P. 1
fungsi bahasa presentasi

fungsi bahasa presentasi

|Views: 254|Likes:
Published by catabuabu

More info:

Published by: catabuabu on Jan 10, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/07/2014

pdf

text

original

FUNGSI BAHASA, SILABUS FUNGSIONAL, ANALISIS WACANA, PRAGMATIK, KOMUNIKASI NON-VERBAL OLEH: IRINE PRABASIWI (107835049) HENDRIK

WAHYU DITYA (1078350) Fungsi Bahasa Menurut Felicia (2001 : 1), dalam berkomunikasi sehari-hari, salah satu alat yang paling sering digunakan adalah bahasa, baik bahasa lisan maupun bahasa tulis. Begitu dekatnya kita kepada bahasa, terutama bahasa Indonesia, sehingga tidak dirasa perlu untuk mendalami dan mempelajari bahasa Indonesia secara lebih jauh. Akibatnya, sebagai pemakai bahasa, orang Indonesia tidak terampil menggunakan bahasa. Suatu kelemahan yang tidak disadari. Komunikasi lisan atau nonstandar yang sangat praktis menyebabkan kita tidak teliti berbahasa. Akibatnya, kita mengalami kesulitan pada saat akan menggunakan bahasa tulis atau bahasa yang lebih standar dan teratur. Pada saat dituntut untuk berbahasa’ bagi kepentingan yang lebih terarah dengan maksud tertentu, kita cenderung kaku. Kita akan berbahasa secara terbata-bata atau mencampurkan bahasa standar dengan bahasa nonstandar atau bahkan, mencampurkan bahasa atau istilah asing ke dalam uraian kita. Padahal, bahasa bersifat sangat luwes, sangat manipulatif. Kita selalu dapat memanipulasi bahasa untuk kepentingan dan tujuan tertentu. Lihat saja, bagaimana pandainya orangorang berpolitik melalui bahasa. Kita selalu dapat memanipulasi bahasa untuk kepentingan dan tujuan tertentu. Agar dapat memanipulasi bahasa, kita harus mengetahui fungsi-fungsi bahasa. Pada dasarnya, bahasa memiliki fungsi-fungsi tertentu yang digunakan berdasarkan kebutuhan seseorang, yakni sebagai alat untuk mengekspresikan diri, sebagai alat untuk berkomunikasi, sebagai alat untuk mengadakan integrasi dan beradaptasi sosial dalam lingkungan atau situasi tertentu, dan sebagai alat untuk melakukan kontrol sosial (Keraf, 1997: 3).

Derasnya arus globalisasi di dalam kehidupan kita akan berdampak pula pada perkembangan dan pertumbuhan bahasa sebagai sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi. Di dalam era globalisasi itu, bangsa Indonesia mau tidak mau harus ikut berperan di dalam dunia persaingan bebas, baik di bidang politik, ekonomi, maupun komunikasi. Konsep-konsep dan istilah baru di dalam pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) secara tidak langsung memperkaya khasanah bahasa Indonesia. Dengan demikian, semua produk budaya akan tumbuh dan berkembang pula sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi itu, termasuk bahasa Indonesia, yang dalam itu, sekaligus berperan sebagai prasarana berpikir dan sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan iptek itu (Sunaryo, 1993, 1995). Menurut Sunaryo (2000 : 6), tanpa adanya bahasa (termasuk bahasa Indonesia) iptek tidak dapat tumbuh dan berkembang. Selain itu bahasa Indonesia di dalam struktur budaya, ternyata memiliki kedudukan, fungsi, dan peran ganda, yaitu sebagai akar dan produk budaya yang sekaligus berfungsi sebagai sarana berfikir dan sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tanpa peran bahasa serupa itu, ilmu pengetahuan dan teknologi tidak akan dapat berkembang. Implikasinya di dalam pengembangan daya nalar, menjadikan bahasa sebagai prasarana berfikir modern. Oleh karena itu, jika cermat dalam menggunakan bahasa, kita akan cermat pula dalam berfikir karena bahasa merupakan cermin dari daya nalar (pikiran). Hasil pendayagunaan daya nalar itu sangat bergantung pada ragam bahasa yang digunakan. Pembiasaan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar akan menghasilkan buah pemikiran yang baik dan benar pula. Kenyataan bahwa bahasa Indonesia sebagai wujud identitas bahasa Indonesia menjadi sarana komunikasi di dalam masyarakat modern. Bahasa Indonesia bersikap luwes sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai sarana komunikasi masyarakat modern. 1 Bahasa sebagai Alat Ekspresi Diri Pada awalnya, seorang anak menggunakan bahasa untuk mengekspresikan kehendaknya atau perasaannya pada sasaran yang tetap, yakni ayah-ibunya.

Sebenarnya. Seorang penulis mengekspresikan dirinya melalui tulisannya. Dengan komunikasi pula kita mempelajari dan . Pada saat menggunakan bahasa sebagai alat untuk mengekspresikan diri. Sebagai alat untuk menyatakan ekspresi diri. Setelah kita dewasa. 1997 :4). yakni bahasa sebagai alat untuk berkomunikasi.Dalam perkembangannya. baik untuk mengekspresikan diri maupun untuk berkomunikasi. Unsur-unsur yang mendorong ekspresi diri antara lain : agar menarik perhatian orang lain terhadap kita. 2 Bahasa sebagai Alat Komunikasi Komunikasi merupakan akibat yang lebih jauh dari ekspresi diri. Sebagai contoh lainnya. Jadi. kita mulai berpikir kepada siapakah surat itu akan ditujukan. kita tidak memikirkan siapa pembaca kita. bahasa pada anak-anak sebagian berkembang sebagai alat untuk menyatakan dirinya sendiri (Gorys Keraf. Pada saat kita menulis. pembacanya. Komunikasi tidak akan sempurna bila ekspresi diri kita tidak diterima atau dipahami oleh orang lain. Ia menggunakan bahasa hanya untuk kepentingannya pribadi. tulisan kita dalam sebuah buku. Akan tetapi. keinginan untuk membebaskan diri kita dari semua tekanan emosi Pada taraf permulaan. seorang anak tidak lagi menggunakan bahasa hanya untuk mengekspresikan kehendaknya. sebuah karya ilmiah pun adalah sarana pengungkapan diri seorang ilmuwan untuk menunjukkan kemampuannya dalam sebuah bidang ilmu tertentu. kita menggunakan bahasa. pada saat kita menulis surat kepada orang lain. atau khalayak sasarannya. melainkan juga untuk berkomunikasi dengan lingkungan di sekitarnya. Kita hanya menuangkan isi hati dan perasaan kita tanpa memikirkan apakah tulisan itu dipahami orang lain atau tidak. Fungsi ini berbeda dari fungsi berikutnya. sekurang-kurangnya untuk memaklumkan keberadaan kita. si pemakai bahasa tidak perlu mempertimbangkan atau memperhatikan siapa yang menjadi pendengarnya. Kita memilih cara berbahasa yang berbeda kepada orang yang kita hormati dibandingkan dengan cara berbahasa kita kepada teman kita. bahasa menyatakan secara terbuka segala sesuatu yang tersirat di dalam dada kita. merupakan hasil ekspresi diri kita. kita dapat menulis untuk mengekspresikan diri kita atau untuk mencapai tujuan tertentu.

