P. 1
SUDISMAN TIDAK SUKA

SUDISMAN TIDAK SUKA

|Views: 465|Likes:
Published by shecutesib9835

More info:

Published by: shecutesib9835 on Jan 09, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/17/2013

pdf

text

original

SUDISMAN TIDAK SUKA MENANGIS 20 February 2009 at 19:42 · Filed under Uncategorized Sudisman, anggota Polit biro CC PKI, dijatuhi

hukuman mati oleh pengadilan Mahmilub tahun 1967 dengan tuduhan terlibat peristiwa 1965. Di tahun itu juga ia dieksekusi. Hanya Sudisman yang menjalani proses pengadilan dari 5 pucuk pimpinan PKI. Yang lain lenyap tak tentu rimbanya. Bagaimana mati dan kuburnya pun tak terpastikan. Di samping itu ratusan ribu warganegara Indonesia yang tak pernah diadili dan dibuktikan bersalah: baik anggota, simpatisan maupun yang diduga ada hubungan dengan PKI, dibantai, dipenjarakan, atau dibuang ke Pulau Buru. Pada minggu pertama Oktober 1965, 5 dari pucuk pimpinan PKI, cuma Sudisman yang berada di Jakarta sementara 3 orang ada di Jawa Tengah : Aidit, Lukman dan Sakirman sedangkan Nyoto di Sumatra Utara. Sudisman sendiri sempat melewati masa pelarian dan sembunyi. Pada masa pelarian inilah, ia berhasil membuat Pledoi atau KOK partai. Pledoi Sudisman yang mengatasnamakan Polit Biro CC PKI sendiri diselesaikan di Jawa Tengah, Bulan September 1966. Pledoi Sudisman ini juga dianggap telah mengakhiri pertentangan dalam faksi-faksi PKI akibat G 30 S yang gagal. Dalam Pledoi itu Sudisman menyatakan: Malapetaka yang telah menimbulkan kerugian berat kepada PKI dan gerakan revolusioner rakyat Indonesia sesudah terjadi dan gagalnya “Gerakan 30 September” telah menyingkapkan tabir yang dalam waktu cukup lama menutupi kelemahan-kelemahan berat PKI. Pimpinan PKI telah menjalankan avonturisme yaitu dengan mudah saja tanpa mengindahkan ketentuan-ketentuan organisasi melibatkan diri ke dalam “Gerakan 30 September” yang tidak berdasarkan kesadaran dan keyakinan yang tinggi massa rakyat. Dan karena itu telah menyebabkan terpencilnya partai dari massa rakyat. Sebaliknya sesudah kalahnya “Gerakan 30 September” pimpinan partai menjalankan garis oportunisme kanan yaitu menyerahkan nasib partai dan gerakan revolusioner pada kebijaksanaan Presiden Sukarno. Ini adalah puncak kelemahan-kelemahan dan kesalahan-kesalahan berat PKI baik di bidang ideologi, politik dan organisasi” Sudisman, akhirnya tertangkap di daerah terpencil Tomang pada tanggal 6 Desember 1966. Katanya: “Dalam juang terkepung lawan, tepat setahun sesudah Kawan Njoto tertangkap”. Untuk penangkapannya ini ia mengungkapkannya secara puitik: DISERGAP Seisi rumah lagi enak nyenyak, mendadak terperanjat, bangun terbentak, oleh gedoran pintu dibarengi derap sepatu, todongan pistol bernikel menuding-nuding, mengabakan, ayo jongkok dipojok, dengan baju celana dalam thok, alangkah berkesan bagiku adegan ini, disergap sesaat mentari merekah pagi. Selama dalam tahanan, anehnya Ia sendiri, tak mengalami siksaan fisik yang berarti seperti yang lain-lain walau seharusnya dialah yang paling bertanggung-jawab. Sudisman menyatakan: Dari persoalan penangkapan saya menjurus ke pemeriksaan. Saya ingin mengemukakan bahwa saya pribadi tidak pernah mengalami pukulan selama pemeriksaan, malahan hubungan antara pemeriksa dan yang diperiksa berdasarkan saling menghormati dan saling mengerti akan keyakinan masing-masing titik tolaknya, saling menghormati walaupun menganut perbedaan politik. Tetapi tidak demikian halnya jang dialami oleh kawan-kawan saya, sampai-sampai kawan Anwar Sanusi, calon anggota Politbiro CC-PKI dan bekas wakil Sek.Jen. Front Nasional pusat masih dipukul juga, apalagi yang lain. Ragam pukulan hampir menyerupai siksaan sewaktu zaman fasis Jepang, hanya digantung sajalah yang tidak digunakan. Sungguh mengerikan kalau melihat derita akibat pukulan yang dialami kader-kader PKI dan mereka yang dituduh tersangkut dengan G.30.S., padahal ke salahan mereka belum terbukti, dan belum tentu mereka itu bersalah. Belum tentu bersalah tetapi badannya sudah rusak akibat pukulan dan diselomoti (dibakar) dengan nyala rokok, sandal karet yang dibakar, sampai distrom. Ia pun menyadari ini. Karenanya dalam pembelaannya di mahmilub ia mengemukakannya sebagai Uraian Tanggung Jawab bukan pidato pembelaan karena menurutnya suatu pembelaan harus memiliki persenjataan yang lengkap baik di bidang teori Marxisme-Leninisme maupun di bidang-bidang lainnya. Persenjataan itulah yang justru tidak dia miliki karena persediaan perpustakaan tidak dia miliki dan tidak ada di tangannya. Pada pengadilan mahmilub itu, sebagai seorang komunis yang bersandar pada pengetahuan Ilmiah, ia pun menolak di sumpah atas nama agama apapun. Dengan rendah hati, ia pun menyatakan bertanggung jawab atas peristiwa 1965, karena kawankawannya lain sudah lebih dulu menempuh “jalan mati”. Untuk ini ia menyatakan: Mereka berempat telah mati tertembak tanpa “jalan-justisi”. Mereka berempat adalah saya, dan saya adalah mereka berempat, sehingga solidaritas Komunis mengharuskan saya untuk menunggalkan sikap saya dengan mereka berempat dan memilih “jalan mati”. Saya dengan mereka berempat telah berpanca-kawan, artinya, berlima telah bersama-sama membangun kembali PKI sejak tahun 1951, dari kecil menjadi besar, dari berpolitik salah menjadi berpolitik benar, dari terisolasi menjadi berfront luas, dari kurang belajar teori menjadi mulai belajar teori Marxisme – Leninisme, dan karena tidak menguasai teori Marxisme – Leninisme secara kongkrit kemudian berakhir terpelanting dalam kegagalan’ G-30-S yang membawa kerusakan berat pada PKI. Saya pribadi terlibat dalam G-30-S yang gagal. Kegagalan ini berarti pula kegagalan saya dalam memimpin PKI, sehingga mendorong menjadi unggulnya pihak lawan politik PKI. Di hadapan pengadilan Mahmilub ini juga ia mengungkapkan kondisi yang senasib antara Bung Karno dan PKI. Ia menyatakan: Saya dan PKI tidak pernah memberikan gelar ini atau itu kepada Bung Karno, tidak pernah memberikan agung ini, atau agung itu, sebab gelar satu-satunya jang tepat adalah “Bung Karno” sehingga nama Bung Karno berkembang dari Sukarno (ada kesukaran) ke Bung Karno (artinja bongkar kesukaran). Sebagai sesama orang revolusioner, justru dalam keadaan sulit seperti sekarang inilah saya terus membela dan mempertahankan Bung Karno, sebab sesuatu mengatakan bahwa “in de nood leert men zijn vrien den kennen” (dalam kesulitan kita mengenal kawan) dan “jo sanak, jo kadang, jen mati aku sing kelangan” kata Bung Karno untuk PKI. Sebagai arek Surabaya, saya sambut uluran tangan Bung Karno dengan: “ali-ali nggak ilang, nggak isa lali ambek kancane”. (artinya tidak bisa lupa sama kawannya). Kenapa saya bela dan pertahankan Bung Karno? Sebabnya ialah sepanjang sejarahnya Bung Karno konsekwen anti Imperialis sampai berani menyemboyankan “go to hell with your aid” terhadap imperialis Amerika Serikat; Bung Karno setuju mengikis sisa-sisa feodal dengan mengadakan landreform terbatas; dan Bung Karno setia pada persatuan tenaga-tenaga revolusioner. Inilah dasar daripada instruksi saya pada anggota-anggota PKI, untuk masuk dan bentuk “Barisan Sukarno”. Dalam kesulitan seperti sekarang ini berlakulah pepatah Pavlov bagi Bung Karno “a discovery begins where an unsuccessful experiment ends” (suatu penemuan mulai pada saat pengalaman yang tidak sukses berhenti).

Sebagai perpisahannya dan kesiapannya menatap pelaksanaan hukuman baginya, Disman mengutip perkataan penulis Andrew Carve: No tears for Disman – Tiada airmata bagi Disman. Sedangkan bagi para petugasnya, ia sampaikan: You had done the world a service – Kalian telah berbuat bakti bagi dunia. Sebagai orang Jawa, ia menyatakan dalam bahasa Jawa yang bernada miris: Pertama: matur nuwun, terima kasih kepada semua pihak yang telah merasa membantu saya selama berjuang; Kedua: nyuwun gunging pangaksomo, minta seribu maaf, terutama kepada massa progressif revolusioner jang merasa saya rugikan selama dalam perjuangan; Ketiga: nyuwun pangestu, minta restu terutama pada semua keluarga istri dan anak-anak dalam saya melaksanakan putusan hukuman. Ben Anderson yang hadir pada persidangan itu kemudian mengungkapkan: Dari kesaksian Sudisman saya dapat kesan bahwa dia merasa diri dalam keadaan di mana partai yang ikut dia pimpin itu dihancurkan secara mengerikan. Ratusan ribu yang mati. Dan dia sebagai seorang pemimpin dan sebagai seorang Jawa merasa bertanggung-jawab. Bagaimanapun, kalau pimpinannya baik dan beres seharusnya hal seperti itu tidak terjadi. Karena itu dia menamakan pembelaannya itu “Uraian Tanggung Jawab.” Dia tidak mau debat tentang soal ini-itu. Dia cuma bilang, “Bagaimanapun juga, sebagai pimpinan tertinggi yang masih hidup, saya memakai kesempatan ini untuk meminta maaf atas apa yang terjadi.” Sudisman tidak pernah bilang bahwa dia ikut merencanakan G-30-S. Dia cuma bilang bahwa rupanya ada unsurunsur PKI yang terseret. Dia tidak membicarakan soal Biro Khusus. Tidak membenarkan dan juga tidak membantah adanya. Waktu Syam memberi kesaksian, Sudisman tidak mau melihat mukanya dan tidak mau menjawabnya. Yang jelas, untuk sebagian besar dari saksi-saksi waktu itu informasi tentang adanya Biro Khusus itu sesuatu yang mengejutkan sekali. Jelas mereka sama sekali tidak tahu menahu. *** Sudisman, pejuang yang telah melewati pasang-surut revolusi Indonesia dengan berani itu dilahirkan di Jember, 1920. Sejak mudanya, ia telah berlaku berani menempuh hidup: sebagaimana Sayuti Melok menempelkan Ijazah AMS-nya (SMA) pada blek untuk jual dendeng, demikianlah pula Sudisman, begitu tamat HBS Surabaya tanpa ragu bersumpah di depan seorang gurunya bahwa ia tak akan menggunakan ijazah kolonial itu untuk mencari makan. Ia pun lantas terlibat dalam pengorganisiran buruh. Sudisman juga dikenal sebagai organisator yang jitu dan cerdik. Seorang jurnalis Soeryono (1927-2000), yang pernah bekerja di Penghela Rakyat di Magelang dan juga anggota Pesindo menjuluki Sudisman sebagai “the King Maker” yaitu Amir Syarifuddin dan DN Aidit. Ia juga seorang intelektual yang tekun dan teliti begitulah minimal di mata Joesoef Ishak dan Joesoef pun mengenalnya sebagai orang yang rajin membawa catatan ke mana-mana, dan kebiasaannya tak lain dari mencatat apa-apa yang dikatakan lawan bicaranya. Ia tak ubahnya sebagai “kamus berjalan” yang bisa dimintai bantuannya bila seseorang lupa atau tak mampu mengingat-ingat suatu hal penting yang ingin dikemukakan. Sejak sebelum pecah perang kemerdekaan 1945, dia aktif di Gerindo (Gerakan Rakyat Indonesia) bersama Amir Syarifuddin, Moh. Yamin,Wikana, A.K.Gani Pada masa Jepang, pada Januari 1943, Sudisman bersama Amir Syarifuddin dan 53 kawannya pun ditangkap. Menurut AM Hanafi, Sekretaris Jendral Barisan Pemuda GERINDO sejak masa di zaman Belanda dan masa pendudukan Jepang, Sudisman adalah Ketua Barisan Pemuda GERINDO Cabang Surabaya. Di penjara di Sragen. Kemudian bebas. Adalah pemuda Sidik Arselan, anggota Pemuda GERINDO, bekas PETA, dengan sepasukan Pemuda P.R.I. (yang ketuanya adalah Sumarsono) yang mendatangi penjara Sragen itu. Selain telah membebaskan Amir Sjarifudin dan Sudisman, mereka juga telah membebaskan semua tahanan lainnya yang ada di situ. Sudisman, menurut AM Hanafi juga, adalah anggota PKI, kadernya Pamudji yang dibunuh Jepang di penjara Sragen. Dari penilainan Hanafi, Sudisman adalah seorang yang tahu menghormati kaum Sukarnois. Karena itu sebagai pejuang Sudisman dikenal sebagai seorang nasionalis yang militan. Bagaimana situasi revolusi yang bergolak itu? F.C. Fanggidaej, ketika Mengenang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ke 50 menulis: Kota Yogya mendidih dari semangat dan tekad juang pemuda. Pekik dan salam MERDEKA memenuhi ruang udara kota. Jalanjalan dikuasai pemuda: kebanyakan berambut gondrong, mereka bersenjatakan pestol, senapang, brengun sampai kelewang panjang Jepang, dan sudah tentu bambu-runcing. Kepala mereka mereka ikat dengan kain merah …. Yah, semangat juang, rasa romantisme dan kecenderungan kaum muda untuk berlagak dan bergaya bercampur dengan sikap serius dan tenang dengan tekad pantang mundur yang terpancar dari mata dan wajah mereka — itulah gambaran pemuda Indonesia Revolusi Agustus 1945. Di dalam gedung Kongres tampak pemuda-pemuda yang baru dibebaskan atau membebaskan diri dari penjara Kenpeitai Jepang Sukamiskin di Bandung, antara lain: Sudisman, Tjugito, Sukarno. Juga Sumarsono, Ruslan Wijayasastra, Soepeno dan Chaerul Saleh. Sambutan Amir Syarifuddin menggambarkan ciri khas suasana politik pada awal Revolusi. Kata Bung Amir: “Hai Pemuda, jika kamu memegang bedil di tangan kananmu, haruslah kamu memegang palu di tangan kirimu. Dan jika kamu memegang pedang di tangan kananmu, peganglah arit di tangan kirimu!” Selama awal-awal revolusi fisik itu, Sudisman adalah figure pemimpin dalam organisasi para militer pemuda kiri: Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo). Pada tahun 1947, ketika FC Fanggidaej, hendak berangkat ke pertemuan pemuda di Praha, Sudisman sebagai Ketua Pesindo berpesan kepadanya agar dirinya hanya banyak berbicara tentang tuntutan perjuangan. Hanya tentang perjuangan dan situasi perjuangan saja. Tidak ada soal soal lain. Tentang situasi sosial, ekonomi dan sebagainya, itu semua tugas tugas negara. Tugas Pemuda satu saja: yaitu memberitakan dan menjelaskan kepada dunia luar, apa itu Republik Indonesia, apa dan kapan itu Proklamasi Kemerdekaan RI, dan mengapa rakyat Indonesia mengangkat senjata melawan Belanda dan Sekutu. Fanggidaej juga harus menyerukan ajakan dan tuntutan Republik Indonesia pada Dunia : “Stop the War!” 26 Februari 1948, Sayap Kiri menyelenggarakan kongres di Solo. Front Demokrasi Rakyat (FDR) pun terbentuk. Sudisman, Aidit, Njoto dan Lukman lantas mengisi Sekretariat FDR. Sejak masa sekretariat FDR inilah mulai dikenal kesatuan empat serangkai: Aidit, Lukman, Njoto, Sudisman. Di antara mereka, Sudismanlah yang paling senior. “Kekuatan baru” atau “generasi baru” begitulah keempat serangkai bersama sejumlah pemuda lain menyebut dirinya dan seterusnya akan memimpin PKI pasca peristiwa Madiun 1948 sampai dihancurkannya tahun 1965. Ditambah Ir. Sakirman, Sudisman di sidang Mahmilub tahun 1967 mengatakan: Saya dengan mereka berempat telah berpanca-kawan, artinya, berlima telah bersama-sama membangun kembali PKI sejak tahun 1951. FDR sendiri mengandalkan kekuatannya pada kaum buruh yang tergabung dalam SOBSI. Sudisman sendiri berakar kuat di kaum buruh. Di samping itu FDR juga mengandalkan kekuatan bersenjata seperti Pesindo dan simpati dari sejumlah besar perwira kunci di dalam TNI (tentara resmi Pemerintah) dan TNI-Masyarakat. 1 September 1948 diumumkan susunan Politbiro CC PKI yang baru. Sudisman pun memimpin departemen Organisasi. Susunan lengkapnya sendiri sebagai berikut: Sekretariat Umum: Musso, Maruto Darusman, Tan Ling Djie, Ngadiman; Departemen Buruh: Harjono, Setiadjit, Djokosudjono, Abdul Madjib, Achmad Sumadi, Departemen Tani: A.Tjokronegoro, D.N.Aidit, Sutrisno; Departemen Pemuda: Wikana dan Suripno, Departemen Wanita: sementara dipegang oleh Sekretariat Umum; Departemen Pertahanan: Amir Sjarifoeddin, Departemen Agitasi dan Propaganda: Alimin, Lukman dan Sardjono; Departemen Organisasi: Sudisman; Departemen Luarnegeri: Suripno; Departemen Perwakilan: Njoto; Departemen Daerah-Daerah Pendudukan: dipegang oleh Sekretariat Umum; Departemen Kader-Kader Partai: sementara dipegang oleh Sekretariat Umum;

Departemen Keuangan: Ruskak. Ketika terjadi pembersihan yang dilakukan Kabinet Hatta pada semua tokoh-tokoh penting PKI akibat peristiwa Madiun 1948, 9 orang dari total 21 orang anggota CC PKI terbunuh. Sudisman, Aidit bersama Lukman dan Nyoto berhasil lolos dari pembunuhan. Sudisman juga anggota Dewan Harian Angkatan 45. Tanggal 19 Desember 1953 bersama Chaerul Saleh, A.M. Hanafi, Harjoto Judoatmodjo, Bambang Suprapto, Pandu Kartawiguna, Moh. Imamsjafi’ie (Bang Piti) dan Amir Murtono, Sudisman pun terlibat dalam persiapan Musyawarah Besar Angkatan 45 (Mubes ke-II). Karenanya tak dapat disangkal, Sudisman telah memberikan hidupnya dengan berani. Sudisman pun memberikan kepada rakyat gambaran bagaimana hidup yang bertanggung-jawab dan konsisten. No Tears for Disman. AN ATHEIST 20 February 2009 at 19:39 · Filed under Uncategorized Sering saya meminggirkan khayal untuk menjadi seorang bapak nantinya. Berumah tangga. Mengurus bayi dan menjadi mertua. Apa iya sepanjang itu? Dan kini, tepatnya sore tadi khayal itu datang menyerbu. Saya tak bisa menyanggahnya kali ini: saya memang membutuhkan khayalan seperti itu. Setidaknya sekali-kali. 27 Desember 2007. Ini lusa setelah Yesus, Putra Allah mati. Suara-suara gemerlap dari katedral-katedral kapitalisme pun bersahutan. Santa Klaus terjerembab dengan rusa-rusanya. Tapi, tak satu pun orang meratapi bencana yang kian mesra dengan kita. Keakbaran Tuhan kini dipertaruhkan lewat pertarungan identitas. Sang Atheis muncul untuk kemudian berpendar. Christopher Hitchens memberi kita kabar ini lewat bukunya yang terbit dengan judul God Is Not Great: Religion Poisons Everything. Ia senada dengan Marx: Agama itu racun, atau dalam kamus Marxisme, Agama Itu Candu. Dan ia tak berjalan sendiri. 2004 lalu juga terbit buku berjudul Letter to a Christian Nation oleh Sam Harris, buku yang memaktubkan semua serangannya terhadap Kristen. Atheis pelatah lainnya pun tak ingin ketinggalan. Richard Dawkins, seorang pakar biologi, menerbitkan The God Delusion, yang mengutip satu kalimat pengarang lain: ”Bila seseorang menderita waham, gejala itu akan disebut gila. Bila banyak orang menderita waham, gejala itu akan disebut agama.” Belum pernah saya membaca bukunya. Saya hanya tahu dari mulut ke mulut, dan artikel-artikel yang terlampir di internet. Tapi, saya sudah terlanjur membayangkan isinya. Kenapa manusia bisa sampai tak ber-Tuhan? Apa yang salah dengan agama? Ayat-ayat suci selalu mengajarkan kita tentang kebenaran. Tentang iblis yang wajib dimusnahkan. Sampai pada abad sekarang, di mana iman coba dihadirkan lewat rasio dan ketakutan, ayat-ayat tersebut tak ikut surut. Sakralitas yang terpendar tetap sama. Lagi-lagi, ada apa Tuhan? Sang Atheis-Atheis itu serentak datang belakangan ini. Dengan mata bedil analisa yang siap membedah, mereka menyeruak, menghimpun kekuatan untuk mendistorsikan setiap agama. Dan mereka menang. Walau sementara, tapi mereka berhasil meludahi berlembar-lembar aya-ayat suci tersebut dalam kurun waktu yang terkira. Iman yang bersumber dari ketakutan ialah kebencian. Dan inilah yang jadi petuah agung setiap pelaku terorisme. Damai dunia runtuh karenanya. Tuding, bunuh, bakar, menjadi barang instan yang wajib dicerna karena sosok-sosok pengecut itu. Tapi, khayal saya ternyata punya dimensi lain. Sepertinya dunia memang membutuhkan Para Atheis-Atheis tadi. Seakan mereka adalah nalar tujuan manusia untuk memupuskan rasa benci. Agama memang tak menawarkan sekantung emas yang terjun bebas dari langit. Atheis berkebalikan. Mereka mengenyahkan semua omong kosong Tuhan. Langit dikepal. Dan sumpah serapah agama menjadi ayatnya. Agama adalah ”sebuah pengganda besar”, an enormous multiplier, ”kecurigaan dan kebencian antarpuak”. Dari sini, perlahan kesalahan demi kesalahan mengalir dari apologi yang terkenal itu: bukan agamanya yang salah, tapi manusianya. Menjadi: bukan manusianya yang salah, tapi agamanya. Dan permasalahan terhenti (sementara) sampai di titik tersebut: agama ternyata tak cukup canggih untuk memberikan penyangga bagi keserakahan manusia. ++++ Saya tetap bersinggungan dengan khayal-khayal saya untuk menjadi seorang bapak. Menggurui kenyataan, bahwa manusia memang pantas untuk tak ber-Tuhan. Semoga khayal saya berhenti sampai di sini. RADIKALISASI DOSIS TINGGI 20 February 2009 at 19:38 · Filed under Uncategorized Dalam pustaka sejarah, nama Sneevliet lebih identik sebagai penyemai ‘virus’ ideologi komunisme, yang dibawanya dari Belanda. Sasarannya bukan hanya orang-orang Belanda yang ada di Indonesia, melainkan juga orang-orang Indonesia. Di negeri asalnya, dia adalah petaka bagi rezim. Kepalanya terlalu keras untuk ditundukkan. Akibatnya, dia masuk daftar buronan, yang siap diseret ke penjara kapan saja. Bernama lengkap Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet, kita lebih mengenalnya dengan nama nama Sneevliet. Ia lahir di Rotterdam, 13 Mei 1883. Proses berpolitiknya dimulai ketika tahun 1901, dia bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik di Belanda. Akhirnya, pada usia 20–an, dia mulai berkenalan dengan gelanggang politik. Ia bergabung dalam Sociaal Democratische Arbeid Partij (Partai Buruh Sosial Demokrat) di Nederland hingga tahun 1909, yakni sebagai anggota Dewan Kota Zwolle. Setelah itu dia diangkat sebagai pimpinan serikat buruh kereta api dan trem (National Union of Rail and Tramway Personnel) pada tahun 1911. Di organisasi baru inilah, Snevlieet menunjukkan watak sejatinya, berani, dan tak pernah menyerah. Dia memimpin pemogokanpemogokan buruh di Belanda, sehingga membuat namanya masuk dalam ‘daftar hitam’ di Belanda. Keberanian ini pastilah membuat rezim takut. Lewat federasi serikat buruh, yang dikuasai oleh pemerintah, dibuatlah cara untuk menekan Snevlieet. Sehingga, jabatan sebagai ketua serikat buruh kereta api cuma setahun dipegangnya. Pada tahun 1912, ia mengundurkan diri, setelah terjadi konflik yang panas antara serikat buruh yang dipimpinnya dengan federasi serikat buruh. Peristiwa itu terjadi setelah terjadinya pemogokan buruh-buruh kapal, di mana Sneevliet berdiri sebagai pimpinan aktif dalam pemogokan itu. Lepas dari aktivitasnya di Serikat Buruh, sempat membuat Sneevliet bimbang, ia bahkan berniat untuk mundur dari ranah pergerakan. Beralihlah dia ke dunia perdagangan, dan inilah jalan yang membawanya berkelana sampai ke Indonesia Tahun 1913, untuk kali pertama, ia menginjakkan kaki ke Indonesia. Tepat pada saat itu, dunia pergerakan di Hindia Belanda tengah bersemi. Sneevliet, yang pada awalnya bekerja sebagai jurnalis di sebuah harian di kota Surabaya, mulai terusik untuk kembali berpolitik. Namun saat itu kondisi kerjanya masih belum mapan, ia pindah ke Semarang dan diangkat menjadi sekretaris di sebuah perusahaan. Hasrat politiknya rupanya tak bisa ditahan-tahan. Dia sempat aktif menjadi sekretaris dari Handelsvereeniging (Asosiasi Buruh) di Semarang. Pada tahun 1914, ia mendirikan sebuah organisasi politik yang diberi nama Indische Sociaal Democratische Vereniging (ISDV). Awalnya anggotanya hanya 65 orang, yang kesemuanya adalah orang Belanda dan kalangan Indo-Belanda. Sneevliet masih belum yakin untuk merekrut anggota dari kaum bumi putra. Dalam waktu setahun kemudian, organisasi tersebut mengalami perkembangan pesat menjadi ratusan anggotanya. Perkembangan tersebut tak terlepas dari peranan koran organisasi

berbahasa Belanda, Het Vrije Woord yang menjadi corong propaganda ISDV. Beberapa tokoh Belanda yang aktif membantu Sneevliet adalah Bergsma, Adolf Baars, Van Burink, Brandsteder dan HW Dekker. Di kalangan pemuda Indonesia tersebut nama-nama Semaun, Alimin dan Darsono. Pengaruh ISDV juga meluas di kalngan buruh buruh kereta api dan trem yang bernaung dibawah organisasi Vereniging van Spoor Tramweg Personal (VTSP). Dalam waktu yang bersamaan, pergerakan di Hindia Belanda tengah mengalami masa terang. Sarekat Islam, terus membesar dengan jumlah anggota mencapai puluhan ribu yang tersebar di berbagai daerah. Oleh karena itu ISDV, merubah haluan untuk menitik beratkan pengorganisiran pada anggota-anggota maju dari Sarekat Islam, dan inilah cikal bakal generasi pertama perekrutan kader-kader Marxis. Pada bulan Maret 1917 Sneeveliet menulis artikel berjudul Zegepraal (kemenangan), yang memuliakan Revolusi Februari Kerensky di Rusia dengan kata-kata:Telah berabad-abad disini hidup berjuta-juta rakyat yang menderita dengan penuh kesabaran dan keprihatinan, dan sesudah Diponegoro tiada seorang pemuka yang mengerakan massa ini untuk menguasai nasibnya sendiri. Wahai rakyat di Jawa, revolusi Rusia juga merupakan pelajaran bagimu. Juga rakyat Rusia berabad-abad mengalami penindasan tanpa perlawanan, miskin dan buta huruf seperti kau. Bangsa Rusia pun memenangkan kejayaan hanya dengan perjuangan terusmenerus melawan pemerintahan paksa yang menyesatkan. Apakah penabur dari benih propaganda untuk politik radikal dan gerakan ekonomi rakyat di Indonesia memperlipat kegiatannya? Dan tetap bekerja dengan tidak henti-hentinya, meskipun banyak benih jatuh di atas batu karang dan hanya nampak sedikit yang tumbuh? Dan tetap bekerja melawan segala usaha penindasan dari gerakan kemerdekaan ini?Maka tidak bisa lain bahwa rakyat di Jawa, diseluruh Indonesia akan menemukan apa yang ditemukan oleh rakyat Rusia: kemenangan yang gilang gemilang. Organisasi ISDV bergerak cepat dengan strategi mereka untuk merekrut massa dari SI. Pengaruhnya yang kuat ternyata mengkhawatirkan pemerintah Hindia Belanda, sebab pada saat yang sama, pemogokan-pemogokan buruh bertambah kuat dan meluas. Semaun, Darsono dan Alimin, adalah pimpinan-pimpinan SI Semarang yang berhasil direkrut oleh Snevlieet. Mereka punya kesamaan pandangan, prinsip-prinsip ideologi radikal dengan ISDV. Pada akhirnya perpecahan di tubuh SI tak terelakkan, perpecahan antar sayap moderat dan sayap radikal. SI Putih yang dipimpin HOS Tjokroaminoto, H.Agus Salim dan Abdul Muis, serta SI Merah yang dikepalai oleh Semaun dan teman temannya. Kemenangan revolusi Rusia makin banyak jadi bahan perbincangan rakyat. Agar pengaruh ISDV tidak semakin mengeruhkan situasi, yang dikhawatirkan memberi kemungkinan terjadinya pemberontakan rakyat, maka pemerintah Hindia Belanda menyusun rencana untuk menangkap Sneevliet dan menyeseretnya ke pengadilan. Sneeliet pun, pada bulan Desember 1918, akhirnya diusir dari Indonesia karena aktivitas politiknya. ISDV pun mulai kehilangan kendali akibat para pimpinannya diusir dari Indonesia. Juga mulai dijauhi massa akibat prinsipprinsip radikal mereka yang masih belum bisa dipahami massa. Semaun pun mengambil keputusan, mengganti ISDV menjadi Partai Komunis Hindia pada 23 Mei 1920. Tujuh bulan kemudian, partai ini mengubah namanya menjadi Partai Komunis Indonesia. Semaun terpilih sebagai ketua. Akan halnya dengan Snevlieet, ia diproses oleh jaksa dan hakim Belanda dari pemerintahan Hindia Belanda. Seorang Belanda kontra Belanda; tetapi juga seorang sosialis kontra kolonialis. Di depan pengadilan yang terjadi pada bulan November 1917, ia membacakan pidato pembelaannya setebal 366 halaman. Pidato pembelaanya itulah yang merupakan sumber referensi mengenai ajaran-ajaran sosialisme secara ilmiah, yang dipakai oleh banyak pemimpin-pemimpin bangsa kita. Salah satunya adalah Indonesia Menggugat, pidato pembelaan Bung Karno ayang dibacakan di muka Pengadilan di Bandung pada tahun 1930. Pledoi setebal 183 halaman itu jelas-jelas menunjukkan pengaruh yang besar sekali dari jalan pikiran Sneevliet yang dikembangkannya di tahun 1917. Sejak saat itulah ajaran-ajaran Marxisme meluas di Indonesia. PKI berdiri di Semarang, pada tahun 1920 dengan SemaunDarsono yang mempeloporinya. Di Surabaya Tjokroaminoto dari Serikat Islam, mulai juga memakai referensi-referensi kiri dan literatur yang disebut oleh Sneevliet di dalam pembelaannya, seperti: artikel Das Kapital-nya Marx. Berbagai literatur tersebut mulai mulai dicari-cari beberapa aktivis. Ada juga yang berusaha mendapatkannya dengan membeli dan meminjam dari toko buku ISDV, dan dikaji di rumah Tjokroaminoto bersama-sama Surjopranoto, Alimin dan lain-lain. Termasuk salah satunya adalah Bung Karno, pemuda cerdas yang tahun 1916-1920 indekos pada keluarga Tjokroaminoto, seorang tokoh pergerakan di Surabaya. Hal tersebut diakuinya dalam sebuah surat yang ditulisnya saat dia menjalani masa pembuangan di Bengkulu, tahun 1941: “Sejak saya sebagai seorang anak plonco, untuk pertama kalinya saya belajar kenal dengan teori Marxisme dari mulut seorang guru HBS yang berhaluan sosial demokrat (C. Hartough namanya) sampai memahamkan sendiri teori itu dengan membaca banyak-banyak buku Marxisme dari semua corak, sampai bekerja di dalam aktivitas politik, sampai sekarang, maka teori Marxisme bagiku adalah satu-satunya teori yang saya anggap kompeten buat memecahkan soal-soal sejarah, soal-soal politik, soal-soal kemasyarakatan.” Terinspirasi oleh gerakan revolusi yang dilakukan oleh Bolshevik, ISDV mulai mengorganisir kalangan militer dengan membentuk dewan-dewan tentara dan pelaut. Dalam waktu tidak lebih dari tiga bulan sekitar tiga ribu prajurit dan pelaut menjadi anggota gerakan yang kemudian dikenal dengan nama tentara merah. Akan tetapi, tanpa diduga, waktu kemudian berjalan bertolak belakang dengan semangat revolusioner yang tengah berkembang. Revolusi Rusia yang menjadi perspektif bagi tumbuhnya revolusi Eropa dan negeri-negeri lain di Eropa, di belahan Eropa lainnya justru mengalami kekalahan dan diberangus, termasuk di Belanda. Akibatnya kemudian berimbas pula pada pergerakan di Indonesia. Reaksi juga menjalar ke Hindia Belanda, anggota-anggota tentara merah dan anggota ISDV ditangkap dan dipenjara, seiring dengan kekalahan dan gerakan revolusi Belanda. Langkah Sneeviet pun masih belum terhenti. Pada 1920 dia hadir pada Kongres Kedua Komintern di Moskow sebagai perwakilan dari ISDV. Dan dari 1921 hingga 1923 menjadi perwakilan dari Comintern di China. Sekembalinya ke Belanda, dia menjadi ketua Sekretariat Nasional Buruh. Pada tahun 1929, dia mendirikan Partai Sosialis Revolusioner dan terpilih sebagai ketuanya. Setelah penggabungan partainya berubah nama menjadi Revolutionary Socialist Workers’ Party, dimana Sneevliet menjadi sekretaris pertama dan kemudian kemudian menjadi ketua hingga 1940. Dia juga sempat menjadi anggota Parlemen dari 1933 hingga 1937. Pada saat perang Dunia Kedua dia memimpin grup pertahanan bernama Marx-Lenin-Luxemburg-Front. Dia kemudian tertangkap dan dieksekusi pada tahun 1942. ernama Wikana, seorang sosialis. Ia memiliki seorang assisten bernama DN Aidit. Sebagai sebuah organisasi yang dipimpin seorang sosialis komunis, tak heran jika di tubuh API sering disuntikkan propagandapropaganda komunisme. Pada 9-11 November 1945, API mengadakan kongres pertama mereka di Yogyakarta. Kongres ini dihadiri hampir seluruh organisasi kepemudaan dari seluruh Indonesia. Di sana, baik Wikana maupun Aidit mengajak seluruh organisasi pemuda untuk bergabung menjadi satu organisasi kepemudaan baru. Nantinya organisasi ini dikenal dengan nama Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo). Tercatat enam organisasi setuju melebur menjadi Pesindo. Mereka adalah API sendiri, Pemuda Republik Indonesia (PRI), Angkutan Muda Republik Indonesia (AMRI), Gerakan Pemuda Republik Indonesia (GERPRI), Angkatan Muda Kereta Api (AMKA) dan Angkatan Muda Pos, Tilpun dan Telegrap (AMPTT). Satu organisasi yang menolak bergabung adalah Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII).

Lima bulan setelah pembentukan PESINDO di kongres Yogyakarta, tiga organisasi pembentuknya menyatakan keluar. Mereka adalah AMPTT, AMKA dan GERPRI. Pada bulan-bulan pertama sesudah proklamasi belum ada partai politik. Kabinet pertama yang dibentuk waktu itu berbentuk presidentil dengan Sukarno sebagai presiden dan Hatta sebagai wakil presiden, sekaligus perdana menteri dan wakil perdana menteri. Sutan Sjahrir yang belakangan dikenal sebagai perdana menteri (pertama), sebenarnya mulai aktif di kabinet II. Di situ Sjahrir tak hanya menjabat perdana menteri, tetapi juga menteri luar negeri dan dalam negeri terhitung dari 14 November 1945 sampai 12 Maret 1946. Pada hari hari menjelang proklamasi, muncul seorang tokoh bernama Ilyas Husein, yang mengaku gembong komunis bekas anak didik Sneevliet, dan baru datang dari luar negeri. Siapa sebenarnya Ilyas Husein? Dialah Tan Malaka yang memakai nama samaran. Setibanya di Indonesia, Tan mengadakan kontak dengan organsisasi-organisasi pemuda dan tak disangka pengaruh orang ini kembali membesar seperti tahun 20-an. Di bulan Oktober 1945, Sutan Sjahrir pernah mengajak Tan Malaka untuk bekerja sama dengan pihak pemerintah dengan menjadi pimpinan Partai Sosialis. Tan menolak. “Saya tak ingin seperti teman Partai Sosialis yang kebanyakan mau berkompromi dengan kapitalis-imperealis,”katanya. Tan sendiri menamakan kelompok Sjahrir, Sukarno, Hatta dan Amir Sjarifudin dengan nama kaum ‘Borjuis kecil.’ Karena mereka selalu mengunakan cara diplomasi dan kompromi. Berbeda dengan kelompoknya yang menjalankan perjuangan bersenjata melalui ‘aksi massa’ dan selalu berprinsip ‘Konsekwen Terhadap Perjuangan’. Tan dan kawan-kawan menamakan kelompok mereka kaum ‘Murba’. Lain ceritanya dengan Muso. Setelah meninggalkan Indonesia tahun 1926, ia kembali ke tanah air tahun 1935. Pada tahun itu ia mendirikan PKI ilegal di Surabaya. Namun, ketika tahun 1943 tentara Jepang menguber-uber pentolan PKI, Muso pun kembali melarikan diri ke Rusia. Perkembangan partai komunis setelah 1945 erat kaitannya dengan perjanjian Linggarjati dan Renville. Banyak kalangan yang menentang kedua perjanjian yang intinya membatasi wilayah Indonesia. Di antaranya adalah Gerakan Revolusi Rakyat (GRR) yang diketuai dr. Muwardi. Karena oposisi yang semakin meluas maka kabinet yang memerintah saat itu, KabinetAmir Sjariffudin, jatuh Januari 1948. Pada tahun yang sama, Partai Sosialis pecah menjadi dua. Sjahrir membentuk Partai Sosialis Indonesia (PSI), sedangkan Amir Sjarifudin menggabungkan diri dengan PKI, PESINDO, BTI, SOBSI, PESINDO dan Partai Buruh. Ketiganya melebur menjadi Front Demokrasi Rakyat (FDR). Partai Komunis Indonesia berdiri kembali secara ilegal tahun 1935 di Surabaya, baru akhir 1945 berani muncul terang-terangan. Tepatnya setelah Muso kembali ke Indonesia, dan tampil dengan konsepnya ‘Jalan Baru bagi Republik Indonesia’. Sama seperti tahun 1926, gerakan komunis setelah 1945 juga mempengaruhi anggota militer yang waktu itu masih bernama APRI. Diperkirakan 35% anggota APRI sudah terpengaruh komunis. Selain itu orang orang komunis juga membentuk pasukan tidak resmi. Pemberontakan PKI Madiun 1948 Menjelang pemberontakan PKI Madiun, bisa dikatakan Front Demokrasi Rakyat (FDR), sebagai wadah yang menampung PKI dan partai sejenisnya, sudah memiliki tentara sendiri. Komandannya bernama Djoko Sujono. Setiap hari gembong-gembong komunis, termasuk Muso, mengadakan pidato di sekitar Yogyakarta, Sragen, Solo juga Madiun. Macetnya perundingan antara pihak pemerintah Indonesia dengan Belanda mengenai Renville, menjadi kesempatan bagi gerakan komunis melakukan pemberontakan. Pada 18 September 1948 pemberontakan PKI meletus di Madiun di bawah Muso. Bala tentara FDR yang semula menghadapi Belanda di front segera bergerak ke Madiun untuk memperkuat Muso. Gerakan PKI ini didukung penuh radio setempat, Gelora Pemuda, yang menyiarkan secara langsung pidato propaganda PKI. Korban-korban terus berjatuhan di Madiun, bahkan sampai Solo. Salah satu korban adalah dr.Muwardi, ketua Gerakan Revolusi Rakyat (GRR), yang menentang Amir Sjarifudin sewaktu masih menjabat perdana menteri dan belum bergabung dalam FDR. Tanggal 19 September 1948, PKI/FDR di bawah Muso memproklamirkan berdirinya ‘Soviet Republik Indonesia’ di Madiun. Madiun dipermak habis sehingga menyerupai Soviet Republik Indonesia. Walikotanya ditunjuk Abdulmutalib, seorang gembong komunis di Indonesia. Pajak penduduk ditiadakan, karena dianggap tidak mencerminkan suatu negara yang demokratis. Tetapi rakyat diwajibkan mendaftarkan beberapa jumlah emas dan permatanya kepada penguasa. Tidak seorangpun dibolehkan memiliki uang lebih dari limaratus rupiah. Saat pasukan Republik meringsek kedalam kota, pasukan PKI dan para gembongnya kalang kabut lari ke gunung-gunung. Tinggallah kota Madiun yang bau amis, karena banyaknya mayat-mayat rakyat kecil, pejabat maupun pegawai pemerintahan yang tewas dibantai. Walaupun sudah melarikan diri sampai ke pelosok-pelosok, Muso dan Amir Sjarifudin akhirnya tertanggap oleh pasukan Republik. Muso tewas dalam baku tembak antarpasukan, sedangkan Amir Sjarifudin dihukum mati 19 Desember 1948. Tepat dengan hari agresi militer Belanda I. Pada hari yang sama empat orang gembong PKI yang sempat tertangkap, malah lari dari penjara. Mereka adalah: Abdulmadjid, Alimin, Tan Ling Djie serta DN Aidit. Tapi perhatian TNI waktu itu lebih tertuju untuk mengatasi agresi Belanda dibanding mengejar keempat orang tersebut. Yang jelas, dengan matinya Muso dan Amir Sjarifudin pemerintah waktu itu menyatakan kasus pemberontakan PKI Madiun selesai. Pemberontakan Tahun 1965 Setelah berhasil melarikan diri, Alimin, Ngadiman, Tan Ling Djie serta DN Aidit mulai kembali menyusun taktik-taktik dan upaya untuk bangkit kembali. Salah satunya cara dengan menerbitkan koran ‘Bintang Merah’ tahun 1950. Koran yang pimpinan tertingginya (Sekertaris Jendral) dipegang langsung DN Aidit ini, menjadi sarana utama PKI kembali melancarkan propagandanya. Belakangan bermunculan Koran-koran lain yang menjadi ’simpatisan’ PKI. Seperti Harian Rakyat, Warta Bhakti dan Bintang Timur. Koran yang non-komunis di awal 60-an setengah mati mempertahankan diri agar tidak ‘dibredel’ Peperda (Penguasa Perang Daerah). Yang sempat menjadi korban adalah Indonesia Raya. Para wartawan anti-komunis dalam Badan Pendukung Sukarnoisme (BPS), akhirnya juga dibubarkan berkat lobby DN Aidit ke penguasa saat itu. Bahkan Kantor Berita Antara juga secara penuh dikuasai orang-orang PKI. Akibatnya berita yang masuk dan yang disebarluaskan hanya yang menguntungkan PKI saja. Agustus 1953, Ali Sastroamijojo memimpin kabinet koalisi dengan PNI sebagai mayoritas. Sedangkan Masyumi, Katolik dan Sosialis menjadi oposisi. Hubungan yang semakin lama semakin buruk antara Masyumi dan PNI dimanfaatkan benar oleh PKI. Partai ini mulai memperlihatkan prestasinya ketika Pemilu 1955 berhasil menghimpun pemilih sebanyak 6.174..914 orang atau 16,4% pemilih di Indonesia. Pada peringatan HUT PKI, 23 Mei 1965, DN Aidit mengomandokan kepada massa PKI untuk meningkatkan sikap revolusioner mereka. Perayaan yang mirip ‘pamer kekuatan’ ini semakin semarak dengan poster slogan-slogan PKI, seperti ‘Ganyang Kebudayaan Ngak-Ngik-Ngok’ atau’Bentuk Angkatan V’ (buruh dan tani). Melalui BTI (Barisan Tani Indonesia), SOBSI dan Pemuda Rakyat, PKI juga mulai menggarap desa-desa dan mengeluarkan slogan ‘Tujuh Setan Desa’. Mereka yang disebut setan itu adalah tuan tanah, lintah darat, tengkulak, tukang ijon, kapitalis birokrat, bandit desa serta pengirim zakat. Setelah slogan ini dipropagandakan, mulailah terjadi pembantaian dan pembunuhan terhadap mereka yang oleh penduduk desa dianggap ’setan’. Dengan maraknya aksi brutal PKI, enam partai mengeluarkan

pernyataan yang sifatnya mengecam tindakan PKI. Mereka adalah PNI, NU, Parkindo, Partai Katolik, PSII dan IPKI. Sedang jajaran militer, juga tegas menolak Nasakomisasi di tubuh militer, seperti diusulkan PKI. Memasuki September, isu-isu kudeta militer yang dikomandoi ‘Dewan Jendral’ semakin santer. Sebagian orang percaya hari ABRI 5 Oktober akan digunakan militer untuk melakukan kup terhadap presiden. Apalagi sejak seminggu sebelumnya, Lapangan Parkir Timur Senayan sudah dipenuh kendaraan parade dan defile militer. Bahkan banyak yang sengaja didatangkan dari Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat. Dengan dalih menyelamatkan revolusi dan Pemimpin Besar Revolusi, PKI merencanakan sebuah gerakan yang mereka disebut ‘Gerakan 30 September’. Menurut LetKol Untung, gerakan ini semata-mata gerakan dalam Angkatan Darat yang ditujukan kepada Dewan Jendral yang telah mencemarkan nama Angkatan Darat. Dan ia sebagai anggota Cakrabirawa berkewajiban melindungi keselamatan presiden. Yang diserahi tugas menculik para jendral tergabung dalam pasukan ‘Pasopati’. Komandannya ditunjuk Lettu Dul Arief. Pasukan disebar ke sasaran masing-masing serentak dan mulai bergerak dari Lubang Buaya pukul 03.00 WIB. Enam orang jendral dan satu orang perwira pertama menjadi korban keganasan PKI. Surat keputusan No.1/3/1966 yang ditandatangani oleh Letjen Suharto atas nama Presiden Republik Sukarno berlaku untuk seluruh wilayah Indonesia. Surat keputusan ini diperkuat lagi dengan Tap MPRS No.XXV/MPRS/1966 yang menyatakan partai komunis sebagai partai terlarang. Tidak hanya itu, sejak itu setiap kegiatan menyebarkan atau mengembangkan faham dan ajaran Komunisme-Marxisme-Leninisme juga dilarang. Artikel berikut muncul di Spartanburg, South Carolina Herald-Journal pada tanggal 19 Mei, 1990 lalu di San Fransisco Examiner pada 20 Mei, 1990, Washington Post pada tanggal 21 Mei 1990, dan Boston Globe pada tanggal 23 Mei 1990. Versi bawah ini dari Examiner. Mantan agen CIA mengatakan mengumpulkan daftar kematian bagi Indonesia Setelah 25 tahun, Amerika berbicara tentang mereka peran dalam membasmi Partai Komunis oleh Kathy Kadane, Amerika News Service, 1990 WASHINGTON - Pemerintah AS memainkan peran penting di salah satu pembantaian terburuk abad ini dengan menyediakan nama-nama ribuan pemimpin Partai Komunis kepada tentara Indonesia, yang memburu kaum kiri dan membunuh mereka, mantan diplomat AS mengatakan. Untuk pertama kalinya, para pejabat AS mengakui bahwa pada 1965 mereka secara sistematis mengumpulkan daftar komprehensif dari operasi komunis, dari eselon atas ke bawah untuk kader desa. Sebanyak 5.000 nama yang diserahkan kepada tentara Indonesia, dan Amerika kemudian diperiksa dari nama-nama mereka yang telah dibunuh atau ditangkap, menurut para pejabat AS. Pembunuhan itu bagian dari sebuah pertumpahan darah besar yang mengambil 250.000 taksiran. Pembersihan Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah bagian dari upaya AS untuk memastikan bahwa Komunis datang bukan untuk kekuasaan di negara terbesar di Asia Tenggara, di mana Amerika Serikat itu sudah terlibat dalam perang rahasia di Vietnam. Indonesia adalah negara yang paling padat penduduknya-kelima di dunia. Diam selama seperempat abad, mantan diplomat senior AS dan petugas CIA dijelaskan dalam wawancara panjang bagaimana mereka dibantu Bahasa Indonesia Presiden Soeharto, maka pemimpin tentara, dalam serangan pada PKI. "Ini benar-benar adalah bantuan yang besar kepada tentara," kata Robert J. Martens, mantan anggota bagian politik Kedutaan Besar AS yang kini menjadi konsultan untuk Departemen Luar Negeri. "Mereka mungkin membunuh banyak orang, dan saya mungkin punya banyak darah di tangan saya, tapi itu tidak semua buruk Ada saat ketika Anda harus memukul keras pada saat yang menentukan.." Gedung Putih dan juru bicara Departemen Luar Negeri menolak mengomentari pengungkapan. Meskipun mantan wakil CIA kepala pos dan mantan diplomat Edward Masters, bos yang Martens ", kata agen CIA berkontribusi dalam menyusun daftar-daftar maut, juru bicara CIA, Mark Mansfield mengatakan," Tidak ada substansi tuduhan bahwa CIA terlibat dalam dan persiapan / atau distribusi dari daftar yang digunakan untuk melacak dan membunuh anggota-anggota PKI. Hal ini hanya tidak benar. " Juru bicara Kedutaan Besar Bahasa Indonesia Makarim Wibisono mengatakan ia tidak memiliki pengetahuan pribadi tentang peristiwa yang digambarkan oleh mantan pejabat AS. "Dalam hal memerangi kaum Komunis, sejauh yang saya khawatir, rakyat Indonesia berjuang sendiri untuk membasmi Komunis," katanya. Martens, seorang analis berpengalaman urusan komunis, dipimpin kelompok kedutaan Departemen Luar Negeri dan pejabat CIA yang menghabiskan dua tahun untuk membuat daftar. Dia kemudian menyerahkan mereka ke perantara tentara. Orang yang bernama di daftar ditangkap dalam jumlah besar, Martens mengatakan, menambahkan, "Ini adalah bagian besar dari alasan PKI tidak pernah kembali." PKI adalah Partai Komunis ketiga terbesar di dunia, dengan 3 juta anggota diperkirakan. Melalui organisasi-organisasi afiliasinya seperti tenaga kerja dan kelompok pemuda itu mengklaim loyalitas lain 17 juta. Pada tahun 1966, Washington Post menerbitkan sebuah memperkirakan bahwa 500.000 tewas dalam pembersihan dan perang saudara singkat itu dipicu. Dalam sebuah laporan tahun 1968, CIA diperkirakan ada 250.000 kematian telah, dan disebut pembantaian "salah satu pembunuhan massal terburuk di abad ke-20." U. S. Kedutaan persetujuan Persetujuan untuk rilis dari nama-nama datang dari pejabat tinggi Kedubes AS, termasuk mantan Duta Besar Marshall Green,

wakil kepala misi Jack Lydman dan politik kepala bagian Edward Masters, tiga mengakui dalam wawancara. Kabel kedutaan dideklasifikasi dan laporan Departemen Luar Negeri dari awal Oktober 1965, sebelum nama diserahkan, menunjukkan bahwa para pejabat AS tahu Soeharto telah mulai roundups kader PKI, dan bahwa kedutaan laporan yang belum dikonfirmasi bahwa telah regu tembak sedang dibentuk untuk membunuh tahanan PKI. Mantan Direktur CIA William Colby, dalam sebuah wawancara, dibandingkan kampanye kedutaan untuk mengidentifikasi kepemimpinan PKI untuk program Phoenix di Vietnam. Pada tahun 1965, Colby direktur divisi Timur Jauh CIA dan bertanggung jawab atas pengarahan strategi rahasia AS di Asia. "Itulah yang saya set di Program Phoenix di Vietnam - yang saya sudah ditendang sekitar untuk banyak," katanya. "Itulah apa itu. Itu adalah upaya untuk mengidentifikasi struktur" dari Partai Komunis. Phoenix adalah program gabungan AS-Vietnam Selatan yang didirikan oleh CIA pada Desember 1967 yang bertujuan untuk menetralkan anggota dari Front Pembebasan Nasional, para kader politik Vietkong. Secara luas dikritik karena dugaan pelanggaran hak asasi manusia. "Kau menembak mereka" "Ide mengidentifikasi aparat setempat dirancang untuk - baik, Anda pergi keluar dan membuat mereka menyerah, atau Anda menangkap atau Anda menembak mereka," kata Colby Program Phoenix. "Maksudku, itu adalah perang, dan mereka berjuang Jadi itu benar-benar ditujukan untuk memberikan intelijen untuk operasi daripada gambaran besar dari hal itu.." Pada tahun 1962, ketika ia mengambil alih sebagai kepala divisi Timur Jauh CIA, Colby mengatakan ia menemukan Amerika Serikat tidak memiliki daftar yang komprehensif dari aktivis PKI. Tidak memiliki daftar "bisa saja dikritik sebagai celah dalam sistem intelijen," katanya, menambahkan mereka berguna untuk "perencanaan operasi" dan memberikan gambaran tentang bagaimana pesta itu diselenggarakan. Tanpa daftar tersebut, katanya, "kau berjuang buta." Ketika ditanya apakah CIA telah bertanggung jawab untuk mengirimkan Martens, seorang petugas dinas luar negeri, ke Jakarta pada tahun 1963 untuk menyusun daftar, Colby mengatakan, "Mungkin, aku tidak tahu Mungkin kita melakukannya.. Aku sudah lupa." Daftar adalah who's-yang rinci pimpinan partai 3 juta anggota, kata Martens. Mereka termasuk nama-nama propinsi, kota dan lokal PKI anggota komite, dan pemimpin dari "organisasi massa," seperti PKI federasi tenaga kerja nasional, perempuan dan kelompok pemuda. Informasi yang lebih baik "Aku tahu kita memiliki informasi lebih banyak" tentang PKI "dari orang Indonesia sendiri," kata Green. Martens "kata saya pada beberapa kesempatan yang ... pemerintah tidak memiliki informasi yang sangat baik pada setup Komunis, dan dia memberi saya kesan bahwa informasi ini lebih unggul terhadap apa yang mereka miliki." Master, kepala bagian politik kedutaan, mengatakan dia yakin tentara telah daftar sendiri, tapi mereka tidak komprehensif sebagai daftar Amerika. Dia mengatakan dia tidak bisa mengingat apakah keputusan untuk melepaskan nama telah dibersihkan dengan Washington. Daftar diserahkan sedikit demi sedikit, kata Martens, dimulai di bagian atas organisasi komunis. Martens memasok ribuan namanama utusan Indonesia selama beberapa bulan, katanya. Utusan adalah ajudan Adam Malik, seorang menteri Indonesia yang merupakan sekutu Soeharto dalam serangan terhadap kaum Komunis. Diwawancarai di Jakarta, ajudan, Tirta Kentjana ("Kim") Adhyatman, menegaskan ia telah bertemu dengan Martens dan menerima daftar ribuan nama, yang pada gilirannya memberikan pada Malik. Malik melewati mereka ke markas Suharto, katanya. "Menembak daftar" Hati-hati petugas kedutaan mencatat penghancuran selanjutnya organisasi PKI. Menggunakan daftar Martens 'sebagai panduan, mereka memeriksa nama-nama para pemimpin PKI ditangkap dan dibunuh, pelacakan pembongkaran stabil dari aparat partai, mantan pejabat AS mengatakan. Informasi tentang yang telah ditangkap dan dibunuh datang dari markas Suharto, menurut Joseph Lazarsky, wakil kepala stasiun CIA di Jakarta pada 1965. Markas Suharto di Jakarta adalah titik pusat untuk pengumpulan laporan militer dari seluruh negeri merinci menangkap dan membunuh para pemimpin PKI, Lazarsky kata. "Kami mendapatkan laporan yang baik di Jakarta tentang siapa yang mengambil," kata Lazarsky. "Tentara memiliki 'daftar penembakan' dari sekitar 4.000 atau 5.000 orang." Pusat penahanan dibentuk untuk menahan mereka yang tidak segera dibunuh. "Mereka tidak punya cukup tentara untuk membinasakan mereka semua, dan beberapa orang masih berharga untuk diinterogasi," kata Lazarsky. "Infrastruktur itu segera merangsang Kami tahu apa yang mereka lakukan. Kami tahu mereka akan tetap sedikit dan menyimpannya untuk pengadilan pura-pura, tetapi Suharto dan penasehat-penasehatnya berkata, bila kamu biarkan mereka hidup., Anda harus memberi mereka makan." Master, kepala bagian politik, mengatakan, "Kami memiliki daftar ini" dibangun oleh Martens, "dan kami menggunakan mereka untuk mengecek apa yang terjadi pada partai, apa efek" pembunuhan "di atasnya." Lazarsky mengatakan karya checkoff juga dilakukan oleh direktorat intelijen CIA di Washington.

Kepemimpinan hancur Pada akhir Januari 1966, Lazarsky mengatakan, check-off begitu banyak nama-nama para analis CIA di Washington menyimpulkan kepemimpinan PKI telah hancur. "Tak ada yang peduli, selama mereka Komunis, bahwa mereka dibantai," kata Howard Federspiel, yang pada 1965 adalah ahli Indonesia di Departemen Luar Negeri Biro Intelijen dan Riset. "Tidak ada yang menjadi sangat bekerja sampai tentang hal itu." Ditanya tentang checkoffs, Colby mengatakan, "Kami datang ke kesimpulan bahwa dengan cara semacam Draconian itu dilakukan, itu benar-benar mengatur mereka" - yang komunis - "kembali untuk tahun." Ditanya apakah ia berarti checkoffs merupakan bukti bahwa pimpinan PKI telah ditangkap atau dibunuh, ia berkata, "Ya, ya, itu benar, ... unsur terkemuka, ya."

Lebih dari Kathy Kadane ... Surat untuk Editor, New York Review of Books, April 10, 1997 Untuk Editor: Saya sangat mengagumi Ms Laber sepotong tentang politik bahasa Indonesia dan asal usul dari rezim Soeharto. Sehubungan dengan pernyataan bahwa sedikit yang diketahui tentang peran (atau AS) CIA dalam kudeta 1965 dan pembantaian tentara yang mengikuti, saya ingin membuat pembaca Anda menyadari tubuh menarik bukti tentang ini yang tersedia untuk umum, namun akses publik untuk itu sedikit diketahui. Ini terdiri dari serangkaian on-the-record, rekaman wawancara dengan pria yang mengepalai kedutaan AS di Jakarta atau berada pada tingkat tinggi di Washington lembaga pada tahun 1965. Saya menerbitkan sebuah berita didasarkan pada wawancara di The Washington Post ("Daftar Pejabat AS 'Dibantu pertumpahan darah Indonesia di tahun 60-an," 21 Mei 1990), dan sejak ditransfer rekaman, catatan saya, dan koleksi kecil dokumen, termasuk kabel dideklasifikasikan beberapa cerita yang didasarkan, kepada Arsip Keamanan Nasional di Washington, DC Arsip adalah lembaga penelitian nonpemerintah dan perpustakaan, terletak di George Washington University. Para mantan pejabat yang diwawancarai termasuk Duta Besar Marshall Green, Wakil Kepala Misi Jack Lydman, Penasehat Politik (kemudian Duta Besar) Edward E. Masters, Robert Martens (seorang analis dari Indonesia yang bekerja di bawah pengawasan kiri Masters '), dan (kemudian) direktur Central Intelligence Agency divisi Timur Jauh, William Colby. Kaset-kaset, bersama dengan catatan percakapan, menunjukkan bahwa Amerika Serikat dilengkapi intelijen penting - nama-nama dari ribuan aktivis kiri, baik komunis dan non-Komunis - untuk Tentara Nasional Indonesia yang kemudian digunakan dalam perburuan berdarah. Ada detail-detail lain yang menggambarkan kedalaman keterlibatan AS dan bersalah dalam pembunuhan yang saya pelajari dari mantan pejabat tingkat atas kedutaan, tetapi belum diterbitkan sebelumnya. Sebagai contoh, AS menyediakan peralatan logistik kunci, buru-buru dikirim pada menit terakhir sebagai Soeharto menimbang keputusan yang beresiko tinggi untuk menyerang. Jip yang disediakan oleh Pentagon untuk mempercepat tentara di jalan-jalan di Indonesia terkenal buruk, bersama dengan "puluhan dan puluhan" dari radio lapangan bahwa Angkatan Darat kekurangan. Seperti Ms Laber dicatat, Amerika Serikat (yaitu, Pentagon) juga diberikan "senjata." Kabel ini adalah menunjukkan senjata kecil, yang digunakan untuk membunuh dari jarak dekat. Pasokan radio mungkin yang paling detil yang jitu. Mereka melayani komunikasi tidak hanya sebagai sawah tetapi juga menjadi elemen dari sebuah operasi, luas pengumpulan intelijen AS dibangun sebagai perburuan itu pergi ke depan. Menurut seorang pejabat kedutaan mantan, Central Intelligence Agency buru-buru menyediakan radio - negara-of-the-art Collins KWM-2s, tinggifrekuensi tunggal-sideband transceiver, unit tertinggi bertenaga ponsel yang tersedia pada waktu itu kepada sipil dan pasar komersial. Radio, disimpan di Lapangan Clark di Filipina, diam-diam diterbangkan oleh Angkatan Udara AS ke Indonesia. Mereka kemudian didistribusikan langsung ke markas Soeharto - yang disebut dengan singkatan KOSTRAD - oleh Pentagon perwakilan. Radio terpasang sebuah lubang besar di Angkatan Darat komunikasi: pada saat kritis, tidak ada artinya bagi pasukan di Jawa dan pulau-pulau keluar untuk berbicara langsung dengan Jakarta. Sementara kedutaan mengatakan kepada wartawan AS tidak memiliki informasi mengenai operasi, sebaliknya adalah benar. Setidaknya ada dua sumber langsung dari informasi. Selama minggu-minggu di mana daftar Amerika diserahkan kepada Angkatan Darat, petugas kedutaan bertemu diam-diam dengan pria dari unit intelijen Soeharto secara berkala tentang yang telah ditangkap atau dibunuh. Selain itu, AS memiliki informasi lebih umum dari pemantauan sistematis radio Angkatan Darat. Menurut mantan pejabat AS, AS mendengarkan dengan siaran di AS yang dipasok radio untuk minggu sebagai perburuan itu pergi ke depan, sengaja mendengar, antara lain, perintah dari unit intelijen Soeharto untuk membunuh orang-orang tertentu di lokasi tertentu. Metode yang telah dicapai penyadapan juga dijelaskan. Radio selular ditransmisikan ke antena, besar portabel di depan KOSTRAD (juga buru-buru diberikan oleh AS - saya diberitahu itu diterbangkan di dalam pesawat C-130). CIA memastikan frekuensi Angkatan Darat akan menggunakan dikenal di muka untuk National Security Agency. NSA menyadap siaran di sebuah situs di Asia Tenggara, di mana analis yang kemudian menerjemahkannya. Menyadap kemudian dikirim ke Washington, di mana analis bergabung dengan laporan dari kedutaan. Pelaporan gabungan, penyadapan ditambah "manusia" kecerdasan, merupakan dasar utama untuk penilaian Washington efektivitas dari perburuan karena menghancurkan organisasi kiri, termasuk, inter alia, Partai Komunis Indonesia, PKI.

Sebuah kata tentang kepentingan relatif dari daftar Amerika. Tampaknya CIA telah beberapa akses sebelum 1965 ke file intelijen PKI ditempatkan di bagian G-2 Angkatan Darat Indonesia, maka dipimpin oleh Mayor Jenderal S. Parman. Pejabat CIA telah berurusan dengan Parman tentang intelijen mengenai PKI, antara lain, di tahun-tahun sebelum kudeta, menurut mantan pejabat AS yang terlibat (Parman tewas dalam kudeta). Mantan pejabat, yang rekening diperkuat oleh orang lain yang saya wawancarai, mengatakan bahwa daftar bahasa Indonesia, atau file, dianggap tidak memadai oleh para analis AS karena mereka mengidentifikasi pejabat PKI di tingkat "nasional", tapi gagal untuk mengidentifikasi ribuan orang yang berlari partai di tingkat regional dan kota, atau yang operasi rahasia, atau memiliki beberapa berdiri lainnya, seperti dana. Ketika ditanya tentang alasan yang mungkin untuk ini jelas kekurangan, mantan Duta Besar AS Marshall Green, dalam sebuah wawancara 1989 Desember, ditandai pemahaman cara ini: Saya tahu bahwa kita memiliki informasi lebih banyak dari orang Indonesia sendiri .... Untuk satu hal, itu akan menjadi agak berbahaya [bagi militer Indonesia untuk membangun daftar seperti itu] karena Partai Komunis begitu meresap dan [pengumpul intelijen] akan meraba ... karena orang-orang sampai garis [yang lebih tinggi -up, beberapa di antaranya bersimpati dengan] PKI. Dalam [Bahasa Indonesia] Angkatan Udara, itu akan telah mematikan untuk melakukan itu. Dan mungkin itu akan benar untuk polisi, Marinir, Angkatan Laut - di Angkatan Darat, itu tergantung. Dugaan saya adalah bahwa sekali hal ini pecah, Angkatan Darat sudah putus asa untuk informasi mengenai siapa adalah siapa [dalam PKI]. Pada akhir Januari 1966, penilaian intelijen AS membandingkan daftar Amerika dengan laporan dari mereka yang ditangkap atau tewas menunjukkan Angkatan Darat telah menghancurkan PKI. Sikap umum adalah rasa lega besar: "Tidak ada yang peduli" tentang penangkapan toko daging dan massa karena korban Komunis, salah satu pejabat di Washington mengatakan kepada saya. - Kathy Kadane AS dan Gulingkan Soekarno, 1965-1967 Oleh: Peter Dale Scott *) *) Artikel ini adalah dari Pasifik Negeri,, 58 Musim Panas 1985, halaman 239-264. Peter Dale Scott adalah seorang profesor bahasa Inggris di University of California di Berkeley, dan anggota dewan penasihat di Research Informasi Publik. Dalam makalah singkat tentang subjek besar dan penasaran, saya membahas keterlibatan AS dalam penggulingan berdarah Presiden Indonesia Soekarno, 1965-1967. Keseluruhan cerita dari periode sakit-dipahami bahkan akan melampaui analisis ditulis selengkap mungkin. Banyak dari apa yang terjadi tidak dapat didokumentasikan, dan dokumentasi yang bertahan, banyak yang baik kontroversial dan diverifikasi. Pembantaian sayap kiri Sukarno sekutu merupakan produk dari paranoia yang tersebar luas serta kebijakan konspiratif, dan merupakan tragedi di luar niat dari setiap kelompok tunggal atau koalisi. Juga tidak disarankan bahwa dalam tahun 1965 hanya provokasi dan kekerasan berasal dari militer Indonesia sayap kanan, kontak mereka di Amerika Serikat, atau (juga penting, tetapi hampir tidak menyentuh di sini) saling kontak mereka di intelijen Inggris, Jerman dan Jepang. Namun, setelah semua ini telah mengatakan, cerita yang kompleks dan ambigu dari pertumpahan darah Indonesia juga pada dasarnya sederhana dan lebih mudah untuk percaya daripada versi publik terinspirasi oleh Presiden Soeharto dan sumber pemerintah AS. Bermasalah mengklaim mereka adalah bahwa dalam apa yang disebut Gestapu (Gerakan September Tigahpuluh) percobaan kudeta 30 September 1965 (ketika enam jenderal senior yang dibunuh), kiri kanan menyerang, mengarah ke pemulihan kekuasaan, dan hukuman pembersihan kiri, oleh center.1 Artikel ini berpendapat sebaliknya bahwa, dengan menginduksi, atau minimal membantu untuk mendorong, dengan Gestapu "kudeta," dihilangkan kanan dalam Angkatan Darat Indonesia rivalnya di pusat tentara, sehingga membuka jalan untuk sebuah eliminasi lama direncanakan kaum kiri sipil, dan akhirnya pembentukan Gestapu dictatorship.2 militer, dengan kata lain, hanya fase pertama dari tiga fase kudeta sayap kanan satu yang telah baik secara publik didorong dan diam-diam dibantu oleh juru bicara AS dan officials.3 Sebelum beralih ke keterlibatan AS dalam apa CIA sendiri telah disebut "salah satu pembunuhan massal terburuk di abad kedua puluh," mari kita ingat 4 apa yang sebenarnya mengarah ke hal itu. Menurut Harold Crouch sarjana Australia, oleh 1965, Staf Umum Angkatan Darat Indonesia terpecah menjadi dua kubu. Di pusat itu adalah perwira staf umum dilengkapi dengan, dan setia pada, komandan militer Jenderal Yani, yang pada gilirannya enggan untuk menantang kebijakan Presiden Sukarno persatuan nasional dalam aliansi dengan partai Komunis Indonesia, atau PKI. Kelompok kedua, termasuk jenderal sayap kanan Nasution dan Soeharto, terdiri dari mereka yang menentang Yani dan Sukarnois nya policies.5 Semua jenderal anti-PKI, tetapi oleh 1965 isu memecah belah adalah Soekarno. Cerita (belum terhitung) sederhana penggulingan Sukarno adalah bahwa pada musim gugur tahun 1965 Yani dan lingkaran jenderal-nya dibunuh, membuka jalan bagi perebutan kekuasaan oleh sayap kanan anti-Yani yang bersekutu dengan pasukan Soeharto. Kunci untuk ini adalah apa yang disebut percobaan kudeta Gestapu yang, dalam nama pendukung Soekarno, pada kenyataannya sangat tepat sasaran anggota terkemuka faksi angkatan darat yang paling setia, Yani group.6 Sebuah pertemuan kesatuan militer pada Januari 1965, antara "lingkaran dalam Yani" dan mereka (termasuk Soeharto) yang "memiliki keluhan dari satu jenis atau lain terhadap Yani," berbaris para korban 30 September terhadap mereka yang berkuasa setelah mereka murder.7 Tidak satu anti-Sukarno umum ditargetkan oleh Gestapu, dengan pengecualian yang jelas dari Jendral Nasution.8 Tapi tahun 1961 operasi CIA telah menjadi kecewa dengan Nasution sebagai aset yang dapat diandalkan, karena "catatan konsisten nya menyerah pada Soekarno pada jumlah besar beberapa "9. Hubungan antara Suharto dan Nasution juga dingin, sejak Nasution, setelah menyelidiki tuduhan korupsi Suharto pada tahun 1959, telah dipindahkan dia dari command.10 nya Mendua distorsi realitas, pertama dengan pernyataan Letnan Kolonel Untung untuk Gestapu, kemudian oleh Soeharto dalam "meletakkan" Gestapu, yang saling mendukung lies.11 Untung, pada 1 Oktober, mengumumkan bahwa Sukarno ambigu berada di bawah "perlindungan" Gestapu itu ( dia tidak), juga, bahwa Dewan yang didukung CIA Jenderal telah merencanakan kudeta untuk sebelum 5 Oktober, dan untuk tujuan ini telah membawa "pasukan dari Timur, Tengah, dan Jawa Barat" untuk Jakarta.12

Pasukan dari daerah-daerah telah memang telah dibawa ke Jakarta untuk parade Hari Angkatan Bersenjata pada 5 Oktober. Untung tidak menyebutkan, bagaimanapun, bahwa "ia sendiri telah terlibat dalam perencanaan untuk parade Hari Angkatan Bersenjata dan dalam memilih unit untuk berpartisipasi di dalamnya;" 13 atau bahwa unit-unit (yang termasuk batalion mantan sendiri, Batalyon 454) memasok sebagian besar sekutu untuk kegiatan Gestapu batalion baru di Jakarta. Pertama Suharto dua siaran menegaskan kembali kesetiaan konstan tentara untuk "Bung Karno Pemimpin Besar," dan juga menyalahkan kematian enam jenderal pada pemuda PKI dan perempuan, ditambah "unsur-unsur Angkatan Udara" - pada tidak ada bukti lain dari situs sumur tempat mayat-mayat itu found.14 Pada saat ini ia tahu benar bahwa pembunuhan sebenarnya sudah dilakukan oleh unsur-unsur tentara yang sangat Untung disebut, unsur-unsur di bawah Suharto sendiri command.15 Jadi, apa pun motivasi dari individu-individu seperti Untung di kudeta Gestapu, Gestapu seperti yang mendua. Kedua retorika dan di atas semua tindakannya itu bukan hanya tidak layak, mereka adalah hati-hati dirancang untuk mempersiapkan respon Soeharto juga mendua. Misalnya, keputusan Gestapu untuk menjaga semua sisi pusat kota Lapangan Merdeka di Jakarta, kecuali bahwa di mana Suharto KOSTRAD [Strategis Angkatan Darat Komando Cadangan] markas yang terletak, konsisten dengan keputusan Gestapu untuk menargetkan tentara jenderal-satunya yang mungkin telah menantang asumsi Suharto kekuasaan. Sekali lagi, transfer Gestapu mengumumkan kekuatan untuk sebuah benar-benar fiktif "Dewan Revolusi" dari mana Soekarno sudah disingkirkan, memungkinkan Soeharto pada gilirannya untuk menyamar sebagai bek Sukarno padahal mencegah dia dari melanjutkan kontrol. Lebih penting lagi, pembunuhan serampangan Gestapu dari para jenderal dekat pangkalan angkatan udara di mana PKI pemuda telah dilatih diperbolehkan Soeharto, dalam manuver Goebbels seperti, untuk mentransfer menyalahkan pembunuhan dari pasukan di bawah komandonya sendiri (yang dia tahu telah melakukan keluar penculikan) untuk angkatan udara dan personil PKI yang mana mengabaikan them.16 Dari pro-Suharto sumber - terutama studi CIA Gestapu diterbitkan pada tahun 1968 - kita belajar betapa sedikit tentara terlibat dalam pemberontakan Gestapu dugaan, dan, lebih penting, bahwa di Jakarta seperti di Jawa Tengah sama batalyon yang memasok "pemberontak" perusahaan yang juga digunakan untuk "meletakkan pemberontakan ke bawah." Dua pertiga dari satu brigade pasukan para (yang telah diperiksa Soeharto hari sebelumnya) ditambah satu perusahaan dan satu peleton merupakan seluruh kekuatan Gestapu di Jakarta, semua kecuali satu dari unit-unit diperintahkan oleh hadir atau mantan perwira Divisi Diponegoro yang dekat dengan Suharto, dan yang terakhir berada di bawah seorang perwira yang taat sekutu dekat politik Soeharto, Basuki Rachmat.17 Dua dari perusahaan-perusahaan, dari Batalyon 454 dan 530, adalah penyerang elit, dan dari 1962 unit-unit ini berada di antara penerima utama Indonesia sebesar US assistance.18 Fakta ini, yang dengan sendirinya membuktikan apa-apa, meningkatkan rasa ingin tahu kita tentang banyak pemimpin Gestapu yang telah AS-dilatih. Pemimpin Gestapu di Jawa Tengah, Saherman, telah kembali dari pelatihan di Fort Leavenworth dan Okinawa, sesaat sebelum bertemu dengan Sukirno Untung dan Mayor dari Batalion 454 pada pertengahan Agustus 1965,19 Seperti Ruth McVey telah mengamati, penerimaan Saherman untuk pelatihan di Fort Leavenworth " berarti bahwa ia telah melewati peninjauan oleh pengamat CIA "20. Jadi ada kontinuitas antara prestasi baik Gestapu dan respon untuk itu oleh Suharto, yang dalam nama membela Soekarno dan menyerang Gestapu melanjutkan tugasnya untuk menghilangkan pro-Yani anggota Staf Umum Angkatan Darat, bersama dengan unsur-unsur sisa lainnya dukungan untuk pertama Yani dan kemudian Sukarno sebagai remained.21 Bagian terbesar dari tugas ini tentu saja penghapusan PKI dan pendukungnya, dalam pertumpahan darah yang, karena beberapa sekutu Soeharto sekarang mengakui, mungkin telah mengambil lebih dari setengah juta jiwa. Ketiga peristiwa Gestapu, respon Soeharto, dan pertumpahan darah ini - memiliki hampir selalu disajikan di negeri ini sebagai termotivasi secara terpisah: Gestapu yang digambarkan sebagai plot oleh kaum kiri, dan pertumpahan darah sebagai untuk sebagian besar tindakan irasional dari hiruk-pikuk populer . Pejabat AS, wartawan dan cendekiawan, beberapa dengan koneksi CIA agak menonjol, barangkali terutama bertanggung jawab untuk mitos bahwa pertumpahan darah itu adalah rasa jijik, spontan populer untuk apa AS Duta Besar Jones kemudian disebut PKI 22 "pembantaian." Meskipun PKI tentu memberikan kontribusi pangsa dengan histeria politik tahun 1965, Crouch telah menunjukkan bahwa klaim berikutnya dari kampanye teror PKI yang terlampau exaggerated.23 Pada kenyataannya membunuh sistematis terjadi di bawah hasutan tentara di tahap terhuyung-huyung, yang terburuk terjadi sebagai RPKAD Kolonel Sarwo Edhie itu [Tentara Resimen Para Komando] pindah dari Jakarta Tengah dan Jawa Timur, dan akhirnya ke Bali.24 Sipil yang terlibat dalam pembantaian itu baik direkrut dan dilatih oleh tentara di tempat, atau ditarik dari kelompok-kelompok (seperti tentara-dan CIA yang disponsori SOKSI serikat buruh [Pusat Organisasi Karyawan Sosialis Indonesia], dan organisasi mahasiswa sekutunya) yang telah bekerja sama selama bertahun-tahun dengan tentara pada masalah politik. Hal ini jelas dari rekening Sundhaussen bahwa di sebagian besar daerah pertama pembantaian terorganisir (Sumatera Utara, Aceh, Cirebon, seluruh Jawa Tengah dan Timur), ada komandan tentara lokal dengan sangat kuat dan terbukti sentimen anti-PKI. Banyak dari ini selama bertahun-tahun bekerja sama dengan warga sipil, melalui apa yang disebut program "civic action" yang disponsori oleh Amerika Serikat, dalam operasi yang ditujukan terhadap PKI dan kadang-kadang Soekarno. Jadi seseorang bisa menduga konspirasi sah pada kenyataan bahwa anti-PKI "tanggapan sipil" dimulai pada 1 Oktober, ketika tentara mulai membagikan senjata kepada siswa Muslim dan serikat, sebelum ada bukti yang tersedia untuk publik menghubungkan Gestapu ke PKI.25 Bahkan Sundhaussen, yang merendahkan peran tentara dalam mempersenjatai dan menghasut band pembunuhan sipil, menyimpulkan bahwa, apa pun kekuatan populer anti-PKI kebencian dan ketakutan, "tanpa anti-PKI propaganda Angkatan Darat pembantaian tidak mungkin terjadi." 26 Para artikel ini lebih jauh dan menyatakan bahwa Gestapu, respon Soeharto, dan pertumpahan darah merupakan bagian dari skenario koheren tunggal untuk pengambilalihan militer, sebuah skenario yang diikuti lagi di Chile pada tahun-tahun 1970-1973 (dan sampai batas tertentu di Kamboja pada 1970). Soeharto, tentu saja, akan menjadi konspirator utama dalam skenario ini: peran mendua tentang menyamar sebagai pembela status quo konstitusional, sementara pada kenyataannya bergerak sengaja untuk menggulingkan itu, adalah analog dengan Jenderal Pinochet di Chili. Tetapi peran yang lebih langsung dalam mengorganisasi banjir darah itu dimainkan oleh warga sipil dan petugas dekat dengan kader pemberontakan CIA gagal tahun 1958, sekarang bekerja dalam apa yang disebut program "civic action" yang didanai dan dilatih oleh Amerika Serikat. Bahan yang diperlukan dari skenario itu harus, dan jelas itu, yang disediakan oleh negara-negara lain dalam mendukung Soeharto. Banyak negara-negara tersebut tampaknya telah memainkan

peran pendukung seperti: Jepang, Inggris, Jerman, 27 mungkin Australia. Tapi saya ingin fokus pada dorongan dan dukungan untuk militer "putschisme" dan pembunuhan massal yang datang dari Amerika Serikat, dari CIA, militer, RAND, Ford Foundation, dan individuals.28 Amerika Serikat dan Angkatan Darat Indonesia "Misi" Tampaknya jelas bahwa dari sejak tahun 1953 Amerika Serikat tertarik dalam membantu memicu krisis regional di Indonesia, biasanya diakui sebagai "penyebab langsung" yang diinduksi Sukarno, pada tanggal 14 Maret 1957, untuk menyatakan hukum militer, dan membawa "yang korps perwira sah dalam politik "29. Dengan 1953 (jika tidak sebelumnya) di Dewan Keamanan Nasional AS telah mengadopsi salah satu dari serangkaian dokumen kebijakan menyerukan "tindakan yang tepat, bekerja sama dengan negara-negara sahabat lainnya, untuk mencegah kontrol komunis permanen" dari Indonesia.30 Sudah NSC 171 / 1 tahun yang dibayangkan pelatihan militer sebagai sarana meningkatkan pengaruh AS, meskipun upaya utama CIA diarahkan ke arah kanan sayap partai politik ("moderat ... di sebelah kanan," seperti NSC 171 disebut mereka): terutama Islam Masyumi dan PSI "Sosialis" pihak. Jutaan dolar yang dituangkan ke CIA Masyumi dan PSI pada pertengahan tahun 1950-an adalah faktor yang mempengaruhi peristiwa 1965, ketika seorang mantan anggota PSI - Sjam - adalah dalang dugaan Gestapu, 31 dan PSI-bersandar petugas - terutama Suwarto dan Sarwo Edhie - menonjol dalam perencanaan dan melaksanakan respon anti-PKI untuk Gestapu.32 Pada 1957-1958, CIA menyusup senjata dan personil untuk mendukung pemberontakan daerah melawan Soekarno. Operasi ini nominal rahasia, meskipun sebuah pesawat Amerika dan pilot ditangkap, dan upaya CIA didampingi oleh satuan tugas lepas pantai AS Ketujuh Fleet.33 Pada tahun 1975 Komite Senat Pilih mempelajari CIA menemukan apa yang disebut "beberapa bukti keterlibatan CIA dalam rencana untuk membunuh Presiden Soekarno ", tetapi, setelah penyelidikan awal dari upaya pembunuhan November 1957 di distrik Cikini Jakarta, panitia tidak mengejar matter.34 Pada tanggal 1 Agustus 1958, setelah kegagalan CIA yang disponsori PRRI-Permesta pemberontakan daerah terhadap Sukarno, Amerika Serikat memulai program bantuan militer kepada Indonesia upgrade di urutan dua puluh juta dolar year.35 Sebuah Gabungan AS memo Kepala Staf tahun 1958 membuat jelas bahwa bantuan ini diberikan kepada Tentara Nasional Indonesia ("kekuatan non-Komunis hanya ... dengan kemampuan menghalangi ... PKI") sebagai "dorongan" untuk Nasution untuk "melakukan 'rencana' nya untuk kontrol Komunisme "36. JCS tidak perlu mengeja "rencana," Nasution yang dokumen lain pada saat ini membuat reference.37 Ini hanya bisa berarti taktik yang Nasution telah membedakan dirinya (di mata Amerika) selama penghancuran PKI di Madiun Affair 1948: massa pembunuhan dan penangkapan massal, minimal kader partai, mungkin setelah tentara provocation.38 Nasution menegaskan hal ini pada November 1965, setelah pembantaian Gestapu, ketika dia meminta kepunahan total PKI, "turun ke akar yang sangat sehingga tidak akan ada Madiun ketiga "39. Dengan 1958, Namun, PKI telah muncul sebagai gerakan massa terbesar di negeri ini. Hal ini dalam periode ini bahwa sebuah kelompok kecil peneliti AS akademis di Angkatan Udara AS dan CIA-subsidi "think-tank" mulai menekan kontak mereka dalam militer Indonesia secara terbuka, sering melalui jurnal ilmiah AS dan menekan, untuk merebut kekuasaan dan melikuidasi PKI opposition.40 Contoh yang paling menonjol adalah Guy Pauker, yang pada tahun 1958 baik mengajar di University of California di Berkeley dan menjabat sebagai konsultan di RAND Corporation. Dalam kapasitas yang terakhir dia tetap sering kontak dengan apa yang dia sendiri disebut "kelompok yang sangat kecil" intelektual PSI dan teman-teman mereka di army.41 Dalam buku RAND Corporation yang diterbitkan oleh Princeton University Press, Pauker mendesak kontak di militer Indonesia untuk menganggap "jawab penuh" untuk kepemimpinan bangsa mereka, "memenuhi misi," dan karenanya 42 "untuk menyerang, menyapu rumah mereka bersih." Walaupun Pauker mungkin tidak bermaksud apa-apa seperti skala pertumpahan darah yang akhirnya terjadi, tidak ada melarikan diri dari kenyataan bahwa "misi" dan "menyapu bersih" adalah buzz-kata untuk kontra dan pembantaian, dan seperti yang sering digunakan sebelum dan selama kudeta. Perintah pembunuhan pertama, oleh perwira militer kepada siswa Muslim di awal Oktober, adalah kata sikat, yang berarti "menyapu," "bersih keluar," "menghapus," atau "pembantaian." 43 Teman terdekat Pauker dalam tentara Indonesia adalah AS terlatih Jenderal Suwarto, yang memainkan peran penting dalam konversi tentara dari revolusioner untuk fungsi kontra. Dalam tahun-tahun setelah 1958, Suwarto dibangun Staf Angkatan Darat Indonesia dan Sekolah Komando di Bandung (SESKOAD) menjadi tempat pelatihan-untuk pengambilalihan kekuasaan politik. SESKOAD dalam periode ini menjadi fokus-titik perhatian dari Pentagon, CIA, RAND, dan (secara tidak langsung) Ford Foundation.44 Di bawah bimbingan Nasution dan Suwarto, SESKOAD mengembangkan suatu doktrin strategis baru, yaitu Warfare Teritorial (dalam dokumen diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Pauker), yang memberikan prioritas kepada kontra sebagai peran angkatan darat. Apalagi setelah 1962, ketika pemerintahan Kennedy dibantu Tentara Nasional Indonesia dalam mengembangkan Civic Mission atau "civic action" program, ini berarti organisasi infrastruktur politiknya sendiri, atau "Organisasi Teritorial," dalam beberapa kasus mencapai ke desa level.45 Sebagai hasil dari rekomendasi Negara Departemen pejabat AS pada tahun 1962, yang Pauker membantu menulis, khusus AS MILTAG (Pelatihan Militer Advisory Group) didirikan di Jakarta, untuk membantu dalam pelaksanaan Civic Mission SESKOAD yang programs.46 SESKOAD juga melatih perwira militer di bidang ekonomi dan administrasi, dan dengan demikian untuk beroperasi hampir sebagai para-negara, independen dari pemerintah Sukarno. Jadi tentara mulai berkolaborasi, dan bahkan menandatangani kontrak, dengan AS dan perusahaan asing lainnya di daerah yang sekarang di bawah kontrol. Program pelatihan ini dipercayakan kepada perwira dan warga sipil dekat dengan PSI.47 pejabat AS telah menegaskan bahwa warga sipil, yang mereka sendiri berada dalam program pelatihan yang didanai oleh Ford Foundation, menjadi terlibat dalam apa yang (kemudian) US atase militer yang disebut "kontinjensi perencanaan "untuk mencegah PKI takeover.48 Tetapi fokus yang paling signifikan dari US pelatihan dan bantuan adalah penghubung Organisasi Teritorial yang meningkat dengan 49 "pemerintahan sipil, organisasi keagamaan dan budaya, kelompok pemuda, veteran, serikat buruh, organisasi tani,

partai politik dan kelompok pada tingkat regional dan lokal." Ini penghubung politik dengan kelompok-kelompok sipil yang diberikan struktur untuk penindasan yang kejam PKI di tahun 1965, termasuk bloodbath.50 Segera para kader militer dan sipil bersama-sama merencanakan kegiatan mengganggu, seperti kerusuhan anti-Cina Bandung Mei 1963, yang malu bukan hanya PKI, tetapi Soekarno sendiri. Chomsky dan Herman melaporkan bahwa "Tentara-terinspirasi program anti-Cina yang terjadi di Jawa Barat pada tahun 1959 dibiayai oleh kontribusi AS untuk komandan tentara lokal"; ternyata dana CIA digunakan oleh Panglima (Kolonel Kosasih) untuk membayar preman lokal di apa Mozingo panggilan "(dan mungkin orang Amerika ') kampanye militer untuk hubungan pecah dengan Cina." 51 Kerusuhan 1963, yang berlangsung dalam bayang-bayang sangat SESKOAD, dihubungkan oleh Sundhaussen kepada organisasi "civic action" tentara; dan menunjukkan kontak konspirasi antara unsur-unsur (sel PSI bawah tanah, PSI dan Masyumi yang berafiliasi kelompok mahasiswa, dan Jenderal Ishak Djuarsa dari "sipil tindakan" organisasi Divisi Siliwangi itu) bahwa semua akan menonjol dalam fase pertama yang disebut Soeharto " respon "terhadap Gestapu.52 The 1963 kerusuhan mahasiswa Mei diulangi pada bulan Oktober 1965 dan (terutama di Bandung) Januari 1966, di mana saat itu penghubung antara mahasiswa dan tentara sebagian besar di tangan perwira PSI berhaluan seperti Sarwo Edhie dan Kemal Idris.53 CIA Rencana Direktorat bersimpati terhadap meningkatnya defleksi operasi nominal anti-PKI menjadi satu Soekarno memalukan. Gilirannya ini akan datang sebagai tidak mengherankan: Suwarto, Kemal Idris dan PSI telah menonjol dalam kudeta dekat-(yang disebut "Lubis urusan") di 1956,54 Tapi Suwarto semakin dibudidayakan mahasiswa baru, Kolonel Soeharto, yang tiba di SESKOAD pada bulan Oktober 1959. Menurut Sundhaussen, seorang sarjana yang relatif pro-Soeharto: "Pada awal 1960-an Soeharto terlibat dalam pembentukan Doktrin Perang Teritorial dan kebijakan Angkatan Darat tentang Civic Mission (yaitu, penetrasi perwira militer ke dalam semua bidang kegiatan pemerintah dan tanggung jawab) .55 Pusat untuk citra publik Gestapu dan respon Soeharto adalah fakta yang banyak dipublikasikan bahwa Soeharto, tidak seperti gurunya Suwarto kapan, dan lama kepala stafnya Achmad Wiranatakusuma, tidak pernah belajar di Amerika Serikat. Nya Tapi program keterlibatan dalam Civic Mission (atau apa yang orang Amerika disebut "civic action") yang terletak dia bersama dengan PSI-perwira bersandar pada titik fokus kegiatan pelatihan AS di Indonesia, dalam program yang nakedly political.56 Penyempurnaan Warfare Teritorial dan Ajaran Civic Mission menjadi doktrin strategis baru bagi intervensi militer politik menjadi tahun 1965 proses konsolidasi ideologi tentara untuk pengambilalihan politik. Setelah Gestapu, ketika Suwarto adalah penasihat politik yang penting untuk Soeharto bekas muridnya SESKOAD, doktrin strategis itu adalah pembenaran untuk pengumuman Soeharto pada tanggal 15 Agustus 1966, dalam pemenuhan desakan Pauker publik dan swasta, bahwa tentara harus mengasumsikan peran utama di semua fields.57 Oleh karena itu kesatuan tentara pertemuan Januari 1965, diatur setelah Suharto duplicitously mendesak Nasution untuk mengambil "garis yang lebih akomodatif" terhadap Soekarno 58, sebenarnya langkah yang diperlukan dalam proses di mana Soeharto secara efektif mengambil alih dari saingan nya Yani dan Nasution. Hal ini menyebabkan seminar 1965 April di SESKOAD untuk sebuah doktrin kompromi militer strategis, Tri Ubaya Cakti, yang "menegaskan kembali klaim tentara untuk peran politik yang independen." 59 Pada tanggal 15 Agustus 1966, Soeharto, berbicara kepada bangsa, dibenarkan nya meningkatkan keunggulan dalam hal "Misi Revolusioner" dari doktrin Tri Ubaya Cakti. Dua minggu kemudian di SESKOAD doktrin tersebut direvisi, atas dorongan Soeharto tetapi dalam menetapkan "hati-hati diatur oleh Brigadir Suwarto," untuk mewujudkan masih lebih jelas penekanan Pauker tentang "Civic Mission" tentara atau role.60 kontra-revolusioner ini "Civic Mission," sangat penting untuk Soeharto, juga tujuan pokok dan buah bantuan militer AS kepada Indonesia. Pada bulan Agustus 1964, apalagi, Soeharto telah memulai kontak politik dengan Malaysia, dan karenanya akhirnya dengan Jepang, Inggris, dan Amerika States.61 Meskipun tujuan awal dari kontak mungkin telah untuk mencegah perang dengan Malaysia, Sundhaussen menunjukkan bahwa motif Suharto adalah perhatiannya, ditopang pada pertengahan tahun 1964 oleh sebuah laporan intelijen KOSTRAD, tentang PKI politik advances.62 Mrazek menghubungkan antena perdamaian penarikan "beberapa unit tentara terbaik" kembali ke Jawa pada musim panas 1965,63 Gerakan-gerakan ini, bersama-sama dengan penyebaran awal dari sebuah batalyon Diponegoro politik tidak aman di arah lain, juga dapat dilihat sebagai persiapan untuk perebutan power.64 Dalam account diinformasikan Jepang Nishihara, mantan PRRI / Permesta personel dengan koneksi intelijen di Jepang yang menonjol dalam negosiasi, bersama dengan Jepang officials.65 Nishihara juga mendengar bahwa sekutu intim personel ini, Jan Walandouw, yang mungkin telah bertindak sebagai kontak CIA untuk pemberontakan tahun 1958, kemudian kembali "mengunjungi Washington dan menganjurkan Soeharto sebagai seorang pemimpin." 66 Saya diberitahu bahwa kunjungan andal Walandouw ke Washington atas nama Soeharto dibuat beberapa bulan sebelum Gestapu.67 U. S. Bergerak Melawan Soekarno Banyak orang di Washington, terutama di Direktorat Rencana CIA, sudah lama diinginkan "penghapusan" Sukarno serta dari PKI.68 Pada tahun 1961 garis keras-kebijakan kunci, terutama Guy Pauker, juga berbalik melawan Nasution.69 Namun demikian, meskipun menit-menit terakhir memorandum dari pemerintahan Eisenhower keluar yang akan menentang "apa pun rezim" di Indonesia adalah "semakin ramah terhadap blok Sino-Soviet," melangkah pemerintahan Kennedy sampai bantuan baik Sukarno dan army.70 Namun, aksesi Lyndon Johnson menjadi presiden itu segera diikuti dengan pergeseran ke kebijakan yang lebih anti-Sukarno. Ini jelas dari keputusan Johnson pada bulan Desember 1963 untuk menahan bantuan ekonomi yang (menurut Duta Besar Jones) Kennedy akan disediakan "hampir sebagai masalah rutin." 71 Penolakan ini menunjukkan bahwa kejengkelan AS kesengsaraan ekonomi Indonesia pada 1963-1965 adalah masalah kebijakan daripada kelengahan. Memang, jika menggulingkan CIA Allende adalah analogi yang relevan, maka orang akan berharap suatu hari nanti untuk belajar bahwa CIA, melalui spekulasi mata uang dan tindakan permusuhan lainnya, memberikan kontribusi aktif kepada destabilisasi radikal ekonomi Indonesia dalam mingguminggu sebelum kudeta, ketika "harga beras meningkat empat kali lipat antara 30 Juni dan 1 Oktober, dan harga pasar gelap dolar meroket, terutama pada bulan September." 72 Seperti halnya di Chili, cutoff bertahap dari semua bantuan ekonomi kepada Indonesia pada tahun-tahun 1962-65 itu disertai dengan pergeseran dalam bantuan militer kepada unsur-unsur bersahabat dalam Angkatan Darat Indonesia: bantuan militer AS

sebesar $ 39.500.000 dalam empat tahun 1962 -65 (dengan puncak $ 16.300.000 pada tahun 1962) sebagai lawan dari $ 28.300.000 untuk tiga belas tahun 1949-61,73 Setelah Maret 1964, ketika Sukarno mengatakan kepada AS, "pergi ke neraka dengan bantuan Anda," menjadi semakin sulit untuk mengekstrak setiap bantuan dari kongres AS: orang-orang tidak menyadari apa yang berkembang menemukan sulit untuk memahami mengapa AS harus membantu lengan negara yang menasionalisasi kepentingan ekonomi AS, dan menggunakan bantuan subsidi besar dari Uni Soviet untuk menghadapi Inggris di Malaysia. Jadi citra publik diciptakan bahwa di bawah Johnson "semua bantuan Amerika Serikat kepada Indonesia dihentikan," klaim sehingga ditopang oleh dokumentasi yang menyesatkan bahwa para sarjana yang kompeten telah mengulangi it.74 Bahkan, Kongres telah menyetujui untuk mengobati pendanaan AS militer Indonesia ( tidak seperti bantuan ke negara lain) sebagai masalah rahasia, membatasi meninjau kongres penentuan presiden pada bantuan Indonesia untuk dua komite Senat, dan Ketua DPR, yang bersamaan terlibat dalam pengawasan dari CIA.75 Akun Duta Besar Jones 'lebih jujur mengakui bahwa "suspensi" berarti "pemerintah AS tidak melakukan komitmen baru bantuan, meskipun dilanjutkan dengan program yang sedang berlangsung .... Dengan mempertahankan bantuan sederhana kami untuk [Tentara Nasional Indonesia dan pemadam polisi], kita dibentengi mereka untuk konfrontasi hampir tak terelakkan dengan PKI berkembang "76. Hanya dari dokumen yang dirilis baru-baru ini kita belajar bahwa bantuan militer baru dalam perjalanan hingga akhir Juli 1965, dalam bentuk kontrak rahasia untuk memberikan dua ratus Aero-Komandan kepada Tentara Indonesia: ini adalah pesawat ringan yang cocok untuk digunakan dalam "sipil tindakan "atau operasi kontra, mungkin oleh Angkatan Darat Flying Corps yang perwira senior yang hampir semua dilatih dalam US77 Pada saat ini, bantuan AS terbuka mengakui nyaris terbatas pada penyelesaian sistem komunikasi militer dan" pelatihan sipil "tindakan . Hal itu dengan menggunakan tentara baru sistem komunikasi, daripada sistem sipil di tangan Sukarno loyalis, bahwa Suharto pada tanggal 1 Oktober 1965 mampu melaksanakan membersihkan cepat nya Sukarno-Yani loyalis dan kiri, sementara "civic action" petugas membentuk inti keras tingkat rendah perwira Gestapu di Central Java.78 Sebelum beralih ke aspek yang lebih rahasia dari bantuan militer AS ke Indonesia pada 1963-65, marilah kita meninjau perubahan keseluruhan dalam hubungan AS-Indonesia. Bantuan ekonomi sekarang ditangguhkan, dan bantuan militer erat disalurkan sehingga untuk memperkuat tentara dalam negeri. Pendanaan pemerintah AS telah jelas bergeser dari negara Indonesia untuk salah satu komponennya paling setia. Sebagai hasil dari perjanjian awal dengan hukum bela diri di tahun 1957, namun dipercepat oleh perjanjian minyak AS-dinegosiasikan tahun 1963, kita melihat pergeseran yang sama persis di aliran pembayaran dari perusahaan minyak AS. Alih-alih royalti token ke pemerintah Sukarno, dua perusahaan minyak besar AS di Indonesia, Stanvac dan Caltex, sekarang melakukan pembayaran jauh lebih besar untuk perusahaan minyak tentara, Permina, dipimpin oleh sekutu politik akhirnya Soeharto, Jenderal Ibnu Sutowo, dan untuk perusahaan kedua, Pertamin, dipimpin oleh anti-PKI dan pro-AS politisi, Chaerul Saleh.79 Setelah penggulingan Soeharto Soekarno, Fortune menulis bahwa "perusahaan Sutowo masih kecil memainkan peran kunci dalam mendanai operasi-operasi penting, dan tentara tidak pernah melupakan hal itu." 80 AS Dukungan untuk Fraksi Soeharto Sebelum Gestapu Pejabat Amerika mengomentari peran bantuan AS dalam periode ini telah mengambil kredit untuk membantu kejang antiKomunis kekuasaan, tanpa pernah mengisyaratkan pada setiap tingkat tanggung jawab konspirasi dalam perencanaan pertumpahan darah ini. Kesan yang ditimbulkan adalah bahwa para pejabat AS tetap jauh dari perencanaan sebenarnya dari peristiwa, dan kita bisa melihat dari lalu lintas kabel baru saja dibuka bagaimana hati-hati pemerintah AS dipupuk ini gambar pelepasan dari apa yang terjadi di Indonesia.81 Bahkan, Namun, pemerintah AS berbohong tentang keterlibatannya. Dalam Tahun Anggaran 1965, masa ketika The New York Times menyatakan "semua bantuan Amerika Serikat kepada Indonesia dihentikan," jumlah MAP (Military Assistance Program) personil di Jakarta benar-benar meningkat, melampaui apa yang telah diproyeksikan, dengan tinggi belum pernah terjadi sebelumnya. 82 Menurut angka yang dikeluarkan di 1966,83 dari TA 1963 sampai TA 1965 nilai pengiriman MAP jatuh dari sekitar empat belas juta dolar untuk lebih dari dua juta dolar. Meskipun penurunan ini, jumlah personil MAP militer tetap hampir tidak berubah, sekitar tiga puluh, sedangkan di TA 1965 personil sipil (lima belas) hadir untuk pertama kalinya. Apakah atau tidak ada yang meragukan bahwa pengiriman bantuan jatuh off tajam karena angka-angka akan menyarankan, personil MILTAG angka menunjukkan bahwa "civic action" program mereka sedang meningkat, tidak decreased.84 Kita telah melihat bahwa beberapa bulan sebelum Gestapu, seorang utusan Soeharto dengan koneksi CIA masa lalu (Kolonel Jan Walandouw) melakukan kontak dengan pemerintah AS. Dari pada awal Mei 1965, pemasok militer AS dengan koneksi CIA (terutama Lockheed) sedang bernegosiasi dengan hasil penjualan peralatan untuk perantara, sedemikian rupa untuk menghasilkan hadiah untuk pendukung pemimpin sedikit diketahui sampai saat ini dari sebuah faksi ketiga baru di militer, Mayor Jenderal Suharto bukan untuk mereka Nasution dukungan atau Yani, para pemimpin tituler angkatan bersenjata. Hanya dalam setahun terakhir telah itu telah dikonfirmasi bahwa dana rahasia dikelola oleh Angkatan Udara AS (mungkin atas nama CIA) yang dicuci sebagai "komisi" pada penjualan Lockheed peralatan dan layanan, dalam rangka untuk membuat hadiah politik untuk personil militer dari countries.85 asing Sebuah investigasi 1976 Senat ke dalam hadiah mengungkapkan, hampir secara tidak sengaja, bahwa pada Mei 1965, atas keberatan hukum penasihat Lockheed itu, Lockheed komisi di Indonesia telah dialihkan ke kontrak baru dan perusahaan yang didirikan oleh lama agen lokal perusahaan atau perantara 86 memo internalnya pada saat itu tidak menunjukkan alasan untuk perubahan, tetapi dalam sebuah memo kemudian konselor ekonomi dari Kedutaan Besar AS di Jakarta dilaporkan sebagai mengatakan bahwa ada 87 "beberapa pertimbangan politik di balik itu." Jika ini benar, itu akan menunjukkan bahwa pada Mei 1965, lima bulan sebelum kudeta, Lockheed telah diarahkan hadiah ke sebuah bukit politik baru, dengan risiko (sebagai asisten penasihat utamanya menunjukkan) dituntut untuk default pada kewajiban kontrak mantan. Perantara bahasa Indonesia, Agustus Munir Dasaad, adalah "dikenal telah membantu Sukarno secara finansial sejak 1930-an." 88 Pada tahun 1965, bagaimanapun, Dasaad sedang membangun koneksi dengan pasukan Soeharto, melalui seorang kerabat keluarga, Jenderal Alamsjah, yang telah melayani singkat di bawah Soeharto pada 1960, setelah Soeharto menyelesaikan masa jabatannya di SESKOAD. Melalui kontrak baru, Lockheed, Dasaad dan Alamsjah tampaknya hitching gerobak mereka untuk bintang Suharto naik:

