Peningkatan Kualitas Pembelajaran Membaca dan Menulis ...

(Wahyu Sukartiningsih)

PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN MEMBACA DAN MENULIS PERMULAAN DI KELAS 1 SEKOLAH DASAR MELALUI MEDIA KATA BERGAMBAR
Wahyu Sukartiningsih∗

Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan media kata bergambar (MKB) untuk meningkatkan kualitas pembelajaran membaca dan menulis permulaan di kelas 1 SD. Adapun, tujuan khusus penelitian ini adalah (1) menyusun prototipe MKB, (2) menguji coba prototipe MKB, dan (3) mengembangkan produk model MKB. Prosedur pengembangan MKB ini didasarkan pada langkah-langkah pengembangan Research and Development (R&D) Model. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas 1 SDN Jepara III Surabaya dengan seorang guru kelas. Data dikumpulkan dengan menggunakan dua jenis instrumen, yaitu pedoman wawancara dan pedoman observasi. Penelitian ini menghasilkan produk MKB yang memiliki karakteristik dan spesifikasi yang tampak dari (1) Wujud, (2) Ukuran, (3) Bentuk Tulisan, (4) Gambar, (5) Jenis kata yang dipakai, dan (6) Warna MKB. Abstrak: The research aims at developing picture word media to improve the quality of the teaching- learning of beginning reading and writing at the 1St grade of elementary school. Where as the specific objectives are (1) to construct a prototype of PWM, (2) to try out this prototype and (3) to develop PWM model. Procedures taken were cased on the steps of R and D model. The research subject was the 1St grade students of SDN Jepara III Surabaya and their class teacher. The instruments used to collect the data were observation sheets and questionnaires. This result obtained was PWM products whose characteristics and specifications appeared on their (1) appearance, (2) size, (3) font, (4) pictures, (5) word, and (6) colour. Kata kunci: pembelajaran, membaca dan menulis permulaan, media kata bergambar

Membaca dan menulis permulaan (selanjutnya disingkat MMP) merupakan kemampuan awal yang harus dimiliki anak untuk dapat membuka cakrawala pengetahuan yang lebih luas. Untuk itu, kemampuan MMP harus dipupuk sejak dini. Jika membaca merupakan kemampuan berbahasa tulis yang bersifat reseptif, maka menulis merupakan kemampuan menghasilkan tulisan. (Zuchdi dan Budiasih, 1996:62). Membaca merupakan proses memperoleh makna dari barang cetak (Spodek dan Saracho, 1994:4). Selanjutnya dikatakan bahwa ada dua cara yang ditempuh pembaca dalam memperoleh makna cetak, yaitu (1) langsung, yakni menghubungkan ciri penanda visual dari tulisan dengan maknanya, dan (2) tidak langsung, yakni mengidentifikasi bunyi dalam kata dan menghubungkannya dengan makna. Cara pertama digunakan oleh pembaca lanjut dan cara kedua digunakan oleh pembaca permulaan.

Dosen Program PGSD-FIP-UNESA 51

Anak mulai belajar memasangkan satu kata dengan kata lain. Mudiono (2000:193) menunjukkan rendahnya kemampuan guru dalam merencanakan dan menentukan metode serta memilih dan menetapkan media di SD Kota Blitar. 52 . menurut Wrigth. 2000:191) mengemukakan pendapatnya bahwa guru akan memiliki kompetensi mengajar jika paling tidak menguasai pemahaman dan penerapan secara taktik berbagai metode pembelajaran serta hubungannya dengan belajar.5. Tahap keberwacanaan ini merupakan tujuan pembelajaran di sekolah dasar (selanjutnya disingkat SD) kelas-kelas awal. 1979. anak mulai menyadari tentang fungsi barang cetak. Anwar (1997: 157) menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan bentuk latihan membaca permulaan karena disebabkan faktor guru. Untuk mengatasi masalah tersebut. perlu dilakukan perancangan pembelajaran yang mempertimbangan segi kemenarikan penyajiannya. tahap perkembangan. Salah satu bentuk upaya pengembangan media yang dipakai dalam pembelajaran membaca permulaan di SD. Dalam hal ini. Program pembelajaran yang menggunakan seperangkat media merupakan upaya efektif untuk meningkatkan daya tarik pembelajaran (Sahalessy. Terkait dengan upaya perancangan media pembelajaran yang dibuat oleh guru. Silitonga. Vol. memilih. pada tahap keberwacanaan ini. Secara teknis. Budiono. Beberapa hasil penelitian menunjukkan rendahnya kemampuan baca tulis siswa dan banyaknya keluhan terhadap pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang diduga akibat kelemahan guru. anak mulai mengubah kebiasaan membaca bersuara menjadi membaca dalam hati.1. serta sarana penunjang. Apalagi untuk mengajar MMP pada anak-anak usia kelas awal yang masih berada dalam usia bermain dan belum memungkinkan untuk menghadapkan mereka pada situasi pembelajaran yang serius. Untuk itu. anak-anak diharapkan dapat menemukan sendiri sistem kebahasaan bahasa Indonesia (selanjutnya disingkat BI) melalui proses pembelajaran bahasa yang dilakukan berdasarkan konteks. yaitu tahap persiapan. 