rumah. dalam hal ini pembaca atau pendengar atau khalayak sasaran menjadi perhatian utama kita. Kita ingin menyampaikan gagasan yang dapat diterima oleh orang lain. Pada saat kita menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi. kata besar. Sebagai alat komunikasi. Sebaliknya. dianggap lebih komunikatif karena bersifat lebih umum. pemahaman kita atas suatu hal. misalnya. Dengan kata lain. serta apa yang dicapai oleh orang-orang yang sezaman dengan kita. kata-kata griya atau makro akan memberi nuansa lain pada bahasa kita. Lebih jauh lagi. wisma. Kita ingin mempengaruhi orang lain. Pada saat kita menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Misalnya. Jadi. atau nuansa tradisional. Bahasa sebagai alat ekspresi diri dan sebagai alat komunikasi sekaligus pula merupakan alat untuk menunjukkan identitas diri. kita ingin orang lain membeli hasil pemikiran kita. seringkali kita mendengar istilah “bahasa yang komunikatif”. asal usul bangsa dan negara kita. antara lain kita juga mempertimbangkan apakah bahasa yang kita gunakan laku untuk dijual. 3 Bahasa sebagai Alat Integrasi dan Adaptasi Sosial Bahasa disamping sebagai salah satu unsur kebudayaan. namun kata besar atau luas lebih mudah dimengerti oleh masyarakat umum. kata makro hanya dipahami oleh orang-orang dan tingkat pendidikan tertentu. bahkan sifat kita. baik sebagai bangsa maupun sebagai diri sendiri.mewarisi semua yang pernah dicapai oleh nenek moyang kita. memungkinkan pula manusia memanfaatkan pengalaman-pengalaman mereka. misalnya. mempelajari dan . bahasa merupakan saluran perumusan maksud kita. nuansa intelektualitas. 1997 : 4). Kita ingin dipahami oleh orang lain. nuansa keilmuan. merencanakan dan mengarahkan masa depan kita (Gorys Keraf. Oleh karena itu. Kita menggunakan bahasa dengan memperhatikan kepentingan dan kebutuhan khalayak sasaran kita. kita dapat menunjukkan sudut pandang kita. Kata griya. pendidikan kita. Ia mengatur berbagai macam aktivitas kemasyarakatan. melahirkan perasaan kita dan memungkinkan kita menciptakan kerja sama dengan sesama warga. lebih sulit dipahami dibandingkan kata rumah atau wisma. Kita ingin membuat orang lain yakin terhadap pandangan kita. kita sudah memiliki tujuan tertentu. Melalui bahasa. luas. Bahasa menjadi cermin diri kita.

Kita akan menggunakan bahasa yang berbeda pada orang yang berbeda. Demikian pula jika kita mempelajari bahasa asing. kita akan memilih bahasa yang akan kita gunakan bergantung pada situasi dan kondisi yang kita hadapi. . Bilamanakah kita dalam berbahasa Indonesia boleh menegur orang dengan kata Kamu atau Saudara atau Bapak atau Anda? Bagi orang asing. Bahasa sebagai alat komunikasi. maupun pendidikan disampaikan melalui bahasa. Misalnya. Ia memungkinkan integrasi (pembauran) yang sempurna bagi tiap individu dengan masyarakatnya (Gorys Keraf. Anggota-anggota masyarakat hanya dapat dipersatukan secara efisien melalui bahasa. berfungsi pula sebagai alat integrasi dan adaptasi sosial. pilihan kata itu penting agar ia diterima di dalam lingkungan pergaulan orang Indonesia. Pada saat kita beradaptasi kepada lingkungan sosial tertentu. kata manakah yang sopan dan tidak sopan. pada situasi apakah kita akan menggunakan kata tertentu. Pada saat kita mempelajari bahasa asing. Berbagai penerangan. bahasa sangat efektif. 1997 : 5). informasi. serta dapat melakukan semua kegiatan kemasyarakatan dengan menghindari sejauh mungkin bentrokan-bentrokan untuk memperoleh efisiensi yang setinggi-tingginya. serta belajar berkenalan dengan orang-orang lain. Jangan sampai kita salah menggunakan tata cara berbahasa dalam budaya bahasa tersebut. Buku-buku pelajaran dan buku-buku instruksi adalah salah satu contoh penggunaan bahasa sebagai alat kontrol sosial. kita juga berusaha mempelajari bagaimana cara menggunakan bahasa tersebut. Jangan sampai ia menggunakan kata kamu untuk menyapa seorang pejabat. Dengan menguasai bahasa suatu bangsa. 4 Bahasa sebagai Alat Kontrol Sosial Sebagai alat kontrol sosial.mengambil bagian dalam pengalaman-pengalaman itu. Kontrol sosial ini dapat diterapkan pada diri kita sendiri atau kepada masyarakat. Cara berbahasa tertentu selain berfungsi sebagai alat komunikasi. kita dengan mudah berbaur dan menyesuaikan diri dengan bangsa tersebut. lebih jauh memungkinkan tiap orang untuk merasa dirinya terikat dengan kelompok sosial yang dimasukinya. Kita akan menggunakan bahasa yang nonstandar di lingkungan teman-teman dan menggunakan bahasa standar pada orang tua atau orang yang kita hormati.

