P. 1
Warta Bea Cukai Edisi 407

Warta Bea Cukai Edisi 407

5.0

|Views: 2,761|Likes:
Published by bcperak

More info:

Published by: bcperak on Nov 05, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/06/2013

pdf

text

original

TAHUN XL EDISI 407

OKTOBER 2008

REORGANISASI
MEWUJUDKAN ORGANISASI YANG EFEKTIF DAN EFISIEN

DJBC

PROFIL

UNTUNG BASUKI
“RASA SOSIAL, EMPATI, KEJUJURAN AKAN SELALU DITUNTUT DARI KITA...”

WAWANCARA

KAMIL SJOEIB
“REORGANISASI SEJALAN DENGAN REFORMASI KEPABEANAN DAN REFORMASI BIROKRASI...”

DARI REDAKSI
Keluarga Besar WARTA BEA CUKAI mengucapkan :
TERBIT SEJAK 25 APRIL 1968
IZIN DEPPEN: NO. 1331/SK/DIRJEN-G/SIT/72 TANGGAL, 20 JUNI 1972 ISSN.0216-2483 PELINDUNG Direktur Jenderal Bea dan Cukai: Drs. Anwar Suprijadi, MSc PENASEHAT Direktur Penerimaan & Peraturan Kepabeanan dan Cukai: Drs. Hanafi Usman Direktur Teknis Kepabeanan Ir. Agung Kuswandono, MA Direktur Fasilitas Kepabeanan Drs. Kusdirman Iskandar Direktur Cukai Drs. Frans Rupang Direktur Penindakan & Penyidikan Drs. R.P. Jusuf Indarto Direktur Audit Drs. Thomas Sugijata, Ak. MM Direktur Kepabeanan Internasional Drs. M. Wahyu Purnomo, MSc Direktur Informasi Kepabeanan & Cukai Dr. Heri Kristiono, SH, MA Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Bea dan Cukai Drs. Endang Tata Inspektur Bea dan Cukai Edy Setyo Tenaga Pengkaji Bidang Pelayanan & Penerimaan KC Drs. Bambang Prasodjo Tenaga Pengkaji Bidang Pengawasan & Penegakan Hukum KC Drs. Erlangga Mantik, MA Tenaga Pengkaji Bidang Pengembangan Kapasitas & Kinerja Organisasi KC Susiwijono, SE KETUA DEWAN PENGARAH Sekretaris Direktorat Jenderal Bea dan Cukai: Drs. Kamil Sjoeib, MA WAKIL KETUA DEWAN PENGARAH/ PENANGGUNG JAWAB Kepala Bagian Umum: Sonny Subagyo, S.Sos DEWAN PENGARAH Ir. Harry Mulya, MSi, Drs. Patarai Pabottinggi, Drs. R. Syarif Hidayat, M.Sc, Muhamad Purwantoro Marisi Zainuddin Sihotang, SH.,M.M. Lupi Hartono, Muhammad Zein, SH, MA. Maimun, Ir. Agus Hermawan, MA. PEMIMPIN REDAKSI Lucky R. Tangkulung REDAKTUR Aris Suryantini, Supriyadi Widjaya, FOTOGRAFER Andy Tria Saputra KORESPONDEN DAERAH ` Hulman Simbolon (Medan), Ian Hermawan (Pontianak), Donny Eriyanto (Makassar), Bambang Wicaksono (Ambon), Muqsith Hamidi (Balikpapan) KOORDINATOR PRACETAK Asbial Nurdin SEKRETARIS REDAKSI Kitty Hutabarat PIMPINAN USAHA/IKLAN Piter Pasaribu TATA USAHA Shinta Dewi Arini Untung Sugiarto IKLAN Kitty Hutabarat SIRKULASI H. Hasyim, Amung Suryana BAGIAN UMUM Rony Wijaya PERCETAKAN PT. BDL Jakarta ALAMAT REDAKSI/TATA USAHA Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Jl. Jenderal A. Yani (By Pass) Jakarta Timur Telp. (021) 478 65608, 478 60504, 4890308 Psw. 154 Fax. (021) 4892353 majalah_wbc@yahoo.com REKENING GIRO a/n : PITER PASARIBU BANK BRI KANTOR KAS DITJEN BEA DAN CUKAI JAKARTA Nomor Rekening : 1256.01.000001.30.5 Pengganti Ongkos Cetak Rp. 12.500,-

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1429 H
Mohon Maaf Lahir dan Batin

EDISI 407 OKTOBER 2008

WARTA BEA CUKAI

1

NOMOR INI
1 3 35 43 DARI REDAKSI KARIKATUR SEPUTAR BEA CUKAI OPINI - Pengawasan Internal KITE - Seputar fasilitas KITE 48 KEPABEANAN Rapat Koordinasi Implementasi Skema Preferensi Tarif 50 MITRA Temu Wicara Asakindo Tentang Notul dalam Pelayanan Kepabeanan 51 INFO PEGAWAI - Pegawai Pensiun Per 1 Oktober 2008. - Birokrasi Award 2008 Untuk Dirjen Bea dan Cukai 54 RUANG KESEHATAN Tetap Fit dan Aktif Di Bulan Puasa 55 RUANG INTERAKSI Dendam dalam Kehidupan yang Indah 57 PERISTIWA Inkado Jawa Barat Gelar Kejurda 58 RENUNGAN ROHANI Hikmah Dibalik Silaturahim 64 PENGAWASAN Ribuan Kalung dan Gelang Titanium Disita 2
WARTA BEA CUKAI

DAFTAR ISI
Laporan Utama
Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 87/PMK.01/ 2008 tentang organisasi dan tata kerja instansi vertikal DJBC, serta PMK nomor: 100/PMK.01/ 2008 tentang organisasi dan tata kerja Depkeu (reorganisasi tingkat pusat) DJBC akan kembali menata organisasinya melalui reorganisasi yang dilakukan baik vertikal maupun pada tingkat pusat.

4-20

Wawancara

21-23
Menurut Sekretaris Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Kamil Sjoeib, dalam reorganisasi kali ini terjadi beberapa penyempurnaan organisasi. Apa saja penyempurnaan reorganisasi kali ini, dan apa tujuan dalam reorganisasi kali ini. Penuturan selengkapnya dapat disimak pada Rubrik Wawancara

Daerah ke Daerah
Rubrik Dearah Ke Daerah kali ini, menurunkan berita-berita seperti peresmian KPPBC Tipe Madya Pabean Tanjung Perak, peresmian KPPBC Tipe Madya Cukai Kediri, juga berita dari Kanwil DJBC Jawa Barat Bandung, KPPBC Kuala Langsa, KPPBC Belawan, dan dari Kanwil DJBC Sumatera Utara

23-28

Profil

60-63
Hidup prihatin sejak kecil menjadikan dirinya sebagai sosok yang selalu tampil dengan sederhana, banyaknya rintangan yang dihadapinya sebagai seorang perantau, menjadikan pengemblengan anak pegawai negeri ini untuk selalu tegar dan matang dalam menjalani hidup.

EDISI 407 OKTOBER 2008

KARIKATUR

EDISI 407 OKTOBER 2008

WARTA BEA CUKAI

3

LAPORAN UTAMA

MENATA KEMBALI D
Reorganisasi masih terkait dengan reformasi birokrasi di Departemen Keuangan.
irektorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) kembali menata organisasinya melalui reorganisasi yang dilakukan, baik ditingkat vertikal terhitung 11 Juni 2008 maupun tingkat pusat, 11 Juli 2008. Reorganisasi yang dilakukan DJBC belum lama ini tertuang melalui PMK Nomor 87/PMK.01/ 2008 tentang Organiasi dan Tata Kerja Instansi Vertikal Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, serta PMK Nomor 100/PMK.01/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Keuangan (reorganisasi tingkat pusat). Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia dan perubahannya, serta menunjuk Peraturan Menteri Keuangan nomor 131/PMK.01/2006 tanggal 22 Desember 2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Keuangan, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) memiliki tugas pokok yaitu merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang kepabeanan dan cukai sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam melaksanakan tugas tersebut DJBC memiliki fungsi, penyiapan perumusan kebijakan Departemen Keuangan di bidang kepabeanan dan cukai, pelaksanaan kebijakan di bidang kepabeanan dan cukai, perumusan standar, norma, pedoman, kriteria, dan prosedur di bidang kepabeanan dan cukai, pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang kepabeanan dan cukai, serta pelaksanaan administrasi Direktorat Jenderal. Tugas dan fungsi tersebut dilaksanakan dengan berpedoman pada ketentuan dan peraturan perundang-undangan di bidang Kepabeanan dan Cukai, yang secara prinsip hukum memberikan kewenangan dan tanggung jawab kepada DJBC sebagai institusi pemerintah yang bertugas: (1) memungut penerimaan negara berupa Bea Masuk dan Cukai; (2) memberikan pelayanan impor, ekspor dan cukai; serta (3) mengawasi lalu lintas barang yang keluar dan masuk wilayah Republik Indonesia. Berdasarkan tugas pokok dan fungsinya di atas maka DJBC memiliki peran yang sangat penting dalam pembangunan ekonomi negara RI, yakni sebagai : 1. Penghimpunan Penerimaan (Revenue Collector); 2. Pelindung Masyarakat (Community Protector); 3. Fasilitator Perdagangan (Trade Facilitator); 4. Dukungan Industri (Industrial Assistance); 5. Meningkatkan hubungan kemitraan dan kepatuhan mitra kerja DJBC serta meminimalkan biaya pemenuhan kewajiban kepabeanan dan cukai (compliance cost)

Untuk melaksanakan peHARRY MULYA. Dari reorganisasi ran dan fungsinya yang straini masing-masing direktorat tegis di atas dan guna menja- memiliki sasaran strategis yang min tercapainya tugas pokok harus dipenuhi atau istilahnya Key DJBC maka diperlukan Performance Indicator. organisasi yang solid, sistem dan prosedur yang efektif dan efisien serta sumber daya organisasi yang kapabel termasuk di dalamnya sumber daya manusia yang profesional dan terpercaya. Oleh karenanya, peningkatan dan pengembangan mutu sumber daya manusia DJBC yang dilaksanakan secara integral dan berkesinambungan merupakan kebutuhan bagi perbaikan organisasi DJBC, yang dewasa ini dilaksanakan sebagai bagian dari reformasi birokrasi di bidang kepabeanan dan cukai.Terkait dengan hal itu, DJBC melakukan kembali penataan organisasinya. Kepala Bagian Organisasi dan Tatalaksana, Sekretariat DJBC, Harry Mulya, menuturkan, tujuan dilakukannya reorganisasi terkait dengan reformasi birokrasi di Departemen Keuangan (Depkeu) tahun 2008. Dimana dalam program reformasi ini salah satunya melakukan penataan kembali pada organisasi, proses bisnis, sumber daya manusia terkait dengan adanya assesment center, Key Performance Indicator, monitoring dan lain-lainnya yang berkaitan dengan reformasi birokrasi di Depkeu. “Untuk reorganisasi di Kantor Pusat pokok-pokok perubahannya tidak terlalu signifikan, hanya FOTO-FOTO : DOK. WBC terdapat beberapa penambahan Subdirektorat antara lain Subdirektorat Registrasi Kepabeanan dibawah Direktorat IKC. Sebelumnya registrasi berada di audit, sekarang dinaikkan setingkat eselon III, alasannya karena registrasi terkait dengan masalah database dan masalah pengolahan data, karena itu ditempatkan di Direktorat IKC. Kemudian pembentukan unit baru yang lain yaitu Subdirektorat Narkotika dan Seksi Tempat Tahanan. Dan yang paling penting dari reorganisasi ini masingmasing direkorat memiliki sasaran strategis yang harus dipenuhi atau istilahnya Key Performance Indicator (KPI),” demikian penjelasan Harry. Terkait dengan pembentukPEMBAHARUAN DAN PERBAIKAN MUTU LAYANAN harus dilaksanakan secara menyeluruh tidak terbatas hanya an Seksi Tempat Tahanan, Harry dengan pembentukan KPU DJBC saja, melainkan secara berkelanjutan akan dilaksanakan menyeluruh ke menjelaskan bahwa saat ini seluruh unit di lingkungan DJBC.
WARTA BEA CUKAI EDISI 407 OKTOBER 2008

4

ORGANISASI DJBC
DJBC cukup banyak menerima tahanan dengan kasus pelanggaran peraturan kepabeanan dan cukai. Dengan adanya perkembangan ini maka diperlukan pihak yang bertanggung jawab penuh mengenai masalah rumah tahanan. Karena itu, dengan adanya pembentukan Seksi Tempat Tahanan akan lebih mudah mengaksesi tugas dan fungsi rumah tahanan. “Jadi ada yang mengaturnya termasuk soal pengamanan terhadap orang-orang yang ada di tahanan. Posisi Seksi ini berada dibawah Subdit Penyidikan. Pembentukan seksi Ini juga terkait dengan disetujuinya rumah tahanan Bea dan Cukai sebagai cabang Rumah Tahanan Salemba, sehingga harus dikelola secara professional. Makanya kita implementasikan dengan pembentukan seksi rumah tahanan supaya lebih terfokus,” demikian ujarnya. Reorganisasi dilakukan secara vertikal dan di tingkat pusat. Terkait dengan implementasi Kantor Pelayanan Utama (KPU) dan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Madya, reorganisasi lebih dulu dilakukan ditingkat vertikal, hal ini bisa dilihat dengan Peraturan Menteri Keuangan mengenai reorganisasi vertikal yang ditandatangani pada tanggal 11 Juni 2008. Sedangkan reorganisasi tingkat pusat ditandatangani sebulan kemudian yaitu pada tanggal 11 Juli 2008. “Semestinya reorganisasi dilakukan di pusat dulu baru vertikal, tetapi hal ini dilakukan dengan pertimbangan, beberapa KPPBC Madya bisa segera dilakukan launching, karena kalau menunggu reorganisasi tingkat pusat akan memakan waktu lama, dan bisa menghambat waktu penerapan KPPBC Madya, baik Tipe Kepabeanan maupun Tipe Cukai,” ujar Harry. meningkatkan efektifitas pengawasan dan efisiensi pelayanan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dengan berlandaskan pada prinsip-prinsip tata kelola pemerintahan yang baik. Dalam pelaksanaannya pembaharuan dan perbaikan mutu layanan ini dilaksanakan melalui pembentukan organisasi berdasarkan fungsi, penyempurnaan proses bisnis (sistem dan prosedur pelayanan), penerapan teknologi informasi, perbaikan sistem remunerasi dan sumber daya manusia yang profesional dan berdedikasi tinggi. Dengan demikian KPU akan mempunyai dampak positif terhadap peningkatan kepatuhan, mengamankan hak-hak negara, dan profesionalisme aparat kepabeanan dan cukai. Namun demikian, pembaharuan dan perbaikan mutu layanan tersebut harus dilaksanakan secara menyeluruh tidak terbatas hanya dengan pembentukan KPU DJBC saja, melainkan secara berkelanjutan akan dilaksanakan menyeluruh ke seluruh unit di lingkungan DJBC. Untuk mewujudkan hal tersebut khususnya terhadap perbaikan dan peningkatan kualitas kompetensi dan integritas pegawai DJBC maka perlu dibentuk sebuah organisasi kepatuhan internal (KI) di tataran strategis di lingkungan DJBC yang memiliki fungsi perumusan kebijakan dan strategi, pemberian bimbingan, dan pelaksanaan kepatuhan internal di seluruh unit di lingkungan DJBC guna mengintegrasikan dan melembagakan sistem kepatuhan internal ke dalam sistem nilai organisasi. “Sehubungan dengan itu, dalam waktu dekat DJBC akan menambah direktorat yang baru yaitu Direktorat Kepatuhan Internal. Sedangkan struktur organisasinya telah disusun. Hanya saja tidak bisa digabungkan dengan reorganisasi kali ini karena masih membutuhkan waktu untuk proses pengesahan dari pemerintah,” imbuh Harry. Menurut Harry, pembentukan organisasi pengendalian internal di tataran strategis (Direktorat KI) ini dimaksudkan untuk mengefektifkan tugas dan fungsinya dalam melakukan pengawasan internal dan penilaian terhadap setiap unsur satuan kerja dan pelaku organisasi, melalui suatu mekanisme yang sistematik untuk mengevaluasi dan meningkatkan efektifitas dari manajemen risiko, pengendalian serta proses pelayanan dan pengawasan. “Pembentukan direktorat ini dalam rangka mencapai tujuan organisasi DJBC serta melaksanakan penegakan kode etik dan integritas pegawai sebagai bagian dari reformasi birokrasi di bidang kepabeanan dan cukai,”tandas Harry.

LANJUTAN DARI REFORMASI KEPABEANAN
Sejak tahun 2002, DJBC telah melakukan reformasi kepabeanan. Reformasi kepabeanan dewasa ini merupakan bagian dari reformasi birokrasi yang dilakukan oleh Departemen Keuangan secara berkesinambungan. Reformasi Birokrasi Departemen Keuangan Tahun 2008 yang dilaksanakan berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 24/ KMK.01/2008 tanggal 30 Januari 2008 tentang Reformasi Birokrasi Departemen Keuangan Tahun Anggaran 2008. Salah satu amanat dalam Keputusan Menteri Keuangan nomor 24/KMK.01/2008 tersebut, bahwa setiap unit eselon I diwajibkan untuk membentuk Tim Reformasi Birokrasi Unit, yang tugasnya menyusun kegiatan yang disesuaikan dengan program reformasi birokrasi Depkeu tahun anggaran 2008. Dalam pelaksanaannya, saat ini telah dibentuk Tim Percepatan Reformasi Kebijakan Pelayanan Kepabeanan dan Cukai dengan Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai nomor 14/BC/ 2008 tanggal 4 Februari 2008. Reformasi Kepabeanan dan Cukai yang dilakukan oleh DJBC untuk menyesuaikan organisasi dengan perkembangan industri, sosialekonomi dan teknologi yang ada di masyarakat, diharapkan dapat memenuhi tuntutan pihak-pihak pemangku kepentingan (stakeholders) yang menghendaki adanya perbaikan dan peningkatan kualitas proses dan hasil layanan kepabeanan dan cukai yang dilaksanakan melalui tata kelola pemerintahan yang baik. Selain itu secara internal reformasi ini diarahkan juga untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalitas pegawai DJBC dalam melaksanakan tugas seiring dengan adanya peningkatan sistem remunerasi pegawai berbasis kinerja. Tuntutan dan harapan akan peningkatan kinerja organisasi tersebut telah mendorong DJBC untuk melakukan berbagai upaya serius dan menempuh langkah-langkah strategis guna melakukan perbaikan secara sistemik dengan melakukan reformasi di bidang pengawasan dan pelayanan khususnya di bidang kepabeanan dan cukai, yang salah satunya diwujudkan dengan upaya pembentukan Kantor Pelayanan Utama (KPU) DJBC. Perwujudan kantor ini merupakan salah satu bentuk pembaharuan dan perbaikan mutu layanan administratif yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja pelayanan dan kemampuan DJBC dalam

PEMBENTUKAN KPPBC MADYA
Terkait dengan lanjutan program pemerintah untuk mewujudkan pelayanan yang cepat, efisien dan transparan oleh Bea dan Cukai, selain telah di bentuknya KPU, dalam tahun 2008 ini telah dibentuk Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Madya (KPPBC) Madya, yaitu KPPBC Tipe Madya Pabean dan KPPBC Tipe Madya Cukai. Dibentuknya KPPBC Madya memiliki tujuan yaitu : l Terwujudnya pelayanan yang cepat, efisien, responsif dan transparan l Tercapainya pengawasan yang efektif l Tercapainya KPPBC yang bebas KKN, didukung oleh sumber daya manusia (SDM ) yang professional dan berintegritas tinggi l Terciptanya hubungan kemitraan dengan pengguna jasa l Terwujudnya pemanfaatan teknologi informasi yang optimal untuk mendukung pelayanan dan pengawasan l Terwujudnya organisasi yang efektif dan efisien KPPBC Tipe A1 merupakan transformasi KPPBC Madya Tipe Pabean yang meliputi KPPBC Tanjung Perak, KPPBC SoekarnoHatta dan KPPBC Belawan. Sedangkan KPPBC Tipe A3 merupakan transformasi Madya Tipe Cukai yang meliputi KPPBC Malang, KPPBC Kudus dan KPPBC Kediri. ris
EDISI 407 OKTOBER 2008 WARTA BEA CUKAI

5

LAPORAN UTAMA

DIREKTORAT KEPATUHAN INTERNAL
Arah strategis dari Direktorat Kepatuhan Internal (KI) adalah untuk peningkatan integritas dan profesionalisme SDM Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC), efektivitas dan efisiensi dalam pelaksanaan tugas-tugas pelayanan dan pengawasan kepabeanan dan cukai serta adminstrasi di lingkungan DJBC.

RENCANA PEMBENTUKAN

P

embentukan unit kepatuhan internal di lingkungan organisasi DJBC merupakan salah satu bentuk revitalisasi organisasi yang akan memberikan penguatan terhadap upaya peningkatan integritas dan profesionalitas SDM DJBC melalui mekanisme sistem kepatuhan internal. Sistem ini akan melakukan penilaian terhadap setiap unsur satuan kerja dan pelaku organisasi melalui mekanisme yang sistematik untuk mengevaluasi dan meningkatkan efektifitas manajemen risiko, pengendalian serta proses pelayanan, pengawasan dan administrasi dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Perlunya Unit KI bagi DJBC dilandasi oleh pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut ; Pertama, sebagai bagian dari dukungan sistem dan kelembagaan bagi tercapainya tujuan perubahan organisasi. Reformasi kepabeanan dan cukai yang dilaksanakan oleh DJBC merupakan bentuk perubahan (change) yang dilakukan untuk mewujudkan kinerja organisasi yang lebih baik, yaitu implementasi sebuah perubahan harus dibarengi oleh adanya mekanisme pengawasan dan evaluasi yang dilaksanakan secara berkelanjutan. Agar perubahan yang dilaksanakan tersebut dapat terlembagakan (institutionalized) dengan baik ke segenap unit di lingkungan DJBC, maka unit yang yang melaksanakan fungsi pengawasan dan evaluasi tersebut haruslah merupakan bagian dari sistem organisasi. Unit ini tidak hanya bertugas melaksanakan pengawasan internal namun membangun sistem pengukuran kinerja, melakukan bimbingan dan komunikasi tentang perubahan organisasi secara sistematis kepada para pegawai, evaluasi terhadap keseluruhan proses perubahan dan memberikan rekomendasi penyelesaian masalah yang timbul. Kedua, upaya pemenuhan janji layanan yang lebih baik bagi stakeholders (quality assurance). Sebagai sebuah organisasi yang modern, DJBC berupaya memberikan janji layanan yang lebih baik dari segi waktu, biaya, transaparansi mengenai prosedur dan persyaratan administrasi berupa standar pelayanan dan pengawasan kepabeanan dan cukai yang telah ditentukan dan terukur melalui penciptaan Key Performance Indicator (KPI) untuk setiap unit kerja dan tolok ukur lainnya. Organisasi KI akan melaksanakan pengawasan kepatuhan internal dan pengukuran kinerja berdasarkan KPI dan tolok ukur lain yang telah ditentukan (misalnya, kode etik, performance measurement dsb.) untuk memastikan janji layanan publik yang diberikan dapat terpenuhi. Unit ini juga akan melakukan monitoring dan evaluasi terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi pencapaian kinerja organisasi, seperti SDM, sistem dan prosedur serta sarana dan prasarana yang dimiliki sehingga pemanfaatannya berjalan optimal guna memenuhi janji layanan.
WARTA BEA CUKAI EDISI 407 OKTOBER 2008

Ketiga, pelaksanaan tata kelola pemerintahan yang baik (Good Governance). Perkembangan masyarakat dewasa ini kian menuntut agar organisasi sektor publik yang dibiayai oleh anggaran negara melaksanakan tata kelola pemerintahan yang baik sebagai salah satu bentuk pertanggungjawaban penggunaan dana publik kepada masyarakat. Reformasi yang dilakukan oleh DJBC untuk menghasilkan kualitas hasil layanan yang lebih baik kepada stakeholders juga dituntut untuk menghadirkan proses layanan yang lebih baik melalui peningkatan profesionalitas dan integritas pegawai DJBC. Eksistensi organisasi KI diharapkan dapat memberikan dukungan terhadap janji pemberian proses layanan berdasarkan prinsip-prinsip tata kelola pemerintahan yang baik melalui mekanisme pengawasan kepatuhan internal terhadap penegakan kode etik (code of conduct) pegawai dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Keempat, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari peningkatan sistem remunerasi dan Sistem Informasi Manajemen Kepegawaian. Peningkatan sistem remunerasi berbasis kinerja yang dilaksanakan sebagai bagian dari reformasi birokrasi memberikan tuntutan logis akan adanya peningkatan kinerja pegawai dibandingkan sebelumnya. Untuk melakukan analisis kinerja para pegawai maka diperlukan suatu unit kepatuhan internal yang bertanggung jawab melaksanakan fungsi pengukuran performa pegawai dan mengawasi pelaksanaan pelayanan dan pengawasan kepabeanan dan cukai. Selain itu, hasil monitoring dan evaluasi yang dilakukan oleh unit kepatuhan internal terhadap kinerja pegawai akan menghasilkan output berupa rekomendasi internal yang dapat menjadi masukan juga bagi pemutakhiran data manajemen kepegawaian guna pembinaan dan pengembangan karir pegawai serta pengembangan sistem remunerasi DJBC. Hal ini merupakan bentuk upaya penguatan
FOTO-FOTO : DOK. WBC

PEMBENTUKAN DIREKTORAT KI juga dimaksudkan sebagai antisipasi tren pembentukan KPU dan KPPBC Madya lingkungan DJBC.

6

DI DEPARTEMEN KEUANGAN sendiri telah terdapat yurisprudensi pembentukan organisasi KI setingkat eselon II di jajaran eselon I yakni di Direktorat Jenderal Pajak.

positif (positive reinforcement) yang dilakukan untuk mengarahkan perilaku pegawai/pejabat DJBC agar sesuai dengan nilai-nilai organisasi. Kelima, tuntutan kesetaraan kepatuhan dan akuntabilitas proses organisasi sebagai dampak perkembangan masyarakat madani (civil society). Perkembangan masyarakat madani dewasa ini menuntut terjaminnya pelaksanaan tata kelola pemerintahan yang baik oleh aparatur negara. Sebagai organisasi yang dilaksanakan secara modern, maka proses organisasi harus dapat meningkatkan tingkat kepatuhan (compliance level) terhadap peraturan perundangan-undangan yang berlaku secara setara dan berimbang, yakni tidak hanya oleh pihak pengguna jasa kepabeanan dan cukai (eksternal), melainkan juga oleh para pegawai DJBC (internal). Unit Kepatuhan Internal dibentuk untuk memenuhi prinsip check & balances yang akan melakukan pengawasan internal terhadap para pegawai DJBC sehingga para pegawai DJBC senantiasa menegakkan peraturan dan profesionalitas dalam melaksanakan tugas. Termasuk di dalamnya melakukan investigasi internal atas laporan masyarakat maupun melakukan tindak lanjut atas temuan aparat pengawasan fungsional. Keenam, perbaikan citra aparatur negara yang bersih, berwibawa dan bebas dari KKN. Selain dari berbagai pertimbangan tersebut di atas, DJBC juga menghadapi tantangan lain yang berkaitan dengan citra (persepsi masyarakat) terhadap organisasi. Hasil survei yang diadakan oleh Transparency International Indonesia (TII) pada tahun 2004 terhadap persepsi masyarakat umum dan pengalaman mereka terkait masalah korupsi, menunjukkan bahwa DJBC menduduki peringkat pertama sebagai institusi pemerintahan yang paling korup dengan nilai 4,3 (skala 5). Dari hasil survei serupa terhadap kinerja pelayanan dari berbagai instansi pemerintah dan lembaga negara, yang dikeluarkan dalam bentuk Indeks Kinerja Pelayanan (Service Performance Index), DJBC menduduki peringkat 3 terbawah dengan nilai 3,93, diatas lembaga peradilan (3,67) dan polisi (3,79). Kajian yang dilakukan oleh Tim Percepatan Reformasi Kebijakan Pelayanan Kepabeanan dan Cukai menunjukkan bahwa permasalahan pelayanan, pengawasan, dan korupsi yang melekat pada DJBC dipengaruhi oleh faktor-faktor SDM, sistem dan prosedur, dan organisasi. Dalam rangka perbaikan citra dan untuk peningkatan

kinerja pelayanan dan pengawasan, serta peningkatan integritas SDM, DJBC harus melakukan pembenahan SDM, perbaikan sistem remunerasi, penyederhanaan sistem dan prosedur, modernisasi dan otomasi sistem, serta revitalisasi organisasi. Melalui pembenahan tersebut diharapkan dapat mengurangi tingkat korupsi, mengurangi diskresi kebijakan, meningkatkan moral dan integritas SDM, serta akuntabilitas organisasi, yang pada akhirnya dapat memperbaiki persepsi masyarakat terhadap citra DJBC.

KEPATUHAN INTERNAL SEBAGAI SEBUAH DIREKTORAT
KI adalah sebuah organisasi di lingkungan DJBC yang bertanggung jawab atas perumusan kebijakan dan strategi, implementasi, pemantauan dan evaluasi atas sistem kepatuhan internal yang akan dilaksanakan oleh unit-unit vertikal di lingkungan DJBC dan melakukan pengawasan, monitoring dan evaluasi atas pelaksanaan pelayanan, pengawasan dan administrasi kepabeanan dan cukai yang dilakukan pada tataran tertentu di DJBC. Organisasi KI nantinya akan ditangani oleh pegawai-pegawai yang profesional, berintegritas tinggi, dengan didukung sistem tatalaksana yang memadai untuk melaksanakan sistem kepatuhan internal, sistem penjaminan kualitas berdasarkan monitoring dan evaluasi terhadap kinerja para pegawai DJBC. Dengan demikian diharapkan unit KI nantinya akan menjadi unit yang menyebarluaskan perubahan (baca: reformasi) melalui tugas dan fungsinya kepada seluruh pegawai DJBC agar bekerja secara efektif, efisien dan profesional. Mengenai tujuan dari organisasi KI adalah ; memberikan dukungan terhadap tercapainya tujuan reformasi di bidang kepabeanan dan cukai, melaksanakan penjaminan kualitas atas janji layanan yang diberikan DJBC, menegakkan pelaksanaan tata kelola pemerintahan yang baik di lingkungan DJBC, penajaman fungsi pengawasan internal organisasi dalam rangka menjalankan prinsip-prinsip organisasi modern yang akuntabel. Sedangkan sasaran yang hendak dicapai dari pembentukan organisasi KI meliputi; l Terwujudnya pelaksanaan tugas-tugas pelayanan, pengawasan
EDISI 407 OKTOBER 2008 WARTA BEA CUKAI

7

LAPORAN UTAMA
penghargaan, seperti promosi, pendidikan, insentif khusus, mutasi ke bidang tugas yang lebih menarik dan sebagainya. Rekomendasi ini akan efektif apabila rekomendasi tersebut merupakan produk dari organisasi KI setingkat eselon II. Keempat, penajaman fungsi kepatuhan internal di lingkungan Direktorat Jenderal ini akan membawa konsekuensi pengalihan beban pekerjaan yang dilakukan oleh beberapa seksi di lintas eselon III dan II di lingkungan DJBC. Hal ini tentunya memerlukan struktur organisasi yang lebih tinggi mengingat potensi beban pekerjaan yang tidak dapat diselesaikan dengan baik di tingkat eselon III. Sebagai ilustrasi secara historis dapat disajikan sebagai berikut: l Sebelumnya, di tingkat kantor pusat fungsi kepatuhan internal ini telah ada dan dilaksanakan secara parsial oleh Bagian OTL dan Bagian Kepegawaian pada Sekretariat DJBC. l Saat ini, telah ada Bidang Kepatuhan Internal setingkat eselon III di Kantor Pelayanan Utama (KPU) yang melakukan mekanisme pengawasan internal bagi SDM di KPU. l Ke depan, pelaksanaan pengawasan internal yang telah dilaksanakan di KPU Tanjung Priok dan Batam ini perlu diperluas hingga ke seluruh unit di lingkungan DJBC. Untuk alasan itulah maka diperlukan pembentukan organisasi kepatuhan internal setingkat direktorat di kantor pusat DJBC yang akan melakukan pemantauan dan koordinasi pelaksanaan KI dengan bidang-bidang KI di KPU dan unitunit vertikal di lingkungan DJBC sehingga akan tercipta standardisasi pelaksanaan kepatuhan internal di setiap unit (satu hal yang akan kurang berjalan efektif apabila organisasi KI di kantor pusat DJBC hanya setingkat eselon III). Demikian juga Direktorat KI ini akan dapat melaksanakan pengawasan internal di kantor pusat DJBC dan unit-unit vertikal lain di DJBC apabila diperlukan. Pembentukan Direktorat KI ini juga dimaksudkan sebagai antisipasi tren pembentukan KPU dan KPPBC Madya di lingkungan DJBC. Pembentukan KPU (awalnya dilaksanakan di Tanjung Priok dan Batam) itu sendiri yang didalamnya terdapat Bidang Kepatuhan Internal, berdasarkan survei yang dilakukan tahun 2007 oleh lembaga independen Hay Group, terbukti efektif menurunkan pungutan tidak resmi (unofficial fund) yang terjadi. Hal yang positif ini perlu kiranya diteruskan momentumnya dengan pembentukan lebih banyak KPU dan KPPBC Madya yang di dalamnya terdapat unit-unit KI. Dengan demikian Direktorat KI nantinya akan mengkoordinasikan, memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan sistem kepatuhan internal yang ada di KPU dan KPPBC Utama di seluruh Indonesia. Pembentukan Direktorat KI ini juga tidak akan tumpang tindih dengan tugas dan fungsi aparat pengawasan fungsional yang ada (misalnya, Inspektorat Jenderal Departemen), mengingat fungsi kepatuhan internal itu sendiri tidak terbatas melakukan investigasi internal di lingkungan DJBC. Lebih dari itu, Direktorat KI juga akan melakukan fungsi preventif yang dilaksanakan sehari-hari (day to day basis) untuk melakukan bimbingan dan penyuluhan kepatuhan internal serta mengembangkan sistem kepatuhan internal yang dapat meningkatkan motivasi pegawai dan mengurangi resistensi pegawai DJBC terhadap perubahan (reformasi) organisasi. Hal ini dilakukan masih dalam koridor untuk mengarahkan perilaku SDM DJBC agar sesuai dengan nilai-nilai yang dikehendaki dan mengarahkan perilaku para pegawai agar tidak melakukan hal-hal yang tidak dikehendaki melalui pencipataan upaya modifikasi perilaku SDM (operant conditioning). Apabila diperlukan Direktorat KI juga dapat melakukan upaya pembinaan tertentu kepada pegawai DJBC yang terbukti melakukan pelanggaran kode etik dan disiplin pegawai DJBC dengan memberikan bimbingan konseling dan psychology assessment –sesuatu lembaga yang belum dimiliki oleh DJBC– sebagai bagian dari upaya operant conditioning kepada pegawai dimaksud sehingga diharapkan tidak akan mengulangi pelanggaran tersebut.

SALAH SATU SASARAN dari pembentukan organisasi KI adalah tercapainya organisasi DJBC yang bebas KKN yang didukung oleh SDM profesional dan berintegritas tinggi sesuai kode etik pegawai DJBC.

l

l

dan administrasi kepabeanan dan cukai yang efektif dan efisien oleh pegawai DJBC yang dilaksanakan sesuai tata kelola pemerintahan yang baik berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku; Tercapainya organisasi DJBC yang bebas korupsi, kolusi dan nepotisme yang didukung oleh sumber daya manusia yang profesional dan berintegritas tinggi sesuai kode etik pegawai DJBC dalam rangka mewujudkan aparatur negara yang bersih dan berwibawa; Membantu terwujudnya organisasi DJBC yang efektif dan efisien.

PERTIMBANGAN PEMBENTUKAN DIREKTORAT KI
Mengingat sasaran organisasi KI yang strategis yakni terciptanya kualitas pegawai DJBC yang ideal pada skala Direktorat Jenderal melalui penciptaan sistem kepatuhan internal, maka sudah sepatutnyalah organisasi KI berada pada tataran direktorat setingkat eselon II. Hal ini dilandasi juga oleh pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut: Pertama, penciptaan sistem kepatuhan internal yang dilaksanakan oleh unit-unit vertikal di lingkungan DJBC terhadap seluruh pegawai DJBC memerlukan eksistensi organisasi setingkat Direktorat yang memiliki fungsi perumusan kebijakan dan strategi, standardisasi dan bimbingan teknis, serta pemantauan dan evaluasi atas pelaksanaan sistem kepatuhan internal yang dilaksanakan oleh unitunit kepatuhan internal di lingkungan DJBC. Kedua, pelaksanaan kepatuhan internal termasuk di dalamnya pelaksanaan investigasi internal atas dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh pegawai/pejabat di lingkungan kantor pusat DJBC memerlukan penguatan level organisasi hingga setingkat Direktorat sehingga tidak diragukan lagi kapasitasnya dalam melakukan tugas dan fungsinya. Dengan kata lain, kedudukan KI hingga setingkat direktorat akan mewujudkan kondisi yang minimal setara kedudukan dan tingkatnya antara pihak yang melakukan pengawasan dengan pihak yang diawasi untuk seluruh level di lingkungan DJBC. Hal ini konsisten dengan konsep birokrasi yang efektif menurut Max Weber, yaitu: (a) setiap fungsi organisasi memiliki tugas yang jelas dan mempunyai wewenang (otoritas) yang seimbang dengan tugas yang harus dijalankannya, dan (b) tingkatan yang lebih rendah diawasi oleh tingkatan yang lebih tinggi. Ketiga, pelaksanaan kepatuhan internal tidak hanya melakukan pengawasan ataupun investigasi internal (negative reinforcement) terhadap para pegawai dalam melaksanakan kepatuhan pelaksanaan tugas, namun lebih dari itu Direktorat KI juga bertanggung jawab untuk mengarahkan perilaku SDM DJBC agar termotivasi untuk berperilaku sesuai dengan kode etik dan integritas pegawai DJBC yang profesional. Hal ini dicapai dengan upaya penguatan positif (positive reinforcement) secara sistematis terhadap pegawai yang mencapai kinerja baik dengan memberikan rekomendasi 8
WARTA BEA CUKAI EDISI 407 OKTOBER 2008

Di Departemen Keuangan sendiri telah terdapat yurisprudensi pembentukan organisasi KI setingkat eselon II di jajaran eselon I yakni di Direktorat Jenderal Pajak. Sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya bahwa pembentukan unit KI ini dilakukan sebagai bagian upaya revitalisasi organisasi yang dijalankan dengan prinsip-prinsip organisasi modern yakni melakukan penajaman fungsi pengawasan (controlling) terhadap SDM organisasi.

TUGAS POKOK KI
Sebagai sebuah direktorat, Direktorat KI nantinya akan melaksanakan tugas pokok berupa penyiapan rumusan kebijakan, standardisasi dan bimbingan teknis, dan evaluasi pelaksanaan kepatuhan pelaksanaan tugas, evaluasi kinerja, analisis dan tindak lanjut kepatuhan internal, serta pelaksanaan pengawasan kepatuhan internal unit kerja di lingkungan kantor pusat DJBC, dan pemberian rekomendasi peningkatan pelaksanaan tugas. Untuk melaksanakan tugas pokok tersebut, Direktorat KI akan memiliki fungsi meliputi: l perumusan kebijakan, standardisasi dan bimbingan teknis, dan evaluasi pelaksanaan kepatuhan pelaksanaan tugas; l perumusan kebijakan, standardisasi dan bimbingan teknis, dan evaluasi pelaksanaan evaluasi kinerja; l perumusan kebijakan, standardisasi dan bimbingan teknis, dan evaluasi pelaksanaan analisis dan tindak lanjut kepatuhan internal; l pengawasan kepatuhan pelaksanaan tugas unit kerja di lingkungan kantor pusat; l evaluasi kinerja unit kerja di lingkungan kantor pusat; l penelitian, pemeriksaan, serta penyiapan bahan tanggapan dan tindak lanjut hasil pemeriksaan aparat pengawasan fungsional dan masyarakat; l pemberian rekomendasi peningkatan pelaksanaan tugas; l pelaksanaan urusan tata usaha Direktorat. Berdasarkan hal tersebut di atas maka diproyeksikan Direktorat KI akan memiliki beban kerja yang cukup padat, yakni : l Melakukan perumusan kebijakan, standardisasi dan bimbingan teknis, dan evaluasi pelaksanaan kepatuhan pelaksanaan tugas, evaluasi kinerja dan analisis dan tindak lanjut kepatuhan internal yang akan dilaksanakan oleh unitunit eselon III dan eselon IV KI di KPU dan KPPBC Utama; l Melakukan pengawasan kepatuhan pelaksanaan tugas dan evaluasi kinerja unit kerja di lingkungan kantor pusat DJBC yang meliputi 9 unit eselon II, 32 unit eselon III dan 105 unit eselon IV (termasuk seksi Humas) serta pengawasan penegakan kode etik dan disiplin terhadap 982 pegawai di lingkungan kantor pusat DJBC; l Melakukan penelitian, pemeriksaan, serta penyiapan bahan tanggapan dan tindak lanjut hasil pemeriksaan aparat pengawasan fungsional dan masyarakat atas kinerja unit kerja di lingkungan DJBC; l Melakukan investigasi internal atas dugaan pelanggaran kode etik dan disiplin pegawai yang dilakukan oleh pegawai/ pejabat di lingkungan kantor pusat DJBC. l Melakukan bimbingan dan penyuluhan kepatuhan internal kepada pegawai/pejabat DJBC khususnya di lingkungan kantor pusat. l Melakukan pemberian rekomendasi peningkatan pelaksanaan tugas dengan melakukan kerja sama dan koordinasi dengan unit-unit terkait di lingkungan kantor pusat. l Pelaksanaan urusan tata usaha Direktorat. Sebagai gambaran akan padatnya beban kerja, berikut disajikan data pelaksanaan tugas evaluasi kinerja, penelitian, pemeriksaan, serta penyiapan bahan tanggapan dan tindak lanjut hasil pemeriksaan aparat pengawasan fungsional dan masyarakat atas kinerja unit kerja di lingkungan DJBC dan investigasi internal yang telah dilakukan selama periode 2006 s.d 2007, yang nantinya akan menjadi sebagian tugas Direktorat KI.

Secara keseluruhan, keberhasilan dari program reformasi di bidang kepabeanan dan cukai ini sangat ditentukan oleh komitmen dari seluruh pegawai DJBC untuk meningkatkan profesionalitas dan integritasnya dalam melaksanakan tugas. Karena itu diperlukan suatu unit di lingkungan DJBC yang akan menilai dan mengukur kinerja serta melaksanakan fungsi pengawasan internal terhadap para pegawai DJBC dalam melaksanakan tugas-tugas pelayanan dan pengawasan kepabeanan dan cukai. ris
EDISI 407 OKTOBER 2008 WARTA BEA CUKAI

9

LAPORAN UTAMA

REORGANISASI INSTASI VERTIKAL DJBC 2008
Dalam reorganisasi instansi vertikal DJBC tahun 2008 sesuai dengan PMK 87/PMK.01/2008 tanggal 11 Juni 2008, tentang Organiasi dan Tata Kerja Instansi Vertikal Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, terdapat beberapa penyempurnaan.
Di tingkat eselon II dalam PMK 68/PMK.01/2007 tidak ada perubahan pada peraturan baru yaitu PMK87/PMK.01/2008, dimana unit organisasi vertikal tingkat eselon II yaitu : l Kanwil, l Kanwil Khusus, l KPU Tipe A l KPU Tipe B. Sedangkan untuk tingkat eselon III di unit instansi vertikal terdapat beberapa penambahan kantor yaitu : PMK 87/PMK.01/2008 l KPPBC Tipe Madya Pabean l KPPBC Tipe Madya Cukai l KPPBC Tipe A1 l KPPBC Tipe A2 l KPPBC Tipe A3 l KPPBC Tipe A4 Untuk unit eselon IV di instansi vertikal tidak ada perubahan antara peraturan yang lama (PMK 68/PMK.01/2007) dengan yang baru (PMK 87/PMK.01/2008) , dimana KPPBC Tipe B tetap di Kepalai oleh seorang pejabat eselon IV. Untuk lebih jelasnya berikut ini adalah diuraikan mengenai pokok reorganisasi pada instansi vertikal DJBC tahun 2008. PMK 68/PMK.01/2007 terdapat : l KPPBC Tipe A1 l KPPBC Tipe A2 l KPPBC Tipe A3 l KPPBC Tipe A4

POKOK-POKOK REORGANISASI INSTANSI VERTIKAL DJBC TAHUN 2008
No 1 Unit Kantor Wilayah Bea dan Cukai 1. Materi Bagian Umum : l l Perubahan nomenklatur Bagian Umum pada Kantor Wilayah Perubahan nomenklatur Subbagian Kepegawaian dan reposisi tupoksi masing-masing subbagian pada Bagian Umum dan Kepatuhan Internal Bagian Umum a. Subbagian Kepegawaian b. Subbagian Keuangan c. Subbagian Tata Usaha dan Rumah Tangga Bagian Umum dan Kepatuhan Internal a. Subbagian Kepegawaian dan Kepatuhan Internal b. Subbagian Tata Usaha dan Keuangan c. Subbagian Hubungan Masyarakat dan Rumah Tangga Seksi Kepabeanan dan Cukai (2); Seksi Keberatan dan Banding; Seksi Informasi Kepabeanan dan Cukai. Semula (PMK-68/PMK.01/2007) Menjadi (PMK-87/PMK.01/2008)

2.

Bidang Kepabeanan dan Cukai : l Penggabungan Seksi Kepabeanan dengan Seksi Cukai; l Pengurangan jumlah maksimal Seksi Keberatan dan Banding Bidang Fasilitas Kepabeanan : Perubahan jumlah maksimal Kepala Seksi Kemudahan Impor Tujuan Ekspor Bidang Penindakan dan Penyidikan : Perubahan jumlah maksimal Kepala Seksi Penindakan Perubahan nomenklatur Bidang Audit : Perubahan jumlah maksimal Kepala Seksi Perencanaan Audit dan Kepala Seksi Evaluasi Audit Bagian Umum : a. b. Perubahan nomenklatur Bagian Umum pada Kantor Wilayah Perubahan nomenklatur Subbagian Kepegawaian dan reposisi tupoksi masing-masing subbagian pada Bagian Umum dan Kepatuhan Internal

Seksi Kepabeanan; Seksi Cukai; Seksi Keberatan dan Banding (2); Seksi Informasi Kepabeanan dan Cukai. Seksi Kemudahan Impor Tujuan Ekspor paling banyak 3 (tiga) Seksi Penindakan paling banyak 1 (satu) Seksi Penyidikan dan Barang Bukti Seksi Perencanaan Audit paling banyak 3 (tiga) Seksi Evaluasi Audit paling banyak 3 (tiga) Bagian Umum a. b. c. Subbagian Kepegawaian Subbagian Keuangan Subbagian Tata Usaha dan Rumah Tangga

3.

Seksi Kemudahan Impor Tujuan Ekspor paling banyak 4 (empat). Seksi Penindakan paling banyak 2 (dua). Seksi Penyidikan dan Barang Hasil Penindakan. Seksi Perencanaan Audit paling banyak 2 (dua) Seksi Evaluasi Audit paling banyak 1 (satu) Bagian Umum dan Kepatuhan Internal a. Subbagian Kepegawaian dan Kepatuhan Internal b. Subbagian Tata Usaha dan Keuangan c. Subbagian Hubungan Masyarakat dan Rumah Tangga Seksi Pabean dan Cukai (2); Seksi Fasilitas Kepabeanan (3); Seksi Keberatan dan Banding; Seksi Informasi Kepabeanan dan Cukai.

4.

5.

2

Kantor Wilayah Bea dan Cukai Khusus

1.

2.

Bidang Kepabeanan dan Cukai : a. Penggabungan Seksi Kepabeanan dengan Seksi Cukai; b. Pengurangan jumlah maksimal Seksi Keberatan dan Banding.

Seksi Kepabeanan; Seksi Fasilitas Kepabeanan (3); Seksi Cukai; Seksi Keberatan dan Banding (2); Seksi Informasi Kepabeanan dan Cukai.

10

WARTA BEA CUKAI

EDISI 407 OKTOBER 2008

3.

Bidang Penindakan dan Sarana Operasi : Perubahan jumlah maksimal Kepala Seksi Penindakan. Bidang Penyidikan dan Barang Bukti : Perubahan nomenklatur

Kepala Seksi Penindakan

Kepala Seksi Penindakan 2 (dua). Bidang Penyidikan dan Barang Hasil Penindakan Seksi Barang Hasil Penindakan Subbagian Umum; Seksi Penindakan dan Penyidikan; Seksi Administrasi Manifes; Seksi Perbendaharaan; Seksi Pelayanan Kepabeanan dan Cukai (9); Seksi Penyuluhan dan Layanan Informasi; Seksi Kepatuhan Internal; Seksi Dukungan Teknis dan Distribusi Dokumen.

4.

Bidang Penyidikan dan Barang Bukti Seksi Barang Bukti (KPPBC Tipe A1) Subbagian Umum; Seksi Administrasi Manifes; Seksi Perbendaharaan; Seksi Kepabeanan dan Cukai (8); Seksi Tempat Penimbunan (2); Seksi Penindakan dan Penyidikan; Seksi Dukungan Teknis dan Distribusi Dokumen. (KPPBC Tipe A3) Subbagian Umum; Seksi Perbendaharaan; Seksi Kepabeanan dan Cukai; Seksi Tempat Penimbunan; Seksi Penindakan dan Penyidikan; Seksi Dukungan Teknis dan Distribusi Dokumen.

3

Pembentukan KPPBC Tipe Madya Pabean (Benchmark KPPBC Tipe A1)

1. 2. 3. 4.

Pembentukan Seksi Penyuluhan dan Layanan Informasi Pembentukan Seksi Kepatuhan Internal. Penggabungan Seksi Kepabeanan dan Cukai dengan Seksi Tempat Penimbunan. Penghapusan Subseksi pada Seksi DTDD.

4

KPPBC Tipe Utama Cukai (Benchmark KPPBC Tipe A3)

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Pembentukan Seksi Intelijen dan Penindakan. Pembentukan Seksi Penyidikan dan Barang Hasil Penindakan Pembentukan Subseksi Administrasi dan Distribusi Pita Cukai. Reposisi Tupoksi dan Penghapusan Seksi Dukungan Teknis dan Distribusi Dokumen. Penggabungan Seksi Kepabeanan dan Cukai dengan Seksi Tempat Penimbunan. Pembentukan Seksi Penyuluhan dan Layanan Informasi. Pembentukan Seksi Kepatuhan Internal. Penggabungan Subseksi Penindakan dengan Subseksi Sarana Operasi, serta perubahan nomenklatur pada Seksi Penindakan dan Penyidikan; Reposisi Tupoksi Subseksi pada Seksi Perbendaharaan; Perubahan jumlah maksimal Seksi Kepabeanan dan Cukai; Perubahan Jumlah maksimal Seksi Tempat Penimbunan Penghapusan Subseksi pada Seksi DTDD

-

Subbagian Umum; Seksi Intelijen dan Penindakan; Seksi Penyidikan dan Barang Hasil Penindakan; Seksi Perbendaharaan; Seksi Pelayanan Kepabeanan dan Cukai (2); Seksi Penyuluhan dan Layanan Informasi; Seksi Kepatuhan Internal.

5

KPPBC Tipe A1

Subseksi Penindakan Subseksi Sarana Operasi Subseksi Penyidikan dan Barang Bukti

Subseksi Penindakan dan Sarana Operasi Subseksi Penyidikan dan Barang Hasil Penindakan.

8 2

7 3

6

KPPBC Tipe A2

Penggabungan Subseksi Penindakan dengan Subseksi Sarana Operasi, serta perubahan nomenklatur pada Seksi Penindakan dan Penyidikan; Reposisi Tupoksi Subseksi pada Seksi Perbendaharaan; Perubahan Jumlah maksimal Seksi Tempat Penimbunan Penghapusan Subseksi pada Seksi DTDD

Subseksi Penindakan Subseksi Sarana Operasi Subseksi Penyidikan dan Barang Bukti

Subseksi Penindakan dan Sarana Operasi Subseksi Penyidikan dan Barang Hasil Penindakan

2

8

7

KPPBC Tipe A3

Penggabungan Subseksi Penindakan dengan Subseksi Sarana Operasi, serta perubahan nomenklatur pada Seksi Penindakan dan Penyidikan; Reposisi Tupoksi Subseksi pada Seksi Perbendaharaan;

Subseksi Penindakan Subseksi Sarana Operasi Subseksi Penyidikan dan Barang Bukti Subseksi Penindakan Subseksi Sarana Operasi Subseksi Penyidikan dan Barang Bukti

Subseksi Penindakan dan Sarana Operasi Subseksi Penyidikan dan Barang Hasil Penindakan Subseksi Penindakan dan Sarana Operasi Subseksi Penyidikan dan Barang Hasil Penindakan

8

KPPBC Tipe A4

Penggabungan Subseksi Penindakan dengan Subseksi Sarana Operasi, serta perubahan nomenklatur pada Seksi Penindakan dan Penyidikan; Reposisi Tupoksi Subseksi pada Seksi Perbendaharaan; Penghapusan Subseksi pada Seksi DTDD

EDISI 407 OKTOBER 2008

WARTA BEA CUKAI

11

LAPORAN UTAMA
9 10 KPPBC Tipe B Perubahan Tipe KPPBC Penggabungan Subseksi Perbendaharaan dengan Subseksi Kepabeanan dan Cukai KPPBC Sunda Kelapa KPPBC Yogyakarta Relokasi KPPBC Bintuni ke Babo Subseksi Perbendaharaan Subseksi Kepabeanan dan Cukai Tipe A4 Tipe A4 Tipe B Subseksi Perbendaharaan dan Pelayanan Tipe A3 Tipe A3 KPPBC Bintuni menjadi Pos Pengawasan di bawah KPPBC Tipe B Babo Kantor Bantu di bawah KPPBC Tipe B Atapupu Pos Pengawasan Enarotali di bawah KPPBC Tipe B Nabire Pos Pengawasan Waren di bawah KPPBC Tipe B Biak Pos Pengawasan LNG Tangguh di bawah KPPBC Tipe B Babo Pembentukan Kantor Bantu Rencana Implementasi KPPBC Tipe Madya : a. Tanjung Perak b. Soekarno-Hatta c. Belawan a. b. c. Malang Kudus Kediri Pos Pengawasan Dobo Tipe A1 Tipe A1 Tipe A1 Tipe A3 Tipe A3 Tipe A3 Kantor Bantu di bawah KPPBC Tipe B Tual Madya Pabean : September 2008 Nopember 2008 Desember 2008 Madya Cukai : Juli 2008 Agustus 2008 Oktober 2008

KPPBC Kalabahi 11 Pembentukan Pos Pengawasan

Tipe B

REORGANISASI KANTOR PUSAT DJBC

D

Sesuai dengan PMK.100/PMK.01/2008, tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Keuangan (reorganisasi tingkat pusat), terdapat likuidasi, reposisi dan penambahan fungsi di beberapa direktorat.

ari hasil reorganisasi yang dilakukan di tingkat Kantor Pusat, terdapat pembentukan unit baru dan penyempurnaan struktur organisasi dan tugas pokok organisasi (tupoksi). Sedangkan untuk tugas operasional, pada Direktorat Teknis, Fasilitas, P2 dan Audit masih terdapat tugas-tugas operasional. Tugas-tugas operasional yang dapat dilakukan oleh Direktorat, diatur lebih lanjut dengan Keputusan Direktur Jenderal. Hal itu didasari, Kantor Pusat saat ini masih memerlukan adanya tugas operasional terutama tugas yang melingkupi lebih dari satu wilayah kerja dan tugas dengan karakteristik khusus yang tidak dapat didelegasikan kepada instansi vertikal. Contoh, audit bersama dengan Direktorat Jenderal Pajak dan audit investigasi penyidikan tindak pidana yang terjadi pada lebih dari satu wilayah kerja. Tugastugas operasional yang dapat dilakukan oleh direktorat diatur lebih lanjut oleh Direktur Jenderal.

dalam rangka manajemen resiko, mengantisipasi kebutuhan organisasi di masa mendatang dan tuntutan kerja. 2. Subdirektorat Narkotika. Yang mendasari pemikiran pembentukan Sudirektorat Narkotika antara lain, unit yang fokus pada narkotika. Narkotika sudah menjadi isu nasional dan krusial sehingga DJBC dituntut memiliki peran yang lebih besar dalam penanganan narkotika, apalagi saat ini narkotika mendapat perhatian yang lebih pada instansi lain. Disamping itu juga, tuntutan beban kerja dari unit yang sudah ada sekarang sehingga perlu pembentukan seksi khusus untuk dukungan operasi narkotika. 3. Seksi Tempat Tahanan. Bertujuan untuk mengaksesi tugas dan fungsi rumah tahanan yang dimiliki DJBC saat ini dan mengingat semakin banyaknya tahanan yang dititipkan di rumah tahanan milik DJBC. Hal ini juga terkait dengan disetujuinya rumah tahanan bea cukai sebagai cabang dari rumah tahanan Salemba, karena itu rumah tahanan bea cukai perlu dikelola secara profesional, maka itu perlu diimplementasikan dengan pembentukan seksi yang lebih fokus dengan masalah tersebut.

PENYEMPURNAAN STRUKTUR ORGANISASI DAN TUPOKSI
Terdapat penyempurnaan struktur organisasi dan tupoksi dalam reorganisasi pada Sekretariat Direktorat Jenderal, Direktorat Teknis Kepabeanan, Direktorat Fasilitas Kepabeanan, Direktorat Cukai, Direktorat Penindakan dan Penyidikan, Direktorat Audit, Direktorat Kepabeanan Internasional, Direktorat Penerimaan dan Peraturan Kepabeanan dan Cukai (PPKC) dan Direktorat Informasi Kepabeanan dan Cukai (IKC), yang akan dijabarkan sebagai berikut : 1. Sekretariat Direktorat Jenderal Subbagian Rumah Tangga dan Humas

PEMBENTUKAN TIGA UNIT BARU
Dalam hal pembentukan unit baru terdapat tiga unit baru yang melengkapi struktur organisasi Kantor Pusat, yaitu : 1. Subdirektorat Registrasi Kepabeanan. Yang mendasari pemikiran pembentukan Subdirektorat Registrasi Kepabeanan antara lain ; untuk menyatukan proses registrasi kepabeanan pada satu unit, pengumpulan data 12
WARTA BEA CUKAI EDISI 407 OKTOBER 2008

l

l

Reposisi tugas Hubungan Masyarakat ke Direktorat PPKC menjadi Subdit Hubungan Masyarakat dan Penyuluhan. Yang mendasari pemikiran pembentukan Subdit ini dikarenakan adanya peningkatan yang signifikan pemberitaan di bidang kepabeanan dan cukai, pengelolaan berita harus ditangani secara khusus, peningkatan citra DJBC serta tuntutan beban kerja dan kebutuhan organisasi. Subbagian Gaji dan Kesra. Membentuk Subbagian gaji pada Bagian Keuangan dan mengubah nomenklatur Subbagian Gaji dan Kesra menjadi Subbagian Kesejahteraan.

2. Direktorat Fasilitas Kepabeanan l Seksi Tempat Penimbunan III dilikuidasi, tupoksi direposisi ke Dit. Teknis Kepabeanan. l Penambahan Seksi Pembebasan I dan Seksi Pembebasan II (reposisi Seksi Pembebasan Mutlak dari Direktorat Teknis Kepabeanan). 3. Direktorat Cukai Terdapat desentralisasi tupoksi ke instansi vertikal dalam hal perijinan dan perusakan pita cukai dihapus. Terdapat penyesuaian nomenklatur obyek cukai sehingga nomenklatur hasil tembakau berubah menjai cukai hasil tembakau. Sedangkan untuk istilah “penukaran” diubah menjadi “pengembalian”. Selanjutnya, di Direktorat Cukai terdapat penyesuaian dengan Undang-Undang No.39/2007 sehingga istilah pelunasan cukai menjadi pelunasan cukai dengan pelekatan pita cukai dan tanda pelunasan cukai lainnya. Adanya beban kerja yang tinggi sehingga perlu pemecahan Seksi Analisis Tarif, Harga dan Produksi Aneka Cukai menjadi 2 seksi yaitu Seksi Aneka Cukai II dan Seksi Aneka Cukai III. Begitu juga di Seksi Analisis Tarif, Harga dan Produksi Hasil Tembakau karena beban kerja yang tinggi sehingga dilakukan pemecahan menjadi 2 Seksi yaitu Seksi Cukai Hasil Tembakau II dana Seksi Cukai Hasil Tembakau III. Di Seksi Penyediaan dan Penukaran juga demikian, dengan alasan beban kerja yang tinggi maka dilakukan pemecahan seksi, yaitu Seksi Penyediaan dan Seksi Pengembalian. 4. Direktorat Kepabeanan Internasional Terdapat perubahan nomenklatur eselon III menjadi Subdirektorat Kerjasama Multilateral, Subdirektorat Kerjasama Bilateral, dan Subdirektorat Kerjasama Regional berdasar pengelompokan yang lebih sesuai dengan tugas dan beban kerja. Menambah tupoksi “pelaksanaan kerjasama teknis luar negeri” dan terdapat perubahan tupoksi pada eselon III dan IV berdasar pengelompokan yang disesuaikan dengan beban kerja. 5. Direktorat Teknis Kepabeanan l Mereposisi Seksi Pembebasan Mutlak ke Direktorat Fasilitas Kepabeanan. l Menambah satu Seksi yaitu Seksi Tempat Penimbunan Sementara (TPS) dan Tempat Penimbunan Pabean (TPP ) bukan merupakan fasilitas kepabeanan. l Penetapan tarif pada Subdit Klasifikasi semula terhadap tarif Bea Masuk dan Bea Masuk anti dumping/ imbalan bertambah dengan tarif Bea Masuk Pengamanan, Bea Masuk Pembalasan, dan Bea Keluar sesuai Undang-Undang Kepabeanan Nomor 17/2006 6. Direktorat Fasilitas Kepabeanan l Melikuidasi Seksi Tempat penimbunan III karena reposisi tupoksi ke Direktorat Teknis Kepabeanan l Menambah jenis tempat penimbunan berikat yaitu tempat daur ulang berikat dan tempat lelang berikat

SALAH SATU FAKTOR YANG MENDASARI pembentukan Sudirektorat Narkotika adalah unit yang fokus pada narkotika, narkotika sudah menjadi isu nasional dan krusial sehingga DJBC dituntut memiliki peran yang lebih besar dalam penanganan narkotika.
l l l

l l

berdasar peraturan baru tentang kawasan berikat Mengubah istilah tempat penimbunan menjadi tempat penimbunan berikat Mereposisi Seksi Pembebasan Mutlak dari Direktorat Teknis ke Subdirektorat Pembebasan Membagi Seksi Pembebasan Mutlak menjadi dua Seksi, yaitu Seksi Pembebasan I dan Seksi Pembebasan II Menggabungkan 3 Seksi Pembebasan Relatif (I,II,III), menjadi Seksi Pembebasan IV Perubahan nomenklatur dan penyesuaian tupoksi Seksi Pembebasan Proyek Pemerintah menjadi Seksi Pembebasan III

7. Direktorat Informasi Kepabeanan dan Cukai (IKC) l Pembentukan Subdit Registrasi Kepabeanan 8. Direktorat Penindakan dan Penyidikan l Pembentukan Subdirektorat Narkotika l Pembentukan Seksi Tempat Tahanan l Perubahan nomenklatur Seksi Barang Bukti menjadi Seksi Barang Hasil Penindakan. ris
EDISI 407 OKTOBER 2008 WARTA BEA CUKAI

13

LAPORAN UTAMA

KANTOR PUSAT DJBC DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI TERDIRI DARI : 1. Sekretaris Direktorat Jenderal l Bagian Organisasi dan Tata Laksana (Subbagian Kelembagaan, Subbagian Tatalaksana, Subbagian Evaluasi Kinerja dan Pembakuan Prestasi Kerja, Subbagian Evaluasi Laporan Hasil Pemeriksaan) l Bagian Kepegawaian (Subbagian Umum Kepegawaian, Subbagian Mutasi Kepegawaian, Subbagian Pemberhentian dan Pemensiunan Pegawai, Subbagian Pengembangan Pegawai) l Bagian Keuangan (Subbagian Penyusunan Anggaran, Subbagian Perbendaharaan, Subbagian Akuntansi dan Pelaporan, Subbagian Gaji) l Bagian Perlengkapan (Subbagian Pengadaan, Subbagian Penyimpanan dan Distribusi, Subbagian Inventarisasi dan Penghapusan) l Bagian Umum (Subbagian Tata Usaha dan Kearsipan, Subbagian Rumah Tangga, Subbagian Kesejahteraan, Subbagian Tata Usaha Direktur Jenderal) 2. Direktorat Teknis Kepabeanan l Subdirektorat Impor dan Ekspor (Seksi Impor, Seksi Ekspor, Seksi Penangguhan Bea Masuk, Seksi Tempat Penimbunan Sementara dan Tempat Penimbunan Pabean) l Subdirektorat Klasifikasi Barang (Seksi Klasifikasi I, Seksi Klasifikasi II, Seksi Klasifikasi III, Seksi Klasifikasi IV) l Subdirektorat Nilai Pabean (Seksi Nilai Pabean I, Seksi Nilai Pabean II, Seksi Nilai Pabean III, Seksi Nilai Pabean IV) l Subbagian Tata Usaha l Kelompok Jabatan Fugsional Direktorat Fasilitas Kepabeanan l Subdirektorat Pembebasan (Seksi Pembebasan I, Seksi Pembebasan II, Seksi Pembebasan III, Seksi Pembebasan IV). l Subdirektorat Fasilitas Pertambangan (Seksi Fasilitas Minyak dan Gas Bumi, Seksi Fasilitas Aneka Tambang) l Subdirektorat Kemudahan Impor Tujuan Ekspor dan Tempat

l l 4.

Penimbunan Berikat (Seksi Kemudahan Impor Tujuan Ekspor, Seksi Tempat Penimbunan Berikat I, Seksi Tempat Penimbunan Berikat II) Subbagian Tata Usaha Kelompok Jabatan Fungsional

Direktorat Cukai l Subdirektorat Cukai Hasil Tembakau (Seksi Cukai Hasil Tembakau I, Seksi Cukai Hasil Tembakau II, Seksi Cukai Hasil III) l Subdirektorat Aneka Cukai (Seksi Aneka Cukai I, Seksi Aneka Cukai II, Seksi Aneka Cukai III) l Subdirektorat Pita Cukai dan Tanda Pelunasan Cukai Lainnya (Seksi Penyediaan Pita cukai dan Tanda Pelunasan Cukai Lainnya, Seksi Penyimpanan dan Pendistribusian Pita Cukai dan Tanda Pelunasan Cukai Lainnya, Seksi Pengembalian Pita Cukai dan Tanda Pelunasan Cukai Lainnya) l Subbagian Tata Usaha l Kelompok Jabatan Fungsional Direktorat Penindakan dan Penyidikan l Subdirektorat Intelijen (Seksi Intelijen I, Seksi Intelijen II, Seksi Intelijen III, Seksi Pangkalan Data Intelijen) l Subdirektorat Penindakan (Seksi Penindakan I, Seksi Penindakan II, Seksi Penindakan III) l Subdirektorat Narkotika (Seksi Narkotika dan Psikotropika, Seksi Prekursor. Seksi Dukungan Operasi Narkotika) l Subdirektorat Penyidikan (Seksi Penyidikan I, Seksi Penyidikan II, Seksi Barang Hasil Penindakan, Seksi Tempat Tahanan) l Subdirektorat Sarana Operasi (Seksi Sarana Operasi I, Seksi Sarana Operasi II, Seksi Sarana Operasi III). l Subbagian Tata Usaha l Kelompok Jabatan Fungsional Direktorat Audit l Subdirektorat Perencanaan Audit (Seksi Perencanaan Audit I, Seksi Perencanaan Audit II, Seksi Perencanaan Audit III)

5

3.

6

14

WARTA BEA CUKAI

EDISI 407 OKTOBER 2008

l l l l 7

Subdirektorat Pelaksanaan Audit (Seksi Pelaksanaan Audit I, Seksi Pelaksanaan Audit II, Seksi Pelaksanaan Audit III) Subdirekroat Evaluasi Audit (Seksi Evaluasi Hasil Audit I, Seksi Evaluasi Hasil Audit II, Seksi Evaluasi Hasil Audit III) Subbagian Tata Usaha Kelompok Jabatan Fungsional 9

l l l

Hubungan Masyarakat, Seksi Penyuluhan dan Layanan Informasi, Seksi Publikasi dan Dokumentasi) Subdirektorat Keberatan dan Banding (Seksi Keberatan dan Banding I, Seksi Keberatan dan Banding II) Subbagian Tata Usaha Kelompok Jabatan Fungsional

Direktorat Kepabeanan Internasional l Subdirektorat Kerjasama Multilateral (Seksi Multilateral I, Seksi Multilateral II, Seksi Multilateral III). l Subdirektorat Kerjasama Bilateral (Seksi Bilateral I, Seksi Bilateral II, Seksi Bilateral III) l Subdirektorat Kerjasama Regional (Seksi Regional I, Seksi Regional II, Seksi Regional III) l Subbagian Tata Usaha l Kelompok Jabatan Fungsional Direktorat Penerimaan dan Peraturan Kepabeanan dan Cukai l Subdirektorat Penerimaan (Seksi Pemantauan Penerimaan, Seksi Penagihan dan Pengembalian) l Subdirektorat Peraturan dan Bantuan Hukum (Seksi Peraturan Kepabeanan, Seksi Peraturan Cukai dan Peraturan Lainnya, Seksi Bantuan Hukum Kepabeanan dan Cukai) l Subdirektorat Hubungan Masyarakat dan Penyuluhan (Seksi

8

Direktorat Informasi Kepabeanan dan Cukai l Subdirektorat Manajemen Risiko (Seksi Pemantauan Risiko, Seksi Pengendalian Risiko) l Subdirektorat Registrasi Kepabeanan (Seksi Registrasi Kepabeanan I, Seksi Registrasi Kepabeanan II, Seksi Registrasi Kepabeanan III) l Subdirektorat Otomasi Sistem dan Prosedur (Seksi Otomasi Sistem dan Prosedur Impor dan Ekspor, Seksi Otomasi Sistem dan Prosedur Cukai, Seksi Otomasi Sistem Penyajian Data, Seksi Otomasi Sistem Administrasi) l Subdirektorat Pengembangan Sistem dan Sarana Otomasi (Seksi Perencanaan Sistem Dan Sarana Otomasi, Seksi Pemeliharaan Sistem, Seksi Pemeliharaan Sarana Otomasi) l Subdirektorat Pengelolaan Data dan Pelayanan Informasi (Seksi Pengelolaan Data, Seksi Pelayanan Informasi) l Subbagian Tata Usaha l Kelompok Jabatan Fungsional

KANTOR WILAYAH DJBC MELIPUTI : 1. Kanwil DJBC Nanggroe Aceh Darusalam-Banda Aceh 2. Kanwil DJBC Sumatera Utara - Medan 3. Kanwil DJBC Riau dan Sumatera Barat-Pekanbaru 4. Kanwil DJBC Sumatera Bagian Selatan-Palembang 5. Kanwil DJBC Banten-Serang 6. Kanwil DJBC Jakarta 7. Kanwil DJBC Jawa Barat-Bandung

8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15.

Kanwil DJBC Jawa Tengah & D.I Yogyakarta-Semarang Kanwil DJBC Jawa Timur I-Surabaya Kanwil DJBC Jawa Timur II-Malang Kanwil DJBC Bali, NTB & NTT-Denpasar Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Barat-Pontianak Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur-Balikpapan Kanwil DJBC Sulawesi-Makassar Kanwil DJBC Maluku, Papu dan Irian Jaya Barat-Ambon

EDISI 407 OKTOBER 2008

WARTA BEA CUKAI

15

LAPORAN UTAMA

KANWIL KHUSUS DJBC KEPULAUAN RIAU · Kanwil Khusus DJBC Kepulauan Riau-Tanjung Balai Karimun

KANTOR PELAYANAN UTAMA (KPU) TIPE A · Kantor Pelayanan Utama (KPU) Tipe A Tanjung Priok-Jakarta

16

WARTA BEA CUKAI

EDISI 407 OKTOBER 2008

KANTOR PELAYANAN UTAMA (KPU) TIPE B · Kantor Pelayanan Utama (KPU) Bea dan Cukai Tipe B Batam

KANTOR PENGAWASAN DAN PELAYANAN BEA DAN CUKAI (KPPBC) TIPE MADYA CUKAI · KPPBC Tipe Madya Cukai Kudus · KPPBC Tipe Madya Cukai Malang · KPPBC Tipe Madya Cukai Kediri

EDISI 407 OKTOBER 2008

WARTA BEA CUKAI

17

LAPORAN UTAMA

KANTOR PENGAWASAN DAN PELAYANAN BEA DAN CUKAI (KPPBC) TIPE MADYA PABEAN · KPPBC Tipe Madya Pabean Belawan · KPPBC Tipe Madya Pabean SoekarnoHatta · KPPBC Tipe Madya Pabean Tanjung Perak

KPPBC TIPE A1 · KPPBC Tipe A1 Tanjung Emas

18

WARTA BEA CUKAI

EDISI 407 OKTOBER 2008

KANTOR PENGAWASAN DAN PELAYANAN BEA DAN CUKAI (KPPBC) TIPE A2 · KPPBC Tipe A2 Merak · KPPBC Tipe A2 Purwakarta · KPPBC Tipe A2 Tangerang · KPPBC Tipe A2 Bandung · KPPBC Tipe A2 Jakarta · KPPBC Tipe A2 Pasuruan · KPPBC Tipe A2 Bekasi · KPPBC Tipe A2 Juanda · KPPBC Tipe A2 Bogor

KANTOR PENGAWASAN DAN PELAYANAN BEA DAN CUKAI (KPPBC) TIPE A3 · KPPBC Tipe A3 Medan · KPPBC Tipe A3 Palembang · KPPBC Tipe A3 Pekanbaru · KPPBC Tipe A3 Jambi · KPPBC Tipe A3 Dumai · KPPBC Tipe A3 Bandar · KPPBC Tipe A3 Teluk Bayur Lampung · KPPBC Tipe A3 Tanjung Balai · KPPBC Tipe A3 Sunda Kelapa Karimun · KPPBC Tipe A3 Surakarta · KPPBC Tipe A3 Tanjung Pinang · KPPBC Tipe A3 Yogyakarta

· · · · · · ·

KPPBC Tipe A3 KPPBC Tipe A3 KPPBC Tipe A3 KPPBC Tipe A3 KPPBC Tipe A3 KPPBC Tipe A3 KPPBC Tipe A3

Gresik Ngurah Rai Pontianak Balikpapan Samarinda Banjarmasin Makasar

EDISI 407 OKTOBER 2008

WARTA BEA CUKAI

19

LAPORAN UTAMA
KANTOR PENGAWASAN DANPELAYANAN BEA DAN CUKAI (KPPBC) TIPE A4 · KPPBC Tipe A4 Sabang · KPPBC Tipe A4 Banda Aceh · KPPBC Tipe A4 Lhok Seumawe · KPPBC Tipe A4 Teluk Nibung · KPPBC Tipe A4 Tembilahan · KPPBC Tipe A4 Bengkulu · KPPBC Tipe A4 Pangkal Pinang · KPPBC Tipe A4 Cirebon · KPPBC Tipe A4 Cilacap · KPPBC Tipe A4 Mataram · KPPBC Tipe A4 Kupang · KPPBC Tipe A4 Entikong · KPPBC Tipe A4 Sintete · KPPBC Tipe A4 Sampit · KPPBC Tipe A4 Bontang · KPPBC Tipe A4 Tarakan · KPPBC Tipe A4 Nunukan · KPPBC Tipe A4 Kotabaru · KPPBC Tipe A4 Kendari · KPPBC Tipe A4 Bitung · KPPBC Tipe A4 Gorontalo · KPPBC Tipe A4 Ambon · KPPBC Tipe A4 Ternate · KPPBC Tipe A4 Sorong · KPPBC Tipe A4 Jayapura · KPPBC Tipe A4 Amamapare

KANTOR PENGAWASAN DAN PELAYANAN BEA DAN CUKAI (KPPBC) TIPE B · KPPBC Tipe B Meulaboh · KPPBC Tipe B Kuala Langsa · KPPBC Tipe B Pangkalan Susu · KPPBC Tipe B Pematang Siantar · KPPBC Tipe B Sibolga · KPPBC Tipe B Kuala Tanjung · KPPBC Tipe B Selat Panjang · KPPBC Tipe B Bengkalis · KPPBC Tipe B Bagan Siapi-api · KPPBC Tipe B Siak Sri Indrapura · KPPBC Tipe B Sambu Belakang Padang · KPPBC Tipe B Dabo Singkep · KPPBC Tipe B Tarempa · KPPBC Tipe B Tanjung Pandan · KPPBC Tipe B Kantor Pos Pasar Baru · KPPBC Tipe B Tasikmalaya · KPPBC Tipe B Pekalongan · KPPBC Tipe B Purwokerto · KPPBC Tipe B Tegal · KPPBC Tipe B Kalianget · KPPBC Tipe B Bojonegoro · KPPBC Tipe B Tulung Agung · KPPBC Tipe B Blitar · KPPBC Tipe B Madiun · KPPBC Tipe B Panarukan · KPPBC Tipe B Banyuwangi · KPPBC Tipe B Probolinggo · KPPBC Tipe B Benoa · KPPBC Tipe B Bima · KPPBC Tipe B Atapupu · KPPBC Tipe B Maumere · KPPBC Tipe B Ketapang · KPPBC Tipe B Jagoi Babang · KPPBC Tipe B Pangkalan Buun · KPPBC Tipe B Pulang Pisau · KPPBC Tipe B Sangata · KPPBC Tipe B Pare-pare · KPPBC Tipe B Malili · KPPBC Tipe B Bajo’e · KPPBC Tipe B Pomalaa · KPPBC Tipe B Pantoloan · KPPBC Tipe B Poso · KPPBC Tipe B Luwuk · KPPBC Tipe B Manado · KPPBC Tipe B Tual · KPPBC Tipe B Manokwari · KPPBC Tipe B Babo · KPPBC Tipe B Fak-Fak · KPPBC Tipe B Kaimana · KPPBC Tipe B Biak · KPPBC Tipe B Nabire · KPPBC Tipe B Merauke

20

WARTA BEA CUKAI

EDISI 407 OKTOBER 2008

WAWANCARA Drs. Kamil Sjoeib MA
SEKRETARIS DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI

“IMPLEMENTASI REORGANISASI JUGA DIBARENGI DENGAN MONITORING DAN EVALUASI…”
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) kembali melakukan reorganisasi di tubuhnya. Dalam reorganisasi kali ini, terjadi beberapa penyempurnaan organisasi, antara lain dengan pembentukan tiga unit baru yaitu Subdirektorat Registrasi Kepabeanan, Subdit Narkotika dan Seksi Tempat Tahanan, termasuk rencana dalam waktu dekat dengan membentuk satu unit baru setingkat eselon II, yaitu Direktorat Kepatuhan Internal. Apa sasaran yang hendak dicapai dalam reorganisasi kali ini dan apa yang menjadi harapan dengan adanya reorganisasi ini ? Bagaimana pula dengan rencana adanya unit baru yaitu Direktorat Kepatuhan Internal ? Berikut penjelasan Sekretaris Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Kamil Sjoeib Sjoeib, kepada Redaktur WBC, Aris Suryantini.
Dari hasil identifikasi masalah yang dilakukan oleh Tim Reorganisasi tahun 2008, faktor apa saja yang melatarbelakangi sehingga dilakukannya reorganisasi di DJBC, baik vertikal maupun pusat? Pada dasarnya reorganisasi dilakukan sebagai upaya organisasi untuk menyesuaikan dirinya dengan dinamika dan perkembangan lingkungan organisasi baik internal maupun eksternal. Hal yang sama dilakukan juga oleh DJBC. Beberapa diantaranya dapat saya kemukakan disini antara lain : Pertama, Beberapa hal baru yang diamanatkan oleh Undang-undang No. 17 Tahun 2006 memerlukan pembentukan unit khusus
EDISI 407 OKTOBER 2008 WARTA BEA CUKAI

21

WAWANCARA
yang menangani masalah tertentu, seperti misalnya unit yang menangani registrasi kepabeanan; Kedua, perkembangan kebutuhan peningkatan koordinasi dan pelaksanaan dalam penegakan hukum di bidang masalah narkotika memerlukan pengembangan unit di lingkungan DJBC yang selama ini menangani masalah narkotika; Ketiga, adanya kebutuhan untuk meningkatkan image organisasi di mata masyarakat memerlukan penajaman fungsi humas di lingkungan DJBC; Keempat, adanya perubahan pada sistem dan prosedur pelayanan, perubahan kebijakan di bidang pengawasan, serta adanya perubahan kebijakan di bidang sumber daya manusia, dimana pada akhirnya menuntut perubahan pada beberapa infrastruktur pelayanan dan pengawasan yang belum dapat ditampung pada struktur organisasi dan tata kerja instansi vertical sebagaimana sebelumnya telah ditetapkan dalam PMK No. 68/ PMK.01/2007. Pertimbangan serupa yang juga menjadi hasil kajian Tim Percepatan Reformasi (TPR) DJBC. termasuk SDM. Mengenai pemenuhan kebutuhan SDM bagaimana mekanisme pemenuhannya? Pemenuhan kebutuhan SDM harus menyesuaikan dengan kebutuhan organisasi, syarat dan kompetensi jabatan yang ada. Berpijak dari pemikiran ini, maka pemenuhan kebutuhan SDM memerlukan adanya proses analisis jabatan dan assessment terhadap pegawai yang akan ditempatkan. Sehingga diharapkan para pegawai yang akan menduduki jabatan memiliki kompetensi yang memadai untuk melaksanakan tugas-tugas yang diberikan. Sedangkan analisis jabatan diharapkan mampu memberikan informasi tentang kebutuhan SDM yang diperlukan organisasi. Kendala apa saja yang ditemui dalam proses perumusan dan penyusunan reorganisasi? Secara umum dapat saya katakan tidak ada kendala yang berarti dalam proses perumusan dan penyusunan reorganisasi. Namun demikian, proses perumusan dan penyusunan reorganisasi merupakan proses yang melibatkan institusi lain di luar DJBC sehingga memerlukan waktu yang cukup signifikan untuk menyamakan persepsi dalam proses pembahasan rumusan reorganisasi dan tahapan persetujuan reorganisasi DJBC yang harus dipenuhi.

Langkah apa saja yang dilakukan Sekretariat DJBC dalam rangka reorganisasi ini? Sebagai langkah persiapan dilakukan pengkajian secara akademik mengenai tugas pokok dan fungsi dari unit organisasi yang akan dibentuk atau yang akan ditata kembali. Lalu dari kajian akademik yang dibuat tersebut dijadikan peApa yang menjadi ukuran keberhasilan dari reorganisadoman untuk melakukan penataan organisasi, tugas pokok dan si ? fungsi unit-unit di lingkungan Kantor Pusat DJBC maupun di insReorganisasi dianggap berhasil jika organisasi mampu tansi vertikal DJBC, yang prosesnya turut memengantisipasi dan menjawab tuntutan libatkan unit teknis terkait, pihak Departemen lingkungan organisasi. Dan terkait dengan Keuangan dan Kementrian Negara PAN. hal tersebut kita dapat melihat ukuran Selanjutnya, menyusun uraian jabatan berkeberhasilannya pada aspek-aspek yang “PADA DASARNYA dasarkan analisis jabatan, SOP dan mengevadapat diukur misalnya dengan indeks kepuREORGANISASI luasi peringkat jabatan untuk diusulkan kepada asan masyarakat terhadap pelayanan DJBC Menteri Keuangan. Kemudian menyiapkan serta indikator-indikator kinerja utama yang DILAKUKAN SEBAGAI SDM, sarana dan prasarana, anggaran serta semakin meningkat. UPAYA ORGANISASI berkoordinasi dengan TPR terkait dengan penyiapan sisdur dan teknologi informasi. UNTUK MENYESUAIKAN Tujuan dari reorganisasi adalah penyempurnaan organisasi namun pada DIRINYA DENGAN saat reorganisasi yang baru berjalan, Dalam pembahasan penyempurnaan organisasi, apa saja peran Sekretaris ternyata terjadi inefisiensi, bagaimana DINAMIKA DAN mengatasinya ? Direktorat Jenderal Bea dan Cukai? PERKEMBANGAN..” Berdasarkan tugas dan fungsi DJBC, SekSebagaimana umumnya proses manajeretaris DJBC secara prinsip bertanggungjawab men organisasi, maka implementasi reorgaterhadap peningkatan kapasitas DJBC. Dalam nisasi tersebut juga dibarengi dengan kegikaitannya dengan reorganisasi DJBC, Sekretaris Direktorat atan monitoring dan evaluasi. Dari evaluasi tersebut segala Jenderal menjalankan fungsinya sebagai unit yang bertanggung permasalahan yang timbul dapat diidentifikasi dan dicarikan jawab dalam proses perumusan organisasi dan tata kerja DJBC alternatif penyelesaiannya. sampai dengan proses penyelesaian Peraturan Menteri Keuangan. Dalam merumuskan reorganisasi tersebut, Sesditjen Setelah organisasi yang baru ini berjalan yaitu vertikal meminta masukan dan tanggapan dari semua unit kerja terkait sesuai dengan PMK-87/)MK.01/2008 dan PMK-100/ termasuk para Tenaga Pengkaji di lingkungan DJBC, yang dalam PMK.01/2008 tentang organisasi pusat, bagaimana mekanismenya dilakukan secara koordinatif dan komunikatif agar dengan pelaksanaan evaluasi untuk mengetahui terwujud struktur organisasi dengan tata kerja yang ideal sesuai efektifitas dan keberhasilan pelaksanaan reorganisasi dengan yang yang diharapkan. ini ? Apakah evaluasi itu dilaksanakan secara berkala ? Pelaksanaan evaluasi dilaksanakan oleh unit-unit yang tugas Apa tujuan dan sasaran yang dicapai melalui pokok dan fungsinya terkait dengan organisasi dan evaluasi reorganisasi? kinerja. Dan tentunya hal tersebut dilaksanakan secara berkala sehingga dapat diketahui perkembangan (progress) maupun Secara umum reorganisasi bertujuan untuk menyelaraskan potensi permasalahan yang mungkin timbul. struktur, tugas pokok dan fungsi organisasi dengan perkembangan lingkungan organisasi agar berjalan lebih efektif dan efisien. Dewasa ini,reorganisasi yang dilakukan oleh DJBC diDari hasil evaluasi itu nantinya apa saja tindak arahkan sejalan dengan program reformasi kepabeanan dan lanjutnya ? reformasi birokrasi yang ada. Seperti yang telah saya jelasHal itu sangat tergantung dari hasil evaluasi itu sendiri. kan tadi maka sasaran dari reorganisasi DJBC adalah untuk Sebagai contoh, apabila terkait dengan masalah organisasi mewujudkan pelaksanaan tugas-tugas pelayanan, maka dapat ditindaklanjuti dengan reorganisasi kembali, pengawasan dan administrasi kepabeanan dan cukai yang apabila terkait dengan sisdur maka akan dilakukan penyemefektif dan efisien yang dilaksanakan sesuai tata kelola purnaan sisdur oleh unit-unit terkait, dan apabila menyangkut pemerintahan yang baik berdasarkan peraturan perundangkinerja SDM maka akan ditindaklanjuti dengan hal-hal yang undangan yang berlaku. terkait dengan ketentuan kepegawaian. Jadi secara umum segala hal yang didapat dari hasil evaluasi tersebut akan ditindaklanjuti oleh unit-unit terkait sesuai karakteristik dan Setelah dilakukannya reorganisasi tugas selanjutnya skala permasalahan yang dihadapi. adalah pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana,

“ ”

22

WARTA BEA CUKAI

EDISI 407 OKTOBER 2008

Sudah ada usulan bahwa akan ditambah sebuah unit setingkat eselon dua yang baru yaitu Direktorat Kepatuhan Internal (KI). Apa yang melatarbelakangi sehingga perlu dibentuk Direktorat KI ? Sebelum menjawab hal tersebut, perlu saya sampaikan terlebih dahulu sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, bahwa proses reorganisasi ini perumusan dan penyusunannya melalui pembahasan dengan Departemen Keuangan dan Kementerian Negara PAN. Dalam proses itu DJBC telah mengusulkan perlunya dibentuk Direktorat Kepatuhan Internal (KI). Pembentukan Direktorat KI itu akan menambah jumlah direktorat yang sudah ada sehingga diperlukan perubahan Peraturan Presiden. Nah ini akan membutuhkan waktu yang cukup lama karena harus melalui Sekretariat Negara. Apabila ini ditempuh maka akan menghambat proses reorganisasi yang sedang dilakukan oleh unit eselon I lainnya di Departemen Keuangan, karena penetapan reorganisasi tesebut nantinya dalam satu Peraturan Menteri Keuangan (PMK). Dengan demikian, hingga saat ini usulan pembentukan Direktorat KI tersebut masih dalam proses dengan Kementerian Negara PAN.

norma-norma kepatuhan internal yang menjadi dasar dalam melaksanakan tugas dan fungsi pengendalian internal, seperti : integritas, komitmen yang tinggi, kompetensi dan profesionalisme. Saya juga memiliki harapan bahwasannya SDM pada unit KI nantinya bersama-sama dengan segenap unsur DJBC yang lain dapat senantiasa dan mengawal semangat reformasi di lingkungan DJBC dan menjadi unsur perubahan (agent of change) kepada pembentukan DJBC yang lebih meningkat dari sisi kinerja dan profesionalisme pegawainya. Apa tujuan yang hendak dicapai dari organisasi KI ini ? Tujuan dari organisasi atau unit KI ini adalah ; memberikan dukungan terhadap tercapainya tujuan reformasi di bidang kepabeanan dan cukai, melaksanakan penjaminan kualitas atas janji layanan yang diberikan DJBC, menegakkan pelaksanaan tata kelola pemerintahan yang baik di lingkungan DJBC dan penajaman fungsi pengawasan internal organisasi dalam rangka menjalankan prinsip-prinsip organisasi moderen yang akuntabel.

Sasaran apa saja yang akan dicapai dengan adanya Direktorat KI ? Sasaran strategis dari organisasi KI meliputi : Pertama, terwujudnya pelaksanaan tugas-tugas pelayanan, Pertimbangan-pertimbangan apa saja sehingga dibenpengawasan dan administrasi kepabeanan dan cukai yang efektif tuk Direktorat KI ? dan efisien oleh pegawai DJBC yang dilaksanakan sesuai tata Kebutuhan akan pentingnya Direktorat KI bagi DJBC kelola pemerintahan yang baik berdasarkan peraturan perundilandasi oleh pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut : dang-udangan yang berlaku l Sebagai bagian dari dukungan sistem dan kelembagaan Kedua, tercapainya organisasi DJBC yang bagi tercapainya tujuan perubahan organibebas korupsi, kolusi dan nepotisme yang sasi. didukung oleh SDM yang professional dan l Upaya pemenuhan janji layanan yang lebih berintegritas tinggi sesuai kode etik pegawai baik bagi stakeholders (quality assurance). “PEMBENTUKAN DJBC dalam rangka mewujudkan aparatur l Pelaksanaan tata kelola pemerintahan yang DIREKTORAT KI INI negara yang bersih dan berwibawa. baik (good governance) . Ketiga, membantu terwujdunya organisasi l Merupakan bagian yang tidak terpisahkan DIHARAPKAN TIDAK DJBC yang efektif dan efisien. dari peningkatan sistem remunerasi dan AKAN TUMPANG TINDIH sistem informasi manajemen kepegawaian. l Tuntutan kesetaraan kepatuhan dan akunApakah pembentukan Direktorat KI DENGAN TUGAS DAN tabilitas proses organisasi sebagai dampak tidak akan tumpang tindih dengan tugas FUNGSI APARAT perkembangan masyarakat madani (civil dan fungsi aparat pengawasan society). fungsional yang ada (misalnya, PENGAWASAN Inspektorat Jenderal Departemen) ? l Perbaikan citra aparatur negara yang FUNGSIONAL….” bersih, berwibawa dan bebas dari KKN Pembentukan Direktorat KI ini diharapkan tidak akan tumpang tindih dengan tugas dan l Unit- unit KI di instansi vertical DJBC fungsi aparat pengawasan fungsional yang ada memerlukan eksistensi organisasi setingkat mengingat fungsi kepatuhan internal itu sendiri tidak terbatas direktorat yang memiliki fungsi perumusan kebijakan dan strahanya melakukan pengawasan pelaksanaan tugas pelayanan, tegi, standardisasi dan bimbingan teknis, serta pemantauan pengawasan dan administrasi. dan evaluasi atas pelaksanaan sistem KI. Lebih dari itu, Direktorat KI juga akan melakukan fungsi preventif kepatuhan internal yang dilaksanakan sehari-hari untuk Apa tugas dan fungsi Direktorat KI jika nantinya melakukan bimbingan dan penyuluhan kepatuhan internal serta dibentuk ? mengembangkan sistem kepatuhan internal yang dapat Apabila terbentuk, Direktorat KI ini nantinya akan melaksanamemperkuat dan meningkatkan motivasi pegawai serta mengukan perumusan kebijakan dan strategi, standardisasi dan rangi resistensi pegawai DJBC terhadap perubahan (reformasi) bimbingan teknis, serta pemantauan dan evaluasi atas pelaksaorganisasi. Hal ini dilakukan masih dalam koridor untuk naan sistem kepatuhan internal. Selain dari hal tersebut, unit KI ini mengarahkan perilaku SDM DJBC agar sesuai dengan nilai-nilai nantinya juga bertanggung jawab atas pengembangan sistem positif yang dikehendaki dan mengarahkan perilaku para pegawai kepatuhan internal yang bersifat preventif yang secara positif agar tidak melakukan hal-hal negatif yang tidak dikehendaki mampu memberikan dorongan motivasi kepada para pegawai melalui penciptaan upaya modifikasi perilaku SDM (operant conDJBC agar melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. ditioning). Dan yang perlu senantiasa diingat bahwa Direktorat KI Demikian juga sebaliknya, sistem tesebut juga dapat menimbulini merupakan bagian dari organisasi DJBC itu sendiri, yang kan efek penangkal yang bersifat disinsentif (discouragement) sama-sama dengan unit lain di lingkungan DJBC bertanggung kepada para pegawai agar tidak melakukan perbuatan dan jawab atas keberhasilan pelaksanaan tugas yang diemban DJBC perilaku negatif yang tidak diinginkan dalam melaksanakan tugassecara keseluruhan. tugas yang diembannya.

“ ”

Bagaimana organisasi baru ini nantinya bekerja, dan bagaimana kapasitas SDM yang akan mengisi organisasi ini ? Sebagai sebuah unit yang akan bertanggung jawab terhadap penegakan sistem kepatuhan internal di lingkungan DJBC, Direktorat KI ini nantinya akan bekerja sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya yang sedemikian strategis. Oleh karenanya, SDM yang melaksanakannya harus memiliki kapasitas dan kapabilitas serta

Dengan reorganisasi yang baru saja dilaksanakan ini, apa yang menjadi harapan Bapak ? Saya berharap dengan reorganisasi yang baru ini dapat meningkatkan kinerja organisasi DJBC pada umumnya dan secara khusus bisa memberikan dorongan motivasi bagi para pegawai untuk bekerja lebih baik. Secara eksternal reorganisasi ini dapat memenuhi harapan masyarakat untuk memperoleh layanan yang mudah dan sesuai ketentuan yang berlaku.
EDISI 407 OKTOBER 2008 WARTA BEA CUKAI

23

DAERAH KE DAERAH
FOTO-FOTO : MUDJIONO

PERESMIAN KPPBC Tipe Madya Pabean Tanjung Perak, Surabaya, ditandai dengan pembukaan tirai disambut dengan tepuk tangan dari para pegawai.

DALAM SALAH SATU SAMBUTANNYA Kepala Kantor, Agus Sudarmadi menyerukan slogan “Bersama Kita Bisa” untuk melakukan semua perubahan ke arah yang lebih baik.

cara peresmian berjalan dengan lancar, sekaligus dilanjutkan acara berbuka puasa bersama karena bertepatan dengan hari pertama puasa ramadhan tahun ini. Hadir dalam acara tersebut pengguna jasa kepabeanan, instansi terkait serta para pejabat dan pegawai dilingkungan Kanwil Bea Cukai Jawa Timur I, Kantor Pusat DJBC dan kantor-kantor Madya dan Utama lainnya. Dalam acara peresmian tersebut tema yang diambil adalah “Mengarungi Perubahan Bersama KPPBC Tipe Madya Pabean Tanjung Perak”. Hal ini dimaksudkan bahwa tanggal 1 September 2008 merupakan langkah awal Bea dan Cukai Tanjung Perak dalam proses Setelah melalui proses persiapan perubahan budaya kerja, konsep pelayanan dan pengawasan yang yang cukup panjang, tepat accountable, transparan, terukur dan berkinerja tinggi, yang tidak lain 1 September 2008, Direktur Jenderal merupakan kebijakan reformasi yang dilakukan oleh Direktorat JendeBea dan Cukai, Anwar Suprijadi ral Bea dan Cukai. meresmikan penerapan KPPBC Tipe Keberhasilan KPPBC Tipe Madya Pabean Tanjung Perak kedeMadya Pabean Tanjung Perak. pan tentunya tidak lepas dari dukungan dan partisipasi aktif dari semua pihak. Untuk itu dalam salah satu sambutannya Kepala KPPBC Tipe Madya Pabean, Agus Sudarmadi menyerukan slogan “Bersama Kita Bisa” untuk melakukan semua perubahan ke arah yang lebih baik. Mengawali acara, Kakanwil DJBC Jawa Timur I, Djasman Sutedjo menyampaikan sambutannya, dilanjutkan dengan presentasi mengenai KPPBC Tipe Madya Pabean Tanjung Perak oleh Agus Sudarmadi. Setelah itu sambutan dan peresmian KPPBC Tipe Madya Pabean Tanjung Perak oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Anwar Supriadi. Setelah dilakukan peresmian, acara dilanjutkan dengan apresiasi kepada pihak-pihak yang mendukung KPPBC Tipe Madya Pabean Tanjung Perak. Acara kemudian diakhiri dengan ramah tamah dan buka puasa bersama. FOTO BERSAMA Dirjen Bea dan Cukai bersama Kakanwil DJBC Jawa Timur I,Djasman Sutedjo, Sekditjen Bea dan Cukai, Kamil
Sjeib, Kepala KPPBC Tipe Madya Pabean, Agus Sudarmaji serta jajaran dilingkungan Bea Cukai Jawa Timur I.

PERESMIAN KPPBC TIPE MADYA PABEAN TANJUNG PERAK

A

mujiono, surabaya

24

WARTA BEA CUKAI

EDISI 407 OKTOBER 2008

P

Sebanyak 152 unit handphone (HP) dan 16 unit laptop, yang rencananya akan diedarkan di Sumatera Utara, berhasil ditegah petugas Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Belawan, melalui kegiatan boatzoaking.

KPPBC BELAWAN TEGAH HANDPHONE DAN LAPTOP

PERLOMBAAN OLAH RAGA DAN PEMBERIAN PENGHARGAAN DI KANWIL DJBC SUMATERA UTARA
Jika dapat kita bayangkan betapa pahitnya perjuangan para pendahulu kita untuk merebut kemerdekaan dari tangan penjajah dengan mengorbankan jiwa raga serta meneteskan keringat darah, sudah barang tentu kita mungkin merasa sedih bahkan mungkin menangis jika negara yang kita cintai ini tidak dipelihara sebagaimana layaknya demi persatuan yang abadi.

engawasan yang ekstra ketat di pelabuhan laut internasional Belawan Sumatera Utara, selalu dilakukan oleh petugas KPPBC Belawan. Dari pengawasan tersebut, petugas sering menegah berbagai barang larangan dan pembatasan yang dibawa oleh penumpang maupun para awak kapal. Salah satu hasilnya adalah berhasil ditegahnya barang elektronik berupa HP dan Laptop. Tegahan ini diawali ketika petugas KPPBC Belawan melakukan boatzoaking terhadap kapal ferri Kenangan 3 yang baru tiba dari Penang Malayasia, pada 25 Agustus 2008. Saat memeriksa badan kapal yang membawa 156 penumpang itu, petugas menemukan bungkusan yang mencurigakan sebanyak 10 koli, yang terdiri dari 4 koli tas plastik berisikan kotak HP, dan 4 koli berisikan 16 laptop, serta 2 koli dalam bentuk bungkusan plastik hitam yang berisikan HP. Atas kecurigaan tersebut, petugas langsung melakukan penegahan, dan kedapatan barang-barang elektronik itu merupakan HP dan laptop dengan model terbaru, seperti Nokia tipe N77, N781, dan A96i dengan 36 psc battery, 97 pcs kabel data, 22 pcs charger, dan 15 unit earphone. Sementara itu laptop yang berhasil ditegah adalah, seperti BEN-Q 52, HP Pressario 3500, dan Compaq Pressario. Menurut Kepala Seksi Penindakan dan Penyidikan (P2) KPPBC Belawan, Agustinus Djoko P, barang-barang yang ditegah saat kegiatan boatzoaking, merupakan barang-barang milik nahkoda dan ABK kapal, yaitu Chaerun dan Fakhrizal. Hal ini dapat dibuktikan dari hasil penyelidikan sementara, diketahui kalau merekalah yang membawa barang-barang tersebut. “Sebenarnya setiap hari ada saja barang bawaan penumpang yang kita tegah, namun jumlahnya tidak signifikan dan umumnya barang-barang tersebut di bawa oleh TKI sebagai oleh-oleh karena masa kontraknya telah habis. Namun, untuk kali ini kami merasa ada pihak lain yang dengan sengaja menitipkan barangnya kepada nahkoda atau ABK agar barang elektronik tersebut dapat lolos dari pemeriksaan kami,” “Kasusnya kini masih dalam proses penyidikan untuk melihat lebih lanjut kemungkinan lainnya, karena kemungkinan kegiatan ini sudah sering mereka jalankan dengan cara melalui jalur tidak resmi yang ada di pelabuhan Belawan. Karena pelabuhan ini hanya satu hari sekali melayani kedatangan luar negeri, setelah itu pelabuhan pun ditutup, kemungkinan saat DOK. KPPBC BELAWAN itulah mereka mengeluarkan barangnya. Sedangkan untuk HP dan laptop yang ditegah, kini disita sebagai barang bukti,” ujar Agustinus Walaupun pelabuhan laut internasional Belawan lebih sering menjadi lalu lintas para TKI namun petugas KPPBC Belawan tidak pernah lengah, karena tidak menutup kemungkinan adanya barang larangan dan pembatasan yang dibawa oleh penumpang biasa dan mengaku sebagai TKI. Hal ini dapat saja terjadi, seperti kasus narkoba yang terjadi pada bulan Februari 2008 lalu dan berhasil ditegah petugas KPPBC Belawan, dimana pemiliknya berbaur dengan TKI DITEGAH. Sebanyak 152 HP dan 16 unit Laptop berhasil ditegah petugas KPPBC Belawan saat melakukan boatzoaking. agar tidak terdeteksi. adi

etapi, sesungguhnya kita yang mengisi kemerdekaan ini tidak sepenuhnya dapat merasakan bagaimana pahitnya perjuangan pendahulu, sehingga muncul ketidak konsistenan kita dalam memelihara kemerdekaan dimaksud. Adalah lebih indah dan bijaksana, jika kita dapat mempertahankan kemerdekaan dengan memelihara dan mengisi sesuatu yang berarti bagi bangsa ini. Sudah barang tentu sebagai Pegawai Negeri Sipil khususnya pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) merupakan salah satu unsur aparatur negara yang bertugas memelihara dan mengisi kemerdekaan ini melalui tugas yang diembannya. Selayaknya mencurahkan seluruh pikiran dan tenaga bagaimana mewujudkan agar tercapai suatu tujuan yang mulia yaitu suatu masyararakat yang adil dan makmur. Sebagai bagian dari wujud kepedulian dan rasa cinta tanah air, Kantor Wilayah DJBC Sumatera Utara dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke-63 mengadakan perlombaan olah raga yang diikuti pegawai di lingkungan wilayah kerja Kanwil DJBC Sumatera Utara. Untuk itu, pada apel olah raga tanggal 8 Agustus 2008, bertempat di halaman kantor wila yah, Kepala Kanwil DJBC Sumatera Utara, Achmad Riyadi memberikan pengarahan kepada seluruh peserta agar perlombaan olah raga dilaksanakan dengan penuh semangat dalam rangka memupuk rasa persatuan diantara sesama pegawai. Acara ini sendiri mengambil tema: Dengan Olah Raga Kita Wujudkan Sehat Jasmani dan Rohani Menuju Kebersamaan Dalam Kinerja dan Disiplin. Setelah berlangsung selama kurang leEDISI 407 OKTOBER 2008 WARTA BEA CUKAI

T

25

DAERAH KE DAERAH

APEL OLAH RAGA. Dipimpin oleh Kakanwil DJBC Sumatera Utara, Achmad Riyadi, diikuti oleh pegawai di lingkungan kanwil, dalam rangka HUT RI ke-63.

bih satu minggu, pada apel penutupan tanggal 15 Agustus 2008 di halaman Kantor Wilayah DJBC Sumatera Utara, Widodo Lestariono selaku ketua panitia memberikan laporan pelaksanaan kepada pimpinan upacara, sebagai berikut : l Pelaksanaan olah raga dimulai tanggal 8 Agustus 2008 dan berakhir pada tanggal 15 Agustus 2008.

l

RI yang ke-63 melalui pertandingan olah raga di lingkungan Kanwil DJBC Sumatera Utara. Walaupun tidak semua pegawai yang ada di wilayah kerja Kanwil DJBC Sumatera Utara dapat mengikuti kegiatan olah raga di Belawan, namun dengan melihat partisipasi pegawai yang ada di Belawan/Medan,
FOTO-FOTO : HULMAN SIMBOLON

SUASANA PERLOMBAAN. Tampak olah raga bola voli yang dipertandingkan (kiri) dan acara hiburan (kanan).
l

l

l

l

Peserta yang ikut berpartisipasi adalah pegawai Kantor Wilayah DJBC Sumatera Utara, KPPBC Tipe A1 Belawan, KPPBC Tipe A3 Medan, dan BPIB Medan Sumber dana yang dipergunakan adalah Dana Kesejahteran Pegawai (DKP) dari masing-masing unit peserta. Pelaksanaan kegiatan olah raga berjalan aman, tertib dan sesuai dengan rencana walaupun tahap persiapan relatif singkat Juara umum adalah KPPBC Tipe A1 Belawan, Juara 2 adalah Bidang P2 Kanwil dan Juara 3 adalah BPIB Medan

Selanjutnya, Kepala Kantor Wilayah sebelum menutup secara resmi memberi pesan dengan mengingatkan beberapa hal antara lain : l Bahwa para pendahulu yang memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia mengorbankan jiwa raganya dengan keringat darah. Untuk itu, pantas kiranya segenap pegawai Kanwil DJBC Sumatera Utara mengisi dan memelihara kemerdekaan ini dengan baik. Wujudnya dengan merayakan Hari Kemerdekaan 26
WARTA BEA CUKAI EDISI 407 OKTOBER 2008

l

dapat diasumsikan bahwa semangat para pegawai di seluruh wilayah kerja Kanwil DJBC Sumatera Utara patut diberi apresiasi. Walaupun ada keterbatasan waktu namun dengan adanya kerjasama dan pengertian semua pihak akhirnya pelaksanaan olah raga dapat berjalan aman tertib dalam suasana kekeluargaan. Keberhasilan Kepala Kantor Wilayah tidaklah berarti apa-apa tanpa dukungan dari semua pegawai yang ada di lingkungan Kantor Wilayah DJBC Sumatera Utara. Sinergi kinerja seluruh pegawai merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kinerja Kantor Wilayah DJBC Sumatera Utara. Untuk itu diharapkan kedepannya agar tetap dipertahankan dan ditingkatkan.

Penyerahan hadiah dilaksanakan selesai Apel Olah Raga kepada masing-masing juara. Kepala Kantor Wilayah Achmad Riyadi berkenan memberikan hadiah kepada juara umum yaitu Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe A1 Belawan yang diterima Kepala Sub Bagian Umum Junaidy Noor, yang kemudian dilanjutkan dengan acara hiburan yang diikuti para pejabat dan pegawai yang hadir.

PEMBERIAN PENGHARGAAN
Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah DJBC Sumatera Utara Achmad Riyadi memberikan penghargaan kepada 6 orang pegawai dan pejabat pada KPPBC Tipe A4 DJBC Teluk Nibung yang berprestasi luar biasa dalam melaksanakan tugas yaitu penggagalan penyelundupan 35.340 butir obat-obatan psikotropika jenis ekstasi di Pelabuhan Teluk Nibung. Pemberian Penghargaan diberikan berdasarkan Surat Keputusan Kepala Kantor Wilayah DJBC Sumatera Utara Nomor Kep-156/WBC.02/2008 tanggal 17 Agustus 2008 Tentang Pemberian Penghargaan Kepada Pegawai Yang Berprestasi Luar Biasa, pada upacara tanggal 29 Agustus 2008 di Aula KPPBC Tipe A4 DJBC Teluk Nibung. Mewakili Kakanwil, penyerahan penghargaan diberikan oleh Kepala Bagian Umum dan Kepatuhan Internal Kanwil DJBC Sumatera Utara, Sudirman, dan disaksikan oleh Kepala KPPBC Tipe A4 DJBC Teluk Nibung, Yakobus Agus Wahyudiono. Hulman Simbolon Koresponden Daerah WBC
DIRESMIKAN. Dirjen Bea dan Cukai saat pemukulan gong yang menandai peresmian peluncuran pengoperasian KPPBC Tipe Madya Cukai Kediri.

KPPBC TIPE MADYA CUKAI
Sebagai Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) penyumbang penerimaan cukai terbesar, terhitung 27 Agustus 2008 KPPBC Kediri resmi menjadi KPPBC Tipe Madya Cukai. Dengan peresmian ini, diharapkan dapat meningkatkan kinerja pelayanan dan pengawasan, optimalisasi tugas pokok dan fungsi organisasi, dan pelaksanaan prinsip-prinsip good governance.

PERESMIAN KPPBC KEDIRI MENJADI

Kantor Wilayah DJBC Sumatera Utara

M
PEMBERIAN PENGHARGAAN. Kepala Bagian Umum dan Kepatuhan Internal Kanwil DJBC Sumatera Utara, Sudirman (kiri) mewakili Kakanwil menyerahkan penghargaan kepada pegawai dan pejabat KPPBC Tipe A4 DJBC Teluk Nibung yang berprestasi menggagalkan penyelundupan obat-obatan psikotropika jenis ekstasi, dalam upacara di KPPBC Teluk Nibung (kanan)

egahnya bangunan baru yang dihiasi dengan rangkaian tanaman hias, membuat gedung KPPBC Kediri tampak lebih indah dan menjanjikan akan pelayanan yang modern, penuh dengan kepastian, dan bebas dari semua kegiatan KKN. Selain itu, gedung KPPBC Kediri yang merupakan gedung terindah kedua di kota Kediri, yang dibuat dengan gaya arsitektur modern, membuktikan kota Kediri sebagai kota administratif di Jawa Timur yang mampu berkembang dengan pesat baik dari sisi ekonomi mapun dari sisi pariwisata. Dengan selesainya pembangunan gedung KPPBC Kediri yang baru, maka pada 27 Agustus 2008, Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Anwar Suprijadi, meresmikan pengoperasian KPPBC Kediri sebagai KPPBC Tipe Madya Cukai. KPPBC Tipe Madya Cukai Kediri merupakan kantor yang ditetapkan menjadi Kantor Pelayanan Utama (KPU) KPPBC Tipe Madya yang keempat, setelah KPU Tipe A Tanjung Priok, KPU Tipe B Batam, dan KPPBC Tipe Madya Cukai Malang. Peresmian pengoperasian KPPBC Tipe Madya Cukai Kediri oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai, selain dihadiri oleh seluruh pengguna jasa yang ada di wilayah kerja KPPBC Kediri, juga dihadiri oleh Walikota Kediri, Drs. Maschut, pejabat di lingkungan Pemda Kediri,
EDISI 407 OKTOBER 2008 WARTA BEA CUKAI

27

DAERAH KE DAERAH
FOTO-FOTO WBC/ATS

DPRD, instansi swasta, dan pejabat eselon II, di lingkungan DJBC, seperti Direktur P2, Direktur IKC, Direktur Audit yang juga sebagai Ketua Tim Percepatan Reformasi (TPR), Direktur Cukai, Tenaga Pengkaji DJBC, Kepala kantor Wilayah (Kakanwil) Jawa Timur II, dan Kakanwil Jawa Timur I. Selain itu, peresmian ini juga dihadiri oleh Kepala Kantor Tanjung Perak, Kudus, Tanjung Mas, Malang, dan beberapa pejabat eselon III dan IV yang ada di lingkungan Kantor Wilayah Jawa Timur II.

75 PERSEN TARGET PENERIMAAN CUKAI SUDAH TERCAPAI
Acara peresmian yang berlangsung di aula KPPBC Tipe Madya Cukai Kediri, diawali dengan sambutan selamat datang oleh Kakanwil Jawa Timur II, C.F. Sidjabat, yang menjelaskan, pembentukan dua KPPBC Tipe Madya Cukai di wilayah kerja Kanwil Jawa Timur II merupakan tanggung jawab yang sangat besar sekaligus kehormatan yang cukup tinggi dari negara atas kepercayaan dalam pelayanan cukai. “Pembentukan KPPBC Tipe Madya Cukai Kediri sesuai dengan Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai nomor: Kep-50/BC.01/ 2008 tangal 15 Agustus 2008, merupakan jawaban atas tantangan dunia usaha yang menginginkan pelayanan yang lebih baik dan profesional. Hal ini dapat dilihat dari target penerimaan yang dibebankan kepada KPPBC Kediri, yang merupakan target terbesar untuk cukai atau sekitar Rp. 14 triliun dimana saat ini 75 persen dari target itu sudah terlampaui,” ujar Sidjabat. Sementara itu Kepala KPPBC Tipe Madya Cukai Kediri, Iyan Rubianto, dalam sambutannya menyatakan segala persiapan telah dilakukan oleh KPPBC Kediri untuk menjadi KPPBC Tipe Madya Cukai, mulai dari pembenahan SDM, ujicoba tugas penyuluhan dan layanan informasi kepada pengguna jasa, serta ujicoba tugas kepatuhan internal. “Terhadap sarana dan prasarana kami juga telah menyiapkannya jauh-jauh hari, sehingga dapat mendukung kinerja dan layanan dari KPPBC Tipe Madya Cukai. Pembangunan gedung yang tepat waktu, sarana pengawasan yang cukup menunjang, hingga kesamaan visi oleh seluruh pegawai di lingkungan KPPBC Kediri, membuat proses kelahiran KPPBC Tipe Madya Cukai Kediri menjadi semakin sempurna karena mampu secara bersama-sama menyelesaikan segala kendala yang dihadapi,” Untuk lebih jelasnya mengenai proses awal persiapan penerapan KPPBC Tipe Madya Cukai Kediri, pada acara peluncuran pengoperasian ini juga ditayangkan film dokumenter berbagai tahapan yang dilakukan KPPBC Kediri yang diakhiri dengan demontrasi pelayanan pemesanan pita cukai dengan dokumen CK-1 secara elektronik yang hanya membutuhkan waktu 5 menit. Dengan mulai dijalankannya pemesanan, perijinan, permohonan merk dan HJE, serta penyediaan dan pengambilan pita cukai secara elektronik, beberapa pihak asosiasi pengusaha yang ada di wilayah kerja KPPBC Tipe Madya Cukai Kediri menyatakan sangat puas dan mendukung sekali perubahan ini, karena dengan adanya sistem elektronik yang sudah dijalankan oleh KPPBC Tipe Madya Cukai Kediri, para pengusaha baik hasil tembakau, MMEA, maupun EA pelayanannya akan semakin cepat dan kepastian akan produksi pun akan semakin baik.

SIAP MENGAWASI DAN MELAYANI. KPPBC Tipe Madya Cukai Kediri dalam pengawasan dan pelayananya kini dapat lebih siap, karena sisdur yang telah tertata dengan baik.

PENERAPAN SISTEM ELEKTRONIK
Sebelum acara peresmian pengoperasioan KPPBC Tipe Madya

SAMBUTAN YANG ANTUSIAS. Dengan diresmikannya KPPBC Tipe Madya Cukai Kediri, seluruh pengguna jasa, instansi terkait, dan Pemda setempat sangat mendukung dan menyambutnya dengan sangat antusias.

Cukai Kediri, Dirjen dalam sambutannya menyatakan penerapan ujicoba KPPBC Tipe Madya Cukai Kediri sudah dimulai sejak awal Juni 2008, dan dengan adanya peluncuran ini diharapkan hal-hal yang selama ini sudah berjalan dapat ditingkatkan kinerjanya. “Kediri merupakan penyumbang terbesar pendapatan dari sektor cukai rokok di seluruh Indonesia. Target pendapatan negara dari penerimaan cukai rokok di wilayah Kediri pada tahun 2008 mencapai Rp.14 triliun. Target penerimaan cukai rokok sebesar Rp.14 triliun itu sama dengan anggaran yang diperlukan pemerintah untuk memberikan subsidi rakyat miskin melalui program bantuan tunai langsung bagi 19,1 juta jiwa penduduk di seluruh nusantara,” ungkap Dirjen. Lebih lanjut Dirjen menjelaskan, pelayanan di bidang cukai saat ini belum sepenuhnya mengedepankan pelayanan prima yang berbasis teknologi informasi yang terintegrasi satu sama lain dan real time atau on-line real time, baik dalam internal organisasi bea cukai sendiri, maupun dengan penguna jasa. Meningkatnya tuntutan good governance akan transparansi dan akuntabilitas organisasi mendorong DJBC untuk melakukan optimalisasi pemanfaatan teknologi informasi yang efisien, cepat, dan akurat dalam pengawasan dan pelayanan cukai. Oleh sebab itu, pada KPPBC Tipe Madya Cukai mulai diperkenalkan komputerisasi sistem prosedur pelayanan dan administrasi serta sistem pelaporan yang terintegrasi dengan tujuan untuk penyederhanaan prosedur, tanggung jawab yang tegas dan jelas, efisiensi, optimalisasi SDM, dan transparansi. Untuk tahap awal komputerisasi ini, meliputi pelayanan perijinan, permohonan penetapan merk dan HJE, serta pemesanan, penyediaan, dan pengambilan pita cukai. “Kami menyadari bahwa implementasi tahap awal KPPBC Tipe Madya Cukai Kediri ini dilaksanakan ditengah skeptisme, rasa pesimis, dan ketidakpercayaan yang mendalam dari pihak eksternal terhadap upaya perubahan yang dilakukan oleh DJBC. Oleh sebab itu, upaya yang dilakukan DJBC melalui pembentukan KPPBC Tipe Madya Cukai harus didukung dengan rasa turut memiliki dari para pengguna jasa, perilaku yang produktif dan positif, serta perbaikan dan peningkatan kinerja dari instansi dan pihak-pihak yang terkait,” papar Dirjen. Sebelum pemukulan gong yang menandai diresmikannya pengoperasian KPPBC Tipe Madya Cukai Kediri, Dirjen berharap dengan upaya yang dilakukan oleh DJBC khususnya di Kediri ini, dapat memberikan dampak yang positif dan signifikan bagi perbaikan dan peningkatan iklim investasi di Kediri. “Saya mengucapkan selamat dan terimakasih kepada seluruh jajaran pimpinan dan pegawai KPPBC Tipe Madya Cukai Kediri, dan juga memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam pembangunan gedung ini, yang pada waktunya nanti akan diresmikan penggunaannya oleh Menteri Keuangan Republik Indonesia,” “Saya juga berpesan saat ini eranya sudah berbeda, oleh sebab itu mari secara sungguh-sungguh dan konsisten melakukan perbaikan, penegakan disiplin dan kode etik, serta peningkatan kinerja, integritas, dan profesionalisme. Karena, kita harus mampu menjawab berbagai masalah, pandangan negatif, dan harapan dunia usaha terhadap institusi bea cukai yang bersih, memberikan pelayanan yang cepat, murah, responsif, transparansi, dan akuntabel,” tandas Dirjen. adi

28

WARTA BEA CUKAI

EDISI 407 OKTOBER 2008

Pimpinan dan Seluruh Staf KANTOR PELAYANAN UTAMA BEA DAN CUKAI TIPE A

Pimpinan dan Seluruh Staf

MAKASSAR
Pimpinan dan Seluruh Staf

KANWIL DJBC SULAWESI

TANJUNG PRIOK
Pimpinan dan Seluruh Staf KPPBC TIPE MADYA PABEAN

PEKANBARU
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPPBC TIPE A3

TANJUNG PINANG
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPPBC TIPE A3

TANJUNG PERAK
Pimpinan dan Seluruh Staf

GRESIK
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPPBC TIPE A3

BELAWAN

KPPBC TIPE A1

JAMBI

KPPBC TIPE A3

MOHON MAAF LA

Pimpinan dan Seluruh Staf

Pimpinan dan Seluruh Staf

BENGKULU
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPPBC TIPE A4

BANDAR LAMPUNG
Pimpinan dan Seluruh Staf Pimpinan dan Seluruh Staf

KPPBC TIPE A3

MERAK
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPPBC TIPE A2

NGURAH RAI
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPPBC TIPE A3

KENDARI
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPPBC TIPE A4

TANGERANG
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPPBC TIPE A2

PONTIANAK
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPPBC TIPE A3

FAK-FAK
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPPBC TIPE B

CIREBON
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPPBC TIPE A4

PANGKALAN BUN
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPPBC TIPE B

KUALA LANGSA
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPPBC TIPE B

PEMATANG SIANTAR

KPPBC TIPE B

PARE-PARE

KPPBC TIPE B

TEMBILAHAN

KPPBC TIPE A4

AHIR DAN BATHIN

Pimpinan dan Seluruh Staf

BEKASI
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPPBC TIPE A2

Pimpinan dan Seluruh Staf

JAKARTA
Pimpinan dan Seluruh Staf

KANWIL DJBC

BALIKPAPAN
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPPBC TIPE A3

MALANG
Pimpinan dan Seluruh Staf

KANWIL DJBC JAWA TIMUR II

TELUK NIBUNG
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPPBC TIPE A4

TANJUNG PRIOK
Pimpinan dan Seluruh Staf

PANGKALAN SARANA OPERASI TIPE B

SURABAYA
Pimpinan dan Seluruh Staf Pimpinan dan Seluruh Staf

KANWIL DJBC JAWA TIMUR I

PANTOLOAN
Pimpinan dan Seluruh Staf

PANGKALAN SARANA OPERASI TIPE B

PROBOLINGGO

KPPBC TIPE B

TELUK BAYUR

KPPBC TIPE A3

SANGATA

KPPBC TIPE B

MOHON MAAF LA

Pimpinan dan Seluruh Staf

Pimpinan dan Seluruh Staf

MERAUKE
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPPBC TIPE B

JUANDA
Pimpinan dan Seluruh Staf Pimpinan dan Seluruh Staf

KPPBC TIPE A2

JAKARTA
Pimpinan dan Seluruh Staf

BPIB TIPE A

TANJUNG EMAS
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPPBC TIPE A1

TAREMPA
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPPBC TIPE B

POMALAA
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPPBC TIPE B

MATARAM
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPPBC TIPE A4

JAKARTA
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPPBC TIPE A2

KOTABARU
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPPBC TIPE A4

SOEKARNO HATTA
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPPBC TIPE A1

BOGOR
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPPBC TIPE A2

NUNUKAN

KPPBC TIPE A4

POSO

KPPBC TIPE B

PURWAKARTA

KPPBC TIPE A2

AHIR DAN BATHIN

DIREKTUR JENDERAL

Pimpinan dan Seluruh Staf

BEA DAN CUKAI
Sekretaris dan Seluruh Staf

BANDA ACEH
Pimpinan dan Seluruh Staf KANWIL DJBC JAWA TENGAH & D. I. YOGYAKARTA

KANWIL DJBC NANGGROE ACEH DARUSSSALAM

SEMARANG
Pimpinan dan Seluruh Staf KANWIL DJBC KALIMANTAN BAGIAN TIMUR

DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI
DIREKTORAT DIREKTORAT FASILITAS KEPABEANAN CUKAI
Direktur dan Seluruh Staf Direktur dan Seluruh Staf

SEKRETARIAT

BALIKPAPAN
Pimpinan dan Seluruh Staf KANWIL DJBC KALIMANTAN BAGIAN BARAT

PONTIANAK PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI
Kepala dan Seluruh Staf

MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN

Pimpinan dan Seluruh Staf

KEDIRI
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPPBC TIPE MADYA CUKAI

DIREKTORAT PENINDAKAN & PENYIDIKAN
Pimpinan dan Seluruh Staf Pimpinan dan Seluruh Staf

Direktur dan Seluruh Staf

SAMARINDA BITUNG
Pimpinan dan Seluruh Staf Pimpinan dan Seluruh Staf

KPPBC TIPE A3

KPPBC TIPE A4

BATAM
Pimpinan dan Seluruh Staf

KANTOR PELAYANAN UTAMA BEA DAN CUKAI TIPE B

BENOA BONTANG
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPPBC TIPE B

KPPBC TIPE A4

PASURUAN
Pimpinan dan Seluruh Staf

KPPBC TIPE A2

BANJARMASIN

KPPBC TIPE A3

DIREKTORAT PENERIMAAN & PERATURAN KEPABEANAN DAN CUKAI

Direktur dan Seluruh Staf

MEDAN

KANWIL DJBC SUMATERA UTARA

MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN

SEPUTAR BEACUKAI

JAKARTA. Bertempat di aula juanda gedung Departemen Keuangan (Depkeu) pada 12 September 2008 berlangsung acara silaturrahmi dan buka puasa bersama Menteri Keuangan/Plt Menko Bidang Perekonomian, Sri Mulyani. Acara yang dihadiri para pejabat eselon I dan II di lingkungan Depkeu ini, diawali dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-qur’an. Setelah kata sambutan dari Menkeu, dilanjutkan dengan siraman rohani yang dibawakan oleh Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Departemen Agama, DR. Nasaruddin Umar dengan tema “Puasa dan Tantangan Etos Kerja”. Usai buka puasa bersama, Sri Mulyani didampingi Sekretaris Departemen Keuangan Anwar P Nasution serta pejabat lainnya mengadakan acara dialog santai dengan para wartawan.

JAKARTA. Panitia Gema Ramadhan Masjid Baitut Taqwa KP-DJBC, dalam peringatan Nuzulul Qur’an pada 27 September 2008 menyelenggarakan buka puasa bersama Dirjen Bea dan Cukai di auditorium gedung utama KP-DJBC. Dalam acara ini Dirjen menyerahkan santunan kepada anak yatim piatu yang berada di lingkungan KP-DJBC dan petugas cleaning service. Acara selanjutnya mendengarkan siraman rohani oleh Ustaz Bali Pranowo dengan tema “Melalui Ramadhan Allah SWT Mengajak Kita Kembali Ke Al-qur’an”. Turut hadir Direktur P2 Jusuf Indarto, Kepala Kanwil DJBC Jakarta, Heru Santoso, Direktur Audit Thomas Sugijata, Direktur Cukai Frans Rupang, Direktur Fasilitas Kepabeanan, Kusdirman, Direktur PPKC Hanafi Usman, Kepala Kanwil DJBC Banten, Bachtiar dan Tenaga Pengkaji Bambang Prasodjo dan Erlangga Matik.

SURAKARTA. Dalam peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-63 seluruh pegawai Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe A3 Surakarta pada 17 Agustus 2008 mengikuti upacara bendera dihalaman kantor yang dipimpin langsung oleh Kepala Kantor, Arwansjah yang sekaligus membacakan sambutan Gubernur Jawa Tengah. Usai upacara dilakukan foto bersama seluruh pegawai KPPBC Tipe A3 Surakarta. Kiriman Wira AW, KPPBC Surakarta

SURAKARTA. Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe A3 Surakarta menerima kunjungan Direktur Cukai, Frans Rupang dan Kasubdit Aneka Cukai Soegito pada Senin 25 Agustus 2008. Tampak pada gambar kiri, Direktur Cukai memberikan pengarahan kepada seluruh pegawai serta melakukan inspeksi langsung ke ruangan Seksi Kepabeanan dan Cukai dan Seksi Perbendaharaan terkait dengan kegiatan dibidang cukai. Pada gambar kanan, dalam kunjungan tersebut dilakukan foto bersama. Kiriman Wira AW, KPPBC Surakarta

EDISI 407 OKTOBER 2008

WARTA BEA CUKAI

35

SEPUTAR BEACUKAI

SURABAYA. Pada 20 Agustus 2008, KPPBC Juanda mengadakan lelang barang milik negara berupa Handphone hasil tegahan sebanyak 1721 pcs berbagai merek dan tipe. Lelang diselenggarakan di Aula Batalyon Arhanudse - 8 Sidoarjo. Tampak pada gambar kiri, panitia lelang, petugas KPKNL Sidoarjo dan petugas Balai Lelang sedang memberikan penjelasan kepada peserta lelang, dan pada gambar kanan, suasana pada saat lelang berlangsung . Kiriman: Panitia Lelang KPPBC Juanda)

PEMATANG SIANTAR. Di akhir kegiatan perayaan dalam rangka HUT Kemerdekaan RI ke-63 di KPPBC Pematang Siantar, dilakukan penyerahan hadiah yang telah disiapkan panitia yakni BAPOR Bea Cukai Pematang Siantar. Pada gambar kiri, juara lomba yaitu tim panjat pinang gabungan pegawai dan PKD Pematang Siantar sedang melepas lelah sejenak dalam acara lomba Panjat Pinang yang digelar di KPPBC Tipe B Pematang Siantar. Pada gambar kanan, tim bola voli KPPBC Pematang Siantar melakukan foto bersama dengan tim bola voli Kantor Pelayanan Pajak Pematang Siantar sebelum dimulainya pertandingan. Pertandingan berlangsung dalam suasana ceria dan penuh kekompakan. Kiriman Rogers, KPPBC Tipe B Pematang Siantar

NUNUKAN. Pada 28 Agustus 2008 bertempat di ruang Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Nunukan diadakan coffe morning yang dihadiri antara lain oleh Dandim Nunukan, Wakapolres Nunukan, Danlanal Nunukan, DanPamtas 613, Kepala Imigrasi, Kepala Pelindo, Adpel Nunukan, Karantina Hewan dan Tumbuhan, dan INSA Nunukan. Coffe morning diselenggarakan dalam rangka menjalin silaturahim dan meningkatkan koordinasi antar instansi terkait khususnya antar instansi vertikal di Kabupaten Nunukan. Acara dilanjutkan dengan peninjauan ke Pelabuhan Tunontaka untuk menyaksikan soft opening penggunaan mesin x-ray untuk penumpang kedatangan dari luar negeri (Tawau). Tampak foto bersama Kepala KPPBC Nunukan (nomor dua dari kanan depan) didampingi oleh DanPamtas 613 , Dandim Nunukan, dan Kepala Pelindo Nunukan. Kiriman KPPBC Nunukan

MAKASSAR. Dalam rangka peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-63, Kanwil DJBC Sulawesi kembali menggelar acara ’Fun Games’ bagi para pejabat dan pegawai di lingkungan Kanwil DJBC Sulawesi dan KPPBC tipe A3 Makassar. Acara yang dilangsungkan pada 22 Agustus 2008 di areal halaman Kanwil DJBC Sulawesi ini dibuka dan diikuti langsung oleh Kakanwil DJBC Sulawesi, Teguh Indrayana. Fun games diisi dengan perlombaan makan kerupuk, roda tank, balap karung, bakiak, dll. Namun sebelumnya, diadakan terlebih dahulu jalan santai dengan rute Kanwil DJBC Sulawesi menuju KPPBC Makassar.Tampak dalam foto, salah satu aksi peserta lomba balap karung dan foto bersama di areal pelabuhan ketika acara jalan santai. Don’s, Makassar - Foto : Donny Eriyanto

36

WARTA BEA CUKAI

EDISI 407 OKTOBER 2008

MAKASSAR. Dalam rangka implementasi kerjasama ekonomi/perdagangan antara Indonesia dengan Jepang dan sebagai tindak lanjut Peraturan Menteri Keuangan Nomor 95/PMK.011/2008 tentang Tarif Bea Masuk dalam rangka persetujuan antara Republik Indonesia dan Jepang mengenai suatu kemitraan ekonomi (IJ-EPA), pada 26 Agustus 2008 Tim Tarif/Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan bersama tim teknis terkait, bekerjasama dengan Kanwil DJBC Sulawesi menyelenggarakan sosialisasi Tarif Bea Masuk IJ-EPA (Indonesia Japan Economic Partnership Agreement) di Hotel Imperial Aryaduta Makassar. Sosialisasi tersebut dibuka Kakanwil DJBC Makassar, Teguh Indrayana dengan dihadiri oleh sekitar 50 orang yang berasal dari market forces dan para pejabat eselon III dan IV di lingkungan Kanwil DJBC Sulawesi. Don’s, Makassar Foto : Donny Eriyanto

BONTANG. Pada 27 Agustus 2008 KPPBC Tipe A4 Bontang menyelenggarakan sosialisasi “Pengawasan dan Pelayanan Perizinan Tempat Penjualan Eceran Minuman Mengandung Etil Alkohol” di Auditorium Tanjung Laut, Bontang. Acara dibuka Kepala KPPBC Tipe A4 Bontang Djanurindro Wibowo, didampingi oleh Kasi P2 Husni Mawardi selaku pembicara Pengawasan Perizinan, dan Pjs. Kasi Kepabeanan dan Cukai Agus Cahyono selaku pembicara Pelayanan Perizinan (foto kanan). Sosialisasi dihadiri perwakilan dari unsur Muspida, Pejabat dari Dinas Sosial, Dinas Perdagangan dan Satpol PP Kota Bontang, pimpinan hotel berbintang dan restoran serta stakeholder lainnya di Kota Bontang (foto kiri). Kiriman Agus Cahyono, Ka Sie DTDD/Pjs. Kasie Pabean dan Cukai

BALIKPAPAN. Menyambut Hari Kemerdekaan RI yang ke-63, pada 16 Agustus 2008 bertempat di aula Kantor Wilayah DJBC Kalimantan Bagian Timur, Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur dan KPPBC Tipe A3 Balikpapan melaksanakan beberapa kegiatan antara lain, lomba senam ibu-ibu pengurus DWP serta pemberian bantuan dana pendidikan kepada anak-anak pegawai honorer, cleaning service dan PKD (security-red.) yang diserahkan langsung oleh Ketua DWP KPPBC Tipe A3 Balikpapan, Ny. Iskandar. Tampak pada gambar kiri, foto dengan para juara lomba senam, dan pada gambar kanan, foto Kepala KPPBC Tipe A3 Balikpapan, Iskandar beserta isteri didampingi Kepala Bagian Umum Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur, Sunarto beserta isteri bersama dengan anak-anak yang menerima bantuan dana pendidikan. Muqsith Hamidi, Balikpapan - Foto : Muqsith Hamidi

BALIKPAPAN. Memasuki bulan Ramadhan 1429 H, pada 17 Agustus 2008 Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kanwil DJBC Kalimantan Bagian Timur dan KPPBC Tipe A3 Balikpapan melaksanakan beberapa kegiatan antara lain pemberian bantuan berupa sembako kepada Panti Asuhan Al Hasanah yang langsung diserahkan oleh Ny. Iskandar sebagai Ketua DWP KPPBC Tipe A3 Balikpapan beserta pengurusnya. Tampak pada gambar kiri, secara simbolis bantuan diserahkan oleh Ny. Iskandar kepada pengurus panti asuhan, dan pada gambar kanan foto bersama pengurus DWP dengan pengurus panti asuhan. Muqsith Hamidi, Balikpapan - Foto : Muqsith Hamidi

EDISI 407 OKTOBER 2008

WARTA BEA CUKAI

37

SEPUTAR BEACUKAI

SEMARANG. Bertempat dilapangan Simpang Lima Semarang berlangsung upacara bendera memperingati Hari Kemerdekaan RI ke-63. Upacara ini dihadiri oleh berbagai unsur pemerintahan antara lain seluruh jajaran TNI (AL, AU, AD), Brimob, Departemen Perhubungan, Satpol PP, Sekolah Tinggi Perhubungan dan perwakilan dari Kanwil DJBC Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta. Tampak pada gambar kiri perwakilan peserta upacara dari Kanwil DJBC Semarang, dan pada gambar kanan, foto bersama pegawai Kanwil DJBC Semarang usai upacara. Kiriman Fairuz Fiedausy, Kanwil Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta.

MALANG. Para pejabat dan pegawai KPPBC tipe Madya Cukai Malang mengikuti acara penyuluhan oleh Direktur Monitor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Romi Ihram Maulana pada Kamis 21 Agustus 2008. Acara yang diselenggarakan di aula KPPBC Tipe Madya Cukai Malang, diikuti dengan penuh antusias oleh peserta dan dalam suasana dialogis. Kiriman Kasubag Umum KPPBC Tipe Madya Cukai Malang, Bambang Wahyudi

SEMARANG. Bertempat di aula lantai 1 (bagi pegawai golongan II) dan lantai 3 (bagi pegawai golongan III keatas dan pejabat struktural), gedung fakultas ekonomi Universitas Islam Sultan Agung, Semarang, berlangsung assesment calon pegawai KPPBC Tipe Madya Pabean Tanjung Emas. Peserta yang mengikuti tercatat sebanyak 333 orang, dan selain dari pegawai KPPBC Tanjung Emas, assessment ini juga diikuti pegawai dari KPPBC Yogyakarta, KPPBC Tegal, KPPBC Pekalongan dan KPPBC Cilacap. Kiriman Fairuz Fiedausy, Kanwil Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta.

PEKANBARU. Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) ke-I dilingkungan Kanwil DJBC Riau dan Sumatera Barat diselenggarakan di ruang aula kanwil pada 3 - 4 September 2008. Rakerwil yang dipimpin langsung oleh Kepala Kantor Wilayah DJBC Riau dan Sumatara Barat, Djoko Sutojo Riyadi ini dihadiri seluruh pejabat eselon III dan Kepala KPPBC yang membahas permasalahan-permasalahan yang ada di lingkungan Kanwil DJBC Riau dan Sumatera Barat, dan juga membahas upaya-upaya yang telah dilaksanakan selama satu tahun ini dan yang akan dilaksanakan selama satu tahun kedepan. Kiriman Kanwil DJBC Riau dan Sumbar.

38

WARTA BEA CUKAI

EDISI 407 OKTOBER 2008

PALU. Dalam rangka peringatan HUT RI Ke-63 Kantor Pangkalan Sarana Operasi Bea dan Cukai Pantoloan menyelenggarakan beragam kegiatan yang diikuti para pegawai serta dharma wanita, diantaranya lomba sepak bola dangdut wanita dan lomba memasak. Untuk lomba sepak bola dangdut wanita diikuti oleh klub DWP Pangsarops BC Pantoloan dan 6 klub sepak bola lainnya dari masyarakat sekitar. Pada gambar kanan, tampak klub sepak bola Dharma Wanita Pangsarops BC Pantoloan sesaat sebelum melaksanakan pertandingan. Untuk lomba memasak diikuti oleh ibu-ibu DWP Pangsarops Bea dan Cukai Pantoloan. Seperti pada gambar kiri, foto bersama lomba memasak dari kelompok VI yang keluar sebagai juara 1. Kiriman Trilabali, Kantor Pangkalan Sarana Operasi Bea dan Cukai - foto Trilabali

PALU. Masih dalam rangka peringatan HUT RI Ke-63, pada 18 agustus 2008 diadakan jalan santai yang diikuti oleh seluruh pegawai Kantor Pangsarops Bea dan Cukai Pantoloan beserta keluarga. Pada malam harinya diadakan acara penutupan dan pemberian hadiah bagi para pemenang lomba. Tampak pada gambar kiri, Kepala Kantor Pangsarops BC Pantoloan Andri Waskito ketika melepas para peserta jalan santai. Sedangkan pada gambar kanan, pemberian hadiah kepada para pemenang lomba. Kiriman Trilabali, Kantor Pangkalan Sarana Operasi Bea dan Cukai - foto Trilabali

JAKARTA. Sehubungan dengan adanya mutasi pejabat eselon III dilingkungan DJBC Kanwil Jakarta, pada 20 Agustus 2008 diselenggarakan serah terima jabatan (sertijab) ketua DWP KPPBC dan pisah sambut pengurus DWP dilingkungan Kanwil Jakarta. Selain sertijab, dalam rangka memasuki bulan ramadan 2008 diadakan siraman rohani oleh Ustazah Endang Pramono. Tampak pada gambar kiri, Ketua DWP KPPBC Tipe A2 Jakarta Ny. Fadjar Donny Tjahjadi diserahkan ke Ny. Untung Budi Karya, dan Ketua DWP KPPBC Tipe A3 Sunda Kelapa Ny. Heru Pambudi diserahkan kepada Ny. Henry Siahaan dengan disaksikan Ketua DWP Kanwil Jakarta Ny. Heru Santoso. Kiriman Kanwil DJBC Jakarta.

PURWAKARTA. Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe A2 Purwakarta pada Jumat 22 Agustus 2008 melakukan Senam Kesegaran Jasmani (SKJ) di halaman parkir gedung KPPBC Tipe A2 Purwakarta (gambar kiri). SKJ yang dilakukan setiap hari jumat ini diikuti oleh Kepala KPPBC Tipe A2 Purwakarta Martediansyah dan seluruh pegawai dilingkungan KPPBC Purwakarta. Usai melakukan senam, pada hari tersebut diselenggarakan penyerahan hadiah bagi para pemenang lomba tenis meja dalam rangka memeriahkan HUT RI ke-63. Tampak pada gambar kanan para pemenang melakukan foto bersama dengan Kepala KPPBC Purwakarta Martediansyah. Kiriman KPPBC Purwakarta

EDISI 407 OKTOBER 2008

WARTA BEA CUKAI

39

DAERAH KE DAERAH
FOTO-FOTO: WBC/ATS

BAZAAR DAN BAKTI SOSIAL dibuka oleh Kabag Umum dan KI Kanwil DJBC Jawa Barat, Oentarto Wibowo.

NY. JODY KOESMENDRO (ketiga dari kanan) meninjau salah satu stand yang ada.

BAZAAR DAN BAKTI SOSIAL DI PERUMAHAN KANWIL DJBC JAWA BARAT, BANDUNG
Sabtu pagi (30/8), perumahan dinas pegawai Kantor Wilayah (Kanwil) DJBC Jawa Barat yang terletak di kawasan Cijawura Girang, Buah Batu, Bandung, tampak lebih meriah dari biasanya

P

ada hari tersebut, para pegawai di perumahan Kanwil DJBC Jawa Barat menyelenggarakan Bazaar Sandang dan Sembako, serta Bakti Sosial dalam rangka memperingati Kemerdekaan RI ke-63. Menurut Kepala Bagian Umum dan Kepatuhan Internal (KI) Kanwil DJBC Jawa Barat, Oentarto Wibowo, selaku ketua panitia acara, pihaknya mencoba mencari alternatif kegiatan, selain dari pertandingan olah raga yang biasanya diselenggarakan di kantor-kantor bea cukai setiap memperingati Hari Kemerdekaan RI di bulan Agustus. “Sebetulnya acara hari ini intinya kegiatan aksi sosial. Selain ada bazaar untuk menampung kreativitas pegawai dan warga kompleks, juga kami memberikan bantuan sembako kepada warga masyarakat sekitar perumahan dinas, tenaga keamanan di GKN (Gedung Keuangan Negara) dan anggota Hansip di lingkungan rumah dinas,” ujarnya. Namun, Oentarto kembali menjelaskan, pembagian sembilan bahan pokok tersebut tidaklah gratis. Warga masyarakat yang telah terdata sebelumnya membeli kupon seharga 30 ribu rupiah untuk kemudian ditukarkan dengan satu paket sembako yang terdiri dari 5 kg beras, 2 kg minyak goreng, 1 kg gula pasir, 2 sachet margarine 500 gram, 1 kg tepung terigu, dan 10 bungkus mi instan. Adapun nilai satu

paket sembako tersebut seharga hampir Rp. 80 ribu. Untuk masyarakat sekitar, kupon pembelian paket sembako ini dibagikan di enam RT yang masing-masing RT mendapatkan jatah 20 kupon/paket. Total paket yang disediakan berjumlah 200 paket. “Dalam kondisi sekarang ini dimana masyarakat mengalami kesulitan (ekonomi), kami warga komplek ingin mencoba berbuat sesuatu untuk meringankan warga, dan (pembelian) ini memang diambil dari donasi para pegawai sehingga kami bisa turunkan serendah-rendahnya harga barang-barang tadi,” tutur Oentarto. Pada pukul 10.00, paket sembako mulai dibagikan. Masyarakat yang telah memiliki kupon, berdiri dan antri secara tertib menunggu giliran menukarkan kuponnya. Pembagian paket sembako ini disaksikan oleh Ny. Jody Koesmendro. Masyarakat yang telah menerima paket sembako terlihat sangat senang, salah satunya adalah Pak Herman, warga sekitar yang juga bekerja serabutan di perumahan dinas, ketika ditemui WBC usai acara pembagian. Sayangnya, tidak semua warga bisa menikmati sembako murah. Beberapa warga yang datang menanyakan bagaimana caranya bisa mendapatkan paket sembako tersebut. Oentarto mengakui keterbatasan kemampuan panitia dalam menyediakan paket sembako. Diharapkan pada penyelenggaraan berikutnya, pembagian sembako murah bisa menjangkau warga masyarakat sekitar yang lebih banyak lagi.

BAZAAR
Acara bazaar yang dimulai pada pukul 08.30 pagi, dibuka oleh Kabag Umum dan KI Oentarto Wibowo, dan diikuti 16 stand yang menjual berbagai macam barang kebutuhan dengan harga yang relatif terjangkau. Barang-barang tersebut diantaranya tas, sepatu, baju anak-anak, baju muslim, batik, makanan dan minuman. Tempat penjualan (stand) yang terbilang laris manis yaitu yang menjual barangbarang kebutuhan rumah tangga seperti sabun, odol, sabun cuci dan sejenisnya. Sementara itu, di salah satu stand yang ada diisi oleh

PELATIHAN daur ulang kertas dari kelompok Lorong Terang diminati oleh anak-anak

PEMBAGIAN paket sembako murah

40

WARTA BEA CUKAI

EDISI 407 OKTOBER 2008

KPPBC KUALA LANGSA
MUSNAHKAN 410 BALLES PAKAIAN BEKAS ILEGAL

STAND yang menjual sabun cuci, odol, dan sejenisnya diminati oleh masyarakat sekitar.

anak-anak muda yang menamakan diri mereka Lorong Terang. “Kami bekerja sama dan memberi kesempatan kelompok anak jalanan yang mereka namakan Lorong Terang. Mereka memanfaatkan limbah kertas dan plastik untuk dijadikan sesuatu yang bisa bernilai harganya,” kata Oentarto. Hasil daur ulang limbah kertas bekas kemudian mereka buat menjadi kertas surat , amplop, pigura, kotak tisu, lukisan serta asesoris lainnya. Di stand lorong terang ini diajarkan pula cara memanfaatkan limbah kertas menjadi berbagai macam dan bentuk asesoris. Pelatihan singkat ini ternyata menarik minat anak-anak pegawai serta masyarakat sekitar. Ada satu stand menarik yang dibuka oleh pegawai dan diberi nama Warung Jejaka Jujur. Menariknya, warung yang menjual makanan dan minuman ringan ini tidak dijaga oleh siapapun. Makanan dan minuman yang ada telah dilabeli harganya. “Kalau mau membeli, dia akan melihat sendiri harganya berapa, dia akan taruh uang di kotak yang telah tersedia, kalau ada kembalian dia akan ambil sendiri. Jadi kami melatih kejujuran. Ini idenya memang dari kami baca di kantor KPK ada warung semacam ini. Kemudian kami mencoba tampilkan, barangkali bisa menjadi inspirasi,” lanjut Oentarto. Meskipun tidak banyak dagangan di warung ini yang terjual, namun dari hasil perhitungan diperoleh jumlah uang yang lebih banyak dari harga dagangan yang terjual. Dalam rangkaian acara bazaar, dilakukan demo pengelolaan sampah rumah tangga yang dibawakan oleh Tabloid Rumah. Tampak Ny . Jody Koesmendro, anggota DWP di lingkungan Kanwil Jabar, ibu-ibu PKK dari wilayah sekitar perumahan, serta para pengunjung bazaar mengikuti pelajaran dan pelatihan tentang bagaimana mengelola dan memanfaatkan sampah rumah tangga menjadi lebih berguna. Oentarto menjelaskan, melalui demo tersebut diharapkan bisa membantu mengatasi masalah sampah di setiap rumah tangga, baik di perumahan dinas maupun di lingkungan masyarakat sekitar. “Kami ingin turut berpartisipasi dalam pelestarian lingkungan agar tetap terjaga lestari,” jelas Oentarto sambil memperlihatkan ratusan pohon yang telah ditanam sejak komplek ini berdiri. Acara bazaar berakhir dengan tertib, lancar dan sukses dan ditutup pada pukul 13.00. Masyarakat sekitar berangsur-angsur meninggalkan lokasi acara. Menurut Oentarto, penyelenggaraan acara ini selain bertujuan untuk refreshing bagi para pegawai, juga dimaksudkan untuk menjaga kekompakan antar pegawai, serta yang tidak kalah pentingnya, terus menjalin hubungan yang baik dengan masyarakat di sekitar perumahan dinas. “Dengan masyarakat sekitar hubungannya sangat baik. Rumah dinas disini cukup diterima di lingkungan masyarakat. Disini ada fasilitas bermain anak-anak yang memang bisa dimanfaatkan warga”. Perumahan dinas pegawai Kanwil DJBC Jawa Barat diresmikan Dirjen Bea Cukai Anwar Suprijadi pada 23 Februari 2008. Berdiri di atas tanah seluas kurang lebih 2,6 hektar, di kompleks ini terdapat 84 rumah yang terdiri dari 12 rumah untuk eselon II, III, dan IV, serta sisanya untuk para pelaksana di lingkungan Kanwil termasuk beberapa pegawai di KPPBC Bandung. ky

egahan pakaian bekas yang dilakukan pada 9 April 2007 tersebut, diawali adanya informasi yang diterima KPPBC Kuala Langsa, bahwa telah terjadi kegiatan bongkar muat pakaian bekas asal Malaysia sebanyak 410 balles di dermaga PT.API. Dari informasi tersebut, KPPBC Kuala Langsa langsung menindaklanjuti untuk melakukan penegahan. Setelah berhasil melakukan penegahan, KPPBC Kuala Langsa kemudian berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan untuk memeriksa keamanan dari pakaian bekas tersebut, dan kedapatan pakaian bekas tersebut tidak layak pakai karena banyak mengandung kuman yang dapat mengganggu kesehatan para pemakainya. Menurut Kepala KPPBC Tipe B Kuala Langsa, Unang
DOK. KPPBC KUALA LANGSA

T

Setelah melalui proses pendekatan persuasif selama satu tahun lamanya, akhirnya seluruh instansi terkait yang ada di Kuala Langsa, Nanggroe Aceh Darussalam dapat memahami dan menerima pemusnahan pakaian bekas illegal sebanyak 410 balles, hasil tegahan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe B Kuala Langsa.

MENANDATANGANI. Kepala KPPBC Unang Sunardi saat menandatangani berita acara pemusnahan pakaian bekas. EDISI 407 OKTOBER 2008 WARTA BEA CUKAI

41

DAERAH KE DAERAH
FOTO-FOTO DOK. KPPBC KUALA LANGSA

BERSAMA-SAMA. Seluruh pejabat daerah Langsa secara bersama-sama menyulutkan api untuk memusnahkan pakaian bekas illegal. (Sebelah Kanan) api membakar pakaian bekas.

Sunardi, pakaian bekas merupakan barang yang termasuk kategori larangan dan pembatasan, untuk itu importasinya juga dilarang. Dari tegahan tersebut, setelah dilakukan penyidikan dan penyelidikan, akhirnya KPPBC Kuala Langsa menetapkan menjadi milik negara berdasarkan Surat Menteri Keuangan c.q. Dirjen Kekayaan Negara Nomor: S-344/MK.6/ 2007 tanggal 29 Nopember 2007. “Dari keputusan tersebut, dan berdasarkan Surat Direktur Penindakan dan Penyidikan (P2) Nomor: S-1176/ BC.5/2007 tanggal 6 Desember 2007, kami melakukan pemusnahan pakaian bekas dengan cara dibakar. Acara pemusnahan kami laksanakan di areal persiapan kawasan industri Langsa, Desa Kuala Langsa, Kecamatan Langsa Barat, Nanggroe Aceh Darussalam,” ujar Unang Sunardi. Masih menurut Unang, sebenarnya pemusnahan ini sempat mengalami hambatan, karena dari pihak masyarakat maupun pihak pemda setempat, menginginkan pakaian bekas tersebut dapat dimanfaatkan masyarakat sekitar. Dengan melakukan pendekatan secara persuasif selama kurang lebih satu tahun, serta dibantu oleh pihak Dinas Kesehatan Langsa yang menerangkan akibat yang akan ditimbulkan jika menggunakan pakaian bekas, masyarakat dan instansi terkait akhirnya dapat memahami dan menerima sekaligus mendukung pemusnahan pakaian bekas tersebut. Acara pemusnahan yang berlangsung pada 17 Juli 2008 mendapat sambutan yang cukup baik dari seluruh lapisan masyarakat dan pejabat pemerintah daerah. Hal ini dapat dilihat dari para undangan yang hadir, yaitu Wali Kota Langsa, Drs. Zulkifli Zainon, Komandan Kodim 0104 Langsa-Aceh Timur, Letkol. Bambang S, Kapolres Langsa yang diwakili oleh Wakapolres Langsa, Kompol. Joko Heri, Kepala Kejaksaan Negeri Langsa, Raja, SH, Ketua Pengadilan Negeri Langsa, Suwono, SH, dan Komando Distrik Militer 0104 Langsa-Aceh Timur. Acara pemusnahan ini juga dihadiri Kepala Bidang P2 Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Nanggroe Aceh Darussalam, Tjoek Martono, Kepala Seksi Penindakan, Kurnia Saktiyono, Kepala Seksi Penyidikan, Ardiyanto, dan seluruh pegawai di lingkungan KPPBC Tipe B Kuala Langsa. Dalam sambutannya, Wali Kota mengucapkan rasa terima kasihnya kepada KPPBC Kuala Langsa, karena telah berhasil menggagalkan upaya penyelundupan barang larangan dan pembatasan berupa pakaian bekas, yang ternyata bukan saja memiliki dampak kerugian negara, tapi juga dampak penyebaran penyakit yang berasal dari pakaian bekas tersebut. “Kami berharap KPPBC Kuala Langsa dapat terus 42
WARTA BEA CUKAI EDISI 407 OKTOBER 2008

SAMBUTAN. Wali KotaLangsa, Zulkifli Zainon saat memberikan sambutan yang intinya berterimakasih atas kinerja KPPBC Kuala Langsa yang berhasil menegah pakaian bekas.

menjaga wilayah Langsa dan sekitarnya dari kegiatan penyelundupan, karena penyelundupan yang masuk ke wilayah kami tentunya akan sangat berpengaruh buruk, bukan hanya pada perekonomian tapi juga berpengaruh buruk pada masyarakat Langsa,” ujar Wali Kota. Sementara itu Kepala KPPBC Kuala Langsa dalam sambutannya berharap agar barang-barang yang merupakan larangan dan pembatasan yang masuk ke wilayah Langsa dapat ditegah oleh seluruh aparat penegak hukum, dengan tetap berpegang pada peraturan yang berlaku. “Pemusnahan ini juga merupakan contoh kepada masyarakat untuk mau membantu petugas bea cukai dalam memberantas upaya penyelundupan. Dan menggunakan pakaian bekas tanpa diketahui asalnya, tentunya akan mengundang berbagai penyakit yang dibawa dari negara asal pakaian tersebut,” ungkap Unang Sunardi. Pemusnahan yang mendapat pengamanan secara ketat oleh Kepolisian Resor Langsa, diawali dengan penandatanganan berita acara pemusnahan oleh Kepala KPPBC Kuala Langsa dengan Wali Kota Kuala Langsa, dilanjutkan dengan penyulutan api secara bersama-sama oleh seluruh undangan. adi/ahmad naudin

O P I N I
Oleh : Bambang Agus Warjoko
Sisi Pengawasan 1. Berdasar praktek selama ini, sebelum NIPER diterbitkan, atas DIPER yang diterima, unit KITE akan melakukan penelitian kebenaran pengisian DIPER dan dokumen yang dilampirkan. Selanjutnya akan dilakukan verifikasi lapangan atas data-data yang terdapat pada DIPER. Menyadari NIPER, adalah dasar pemberian fasilitas, dengan berbagai kemungkinan risiko di kemudian hari, verifikasi lapangan membutuhkan kecermatan, kewaspadaan dalam rangka menyatakan DIPER diterima. Verifikasi lapangan atas DIPER, menyangkut lokasi (kantor, pabrik, gudang), kapasitas produksi, proses produksi dan hal lain yang dianggap perlu. Hal ini adalah dalam rangka penilaian performance perusahaan. Bilamana DIPER diterima, selanjutnya Kantor Wilayah akan menerbitkan NIPER; 2. Terhadap perusahaan yang telah mempunyai NIPER, secara berkala dilakukan penelitian administrasi/penelitian lapangan. Ini dilaksanakan dalam rangka pemutakhiran DIPER. Dengan demikian manakala terjadi perubahan data, dapat segera dilaksanakan tindakan seperlunya (rekomendasi ke unit Audit, unit P2). Praktek ini terbukti telah membantu unit KITE mengetahui lebih dini adanya perubahan data. Hal ini sebagaimana telah diamanatkan KEP-205/BC/2003 pasal 38; 3. Berkaitan dengan NIPER, unit KITE Kanwil Bea dan Cukai Jawa Barat, telah melakukan : - Penerbitan NIPER atas DIPER yang layak diterima; - Pencabutan NIPER atas hasil penelitian administrasi/ penelitian lapangan.

D

KITE

PENGAWASAN INTERNAL

irektorat Jenderal Bea dan Cukai adalah unit instansi yang melaksanakan sebagian tugas pokok Departemen Keuangan di bidang Kepabeanan dan Cukai, berdasarkan peraturan/keputusan yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan. Tugas tersebut selanjutnya dapat dirinci, yaitu melaksanakan Penerimaan Negara (revenue collector), menjadi institusi penyedia berbagai layanan kepabeanan dalam rangka memperlancar arus barang (industrial assistant), menciptakan suasana yang kondusif bagi perdagangan dan investasi (trade facilitator), dan melindungi masyarakat dari produk-produk yang membahayakan moral dan kesehatan (community protector). Implementasi fungsi industrial assistant dan trade facilitator, salah satunya adalah penyediaan fasilitas KITE (Kemudahan Impor Tujuan Ekspor). Dasar hukum penyediaan fasilitas KITE adalah, Keputusan Menteri Keuangan Nomor 580/KMK.04/2003, tanggal 31 Desember 2003, dan Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor KEP205/BC/2003, tanggal 31 Desember 2003. Meski kebanyakan orang menggunakan terminologi “pelayanan”, namun sesungguhnya kedua keputusan tersebut telah mengamanatkan “pengawasan”, mengingat tugas yang diemban Bea dan Cukai adalah tugas “Pemeriksaan dan Pengawasan. Pada Keputusan Menteri Nomor 580/KMK.04/2003, pasal 19, 20, 21 dan Keputusan Dirjen Nomor 205/BC/2003, pasal 37, 38 . Kata “pelayanan” berorientasi pada terpenuhinya kepuasan pihak yang dilayani. Sebuah perusahaan yang ingin memuaskan konsumennya (Consumer Satisfaction), selalu akan berusaha mencari dan melayani apa yang menjadi kebutuhan konsumen. Bukan hal yang tidak mungkin, policy (aturan) yang selama ini dijalankan bilamana perlu akan diubah, demi tercapainya kepuasan pelanggan. Sedangkan “pengawasan”, berorientasi pada terpenuhinya peraturan/ketentuan yang ada. Dengan demikian pada aktivitas pengawasan, akan lebih mengedepankan dipatuhinya sebuah peraturan/ketentuan dibanding kepuasan pihak yang dilayani. Menurut hemat penulis, pengawasan atas Fasilitas KITE, selama ini telah dilaksanakan oleh unit Penindakan dan Penyidikan, unit Fasilitas KITE, dan unit Audit. Ketiga lapis pengawasan tersebut, dalam rangka terciptanya kepatuhan terhadap peraturan, mengamankan hak-hak Negara, dengan cara mengupayakan para pengguna Fasilitas KITE memahami ketentuan, dan untuk selanjutnya mematuhinya. Unit KITE bukanlah unit pengawas, namun berdasarkan pengamatan atas praktek selama ini, sesungguhnya pada praktek tersebut terkandung aktivitas pengawasan yang dilaksanakan oleh unit KITE, yang dapat penulis uraikan sebagai berikut:

PENERBITAN SK FASILITAS PEMBEBASAN
Surat Keputusan (SK) Fasilitas Pembebasan serta PPN dan PPnBM tidak dipungut adalah Surat Keputusan yang diberikan kepada perusahaan pengaju, yang berisi rencana importasi, baik mengenai nama bahan maupun kuantitasnya. Artinya nantinya perusahaan dapat melakukan importasi, hanya terbatas pada jenis dan jumlah kuntitas bahan yang tercantum pada SK. Sisi Pengawasan 1. Berdasarkan permohonan yang diajukan oleh perusahaan (selfassesment), unit KITE akan melakukan penelitian terhadap isi permohonan dan dokumen lampiran pendukungnya ; 2. Penelitian atas permohonan menyangkut, kebenaran pengisian formulir, nomor HS dan konsisitensi terhadap DIPER. Dengan melihat DIPER, dapat diketahui apakah jenis bahan, penanggung jawab, kapasitas produksi sesuai dengan DIPER. Selain sales contract, kapasitas produksi pada DIPER, akan menjadi pertimbangan jumlah kuantitas pada SK.

PENERBITAN STTJ (Surat Tanda Terima Jaminan)
Berdasarkan SK Fasilitas Pembebasan, bilamana importasi akan dilaksanakan, maka perusahaan wajib menyampaikan jaminan sejumlah nilai BM dan/atau cukai serta PPN dan PPnBM yang tercantum pada PIB. Bilamana jaminan diterima, maka akan diterbitkan STTJ, yang nantinya berfungsi sebagai bukti bahwa Pungutan Negara sebuah PIB telah dijaminkan, sehingga bahan/barang dapat dikeluarkan dari pelabuhan. Berdasarkan KEP-205/BC/2003, pasal 9, jaminan dapat berupa jaminan bank yang diterbitkan oleh Bank Devisa, Custom Bonds atau Surety Bonds yang diterbitkan oleh Asuransi yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan, dan Surat Sanggup Bayar (SSB). Jangka waktu berlakunya jaminan diatur pada pada pasal 11, KEP-205/BC/2003. Perusahaan pengguna SSB, adalah perusahaan yang telah memenuhi syarat berdasarkan pasal 10 KEP-205/BC/2003. Dengan demikian selama sebuah perusahaan masih berstatus pengguna SSB, maka selama itu pula perusahaan tersebut berhak atas penggunaan SSB. Oleh karena itu, pada lembar SSB tidak terdapat jangka waktu masa berlakunya. Masa berlakunya berakhir, manakala hak penggunaan SSB tersebut telah dicabut. Secara tersirat hal tersebut juga terdapat pada pasal 28 (3) KEP205/BC/2003, yaitu ketika sebuah laporan pertanggungjawaban (BCLKT01) telah diterima, maka jaminan dapat diganti dengan jaminan bank atau custom bonds dengan nilai yang lebih rendah (setelah dikurangi sejumlah nilai yang telah dilaporkan). Pada pasal 28 (3) tidak disebutkan penggantian SSB, hal tersebut menyiratkan bahwa pada sebuah SSB tidak terdapat jangka waktu masa berlakunya.
EDISI 407 OKTOBER 2008 WARTA BEA CUKAI

NIPER (Nomor Induk Perusahaan)
Berdasarkan KEP-205/BC/2003, Bab II, bagi perusahaan yang akan menggunakan/memanfaatkan Fasilitas KITE, diwajibkan mengajukan DIPER (Daftar Induk Perusahaan). Bilamana DIPER diterima, NIPER (Nomor Induk Perusahaan) akan diterbitkan, kemudian disampaikan kepada perusahaan pengaju. Atas dasar NIPER tersebut, perusahaan dapat mengajukan Fasilitas KITE.

43

Sisi Pengawasan 1. Terhadap jaminan yang disampaikan perusahaan, unit KITE akan melakukan penelitian terhadap kebenaran perhitungan Pungutan Negara, hal ini menyangkut tarif dan Nomor HS. Penelitian juga mencakup uraian barang yang terdapat pada PIB, apakah sesuai dengan SK Fasilitas Pembebasan atau tidak. Kuantitas suatu jenis bahan/barang pada PIB yang diajukan, akan dihitung secara kumulatif, dengan demikian akan terhindar adanya importasi yang melebihi kuantitas yang tercantum pada SK; 2. Bilamana PIB dan jaminan dianggap telah benar/sesuai, maka disket yang berisi data PIB perusahaan pengaju akan diloading ke dalam komputer KITE. Nantinya data tersebut akan dimanfaatkan oleh aplikasi KITE, pada saat perusahaan yang bersangkutan menyampaikan laporan pertanggungjawaban; 3. Monitoring PIB 12 bulan. Aktivitas ini dilaksanakan dalam rangka terpenuhinya, ketentuan pasal 13 dan 15, KEP-205/BC/2003.

2.

3.

4.

LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN FASILITAS (BCL-KT01)
Laporan Pertanggungjawaban Fasilitas (BCL-KT01), adalah laporan yang harus disampaikan perusahaan pengguna fasilitas KITE, atas Fasilitas Pembebasan bahan baku yang telah diterimanya. Pertanggungjawaban atas bahan asal impor tersebut dapat berupa Ekspor, Penyerahan ke KB, Pembayaran sisa bahan dan Pemusnahan sisa hasil produksi yang rusak. Berdasarkan pasal 13, 18 KEP-205/BC/2003, importasi bahan/ barang dengan fasilitas KITE wajib dipertanggungjawabkan/diselesaikan dalam tempo 12 bulan sejak tanggal pendaftaran PIB, kecuali terhadap perusahaan yang mempunyai masa produksi lebih dari 12 bulan dapat diberi pengecualian oleh Kepala Kantor Wilayah atas nama Menteri Keuangan. Artinya dalam kurun waktu itulah, perusahaan pengguna fasilitas KITE diperkenankan untuk mempertanggungjawabkan importasinya. Pelanggaran atas ketentuan tersebut diatur pada pasal 15. Pasal 21 KEP-205/BC/2003, mewajibkan perusahaan untuk menyampaikan laporan pertanggungjawaban minimal tiap 6 (Enam) bulan sekali, namun demikian bilamana kita cermati KEP-205/BC/2003, pada pasal-pasal berikutnya tidak terdapat sanksi atas pelanggaran ketentuan tersebut. Hal ini berbeda dengan ketentuan pasal 13 dan 18. Dengan demikian sulit, atau bahkan tidak mungkin memberi sanksi atas pelanggaran ketentuan pasal 21, mengingat tidak terdapat ketentuan yang mengaturnya. Akibatnya unit KITE berpandangan sepanjang PIB tidak melewati 12 bulan, akan menerima (tidak memberi sanksi) laporan pertanggungjawaban yang disampaikan, meski telah melewati masa 6 bulan. Sisi Pengawasan 1. Penyelesaian BCL-KT01 (disampaikan dengan hardcopy dan softcopy), dimulai dengan pemeriksaan validitas isi laporan melalui aplikasi KITE. Aplikasi akan memeriksa konsistensi isi laporan dengan data PIB yang pernah diloading, pada saat perusahaan menyampaikan jaminan. Proses ini memeriksa apakah Nomor PIB, tanggal PIB, satuan barang, No. HS yang tercantum pada BCL-KT01, sesuai dengan data PIB hasil loading (sudah ada pada database KITE). Manakala BCL-KT01 yang disampaikan perusahaan, terjadi ketidaksesuaian satu digit saja, maka proses penyelesaian secara aplikasi tidak dapat dilanjutkan. Hal ini selanjutnya harus diperbaiki lagi oleh perusahaan, dan dimulai lagi dengan loading data BCL-KT01. Aplikasi mensyaratkan data PIB pada BCL-KT01 harus sama dengan data PIB yang telah dijaminkan. Hal ini menurut hemat penulis, adalah bentuk pengamanan yang telah disiapkan oleh aplikasi KITE. Penyelesaian BCL-KT01 dengan aplikasi KITE, sesungguhnya adalah proses pengambilan keputusan dengan dibantu oleh komputer (decision support system). Namun demikian manfaat/ kehandalan sebuah aplikasi, sangat ditentukan oleh validitas data yang diolah. Manakala data yang diolah tidak valid, maka penggunaan komputer dengan tujuan lebih cepat dalam pengambilan keputusan, menjadi tidak tercapai. Berdasarkan pengalaman, sebagian besar BCL-KT01 yang pernah diselesaikan penulis, 90% tidak langsung valid. Kesalahan ini dilakukan oleh perusahaan. Manakala terjadi kesalahan, unit KITE tidak dapat merubah, mengingat pelaporan bersifat self-assesment. Kesimpulan penulis, penyampaian BCL-KT01 oleh perusahaan 44
WARTA BEA CUKAI EDISI 407 OKTOBER 2008

5.

pengguna KITE, belum memberi kontribusi yang cukup dalam rangka penyelesaian BCL-KT01; Penelitian selanjutnya adalah lampiran-lampiran yang terdapat pada BCL-KT01. Penelitian berkenaan dengan keaslian (bilamana disyaratkan oleh ketentuan), kronologis urutan tanggal pada satu set dokumen pertanggungjawaban termasuk penelitian apakah PIB yang dilaporkan melebihi 12 bulan atau tidak, jumlah pembayaran Pungutan Negara, denda dan bunga pada dokumen SSPCP; Penelitian atas relevansi bahan baku terhadap barang jadi. Artinya akan diteliti apakah bahan baku yang dilaporkan secara rasional memang berkaitan dan layak dipergunakan terhadap barang jadi yang dilaporkan; Penelitian atas rasio berat kumulatif barang ekspor dibanding berat kumulatif bahan baku. Lazimnya bobot barang jadi lebih berat dibanding bahan bakunya, hal ini dimungkinkan, manakala barang jadi tersebut terdapat kandungan bahan lokal. Namun demikian tentunya terdapat kekecualian atas kondisi tersebut. Pendeknya, ingin diketahui dalam satu barang jadi, apakah jumlah bahan baku yang dipergunakan rasional atau tidak; Penelitian atas rasio nilai kumulatif barang ekspor dibanding nilai kumulatif bahan baku. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui seberapa besar nilai tambah (added value), yang terdapat pada sebuah BCL-KT01. Tentunya, manakala nilai kumulatif ekspor lebih kecil dibanding nilai kumulatif bahan baku, unit KITE akan konfirmasi terhadap perusahaan pengaju BCL-KT01, untuk mendapat penjelasan seperlunya. Jawaban yang diperoleh, akan menentukan apakah sebuah BCL-KT01 dapat diterima atau tidak.

(Catatan : butir 3 s.d. butir 6, tidak diatur dalam KEP-205/BC/ 2003, hal tersebut dilaksanakan dalam rangka pengawasan atas laporan pertanggungjawaban fasilitas, dan meningkatkan kualitas pemeriksaan BCL-KT01).

REKOMENDASI
Dalam rangka meningkatkan kualitas Pengawasan Internal KITE, penulis merekomendasikan hal-hal sebagai berikut : 1. Hendaknya aplikasi KITE dirancang mampu mendeteksi perusahaan pengguna KITE yang tidak aktif selama 12 bulan, semenjak NIPER diterbitkan atau 12 bulan semenjak importasi terakhir atau eksportasi terakhir, dan aplikasi secara otomatis mencetak surat pencabutan NIPER. Hal ini dalam rangka membantu unit KITE yang pada saat ini melakukannya secara manual dan demi terpenuhinya ketentuan pasal 5 (3a); 2. Untuk menghindari adanya importasi yang melebihi kuantitas pada SK, hendaknya aplikasi KITE, dirancang untuk mampu mendeteksi saldo jenis bahan pada sebuah SK. Sehingga manakala sebuah PIB yang memuat jenis barang tertentu diajukan, secara otomatis aplikasi meneliti saldo kuantitas jenis bahan tersebut pada SK yang dirujuk, bilamana saldo tidak cukup, STTJ tidak akan tercetak; 3. Monitoring PIB 12 bulan hendaknya dilakukan secara aplikasi. Dengan demikian manakala aplikasi KITE menemukan sebuah PIB telah lebih 12 bulan, langsung akan tercetak surat penagihan, dan NIPER tersebut juga terblokir; 4. Hendaknya aplikasi KITE, dirancang mampu menghitung nilai tambah (added value) pada sebuah BCL-KT01, yang nantinya dapat dihitung kumulatif untuk NIPER tertentu, dan pada akhirnya dapat dihitung kumulatif untuk seluruh NIPER; 5. Dalam rangka terpenuhinya ketentuan pasal 21 KEP-205/BC/ 2003, yang mewajibkan perusahaan untuk menyampaikan laporan pertanggungjawaban minimal tiap 6 (enam) bulan sekali, yang tidak disertai dengan pasal-pasal yang mengatur pelanggarannya, hendaknya segera dipikirkan jalan keluarnya, sehingga tidak menyulitkan unit KITE, selaku pihak yang melaksanakan ketentuan tersebut. Menurut hemat penulis pengawasan internal KITE mempunyai kontribusi dan membantu tugas pengawasan yang selama ini telah dilakukan oleh unit Penindakan dan Penyidikan, maupun unit Audit. Demikian yang penulis ketahui, semoga bermanfaat, khususnya buat penulis, dan umumnya buat pembaca.

Penulis adalah Pelaksana Bidang Fasilitas Kepabeanan pada Kantor Wilayah DJBC Jawa Barat

O P I N I
Oleh : Sumardiono
pengajuan skep fasilitas yang begitu penting bagi pemeriksa di KITE dan auditor, ternyata belum terdapat dasar hukumnya baik dalam Kep Dirjen Nomor: KEP-205/BC/2003 maupun Keputusan Menteri Keuangan Nomor: 580/KMK.04/2003. Oleh karena itu, persyaratan-persyaratan yang memang harus dilampirkan dalam pengajuan skep fasilitas seharusnya dimasukkan dalam ketentuan yang mengatur fasilitas KITE. KITE juga harus menyimpan data konversi tersebut dengan baik agar saat diperlukan data tersebut mudah untuk didapatkan. Karena kadangkala perusahaan mempunyai beberapa data konversi dan yang diberikan kepada pihak yang membutuhkan sesuai kepentingannya (tentunya yang menguntungkan perusahaan).

F

Dalam laporan ekspor/BCL-KT01 yang disampaikan perusahaan terdapat beberapa hal yang perlu mendapat perhatian yaitu pertama, menurut hemat penulis selama ini banyak perusahaan yang melaporkan laporan ekspor (BCL-KT01 untuk laporan penggunaan barang dan/atau bahan asal impor yang mendapat pembebasan BM dan/atau Cukai serta PPN dan PPnBM tidak dipungut asal ekspor) tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya. Dalam laporan ekspor, pemakaian bahan baku umumnya asilitas KITE oleh beberapa penulis telah dibahas di masenantiasa dilaporkan 100% habis terpakai, padahal terdapat sisa jalah ini, bahkan dalam edisi bulan Maret lalu Fasilitas bahan baku dan bahan baku yang rusak (waste). Karena sisa baKITE menjadi topik utama. Opini dari beberapa penulis han baku dan bahan baku yang rusak ikut dilaporkan dalam tersebut diharapkan dapat membuka cakrawala laporan ekspor, maka saat laporan ekspor disetujui oleh KITE pengetahuan pegawai bea cukai dan dapat memberikan (terbit SPPJ), maka sudah tidak ada saldo bahan baku lagi yang masukan yang positif bagi tim yang ditunjuk untuk mengadakan harus dipertanggungjawabkan perusahaan (menurut KITE), maka penyempurnaan peraturan atas fasilitas KITE. Tentunya, berbagai jaminan pun dikembalikan ke perusahaan. pendapat itu perlu dikaji dan ditelaah lebih mendalam untuk pePadahal, realita di perusahaan masih ada fisik atas sisa banyempurnaan fasilitas ini. han baku dan bahan baku yang rusak. Sesuai aturan dalam Kep Dalam kesempatan ini, penulis juga ingin memberikan pendaDirjen, seharusnya perusahaan melakukan laporan tersendiri atas pat seputar fasilitas KITE dengan harapan ada manfaatnya bagi penyelesaian sisa bahan baku dan bahan baku yang rusak yaitu: Tim penyempurna peraturan KITE, pegawai bea cukai (khusus1. Apabila dijual, perusahaan membuat laporan BCL-KT01 nya bagi pegawai yang terlibat langsung dalam pemberian untuk laporan penggunaan barang dan/atau bahan asal impor fasilitas KITE dan juga bagi Auditor), maupun bagi pelaku bisnis yang mendapat pembebasan BM dan/atau Cukai serta PPN (pengusaha). dan PPnBM tidak dipungut asal penjualan hasil produksi yang rusak, bahan baku yang rusak, hasil produksi sampingan, PENGAJUAN SKEP FASILITAS PEMBEBASAN sisa hasil produksi ke DPIL. Fasilitas Pembebasan (pembebasan bea masuk dan/atau 2. Apabila dimusnahkan, perusahaan membuat cukai serta PPN dan PPnBM tidak dipungut) dapat laporan BCL-KT01 untuk laporan penggunaan dinikmati oleh perusahaan (importir, produsen dan barang dan/atau bahan asal impor yang mendaeksportir) tentunya terlebih dahulu dengan mengajupat pembebasan BM dan/atau Cukai serta PPN kan permohonan Skep Pembebasan (BCF-KT01) PENATAUSAHAAN dan PPnBM tidak dipungut asal pemusnahan kepada Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai. Dalam JAMINAN DI KITE hasil produksi yang rusak, bahan baku yang rupengajuan skep pembebasan ini salah satu syarat sak, hasil produksi sampingan, sisa hasil proyang harus dilampirkan perusahaan adalah melamHARUS duksi ke DPIL. pirkan daftar konversi. Daftar konversi pemakaian DILAKUKAN bahan baku menjadi lampiran yang sangat penting 3. Apabila sisa bahan baku diselesaikan dengan cara bagi pemeriksa di KITE karena digunakan untuk membayar saldo yang masih harus dipertanggungSEBAIK MUNGKIN menghitung besarnya jumlah bahan baku yang akan jawabkan, perusahaan membuat laporan BCLdiberikan kepada perusahaan. KT01 untuk laporan penyelesaian bahan baku asal Kalau ditelaah lebih lanjut, sebenarnya data konimpor yang belum diselesaikan ekspornya. versi bagi KITE tidak hanya untuk pemberian persetujuan skep Pada umumnya atas pemakain bahan baku mesti terdapat fasilitas KITE yang diminta perusahaan, namun juga penting bagi sisa bahan baku dan bahan baku yang rusak, maka KITE dapat pemeriksa laporan ekspor/BCL-KT01. Bagi pemeriksa (desk meminta data tersebut (prosentase waste) saat pengajuan skep. audit), data konversi tersebut sebenarnya dapat digunakan untuk Penulis pernah mendapati perusahaan yang telah melaporkan menguji kebenaran/kewajaran laporan ekspor perusahaan. KITE seluruh penggunaan bahan baku dalam laporan ekspornya dan hendaknya tidak serta merta menyetujui Laporan Ekspor yang karena terdapat ada sisa bahan baku dan bahan baku yang rudibuat perusahaan dengan alasan self assessment. Pemeriksa sak, maka perusahaan melakukan pemusnahan atas sisa bahan seharusnya menilai kewajaran laporan ekspor perusahaan baku dan bahan baku yang rusak sesuai prosedur (membuat dengan menggunakan data konversi yang diajukan perusahaan dokumen BC 2.4, pemusnahan disaksikan pejabat Bea dan saat pengajuan skep. Selama ini, KITE “terlalu” mengandalkan Cukai dari KPPBC yang mengawasi dan dibuatkan berita acara proses audit untuk menguji kebenaran laporan ekspor. Padahal pemusnahan). terdapat perusahaan yang belum diaudit oleh bidang audit, Setelah itu, perusahaan melaporkan pemusnahan ke KITE namun sudah tidak aktif (tutup) atau karena sesuatu hal data-data dengan membuat laporan BCL-KT01 untuk laporan penggunaan tersebut hilang (akibat kebakaran/kebanjiran/pergantian pegawai barang dan/atau bahan asal impor yang mendapat pembebasan dan arsip perusahaan tidak bagus, serta sebab lainnya). BM dan/atau Cukai serta PPN dan PPnBM tidak dipungut asal Selain itu, bagi bidang audit data konversi tersebut mutlak pemusnahan hasil produksi yang rusak, bahan baku yang rusak, diperlukan untuk menghitung kewajaran pemakaian bahan baku hasil produksi sampingan, sisa hasil produksi ke DPIL. Setelah (mutasi bahan baku) dan menghitung tagihan jika terdapat selisih beberapa lama, laporan ekspor perusahaan disetujui semuanya kurang barang jadi atau penjualan lokal barang jadi. (jaminan bank dikembalikan seluruhnya karena tidak ada lagi salNamun demikian, kewajiban melampirkan daftar konversi saat do yang harus dipertanggungjawabkan). Selanjutnya atas laporan

KITE

SEPUTAR FASILITAS

PENGAJUAN LAPORAN EKSPOR

“ ”

EDISI 407 OKTOBER 2008

WARTA BEA CUKAI

45

O P I N I
Kalau nilai ekspor diberitahukan fee atas jasa pengerjaan dipemusnahan yang sudah diterima oleh KITE, perusahaan diminta tambah nilai barang impor (dibuat dua invoice; satu untuk untuk mencabut laporan tersebut karena sudah tidak terdapat kepentingan Bea dan Cukai/fee ditambah nilai bahan baku, satu saldo yang harus dipertanggungjawabkan. invoice untuk penerima barang di luar negeri/nilai fee saja), maka Atas kasus tersebut, perusahaan ‘jujur’ dalam melakukan pedata ekspor Indonesia tidak akan sesuai dengan riel devisa yang nyelesaian atas sisa bahan baku dan bahan baku yang rusak, akan diterima bahkan untuk uji nilai transaksi atas barang ekspor namun tidak ‘jujur’ dalam laporan ekspornya. Dengan adanya kepada saat dilakukan audit pun kedapatan tidak akan sesuai. salahan laporan ekspor seperti itu, dalam aturan KITE belum Untuk itu, menurut hemat penulis perlu ada aturan khusus yang terdapat sanksi administrasi yang seharusnya dikenakan kepada mengatur tentang perusahaan yang hanya menerima upah/jasa perusahaan. Dalam SPPJ memang terdapat klausul bahwa jika pengerjaan tanpa membeli bahan baku impor. terdapat kesalahan dalam laporan ekspor (laporan ekspor lebih Kelima, adanya kesalahan input data pada PEB seringkali besar dari yang seharusnya), perusahaan diwajibkan membayar KITE atau perusahaan meminta bidang audit untuk melakukan BM dan/atau Cukai, PPN/PPnBM ditambah denda 100% BM dan audit sehingga PEB tersebut dapat dipakai untuk mempertangsanksi bunga 2%. gungjawabkan fasilitas yang diterima atau untuk meminta haknya Menurut hemat penulis, sanksi tersebut dapat dikenakan bagi (fasilitas pengembalian). perusahaan yang salah dalam laporan ekspor dan tidak ada Sebenarnya dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 145/ dokumen BC 2.4, pemusnahan tanpa disaksikan pejabat Bea dan PMK.04/2007 tentang Ketentuan Kepabeanan dibidang Ekspor Cukai dari KPPBC yang mengawasi dan tanpa ada berita acara telah jelas aturannya yaitu terhadap kesalahan pemberitahuan pemusnahannya. pabean ekspor berupa jenis/kategori ekspor dan /atau jenis fasiliKedua, untuk menguji kebenaran/kewajaran laporan ekspor tas yang diminta tidak dapat dilakukan perubahan. Jika aturan (BCL-KT01) dan menghindarkan terjadinya laporan pemakaian dalam PMK seperti itu, adakah aturan yang sederajat atau yang bahan baku yang senantiasa habis 100% (tanpa ada waste), lebih tinggi hirarkinya yang memungkinkan bidang audit dapat hendaknya pemeriksa di KITE menggunakan data konversi yang merekomendasikan dilakukannya updating atas data/kesalahan dilampirkan perusahaan saat pengajuan SKEP. Jika mekanisme PEB. tersebut tidak dilakukan, maka akan ditemukan kuMenurut hemat penulis, belum/tidak ada aturan antitas pemakaian bahan baku yang berbeda-beda hasil audit dapat meng-updating kesalahan PEB dalam setiap laporan ekspor meskipun jenis barang sehingga permohonan dari perusahaan untuk mejadinya sama. UNTUK makai PEB yang salah dapat langsung ditolak oleh Mengingat format laporan ekspor di BCL-KT01 MENGAMANKAN KITE. Lain halnya, jika ada ketentuan bahwa audit tidak dapat ditrasir satu barang jadi menggunakan dapat merevisi atas kesalahan PEB, maka audit dajenis bahan baku apa saja dan dalam jumlah HAK-HAK pat dijadikan sebagai jalan keluarnya. berapa sebagaimana dalam laporan BCL-KT02 (faNEGARA, KITE silitas pengembalian), maka pemeriksa di KITE mau tidak mau untuk menguji kebenaran/kewajaran HARUS SEGERA PERHITUNGAN SANKSI ATAS PENJUALAN LOKAL laporan ekspor/BCL-KT01 dengan menggunakan Dalam Kep. Dirjen dan Kep. Menkeu diatur MEREKAPITULASI tentang penjualan lokal atas fasilitas KITE yang data konversi. Hal tersebut dapat dilakukan dengan disertai syarat pada dokumen laporan ekspor diserdiberitahukan sesuai prosedur (menggunakan PERUSAHAAN takan detail barang jadi (spek dan tipe) dan dalam dokumen BC 2.4 dan maksimal 25% dari jumlah PENERIMA data konversi juga diuraikan secara detail. ekspor/penyerahan ke KB), perusahaan wajib Ketiga, dalam Kep. Dirjen dan Kep. Menkeu membayar BM, Cukai, PPN/PPnBM dan sanksi FASILITAS DAN juga disebutkan bahwa Laporan Ekspor/BCL-KT01 bunga 2% dan jika penjualan lebih besar dari 25%, JUGA PENJAMIN maka selain membayar BM, Cukai, PPN/PPnBM, sekurang-kurangnya 6 bulan sekali, namun jika hal tersebut tidak dilakukan perusahaan ternyata tidak bunga 2% ditambah dengan denda sebesar 100% YANG TIDAK terdapat sanksi yang mengaturnya. Jadi kewajiban dari Bea Masuk. MELUNASI hanya kewajiban tanpa ada sanksi bagi Namun jika penjualan lokal tidak diberitahupelanggarnya. Oleh karena itu, hendaknya setiap (tanpa dokumen BC 2.4) KEWAJIBANNYA kan sesuai prosedur dari 25%, menurut hemat aturan yang dilanggar jika tidak ditaati seyogyanya dan jumlahnya lebih ada sanksinya. penulis belum ada aturan yang mengaturnya. Keempat, diantara parameter yang dipakai oleh Kalau penjualan lokal diketahui saat audit dan KITE untuk menyetujui atau menolak laporan ekspor adalah detim audit menganggap sebagai selisih kurang barang jadi, ngan membandingkan nilai ekspor dengan nilai impor atau memmaka perusahaan hanya dikenai sanksi membayar BM, Cubandingkan berat barang ekspor dengan berat barang impor. Nilai kai, PPN/PPnBM dan denda 100% dari BM tanpa ada bunga. ekspor atau berat barang ekspor harus lebih besar atau minimal Menurut hemat penulis, seharusnya ada aturan yang memuat sama dengan nilai/berat impor. Perbandingan nilai ekspor dengan sanksi atas selisih kurang barang jadi karena penjualan lokal nilai impor tidak menjadi masalah tatkala barang impor tanpa diberitahukan lebih berat sanksinya daripada yang merupakan hasil pembelian perusahaan. Namun bagi perusahamemberitahukan. an yang hanya mendapatkan ‘fee’ atas jasa pengolahan bahan baku menjadi barang jadi dan pada PEB nilai ekspor yang diberiSANKSI 12 BULAN BELUM EKSPOR tahukan hanya jasanya, maka syarat tersebut tidak dapat Atas PIB jatuh tempo (PIB lebih dari 12 bulan belum didipenuhi oleh perusahaan sehingga dapat mempengaruhi proses ekspor), maka yang dilakukan KITE sesuai aturan yang ada persetujuan laporan ekspornya. adalah menerbitkan surat pemberitahuan/tagihan PIB >12 Belum lagi kalau semua komponen bahan bakunya berasal bulan dan melakukan protek atas pelayanan perusahaan. Menurut hemat penulis, seharusnya atas PIB jatuh tempo dari impor (PIB Fasilitas) dan terdapat waste, maka berat baaturannya disamakan dengan monitoring jaminan yaitu dilarang ekspor pun akan lebih kecil dari berat barang/bahan baku kukan pencairan jaminan yang ada di KITE. Karena kalau impor. Semestinya parameter perbandingan berat dan nilai diterbitkan surat pemberitahuan/tagihan PIB >12 bulan dan dapat digunakan jika barang impor merupakan hasil pembelian perusahaan tidak mau melunasi tagihan tersebut, sanksinya dan barang jadi berasal dari bahan baku impor (fasilitas KITE) hanya protek fasilitas di KITE. Sedangkan pelayanan atas dan impor bayar serta mengandung komponen bahan baku ekspor impor tetap dilayani. lokal. Jika memang perusahaan tidak melakukan pembelian Jika atas PIB jatuh tempo dilakukan pencairan jaminan, sebahan baku maka parameter tersebut tidak harus dipaksakan mestinya pihak yang berkewajiban membayar atas tagihan karena kenyataannya terdapat beberapa perusahaan yang sebesar nilai yang dijaminkan (BM dan PPN/PPnBM) adalah penmemang hanya menerima fee ‘ongkos jahit’ baik untuk perjaminnya (bank devisa/perusahaan asuransi) bukan perusahaan. usahaan penerima fasilitas KITE ataupun Kawasan Berikat.

“ ”

46

WARTA BEA CUKAI

EDISI 407 OKTOBER 2008

Disinilah fungsi penjamin, dia bertanggungjawab atas pihak yang KITE tidak perlu menunggu PIB lewat waktu 12 bulan tetapi dijaminnya, jangan sampai terjadi pencairan jaminan dilakukan dilakukan saat perusahaan tidak melakukan perpanjangan oleh KITE ditujukan kepada penjamin tetapi pihak penjamin tidak jaminan banknya. mau bertanggungjawab atas kewajibannya. Oleh karena itu, penatausahaan jaminan di KITE harus dilaNamun sepengetahuan penulis, selama ini setiap pencairkukan sebaik mungkin, jangan sampai terjadi pencairan jaminan an yang dilakukan oleh KITE kepada penjamin, pihak yang seharusnya dilakukan belum dilakukan dan dilakukan setepenjamin memberitahukan perihal pencairan tersebut kepada lah jaminan tidak berlaku. perusahaan penerima fasilitas KITE dan yang melakukan Permasalahan belum terealisasinya penerimaan negara dari pembayaran adalah pihak perusahaan bukan penjamin. Mepencairan jaminan dan tagihan PIB jatuh tempo, seharusnya mang dalam tagihan KITE selain ada BM dan PPN/PPnBM dapat diminimalkan dengan mengadakan koordinasi antara KITE terdapat pula sanksi bunga 2% dari pungutan sehingga kalau dengan KPPBC yang mengawasi. Setiap penerbitan Surat jaminan dicairkan hanya dapat menutup Bea Masuk dan Keputusan Pencairan Jaminan dan Surat Pemberitahuan/Tagihan PPN/PPnBM. Untuk masalah sanksi bunga 2%, perlu ada PIB Jatuh Tempo, KITE memberikan tembusan ke KPPBC yang aturan yang menyebutkan bahwa KITE dapat menerbitkan mengawasi, jika belum dilunasi oleh perusahaan KPPBC dapat surat pemberitahuan/tagihan atas sanksi bunga kepada perumenerbitkan surat paksa dan mengusulkan pemblokiran pelayansahaan. an kepabeanan secara nasional. Dengan dilakukan pencairan jaminan kepada penjamin Bagi perusahaan yang dalam waktu 12 bulan belum meladan pihak yang bertanggungjawab penjamin, tidak terdapat kukan realisasi ekspor diwajibkan membayar BM, Cukai, PPN lagi tagihan/pencairan jaminan yang tidak dapat terealisasi dan PPnBM yang terutang serta bunga sebesar 2% dari (minimal untuk Bea Masuk dan PPN/PPnBM pasti terbayar). pungutan yang seharusnya dibayar setiap bulan maksimal 24 Persoalan yang selama ini dihadapi oleh KITE adalah KITE bulan, dengan catatan barang masih ada dalam persediaan. tidak punya senjata/power untuk menerbitkan surat paksa Jika barang tidak berada dalam persediaan/tidak dapat diperbaik kepada penjamin maupun kepada perusahaan yang tanggungjawabkan, maka kewajiban perusahaan adalah tidak melunasi tagihan/pencairan yang dilakumembayar BM ditambah denda 100% dari BM kan oleh KITE. Sehingga terdapat banyak penserta membayar PPN dan PPnBM ditambah sankcairan/surat pemberitahuan tagihan yang tidak si sesuai ketentuan perpajakan yang berlaku. tertagih. Fasilitas KITE adalah fasilitas yang Permasalahannya, bagaimana kalau tariff BM MENURUT diberikan oleh DJBC, seharusnya perlakuan teratas barang tersebut 0%, apakah total kewajiban HEMAT PENULIS, yang harus dibayar lebih kecil daripada perusahahadap pelanggar fasilitas KITE yang tidak melunasi kewajibannya dalam batas waktu terSANKSI DAPAT an yang barangnya masih terdapat dalam tentu seharusnya diperla kukan sama dengan persediaan ataukah ada sanksi administrasi yang DIKENAKAN SPKPBM. dapat dikenakan. Untuk memberikan rasa Jika aturan atas PIB jatuh tempo masih tetap keadilan, perlu ada aturan atau penegasan yang BAGI dengan menerbitkan surat pemberitahuan/ mengatur pengenaan sanksi administrasi tersePERUSAHAAN but. tagihan PIB >12 bulan (sesuai aturan yang ada) dan perusahaan tidak melunasi tagihan tersebut, Dalam Kep. Dirjen dan KMK disebutkan ekspor YANG SALAH seharusnya sanksinya adalah tidak hanya protek barang atau penyerahan barang hasil produksi ke DALAM atas pelayanan fasilitas di KITE saja tetapi atas kawasan berikat harus terlaksana dalam jangka wakseluruh pelayanan dibidang kepabeanan tidak tu 12 bulan sejak tanggal pendaftaran PIB, namun LAPORAN dilayani (dilakukan blokir secara nasional) dan jika tidak terlaksana maka pengusaha wajib EKSPOR DAN dapat diterbitkan surat paksa melalui KPPBC membayar BM, Cukai, PPN dan PPnBM serta bunga Untuk mengamankan hak-hak negara, KITE 2% sepanjang barang masih ada dalam persediaan. TIDAK ADA harus segera merekapitulasi perusahaan peneriPermasalahannya adalah jika perusahaan sudah DOKUMEN ma fasilitas dan juga penjamin yang tidak melumerealisasikan ekspor (PEB) dalam waktu 12 bulan, nasi kewajibannya. Atas perusahaan penerima namun belum membuat laporan ekspor/BCL-KT01 BC 2.4 ... fasilitas, KITE harus sesegera mungkin minta ke KITE apakah perusahaan juga tetap diwajibkan bidang audit untuk melakukan audit agar hak-hak membayar BM, PPN/PPnBM serta bunga 2% ataunegara dapat diselamatkan karena perusahaan kah pengertian antara belum terealiasi ekspor dan tersebut ‘tenang-tenang saja’ atas protek yang dilakukan belum adanya laporan ekspor dianggap hal yang berbeda. KITE. Hal tersebut terjadi karena perusahaan sudah tidak Menurut hemat penulis perlu ada penyempurnaan atas aktif lagi menggunakan fasilitas KITE. Untuk penjamin aturan tersebut yaitu pengenaan sanksi membayar BM, yang tidak memenuhi kewajibannya, harus dikenakan sanksi Cukai, PPN dan PPnBM serta bunga 2% dikenakan kepada yang tegas (tidak sekedar di black list tidak dapat ditunjuk perusahaan jika dalam waktu 12 bulan belum menyampaikan sebagai penjamin). laporan ekspor ke KITE. Karena kalau aturannya masih Penyebab lain pencairan jaminan tidak dapat direalisasiseperti saat ini, maka SK Pencairan Jaminan atau Surat kan adalah pencairan dilakukan setelah masa berlaku jaminPemberitahuan Tagihan PIB Jatuh Tempo yang diterbit oleh an telah habis (out of date). Sebagaimana diketahui, periode KITE akan tidak ada artinya jika perusahaan menyampaikan jaminan ada yang masa berlakunya 6 bulan dan 1 tahun. dokumen ekspor atau dokumen penyerahan ke Kawasan Atas jaminan yang masa berlakunya 6 bulan dan sudah jatuh Berikat, meskipun mekanisme pembuktian ekspor atau tempo (perusahaan belum membuat laporan ekspor atas PIB penyerahan ke kawasan berikat menggunakan bahan baku tersebut serta perusahaan belum memperpanjang jaminan fasilitas KITE belum diatur. tersebut), maka KITE akan melakukan protek/tidak memberiDemikian juga jika atas hasil audit memang dapat dibuktikan pelayanan apapun kepada perusahaan penerima fasikan bahwa realisasi ekspor/penyerahan ke kawasan berikat litas sampai perusahaan memperpanjangnya. menggunakan bahan baku eks fasilitas KITE, maka akan ada Proses pencairan oleh KITE tidak dilakukan pada saat pembatalan SK Pencairan Jaminan/Tagihan PIB Jatuh Tempo bersamaan dengan protek tetapi menunggu PIB lewat waktu bahkan tidak menutup kemungkinan munculnya rekomendasi 12 Bulan, akibatnya pencairan yang dilakukan oleh KITE perusahaan dapat melakukan restitusi jika perusahaan/ sudah melewati batas waktu pencairan (untuk jaminan bank penjamin telah melunasi/membayar tagihan tersebut. maksimal 1 bulan sejak tanggal jatuh tempo dan untuk Demikian diantara hal-hal yang perlu menjadi perhatian customs bond 3 bulan sejak tanggal jatuh tempo) sehingga kita semua dan perlu segera diadakan penyempurnaan atas penjamin pun tidak bersedia mencairkan jaminan yang aturan KITE sehingga tidak timbul kerugian negara. Wallahu mintakan pencairan tersebut. Seharusnya, pencairan oleh a’lamu Penulis adalah Auditor pada Kanwil Jakarta

“ ”

EDISI 407 OKTOBER 2008

WARTA BEA CUKAI

47

KEPABEANAN

RAKOR SKA DAN DBH. Untuk menyempurnakan kebijakan tentang DBH dan pemahaman SKA oleh petugas di lapangan, Direktorat Teknis Kepabeanan menyelenggarakan Rapat Koordinasi dengan seluruh Kepala Bidang Kepabeanan dan Cukai.

RAPAT KOORDINASI IMPLEMENTASI SKEMA PREFERENSI TARIF
Masih minimnya pengetahuan petugas bea cukai di lapangan akan dokumen surat keterangan asal (SKA) atau certificate of origin, dan kurangnya kegiatan updating database harga oleh DJBC, menyebabkan penentuan nilai pabean oleh pejabat bea cukai tidak memiliki kesamaan antara pejabat yang satu dengan yang lainnya.

FTA, Asean-Korea FTA, dan Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJ-EPA).

SURAT KETERANGAN ASAL BARANG
Menurut Bambang Untung, SKA adalah dokumen yang secara sah semata-mata memberikan penjelasan tentang negara asal barang yang selanjutnya digunakan sebagai dasar untuk memberikan fasilitas preferensi tariff bea masuk. SKA juga berkaitan langsung dengan penetapan tarif dalam rangka impor barang. Dalam hal hasil penelitian bea dan cukai tidak diragukan kebenarannya maka preferensi tarif diberikan. “Ada empat jenis SKA, yaitu Form D untuk Asean-CEPT, Form E untuk Asean-China FTA, Form AK untuk Asean-Korea FTA, dan Form JIEPA untuk Indonesia-Japan EPA. Sementara itu, dari masingmasing SKA tersebut menurut operational certification procedures for the rules of origin, memiliki perbedaan yang cukup signifikan namun mudah untuk dikenali,” ujar Bambang. Perbedaan tersebut adalah, pada Form D, ukuran kertas A4, bahasa Inggris, lembar asli ultra violet, lembar ketiga orange, nomor referensi terdapat pada kanan atas Form, terdapat 12 kolom isian. Pada Form E, ukuran kertas A4, bahasa Inggris, lembar asli warna beige, lembar ketiga light green, nomor referensi terletak pada kanan atas Form, terdapat 12 kolom isian. Pada Form AK, ukuran kertas A4, bahasa Inggris, lembar asli FOTO-FOTO WBC/ATS warna putih, nomor referensi terletak pada kanan atas Form, terdapat 13 kolom isian. Dan pada Form JIEPA, ukuran kertas A4, warna putih kotor (krem muda), logo dengan tulisan EPA Japan-Indonesia, dan nomor referensi di kanan atas Form, terdapat 10 kolom isian.

U

ntuk menyempurnakan pengetahuan petugas akan SKA dan database harga, Direktorat Teknis Kepabeanan mengadakan rapat koordinasi dengan Kepala Bidang Kepabeanan dan Cukai diseluruh Indonsia. Rapat yang dipimpin langsung oleh Direktur Teknis Kepabeanan, Agung Kuswandono, berlangsung di ruang rapat Mentri Keuangan Kantor Pusat Diretorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) pada 29 Agustus 2008. Dalam rapat tersebut dibahas dua tema yaitu, SKA dalam skema preferensi tarif, dan penyusunan dan pemuktahiran database harga (DBH). Pada sesi SKA, materi disampaikan oleh Kepala Seksi Klasifikasi, Bambang Untung, yang memaparkan mengenai SKA terkait dengan adanya kebijakan kerjasama antara negara AGUNG KUSWANDONO. Saat ini masih Asean khususnya dalam hal banyak pengguna jasa yang bermain- tarif bea masuk, seperti Asean CEPT for AFTA, Asean-China main dengan nilai pabean.
WARTA BEA CUKAI EDISI 407 OKTOBER 2008

DATA BASE HARGA
Sementara itu untuk sesi penyusunan dan pemuktahiran database harga (DBH), materi disampaikan oleh Kepala Subdirektorat Nilai Pabean, Fajar Donny. Dalam pemaparannya dijelaskan mengenai perlunya pemutakhiran database karena

BAMBANG UNTUNG. Ada empat jenis SKA yang dikenal saat ini, yaitu Form D, Form E, Form AK, dan Form JIEPA.

48

dalam rangka uji kewajaran nilai pabean, sering kali tidak ditemukan data pembanding. Selain itu, masih kurangnya data dengan uraian jenis dan klasifikasi barang yang lengkap pada sistem aplikasi impor (SAI) yang dapat dijadikan sumber untuk pemutakhiran dan pengayaan DBH. “Untuk itu perlu adanya data harga yang lengkap untuk pelaksanaan penetapan nilai pabean dalam rangka audit kepabeanan. Karena, DBH memiliki dua fungsi. Pertama DBH I, sebagai parameter dalam pengujian kewajaran pemberitahuan nilai pabean, dan sebagai data yang tersedia yang dapat dipakai sebagai dasar penetapan nilai pabean berdasarkan dalam satu metode VI. Kedua DBH II, sebagai test value, dan sebagai salah satu sumber data DBH I,” ujar fajar Donny. Lebih lanjut Fajar Donny menjelaskan, untuk saat ini sebenarnya kondisi yang diinginkan terhadap database harga adalah, DBH II dapat disusun dan dimutakhirkan secara periodik, serta DBH II dapat dijadikan tools untuk test value. Selain itu DBH II merupakan salah satu sumber data untuk penetapan nilai pabean, dan DBH II dapat digunakan sebagai salah satu sumber data untuk penyusunan DBH I. Ketika ditemui WBC, Direktur Teknis Kepabeanan, Agung Kuswandono, menyatakan DJBC memiliki tiga tugas pokok dalam pelayanan, yaitu klasifikasi barang, nilai pabean dan sisdur kepabeanan. Untuk itu Direktorat Teknis akan selalu berkoordinasi baik internal maupun eksternal, untuk menyamakan visi yang ada, sehingga segala kendala di lapangan dapat terselesaikan dengan baik. “Yang perlu diberdayakan saat ini adalah teman-teman di lapangan, untuk itu kami melakukan rapat koordinasi dengan para Kabid Kepabeaan dan Cukai seluruh Indonesia, untuk melihat sejauh mana masalah yang mereka hadapi di lapangan dan bagaimana pemahaman mereka terhadap kebijakan saat ini yang begitu banyaknya,” ujar Agung Kuswandono.

TARIF
A. B e r w a r n a ( F C )
Ukuran (Cm) 1 x Edisi Tarif (Rp) 6 x Edisi Tarif/edisi Rp) Total (Rp)

IKLAN
12 x Edisi Tarif/edisi (Rp) Total (Rp) 5.500.000,- 33.000.000,- 5.000.000,60.000.000,-

Cover II (Hal Dalam 6.000.000,depan) Cover III (Hal dalam 5.000.000,Belakang Cover IV (Hal 7.000.000,Belakang) 1 Hal (21 x 28) 1/2 Hal (12 x 18) 1/4 hal (8,5 x 12) 4.500.000,-

4.500.000,- 27.000.000,- 4.000.000,-

48.000.000,-

KENDALA DI LAPANGAN
Masih menurut Agung Kuswandono, saat ini rapat kordinasi menitikberatkan pada SKA dan DBH, karena belum lama ini ada suatu permasalahan di lapangan yang cukup serius dan memiliki dampak yang cukup luas terkait dengan SKA, dan setelah diteliti ternyata memang perangkat kebijakan pendukungnya yang belum ada. Untuk itu pada rapat koordinasi kali ini, Direktorat Teknis Kepabeanan meminta masukan dari seluruh Kabid Kepabeanan dan Cukai karena merekalah yang tahu sesungguhnya kondisi di lapangan, baik yang terkait dengan SKA maupun DBH. “Jadi saat ini ada dua aspek, yaitu aspek reaksi dengan adanya keluhan itu, dan aspek antisipasi. Nah, dari sini kami bisa melihat dari mana sebenarnya kesalahan itu berasal, apakah berasal dari pihak kami, atau pihak pengusaha, atau dari pelaksanaannya di lapangan. Dengan rakor ini kami harap dapat menemukan titik terang akan permasalahan SKA dan DBH,” “Saat ini masih banyak pengguna jasa yang bermain-main dengan nilai pabean, untuk itu yang penting saat ini adalah membuat berlaku jujur dan kepatuhan terhadap peraturan, jadi update nilai pabean sebenarnya adalah tools untuk uji kewajaran. Namun, yang harus digarisbawahi adalah pengguna jasa harus jujur dalam nilai pabean dan harus tahu cara menghitungnya, karena nilai pabean tidak sama dengan harga,” ungkap Agung Kuswandono. Dengan dilaksanakannya rakor tentang SKA dan DBH ini, Direktorat Teknis Kepabeanan berharap, akan ada kesamaan pemahaman dan visi terhadap kebijakan SKA dan DBH, serta pemecahan permasalahan di lapangan yang tentunya didukung dengan peraturan yang lebih FAJAR DONNY. Perlu adanya data mencapai sasaran dari segala harga yang lengkap untuk persoalan di lapangan. adi pelaksanaan penetapan nilai pabean.

6.500.000,- 39.000.000,- 6.000.000,-

72.000.000,-

4.250.000,- 25.500.000,- 4.000.000,-

48.000.000,-

3.500.000,-

3.250.000,- 19.500.000,- 3.000.000,-

36.000.000,-

2.500.000,-

2.250.000,- 13.500.000,- 2.000.000,-

24.000.000,-

B. H i t a m P u t i h ( B W )
Ukuran (Cm) 1 Hal (21 x 28) 1/2 Hal (12 x 18) 1 x Edisi tarif (Rp) 6 x Edisi Tarif/edisi (Rp) Total (Rp) 12 x Edisi Tarif/edisi (Rp) 3.000.000,Total (Rp)

3.500.000,- 3.250.000,- 19.500.000,-

36.000.000,-

2.500.000,- 2.250.000,- 13.500.000,-

2.000.000,-

24.000.000,-

1/4 hal 1.500.000,- 1.250.000,- 7.500.000,(8,5 x 12)

1.000.000,-

12.000.000,-

Materi iklan disediakan dan diserahkan pemasang paling lambat tanggal 15 untuk penerbitan bulan berikutnya ke alamat redaksi dan pembayaran bisa ditransfer ke rekening Warta Bea Cukai sesuai pada kolom redaksi. Informasi hubungi : K i t t y , t e l p (021) 47865608, 47860504 fax (021) 4892353 EDISI 407 OKTOBER 2008 WARTA BEA CUKAI

49

MITRA
WBC/ATS

SERING DIKELUHKAN. Kasubdit Nilai Pabean saat menjelaskan kepada para peserta temu wicara mengenai penetapan nilai pabean oleh pejabat bea cukai, yang saat ini masih sering dikeluhkan oleh pihak importir dan PPJK.

TENTANG NOTUL DALAM PELAYANAN KEPABEANAN
Pelayanan kepabeanan tentang penetapan nota pembetulan (Notul) yang akhirnya menerbitkan surat pemberitahuan kekurangan pembayaran bea masuk (SPKPBM) oleh pejabat bea cukai sering dikeluhkan oleh masyarakat importir. Untuk menjawab keluhan itu Asosiasi Pengusaha Pengurus Jasa Kepabeanan Indonesia (ASAKINDO) mengadakan temu wicara antar anggotanya.

TEMU WICARA ASAKINDO

K

egiatan yang berlangsung di auditorium gedung Asosiasi PT. Kredit Indonesia (Askrindo) Jakarta ini, dilaksanakan pada 28 Agustus 2008 dengan menghadirkan pembicara dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC), yaitu Kepala Subdirektorat Nilai Pabean, Direktorat Teknis Kepabeanan, Fajar Donny, Kepala Subdirektorat Manajemen Risiko, Direktorat IKC, Hermiyana, dan Kepala Seksi Kepabeanan dan Cukai KPPBC Bontang, Anang Bagus Giarto. Acara ini dipandu oleh Jonker Hamonangan selaku Ketua DPW Asakindo Jakarta. Pada temu wicara kali ini juga sekaligus mensosialisasikan Peraturan Pemerintah Nomor: 28 tahun 2008 tentang Pengenaan Sanksi Administrasi Berupa Denda di Bidang Kepabeanan, yang saat ini sering dikeluhkan baik oleh importir maupun oleh PPJK selaku pengurus barang impor maupun ekspor. Dari sesi tanya jawab yang berlangsung pada temu wicara, umumnya para anggota mengeluhkan adanya perbedaan penetapan nilai pabean antara pejabat yang satu dengan pejabat yang lainnya, padahal menurut importir, barang yang diimpor baik jenis maupun jumlahnya selalu sama. Menurut Jonker Hamonangan, Notul menjadi penghambat proses pengeluaran barang, karena jika terjadi penetapan jalur merah, seharusnya surat pemberitahuan pengeluaran barang (SPPB) dapat
WARTA BEA CUKAI EDISI 407 OKTOBER 2008

keluar dalam waktu 24 jam setelah laporan hasil pemeriksaan diterima, jika jumlah dan jenis barang yang diberitahukan sesuai, serta nilai transaksi yang diberitahukan dapat diterima sebagai nilai pabean. Kenyataannya, yang sering terjadi bukan SPPB yang terbit melainkan Notul dengan penetapan kesalahan klasifikasi barang sehingga kurang tambah bayar bea masuk dan pajak impor lainnya.”Dengan dikeluarkannya Notul maka menjadi hambatan dan tertundanya proses pengeluaran barang, sementara argo biaya gudang berjalan seiring waktu kita membuat bank garansi atau customs bond yang memerlukan waktu 2 hari,” ujar Jonker. Sementara itu dengan dikenakannya Notul, maka kegiatan customs bond pun menjadi terhambat. Hal ini disampaikan oleh Kepala Bagian Surety & Customs Bond, PT. Askrindo, Pudji Santoso. Menurutnya, panjangnya birokrasi pembukaan blokir yang dikeluarkan oleh bea cukai, mengakibatkan Askrindo tidak dapat menerbitkan customs bond untuk client lainnya, padahal penjaminannya telah dibayarkan oleh Askrindo. “Kami berharap, jangan karena satu importir yang sedikit telat pencairan jaminannya, langsung terjadi pemblokiran, karena kami juga ada prosedur yang harus dilalui,” Menanggapi banyaknya keluhan akan penetapan nilai pabean oleh Pejabat Funfsional Pemeriksa Dokumen (PFPD) menurut Hermiyana, penetapan kebijakan yang telah dikeluarkan saat ini memang berkaitan dengan peraturan pemerintah nomor 28 tahun 2008. Untuk itu, acara ini sekaligus mensosialisasikannya dengan harapan dapat menjembatani persoalan yang terjadi di lapangan. “Kritikan yang diberikan oleh Asakindo merupakan masukan bagi kami, karena tanpa peran mereka kami pun tidak dapat melakukan apa-apa. Sejauh ini dari pertanyaan yang kami terima umumnya tentang keluhan nilai pabean, namun itu tidak serta merta kami jatuhkan kepada pihak PFPD, disini kami berusaha memahami dan melihat seberapa jauh pengetahuan dan kejujuran mereka (pengguna jasa) dalam penetapan nilai paben sehingga pihak bea cukai dapat menentukan nilai bea masuknya,” papar Hermiyana. Masih menurut Hermiyana, untuk masukan yang diberikan pihak asosiasi kepada DJBC, selanjutnya akan disampaikan kepada tim yang telah ditunjuk untuk menetapkan kebijakan nilai pabean yang sebentar lagi akan dikeluarkan. Para peserta temu wicara terlihat antusias dalam menyampaikan keluhan maupun masukannya kepada DJBC, hal ini menggambarkan masih perlunya komunikasi yang lebih intensif antara DJBC dengan pengguna jasa dalam hal sosialisasi kebijakan dalam pelaksanaan kegiatan ekspor-impor. Dengan komunikasi diharapkan adanya pemahaman yang cukup baik dari pihak penguna jasa akan segala kebijakan yang dikeluarkan pemerintah. adi

50

INFO PEGAWAI

P E G A W A I
NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 N A M A NIP 060044378 060044466 060044464 060035493 060035377 060050133 060041669 060035992 060041489 GOL IV/b IV/b IV/b IV/b IV/a III/d III/d III/d III/d Drs. Soegito Drs. Murjady Drs. Amin Shofwan Drs. Surendro Suprijadi, M.M. Soesilo Kaseger Christian Zulkifli Samsul Mu’arif Ilham Hudaja A.M. Sukardi Prawoto Endjun Djumaeni Suparman Nursyiwan Abdullah Wawan Djanuri Abdul Aziz Wasidi Ato Subandi R. Agus Soemarsono Firman Pandiangan Sri Haryono Mulyadi Rachmadialis Achmad Nirwan Marjam Musa Eddy Winarno Muh. Kasim Thalib Djasri Soenarto Ngaidi Wilter Madellu Asmara Dewi

T. M. T. 0 1 O K T O B E R 2 0 0 8
J A B A T A N Kasubdit Aneka Cukai Kasubdit Penyuluhan dan Publikasi K e pa l a B a g i a n U m u m d a n K e pa t u h a n I n t e r n a l Kepala Kantor P e l a k s a n a Kasi Fasilitas Kasi Kepabeanan dan Cukai I Kasi P2 Kasubbag Kepegawaian P e l a k s a n a P e l a k s a n a P e l a k s a n a P e l a k s a n a P e l a k s a n a P e l a k s a n a P e l a k s a n a P e l a k s a n a P e l a k s a n a P e l a k s a n a P e l a k s a n a K o r l a k Ad m I m p o r P e l a k s a n a P e l a k s a n a P e l a k s a n a P e l a k s a n a P e l a k s a n a P e l a k s a n a P e l a k s a n a P e l a k s a n a P e l a k s a n a P e l a k s a n a P e l a k s a n a

P E N S I U N
K E D U D U K A N Direktorat Cukai Direktorat PPKC Kanwil Jawa Timur II KPPBC Tipe A3 Bandar Lampung KPPBC Tipe A4 Tarakan Kanwil DJBC Sumut KPPBC Tipe A2 Bekasi Kanwil Jawa Timur I Kanwil Jawa Timur II Direktorat Audit KPPBC Tipe A2 Bekasi KPPBC Tipe A3 Surakarta KPPBC Tipe A2 Bekasi KPPBC Tipe A1 Soekarno Hatta KPPBC Tipe A2 Jakarta KPPBC Tipe A2 Bekasi KPPBC Tipe A2 Tangerang KPPBC Tipe A2 Tangerang KPPBC Tipe A2 Bekasi KPPBC Tipe A2 Bekasi KPPBC Tipe A3 Pekanbaru KPPBC Tipe A2 Bekasi KPPBC Tipe A2 Bekasi Pangsarops Tipe A TBK KPPBC Tipe A4 Gorontalo KPPBC Tipe B Tulung Agung KPPBC Tipe A3 Makassar KPPBC Tipe B Sambu Belakang Padang Kanwil DJBC Jakarta Kanwil Jakarta KPPBC Tipe A4 Bitung Kanwil DJBC Kep. Riau 51

0600400249 III/b 060046286 060041499 030159792 060040276 060041498 060043220 060045643 060041168 060041127 060050207 060046578 060051401 060052078 060045273 060052310 060049046 060057814 060057497 060040257 060041166 060058654 060045286 III/b III/b III/b III/b III/b III/b III/b III/b III/b III/b III/a III/a III/a III/a II/d II/c II/c II/c II/c II/b II/a II/a

EDISI 407 OKTOBER 2008

WARTA BEA CUKAI

INFO PEGAWAI
FOTO-FOTO WBC/ATS

WAKIL PRESIDEN, JUSUF KALLA. Memberikan sambutan pada acara penganugrahan birokrasi award 2008

BIROKRASI AWARD 2008
UNTUK DIRJEN BEA CUKAI

B

Delapan Direktur Jendral (Dirjen) dan Deputi penerima Birokrasi Award dinilai memiliki dua kriteria unggul yaitu integritas, dan berkompeten.

ertempat di Hotel Borobudur, Jakarta, pada 11 September 2008 dilaksanakan penganugrahan Birokrasi Award yang diselenggarakan oleh Institute Reformasi Birokrasi Indo Post-Jawa Post Group (IRB-IPJP). Ada delapan tokoh yang dianugrahi Birokrasi Award karena dinilai memiliki dua kriteria unggul sebagai birokrat. Kriteria birokrat berintegritas didasarkan pada lima parameter, yang pertama Negarawan (statesmanship). Berikutnya, seorang Dirjen atau pemangku jabatan tertinggi pada tingkat departemen haruslah memiliki pemikiran jangka panjang (visionary), bukan pemikiran jangka pendek. Kemudian seorang Dirjen haruslah berpegang teguh pada prinsip (integrity), memiliki kepemimpinan (leadership), dan mampu jadi pejabat/staf yang baik bagi pimpinannya (followership). Sementara itu untuk kriteria kompetensi, didasarkan pada tiga kategori yaitu kompetensi teknis, kompetensi manajerial, dan kompetensi sosial. Penerima Birokrasi Award untuk kategori kenegarawanan atau statesmanship diberikan kepada Massnellyarti Hilman, Deputi Konservasi Sumber Daya Alam Kementerian Lingkungan Hidup. Kategori visionary atau berpikir ke depan diberikan kepada Basuki Yusuf
WARTA BEA CUKAI EDISI 407 OKTOBER 2008

Iskandar, Dirjen Pos dan Telekomunikasi Departemen Komunikasi dan Informatika. Sedangkan Dirjen Bea dan Cukai, Anwar Suprijadi menerima penghargaan dengan kategori Kompetensi Teknis. Kategori integrity diberikan kepada Herry Soetanto, Dirjen Kerja Sama Perdagangan Internasional Departemen Perdagangan. Kategori leadership diraih Herry Purnomo, Dirjen Perbendaharaan Departemen Keuangan. Dan, kategori followership diraih I Nyoman Kandun, Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan. Sedangkan, Agoes Widjanarko, Sekjen Departemen Pekerjaan Umum, untuk kategori kompetensi manajerial. Dan, yang terakhir, kategori kompetensi sosial diraih Benny Wachyudi, Dirjen Industri Agro dan Kimia Departemen Perindustrian. Acara penganugrahan ini disaksikan oleh Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla yang juga dilibatkan sebagai Tim Penilai Akhir. Hadir pula Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud M.D., Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Taufiq Effendi, Wakil Ketua MPR Aksa Mahmud, Wakil Ketua DPR Muhaimin Iskandar, Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto, mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, mantan Mendagri Soerjadi Soedirdja, para pejabat eselon I dari seluruh Departemen, dan pemimpin media massa di Jakarta. Dalam sambutannya Wapres mengatakan bangga dan berterima kasih bahwa di tengah kritik kepada pejabat dan anggota DPR, masih banyak birokrat yang patut mendapatkan penghargaan karena kinerjanya. Ia mengharapkan para pejabat yang menerima penghargaan untuk terus meningkatkan kinerja dan pelayanan pada masyarakat. “Penghargaan ini bukan titik akhir dari kinerja para pejabat eselon I, upaya mereka untuk dapat merebut atau mempertahankan penghargaan ini haruslah melalui perjalanan yang panjang dengan berbagai kendala yang siap menghadapi mereka. Untuk itu, sebagai seorang birokrat sudah sepantasnya mereka dapat membuka diri untuk menerima masukan dan kritikan, sehingga apa yang selama ini masih menjadi hambatan bagi masyarakat dapat dicari solusinya dengan baik,”ujar Wapres. “Birokrasi memiliki satu musuh laten, yakni dirinya sendiri. Ham-

52

FOTO BERSAMA. Dirjen Bea Cukai, Anwar Suprijadi bersama Wapres dan Mentri BUMN beserta tujuh dirjen dari beberapa Instansi lainnya usai menerima penghargaan dalam Birokrasi award

batan internal inilah penyebab birokrat terlambat menyelesaikan masalah, takut mengambil keputusan, serta gemar memperpanjang penerbitan izin,” demikian ia menilai. Sementara itu Dirjen Bea dan Cukai, Anwar Suprijadi, yang ditemui WBC seusai penganugrahan mengatakan, penganugrahan ini sebenarnya bukan hasil karya dirinya semata, semua ini adalah hasil karya dari seluruh pegawai di lingkungan DJBC. Untuk itu, seharusnya merekalah yang pantas untuk menerima ini. “Saya ini hanyalah sebagai motivator dan pendorong bagi kinerja bea cukai, jika ternyata saya terpilih pada birokrasi award ini, maka yang pantas menerimanya adalah seluruh pegawai bea cukai. Mereka inilah yang bekerja dengan gigih dalam menjalankan kebijakan maupun melaksanakan segala peraturan titipan dari seluruh departemen,” tandas Dirjen. “Untuk kedepan nanti saya berharap bea cukai dapat mempertahankan penghargaan ini, baik pengganti saya maupun seluruh pegawai bea cukai,memelihara tentunya lebih sulit daripada memperebutkan, karena memlihara reputasi adalah tantangan yang sangat berat, dan mempertahankannya dapat dilihat dengan cara bagaimana kita merawat reputasi ini,” lanjutnya.

PENGHARGAAN SETIAP TAHUN
Penerima penghargaan ini sudah dinilai melalui studi yang memakan waktu lebih dari satu tahun oleh IRB-IPJP dan dilakukan secara metodis dan sistematis. Mulai perumusan konsep, sampling untuk uji konsep, verifikasi dan clustering (konfigurasi), diskusi kelompok terarah (focus group discussion), hingga deteksi tipologi pejabat eselon I tingkat pusat yang dianggap bisa mewakili. Selain itu, beberapa kegiatan juga dilakukan guna menunjang objektifitas penilaian lembaga ini yaitu seperti diskusi dengan para ahli dan praktisi, seminar untuk pimpinan atau pejabat daerah, serta kampanye publik tentang reformasi birokrasi. Didalam IRB-IPJP terdapat Steering Committee IRB yang terdiri atas Siti Nurbaya (Sekjen Dewan Perwakilan Daerah), Hardijanto (mantan Kepala Badan Kepegawaian Negara), Son Diamar (mantan tena-

ga ahli Menteri PPN/Bappenas bidang desentralisasi dan otonomi daerah), dan Mohammad Jafar Hafsah (mantan Dirjen Bina Produksi Tanaman Pangan Departemen Pertanian). Pelibatan Wapres sebagai Tim Penilai Akhir merefleksikan tanggung jawab atas salah satu fungsi politik eksekutif, yaitu kepemimpinan birokrasi dan kegiatan pengawasan. CEO Indo Post dan Jawa Post, Dahlan Iskan, sebagai penggagas IRB-IPJP yang didirikan pada tanggal 7 Maret 2007 menjelaskan, ide Pemberian Birokrasi award ini dari diskusi yang terus menerus agar bisa memberikan optimisme pada pemerintah untuk memajukan negara. “Bahwa sebuah negara akan maju sekali kalau seluruh unsur masyarakatnya sudah dewasa. Rakyat sudah dewasa, media sudah dewasa, pengusaha sudah dewasa namun ada yang belum dewasa yaitu parpol dan birokrasi, jangan sampai salah satu dari unsur tersebut menghambat negara menjadi maju,” demikian menurut Dahlan. Penghargaan ini rencananya akan tetap diadakan setiap tahunnya guna mendapatkan negarawan-negarawan yang memiliki pemikiran jangka panjang tanpa intervensi dari parpol. Tahun ini penilaian baru diberikan pada dirjen-dirjen dilingkungan kementrian yang strategis yang menyangkut kepentingan ekonomi dan kepentingan rakyat banyak. “Belum efektifnya reformasi birokrasi khususnya pada pelayanan dan pemberdayaan masyarakat,menyebabkan masyarakat beranggapan birokrasi sebagai penyebab utama dari berbagai kesulitan bangsa ini. Untuk itu, menjadi sangat penting adanya suatu gambaran konkret dan objektif atas persoalan-persoalan di lingkungan birokrasi Indonesia,”ujar Dahlan. “Alasan mengapa penghargaan birokrasi ini hanya diberikan pada Dirjen bukan Sekjen atau Irjen, karena sekjen atau irjen adalah tangan kiri dan kanan Menteri. Sedangkan Dirjen adalah pejabat yang betulbetul secara operasional menerapkan kebijaksanaan pemerintah untuk kepentingan rakyat,” imbuh Dahlan. Di masa mendatang IRB berupaya untuk membuat Dirjen layaknya CEO dalam suatu perusahaan sehingga memiliki integritas, kemampuan yang tinggi dan yang ada dibenaknya adalah kepentingan rakyat bukan kepentingan menterinya yang membawa kepentingan partai. ip
EDISI 407 OKTOBER 2008 WARTA BEA CUKAI

53

RUANG KESEHATAN

TETAP FIT DAN AKTIF
DI BULAN PUASA
Rukun Islam mensyaratkan umat Islam agar berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan. Sebagai muslim tentu kita akan berupaya untuk memenuhi kewajiban tersebut. Dan sebagai karyawan yang harus tetap bekerja di kantor dengan beban kerja yang relatif sama, maka kita dituntut untuk selalu fit dan aktif selama Ramadhan ini.

Anda Bertanya Anda Bertanya Dokter Menjawab Dokter Menjawab Dokter Menjawab
DIASUH OLEH PARA DOKTER DI KLINIK KANTOR PUSAT DJBC

menyebabkan rasa kantuk yang lebih berat dan hal ini jelas akan mempengaruhi efektifitas pekerjaan kita. Faktor lain yang juga turut mendukung vitalitas tubuh selama puasa adalah cara memilih dan mengolah makanan yang tidak menggunakan zat pengawet. Makanan segar akan banyak membantu tubuh agar tetap fit. Buah dan sayur dalam porsi yang banyak dan bervariasi, sangat dianjurkan.

JANGAN DIPENGARUHI OLEH RITME

P

Kendati ritme kantor berubah di bulan puasa, jangan mengubah kebiasaan, misalnya menunda pekerjaan dengan alasan bahwa pagi hari masih mengantuk oleh karena jam tidur berkurang akibat harus bangun makan sahur. Semakin adahal rasa ngantuk, lapar, haus dan lemas menjadi siang kita memulai pekerjaan, yang ada justru rasa lelah dan gejala yang sangat umum dialami pada orang yang lapar. Enam sampai tujuh jam setelah makan, rasa lapar sedang berpuasa. Apalagi jika teringat sabda Nabi akan mulai muncul. Jika kita baru mulai bekerja pada pukul 9 kita Muhammad saw “ tidur orang yang berpuasa pagi dan di saat yang sama rasa lapar mulai menyerang, pada saat Ramadhan termasuk ibadah “, rasanya sudah pasti malaspun meyergap. kita ingin segera pulang dan tidur siang di rumah. Tetapi tunSemakin siang, metabolisme tubuh semakin turun, mututan profesionalisme membuat kita bertahan di kantor dan tidak ada alasan untuk tidak menyelesaikan tulai lemas, lesu, makin lapar dan makin haus. gas dan pekerjaan. Jika kondisi ini mulai terasa, laksanakan shoBanyak cara bisa dilakukan agar kondisi balat dhuhur, yang kebetulan bertepatan waktudan kita tetap sehat dan segar selama berpuasa. wudhu BANYAK ORANG nya dengan saat istirahat. Air segar diyang kita Waktu dan frekwensi makan memang berubah usapkan akan membuat rasa tubuh dari tiga kali, pagi – siang – malam, menjadi ha- SALAH PERSEPSI kita. Bagaimana jika rasa kantuk sangat berat nya dua kali, dini hari dan malam hari. dan tidak tertahankan lagi ? Pejamkan mata TENTANG Perubahan ini pasti mempengaruhi nafsu makan dan upayakan tertidur selama 5 – 10 menit. kita tetapi satu hal yang harus diingat bahwa maDengan kualitas tidur yang baik, meskipun SUPLEMEN. kanan yang kita konsumsi harus tetap memenuhi hanya 5 – 10 menit mampu menghilangkan kanMEREKA syarat kesehatan, empat sehat lima sempurna tuk yang menyerang. sehingga semua zat yang dibutuhkan tubuh BERANGGAPAN tercukupi. Dengan memenuhi kebutuhan zat gizi PERLUKAH SUPLEMEN ? SUPLEMEN makro dan mikro, maka keluhan-keluhan nganSuplemen adalah makanan ( bukan obat lho! tuk, lemas, lapar, gemetar, keringat dingin, pu) yang mengandung zat gizi dan non gizi dalam MAMPU sing, dan lain-lain dapat diminimalisir. MENGGANTIKAN bentuk kapsul, tablet, bubuk, atau cairan yanggizi berfungsi sebagai pelengkap kekurangan zat yang dibutuhkan oleh tubuh guna menjaga MAKAN SECUKUPNYA MAKANAN Rasulullah tidak pernah makan hingga kePOKOK, DAN INI vitalitas tubuh agar tetap prima. Suplemen hanya makanan pelengkap dan bukan pengganti (subnyang. Beliau selalu berhenti sebelumnya untuk memberi ruang bagi air dan udara didalam lamJELAS KELIRU. stitusi) makanan sehari-hari. Banyak orang salah persepsi tentang suplebung. Dari contoh tersebut terlihat bahwa Rasul men. Mereka beranggapan suplemen mampu kita selalu makan secukupnya, sekedar untuk menggantikan makanan pokok, dan ini jelas kememenuhi kebutuhan tubuh agar dapat berfungsi liru. Sebagai makanan tambahan / pelengkap, tentunya harus dengan baik. Dia tidak pernah mengikuti hawa nafsu meski benar-benar dikonsumsi dalam kondisi dan indikasi yang makanan yang terhidang sangat menggugah selera. tepat, sesuai kondisi tubuh seseorang. Bila makanan yang Lambung manusia hanya berukuran sekepalan tangan, dapat kita makan sudah memenuhi prinsip empat sehat lima semdibayangkan betapa kita akan mendzaliminya jika makan sepurna, maka penambahan suplemen tentu tidak dianjurkan, cara berlebihan. Hipocrates, bapak kedokteran dunia mengakarena kebutuhan gizi sudah terpenuhi. Sebaliknya, jika takan makan makanan yang merugikan tetapi jumlahnya kecukupan zat gizi kita tidak terpenuhi, misalnya sedang sakit sedikit masih lebih baik daripada makan makanan sehat tapi atau nafsu makan turun, maka konsumsi suplemen patut diterlalu banyak. pertimbangkan. Mengapa harus secukupnya ? oleh karena organ pencerJangan tergiur iklan yang terlalu gencar di media cetak naan hanya mampu bekerja optimal selama 4 jam saja, jika maupun elektronik. Selama ini iklan suplemen di berbagai terlalu banyak makanan dalam lambung menimbulkan resiko media menderung mengajarkan hal yang salah. tidak semua makanan tersebut dicerna dengan baik, akibatDigambarkan bahwa suplemen adalah makanan pengganti nya terjadi pembusukan dan hal ini berdampak tidak baik dengan berbagai kandungan zat gizi yang dibutuhkan tubuh, bagi tubuh. Disamping itu, proses pencernaan memerlukan ini tidak benar, suplemen hanya pelengkap. Apalagi jika oksigen dalam jumlah yang cukup, maka selama proses itu disebutkan bahwa kalau tidak mengkonsumsi suplemen berlangsung, sebagian besar oksigen terkonsentrasi di organ tersebut, orang akan jatuh sakit. Jadi, harus pandai memilih pencernaan. Asupan oksigen di organ lainnya menjadi sedikit sesuai kebutuhan tubuh anda. Selamat berpuasa ! berkurang. Berkurangnya oksigen di otak menimbulkan keluhan mengantuk pada mata. Jadi, makan berlebihan akan dr. S . Anggapratiwi, MKes, Poliklinik Kantor Pusat DJBC

“ ”

54

WARTA BEA CUKAI

EDISI 407 OKTOBER 2008

RUANG INTERAKSI
Oleh: Ratna Sugeng

DENDAM

DALAM KEHIDUPAN YANG INDAH
ada anarki meski beda pendapat. Indah sekali bila orang tersenyum satu sama lain, menyapa dalam ketulusan, membantu yang tak berdaya dengan ikhlas. Dendam tak hanya tampil dalam bentuk kekerasan fisik, kekerasan seksual ataupun kekerasan verbal, tetapi juga tampil dalam berbagai bentuk pemilihan filosofi hidup, cita-cita, dan perilaku sehari-hari. Dendam ternyata dapat dikonversi menjadi pikiran, perasaan, dan perilaku positif.

MANUSIA DAN PENGALAMAN HIDUPNYA
Manusia lahir membawa bakat-bakat dan ciri-ciri khusus yang lekat pada kromosomnya. Artinya, ia mendapat tanda genetik yang diturunkan dari orangtua kandungnya atau disebut juga orangtua biologisnya. Bakat dan ciri ini berkembang terangsang oleh bentuk interaksi individu selama menjalani kehidupan. Rangsangan pertama datang dari interaksi orangtua yang mengasuhnya, yang tak selalu orangtua biologis. Tokoh-tokoh psikologi perkembangan mengatakan, kontak pola asuh INDAH SEKALI bila orang tersenyum satu sama lain, menyapa dalam ketulusan berinteraksi dengan ciri dan bakat sangat intens sejak bayi baru lahir sampai balita. Balita (bawah lima tahun) merupakan kesempatan Jika seseorang dibesarkan dengan emas pembentukan fondasi kepribadian seorang manusia. cara menyenangkan, ia akan membuat Fondasi kepribadian adalah landasan bertumbuhnya kepersepsi menyenangkan pribadian yang kemudian dibangun oleh cara diri bersikap atas dunia dan orang sekitarnya dan berperilaku di masyarakatnya. Dimulai dari interaksi orang-orang di rumah, kehidupan bertetangga, teman-teman dan guru di sekolah, sepanjang jalan tempatnya bermain atau emasuki bulan Ramadhan orang-orang yang berberkontak dengan orang-orang lain, dewasa maupun kanakiman mempunyai kewajiban berpuasa, kanak . sebagaimana diwajibkan pada orang-orang di era Anak yang cengeng atau memiliki hal yang tidak sesuai sebelumnya Dalam puasa dimaksudkan mengodengan pertumbuhan anak pada umumnya, seperti cepat songkan diri dari segenap dendam, purbasangka, marah, akan banyak diganggu keusilan, geregetan, bahkan iri, dengki dan semua hal yang merusak diri secara mental kekerasan dari ringan sampai berat. Anak yang lucu akan emosional serta fisik. mengundang banyak canda dan interaksinya lebih banyak Penelitian kedokteran di banyak negara dan sumber memmenyenangkan. Anak yang kurang beruntung, misalnya anak buktikan dendam yang tersimpan dalam diri memunculkan laki keperempuanan atau sebaliknya, lebih banyak diolokgejalanya melalui beberapa penyakit fisik dan gangguan olok, diejek, suatu kekerasan verbal atau mungkin reaksi kesehatan jiwa. Gangguan kesehatan jiwa misalnya, anak akan menimbulkan kekerasan seksual. Beranjak dewagangguan tidur, gangguan cemas, reaksi panik, depresi dan sa makin berinteraksi dengan lingkungan atas dasar pengamasih banyak lagi. Sementara gangguan fisik menjelma lamannya. menjadi penyakit fisik yang bersumber pada suasana mental Setiap orangtua menginginkan pertumbuhan dan perkememosional seperti kambuhnya sakit maag, asma, darah bangan anaknya optimal. Ciri dan bakat tertentu adalah tinggi, kelelahan, nyeri otot meski tidak bekerja dengan otot, anugerah yang sudah lekat dengan diri. Orangtua berkewadsb. jiban memberi asuhan yang mengembangkan ciri dan bakat Di Jakarta kita temui banyak spanduk atau banner bertuke arah positif dengan tulus tanpa banyak kejengkelan dan liskan “Damai Itu Indah”. Bayangkan kehidupan damai dimadendam masa lalu orangtua sendiri atau dendam akibat na tak ada dendam, syak wasangka, sakit hati yang hubungan tak harmonis dengan pasangan atau keluarga. berakibat pembunuhan diri dan pembunuhan orang lain, tak
EDISI 407 OKTOBER 2008 WARTA BEA CUKAI

M

55

RUANG INTERAKSI
Jika seseorang dibesarkan dengan cara menyenangkan, ia akan membuat persepsi menyenangkan atas dunia dan orang sekitarnya, suatu daya tahan mental yang siap bertahan atas banyak tantangan hidup. dari modelling perilaku dan sikap orang yang mengasuh anak. Sebagai contoh, seorang ayah melarang anaknya merokok, namun sebenarnya ia mengajari anaknya merokok. Setiap kali rokoknya habis, ia menugaskan anaknya membeli rokok dan ia merokok didepan anaknya. Maka tidaklah pelak, anaknya menjadikan model dirinya untuk merokok.

DENDAM POSITIF

Masih berkisar pada tayangan televisi yang diMENGARAHKAN DENDAM MENJADI warnai cerita pembunuhan oleh mereka yang Mengingat dendam negatif begitu merugikan PIKIRAN, tertangkap aparat keamanan. Seorang terpidana secara lahiriah maupun batiniah, fisik maupun mati di wilayah Banyumas dikatakan mudah tersingmental, PERASAAN, bantu : maka tips dibawah ini mungkin dapat memgung, dendam yang amat kuat untuk menghabisi orang lain sampai seorang teman satu selnya pun DAN dibunuh. Nampaknya dendamnya diarahkan ke arah Jika panca PERILAKU 1. utama mataindera kita menangkap sesuatu termengakhiri kehidupan orang lain karena dan telinga, dan kita tersinggung kemarahannya yang dahsyat akibat dendam yang olehnya, tanyakan pada diri sendiri perasaan POSITIF tidak dapat dipadamkan dan tidak dialihkan pada apa yang ada pada diri kita atas rangsangan cara menghadapi tantangan secara lebih dapat ditepenglihatan atau pendengaran tadi. Rasa marah, rima masyarakat. iri, benci, tersaingi dan seterusnya. Nilailah seDendam negatif juga dilampiaskan seorang ibu tiri dengan cara jujur, karena hanya anda yang tahu. 2. Pikirkan apa yang anda akan lakukan untuk melampiasmengakhiri kematian anak suaminya di suatu wilayah di Jakannya. Mencela, marah, melakukan aktivitas kekerasan wa Tengah. Dendam juga ditumpahkan seorang teman kerja fisik atau kata-kata ? yang mati-matian menghambat laju karir teman lainnya di3. Timbang untung ruginya tindakan yang akan anda lampitempat saya pernah bekerja. askan. Lega dihati namun berurusan dengan hukum masyarakat? MENGALIHKAN DENDAM 4. Timbang untung-ruginya jika tidak dilampiaskan. TerhamSetiap orang pernah sakit hati, dan bertekad membalasbat energi dendam keluar dan hati makin sakit ? Energi kan dendamnya dengan berbagai cara dan kemampuan serta dendam membakar dan menimbulkan nyeri dada, lamkeberaniannya. Energi dendam ini oleh Freud disebut bung, sesak nafas ? sebagai menghancurkan atau menumbuhkan kehidupan. Pe5. Jika butir 3 dan 4 tetap merugikan dampaknya bagi milihan ke arah menumbuhkan atau mematikan terletak pada masa depan anda, pikirkan memodifikasi dendam danurani dan bakat. Bakat sulit digantikan namun dapat diarahlam bentuk memilih aktivitas yang membuat anda kan. menonjol, yang membuat anda sukses. Dendam negaSeorang dengan bakat aggresivitas kuat, ada keingintif diarahkan menjadi hal yang positif. Tersenyumlah an menjagal, dapat dialihkan melalui pengasuhan, pendidan bertekadlah untuk memiliki kelebihan di bidang dikan, dan tuntunan menjadi dokter bedah misalnya. Seyang anda minati orang dengan aggresivitas kuat ingin mengalahkan orang 6. Kesuksesan anda adalah perujudan kemenangan melalain melalui perdebatan, dapat diarahkan untuk menjadi wan dendam. seorang pengacara, politikus, sutradara film horor, penulis novel kriminal. Mereka dengan kekuatan besar melawan dengan ototnya dapat diarahkan menjadi petinju SIMPULAN dan olahraga lainnya. Ajaran mengosongkan diri dari dendam negatif, memNurani dapat dibangun melalui contoh model perilaku bawa manusia kembali pada kejadiannya yang fitri. Puasa orangtua pengasuh. Orangtua dapat membentuk anak, membawa kita pada perubahan berpikir cerdas, bertindak sebab ia sehari-hari ditiru gerak-geriknya oleh anak. Mestepat, menuju kemajuan. ki ia mengajarkan hal positif bila gerak-geriknya ke arah Selamat Idul Fitri. negatif maka anak dapat meniru negatifnya. Nurani tak Ratna Sugeng adalah seorang Psikiater, dibentuk dari ajaran nasehat saja, ia lebih banyak diambil pertanyaan ataupun konsultasi bisa melalui ratwika@yahoo.com

DENDAM NEGATIF

Menyaksikan tayangan Kick Andy, 7 Agustus 2008, kita akan lihat dendam dialihkan ke arah positif. Dua orang ibu DENDAM MERUGIKAN kakak beradik tidak disekolahkan orangtuanya, dan diminta orangtuanya untuk bekerja membantu ekonomi keluarga seDendam dapat merugikan untuk jangka panjang seperti lepas mereka dari SR (sekarang disebut SD). Dendam tidak apa yang dialami oleh teman-teman saya sebagai berikut : disekolahkan, membuat ibu bakul jamu tradisional yang sehari-hari berkeliling bersepeda di Jakarta, bertekad bulat Seorang dalam posisi jabatan cukup baik sebagai direktur menyekolahkan anaknya setingi-tingginya. Dua orang salah satu institusi, sebut saja Bapak Amat, begitu marahnya anaknya lulus S2, seorang diantaranya sekolah di salah satu pada seorang direktur dari institusi lainnya, sebut saja Ibu universitas di Jepang. Bukan hanya dua ibu ini, dalam Lika, atas urusan pekerjaan. Kemarahannya meledak-ledak tayangan tersebut beberapa keluarga sederhana, tukang jual diluar arena pertemuan dan dendamnya sangat besar pada air keliling dan tukang bakso, mampu memberikan pendidikibu Lika. Peristiwa ini terjadi beberapa tahun lalu. Kemudian an sarjana bagi anak-anaknya. karir Ibu Lika meningkat dan dipindahkan menjadi atasan Meski para orangtua ini marah tidak diberi pendidikan seBapak Amat. Dapat anda bayangkan apa perasaan Bapak kolah yang cukup, nampaknya mereka dibesarkan dalam Amat, meski Ibu Lika tidak pernah menunjukkan sikap persuasana kerja keras bersama dalam pengertian berupaya musuhan. Bapak Amat kemudian berhenti dari pekerjaannya. menggapai sukses dengan penuh pengertian dari kedua orangtua yang membesarkannya. Karena itu Teman saya sangat membenci seorang kawan yang dendam mereka dimodifikasi melalui pengalaman kita beri nama Badu. Begitu bencinya sehingga sepanjang hidupnya sehingga tampillah dalam benmenyapapun ia tak sudi. Seiring berjalannya waktu, DENDAM tuk mendorong dan mengupayakan generasi teman saya menjadi kerepotan ketika anaknya jatuh TERNYATA cinta dan minta dilamarkan anak Bapak Badu. Luar berikutnya menjadi lebih berpendidikan jauh daripada orangtua asalnya. biasa, iapun mengusir anaknya dan tak pernah meDAPAT restui pernikahan anaknya sampai beranak pinak.

“ ”

DIKONVERSI

56

WARTA BEA CUKAI

EDISI 407 OKTOBER 2008

PERISTIWA
FOTO-FOTO WBC/ADI

RANTING KHUSUS. Setelah Armed TNI AD menjadi ranting khusus Inkado, kini Infantri TNI AD bergabung dengan Inkado dan menjadi ranting khusus yang kedua di Pulau Jawa.

INKADO JAWA BARAT

P

Indonesia Karate-Do (Inkado) korda Jawa Barat (Jabar) mengadakan seleksi untuk para atletnya dengan mengadakan Kejuaraan Daerah (Kejurda).

GELAR KEJURDA

SELEKSI. Untuk mempertahankan gelar juara umum, Inkado korda Jabar mengadakan seleksi dengan ketat melalui kejurda.

ersiapan sebagai tuan rumah pada Kejurda Inkado wilayah barat tahun 2009, sejak kini telah dilaksanakan oleh korda Jabar, khususnya persiapan para atlet yang akan mewakili korda Jabar. Salah satu persiapan yang dilakukan adalah dengan mengadakan kejurda Inkado Jabar yang berlangsung pada 24 Agustus 2008, di Aula Ateleri Medan (ARMED) TNI AD, Bekasi Jabar. Kejurda yang diikuti oleh 250 atlet dari 12 ranting yang tergabung dalam korda Jabar, mempertandingkan seluruh kelas mulai dari kelas pra-pemula hingga kelas senior, baik kata, kadet maupun komite. Kejurda yang berlangsung selama satu hari ini, dibuka oleh Ketua Dewan Guru Inkado, GA. Pesik. Menurut Ketua Inkado Korda Jabar, Agustinus Djoko P, yang juga sebagai Kepala Seksi Penindakan dan Penyidikan (P2) Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Belawan, Kejurda ini merupakan seleksi tahap awal untuk kejurwil, sedangkan seleksi tahap keduanya akan dilaksanakan pada awal tahun depan dengan bentuk kejurda juga. “Inkado Korda Jabar tahun 2009 mendapat kehormatan sebagai tuan rumah pada event Kejurwil Barat Inkado. Dan, Jabar selama dua kali Kejurwil keluar sebagai juara umum. Untuk itu, kami berupaya mempertahankan gelar tersebut dengan menurunkan atlet-atlet terbaik kami yang merupakan hasil dari seleksi kejurda ini,” papar Agustinus. Dari hasil kejurda Inkado korda Jabar tersebut, keluar sebagai juara umum adalah ranting Depok dengan memperoleh 5 medali emas, 3 perak, dan 5 perunggu. Disusul kemudian ranting Pondok Gede dengan 4 emas, 3 perak, dan 4 perunggu. Dan pada posisi ketiga diraih oleh ranting GKN Bandung dengan 3 emas, 5 perak, dan 1 perunggu.

“Kalau dilihat dari jalannya pertandingan baik pemula maupun senior, mereka memang masih memerlukan latihan yang cukup banyak lagi, namun saya menilai saat ini mereka sudah menyumbangkan kemampuannya semaksimal mungkin, dan nanti sebelum kejurwil dimulai, kami akan mempertajam lagi kemampuan mereka,” ujar Agustinus.

RANTING KHUSUS
Sementara itu pada 31 Agustus 2008, Pengurus Besar Inkado mengadakan latihan bersama antara korda DKI Jaya dengan korda Jabar, sekaligus meresmikan ranting Infantri TNI AD sebagai ranting khusus. Acara yang berlangsung di lapangan Infantri TNI AD Bumi Serpong Damai, Banten, dihadiri oleh Ketua Umum Inkado, Yoris, Ketua Dewan Guru Inkado, GA. Pesik, Ketua Bidang Pembinaan Inkado/Ketua Korda DKI, Maman Anurachman, yang juga sebagai Kasubdit Intelijen Direktorat P2 DJBC, Ketua korda Jabar, Agustinus Djoko P, dan beberapa anggota dewan guru dan pengurus Inkado lainnya. Menurut Maman Anurachman, ranting khusus ini merupakan ranting kedua TNI AD untuk Pulau Jawa setelah ranting Armed di Bekasi. Dengan ranting khusus Infantri ini, diharapkan pembinaan Inkado akan semakin baik lagi, dan dapat melahirkan atlet-atlet karate dari TNI AD. “Saat ini jumlah anggota Inkado seluruh Indonesia sudah mencapai 3 juta anggota, dengan jumlah itu Inkado berharap dapat melahirkan atlet-atlet nasional yang mampu bertanding baik pada event nasional maupun event internasional. Dan, untuk membuktikan itu, saat ini kami sedang konsentrasi untuk persiapan event Kasad Cup yang akan berlangsung di Jakarta, dan kami berencana menurunkan sebanyak 20 atlet terbaik kami,” kata Maman Anurachman. adi
EDISI 407 OKTOBER 2008 WARTA BEA CUKAI

57

RENUNGAN ROHANI

HIKMAH DIBALIK SILAT

P

“Barang siapa suka silaturahim maka akan diluaskan rizkinya dan dipanjangkan sebutan baiknya, maka hendaklah ia menghubungi kerabatnya (rahimnya)”. (HR Bukhari).

ada sepuluh pertama bulan suci Ramadhan digambarkan dengan hari-hari yang penuh rahmat. Puluhan keduanya digambarkan hari-hari yang penuh dengan ampunan (maghfirah) dan puluhan ketiga terakhir, sebagai hari-hari yang akan melepaskan orang yang puasa dari azab api neraka. Oleh karena ini, mari kita bersyukur kepada Allah terhadap segala rahamt-Nya itu, dengan puasa yang lebih berkualitas, sehingga kita semua mendapatkan janji-janji Allah yang Maha Besar itu.

ARTI SILATURAHIM
Silaturahim artinya menyambung (tali) rahim, atau tali kasih sayang, diantara kita para hamba Allah. Tampaknya kasih sayang itu berawal dari Allah. Firman Allah dalam hadits Qudsi menyatakan : “Akulah Allah, Akulah rahman, Aku ciptakan rahim itu dan Aku ambil ia dari nama-Ku. Maka barang siapa menghubunginya, pastilah Aku akan menghubunginya. Dan barang siapa memutuskan perhubungan dengan Ku niscaya Allah akan memutuskan hubungan dengan dirinya”. (HR. Bukhari Muslim). Ketika kita saling menjalin hubungan baik antara satu dengan lainnya, maka lahirlah rasa kasih sayang, keinginan saling membantu, serta saling sesama. Apalagi jika itu dilakukan semata-mata karena kerelaan (ridha) Allah semata, maka Allah akan memberikan rahmat kepada mereka, lebih banyak dari kebaikan yang diberikan oleh mereka terhadap sesamanya.

yang kepada kepada kerabat dan saudara kita. Dengan demikian, hidup kita penuh kasih dan sayang. Itulah tanda-tanda orang-orang yang beriman. Jika setiap muslim mencintai saudaranya yang seagama, maka kasih sayang Allah akan memancar di tengah-tengah umat ini. Sebaliknya, jika yang terwujud adalah kebencian dan permusuhan, tentulah kehidupan kita dipenuhi dengan kesulitan, tantangan dan hambatan-hambatan. Itulah yang digambarkan Allah dalam al-Quran sebagai kehidupan yang terkutuk. Firman Allah SWT menyatakan : “Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dengan mengadakan kerusakan di bumi. Orangorang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk”. (QS. 13:25). Secara garis besar, umat ini akan mengalami kesulitan yang disebabkan oleh menjauhkan diri dari ajaran Allah. Rahmat Allah itu turun kepada hamba-Nya yang patuh. Sebaliknya kutukan Allah turun kepada mereka yang menentangNya, termasuk mengabaikan hubungan silaturahim. Silaturahim sering dipahami sebagai usaha seseorang untuk berbuat kebajikan terhadap kerabat atau keluarga, baik dalam bentuk memenuhi hajat dan keperluan mereka, maupun dalam menghadapi berbagai kejahatan yang menimpa kaum kerabat tersebut.

APLIKASI SILATURAHIM DALAM MASYARAKAT
Sesungguhnya, rasa kasih sayang itu sudah ditanam oleh Allah dalam dada setiap insan. Seperti kasih sayang seorang ibu terhadap anakanak yang dilahirkannya. Bahkan kasih sayang seekor induk terhadap anak-anaknya juga tercurah pada anak-anak mereka. Maka ketika seseorang mencintai kerabat dan saudaranya, maka kecintaan itu tidaklah lahir karena direkayasa atau karena kepura-puraan. Kita akan memandang aneh jika ada orang yang membenci orang tua atau saudara-saudaranya sendiri, kecuali ada hal-hal tertentu yang luar biasa telah terjadi diantara mereka. Kasih sayang kepada keluarga, kerabat atau famili merupakan kewajiban yang harus diwujudkan oleh setiap orang beriman. Mereka yang lebih dekat kepada kita lebih besar haknya dari yang jauh. Baik yang menyangkut dengan kewajiban memberi nafkah atau memperhatikan hal-ihwalnya, maupun dalam hal memaafkan kesalahankesalahan mereka. Memutuskan silaturahim dengan mereka dapat membawa akibat kepada kemurkaan Allah.

SILATURAHIM SEBAGAI TANDA KEIMANAN
Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, hendaklah ia memuliakan tamunya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari kemudian hendaklah ia menghubungi silaturahim. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, hendaklah ia berkata yang baik atau berdiam diri saja”. (HR. Bukhari Muslim). Mengingat tali persaudaraan itu bagian dari iman dan mungkin karena kasih sayang itu berawal dari nama dan sifat Allah, maka Allah sayang kepada kita, sehingga kitapun sa58
WARTA BEA CUKAI EDISI 407 OKTOBER 2008

INFO PERATURAN

TURAHIM
Dalam hubungannya dengan kerabat, Nabi SAW bersabda :” Rahim itu kayu yang rimbun, barangsiapa menghubunginya Akupun akan menghubunginya. Barang siapa yang memutuskannya, Akupun akan memutuskannya”. Dalam hadits ini kelihatannya kasih sayang di antara anggota keluarga, terutama di antara mereka yang mampu dan mereka yang kurang mampu. Hal ini diumpamakan bagaikan tempat berteduh di sebuah pohon yang rimbun. Yang kaya dapat membantu yang miskin, dengan harta bendanya. Ini bagaikan pohon yang memberikan kerimbunan untuk tempat berteduh. Sebaliknya yang miskin dapat menolong mereka yang kaya dengan kasih sayang mereka. Ini bagaikan pohon yang dipelihara dan dijaga oleh mereka yang berlindung di bawahnya, agar tidak ditebang orang atau dirusakkan kerimbunannya. Begitu besarnya hak kerabat kepada kita, sehingga dapat digambarkan dalam hadits berikut : “Allah tidak menerima amalan sedekah seseorang, jika yang bersangkutan mempunyai kerabat yang lebih membutuhkan bantuan sedekahnya itu. Demi Allah yang nyawaku ada dalam genggamannya, sungguh Allah tidak akan meliha mereka pada hari kiamat”. (HR.al-Daruquthni). Dalam hidup ini kita harus memilih mana yang perlu dan wajib dan mana yang tidak wajib. Misalnya, kita lebih mendahulukan membantu saudara yang sakit di pembaringannya daripada memberi hidayah kepada seseorang yang lain karena prestasinya. Jika setiap orang kaya dan mampu memperhatikan kerabatnya masing-masing maka akan banyak orang miskin yang terlepas dari kesengsaraan hidup ini. Demikian juga jika setiap orang miskin merasa cukup dengan apa yang dianugerahkan Allah kepada mereka, maka kejahatan manusia yang tidak puas dngan apa yang dimilikinya akan berkurang. Bukankah sebagian besar dari koruptor itu didasari oleh sikpa dan rasa tidak cukup dengan gaji dan pendapatannya yang diperoleh secara halal. Dalam hadits lain Nabi menyatakan bahwa orang yang menghubungi silaturahim akan dilimpahkan riski kepadanya dan dipanjangkan sebutannya (nama akan harum). Oleh karenanya, Nabi meminta agar kita mempererat tali silaturahim. “Barang siapa suka silaturahim maka akan diluaskan riszkinya dan dipanjangkan sebutan baiknya, maka hendaklah ia menghubungi kerabatnya (rahimnya)”. (HR Bukhari). Kasih sayang itu tidak hanya kepada kerabat dekat yang mempunyai hubungan darah dan keluarga semata, tetapi juga kepada semua kaum muslimin. Bahkan, terhadap seluruh umat manusia yang bukan muslim sekalipun kita harus bersilaturahim. Sebab mencintai sesama makhluk Allah dalam bentuk kasih sayang merupakan bahagian dari keimanan. “Tiada sekali-kali kamu beriman hingga kamu saling mengasihi. Para sahabat menjawab : Ya Rasulullah semua kami rahim penuh kasih sayang”. Nabi menjawab “Yang saya kehendaki adalah, bukan kasih saying kamu kepada sahabatnya, tetapi yang saya kehendaki adalah kasih sayang kamu kepada manusia pada umumnya”. Demikianlah, sekelumit ajaran Allah tentang silaturahim yang diajarkan Allah kepada Nabi-Nya Muhammad SAW yang kemudian kita menerimanya dari para guru dan pendidik. Semoga Allah mengizinkan kita memasuki kehidupan Islam secara lebih mantap. Selamat Hari Raya Idhul Fitri 1429 Hijriah, Minal Aidzin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Bathin.

DR. H. Mukhtar Aziz, MA. Titian Dakwah
EDISI 407 OKTOBER 2008 WARTA BEA CUKAI

59

P R O F I L
UNTUNG BASUKI, SE
KEPALA BAGIAN KEUANGAN KANTOR PUSAT DJBC
manya juga baru lulus, lalu ada teman yang mengajak saya ke Jakarta untuk coba-coba daftar ke STAN-Prodip Keuangan. Berangkatlah kami, waktu itu empat orang termasuk saya mendaftarkan diri untuk tes masuk STAN-Prodip Keuangan di jalan Purnawarman, Kebayoran Baru. Jadi tidak jauh dari Blok S rumah tempat kami menumpang.” Setelah segala persyaratan terpenuhi, tibalah waktu untuk melaksanakan tes penerimaan mahasiswa baru STAN-Prodip Keuangan. Tes ketika itu dilaksanakan di Stadion Utama Senayan. Melihat antusias para peserta yang memadati kursi stadion, timbul perasaan gamang dan tidak yakin kalau dirinya akan diterima di STAN-Prodip Keuangan mengingat begitu ketatnya persaingan. Begitu juga yang dirasakan oleh ketiga temannya yang sama-sama berangkat dari Purwokerto. Beberapa waktu kemudian tibalah pengumuman hasil saringan penerimaan mahasiswa STAN-Prodip Keuangan. Antara percaya dan tidak percaya, diantara keempat rombongan dari Purwokerto itu hanya Untung yang diterima di STAN-Prodip Keuangan. “Saya yang justru semula mendaftar ke STAN-Prodip Keuangan karena ajakan teman saya dan hanya ikut-ikutan saja malah keterima, Alhamdulillah akhirnya saya masuk STANProdip Keuangan dan masuk ikatan dinas,” kenang Untung. Diterima sebagai mahasiswa ikatan dinas di STAN-Prodip Keuangan merupakan anugerah tidak terkira bagi Untung yang diberikan oleh Allah, dan anugerah itu baginya merupakan suatu amanah yang harus dijaga dan dijalankan dengan penuh tanggung jawab. “Artinya kalau saya meraih sarjana tidak cukup hanya sekedar lulus ujian dan membuat skripsi, tetapi kelulusannya haruslah dengan proses belajar yang benar. Di sinilah, amanah menuntut kesejatian, bukan hanya esensinya tetapi juga prosedurnya,” ujar Untung yang menyukai berbagai jenis bacaan, terutama bertema memotivasi diri. Sebagai anak perantauan tentunya perjuangannya tidak selalu mulus. Sempat tinggal di rumah keluarga kakak iparnya dan bermodal kiriman dari orang tua sebesar Rp. 30 ribu sebulan,Untung menjalani hari-harinya sebagai mahasiswa yang serius dalam menimba ilmu. Ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan sekalipun dengan segala keterbatasan terutama untuk biaya hidup. Setelah memasuki semester dua, ia pun mendapat uang saku dari tempatnya berkuliah, maka hidup mandiri mulai ia jalani yaitu dengan mengontrak sebuah rumah yang dekat dengan kampus. Dengan bekal tekad yang tinggi dan komitmen yang kuat untuk tetap memberikan yang terbaik dan tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya, Untung akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikan, tepatnya pada tahun 1992 ia lulus dari Prodip III Keuangan Spesialisasi Bea dan Cukai Angkatan V.

MENJALANKAN AMANAH DENGAN TANGGUNG JAWAB

U

Baginya setiap pekerjaan pasti ada risikonya, apapun itu, bahkan sekecil apapun, namun sebuah pekerjaan adalah amanah yang memang semestinya dilakukan dengan suka hati.

ntung Basuki yang lahir di Purwokerto, Jawa Tengah pada 28 Mei 1970 merupakan anak ke-6 dari tujuh bersaudara pasangan Muslim dan Sri Hardijati. Mengaku menghabiskan masa kecil hingga beranjak dewasa di kota kelahirannya, menjadikan ia sebagai sosok yang sederhana. Makanya, ketika WBC ingin mewawancarai untuk profil, ia merasa tidak ada hal khusus yang bisa diceritakan. Ia menjalani masa kecil layaknya anak-anak seusianya yang jika pulang sekolah lalu bermain dengan teman sebayanya sama seperti yang dialami anak-anak lainnya ketika itu. “Saya enggak neko-neko karena merasa anak pegawai negeri, apalagi kami keluarga besar, jadi bagaimana saya bisa menjalankan tugas sebagai anak yang tidak mau mengecewakan dan bikin susah orang tua saya,” ujarnya mengawali pembicaraan. Ayahnya yang berprofesi sebagai guru dan kemudian menjadi penilik sekolah berpedoman bahwa pendidikan adalah bekal utama bagi ketujuh anaknya. Sang ayah membebaskan ketujuh anaknya untuk memilih sekolah sesuai dengan minat dan bakatnya masing-masing, asalkan ketujuh anaknya bisa bersekolah di sekolah negeri. Begitupun ketika Untung, demikian panggilannya, memilih untuk merantau ke Jakarta selepas SMA, kedua orang tuanya mendukung segala keinginan anaknya selama hal itu dirasa untuk kebaikan dan masa depan anaknya. Untung, yang baru saja menamatkan pendidikan di SMA Negeri 2 Purwokerto, berpikiran praktis saja, bahwa orang tuanya, terutama ayahnya sang kepala keluarga usianya sudah semakin tua meski ketika Untung lulus SMA, ayahnya belum pensiun. Namun Untung lebih tertarik untuk melanjutkan kuliah yang memiliki program ikatan dinas dengan tujuan tidak ingin membebani kedua orang tuanya dalam hal biaya kuliah. “Lulus SMA pikiran saya praktis saja, saya berpikir orang tua sudah tua, makanya saya memilih untuk masuk ikatan dinas saja. Saya masuk program diploma di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) Prodip Keuangan Spesialisasi Bea dan Cukai,” ujar Untung. Menceritakan kembali menjelang keberangkatannya ke Jakarta tahun 1989 untuk coba peruntungan melalui tes ikatan dinas, Untung mengaku kalau ia hanya diajak kawannya yang memiliki kerabat yang tinggal di Jakarta tepatnya di Blok S Jakarta Selatan. “Sebelumnya saya sama sekali belum berpikiran akan meneruskan pendidikan kemana, naWARTA BEA CUKAI EDISI 407 OKTOBER 2008

MENJADI PNS
Lulus kuliah praktis ia akan mengabdi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang siap ditempatkan dimana saja sesuai dengan janji dan sumpah pegawai negeri sipil. Dan sesuai dengan pendidikan ikatan dinas Untung mendapat penempatan pertamanya di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) pada Direktorat Pabean sebagai pelaksana dimana ketika itu TL Yousuf menjabat sebagai Direktur Pabean hingga tahun 1998. Pada tahun inilah ia mengikuti pendidikan ekstension untuk S1-nya di Universitas Indonesia (UI) yang diselesaikannya pada tahun 1997. “Tahun 1997 tepatnya bulan April saya diwisuda, sebelum bulan Oktober langsung ada Diklat Penyesuaian Ijasah (DPI) saya pun langsung mendapat pangkat III/a per 1 Oktober 2007 barangkali itu salah satu keberuntungan saya, “ imbuh Untung yang juga pernah terlibat dalam tim pembuatan Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI). Tahun 1998 ia dipindahkan sebagai pelaksana pada Direktorat Fasilitas Kepabeanan hingga tahun 1998. Lalu pada tahun 1999, Untung dipindahkan ke Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Bandar Lampung sebagai Kepala Subseksi

60

EDISI 407 OKTOBER 2008

WARTA BEA CUKAI

61

P R O F I L
dalam bidang tersebut tetapi belum tentu untuk bidang yang lain. Makanya kalau kita mempelajari berbagai bidang justru akan menambah wawasan kita. Semua saya pikir ada manfaatnya, sekecil apapun pekerjaan itu,” imbuh Untung yang terhitung mulai 1 Agustus 2008 menjabat sebagai Kepala Bagian Keuangan pada Sekretariat DJBC.

MENJALANKAN TUGAS SEBAGAI AMANAH
Bagi Untung, sebuah pekerjaan takkan berarti banyak bagi kita kalau hanya sekedar sebagai mengisi waktu atau hanya sekedar aktifitas penunggu waktu gajian. Pekerjaan adalah langkah awal untuk berpikir lebih dewasa, karena kita akan bersentuhan dengan banyak orang untuk menyelesaikannya. “Rasa sosial, empati, kejujuran akan selalu dituntut dari kita. Dan hanya diri kita sendiri yang bisa memutuskan, apa langkah yang terbaik untuk pekerjaan kita. Karena pekerjaan adalah amanah maka sebaiknya kita mencintai setiap pekerjaan kita dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya.” Begitu juga jabatan, merupakan sebuah amanah yang harus dipegang teguh. Dengan didasari keikhlasan dan tanggung jawab, semua pekerjaan pasti bisa dinikmati dan ada hikmahnya. Terkait dengan amanah dan pekerjaannya tersebut, Untung mengaku tidak lepas dari bantuan dan kerja sama dengan teman kerjanya. Kendati pekerjaannya cukup padat dan menyita waktu, Untung berusaha membagi waktu antara kepentingan keluarga dengan pekerjaannya. Sebab itu, di saat hari libur Sabtu-Minggu, ia berusaha menghabiskan waktu bersama keluarga apakah itu menghabiskan waktu libur dengan berjalan-jalan atau mengunjungi toko buku. Kecuali kalau ada pekerjaan yang mendesak untuk diselesaikan, hari libur pun terpaksa dihabiskan untuk kesibukan kerja. Untung menikah pada tahun 1999 dengan Alfita Yustrianingtyas gadis kelahiran Jember yang tinggal di Solo, Jawa Tengah. Pertemuannya dengan Alfita, demikian panggilannya, terjadi ketika Alfita yang seorang mahasiswi jurusan Komunikasi dari Universitas Negeri Sebelas Maret, sedang melakukan praktek kerja di sebuah harian di Jakarta. Pertemuan Untung dan Alfita kemudian berlanjut sampai ke pelaminan dan kini mereka telah dikaruniai sepasang anak, M Alif Wijdani (8) yang kini duduk di kelas tiga sekolah dasar dan Syafiqa Nuraini (5) yang sudah duduk di bangku TK-B.
FOTO-FOTO DOK. PRIBADI

BERSAMA KELUARGA. Dari pernikahanUntung Basuki-Alfita Yustrianingtyas, mereka telah dikaruniai sepasang anak, M Alif Wijdani (8) dan Syafiqa Nuraini (5).

Kepabeanan IV dan pada tahun 2000 sebagai Kepala Subseksi Hanggar I masih di kantor yang sama hingga tahun 2002. Dari Bandar Lampung tepatnya tahun 2002, Untung mendapat promosi eselon IV sebagai Kepala Subbagian Pembakuan Prestasi dan Sarana Kerja pada Bagian Organisasi dan Tatalaksana Sekretariat DJBC. Tahun 2003 tepatnya di bulan Desember ia mendapat penempatan sebagai Pejabat Fungsional Pemeriksa Dokumen (PFPD) di Tanjung Priok. Tahun 2005, ditugaskan ke Makassar, sebagai Kepala Subbagian Kepegawaian Kanwil DJBC Makassar. Januari tahun 2007 mendapat promosi eselon III sebagai Kepala Bidang Kepabeanan dan Cukai di Kanwil DJBC Jawa Timur II yang berkedudukan di Malang. Tak lama kemudian pada Juni 2007, ditugaskan kembali ke Makassar sebagai Kepala Bidang Penindakan dan Penyidikan Kanwil DJBC Sulawesi. Meski belum pernah berkecimpung di bidang P2 tetapi Untung menjalankan tugas itu sebagai amanah dengan sebaik-baiknya, begitupun sewaktu ditugaskan di Kanwil Jawa Timur II, ia lebih banyak berkecimpung di bidang cukai. Dari perjalanan karirnya sebagai pegawai Bea dan Cukai terlihat bahwa Untung telah mengalami penempatan dibeberapa tempat khususnya di luar Jakarta. Tentunya banyak pengalaman yang bisa ia ceritakan, namun ketika WBC mewawancarainya ia lebih suka menceritakan tentang prinsip dalam bekerja dan filosofinya dalam menjalani hidup. “Prinsipnya saya banyak belajar, cari peraturannya. Kalau saya hanya stuck pada satu bidang bisa jadi kita capable 62
WARTA BEA CUKAI EDISI 407 OKTOBER 2008

KETIKA MENGIKUTI OUTBOUND LEADERSHIPTRAINING, di Kopeng Jawa Tengah, April 2008 lalu.

Disetiap penempatan tugas terutama di luar Jakarta, Untung selalu memboyong keluarganya. Hal itu dilakukannya semata-mata karena Untung selalu ingin melihat perkembangan anak-anaknya dari waktu ke waktu. Disamping itu, Untung merupakan tipikal orang yang selalu merindukan keluarganya (home sick) dan ingin selalu cepat berkumpul dengan keluarga sepulangnya dari bekerja. Dalam menjalankan hidup , Untung berpedoman menjalani kehidupan ini seperti air mengalir, apa yang telah diperintahkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Hidup ini ibarat berada dalam aliran air sungai , pada saatnya nanti akan bermuara dan berhenti. Tugas manusia hanya menerima hidup sebagai kesempatan dan melaluinya dengan kemampuan dan kehendak yang terbatas, baik saat aliran “deras atau tenang” untuk sampai kepada “kebenaran”. “Manusia itu tinggal menjalani, adanya musibah maupun kejayaan itu sudah hukumnya, dilalui PESERTA TRAINING Course Harmonized System & Classification Japan Customs . saja. Toh roda kehidupan itu ada yang memutar (Untung Basuki baris belakang nomor 4 dari kanan) dan masih berputar, sedangkan air mengalir bisa dimaknai tempat kita hidup, yaitu bumi atau dunia. Semua itu nyak diberi kesempatan oleh DJBC tempatnya ia mengabdi berjalan seiring berubahnya waktu, bahkan mungkin juga temsebagai aparatur negara, keinginannya khususnya untuk pat. Ini kehendak Allah yang tidak bisa kita campuri, semua kemajuan organisasi ini pastinya sama dengan yang lainnya, diciptakan dengan batas waktu. Kita tidak bisa mengembaliyaitu agar DJBC bisa bekerja sesuai dengan fungsi, visi dan kan atau mengurangi bahkan menambah waktu yang sarat misinya. Untung, sesuai dengan namanya, merasa beruntung dengan peristiwa dan warna,”demikian mengenai filosofinya. dan bersyukur sekali dengan apa yang telah ia dapatkan Selain dengan keluarga, kata Untung, ia juga berusaha selama ini, karena sudah banyak diberikan kesempatan dan memberikan loyalitas yang tinggi kepada atasannya. Tidak peluang mengembangkan diri oleh DJBC. hanya itu, ia juga melakukan pendekatan dengan sesama te“Karena itu malu rasanya saya kalau sering-sering meminta man kerja di kantor. “Mereka sering meminta masukan tentang dan menuntut pada DJBC, karena sudah banyak kemudahan pekerjaan. Saya juga sering belajar dari mereka. Termasuk diberikan organisasi ini kepada saya. Untuk itu bentuk pengabdidari yang lebih senior, semua ilmunya bisa diserap. Soalnya, an saya sesuai amanah yang diberikan pada saya saat ini bagaimana pekerjaan bisa berjalan dengan baik, kalau kita sebagai Kabag Keuangan, saya ingin sebisa mungkin membantu tidak melakukan koordinasi. Sedangkan staf-staf saya anggap organisasi ini sesuai kapasitas, misalnya kebutuhan mengenai sebagai partner dalam bekerja. Bahkan dengan penampilan anggaran, kalau memang butuh efisiensi, ya akan kita efisienkan, saya yang irit (awet muda.red) ini, keuntungannya barangkali tetapi kalau memang butuh dana yang cepat yang nantinya membuat setiap orang terutama staf saya mudah butuh alokasi anggaran yang tepat, ya bagaimana caranya kita menganggap saya sebagai teman, jadi tidak terlalu formal.” bisa mengadakannya sesuai dengan anggaran pemerintah secaSebagai pegawai yang merasa telah dibesarkan dan bara prosedur yang telah ada,” tandas Untung. ris

SAAT MENGIKUTI PERTEMUAN WCO Regional Seminar On The Revised Kyoto Convention (22-26 September 2003) di Jakarta. (Untung Basuki baris ketiga nomor dua dari kiri). EDISI 407 OKTOBER 2008 WARTA BEA CUKAI

63

PENGAWASAN
FOTO-FOTO WBC/KY

KALUNG dan gelang titanium serta HP ilegal ketika diperlihatkan Kasi P2 KPPBC SH, Eko Darmanto.

BARANG-BARANG ILLEGAL tersebut dikemas ke dalam beberapa karton dan dikirim menggunakan jasa EMS.

RIBUAN KALUNG DAN GELANG TITANIUM

DISITA

P

Petugas Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe A1 Soekarno Hatta berhasil menegah ribuan gelang dan kalung magnet berbahan titanium yang berfungsi sebagai alat kesehatan, serta puluhan HP ilegal. Hasil tegahan tersebut diperlihatkan kepada pers pada 28 Agustus 2008 di KPPBC Soekarno Hatta.

harus dibayar pemilik bayar sekitar Rp. 100 juta, dan juga harus memenuhi peraturan larangan pembatasan. “Kalau gelang dan kalung itu kita bicara penerimaan negara, sedangkan HP itu kita bicara larangan pembatasan. Impor telepon selular hanya boleh dilakukan oleh badan hukum yang sudah memiliki izin dari instansi tertentu,” tutur Eko. Dengan adanya peningkatan terhadap pelaksanaan tugas pengawasan yang dilakukan KPPBC Soekarno Hatta, diharapkan penerimaan negara dari sektor bea masuk dan pajak dalam rangka impor dapat meningkat. ky

PEGAWAI / KELUARGA / MITRA / KOPERASI PEGAWAI DI SELURUH INDONESIA

PELUANG BISNIS

etugas menahan 2100 gelang dan 1150 kalung yang dikemas ke dalam beberapa karton dan dikirimkan dari Hongkong melalui Kantor Pos Bandara Soekarno Hatta (SH) dengan menggunakan jasa express mail service (EMS). Pengiriman ribuan kalung dan gelang ini dalam dokumen hanya diberitahukan sebagai shackle (alat penyangga) dengan nama penerima Ar yang berdomisili di Pluit Timur, Jakarta Utara. Kepala Seksi Penindakan dan Penyidikan KPPBC Soekarno Hatta, Eko Darmanto mengatakan, menurut perkiraan harga kalung yang ditegah tersebut di pasaran bebas berkisar Rp. 1,5 juta, sedangkan gelang mencapai Rp. 1 juta. Dengan demikian nilai keseluruhan barang mencapai kurang lebih Rp. 3,825 milyar, dan berdasarkan asumsi nilai tersebut, maka bea masuk (BM) dan pajak dalam rangka impor (PDRI) yang seharusnya dibayar si pemilik barang mencapai Rp. 1,3 milyar. “Kami menduga pengirim sengaja menghindarkan diri dari kewajiban membayar bea masuk dan pajak-pajak,” ujar Eko. Ia juga menyatakan bahwa penyitaan barang impor berupa gelang titanium itu baru pertama kali di bandara Soekarno Hatta. Selain gelang dan kalung, dari hasil operasi selama seminggu sebelumnya, petugas juga berhasil menegah telepon seluler (HP) merek Nokia tipe N95 sebanyak 90 buah. Puluhan HP yang diberitahukan sebagai adaptor, dikirimkan dari Singapura juga dengan menggunakan jasa EMS, dengan nama penerima AS, J dan S yang berdomisili di Jakarta Pusat. Harga total HP tersebut diperkirakan mencapai Rp. 450 juta, sehingga bea masuk (BM) dan pajak dalam rangka impor (PDRI) yang
WARTA BEA CUKAI EDISI 407 OKTOBER 2008

MENJADI DISTRIBUTOR : u Kalung Kesehatan Biofir u Pulsa Isi Ulang u Propolis Gold dan Melia Biyang
Mudah bergabungnya Murah biayanya Banyak manfaatnya, Besar keuntungannya Layanan Kami : l Bebas ongkos kirim ke seluruh Indonesia l Konsultasi dan panduan Online l Iklan Online di http:// iklan.guskun.com l Domain dan Hosting murah di http:// hosting.guskun.com

http://www.guskun.com info@guskun.com id YM : gus5kun Hp 08988818201

64

PENGAWASAN
FOTO-FOTO WBC/KY

KALUNG dan gelang titanium serta HP ilegal ketika diperlihatkan Kasi P2 KPPBC SH, Eko Darmanto.

BARANG-BARANG ILLEGAL tersebut dikemas ke dalam beberapa karton dan dikirim menggunakan jasa EMS.

RIBUAN KALUNG DAN GELANG TITANIUM

DISITA

P

Petugas Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe A1 Soekarno Hatta berhasil menegah ribuan gelang dan kalung magnet berbahan titanium yang berfungsi sebagai alat kesehatan, serta puluhan HP ilegal. Hasil tegahan tersebut diperlihatkan kepada pers pada 28 Agustus 2008 di KPPBC Soekarno Hatta.

harus dibayar pemilik bayar sekitar Rp. 100 juta, dan juga harus memenuhi peraturan larangan pembatasan. “Kalau gelang dan kalung itu kita bicara penerimaan negara, sedangkan HP itu kita bicara larangan pembatasan. Impor telepon selular hanya boleh dilakukan oleh badan hukum yang sudah memiliki izin dari instansi tertentu,” tutur Eko. Dengan adanya peningkatan terhadap pelaksanaan tugas pengawasan yang dilakukan KPPBC Soekarno Hatta, diharapkan penerimaan negara dari sektor bea masuk dan pajak dalam rangka impor dapat meningkat. ky

PEGAWAI / KELUARGA / MITRA / KOPERASI PEGAWAI DI SELURUH INDONESIA
MENJADI DISTRIBUTOR : u Kalung Kesehatan Biofir, kalung ajaib, bukan magic, bukan mistis. Efektif membantu penderita berbagai penyakit. u Pulsa Isi Ulang dari bonus pulsa, menjadikan HP anda sebagai mesin isi ulang pulsa. Merubah biaya komunikasi menjadi potensi pendapatan. Mudah bergabungnya Murah biayanya Banyak manfaatnya Besar keuntungannya Layanan Kami : l Bebas ongkos kirim ke seluruh Indonesia l Konsultasi dan panduan Online l Iklan Online di http:// iklan.guskun.com l Domain dan Hosting murah di http:// hosting.guskun.com

PELUANG BISNIS

etugas menahan 2100 gelang dan 1150 kalung yang dikemas ke dalam beberapa karton dan dikirimkan dari Hongkong melalui Kantor Pos Bandara Soekarno Hatta (SH) dengan menggunakan jasa express mail service (EMS). Pengiriman ribuan kalung dan gelang ini dalam dokumen hanya diberitahukan sebagai shackle (alat penyangga) dengan nama penerima Ar yang berdomisili di Pluit Timur, Jakarta Utara. Kepala Seksi Penindakan dan Penyidikan KPPBC Soekarno Hatta, Eko Darmanto mengatakan, menurut perkiraan harga kalung yang ditegah tersebut di pasaran bebas berkisar Rp. 1,5 juta, sedangkan gelang mencapai Rp. 1 juta. Dengan demikian nilai keseluruhan barang mencapai kurang lebih Rp. 3,825 milyar, dan berdasarkan asumsi nilai tersebut, maka bea masuk (BM) dan pajak dalam rangka impor (PDRI) yang seharusnya dibayar si pemilik barang mencapai Rp. 1,3 milyar. “Kami menduga pengirim sengaja menghindarkan diri dari kewajiban membayar bea masuk dan pajak-pajak,” ujar Eko. Ia juga menyatakan bahwa penyitaan barang impor berupa gelang titanium itu baru pertama kali di bandara Soekarno Hatta. Selain gelang dan kalung, dari hasil operasi selama seminggu sebelumnya, petugas juga berhasil menegah telepon seluler (HP) merek Nokia tipe N95 sebanyak 90 buah. Puluhan HP yang diberitahukan sebagai adaptor, dikirimkan dari Singapura juga dengan menggunakan jasa EMS, dengan nama penerima AS, J dan S yang berdomisili di Jakarta Pusat. Harga total HP tersebut diperkirakan mencapai Rp. 450 juta, sehingga bea masuk (BM) dan pajak dalam rangka impor (PDRI) yang
WARTA BEA CUKAI EDISI 407 OKTOBER 2008

http://www.guskun.com info@guskun.com id YM : gu5kun Hp 08988818201

64

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->