1992 (dalam Mudiono. dan konsep tentang kata.Jurnal Pendidikan Dasar. dalam hasil penelitiannya terhadap kemampuan guru dalam pembelajaran membaca dan menulis permulaan. Menurut Degeng (1997: 25) perancangan pembelajaran dapat dijadikan titik awal perbaikan kualitas desain pembelajaran. dan tahap transisi. Dalam tahap transisi. anak mulai memahami pola bahasa yang terdapat dalam barang cetak. Burhan. Berdasarkan hasil penelitiannya. dan menggunakan media sesuai dengan tujuan. Anak mulai dapat melakukan kegiatan membaca dengan santai. di samping kemampuankemampuan lain yang menunjang. berdasarkan pendekatan Struktural Analisis Sintesis (SAS) adalah media kartu kata bergambar. No. 2004: 51–60 Membaca permulaan merupakan kemampuan membaca pada tahap keberwacanaan. Nisrina (2000:165) telah membuktikan bahwa secara umum penguasaan membaca dan menulis permulaan siswa SD belum maksimal. pengembangan media yang tepat merupakan suatu usaha untuk menyiapkan kondisi belajar yang lebih baik yang pada akhirnya dapat meningkatkan mutu pembelajaran membaca permulaan di SD. Combs (1996: 15) memilah kegiatan membaca permulaan menjadi 3 tahap. Dalam tahap perkembangan. latar belakang. 1993. konsep tentang cara kerja barang cetak. hasil penelitian yang dilakukan Mudiono (2000:194) menunjukkan bahwa guru sangat kurang kemampuannya dalam menentukan. lingkungan sosial. mengajar anak untuk dapat membaca dan menulis merupakan kegiatan yang sulit dilakukan. 1998:30). Dalam tahap persiapan. Namun. Dari penelitian yang telah dilakukan terhadap pembelajaran MMP. Penelitian semacam juga dilakukan oleh Anwar (1997). yaitu kelas 1 dan 2. dkk (1993:15). Selain itu. konsep tentang huruf.

dan (3) mengembangkan produk model MKB untuk pembelajaran MMP di kelas 1 SD. dapat dirumuskan masalah penelitian. hasil penelitian ini mempunyai manfaat: (a) bagi dunia pendidikan. (2) Secara praktis. yaitu (1) pengembangan aspek sosial anak. Namun. (2) pengembangan fisik. percaya diri. koordinasi gerak mata. (Wahyu Sukartiningsih) Namun.. dan rasa tanggung jawab. Menurut Clay (1966:6) ada tiga hal pokok yang perlu diperhatikan guru dalam pembelajaran MMP. menarik. kestabilan emosi. maka penelitian ini hanya difokuskan pada mengujicoba prototipe media yang berbentuk modifikasi dari bentuk media yang pernah digunakan di SD-SD maupun yang ada di toko-toko buku serta mengembangkannya menjadi produk media dengan mengadopsi berbagai teori dan prinsip-prinsip pembelajaran yang dikemukakan oleh para ahli pendidikan. yakni (1) Bagaimanakah penyusunan prototipe MKB untuk pembelajaran MMP di kelas 1 SD? (2) Bagaimanakah uji coba prototipe MKB untuk pembelajaran MMP di kelas 1 SD? dan (3) Bagaimanakah pengembangan produk model MKB untuk pembelajaran MMP di kelas 1 SD? Berdasarkan permasalahan yang ingin diteliti dalam penelitian ini. teknologi. maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan MKB untuk pembelajaran MMP di kelas 1 SD. yakni (1) menyusun prototipe MKB untuk pembelajaran MMP di kelas 1 SD. dan (3) perkembangan kognitif. hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh para guru untuk memilih dan menentukan jenis media yang dapat membantu pembelajaran MMP serta untuk menyediakan media belajar anak yang mudah digunakan. diperoleh fakta bahwa belum ada satupun media kata bergambar yang mengakomodasi berbagai prinsip dari berbagai bidang ilmu dan teori yang terkait dalam pembuatan media pembelajaran yang sesuai dipakai sebagai media pembelajaran membaca dan menulis permulaan untuk anak kelas 1 SD. maupun ahli media. yaitu “Bagaimanakah pengembangan MKB untuk pembelajaran MMP di kelas 1 SD?” Masalah umum ini selanjutnya dapat dirinci menjadi masalah yang lebih khusus. Tujuan umum ini selanjutnya dapat dirinci menjadi tujuan yang lebih khusus.. ahli psikologi perkembangan anak. dan seni. yakni (1) Secara