling sedikit 70% (tujuh puluh persen). c. Disebutkan dalam UU No. 34/2000 Pasal 3 ayat (1).404 Bab 19: Perpajakan Daerah diserahkan kepada daerah kabupaten/kota paling sedikit 30% (tiga puluh persen). gubernur berwenang untuk merealokasikan hasil penerimaan pajak tersebut kepada daerah kabupaten/kota yang terkait. . Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air 5% (lima persen). tarif jenis pajak ditetapkan paling tinggi sebesar: a. Hasil penerimaan Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan diserahkan kepada daerah kabupaten/kota paling sedikit 70% (tujuh puluh persen). TARIF PAJAK PROPINSI DAN KABUPATEN/KOTA Besarnya tarif yang berlaku definitif untuk pajak propinsi dan kabupaten/kota ditetapkan dengan peraturan daerah. Dengan adanya pemisahan jenis pajak yang dipungut oleh propinsi dan yang dipungut oleh kabupaten/kota diharapkan tidak adanya pengenaan pajak berganda.

Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 405 b. Untuk mengantisipasi desentralisasi dan proses otonomi daerah. h. melihat kriteria pengadaan pajak baru sangat ketat. i. c. Pajak Penerangan Jalan 10% (sepuluh persen). j. terutama hal ini disebabkan oleh: • Relatif rendahnya basis pajak dan retribusi daerah. diperkirakan daerah memiliki basis 1 Laporan Studi Dampak Krisis Ekonomi Terhadap Keuangan Daerah di Indonesia. RTI1 bahwa banyak permasalahan yang terjadi di daerah berkaitan dengan penggalian dan peningkatan PAD.34 Tahun 2000 daerah kabupaten/kota dimungkinkan untuk menetapkan jenis pajak dan retribusi baru. Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C 20% (dua puluh persen). g. bupaten/Kota Peranan Pajak Daerah Dan Mendukung Pembiayaan Daerah Retribusi Daerah dalam Pajak daerah dan retribusi daerah merupakan salah satu bentuk peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan otonomi daerah. Jakarta. 1999. Permasalahan yang dihadapi oleh daerah terkait penggalian sumber-sumber pajak daerah dan retribusi daerah. RTI. Namun. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air 10% (sepuluh persen). Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan 20% (dua puluh persen). Pajak daerah dan retribusi daerah merupakan sumber pendapatan daerah yang penting untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah. Pajak Restoran 10% (sepuluh persen). Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor 5% (lima persen). Berdasarkan UU No. Pajak Parkir 20% (dua puluh persen). tampaknya pungutan pajak dan retribusi daerah masih belum dapat diandalkan oleh daerah sebagai sumber pembiayaan desentralisasi. sebagai salah satu komponen dari PAD. e. Pajak Reklame 25 % (dua puluh lima persen). Pajak Hiburan 35% (tiga puluh lima persen). f. k. khususnya kriteria pajak daerah tidak boleh tumpang tindih dengan pajak pusat dan pajak propinsi. Pajak Hotel 10% (sepuluh persen). d. . adalah belum memberikan kontribusi yang signifikan terhadap penerimaan daerah secara keseluruhan. Keadaan ini diperlihatkan dalam suatu studi yang dilakukan oleh LPEM-UI bekerjasama dengan Clean Urban Project. LPEM Universitas Indonsia bekerjasama dengan Clean Urban Project.

dan lebih mengandalkan kemampuan “negosiasi” daerah terhadap pusat untuk memperoleh tambahan bantuan. banyaknya bantuan dan subsidi ini mengurangi “usaha” daerah dalam pemungutan PAD-nya. . distribusi pajak antar daerah juga sangat timpang karena basis pajak antar daerah sangat bervariasi (ratio PAD tertinggi dengan terendah mencapai 600). Demikian pula. Buoyancy adalah perbandingan persentase perubahan penerimaan pajak terhadap persentase perubahan pendapatan nasional. • Kemampuan administrasi pemungutan di daerah yang masih rendah. Hal ini mengakibatkan bahwa pemungutan pajak cenderung dibebani oleh biaya pungut yang besar. Sebagian besar penerimaan daerah masih berasal dari bantuan pusat. Sebagian besar daerah propinsi hanya dapat membiayai kebutuhan pengeluarannya kurang dari 10%3. Hal ini mengakibatkan kebocoran-kebocoran yang sangat berarti bagi daerah. • Perannya yang tergolong kecil dalam total penerimaan daerah. Dengan kata lain. serta sifatnya bervariasi antar daerah. Variasi dalam penerimaan ini diperparah lagi dengan sistem bagi hasil (bagi hasil didasarkan pada daerah penghasil sehingga hanya menguntungkan daerah tertentu). Dari segi upaya pemungutan pajak. beberapa daerah lebih condong memenuhi target tersebut. Rendahnya basis pajak ini bagi sementara daerah berarti memperkecil kemampuan manuver keuangan daerah dalam menghadapi krisis ekonomi. dan kemampuan masyarakat. peranan PAD dalam membiayai kebutuhan pengeluaran daerah sangat kecil dan bervariasi antar daerah yaitu kurang dari 10% hingga 50%. • Kemampuan perencanaan dan pengawasan keuangan yang lemah. Sebagai akibatnya. walaupun dari sisi pertumbuhan ekonomi sebenarnya pemasukkan pajak dan retribusi daerah dapat melampaui target yang ditetapkan. 3 2 Nota Keuangan dan RAPBN Tahun Anggaran 2001.406 Bab 19: Perpajakan Daerah pungutan yang relatif rendah dan terbatas. sehingga mengakibatkan biaya penyediaan pelayanan kepada masyarakat sangat bervariasi. buoyancy adalah elastisitas penerimaan perpajakan terhadap PDB yang menunjukkan berapa persen perubahan penerimaan perpajakan apabila PDB berubah 1%. Peranan pajak dan retribusi daerah dalam pembiayaan yang sangat rendah dan bervariasi juga terjadi karena adanya perbedaan yang sangat besar dalam jumlah penduduk. PAD masih tergolong memiliki tingkat buoyancy2 yang rendah. Selama ini. Salah satu sebabnya adalah diterapkan sistem “target” dalam pungutan daerah. keadaan geografis (berdampak pada biaya yang relatif mahal).

bahwa beban pengeluaran pemerintah haruslah dipikul oleh semua golongan dalam masyarakat sesuai dengan kekayaan dan kesanggupan masing-masing golongan. (2) Pemerintah daerah dapat memungut tambahan pajak (opsen.34 Tahun 2000. yaitu jumlah penerimaan pajak yang dipungut oleh daerah hanya sebesar 3. Keadilan memiliki tiga dimensi: (a) pemerataan vertikal. Elastisitas adalah kemampuan untuk menghasilkan tambahan pendapatan agar dapat menutup tuntutan yang sama atas kenaikan pengeluaran pemerintah daerah dan dasar pengenaan pajaknya berkembang secara otomatis. Kenyataan selama ini menunjukkan bahwa distribusi kewenangan perpajakan antara daerah dan pusat sangat timpang. (3) Pungutan-pungutan yang dikumpulkan dan ditahan oleh pemerintah daerah sendiri yang diatur dalam UU No.cit.4 Ketimpangan dalam penguasaaan sumber-sumber penerimaan pajak tersebut memberikan petunjuk bahwa perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah di Indonesia dari sisi revenue assignment masih terlalu ”sentralistis”. (3) kemampuan administratif. § Kriteria perpajakan daerah antara lain: (1) kecukupan dan elastisitas. 2002. RANGKUMAN § Pemerintah daerah dapat memperoleh pendapatan dari perpajakan dengan cara: (1) melalui pembagian hasil pajak-pajak (revenue sharing) yang dikenakan dan dipungut oleh pemerintah pusat.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 407 Tidak signifikannya peran PAD dalam anggaran daerah tidak lepas dari ‘sistem tax assignment’ di Indonesia yang masih memberikan kewenangan penuh kepada pemerintah pusat untuk mengumpulkan pajak-pajak potensial (yang tentunya dilakukan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu).25/1999. (2) pemerataan/ keadilan. hal. op. § Pemerataan/keadilan. . dalam hubungan pembebanan pajak atas 4 Machfud Sidik.39% dari total penerimaan pajak (pajak pusat dan pajak daerah). surchage) di atas suatu pajak yang dipungut dan dikumpulkan oleh pemerintah pusat. seperti: pajak penghasilan. 8. PBB. dan BPHTB menurut UU No. dan (4) dapat diterima secara politik. pajak pertambahan nilai dan bea masuk. yaitu PPh. § Kecukupan maksudnya bahwa sumber pendapatan tersebut harus menghasilkan pendapatan yang besar dalam kaitannya dengan seluruh atau sebagian biaya pelayanan yang akan dikeluarkan.

Fungsi pajak dapat dikelompokkan menjadi dua: (1) fungsi budgeter. Pajak daerah yang baik merupakan pajak yang akan mendukung pemberian kewenangan kepada daerah dalam rangka pembiayaan desentralisasi. pajak sebagai alat untuk mengisi kas negara (daerah) yang digunakan untuk membiayai kegiatan pemerintahan dan pembangunan. pajak daerah juga harus memenuhi kriteria nondistorsi terhadap perekonomian. (c) keadilan geografis. misalnya pajak minuman keras untuk mengurangi konsumsi minuman keras. (3) basis pajak yang distribusinya sangat timpang antar daerah dipertahankan di pemerintah pusat. (2) fungsi regulator. pembebanan pajak harus adil antar penduduk di berbagai daerah. Kriteria dan pertimbangan dalam pemberian kewenangan perpajakan kepada tingkat pemerintahan pusat/propinsi dan kabupaten/kota menurut Tersa Ter-Minassian. menetapkan struktur tarif. (c) tax base-nya harus merupakan perpaduan antara prinsip keuntungan (benefit) dan kemampuan untuk membayar (ability to pay). timbul motivasi dan kesadaran pribadi untuk membayar pajak. untuk memunculkan kemauan politik yang diperlukan dalam mengenakan pajak. Pajak yang baik adalah pajak yang bersifat progresif dan pajak yang tidak baik bersifat regresif. Adanya kesepakatan politik. dalam konteks hubungan pajak berdasarkan sumber pendapatan. Artinya. berarti perbandingan antara penerimaan pajak harus lebih besar dibandingkan ongkos pemungutannya. (4) pajak daerah bersifat “visible” jelas bagi pembayar . Selain empat kriteria. yaitu: (1) pajak yang ditujukan untuk stabilisasi ekonomi dan distribusi pendapatan menjadi tanggung jawab pemerintah pusat. (b) pemerataan horisontal. basis pajak yang diserahkan kepada daerah tidak terlalu “mobile” sehingga mempermudah daerah untuk menetapkan tarif pajak yang berbeda sebagai cerminan dari kemampuan masyarakat. Ciri-ciri tertentu suatu pajak daerah. artinya penerimaan pajaknya tidak berfluktuasi terlalu besar. pelayanan memuaskan bagi si wajib pajak. dan memaksakan sanksi terhadap para pelanggar. pajak sebagai alat pengatur untuk mencapai tujuan. memutuskan siapa yang harus membayar dan bagaimana pajak tersebut diterapkan. (2) pajak yang terlalu “mobile” dipertahankan di pemerintah yang lebih tinggi. antara lain: (a) secara ekonomis dapat dipungut. Dengan kemauan politik.408 Bab 19: Perpajakan Daerah § § § § § § § tingkat pendapatan yang berbeda-beda. mudah dihitung. (b) relatif stabil. memungut pajak secara fisik. implikasi pajak atau pungutan yang hanya menimbulkan pengaruh minimal terhadap perekonomian. Kemampuan administratif berarti administrasi pemungutan pajak harus sederhana.

