Jurnal Mitra Ekonomi dan Manajemen Bisnis, Vol.1, No.

2, Oktober 2010, 216-228

ISSN 2087-1090

Analisa Marketing Mix-7P (Produk, Price, Promotion, Place, Partisipant, Process, dan Physical Evidence) terhadap Keputusan Pembelian Produk Klinik Kecantikan Teta di Surabaya
Hendri Sukotjo dan Sumanto Radix A. Program Pascasarjana Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Abstract: The study, titled "An Analysis of Marketing Mix-7P (Product, Price, Promotion, Place, Partisipant, Process and Physical Evidence) The Beauty Clinic Products Buying Decision Teta in Surabaya" was designed to determine the effect of P-7 marketing mix of consumer decisions in Beauty Clinic Teta shop in Surabaya with testing hypotheses simultaneously (simultaneously) and partial (separate). This study takes an object of research on consumers / customers of Teta Beauty Clinic in Surabaya with a sample of 115 respondents with data collection through questionnaire instrument. The findings of this research is expected to be a platform for companies to increase product quality and quality of services provided to its customers. Key works: Marketing mix-7P, shopping decisions.

PENDAHULUAN Sejalan dengan perkembangan ekonomi, teknologi, dan sosial budaya sebagai akibat dari arus perubahan global yang mendorong transformasi pada seluruh aspek perilaku konsumen dan pemenuhan kebutuhannya yang terus berkembang, dewasa ini telah banyak bermunculan bermacam bentuk Klinik atau Salon yang menawarkan perawatan kecantikan mulai dari ujung kaki sampai dengan ujung rambut Surabaya sebagai kota metropolitan kedua setelah Jakarta, merupakan lahan tersendiri bagi tumbuhnya bisnis layanan jasa seperti klinik-klinik kecantikan, dimana, sudah menjadi kebutuhan atau rutinitas masyarakat metro untuk melakukan perawatan kesehatan dan kecantikan kulit. Dengan berkembangnya jasa layanan perawatan kesehatan dan kecantikan kulit, disatu sisi tentunya membawa keuntungan bagi konsumen karena akan lebih banyak alternatif pilihan tempat bagi mereka yang ingin melakukan perawatan kesehatan dan kecantikan kulit, akan tetapi disisi lain akan menimbulkan ancaman bagi pengelola klinik-klinik kecantikan itu sendiri, karena harus menghadapi persaingan yang sangat ketat dalam memperebutkan jumlah pelanggan/konsumen yang ada.. Dari fenomena tersebut sebagai konsekuensinya, pihak marketer atau pengelola klinik kecantikan harus senantiasa memahami perilaku konsumen secara keseluruhan agar dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya dan dapat merumuskan strategi pemasarannya dengan cepat dan tepat. Oleh karena klinik kecantikan merupakan perusahaan yang menghasilkan produk berupa jasa layanan maupun jasa penjualan yang harus dipasarkan kepada konsumen, maka dalam memilih sebuah klinik kecantikan sebagai tempat untuk perawatan kesehatan dan kecantikan kulit, konsumen banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah faktor

216

dan physical evidence). Aspek-aspek yang berkaitan dengan keputusan konsumen dari sudut pandang konsumen. planning. 217 . Pengambilan keputusan manajemen lebih memfokuskan kepada empat aspek tersebut. Dan Variabel manakah dari marketing mix-7P yang memiliki pengaruh paling dominan terhadap keputusan dalam pembelian produk klinik kecantikan di Surabaya. TINJAUAN TEORITIS Pengertian Pemasaran dan Manajemen Pemasaran Disebagian besar masyarakat. implementasi dan pengendalian dibidang pemasaran. dan proses terhadap pengambilan keputusan pembelian produk Klinik kecantikan di Surabaya. and maintain beneficial exchange with target buyer for the purpose of achieving organizational objectifves” Pergesaran Paradigma Pemasaran Paradigma adalah bagaimana memandang dunia. pemasaran sering diartikan sebagai proses penjualan barang dan jasa. 1997: 6) Definisi pemasaran yang dikemukakan oleh ahli tersebut dapat diketahui bahwa pemasaran merupakan suatu system dari kegiatan bisnis yang saling berhubungan dan ditujukan untuk merencanakan. paradigma menjelaskan kepada kita tentang dunia dan dapat membantu untuk memprediksikan perilakunya. place (saluran distribusi). physical evidence (lingkungan fisik). Ditinjau dari aspek manajerial dalam pergeseran paradigma pemasaran menunjukkan suatu proses atau sebagai proses pengambilan keputusan manajemen yang mencakup analisis. promosi. Definisi manajemen pemasaran itu sendiri menurut Kotler (2000 : 13) adalah: “Marketing managemen is the analysis. price. build. price. partisipant. Kegiatan pemasaran haruslah dikoordinasikan dan dikelola dengan baik. perencanaan. promotion. maka dikenal istilah manajemen pemasaran. seperti kepuasan dan antusiasme juga tercakup didalamnya. place. implementation. mendistribusikan dan mempromosikan barang dan jasa yang dilakukan oleh perusahaan untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan konsumen. 2000: 24). proses. Mengacu pada latar belakang yang diajukan diatas. Sedangkan tinjauan dari aspek perilaku konsumen dalam pergeseran paradigma pemasaran menunjukan bahwa semua keputusan konsumen atau pelanggan dijadikan dasar untuk pengambilan keputusan (Basu. and control a program designed to creat. participant. tetapi apabila dilihat lebih mendalam pengertian pemasaran mempunyai aspek yang lebih luas dari pada pengertian tersebut. Berikut ini adalah pendapat ahli tentang pengertian pemasaran yaitu: “ Marketing is a social and managerial process by which individuals and groups obtain what they need and want through creating and exchanging product value with others” (Kotler & Armtrong. maka dapat dirumuskan masalahnya sebagai berikut: Apakah terdapat pengaruh yang signifikan secara simultan (bersama-sama) dan secara parsial antara variable-variabel dalam konsep marketing mix 7P yang terdiri dari : Produk.Analisa Marketing Mix-7P Terhadap Keputusan Pembelian Produk Klinik Kecantikan Teta di Surabaya marketing mix yang terdiri dari 7P (yang meliputi : produk. Pergeseran paradigma dalam pemasaran tidak selalu menimbulkan perubahan pada definisi pemasaran yang ada sekarang.

Oleh karena itu Gronroos dalam Kotler. (2000 : 469) menyatakan bahwa dalam konsep pemasaran jasa melibatkan beberapa unsur dalam pelaksanaan kegiatan pemasaran yakni tidak hanya dari sisi pemasaran eksternal tetapi juga pemasaran internal dan pemasaran interaktif. dan Sumanto R. Jasa baru terlihat bila dikaitkan dengan suatu hubungan langsung (interpersonal). Membangun reputasi perusahaan di mata pelanggan. karena dapat dipengaruhi perasaan. b. Kepuasan pelanggan merupakan darah kehidupan perusahaan yang harus mengalir terus menerus. Mendorong terciptanya loyalitas pelanggan. 218 . Pemasaran interaktif menggambarkan interaksi antara pelanggan dan karyawan. Marketing mix (Bauran Pemasaran Jasa) Salah satu strategi yang berhubungan dengan kegiatan pemasaran perusahaan adalah marketing mix strategy yang didefinisikan oleh Kotler dan Armstrong (1997) yang menyatakan bahwa marketing mix as the set of controllable marketing variables that the firm bleads to produce the response it wants in the target market”. iklan. tagihan dan pembayaran. Pemasaran internal menggambarkan tugas yang diemban perusahaan dalam rangka melatih dan memotivasi para karyawannya agar dapat melayani para pelanggan dengan baik. menetapkan harga. seperti system internal organisasi. harga atau tarif dari kegiatan promosi dan strategi penyampaian jasa tersebut. Bagi pemasar. f. karena banyak elemen yang mempengaruhinya. karena itu tenaga pemasaran jasa harus selalu dekat dan terus menerus memperhatikan konsumennya. kontak personal. A.Hendri S. misalnya antara produsen dengan konsumen. Meningkatkan laba. melakukan distribusi dan mempromosikan jasa kepada para pelanggan. keinginan serta perkembangan yang terdapat di lingkungannya. janji untuk memberikan kepuasan pelanggan melalui bauran pemasarannya dapat menimbulkan akibat terpenuhinya tujuan laba jangka panjang meskipun kadang-kadang mengorbankan laba jangka pendek. Memberikan dasar yang baik bagi pembelian ulang. e. Pemasaran Jasa Pemasaran jasa tidak dapat diidentifikasikan dengan jelas gambaran produknya. untuk dapat memperkenalkan dan mempromosikan jasa tersebut. Peristiwa memberi dan menerima yang dilakukan kedua pihak ini lebih menekankan atau diukur pada kepuasan. Bisnis jasa sangat kompleks. dan sebagainya. Pemasaran eksternal menggambarkan aktivitas normal yang dilakukan oleh perusahaan dalam mempersiapkan. lingkungan fisik. Kegiatan pemasaran jasa harus dapat mendekatkan konsumen. menetapkan posisi jasa segmen pasar dan pasar sasaran atas dasar kebutuhan jasa tersebut serta merumuskan bauran pemasaran (marketing mix). Pemasaran jasa bersifat sensitive dalam menghayati kebutuhan konsumen-nya. a. c. 2001) sebagai berikut. Hal ini terutama disebabkan para konsumen/pelanggannya berubah. Hubungan antara perusahaan dan pelanggannya menjadi harmonis. Membentuk rekomendasi dari mulut kemulut yang menguntungkan perusahaan. d. mengkaji peluang-peluang pasar. komentar dari mulut ke mulut. yang meliputi mutu dan deversifikasi jasa. pelanggan. karena memberikan beberapa manfaat (Tjiptono.

People (Partisipan) Yang dimaksud partisipan disini adalah karyawan penyedia jasa layanan maupun penjualan. atau orang-orang yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam proses layanan itu sendiri. Promotion. Price. Place (Saluran Distribusi) Kotler (2000: 96) menyatakan bahwa “Saluran distribusi terdiri dari seperangkat lembaga yang melakukan segala kegiatan (Fungsi) yang digunakan untuk menyalurkan produk dan status pemiliknya dari produsen ke konsumen”. majalah. radio. 2000:7). dan beauty therapis. Promotion (promosi) Promosi adalah kegiatan mengkomunikasikan informasi dari penjual kepada konsumen atau pihak lain dalam saluran penjualan untuk mempengaruhi sikap dan perilaku. televise dan direct mail (Baker. 219 .Analisa Marketing Mix-7P Terhadap Keputusan Pembelian Produk Klinik Kecantikan Teta di Surabaya Dari definisi diatas dapat diartikan bahwa bauran pemasaran merupakan variable-variabel terkendali yang digabungkan untuk menghasilkan tanggapan yang diharapkan dari pasar sasaran. Media promosi yang dapat digunakan pada bisnis ini antara lain (1) Periklanan. Place. Pembelian sebuah produk bukan hanya sekedar untuk memiliki produk tersebut tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen. (2) Promosi penjualan. Dari definisi diatas dapat diartikan bahwa saluran distribusi suatu barang adalah keseluruhan kegiatan atau fungsi untuk memindahkan produk disertai dengan hak pemiliknya dari produsen ke konsumen akhir atau pemakai industri. Proses. Blackwell dan Miniard. Dan untuk usaha jasa terdapat 7 unsur marketing mix (Marketing Mix-7p) yaitu: Produk. Distribusi berkaitan dengan kemudahan memperoleh produk di pasar dan tersedia saat konsumen mencarinya. dan (4) Pemasaran langsung. tabloid. Penentuan media promosi yang akan digunakan didasarkan pada jenis dan bentuk produk itu sendiri. Partisipant. diantaranya adalah para reception. dokter. Dan Physical Evidence. (3) Publisitas dan hubungan masyarakat. Selain itu harga salah satu faktor penting konsumen dalam mengambil keputusan untuk melakukan transaksi atau tidak (Engel. karena tergantung dari persepsi individu yang dilatar belakangi oleh lingkungan kehidupan dan kondisi individu (Schifman and Kanuk. Price (Harga) Menurut Monroe (2005) menyatakan bahwa harga merupakan pengorbanan ekonomis yang dilakukan pelanggan untuk memperoleh produk atau jasa. 2001). Harga dikatakan mahal. murah atau biasa-biasa saja dari setiap individu tidaklah harus sama. Strategi produk dapat mempengaruhi strategi pemasaran lainnya. Distribusi memperlihatkan berbagai kegiatan yang dilakukan perusahaan untuk menjadikan produk atau jasa diperoleh dan tersedia bagi konsumen sasaran. Product (produk) Produk merupakan elemen penting dalam sebuah program pemasaran. Melalui periklanan suatu perusahaan mengarahkan komunikasi persuasif pada pembeli sasaran dan masyarakat melalui media-media yang disebut dengan media massa seperti Koran. 1996).

Hendri S. pelatakan dan layout yang nampak atau lingkungan yang penting sebagai obyek stimuli (Belk 1974 dalam Assael 1992). A. (4) Pembeli (buyer). dan Sumanto R. konsumen akan mengalami suatu tingkat kepuasan atau ketidakpuasan tertentu. Model Proses pembelian (Kotler 1998) Setelah pembelian suatu produk. cuaca. cahaya. Proses keputusan pembelian menurut Kotler (1998) melalui lima tahap seperti terlihat pada Gambar 1. Yang dimaksud dengan situasi ini adalah situasi dan kondisi geografi dan lingkungan institusi. tempat parkir yang memadai. Place/Lokasi 220 . Adapun dimensi dari marketing mix yang terdiri dari 7P. credit card. (2) Pemberi pengaruh (influencer). Jika konsumen merasa puas. yaitu : Product/Produk (X1). Fasilitas jasa konsultasi dokter gratis. Pengenalan Kebutuhan Pencarian Informasi Evaluasi Alternatif Keputusan Pembelian Perilaku setelah Pembelian Gambar 1. Kerangka Konseptual Berdasarkan teori pada tinjauan pustaka sebagaimana telah diuraikan pada bab sebelumnya. keramahan dan efektivitas pelayanan. umumnya ada lima macam peranan yang dapat dilakukan oleh seseorang (Kotler 1998) yaitu : (1) Pencetus ide (initiator). ruangan. card member dan fasilitas layanan yang berpengaruh pada image perusahaan. (3) Pengambil keputusan (decider). dia akan menunjukkan probabilitas yang lebih tinggi untuk membeli produk itu lagi dan sebaliknya. lokasi yang strategis. dekorasi. Dari ketujuh elemen marketing mix tersebut yang merupakan kunci sukses bagi sebuah klinik diantaranya adalah kelengkapan produk layanan yang siap ditawarkan (one stop beauty service). Pengelola klinik melalui front liner sering menawarkan berbagai macam bentuk pelayanan untuk tujuan menarik konsumen. dapat disusun suatu kerangka konseptual untuk menganalisis pengaruh marketing mix terhadap keputusan pembelian. suara. dan fasilitas lain pendukung kenyamanan konsumen didalam perawatan seperti ruangan dari ruang tunggu sampai dengan ruang perawatan yang sejuk dan bertata cahaya yang tepat. Process (Proses) Proses adalah kegiatan yang menunjukkan bagaimana pelayanan diberikan kepada konsumen selama melakukan pembelian barang. aroma. Keputusan Pembelian Dalam keputusan membeli barang. konsumen seringkali lebih dari dua pihak yang terlibat dalam proses pertukaran atau membelinya. Price/Harga (X2). dan (5) Pemakai (user). Karakteristik lingkungan fisik merupakan segi paling nampak dalam kaitannya dengan situasi. pengiriman produk. Promotion/Promosi (X3). Physical evidence (Lingkungan fisik) Lingkungan fisik adalah keadaan atau kondisi yang di dalamnya juga termasuk suasana klinik yang merupakan tempat beroperasinya jasa layanan perawatan dan kecantikan kulit.

dokter dan receptionist). dokter dan receptionist). harga. promosi. proses. promosi. partisipant (beauty therapist. Variabel promosi adalah variabel yang paling dominan terhadap keputusan konsumen dalam pembelian di klinik kecantikan Teta di kota Surabaya. berapa besarnya pengaruh. proses. Jumlah sampel penelitian sekaligus menjadi responden diambil menurut table krejcie dengan tingkat kesalahan 5% (Sugiyono. lokasi. Physical Evidence/ Lingkungan Fisik (X6). dimana menitikberatkan pada pengujian hipotesis dengan menggunakan data terukur sehingga diharapkan akan dapat ditarik suatu kesimpulan. METODE PENELITIAN Rancangan Penelitian Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. proses. harga. yang merupakan salah satu dari teknik probability sampling yang sampelnya diambil secara acak. dan kondisi fisik. kondisi fisik secara simultan berpengaruh signifikan terhadap keputusan konsumen dalam pembelian di klinik kecantikan Teta di kota Surabaya. dan Process/Proses (X7) akan diteliti pengaruhnya terhadap keputusan pembelian di klinik kecantikan (Y). 2002 : 63) terpilih sampel sebanyak 115 Orang 221 . dokter dan receptionist). serta sejauhmana arah dari pengaruh tersebut. partisipant (beauty therapist. Pemilihan metode ini didasarkan atas homogenitas anggota/member Teta di Surabaya tiga tahun terakhir. lokasi. Kerangka konseptual pengaruh marketing mix terhadap keputusan pembelian di Klinik Kecantikan Teta di Kota Surabaya Hipotesis Penelitian H1: Bahwa variabel produk. Sampel Metode yang dipilih adalah simple random sampling. Populasi Adapun populasi dalam penelitian ini adalah anggota/member card Teta sejumlah 436 orang di Surabaya. harga.Analisa Marketing Mix-7P Terhadap Keputusan Pembelian Produk Klinik Kecantikan Teta di Surabaya (X4). H2: Bahwa variabel produk. Participant/Karyawan (X5). H3: Dari ketujuh variable : produk. Jenis penelitian ini adalah penelitian kausalitas yaitu penelitian yang berusaha untuk melihat apakah antara dua variabel atau lebih memiliki pengaruh atau tidak. lokasi. kondisi fisik secara parsial berpengaruh signifikan terhadap keputusan konsumen dalam pembelian di klinik kecantikan Teta di kota Surabaya. partisipant (beauty therapist. promosi. Product / Produk (X1) Price / Harga (X2) Promotion / Promosi (X3) Place / Lokasi (X4) Participant / Karyawan (X5) Physical Evidence / Lingkungan Fisik (X6) Process / Proses (X7) Keputusan Pembelian di Klinik kecantikan Teta di kota Surabaya (Y) Gambar 2.

Faktor Promosi (X3) adalah promosi yang dilakukan oleh klinik mengenai barangbarang yang ditawarkan/dijualnya kepada kosumen. Faktor Produk (X1) adalah semua barang-barang yang ditawarkan atau dijual di klinik kecantikan untuk dimiliki. * Berada dilokasi yang cukup prestise (X4. Variabel terikat atau dependent variable.4).1). * Simpatik dan ramah dalam pelayanan (X5.3) 2.4).4).5). Variabel bebas atau independent variable. Item-itemnya adalah: * Media promosi dengan menggunakan media cetak (X3.3).2).2). Faktor Lokasi (X4) adalah lokasi klinik yang merupakan tempat untuk menawarkan/ menjual barang-barang kepada konsumen.3). * Program member get member (X3.5).1).3).4). 2. * Uniform yang dikenakan partisipan (X5. Variabel Bebas: 1. Faktor Harga (X2) adalah harga barang-barang yang ditawarkan / dijual di klinik.Hendri S.5). * Keramahan dan kesediaan membantu (X5. 5. * Dapat memberikan solusi pemecahan masalah (X5. * Kelengkapan layanan (X1. dan Sumanto R. atau dikonsumsi oleh konsumen.1). * Dekat pusat keramaian / jantung kota (X4. A. Faktor Lingkungan Fisik (X6) adalah keadaan lingkungan fisik klinik sebagai tempat beroperasinya jasa penjualan barang-barang kepada konsumen. digunakan. * Penetapan harga untuk tindakan laser (X2. * Media promosi dengan menggunakan media luar ruangan (X3. * Penetapan harga untuk tindakan non laser (X2.1). diberi symbol ‘Y’ yaitu keputusan pembelian di klinik kecantikan Teta di kota Surabaya. * Produk yang berkualitas (X1. * Media promosi dengan menggunakan media elektronik (X3. Item-itemnya adalah: * Penetapan harga (X2. 3.5). Faktor Partisipant (X5) adalah orang-orang yang terlibat secara langsung dalam proses penjualan barang-barang di klinik. * Potongan harga (X2.2 ). 6. * Pemberian voucher pembelian (X3. Definisi Operasional Variabel A.2). 4. * Penetapan harga sebanding dengan hasil (X2.2).3). Variabel partisipant diukur dengan indikatorindikator sebagai berikut : * Sedia dan siap membantu (X5. Item-itemnya adalah: * Dekat dengan kediaman (X4.1). Item-itemnya adalah: 222 . Item-itemnya adalah: * Teknologi peralatan yang modern (X1. * Dekat dengan rumah makan / restaurant (X4. diberi symbol ‘X’ yaitu marketing mix. Definisi konsep dan Operasional Variabel Penelitian Variabel Penelitian 1. * Dekat pertokoan lain (X4.

artinya hiasan ruangan klinik yang dapat menimbulkan suasana artistik.Analisa Marketing Mix-7P Terhadap Keputusan Pembelian Produk Klinik Kecantikan Teta di Surabaya Desain dan tata ruang klinik yang menarik (X6. Variabel Tak Bebas: Keputusan Berbelanja (Y) diukur dari besarnya jumlah pembelanjaan setiap transaksi dan frekwensi perawatan yang dilakukan oleh konsumen di klinik yang bersangkutan. Tersedia sarana tempat parkir (X6.6).5). * Kondisi sarana sanitasi yang memadai (X6. Untuk menguji hipotesis penelitian secara statistik digunakan analisis regresi linier berganda karena penelitian bertujuan mengungkapkan hubungan kausalitas antara variable independent dan variable dependent.1) Desain tata ruang klinik yang mendukung terhadap layanan cepat (X6.5).2). Item-itemnya adalah: * Kecepatan pembayaran (X7. dimana jawaban responden untuk pertanyaan positif maupun negatif dibedakan atas 5 skala.1). akan dilakukan dengan bantuan software SPSS 11. Untuk mengukur jawaban responden tersebut digunakan Skala Tingkatan Point (Itimized Rating Scales) dalam bentuk Skala Likert. Untuk analisis regresi dan pengujian hipotesis. * Memiliki jaminan purna layanan (X7.7). 7.3). * Tersedia sarana pengatur suhu ruangan (X6. * Pembayaran dengan cek / giro / kartu kredit / ATM (X6.2) . Faktor Proses (X7) adalah kegiatan yang menunjukkan bagaimana pelayanan diberikan kepada para konsumen selama melakukan pembelian barang. Analisis Data Analisis dan pengolahan data yang akan dilakukan adalah analisis deskriptif dan analisis inferensia. for Windows yang bertujuan mempermudah dan memperoleh akurasi hitungan yang tepat. Dekorasi ruangan (X6. Contoh skor untuk pertanyaan positif adalah sebagai berikut : Karyawan bagian layanan Teta Aesthetic Clinic selalu bersedia dan siap membantu pelanggan yang datang“ 5 4 3 2 1 Demikian sebaliknya. * Secara keseluruhan layanan yang diberikan cukup baik dan cepat (X7. Dalam penelitian ini kuesioner disusun dalam kalimat-kalimat pertanyaan dan responden diminta untuk menjawabnya dengan memberikan tanda silang (X). HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Gambaran Obyek Penelitian Awal kali pertama berdiri Teta Aesthetic clinic pada tahun 1997 yang berada di lokasi Jalan Nginden Intan Tengah F1/46 mengawali jasa layananan dibidang kecantikan dan aesthetic.8). untuk pertanyaan negatif diberi skor nilai secara terbalik. * Kejelasan batas waktu setiap jenis layanan (X7.4). Sangat setuju Setuju Ragu-ragu Tidak setuju Sangat tidak setuju * * * * 223 . * Kondisi kebersihan lingkungan (X6. * Jam buka klinik (X7.3). B.4).

sehingga dapat digunakan untuk analisis selanjutnya. yaitu analisis regresi linier berganda. kemudian setelah 5 tahun berikutnya Teta Aesthetic clinic pindah ketempat yang baru di Jalan Raya Dharmahusada Indah D6-79 Surabaya. Suatu atribut dikatakan valid jika nilai rhitung > rtabel dan bernilai positif. Partisipant (X5). Harga (X2). Angka korelasi yang diperoleh (rhitung) harus dibandingkan dengan angka kritis tabel korelasi product moment (rtabel) pada taraf 5% pada derajat bebas n-2. ini dimaksudkan agar dapat menampung konsumen yang semakin lama semakin bertambah. Instrumen dikatakan reliabel apabila nilai koefisien alpha > 0. sehingga layak digunakan untuk analisis selanjutnya. Proses (X7). creambath. Uji Prasyarat Uji Validitas Uji validitas dilakukan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuisioner. Pengukuran reliabilitas instrumen dapat dilakukan dengan metode Alpha Cronbach (Gujarati. Dan nilai VIF semua variabel bebas lebih kecil dari 10. Lingkungan Fisik (X6). dan Sumanto R. Uji Reliabilitas Pengujian reliabilitas ditujukan untuk mengetahui apakah instrumen penelitian yang digunakan dapat diterapkan berulangkali pada obyek yang sama. Uji Asumsi Klasik Uji Asumsi Multikolinieritas Uji multikolinieritas dimaksudkan untuk mengetahui adanya hubungan yang sempurna antar variabel dalam model regresi. Lokasi (X4). potong rambut. Selengkapnya hasil uji reliabilitas instrumen penelitian disajikan dalam tabel berikut. Harga (X2). Berdasarkan berdasarkan hasil perhitungan program SPSS diketahui bahwa semua aspek indikator dari Produk (X1). Salah satu cara untuk mendeteksi kemungkinan terjadinya gejala 224 . 1995). Proses (X7). dengan tempat yang lebih besar seluas 720 m. Berdasarkan hasil perhitungan Program SPSS menunjukkan bahwa semua aspek indikator dari Produk (X1). dan Keputusan Pembelian (Y) dinyatakan reliabel.10. Partisipant (X5). Dari perhitungan estimasi korelasi matrik dengan program SPSS versi 11 menunjukkan bahwa nilai tolerance dari seluruh variabel dependen lebih besar dari 0. karena selama ini yang kita ketahui bahwa salon biasanya hanya ada perawatan rambut seperti. yaitu analisis regresi linier berganda. sehingga tidak terjadi gejala korelasi antar variabel bebas. dll. pewarnaan rambut. dan Keputusan Pembelian (Y) dinyatakan valid. Lokasi (X4). A. Lingkungan fisik (X6). Untuk mendeteksi adanya multikolinieritas dalam penelitian ini maka digunakan korelasi matriks.6. Promosi (X3). Promosi (X3).Hendri S. Dan sebagai tujuan dari pembukaan salon ini adalah untuk memenuhi keinginan konsumen mempercantik diri dari ujung kaki sampai ujung rambut. Uji Heterokedastisitas Uji asumsi regresi berganda heteroskedisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual pada satu pengamatan ke pengamatan yang lainnya.

Hasil uji F sesuai dengan perhitungan SPSS 11.827. Dengan nilai N=115 dan k = 7. dilakukan uji F yang menunjukkan pengaruh secara simultan atau bersama-sama.078 0. dan hasil scatterplot dengan program SPSS tidak terjadi trend karena data titik-titik tersebar hampir secara merata. diperoleh hasil sebagai berikut : Tabel 1.061 0.265 0.0 dapat dilihat pada lampiran seperti pada tabel berikut ini: 225 .Analisa Marketing Mix-7P Terhadap Keputusan Pembelian Produk Klinik Kecantikan Teta di Surabaya tersebut adalah dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada scatterplot antara residual versus fit.265 X3 + 0.038 0.529 dan dU = 1. hasil perhitungan dengan bantuan program komputer SPSS.058 Berdasarkan hasil perhitungan tersebut diatas.184 0.042 X7 + ei Pengujian Hipotesis Pengujian Hipotesis Secara Simultan (Uji jF) Untuk menguji hipotesis 1. karena dw tes berada dalam dU < dW < 4 – dU. maka model kurang akurat dalam memprediksi. Berdasarkan hasil perhitungan program SPSS menunjukkan bahwa Durbin Watson hitung adalah 1.042 0.007 X5 + 0. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam model diatas tidak terjadi gejala heterokedastisitas Uji Autokorelasi Uji autokorelasi adalah untuk melihat apakah antara anggota pengamatan dalam variabelvariabel bebas yang sama memiliki keterkaitan satu sama lainnya.141 0. Jika ada. maka dari tabel Durbin Watson diperoleh nilai dL = 1.141 X1 + 0.933.169 X4 + 0.278 + 0.307 0.007 0.059 0. Hasil Analisis Regresi Linier Berganda Model Constant Produk (X1) Harga (X2) Promosi (X3) Lokasi (X4) Partisipant (X5) Lingkungan Fisik (X6) Proses (X7) Sumber: data diolah Unstandardized Coefficients B Std. diperoleh persamaan regresi linier berganda sebagai berikut: Y = -0.184 X2 + 0.278 0.307 0.169 0. Error -0.307 X6 + 0.053 0.054 0. maka dapat dikatakan bahwa tidak terdapat gejala autokorelasi. Analisis Regresi Linier Berganda Teknik analisis pada penelitian ini menggunakan Regresi linier berganda.

012 F 35. dan Sumanto R. Dibandingkan dengan kompetitor. Berdasarkan olah data dengan SPSS dan tabel t. Partisipant.063 F tabel 2. Sehingga bila unsur dari variabel tersebut ditingkatkan akan berpengaruh secara signifikan terhadap Keputusan Pembelian.Hendri S. Harga. Harga. dan justru variabel Produk. digunakan uji t yang menunjukan pengaruh secara parsial dari masing-masing variabel.300 Sumber: Data Diolah df 7 107 114 Mean Square 0. 226 . Koefisien Korelasi Parsial Nilai koefisien korelasi parsial didapat dari output hasil perhitungan analisis regresi dengan program SPSS dan digunakan untuk menguji hipotesis 3. Promosi.9824 1.684 3. Variabel Partisipant dan Proses tidak berpengaruh secara signifikan terhadap Keputusan Pembelian dikarenakan secara keseluruhan dari indikator yang merepresentasikan dianggap telah terpenuhi sebagai standar minimal atribut yang harus dipenuhi oleh suatu klinik kecantikan. Lokasi.9824 1.9824 1. Lingkungan Fisik.9824 Kesimpulan Ho Ditolak Ho Ditolak Ho Ditolak Ho Ditolak Ho Diterima Ho Ditolak Ho Diterima Berdasarkan tabel 3 di atas diketahui bahwa variabel bebas yang berpengaruh signifikan terhadap Keputusan pembelian adalah variabel Produk.747 0.305 Total 4. dan Lingkungan Fisik.063 > Ftabel maka Ho ditolak pada tingkat signifikansi 5% dengan df pembilang 7 dan df penyebut 107 yang berarti signifikan.9824 1.935 0. dan Proses mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Keputusan Pembelian produk pada Klinik kecantikan Teta di kota Surabaya.9824 1.428 0. Sedangkan variabel Partisipant dan Proses tidak berpengaruh signifikan terhadap Keputusan Pembelian produk. Teta Aesthetic Clinic dianggap oleh pelanggan tidak jauh perbedaannya.995 Residual 1. A. Hasil Analisis Uji t Variabel Produk (X1) Harga (X2) Promosi (X3) Lokasi (X4) Partisipant (X5) Lingkungan Fisik (X6) Proses (X7) Sumber: Data Diolah tHitung 3.9824 1.143 3. Lokasi dan Lingkungan Fisiklah yang merupakan variabel yang berpengaruh signifikan terhadap Keputusan Pembelian. dan Teta Aesthetic Clinic telah memenuhi kondisi tersebut.0963 Kesimpulan: Karena Fhitung = 35. sehingga secara simultan variabel Produk.504 2. Pengujian Hipotesis Secara Parsial (Uji t) Untuk menguji hipotesis 2. Tabel 2. Harga. Hasil Perhitungan Uji F Model Anova Sum of Squares Regression 2. Lokasi.379 4.731 tTabel 1. Promosi. Promosi. maka hasil perhitungan uji t tampak dalam tabel berikut: Tabel 3.