teoretis dapat memberikan kontribusi: (a) menyusun prototipe MKB untuk pembelajaran MMP di kelas 1 SD dan (b) mendukung aplikasi teoretis tentang pengaruh penggunaan media gambar terhadap kemampuan MMP. berdasarkan survei yang pernah dilakukan terhadap media kata bergambar (selanjutnya disingkat MKB) yang digunakan di sekolah-sekolah maupun yang dipasarkan di toko-toko buku serta yang beredar di masyarakat luas. yakni membedakan bunyi. penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan. dengan merujuk pada prinsipprinsip perkembangan membaca dan menulis pada anak. yakni kemampuan bekerja sama. Berdasarkan hal itu. (2) mendeskripsikan hasil uji coba prototipe MKB untuk pembelajaran MMP di kelas 1 SD. Selanjutnya. pengendalian diri. hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan untuk memproduksi MKB untuk dipasarkan di sekolah-sekolah maupun toko buku. menghubungkan kata dan 53 . huruf. yakni pengaturan gerak motorik.Peningkatan Kualitas Pembelajaran Membaca dan Menulis . upaya pengembangan media yang menarik dan sesuai untuk pembelajaran membaca dan menulis permulaan di kelas 1 SD (tahap awal membaca dan menulis) berupa media kata bergambar perlu dilakukan. dan sesuai dengan perkembangan anak dalam rangka merangsang kegemaran membaca dan (b) bagi dunia industri. karena jenis media kartu kata bergambar merupakan bentuk media yang dikembangkan berdasarkan metode SAS. Untuk itu.

misalnya guru meminta anak memberi nama gambar dan guru membantu menuliskan nama gambar yang diinginkan anak. Vol. misalnya untuk membelajarkan huruf a. (2) meningkatkan daya tarik dan perhatian pembelajar. Bewall dan Straw (dalam Zuchdi dan Budiasih. berbicara menggunakan kalimat Fase Semantik Anak dapat membedakan kata sebagai simbol dan konsep yang terkandung dalam kata 2 – 7 tahun 7 – 11 tahun Hal yang sangat terkait dengan upaya untuk mengadopsi berbagai teori tersebut dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran MMP adalah upaya perancangan atau pemilihan media pembelajaran. (3) kredibilitasnya. pecahan suku kata. dan (3) meningkatkan sistematika pembelajaran. Dalam hal ini. pembelajaran membaca dan menulis dilakukan secara terpadu. 1996/1997:6) membandingkan perkembangan kognitif Piaget dengan perkembangan bahasa sebagai berikut: Tabel 1: Perbandingan Fase Perkembangan Kognitif dengan Bahasa Perkiraan Umur Lahir – 2 tahun Fase-Fase Perkembangan Kognitif Menurut Piaget Periode Sensorimotor Anak memanipulasi objek di lingkungannya dan mulai membentuk konsep Periode Praoperasional Anak memahami pikiran simbolik. (2) keterpahaman. Selanjutnya. Kemudian. mulamula anak diminta melakukan hal-hal yang ada dalam kalimat (perintah) “Ambil apel itu”. dan huruf dan dipakai sebagai media pembelajaran pengenalan huruf a. pembelajaran membaca dapat dilakukan dengan mengadopsi ilmu jiwa gestalt sebagaimana yang dilakukan oleh Decroly (Depdikbud. (3) fase operasional kongkret.1. Selain itu. pembelajaran dimulai dari konteks. Adapun kriteria keberhasilan media terdiri atas (1) tingkat ketertarikan. Dalam hal ini. dan (4) fase operasional formal. (4) tingkat identifikasi perilaku atau kejadian.5. Dalam model ini. (6) daya penuh terhadap pemusatan perhatian. tetapi belum dapat berpikir logis Periode Operasional Anak dapat berpikir logis mengenai benda-benda kongret Fase-Fase Perkembangan Bahasa Fase Fonologis Anak mulai bermain dengan bunyibunyi bahasa. yaitu (1) fase sensorimotor. (7) 54 . (2) fase praoperasional. Piaget mengemukakan empat fase perkembangan kognitif. 2000:22). Media digunakan dalam kegiatan pembelajaran karena memiliki kemampuan untuk (1) menyajikan peristiwa yang kompleks dan rumit menjadi lebih sistematik dan sederhana. kalimat (perintah) tersebut ditranskripsikan menjadi kartu kalimat. kartu kata. mulai mengoceh sampai menyebutkan kata-kata sederhana Fase Sintaktik Anak menunjukkan kesadaran gramatis. 2004: 51–60 makna. Media adalah alat bantu pengajaran dalam kegiatan belajar mengajar yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi.Jurnal Pendidikan Dasar. Berdasarkan pendekatan integratif (whole language) yang dikemukakan oleh Vigotsky. No. Muchadis (1996:14) mengemukakan beberapa kriteria yang dapat dipakai untuk menentukan keberhasilan suatu media pembelajaran. (5) ketepatan pesan yang disampaikan.