(7) pajak daerah harusnya relatif mudah diadministrasikan.65 Tahun 2001. 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah menjelaskan perbedaan antara jenis pajak daerah yang dipungut oleh propinsi dan kabupaten/kota. (6) pajak pengambilan bahan galian golongan C. yaitu: (a) Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air. Pajak propinsi bersifat limitatif yang berarti tidak dapat memungut pajak lain selain yang telah ditetapkan dan hanya dapat menambah jenis retribusi lainnya sesuai dengan kriteria yang ditetapkan dalam UU. subjek pajak dan besarnya pajak terutang dapat dengan mudah dihitung. Pajak daerah kabupaten/kota terdiri atas tujuh jenis pajak. maka akan dicapai total penerimaan maksimum. 34 Tahun 2000. (5) pajak penerangan jalan. (2) pajak restoran. (c) Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 409 § § § § § § pajak. menunjukkan bahwa peningkatan penerimaan pajak daerah tidak harus dicapai dengan mengenakan tarif pajak yang terlalu tinggi.34 Tahun 2000 dan PP pendukungnya yaitu PP No. 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah dan PP No. (8) pajak dan retribusi berdasarkan prinsip manfaat dapat digunakan pada semua tingkat pemerintahan. (5) pajak daerah tidak dapat dibebankan kepada penduduk daerah lain. Dalam UU No. yaitu: (1) pajak hotel. Pajak propinsi terdiri atas empat jenis. yaitu objek. Berkaitan dengan besarnya tarif. tetapi dengan pengenaan tarif pajak yang lebih rendah dikombinasikan dengan struktur pajak yang meminimalkan penghindaran pajak dan respon harga dan kuantitas barang terhadap penggunaan pajak sedemikian rupa. Model Leviathan yang menganalisis hubungan lebih lanjut antara tarif dan dasar pengenaan pajak dengan penerimaan total maksimum. yaitu diberi peluang untuk menggali potensi sumber-sumber keuangannya selain yang ditetapkan secara eksplisit dalam UU No. Pajak kabupaten/kota tidak bersifat limitatif. (3) pajak hiburan. dengan menetapkan sendiri . (4) pajak reklame. berlaku definitif untuk pajak propinsi yang ditetapkan secara seragam di seluruh Indonesia dan diatur dalam PP No. (d) Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan. dan (7) pajak parkir. Penggalian sumber-sumber keuangan daerah yang berasal dari pajak daerah perlu memperhatikan dasar pengenaan pajak dan tarif pajak. (6) pajak daerah dapat menjadi sumber penerimaan yang memadai untuk menghindari ketimpangan fiskal vertikal yang besar. (b) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air.

tarif pajak propinsi dan kabupaten/kota ditetapkan paling tinggi sebesar: (a) Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air 5% (lima persen). (e) Pajak Hotel 10% (sepuluh persen). (c) hasil penerimaan Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan diserahkan kepada kabupaten/kota paling sedikit 70%. Hasil penerimaan pajak kabupaten/kota diperuntukkan paling sedikit 10% bagi desa di wilayah kabupaten/kota. (f) Pajak Restoran 10% (sepuluh persen). Gubernur berwenang untuk merealokasikan hasil penerimaan pajak jika penerimaan terkonsentrasi pada sejumlah kecil daerah saja. (k) Pajak Parkir 20% (dua puluh persen). pelaksanaannya belum memberikan kontribusi yang signifikan terhadap penerimaan daerah secara keseluruhan. Namun. (b) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air 10% (sepuluh persen). (j) Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C 20% (dua puluh persen). (c) Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor 5% (lima persen).410 Bab 19: Perpajakan Daerah § § § § § jenis pajak yang bersifat spesifik dengan memperhatikan kriteria sebagai berikut: (a) bersifat pajak dan bukan retribusi. (e) potensinya memadai. disebabkan oleh: (a) relatif rendahnya basis pajak dan . Permasalahan yang terjadi di daerah berkaitan dengan penggalian dan peningkatan PAD. (g) memperhatikan aspek keadilan dan kemampuan masyarakat. (d) Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan 20% (dua puluh persen). (d) objek pajak bukan merupakan objek pajak propinsi dan atau pajak pusat. (g) Pajak Hiburan 35% (tiga puluh lima persen). Menurut UU No. (f) tidak memberikan dampak ekonomi yang negatif. (i) Pajak Penerangan Jalan 10% (sepuluh persen). (h) Pajak Reklame 25% (dua puluh lima persen). (b) objek pajak terletak di wilayah daerah kabupaten/kota dan mempunyai mobilitas yang cukup rendah serta hanya melayani masyarakat di wilayah yang bersangkutan. (c) objek dan dasar pengenaan pajak tidak bertentangan dengan kepentingan umum. sebagai berikut: (a) hasil penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air diserahkan pada kabupaten/kota paling sedikit 30%. (h) menjaga kelestarian lingkungan. Ketentuan mengenai bagi hasil pajak propinsi dan peruntukannya.34/2000 . Pajak daerah dan retribusi daerah merupakan salah satu bentuk peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan otonomi daerah sebagai salah satu komponen PAD. (b) hasil penerimaan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor diserahkan kepada kabupaten/kota paling sedikit 70%.

jelaskan yang dimaksud dengan : a. Mengapa terdapat banyak permasalahan yang terjadi di daerah berkaitan dengan penggalian Pendapatan Asli Daerah (PAD) ? 7. Berdasarkan model Leviathan. Jelaskan yang dimaksud dengan opsen ? 8. LATIHAN 1. Fungsi Budgetair . (c) kemampuan administrasi pemungutan di daerah yang masih rendah. Sebutkan empat kriteria perpajakan daerah ! 4. 34 tahun 2000 ! 5. (d) kemampuan perencanaan dan pengawasan keuangan yang lemah. Jelaskan fungsi pajak sebagai : a. pemerataan secara vertical b. keadilan geografis 3. Apa yang dimaksud dengan kriteria non distorsi terhadap perekonomian. Sebutkan ciri-ciri tertentu yang dimiliki suatu pajak daerah khususnya di negara yang sedang berkembang ? 10. Jelaskan dua dimensi dari elastisitas sehubungan dengan pajak ? 9. Berdasarkan prinsip keadilan dari perpajakan daerah.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 411 retribusi daerah. Ketimpangan dalam penguasaan sumber-sumber penerimaan pajak tersebut memberikan petunjuk bahwa perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah di Indonesia masih “sentralistis”. mengapa total penerimaan pajak maksimum bukan pada saat tarif tertinggi? 6. pemerataan secara horizontal c. Sebutkan dua cara pemerintah daerah memperoleh pendapatan dari perpajakan di Indonesia ! 2. (b) perannya yang tergolong kecil dalam total penerimaan daerah. § Peran PAD yang tidak signifikan. tidak lepas dari ‘’ tax assignment system” di Indonesia yang masih memberikan kewenangan penuh kepada pemerintah pusat untuk mengumpulkan pajak-pajak potensial. dan apa tujuan dikeluarkannya UU no.

Mengapa peran Pendapatan Asli Daerah (PAD) belum signifikan dalam anggaran daerah ? . Apa yang dimaksud dengan pajak daerah seharusnya visible ? 14. Fungsi Regulator 11. Mengapa basis pajak yang diserahkan kepada daerah seharusnya tidak terlalu mobile ? 12. Bagaimana ketentuan pembagian dari hasil pajak propinsi ? 18.412 Bab 19: Perpajakan Daerah b. Jelaskan dengan singkat pertimbangan yang diperlukan dalam pemebrian kewenangan perpajakan kepada tingkat pemerintahan ? 13. Apa yang dimaksud dengan pajak propinsi bersifat limitatif dan mengapa pajak kabupaten/kota tidak bersifat limitatif ? 15. Sebutkan yang termasuk jenis pajak propinsi ! 16. Sebutkan jenis-jenis pajak daerah kabupaten/kota ! 17.

Hasil dari hutang publik ini akan memainkan peranan yang sangat penting baik sebagai sumber dana pada saat terjadinya pinjaman maupun pada saat kita harus melunasi hutang tersebut. Kegiatan kegiatan ini tentunya perlu ditunjang oleh pengeluaran pengeluaran pemerintah yang pada gilirannya pengeluaran pemerintah itu harus dibiayai dengan penerimaan pemerintah. Penutupan defisit anggaran pemerintah dengan melalui pinjaman baik dari dalam maupun dari luar inilah yang dinamakan pinjaman pemerintah (Mankiw. Untuk menutup defisit anggaran pemerintah ini salah satunya adalah dengan jalan hutang. . Hal yang demikian ini dialami terutama oleh negara negara yang dalam masa berkembang termasuk Indonesia. 2001).HUTANG PUBLIK Sebagaimana telah dijelaskan pada bagian awal bahwa pemerintah harus melakukan berbagai macam kegiatan dalam melaksanakan fungsinya sebagai penyelenggara negara. Adakalanya pada saat tertentu pemerintah akan mengalami defisit anggaran.

diperdagangkan atau tidak diperdagangkan di Pasar Sekunder. Sedangkan dead weight debt merupakan hutang yang tanpa disertai dengan jaminan kekayaan. Tujuan diterbitkannya Surat Utang Negara adalah untuk membiayai defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Pinjaman dalam negeri dapat bersifat paksa maupun bersifat sukarela. Reproductive debt merupakan hutang yang dijamin seluruhnya dengan kekayaan negara yang berhutang atas dasar nilai yang sama besarnya. dalam membiayai pembangunan jenis hutang publik yang dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia adalah Surat Utang Negara (SUN) dan hutang atau pinjaman luar negeri. diperdagangkan atau tidak diperdagangkan di pasar sekunder dan “tanpa warkat” (scripless). Pada bagian berikut. menutup kekurangan kas jangka pendek akibat ketidaksesuaian antara arus kas penerimaan dan pengeluaran dari rekening kas negara dalam satu tahun anggaran dan mengelola portofolio utang negara. Kewenangan penerbitan Surat Utang Negara berada pada pemerintah yang diwakili oleh Menteri Keuangan dengan melakukan konsultasi dengan Bank Indonesia dan terlebih dahulu harus mendapat persetujuan DPR. Surat Utang Negara diterbitkan dalam bentuk “warkat”. terkecuali bila ada suatu kekuasaan dari suatu negara atas negara lain. SURAT UTANG NEGARA (SUN) Pengertian Surat Utang Negara diatur berdasarkan Undang-Undang No. Surat Utang Negara terdiri dari surat perbendaharaan negara berjangka waktu sampai dengan 12 (dua belas) bulan dengan pembayaran bunga secara diskonto dan obligasi negara berjangka waktu lebih dari 12 (dua belas) bulan dengan kupon dan/atau dengan pembayaran bunga secara diskonto. sedangkan pinjaman luar negeri biasanya bersifat sukarela. Persetujuan akan diberikan oleh DPR dengan catatan bahwa . Pinjaman dalam negeri adalah pinjaman yang berasal dari orang-orang atau lembaga-lembaga yang ada dalam negara itu sendiri. Pinjaman luar negeri adalah pinjaman yang berasal dari orang-orang atau lembaga-lembaga negara lain. akan dibahas mengenai kedua jenis hutang tersebut.414 Bab 20: Hutang Publik Hutang negara seringkali dibedakan menjadi dua yakni “reproductive debt” dan “dead weight debt”. Pada pelaksanaannya. Pembedaan jenis pinjaman yang lain adalah antara pinjaman dalam negeri dan pinjaman luar negeri (internal debt dan external debt). 24/2002. Pengertian Surat Utang Negara adalah surat berharga yang berupa surat pengakuan utang dalam mata uang rupiah maupun valuta asing yang dijamin pembayaran bunga dan pokoknya oleh negara Republik Indonesia sesuai dengan masa berlakunya.

Menteri Keuangan akan menunjuk Bank Indonesia sebagai agen pelaksana lelang surat perbendaharaan negara di pasar perdana (Auction Agent). serta agen pembayar bunga dan pokok Surat Utang Negara dilakukan oleh Bank Indonesia. serta agen pembayar bunga dan pokok surat utang negara dilaksanakan oleh Bank Indonesia (Central Registry). Menteri Keuangan juga dapat menunjuk Bank Indonesia dan atau pihak lain sebagai agen untuk membeli atau menjual Surat Utang Negara di pasar sekunder.001).000.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 415 atas nilai bersih maksimal surat utang negara dalam 1 tahun anggaran dan pada saat pengesahan APBN. perusahaan pialang pasar uang dan perusahaan efek. 502. Penjualan Surat Utang Negara adalah dengan cara peserta lelang mengajukan penawaran pembelian kompetitif dan penawaran pembelian nonkompetitif dalam suatu periode waktu penawaran yang telah ditentukan dan diumumkan sebelumnya. pelunasan surat utang negara (redemption) dan aktivitas lain dalam rangka pengembangan pasar Surat Utang Negara.000. Adapun kegiatan penataausahaan Surat Utang Negara yang mencakup pencatatan kepemilikan. Dengan adanya persetujuan ini maka pemerintah wajib membayar bunga & pokok saat jatuh tempo dengan dana pembayaran bunga dan pokok disediakan di dalam APBN. perencanaan & penetapan struktur portofolio utang negara. PENGELOLAAN SURAT UTANG NEGARA Surat Utang Negara dikelola oleh Menteri Keuangan dan aktivitas pengelolaan tersebut meliputi hal hal yang diantaranya adalah penetapan strategi & kebijakan pengelolaan surat utang negara. Kegiatan penatausahaan yang mencakup pencatatan kepemilikan. 502.003 dan Rek. Di samping itu Menteri Keuangan dapat menunjuk Bank Indonesia sebagai agen pelaksana lelang obligasi negara di pasar perdana. jadwal pelaksanaan lelang. Pengaturan dan pengawasan kegiatan perdagangan Surat . Menteri Keuangan membuka rekening dalam rangka pengelolaan Surat Utang Negara yang merupakan bagian dari rekening kas negara (Rek. Dalam pelaksanaan lelang Surat Utang Negara. Penukaran (debt switching/exchange offer). Peserta lelang Surat Utang Negara adalah bank. Dalam hal ini. Ketentuan mengenai metode lelang. Penawaran Surat Utang Negara dilakukan melalui lelang dan yang ditunjuk sebagai agen lelang Surat Utang Negara yaitu Bank Indonesia. kriteria peserta lelang dan hasil akhir lelang ditetapkan oleh Menteri Keuangan. kliring dan settlemen. pembelian kembali (buyback). kliring dan setlement. penerbitan dan penjualan surat utang negara di pasar perdana melalui lelang dan atau tanpa lelang (issuance).