Ketika kudeta itu dibuat selama Soeharto digantikan Soekarno, Alamsjah, yang menguasai dana yang cukup besar tertentu, sekaligus membuat ini tersedia untuk Soeharto, yang jelas membuatnya mendapatkan rasa terima kasih dari Presiden baru. Pada waktunya ia ditunjuk untuk posisi kepercayaan dan keyakinan dan Alamsjah hari ini adalah, bisa dikatakan, orang penting kedua setelah President.89 Jadi pada tahun 1966 Kedutaan Besar AS menyarankan Lockheed itu harus "terus menggunakan" Dasaad-Alamsjah-Soeharto connection.90 Pada bulan Juli 1965, pada saat nadir dugaan hubungan AS-Indonesia bantuan, Rockwell-Standar memiliki perjanjian kontrak untuk memberikan dua ratus pesawat ringan (Aero-Komandan) untuk Tentara Nasional Indonesia (bukan Angkatan Udara) dalam dua berikutnya months.91 Sekali lagi agen komisi pada kesepakatan, Bob Hasan, adalah rekan politik (dan mitra bisnis akhirnya) dari Suharto.92 Lebih khusus, Soeharto dan Bob Hasan mendirikan perusahaan pelayaran dua untuk dioperasikan oleh tentara divisi Jawa Tengah, Diponegoro. Pembagian, karena telah lama menyadari, memasok sebagian besar personil di kedua sisi drama kudeta Gestapu - baik yang melancarkan upaya kudeta, dan mereka meletakkannya. Dan salah satu dari tiga pemimpin dalam gerakan Gestapu Jawa Tengah adalah Letnan Kolonel Usman Sastrodibroto, kepala Divisi Diponegoro 93 "bagian berurusan dengan fungsi extramilitary." Jadi dari dua dikenal penjualan kontrak militer AS dari menjelang Gestapu Putsch, baik hadiah politik yang terlibat untuk orangorang yang muncul setelah Gestapu sebagai sekutu dekat Soeharto. Penggunaan ini saluran tradisional untuk patronase CIA menunjukkan bahwa AS tidak di lengan panjang dari perkembangan politik jelek tahun 1965, meskipun indikasi masyarakat, baik dari juru bicara pemerintah dan pers bisnis AS, bahwa Indonesia sekarang hampir hilang komunisme dan ada yang bisa dilakukan tentang hal itu. Tindakan-tindakan beberapa perusahaan-perusahaan AS, apalagi, membuat jelas bahwa dengan awal 1965 mereka mengharapkan dorongan signifikan untuk berdiri AS di Indonesia. Misalnya, kabel baru saja dibuka mengungkapkan bahwa Freeport Sulphur dimiliki oleh April 1965 mencapai "pengaturan" pendahuluan dengan para pejabat Indonesia untuk apa yang akan menjadi investasi $ 500 juta dalam tembaga Papua Barat. Hal ini memberikan kebohongan klaim publik bahwa perusahaan tidak memulai perundingan dengan Indonesia (yang Ibnu tak terelakkan Sutowo) sampai Februari 1966,94 Dan pada bulan September 1965, tak lama setelah Minyak Dunia melaporkan bahwa "gas Indonesia dan industri minyak tampaknya akan tergelincir lebih dalam ke dalam rawa politik, "95 presiden dari sebuah perusahaan minyak kecil (Asamera) dalam usaha patungan dengan Permina Ibnu Sutowo yang dibeli senilai $ 50.000 saham di perusahaan sendiri pura-terancam. Ironisnya pembelian ini ganda (pada 9 September dan September 21) dilaporkan di Wall Street Journal tanggal 30 September 1965, hari Gestapu. CIA "[Satu Kata Dihapus] Operasi" pada tahun 1965 Kurang dari setahun setelah Gestapu dan pertumpahan darah, James Reston menulis memuji tentang mereka sebagai "kilauan Cahaya di Asia": Washington berhati-hati untuk tidak mengklaim kredit untuk ini perubahan yang paling keenam padat penduduk dan salah satu negara terkaya di dunia, tapi ini tidak berarti bahwa Washington tidak ada hubungannya dengan itu. Ada banyak lebih banyak kontak antara kekuatan-kekuatan anti-Komunis di negara itu dan setidaknya satu pejabat yang sangat tinggi di Washington sebelum dan selama pembantaian Indonesia daripada umumnya realized.96 Adapun CIA pada tahun 1965, kita memiliki kesaksian dari mantan petugas CIA Ralph McGehee, anehnya dikuatkan oleh sensor selektif pengusaha mantan CIA: Dimana keadaan diperlukan atau bukti kurang untuk mendukung intervensi AS, CIA menciptakan situasi yang tepat atau menciptakan mereka dan menyebarluaskan distorsi di seluruh dunia melalui operasi media. Sebuah contoh yang menonjol akan Chili .... Terganggu pada keengganan militer Chili untuk mengambil tindakan terhadap Allende, CIA ditempa dokumen mengaku untuk mengungkapkan plot kiri untuk membunuh para pemimpin militer Chili. Penemuan ini "plot" adalah judul di media dan Allende digulingkan dan dibunuh. Ada kesamaan antara peristiwa yang diendapkan penggulingan Allende dan apa yang terjadi di Indonesia pada tahun 1965. Perkiraan jumlah kematian yang terjadi sebagai akibat dari CIA yang terakhir [Satu kata dihapus] operasi berjalan dari satu setengah juta menjadi lebih dari satu juta people.97 McGehee mengklaim telah pernah melihat, saat meninjau dokumen CIA di Washington, sebuah laporan sangat rahasia tentang peran lembaga dalam memprovokasi penghancuran PKI setelah Gestapu. Tampaknya tepat untuk meminta meninjau kongres dan publikasi dari setiap laporan tersebut. Jika, seperti yang dituduhkan, maka direkomendasikan teknik kejam seperti model untuk operasi masa depan, akan muncul untuk dokumen titik balik-besar dalam sejarah operasi badan: terhadap eksploitasi sistematis operasi kematian skuad yang ada selama kudeta Brasil tahun 1964, membuat Vietnam kontra Phoenix Program terkenal setelah tahun 1967, dan setelah 1968 menyebar dari Guatemala untuk sisa Latin America.98 McGehee klaim dari operasi perang psikologis terhadap CIA Allende dikuatkan oleh Tad Szulc: Agen CIA di Santiago intelijen militer Chili dibantu dalam menyusun rencana palsu Z-dokumen menyatakan bahwa Allende dan pendukungnya merencanakan memenggal para komandan militer Chili. Ini dikeluarkan oleh junta untuk membenarkan coup.99 Memang operasi penipuan CIA terhadap Allende tampaknya telah pergi lebih jauh, mengerikan baik kiri dan kanan dengan rasa takut pembantaian baru mulai oleh musuh-musuh mereka. Jadi militan-serikat perdagangan serta jenderal konservatif di Cile menerima kartu kecil dicetak dengan kata-kata menyenangkan se Jakarta acerca (Jakarta sedang mendekat) .100 Ini adalah rencana destabilisasi model - untuk meyakinkan semua pihak bahwa mereka tidak lagi bisa berharap untuk dilindungi oleh status quo, dan karenanya melemahkan pusat, sementara mendorong baik kanan dan kiri menuju provokasi lebih keras satu

sama lain. Seperti rencana tampaknya telah diikuti di Laos di 1959-61, di mana seorang perwira CIA menjelaskan kepada wartawan bahwa tujuannya 101 Tampaknya telah diikuti di Indonesia pada tahun 1965 "adalah untuk polarisasi Laos.". Pengamat seperti Sundhaussen mengkonfirmasi bahwa untuk memahami kisah kudeta Oktober 1965 kita harus melihat pertama-tama di "pasar rumor" yang pada tahun 1965 ... . ternyata cerita-cerita terliar "102 Pada tanggal 14 September, dua minggu sebelum kudeta, tentara diperingatkan bahwa ada plot untuk membunuh para pemimpin militer empat hari kemudian, sebuah laporan tersebut kedua dibahas di markas militer pada September 30,103 Tapi setahun dokumen dugaan sebelumnya PKI, yang PKI dinyatakan sebagai sebuah pemalsuan, harus diakui untuk menggambarkan rencana untuk menggulingkan "Nasutionists" melalui infiltrasi tentara. ini "dokumen", yang dilaporkan dalam surat kabar Malaysia setelah dipublikasikan oleh pro- Chaerul politisi AS Saleh104 pada pertengahan Desember 1964, harus memiliki meminjamkan keyakinan untuk memanggil Suharto untuk sebuah kesatuan tentara pertemuan month.105 berikutnya Kecemasan tentara meningkat oleh rumor, sepanjang 1965, bahwa daratan China menyelundupkan senjata untuk PKI untuk pemberontakan dekat. Dua minggu sebelum Gestapu, cerita untuk efek ini juga muncul di sebuah surat kabar Malaysia, mengutip sumber-sumber di Bangkok yang mengandalkan pada gilirannya di Hong Kong sources.106 untraceability internasional tersebut adalah ciri khas gaya cerita dalam periode ini berasal dari apa yang orang dalam CIA yang disebut "mereka Wurlitzer perkasa, "jaringan dunia luas tekan" aset "melalui CIA, atau badan-badan adik seperti Inggris MI-6, bisa menanam unattributable disinformation.107 tuntutan PKI untuk milisi rakyat atau" kekuatan kelima ", dan pelatihan pemuda PKI di Lubang Buaja, tampak jauh lebih menakutkan bagi tentara Indonesia dalam terang cerita lengan Cina. Tapi untuk bulan sebelum kudeta, paranoia PKI juga telah dimainkan, oleh laporan bahwa CIA berulang-didukung "Dewan Jenderal" sedang merencanakan untuk menekan PKI. Ini adalah dewan ini mitos, tentu saja, bahwa Untung mengumumkan sebagai sasaran diduga kudeta anti-CIA Gestapu. Tapi rumor tersebut tidak hanya berasal dari sumber anti-Amerika, sebaliknya, referensi diterbitkan pertama otoritatif untuk seperti dewan berada dalam kolom Washington wartawan Evans dan Novak: Sejauh Maret, Jenderal Ibrahim Adjie, panglima Divisi Siliwangi, telah dikutip oleh dua wartawan Amerika yang mengatakan kaum Komunis: ".. Kita mengetuk mereka sebelum [di Madiun] Kami memeriksa mereka dan memeriksa mereka lagi" Para wartawan yang sama mengaku memiliki informasi bahwa "... Angkatan Darat telah diam-diam membentuk sebuah komisi penasehat dari lima pejabat umum untuk melaporkan kepada Jenderal Jani ... dan Jenderal Nasution tentang kegiatan PKI ...." 108 Mortimer kebetulan melihat bahwa lima jenderal selain Yani dibunuh oleh Gestapu sebagai mungkin signifikan. Tapi kita juga harus dipukul oleh kebangunan rohani di Amerika Serikat citra Yani dan Nasution sebagai anti-PKI perencana, lama setelah CIA dan pers AS cerita sebenarnya sudah ditulis mereka pergi sebagai bersedia untuk bertindak melawan Sukarno.109 Jika eliminasi oleh Gestapu dari pesaing politik Soeharto dalam tentara adalah untuk disalahkan di sebelah kiri, maka skenario yang dibutuhkan hanya seperti kebangkitan lupa gambar para jenderal anti-komunis yang menentang Soekarno. Unsigned anomali Agustus 1965 profil Nasution dalam The New York Times, berdasarkan wawancara yang diterbitkan 1963 tetapi hanya setelah serangan verbal oleh Nasution pada basis Inggris di Singapura, tidak hanya ini: klaim (cukup janggal, mengingat konteksnya) bahwa Nasution adalah "dianggap lawan terkuat Komunisme di Indonesia", dan menambahkan bahwa Soekarno, yang didukung oleh PKI, 110 "telah mengejar kampanye untuk menetralisir ... tentara sebagai kekuatan antiKomunis." Pada bulan yang sama Agustus 1965, ketakutan akan showdown dekat antara "PKI dan kelompok Nasution" adalah fomented di Indonesia oleh sebuah pamflet bawah tanah; ini didistribusikan oleh lama aset CIA, PSI, yang kader sekarang sangat terlibat: PKI siap tempur. Kelompok Nasution berharap PKI akan menjadi yang pertama untuk menarik pelatuk, tapi ini PKI tidak akan melakukan. PKI tidak akan membiarkan dirinya terprovokasi seperti dalam Peristiwa Madiun. Pada akhirnya, bagaimanapun, akan ada hanya dua kekuatan kiri: PKI dan kelompok Nasution. Tengah akan memiliki alternatif tetapi untuk memilih dan mendapatkan perlindungan dari force.111 kuat Satu tidak bisa berharap untuk menemukan lambang yang lebih baik dari propaganda yang diperlukan untuk program paranoia CIA rekayasa. Artikel McGehee, setelah penyensoran oleh CIA, berfokus lebih sempit pada peran CIA di propaganda anti-PKI sendiri: Badan disita pada kesempatan ini [respon Suharto untuk Gestapu] dan berangkat untuk menghancurkan PKI ... [Delapan kalimat dihapus ].... Rekayasa Media memainkan peran kunci dalam memicu kemarahan rakyat terhadap PKI Foto-foto tubuh para jenderal mati - buruk membusuk - yang ditampilkan di semua koran dan di televisi. Cerita yang menyertai gambar-gambar palsu mengklaim bahwa para jenderal telah dikebiri dan mata mereka dicungkil oleh perempuan Komunis. Kampanye ini dirancang sinis diproduksi untuk memicu kemarahan publik terhadap kaum Komunis dan mengatur panggung untuk massacre.112 McGehee mungkin telah menambahkan bahwa cerita-cerita propaganda penyiksaan oleh perempuan histeris dengan pisau cukur, yang mengabaikan sebagai ilmuwan serius berdasar, yang kembali dalam versi yang lebih canggih oleh wartawan AS, John Hughes, yang kini juru bicara utama untuk Departemen Luar Negeri. 113 Pasukan Suharto, terutama Kolonel Sarwo Edhie dari RPKAD komando, secara terbuka terlibat dalam eksploitasi sinis dari 'korban bodies.114 Tapi beberapa aspek dari kampanye propaganda besar-besaran tampaknya telah diatur oleh non-Indonesia. Sebuah kasus di titik adalah editorial yang disengketakan dalam mendukung Gestapu yang muncul dalam edisi 2 Oktober koran PKI Harian Rakjat. Profesor Benedict Anderson dan Ruth McVey, yang mempertanyakan keaslian masalah ini, juga telah mengesampingkan kemungkinan bahwa koran adalah "sebuah pemalsuan Angkatan Darat," dengan alasan bahwa "kompetensi tentara ... di pesta memalsukan dokumen selalu karuan rendah "115. Pertanyaan yang diajukan oleh Anderson dan McVey belum dijawab secara memadai. Mengapa PKI tidak menunjukkan dukungan bagi kudeta Gestapu sementara itu berlangsung, kemudian gegabah editorialize mendukung Gestapu setelah itu telah

hancur? Mengapa PKI, yang editorial memberi dukungan kepada Gestapu, gagal untuk memobilisasi para pengikutnya untuk bertindak atas nama Gestapu itu? Mengapa Soeharto, saat itu dalam kontrol Jakarta, menutup semua koran kecuali yang satu ini, dan satu lainnya berhaluan kiri surat kabar yang juga menjabat propaganda nya berakhir? 116 Mengapa, dalam kata lain, apakah Soeharto pada 2 Oktober memungkinkan publikasi hanya dua surat kabar Jakarta, dua yang berada di titik yang ditutup selamanya? Sebagaimana dinyatakan di awal, maka akan bodoh untuk menunjukkan bahwa di tahun 1965 kekerasan hanya datang dari pemerintah AS, militer Indonesia, dan kontak bersama mereka dalam kecerdasan Inggris dan Jepang. Sebuah kertas lagi juga bisa mendiskusikan tindakan provokatif PKI, dan Sukarno sendiri, dalam tragedi kerusakan sosial. Tentu, dari satu sudut pandang, tidak ada yang aman mengendalikan peristiwa dalam period.117 bermasalah Namun karena dua alasan seperti penjumlahan mode Tujuan dari acara tampaknya tidak tepat. Di tempat pertama, sebagai studi sendiri CIA mengakui, kita berbicara tentang "salah satu bloodlettings ghastliest dan paling terkonsentrasi waktu saat ini," tampaknya salah satu yang skala kekerasan dari semua proporsi seperti dipublikasikan dengan baik sayap kiri bertindak sebagai pembunuhan seorang letnan angkatan darat di Bandar Betsy perkebunan Mei 1965,118 Dan, di tempat kedua, skenario digambarkan oleh McGehee untuk 1965 dapat dilihat sebagai tidak hanya menanggapi provokasi, paranoia, dan kebisingan semata-mata peristiwa di tahun, tetapi secara aktif mendorong dan menyalurkan mereka. Perlu dicatat bahwa mantan Direktur CIA William Colby telah berulang kali membantah bahwa ada CIA atau keterlibatan AS dalam pembantaian tahun 1965. (Dengan tidak adanya Satuan Tugas CIA khusus, Colby, sebagai kepala Divisi CIA Timur Jauh 1962-66, biasanya telah bertanggung jawab untuk operasi CIA di Indonesia.) Penyangkalan Colby Namun terkait dengan kisah didiskreditkan dari PKI plot untuk merebut kekuasaan politik, sebuah cerita yang ia hidup kembali pada tahun 1978: Indonesia meledak, dengan tawaran untuk kekuasaan oleh Partai Komunis terbesar di dunia di luar tirai, yang menewaskan pimpinan tentara dengan persetujuan diam-diam Sukarno dan kemudian hancur dalam pembalasan. CIA memberikan laporan aliran pada proses di Indonesia, meskipun tidak memiliki peran apapun dalam jalannya peristiwa themselves.119 Hal ini penting untuk menyelesaikan masalah keterlibatan AS dalam operasi pembunuhan sistematis, dan khususnya untuk mempelajari lebih lanjut tentang account CIA ini yang McGehee mengaku telah melihat. McGehee memberitahu kita: "Badan sangat bangga dengan sukses [satu kata dihapus] dan direkomendasikan sebagai model untuk operasi masa depan [satu setengah kalimat dihapus]." Laporan Duta Besar Green 120 wawancara dengan Nixon pada tahun 1967: Pengalaman Indonesia telah salah satu bunga tertentu untuk [Nixon] karena hal-hal telah berjalan dengan baik di Indonesia. Saya pikir dia sangat tertarik pada seluruh pengalaman sebagai menunjuk dengan cara kita harus [!] Menangani hubungan kami secara lebih luas di Asia Tenggara pada umumnya, dan mungkin di world.121 Penilaian yang tidak tertandingi seperti membantu menjelaskan peran Indonesia dalam penggulingan Nixon-disponsori Sihanouk di Kamboja pada tahun 1970, penggunaan skenario Jakarta untuk menggulingkan Allende di Chile pada tahun 1973, dan sponsor AS saat ini rezim skuad kematian di Central America.122 University of California, Berkeley, Amerika Serikat, Desember 1984 1. Kesulitan analisis ini, terutama didasarkan pada "bukti" yang disebut disajikan di uji Mahmilub, akan jelas bagi siapa saja yang telah mencoba untuk mendamaikan rekening bertentangan Gestapu di, misalnya, rekening Soeharto resmi oleh Nugroho Notosusanto dan Ismail Saleh, dan studi CIA agak kurang fantastis tahun 1968, keduanya disebut kemudian. Aku akan menarik hanya pada bagian-bagian dari bukti Mahmillub yang membatasi atau mendiskreditkan anti-PKI tesis mereka. Untuk interpretasi data Mahmilub, lih. Coen Holtzappel terutama, "The Gerakan 30 September," Journal of Contemporary Asia, IX, 2 (1979), hlm 216-40. Kasus untuk skeptis umum yang didalilkan oleh Rex Mortimer, indonesian Komunisme Di bawah Soekarno (Ithaca, New York: Cornell University Press, 1974), hlm 421-3; dan lebih kuat, oleh Julie Southwood dan Patrick Flanagan, Indonesia: Hukum, Propaganda , dan Teror (London: Zed Tekan, 1983), hlm 126-34. 2. Pada sidang yang lama tertunda pada tahun 1978, Latief plotter Gestapu menegaskan wahyu sebelumnya bahwa ia telah mengunjungi Soeharto komandan lamanya pada malam penculikan Gestapu. Dia mengklaim bahwa dia dibesarkan dengan Soeharto keberadaan sayap kanan dugaan "Dewan Jenderal" merencanakan untuk merebut kekuasaan, dan memberitahukannya "gerakan yang dimaksudkan untuk menggagalkan rencana dewan jenderal 'untuk kudeta "(Anon.," Kasus Latief: Keterlibatan Soeharto Terungkap, "Journal of Contemporary Asia, IX, 2 [1979], hlm 248-50). Untuk pandangan yang lebih komprehensif tentang keterlibatan Soeharto dalam Gestapu, lih. terutama W.F. Wertheim, "siapa Plot Cahaya Baru di 1965 Acara,?" Journal of Contemporary Asia, IX, 2 (1979), hlm 197-215; Holtzappel, "The 30 September," Sebaliknya, lebih banyak poin terutama untuk perwira intelijen yang dekat kepada pihak yang dilarang Murba Chaerul Saleh dan Adam Malik: lih. fn. 104. 3. Tiga fase tersebut adalah: (1) "Gestapu," sayap kiri diinduksi "kudeta"; (2) "KAP Gestapu-," atau anti-Gestapu "respon," membantai PKI; (3) erosi progresif Sukarno tersisa kekuasaan. Tulisan ini terutama akan membahas Gestapu / KAP Gestapu-, dua fase pertama. Untuk memanggil fase pertama dengan sendirinya sebuah "kudeta" yang dalam pandangan saya sebagai penyalahgunaan terminologi: tidak ada bukti nyata bahwa dalam fase ini kekuasaan politik berpindah tangan atau bahwa ini adalah niat. 4. Badan Intelijen Pusat AS, Penelitian Studi: Indonesia - Kudeta yang menjadi bumerang, 1968 (dikutip selanjutnya sebagai studi CIA), hal 71n. 5. Harold Crouch, The Army dan Politik di Indonesia (Ithaca, New York: Cornell University Press, 1978), hlm 79-81. 6. Selain itu, salah satu dari dua korban Gestapu di Jawa Tengah (Kolonel Katamso) adalah pejabat non-PKI hanya peringkat untuk menghadiri ulang tahun kesembilan belas PKI perayaan di Yogyakarta Mei 1964: Mortimer, indonesian Komunisme, hal 432. Ironisnya, "penemuan" terlambat dari mayatnya digunakan untuk memicu pembersihan kontak nya PKI.

7. Empat dari enam pro-wakil Yani pada Januari tewas bersama dengan Yani pada 1 Oktober. Dari lima anti-Yani perwakilan di Januari, kita akan melihat bahwa setidaknya tiga yang menonjol dalam "meletakkan" Gestapu dan menyelesaikan penghapusan Yani-Sukarno loyalis (tiga itu Soeharto, Basuki Rachmat, dan Sudirman dari SESKOAD, yang Bahasa Indonesia Staf Angkatan Darat dan Sekolah Komando): Crouch, Angkatan Darat, hal 81n. 8. Sementara putri Nasution dan ajudan dibunuh, dia mampu lolos tanpa cedera serius, dan mendukung pembersihan berikutnya. 9. Indonesia, 22 (Oktober 1976), hal 165 (CIA Memorandum 22 Maret 1961 dari Richard M. Bissell, Lampiran B). Dengan 1965 Kekecewaan ini memuncak dengan oposisi yang mendalam Nasution terhadap keterlibatan AS di Vietnam. 10. Crouch, Angkatan Darat, hal 40; Brian May, Tragedi Indonesia (London: Routledge dan Kegan Paul, 1978), hlm 221-2. 11. Saya akan berasumsi untuk argumen ini kental bahwa Untung adalah penulisnya, atau setidaknya disetujui, pernyataan yang dikeluarkan dalam nama-Nya. Para sarjana yang melihat Untung sebagai menipu pengendali Gestapu itu diketahui bahwa Untung adalah tempat di dekat stasiun radio siaran dalam nama-Nya, dan bahwa ia tampaknya memiliki sedikit pengaruh atau tidak atas gugus tugas yang diduduki itu (di bawah Kapten Suradi dari layanan intelijen Brigade Kolonel Latief): Holtzappel, hlm 218, 2312, 236-7. Saya tidak punya alasan untuk bertentangan dengan para analis hati-hati Gestapu - "? Siapa Plot" seperti Wertheim, hal 212, dan Holtzappel, "The 30 September," hal 231 - yang menyimpulkan bahwa Untung pribadi tulus, dan dimanipulasi oleh dalang lain seperti Sjam. 12. Siaran 07:15 1 Oktober; Indonesia 1 (April 1966), hal 134, Ulf Sundhaussen, The Road to Power: Politik Militer Indonesia, 1945-1967 (Kuala Lumpur dan Oxford: Oxford University Press, 1982), hal 196. 13. Ibid, hal. 201. 14. Siaran Oktober 1, dan 4 1965; Indonesia 1 (April 1966), hlm 158-9. 15. Studi CIA, hal 2; O.G. Roeder, Jenderal Smiling: Presiden Soeharto di Indonesia (Jakarta: Gunung Agung, 1970), hal 12, mengutip Suharto sendiri: "Dalam perjalanan ke KOSTRAD HQ [HQ Soeharto] aku melewati tentara baret hijau yang ditempatkan di bawah komando KOSTRAD tetapi yang tidak hormat saya." 16. Anderson dan McVey menyimpulkan bahwa Sukarno, Angkatan Udara Kepala Omar Dhani, PKI Ketua Aidit (tiga sasaran politik utama anti-Gestapu "respon" Suharto) dikumpulkan oleh komplotan Gestapu di tengah malam, dan dibawa ke Halim udara kekuatan dasar, sekitar satu mil dari sumur di Lubang Buaja mana mayat-mayat para jenderal ditemukan. Pada tahun 1966 mereka menduga bahwa ini adalah "untuk menutup konspirator 'kontrol dari pangkalan," dan untuk membujuk Sukarno "untuk pergi bersama dengan" para konspirator rencana (Benedict Anderson dan Ruth McVey, Sebuah Analisis Awal dari, 1 Oktober 1965, Kudeta di Indonesia [Ithaca, New York: Cornell University Press, 1971], hlm 19-21). Sebuah hipotesis alternatif tentu saja adalah bahwa Gestapu, dengan membawa orang-orang ini bersama-sama melawan kehendak mereka, menciptakan kemiripan konspirasi PKI angkatan udara Soekarno yang kemudian akan dimanfaatkan oleh Soeharto. Kehadiran Sukarno di Halim "kemudian untuk memberikan kritik Sukarno dengan beberapa amunisi mereka handiest" (John Hughes, The End of Soekarno [Jakarta: Angus dan Robertson, 1978], hal 54). 17. Studi CIA, hal 2; lih. hal 65: "Pada puncak dari kudeta ... pasukan pemberontak [di Jawa Tengah] diperkirakan memiliki kekuatan hanya satu batalyon; selama dua hari berikutnya, kekuatan-kekuatan secara bertahap mencair." 18. Rudolf Mrazek, Amerika Serikat dan Militer Indonesia, 1945-1966 (Praha: Cekoslowakia Akademi Ilmu Pengetahuan, 1978), vol. II, hal 172. Batalyon-batalyon, terdiri dari sebagian besar Brigade Para 3, juga memasok sebagian besar pasukan yang digunakan untuk meletakkan Gestapu di Jakarta. Subordinasi dari dua faksi dalam perang sipil ini seharusnya struktur komando tunggal dekat di bawah Soeharto dikutip untuk menjelaskan bagaimana Soeharto mampu memulihkan ketertiban di kota tanpa tembakan. Sementara itu keluar di pangkalan udara Halim memaksa pertempuran senjata diduga antara (Baret Hijau) 454 dan (Baret Merah) RPKAD pasukan terjun payung pergi "tanpa kehilangan satu orang" (Studi CIA, hal 60). Di Jawa Tengah, juga, kekuasaan "berpindah tangan diam-diam dan damai," dengan "sebuah kurangnya menakjubkan kekerasan" (Studi CIA, hal 66). 19. Ibid, hal. 60n; Arthur J. Dommen, "usaha kudeta di Indonesia," China Quarterly, Januari-Maret 1966, hal 147. Yang pertama "perkenalan" pertemuan komplotan Gestapu ditempatkan dalam kronologi peristiwa dari Indonesia "kadang-kadang sebelum 17 Agustus 1965"; lih. Nugroho Notosusanto dan Ismail Saleh, The Mencoba Kudeta dari "Gerakan 30 September" di Indonesia (Jakarta: [Pembimbing Masa, 1968], hlm 13); dalam Studi CIA, pertemuan ini adalah tanggal 6 September (hal. 112). Akun tidak memungkinkan lebih dari beberapa minggu untuk plot kudeta di negara kelima di dunia yang paling padat penduduknya. 20. Mortimer, Indonesia Komunisme, hal 429. 21. Dari enam perwira Staf Jenderal yang ditunjuk bersama dengan Yani, tiga (Suprapto, DI Pandjaitan, dan S. Parman) dibunuh. Dari ketiga korban, dua (Mursyid dan Pranoto) telah dihapus oleh Suharto dalam delapan bulan ke depan. Anggota terakhir dari staf Yani, Djamin Gintings, digunakan oleh Suharto selama pembentukan Orde Baru, dan diabaikan setelahnya. 22. Howard Palfrey Jones, Indonesia: Kemungkinan Mimpi (New York: Harcourt, Brace, Jovanovich, 1971), hal 391; lih. Arnold Brackman, Keruntuhan komunis di Indonesia (New York: Norton, 1969), hlm 118-9. 23. Crouch, Angkatan Darat, hal 150N. 24. Ibid, hlm 140-53; untuk kasus yang disengketakan Bali, bahkan Robert Shaplen, seorang wartawan dekat dengan sumbersumber resmi AS, mengakui bahwa "Tentara mulai itu" (Time Out Tangan [New York:. Harper dan Row, 1969 ], hal 125). Pembantaian di Jawa Timur "juga benar-benar dimulai ketika RPKAD tiba, tidak hanya Jawa Tengah dan Bali" (surat dari Benedict Anderson).

25. Sundhaussen, Jalan, hlm 171, 178-9, 210, 228, Donald Hindley, "Alirans dan Kejatuhan Orde Lama," Indonesia, 25 (April 1970), hlm 40-41. 26. Sundhaussen, Jalan, hal 219. 27. "Pada tahun 1965 itu [BND, atau dinas intelijen Republik Federal Jerman] dibantu rahasia militer Indonesia layanan untuk menekan Putsch sayap kiri di Jakarta, memberikan sub-senapan mesin, peralatan radio dan uang dengan nilai 300.000 tanda" (Heinz Hoehne dan Hermann Zolling, Jenderal Apakah sebuah Spy [New York: Bantam, 1972], hal xxxiii). 28. Kita seharusnya tidak disesatkan oleh dukungan CIA terhadap pemberontakan 1958 menjadi asumsi bahwa semua Pemerintah AS bersekongkol menentang Sukarno dan PKI pasti CIA berbasis (lih. fn 122.). 29. Daniel Lev, Transisi ke Demokrasi Terpimpin: Politik Indonesia, 1957-1959 (Ithaca, New York: Cornell University Press, 1966), hal 12. Untuk permusuhan, John Foster Dulles untuk persatuan Indonesia pada tahun 1953, lih. Leonard Mosley, Dulles (New York: Dial Tekan / James Wade, 1978), hal 437. 30. Dokumen declassified Katalog Triwulanan (Woodbridge, Connecticut: Penelitian Publikasi, 1982), 001191. 31. Sebagai kepala Biro Khusus PKI rahasia, bertanggung jawab hanya kepada Aidit, Sjam oleh kesaksian sendiri memberikan kepemimpinan kepada "perwira progresif" dari Gestapu. Isu keterlibatan PKI dalam Gestapu dengan demikian bertumpu pada pertanyaan apakah Sjam adalah pimpinan Gestapu memanipulasi atas nama PKI, atau kepemimpinan PKI atas nama tentara. Tampaknya tidak ada perselisihan bahwa Sjam adalah (menurut studi CIA, hal 107) "agen ganda" lama dan mengaku "informan Komando Militer Jakarta." Wertheim (hal. 203) mencatat bahwa di tahun 1950 Sjam "adalah kader PSI," dan "juga telah berhubungan dengan Letnan Kolonel Suharto, Presiden hari ini, yang sering datang untuk tinggal di rumahnya di Jogja." Hal ini mungkin membantu menjelaskan mengapa pada 1970-an, setelah dijatuhi hukuman mati, Sjam dan co-konspirator Supeno dilaporkan "diperbolehkan keluar [dari penjara] dari waktu ke waktu dan menulis laporan untuk tentara pada situasi politik" (Mei, Republik Indonesia, hal 114). Selain itu, "Sjam" yang benar-benar bersaksi dan dihukum, setelah "ditangkap" pada 9 Maret 1967, adalah individu ketiga yang diidentifikasi oleh tentara sebagai "Sjam" Untung antaranya telah berbicara: Dokumen declassified Koleksi Retrospective ( Washington, DC: Carrollton Tekan, 1976), 613C, Hughes, hal 25. 32. Wertheim, "Plot siapa?" hal 203, Mortimer, indonesian Komunisme, hal 431 (Sjam); Sundhaussen, Jalan, hal 228 (Suwarto dan Sarwo Edhie). 33. Joseph B. Smith, Potret Warrior Dingin (New York: Putnam, 1976), hal 205; lih. Thomas Powers, The Man Who Disimpan Rahasia (New York: Knopf, 1979), hal 89. 34. AS, Kongres, Senat, Pilih Komite untuk studi Operasi Pemerintah dengan Penghormatan untuk Kegiatan Intelijen. "Plot Pembunuhan Dugaan Melibatkan Pemimpin Luar Negeri," 94 Cong, 1 Sess.., 1975 (Laporan Senat 94-465 No), hal 4n; komunikasi pribadi. 35. Katalog declassified Dokumen Triwulanan, 1982, 002386, 1981, 367A. 36. Ibid, 1982., 002.386 (JCS Memo untuk SecDef, 22 September 1958). 37. Indonesia, 22 (Oktober 1976), hal 164 (Memorandum CIA tanggal 22 Maret 1961, Lampiran A, hal 6). 38. Ulama terbagi atas interpretasi Madiun karena mereka lebih dari Gestapu. Beberapa orang Amerika telah menyetujui kesimpulan dari Wertheim bahwa "pemberontakan yang disebut komunis Madiun ... mungkin lebih atau kurang diprovokasi oleh unsur-unsur anti-komunis", namun Kahin telah menyarankan bahwa peristiwa yang menyebabkan Madiun "mungkin telah gejala drive pemerintahan umum dan meluas ditujukan untuk mengurangi kekuatan militer PKI "(WF Wertheim, Masyarakat Indonesia dalam Transisi [Den Haag: W. van Hoeve, 1956], hlm 82; George McT Kahin, Nasionalisme dan Revolusi di. Indonesia [Ithaca, New York: Cornell University Press, 1970], hal 288). Cf. Southwood dan Flanagan, Indonesia: Hukum, hlm 26-30. 39. Southwood dan Flanagan, Indonesia: Hukum, hal 68; lih. Pernyataan Nasution kepada siswa pada tanggal 12 November 1965, dicetak ulang di Indonesia, 1 (April 1966), hal 183: "Kita wajib dan dutybound untuk menyeka mereka [PKI] dari tanah Indonesia." 40. Contoh dalam Peter Dale Scott, "Mengekspor Militer-Ekonomi Pembangunan," dalam Malcolm Caldwell, ed, Teror Militer Sepuluh Tahun 'di Indonesia (Nottingham, Inggris: Juru Bicara Buku, 1975)., Hlm 227-32. 41. David Ransom, "Ford Country: Membangun Elite untuk Indonesia," di Steve Weissman, ed, The Trojan Horse (San Francisco, California: Ramparts Press, 1974)., Hal 97; lih. hal 101. Pauker membawa Suwarto untuk RAND pada tahun 1962. 42. John H. Johnson, ed, Peran Militer di Negara Tertinggal (Princeton, New Jersey: Princeton University Press, 1962)., Hlm 222-4. Kata pengantar untuk buku ini oleh Klaus Knorr, yang bekerja untuk CIA saat mengajar di Princeton. 43. Shaplen, Waktu, hal 118; Hughes, The End, hal 119; Southwood dan Flanagan, Indonesia: Hukum, hlm 75-6; Scott, "Mengekspor," hal 231. William Kintner, CIA (OPC) staf pejabat senior 1950-52, dan kemudian duta besar Nixon ke Thailand, juga menulis dalam mendukung "melikuidasi" PKI saat bekerja di sebuah lembaga think tank-CIA-subsidi, Kebijakan Luar Negeri Research Institute, 44. Ransom, "Ford Negara," hlm 95-103; Southwood dan Flanagan, Indonesia: Hukum, hlm 34-6; Scott, "Mengekspor", hlm 227-35. 45. Sundhaussen, Jalan, hlm 141, 175.

46. Diterbitkan US rekening Civic Mission / "civic action" program menggambarkan mereka sebagai dikhususkan untuk "proyek-proyek sipil - kanal merehabilitasi, pengeringan rawa untuk membuat sawah baru, membangun jembatan dan jalan, dan sebagainya (Roger Hilsman, Untuk Pindah Bangsa [Garden City, New York: Doubleday, 1967], hlm 377) Tapi sebuah memo kepada Presiden Johnson dari Sekretaris Negara Rusk, pada tanggal 17 Juli 1964, membuatnya jelas bahwa pada waktu itu kepala pentingnya MILTAG adalah untuk nya. kontak dengan unsur-unsur anti-Komunis di Angkatan Darat Indonesia dan Organisasi Teritorial nya: "bantuan kami untuk Indonesia ... kita puas ... tidak membantu Indonesia militer. Meskipun demikian, memungkinkan kita untuk mempertahankan beberapa kontak dengan elemen-elemen kunci di Indonesia yang tertarik dan mampu melawan pengambilalihan Komunis. Kami pikir ini sangat penting untuk Dunia Bebas seluruh "(Dokumen declassified Katalog Triwulanan, 1982, 001786 [DOS Memo untuk Presiden 17 Juli, 1964; huruf miring dalam asli]). 47. Southwood dan Flanagan, Indonesia: Hukum, hal 35; Scott, "Mengekspor," hal 233. 48. Ransom, "Ford Negara," hlm 101-2, mengutip Willis G. Ethel, dikutip dalam Scott, "Mengekspor," hal 235. 49. Sundhaussen, Jalan, hal 141. Ada juga "organisasi paramiliter sendiri aman terkendali siswa - dimodelkan pada USROTC dan diperintahkan oleh seorang kolonel angkatan darat [Djuhartono] segar dari program intelijen militer AS di Hawaii" tentara: Mrazek, Amerika Serikat, vol. II, hal 139, mengutip wawancara dengan George Kahin Nasution, 8 Juli 1963. 50. Pauker, meskipun sederhana dalam menilai pengaruh politiknya sendiri, tidak mengklaim bahwa kertas RAND dia menulis di kontra dan keadilan sosial, diabaikan oleh militer AS untuk siapa itu dimaksudkan, berpengaruh dalam perkembangan doktrin Civic Mission temannya Suwarto itu. 51. Noam Chomsky dan E.S. Herman, Hubungan Washington dan Fasisme Dunia Ketiga (Boston, Massachusetts: Tekan Selatan Akhir, 1979), hal 206, David Mozingo, Kebijakan China Menuju Indonesia (Ithaca, New York: Cornell University Press, 1976), hal 178. 52. Sundhaussen, The Road, hlm 178-9. PSI tentu saja tidak monolitik atau instrumen sederhana dari kebijakan AS. Tetapi titik sebenarnya adalah bahwa, dalam insiden tahun 1963 sebagai orang lain, kita melihat aktivitas konspirasi relevan dengan pengambilalihan militer, yang melibatkan PSI dan orang lain yang berada di fokus program pelatihan AS, dan siapa yang akan memainkan peran penting pada tahun 1965. 53. Sundhaussen, Jalan, hlm 228-33: pada bulan Januari 1966, "aktivis PSI" di Bandung "tahu persis apa yang mereka tuju, yang tidak kurang dari penggulingan Sukarno Selain itu, mereka memiliki perlindungan banyak. korps perwira Siliwangi "Sekali lagi, saya menggunakan istilah Sundhaussen itu" PSI-condong "untuk menunjukkan sebuah lingkungan, tetapi tidak untuk menjelaskannya. Sarwo Edhie adalah CIA lama kontak, sementara peran Kemal Idris 'di tahun 1965 mungkin berutang banyak pada mantan komandan PETA nya petugas intelijen Jepang Yanagawa. Cf. Masashi Nishihara, Jepang dan Sukarno Indonesia (Honolulu: University Press of Hawaii, 1976), hlm 138, 212. 54. Sundhaussen, The Road, hal 99-101. Lubis juga merupakan pemimpin dalam upaya pembunuhan November 1957 terhadap Sukarno, dan pemberontakan 1958. 55. Ibid, 188;. Lih. hal 159n. 56. "Murid" Soeharto Status tentu saja tidak berarti bahwa dia hanya pion di tangan orang-orang dengan siapa ia mendirikan kontak di SESKOAD. Sebagai contoh, kemerdekaan Suharto dari PSI dan mereka yang dekat dengan mereka menjadi cukup jelas pada bulan Januari 1974, ketika ia dan Ali Murtopo menumpas mereka yang bertanggung jawab untuk tentara-ditoleransi kerusuhan mahasiswa mengingatkan satu pada bulan Mei 1963. Cf. Crouch, Angkatan Darat, hlm 309-17. 57. Sundhaussen, Jalan, hlm 228, 241-43. Pada periode yang sama SESKOAD digunakan untuk politik pendidikan ulang jenderal seperti Surjosumpeno, yang meskipun anti-Komunis, bersalah atas kesetiaan kepada Soekarno (hal. 238). 58. Crouch, Angkatan Darat, hal 80; saat ini Soeharto sudah tidak senang dengan Sukarno "naik kebijakan pro-komunis" (Roeder, The Smiling, hal 9). 59. Crouch, Angkatan Darat, hal 81; lih. Mrazek, Amerika Serikat, vol. II, hlm 149-51. 60. Sundhaussen, The Road, hlm 241-3. 61. Melalui kelompok kecerdasannya Opsus (dipimpin oleh Ali Murtopo) Soeharto melakukan kontak dengan para pemimpin Malaysia, dalam dua rekening mantan PSI dan PRRI / Permesta personil di Malaysia memainkan peran dalam pengaturan ini penghubung politik yang sensitif: Crouch, Angkatan Darat, hal 74; Nishihara, Jepang, hal 149. 62. Sundhaussen, The Road, hlm 188. 63. Mrazek, Amerika Serikat, vol. II, hal 152. 64. Cf. Edward Luttwak, kudeta: Sebuah Buku Pegangan Praktis (London: Allen Lane / Penguin Press, 1968), hlm 61: ". Meskipun Komunis menyusup unit militer yang sangat kuat mereka berada di tempat yang salah, sementara mereka duduk di hutan Kalimantan anti-Komunis pasukan terjun payung dan marinir mengambil alih Jakarta, dan negara" Apa yang paling menarik di account ini diinformasikan oleh Luttwak (yang telah bekerja selama bertahun-tahun dengan CIA) adalah bahwa "antiKomunis pasukan terjun payung" mencakup tidak hanya RPKAD tetapi mereka yang dipentaskan pemberontakan Gestapu di Jakarta, sebelum meletakkannya. 65. Nishihara, The hlm, Jepang 142, 149.

66.Ibid, hal. 202, lih. hal 207. PRRI / Permesta veteran terlibat dalam perdamaian peraba Opsus, Daan Mogot dan Willy Pesik, telah dengan Jan Walandouw menjadi bagian dari misi rahasia PRRI 1958 ke Jepang, misi rinci dalam account dalam oleh mantan agen CIA Joseph B. Smith (Potret dari Warrior Dingin [New York: GP Putnam Sons, 1976], hal 245), berikut yang Walandouw terbang "untuk Taipeh, kemudian Manila dan New York." 67. Komunikasi pribadi. Jika account Neville Maxwell (kantor penelitian senior di Institut Studi Persemakmuran, Universitas Oxford) dapat dipercaya, maka perencanaan Gestapu / anti-Gestapu skenario mungkin telah dimulai pada tahun 1964 (Journal of Contemporary Asia, IX, 2 [1979], hlm 251-2; dicetak ulang di Southwood dan Flanagan, Indonesia: Hukum, hal 13): "Beberapa tahun lalu saya sedang meneliti di Pakistan ke latar belakang diplomatik konflik Indo-Pakistan 1965, dan di luar negeri makalah pelayanan yang saya telah diberikan akses menemukan surat kepada menteri luar negeri, Tuan Bhutto, dari salah satu duta besar di Eropa ... melaporkan percakapan dengan seorang perwira intelijen Belanda dengan NATO. Menurut catatan saya bahwa surat, petugas itu mengatakan kepada diplomat Pakistan bahwa "Indonesia akan jatuh ke pangkuan Barat seperti sebuah apel busuk. ' Badan-badan intelijen Barat, kata dia, akan mengorganisir sebuah 'kudeta komunis prematur ... [yang akan] ditakdirkan untuk gagal, memberikan kesempatan yang sah dan selamat datang tentara untuk menghancurkan komunis dan membuat Soekarno tawanan niat baik tentara. " Laporan Duta Besar bertanggal Desember 1964. " 68. Indonesia, 22 (Oktober 1976), hal 164 (CIA Memo 27 Maret 1961, Lampiran A, hal 8); lih. Powers, The Man, hal 89. 69. Indonesia, 22 (Oktober 1976), hal 165 (CIA Memo 27 Maret 1961). 70. Orang lumpuh-bebek Eisenhower memo NSC akan berkomitmen AS untuk menentang PKI tidak hanya di Indonesia, namun "kebijakan yang semakin ramah terhadap blok Sino-Soviet pada bagian dari apa pun rezim yang berkuasa." "Ukuran dan pentingnya Indonesia," menyimpulkan itu, "mendikte kuat AS upaya untuk mencegah kemungkinan [!]": Dokumen declassified Katalog Triwulanan, 1982, 000.592 (NSC 6023 tanggal 19 Desember, 1960). Untuk intrik AS lainnya pada saat ini untuk mendorong keterlibatan AS yang lebih kuat di Asia Tenggara, lih. Dokumen declassified Katalog Triwulanan, 1983, 001285-86; Peter Dale Scott, The Conspiracy Perang (New York: Bobbs Merrill, 1972), hlm 12-14, 17-20. 71. Jones, Indonesia: The Dream Kemungkinan, hal 299. 72. Mortimer, Indonesia Komunisme, hlm 385-6. 73. US Department of Defense, Fakta Bantuan Militer, 1 Mei 1966. Sebelum 1963 keberadaan serta jumlah MAP di Indonesia disembunyikan dari publik; surut, angka diterbitkan. Setelah 1962, total pengiriman bantuan militer menurun secara dramatis, tetapi lebih ditujukan dan lebih terutama pada anti-PKI dan anti-Sukarno komplotan dalam tentara; lih. FNS. 46, 76 dan 83. 74. The New York Times, 5 Agustus 1965, hal 3; lih. Nishihara, Jepang, hal 149; Mrazek, vol. II, hal 121. 75. Sebuah amandemen Senat pada tahun 1964 untuk memotong semua bantuan ke Indonesia diam-diam tanpa syarat tewas dalam konferensi komite, di tanah menyesatkan bahwa Undang-Undang Bantuan Luar Negeri "mengharuskan Presiden untuk melaporkan sepenuhnya dan secara bersamaan untuk kedua Rumah Kongres pada setiap bantuan diserahkan kepada Indonesia "(US Cong, Senat., Laporan No 88-1925, Undang-undang Bantuan Luar Negeri tahun 1964, hal 11). Bahkan persyaratan tindakan itu bahwa laporan presiden "untuk Kongres" diterapkan sampai delapan belas negara-negara lain, tetapi dalam kasus Indonesia ia melaporkan kepada dua Komite Senat dan pembicara dari DPR: Undang-Undang Bantuan Luar Negeri, Bagian 620 (j). 76. Jones, Indonesia: The Dream Kemungkinan, hal 324. 77. AS, Kongres, Senat, Komite Hubungan Luar Negeri, Perusahaan Multinasional dan Amerika Serikat Kebijakan Luar Negeri, Dengar Pendapat (dikutip selanjutnya sebagai Gereja Sidang Komite), 94 Cong, Sess 2.., 1978, hal 941; Mrazek, Amerika Serikat, vol. II, hal 22. Mrazek mengutip Letkol Juono dari korps yang mengatakan bahwa "kita benar-benar tergantung pada bantuan dari Amerika Serikat." 78. Notosusanto dan Saleh, The Coup, hlm 43, 46. 79. Nishihara, Jepang (hlm. 171, 194, 202), menunjukkan peran dalam konspirasi anti-Sukarno 1965-66 dari faksi kecil (termasuk Ibnu Sutowo, Adam Malik, dan Jepang berpengaruh karyawan dlm perusahaan tambang Nishijima) yang sela diri sebagai negosiator antara 1958 Pemberontakan PRRI dan pemerintah pusat. Alamsjah, disebutkan di bawah ini, adalah anggota lain dari kelompok ini, ia bergabung dengan staf Suharto pada tahun 1960. Untuk Murba dan CIA, lih. fn. 104. 80. Fortune, Juli 1973, hal 154, lih. Wall Street Journal, 18 April 1967; baik dalam Scott, "Mengekspor," hlm 239, 258. 81. Dokumen declassified Retrospektif Koleksi, 609A (Kedutaan Besar Kabel 1002 14 Oktober, 1965); 613A (Kedutaan Besar Kabel 1353 dari November 7, 1965). 82. The New York Times, 5 Agustus 1965, hal 3. 83. US Department of Defense, Fakta Bantuan Militer, 1 Mei 1966. Tiga puluh dua personil militer pada tahun fiskal 1965 menunjukkan kenaikan lebih dari angka yang diproyeksikan Maret 1964 dua puluh sembilan. Sebagian besar dari mereka tampaknya Baret Hijau Pasukan Khusus Amerika Serikat, yang maju berdasarkan Okinawa dikunjungi pada bulan Agustus 1965 oleh Saherman plotter Gestapu. Cf. fn. 122. 84. George Benson, seorang rekan dari Guy Pauker yang memimpin Pelatihan Militer Advisory Group (MILTAG) di Jakarta, kemudian disewa oleh Ibnu Sutowo untuk bertindak sebagai pelobi untuk perusahaan minyak tentara (berganti nama Pertamina) di Washington: The New York Times, Desember 6, 1981, hal 1.

85. San Francisco Chronicle, 24 Oktober 1983, hal 22, menjelaskan salah satu USAF-Lockheed seperti operasi di Asia Tenggara, "'Operasi Buttercup' kode-bernama yang beroperasi keluar dari Norton Air Force Base di California 1965-1972." Untuk CIA dekat keterlibatan dalam hadiah Lockheed, lih. Anthony Sampson, Bazaar Senjata (New York: Viking, 1977), hlm 137, 227-8, 238. 86. Komite Gereja Dengar Pendapat, hlm 943-51. 87. Ibid, hal. 960. 88. Nishihara, Jepang, hal 153. 89. Lockheed Pesawat Internasional, memo Fred C. Meuser untuk Erle M. Constable, 19 Juli 1968, dalam Dengar Pendapat Komite Gereja, hal 962. 90. Ibid, hal. 954; lih. hal 957. Pada tahun 1968, ketika Alamsjah mengalami penurunan daya, Lockheed tidak jauh dengan tengkulak dan membayar biaya agen 'langsung ke sekelompok perwira militer (hal. 342, 977). 91. Komite Audiensi Gereja, hal 941; lih. hal 955. 92. Southwood dan Flanagan, Indonesia: Hukum, hal 59. 93. Crouch, Angkatan Darat, hal 114. 94. Dokumen declassified Katalog Triwulanan, 1982, 002507 (kabel 15 April 1965, dari Delegasi AS untuk PBB); lih. Forbes Wilson, The Conquest of Copper Mountain (New York: Atheneum, 1981), hlm 153-5. 95. Minyak Dunia, 15 Agustus 1965, hal 209. 96. The New York Times, 19 Juni 1966, IV, 4. 97. Ralph McGehee, "CIA dan White Paper tentang El Salvador," The Nation, 11 April 1981, hal 423. Kata dihapus akan muncul dari konteks untuk menjadi "penipuan." Cf. Roger Morris dan Richard Mauzy, "Setelah Skenario," dalam Robert L. Borosage dan John Marks, eds, File CIA (New York: Grossman / Viking, 1976)., Hal 39: "Jadi takut subversi Komunis, yang meletus pada hiruk-pikuk pembunuhan pada tahun 1965-1966, telah didorong dalam propaganda 'penetrasi' Badan di Indonesia .... 'Yang aku tahu," kata salah satu mantan intelijen petugas dari peristiwa Indonesia, 'adalah bahwa Badan berguling di beberapa orang atas dan bahwa hal-hal pecah besar dan sangat menguntungkan, sejauh yang kita khawatir.' " Semua referensi untuk penghapusan muncul dalam teks asli seperti yang dicetak dalam The Nation. Ini porsi kurung, yang ditunjukkan dalam artikel ini dalam huruf tebal-tipe wajah, mencerminkan penyensoran oleh CIA. 98. Victor Marchetti dan Merek Yohanes, CIA dan Cult of Intelligence (New York: Knopf, 1974), hal 245. Untuk daftar dua puluh lima koperasi US ditransfer dari Vietnam ke Guatemala dalam, periode 1964-1973 lih. Susanne Jonas dan David Tobis, Guatemala (Berkeley, California, dan New York: Amerika Utara pada Kongres Amerika Latin, 1974), hal 201. 99. Tad Szulc, Ilusi Perdamaian (New York: Viking, 1978), hal 724. Para operasi CIA bertanggung jawab atas operasi antiAllende 1.970, Sam Halpern, sebelumnya menjabat sebagai chief executive officer anti-Sukarno operasi CIA 1957-58: Seymour Hersh, The Price of Power (New York: Buku KTT, 1983), hal 277, Powers, Man, hal 91. 100. Donald Freed dan Fred Simon Landis, Kematian di Washington (Westport, Connecticut: Lawrence Hill, 1980), hlm 104-5. 101. Waktu, 17 Maret 1961. 102. Sundhaussen, Jalan, hal 195. 103. Jones, Indonesia: The Dream Kemungkinan, hal 374; Justus M. van der Kroef, "Asal Usul Kudeta 1965 di Indonesia: Probabilitas dan Alternatif," Jurnal Studi Asia Tenggara, III, 2 (September 1972), hal 282. Tiga jenderal diduga ditargetkan dalam laporan pertama (Soeharto, Mursjid, dan Sukendro); semua Gestapu selamat. 104. Chaerul Saleh Partai Murba, termasuk pro-AS Adam Malik, juga mempromosikan anti-Komunis "Tubuh untuk Mendukung Sukarnoisme" (BPS), yang dilarang oleh Soekarno pada tanggal 17 Desember 1964. (Subandrio "dilaporkan telah disediakan Soekarno dengan informasi yang dimaksudkan untuk menunjukkan pengaruh Intelijen Pusat AS Badan balik BPS" [Mortimer, hal 377];. Jelas memang memiliki dukungan dari CIA-dan tentara yang didukung tenaga kerja organisasi SOKSI) Sesaat setelah itu, Murba sendiri dilarang, dan segera "menjadi aktif sebagai penyebar rumor dan kerusuhan" (Holtzappel, hal 238). 105. Sundhaussen, Jalan, hal 183, Mortimer, indonesian Komunisme, hlm 376-77; Singapura Straits Times, 24 Desember, 1964; dikutip dalam Van der Kroef, "Origins", hal 283. 106. Sabah Times, 14 September 1965; dikutip dalam Van der Kroef, "Origins", hal 296. Mozingo, Cina Kebijakan (hal. 242) menolak tuduhan seperti ini dengan catatan kaki menghina. 107. Powers, The Man, hal 80; lih. Laporan Senat No 94-755, Intelijen Asing dan Militer, hal 192. Disponsori CIA saluran juga disebarluaskan kisah lengan Cina saat ini di Amerika Serikat - misalnya, Brian tongkat uskup, "Perang Sipil Indonesia," Pemimpin Baru, November 1965, hal 4. 108. Mortimer, Indonesia Komunisme, hal 386. Kolom Evans dan Novak bertepatan dengan permukaan dari apa yang disebut

"surat Gilchrist," di mana duta besar Inggris konon menulis tentang plot AS-Inggris anti-Sukarno yang akan dieksekusi "bersama-sama dengan teman-teman tentara setempat." Semua account setuju bahwa surat itu palsu. Namun mengalihkan perhatian dari surat lebih memberatkan dari Dubes Gilchrist, yang Sukarno telah didiskusikan dengan Lyndon Johnson utusan Michael Forrestal pada pertengahan Februari 1965, dan yang keasliannya Forrestal (yang tahu dari surat itu) tidak menyangkal (Dokumen declassified Koleksi Retrospektif, 594H [Kedutaan Besar Kabel 1583 dari 13 Februari 1965]). 109. Cf. Denis Warner, Reporter, 28 Maret 1963, hlm 62-63: "Namun dengan Jenderal AH Nasution, menteri pertahanan, dan Jenderal Jani, kepala Staf Angkatan Darat, sekarang keluar-Sukarnoing Soekarno dalam sengketa dengan Malaya di Malaysia. .. Mr Brackman dan semua siswa serius lainnya Indonesia harus terganggu oleh tidak bertanggung jawab tumbuh dari pimpinan Angkatan Darat. " 110. The New York Times, 12 Agustus 1965, hal 2. 111. Brackman, Komunis, hal 40. 112. McGehee, "The C.I.A.," hal 423. 113. Hughes, The End, hlm 43-50; lih. Crouch, Angkatan Darat, hal 140n: "Tidak ada bukti mendukung cerita ini." 114. Hughes, The End, hal 150, juga menceritakan bagaimana Sarwo Edhie mengeksploitasi mayat Kolonel Katamso sebagai dalih untuk memprovokasi pembantaian PKI di Jawa Tengah; lih. Crouch, hal 154n, juga fn. 6. 115. Anderson dan McVey, A, Awal hal 133. 116. Benedict Anderson dan Ruth McVey, "Apa yang Terjadi di Indonesia?" New York Review of Books, 1 Juni 1978, hal 41; komunikasi pribadi dari Anderson. Sebuah surat kabar kedua, Suluh Indonesia, mengatakan kepada pembacanya bahwa PNI PNI tidak mendukung Gestapu, dan dengan demikian berfungsi untuk menetralisir oposisi potensial untuk merebut kekuasaan Suharto. 117. Jadi pembela peran AS dalam periode ini mungkin menunjukkan bahwa di mana "civic action" telah ditanamkan paling dalam, di Jawa Barat, jumlah warga sipil yang terbunuh itu relatif kecil (!), Dan bahwa pembantaian sembarangan kebanyakan terjadi di mana aksi masyarakat program baru-baru ini telah diperkenalkan. Ini tidak, dalam pandangan saya, mengurangi pangsa AS bertanggung jawab atas pembantaian. 118. Studi CIA, hal 70; Sundhaussen, Jalan, hal 185. 119. William Colby, Pria Terhormat: My Life di CIA (New York: Simon dan Schuster, 1978), hal 227. Crouch, The Army (hal. 108), menemukan tidak ada saran di Mahmillub bukti "bahwa PKI bertujuan mengambil alih pemerintah," hanya itu berharap untuk melindungi diri dari Dewan Jenderal. 120. McGehee, "The C.I.A.," hal 424. 121. Szulc, Ilusi, hal 16. 122. Southwood dan Flanagan, Indonesia: Hukum, hlm 38-9 (Kamboja). Menurut seorang spesialis intelijen Angkatan Laut AS mantan, rencana awal AS untuk menggulingkan Sihanouk militer "termasuk permintaan untuk otorisasi untuk memasukkan tim AS-dilatih pembunuhan gerilyawan menyamar sebagai Vietkong ke Phnom Penh untuk membunuh Pangeran Sihanouk sebagai dalih bagi revolusi" (Hersh , Price, hal 179). Sebagai titik Hersh keluar, tim Baret Hijau pembunuhan yang beroperasi di Vietnam Selatan secara rutin berpakaian sebagai kader Vietkong sementara pada misi. Dengan demikian rencana AS diduga tahun 1968, yang dilaporkan disetujui "lama setelah pelantikan Nixon ... 'pada tingkat tertinggi pemerintahan,'" menyerukan pembunuhan yang moderat di pusat oleh kaum kiri jelas, sebagai dalih untuk hak sayap perebutan kekuasaan. Hal ini menimbulkan pertanyaan menarik, meskipun aneh: apakah sebelumnya operasi anti-Sukarno panggilan untuk unsur-unsur asing untuk menyusup ke dalam pasukan Gestapu membunuh para jenderal? Holtzappel ("The 30 September," hal. 222) telah diduga "penggunaan luar yang diberi penyamaran cocok untuk melakukan pekerjaan kotor." Dia menunjuk saksi percobaan dari batalion Untung dan tim pembunuhan yang "dinyatakan di bawah sumpah untuk tidak tahu ... komandan batalion mereka." Meskipun saksi-saksi sendiri tidak akan asing, asing bisa saja menyusup ke dalam barisan lebih mudah daripada menjadi sebuah batalion biasa. Pengantar Redaksi, Soal Supersemar masih misterius. Beberapa sumber yang relevan masih enggan membuka misteri itu. Di kala dokumen itu masih misterius, tak heran bila setiap Maret orang berdebat terus. Yang menjadi pertanyaan khalayak, apakah Supersemar itu ada atau tidak. Dan kalau benar ada, manakah dokumen yang asli. Lalu, apakah itu tergolong kudeta oleh Soeharto terhadap Soekarno atau tidak, dan beribu pertanyaan lain bisa dilayangkan. Di kala misteri itu belum juga terjawab, barangkali ada lembaran yang bisa memberi sedikit penjelasan. Dari beberapa bahan yang didapat, ditemukan bahwa pada 28 Maret 1966 kantor Kementerian Penerangan mengeluarkan petunjuk pelaksanaan tentang Supersemar. Ini berarti dua pekan setelah Supersemar [dibuat]. Meski ada beberapa yang aneh dan tidak konsisten dari salinan yang diterbitkan Kantor Kementerian Penerangan pada waktu itu, barangkali bisa memberi sedikit masukan tentang Supersemar. Meski masih harus diperdebatkan. Selengkapnya, inilah salah satu lampiran lain berupa salinan Kementerian Penerangan 1966, yang barangkali bisa memberi sedikit penjelasan tentang Supersemar; KATA PENGANTAR Brosur ini menghimpun peraturan-peraturan, instruksi-instruksi, pengumuman- pengumuman dsb. jang dikeluarkan dalam rangka pelaksanaan Surat Perintah Presiden/Pangi ABRI/PBR/Mandataris MPRS tanggal 11 maret 1966. Berturut-turut dikeluarkan Perintah Harian Presiden/Pangti ABRI/PBR/Mandataris MPRS No. 1/3/1966 tanggal 12 Maret 1966 tentang Pembubaran PKI serta semua organisasi jang seazas/berlindung bernaung dibawahnja dan pernjataan PKI sebagai organisasi terlarang, disusul dengan SERUAN tanggal 14 Maret 1966 agar semua anggota pimpinan, kader-kader dan aktivisaktivis PKI serta organisasi-organisasi massanja melaporkan diri , dan Instruksi No. 1/3/ TAHUN 1966 agar semua Pimpinan

Organisasi-organisasi Politik dan Massa tidak menerima/menampung anggota-anggota ex-PKI serta organisasi-organisasi massanja. Pada tanggal 12 Maret 1966 dikeluarkan Pengumuman No. 1 jang menegaskan isi Surat Perintah Presiden/Pangti ABRI/PBR/Mandataris MPRS tanggal 11 maret 1966 dan seruan kepada Rakjat untuk membantu Pemerintah dan ABRI, tidak bertindak sendiri-sendiri dan memelihara keamanan/ketertiban umum serta kelangsungan hidup sehari-hari. Disamping itu, diharapkan kepada segenap Pengusaha dibidang produksi, distribusi dan djasa, agar menghindarkan rakjat dari kesulitan ekonomi sehari-hari chususnja di bidang sabdang pangan (Pengumuman No. 2 tanggal 12 Maret 1966). Selandjutnja kepada Pemerintah Daerah diserukan agar memelihara kelantjaran pemerintahan, memelihara keamanan/ketertiban umum, mejelenggarakan kesedjahteraan Rakjat dan memupuk kewaspadaan Rakjat dalam rangka konfrontasi terhadap "Malaysia" (pengumuman No. 3 tanggal 13 Maret 1966). Djuga untuk seluruh apparat Pemerintah ditingkat Pusat dikeluarkan seruan jang serupa (Pengumuman No. 4 tanggal 13 Maret 1966). Pada tanggal 18 Maret 1966 JM Menteri/PANGAD mengeluarkan Pengumuman No. 1/Peng/1966, dimana dikonstateer adanja gedjala-gedjala kegiatan massa Rakjat jang dapat memberikan kesempatan penunggangan oleh pihak nekolim sehingga perlu diambil tindakan-tindakan tegas jang dapat dipertanggung-djawabkan kepada Presiden/Pangti ABRI/PBR/Mandataris MPRS. Hari itu djuga dikeluarkan Pengumuman No. 5 tertanggal 18 Maret 1966 mengenai tindakan pengamanan terhadap lima belas orang Menteri. Berhubung dengan itu, maka untuk menghindarkan terdjadinja vacuum dalam beberapa bidang pemerintahan dikeluarkan Keputusan Presiden/Pangti ABRI/PBR/Mandataris MPRS No. 3 dan No. 4/3/1966 tanggal 18 Maret tentang penundjukan Menteri-menteri ad interim. Sementara itu, dengan mengingat bahwa pendidikan adalah unsur mutlak dalam nation dan character building, maka diinstruksikan kepada pimpinan Sekolah-sekolah, Universitas-universitas dan Perguruan-perguruan Tinggi untuk mulai lagi peladjaran dan kuliah (Instruksi No 2/3/Tahun 1966 tanggal 18 Maret 1966). Dibidang mass media (radio, televisi dan pers) dikeluarkan Surat Perintah Presiden/Pangti ABRI/PBR/Mandataris MPRS No. 8/3/1966 tanggal 16 Maret 1966, Surat Perintah Kepala Puspenad No. Prin-001/Pus.P/3/1966 tanggal 17 Maret 1966, dan Pengumuman Puspenad No. 001/Sus tanggal 18 Maret serta No. Sus/003 tanggal 23 Maret 1966. Achirnja pada tanggal 27 Maret diumumkan susunan Kabinet Dwikora jang disempurnakan lagi jang diberi pendjelasan oleh JM Menteri/PANGAD dan Kepres No. 62/1966 tanggal 27 Maret 1966 mengenai pengangkatan Djenderal AH Nasution sebagai Wakil Panglima Besar KOGAM dengan kedudukan Menteri. Djakarta, 28 Maret 1966 KEMENTERIAN PENERANGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA SURAT PERINTAH I. Mengingat : 1.1. Tingkatan Revolusi sekarang ini, serta keadaan politik baik nasional maupun Internasional 1.2. Perintah Harian Panglima Tertingi Angkatan Bersendjata/Presiden/Panglima Besar Revolusi pada tanggal 8 Maret 1966 II. Menimbang : 2.1. Perlu adanja ketenangan dan kestabilan Pemerintahan dan djalannja Revolusi. 2.2. Perlu adanja djaminan keutuhan Pemimpin Besar Revolusi, ABRI dan Rakjat untuk memelihara kepemimpinan dan kewibawaan Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi serta segala adjaran-adjarannja III. Memutuskan/Memerintahkan : Kepada : LETNAN DJENDERAL SUHARTO, MENTERI PANGLIMA ANGKATAN DARAT Untuk : Atas nama Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi : 1. Mengambil segala tindakan jang dianggap perlu, untuk terdjaminnja keamanan dan ketenangan serta kestabilan djalannja Pemerintahan dan djalannja Revolusi, serta mendjamin keselamatan pribadi dan kewibawaan Pimpinan Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimin Besar revolusi/mandataris M.P.R.S. demi untuk keutuhan Bangsa dan Negara Republik Indonesia, dan melaksanakan dengan pasti segala adjaran Pemimpin Besar Revolusi. 2. Mengadakan koordinasi pelaksanaan peritah dengan Panlima-Panglima Angkatan-Angkatan lain dengan sebaik-baiknja. 3. Supaya melaporkan segala sesuatu jang bersangkuta-paut dalam tugas dan tanggung-djawabnja seperti tersebut diatas. IV. Selesai. Djakarta, 11 Maret 1966 PRESIDEN/PANGLIMA TERTINGGI/PEMIMPIN BESAR REVOLUSI/MANDATARIS M.P.R.S. SUKARNO PERINTAH - HARIAN Para Tamtama, Bintara dan Perwira TNI/Agkatan Darat chususnja serta Angkatan Bersendjata pada umumnja : Rakjat Indonesia jang sangat saja tjintai, 1. Pada tanggal 11 Maret 1966, Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi/Mandataris MPRS Bung Karno jang kita tjintai telah memerintahkan kepada saja, untuk atas nama Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi/Mandataris MPRS mengambil segala tindakan jang dianggap perlu, untuk terdjaminnja keamanan dan ketenangan serta kestabilan djalannja Pemerintahan dan djalannja Revolusi, serta mendjamin keselamatan pribadi dan kewibawaan pimpinan Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi/Mandataris MPRS demi keutuhan Bangsa dan Negara Republik Indonesia dan melaksanakan dengan pasti segala adjaran Pemimpin Besar revolusi ; 2. Sungguh suatu tugas dan tanggung djawab jang sangat berat tetapi penuh kehormatan jang pada hakekatnja bukan sekadar bagi saja pribadi, melainkan bagi Angkatan bersendjata dan seluruh Rakjat Indonesia ; 3. Bagi Rakjat, hal ini berarti bahwa suara hati nurani Rakjat jang selama ini dituangkan dalam perdjoangan jang penuh keichlasan, kedjudjuran, heroisme dan selalu penuh tawakal kepada Tuhan Jang Maha Esa, benar-benar dilihat, didengar dan diperhatikan oleh Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno jang sangat kita tjintai dan jang djuga merupakan bukti ketjintaan Pemimpin Besar revolusi kepada kita semua ; 4. Setiap bantuan, dukungan dan ikut-sertanja Rakjat dalam membantu saja hendaknja dilakukan dengan tertib dan tidak bertindak sendiri-sendiri; setiap gerakan dan tindakan dalam rangka bantuan terhadap tugas-tugas berat ABRI hendaknja tetap terpimpin dan terkendali, setiap keinginan dan hasrat hendaknja disalurkan dalam rangka Demokrasi terpimpin; 5. Pertjajakan tugas-tugas tersebut kepada ABRI anak kandungmu; Insja Allah ABRI akan melaksanakan Amanatmu, Amanat Penderitaan Rakjat, jaitu melaksanakan Revolusi kiri kerakjatan Indonesia, dengan tjiri-tjiri anti feodalisme, anti kapitalisme, anti Nekolim dan mewudjudkan masjarakat adil-makmur berdasarkan Pantja-Sila, masjarakat Sosialis Indonesia, jang diridhoi oleh Tuhan Jang Maha Esa dalam taman sarinja satu Dunia Baru tanpa segala bentuk penindasan dan penghisapan; 6. ABRI tidak hendak meng-kanankan Revolusi Indonesia seperti jang dituduhkan oleh benalu-benalu dan tjetjunguk-tjetjunguk Revolusi; ABRI djuga tidak akan membiarkan Revolusi dibawa kekiri-kirian, sebab Revolusi kitang memang sudah kiri. Siapa

sadja, golongan mana sadja, jang akan menjelewengkan garis Revolusi, mereka akan berhadapan dengan ABRI, dan akan ditindak oleh ABRI. 7. Para Tamtama, Bintara dan Perwira, Marilah kita melaksanakan bersama tufas jang dipertjajakan kepadamu, dengan penuh rasa tangung-djawab demi Revolusija Rakjat, dari mana kita dilahirkan, oleh siapa kita dibesarkan, untuk siapa kita mengabdi, untuk siapa pula kita rela untuk mati. 8. Perdjalanan kita djauh, perdjoangan kita belum selesai. Badjakan semangatmu, pertebal imanmu dan pertinggi perngabdianmu kepada Rakjat. Sungguh tgas ini udjian berat bagimu dan Rakjat akan menilai pengabdianmu! 9. Dengan segala kerendahan hati, kita pandjatkan permohonan kehadirat Tuhan jang Maha Esa semoga meridhoi pengabdian kita bersama kepada Tanah Air, Bangsa dan Revolusi; 10. Sekian. Djakarta, 12 Maret 1966 PRESIDEN/PANGLIMA TERTINGGI/PEMIMPIN BESAR REVOLUSI/MANDATARIS MPRS atas nama beliau, SOEHARTO LETNAN DJENDERAL TNI KEPUTUSAN PRESIDEN/PANGLIMA TERTINGGI ANGKATAN BERSENDJATA REPUBLIK INDONESIA/MANDATARIS MPRS/PEMIMPIN BESAR REVOLUSI No. 1/3/1966 MENIMBANG : 1. Bahwa pada waktu-waktu jang achir ini makin terasa kembali aksi-aksi gelap dilakukan oleh sisa-sisa kekuatan kontra-revolusi "Gerakan 30 September"/Partai Komunis Indonesia; 2. Bahwa aksi-aksi gelap itu berupa penjebaran fitnah hasutan, desas-desus, adu-domba dan usaha penjusunan kekuatan bersendjata jang mengakibatkan terganggunja kembali keamanan Rakjat dan ketertiban; 3. Bahwa aksi-aksi gelap tsb njata-njata membahajakan djalannja Revolusi pada umumnja dan mengganggu penjelesaian tingkat Revolusi dewasa ini, chususnja penanggulangan kesulitan ekonomi dan pengganjangan projek Nekolim "Malaysia"; 4. Bahwa demi tetap terkonsolidasinja persatuan dan kesatuan segenap kekuatan progresif-revolusioner Rakjat Indonesia dan demi pengamanan djalannja Revolusi Indonesia jang anti feodalisme, anti kapitalisme, anti Nekolim dan menudju terwudjudnja Masjarakat Adil-Makmur berdasarkan Pantjasila, masjarakat Sosialis Indonesia, perlu mengambil tindakan tjepat, tepat dan tegas terhadap Partai Komunis Indonesia; MEMPERHATIKAN Hasil-hasil pemeriksaan serta putusan Mahkamah Militer Luar Biasa terhadap tokoh-tokoh "Gerakan 30 September"/Partai Komunis Indonesia; MENGINGAT Surat Perintah Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Bersendjata Republik Indonesia/Mandatarais MPRS/Pemimpin Besar Revolusi tanggal 11 Maret 1966 ; MEMUTUSKAN MENETAPKAN : Dengan tetap berpegang teguh pada LIMA AZIMAT REVOLUSI INDONESIA : Pertama : Membubarkan Partai Komunis Indonesia termasuk bagian-bagian Organisasinja dari tingkat Pusat sampai kedaerah semua Organisasi jang seazas/berlindung/bernaung dibawahnja ; Kedua : Menjatakan Partai Komunis Indonesia sebagai Organisasi jang terlarang diseluruh wilajah kekuasaan Negara Republik Indonesia ; Ketiga : Keputusan ini berlaku mulai pada hari ditetapkan. Ditetapkan di : DJAKARTA Pada tanggal : 12 Maret 1966 PRESIDEN/PANGLIMA TERTINGGI ANGKATAN BERSENDJATA REPUBLIK INDONESIA/MANDATARIS MPRS/PEMIMPIN BESAR REVOLUSI atas nama beliau SOEHARTO LETNAN DJENDERAL TNI SERUAN : 1. Menjerukan kepada semua anggota pimpinan, kader-kader dan aktivis-aktivis dari organisasi kontra revolusi Partai Komunis Indonesia (PKI) beserta organisasi-organisasi massanja jang berazas/bernaung/berlindung dibawahnja untuk masing-masing melaporkan diri kepada PEPELRADA/PEPERDA dan/atau pendjabat-pendjabat jang ditundjuk olehnja, didaerah dimana Saudara-saudara berdiam, selambat-lambatnja sampai achir bulan Maret 1966. 2. Apabila djangka waktu jang telah ditetapkan tidak dipenuhi, maka jang berwadjib akan mengambil tindakan tegas. Dikeluarkan di : DJAKARTA Pada tanggal : 14 MARET 1966 PRESIDEN/PANGLIMA TERTINGGI ANGKATAN BERSENDJATA REPUBLIK INDONESIA/MANDATARIS MPRS/PEMIMPIN BESAR REVOLUSI atas nama beliau, SOEHARTO LETNAN DJENDERAL TNI INSTRUKSI PRESIDEN/PANGLIMA TERTINGGI ANGKATAN BERSENDJATA REPUBLIK INDONESIA/MANDATARIS MPRS/PEMIMPIN BESAR REVOLUSI No. : 1/3/TAHUN 1966 KAMI, PRESIDEN/PANGLIMA TERTINGGI ANGKATAN BERSENDJATA REPUBLIK INDONESIA/MANDATARIS MPRS/PEMIMPIN BESAR REVOLUSI, Menimbang :

bahwa demi pengamanan djalannja Revolusi Indonesia maka Organisasi-organisasi partai politik dan Organisasi-organisasi massa jang telah ada berdasarkan peraturan-peraturan jang berlaku, harus bersih dari oknum-oknum kontra-revolusi Partai Komunis Indonesia (PKI) beserta Orgaisasi-organisasi massanja jang seazas/bernaung/berlindung dibawahnja ; Mengingat : 1. Surat Perintah Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Bersendjata Republik Indonesia/Mandataris MPRS/Pemimpin Besar Revolusi tanggal 11 Maret 1966; 2. Keputusan Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Bersendjata Republik Indonesia/Mandataris MPRS/Pemimpin Besar Revolusi No. 1/3/1966 tanggal 12 Maret 1966; 3. Penetapan Presiden No. 7 tahun 1950; 4. Penetapan Presiden No. 13 tahun 1960 jo Peraturan Presiden No. 25 tahun 1960; MENGINSTRUKSIKAN: Kepada : SEMUA PIMPINAN ORGANISASI-ORGANISASI PARTAI POLITIK DAN ORGANISASI-ORGANISASI MASSA Untuk : 1. Sambil menunggu ketentuan lebih landjut dari Pemerintah, untuk sementara tidak menerima/menampung anggota-anggota ex Partai Komunis Indonesia (PKI) beserta Organisasi-organisasi massanja jang seazas/bernaung/berlindung di bawahnja; 2. Organisasi-organisasi jang melanggar ketentuan ini akan diambil tindakan tegas; 3. Usahakan setjepat mungkin mengikut-sertakan merela sebagai warga-negara Indonesia untuk turut mengambil bagian dalam penjelesaian revolusi 4. Selesai Dikeluarkan di : DJAKARTA Pada tanggal : 14 Maret 1966 PRESIDEN/PANGLIMA TERTINGGI ANGKATAN BERSENDJATA REPUBLIK INDONESIA/ PEMIMPIN BESAR REVOLUSI/MANDATARIS M.P.R.S. atas nama beliau, SOEHARTO LETNAN DJENDERAL TNI INSTRUKSI PRESIDEN/PANGLIMA TERTINGGI ANGKATAN BERSENDJATA REPUBLIK INDONESIA/MANDATARIS MPRS/PEMIMPIN BESAR REVOLUSI No. : 1/3/TAHUN 1966 KAMI, PRESIDEN/PANGLIMA TERTINGGI ANGKATAN BERSENDJATA REPUBLIK INDONESIA/MANDATARIS MPRS/PEMIMPIN BESAR REVOLUSI, Menimbang : bahwa demi pengamanan djalannja Revolusi Indonesia maka Organisasi-organisasi partai politik dan Organisasi-organisasi massa jang telah ada berdasarkan peraturan-peraturan jang berlaku, harus bersih dari oknum-oknum kontra-revolusi Partai Komunis Indonesia (PKI) beserta Orgaisasi-organisasi massanja jang seazas/bernaung/berlindung dibawahnja ; Mengingat : 1. Surat Perintah Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Bersendjata Republik Indonesia/Mandataris MPRS/Pemimpin Besar Revolusi tanggal 11 Maret 1966; 2. Keputusan Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Bersendjata Republik Indonesia/Mandataris MPRS/Pemimpin Besar Revolusi No. 1/3/1966 tanggal 12 Maret 1966; 3. Penetapan Presiden No. 7 tahun 1950; 4. Penetapan Presiden No. 13 tahun 1960 jo Peraturan Presiden No. 25 tahun 1960; MENGINSTRUKSIKAN: Kepada : SEMUA PIMPINAN ORGANISASI-ORGANISASI PARTAI POLITIK DAN ORGANISASI-ORGANISASI MASSA Untuk : 1. Sambil menunggu ketentuan lebih landjut dari Pemerintah, untuk sementara tidak menerima/menampung anggota-anggota ex Partai Komunis Indonesia (PKI) beserta Organisasi-organisasi massanja jang seazas/bernaung/berlindung di bawahnja; 2. Organisasi-organisasi jang melanggar ketentuan ini akan diambil tindakan tegas; 3. Usahakan setjepat mungkin mengikut-sertakan merela sebagai warga-negara Indonesia untuk turut mengambil bagian dalam penjelesaian revolusi 4. Selesai Dikeluarkan di : DJAKARTA Pada tanggal : 14 Maret 1966 PRESIDEN/PANGLIMA TERTINGGI ANGKATAN BERSENDJATA REPUBLIK INDONESIA/ PEMIMPIN BESAR REVOLUSI/MANDATARIS M.P.R.S. atas nama beliau, SOEHARTO LETNAN DJENDERAL TNI KEPUTUSAN PRESIDEN/PANGLIMA TERTINGGI ANGKATAN BERSENDJATA REPUBLIK INDONESIA/MANDATARIS MPRS/PEMIMPIN BESAR REVOLUSI No. 3/3/1966 MENIMBANG: 1. Bahwa berhubung dengan adanja tindakan pengamanan terhadap beberapa orang Menteri, maka djalannja kestabilan Pemerintahan sebagai jang dimaksud dalam Pasal 4 UUD 1945 dan djalannja Revolusi sebagaimana dimaksudkan dalam Surat Perintah Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi/Mandataris M.P.R.S. tanggal 11 Maret 1966 harus terdjamin; 2. Bahwa oleh karena itu perlu untuk menundjuk Menteri Ad-Interim ; MENGINGAT: Surat Perintah Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi/Mandataris M.P.R.S. tanggal 11 Maret 1966 ; MEMUTUSKAN: MENETAPKAN : Menundjuk Letnan Djenderal TNI HIDAJAT sebagai Menteri Pos dan Telekomunikasi Ad-Interim disamping djabatan Menteri jang dipegangnja selama ini. Keputusan ini berlaku mulai pada hari ditetapkan. Ditetapkan di : DJAKARTA Pada tanggal : 18 Maret 1966

PRESIDEN/PANGLIMA TERTINGGI ANGKATAN BERSENDJATA REPUBLIK INDONESIA/MANDATARIS MPRS/PEMIMPIN BESAR REVOLUSI atas nama beliau, SOEHARTO LETNAN DJENDERAL TNI KEPUTUSAN PRESIDEN/PANGLIMA TERTINGGI ANGKATAN BERSENDJATA REPUBLIK INDONESIA/MANDATARIS MPRS/PEMIMPIN BESAR REVOLUSI No. 4/3/1966 MENIMBANG: 1. bahwa berhubung dengan adanja tindakan pengamanan terhadap beberapa orang Menteri maka kestabilan djalannja pemerintahan sebagaimana dimaksudkan dalam pasal 4 UUD 1945 dan djalannja Revolusi sebagaimana dimaksudkan dalam Surat Perintah PRESIDEN/PANGLIMA TERTINGGI ANGKATAN BERSENDJATA REPUBLIK INDONESIA/MANDATARIS MPRS/PEMIMPIN BESAR REVOLUSI tanggal 11 Maret 1966, harus tetap terdjamin ; 2. bahwa oleh karenanja perlu menundjuk Menteri-Menteri jang ada sebagai Menteri ad-interim ; MENGINGAT : Surat Perintah PRESIDEN/PANGLIMA TERTINGGI ANGKATAN BERSENDJATA REPUBLIK INDONESIA/MANDATARIS MPRS/PEMIMPIN BESAR REVOLUSI tanggal 11 Maret 1966 ; MEMUTUSKAN MENETAPKAN : MENUNDJUK MENTERI-MENTERI AD-INTERIM SEBAGAI BERIKUT : Presidium Kabinet : 1. Sultan Hamengkubuwono IX 2. Adam Malik 3. Dr. Roeslan Abdulgani 4. Dr H Idham Chalid 5. Dr J. Leimena Menteri Luar Negeri dan Hubungan Ekonomi Luar Negeri : Dirangkap oleh Menko Adam Malik Menteri Kehakiman : Dirangkap oleh Menteri Ketua Mahkamah Agung, Wirjono Prodjodikoro SH Menteri Urusan Bank Sentral : Dirangkap oleh Menko Sumarno SH Menteri Perburuhan : Dirangkap oleh Menteri Perkebunan Drs. Frans Seda Menteri Pertambangan : Dirangkap oleh Menteri Urusan Minjak dan Gas Bumi Maj. Djen. TNI Dr Ibnu Sutowo Menteri Listerik dan Ketenagaan : Dirangkap oleh Menko Ir Sutami Menteri Pengairan Rakjat dan Pembangunan Masjarakat Desa : Dirangkap oleh Menteri Pengairan Dasar Ir P.C. Harjasudirja Menteri Transmigrasi dan Kooperasi : Dirangkap oleh Menteri Drs A. Sukendro Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudajaan dan Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan : Dirangkap oleh Menteri Wakil ketua DPRGR, Brigdjen TNI Sjarif Thajeb Menteri/Sekdjen Front Nasional : Dirangkap oleh Menteri Wakil Ketua DPRGR Kjai H. Achmad Sjaichu Menteri Penerangan : Dirangkap oleh Menteri Ds J. Rumambi Menteri Dalam Negeri/Gubernur/Kepala Daerah Chusus Ibu Kota Djakarta Raja : Dirangkap oleh Menteri Urusan Veteran dan Demobilisasi, Maj. Djen. TNI Basuki Rachmat Surat Keputusan ini berlaku mulai pada hari ditetapkannja. Ditetapkan di : DJAKARTA Pada tanggal : 18 Maret 1966 PRESIDEN/PANGLIMA TERTINGGI ANGKATAN BERSENDJATA REPUBLIK INDONESIA/MANDATARIS MPRS/PEMIMPIN BESAR REVOLUSI atas nama beliau, SOEHARTO LETNAN DJENDERAL TNI PENGUMUMAN No. 1 Diumumkan, bahwa Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi/Mandataris Madjelis Permusjawaratan Rakjat Sementara, dengan surat perintah tanggal 11 Maret 1966, telah memerintahkan kepada Letnan Djenderal TNI SOEHARTO, untuk atas nama Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi/Mandataris M.P.R.S., 1. Mengambil segala tindakan jang dianggap perlu, untuk terdjaminnja keamanan dan ketenangan serta kestabilan djalannja Pemerintah dan djalannja Revolusi serta mendjamin Keselamatan Pribadi dan Kewibawaan PIMPINAN PRESIDEN/PANGLIMA TERTINGGI /PEMIMPIN BESAR REVOLUSI/MANDATARIS M.P.R.S., demi untuk keutuhan bangsa dan Negara Republik Indonesia, dan melaksanakan dengan pasti segala Adjaran PEMIMPIN BESAR REVOLUSI ; 2. MegadakanKoordinasi pelaksanaan perintah dengan Panglima-panglima Angkatan-angkatan lain dengan sebaik-baiknja. Maka diharapkan kepada seluruh Rakjat, hendaknja dalam kegiatan membantu Pemerintah dan Angkatan Bersendjata, untuk ; 1. Tidak bertindak sendiri-sendiri, melainkan selalu terpimpin dan terkoordinir; 2. Tetap memelihara keamanan dan ketertiban umum serta kelangsungan hidup sehari-hari. Insja Allah, tuntutan jang mengandung ungkapan isi hati-nurani Rakjat, jang konstruktif dan tidak merugikan Revolusi, karena memang telah didengar dan diperhatikan oleh PRESIDEN/PANGLIMA TERTINGGI/PEMIMPIN BESAR REVOLUSI/MANDATARIS M.P.R.S./PENJAMBUNG LIDAH RAKJAT, BUNG KARNO akan ditampung sebaik-baiknja. Semoga Tuhan melindungi dan meridhoi kita sekailan, seluruh Bangsa Indonesia, dibawah Pimpinan PEMIMPIN BESAR REVOLUSI BUNG KARNO, oleh karena kita berada didjalan jang benar. Djakarta, 12 Maret 1966 PRESIDEN/PANGLIMA TERTINGGI/PEMIMPIN BESAR REVOLUSI/MANDATARIS M.P.R.S.

atas nama beliau, SOEHARTO LETNAN DJENDERAL TNI erintah PRESIDEN/PANGLIMA TERTINGGI/PEMIMPIN BESAR REVOLUSI/MANDATARIS M.P.R.S. tertanggal 11 Maret 1966, maka diharapkan kepada seluruh Pengusaha, chususnja Pengusaha Nasional, baik dibidang produksi, distribusi, maupun djasa, untuk dengan keinsjafan membantu Pengamanan dan Penertiban kelantjaran ekonomi, minimal menghindarkan Rakjat dari kesulitan ekonomi sehari-hari, chusus dan terutama mengenai pangan dan sandang. Hanja dengan bantuan Pengusaha-pengusaha ini, penderitaan Rakjat, dari mana kita dilahirkan dan untuknja kita mengabdi, minimal dapat dihindari, selandjutnja Keamanan serta Ketertiban Umum dapat terselenggara. Semoga Tuhan melindungi dan meridhoi kita sekalian, seluruh Bangsa Indonesia, dibawah pimpinan PEMIMPIN BESAR REVOLUSI BUNG KARNO, oleh karena kita berada didjalan jang benar. Djakarta, 12 Maret 1966 PRESIDEN/PANGLIMA TERTINGGI/PEMIMPIN BESAR REVOLUSI/MANDATARIS M.P.R.S. atas nama beliau, SOEHARTO LETNAN DJENDERAL TNI PENGUMUMAN No. 3 Dalam rangka pelaksanaan Surat Perintah Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi/mandataris M.P.R.S., maka kepada Pemerintah daerah, baik ditingkat I, tingkat II, maupun Desa Pradja, dalam hal ini Sapta (Tri) Tunggal, Pantja Tunggal, Tjatur (Tri) Tunggal, supaja tetap memelihara kelantjaran pemerintahan didaerah masing-masing, terutama jag meliputi : 1. Pemeliharaan keamanan dan ketertiban umum rakjat, 2. Penjelenggaraan kesedjahteraan rakjat, terutama pangan dan sandang rakjat. Dengan tetap memupuk kewaspadaan rakjat, dalam rangka konfrontasi terhadap projek nekolim "Malaysia." Pangkal-tolak pengabdian kepada rakjat adalah penting, karena rakjat adalah tempat dari mana kita dilahirkan dan kepada siapa kita mengabdi. Djakarta, 13 Maret 1966 PRESIDEN/PANGLIMA TERTINGGI/PEMIMPIN BESAR REVOLUSI/MANDATARIS M.P.R.S. atas nama beliau, SOEHARTO LETNAN DJENDERAL TNI UMUMAN No. 4 Dalam rangka pelaksanaan Surat Perintah Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi/Mandataris M.P.R.S. kepada seluruh aparat pemerintahan ditingkat pusat, dibidang masing-masing supaja tetap memelihara kelantjaran pemerintahan, terutama jang meliputi : 1. Pemeliharaan keamanan dan ketertiban umum rakjat, 2. Penjelenggaraan kesedjahteraan rakjat terutama pangan dan sandang rakjat. Dengan tetap memupuk kewaspadaan rakjat, dalam rangka konfrontasi terhadap projek nekolim "Malaysia." Pangkal-tolak pengabdian kepada rakjat adalah penting karena rakjat adalah tempat dari mana kita dilahirkan dan kepada siapa kita mengabdi. Djakarta, 13 Maret 1966 PRESIDEN/PANGLIMA TERTINGGI/PEMIMPIN BESAR REVOLUSI/MANDATARIS M.P.R.S atas nama beliau, SOEHARTO LETNAN DJENDERAL TNI UMUMAN No. 4 Dalam rangka pelaksanaan Surat Perintah Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi/Mandataris M.P.R.S. kepada seluruh aparat pemerintahan ditingkat pusat, dibidang masing-masing supaja tetap memelihara kelantjaran pemerintahan, terutama jang meliputi : 1. Pemeliharaan keamanan dan ketertiban umum rakjat, 2. Penjelenggaraan kesedjahteraan rakjat terutama pangan dan sandang rakjat. Dengan tetap memupuk kewaspadaan rakjat, dalam rangka konfrontasi terhadap projek nekolim "Malaysia." Pangkal-tolak pengabdian kepada rakjat adalah penting karena rakjat adalah tempat dari mana kita dilahirkan dan kepada siapa kita mengabdi. Djakarta, 13 Maret 1966 PRESIDEN/PANGLIMA TERTINGGI/PEMIMPIN BESAR REVOLUSI/MANDATARIS M.P.R.S atas nama beliau, SOEHARTO LETNAN DJENDERAL TNI tetapan Madjelis Permusjawaratan Rakjat Sementara Republik Indonesia No. I/MPRS/1960 dan No. II/MPRS/1960 Presiden Republik Indonesia Bung Karno adalah Pemimpin Besar Revolusi/Mandataris MPRS; 3. Bahwasanja Menteri-menteri menurut Undang-undang Dasar 1945 adalah semata-mata hanja pembantu belaka daripada Presiden, dan tiak merupakan bentuk kolektif Pemerintahan, jang Pemerintahan itu berdasarkan pasal 4 Undang-undang Dasar 1945 adalah hanja berada ditangan Presiden; 4. Bahwasanja diantara Menteri-menteri jang kini sedang mendjabat, ada jang merupakan sasaran tuntutan Rakjat, karena penglihatan Rakjat mengenai adanja indikasi tersangkutnja dalam rangkaian kedjadian "Gerakan 30 September" atau setidaktidaknja diragu-ragukan akan iktikad-baiknja dalam membantu Presiden/Pemimpin Besar Revolusi/Mandataris MPRS; 5. Bahwasanja "Gerakan 30 September", baik berdasarkan pernjataan dalam Keputusan Presiden No. 370 tahun 1965, maupun berdasarkan hasil-hasil pemeriksaan dan Putusan mahkamah Militer Luar Biasa serta penilaian Rakjat sendiri, adalah merupakan petualangan kontra-revolusi; 6. Bahwasanja tuntutan Rakjat kepada Menteri-menteri itu harus dihindarkan dari kemungkinan penunggangan oleh kaum kontra-revolusi, gerilja-politik antek-antek "Gerakan 30 September" dan Nekolim; 7. Bahwasanja oleh karena itu, tuntutan Rakjat jang diarahkan kepada Menteri-menteri jang bersangkutan perlu disalurkan dan harus dibatasi dalam proporsi jang sebenarnja dan seharusnja, untuk tidak dikaitkan dengan kedudukan Presiden/Panglima Tertinggi ABRI/Pemimpin Besar Revolusi/Mandataris MPRS;

Berdasarkan hal-hal tersebut diatas, utnuk pengamanan penjelenggaraan Pemerintahan menurut Undang-undang Dasar 1945, jang berada ditangan Presiden, kedudukan Menteri-menteri jang mendjadi sasaran tuntutan Rakjat tadi harus dipisahkan pengkaitannja dari kedudukan Presiden. Maka demi pengamanan penjelenggaraan Pemerintahan berdasarkan Undang-undang Dasar 1945 pasal 4 berhubungan dengan pasal 17, serta untuk terdjaminnja keamanan dan ketenangan, kestabilan djalannja Pemerintahan dan djalannja Revolusi, terdjaminnja keselamatan pribadi dan kewibawaan Pimpinan Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi/Mandataris MPRS, untuk keutuhan Bangsa dan Negara Republik Indonesia, dan melaksanakan dengan pasti segala adjaran Pemimpin Besar Revolusi, maka Angkatan Bersendjata Republik Indonesia, dengan kesungguhan hati dan panggilan rasa tanggung-djawabnja harus menampung suara hati-nurani Rakjat jang dikemukakan dengan serta-merta dan djuga diadjukan setjara tertulis jang hakekatnja mentjerminkan permufakatan pendapat, telah terpaksa harus melakukan tindakan pengamanan, dengan maksud agar supaja Menteri-menteri jang dimaksud djustru djangan sampai mendjadi korban sasaran kemarahan Rakjat jang tidak terkendali dan djangan pula tuntutan hati Rakjat itu terlepas daripada iktikad-baiknja. Tindakan pengamanan itu dilakukan terhadap : Dr Soebandrio; Dr Chairul Saleh; Ir Setiadi Reksoprodjo; Sumardjo Oei Tjoe Tat, S.H.; Ir Surachman; Jusuf Muda Dalam; Armunanti; Sutomo Martopradoto; Astrawinata, S.H.; Maj. Djen. TNI Achmadi; Drs Mohd. Achadi; Let. Kol. Inf. Imam Sjafi-ie; J. Tumakaka; Maj. Djen. TNI Dr Sumarno. Demikian tindakan jang telah diambil dan dipertanggungan-djawabnja kepada Rakjat. Hendaknja Rakjat mengetahui, memahami dan tidak mengambil tindakan sendiri-sendiri. Djakarta, 18 Maret 1966 PRESIDEN/PANGLIMA TERTINGGI ANGKATAN BERSENDJATA REPUBLIK INDONESIA/MANDA- TARIS MPRS/PEMIMPIN BESAR REVOLUSI atas nama beliau, SOEHARTO LETNAN DJENDERAL TNI PENGUMUMUMAN No. : 1/Peng/1966 Menteri/Panglima Angkatan Darat, mengkonstatir adanja gedjala-gedjala kegiatan massa rakjat, jang dapat memberikan kesempatan penunggangan oleh fihak Nekolim, hingga karenanja dapat membahajakan keamanan dan ketertiban umum, - pun pula dapat membahajakan djalannja Revolusi dan kepemimpinan Pemimpin Besar Revolusi, Bung Karno. Dalam hubungannja dengan gedjala-gedjala itu, harus pula ditjegah tindakan-tindakan pasukan jang tidak terkendalikan. Maka, berdasarkan Surat Perintah Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi/mandataris MPRS, tertanggal 11 Maret 1966, perlu segera mengambil tindakan-tindakan tegas, jang dapat dipertanggung-djawabkan kepada Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpi Besar Revolusi/Mandataris MPRS. Djakarta, 18 Maret 1966 MENTERI/PANGLIMA ANGKATAN DARAT, SOEHARTO LETNAN DJENDERAL TNI SURAT -PERINTAH Nomor : 8/3/1966 PRESIDEN/PANGLIMA TERTINGGI ANGKATAN BERSENDJATA REPUBLIK INDONESIA/PEMIMPIN BESAR REVOLUSI/ MANDATARIS MPRS DASAR : Surat Perintah Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi/Mandataris M.P.R.S. tanggal 11 Maret 1966. MENIMBANG : Bahwa perlu adanja penertiban dalam soal-soal mass-media baik jang bersifat lokal maupun nasional. MEMERINTAHKAN : KEPADA : 1. BRIGDJEN TNI IBNUSUBROTO KA PUSPEN AD. 2. PAPELRADA-DJAJA 3. DIREKTUR PERHUBUNGAN AD. 4. KOLONEL HARSONO DEP. PENERANGAN R.I. UNTUK : 1. Mengkoordinir dan menertibkan soal-soal mass-media, untuk ini Radio, T.V. dan Pers. 2. Tersebut No. ad 1 diatas (BRIGDJEN TNI IBNUSUBROTO) ditundjuk sebagai Koordinator. 3. Melaksanakan Perintah ini dengan penuh rasa tanggung-djawab, dan melaporkan hasilnja setelah selesai dikerdjakan. 4. Perintah ini berlaku sedjak dikeluarkan. 5. Selesai. Dikeluarkan di : DJAKARTA Pada tanggal : 16 maret 1966 PRESIDEN/PANGLIMA TERTINGGI ANGKATAN BERSENDJATA REPUBLIK INDONESIA/PEMIMPIN BESAR REVOLUSI/MANDATARIS M.P.R.S. atas nama beliau, SOEHARTO LETNAN DJENDERAL TNI

SURAT-PERINTAH Np. : PRIN-001/PUS.P/3/1966 KEPALA PUSAT PENERANGAN ANGKATAN DARAT selaku KOORDINATOR/PENERTIB MASS-MEDIA DASAR : 1. Surat Perintah Presiden/Panglima Tertinggi ABRI/Pemimpin Besar Revolusi/mandataris MPRS tanggal 11 Maret 1966 2. Surat Perintah MEN/PANGAD Let. Djen. Suharto atas nama Presiden/Panglima Tertinggi ABRI/Pemimpin Besar Revolusi/Mandataris MPRS, No. : 8/3/1966 tanggal 16 Maret 1966. PERTIMBANGAN : Perlu melaksanakan Surat Perintah tersebut diatas. MEMERINTAHKAN KEPADA : 1. DIREKTUR DJENDERAL R.R.I. PUSAT 2. DIREKTUR T.V.R.I. UNTUK : I. Hanja menjiarkan segala siaran-siaran kata dalam bidang politik, ekonomi dan militer jang telah mendapat persetudjuan dari Kepala Pusat Penerangan Angkatan Darat selaku Koordinator/Penertib Mass-Media. II. Segala sesuatunja mengenai pemberitaan/pekabaran/siaran dilaorkan setjara periodiek kepada Kepala Pusat Penerangan Angkatan Darat selaku Koordinator/Penertib Mass-Media. III. Perintah ini berlaku sedjak tanggal dikeluarkan. IV. Selesai. Dikeluarkan di : DJAKARTA Pada-tanggal : 17-3-1966 Pada - djam : 18.00 KEPALA PUSAT PENERANAN ANGKATAN DARAT selaku, KOORDINATOR/PENERTIB MASS-MEDIA IBNUSUBROTO BRIGADIR DJENDERAL TNI SURAT-PERINTAH Np. : PRIN-001/PUS.P/3/1966 KEPALA PUSAT PENERANGAN ANGKATAN DARAT selaku KOORDINATOR/PENERTIB MASS-MEDIA DASAR : 1. Surat Perintah Presiden/Panglima Tertinggi ABRI/Pemimpin Besar Revolusi/mandataris MPRS tanggal 11 Maret 1966 2. Surat Perintah MEN/PANGAD Let. Djen. Suharto atas nama Presiden/Panglima Tertinggi ABRI/Pemimpin Besar Revolusi/Mandataris MPRS, No. : 8/3/1966 tanggal 16 Maret 1966. PERTIMBANGAN : Perlu melaksanakan Surat Perintah tersebut diatas. MEMERINTAHKAN KEPADA : 1. DIREKTUR DJENDERAL R.R.I. PUSAT 2. DIREKTUR T.V.R.I. UNTUK : I. Hanja menjiarkan segala siaran-siaran kata dalam bidang politik, ekonomi dan militer jang telah mendapat persetudjuan dari Kepala Pusat Penerangan Angkatan Darat selaku Koordinator/Penertib Mass-Media. II. Segala sesuatunja mengenai pemberitaan/pekabaran/siaran dilaorkan setjara periodiek kepada Kepala Pusat Penerangan Angkatan Darat selaku Koordinator/Penertib Mass-Media. III. Perintah ini berlaku sedjak tanggal dikeluarkan. IV. Selesai. Dikeluarkan di : DJAKARTA Pada-tanggal : 17-3-1966 Pada - djam : 18.00 KEPALA PUSAT PENERANAN ANGKATAN DARAT selaku, KOORDINATOR/PENERTIB MASS-MEDIA IBNUSUBROTO BRIGADIR DJENDERAL TNI Nomor : 001/SUS Tanggal : 18 Maret 1966 PUSAT PENERANGAN ANGKATAN DARAT MENGUMUMKAN SEBAGAI BERIKUT : Berdasarkan surat perintah Menteri/Panglima Angkatan darat Letnan Djenderal Soeharto atas nama Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Bersendjata Republik Indonesia/Mandataris MPRS/Pemimpin Besar Revolusi nomor 8/3/1966, tertanggal 16 Maret 1966, maka sedjak dikeluarkannja perintah tersebut, soal-soal mass-media dalam berita RRI-TV, TVRI dan Pers berada dalam asuhan, koordinasi dan pengawasan Kepala Pusat Penerangan Angkatan Darat Brigadir Djenderal Ibnusubroto selaku koordinator/penertib mass-media. DEMIKIAN PUSAT PENERANGAN ANGKATAN DARAT. PIDATO PENDJELASAN WAPERDAM A.I./MEN-PANGAD LETNAN DJENDERAL SUHARTO, DISIARKAN MELALUI R.R.I. PADA TANGGAL 27 MARET 1966 Saudara-saudara sebangsa dan setanah-air, Sedjak dikeluarkannja Surat Perintah Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi/Mandataris MPRS tanggal 11 Maret 1966 jang lalu kepada kami, jang pada pokoknja berisi Perintah untuk mengambil segala tindakan jang perlu guna mengamankan djalannja Revolusi, maka kebidjaksanaan itu mendapat sambutan jang luar biasa dari Rakjat dan sangat

melegakan hati. Kami kemudian segera mengambil langkah-langkah jang perlu demi pengamanan djalannja revolusi, berdasarkan garis adil dan benar daripada Tri Tuntutan Rakjat berdasarkan garis Revolusi adjaran Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno jang melandaskan diri pada kekuatan Rakjat, dan mengabdikan diri kepada tuntutan hati-nurani Rakjat. Dalam amanat 17 Agustus 1965 "Tahun Berdikari", Bung Karno telah memperingatkan : "Kesalahan kaum imperialis dan kaum reaksioner adalah meremehkan kekuatan rakjat djelata". Tntutan rakjat djelata harus mendjadi pedoman tindakan kita seperti jang sudah ditegaskan oleh PBR Bung Karno dalam Deklarasi Ekonomi : "Sesuai dengan pertumbuhan kesadaran sosial dan kesadaran ekonomi Rakjat Indonesia, maka tiap konsepsi dan tindakan Pemerintah harus dapat dirasakan dan dimengerti oleh Rakjat, bahwa kepentingan mereka diperhatikan". Dengan segala kesungguhan hati dan penuh rasa tanggung-djawab, kami, dengan dukungan Rakjat, telah membubarkan Partai Komunis Indonesia dan mengambil tindakan kepada sedjumlah Menteri dan pedjabat-pedjabat lain, jang tjukup ada indikasi hubungannja dengan PKI/Gestapu, mereka jang diragu-ragukan iktikad-baiknja dalam membantu Presiden/Pangti ABRI/PBR Bung Karno dan mereka jang telah setjara a-moral dan a-sosial hidup bermewahmewah diatas beban pundak Rakjat jang dideritakan karenanja. Saudara-saudara, ABRI menjadari bahwa tindakan jang telah diambil itu baru merupakan pelaksanaan sebagian dari Tri Tuntutan Rakjat. Dan ABRI menjadari pula sepenuhnja bahwa Rakjat ini sedang dengan harap-harap tjemas memperhatikan, apakah suara hatinja untuk perbaikan kehidupan sosial-ekonomi akan dapat dipenuhi. Salah satu alat untuk melaksanakan perbaikan kehidupan sosial-ekonomi itu adalah pembentukan Kabinet Baru, jang dipertjajakan oleh Rakjat dan mampu melaksanakan segala programnja. Dengan penuh perhatian dan tetap berpegang teguh pada Amanat Rakjat, baik jang disalurkan melalui wakil-wakilnja dalam MPRS, DPR-GR, Front Nasional, maupun pernjataan-pernjataan langsung jang mereka berikan melalui Ormas/Orpol/ Organisasi-organisasi lain, maka ABRI berkesimpulan bahwa Kabinet jang baru ini haruslah : 1. Mengenai struktur Kabinet : Sederhana, riil/rasionil, mudah dikendalikan, tidak bersimpang-siur, tegas tugas masing-masing Menteri, effisien dan efektif dan mampu melaksanakan programnja. 2. Mengenai menteri-menteri : Djudjur, tjakap, kompak, dipertjaja oleh Rakjat karena membela Rakjat, revolusioner, pantja Sila sedjati dan bukan antek-antek PKI/Gestapu atau petualang plintat-plintut dlsb. 3. Mengenai program Kabinet : Mampu mengusahakan dan mewudjudkan dalam waktu singkat kesedjahteraan Rakjat, terutama sandang-pangan, berani mengganjang segala bentuk kontra-revolusi dan penjelewengan; serta sedjauh kemampuan dan keuatan tetap meneruskan konfrontasi terhadap :Malaysia"/Nekolim dan menjelenggarakan Conefo. Rakjat emoh pemimpin-pemimpin gadungan. Biar nasib mereka akan ditentukan oleh prosesnja hukum revolusi dan pengadilan revolusi. Saudara-saudara jang kami tjintai, hanja Kabinet jang demikian itu akan mendapatkan dukungan dan bantuan Rakjat dan mampu membawa Revolusi kita kearah mertjusuar dunia, sebab dasar dan tudjuan revolusi kita memang bersemajam dalam hati-nurani ummat. Manusia. Kita pasti mendjadi bangsa jang besar, karena kita berkepribadian berani melihat kenjataan dan berani berdiri diatas kaki sediri. Rakjat perlu menjadari, bahwa memperdjuangkan prinsip-prisnip diatas adalah merupakan pula satu perdjuangan tersendiri. Dan susunan Kabinet jang baru dapat ditjapai sekarang ini adalah tahap pertama dan maksimal jang dapat kita tjapai hingga dewasa ini, tetapi hendaknja merupakan tahap dari suatu rangkaian tahap kemenangan perdjuangan jang akan datang. Meskipun demikian, dalam kemungkinan belum kesempurnaannja menurut tanggapan penglihatan Rakjat, semoga Kabinet ini dalam mengemban Amanat Penderitaan Rakjat selalu membuka kontrol dan support sosial jang diiringi dengan rasa tanggung-djawab Rakjat karena memang Rakjat bersama-sama berada dalam perdjuangan kita. Demokrasi tanpa pimpinan berarti anarchi, sebaliknya Pimpinan tanpa Demokrasi berarti Diktator. Lembaga-lembaga Demokrasi kita, MPRS dan DPR-GR hendaknja benar-benar merupakan tersalurnja dan terudjudnja keinginan Rakjat, agar rakjat tidak lagi bergerak sendiri-sendiri. Djiwa Demokrasi menurut Undang-undang dasar 1945 adalah a-priori persatuan, musjawarah untuk ufakat dengan hikmah kebidjaksanaan dan samasekali bukan siasat-siasatan untuk kepentingan golongan atau ambisi pribadi. Saudara-saudara jang kami hormati, Dengan rasa tanggung-djawab jang demikian itu hendaknja Rakjat dalam melakukan penjorotan, memberikan kesempatan bekerdja kepada Kabinet ini. Dalam hubungan itu, ABRI, anak kandung Rakjat pasti selalu dipihak Rakjat. Perdjoangan kita masih djauh. Meskipun demikian, fadjar harapan kemenangan sudah mulai nampak. Semoga Tuhan meridhoi dan melindungi perdjuangan kita bersama. Sekian dan terimakasih KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA No. 62 TAHUN 1966 KAMI, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MENIMBANG : 1. bahwa untuk lebih meningkatkan dan mensukseskan pelaksanaan Dwikora, chususnja pengganjangan projek NEKOLIM "Malaysia" sesuai dengan situasi dan tingakt revolusi dewasa ini, perlu segera mengangkat Wakil Panglima Besar Komando Ganjang Malaysia (Wapangsar KOGAM); 2. bahwa agar supaja Wakil Panglima Besar Komando Ganjang malaysia tersebut diatas dapat menunaikan tugas kewadjibannja seefektif mungkin, perlu memberikan kedudukan Menteri kepadanja ; MENGINGAT : 1. Pasal 4 ajat 1 dan pasal 10 Undang-undang Dasar tahun 1945; 2. Keputusan Presiden No. 40 tahun 1966; MEMUTUSKAN : MENETAPKAN : PERTAMA : Terhitung mulai pada tanggal keputusan ini ditetapkan, mengangkat DJENDERAL TNI Dr ABDUL HARIS NASUTION sebagai Wakil Panglima Besar Komando Ganjang malaysia (Wapangsar KOGAM), dengan diberikan kedudukan sebagai Menteri; KEDUA : Keputusan ini mulai berlaku pada hari ditetapkan; dengan tjatatan, bahwa apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan didalam keputusan ini, akan diadakan pembetulan seperlunja. Ditetapkan di Djakarta Pada tanggal 27 Maret 1966 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA SUKARNO PENGUMUMAN KEPALA PUSPENAD No. Sus/006/28-3-1966 Kepala Pusat Penerangan Angkaatn darat, Brigadir Djenderal TNI Ibnusubroto mengumumkan sbb;

I. Salah satu tugas jang dibebankan kepada Letnan Djenderal TNI Soeharto, Menteri/Panglima Angkatan Darat, seperti tertjantum dalam Surat Perintah Presiden/Pangti/Pemimpin Besar Revolusi/Mandataris MPRS tanggal 11 Maret 1966, adalah mendjamin keselamatan Pribadi Presiden/Panglima Tertinggi ABRI/Pemimpin Besar Revolusi/Mandataris MPRS, Bung Karno II. Dalam melaksanakan tugas tersebut, Men/Pangad Letnan Djenderal TNI Soeharto telah mengadakan musjawarah dengan Panglima-panglima Angkatan Laut, Angkatan Udara dan Angkatan Kepolisian, janga pada tanggal 22 Maret 1966 telah menghasilkan mengeluarkan suatu Keputusan bersama No. 6/3/1966 dari keempat Menteri Panglima Angkatan, jang masingmasing ditanda-tangani oleh Men/Pangad Letnan Djenderal TNI Soeharto, Men/Pangal Laksamana Muda Laut Moeljadi, men/Pangau care-taker Komodor Udara Roesmin Nurjadin dan Men/Pangak Komisaris Djenderal Sutjipto Judodihardjo. III. Dalam keputusan bersama tersebut keempat Menteri Panglima Angkatan berpendapat, bahwa tugas mendjamin keselamatan Pribadi Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi/Mandataris MPRS jang kini dibebankan kepada Kesatuan Chusus/Resimen Tjakrabirawa, sementara sambil menunggu tersusunnja Kesatuan pengawalan jang baru, perlu diserahkan kepada Angkatan Darat. Djuga keempat Menteri Panglima Angkatan bersepakat untuk menarik kembali semua anggauta Angkatan jang ditugaskan dalam resimen Tjakrabirawa setelah Angkatan darat menjatakan siap untuk melaksanakan tugas mendjamin keselamatan tersebut diatas. Selandjutnya Menteri-menteri Panglima Angkatan Laut, Udara dan kepolisian telah bersepakat untuk dengan sepenuh hati membantu Angkatan Darat dalam pelaksanaan tugas pengamanan ini. IV. Sebagai realisasi daripada Keputusan bersama keempat Menteri Panglima Angkatan itu, maka pada hari Senen pagi pada tanggal 28 Maret 1966 bertempat di lapangan appel Markas Besar Direktorat Polisi Militer, Djl. Merdeka Timur Djakarta, telah dilakukan serah-terima tugas mendjamin keselamatan Pribadi Presiden/Panglima Tertinggi ABRI/Pemimpin Besar Revolusi/MandatarisMPRS beserta keluarganja, dari Brigadir Djenderal TNI Moh. Sabur kepada Brigadir Djenderal TNI Soedirgo, Direktur Polisi Militer (DIRPOM). V. Sebagai pelaksana dari tugas pengamanan tersebut, Dirpom telah menugaskan Bataljon Para Polisi Militer dengan Komandannja Letnan Kolonel CPM NORMAN SASONO. VI. Karena tugas mendjamin keselamatan Pribadi Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi/mandataris MPRS adalah kewadjiban dari seluruh Rakjat Indonesia jang progresif-revolusioner, maka TNI/Angkatan darat berkejakinan, bahwa dalam melaksanakan tugas mendjamin keselamatan inipun pasti mendapat dukungan dan bantuan sepenuhnja dari segenap lapisan dan golongan masjarakat jang progresif-revolusioner. Buku "Menyingkap Kabut Halim 1965": Kontroversi Lubang Buaya. SETIAP kali membicarakan kembali peristiwa "G30S/PKI" tahun 1965, nama Lubang Buaya pasti akan ikut disebut. Dan menyebut Lubang Buaya yang terletak dekat Pangkalan Angkatan Udara (PAU) Halim Perdanakusuma, dengan sendirinya akan menyinggung "keterlibatan" TNI AU dalam peristiwa sejarah yang disebut "kabut Halim" itu. Opini publik yang terbentuk selama ini memang menyiratkan indikasi adanya keterlibatan TNI AU dalam peristiwa G30S/PKI, karena dikait-kait-kan dengan Lubang Buaya. Tetapi Lubang Buaya yang mana? Sebab ada dua tempat di sekitar itu yang bernama Lubang Buaya. Lubang Buaya yang pertama adalah sebuah desa yang berada di luar wilayah PAU Halim Perdanakusuma. Kalau ditarik garis lurus, desa ini berjarak tiga setengah kilometer dari Markas Komando Operasi PAU Halim Perdanakusuma. Sedangkan Lubang Buaya yang kedua adalah nama suatu lapangan dalam wilayah PAU Halim Perdanakusuma, yang biasanya dijadikan dropping zone untuk latihan penerjunan. Di sekitar dropping zone inilah terjadi tembak-menembak antara pasukan RPKAD dan Batalyon 454 (Kedua pasukan itu hadir di alamat yang salah, seharusnya mereka ke Desa Lubang Buaya, bukan ke Lapangan Lubang Buaya yang menjadi dropping zone). Fakta tentang dua Lubang Buaya ini terungkap dalam buku yang baru terbit, berjudul Menyingkap Kabut Halim 1965, yang acara peluncurannya dilakukan hari Selasa (9/11) ini di Jakarta, dengan menghadirkan pembicara sejarawan senior, Prof Dr Taufik Abdullah. Buku yang disusun Perhimpunan Purnawirawan AURI (PP-AU) ini, berusaha menam-pilkan sejumlah fakta baru, di samping berusaha pula meluruskan beberapa penafsiran keliru selama ini mengenai dugaan keterlibataan TNI AU dalam peristiwa G30S/PKI tahun 1965. *** PEMBENTUKAN opini yang secara sengaja dan sistematis dilakukan selama lebih dari 30 tahun oleh rezim Orde Baru di bawah Presiden Soeharto memang berhasil membentuk citra negatif bahwa TNI AU (yang dahulu bernama Angkatan Udara Republik Indonesia) terlibat dalam peristiwa tersebut. Ada sejumlah fakta yang dipakai untuk menunjang pembentukan opini tersebut, terutama fakta bahwa Lubang Buaya dijadikan sebagai basis pasukan PKI, dan di tempat ini pula jenazah ketujuh jenderal TNI AD ditemukan. Kehadiran Presiden Soekarno di PAU Halim Perdanakusuma tanggal 1 Oktober 1965, juga dijadikan alasan mengenai keterlibatan TNI AU. Selain itu disebutkan bahwa Menteri/Panglima AU Laksamana Madya Udara Omar Dhani menyetujui pembentukan "Angkatan Kelima" yang berintikan PKI. Tetapi benarkah TNI AU terlibat dalam peristiwa G30S/PKI, dan kalau betul, seberapa jauh kadar keterlibatan tersebut? Peristiwa G30S/PKI tahun 1965 sudah lama berlalu, dan dengan demikian ia telah menjadi bagian dari sejarah masa lalu bangsa ini. Sebagai bagian dari sejarah, tentu saja peristiwa itu akan selalu mengundang berbagai penafsiran post-factum, dengan sudut pandang atau kepentingan yang mungkin berbeda-beda. Namun setiap usaha pengungkapan kembali terhadap peristiwa itu tetap menjadi penting, karena usaha seperti itu akan dapat memunculkan kembali sejumlah fakta baru, juga dapat meluruskan kembali penafsiran yang keliru atas peristiwa bersejarah tersebut. Hal itu pulalah yang coba dilakukan sejumlah tokoh yang tergabung dalam Perhimpunan Purnawirawan AURI (PPAU) melalui penyusunan dan penerbitan buku tersebut. Buku yang mulai disusun awal tahun ini, memang dimaksudkan sebagai semacam buku putih tentang kedudukan dan peranan TNI AU di seputar peristiwa G30S/ PKI. Buku ini secara tegas membantah opini yang terbentuk selama ini bahwa TNI AU terlibat dalam peristiwa G30S/PKI tahun 1965. Secara individual memang diakui ada anggota TNI AU yang terlibat, namun tidak secara institusional. Buku ini mengungkap secara terus terang peranan Mayor Udara Sujono, Komandan Pasukan Pertahanan Pangkalan (PPP) Halim, yang menjadi pimpinan latihan kemiliteran bagi sekitar 2.000 sukarelawan binaan PKI di Desa Lubang Buaya. Tetapi tindakan Sujono sudah berada di luar jalur komando resmi pimpinan TNI AU. Jadi Sujono memang terlibat penuh dan merupakan kader PKI. Sebaliknya tuduhan bahwa Omar Dhani terlibat karena berpihak dan melindungi Bung Karno, tidak berdasar. Diungkapkan dalam buku bahwa selama 16 tahun di bawah pimpinan Laksamana Udara Soerjadi Soerjadarma hingga tahun 1962, AURI tidak mengenal politik kecuali politik negara. Sedangkan sejak AURI di bawah pimpinan Omar Dhani, dia langsung berhadapan

dengan situasi politik yang mengharuskannya turut serta beretorika "Berdiri di belakang Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno, tanpa reserve." Sementara pimpinan militer lainnya, khususnya Angkatan Darat terkesan mempunyai sikap politik yang berbeda, dan tidak begitu saja bersedia menerima keputusan politik Bung Karno. *** ADA hal baru dan penting yang terungkap dalam buku ini, yakni bahwa tuduhan keterlibatan TNI AU dalam G30S/PKI yang dilontarkan oleh pimpinan Angkatan Darat waktu itu (yaitu Mayor Jenderal Soeharto) sebenarnya dilandasi oleh friksi yang sedang berproses di antara politisi sipil maupun elite pimpinan ABRI waktu itu, yaitu sejak dilancarkannya konfrontasi terhadap Malaysia. Operasi sebelumnya untuk membebaskan Irian Barat (Trikora) telah memberikan pelajaran bagi Bung Karno tentang pentingnya keunggulan Angkatan Laut dan Angkatan Udara dalam operasi militer. Maka ketika mencanangkan Konfrontasi Malaysia, Bung Karno menunjuk Menteri/Pangau Laksamana Madya Udara Omar Dhani memimpin Operasi Komando Siaga, yang kemudian diubah menjadi Komando Mandala Siaga (Kolaga). Penunjukan ini mendapat reaksi keras dari TNI AD. Akibatnya Operasi Kolaga tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya, karena keengganan pimpinan TNI AD untuk memberikan dukungan sepenuhnya, terutama pengiriman pasukan ke daerah perbatasan. Berbagai friksi yang muncul dalam Kolaga ikut mewarnai iklim politik selama prolog G30S/ PKI, dan hal itu dimanfaatkan oleh PKI untuk semakin mempertentangkan elite politik di sekitar Bung Karno, termasuk mempertentangkan pimpinan TNI AU dengan pimpinan TNI AD. *** SEBAGAI suatu tragedi nasional, peristiwa G30S/PKI akan tetap dikenang, walaupun itu adalah kenangan tentang kepahitan dan kegetiran bahkan amarah dan dendam. Namun pengungkapan peristiwa itu dapat memberi pelajaran berharga dari pengalaman masa lampau. Dan sebagai bagian dari usaha untuk tetap mempelajari pengalaman masa lampau itulah, kita akan tetap terbuka menerima segala penafsiran yang muncul mengenai peristiwa tersebut, maupun penafsiran mengenai akibat-akibatnya jauh sesudah peristiwa tersebut berlalu. Dalam konteks itulah, pengungkapan fakta-fakta baru melalui buku ini barangkali dapat membantu pemahaman kembali secara lebih proporsional peristiwa sejarah 34 tahun lalu itu. (manuel kaisiepo) RTO Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: ekspos@excite.com Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 41/II/14-20 Nopember 99 -----------------------------(POLITIK): Kup Soeharto bermodus seksualitas. Cerita penyayatan penis sengaja dieksposnya untuk bangkitkan 'dendam' lakilaki. Akibatnya ratusan ribu orang tewas mengenaskan. Kurun waktu 1965-1966. Harian Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha kencang melempar berita perilaku tak senonoh aktivis Gerwani terhadap tujuh perwira pada peristiwa 1 Oktober 1965. Dikabarkan para perempuan Gerwani menyayat silet penis mereka sambil melenggang tarian "Harum Bunga". Selepas itu hubungan seks bebas dilakukan massal di lapangan terbuka Lobang Buaya. Benarkah? Kemana patut dilayangkan ucap kejut: astaga? Pukul 10.30 waktu Amsterdam, tanggal 6 Oktober 1995. Sebuah desertasi berhasil dipertahankan di hadapan komisi bentukan dewan para dekan Universitas Amsterdam dengan Rektor Magnifikus Prof Dr PWM de Meijer. Desertasi bertitel "The Politization of Gender Relations in Indonesia. The Indonesian Women's Movement and Gerwani Until the New Order State" itu ditulis oleh seorang feminis, peneliti dan dosen International Social Studies (ISS) Den Haag, Saskia Eleonora Wieringa. Berangkat dari keprihatinan menghadapi realita bahwa sejarah lisan dan tulisan melempar jauh perempuan dari tinta dan ujaran. Melalui desertasinya, Wieringa lebih dari sekedar menggugat 'dikembalikannya' perempuan sebagai subyek sejarah. Ia pun mencoba menulis ulang bagaimana proses perebutan kekuasaan politik di Indonesia menyertakan seksualitas sebagai pilihan strategi. Tugas Wieringa karenanya tidak lain memerankan fungsi penulis secara semestinya. Peran seperti dituturkan Pramoedya Ananta Toer dalam paragraf cerita pendek Buah Kawin. "Kau harus cerita tentang hancurnya pengharapan. Orang harus berani merasakan penderitaan orang lain. Kesenangan? Kesenangan adalah tanda bahwa kematian mulai meraba jiwa manusia." Maka seusai rangkaian studi pustaka dan ratusan wawancara di Indonesia, Belanda, Amerika dan Suriname, Wieringa menghabiskan beratus-ratus lembar kertas membantah "kebenaran" selama ini bahwa Gerwani melakukan kegiatan-kegiatan amoral dan asusila di Lobang Buaya. Toh kentara, ia tidak bermaksud mengidealisir peran politik Gerwani. Wieringa justru banyak melakukan kritik terhadap strategi Gerwani. "Terutama kecenderungan Gerwani yang sesuai dengan garis PKI berpantang mengkritik sikap Soekarno dalam masalah perkawinan," papar Prof WF Wertheim pada kesempatan di bulan September 1998. "Kultur patriarki yang kental di masyarakat Indonesia sebetulnya menjadi faktor utama mengapa kampanye AD pimpinan Soeharto dimamah secara sangat gampang," ujar Myra Diarsi berbicara pada peluncuran buku Wieringa ini di Jakarta, 10 Nopember. (Versi Indonesia yang diterbitkan Kalyanamitra dan Garba Budaya diberi judul "Penghancuran Gerakan Perempuan di Indonesia"). Hubungan sosial politis terentang pada simbol-simbol kelelakian yang mensubordinasi perempuan. "Maka ketika penis yang menjadi dignity laki-laki diberitakan disayat-sayat, muncul kesadaran untuk melakukan balasan," lanjut Myra. Dengan kata lain, kampanye TNI AD disasarkan kepada sentimen patriarki. Tragisnya, Gerwani yang dituduh melakukan kegiatan asusila secara seksual justru kemudian mengalami peristiwa-peristiwa seksual yang mengerikan. Tidak ada tempat aman bagi mereka. Aliansi perburuan perempuan Gerwani antara beberapa kelompok masyarakat dukungan TNI AD menoreh kisah tersendiri. Tidak terhitung banyak perempuan mati mengenaskan dengan tubuh dan alat kelamin tidak utuh. Bahkan di penjara mereka tidak luput dari perlakuan serupa. "Waktu di kamp kerja paksa Plantungan, Jawa Tengah, kami sering diperkosa petugas. Malah dua perempuan sampai melahirkan anak," tutur Mujiati yang dipenjara 14 tahun tanpa pengadilan pada kesempatan peluncuran buku tersebut. Sekujur tubuhnya bergetar kencang.

Soeharto oleh Wieringa tegas ditunjuk bertanggung jawab atas semua kampanye media massa dan dukungan langsung personil TNI AD, khususnya Resimen Para Komando AD (RPKAD). Peneliti LIPI Asvi Marwan Adam mengutip paragraf Wieringa untuk menunjukkan tujuan siasat Soeharto menggunakan seksualitas. "Soeharto bertindak dengan cepat dan tegas. Ia pasti menyadari bahwa yang diperlukannya bukan sekedar pameran kekuatan militer. Adanya para perempuan di Lobang Buaya itulah yang digunakan sebagai amunisi oleh Soeharto, demi transisi mental yang diangankannya. Dengan itu bukan hanya perempuan yang berhimpun di sana akan dimusnahkan dengan segala daya, tetapi juga kaum komunis dapat dijatuhkannya sama sekali. Sementara Soekarno dapat dipertontonkan sebagai pemimpin yang tidak becus." Itulah 'kup kedua' menurut Wieringa. Lalu kup pertama juga didalangi Soeharto? Ia lebih setuju pada salah satu kesimpulan mengenai posisi wait and ready Soeharto. "Soeharto sudah tahu sebelumnya akan terjadi kup, tetapi ia memilih menunggu sambil melihat apa yang akan terjadi dan pada saatnya mempecundangi baik Soekarno maupun Nasution." Akibat ambisi keji sebuah gerakan perempuan yang cukup militan dihancurkan. Toh, sajak Sugiarti penyair Lekra tetap dapat dijadikan manifesto: Kami bukan lagi bunga pajangan yang layu dalam jambangan Cantik dalam menurut indah dalam menyerah molek tidak menentang ke neraka mesti mengikut ke sorga hanya menumpang Kami bukan juga bunga tercampak dalam hidup terinjak-injak Penjual keringat murah buruh separo harga tiada perlindungan tiada persamaan, sarat dimuati beban Kami telah berseru dari balik dinding pingitan dari dendam pemaduan dari perdagangan di lorong malam dari kesumat kawin paksaan: 'Kami manusia'. (*) --------------------------------------------Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: ekspos@excite.com ---------SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ----- End of forwarded message from SiaR News Service ----MASALAH PEMBUNUHAN BESAR - BESARAN TAHUN 65/66 A. Umar Said *) Renungan tentang HAM dan demokrasi di Indonesia (pamflet, gaya bebas berfikir) Agaknya, perlu ada peringatan terlebih dulu sebelum membaca lebih lanjut tulisan ini. Pertama, tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai hasutan supaya orang menjadi amuk-amukan tidak karuan. Kedua, tidak bertujuan untuk menyebarkan kebencian dan dendam. Ketiga, tidak mengajak berfikir picik, sempit dan dungu. Ke-empat, bukan usaha untuk membohongi pendapat umum. Ke-lima, tidak membahayakan negara dan bangsa. Ke-enam, tidak merugikan kepentingan rakyat. Ke-tujuh, ke-delapan, kesembilan dan seterusnya, harap simak sendiri isinya. *** Di bawah pimpinan Gus Dur, bangsa dan negara kita sedang berusaha untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan berat yang diwariskan oleh Orde Baru di berbagai bidang. Terlalu banyaklah soal parah yang harus kita selesaikan bersama-sama, umpamanya : pemberantasan KKN yang sudah mengakar dalam fikiran banyak orang, penegakan hukum yang sudah awutawutan, penyalahgunaan kekuasaan dan juga penggunaan kekerasan yang pernah merajalela selama puluhan tahun, kebejatan moral di kalangan elite yang sampai sekarang masih nampak nyata dimana-mana. Sementara itu, kita lihat bahwa pelanggaran HAM sudah mulai ditangani, dan arogansi militerpun sudah mulai bisa dikendalikan. Kejaksaan Agung, sarang pelecehan hukumpun sedang dibersihkan, dan lain-lainnya, yang bisa kita baca di koran-koran. Karenanya, agaknya bolehlah kita mulai menaruh harapan bahwa fajar akhirnya meyingsing di ufuk Timur, sehingga bangsa kita pelan-pelan akan meninggalkan kekelaman malam yang pernah memeras air mata kepedihan dan darah penderitaan, begitulah (ecek-eceknya!) ungkapan yang kedengarannya agak puitis. Tetapi, kita tidak bisa dan tidak boleh mengabaikan agenda bangsa yang perlu mendapat prioritas untuk ditangani, yaitu masalah pembunuhan besar-besaran terhadap orang-orang yang tidak berdosa dalam tahun 65/66. Sebab, selama masalah ini belum menemukan cara penyelesaian, maka akan tetap merupakan penyakit bangsa yang terus mengganggu fikiran banyak orang. Mohon kesediaan Anda utuk bisa bersama-sama menimbangnimbang berbagai masalah sebagai berikut. PEMBUNUHAN 65/66 MERUPAKAN LUKA LAMA? Pertanyaan utama yang kiranya perlu kita bahas lebih dulu adalah : apakah masalah pembunuhan besar-besaran tahun 65/66 masih perlu kita bicarakan? Bukankah ini sudah terjadi 35 tahun yang lalu, dan baik kita lupakan saja, demi ketenangan masyarakat? Apakah membicarakan pembunuhan 65/66 bukan mengungkit-ungkit masalah lama, yang bisa menimbulkan perpecahan atau pertentangan? Apa perlunya mengangkat kembali masalah yang sudah didiamkan banyak orang? Apakah tidak baik, kita tutup saja masa lalu, dan kita buka halaman baru?

Pertanyaan semacam itu bagus-bagus saja diajukan. Sebab dengan begitu, kita semua bisa diajak berfikir dengan kritis dan dengan fikiran jernih pula kita bisa mencoba memberikan jawabannya. Agaknya, yang berikut ini adalah sebagian yang bisa kita kemukakan. Terserah kepada kita semua untuk melengkapinya (atau untuk memperbaikinya). Terlebih dulu, perlu ditegaskan bahwa perlu sekali membicarakan (kalau perlu, berkali-kali dan berkali-kali!) masalah ini. Walapun peristiwa ini sudah terjadi 35 tahun yl, tetapi lukanya masih menganga terus dan darah pedihnya masih terus mengalir juga di hati banyak orang, dan itupun sampai sekarang! Jadi, masalah ini masih tetap menjadi persoalan kini, masih merupakan problem aktual yang relevan sekali untuk kita carikan penyelesaiannya. Hal ini masih kita saksikan sendiri kalau kita sekarang mengunjungi salah satu atau beberapa di antara ratusan ribu keluarga, yang sanak-saudaranya (dekat maupun jauh) telah menjadi korban pembunuhan besar-besaran waktu itu. Kita masih bisa dengar dari mereka (yang berani bicara, tentunya!) betapa hebatnya masalah itu telah menghantui mereka selama puluhan tahun. Mungkin juga, kita bisa dengar dari mereka bahwa selama ini mereka takut bicara tentang masalah keluarga mereka. Tidak tertutup juga kemungkinan bahwa mereka tidak mau bicara sama sekali, karena masih ketakutan, atau karena pertimbanganpertimbangan tertentu. Nah, agaknya di sinilah kita sampai pada satu soal yang mengasyikkan untuk kita ulas bersama-sama. MENGAPA PERLU BICARA TTG PEMBUNUHAN 65/66? Kenyataan bahwa banyak orang takut berbicara tentang anggota keluarga mereka yang menjadi korban pembunuhan besarbesaran dalam tahun-tahun 65/66 adalah sesuatu yang pantas kita jadikan renungan bersama. Juga dijadikan suatu objek studi ilmiah yang serius bagi para ahli di bidang politik, psikologi, sosiologi, atau, entah di bidang apa lagi lainnya. Sebab, bukankah aneh bahwa masalah yang begini besar (ingat: lebih dari satu juta orang dibunuh dalam kurun waktu kurang dari setahun) telah didiamkan saja selama puluhan tahun. Sedangkan terbunuhnya 3000 orang di Chili oleh regime militer Pinochet sudah menggegerkan opini dunia. Mengapa di Indonesia orang takut membicarakannya? Sudah jelaslah, bahwa ketakutan untuk membicarakan peristiwa pembunuhan besar-besaran 65/66 beserta akibat-akibatnya adalah akibat politik represi rezim militer di bawah pimpinan Suharto. Tetapi, dengan mengulas lebih dalam cara-cara atau praktek politik represi itu, maka makin meyakinkanlah bagi kita semua bahwa rezim militer Orde Baru telah melakukan pelanggaran yang amat serius sekali dan secara besar-besaran, dan lagi pula selama puluhan tahun ! -- terhadap HAM. Luar biasa, sekali lagi, luar biasa! Karena itu, agaknya sudah waktunyalah bahwa kita semua bersama-sama berani berbicara, berani mengulas, berani membahas masalah besar ini. Berbicara tentang pembunuhan besar-besaran 65/66 (dan akibat-akibatnya) merupakan sumbangan kita bersama untuk menjadikan peristiwa ini sebagai pelajaran penting bagi generasi muda kita sekarang, dan juga generasi kita yang akan datang, anak cucu kita. Berbicara tentang peristiwa pembunuhan besar-besaran 65/66 harus dilakukan dengan tujuan pendidikan moral, pendidikan etik bermasyarakat, pendidikan untuk mengembangkan toleransi, pendidikan HAM. Berbicara tentang peristiwa tragis ini haruslah dengan dasar pengertian bersama untuk mencegah terulangnya kembali, dalam bentuk kecil maupun besar, pengalaman yang serupa. Sebab, peristiwa ini (dan akibat-akibatnya) sungguh-sungguh mencerminkan situasi gila, yang akibat-akibatnya masih sama-sama kita saksikan dewasa ini. Berikut adalah contohnya. CERITA TTG AHMAD DAN SITI SUNDARI Kita semua bisa membayangkan bahwa banyak sekali cerita tentang peristiwa pembunuhan 65/66 ini. Baik yang berkaitan dengan keluarga para korban, maupun tentang akibat-akibatnya di berbagai bidang lainnya. Di antaranya, contoh yang berikut ini, yang ceritanya hanyalah fiktif semata-mata, tetapi yang initinya mencerminkan, banyak sedikitnya, keadaan waktu itu. Ahmad adalah seorang pimpinan Serikat Buruh Kereta Api (SBKA) di Purwokerto. Ia dikenal sebagai seorang yang aktif membela kepentingan anggota-anggotanya. Ia tahu bahwa SBKA adalah anggota SOBSI (untuk mereka yang belum tahu, SOBSI adalah singkatan Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), seperti halnya banyak sekali serikat buruh di berbagai lapangan kerja waktu itu (perkapalan, perkebunan, industri, perminyakan, pegadaian, tekstil, perhotelan, dll). Di Purwokerto ia dikenal sebagai pimpinan SBKA, yang aktif sekali mengadakan aksi-aksi untuk mendukung politik Presiden Sukarno, umpamanya : perjuangan pembebasan Irian Barat, Manipol, Usdek, Nasakom dll (bagi yang tidak tahu itu semuanya, atau mau tahu lebih banyak lagi, harap tanya kepada orang lain atau cari bahan bacaan yang lain). Pada suatu malam di akhir Oktober 1965, sepasukan tentara telah menggrebek rumahnya. Di depan istrinya dan tiga anaknya yang masih kecil-kecil (3, 5, dan 7 tahun) Ahmad dipukuli sampai pingsan karena tidak mau menunjukkan daftar anggota pimpinan SBKA lainnya. Akhirnya, ia diborgol dan terus dibawa, entah ke mana. Istri Ahmad, namanya Siti Sundari, esoknya, lusanya, dan hari-hari berikutnya, mencari keterangan di kantor CPM terdekat, di kantor Kodim dll, di manakah gerangan suaminya dibawa atau ditahan. Tidak ada yang bisa memberi keterangan. Selama dua tahun ia kemana-mana untuk cari keterangan. Termasuk di penjara-penjara di mana banyak tahanan dikumpulkan. Sia-sia. Sementara itu, ia tidak terima gaji suaminya lagi dari Jawatan Kereta Api Purwokerto, sejak suaminya dibawa tentara itu. Siti Sundari masih bisa menerima sumbangan dari adiknya, seorang Jaksa. Tetapi Jaksa ini memberikan sumbangan ini dengan pesan, supaya jangan ketahuan siapa-siapa. Dan kalau Siti Sundari datang, harus malam-malam saja. Kemudian, Jaksa ini menganjurkan Siti Sundari supaya jangan datang-datang lagi ke rumahnya, karena bisa membahayakan kedudukannya. Kalau minta bantuan, supaya kirim orang lain saja. Siti Sundari juga dilarang oleh si Jaksa untuk menemui teman-teman si Jaksa atau keluarga istri si Jaksa. Karena kehidupan Siti Sundari makin sulit, maka ia sudah tidak bisa memberi makan anaknya lagi. Barang-barang sudah mulai habis dijual. Ia terpaksa minta-minta kasihan kepada kakanya, seorang kepala sekolah dasar di Cilacap, supaya bisa menampung anaknya yang tertua, yang bernama Kardono. Si kepala sekolah mau menerima kemenakannya asal jangan dikatakan kepada siapa-siapa. Si Kepala Sekolah mengatakan kepada tetangga-tetangganya bahwa Kardono itu adalah kemenakan istrinya. Untuk keselamatan lebih lanjut, nama Kardono dirobah namanya menjadi Abdullah, nama Islam. Si Kepala Sekolah juga menganjurkan supaya Siti Sundari jangan datang-datang lagi ke Cilacap. Kalau seandainya ia terpaksa datang juga, harus selalu mengatakan kepada semua tetangga atau kenalan si Kepala Sekolah bahwa Siti Sundari adalah dukun para normal yang didatangkan untuk mengobati istrinya yang sakit. Siti Sundari, yang tammatan SMP, makin lama makin sulit juga hidupnya. Ia terpaksa minta kepada kakak Ahmad (suaminya), yang menjabat pegawai menengah dan anggota pimpinan cabang Golkar di kantor Gubernur Jawa Tengah di Semarang, untuk mengadopsi anak laki-lakinya yang kedua (si Prayogo). Si pimpinan Golkar ini terpaksa menerima si Prayogo dengan syarat bahwa si Prayogo itu adalah adalah anak angkat yang diambil dari perumahan yatim-piatu (entah mana saja). Kakak Ahmad ini (si pegawai kantor gubernuran) melarang istri dan anak-anaknya untuk menyebut-nyebut nama Ahmad kepada siapa saja. Bahkan, supaya lebih aman untuk melindungi jabatannya, ia mengatakan kepada anak-anaknya bahwa Ahmad adalah berbahaya untuk negara dan bangsa, karena ia anggota PKI. Sementara itu, kehidupan yang makin lama makin sulit, memaksa Siti Sundari menyerahkan anaknya yang terkecil, si Hartati, kepada badan sosial Kristen di Purwokerto. Akhirnya, (untuk menyingkatkan cerita) Siti Sundari mati sendirian di rumah seorang temannya di pinggiran kota Purwokerto, sesudah sakit bengek yang berkepanjangan. Ia mati sendirian, karena seluruh sanak-saudara dari fihaknya, dan juga dari fihak suaminya, sudah makin

menjauhinya. Ia mati tanpa diketahui oleh anak-anaknya. (Cerita Siti Sundari dihabisi di sini saja. Sebab, tulisan ini bukan buku! Sekedar secuwil dari pamflet, tulisan yang bernuansa satiris dan berisi sindiran dan gugatan). Contoh yang disajikan di atas itu apakah berlebih-lebihan? Tidak, saudara-saudaraku. Di sekitar Anda sendiri bisa ditemukan cerita-cerita asli dan sebenarnya (bukan fiktif, melainkan yang berdasarkan kenyataan), yang lebih mengharukan, yang lebih mengerikan, tetapi yang juga lebih membangkitkan kemarahan atau sikap brontak dalam hati kita masing-masing. Sudah sampai begini kejamkah situasi waktu itu? Mengapa Siti Sundari harus mendapat hukuman yang berupa penderitaan yang demikian berat? Apa salah anak-anaknya sehingga terpaksa merobah nama dan bahkan menyembunyikan siapa ayahnya? Mengapa kakak dan adik atau kemenakan-kemenakan terpaksa harus menjauhi Siti Sundari? Apakah karena Ahmad? Dan, kalau karena Ahmad, lalu apakah Ahmad itu bersalah? Apa dosanya? MEMBISU ADALAH IKUT BERDOSA Kita semua pernah ikut berdosa bahwa selama lebih dari 32 tahun telah tidak berani bersuara terhadap pelanggaran perikemanusiaan yang begini menyolok mata dan menusuk hati. Harus diakui bahwa situasi di bawah rezim otoriter Orde Baru memang tidak memungkinkan bagi banyak orang untuk berbuat banyak, walaupun ratusan ribu kasus seperti yang dialami oleh Ahmad telah terjadi di seluruh negeri, dalam bentuk yang berbeda-beda. Banyak mata terpaksa dipicingkan, telinga harus dipekakkan, mulut harus ditutup, terhadap kejadian ratusan ribu Siti Sundari. Banyak hati terpaksa menahan kepedihan, tanpa bisa berbuat banyak, waktu melihat kasus-kasus ratusan ribu Kardono atau Prayogo. Kesalahan penguasa Orde Baru (beserta pendukung-pendukung setianya di berbagai kalangan seperti kalangan ... isi sendiri, walaupun dalam hati saja) bukannya hanya membiarkan terjadinya peristiwa pembunuhan besar-besaran tahun 65/66 yang sangat memilukan hati itu, tetapi juga karena telah ikut menyiksa jutaan orang seperti Siti Sundari, Kardono, Prayogo, Hartati, si Jaksa, si Kepala Sekolah, si pegawai kantor Gubernuran, selama puluhan tahun pula. Di samping itu, masih ada lagi puluhan juta orang lainnya yang selalu ketakutan oleh terror bahaya laten PKI, bersih lingkungan, "surat bebas 30S", "litsus" dll yang terus-menerus dikaok-kaokkan secara intensif. Sisa-sisa atau akibat-akibat peristiwa pembunuhan besar-besaran 65/66 masih kita rasa, atau kita lihat, sampai sekarang. Kiranya, kita semua harus menggalang tekad bersama untuk menghapuskan sisa-sisa atau akibat-akibat peristiwa itu. Untuk itu, kita harus berani mengangkat persoalan peristiwa itu untuk dibicarakan, dipelajari, untuk bersama-sama menemukan jalan yang terbaik untuk penyelesaiannya. Pokoknya, persoalan ini tidak bisa didiamkan saja. Artinya, kita tidak boleh hanya membisu atau bersikap membuta-tuli saja terhadap masalah ini. Sebab, mendiamkan saja persoalan ini, berarti tetap menyimpan terus borok parah dan busuk, yang selama lebih dari 30 tahun masih terus menjangkiti kehidupan bangsa kita. Singkatnya, membisu terhadap persoalan ini, adalah berdosa terhadap bangsa dan anak cucu kita. MENGUTUK PEMBUNUHAN BESAR-BESARAN ITU ADALAH HAK Dewasa ini, agaknya, kita bisa mulai menaruh harapan bahwa penyalahgunaan kekuasaan yang disertai penggunaan kekerasan sedang diusut untuk diadili. Umpamanya: peristiwa-peristiwa di Aceh, Tg Priuk, peristiwa 27 Juli, kasus Marsinah, Timor Timur dll. Itu semua merupakan langkah-langkah permulaan bagus untuk meletakkan dasar-dasar penegakan hukum dan perasaan keadilan. Dalam konteks ini, perlulah kiranya kita berusaha bersama-sama menciptakan syarat-syarat agar peristiwa pembunuhan besar-besaran 65/66 juga mendapat penyelesaian yang adil, sehingga bisa mempercepat tercapainya kedamaian hati banyak fihak. Adalah penting sekali bagi kehidupan bangsa, bagi penulisan sejarah bangsa, untuk membuktikan kepada semua fihak bahwa peristiwa pembunuhan besar-besaran itu adalah kesalahan serius, adalah dosa besar, adalah pelanggaran berat terhadap HAM, adalah kejahatan moral, adalah bertentangan dengan ajaran agama yang manapun, adalah tindakan yang tidak diridhoi Tuhan, adalah noda besar bangsa, adalah dan adalah_.., adalah. (kehabisan kata-kata, harap tambah sendiri, pokoknya yang jelek-jelek dan nista. Pen). Jadi, mengutuk pembunuhan besar-besaran tahun 65/66 adalah hak (artinya : benar), menyalahkan konseptornya dan para pelakunya adalah benar, menghujat tindakan yang tidak berperkemanusiaan itu adalah benar. Seperti halnya kasus di Aceh, di Lampung, di Tanjung Priuk, di Jl Diponegoro (kasus 27 Juli) dll, adalah hak bagi para korban pembunuhan besar-besaran tahun 65/66 untuk minta pertanggungan jawab (entah dari siapa? Pen) atas terjadinya tragedi nasional itu. Apalagi, pembunuhan besar-besaran ini mencakup korban yang begitu besar, yang juga menyeret penderitaan bagi puluhan juta warganegara lainnya. Penderitaan ini masih ditanggung oleh mereka sampai sekarang, dalam berbagai bentuk dan berbagai derajat. Dan penderitaan inilah yang harus diakhiri, demi tercapainya kehidupan bangsa yang lebih sehat. Mengingat itu semua, terasa amatlah makin mendesak sekarang untuk menghimbau supaya para korban pembunuhan besarbesaran 65/66 berani menyuarakan penderitaan mereka, dengan berbagai jalan dan cara. Suara mereka perlu sekali untuk menyadarkan mereka-mereka (baik yang di kalangan MPR, DPR, Mahkamah Agung, kabinet, Kejaksaan Agung, pimpinan militer, pimpinan partai-partai, pemuka-pemuka agama, intelektual dll) yang masih terus membela kebenaran pembunuhan besarbesaran 65/66, atau yang masih mau menutup-nutupinya, apalagi mereka yang sampai sekarang masih mau meneruskan pola berfikir anti-HAM yang selama ini telah dipakai sejak tahun 65/66 itu.. Supaya suara para korban pembunuhan 65/66 ini bisa didengar lebih luas, maka sebanyak mungkin golongan dan kalangan yang pro-HAM, pro-demokrasi dan pro-reformasi perlu sekali, dengan berani dan terang-terangan, mengangkat peristiwa yang menjadi tragedi bangsa ini, menurut cara dan kemampuan masing-masing. Dalam konteks ini, apa yang telah dikerjakan oleh Yayasan Pakorba, YPKP 65/66, KAP-TN, SNB dll perlu disambut dengan gembira dan dibantu oleh semua fihak, termasuk fihak pemerintah. Dalam usaha kita bersama, di bawah pimpinan Gus Dur, untuk menegakkan demokrasi, penegakan hukum, menjunjung tinggi HAM dan peradaban bangsa, masalah peristiwa pembunuhan 65/66 haruslah berhenti jadi _tabu_ (larangan untuk dibicarakan). Kita harus bersama-sama mengangkatnya, untuk dibahas bersama-sama, guna mencari penyelesaian yang sebaik-baiknya, sesuai dengan kaidah-kaidah perasaan keadilan dan perikemanusiaan. Itu semua demi persatuan bangsa, demi rekonsiliasi nasional, demi pengabdian kepada sesama ummat manusia. (Habis di sini, tulisan pertama). --*) Sampai September 1965, menjabat sebagai Pemimpin Redaksi harian EKONOMI NASIONAL (Jakarta), anggota pengurus PWI Pusat dan anggota Sekretariat Persatuan Wartawan Asia Afrika (di Jakarta kemudian di Peking). Sekarang tinggal di Paris. Alamat E-mail: kontak@club-internet.fr --Tanggapan atas Masalah Pembunuhan Besar-Besaran Tahun 65/66 Raja Bambu From: "Endang Prabaningsih" djokosjt@rad.net.id To: "Indopubs/archives/" apakabar@radix.net Cc: kontak@club-internet.fr

Subject: Tanggapan atas Masalah Pembunuhan Besar-Besaran Tahun 65/66 Date: Mon, 6 Mar 2000 21:14:35 +0700 RAJA BAMBU : KEPADA SAUDARA UMAR SAID Tulisan saudara Umar Said, berjudul Masalah Pembunuhan Besar-Besaran Tahun 65/66, benar benar menyentuh hati saya. Saya merasa sedih, haru tetapi juga senang. Sedih karena hal yang seburuk pembunuhan ratusan warga yang mungkin tak bersalah telah terjadi; haru membaca ceritera Siti Sundari tetapi senang, karena ada seorang seperti saudara Umar Said yang ingin adanya pengungkapan apa yang sebenarnya terjadi di tahun 65/66. Saya sebagai orang tua, yang sudah berumur tiga perempat abad, yang kebetulan tidak ada di Indonesia pada tahun tahun itu, ingin juga mengetahui apa dan mengapa terjadinya tragedi 65/66. Saya tidak mempunyai cerita tangan pertama, seperti ceritanya Ahmad , anggauta SBKA, Kardono dan Prayogo, tetapi saya telah membaca tulisan Dale Scott, Ben Anderson, Kathy Kadane, Ny. Budiarjo dan seorang ibu, yang waktu itu anggauta Gerwani, yang tanpa diajukan ke pengadilan dipenjara selama tiga puluh tahun lebih. Banyak pula tulisan tulisan orang Australia dan Belanda dan cerita kolonel Latief. Barangkali kalau cerita cerita ini disambung sambungkan, hal hal yang selama puluhan tahun ini ditutup tutupi dapat ditransparankan. Orang orang yang mengetahui apa sebenarnya yang terjadi, tinggal sedikit. Suharto tentu mengetahui cerita seluruhnya. Barangkali jendral Jusuf, jendral Nasution dan beberapa pensiunan jendral lainnya yang waktu itu barangkali berpangkat letnan kolonel ata u kolonel mengetahui fakta fakta yang dibutuhkan untuk mengungkap cerita seluruhnya. Mereka semua tentunya sudah tua, jadi kalau sekarang ini kita tidak menguras otak mereka, kita tak akan berkesempatan untuk mengetahui lembaran hitam dalam sejarah Indone sia itu. Mereka semua, seperti saya, sudah ngunduri mati. Untuk apa kebenaran akan pembunuhan tahun 65/66 harus diungkapkan? Dengan keterbatasan saya menguasai bahasa, saya tidak dapat menjelaskan mengapanya, tetapi saya merasa dengan sepenuh hati bahwa kebenaran harus dipaparkan. Saya, pribadi, merasa berhutang besar pada mereka yang terbunuh dan terpenjara tanpa salah dan pada anak cucu mereka itu. Anak cucu itu, yang sama sekali tidak bersalah telah banyak menderita, seperti diceritakan saudara Umar. Saya setuju sekali dengan ajakan saudara Umar untuk mengupas bersama sama kejadian tahun 65/66 itu, demi rekonsiliasi, demi kebenaran, demi kedewasaan kita bernegara dan berbangsa. Raja Bambu Pertapaan Blitar PERSPEKTIF PENYELESAIAN KASUS '65 Hardoyo*) *) (mantan anggota DPRGR/MPRS 1960-65 dari fraksi golongan karya-pemuda, eks tapol 10 Nop 1966 - 9 desember 1979) Pengantar: Kita semua disini membicarakan kasus kasus tragedi bangsa di masa lalu yang diakui apa tidak sempat membawa seluruh bangsa ini sadar atau tidak mungkin telah menjadi tawanan sejarah masa lampau yang telah memboroskan banyak enerzi bangsa. Kemudian sebagaimana pengalaman banyak negara yang ingin mentas beralih mengubah tragedi menjadi hikmah, dari sistem otoriterime ke masyarakat baru yang demokratik dan menjunjung tinggi HAM, maka "kebenaran" harus diungkapkan, dan kemudian bermuara pada rekonsiliasi nasional. (KKR). Mengingat banyaknya kasus tragedi bangsa selama kekuasaan Orde Baru, saya tidak bisa membayangkan bila KKR nanti terbentuk, mungkin atau pasti akan merupakan KKR terbesar,terberat dan terumit dalam sejarah setelah perang dunia kedua. Sebagai orang awam dalam sejarah, saya tahu bahwa dalam sejarah seringkali terjadi peristiwa tragedi itu tak semua terungkapkan dalam sejarah tulis, dalam sejarah lesan terungkap sepotong potong dalam berbagai versi, tak sedikit pula yang raib dari sejarah, dan dilupakan. Karena itu manusiawi juga bila orang enggan untuk mengingat terus suatu tragedi yang berat yang menimpa diri atau keluarga dekatnya, seraya apologia, "biarlah kalau memang ditakdirkan menjadi tumbal sejarah demi masa depan anak cucu". Namun pengungkapan kebenaran itu betapapun bukan pekerjaan mudah tetap sangat penting, justru sebagai pepeling agar tidak terulang kembali. Pendekatan Masalahnya Dalam hal ini saya pribadi sependapat dengan jiwa dan semangat sarasehan generasi muda Indonesia yang diselenggarakan di Universitas Leuwen Belgia 23 september yang lalu dengan tema "Mawas Diri Peristiwa September 1965; sebuah tinjauan ulang sejarah". Seseorang yang hadir dalam sarasehan itu menulis kesan kesannya kepada saya, sebagai seorang sahabat yang dikenalnya sebagai korban politik kasus 1965 a.l.sbb: " Dari kata Mawas Diri jelas Sarasehan ini tidak dimaksud untuk mencari siapa yang salah dan siapa yang benar dalam peristiwa September 1965. Walau demikian, dalam diskusi sementara peserta ingin mencari tahu siapa pelaku utama dan siapa yang sekedar tersangkut didalam peristiwa yang kemudian menimbulkan trauma yang luarbiasa mendalamnya dalam kehidupan bangsa Indonesia. Konon,justru soal "ingin tahu" itu telah menjadikan diskusi hidup sebagaimana dikatakan peserta Sitor Situmorang dalam makalahnya" Menelusuri sejarah sebagai dialog terus menerus dengan diri sendiri dan sesama". Mungkin yang agak surprise dalam sarasehan itu bicara juga Ibu Dra Nani Nurachman , dosen psikologi Universitas Indonesia, puteri dari Jendral Mayor Sutoyo Siswomihardjo yang dibunuh di pagi buta 1 Oktober 1965, membawakan makalah dengan judul " Pengumpulan Nalar dan Rasa: Rekoleksi ingatan dan refleksi pengalaman atas peristiwa G30S/PKI". Makalah Ibu Nani Nurachman dengan ini kami lampirkan sebagai bahan perenungan kita. Bicara soal siapa yang salah atau tidak, pembicara Hersri Setiawan, seorang sastrawan yang pernah di"buang" kepulau Buru menolak pendapat seorang pembicara yang mengatakan bahwa sampai sekarang belum ada seorang pun dari PKI yang berani mawas diri.Ditegaskan oleh Hersri, bahwa mawas diri bahkan telah dikemukakan secara total oleh Sudisman Sekjen CC PKI di depan Mahmilub. Ia bahkan menamai pidatonya tidak sebagai pidato pembelaan diri , tetapi pidato pertanggungjawaban selaku pimpinan Partai. Sudisman dengan terang telah menyatakan otokritik, dan dengan rendah hati sekaligus juga meminta maaf pada seluruh rakyat Indonesia. Sementara itu atas dasar berbagai argumentasi Dra Carmel Budiardjo menegaskan pendapatnya bahwa Soeharto lah yang menjadi pelaku utama peristiwa G30S 1965. Beberapa peserta lainnya juga tampil dengan berbagai versi lainnya. Sekarangpun, di Jakarta, mingguan GAMMA 8-14 Nopember 2000 tampil dengan nomor khusus: SOEBANDRIO BONGKAR DALANG G30S. Bahkan Departemen Pendidikan kita. Kalau tidak salah, meminta para guru untuk membiarkan anak anak didik membaca bahwa ada sedikitnya lima versi G30S l965. Saya rasa, siapapun tahu, bahwa masalah siapa otak, siapa pelaku dan siapa yang tersangkut peristiwa G30S, masih merupakan bahan penyelidikan yang tidak mudah. Presiden Soekarno yang muncul dengan teori 3 sebab dalam pidato Nawaksaranya, telah

meninggal tanpa pernah diperiksa oleh pengadilan, DN Aidit telah ditembak mati segera setelah ditangkap, Jendral Besar Purn. AH Nasution baru baru ini telah meninggal pula, sedangkan Jendral Besar Purn Haji Muhammad Soeharto konon dikabarkan dalam keadaan sakit, hingga sukar berbicara dan berpikir. Bedakan peristiwa l oktober 65 dengan pascanya. Karena itu saya sependapat dengan kesimpulan sarasehan mawas diri Leuwen, bahwa dalam membahas peristiwa 1965 hendaklah dibedakan antara peristiwa yang terjadi di pagi subuh 1 oktober 1965 dengan peristiwa peristiwa yang terjadi berikutnya, yakni berupa pembantaian massal (genocide/massacre) yang dikatakan tiada taranya dalam sejarah modern Indonesia sampai hari ini. Peristiwa inilah, kata kesimpulan Leuwen, merupakan kenyataan yang gamblang yang pernah disaksikan banyak orang dan masih menjadi memoar kolektif sebagian mereka yang masih hidup, merupakan feit yang straftbaar atau crime against humanity. Saya pernah mewawancarai seseorang putra dari sepasang suami isteri guru SD di salah satu kota Di Jawa Tengah, Sang ayah yang anggota PGRI itu dibunuh awal Nopember 1965. Sang Ibu yang lagi hamil tua 9 bulan, dibiarkan melahirkan putra terakhirnya, dan tiga hari setelah sang anak lahir ia diambil dari rumah sakit bersalin dan langsung dibunuh. Menurut pengakuan sang putra yang pada tahun 1965 telah berusia 14 tahun, keluarga dari pelaksana pembunuhan orang tuanya itu mengirim pesan bahwa mereka itu terpaksa melakukan karena diperintah atasannya. Sedang ormas tertentu yang menggeropyok dan menangkap orang tuanya, mengatakan bahwa mereka diperintahkan oleh pimpinannya karena jika tidak merekalah yang akan dibunuh. Pimpinannya itu mengatakan mereka hanya memeruskan perintah yang berwajib. Saya Tanya, "apakah anda menyimpan dendam?" Jawabnya, semula ya, tapi setelah kami mempelajari masalahnya dendam saya hilang, mereka hanyalah pelaksana yang sebenarnya tak tahu menahu soalnya, mereka sejatinya juga korban sejarah dalam berbagai bentuk dan sisinya". Kata lain, ia melihat kasus pasca 1 oktober 65 sebenarnya lebih bersifat state violences yang vertikal sifatnya, sedang gejala konflik horizontal itu hanyalah akibat belaka. Pandangan tentang "Sistem Hukuman Kolektif"? Dr Riswanda Imawan dari UGM, kalau tidak keliru, didepan Seminar Masyarakat Indonesia untuk Kemanusiaan (MIK) di Yogyakarta pada tahun 90-an mengenai tuntutan penghapusan stigma "ET"dari KTP para eks tapol/napol sesuai dengan ketentuan dalam Instruksi Mendagri no 32 tahun 198l mengatakan bahwa "rekonsiliasi nasional" itu akan susah dicapai, karena bangsa kita ini umumnya masih mengidap budaya tumpas kelor", artinya lawan politik harus ditumpas bersihkan sampai sekecil kecilnya. Tahun l965 - 66 memberikan pengalaman baru di bidang hukum bagi bangsa Indonesia, mungkin tentang apa yang pernah disebut oleh seorang pakar hukum, saya lupa namanya, mengenai penerapan "sistem hukuman kolektif". Oktober 65 di mulai dengan keputusan panglima penguasa perang daerah diberbagai tempat mengenai pembekuan PKI dan apa yang disebut semua ormasnya. Sekalipun jika menilik AD/ART satu satuya ormas PKI itu hanya Pemuda Rakyat, lain lainnya tetap ormas independen. Segera diikuti dengan pembunuhan massal terhadap para aktivis dan bahkan simpatisan kiri, artinya PKI dan segala orang yang dianggap PKI (dan ini yang terbesar) sampai sampai Presiden Soekarno mengingatkan kalau mau tangkap tikus jangan rumahnya dibakar. Keadaan politik semakin tegang dan gerakan massa antiPKI mulai mengarahkan aksinya kepada Presiden Bung Karno, yang dianggap melindungi PKI. Puncaknya, ialah keluarnta Surat Perintah Sebelas Maret 1966. Apa isinya dan bagaimana sejatinya, saya percaya para hadirin tahu semuanya. Yang jelas, PKI dan semua ormasnya "resmi" dibubarkan. Pada Juni 1966, kalau tak salah ada Instruksi Komanda Ganyang Malaysia (KOGAM ) no 9 tahun 1966 yang mengklasifikasi para tahanan politik yang jumlahnya melebihi satu juta orang yang memenuhi semua kamp kamp tahanan yang sebenarnya bukan kamp tahanan. Menurut KOGAM 9 /1966 para tahanan itu diklasifikasi ke dalam A, B dan C. Golongan A ialahyangterlibat langsung dalam gerakan militer G30S/65, dan mereka harus diadili. Golongan B dibagi Bl dan B2 ialah mereka yang diianggap kader partai atau aktivis ormas kiri, Mereka umumnya dutahan dan sebagian besar diasinglan ke pulau Buru. Mereka ini dianggap terlibat secara tidak langsung, karena hari hari oktober 65 tidak segera mengutuk G30S , sekalipun yang mengutukpun kena garuk juga.Golongan ketiga golongan C, Cl ialah mereka yang beranteseden "Peristiwa Madiun 1948",C2 yang disebut simpatisan dan C3 massa. Mereka ini ada yang ditahan ,dan diberhentikan dari pekerjaaannya atau bebas sebagai tahanan kota dan harus wajib lapor. Predikat "terlibat secara tidak langsung" ini hebat sekali dampaknya, Ada 9 macam pekerjaan yang tertutup untuk mereka, dan anak cucunya pun terkena pembatasan untuk sekolah dan mencari pekerjaan, Mungkin hadlirin masih ingat istilah Litsus, bersih Diri dan Bersih Lingkungan, serta Keterpengaruhan. Kogam 9 lebih efektif, setelah SU MPR RI akhir Juni 1966 itu juga mengeluarkan yang terkenal dengan TAP no. 25 MPRS 1966 mengenai pelarangan PKI, dan penyebaran ideologi Marxisme, Komunisme dan Leninisme. Maka pemeriksaan terhadap para tahanan bukan lagi semata mata soal kasus perkara keterlibatannya dengan kasus G30S 65an sich, tetapi sudah ke soal apa pandangan hidup anda, komunisme atau bukan. Barulah pada akhir Desember 1979 ada pembebasan umum para tapol dan penutupan kamp pengasingan pulau Buru dan kamp wanita di Plantungan Jateng, di mana sebelum dibebaskan para tapol harus menandatangani 7 butir pernyataan, a,l tidak akan aktif lagi dibidang politil, dan yang terpenting menurut saya ialah TIDAK AKAN MENUNTUT GANTI RUGI PADA PEMERINTAH ATAS PERLAKUAN YANG MEREKA ALAMI SELAMA DITAHAN. Ternyata pembebasan 1979 ini hanya dilepas kepala tapi masih diikat kakinya, ditunjukkan segera berlakunya Instruksi Mendagri Amir Machmud no 32 tahun 198l tentang pembinaan dan pengawasan terhadap eks tapol/napol yang sarat dengan berbagai perlakuan diskriminatif. Sampai detik ini sebagian masih berlaku seperti yang saya alami dengan diskriminasi berlakunya KTP saya yang seharusnya sudah seumur hidup hanya diberi 3 tahun. Bahan bahan yang kami dengar dari daerah, misalnya Sulawesi Utara konon litsus, wajib lapor masih ada. Praktek semua itulah yang disebut berlakunya sistem hukuman kolektif. Dan ini mengingatkan apa yang saya lihat di jaman kekuasaan fasisme Dai Nippon, kalau dalam suatu pasukan atau warga desa, seseorang salah, maka seluruh anggota pasukan atau komunitas ybs terkena sa-seng atau hukuman, Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Nasional Forum ini secara tak langsung telah menyumbang bagi penyusunan materi RUU KKR. Saya percaya, atas dasar pemikiran positif, bahwa kalau nanti UU KKR disahkan akan terbuka lembaran baru bagi bangsa Indonesia ini lepas dari tawanan sejarah masa lalu dan membuka tahapan baru bangsa majemuk ini membangun Indonesia Baru yang demokratik, adil dan sejahtera, Banyak masalah ,termasuk masalah psikologis, yang tak mudah disingkirkan begitu saja, karena a.l. bayang bayang traumatic masa lalu yang sebagian tak jelas duduk perkaranya bagi kebanyakan orang mengapa hal hal yang menyedihkan itu bisa terjadi.

Masak 200 juta bangsa Indonesia, bangsa terbesar ke 4 dunia sampai kalah dengan rakyat Afrika Selatan dibawah Nelson Mandela dan de Clerk yang mampu menciptakan kerukunan dan bosan dengan perkelahian yang tak bagaikan lingkaran setan. Pendek kata, saya ingin menyimpulkan jalan keluar dari penyelesaian kasus 65 senafas dengan jiwa KKR tsb. Pertama, adanya pengakuan negara/pemerintah bahwa pada tahun 1965/1966 di Indonesia telah terjadi state violences against human rights terhadap sekelompok orang yang dianggap PKI atau yang di PKI kan. Para korban politik dari kasus itu hendaknya dipulihkan nama baiknya, misalnya dengan pemberian pernyataan atau piagam bahwa mereka tidak bersalah dan karena itu namabaiknya dipulihkan. Kedua, pemerintah sebagaimana telah menjadi keputusan Presiden RI sekarang agar segera mencabut segala macam peraturan dan perundangan yang diskriminatif terhadap warganegaranya sendiri dari manapun mereka. Ketiga, untuk pendidikan demokrasi politik dan HAM, pemerintah agar segera membentuk KKR yang kuat dan berwibawa. Biarlah KKR ini bekerja dengan keras dan cermat, agar kebenaran dapat terungkap, dan rekonsiliasi nasional menjadi tujuan akhirnya. Keempat, demi pelurusan sejarah atau istilah yang saya lebih suka demi pengkajian ulang kembali sejarah atau penulisan kembali sejarah, karena diakui masih banyak peristiwa tragedy yang masih memerlukan penelitian dan pembuktian lebih lanjut, maka pemerintah hendaknya menyerahkannya kepada badan independen professional MASYARAKAT SEJARAWAN INDONESIA (MSI), jika perlu dengan bantuan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia untuk mengembangkan penelitian sejarah lebih jauh, sedangkan pemerintah diharapkan agar para peneliti itu memperoleh akses ke arsip negara, termasuk arsip militer sepanjang yang relevan mereka perlukan demi objektivitas penelitiannya. Penutup Demikian sepintas lintas pandangan saya yang secara spontan saya kemukakan, karena saya baru diberi tahu kemarin siang bahwa saya harus bicara kamis pagi ini didepan forum yang saya hormati dengan penuh harapan baik ini. Maafkan bila ada banyak kekeliruan dalam mengutip data bagi penyusunan makalah ini, hingga tak ada referensi dan catatan kaki yang biasanya ada. Sekali lagi, saya menyampaikan terima kasih atas perhatian para peserta diskusi KKR seri ke VIII ini. Jakarta, 16 Nopember 2000 . Hardoyo Siaran Pers Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 65/66 (YPKP)

PESAN DANIELLE MITTERRAND KEPADA SULAMI (KETUA YAYASAN PENELITIAN KORBAN PEMBUNUHAN 65/66) Pengurus Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 65/66 (YPKP) pada tanggal 29 November 2000 telah menerima pesan solidaritas yang disampaikan oleh Ny. Danielle Mitterrand (istri alm. Presiden Prancis François Mitterrand), yang memimpin Yayasan France Libertés di Paris, berkaitan dengan sakitnya Ibu Sulami (ketua YPKP) dan juga tentang telah dilakukannya penggalian kuburan massal di dekat Wonosobo tanggal 16 sampai 18 November yang lalu. Pesan solidaritas tersebut berbunyi sbb : A/n YPKP Pusat Suharno E-mail : Sulami Djoyoprawiro [korban65_66@hotmail.com] ==================== Ibu Sulami yang tercinta, Dengan rasa sedih saya mendapat berita bahwa Anda sekarang sedang dirawat di rumahsakit di Jakarta, oleh karena jatuh sakit ketika sedang memimpin kegiatan penggalian kuburan massal di dekat Wonosobo. Saya menaruh penilaian yang tinggi akan pentingnya arti sejarah dari penggalian kuburan massal di Wonosobo guna menegakkan kebenaran sejarah tentang pembunuhan besar-besaran tahun 65/66 oleh rezim militer Suharto. Dan saya juga menyampaikan ucapan selamat atas suksesnya permulaan pekerjaan yang dilakukan oleh YPKP yang Anda pimpin. Dengan ini saya menyampaikan simpati saya yang sebesar-besarnya kepada Anda serta mengharapkan semoga lekas sembuh sehingga Anda dapat meneruskan pekerjaan penting YPKP. Danielle Mitterrand Presiden France Libertés (dikirim dari Paris tanggal 28 November 2000) ____ Dukungan Ny. Danielle Mitterrand kepada usaha YPKP. Pesan solidaritas yang dikirimkan oleh Ny. Danielle Mitterrand merupakan kelanjutan sikap Yayasan France Libertés, yang dipimpinnya, dalam mendukung kegiatan YPKP demi kemanusiaan yang bertujuan untuk menegakkan kebenaran sejarah sekitar pembunuhan besar-besaran tahun 65/66. Dukungannya ini telah diperlihatkannya dengan jelas dalam berbagai kesempatan selama kunjungannya ke Indonesia dari tanggal 28 Agustus sampai 4 September 2000. Kunjungannya ke Indonesia adalah untuk memenuhi undangan YPKP, sebagai balasan atas undangan France Libertés kepada Ibu Sulami untuk berkunjung ke Prancis dalam bulan Desember 1999. Dalam pertemuan di Paris itulah masalah kegiatan YPKP dibicarakan, dan sejak itu Ny Danielle Mitterrand menunjukkan perhatiannya yang besar terhadap tujuan YPKP, dalam rangka penegakan kebenaran sejarah sekitar pembunuhan besar-besaran tahun 65/66 dan pembelaan hak asasi manusia di Indonesia. Dalam berbagai pertemuan besar dan kecil yang diselenggarakan oleh YPKP bersama berbagai LSM Indonesia lainnya, baik di Jakarta maupun di Yogya, Ny. Danielle Mitterrand selalu mengangkat masalah pentingnya penelitian sejarah tentang pembunuhan-pembunuhan 65, sebagai langkah penting untuk mencapai rasa keadilan bagi keluarga para korban, dan sebagai salah satu di antara berbagai syarat untuk terciptanya rekonsiliasi nasional di kemudian hari. Kunjungan ke Luweng (Wonosari) yang mengesankan. Di samping masalah pembunuhan besar-besaran tahun 65/66, Ny. Danielle Mitterrand juga telah menunjukkan perhatiannya kepada masalah-masalah yang dihadapi para eks-tapol beserta anggota keluarga mereka. Pertemuannya dengan ratusan eks-tapol di kantor YPKP (di Tangerang, sebelum pindah ke Jakarta) pada tanggal 29 Agustus 2000 merupakan kesempatan baginya untuk mendengar secara langsung berbagai persoalan yang dihadapi para eks-tapol beserta keluarga mereka selama ini. Ratusan ekstapol itu telah berdatangan secara khusus untuk pertemuan itu dari Sumatera Utara, Sumatra Barat, Lampung, Jawa Barat, Jawa

Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara. Menurut keterangan para anggota rombongan Ny. Mitterrand (terdiri dari 5 orang) pertemuan itu telah memberikan kesan yang mendalam baginya tentang keseriusan persoalan yang dihadapi oleh para eks-tapol dan anggota keluarga mereka selama puluhan tahun ini. Oleh karena itu, dalam pertemuan-pertemuannya dengan Presiden Abdurrahman Wahid di Binagraha (tgl 30 Agustus), dengan Komnas Ham, dan dalam berbagai kesempatan lainnya, Ny. Danielle Mitterrand selalu mempersoalkan masalah-masalah ini. Diskusi-diskusi yang diadakan dengan Paguyuban Korban Orde Baru (Pakorba), Solidaritas Nusa Bangsa (SNB), Perhimpunan Purnawirawan AURI, Yayasan Hidup Baru, dengan Ali Sadikin, Pramoedya Ananta Toer, pimpinan PRD ,para tokoh agamawan dll telah memungkinkan baginya untuk mengenal situasi di Indonesia yang penuh dengan berbagai masalah politik, ekonomi dan sosial. Menurut keterangan para anggota rombongan, kesan yang amat mendalam dan mengharukan adalah ketika diselenggarakan acara untuk mengunjungi daerah pembantaian (killing ground) di Luweng dekat Wonosari dan di Kali Wedi dekat Klaten. Dengan selalu didampingi oleh Ibu Sulami, Ny. Danielle Mitterrand telah mengikuti upacara "ziarah" di suatu lubang alam yang amat besar di Luweng, yang dipakai oleh militer untuk membunuhi sejumlah besar tahanan yang dituduh atau dianggap anggota PKI. Dengan disaksikan oleh para simpatisan YPKP yang datang dari berbagai daerah (dengan menggunakan 10 mobil) upacara di Luweng berlangsung dalam suasana yang mengharukan. Suara jeritan, tangisan dan tetesan air mata dari yang hadir telah membikin kunjungan ke tempat pembantaian itu menjadi sesuatu yang sangat mengesankan dan mengharukan bagi rombongan Ny Danielle Mitterrand. Pesan solidaritas yang dikirim olehnya kepada Ibu Sulami yang sedang dirawat di rumahsakit dan penilaiannya tentang pentingnya penggalian kuburan massal di Wonosobo adalah manifestasi dari perhatiannya terhadap masalah penegakan kebenaran sejarah tentang peristiwa 65 dan masalah perjuangan untuk membela hak asasi manusia di Indonesia. Siaran Pers Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 65/66 (YPKP)

SEKITAR PENGGALIAN KUBURAN MASSAL DI DEKAT WONOSOBO Sejak berdirinya Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 65/66 (YPKP 65/66) dalam bulan April 1999 di Jakarta, penggalian kuburan massal di hutan Situkup (desa Dempes, kecamatan Kaliwiro, Kabupaten Wonosobo) 18 kilometer dari Wonosobo, Jawa Tengah merupakan salah satu di antara serentetan kegiatan-kegiatan penting yang sudah dilakukan oleh YPKP. Penggalian kuburan massal di hutan Situkup ini, yang dilakukan selama tiga hari (tanggal 16, 17 dan 18 November 2000) adalah pelaksanaan sebagian dari salah satu program (program penelitian forensic) diantara tiga program penelitian utama Departemen Penelitian YPKP. Tiga program penelitian utama tersebut adalah : Pertama, Penelitian Dasar yang bertujuan antara lain untuk mengungkap jumlah korban pembunuhan, penyiksaan, penahanan dan pelanggaran HAM; Kedua, Penelitian kasus yang bertujuan untuk mengungkap berbagai pembunuhan, penyiksaan dan pelanggaran HAM yang bersifat khusus (sangat diluar perikemanusiaan); dan yang Ketiga, Penelitian forensic, yang dilakukan dengan pembongkaran kuburan massal dalam rangka pembuktian secara forensic atas korban pembunuhan 65-66. Ketiga program tersebut secara keseluruhan bertujuan untuk memberikan sumbangan kepada usaha mencari kebenaran sejarah, terutama yang berkaitan dengan pembunuhan massal 65/66. Usaha mencari kebenaran sejarah tentang pembunuhan 65/66 ini dianggap penting oleh YPKP, karena selama puluhan tahun pemerintahan Orde Baru masalah ini telah dijadikan tabu untuk dibicarakan secara terbuka dalam masyarakat, dan di samping itu juga telah terjadi pemalsuan dan penggelapan tentang berbagai fakta sejarah. Ketua YPKP, Ibu Sulami (74 tahun), dalam berbagai kesempatan telah menjelaskan kepada umum bahwa penelitian mengenai pembunuhan 65/66 adalah untuk menegakkan perasaan keadilan bagi anggota keluarga para korban yang jumlahnya amat besar. Penegakan perasaan keadilan lewat pencarian kebenaran sejarah adalah dengan tujuan akhir untuk menciptakan rekonsiliasi nasional, yang dibutuhkan bagi persatuan dan kesatuan bangsa. Juga mengenai penggalian kuburan massal di Wonosobo ini, ditekankannya bahwa tujuannya adalah semata-mata dengan pertimbangan kemanusiaan. Sebab, berdasarkan data yang ada di Departemen Penelitian YPKP diketahui bahwa di hutan dekat Wonosobo itu terdapat kuburan massal, dan juga ada keluarga para korban yang mencari-cari orangtua atau sanak saudara mereka yang hilang tanpa diketahui di mana kuburannya. Jadi, sama sekali tidak ada maksud untuk mengungkap luka lama atau menggugah dendam. LANGKAH-LANGKAH SEBELUM PENGGALIAN KUBURAN Projek penggalian kuburan massal dekat Wonosobo ini dikoordinir oleh sdr Ester Jusuf SH, Kepala Departemen Hukum YPKP dan didampingi satu team forensik yang dipimpin oleh Dr Handoko dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. YPKP telah memberitahukan rencana penggalian kuburan massal ini kepada Komnas HAM di Jakarta. Kerjasama dengan Komnas HAM ini telah sangat membantu dalam memperoleh ijin dan bantuan dari berbagai instansi pemerintahan daerah (kabupaten, instansi militer dan kepolisian setempat). Bantuan dari fihak aparat pemerintah telah termanifestasikan dengan ditugaskannya 12 orang (terdiri dari unsur Kodim, Direktorat Sospol, dan kepolisian) untuk mengatur keamanan jalannya penggalian yang berlangsung selama tiga hari itu. Kontak-kontak yang dilakukan oleh YPKP dengan berbagai fihak juga telah menghasilkan adanya kerjasama dengan Banser dan Satgas PDI-P di wilayah tersebut. Untuk menjaga keamanan telah diperbantukan lebih dari 15 orang anggota Banser dan 15 anggota Satgas PDI-P. Itu semua menunjukkan bahwa penggalian kuburan massal di Wonosobo ini telah mendapat bantuan dari berbagai fihak. Dengan adanya bantuan dari berbagai fihak (Komnas Ham dll) dan juga kerjasama dengan fihak pemerintah daerah, maka penggalian kuburan massal di Wonosobo ini berlangsung dalam suasana yang jauh berlainan dengan penggalian kuburan yang pertama kali dilakukan di Blora beberapa tahun yang lalu. Penggalian di Blora telah dilakukan sebelum YPKP berdiri dan berlangsung dalam keadaan sulit (karena Orde Baru masih berkuasa) dan secara "sembunyi-sembunyi", sedangkan yang di Wonosobo dilakukan secara terbuka. Oleh karena itu, YPKP menyampaikan penghargaan dan terimakasih kepada Pemerintah Daerah Wonosobo dan Komnas HAM. PENEMUAN YANG MELAMPAUI JUMLAH YANG DI PERKIRAKAN Penggalian kuburan massal selama tiga hari itu merupakan langkah pertama dan penting dalam usaha bersama untuk membuktikan bahwa dalam tahun 65/66 telah terjadi pembunuhan besar-besaran dan secara sewenang-wenang terhadap sejumlah warganegara Indonesia yang tidak bersalah. Menurut keterangan Dr Handoko (yang memimpin team forensik), dari proyektil-

proyektil yang ditemukan pada kerangka yang digali bisa ditarik kesimpulan bahwa pembunuhan ini dilakukan dengan menggunakan senjata laras panjang dan laras pendek yang diduga hanya dimiliki oleh militer. Pada hari pertama, di bawah curahan hujan yang lebat, oleh para penggali telah ditemukan 7 kerangka. Di antaranya terdapat kerangka seorang perempuan, yang bisa di-identifikasi dari gigi bagian depan yang di-"pangur" (diratakan), sisir warna merah dari plastik, dan semacam selendang sutera yang melilit pada kerangka leher. Pada hari kedua, dengan disaksikan oleh penduduk yang datang berbondong-bondong dari berbagai kota-kota yang jauh, ditemukan 10 kerangka lagi. Di antaranya ada kerangka yang jari-jariya memakai cincin kawin yang dihiasi dengan huruf SUDJIJEM dan bertanggal 28-6-1965. Ini berarti bahwa pemilik cincin kawin ini telah ditembak tidak lama setelah ia menikah. Jadi, sampai pada hari kedua yang juga selalu diguyur hujan itu, telah ditemukan 17 kerangka. Menurut data yang ada di Departemen Penelitian YPKP, di lokasi itu diperkirakan terdapat 21 korban pembunuhan. Jadi, pada hari ketiga diperkirakan akan ditemukan sisanya sebanyak 4 kerangka lainnya lagi. Tetapi, ternyata kemudian bahwa pada hari itu telah ditemukan tambahan 7 kerangka lainnya. Ini berarti bahwa, selama tiga hari penggalian telah ditemukan sebanyak 24 kerangka dan diperkirakan masih ada lagi kerangka yang lain, karena masih banyak bidang-bidang tanah sekitarnya yang belum sempat tersentuh oleh cangkul atau sekop. Dapat dipastikan bahwa jumlah korban adalah melebihi dari jumlah perkiraan semula yakni 21 orang korban. Mengingat penggalian itu sudah berlangsung tiga hari, dan karena keterbatasan faktor biaya maka penggalian dihentikan pada petang hari ketiga (tanggal 18 November). Diharapkan penggalian dapat diteruskan setelah kondisi dan persyaratan-persyaratan lain yang diperlukan dapat dipenuhi. ARTI PENTING BAGI SEJARAH Dengan persetujuan berbagai instansi pemerintah daerah, lokasi penggalian kuburan massal ini untuk sementara ditutup untuk umum. Sebagai pengamanan telah dibuatkan pagar dan dikunci dengan rantai yang digembok. Kunci telah diserahkan oleh panitia kepada pemerintah setempat (Wakil Bupati Wonosobo). Penggalian kuburan massal di desa Dempes, yang dilaksanakan dengan bantuan ahli forensik Dr Handoko ini, telah menarik perhatian banyak orang, termasuk dari kalangan pers. Mengingat pentingnya peristiwa ini bagi penegakan kebenaran sejarah, maka bagian-bagian penting proses penggalian dan hasil-hasilnya telah diabadikan dengan foto dan film. Dengan tersiarnya berita tentang penggalian kuburan massal ini, maka berbagai reaksi positif dan pernyataan simpati yang mencerminkan dukungan, telah diterima oleh YPKP. Badan internasional Asian Human Rights Commission telah mengeluarkan seruan "urgent action" kepada publik internasional untuk menuntut kepada pemerintah Indonesia (Presiden Abdurrahman Wahid) dan Komnas Ham supaya diadakan pengusutan terhadap pembunuhan massal tahun 65/66 yang diperkirakan telah merenggut jiwa lebih dari satu juta orang. Dalam suasana untuk mencari kebenaran sejarah dan menegakkan keadilan lewat penelitian ini, YPKP menyambut gembira pernyataan pimpinan wilayah Gerakan Pemuda Ansor Daerah Istimewa Yogya yang mengungkap bahwa GP Ansor (DIY) telah membentuk tim investigasi untuk meluruskan sejarah tragedi 1965. Dalam pernyataan itu dikemukakan bahwa disangkutkannya warga NU, khususnya Banser, dalam pembunuhan terhadap orang-orang PKI hanyalah dimanfaatkan dan dijadikan alat oleh militer untuk kepentingan militer waktu itu. Dalam pernyataan Ketua GP Ansor, Drs H. Nurudidin Amin kepada redaksi Bernas tanggal 21 November ditegaskan bahwa organisasinya bertekad dan berkepentingan untuk meluruskan sejarah mengenai tragedi tersebut, dan menyampaikan permintaan ma'af kepada para keluarga korban tragedi 1965 itu. Menurutnya, di mana pun posisi Banser saat itu, pembunuhan adalah pelanggaran HAM dan itu merupakan dosa, dan karenanya, selaku keluarga besar GP Ansor dan Banser menyatakan permintaan maaf setulus-tulusnya. LANGKAH PERMULAAN PERJALANAN PANJANG Berkat bantuan dari berbagai fihak, penggalian kuburan massal di Wonosobo telah bisa dilaksanakan dengan lancar dan dengan hasil yang memuaskan. Namun, langkah ini barulah merupakan langkah permulaan dari perjalanan yang cukup panjang untuk menegakkan kebenaran sejarah sekitar pembunuhan massal 65/66. Sebab, pembunuhan yang serupa di desa Dempes (Wonosobo) ini juga terjadi di banyak tempat di berbagai daerah di Indonesia. Penelitian sejarah tentang peristiwa yang menyedihkan ini memerlukan waktu yang cukup panjang, beaya yang tidak sedikit, dan kerjasama yang tulus dari banyak fihak. Dengan semangat untuk mencari penyelesaian yang adil demi kerukunan antar berbagai komponen bangsa, maka YPKP berharap untuk bisa meneruskan tugasnya, dengan mengatasi berbagai kesulitan. Kunjungan Nyonya Danielle Mitterra nd (istri almarhum Mantan Presiden Prancis François Mitterrand) ke Indonesia akhir Agustus sampai 4 September yang lalu, untuk memenuhi undangan YPKP dalam rangka kerjasama di bidang penelitian pembunuhan 65/66 adalah manifestasi bahwa yayasannya menaruh perhatian dan simpati terhadap masalah yang penting di bidang hak asasi manusia ini. Selama kunjungan di Jakarta dan Yogyakarta, beliau telah bertemu dengan berbagai pejabat tinggi pemerintahan dan juga dengan banyak LSM untuk mempersoalkan pentingnya penelitian tentang pembunuhan 65/66 dan juga nasib para eks-tapol beserta keluarga mereka. Pertemuan beliau di berbagai tempat dengan para eks-tapol beserta para keluarga mereka itu telah merupakan dorongan bagi banyak orang untuk meneruskan perjuangan dalam membela hak asasi manusia. SAKITNYA IBU SULAMI Ketua Umum YPKP, Ibu Sulami, dewasa ini sedang dirawat di rumahsakit Cikini (Jakarta) karena menderita sakit agak berat. Menurut keterangan para petugas YPKP, sakitnya ini adalah akibat dari bertumpuk-tumpuknya kelelahan yang disebabkan oleh kerja keras berhari-hari sebelum dan selama penggalian kuburan di Wonosobo. Tanpa kenal lelah dan tanpa menghiraukan hujan lebat, ia berkeras untuk selalu mengikuti dari dekat proses penggalian kuburan. Karena berbagai sebab, antara lain emosi yang meluap-luap dengan ditemukannya 17 kerangka, maka ia kemudian jatuh sakit. Mula-mula Ibu Sulami dirawat di rumahsakit Wonosobo, tetapi kemudian dipindahkan ke Jakarta demi perawatan yang lebih baik. Sejak terdengarnya berita tentang sakitnya Ibu Sulami ini, kantor YPKP terus dibanjiri setiap hari oleh berbagai pernyataan simpati, baik yang datang dari dalam negeri maupun luar negeri. Sumbangan keuangan untuk pengobatannya pun mulai diterima dari berbagai fihak. Sumbangan ini merupakan bantuan besar untuk meringankan beban YPKP yang sekarang ini masih terpaksa bekerja dengan sulit karena kecilnya dana. GP ANSOR DAN BANSER MINTA MAAF KEPADA KELUARGA KORBAN TRAGEDI 1965 Umar Said *) Sekitar pernyataan GP Ansor Yogya Ada satu berita atau perkembangan yang patut mendapat perhatian dan juga disambut dengan rasa gembira atau kelegaan hati, dengan harapan bahwa dampaknya akan merupakan angin segar yang membawa kesejukan dan kecerahan dalam fikiran banyak orang. Berita itu disiarkan oleh BERNAS (Jogya) tanggal 22 November 2000. Sebagai bahan renungan kita bersama, berikut adalah kutipan sebagian berita tersebut.

“Pimpinan Wilayah (PW) Gerakan Pemuda (GP) Ansor DIY telah membentuk tim investigasi untuk meluruskan sejarah tragedi 1965. Peristiwa saling-bunuh yang juga melibatkan warga NU pada saat itu, telah dimanipulasi seolah-olah terjadi pembunuhan terhadap orang- orang PKI oleh Barisan Ansor Serbaguna (Banser). Padahal saat itu, warga NU khususnya Banser, hanya dimanfaatkan dan dijadikan alat oleh militer untuk kepentingan militer. Demikian dikatakan Ketua PW GP Ansor DIY, Drs H Nuruddin Amin didampingi sejumlah pengurus PW GP Ansor DIY lainnya, saat bersilahturahmi ke Kantor Redaksi Bernas, Selasa (21/11). Sebelum ke Bernas, rombongan juga melakukan silaturahmi dengan Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) DIY Hartoyo Soemaryo SH. Menurut Nuruddin, akibat manipulasi sejarah tersebut, sampai saat ini warisan citra buruk tragedi tersebut masih menempel di tubuh GP Ansor maupun Banser. Karenanya, PW Ansor DIY bertekad dan berkepentingan untuk meluruskan sejarah mengenai tragedi tersebut, terutama yang menyinggung posisi Banser. "Kami juga menyampaikan permintaan maaf kepada para keluarga korban tragedi 1965 itu. Di mana pun posisi Banser saat itu, pembunuhan adalah pelanggaran HAM dan itu dosa. Dan, kami selaku keluarga besar GP Ansor dan Banser menyatakan permintaan maaf setulus-tulusnya," kata Nuruddin. Mengenai tim investigasi dan pelurusan sejarah yang dibentuk, Nuruddin mengemukakan, saat ini telah dikerahkan bagian Litbang PW Ansor untuk melakukan kajian pustaka mengenai tragedi 1965. Bahkan, PW Ansor DIY telah melakukan mapping (pemetaan) sementara daerah- daerah yang akan diteliti. "Hasil kajian pustaka sementara ini yang telah dilakukan, kita akan melakukan penelitian di tiga wilayah, yaitu Gunungkidul, Klaten dan Wonogiri. Tentunya kami juga berharap, dukungan dari masyarakat luas termasuk kalangan akademisi, untuk melakukan pelurusan sejarah ini," ucapnya. Nuruddin menambahkan, program meluruskan sejarah tragedi 1965 yang sedang dilaksanakan GP Ansor DIY, merupakan program jangka panjang. Artinya, PW GP Ansor tidak memberikan batas waktu harus selesai kapan. "Pekerjaan ini bukan pekerjaan yang mudah. Selain membutuhkan akurasi data, juga dana yang tidak sedikit," tutur- nya (kutipan dari berita BERNAS tanggal 22 November selesai) Kalau kita renungkan secara dalam-dalam makna berbagai kalimat yang tercantum di atas, maka akan jelaslah kiranya bahwa berita tersebut mempunyai arti yang besar atau mengandung pesan yang penting. Oleh karena itu, alangkah baiknya kalau jiwa yang terkandung didalamnya itu bisa bersama-sama disebar-luaskan sejauh mungkin, sehingga kumandangnya dapat menyentuh hati-nurani serta menggugah fikiran masyarakat luas di negeri kita. Sebab, suara seperti yang dilantunkan oleh satu bagian penting dari masyarakat Islam di negeri kita ini patut disambut gembira oleh siapa pun, dari golongan yang mana pun, dari suku dan agama apa pun, dan dari aliran politik yang mana pun, yang secara sungguh-sungguh dan tulus mendambakan adanya kerukunan atau persatuan bangsa. ARTI PENTING SUARA ANGKATAN MUDA ISLAM Sebab, ketika kita sedang menyaksikan kemacetan dalam jalannya reformasi di berbagai bidang, dan masih terbengkalainya banyak pekerjaan untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan besar yang ditimbulkan oleh sistem politik Orde Baru, maka terasa sekalilah bahwa berbagai bagian pernyataan pimpinan GP Ansor dan Banser Yogja itu mempunyai arti yang penting. Pernyataan itu, antara lain, mengingatkan kepada opini umum bahwa usaha bersama untuk mencari kebenaran sejarah yang berkaitan dengan tragedi 65 perlulah dilakukan. Sebab, banyak bukti yang menunjukkan bahwa sejarah telah dimanipulasi oleh rezim Orde Baru demi kepentingan politiknya waktu itu. Di samping itu, dilibatkannya unsur-unsur NU atau Banser oleh militer perlu juga diungkap. (Pada saat itu, warga NU khususnya Banser, hanya dimanfaatkan dan dijadikan alat oleh militer demi kepentingan militer). Mengingat konteks situasi politik di negeri kita dewasa ini, apa yang diutarakan oleh pimpinan GP Ansor (dan Banser) Yogya merupakan sumbangan bagi berbagai golongan atau masyarakat Islam lainnya untuk melakukan penelaahan kembali berbagai aspek yang berkaitan dengan tragedi 65. Bahwa sikap yang demikian itu diambil oleh GP Ansor, sebagai salah satu di antara kekuatan angkatan muda Islam, adalah perkembangan yang positif bagi kehidupan bangsa kita dewasa ini, dan juga di kemudian hari. Sebab, angkatan muda yang sekarang inilah yang nantinya akan ikut berperan dalam masyarakat. Mereka ini, sedikit banyaknya, tidak terlibat secara langsung dengan persoalan-persoalan yang berkaitan dengan tragedi 65, dan karenanya juga tidak mempunyai “beban sejarah” seperti halnya angkatan-angkatan yang terdahulu. Mereka juga tidak mau menjadi “tawanan sejarah” masa lalu yang gelap itu. Apalagi kalau diingat bahwa, dewasa ini, masih cukup banyak dari kalangan Islam yang termakan oleh racun sistem politik Orde Baru, dan karenanya juga mempunyai pandangan yang keliru tentang tragedi 65, maka makin terasalah betapa pentingnya sumbangan pemikiran GP Ansor (dan Banser) Yogya ini. MELURUSKAN SEJARAH LEWAT PENELITIAN Aspek penting lainnya dari sikap yang telah diambil oleh GP Ansor Yogya adalah dibentuknya tim investigasi dan pelurusan sejarah, dengan mengerahkan bagian Litbang Pimpinan Wilayah GP Ansor untuk melakukan kajian pustaka mengenai tragedi 1965 dan pemetaan (mapping) sementara daerah-daerah yang akan diteliti (antara lain : Gunungkidul, Klaten dan Wonogiri). Dalam kegiatan untuk meluruskan sejarah ini diharapkan oleh GP Ansor adanya dukungan masyarakat luas, termasuk kalangan akademisi. Dukungan masyarakat luas yang dihimbaukan oleh GP Ansor ini patut mendapat sambutan hangat serta kerjasama yang positif dari semua fihak yang ingin bersama-sama mencari kebenaran sejarah tentang tragedi bangsa, yang telah menelan begitu banyak jiwa orang yang tidak bersalah itu. Pelanggaran terhadap kemanusiaan yang besar-besaran dan telah menimbulkan ,kesengsaraan bagi begitu banyak orang itu perlu dibongkar, untuk dijadikan pelajaran bagi semuanya supaya jangan sampai terulang lagi. Kegiatan yang mulia ini adalah untuk kepentingan kita semuanya, dan bukan hanya untuk kepentingan satu atau beberapa golongan tertentu dalam masyarakat saja. Ini adalah adalah usaha kemanusiaan, demi tegaknya hak asasi manusia, demi ditemukannya rasa keadilan, dan demi kerukunan berbangsa dan bermasyarakat. Artinya, demi kita semua. Oleh karena itu, patutlah kiranya bahwa usaha GP Ansor ini mendapat dukungan dari pemerintah, dari partai-partai, dari lembaga-lembaga resmi maupun swasta, dari LSM dan organisasi-organisasi. Kerjasama yang erat dengan berbagai LSM atau organisasi seperti (antara lain!) : Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 65/66 (YPKP), Paguyuban Korban Orde Baru (Pakorba), Komite Advokasi Pembebasan Tapol/Napol (KAPTN), Lembaga Perjuangan Rehabilitasi Pegawai Negeri, Perhimpunan Purnawirawan AURI, Solidaritas Nusa Bangsa (SNB), Yayasan Hidup Baru, LBH dll akan membantu kelancaran kegiatan GP Ansor yang berkaitan dengan penelitian tragedi 65. (mohon ma’af kepada organisasi-organisasi yang tidak tercantum). Kerjasama yang erat antara berbagai golongan masyarakat dengan GP Ansor juga akan merupakan dorongan semangat untuk menuntaskan tugasnya di bidang ini, walaupun mengalami berbagai kesulitan. (Dalam kaitan ini patutlah dicatat bahwa ketika YPKP pada tanggal 16 sampai 18 November 2000 melakukan penggalian kuburan massal di dekat Wonosobo, 12 anggota Banser - bersama dengan 12 Satgas PDI-P - telah bertugas untuk ikut menjaga keamanan di sekitar lokasi. Ini adalah manifestasi yang indah yang mencerminkan perpaduan nalar yang sehat). PEMBUNUHAN ADALAH PELANGGARAN HAM DAN DOSA

Bagian lain yang menarik, dan juga penting, dari pernyataan GP Ansor Yogya itu adalah yang menyatakan “Kami juga menyampaikan permintaan maaf kepada para keluarga korban tragedi 1965 itu. Di mana pun posisi Banser saat itu, pembunuhan adalah pelanggaran HAM dan itu dosa. Dan, kami selaku keluarga besar GP Ansor dan Banser menyatakan permintaan maaf setulus-tulusnya," kata Nuruddin. Kalimat ini mencerminkan kedalaman berfikir yang menyejukkan hati banyak orang, terutama bagi puluhan juta orang, baik sanak-saudara (jauh dan dekat) para korban, maupun masyarakat luas yang selama ini masih merasakan adanya luka-luka lama yang belum sembuh. Ungkapan pimpinan GP Ansor itu memperkuat apa yang pernah diucapkan oleh Gus Dur yang juga minta ma’af kepada para anggota keluarga para korban pembunuhan 1965. Jelaslah kiranya bahwa anggota keluarga para korban pembunuhan 65, yang jumlahnya amat besar dan tersebar di seluruh negeri itu, menyambut pernyataan semacam itu dengan perasaan lega. Pastilah banyak di antara mereka itu yang merasakannya sebagai obat pelipur lara, sesudah puluhan tahun menanggung duka berkepanjangan. Apalagi dengan adanya penegasan bahwa “ di mana pun posisi Banser saat itu, pembunuhan adalah pelanggaran HAM dan itu dosa”. Kalimat yang tegas dan jelas seperti ini berhak untuk mendapat penghargaan dari semua orang yang menjunjung tinggi rasa kemanusiaan dan juga prinsip-prinsip keagamaan. Bahwa kalimat semacam itu datang dari kalangan angkatan muda Islam juga merupakan harapan bahwa pesan yang terkandung di dalamnya dapatlah, kiranya, untuk selanjutnya akan menyebar secara luas dalam masyarakat. Dengan makin tersebar-luasnya dasar pemikiran yang semacam itu, maka hilanglah (atau, setidak-tidaknya, berkurang) kekuatiran akan terjadinya konflik horizontal yang berdasarkan atas kepicikan nalar. Tersebarnya pemikiran semacam itu akan memberikan sumbangan besar untuk meletakkan dasar-dasar bagi tercapainya rekonsiliasi nasional, yang didambakan oleh sebagian terbesar rakyat kita, dan yang sangat diperlukan untuk perbaikan kehidupan bangsa kita. KEBENARAN SEJARAH ADALAH URUSAN KITA SEMUA Adalah juga satu hal yang penting untuk dicatat bersama bahwa “program meluruskan sejarah tragedi 1965 yang sedang dilaksanakan GP Ansor DIY (Yogya) merupakan program jangka panjang. Artinya, Pimpinan Wilayah GP Ansor tidak memberikan batas waktu harus selesai kapan. Pekerjaan ini bukan pekerjaan yang mudah. Selain membutuhkan akurasi data, juga dana yang tidak sedikit “ tutur Nuruddin (pimpinan GP Ansor). Ini menunjukkan keseriusan sikap organisasinya dalam menangani masalah yang penting ini bagi sejarah bangsa kita. Sebab, setelah pembiusan fikiran yang dilakukan oleh Orde Baru selama puluhan tahun, dan setelah pemanipulasian sejarah tentang peristiwa 1965 dengan berbagai cara, maka pekerjaan untuk mencari kebenaran sejarah tidaklah mudah. Kebenaran sejarah ini hanya bisa ditegakkan melalui kerjasama yang tulus dari banyak fihak. Dan karena skala persoalannya adalah demikian besar; maka diperlukan waktu yang panjang dan beaya yang besar pula. Dan, oleh karena masalah pembunuhan besar-besaran tahun 65 ini menyangkut nasib atau kehidupan puluhan juta orang, dan berkaitan dengan usaha untuk menuntaskan reformasi, maka inisiatif GP Ansor untuk pelurusan sejarah tragedi 65 ini perlulah didukung secara luas. Menegakkan kebenaran sejarah tidaklah dapat dipikulkan kepada satu atau dua golongan saja. Dan untuk mencapai hasil yang sebaik mungkin, perlulah kiranya sebanyak mungkin orang ikut memberikan sumbangan, dalam berbagai bentuk dan cara. Untuk itu perlulah diciptakan suasana dan syarat-syarat sehingga para korban, para aktor, para saksi, para nara sumber, dapat bersuara secara sebebas-bebasnya, tanpa rasa takut atau kuatir apa pun Dengan mempraktekkan semangat seperti yang sudah diungkap oleh pimpinan GP Ansor Yogya itu, maka dapatlah diharapkan bahwa, pada akhirnya, penelitian terhadap tragedi 65 itu akan menyembuhkan luka-luka lama, menghilangkan rasa permusuhan atau dendam, dan menjembatani kerukunan serta kerujukan antara berbagai golongan bangsa. Penegakan kebenaran sejarah adalah untuk menumbuhkan rasa keadilan. Dan rasa keadilan inilah yang selama puluhan tahun sudah diinjak-injak oleh sistem politik Orde Baru. Singkatnya, dan padatnya, dengan semangat atau “jiwa” yang terkandung dalam sikap GP Ansor Yogya itu, maka trauma karena peristiwa 65/66, yang selama ini menjadi penyakit laten dalam kehidupan masyarakat, akan bisa disembuhkan secara gotongroyong dalam semangat persaudaraan yang menyegarkan hati semua fihak. Dan, kalau sudah begitu, maka akan bisalah kita bersama-sama bersorak-sorai untuk merayakan kemenangan perikemanusiaan di bumi Indonesia. Paris, musim dingin, 29 November 2000 *) Penulis adalah, sampai September 1965, pemimpin redaksi suratkabar Harian EKONOMI NASIONAL (Jakarta), anggota pengurus PWI Pusat periode kongres 1963, dan anggota Sekretariat Persatuan Wartawan Asia-Afrika. Sekarang tinggal di Paris). "Menyingkap Kabut Halim 1965"

x-URL Omar Dani puji Megawati 'habis-habisan' Laporan Charles M Siahaan Date: Selasa, 30/1/2001, 19:53 WIB satunet.com - Wapres Megawati Sukarnoputri adalah orang yang berjasa dalam perjuangan dalam melawan kezaliman, teroris, tirani, kerakusan dan kemunafikan. Hal ini diutarakan Omar Dani mantan KSAU yang dibebaskan pada tanggal 16 Agustus 1995 akibat dianggap terlibat dalam makar G 30 S/PKI pada peluncuran buku tentang kisah hidupnya yang berjudul "Tuhan, pergunakanlah hati, pikiran dan tanganku" dan ditulis oleh Bennedicta A Surojo. Pada peluncuran buku yang berlangsung di Balai Sudirman, Selasa, Omar Dani menyatakan, buku tentang kisahnya diberikan pertama kali kepada Mega karena sifatnya yang keibuan, sabar, pendiam dan anggun. Sifat Mega tersebut sering menimbulkan rasa iri terhadap manusia yang berambisi mendapat kedudukan yang tinggi. Selain Mega, Omar Dani juga menyerahkan buku tersebut kepada KSAU Marsekal Hanafie Asnan sebagai orang yang dianggapnya sangat peduli kepada kemajuan TNI AU sebagai institusi. Sementara itu Bennedicta dalam bukunya mengatakan bahwa ihwal keterlibatan Omar Dani dalam peristiwa G 30 S/PKI sebagaimana stigma yang ia tanggung selama ini merupakan perdebatan yang belum selesai. Bahkan peristiwa G 30 S/PKI belum juga jelas. Menurutnya setiap saat masih akan muncul perdebatan yang panjang mengenai G 30 S/PKI ini, ia juga menjelaskan bahwa Omar Dani hanyalah korban pemegang kekuasaan saat itu. [jar] "Menyingkap Kabut Halim 1965"

x-URL Omar Dani Singkap Kabut G30S/PKI Reporter: Rizal Maslan detikcom - Jakarta, Mantan KSAU Omar Dani meluncurkan buku “Tuhan Pergunakanlah Hati, Pikiran, dan Tanganku”. Dalam buku tersebut, Omar Dani membeberkan misteri G-30 S/PKI yang menyudutkan dirinya terlibat di dalamnya hingga mesti meringkuk di tahanan. Peluncuran buku tersebut dilakukan di Balai Sudirman, Jakarta Selatan, Selasa (30/1/2001) malam. Hadir dalam peluncuran buku itu KSAU Marsekal TNI Hanafie Asnan. Buku setebal 372 ditulis oleh Benedicta A. Surodjo dan Jmv. Soeparno. Sedangkan penerbitnya yakni Lintas Inti Nusantara. Buku tersebut merupakan hasil pikiran Omar Dani selama berada di tembok penjara. Di buku tersebut, Omar Dani membeberkan perjalanan karirnya selama aktif di AURI. Diceritakan juga ikhwal keterlibatan Omar Dani dalam G 30 S PKI yang hingga kini masih gelap siapa dalangnya.(iy) x-URL KSAU: Buku Omar Dani Merupakan Pemutihan TNI AU Reporter: Rizal Maslan detikcom - Jakarta, Kepala Staff Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Hanafie Asnan menyebut buku Omar Dani yang berjudul "Tuhan Pergunakanlah Hati, Pikiran, dan Tanganku," sebagai salah satu buku putih bagi TNI AU. "Buku itu bisa merupakan salah satu pemutihan bagi AU. Tapi kita menyerahkan kebenarananya pada masyarakat. Karena generasi muda sekarang sudah lebih terbuka dalam menentukan mana yang benar mana yang tidak," kata Hanafie saat menghadiri peluncuran buku tersebut di Balai Sudirman, Jakarta Selatan, Selasa (30/1/2001) malam. Kemudian Hanafie menyatakan pihaknya telah membentuk tim advokasi untuk menindaklanjuti personil AU yang dirugikan dalam kasus G30 S/PKI. Hanafie juga mengaku bangga Omar Dani telah memberikan pertanggungjawaban lewat buku tersebut. Dia yakin fakta dalam buku itu merupakan kebenaran. Nmaun begitu dikatakan TNI AU tidak akan pernah memberikan pernyataan bahwa TNI AU tidak terlibat dalam G 30 S PKI. "(Pernyataan) itu harus dari luar TNI AU," kata dia. KSAU lantas juga menyatakan tidak perlu khawatir, fakta yang diungkap Omar Dani tersebut akan menimbulkan konflik di tubuh TNI. (iy) "Menyingkap Kabut Halim 1965"

Omar Dani:

Buku "Pergunakanlah Hati, Tangan dan Pikiranku: Pledoi Omar Dani" adalah satu dari sekitar seratus buku tentang G30S. Jelas buku ini penting karena ditulis oleh salah satu pelaku utama. Setelah dibungkam selama 29 tahun, baru kali ini bekas pucuk pimpinan Angkatan Udara itu bicara. Ia baru dibebaskan dari penjara Cipinang pada tahun 1995 -fotonya baru belakangan ini dipajang di Markas besar AU sebagai KSAU kedua. Daned, begitu ia disapa, lahir di Solo pada 1924. Putra KRT Reksonegoro, Asisten Wedana Gondangwinangun, Klaten, menapaki karir penerbang pada akhir 1950 di Taloa, Amerika Serikat. Tahun 1956 ia bertugas belajar di Royal Air Force Staff College di Andover, Inggris. Pulang dari Inggris, ia terlibat dalam berbagai tugas, misalnya menumpas pemberontakan PRRI di Sumatera. Dan belum genap 38 tahun, pada 19 Januari 1962, Omar Dani menjadi Menteri/Kepala Staf Angkatan Udara menggantikan Laksamana Udara Surjadi Suryadarma. Peristiwa G-30-S seperti menjungkirbalikkan karirnya yang cemerlang, ia dituduh terlibat. Dua hari setelah merayakan ulang tahun yang ke-77, bapak lima anak ini menerima tim redaksi TEMPO. Wawancara berlangsung di rumahnya, di kawasan Kebayoran Baru yang asri, ia didampingi oleh A. Andoko, bekas deputi Men/Pangau bidang logistik. Berikut petikannya: Bisa Anda ceritakan situasi pada tanggal 30 September 1965? Tanggal 30 September 1965, sore jam 16.00, laporan pertama masuk dari Letkol Udara Heru Atmodjo, Asisten Direktur Intel AURI, bahwa ada gerakan di lingkungan AD yang akan menjemput jendral AD untuk dihadapkan kepada Bung Karno. Itu reaksi dari para perwira muda AD yang tidak puas terhadap keadaan AD. Lalu saya minta dia untuk mengecek kebenarannya. Kemudian jam 20.00 malam dia datang lagi. Apa yang disampaikan Heru Atmodjo? Saya tanya jam berapa operasi akan dilakukan. Heru menjawab (operasi bisa terjadi) jam 23.00 (30 September), bisa 01.00 atau jam 04.00 (1 Oktober 1965). Kami heran, sudah kurang 24 jam kok (operasi) itu belum dipastikan jamnya. Kemudian ada yang menanyakan daftar yang akan diculik. Disebutkan, A. Yani, Nasution, DI Panjaitan dan seterusnya. Saya pribadi berpendapat, kalau orang hendak melakukan pemberontakan, pantasnya targetnya adalah jenderal yang memegang komando, misalnya, Yani (Menpangad), Soeharto (Pangkostrad), Sarwo Edie (Komandan RPKAD), Umar Wirahadikusumah (Pangdam Jaya). Lha Nasution kan nggak pegang komando. Saya pribadi tambah merasa aneh karena Nasution dan A. Yani dalam satu paket sasaran, padahal keduanya bertentangan terus. Lalu keesokan paginya, Mayor Soejono datang melaporkan pembunuhan terhadap para jenderal, tapi Anda masih beristirahat. Bagaimana detilnya?

Soejono itu komandan resimen Pasukan Pertahanan Pangkalan. Bahwa dia itu punya hubungan dengan PKI dan Latief, saya tidak tahu sama sekali. Baru dalam sidang Mahmilub soal tersebut ditanyakan. Saya jawab, saya nggak kenal Latief. Sebagai Menpangau, yang saya kenal ya paling-paling Umar Wirahadikusumah. Wakilnya Umar saja saya tidak tahu. Apa pertimbangan di balik keluarnya perintah harian Menpang/KSAU pada tanggal 1 Oktober 1965? (Andoko menjawab pertanyaan ini: Ada tiga macam pengumuman waktu itu. Pertama surat perintah harian tadi, lalu kedua pada tanggal 2 Oktober 1965 jam 14.00, saya yang buat. Pada saat itu Menpangau berada di Lanud Iswahyudi, Madiun. Beliau juga membuat konsep kelanjutan dari pengumuman pertama. Kalau dibaca keduanya sama isinya: menolak adanya Dewan Revolusi. Omar Dani dari Madiun langsung kembali ke Bogor, ketemu Bung Karno, dan menunjukkan pengumuman itu. Tanggal 3 pagi dinihari baru diumumkan). Saya membuat statement, isinya mendukung gerakan yang antirevolusioner, atas saran Heru Atmodjo. Katanya agar rakyat tahu. Kebodohan saya mungkin, karena saya kurang ngerti politik. Tahu-tahu paginya, sekitar jam 07.00 pada 1 Oktober 1965, ada siaran dari RRI tentang gerakan yang menamakan diri G-30 S. Dan tiba-tiba Presiden Soekarno mau pulang ke istana pun tak bisa. Yang menjaganya pasukan yang ditakuti, pasukan yang tak diketahui. Kenapa Bapak membuat pernyataan seperti itu? Karena semalam sebelumnya, intel AURI melaporkan bahwa malam itu ada gerakan dari perwira-perwira muda AD terhadap atasannya yang didukung seluruh bawahan dan sipil dari empat angkatan. Lho untuk apa? Ternyata akan menculik jenderaljenderal. Bagaimana awalnya Bung Karno berada di Halim hari itu? Pagi itu saya sedang ada di Halim Perdanakusuma, tahu-tahu Letkol Soeparto, sopir dan ajudan BK menelpon saya. Dia menelepon dari rumah saya, Wisma Angkasa. Saya bertanya, Mas lha ini ada apa. Sudahlah nanti saya ceritakan, Bapak (Bung Karno) saya bawa ke Halim, jawabnya. Saya menawarkan diri untuk menjemput, dia bilang nggak usah. Saya nggak tahu kalau dia berada di Wisma Angkasa. Terus dia kembali ke BK, lalu BK pergi ke Halim. Jadi saya nggak minta BK datang ke Halim tetapi itu merupakan keputusan BK sendiri. Kemudian, karena BK hendak datang ke Halim, saya lantas mencoba menyetop pernyataan saya yang sudah terkirim ke Markas Besar AU. Begitu BK datang, di Halim kami mengobrol. Tak lama, datang Brigjen Soepardjo, datang sendiri menghadap BK. Lha, saya tahu Brigjen Soepardjo itu salah satu orang yang mengetahui dari gerakan dalam AD tersebut. Walaupun dia lain angkatan, dia itu anak buah saya di Komando Mandala Siaga. Soeharto dikabarkan menolak menghadap BK pada 1-4 Oktober 1965, itu merupakan suatu keanehan ataukah tidak? (Terdiam sesaat) Kalau Harto dipanggil nggak datang itu bukan keanehan lagi. Itu artinya menentang atasan, apalagi atas perintah Panglima Tertinggi. Ini artinya subordinasi. Kalau dipanggil Pangti harus datang, apapun situasinya. Jawaban Harto waktu itu karena AD sudah kehilangan banyak jenderal, jadi dia nggak mau mengambil risiko lagi. Tetapi saya pikir tetap nggak boleh. Kalau A. Yani meninggal, katanya dia terus hendak mengambil alih Panglima AD juga, padahal tidak bisa dilakukan begitu saja. Banyak analisa yang menyebutkan bahwa Soeharto terlibat dalam G-30 September? Bagaimana menurut Anda? Kilas baliknya lebih kentara lagi. Misalnya Komando Siaga Mandala, wadahnya Koti (Komando Tertinggi). Dalam hirarki kemiliteran, waktu A Yani dijadikan Menpangad, Nasution itu sebenarnya pingin menjadi Menhankam/Pangad. Tetapi saya tahu maksudnya dia ingin berkuasa di AD. Itu sudah saya lihat gelagatnya sedari 1945. Jadi kita tahu misalnya di AURI ada peristiwaperistiwa pengganjalan. Peristiwa Soejono 1955 di Halim Perdanakusuma, Pak Suryadarma (Panglima AU pertama) diganjal terus ketika hendak dibentuk Wakil KSAU. Para jenderal dikorbankan oleh siapa? Dua orang. Soeharto dan Nasution. Itu sudah ada rekayasa. Kok tahu-tahu muncul istilah G-30S/PKI. Sejak kapan kok terus PKI disangkutkan? Buktinya apa? Heru Atmodjo, Soejono, nggak pernah menandatangani pernyataan Dewan Revolusi. Ketika Letkol Untung jadi saksi dalam persidangan Soepardjo, hakim menanyakan siapa yang memimpin aksi G-30S, Untung langsung menyahut: saya. Keanehan yang lain soal pengumuman Dewan Revolusi 1 Oktober, bahwa pangkat di atas Letnan Kolonel harus dicopot menjadi Letkol. Brigjen Soepardjo, waktu 1 Oktober 1965 pergi ke Halim menghadap BK, memakai pangkat Brigjen. PKI dikorbankan juga? Oh, iya. Gambaran seperti pesta-pesta di Lubang Buaya itu isapan jempol. Kalau memang ada rekamannya, mengapa nggak dibuat film khusus dokumenter dan diputar. Itu semua rekayasa. Saya mempertanyakan, mulai kapan kok ada istilah G-30-S diembeli dengan PKI ? Tanggal 1 Oktober 1965 petang, saya sudah mendapat informasi bahwa AD menguber PKI. Itu pun yang diuber bukannya massa, tapi pasukan 454 dari Jawa Tengah. Mereka pada jam 16.00 hendak masuk ke Halim tetapi ditutup oleh Pasukan Gerak Tjepat (PGT) AURI yang dipimpim Pak Wisnu Djajengminardo. Bung Karno ada di Halim waktu itu. Menurut Anda, apakah PKI sama sekali tidak terlibat dalam G30S? PKI itu tidak punya kekuatan bersenjata. Kira-kira, sebagai analisa dari Syam Kamaruzaman, tentunya Syam bilang kepada Aidit, "Daripada kita (PKI) melatih orang mahal, kan sudah ada ABRI. Kita pengaruhi saja mereka. Kan gampang." Sementara, saya duga, Aidit-nya yang tidak punya pengalaman segera menyambar, "Benar juga, ya." Kalau menurut saya, itu bisa terjadi, cara berpikir gampangan begitu. Lalu TNI dipengaruhi, kenyataannya memang begitu. Di mana letak keterlibatan CIA dalam pembunuhan para jenderal tersebut ? Apakah terdapat dalam peran Syam Kamaruzaman, yang membelokkan perintah penangkapan menjadi pembunuhan? Latief mengaku demikian ketika diwawancarai TEMPO beberapa waktu lalu. Akibatnya Kol. Latief dan Brigjen Soepardjo kaget. Saya menjadi saksinya Soejono dan Soepardjo dalam Mahmilti, saya nggak tahu ada Heru atau tidak di situ. Soejono sendiri waktu di persidangan Mahmilub menuturkan ketika para penculik membawa mereka ke desa Lobang Buaya, mereka mengaku kaget kok pasukan dibawa ke tempat latihan seperti itu. Ada apa ini? Ngapain ini? Kok ribut-ribut di desa Lubang Buaya. Kata Kol. Latief, sebelumnya sudah beberapa kali ia melakukan pertemuan dengan Heru Atmodjo, lalu kemudian Mayor Soejono? Terus terang saya nggak pernah tahu kalau Heru Atmodjo itu punya hubungan dengan Latief atau berkumpul dengan orang PKI di rumah Latief. Saya nggak pernah tahu, apalagi Syam Kamaruzaman. Heru tidak pernah melaporkannya. Dan kalau dia misalnya bergaul dengan orang PKI, yang namanya orang intel ya begitu. Bukankah dia sebagai intel harus masuk ke manamana. Soal dokumen Gilchrist, sejauhmana otentitasnya? Desas-desus Dewan Jenderal sudah lama kami mendengarnya. Tidak hanya itu, (juga soal) penilaian pers luar negeri (mengenai siapa) yang akan menjadi pengganti Bung Karno. Yang steady itu empat orang. Soebandrio, Chaerul Saleh, Nasution dan DN Aidit. Dewan Jenderal (terdengar) pertama kali ketika Yani menghadap Bung Karno dan ditanyai soal itu. Yani menjelaskan (Dewan Jendral itu) untuk kepangkatan. Waktu itu saya tidak mendengar langsung melainkan dari Pak Mulyono Herlambang yang mewakili saya. Jadi, saat pembahasan Gilchrist tersebut saya tidak ada di tempat. Dalam buku Soebandrio yang tidak jadi beredar, ada soal trio Soeharto-Ali Moertopo-Yoga Soegama yang disebut Dokumen Gilchrist sebagai our local army friends. Bagaimana pendapat Anda?

Bahwa G-30-S itu suatu rekayasa, memang begitulah. Menurut saya CIA itu sangat terlibat, dan Harto adalah tangan yang dipakai. G-30 S itu bikinan Harto. Indikasinya apa saja? Pada waktu itu, nggak ada jenderal di Indonesia yang bisa membuat suatu operasi intelejen yang begitu canggih seperti G-30-S yang sampai sekarang belum ada titik terangnya. Yani itu termasuk yang dikorbankan, seperti para jenderal itu. Kalau melihat ambisi Soeharto, apakah (saat itu) tidak ada upaya-upaya untuk menghentikannya? Dari mana pun. Dari AU tidak bisa, karena berlainan angkatan. Kalau dari AD sendiri? Kelihatannya pengaruh Harto itu besar sekali. Entah karena uang atau kekuasaan. Anda loyalis Sukarno ya? Oh, ya. Saya Soekarnois. Saya bukan komunis. Tetapi saya juga tidak antikomunis. Kenapa? Karena kalau saya anti komunis itu berarti saya bukan demokrat. Kalau ada PKI memberontak terhadap pemerintah, lha saya akan menghantamnya. Tapi apa betul di AURI banyak yang masuk PK? Amerika menganggap juga begitu. The Indonesian Air Force communist invested up to senior commander. Berarti dari bawah sampai ke atas. Bagi saya sikap tersebut biasa saja karena orang yang tidak mengekor kepada Amerika sejak 1950-an mulai dicap komunis. Jadi BK ingin netral, non aligned, itu dicap amoral. Soal keikutsertaan prajurit AURI ke PKI, mungkin secara rahasia. Kami (para petinggi) tidak tahu. Apakah itu karena Anda sangat toleran kepada PKI, karena tidak anti komunis? Berkali-kali saya mengatakan tentang Nasakom. Di pers tidak diambil intinya persatuan kesatuan, tetapi komunisnya. Di RRC ada politik Komisar dari partai yang kuasa sekali dan tentara. Kalau antri beli karcis di bioskop ada yang menyelonong, ya ditempeleng di depan orang banyak. Para anggota militer nggak berani terhadap anggota politik Komisar. Nah, andaikan Nasakomisasi yang dimaksud oleh Bung Karno itu berarti memerintahkan agar anggota ABRI ikut partai politik. Di mata angkatan berarti perintah. Saya nggak takut anak buah menjadi komunis atau sebaliknya menjadi ultra Islam, atau ultra nasionalis. Sekarang ini bisakah Anda gambarkan dengan kalimat singkat tentang Soeharto? Dia tidak mau ada orang di atasnya. Dan dia orang yang punya sifat kejam dan pendendam. Ambisius. Saya perhatikan, karena saya juga orang Jawa Solo, Harto itu kalau bersalaman posisi tangannya seperti membuat orang menunduk. Arah jari-jarinya ke bawah. Lain dengan cara bersalaman kebanyakan yang berposisi sejajar. Mau tak mau orang yang bersalaman dengannya pasti berada dalam posisi bawah. Apa saja yang dilakukan di penjara, mungkin hobi berkebun, beternak? Oh nggak. Karena kalau di penjara Nirbaya dulu ada yang beternak, (maka) harus setor ke POM atau CPM ketika lebaran tiba. Memang tidak berupa upeti, melainkan mereka meminta 10-20 ekor ayam dibeli dengan harga di bawah harga pasaran. Melihat itu saya jadi malas. Apalagi Bandrio yang nggak suka beternak. Waktu di sana, dia lebih suka baca-baca Qur'an. Saya sendiri nggak belajar ngaji. Apalagi saya sama sekali nggak bisa baca huruf arab. Waktu (Baharuddin) Lopa suatu hari di tahun 1992, mengunjungi kami, dia menawarkan agar para napi bisa sholat Jumat bersama. Spontan Bandrio bersuka, "Mau-mau Pak." Ketika ditanyakan kepada saya, saya jawab, "Lho, bukannya suka atau tidak. Melainkan soalnya boleh atau tidak boleh." Karena faktanya dari dulu kami nggak boleh (mengikuti sholat Jumat bersama). Apa kegiatan yang rutin tiap hari saat ini? Ngobrol-obrol, baca-baca buku. Yang dulu-dulu saya baca tetapi belum sempat dibaca karena ditahan, sekarang saatnya. Misalnya Di Bawah Bendera Revolusi saya sudah punya satu set. Juga Indonesia Menggugat. Yang saya cari sekarang pidato Bung Karno di forum PBB. Saya tidak pernah membaca buku-bukunya Harto, pun buku Nasution. Karena saya sudah tahu dan bergaul dengan mereka. Saya tidak menilai orang dari apa yang dikatakan tetapi dari tindakan. Dari karakternya. **** "Dan Mereka Kini Bersaksi…"

X-URL: NO. 48/XXIX/29 Jan - 4 Feb 2001 Laporan Khusus Para sosok sejarah akhirnya berbicara. Selasa besok, mantan Kepala Staf Angkatan Udara, Omar Dani, akan meluncurkan bukunya untuk memberikan kesaksian pada peristiwa G30S, sementara mantan Wakil Perdana Menteri Subandrio berbicara melalui sebuah buku yang kemudian dimusnahkan penerbitnya. DI DALAM buku sejarah, nama-nama itu bukanlah pahlawan. Omar Dani, Untung, Latief, Aidit, Subandrio, dan seterusnya dalam sejarah versi Orde Baru adalah sosok gelap. Melalui Buku Putih, film Pengkhianatan G30S-PKI karya Arifin C. Noer, dan kampanye total selama 32 tahun, Orde Baru menciptakan sebuah sejarah yang kita kenal: Gerakan 30 September 1965 adalah perbuatan terkutuk Partai Komunis Indonesia, dan mereka yang terlibat (beserta keluarganya) layak diganjar hukuman seberatberatnya. Kini, nama-nama gelap itu mulai menggeliat, bergerak, berbondong-bondong membuka mulut dengan suara parau mencoba memberikan kesaksian. Adalah Omar Dani, mantan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU), yang dituduh melakukan makar terhadap pemerintah Indonesia, yang akan meluncurkan buku kesaksian, Selasa besok di Balai Sudirman. Bukunya yang berjudul Tuhan, Pergunakan Hati, Pikiran dan Tanganku, setebal 300 halaman, adalah kesaksian Omar Dani pertama kalinya di depan publik luas setelah berdiam diri selama 30 tahun. Suasana bahagia itu sungguh tentunya kontras dengan isi hatinya di malam Natal 1966, ketika lelaki ini divonis hukuman mati di mahkamah militer. Kita masih ingat bagaimana berbagai harian menampilkan foto sang komodor yang berperawakan gagah, tegap, berkumis lebat mirip bintang film Omar Sharif itu digiring. Karirnya hancur lebur. Dan kini, dari sepasang bibir yang ringkih itu, meluncurlah kesaksiannya yang akan memperkaya sekitar 110 judul buku, yang sebelumnya ditulis pengamat asing, tentang tragedi yang menewaskan enam orang jenderal dan seorang kapten di bulan September 1965 itu. Para korban Orde Baru, seperti Sekjen Gerwani Sulami dan Komandan Brigade Infantri I Jayasakti Kodam V Jaya Kolonel Latief, setahun silam sudah menerbitkan versinya. Pleidoi Omar terbitan PT Media Lintas Inti Nusantara itu ibarat jigsaw—

kepingan yang bisa melengkapi potongan kepingan-kepingan versi non-Orde Baru yang sudah-sudah—untuk lebih membantu pembongkaran misteri tragedi itu. Sebuah buku yang sesungguhnya juga berupaya memberi kesaksian tentang peristiwa G30S adalah buku mantan Wakil Perdana Menteri Subandrio, yang semula akan diluncurkan setahun silam. Sayangnya, naskah yang berjudul Kesaksianku tentang G30S itu tak jadi beredar akibat rasa takut penerbitnya (baca: Babad Sebuah Kitab). Omar Dani dan Subandrio bukan sembarang saksi. Keduanya adalah sosok yang dianggap dekat dengan Presiden Sukarno di tahun 1960-an. Hubungan kedua tokoh itu tidak terjalin akrab. Pada saat menjabat Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU), Omar Dani dikenal paling loyal membela gagasan Nasakom (nasionalis-agama-komunis). Omar Dani ingin menjadikan tiap prajurit sebagai ”kleine Sukarnotjes” (Sukarno-Sukarno kecil). Ia bukan seorang komunis, tapi ia tak membenci komunis. ”Saya seorang demokrat,” kata Omar Dani kepada TEMPO. Sesuai dengan jiwa Nasakom, pelajaran Marxis dimasukkan dalam kurikulum pendidikan Sekolah Komando AU. Singkatnya, loyalitas Omar Dani pada Sukarno luar biasa sehingga Sukarno menyebut Omar sebagai ”anak lanangku” (putra lelaki). Sementara itu, Subandrio dalam kabinet Sukarno adalah tokoh yang merangkap tiga jabatan strategis sekaligus: Wakil Perdana Menteri I, Menteri Luar Negri, dan Kepala Badan Pusat Intelijen (BPI), sehingga dia pun dianggap sosok yang dekat dengan Bung Karno. Fakta baru apakah yang dikemukakan buku Omar Dani yang menguak peran Soeharto dalam tragedi berdarah itu? Garis besar buku Omar sebetulnya sama dengan pleidoi yang dibacakannya pada malam 20 Desember 1966. Ia mengajukan bantahan seputar tuduhan keterlibatannya menyiapkan ”Lubangbuaya”. Toh, akhirnya Omar Dani diganjar hukuman mati, antara lain karena kesaksian yang memberatkan oleh dua orang anak buahnya, Letkol Udara Heru Atmojo, Asisten Direktur Intel AURI, dan Mayor Udara Sujono, Komandan Resimen Pasukan Pertahanan Halim Perdana Kusuma. Dalam versi Orde Baru, kedua nama itu, bersama Kolonel Latief, Brigjen Soepardjo, dan Letkol Untung, dianggap sebagai otak pembunuhan para jenderal. Untung menyebut bahwa nama Heru Atmojo ada dalam susunan Dewan Revolusi. Sementara itu, Mayor Sujono adalah kepala pasukan cadangan sandi Pringgodani, yang membantu Pasukan Pasopati dan Bimasakti pimpinan Lettu Dul Arief. Anggota pasukan Pringgodani inilah, menurut sejarah Orde Baru, yang diambil dari latihan-latihan yang ditempa di Lubangbuaya. Dalam sidang, Sujono dan Heru Atmojo menyatakan bahwa persiapan pasukan Pringgodani tersebut mendapat izin dari sang panglima, Omar Dani. Kisah versi Orde Baru itulah yang hendak diluruskan Omar Dani. Pertama, Omar Dani menekankan bahwa seluruh kesaksian anak buahnya dilakukan secara tertulis, dan tak sekalipun mereka nongol di mahkamah. Ia meminta berkali-kali agar anak buahnya dihadirkan, tetapi sidang menolak. Nah, saat Omar Dani mendekam di dalam Rumah Tahanan Militer (RTM) Budi Utomo, Jakarta, ia bertemu dengan Heru Atmojo, yang mengaku bahwa semua kesaksiannya itu palsu. ”Saya disuruh tanda tangan pada kertas yang telah bertuliskan demikian,” begitu penuturan Heru Atmojo seperti ditirukan Omar Dani. Kepada reporter TEMPO, Heru Atmojo bahkan mengaku bahwa ia berkali-kali diancam untuk ”di-Pulau-Buru-kan”. Lalu, bagaimana sesungguhnya kegiatan di Lubangbuaya? Omar Dani tak mengingkari bahwa ia memiliki gagasan pelatihanpelatihan sukarelawan. Tapi, menurut dia, pelatihan itu hanya sejauh pertahanan lapangan udara. Kala itu, AURI adalah suatu angkatan yang personelnya hanya berjumlah 18 ribu orang, sementara jumlah personel AD mencapai 300 ribu orang, AL memiliki 35 ribu orang, dan Kepolisian terdiri dari 124 ribu personel. Untuk mengatasi kekurangan itu, ia memiliki gagasan untuk melatih penduduk sekitar pangkalan AU agar warga desa bisa turut mengawasi orang yang keluar-masuk pangkalan, mencegah infiltrasi musuh dan kemungkinan demonstrasi. Ide ini disetujui oleh semua petinggi AU. ”Mereka dilatih menjadi semacam radar yang bisa mendeteksi, dan dilatih menggunakan senjata kalau terjadi bentrokan,” kata Laksamana Muda Udara (Purn.) Sri Mulyono Herlambang. Tetapi, sebelum ide ini terlaksana, Mayor Sujono, yang menjadi Komandan Resimen Pasukan Pertahanan Pangkalan, mendahului melakukan pelatihan. Tanpa sepengetahuan pimpinan, ia mengumpulkan orang-orang di Lubangbuaya, Pondokgede. Kegiatan ”tak resmi” ini terdengar oleh staf MBAU. Deputi operasi, Komodor Udara Ignatius Dewanto, yang menjadi atasannya. Pada Juli 1965, Mayor Sujono melapor kepada Omar Dani untuk memintanya melantik angkatan pertama. Omar Dani mengaku terkejut mendengar pengakuan Sujono bahwa yang dilatih adalah mayoritas anggota komunis. Sukarelawan komunis itu berjumlah 2.000 orang, unsur nasional hanya lima orang, dan tak ada satu pun wakil golongan agama. Omar Dani segera memberi instruksi agar anggota pelatihan dibuat lebih seimbang. Kepada reporter TEMPO, Kolonel Udara (Purn.) Wisnoe Djajengminardo, Komandan Wing Operasi 001 PAU Halim Perdana Kusuma, berkisah bahwa sekitar Juni-Juli 1965, ia sempat meninjau latihan-latihan pimpinan Sujono itu. Ia mengaku terkejut melihat para relawan yang berbaris dengan gaya pasukan Cina berdefile khas komunis, tangan di dada ditekuk tegap. ”Lo, kok koyok barise Cina kuwi (lo, kok cara berbarisnya seperti Cina),” demikian tanya Wisnoe dengan spontan. Sujono menjawab, ”Oh, enggak, Pak. Itu biar gagah saja.” Menjelang Agustus 1965, sebuah laporan masuk, yang menyatakan bahwa Mayor Sujono tetap banyak melatih komunis. Karena itu, Komodor Ignatius Dewanto memanggil Sujono. Dewanto memutuskan latihan harus ditutup. Tetapi, Sujono baru menutupnya pada 26 September. Omar Dani mengakui dalam pleidoinya bahwa ia teledor karena tidak mengontrol Sujono. Tapi, tampaknya soal keruwetan Sujono itulah yang dipelintir oleh Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub). Mahmilub menganggap bahwa sejak awal Omar Dani telah bekerja sama dengan kelompok Latief dan Untung cs melalui Sujono. Padahal menurut Omar Dani, ”Saya tidak kenal Latief sama sekali. Wakil Pangdam saja saya tidak tahu.” Ia juga menolak tuduhan Mahmilub bahwa ia dan Sujono telah lama menggodok rencana pembunuhan itu. Menurut Omar Dani, ia baru mengetahui rencana penculikan para jenderal menjelang peristiwa G30S. Syahdan, pada 31 September sore, Letkol Heru Atmojo datang tergopoh-gopoh ke kediaman dinas Omar Dani di Wisma Angkasa, Kebayoran Baru. Heru Atmojo membawa informasi dari Mayor Sujono bahwa malam itu—tak diketahui pasti jamnya —akan terjadi penculikan para jenderal. Heru menyerahkan daftar nama kepada Omar Dani, tapi Omar Dani menganggap berita itu tak masuk akal. Jam delapan malam, Heru kembali lagi ke rumah Omar Dani, tempat empat petinggi AU sudah berkumpul, antara lain Komodor Udara Ignatius Dewanto, Komodor Udara Agustinus Andoko, dan Komodor Udara Leo Wattimena. Mereka bersepakat bahwa jika info itu benar, tampaknya itu merupakan konflik intern Angkatan Darat, dan AU tak akan mencampurinya. Ternyata info yang ”tak masuk akal” itu benar. Keesokan harinya, Omar Dani mendengar tentang peristiwa itu dari radio. Sayangnya, hingga saat ini belum ada kajian yang khusus tentang peran Mayor Sujono. Sejauh mana keterlibatannya dalam mempersiapkan tragedi tersebut? Sebuah artikel berjudul G30S, an Army Intelligence Operation, yang ditulis Heru Atmojo di buletin Tapol pimpinan Carmel Budiardjo edisi tahun 2000, mengatakan bahwa Sujono memang terlibat. Yang masih hilang dari kepingan sejarah ini adalah: bukankah Lubangbuaya ditutup pada tanggal 26 September. Secara logika, bisa saja orang luar selain sukarelawan Sujono yang memanfaatkannya. Jika kita merujuk pada kesaksian Bongkoes—serdadu Cakrabirawa yang menembak mati M.T. Haryono—kepada pers beberapa waktu lalu, saat Boengkoes datang ke ”Lubangbuaya” membawa jenazah M.T. Haryono, ia sama sekali tidak melihat adanya

kawanan sipil di sana. Boengkoes menyaksikan bagaimana tentara-tentara ini menembak jenderal-jenderal yang masih hidup. Pada titik inilah analisis kata ”PKI” setelah kata ”G30S” menjadi relevan. Faktor Sujono adalah yang membuat PKI dibawa-bawa dalam tragedi ini, karena banyak yang mengetahui bahwa sebelum tempat itu ditutup, Sujono melatih sebagian besar anggota komunis di sana. Padahal, ada lagi teori yang menganggap tragedi ini juga persoalan konflik intern Angkatan Darat. Bagaimana dengan Heru Atmojo? Ia menolak dituduh sebagai bagian dari PKI. Ia menolak bahwa ia ikut rapat-rapat PKI. ”Atmojo adalah intel. Jadi, mungkin saja ia menyusup ke mana-mana untuk mencari informasi, termasuk PKI, ” kata Omar Dani. Bagaimanapun, peran kedua orang ini masih misterius. Yang jelas, Omar Dani menyadari bagaimana akhirnya nama Sujono dan Heru Atmojo dalam waktu singkat dan secara sistematis sekaligus digunakan oleh Panglima Kostrad Soeharto untuk menghantam dan mendiskreditkan Angkatan Udara secara institusional. Indikasi pencitraan buruk terhadap AU bisa diketahui semenjak Sukarno berada di Halim Perdana Kusuma. Seperti telah tertulis dalam sejarah, pada 1 Oktober 1965, pasukan pengawal Istana meluncurkan Sukarno ke Halim Perdana Kusuma karena keadaan Jakarta yang mencurigakan. Dalam memoar Komandan Cakrabirawa Mangil Martowidjojo, Kesaksian tentang Bung Karno 1945-1967, disebutkan bahwa prosedur standar Cakrabirawa untuk menyelamatkan presiden adalah dengan membawanya ke Halim atau ke tempat kapal laut kepresidenan, Varuna I-II, berlabuh. Pada 2 Oktober, Sukarno memanggil KSAL Martadinata, Waperdam II Leimena, Jaksa Agung Brigjen Sutardio. Satu-satunya yang tak muncul adalah Pangdam V Mayjen Umar Wirahadikusumah, yang seharusnya bertanggung jawab atas keamanan Jakarta. Ternyata Soeharto tak memperbolehkan Wirahadikusumah datang ke Halim Perdana Kusuma karena ia menganggap Halim adalah sarang komunis. ”Itu sudah pembangkangan,” kata Omar Dani atas sikap Soeharto. Pembangkangan Soeharto berikutnya adalah sabotase pernyataan. Seharusnya, pada hari itu Sukarno juga mengirim pernyataan ke RRI yang intinya mengumumkan kepada rakyat bahwa ia selamat di Halim, dan tindakan selanjutnya akan ia tentukan kemudian. Tapi, pasukan Kostrad mencegah penyiaran pernyataan ini. Kemudian, RRI diambil alih oleh Kostrad. Peristiwa ini mengukuhkan teori bahwa Kostrad mendiskreditkan AU. Ketika itu Kostrad menyiarkan pengumuman-pengumuman yang menunjukkan kesatuan ABRI, tapi AU tidak disebut-sebut. Satu pembentukan opini masyarakat yang paling berhasil dari Kostrad adalah soal Lubangbuaya. Banyak orang tidak tahu bahwa ada dua tempat yang bernama Lubangbuaya. Lubangbuaya lokasi pembantaian adalah Lubangbuaya di daerah kebun karet Pondokgede, yang tidak termasuk wilayah Halim dan jaraknya jauh sekali dari Halim Perdana Kusuma. Di situlah lokasi pelatihan sukarelawan pimpinan Sujono. Sementara itu, Lubangbuaya yang sehari-hari dikenal warga AU di Halim adalah wilayah untuk ”dropping zone—pendaratan terjun payung”. ”Yang kami namakan Lubangbuaya itu adalah lapangan golf di Halim sekarang,” tutur Omar Dani. Tetapi, Kostrad menyebarkan opini itu sedemikian rupa sehingga lokasi pembantaian para jenderal tepat di wilayah AU. Yang mengagetkan, ”Lubangbuaya” Pondokgede ini sesungguhnya tanah milik Angkatan Darat. ”Tanah tempat pembunuhan itu milik Kodam. Kebun karet yang sekarang untuk monumen itu adalah wilayah AD sendiri,” tutur Sri Mulyono Herlambang. Alhasil, masyarakat dibelokkan sedemikian rupa sehingga seluruh rangkaian keanehan itu terasa sebagai kekuatan yang rapi untuk meruntuhkan AU. BUKU Subandrio, berjudul Kesaksianku tentang G30S, merupakan analisis pascaperistiwa. Yang menarik dari seluruh buku sebenarnya adalah pengakuan Letkol Untung kepada Subandrio—saat mereka sama-sama ditahan menjelang Letkol Untung dieksekusi mati. Menurut Subandrio, dalam buku tersebut, sesaat sebelum pelaksanakan penculikan, ia datang kepada Soeharto melaporkan rencananya. Soeharto mengatakan sikap itu sudah benar. ”Bagus kalau kamu punya rencana begitu. Sikat saja, jangan ragu-ragu,” demikian kata Soeharto menurut Letkol Untung, yang kemudian dikisahkan kembali oleh Subandrio. Malah, menurut Letkol Untung, Soeharto menawarkan bantuan pasukan. ”Kalau perlu bantuan pasukan, akan saya bantu. Dalam waktu secepatnya akan saya datangkan pasukan dari Jawa Timur dan Jawa Tengah.” Informasi lain yang baru dari naskah Subandrio ini adalah perihal keberadaan Soeharto pada malam sebelum pembunuhan itu. Besar kemungkinan, Soeharto pada malam 30 September itu tengah aktif mem-briefing pasukan-pasukan misterius yang akan berangkat ke Lubangbuaya. Teori ini didapat dari kejanggalan keterangan Soeharto sendiri dalam buku biografi Soeharto. Dalam buku itu, Soeharto berkisah bahwa setelah menjenguk Tommy di rumah sakit, ia menyetir sendirian pulang ke rumah. Di perjalanan dia melihat pasukan tak dikenal. Sesampai di rumah, ia terus tidur. Baru pukul lima pagi, ia dibangunkan oleh tetangga yang mendapat berita soal pembunuhan. Ini kisah yang janggal. Bagi Subandrio, sebagai panglima tak mungkin dia tidak dikawal. Dan adalah janggal bila seorang panglima tak mengusut bila melihat ada pasukan yang tak dikenal. Subandrio mencurigai bahwa malam itu sesungguhnya Soeharto menginap di Makostrad. Di situ ia mempersiapkan pasukan yang berangkat ke Lubangbuaya. Benarkah demikian? Satu-satunya saksi yang bisa menjawab mungkin adalah Umar Wirahadikusumah, karena sebagai panglima, seharusnya dia mengetahui siapa saja yang hadir di Makostrad. Sayang, Umar tidak bersedia menjawab kejanggalan ini. Dia mempersilakan TEMPO membaca biografi Umar Wirahadikusumah, Pengabdian Seorang Prajurit, karya Solichin Salam. Dalam buku itu, ada alibi bahwa malam itu ia tak tahu apa-apa. Ditulis di situ, malam itu ia kehilangan semua informasi atas perkembangan terakhir Jakarta. Penyebabnya adalah karena Wakil Kepala Bagian Intel Kodam V Jaya, Mayor Suganda, adalah anggota PKI. Segala laporan intel diputus olehnya dan tidak diteruskan ke atasan sehingga Umar mengaku tak mengetahui perkembangan situasi terakhir. Bisa dipercayakah keterangan Umar? Itu yang jadi pertanyaan. BAGAIMANAPUN, para sejarawan yang sudah membaca naskah yang belum diterbitkan ini menganggap analisis Subandrio harus dibaca dengan sikap kritis. ”Latar belakang Subandrio harus diperhatikan. Tadinya dia Dubes Inggris dan orang PSI yang dekat dengan Sjahrir dan Soejatmoko. Tapi, untuk naik jenjang, dia tega ”membunuh” temannya. Dia berambisi menjadi presiden. Karena itu, sangat sulit melihat pendapat Subandrio dengan kacamata jernih,” demikian tutur Anhar Gonggong, sejarawan LIPI. Bagaimanapun, baik kesaksian Omar Dani maupun Subandrio—yang masih dalam perbaikan data—mungkin akan membuka sejumlah pertanyaan baru tentang sejarah yang selama ini hanya dibentuk oleh penguasa. Sejarah selalu berhasrat untuk diluruskan. Oleh David Johnson, 1976 [Oktober 1995 catatan dari David Johnson: Ini adalah kertas yang saya tulis pada tahun 1976. Hal ini disajikan di sini dalam versi aslinya. Ini ditulis untuk mendorong penyelidikan Kongres masalah oleh Komite Gereja pada saat itu. Makalah ini beredar pribadi tetapi tidak pernah dipublikasikan. Ini mungkin memiliki beberapa manfaat abadi. Komentar dan kritik dipersilakan. Sebagai bukti bahwa subjek masih relevan, harap perhatikan kutipan baru saja dibuka:

"Dari sudut pandang kita, tentu saja, sebuah usaha kudeta yang gagal oleh PKI mungkin perkembangan yang paling efektif untuk memulai pembalikan kecenderungan politik di Indonesia." Kemudian Duta Besar AS untuk Indonesia Howard Jones 10 Maret 1965 Kepala Konferensi Misi, Baguio, Filipina Dikutip dalam Audrey R. Kahin dan George McT. Kahin, "Subversion sebagai Kebijakan Luar Negeri: The Secret dan bencana Eisenhower Dulles di Indonesia," 1995, p.225] David T. Johnson Pusat Informasi Pertahanan 1500 Massachusetts Ave. BL Washington DC 20005 202-862-0700 djohnson@cdi.org (* "Lagu Dua" adalah nama yang diberikan untuk operasi rahasia CIA di Chili dilakukan pada musim gugur 1970 di arah Presiden Nixon Tujuannya adalah untuk menggunakan semua cara yang mungkin untuk mencegah Allende dari asumsi kepresidenan.. Pengetahuan dari Track Dua sangat erat diselenggarakan Departemen Luar Negeri, Departemen Pertahanan, Duta Besar Amerika di Chili, dan Komite Empat puluh tidak diberi.. Jalur Dua sebagian bertanggung jawab atas pembunuhan Jenderal Schneider, Kepala Staf Angkatan Darat Chili yang menentang upaya lainnya perwira militer ke panggung Track kudeta. Dua gagal dalam tujuannya pada tahun 1970 analogi lain untuk peristiwa bahasa Indonesia adalah Teluk Tonkin kejadian dan api Reichstag..) Pengantar Makalah ini menyajikan garis awal dari suatu penafsiran baru dari peristiwa di Indonesia pada tahun 1965 yang mencapai klimaks dalam upaya "kudeta" dari 1 Oktober dan tindakan Gerakan 30 September (GESTAPU). Dikatakan bahwa Gerakan 30 September tidak suatu tindakan dengan "progresif" atau tidak puas menengah tingkat perwira militer, atau makhluk dari Partai Komunis Indonesia (PKI), juga bukan dirangsang oleh Presiden Soekarno. GESTAPU adalah instrumen langsung di tangan Jenderal Suharto (dan mungkin Nasution Umum) [1995 catatan dari David Johnson: hari ini aku akan menghapus referensi ke Nasution] dan kemungkinan besar ciptaan Badan Intelijen Pusat untuk tujuan "menyelamatkan Indonesia dari Komunisme "dalam situasi putus asa. GESTAPU melayani fungsi penting dari memberikan alasan yang sah untuk pemusnahan drastis PKI. Ini dihitung untuk menempatkan kendali kekuasaan dengan cepat ke tangan Soeharto dan Soekarno untuk menempatkan dalam posisi terbatas. GESTAPU bekerja. Ini mungkin adalah operasi rahasia paling sukses bahwa CIA telah pernah dilakukan. Partisipasi CIA dalam GESTAPU - nya "sidik jari di pistol" - cant dibuktikan kecuali Kongres menggali keras untuk menemukan kebenaran, seperti yang dilakukan sebagian dalam kasus Chile. Koneksi CIA hipotesis karena tampaknya hasil logis dari kebijakan AS terhadap Indonesia dan karena kecanggihan relatif dan kompleksitas operasi GESTAPU. Karena kontak erat antara Angkatan Darat Indonesia dan Departemen Pertahanan AS penasehat dan menempel ada kemungkinan bahwa beberapa personel ini juga terlibat. Hal ini tidak dipertahankan bahwa tesis makalah ini adalah tentu benar atau terbukti. Harapan penulis adalah untuk menunjukkan bahwa hal itu cukup masuk akal bahwa penelitian lebih lanjut di sepanjang garis-garis ini akan dilakukan oleh mereka yang lebih berpengetahuan daripada dia dan bahwa mereka dalam posisi untuk melakukan sesuatu tentang hal itu akan mulai melihat ke dalam catatan resmi rahasia. Tesis ini disajikan tanpa banyak lindung nilai, tetapi penulis menyadari bahwa banyak dari fakta ia menggunakan yang terbuka untuk sejumlah penjelasan alternatif. Tentu saja, banyak "fakta" yang dalam sengketa. Ini draft pertama mengasumsikan beberapa pengetahuan pada bagian pembaca dari peristiwa dasar dari waktu dan dari kontroversi penafsiran yang ada. Tidak ada usaha khusus yang dibuat di sini, namun, untuk membantah teori-teori alternatif. Hanya sebagian dari bahan pendukung diindikasikan. Peristiwa 1 Oktober 1965, di Indonesia dan asal mereka benar-benar dapat disebut "teka-teki dibungkus dalam sebuah tekateki ~ Tidak ada konsensus di antara mahasiswa Indonesia tentang." Penjelasan yang benar ". Semua teori yang ada telah mengartikulasikan kritik mereka dan masuk akal Mungkin mayoritas ulama Indonesia berhati-hati. telah meninggalkan pencarian untuk penjelasan. GESTAPU adalah teka-teki yang sangat rumit di mana potongan pernah cocok bersama, bentuk mereka selalu berubah, dan potongan baru terus muncul. Di zaman sebelumnya tak bersalah, menghubungkan ke CIA peran kausal yang signifikan dalam urusan internasional adalah perusahaan jelek di mana sebagian besar analis profesional jarang terlibat. Dengan wahyu beberapa tahun terakhir, bagaimanapun, hambatan pada penelitian yang serius dari kegiatan CIA telah agak rusak. Kita juga tahu jauh lebih banyak daripada yang kita lakukan sepuluh tahun lalu tentang jangkauan operasi CIA dan cara kerja CIA. Dalam banyak kasus, termasuk Indonesia, kita masih tahu sedikit tentang apa sebenarnya CIA selama bertahun-tahun. Namun lebih dari sebelum kita dapat merasa aman di tanah berpikir bahwa CIA aktif. Ini bukan CIA pengkambinghitaman, sayap kiri propaganda, daya tarik konspirasi, atau pencarian untuk berpikiran sederhana solusi. Ini adalah upaya penelitian yang diperlukan dan penting yang harus dilakukan sebelum dapat serius ditolak. Tentu saja, kerahasiaan besar yang menyelubungi subjek tempat pembatasan substansial pada apa penelitian akademik normal dapat dicapai. Tulisan ini didasarkan pada contoh pertama membaca penulis dari Studi Penelitian baru-baru dirilis CIA "Indonesia-1965:. The Coup bisa menjadi bumerang" Penulis juga telah membaca hampir semua tersedia dalam bahasa Inggris di Perpustakaan Kongres pada peristiwa tahun 1965. Sumber bahan utama yang belum diperiksa, kecuali seperti yang dijelaskan dalam sumbersumber sekunder, adalah tubuh besar catatan pasca 1 Oktober interogasi terhadap tahanan yang ditahan oleh Tentara Indonesia dan catatan dari berbagai uji coba yang telah digelar. Tidak diragukan lagi wawasan baru dapat berasal dari bahan-bahan. Pengetahuan penulis Indonesia pada umumnya relatif jarang, meskipun ia telah mengunjungi negeri dan menghabiskan beberapa

waktu di tahun-tahun sebelumnya mempelajari perkembangan politik Indonesia. Tulisan ini adalah produk dari satu bulan penelitian yang sangat intensif pada peristiwa tahun 1965 serta beberapa pemeriksaan terbatas penelitian tentang CIA. U. S. Penilaian Indonesia Pada beberapa titik di 1964 atau 1965 (mungkin akhir 1964) memburuknya hubungan AS dengan Indonesia dan drift kiri bangsal Indonesia telah pergi begitu jauh bahwa AS menghadapi kebutuhan untuk meninjau kembali kebijakannya terhadap Indonesia dengan mata ke arah mengadopsi kebijakan baru . Howard Jones, Duta Besar Amerika pada saat itu, telah menggambarkan penilaian yang sangat pesimis resmi betapa buruk hal-hal telah mendapat dari sudut pandang Amerika. Ewa dan Guy Pauker Pauker di RAND telah menggambarkan proyeksi jangka pendek pengambilalihan PKI dan pesimisme tentang kemampuan Angkatan Darat Indonesia untuk membalikkan arus tampaknya tak terelakkan dari peristiwa. Jones menunjukkan bahwa sejumlah pertemuan penting yang diadakan di mana kebijakan AS terhadap Indonesia adalah ulang, dimulai di Departemen Luar Negeri pada Agustus 1964 setelah pidato Hari Kemerdekaan Sukarno, pernyataan yang paling antiAmerika sampai saat itu. Para Maret 1965 pertemuan tahunan kepala misi AS diadakan di Filipina dengan Averell Harriman dan William Bundy, juga penting. Ellsworth Bunker, wakil pribadi Presiden Johnson, menghabiskan 15 hari di Indonesia pada April 1965 mengevaluasi situasi. Ada diragukan lagi rahasia lainnya dan pertemuan mungkin lebih penting di mana kebijakan AS telah dimasukkan bersama-sama. AS tampaknya telah menghadapi enam pilihan dasarnya berkaitan dengan Indonesia: 1. Sebuah kebijakan tangan-off terus sama seperti sebelumnya, membiarkan hal-hal yang hanyut. (Tentu saja, AS tidak pernah pasif terhadap Indonesia dan ini hanya dapat dicirikan sebagai kebijakan lepas tangan kontras dengan pilihan lain.) Hasil kemungkinan akan bahwa Indonesia akan pergi Komunis. Tampaknya telah dekat perjanjian resmi bulat pada keniscayaan pengambilalihan komunis di Indonesia jika kecenderungan yang ada terus. Negara yang paling penting di Asia Tenggara akan hilang. Upaya AS untuk menyelamatkan Vietnam (pemboman Vietnam Utara dimulai pada Februari 1965) mungkin akan frustrasi dan seluruh Asia Tenggara akan terancam. Jelas, ini adalah pilihan yang tidak dapat diterima. 2. Cobalah untuk mendapatkan Sukarno untuk mengubah kebijakan jelas nya terkemuka Indonesia terhadap pemerintahan Komunis. Kedutaan bawah Duta Besar Jones telah mengejar kursus ini selama bertahun-tahun, dengan sedikit keberhasilan (di mata Amerika). Sukarno telah dibuat lebih dari jelas tekadnya untuk melanjutkan bangsal kiri drive-nya, baik di dalam negeri dan kebijakan luar negeri. Sebagian besar pejabat Washington menyerah Soekarno dan banyak setuju bahwa "Sukarno telah pergi." Beberapa diidentifikasi dia sebagai "kripto-Komunis." Opsi ini hanya bisa dijalankan. 3. Hilangkan Soekarno. Rupanya ini dianggap, namun ditolak. Konsekuensi akan terlalu terduga. Partai Komunis dan afiliasinya begitu besar dan begitu luas tertanam dalam masyarakat Indonesia dan kehidupan politik yang bahkan tanpa adanya perlindungan Soekarno, mereka mungkin bisa bertahan dan makmur. Upaya untuk pergi setelah PKI dalam keadaan seperti itu mungkin akan mengakibatkan perang saudara yang sangat tak terduga dan berbahaya mana Amerika Serikat, sibuk dengan Vietnam, tidak dalam posisi untuk menangani. Bahaya yang membunuh Sukarno bahwa mereka yang mungkin diidentifikasi dengan itu akan didiskreditkan karena popularitas besar Sukarno di Indonesia, yang upaya untuk melemahkan selama bertahuntahun telah mampu mengguncang. Menyalahkan pembunuhan di sebelah kiri tidak akan kredibel karena aliansi dekat antara Soekarno dan Komunis. PKI tidak akan memiliki motif yang masuk akal untuk seperti tindakan. Sebuah diatur "alami" kematian bagi Sukarno akan meninggalkan PKI sebagai kekuatan yang sangat penting di Indonesia, dan mungkin sebagai penerus logis. 4. Mendorong Angkatan Darat Indonesia untuk mengambil alih pemerintahan. Kedutaan telah mendorong opsi ini selama bertahun-tahun dengan beberapa keberhasilan tetapi tanpa mencapai tujuan akhir. Perpecahan dalam Angkatan Darat telah mencegah setiap langkah eksplisit seperti untuk tanggal dan tampaknya ada hambatan lain pada pengambilalihan militer langsung. Tentara secara keseluruhan masih mau bergerak langsung melawan Sukarno. Sukarno tekad untuk menolak setiap perluasan lebih lanjut dari peran Angkatan Darat jelas. Bahkan, ia berbuat banyak untuk mencoba untuk "menjinakkan" dan melemahkan Angkatan Darat sebagai kekuatan independen, anti-Komunis. Bahkan di saat terjadi kudeta Angkatan Darat, tanpa alasan yang kuat untuk cepat menghilangkan PKI dan sarana Sukarno mengendalikan, prospek perang saudara akan muncul untuk alasan yang sama ditunjukkan dalam Opsi 3. Sementara AS bisa terus menumbuhkan pejabat militer dan mencoba menjadi kaku mereka "tulang punggung," pengambilalihan Angkatan Darat melalui semacam kudeta tidak akan menyelesaikan masalah di Indonesia. 5. Cobalah untuk melemahkan PKI dan mendapatkan Komunis untuk mengambil tindakan yang akan mendiskreditkan diri mereka sendiri dan melegitimasi penghapusan mereka. (Opsi 6, fabrikasi seperti mendiskreditkan, adalah varian dari pilihan ini.) Langkah semacam ini juga akan mengharuskan bergerak melawan Sukarno sebagai ia mungkin tidak akan pernah mengizinkan Angkatan Darat untuk bertindak tegas terhadap PKI tidak peduli seberapa pantas PKI mungkin muncul menjadi. Berbagai upaya terselubung yang dipasang untuk mencoba merusak reputasi dan memprovokasi PKI untuk perilaku. Ini termasuk menghubungkan PKI dengan China, berusaha untuk menunjukkan bahwa PKI tidak benar-benar mendukung "Sukarnoisme" (BPS episode), dan pembuatan dokumen dan menghubungkan pernyataan provokatif untuk PKI juru bicara (dicetak dalam kertas non-Komunis). Tapi Sukarno membantu untuk menggagalkan upaya-upaya dengan melarang hampir semua kegiatan nonKomunis politik dan tekan. PKI berhati-hati untuk tidak pergi terlalu jauh dan tidak memberikan alasan untuk eliminasi nya. Sebagai Ketua PKI Aidit mengatakan, "Kami siap untuk mentolerir penghinaan dan ancaman Kami tidak akan terprovokasi.. Jika tentara meludah di wajah kami, kami akan bersihkan dan tersenyum. Kami tidak akan membalas." Opsi 5 terus-menerus mencoba tetapi tampaknya tidak akan bekerja. 6. Jika PKI tidak akan memberikan surat kematiannya sendiri, dengan dalih untuk pemusnahan harus dibuat untuk itu. Pelaksanaan optimum opsi ini akan berfungsi untuk menghilangkan baik PKI dan Sukarno sebagai kekuatan dominan dalam kehidupan politik Indonesia. Pilihan ini tampaknya telah menjadi satu akhirnya dipilih, meskipun titik di mana komitmen untuk itu tidak bisa ditarik kembali sangat tidak pasti. Bagian dari pilihan lain, lain "trek" lanjut pada waktu yang sama. Latar Belakang 1 Oktober

Tidak diragukan lagi, unsur-unsur militer Indonesia (dan lainnya anti-Komunis kelompok) juga mempertimbangkan apa yang harus dilakukan tentang drift Indonesia terhadap pemerintahan Komunis. Itu sangat tidak mungkin, bagaimanapun, bahwa AS bisa duduk pasif dan mengharapkan bahwa Indonesia sendiri akan melakukan apa yang harus dilakukan. Analis Amerika tampaknya telah menyimpulkan bahwa tidak ada kelompok Bahasa Indonesia sendiri memiliki kemampuan dan kemauan untuk melakukan apa yang diperlukan untuk mencegah pengambilalihan komunis. Inisiatif Amerika dan kerjasama yang diperlukan. AS selama bertahun-tahun telah membangun hubungan yang dekat dengan banyak orang Indonesia, khususnya di Angkatan Darat. Bahkan, ini adalah esensi dari kebijakan AS terhadap Indonesia selama lima tahun atau lebih sebelumnya. Kebetulan kepentingan Angkatan Darat AS dan anti-PKI akan membuat alam, dan hanya merupakan kelanjutan dari pola yang sudah mapan, sebuah kolaborasi dan penyatuan sumber daya untuk melaksanakan cara terbaik yang tersedia untuk menghentikan PKI dan "menyelamatkan" Indonesia. CIA memberikan kolam keahlian dan kemampuan teknis untuk merancang dan melaksanakan manuver yang relatif canggih dan halus. Masalah kurangnya kohesi internal Angkatan Darat, seperti ditunjukkan dalam Opsi 4, tetap menjadi blok sandungan. Upaya yang dilakukan untuk mencapai kesatuan dalam bergerak melawan PKI (dan tentu Soekarno) tetapi meskipun jenderal kebanyakan setuju bahwa PKI harus pergi, beberapa petugas yang sangat penting - terutama Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Yani - tampaknya enggan untuk mengambil langkah-langkah yang akan sangat merusak Soekarno. Setelah kegagalan upaya untuk mengamankan kesatuan Angkatan Darat, AS dan para jenderal berkolaborasi (terutama Suharto dan Nasution) [1995 catatan: lagi, saya hari ini akan menghapus Nasution] memutuskan bahwa urgensi ancaman dan kebutuhan untuk tindakan yang cepat diperlukan bekerja sama dengan mereka yang bersedia. Hal itu diperlukan untuk bergerak meskipun tidak adanya kesatuan Angkatan Darat. Tindakan itu dilakukan untuk mencoba polarisasi politik Indonesia antara Komunis dan lain-lain, upaya itu diharapkan bisa memindahkan jenderal enggan ke sisi "benar". Surat Gilchrist tampaknya telah menjadi bagian dari upaya rahasia untuk merangsang ketidakpercayaan dan pertentangan antara Sukarno dan Jenderal Yani. Tampaknya, bagaimanapun, bahwa Jenderal Yani tetap sesuatu dari Soekarno-loyalis. Jenderal Yani telah menjadi dibuang dan mungkin ia berdiri di jalan apa yang harus dilakukan. The "Dewan Jenderal" rumor, sering dipandang sebagai hasil kerja PKI, mungkin merupakan elemen penting dari operasi CIA-Soeharto rahasia dalam mempersiapkan tanah untuk GESTAPU. Rumor melayani sejumlah tujuan yang berguna. Ini membantu untuk lebih meninggikan ketegangan dan ketidakpastian dalam kehidupan politik Indonesia. Ini berfungsi untuk merangsang ketidakpercayaan antara Sukarno dan jenderal tertentu bahwa CIA ingin istirahat dengan Soekarno. Ini khawatir PKI dan bahkan mungkin membuatnya mengambil langkah provocatory yang diharapkan. Hal ini memberikan fokus untuk perdebatan dan rumor bahwa mengalihkan perhatian dari yang nyata "konspirasi." Ini memiliki kemiripan untuk sesuatu yang benar-benar ada, Jenderal Yani "braintrust," dan dengan demikian menyediakan kelompok sasaran siap untuk operasi GESTAPU, korban masuk akal untuk "PKI" kekejaman. Rumor membantu untuk menciptakan iklim di mana orang akan menemukan GESTAPU setidaknya dangkal yang masuk akal, terutama segera pada tanggal 1 Oktober. Ada kepercayaan yang tersebar luas akan dalam ancaman kudeta Dewan Jenderal yang 'dan "tanpa disadari" orang (terutama para prajurit yang digunakan oleh GESTAPU pada tanggal 1 Oktober) akan bersedia untuk mengambil tindakan yang mereka mungkin sebaliknya pertanyaan. Para Jenderal Dewan rumor membantu untuk menciptakan sesuatu dari sebuah "lingkungan yang terkendali" di mana rangsangan yang direncanakan tertentu akan menghasilkan respon yang relatif diprediksi. Akhirnya, gosip itu merupakan bagian penting dari cerita sampul mengapa PKI mungkin diyakini telah mengambil tindakan yang akan dikaitkan ke sana. Eksploitasi terhadap rumor Sukarno kesehatan merupakan bagian penting lain dari penutup untuk GESTAPU. Sayangnya untuk cerita sampul, bagaimanapun, ternyata telah salah satu link lemah. Para pasca-1965 penjelasan mengapa PKI diduga dilakukan GESTAPU atribut peran besar untuk rasa takut yang diduga pada bagian dari PKI bahwa Sukarno akan mati. Dokter Cina yang diduga telah Aidit yakin tentang hal ini. Masalahnya adalah bahwa Sukarno cepat pulih dari sakitnya pada Agustus 1965 dan Aidit, yang terus-menerus kontak dengan Sukarno, memiliki lebih dari cukup waktu untuk mencari tahu tentang kesehatan Sukarno untuk dirinya sendiri dan untuk mematikan setiap rencana yang didasarkan pada kematian dekat Sukarno . (Para implausibility dari cerita ini dapat di account bagian untuk pertumbuhan teori bahwa atribut penulis GESTAPU ke Sukarno dan menempatkan PKI dalam peran subordinat. Bahkan pemerintah Soeharto tampaknya telah mengadopsi penjelasan "~.) Pada tahun 1965, namun , peredaran rumor oleh CIA-Soeharto kelompok disajikan untuk menciptakan iklim yang akan membuat masuk akal GESTAPU serta keterlibatan PKI di dalamnya. Itu tampak jelas bahwa Politbiro PKI mengadakan pertemuan pada Agustus 1965 di mana Sukarno kesehatan dibahas, serta Dewan Jenderal rumor, dan mungkin adanya "progresif" petugas. Apa yang sebenarnya dikatakan tentang mata pelajaran ini, bagaimanapun, adalah jauh dari jelas. Versi resmi Angkatan Darat, yang disajikan melalui "pengakuan," mungkin mengambil peristiwa nyata, kernel kebenaran, dan berputar mereka ke pola yang diperlukan. Sebuah pertanyaan yang sangat menarik adalah apakah kelompok Untung melakukan kontak dengan PKI, mungkin untuk mendapatkan PKI untuk secara langsung melibatkan dirinya atau setidaknya untuk mengambil tindakan yang nantinya bisa ditafsirkan sebagai "partisipasi dalam GESTAPU." Tampaknya mungkin bahwa komplotan GESTAPU akan menganggap hal itu berisiko untuk memperkenalkan orang yang tidak "tahu" dengan apa yang sedang terjadi. Bahaya akan sangat besar bahwa PKI akan curiga dan lulus informasi kepada Sukarno, yang akan menyelidiki. PKI selalu waspada terhadap "provokasi." Ada kemungkinan, bagaimanapun, bahwa beberapa isyarat samar GESTAPU disahkan untuk Aidit melalui sumber yang Aidit akan menemukan kredibel. Jika demikian, tampak bahwa Aidit menolak partisipasi PKI, meskipun bukti-bukti persidangan nanti. Sebuah sumber diabaikan informasi tentang hubungan, jika ada, antara PKI dan "progresif" GESTAPU petugas kelompok sebuah artikel oleh jurnalis kiri Wilfred Burchett yang awalnya diterbitkan pada bulan November 1965. Burchett, bergantung pada "orang Indonesia yang saya kenal memiliki hubungan dekat dengan pimpinan PKI dan yang lolos dari jaring militer di Jakarta," menyatakan bahwa PKI menerima "dokumenter" bukti adanya Dewan Jenderal pada bulan Agustus dan Sukarno informasi tentang hal itu. Burchett melanjutkan: "Pada akhir September, Kolonel Untung, kepala pengawal presiden, belajar dari kudeta yang direncanakan dari sumber independen Dia mendekati pemimpin PKI, antara lain, mengungkapkan apa yang telah mereka dikenal selama beberapa waktu,

dan mendesak tindakan bersama.. Untuk menggagalkan kudeta. Para pemimpin PKI dilaporkan ditolak atas dasar bahwa tindakan semacam akan "prematur" dan bahwa selama Soekarno tetap pada kemudi segala yang mungkin harus dilakukan untuk menjaga kesatuan, sementara semua elemen-elemen patriotik dalam angkatan bersenjata harus tetap waspada terhadap berurusan dengan kudeta dari atas. " Tentu saja, kita tidak punya cara untuk mengetahui apakah ini adalah apa yang terjadi tetapi mungkin. Latar belakang Letnan Kolonel Untung, tersangka pemimpin Gerakan 30 September, dan rekan-rekannya telah diperiksa oleh sejumlah ulama independen. Gambar yang muncul adalah bukan dari kelompok "progresif" atau perwira tidak puas, melainkan sekelompok perwira militer yang sukses dan profesional yang telah menunjukkan tanda-tanda anti-PKI pandangan, telah diberikan posisi yang sensitif di mana mereka dahulu dan sekarang afiliasi politik dan pandangan akan dikenakan pemeriksaan hati-hati, dan beberapa di antaranya - mungkin yang paling penting - baru-baru ini telah dilatih di Amerika Serikat (Brigjen Supardjo dan Kolonel Suherman) dan niscaya mendalam "diperiksa" oleh CIA dan intelijen pertahanan AS. Apa yang tampaknya untuk menghubungkan sebagian besar petugas GESTAPU bersama tidak "progresif" mereka, tetapi hubungan mereka, baik dulu dan sekarang, dengan Jenderal Soeharto. Orang peserta, khususnya di Angkatan Udara, tidak terangterangan terkait dengan Soeharto dapat dianggap CIA-Soeharto "aset" diaktifkan untuk memainkan peran mereka dalam skenario GESTAPU. Penetrasi dari Angkatan Udara dan Penjaga Istana oleh anti-PKI kekuatan Angkatan Darat (dan CIA) setidaknya sama masuk akal sebagai tingkat penetrasi dikaitkan dengan PKI. Kewaspadaan anti-PKI jenderal dalam menjaga pengaruh PKI keluar dari korps perwira mereka dikenal, seperti upaya untuk melacak dan menembus cabang yang lebih kiri dari layanan militer. Sebelum memeriksa apa yang terjadi pada tanggal 1 Oktober adalah penting untuk menyadari bahwa (jika tesis makalah ini benar) kita sedang melihat koleksi aktor dan urutan peristiwa yang disatukan terutama untuk menyelesaikan tugas yang sangat mendesak dan mendesak : mendiskreditkan PKI (dan sekutunya) sebagai dramatis dan cepat cara mungkin, dan imobilisasi faktor yang mungkin menyulitkan keadaan. Sementara beberapa pemikiran yang jelas diberikan untuk menutupi, diragukan bahwa upaya yang luas itu dimasukkan ke dalam membangun sebuah cerita sampul yang akan menahan dekat, pengawasan tidak memihak. Kemampuan peneliti Cornell, setelah hanya beberapa bulan penelitian menggunakan terutama bahan-bahan tertulis, untuk mengungkap kelemahan cerita sampul langsung adalah bukti kekasaran yang terkandung di dalamnya. CIA-Soeharto kelompok mungkin merasa bahwa, jika mereka bergerak cepat dan drastis yang cukup, ada sedikit kemungkinan bahwa upaya asing banyak akan dimasukkan ke dalam GESTAPU memeriksa secara rinci. Tentu saja bahasa Indonesia tidak akan ia dibuang untuk meningkatkan keraguan. Sebuah perbaikan tertentu penutup dan pembenaran atas tindakan itu, untuk sebagian besar, sudah diambil (pembunuhan ratusan ribu orang Indonesia) diberikan oleh "pengakuan" Aidit jelas palsu dan pengakuan dibuat dan pengadilan menunjukkan Njono. Untung juga diadili awal tahun 1966. Wartawan asing bahkan simpatik telah mengangkat pertanyaan tentang uji coba awal (tidak ada wartawan asing yang diizinkan untuk menghadiri dan hanya Indonesia yang dipilih). Kita tidak tahu pada titik apa pemerintah Indonesia mengetahui tentang studi Cornell dan bukti lain yang tampaknya cerita mereka tidak akan lebih dari luar negeri serta mereka harapkan. Tampaknya mungkin bahwa pengadilan Dani dan Subandrio terutama tonggak dalam kampanye untuk menghapus Sukarno dan bagian kurang dari cerita sampul GESTAPU. Itu adalah pengadilan Sudisman pada tahun 1967 dan bahwa Sjam tahun 1968 yang secara eksplisit dihitung untuk efek mereka pada skeptis asing. Tentu saja, Soeharto memiliki alasan lain juga untuk melanjutkan persidangan menunjukkan. Acara tanggal 1 Oktober Unit-unit militer utama yang terlibat di sisi gerakan 30 September secara resmi di bawah komando Jenderal Suharto KOSTRAD, Cadangan Strategis Angkatan Darat. Semi-resmi sejarah Indonesia Angkatan Darat GESTAPU menyatakan: "Baik Batalyon 454 dan 530 bersama dengan Batalyon Kudjong 328 dari Divisi Siliwangi berada di bawah komando operasi Brigade Para 3d Cadangan Strategis Angkatan Darat." Buku Tentara mengamati lebih lanjut bahwa "pasukan KOSTRAD yang tersebar di seluruh Indonesia, sebagai [sic] yang pada saat kudeta Jenderal Soeharto hanya memiliki Kudjava dc dan dc batalion Parakomando di sekitar Jakarta. KOSTRAD pasukan lain di 'sisi lain. '" Misi utama dari "kudeta" KOSTRAD unit adalah untuk mengambil posisi di sekitar Lapangan Merdeka penting, mengontrol Istana Sukarno, stasiun Radio Indonesia, dan fasilitas telekomunikasi sentral. Salah satu perusahaan tentara dari Penjaga Istana, Tjakrabirawa, dikatakan telah berpartisipasi, bersama-sama dengan unsurunsur KOSTRAD, dalam pembunuhan penculikan-dari enam jenderal Angkatan Darat. Letnan Kolonel Untung sudah sejak Mei 1965 komandan salah satu dari tiga batalyon Tjakrabirawa. Mengingat posisi Untung, partisipasi ini sangat mungkin, meskipun bisa saja memperkenalkan komplikasi yang mungkin tidak perlu ke persidangan. Brigjen Sabur, Komandan Pengawal Istana, memainkan peran yang sangat jelas dalam GESTAPU dan akibatnya. Meskipun dipenjara selama periode setelah 1965, ia telah dibebaskan dan tidak ada biaya telah dibawa melawan dia. Apakah Untung bisa bertindak tanpa sepengetahuan Sabur tidak pasti. Hanya beberapa pasukan Tjakrabirawa benar-benar diperlukan pada tanggal 1 Oktober, dan mereka bisa saja prajurit KOSTRAD di Istana seragam Garda. Kurangnya profesionalisme yang luar biasa dalam pelaksanaan dari "penculikan" membuat tidak mungkin bahwa "tanpa disadari" pasukan Tjakrabirawa memainkan peran penting. Peran mereka tampaknya telah membuat bahwa kontak pertama di masing-masing rumah korban. Pada dini hari 1 Oktober GESTAPU tentara pergi ke rumah tujuh jenderal. Tiga dari para jenderal, termasuk Angkatan Darat Jenderal Yani kepala, tewas segera dan tubuh mereka dan tiga jenderal lainnya dibawa ke sebuah tempat yang disebut Lubang Buaja (Lubang Buaya itu) di pinggiran Halim Air Force Base. Lebih dari 100 tentara mengepung rumah Jenderal Nasution tetapi dalam melarikan diri "dekat ajaib", Nasution berhasil lolos dengan memanjat tembok dan bersembunyi di semak-semak. Fiksi bahwa salah satu ajudannya ditangkap dan berhasil menirukan salah satu pria paling terkenal di Indonesia selama beberapa jam setelahnya (elemen penting dalam versi Penelitian Studi CIA peristiwa), tidak perlu teka-teki kita. Tidak ada hal seperti itu terjadi dan Jenderal Nasution itu dimaksudkan untuk "melarikan diri," (Penembakan terhadap putrinya, tampaknya oleh kecelakaan melalui pintu, tampaknya terlalu mengerikan telah menjadi bagian dari rencana GESTAPU, meskipun kematiannya dan pemakamannya sangat penting dalam mencambuk sampai kemarahan berikutnya melawan PKI Nasution. jauh dikomentari

"kemurungan" setelah 1 Oktober mungkin sebagian dijelaskan oleh penyesalan tentang tidak mengambil tindakan pencegahan lebih baik untuk melindungi keluarganya.) Jenderal Nasution, tokoh anti-Komunis terkemuka militer di Indonesia, harus berada di daftar korban GESTAPU. Ketidakhadirannya akan luar biasa. Dia tidak, bagaimanapun, suatu anggota Jenderal Yani "Dewan Jenderal." Fakta bahwa itu adalah Jenderal Soeharto, daripada Nasution yang lebih dikenal, yang mengambil pimpinan pasukan kontra-GESTAPU mungkin memiliki penjelasan yang rumit. Kita tidak tahu seluk-beluk hubungan Soeharto-Nasution. Penjelasan yang paling mungkin adalah bahwa penampilan langsung dari Nasution sebagai kepala dari upaya anti-PKI akan menimbulkan kecurigaan. Beberapa cerita telah Nasution disimpan "dilindungi" di tempat tersembunyi pada 1 Oktober dari 06:00 sampai 07:00 ketika ia akhirnya muncul di markas KOSTRAD. Laporan lain memiliki dia di markas KOSTRAD pada pagi hari tanggal 1 Oktober. Nasution diduga telah patah pergelangan kakinya di memanjat dinding, mungkin bagian dari cerita sampul untuk mengapa harus Suharto yang memimpin. Di antara "kesalahan" yang lebih luar biasa dari gerakan GESTAPU adalah kegagalan untuk mencoba untuk membunuh atau menculik dua jenderal di Jakarta yang memiliki komando operasional pasukan militer di daerah, Jenderal Suharto dan Jenderal Umar. Ruth McVey telah berkomentar tentang betapa luar kelalaian ini, mengingat fakta bahwa Kolonel Latief salah seorang anggota komplotan GESTAPU utama: "A. Latief menuju kekuatan mobile dari Divisi (Jakarta) Djaya dan telah memerintahkan serangkaian dari manuver pertahanan Interservice modal; ia pasti sudah tahu ketentuan dasar untuk keadaan darurat di ibukota ". Bahkan, Kolonel Latief tampaknya telah menjadi salah satu laki-laki Soeharto. McVey menyatakan: "Latief, juga perwira Divisi Diponegoro (divisi mantan Suharto), telah berjuang di bawah Soeharto selama revolusi; pada saat kampanye Irian ia berada di markas Komando Mandala di Ambone .... Dia ditugaskan ke KOSTRAD ; perintah-Nya pada saat kudeta, Brigade saya, adalah salah satu brigade infanteri KOSTRAD ". Latief, menurut Suharto sendiri, mengunjunginya pada malam 30 September di rumah sakit tempat Soeharto melihat anaknya sakit nya. Account lain telah Kolonel Latief membayar kunjungan ke rumah sakit militer pada pagi hari 1 Oktober dimana putri Nasution yang terluka telah dibawa. Jenderal Suharto dan Jenderal Umar bekerja erat bersama-sama hampir segera dari awal pada 1 Oktober dalam GESTAPU "mengalahkan". Satu jenderal yang seharusnya awalnya berada di daftar korban GESTAPU karena posisinya pada staf Jenderal Yani adalah Jenderal Sukendro. Dia di Peking pada tanggal 1 Oktober. Bahkan, Sukendro adalah rekan dekat Nasution dan memiliki reputasi seorang pria dengan asosiasi intim dengan militer Amerika dan CIA. Sukendro kembali dari Peking dengan kisah bahwa pada 1 Oktober pejabat China telah menunjukkan Indonesia daftar para jenderal dibunuh sebelum itu telah diumumkan. (Isyarat keterlibatan Cina dalam GESTAPU merajalela di bulan-bulan awal setelah 1 Oktober tetapi memudar apa-apa setelah tujuan mereka telah dilayani.) Apa yang sebenarnya terjadi di Lubang Buaja mana jenderal dibunuh dan ditangkap enam diambil dan akhirnya dibuang ke sumur tidak pasti. Mengapa mereka dibawa ke sana tampak jelas. Lubang Buaja, meskipun cerita yang "rahasia" pelatihan militer dari orang-orang PKI terjadi di sana, terkenal sebagai tempat di mana petugas Angkatan Udara sejak Juli telah melakukan pelatihan relawan untuk Konfrontasi Malaysia. Mereka dilatih termasuk pemuda dari kedua PKI dan organisasi lainnya. Pembunuhan cepat dari jenderal dan mereka mutilasi diduga oleh Komunis adalah inti dari skenario GESTAPU. Apakah ada orang-orang dari organisasi-organisasi komunis di Lubang Buaja hadir tidak pasti. Ada kemungkinan bahwa sukarelawan tanpa disadari telah dibawa ke sana untuk meminjamkan kehadiran mereka dalam persidangan. Ini bisa saja rumit namun. Itu cukup bahwa perbuatan pengecut dilakukan di tempat yang dikenal sebagai tempat pertemuan untuk pelatihan relawan PKI. "Confessions" bisa diproduksi kemudian. Ada beberapa indikasi bahwa jika, pada kenyataannya, ada "sukarelawan" hadir di Lubang Buaja pada pagi 1 Oktober mereka tidak harus dari organisasi PKI. Para saksi mata yang digunakan dalam studi Penelitian CIA menyatakan bahwa ada warga sipil berkerumun di sekitar tahanan berteriak "membunuh orang kafir," kata yang agak luar biasa bagi Komunis untuk mengucapkan. Akun tampak. setuju bahwa para jenderal hampir tidak dikenal, berdarah dan dipukuli, mengenakan piyama, dan ditutup matanya. Mortimer menyatakan bahwa, antara lain non-Komunis pemuda, orang-orang dari organisasi pemuda Ansor Muslim diperkirakan di Lubang Buaja untuk pelatihan pada tanggal 1 Oktober. Kita mungkin berspekulasi bahwa petugas GESTAPU ini mungkin telah mengatakan anti-PKI pemuda bahwa mereka telah menangkap pembunuh para jenderal. Siapa pun yang membunuh dan "dimutilasi" para jenderal, pembunuhan mereka melayani tujuan penting beberapa GESTAPU. Yang paling penting, itu bisa disalahkan pada PKI. Pembunuhan Jenderal Yani membuka jalan bagi Soeharto untuk mengambil alih kendali Angkatan Darat dan menerapkan wrap-up GESTAPU. Itu berdiri prosedur untuk Soeharto menjadi penjabat kepala Angkatan Darat kapan Yani tidak tersedia. Perilaku Soeharto pada 1 Oktober tampaknya bahwa seseorang yang segera menyadari bahwa Yani sudah mati. Kami menemukan tidak ada diskusi di rekening 1 Oktober upaya oleh Suharto untuk mencari dan menyelamatkan jenderal ditangkap sampai sore hari. Ia bertindak sangat cepat untuk mengambil alih. Dia menunjukkan tidak ada keraguan bahwa ketidakpastian dan ditandai hampir semua orang pada 1 Oktober. Pembunuhan para jenderal itu juga penting dalam menghambat Soekarno dari menyatakan mendukung Gerakan 30 September, bahaya yang bisa marah, tetapi skenario yang telah diperhitungkan. Fakta bahwa Lubang Buaja juga bisa terkait dengan Angkatan Udara (meskipun, bertentangan dengan kesan umum, dalam kenyataannya bukan terletak di Pangkalan Angkatan Udara Halim) juga berguna dalam memastikan bahwa Jenderal Dani dan Angkatan Udara tidak akan tergoda untuk melemparkan kekuatan militer mereka di belakang Gerakan 30 September. Setelah itu menjadi dikenal apa yang merupakan kejahatan besar telah dilakukan oleh GESTAPU "progresif" - pembunuhan politik sangat langka di Indonesia - tidak ada yang akan melompat pada band wagon dan mempersulit kegagalan direncanakan GESTAPU. Tentu saja, mendiskreditkan Angkatan Udara kiri dan Umum Dani adalah bagian dari tujuan GESTAPU. Ini adalah kemungkinan bahwa pembunuhan para jenderal itu disampaikan secepat mungkin untuk Soekarno sehingga ia tidak akan berpikir backing GESTAPU. Account memiliki helikopter terbang di atas Lubang Buaja, mungkin bagian dari Sukarno (atau Soeharto ~ s?) Upaya untuk memverifikasi benar-benar bahwa hal itu benar. Sukarno juga mungkin menceritakan bagaimana PKI itu terkait dengan pembunuhan. Pengetahuan awal bahwa Nasution mungkin telah "lolos" juga berfungsi untuk menghambat setiap dorongan untuk mendukung GESTAPU. Ketika pesan pertama dari Gerakan 30 September disiarkan melalui Radio Indonesia sekitar 7:00, diumumkan bahwa Sukarno

sedang dilindungi dan bahwa orang-orang terkemuka tertentu yang menjadi sasaran tindakan Dewan Jenderal 'juga telah diambil di bawah "perlindungan." Ini sebenarnya bagian dari sebuah aksi yang disengaja untuk mengontrol perilaku dan informasi yang tersedia untuk memimpin non-GESTAPU tokoh politik siapa, jika pada umumnya, bisa mengganggu skenario GESTAPU. Ketua PKI Aidit dibawa ke Halim sangat awal pada tanggal 1 Oktober. (Istrinya menyatakan bahwa ia diculik dari rumahnya.) Dani dibawa ke Halim. (Account berbeda tentang hal ini.) Soekarno dibawa ke Halim. Sebagian besar penasihat Sukarno, seperti Subandrio, Njoto, dan Ali Sastroamidjojo, tidak di Jakarta. Laporan memilikinya di jika mereka telah di Djakarta mereka berada di daftar orang yang akan "dilindungi." Meskipun ada beberapa kontak antara orang-orang di Halim, banyak waktu mereka ditempatkan terpisah dari satu sama lain dalam rumah yang berbeda dengan utusan GESTAPU akan kembali dan sebagainya. (Telepon telah dipotong di Jakarta Hanya Angkatan Darat memiliki sistem komunikasi darurat berfungsi..) Aidit secara khusus tetap "dilindungi" dari kontak dengan Sukarno. Dari akun Studi Penelitian CIA kita belajar bahwa "Aidit pasti didampingi oleh dua pengawal, yang tinggal bersamanya sepanjang hari dari 1 ketika ia berada di Halim dan yang menemaninya di pesawat pada penerbangan dari Halim ke Yogyakarta pada pagi hari dari 2. " Fungsi sebenarnya dari "pengawal" tampak jelas. (Sungguh luar biasa betapa sedikit peran, bahkan dalam catatan resmi, Aidit tampaknya telah memainkan di Halim dalam membimbing gerakan bahwa ia diduga telah bertanggung jawab untuk.) Kembali di Lapangan Merdeka, GESTAPU-KOSTRAD pasukan menduduki stasiun radio pada waktu yang sama bahwa para jenderal diculik. Penggunaan radio untuk menyiarkan serangkaian pesan hati-hati disiapkan adalah bagian penting dari operasi GESTAPU. Fakta bahwa Soeharto, terletak tepat di seberang alun-alun di markas KOSTRAD, tidak mengambil tindakan apapun sampai malam untuk menempatkan radio dari udara - meskipun ia mengatakan bahwa ia sangat cepat memutuskan bahwa sesuatu yang salah - curiga dan "dijelaskan" dalam versi resmi dalam hal keinginan Soeharto untuk menghindari kekerasan. (Toleransi Nya kepada tentara yang rupanya dibunuh atau diculik enam jenderal Angkatan Darat terkemuka luar biasa.) Bahkan, Soeharto sengaja menunggu untuk "merebut kembali" stasiun radio sampai pesan yang direncanakan selesai. Ini dia capai tanpa menembakkan tembakan. (Dalam keseluruhan peristiwa GESTAPU, termasuk di luar Jakarta, hanya segelintir orang tewas selain jenderal.) Karakteristik yang paling penting dari siaran radio pertama 07:00 GESTAPU di mana keberadaan Gerakan 30 September diumumkan adalah bahwa tidak jelas apakah GESTAPU pro-atau anti-Sukarno. Penciptaan sengaja ketidakpastian itu diperlukan dalam bagian sehingga untuk mencegah orang "tak terduga" dari melibatkan diri. Kenyataan bahwa nama Sukarno tidak dipanggil dalam mendukung GESTAPU, yang setiap upaya kudeta sayap kiri asli mungkin akan telah memalsukan jika diperlukan dalam rangka meningkatkan peluang untuk sukses, GESTAPU mungkin dibuat tampak agak anti-Sukarno. Penekanan untuk menjadi yang "di dalam militer" dihitung untuk mencegah siapa pun, terutama PKI, dari turun ke jalan dan mendapatkan di jalan. Pada dasarnya, dampak dari pesan PM 7 adalah untuk membingungkan orang-orang dan membuat mereka duduk masih menunggu pesan berikutnya. Dalam hal apapun, mengingat iklim rumor di Jakarta, GESTAPU bukanlah peristiwa tidak masuk akal, meskipun yang berada di belakangnya dan apa itu untuk mencapai tidak pasti. Aspek lain rupanya dihitung dari siaran radio pertama adalah pernyataan bahwa Dewan Revolusi akan dibentuk, dengan implikasi tersebut - yang nantinya dibuat sangat jelas - bahwa itu akan menjadi pemerintahan baru. Itu tidak sampai sore bahwa "berbagai agak aneh nama" pada Dewan Revolusi diumumkan. Indikasi penghapusan kabinet yang ada, Namun, tampaknya sebagian dimaksudkan untuk memberikan dasar pemikiran dan gloss legalitas bagi Jenderal Suharto untuk mengambil alih komando Angkatan Darat cepat tanpa konsultasi dengan Sukarno. Dalam membenarkan perilakunya setelah itu, Soeharto telah mengutip fakta bahwa GESTAPU telah menggulingkan pemerintah yang ada dan karena itu ia bebas untuk bertindak sendiri. (Salah satu kontradiksi dalam penjelasan pasca-1965 GESTAPU adalah bahwa jika kelompok Untung terutama yang bersangkutan untuk melaksanakan operasi terbatas untuk membersihkan Angkatan Darat terkemuka jenderal anti-PKI, mengapa perlu untuk menyisihkan pemerintah yang ada, memberikan operasi rasa jelas kudeta politik?) Bahkan istilah "Dewan Revolusi" mungkin telah dirancang sebagai sedikit lain dari debu dilemparkan di mata publik bingung. Rupanya waktu lalu bahwa "Dewan Revolusi" telah didirikan di Indonesia pada tahun 1956 dan 1957 ketika beberapa anti-PKI komandan pembangkang militer regional telah melakukannya. Meskipun pengumuman radio dari keanggotaan Dewan Revolusi yang baru, "sumber dari semua otoritas Republik Indonesia," tidak disiarkan sampai sekitar 14:00, kita akan membahasnya di sini. Tampaknya mungkin untuk membedakan beberapa fungsi untuk pesan ini. Keanggotaan lebih heterogen dan kurangnya-kilap tampaknya dihitung untuk mencegah orang dari rally untuk mendukung. (Jelas, sedikit, jika ada, non-militer anggota Dewan telah diberitahu sebelum tangan Sebuah pilihan yang lebih baik bisa saja dipalsukan jika menjamin keberhasilan "kudeta" benar-benar telah penting..) Yang tidak diketahui peringkat menengah petugas mengambil posisi teratas untuk diri mereka sendiri. Kepala non-Angkatan Darat jasa militer mencolok ditampilkan sebagai anggota Dewan, mungkin bagian dari rencana keseluruhan untuk mencegah pasukan militer yang tidak terkendali dari melibatkan diri dalam peristiwa GESTAPU. Menghubungkan kepala Angkatan Udara, Angkatan Laut, dan Kepolisian dengan GESTAPU akan memungkinkan untuk label setiap aksi militer yang tidak diinginkan oleh kekuatan-kekuatan sebagai bagian dari pemberontakan GESTAPU. Hal ini pasti berapa banyak perhitungan tambahan itu dimasukkan ke dalam daftar keanggotaan. Sejumlah pejabat dari organisasi-organisasi afiliasinya PKI termasuk, tapi tidak ada pemimpin PKI atas. Ini lagi akan mencegah keterlibatan PKI tidak direncanakan Kemudian analisis keanggotaan mengindikasikan kemungkinan bahwa CIA "ahli" pada komunisme mungkin telah menyusun daftar menurut perhitungan mereka "panggung" yang masuk akal yang "revolusi" di Indonesia telah tercapai. Pada Oktober 1965 The Washington Post menerbitkan sebuah kisah dengan Chalmers Roberts, tampaknya berdasarkan briefing CIA, yang mengatakan bahwa para pejabat AS dilaporkan memiliki bukti bahwa Sukarno, melalui kudeta, telah "dimaksudkan untuk mengubah negara ke dalam versi bahasa Indonesia dari Orang-orang Komunis 'yang Demokrasi. "" Kita mungkin menduga bahwa sebagai bagian dari merancang sebuah cerita penutup untuk GESTAPU ahli CIA mencoba untuk mensimulasikan jenis pemerintah bahwa PKI dan Sukarno (ternyata sedikit perbedaan dibuat) masuk akal mungkin telah diharapkan untuk mengatur jika kudeta pro-Komunis terjadi di Indonesia pada musim gugur 1965. Penelitian tahun 1968 CIA studi menyatakan bahwa "Dewan Revolusi adalah organisasi yang sempurna depan Komunis." Justus van der Kroef telah memberikan eksposisi yang paling luas dari tesis "Demokrasi Rakyat", di sepanjang garis dari pengalaman

Eropa Timur. Sebenarnya, menilai oleh suatu studi lebih berhati-hati contoh Soviet dan Cina, keanggotaan PKI di Dewan Revolusi itu terlalu terbatas dan komposisi Dewan jauh dari menjadi "sempurna" simulasi. (Studi Delapan tahun Penelitian CIA berisi upaya lebih beberapa amatir menunjukkan jejak ideologi Komunis China atau praktek dalam peristiwa GESTAPU, mencerminkan semangat zaman.) Perilaku Sukarno pada 1 Oktober, subyek banyak spekulasi di kemudian hari, tampaknya bahwa seseorang yang tidak yakin dari apa yang terjadi, tetapi waspada dan berusaha mati-matian untuk mendapatkan pegangan pada situasi. Para petugas GESTAPU tidak benar-benar menjaga tawanan di Halim Air Force Base - peran Jenderal Supardjo tampaknya telah bahwa penangan yang agak terampil Sukarno, menjaga berpura-pura GESTAPU - dan dia diperbolehkan untuk mengirim dan menerima pesan dan pengunjung dipilih . Sejauh mungkin, namun, informasi dan saran yang tersedia untuk Sukarno dikendalikan. (Penekanan kemudian Sukarno pada keberadaan-Nya di Halim kehendak bebasnya sendiri adalah dalam konteks histeria anti-PKI meningkat. Soekarno berjuang untuk tetap di bawah kontrol dan tidak ingin orang berpikir bahwa "PKI-GESTAPU" telah menculiknya .) Kita harus mengasumsikan bahwa CIA telah mempersiapkan penilaian psikologis Soekarno yang merupakan bahan dalam perencanaan operasi GESTAPU. Bagaimana akurat dan wawasan profil CIA mungkin telah kita tidak tahu. Mengingat obsesi Barat dengan kehidupan seks Sukarno dan gambar tidak bertanggung jawab dan irasionalitas yang telah dibangun sekitar dia, kita mungkin menduga bahwa penilaian itu tidak sangat berguna. Beberapa orang Amerika tampaknya telah dianggap Soekarno pengecut dan Howard Jones mengutip pandangan Washington, sekitar tahun 1958, bahwa Sukarno "tidak memiliki ketabahan usus untuk memesan militer Indonesia ke dalam tindakan karena akan membagi negara itu. Sukarno telah bekerja sepanjang hidupnya untuk mempersatukan negaranya, ia adalah orang terakhir untuk mengambil tindakan yang akan menghasilkan sebuah divisi yang mungkin tidak dapat ditarik kembali ". Pandangan Sukarno sebagai tidak bersedia untuk mengambil tindakan tegas dan memecah belah militer terhadap Indonesia lainnya bisa menjadi faktor dalam perencanaan GESTAPU. Kurangnya dari kekejaman Sukarno akan dieksploitasi. Salah satu indikasi jelas dari tidak adanya kolusi antara Sukarno dan para perwira GESTAPU, dan kesediaan mereka untuk mengabaikan dia ketika diperlukan, adalah kenyataan bahwa (menurut CIA Research Study) pada sekitar siang hari pada 1 Oktober Sukarno mengatakan kepada Brigjen Supardjo untuk menghentikan Gerakan 30 September. Namun, beberapa siaran radio penting belum dibuat, dan alasan untuk editorial yang memberatkan ternyata dibuat 2 Oktober Harian Rakjat akan dihancurkan jika Jenderal Supardjo segera berhenti GESTAPU. Tindakan GESTAPU terus di Jakarta sampai malam hari. Pada sekitar 1 siang pengumuman, atas nama Brigjen Sabur itu, disiarkan bahwa "Presiden Sukarno aman dan baik dan terus menjalankan kepemimpinan Negara." Hal ini tampaknya telah pernyataan asli dari Soekarno, dan tersirat penolakannya terhadap Gerakan 30 September. Soekarno tidak meninggalkan Halim sampai sekitar 8:30 ketika dia pergi ke Bogor, setelah gagal untuk mencegah Suharto dari Angkatan Darat mengambil alih. Selain siaran radio GESTAPU yang berisi rincian dari Dewan Revolusi, pesan sore hari penting lainnya adalah pernyataan dikaitkan dengan Jenderal Dani, Angkatan Udara Kepala Staf kiri, mengungkapkan dukungan bagi Gerakan 30 September. Ini disiarkan pada pukul 3:30 AM. Sarana yang memungkinkan ini "Perintah Harian" itu menimbulkan dari Dani, atau apakah itu dibuat, tidak pasti. Pernyataan itu membawa penanggalan 09:30, sebelum pesan radio Sukarno, meskipun sebenarnya tidak disiarkan sampai enam jam kemudian. Studi CIA komentar Penelitian tentang pesan ini "sangat buruk waktunya" Jenderal Dani: "Dua jam setelah Sukarno telah melakukan dirinya sengaja dihindari melalui radio Angkatan Udara Kepala Dani menjanjikan dukungan dari Angkatan Udara untuk kudeta." Keunikan dari ini ditekankan oleh fakta bahwa Dani dianggap menjadi orang yang diperhitungkan langkahnya turun sejalan dengan Soekarno. Rasanya mustahil bahwa Dani bisa mengambil suatu tindakan tanpa dukungan Sukarno. Mungkin dalam keadaan bingung dan dikendalikan di Halim GESTAPU petugas berhasil meyakinkan Dani sebelumnya pada hari bahwa Sukarno ingin dia mempersiapkan pro-Orde GESTAPU Hari untuk memiliki di tangan dalam kasus kebutuhan. (Kemungkinan fabrikasi lurus ada, walaupun penulis tidak menemukan pernyataan tegas untuk efek ini dengan Dani.) Dengan asumsi bahwa pesan Dani adalah bagian direncanakan skenario GESTAPU, tujuan itu, tentu saja, adalah untuk memberatkan Dani kiri dan Angkatan Udara dalam upaya kudeta GESTAPU dan pembunuhan para jenderal. (Pada hari-hari awal setelah 1 Oktober Soeharto tampaknya telah lebih tertarik pada memfitnah Angkatan Udara dari PKI. Setelah semua, Angkatan Udara memiliki senjata dan PKI tidak.) Pesan Dani juga membantu untuk meningkatkan kemasukakalan dari editorial sebuah surat kabar PKI mengungkapkan pandangan serupa pada hari berikutnya. Identifikasi awal dan tidak ambigu Dani dengan GESTAPU juga akan menghambat dia dari mengambil tindakan militer yang tidak diinginkan. Setelah siaran dari pernyataan Dani, hanya ada beberapa langkah yang tersisa untuk GESTAPU, kecuali untuk tindakan di Jawa Tengah untuk diperiksa nanti. Insiden lain yang memberatkan keterlibatan PKI dalam GESTAPU adalah munculnya dugaan akhir hari dekat Lapangan Merdeka dari Pemuda Rakyat (organisasi pemuda PKI) pemuda bersenjata dengan senjata Cina seharusnya diberikan kepada mereka oleh Angkatan Udara. Mereka dengan cepat dilucuti oleh unit dari Batalyon 530 KOSTRAD-GESTAPU yang sudah "bergabung" pasukan yang setia. (Mungkin kejadian itu diatur dalam bagian untuk menunjukkan bahwa unit KOSTRAD-GESTAPU tidak benar-benar buruk.) Ini sia-sia mempersenjatai pemuda "PKI" dengan senjata Cina ditandai bahwa tidak pernah digunakan adalah lain dari string hampir tak terbatas GESTAPU "kesalahan." Komentar Studi CIA Penelitian: "Senjata-senjata semua senjata kecil asal Cina, dengan merek dagang 'Chung' dicap pada mereka tentara Indonesia dikenal tidak memiliki senjata jenis yang Sama sekali tidak ada keraguan bahwa senjata tersebut.. milik Angkatan Udara Indonesia. " (Soeharto kemudian mengatakan telah dorong salah satu senjata "Chung" sebelum Sukarno sebagai bukti kejahatan GESTAPU.) Sementara analis CIA mungkin "tidak diragukan lagi," tampaknya lebih mungkin penjelasan lain. (Kisah pengiriman senjata Cina ke Indonesia telah tersebar luas setelah 1 Oktober tetapi bahkan Studi CIA, di tempat lain, pertanyaan akurasi mereka.) CIA dikenal memiliki toko besar senjata Cina pada saat ini, yang digunakan untuk berbagai tujuan, termasuk seperti "memberatkan" skema. Kejadian ini hanyalah bagian lain direncanakan dari upaya GESTAPU memberatkan PKI dalam GESTAPU dengan cara dramatis. Para pemuda mungkin telah tanpa disadari Pemuda Rakjat tapi itu bisa saja terlalu berbahaya dan tampaknya lebih mungkin bahwa mereka pemuda lain, atau mungkin bahkan tidak terjadi sama sekali.

Rupanya ada bersenjata anti-PKI pemuda di Jakarta sudah pada 1 Oktober yang memiliki beberapa ide tentang apa yang sedang terjadi. Donald Hindley telah menulis sebagai berikut: "1 Oktober adalah hari bahkan lebih membingungkan bagi warga sipil dari Jakarta .... Namun, sementara situasi masih ragu, beberapa warga sipil tidak mengambil tindakan untuk menggunakan Gerakan 30 September sebagai alasan untuk serangan publik pada Partai Komunis. "Dengan malam tanggal 1 Oktober, Muslim beberapa telah bertemu dan sepakat untuk membentuk Komando Islam Aksi Melawan Komunisme. Ini, awal, dan sangat sedikit aktivis adalah anggota HMI (Islam Universitas Student Association), PII (Islam Siswa Sekolah Tinggi), GASBIINDO (Muslim Indonesia Asosiasi Serikat Pekerja), dan Muhammadiyah, mereka semua organisasi yang berafiliasi dengan Masyumi sebelumnya. Para politisi hanya bersedia untuk terlibat pada hari pertama adalah Subchan, wakil-ketua NU dan, dalam banyak hal, atipikal kepemimpinan partainya Malam kelompok. melakukan kontak dengan kepemimpinan tentara, dalam pribadi Jakarta komandan Mayor Jenderal Umar Wirahadikusuma, yang setuju untuk memberi mereka senjata saja. lebih penting, Umar menyetujui pembentukan KAP-Gestapu (Front Aksi untuk Crushing dari Gestapu:.. Gestapu yang merupakan singkatan dari bahasa Indonesia untuk 'Gerakan 30 September') berencana untuk lebih sempit berbasis, khusus muslim Komando Aksi diam-diam turun Sudah, kemudian, pimpinan tentara telah disodorkan dorongan dan ( belum perlindungan kurang jelas terlihat) bagi mereka yang akan menjadi ujung tombak kampanye sipil terhadap PKI. " Jika ini benar, ini menunjukkan baik pengetahuanNya yang luar biasa (itu terjadi sebelum ada bukti hubungan PKI untuk GESTAPU telah diumumkan) atau, dalam penafsiran kita, bahwa tindakan GESTAPU adalah ciptaan CIA-Soeharto. Daftar organisasi yang terlibat pada tanggal 1 Oktober dibaca seperti daftar kelompok-kelompok sipil yang kemungkinan besar telah bekerja di bawah bimbingan CIA. Penggunaan anti-PKI siswa oleh Angkatan Darat setelah 1 Oktober dikenal. Penggunaan kelompok serupa di banyak negara juga standar CIA praktek. Penciptaan sangat awal KAP-GESTAPU dengan dukungan Angkatan Darat adalah bukti bagaimana dasar bagi eksploitasi berikutnya dari peristiwa GESTAPU dibaringkan benar dari awal, jika tidak sebelumnya. Sekitar 07:00 pada tanggal 1 Oktober Angkatan Darat telah merebut kembali stasiun radio Indonesia dan di 20:45 pengumuman disiarkan bahwa "kontra-revolusioner" Gerakan 30 September telah menculik sejumlah jenderal, tetapi bahwa Sukarno dan Nasution sekarang aman dan "situasi umum lagi di bawah kontrol." Lalu apa yang terjadi berikutnya telah pengamat dianggap sebagai salah satu yang paling membingungkan GESTAPU "kesalahan," yang berisi penampilan pada tanggal 2 Oktober (setelah publikasi hampir semua surat kabar lain sudah berhenti) dari sebuah isu PKI Harian Rakjat koran dan kartun editorial mendukung 30 September gerakan. Ada kemungkinan kecil bahwa editor PKI diambil oleh pesan-pesan mereka mendengar di radio dan telah dilemparkan ke laut hati-hati dan dalam kenyataannya menulis seperti editorial, tetapi lebih mungkin bahwa itu adalah palsu. Penelitian Cornell meneliti edisi Oktober-2 dari Harian Rakjat pada panjang dan mengangkat beberapa keraguan tentang keaslian dari editorial dan kartun. Para peneliti Cornell, bagaimanapun, tidak pergi terlalu jauh dengan menyatakan mereka palsu. Penelitian Cornell tidak menyatakan bahwa "komandan garnisun Djakarta, Mayjen Umar Wirahadikusumae, mengeluarkan perintah tertanggal 6:00 pm pada tanggal 1 untuk efek bahwa tidak ada publikasi apapun yang muncul tanpa izin dari otoritas perang Jakarta, kecuali koran Angkatan Darat Berita Yudha dan Angkatan Bersendjata, yang bangunan itu harus dijaga untuk memastikan bahwa mereka tidak keluar. " Penelitian Cornell menyatakan bahwa itu adalah "sangat mungkin bahwa kantor Harian Rakjat dan tanaman ... diduduki oleh pasukan pemerintah pada atau tak lama setelah waktu itu Jenderal Umar memberikan perintah ini." Para peneliti Cornell ditolak "penjelasan yang paling jelas, bahwa dari sebuah pemalsuan Angkatan Darat" untuk munculnya edisi 2 Oktober dengan alasan agak lemah: "Semuanya ditulis dalam jargon Rakjat yang normal Harian, dan kompetensi dari musuh-musuh PKI di memalsukan pesta dokumen selalu karuan rendah. " Penelitian Cornell telah menunjukkan bahwa editorial, dan kartun itu, tidak dalam gaya khas Harian Rakjat; penampilan belaka jargon "otentik" tidak mengecualikan hipotesis pemalsuan. Para kejanggalan dari beberapa pemalsuan sebelumnya mungkin akan membawa kita untuk mencurigai bahwa Angkatan Darat telah membantu satu ini, dari para ahli pemalsuan di CIA. CIA Research Study menemukan 2 Oktober editorial "mistis," "suatu tindakan bunuh diri politik." Penjelasan Studi untuk bagaimana itu terjadi adalah bahwa Aidit terlalu sibuk melakukan hal-hal lain untuk menghubungi para editor Harian Rakjat dan memberitahu mereka untuk berhenti: "Mereka pasti bisa dicegah peredarannya .... Dalam kebingungan saat ini, Aidit jelas tidak tidak memiliki waktu atau kesempatan untuk menghubungi para editor Harian Rakjat jika masalah editorial bahkan terpikir olehnya Dia benar-benar ditempati pada waktu dengan hal-hal yang lebih penting.. " Dengan memiliki Soekarno tidak didukung Gerakan 30 September, sangat tidak mungkin bahwa Aidit, jika ia telah mampu bertindak, akan mengijinkan PKI untuk keluar di depan umum begitu cepat dalam mendukung hal itu. Tesis Soeharto-CIA tampaknya penjelasan yang lebih masuk akal daripada "pengawasan." Kegiatan Gerakan 30 September di luar Jakarta dibatasi hampir sepenuhnya ke Jawa Tengah dan perwira dari Divisi Diponegoro, mantan perintah Jenderal Suharto. Penelitian Studi CIA menyatakan: "Di tiga kota utama Jawa Tengah, terjadi pola dasar yang sama aksi militer diikuti dengan pernyataan publik dukungan untuk gerakan Untung dan pengumuman pembentukan Dewan Revolusi." Petugas dari Divisi Diponegoro, yang dipimpin oleh Kolonel Suherman, Kepala Intelijen Angkatan Darat untuk Jawa Tengah (yang telah kembali dari pelatihan di Amerika Serikat satu bulan sebelum), dilakukan tindakan-tindakan ini. (Sejumlah analis, termasuk semi-resmi sejarawan Angkatan Darat, telah mencatat bahwa tampaknya PKI telah menyusup kecerdasan dan cabang-cabang civic action Angkatan Darat yang paling berhasil. Tampaknya lebih mungkin bahwa kelompok Soeharto-CIA telah menyusup cabang-cabang di mana pengaruh Amerika, bimbingan, dan pelatihan yang kuat.) Pola Jakarta diikuti bahkan sampai memiliki lagi "melarikan diri" yang luar biasa dari tokoh militer terkemuka, Jenderal Sujosumpeno, Panglima Divisi, yang kemudian meletakkan kudeta dengan mudah. Hanya dua perwira dibunuh oleh GESTAPU, Kolonel Katamso, komandan di Yogyakarta, dan wakilnya. Penemuan berikutnya dari tubuh mereka kembali digunakan untuk mengobarkan emosi anti-PKI. Kerut menarik dalam kasus ini adalah bahwa Kolonel Katamso adalah korban paling tidak mungkin GESTAPU "progresif". Menurut penelitian Ruth McVey, Katamso adalah seorang perwira militer yang relatif pro-PKI dan, dalam kata-kata Rex Mortimer, "yang singling keluar dari Kolonel Katamso untuk kehancuran tampak jelas jahat." (Kita

bisa berspekulasi bahwa karena tidak ada korban lebih lanjut dari jenis Yani-yang dibutuhkan, CIA-GESTAPU kelompok memutuskan bahwa mereka mungkin juga membuat seorang perwira pro-PKI domba kurban di Jawa Tengah.) Ada beberapa dugaan PKI demonstrasi dukungan untuk GESTAPU di Jawa Tengah tetapi tampak bahwa, seperti di Jakarta, sebagian besar, jika tidak semua, yang dibuat. The "PKI" tindakan yang mendapat perhatian adalah demonstrasi di Yogyakarta pada 2 Oktober. Mayor Muljono, seorang perwira civic action di Divisi Diponegoro, adalah pemimpin GESTAPU di Yogyakarta. Ia tampaknya telah menjadi salah satu yang mengumpulkan demonstrasi dan pro-GESTAPU tindakan. Penelitian Studi CIA menyatakan bahwa "PKI utama organisasi massa tertahan dari aksi .... Rupanya Muljono mampu mempengaruhi para pemuda Komunis lebih dari kepemimpinan PKI." Penelitian Cornell menyatakan bahwa demonstrasi di Yogyakarta "tampaknya telah terutama fungsi dari hubungan antara pemimpin kudeta lokal, Mayor Muljono, dan kelompok pemuda sipil. Demonstrasi tersebut penting untuk tidak adanya PKI, SOBSI, Gerwani, BTI dan peserta . " Mayor Muljono adalah petugas hanya penting di Jawa Tengah yang kemudian diadili. Dia "mengaku" segalanya. Yang membungkus GESTAPU di Jawa Tengah mengambil sedikit lebih lama dari di Jakarta, tetapi mengikuti pola yang sama dari "Soeharto-style" negosiasi dan langsung, menyerah koperasi. Analisis kami adalah bahwa alasan dasar mengapa CIA-Soeharto kelompok memutuskan untuk memperpanjang GESTAPU luar Jakarta adalah bahwa mereka ingin menunjukkan bahwa PKI-GESTAPU adalah ancaman nasional sehingga untuk membenarkan penindasan bangsa-macam PKI. Jawa Tengah adalah tempat paling mudah bagi Soeharto untuk mengatur tindakan-tindakan yang diperlukan GESTAPU dan PKI "Implikasinya." GESTAPU terbatas pada beberapa kota di mana Divisi Diponegoro terkonsentrasi. Sebagai Penelitian Studi CIA menyatakan, "Tidak ada dari jenis yang terjadi di Semarang, Yogyakarta, dan Solo yang terjadi di tempat lain di Jawa, bahkan di Jawa Timur, di mana ada pusat yang kuat banyak kekuatan Komunis." Komentar studi Cornell pada upaya kudeta Jawa Tengah bahwa "apa yang luar biasa adalah bukan jumlah partisipasi Komunis di tahap awal perselingkuhan tetapi kurangnya itu." Sebelum menyimpulkan, mari kita perhatikan nasib para konspirator GESTAPU terkemuka. Beberapa dari mereka diadili dan dijatuhi hukuman mati (Letnan Kolonel Untung, Brigjen Supardjo), yang lain dikatakan telah tewas dalam bentrokan militer (Kol Suherman), dan lain-lain (Kol Latief) tidak pernah dibawa ke pengadilan atau telah mengumumkan eksekusi mereka. Ini adalah asumsi kita bahwa semua perwira militer terkemuka yang terlibat dalam GESTAPU pada tanggal 1 Oktober adalah "kabar" aktor dalam rencana CIA-Soeharto. Ada kemungkinan remote yang seseorang seperti Untung bisa saja tanpa disadari namun pertimbangan keamanan tampaknya memiliki dikeluarkan kemungkinan menggunakan seseorang yang bisa dengan mudah telah memberitahu pihak berwenang yang lebih tinggi dari keberadaan GESTAPU atau rencana. Kami percaya, terutama jika koneksi CIA akurat, bahwa komplotan telah kemudian telah disediakan dengan identitas baru oleh CIA dan dimukimkan di luar Indonesia. Semacam ini pemukiman kembali dan merawat aset seseorang adalah relatif standar CIA prosedur. Godaan untuk mengikat berakhir longgar dan mencegah kemungkinan kebocoran menimbulkan kesan bahwa petugas GESTAPU telah dieliminasi setelah melayani tujuan mereka, tetapi tidak menjadi ironis, orang-orang terhormat di CIA mungkin akan menganggap ini sebagai pelanggaran terhadap mereka kode etik. Pengumuman resmi eksekusi petugas GESTAPU, seperti telah ada, telah agak kabur. Sebagai contoh, meskipun Untung diadili dan dihukum pada awal tahun 1966, tidak sampai bulan September 1968 bahwa Suharto menyatakan untuk pertama kalinya bahwa Untung dan tiga pemimpin militer lainnya kudeta telah dieksekusi pada Desember 1967. 1968 Studi Penelitian CIA berspekulasi bahwa Latief adalah salah satu dari mereka yang dieksekusi pada tahun 1967 tetapi pada tahun 1972 Latief membuat penampilan publik pertama sebagai saksi dalam pengadilan Pono, organizer kudeta PKI. Jenderal Supardjo tetap pada besar setelah Oktober 1965 dan tidak ditangkap sampai awal tahun 1967. Rupanya Angkatan Darat tahu di mana dia dan penangkapannya adalah waktunya untuk melayani tujuan dalam penggulingan Soekarno. Pada Desember 1965 diumumkan bahwa Kolonel Suherman dan perwira GESTAPU penting lainnya dari markas Divisi Diponegoro telah ditembak mati dalam bentrokan dengan pasukan pemerintah di Jawa Tengah. Sumber-sumber militer lainnya mengatakan bahwa mereka benar-benar ditangkap sebelum mereka ditembak. Bukti yang tersedia ke penulis menunjukkan bahwa tidak ada eksekusi publik atau diverifikasi secara independen dari setiap petugas GESTAPU. Kesimpulan Mendiskontokan meragukan pengakuan ditampilkan di uji coba pasca-1965 menunjukkan, hipotesis CIA-Soeharto tampaknya memiliki keuntungan atas penjelasan lain GESTAPU: 1. Hal ini konsisten dengan kebijakan PKI dan perilaku sebelum, selama, dan setelah peristiwa 1 Oktober. Ini menjelaskan ketidaksiapan PKI. 2. Hal ini konsisten dengan perilaku Presiden Sukarno sebelum, selama, dan setelah peristiwa 1 Oktober. Soekarno belum pernah terpaksa pembunuhan politik. 3. Ini menjelaskan mengapa kudeta diluncurkan sedemikian situasi militer tidak menguntungkan, mengapa hal itu dilakukan dengan inkompetensi seperti itu, dan mengapa gagal begitu mudah. GESTAPU itu dimaksudkan untuk gagal, dan cepat. 4. Hal ini konsisten dengan aktivisme AS diharapkan. Hal ini sangat tidak masuk akal bahwa AS akan diizinkan pasif Indonesia untuk "pergi Komunis." Sesuatu harus dilakukan. Situasi putus asa diperlukan langkah-langkah putus asa. 5. Hal ini terkait aksi GESTAPU kepada mereka yang diuntungkan dari itu. 6. Hal ini konsisten dengan apa yang kita ketahui tentang latar belakang dari petugas GESTAPU. Mereka, untuk sebagian besar, laki-laki Suharto dan tidak ada bukti, kecuali yang diperoleh melalui "pengakuan," bahwa mereka punya kecenderungan pro-PKI. 7. Ini menjelaskan mengapa Jenderal Yani dan rekan-rekannya tewas (dan tidak hanya diculik atau diadili). Ada beberapa motivasi kuat untuk CIA dan Soeharto untuk menyingkirkan Yani. Korban dari "PKI" yang diperlukan dan dalam konteks Indonesia, Jani adalah seorang "konstitusionalis," setia kepada rezim yang ada, sebagai General Schneider kemudian di Chili.

8. Ini tidak konsisten (nilai positif) dengan serangkaian uji coba yang sangat mencurigakan yang tahap-dikelola oleh Angkatan Darat Indonesia untuk tujuan politik yang jelas. Sebagai Justus van der Kroef menulis pada tahun 1970, "Apa yang Indonesia telah membaca tentang Gestapu sejauh mungkin, dalam retrospeksi, menjadi lebih berharga sebagai indeks untuk manipulasi pendapat dan perasaan tentang peristiwa 30 September selain sebagai kontribusi untuk pemahaman tentang kudeta itu sendiri. "Itu beberapa percobaan, orang-orang dari Sudisman dan Sjam, terkesan beberapa pengamat asing hanya menunjukkan fakta bahwa keadaan seni telah maju sejak tahun 1930-an di Uni Soviet. Penelitian Cornell pada tahun 1966 dirasakan tidak adanya hubungan antara GESTAPU di satu sisi dan PKI dan Sukarno di sisi lain dan perilaku dasarnya reaktif dari yang terakhir. Para peneliti Cornell menyimpulkan bahwa pelaku GESTAPU seluruhnya dalam pembentukan militer. Sejumlah analis mencatat banyak asosiasi antara petugas GESTAPU dan Soeharto Umum. Dalam iklim 10 tahun lalu, namun, sebelum wahyu operasi CIA, sedikit yang bersedia untuk mengambil langkah berikutnya dan menarik hubungan logis yang paling memadai menjelaskan GESTAPU dan asal-usulnya. "BAGAIMANA WASHINGTON didukung pertumpahan darah INDONESIA"

Dengan Deirdre Griswold Pekerja di Dunia, 5 Oktober 1995 Via Pekerja Kantor Berita Dunia Dicetak ulang dari edisi 5 Oktober 1995 surat kabar Dunia Pekerja Ketika kemunduran dekade terakhir untuk gerakan sosialis dunia cukup dievaluasi, dan, eksternal faktor obyektif yang dipertimbangkan bersama dengan masalah subjektif kepemimpinan - satu peristiwa yg akan menonjol sebagai telah memiliki efek mendalam pada nasib puluhan juta dieksploitasi dan pekerja dan kaum tani tertindas. Acara yang pembantaian gerakan progresif Indonesia oleh militer fasis di 1965-66. Peringatan ke-30 awal dari proses berdarah sekarang di sini. Sejauh ini, sedikit yang telah mengatakan tentang hal itu di media korporasi. Pada tahun ini ketika tampaknya setiap program TV serius adalah sebuah film dokumenter pada beberapa ulang tahun atau lainnya, keengganan bahkan menyebutkan pembantaian Indonesia adalah mencolok. Setengah penduduk AS terlalu muda untuk mengingat peristiwa ini. Beberapa dari setengah tua pernah mendengar tentang mereka. Mereka adalah sebagai dilaporkan kemudian seperti sekarang. Namun dalam beberapa bulan singkat, krim, petani di Indonesia kerja muda, dan gerakan perempuan itu menabrak dalam serangan kontra-revolusioner setan. Perkiraan di pers Barat lari dari 300.000 menjadi 1 juta dibunuh. Itu adalah setara Asia pembunuhan massal Hitler di Eropa. Dan di balik ini ofensif berani oleh para jenderal Indonesia adalah tangan CIA, Pentagon dan politisi Amerika imperialis. PENUTUP CERITA UNTUK PEREBUTAN A Militer sayap kanan menyingkirkan pemerintah Indonesia dari semua tokoh yang lebih nasionalis dan progresif dan ditempatkan Presiden Sukarno dalam tahanan rumah. Cerita sampul adalah bahwa Partai Komunis Indonesia (PKI) telah mencoba untuk panggung kudeta pada 30 September 1965 tetapi digagalkan petugas patriotik dan meluncurkan counter-kudeta, menyelamatkan negara dari pengambilalihan komunis. Itu adalah kisah masuk akal. PKI adalah Partai Komunis terbesar di luar negara-negara sosialis, dengan 3 juta anggota dan link ke 15 juta lebih dalam organisasi massa. Namun sama sekali tidak siap untuk perjuangan. Para pemimpinnya baik dibunuh atau dipenjara tanpa pernah memanggil para pendukung mereka. Tidak ada perang sipil. Kiri itu tidak bersenjata. Petugas dituduh merencanakan kudeta, seorang Letnan Kolonel Untung (banyak orang Indonesia hanya memiliki satu nama) dari Sukarno pengawal istana, bukan komunis tapi nasionalis yang bekerja sama dengan presiden. Dia dan Udara Marsekal Omar Dhani kemudian bersaksi bahwa mereka telah berusaha untuk memecahkan sebuah "Dewan Jenderal" klandestin yang, dengan bantuan CIA, sedang merencanakan untuk menggulingkan Sukarno. Mereka membunuh enam jenderal pada 30 September, tetapi para pemimpin utama dari plot lolos. Para jenderal yang masih hidup kemudian menuduh semua anggota kabinet Sukarno berpartisipasi dalam sebuah kudeta komunis dicoba. Seluruh pemerintahan itu dikumpulkan dan beberapa dieksekusi. Jelas, para jenderal adalah pembuat kudeta nyata. Mereka menghancurkan pemerintahan sipil. Tapi mereka juga melakukan banyak lagi. Mereka membuat sungai-sungai di banyak bagian Indonesia harfiah menjalankan merah dengan darah korban mereka. Selama berbulan-bulan, tentara pergi dari desa ke desa, pulau ke pulau, menembak dan hacking pada siapa pun ditunjukkan kepada mereka oleh kaum reaksioner setempat sebagai "pembuat masalah."

Polisi, tuan tanah dan pedagang yang digunakan bencana ini sebagai kesempatan untuk menyelesaikan dendam lama dan menjinakkan gerakan rakyat besar. Ratusan ribu orang yang selamat dari pembunuhan dipenjara selama puluhan tahun di kamp konsentrasi barbar, di mana banyak yang meninggal. 300 TAHUN DARI ATURAN Kolonial Indonesia telah di fermentasi sejak Perang Dunia II. Sebelum itu, selama lebih dari 300 tahun orang-orang dari apa yang disebut Eropa Hindia Timur subyek kolonial Belanda dan, di kali, Inggris. Dengan jumlah penduduk 100 juta pada 3.000 pulau yang tersebar di sepanjang khatulistiwa, Hindia memiliki potensi besar dalam era pasca-kolonial. Pulau-pulau yang memiliki pegunungan dan mineral penting. Tanah di Jawa yang kaya dan subur, musim tanam tahun panjang. Ada minyak di Sumatera, dan karet dan kayu yang berharga di Kalimantan dan Irian Barat. Kekayaan Hindia Belanda yang kecil telah membuat kekuatan dunia. Semua kolonialis lainnya pasti berpikir pada satu waktu atau yang lain bahwa mereka ingin menyingkirkan Belanda dan mengambil alih plum juicy. Pada akhir 1930-an, tentara Jepang berbaris memasuki koloni Asia tidak hanya Belanda tapi Inggris, Perancis dan Amerika Serikat Perang dunia berikutnya menggerogoti struktur kelas yang lama. Ini membawa kesadaran nasional tumbuh dengan jutaan pekerja dan petani, yang sedang diperas oleh penguasa kolonial dan feodal master. Pada akhir perang, gerakan kemerdekaan dukungan rakyat yang besar. Ide-ide sosialis telah mengakar di kalangan banyak pekerja. Itu Presiden Dwight Eisenhower yang menarik perhatian politisi Amerika ke Indonesia. Dalam pidatonya infamously jujur untuk konferensi 1953 gubernur ', ia mengatakan Washington harus terus ke kaki tagihan untuk perang Prancis di Indocina karena "jika kita kehilangan semua itu, bagaimanakah dunia bebas akan mempertahankan kerajaan Indonesia yang kaya?" CIA Subversion Pada akhir 1950-an, Washington berusaha untuk menumbangkan Republik Indonesia yang merdeka. Ini menjadi publik ketika seorang pilot CIA, Allen Lawrence Pope, ditembak jatuh di Sumatera pada tahun 1958 saat terbang dengan kekuatan pemberontak sayap kanan. Namun pemerintah nasionalis tidak cukup kuat untuk mengatakan Washington untuk tersesat. Antara 1959 dan 1965, AS dipompa 64 juta dollar dalam bantuan militer kepada jenderal sayap kanan Indonesia, budidaya mereka yang akan menjadi yang "teman." Soekarno tahu apa yang sedang terjadi. Dia mencoba melepaskan diri dengan menantang pernyataan anti-imperialis, "Persetan dengan bantuan Anda!" Tapi dia juga terus menyeimbangkan antara militer dan gerakan progresif massa, yang mengagitasi untuk penyitaan properti dari kedua imperialis asing dan bangsawan lokal. Di Washington, beberapa di Kongres baik tidak menangkap apa bantuan AS benar-benar berarti atau diperlukan kepastian untuk teman-teman perusahaan mereka bahwa uang ini adalah membangun sebuah Trojan Horse di Indonesia. Pada musim panas tahun 1965, Gedung Luar Negeri Sub-komite di Timur Jauh disebut Asisten Menteri Luar Negeri William Bundy untuk bersaksi pada perjalanan terakhir ke Jakarta. Mengapa kita memberikan bantuan ini kepada Sukarno? anggota komite ingin tahu. "Saya ingin menunjukkan," jawab Bundy hati-hati, "bahwa peralatan ini sedang dijual kepada tentara Indonesia dan bukan pemerintah Indonesia." "Apa bedanya?" menuntut Rep William Broomfield. "Ketika Sukarno meninggalkan tempat, militer akan mengambil alih," jawab Bundy. "Kami ingin tetap pintu terbuka." Bundy tidak memiliki bola kristal. Namun tiga bulan kemudian, militer Indonesia, dilengkapi oleh AS, telah mengambil alih dan melakukan holocaust terhadap gerakan rakyat. U. S. TANGAN DALAM PEMBANTAIAN Ketika berita tentang pertumpahan darah akhirnya mulai muncul dalam pers Amerika Serikat, itu dalam menetes kecil dan drabs. Tidak ada berita, tidak ada ekspresi ketakutan atau kemarahan, tidak ada penyuntingan tentang hak asasi manusia. Tapi banyak media orang dalam tahu persis apa yang terjadi. James Reston menulis dalam, 19 Juni 1966, New York Times: "Transformasi biadab Indonesia dari kebijakan pro-Cina di bawah Sukarno untuk menantang kebijakan anti-komunis di bawah Jenderal Suharto, tentu saja, yang paling penting dari ini [perkembangan politik yang lebih penuh harapan di Asia]. Washington berhati-hati untuk tidak mengklaim kredit untuk ini perubahan yang paling keenam padat penduduk dan salah satu negara terkaya di dunia, tapi ini tidak berarti bahwa Washington tidak ada hubungannya dengan itu.

"Ada banyak lebih banyak kontak antara kekuatan-kekuatan anti-komunis di negara itu dan setidaknya satu pejabat yang sangat tinggi di Washington sebelum dan selama pembantaian Indonesia daripada umumnya menyadari kekuatan Jenderal Suharto,. Di kali sangat kekurangan makanan dan amunisi , telah mendapatkan bantuan dari sini melalui berbagai negara-negara ketiga, dan diragukan jika kudeta akan pernah telah dicoba tanpa menunjukkan kekuatan Amerika di Vietnam atau dipertahankan tanpa bantuan klandestin telah menerima langsung dari sini. " Keberhasilan kudeta pasti berani Washington untuk meningkat Perang Vietnam. Ini juga merupakan kemunduran besar bagi masyarakat Cina, bukan hanya diplomatis - Sukarno telah mengambil sikap anti-imperialis yang kuat dalam gerakan non-blok namun secara politis, karena memperdalam perpecahan di China dan antara Cina dan Uni Soviet. Itu memperkuat "pragmatis" di Cina yang ingin meninggalkan politik revolusioner dalam mendukung akomodatif terhadap imperialisme AS. Kudeta menjadi model bagi kaum fasis di Chili dan mereka CIA mentor. Sebagai tekanan tumbuh pada pemerintahan Allende pada awal tahun 1970, fasis muncul grafiti di dinding Santiago: "Jakarta akan datang." Protes di AS Di AS, hanya Melawan Perang Pemuda & Fasisme, kelompok pemuda Partai Buruh Dunia, memprotes pertumpahan darah Indonesia. Ini terorganisir demonstrasi dan konferensi besar di Columbia University menyerukan pemeriksaan kejahatan internasional ke monumental yang dilakukan dan peran pemerintah AS. Tiga dekade sejak kudeta telah melihat perkembangan kapitalis yang dinamis di Indonesia, tetapi dengan mengorbankan massa. Para birokrat militer menyedot apa krim meninggalkan mereka oleh perusahaan-perusahaan transnasional imperialis yang jauh pengangkutan kekayaan mineral Indonesia, hutan, dan tanaman yang pada tingkat belum pernah terjadi sebelumnya. Pekerja Indonesia kini memproduksi tekstil dan sepatu tenis untuk pasar Barat - dan dibayar sen satu jam. Pemerintah militer Indonesia menginvasi Timor Timur pada 1975 - dengan restu dari Presiden AS Gerald Ford dan Menteri Luar Negeri Henry Kissinger - dan mencoba untuk menghancurkan gerakan pembebasan di sana. Dua puluh tahun dan 200.000 kematian kemudian, perjuangan di Timor Timur berlangsung. Perlahan-lahan, rakyat Indonesia yang bangkit berdiri lagi. Tetapi para pemimpin dari setiap serangan, setiap demonstrasi mahasiswa, setiap pertemuan perempuan harus melihat lebih dari bahu mereka dan malam hari, takut kekuatan brutal oleh negara militer. Pembebasan nasional dan emansipasi sosialis dari kelas pekerja dan kaum tani tampaknya berada di urutan hari di awal 1960an. Kudeta mengatur mimpi ini kembali untuk waktu yang lama. Pembantaian Indonesia memiliki efek mendalam pada gerakan komunis, khususnya di Asia. Ini tidak boleh dilupakan dalam semua tayangan ulang menganalisis kemunduran untuk sosialisme. Dalam sebuah diskusi tentang kesulitan yang dihadapi rakyat yang tertindas, bagaimana kerasnya mengucapkan penguasa dibiarkan keluar? Bagaimana transformasi sosial dipertimbangkan secara serius tanpa memperhitungkan bahwa mereka dengan hak istimewa dan properti dapat menggunakan cara-cara apapun, termasuk pembunuhan massal, untuk tetap di atas? Sebagai bagian dari evaluasi ulang strategi dan taktik komunis, ada baiknya mempelajari bagaimana massa Indonesia partai dan gerakan bahkan lebih besar itu diwakili bisa dikalahkan. Hal ini dapat membantu menerangi strategi revolusioner yang berakhir dalam kesuksesan di tempat lain. (Pekerja Hak Cipta World Service: Izin diberikan untuk mencetak ulang jika sumber dikutip Untuk informasi lebih Dunia Pekerja kontak, 55 W. 17 St, NY, NY 10011; melalui e-mail:.. Ww@wwpublish.com Untuk info berlangganan kirim pesan untuk:. ww-info@wwpublish.com) BEN ANDERSON TENTANG PEMBUNUHAN MASSAL-65

Ben Anderson adalah profesor ilmu politik di Cornell. Sekarang dia sedang menjadi dosen tamu di Yale. Bagaimana jenderaljenderal itu dibunuh? „Tentara atau pimpinan tentara tahu betul bahwa jenderal-jenderal itu dibunuh oleh sesama tentara. Sama sekali tidak ada siksaan, tidak ada penganiayaan, dsb." Mengapa media massa menyiarkan kabar bohong? „Saya yakin itu justru diperintahkan oleh Suharto bersama orang yang dekatdekat dia seperti Ali Murtopo. Mereka dengan darah dingin sekali membuat kampanye fitnah untuk kepentingan politik." BAGAIMANA JENDERAL-JENDERAL ITU DIBUNUH? T: Untuk studi tentang pembunuhan 6 orang jenderal dan seorang letnan pada tgl 1 Oktober 1965, Pak Ben menggunakan laporan otopsi jenasah mereka. Studi Pak Ben diterbitkan dalam majalah Indonesia nomor 43, April 1987, berjudul „How did the generals die?" Kami ingin mengetahui hasil studi itu. Apakah laporan otopsi itu asli? Dari mana Pak Ben mendapat laporan otopsi itu? J: Asli. Ini suatu kebetulan. Waktu itu kira-kira awal tujuh puluhan. Atas desakan dari Pak Kahin, saya, dsb, akhirnya disampaikan, oleh orang-orang CSIS-nya Benny Murdani, beberapa kilo berkas-berkas Mahmilub (Mahkamah Militer Luar Biasa) yang pernah diadakan oleh pemerintah Indonesia. Setiap proses verbal itu tebalnya bukan main. Sekarang ini saya tidak ingat persis proses verbal yang mana, tapi di dalamnya ada serentetan lampiran yang panjang sekali. Pada kira-kira halaman 700 atau 800 saya temukan laporan otopsi itu sebagai dokumen resmi yang ditanda-tangani oleh dokter-dokter Universitas Indonesia. Mereka disuruh Suharto untuk mengadakan pemeriksaan mayat-mayat yang ditemukan di Lubang Buaya. Jadi jelas sumbernya

dari berkas yang diserahkan kepada kami oleh pemerintah Indonesia. Jadi itu sama sekali bukan barang palsu, tanda tangan semuanya ada di situ, dan laporannya cukup mendetail. T: Apakah laporan otopsi ini pernah dijadikan barang bukti di pengadilan? J: Kalau masuk berkas Mahmilub itu berarti termasuk dokumen yang dipakai di pengadilan. Tetapi saya tidak tahu apakah dokumen ini memang pernah dibacakan di pengadilan. Tapi jelas termasuk barang-barang yang seharusnya dipikirkan oleh para hakim. T: Siapa yang memerintahkan para dokter untuk melakukan otopsi? J: Itu jenderal Suharto. Pemeriksaan diadakan atas perintah dari pejabat Kasad saat itu, yaitu Suharto. Dan tanda-tangan Suharto memang ada di situ. T: Tanggal 7 Oktober 65 koran Angkatan Bersenjata bilang, „Matanya dicongkel." Apakah memang ditemukan bukti-bukti penganiayaan sebelum mereka dibunuh? Apa ada yang dicukil matanya atau disayat-sayat badannya? J: Sama sekali tidak ada. Itu yang menarik buat saya sewaktu membaca. Karena jelas mereka semua mati karena ditembak. Dan kalau ada luka-luka lain itu arena kena pinggiran sumur atau terbentur batu-batu di dalamnya. Jenasah itu dilemparkan ke dalam sumur yang dalamnya lebih dari 10 meter. Jadi sama sekali tidak ada tanda siksaan. Dan dokter tidak pernah menyebutkan ada ekas-bekas siksaan. Jadi matanya, oke. Kemaluannya juga utuh, malah disebut 4 disunat dan 3 nggak disunat. T: Bagaimana pemberitaan koran dan TV pada bulan Oktober dan Nopember 1965? Misalnya Angkatan Bersenjata 5 Oktober 65 itu bilang, „Perbuatan biadab berupa penganiayaan yang dilakukan di luar batas perikemanusiaan." Berita sejenis ini muncul setiap hari selama beberapa minggu baik di koran, radio maupun di TV. J: Itu jelas direkayasa. Karena pimpinan tentara tahu betul bahwa tidak ada siksaan. Tapi ini salah satu strategi untuk menimbulkan suasana yang tegangnya bukan main. Ini sudah biasa. Di mana saja di dunia, kalau mau diadakan pembataian massal, harus diciptakan suasana di mana orang merasa apa saja boleh. Karena calon korban sudah berbuat hal-hal diluar perikemanusiaan. T: Otopsi selesai tgl 5 Oktober sekitar jam 12 siang. Karena Suharto yang memerintahkan, tentu dia orang pertama yang diberi tahu hasil otopsi itu. Suharto tahu tidak ada bukti-bukti penyiksaan di Lubang Buaya. Mengapa Suharto membiarkan koran-koran —terutama Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha, koran Angkatan Darat yang bisa dia kontrol—menyiarkan kabar bohong tentang penyiksaan, kekejaman, dsb? J: Saya tidak mengatakan bahwa Suharto membiarkan. Saya yakin itu justru diperintahkan oleh Suharto bersama orang yang dekat-dekat dia seperti Ali Murtopo. Ini jelas justru untuk membantu mereka dalam hal menghancurkan PKI dan pada akhirnya mengambil kekuasaan dari tangan Bung Karno. Yang bisa menjadi penyokong Bung Karno yang paling kuat dan paling terorganisir adalah PKI. Kalau PKI sudah tidak ada, Bung Karno tidak punya kekuatan konkrit yang terorganisir yang bisa melawan tentara. T: Apakah Suharto, sebagai Pangkopkamtib pada tahun 1965 itu, pernah menjelaskan pada masyarakat umum tentang bagaimana sebenarnya jenderal-jenderal itu dibunuh, siapa yang membunuh, dsb? J: Saya nggak yakin Suharto saat itu sudah menjadi Pangkopkamtib. Saya lupa persis kapan dia menjadi Pangkopkamtib. Yang paling penting ketika itu adalah pidato Jenderal Nasution sewaktu anaknya yang malang itu dikuburkan. Jadi Suharto sendiri pada waktu itu tidak menonjol sebagai tukang pidato. Tetapi media massa yang dikuasai oleh Suharto dkk terus menerus mengatakan itu PKI yang menjadi dalang dari peristiwa. Suharto itu sendiri juga memberi pidato. Tapi saya merasa yang penting bukan pidato dia sendiri tapi suasana yang diciptakan media massa yang direkayasa oleh kelompok Suharto. T: Bagaimana dengan kabar ditemukannya alat-alat pencukil mata? Misalnya dalam berita di koran Api Pancasila tgl 20 Oktober, „Alat cukil mata ditemukan di kantor PKI di desa Haurpanggang di Garut." J: Saya yakin ini bikin-bikinan. Masa orang menyimpan alat pencukil di Garut? Juga apa yang disebut sebagai alat pencukil, saya kurang tahu persis. Rasanya ini sebenarnya cuma satu alat yang dipakai oleh petani untuk urusan sehari-hari. Atau mungkin alat untuk buruh yang kerja di perkebunan. Jadi bukan alat khusus pencukil mata. Mungkin kalau anda sendiri lihat gambarnya bisa menjelaskan sebenarnya itu alat apa. T: Bagaimana dengan berita tentang pengakuan dari saksi mata yang dimuat dalam Angkatan Bersenjata tgl 10 Oktober, „Korban dicungkil matanya. Ada yang dipotong alat kelaminnya dan banyak hal-hal lain yang sama sekali mengerikan an di luar perikemanusiaan." Apakah ‘pengakuan’ saksi mata itu benar? Atau bikinan tentara? J: Saya kira nggak. Waktu itu ada dua saksi penting. Yang paling penting itu seorang gadis berumur 15 tahun yang jelas sudah diteror habis-habisan. Buktinya kedua wanita ini, yang pernah mengaku ikut mencukil mata, tidak pernah diadili. Jadi ini jelas bikin-bikinan. T: Jadi mereka dituduh ikut menyiksa tetapi tidak ada bukti? J: Sama sekali tidak ada bukti. Kalau ada bukti ini akan menjadi kasus yang bagus untuk pihak pimpinan tentara. Tapi ini cuma dibikin untuk memanaskan suasana. Setelah itu gadis ini tidak pernah kedengaran namanya lagi. T: Apa kesimpulan studi tentang pembunuhan di Lubang Buaya ini? J: Apa yang sebenarnya terjadi di Lubang Buaya itu lain soal. Yang penting ialah sebelum kampanye media massa, tentara atau pimpinan tentara tahu betul bahwa jenderal-jenderal itu dibunuh oleh sesama tentara. Sama sekali tidak ada siksaan, tidak ada penganiayaan dsb. Jadi mereka dengan darah dingin sekali membuat kampanye fitnah untuk kepentingan politik. Dan itu bisa dibuktikan oleh dokumen yang berasal dari tokoh itu sendiri, juga oleh dokter-dokter dari fakultas kedokteran Universitas Indonesia yang kejujurannya dalam hal ini tidak disangsikan. T: Apakah Pak Ben mendapatkan data baru yang merubah kesimpulan atau hasil studi yang ditulis tahun 1987 ini? J: Tidak ada Dalam versi sejarah dan juga film yang dibuat Orde Baru, pembunuhan para jenderal itu dilakukan oleh orang-orang PKI. Tetapi sebenarnya siapa yang membunuh para jenderal itu? „Jelas oleh kelompok tentara sendiri. Sama sekali tidak ada bukti bahwa orang sipil ikut." SIAPA YANG MEMBUNUH T: Siapa yang membunuh 3 jenderal (Yani, Panjaitan dan Haryono) di rumahnya? J: Sepengetahuan kami sampai sekarang pembunuhan yang terjadi di rumah jenderal-jenderal dilakukan oleh kesatuan dari Cakrabirawa yang dipimpin langsung oleh letnan Dul Arief yang sampai sekarang nggak ada bekasnya. Bagaimana nasibnya, ke mana larinya, dibunuh di mana, itu tidak diketahui. Jadi jelas oleh kelompok tentara sendiri. Jenderal Nasution sendiri dalam pengakuannya mengatakan memang rumahnya diserang oleh tentara. T: Siapa yang melakukan pembunuhan 3 jenderal (Parman, Suprapto dan Sutoyo) dan letnan Tendean di Lubang Buaya? T: Kalau yang terjadi di Lubang Buaya itu saya kira sama juga. Mungkin bukan orang-orang dari Cakra saja, tetapi juga dapat bantuan dari kelompok kecil dari AURI. Sampai sekarang tidak jelas, karena bagaimanapun waktu itu Halim alam kekuasaan AURI. Sama sekali tidak ada bukti bahwa orang sipil ikut. T: Jadi bunuh-membunuh itu antara tentara sendiri.

J: Oh iya. Justru itu menjadi faktor yang sangat menentukan. Karena perpecahan di kalangan tentara ini justru sesuatu yang menjadi skandal besar yang bisa menghancurkan nama ABRI di mata umum. Jadi kalau ada ABRI membunuh ABRI, ya bagaimana? Sangat diperlukan dalang yang bukan ABRI. T: Apakah ada anggota PKI, atau ormasnya seperti Pemuda Rakyat dan Gerwani, yang ikut melakukan pembunuhan di Lubang Buaya? J: Tidak ada bukti. T: Apakah semua pembunuh diajukan ke pengadilan? J: Ya, satu dua. Malah masih ada satu yang dulu sersan dari Cakra. Kalau nggak salah dia sampai sekarang masih nongkrong di —yang dalam bahasa Inggris dinamakan—„Death Row." Dia divonis hukum mati 25 tahun yang lalu. Tapi sampai sekarang belum dijalankan. Tapi sebagian besar dari kelompok Cakra itu hilang tanpa bekas. Kita nggak tahu bagaimana nasibnya mereka. Untung sendiri ditangkap dan diadili. Tapi dia sendiri tidak langsung memimpin kesatuan yang menyerbu rumah jenderal dan sebagainya. T: Apakah kesaksian yang pernah diadili itu konsiten dengan otopsi? J: Saya tidak ingat lagi. Kami tidak pernah menerima berkas proses verbal dari sersan-sersan Cakra. Yang kami terima cuma berkas-berkas dari perkaranya orang-orang yang dianggap tokoh dalam G-30-S dan beberapa orang sipil seperti Subandrio, dll. Kalau yang dianggap orang kecil, seperti sersan ini dan sersan itu, tidak pernah disampaikan. T: Apakah ada orang yang mempermasalahkan tentang hilangnya para pelaku pembunuhan di Lubang Buaya yang tanpa bekas ini? J: Tidak pernah. Yang lebih mengherankan adalah bahwa kelompok pimpinan Kodam Diponegoro yang mendukung G-30-S, Kolonel Suherman asiten satu, Kolonel Maryono asisten tiga, Letkol Usman asisten empat, dsb, untuk selama kira-kira 48 jam, menguasai hampir seluruh Jawa Tengah, kemudian mereka juga hilang. Tidak pernah diantara mereka ada yang diadili, diajukan ke pengadilan, dsb. Mereka hilang tanpa bekas. Itu tidak pernah diisukan. Malah kalau membaca laporan dari Buku Putih apa yang terjadi di Jawa Tengah sama sekali tidak menjadi masalah. Jadi semua perhatian dengan sengaja dipusatkan pada apa yang terjadi di Jakarta. T: Sebenarnya yang tahu soal orang hilang ini siapa? J: Ya, harus tanya pada pemerintah di Indonesia. Suherman di mana? Maryono, Usman di mana? Dsb. Banyak sekali tokohtokoh dari G-30-S hilang tanpa bekas. Yang tahu bagaimana nasibnya, ya tentara sendiri. T: Kemudian bagaimana Pak Ben menjelaskan kehadiran anggota Pemuda Rakyat dan Gerwani di Halim? J: Ini dalam rangka konfrontasi dengan Malaysia. Memang ada kebijaksanaan dari pemerintah. Selain dari anggota ABRI ada juga orang sipil yang dilatih sebagian sebagai sukarelawan untuk dikirim ke perbatasan. Tapi ada sebagian juga yang dilatih untuk membantu seandainya Ingris melakukan serangan udara ke Jakarta sebagai pembalasan terhadap aksi dari pihak Indonesia. Dan pada umumnya Angkatan Darat tidak begitu antusias. Tapi AURI di bawah pimpinan Omar Dhani yang dekat dengan Bung Karno, rupanya mulai suatu sistim latihan itu di beberapa pangkalan udara. Dan mereka minta dari parpol-parpol dan ormas-ormas supaya anggota-anggota mereka dilatih. Dan yang paling antusias pada waktu itu, ya PKI. Jadi kalau ada Gerwani dan Pemuda Rakyat di Halim itu karena mereka dikirim oleh pimpinan PKI di Jakarta untuk latihan. Dan karena tugasnya setengah militer, mereka ini harus yang muda-muda. Mereka bisa dilatih oleh petugas-petugas dari AURI, dalam hal ini ya mayor Suyono. Bukan PKI saja, juga ada PNI dan NU dilatih. T: Apa yang dilatih di Halim itu tidak hanya PKI tetapi juga PNI dan NU. J: NU saya nggak jelas apakah dilatihnya di Halim. Tetapi di pangkalan lain jelas ada. T: Kalau begitu keberadaan mereka secara kebetulan saja? J: Tidak kebetulan. Memang ada program dari pemerintah. Tetapi tidak dilatih untuk membunuh jenderal. Mereka dilatih untuk mempertahankan pangkalan kalau diserang oleh Inggris. T: Bagaimana Pak Ben menjelaskan kehadiran DN Aidit, ketua PKI, di Halim? Apa yang dia lakukan selama di Halim pada tanggal 1 Oktober itu? J: Sampai sekarang ini menjadi teka-teki yang besar. Karena sepengetahuan kami tidak ada bukti bahwa DN Aidit berbuat apaapa. Justru ini yang aneh. seolah-olah dia dijemput oleh kelompok tertentu, dibawa ke Halim, terus ditaroh di salah satu rumah di situ sepanjang hari. Pada akhirnya dia dapat pesan, mungkin ada kurir atau apa dari Bung Karno, dia disuruh pergi ke Jawa Tengah untuk menenangkan situasi. Jadi tidak ada bukti kalau dia ketemu dengan pimpinan G-30-S. Tidak ada bukti bahwa dia memberi instruksi apa-apa. Malah ada kemungkinan juga dia mau disembunyikan di Halim di bawah perlindungan AURI. Seandainya ada usaha menculik dia dari rumahnya atau dari kantor PKI. T: Tadi dikatakan bahwa dia disuruh pergi ke Jawa Tengah untuk menenangkan situasi. Jadi ke Jawa Tengahnya bukan inisiatif dia sendiri? J: Tidak ada bukti. Yang jelas setelah Bung Karno melihat situasi pada malam hari tanggal 1 Oktober, dia tahu bahwa situasi itu sangat berbahaya. BK juga tahu situasi di Jawa Tengah. Dia merasa mungkin ini bisa menjadi permulaan dari suatu perang saudara. Dia juga takut jangan-jangan PKI merasa harus berbuat sesuatu, padahal mereka tidak bisa berbuat banyak. Mereka kan tidak punya senjata. Saya kira Aidit juga takut jangan-jangan ada kelompok di daerah yang tidak mengerti keadaan lantas membuat sesuatu yang bisa dipakai sebagai provokasi oleh lawan. Kita harus sadar bahwa dalam ingatan orang-orang PKI, Peristiwa Madiun tahun 1948 itu menjadi trauma yang besar. Waktu Madiun, orang-orang tingkat lokal membuat sesuatu yang kemudian menyeret pimpinan partai dan akhirnya menghancurkan partai pada waktu itu. Jadi seperti, ya sudah ada ide dalam partai, itu jangan terjadi lagi, jangan sampai bisa diprovokasi sekali lagi Pada bulan Januari 1966 Ben Anderson dan Ruth McVey, waktu itu masih mahasiswa S-3, menulis makalah yang kemudian dikenal luas dengan nama „Cornell Paper." Dalam makalah itu Pak Ben menyatakan, „Tokoh-tokoh utama dari gerakan ini baik di Jawa Tengah maupun Jakarta sendiri adalah perwira-perwira dari kodam Diponegoro. Mereka semuanya bekas bawahan dari Suharto sendiri." Bagaimana peranan PKI dan Bung Karno? „Sampai sekarang sama sekali tidak ada bukti bahwa Bung Karno ada di belakangnya. Masalah PKI lebih ruwet. Setelah tahun 66 ada beberapa data yang masuk seolah-olah ada orang PKI yang terseret. Saya tidak bisa mengatakan bahwa sama sekali PKI tidak ada sangkut pautnya. Tapi saya masih tetap berpendapat mereka bukan penciptautama G-30-S." CORNELL PAPER T: Tiga bulan setelah pembunuhan para jenderal, Pak Ben dan Ibu Ruth menyusun hasil studi berjudul „A preliminary analysis of the October 1, 1965, coup in Indonesia." Studi itu selesai ditulis tgl 10 Januari 1966 dan semula cuma diedarkan di kalangan terbatas. Baru diterbitkan untuk umum, tanpa perubahan, pada tahun 1971. Studi itu kemudian dikenal dengan nama „Cornell Paper." Apa pokok pikiran dalam Cornell Paper? Dan apa bukti-bukti utama yang menunjang pokok pikiran itu?

J: Pada waktu itu kami ingin mengecek sampai kemana versi resmi dari apa yang terjadi itu masuk di akal. Versi resmi bunyinya, „Ini suatu komplotan jahat, yang didalangi oleh PKI." Pada waktu itu kami ingin mengecek apa ini cocok dengan informasi dan data-data yang masuk. Laporan itu selesai ditulis tanggal 10 Januari. Tapi saya kira bahan-bahan itu makan waktu tiga minggu untuk penulisan. Jadi bahan-bahan yang masuk itu hanya sampai pertengahan Desember. Nah, kebetulan kira-kira tiga minggu setelah peristiwa, situasi belum 100% bisa dikontrol oleh Suharto. Jadi masih banyak koran beredar di Jawa Timur, Jawa Tengah, Medan, dsb. Dan kebetulan Cornell punya koleksi koran Indonesia yang paling lengkap di dunia. Pada waktu itu memang luar biasa kami dapat segala macam koran dari Surabaya, semarang, Yogya, Solo, dll. Dan ternyata dari laporan-laporan itu banyak yang tidak cocok dengan versi resmi. Selain itu kami punya arsip tentang tentara. Dari situ kami bisa juga sedikit banyak mengecek siapa sebenarnya orang-orang seperti Suherman, Usman, dsb. Dari situ kami bisa mengetahui bahwa umpamanya Suherman baru kembali dari latihan di Amerika. Dia dilatih sebagai orang inteljen oleh AS. Untuk kita tidak masuk di akal bahwa ada seorang PKI bisa menjadi lulusan latihan AS dan dikasih jabatan sebagai tokoh intel di Jawa Tengah. Selain dari itu juga ada beberapa informasi dalam bentuk surat dari teman-teman yang kebetulan jalan-jalan di Jawa Tengah dan Jawa Timur pada waktu itu. Mereka menulis apa yang mereka lihat dengan mata sendiri. T: Cornell Paper dibuka dengan kalimat ini, „The weight of the evidence so far assembled and the (admittedly always fragile) logic of probabilities indicate that the coup of October 1, 1965, was neither the work of PKI nor of Sukarno himself." Apa yang Pak Ben maksud dengan „logic of probabilities" itu? J: Ini kesimpulan dari dua sudut logika. Bung Karno sama sekali tidak dapat keuntungan dari peristiwa berdarah ini. Justru beliau bisa berdiri di atas segala kelompok diIndonesia karena bisa mengimbangi kelompok ini dengan kelompok itu. Kalau politik sudah bergeser dari politik sipil, yaitu omong-omong, organisasi, dsb, ke lapangan kekerasan, BK nggak bisa apa-apa. Jadi jelas G-30-S membahayakan dia, bukan membantu dia. Dari sudut PKI, kami merasa selain dari faktor trauma-48, PKI pada waktu tahun 1965 cukup sukses dalam politiknya. Yaitu politik damai. Di mana dia semakin lama semakin berpengaruh. Justru karena mereka tidak mengambil jalan seperti Ketua Mao dengan perang gerilya, dsb. Mereka pakai strategi sipil. Justru mereka akan jadi susah kalau mulai konflik bersenjata. Karena mereka tidak punya senjata, tidak punya kesatuan-kesatuan yang bersenjata. Jadi logika dua kelompok ini, BK dan PKI, menuntut supaya politik tetap politik normal bukan politik bedil. Logika ini diperkuat dengan hal-hal yang kongkrit. Banyak hal yang aneh dalam G-30-S. Pertama, pengumuman-pengumuman dari G-30-S itu nggak mungkin disusun oleh tokoh-tokoh PKI yang cukup berpengalaman dalam bidang politik. Saya kasih dua contoh. Pertama, yang dikatakan Dewan Revolusi yang diumumkan G-30-S, itu suatu Dewan yang sama sekali tidak masuk di akal. Karena banyak tokoh-tokoh yang penting, seperti Ali Sastroamidjojo, yang tidak masuk. Tapi banyak tokoh-tokoh yang hampir tidak dikenal namanya justru masuk. Malahan banyak orang kananpun masuk, itu umpamanya Amir Machmud. Jadi ini bukan suatu Dewan Revolusi yang meyakinkan. Jadi rasanya kacau. Yang kedua, yang lebih meyakinkan lagi, adalah pengumuman dari Untung kepada sesama tentara, bahwa mulai saat itu tidak akan ada lagi pangkat dalam tentara yang lebih tinggi dari pangkatnya Letkol Untung sendiri. Nah itu jelas membuat setiap kolonel, brigjen, mayjen, letjen, dsb, jengkelnya bukan main. Dan ini suatu move yang membuat semua pimpinan tentara akan anti dengan gerakan ini. Nggak mungkin ada orang yang punya otak politik akan membiarkan suatu pengumuman seperti itu. Itu jelas suatu pengumuman yang keluar dari hati nurani Letkol Untung sendiri. Karena dia jengkel dengan atasannya. Atau bisa juga itu provokasi yang diatur oleh dalang sebenarnya dari peristiwa ini. Yang memakai Untung, yang jelas bukan orang pinter, sebagai pionnya. T: Setelah 30 tahun, apakah Pak Ben tetap berpegang pada pendapat itu? J: Kalau Sukarno jelas. Sampai sekarang sama sekali tidak ada bukti bahwa Bung Karno ada di belakangnya. Masalah PKI lebih ruwet. Setelah tahun 66 ada beberapa data yang masuk seolah-olah ada orang PKI yang terseret. Saya sendiri pernah ikut persidangan Mahmilub Sudisman pada tahun 1967, dan mendengar pidato uraian tanggung jawabnya. Dalam pengadilan itu yang dinamakan Ketua Biro Khusus yaitu si Kamaruzaman, atau Syam, nongol sebagai saksi. Di sana cukup jelas bahwa Syam ini adalah orang yang dikenal betul oleh Sudisman. Bagaimanapun Syam ada hubungan langsung dengan pimpinan PKI. Jadi apa ada sebagian dari orang-orang PKI ikut-ikutan, apa ada sebagian dari PKI yang dibodohin oleh kelompok ini-itu, masih tidak jelas. Jadi saya tidak bisa mengatakan bahwa sama sekali PKI tidak ada sangkut pautnya. Tapi saya masih tetap berpendapat mereka bukan pencipta utama G-30-S. T: Kalimat terakhir dalam alinea pertama „Cornell Paper" itu, „The actual originators of the coup are to be found not in Djakarta, but in Central Java, among middle-level Army officers in Semarang, at the headquarters of the Seventh (Diponegoro) Territorial Division." Apa bukti-bukti utama dari pernyataan ini? J: G-30-S hanya sukses bisa menguasai daerah di Jawa Tengah. Dan tokoh-tokoh utama dari gerakan ini baik di Jawa Tengah maupun Jakarta sendiri adalah perwira-perwira dari kodam Diponegoro, kecuali Supardjo. Mereka semuanya bekas bawahan dari Suharto sendiri, termasuk Supardjo. Yang paling menonjol tentu pada waktu itu adalah fakta bahwa Untung dan Latif keduaduanya dekat sekali dengan Suharto. Suharto sendiri pada tahun 64 pergi jauh-jauh ke salah satu desa di Jawa Tengah untuk ikut menghadiri perkawinan bawahannya yang tercinta, yaitu Untung. Jadi itu yang pertama. Kedua, fakta bahwa apa yang terjadi di Jawa Tengah sampai sekarang 100% ditutupi oleh versi resmi. Ini aneh. Karena nggak ada pengadilan, nggak ada cerita apa yang terjadi di Semarang. Terus kesatuan-kesatuan utama yang ikut gerakan di Jakarta itu sebagian besar juga dari Diponegoro. Itu yang penting. T: Apa motivasi perwira-perwira Diponegoro itu? J: Ini jelas tentara yang belum berbintang. Otaknya seolah-olah pangkat mayor, letkol, kolonel, dibantu oleh kapten, letnan, sersan, dsb. Kalau kita membaca pengumuman G-30-S, seolah-olah masalahnya itu masalah intern. Mereka menuduh jenderaljenderal ikut serta dengan CIA dalam rangka mendongkel Bung Karno. Menuduh jenderal-jenderal orang yang hidup mewah, orang yang suka main perempuan, yang tidak menghiraukan nasib dari bawahannya, dsb. Jadi terasa sekali ada semacam konflik antara tentara yang bawahan, yang pada umumnya miskin-miskin, dan tokoh jenderaljenderal yang berduit. Pada waktu itu di Jakarta cuma ada satu mobil Lincoln Continental yang putih. Dan pemiliknya siapa? Jenderal Yani, kan? Padahal Indonesia saat itu miskinnya bukan main. Jadi sangat menyolok. Jadi kalau motivasinya dikatakan sebagai kecemburuan sosial, juga bisa. T: Apa ada hubungan antara motivasi itu dengan lingkungan para perwira Diponegoro pendukung G-30-S itu? J: Sebagian karena Jawa Tengah terkenal sebagai daerah yang paling miskin dibandingkan dengan Jawa Barat dan Timur. Juga kultur di Jawa Tengah di mana patriotisme kejawa-jawaan itu paling kuat. Dari dulu ada persaingan antara Diponegoro dan Siliwangi. Perwira Siliwangi dianggap orang yang statusnya lebih tinggi, biasa pakai bahasa Belanda diantara mereka sendiri dan biasa kebarat-baratan, dan paling dekat dengan Amerika. Perwira Jawa Tengah sebagian besar berasal dari Peta, bikinan Jaman Jepang. Waktu revolusi mereka merasa diri sebagai orang Jogya lah. Orang yang mempertahankan nilai-nilai dari revolusi 45, patriotisme Jawa, dsb. Pokoknya kalau jenderal-jenderal

Bandung omong, mereka tidak pernah pakai—ken, ken. Tapi ini bukan masalah suku. Karena tokoh utama dari semuanya itu orang Jawa dan sasaran utamanya juga orang Jawa. T: Pada minggu pertama Oktober 1965, dari 5 pucuk pimpinan PKI, 3 orang ada di Jawa Tengah (Aidit, Lukman dan Sakirman). Nyoto sedang berada di Sumatra Utara sedangkan Sudisman di Jakarta. Kemudian Lukman dan Nyoto menghadiri Rapat Kabinet di Bogor tgl 6 Oktober. Apa yang dilakukan para pimpinan PKI selama berada di Jawa Tengah setelah 1 Oktober? J: Dari informasi yang masuk, dari laporan sopirnya Lukman, dsb, ya mereka putar-putar. Aidit dan Lukman menghubungi cabang dan ranting-ranting PKI, memberi tahu apa yang sedang terjadi, dan diminta untuk waspada dan jangan sampai bisa diprovokasi. Dalam hal ini kita belum tahu banyak. Karena sampai sekarang kebanyakan orang PKI yang masih hidup, di dalam maupun di luar negeri, belum sempat menulis secara jujur, terang-terangan, tentang kehidupan intern partai pada saat itu. Munculnya tokoh Syam, Ketua Biro Khusus PKI, membuat pendapat Ben Anderson bergeser. Tentang tokoh itu,„Syam ini orangnya cukup misterius." Tentang Biro Khusus, „Banyak hal yang masih belum jelas." Tentang peranan RPKAD, „Pembunuhan juga baru mulai di Jawa Timur setelah RPKAD berpindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Di Bali, pembunuhan massal baru mulai setelah RPKAD pindah dari Jawa Timur ke Bali." BIRO KHUSUS T: Tadi Pak Ben bilang, munculnya tokoh Syam itu membuat pendapat Pak Ben bergeser? J: Ya. Maka itu kami menamakan „Laporan Sementara." Dan sampai sekarang status sebagai laporan sementara tetap dipertahankan. Karena bagaimanapun sebagian besar tokoh-tokoh yang paling penting sudah dibunuh, atau sudah hilang. Dan ada juga yang berkaitan langsung tetapi belum mau ngomong. Jadi harus nunggu. T: Ini bukan bahan dari Cornell Paper, tapi dari Buku Putih yang diterbitkan Sekretariat Negara tahun 1994. Dalam Buku Putih soal Biro Khusus PKI dibahas panjang lebar. Menurut Pak Ben sendiri seberapa besar peranan Biro Khusus PKI ini dalam G-30S? J: Dalam hal Biro Khusus ini ada beberapa sisi yang sampai sekarang sulit dimengerti. Pertama, pada umumnya partai komunis, di manapun juga di dunia, punya format yang sama. Susunan organisasinya sangat standard. Dan sampai sekarang belum ditemukan partai komunis lain yang pernah menciptakan semacam Biro Khusus. Ini tidak mustahil. Tetapi cukup aneh. Kedua, istilah atau bahasa yang dipakai oleh orang-orang yang dianggap tokoh Biro Khusus ada juga yang mencurigakan. Umpamanya mereka pakai istilah„pembina." Jadi, untuk menggambarkan aktivitas mereka, ada para pembina yang mengadakan pembinaan-pembinaan. Sepanjang pengetahuan saya, ini bukan bahasa marxist dan bukan bahasa komunis. Tapi dari dulu ini bahasanya tentara. Rada aneh kalau waktu itu PKI berlawanan dengan tentara, kok yang dianggap organisasi rahasia PKI itu justru pakai istilah teknis dari tentara? Yang ketiga, sampai sekarang identitas dan nasibnya Kamaruzaman alias Syam tu masih menjadi teka-teki. Setelah memeriksa beberapa dokumen di Amerika, di Indonesia dan di Belanda, ternyata si Syam ini pernah menjadi anggota PSI. Dalam majalah resmi dari PSI namanya pernah disebut pada tahun 1951 sebagai ketua ranting. Kalau tidak salah di Rangkasbitung, Banten. Selain itu ditemukan juga dokumen dalam arsip Belanda di mana Kamaruzaman ini pada waktu revolusi pernah diangkat sebagai orang intelnya Recomba Jawa Barat. Recomba itu pemerintah federal buatan Belanda. Itu bisa juga. Karena pada waktu itu ada juga patriot-patriot yang pura-pura jadi pegawai Belanda untuk mengetahui rahasianya Belanda. Tapi toh rada aneh. Terus di koran-koran Indonesia ada informasi bahwa pada akhir tahun 50-an Kamaruzaman nongol sebagai informan dari komandan KMK (Komando Militer Kota) Jakarta. Jadi Syam ini orangnya cukup misterius. Jelas dia dikenal baik oleh pimpinan PKI. Tetapi dia juga pegang peranan di Recomba, di PSI, di tentara, dsb. Sampai sekarang serba misterius. Di mana kesetiaannya? Buat saya tidak jelas. Walaupun pemerintah mengumumkan bahwa Syam sudah dieksekusi, itu masih disangsikan kebenarannya. Mungkin dia cuma disimpen saja. Yang terakhir, ini kesan saya waktu mengikuti pengadilan Sudisman. Di sana Syam diberi kesempatan untuk omong panjang lebar. Saya bisa membandingkan kesaksiannya dengan kesaksian Sudisman. Itu sangat berbeda. Kesaksian Sudisman itu mengesankan, jelas, mendalam dan bahasanya teratur. Sedangkan kesaksian Syam itu bukan main kacau-balaunya. Dia banyak memakai bahasa-bahasa dari jaman revolusi yang sudah tidak berlaku lagi. Malahan seolah-olah orangnya itu agak sinting. Jadi sulit masuk di akal kalau orang seperti ini menjadi kepala biro yang sangat rahasia dan penting. Jadi banyak hal yang masih belum jelas. T: Pak Ben mengikuti sendiri pengadilan Sudisman. Dia satu-satunya pucuk pimpinan PKI yang diadili. Apa kesimpulan Pak Ben dari pengadilan Sudisman itu? J: Dari kesaksian Sudisman saya dapat kesan bahwa dia merasa diri dalam keadaan di mana partai yang ikut dia pimpin itu dihancurkan secara mengerikan. Ratusan ribu yang mati. Dan dia sebagai seorang pemimpin dan sebagai seorang Jawa merasa bertanggung-jawab. Bagaimanapun, kalau pimpinannya baik dan beres seharusnya hal seperti itu tidak terjadi. Karena itu dia menamakan pembelaannya itu „Uraian Tanggung Jawab." Dia tidak mau debat tentang soal ini-itu. Dia cuma bilang, „Bagaimanapun juga, sebagai pimpinan tertinggi yang masih hidup, saya memakai kesempatan ini untuk meminta maaf atas apa yang terjadi." Sudisman tidak pernah bilang bahwa dia ikut merencanakan G-30-S. Dia cuma bilang bahwa rupanya ada unsur-unsur PKI yang terseret. Dia tidak membicarakan soal Biro Khusus. Tidak membenarkan dan juga tidak membantah adanya. Waktu Syam memberi kesaksian, Sudisman tidak mau melihat mukanya dan tidak mau menjawabnya. Yang jelas, untuk sebagian besar dari saksi-saksi waktu itu informasi tentang adanya Biro Khusus itu sesuatu yang mengejutkan sekali. Jelas mereka sama sekali tidak tahu menahu. PERANAN RPKAD T: Ini catatan dalam Cornell Paper. Pasukan RPKAD sampai di Semarang tgl 19 Oktober. Bentrokan pertama dengan ormas PKI terjadi di Boyolali tgl 21 Oktober. Selama 3 minggu, tgl 1 sampai 21 Oktober, tidak ada bentrokan berdarah. Walaupun pemberitaan di koran, TV dan radio tentang Lubang Buaya sangat memanaskan suasana, menyebarkan ketakutan, dst. Bagaimana Pak Ben menjelaskan 3 minggu tanpa bentrokan ini? J: Saya kira sebagian karena kekuatan sosial pada tingkat sipil cukup seimbang. Jadi orang merasa bahwa organisasi PKI dan keluarga besar PNI itu kira-kira seimbang. Di Jawa Tengah NU itu tidak begitu berpengaruh. Pertama orang merasa tidak ada kelompok yang dominan. Dan walaupun suasana tegangnya bukan main, saya nggak yakin bahwa orang Jawa Tengah, kalau tidak ada orang yang mengipasi mereka, mau cepat-cepat membantai tetangganya. Kita harus ingat di desa-desa, di kota-kota, orang PKI itu bukannya bergerak di bawah tanah. Mereka itu tetangga, yang saban hari ketemu, masih famili, dsb. Banyak anggota PNI yang punya saudara PKI, dsb. Kalau tidak dibikin suasana yang luar biasa tegangnya tidak akan terjadi apa-apa, dalam arti pembantaian. Justru pentingnya kedatangan RPKAD adalah orang-orang anti PKI merasa bahwa angin sudah berada di pihak mereka. Mereka yang mau netral dapat petunjuk dari RPKAD kalau membuktikan kamu bukan orang PKI maka kamu harus membunuh PKI. Ini khususnya ditujukan kepada pemuda-pemuda, pemuda Islam, pemuda Banteng, pemuda Kristen, Katolik, dsb. Jadi kalau tidak ada pembantaian sebelum RPKAD datang. Itu justru menunjukan apa yang terjadi tidak spontan. PKI sendiri juga takut.

T: Kesatuan-kesatuan yang mendukung G-30-S itu dari Diponegoro, lalu mereka menguasai Jawa Tengah. Lalu RPKAD datang. Bukankah kedua kekuatan itu seimbang? J: Itu benar pada hari-hari pertama. Tetapi jangan lupa bahwa Suherman, Maryono, sman, dkk, itu hanya berkuasa selama kirakira 48 jam. Setelah itu Pangdamnya, Suryosumpeno, sempat ambil kembali posisi sebagai panglima. Lalu orang-orang ini hilang entah ke mana. Bahwa ada kesatuan-kesatuan di Jawa Tengah yang bersimpati pada PKI, itu mungkin sekali. Karena sebagai kelompok teritorial bagaimanapun mereka berada di tengah masyarakat Jawa Tengah. Tentara ini sedikit-banyak akan membantu PKI. Tapi kira-kira mulai tanggal 3 Oktober, pimpinan Diponegoro tidak lagi di tangan perwira-perwira yang pro G-30-S. Dan kesatuan-kesatuan yang dicurigai itu langsung ditarik ke daerah lain. Tapi, ini dapat dibuktikan, pembunuhan juga baru mulai di Jawa Timur setelah RPKAD berpindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Di Bali, pembunuhan massal baru mulai setelah RPKAD pindah dari Jawa Timur ke Bali. Kalau membandingkan tiga propinsi ini, tiga minggu yang tenang di Jawa Tengah itu aneh. Lebih aneh lagi karena ada enam minggu yang tenang di Jawa Timur. Dan malahan ada dua bulan yang tanpa pembunuhan di pulau Bali. Bagaimana pembunuhan massal itu dilaksanakan? „Faktor yang pertama adalah policy atau kebijaksanaan dari pimpinan tentara di Jakarta yang diwujudkan dengan pengiriman RPKAD ke Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali. Senjata, latihan, perlindungan, kendaraan, dsb, dikasih kepada kelompok-kelompok pemuda yang mereka hubungi." Mengapa orang mau disuruh membunuh? Mau dipakai sebagai alat? „Itu mungkin menunjukan gejala yang lebih mendasar. Buat saya faktor yang utama adalah keadaan ekonomi. Mulai kira-kira tahun 1961-62 inflasi di Indonesia melejit secara mengerikan." Tentang konflik antara kelompok agama dengan PKI, „Ini timbul sebagai akibat Undang-Undang Pokok Agraria dan Undang-Undang Pokok Bagi Hasil." PEMBUNUHAN MASSAL T: Sekarang (1996) hampir semua koran di dunia melaporkan orang PKI yang dibunuh pada tahun 1965 itu jumlahnya sekitar 500 ribu. Misalnya dalam editorial New York Times (1 Ags), The Economist (3 Ags) dan editorial Washington Post (20 Ags). Dalam pemberitaan media di Indonesia, jumlah korban ini jarang diungkapkan. Dan siapa yang jadi korban itu juga tidak dijelaskan. Tahun 1985, dalam majalah Indonesia nomor 40, Pak Ben bilang, „Probably between 500.000 and 1.000.000 Indonesians died at the hands of other Indonesians." J: Pertama harus dikatakan bahwa tidak ada orang yang tahu persis berapa jumlahnya orang yang dibunuh pada waktu itu. Angka 500 ribu itu diambil dari pernyataan Adam Malik dan pernah juga dari Soedomo. Tapi apa mereka sendiri tahu? Itu nggak jelas. Itu cuma perkiraan. T: Menurut Pak Ben apa sebab terjadinya pembunuhan massal selama akhir 1965 itu? J: Kalau sebab-sebab ada dua faktor. Faktor yang pertama adalah policy atau kebijaksanaan dari pimpinan tentara di Jakarta yang diwujudkan dengan pengiriman RPKAD ke Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali. Mereka ingin supaya PKI dihancurkan dan mereka ingin juga bahwa ini tidak hanya dikerjakan oleh tentara tapi juga oleh kelompok-kelompok yang mau dijadikan sekutu untuk membangun apa yang belakangan dinamakan Orde Baru. Jadi mereka menyertakan warga Banteng, NU, Katolik, Protestan, dsb. Karena itu senjata, latihan, perlindungan, kendaraan, dsb, dikasih kepada kelompok-kelompok pemuda yang mereka hubungi. Jadi kalau policy pimpinan tentara ini tidak ada, kemungkinan terjadi pembunuhan massal itu saya kira tidak besar. Tetapi mengapa orang mau disuruh membunuh? Mau dipakai sebagai alat? Itu mungkin menunjukan gejala yang lebih mendasar. Buat saya faktor yang utama adalah keadaan ekonomi. Mulai kira-kira tahun 1961-62 inflasi di Indonesia melejit secara mengerikan. Saat itu saya sendiri ada di Indonesia. Saya lihat saban minggu itu harga barang bisa berlipat ganda. Duit tidak ada arti sama sekali. Khususnya bagi orang-orang gajian itu menimbulkan suasana yang panik. Kalau pejabat gajinya tidak berarti lagi, mereka cepat-cepat lari ke dunia korupsi, catut, dsb. Orang melarikan duitnya untuk beli tanah. Karena tanah dianggap sesuatu yang bisa mempertahankan harganya. Keadaan ekonomi waktu itu menimbulkan suatu kegelisahan di seluruh Indonesia. Orang merasa masa depannya sangat gelap, tidak normal dan serba tak tentu. Ini yang penting. Terus, ada kemiskinan yang luar biasa. Saya ingat waktu itu jalan-jalan di Yogya-Solo, banyak orang yang geleparan di pinggir jalan. Orang yang mati karena busung lapar. Bung Karno sendiri tidak malu untuk bikin propaganda supaya orang makan tikus sawah. Dan dia sendiri mengaku pernah makan tikus sawah. Saya sendiri nggak percaya. Tapi itu penting. Ketiga, konflik antara kelompok agama dengan PKI. Ini timbul sebagai akibat undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan Undang-Undang Pokok Bagi Hasil (UUPBH). PKI memperjuangkan Land Reform justru ketika tanah menjadi sangat penting, beras menjadi sangat penting, pembagian hasil menjadi sumber konflik yang luar biasa. Apalagi dalam hal Land Reform salah satu pengecualian yang penting adalah tanah-tanah yang menjadi milik dari lembaga agama—umpamanya mesjid, surau, gereja dsb—tidak boleh diganggu gugat. Dalam suasana seperti itu orang-orang yang punya tanah lebih, supaya bisa tetap pegang tanahnya, lebih sering justru menyerahkannya kepada wakaf, kalau Islam. Dan lembaga yang seperti itu juga untuk yang Kristen. Di mana dia bisa ikut sebagai pimpinan. Jadi seperti dilaporkan oleh Lance Castles dalam artikelnya dalam majalah Indonesia pada tahun 1966 itu, kita ambil contoh pesantren Gontor. Dalam satu tahun tanah yang dimiliki oleh Gontor ini bisa bertambah sepuluh kali. Jadidengan mendadak lembaga agama menjadi tuan tanah yang terbesar. Kalau orang-orang kiri, orang-orang yang pro-Land Reform, mau ribut soal tanah ini, mereka langsung berhadapan bukan dengan individu tuan tanah tapi langsung menghadapi lembaga agama. Banyak orang tergugah untuk membela. Mereka bukannya mau melindungi tuan tanah tapi bagaimanapun mereka pasti mau melindungi atau membela lembaga agama mereka. T: Pembunuhan massal terjadi di desa-desa Jateng, Jatim dan Bali. Di Jateng yang dominan itu Islam abangan. Di Jatim Islam santri, dan di Bali itu semuanya Hindhu. Tapi di Jawa Barat, tidak ada pembunuhan besar-besaran. Padahal Jabar adalah daerah yang Islamnya paling taat, daerahnya Masyumi. Pemenang Pemilu-55 dan Pemilu Daerah-57 di Jabar adalah Masyumi. Bagaimana Pak Ben memahami hubungan antara pembunuhan massal ini dengan agama penduduk setempat? J: Isu agama ini gampang dipakai selama PKI dapat dianggap sebagai kelompok anti agama. Dan harus diingat bahwa paman Karl Marx pernah mengatakan bahwa agama itu candu supaya masyarakat tidak menghadapi realitas siapa yang menindas. Ini sulit dicabut oleh PKI, walaupun mereka berusaha supaya tidak confrontational terhadap agama. Tapi isu agama ini gampang dipakai. Apalagi di negara komunis pimpinan agama diusir, Uni Soviet itu atheis, dsb. Jadi bagaimanapun isu agama ini salah satu alat pemukul di kalangan lawan PKI. Tetapi waktu mengikuti pengadilan Sudisman, saya lihat banyak saksi-saksi dari pihak PKI. Dan hanya sedikit—Sudisman sendiri, mungkin satu-dua lagi yang tidak mau ambil sumpah secara agama, menggunakan Al Qur’an, Al Kitab, dsb. Jadi saya yakin sebagian besar dari orang-orang PKI itu sebenarnya juga orang beragama. Itu faktor penting. Soal perbedaan antara daerah-daerah memang menarik. Karena pembunuhan ini tidak terjadi di mana-mana secara merata di seluruh Indonesia. Di sini kami bisa melihat betapa menentukan faktor pimpinan tentara lokal. Ambil contoh umpamanya Jabar. Pada tahun 68 saya sempat mewawancara jenderal Ibrahim Adjie yang pada waktu peristiwa dia menjadi Pangdam Siliwangi. Pada waktu itu dia dianggap sebagai saingannya Suharto, lalu dibuang ke London jadi Dubes di sana. Saya ngomong lama sama beliau.

Saya tanya, kenapa kok tidak ada pembunuhan besar-besaran di Jawa Barat? Sebenarnya memang ada, umpamanya di Indramayu, tetapi tidak meluas. Dia bilang, „Itu sebabnya karena saya tidak ingin ada pembantaian di Jawa Barat. Karena merasa bagaimanapun ini sebagian besar orang biasa, orang-orang kecil. Akan mengerikan kalau mereka itu dibunuh. Saya sudah kasih perintah kepada semua kesatuan di bawah saya, orang ini ditangkap, diamankan. Tapi jangan sampai ada macem-macem." Ternyata kewibawaan si Adjie yang terkenal jenderal kanan, yang dekat dengan Amerika, itu berlaku penuh. Sebaliknya di Jawa Timur pimpinan tentara pada waktu itu lemah. Saya lupa nama panglimanya. Mungkin Sunaryadi? Tapi jelas kolonel-kolonel, komandan Korem merasa bisa bergerak dangan sendirinya. Umpamanya Danrem di Kediri yang masih famili dengan salah satu jenderal yang dibunuh di Jakarta, itu mengambil inisiatif sendiri. Sebagian timbul karena perpecahan. Kalau RPKAD sudah masuk orang merasa bahwa untuk selamat mereka harus berbuat sesuatu. Di Bali juga begitu. Ini menarik dan penting. Karena di Jawa Barat, di mana RPKAD tidak pernah putar-putar, justru tidak terjadi pembantaian. T: Mengapa tidak ada perlawanan dari orang PKI? J: Ya karena mereka tidak punya senjata. Mau apa? PENGARUH LUAR NEGERI? BUDAYA? T: Bagaimana pengaruh faktor luar negeri? J: Daftar orang PKI yang dibikin orang kedutaan Amerika itu? T: Ya. Orang kedutaan AS itu kan bikin daftar 5 ribu orang PKI, lalu dia serahkan ke Suharto. J: Saya juga kenal dengan orang Amerika itu. Karena waktu di Jakarta saya kadang-kadang ke Kedutaan Amerika dan ini orang memang punya obsesi yang aneh. Mungkin karena dia dididik sebagai Kremlinologist, dia sibuk bikin daftar dari orang-orang PKI. Pada waktu itu menjadi bahan ketawaan pegawai di kedutaan sendiri. Seolah-olah tentara Indonesia tidak pernah bikin daftar. Padahal mereka jauh lebih mengikuti seluk beluknya politik di Indonesia dari pada orang Aamerika. Pada waktu itu orang kedutaan Amerika yang dapat berbahasa Indonesia dengan fasih, boleh dikatakan baru satu-dua. Saya tidak percaya bahwa tentara memerlukan daftar yang dibuat oleh pegawai kedutaan Amerika. PKI itu tidak di bawah tanah. T: Salah satu studi Pak Ben yang lain adalah tentang „Mitologi dan Toleransi Orang Jawa," terbit tahun 1965. Bagaimana Pak Ben menjelaskan pembunuhan massal itu dari pemahaman tentang budaya Jawa? J: Saya merasa kita harus membedakan kebudayaan dalam keadaan normal, ketika tidak ada ketegangan mencekam, tidak ada suasana ketakutan yang luar biasa. Kalau melihat kehidupan sehari-hari dari orang Jawa, apalagi orang Jawa Tengah, mereka berusaha menghindari konflik yang terbuka, dsb. Tapi dalam masyarakat apapun juga—kalau kita lihat sejarah dunia modern pembantaian, pembunuhan yang luar biasa kejamnya, bisa timbul dalam suasana ketika orang merasa situasi sudah tidak ada ketentuan. Saya ambil contoh, umpamanya Yugoslavia. Pada akhir kesatuan Yugoslavia orang makin merasa bahwa hukum tidak berlaku, alat negara jelas terpecah, sebagian ikut ini sebagian ikut itu. Situasi ekonomi sudah mulai hancur. Dalam situasi seperti itu orang akan coba menyelamatkan diri sendiri dengan cara apapun. Mereka harus berbuat sesuatu yang dalam keadaan normal tidak mungkin terjadi. Kita lihat umpamanya di Yugoslavia banyak sekali terjadi perkawinan antara orang Serbia dan Bosnia. Dan memang bahasanya sama. Jadi selama tiga puluh tahun sebelum terjadi huru-hara nggak ada masalah. Tapi kalau ketakutan besar sudah mulai, ya bisa terjadi bahwa si bapak yang Serbia terpaksa—supaya tidak dianggap antek karena bininya sebagai orang Bosnia calon penghianat dia harus berbuat sesuatu yang kejem, demi keselamatan diri sendiri. Bisa juga dia malah membunuh istrinya sendiri. Dan ini bener-bener terjadi. Kita lihat situasi yang sama umpamanya ketika terjadi pembagian India dan Pakistan oleh Inggris. Dan terjadi juga di tempattempat yang lain. Saya yakin di Amerikapun, kalau dalam situasi ketakutan seperti itu, akan banyak kekejaman yang bisa terjadi. Jadi saya merasa ini tidak kontradiktif dengan toleransi sehari-hari orang Jawa. Kekejaman ini harus dikaitkan dengan situasi yang serba tidak tentu. Kita lihat bagaimana setelah peristiwa terjadi tidak pernah ada orang yang nongol di depan umum dengan bangga ngaku bahwa saya telah membunuh seratus lima puluh orang PKI. Malah propaganda dari pemerintah seolah-olah korban dari pihak pemerintah dan dari PKI kira-kira samalah. Jadi tidak ada kebanggaan atas pembantaian. Jaman sekarang istilah yang paling sering disebut adalah trauma. Itu jelas bukan trauma untuk yang mati, karena mereka sudah mati. Trauma justru untuk yang menang dan yang membunuh. Banyak orang yang membunuh akhirnya menjadi gila. T: Orang Jawa sangat dipengaruhi cerita wayang. Dalam cerita wayang, Mahabarata itu diakhiri dengan Perang Baratayuda. Ramayana juga diakhiri dengan perang besar menyerbu Alengka. Apakah ada pengaruh dari budaya wayang ini? J: Mahabarata dan Ramayana itu berasal dari India. Kalau orang Jawa itu pantang menggelarkan lakon Baratayuda karena sangat bahaya. Lakon itu dianggap dapat membawa malapetaka. Jadi itu pantang sekali. Setahu saya cuma ada satu desa di Delanggu, entah karena apa, setiap setahun sekali Baratayuda itu harus digelar. Tapi itupun harus dengan macam-macam upacara sebelumnya. Jadi sulit juga kalau dikatakan bahwa orang Jawa suka Baratayuda Siapa yang bertanggung-jawab? „Suharto dan pimpinan Angkatan Darat itu bertanggung jawab atas pembunuhan ini, itu jelas." Tentang kesalahan PKI,„Bisa dikatakan bahwa pimpinan PKI yang bertanggung-jawab atas politik partai itu mungkin memang ada salahnya." Lalu Pak Ben membuat catatan panjang tentang kesalahan pimpinan PKI. Tentang anak muda sekarang, „Kalau anak muda mengerti apa yang terjadi, mereka tidak bisa melihat situasi secara hitam-putih. Mereka harus melihat ke depan, jangan cuma menengok ke belakang." Pelajaran apa yang bisa ditarik, „Kita sebagai manusia dalam situasi tertentu bisa menjadi pembunuh. Jadi kita harus berusaha keras supaya tidak timbul situasi di mana sifat binatang di dalam diri kita masing-masing bisa ke luar." PELAJARAN SEJARAH T: Pelajaran apa yang bisa kami tarik dari pembunuhan jenderal-jenderal itu? J: Saya tidak tahu pelajaran apa yang diambil dari pembunuhan jenderal. Kecuali bahwa orang yang hidup dari kekerasan akan dihancurkan oleh kekerasan. Jadi Untung, Supardjo, Latif, dll, harus bertanggung jawab atas apa yang mereka kerjakan. Bagaimanapun kalau orang tidur di rumah tahu-tahu dibrondong mitraliyur itu mengerikannya bukan main. T: Kalau orang Indonesia tahu kebohongan tentang Lubang Buaya, lalu tahu ada pembunuhan massal, bagaimana sejarah akan menilai Suharto? J: Banyak sejarah yang hilang. Ratusan ribu orang yang jadi korban itu tidak bisa bicara lagi. Berapa sebenarnya jumlah yang dibunuh, itu mungkin kita tidak akan bisa tahu dengan pasti. Dan dalam sejarah memang banyak peristiwa pembunuhan atau kekejaman yang kemudian tidak bisa diungkapkan. Misalnya saja sejarah perdagangan budak di Afrika. Kita tidak tahu berapa yang dibunuh, bagaimana dibunuhnya, siapa yang membunuh, dst. Jadi jangan terlalu yakin bahwa seluruh sejarah 1965 ini akan bisa diungkapkan.

Sekarang memang banyak sejarah yang dihapus. Kita juga harus ingat bahwa Orba selama ini justru melakukan apa yang suka saya sebut „kebijaksanaan pembodohan" masyarakat Indonesia sendiri. Bukan hanya tentang pembunuhan tahun 65. Tetapi juga tentang bagaimana munculnya kesadaran nasional, sejarah Jaman Pergerakan yang sebenarnya, tentang Jaman Jepang, Jaman Revolusi, dsb. Karena yang mau dijadikan pahlawan itu cuma ABRI. Padahal ABRI kan belum lahir waktu orang lain sudah berjuang puluhan tahun. Tapi toh sekarang mulai terlihat usaha anak-anak muda untuk mencari informasi, untuk menggali kembali sejarah bangsanya. Seperti terlihat dalam buku „Bayang-Bayang PKI" itu, antara lain. Dan memang ini tugas anak muda, kan? Untuk tidak mau dibodohi. Tapi bahwa Suharto dan pimpinan Angkatan Darat itu bertanggung jawab atas pembunuhan ini, itu jelas. Dan bukan pembunuhan ini saja. Mereka juga bertanggung jawab atas ratusan ribu korban pembunuhan di Timtim, dan ribuan lagi orang yang dibunuh dalam kasus-kasus Irian Jaya, Aceh, Petrus, dsb. Sepanjang sejarah Indonesia, termasuk selama Jaman Belanda dan Jaman Jepang, belum pernah ada kelompok penguasa yang tangannya begitu berlumuran darah. Ya, itu fakta. T: Tadi Pak Ben bilang soal pembunuhan di Kediri yang luar biasa kejam. Tapi ada juga propinsi seperti Jabar, di mana pembunuhan tidak meluas. Apa yang bisa dipelajari dari fakta-fakta seperti itu? J: Laporan Cornell itu topik utamanya bukan pembunuhan massal. Tetapi apa yang terjadi dalam Gerakan 30 September. Apa sebabnya terjadi pembunuhan massal? Itu soal lain lagi. Untuk tahu tentang pembunuhan massal itu kita sudah tahu politik dari tentara di pusat. Tapi itu tidak selalu dilaksanakan pada tingkat lokal. Mengapa di Kediri pembunuhan meluas, tadi sudah dibicarakan, karena Danremnya saudara dari jenderal yang dibunuh. Kenapa di Jabar pembunuhan tidak meluas, juga sudah kita bicarakan. Pembunuhan di Aceh juga sangat kejam. Dan di Aceh juga banyak sekali orang Cina yang dibunuh. Itu juga karena inisiatif Pangdam Aceh waktu itu, Ishak Juarsa. Jadi ada dua tingkat. Kebijaksanaan pusat dan kebijaksanaan lokal dari pangdam, danrem, dsb. Studi yang lengkap memang belum ada. T: Ini soal media. Sebelum pembunuhan massal, media massa—koran, radio, TV dipakai Suharto untuk menyebarkan kabar bohong tentang kekejaman PKI di Lubang Buaya. Akibatnya masyarakat jadi tegang, ketakutan, saling curiga. Apa yang bisa kami pelajari dari pengalaman dengan media ini? J: Kita harus belajar menghadapi media massa. Apalagi kalau sudah dimonopoli oleh suatu kelompok. Kita harus skeptis, curiga, jangan cepat percaya. Harus bisa membandingkan informasi dari media yang dikontrol penguasa itu dengan informasi lain, dengan pengalaman diri sendiri, dengan media luar negeri, internet, dll. Karena media massa itu jelas alat penguasa yang dipakai untuk kepentingan penguasa. Bukan hanya di Indonesia, di Amerika juga begitu. Kalau lihat TV di sini selalu saya punya sikap curiga. Pokoknya belum tentu benar. Apalagi kalau media itu condong menghasut si penonton untuk jadi fanatik, untuk membenci, dsb. Kita harus skeptis. Belajar menjaga diri supaya nggak ikut terseret. Saya sudah mengalami keadaan demikian di beberapa negara. Bukan cuma di Indonesia saja. Saya lihat bagaimana media massa di Inggris waktu Perang Malvinas. Media massa di Amerika waktu Perang Vietnam juga begitu. Jadi ini bukan sifat khusus media massa di Indonesia. Tetapi sifat khusus dari penguasa yang kalang kabut atau yang punya maksud jelek. Kalau sekarang, kita bisa lihat umpamanya dalam Peristiwa 27 Juli. Tahu-tahu dicarikan kambing hitam. Sekelompok anak muda yang nggak sampai 200 orang jumlahnya. Ini jelas suatu usaha untuk bikin suasana panik. Untuk menutupi sebab-sebab sebenarnya dari peristiwa itu. T: Menurut Pak Ben apa kesalahan PKI? J: Saya tidak mau bilang bahwa PKI punya salah. Karena PKI itu suatu keluarga besar yang isinya jutaan orang. Saya tidak percaya kalau suatu organisasi yang begitu banyak manusianya, yang begitu beraneka warna, itu punya salah. Tapi bisa dikatakan bahwa pimpinan PKI yang bertanggung-jawab atas politik partai itu mungkin memang ada salahnya. Pertama, pimpinan PKI mungkin tidak betul-betul mengerti atau tidak mempertimbangkan dengan matang kontradiksi yang ada antara strategi politik yang berdasarkan pemilihan umum, aktivitas terbuka yang legal, keanggotaan partai yang jutaan—dengan retorika yang sangat radikal. Retorika PKI waktu itu cocok untuk dipakai dalam perang gerilya. Di mana pada akhirnya perjuangan akan ditempuh dengan jalan kekerasan. PKI menganjurkan banyak sekali orang-orang biasa untuk ikut. Dan mereka jelas tidak pernah ada pikiran bahwa sewaktu-waktu bakal ada pembunuhan besar-besaran. Kalau mau mengajak jutaan orang biasa yang kerja di kantor, di desa, di kampung, untuk ikut suatu partai yang legal, di atas tanah, memakai lembaga-lembaga parlemen, pemilu, dsb. Tetapi sekaligus juga memakai retorika bahwa seolah-olah sewaktu-waktu bakal terjadi krisis yang revolusioner, di mana ini mau dihancurkan, itu mau dihancurkan, maka itu menimbulkan kontradiksi yang lumayan bahayanya. Karena lawan politik yang mendengar retorika seperti itu—bahwa sekali waktu kamu akan dihancurkan, akan dibeginikan-dibegitukan tentu merasa pada akhirnya akan terjadi suatu konflik fisik yang luar biasa dahsyatnya. Jadi dengan sendirinya mereka akan mempersiapkan diri. Dan pada waktu itu justru lawan PKI lah yang punya senjata. Saya pernah dengar-dengar, Mao Tse Tung pernah mengatakan begini kepada pimpinan PKI, „Ini nggak bener. Kalau kamu mau menghancurkan ini, menghancurkan itu, ya itu nggak bisa di kota-kota, nggak bisa di parlemen,nggak bisa di tengah orang ramai. Itu harus di gunung, harus bikin perang pembebasan rakyat. Dan sebaliknya kalau kamu betul-betul mau pakai cara parlementer, maka retorika dan analisamu harus cocok dengan situasi dan strategi yang kamu pakai." Jadi dengan demikian ada kemungkinan pimpinan PKI juga ikut membuka kesempatan untuk apa yang kemudian terjadi. Tapi, ya tentu ini cuma pendapat orang luar, seorang outsider. Saya juga merasa, kadang-kadang PKI juga terlalu mencari musuh yang nggak perlu. Umpamanya kampanye terhadap Manikebu (Manifesto Kebudayaan). Itu bukan kelompok yang penting, cuma beberapa orang yang sama sekali tidak berbahaya. Padahal lawan sebenarnya dari PKI itu, ya konglomerat, pimpinan tentara, dsb. Tetapi PKI tidak berani langsung menghadapi mereka. Lalu dicarikan target yang lebih gampang. Secara taktis ini tidak baik. Dan menimbulkan kesan PKI selalu ingin menang sendiri. Pada waktu ada pemilihan umum yang bebas di Indonesia, partai yang paling besarpun tidak bisa dapat pendukung lebih dari 25% dari masyarakat. Tidak mungkin ada suatu organisasi yang bisa menang secara mutlak. Bagaimanapun Indonesia baru akan bisa maju dengan baik kalau ada persekutuan, ada aliansi antara kelompok-kelompok yang beraneka ragam. Selain itu saya juga dapat kesan begini. Ini kesan yang timbul ketika mengikuti pengadilan Sudisman. Pada waktu Sudisman menghadapi kematiannya sendiri, dia tahu bahwa pengadilan itu adalah saat terakhir dia bisa ngomong. Dia banyak melepaskan diri dari bahasa resmi, bahasa formal, bahasa standard dari partainya. Lalu dia mulai ngomong sebagai manusia. Ya tentu bahasa partainya juga cukup banyak. Tetapi pidatonya itu mengesankan justru karena tidak pakai bahasa resmi. Dia ngomong sebagai orang Jawa, sebagai orang Indonesia, orang yang pernah ikut revolusi, yang ikut berjuang, dsb. Itu mengesankan. Jadi sepertinya PKI terlalu mengajak orang untuk ngomong dengan bahasa yang terlalu distandarisasikan, terlalu monoton, terlalu uniform. Sehingga bisa dibilang itu membunuh atau mengurangi kreatifitas. T: Apakah rasa dendam dari mereka yang keluarganya dibunuh itu mungkin bakal muncul sekali waktu nanti?

J: Ada kemungkinan bakal muncul individu-individu yang demikian. Tapi jangan lupa bahwa peristiwa ini terjadi 30 tahun yang lalu. PKI sudah hancur selama 30 tahun. Dan kemenangan tentara adalah kemenangan yang mengerikan. Tetapi, dan ini perlu dimengerti juga, bahwa dalam proses membunuh, menyiksa, dsb, ternyata ada juga sebagian anggota partai, malahan juga di kalangan atasnya, yang kemudian ikut jadi penyiksa dan pembunuh. Jadi PKI tidak hanya dihancurkan oleh lawannya. Tetapi sebagian juga dihancurkan oleh anggotanya sendiri. Nah ini suatu luka yang sangat dalam. Kalau anak muda mengerti apa yang terjadi, mereka tidak bisa melihat situasi secara hitam-putih. Dan toh Indonesia sudah banyak berubah. Masalah Indonesia sudah lain dan dunia juga sudah lain. Mereka harus melihat kedepan, jangan cuma menengok ke belakang. Harapan ada didepan. Tidak pernah ada di belakang. T: Dalam periode sejarah yang serem ini, apakah Pak Ben melihat orang-orang yang bisa dianggap pahlawan? J: Saya bukan orang yang gampang mencari pahlawan. Tapi saya tahu ada orang-orang yang semangat dan achlaknya memang saya kagumi. Saya kasih contoh 3 orang. Pertama, Pak Pram tentunya. Yang dengan segala penderitaannya toh bisa menciptakan karya sastra yang luar biasa dan tidak pernah mau tunduk kepada penindasnya. Saya juga angkat topi kepada teman saya yang sudah lama meninggal, si Soe Hok Gie. Yang walaupun aktif melawan PKI, tetapi pada waktu pembantaian massal, penangkapan dan pengiriman ke Buru, dia satu-satunya orang yang pada waktu itu berani mengatakan di pers bahwa ini salah. Dia satusatunya orang yang menyatakan begitu pada tahun 60-an. Yang ketiga, tentunya almarhum Pak Yap. Dia bersedia membela orang-orang yang sudah pasti akan dihukum mati. Yang notabene adalah lawan politiknya. Tapi dia berusaha keras membela mereka sebagus mungkin. Walaupun karena itu dia sendiri tentu rugi. Karena jadi dibenci oleh penguasa. Apakah mereka ini bisa dianggap pahlawan? Mungkin belum tentu. Tetapi sebagai orang yang punya karakter, punya moralitas, punya integritas, saya mengagumi mereka. T: Kalau di antara politikus? J: Sorry ya, nggak ada yang saya kagumi. T: Kalau di kalangan orang-orang biasa? Pahlawan saya itu orang-orang biasa, pak. Tentu banyak juga orang-orang biasa yang sudah berani ambil resiko untuk menolong korban waktu itu. Atau menolong keluarga dan anak-anak orang yang dibunuh, dipenjara atau dibuang. Atau orang seperti Ibu Pram, dalam memoar Pak Pram di P. Buru, „Nyanyi Sunyi Seorang Bisu." Atau seperti Ibu Oey dalam „Memoar Oey Tjoe Tat." Mereka itu istri yang setia luar biasa dan tabah bukan main. Mereka bisa terus mengurus keluarga ketika suaminya dibuang belasan tahun, waktu anaknya masih kecil-kecil. Mereka kan orang biasa. Mungkin lebih gampang buat jadi contoh. J: Ya. Tentu banyak orang yang bisa kita jadikan contoh. Cuma kita tidak tahu ama mereka. Tapi saya tahu dua contoh. Waktu pengadilan Sudisman saya masih ingat banyak saksi dari PKI, dari atas sampai bawah. Banyak sekali dari golongan atas yang sebenarnya memalukan sekali kesaksiannya. Mereka jelas-jelas mau mencoba mencuci tangan, melarikan diri dari tanggungjawab ebagai atasan. Tapi ada dua orang yang sikapnya bagus. Yang pertama Sri Ambar dari Gerwani. Dan yang paling mengesankan itu seorang anak Cina yang masih muda. Saya tidak ingat namanya. Dia menjadi kurirnya Sudisman waktu dalam persembunyian. Anak muda itu orangnya polos, berani, sopan, dan tidak pernah mau bertekuk lutut terhadap pengadilan. Tentu dia bukan orang yang penting, bukan orang yang dikenal namanya. Tetapi sikapnya hebat. T: Secara umum, pelajaran apa yang bisa kami tarik dari pembunuhan massal-65? J: Kalau tentang pembunuhan massal, ada perasaan umum di Indonesia yang seolah-olah peristiwa serem semacam itu jangan sampai terjadi lagi. Ini suatu yang mengerikan dan memalukan. Pelajaran satu lagi, bahwa kita sebagai manusia dalam situasi tertentu bisa menjadi pembunuh. Jadi kita harus berusaha keras supaya tidak timbul situasi di mana sifat binatang di dalam diri kita masing-masing bisa ke luar (Habis). (Wawancara tgl 20 & 23 September 1996). *** Ini hari tanggal 1 Oktober 1965, 32 tahun yang lalu Gerakan 30 September melancarkan aksinya terhadap „Dewan Jenderal". Aksi yang semula direncanakan tanggal 30 September oleh penanggungjawabnya diubah menjadi 1 Oktober 1965. Sesudah peristiwa tersebut setiap tanggal 1 Oktober selalu diperingati oleh penguasa orde baru-Suharto keberhasilan menggunakan G30S sebagai alasan untuk menindas dan menghancurkan, membunuh 3 juta orang PKI, progresif dan rakyat biasa, menggulingkan Presiden Sukarno, merebut kekuasaannya dan menawannya hingga meninggal. Peristiwa besar ini mempunyai pengaruh yang besar dan dalam, bukan hanya pada waktu itu tetapi juga sampai sekarang, bukan hanya secara nasional tetapi juga internasional. Ia mengubah jalan, arah revolusi, sejarah Indonesia, dari arah mencapai Indonesia merdeka yang demokratis menjadi Indonesia yang militeris fasistis. Namun sampai hari ini di Indonesia masih belum jelas benar apakah peristiwa itu sebenarnya, siapakah aktor yang berdiri dibelakangnya dan apakah peranan Jenderal Suharto. Dalam menelaah peristiwa besar ini tidak dapat melepaskan dari situasi politik secara Internasional yaitu ‘Perang Dingin’ waktu itu, situasi politik regional dan dalam negeri Indonesia, pertentangan antara partai politik, golongan, kelas-kelas, perseorangan dengan kepentingan, karakter, ambisi, posisinya masing-masing yang berbeda dan bertentangan satu sama lainnya yang mempunyai pengaruh sangat dalam terhadap terjadinya peristiwa G30S. Banyak orang, dari berbagai kelompok kepentingan memainkan peranan berbeda bahkan bertentangan satu sama lain. Salah satu peranan besar yang mempunyai pengaruh menentukan bangsa ini ialah peran Jenderal Suharto, Presiden RI sekarang ini. Peran apakan yang dimainkan oleh Jenderal Suharto, terutama pada malam menjelang 1 Oktober 1997 tersebut, maka marilah kita simak kembali pembelaan kolonel Latief didepan Mahkamah Militer Tinggi II Jawa Bagian Barat pada tahun 1978. Suharto Diminta Sebagai Saksi a de charge Seperti diketahui, sesudah hampir 13 tahun kolonel Latief ditahan (ia mulai ditahan 11 Oktober 1965) maka dihadapkanlah dia ke Mahkamah Militer Tinggi (Mahmilti) II Jawa Bagian Barat pada tahun 1978. Dalam jawaban kolonel Latief terhadap tanggapan Oditur militer tinggi pada eksepsi tertuduh & pembela tanggal 6 Mei 1978, antara lain dikemukakan bahwa Jenderal Suharto terlibat didalamnya dan dua persoalan pokok: a. Jenderal Suharto terlibat langsung dalam G.30-S (tahu lebih dulu persoalan G.30-S). b. Jenderal Suharto kemudiannya memimpin langsung penggulingan Presiden Sukarno dan pemerintahannya, tanpa saya ikut didalamnya. Mengenai keterlibatan langsung Jenderal Suharto dalam G.30-S, seperti dikemukakan Kolonel Latief diatas menjadi lebih jelas dengan membaca surat kolonel Latief tertanggal 9 Mei 1978 yang ditujukan kepada Ketua Mahmilti II Jawa Bagian Barat mengenai permohonan tambahan saksi. Saksi yang dimaksudnya saksi a de charge. Sebagai alasan dari pengajuan tambahan saksi-saksi tsb, kolonel Latief antara lain mengatakan: „...demi terciptanya hukum yang adil dan tidak memihak, sesuai dengan UU No 14 thn 1970 pasal 5, dengan ini saya mengajukan saksi-saksi tambahan untuk diajukan di depan sidang ini: 1. Bapak Jenderal Suharto 2. Ibu Tien Suharto 3. Bapak RM Suharyono, ayah Ibu Tien Suharto

4. Ibu RM Suharyono 5. Ibu kolonel Suyoto 6. Ibu Dul, tamu Ibu Tien Suharto 7. Bapak Dul, tamu Ibu Tien Suharto 8. Ny Suharti, istri saya pada waktu itu 9. Subagiyo anak buah Bapak Jenderal Suharto asal Yogyakarta yang melaporkan adanya Dewan Jenderal dan Gerakan tanggal 1 Oktober 1965 10. Tuan Brackman yang mewancarai Bapak Jenderal Suharto 11. Wartawan Der Spiegel Jerman Barat yang pernah mewancarai Bapak Jenderal Suharto. Tentang tahunya Jenderal Suharto lebih dulu persoalan G.30-S, dapat diketahui dari „Laporan tentang Dewan Jenderal pada Jenderal Suharto", yang disampaikan kolonel Latief, diantaranya sbb: Disini perlu saya ungkapkan dimuka sidang Mahmilti ini agar persoalannya lebih jelas. Dua hari sebelum peristiwa tanggal 1 Oktober 1965, saya beserta keluarga mendatangi ke rumah keluarga Bapak Jenderal Suharto di rumah jl.H.Agusalim, yang waktu itu beliau masih menjabat sebagai Panglima Kostrad, disamping acara keluarga, saya juga bermaksud:"menanyakan dengan adanya info Dewan Jenderal, sekaligus melaporkan kepada beliau". Oleh beliau sendiri justru memberitahukan kepada saya, bahwa sehari sebelum saya datang ke rumah beliau, ada seorang bekas anak buahnya berasal dari Yogyakarta, bernama Soebagiyo, memberitahukan tentang adanya info Dewan Jenderal AD yang akan mengadakan coup d’etat terhadap kekuasaan Pemerintahan Presiden Sukarno. Tanggapan beliau akan diadakan penyelidikan. Oleh karena itu tempat/ruangan tsb banyak sekali tamu, maka pembicaraan dialihkan dalam soal-soal lain, antara lain soal rumah. Saya datang kerumah Bapak jenderal Suharto bersama istri saya dan tamu istri saya berasal dari Solo, Ibu kolonel Suyoto dan dalam perjamuan di ruangan beliau ada terdapat Ibu Tien Suharto, orang tua suami istri Ibu Tien, tamu Ibu Tien Suharto berasal dari Solo bersama Bapak Dul dan Ibu Dul, juga termasuk putera bungsu laki-laki Bapak Jenderal Suharto, yang kemudian harinya ketimpa sup panas. Jenderal Suharto Berdalih Selain daripada itu, sesuai laporan seorang penulis bernama Brackman, menulis tentang wawancara dengan Jenderal Suharto, sesudah peristiwa1 Oktober 1965, kira-kira pada tahun 1968. Diterangkan bahwa dua hari sebelum 1 Oktober 1965, demikian kata Jenderal Suharto: anak laki-laki kami yang berusia 3 tahun mendapat kecelakaan di rumah, ia ketumpahan sup panas dan cepat-cepat dibawa ke rumah sakit. Banyak kawan-kawan yang datang menjenguk anak saya dimalam tanggal 30 September 1965. Saya juga berada disitu. Lucunya kalau ingat kembali. Saya ingat kolonel Latief datang ke rumah sakit malam itu untuk menanyakan kesehatan anak saya. Saya terharu atas keprihatinannya. Ternyata kemudian Latief adalah orang penting dalam kup yang kemudian terjadi. Kini menjadi jelas bagi saya bahwa Latief ke rumah sakit malam itu bukanlah untuk menengok anak saya, melainkan sebenarnya untuk mengecek saya. Rupanya ia hendak membuktikan bahwa saya akan terlampau prihatin dengan keadaan anak saya. Saya diam di rumah sakit sampai menjelang tengah malam dan kemudian pulang ke rumah. Adalagi sebuah wawancara dari surat kabar Der Spiegel Jerman Barat pada bulan Juni 1970 yang menanyakan bagaimana Suharto tidak termasuk dalam daftar Jenderal-Jenderal yang harus dibunuh, Suharto menjawab: „Kira-kira jam 11 malam itu, kolonel Latief dari komplotan Pucht datang ke rumah sakit untuk membunuh saya, tapi nampaknya ia tidak melaksanakan berhubung kekawatirannya melakukan di tempat umum". Dari dua versi keterangan tsb diatas yang saling bertentangan satu sama lain, yaitu yang satu hanya „mencek" dan yang satu „untuk membunuh", saya kira Hakim Ketua sudah bisa menilai dari dua keterangan tsb dan akan timbul pertanyaan tentunya: mengapa Latief datang pada saat yang sepenting itu? Mungkinkah Latief akan membunuh Jendral Suharto pada malam itu? Mungkinkah saya akan berbuat jahat kepada orang yang saya hormati, saya kenal semenjak dahulu yang pernah menjadi komandan saya? Logisnya, seandainya benar saya berniat membunuh Bapak Jenderal Suharto, pasti perbuatan saya itu adalah merupakan suatu blunder yang akan menggagalkan gerakan tanggal 1 Oktober 1965 itu. Dari dua versi keterangan tersebut menunjukkan bahwa Bapak Jenderal Suharto berdalih untuk menghindari tanggungjawabnya dan kebingungan. Yang sebenarnya bahwa saya pada malam itu datang disamping memang menengok putranya yang sedang terkena musibah, sekaligus untuk „saya melaporkan akan adanya gerakan pada besok pagi harinya untuk menggagalkan rencana coup d’etat dari Dewan Jenderal, dimana beliau sudah tahu sebelumnya". Memang saya berpendapat, bahwa satu-satunya adalah beliaulah yang saya anggap loyal terhadap kepemimpinan Presiden Sukarno dan saya kenal semenjak kecil dari Yogyakarta siapa sebenarnya Bapak Jenderal Suharto ini. Saya datang atas persetujuan Brigjen Supardjo sendiri bersama Letkol Untung. Dengan tujuan sewaktu-waktu akan meminta bantuan beliau. Saya mempercayai kepemimpinan beliau. Seandainya berhasil menggagalkan usaha coup d’etat Dewan Jendral beliaulah sebagai tampuk pimpinan, sebagai pembantu setia Presiden Sukarno itu... Beliau yang kami harapkan akan menjadi pembantu setia Presiden/Mandataris MPR/Panglima tertinggi Bung Karno, menjadi berubah memusuhinya. Permintaan saksi tambahan (a de charge) dari Kolonel Latief ini ditolak Ketua Mahmilti dengan alasan „tidak relevan". Sedang menurut Kolonel Latief saksi a de charge yang diajukannya adalah penting dan sangat relevan dalam perkara yang dituduhkan padanya, karena saksi Jenderal Purn Suharto harus turut bertanggungjawab dalam perkara ini. Dalih Jenderal Suharto yang bohong itu, yang kepada Brackman menyatakan kedatangan Latief 30 September malam hanya „untuk mengecek", kepada Der Spiegel „untuk membunuh", menjadi lebih lengkap dengan cerita dalam otobiografinya, dimana dikatakan ia bukan bertemu dengan Latief di RSPAD, melainkan hanya melihat dari ruangan dimana anaknya dirawat, dimana ia berjaga bersama Ibu Tien, dan Latief jalan dikoridor melalui kamar itu. „Peran" Jenderal Suharto Dalam Operasi G.30-S menjadi tanda-tanya: mengapa setelah Kolonel Latief memberi laporan bahwa besok paginya 1 Oktober 1965 akan dilancarkan operasi guna menggagalkan rencana coup d’etat Dewan Jenderal, Jenderal Suharto tidak mencegah, tidak melaporkan kepada atasannya, baik kepada A Yani, Nasution maupun kepadaPresiden Sukarno? Operasi G.30-S dini hari 1 Oktober 1965 tidak akan terjadi, sekiranya Jenderal Suharto mencegahnya atau melarangnya, misalnya dengan segera menangkap Kolonel Latief dan komplotannya! Juga operasi itu tidak akan terjadi sekiranya Jenderal Suharto melaporkan kepada Jenderal A Yani, atau kepada Nasution bahkan kepada Presiden Sukarno! Dengan demikian tidak akan terbunuh 6 Jenderal itu. Peranan Jenderal Suharto sangat menentukan dalam hal berlangsung atau tidak berlangsungnya operasi G.30-S di pagi 1 Oktober 965 itu. Satu-satunya kemungkinan Jenderal Suharto berkepentingan terbunuhnya Jenderal Yani. Dengan terbunuhnya Jenderal Yani terbuka peluang bagi dirinya untuk menjadi orang pertama dalam AD. Karena ada semacam konsensus dikalangan AD bahwa bila A Yani berhalangan, otomatis Panglima Kostrad penggantinya. Panglima Kostrad ketika itu ialah dirinya Jenderal Suharto. Memang pada waktu itu di AD terdapat 3 golongan perwira tinggi, yaitu golongan yang berorientasi kiri, tengah dan kanan. Yani cs adalah perwira tinggi anti kiri tetapi setia pada Presiden Sukarno dan pernah memimpin penumpasan terhadap PRRI/PermestaPemberontak militer yang didukung AS/CIA.

Karena peran Jenderal Yani menumpas PRRI/Permesta inilah maka AS/CIA tidak senang dengan kelompok Yani cs, dan berkepentingan mengenyahkan. Jenderal Suharto termasuk kelompok kanan yang anti kiri maupun secara terselubung anti Sukarno dan karena itu berkepentingan sesuai ambisi terselubungnya menggulingkan Presiden Sukarno. Peluang itu benar-benar digunakan secara maksimal oleh Jenderal Suharto. Setelah besok paginya ia mendengar Jenderal A Yani terbunuh, ia segera engangkat dirinya menjadi pimpinan AD tanpa sepengetahuan Presiden/Pangti BRI Sukarno. Padahal pengangkatan seseorang menjadi Kepala Staf adalah hak rerogatif Presiden /Pangti ABRI. Karena jabatan itu adalah jabatan politik. Setelah ia mengangkat dirinya sebagai pemimpin AD, maka tindakan selanjutnya ang ia lakukan ialah mencegah Jenderal Pranoto Reksosamudro memenuhi anggilan Presiden/Pangti ABRI untuk datang ke Halim, guna menerima jabatan ebagai caretaker atau pengganti sementara almarhum A Yani. Terus disusul dengan langkah memberi petunjuk kepada Presiden Sukarno melalui Kolonel KKO Bambang Widjanarko agar setiap perintah yang akan dikeluarkan harus disalurkan melalui dirinya. Juga supaya Presiden Sukarno segera meninggalkan alim sebelum tengah malam 1 Oktober 1965, karena Halim akan diserbu pasukan ostrad dan RPKAD (Lihat buku „G.30-S Pemberontakan PKI", hal: 146). Kenyataan ini menunjukkan bahwa sejak 1 Oktober 1965 kekuasaan secara de facto berada di tangan Jenderal Suharto. Yang tinggal pada Presiden Sukarno anya kekuasaan de jure belaka. Soebandrio Melibatkan Aidit (PKI) Untuk menutupi dalang yang sesungguhnya dari G.30-S ialah Jenderal Suharto sendiri, maka Jenderal Suharto memfitnah PKI sebagai dalang G.30-S. Hal itu dimungkinkan karena sejak awal Soebandrio (orangnya Syahrir-PSI) berusaha melibatkan pimpinan PKI, Aidit, untuk dapat dihancurkan. Hal ini dapat diketahui dari pemeriksaan atas diri Presiden Sukarno, baik yang dilakukan Mayjen (purn) Sunarso selaku ketua Teperpu, maupun yang dilakukan Achmad Durmawel sebagai Oditur militer yang menjadi penuntut dalam pengadilan Soebandrio, seperti yang diberitakan Forum Keadilan No 14 thn ke-III, 27 Desember 1994. Menurut Forum Keadilan Mayjen (purn) Sunarso pada tgl 9 Sept 1966 mengajukan pertanyaan secara tertulis kepada Presiden Sukarno dan jawaban baru diberikan Presiden Sukarno tanggal 16 Agust 1966. Diantara yang ditanyakan: Apakah benar Bapak memanggil kembali Aidit dari Moskow, untuk mengumpulkan bahan penyusunan teks pidato 17 Agust 1965? Menjawab pertanyaan tersebut Presiden Sukarno mengatakan: „Saya telah memanggil Nyoto, Menteri Negara diperbantukan pada Presidium Kabinet Dwikora untuk turut menyumbang pendapatnya dalam peyusunan pidato saya tanggal 17 Agust 1965". Menurut kebiasaan saya, dalam penyusunan pidato itu saya minta sumbangan dari belbagai pihak, antara lain agama, nasionalis dan komunis. Berbeda dengan pemeriksaan yang dilakukan Mayjen (purn) Sunarso, maka pemeriksaan yang dilakukan Durmawel, sebagai Oditur militer yang menjadi penuntut dalam pengadilan Soebandrio, tergolong pro justicia. Durmawel menyerahkan pertanyaan tertulis melalui Sekretaris Presiden. Sebelum mengajukan pertanyaan itu, Durmawel menanyakan lebih dulu kepada Presiden Sukarno untuk diperiksa. Saya katakan (kata Durmawel) keterangan ini akan saya gunakan sebagai kesaksian dalam perkara Soebandrio. Kesaksian Presiden Sukarno itu kemudian dibacakan dalam sidang Soebandrio. Menurut Durmawel pembacaan itu sama nilainya dengan kehadiran Bung Karno di pengadilan. Inti dari kasaksian Bung Karno yang dikejar Durmawel adalah soal siapa yang memanggil DN Aidit pulang dari Moskow. Karena menurut analisanya, kepulangan Aidit di tengah isu sakitnya Bung Karno adalah dalam rangka mempersiapkan G.30-S. Artinya siapa yang berinisiatif memanggil Aidit, itulah yang tahu tentang rencana G.30-S. Ternyata Bung Karno tidak memanggil Aidit. Kesaksian itu bagi Durmawel adalah kartu truf yang melicinkan jalan bagi vonis seumur hidup untuk Soebandrio. Keterangan Durmawel berarti bahwa Soebandriolah yang tahu tentang rencana G.30-S dan berusaha melibatkan Aidit sebagai pimpinan PKI dalam peristiwa yang akan terjadi. Ya, Soebandrio sebelum itu juga telah mensuplai PKI dengan dokumen palsu Gilchrist supaya PKI kebakaran jenggot dan mendahului langkah Dewan Jenderal yang hendak melakukan kup (Lihat Dr Sulastomo dan Eckky Sahrudin dalam majalah Sinar 17 Juni 1995, hal 11). Bahwa Aidit dilibatkan Soebandrio dalam peristiwa G.30-S, adalah sejalan dengan pedapat Anthoni Dake (Tempo 6 Oktober 1990) bahwa peristiwa G.30-S itu dilatar belakangi oleh sikap Bung Karno yang sangat tak sabar melihat oposisi beberapa perwira tinggi AD terhadap program revolusinya. Ia kemudian memerintahkan Letkol Untung untuk membereskan mereka. Aidit yang mengetahui rencana itu setelah ia kembali dari RRC 7 Agustus 1965. Inilah yang membuat PKI terlibat dan karena tak ada pilihan lain mengingat PKI sangat tergantung kepada Presiden Sukarno. Sejalan dengan usaha Soebandrio melibatkan Aidit, agar PKI dapat dihancurkan, maka Kamaruzzaman (alias Syam) bekas kader Wijono dan Johan Sjahruzah (yang kemudian menjadi tokoh PSI) di zaman Jepang, yang telah berhasil memasuki Biro Chusus PKI di bawah pimpinan Aidit mengusulkan supaya Untung, bekas anak buah Suharto di Jawa Tengah, yang menjadi Ketua Dewan Revolusi. Kamaruzzaman tetap dengan usulnya itu meskipun Kolonel Latief mengusulkan supaya yang menjadi Ketua itu seorang Jenderal. Kamaruzzaman mudah mendekati Aidit, karena di tahun 1950, tatkala Aidit dan Lukman hendak muncul kepermukaan di Jakarta setelah peristiwa Madiun, Kamaruzzaman membantu kemunculannya di Tanjung Priok, sebagai penumpang gelap pada kapal yang baru datang dari Vietnam. Hal itu dimungkinkan karena Kamaruzzaman ketika itu adalah pimpinan Sarekat Buruh Perkapalan dan Pelayaran di Tanjung Priok. Kamaruzzaman ini diawal revolusi pernah menjadi anak buah Suharto dalam kelompok Pathok Yogya sewaktu melakukan penyerbuan ke sebuah tangsi tentara Jepang di Kota Baru. Pada tahun 1951 dia salah seorang dari 9 kader pilihan PSI yang mendapat pendidikan/latihan khusus dan kemudian pada tahun 1954 menjadi informan Kodam V Jaya. Dengan dijadikannya Untung sebagai Ketua Dewan Revolusi memudahkan bagi Jenderal Suharto menuduh PKI yang mendalangi G.30-S, karena Untung dikenalnya sebagai perwira yang berhaluan kiri. Itu juga dinyatakan Yoga Sugama dalam bukunya „Memori Jenderal Yoga" (hal: 49), bahwa ia mengetahui Untung perwira yang berhaluan kiri. Kamaruzzaman yang dipercayai Aidit inilah yang mempecundangi Aidit dalam gerakan. Menurut Manai Sophiaan dalam bukunya „Kehormatan bagi yang berhak" Syam membuat ketentuan bahwa persoalan yang akan disampaikan kepada Aidit tidak boleh disampaikan langsung, melainkan harus lewat dirinya. Syamlah yang akan menyampaikan kepada Aidit. Ternyata berbagai pertimbangan militer yang harus disampaikan kepada Aidit, tidak disampaikan oleh Syam, sehingga banyak hal yang tidak bisa dikoordinasikan dengan baik. Semua pertimbangan, hanya Syam sendiri yang menampung dengan akibatnya, setelah gerakan dimulai terjadi kesimpang siuran (hal:82). Semua itu dilakukan Syam untuk bosnya yang lain, Suharto dan PSI. Peranan Nasution Mengantarkan Suharto ke Kekuasaan De Jure Seperti diketahui sejak 1 Oktober 1965 kekuasaan de facto sudah berada di tangan Jenderal Suharto. Langkah berikut yang diayunkan Suharto setapak demi setapak ialah merebut kekuasaan de jure. Untuk tujuan itulah maka tanggal 11 Maret 1966 pasukan Kostrad dan RPKAD (tanpa memakai identitas) mengepung Istana Merdeka, dimana sedang berlangsung Sidang Kabinet Dwikora dibawah pimpinan Presiden Sukarno.

Menurut Frans Seda pengepungan Istana Merdeka itu adalah berdasarkan strategi Suharto untuk membikin panik sidang Kabinet dan kemudian menangkap Soebandrio (Lihat pengakuan Frans Seda, Kemal Idris, Sarwo Edhi dalam Tempo 15 Maret 1986). Sesuai dengan strategi Suharto, setelah Presiden Sukarno menerima laporan adanya pasukan liar di sekitar Istana, maka untuk keamanannya, Presiden Sukarno diterbangkan ke Bogor. 3 orang Jenderal suruhan Suharto mengikuti Presiden Sukarno ke Bogor dengan membawa pesan agar Jenderal Suharto diberi kekuasaan lebih besar. Hasilnya lahir Surat Perintah 11 Maret (Supersemar). Jadi, Supersemar adalah buah pengepungan Istana oleh pasukan liar. Supersemar itu mereka anggap sebagai „Pelimpahan kekuasaan", padahal hanya pelimpahan „tugas pengamanan" (Lihat pidato kenegaraan Presiden Sukarno 17 Agustus 1966). Dengan meyalah tafsirkan Supersemar, mereka bubarkan PKI, mereka tangkap sejumlah Menteri, mereka tangkap dan ganti DPRGR/MPRS dari PKI, PNI, Partindo dan pendukung Presiden Sukarno lainnya dan digantinya dengan kelompok pendukung Suharto. DPRGR yang „tidak konstitusional" itulah yang menuduh Presiden Sukarno melanggar GBHN, karena tidak membubarkan PKI dan menuntut MPRS supaya melangsungkan sidang Istimewa guna menyingkirkan Bung Karno dari kedudukannya sebagai Presiden. Sesungguhnya yang melanggar GBHN adalah DPRGR sendiri, karena GBHN yang berlaku ketika itu ialah GBHN-Manipol, GBHN yang memegang prinsip persatuan berdasarkan Nasakom. Membubarkan PKI sama artinya dengan menentang GBHNManipol, apalagi tidak ada bukti bahwa PKI yang mendalangi G.30-S seperti yang dikemukakan Dewi Sukarno dalam tabloit Detik No 030 th 1993. Begitu pula MPRS yang lahir dari Dekrit Presiden Sukarno kembali ke UUD 1945 tanggal 5 Juli 1959 tidaklah sama fungsinya dengan dengan MPR, seperti dikatakan Presiden Sukarno dalam amanat negaranya tanggal 10 November 1960. Presiden Sukarno mengatakan bahwa fungsi MPRS itu sama dengan lembaga-lembaga negara yang lain, yaitu sebagai alat revolusi dan tidak berwenang merubah UUD 1945 serta memilih Presiden dan Wakil Presiden. Menurut JK Tumakaka bahwa MPRS tsb adalah semacam Komite Nasional. Ini sesuai dengan pasal IV aturan peralihan UUD 1945, artinya berkedudukan sebagai pembantu Presiden. Karena itu pulalah Ketua dan Wakil-wakil ketuanya berkedudukan sebagai Menteri ex-officio (masyarakat Pancasila, secercah pengalaman bersama Bung Karno", hal: 191-194). Namun demikian Jendral Nasution sebagai ketua MPRS (yang sudah diordebarukan) menerima usul DPRGR (yang pernah direvisi berdasarkan penyalah-tafsirkan Supersemar) untuk mengadakan Sidang Istimewa MPRS. Melalui pidato pembukaan Sidang Istimewa MPRS tertanggal 7 Maret 1967, Jenderal Nasution secara berselubung „mendekritkan" perubahan kedudukan MPRS dari sebagai pembantu Presiden menjadi sepenuhnya seperti MPR. Padahal belum ada pemilihan umum untuk memilih MPR seperti yang ditetapkan UUD 1945. Nampaknya Jenderal Nasution tidak mau kalah hebat dari Presiden Sukarno yang mendekritkan kembali ke UUD 1945, maka ia mendekritkan kembali ke MPR, padahal MPRnya belum pernah ada. Pendekrittan" Jenderal Nasution itu tercermin dengan pidatonya, yang antara lain mengatakan: „Sidang Umum I, II dan III berbeda dengan Sidang Umum IV (Sidang Istimewa ini-pen). Tiga Sidang Umum tadi berdasarkan Penpres dan wewenangnya pada azasnya masih dibatasi kepada penentuan GBHN...dengan Sidang Umum IV telah kembali ke MPRS, maupun Presiden, DPR kekuasaan kehakiman dan kekuasaan pemerintahan pada posisi dan wewenang menurut UUD 1945 dan bukan lagi menjadi pembantu Presiden/PBR sebagaimana hakikat sebelum itu" (Memenuhi Panggilan Tugas, jilid 7, hal: 163-164). „Dekrit" Nasution, yang ketua MPRS (bukan Presiden) itu sangat bertentangan dengan pasal IV Aturan Peralihan UUD 1945 yang berbunyi: „Sebelum MPR, DPR, DPA dibentuk menurut UUD ini, segala kekuasaan dijalankan oleh Presiden dengan bantuan sebuah Komite Nasional". MPR seperti yang dimaksud pasal IV itu belum terbentuk, belum ada pemilihan. Yang ada hanya MPRS, hasil Dekrit 5 Juli 1959 dari Presiden Sukarno. Dengan „Dekrit" Nasution yang merubah kedudukan MPRS menjadi MPR, yang bertentangan dengan pasal IV Aturan Peralihan UUD 1945, MPRS menarik mandat dari Presiden Sukarno serta segala kekuasaan pemerintahan yang diatur dalam UUD 1945 dan mengangkat Jenderal Suharto sebagai pejabat Presiden. „Dekrit" Nasution itulah yang telah melapangkan jalan bagi keberhasilan kudeta merayap dari Jenderal Suharto dari kekuasaan secara de facto yang dimulai 1 Oktober 1965 menjadi kekuasaan secara de jure tanggal 12 Maret 1967. Sebenarnya usaha untuk meminggirkan Presiden Sukarno dan menaikkan Jenderal Suharto telah diusulkan oleh Nasution kepada Suharto 12 Maret 1966, melalui usulnya supaya Suharto membentuk Kabinet Darurat berdasarkan wewenang yang diberikan Supersemar. Jenderal Suharto tak berani melaksanakan usul Nasution itu, karena Suharto menganggap „Itu wewenang Bung Karno, bukan wewenang saya" (Lihat keterangan Nasution dalam Tempo 15 Maret 1986, hal: 19). Adanya kerjasama Nasution Suharto ini mudah dimengerti, karena Nasution sangat berdendam kepada Presiden Sukarno, karena „kudetanya" 17 Oktober 1952, yang telah menghadapkan moncong meriem ke Istana Merdeka, dipatahkan Presiden Sukarno. Sesungguhnya dengan „kudetanya" yang gagal itu Nasution dapat diajukan ke pengadilan, namun Presiden Sukarno tidak menempuh jalan itu. Ide persatuannya terlalu kuat, tidak menghendaki perpecahan. Ironisnya Presiden Sukarnolah yang kemudian „diadili" dan „dijatuhkan" oleh Jenderal Nasution, setelah ia berkedudukan sebagai ketua MPRS. Menurut Manai Sophiaan sepuluh tahun lamanya Amerika mengupayakan penggulingan Sukarno... kerja keras Amerika ini akhirnya menjadi sempurna setelah ketua MPRS Jenderal`AH Nasution menanda-tangani Ketetapan MPRS No XXXIII/MPRS/1967, yang mencabut semua kekuasaan pemerintahan negara dari tangan Presiden Sukarno, bahkan melarangnya melakukan kegiatan politik untuk akhirnya dijebloskan ke dalam tahanan. Bung Karno dituduh terlibat G.30-S PKI (Kehormatan bagi yang berhak, hal: 215). Kebenaran Akan Mengalahkan Kebohongan Sungguhpun begitu gamblangnya isi pembelaan Kolonel Latief di depan Mahmilti II Jawa Bagian Barat pada tahun 1978 bahwa Jenderal Suharto terlibat langsung dalam G.30-S dan kemudian menggulingkan Presiden Sukarno, namun penguasa orde baru terus-menerus mempropagandakan bahwa yang menjadi dalang G.30-S adalah PKI. Dalam hal melakukan propaganda yang demikian, Jenderal Suharto dengan orde barunya berpegangan kepada ajaran Goebbles, yaitu: „Ulangi" (NASRUN). INDONESIA 1965

Melikuidasi Presiden Sukarno ... dan 500.000 lainnya dikutip dari buku Membunuh Harapan

oleh William Blum Perkiraan jumlah dibunuh Indonesia selama beberapa tahun setelah kudeta berbagai dibatalkan dari 500.000 sampai satu juta. Pada dini hari 1 Oktober 1965, kekuatan kecil perwira militer junior diculik dan dibunuh enam jenderal dan merebut beberapa poin kunci di ibukota Jakarta. Mereka kemudian melanjutkan udara mengumumkan bahwa aksi mereka sedang diambil untuk mencegah kudeta oleh "Dewan Jenderal" dijadwalkan untuk Hari Angkatan Darat, yang kelima Oktober. Para kudeta mereka mengatakan, telah disponsori oleh CIA dan ditujukan pada daya menangkap dari Presiden Soekarno. Pada akhir hari, Namun, perwira pemberontak di Jakarta telah dihancurkan oleh tentara di bawah arahan Jenderal Soeharto, meskipun beberapa kelompok tentara mendukung kota-kota lain bertahan selama satu atau dua hari lagi. Soeharto-seorang pria yang telah melayani baik para kolonialis Belanda dan penjajah-dan Jepang rekan-rekannya menuduh bahwa PKI besar dan berpengaruh di belakang "upaya kudeta" perwira muda ', dan bahwa di balik partai Komunis Cina berdiri. Bersenjata kemenangan pasukan pindah untuk mengambil kendali pemerintahan, mengekang otoritas Sukarno (lama kemudian ia dikurangi menjadi sedikit lebih dari satu boneka), dan melakukan mandi darah menghilangkan sekali dan untuk semua PKI dengan siapa Sukarno telah mewajibkan mereka untuk berbagi kekuasaan nasional selama bertahun-tahun. Di sini akhirnya adalah situasi yang bisa panjang ini sah-tindakan yang diinginkan. Anti-Komunis organisasi dan individu, terutama Muslim, didorong untuk bergabung dalam pembunuhan orang yang dicurigai sebagai simpatisan PKI. Indonesia keturunan Cina serta jatuh korban fanatik gila. Orang-orang Indonesia yang diaduk sebagian oleh tampilan foto-foto di televisi dan di pers tubuh membusuk buruk para jenderal dibunuh. Para pria, publik diberitahu, telah dikebiri, mata mereka dicungkil oleh perempuan Komunis. (Tentara kemudian membuat kesalahan dengan membiarkan otopsi medis resmi untuk dimasukkan sebagai bukti dalam beberapa percobaan, dan laporan yang sangat rinci tentang luka yang diderita disebutkan hanya luka tembak dan beberapa memar, tidak ada gougings mata atau pengebirian.) Apa yang terjadi disebut oleh New York Times "salah satu yang paling biadab membantai massal sejarah politik modern." Kekerasan, tulis majalah Life, "tidak hanya diwarnai dengan fanatisme melainkan dengan darah-nafsu dan sesuatu seperti ilmu sihir." Dua puluh lima tahun kemudian, para diplomat Amerika mengungkapkan bahwa mereka telah secara sistematis mengumpulkan daftar komprehensif dari "Komunis" koperasi, dari eselon atas ke bawah untuk kader desa, dan diserahkan sebanyak 5.000 nama kepada militer Indonesia, yang diburu orang-orang dan membunuh mereka. Amerika kemudian akan cek nama-nama mereka yang telah dibunuh atau ditangkap. Robert Martens, mantan anggota bagian politik Kedutaan Besar AS di Jakarta, menyatakan pada tahun 1990: "Ini benar-benar adalah bantuan yang besar kepada tentara Mereka mungkin membunuh banyak orang, dan saya mungkin punya banyak darah di tangan saya,. tapi itu tidak semua buruk Ada saat ketika Anda harus memukul keras pada saat yang menentukan.. " "Aku tahu kita punya informasi lebih banyak [tentang PKI] daripada orang Indonesia sendiri," kata Marshall Green, Duta Besar AS untuk Indonesia pada waktu kudeta militer itu. Martens "kata saya pada beberapa kesempatan yang ... pemerintah tidak memiliki informasi yang sangat baik pada setup Komunis, dan dia memberi saya kesan bahwa informasi ini lebih unggul terhadap apa yang mereka miliki." "Tak ada yang peduli, selama mereka Komunis, bahwa mereka dibantai," kata Howard Federspiel, yang pada 1965 adalah ahli Indonesia di Departemen Luar Negeri Biro Intelijen dan Riset. "Tidak ada yang menjadi sangat bekerja sampai tentang hal itu." Meskipun mantan wakil kepala stasiun CIA di Indonesia, Yusuf Lazarsky, dan mantan diplomat Edward Masters, bos yang Martens ', menegaskan bahwa agen CIA berkontribusi dalam menyusun daftar kematian, CIA di Langley kategoris membantah keterlibatan apapun. ***** CIA, keterlibatan intim dalam urusan politik Indonesia setidaknya sejak pertengahan 1950-an, tak diragukan lagi menyusup PKI di berbagai tingkatan, dan militer bahkan lebih, dan dengan demikian dalam posisi yang baik untuk menyebarkan disinformasi dan pabrik ide-ide untuk tindakan tertentu ... Keinginan pemerintah AS untuk menyingkirkan Soekarno-seorang pemimpin gerakan non-blok dan anti-imperialis Dunia Ketiga, dan pelindung dari PKI tidak mengurangi dengan kegagalan pemberontakan yang didukung Badan militer di 1958. Di antara berbagai laporan dari awal 1960-an menunjukkan minat yang berkelanjutan pada akhirnya ini, memorandum CIA Juni 1962 adalah mencolok to the point. Penulis memo, yang namanya dihapus, telah melaporkan pada tayangan yang dia terima dari percakapan dengan "diplomat Barat" mengenai pertemuan terakhir antara Presiden Kennedy dan Perdana Menteri Inggris Macmillan. Kedua pemimpin sepakat, kata memo, untuk mencoba untuk mengisolasi Soekarno di Asia dan Afrika. Selanjutnya, "Mereka setuju untuk melikuidasi Presiden Sukarno, tergantung pada situasi dan peluang yang tersedia ... Apa pun yang dimaksudkan, Sukarno sekarang, untuk semua tujuan praktis, dieliminasi sebagai duri dalam daging internasional. Signifikansi lebih besar, PKI, yang telah menjadi Partai Komunis terbesar di dunia di luar blok Soviet dan Cina, telah hancur, sisa-sisa compang-camping yang didorong bawah tanah. Ini tidak bisa bekerja lebih baik bagi Amerika Serikat dan junta militer baru jika telah direncanakan. Jika para jenderal telah merencanakan kudeta mereka sendiri seperti yang dituduhkan, bukti-bukti kuat bahwa Amerika Serikat sangat erat terlibat sebelum, selama dan setelah peristiwa 30 Oktober September / 1. Salah satu aspek dari bukti ini adalah kedekatan hubungan antara perusahaan militer Amerika dan Indonesia yang Amerika Serikat telah menanam selama bertahuntahun. Presiden Kennedy, mantan ajudannya Arthur Schlesinger menulis, adalah "ingin memperkuat kekuatan anti-komunis, khususnya Angkatan Darat, dalam rangka untuk memastikan bahwa, jika sesuatu terjadi pada Soekarno, Partai Komunis Indonesia yang kuat tidak akan mewarisi negeri ini. '' Roger Hilsman, yang karirnya membentang CIA dan Departemen Luar Negeri, telah mencatat bahwa pada 1963

"... Satu-sepertiga dari staf umum Indonesia telah memiliki semacam pelatihan dari Amerika dan hampir setengah dari korps perwira. Sebagai hasil dari kedua proyek aksi sipil dan program pelatihan, militer Amerika dan Indonesia telah datang ke saling mengenal cukup baik Obligasi menghormati pribadi dan bahkan kasih sayang ada.. " Pengamatan ini diperkuat oleh laporan dari Komite House Luar Negeri: "Pada saat kudeta Komunis berusaha dan militer kontra-kudeta [sic] Oktober 1965, lebih dari 1.200 petugas Indonesia, termasuk tokoh militer senior, telah dilatih di Amerika Serikat. Sebagai hasil dari pengalaman ini, banyak persahabatan dan kontak ada antara perusahaan militer Indonesia dan Amerika, terutama antara anggota kedua pasukan Dalam periode pascakudeta, ketika situasi politik masih tidak menentu, Amerika Serikat, menggunakan saluran yang ada komunikasi, mampu memberikan anti-Komunis kekuatan dengan dukungan materi moral dan token. Ketika MAP rata-rata [Program Bantuan Militer] kembali trainee rumah ia mungkin memiliki beberapa kenalan Amerika dan penghargaan yang adil, Amerika Serikat. Dampak ini dapat memberikan beberapa kesempatan di masa mendatang yang berharga untuk komunikasi seperti yang terjadi di Indonesia selama dan segera setelah kudeta Komunis yang didukung mencoba Oktober 1965. " CIA, menulis New York Times, dikatakan "telah begitu berhasil di infiltrasi bagian atas pemerintah Indonesia dan tentara bahwa Amerika Serikat enggan untuk mengganggu operasi CIA menutupi dengan menarik program bantuan dan informasi pada tahun 1964 dan 1965. Apa yang disampaikan secara resmi di Washington sebagai toleransi terhadap penghinaan Presiden Sukarno dan provokasi itu dalam ukuran yang jauh lebih besar keinginan untuk menjaga front CIA dalam bisnis selama mungkin.'' Akhirnya, kita memiliki kesaksian dari Sekretaris Pertahanan Robert McNamara sebelum Komite Senat pada tahun 1966: Senator Sparkman: Pada saat Indonesia sedang menendang cukup parah-ketika kami mendapatkan banyak kritik untuk melanjutkan bantuan militer yang pada saat kita tidak bisa mengatakan apa bahwa bantuan militer untuk. Apakah rahasia lagi? McNamara: Saya pikir dalam retrospeksi, bahwa bantuan itu juga dibenarkan. Sparkman: Anda pikir itu dibayar dividen? McNamara: saya lakukan, Pak. Ada pernyataan lain yang mungkin berhubungan dengan pertanyaan tentang keterlibatan Amerika. Mantan Duta Besar AS Marshall Green, berbicara di Australia pada tahun 1973 di mana ia kemudian duta besar, dilaporkan mengatakan: "Pada tahun 1965 saya ingat, Indonesia siap di tepi pisau cukur, aku t ingat orang-orang berdebat dari sini bahwa Indonesia tidak akan pergi komunis.. Tapi, ketika Sukarno mengumumkan pada 17 Agustus pidatonya bahwa Indonesia akan memiliki pemerintahan komunis dalam waktu satu tahun maka saya [?] hampir yakin .... Apa yang kita lakukan harus kami lakukan, dan Anda sebaiknya senang kita lakukan karena jika kita tidak Asia akan menjadi tempat yang berbeda hari ini. " James Reston, menulis dalam New York Times pada tahun 1966: "Washington berhati-hati untuk tidak mengklaim kredit apapun untuk perubahan [dari Soekarno ke Soeharto] ... tapi ini tidak berarti bahwa Washington tidak ada hubungannya dengan itu. Ada banyak lebih banyak kontak antara kekuatan-kekuatan anti-Komunis di bahwa negara dan setidaknya satu pejabat yang sangat tinggi di Washington sebelum dan selama pembantaian bahasa Indonesia daripada yang disadari pasukan Jenderal Suharto,. di kali sangat kekurangan makanan dan amunisi, telah mendapatkan bantuan dari sini melalui negara ketiga berbagai, dan diragukan jika [Soeharto] kudeta akan pernah telah dicoba tanpa menunjukkan kekuatan Amerika di Vietnam atau dipertahankan tanpa bantuan klandestin telah menerima langsung dari sini. Neville Maxwell, Senior Research Officer, Institut Studi Persemakmuran, Universitas Oxford: "Beberapa tahun lalu saya sedang meneliti di Pakistan ke latar belakang diplomatik konflik Indo-Pakistan 1965, dan dalam makalah kementerian luar negeri yang saya telah diberikan akses datang di sebuah surat kepada menteri luar negeri, Tuan Bhutto, dari satu duta besar di Eropa (saya percaya Pak JA Rahim, di Paris) melaporkan percakapan dengan seorang perwira intelijen Belanda dengan NATO. Menurut catatan saya surat itu, petugas itu mengatakan kepada diplomat Pakistan bahwa Indonesia adalah "siap untuk jatuh ke pangkuan Barat seperti sebuah apel busuk "badan-badan intelijen Barat, katanya,. akan mengorganisir sebuah" kudeta komunis prematur ... [Yang akan] ditakdirkan untuk gagal, memberikan kesempatan yang sah dan selamat datang tentara untuk menghancurkan komunis dan membuat Soekarno tawanan niat baik tentara "Laporan Duta Besar bertanggal Desember 1964.." Harus diingat bahwa Indonesia telah menjadi koloni Belanda, dan Belanda masih memiliki beberapa link khusus untuk negara. Catatan dari "Orde Baru" yang dikenakan oleh Jenderal Suharto pada rakyat Indonesia selama hampir tiga dekade telah luar biasa. Pemerintah mengelola bangsa pada tingkat gangster Chicago tahun 1930-an menjalankan raket perlindungan. Tahanan politik overflow penjara. Penyiksaan rutin. " ... Pasukan berani mati berkeliaran di akan, membunuh tidak hanya "subversif" tetapi "tersangka kriminal" oleh ribuan orang. " ... "Seorang perwira tentara [di provinsi Aceh] kebakaran satu tembakan di udara, di mana titik semua laki-laki muda harus lari ke alun-alun sebelum prajurit kebakaran tembakan kedua Kemudian,. Siapa pun yang datang terlambat-atau tidak meninggalkan rumahnya -ditembak di tempat. ahanan tahun 1965: Berapa banyak lagi akan mati di penjara? AI-Indeks: ASA 21/043/1996 1996/01/08

AI INDEX: ASA 21/43/96 Distr: SC / CO / GR Sekitar 14 orang telah dipenjarakan di Indonesia selama lebih dari seperempat abad untuk dugaan keterlibatan mereka dalam percobaan kudeta 1965. Banyak dari mereka adalah tahanan hati nurani tidak pernah menganjurkan atau memiliki menggunakan kekerasan. Karena usia mereka, dan menghabiskan puluhan tahun tinggal di sel penjara, semua sekarang lemah dan kebanyakan menderita sakit-kesehatan serius. Selama bertahun-tahun, tahanan lainnya ditahan untuk peran mereka dalam kudeta telah meninggal di penjara melalui perlakuan buruk penyakit, atau usia tua. Amnesty International yakin bahwa penahanan lanjutan dari 14 tahanan tua itu kejam, tidak manusiawi dan merendahkan. Organisasi Oleh karena itu menyerukan kepada Pemerintah Indonesia untuk membebaskan segera semua tahanan hati nurani dan untuk memastikan bahwa semua tahanan yang sakit memerlukan perawatan dokter spesialis akan segera dipindahkan ke klinik atau rumah sakit yang tepat untuk pengobatan sebagaimana ditentukan dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Standar Minimum Aturan untuk Perlakuan terhadap Narapidana. (Peraturan 22 dari Peraturan Standar Minimum PBB untuk Perlakuan terhadap Narapidana negara "tahanan sakit yang membutuhkan pengobatan spesialis akan dipindahkan ke institusi khusus atau rumah sakit sipil ....".) Ke-14 tahanan yang tersisa di antara lebih dari 500.000 orang yang ditangkap pasca kudeta 1965 ketika enam jenderal dibunuh oleh segelintir perwira yang setia kepada mantan Presiden Soekarno. (Untuk daftar semua tahanan dan negara mereka kesehatan lihat Lampiran I). Pada saat pembunuhan itu disalahkan pada Partai Komunis Indonesia (Partai Komunis Indonesia - PKI). Tanggung jawab yang diduga PKI untuk kudeta itu digunakan oleh militer, yang dipimpin oleh Jenderal (kini Presiden) Soeharto, sebagai dalih untuk melancarkan kudeta kontra sukses. Selama tahun berikutnya ratusan ribu orang dengan link PKI dicurigai atau simpati dibunuh atau ditangkap. Dari mereka yang ditangkap, hanya sebagian kecil - 1.000 di semua - dibawa ke pengadilan dan dijatuhi hukuman penjara yang panjang atau dihukum mati. Pengadilan terhadap mereka yang dituduh PKI keanggotaan atau keterlibatan dalam kudeta itu jelas-jelas tidak adil. Banyak kelompok adalah tahanan hati nurani, dipenjarakan untuk non-kekerasan keterlibatan mereka dengan organisasiorganisasi yang berafiliasi dengan PKI atau PKI sendiri, sebuah partai politik, hukum parlemen pada saat dugaan kudeta-upaya. Orang lain yang mungkin telah terlibat dalam tindak kekerasan, yang dihukum setelah pengadilan yang tidak adil selama faktafakta penuh kegiatan mereka tidak mungkin telah muncul. Pengadilan bagi mereka yang dituduh terlibat dalam upaya kudeta dimulai pada tahun 1966, tapi banyak dari uji coba dilakukan tahun setelah peristiwa. Beberapa percobaan dilakukan oleh pengadilan militer. Uji coba dilakukan dalam suasana anti-komunis sentimen yang mengakibatkan beberapa saksi yang bersedia untuk bersaksi atas nama terdakwa. Pengacara Pertahanan dituduh komunis dan simpati sasaran ancaman dan pelecehan. Kesaksian itu dilakukan di bawah kondisi yang memungkinkan untuk penggunaan penyiksaan dan perlakuan buruk. Banyak tahanan yang diadili berdasarkan UU Anti-Subversi, undang-undang yang telah dikritik karena bertahun-tahun oleh pengacara Indonesia dan aktivis hak asasi manusia sebagai instrumen represi. Standar bukti yang diperlukan untuk keyakinan bawah hukum ini jauh kurang ketat dibandingkan hukum lainnya di Indonesia. Sementara kurang sering digunakan sekarang, Undang-Undang Anti-Subversi telah digunakan dalam keadaan di mana pihak berwenang tidak dapat menemukan bukti yang cukup untuk keyakinan. Amnesty International telah berulang kali menyerukan untuk meninjau tidak memihak dari cobaan dan hukuman tahanan politik dipenjara setelah pengadilan yang tidak adil di Indonesia. Dalam tiga dekade sejak peristiwa tahun 1965, Pemerintah Indonesia telah menunjukkan kecenderungan untuk memungkinkan pelaksanaan kajian tidak memihak dari cobaan dan hukuman dari 1965 tahanan. Lima dari 14 tahanan masih ditahan di bawah hukuman mati. Mereka adalah Asep Suryaman, Sukatno, Bungkus, dan Marsudi Nataneal Isnanto. Semua telah di hukuman mati selama lebih dari 20 tahun. Amnesty International menentang hukuman mati dalam semua kasus sebagai pelanggaran terhadap hak untuk hidup dan hak untuk tidak menjadi sasaran perlakuan kejam, tidak manusiawi atau merendahkan atau hukuman. Kurungan berkepanjangan di bawah hukuman mati hanya memperburuk kekejaman dari bentuk hukuman. Ancaman bahwa kalimat-kalimat mereka masih dapat dilakukan masih sangat nyata. Antara akhir tahun 1989 dan awal 1990, lebih dari dua dekade setelah usaha kudeta, enam dari 1965 tahanan dieksekusi. Pada bulan Agustus 1995, Menteri Kehakiman, Utoyo Usman, mengumumkan bahwa dua tahanan politik di LP Cipinang akan dieksekusi dalam waktu dekat. Nama-nama kedua tidak diberikan tapi mereka secara luas diyakini Bungkus dan Marsudi. Pada akhirnya eksekusi tidak terjadi. Namun, ancaman belum diangkat, karena semua tapi Isnanto diyakini memiliki banding mereka ditolak grasi dari presiden, hambatan hukum terakhir sebelum eksekusi. (Daya tarik grasi untuk Sukatno diajukan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada tahun 1986 tanpa sepengetahuan Sukatno atau persetujuan. Meskipun demikian, hal itu ditolak oleh Presiden Soeharto pada 13 Mei 1992. Menurut informasi dari Inter-Parliamentary Union, maka akan muncul bahwa Pengadilan Negeri telah mengajukan banding kedua untuk grasi dan yang menarik ini masih tertunda. Sukatno sendiri menyatakan bahwa dia tidak ingin untuk mengajukan grasi dari presiden karena ia percaya hal itu akan mempercepat eksekusi.) Rasa takut selalu ada eksekusi untuk kelima pria, dan tahun-tahun panjang yang dihabiskan di penjara untuk semua 14 telah mengambil tol pada kesehatan mereka. Setidaknya 11 dari mereka dilaporkan menderita cacat fisik atau mental yang serius. Sukatno, mantan anggota parlemen dan salah satu terpidana mati, dikatakan sakit serius, baik secara fisik maupun mental. Pada April 1996, Inter-Parliamentary Union (IPU) mendesak Pemerintah Indonesia untuk membebaskan Sukatno karena "usia .. lanjut, hampir tiga dekade ia telah dihabiskan di penjara dan kesehatannya memburuk" nya. (Resolusi diadopsi tanpa suara oleh Dewan Antar Parlemen pada sesi 158 nya (Istanbul, 20 April 1996);. Kasus Tidak IDS/09 - Sukatno, Indonesia) Dalam beberapa bulan terakhir salah satu tahanan yang ditahan di Penjara Kalisosok, Surabaya, telah mengalami dua stroke. Manan Effendi Tjokrohardjo, berusia 76 tahun, menderita stroke Maret 1996 yang membuatnya lumpuh dan hampir tidak mampu berbicara. Segera setelah stroke ia dibawa ke rumah sakit penjara dan juga dirawat sebentar di rumah sakit umum sebelum dikembalikan ke selnya pada bulan Juni. Pada 17 Juli, ia percaya bahwa ia menderita stroke lagi yang membuatnya lebih parah lumpuh dan membutuhkan perawatan konstan dan bantuan. Dia sekarang sedang dirawat oleh sesama tahanan dan memiliki kunjungan dari seorang dokter penjara. Alexander Warouw, juga ditahan di Penjara Kalisosok, juga dilaporkan telah dirawat di rumah sakit untuk jangka waktu singkat awal tahun ini. Berusia 78, ia juga dikenal menderita diabetes dan memiliki kesulitan dalam berdiri karena pusing. Dia memiliki masalah dengan visi dan dengan otot-otot di satu sisi wajahnya mungkin sebagai

akibat dari diabetes. Baik Manan Effendi dan Alexander Warouw ditangkap pada Oktober 1965 dan kemudian dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Pada bulan April 1995, Ruslan Wijayasastra, salah satu tahanan death row, meninggal setelah menghabiskan hampir 27 tahun di penjara. Ruslan, ditangkap pada tahun 1968 dan dijatuhi hukuman mati pada bulan Juli 1974, adalah anggota komite sentral PKI, wakil ketua Serikat Tani dan mantan Sekretaris Jenderal Organisasi Perburuhan Internasional. Sebelum kematiannya, ia menjadi lumpuh sebagian, hampir buta dan tidak mampu berjalan. Kondisinya memaksa dia untuk menggunakan dua pembantu untuk membantu dia, biaya yang harus ditutupi pribadi. Nya terakhir tiga bulan dihabiskan dalam tahanan di rumah sakit. Tahun lalu tiga dari 1965 tahanan, Subandrio, Omar Dhani dan Sutarto dibebaskan dari penjara sebagai tindakan grasi untuk merayakan peringatan 50 tahun kemerdekaan Indonesia. Pembebasan mereka datang pada saat tekanan dalam negeri meningkat baik dari dalam kalangan pemerintah dan non-pemerintah untuk para tahanan yang akan dirilis. (Lihat Amnesti Internasional: 1.965 Tahanan:. Briefing A, Juli 1995, ASA 21/36/95) Memang kekuatan panggilan domestik untuk membebaskan para tahanan menantang posisi sebelumnya dari Pemerintah Indonesia yang tidak akan tunduk pada tekanan internasional untuk membebaskan para tahanan yang tersisa. Tekanan untuk pembebasan mereka sekarang datang paling kuat dari dalam Indonesia sendiri. Amnesty International menyerukan pada Pemerintah Indonesia untuk membebaskan segera semua tahanan hati nurani dan untuk memastikan bahwa semua tahanan yang sakit memerlukan perawatan dokter spesialis akan segera dipindahkan ke klinik atau rumah sakit yang tepat untuk pengobatan sebagaimana ditentukan dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Peraturan Standar Minimum untuk Perlakuan terhadap Tahanan. Amnesty International juga mendesak pemerintah untuk segera menghapus ancaman eksekusi dari Asep Suryaman, Sukatno, Bungkus, dan Marsudi Nataneal Isnanto oleh Komuter hukuman mati mereka. SUPER SEMAR

5 Pertanyaan untuk Jenderal Jusuf Penulis: Penulis: Asvi Warman Adam * detikcom - Sampai hari ini naskah asli Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret) 1966 belum ditemukan. Sementara itu pelaku yang terlibat dalam peristiwa tersebut semakin sedikit. Soeharto sudah sakit-sakitan dan ingatannya makin berkurang. Harapan satu-satunya barangkali pada Jenderal (pur) Jusuf yang sampai sekarang belum mau berbicara dengan terbuka mengenai persoalan ini. Ada beberapa pertanyaan yang perlu dijawab oleh mantan Pangab itu. Pertama, bagaimana sesungguhnya proses penyusunan dan penyerahan surat tersebut yang terkesan tidak wajar. Sudah diketahui umum bahwa surat tersebut dibuat bukanlah atas inisiatif dan kemauan Soekarno sendiri. Tahun 1998, anggota Tjakrabirawa Letnan Dua (purn) Soekardjo Wilardjito mengaku bahwa Jenderal Panggabean menodongkan pistolnya kepada Presiden Soekarno, sementara Jenderal Jusuf menyodorkan map surat untuk ditandatangani. Kesaksian Soekardjo di atas didukung pula oleh Kaswadi (77 tahun) dan Serka (purn) Rian Ismail yang kini bermukim di Klaten, Jawa Tengah. Mereka melihat bahwa tamu yang datang ke Istana Bogor berjumlah empat orang, bukan tiga orang seperti yang diketahui selama ini. Bahkan Kaswadi mengakui bahwa "Pada waktu itu, 11 Maret 1966, saya melihat Panggabean ada di Istana Bogor. Saat itu sekitar pukul 01.00 WIB dinihari. Panggabean datang mengendarai mobil jip dan berpakaian dinas militer. Ia kemudian berjalan masuk menuju Istana Bogor", tutur Kaswadi kepada LBH Jogyakarta. Kesaksian tersebut perlu dipertegas, kejadiannya tanggal 11 Maret atau 12 Maret 1966 (karena sudah masuk 01.00 pagi). (Wilardjito sendiri kemudian sempat diperiksa polisi bahkan dihadapkan ke pengadilan negeri Yogyakarta. Namun belum jelas bagaimana keputusan hakim sampai sekarang). Jabatan Mayjen M Panggabean pada waktu itu, seperti diungkapkan dalam tulisan Moerdiono "Di antara Para Sahabat: Pak Harto 70 tahun", adalah ketua Tim Umum yang dibentuk oleh Soeharto. Letnan Satu Infantri Moerdiono menjadi sekretaris Tim Politik yang diketuai oleh Mayjen Basuki Rakhmat dan Mayjen Ashari menjadi ketua Tim Ekonomi. Jumat pagi 4 September 1998, Jenderal M. Jusuf mengatakan bahwa yang menemui Soekarno tanggal 11 Maret 1996 hanya 3 jenderal, dan mereka di sana hanya sampai pukul 20.30 Tidak ditanyakan wartawan, berapa lama ketiga jenderal itu di Istana Bogor dan apa saja yang dibicarakan mereka dengan Presiden Soekarno? Kalau betul mereka baru pulang pukul 20.30 malam, itu memperlihatkan bahwa pembicaraan dengan Soekarno berjalan alot. Di dalam buku 70 tahun Soeharto itu, dimuat pula penuturan Sudharmono, ia menerima telpon dari Mayjen Sutjipto, Ketua G-5 KOTI, 11 Maret 1966 sekitar pukul 10 malam. Sutjipto meminta agar konsep tentang pembubaran PKI disiapkan dan harus selesai malam itu juga. Permintaan itu atas perintah Pangkopkamtib yang dijabat oleh Soeharto. Sudharmono sempat berdebat dengan Moerdiono mengenai dasar hukum teks tersebut. Beberapa jam kemudian, 12 Maret 1966 pukul 01.00 datanglah Sekretaris MBAD Brigjen Budiono membawa dokumen yang kemudian dikenal sebagai Supersemar. Menurut Sudharmono surat perintah tersebut "diperbanyak (difotokopi) di kantor kami". Kurang jelas apakah pada waktu itu sudah ada mesin fotokopi di Jakarta. Pertanyaan pertama di atas mengenai proses hanya tentu bisa dijawab oleh Jenderal Jusuf, salah satu saksi kunci yang hidup sampai sekarang. Soeharto sendiri sudah berkurang ingatannya. Pertanyaan kedua tentang siapa pengetik Supersemar? Beberapa waktu lalu muncul lagi pengakuan Letkol (pur) TNI-AD Ali Ebram, staf Asisten I Intelijen Resimen Cakrabirawa bahwa dia yang mengetik surat tersebut. Surat tersebut diketik dalam waktu satu jam dengan didiktekan oleh Bung Karno. Ia mengetik dengan gemetar dan mengatakan bahwa konsep itu berasal dari Soekarno sendiri. Yang diingatnya sekarang bahwa "dalam surat itu disebut ajaran, koordinasi, terus laporan dan menyangkut empat poin: soal keluarga, melindungi keluarga yang tidak ada. Yang keempat itu memberi laporan". Sebagai orang yang tidak biasa mengetik, ia mengerjakannya dengan gemetar dan berkata kepada Soekarno "Pak, saya mohon ampun kesesa (Pak, saya mohon tidak tergesa-gesa). Sebelum ditandatangan diketik kotanya yaitu Bogor. Betulkah Ali Ebram yang mengetik surat tersebut? Pasti Jenderal Jusuf tahu persis. Pertanyaan ketiga, benarkah apa yang disampaikan oleh pakar AS Ben Anderson bahwa mungkin saja surat perintah yang asli itu dihilangkan karena diketik dengan kop Markas Besar Angkatan Darat. Jadi jika dipertahankan tentu sangat lucu, surat kepresidengan ditulis dengan kertas berkop MBAD. Jadi surat itu "dihilangkan" bukan karena isi tetapi karena kop suratnya. Ben mengutip pengakuan seorang tentara yang mengaku waktu itu bertugas di Istana Bogor. Tidak dijelaskan nama dan pangkat tentara tersebut. Jika benar hal ini maka proses keluarnya surat perintah itu sebetulnya sudah direncanakan dengan matang di Jakarta, paling tidak oleh ketiga Jenderal tersebut.

Jawaban pertanyaan di atas jelas dapat dijawab oleh Jenderal Jusuf karena ialah yang membawa surat tersebut ke Jakarta dan menyerahkannya kepada Jenderal Soeharto. Pertanyaan keempat, di mana naskah asli Supersemar berada? Konon, menurut KH Yusuf Hasyim, dari Tebuireng Jombang, yang menyimpan naskah asli Supersemar itu adalah Mas Agung (almarhum). Bila ini benar, kenapa surat tersebut sampai jatuh ke tangan tokoh yang dekat dengan Bung Karno? Yusuf Hasyim diberi salinan dua naskah Supersemar, yang satu berjumlah dua halaman, sedangkan yang satu lagi hanya satu halaman. Naskah asli itu konon kabarnya disimpan di sebuah bank di luar negeri, diperkirakan di Singapura. Jenderal Jusuf diduga mengetahui keberadaan surat tersebut. Paling sedikit ia dapat mengungkapkan setelah dibaca oleh Soeharto, surat itu diserahkan kepada siapa. Tentu saja, Sudharmono dan Moerdiono dapat dimintai keterangan. Pertanyaan kelima, apa yang dibicarakan oleh Jenderal Jusuf, Basuki Rachmad dan Amir Machmud di rumah Soeharto. Seperti sudah diketahui bahwa Presiden Soekarno meninggalkan sidang kabinet dan berangkat dengan helikopter ke Bogor, setelah mengetahui berkeliaran pasukan tidak dikenal di sekitar istana tanggal 11 Maret 1966. Jusuf, Basuki Rachmad dan Amir Machmud segera pergi ke rumah Soeharto di jalan Agus Salim. Bagaimana skenario yang dibicarakan mereka saat itu. Jawaban pertanyaan ini sangat penting dan krusial bagi penulisan sejarah Indonesia, khususnya sejarah terbentuknya Orde Baru. Mengenai Supersemar meskipun banyak kisah yang kontroversial di situ tetapi secara umum dapat disimpulkan bahwa surat tersebut bukanlah dibuat Presiden Soekarno dengan sukarela. Meskipun tidak ada todongan senjata, dapat dipahami bahwa penulisannya dilakukan dengan tekanan. Pada Supersemar, mungkin saja ia bisa berdalih tidak memaksa Soekarno, tetapi kenyataan ketiga Jenderal pembantunya telah membuat Soekarno terpaksa untuk membuat Surat Perintah tersebut. Apalagi pada pagi 11 Maret 1966 berkeliaran pasukan yang tidak memakai tanda pengenal di sekitar Istana, sehingga Soekarno memutuskan meninggalkan Istana dan pergi ke Bogor. Perlu diingatkan kembali bahwa Undang-Undang no 7 tahun 1971 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kearsipan, fasal 11 berbunyi: Barangsiapa dengan sengaja dan dengan melawan hukum memiliki arsip sebagaimana dimaksud dalam fasal 1 huruf a Undang-Undang ini dapat dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya 10 (sepuluh) tahun. Orang yang terbukti menyimpan naskah asli Supersemar dan tidak menyerahkannya kepada negara ia bisa dijatuhi hukuman maksimal 10 tahun penjara. Hal ini juga berlaku bagi siapa, termasuk seorang Jenderal sekalipun. Wahai Jenderal Jusuf berbicaralah. Sebelum terlambat. @ * Penulis adalah doktor sejarah LIPI KOLOM IBRAHIM ISA

"KOMUNIST0-PHOBI" dan 'KAMPANYE ANTI-GUS DUR" Date: Mon, 16 Apr 2001 21:37:13 +0200 Sudah lebih dari 30 tahun PKI dilarang, pemimpin-pemimpinnya seperti Aidit, Lukman, Nyoto, Ir Sakirman, dll, kecuali Sudisman barangkali, tanpa proses telah dieksekusi. Sedangkan ratusan ribu warganegara Indonesia yang tak bersalah anggota PKI, simpatis an maupun yang diduga ada hubungan ini atau itu dengan PKI, dibantai atau di penjarakan, dibuang ke Buru dll tempat pembuangan. Dan jangan dilewatkan kenyataan bahwa diantara yang dibunuh dan dipersekusi Suharto, tidak sedikit adalah warganegara Indonesia anggota PNI ataupun Partindo, anggota PSII ataupun partai Islam Perti, demikian juga yang nonpartai yang sangat mencintai Bung Karno, yang mati-matian membela Bung Karno dari tindakan kup merangkak Jendral Suharto dan klik militernya, terhadap ketika itu. Kemudian Jendral Suharto cepat-cepat menggerakkan MPRS yang sudah direkayasanya lebih dulu, untuk mengeluarkan TAP MPRS No.XXV,1966 yang melarang PKI dan ajaran Marxisme-Leninisme dsb. Selanjutnya para tapol yang masih beruntung tidak dibantai dan sempat bisa secara formal keluar dari penjara karena adanya reaksi masyarakat dan dunia internasional yang memberi tekanan kuat kepada rezim Orba untuk segera membebaskan para tahan tsb, karena telah bertahun-tahun lamanya dipenjarakan tanpa proses pengadilan apapun, di dalam masyarakat dibikin menjadi warganegara kelas dua yang oleh aparat dan masyarakat sekitarnya harus melapor, diawasi, dicurigai, didiskriminasi, dikucilkan secara mental dan politik, tidak boleh ini dan tidak boleh itu, dengan mengguna kan Instruksi Mendagri Jendral Amir Mahmud, No 32/tahun 1981. Dengan berlangsungnya kekejaman dan kebijaksanaan tirani Orba untuk membikin' perhitungan terakhir' dengan PKI dan simpatisannya, banyak orang menganggap sudah habislah riwayat PKI sebagai parpol di Indonesia, sudah tamatlah peranan Komunisme di Indone sia. Apalagi di dunia internasional bisa disaksikan bahwa komunisme mengalami kemerosotan dan tokohtokohnya banyak yang sudah pada berubah, bahkan sudah berubah samasekali. Mulai dari Sekjen PKUS dan Presiden Sovyet Gorbachov, mantan presiden Federasi Rusia Yeltsin sampai penerusnya, Putin, dulunya adalah orang-orang komunis kawakan yang sudah berubah samasekali. Kalau tokh dunia Barat, khususnya AS takut pada Putin, bukanlah karena Putin itu Komunis, tetapi karena Rusianya Putin berangsur berusaha kembali untuk menjadi saingan Barat dan AS di dunia ini. Karena banyak sekali yang dulunya Komunis udah bukan komunis seperti dulu lagi, maka orang pikir apa lagi yang mesti ditakuti tentang Komunisme di dunia internasional, apalagi di Indonesia. Suara seperti itu sudah banyak diutarakan oleh para pakar, sampai-sampai pakar yang filosof dan religius seperti Romo Fransis Magnis Suseno menganggap orang-orang yang ribut-ribut mengenai 'bahaya komunis' itu adalah absurd, seperti melihat hantu di siang hari bolong. Ada yang bilang seperti orang yang di bulan purnama ketakutan akan bayangannya sendiri. Okh di negeri kita yang tercinta, ribut-ribu kaum yang 'komunisto-phobi', yang dari ujung rambut sampai ke telapak kakinya seratus persen serta secara prinsipil, fundamentil, religius, politis dan etis adalah anti-komunis, belakangan ini kedengaran dan terbaca tampaknya diperhebat lagi. Mereka membikin rencana kampanye anti-komunis yang spektakuler, kelihatannya. Saya memerlukan menanyakan pendapat salah seorang penggiat salah satu LSM HAM, sampai dimana dampak kampanye antikomunis itu di kalangan rak yat. Bagaimana masyarakat mengertikan inisiatif kampanya 'anti-komunis' itu. Dengan santai penggiat tsb menjawab bahwa rakyat sudah tidak percaya dan muak terhadap kampanye seperti yang dilakukan oleh Orba selama puluhan tahun berkuasanya Suharto. Seperti halnya film Orba tentang G30S yang menjadi pertunjukkan film wajib pada setiap tanggal 30 September, akhirnya menjemukan, tidak ada yang percaya lagi, lalu ditarik sendiri dari peredaran oleh penguasa. Mereka menjadi malu sendiri. Barangkali. Masyrakat akhirnya mengetahui dan menyadari bahwa ribut-ribut anti-komunis dan anti-PKI itu, seperti orang yang kebakaran jenggot, adalah tirai asap politik belaka yang ditiupkan oleh kekuatan politik Orba yang kini terdesak karena ulah politiknya sendiri gagal untuk menjatuhkan Presiden Gus Dur. Lalu mereka segera tukar taktik, yaitu mengalihkan perhatian dan sasaran masyrakat yang ditujukan terhadap diri mereka, seperti tuntutan untuk dibubarkannya Golkar serta diambilnya tindakan hukum terhadap koruptor-koruptor kakap seperti Ginanjar dsb. Masyrakat sudah melihat manuver mereka yang dengan gampang-

gampangan mencari 'kambing hitam' agar lepas dari tudingan dan tuntutan masyarakat yang hendak membuat perhitungan dengan dosa-dosa yang mereka buat terhadap rakyat selama puluhan tahun berkuasa di era Orba, bahkan juga sampai dengan detik ini. Kaum anti-komunis ini di waktu yang lalu, tanpa sedikitpun mengejapkan matanya telah memenggal kepala atau menembak mati orang-orang yang tidak bersalah, membuang mayatnya di sungai-sungai atau di tengah laut, atau dipendam dalam kuburan masal tanpa batu nisan atau tanda apapun bahwa ada orang-orang di kubur disitu, dengan menggunakan dalih bahwa para korban itu terlibat dalam peristiwa G30S, (yang belakangan menurut sementara pakar dalam dan luarnegeri, termasuk apa yang dinyatakan oleh mantan Menlu RI Subandrio, misalnya, adalah operasi intel Jendral Suharto dan kawan-kawannya, CIA dan dinas rahasia Inggris, untuk menempatkan diri dan golonganny di puncak kekuasaan negara). Sampai detik ini kejahatan berupa 'political cleansing' terbesar dalam sejarah Indonesia, yang tidak kalah dengan 'ethnic cleanisng' di Ruanda/Burundi atau di Bosnia, suatu kejahatan terhadap umat manusia, suatu 'crime against humanity', seperti yang dilakukan oleh Orba terhadap warganegara yang tidak bersalah, masih belum digugat. Padahal dewasa ini, di dalam kehidupan peradilan secara internasional, "Pengadilan Yugoslavia"yang dibentuk atas wewenang PBB, di Den Haag sedang dalam proses mengadili para kriminal yang melakukan kejahatan terhadap umat manusia, yang terjadi di Yugsolavia beberapa tahun yang lalu. Ada yang merasa bahwa adalah tabu untuk menggugat kembali apa yang terjadi pada tahun-tahun 65 dan 66 yang telah menimbulkan begitu banyak korban orang yang tidak bersalah, dengan dalih 'trauma'. Entah siapa yang 'trauma', apakah korbannya atau si pembantai. Juga ada yang tidak mau tahu tentang kasus 65 itu, karena dirinya atau golongannya sendiri, memang terlibat dalam kejahatan terhadap kemanusiaan ketika itu. Sebagian orang juga bersikap acuh tak acuh demikian itu, karena bagaimanapun adalah berkat Orba, yang kayak apapun kejahatannya ketika itu, tokh telah memberikannya kesempatan dan peluang, sehingga mereka menjadi pejabat penting ataupun orang kaya sekarang ini. Jadi mereka-merka itu bagaimanapun merasa telah 'berhutang budi' pada Suharto, pada rezim Orba. Dan ada pepatah kita mengatakan "hutang budi dibawa mati". Yang menjadi penyebab dari ketakutan mereka itu kali ini, ialah, a.l. karena para keluarga orang-orang yang dulu mereka bantai itu, telah menemukan sebagian dari kuburan keluarga mereka yang dibantai dalam tahun-tahun 65/66, dan adanya kehendak mereka untuk dengan wajar dan khidmat menggali kembali dan memindahkan kerangka-tulang belulang orang-orang yang mereka kasihi dan cintai, ke kuburan yang layak. Ketakutan mereka ini dengan sekejap mata berubah menjadi suatu rekayasa baru, yaitu dengan secara histeris meneriakkan lagi 'bla-bla-bla' tentang timbunyal dengan akut 'bahaya komunis'. Atas dasar asumsi rekayasa itu, dengan ancaman kekerasan mereka melakukan obstruksi terhadap penggalian kembali dan pemindahan kuburan para korban yang diusahakan oleh keluarga dan pelbagai lapisan masyarakat, termasuk LSM YPKP dan bahkan dengan ikut sertanya sementara pemuda dari Ansor. Kemudian histeri mereka itu ditindak lanjuti dengan rencana melakukan kampanye anti-komunis besa-besaran untuk kesekian kalinya. IRONI DALAM SEJARAH Diantara sekian banyak ironi kita dalam membangun nasion Indonesia, adalah ironi sejarah berikut ini: Peristiwa Madiun yang oleh golongan anti komunis dan 'komnisto- dinyatakan sebagai suatu pemberontakan terhadap negara, namun yang tidak pernah di proses lewat pengadilan yang adil dan transparan, pemimpin-pemimpin PKI dan golongan Kiri lainnya, seperti Amir Syarifuddin c.s. ditangkap dan dieksuksi tanpa proses hukum yang wajar, dibawah wewenang Kolonel Gatot Subroto ketika itu. Meskipun tokoh-tokoh yang dieksekusi itu dituduh sebagai pemberontak, tokh kuburannya tidak disembunykan oleh aparat. Oleh para keluarga dan sahabat-sahabat yang bersangkutan kuburan mereka digali kembali dan jenazahnya yang sudah menjadi tulang-belulang dikuburkan kembali dengan baik-baik, di sebuah desa bernama Ngalihan. Oleh aparat apa yang dilakukan oleh para keluarga korban dan sahabat-sahabatnya tidak dilarang oleh aparat. Ini dia ironi yang saya maksud tadi itu bila dibandingkan keadaan sekarang dengan dulu : Di era reformasi dewasa ini kuburan dari warganegara yang terang, jelas jemelas tidak bersalah, bahkan tidak mengetahui mengapa mereka ditangkap pada permulaan era Orba, kemudian dieksekusi secara kejam tanpa proses peradalin apapun, kok para korban ketidak-adilan Orba itu, kuburannya tidak boleh dipindahkan untuk dikubur kembali dengan khidmat menurut kepercayaan dan agama masing-masing. Tindakan kaum 'komunisto-phobi' tsb betul-betul sudah diluar batas perikemanusiaan di zaman apapun. Selanjutnya kok bisa-bisanya malah teriak-teriak lagi tentang munculnya 'bahaya komunis'. Entah kepercayaan, keyakinan politik ataupun agama mana yang mereka anut, sehingga bisa berti ndak seperti itu? Patut juga dipertanyakan rasa kemanusiaan mereka, masih adakah hati nurani mereka? Sampai bisa ramai-ramai meneriakkan tentang munculnya 'bahaya komunis', bersamaan dengan itu, masing-masing menyembunyikan jauh-jauh ke sudut gelap benak mereka, mengenai pembantaian yang mereka atau golongan mereka lakukan dulu terhadap orang-orang yang tidak bersalah dalam tahun-tahun 65/66, pada permulaan era Orba. Yah, itu semua bisa terjadi karena hendak mempertahankan yang tidak bisa dipertahankan, karena hendak membela yang tidak bisa dibela, hendak melakukan sesuatu atas dasar yang tak sehat, yang bertolak dari kepentingan diri dan golongan sendiri semata-mata tanpa memperhatikan kepentingan bangsa dan negeri secara keseluruhan. TIDAK KEBETULAN Tidaklah kebetulan bahwa manuver-manuver mereka baik di lembaga eksekutif maupun eksekutif untuk menggusur presiden Wahid, bersamaan waktunya dengan kampanye anti-komunis yang mereka lakukan. Senjata politik 'anti-komunis' yang mereka ayunkan terhadap set iap kekuatan politik yang menuntut Golkar dibubarkan, misalnya terhadap PRD, telah dan akan mereka gunakan lagi terhadap Gus Dur, sasaran utama mereka dewasa in. Adalah kegagalan mereka hingga kini untuk menggusur presiden, yang menyebabkan mereka cepat-cepat memamah biak 'blabla-bla' tentang bahaya komunis. GUS DUR BERSAMA KEKUATAN KIRI ADALAH BAIK Melihat situasi sekarang dari latar belakang usaha utama mereka untuk menjatuhkan Gus Dur, maka bisa dimengerti kiranya mengapa mereka teriak-teriak tentang anti-komunisme. Karena sudah bukan rahasia lagi bahwa salah satu kekuatan moral dan politik yang ada di masyarakat yang dengan kuat mendukung Gus Dur, adalah kekuatan moral dan politik Kiri. Termasuk di situ kekuatan LSM, serikat buruh, mahasiswa, serikat tani dan berbagai organisasi sosial dan politik di dalam masyarakat yang berhaluan Kiri. Yang je las dari segi parpol adalah PRD. Sedangkan dari segi yang tidak berparpol adalah kekuatan Kiri lama, termasuk simpatisan PKI. Dengan memukul kekuatan Kiri yang termasuk mendukung Gus Dur, mereka hendak mengimplilkasikan bahwa Gus Dur bersahabat dan menyatu dengan golongan Kiri. Dan malah Gus Dur itu sendiri dikatakan Kiri. Hal ini sesungguhnya juga tidak ada jeleknya. Malah banyak baiknya. Ia lebih lanjut menerobos fikiran yang tabu terhadap segala sesuatu yang Kiri. Karena di dunia ini baik dulu, maupun dewasa ini yang Kiri itu secara pokok dan umum adalah yang pro rakyat, yang anti kolonial, yang anti politik imperialis, yang menentang globalisasi menurut maunya kaum modal monopoli, yang menentang bersimaharelanya nafsu mengejar keuntungan semata dari segelintir orang atas nama untuk menggalakkan pertumbuhan ekonomi.

Beradanya kekuatan Kiri dengan Gus Dur pada satu barisan, ini membikin bukan alang kepalang marahnya kekuatan politik Statusquo. Tetapi, selain menghidupkan kembali 'hantu bahaya komunis' untuk menakut-nakuti orang, mereka tidak bisa berbuat lain lagi. Pasti mereka sedang mencari akal baru. Mereka tidak akan berhenti sampai di sini saja. Apalagi dengan adanya pernyataan Gus Dur beberapa hari yang lalu dalam suatu interview dengan CNN, dimana Gus Dur membikin jelas sikapnya untuk mempertahankan kebinetnya sampai 2004. Gus Dur tanpa bisa diintepretasi lain menyatakan bahwa beliau tetap aka n berpegang pada UUD dan jalan konstitusionil dalam menjalankan pemerintahan. Gus Dur juga menyatakan tekad kuat beliau untuk mempertahankan kesatuan dan keutuhan negara kita. Perlu betul-betul disadari bahwa yang kewalahan sekarang ini bukanlah kekuatan pro demokrasi, bukanlah kekuatan reformasi, bukanlah Gus Dur dan kekuatan moral dan politik yang mendukungnuya. Yang kepepet dan kalap sekarang ini adalah merekamereka yang m entang Gus Dur, mereka-mereka yang 'komunisto-phobi' dan golongannya. Maka mengertilah orang mengapa muncul lagi ribut-ribut 'anti-komunis' belakangan ini. Ibrahim Isa **** ----- End of forwarded message from Ibrahim Isa ----X-URL: http://www.gwu.edu/ ~ nsarchiv/NSAEBB/NSAEBB52 / Untuk disiarkan segera, 27 Juli 2001 diperlukan Untuk informasi lebih lanjut: Arsip sutradara Tom Blanton, 994-7000

Sejarah CIA mengulur-ulur DEPARTEMEN NEGARA Arsip POS SATU dari dua volume yang disengketakan PADA WEB SIMPULAN NAMA NEGARA sejarawan US berlalu komunis UNTUK INDONESIA ARMY, yang menewaskan sedikitnya 105.000 DALAM 1965-66 Juli WASHINGTON, DC, 27 - George Washington University Arsip Keamanan Nasional hari ini diposting di Web (www.nsarchive.org) salah satu dari dua film dokumenter sejarah Departemen Luar Negeri AS yang rilis Badan Pusat Intelijen adalah mengulur-ulur, meskipun dokumen yang disertakan dalam volume secara resmi dideklasifikasi pada tahun 1998 dan 1999, menurut catatan Departemen Luar Negeri publik. Dua volume penutup Negara Departemen sengketa Indonesia-MalaysiaFilipina di tahun-tahun 1964-68 dan Yunani-Turki-Siprus pada periode yang sama. CIA, serta tindakan pejabat di Departemen Luar Negeri, telah mencegah rilis resmi volume baik, sudah dicetak dan terikat oleh Kantor Percetakan Pemerintah. Arsip Keamanan Nasional Indonesia diperoleh volume diposting hari ini ketika GPO, tampaknya oleh kesalahan, salinan dikirim ke toko buku berbagai GPO, tetapi volume Yunani masih dikurung di gudang GPO. Volume Indonesia termasuk dokumentasi baru yang signifikan pada kampanye Angkatan Darat Indonesia melawan Partai Komunis Indonesia (PKI) di 1965-66, yang dibawa ke kekuasaan diktator Soeharto. (Ironisnya, pengganti Suharto, mantan Presiden Wahid, sedang dalam perjalanan ke Baltimore pekan ini untuk perawatan medis, dan telah digantikan oleh wakil presidennya, yang merupakan putri dari orang Suharto menggulingkan.) Sebagai contoh, Kedutaan Besar AS melaporkan pada November 13, 1965 menyampaikan informasi dari polisi bahwa "dari 50 hingga 100 anggota PKI yang dibunuh setiap malam di Timur dan Jawa Tengah ....", dan Kedutaan Besar mengakui dalam sebuah April 15, 1966 airgram ke Washington bahwa "Kami terus terang tidak tahu apakah angka yang sebenarnya [PKI dibunuh] adalah lebih dekat ke 100.000 atau 1.000.000 tapi percaya bijaksana untuk berbuat salah di sisi perkiraan yang lebih rendah, terutama ketika ditanyai oleh pers "Pada halaman 339., volume tampaknya mendukung angka 105.000 tewas yang diusulkan pada tahun 1970 oleh petugas layanan asing Richard Cabot Howland dalam publikasi CIA diklasifikasikan. Pada isu lain yang sangat kontroversial - yang dari keterlibatan AS dalam pembunuhan - volume mencakup "Catatan Editorial" pada halaman 387 menjelaskan Duta Besar Marshall Green 10 Agustus 1966 airgram ke Washington melaporkan bahwa daftar Kedutaan-siap para pemimpin Komunis atas dengan Kedutaan atribusi dihapus "tampaknya sedang digunakan oleh otoritas keamanan Indonesia yang tampaknya kurang bahkan informasi sederhana tentang kepemimpinan terbuka PKI pada waktu itu ...." Pada tanggal 2 Desember 1965, Hijau mendukung pembayaran 50 juta rupiah rahasia untuk gerakan Kap-Gestapu memimpin represi, tetapi 3 Desember respon CIA Negara dipungut secara penuh (hal. 379-380). Intervensi CIA dalam publikasi Departemen Luar Negeri hanya yang terbaru dalam serangkaian kontroversi tersebut, dating kembali ke 1990 ketika CIA disensor volume Negara terhadap Iran pada awal 1950-an untuk meninggalkan referensi apapun dengan kudeta yang didukung CIA yang menggulingkan Mossadegh pada tahun 1953. Ketua Departemen Luar Negeri sejarah komite penasihat mengundurkan diri sebagai protes, menghasilkan protes di kalangan akademisi dan jurnalis (lihat "Sejarah Dikelantang di Negara," New York Times editorial, 16 Mei 1990, hal A26: "Pada saat itu bahwa Moskow akan datang bersih pada pembantaian Stalin petugas Polandia, Washington memadamkan sejarah dalam modus Soviet ").. Kongres kemudian dilewatkan hukum pada tahun 1991 membutuhkan volume Departemen Luar Negeri untuk memasukkan operasi-operasi rahasia serta diplomasi terbuka, sehingga memberikan gambaran historis yang akurat tentang kebijakan luar negeri AS, 30 tahun setelah kejadian. *** Pameran:

1. Editorial catatan dari volume Indonesia pada jumlah anggota PKI Bahasa Indonesia yang tewas di 1965-66, hlm 338-340. 2. Editorial catatan dari volume Indonesia pada peran Kedutaan Besar AS dalam menyediakan daftar untuk Tentara Nasional Indonesia anggota PKI, hal 386-387. 2a. Duta Besar Green 2 Desember 1965 dukungan dari 50 juta rupiah pembayaran rahasia untuk "tentara-terinspirasi tapi staf sipil-kelompok aksi [Kap-Gestapu] ... masih membawa beban dari upaya represif yang ditujukan terhadap PKI saat ini ...." Dokumen tersebut segera setelah, mungkin respon CIA untuk usulan ini dari 3 Desember 1965 (ditulis oleh William Colby divisi Timur Jauh CIA kepada Departemen Luar Negeri William Bundy), dirahasiakan penuh dari volume. (Pp.379-380) 3. Deskripsi dari tinjauan deklasifikasi volume Indonesia, ditulis oleh sejarawan Departemen Luar Negeri, hal VII. Ini termasuk keterangan resmi dari "High Level Panel" yang membuat keputusan akhir tentang pengakuan operasi rahasia. 4. Departemen Luar Negeri Komite Penasihat Sejarah ringkasan sebagai 1 September 1999 "Status Johnson dan Nixon Era FRUS High Level Panel Kasus Aksi Terselubung" (2 halaman). Dokumen ini menunjukkan bahwa Panel memutuskan pada tanggal 20 April 1998 untuk mengakui aksi rahasia di Indonesia, bahwa CIA menyelesaikan review dokumen pada 28 Agustus 1998, dan bahwa volume lalu pergi ke halaman bukti, "Namun, publikasi telah tertunda "Ringkasan. juga menunjukkan bahwa CIA menyelesaikan review dari volume Siprus-Yunani-Turki pada 14 Mei 1999, bahwa volume berada di halaman bukti direvisi pada tanggal 1 dan diperkirakan akan diterbitkan pada Desember 1999. 5. Kutipan dari Dewan Perwakilan versi final 'Hukum, Publik 102-138 ditandatangani oleh Presiden George HW Bush pada tanggal 28 Oktober, 1991 yang mensyaratkan bahwa Hubungan Luar Negeri Amerika Serikat seri menjadi catatan menyeluruh, akurat, dan dapat diandalkan utama keputusan kebijakan luar negeri AS dan signifikan aktivitas diplomatik AS. Aidit, PKI, dan G-30-S Bagi PKI, disiplin dimaksud untuk menyelenggarakan pekerjaan dengan tepat dan baik. Dan suatu pekerjaan baru dapat diseleng- garakan dengan tepat dan baik kalau disertai dengan kesetiakawanan atau solidaritas … Berdasarkan moral Komunis itu diterapkan pelak- sanaan “Centralisme demokrasi,” yaitu centralisme yang didasarkan kepada demokrasi dan demokrasi yang dipusatkan, dimana dipadukan pertanggungan-jawab kolektif dengan pertanggungan-jawab perseo- rangan. Sudisman, Uraian Tanggungdjawab (1967) , , Bukti yang ada sejauh ini memperlihatkan bahwa Aidit sedikitnya menyetujui kerja sama Sjam dengan para perwira militer untuk melancarkan serangan mendahului terhadap pimpinan tertinggi Angkatan Darat (SUAD). Menurut dokumen Supardjo, Sjam adalah organisator utama Gerakan 30 September. Menurut Hasan, ia bawahan setia Aidit. Jika dua keterangan itu benar, kita harus menduga bahwa Aidit lebih dari sekadar sosok lugu yang mudah tertipu dalam G-30-S. Sampai di sini pertanyaan yang belum terjawab adalah apakah Aidit yang memprakarsai G-30-S dan memberi perintah kepada Sjam untuk melaksanakannya (sebagaimana diklaim versi rezim Suharto) atau ia mengizinkan Sjam bekerja dengan para perwira militer dengan anggapan para perwira itulah yang memimpin G-30-S? Apa yang diketahui Aidit tentang hubungan antara anggota-anggota Biro Chusus dan para perwira militer? Apa yang diceritakan Sjam kepadanya? Informasi apa yang didengar Aidit dari sumber-sumber lain mengenai kecenderungan para perwira yang ikut dalam G-30-S? Apakah Aidit sang dalang yang memerintahkan dan menyelia setiap gerak-gerik Sjam? Ataukah Aidit seorang pendukung G-30-S dan mendapat kesan bahwa para perwira militerlah yang mendalangi aksi? Sukar menilai peranan Aidit karena tidak ada bukti langsung dan meyakinkan tentang hal ini. Mengingat sifat pengorganisasiannya yang rahasia, hanya dua orang yang dalam posisi mengetahui sepenuhnya peranan Aidit: Sjam dan Aidit sendiri. Angkatan Darat sudah menembak mati Aidit pada November 1965 sebelum ia sempat menyampaikan penjelasan tentang tindakannya. Dalam sidang Mahmilub pada 1967 Sjam menyatakan bahwa ia bertindak atas perintah Aidit. Pernyataan- nya ini tidak mungkin dibuktikan kebenarannya. Satu-satunya pende- katan terhadap persoalan mengenai peranan Aidit hanyalah secara tidak langsung, dengan merangkaikan kepingan-kepingan bukti dan memper- timbangkan masuk akal atau tidaknya kemungkinan-kemungkinan yang berbeda-beda itu. Dalam bab ini saya meninjau pernyataan-pernyataan para mantan pimpinan PKI, strategi politik Aidit dalam bulan-bulan sebelum G-30-S terjadi, dan pandangannya tentang kup militer. Saya juga meninjau pernyataan partai tentang G-30-S dalam koran hariannya, Harian Rakjat, edisi 2 Oktober 1965. URAIAN SUDISMAN Pernyataan paling penting oleh pimpinan PKI tentang G-30-S ialah per- nyataan Sudisman, Sekretaris Jenderal partai yang berhasil lolos dari pem- bantaian besar-besaran. Ia ditangkap pada Desember 1966 dan dibawa ke depan Mahmilub pada Juli 1967. Ia salah seorang dari kelompok lima tokoh muda yang mengambil alih pimpinan partai pada 1951. Kelima tokoh itu – Aidit, Lukman, Njoto, Sakirman, dan Sudisman sendiri– memperoleh sukses besar dalam membangun kembali partai. Dalam pleidoinya Sudisman mengacu pada kesatuan di antara kelima tokoh itu ibarat kesatuan lima bersaudara Pandawa dari epos besar India Mahabharata, “Mereka berempat adalah saya, dan saya adalah mereka berempat … Saya dengan mereka berempat telah berpanca-kawan, artinya, berlima telah bersama-sama membangun kembali PKI sejak tahun 1951 … Kita berlima selalu bersama.”1 Keberhasilan PKI dari 1951 sampai 1965 sebagian berkat kesatuan para pimpinannya itu. Tidak terjadi keretakan yang memecah-belah partai menjadi kelompok-kelompok yang saling bersaing (seperti yang terjadi dalam gerakan komunis di India) bahkan di tengah-tengah konflik Tiongkok-Soviet. Pidato pembelaan Sudisman, walaupun dikemukakan di Mahmilub– atau “di cengkeraman tangan musuh,” kata para aktivis eksPKI– merupakan sebuah dokumen yang terus terang dan ditulis dengan baik, yang mempertunjukkan kecerdasan dan ketenangan pribadi. Di depan mahkamah ia tidak mengkeret ketakutan, melempar kesalahan kepada orang lain, pura-pura tidak tahu, atau memohon keselamatan nyawanya. Sebagai pimpinan tertinggi partai yang tersisa, ia merasa ber- tanggung jawab kepada para pendukung partai untuk menjelaskan apa yang sudah salah. Menyadari akan dijatuhi hukuman mati, ia menyusun pidato pembelaannya sebagai pernyataan politik kepada masyarakat luas di luar ruangan sidang. Memang, karena ia menolak mengakui keabsahan Mahmilub, ia tidak mau pidatonya disebut sebagai pembelaan (pledoi). Sudisman menamainya sebuah “uraian tanggungdjawab.”2 Sudisman mengakui, dengan cara yang tidak terinci, bahwa ia “terlibat” dalam G-30-S dan bahwa pimpinan-pimpinan PKI lainnya, tanpa menyebut nama, juga “terlibat langsung” di dalamnya.3 Dengan menggunakan kata terlibat ia tidak bermaksud

menyatakan bahwa para pemimpin PKI mengarahkan G-30-S. Ia menjunjung pernyataan partai pada 6 Oktober 1965 bahwa G30-S merupakan peristiwa “intern Angkatan Darat,” dan bahwa PKI sebagai partai “tidak tahu menahu” tentang gerakan itu.4 Ia menyatakan bahwa para pemrakarsa dan pengor- ganisasi utama G-30-S adalah “perwira-perwira maju” yang ingin menggagalkan rencana kup oleh Dewan Jenderal.5 Kelompok di belakang G-30-S ini sebagian besar “perwira-perwira non-Komunis” (berarti perwira-perwira yang loyal terhadap Sukarno), tapi juga “disamping yang Komunis.”6 Sudisman menyiratkan bahwa pemimpin-pemimpin tertentu PKI sebagai perseorangan memutuskan untuk mendukung para perwira progresif ini. Ia tidak menjelaskan dengan tegas bagaimana ia dan pemimpin-pemimpin partai lain mulai bersekutu dengan para perwira tersebut dan memberikan dukungan mereka. Sasaran Sudisman adalah pada memberi alasan pembenar bagi strategi Politbiro untuk mendukung G-30-S ketimbang menggambarkan bagaimana strategi itu dilaksanakan. Sudisman mengklaim ia menjadi yakin bahwa aksi yang dilakukan “perwira-perwira maju” itu merupakan cara terbaik dalam melawan jenderal-jenderal sayap kanan Angkatan Darat yang telah membukti- kan dirinya sebagai satu-satunya rintangan terbesar bagi program partai. Mereka menghalangi politik luar negeri antiimperialis Sukarno, kebijakan- kebijakan ekonomi pemerintah yang dirancang untuk kemaslahatan kaum tani dan kaum buruh (misalnya land reform), dan pengaruh PKI yang terus meluas. Strategi mendukung “perwira-perwira maju” itu, menurut Sudisman, tampaknya benar pada saat itu. Namun, sesudah meninjaunya kembali, ia memandang strategi itu keliru arahan. Kegagalan G-30-S dan kerentanan partai terhadap represi militer memperlihatkan ada sesuatu yang salah dalam watak organisasi dan ideologi partai itu sendiri. Sudisman menyatakan bahwa masalahnya bukan sekadar pimpinan partai bertaruh pada kuda yang salah; masalah utamanya adalah mereka sudah bertaruh. Terbuai oleh rangkaian kesuksesan panjang, mereka kehilangan kemampuan untuk “secara ilmiah menghitung imbangan kekuatan secara kongkrit dari kedua belah pihak, dari kekuatan PKI sendiri dan dari kekuatan lawan.”7 Penekanan mereka pada persatuan nasional menggiring mereka menjadi terlalu akomodatif terhadap kelas menengah dan melalaikan pembangunan kekuatan tani dan buruh yang terorganisasi secara mandiri.8 Dengan mendukung putsch rahasia yang terpisah dari “massa,” pimpinan partai telah memilih semacam jalan pintas yang berbahaya menuju revolusi – bahaya yang tidak akan pernah mereka alami andaikata partai tidak tersita perhatiannya oleh rencana- rencana licik politisi elite di Jakarta. Di antara puing-puing G-30-S tersingkaplah “kesalahan-kesalahan PKI yang menumpuk untuk masa yang panjang.”9 Sudisman yakin otak G-30-S ialah perwira-perwira militer seperti Untung dan Supardjo. Untuk menimbang ketepatan keyakinannya perlu dipertanyakan apa yang diketahui Sudisman tentang G-30-S. Informasi apa yang menjadi dasar keyakinannya itu? Menurut Uraian Tanggung- djawab pengetahuannya tentang G-30-S berasal dari Aidit saja. Sudisman mencatat bahwa di dalam sidang-sidang Politbiro Aidit menjelaskan “bahwa ada perwira-perwira maju yang mau mendahului bertindak untuk mencegah kudeta Dewan Jenderal.”10 Menurut pengalaman Sudisman, Aidit “teliti dalam menerima informasi-informasi” dan “teliti dalam meng- hitung imbangan kekuatan.”11 Berkat kedudukannya sebagai menteri koordinator dalam kabinet Sukarno, Aidit “cukup memiliki saluran” untuk memeriksa informasi yang diterimanya.12 Sudisman mempercayai pendapat Aidit bahwa G-30-S patut mendapat dukungan, “kawan Aidit menjelaskan [kemungkinan kepada anggota Politbiro] dengan meya- kinkan bahwa ada perwira-perwira maju dan G-30-S yang mengadakan operasi militer membentuk Dewan Revolusi.”13 Aidit konsisten dalam memberi tahu Politbiro bahwa gerakan yang direncanakan merupakan urusan intern militer. Aidit menjelaskan “bahwa para perwira maju mau mengadakan operasi militer dan tidak pernah mengemukakan bahwa PKI mau mengadakan operasi militer, dan oleh kawan Aidit juga tidak pernah dikemukakan bahwa PKI mau mencetuskan revolusi pada saat itu.”14 Sudisman menempatkan Aidit sebagai orang utama di dalam partai yang berhubungan dengan para perwira dan menetapkan tindakan apa yang akan diambil oleh personil PKI dalam mendukung gerakan tersebut. Sudisman mengatakan bahwa Aidit “menugaskan pengiriman beberapa tenaga ke daerah pada hari-hari menjelang mencetusnya G-30-S dengan garisnya ‘dengarkan pengumuman RRI Pusat dan sokong Dewan Revolusi.’”15 Bagi Sudisman G-30-S mirip dengan kup Kolonel Qasim di Irak pada 1958 yang menumbangkan monarki dan menggagalkan keikutsertaan Irak dalam persekutuan militer untuk menghadapi Uni Soviet (Pakta Baghdad 1955, yang antara lain termasuk Turki dan Inggris).16 Ada beberapa kup yang mempunyai agenda politik yang progresif – yaitu melawan feodalisme, imperialisme, dan kapitalisme – sementara itu ada beberapa kup yang mempunyai agenda reaksioner. Gerakan 30 September, walaupun bukan kup, merupakan aksi militer yang dalam pandangan partai progresif. Sudisman tidak mengklaim mempunyai hubungan langsung dengan para perwira yang terlibat dalam G-30-S. Barangkali ia bahkan tidak berhubungan dengan Sjam dan orang-orang dari Biro Chusus. Ia tidak menyebut tentang mereka. Walaupun Sudisman seharusnya tahu lebih banyak tentang hubungan partai dengan G-30-S daripada yang sudah dibeberkannya di dalam Uraian Tanggungdjawab, tanpa bukti tambahan kita tidak bisa beranggapan bahwa pendapatnya tentang penggerak G-30-S itu didasarkan atas informasi di luar dari yang diberikan Aidit kepadanya. Selama sidang-sidang Mahmilub, dalam menanggapi kesaksian Sjam, Sudisman menyatakan tidak mempunyai pengetahuan langsung tentang G-30-S, hanya mengikuti perintahperintah dari Aidit, dan percaya bahwa Sjam pun mengikuti perintah dari Aidit, “Walaupun saya tidak ikut membuat Dekrit, tidak ikut menyusun komposisi Dewan Revolusi, tidak berada di Halim, Lubang Buaya atau Pondok Gede baik di sekitar maupun pada saat dicetuskannya G-30-S, tapi karena semua perbuatan itu adalah perbuatan oknum-oknum anggauta PKI, maka saya ambil oper tanggung-jawabnya.”17 Saya akan berkomentar di belakang tentang tindakan misterius Sudisman untuk mengambil tanggung jawab terhadap suatu gerakan yang menurut pengakuannya sangat sedikit ia ketahui. Sekarang masalah penting yang perlu diperhatikan adalah bahwa Sudisman memang tidak berada dalam posisi mengetahui bagaimana pengorganisasian G-30-S dilakukan. Tidak ada alasan untuk memandang pendapat Sudisman bahwa para perwira militer bertindak atas kehendak sendiri sebagai pendapat seorang yang berwenang dan berpengetahuan memadai. Penilaian Sudisman tentang G-30-S sebagai aksi yang dipimpin militer tidak dapat diperhitungkan sebagai sangkalan yang meyakinkan terhadap penilaian Supardjo yang melihat gerakan itu di bawah pimpinan Sjam. Karena Supardjo jauh lebih dekat dengan para organisator G-30-S dan menyaksikan langsung proses pengambilan keputusan mereka, penilaian- nya harus diberi bobot lebih.18 Pertanyaan tentang pengetahuan Aidit tetap tidak terjawab di dalam uraian Sudisman. Mungkin Aidit juga percaya bahwa para perwira militer itu bertindak atas kehendak sendiri. Ia bersandar pada informasi dari Sjam. Mungkin Sjam tidak menjelaskan kepada Aidit bahwa ia sesung- guhnya memainkan peranan yang dominan dalam mengorganisasikan para perwira. Jika tidak demikian, barangkali Aidit mengetahui bahwa perwira-perwira di belakang G30-S ialah mereka yang terkait dengan Biro Chusus, tapi ia mungkin hendak menyembunyikan fakta tersebut dari kawankawannya di Politbiro demi mempertahankan kerahasiaan di sekitar operasi Biro Chusus. ANALISIS SJAM DAN HASAN Menjelang sidang Mahmilub untuknya berakhir Sudisman membacakan dengan lantang “uraian tanggungdjawab”-nya di depan para hakim dan pengunjung sidang. Sebagian uraiannya dapat ditangkap sebagai pe- nyangkalan terhadap kesaksian yang

diberikan Sjam pada sidang yang sama. Dibawa masuk ke ruang sidang sebagai saksi, Sjam menyampaikan pengakuan bahwa yang dilakukan Aidit lebih dari sekadar mendukung G-30-S. Menurut versi Sjam tentang peristiwa itu, Aidit memprakarsai G-30-S. Konon Aidit memerintahkan Sjam agar memobilisasi tokoh- tokoh militer yang terkait dengan Biro Chusus untuk melancarkan aksi militer melawan jenderal-jenderal kanan Angkatan Darat. Sjam menge- mukakan, “Sesudah bulan Agustus [1965] [Biro Chusus] menerima keterangan daripada Kawan D.N. Aidit tentang makin memuntjaknja situasi. Dan gedjalagedjala jang ada menundjukkan bahwa Dewan Djenderal sudah mulai melakukan persiapan-persiapan terachir untuk pada achirnja melakukan perebutan kekuasan. Setelah ada soal-soal itu maka kami diberikan garis, apakah dalam menghadapi situasi jang sematjam ini, kami menunggu dipukul atau mesti memberikan pukulan terlebih dahulu. Karena kesimpulannja bahwa kami harus memberikan pukulan terlebih dahulu, kami melakukan persiapan-persiapan dengan mengadakan pertemuan-pertemuan antara saja, Pono, Untung, Latif, Sujono, Sigit dan Wahjudi. Sebagai pertemuan-pertemuan persiapan untuk melakukan gerakan jang pada achirnja dinamakan G30S. Dalam pertemuan-pertemuan itu jang memimpin adalah saja sendiri.”19 Sjam mengklaim dialah yang memilih perwira-perwira yang ikut dalam rapat- rapat itu dan, dengan bantuan Aidit, merancang gagasan tentang Dewan Revolusi. Berdiri sendiri, kesaksian Sjam harus disikapi dengan kesangsian. Pen- dakuannya sebagai atasan para perwira dapat diabaikan laiknya khayalan seorang megalomaniak, seseorang yang ingin dilihat sebagai pemain politik yang penting. Pendakuannya bahwa ia mengikuti perintah-perintah Aidit dapat diabaikan sebagai usaha untuk mengesahkan tindakan-tindakan yang sesungguhnya di luar jangkauan kewenangan Aidit. Barangkali Sjam melibatkan Aidit demi menyenangkan para penuntut umum dari militer yang mengingini pembenaran atas tuduhan mereka bahwa Aidit ialah otak G-30-S. Namun demikian pernyataan Sjam tidak bisa begitu saja ditolak, menimbang analisis post-mortem Supardjo (yang sudah saya bahas dalam bab 3) dan penegasan dari Hasan untuk bagian-bagian tertentu dari kesaksian Sjam yang berkaitan dengan kinerja Biro Chusus (dibahas dalam bab 4). Barangkali Sjam bukanlah seorang penyemu. Dalam karangan otobiografis yang ditulisnya pada pertengahan 1990-an, Hasan menguatkan sejumlah klaim Sjam tentang peranannya di dalam G-30-S. Hasan percaya Sjam mengikuti perintahperintah Aidit dan para perwira itu, pada gilirannya, mengikuti pimpinan Sjam: Pada suatu waktu, kira-kira bulan Juli 1965, dalam rapat BC Pusat, Ketua BC Bung Sjam memberi informasi bahwa sakitnya Presiden Sukarno makin parah dan mungkin akan mati. Hal ini akan digunakan oleh kaum militer yang anti Sukarno dan yang bekerja erat dengan kaum nekolim Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Belanda untuk mengkup kekuasaan Sukarno menjadi pemerintah militer pro-Barat yang fasis. Gerakan rakyat demokratis yang dipimpin oleh Nasakom dimana PKI menjadi pelopornya, akan ditindas secara kekerasan sampai hancur-lebur. Untuk menghadapi situasi gawat yang mendadak, PKI sebagai pelopor gerakan rakyat harus mengambil sikap. Sikap PKI yalah harus melawan gerakan kup militer Angkatan Darat terhadap Pemerintah Sukarno secara militer. Tugas ini diperintahkan oleh Bung Aidit kepada BC Pusat yang menggarap kaum militer. Dalam proses selanjutnya berhubung situasinya makin genting, maka perintahnya bukan hanya menunggu kup kaum militer bahkan kita harus bertindak lebih dahulu terhadap jendral-jendral yang pro nekolim.”20 Sukarno jatuh sakit dari 3 Agustus sampai 9 Agustus, maka rapat pertama yang dimaksud Hasan tentunya terjadi pada awal Agustus itu. Kemungkinan meninggalnya Sukarno di awal Agustus agaknya telah memancing tekad awal Aidit untuk menyiapkan aksi militer, seperti dikemukakan Hasan, tapi barangkali tidak sampai membulatkan tekad Aidit hingga akhir September. Desas-desus tentang Sukarno hamper meninggal seketika lenyap saat ia sehat kembali. Beberapa penasihatnya dari semula berpikir bahwa Sukarno tidak menderita penyakit yang lebih parah dari influenza berat. Sesudah 9 Agustus Sukarno tidak memperlihatkan tanda-tanda akan jatuh sakit serius dan mulai lagi mengisi jadwal melelahkan yang sarat dengan pidatopidatonya yang bersemangat di depan umum, termasuk pidato pada 30 September malam. Bagi Aidit, untuk meneruskan rencana melancarkan aksi militer, jika itu memang ia lakukan, ia tentu sudah yakin bahwa jenderal-jenderal antikomunis Angkatan Darat akan melancarkan serangan tanpa menghiraukan kesehatan Sukarno. Menurut Hasan, Aidit mengubah rencana semula; Biro Chusus berubah dari menanti menjadi mendahului kudeta para jenderal. Pendapat ini serupa dengan pendirian Sjam bahwa partai menghadapi pertanyaan apakah menunggu kup terjadi baru bertindak, atau mendahului kup. Pendapat ini juga serupa dengan pendirian Supardjo bahwa “partai” pada satu titik mengubah strateginya dari menunggu laporan tentang rencana para “perwira progresif ” menjadi memaksakan rencananya sendiri. Dipertimbangkan bersama, cerita-cerita Sjam dan Hasan tidak bisa dipandang sebagai bukti tandas bahwa Aidit memprakarsai G30-S, Sjam mengikuti perintah Aidit, dan perwira-perwira militer yang terkait dengan Biro Chusus mengikuti Sjam. Barangkali perwira-perwira itu bertindak atas dasar kesimpulan-kesimpulan yang tidak dapat dibenar- kan. Ketika berbicara di depan para perwira dan anggota-anggota Biro Chusus (orang-orang yang dikenal Hasan), boleh jadi Sjam sengaja membual tentang perintah Aidit agar orang-orang itu mau mengikuti dia. Perlu diingat bahwa Supardjo mendapat kesan tentang adanya rencana besar partai yang melebihi apa yang telah dijelaskan Sjam kepadanya. Mungkin saja Sjam bersikap seakan-akan kepemimpinan partai terlibat lebih jauh dalam G-30-S. Tapi penegasan Hasan terhadap pokok-pokok cerita Sjam setidak-tidaknya memberikan kesan bahwa gagasan tentang Aidit menjadi salah satu dari pemimpin-pemimpin G-30-S tidaklah berlebihan. Untuk memperoleh gambaran lebih baik tentang peranan Aidit, kita harus menelaah cerita-cerita tokoh-tokoh yang ada di dalam Politbiro sendiri. ANALISIS ISKANDAR SUBEKTI Dua anggota Politbiro diketahui memainkan peranan langsung dalam G-30-S: Njono, yang mengorganisasi sekitar dua ribu pemuda untuk dijadikan sukarelawan, dan Iskandar Subekti, yang menemani Aidit di pangkalan AURI Halim. Kedua tokoh ini menceritakan proses pengam- bilan keputusan partai dalam kesaksian mereka di sidang pengadilan. Njono, pemimpin PKI yang pertama diadili Mahmilub, berusaha membersihkan pimpinan partai lainnya dari kesalahan apa pun. Ia me- nampilkan dirinya sebagai oknum dajal yang sudah melanggar keputusan Politbiro untuk tetap tidak terlibat di dalam aksi para perwira Sukarnois melawan Dewan Jenderal.21 Skenario “meriam liar” yang tak masuk akal ini sebaiknya dikesampingkan saja. Bisa dimengerti, bahkan terpuji, jika Njono mengambil tanggung jawab penuh. Tapi sukar dipercaya bahwa ia bertindak sepenuhnya sendiri tanpa keterkaitan dengan Aidit dan pimpinan partai lainnya, terutama karena belakangan Sudisman mengakui bahwa Politbiro memutuskan untuk mendukung G-30-S. Cerita Iskandar Subekti lebih layak diperhatikan. Subekti adalah panitera dan arsiparis Politbiro. Ia memang cocok untuk tugas ini bukan hanya karena ia mahir stenografi; ia terpelajar, fasih dalam berbagai bahasa Eropa, dan memiliki pengetahuan mendalam tentang sejarah partai dan program-programnya. Ketika ia diajukan ke pengadilan pada 1972, penjaga rahasia partai ini bisa berbicara dengan lebih terbuka daripada Njono. “Uraian Tanggungdjawab” Sudisman sudah beredar, dan partai sudah dihancurkan. Dalam pidato pledoinya di pengadilan Subekti menyatakan bahwa pada sebuah rapat pada Agustus 1965 Politbiro memutuskan bahwa partai akan memberi “dukungan politis” kepada aksi yang direncanakan para perwira progresif. Sementara Subekti tidak menjelaskan arti setepatnya perkataan “dukungan politis,” ia membedakannya dengan “dukungan fisik,” yang tidak mau diberikan Politbiro. Implikasinya adalah para perwira akan bertindak sendiri, sedangkan partai akan membela perju- angan mereka melalui pers dan sidang-sidang pemerintah, “Sikap Partai ialah memberikan dukungan politis, bukan dukungan fisik atau

lainnya semacam itu, kepada perwira-perwira muda yang hendak menggagalkan rencana kudeta dari Dewan Jenderal terhadap Pemerintah Sukarno. PKI bisa memberikan dukungan kepada sesuatu aksi dari kekuatan-kekuatan revolusioner dan demokratis untuk menentang kekuatan-kekuatan kontra-revolusioner. Sikap itu adalah sikap politik yang wajar dan biasa, berhubung dengan perkembangan situasi dan garis politik PKI yang mendukung Pemerintah Sukarno pada waktu itu.”22 Tabel 3. Struktur Organisasi Pimpinan Partai Komunis Indonesia, September 1965 Ketua Comite Central D.N. Aidit Dewan Harian Politbiro Lima anggota: D.N. Aidit, Lukman, Njoto, Sudisman, Oloan Hutapea Politbiro Dua belas anggota penuh: D.N. Aidit, Lukman, Njoto, Sudisman, Oloan Hutapea, Sakirman, Njono, Mohamad Munir, Ruslan Wijayasastra, Jusuf Ajitorop, Asmu, Rewang Empat calon anggota: Peris Pardede, A. Sanusi, Sucipto Munandar, F. Runturambi Panitera: Iskandar Subekti Comite Central 85 anggota Sumber: Subekti, “G-30-S Bukan Buatan PKI,” 2-3. Subekti mengklaim bahwa Aidit menjelaskan keputusan Politbiro kepada sekelompok anggota Comite Central pada 27 atau 28 Agustus.23 Subekti menekankan bahwa rapat ini adalah sebuah brifing oleh Aidit, bukan sidang resmi Politbiro yang diperluas atau sidang Comite Central yang dipersempit (lihat gambar 3 tentang struktur pimpinan PKI). Brifing tersebut dimaksudkan untuk menyampaikan kepada tokoh- tokoh pimpinan tertentu tentang posisi partai. Aidit menjelaskan kepada yang hadir bahwa sebuah klik perwira progresif sedang merancang suatu aksi menentang Dewan Jenderal dan bahwa partai akan memberikan “dukungan politis.” Menurut Subekti tidak ada diskusi, juga tidak ada keputusan satu pun diambil di dalam forum ini. Subekti menyatakan bahwa Politbiro tidak bersidang selama September. Njono juga menyatakan, walaupun Politbiro tiga kali bersidang dalam Agustus, tidak satu kali pun dalam September. Ini mengesankan bahwa Aidit bertindak sendiri di luar pengawasan Politbiro selama beberapa pekan sebelum G-30-S dimulai. Menurut Subekti, “Pelaksanaan selanjutnya dari putusan Politbiro yang dibriefingkan itu diserahkan kepada Dewan Harian Politbiro sebagaimana lazimnya Dewan Harian Politbiro melaksanakan sehari-harinya putusan Politbiro. Tidak ada sidang Politbiro lagi untuk mendengarkan laporan-laporan tentang pelaksanaan putusan itu oleh Dewan Harian Politbiro ataupun oleh Ketua CC guna memberikan kesempatan kepada Politbiro untuk menilai kebijaksanaan Dewan Harian Politbiro atau Ketua CC dalam melaksanakan putusan Politbiro itu.”24 Dengan kata lain, Aidit bertindak sendiri selama September dalam hal perencanaan gerakan tersebut. Jika Subekti benar bahwa Politbiro tidak bersidang selama September, anggota Politbiro sebagai kelompok bisa jadi tidak mendapat informasi tentang peranan Sjam dalam G-30-S. Sjam mulai mengadakan rapat-rapat dengan para perwira baru pada September (setidak-tidaknya menurut pengakuannya sendiri). Politbiro tidak mungkin bisa mengeta- hui, apalagi menyetujui, persisnya tindakan-tindakan Aidit dan Sjam. Jika selama sidang-sidang pada Agustus Politbiro memberikan persetujuannya kepada gagasan “dukungan politis” terhadap tindakan militer para perwira progresif, untuk memutuskan rincian kerja sama partai diserahkan kepada Aidit. Subekti mencatat dalam sebuah alinea yang gamblang bahwa Aidit adalah satu-satunya pimpinan partai yang berhak mengurus hubungan PKI dengan militer: Penyerahan soal-soal militer kepada D.N. Aidit adalah, menurut pengalaman saya, soal yang biasa, yang sehari-hari. Karena soal militer, artinya soal-soal yang bertalian dengan kerjasama atau sikap-sikap tertentu yang harus diambil oleh Partai terhadap ABRI merupakan hal-hal yang harus dilakukan dengan hati-hati maka ini diserahkan kepada Ketua CC, D.N. Aidit. Dalam praktek sehari-harinya hal ini terwujud dalam misalnya ceramah-ceramah, penulisan-penulisan, atau penje- lasan-penjelasan dari sikap Partai terhadap ABRI yang ditu- angkan dalam editorial-editorial Harian Rakjat. Yang boleh menulis tentang ini hanya Ketua CC, D.N. Aidit, tidak boleh orang lain, redaksi Harian Rakjat sekalipun tidak boleh.25 Butir pokok pendapat Subekti sama dengan yang diajukan Sudisman: G-30-S bukanlah buatan PKI sebagai sebuah lembaga walaupun beberapa pimpinan partai tertentu terlibat di dalamnya. Baik Politbiro maupun Comite Central tidak memikirkan sebuah rencana aksi untuk mempra- karsai, mengorganisasi, dan memimpin G-30-S. Pidato Subekti di depan sidang pengadilan pada 1972 tampaknya mencerminkan pendapatnya yang jujur tentang G-30-S. Ia mengulangi banyak pendapat yang sama ketika ia menulis sebuah dokumen rahasia pada 1986 untuk sekelompok kecil anggota partai yang setia dan masih hidup, termasuk mantan anggota Politbiro, Jusuf Ajitorop.26 Halaman pertama naskah tulis tangan ini menyatakan bahwa dokumen ini tidak diedarkan untuk umum dan ditulis semata-mata untuk “dokumentasi partai.” Subekti memutuskan menuliskan analisis tentang G-30-S segera setelah ketiga pimpinan Biro Chusus (Sjam, Pono, dan Bono) dieksekusi pada September 1986.27 Menyadari ketiga orang ini (teman-temannya sesama penghuni penjara Cipinang) telah membawa rahasia mereka masing-masing ke liang kubur dan sedikit saja pimpinan PKI lainnya yang masih hidup, Subekti merasa harus mencatat semua ingatan dan pendapatnya sendiri. Untuk pembaca terbatas dari kalangan loyalis partai Subekti menegaskan pokok pikiran yang sudah ia kemukakan tahun- tahun sebelumnya di hadapan publik: G-30-S bukan buatan atau ciptaan PKI … Maka seandainya ia merupakan gerakan dari PKI, atau gerakan yang “didalangi” PKI, semestinya ia dibicarakan dan diputuskan oleh badan pimpinan partai yang tertinggi yaitu Comite Central. …Tetapi hal ini tidak pernah dibicarakan, apalagi diputuskan di dalam dan oleh Comite Central yang anggotanya berjumlah 85 orang itu. …Bahkan ada anggota Politbiro atau calon anggota Politbiro yang tidak mengetahui sama sekali. Manakala ada anggota-anggota CC atau PB [Politbiro] yang tersangkut dalam gerakan ini, maka mayoritas dari mereka hanya merupakan pelaksana saja, bukan pemikir yang ikut memutuskan, mem- bicarakan atau merencanakan gerakan ini.28 Pendapat Subekti tentang kebersalahan PKI sebagai sebuah lembaga cukup sahih. Soal yang dipertanyakan ialah mengapa Aidit dan pimpinan tertentu lainnya menjadi “tersangkut” dalam G-30-S. Walaupun Subekti dan Sudisman secara implisit mengesankan di hadapan publik bahwa dalam hal G-30-S Aidit membuat kebijakannya sendiri, tak satu pun dari mereka terbuka tentang bagaimana persisnya sifat keterlibatan Aidit. Subekti jauh lebih terus terang tentang hal ini dalam dokumen rahasianya tahun 1986. Ia mempersalahkan Aidit dan para pimpinan partai lainnya jauh lebih mendalam dalam hal merancang G-30-S. Versi Subekti mengenai kejadian-kejadian tersebut patut diperhatikan dengan cermat karena ia, dibanding dengan tokoh-tokoh lainnya, dalam posisi lebih mengetahui gerak-gerik Aidit selama Agustus dan September. Sebagai panitera Politbiro, ia juga berperanan sebagai semacam sekretaris pribadi Aidit. Dalam uraian rahasianya Subekti menyatakan bahwa Aidit bertemu Sjam dalam Agustus 1965 untuk membahas kemungkinan melancarkan aksi militer melawan Dewan Jenderal. Aidit masih mempelajari pilihan-pilihannya pada saat itu. Sjam meyakinkan Aidit bahwa ia dapat mengerahkan para simpatisan partai di dalam tubuh militer untuk pe- laksanaan aksi itu. Kemudian Aidit

melakukan pendekatan terhadap Politbiro. Dengan bayangan aksi militer itu akan dilaksanakan oleh para perwira militer sendiri, terlepas dari partai, Politbiro sepakat pada sebuah sidang di Agustus untuk memberikan “dukungan politis.” Aidit lalu membentuk satu tim khusus pilihan dari anggota-anggota Politbiro untuk membahas dengan cara-cara apa partai akan mendukung para perwira itu. Subekti tahu tentang tim ini karena ia sendiri termasuk di dalamnya. Ia mengikuti diskusi-diskusi tim “tidak sebagai peserta pe- nyumbang pikiran atau pendapat, tetapi sebagai tukang catat keputusan- keputusan yang diambil oleh kolektif tersebut di atas.”29 Para anggota tim ialah, menurut ingatan Subekti, Aidit, Sudisman, Oloan Hutapea, Lukman, dan Rewang. Tim ini kerap bertemu dari akhir Agustus sampai akhir September dengan tiga anggota inti Biro Chusus, Sjam, Pono, dan Bono. Dengan demikian Aidit tidak melibatkan Politbiro beserta seluruh Dewan Hariannya dalam proses pengambilan keputusan. Beberapa anggota badan-badan ini dibiarkan dalam kegelapan. Khususnya Njoto disisihkan dari lingkaran ini. Subekti mencatat, “Dalam semua diskusi ini kawan Mansur (Njoto) oleh DN Aidit dengan sadar tidak diikutser- takan karena pertimbangan ideologis. Bagi Nyoto tidak dipercaya karna berdasarkan pengalaman lebih dianggap Sukarnois daripada Komunis.”30 Oey Hay Djoen (yang dekat dengan Njoto) menyampaikan kepada saya bahwa Aidit hanya bersandar pada orang-orang kepercayaannya saja dalam minggu-minggu sebelum kejadian.31 Masuk akal untuk berasumsi bahwa Subekti benar sehubungan dengan klaim tentang adanya tim khusus pilihan Aidit untuk membahas G-30-S. Sebagai operasi terselubung yang menuntut kerahasiaan, G-30-S tidak mungkin bisa diketahui banyak orang. Menjadi jelas juga jika anggota CC-PKI, yang terdiri dari sekitar delapan puluh lima orang, tidak diberi tahu tentang G-30-S secara rinci dan tidak dibolehkan mem- perbincangkannya. Karena jika ini terjadi sama saja dengan membuat pernyataan publik, mengingat bahwa Angkatan Darat mempunyai mata-mata di dalam partai. Adanya Sakirman di dalam Politbiro akan merupakan kendala bagi Aidit untuk mendiskusikan rencana G-30-S secara rinci dalam forum itu. Salah satu sasaran penting G-30-S ialah adik Sakirman, Jenderal Parman, kepala intelijen Angkatan Darat. Parman sendiri suatu ketika mengatakan kepada seorang perwira militer Amerika Serikat pada pertengahan 1965 bahwa ia sudah menyusupi sepenuhnya tubuh PKI dan dapat mengetahui setiap keputusan yang diambil dalam sidang-sidang terpenting mereka dalam hitungan jam. Parman juga me- ngatakan bahwa PKI sudah mengetahui ada penyusupan di dalam partai dan membentuk suatu kelompok inti kecil untuk membahas masalah- masalah yang sensitif.32 Subekti mencatat bahwa salah satu tema diskusi dalam tim khusus tersebut adalah usul Aidit tentang dewan revolusi, “D.N. Aidit telah mengkonsepkan daftar orang-orang anggota Dewan Revolusi. Konsep ini telah diterima oleh badan kolektif seperti tersebut di atas tadi.”33 Ide di balik daftar nama-nama ini ialah gerakan ini harus tampil sebagai aksi militer murni, “Sejak semula, selagi masih dalam tingkat-tingkat pertama dalam pembicaraan antara D.N. Aidit dan Kamaruzaman [Sjam], telah diputuskan bahwa gerakan itu harus merupakan gerakan militer, tidak boleh terlihat sebagai gerakan dari PKI.”34 Karena itu orang-orang yang dipilih sebagai anggota Dewan Revolusi Indonesia ialah tokoh-tokoh politik yang mewakili lintas aliran ideologi yang luas. Gerakan ini tidak dimaksudkan sebagai suatu aksi yang akan serta-merta membawa PKI masuk ke istana. Gerakan ini hanya bertujuan untuk membersihkan jenderal-jenderal Angkatan Darat yang antikomunis, sehingga dengan begitu dapat menciptakan suasana politik yang memungkinkan PKI berkembang meluas. Subekti menekankan bahwa tim khusus anggota Dewan Harian Politbiro tidak pernah mendiskusikan gagasan untuk mendemisionerkan kabinet Sukarno. Ia mempersalahkan Aidit yang, pada detik terakhir, menyisipkan gagasan tersebut dalam pengumuman radio 1 Oktober. Tapi Subekti tidak menjelaskan mengapa atau bagaimana Aidit melakukan hal tersebut. Dewan Revolusi, sebagaimana yang dirumuskan oleh tim khusus, dimaksudkan untuk menekan pemerintah Sukarno agar bergeser lebih ke kiri, tidak untuk mengganti menteri-menteri kabinet yang ada. Tim khusus itu, dalam penilaian Subekti, tidak berfungsi sebagai pengendali kebebasan Aidit untuk bergerak. Ia melukisan Aidit sebagai seorang pemimpin yang memprakarsai gagasan tentang aksi militer untuk mendahului rencana Dewan Jenderal. Tim khusus tampak lebih sebagai panel gaung bagi Aidit, ketimbang sebagai badan terpadu yang membuat keputusan-keputusan laiknya sebuah kolektif. Karena Biro Chusus sepenuhnya berada di bawah pimpinannya, Aidit dalam posisi untuk melakukan kontrol secara eksklusif terhadap gerakan yang diren- canakan. Subekti menulis bahwa Sjam “didudukkan oleh Aidit sebagai pemimpin utama dalam komando gerakan.”35 Perhatikan bahwa Subekti tidak mengklaim bahwa tim khusus mengangkat Sjam sebagai pemimpin. Subekti mengklaim bahwa Aidit sendirilah yang menunjuk Sjam. Bahkan jika anggota-anggota tim khusus terlibat dalam perencanaan aksi pada minggu-minggu menjelang 1 Oktober, tampaknya mereka tidak me- netapkan peranan apa pun bagi diri mereka dalam melaksanakannya. Setidak-tidaknya ada dua orang anggota tim yang tidak aktif pada 1 Oktober: Lukman sedang keliling Jawa Tengah, dan Sudisman bersembu- nyi di sebuah rumah di Jakarta, memantau siaran-siaran radio (menurut Hasan, yang bersama Sudisman pada hari itu). Dalam pledoinya di depan sidang Subekti mengatakan bahwa ia hanya mengikuti perintah ketika menemani Aidit di pangkalan udara AURI di Halim, “Saya diharuskan membantu Aidit dan melakukan pengetikan itu atas perintah Aidit ‘in person,’ bukan sebagai putusan Politbiro ataupun sebagai tugas yang ditetapkan oleh Sekretariat CC.” Aidit memandang Subekti sebagai seorang pengikut setia yang tidak banyak bertanya, “Tenaga-tenaga pembantu Aidit sesungguhnya sudah cukup dengan Bono dan Kusno, Aidit meminta saya lagi dan bukan orang lain, menurut dugaan saya karena ia mempunyai “affection” tertentu atau suka dengan saya yang ia kenal sebagai kawan sejak waktu praProklamasi 17 Agustus 1945 di Menteng 31, dan yang suka bekerja serta tidak rewel.”36 Bagi Subekti tim khusus para anggota Politbiro bukanlah otak G-30-S. Tim ini lebih merupakan suatu badan musyawarah bagi Aidit dan Sjam saat mereka merencanakan G-30-S bersama para perwira militer tertentu. Uraian Iskandar Subekti yang bersifat rahasia ini merupakan bukti kuat bagi klaim bahwa peranan Aidit dan Sjam dalam G-30-S lebih besar dibandingkan peranan para perwira militer. Subekti, beda dengan Supardjo, berada dalam posisi mengetahui dinamika internal pimpinan PKI. Supardjo hanya mengatakan bahwa “partai” lebih dominan. Subekti lebih persis dalam menunjukkan siapa di dalam partai yang bertanggung jawab. Menulis untuk pembaca kalangan dalam partai pada 1986, ia tidak berada di bawah tekanan apa pun untuk tidak jujur. Ia ingin berterus terang demi proses perbaikan diri partai sendiri. Namun, pemandangan Subekti terbatas. Dia tidak mungkin hadir dalam rapat-rapat antara Sjam dan para perwira, sehingga dia tidak mungkin mengetahui sifat saling hubungan mereka. Kendati demikian, dari diskusi-diskusi tim khusus saja. ia rupanya dapat menduga bahwa Aidit dan Sjam telah memprakarsai aksi dan mulai memperoleh kerja sama dari para perwira militer yang simpati kepada PKI. Subekti, seperti empat pimpinan PKI lainnya dalam tim khusus, tentu menyadari bahwa para perwira militer di dalam G-30-S itu tidak bebas sepenuhnya dari partai. Mereka adalah koneksi-koneksi Sjam. Boleh jadi Subekti melebih-lebihkan peranan Aidit dan Sjam karena ia menyimpan kegeraman hebat terhadap kedua tokoh itu. Nada berang dalam alinea-alinea tertentu dari analisisnya pada 1986 (hujatannya terhadap hampir semua mantan pimpinan PKI lainnya sebagai pengecut, borjuis kecil, dan tak berprinsip) tampak sebagai akibat dari frustrasi dan kekecewaannya yang mendalam saat menyaksikan kehancuran partai.37 Orang bisa saja mengatakan Aidit dan Sjam menjadi kambing hitam baginya. Namun, alasan-alasannya untuk menyalahkan Aidit dan Sjam boleh jadi cukup berdasar. Pimpinan partai yang lain, seperti Sudisman, juga menuding dua tokoh itu sebagai yang bertanggung jawab.

Pertimbangkan pernyataan Sudisman, seperti yang sebelumnya sudah dikutip, “Walaupun saya tidak ikut membuat Dekrit, tidak ikut menyusun komposisi Dewan Revolusi, tidak berada di Halim, Lubang Buaya atau Pondok Gede baik di sekitar maupun pada saat dicetuskannya G-30-S, tapi karena semua perbuatan itu adalah perbuatan oknum- oknum anggauta PKI, maka saya ambil oper tanggung-jawabnya.” Klaim Sudisman tentang ketidaktahuannya hendaknya diartikan bahwa ia tidak mengetahui beberapa rincian tentang G-30-S. Ia mengakui bahwa ia terlibat. Tapi cara Sudisman mengambil alih tanggung jawab moral atas G-30-S memperlihatkan bahwa ia yakin Aidit telah bertindak sendiri. Tentang hal ini Sudisman mengurainya lebih lanjut di dalam dokumen “otokritik” Politbiro (disiarkan pada September 1966) dan dalam pledoinya di depan sidang Mahmilub. Ia merasa bertanggung jawab sebagai seorang pimpinan partai yang terlalu banyak memberi jalan simpang bagi Aidit untuk bertindak sendiri. Menurut Sudisman prinsip “centralisme demokrasi” partai telah menjadi lebih condong ke sentralismenya ketimbang demokrasinya. Pimpinan PKI sudah menye- rahkan kekuasaan terlalu banyak kepada Aidit. Pesan yang tersirat di balik argumen Sudisman ialah bahwa Aidit telah menetapkan kebijakan partai mengenai G-30-S dan Politbiro memberi lampu hijau kepadanya untuk jalan terus. Karena Sudisman percaya bahwa “centralisme demokrasi” merupakan bentuk organisasi ideal di mana “dipadukan pertanggungan- jawab kolektif dengan pertanggungan-jawab perseorangan” ia merasa tanggung jawab dirinya akan kebijakan partai sebanding dengan tanggung jawab Aidit. Jika Aidit berbuat salah, itu karena pimpinan lain telah membiarkan dia berbuat salah. Avonturisme Aidit, meminjam kata-kata Sudisman, mencerminkan adanya masalah yang serius di dalam partai karena Aidit tidak bisa ditunjuk sebagai satu-satunya orang yang memikul seluruh beban kesalahan. Sudisman merasa dia sendiri dan pimpinan PKI yang lain telah membiarkan prinsip “centralisme demokrasi” mengalami kemerosotan. Pada saat persidangan Sudisman pada 1967 pimpinan PKI yang masih hidup di penjara memperdebatkan masalah tanggung jawab ini dengan sengit. Militer mengumpulkan sekitar tujuh puluh lima tapol, baik pimpinan PKI maupun perwira militer, di suatu tempat, yaitu di Rumah Tahanan Militer (RTM) di tengah kota Jakarta, sehingga mereka bisa diajukan sebagai saksi untuk persidangan Sudisman. Begitu berkumpul di satu gedung, mereka mempunyai banyak kesempatan untuk berdiskusi di antara mereka tentang proses pengambilan keputusan di dalam partai dan memahami siapa yang harus dipersalahkan terkait dengan kekalahan mereka. Salah seorang di antara para tapol itu ialah Tan Swie Ling, yang ditangkap bersama Sudisman pada Desember 1966. Ia memberi tempat perlindungan bagi Sudisman di rumahnya. Tan mengenang bahwa pendapat umum di kalangan pimpinan PKI yang ditahan di RTM adalah Aidit sebagai individu harus disalahkan, “Jadi disitu saya berkesempatan untuk ketemu dengan orang-orang ini, dan sejauh yang saya dengar dari mereka itu semua rasa kecewa, rasa marah, dan karena itu yang muncul cuma caci maki. Caci maki tentu jatuh kepada D.N. Aidit. Caci maki tentang kesalahannya dan lain sebagainya, umpama semua adalah kesalahannya D.N. Aidit. Saya tidak pernah mendengar keterangan yang sedikit masuk akal … Saya ketemu sama seorang kader yang saya hormati, dan juga dia dihormati oleh banyak orang, itu namanya pak Joko Soejono. Ini orang bekas kader buruh, dia juga orang CC. Saya pernah tanya sama dia, sebetulnya kenapa terjadi peristiwa G-30-S? Dia cuma jawabnya, ‘karena Centralisme Demokrasi itu berat sebelah, yang jalan cuma centralismenya saja, demokrasinya tidak ada.’ Sudisman mengakui, menurut ingatan Tan, Aidit terlalu banyak memperoleh kekuasaan di dalam partai, tapi Sudisman menyalahkan pimpinan partai lainnya karena mereka tidak cukup kompeten melawan Aidit, “Kalau Sudisman dia memberi keterangannya begini, ‘Kalau kawan- kawan merasakan sentralisme terlalu kuat, dan demokrasi tidak berjalan, itu letak persoalannya sebetulnya bukan karena Aidit itu diktator,’ ini menurut Sudisman ya, ‘tetapi karena kemampuan teori antara Aidit dengan yang lain-lain tidak setara. Jadi kesenjangannya terlalu jauh, sehingga setiap kali ada diskusi, setiap kali terjadi adu argumentasi, selalu Aidit berhasil.’”38 Walaupun Sudisman percaya bahwa Aidit berpengaruh besar di dalam PKI karena ia begitu pandai, masih mungkin melihat alasan-alasan lain. Fakta yang sederhana adalah partai tumbuh di bawah pimpinan Aidit. Banyak anggota Politbiro dan Comite Central bersedia tunduk kepada Aidit karena ia tampaknya memiliki rumus untuk kesuksesan. Apa pun persisnya alasan tentang kedominanan Aidit, para pimpinan PKI yang masih hidup menganggapnya sebagai penyebab kehancuran partai. Menjelang akhir September 1965 kepemimpinan partai menjadi mirip dengan hierarki militer, dengan Aidit sebagai panglima tertinggi, memberikan perintah-perintah bahkan kepada anggota-anggota senior Politbiro. (Seperti dicatat Sudisman, bahkan ia sendiri menerima “perintah-perintah” dari Aidit.) Aidit, sebagai sosok penghubung utama antara Biro Chusus dan pimpinan partai yang legal, berada dalam posisi yang unik dan kuat. Para pimpinan partai yang lain harus mengikuti penilaiannya dalam hal aksi militer. Ketika aksi ini gagal, mereka percaya aksi itu gagal karena Aidit telah bekerja seorang diri, di luar kontrol lembagalembaga partai yang lain, dan mengorganisir G-30-S dengan bantuan Biro Chusus, sebuah sayap partai yang sepenuhnya berada di bawah kepemimpinannya. KEUNTUNGAN MENDAHULUI Jika benar Aidit adalah penggerak utama G-30-S, lalu apakah alasannya? Baik Iskandar Subekti maupun Sudisman berpendapat bahwa G-30-S dimaksudkan sebagai tindakan secara militer untuk mendahului rencana kudeta Dewan Jenderal. Banyak politisi di Jakarta pada 1965, termasuk Sukarno sendiri, mengkhawatirkan bahwa jenderal-jenderal tertentu Angkatan Darat sedang berkomplot dengan kekuatan Barat untuk meng- gulingkan Sukarno. Kemungkinan besar Aidit mempercayai adanya Dewan Jenderal dan bahwa dewan ini merupakan ancaman langsung bagi Presiden Sukarno dan juga PKI. Baik Sudisman maupun Subekti membenarkan bahwa mereka yakin dalam Agustus dan September 1965 tentang adanya rencana kup oleh pimpinan tertinggi Angkatan Darat. Pertanyaan yang menimbulkan teka-teki ialah mengapa Aidit percaya tindakan mendahului secara militer itu merupakan pilihan paling baik untuk menjawab ancaman tersebut? Apakah ia tidak mempercayai Presiden Sukarno untuk menangani jenderal-jenderal itu sendiri? Apakah Aidit tidak percaya kepada kemampuan PKI dalam menghadapi serangan militer? Sudah sejak akhir 1940-an partai hampir selalu mengalami serangan: penindasan pascaperistiwa Madiun 1948, penangkapan missal di Jakarta pada Agustus 1951, pelarangan partai di tiga daerah pada 1960 (“Tiga Selatan”: Sumatra Selatan, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan). Namun demikian partai berhasil selamat dan tumbuh di tengah-tengah kemundurankemunduran itu. Mengapa Aidit tidak menunggu sampai jenderal-jenderal itu sendiri bergerak, dan kemudian memimpin massa PKI bangkit berlawan? Jika para perwira sayap kiri pro-Sukarno sedang menyusun rencana menentang jenderal-jenderal sayap kanan, mengapa Aidit tidak membiarkan saja mereka berjalan dengan rencana mereka? Mengapa ia merasa dirinya dan beberapa anggota partai lainnya harus memainkan peranan? Aidit, seperti ditegaskan Sudisman, mempunyai reputasi sebagai ahli siasat yang berkepala dingin, dan tentunya sudah memperhitungkan untung-rugi pilihan yang diambilnya.39 Satu pilihan ialah memberi kesempatan Sukarno menangani sendiri masalah dengan jenderal-jenderal sayap kanan tersebut. Sukarno bisa saja memecat Yani sebagai panglima Angkatan Darat dan menggantikannya dengan jenderal yang lebih berhaluan kiri, seperti Pranoto atau Rukman, dan selanjutnya mendesak panglima baru agar menyusun ulang stafnya. Sukarno mungkin bermaksud menemui Yani pada 1 Oktober di istana, dan mengujinya lagi (seperti dalam Mei 1965) tentang desas-desus mengenai Dewan Jenderal, dan memberitahunya bahwa ia akan diganti.40 Analis politik Rex Mortimer, dalam tulisannya pada pertengahan 1970-an, mengira Aidit akan lebih menyukai pendekatan secara administratif seperti itu karena PKI telah menjadi sangat bergantung pada naungan Sukarno. Bersandar pada Sukarno dalam menghadapi jenderal-jenderal tersebut akan lebih aman dan gampang ketimbang mengorganisasi serangan rahasia, “Bagi

Sukarno merupakan masalah yang boleh dibilang sederhana untuk melumpuhkan Angkatan Darat dengan menempatkan para pimpinannya dalam pengawasan ketat, menyampaikan kepada seluruh bangsa tentang dasar tindak-annya dengan gayanya yang tak tertandingi itu, dan mengulur-ulur penyelesai-an masalah sementara ia mereorganisasi tatanan angkatan [sehingga menjadi] lebih sesuai dengan seleranya.”41 Mortimer beranggapan Sukarno mempunyai kekuasaan mutlak atas Angkatan Darat, sehingga perintah dari Sukarno kepada polisi militer untuk menahan jenderal-jenderal yang dicurigai meren- canakan kup, atau perintah untuk memecat Yani, akan menyelesaikan masalah. Tidak demikian kenyataannya. Kendali Sukarno atas militer tidak mantap. Para pendukungnya yang fanatik di dalam Angkatan Darat tidak cukup banyak atau tidak ditempatkan secara strategis untuk menjamin setiap perintahnya akan dilaksanakan. Bagaimana jika Yani memutuskan untuk membangkang perintah Sukarno (seperti yang dilakukan Suharto pada 1 Oktober)? Akankah Sukarno bisa memaksa Yani untuk mundur tanpa risiko pertempuran berdarah antara berbagai satuan-satuan militer (hal yang pada 1 Oktober ingin dihindari Sukarno dengan segala daya)? Mungkin Aidit mempunyai alasan-alasan yang tepat untuk menolak strategi yang bersandar pada Sukarno. Mungkin ia takut bahwa gerakan untuk menahan atau mengangkat panglima Angkatan Darat hanya akan memprovokasi jenderal-jenderal untuk melancarkan kup atau bahwa Sukarno tidak akan mempunyai kekukuhan menghadapi bentrokan dengan pimpinan tertinggi Angkatan Darat. Pilihan lain ialah bersandar pada kekuatan pendukung partai, yaitu dua puluh tujuh juta orang yang digemakan Aidit dalam pidato- pidatonya. Jika dikerahkan di jalan-jalan secara besar-besaran, mereka akan menghadirkan tantangan hebat bagi jenderaljenderal Angkatan Darat. Mantan wartawan Joesoef Isak teringat, ia pernah diberi tahu beberapa anggota Comite Central pada Agustus dan September bahwa suatu aksi massa menentang “kapitalis birokrat” dan “kaum kontra-re- volusioner” akan segera terjadi. Isak ketika itu ketua PWAA (Persatuan Wartawan Asia-Afrika), organisasi yang tumbuh dari Konferensi Asia Afrika yang terkenal dan diselenggarakan di Bandung pada 1955. Kantor PWAA di tengah kota Jakarta menerima lima wartawan dari negara- negara Asia dan lima lainnya dari negara-negara Afrika.42 Isak secara rutin memberikan informasi singkat kepada sepuluh orang wartawan ini, yang disebut sebagai “sekretaris-sekretaris luar negeri” itu, tentang per- kembangan politik di Indonesia. Informasi yang disampaikannya berasal dari laporan-laporan rahasia yang diterimanya dari Comite Central PKI. Isak bukan anggota penuh PKI, tapi ia dipercaya sebagai simpatisan yang teguh. Ia menjadi saluran informasi partai untuk para sekretaris luar negeri, yang kebanyakan adalah anggota partai-partai komunis di negeri mereka masing-masing. Seorang anggota Comite Central, Nursuhud, selalu memberi informasi kepada Isak tentang posisi partai dari waktu ke waktu.43 Dengan demikian ia menjadi tempat berbagi rahasia tentang informasi-informasi yang sensitif. Menurut ingatan Isak suasana politik pada pertengahan 1965 “memang revolusioner.” PKI merasa yakin bahwa ia sedang memenangi persaingannya dengan militer, bahwa situasi bergeser bagi kebaikan partai. Pimpinan partai merasa telah mencapai suatu tahap di mana mereka bias melancarkan pukulan pamungkas terhadap pimpinan tertinggi Angkatan Darat. Sudisman pun, dalam analisisnya, mencatat bahwa pimpinan partai melihat “situasi politik pada waktu itu sebagai situasi politik revolu- sioner,” ketika aksi-aksi “massa rakyat banyak” semakin ikut menentukan kebijakan pemerintah.44 Selama dua bulan menjelang peristiwa, Isak mendengar bahwa suatu aksi penting segera akan terjadi: Saya diberi tahu, bahwa sebentar lagi seluruh situasi akan berubah. Saya mengerti itu artinya akan terjadi suatu gerakan hebat. Akan ada pukulan terakhir. Saya tetap mengganggu partai [maksudnya pemberi informasi, Nursuhud], dengan menanyakannya, “Kapan? Kamu bilang sebentar lagi.” Baiklah, satu minggu sudah liwat, satu bulan, masih tidak terjadi apa- apa. Saya tetap mencari-cari partai, menanyakan kapan. Para sekretaris luar negeri [PWAA] terus-menerus bertanya pada saya kapan akan terjadi. Partai mengatakan pada saya, “Kita akan melancarkan aksi- aksi revolusioner sepenuhnya sampai mencapai puncak. Kita akan menghabisi kaum kapitalis birokrat dan kaum kontra- revolusioner.” Saya bertanya, “Bagaimana cara kamu akan melakukannya?” “Turun ke jalan-jalan,” begitulah cerita yang disampaikan pada saya. “Turun ke jalan-jalan. Kita akan pergi langsung masuk ke kantor-kantor para menteri, para dirjen de- partemen-departemen pemerintah, dan menangkap mereka. Kita akan mengambil Wakil Perdana Menteri III Sukarno, Chairul Saleh, dan melemparnya ke kali Ciliwung.”45 Seperti setiap orang lain di Jakarta yang sadar politik, Isak tahu bahwa musuh utama PKI ialah pimpinan Angkatan Darat. Apa pun bentuk “pukulan terakhir” itu, sasarannya ialah pimpinan tertinggi Angkatan Darat. Informasi dari Nursuhud mengatakan bahwa tindakan partai akan melibatkan demonstrasi-demonstrasi massa. Isak tidak mem- bayangkan akan adanya operasi rahasia militer. Kalaupun Aidit memang mempertimbangkan pilihan untuk pengerahan demonstrasi besar-besaran ini, pada akhirnya ia memutuskan untuk tidak menyetujuinya. Ia tentu menyadari bahwa PKI, betapapun telah tumbuh menjadi besar dan berpengaruh, tetap merupakan organisasi tak bersenjata yang tidak bisa berharap untuk menang dalam menghadapi senapan mesin dan tank. Jika jenderal-jenderal sayap kanan melancarkan serangan besar-besaran terhadap PKI, mereka bisa menimbulkan kehan- curan hebat bagi partai yang barangkali memerlukan waktu satu generasi untuk kembali pulih. Mengorganisasi massa partai untuk menantang langsung pimpinan tertinggi Angkatan Darat barangkali bisa dianggap ibarat menggiring domba-domba ke medan penjagalan. Ilmuwan politik Daniel Lev mencatat pada awal 1966 bahwa PKI tidak bisa bersaing dengan Angkatan Darat di bidang kekuatan fisik, “Pada tataran politik yang fundamental PKI tidak memiliki kekuatan fisik untuk menghadapi Angkatan Darat, yang pada saat penyelesaian terakhir dalam bentuk apa pun persenjataannya disiapkan untuk mengatasi kekurangannya dalam kelihaian berpolitik.”46 Barangkali kemungkinan akan berulangnya represi antikomunis itu sendiri pada 1965 tidak membuat Aidit takut. Hal yang menimbulkan kecemasan ialah kemungkinan Sukarno digulingkan. Betapapun sulit bagi Sukarno untuk mengendalikan Angkatan Darat, ia telah melakukan langkah-langkah tertentu untuk melindungi partai sejak akhir 1950-an. Apabila Sukarno tidak lagi memegang kendali pemerintahan, PKI harus menghadapi Angkatan Darat sendirian. Dengan tidak adanya kekuatan pengendali apa pun dari atas, represi bisa menjadi lebih buruk dari waktu-waktu sebelumnya. Jenderal-jenderal sayap kanan akan sanggup memecat semua pejabat tingkat tinggi yang pro-Sukarno dan pro-PKI di pemerintahan sipil dan militer sehingga seluruh kekuatan negara berbalik menentang partai. Kup oleh Dewan Jenderal pada 1965 menjadi pertanda timbulnya kontrarevolusi sepenuh-penuhnya, yang berarti penjungkir- balikan pengaruh Sukarnois dan komunis di dalam negara. Rupanya pilihan yang lebih disukai Aidit ialah tindakan yang menggunakan perwira militer progresif untuk menyerang jenderaljenderal sayap kanan. Keuntungannya adalah rencana ini tidak akan membahayakan jiwa massa partai yang tak bersenjata. PKI sudah membangun kontak dengan kalangan militer yang menentang Dewan Jenderal. Mengapa tidak menggunakan mereka? Sekali komando Angkatan Darat di tangan para perwira yang simpati kepada PKI, massa dapat dikerahkan untuk berdemonstrasi tanpa khawatir terhadap tindakan pembalasan yang berdarah. Sukarno dengan tenang bisa terus melangkah dengan menyusun ulang panglima-panglima Angkatan Darat. Jika Dewan Jenderal bergerak terlebih dahulu dan merebut kekuasaan atas komando Angkatan Darat, para perwira progresif itu akan terlepas dari partai. Beberapa akan dipindah dari posisi-posisi komando yang penting. Sedangkan yang lain, demi mempertahankan karier mereka, akan memutuskan hubungan

mereka dengan Biro Chusus dan mengikuti rantai komando yang baru. Akan menjadi hampir tidak mungkin bagi partai untuk menggunakan mereka lagi dalam suatu aksi yang penting. Tentunya terasa tidak masuk akal bagi Aidit jika partai mempunyai modal demikian penting di kalangan militer dan tidak menggunakannya dengan produktif. Walaupun keputusan Aidit memilih tindakan mendahului di kemudian hari dikritik sebagai avonturisme oleh pimpinan partai lainnya, keputusan itu masuk akal, setidak-tidaknya secara prinsip. Kubu lawan, korps perwira Angkatan Darat, terpecah belah. Masuk akal jika keadaan demikian dimanfaatkan, terutama apabila serangan langsung (oleh kaum sipil terhadap militer) hanya akan memaksa sekutu-sekutu di dalam kubu lawan merapatkan barisan melawan partai. Aidit harus mempertimbangkan, apakah pilihan yang secara teori tampak menarik itu, memang dengan mudah bisa dilaksanakan dalam praktik. Ia harus memastikan apakah para perwira progresif itu cukup kuat untuk melaksanakan aksi melawan jenderaljenderal sayap kanan. Untuk ini Aidit harus bertumpu pada Sjam. Aidit tentunya sudah menerima peneguhan dari Sjam bahwa para perwira yang berada dalam posisi- posisi baik itu mempunyai cukup pasukan dalam komando masing- masing untuk melaksanakan aksi. Aidit mungkin sudah mendengar dari berbagai sumber bahwa para perwira muda dan prajurit sangat marah terhadap kesenjangan ekonomi yang dalam antara mereka dan para jenderal. Ia mungkin sudah mendengar tentang banyaknya ketidakpu- asan di kalangan Angkatan Darat akan perlawanan para jenderal terhadap kebijakan-kebijakan Sukarno. Pasukanpasukan itu tampaknya telah siap memberontak. Sebagai pimpinan sipil terkemuka, Aidit barangkali tidak mempunyai waktu dan kemampuan untuk mengontak sendiri perwira-perwira tersebut dan memeriksa lagi hasil penilaian Sjam. Dalam kesaksiannya di sidang pengadilan Sjam mengatakan bahwa ia “mengadakan pemeriksaan organisasi, jaitu dilihat bagaimana kekuatan-kekuatan kita jang ada didalam ABRI, terutama di kalangan Angkatan Darat.”47 Ia menilai kekuatan para perwira yang ia kontak sudah cukup. Walaupun Aidit sama sekali bukan avonturir, ia menempatkan dirinya dalam posisi bertumpu pada seseorang yang avonturir. Bagi Aidit daya tarik lain dari strategi mendahului ialah kesempatan untuk mencuri derap lebih awal dari sekutu-sekutu partainya di dalam kubu Sukarno. Dari tindakan ini PKI akan muncul sebagai juru selamat Sukarno dan seluruh program-programnya. Seperti dikatakan Hasan dalam paragraf yang sudah saya kutip sebelumnya, pimpinan PKI memandang dirinya sebagai pelopor kekuatan Sukarnois (“gerakan rakyat demokratis” di bawah pimpinan Nasakom). Dengan aksi mendahului melawan jenderaljenderal sayap kanan, Aidit akan membuktikan bahwa PKI benar-benar merupakan komponen terkemuka dalam persatuan Nasakom. Dalam uraiannya Sudisman menyebut, dalam mendukung G-30-S pimpinan partai berpikir “perwira-perwira maju itulah yang akan dapat ‘safe-stellen’ [menyelamatkan] politik kiri Presiden Sukarno.”48 Sukarno yakin bahwa bagaimanapun PKI terlibat dalam G-30-S, tapi ia tidak memandang tindakan partai ini setara dengan pengkhia- natan. Ia tidak menghujat partai karena sudah mengkhianati bangsa. Dalam pernyataan terakhirnya di depan parlemen sebagai presiden pada 1967, ia melukiskan pimpinan PKI sebagai keblinger.49 Pemilihan kata oleh seseorang yang selalu hati-hati dalam memilih kata-kata ini menarik. Keblinger adalah sepatah kata sifat bahasa Jawa yang digunakan dalam bahasa Indonesia. Artinya pusing, atau dalam keadaan kehilangan pemandangan yang tepat. Sukarno tidak bermaksud menyatakan bahwa Aidit tidak patriotik (tuduhan yang dilempar oleh rezim Suharto), tapi bahwa ia telah kehilangan kepekaan akan keberimbangan. Tanggapan Aidit terhadap desas-desus tentang Dewan Jenderal terlalu jauh dari yang semestinya. Mungkin saja memaklumi strategi mendahului yang diambil Aidit sebagai akibat dari provokasi jenderal-jenderal sayap kanan. Sekarang kita tahu, berdasarkan dokumen-dokumen Amerika Serikat yang telah dideklasifikasikan (diulas dalam bab 6), bahwa kelompok Yani tidak mempunyai rencana untuk melancarkan kudeta model lama terhadap Sukarno. Jenderal-jenderal di lingkaran Yani tentu saja ingin mendongkel Sukarno, menimbang sikapnya yang memberi hati kepada PKI, tapi mereka sedang mencari-cari dalih yang tepat. Dalih yang mereka anggap paling baik ialah usaha kup PKI yang gagal. Para jenderal sayap kanan tersebut barangkali dengan sengaja meniupkan api desas-desus pada 1965 untuk memancing PKI agar melakukan semacam aksi militer. Mereka boleh jadi menyebarkan cerita-cerita yang mendorong kalangan politik di Jakarta untuk berpikir bahwa hari-hari Sukarno sebagai presiden bisa dihitung dengan jari. Jika pimpinan PKI percaya bahwa Sukarno tidak bisa lagi memberikan perlindungan bagi mereka dari ancaman militer, barangkali mereka akan tergoda untuk melakukan semacam aksi langsung terhadap militer. Apa pun, kemungkinan bahwa Aidit terprovokasi untuk melakukan aksi mendahului itu tidak membebaskannya dari tuduhan keblinger yang dilontarkan Sukarno. Dalam menanggapi desas-desus tentang Dewan Jenderal, Aidit bisa memilih strategi yang lebih aman. Ia bertanggung jawab untuk memilih strategi yang, kendati secara prinsip dapat diper- tahankan, mengandung cacat fatal. Strategi itu bersandar pada kebijakan Sjam, seorang pembual yang menipu diri sendiri dan apparatchik tak bernalar, dan telah membawa partai ke dalam dunia agen ganda yang sarat bayang-bayang. Partai menjadi tidak lebih dari sosok amatir tingkat rendah yang gampang dikelabui. Strategi itu telah menjauhkan partai dari tengah medan bergeraknya yang paling kuat – dalam politik atas tanah dan terbuka yang melibatkan masyarakat – dan membawanya ke tengah-tengah intrik elite politik dan militer Jakarta. Barangkali Aidit mengira risiko yang berlibat dalam pilihan militer itu kecil saja. Ia dan pimpinan partai lainnya merasa bahwa para panglima sayap kanan Angkatan Darat itu rentan karena begitu banyak perwira yang pro-Sukarno. Oey Hay Djoen melukiskan pendapat umum di kalangan pimpinan partai pada 1965 sebagai berikut, “Angkatan Darat tidak mungkin memukul kami. Mengapa? Karena mereka tidak hanya ditentang oleh Angkatan Laut tapi juga oleh Angkatan Udara. Dan tidak itu saja. Di kalangan Angkatan Darat itu sendiri terjadi perpecahan. Maka itu mereka tidak bisa. Mereka tidak bisa bersatu memukul PKI.”50 Aksi mendahului oleh pasukan Angkatan Darat melawan jenderal-jenderal sayap kanan akan memberi jaminan bahwa militer akan terpecah belah sama sekali dan tidak mampu menyerang partai. Aksi demikian akan mempersatukan para perwira Sukarnois dari semua angkatan dan meng- isolasi komando tertinggi Yani. Bila berhasil menetralisasi militer, partai dapat melangkah lebih lanjut dengan kampanye massal melawan kaum “kontra-revolusi” dan “kapitalis birokrat.” KUP ALJAZAIR SEBAGAI TELADAN Satu amatan terhadap pemikiran strategis Aidit muncul dalam buku karangan Manai Sophiaan, seorang politisi Sukarnois dan mantan duta besar untuk Uni Soviet.51 Sophiaan berpendapat bahwa Aidit, dalam mendukung aksi militer melawan jenderaljenderal sayap kanan, diilhami oleh kup militer di Aljazair pada Juni 1965. Sophiaan mendasarkan pendapat itu pada wawancaranya dengan mantan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Karim D.P., yang sempat berbicara dengan Aidit tidak lama sesudah kup Aljazair. Karim D.P. tidak mengumumkan informasi ini karena ia sendiri menjadi tahanan politik selama tahun-tahun rezim Suharto. Bahkan sesudah bebas pun ia dilarang berbicara di depan dan menulis untuk umum. Ia baru mulai menerbitkan tulisan-tulisannya sesudah Suharto jatuh dari kekuasaannya. Dalam sebuah pidatonya di depan umum pada 1999 Karim D.P. mengatakan bahwa Aidit menang- gapi dengan gembira berita tentang kup militer di Aljazair. Arti penting informasi kecil ini memerlukan penjelasan tentang kejadian-kejadian di Aljazair tersebut dan hubungan Indonesia dengannya. Kup di Aljazair terjadi pada 19 Juni 1965, kurang dari sepekan sebelum Konferensi Asia Afrika II yang dijadwalkan dimulai di ibu kota Algiers.52 Sang perebut kekuasaan, Kolonel Boumedienne, menjanjikan akan tetap menyelenggarakan konferensi seperti yang telah direncanakan pendahulunya, Ahmed Ben Bella, yang telah digulingkannya. Sukarno diharapkan menjadi tamu

istimewa karena dialah tuan rumah konfe- rensi pertama yang ternama di Bandung pada 1955. Kembali ke Jakarta, masalah kup Aljazair menjadi topik hangat dalam percakapan di kalangan para pejabat pemerintah karena Sukarno harus memutuskan menghadiri atau memboikot konferensi. Jika ia hadir akan berarti mengabsahkan Kolonel Boumedienne, tapi jika ia memboikot akan berarti protes. Apakah Boumedienne seorang boneka CIA, seperti halnya kebanyakan para pelaku kup di Afrika, ataukah ia seorang nasionalis independen yang bisa diterima menurut prinsip-prinsip nonalignment (ketidakbersekutuan) Konferensi Asia Afrika? Para pejabat Sukarno tidak tahu dengan pasti siapa sebenarnya Boumedienne, tapi mereka bersedia membebaskan Boumedienne dari kecurigaan, terutama karena dia tetap berkeinginan menjadi tuan rumah konferensi. Sukarno memutuskan untuk hadir. Baik Aidit (sebagai wakil PKI), maupun Karim D.P. (sebagai wartawan) menjadi anggota delegasi Presiden Sukarno yang mening- galkan Jakarta menuju konferensi pada 23 Juni 1965. Di tengah jalan delegasi mengurungkan kunjungan ke Aljazair karena gedung tempat konferensi di Algiers mendadak dibom. Dengan ditundanya konfe- rensi, sebagian besar delegasi Indonesia terbang ke Paris tempat mereka menghabiskan beberapa hari yang menyenangkan sebelum meneruskan perjalanan kembali ke Jakarta. Untuk memanfaatkan kunjungan di Paris, Sukarno mengadakan pertemuan dengan seluruh duta besar Indonesia di Eropa. Ketika di Paris itulah Karim D.P. berbicara dengan Aidit tentang pemahamannya mengenai kup Aljazair. Aidit baru saja kembali ke hotelnya dari rapat di kantor pusat Partai Komunis Perancis. Ia mengatakan kepada Karim D.P. bahwa ia baru saja bertemu dengan enam orang kawan dari Aljazair, kemungkinan anggota-anggota Partai Komunis Aljazair: Pertama-tama dikatakannya bahwa ia sudah minta kepada enam kameradnya dari Aljazair supaya mereka segera kembali ke negeri mereka, dan memberikan dukungan kepada Bou- medienne. Dalam diskusi yang mereka lakukan, kata Aidit, berdasarkan bahan-bahan yang disampaikan oleh kamerad- kamerad dari Aljazair, karakter coup d’état Boumedienne dapat dikategorikan sebagai coup d’état yang progresif. Oleh karenanya patut didukung oleh rakyat. Jika 30% dari rakyat mendukungnya, maka coup d’état itu bisa diubah sifatnya menjadi revolusi rakyat yang akan menguntungkan perju- angan rakyat Aljazair. Begitu kata Aidit. Ia menjanjikan akan menjelaskan teorinya ini nanti di tanahair, karena waktu itu ia terburu-buru harus segera berangkat ke lapangan terbang untuk meneruskan perjalanannya ke Moskow. Aidit mengatakan kepada saya bahwa di Indonesia sudah diketahui adanya rencana coup d’état yang akan dilancarkan oleh Dewan Jenderal untuk menggulingkan Presiden Sukarno. Coup d’état yang hendak dilancarkan Dewan Jenderal itu adalah coup d’état yang reaksioner, berbeda dengan yang telah terjadi di Aljazair.53 Mengikuti cerita Karim D.P., kita bisa menduga bahwa Aidit cenderung mendukung gagasan “kudeta progresif.” Ia percaya bahwa, dalam keadaan tertentu, kup militer dapat menciptakan suasana politik yang lebih baik bagi perkembangan Partai Komunis. Jika para perwira militer yang ada di belakang kup berideologi progresif dan terbuka untuk bersekutu dengan gerakan rakyat, mereka bisa diharap akan lebih baik ketimbang suatu pemerintah sipil yang tidak efektif. Untuk memahami posisi Aidit dengan lebih baik, kita harus kembali pada Joesoef Isak, yang pada waktu itu juga bertemu Aidit di Paris. Isak, seperti sudah saya kemukakan di atas, ialah ketua PWAA. Ia mengikuti perkembangan di Aljazair dengan tekun karena PWAA terlibat dalam mempersiapkan konferensi internasional tingkat tinggi yang lama tertunda-tunda itu. Dalam tahuntahun belakangan itu ia telah mengunjungi banyak negeri Afrika dan mengenal dengan baik peristiwa- peristiwa dan tokoh-tokoh politik di benua ini. Sesudah meninggalkan Jakarta untuk menghadiri konferensi, di perjalanan ia menyadari – seperti anggota delegasi Indonesia lainnya – bahwa konferensi telah ditunda sampai waktu yang tak ditentukan. Ia akhirnya mengisi waktunya di Paris bersama mereka. Isak mengatur pertemuan antara Aidit dengan Jacques Vergès, seorang pengacara dan wartawan Perancis yang sudah ia kenal dalam perjalanan-perjalanannya di Afrika sebelumnya. Pada 1957 Vergès menjadi terkenal karena ia pergi ke Algiers untuk membela kaum nasionalis Aljazair yang dituduh melakukan sebuah pemboman. Ia berhasil mengalihkan perhatian masyarakat dari aksi-aksi perlawanan bangsa Aljazair ke aksi-aksi kriminal pemerintah kolonial Perancis, seperti misalnya siksaan yang dilakukan terhadap para tahanan.54 Vergès menjadi bersimpati kepada perjuangan kaum nasionalis Aljazair, meninggalkan Partai Komunis Perancis (yang tidak mendukung perjuangan itu), dan menautkan dirinya dengan garis Beijing yang, beda dengan garis lunak Moskow, memuji gerakan pembebasan nasional yang berjuang melawan kekuatan imperialis Barat. Ia tinggal di Aljazair sesudah kemerdekaan negeri itu pada 1962, bekerja untuk kementerian luar negeri, dan menjadi editor sebuah jurnal yang diterbitkan oleh organisasi yang memimpin perjuangan antikolonialisme, yaitu FLN (Front de Libération Nationale). Pada 1965 Vergès sudah berada di Paris lagi dan bekerja sebagai editor Révolution, sebuah jurnal yang ia dirikan, agaknya dengan bantuan finansial dari Tiongkok.55 Selama bertemu Aidit, yang dipandang Vergès sebagai negarawan komunis besar, semacam saudara muda Mao Zedong, Vergès mendiskusi- kan arti penting kup Aljazair. Dalam ingatan Isak pemahaman mereka tentang kup ini dibentuk oleh pandangan mereka tentang perpecahan Tiongkok-Soviet. Baik Aidit maupun Vergès menolak prinsip koeksistensi damai Soviet. Walaupun di depan umum Aidit menjaga sikap netralitas dalam konflik Tiongkok-Soviet, ia dikenal luas lebih cenderung kepada garis Mao.56 Vergès berada di Paris karena ia tidak lagi sejalan dengan FLN di Aljazair dalam masalah Tiongkok-Soviet.57 Presiden Aljazair yang ditumbangkan, Ben Bella, dekat dengan Partai Komunis Aljazair yang bersekutu dengan Soviet. Bagi kaum Maois penggulingan Ben Bella tidak begitu saja berarti kemunduran bagi Aljazair. Sementara negara-negara blok Timur mengutuk kup Boumedienne, Aidit memujinya dalam sebuah pernyataan terbuka pada 22 Juni 1965, hanya tiga hari setelah peristiwa kup, ketika ia masih di Jakarta. Ia mengecam Ben Bella karena “kebijakan kanannya bertentangan dengan aspirasi rakyat Aljazair,” dan memuji sang perebut kekuasaan, “Kita harus berterima kasih kepada Kolonel Bou- medienne.”58 Tiongkok juga menyambut kup itu dan berharap dirinya akan diperlakukan lebih baik oleh Boumedienne ketimbang oleh Ben Bella pada masa sebelumnya.59 Betapapun banyaknya kaum komunis sekutu Tiongkok yang lebih suka kepada Boumedienne, ia tetap merupakan tokoh tak dikenal. Bagi Aidit pengalaman sang kolonel sebagai panglima pasukan gerilya an- tikolonial memberikan kesan bahwa Boumedienne tidak akan menjadi pendukung koeksistensi damai. Aidit berpikir kup itu memberi ke- sempatan bagi kaum komunis berhaluan Beijing untuk meningkatkan kekuasaan mereka atas negara Aljazair. Cerita Isak tentang pernyataanpernyataan Aidit kepada Vergès layak dikutip agak panjang: Saya antar dia masuk [ke dalam kamar hotel Aidit]. Dia masuk. Saya sebenarnya tahu diri, setelah antar saya mau keluar. Aidit bilang, “Ah! Duduk aja di sini.” Sebabnya saya hadir. Bung bisa bayangkan kan, Aidit wibawanya luar biasa, ketua partai terbesar di luar Eropa Timur, kan? Jadi memang anu pemandangan terhadap dunia tinggi sekali. Jadi si Jacques Vergès bilang, “Kawan ketua, kawan ketua baru pulang dari Aljazair, apa yang kawan ketua sarankan, anjurkan kepada kawan-kawan Aljazair?”60 Dia minta, jadinya, dia meren- dahkan diri, minta kepada Aidit, sebagai ketua PKI yang dia anggap lebih senior dari dia. Aidit menggambarkan begini. “Perhatikan,” matanya merah. Aidit kan biji matanya seakan-akan keluar, dia anu sekali, melotot dia, nggak pernah tidur, seakan-akan merah. “Perhatikan. Ini bukan revolusi. Ini, kalau mau dikatakan revolusi, revolusi dari atas. Ini coup d’état, bukan revolusi. Satu. Kedua, antara Boumedienne dan Ben Bella dua-duanya asal kelas yang sama: kelas bourgeoisie. Akan tapi antara yang dua ini, Boumedienne ini lebih baik. Karena pada saat berlangsung perjuangan bersenjata Ben Bella berada di penjara Paris. Yang memimpin perjuangan bersenjata di Aljazair ini Boumedi- enne. Partai kalian pengkhianat.

Jadi Partai Komunis Aljazair memang mengikuti garis Khrushchev, peaceful co-existence, tidak ikut dalam perang gerilya. Yang mengibarkan tinggi panji-panji Marxisme, adalah si nasionalis ini, bourgeoisie ini. Jadi dia lebih baik dari Ben Bella.” “Tetapi, jangan anggap otomatis Aljazair bergerak ke kiri. Karena Boumedienne inilah yang menjalankan Marxisme. Apa yang terjadi di Aljazair hanya jadinya lahirnya satu momentum yang bisa menggerakkan Aljazair lebih ke kiri. Asal ada syaratnya, kawan-kawan menggunakan momentum ini. Saya baru pulang dari Aljazair. Kota indah.” Memang indah. “Kawan Jacques segera pulang. Jangan ada tembok yang bersih. Jangan ada jalan raya tanpa spanduk [dengan slogan]: ‘Dukung coup d’état Boumedienne.’ Begini, istilah- nya: ‘Dukung Boumedienne.’ Jadikan, “Biar rakyat merasakan ini coup d’état mereka. Jadikan coup d’état rakyat. Turun ke jalan.” Itu intinya yang saya tangkap. … “Jadikan ini milik rakyat.” Dia [Aidit] tidak keberatan gerakan dari atas. Tapi segera jadikan gerakan rakyat.61 Mengikuti cerita Isak, mungkin saja melihat dukungan Aidit terhadap kup Boumedienne sesuai dengan kesetiaan Aidit kepada teori Leninis. Kup itu sendiri bukanlah perkembangan positif bagi kaum kiri Aljazair atau bagi garis Tiongkok dalam gerakan komunis internasional. Tapi ia mempunyai kemungkinan menjadi positif karena Boumedienne lebih progresif ketimbang Ben Bella. Kup itu memberikan kesempatan bagi kaum komunis Aljazair yang tidak menyokong garis koeksistensi damai Uni Soviet, untuk memobilisasi rakyat lebih besar dan memperoleh jalan lebih lapang menuju kekuasaan negara. Pandangan Aidit tentang kup Boumedienne berlawanan dengan pandangan Uni Soviet. Ilmuwan Ruth First, anggota Partai Komunis Afrika Selatan yang pro-Soviet, memahami kup tersebut sebagai suatu cara untuk mencegah Aljazair bergeser lebih jauh ke kiri. Menurutnya Presiden Ben Bella telah berencana menggunakan forum Konferensi Asia Afrika untuk mengumumkan rencananya mengubah partai politik yang dipimpinnya (FLN) menjadi “sebuah partai dengan kesetiaan organik yang kokoh terhadap kaum kiri, termasuk Partai Komunis Aljazair; dengan pengawasan disiplin yang lebih keras; dan pendidikan Marxis bagi para pengurus partai dan kader-kadernya.”62 Dalam mencari basis massa yang kukuh bagi kepresidenannya, Ben Bella ingin mengubah FLN sehingga secara fungsional sama seperti Partai Komunis. Ia juga merencanakan untuk memecat Boumedienne dari kedudukannya sebagai panglima Angkatan Darat. Menurut Ruth First kup itu merupakan “putsch untuk mendahului gerakan Ben Bella.”63 Pemahaman Aidit tentang kup, apakah itu benar atau dengan informasi yang memadai atau tidak, didasarkan pada analisis politik yang praktis dan menyeluruh: ia menilai kup tersebut dengan acuan apakah kup itu akan membawa kekuasaan yang lebih besar bagi pihaknya (gerakan antiimperialis internasional dengan garis Tiongkok). Bagi Aidit kup itu tidak menunjukkan suatu paradigma baru dari segi aksi politik. Barangkali ia setidak-tidaknya sudah mengetahui tentang kup Qasim pada 1958 di Irak. Pendapat Manai Sophiaan bahwa kup Boumedi- enne mengilhami Aidit untuk memprakarsai Gerakan 30 September agaknya kurang tepat. Aidit sudah mengerti bahwa, dalam keadaan tertentu, kup militer bisa merupakan perkembangan positif. Ia tidak membutuhkan contoh Aljazair untuk mengerti hal ini. Satu sisi yang barangkali telah menjadi ilham baginya ialah dalam hal sistem penamaan. Setelah menggulingkan Ben Bella, Boumedienne menciptakan sebuah “Dewan Revolusi” yang terdiri dari dua puluh tiga orang. Istilah itulah yang barangkali menjadi sumber penyebutan “Dewan Revolusi” dalam G-30-S. Pemahaman penting yang timbul dari penyelidikan terhadap pandangan Aidit mengenai kup Aljazair ini dikemukakan oleh Joesoef Isak, “Aidit tidak punya keberatan apa pun terhadap gerakan dari atas, asalkan gerakan itu segera diubah menjadi gerakan rakyat.” Menjadi masuk akal jika kita menduga Aidit memahami bahwa semacam aksi militer di Indonesia bisa menciptakan situasi yang lebih baik bagi per- kembangan PKI pada 1965. Tentu saja tujuan akhirnya bukanlah Negara di bawah pimpinan militer, melainkan negara di bawah pimpinan PKI. Aksi militer bisa menjadi jalan sementara yang berguna untuk mencapai tujuan yang lebih besar. KONTRADIKSI INTERN POPULISME REVOLUSIONER Gagasan Aidit tentang bagaimana sebuah kup militer dapat ditransfor- masikan menjadi gerakan rakyat bisa membantu menjelaskan arti dekrit G-30-S tentang Dewan Revolusi. Gerakan 30 September dimaksudkan sebagai operasi militer yang dipimpin oleh sebuah program politik re volusioner – program yang tentunya di bawah pengawasan Aidit. Inilah bidang keahlian dia. Kemungkinan besar tujuan semula G-30-S bukan untuk mendemisionerkan kabinet Sukarno. Baik Iskandar Subekti maupun Munir membenarkan bahwa Aidit membicarakan gagasan Dewan Revolusi dengan anggota-anggota Politbiro tertentu dalam Agustus dan September 1965. Munir, mantan anggota Politbiro dan ketua federasi serikat buruh yang berafiliasi dengan PKI (SOBSI, Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), dalam pledoinya di depan siding 1973 mengatakan bahwa Aidit pernah memberi penjelasan tentang peranan Dewan Revolusi kepadanya, “Sebelumnya perlu dijelaskan apa yang dikemukakan oleh D.N. Aidit pada saya bahwa ‘Dewan Revolusi’ merupakan organisasi tandingan Dewan Jenderal dan sekaligus berfungsi sebagai pendorong untuk mempercepat proses pembentukan Kabinet Nasakom.”64 Perhatikan, bahwa Dewan tersebut tidak dimaksudkan untuk menggantikan kabinet yang ada, tetapi sebagai katalisator untuk pengubahan komposisinya. Subekti dan Munir berpendapat, Dewan hanya diciptakan sebagai semacam kelompok penekan terhadap peme- rintah pusat. Sudisman mencatat bahwa Dewan Revolusi tidak terdiri dari “tokoh utama Nasakom.”65 Kita bisa berasumsi bahwa seandainya Aidit telah merencanakan bahwa dewan serupa itu akan menggantikan kabinet yang ada dan mengambil semua kekuasaan negara, ia tentu akan memilih tokoh-tokoh yang lebih penting untuk itu. Tampaknya gagasan pendemisioneran kabinet baru timbul pada pagi hari 1 Oktober itu saja, begitu Sukarno menolak memberikan dukungan bagi kelanjutan G-30-S. Teks Dekrit No. 1, yang telah ditulis sebelumnya, boleh jadi diubah pada detik terakhir. Ada sebuah preseden untuk Dewan Revolusi. Dewan-dewan revolusi yang dibentuk oleh kolonel-kolonel pemberontak pada 1957-1958 di Sumatra dan Sulawesi semula menuntut perubahan dalam hal komposisi pemerintah pusat (maksudnya, pemulihan kekuasaan Hatta) dan dalam hal hubungan antara Jakarta dengan provinsi-provinsi. Dewan-dewan ini awalnya tidak menuntut kemerdekaan provinsi-provinsi yang menjadi basis gerakan mereka. Seruan mereka untuk kemerdekaan timbul bela- kangan (seperti yang akan saya bahas dalam bab 6). Dalam merumuskan Dewan Revolusi Aidit tidak merencanakan untuk segera menetapkan PKI sebagai partai yang berkuasa. Ia ingin meneruskan paradigma Nasakom yang sama, sebagaimana sudah ditetap- kan oleh Sukarno. Begitu kekuatan militer yang mendukung unsur-unsur antikomunis di dalam pemerintahan sudah dibersihkan, paradigma Nasakom akan berjalan lebih lancar untuk unsur “kom,” yang tidak lagi perlu selalu merasa takut akan ditindas. Daftar empat puluh lima orang anggota yang diajukan G-30-S untuk Dewan Revolusi tingkat pusat selalu kelihatan aneh karena memasukkan tokoh-tokoh yang sangat beragam. Tapi daftar itu dimaksudkan untuk mencerminkan spektrum politik lintas penampang yang luas. Tujuan G-30-S adalah sebuah pe- merintahan koalisi di mana PKI akan mempunyai kebebasan bergerak lebih besar, bukan sebuah negara yang dikuasai PKI semata-mata. Strategi PKI sejak Aidit mengambil alih kepemimpinan pada 1951 ialah “front persatuan nasional.” Dalam rumusan Kongres V pada 1954, kongres kunci dalam sejarah PKI, partai berniat membangun persekutuan antara “kelas buruh, tani, borjuasi kecil dan borjuasi nasional.” Perseku- tuan ini akan melawan kaum imperialis, bagian dari borjuasi yang bekerja sama dengan kaum imperialis dan tuan tanah feodal. Apa pun retorika kaum Marxis-Leninis, program partai, secara tegas bersifat populis: yang diperhitungkan sebagai subjek revolusioner ialah “rakyat Indonesia” secara keseluruhan. Program itu tidak mendorong

kepentingan sektarian kaum tani dan buruh saja. Tujuan akhirnya ialah apa yang disebut “demokrasi rakyat,” yang di dalamnya tersedia cukup ruangan untuk “kapitalisme nasional.”66 PKI tidak terlalu berbeda dari partai-partai komunis pasca kolonial lainnya yang mendahulukan nasionalisme di atas sosialisme. Seperti partai-partai lain itu juga, PKI menghadapi tarik-menarik antara retorika revolusionernya dan program populisnya. Sebelum 1965 tarik-menarik ini tidak terlalu mencuat karena program front persatuan partai berjalan dengan sangat baik: keanggotaan meningkat pesat, kepimpinan partai tetap bersatu (bahkan sesudah adanya perpecahan Tiongkok-Soviet), dan Presiden Sukarno menggalakkan kebijakan populis yang serupa. Penekanan pada persatuan nasional dalam menghadapi imperial- isme membuahkan keuntungan tersendiri ketika imperialisme terus membayang di perbatasan-perbatasan negeri (perhatikan kampanye Irian Barat dan konfrontasi mengganyang Malaysia) dan menjadi ancaman yang berandang (perhatikan dukungan CIA terhadap pemberontakan PRRI/Permesta; lihat bab 6). Strategi PKI tampaknya sangat bersesuaian dengan kondisi politik Indonesia saat itu. Namun demikian tarik-menarik antara retorika dan program tersebut tidak berhasil dilampaui. Pada 1965 retorika partai kadangkadang terlalu sektarian, sedemikian jauh sehingga borjuasi kecil di desa dipandang sebagai musuh. PKI menggalakkan kampanye mengganyang “tujuh setan desa”: tuan tanah jahat, lintah darat, tukang ijon, kapitalis birokrat, tengkulak jahat, bandit desa, dan penguasa jahat.67 Walaupun masih dalam logika populisme (ada tuan tanah baik dan tuan tanah jahat, penguasa jahat dan penguasa baik), penggunaan slogan-slogan itu cenderung membuat banyak orang menjadi cemas kalau-kalau dirinya akan dicap sebagai setan. Arus sektarianisme serupa itu tidak perlu- perlunya sudah menimbulkan kebencian pihak-pihak yang berpotensi menjadi sekutu dalam strategi front persatuan. Pada awal 1960-an Aidit berusaha membawa teori Marxis-Leninis partai menjadi sejalan sepenuhnya dengan praktik populis PKI. Aidit dan beberapa ideolog partai mengembangkan suatu teori yang mereka sebut “teori dua aspek kekuasaan negara”: satu aspek “pro-rakyat” dan aspek lain “anti-rakyat.” Tugas PKI ialah menyokong unsur-unsur prorakyat untuk melawan unsur-unsur yang antirakyat di dalam pemerintah.68 Para pemikir partai berpendapat bahwa teori mereka, walaupun disusun tanpa analisis kelas tentang kekuasaan, merupakan pembaharuan yang sah dalam tradisi Marxis-Leninis. Sugiono, guru sekolah teori milik partai (Akademi Aliarcham) menulis sebuah tesis tentang “dua aspek kekuasaan” dan berharap tesis itu akan disahkan suatu lembaga resmi dari negara komunis. Ia menyerahkan tesisnya untuk meraih gelar akademik di sebuah universitas di Korea Utara tapi ia kecewa karena para ideology Partai Komunis di Pyongyang menolaknya sebagai tidak-Marxis.69 Walaupun diskusi-diskusi teori tentang “dua aspek kekuasaan negara” tampaknya tidak meluas sampai di luar Comite Central, Aidit sering mengemukakannya baik dalam pidato-pidato maupun tulisan-tulisan- nya. Pada 1963, misalnya, sebuah pernyataan Politbiro menegaskan, bahwa “aspek [kekuasaan negara] prorakyat sedang terus-menerus berkembang dan mengambil inisiatif dan ofensif, sedang aspek antirakyat, walaupun lumayan kuat, sedang terus didesak dikurung tanpa ampun di sudut.”70 Teori “dua aspek kekuasaan negara” dapat membantu menjelaskan mengapa Aidit bersedia mendorong aksi dengan pasukan tentara. Menurut teori itu, beberapa prajurit dan perwira di dalam tubuh tentara Indonesia ada yang prorakyat dan ada beberapa lainnya yang antirakyat. Tugas sebuah revolusi, menurut pandangan Aidit, adalah mendukung personil militer yang prorakyat dan menggunakan mereka sebagai katalisator untuk mengubah seluruh negara menjadi prorakyat. Aidit tidak bekerja dengan logika pemberontakan militer atau kudeta– paradigma-paradigma baku yang digunakan para pengamat dalam usaha memahami peristiwa Gerakan 30 September. Gerakan tersebut merupakan semacam persilangan: ia merupakan kup sebagian yang, pada taraf tertentu kemudian, melahirkan revolusi sebagian. Aidit mendukung tentara prorakyat, supaya mereka bisa menyingkirkan perwira-perwira komandan mereka yang antirakyat, sekaligus memaksakan pembentukan sebuah kabinet koalisi baru. Dua perkembangan ini akan membuka ruang politik baru bagi partai untuk mengembangkan diri dan memperoleh kekuasaan yang lebih besar. MEMAHAMI EDITORIAL HARIAN RAKJAT Edisi surat kabar PKI yang terbit pada Sabtu, 2 Oktober 1965, memuat berita utama dengan tajuk terpampang selebar halaman surat kabar, “Letkol Untung, Komandan Bataljon ‘Tjakrabirawa’ menjelamatkan Presiden dan RI dari kup Dewan Djendral.” Anak-judul yang tertera langsung di bawahnya berbunyi, “Gerakan 30 September se-mata2 gerakan dalam AD.” Dari tajuk berita utama itu saja sudah kentara bahwa pimpinan PKI mendukung G-30-S sambil menjaga jarak darinya. Sebuah editorial singkat berisi dua puluh baris yang terselip dekat sudut kiri bawah halaman pertama, langsung di bawah berita tidak penting tentang sebuah konferensi pers oleh kementerian luar negeri Republik Rakyat Tiongkok di Beijing, mengulangi pernyataan berita utama, bahwa G-30-S adalah usaha terpuji untuk menyelamatkan presiden dan merupakan urusan intern Angkatan Darat, “Kita Rakjat memahami betul apa jang dikemukakan oleh Letkol Untung dalam melakukan gerakan- nja jang patriotik itu. Tetapi bagaimanapun djuga persoalan tsb. adalah persoalan intern AD. Tetapi kita Rakjat jang sedar akan politik dan tugas2 revolusi mejakini akan benarnja tindakan jang dilakukan oleh Gerakan 30 September untuk menjelamatkan revolusi dan Rakjat.” Bahasa editorial yang janggal – dua “tapi” dalam satu baris dan “bagaimanapun djuga persoalan” yang tidak runtut – memberi kesan Gambar 6. Kartun ini terbit dalam surat kabar PKI edisi hari kemerdekaan untuk memperingati hari jadi republik yang ke-20. Gerakan sayap kiri meninju, menendang, dan menebas di sepanjang perjalanannya dari tahun ke tahun untuk menghancurkan kaum imperialis dan antek-antek mereka di dalam negeri. Gambar terakhir melukiskan rakyat yang bersatu di belakang prinsip-prinsip Sukarno (Panca Azimat Revolusi), menghantam pemerintah Amerika Serikat dan Inggris dan menjebol “kapitalis birokrat” Indonesia dan “setan-setan desa.” Semboyannya berbunyi “Perhebat Ofensif Revolusioner Disegala Bidang.” Sumber: Harian Rakjat, 17 Agustus, 1965. penulisnya berusaha menegaskan bahwa dukungan PKI terhadap G-30-S tidak berarti partai terlibat di dalamnya. Di sepanjang bagian bawah halaman depan terbentang karangan khas tiap Sabtu berupa tujuh petak kartun yang menggambarkan perkembangan hari ke hari gerakan kiri selama sepekan sebelumnya. Petak gabungan untuk Kamis dan Jumat (30 September dan 1 Oktober) memperlihatkan kepalan tinju Gerakan 30 September menghantam wajah Dewan Jenderal. Kartun pada petak berikutnya untuk Sabtu melukiskan sebuah adegan yang lebih mengerikan: jenderal-jenderal, dengan dolar-dolar Amerika Serikat dan kuitansi-kuitansi CIA berhamburan dari saku-saku mereka, dilemparkan oleh seorang prajurit berbadan kekar dan tegap ke lautan pasak besi terpancang. Yang janggal dari halaman depan Harian Rakjat ini adalah penyiarannya setelah G-30-S di Jakarta sudah dikalahkan. Mayor Jenderal Umar Wirahadikusumah sudah mengeluarkan perintah harian pada 1 Oktober pukul 18.00 yang melarang terbit semua surat kabar selain dua surat kabar milik tentara. Tentara Suharto sudah menguasai kembali stasiun radio kira-kira pada pukul 19.00 dan menyiarkan kutukan terhadap G-30-S pada sekitar pukul 20.45. Mengapa para redaktur Harian Rakjat menentang larangan terbit oleh tentara, hanya untuk menyiarkan pernya- taan dukungan terhadap aksi yang gagal? Kantor surat kabar ini terletak

di daerah Pintu Besar Selatan, kira-kira setengah mil dari Lapangan Merdeka. Wartawan surat kabar ini tentu mengikuti kejadian sepanjang hari itu, dan mengetahui bahwa G-30-S di Jakarta sudah hancur. Benedict Anderson dan Ruth McVey menduga Angkatan Darat pasti sudah merebut kantor Harian Rakjat pada Jumat malam. Ketika itu militer sudah mencurigai, bahwa PKI mempunyai peranan tertentu di dalam G-30-S (mengingat para sukarelawan yang ditangkap di gedung telekomunikasi adalah pemuda-pemuda dari Pemuda Rakjat). Agar edisi Sabtu dapat terbit, pastilah edisi itu sudah dicetak dan didistri- busikan sebelum tentara datang, atau dicetak dan didistribusikan ketika para perwira militer sudah menduduki kantor. Anderson dan McVey cenderung pada kemungkinan pertama karena edisi Sabtu Harian Rakjat barangkali sudah dicetak pada Jumat sore. Di kebanyakan kantor pada masa itu para karyawan hanya bekerja setengah hari setiap hari Jumat. Ilmuwan-ilmuwan Cornell ini menduga edisi Harian Rakjat 2 Oktober terbit sebelum redaksi yakin bahwa G-30-S sudah gagal.71 Gambar 7. Kartun ini muncul di bagian bawah halaman depan surat kabar Harian Rakjat Sabtu, 2 Oktober 1965. Apa yang terjadi pada malam hari 1 Oktober 1965 di kantor Harian Rakjat? Seorang mantan wartawan surat kabar ini, Martin Aleida, teringat pada percakapan antara dirinya dan seorang anggota redaksi yang malam itu ada di kantor.72 Aleida sendiri saat itu ada di luar kota. Ia dikirim belajar di sekolah partai di Semarang kira-kira dua bulan sebelumnya. Ia berhasil selamat dari pembantaian 1965-1966 dan pemenjaraan selama beberapa tahun. Begitu keluar penjara, ia kebetulan bertemu salah seorang dari kawan-kawannya, Wahyudi, yang menjadi anggota redaksi senior di Harian Rakjat pada 1965. Menurut cerita Wahyudi, serombongan tentara datang di kantor sekitar pukul 23.00 dan menuntut agar surat kabar ditutup. Wahyudi dan anggota redaksi lainnya menolak, dan bersikeras mereka bersedia menutup hanya jika para tentara ini bisa menunjukkan perintah tertulis kepada mereka. Tentara-tentara itu tidak menduduki kantor, mengusir staf kantor dengan paksa, atau mencampuri urusan penerbitan. Kantor tetap bekerja seperti biasa. Menurut Aleida, Wahyudi menuturkan bahwa editorial yangmendukung G-30-S sudah dikirim ke kantor surat kabar pada sekitar pukul 21.00 oleh kurir seperti biasa. Wahyudi tidak tahu siapa yang menulis editorial, tapi ia menduga Dahono, wartawan Harian Rakjat yang biasa menghabiskan hari-harinya di Sekretariat Comite Central (di Jalan Kramat Raya) untuk memperoleh informasi tentang posisi partai dalam berbagai macam masalah. Dahono bukan penulis yang baik. Ia diangkat menjadi staf Harian Rakjat oleh Comite Central karena kesetiaan yang bergelora terhadap partai dan watak penggembiranya, bukan karena keterampilan jurnalistiknya. Kalau bahasa editorial itu begitu janggal, mungkin karena itu ditulis oleh Dahono. Aleida tidak diberi tahu apakah Harian Rakjat sudah terbit sebelum atau sesudah tentara datang. Ia ingat biasanya tenggat waktu penyerahan karangan sekitar pukul 23.00, dan surat kabar selesai dicetak sekitar pukul 1.00 atau 2.00 dini hari. Jika Harian Rakjat mengikuti pola biasa pada Jumat malam itu, militer kemungkinan sudah datang tepat saat edisi Sabtu sedang diedit dan diset. Pertanyaan tentang keputusan partai menerbitkan pernyataan dukungan kepada sebuah aksi militer yang gagal itu tetap belum terjawab. Mungkin pada Jumat malam masih belum jelas bahwa G-30-S sebenar- nya sudah gagal. Pasukan dan sukarelawan di sekitar Lapangan Merdeka sudah dibersihkan, tapi pimpinan aksi masih berkumpul di Halim. Untung belum tertangkap. Aksiaksi di Jawa Tengah masih berjalan. Dalam menyusun halaman depan, redaksi tidak menekankan dukungan partai terhadap G30-S. Editorial sangat pendek, kata-katanya disusun dengan hati-hati, dan ditempatkan hampir di bawah halaman. Berita- berita utamanya melaporkan tentang gerak-gerik Untung dalam gaya yang lugas dan dengan memberi tekanan bahwa G-30-S merupakan urusan intern Angkatan Darat. Sulit dipercaya bahwa para editor atau atasan mereka di Comite Central berpikir mereka mengambil risiko dengan meneruskan penerbitan edisi itu. Mereka mungkin tidak dapat meramalkan bahwa G-30-S akan hancur begitu cepat, bahwa Angkatan Darat akan menyerang PKI dengan begitu mendadak dan kejam, dan bahwa Harian Rakjat tidak akan pernah diberi kesempatan memperbaiki posisinya dengan mempertimbangkan kejadian-kejadian yang menyusul kemudian. Mereka mungkin tidak mengerti bahwa seluruh sistem politik yang terpusat pada Sukarno, yang bagi mereka sudah menjadi biasa, pada 1 Oktober malam itu telah diubah secara mendasar. Gambar 8. Teks di bawah tertera “Film minggu ini,” yang menyentil kebiasaan orang Indonesia menonton film pada Sabtu. Ini film yang mengerikan: seorang prajurit tersenyum menang sambil menyaksikan dua jenderal yang dibiayai CIA jatuh di atas bambu runcing. Dalam gambar judul film “De Over Val,” kata-kata Belanda untuk “serangan mendadak” (overval), diubah menjadi “De Generaals Val,” yang mempunyai dua pengertian, yaitu “terperangkapnya jenderaljenderal” dan “jatuhnya jenderal-jenderal.” Kata-kata sisipan pada kartun ini dimaksud untuk pengertian yang tersebut terakhir: “djatuhnja djenderal2.” Setidak-tidaknya tiga mantan anggota Politbiro PKI, Sudisman, Iskandar Subekti, dan Munir, menyatakan dalam pledoinya di depan sidang pengadilan bahwa partai secara keseluruhan tidak terlibat dalam G-30-S tapi beberapa pimpinan tertentu yang tak disebut namanya terlibat sebagai pribadi. Penilaian mereka agaknya benar. G-30-S tampaknya merupakan proyek pribadi Aidit. Ia percaya bahwa aksi militer yang dilakukan perwira progresif merupakan strategi paling baik untuk menyingkirkan ancaman Dewan Jenderal. Sebagai operasi militer terse- lubung, tidak satu orang pun di dalam partai diperbolehkan mengetahui seluk-beluk G-30-S kecuali beberapa orang kepercayaannya yang sebagian besar dari Dewan Harian Politbiro. Aidit melibatkan pimpinan partai secara perseorangan, seperti Njono dan Sukatno, yang mengerahkan para pemuda ke dalam pasukan sukarelawan tanpa memberi tahu mereka tentang keseluruhan operasi. Informasi disampaikan seperlunya. Tidak satu pun dari badan pimpinan resmi PKI – Politbiro, Dewan Harian, dan Central Comite – terlibat dalam perencanaan dan pengorganisasian G-30-S. Pada prinsipnya, G-30-S bisa dibenarkan dipandang dari sudut kepentingan PKI sendiri. Kontak-kontak partai dalam angkatan ber- senjata bisa digunakan dengan baik untuk membersihkan pimpinan tertinggi Angkatan Darat yang antikomunis. G-30-S berbuah kegagalan telak oleh alasan-alasan yang tidak diperhitungkan Aidit sebelumnya. Pertama, ia buta terhadap kesalahankesalahan Sjam. Ia menguasakan Sjam untuk memulai aksi militer tanpa mempunyai sarana yang cukup untuk memeriksa katakata Sjam. Saya menduga Aidit tidak menyadari bahwa Sjam telah memaksa para perwira militer untuk bergabung dan mengelabui mereka agar berpikir bahwa PKI akan menjamin keberhasilan aksi. Saat menghubungkan Aidit dengan para perwira, Sjam merancukan pemahaman mereka akan satu sama lain. Kedua, Aidit barangkali sebelumnya tidak mempelajari dengan baik bahwa Angkatan Darat disusupi dari ujung ke ujung oleh agen-agen ganda, dan bahwa jaringan-jaringan pribadi di dalam Angkatan Darat saling-silang dengan kesetiaan politik para perwira. Aksi apa pun oleh “para perwira progresif ” sangat rentan terhadap pengkhianatan. Untung dan Latief, dua perwira kunci yang tetap bersedia bekerja sama dengan Sjam, bahkan ketika yang lain-lain mengundurkan diri, mengira bahwa Suharto adalah sekutu mereka. Ketiga, mengingat risiko yang terlekat dalam sebuah aksi militer, keterlibatan Aidit memerlukan tameng pengelakan yang jauh lebih besar dan masuk akal; ia tidak mengambil tindakan pencegahan yang memadai untuk melindungi dirinya sendiri dan partai apabila terjadi kegagalan. Kalau saja ia menjauhkan diri dari Halim dan memutuskan untuk tidak pergi secara diam-diam ke Jawa Tengah, ia barangkali akan tampil lebih meyakinkan ketika menyatakan partai tidak terlibat.

Keempat, Aidit telah mengembangkan sebuah teori populis yang memuat gagasan bahwa kup militer bisa berkembang positif jika kup militer itu mempunyai program revolusioner dan didukung oleh massa rakyat. Ia dan Sjam menyisipkan kandungan politik ke dalam G-30-S – Dewan Revolusi, istilah yang dipinjam dari Aljazair sebagai preseden. Agenda politik ini menaruh beban terlalu berat terhadap apa yang, bagaimanapun, merupakan sebuah operasi militer sangat terbatas, yaitu menculik pimpinan tertinggi Angkatan Darat. Aidit terperangkap dalam balam-balam populisme untuk bisa mengenali kesalahan strategis dalam memanfaatkan militer bagi tujuan-tujuan politik. Gerakan 30 September tidak diorganisasi sebagai sebuah kup, tidak pula dipimpin oleh seorang perwira militer (seperti kup-kup yang berhasil yang dikenal Aidit, misalnya kup Qasim di Irak pada 1958 dan kup Boumedienne di Aljazair pada 1965). Agenda politik telah mencemari aspek-aspek yang murni bersifat militer dalam G30-S. Rencananya untuk mencapai keberhasilan bertumpu pada usaha mendapatkan persetujuan dari Sukarno; presiden akan memastikan bahwa para perwira lawan tidak akan melakukan serangan balasan. Gerakan 30 September tidak dirancang untuk berhasil atas dasar kekuatan murni militernya sendiri. Penjelasan saya tentang peranan PKI dalam G-30-S tidak memberi pembenaran terhadap versi rezim Suharto yang menuduh PKI sebagai dalang. Partai sebagai lembaga tidak bertanggung jawab. Hanya dua orang dalam partai, Aidit dan Sjam, yang bertanggung jawab meng- organisasi G-30-S. Seperti dinyatakan Sudisman, badan-badan formal pembuat keputusan dalam partai hanya bertanggung jawab dalam arti bahwa mereka memberi Aidit terlalu banyak jalan simpang untuk bekerja sendiri. CATATAN 1 Sudisman, Uraian Tanggung Djawab, 9, 11. Saya mengutip versi yang tersedia dalam beranda warta berikut http://www.geocities.com/cerita_kami/g30s/index.html. Versi ini dalam bentuk file pdf yang bernomor halaman. Dokumen yang sama juga tersedia tanpa nomor halaman di beranda warta yang berbeda: http://www.marxists.org/indonesia/indones/ sudisman.htm 2 Sudisman juga penulis utama dokumen yang beredar pada September 1966 atas nama Politbiro: Tegakkan PKI jang MarxisLeninis untuk Memimpin Revolusi Demokrasi Rakjat Indonesia: Otokritik Politbiro CC-PKI. Dokumen ini baru-baru ini diterbitkan ulang bersama dengan Uraian Tanggung Djawab: Sudisman, Pledoi Sudisman; Kritik-Otokritik. 3 Ia menulis, “Saja pribadi terlibat dalam G-30-S jang gagal.” Dan, “tokoh-tokoh PKI terlibat langsung dalam G-30-S.” Sudisman, Uraian Tanggung Djawab, 9, 18. 4 Ibid., 17. 5 Ibid., 17. 6 Ibid., 18 7 Ibid., 12. 8 Ibid., 12. 9 Ibid., 12. 10 Ibid., 17. 11 Ibid., 26, 29. 12 Ibid., 26. 13 Ibid., 32. 14 Ibid., 48. 15 Ibid., 17. 16 Ibid., 49. Dengan menumbangkan monarki yang ditopang Inggris, kup Qasim menggugah pemberontakan rakyat. Timbul demonstrasi-demonstrasi besar di jalan-jalan, upaya pengorganisasian serikat buruh, dan banyak penerbitan baru. Partai Komunis Irak (ICP) menyambut kup dan memperoleh kebebasan bergerak secara legal. Tapi para penggerak kup di tubuh militer segera menindas pemberontakan rakyat itu dan tenggelam dalam persaingan-persaingan di antara mereka sendiri (Tripp, History of Iraq, 148-192). Untuk uraian yang lebih rinci tentang kup 1958 dan hubungan Partai Komunis Irak dengannya, lihat Batatu, Old Social Classes, 789-807. 17 Sudisman, Uraian Tanggung Djawab, 47. Di saat lain dalam persidangan untuknya, setelah Sjam diajukan sebagai saksi, Sudisman menyatakan, “Walaupun saya sendiri tidak mengetahui, tapi itu dilakukan kawan saksi Sjam atas instruksi kawan Aidit dan saya pun melakukan instruksi dari kawan Aidit, maka dari segi tanggung djawab saya ambil oper semua tanggung djawab ini semua.” Transkrip Mahmilub, persidangan Sudisman, siding 8 Juli 1967. 18 Pada persidangannya Sudisman menyebut Supardjo sebagai contoh jelas seorang perwira Angkatan Darat progresif yang menentang pimpinan tertinggi angkatannya. Ia mengutip keterangan Supardjo di depan mahkamah (dalam sidang Mahmilub untuk Supardjo) sebagai bukti bahwa G-30-S merupakan urusan intern militer (Sudisman, Uraian Tanggung Djawab, 31-33). Sudisman tidak mungkin bisa mengutip analisis rahasia Supardjo (lihat Lampiran 1) untuk membuktikan pokok pikiran ini. Analisis Supardjo, yang barangkali sudah dibaca Sudisman, menyatakan bahwa G-30-S bukanlah masalah intern militer. 19 Lihat Lampiran 2. 20 Hasan, “Otobiografi,” 32. 21 “Gerakan 30 September” Dihadapan Mahmillub, Perkara Njono. 22 Subekti, “Jalan Pembebasan Rakyat Indonesia,” 9. 23 Dalam pledoinya pada 1972 Subekti menyatakan bahwa tanggal rapat itu 28 Agustus (“Jalan Pembebasan Rakyat Indonesia,” 8). Tapi dalam analisisnya pada 1986 tentang G-30-S, ia menyebut tanggal rapat itu 27 Agustus (“G-30-S Bukan Buatan PKI,” 3). Munir, dalam pleidoinya pada 1973, menyebut tanggal rapat 27 atau 28 Agustus (Munir, “Membela Kemerdekaan, Demokrasi, dan Keadilan,” 13-15). 24 Subekti, “Jalan Pembebasan Rakyat Indonesia,” 11. 25 Ibid., 9. 26 Dokumen ini diperoleh Hersri Setiawan dari Jusuf Ajitorop di Beijing. Sekarang tersedia di dalam koleksi dokumen-dokumen yang dinamai “Indonesian Exiles of the Left [Eksil Indonesia dari Gerakan Kiri],” disimpan Setiawan di badan arsip International Institute of Social History [Institut Sejarah Sosial Internasional] di Amsterdam. Dokumen tak berjudul ini terdiri dari enam bagian dengan judul masing-masing. Saya hanya mengambil dua bagian daripadanya: bagian pertama, yang berjudul “G-30-S Bukan Buatan PKI,” dan bagian keempat, yang berjudul “Kata Pendahuluan.” 27 Subekti, “Kata Pendahuluan,” 1. 28 Subekti, “G-30-S Bukan Buatan PKI,” 2. 29 Ibid., 12. 30 Ibid. 31 Wawancara dengan Oey Hay Djoen, 24 Januari 2002. Sebuah buklet yang diterbitkan sendiri pada 1979, atas nama CC PKI juga menyatakan bahwa Aidit secara umum menutup diri dari pimpinan partai yang lain dalam minggu-minggu sebelum G-30-S, “Kawan D.N. Aidit dan beberapa Kawan di dalam Dewan Harian Politbiro CC PKI bahkan membatasi diri hanya dalam persetujuan dan dukungannya terhadap aksi-aksi…” (Comite Central PKI, Jawaban PKI Kepada Kopkamtib, 9). Yang disebut

“beberapa kawan” adalah Njono, Subekti, dan Hutapea. Buklet itu tidak terlalu akurat dalam menyebut posisi ketiga tokoh ini di dalam partai: hanya Hutapea yang di Dewan Harian Politbiro walaupun Subekti, sebagai panitera Dewan Harian, bisa dianggap sebagai anggota. Njono anggota Politbiro, tapi bukan anggota Dewan Harian. Saya tidak tahu siapa di antara pimpinan PKI yang masih hidup yang berbicara atas nama Central Comite yang secara mendasar sudah dihancurkan pada akhir 1970-an. Pengarang atau para pengarang anonim ini menempuh garis pro-Uni Soviet dan mengutuk G-30-S sebagai akibat dari kecenderungan Maois Aidit dan lingkarannya. Subekti secara selintas menyebut dalam dokumen rahasianya pada 1986 bahwa Ruslan Wijayasastra, sesama kawannya di penjara Cipinang, adalah Ketua Central Comite. Subekti pastilah bukan pengarang buklet itu karena dalam dokumennya tahun 1986 ia mengkritik Aidit dari sudut pandang Maois. Buklet ini tanpa bukti juga menuduh Sukarno merancang G-30-S dan minta Aidit untuk membantu melaksanakannya. Sebagian besar argumentasi dalam buklet ini dapat diabaikan sebagai spekulasi yang sengaja dirancang untuk berbetulan dengan kesimpulan dogmatik yang telah ditetapkan sebelumnya. Namun, buklet ini boleh jadi benar tentang beberapa hal tertentu yang dapat diperkuat dengan sumber-sumber lain, misalnya tentang Aidit yang dalam minggu-minggu menjelang peristiwa menggunakan orang-orang kepercayaannya saja. 32 Friend, Indonesian Destinies, 102. Informasi Friend berasal dari Kolonel George Benson, asisten Duta Besar Amerika Serikat di Jakarta untuk program Amerika Serikat yang mendorong para perwira Angkatan Darat agar lebih aktif dalam urusan-urusan sipil. 33 Subekti, “G-30-S Bukan Buatan PKI,” 13. 34 Ibid., 12. 35 Ibid., 15. 36 Subekti, “Jalan Pembebasan Rakyat Indonesia,” 45-46. 37 Analisis Subekti dapat dikritik karena sifatnya yang membenarkan diri-sendiri. Ia mengecam Aidit karena bertindak sendiri dan mencela hampir setiap anggota Politbiro lainnya karena mereka tidak melawan. Tapi ia tidak mengkritik dirinya sendiri yang tidak melawan. Seperti diakuinya dalam pledoinya di depan mahkamah pengadilan, sebelum G-30-S terjadi ia semacam abdi setia Aidit. Subekti menyetujui, walau mungkin tak sepenuh- nya sepakat, strategi Aidit untuk mendahului Dewan Jenderal secara militer. Kesalahan nahas yang disadari oleh Subekti dan pimpinan Politbiro lainnya sesudah kekalahan G-30-S merupakan kesalahan yang sebelumnya tidak terlihat oleh mereka. 38 Wawancara dengan Tan Swie Ling. 39 Mantan anggota Politbiro Peris Pardede mengklaim bahwa Aidit menyampaikan kepada Politbiro pada Agustus, saat menjelaskan tentang beberapa perwira progresif yang akan bertindak melawan Dewan Jenderal, bahwa strategi mendahului mempunyai keuntungan dan kerugian. Ketika ditanyai mana yang lebih baik, menunggu Dewan Jenderal bertindak atau mendahului mereka, Aidit menjawab, “Mengenai untung rugi, dua-duanja ada untung, ada ruginja.” (kesaksian Pardede, G-30-S Dihadapan Mahmillub, Perkara Njono, 132). Pengakuan ini tampaknya bisa dipercaya. Kita harus membayangkan bahwa Aidit sedang menimbang-nimbang pilihannya. 40 Yani, Profil Seorang Prajurit TNI, 178; Soebandrio, Kesaksianku Tentang G-30-S, 12. 41 Mortimer, Indonesian Communism Under Sukarno, 394. 42 Kantor itu berada di sebuah gedung, Wisma Warta, tempat perkantoran dan penginapan untuk para wartawan asing lainnya. Gedung ini terletak di sudut yang sekarang ditempati Plaza Indonesia dan Grand Hyatt di Jalan M.H. Thamrin, Jakarta. 43 Nursuhud diangkat menjadi anggota Central Comite di dalam Kongres Nasional VI pada 1959 (Partai Komunis Indonesia, 40 tahun PKI, 98). Ia menulis kisah tentang perla- wanan PKI terhadap pemberontakan PRRI 1957-58 di daerah asalnya di Sumatra Barat, Menyingkap Tabir “Dewan Banteng.” 44 Sudisman, Uraian Tanggung Djawab, 28. Sudisman mengkritik dirinya sendiri dan pimpinan partai yang lain karena menilai secara berlebihan sifat revolusioner situasi politik pertengahan 1965. Dalam otokritik Politbiro ia menulis bahwa demonstrasidemonstrasi dan aksi-aksi ketika itu, seperti misalnya demonstrasi dan aksi menentang pemerintah Amerika Serikat, “masih dalam rangka tuntutan-tuntutan lunak dan reformis.” Pimpinan partai, yang dibuai oleh sukses-sukses dan dipukau oleh militansi jaman, meyakinkan diri mereka sendiri bahwa revolusi sudah di ambang pintu dan mengabaikan laporan-laporan yang berbeda dengan pendapat mereka, “Pimpinan partai tidak senang kalau komite-komite daerah dan badan-badan partai lainnya melaporkan kenyataan bahwa tingkat perkembangan aksi-aksi massa belum seperti yang sudah disimpulkan” (Sudisman, Pledoi Sudisman; Kritik- Otokritik, 117-118). 45 Wawancara dengan Joesoef Isak. Kantor Chairul Saleh berhadapan dengan kali Ciliwung di tengah kota Jakarta. 46 Lev, “Indonesia 1965,” 105. 47 Transkrip Mahmilub, persidangan Sudisman, kesaksian Sjam, 8 Juli 1967. 48 Sudisman, Uraian Tanggung Djawab, 28. Istilah safe-stellen adalah kombinasi antara kata-kata Inggris dan Belanda. 49 Setiyono dan Triyana, Revolusi Belum Selesai, 2:440. Sukarno juga menyalahkan G-30-S dalam hal “kelihaian subversi Nekolim” dan “oknum-oknum yang tidak benar” (Setiyono dan Triyana, Revolusi Belum Selesai, 2:440). Ia tidak mengurai lebih lanjut analisisnya yang sarat teka-teki dan taksa itu. 50 Wawancara dengan Oey Hay Djoen. 51 Sophiaan, “Inspirasi dari Aljazair,” bab 2 dalam Kehormatan Bagi Yang Berhak. 52 Tentang kup Aljazair lihat Humbaraci, Algeria, 217-246, dan Quandt, Revolution and Political Leadership, 237-243. Penuturan penulis-penulis hagiografi [buku yang berisi pemujaan terhadap kebaikan orang (-orang) tertentu] Boumedienne (Francos dan Sereni, Un Algerien nomme Boumedienne, 161-179) bukannya tidak penting. 53 Karim D.P., “Tiga Faktor Penyebab G-30-S.” 54 Vergès adalah salah satu penulis sebuah buku tentang seorang perempuan yang menjadi salah satu terdakwa dalam perkara penyiksaan tersebut. Lihat Arnaud dan Vergès, Pour Djamila Bouhired. 55 Untuk informasi biografis, lihat Fejto, “Maoist in France,” dan Marnham, “One Man and His Monsters.” Vergès lahir di Thailand pada 1925 dari ayah Perancis dan ibu Vietnam. Ia besar di koloni Perancis La Réunion, berjuang untuk Perancis dalam Perang Dunia II, dan belajar hukum di Paris selama akhir 1940-an dan awal 1950-an. Ia tetap terkenal, dengan reputasi baik maupun buruk, karena pengabdiannya sejak 1980-an sebagai pengacara untuk tokoh-tokoh Nazi, penjahat perang dan eks-diktator. Di antara orang-orang yang dibelanya adalah Klaus Barbie, Slobodan Milosevic, dan Tariq Aziz. Ia menawarkan dirinya untuk membela Saddam Hussein. Program televisi 60 Minutes [dari stasiun CBS, AS] menayangkan profil Vergès pada 25 April 2004. 56 Artikel Hindley, “The Indonesian Communist Party,” mengemukakan telaah yang berhati- hati mengenai posisi PKI dalam perpecahan Tiongkok-Soviet. 57 Fejto, “Maoist in France,” 122. 58 Dikutip dalam Humbaraci, Algeria, 242. 59 Ibid., 241-242.

60 Saya belum bisa memastikan apakah Aidit berangkat ke Aljazair. Anggota delegasi Indonesia selebihnya tidak berangkat. Karim D.P. hanya mengatakan Aidit bertemu orang- orang komunis Aljazair di Paris. 61 Wawancara dengan Joesoef Isak. 62 First, Power in Africa, 449. Orangtua First adalah anggota pendiri Partai Komunis Afrika Selatan. Lahir pada 1925, ia sudah masuk partai sejak masih muda. Ia menikah dengan Joe Slovo, yang belakangan menjadi ketua partai. Pasukan keamanan Afrika Selatan membunuh First dengan bom surat ketika ia hidup di pengasingan di sebuah negara dekat Mozambique pada 1982. 63 Ibid., 450. 64 Munir tidak menjelaskan tentang waktu dan konteks pernyataan Aidit. Kemungkinan besar pernyataan itu disampaikan pada suatu saat antara Agustus atau September 1965 (Munir, “Membela Kemerdekaan, Demokrasi, dan Keadilan,” 40). Ini contoh lain pernya- taan di depan sidang pengadilan yang bisa dipercaya karena ia bersesuaian dengan apa yang diketahui dari sumbersumber lain. 65 Sudisman, Uraian Tanggung Djawab, 18. 66 Tentang strategi front persatuan, lihat Hindley, Communist Party of Indonesia, 29-59, dan Mortimer, Indonesian Communism Under Sukarno, bab 1. 67 Aidit ikut serta dalam proyek riset besar-besaran yang diorganisasi PKI pada 1964 untuk meneliti kondisi ekonomi agraria. Berdasarkan hasil riset yang telah diterbitkan ini, ia menyebut “tujuh setan desa.” (Aidit, Kaum Tani Mengganyang Setan2 Desa, 27). Sejarawan Hilmar Farid menyatakan, partai membedakan antara anggota kelas tertentu yang buruk dan yang baik atas dasar afiliasi politik yang bersangkutan: tuan tanah baik adalah tuan tanah yang mendukung PKI dan/atau Sukarno, sedangkan tuan tanah jahat ialah tuan tanah yang mendukung partai-partai politik yang menentang PKI (Farid, “Class Question in Indonesian Social Sciences,” 177). 68 Teori “dua aspek” ini dikecam di dalam otokritik Politbiro 1966; lihat Sudisman, Pledoi Sudisman; Kritik-Otokritik, 102-9. 69 Wawancara dengan Oey Hay Djoen. 70 Dikutip dalam Mortimer, Indonesian Communism under Sukarno, 380. 71 Anderson dan McVey, Preliminary Analysis, 132-135. 72 Wawancara dengan Martin Aleida. SELAMAT DATANG WEBBLOG PARA PEMBEBAS Terbaru KECURIGAAN PERSATUAN NASIONAL

Rate This KECURIGAAN DAN SUATU PERSATUAN NASIONAL SEBAGAI Penerusan semua Ajaran KIRI, tentu KAMI mencurigai “yang di Dalam” (= mereka. Pembalikan) tidak suka Pemahaman Ajarannya dan Anggota Partai 2 Alasan ini 1. Tarung antar Politik, namun tidaklah mungkin bersifat luas (Gerakan, Partai, Organisatif) 2. Beda Pemikiran (apa !?!). MEMBAHAYAKAN ke Nasional … ! KIRI – Sosialisme adalah berdasarkan Pikiran pikiran (Dialektika Materialisme) Alasan Pertama dan alasan Kedua berhubungan. Maksud, Laga Politik (Isme) tdk mungkin tdk memakai Pemikiran, MAKA terjadi PERBEDAAN Berpikir. Lalu, yang manakah KIRI dan yang manakah Individualisme ? Karena, Gerakan gerakan Rakyat dan DEMOKRATIK. Perjuangan BURUH dan Partai – Aksi Massa ke Tujuan untuk Membentuk Masyarakat Sosialisme, didasarkan BERPIKIR Materialisme Logik – Ideologisasi Kerakyatan, HAK REVOLUSI Para DEMOKRATIK ke Politik Rakyat Miskin dalam Masyarakat dengan Syarat syaratnya 1. Kelas (Tenaga, suatu HAK Azasi Manusia) BURUH 2. REVOLUSI (HAK = DEMOKRATIK) a. Politik (Sistim) Rakyat b. Revolusi = Bersama (Kepentingan) c. Sosial Ekonomik. Pemenuhan 3. Kekuasaan ‘RAKYAT MISKIN” (dalam semua Istilah – Bahasa) ……. SOSIALISTA ! ……. DEMOKRATIK ! ……. NASIONAL !

SEKIAN. TERIMA KASIH Fadli Zon: PKI aktor utama pemberontakan Madiun 1948 Bilal

Ahad, 8 Januari 2012 23:24:36

JAKARTA (Arrahmah.com) – Partai Komunis Indonesia (PKI) merupakan aktor utama dalam pemberontakan Madiun tahun 1948 untuk merebut kekuasaan pemerintah. Hal itu sangat jelas dari pamflet-pamflet dan pidato tokoh PKI kelompok Muso. Hal itu diungkapkan oleh Wakil Ketua umum Gerindra yang juga pemerhati sejarah, Fadli Zon dalam bedah buku “Madiun 1948, PKI Bergerak” karya Harry A. Poeze, di Fadli Zon Library, Jakarta, Sabtu (7/1). Pembahas lain adalah sejarawan Asvi Warman Adam dan Harry Poeze. Menurut Fadli Zon, faktor komunis sangat jelas dalam pemberontakan ini karena tokoh penting yang mendorongnya, Muso, kembali ke Indonesia Agustus 1948 dari Rusia dengan membawa garis baru perjuangan komunis internasional yakni garis Zhdanov, untuk menggantikan Garis Dimitrov sebelumnya. Menurut garis baru Zhdanov ini, dunia saat itu sedang terbagi dalam dua kubu yang saling berlawanan, yaitu imperialisme dan anti-imperialisme. Mereka yang tidak segaris dinilai sebagai lawan dan harus disingkirkan. Madiun menjadi medan untuk untuk kekuatan dan merebut kekuasaan. Akibat pemberontakan ini banyak korban di pihak aparat pemerintah, dan juga ulama. Dalam kaitan ini, Fadli Zon sepakat dengan kesimpulan Harry Poeze bahwa Madiun 1948 adalah pemberontakan untuk merebut kekuasaan, bukan peristiwa lokal seperti pembelaan para tokoh PKI yang kemudian berhasil membangun kembali kekuatan partai ini. ”Menurut saya Poeze sangat obyektif sebagai peneliti dan penulis buku.” kata Fadli. Sementara itu Harry Poeze memaparkan panjang lebar buku karya terbarunya yang merupakan seri ke enam tapi sebenarnya terpisah dari rangkaian perjalanan politik Tan Malaka. Dia dengan tegas menyatakan bahwa peristiwa berdarah di Madiun pada 1948 adalah pemberontakan. “Pemberontakan ini mungkin tidak terjadi apabila tidak ada peran individu dari Muso, seorang tokoh yang dikenal tegas, garang, dan kasar.” kata Harry yang menceritakan setting peristiwa Madiun secara detil dan mengungkap hubungan diantara tokoh PKI dan juga perbedaan pandangan antara Muso dan Tan Malaka. Secara panjang lebar Harry menguraikan perkembangan awal, konflik-konflik, dan puncak pemberontakan hingga perburuan orang-orang Komunis, termasuk menunjukkan sejumlah foto penting dan juga karikatur tentang situasi saat itu. Sedangkan sejarawan Asvi Warman Adam selain membedah buku Poeze ini, juga membandingkan sejumlah karya tentang Madiun yang ditulis oleh banyak ahli dan juga istilah yang berkembang soal persitiwa Madiun ini. “Yang jelas, saya menolak pernyataan terutama dari kalangan PKI yang menjadikan Mohammad Hatta sebagai kambing hitam untuk kebangkitan mereka lagi. Ini murni dilakukan tokoh komunis,” katanya. Asvi memuji kekayaan luar biasa dari sumber data yang digunakan Poeze, yang dinilainya tiada bandingannya. Namun, dia mengkritik penampilan foto dan karikatur dalam buku Poeze yang dianggap kurang seimbang. Menanggapi itu, Poeze mengatakan, semua sumber sudah diusahakan imbang. “Cuma soal foto, ya memang kebanyakan foto pembantaian orang-orang komunis, sedangkan kekejaman komunis terhadap kelompok lain, sangat sedikit.” tukas Poeze seperti dilansir jpnn. Seperti kita ketahui, kekejaman pemberontakan PKI di Madiun tak kalah hebat disbanding dengan kekejaman komunis Khemr Merah pimpinan Polpot, Jika di Kamboja Komunis membuat Ladang pembantaian(Killing Field) maka di Madiun dan sekitarnya Kaum Komunis Membuat banyak lubang-lubang pembantaian( killing Hole) untuk menghancurkan lawan politiknya. Kekejaman yang terjadi hampir diseluruh dunia ini, disebabkan keyakinan kaum komunis internasional bahwa revolusi merebut alat-alat produksi dari kaum borjuasi kepada kaum proletariyat, tidak bisa kecuali dengan kekerasan. Wallahu’alam bishshowab.

phobi' dinyatakan sebagai suatu pemberontakan terhadap negara, namun yang tidak pernah di proses lewat pengadilan yang adil dan transparan, pemimpin-pemimpin PKI dan golongan Kiri lainnya, seperti Amir Syarifuddin c.s. ditangkap dan dieksuksi tanpa proses hukum yang wajar, dibawah wewenang Kolonel Gatot Subroto ketika itu. Meskipun tokoh-tokoh yang dieksekusi itu dituduh sebagai pemberontak, tokh kuburannya tidak disembunykan oleh aparat. Oleh para keluarga dan sahabat-sahabat yang bersangkutan kuburan mereka digali kembali dan jenazahnya yang sudah menjadi tulang-belulang dikuburkan kembali dengan baik-baik, di sebuah desa bernama Ngalihan. Oleh aparat apa yang dilakukan oleh para keluarga korban dan sahabat-sahabatnya tidak dilarang oleh aparat. Ini dia ironi yang saya maksud tadi itu bila dibandingkan keadaan sekarang dengan dulu : Di era reformasi dewasa ini kuburan dari warganegara yang terang, jelas jemelas tidak bersalah, bahkan tidak mengetahui mengapa mereka ditangkap pada permulaan era Orba, kemudian dieksekusi secara kejam tanpa proses peradalin apapun, kok para korban ketidak-adilan Orba itu, kuburannya tidak boleh dipindahkan untuk dikubur kembali dengan khidmat menurut kepercayaan dan agama masing-masing. Tindakan kaum 'komunisto-phobi' tsb betul-betul sudah diluar batas perikemanusiaan di zaman apapun. Selanjutnya kok bisa-bisanya malah teriak-teriak lagi tentang munculnya 'bahaya komunis'. Entah kepercayaan, keyakinan politik ataupun agama mana yang mereka anut, sehingga bisa berti ndak seperti itu?

Patut juga dipertanyakan rasa kemanusiaan mereka, masih adakah hati nurani mereka? Sampai bisa ramai-ramai meneriakkan tentang munculnya 'bahaya komunis', bersamaan dengan itu, masing-masing menyembunyikan jauh-jauh ke sudut gelap benak mereka, mengenai pembantaian yang mereka atau golongan mereka lakukan dulu terhadap orangorang yang tidak bersalah dalam tahun-tahun 65/66, pada permulaan era Orba. Yah, itu semua bisa terjadi karena hendak mempertahankan yang tidak bisa dipertahankan, karena hendak membela yang tidak bisa dibela, hendak melakukan sesuatu atas dasar yang tak sehat, yang bertolak dari kepentingan diri dan golongan sendiri semata-mata tanpa memperhatikan kepentingan bangsa dan negeri secara keseluruhan. TIDAK KEBETULAN Tidaklah kebetulan bahwa manuver-manuver mereka baik di lembaga eksekutif maupun eksekutif untuk menggusur presiden Wahid, bersamaan waktunya dengan kampanye antikomunis yang mereka lakukan. Senjata politik 'anti-komunis' yang mereka ayunkan terhadap set iap kekuatan politik yang menuntut Golkar dibubarkan, misalnya terhadap PRD, telah dan akan mereka gunakan lagi terhadap Gus Dur, sasaran utama mereka dewasa in. Adalah kegagalan mereka hingga kini untuk menggusur presiden, yang menyebabkan mereka cepat-cepat memamah biak 'bla-bla-bla' tentang bahaya komunis. GUS DUR BERSAMA KEKUATAN KIRI ADALAH BAIK Melihat situasi sekarang dari latar belakang usaha utama mereka untuk menjatuhkan Gus Dur, maka bisa dimengerti kiranya mengapa mereka teriak-teriak tentang anti-komunisme. Karena sudah bukan rahasia lagi bahwa salah satu kekuatan moral dan politik yang ada di masyarakat yang dengan kuat mendukung Gus Dur, adalah kekuatan moral dan politik Kiri. Termasuk di situ kekuatan LSM, serikat buruh, mahasiswa, serikat tani dan berbagai organisasi sosial dan politik di dalam masyarakat yang berhaluan Kiri. Yang je las dari segi parpol adalah PRD. Sedangkan dari segi yang tidak berparpol adalah kekuatan Kiri lama, termasuk simpatisan PKI. Dengan memukul kekuatan Kiri yang termasuk mendukung Gus Dur, mereka hendak mengimplilkasikan bahwa Gus Dur bersahabat dan menyatu dengan golongan Kiri. Dan malah Gus Dur itu sendiri dikatakan Kiri. Hal ini sesungguhnya juga tidak ada jeleknya. Malah banyak baiknya. Ia lebih lanjut menerobos fikiran yang tabu terhadap segala sesuatu yang Kiri. Karena di dunia ini baik dulu, maupun dewasa ini yang Kiri itu secara pokok dan umum adalah yang pro rakyat, yang anti kolonial, yang anti politik imperialis, yang menentang globalisasi menurut maunya kaum modal monopoli, yang menentang bersimaharelanya nafsu mengejar keuntungan semata dari segelintir orang atas nama untuk menggalakkan pertumbuhan ekonomi. Beradanya kekuatan Kiri dengan Gus Dur pada satu barisan, ini membikin bukan alang kepalang marahnya kekuatan politik Statusquo. Tetapi, selain menghidupkan kembali 'hantu bahaya komunis' untuk menakut-nakuti orang, mereka tidak bisa berbuat lain lagi. Pasti mereka sedang mencari akal baru. Mereka tidak akan berhenti sampai di sini saja. Apalagi dengan adanya pernyataan Gus Dur beberapa hari yang lalu dalam suatu interview dengan CNN, dimana Gus Dur membikin jelas sikapnya untuk mempertahankan kebinetnya sampai 2004. Gus Dur tanpa bisa diintepretasi lain menyatakan bahwa beliau tetap aka n berpegang pada UUD dan jalan konstitusionil dalam menjalankan pemerintahan. Gus Dur juga menyatakan tekad kuat beliau untuk mempertahankan kesatuan dan keutuhan negara kita. Perlu betul-betul disadari bahwa yang kewalahan sekarang ini bukanlah kekuatan pro demokrasi, bukanlah kekuatan reformasi, bukanlah Gus Dur dan kekuatan moral dan politik

yang mendukungnuya. Yang kepepet dan kalap sekarang ini adalah mereka-mereka yang m entang Gus Dur, mereka-mereka yang 'komunisto-phobi' dan golongannya. Maka mengertilah orang mengapa muncul lagi ribut-ribut 'anti-komunis' belakangan ini. Ibrahim Isa **** ----- End of forwarded message from Ibrahim Isa -----

X-URL: http://www.gwu.edu/ ~ nsarchiv/NSAEBB/NSAEBB52 / Untuk disiarkan segera, 27 Juli 2001 diperlukan Untuk informasi lebih lanjut: Arsip sutradara Tom Blanton, 994-7000

Sejarah CIA mengulur-ulur DEPARTEMEN NEGARA Arsip POS SATU dari dua volume yang disengketakan PADA WEB SIMPULAN NAMA NEGARA sejarawan US berlalu komunis UNTUK INDONESIA ARMY, yang menewaskan sedikitnya 105.000 DALAM 1965-66 Juli WASHINGTON, DC, 27 - George

Washington University Arsip Keamanan Nasional hari ini diposting di Web (www.nsarchive.org) salah satu dari dua film dokumenter sejarah Departemen Luar Negeri AS yang rilis Badan Pusat Intelijen adalah mengulur-ulur, meskipun dokumen yang disertakan dalam volume secara resmi dideklasifikasi pada tahun 1998 dan 1999, menurut catatan Departemen Luar Negeri publik. Dua volume penutup Negara Departemen sengketa Indonesia-Malaysia-Filipina di tahuntahun 1964-68 dan Yunani-Turki-Siprus pada periode yang sama. CIA, serta tindakan pejabat di Departemen Luar Negeri, telah mencegah rilis resmi volume baik, sudah dicetak dan terikat oleh Kantor Percetakan Pemerintah. Arsip Keamanan Nasional Indonesia diperoleh volume diposting hari ini ketika GPO, tampaknya oleh kesalahan, salinan dikirim ke toko buku berbagai GPO, tetapi volume Yunani masih dikurung di gudang GPO. Volume Indonesia termasuk dokumentasi baru yang signifikan pada kampanye Angkatan Darat Indonesia melawan Partai Komunis Indonesia (PKI) di 1965-66, yang dibawa ke kekuasaan diktator Soeharto. (Ironisnya, pengganti Suharto, mantan Presiden Wahid, sedang dalam perjalanan ke Baltimore pekan ini untuk perawatan medis, dan telah digantikan oleh wakil presidennya, yang merupakan putri dari orang Suharto menggulingkan.) Sebagai contoh,

Kedutaan Besar AS melaporkan pada November 13, 1965 menyampaikan informasi dari polisi bahwa "dari 50 hingga 100 anggota PKI yang dibunuh setiap malam di Timur dan Jawa Tengah ....", dan Kedutaan Besar mengakui dalam sebuah April 15, 1966 airgram ke Washington bahwa "Kami terus terang tidak tahu apakah angka yang sebenarnya [PKI dibunuh] adalah lebih dekat ke 100.000 atau 1.000.000 tapi percaya bijaksana untuk berbuat salah di sisi perkiraan yang lebih rendah, terutama ketika ditanyai oleh pers "Pada halaman 339., volume tampaknya mendukung angka 105.000 tewas yang diusulkan pada tahun 1970 oleh petugas layanan asing Richard Cabot Howland dalam publikasi CIA diklasifikasikan. Pada isu lain yang sangat kontroversial - yang dari keterlibatan AS dalam pembunuhan volume mencakup "Catatan Editorial" pada halaman 387 menjelaskan Duta Besar Marshall Green 10 Agustus 1966 airgram ke Washington melaporkan bahwa daftar Kedutaan-siap para pemimpin Komunis atas dengan Kedutaan atribusi dihapus "tampaknya sedang digunakan oleh otoritas keamanan Indonesia yang tampaknya kurang bahkan informasi sederhana tentang kepemimpinan terbuka PKI pada waktu itu ...." Pada tanggal 2 Desember 1965, Hijau mendukung pembayaran 50 juta rupiah rahasia untuk gerakan Kap-Gestapu memimpin represi, tetapi 3 Desember respon CIA Negara dipungut secara penuh (hal. 379-380).

Intervensi CIA dalam publikasi Departemen Luar Negeri hanya yang terbaru dalam serangkaian kontroversi tersebut, dating kembali ke 1990 ketika CIA disensor volume Negara terhadap Iran pada awal 1950-an untuk meninggalkan referensi apapun dengan kudeta yang didukung CIA yang menggulingkan Mossadegh pada tahun 1953. Ketua Departemen Luar Negeri sejarah komite penasihat mengundurkan diri sebagai protes, menghasilkan protes di kalangan akademisi dan jurnalis (lihat "Sejarah Dikelantang di Negara," New York Times editorial, 16 Mei 1990, hal A26: "Pada saat itu bahwa Moskow akan datang bersih pada pembantaian Stalin petugas Polandia, Washington memadamkan sejarah dalam modus Soviet ").. Kongres kemudian dilewatkan hukum pada tahun 1991 membutuhkan volume Departemen Luar Negeri untuk memasukkan operasi-operasi rahasia serta diplomasi terbuka, sehingga memberikan gambaran historis yang akurat tentang kebijakan luar negeri AS, 30 tahun setelah kejadian. *** Pameran: 1. Editorial catatan dari volume Indonesia pada jumlah anggota PKI Bahasa Indonesia yang tewas di 1965-66, hlm 338-340.

2. Editorial catatan dari volume Indonesia pada peran Kedutaan Besar AS dalam menyediakan daftar untuk Tentara Nasional Indonesia anggota PKI, hal 386-387. 2a. Duta Besar Green 2 Desember 1965 dukungan dari 50 juta rupiah pembayaran rahasia untuk "tentara-terinspirasi tapi staf sipilkelompok aksi [Kap-Gestapu] ... masih membawa beban dari upaya represif yang ditujukan terhadap PKI saat ini ...." Dokumen tersebut segera setelah, mungkin respon CIA untuk usulan ini dari 3 Desember 1965 (ditulis oleh William Colby divisi Timur Jauh CIA kepada Departemen Luar Negeri William Bundy), dirahasiakan penuh dari volume. (Pp.379-380) 3. Deskripsi dari tinjauan deklasifikasi volume Indonesia, ditulis oleh sejarawan Departemen Luar Negeri, hal VII. Ini termasuk keterangan resmi dari "High Level Panel" yang membuat keputusan akhir tentang pengakuan operasi rahasia. 4. Departemen Luar Negeri Komite Penasihat Sejarah ringkasan sebagai 1 September 1999 "Status Johnson dan Nixon Era FRUS High Level Panel Kasus Aksi Terselubung" (2 halaman). Dokumen ini menunjukkan bahwa Panel memutuskan pada tanggal 20 April 1998 untuk mengakui aksi rahasia di Indonesia, bahwa CIA menyelesaikan review dokumen pada 28 Agustus

1998, dan bahwa volume lalu pergi ke halaman bukti, "Namun, publikasi telah tertunda "Ringkasan. juga menunjukkan bahwa CIA menyelesaikan review dari volume SiprusYunani-Turki pada 14 Mei 1999, bahwa volume berada di halaman bukti direvisi pada tanggal 1 dan diperkirakan akan diterbitkan pada Desember 1999. 5. Kutipan dari Dewan Perwakilan versi final 'Hukum, Publik 102-138 ditandatangani oleh Presiden George HW Bush pada tanggal 28 Oktober, 1991 yang mensyaratkan bahwa Hubungan Luar Negeri Amerika Serikat seri menjadi catatan menyeluruh, akurat, dan dapat diandalkan utama keputusan kebijakan luar negeri AS dan signifikan aktivitas diplomatik AS. Aidit, PKI, dan G-30-S
Bagi PKI, disiplin dimaksud untuk menyelenggarakan pekerjaan dengan tepat dan baik. Dan suatu pekerjaan baru dapat diseleng- garakan dengan tepat dan baik kalau disertai dengan kesetiakawanan atau solidaritas … Berdasarkan moral Komunis itu diterapkan pelak- sanaan “Centralisme demokrasi,” yaitu centralisme yang didasarkan kepada demokrasi dan demokrasi yang dipusatkan, dimana dipadukan pertanggungan-jawab kolektif dengan pertanggungan-jawab perseo- rangan. Sudisman, Uraian Tanggungdjawab (1967) , , Bukti yang ada sejauh ini memperlihatkan bahwa Aidit sedikitnya menyetujui kerja sama Sjam dengan para perwira militer untuk melancarkan serangan mendahului terhadap pimpinan tertinggi Angkatan Darat (SUAD). Menurut dokumen Supardjo, Sjam adalah organisator utama Gerakan 30 September. Menurut Hasan, ia bawahan setia Aidit. Jika dua keterangan itu benar, kita harus menduga bahwa Aidit lebih dari sekadar sosok lugu yang mudah tertipu dalam G-30-S. Sampai di sini pertanyaan yang belum terjawab adalah apakah Aidit yang memprakarsai G-30-S dan memberi perintah kepada Sjam untuk melaksanakannya (sebagaimana diklaim versi rezim Suharto) atau ia mengizinkan Sjam bekerja dengan para perwira militer dengan

anggapan para perwira itulah yang memimpin G-30-S? Apa yang diketahui Aidit tentang hubungan antara anggota-anggota Biro Chusus dan para perwira militer? Apa yang diceritakan Sjam kepadanya? Informasi apa yang didengar Aidit dari sumber-sumber lain mengenai kecenderungan para perwira yang ikut dalam G-30-S? Apakah Aidit sang dalang yang memerintahkan dan menyelia setiap gerakgerik Sjam? Ataukah Aidit seorang pendukung G-30-S dan mendapat kesan bahwa para perwira militerlah yang mendalangi aksi? Sukar menilai peranan Aidit karena tidak ada bukti langsung dan meyakinkan tentang hal ini. Mengingat sifat pengorganisasiannya yang rahasia, hanya dua orang yang dalam posisi mengetahui sepenuhnya peranan Aidit: Sjam dan Aidit sendiri. Angkatan Darat sudah menembak mati Aidit pada November 1965 sebelum ia sempat menyampaikan penjelasan tentang tindakannya. Dalam sidang Mahmilub pada 1967 Sjam menyatakan bahwa ia bertindak atas perintah Aidit. Pernyataan- nya ini tidak mungkin dibuktikan kebenarannya. Satu-satunya pende- katan terhadap persoalan mengenai peranan Aidit hanyalah secara tidak langsung, dengan merangkaikan kepingan-kepingan bukti dan memper- timbangkan masuk akal atau tidaknya kemungkinan-kemungkinan yang berbeda-beda itu. Dalam bab ini saya meninjau pernyataan-pernyataan para mantan pimpinan PKI, strategi politik Aidit dalam bulanbulan sebelum G-30-S terjadi, dan pandangannya tentang kup militer. Saya juga meninjau pernyataan partai tentang G-30-S dalam koran hariannya, Harian Rakjat, edisi 2 Oktober 1965. URAIAN SUDISMAN Pernyataan paling penting oleh pimpinan PKI tentang G-30-S ialah per- nyataan Sudisman, Sekretaris Jenderal partai yang berhasil lolos dari pem- bantaian besarbesaran. Ia ditangkap pada Desember 1966 dan dibawa ke depan Mahmilub pada Juli 1967. Ia salah seorang dari kelompok lima tokoh muda yang mengambil alih pimpinan partai pada 1951. Kelima tokoh itu – Aidit, Lukman, Njoto, Sakirman, dan Sudisman sendiri– memperoleh sukses besar dalam membangun kembali partai. Dalam pleidoinya Sudisman mengacu pada kesatuan di antara kelima tokoh itu ibarat kesatuan lima bersaudara Pandawa dari epos besar India Mahabharata, “Mereka berempat adalah saya, dan saya adalah mereka berempat … Saya dengan mereka berempat telah berpanca-kawan, artinya, berlima telah bersama-sama membangun kembali PKI sejak tahun 1951 … Kita berlima selalu bersama.”1 Keberhasilan PKI dari 1951 sampai 1965 sebagian berkat kesatuan para pimpinannya itu. Tidak terjadi keretakan yang memecah-belah partai menjadi kelompok-kelompok yang saling bersaing (seperti yang terjadi dalam gerakan komunis di India) bahkan di tengah-tengah konflik Tiongkok-Soviet. Pidato pembelaan Sudisman, walaupun dikemukakan di Mahmilub– atau “di cengkeraman tangan musuh,” kata para aktivis eks-PKI– merupakan sebuah dokumen yang terus terang dan ditulis dengan baik, yang mempertunjukkan kecerdasan dan ketenangan pribadi. Di depan mahkamah ia tidak mengkeret ketakutan, melempar kesalahan kepada orang lain, pura-pura tidak tahu, atau memohon keselamatan

nyawanya. Sebagai pimpinan tertinggi partai yang tersisa, ia merasa ber- tanggung jawab kepada para pendukung partai untuk menjelaskan apa yang sudah salah. Menyadari akan dijatuhi hukuman mati, ia menyusun pidato pembelaannya sebagai pernyataan politik kepada masyarakat luas di luar ruangan sidang. Memang, karena ia menolak mengakui keabsahan Mahmilub, ia tidak mau pidatonya disebut sebagai pembelaan (pledoi). Sudisman menamainya sebuah “uraian tanggungdjawab.”2 Sudisman mengakui, dengan cara yang tidak terinci, bahwa ia “terlibat” dalam G-30-S dan bahwa pimpinan-pimpinan PKI lainnya, tanpa menyebut nama, juga “terlibat langsung” di dalamnya.3 Dengan menggunakan kata terlibat ia tidak bermaksud menyatakan bahwa para pemimpin PKI mengarahkan G-30-S. Ia menjunjung pernyataan partai pada 6 Oktober 1965 bahwa G-30-S merupakan peristiwa “intern Angkatan Darat,” dan bahwa PKI sebagai partai “tidak tahu menahu” tentang gerakan itu.4 Ia menyatakan bahwa para pemrakarsa dan pengor- ganisasi utama G-30-S adalah “perwira-perwira maju” yang ingin meng- gagalkan rencana kup oleh Dewan Jenderal.5 Kelompok di belakang G-30-S ini sebagian besar “perwira-perwira nonKomunis” (berarti perwira-perwira yang loyal terhadap Sukarno), tapi juga “disamping yang Komunis.”6 Sudisman menyiratkan bahwa pemimpin-pemimpin tertentu PKI sebagai perseorangan memutuskan untuk mendukung para perwira progresif ini. Ia tidak menjelaskan dengan tegas bagaimana ia dan pemimpinpemimpin partai lain mulai bersekutu dengan para perwira tersebut dan memberikan dukungan mereka. Sasaran Sudisman adalah pada memberi alasan pembenar bagi strategi Politbiro untuk mendukung G-30-S ketimbang menggambarkan bagaimana strategi itu dilaksanakan. Sudisman mengklaim ia menjadi yakin bahwa aksi yang dilakukan “perwira-perwira maju” itu merupakan cara terbaik dalam melawan jenderal-jenderal sayap kanan Angkatan Darat yang telah membukti- kan dirinya sebagai satu-satunya rintangan terbesar bagi program partai. Mereka menghalangi politik luar negeri antiimperialis Sukarno, kebijakan- kebijakan ekonomi pemerintah yang dirancang untuk kemaslahatan kaum tani dan kaum buruh (misalnya land reform), dan pengaruh PKI yang terus meluas. Strategi mendukung “perwira-perwira maju” itu, menurut Sudisman, tampaknya benar pada saat itu. Namun, sesudah meninjaunya kembali, ia memandang strategi itu keliru arahan. Kegagalan G-30-S dan kerentanan partai terhadap represi militer memperlihatkan ada sesuatu yang salah dalam watak organisasi dan ideologi partai itu sendiri. Sudisman menyatakan bahwa masalahnya bukan sekadar pimpinan partai bertaruh pada kuda yang salah; masalah utamanya adalah mereka sudah bertaruh. Terbuai oleh rangkaian kesuksesan panjang, mereka kehilangan kemampuan untuk “secara ilmiah menghitung imbangan kekuatan secara kongkrit dari kedua belah pihak, dari kekuatan PKI sendiri dan dari kekuatan lawan.”7 Penekanan mereka pada persatuan nasional menggiring mereka menjadi terlalu akomodatif terhadap kelas menengah dan melalaikan pembangunan kekuatan tani dan buruh yang terorganisasi secara mandiri.8 Dengan mendukung putsch rahasia yang terpisah dari “massa,” pimpinan partai telah memilih semacam jalan pintas yang berbahaya menuju revolusi – bahaya yang tidak akan pernah mereka alami andaikata partai tidak tersita perhatiannya oleh rencana- rencana licik politisi elite di Jakarta. Di

antara puing-puing G-30-S tersingkaplah “kesalahan-kesalahan PKI yang menumpuk untuk masa yang panjang.”9 Sudisman yakin otak G-30-S ialah perwira-perwira militer seperti Untung dan Supardjo. Untuk menimbang ketepatan keyakinannya perlu dipertanyakan apa yang diketahui Sudisman tentang G-30-S. Informasi apa yang menjadi dasar keyakinannya itu? Menurut Uraian Tanggung- djawab pengetahuannya tentang G-30-S berasal dari Aidit saja. Sudisman mencatat bahwa di dalam sidang-sidang Politbiro Aidit menjelaskan “bahwa ada perwira-perwira maju yang mau mendahului bertindak untuk mencegah kudeta Dewan Jenderal.”10 Menurut pengalaman Sudisman, Aidit “teliti dalam menerima informasi-informasi” dan “teliti dalam meng- hitung imbangan kekuatan.”11 Berkat kedudukannya sebagai menteri koordinator dalam kabinet Sukarno, Aidit “cukup memiliki saluran” untuk memeriksa informasi yang diterimanya.12 Sudisman mempercayai pendapat Aidit bahwa G-30-S patut mendapat dukungan, “kawan Aidit menjelaskan [kemungkinan kepada anggota Politbiro] dengan meya- kinkan bahwa ada perwira-perwira maju dan G-30-S yang mengadakan operasi militer membentuk Dewan Revolusi.”13 Aidit konsisten dalam memberi tahu Politbiro bahwa gerakan yang direncanakan merupakan urusan intern militer. Aidit menjelaskan “bahwa para perwira maju mau mengadakan operasi militer dan tidak pernah mengemukakan bahwa PKI mau mengadakan operasi militer, dan oleh kawan Aidit juga tidak pernah dikemukakan bahwa PKI mau mencetuskan revolusi pada saat itu.”14 Sudisman menempatkan Aidit sebagai orang utama di dalam partai yang berhubungan dengan para perwira dan menetapkan tindakan apa yang akan diambil oleh personil PKI dalam mendukung gerakan tersebut. Sudisman mengatakan bahwa Aidit “menugaskan pengiriman beberapa tenaga ke daerah pada hari-hari menjelang mencetusnya G-30-S dengan garisnya ‘dengarkan pengumuman RRI Pusat dan sokong Dewan Revolusi.’”15 Bagi Sudisman G-30-S mirip dengan kup Kolonel Qasim di Irak pada 1958 yang menumbangkan monarki dan menggagalkan keikutsertaan Irak dalam persekutuan militer untuk menghadapi Uni Soviet (Pakta Baghdad 1955, yang antara lain termasuk Turki dan Inggris).16 Ada beberapa kup yang mempunyai agenda politik yang progresif – yaitu melawan feodalisme, imperialisme, dan kapitalisme – sementara itu ada beberapa kup yang mempunyai agenda reaksioner. Gerakan 30 September, walaupun bukan kup, merupakan aksi militer yang dalam pandangan partai progresif. Sudisman tidak mengklaim mempunyai hubungan langsung dengan para perwira yang terlibat dalam G-30-S. Barangkali ia bahkan tidak berhubungan dengan Sjam dan orang-orang dari Biro Chusus. Ia tidak menyebut tentang mereka. Walaupun Sudisman seharusnya tahu lebih banyak tentang hubungan partai dengan G-30-S daripada yang sudah dibeberkannya di dalam Uraian Tanggungdjawab, tanpa bukti tambahan kita tidak bisa beranggapan bahwa pendapatnya tentang penggerak G-30-S itu didasarkan atas informasi di luar dari yang diberikan Aidit kepadanya. Selama sidang-sidang Mahmilub, dalam menanggapi kesaksian Sjam, Sudisman menyatakan tidak mempunyai pengetahuan langsung tentang G-30-S, hanya mengikuti perintahperintah dari Aidit, dan percaya bahwa Sjam pun mengikuti perintah dari Aidit, “Walaupun saya tidak ikut membuat Dekrit, tidak ikut menyusun komposisi Dewan

Revolusi, tidak berada di Halim, Lubang Buaya atau Pondok Gede baik di sekitar maupun pada saat dicetuskannya G-30-S, tapi karena semua perbuatan itu adalah perbuatan oknum-oknum anggauta PKI, maka saya ambil oper tanggungjawabnya.”17 Saya akan berkomentar di belakang tentang tindakan misterius Sudisman untuk mengambil tanggung jawab terhadap suatu gerakan yang menurut pengakuannya sangat sedikit ia ketahui. Sekarang masalah penting yang perlu diperhatikan adalah bahwa Sudisman memang tidak berada dalam posisi mengetahui bagaimana pengorganisasian G-30-S dilakukan. Tidak ada alasan untuk memandang pendapat Sudisman bahwa para perwira militer bertindak atas kehendak sendiri sebagai pendapat seorang yang berwenang dan berpengetahuan memadai. Penilaian Sudisman tentang G-30-S sebagai aksi yang dipimpin militer tidak dapat diperhitungkan sebagai sangkalan yang meyakinkan terhadap penilaian Supardjo yang melihat gerakan itu di bawah pimpinan Sjam. Karena Supardjo jauh lebih dekat dengan para organisator G30-S dan menyaksikan langsung proses pengambilan keputusan mereka, penilaiannya harus diberi bobot lebih.18 Pertanyaan tentang pengetahuan Aidit tetap tidak terjawab di dalam uraian Sudisman. Mungkin Aidit juga percaya bahwa para perwira militer itu bertindak atas kehendak sendiri. Ia bersandar pada informasi dari Sjam. Mungkin Sjam tidak menjelaskan kepada Aidit bahwa ia sesung- guhnya memainkan peranan yang dominan dalam mengorganisasikan para perwira. Jika tidak demikian, barangkali Aidit mengetahui bahwa perwira-perwira di belakang G-30-S ialah mereka yang terkait dengan Biro Chusus, tapi ia mungkin hendak menyembunyikan fakta tersebut dari kawan-kawannya di Politbiro demi mempertahankan kerahasiaan di sekitar operasi Biro Chusus. ANALISIS SJAM DAN HASAN Menjelang sidang Mahmilub untuknya berakhir Sudisman membacakan dengan lantang “uraian tanggungdjawab”-nya di depan para hakim dan pengunjung sidang. Sebagian uraiannya dapat ditangkap sebagai pe- nyangkalan terhadap kesaksian yang diberikan Sjam pada sidang yang sama. Dibawa masuk ke ruang sidang sebagai saksi, Sjam menyampaikan pengakuan bahwa yang dilakukan Aidit lebih dari sekadar mendukung G-30-S. Menurut versi Sjam tentang peristiwa itu, Aidit memprakarsai G-30-S. Konon Aidit memerintahkan Sjam agar memobilisasi tokoh- tokoh militer yang terkait dengan Biro Chusus untuk melancarkan aksi militer melawan jenderaljenderal kanan Angkatan Darat. Sjam menge- mukakan, “Sesudah bulan Agustus [1965] [Biro Chusus] menerima keterangan daripada Kawan D.N. Aidit tentang makin memuntjaknja situasi. Dan gedjala-gedjala jang ada menundjukkan bahwa Dewan Djenderal sudah mulai melakukan persiapan-persiapan terachir untuk pada achirnja melakukan perebutan kekuasan. Setelah ada soal-soal itu maka kami diberikan garis, apakah dalam menghadapi situasi jang sematjam ini, kami menunggu dipukul atau mesti memberikan pukulan terlebih dahulu. Karena kesimpulannja bahwa kami harus memberikan pukulan terlebih dahulu, kami melakukan persiapan-

persiapan dengan mengadakan pertemuan-pertemuan antara saja, Pono, Untung, Latif, Sujono, Sigit dan Wahjudi. Sebagai pertemuan-pertemuan persiapan untuk melakukan gerakan jang pada achirnja dinamakan G30S. Dalam pertemuan-pertemuan itu jang memimpin adalah saja sendiri.”19 Sjam mengklaim dialah yang memilih perwiraperwira yang ikut dalam rapat- rapat itu dan, dengan bantuan Aidit, merancang gagasan tentang Dewan Revolusi. Berdiri sendiri, kesaksian Sjam harus disikapi dengan kesangsian. Pen- dakuannya sebagai atasan para perwira dapat diabaikan laiknya khayalan seorang megalomaniak, seseorang yang ingin dilihat sebagai pemain politik yang penting. Pendakuannya bahwa ia mengikuti perintah-perintah Aidit dapat diabaikan sebagai usaha untuk mengesahkan tindakan-tindakan yang sesungguhnya di luar jangkauan kewenangan Aidit. Barangkali Sjam melibatkan Aidit demi menyenangkan para penuntut umum dari militer yang mengingini pembenaran atas tuduhan mereka bahwa Aidit ialah otak G-30-S. Namun demikian pernyataan Sjam tidak bisa begitu saja ditolak, menimbang analisis post-mortem Supardjo (yang sudah saya bahas dalam bab 3) dan penegasan dari Hasan untuk bagian-bagian tertentu dari kesaksian Sjam yang berkaitan dengan kinerja Biro Chusus (dibahas dalam bab 4). Barangkali Sjam bukanlah seorang penyemu. Dalam karangan otobiografis yang ditulisnya pada pertengahan 1990-an, Hasan menguatkan sejumlah klaim Sjam tentang peranannya di dalam G-30-S. Hasan percaya Sjam mengikuti perintah-perintah Aidit dan para perwira itu, pada gilirannya, mengikuti pimpinan Sjam: Pada suatu waktu, kira-kira bulan Juli 1965, dalam rapat BC Pusat, Ketua BC Bung Sjam memberi informasi bahwa sakitnya Presiden Sukarno makin parah dan mungkin akan mati. Hal ini akan digunakan oleh kaum militer yang anti Sukarno dan yang bekerja erat dengan kaum nekolim Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Belanda untuk mengkup kekuasaan Sukarno menjadi pemerintah militer pro-Barat yang fasis. Gerakan rakyat demokratis yang dipimpin oleh Nasakom dimana PKI menjadi pelopornya, akan ditindas secara kekerasan sampai hancur-lebur. Untuk menghadapi situasi gawat yang mendadak, PKI sebagai pelopor gerakan rakyat harus mengambil sikap. Sikap PKI yalah harus melawan gerakan kup militer Angkatan Darat terhadap Pemerintah Sukarno secara militer. Tugas ini diperintahkan oleh Bung Aidit kepada BC Pusat yang menggarap kaum militer. Dalam proses selanjutnya berhubung situasinya makin genting, maka perintahnya bukan hanya menunggu kup kaum militer bahkan kita harus bertindak lebih dahulu terhadap jendral-jendral yang pro nekolim.”20 Sukarno jatuh sakit dari 3 Agustus sampai 9 Agustus, maka rapat pertama yang dimaksud Hasan tentunya terjadi pada awal Agustus itu. Kemungkinan meninggalnya Sukarno di awal Agustus agaknya telah memancing tekad awal Aidit untuk menyiapkan aksi militer, seperti dikemukakan Hasan, tapi barangkali tidak sampai membulatkan tekad Aidit hingga akhir September. Desas-desus tentang Sukarno hamper meninggal seketika lenyap saat ia sehat kembali. Beberapa penasihatnya dari semula berpikir bahwa Sukarno tidak menderita penyakit yang lebih parah dari influenza berat. Sesudah 9 Agustus Sukarno tidak memperlihatkan tanda-tanda akan jatuh sakit serius dan mulai lagi mengisi jadwal melelahkan yang sarat dengan pidatopidatonya yang bersemangat di depan umum, termasuk pidato pada 30 September malam.

Bagi Aidit, untuk meneruskan rencana melancarkan aksi militer, jika itu memang ia lakukan, ia tentu sudah yakin bahwa jenderal-jenderal antikomunis Angkatan Darat akan melancarkan serangan tanpa menghiraukan kesehatan Sukarno. Menurut Hasan, Aidit mengubah rencana semula; Biro Chusus berubah dari menanti menjadi mendahului kudeta para jenderal. Pendapat ini serupa dengan pendirian Sjam bahwa partai menghadapi pertanyaan apakah menunggu kup terjadi baru bertindak, atau mendahului kup. Pendapat ini juga serupa dengan pendirian Supardjo bahwa “partai” pada satu titik mengubah strateginya dari menunggu laporan tentang rencana para “perwira progresif ” menjadi memaksakan rencananya sendiri. Dipertimbangkan bersama, cerita-cerita Sjam dan Hasan tidak bisa dipandang sebagai bukti tandas bahwa Aidit memprakarsai G-30-S, Sjam mengikuti perintah Aidit, dan perwira-perwira militer yang terkait dengan Biro Chusus mengikuti Sjam. Barangkali perwira-perwira itu bertindak atas dasar kesimpulan-kesimpulan yang tidak dapat dibenar- kan. Ketika berbicara di depan para perwira dan anggota-anggota Biro Chusus (orang-orang yang dikenal Hasan), boleh jadi Sjam sengaja membual tentang perintah Aidit agar orang-orang itu mau mengikuti dia. Perlu diingat bahwa Supardjo mendapat kesan tentang adanya rencana besar partai yang melebihi apa yang telah dijelaskan Sjam kepadanya. Mungkin saja Sjam bersikap seakan-akan kepemimpinan partai terlibat lebih jauh dalam G-30-S. Tapi penegasan Hasan terhadap pokok-pokok cerita Sjam setidak-tidaknya memberikan kesan bahwa gagasan tentang Aidit menjadi salah satu dari pemimpin-pemimpin G-30-S tidaklah berlebihan. Untuk memperoleh gambaran lebih baik tentang peranan Aidit, kita harus menelaah cerita-cerita tokohtokoh yang ada di dalam Politbiro sendiri. ANALISIS ISKANDAR SUBEKTI Dua anggota Politbiro diketahui memainkan peranan langsung dalam G-30-S: Njono, yang mengorganisasi sekitar dua ribu pemuda untuk dijadikan sukarelawan, dan Iskandar Subekti, yang menemani Aidit di pangkalan AURI Halim. Kedua tokoh ini menceritakan proses pengam- bilan keputusan partai dalam kesaksian mereka di sidang pengadilan. Njono, pemimpin PKI yang pertama diadili Mahmilub, berusaha membersihkan pimpinan partai lainnya dari kesalahan apa pun. Ia menampilkan dirinya sebagai oknum dajal yang sudah melanggar keputusan Politbiro untuk tetap tidak terlibat di dalam aksi para perwira Sukarnois melawan Dewan Jenderal.21 Skenario “meriam liar” yang tak masuk akal ini sebaiknya dikesampingkan saja. Bisa dimengerti, bahkan terpuji, jika Njono mengambil tanggung jawab penuh. Tapi sukar dipercaya bahwa ia bertindak sepenuhnya sendiri tanpa keterkaitan dengan Aidit dan pimpinan partai lainnya, terutama karena belakangan Sudisman mengakui bahwa Politbiro memutuskan untuk mendukung G30-S. Cerita Iskandar Subekti lebih layak diperhatikan. Subekti adalah panitera dan arsiparis Politbiro. Ia memang cocok untuk tugas ini bukan hanya karena ia mahir stenografi; ia terpelajar, fasih dalam berbagai bahasa Eropa, dan memiliki pengetahuan mendalam tentang sejarah partai dan program-programnya. Ketika ia diajukan ke pengadilan pada 1972, penjaga rahasia partai ini bisa berbicara dengan lebih terbuka daripada Njono. “Uraian Tanggungdjawab” Sudisman sudah beredar, dan partai sudah dihancurkan.

Dalam pidato pledoinya di pengadilan Subekti menyatakan bahwa pada sebuah rapat pada Agustus 1965 Politbiro memutuskan bahwa partai akan memberi “dukungan politis” kepada aksi yang direncanakan para perwira progresif. Sementara Subekti tidak menjelaskan arti setepatnya perkataan “dukungan politis,” ia membedakannya dengan “dukungan fisik,” yang tidak mau diberikan Politbiro. Implikasinya adalah para perwira akan bertindak sendiri, sedangkan partai akan membela perju- angan mereka melalui pers dan sidang-sidang pemerintah, “Sikap Partai ialah memberikan dukungan politis, bukan dukungan fisik atau lainnya semacam itu, kepada perwiraperwira muda yang hendak menggagalkan rencana kudeta dari Dewan Jenderal terhadap Pemerintah Sukarno. PKI bisa memberikan dukungan kepada sesuatu aksi dari kekuatan-kekuatan revolusioner dan demokratis untuk menentang kekuatankekuatan kontra-revolusioner. Sikap itu adalah sikap politik yang wajar dan biasa, berhubung dengan perkembangan situasi dan garis politik PKI yang mendukung Pemerintah Sukarno pada waktu itu.”22 Tabel 3. Struktur Organisasi Pimpinan Partai Komunis Indonesia, September 1965 Ketua Comite Central D.N. Aidit Dewan Harian Politbiro Lima anggota: D.N. Aidit, Lukman, Njoto, Sudisman, Oloan Hutapea Politbiro Dua belas anggota penuh: D.N. Aidit, Lukman, Njoto, Sudisman, Oloan Hutapea, Sakirman, Njono, Mohamad Munir, Ruslan Wijayasastra, Jusuf Ajitorop, Asmu, Rewang Empat calon anggota: Peris Pardede, A. Sanusi, Sucipto Munandar, F. Runturambi Panitera: Iskandar Subekti Comite Central 85 anggota Sumber: Subekti, “G-30-S Bukan Buatan PKI,” 2-3. Subekti mengklaim bahwa Aidit menjelaskan keputusan Politbiro kepada sekelompok anggota Comite Central pada 27 atau 28 Agustus.23 Subekti menekankan bahwa rapat ini adalah sebuah brifing oleh Aidit, bukan sidang resmi Politbiro yang diperluas atau sidang Comite Central yang dipersempit (lihat gambar 3 tentang struktur pimpinan PKI). Brifing tersebut dimaksudkan untuk menyampaikan kepada tokoh- tokoh pimpinan tertentu tentang posisi partai. Aidit menjelaskan kepada yang hadir bahwa sebuah klik perwira progresif sedang merancang suatu aksi menentang Dewan

Jenderal dan bahwa partai akan memberikan “dukungan politis.” Menurut Subekti tidak ada diskusi, juga tidak ada keputusan satu pun diambil di dalam forum ini. Subekti menyatakan bahwa Politbiro tidak bersidang selama September. Njono juga menyatakan, walaupun Politbiro tiga kali bersidang dalam Agustus, tidak satu kali pun dalam September. Ini mengesankan bahwa Aidit bertindak sendiri di luar pengawasan Politbiro selama beberapa pekan sebelum G-30-S dimulai. Menurut Subekti, “Pelaksanaan selanjutnya dari putusan Politbiro yang dibriefingkan itu diserahkan kepada Dewan Harian Politbiro sebagaimana lazimnya Dewan Harian Politbiro melaksanakan sehari-harinya putusan Politbiro. Tidak ada sidang Politbiro lagi untuk mendengarkan laporan-laporan tentang pelaksanaan putusan itu oleh Dewan Harian Politbiro ataupun oleh Ketua CC guna memberikan kesempatan kepada Politbiro untuk menilai kebijaksanaan Dewan Harian Politbiro atau Ketua CC dalam melaksanakan putusan Politbiro itu.”24 Dengan kata lain, Aidit bertindak sendiri selama September dalam hal perencanaan gerakan tersebut. Jika Subekti benar bahwa Politbiro tidak bersidang selama September, anggota Politbiro sebagai kelompok bisa jadi tidak mendapat informasi tentang peranan Sjam dalam G-30-S. Sjam mulai mengadakan rapat-rapat dengan para perwira baru pada September (setidak-tidaknya menurut pengakuannya sendiri). Politbiro tidak mungkin bisa mengeta- hui, apalagi menyetujui, persisnya tindakan-tindakan Aidit dan Sjam. Jika selama sidang-sidang pada Agustus Politbiro memberikan persetujuannya kepada gagasan “dukungan politis” terhadap tindakan militer para perwira progresif, untuk memutuskan rincian kerja sama partai diserahkan kepada Aidit. Subekti mencatat dalam sebuah alinea yang gamblang bahwa Aidit adalah satu-satunya pimpinan partai yang berhak mengurus hubungan PKI dengan militer: Penyerahan soal-soal militer kepada D.N. Aidit adalah, menurut pengalaman saya, soal yang biasa, yang sehari-hari. Karena soal militer, artinya soal-soal yang bertalian dengan kerjasama atau sikap-sikap tertentu yang harus diambil oleh Partai terhadap ABRI merupakan hal-hal yang harus dilakukan dengan hati-hati maka ini diserahkan kepada Ketua CC, D.N. Aidit. Dalam praktek sehari-harinya hal ini terwujud dalam misalnya ceramah-ceramah, penulisan-penulisan, atau penje- lasan-penjelasan dari sikap Partai terhadap ABRI yang ditu- angkan dalam editorial-editorial Harian Rakjat. Yang boleh menulis tentang ini hanya Ketua CC, D.N. Aidit, tidak boleh orang lain, redaksi Harian Rakjat sekalipun tidak boleh.25 Butir pokok pendapat Subekti sama dengan yang diajukan Sudisman: G-30-S bukanlah buatan PKI sebagai sebuah lembaga walaupun beberapa pimpinan partai tertentu terlibat di dalamnya. Baik Politbiro maupun Comite Central tidak memikirkan sebuah rencana aksi untuk mempra- karsai, mengorganisasi, dan memimpin G-30-S. Pidato Subekti di depan sidang pengadilan pada 1972 tampaknya mencerminkan pendapatnya yang jujur tentang G-30-S. Ia mengulangi banyak pendapat yang sama ketika ia menulis sebuah dokumen rahasia pada 1986 untuk sekelompok kecil anggota partai yang setia dan masih hidup, termasuk mantan anggota Politbiro, Jusuf Ajitorop.26 Halaman pertama naskah tulis tangan ini menyatakan bahwa dokumen ini tidak diedarkan untuk umum dan ditulis semata-mata untuk “dokumentasi partai.”

Subekti memutuskan menuliskan analisis tentang G-30-S segera setelah ketiga pimpinan Biro Chusus (Sjam, Pono, dan Bono) dieksekusi pada September 1986.27 Menyadari ketiga orang ini (teman-temannya sesama penghuni penjara Cipinang) telah membawa rahasia mereka masing-masing ke liang kubur dan sedikit saja pimpinan PKI lainnya yang masih hidup, Subekti merasa harus mencatat semua ingatan dan pendapatnya sendiri. Untuk pembaca terbatas dari kalangan loyalis partai Subekti menegaskan pokok pikiran yang sudah ia kemukakan tahun- tahun sebelumnya di hadapan publik: G-30-S bukan buatan atau ciptaan PKI … Maka seandainya ia merupakan gerakan dari PKI, atau gerakan yang “didalangi” PKI, semestinya ia dibicarakan dan diputuskan oleh badan pimpinan partai yang tertinggi yaitu Comite Central. …Tetapi hal ini tidak pernah dibicarakan, apalagi diputuskan di dalam dan oleh Comite Central yang anggotanya berjumlah 85 orang itu. …Bahkan ada anggota Politbiro atau calon anggota Politbiro yang tidak mengetahui sama sekali. Manakala ada anggota-anggota CC atau PB [Politbiro] yang tersangkut dalam gerakan ini, maka mayoritas dari mereka hanya merupakan pelaksana saja, bukan pemikir yang ikut memutuskan, mem- bicarakan atau merencanakan gerakan ini.28 Pendapat Subekti tentang kebersalahan PKI sebagai sebuah lembaga cukup sahih. Soal yang dipertanyakan ialah mengapa Aidit dan pimpinan tertentu lainnya menjadi “tersangkut” dalam G-30-S. Walaupun Subekti dan Sudisman secara implisit mengesankan di hadapan publik bahwa dalam hal G-30-S Aidit membuat kebijakannya sendiri, tak satu pun dari mereka terbuka tentang bagaimana persisnya sifat keterlibatan Aidit. Subekti jauh lebih terus terang tentang hal ini dalam dokumen rahasianya tahun 1986. Ia mempersalahkan Aidit dan para pimpinan partai lainnya jauh lebih mendalam dalam hal merancang G-30-S. Versi Subekti mengenai kejadian-kejadian tersebut patut diperhatikan dengan cermat karena ia, dibanding dengan tokoh-tokoh lainnya, dalam posisi lebih mengetahui gerak-gerik Aidit selama Agustus dan September. Sebagai panitera Politbiro, ia juga berperanan sebagai semacam sekretaris pribadi Aidit. Dalam uraian rahasianya Subekti menyatakan bahwa Aidit bertemu Sjam dalam Agustus 1965 untuk membahas kemungkinan melancarkan aksi militer melawan Dewan Jenderal. Aidit masih mempelajari pilihan-pilihannya pada saat itu. Sjam meyakinkan Aidit bahwa ia dapat mengerahkan para simpatisan partai di dalam tubuh militer untuk pe- laksanaan aksi itu. Kemudian Aidit melakukan pendekatan terhadap Politbiro. Dengan bayangan aksi militer itu akan dilaksanakan oleh para perwira militer sendiri, terlepas dari partai, Politbiro sepakat pada sebuah sidang di Agustus untuk memberikan “dukungan politis.” Aidit lalu membentuk satu tim khusus pilihan dari anggota-anggota Politbiro untuk membahas dengan cara-cara apa partai akan mendukung para perwira itu. Subekti tahu tentang tim ini karena ia sendiri termasuk di dalamnya. Ia mengikuti diskusi-diskusi tim “tidak sebagai peserta pe- nyumbang pikiran atau pendapat, tetapi sebagai tukang catat keputusan- keputusan yang diambil oleh kolektif tersebut di atas.”29 Para anggota tim ialah, menurut ingatan Subekti, Aidit, Sudisman, Oloan Hutapea, Lukman, dan Rewang. Tim ini kerap bertemu dari akhir Agustus sampai akhir September dengan tiga anggota inti Biro Chusus, Sjam,

Pono, dan Bono. Dengan demikian Aidit tidak melibatkan Politbiro beserta seluruh Dewan Hariannya dalam proses pengambilan keputusan. Beberapa anggota badanbadan ini dibiarkan dalam kegelapan. Khususnya Njoto disisihkan dari lingkaran ini. Subekti mencatat, “Dalam semua diskusi ini kawan Mansur (Njoto) oleh DN Aidit dengan sadar tidak diikutser- takan karena pertimbangan ideologis. Bagi Nyoto tidak dipercaya karna berdasarkan pengalaman lebih dianggap Sukarnois daripada Komunis.”30 Oey Hay Djoen (yang dekat dengan Njoto) menyampaikan kepada saya bahwa Aidit hanya bersandar pada orang-orang kepercayaannya saja dalam minggu-minggu sebelum kejadian.31 Masuk akal untuk berasumsi bahwa Subekti benar sehubungan dengan klaim tentang adanya tim khusus pilihan Aidit untuk membahas G-30-S. Sebagai operasi terselubung yang menuntut kerahasiaan, G-30-S tidak mungkin bisa diketahui banyak orang. Menjadi jelas juga jika anggota CC-PKI, yang terdiri dari sekitar delapan puluh lima orang, tidak diberi tahu tentang G-30-S secara rinci dan tidak dibolehkan mem- perbincangkannya. Karena jika ini terjadi sama saja dengan membuat pernyataan publik, mengingat bahwa Angkatan Darat mempunyai matamata di dalam partai. Adanya Sakirman di dalam Politbiro akan merupakan kendala bagi Aidit untuk mendiskusikan rencana G-30-S secara rinci dalam forum itu. Salah satu sasaran penting G-30-S ialah adik Sakirman, Jenderal Parman, kepala intelijen Angkatan Darat. Parman sendiri suatu ketika mengatakan kepada seorang perwira militer Amerika Serikat pada pertengahan 1965 bahwa ia sudah menyusupi sepenuhnya tubuh PKI dan dapat mengetahui setiap keputusan yang diambil dalam sidang-sidang terpenting mereka dalam hitungan jam. Parman juga me- ngatakan bahwa PKI sudah mengetahui ada penyusupan di dalam partai dan membentuk suatu kelompok inti kecil untuk membahas masalah- masalah yang sensitif.32 Subekti mencatat bahwa salah satu tema diskusi dalam tim khusus tersebut adalah usul Aidit tentang dewan revolusi, “D.N. Aidit telah mengkonsepkan daftar orangorang anggota Dewan Revolusi. Konsep ini telah diterima oleh badan kolektif seperti tersebut di atas tadi.”33 Ide di balik daftar nama-nama ini ialah gerakan ini harus tampil sebagai aksi militer murni, “Sejak semula, selagi masih dalam tingkat-tingkat pertama dalam pembicaraan antara D.N. Aidit dan Kamaruzaman [Sjam], telah diputuskan bahwa gerakan itu harus merupakan gerakan militer, tidak boleh terlihat sebagai gerakan dari PKI.”34 Karena itu orang-orang yang dipilih sebagai anggota Dewan Revolusi Indonesia ialah tokoh-tokoh politik yang mewakili lintas aliran ideologi yang luas. Gerakan ini tidak dimaksudkan sebagai suatu aksi yang akan sertamerta membawa PKI masuk ke istana. Gerakan ini hanya bertujuan untuk membersihkan jenderal-jenderal Angkatan Darat yang antikomunis, sehingga dengan begitu dapat menciptakan suasana politik yang memungkinkan PKI berkembang meluas. Subekti menekankan bahwa tim khusus anggota Dewan Harian Politbiro tidak pernah mendiskusikan gagasan untuk mendemisionerkan kabinet Sukarno. Ia mempersalahkan Aidit yang, pada detik terakhir, menyisipkan gagasan tersebut dalam pengumuman radio 1 Oktober. Tapi Subekti tidak menjelaskan mengapa atau bagaimana Aidit melakukan hal tersebut. Dewan Revolusi, sebagaimana yang dirumuskan oleh tim khusus, dimaksudkan untuk menekan pemerintah Sukarno agar bergeser lebih ke kiri, tidak untuk mengganti menteri-menteri kabinet yang ada. Tim khusus itu, dalam penilaian Subekti, tidak berfungsi sebagai pengendali kebebasan Aidit untuk bergerak. Ia melukisan Aidit sebagai seorang pemimpin yang

memprakarsai gagasan tentang aksi militer untuk mendahului rencana Dewan Jenderal. Tim khusus tampak lebih sebagai panel gaung bagi Aidit, ketimbang sebagai badan terpadu yang membuat keputusan-keputusan laiknya sebuah kolektif. Karena Biro Chusus sepenuhnya berada di bawah pimpinannya, Aidit dalam posisi untuk melakukan kontrol secara eksklusif terhadap gerakan yang diren- canakan. Subekti menulis bahwa Sjam “didudukkan oleh Aidit sebagai pemimpin utama dalam komando gerakan.”35 Perhatikan bahwa Subekti tidak mengklaim bahwa tim khusus mengangkat Sjam sebagai pemimpin. Subekti mengklaim bahwa Aidit sendirilah yang menunjuk Sjam. Bahkan jika anggota-anggota tim khusus terlibat dalam perencanaan aksi pada minggu-minggu menjelang 1 Oktober, tampaknya mereka tidak menetapkan peranan apa pun bagi diri mereka dalam melaksanakannya. Setidak-tidaknya ada dua orang anggota tim yang tidak aktif pada 1 Oktober: Lukman sedang keliling Jawa Tengah, dan Sudisman bersembu- nyi di sebuah rumah di Jakarta, memantau siaran-siaran radio (menurut Hasan, yang bersama Sudisman pada hari itu). Dalam pledoinya di depan sidang Subekti mengatakan bahwa ia hanya mengikuti perintah ketika menemani Aidit di pangkalan udara AURI di Halim, “Saya diharuskan membantu Aidit dan melakukan pengetikan itu atas perintah Aidit ‘in person,’ bukan sebagai putusan Politbiro ataupun sebagai tugas yang ditetapkan oleh Sekretariat CC.” Aidit memandang Subekti sebagai seorang pengikut setia yang tidak banyak bertanya, “Tenaga-tenaga pembantu Aidit sesungguhnya sudah cukup dengan Bono dan Kusno, Aidit meminta saya lagi dan bukan orang lain, menurut dugaan saya karena ia mempunyai “affection” tertentu atau suka dengan saya yang ia kenal sebagai kawan sejak waktu pra-Proklamasi 17 Agustus 1945 di Menteng 31, dan yang suka bekerja serta tidak rewel.”36 Bagi Subekti tim khusus para anggota Politbiro bukanlah otak G-30-S. Tim ini lebih merupakan suatu badan musyawarah bagi Aidit dan Sjam saat mereka merencanakan G-30-S bersama para perwira militer tertentu. Uraian Iskandar Subekti yang bersifat rahasia ini merupakan bukti kuat bagi klaim bahwa peranan Aidit dan Sjam dalam G-30-S lebih besar dibandingkan peranan para perwira militer. Subekti, beda dengan Supardjo, berada dalam posisi mengetahui dinamika internal pimpinan PKI. Supardjo hanya mengatakan bahwa “partai” lebih dominan. Subekti lebih persis dalam menunjukkan siapa di dalam partai yang bertanggung jawab. Menulis untuk pembaca kalangan dalam partai pada 1986, ia tidak berada di bawah tekanan apa pun untuk tidak jujur. Ia ingin berterus terang demi proses perbaikan diri partai sendiri. Namun, pemandangan Subekti terbatas. Dia tidak mungkin hadir dalam rapat-rapat antara Sjam dan para perwira, sehingga dia tidak mungkin mengetahui sifat saling hubungan mereka. Kendati demikian, dari diskusidiskusi tim khusus saja. ia rupanya dapat menduga bahwa Aidit dan Sjam telah memprakarsai aksi dan mulai memperoleh kerja sama dari para perwira militer yang simpati kepada PKI. Subekti, seperti empat pimpinan PKI lainnya dalam tim khusus, tentu menyadari bahwa para perwira militer di dalam G-30-S itu tidak bebas sepenuhnya dari partai. Mereka adalah koneksi-koneksi Sjam. Boleh jadi Subekti melebih-lebihkan peranan Aidit dan Sjam karena ia menyimpan kegeraman hebat terhadap kedua tokoh itu. Nada berang dalam alineaalinea tertentu dari analisisnya pada 1986 (hujatannya terhadap hampir semua mantan pimpinan PKI lainnya sebagai pengecut, borjuis kecil, dan tak berprinsip) tampak sebagai akibat dari frustrasi dan kekecewaannya yang mendalam saat menyaksikan kehancuran partai.37

Orang bisa saja mengatakan Aidit dan Sjam menjadi kambing hitam baginya. Namun, alasan-alasannya untuk menyalahkan Aidit dan Sjam boleh jadi cukup berdasar. Pimpinan partai yang lain, seperti Sudisman, juga menuding dua tokoh itu sebagai yang bertanggung jawab. Pertimbangkan pernyataan Sudisman, seperti yang sebelumnya sudah dikutip, “Walaupun saya tidak ikut membuat Dekrit, tidak ikut menyusun komposisi Dewan Revolusi, tidak berada di Halim, Lubang Buaya atau Pondok Gede baik di sekitar maupun pada saat dicetuskannya G-30-S, tapi karena semua perbuatan itu adalah perbuatan oknum- oknum anggauta PKI, maka saya ambil oper tanggung-jawabnya.” Klaim Sudisman tentang ketidaktahuannya hendaknya diartikan bahwa ia tidak mengetahui beberapa rincian tentang G-30-S. Ia mengakui bahwa ia terlibat. Tapi cara Sudisman mengambil alih tanggung jawab moral atas G-30-S memperlihatkan bahwa ia yakin Aidit telah bertindak sendiri. Tentang hal ini Sudisman mengurainya lebih lanjut di dalam dokumen “otokritik” Politbiro (disiarkan pada September 1966) dan dalam pledoinya di depan sidang Mahmilub. Ia merasa bertanggung jawab sebagai seorang pimpinan partai yang terlalu banyak memberi jalan simpang bagi Aidit untuk bertindak sendiri. Menurut Sudisman prinsip “centralisme demokrasi” partai telah menjadi lebih condong ke sentralismenya ketimbang demokrasinya. Pimpinan PKI sudah menyerahkan kekuasaan terlalu banyak kepada Aidit. Pesan yang tersirat di balik argumen Sudisman ialah bahwa Aidit telah menetapkan kebijakan partai mengenai G-30-S dan Politbiro memberi lampu hijau kepadanya untuk jalan terus. Karena Sudisman percaya bahwa “centralisme demokrasi” merupakan bentuk organisasi ideal di mana “dipadukan pertanggungan- jawab kolektif dengan pertanggungan-jawab perseorangan” ia merasa tanggung jawab dirinya akan kebijakan partai sebanding dengan tanggung jawab Aidit. Jika Aidit berbuat salah, itu karena pimpinan lain telah membiarkan dia berbuat salah. Avonturisme Aidit, meminjam kata-kata Sudisman, mencerminkan adanya masalah yang serius di dalam partai karena Aidit tidak bisa ditunjuk sebagai satu-satunya orang yang memikul seluruh beban kesalahan. Sudisman merasa dia sendiri dan pimpinan PKI yang lain telah membiarkan prinsip “centralisme demokrasi” mengalami kemerosotan. Pada saat persidangan Sudisman pada 1967 pimpinan PKI yang masih hidup di penjara memperdebatkan masalah tanggung jawab ini dengan sengit. Militer mengumpulkan sekitar tujuh puluh lima tapol, baik pimpinan PKI maupun perwira militer, di suatu tempat, yaitu di Rumah Tahanan Militer (RTM) di tengah kota Jakarta, sehingga mereka bisa diajukan sebagai saksi untuk persidangan Sudisman. Begitu berkumpul di satu gedung, mereka mempunyai banyak kesempatan untuk berdiskusi di antara mereka tentang proses pengambilan keputusan di dalam partai dan memahami siapa yang harus dipersalahkan terkait dengan kekalahan mereka. Salah seorang di antara para tapol itu ialah Tan Swie Ling, yang ditangkap bersama Sudisman pada Desember 1966. Ia memberi tempat perlindungan bagi Sudisman di rumahnya. Tan mengenang bahwa pendapat umum di kalangan pimpinan PKI yang ditahan di RTM adalah Aidit sebagai individu harus disalahkan, “Jadi disitu saya berkesempatan untuk ketemu dengan orang-orang ini, dan sejauh yang saya dengar dari mereka itu semua rasa kecewa, rasa marah, dan karena itu yang muncul cuma caci maki. Caci maki tentu jatuh kepada

D.N. Aidit. Caci maki tentang kesalahannya dan lain sebagainya, umpama semua adalah kesalahannya D.N. Aidit. Saya tidak pernah mendengar keterangan yang sedikit masuk akal … Saya ketemu sama seorang kader yang saya hormati, dan juga dia dihormati oleh banyak orang, itu namanya pak Joko Soejono. Ini orang bekas kader buruh, dia juga orang CC. Saya pernah tanya sama dia, sebetulnya kenapa terjadi peristiwa G-30-S? Dia cuma jawabnya, ‘karena Centralisme Demokrasi itu berat sebelah, yang jalan cuma centralismenya saja, demokrasinya tidak ada.’ Sudisman mengakui, menurut ingatan Tan, Aidit terlalu banyak memperoleh kekuasaan di dalam partai, tapi Sudisman menyalahkan pimpinan partai lainnya karena mereka tidak cukup kompeten melawan Aidit, “Kalau Sudisman dia memberi keterangannya begini, ‘Kalau kawan- kawan merasakan sentralisme terlalu kuat, dan demokrasi tidak berjalan, itu letak persoalannya sebetulnya bukan karena Aidit itu diktator,’ ini menurut Sudisman ya, ‘tetapi karena kemampuan teori antara Aidit dengan yang lain-lain tidak setara. Jadi kesenjangannya terlalu jauh, sehingga setiap kali ada diskusi, setiap kali terjadi adu argumentasi, selalu Aidit berhasil.’”38 Walaupun Sudisman percaya bahwa Aidit berpengaruh besar di dalam PKI karena ia begitu pandai, masih mungkin melihat alasan-alasan lain. Fakta yang sederhana adalah partai tumbuh di bawah pimpinan Aidit. Banyak anggota Politbiro dan Comite Central bersedia tunduk kepada Aidit karena ia tampaknya memiliki rumus untuk kesuksesan. Apa pun persisnya alasan tentang kedominanan Aidit, para pimpinan PKI yang masih hidup menganggapnya sebagai penyebab kehancuran partai. Menjelang akhir September 1965 kepemimpinan partai menjadi mirip dengan hierarki militer, dengan Aidit sebagai panglima tertinggi, memberikan perintah-perintah bahkan kepada anggota-anggota senior Politbiro. (Seperti dicatat Sudisman, bahkan ia sendiri menerima “perintah-perintah” dari Aidit.) Aidit, sebagai sosok penghubung utama antara Biro Chusus dan pimpinan partai yang legal, berada dalam posisi yang unik dan kuat. Para pimpinan partai yang lain harus mengikuti penilaiannya dalam hal aksi militer. Ketika aksi ini gagal, mereka percaya aksi itu gagal karena Aidit telah bekerja seorang diri, di luar kontrol lembaga-lembaga partai yang lain, dan mengorganisir G-30-S dengan bantuan Biro Chusus, sebuah sayap partai yang sepenuhnya berada di bawah kepemimpinannya. KEUNTUNGAN MENDAHULUI Jika benar Aidit adalah penggerak utama G-30-S, lalu apakah alasannya? Baik Iskandar Subekti maupun Sudisman berpendapat bahwa G-30-S dimaksudkan sebagai tindakan secara militer untuk mendahului rencana kudeta Dewan Jenderal. Banyak politisi di Jakarta pada 1965, termasuk Sukarno sendiri, mengkhawatirkan bahwa jenderal-jenderal tertentu Angkatan Darat sedang berkomplot dengan kekuatan Barat untuk meng- gulingkan Sukarno. Kemungkinan besar Aidit mempercayai adanya Dewan Jenderal dan bahwa dewan ini merupakan ancaman langsung bagi Presiden Sukarno dan juga PKI. Baik Sudisman maupun Subekti membenarkan bahwa mereka yakin dalam Agustus dan September 1965 tentang adanya rencana kup oleh pimpinan tertinggi Angkatan Darat. Pertanyaan yang menimbulkan teka-teki ialah mengapa Aidit percaya tindakan mendahului secara militer itu merupakan pilihan paling baik untuk menjawab ancaman tersebut? Apakah ia tidak mempercayai Presiden Sukarno untuk menangani jenderal-jenderal itu sendiri? Apakah Aidit tidak percaya kepada kemampuan PKI dalam menghadapi serangan militer? Sudah sejak akhir 1940-an

partai hampir selalu mengalami serangan: penindasan pascaperistiwa Madiun 1948, penangkapan missal di Jakarta pada Agustus 1951, pelarangan partai di tiga daerah pada 1960 (“Tiga Selatan”: Sumatra Selatan, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan). Namun demikian partai berhasil selamat dan tumbuh di tengah-tengah kemundurankemunduran itu. Mengapa Aidit tidak menunggu sampai jenderal-jenderal itu sendiri bergerak, dan kemudian memimpin massa PKI bangkit berlawan? Jika para perwira sayap kiri pro-Sukarno sedang menyusun rencana menentang jenderal-jenderal sayap kanan, mengapa Aidit tidak membiarkan saja mereka berjalan dengan rencana mereka? Mengapa ia merasa dirinya dan beberapa anggota partai lainnya harus memainkan peranan? Aidit, seperti ditegaskan Sudisman, mempunyai reputasi sebagai ahli siasat yang berkepala dingin, dan tentunya sudah memperhitungkan untung-rugi pilihan yang diambilnya.39 Satu pilihan ialah memberi kesempatan Sukarno menangani sendiri masalah dengan jenderal-jenderal sayap kanan tersebut. Sukarno bisa saja memecat Yani sebagai panglima Angkatan Darat dan menggantikannya dengan jenderal yang lebih berhaluan kiri, seperti Pranoto atau Rukman, dan selanjutnya mendesak panglima baru agar menyusun ulang stafnya. Sukarno mungkin bermaksud menemui Yani pada 1 Oktober di istana, dan mengujinya lagi (seperti dalam Mei 1965) tentang desas-desus mengenai Dewan Jenderal, dan memberitahunya bahwa ia akan diganti.40 Analis politik Rex Mortimer, dalam tulisannya pada pertengahan 1970-an, mengira Aidit akan lebih menyukai pendekatan secara administratif seperti itu karena PKI telah menjadi sangat bergantung pada naungan Sukarno. Bersandar pada Sukarno dalam menghadapi jenderal-jenderal tersebut akan lebih aman dan gampang ketimbang mengorganisasi serangan rahasia, “Bagi Sukarno merupakan masalah yang boleh dibilang sederhana untuk melumpuhkan Angkatan Darat dengan menempatkan para pimpinannya dalam pengawasan ketat, menyampaikan kepada seluruh bangsa tentang dasar tindak-annya dengan gayanya yang tak tertandingi itu, dan mengulurulur penyelesai-an masalah sementara ia mereorganisasi tatanan angkatan [sehingga menjadi] lebih sesuai dengan seleranya.”41 Mortimer beranggapan Sukarno mempunyai kekuasaan mutlak atas Angkatan Darat, sehingga perintah dari Sukarno kepada polisi militer untuk menahan jenderal-jenderal yang dicurigai meren- canakan kup, atau perintah untuk memecat Yani, akan menyelesaikan masalah. Tidak demikian kenyataannya. Kendali Sukarno atas militer tidak mantap. Para pendukungnya yang fanatik di dalam Angkatan Darat tidak cukup banyak atau tidak ditempatkan secara strategis untuk menjamin setiap perintahnya akan dilaksanakan. Bagaimana jika Yani memutuskan untuk membangkang perintah Sukarno (seperti yang dilakukan Suharto pada 1 Oktober)? Akankah Sukarno bisa memaksa Yani untuk mundur tanpa risiko pertempuran berdarah antara berbagai satuan-satuan militer (hal yang pada 1 Oktober ingin dihindari Sukarno dengan segala daya)? Mungkin Aidit mempunyai alasan-alasan yang tepat untuk menolak strategi yang bersandar pada Sukarno. Mungkin ia takut bahwa gerakan untuk menahan atau mengangkat panglima Angkatan Darat hanya akan memprovokasi jenderal-jenderal untuk melancarkan kup atau bahwa Sukarno tidak akan mempunyai kekukuhan menghadapi bentrokan dengan pimpinan tertinggi Angkatan Darat. Pilihan lain ialah bersandar pada kekuatan pendukung partai, yaitu dua puluh tujuh juta orang yang digemakan Aidit dalam pidato- pidatonya. Jika dikerahkan di jalanjalan secara besar-besaran, mereka akan menghadirkan tantangan hebat bagi jenderal-

jenderal Angkatan Darat. Mantan wartawan Joesoef Isak teringat, ia pernah diberi tahu beberapa anggota Comite Central pada Agustus dan September bahwa suatu aksi massa menentang “kapitalis birokrat” dan “kaum kontra-re- volusioner” akan segera terjadi. Isak ketika itu ketua PWAA (Persatuan Wartawan Asia-Afrika), organisasi yang tumbuh dari Konferensi Asia Afrika yang terkenal dan diselenggarakan di Bandung pada 1955. Kantor PWAA di tengah kota Jakarta menerima lima wartawan dari negara- negara Asia dan lima lainnya dari negara-negara Afrika.42 Isak secara rutin memberikan informasi singkat kepada sepuluh orang wartawan ini, yang disebut sebagai “sekretaris-sekretaris luar negeri” itu, tentang per- kembangan politik di Indonesia. Informasi yang disampaikannya berasal dari laporan-laporan rahasia yang diterimanya dari Comite Central PKI. Isak bukan anggota penuh PKI, tapi ia dipercaya sebagai simpatisan yang teguh. Ia menjadi saluran informasi partai untuk para sekretaris luar negeri, yang kebanyakan adalah anggota partai-partai komunis di negeri mereka masing-masing. Seorang anggota Comite Central, Nursuhud, selalu memberi informasi kepada Isak tentang posisi partai dari waktu ke waktu.43 Dengan demikian ia menjadi tempat berbagi rahasia tentang informasi-informasi yang sensitif. Menurut ingatan Isak suasana politik pada pertengahan 1965 “memang revolusioner.” PKI merasa yakin bahwa ia sedang memenangi persaingannya dengan militer, bahwa situasi bergeser bagi kebaikan partai. Pimpinan partai merasa telah mencapai suatu tahap di mana mereka bias melancarkan pukulan pamungkas terhadap pimpinan tertinggi Angkatan Darat. Sudisman pun, dalam analisisnya, mencatat bahwa pimpinan partai melihat “situasi politik pada waktu itu sebagai situasi politik revolu- sioner,” ketika aksi-aksi “massa rakyat banyak” semakin ikut menentukan kebijakan pemerintah.44 Selama dua bulan menjelang peristiwa, Isak mendengar bahwa suatu aksi penting segera akan terjadi: Saya diberi tahu, bahwa sebentar lagi seluruh situasi akan berubah. Saya mengerti itu artinya akan terjadi suatu gerakan hebat. Akan ada pukulan terakhir. Saya tetap mengganggu partai [maksudnya pemberi informasi, Nursuhud], dengan menanyakannya, “Kapan? Kamu bilang sebentar lagi.” Baiklah, satu minggu sudah liwat, satu bulan, masih tidak terjadi apa- apa. Saya tetap mencari-cari partai, menanyakan kapan. Para sekretaris luar negeri [PWAA] terus-menerus bertanya pada saya kapan akan terjadi. Partai mengatakan pada saya, “Kita akan melancarkan aksi- aksi revolusioner sepenuhnya sampai mencapai puncak. Kita akan menghabisi kaum kapitalis birokrat dan kaum kontra- revolusioner.” Saya bertanya, “Bagaimana cara kamu akan melakukannya?” “Turun ke jalan-jalan,” begitulah cerita yang disampaikan pada saya. “Turun ke jalan-jalan. Kita akan pergi langsung masuk ke kantor-kantor para menteri, para dirjen de- partemen-departemen pemerintah, dan menangkap mereka. Kita akan mengambil Wakil Perdana Menteri III Sukarno, Chairul Saleh, dan melemparnya ke kali Ciliwung.”45 Seperti setiap orang lain di Jakarta yang sadar politik, Isak tahu bahwa musuh utama PKI ialah pimpinan Angkatan Darat. Apa pun bentuk “pukulan terakhir” itu, sasarannya ialah pimpinan tertinggi Angkatan Darat. Informasi dari Nursuhud

mengatakan bahwa tindakan partai akan melibatkan demonstrasi-demonstrasi massa. Isak tidak mem- bayangkan akan adanya operasi rahasia militer. Kalaupun Aidit memang mempertimbangkan pilihan untuk pengerahan demonstrasi besar-besaran ini, pada akhirnya ia memutuskan untuk tidak menyetujuinya. Ia tentu menyadari bahwa PKI, betapapun telah tumbuh menjadi besar dan berpengaruh, tetap merupakan organisasi tak bersenjata yang tidak bisa berharap untuk menang dalam menghadapi senapan mesin dan tank. Jika jenderal-jenderal sayap kanan melancarkan serangan besar-besaran terhadap PKI, mereka bisa menimbulkan kehan- curan hebat bagi partai yang barangkali memerlukan waktu satu generasi untuk kembali pulih. Mengorganisasi massa partai untuk menantang langsung pimpinan tertinggi Angkatan Darat barangkali bisa dianggap ibarat menggiring domba-domba ke medan penjagalan. Ilmuwan politik Daniel Lev mencatat pada awal 1966 bahwa PKI tidak bisa bersaing dengan Angkatan Darat di bidang kekuatan fisik, “Pada tataran politik yang fundamental PKI tidak memiliki kekuatan fisik untuk menghadapi Angkatan Darat, yang pada saat penyelesaian terakhir dalam bentuk apa pun persenjataannya disiapkan untuk mengatasi kekurangannya dalam kelihaian berpolitik.”46 Barangkali kemungkinan akan berulangnya represi antikomunis itu sendiri pada 1965 tidak membuat Aidit takut. Hal yang menimbulkan kecemasan ialah kemungkinan Sukarno digulingkan. Betapapun sulit bagi Sukarno untuk mengendalikan Angkatan Darat, ia telah melakukan langkah-langkah tertentu untuk melindungi partai sejak akhir 1950-an. Apabila Sukarno tidak lagi memegang kendali pemerintahan, PKI harus menghadapi Angkatan Darat sendirian. Dengan tidak adanya kekuatan pengendali apa pun dari atas, represi bisa menjadi lebih buruk dari waktu-waktu sebelumnya. Jenderal-jenderal sayap kanan akan sanggup memecat semua pejabat tingkat tinggi yang pro-Sukarno dan pro-PKI di pemerintahan sipil dan militer sehingga seluruh kekuatan negara berbalik menentang partai. Kup oleh Dewan Jenderal pada 1965 menjadi pertanda timbulnya kontrarevolusi sepenuh-penuhnya, yang berarti penjungkir- balikan pengaruh Sukarnois dan komunis di dalam negara. Rupanya pilihan yang lebih disukai Aidit ialah tindakan yang menggunakan perwira militer progresif untuk menyerang jenderal-jenderal sayap kanan. Keuntungannya adalah rencana ini tidak akan membahayakan jiwa massa partai yang tak bersenjata. PKI sudah membangun kontak dengan kalangan militer yang menentang Dewan Jenderal. Mengapa tidak menggunakan mereka? Sekali komando Angkatan Darat di tangan para perwira yang simpati kepada PKI, massa dapat dikerahkan untuk berdemonstrasi tanpa khawatir terhadap tindakan pembalasan yang berdarah. Sukarno dengan tenang bisa terus melangkah dengan menyusun ulang panglima-panglima Angkatan Darat. Jika Dewan Jenderal bergerak terlebih dahulu dan merebut kekuasaan atas komando Angkatan Darat, para perwira progresif itu akan terlepas dari partai. Beberapa akan dipindah dari posisi-posisi komando yang penting. Sedangkan yang lain, demi mempertahankan karier mereka, akan memutuskan hubungan mereka dengan Biro Chusus dan mengikuti rantai komando yang baru. Akan menjadi hampir tidak mungkin bagi partai untuk menggunakan mereka lagi dalam suatu aksi yang penting. Tentunya terasa tidak masuk akal bagi Aidit jika partai mempunyai modal demikian penting di kalangan militer dan tidak menggunakannya dengan produktif. Walaupun keputusan Aidit memilih tindakan mendahului di kemudian hari dikritik

sebagai avonturisme oleh pimpinan partai lainnya, keputusan itu masuk akal, setidaktidaknya secara prinsip. Kubu lawan, korps perwira Angkatan Darat, terpecah belah. Masuk akal jika keadaan demikian dimanfaatkan, terutama apabila serangan langsung (oleh kaum sipil terhadap militer) hanya akan memaksa sekutu-sekutu di dalam kubu lawan merapatkan barisan melawan partai. Aidit harus mempertimbangkan, apakah pilihan yang secara teori tampak menarik itu, memang dengan mudah bisa dilaksanakan dalam praktik. Ia harus memastikan apakah para perwira progresif itu cukup kuat untuk melaksanakan aksi melawan jenderaljenderal sayap kanan. Untuk ini Aidit harus bertumpu pada Sjam. Aidit tentunya sudah menerima peneguhan dari Sjam bahwa para perwira yang berada dalam posisiposisi baik itu mempunyai cukup pasukan dalam komando masing- masing untuk melaksanakan aksi. Aidit mungkin sudah mendengar dari berbagai sumber bahwa para perwira muda dan prajurit sangat marah terhadap kesenjangan ekonomi yang dalam antara mereka dan para jenderal. Ia mungkin sudah mendengar tentang banyaknya ketidakpu- asan di kalangan Angkatan Darat akan perlawanan para jenderal terhadap kebijakan-kebijakan Sukarno. Pasukan-pasukan itu tampaknya telah siap memberontak. Sebagai pimpinan sipil terkemuka, Aidit barangkali tidak mempunyai waktu dan kemampuan untuk mengontak sendiri perwira-perwira tersebut dan memeriksa lagi hasil penilaian Sjam. Dalam kesaksiannya di sidang pengadilan Sjam mengatakan bahwa ia “mengadakan pemeriksaan organisasi, jaitu dilihat bagaimana kekuatan-kekuatan kita jang ada didalam ABRI, terutama di kalangan Angkatan Darat.”47 Ia menilai kekuatan para perwira yang ia kontak sudah cukup. Walaupun Aidit sama sekali bukan avonturir, ia menempatkan dirinya dalam posisi bertumpu pada seseorang yang avonturir. Bagi Aidit daya tarik lain dari strategi mendahului ialah kesempatan untuk mencuri derap lebih awal dari sekutu-sekutu partainya di dalam kubu Sukarno. Dari tindakan ini PKI akan muncul sebagai juru selamat Sukarno dan seluruh program-programnya. Seperti dikatakan Hasan dalam paragraf yang sudah saya kutip sebelumnya, pimpinan PKI memandang dirinya sebagai pelopor kekuatan Sukarnois (“gerakan rakyat demokratis” di bawah pimpinan Nasakom). Dengan aksi mendahului melawan jenderal-jenderal sayap kanan, Aidit akan membuktikan bahwa PKI benar-benar merupakan komponen terkemuka dalam persatuan Nasakom. Dalam uraiannya Sudisman menyebut, dalam mendukung G-30-S pimpinan partai berpikir “perwiraperwira maju itulah yang akan dapat ‘safe-stellen’ [menyelamatkan] politik kiri Presiden Sukarno.”48 Sukarno yakin bahwa bagaimanapun PKI terlibat dalam G-30-S, tapi ia tidak memandang tindakan partai ini setara dengan pengkhia- natan. Ia tidak menghujat partai karena sudah mengkhianati bangsa. Dalam pernyataan terakhirnya di depan parlemen sebagai presiden pada 1967, ia melukiskan pimpinan PKI sebagai keblinger.49 Pemilihan kata oleh seseorang yang selalu hati-hati dalam memilih katakata ini menarik. Keblinger adalah sepatah kata sifat bahasa Jawa yang digunakan dalam bahasa Indonesia. Artinya pusing, atau dalam keadaan kehilangan pemandangan yang tepat. Sukarno tidak bermaksud menyatakan bahwa Aidit tidak patriotik (tuduhan yang dilempar oleh rezim Suharto), tapi bahwa ia telah kehilangan

kepekaan akan keberimbangan. Tanggapan Aidit terhadap desas-desus tentang Dewan Jenderal terlalu jauh dari yang semestinya. Mungkin saja memaklumi strategi mendahului yang diambil Aidit sebagai akibat dari provokasi jenderal-jenderal sayap kanan. Sekarang kita tahu, berdasarkan dokumendokumen Amerika Serikat yang telah dideklasifikasikan (diulas dalam bab 6), bahwa kelompok Yani tidak mempunyai rencana untuk melancarkan kudeta model lama terhadap Sukarno. Jenderal-jenderal di lingkaran Yani tentu saja ingin mendongkel Sukarno, menimbang sikapnya yang memberi hati kepada PKI, tapi mereka sedang mencari-cari dalih yang tepat. Dalih yang mereka anggap paling baik ialah usaha kup PKI yang gagal. Para jenderal sayap kanan tersebut barangkali dengan sengaja meniupkan api desas-desus pada 1965 untuk memancing PKI agar melakukan semacam aksi militer. Mereka boleh jadi menyebarkan cerita-cerita yang mendorong kalangan politik di Jakarta untuk berpikir bahwa hari-hari Sukarno sebagai presiden bisa dihitung dengan jari. Jika pimpinan PKI percaya bahwa Sukarno tidak bisa lagi memberikan perlindungan bagi mereka dari ancaman militer, barangkali mereka akan tergoda untuk melakukan semacam aksi langsung terhadap militer. Apa pun, kemungkinan bahwa Aidit terprovokasi untuk melakukan aksi mendahului itu tidak membebaskannya dari tuduhan keblinger yang dilontarkan Sukarno. Dalam menanggapi desas-desus tentang Dewan Jenderal, Aidit bisa memilih strategi yang lebih aman. Ia bertanggung jawab untuk memilih strategi yang, kendati secara prinsip dapat diper- tahankan, mengandung cacat fatal. Strategi itu bersandar pada kebijakan Sjam, seorang pembual yang menipu diri sendiri dan apparatchik tak bernalar, dan telah membawa partai ke dalam dunia agen ganda yang sarat bayang-bayang. Partai menjadi tidak lebih dari sosok amatir tingkat rendah yang gampang dikelabui. Strategi itu telah menjauhkan partai dari tengah medan bergeraknya yang paling kuat – dalam politik atas tanah dan terbuka yang melibatkan masyarakat – dan membawanya ke tengah-tengah intrik elite politik dan militer Jakarta. Barangkali Aidit mengira risiko yang berlibat dalam pilihan militer itu kecil saja. Ia dan pimpinan partai lainnya merasa bahwa para panglima sayap kanan Angkatan Darat itu rentan karena begitu banyak perwira yang pro-Sukarno. Oey Hay Djoen melukiskan pendapat umum di kalangan pimpinan partai pada 1965 sebagai berikut, “Angkatan Darat tidak mungkin memukul kami. Mengapa? Karena mereka tidak hanya ditentang oleh Angkatan Laut tapi juga oleh Angkatan Udara. Dan tidak itu saja. Di kalangan Angkatan Darat itu sendiri terjadi perpecahan. Maka itu mereka tidak bisa. Mereka tidak bisa bersatu memukul PKI.”50 Aksi mendahului oleh pasukan Angkatan Darat melawan jenderal-jenderal sayap kanan akan memberi jaminan bahwa militer akan terpecah belah sama sekali dan tidak mampu menyerang partai. Aksi demikian akan mempersatukan para perwira Sukarnois dari semua angkatan dan meng- isolasi komando tertinggi Yani. Bila berhasil menetralisasi militer, partai dapat melangkah lebih lanjut dengan kampanye massal melawan kaum “kontra-revolusi” dan “kapitalis birokrat.” KUP ALJAZAIR SEBAGAI TELADAN Satu amatan terhadap pemikiran strategis Aidit muncul dalam buku karangan Manai Sophiaan, seorang politisi Sukarnois dan mantan duta besar untuk Uni Soviet.51 Sophiaan berpendapat bahwa Aidit, dalam mendukung aksi militer melawan jenderal-

jenderal sayap kanan, diilhami oleh kup militer di Aljazair pada Juni 1965. Sophiaan mendasarkan pendapat itu pada wawancaranya dengan mantan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Karim D.P., yang sempat berbicara dengan Aidit tidak lama sesudah kup Aljazair. Karim D.P. tidak mengumumkan informasi ini karena ia sendiri menjadi tahanan politik selama tahun-tahun rezim Suharto. Bahkan sesudah bebas pun ia dilarang berbicara di depan dan menulis untuk umum. Ia baru mulai menerbitkan tulisan-tulisannya sesudah Suharto jatuh dari kekuasaannya. Dalam sebuah pidatonya di depan umum pada 1999 Karim D.P. mengatakan bahwa Aidit menang- gapi dengan gembira berita tentang kup militer di Aljazair. Arti penting informasi kecil ini memerlukan penjelasan tentang kejadian-kejadian di Aljazair tersebut dan hubungan Indonesia dengannya. Kup di Aljazair terjadi pada 19 Juni 1965, kurang dari sepekan sebelum Konferensi Asia Afrika II yang dijadwalkan dimulai di ibu kota Algiers.52 Sang perebut kekuasaan, Kolonel Boumedienne, menjanjikan akan tetap menyelenggarakan konferensi seperti yang telah direncanakan pendahulunya, Ahmed Ben Bella, yang telah digulingkannya. Sukarno diharapkan menjadi tamu istimewa karena dialah tuan rumah konfe- rensi pertama yang ternama di Bandung pada 1955. Kembali ke Jakarta, masalah kup Aljazair menjadi topik hangat dalam percakapan di kalangan para pejabat pemerintah karena Sukarno harus memutuskan menghadiri atau memboikot konferensi. Jika ia hadir akan berarti mengabsahkan Kolonel Boumedienne, tapi jika ia memboikot akan berarti protes. Apakah Boumedienne seorang boneka CIA, seperti halnya kebanyakan para pelaku kup di Afrika, ataukah ia seorang nasionalis independen yang bisa diterima menurut prinsip-prinsip nonalignment (ketidakbersekutuan) Konferensi Asia Afrika? Para pejabat Sukarno tidak tahu dengan pasti siapa sebenarnya Boumedienne, tapi mereka bersedia membebaskan Boumedienne dari kecurigaan, terutama karena dia tetap berkeinginan menjadi tuan rumah konferensi. Sukarno memutuskan untuk hadir. Baik Aidit (sebagai wakil PKI), maupun Karim D.P. (sebagai wartawan) menjadi anggota delegasi Presiden Sukarno yang mening- galkan Jakarta menuju konferensi pada 23 Juni 1965. Di tengah jalan delegasi mengurungkan kunjungan ke Aljazair karena gedung tempat konferensi di Algiers mendadak dibom. Dengan ditundanya konfe- rensi, sebagian besar delegasi Indonesia terbang ke Paris tempat mereka menghabiskan beberapa hari yang menyenangkan sebelum meneruskan perjalanan kembali ke Jakarta. Untuk memanfaatkan kunjungan di Paris, Sukarno mengadakan pertemuan dengan seluruh duta besar Indonesia di Eropa. Ketika di Paris itulah Karim D.P. berbicara dengan Aidit tentang pemahamannya mengenai kup Aljazair. Aidit baru saja kembali ke hotelnya dari rapat di kantor pusat Partai Komunis Perancis. Ia mengatakan kepada Karim D.P. bahwa ia baru saja bertemu dengan enam orang kawan dari Aljazair, kemungkinan anggota-anggota Partai Komunis Aljazair: Pertama-tama dikatakannya bahwa ia sudah minta kepada enam kameradnya dari Aljazair supaya mereka segera kembali ke negeri mereka, dan memberikan dukungan kepada Bou- medienne. Dalam diskusi yang mereka lakukan, kata Aidit, berdasarkan bahan-bahan yang disampaikan oleh kamerad- kamerad dari Aljazair, karakter coup d’état Boumedienne dapat dikategorikan sebagai coup d’état yang progresif. Oleh karenanya patut didukung oleh rakyat. Jika 30% dari rakyat mendukungnya, maka coup d’état itu bisa diubah sifatnya menjadi revolusi rakyat yang akan

menguntungkan perju- angan rakyat Aljazair. Begitu kata Aidit. Ia menjanjikan akan menjelaskan teorinya ini nanti di tanahair, karena waktu itu ia terburu-buru harus segera berangkat ke lapangan terbang untuk meneruskan perjalanannya ke Moskow. Aidit mengatakan kepada saya bahwa di Indonesia sudah diketahui adanya rencana coup d’état yang akan dilancarkan oleh Dewan Jenderal untuk menggulingkan Presiden Sukarno. Coup d’état yang hendak dilancarkan Dewan Jenderal itu adalah coup d’état yang reaksioner, berbeda dengan yang telah terjadi di Aljazair.53 Mengikuti cerita Karim D.P., kita bisa menduga bahwa Aidit cenderung mendukung gagasan “kudeta progresif.” Ia percaya bahwa, dalam keadaan tertentu, kup militer dapat menciptakan suasana politik yang lebih baik bagi perkembangan Partai Komunis. Jika para perwira militer yang ada di belakang kup berideologi progresif dan terbuka untuk bersekutu dengan gerakan rakyat, mereka bisa diharap akan lebih baik ketimbang suatu pemerintah sipil yang tidak efektif. Untuk memahami posisi Aidit dengan lebih baik, kita harus kembali pada Joesoef Isak, yang pada waktu itu juga bertemu Aidit di Paris. Isak, seperti sudah saya kemukakan di atas, ialah ketua PWAA. Ia mengikuti perkembangan di Aljazair dengan tekun karena PWAA terlibat dalam mempersiapkan konferensi internasional tingkat tinggi yang lama tertunda-tunda itu. Dalam tahun-tahun belakangan itu ia telah mengunjungi banyak negeri Afrika dan mengenal dengan baik peristiwa- peristiwa dan tokoh-tokoh politik di benua ini. Sesudah meninggalkan Jakarta untuk menghadiri konferensi, di perjalanan ia menyadari – seperti anggota delegasi Indonesia lainnya – bahwa konferensi telah ditunda sampai waktu yang tak ditentukan. Ia akhirnya mengisi waktunya di Paris bersama mereka. Isak mengatur pertemuan antara Aidit dengan Jacques Vergès, seorang pengacara dan wartawan Perancis yang sudah ia kenal dalam perjalanan-perjalanannya di Afrika sebelumnya. Pada 1957 Vergès menjadi terkenal karena ia pergi ke Algiers untuk membela kaum nasionalis Aljazair yang dituduh melakukan sebuah pemboman. Ia berhasil mengalihkan perhatian masyarakat dari aksi-aksi perlawanan bangsa Aljazair ke aksi-aksi kriminal pemerintah kolonial Perancis, seperti misalnya siksaan yang dilakukan terhadap para tahanan.54 Vergès menjadi bersimpati kepada perjuangan kaum nasionalis Aljazair, meninggalkan Partai Komunis Perancis (yang tidak mendukung perjuangan itu), dan menautkan dirinya dengan garis Beijing yang, beda dengan garis lunak Moskow, memuji gerakan pembebasan nasional yang berjuang melawan kekuatan imperialis Barat. Ia tinggal di Aljazair sesudah kemerdekaan negeri itu pada 1962, bekerja untuk kementerian luar negeri, dan menjadi editor sebuah jurnal yang diterbitkan oleh organisasi yang memimpin perjuangan antikolonialisme, yaitu FLN (Front de Libération Nationale). Pada 1965 Vergès sudah berada di Paris lagi dan bekerja sebagai editor Révolution, sebuah jurnal yang ia dirikan, agaknya dengan bantuan finansial dari Tiongkok.55 Selama bertemu Aidit, yang dipandang Vergès sebagai negarawan komunis besar, semacam saudara muda Mao Zedong, Vergès mendiskusi- kan arti penting kup Aljazair. Dalam ingatan Isak pemahaman mereka tentang kup ini dibentuk oleh pandangan mereka tentang perpecahan Tiongkok-Soviet. Baik Aidit maupun Vergès menolak prinsip koeksistensi damai Soviet. Walaupun di depan umum Aidit menjaga

sikap netralitas dalam konflik Tiongkok-Soviet, ia dikenal luas lebih cenderung kepada garis Mao.56 Vergès berada di Paris karena ia tidak lagi sejalan dengan FLN di Aljazair dalam masalah Tiongkok-Soviet.57 Presiden Aljazair yang ditumbangkan, Ben Bella, dekat dengan Partai Komunis Aljazair yang bersekutu dengan Soviet. Bagi kaum Maois penggulingan Ben Bella tidak begitu saja berarti kemunduran bagi Aljazair. Sementara negara-negara blok Timur mengutuk kup Boumedienne, Aidit memujinya dalam sebuah pernyataan terbuka pada 22 Juni 1965, hanya tiga hari setelah peristiwa kup, ketika ia masih di Jakarta. Ia mengecam Ben Bella karena “kebijakan kanannya bertentangan dengan aspirasi rakyat Aljazair,” dan memuji sang perebut kekuasaan, “Kita harus berterima kasih kepada Kolonel Bou- medienne.”58 Tiongkok juga menyambut kup itu dan berharap dirinya akan diperlakukan lebih baik oleh Boumedienne ketimbang oleh Ben Bella pada masa sebelumnya.59 Betapapun banyaknya kaum komunis sekutu Tiongkok yang lebih suka kepada Boumedienne, ia tetap merupakan tokoh tak dikenal. Bagi Aidit pengalaman sang kolonel sebagai panglima pasukan gerilya an- tikolonial memberikan kesan bahwa Boumedienne tidak akan menjadi pendukung koeksistensi damai. Aidit berpikir kup itu memberi ke- sempatan bagi kaum komunis berhaluan Beijing untuk meningkatkan kekuasaan mereka atas negara Aljazair. Cerita Isak tentang pernyataan- pernyataan Aidit kepada Vergès layak dikutip agak panjang: Saya antar dia masuk [ke dalam kamar hotel Aidit]. Dia masuk. Saya sebenarnya tahu diri, setelah antar saya mau keluar. Aidit bilang, “Ah! Duduk aja di sini.” Sebabnya saya hadir. Bung bisa bayangkan kan, Aidit wibawanya luar biasa, ketua partai terbesar di luar Eropa Timur, kan? Jadi memang anu pemandangan terhadap dunia tinggi sekali. Jadi si Jacques Vergès bilang, “Kawan ketua, kawan ketua baru pulang dari Aljazair, apa yang kawan ketua sarankan, anjurkan kepada kawan-kawan Aljazair?”60 Dia minta, jadinya, dia meren- dahkan diri, minta kepada Aidit, sebagai ketua PKI yang dia anggap lebih senior dari dia. Aidit menggambarkan begini. “Perhatikan,” matanya merah. Aidit kan biji matanya seakan-akan keluar, dia anu sekali, melotot dia, nggak pernah tidur, seakan-akan merah. “Perhatikan. Ini bukan revolusi. Ini, kalau mau dikatakan revolusi, revolusi dari atas. Ini coup d’état, bukan revolusi. Satu. Kedua, antara Boumedienne dan Ben Bella dua-duanya asal kelas yang sama: kelas bourgeoisie. Akan tapi antara yang dua ini, Boumedienne ini lebih baik. Karena pada saat berlangsung perjuangan bersenjata Ben Bella berada di penjara Paris. Yang memimpin perjuangan bersenjata di Aljazair ini Boumedi- enne. Partai kalian pengkhianat. Jadi Partai Komunis Aljazair memang mengikuti garis Khrushchev, peaceful co-existence, tidak ikut dalam perang gerilya. Yang mengibarkan tinggi panji-panji Marxisme, adalah si nasionalis ini, bourgeoisie ini. Jadi dia lebih baik dari Ben Bella.” “Tetapi, jangan anggap otomatis Aljazair bergerak ke kiri. Karena Boumedienne inilah yang menjalankan Marxisme. Apa yang terjadi di Aljazair hanya jadinya lahirnya satu momentum yang bisa menggerakkan Aljazair lebih ke kiri. Asal ada syaratnya, kawan-kawan menggunakan momentum ini. Saya baru pulang dari Aljazair. Kota indah.” Memang indah. “Kawan Jacques segera pulang. Jangan ada tembok yang bersih. Jangan ada jalan raya tanpa spanduk [dengan slogan]: ‘Dukung coup d’état Boumedienne.’ Begini, istilah- nya: ‘Dukung Boumedienne.’ Jadikan, “Biar rakyat merasakan ini coup d’état mereka. Jadikan coup d’état rakyat. Turun ke

jalan.” Itu intinya yang saya tangkap. … “Jadikan ini milik rakyat.” Dia [Aidit] tidak keberatan gerakan dari atas. Tapi segera jadikan gerakan rakyat.61 Mengikuti cerita Isak, mungkin saja melihat dukungan Aidit terhadap kup Boumedienne sesuai dengan kesetiaan Aidit kepada teori Leninis. Kup itu sendiri bukanlah perkembangan positif bagi kaum kiri Aljazair atau bagi garis Tiongkok dalam gerakan komunis internasional. Tapi ia mempunyai kemungkinan menjadi positif karena Boumedienne lebih progresif ketimbang Ben Bella. Kup itu memberikan kesempatan bagi kaum komunis Aljazair yang tidak menyokong garis koeksistensi damai Uni Soviet, untuk memobilisasi rakyat lebih besar dan memperoleh jalan lebih lapang menuju kekuasaan negara. Pandangan Aidit tentang kup Boumedienne berlawanan dengan pandangan Uni Soviet. Ilmuwan Ruth First, anggota Partai Komunis Afrika Selatan yang pro-Soviet, memahami kup tersebut sebagai suatu cara untuk mencegah Aljazair bergeser lebih jauh ke kiri. Menurutnya Presiden Ben Bella telah berencana menggunakan forum Konferensi Asia Afrika untuk mengumumkan rencananya mengubah partai politik yang dipimpinnya (FLN) menjadi “sebuah partai dengan kesetiaan organik yang kokoh terhadap kaum kiri, termasuk Partai Komunis Aljazair; dengan pengawasan disiplin yang lebih keras; dan pendidikan Marxis bagi para pengurus partai dan kaderkadernya.”62 Dalam mencari basis massa yang kukuh bagi kepresidenannya, Ben Bella ingin mengubah FLN sehingga secara fungsional sama seperti Partai Komunis. Ia juga merencanakan untuk memecat Boumedienne dari kedudukannya sebagai panglima Angkatan Darat. Menurut Ruth First kup itu merupakan “putsch untuk mendahului gerakan Ben Bella.”63 Pemahaman Aidit tentang kup, apakah itu benar atau dengan informasi yang memadai atau tidak, didasarkan pada analisis politik yang praktis dan menyeluruh: ia menilai kup tersebut dengan acuan apakah kup itu akan membawa kekuasaan yang lebih besar bagi pihaknya (gerakan antiimperialis internasional dengan garis Tiongkok). Bagi Aidit kup itu tidak menunjukkan suatu paradigma baru dari segi aksi politik. Barangkali ia setidak-tidaknya sudah mengetahui tentang kup Qasim pada 1958 di Irak. Pendapat Manai Sophiaan bahwa kup Boumedi- enne mengilhami Aidit untuk memprakarsai Gerakan 30 September agaknya kurang tepat. Aidit sudah mengerti bahwa, dalam keadaan tertentu, kup militer bisa merupakan perkembangan positif. Ia tidak membutuhkan contoh Aljazair untuk mengerti hal ini. Satu sisi yang barangkali telah menjadi ilham baginya ialah dalam hal sistem penamaan. Setelah menggulingkan Ben Bella, Boumedienne menciptakan sebuah “Dewan Revolusi” yang terdiri dari dua puluh tiga orang. Istilah itulah yang barangkali menjadi sumber penyebutan “Dewan Revolusi” dalam G-30-S. Pemahaman penting yang timbul dari penyelidikan terhadap pandangan Aidit mengenai kup Aljazair ini dikemukakan oleh Joesoef Isak, “Aidit tidak punya keberatan apa pun terhadap gerakan dari atas, asalkan gerakan itu segera diubah menjadi gerakan rakyat.” Menjadi masuk akal jika kita menduga Aidit memahami bahwa semacam aksi militer di Indonesia bisa menciptakan situasi yang lebih baik bagi per- kembangan PKI pada 1965. Tentu saja tujuan akhirnya bukanlah Negara di bawah pimpinan militer, melainkan negara di bawah pimpinan PKI. Aksi militer bisa menjadi jalan sementara yang berguna untuk mencapai tujuan yang lebih besar.

KONTRADIKSI INTERN POPULISME REVOLUSIONER Gagasan Aidit tentang bagaimana sebuah kup militer dapat ditransfor- masikan menjadi gerakan rakyat bisa membantu menjelaskan arti dekrit G-30-S tentang Dewan Revolusi. Gerakan 30 September dimaksudkan sebagai operasi militer yang dipimpin oleh sebuah program politik re volusioner – program yang tentunya di bawah pengawasan Aidit. Inilah bidang keahlian dia. Kemungkinan besar tujuan semula G30-S bukan untuk mendemisionerkan kabinet Sukarno. Baik Iskandar Subekti maupun Munir membenarkan bahwa Aidit membicarakan gagasan Dewan Revolusi dengan anggota-anggota Politbiro tertentu dalam Agustus dan September 1965. Munir, mantan anggota Politbiro dan ketua federasi serikat buruh yang berafiliasi dengan PKI (SOBSI, Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), dalam pledoinya di depan siding 1973 mengatakan bahwa Aidit pernah memberi penjelasan tentang peranan Dewan Revolusi kepadanya, “Sebelumnya perlu dijelaskan apa yang dikemukakan oleh D.N. Aidit pada saya bahwa ‘Dewan Revolusi’ merupakan organisasi tandingan Dewan Jenderal dan sekaligus berfungsi sebagai pendorong untuk mempercepat proses pembentukan Kabinet Nasakom.”64 Perhatikan, bahwa Dewan tersebut tidak dimaksudkan untuk menggantikan kabinet yang ada, tetapi sebagai katalisator untuk pengubahan komposisinya. Subekti dan Munir berpendapat, Dewan hanya diciptakan sebagai semacam kelompok penekan terhadap peme- rintah pusat. Sudisman mencatat bahwa Dewan Revolusi tidak terdiri dari “tokoh utama Nasakom.”65 Kita bisa berasumsi bahwa seandainya Aidit telah merencanakan bahwa dewan serupa itu akan menggantikan kabinet yang ada dan mengambil semua kekuasaan negara, ia tentu akan memilih tokoh-tokoh yang lebih penting untuk itu. Tampaknya gagasan pendemisioneran kabinet baru timbul pada pagi hari 1 Oktober itu saja, begitu Sukarno menolak memberikan dukungan bagi kelanjutan G-30-S. Teks Dekrit No. 1, yang telah ditulis sebelumnya, boleh jadi diubah pada detik terakhir. Ada sebuah preseden untuk Dewan Revolusi. Dewan-dewan revolusi yang dibentuk oleh kolonel-kolonel pemberontak pada 1957-1958 di Sumatra dan Sulawesi semula menuntut perubahan dalam hal komposisi pemerintah pusat (maksudnya, pemulihan kekuasaan Hatta) dan dalam hal hubungan antara Jakarta dengan provinsi-provinsi. Dewan-dewan ini awalnya tidak menuntut kemerdekaan provinsi-provinsi yang menjadi basis gerakan mereka. Seruan mereka untuk kemerdekaan timbul belakangan (seperti yang akan saya bahas dalam bab 6). Dalam merumuskan Dewan Revolusi Aidit tidak merencanakan untuk segera menetapkan PKI sebagai partai yang berkuasa. Ia ingin meneruskan paradigma Nasakom yang sama, sebagaimana sudah ditetap- kan oleh Sukarno. Begitu kekuatan militer yang mendukung unsur-unsur antikomunis di dalam pemerintahan sudah dibersihkan, paradigma Nasakom akan berjalan lebih lancar untuk unsur “kom,” yang tidak lagi perlu selalu merasa takut akan ditindas. Daftar empat puluh lima orang anggota yang diajukan G-30-S untuk Dewan Revolusi tingkat pusat selalu kelihatan aneh karena memasukkan tokoh-tokoh yang sangat beragam. Tapi daftar itu dimaksudkan untuk mencerminkan spektrum politik lintas penampang yang luas. Tujuan G-30-S adalah sebuah pe- merintahan koalisi di mana PKI akan mempunyai kebebasan bergerak lebih besar, bukan sebuah negara yang dikuasai PKI semata-mata. Strategi PKI sejak Aidit mengambil alih kepemimpinan pada 1951 ialah “front persatuan nasional.” Dalam rumusan Kongres V pada 1954, kongres kunci dalam

sejarah PKI, partai berniat membangun persekutuan antara “kelas buruh, tani, borjuasi kecil dan borjuasi nasional.” Perseku- tuan ini akan melawan kaum imperialis, bagian dari borjuasi yang bekerja sama dengan kaum imperialis dan tuan tanah feodal. Apa pun retorika kaum Marxis-Leninis, program partai, secara tegas bersifat populis: yang diperhitungkan sebagai subjek revolusioner ialah “rakyat Indonesia” secara keseluruhan. Program itu tidak mendorong kepentingan sektarian kaum tani dan buruh saja. Tujuan akhirnya ialah apa yang disebut “demokrasi rakyat,” yang di dalamnya tersedia cukup ruangan untuk “kapitalisme nasional.”66 PKI tidak terlalu berbeda dari partai-partai komunis pasca kolonial lainnya yang mendahulukan nasionalisme di atas sosialisme. Seperti partai-partai lain itu juga, PKI menghadapi tarik-menarik antara retorika revolusionernya dan program populisnya. Sebelum 1965 tarik-menarik ini tidak terlalu mencuat karena program front persatuan partai berjalan dengan sangat baik: keanggotaan meningkat pesat, kepimpinan partai tetap bersatu (bahkan sesudah adanya perpecahan Tiongkok-Soviet), dan Presiden Sukarno menggalakkan kebijakan populis yang serupa. Penekanan pada persatuan nasional dalam menghadapi imperial- isme membuahkan keuntungan tersendiri ketika imperialisme terus membayang di perbatasan-perbatasan negeri (perhatikan kampanye Irian Barat dan konfrontasi mengganyang Malaysia) dan menjadi ancaman yang berandang (perhatikan dukungan CIA terhadap pemberontakan PRRI/Permesta; lihat bab 6). Strategi PKI tampaknya sangat bersesuaian dengan kondisi politik Indonesia saat itu. Namun demikian tarik-menarik antara retorika dan program tersebut tidak berhasil dilampaui. Pada 1965 retorika partai kadang- kadang terlalu sektarian, sedemikian jauh sehingga borjuasi kecil di desa dipandang sebagai musuh. PKI menggalakkan kampanye mengganyang “tujuh setan desa”: tuan tanah jahat, lintah darat, tukang ijon, kapitalis birokrat, tengkulak jahat, bandit desa, dan penguasa jahat.67 Walaupun masih dalam logika populisme (ada tuan tanah baik dan tuan tanah jahat, penguasa jahat dan penguasa baik), penggunaan slogan-slogan itu cenderung membuat banyak orang menjadi cemas kalau-kalau dirinya akan dicap sebagai setan. Arus sektarianisme serupa itu tidak perlu- perlunya sudah menimbulkan kebencian pihak-pihak yang berpotensi menjadi sekutu dalam strategi front persatuan. Pada awal 1960-an Aidit berusaha membawa teori Marxis-Leninis partai menjadi sejalan sepenuhnya dengan praktik populis PKI. Aidit dan beberapa ideolog partai mengembangkan suatu teori yang mereka sebut “teori dua aspek kekuasaan negara”: satu aspek “pro-rakyat” dan aspek lain “anti-rakyat.” Tugas PKI ialah menyokong unsur-unsur prorakyat untuk melawan unsur-unsur yang antirakyat di dalam pemerintah.68 Para pemikir partai berpendapat bahwa teori mereka, walaupun disusun tanpa analisis kelas tentang kekuasaan, merupakan pembaharuan yang sah dalam tradisi MarxisLeninis. Sugiono, guru sekolah teori milik partai (Akademi Aliarcham) menulis sebuah tesis tentang “dua aspek kekuasaan” dan berharap tesis itu akan disahkan suatu lembaga resmi dari negara komunis. Ia menyerahkan tesisnya untuk meraih gelar akademik di sebuah universitas di Korea Utara tapi ia kecewa karena para ideology Partai Komunis di Pyongyang menolaknya sebagai tidak-Marxis.69

Walaupun diskusi-diskusi teori tentang “dua aspek kekuasaan negara” tampaknya tidak meluas sampai di luar Comite Central, Aidit sering mengemukakannya baik dalam pidato-pidato maupun tulisan-tulisan- nya. Pada 1963, misalnya, sebuah pernyataan Politbiro menegaskan, bahwa “aspek [kekuasaan negara] prorakyat sedang terus-menerus berkembang dan mengambil inisiatif dan ofensif, sedang aspek antirakyat, walaupun lumayan kuat, sedang terus didesak dikurung tanpa ampun di sudut.”70 Teori “dua aspek kekuasaan negara” dapat membantu menjelaskan mengapa Aidit bersedia mendorong aksi dengan pasukan tentara. Menurut teori itu, beberapa prajurit dan perwira di dalam tubuh tentara Indonesia ada yang prorakyat dan ada beberapa lainnya yang antirakyat. Tugas sebuah revolusi, menurut pandangan Aidit, adalah mendukung personil militer yang prorakyat dan menggunakan mereka sebagai katalisator untuk mengubah seluruh negara menjadi prorakyat. Aidit tidak bekerja dengan logika pemberontakan militer atau kudeta– paradigma-paradigma baku yang digunakan para pengamat dalam usaha memahami peristiwa Gerakan 30 September. Gerakan tersebut merupakan semacam persilangan: ia merupakan kup sebagian yang, pada taraf tertentu kemudian, melahirkan revolusi sebagian. Aidit mendukung tentara prorakyat, supaya mereka bisa menyingkirkan perwira-perwira komandan mereka yang antirakyat, sekaligus memaksakan pembentukan sebuah kabinet koalisi baru. Dua perkembangan ini akan membuka ruang politik baru bagi partai untuk mengembangkan diri dan memperoleh kekuasaan yang lebih besar. MEMAHAMI EDITORIAL HARIAN RAKJAT Edisi surat kabar PKI yang terbit pada Sabtu, 2 Oktober 1965, memuat berita utama dengan tajuk terpampang selebar halaman surat kabar, “Letkol Untung, Komandan Bataljon ‘Tjakrabirawa’ menjelamatkan Presiden dan RI dari kup Dewan Djendral.” Anak-judul yang tertera langsung di bawahnya berbunyi, “Gerakan 30 September semata2 gerakan dalam AD.” Dari tajuk berita utama itu saja sudah kentara bahwa pimpinan PKI mendukung G-30-S sambil menjaga jarak darinya. Sebuah editorial singkat berisi dua puluh baris yang terselip dekat sudut kiri bawah halaman pertama, langsung di bawah berita tidak penting tentang sebuah konferensi pers oleh kementerian luar negeri Republik Rakyat Tiongkok di Beijing, mengulangi pernyataan berita utama, bahwa G-30-S adalah usaha terpuji untuk menyelamatkan presiden dan merupakan urusan intern Angkatan Darat, “Kita Rakjat memahami betul apa jang dikemukakan oleh Letkol Untung dalam melakukan gerakan- nja jang patriotik itu. Tetapi bagaimanapun djuga persoalan tsb. adalah persoalan intern AD. Tetapi kita Rakjat jang sedar akan politik dan tugas2 revolusi mejakini akan benarnja tindakan jang dilakukan oleh Gerakan 30 September untuk menjelamatkan revolusi dan Rakjat.” Bahasa editorial yang janggal – dua “tapi” dalam satu baris dan “bagaimanapun djuga persoalan” yang tidak runtut – memberi kesan Gambar 6. Kartun ini terbit dalam surat kabar PKI edisi hari kemerdekaan untuk memperingati hari jadi republik yang ke-20. Gerakan sayap kiri meninju, menendang, dan menebas di sepanjang perjalanannya dari tahun ke tahun untuk menghancurkan

kaum imperialis dan antek-antek mereka di dalam negeri. Gambar terakhir melukiskan rakyat yang bersatu di belakang prinsip-prinsip Sukarno (Panca Azimat Revolusi), menghantam pemerintah Amerika Serikat dan Inggris dan menjebol “kapitalis birokrat” Indonesia dan “setan-setan desa.” Semboyannya berbunyi “Perhebat Ofensif Revolusioner Disegala Bidang.” Sumber: Harian Rakjat, 17 Agustus, 1965. penulisnya berusaha menegaskan bahwa dukungan PKI terhadap G-30-S tidak berarti partai terlibat di dalamnya. Di sepanjang bagian bawah halaman depan terbentang karangan khas tiap Sabtu berupa tujuh petak kartun yang menggambarkan perkembangan hari ke hari gerakan kiri selama sepekan sebelumnya. Petak gabungan untuk Kamis dan Jumat (30 September dan 1 Oktober) memperlihatkan kepalan tinju Gerakan 30 September menghantam wajah Dewan Jenderal. Kartun pada petak berikutnya untuk Sabtu melukiskan sebuah adegan yang lebih mengerikan: jenderaljenderal, dengan dolar-dolar Amerika Serikat dan kuitansi-kuitansi CIA berhamburan dari saku-saku mereka, dilemparkan oleh seorang prajurit berbadan kekar dan tegap ke lautan pasak besi terpancang. Yang janggal dari halaman depan Harian Rakjat ini adalah penyiarannya setelah G30-S di Jakarta sudah dikalahkan. Mayor Jenderal Umar Wirahadikusumah sudah mengeluarkan perintah harian pada 1 Oktober pukul 18.00 yang melarang terbit semua surat kabar selain dua surat kabar milik tentara. Tentara Suharto sudah menguasai kembali stasiun radio kira-kira pada pukul 19.00 dan menyiarkan kutukan terhadap G-30-S pada sekitar pukul 20.45. Mengapa para redaktur Harian Rakjat menentang larangan terbit oleh tentara, hanya untuk menyiarkan pernya- taan dukungan terhadap aksi yang gagal? Kantor surat kabar ini terletak di daerah Pintu Besar Selatan, kira-kira setengah mil dari Lapangan Merdeka. Wartawan surat kabar ini tentu mengikuti kejadian sepanjang hari itu, dan mengetahui bahwa G-30-S di Jakarta sudah hancur. Benedict Anderson dan Ruth McVey menduga Angkatan Darat pasti sudah merebut kantor Harian Rakjat pada Jumat malam. Ketika itu militer sudah mencurigai, bahwa PKI mempunyai peranan tertentu di dalam G-30-S (mengingat para sukarelawan yang ditangkap di gedung telekomunikasi adalah pemuda-pemuda dari Pemuda Rakjat). Agar edisi Sabtu dapat terbit, pastilah edisi itu sudah dicetak dan didistri- busikan sebelum tentara datang, atau dicetak dan didistribusikan ketika para perwira militer sudah menduduki kantor. Anderson dan McVey cenderung pada kemungkinan pertama karena edisi Sabtu Harian Rakjat barangkali sudah dicetak pada Jumat sore. Di kebanyakan kantor pada masa itu para karyawan hanya bekerja setengah hari setiap hari Jumat. Ilmuwan-ilmuwan Cornell ini menduga edisi Harian Rakjat 2 Oktober terbit sebelum redaksi yakin bahwa G-30-S sudah gagal.71 Gambar 7. Kartun ini muncul di bagian bawah halaman depan surat kabar Harian Rakjat Sabtu, 2 Oktober 1965.

Apa yang terjadi pada malam hari 1 Oktober 1965 di kantor Harian Rakjat? Seorang mantan wartawan surat kabar ini, Martin Aleida, teringat pada percakapan antara dirinya dan seorang anggota redaksi yang malam itu ada di kantor.72 Aleida sendiri saat itu ada di luar kota. Ia dikirim belajar di sekolah partai di Semarang kira-kira dua bulan sebelumnya. Ia berhasil selamat dari pembantaian 1965-1966 dan pemenjaraan selama beberapa tahun. Begitu keluar penjara, ia kebetulan bertemu salah seorang dari kawan-kawannya, Wahyudi, yang menjadi anggota redaksi senior di Harian Rakjat pada 1965. Menurut cerita Wahyudi, serombongan tentara datang di kantor sekitar pukul 23.00 dan menuntut agar surat kabar ditutup. Wahyudi dan anggota redaksi lainnya menolak, dan bersikeras mereka bersedia menutup hanya jika para tentara ini bisa menunjukkan perintah tertulis kepada mereka. Tentara-tentara itu tidak menduduki kantor, mengusir staf kantor dengan paksa, atau mencampuri urusan penerbitan. Kantor tetap bekerja seperti biasa. Menurut Aleida, Wahyudi menuturkan bahwa editorial yangmendukung G-30-S sudah dikirim ke kantor surat kabar pada sekitar pukul 21.00 oleh kurir seperti biasa. Wahyudi tidak tahu siapa yang menulis editorial, tapi ia menduga Dahono, wartawan Harian Rakjat yang biasa menghabiskan hari-harinya di Sekretariat Comite Central (di Jalan Kramat Raya) untuk memperoleh informasi tentang posisi partai dalam berbagai macam masalah. Dahono bukan penulis yang baik. Ia diangkat menjadi staf Harian Rakjat oleh Comite Central karena kesetiaan yang bergelora terhadap partai dan watak penggembiranya, bukan karena keterampilan jurnalistiknya. Kalau bahasa editorial itu begitu janggal, mungkin karena itu ditulis oleh Dahono. Aleida tidak diberi tahu apakah Harian Rakjat sudah terbit sebelum atau sesudah tentara datang. Ia ingat biasanya tenggat waktu penyerahan karangan sekitar pukul 23.00, dan surat kabar selesai dicetak sekitar pukul 1.00 atau 2.00 dini hari. Jika Harian Rakjat mengikuti pola biasa pada Jumat malam itu, militer kemungkinan sudah datang tepat saat edisi Sabtu sedang diedit dan diset. Pertanyaan tentang keputusan partai menerbitkan pernyataan dukungan kepada sebuah aksi militer yang gagal itu tetap belum terjawab. Mungkin pada Jumat malam masih belum jelas bahwa G-30-S sebenar- nya sudah gagal. Pasukan dan sukarelawan di sekitar Lapangan Merdeka sudah dibersihkan, tapi pimpinan aksi masih berkumpul di Halim. Untung belum tertangkap. Aksi-aksi di Jawa Tengah masih berjalan. Dalam menyusun halaman depan, redaksi tidak menekankan dukungan partai terhadap G-30S. Editorial sangat pendek, kata-katanya disusun dengan hati-hati, dan ditempatkan hampir di bawah halaman. Berita- berita utamanya melaporkan tentang gerak-gerik Untung dalam gaya yang lugas dan dengan memberi tekanan bahwa G-30-S merupakan urusan intern Angkatan Darat. Sulit dipercaya bahwa para editor atau atasan mereka di Comite Central berpikir mereka mengambil risiko dengan meneruskan penerbitan edisi itu. Mereka mungkin tidak dapat meramalkan bahwa G30-S akan hancur begitu cepat, bahwa Angkatan Darat akan menyerang PKI dengan begitu mendadak dan kejam, dan bahwa Harian Rakjat tidak akan pernah diberi kesempatan memperbaiki posisinya dengan mempertimbangkan kejadian-kejadian yang menyusul kemudian. Mereka mungkin tidak mengerti bahwa seluruh sistem politik yang terpusat pada Sukarno, yang bagi mereka sudah menjadi biasa, pada 1 Oktober malam itu telah diubah secara mendasar.

Gambar 8. Teks di bawah tertera “Film minggu ini,” yang menyentil kebiasaan orang Indonesia menonton film pada Sabtu. Ini film yang mengerikan: seorang prajurit tersenyum menang sambil menyaksikan dua jenderal yang dibiayai CIA jatuh di atas bambu runcing. Dalam gambar judul film “De Over Val,” kata-kata Belanda untuk “serangan mendadak” (overval), diubah menjadi “De Generaals Val,” yang mempunyai dua pengertian, yaitu “terperangkapnya jenderal-jenderal” dan “jatuhnya jenderal-jenderal.” Kata-kata sisipan pada kartun ini dimaksud untuk pengertian yang tersebut terakhir: “djatuhnja djenderal2.” Setidak-tidaknya tiga mantan anggota Politbiro PKI, Sudisman, Iskandar Subekti, dan Munir, menyatakan dalam pledoinya di depan sidang pengadilan bahwa partai secara keseluruhan tidak terlibat dalam G-30-S tapi beberapa pimpinan tertentu yang tak disebut namanya terlibat sebagai pribadi. Penilaian mereka agaknya benar. G-30S tampaknya merupakan proyek pribadi Aidit. Ia percaya bahwa aksi militer yang dilakukan perwira progresif merupakan strategi paling baik untuk menyingkirkan ancaman Dewan Jenderal. Sebagai operasi militer terse- lubung, tidak satu orang pun di dalam partai diperbolehkan mengetahui seluk-beluk G-30-S kecuali beberapa orang kepercayaannya yang sebagian besar dari Dewan Harian Politbiro. Aidit melibatkan pimpinan partai secara perseorangan, seperti Njono dan Sukatno, yang mengerahkan para pemuda ke dalam pasukan sukarelawan tanpa memberi tahu mereka tentang keseluruhan operasi. Informasi disampaikan seperlunya. Tidak satu pun dari badan pimpinan resmi PKI – Politbiro, Dewan Harian, dan Central Comite – terlibat dalam perencanaan dan pengorganisasian G-30-S. Pada prinsipnya, G-30-S bisa dibenarkan dipandang dari sudut kepentingan PKI sendiri. Kontak-kontak partai dalam angkatan ber- senjata bisa digunakan dengan baik untuk membersihkan pimpinan tertinggi Angkatan Darat yang antikomunis. G-30-S berbuah kegagalan telak oleh alasan-alasan yang tidak diperhitungkan Aidit sebelumnya. Pertama, ia buta terhadap kesalahan-kesalahan Sjam. Ia menguasakan Sjam untuk memulai aksi militer tanpa mempunyai sarana yang cukup untuk memeriksa kata-kata Sjam. Saya menduga Aidit tidak menyadari bahwa Sjam telah memaksa para perwira militer untuk bergabung dan mengelabui mereka agar berpikir bahwa PKI akan menjamin keberhasilan aksi. Saat menghubungkan Aidit dengan para perwira, Sjam merancukan pemahaman mereka akan satu sama lain. Kedua, Aidit barangkali sebelumnya tidak mempelajari dengan baik bahwa Angkatan Darat disusupi dari ujung ke ujung oleh agen-agen ganda, dan bahwa jaringanjaringan pribadi di dalam Angkatan Darat saling-silang dengan kesetiaan politik para perwira. Aksi apa pun oleh “para perwira progresif ” sangat rentan terhadap pengkhianatan. Untung dan Latief, dua perwira kunci yang tetap bersedia bekerja sama dengan Sjam, bahkan ketika yang lain-lain mengundurkan diri, mengira bahwa Suharto adalah sekutu mereka. Ketiga, mengingat risiko yang terlekat dalam sebuah aksi militer, keterlibatan Aidit memerlukan tameng pengelakan yang jauh lebih besar dan masuk akal; ia tidak mengambil tindakan pencegahan yang memadai untuk melindungi dirinya sendiri dan

partai apabila terjadi kegagalan. Kalau saja ia menjauhkan diri dari Halim dan memutuskan untuk tidak pergi secara diam-diam ke Jawa Tengah, ia barangkali akan tampil lebih meyakinkan ketika menyatakan partai tidak terlibat. Keempat, Aidit telah mengembangkan sebuah teori populis yang memuat gagasan bahwa kup militer bisa berkembang positif jika kup militer itu mempunyai program revolusioner dan didukung oleh massa rakyat. Ia dan Sjam menyisipkan kandungan politik ke dalam G-30-S – Dewan Revolusi, istilah yang dipinjam dari Aljazair sebagai preseden. Agenda politik ini menaruh beban terlalu berat terhadap apa yang, bagaimanapun, merupakan sebuah operasi militer sangat terbatas, yaitu menculik pimpinan tertinggi Angkatan Darat. Aidit terperangkap dalam balam-balam populisme untuk bisa mengenali kesalahan strategis dalam memanfaatkan militer bagi tujuantujuan politik. Gerakan 30 September tidak diorganisasi sebagai sebuah kup, tidak pula dipimpin oleh seorang perwira militer (seperti kup-kup yang berhasil yang dikenal Aidit, misalnya kup Qasim di Irak pada 1958 dan kup Boumedienne di Aljazair pada 1965). Agenda politik telah mencemari aspek-aspek yang murni bersifat militer dalam G-30-S. Rencananya untuk mencapai keberhasilan bertumpu pada usaha mendapatkan persetujuan dari Sukarno; presiden akan memastikan bahwa para perwira lawan tidak akan melakukan serangan balasan. Gerakan 30 September tidak dirancang untuk berhasil atas dasar kekuatan murni militernya sendiri. Penjelasan saya tentang peranan PKI dalam G-30-S tidak memberi pembenaran terhadap versi rezim Suharto yang menuduh PKI sebagai dalang. Partai sebagai lembaga tidak bertanggung jawab. Hanya dua orang dalam partai, Aidit dan Sjam, yang bertanggung jawab meng- organisasi G-30-S. Seperti dinyatakan Sudisman, badan-badan formal pembuat keputusan dalam partai hanya bertanggung jawab dalam arti bahwa mereka memberi Aidit terlalu banyak jalan simpang untuk bekerja sendiri. CATATAN 1 Sudisman, Uraian Tanggung Djawab, 9, 11. Saya mengutip versi yang tersedia dalam beranda warta berikut http://www.geocities.com/cerita_kami/g30s/index.html. Versi ini dalam bentuk file pdf yang bernomor halaman. Dokumen yang sama juga tersedia tanpa nomor halaman di beranda warta yang berbeda: http://www.marxists.org/indonesia/indones/ sudisman.htm 2 Sudisman juga penulis utama dokumen yang beredar pada September 1966 atas nama Politbiro: Tegakkan PKI jang Marxis-Leninis untuk Memimpin Revolusi Demokrasi Rakjat Indonesia: Otokritik Politbiro CC-PKI. Dokumen ini baru-baru ini diterbitkan ulang bersama dengan Uraian Tanggung Djawab: Sudisman, Pledoi Sudisman; Kritik-Otokritik. 3 Ia menulis, “Saja pribadi terlibat dalam G-30-S jang gagal.” Dan, “tokoh-tokoh PKI terlibat langsung dalam G-30-S.” Sudisman, Uraian Tanggung Djawab, 9, 18. 4 Ibid., 17. 5 Ibid., 17. 6 Ibid., 18

7 Ibid., 12. 8 Ibid., 12. 9 Ibid., 12. 10 Ibid., 17. 11 Ibid., 26, 29. 12 Ibid., 26. 13 Ibid., 32. 14 Ibid., 48. 15 Ibid., 17. 16 Ibid., 49. Dengan menumbangkan monarki yang ditopang Inggris, kup Qasim menggugah pemberontakan rakyat. Timbul demonstrasi-demonstrasi besar di jalanjalan, upaya pengorganisasian serikat buruh, dan banyak penerbitan baru. Partai Komunis Irak (ICP) menyambut kup dan memperoleh kebebasan bergerak secara legal. Tapi para penggerak kup di tubuh militer segera menindas pemberontakan rakyat itu dan tenggelam dalam persaingan-persaingan di antara mereka sendiri (Tripp, History of Iraq, 148-192). Untuk uraian yang lebih rinci tentang kup 1958 dan hubungan Partai Komunis Irak dengannya, lihat Batatu, Old Social Classes, 789-807. 17 Sudisman, Uraian Tanggung Djawab, 47. Di saat lain dalam persidangan untuknya, setelah Sjam diajukan sebagai saksi, Sudisman menyatakan, “Walaupun saya sendiri tidak mengetahui, tapi itu dilakukan kawan saksi Sjam atas instruksi kawan Aidit dan saya pun melakukan instruksi dari kawan Aidit, maka dari segi tanggung djawab saya ambil oper semua tanggung djawab ini semua.” Transkrip Mahmilub, persidangan Sudisman, siding 8 Juli 1967. 18 Pada persidangannya Sudisman menyebut Supardjo sebagai contoh jelas seorang perwira Angkatan Darat progresif yang menentang pimpinan tertinggi angkatannya. Ia mengutip keterangan Supardjo di depan mahkamah (dalam sidang Mahmilub untuk Supardjo) sebagai bukti bahwa G-30-S merupakan urusan intern militer (Sudisman, Uraian Tanggung Djawab, 31-33). Sudisman tidak mungkin bisa mengutip analisis rahasia Supardjo (lihat Lampiran 1) untuk membuktikan pokok pikiran ini. Analisis Supardjo, yang barangkali sudah dibaca Sudisman, menyatakan bahwa G-30-S bukanlah masalah intern militer. 19 Lihat Lampiran 2. 20 Hasan, “Otobiografi,” 32. 21 “Gerakan 30 September” Dihadapan Mahmillub, Perkara Njono. 22 Subekti, “Jalan Pembebasan Rakyat Indonesia,” 9.

23 Dalam pledoinya pada 1972 Subekti menyatakan bahwa tanggal rapat itu 28 Agustus (“Jalan Pembebasan Rakyat Indonesia,” 8). Tapi dalam analisisnya pada 1986 tentang G-30-S, ia menyebut tanggal rapat itu 27 Agustus (“G-30-S Bukan Buatan PKI,” 3). Munir, dalam pleidoinya pada 1973, menyebut tanggal rapat 27 atau 28 Agustus (Munir, “Membela Kemerdekaan, Demokrasi, dan Keadilan,” 13-15). 24 Subekti, “Jalan Pembebasan Rakyat Indonesia,” 11. 25 Ibid., 9. 26 Dokumen ini diperoleh Hersri Setiawan dari Jusuf Ajitorop di Beijing. Sekarang tersedia di dalam koleksi dokumen-dokumen yang dinamai “Indonesian Exiles of the Left [Eksil Indonesia dari Gerakan Kiri],” disimpan Setiawan di badan arsip International Institute of Social History [Institut Sejarah Sosial Internasional] di Amsterdam. Dokumen tak berjudul ini terdiri dari enam bagian dengan judul masingmasing. Saya hanya mengambil dua bagian daripadanya: bagian pertama, yang berjudul “G-30-S Bukan Buatan PKI,” dan bagian keempat, yang berjudul “Kata Pendahuluan.” 27 Subekti, “Kata Pendahuluan,” 1. 28 Subekti, “G-30-S Bukan Buatan PKI,” 2. 29 Ibid., 12. 30 Ibid. 31 Wawancara dengan Oey Hay Djoen, 24 Januari 2002. Sebuah buklet yang diterbitkan sendiri pada 1979, atas nama CC PKI juga menyatakan bahwa Aidit secara umum menutup diri dari pimpinan partai yang lain dalam minggu-minggu sebelum G30-S, “Kawan D.N. Aidit dan beberapa Kawan di dalam Dewan Harian Politbiro CC PKI bahkan membatasi diri hanya dalam persetujuan dan dukungannya terhadap aksiaksi…” (Comite Central PKI, Jawaban PKI Kepada Kopkamtib, 9). Yang disebut “beberapa kawan” adalah Njono, Subekti, dan Hutapea. Buklet itu tidak terlalu akurat dalam menyebut posisi ketiga tokoh ini di dalam partai: hanya Hutapea yang di Dewan Harian Politbiro walaupun Subekti, sebagai panitera Dewan Harian, bisa dianggap sebagai anggota. Njono anggota Politbiro, tapi bukan anggota Dewan Harian. Saya tidak tahu siapa di antara pimpinan PKI yang masih hidup yang berbicara atas nama Central Comite yang secara mendasar sudah dihancurkan pada akhir 1970-an. Pengarang atau para pengarang anonim ini menempuh garis pro-Uni Soviet dan mengutuk G-30-S sebagai akibat dari kecenderungan Maois Aidit dan lingkarannya. Subekti secara selintas menyebut dalam dokumen rahasianya pada 1986 bahwa Ruslan Wijayasastra, sesama kawannya di penjara Cipinang, adalah Ketua Central Comite. Subekti pastilah bukan pengarang buklet itu karena dalam dokumennya tahun 1986 ia mengkritik Aidit dari sudut pandang Maois. Buklet ini tanpa bukti juga menuduh Sukarno merancang G-30-S dan minta Aidit untuk membantu melaksanakannya. Sebagian besar argumentasi dalam buklet ini dapat diabaikan sebagai spekulasi yang sengaja dirancang untuk berbetulan dengan kesimpulan dogmatik yang telah ditetapkan sebelumnya. Namun, buklet ini boleh jadi benar tentang beberapa hal tertentu yang dapat diperkuat dengan sumber-sumber lain,

misalnya tentang Aidit yang dalam minggu-minggu menjelang peristiwa menggunakan orang-orang kepercayaannya saja. 32 Friend, Indonesian Destinies, 102. Informasi Friend berasal dari Kolonel George Benson, asisten Duta Besar Amerika Serikat di Jakarta untuk program Amerika Serikat yang mendorong para perwira Angkatan Darat agar lebih aktif dalam urusanurusan sipil. 33 Subekti, “G-30-S Bukan Buatan PKI,” 13. 34 Ibid., 12. 35 Ibid., 15. 36 Subekti, “Jalan Pembebasan Rakyat Indonesia,” 45-46. 37 Analisis Subekti dapat dikritik karena sifatnya yang membenarkan diri-sendiri. Ia mengecam Aidit karena bertindak sendiri dan mencela hampir setiap anggota Politbiro lainnya karena mereka tidak melawan. Tapi ia tidak mengkritik dirinya sendiri yang tidak melawan. Seperti diakuinya dalam pledoinya di depan mahkamah pengadilan, sebelum G-30-S terjadi ia semacam abdi setia Aidit. Subekti menyetujui, walau mungkin tak sepenuh- nya sepakat, strategi Aidit untuk mendahului Dewan Jenderal secara militer. Kesalahan nahas yang disadari oleh Subekti dan pimpinan Politbiro lainnya sesudah kekalahan G-30-S merupakan kesalahan yang sebelumnya tidak terlihat oleh mereka. 38 Wawancara dengan Tan Swie Ling. 39 Mantan anggota Politbiro Peris Pardede mengklaim bahwa Aidit menyampaikan kepada Politbiro pada Agustus, saat menjelaskan tentang beberapa perwira progresif yang akan bertindak melawan Dewan Jenderal, bahwa strategi mendahului mempunyai keuntungan dan kerugian. Ketika ditanyai mana yang lebih baik, menunggu Dewan Jenderal bertindak atau mendahului mereka, Aidit menjawab, “Mengenai untung rugi, dua-duanja ada untung, ada ruginja.” (kesaksian Pardede, G30-S Dihadapan Mahmillub, Perkara Njono, 132). Pengakuan ini tampaknya bisa dipercaya. Kita harus membayangkan bahwa Aidit sedang menimbang-nimbang pilihannya. 40 Yani, Profil Seorang Prajurit TNI, 178; Soebandrio, Kesaksianku Tentang G-30-S, 12. 41 Mortimer, Indonesian Communism Under Sukarno, 394. 42 Kantor itu berada di sebuah gedung, Wisma Warta, tempat perkantoran dan penginapan untuk para wartawan asing lainnya. Gedung ini terletak di sudut yang sekarang ditempati Plaza Indonesia dan Grand Hyatt di Jalan M.H. Thamrin, Jakarta. 43 Nursuhud diangkat menjadi anggota Central Comite di dalam Kongres Nasional VI pada 1959 (Partai Komunis Indonesia, 40 tahun PKI, 98). Ia menulis kisah tentang

perla- wanan PKI terhadap pemberontakan PRRI 1957-58 di daerah asalnya di Sumatra Barat, Menyingkap Tabir “Dewan Banteng.” 44 Sudisman, Uraian Tanggung Djawab, 28. Sudisman mengkritik dirinya sendiri dan pimpinan partai yang lain karena menilai secara berlebihan sifat revolusioner situasi politik pertengahan 1965. Dalam otokritik Politbiro ia menulis bahwa demonstrasi-demonstrasi dan aksi-aksi ketika itu, seperti misalnya demonstrasi dan aksi menentang pemerintah Amerika Serikat, “masih dalam rangka tuntutan-tuntutan lunak dan reformis.” Pimpinan partai, yang dibuai oleh sukses-sukses dan dipukau oleh militansi jaman, meyakinkan diri mereka sendiri bahwa revolusi sudah di ambang pintu dan mengabaikan laporan-laporan yang berbeda dengan pendapat mereka, “Pimpinan partai tidak senang kalau komite-komite daerah dan badan-badan partai lainnya melaporkan kenyataan bahwa tingkat perkembangan aksi-aksi massa belum seperti yang sudah disimpulkan” (Sudisman, Pledoi Sudisman; KritikOtokritik, 117-118). 45 Wawancara dengan Joesoef Isak. Kantor Chairul Saleh berhadapan dengan kali Ciliwung di tengah kota Jakarta. 46 Lev, “Indonesia 1965,” 105. 47 Transkrip Mahmilub, persidangan Sudisman, kesaksian Sjam, 8 Juli 1967. 48 Sudisman, Uraian Tanggung Djawab, 28. Istilah safe-stellen adalah kombinasi antara kata-kata Inggris dan Belanda. 49 Setiyono dan Triyana, Revolusi Belum Selesai, 2:440. Sukarno juga menyalahkan G-30-S dalam hal “kelihaian subversi Nekolim” dan “oknum-oknum yang tidak benar” (Setiyono dan Triyana, Revolusi Belum Selesai, 2:440). Ia tidak mengurai lebih lanjut analisisnya yang sarat teka-teki dan taksa itu. 50 Wawancara dengan Oey Hay Djoen. 51 Sophiaan, “Inspirasi dari Aljazair,” bab 2 dalam Kehormatan Bagi Yang Berhak. 52 Tentang kup Aljazair lihat Humbaraci, Algeria, 217-246, dan Quandt, Revolution and Political Leadership, 237-243. Penuturan penulis-penulis hagiografi [buku yang berisi pemujaan terhadap kebaikan orang (-orang) tertentu] Boumedienne (Francos dan Sereni, Un Algerien nomme Boumedienne, 161-179) bukannya tidak penting. 53 Karim D.P., “Tiga Faktor Penyebab G-30-S.” 54 Vergès adalah salah satu penulis sebuah buku tentang seorang perempuan yang menjadi salah satu terdakwa dalam perkara penyiksaan tersebut. Lihat Arnaud dan Vergès, Pour Djamila Bouhired. 55 Untuk informasi biografis, lihat Fejto, “Maoist in France,” dan Marnham, “One Man and

His Monsters.” Vergès lahir di Thailand pada 1925 dari ayah Perancis dan ibu Vietnam. Ia besar di koloni Perancis La Réunion, berjuang untuk Perancis dalam Perang Dunia II, dan belajar hukum di Paris selama akhir 1940-an dan awal 1950-an. Ia tetap terkenal, dengan reputasi baik maupun buruk, karena pengabdiannya sejak 1980-an sebagai pengacara untuk tokoh-tokoh Nazi, penjahat perang dan eks-diktator. Di antara orang-orang yang dibelanya adalah Klaus Barbie, Slobodan Milosevic, dan Tariq Aziz. Ia menawarkan dirinya untuk membela Saddam Hussein. Program televisi 60 Minutes [dari stasiun CBS, AS] menayangkan profil Vergès pada 25 April 2004. 56 Artikel Hindley, “The Indonesian Communist Party,” mengemukakan telaah yang berhati- hati mengenai posisi PKI dalam perpecahan Tiongkok-Soviet. 57 Fejto, “Maoist in France,” 122. 58 Dikutip dalam Humbaraci, Algeria, 242. 59 Ibid., 241-242. 60 Saya belum bisa memastikan apakah Aidit berangkat ke Aljazair. Anggota delegasi Indonesia selebihnya tidak berangkat. Karim D.P. hanya mengatakan Aidit bertemu orang- orang komunis Aljazair di Paris. 61 Wawancara dengan Joesoef Isak. 62 First, Power in Africa, 449. Orangtua First adalah anggota pendiri Partai Komunis Afrika Selatan. Lahir pada 1925, ia sudah masuk partai sejak masih muda. Ia menikah dengan Joe Slovo, yang belakangan menjadi ketua partai. Pasukan keamanan Afrika Selatan membunuh First dengan bom surat ketika ia hidup di pengasingan di sebuah negara dekat Mozambique pada 1982. 63 Ibid., 450. 64 Munir tidak menjelaskan tentang waktu dan konteks pernyataan Aidit. Kemungkinan besar pernyataan itu disampaikan pada suatu saat antara Agustus atau September 1965 (Munir, “Membela Kemerdekaan, Demokrasi, dan Keadilan,” 40). Ini contoh lain pernya- taan di depan sidang pengadilan yang bisa dipercaya karena ia bersesuaian dengan apa yang diketahui dari sumber-sumber lain. 65 Sudisman, Uraian Tanggung Djawab, 18. 66 Tentang strategi front persatuan, lihat Hindley, Communist Party of Indonesia, 2959, dan Mortimer, Indonesian Communism Under Sukarno, bab 1. 67 Aidit ikut serta dalam proyek riset besar-besaran yang diorganisasi PKI pada 1964 untuk meneliti kondisi ekonomi agraria. Berdasarkan hasil riset yang telah diterbitkan ini, ia menyebut “tujuh setan desa.” (Aidit, Kaum Tani Mengganyang Setan2 Desa, 27). Sejarawan Hilmar Farid menyatakan, partai membedakan antara anggota kelas tertentu yang buruk dan yang baik atas dasar afiliasi politik yang bersangkutan: tuan

tanah baik adalah tuan tanah yang mendukung PKI dan/atau Sukarno, sedangkan tuan tanah jahat ialah tuan tanah yang mendukung partai-partai politik yang menentang PKI (Farid, “Class Question in Indonesian Social Sciences,” 177). 68 Teori “dua aspek” ini dikecam di dalam otokritik Politbiro 1966; lihat Sudisman, Pledoi Sudisman; Kritik-Otokritik, 102-9. 69 Wawancara dengan Oey Hay Djoen. 70 Dikutip dalam Mortimer, Indonesian Communism under Sukarno, 380. 71 Anderson dan McVey, Preliminary Analysis, 132-135. 72 Wawancara dengan Martin Aleida. SELAMAT DATANG WEBBLOG PARA PEMBEBAS

Terbaru

KECURIGAAN PERSATUAN NASIONAL

Rate This KECURIGAAN DAN SUATU PERSATUAN NASIONAL SEBAGAI Penerusan semua Ajaran KIRI, tentu KAMI mencurigai “yang di Dalam” (= mereka. Pembalikan) tidak suka Pemahaman Ajarannya dan Anggota Partai

2 Alasan ini

1. Tarung antar Politik, namun tidaklah mungkin bersifat luas (Gerakan, Partai, Organisatif)

2. Beda Pemikiran (apa !?!). MEMBAHAYAKAN ke Nasional … ! KIRI – Sosialisme adalah berdasarkan Pikiran pikiran (Dialektika Materialisme)

Alasan Pertama dan alasan Kedua berhubungan. Maksud, Laga Politik (Isme) tdk mungkin tdk memakai Pemikiran, MAKA terjadi PERBEDAAN Berpikir. Lalu, yang manakah KIRI dan yang manakah Individualisme ?

Karena, Gerakan gerakan Rakyat dan DEMOKRATIK. Perjuangan BURUH dan Partai – Aksi Massa ke Tujuan untuk Membentuk Masyarakat Sosialisme, didasarkan BERPIKIR Materialisme Logik – Ideologisasi Kerakyatan, HAK REVOLUSI Para DEMOKRATIK ke Politik Rakyat Miskin dalam Masyarakat dengan Syarat syaratnya

1. Kelas (Tenaga, suatu HAK Azasi Manusia) BURUH

2. REVOLUSI (HAK = DEMOKRATIK)

a. Politik (Sistim) Rakyat b. Revolusi = Bersama (Kepentingan) c. Sosial Ekonomik. Pemenuhan

3. Kekuasaan ‘RAKYAT MISKIN” (dalam semua Istilah – Bahasa)

……. SOSIALISTA ! ……. DEMOKRATIK ! ……. NASIONAL !

SEKIAN. TERIMA KASIH

Fadli Zon: PKI aktor utama pemberontakan Madiun 1948
Bilal Ahad, 8 Januari 2012 23:24:36

JAKARTA (Arrahmah.com) – Partai Komunis Indonesia (PKI) merupakan aktor utama dalam pemberontakan Madiun tahun 1948 untuk merebut kekuasaan pemerintah. Hal itu sangat jelas dari pamflet-pamflet dan pidato tokoh PKI kelompok Muso. Hal itu diungkapkan oleh Wakil Ketua umum Gerindra yang juga pemerhati sejarah, Fadli Zon dalam bedah buku “Madiun 1948, PKI Bergerak” karya Harry A. Poeze, di Fadli Zon Library, Jakarta, Sabtu (7/1). Pembahas lain adalah sejarawan Asvi Warman Adam dan Harry Poeze. Menurut Fadli Zon, faktor komunis sangat jelas dalam pemberontakan ini karena tokoh penting yang mendorongnya, Muso, kembali ke Indonesia Agustus 1948 dari Rusia dengan membawa garis baru perjuangan komunis internasional yakni garis Zhdanov, untuk menggantikan Garis Dimitrov sebelumnya. Menurut garis baru Zhdanov ini, dunia saat itu sedang terbagi dalam dua kubu yang saling berlawanan, yaitu imperialisme dan anti-imperialisme. Mereka yang tidak segaris dinilai sebagai lawan dan harus disingkirkan. Madiun menjadi medan untuk untuk kekuatan dan merebut kekuasaan. Akibat pemberontakan ini banyak korban di pihak aparat pemerintah, dan juga ulama. Dalam kaitan ini, Fadli Zon sepakat dengan kesimpulan Harry Poeze bahwa Madiun 1948 adalah pemberontakan untuk merebut kekuasaan, bukan peristiwa lokal seperti pembelaan para tokoh PKI yang kemudian berhasil membangun kembali kekuatan

partai ini. ”Menurut saya Poeze sangat obyektif sebagai peneliti dan penulis buku.” kata Fadli. Sementara itu Harry Poeze memaparkan panjang lebar buku karya terbarunya yang merupakan seri ke enam tapi sebenarnya terpisah dari rangkaian perjalanan politik Tan Malaka. Dia dengan tegas menyatakan bahwa peristiwa berdarah di Madiun pada 1948 adalah pemberontakan. “Pemberontakan ini mungkin tidak terjadi apabila tidak ada peran individu dari Muso, seorang tokoh yang dikenal tegas, garang, dan kasar.” kata Harry yang menceritakan setting peristiwa Madiun secara detil dan mengungkap hubungan diantara tokoh PKI dan juga perbedaan pandangan antara Muso dan Tan Malaka. Secara panjang lebar Harry menguraikan perkembangan awal, konflik-konflik, dan puncak pemberontakan hingga perburuan orang-orang Komunis, termasuk menunjukkan sejumlah foto penting dan juga karikatur tentang situasi saat itu. Sedangkan sejarawan Asvi Warman Adam selain membedah buku Poeze ini, juga membandingkan sejumlah karya tentang Madiun yang ditulis oleh banyak ahli dan juga istilah yang berkembang soal persitiwa Madiun ini. “Yang jelas, saya menolak pernyataan terutama dari kalangan PKI yang menjadikan Mohammad Hatta sebagai kambing hitam untuk kebangkitan mereka lagi. Ini murni dilakukan tokoh komunis,” katanya. Asvi memuji kekayaan luar biasa dari sumber data yang digunakan Poeze, yang dinilainya tiada bandingannya. Namun, dia mengkritik penampilan foto dan karikatur dalam buku Poeze yang dianggap kurang seimbang. Menanggapi itu, Poeze mengatakan, semua sumber sudah diusahakan imbang. “Cuma soal foto, ya memang kebanyakan foto pembantaian orang-orang komunis, sedangkan kekejaman komunis terhadap kelompok lain, sangat sedikit.” tukas Poeze seperti dilansir jpnn. Seperti kita ketahui, kekejaman pemberontakan PKI di Madiun tak kalah hebat disbanding dengan kekejaman komunis Khemr Merah pimpinan Polpot, Jika di Kamboja Komunis membuat Ladang pembantaian(Killing Field) maka di Madiun dan sekitarnya Kaum Komunis Membuat banyak lubang-lubang pembantaian( killing Hole) untuk menghancurkan lawan politiknya. Kekejaman yang terjadi hampir diseluruh dunia ini, disebabkan keyakinan kaum komunis internasional bahwa revolusi merebut alat-alat produksi dari kaum borjuasi kepada kaum proletariyat, tidak bisa kecuali dengan kekerasan. Wallahu’alam bishshowab. Read more: http://arrahmah.com/read/2012/01/08/17309-fadli-zon-pki-aktor-utamapemberontakan-madiun-1948.html#ixzz1ix4KeH85

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->