KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT. yang telah melimpahkan rahmat, taufiq, dan hidayah-Nya, yang selalu mendengarkan segala permintaan kami dan yang telah memberikan petunjuk besar pada kami sehingga dapat menyelesaikan makalah ini dengan Judul ´KEDUDUKAN KPK SELAKU LEMBAGA INDEPENDEN DAN PEMBANTU´. Sholawat serta salam selalu tercurah limpahkan kepada beliau Nabi besar Muhammad SAW. yang telah membawa petunjuk kebenaran seluruh umat manusia yaitu Ad-Din Al-Islam yang kita harapkan syafa¶atnya di dunia dan akhirat. Makalah ini dapat di selesaikan dengan baik berkat dukungan, motivasi, petunjuk dan bimbingan dari berbagai pihak motivator. Oleh karena itu kami penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Kendatipun demikian, kami penulis menyadari bahwa makalah ini masih sangat jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, saran dan kritik yang konstrukif kami harapkan dari para pembaca yang budiman. Akhirnya, kami penulis berharap agar paper ini dapat mendatangkan manfaat bagi pembaca umumnya dan bagi kami penulis khususnya baik di dunia dan akhirat. Amiin. Yogyakarta, 5 Januari 2012

Tim Penulis

1

PEMBAHASAN Pendahuluan
Tindak pidana Korupsi di Indonesia sudah meluas di masyarakat. Perkembangannya pun terus meningkat dari tahun ke tahun, baik dari jumlah kasus yang terjadi maupun jumlah kerugian keuangan negara. Kualitas tindak pidana korupsi yang dilakukan juga semakin sistematis dengan lingkup yang memasuki seluruh aspek kehidupan masyarakat. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor utama penghambat keberhasilan untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur. Pemerintah dalam memberantas korupsi juga semakin memperburuk citra Pemerintah di mata masyarakat yang tercermin dalam bentuk ketidakpercayaan dan ketidakpatuhan masyarakat terhadap hukum. Apabila tidak ada perbaikan yang berarti, maka kondisi tersebut akan sangat membahayakan kelangsungan hidup bangsa. Dalam TAP MPR RI No. XI/MPR/1998, maka telah disahkan dan diundangkan beberapa peraturan perundang-undangan sebagai landasan hukum untuk melakukan pencegahan dan penindakan tindak pidana korupsi. Upaya tersebut diawali dengan diberlakukannya UndangUndang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme. Perbaikan di bidang legislasi juga diikuti dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagai penyempurnaan atas Undang-undang Nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (TPK). Pada tahun 2001, Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 disempurnakan kembali dan diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001. Penyempurnaan ini dimaksudkan untuk lebih menjamin kepastian hukum, menghindari keragaman penafsiran hukum dan memberikan perlindungan terhadap hak-hak sosial dan ekonomi masyarakat, serta perlakuan secara adil dalam memberantas tindak pidana korupsi. Dengan pertimbangan bahwa sampai akhir tahun 2002 pemberantasan tindak pidana korupsi belum dapat dilaksanakan secara optimal dan lembaga pemerintah yang menangani perkara tindak pidana korupsi belum berfungsi secara efektif dan efisien, maka ditetapkan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 yang menjadi dasar pembentukan Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang disingkat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). KPK merupakan lembaga negara yang bersifat independen yang dalam melaksanakan tugas dan kewenangannya bebas dari pengaruh kekuasaan manapun. Berdasarkan Pasal 6 Undang Undang Nomor 30 Tahun 2002, maka tugas dari KPK ini meliputi: melakukan koordinasi dan supervisi terhadap upaya pemberantasan korupsi yang dilakukan oleh lembaga-lembaga yang
2

berwenang, melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi, melakukan tindakan-tindakan pencegahan tindak pidana korupsi, dan melakukan monitor terhadap penyelenggaraan pemerintahan negara.

Visi, misi dan Tujuan KPK
o VISI Visi merupakan gambaran masa depan yang hendak diwujudkan. Visi harus bersifat praktis, realistis untuk dicapai, dan memberikan tantangan serta menumbuhkan motivasi yang kuat bagi pegawai Komisi untuk mewujudkannya. Visi KPK adalah: ´Menjadi Lembaga yang Mampu Mewujudkan Indonesia yang Bebas dari Korupsi´ Visi tersebut mengandung pengertian yang mendalam dan menunjukkan tekad kuat dari KPK untuk segera dapat menuntaskan segala permasalahan yang menyangkut Tindak Pidana Korupsi. o MISI Misi merupakan jalan pilihan untuk menuju masa depan. Sesuai dengan bidang tugas dan kewenangan KPK, misi KPK adalah: Pendobrak dan Pendorong Indonesia yang Bebas dari Korupsi Menjadi Pemimpin dan Penggerak Perubahan untuk Mewujudkan Indonesia yang Bebas dari korupsi. Dengan misi ini diharapkan KPK menjadi pemimpin sekaligus mendorong dalam gerakan pemberantasan korupsi di Indonesia. Hal tersebut mempunyai makna bahwa KPK adalah lembaga yang terdepan dalam pemberantasan korupsi di Indonesia serta menjalankan tugas koordinasi dan supervisi terhadap instansi yang berwenang melakukan pencegahan dan penindakan TPK. Peran yang akan dimainkan KPK adalah pendobrak kebekuan penegakan hukum dan pendorong pemberantasan korupsi pada umumnya. o TUJUAN Tujuan merupakan penjabaran dari visi dan misi yang telah ditentukan dan menggambarkan kondisi yang diinginkan pada akhir periode Renstra. Tujuan yang ingin dicapai oleh KPK dalam periode Tahun 2008 ± 2011 adalah: Meningkatnya integritas aparat penegak hukum dan aparat pengawasan dalam pemberantasan korupsi, disertai dengan berkurangnya niat dan peluang untuk melakukan korupsi, sehingga korupsi di Indonesia berkurang secara signifikan; Penetapan tujuan ini dilandasi oleh fakta bahwa tindak pidana korupsi di Indonesia sudah sangat meluas dan dilakukan secara sistematis dengan cakupan yang telah memasuki berbagai aspek kehidupan
3

bermasyarakat,

berbangsa,

dan

bernegara.

c. maka ditetapkan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 yang menjadi dasar pembentukan Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang disingkat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). profesional. serta perlakuan secara adil dalam memberantas tindak pidana korupsi.Perkembangannya juga terus meningkat dari tahun ke tahun. Melakukan penyelidikan. menghindari keragaman penafsiran hukum dan memberikan perlindungan terhadap hak-hak sosial dan ekonomi masyarakat. Mengoordinasikan penyelidikan. Koordinasi dengan instansi yang berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi. 4 . dan berkesinambungan. Penyempurnaan ini dimaksudkan untuk lebih menjamin kepastian hukum. e. Dengan pertimbangan bahwa sampai akhir tahun 2002 pemberantasan tindak pidana korupsi belum dapat dilaksanakan secara optimal dan lembaga pemerintah yang menangani perkara tindak pidana korupsi belum berfungsi secara efektif dan efisien. Meminta informasi tentang kegiatan pemberantasan tindak pidana korupsi kepada instansi yang terkait. Melakukan tindakan-tindakan pencegajan tindak pidana korupsi. Berdasarkan kondisi tersebut. dan Kewajiban Komisi Pemberantasan Korupsi Pada tahun 2001. Wewenang. Melakukan monitor terhadap penyelenggaraan pemerintahan Negara (Pasal 6 UndangUndang Nomor 30 tahun 2002) 2. pemberantasan TPK harus dilakukan secara optimal. Oleh karena itu diperlukan kerjasama antara KPK dengan instansi penegak hukum dan instansi lain serta seluruh komponen bangsa dan negara. sehingga timbul suatu gerakan pemberantasan korupsi yang masif. baik dari jumlah kasus yang terjadi maupun dari jumlah kerugian negara. Tugas Komisi Pemberantasan Korupsi a. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 disempurnakan kembali dan diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001. penyidikan. penyidikan. dan penuntutan tindak pidana korupsi. Tugas. Supervise terhadap instansi yang berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi. b. b. Wewenang Komisi Pemberantasan Korupsi a. Menetapkan system pelaporan dalam kegiatan pemberantasan tindak pidana korupsi. efektif. c. Peran KPK sebagai pemimpin dan pemicu memungkinkan terciptanya kerjasama tersebut. dan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi d. dan harmonis. dinamis. 1. intensif.

c. dan 14 Undang-Undang No. Nilai gratifiksi yang diterima 5 . Setiap pegawai negeri atau penyelenggata negara yang menerima gratifikasi wajib melaporkan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi. Jabatan pegawai negeri atau penyelenggara negara. Kewajiban Komisi Pemberantasan Korupsi Sebagaimana diamanatkan didalam pasal 15 Undang-Undang No. Tata Cara Pelaporan Gratifikasi Tentang cara pelaporan gratifikasi diatur dalam Pasal 16 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. b. Tertuang dalam Pasal 12. dan wewenangnya berdasarkan asas-asas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5. c. 3. d. d. Nama dan alamat lengkap penerima dan pemberi gratifikasi. memberikan perlindungan terhadap saksi atau pelapor yang menyampaikan laporan ataupun memberikan keterangan mengenai terjadinya tindak pidana korupsi. dan Badan Pemeriksa Keuangan. dengan tata cara sebagai berikut. b. 30 tahun 2002. Meminta laporan instansi yang terkait mengenai pencegahan tindak pidana korupsi (Pasal 7 Undang-Undang Nomor 30 tahun 2002) f. Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. memberikan informasi kepada masyarakat yang memerlukan atau memberikan bantuan untuk memperoleh data lain yang berkaitan dengan hasil penuntutan tindak pidana korupsi yang ditanganinya. menegakkan sumpah jabatan. Tempat dan waktu penerimaan gratifikasi. Urain jenis gratifikasi yang diterima. 13.30 Tahun 2002. e. 2) Formulir sebagaimana dimaksud pada huruf a sekurang-kurangnya memuat: a. menjalankan tugas. TATA CARA PELAPORAN DAN PENENTUAN STATUS GRATIFIKASI 1. dan e. e.d. Melaksanakan dengar pendapat atau pertemuan dengan instansi yang berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi. Komisi Pemberantasan Korupsi berkewajiban: a. 1) Laporan disampaikan secara tertulis dengan mengesi formulir sebagaimana ditetapkan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi dengan melampirkan dokumen yang berkaitan dengan gratifikasi. menyusun laporan tahunan dan menyampaikannya kepada Presiden Republik Indonesia. tanggung jawab.

Ketentuan dalam pasal 16 ini mengatur mengenai tata cara pelaporan dan penentuan status gratifikasi sebagaimana dimaksud dalam pasal 12 B UndangUndang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. 6 . DAN SUSUNAN ORGANISASI 1. sebagai berikut: 1) Komisi Pemberantasan Korupsi dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja terhitung sejak tanggal laporan diterima wajib menetapkan status kepemilikan status gratifikasi disertai pertimbangan. 4) Keputusan Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi dapat berupa penetapan status kepemilikan gratifikasi bagi penerima gratifikasi atau menjadi milik negara. 2) Dalam menentukan status kepemilikan gratifikasi.Dalam penjelasan pasal 16 dijelaskan bahwa. dilakukan paling lambat 7 (tujuh) hari kerja terhitung sejak tanggal ditetapkan. 3) Status kepemilikan gratifikasi ditetapkan dengan keputusan Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi. 7) Komisi Pemberantasan Korupsi wajib mengumumkan gratifikasi yang ditetapkan menjadi milik negara paling sefikit 1 (satu) kali dalam setahun dalam Berita Negara. 6) Penerahan gratifikasi yang menjadi meilik negara kepafa Menteri Keuangan. 2. Komisi Pemberantasan Korupsi dapat memanggil penerima gratifikasi untuk memberikan keterangan berkaitan dengan penerimaan gratifikasi. Penentuan Status Gratifikasi Penentuan mengenai status gratifikasi diatur dalam Pasal 17 ayat (1) sampai dengan (6) dan pasal 18 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002. Kedudukan Komisi Pemberantasan korupsi Tempat kedudukan Komisi Pemberantasan Korupsi ditentukan sebagaimana diatur Pasal 19 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002. 5) Komisi Pemberantasan Korupsi wajib menyerahkan keputusan status kepemilikan kepada penerima gratifikasi paling lambat 7 (tujuh) hari kerja terhitung sejak tanggal ditetapkan. TEMPAT KEDUDUKAN. sebagai berikut: 1) Komisi Pemberantasan Korupsi berkedudukan di ibukota negara Republik Indonesia dan wilayah kerjanya meliputi seluruh wilayah negara Republik Indonesia. TANGGUNG JAWAB.

2) Pertanggungjawaban Komisi Pemberantasan Korupsi dilaksanakan dengan cara: a. a. Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi terdiri atas 5 (lima) Anggota Komisi Pemberantasan Korupsi b. b. Tim Penasehat yang terdiri dari 4 (empat) orang Anggota c. 3) Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi yang terdiri atas 1 (satu) orang ketua merangkap anggota. Penyidk dan penuntut umum. sebagai berikut: 1) Komisi Pemberantasan Korupsi bertanggung jawab kepada publik atas pelaksanaan tugasnya dan menyampaikan laporannya secara terbuka dan berkala kepada Presiden RI. dan b. Membuka akses informasi 3. Susunan Organisasi komisi Pemberantasan Korupsi Struktur organisasi Komisi Pemberantasan Korupsi ditentukan sebagaimana diatur dalam Pasal 21 sampai dengan Pasal 28 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002. Pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi sebagai pelaksana tugas. Wajib audit terhadap kinerja dan pertanggungjawaban keuangan sesuai dengan program kerjanya. dan c. dan badan pemeriksa Keuangan.2) Komisi Pemberantasan Korupsi dapat membentuk perwakilan di daerah provinsi. Tanggung jawab Komisi Pemberantasan Korupsi ditentukan sebagaimana diatur dalam pasal 20Undang-Undang nomor 30 Tahun 2002. Pejabat negara. keanggotaannya terdiri atas: a. Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi terdiri atas 4 (empat) orang. masingmasing merangkap anggota. adalah: a. dan 4 (empat) orang wakil ketua merangkap anggota. c. Tanggung Jawab Komisi Pemberantasan korupsi. Dean Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. 2. Menerbitkan laporan tahunan. b. dalam penjelasan Pasal 21 ayat (5) dijelaskan bahwa. 2) Susunan pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi adalah sebagai berikut. yang dimaksud dengan ³bekerja secara kolektif´ adalah bahwa setiap pengambilan 7 . Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi merangkap anggota. Bekerja secara kolektif. sebagai berikut: 1) Komisi Pemberantasan Korupsi sebagai suatu lembaga negara yang dalam pelaksanaannya bersifat bersifat independen dan bebas dari pengaruh kekuasaan manapun.

panitia seleksi pemilihan mengajukan 8 (delapan) calon anggota Tim Penasehat kepada Komisi Pemberantasan Korupsi untuk selanjutnya dipilih sebanyak 4 (empat) orang anggota. Mengangkat dan memberhentikan Kepala Bidang. 8) Setelah para callon anggota Tim Penasehat tersebut mendapat tanggapan dari masyarakat. Kepala Subbidang dan pegawai yang bertugas pada Komisi Pemberantasan Korupsi. Penanggung jawab tertinggi Korupsi Pemberantasan Korupsi. d. 4) Korupsi Pemberantasan Korupsi berwenang mengangkat Tim Penasehat yang beranggotakan sebanyak 4 (empat) orang. 11) Pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi adalah warga negara Indonesia yang karena keahliannya diangkat sebagai pegawai pada Komisi Pemberantasan Korupsi. 9) Tim Penasehat berfungsi memberikan nasehat dan pertimbangan sesuai dengan kepakarannya kepada Komisi Pemberantasan Korupsi dalam melaksakan tugas dan wewenang Komisi Pemberantasan Korupsi. 10) Anggota Tim Penasehat adalah warga negara Indonesia yang karena kepakarannya diangkat oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. Menentukan kriteria penanganan tindak pidana korupsi.keputusan harus disetujui dan diputusknan secara bersama-sama Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi. 8 . 5) Pembentukan panitia seleksi dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. Menetapkan kebijakkan data dan tata kerja organisasi mengenai pelaksanaan tugas dan wewenang Komisi Pemberantasan Korupsi. oleh paniti seleksi pemilihan diumumkan terlebih dahulu kepada masyarakat untuk mendapatkan tanggapan sebelum ditunjuk dan diangkat oleh Komisi Pemberantasan Korupsi berdasarkan calon yang diusulkan oleh panitia seleksi pemilihan. 12) Ketentuan mengenai syarat dan tata cara pengangkatan pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi sebagaimana diatur dalam keputusan Komisi Pemberantasan Korupsi. 6) Panitia seleks pemilihan mengumumkan penerimaan calon dan melakukan kegiatan mengumpulkan calon anggota Tim Penasehat berdasarkan keinginan dan masukan dari masyarakat. 14) Ketentuan mengenai tata kerja Komisi Pemberantasan Korupsi diatur lebih lanjut dengan Keputusan Komisi Pemberantasan Korupsi. 7) Para calon Tim Penasehat yang telah terdafar. b. c. 13) Komisi Pemberantasan Korupsi: a. yang diajukan oleh panitia seleksi pemilihan. Kepala Sekertariat.

16) Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi dan 4 (empat) orang Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi membawahkan 4 (empat) deputi yang terdiri atas dan membawahi direkturat-direkturat. Pendaftaran dan pemeriksaan terhadap laporan harta kekayaan penyelenggaraan negara. d. Deputi Bidang Pengawasan Internal dan Pengaduan Masyarakat: a) Direktorat Pengawasan Internal b) Direktorat Pengaduan Masyarakat c) Sekretariat Deputi Bidang Pengawasan Internal dan Pengduan Masyarakat. d) Direktoran Penelitian dan Pengembangan. a. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam pasal 8. 17) Dengan Keputusan Komisi Pemberantasan Korupsi Nomor: KEP-07/P/KPK/02/2004 tentang Organisasi dan Tata Kerja Komisi Pemberantasan Korupsi telah ditetapkan mengenai tugas Deputi dan masing-masing Direktorat. c) Direktorat Monitor d) Sekretariat Deputi Bidang Informasi dan Data. e) Sekretariat Diputi Bidang Pencegahan. Deputi Bidang Pencegahan menyelenggrakan fungsi: a.15) Susunan Komisi Pemberantasan Korupsi terdiri atas Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi dan 4 (empat) orang Wakil Ketua Pemberantasan Korupsi. c) Direktorat Penuntutan d) Sekretariat Deputi Bidang Penindakan c. Deputi Bidang Pencegahan: a) Direktorat Pendaftaran dan Pemeriksaan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara. b. b) Direktorat Gratifikasi. c) Direktorat Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat. Deputi Bidang Penindakan: a) Direktorat Penyelidikan b) Direktorat Penyidikan. a) Deputi Bidang Pencegahan Deputi Bidang Pencagahan mempunyai tugas melakukan upaya-upaya atau tindakantindakan pencegahan tindak pidana korupsi. 9 . Deputi Bidang Informasi dan Data: a) Direktorat Pengolahan Informasi dan Data b) Direktorat Pembinaan Jaringan Kerja Antar-Komisi dan Instansi.

kolusi. nepotisme atau meminta dokumen-dokumen dari pihak-pihak yang terkait dengan penyelidikan harta kekayaan Penyelenggara Negara yang bersangkutan. Direktorat Pendaftaran dan Pemeriksaan Laporan Harta Kekayaan Negara melaksanakan sebagian tugas fungsi Deputi Bidang Pencegahan dalam melakukan pemeriksaan terhadap kekayaan penyelenggaraan negara. Meneliti laporan atau pengaduan masyarakat. juga meminta pejabat yang berwenang membuktikan dugaan tersebut sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Direktorat Gratifikasi 10 . Mencari dan memperoleh bukti-bukti. (2). kolusi. Dalam melaksanakan sebagian tugas dan fungsi Deputi Bidang Pencegahan. Penyelenggaraan progam pendidikan antikorupsi pada setiap jenjang pendidikan. selain meminta bukti kepimilikan sebagian atau seluruh harta kekayaan Penyelenggaraan Negara yang diduga diperoleh dari korupsi. Penerimaan laporan dan penetapan status gratifikasi. Melakukan Penyelidikan atas inisiatif sendiri mengenai harta kekayaan Penyelenggara Negara berdasarkan petunjuk adanya korupsi. e. d. Direktorat Pendaftaran dan Pemeriksaan Laporan Harta kekayaan Penyelenggaraan Negara menyelenggarakan fungsi: a. nepotisme terhadap Penyelenggara Negara. dan e. Melakukan pemantauan dan klarifikasi atas harta kekayaan Penyelenggaraan Negara b. Sosoalisai pemberantasan tindak pidana korupsi. membawahkan: (1) Direktorat Pendaftaran dan Pemeriksaan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggaraan Negara. Kampaye antikorupsi kepada masyarakat umum. kolusi. c. Kerja sama bilateral atau multilateral dlam pemberantasan tidak pidana korupsi. Deputi Bidang Pencegahan. atau nepotisme selama menjabat sebagai penyelenggara Negara. dan nepotisme dari para Penyelenggara Negara. lembaga swadaya masyarakat. Jikan dianggap perli. atau instansi pemerintah tentang dugaan adanya korupsi. c.b. kolusi. d. f. menghadirkan saksi-saksi untuk penyelidikan Penyelenggaraan Negara yang diduga melakukan korupsi.

Direktorat Gratifikasi Penyelenggaraan fungsi: a.Direktorat Gratifikasi melaksanakan sebagian tugas dan fungsi Deputi Bidang Pencegahan dalam melakukan pemeriksaan terhadap penerima gratifikasi dan sejenisnya oleh Penyelenggaraan Negara. c. Identifikasi penerimaan gratifikasi dan sejenisnya oleh Penyelenggaraan Negara. Direktorat Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat menyelenggarakan fungsi: a. Perencanaan kebutuhan dan pembinaan instruktur. mastarakat dan swasta. Penelitian laporan atau pengaduan masyarakat. lembaga swadaya masyarakat. Pendidikan dan pelatihan serta penyempurnaan manajemen kinerja mulai perencanaan sampai kepada pertanggungjawaban berorientasi hasil kepada BUMP/ BUMD serta badan hukum lainnya. dan pengembangan materi pendidikan dan pelatihan. b. d. Penyelenggaraan seminar. Pemeriksaan terhadap laporan penerimaan gratifikasi dan sejenisnya. penyusunan. Penyusun program pendidikan dan pelatihan. f. Pencarian bukti-bukti untuk penyelidikan penyelenggaraan negara yang diduga menerima gratifikasi dan sejenisnya. Direktorat pendidikan dan pelayanan masyarakat Direktorat pendidikan dan pelayanan masyarakat melaksanakan sebagian tugas dan fungsi deputi bidang pencegahan dalam bidang pendidikan dan pelayanan kepada instansi pemerintah dan masyarakat umum mengenai pemberantasan tindak pidana korupsi. 11 . Sosialisasi peran dan fungsi KPK kepada instansi pemerintah. d. Pendidikan dan pelatihan serta penyempurnaan manajemen kinerja mulai dari perencanaan sampai kepada pertanggungjawaban berorientasi hasil kepada instansi pemerintah. (3). Dalam melaksanakansebagian tugas dan Fungsi Deputi Bidang Pencegahan. g. c. e. Dalam melaksanakan sebagian tugas dan fungsi Deputi Bidang Pencegahan. atau instansi pemerintah tentang dugaan penerima gratifikasi dan sejenisnya kepada Penyelenggaraan Negara. Perencanaan. masyarakat dan swasta. workshop serta bentuk pelatihan lainnya dalam rangka Mengubah sikap dan perilaku antikorupsiserta meningkatkan peran pemerintah. Penyerahan gratifikasi yang menjadi milik negara kepada menteri keuangan. b. e.

Debuti bidang penindakan menyelenggarakan fungsi : a.pembinaan dan pengamanan teknis. 5. Penelitian dan pengembanganmanajemen kinerja sektor publik. Pelaksanaan penyiapan rumusan kebijaksanaan teknis di bidang kesekertariatan berupa pemberian bimbingan. Pelaksanaan pengumpulan pencatatan dan penyusunan laporan pelaksanaan rencana dan program kerja. c.penyidikan.Diantara fungsinya : a. bimbingan dan 12 . Evalasi dan penyusunan laporan pelaksanaan dan hasil penelitian pengembangan. B. Penelitian dan pengembangan kode etik anti korupsi. Pelaksanaan kerja sama penelitian dan pengembangan dengan instasi lainya di bidang pemberantasan korupsi.Direktorat penelitian dan pengembangan Direktorat ini melaksanakan sebagian tugas dan fungsi debuti bidang pencegahan dalam bidang penelitian dan pengembangan pemberantasan korupsi.penuntutan dan tindakan hukum lain mengenai tindak pidana korupsi berdasarkan peraturan perundang-undangn dan kebijaksanaan yang ditetapkan Pimpinan KPK. e.h.diantara fungsinya adalah : a. Perumusan kebijaksanaan teknis kegiatan justisial berupa pemberian pembinaan dalam bidang tugasnya. c. Pelaksanaan koordinasi dengan semua satuan kerja di lingkungan debuti bidang pencegahan dalam rangka penyiapan rumusan rencana dan program kerja.dan pelaksanaan ketatausahaan.Debuti Bidang Penindakan Mempunyai tugas melakukan penyelidikan . Dalam melaksanakan penyelididkan. b.penuntutan dan tindak hukuman lain mengenai tindak pidana korupsi berdasarkan peratuuran perundang-undangan dan kebijaksanaan yang ditetapka oleh pimpinan KPK.Sekertariat debuti Bidang Pencegahan Mempunyai tugas melaksanakan kegiatan di bidang kesekertariatan di lingkungan debuti bidang pencegahan. d. 4. Evaluasi pelaksanaan hasil pendidikan dan pelatihan serta penyusunan laporan. pembinaan. Analisa kebutuhan dan penyusunan program penelitian dan pengembangan. b. dan koordinasi kegiatan pendidikan dan pelatihan.penyidikan . i. Penyelenggaraan.

pembinaan.dalam melaksanakan tugasnya direktorat informasi.penyididk dan penuntut umum.pelaksanaan koordinasi. c. Pelaksanaan penerimaan.dan pengamanan teknis. Pembinaan kerjasama. d.direktorat penyidikan menyelenggarakan fungsi: a.analisis.menyiapkan pendapat dan saran.dengan instansi dan lembaga terkait mengenai penyelidikan.laporan.dan penelitian terhadap hasil penyelidikan yang diterima dari penyelidik d.dan pengamanan. Perumusan rencana dan program kerja kegiatan penyidikan perkara tindak pidana korupsi serta laporan pelaksanaannya. (2) direktorat penyidikan Direktorat penyidikan mempunyai tugas melaksanakan sebagian tgas dan fungsi Deputi Bidang Penindakan dalam penyidikan perkara tindak pidana korupsi. Dalam melaksanakan tugas dan wewenang deputi bidang dalam penyidikan tindak pidana korupsi. Perencanaan.penuntutan dan tindak hukum lain serta pengadministrasian. b.b. Pembinaan dan peningkatan kemampuan .penyidikan.Direktorat Penyelidikan Ini mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas dan fungsi Debuti bidang penindakan dalam penyelidikan tindak pidana penyelidikan menyelenggarakan fungsi : a. b. Debuti Bidang Penindakan membawakan : 1. Penyiapan perumusan kebijaksanaan teknis kegiatan penyidikan perkara tindak pidana korupsi berupa pemberianbimbingan. Pelaksanaan kegiatan penyidikan dan pemberkasan perkara tindak pidana korupsi 13 . Perumusan rencana dan program kerja kegiatan penyelidikan tindak pidana korupsi serta laporan pelaksanaannya.ketrampilan dan integritas kepribadian para petugas pelaksana penyelidik.dan pengendalian kegiatan penyelidikan.analisis. Pelaksanaan penerimaan .pengaduan. Penyiapan rumusan kebijaksanaan teknis kegiatan penyelidikan tindak pidana korupsi berupa pemberian bimbingan.serta petunjuk teknis dalam penanganan tindak pidana korupsii.penuntutan berdasarkan peraturan perundang-undangan dan kebijaksanaan yang ditetapkan oleh pimpinan KPK. dan penelitian terhadap korupsi.pembinaan. c.pelaksanaan.penyidikan.dan pemberian bimbingan.teknis c.

dan putusan pengadilan serta penyiapan laporannya f.pelaksanaan penetapan hakim dan putusan pengadilan serta tindakan hokum lainnya terhadap perkara . Pelaksanaan pembinaan kerjasama dan koordinasi kegiatan penyidikan perkara tindak pidana korupsi dengan instansi terkait g. dan pengambilaliahan penuntutan tindak pidana korupsi yang sedang dilakukan oleh kejaksaan e.putusan pengadilan serta tindakan hokum lainnya terhadap perkara tindak pidana korupsi d. Penerimaan penyerahan berkas perkara dari penyidik dan menyempurnakan serta melengkapi berkas perkara tersebut untuk dilakukan penuntutan. Dalam melaksanakan sebagian tugas dan fungsi Deputi Bidang penindakan dalam penyelidikan tindak pidana korupsi.dan pengamanan teknis b. c. Pelaksanaan kerja sama koordinasi pemberian bimbingan dan petunjuk teknis kepada satuan tugas penyidik perkara tindak pidana korupsi (3).menelaah rencana tuntutan jaksa penuntut umum.pendapat.pembinaan.e.direktorat penuntutan menyelenggarakan fungsi: a. pidana korupsi. Penyiapan dan penyampaian pertimbangan.Direktorat Penuntutan Direktorat penuntutan mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas dan fungsi Deputi Bidang penindakan dalam penututan . (4) secretariat deputi bidang penindakan Secretariat deputi bidnag penindakan mempunyai tugas melaksanakan kegiatan di bidang kesekretariatan di lingkungan deputi bidang penindakan. melakukan penuntutan melaksanakan penetapan hakim. Penyiapan dan penyampaian petimbangan .pendapat dan saran kepada Deputi Bidang penindakan terhadap proses persidangan perkara tindak pidana korupsi. dan pengambilalihan penyidikan tindak pidana korupsi yang sedang dilakukan kepolisian atau kejaksaan.umum dan putusan pengadilan serta penyiapan laporannya f.dan saran kepada Deputi Bidang Penindakan atas hasil penyidikan perkara tindak pidana korupsi telah cukup ditingkatkan ke penuntutan. Penerimaan penyerahan perkara dan tanggung jawab atas tersangka dan barang bukti. Penyiapan bahan perumusan kebijaksanan teknis di bidang penyelesaian perkara tindak pidana korupsi berupa bimbingan. Pelaksanaan pemberian bimbingan dan petunjuk teknis kepada satuan tugas jaksa penuntut umum pada komisi pemberantasan korupsi. 14 . Pengumpulan dan penyiapan bahabn pengendalian dan memantau jalannya persidangan melalui peneriamaan laporan harian persidangan dan mengadministrasikannya.

secretariat deputi bidang penidakan menyelenggarakan fungsi: a. Pengembangan jaringan informasi dengan instansi pemerintah dan masyarakat f. Dalam melaksanakan tugas pengolahan data dan informasi serta pengembangan system informasi yang mendukung kegiatan pencegahan.dan penuntutan tindak pidana korupsi. Pelaksanaan penyiapan perumusan kebijaksanaan teknis di bidang kesekretariatan berupa pemberian bimbingan. dan penindakan tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh penyelenggara Negara. Pelaksanaan ketatausahaan e. Monitor terhadap upaya pencegahan dan penindakan tindak pidana korupsi yang terjadi pada instansi pemerintahan Negara 15 . c) deputi bidang informasi dan data deputi bidang informasi dan data mempunyai tugas melaksanakan pengolahan data dan informasi serta penembangan system informasi yang mendukung kegiatan pencegahan. dan penyajian data dan informasi. Pengembangan system informasi dan pembinaan terhadap pengguna e.pembinaan dan pengaman teknis b. Penyelidikan. serta administrasi basisi data c.keterampilan.dan penuntutan tindak pidana korupsi.penyidikan. serta melakukan monitor terhadap upaya pencegahan. Pelaksanaan koordinasi dengan satuan kerja di lingkungan deputi bidang penindakan dalam rangka penyiapan rumusan rencana dan program kerja c. Pelaksanaan penigkatan kemampuan. pengolaha.barang bukti.Dalam melaksanakan di bidang kesekretariatan di lingkungan deputi bidang penindakan. Pelaksanaan pencatatan dan penyusunan laporan pelaksanaan rencana program kerja d. Pengelolaan dan pemeliharaan administrasi perkara.disiplin dan integritas kepribadian aparat pelaksa dan pelaksanaan pengamanan teknis atas pelaksanaan tugas sesuai dengan petunjuk deputi bidang penindakan.dan tahanan f. Penyusunan rencana dan program pengelolaan data dan informasi serta pengembangan system b. Pengumpulan.serta melakukan monitor terhada pencegahan dan penindakan tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh penyelenggaraan Negara .penyidikan.penyelidikan. deputi bidang informasi dan data menyelenggarakan tugas: a. Penyiapan analisis hasil pelaksanaan program dan kegiata KPk d.

Penyiapan bahan penyusunan rencana dan program serta pengembangan system aplikasi b. Deputi Bidang Informasi dan data menyelenggarakan fungsi: a. dan penuntun tindak pidana korupsi. dan penuntutan tindak pidana korupsi. dan penuntutan tindak pdana korupsi. 16 . penyidikan. penyidikan. penyelidikan. Pengembangan serta pemeliharaan jaringan informasi dengan instansi pemerintah dan masyarakat. Pengumpulan dan pengolahan data c. Dalam melaksanakan sebagian tugas dan fungsi Deputi Bidang Informasi dan Data dalam bidang pengolahan Informasi dan data yang mendukung pelasanaan kegiatan pencegahan. penyelidikan. Peyiapan bahan penyusunan rencana dan program serta pengembangan teknologi informasi c. (1) Direktorat Monitor Direktorat Monitor mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas dan fungsi Deputi Bidang Informasi dan Data dalam melakukan monitor terhadap upaya pencegahan dan penindakan tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh Penyelenggaraan Negara. penyelidikan. Direktorat Pembinaan Jaringan Kerja Antar Komisi dan Instansi menyelenggarakan fungsi.Deputi Bidang Informasi dan Data membawahkan 1) Direktorat Pengolahan Informasi dan Data Direktorat Pengolahan Informasi dan Data mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas dan fungsi Deputi BIdang Informasi dan Data dalam bidang pengolahan informasi dan data yang mendukung pelaksanaan kegiata pencegahan. Penyelenggaraan administrasi basis data 2) Direktorat Pembinaan Jaringan Kerja Antarkomisi dan instansi Direktorat pembinaan jaringan kerja atar komisi dan instansi mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas dan fungsi deputi bidang informasi dan data dalam bidang pembinaan jaringan antarkomisi dan instansi yang berwenang dalam pemberantasan korupsi Dalam melaksanakan sebagian tugas dan fungsi Deputi Bidang Informasi dan dalam bidang pengolahan informasi dan yang mendukung pelasanaan kegiata pencegahan. penyidikan. Penyiapan bahan analisis kinerja Komisi Pemberantasan Korupsi d. a. Penyusunan rencana dan program pengelolaan data dan informasi b.

17 . Pelaksanaan peningkatan kemampuan. Direktorat Monitor menyelenggrakan tugas. Perumusan lapiran KPK kepasda presiden republic Indonesia. Pelaksanaan penyiapan perumusan kebijaksanaan teknis di bidang kesekretariatan berupa pemberian bimbingan. penyelidikan. Pelaksanaan ketatausahaan e. Dalam melaksanakan tugas pengawasan fungisonal terhadap unit kerja yang berada di bawah Komisi Pemberantasan Korupsi dan memproses pengaduan masyarakat. b. dan badan pemeriksa keuangan. jikasaran komisi pemberantasan korupsi mengenai usulan perubahan tersebut tidak diindahkan. dan pengamanan teknis. a.Dalam melaksanakan sebagian tugas dan fugnsi deputi bidang informasi dan data dalam bidang pengolahan informasi dan data yang mendukung pelaksanaan kegiatan pencegahan. Pengkajian terhadap system pengelolaan administrasi di semua lembaga Negara dan pemerintah b. secretariat deputi bidang informasi dan data menyelenggrarakan tugas: a. (2) Sekertariat Deputi Bidang INformasi dan Data Sekertariat deputi bidang informasi dan data mempunyai tugas melaksanakan kegiatan di bidang kesekretariatan di lingkungan deputi bidang informasi dan data. dewan perwakilan rakyat republic Indonesia. dan penuntutan tindak pidana korupsi. penyidikan. Pelaksanaan koordinasi dengan semua satuan kerja di lingkungan deputi bidang informasi dan data dalam rangka penyiapan rumusan rencana dan program kerja c. system pengelolaan administrasi tersebut berpotensi korupsi c. Perumusan saran KPK kepada pimpinan lembaga Negara dan pemerintah untuk melakukan perubahan jika berdasarkan hasil pengkajian. pembinaan. keterampilan disiplin dan integritas kepribadian aparat pelaksana serta pelaksanaan pengamanan teknis atas pelaksanaan tugas sesuai dengan petunjuk deputi bidang inforasi dan data d) Deputi Bidang Pengawasan Internal dan Pengaduan Masyarakat Deputi Bidang Pengawasan Internal dan Pengaduan Masyarakat mempunyai tugas melaksanakan pengawasan fungsional terhadap unit kerja yang berada di bawah Komisi Pemberantasan Korupsi dan memproses pengaduan masyarakat. Pelaksanaan pengumpulan pencatatan dan penyusunan laporan pelaksanaan rencana dan program kerja d.

penyelidikan. Penyiapan bahan analisi kinerja KOisi Pemberantasan Korupsi d. penyidikan. Deputi Bidang Informasi dan Data menyelenggarakan fungsi: a. b. Deputi Bidang Pengawasan Internal dan pengaduan Masyarakat menyelenggarakan fungsi: a. dan penuntutan tindak pidana korupsi. penyelidikan. Penyusunan rencana dan program pengelolaan data dan informasi. dan penuntutan tindak pidana korupsi. b. Penyiapan bahan penyusunan rencana dan program serta pengembangan teknologi informasi 18 . Penyelenggaraan administrasi basis data (4) Direktorat Pembinaan Jaringan Kerja Sntarkomisi dan Instansi Direktorat Pembinaan Jangan Kerja Antar-Komisi dan Instansi mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas fungsi Deputi Bidang Informsi dan Data dalam bidang pembinaan jaringan antar instansi yang berwenang dalam pemberantasan korupsi Dalam melaksanakan sebagian tugas dan fungsi Deputi Bidang Informasi dan Data dalam bidang pengolahan informasi dan data yang mendukung pelaksanaan kegiatan pencegahan. penyidikan. Pengumpulan dan pengolahan dan data c. dan penuntutan tindak pdana korupsi. penyelidikan. penyidikan. Perencanaan. Direktorat Pembinaan Jaringan Kerja Antar-Komisi dan Instansi menyelenggarakan fungsi: a.Dalam melaksanakan tugas pengawasan fungsional terhadap unit kerja yang berasda di bawah Komisi Pemberantasan Korupsi dan membrpses pengaduan masyarakat. Penyiapan bahan penyusunan rencana dan program serta pengembangan system aplikasi. Penyiapan bahan perumusan kebijakan pengaeasan di lingkungan KPK b. pelaksanaan. Dalam melaksanakan sebagian tugas dan fungsi Deputi Bidang Informasi dan Data dalam bidang pengolahan informasi dan data yang mendukung pelaksanaan kegiatan pencegahan. dan pengendalian kegiatan pengawasan internal dan pemorosesan pengaduan masyarakat serta pengadministrasiannya Pemberian saran dan pendapat kepada Pimpinan KPK mengenai hasi pengawasan internal dan pemrosesan pengaduan masyarakat Deputi bidang Informasi dan Data membawahkan : (3) Direktorat Pengolahan Informasi dan Data Direktorat Pengolahan Informasi dan Data mempunyai tugas dan melaksanakan sebagian tugas dan fungsi Deputi Bidang INformasi dan Data dalam bidang pengolahan informasi dan data yang mendukung pelaksanaan kegiatan pencegahan.

Perumusan lapiran KPK kepasda presiden republic Indonesia. Perumusan saran KPK kepada pimpinan lembaga Negara dan pemerintah untuk melakukan perubahan jika berdasarkan hasil pengkajian. penyelidikan. secretariat deputi bidang informasi dan data menyelenggrarakan tugas: f. Direktorat Monitor menyelenggrakan tugas. keterampilan disiplin dan integritas kepribadian aparat pelaksana serta pelaksanaan pengamanan teknis atas pelaksanaan tugas sesuai dengan petunjuk deputi bidang inforasi dan data d) Deputi Bidang Pengawasan Internal dan Pengaduan Masyarakat Deputi Bidang Pengawasan Internal dan Pengaduan Masyarakat mempunyai tugas melaksanakan pengawasan fungsional 19 . penyidikan. Dalam melaksanakan sebagian tugas dan fugnsi deputi bidang informasi dan data dalam bidang pengolahan informasi dan data yang mendukung pelaksanaan kegiatan pencegahan. Pelaksanaan pengumpulan pencatatan dan penyusunan laporan pelaksanaan rencana dan program kerja i. (6) Sekertariat Deputi Bidang INformasi dan Data Sekertariat deputi bidang informasi dan data mempunyai tugas melaksanakan kegiatan di bidang kesekretariatan di lingkungan deputi bidang informasi dan data. d. Pengkajian terhadap system pengelolaan administrasi di semua lembaga Negara dan pemerintah e. system pengelolaan administrasi tersebut berpotensi korupsi f. Pengembangan serta pemeliharaan jaringan informasi dengan instansi pemerintah dan masyarakat (5) Direktorat Monitor Direktorat Monitor mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas dan fungsi Deputi Bidang Informasi dan Data dalam melakukan monitor terhadap upaya pencegahan dan penindakan tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh Penyelenggaraan Negara. dan penuntutan tindak pidana korupsi. pembinaan. g. dan pengamanan teknis. jikasaran komisi pemberantasan korupsi mengenai usulan perubahan tersebut tidak diindahkan. Pelaksanaan penyiapan perumusan kebijaksanaan teknis di bidang kesekretariatan berupa pemberian bimbingan. Pelaksanaan ketatausahaan Pelaksanaan peningkatan kemampuan. Pelaksanaan koordinasi dengan semua satuan kerja di lingkungan deputi bidang informasi dan data dalam rangka penyiapan rumusan rencana dan program kerja h. dan badan pemeriksa keuangan. j. dewan perwakilan rakyat republic Indonesia.c.

direktorat pengawasan internal mempunyai fungis: a. Dalam melaksanakan tugas pengawasan fungisonal terhadap unit kerja yang berada di bawah Komisi Pemberantasan Korupsi dan memproses pengaduan masyarakat. membawahkan. Deputi Bidang Pengawasan Internal dan Pengaduan Masyarakat. dan efetivitas pelaksanaan tugas dan kegiatan unit kerja di lingkungan komisi pemberantasan korupsi b. efisiensi. dan pengendalian kegiatan pengawasan internal dan pemorosesan pengaduan masyarakat serta pengadministrasiannya e. Penyiapan bahan perumusan kebijakan pengaeasan di lingkungan KPK d. (1) Direktorat Pengawasan Internal Direktoral Pengawasan Internal melaksanakan sebagian tugas dan fungsi Deputi Bidang Pengawasan Internal dan Pengaduan Masyakrakat dalam pengawasan internal di lingkungan Komisi Pemberantasan Korupsi. Deputi Bidang Pengawasan Internal dan pengaduan Masyarakat menyelenggarakan fungsi: c. Dalam melaksanakan sebagian tugas dan fungsi deputi bidang pengawasan internal dan pengaduan masyarakat dalam pengawasan internal di lingkungan komisi pemberantasan korupsi. Dalam melaksanakan tugas pengawasan fungsional terhadap unit kerja yang berasda di bawah Komisi Pemberantasan Korupsi dan membrpses pengaduan masyarakat. Perencanaan. Pemeriksaan ketaatan. Pemberian saran dan pendapat kepada Pimpinan KPK mengenai hasi pengawasan internal dan pemrosesan pengaduan masyarakat. pelaksanaan.terhadap unit kerja yang berada di bawah Komisi Pemberantasan Korupsi dan memproses pengaduan masyarakat. Dalam melaksanakan sebagian tugas dan fungsi deputi bidang pengawasan internal dan pengaduan masyarakat dalam pengawasan internal di lingkungan komisi pemberantasan korupsi. Pemantauan dan penyiapan evaluasi pelaksanaan program kerja dibantu oleh tenaga pelaksanaan fungsional (2) Direktorat Pengaduan Masyarakat Direktorat Pengaduan Masyarakat melaksanakan sebagian tugas dan fungsi deputi bidang pengawasan internal dan pengaduan masyarakat dalam pemrosesan pengaduan masyarakat 20 .

pengendalian administrasi. Pelaksanaan ketatausahaan deputi bidang pengawasan internal dan pengaduan masyarakat (18) dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya. (3) Sekretariat Deputi Bidang Pengawasan Internal dan Pengaduan Masyarakat Sekretariat Deputi Bidang Pengawasan Internal dan Pengaduan Masyarakat mempunyai tugas melaksanakan kegiatan dibidang kesekretariatan di lingkungan deputi bidang pengawasan internal dan pengaduan masyarakat. dan b. dan sumber daya di lingukngan komisi pemerantasan korupsi. Pelaksanaan pengumpulan pencatatan dan penyusunan laporan pelaksanaan rencana dan program kerja d. Pelaksanaan koordinasi dengan semua satuan kerja di lingkungan deputi bidang pengawasanan internal dan pengaduan masyarakat dalam rangak penyiapan rumusan rencanan dan program kerja c. Pemeriksaan khusus terhadap indikasi penyimpangan an penyalahgunaan wewenang unit kerja dan SDM di lingkungan KPK b. Daam melaksanakan tugas mengakomodasikan perencanaan. Pelimahan hasil pemeriksaan menurut butir a. Pemrosesan pengaduan masyarakat yang menyangkut anggota atau pegawai KPK maupun yang menyangkut Penyelenggara Negara c. pengendalian administrasi. dan sumber daya di lingkungan KPK. Sekretariat Jenderal menyelenggarakan fungsi a. secretariat deputi bidang pengawasan internal dan pengadan masyarakat menyelenggarakan fungsi a. dan pengamanan teknis b. pembinaan. Pelaksanaan penyiapan perumusan kebijakasanaan teknis di bidang kesekretariatan berupa pemberian bimbingan. Koordinasi dan penyusunan kebijakan dan program KPK serta evaluasi pelaksanaannya di lingkungan KPK 21 . pembinaan. Dalam melaksanakan tugas dibidang kesekretariatan di lingkungan deputi bidang pengawasan internal dan pengaduan masyarakat. pembinaan. yang mengandung unsure tindak pidana korupsi kepada Deputi Bidang Penindakan.Dalam melaksanakan sebagian tugas dan fungsi deputi bidang pengawasan internal dan pengaduan masyarakat mempunyai tugas a. KPK dibantu oleh Sekretariat Jendral yang dipimpin oleh seorang Sekretariat Jendral Secretariat Jendral mempunyai tugas mengakomodasikan perencanaan.

Pemantauan dan penyiapan evaluasi pelaksanaan program kerja c. urusan tata usaha dan rumah tangga. perlengkapan. Penyusunan rencana formasi. Pengelolaan sumber daya manusia. Pelaksanaan urusan perbendaharaan f. Penyusunan laporan akuntabilitas kinerja secretariat jenderal d.b. 1) Biro Perencanaan dan Keuangan Biro Perencanaan dan Keuangan mempunyai tugas melaksanakan sinkronisasi penyusunan kebijakan umum di lingkungan KPK dan evaluasi peaksanaannya. dan kegiatan kesekretariatan pimpinan KPK Dalam melaksanakan tugas pemerian bantuan hukm dilingkungan KPK. Sinkronisasi penyusunan kebijakan umum b. dan kegiatan kesekretariatan pimpinan KPK. perbendaharaan. Dalam melaksanakan tugas sinkronisasi penyusunan kebijakan umum di lingkungan KPK dan evaluasi pelaksanaannya . biro perencanaan dan keuangan menyelenggarakan fungsi. kearsipan dan penggandaan c. Pelaksanaan urusan tata usaha. a. verifikasi dan akuntansi. Biro umum menyelenggarakan tugas. Pelaksanaan urusan dalam dan perpustakaan e. Pelaksanaan verifikasi dan akuntansi 2) Biro umum Biro umum mempunyai tugas melaksanakan pemerian bantuan hokum di lingkungan KPK. Penyusunan anggaran e. Sekretariat Jenderal terdiri atas. dan rumah tangga. perbendaharaan. Pelaksanaan urusan penggajian dan perjalanan dinas d. pengembangan. dan melaksanakan penyusunan anggaran. Pemberian bantuan hokum di lingkungan KPK d. pengelolaan data dan informasi. Pelaksanaan urusan tata usaha pimpinan dan keprotkolan 3) Biro Sumber Daya Manusia Biro Sumber Daya Manusia mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan sumber daya manusia serta penataan organisasi KPK. verifikasi dan akuntansi. dan melaksanakan penyusunan anggaran. Pemeliharaan barang milik kekayaan Negara f. serta keuangan c. a. Biro SDM menyelenggarakan fungsi. a. Pemerian bantuan huikum dilingkungan komisi pemberantasan korupsi b. Pelaksanaan urusan tata persuratan. urusan tata usaha dan rumah tangga. serta pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia lingkungan KPK 22 . penataan organisasi dan ketatalaksanaan.

pemberhentian serta kepangakatan. Untuk dapat diangkat sebagai pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: 1) Warga negara Indonesia 2) Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa 3) Sehat jasmani dan rohani 4) Berijazah sarjana hukum atau sarjana lain yang memiliki keahlian dan pengalaman sekurang-kurangnya 15 (lima belas) tahun dalam bidang hukum. 19) 20) Sekeretariat Jenderal diangkat dan diberhentikan oleh Presiden Republik Indonesia dalam menjalankan tugasnya Sekretariat Jendral bertanggung jawab kepada Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi. Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi Ketentuan-ketentuan yang mengatur tentang pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi ditentukan dalam pasal 29 sampai dengan pasal 37 undang-undang nomor 30 tahun 2002. jujur. 23 . 1. Persyaratan pengangkatan Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi Ketentuan tentang persyaratan pengangkatan Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi ditentukan sebagaiman diatur dalam pasal 29 undang-undang nomor 30 tahun 2002. atau perbankan 5) Berumur sekurang-kurangnya 40 9empat puluh0 tahun dan setinggi-tingginya 65 ( enam puluh lima) tahun pada proses pemilihan 6) Tidak pernah melakukan perbuatan tercela 7) Cakap. dan memiliki reputasi yang baik 8) Tidak menjadi pengurus salah satu partai politik 9) Melepaskan jabatan structural dan atau jabatan lainnya selama menjadi anggota komisi pemberantasan korupsi.b. memiliki integritas moral yang tinngi. ekonomi. keuangan. Penyiapan bahan analisis dan evaluasi kelembaaan KPK\pelaksanaan urusan pengangkatan. 21) ketentuan mengenai tugas dan fungsi Sekretariat Jendral sebagaimana diatur dalam Keputusan KPK 22) KPK dapat melaukan kerja sama dengan pihak lain dalam rangka pengembangan dan pembinaan organisasi KPK.

akuntan public. Kekosongan Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi Ketentuan mengenai kekosongan pimpinan sebagai akibat pemberhentian pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi sebagaimana diatur dalam Pasal 32 ayat (1) UU Nomor 30 Tahun 2002.yang dimaksud dengan ³profesi´. Masa Jabatan Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi 24 . 5.dan Dalam penjelasan pasal 19 huruyf j dijelaskan bahwa. Proses Pencalonan dan Pemilihan Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi Proses pencalonan dan pemilihan Komisi pemberantasan Korupsi ditentukan sebagaimana diatur dalam pasal 30 dan pasal 31 Undang-undang Nomor 30 Tahun 2002. baik pada badan usaha milik negara atau swasta. Pemberhentian Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi Ketentuan mengenai pemberhentian pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi sebagaiman diatur dalam Pasal 32 ayat (1) Undang-Undang nomor 30 Tahun 2002. diatur di dalam Pasal 32 ayat (2) dan ayat (3) Undang-undang Nomor 30 Tahun 2002 sebagai berikut: (1) Dalam hal terjadi kekosongan Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi. 4. Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi berhenti atau diberhentikan karena: 1) Meninggal dunia 2) B erakhir masa jabatannya 3) Menjadi terdakwa karena melaakukan tindak pidan kejahatan 4) Berhalangan tetap atau secara terus-menerus selama lebih dari 3 (tiga) bulan tidak dapat melaksanakan tugasnya 5) Mengundurkan diri. 3. misalnya advokat.Dalam penjelasan pasal 29 huruf dijelaskan bahwa:yang dimaksud dengan´jabatan lainnya´ misalnya komisaris atau direksi. 10) Tidak menjalankan profesinya selama menjadi anggota Komisi Pemberantasan Korupsi. Presiden Republik Indonesia mengajukan calon anggota pengganti kepada Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia.atau 6) Diknai sanksi berdasarkan Undang-Undang Nomor 30 tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pemberantasan Korupsi. (2) Prosedua pengajuan calon pengganti dan pemilihan anggota yang bersangkutan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 29. atau dokter 11) Mengumumkan kekayaannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan pasal 31 UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. pasal 30. 2.

Sebagaiman diatur dalam Pasal 34 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 pimpinan Komisi pemberantasan korupsi yang terdiri atas seorang ketua Pemberantasan Korupsi dan 4 (empat) orang Wakil Ketua Komisi pemberantasan Korupsi. pimpinan komosi pemberantasan korupsi yang terdiri atas seorang ketua komisi pemberantasan korupsi dan 4 (empat) orang Wakil Ketua Komisi pemberantasan Korupsi wajib mengucapkan sumpah/janji menurut agamanya di hadapan Presiden Republik Indonesia. 6. Penyelidikan. 25 . penyidikan. memegang jabatan selama 4 (empat) tahun dan dapat dipilih kembali hanya untuk sekali masa jabatan. dan Penuntutan Penyelidikan. organ yayasan. Larangan Bagi Pimpinan. pengawas atau pengurus koperasi. Pimpinan. Tim Penasihat Dan Pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi Terdapat ketentuan mengenai larangan bagi Pimpinan. dan penuntutan dilaksanakan berdasarkan perintah dan bertindak untuk dan atas nama Komisi Pemberantasan Korupsi. Penyidikan. 3) Menjabat Komisaris atau Direksi suatu perseroan. Tim Penasihat. dan jabatan profesi lainnya atau kegiatan lainnya yang berhubungan dngan jabatan tersebut. Tim Penasihat. Dan Pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi sebagaimana diatur dalam pasal 36 dan pasal 37 Undang-Undang nomor 30 Tahun 2002. sebagai berikut: (1) Sebelum memangku jabatan. dan penuntutan tindak pidana korupsi dilakukan berdasarkan hokum acara pidana yang berlaku dan berdasarkan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001. Sumpah Dan Janji Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi Tentang ketentuan mengenai sumpah dan janji pimpinan komisi pemberantasan korupsi di tur dalam pasal 35 undang-undang Nomor 3 tahun 2002. Penyelidikan. (2) Sumpah/janji ketua komosi pemberantasan korupsi 7. Dan Pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi dilarang: 1) Mengadakan hubungan langsung atau tidak langsung dengan tersangka atau langsung dengan tersangka atau pihak lain yang ada hubungan dengan perkara tindak pidana korupsi yang ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi dengan alas an apapun. 2) Menangani perkarai Tindak Pidana Korupsi yang pelakunya mempunyai hubungan keluarga sedarah atau semenda dalam garis lurus ke atas atau ke bawah sampai derajat ketiga dengan anggota komisi pemberantasan korupsi yang bersangkutan. penyidikan.

Jika penyelidik dalam melakukan penyelidikan menemukan bukti permulaan yang cukup adanya dugaan tindak pidana korupsi dalam waktu paling lambat tujuh hari kerja terhitung sejak tanggal ditemukan bukti permulaan yang cukup. Untuk kepentingan penyidikan. dan tahun dilakukan penyitaan c. penyelidik melaporkan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi dan Komisi Pemberantasan Korupsi menhentikan penyelidikan. Penyelidikan Penyelidik diangkat dan diberhentikan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi diatur dalam Pasal 43 ayat (1) Undang-Undang No.30 tahun 2002. tersangka tindak pidana korupsi wajib memberikan keterangan kepada penyidik tentang seluruh harta bendanya dan harta benda istri atau suami. hari. bulan. tidak menemukan bukti permulaan yang ukup. Setelah penyidikan dinyatakan cukup. instansi tersebut wajib memberitahukan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi 26 . penyelidik melaporkan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi.1. Tanda tangan dan identitas penyidik yang melakukan penyitaan e. Komisi melaksanakan penyidikan sendiri atau melimpahkan perkara tersebut kepada penyidik kepolisian atau kejaksaan. Tanda tangan dan identitas dari pemilik atau orang yang menguasai barang tersebut. Keterangan mengenai pemilik atau yang menguasai barang atau benda berharga lain d. Nama. anak. 2. dan harta benda setiap orang atau korporasi yang diketahui dan/atau yang diduga mempunyai hubungan dengan tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh tersangka. Bukti permulaan yang cukup dianggap telah ada apabila telah ditemukan sekurangkurangnya dua alat bukti. Dalam hal penyelidik melakukan tugasnya. Keterangan tempat. dan jumlah barang atau benda berharga lain yang disita b.30 Tahun 2002. Dalam hal Komisi Pemberantasan Korupsi berpendapat bahwa Pemberantasan Korupsi perkara tersebut diteruskan. penyidik dapat melakukan penyitaan tanpa ijin Ketua Pengadilan Negeri berkaitan dengan tugas penyidikannya. Salinan berita acara penyitaan disampaikan kepada tersangka atau keluarganya. jenis. penyidik membuat berita acara dan disampaikan kepada Pimpinan Komisi pemberantasan Korupsi untuk ditindaklanjuti. sedangkan perkara telah dilakukan penyidikan oleh kepolisian atau kejaksaan. tanggal. waktu. Atas dasar dugaan yang kuat adanya bukti permulaan yang cukup. Penyidik wajib membuat berita acara penyitaan pada hari penyitaan yang memuat : a. Penyidikan Diatur dalam Pasal 45 ayat (1) Undang-Undang No. Apabila suatu tindak pidana korupsi terjadi dan Komisi Pemberantasan Korupsi belum melakukan penyidikan.

Pengadilan Tindak Pidana Korupsi yang dibentuk pada pengadilan Negeri Jakarta Pusat selain wilayah hukumnya meliputi seluruh wilayah negara Republik Indonesia juga berwenang memeriksa dan memutus tindak pidana korupsi yang dilakukan di luar wilayah negara Republik Indonesia oleh warga negara Indonesia. Hakim Pengadilan Negeri yang menjadi hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi ditetapkan berdasarkan Keputusan Ketua Mahkamah Agung. 5. Pengadilan Tindak Pidana Korupsi berada di lingkungan Peradilan Umum. Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi terdiri atas hakim Pengadilan Negeri dan hakim ad hoc. Pembentukan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi selain pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat akan dilakukan secara bertahap di seluruh wilayah negara Republik Indonesia dengan Keputusan Presiden. 2. 6. Pemeriksaan Di Sidang Pengadilan Ketentuan mengenai pemeriksaan perkara tindak pidana korupsi di sidang pengadilan diatur di dalam Bab VII Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 mulai Pasal 53 sampai dengan Pasal 62 . Penuntut adalah jaksa penuntut umum. Jika penyidikan dilakukan secara bersamaan maka penyidikan yang dilakukan oleh kepolisian atau kejaksaan segera dihentikan. paling lambat 14 hari kerja wajib melimpahkan berkas perkara tersebut kepada Pengadilan Negeri. yaitu sebagai berikut. 4. Untuk pertama kali Pengadilan Tindak Pidana Korupsi dibentuk pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang wilayah hukumnya meliputi seluruh wilayah negara Republik Indonesia. 3. 1. Penuntut umum.paling lambat 14 hari kerja terhitung sejak tanggal dimulainya penyidikan. 7. Jika Komisi Pemberantasan Korupsi sudah mulai melakukan penyidikan. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantas Tindak Pidana Korupsi ini dibentuk Pengadilan Tindak Pidana Korupsi yang bertugas dan berwenang memeriksa dan memutus tindak pidana korupsi yang penuntutannya diajukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. 3. maka kepolisian atau kejaksaan tidak berwenang lagi melakukan penyidikan. setelah menerima berkas perkara dari penyedik. Dalam penjelasan Pasal 56 ayat (2) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 dijelaskan bahwa : 27 . Penuntutan Penuntut adalah penuntut umum pada Komisi Pemberantasan korupsi yang diangkat dan diberhentikan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi.

Hakim ad hoc yang menjadi hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi diangkat dan diberhentikan oleh Presiden Republik Indonesia atas usul Ketua Mahkamah Agung. berpengalaman mengadili tindak pidana korupsi. Untuk dapat ditetapkan sebagai hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. tidak menjadi pengurus salah satu partai politik i. 11. jujur. 9.Berdasarkan ketentuan ini maka dalam menetapkan hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. sehat jasmani dan rohani d. melepaskan jabatan struktural dan atau jabatan lainnya selama menjadi hakim ad hoc 28 . Ketua Mahkamah Agung wajib melakukan pengumuman kepada masyarakat. Untuk dapat diusulkan sebagai hakim ad hoc Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. hakim Pengadilan negeri harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. Pengumuman dapat dilakukan baik melalui media cetak maupun elektronik guna mendapat masukan dan tanggapan masyarakat terhadap calon hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi tersebut. tidak pernah dijatuhi hukuman disiplin. Dalam menetapkan dan mengusulkan calon hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi bagi hakim Pengadilan Negeri dan hakim ad hoc . cakap. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. 8. Ketua Mahkamah Agung dapat menyeleksi hakim yang bertugas pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. c. cakap dan memiliki integritas moral yang tinggi selama menjalankan tugasnya d. warga negara Republik Indonesia b. dan memiliki reputasi yang baik h. berpengalaman menjadi hakim sekurang-kurangnya 10 (sepuluh) tahun. berumur sekurang-kurangnya 40 (empat puluh) tahun pada proses pemilihan f. b. dilakukan secara transparan dan partisipatif. tidak pernah melakukan perbuatan tercela g. memiliki integritas moral yang tinggi. 10. harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : a. c. Dalam penjelasan Pasal 56 ayat (4) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 dijelaskan bahwa : Berdasarkan ketentuan ini maka pemilihan calon hakim yang akan ditetapkan dan yang akan diusulkan kepada Presiden Republik Indonesia untuk menjadi hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. berpendidikan sarjana hukum atau sarjana lain yang mempunyai keahlian dan berpengalaman sekurangkurangnya 15 (lima belas) tahun di bidang hukum e.

cakap. 14. Sebelum memangku jabatan. melepaskan jabatan struktural dan atau jabatan lainnya selama menjadi hakim ad hoc 20. Pemeriksaan perkara tindak pidana korupsi dilakukan oleh majelis hakim berjumlah 5 (lima) orang yang terdiri atas 2 (dua) orang hakim Pengadilan Tinggi yang bersangkutan dan 3 (tiga) orang hakim ad hoc. hakim ad hoc wajib mengucapkan sumpah/janji menurut agamanya di hadapan Presiden Republik Indonesia. 17. tidak menjadi pengurus salah satu partai politik i. 19. Untuk dapat diangkat menjadi hakim ad hoc pada Mahkamah Agung harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : a. dilakukan oleh Majelis Hakim berjumlah 5 (lima) orang yang terdiri atas 2 (dua) orang Hakim Agung dan 3 (tiga) orang hakim ad hoc. 16. Dalam hal putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi dimohonkan banding ke Pengadilan Tinggi. dan memiliki reputasi yang baik h. berpendidikan sarjana hukum atau sarjana lain yang mempunyai keahlian dan berpengalaman sekurangkurangnya 20 (dua puluh) tahun di bidang hukum e. memiliki integritas moral yang tinggi. berumur sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun pada proses pemilihan f. perkara tersebut diperiksa dan diputus dalam jangka waktu paling lama 60 (enam puluh) hari kerja terhitung sejak tanggal berkas perkara diterima oleh Pengadilan Tinggi. Pemeriksaan perkara tindak pidana korupsi yang dimohonkan kasasi ke Mahkamah Agung. Dalam hal putusan Pengadilan Tinggi Tindak Pidana Korupsi dimohonkan kasasi kepada Mahkamah Agung. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 57 juga berlaku bagi hakim ad hoc pada Pengadilan Tinggi. jujur. warga negara Republik Indonesia b. perkara tersebut diperiksa dan diputus dalam jangka waktu paling lama 90 (sembilan puluh) hari kerja terhitung sejak tanggal berkas perkara diterima oleh Mahkamah Agung. 13. sehat jasmani dan rohani d. 15. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa c. tidak pernah melakukan perbuatan tercela g. 29 .12. Pemeriksaan perkara tindak pidana korupsi dilakukan oleh majelis hakim berjumlah 5 (lima) orang yang terdiri atas 2 (dua) orang hakim Pengadilan Negeri yang bersangkutan dan 3 (tiga) orang hakim ad hoc. Perkara tindak pidana korupsi diperiksa dan diputus oleh Pengadilan Tindak Pidana Korupsi dalam waktu 90 (sembilan puluh) hari kerja terhitung sejak tanggal perkara dilimpahkan ke Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. 18.

dengan menggunakan nama atau cara apapun juga. ³Saya bersumpah/berjanji bahwa saya. untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam tugas ini. sebagai berikut: 1.Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. ³Saya bersumpah/berjanji bahwa saya akan setia kepada dan akan mempertahankan serta mengamalkan Pancasila sebagai dasar negara. yang dilakukan oleh KomisiPemberantasan Korupsi secara bertentangan dengan UndangUndang ini atau dengan hukum yang berlaku. penyidikan.21. 30 tahun 2002 pada pasal 63 diatur mengenai Rehabilitasi dan Kompensasi. Rehabilitasi dan Kompensasi Didalam Bab VIII Undang-Undang No. tidak akan memberikan atau menjanjikan sesuatu apapun kepada siapapun juga´. 22. serta peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi negara Republik Indonesia´. Sumpah/janji yang harus diucapkan oleh hakim ad hoc berbunyi sebagai berikut : ³Saya bersumpah/berjanji dengan sungguh-sungguh bahwa saya untuk melaksanakan tugas ini. dan penuntutan. dan obyektif dengan tidak membeda-bedakan orang. 30 . tidak sekali-kali akan menerima langsung atau tidak langsung dari siapapun juga suatu janji atau pemberian´. ³Saya bersumpah/berjanji bahwa saya senantiasa akan menjalankan tugas ini dengan jujur. Pemeriksaan di sidang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi dilakukan berdasarkan hukum acara pidana yang berlaku dan Undang. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Dalam penjelasan Pasal 62 dijelaskan bahwa : Yang dimaksud dengan ³hukum acara pidana yang berlaku´ adalah sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP). langsung atau tidak langsung. seksama. dan akan menjunjung tinggi etika profesi dalam melaksanakan kewajiban saya ini dengan sebaik-baiknya dan seadiladilnya seperti layaknya bagi seorang petugas yang berbudi baik dan jujur dalam menegakkan hukum dan keadilan´. Dalam hal seseorang dirugikan sebagai akibat penyelidikan. dan untuk pemeriksaan kasasi sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung. orang yang bersangkutan berhak untuk mengajukan gugatan rehabilitasi dan/atau kompensasi.

dan jabatan profesi lainnya atau kegiatan lainnya yang berhubungan dengan jabatan tersebut. menjabat komisaris atau direksi suatu perseroan. menangani perkara tindak pidana korupsi yang pelakunya mempunyai hubungan keluarga sedarah atau semenda dalam garis lurus ke atas atau ke bawah sampai derajat ketiga dengan pegawai pada Komisi Pemberantasan Korupsi yang bersangkutan. 1. organ yayasan.2. 31 . Dipidana dengan pidana penjara yang sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 65. 4. mengadakan hubungan langsung atau tidak langsung dengan tersangka atau pihak lain yang terkait dengan perkara tindak pidana korupsi yang ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi tanpa alasan yang sah. 30 tahun 2002. dan cara pelaksanaan rehabilitasi dan/atau kompensasi yang harus dipenuhi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi Pembiayaan Komisi Pemberantasan Korupsi Biaya yang diperlikan untuk pelaksanaan tugas komisi pemberantasan korupsi dibebankan kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. pegawai pada Komisi Pemberantasan Korupsi yang a. jika terdapat alasan-alasan pengajuan praperadilan sebagaimana ditentukan dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. Dalam putusan Pengadilan Negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditentukan jenis. dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun. pengurus koperasi. 30 tahun 2002 pada pasal 65 sampai dengan 67 diatur mengenai ketentuan pidana bagi anggota dan pegawai komisi Pemberabtasab Korupsi. b. 3. Gugatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan kepada Pengadilan Negeri yang berwenang mengadili perkara tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54. Gugatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). jangka waktu. Setiap Anggota Komisi Pemberantasan Korupsi yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36. hal tentang pembiayaan komisi pemberantasan korupsi ini diatur dalam pasal 64 Undang-Undang No. jumlah. tidak mengurangi hak orang yang dirugikan untuk mengajukan gugatan praperadilan. c. Dalam penjelasan pasal 64 dijelaskan bahwa: ´yang dimaksud dengan ´biayaµ termasuk juga untuk pembiayaan rehabilitasi dan kompensasiµ Ketentuan Pidana bagi Anggota dan Pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi Di dalam Bab X Undang-Undang No. 2.

Setelah Komisi Pemberantasan Korupsi menjalankan tugas dan wewenangnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70. Kolusi. pidananya diperberat dengan menambah 1/3 (satu pertiga) dari ancaman pidana pokok. Dengan berlakunya Undang-Undang ini Pasal 27 Undang.3. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4150) dinyatakan tidak berlaku. Ketentuan Peralihan Mengenai ketentuan peralihan diatur didalam bab XI Undang-Undang Nomor 30 tahun 2002 pasal 68 dan pasal 69 sebagai berikut: 1. tugas. penyidikan. ketentuan mengenai Komisi Pemeriksa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 sampai dengan Pasal 19 dalam BAB VII Undang-Undang Nomor 28 Tahun 32 . Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3874) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 134. Dengan terbentuknya Komisi Pemberantasan Korupsi maka Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. 2. dan penuntutan tindak pidana korupsi yang proses hukumnya belum selesai pada saat terbentuknya Komisi Pemberantasan Korupsi. sampai Komisi Pemberantasan Korupsi menjalankan tugas dan wewenangnya berdasarkanUndang-Undang ini. Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tetap menjalankan fungsi. yaitu sebagai berikut: 1. dan Nepotisme menjadi bagian Bidang Pencegahan pada Komisi Pemberantasan Korupsi. dan wewenangnya. dapat diambil alih oleh Komisi Pemberantasan Korupsi berdasarkan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9. Semua tindakan penyelidikan. 2. Komisi Pemberantasan Korupsi melaksanakan tugas dan wewenangnya paling lambat 1 (satu) tahun setelah Undang-Undang ini diundangkan. Ketentuan Penutup Didalam Bab XII Undang-Undang Nomor 30 tahun 2002 pasal 70 sampai [asal 72 diatur mengenai ketentuan penutup. Setiap Anggota Komisi Pemberantasan Korupsi dan pegawai pada Komisi Pemberantasan Korupsi yang melakukan tindak pidana korupsi.Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 140. 3.

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851). Setelah Komisi Pemberantasan Korupsi menjalankan tugas dan wewenangnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70. 4. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851). ketentuan mengenai Komisi Pemeriksa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 sampai dengan Pasal 19 dalam BAB VII Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. yaitu tanggal 27 desember 2002 5. dinyatakan tidak berlaku. 33 . Undang-Undang Nomor 30 tahun 2002 ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Kolusi. dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75. tambahan Lembaran Negara Reublik Indonesia Nomor 4259. memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. dinyatakan tidak berlaku. Agar setiap orang mengetahuinya. yaitu Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2002 Nomor 137. dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75. Kolusi. 3.

melakukan penyelidikan.KESIMPULAN KPK merupakan lembaga negara yang bersifat independen yang dalam melaksanakan tugas dan kewenangannya bebas dari pengaruh kekuasaan manapun. dan melakukan monitor terhadap penyelenggaraan pemerintahan negara. melakukan tindakan-tindakan pencegahan tindak pidana korupsi. dan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi. 34 . penyidikan. maka tugas dari KPK ini meliputi: melakukan koordinasi dan supervisi terhadap upaya pemberantasan korupsi yang dilakukan oleh lembaga-lembaga yang berwenang. Berdasarkan Pasal 6 Undang Undang Nomor 30 Tahun 2002.

Ermansjah. Sinar Grafika: Jakarta. Memberantas Korupsi Bersama KPK. 2006 Asshiddiqie. Sinar Grafika: Jakarta.DAFTAR PUSTAKA Djaja. Tindak Pidana Korupsi. Sekjen dan Kepaniteraan MK Republik Indonesia: Jakarta. Jimly. 2006 35 . Perkembangan dan Konsulidasi Lembaga Negara Pasca Amandemen. Drs. Evi. 2008 Hartanti.