yaitu (1) bidang yang mengkaji makna pembicara. perilaku dan tindakan yang baik. pada akhirnya. 1996:84). Tuangkanlah rasa dongkol dan marah kita ke dalam bentuk tulisan. termasuk didalamnya praktik kekuasaan.Ceramah agama atau dakwah merupakan contoh penggunaan bahasa sebagai alat kontrol sosial. Di samping itu. wacana tidak hanya dipahami sebagai studi bahasa. orasi ilmiah atau politik merupakan alat kontrol sosial. Biasanya. Iklan layanan masyarakat atau layanan sosial merupakan salah satu wujud penerapan bahasa sebagai alat kontrol sosial. Dalam Analisis Wacana Kritis (Critical Dicourse Analysis / CDA). fungsi ucapan. Konteks disini berarti bahasa dipakai untuk tujuan dan praktik tertentu. kita belajar untuk menyimak dan mendengarkan pandangan orang lain mengenai suatu hal. Contoh fungsi bahasa sebagai alat kontrol sosial yang sangat mudah kita terapkan adalah sebagai alat peredam rasa marah. Menulis merupakan salah satu cara yang sangat efektif untuk meredakan rasa marah kita. tetapi juga menghubungkannya dengan konteks. Yule (1996: 3). sikap baru. Semua itu merupakan kegiatan berbahasa yang memberikan kepada kita cara untuk memperoleh pandangan baru. Pragmatik Para pakar pragmatik mendefinisikan istilah ini secara berbeda-beda. menyebutkan empat definisi pragmatik. misalnya. rasa marah kita berangsur-angsur menghilang dan kita dapat melihat persoalan secara lebih jelas dan tenang. Analisis Wacana Analisis wacana merupakan studi tentang struktur pesan dalam komunikasi atau telaah melalui aneka fungsi bahasa (Sobur. Lebih jauh lagi. tetapi juga mencakup struktur pesan yang lebih kompleks dan inheren yang disebut wacana (Littlejohn. Kita juga sering mengikuti diskusi atau acara bincang-bincang (talk show) di televisi dan radio. Bahasa dianalisis tidak hanya dari aspek kebahasaan saja. (2) bidang yang mengkaji makna menurut . 2001:48). Analisis wacana lahir dari kesadaran bahwa persoalan yang terdapat dalam komunikasi bukan terbatas pada penggunaan kalimat atau bagian kalimat.

mengungkapkan bahwa pragmatik tumbuh dan berkembang dari empat kecenderungan atau tradisi. dan kedua. menghubungkan pragmatik dengan interpretasi ujaran (utterance interpretation). Perkembangan Pragmatik Mey (1998). yang dimotori oleh George Lakoff dan Haji John Robert Ross. Thomas (1995: 2) menyebut dua kecenderungan dalam pragmatik terbagi menjadi dua bagian. dan komplementarisme. dengan mengandaikan bahwa pemaknaan merupakan proses dinamis yang melibatkan negosiasi antara pembicara dan pendengar serta antara konteks ujaran (fisik. dengan menggunakan sudut pandang sosial. dan (4) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu. menolak pandangan sintaksisme Chomsky. mendefinisikan pragmatik sebagai bidang yang mengkaji makna dalam interaksi (meaning in interaction). dan linguistik) dan makna potensial yang mungkin dari sebuah ujaran ujaran. Keterkaitan ini ia sebut semantisisme. (3) tradisi filsafat. dengan menggunakan sudut pandang kognitif. (2) kecenderungan sosial-kritis. yaitu bahwa dalam . (3) bidang yang. atau melihat semantik dan pragmatik sebagai dua bidang yang saling melengkapi. sosial. Kecenderungan yang pertama. Leech (1983: 6 (dalam Gunarwan 2004: 2)) melihat pragmatik sebagai bidang kajian dalam linguistik yang mempunyai kaitan dengan semantik.konteksnya. yaitu melihat pragmatik sebagai bagian dari semantik. melebihi kajian tentang makna yang diujarkan. seperti dikutip oleh Gunarwan (2004: 5). yaitu melihat semantik sebagai bagian dari pragmatik. pragmatisisme. dan (4) tradisi etnometodologi. menghubungkan pragmatik dengan makna pembicara (speaker meaning). Selanjutnya Thomas (1995: 22). mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara. yaitu: (1) kecenderungan antisintaksisme. pertama.

sebab. yang tumbuh di Eropa. dalam pragmatik lebih besar daripada pengaruh Lakoff dan Ross. keapikan sintaksis (wellformedness) bukanlah segalanya. bahasa dikaji bukan berdasarkan aspek kegramatikalannya. seperti dikutip Gunarwan (2004: 7). seperti sering kita jumpai. dan Grice. bukan tata bahasa (Gunarwan 2004: 6). Austin dan John R. mengemukakan bahwa pengaruh para filsuf bahasa. yaitu cabang sosiologi yang mengkaji cara para anggota masyarakat tutur (speech community) mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka. dan terutama John L.kajian bahasa yang sentral adalah sintaksis. bahkan semantik (Gunarwan 2004: 6). Para pakar tersebut mengkaji bahasa. Kecenderungan kedua. Jerman. dan Skandinavia (Mey 1998: 717 (dalam Gunarwan 2004: 6)). termasuk penggunaannya. Beberapa Topik Pembahasan dalam Pragmatik . Tradisi yang ketiga. morfologi. dalam kaitannya dengan logika. tepatnya di Britania. Tradisi yang keempat adalah tradisi tradisi etnometodologi. bukan yang sibuk dengan deskripsi bahasa semata-mata secara mandiri. yang dipelopori oleh Bertrand Russell. muncul dari keperluan terhadap ilmu bahasa yang secara sosial relevan. Ludwig Wittgenstein. komunikasi tetap dapat berjalan dengan penggunaan bentuk yang tidak apik secara sintaksis (ill-formed). Dengan kata lain. dan bahwa fonologi. Dalam etnometodologi. Menurut Lakoff dan Ross. kajian bahasa dalam etnometodologi lebih ditekankan pada komunikasi. Leech (1983: 2). melainkan berdasarkan cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. Searle. 4. adalah tradisi filsafat. Searle. misalnya Austin. dan semantik bersifat periferal.