Pada tahap ini. yang terjadi sebelum anak berumur 6 tahun. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas 1 SDN Jepara III Surabaya. (11) tingkat keakuratan isinya. dan (14) standar teknis. Dipilihnya metode research and development (R&D) ini didasari suatu pertimbangan. 1981: 255). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa pedoman wawancara dan pedoman observasi. (2) ujicoba prototipe kepada siswa kelas 1 SD dan direvisi. Data yang diperoleh dalam penelitian ini dipakai sebagai dasar pengembangan produk MKB dalam pembelajaran MMP untuk siswa kelas 1 SD. 2000:21-22). dan (2) R&D dikembangkan sebagai kelanjutan potensial dari temuan dalam penelitian dasar terapan yang dilakukan di dalam sekolah menjadi sebuah produk pendidikan yang bermanfaat. keefisienan. Oleh karena itu. Subjek penelitian ini dijadikan sebagai (1) sumber data untuk menganalisis kebutuhan media pembelajaran dan (2) subjek ujicoba prototipe pengembangan media. dan keefektivan serta kemenarikannya dengan cara (1) mengadopsi prinsip-prinsip yang dikemukakan Goodman (dalam Owens. Metode Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan dengan menggunakan metode penelitian dan pengembangan produk (research and development) (Borg. dan (3) produk model MKB. (4) memperhatikan fase-fase perkembangan kebahasaan anak sebagaimana yang disimpulkan oleh Bewall dan Straw (dalam Zuchdi dan Budiasih. SDN Jepara III Surabaya beralamat di Jalan Purwodadi Raya 64 Surabaya. (10) tingkat penghargaan terhadap nilai-nilai. anak menjadi sadar pada cetakan yang tampak serta dapat menemukan kata yang sudah dikenal. 1997: 25) dan kemenarikan dari sudut pandang seni rupa. (9) keseimbangannya dengan kelompok masyarakat. bentuk MKB dengan ukuran gambar dan ukuran huruf tertentu sangat tepat dipakai sebagai media pembelajaran membaca dan menulis permulaan. Data penelitian ini ada dua jenis. Adapun pengembangan media yang akan dilakukan perlu memperhatikan prinsip-prinsip ketepatan. keoptimalan. Pedoman wawancara digunakan untuk memperoleh informasi tentang perwujudan prototipe MKB yang dipergunakan dalam pembelajaran MMP pada 55 .. Untuk itu. maupun (5) memperhatikan kemenarikannya berdasarkan prinsip teknologi pembuatan media (Degeng. prosedur pengembangan MKB ini didasarkan pada langkah-langkah pengembangan model R&D. (3) mengadopsi metode sintesa Montessori dalam permainan membaca (Depdikbud. dan (2) data dari hasil observasi tentang kelayakan MKB sebagai sebuah media. 1997:6). (Wahyu Sukartiningsih) tingkat kesesuaiannya dengan usia. 1992:400) bahwa dalam fase pramembaca. (2) mengadopsi metode global Decroly dari teori ilmu jiwa Gestalt. bahwa anak memaknai segala sesuatu secara keseluruhan (global). (8) keefektifan pendekatannya.Peningkatan Kualitas Pembelajaran Membaca dan Menulis . (12) kontribusinya terhadap kemampuan daya ingat. Kelas 1 SDN Jepara III ini beranggotakan 32 siswa yang dibina oleh seorang guru kelas yang juga merangkap sebagai wali kelas bernama Ibu Risnawati. (13) efektif. yakni (1) data berupa informasi yang diperoleh melalui wawancara dengan siswa kelas 1 SD mengenai MKB yang diperlihatkan kepada mereka dan melalui wawancara dengan guru-guru SD. anak-anak mempelajari perbedaan huruf dan perbedaan angka yang satu dengan yang lain.. yakni (1) tujuan R&D pendidikan adalah suatu produk akhir yang dapat digunakan secara efektif di program pendidikan. yaitu (1) pengembangan prototipe MKB untuk pembelajaran MMP di kelas 1 SD. sehingga kemudian dapat mengenal setiap huruf dan setiap angka.

Namun. Peneliti hadir juga di kelas untuk melakukan observasi secara langsung terhadap pelaksanaan pembelajaran yang menggunakan media MKB. peneliti menyusun prototipe MKB.5. misalnya huruf yang digunakan terlalu kecil atau warnanya tidak menarik. Ada beberapa perangkat prototipe MKB yang memuat kata-kata yang berawal huruf dari a sampai dengan z dengan berbagai variasi gambar. Prototipe MKB dibuat dengan bermacam ukuran dan berbagai variasi gambar.1. Dalam hal ini hanya guru yang tahu bahwa pembelajaran yang dilakukan ketika itu adalah pembelajaran yang berfokus pada mengujicoba prototipe MKB. dapat diamati kekurangan-kekurangan prototipe MKB yang telah dirancang peneliti. melalui 56 . (3) Mengklasifikasikan data sesuai kebutuhan pengembangan media. gambarnya terlalu kecil. sebagai media alternatif.Jurnal Pendidikan Dasar. yakni mengidentifikasi data yang terkumpul digunakan sebagai bahan untuk melakukan kegiatan klasifikasi. misalnya untuk huruf a digunakan kata anggur atau apel dengan memvariasikan gambar anggur dan apel. gambarnya rancu. (2) Mengidentifikasi data. bahkan sudah membaca kalimat. dan (7) Produk akhir MKB untuk pembelajaran membaca dan menulis permulaan di kelas 1 SD. Vol. MKB dapat dirancang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan siswa karena di samping sebagai media pembelajaran membaca dan menulis pada tingkat yang paling awal. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara tidak terstruktur dan observasi pelaksanaan pembelajaran sebagai bentuk ujicoba prototipe MKB. 2004: 51–60 siswa kelas 1 SD. Dalam pelaksanaan ujicoba. sedangkan siswa diupayakan tidak mengetahuinya. Dari kekurangan-kekurangan tersebut. No. MKB juga dapat dipakai sebagai media untuk menguji kemampuan membaca dan menulis siswa. (6) Revisi terhadap prototipe MKB. dan sebagainya. Wawancara digunakan untuk mewawancarai informan dalam hal ini siswa SD kelas 1 dan guru yang mengajar di kelas tersebut. Selanjutnya hasil observasi tersebut dikroscekkan dengan hasil wawancara dengan siswa dan guru untuk ditemukan kekurangan-kekurangan prototipe MKB. (4) Pengembangan prototipe MKB untuk pembelajaran membaca dan menulis permulaan di kelas 1 SD. Dari hasil ujicoba MKB. Data yang sudah dikumpulkan dalam kegiatan pengumpulan data kemudian dianalisis dan ditafsirkan dengan menggunakan prosedur sebagai berikut: (1) Menterjemahkan jenis data menjadi data kualitatif. kehadiran peneliti diupayakan tetap menjaga iklim natural pada kelas. Misalnya. guru melakukan kegiatan pembelajaran sebagaimana biasanya. Prototipe MKB dipergunakan untuk memberikan model bentuk MKB yang akan dikembangkan menjadi media pembelajaran MMP yang diberikan untuk siswa kelas 1 SD. Pedoman observasi dipakai untuk mengobservasi pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan MKB dan untuk mengobservasi kelayakan MKB sebagai sebuah media. Namun. (5) Analisis terhadap hasil ujicoba berupa analisis aspek fisik dan kualifikasi MKB sebagai bentuk media pembelajaran. ditemukan bahwa siswa SD kelas 1 pada pertengahan semester 1 ternyata sudah bisa membaca kata. Hasil dan Pembahasan Sebelum dilakukan ujicoba MKB di lapangan. Dari hasil observasi. Gambar-gambar yang dibuat divariasikan dari segi bentuk konkret gambar sesuai dengan variasi katanya. peneliti berupaya memperbaikinya dalam upaya menghasilkan produk MKB yang layak sebagai media pembelajaran.

ternyata perlu mendapatkan pembenahan-pembenahan dan modifikasi-modifikasi tertentu agar MKB ini dapat dipakai sebagai media pembelajaran yang dapat dipakai oleh guru di depan kelas. misalnya dengan penyebutan dengan menggunakan bahasa Jawa. seperti bebek untuk tulisan itik.. yakni yang tidak memberikan nuansa formal dan tidak menjemukan bagi anak. (b) Gambar mengacu pada benda secara jelas. (g) Posisi tulisan diletakkan di bawah gambar. (d) Menggunakan bentuk huruf cetak. (c) Untuk kartu yang berukuran 32 cm x 44 cm. Karakteristik dan spesifikasi prototipe MKB yang telah ditentukan sebelum diujicobakan dan dikembangkan dalam penelitian ini. Dalam hal ini. (Wahyu Sukartiningsih) pendekatan terpadu antara kemampuan berlari. Sebagai media pembelajaran yang penting digunakan di depan kelas oleh guru. keterampilan bergerak cepat. (4) Gambar: (a) Merupakan gambar konkret yang diacu oleh kata yang tertulis di bawah gambar. (2) Ukuran: (a) Untuk penggunaan sebagai media pembelajaran di depan kelas digunakan kartu berukuran 20 cm x 30 cm dan 32 cm x 44 cm. MKB tidak difungsikan untuk media pembelajaran yang disampaikan guru di depan kelas. mereka bisa menyebutkan tulisan yang ada di bawah gambar dengan benar. artinya tidak menimbulkan persepsi lain (persepsi ganda) bagi pengamatnya.. dan membaca atau menulis dengan cepat. huruf awal kata. sebagai media permainan. tetapi dapat dipakai sebagai media permainan untuk memberikan nuansa ceria dan kegembiraan dalam belajar. Ukuran hurufnya perlu disesuaikan dengan ukuran kartu yang digunakan. sedangkan panjangnya berukuran 3-4 cm (atau berukuran 72 pada pengetikan dengan komputer). Namun setelah dibetulkan oleh guru. sedangkan panjangnya berukuran 4-5 cm. dan mengasosiakan gambar dan tulisannya secara tidak tepat. maupun dibuat semacam album kartu kata. (b) Untuk kartu yang berukuran 20 cm x 30 cm.Peningkatan Kualitas Pembelajaran Membaca dan Menulis . bukan dari bahasa daerah atau bahasa-bahasa slang. atau ukuran-ukuran yang lebih besar. (b) Dapat dibawa dan ditunjukkan di depan kelas kepada siswa. memberikan kesempatan kepada anak untuk mengembangkan daya asosiasinya antara gambar. Dari pelaksanaan ujicoba. (3) Bentuk Tulisan: (a) Berukuran besar sehingga dapat terbaca oleh siswa yang duduk paling belakang. kemungkinan mulamula anak-anak yang belum bisa membaca. dapat ditempel di papan planel (dengan ditempeli perekat baju). (h) Tulisan yang digunakan menunjukkan contoh kata-kata yang dibakukan dalam bahasa Indonesia. da. Ketika diberikan MKB ini. MKB ini sangat cocok dipakai sebagai media pembelajaran membaca dan menulis permulaan di tingkat TK maupun di kelas rendah SD. (f) Huruf pada awal kata dibuat mencolok atau menonjol dibandingkan dengan huruf-huruf berikutnya. dapat digantung di kayu panjang atau di dinding (dengan dilubangi bagian atasnya). baik dengan pemberian warna yang mencolok maupun dalam bentuk lebih besar dan tebal. dan lebih efektif. dan kata. guru dapat menguji kemampuan membaca dan menulis siswa dengan cara menyuruh siswa beradu kecepatan untuk mencari MKB yang sesuai dengan huruf awal atau kata-kata yang disebutkan guru. (b) Untuk ditempel di papan planel. (e) Tidak mempergunakan huruf kapital walaupun di awal kata. huruf yang digunakan berukuran lebar 2-4 cm. menarik. huruf yang digunakan berukuran lebar 2-3 cm. peneliti memperoleh bahan untuk mengembangkan lebih lanjut MKB sebagaimana yang diharapkan. dapat lebih diperkecil hingga kurang lebih 13 cm x 20 cm atau lebih kecil lagi. Misalnya. dan (i) Tulisan atau huruf hendaknya dibuat dengan warna-warna yang cerah namun tetap jelas. Adapun karakteristik dan spesifikasi MKB yang telah dikembangkan melalui penelitian ini adalah (1) Wujud: (a) Kartu atau buku (dari kumpulan kartu yang dijilid) yang setiap lembarnya terdiri atas gambar dan kata yang mengacu pada gambar tersebut. 57 .

mereka sudah terbiasa dengan merangkaikan huruf demi huruf sebagaimana ketika mereka mengeja sehingga pemikiran mereka sangat terbatas pada aspek struktural dan nantinya akan sangat menghambat keterampilan membaca lanjut dan kecepatan membacanya. metode mengeja lebih cepat membuat anak dapat membaca dan menulis. MKB ini diharapkan juga dapat memenuhi kebutuhan media pembelajaran berdasarkan metode SAS (dalam hal ini metode SAS pada tahap membaca tanpa buku) sebagai upaya untuk memberikan alternatif media pembelajaran MMP. Vol. (3) kebiasaan mengeja juga akan mempengaruhi gerakan-gerakan fisik 58 . dan (6) Warna Dasar:Warna putih atau warna terang dan polos Adapun. (e) Posisi gambar berada di atas tulisan.5. angsa. (2) anak yang sudah terbiasa mengeja sejak awal mereka bisa membaca maka kebiasaan tersebut akan sulit mereka hilangkan ketika mereka berada di kelas tinggi di kelas 3 atau 4. Memang. MKB ini juga diharapkan dapat meminimalkan penggunaan metode mengeja yang mungkin masih mendominasi sistem pembelajaran MMP di SD. Dalam hal ini. atau apel. dan (f) Gambar dibuat bervariasi dan berwarna-warni dengan warna-warna yang cerah atau mencolok supaya menarik.1. MKB yang dikembangkan dalam bentuk kartu ini didasarkan pada teori sintesa yang dikemukakan Montessori yang memberikan pengertian bahwa suatu unsur (misalnya unsur huruf) akan bermakna jika unsur tersebut berhubungan (berasosiasi) dengan unsur lain sehingga membentuk suatu arti. Efek buruk tersebut antara lain adalah (1) dalam perkembangan kognitif anak ketika membaca. Namun mereka tidak menyadari efek buruknya bagi kemampuan dan keterampilan anak dalam membaca lanjut yang dimulai pada saat anak menginjak kelas 3 SD. hasil pengembangan MKB dapat dicontohkan sebagai berikut. bahkan sampai di kelas 6. karena sebagian guru masih tetap menganggap bahwa metode mengeja merupakan metode paling efektif dipakai untuk pembelajaran MMP karena siswa cepat bisa membaca. dipandang dari sisi cepatnya dipahami anak. (d) Satu gambar hanya digunakan untuk satu kata. 2004: 51–60 gambar harimau dipersepsi lain menjadi gambar kucing. Terapan dari teori yang dikemukakan Montessori ini dalam pembelajaran adalah memperkenalkan huruf a disertai dengan gambar ayam. (c) Gambar dibuat besar dan memenuhi sebagian besar atau kurang lebih 75% lembaran kartu. No. (5) Jenis Kata: Jenis Kata Nomina karena bersifat kongkret dan dapat diamati oleh anak. guru tidak menyadari efek lain dari proses pembelajaran yang sifatnya instan.Jurnal Pendidikan Dasar. Bentuk MKB ini diharapkan dapat menimbulkan daya asosiasi pada anak sehingga anak dapat menemukan sendiri kaidah-kaidah dalam membaca dan menulis melalui daya asosiasinya.

gambar itik dipakai untuk mengenalkan huruf i dengan menggunakan tulisan kata itik di bawah gambar bukannya untuk mengenalkan huruf b dengan menggunakan kata bebek. Bagi para dosen pengampu Matakuliah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah di PGSD dan para guru SD. Pengenalan huruf semacam ini tidak menyalahi tahap perkembangan anak pada saat itu karena tidak ada unsure pemaksaan penguasaan secara struktural terhadap penguasaan huruf. dapat disampaikan saran sebagai berikut. Namun. guru akan mengambil jalan pintas dengan tetap membelajarkan MMP dengan menggunakan metode mengeja. namun juga menunjang keterampilan membaca dan menulis anak pada tahap lanjut. misalnya hanya MKB dengan kata apel. ayam. PPKN. guru memiliki seperangkat MKB untuk mengenalkan huruf a pada anak berupa MKB yang menggunakan kata apel. misalnya membaca dalam hati namun tetap menggerak-gerakkan mulutnya sehingga akan dapat mengganggu kecepatannya membaca.. dan (4) Kebiasaan membaca dengan mengeja akan memperlambat kemampuan dan keterampilan anak dalam membaca cepat sehingga akan mempengaruhi kemampuan anak untuk memahami materi-materi pelajaran lain yang memerlukan keterampilan membaca dengan baik. Jika anak sudah mendapatkannya di TK. perlu memperhatikan efektivitas MKB ini sebagai salah satu media alternatif dalam pembelajaran MMP. namun anak tidak bisa menguasai kaidahnya secara cepat. Dari penelitian yang dilakukan dapat diperoleh simpulan bahwa MKB sebaiknya diberikan sejak anak berada di TK sebelum dia memasuki jenjang pendidikan SD. MKB juga dapat digunakan untuk mengenalkan kosakata-kosakata dalam BI. dan sebagainya. membutuhkan energi yang cukup besar bagi guru. membacakan dongeng. Dengan demikian. jika penggunaan MKB ini baru dimulai di kelas 1 SD maka guru akan menganggap bahwa metode SAS semacam ini tidak efektif karena pembelajarannya terlalu lama. Dengan demikian. dan sebagainya. IPS. (Wahyu Sukartiningsih) anak ketika membaca. membutuhkan modal besar. guru dapat memberikan berbagai variasi MKB untuk memunculkan daya asosiasi pada anak. anggur. permainan boneka. Kata-kata yang digunakan dalam MKB untuk mengenalkan huruf-huruf tertentu kepada anak juga perlu mempertimbangkan kosakata yang dibakukan dalam BI. guru tidak hanya mengenalkan satu MKB untuk satu huruf a. Berdasarkan simpulan penelitian ini. maka dia akan lebih mudah menemukan konsep gramatisnya ketika di kelas 1 SD. Misalnya. Beberapa waktu yang lalu pernah didrop media semacam MKB ini. metode membaca puisi. dan sejenisnya. Untuk 59 .Peningkatan Kualitas Pembelajaran Membaca dan Menulis . Simpulan dan Saran Dari hasil penelitian dapat dikembangkan seperangkat MKB yang dapat dipergunakan sebagai media alternatif dalam pembelajaran MMP di SD selain media lain yang dapat digunakan. Maksudnya. seperti pelajaran IPA.. dramatisasi. Contohnya. MKB yang dikembangkan dalam penelitian ini memiliki karakteristik dan spesifikasi tertentu yang sangat bermanfaat tidak saja untuk menunjang kemampuan membaca dan menulis anak pada tahap yang paling awal. dalam MKB diupayakan untuk tidak menggunakan kata-kata dari bahasa daerah (yang bukan diadopsi menjadi bahasa Indonesia) atau kata-kata yang dipergunakan oleh kelompok tertentu dalam bahasa-bahasa slang. Untuk itu. di samping dipergunakan untuk mengenalkan huruf-huruf tertentu kepada siswa. di antaranya adalah metode syair dan lagu. namun tidak bertahan lama karena rusak. Ketika di TK. Bentuk pengenalan huruf semacam ini memang memerlukan proses yang agak lama dibandingkan dengan metode mengeja.

Jakarta: Depdikbud. Jakarta: Depdikbud. 2 (3):8-15. Dongeng. Zuchdi. Surabaya Depdikbud. 1998. Games for Language Learning. Tesis Tidak Diterbitkan. 1990. Malang: PPS UM. 2004: 51–60 itu perlu dikembangkan MKB yang dapat lebih awet digunakan. Dick. Glenview: Scott. R. 1996. Permainan Membaca dan Menulis di Taman Kanak-Kanak. A. 2000. Malang: PPS IKIP Malang. dan lain-lain. American Journal of Education. Owens. 1997. Rofi’uddin. 2000. (Ed). Vol. Darmiyati dan Budiasih. 1997. Pengaruh Pengorganisasian Isi Prosedural.S. Sahalessy. 1999. dan Karyawan Sekolah Ciputra Surabaya. Inc. 1997. Tahun 27 Nomor 2 Juli. A. Kemampuan Guru dalam Pembelajaran Baca Tulis Permulaan di SD dalam Jurnal Ilmu Pendidikan: Jurnal Filsafat. New York: Longman. Teori dan Praktik Kependidikan. Depdikbud.5. Auckland: University of Auckland. 1996. 1981. Mudiono. Penulisan Bahan Ajar: Modul Pembelajaran dalam Pelatihan Staf. Malang: FIP UM Nisrina. misalnya dengan menggunakan bahan karton tebal atau lempengan kayu. 4 (2):173. 60 . 6 (1):11-12. Walter R. New York: Macmillan Publishing Company. Kurikulum Pendidikan Dasar : GBPP SD Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. James.Jurnal Pendidikan Dasar. Riegeluth. Jakarta: Depdikbud. I. Pendidikan Bahasa dan Sastra di Kelas Tinggi. David Betteridge. Guru.1. Folklor Indonesia: Ilmu Gosip. and Michael Buckby. Clay. Jakarta: Depdikbud. Carey. Foresman. 1989. Muchadis. Khairil. Alif.N. Masalah-masalah Belajar Abad 21: Tinjauan Pendayagunaan Teknologi Informasi. dan Bakat Berpikir Mekanik terhadap Hasil Belajar dan Transfer Belajar di Sekolah Teknologi Menengah. A. 1996/1997. Emergent Reading Behavior. Daftar Acuan Anwar. and L. The Systematic Design of Instruction. Jornal of Instruction Development. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah. Englewood Cliff. 1992. 102 (1):2-3. 1966. M. Language Development: An Introduction. Andrew.J: Prentice Hall. Pembelajaran Membaca Permulaan melalui Permainan Bahasa di Kelas 1 SD. 1994. Combs. Pelaksanaan Latihan Membaca Permulaan di SDN Kotamadya Banjarmasin. Close to Home: Comparative Prespective of Childhood and Community Violence. Development Competence Readers and Writers in The Primary Grades. Applying Educational Research: A Praktical Guide for Teachers. 1994. Locus of Control. 1993. No. Degeng.M. Danandjaya. Tesis tidak diterbitkan. N. Borg. Ahmad dan Darmiyati Zuchdi. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti. Wright.E. Jurnal Teknologi Pembelajaran: Teori dan Penelitian. and Company. Martha. C. Jurnal Teknologi Pembelajaran: teori dan Penelitian. Errante. W. In Search of Better Way to Organize Instruction: The Theory. Siti. Great Britain: Cambridge University Press. 2000.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful