P. 1
Untitled

Untitled

|Views: 7|Likes:
Published by Putra Okta

More info:

Published by: Putra Okta on Jan 09, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as TXT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/18/2014

pdf

text

original

BAB 11 APA YANG DIMAKSUD DENGAN PIKIRAN? Tentunya kita tidak asing lagi mendengar kata ‘pikiran’.

Setiap saat kita se lalu berpikir dan menggunakan pikiran kita. Semua aktivitas yang kita lakukan di dahului pikiran. Satu hal yang perlu ditanyakan adalah apakah kita betul-betul m emahami apa yang dimaksud dengan pikiran itu? Sebelum lebih lanjut membahas tentang pikiran, kita harus sepakat dengan pengertian pikiran itu sen diri. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pikiran diartikan sebagai: 1. Hasil berpikir 2. Ingatan 3. Akal 4. Angan-angan, gagasan 5. Niat atau maksud Jadi, ada lima pengertian pada kata ‘pikiran’ dalam Bahasa Indonesia . Sebelum menetapkan pengertian mana yang tercermin di dalam Pikiran, kita perlu mengetahui makna Pikiran Benar itu sendiri. Pikiran berasal dari kata Sam ma Sankappa/Sankappo (Pali) atau Samyak Samkalpa (Sansekerta). Kata samma/sam yak berarti benar dan Sankappa/samkalpa diterjemahkan sebagai Pikiran. Pik iran di sini berarti kehendak atau niat, atau pemikiran. Jadi pengertian no.5 d alam KBBI yang akan kita gunakan selanjutnya untuk arti kata ‘pikiran’, yaitu niat atau maksud atau kehendak. Kesulitan dalam Mempelajari Pikiran Manusia Dalam mempelajari pikiran manusia, terdapat beberapa kesulitan yang disebabkan o leh : 1. Penelitian mengenai pikiran manusia, baik dari sudut pandang individu ma upun hubungan sosial secara umum, sangat jarang dilakukan di masa lampau karena kurangnya perhatian dan dukungan dana 2. Bidang psikologi telah terpecah menjadi pemikiran-pemikiran yang saling bertentangan, terutama mengenai metode apa yang harus digunakan dan permasalahan apa yang seharusnya diteliti. Berbagai bidang psikologi, antara lain gestalt psikologi, parapsikologi, hormik, holistik, organismik dan personalistik menekankan aspek pikiran dan kebiasaan m anusia yang berbeda-beda. Pikiran sendiri terbagi menjadi tiga tingkat, yaitu sa dar, setengah sadar (koma) dan tidak sadar. 3. Keobyektifan dalam mempelajari pikiran manusia sangat sulit untuk dicapa i. 4. Adanya keraguan mengenai apakah pikiran dapat dipelajari atau tidak 5. Tidak adanya kesepakatan tentang kapan dan bagaimana pikiran terbentuk d alam proses evolusi Teori – Teori Pikiran A. Pikiran Sebagai Substansi Pikiran merupakan kesatuan non material yang tidak dapat dibagi-bagi dan abadi. Kata ‘substansi’ digunakan para filsuf untuk menggambarkan sesuatu yang menjadi real itas utama atau sesuatu yang berkualitas. Plato, yang menjadi pioner teori ini, membagi sifat dasar manusia menjadi tiga : Pertama, rasional, yang terletak pada otak; Kedua, perasaan, yang berada dalam dada; Ketiga, keinginan, yang berada di bagian perut. Sementara bagi Descrates, terdapat dua hal yang menjadi substansi, yaitu pikiran dan materi. B. Pikiran Sebagai Kesatuan Organik atau Personal Salah satu penganut teori ini adalah Aristoteles, yang mengatakan bahwa jiwa mer upakan sebuah prinsip kehidupan, kumpulan proses hidup dan prinsip aktif organis asi. Pikiran atau pertimbangan merupakan kapasitas tertinggi atau fungsi dari ji wa. Dalam usahanya mengintegrasikan pikiran dan tubuh, Aritoteles memandang piki ran sebagai proses dan fungsi. Sementara itu, Immanuel Kant menganggap bahwa pikiran merupakan subyek pengetahu

an, bukan obyeknya. Ia juga membicarakan menganai ‘kesatuan sintetik apersepsi’ atau ‘kesatuan transendental apersepsi’ dimana terdapat kesatuan organik atau personal y ang mentransendenkan pengalaman-pengalaman hidup. C. Pikiran Dalam Kaitannya dengan Pengalaman Hume mengatakan bahwa pikiran dan kehidupan mental adalah sebuah asosiasi dari i de-ide yang ada. Pikiran merupakan kumpulan pengalaman yang menguasai atensi dan hidup seseorang. Sensasi-sensasi yang terjadi terikat oleh hukum asosiasi (law of association), yang terdiri dari hukum keserupaan (law of resemblance), hukum kedekatan waktu dan ruang (law of proximity in time and space) dan hukum penyeba b (law of causation). Ketiganya berlandaskan pada pengamatan, pengalaman, kebias aan dan budaya. D. Pikiran Sebagai Bentuk Perilaku Bagi John Dewey, pikiran tidak lagi menjadi kata benda, tetapi berganti menjadi kata sifat yang menjelaskan jenis-jenis perilaku tertentu. Pikiran dan gagasan m enjadi aspek fungsional dari interaksi alami. Pikiran merupakan perilaku cerdas yang sederhana. Gilbert Ryle menyatakan bahwa pikiran merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisah kan dari tubuh dan materi. Pikiran juga berperan sebagai cara seseorang berperil aku. Hubungan Pikiran dan Tubuh Interpretasi atas hubungan yang terjadi antara pikiran dan tubuh manusia sangat bervariasi, antara lain : Interaksionisme Berdasarkan interaksionisme, pikiran dan tubuh berinteraksi atau berhubungan kau sal. Pikiran dapat menyebabkan perubahan tubuh pada seseorang. Sedang perubahan tubuh akan berpengaruh pada mental seseorang. Sebaliknya, pengalaman mental juga akan berdampak pada proses-proses yang terjadi dalam tubuh. Pararelisme Tidak ada interaksi atau hubungan kausal antara dua wilayah yang berbeda. Proses mental dan proses fisik adalah dua hal nyata yang sejajar dan hanya berdampinga n satu sama lain. Pendapat ini dinilai cenderung memisahkan alam raya menjadi dua bagian dan membe rikan penyangkalan tanpa memberi penjalasan yang utuh atas sebuah permasalahan. Bahkan, peran pengalaman hidup yang tiba-tiba atau bersifat interupsi tidak dapa t dijelaskan jika dipandang dari sudut pandang pararelisme. Lebih jauh lagi, int erpretasi ini seolah membuat pikiran menjadi sangat tidak berguna dalam proses e volusi dan perjuangan hidup manusia. Teori Aspek Ganda atau Identitas Pikiran maupun tubuh merupakan hal yang tidak dapat benar-benar terpisah maupun terikat. Pikiran dan materi adalah ekspresi untuk realitas yang terjadi dan munc ul sebagai “pikiran” jika kita mengalaminya dari dalam, atau secara subyektif. Namun keduanya akan muncul sebagai “tubuh” ketika kita merasakannya dari luar, atau secar a obyektif. Teori ini juga menyatakan bahwa terdapat dunia yang terintegrasi spa sio-temporal secara kontinyu. Epifenomenalisme dan Penyangkalan Pikiran Kesadaran, atau pikiran, merupakan fenomena sekunder yang mendampingi proses-pro ses tubuh. Proses mental secara kausal mempengaruhi proses fisik dan masalah men tal lainnya. Yang disebut pikiran hanya merupakan sebuah bayang-bayang yang munc ul pada beberapa kondisi. Beberapa proses terjadi dalam otak dan sistem saraf se rta menghasilkan sensasi, perasaan, emosi, pengandaian, gagasan atau tipe kesada ran lain. Hukum fisik dan kimia bersifat universal. Unsur materialisme dan asums i mekanistik sangat kental dalam teori Epifenomenalisme.

Monisme Fisik dan Penyangkalan Materi Monisme fisik merupakan sebuah pandangan dimana seri-seri kausal dibatasi oleh m ental, dan apa yang kita anggap sebagai materi hanya merupakan bayangan dari gag asan. Materi secara esensial berperan sebagai penampilan, sedang tubuh merupakan fenomena pikiran. Pikiran yang Didasarkan pada Evolusi Darurat Materi, hidup dan pikiran adalah sesuatu yang nyata. Pikiran harus diinterpretas ikan sebagai organisasi dan aktivitas. Secara filosofis, pikiran dapat dijelaska n melalui proses sintesis kreatif, dimana ketika setiap tahap sintesis kreatif t erlampaui, akan terbentuk sebuah kualitas baru bagi pikiran. Pendapat yang Menyimpulkan Meski beberapa ilmuwan menyatakan bahwa psikologi merupakan obyek penelitian yan g sangat kompleks, namun telah terdapat bukti-bukti dan kesimpulan yang secara u mum dapat diterima. Setiap interpretasi psikologis telah memberikan pengetahuan yang cukup berharga mengenai pengertian pikiran beserta kekuatan dan fungsinya. Pikiran dapat digambarkan seperti kehidupan, yang dapat memberi rasa dan arti, t idak hanya pada perbuatan manusia tetapi juga bagi dunia. Pikiran dan kesadaran bukanlah sebuah sinonim kata. Kesadaran merupakan pengalaman manusia yang terus dapat dirasakan atau dialami oleh orang-orang yang dapat berfikir dan merasakan. Diantara seluruh perbedaan pendapat dan interpretasi yang ada, kita harus berpeg ang erat pada kesatuan personal atau identitas, yang tetap teguh melalui berbaga i pengalaman hidup dan bernilai lebih penting dibandingkan pengalaman-pengalaman yang berbeda tersebut.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->