seperti diungkap oleh Marmaridou (2000: 1 (dalam Gunarwan 2004: 8)). yaitu pragmatik filosofis (Austin. dan Grice). seperti Russel dan Moore.1 Teori Tindak-Tutur Melalui bukunya. sesuai contoh di atas. seperti dikutip oleh Thomas (1995: 29-30). dapat dipahami bahwa para filosof yang dikritik Austin ini mengevaluasi pernyataan berdasarkan benar atau salah (truth condition). dan pragmatik interaktif (Thomas). Austin dapat dianggap sebagai pemicu minat yang paling utama dalam kajian pragmatik. sejak itu bidang kajian ini telah berkembang jauh. (1) Ada enam kata dalam kalimat ini (2) Presiden RI adalah Soesilo Bambang Yoedoyono Dari contoh di atas. kalimat (1) benar secara analitis dan kalimat (2) benar . bermaksud menyanggah pendapat filosof positivisme logis. How to Do Things with Words. Contoh. sehingga kita dapat melihat sejumlah kecenderungan dalam pragmatik. Searle. pragmatik kognitif (Sperber dan Wilson). dan bahwa pernyataan hanya benar jika bersifat analitis atau jika dapat diverifikasi secara empiris. yang berpendapat bahwa bahasa yang digunakan sehari-hari penuh kontradiksi dan ketaksaan. yaitu.4. Sebab. pragmatik neo-Gricean (Cole). Austin.

dan . melainkan juga melakukan sesuatu (perform actions). Dalam contoh (4). Austin berpendapat bahwa dengan berbahasa kita tidak hanya mengatakan sesuatu (to make statements). yang menjadi landasan teori tindak-tutur (speech-act). (3) Dengan ini. seperti juga ditekankan lebih lanjut oleh Searle (dalam Gunarwan 2004: 9). yaitu lokusi (locutionary act). karena memiliki struktur dalam yang mengandungi makna performatif.karena sesuai dengan kenyataan. saya nikahkan kalian (performatif) (4) Rumah Joni terbakar (konstatif) Selanjutnya Austin. Melalui hipotesis performatifnya. melainkan melalui bagaimana bahasa dipakai sehari-hari. Tindakan yang dihasilkan dengan ujaran ini mengandung tiga tindakan lain yang berhubungan. Yang pertama tunduk pada persyaratan kebenaran (truth condition) dan yang kedua tunduk pada persyaratan kesahihan (felicity condition) (Gunarwan 2004: 8). struktur dalam ujaran tersebut dapat saja berbunyi Saya katakan bahwa rumah Joni terbakar. Austin (dalam Thomas 1995: 31) berpendapat bahwa salah satu cara untuk membuat pembedaan yang baik bukanlah menurut kadar benar atau salahnya. Contoh. Ujaran yang bertujuan mendeskripsikan sesuatu disebut konstatif dan ujaran yang bertujuan melakukan sesuatu disebut performatif. Persyaratan kebenaran ini kemudian diadopsi oleh linguistik sebagai truth conditional semantics (Thomas 1995: 30). ilokusi (illocutionary act). memasukkan ujaran konstatif. sebagai bagian dari performatif (Austin 1962: 52 dan Thomas 1995: 49).

dan Yule 1996: 5455). dan deklarasi merupakan tindak-tutur yang mengubah status sesuatu. dan Yule 1996: 53-54). Selain itu. dapat berupa tindak-tutur langsung (direct speech-act) dan tindak-tutur tidak langsung (indirect speech-act). Dalam direct speeh-act terdapat hubungan langsung antara struktur kalimat dengan fungsinya. tindak ilokusioner terutama berkaitan dengan intensi atau maksud pembicara. yaitu asertif (assertive). komisif (comissive). direktif merupakan tindak-tutur yang menghendaki pendengarnya melakukan sesuatu. Asertif atau representatif merupakan tindak-tutur yang menyatakan tentang sesuatu yang dipercayai pembicaranya benar. dan tindak perlokusioner berkaitan dengan efek pemahaman pendengar terhadap maksud pembicara yang terwujud dalam tindakan (Thomas 1995: 49). yaitu prinsip kerja sama (cooperative principle) (Yule 1996: 36-37 dan Thomas 1995: 61).2 Prinsip Kerja Sama (Cooperative Principle) Grice mengemukakan bahwa percakapan yang terjadi di dalam anggota masyarakat dilandasi oleh sebuah prinsip dasar.perlokusi (perlocutionary act) (Yule 1996: 48). Tindak lokusioner berkaitan dengan produksi ujaran yang bermakna. direktif (directive). Tindak-tutur. sedangkan dalam indirect speech-act hubungannya tidak langsung atau menggunakan (bentuk) tindak-tutur lain (Gunarwan 2004: 9. seperti dikembangkan lebih jauh oleh Searle (dalam Gunarwan 2004: 9). ekspresif merupakan tindak-tutur yang menyatakan perasaan pembicaranya. Searle juga menyebut lima jenis fungsi tindak-tutur. komisif merupakan tindak-tutur yang digunakan pembicaranya untuk menyatakan sesuatu yang akan dilakukannya. 4. dan deklarasi (declaration) (Littlejohn 2002: 80. Kerja sama . ekspresif (expressive).

pada kenyataannya. Implikatur konversasional merupakan implikatur yang dihasilkan karena tuntutan konteks tertentu (Thomas 1995: 58). (2) bidal kualitas (quality maxim). 4. memberi sumbangan informasi yang relevan. Contoh. Hal ini.yang terjalin dalam komunikasi ini terwujud dalam empat bidal (maxim). menghindari ketaksaan. mengungkapkan secara singkat. menghindari ketidakjelasan pengungkapan. ujaran yang mengandung implikatur jenis ini. dapat dicontohkan dengan penggunaan kata bahkan. seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 12-14). (5) Bahkan Bapak Menteri Agama menghadiri sunatan anak saya . Berkaitan dengan prinsip kerja sama Grice di atas. mengungkapkan secara beraturan (Gunarwan 2004: 11 dan Thomas 1995: 63-64). memberi informasi sesuai yang diminta. Implikatur konvensional merupakan implikatur yang dihasilkan dari penalaran logika. dan (4) bidal cara (manner maxim). yaitu (1) bidal kuantitas (quantity maxim). misalnya untuk memberikan informasi secara tersirat (implicature) dan menjaga muka lawan bicara (politeness). dalam komunikasi kadang kita tidak mematuhi prinsip tersebut. seperti diungkap oleh Thomas (1995: 57). menyebut dua macam implikatur. seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 14). yaitu implikatur konvensional dan implikatur konversasional. menyatakan hanya yang menurut kita benar atau cukup bukti kebenarannya.3 Implikatur (Implicature) Grice. (3) bidal relasi (relation maxim). didasarkan atas beberapa alasan.

. Menurut mereka. 4. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 22). sedangkan contoh (6) merupakan implikatur konversasional yang bermakna ‘tidak’ dan merupakan jawaban atas pertanyaan maukah Anda menghadiri selamatan sunatan anak saya? Berbeda dengan Grice. Sperber dan Wilson (1995). Contoh. menurut Gazdar. Yang pertama ada karena konteks ujaran. penerima pesan (addressee) hanya memilih sesuatu yang dianggapnya relevan dengan apa yang hendak disampaikan oleh pengirim pesan (addresser) dalam konteks komunikasi tertentu. dan percakapan dapat terus berjalan meski hanya melalui bidal ini. implikatur dapat dibedakan menjadi implikatur khusus dan implikatur umum. sedangkan yang kedua tidak. menyebutkan bahwa bahasa dalam penggunaannya (language in use) selalu dapat diidentifikasi melalui hal yang disebutnya indeterminacy atau underspecification. misalnya contoh (5) di atas.(6) Saya kebetulan ke Inggris untuk studi selama dua tahun dan berangkat besok Contoh (5) di atas merupakan implikatur konvensional yang berarti Bapak Menteri Agama biasanya tidak menghadiri acara sunatan. bidal yang terpenting dalam teori Grice adalah bidal relevansi. Dalam teori relevansi dipelajari bagaimana sebuah muatan pesan dapat dipahami oleh penerimanya. Melalui hal tersebut.4 Teori Relevansi Teori relevansi yang dikembangkan oleh Sperber dan Wilson merupakan kritik terhadap empat maksim yang terdapat dalam prinsip kerja sama Grice. dengan menggunakan prinsip kerja sama Grice. misalnya contoh (6) di atas.

explicature atau degree of relevance. when do you want to go? . kedua. komunikasi tidak hanya memasukkan apa yang ada dalam pikiran pengirim pesan ke dalam pikiran penerima pesan. yaitu: pertama. Contoh yang ditulis Renkema (2004: 23) di bawah ini memberikan gambaran yang cukup jelas. Misalnya pada contoh (7) di atas. there is a shuttle service sixty euros one-way. Dengan kata lain.(7) Pastikan semua pintu terkunci jika meninggalkan ruangan ini. dan ketiga. Selanjutnya. (8) A: Well. Sperber dan Wilson (1995). Setiap pembaca dapat memahami bahwa pesan ini hanya berlaku jika ia akan meninggalkan ruangan tersebut untuk terakhir kalinya. misalnya untuk ke kamar mandi. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 22). untuk menjelaskan cara sebuah pesan dipahami penerimanya. menetapkan tiga macam hubungan antara cue dan implicature. tahapan yang harus dilewati untuk memahami implikatur dalam percakapan. ujaran merupakan sebentuk tindakan dari komunikasi ostensif. yaitu tidak perlu mengunci pintu jika keluar dalam batasan waktu dan situasi yang diperkirakan cukup aman. namun mencakup perluasan wilayah kognitif (cognitive environment) kedua belah pihak. bukan untuk setiap kali meninggalkan ruangan. misalnya tindakan untuk membuat sesuatu menjadi jelas dan dapat dimengerti oleh penerima pesan. pengirim pesan dapat memperkirakan reaksi penerima pesan terhadap pesan yang disampaikannya. pesan ini berada dalam spesifikasi tertentu yang disepakati oleh addresser dan addressee dalam konteks komunikasi.

you have booked seat which costs 60 euros. Then that's fifty. A: What weekend? B: Next weekend. dalam pengertian degree of relevance. Dalam percakapan tersebut. Dalam percakapan di atas. How does it works? You just turn up for the shuttle service? A: That might be cheaper. sedangkan that might be cheaper merupakan ujaran yang relevansinya lebih baik. merupakan ujaran yang relevansinya rendah dan membutuhkan processing effort yang lebih besar. pemahaman penerima pesan terhadap apa yang hendak disampaikan oleh pengirim pesan terjadi melalui beberapa tahapan. Dalam hal ini.5 Kesantunan (Politeness) .B: At the weekend. padahal A harus memastikan dengan jelas setiap pemesanan pembelian tiket. karena semakin tinggi contextual effect maka semakin rendah ia membutuhkan processing effort. it costs 50 euros. If you buy ticket when you turn up. 4. ujaran at the weekend. Begitu juga A. B mengira A mengerti bahwa at the weekend berarti next weekend. ia mengandaikan B dapat mengerti bahwa that migh be cheaper dapat berarti If you purchase a ticket now.

yaitu: pertama. jarak sosial atau social distance (D) antara pembicara dengan lawan bicaranya. kekuasaan atau power (P) yang dimiliki lawan bicara (Renkema 2004: 26). Berdasarkan konsep face yang dikemukakan oleh Goffman ini. dan ketiga. Pak. kedua. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 25). Mas? . sedangkan yang kedua disebut negative face. (9) a.Konsep strategi kesantunan yang dikembangkan oleh Brown dan Levinson diadaptasi dari konsep face yang diperkenalkan oleh seorang sosiolog bernama Erving Goffman (1956) (Renkema 2004: 24-25). misalnya permintaan "May I borrow your car?" mempunyai bobot yang berbeda dengan permintaan "May I borrow your pen?". boleh tanya? b. Intensitas FTA diekspresikan dengan bobot atau weight (W) yang mencakup tiga parameter sosial. Brown dan Levinson (1978) membangun teori tentang hubungan intensitas FTA dengan kesantunan yang terrealisasi dalam bahasa (Renkema 2004: 25). Menurut Goffman (1956). Kebutuhan yang pertama disebut positive face. Numpang tanya. dan citra diri di depan umum (public selfimage). berkenaan dengan bobot mutlak (absolute weight) tindakan tertentu dalam kebudayaan tertentu. "face merupakan gambaran citra diri dalam atribut sosial yang telah disepakati". setiap partisipan memiliki dua kebutuhan dalam setiap proses sosial: yaitu kebutuhan untuk diapresiasi dan kebutuhan untuk bebas (tidak terganggu). Dengan kata lain. yang dikutip oleh Jaszczolt (2002: 318). Menurut Goffman (1967: 5). tingkat gangguan atau rate of imposition (R). Contoh. misalnya bobot kedua permintaan di atas tidak terlalu besar jika kedua ungkapan tersebut ditujukan kepada saudara sendiri. harga diri (self-esteem). face dapat diartikan kehormatan. Maaf.

misalnya mahasiswa kepada dosen atau yang muda kepada yang tua. face work technique. semakin besar intensitas FTA mengancam stabilitas komunikasi. (baldly) b. Politeness (kesantunan) dalam hal ini dapat dipahami sebagai upaya pencegahan dan atau perbaikan dari kerusakan yang ditimbulkan oleh FTA. maka semakin kecil kemungkinan pembicara melakukan FTA. Brown dan Levinson (1978). could you lend me a hundred bucks? (positive polite) . Renkema (2004: 27) memberi contoh strategi tersebut. ujaran (9a) mungkin diucapkan pembicara yang secara sosial lebih rendah dari lawan bicaranya. Dalam hal ini. yang bertujuan untuk mendapatkan positive face disebut solidarity politeness. dapat dilakukan. misalnya dengan melakukan tindakan yang tidak kooperatif dalam komunikasi (Renkema 2004: 25).Dalam contoh di atas terlihat jelas. misalnya dengan pujian. Hey. Hey. sedangkan ujaran (9b) mungkin diucapkan kepada orang yang secara sosial jaraknya lebih dekat (9a). seperti diungkapkan oleh Renkema (2004: 26). dapat dilakukan. Kelima strategi tersebut diurut berdasarkan tingkat resiko "kehilangan muka". semakin tinggi resiko kehilangan muka. sedangkan politeness yang dilakukan untuk tujuan sebaliknya disebut respect politeness. Berkaitan dengan politeness strategy ini. lend me a hundred dollars. (5) a. Politeness. maka politeness strategy semakin dibutuhkan. dalam penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat banyak cara untuk menghindari FTA yang dapat direduksi menjadi lima macam cara. friend.

but could you lend me a hundred dollars? (negative polite) e. Pakar ini membahas teori kesantunan dalam kerangka retorika interpersonal (Eelen 2001: 6). Leech (dalam Eelen 2001: 8) menyebutkan enam bidal kesantunan. 5. I'm out of cash! I forgot to go to the bank today. Dalam hal ini. seperti dikemukakan oleh Yule (1996: 4). Oh no. bagaimana bentuk-bentuk tersebut dirangkai dalam kalimat. dan. bidal kesetujuan (aggreement maxim). meskipun tidak dapat diverifikasi secara empiris. ditambah bidal pertimbangan (consideration maxim). dipelajari bagaimana hubungan antarbentuk linguistis. sehingga bentuk seperti kucing menyapu halaman. yaitu bidal kebijaksanaan (tact maxim). .c. Dalam sintaksis. I'm sorry I have to ask. seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 19). Pragmatik dalam Linguistik Seperti telah saya uraikan sedikit dalam sub 3 di atas. salah satu kecenderungan yang melatarbelakangi berkembangnya pragmatik adalah antisintaksisme Lakoff dan Ross. tetap dapat dinyatakan apik secara sintaksis. bidal kerendahhatian (modesty maxim). bidal kedermawanan (generosity maxim). bidal pujian (approbation maxim). dan bagaimana rangkaian tersebut dapat dinyatakan well-formed secara gramatikal. (off record) Teori kesantunan lain dibahas oleh Leech (1983). bidal simpati (sympathy maxim). sintaksis tidak mempersoalkan baik makna yang ditunjuknya maupun pengguna bahasanya. Secara umum.

dalam analisis bahasa. Pembahasan tentang makna membawa kita pada pentingnya semantik. selain tata bahasa. sebuah pernyataan harus dapat diverifikasi secara empiris atau harus bersifat analitis. untuk dapat dinyatakan benar.Dalam kehidupan sehari-hari. Atas dasar ini. di samping sintaksis dan semantik. dapat dipahami bahwa perbedaan utama antara sintaksis dan pragmatik. Dengan demikian. pertama. Namun demikian. bahwa komunikasi tetap dapat berjalan meskipun menggunakan bahasa yang tidak apik secara sintaksis. Lebih tepatnya. yang tidak . yaitu tataran linguistik yang mengkaji hubungan antara bentuk-bentuk linguistik (linguistic forms) dan entitas yang terdapat di luar bahasa. Kegunaan pragmatik. sekaligus menyatakan pentingnya studi pragmatik dalam linguistik. melainkan atas dasar kepentingan agar komunikasi tetap dapat berjalan. karena tidak dapat diverifikasi secara empiris dan bukan termasuk pernyataan logika. dan maksud dari tuturan. makna juga merupakan hal yang tidak dapat diabaikan dalam analisis bahasa. dapat dipahami. dengan mengikuti kecenderungan dalam etnometodologi. meskipun bentuk seperti ini dapat saja kita jumpai. sehingga bentuk seperti seandainya saya dapat berdiri tentu saya tidak akan dapat berdiri dan saya akan datang besok pagi. bentuk kucing menyapu halaman adalah bentuk yang tidak berterima secara semantis. penggunaan bahasa tidak semata-mata didasarkan atas prinsip well-formed dalam sintaksis. bahasa digunakan oleh masyarakat tutur sebagai cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. tidak dapat dinyatakan benar karena yang pertama menyalahi logika dan yang kedua tidak dapat diverifikasi langsung. untuk menjelaskan fenomena pemakaian bahasa sehari-hari. terletak pada makna ujaran dan pada pengguna bahasa. Dengan kata lain. makna apa yang dituturkan. karena masih mengabaikan unsur pengguna bahasa. demi kebutuhan para anggota masyarakat tutur untuk mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka. pembahasan makna dalam semantik belum memadai. Dengan demikian. dan kedua. dibutuhkan juga pragmatik yang dalam hal ini saya pahami sebagai bidang yang mengkaji hubungan antara struktur yang digunakan penutur. dan memang sering kita temukan. Berdasarkan truth conditional semantics.

dalam arti praktis. Menurut Leech (dalam Eelen 2001: 6) perbedaan antara semantik dan pragmatik pada. bagaimana memahami implikatur percakapan. dalam hal ini dapat ditunjukkan dengan. Kaidah bersifat deskriptif. dalam pengajaran bahasa. keduanya tidak dapat benar-benar dipisahkan. dapat bertentangan dengan prinsip lain. dan memiliki batasan yang bersinggungan dengan prinsip lain. sedangkan pragmatik mengkaji hubungan antara makna ujaran dan daya (force) pragmatiknya. pertama. untuk melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik. terdapat keterkaitan. sedangkan pragmatik mengkaji makna ujaran yang terkomunikasikan atau dikomunikasikan. Lebih jauh lagi.terdapat dalam sintaksis dan semantik. seperti diungkapkan Gunarwan (2004: 22). semantik mengkaji makna ujaran yang dituturkan. pengetahuan tentang prinsip-prinsip pragmatik dalam bahasa yang dimaksud . saya akan mengemukakan pendapat Leech (1980). bagaimana strategi kesantunan mempengaruhi penggunaan bahasa. bahasa yang digunakan harus baik. absolut atau bersifat mutlak. dan memiliki batasan yang jelas dengan kaidah lainnya. semantik terikat pada kaidah (rule-governed). semantik mengkaji makna (sense) kalimat yang bersifat abstrak dan logis. dan bagaimana kondisi felisitas yang memungkinkan bagi sebuah tindak-tutur. karena selain benar. pengetahuan ini penting untuk membimbing pemelajar agar dapat menggunakan ragam bahasa yang sesuai dengan situasinya. misalnya. kaidah berbeda dengan prinsip berdasarkan sifatnya. Selanjutnya. sedangkan pragmatik terikat pada prinsip (principle-governed). Dalam pengajaran bahasa asing. sebab daya mencakup juga makna. dan kedua. sedangkan prinsip bersifat normatif atau dapat diaplikasikan secara relatif. Dalam pengajaran bahasa Indonesia. Selanjutnya. patut diketahui oleh pengajar untuk membekali pemelajar dengan pengetahuan tentang penggunaan bahasa menurut situasi tertentu. meskipun makna dan daya adalah dua hal yang berbeda. Tentang perbedaan yang pertama. Dengan kata lain. yaitu bahwa pengetahuan pragmatik. misalnya.

berkaitan dengan ketidakmampuan sintaksis dan semantik dalam menjelaskan fenomena penggunaan bahasa sehari-hari. kompetensi wacana (discourse competence) yang berkaitan dengan kemampuan untuk menuangkan gagasan secara baik. Berdasarkan penjelasan di atas. saya melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik setidaknya dalam dua hal. tujuan tulisan ini adalah menunjukkan bahwa pragmatik penting dipelajari dalam program studi linguistik. Penutup Seperti telah disebutkan di muka. 6. Daftar Acuan . Selain itu. dapat disimpulkan bahwa kaitan antara pragmatik dan pengajaran bahasa adalah dalam hal kompetensi komunikatif yang mencakup tiga macam kompetensi lain selain kompetensi gramatikal (grammatical competence). kedua. Secara umum. berkaitan dengan pengajaran bahasa. yaitu kompetensi sosiolinguistik (sociolinguistic competence) yang berkaitan dengan pengetahuan sosial budaya bahasa tertentu. dan kompetensi strategik (strategic competence) yang berkaitan dengan kemampuan pengungkapan gagasan melalui beragam gaya yang berlaku khusus dalam setiap bahasa.penting demi kemampuan komunikasi yang baik dalam bahasa tersebut. saya melihat kedudukan semantik dan pragmatik sebagai dua hal yang saling melengkapi. pertama. pragmatik merupakan satu-satunya tataran dalam linguistik yang mengkaji bahasa dengan memperhitungkan juga penggunanya. pragmatik berperan dalam pengembangan kompetensi komunikatif.

Brown. Yule. Oxford: Oxfod University Press. 2001. Amsterdam: John Benjamins Publishing Company. Semantics and Pragmatics: Meaning in Language and Discourse.Austin. Jan. London/New York: Longman. 1995. 2004.M. Dari Pragmatik ke Pengajaran Bahasa (Makalah Seminar Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah). Oxford University Press. Penelope. Jaszczolt. Introduction to Discourse Studies. Oxford. Jerome Publishing Gunarwan. Politeness: Some Universal in Language Usage. How to Do Things with Word (edisi kedua). Asim. Cambridge: Cambridge University Press. Thomas. Renkema. 1962.. Manchester. Meaning in Interaction: an Introduction to Pragmatics. Jenny. IKIP Singaraja. 2002. 1978. Eelen. Levinson. A Critique of Politeness Theories. 1996. Pragmatics. dan Stephen C. 2004. K. Edinburgh: Pearson Education. John L. Gino. George. . UK: St.

dimana penyampaiannya bukan dengan kata-kata ataupun suara tetapi melalui gerakan-gerakan anggota tubuh yang sering dikenal dengan istilah bahasa isyarat atau body language. potongan rambut. Agus M.co.http://books. menyatakan bahwa: “Komunikasi non verbal yaitu komunikasi yang pesannya dikemas dalam bentuk non verbal.wordpress. Sedangkan menurut Atep Adya Barata mengemukakan bahwa: “Komunikasi non verbal yaitu komunikasi yang diungkapkan melalui pakaian dan setiap kategori benda lainnya (the object language). M. komunikasi dengan gerak (gesture) sebagai . tanpa kata-kata”.. Menurut Drs.google.com/komunikasi/komunikasi-non-verbal/ Komunikasi Non Verbal Pengertian Bahasa non verbal merupakan salah satu bentuk komunikasi yang sering digunakan dalam presentasi.id/books? id=cpDAPMAmimcC&pg=PA3&lpg=PA3&dq=analisis+wacana&source=bl&ots =CbrnpF7pUi&sig=ENrqTRQYcF1V98jVoAJt3H8kTQA&hl=id&sa=X&ei=0TvTuujDsXTrQebm-T3CA&ved=0CEAQ6AEwBA#v=onepage&q=analisis %20wacana&f=false http://riswantohidayat.Sc. Selain itu juga. dan penggunaan simbol-simbol. penggunaan objek seperti pakaian. Hardjana. Ed. penggunaan bahasa non verbal dapat melalui kontak mata.

Gambar pria dan wanita di sebuah toilet. Melambaikan tangan kepada orang lain. Menunjukkan jari kepada orang lain diikuti dengan warna muka merah. Menggelengkan kepala yang berarti tidak setuju. dan komunikasi dengan tindakan atau gerakan tubuh (action language). berarti seseorang boleh masuk sesuai dengan jenisnya. Bentuk Komunikasi Non Verbal Bentuk-bentuk komunikasi non verbal terdiri dari tujuh macam yaitu: a. yang berarti seseorang tersebut sedang memanggilnya untuk datang kemari. berarti ia sedang marah.sinyal (sign language). seperti: Menganggukan kepala yang berarti setuju. Dalam kehidupan sehari-hari penggunaan bahasa non verbal sering digunakan oleh seseorang. Komunikasi visual .

Dengan gerakan tubuh. seseorang dapat mengetahui informasi yang disampaikan tanpa harus mengucapkan suatu kata. atau simbol-simbol. ekspresi wajah. lambanglambang. Dengan menggunakan gambar-gambar yang relevan. . Gerakan tubuh digunakan untuk menggantikan suatu kata yang diucapkan. sentuhan di punggung dan lain sebagainya merupakan salah satu bentuk komunikasi yang menyampaikan suatu maksud/tujuan tertentu dari orang yang menyentuhnya. pukulan. grafik-grafik. serta bentuk yang unik akan membantu mendapat perhatian pendengar. Komunikasi sentuhan Ilmu yang mempelajari tentang sentuhan dalam komunikasi non verbal sering disebut Haptik. melakukan kontak mata. Dibanding dengan hanya mengucapkan kata-kata saja. seperti. dan penggunaan warna yang tepat. isyarat dan sikap tubuh. penggunaan komunikasi visual ini akan lebih cepat dalam pemrosesan informasi kepada para pendengar. mengelus-ngelus. c. Komunikasi gerakan tubuh Kinesik atau gerakan tubuh merupakan bentuk komunikasi non verbal. b. Sebagai contoh: bersalaman. Seperti menganggukan kepala berarti setuju.Komunikasi visual merupakan salah satu bentuk komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan pesan berupa gambar-gambar.

g. temperatur dan warna. berarti seseorang tersebut menyatakan demikian karena atas dasar penglihatan dan perasaan kepada lingkungan tersebut. ”lingkungannya panas” dan lain-lain. Komunikasi penciuman Komunikasi penciuman merupakan salah satu bentuk komunikasi dimana penyampaian suatu pesan/informasi melalui aroma yang dapat dihirup oleh indera penciuman. ruang. seseorang tidak akan memahami bahwa parfum tersebut termasuk parfum bulgari apabila ia hanya menciumnya sekali. e. Ketika seseorang menyebutkan bahwa ”jaraknya sangat jauh”. ”ruangan ini kotor”. kotor dan lain-lain).d. Contoh: jarak. Komunikasi penampilan Seseorang yang memakai pakaian yang rapi atau dapat dikatakan penampilan yang menarik. Komunikasi citrasa . f. Tetapi orang akan menerima pesan berupa tanggapan yang negatif apabila penampilannya buruk (pakaian tidak rapih. Misalnya aroma parfum bulgari. Hal ini merupakan bentuk komunikasi yang menyampaikan pesan kepada orang yang melihatnya. Komunikasi lingkungan Lingkungan dapat memiliki pesan tertentu bagi orang yang melihat atau merasakannya. sehingga mencerminkan kepribadiannya.

Silabus Fungsional (Functional Syllabus) Model silabus bahasa lain yang sangat erat kaitannya dengan model silabus nosional adalah silabus fungsional ( functional syllabus ). dan meminta pertolongan . pemilihan dan pentahapan fungsi-fungsi komunikatif dilakukan setelah tujuan . menyatakan pendapat. Sehingga dapat dikatakan bahwa citrasa dari makanan/minuman tadi menyampaiakan suatu maksud atau makna. meminta informasi. lezat dan lain-lain. Dengan kata lain. memberikan petunjuk. Tujuan pembelajaran bahasa dideskripsikan dalam bentuk fungsi-fungsi komunikatif yang dibutuhkan oleh siswa. manis. dimana penyampaian suatu pesan/informasi melalui citrasa dari suatu makanan atau minuman. meminta maaf. 5. Penetapan fungsi-fungsi itu berpengaruh terhadap pemilihan dan pengurutan materi pelajaran yang berupa gramatika dan bentukbentuk bahasa yang digunakan untuk mengungkapkan fungsi-fungsi tersebut. seperti mengundang ke pesta ulang tahun. Seseorang tidak akan mengatakan bahwa suatu makanan/minuman memiliki rasa enak. berterima kasih. apabila makanan tersebut telah memakan/meminumnya.Komunikasi citrasa merupakan salah satu bentuk komunikasi. Silabus ini menitik-beratkan perhatiannya pada fungsi-fungsi komunikatif bahasa yang dijadikan sebagai landasan dalam pemilihan dan pengurutan materi pelajaran.

dan imaginatif (imaginative). Fungsi-fungsi ini secara umum dikelompokkan menjadi lima kelompok besar. barulah diikuti oleh penetapan bentuk-bentuk bahasa yang sesuai dan tepat. interpersonal (interpersonal). 23 Karena sifatnya yang berada di luar aspek kebahasaan. fungsi-fungsi komunikatif bahasa yang merupakan meteri inti dari keseluruhan materi pelajaran tidak dapat ditentukan dan diurutkan berdasarkan tingkat kesulitannya tetapi harus ditentukan berdasarkan kebutuhan siswa dalam berkomunikasi. yaitu fungsi personal (personal ). direktif (directive). tetapi penyajiannya harus dilakukan secara terpadu mengikuti fungsi-fungsi komunikatif bahasa yang sedang dibahas. Ini menunjukkan bahwa model silabus fungsional tidak menolak keberadaan dan keberartian materi gramatikal dalam pembelajaran bahasa. 16 . referensial (referential).pembelajaran ditetapkan.

com/2008/12/judul-analisis-wacana-kritistentang.blogspot.html .http://bagusboedhi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->