5%. dan pengalokasiannya disetujui oleh Menko Bidang Perekonomian.416 Bab 20: Hutang Publik Utang Negara dilakukan oleh instansi pemerintah yang melakukan pengaturan dan pengawasan di bidang pasar modal (saat ini Bapepam). dan harus dikembalikan sesuai ketentuan dalam loan agreement. bersifat komersial. sedangkan untuk Export Credit. sebagai bagian dari rangkaian suatu perundingan. prosesnya dimulai dari pertemuan awal dimana akan dilakukan pembicaraan/pembahasan kerjasama antar lembaga/ instansi terkait pada acara kunjungan resmi/tidak resmi. interest rate lebih dari 3. Proses Pelaksanaan Kerjasama Pinjaman Dan Hibah Luar Negeri (PHLN) Dalam pelaksanaan kerjasama PHLN. Ketentuan yang diberlakukan untuk soft loan. Pinjaman ini terdiri dari Soft Loan dan Export Credit. merupakan suku bunga yang umumnya dikenakan bagi pinjaman – pinjaman antar Eurobank . Di samping itu juga akan dilakukan publikasi secara berkala atas informasi kegiatan pengelolaan Surat Utang Negara yang akan dilakukan oleh Menteri Keuangan. record 1 Pengertian Pinjaman Luar Negeri berdasarkan SKB Menteri Keuangan dan Ketua Bappenas No. dan pembayaran angsuran dalam 25 tahun (termasuk grace period).5% dan maksimum LIBOR2 rate.031/KET/5/1995 2 LIBOR (London Interbank Offer Rate). dan kegiatan proyek bersifat non komersial serta telah disetujui oleh CGI. penatausahaan dan pertanggungjawaban atas pengelolaan Surat Utang Negara dan dana yang dikelola dilakukan oleh Menteri Keuangan.1 Kredit/pinjaman merupakan penerimaan negara. Berkaitan dengan akuntabilitas dan transparansinya. Pertanggungjawaban di atas akan disampaikan secara bersamaan dengan pertanggungjawaban pelaksanaan APBN. pemerintah harus menyediakan down payment sebesar 15% dari biaya proyek. HUTANG LUAR NEGERI Pinjaman luar negeri adalah penerimaan negara baik dalam bentuk devisa dan atau devisa yang dirupiahkan. Hasil pertemuan ini kemudian dirangkum dalam catatan pertemuan. grace period 7 tahun. yang diperoleh dari pemberi pinjaman luar negeri (Lender).185/KMK. agreed minutes. dalam bentuk devisa / barang / jasa.03/1995 dan KEP. summary record. dalam bentuk barang dan atau jasa yang diperoleh dari pemberi pinjaman luar negeri yang harus dibayar kembali dengan persyaratan tertentu. interest rate maksimum adalah 3.

Isi perjanjian mencakup hal-hal yang terinci dari suatu kegiatan kerjasama. Isi kesepakatan ini mencakup pokokpokok perjanjian secara umum/garis besar. Naskah ini ditandatangani oleh pejabat lembaga/instansi yang terlibat. namun belum siap untuk merumuskannya secara formal dalam bentuk agreement. dalam batas-batas yang telah disepakati oleh pihak-pihak yang terlibat. atau minutes of meeting. yang menghasilkan komitmen untuk melaksanakan kerjasama dalam bidang tertentu di masa mendatang. yang diajukan dalam bentuk proposal perjanjian pelaksanaan kerjasama pinjaman luar negeri. Tujuannya adalah untuk merealisasikan keinginan bersama yang telah dituangkan dalam LoI. Langkah selanjutnya adalah adanya persetujuan antar pihak. namun tidak mengikat lembaga/instansi tersebut secara keseluruhan. Pertemuan awal ini kemudian dilanjutkan oleh kegiatan “keinginan antar pihak” yang merupakan tindak lanjut dari pertemuan awal. namun belum perlu mendapat persetujuan sekretariat kabinet. yang dapat berfungsi hanya sebagai payung kerjasama. MoU. yang merupakan suatu kesepakatan yuridis antar lembaga/instansi. Draft perjanjian ini kemudian diajukan ke sekretariat kabinet untuk mendapat persetujuan. dengan ruang lingkup bidang kerjasama tertentu/spesifik. Masing-masing pihak berniat untuk menindaklanjuti pembicaraan tentang kerjasama yang pernah didiskusikan sebelumnya. kesepakatan pendahuluan. Catatan di atas sifatnya belum mengikat dan tidak perlu mendapat persetujuan sekretariat kabinet.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 417 of discussion. atau naskah persetujuan. Implementing arrangement dapat mencakup lebih dari satu macam perjanjian pelaksanaan. Memorandum of Understanding. Kesepakatan ini dapat mencakup lebih dari satu kegiatan yang melibatkan instansi-instansi tertentu. maupun perjanjian pelaksanaan. Setelah terjadi persetujuan antar pihak. Implementing arrangement merupakan perjanjian yuridis antar lembaga/instansi yang mengatur kerjasama (teknis). Hasilnya disebut kesepakatan bersama. sebagai tindak lanjut atau sebagai petunjuk pelaksanaan teknis dari MoU (yang merupakan payung kerjasama). nota kesepakatan. Hasil kesepakatan atau komitmen disebut naskah keinginan bersama. maka akan dilanjutkan dengan perjanjian pelaksanaan kerjasama (implementing arrangement). dengan ruang lingkup yang lebih spesifik sampai pada jadwal pelaksanaan serta kualifikasi personel yang ditugaskan dan sebagainya. atau sebagai petunjuk teknis pelaksanaan dari suatu persetujuan yang sudah ada. dan sudah mengikat lembaga/instansi tersebut secara keseluruhan. Tujuannya untuk menjabarkan rencana pelaksanaan kerjasama (teknik) secara rinci. . atau Letter of Intent (LoI).

Setelah dibahas dan mendapat persetujuan sekretariat kabinet. sehingga menjadi ”naskah awal”. atau bagi proyek/program yang belum ada kepastian pembiayaan dari negara/lembaga donor). lalu disampaikan ke biro perencanaan. . sekretariat kabinet. biro perencanaan akan merumuskan naskah perjanjian pelaksanaan kerja sama. Selanjutnya ”naskah awal” disampaikan ke Biro Kerjasama Teknik Luar Negeri (KTLN) sekretariat kabinet. yang dilampiri salinan naskah kerjasama. draft perjanjian disusun berdasarkan MoU oleh unit pengusul. termasuk kredit ekspor. Naskah awal dibahas di sekretariat kabinet bersama instansi pengusul (pihak pertama). bersama dengan biro hukum.: 185/KMK. Setelah itu.418 Bab 20: Hutang Publik Proses Penyusunan Perjanjian Kerjasama Dan Pengusulan Program/Proyek PHLN Tujuan proses ini adalah agar program/proyek pinjaman luar negeri tersebut mendapat persetujuan sekretariat kabinet. Bappenas akan melakukan evaluasi (appraisal I) terhadap usulan program/ proyek bersangkutan.031/KET/5/1995. yang kemudian dikirim oleh pihak pertama ke pihak kedua untuk disetujui dan ditandatangani bersama menjadi naskah kerja sama. dan dapat dicantumkan ke dalam blue book oleh Bappenas. untuk mendapat persetujuan. Kemudian. masing-masing untuk usulan bantuan proyek (project assistance) dan usulan bantuan teknis (technical assistance). Di sini. dan dimasukkan ke dalam blue book. Usulan ini disusun dalam 2 (dua) daftar yang terpisah. Naskah ini kemudian dibahas dalam rapat pimpinan departemen/lembaga instansi. Deplu. Hasil appraisal I dituangkan dalam Surat Keputusan (SK) Deputi II Bappenas. perwakilan negara asing/lender/donor (pihak ke dua).:Kep. memuat berbagai usulan proyek yang dinilai layak mendapat pembiayaan dari PHLN.03/1995 – No. tanggal 5 Mei 1995. usulan program/proyek PHLN. 3 Blue Book adalah suatu catatan yang berisikan Daftar Rencana Pinjaman dan Hibah Luar Negeri (DRPHLN). semua usulan program/proyek (yang sudah memiliki SK) dikonsolidasikan oleh Bappenas. serta instansi lain yang terkait. Proses penyusunan perjanjian kerjasama dan pengusulan program/proyek PHLN ini terdiri dari 2 (dua) tahap yakni penyusunan naskah perjanjian pelaksanaan kerjasama PHLN dan pengusulan program/proyek PHLN. sebagaimana dimaksud dalam SKB Menkeu dan Ketua Bappenas No. Dalam penyusunan naskah perjanjian pelaksanaan kerjasama PHLN. naskah awal menjadi naskah akhir. diajukan oleh departemen/lembaga pengusul kepada Menteri Negara PPN/Ketua Bappenas untuk dicantumkan ke dalam blue book3 (khusus bagi program/proyek yang belum tercantum. Dalam proses pengusulan program/proyek PHLN.

Kedua hal tersebut memotivasi politik (political motivation) dan memotivasi ekonomi (economic motivation) dimana keduanya mempunyai keterkaitan yang sangat erat satu dengan yang lain. penyusunan dan penandatanganan loan agreement. Hasil review inilah yang akan dijadikan dasar untuk melaksanakan persiapan perundingan (negotiation) untuk membuat loan agreement. diproses berdasarkan basic model. lalu dievaluasi ulang (appraisal II). Muatan urgensi tersebut maksudnya adalah utang mungkin dipilih sebagai sumber pembiayaan karena derajat urgensi kebutuhan yang membutuhkan penyelesaian segera. Hasil appraisal II. excecuting agency. Sedangkan muatan ekspansi berarti utang dianggap sebagai alternatif pembiayaan yang melalui berbagai perhitungan teknis dan ekonomis dianggap dapat memberikan keuntungan. multilateral model (World Bank & ADB). Hasil identifikasi tersebut kemudian akan dikaji kembali oleh Bappenas. dan Departemen Keuangan. Dari perspektif negara donor setidak-tidaknya ada dua hal penting yang dianggap memotivasi dan melandasi mengalirnya bantuan luar negeri ke negara-negara debitor. Dalam alasan-alasan yang rasional itu ada muatan urgensi dan ada pula muatan ekspansi. negara/lembaga donor. Appraisal result kemudian akan dievaluasi lagi (reviewing) oleh Bappenas. atau OECF model. yang berupa appraised project. Hutang Luar Negeri dalam Pembangunan Ekonomi Utang pada dasarnya adalah salah satu alternatif yang dilakukan karena berbagai alasan yang rasional. 1985). tergantung jenis program/proyek dan dari mana sumber dana diperoleh. dan program ini kemudian dikenal dengan Marshall Plan (Todaro. sebagai bahan tindak lanjut bagi proses pembahasan teknik berikutnya. untuk diidentifikasi. Dalam tahap ini hasil appraisal II kembali dibahas bersama oleh Bappenas. Motivasi pertama inilah yang kemudian menjadi acuan bagi Amerika Serikat untuk mengucurkan dana bantuan dalam merekonstruksi kembali perekonomian Eropa Barat setelah hancur saat Perang Dunia II.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 419 PROSES PEMBUATAN LOAN AGREEMENT Dalam pembuatan loan agreement. Kesuksesan kembali membangun Eropa Barat menjadikan program ini sebagai cetak biru (blue print) yang kemudian digunakan dalam proses pengembangan ekonomi di . dan konsultan independen (appraisal III). dan hasilnya adalah appraisal result. instansi pengusul (excecuting agency). dan negara/lembaga donor. blue book dikirimkan oleh Bappenas ke Departemen Keuangan.

Dan pada sisi lain adalah kekurangan yang dialami oleh negara yang bersangkutan dalam memenuhi kebutuhan nilai tukar asing (foreign exchange) untuk membiayai kebutuhan impor barang modal (capital goods) dan impor barang-barang intermediate (Intermediae goods). Meskipun demikian peranan dana bantuan luar negeri dan modal asing terhadap kemajuan. pertumbuhan dan pembangunan ekonomi negaraberkembang telah lama menjadi perdebatan hangat di antara kelompokkelompok ekonomi dunia. adalah growth and savings. Dengan demikian untuk menutupi kedua kekurangan tersebut maka andalannya adalah bantuan luar negeri. Sekelompok ekonom pada tahun 1950-an dan 1960- . Asia Tenggara bahkan selanjutnya sampai menyentuh Afrika serta Amerika Tengah. Sedangkan motivasi ekonomi sebagai landasan kedua yang digunakan dalam memberikan bantuan. Terlepas dari faktor-faktor yang dikemukakan di atas ada satu hal lagi yang perlu diingat bahwa faktor pendorong dan faktor penarik (push and pull factors) adalah dua kata yang turut menentukan terjadinya capital movement ke negara-negara berkembang (Taylor dan Sarno.420 Bab 20: Hutang Publik berbagai belahan dunia lainnya seperti Asia Selatan. Karena tingginya tingkat pertumbuhan di negara-negara berkembang akan turut meningkatkan atau berkorelasi positif terhadap kenaikan keuntungan yang bisa dinikmati di negara-negara maju seperti yang dibuktikan studi Cooper (1995). Kedua. adalah absorptive capacity yakni dalam bentuk apa dana tersebut akan digunakan. Faktor-faktor ini tentu saja perpaduan antara motif ekonomi dan politik yang menjadi pertimbangan utama bagi seorang investor yang rasional. Ketiga. adalah foreign exchange constraints. Hal ini harus dilakukan untuk menjamin bahwa aliran dana yang masuk dapat digunakan dengan sangat efisien dalam proses memicu kenaikan pertumbuhan ekonomi. setidak-tidaknya tercermin dari 4 argumen penting (Todaro. 1997). yang merupakan pendamping dari bantuan keuangan yang bentuknya adalah transfer sumber daya manusia tingkat tinggi kepada negara-negara penerima bantuan. yakni untuk memfasilitai dan mengakselerasi proses pembangunan dengan cara meningkatkan pertambahan tabungan domestik sebagai akibat dari tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi. Argumen ini didasari atas two gap model dimana negara-negara penerima bantuan khususnya negara-negara berkembang mengalami kekurangan dalam mengakumulasi tabungan domestik (domestic saving) sehingga tingkat tabungan yang ada tidak mampu memenuhi kebutuhan akan tingkat investasi yang dibutuhkan dalam proses memicu pertumbuhan ekonomi. adalah technical assistance. 1985) yaitu: Pertama. Dan yang terkahir (keempat).

Domar (AS) yang kemudian dikenal dengan teori Harrod-Domar. Malahan porsi bantuan luar negeri tidak lagi diperlakukan sebagai faktor pelengkap (complementary factor). tapi telah menjadi sumber utama dalam membiayai pembangunan. Alan Strout dan lain-lain pada tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an. jika digunakan untuk investasi yang tingkat pengembalian investasinya (return on investment) dapat memicu kenaikan sumber daya ekonomi yang lebih besar. kebutuhan akan modal asing akan menjadi menurun segera setelah perubahan struktural terjadi (meskipun modal yang masuk belakangan menjadi lebih produktif). Pemikiran di atas sedemikian kuatnya mempengaruhi proses perencanaan pembangunan di negara-negara sedang berkembang. sumber dana eksternal (modal asing) dapat dimanfaatkan oleh negara sedang berkembang sebagai suatu dasar yang signifikan untuk memacu kenaikan investasi serta pertumbuhan ekonomi. Asumsi yang mereka gunakan dalam proses penganjurannya adalah bantuan luar negeri akan menambah sumber-sumber yang produktif tanpa menimbulkan dampak substitusi terhadap alokasi dan efisiensi sumber daya terutama tingkat efisiensi dalam penggunaan modal yang tercermin dari tingkat ICOR (Incremental Capital Output Ratio) dan sumber-sumber tersebut di atas sangat langka di negara-negara sedang berkembang. menjadi dasar kelompok tersebut untuk menganjurkannya diterapkan di negara-negara berkembang. Teori yang berbicara tentang penggunaan bantuan luar negeri dalam pembiayaan pembangunan ini. Kedua. modal asing dapat berperan penting dalam memobilisasi sumber dana dan transformasi struktural. Pengalaman keberhasilan pembangunan kembali perekonomian negara-negara Eropa Barat melalui Marshall plan seperti telah disinggung. maka diharapkan bantuan luar negeri tidak saja menambah sumber daya ekonomi tapi juga sekaligus mampu membayar . Ketiga. Memang bantuan luar negeri sebenarnya dapat mencapai arah dan sasarannya. Pengalaman seperti yang diuraikan di atas juga mengilhami teori yang dikembangkan oleh Sir Roy Harrod (Inggris) dan kemudian dilanjutkan serta disempurnakan oleh Evsey D. untuk menjaga dan mempertahankan tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi diperlukan perubahan dan perombakan yang substansial dalam struktur produksi dan perdagangan. sehingga hampir tidak ada negara berkembang yang semata-mata hanya mengandalkan upaya proses pembangunannya pada sumber-sumber daya domestik. Pemikiran mereka ini seperti yang diungkapkan oleh Chenery dan Carter (1973) dapat dikelompokkan ke dalam empat pemikiran mendasar: Pertama. selanjutnya dikembangkan lagi oleh beberapa ekonom seperti Hollis Chenery. Keempat.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 421 an berpendapat dan meyakini bahwa bantuan luar negeri mempunyai dampak yang positif terhadap pembangunan ekonomi suatu negara tanpa menimbulkan gangguan pada masa sesudahnya bagi negara-negara debitor tersebut.

Masuknya modal dari luar negeri juga dianggap sebagai salah satu cara mengatasi hambatan dalam pengelolaan kekayaan alam yang begitu melimpah ketika perekonomian dalam negeri tidak begitu mampu menyediakan dana untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi kekayaan alamnya.422 Bab 20: Hutang Publik kembali cicilan pinjaman sebelumnya. Argentina. dalam perkembangannya. utang luar negeri merupakan mata rantai yang menghubungkan kegiatan internal dan eksternal perekonomian suatu negara. Tetapi jelas sekali bahwa jumlah dan pemanfaatan utang tersebut harus dikendalikan dan dikelola secara benar sehingga justru tidak menjadi beban yang berkepanjangan. tetapi juga dibutuhkan dalam perekonomian suatu negara untuk menunjang proses produksi dalam negeri. Dalam pemahaman ini sulit sekali menyatakan bahwa suatu negara bisa saja tidak berutang sama sekali. korupsi dan penyalahgunaan. serta Brazil adalah contoh konkrit dari kasus yang terakhir ini. Akibatnya. Namun. Tetapi sebaliknya. Sehingga tidaklah mengherankan apabila selain masuknya dana berupa fresh money ke dalam negeri. Keadaan ini telah dibuktikan oleh negara-negara yang tergabung dalam kelompok negara-negara industri baru (Newly Industrialized Countries/ NICs) seperti Korea Selatan dan Taiwan di mana utang luar negeri telah dengan sukses menjadi mesin pertumbuhan (engine of growth) dalam perekonomian mereka. penggunaan komponen utang luar negeri sebagai sumber pembiayaan disadari begitu menguntungkan. Artinya. banyak juga negara-negara berkembang yang gagal dalam memanfaatkan utang luar negeri dengan baik. Kasus-kasus Amerika Latin seperti Mexico. utang luar negeri berubah menjadi perangkap utang (debt trap) bagi negara-negara tersebut. Sementara masyarakat belum bisa maksimal digerakkan dalam partisipasi pembangunan selama ini cenderung lebih meletakkan posisi rakyat sebagai obyek pembangunan dan mempasifkan peranan mereka. Kucuran dana dari luar juga membentuk birokrasi yang sangat sensitif terhadap berbagai kebocoran. Utang luar negeri bukan hanya dibutuhkan dalam proses perdagangan. utang luar negeri juga dapat dilihat dari tinjauan pemberian bantuan tenaga ahli dan usaha joint venture perusahaan asing ke dalam negeri. Kondisi semakin sulit ketika kekayaan alam yang dimiliki dengan ujung tombak komoditas primer mengalami kerontokan di pasaran dunia serta makin proteksionalisnya negara-negara maju. . Dalam tahap-tahap awal pembangunan. Bahaya utang luar negeri belum dianggap serius oleh sebagian besar negara pengutang mengingat mereka sangat kaya akan sumber daya alam. masuknya dana ke dalam negeri tanpa usaha dan kerja keras telah ”meninabobokkan” negara-negara pengutang.

pihak swasta juga memerlukan dana. Hal ini disebabkan karena masalah utang luar negeri yang dihadapi Indonesia mencapai tahap yang demikian kompleks sehingga sulit untuk diupayakan pemecahan dalam waktu yang definitif. Indonesia. Indonesia untuk masa mendatang masih bergantung pada komponen ini. Membesarnya pinjaman komersial ini akan membawa berbagai dampak kepada perekonomian nasional. sebagai salah satu negara pengutang terbesar. Di satu sisi. baik perannya dalam pembangunan. Lemahnya posisi tawar menawar ini tidak saja dilihat dari makin kalahnya negara pengutang dalam kancah perdagangan dunia. implikasi dan kemauan melakukan pembayaran bunga dan cicilan utang merupakan hal yang perlu dikaji lebih lanjut. pinjaman komersial memiliki dampakdampak yang apabila tidak diwaspadai dapat membahayakan keseimbangan makro. Apapun argumennya. Dengan mencermati ketahanan ekonomi Indonesia saat ini. Melihat kondisi ini.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 423 Perangkap utang yang terbangun dalam frame bantuan pinjaman ini makin memojokkan negara-negara pengutang dan makin memperlemah posisi bargaining power mereka. untuk saat ini mengalirnya dana dari luar negeri merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi Indonesia untuk menginjeksi dana pembangunannya. namun munculnya bentuk intervensi dalam penentuan pengambil kebijaksanaan ekonomi negara pengutang yang disponsori oleh IMF dan Bank Dunia. Seberapa besar tingkat ketergantungannya. pinjaman komersial ini dibutuhkan sebagai sumber pembiayaan dan juga untuk memperkuat cadangan devisa nasional. tidaklah heran untuk masa datang perspektif utang luar negeri Indonesia dicirikan pada meningkatnya pinjaman yang bersifat komersial. di samping pemerintah. masalah utang. tentu banyak faktor yang mempengaruhinya. Sementara di sisi lain. diperkirakan akan terjadi peningkatan dalam pinjaman komersial seiring dengan meningkatnya peran swasta dan langkanya pinjaman resmi yang bersyarat lunak. sangat sulit mengatakan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap utang luar negeri akan berkurang untuk setidak-tidaknya 10 (sepuluh) tahun ke depan. Sebagai negara berkembang yang tetap konsisten dalam mempergunakan utang luar negeri dalam politik pembangunannya. Oleh karena itu. Dampak pertama yang ditimbulkan akibat pinjaman komersial ini adalah terjadinya ekspansi moneter yang akan mempengaruhi kestabilan ekonomi . Di era globalisasi dan dengan tingkat persaingan yang begitu besar. akan mengakibatkan perburuan pinjaman yang bersyarat lunak akan meningkat dan tentunya akan semakin sulit diperoleh.

bukan rahasia lagi jika proyek-proyek yang dibiayai melalui pinjaman luar negeri banyak yang kurang efisien dengan berbagai praktek korupsi serta memberikan multiplier effect yang sangat kecil. Masalah utang luar negeri Indonesia celakanya hanya dilihat dari mampu atau tidaknya dalam melakukan pembayaran. Hal ini tercermin dari terus menigkatnya angka DRS (Debt Service Ratio) dan persentase dari defisit transaksi berjalan terhadap GDP (Gross Domestic Product). Meskipun berbagai langkah telah dilakukan. misalnya. Bahkan. namun resiko perubahan nilai tukar terhadap kemampuan membayar utang luar negeri tetap harus diperhatikan. Dampak ekspansi ini akan menjadi sulit lagi sebagai konsekuensi sistem perekonomian terbuka yang dianut Indonesia. Bahkan. Dampak lain dari pinjaman komersial ini berkaitan dengan adanya gejolak nilai tukar mata uang dunia yang dapat dengan seketika melonjakkan beban pembayaran kembali pinjaman. penarikan yang berlebihan memliki potensi untuk memanaskan perekonomian (over heating). Persoalannya adalah bahwa cara pandang seperti itu terlampau memudahkan persoalan dan tidak dengan rendah hati ditempatkan pada basis pemikiran: seberapa besar manfaat nyata yang diperoleh dari pembiayaan melalui komponen utang luar negeri tersebut?. menimbulkan beban berat bagi Indonesia. Dalam prakteknya. yang menyebabkan arus keluar masuk modal menjadi lebih mudah dengan jangka waktu yang sangat pendek. Konsekuensi dari ekonomi terbuka membuka banyak peluang kepada sumber dana dari luar negeri yang dapat berimplikasi pada membesarnya pinjaman luar negeri. besarnya pinjaman luar negeri ini akan mengurangi kepercayaan pihak luar sehingga meningkatkan country risk dari Indonesia. daftar kekurangan ini semakin panjang jika proyek-proyek yang dibangun . Efeknya adalah kebijakan moneter yang dijalankan tidak akan mencapai sasaran yang juga pada akhirnya akan menganggu pencapaian sasaran ekonomi makro. ketika ada kekhawatiran bahwa anak cucu yang baru lahir sudah ”terbebani” oleh warisan sejumlah utang. Hal ini dikarenakan bahwa pinjaman-pinjaman komersial jangka pendek yang dilakukan oleh pihak swasta menyebabkan penarikan pinjaman ini tanpa pemantauan otoritas moneter. Sementara di sisi lain. Fenomena Yendaka. para pengambil kebijakan dengan mudahnya mengandai-andai bahwa jumlah utang tersebut akan segera ”dibereskan” dengan menjual seluruh asset yang dimiliki oleh BUMN.424 Bab 20: Hutang Publik makro dan neraca pembayaran. Dampak terakhir dari kecenderungan peningkatan pinjaman komersial ini adalah makin tingginya country risk dari Indonesia. Perekonomian dunia yang semakin terbuka semakin memperbesar ketidakpastian dari nilai tukar mata uang negara-negara maju. Selain itu. misalnya dengan melakukan hedging di pasar finansial.

§ Dapat dibedakan juga pinjaman dalam negeri dan pinjaman luar negeri (internal debt dan external debt). hutang yang dijamin seluruhnya dengan kekayaan negara yang berhutang atas dasar nilai yang sama besarnya. 2001). Hutang negara dibedakan menjadi dua. . yaitu (1) reproductive debt. Persoalan utang luar negeri mesti disadari dengan kesadaran akan seberapa besar kemampuan dalam melakukan kewajibannya yang berkaitan dengan utang yang dipinjam. dan (2) dead weight debt. § SUN diterbitkan dalam bentuk “warkat” dan “tanpa warkat” (scripless) yang diperdagangkan atau tidak diperdagangkan di pasar sekunder.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 425 dengan mempergunakan bantuan dari pihak luar seringkali tidak mengindahkan hak-hak asasi penduduk di mana proyek tersebut dibangun. oleh karena sistem moneter yang begitu bebas terlihat sering ”keteter” dalam mengatur pinjaman dari pihak swasta yang kadang justru disebabkan oleh kebijaksanaan moneter dalam negeri sendiri yang mendorong terjadinya arus masuk pinjaman luar negeri swasta yang membumbung tinggi tersebut. Diatur berdasarkan Undang-Undang No. § Hutang publik yang dilaksanakan pemerintah Indonesia berupa Surat Utang Negara (SUN) dan hutang/pinjaman luar negeri. bersifat paksa maupun sukarela sementara pinjaman luar negeri bersifat sukarela. Persoalan utang luar negeri dikaitkan dengan krisis yang menimpa sekarang ini tidak hanya berkaitan dengan kelanjutan pembangunan. RANGKUMAN § Pinjaman pemerintah adalah penutupan defisit anggaran pemerintah dengan melalui pinjaman baik dari dalam maupun luar negeri (Mankiw. Hal ini tentu menjadi masalah yang sangat urgen dewasa ini mengingat berbagai krisis yang telah melanda perekonomian Indonesia. hutang yang tanpa disertai dengan jaminan kekayaan. § SUN adalah surat berharga berupa surat pengakuan utang dalm mata uang rupiah maupun valuta asing yang dijamin pembayaran bunga dan pokoknya oleh Negara Republik Indonesia sesuai dengan masa berlakunya. Otoritas moneter.24/2002. namun yang paling pokok adalah sudah bersentuhan pada persoalan dasar kebutuhan hidup rakyat yaitu tersedianya kebutuhan pokok yang cukup dengan harga terjangkau dan tertutupinya pengeluaran rutin agar operasional pelaksanaan aparat negara bisa tetap berjalan. Pinjaman dalam negeri.

dan (c) mengelola portofolio utang negara. disertai catatan atas nilai bersih maksimal SUN dalam 1 tahun anggaran dan pada saat pengesahan APBN. § Tujuan penerbitan SUN: (a) membiayai defisit APBN. § Kewenangan penerbitan SUN berada di tangan pemerintah. Ketentuan mengenai metode lelang. (6) pelunasan SUN (redemption) dan aktivitas lain dalam pengembangan pasar SUN. (2) perencanaan dan penetapan struktur portofolio utang negara. kliring dan setlement. . § Pengelolaan SUN dilakukan oleh Menteri Keuangan yang meliputi: (1) penetapan strategi dan kebijakan pengelolaan SUN. Pinjaman luar negeri terdiri dari: (a) Soft Loan dan (b) Export Credit. dalam bentuk barang dan atau jasa yang diperoleh dari pemeberi pijaman luar negeri (lender) yang harus dibayar kembali dengan persyaratan tertentu (loan agreement). (b) menutup kekurangan kas jangka pendek. jadwal pelaksanaan lelang.426 Bab 20: Hutang Publik § SUN terdiri atas: (1) Surat Perbendaharaan Negara yang berjangka waktu sampai dengan 12 (dua belas) bulan dengan pembayaran bunga secara diskonto. § Menteri Keuangan juga menunjuk BI atau pihak lain sebagai agen untuk membeli dan menjual SUN di pasar sekunder. § Pinjaman luar negeri adalah penerimaan negara baik dalam bentuk devisa dan atau devisa yang dirupiahkan. (4) pembelian kembali (buyback). perusahaan pialang pasar uang dan perusahaan efek. § Penawaran SUN dilakukan melalui lelang. Peserta lelang antara lain bank. Pertanggungjawaban atas SUN dan dana yang dikelola disampaikan bersamaan dengan pertanggungjawaban pelaksanaan APBN demi akuntabilitas dan transparansi. kriteria peserta lelang. dan (2) Obligasi Negara berjangka waktu lebih dari 12 (dua belas) bulan dengan kupon dan atau dengan pembayaran bunga secara diskonto. § Kegiatan penatausahaan SUN yang mencakup pencatatan kepemilikan. Menteri Keuangan menunjuk Bank Indonesia sebagai agen pelaksana lelang (Auction Agent) surat perbendaharaan negara dan obligasi negara di pasar perdana. (3) penerbitan dan penjualan SUN di pasar perdana melalui lelang atau tanpa lelang (issuance). Pengaturan dan pengawasan kegiatan perdagangan SUN dilakukan oleh BAPEPAM. serta agen pembayar bunga dan pokok SUN dilakukan oleh Bank Indonesia (Central Registry). diwakili Menteri Keuangan setelah berkonsultasi dengan Bank Indonesia dan disetujui oleh DPR. dan hasil akhir lelang ditetapkan oleh Menteri Keuangan. (5) penukaran (debt switching/exchange offer).

sudah mengikat lembaga-lembaga secara keseluruhan dalam batas-batas yang telah disepakati. Diajukan dalam bentuk proposal perjanjian pelaksanaan kerjasama pinjaman luar negeri ke sekretaris kabinet untuk mendapatkan persetujuan. namun tidak mengikat. atau naskah persetujuan sebagai payung bersama atau petunjuk teknis pelaksanaan dari suatu persetujuan yang sudah ada. naskah awal menjadi naskah akhir yang disetujui dan ditandatangani bersama menjadi naskah kerja sama. hasil pertemuan dirangkum dalam catatan ertemuan yang belum mengikat dan tidak perlu persetujuan sekretaris kabinet. Kemudian bersama biro hukum merumuskan naskah perjanjian pelaksanaan kerja sama sehingga menjadi naskah awal. disampaikan ke biro perencanaan. MoU. Disusun dalam dua . (c) adanya “persetujuan antar pihak” merupakan suatu kesepakatan yuridis antar lembaga/instansi. Implementing agreement bertujuan untuk menjabarkan rencana pelaksanaan kerjasama (teknis) secara rinci. (b) kegiatan “keinginan antar pihak” yang menghasilkan komitmen untuk bekerjasama dalam bidang tertentu di masa mendatang. setelah dibahas dan mendapat persetujuan sekretaris kabinet. § Dalam proses pengusulan program/proyek PHLN. § Tujuan proses penyusunan perjanjian kerjasama dan pengusulan program/proyek PHLN adalah agar program/proyek pinjaman luar negeri mendapat persetujuan dari sekretaris kabinet dan dicantumkan ke dalam Blue Book oleh Bappenas. merupakan perjanjian yuridis antar lembaga/instansi yang mengatur kerjasama (teknis). § Dalam penyusunan naskah perjanjian pelaksanaan kerjasama PHLN. kesepakatan pendahuluan. ditandatangani pejabat terkait namun belum mendapat persetujuan sekretaris kabinet. nota kesepakatan atau Letter of Intent (LoI). usulan program/proyek PHLN dilampiri salinan naskah kerja sama yang diajukan oleh departemen/lembaga pengusul kepada Menteri Negara PPN/Ketua Bappenas untuk dicantumkan ke dalam blue book. mencakup lebih dari satu macam perjanjian pelaksanaan. draft perjanjian disusun berdasarkan MoU oleh unit pengusul. Terdiri dari 2 (dua) tahap yaitu (a) penyusunan naskah perjanjian pelaksanaan kerjasama PHLN dan (b) pengusulan program/proyek PHLN.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 427 § Tahap-tahap pelaksanaan kerjasama Pinjaman dan Hibah Luar Negeri (PHLN). (d) perjanjian pelaksanaan kerja sama (implementing agreement). Hasilnya disebut kesepakatan bersama. Hasil kesepakatan disebut naskah keinginan bersama. yaitu: (a)pertemuan awal membicarakan/membahas kerjasama antar lembaga/instansi pada acara kunjungan resmi/tidak resmi.

kekurangan yang dialami negara tersebut dalam memenuhi kebutuhan nilai tukar asing (foreign exchange) untuk membiayai kebutuhan impor barang modal dan intermediate. Kemudian dilakukan evaluasi ulang sehingga dihasilkan appraisal result yang akan direview lagi. dimana negara-negara pemberi bantuan khususnya negara berkembang. (3) technical assistance. instansi pengusul dan negara/lembaga donor. (2) growth and savings. Selain itu. Technical assistance. yaitu usulan bantuan proyek (project assistent) dan usulan bantuan teknis (technical assistance). Foreign exchange constraints. memiliki empat argumen penting: (1) foreign exchange constraints. dan penandatanganan loan agreement. Growth and savings. (4) absorptive capacity. Absorptive capacity. Dua hal penting yang memotivasi dan melandasi mengalirnya bantuan luar negeri ke negara-negara debitor yaitu: (a) memotivasi politik (political motivation) dan (b) memotivasi ekonomi (economic motivation) Motivasi ekonomi dalam memberikan bantuan. (2) untuk menjaga dan mempertahankan tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi diperlukan perubahan yang substansial dalam struktur produksi dan perdagangan. sehingga terjadi pertambahan tabungan domestik yang akan berkorelasi positif terhadap kenaikan keuntungan yang dinikmati negara-negara maju. blue book dikirimkan oleh Bappenas ke Departemen Keuangan. Teori Harrod-Domar berbicara tentang penggunaan bantuan luar negeri dalam pembiayaan pembangunan terdiri dari empat pemikiran mendasar: (1) modal asing (dana eksternal) dimanfaatkan untuk memacu kenaikan investasi serta pertumbuhan ekonomi. Hasil review yang akan dijadikan dasar untuk melaksanakan persiapan perundingan (negotiation) untuk membuat loan agreement. didasari oleh two gap model. mengalami kekurangan dalam mengakumulasi tabungan domestik (domestic saving) yang tidak mampu memenuhi kebutuhan akan tingkat investasi yang dibutuhkan dalam memicu pertumbuhan ekonomi. penyusunan. pendamping dari bantuan keuangan yang bentuknya transfer sumber daya manusia tingkat tinggi untuk menjamin aliran dana digunakan secara efisien dalam memicu pertumbuhan ekonomi. bahwa bantuan luar negeri akan digunakan untuk memfasilitasi dan mengakselerasi tingkat pertumbuhan yang tinggi. Dalam pembuatan loan agreement. (3) modal asing berperan penting dalam memobilisasi sumber dana dan .428 Bab 20: Hutang Publik § § § § § § § § daftar yang terpisah. yakni dalam bentuk apa dana itu akan digunakan.

(c) makin tingginya country risk dari Indonesia. 3. 4. Sebutkan beberapa dampak dari membesarnya pinjaman komersial! 1. Jelaskan proses pelaksanaan Pinjaman dan Hibah Luar Negeri (PHLN)! 6. (b) gejolak nilai tukar mata uang dunia yang dapat dengan seketika melonjakkan beban pembayaran kembali pinjaman. § Dampak-dampak dari pinjaman komersial selain sumber pembiayaan dan memperkuat cadangan devisa nasional. Bagaimana pendapatmu tentang penggunaan hutang luar negeri terkait dengan pembangunan ekonomi yang dilakukan oleh bangsa Indonesia. apakah sesuai dengan sasaran? 11. Bagaimana proses penyusunan naskah perjanjian kerja sama PHLN dilakukan? 8. Jelaskan beberapa argumen penting yang menjadi dasar negara-negara donor untuk mengalirkan bantuan ke negara debitor secara motivasi ekonomi! 10. yaitu: (a) terjadinya ekspansi moneter yang akan mempengaruhi kestabilan ekonomi makro dan neraca pembayaran. LATIHAN Jelaskan perbedaan reproductive debt dan dead weight debt! Apa yang dimaksud dengan Surat Utang Negara (SUN)? Sebutkan tujuan diterbitkannya SUN! Apa saja tugas Menteri Keuangan dalam pengelolaan Surat Utang Negara (SUN)? 5. (4) kebutuhan modal asing akan menurun segera setelah perubahan struktural terjadi. Jelaskan bagaimana proses pembuatan loan agreement! 9.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 429 transformasi struktural. Apa perbedaan antara soft loan dan export credit? 7. 2. . berkurangnya kepercayaan pihak luar karena jumlah pinjaman luar negeri yang semakin besar dengan meningkatnya DRS dan persentase dari defisit transaksi berjalan terhadap GDP.

430 Bab 20: Hutang Publik .

Walaupun kemungkinan nilai pinjaman yang mampu dikumpulkan cukup besar karena banyaknya sumber yang bisa digunakan. masyarakat.PINJAMAN DAERAH PENDAHULUAN Pinjaman merupakan alternatif lain yang bisa dipilih untuk membiayai pembangunan daerah. lembaga keuangan bukan bank. Banyaknya pihak yang dapat dijadikan sumber pinjaman membuat pembiayaan pembangunan dengan pinjaman mampu mengumpulkan dana yang cukup besar. Pinjaman yang berasal dari masyarakat penghimpunan dana dapat melalui penerbitan obligasi daerah. lembaga keuangan bank. Pinjaman dalam negeri dapat berasal dari. pemerintah pusat. Sumber pinjaman dapat berasal dari berbagai pihak. dan sumber lainnya seperti pinjaman dari daerah lain. namun perlu diperhatikan adanya batas meminjam yang . baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Pinjaman juga dapat dibedakan berdasarkan jangka waktu. untuk membeli pabrik dan peralatan dengan unsur jangka menengah. untuk membiayai kekurangan dana anggaran tahunan berupa biaya rutin dan beban hutang. Risiko yang terkandung dalam melakukan pinjaman. jangka pendek dan jangka panjang. 5. Kekurangan dana dari anggaran tahunan adalah hal yang umum terjadi untuk pemerintah pusat. Agar pembahasan ini lebih riil di lapangan. Dalam konstitusi di berbagai negara. . dan kemampuan meminjam (ability to borrowing). persyaratan-persyaratan pinjaman. TUJUAN DAN BATAS-BATAS PINJAMAN Pemerintah daerah dapat membiayai sebagian pengeluarannya dengan melakukan pinjaman.432 Bab 21: Pinjaman Daerah disesuaikan dengan kemampuan tiap-tiap daerah. 3. masalah kewenangan daerah untuk meminjam ini telah diatur. Pada bagian ini akan dibahas mengenai tujuan dan batas-batas pinjaman. dengan jangka waktu sampai tiga bulan. Pada dasarnya kewenangan daerah melakukan pinjaman adalah seperti yang dituliskan oleh Davey (1983). terutama risiko dalam pembayaran bunga maupun pokok. harus menjadi pertimbangan dalam melakukan pinjaman. untuk menutup kebutuhan dana (cash) jangka pendek. 2. pemerintah daerah di Italia meminjam 61% dari penerimaan kotor mereka untuk membiayai pengeluaran modal. dalam subbagian selanjutnya akan disajikan praktek pinjaman daerah di Indonesia. Pemilihan jangka waktu akan sangat tergantung pada jenis proyek yang akan dibiayai. Tetapi jarang diperkenankan bagi pemerintah daerah. 4. Pinjaman dengan maksud untuk menutup kebutuhan dana jangka pendek adalah sangat umum dilakukan. untuk membiayai pembangunan modal jangka panjang (prasarana atau penyediaan pelayanan umum). metode dan sumber-sumber pinjaman. Bentuk pinjaman yang umum berupa bank overdraft. untuk membiayai investasi yang diharapkan dapat menghasilkan penerimaan bagi daerah. membayar hutang dan membiayai sebagaian besar dari biaya-biaya rutin (operating cost). biasanya sebagai suatu keharusan karena pola pengumpulan penerimaan daerah yang tidak seimbang. akan tetapi pemerintah daerah seringkali mencari pinjaman langsung dari deposito jangka pendek dari masyarakat berupa short-term bills. Pada tahun 1975. bahwa berbagai pinjaman dilakukan dengan tujuan sebagai berikut: 1.

Pilihan lain adalah dengan cara pinjam sewa (leasing). sumber pinjaman untuk pembiayaan jenis ini biasanya berasal dari negara-negara donor dengan tingkat bunga yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan bunga komersial. Sebagai contoh. penggunaan dana pinjaman untuk membiayai pembangunan prasarana dan penyediaan pelayanan umum. Pinjaman yang bersifat jangka pendek. Oleh karenanya.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 433 Pemerintahan New York juga pernah melakukan pinjaman untuk membayar gaji pegawai dan uang pensiunan dan membayar hutang yang telah jatuh tempo. sesungguhnya batasan-batasan atau teknik-teknik pembiayaan yang berlaku dalam dunia korporasi juga berlaku bagi pemerintah daerah. Suatu cara penyelesaian yang umum untuk membeli peralatan dengan pinjaman adalah dengan membeda-bedakan perkiraan umur masingmasing peralatan. . pembangunan British New Town Corporation dibiayai oleh Pemerintah Pusat Inggris. tidak boleh digunakan untuk membiayai kegiatan atau investasi jangka panjang. Dari pembahasan ini prinsip dasar yang harus dipegang ketika pemerintah daerah melakukan pinjaman adalah bahwa penggunaan dana pinjaman harus sesuai dengan karakteristik dari pinjaman itu sendiri. Sementara itu. Pemerintah negara bagian di Amerika Serikat juga mengadakan pinjaman melalui industrial aid bonds untuk menyediakan dana investasi perusahaan manufaktur perorangan. Maksudnya adalah. proyek yang dibiayai tersebut dapat menghasilkan penerimaan (revenue) yang dapat digunakan untuk membayar kembali dana pinjaman. Praktek-praktek seperti ini antara lain sering diterapkan di negaranegara maju. Pembelian sebuah pabrik dan peralatan lainnya juga dapat dibiayai dengan pinjaman. selain mendapatkan sumber penerimaan bagi daerah. karena akan menimbulkan mismatch (ketidaktepatan) antara pembayaran pinjaman yang jatuh tempo dengan waktu penerimaan penghasilan. Praktek dan konsep yang secara luas dapat diterima adalah dana pinjaman untuk membiayai kegiatan investasi yang dapat “membiayai sendiri”. Pengembalian pinjaman tersebut dari hasil penjualan rumah-rumah dan toko-toko yang dibangun oleh British. biasanya diarahkan untuk membiayai prasarana publik yang relatif cenderung lebih mengedepankan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat dibandingkan dengan revenue yang dihasilkan. Manfaat dari pinjaman seperti ini adalah. Dengan kata lain. Cara leasing ini semakin dikenal untuk menghindari pembelian peralatan yang cepat menjadi usang sebagai akibat perubahan teknologi. pemerintah daerah juga mampu menyediakan pelayanan publik secara lebih baik.

Pinjaman hipotek atas aset tetap. Pertama. Pinjaman internal yang berasal dari dana cadangan. 8. dimana 71. Misalnya. Pembahasan lebih lanjut untuk kasus di Indonesia ini akan dibahas secara khusus di subbagian berikutnya. Obligasi jangka panjang (bond). di Indonesia. Dana kontraktor untuk pembangunan proyek-proyek. kemudian oleh Pemerintah Pusat. Ketiga. Bank Pembangunan Islam (Islamic Development Bank/IDB).6% pinjaman daerah berasal dari pemerintah pusat pada tahun 1979. Pinjaman yang bersumber dari badan-badan internasional. 7. Dana untuk sewa beli peralatan (leasing). ada tiga cara yang paling sering digunakan oleh pemerintah daerah di berbagai negara.1 3. pemerintah pusat memberikan pinjaman kepada pemerintah daerah. yang biasanya pinjaman ini diberikan kepada pemerintah pusat negara yang bersangkutan melalui mekanisme pinjaman two step loan atau subsidary loan aggreement. 2. Bank Asia Afrika dan bantuan bilateral. pinjaman tersebut diteruskan ke Pemerintah Daerah. Pinjaman jangka pendek yang diberikan oleh bank-bank komersial. 9. Kedua. Praktek ini diterapkan oleh India. hampir 100% pinjaman jangka panjang pemerintah daerah berasal dari pemerintah pusat. Pinjaman yang berasal dari bank sentral di negara masing-masing. Bank Pembangunan Amerika Latin (untuk negara-negara di kawasan Amerika Latin). Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB). 6. Pinjaman yang bersumber dari pemerintah yang lebih atas (umumnya dari pemerintah pusat).434 Bab 21: Pinjaman Daerah METODE DAN SUMBER-SUMBER PINJAMAN Terdapat beberapa sumber pinjaman dan metode pinjaman yang dapat dilakukan oleh pemerintah daerah. misalnya dana pensiun. dengan mengeluarkan obligasi (bonds) di pasar modal. khusus untuk pinjaman jangka pendek untuk memenuhi cash flow pemerintah daerah. . Di antara sistem pinjaman tersebut di atas. PERSYARATAN-PERSYARATAN PINJAMAN 1 Mekanisme pinjaman two step loan dan subsidiary loan aggreement adalah pinjaman dari luar negeri ke Pemerintah Pusat. 5. Bahkan. melalui bank-bank komersial. sumber dana yang berasal dari pasar keuangan. 4. yaitu: 1. seperti Bank Dunia (World Bank). karena ada larangan dari pemerintah pusat bagi pemerintah daerah untuk meminjam di luar skema pemerintah pusat.

Jika menggunakan metode anuitas berarti membayar beberapa kali angsuran dalam jumlah yang sama besarnya setiap kali pembayaran hingga masa pembayaran selesai. management fee dan commitment fee sekitar 0. semakin lama suatu pinjaman. berupa management fee dan commitment fee yang besarnya sangat tergantung dari negosiasi antara kedua belah pihak. Jangka waktu pinjaman pemerintah daerah bisa saja berkisar antara 24 jam (overnight) hingga 40 tahun. misalnya pinjaman untuk masa 10 tahun. pinjaman yang bersumber dari pemerintah pusat atau lembaga keuanga internasional sering mencari turnover dana yang dipinjamkan secepat mungkin. Sebagai pilihan yang dapat dilakukan adalah jangka waktu pinjaman dapat diturunkan sesuai penerimaan dari pajak dan retribusi untuk mengimbangi beban pinjaman tersebut. Pada umumnya. . Di Indonesia. Untuk tujuan capital investment. dan (v) persetujuan dan penyidikan. pinjaman dari lembaga-lembaga internasional oleh suatu pemerintah biasanya memberlakukan bunga yang lebih rendah dibandingkan dengan bunga pasar. Yang terpenting adalah bahwa jangka waktu pinjaman bergantung pada sikap pasar serta suku bunga yang berlaku. (ii) cara pembayaran kembali. pengalaman menunjukkan bahwa bila cara sinking fund telah diterapkan dan untuk memenuhi kewajibannya disanggupi dengan baik. dimana angsuran pinjaman dibayar secara tetap. Namun. dengan maksud agar dapat meningkatkan kemampuan finansial pemerintah daerah. Biasanya.25% dari pinjaman yang belum ditarik. Persyaratan tingkat bunga pinjaman yang bersumber dari pasar keuangan pasti didasarkan pada bunga pasar. (iv) keamanan pinjaman.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 435 Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dalam ketentuan pinjaman adalah (i) jangka waktu pinjaman. Metode pembayaran yang lain adalah menggunakan metode sinking fund. Persyaratan cara pembayaran kembali akan tergantung pada metode pembayaran yang dilakukan. Komponen dalam setiap kali pembayaran tersebut adalah pokok pinjaman dan bunga pinjaman. (iii) tingkat bunga. pinjaman dari lembaga-lembaga internasional tersebut juga memberlakukan fee. Akan tetapi. misalnya. Jangka waktu pinjaman sangat tergantung dengan tujuan penggunaan pinjaman. namun dalam prakteknya metode ini sering lebih merupakan usaha penyelematan terhadap utang kepada pihak luar (external debt). tingkat bunga pun akan semakin tinggi. Sementara itu. sehingga hutang pokok yang dibayarkan adalah kumulatif selama masa pinjaman. maka pemerintah daerah harus mendapatkan pinjaman dengan jangka waktu yang setidaknya sama dengan umur proyek.

sedangkan pinjaman daerah yang berasal dari sumber non-pemerintah (private debt sources) akan meningkatkan efisiensi penggunaannya. Keterbatasan pemerintah daerah dalam memobilisasi sumber-sumber penerimaan daerah yang berasal dari daerahnya sendiri menjadi alasan penggunaan pinjaman dalam pembiayaan suatu daerah. 2000): . Proyek-proyek yang bersifat jangka panjang dengan manfaat ekonomi dan sosial selayaknya didanai oleh pembiayaan jangka panjang. Keterbatasan keuangan pemerintah pusat yang berimplikasi pada dana perimbangan pusat dan daerah. Masyarakat yang menerima manfaat proyek di masa mendatang secara prinsip harus ikut menanggung beban biaya pengadaan proyek tersebut. Makanya. Prasyarat utama bagi diperbolehkannya daerah meminjam adalah dengan menerapkan “the golden rule guidelines” bagi pinjaman daerah (Magrassi. Hal ini dilandasi dengan perkembangan tingkat urbanisasi yang lebih tinggi daripada kemampuan daerah menyediakan berbagai infrastruktur dan fasilitas pelayanan publik. semakin besar. Dari sisi teori fiskal. PENGGUNAAN PINJAMAN DALAM PEMBIAYAAN Kebutuhan akan pinjaman daerah muncul akibat kecenderungan yang terjadi dimana peningkatan peran pemerintah daerah dalam pengelolaan dan pembiayaan pembangunan proyek-proyek investasi daerah. Persyaratan persetujuan muncul karena suatu pinjaman yang dilakukan oleh pemerintah daerah. dalam berbagai klausul pinjaman oleh pemerintah daerah. Kewenangan yang lebih besar kepada daerah untuk menentukan prioritas investasi daerah dan pelaksanaan proyek-proyek pembangunan daerah. Dalam konteks di Indonesia. karena pemerintah daerah harus memperhitungkan secara tepat nilai opportunity cost of capital yang sesungguhnya dan memprioritaskan proyek-proyek yang akan dilaksanakannya sesuai dengan tingkat manfaat sosial dan ekonomi (Alisjahbana. pinjaman yang dilakukan oleh pemerintah daerah baru dapat dijalankan jika DPRD setempat memberikan persetujuan. 2001). biasanya tidak dapat dilakukan sebelum ada persetujuan dari lembaga yang berwenang. misalnya proyekproyek infrastruktur.436 Bab 21: Pinjaman Daerah Persyaratan keamanan pinjaman muncul karena pihak pemberi pinjaman biasanya menghendaki suatu keadaan aman terhadap kegagalan pembayaran kembali. pendapat yang mendukung pinjaman daerah mengacu pada prinsip keadilan antar generasi (intergenerational equity considerations). tidak jarang pemberi pinjaman meminta adanya jaminan dari pemerintah pusat atau dijamin dengan aset tertentu. misalnya lembaga perwakilan daerah.

Istilah disisihkan dimaksudkan untuk mempertegas adanya rencana untuk membiayai proyek melalui dana pinjaman daerah. vis-a-vis the project socioeconomic benefits. § Pemerintahan Pusat § Lembaga Keuangan Bank § Lembaga Keuangan Bukan Bank § Masyarakat § Sumber Lainnya Pinjaman daerah menurut PP No 107 Tahun 2000 adalah: semua transaksi yang mengakibatkan daerah menerima dari pihak lain sejumlah uang atau manfaat bernilai .. Dua ukuran yang sering digunakan untuk itu adalah Debt Service Ratio (DSR) dan Debt Coverage Ratio (DCR). local government should only use sub-national debt to finance capital projects that are anticipated to produce financial rate of returns that. Pinjaman daerah yang berasal dari luar negeri harus melalui pemerintah pusat. perlunya persetujuan pemerintah pusat harus ada evaluasi yang menyeluruh tentang aspek-aspek dapat tidaknya usulan pinjaman untuk diproses lebih lanjut. DSR merupakan ambang batas kemampuan pelunasan daerah yang pada prinsipnya digunakan Pemerintah Daerah untuk mengendalikan jumlah pinjaman yang relatif aman.. 25 Tahun 1999 menyebutkan bahwa daerah dapat melakukan pinjaman yang bersumber dari. PRAKTEK PINJAMAN DAERAH DI INDONESIA Ketentuan Dasar Pinjaman Daerah di Indonesia Undang-undang No. Sedangkan DCR pada prinsipnya merupakan angka perbandingan antara perkiraan kemampuan daerah yang dapat disisihkan (tabungan neto) dengan total rencana pembayaran pinjaman setiap tahunnya. justify the debt service paid to lenders”... (a) sumber dalam negeri (b) sumber luar negeri. Untuk menghindari risiko yang dapat terjadi atas penggunaan pinjaman daerah dalam pembiayaan hendaknya memperhatikan kaidah yang berlaku dalam memperkirakan kapasitas meminjam pemerintah daerah.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 437 “ . Sedangkan untuk pinjaman dari dalam negeri dapat secara langsung dilakukan bila disetujui oleh DPRD dengan prinsip pinjaman tersebut harus secara langsung dikaitkan dengan kemampuan daerah untuk membayar pinjamannya.. dan terutama tersedianya dana untuk pengembalian pinjaman secara aman. Pinjaman dari dalam negeri dapat bersumber dari (PP 107/2000 pasal 2 ayat 2). Undang-undang No 25 Tahun 1999 Pasal 11 ayat 1 menyebutkan bahwa: "Daerah dapat melakukan pinjaman dari sumber dalam negeri untuk membiayai sebagian anggarannya".

tidak termasuk kredit jangka pendek yang lazim terjadi dalam perdagangan. Pinjaman jangka pendek dapat digunakan untuk membantu kelancaran arus kas dan dana awal bagi investasi jangka panjang. yang artinya .438 Bab 21: Pinjaman Daerah uang. 2001). pinjaman harus didefinisikan sebagai sumber dana pelengkap untuk mempercepat proses pembangunan daerah. Pinjaman daerah sebaiknya bersifat jangka panjang guna membiayai pembangunan prasarana yang merupakan aset daerah dan dapat menghasilkan penerimaan untuk pembayaran kembali pinjaman serta memberikan manfaat bagi pelayanan masyarakat (Wiratmo. a. Walaupun demikian. 25/1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. pembiayaan defisit anggaran rutin tahunan. Berdasarkan penggunaan dan melihat jangka waktunya maka. 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. Pelaksanaan Undang-undang Nomor 22 dan 25 Tahun 1999 telah menyebabkan terjadi perubahan yang sangat mendasar mengenai pengaturan hubungan pusat dan daerah. dan pembiayaan investasi jangka panjang yang tidak menghasilkan pendapatan secara langsung. yaitu UU No. Pemerintah RI memberlakukan dua undang-undang penting yang berkaitan dengan desentralisasi. pembelian peralatan dan kendaraan yang memiliki umur ekonomis jangka menengah. sehingga daerah tersebut dibebani kewajiban untuk membayar kembali. Salah satu hal penting yang membedakan derajat desentralisasi fiskal antara sebelum dan sesudah keluarnya UU No. Pinjaman pada dasarnya dapat digunakan untuk pembiayaan defisit aliran kas jangka pendek. pembiayaan investasi yang diharapkan dapat secara langsung menghasilkan pendapatan. Dalam hal ini. 22/1999 dan UU No. khususnya dalam bidang administrasi pemerintahan maupun dalam hubungan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah. Beberapa Isu yang Terkait dengan Regulasi Pinjaman Daerah Pada tahun 1999. baik yang bersumber dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Pinjaman jangka panjang dapat digunakan untuk membiayai pembangunan prasarana yang dapat menghasilkan penerimaan untuk pembayaran kembali. Pinjaman harus secara langsung dikaitkan dengan kemampuan mengangsur serta cara mengalokasikan pada pembangunan dan atau penyediaan layanan publik yang produktif. b. serta memberikan manfaat bagi pelayanan masyarakat. 25/1999 adalah diperkenankannya daerah melakukan pinjaman sendiri secara langsung. yang dalam banyak literatur disebut intergovernment fiscal relation yang dalam UU 25/1999 disebut perimbangan keuangan.

yang dalam hal ini adalah pemerintah pusat. Kondisi ini sangat berbeda dengan ketentuan mengenai pinjaman daerah sebelum UU No. (2) Daerah melakukan pinjaman dari sumber luar negeri melalui pemerintah pusat. 25/1999 (lihat Tabel 21. 5/1974 Institutional Setting Persetujuan (Approval) Persetujuan (Approval) Menteri Keuangan • Menteri Dalam Negeri. berkenaan • dengan persetujuan batas • DPRD maksimum pinjaman dan persetujuan pemberian. 25/1999 PP 107/2000 . Pasal 11 UU No. (4) Daerah dapat melakukan pinjaman jangka pendek guna pengaturan arus kas dalam rangka pengelolaan kas daerah.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 439 pemerintah pusat tidak menjadi penjamin (sovereign guarantor). • Menteri Keuangan. (3) Daerah dapat melakukan pinjaman jangka panjang guna membiayai pembangunan prasarana yang merupakan aset daerah dan dapat menghasilkan penerimaan untuk pembayaran kembali pinjaman. Tabel 21. serta memberikan manfaat bagi pelayanan masyarakat. sebagai pengawas RPD dan UU No. 2004). Namun.1 ). dimana negara lender hanya melakukan pinjaman dengan pemerintah pusat sebagai peminjam (Pakpahan. 22/1999 dan UU No. 25/1999 menyebutkan bahwa: (1) Daerah dapat melakukan pinjaman dari sumber dalam negeri untuk membiayai sebagian anggarannya. Hal yang sama juga berlaku untuk pinjaman bilateral.1: Pinjaman Daerah Sebelum dan Setelah Kebijakan Desentralisasi SEBELUM DESENTRALISASI SETELAH DESENTRALISASI Legal Foundation UU No. World Bank. dan lain-lain) mensyaratkan perjanjian pinjaman dilakukan oleh negara sebagai anggota. pada kenyataannya lembaga lender multilateral (ADB.

2000 Lebih jauh. dalam rangka mengimplementasikan Pasal 11 UU No.5 berdasarkan proyeksi penerimaan dan pengeluaran selama jangka waktu pinjaman. • DSCR minimal 2. 25/1999 dan PP 107/2000 adalah sebagai berikut: Sumber Pinjaman Indonesia/Dalam Negeri Institusi tempat Meminjam • Pemerintah Pusat Sumber Dalam Negeri: § Pemerintah Pusat § Perbankan § Lembaga keuangan non-bank § Sumber-sumber lain Sumber Luar Negeri § Bilateral § Multilateral . Sumber-Sumber Pinjaman • Pinjaman Luar Negeri Pemerintah • Pusat • Pinjaman Pemerintah Pusat melalui RDI • INPRES untuk Pembangunan Pasar • • IPEDA • Sumber-sumber Lain (BPD dan sektor swasta) • Pemerintah Pusat melalui RPD Sumber: Alm & Mulyani.5 Bab 21: Pinjaman Daerah Batasan Pinjaman (Persyaratan) • Jumlah kumulatif pokok pinjaman yang wajib dibayar tidak melebihi 75% dari jumlah penerimaan umum APBD tahun sebelumnya.440 persetujuannya Batasan Pinjaman (Persyaratan) • 1982: Debt Service Coverage Ratio (DSCR) < 15% • Kepmendagri Nomor 96 Tahun 1994: § Minimum DSCR = 1 § Average DSCR > 1. • Jumlah maksimum pinjaman jangka pendek adalah 1/6 jumlah belanja APBD tahun anggaran berjalan. Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan regulasi/peraturan. Beberapa komponen kunci tentang pinjaman daerah yang ditetapkan oleh UU No. yaitu PP 107/2000 tentang Pinjaman Daerah. 25/1999.

25/1999 dan Pasal 4 & 5 PP 107/2000 Persyaratan Keterangan Jumlah kumulatif pokok pinjaman daerah yang wajib dibayar tidak melebihi 75% (tujuh puluh lima persen) dari jumlah penerimaan umum APBD tahun sebelumnya. Daerah dapat melakukan pinjaman jangka pendek guna pengaturan arus kas dalam rangka pengelolaan kas daerah. Jangka Panjang (Long • Term) Jangka Term) Pendek (Short • Sumber: Pasal 11 UU No.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 441 • • • • Lembaga Keuangan Bank Lembaga Keuangan Bukan Bank Masyarakat Sumber Lainnya Bilateral Multilateral Luar Negeri • • Sumber: Pasal 11 UU No. Debt Service Coverage Ratio Jangka Panjang (Long • Term) • . 25/1999 dan Pasal 2 PP 107/2000 Jenis/Tipe Pinjaman Penggunaannya Hanya dapat digunakan untuk membiayai pembangunan prasarana yang merupakan aset daerah dan dapat menghasilkan penerimaan untuk pembayaran kembali pinjaman. dan Berdasarkan proyeksi penerimaan dan pengeluaran Daerah tahunan selama jangka waktu pinjaman. serta memberikan manfaat bagi pelayanan masyarakat.

. studi kelayakan dan dokumen-dokumen lain yang diperlukan. Sumber: Pasal 12 PP 107/2000 Prosedur Pinjaman Daerah dari Luar Negeri • Pinjaman daerah yang bersumber dari luar negeri dilakukan melalui pemerintah pusat. • Pemerintah pusat melakukan evaluasi dari berbagai aspek untuk dapat tidaknya menyetujui usulan tersebut. • Daerah mengajukan usulan pinjaman kepada pemerintah pusat disertai surat persetujuan DPRD. pemerintah daerah mengadakan perundingan dengan calon pemberi pinjaman yang hasilnya dilaporkan untuk mendapatkan persetujuan pemerintah pusat. • Daerah dapat melakukan pinjaman daerah yang bersumber dari luar negeri.442 Bab 21: Pinjaman Daerah (DSCR) paling sedikit 2. • Apabila pemerintah pusat telah memberikan persetujuan. Jangka Term) Pendek (Short • Jumlah maksimum pinjaman jangka pendek adalah 1/6 (satu per enam) dari jumlah belanja APBD tahun anggaran yang berjalan. Sumber: Pasal 6 & 7 PP 107/2000 Prosedur Pinjaman Daerah dari Pemerintah Pusat • Untuk memperoleh pinjaman yang bersumber dari pemerintah pusat. • Perjanjian pinjaman yang bersumber dari pemerintah pusat ditandatangani oleh Menteri Keuangan dan kepala daerah. studi kelayakan dan dokumen-dokumen lain yang diperlukan untuk dilakukan evaluasi.5 (dua setengah). daerah mengajukan usulan kepada Menteri Keuangan disertai surat persetujuan DPRD.

• Pembayaran kembali Pinjaman Daerah yang bersumber dari luar negeri oleh Daerah.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 443 setelah terlebih dahulu mendapat persetujuan dari pemerintah pusat. Sumber: Pasal 14 PP 107/2000 Larangan Penjaminan • Daerah dilarang melakukan perjanjian yang bersifat penjaminan terhadap pinjaman pihak lain yang mengakibatkan beban atas keuangan Daerah. • Perjanjian pinjaman daerah yang bersumber dari luar negeri ditandatangani oleh kepala daerah dengan pemberi pinjaman luar negeri. • Dalam hal Daerah tidak memenuhi kewajiban pembayaran atas Pinjaman Daerah yang bersumber dari luar negeri. • Dalam hal Daerah tidak memenuhi kewajiban pembayaran atas Pinjaman Daerah dari Pemerintah Pusat. dilakukan dalam mata uang sesuai yang ditetapkan dalam perjanjian pinjaman luar negeri. Sumber: Pasal 10 PP 107/2000 . • Barang milik Daerah yang digunakan untuk melayani kepentingan umum tidak dapat dijadikan jaminan dalam memperoleh Pinjaman Daerah. Sumber: Pasal 13 PP 107/2000 Pembayaran Kembali Pinjaman Daerah • Semua pembayaran yang menjadi kewajiban Daerah yang jatuh tempo atas Pinjaman Daerah merupakan prioritas dan dianggarkan dalam pengeluaran APBD. maka kewajiban tersebut diselesaikan sesuai perjanjian pinjaman. maka Pemerintah Pusat memperhitungkan kewajiban tersebut dengan Dana Alokasi Umum (DAU) kepada Daerah.

§ Sumber-sumber pinjaman yang dapat dilakukan oleh pemerintah daerah. (2) tingkat urbanisasi yang lebih tinggi. (b) cara pembayaran kembali. (c) tingkat bunga. karena akan menimbulkan mismatch (ketidaktepatan) antara pembayaran yang jatuh tempo dengan waktu penerimaan pengahasilan. (9) dana kontraktor untuk pembangunan proyek-proyek. dan (5) membiayai pembangunan modal jangka panjang (prasarana atau penyediaan pelayanan umum). (3) kewenangan daerah untuk menentukan prioritas investasi daerah. (4) membiayai investasi yang diharapkan dapat menghasilkan penerimaan bagi daerah. karena pemerintah daerah harus memperhitungkan opportunity cost of capital yang sesungguhnya dan memprioritaskan proyek sesuai dengan tingkat manfaat sosial dan ekonomi. yaitu: (1) pinjaman yang bersumber dari pemerintah yang lebih atas. (2) pinjaman yang bersumber dari badan-badan internasional. (3) membeli pabrik dan peralatan dengan unsur jangka menengah. (6) pinjaman hipotek atas aset tetap. . (4) obligasi jangka panjang (bond). § Prinsip pemerintah daerah dalam melakukan pinjaman adalah bahwa penggunaan dana pinjaman harus sesuai dengan karakteristiknya. (5) pinjaman jangka pendek yang diberikan oleh bankbank komersial. § Kebutuhan pinjaman daerah muncul karena alasan sebagai berikut: (1) peningkatan peran pemerintah daerah dalam pengelolaan dan pembiayaan pembangunan proyek-proyek investasi daerah. Proyekproyek yang bersifat jangka panjang dengan manfaat ekonomi dan sosial didanai oleh pembiayaan jangka panjang. (2) membiayai kekurangan dana anggaran tahunan berupa biaya rutin dan beban hutang. (8) dana untuk sewa peralatan (leasing). Pinjaman jangka panjang tidak boleh untuk membiayai kegiatan/investasi jangka panjang. § Persyaratan yang harus dipenuhi dalam ketentuan pinjaman adalah : (a) jangka waktu pinjaman. (d) keamanan pinjaman dan (e) persetujuan dan penyidikan. Pinjaman daerah dari sumber non-pemerintah (private debt sources) akan meningkatkan efisiensi penggunaannya. (7) pinjaman internal yang berasal dari dana cadangan. (4) keterbatasan keuangan pemerintah pusat. § Pendapat yang mendukung pinjaman daerah mengacu pada prinsip keadilan antar generasi (intergenerational equity considerations). dan (5) keterbatasan pemerintah daerah dalam memobilisasi sumber-sumber penerimaan daerah. (3) pinjaman yang berasal dari bank sentral di negara masing-masing.444 Bab 21: Pinjaman Daerah RANGKUMAN § Pinjaman daerah dilakukan dengan tujuan sebagai berikut: (1) menutup kebutuhan dana jangka pendek.

yaitu: (1) DSR (Debt Service Ratio). secara langsung bila disetujui oleh DPRD. metode anuitas. Salah satunya. yaitu semua transaksi yang mengakibatkan daerah menerima dari pihak lain sejumlah uang atau manfaat bernilai uang. merupakan ambang batas kemampuan pelunasan daerah untuk mengendalikan jumlah pinjaman yang relatif aman. sehingga daerah tersebut dibebani kewajiban untuk membayar kembali. melalui pemerintah pusat. World Bank. Termasuk kredit jangka pendek yang lazim dalam perdagangan. daerah dapat melakukan pinjaman yang bersumber dari: (a) dalam negeri.Keuangan Publik: Teori dan Aplikasi 445 § Digunakan dua ukuran untuk memperkirakan kapasitas meminjam pemerintah daerah agar terhindar dari resiko. (b) pinjaman jangka panjang dapat digunakan untuk membiayai pembangunan prasarana yang dapat menghasilkan penerimaan untuk pembayaran kembali serta bermanfaat bagi pelayanan masyarakat. maka: (a) pinjaman jangka pendek dapat digunakan untuk membantu kelancaran kas dan dana awal bagi investasi jangka panjang. diperkenankannya daerah melakukan pinjaman sendiri secara langsung. (b) luar negeri. Namun. LATIHAN 1. Sebutkan persyaratan yang harus dipenuhi didalam ketentuan pinjaman ! 2. artinya pemerintah pusat tidak menjadi penjamin (sovereign guarantor). 107 Tahun 2000. § Berdasarkan Undang-Undang No.25 Tahun 1999. merupakan angka perbandingan antara perkiraan kemampuan daerah yang dapat disisihkan (tabungan netto) dengan total rencana pembayaran pinjaman setiap tahunnya. § Berdasarkan penggunaan dan melihat jangka waktunya. dll) mensyaratkan perjanjian pinjaman dilakukan oleh pemerintah pusat. (2) DCR (Debt Coverage Ratio). § Pinjaman daerah menurut PP No. metode singking fund. Jelaskan cara pembayaran kembali dengan : a. § Dengan berlakunya UU No. pada kenyataannya lembaga lender multilateral (ADB.25/1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah banyak perubahan yang terjadi terkait dengan hubungan antara pusat dan daerah.22/1999 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. b. .

Apa definisi dari pinjaman daerah menurut PP no 107 tahun 2000 ? 16. Jelaskan mengenai Debt Service Fund (DSR) dan Debt Coverage Ratio (DCR)! 4. 28 tahun 1999 ? 6.446 Bab 21: Pinjaman Daerah 3. Sebutkan sumber pinjaman dan metode pinjaman yang dapat dilakukan oleh pemerintah daerah ! 11. Mengapa persyaratan persetujuan diperlukan dalam persyaratan pinjaman daerah? 13. 22 tahun 1999 dan UU no. Bagaimana prosedur pinjaman daerah dari luar negeri ? . Jelaskan batasan pinjaman (persyaratan) dari pinjaman daerah setelah kebijakan desentralisasi ! 17. Apa manfaat dari cara pinjam sewa (leasing) ? 9. Apa yang dimaksud dengan mekanisme pinjaman two step loan dan subsidiary loan agreement ? 12. Bagaimana prosedur pinjaman daerah dari pemerintah pusat ? 15. Jelaskan mengenai larangan penjaminan dalam pinjaman daerah ? 18. Bagaimana cara menghindari mismatch (ketidaktepatan) antara pembayaran pinjaman yang jatuh tempo dengan waktu penerimaan penghasilan ? 10. Jelaskan tujuan pemerintah daerah melakukan pinjaman menurut Davey (1983) ? 8. Apa perbedaan manfaaat dari pinjaman jangka pendek dan pinjaman jangka panjang ? 5. Apa yang membedakan derajat desentralisasi fiskal antara sebelum dan sesudah keluarnya UU no. Darimana saja pinjaman dalam negeri dapat diperoleh (PP 107/2000 pasal 2 ayat 2) ? 7. Jelaskan yang dimaksud dengan prinsip keadilan antar generasi (intergenerational equity considerations) dari pendapat yang mendukung pinjaman daerah ! 14.

Decentralisation. Bird. editor. Davey. Duanjie. dan T. ”Evaluasi atas Alokasi DAU 2001 dan Permasalahannya” dalam Machfud Sidik. 6. Stanley. 1990. 1985. 2003. 1981. Pakpahan. Bambang dan Arlen T. editor. Armida S. Cnossen. J. “Federal Finance and Fiscal Federalism: The Two Worlds of Canadian Public Finance”. Keuangan Negara. Discussion Paper No. Oxford: Clarendon Press. Bennet. MIT Press. Cambridge University Press. University of Toronto (July). The Future of Fiscal Federalism.J. Brennan. Brown. Jakarta. United Kingdom: Cambridge University Press. dan Francois Vaillancourt. John.. Public Finance. Richard M. 1992.Walter dan Winer. dkk. Fiscal Decentralization in Developing Countries. 2002. Bird. F. 2001. 1994b. Hettich. 1998. “Tax Limits and The Logic of Constitutional Restriction. dalam “Democratic Choice and Taxation: A Theoritical and Empirical Analysis”. Public Finance and Public Policy in the New Century. dkk. 1983. Dana Alokasi Umum.M. International Centre for Tax Studies. “A Comparative Perspective on Federal Finance” dalam K. Bird. Courchence. Inc. James. Local Governments and Markets. Richard M. McGraw Hill. Sijbren & Hans-Werner Sinn.G. “Tinjauan Permasalahan serta Prakondisi yang Diperlukan Bagi Pengembangan Penggunaan Pinjaman Daerah di Indonesia”. Due. Arsjad. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. Financing Regional Government: International Practices and Their Relevance to the Third World. 2002. Brodjonegoro.: Queen’s University School of Public Policy. Richard. Aronson. Cambridge. L. Ont.Daftar Pustaka Alisjahbana. Nurjaman. Intermedia. Inc. Government Finance: Economics of the Public Sector. Kingston. 1996. Richard M dan Chen. 1968.J. K. 14 April. Geoffrey dan Buchanan. Richard D Irwin. Banting. D. Makalah pada sidang ISEI. Robert J. . Batam. London. University of Birmingham: Institute of Local Government Studies. Indonesia.

2003. . 2002. Massachusets. Daniel J. Capitalism Magazine. Inc. Edisi Ketujuh. National Bureau of Economic Research. 2000. Bunga Rampai Desentralisasi Fiskal.Working Paper 8829. Stanford University and NBER Andres Rodriguez-Clare. (15 April). Nine Simple Guidelines for Pro-Growth Tax Policy. Tax Incidence. N. 1989. Washington. Jakarta. Richard A dan Peggy B. Mitchell. Hyman. Cambridge. Shome. 2001. International Edition. Norregaard. Principle of Economics. A Contemporary Application of Theory to Policy. Studi yang dilakukan oleh Sustainable Indonesian Growth Alliance (SIAGA) Project A Banking Industry Reform. Public Finance. Musgrave. Magrassi. 2004. Don dan Metcalf. Peter J. Second Edition. Martin. 1984. LPEM Universitas Indonesia bekerjasama dengan Clean Urban Project. “Subnational Investment Needs and Financial Market Response”.. Principle of Political Economy. Fullerton. United States: McGraw-Hill. RTI (1999). London. Mills. USA. 2002. John. 1995.Feldstein. “Laporan Studi Dampak Krisis Ekonomi Terhadap Keuangan Daerah di Indonesia”. Musgrave. “Intergovernmental Fiscal Relations” dalam P. 2004. Working Paper. 2002. Mankiw. National Bereau of Economics Reserach. Marco. Inter-American Development Bank (IADB) (December). Inter-American Development Bank. Public Finance in Theory and Practice. Thompson Learning. DC: International Monetary Fund.. dkk. Debt and Taxes in The Theory of Public Finance. United States: South-Western. Longmans. Jakarta: Direktoral Jenderal Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. “Transfer Antar Tingkat Pemerintahan (Intergovernmental Transfer)” dalam Machfud Sidik. J. Kadjatmiko. Harcourt Colledge Publishers. 1921. Gilbert. Tax Policy Handbook. Cambridge (Maret). Externalities and Growth. Laporan Akhir Pengembangan Obligasi Daerah di Indonesia. editor.S. yang merupakan kerjasama Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada. David N. Gregory. Jogjakarta dengan United States Agency for International Development (USAID). Klenow. Departemen Keuangan RI. 2004.

Sidik. 2002. Makalah yang disampaikan Seminar Nasional Rencana Revisi Undang-Undang Otonomi Daerah Kerja sama Forum Rektor . 2004. Dana Alokasi Umum. “Undang-undang No. Robert A. Machfud. International Fiscal Policy Coordination and Competition: An Exposition. “Undang-undang No.Fraksi Utusan Daerah MPR-RI. 2002. Machfud. New York. Machfud. dkk. Departemen Keuangan RI. 4 April. 2002. Cambridge. Jakarta: Direktoral Jenderal Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. . 1991. 10 April. Dana Alokasi Umum. Sidik. Makalah yang disampaikan dalam Acara Orasi Ilmiah dengan Thema “Strategi Meningkatkan Kemampuan Keuangan daerah Melalui Penggalian Potensi Daerah Dalam Rangka Otonomi Daerah” Acara Wisuda XXI STIA LAN Bandung Tahun Akademik 2001/2002. 2002. McGraw Hill. Assaf and Sadka. Machfud. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. Sidik. “Optimalisasi Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Dalam Rangka Meningkatkan Kemampuan Keuangan Daerah”. Bunga Rampai Desentralisasi Fiskal. “Undang-undang No. Bunga Rampai Desentralisasi Fiskal. Republik Indonesia. Simandjuntak. Public Finance (Sixth Edition). Departemen Keuangan RI.25 Tahun 1999 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pusar dan Daerah”. 2002. Jakarta: Direktoral Jenderal Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. dkk. Efraim. USA. Republik Indonesia. Rosen. National Bureau of Economic Research. 2002. Jakarta. Sidik. Republik Indonesia.Pakpahan. dkk. ”Transfer Pusat ke Daerah: Konsep dan Praktik di Beberapa Negara” Machfud Sidik. Harvey S. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.34 Tahun 2000 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah”. 2004. “Pinjaman Daerah Sebagai Alternatif Pembiayaan Daerah” dalam Machfud Sidik. Razin. Working Paper. Bandung. Massachusets. Arlen T.22 Tahun 1999 Tentang Pemerintah Daerah”. 2004. ”Implementasi UU Nomor 25 Tahun 1999 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat Dan Daerah (Kebijakan Pemerintah Dalam Perimbangan Keuangan)”. dkk.

. Heru dan Singgih Riphat. 1997. Keuangan Negara: Dalam Teori dan Praktek (Edisi 4). Ter-Minassian. 1996a. Washington. The Center on Budget and Policy Priorities. Thompson Learning. Masykur. The International Budget Project.Teresa. 26-27 September. Suparmoko.. DC. Washington DC (Desember). “Perencanaan Pembiayaan Daerah”. Makalah pada Worskhop Manajemen Strategik Penerimaan Daerah dan Keuangan Daerah. Ulbrich. A Guide to Budget Work for NGOs. “Vietnam: Fiscal Decentralization and the Delivery of Rural Services”. Holley. M.A.D. United States: South-Western. Report No. Malang. Indonesia. . World Bank. 2003. 2001. Konsep dan Implementasi. Ph. Washington. “Fiscal Federalism in Theory and Practice”. Wiratmo. 2003. International Monetary Fund. 2001. DC (Oktober). Yogyakarta. Drs. Kompas. M. Jakarta. BPFE. Public Finance in Theory and Practice. Kebijakan Fiskal: Pemikiran. editor. 1996. 15745-VN.Subiyantoro.

You're Reading a Free Preview

Download