Dari ketujuh variable: produk. 227 . sehingga dari hal tersebut diharapkan ada peningkatan pada keputusan konsumen dalam berbelanja di klinik kecantikan Teta di kota Surabaya. Variabel-variabel dalam konsep marketing mix 7P yang terdiri dari : Produk. Diharapkan pada penelitian selanjutnya untuk mengamati variabel lain atau menambahkan variabel selain variabel merketing mix 7P. 3. Boston. Berdasarkan hasil analisa diketahui bahwa variable-variabel dalam konsep marketing mix 7P berpengaruh terhadap keputusan konsumen dalam berbelanja di klinik kecantikan Teta di kota Surabaya. terlihat bahwa nilai korelasi parsial (r2) terbesar adalah untuk variabel promosi (X3). 2. Manajemen Ekuitas Merek. price. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Dari hasil analisis dan pembahasan. harga. dokter dan receptionist). voucher pembelian serta promo pada media luar ruang yang memuat promo/event bulanan sangat efektif mempengaruhi keputusan pembelian pada klinik kecantikan Teta di kota Surabaya Saran Saran yang dapat diberikan peneliti berdasarkan hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Consumer Behavior and Marketing Action. dan lingkungan fisik. Variabel produk. dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. aspek ini erat kaitannya dalam hal promosi yang bersifat edukatif dan persuasif seperti yang telah dilakukan dalam bentuk advetorial di media cetak. oleh karena itu pihak klinik kecantikan Teta lebih meningkatkan marketing mix yang diberikan kepada pelanggan dengan memotivasi kinerja karyawan agar lebih baik. partisipant. Demikian pula yang penulis harapkan pada penelitian-penelitian berikutnya. proses. Inc. lokasi. Gary. promosi. partisipant (beauty therapist. Elex Media Komputindo. dan proses secara bersama-sama mempunyai pengaruh terhadap pengambilan keputusan pembelian produk Klinik kecantikan di Surabaya. talk show informatif pada media elektronik radio dan penyelenggaraan member get member. kedepan dapat dikembangkan pada lingkup cabang-cabang klinik kecantikan Teta di kota lainnya. 2. Kent Publishing Company.Analisa Marketing Mix-7P Terhadap Keputusan Pembelian Produk Klinik Kecantikan Teta di Surabaya Berdasarkan hasil print-out SPSS tersebut. artinya secara parsial variabel promosi (X3) memberikan pengaruh yang paling dominan terhadap Keputusan Pembelian produk pada Klinik kecantikan Teta di kota Surabaya. Variabel promosi adalah variabel yang paling dominan terhadap keputusan pembelian pada klinik kecantikan Teta di kota Surabaya. Twelved Edition. Jakarta. place (saluran distribusi). Henry. pada kolom korelasi parsial. 2002. David A. physical evidence (lingkungan fisik). 1992. 2000. promosi. promosi. dan lokasi secara parsial berpengaruh terhadap Keputusan pembelian pada klinik kecantikan Teta. Fourth Edition. Assael. Baker. DAFTAR PUSTAKA Aaker. seiring berjalanya waktu lingkup penelitian saat ini yang terbatas pada lingkup wilayah kota Surabaya. Marketing Management. harga. New York: MC Graw Hill.

Prenhallindo. 1997. jilid I. Alih bahasa: Alexander Sindoro. Statistika Untuk Penelitian. Manajemen Pemasaran: Analisis.com). ---------------. 228 . ------------. Engel. Liberty. Dasar-dasar Pemasaran. Prenhallindo. Salemba Empat. 2005. Industrial Marketing Management (12) 841847. Second Edition. Penyunting: Agus Hasan Pura Anggawijaya. Edisi Millenium. Prentice – Hall Inc. X.R. Jilid I. Marketing Antecedent of Industrial Brand Equity: An Empirical Investigation in Spesialty Chemical. Bandung. --------------. Hani. Budiyanto. Edisi 2. Jakarta. Binarupa Aksara. 2000. Alih Bahasa: F. New Jersey. Monroe. Consumer Behavior. Terjemahan. 2001. Kotler. 2003. Rambat Lupiyoadi. Manajemen Pemasaran: Analisa Perilaku Konsumen. Philip. Van Riel et al. Prenhallindo. Jakarta. Implementasi dan Control. Yogyakarta. Allard C. Leon G and Leslie Lazar Kanuk. Ph. 2000. Jakarta. Inc. Perencanaan. Erlangga. Manajemen Pemasaran: Analisis. Paul W.tetaclinic@yahoo. Naresh K. Jilid 1. 2006. Fandy. A. Mudrajad Kuncoro. Jakarta. Jakarta. Edisi Bahasa Indonesia. Alih Bahasa: Hendra Teguh. Ronny Antonius Rusli. Manajemen Pemasaran: Analisis. Binarupa Aksara. Terjemahan. Implementasi dan Control. Teta Web Site (www. Perilaku Konsumen. 1996. Andi. Marketing Research: An Applied Orientation. X. Blackwell. Seven Edition.dan Armstrong. Perencanaan. Roger D. Malhotra. Jakarta..Hendri S. Penerbit Alfabeta. dan Sumanto R. Perencanaan. Gary. Prenhallindo. & Miniard. Strategi Pemasaran. James F. Edisi kedelapan. Sugiyono. Yakarta. 1998. Jakarta. 2002. Basu Swasta DH & T. ---------------. A.. Yogyakarta. 1995. Hamdani. 1996. jilid I. Alih Bahasa: F. Implementasi dan Control. Penyunting: Benyamin Molan. New Jersey: Prentice Hall. Perilaku Konsumen. 2002. Tjiptono. Manajemen Pemasaran Jasa. Metode Riset untuk Bisnis dan Ekonomi: Bagaimana meneliti & menulis tesis. Budiyanto. Jilid II. Edisi Bahasa Indonesia. 2001. Schiffman.D.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful