P. 1
Tabel Evaluasi Kalteng

Tabel Evaluasi Kalteng

|Views: 180|Likes:
Published by Juni Gultom

More info:

Published by: Juni Gultom on Jan 10, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/15/2013

pdf

text

original

Sections

Lampiran I

: Pencantuman Materi Muatan Teknis Rancangan Perda Provinsi Kalimantan Tengah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Kalimantan Tengah dan Kesesuaiannya dengan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional beserta Rencana Rincinya, Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang, Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi, Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang, dan Peraturan Perundang-Undangan Bidang Penataan Ruang Lainnya Nomor : Tanggal : Desember 2010 Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

No 1

Muatan Rancangan Perda RTRW TUJUAN, KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENATAAN RUANG 1. 1. Tujuan Penataan Ruang Bagian Kesatu Tujuan Penataan Ruang Pasal 2

Catatan Penyempurnaan

Tujuan Penataan Ruang Wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat adalah untuk mewujudkan Ruang Wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat yang berkeseimbangan lingkungan, berbasis sumber daya pertanian dan perkebunan, sumber daya kelautan, agroindustri, dan pariwisata ekologis
1. 2.Kebijakan Penataan Ruang Bagian Kedua Kebijakan Penataan Ruang Pasal 3 − −

Kebijakan sudah dirumuskan berdasarkan tujuan dan sudah sesuai dengan arahan Permen PU No. 15/2009 tentang Pedoman Penyusunan RTRW Provinsi Strategi sudah dirumuskan berdasarkan kebijakan dan sudah sesuai dengan arahan Permen PU No. 15/2009 tentang Pedoman Penyusunan RTRW Provinsi

Kebijakan penataan ruang wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat meliputi : (1) Pengaturan keseimbangan pemanfaatan ruang yang berkelanjutan; (2) Pengembangan pertanian dan perkebunan sawit didukung dengan industri pengolahan yang berwawasan lingkungan; (3) Pengembangan dan pelestarian potensi sumber daya kelautan sepanjang pantai Kumai yang tidak merusak lingkungan; (4) Pengembangan pariwisata berbasis cagar budaya Kerajaan Kotawaringin dan pariwisata ekologis berbasis hutan untuk Taman Nasional Tanjung Puting, Taman Wisata Tanjung Keluang dan Suaka Margasatwa Sungai Lamandau; dan (5) Pengembangan jaringan trasportasi yang terpadu untuk mewujudkan

1

No

Muatan Rancangan Perda RTRW

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

keseimbangan perkembangan keterisolasian daerah;
a.

antarwilayah

dan

membuka

Kebijakan penataan ruang wilayah provinsi meliputi: Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan jaringan prasarana yang terpadu, terutama prasarana perkotaan dan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi wilayah dalam rangka mendukung pengembangan potensi provinsi; Perwujudan kawasan agribisnis pengembangan pertanian; dan agroindustri dalam rangka mendukung

b. c. d. e.

Perwujudan Kalimantan Tengah sebagai lumbung pangan; Perwujudan Kalimantan Tengah sebagai lumbung energi; Pencegahan dampak negatif kegiatan ekonomi yang dapat menimbulkan kerusakan lingkungan hidup terutama akibat kegiatan pertanian dan energi; Pengembangan potensi berkembang melalui penetapan kawasan strategis provinsi; Perwujudan sinergitas dan optimalisasi pendayagunaan sumberdaya secara terpadu dan berkelanjutan dalam pembangunan wilayah di Kalimantan Tengah. Peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan negara.

f.
g. h.

1.3 Strategi Penataan Ruang Pasal 4

(1) Kebijakan penataan ruang sebagaimana dimaksud pada pasal 7 ayat (1) dilakukan dengan strategi : a. Mendorong terselenggaranya pembangunan kawasan yang dapat menjamin tetap berlangsungnya konservasi lahan hutan, menjamin tersedianya air tanah dan air permukaan, serta penanggulangan bahaya rawan kebakaran hutan, dengan mempertimbangkan daya dukung lingkungan yang berkelanjutan dalam pengelolaan kawasan; b. Meningkatkan pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian kerusakan dan pencemaran lingkungan; c. Memastikan tata batas kawasan lindung dan kawasan budidaya untuk memberikan kepastian rencana pemanfaatan ruang dan
2

No

Muatan Rancangan Perda RTRW

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

investasi; d. Menggalang kerjasama regional, nasional dan internasional dalam rangka mempertahankan fungsi kawasan lindung Taman Nasional Tanjung Puting, Suaka Marga Satwa Lamandau dan Taman Wisata Tanjung Keluang; e. Mewujudkan Kota Pangkalan Bun sebagai pusat pelayanan regional f. Meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan sumber daya keanekaragaman hayati g. Mempertahan prosentase berdasarkan fungsinya. kawasan hutan dan non hutan

h. Pembangunan prasarana dan sarana wilayah yang berkualitas untuk membuka keterisolasian kawasan tertinggal i. Mendorong terselenggaranya pengembangan kawasan yang berdasar atas keterpaduan antar perkotaan dan perdesaan sebagai satu kesatuan wilayah perencanaan;
Strategi peningkatan akses pelayanan perkotaan dan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi wilayah dalam rangka mendukung pengembangan potensi provinsi terdiri atas: a. b. c. meningkatkan keterkaitan antar kawasan perkotaan, antara PKN, PKW, dan PKL; mengembangkan pusat pertumbuhan baru di kawasan yang potensial dan belum terlayani oleh pusat pertumbuhan yang ada; mendorong kawasan perkotaan dan pusat-pusat pertumbuhan agar lebih produktif, kompetitif serta berdaya dukung terhadap pengembangan potensi provinsi.

Pasal 5 Strategi peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana yang terpadu dalam rangka mendukung pengembangan potensi provinsi terdiri atas: a. meningkatkan kualitas dan kuantitas jaringan prasarana transportasi dan mewujudkan keterpaduan pelayanan transportasi antarmoda baik darat, laut maupun udara; 3

No b. c.

Muatan Rancangan Perda RTRW mendorong pengembangan prasarana utama untuk menjangkau kawasan-kawasan terpencil; meningkatkan pengembangan jaringan energi secara optimal serta mewujudkan sistem penyediaan tenaga listrik ke seluruh pusat kegiatan dan kawasan permukiman; meningkatkan pengembangan akses telekomunikasi ke seluruh pusat kegiatan dan kawasan permukiman; mengembangkan jaringan prasarana air bersih untuk kawasan permukiman; mengembangkan sistem prasarana persampahan pada kawasan perkotaan. Pasal 6 Strategi perwujudan kawasan agribisnis dan agroindustri serta minapolitan atau sentra produksi perikanan dalam rangka mendukung pengembangan pertanian terdiri atas: a. b. menetapkan kawasan yang memiliki potensi agribisnis dan agroindustri serta minapolitan atau sentra produksi perikanan; mengembangkan jaringan prasarana jalan dan moda transportasi lainnya yang mendukung pengembangan kawasan agribisnis dan agroindustri serta minapolitan atau sentra produksi perikanan; mengembangkan sarana pengolahan hasil pertanian; meningkatkan jaringan prasarana air bersih pada kawasan agribisnis dan agroindustri serta minapolitan atau sentra produksi perikanan; meningkatkan jaringan prasarana energi untuk mendukung kawasan agribisnis dan agroindustri serta minapolitan atau sentra produksi perikanan; mengembangkan jaringan distribusi pemasaran hasil agribisnis dan agroindustri serta minapolitan atau sentra produksi perikanan; mengembangkan pelabuhan laut yang menunjang distribusi hasil pertanian; mengembangkan kawasan andalan laut Kuala Pembuang serta kawasan pantai yang berpotensi untuk pengembangan perikanan tambak sebagai sentra produksi perikanan.

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

d. e. f.

c. d. e. f. g. h.

Pasal 7 Strategi perwujudan Kalimantan Tengah sebagai lumbung pangan terdiri atas: a. b. c. d. e. f. mengembangkan kawasan pertanian dalam rangka mendukung lumbung pangan; menetapkan kawasan yang berpotensi sebagai lumbung pangan; mengembangkan jaringan prasarana jalan dan moda transportasi lainnya yang mendukung pengembangan kawasan lumbung pangan; mengembangkan sarana pengolahan hasil pertanian; mengalokasikan ruang untuk pengembangan gudang/depo pangan; meningkatkan jaringan prasarana pengairan pada kawasan pertanian; 4

No g.

Muatan Rancangan Perda RTRW mengembangkan jaringan distribusi pemasaran hasil pertanian; Pasal 8 Strategi perwujudan Kalimantan Tengah sebagai lumbung energi terdiri atas: a. b. c. d. e. mengembangkan kawasan pembangkit listrik untuk mendukung provinsi sebagai lumbung energi; meningkatkan jaringan transmisi dan distribusi untuk mendukung provinsi sebagai lumbung energi; menetapkan lokasi pembangkit listrik pada kawasan berpotensi energi dan tidak berada di kawasan rawan bencana dan konservasi; merencanakan dan menetapkan pembangkit listrik ke pengguna; jalur transmisi dan distribusi dari pusat

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

mengembangkan jaringan prasarana yang mendukung pengembangan kawasan pembangkit listrik. Pasal 9

Strategi pencegahan dampak negatif kegiatan ekonomi yang dapat menimbulkan kerusakan lingkungan hidup terutama akibat kegiatan pertanian dan energi terdiri atas: a. b. c. d. menyelenggarakan upaya terpadu pelestarian fungsi sistem ekologi wilayah; melindungi kemampuan lingkungan hidup dari tekanan perubahan dan/atau dampak negatif yang ditimbulkan oleh kegiatan pertanian dan energi; melindungi kemampuan lingkungan hidup untuk menetralisir, menyerap zat, energi, dan/atau komponen lain yang dibuang ke dalamnya; mencegah terjadinya tindakan yang dapat secara langsung atau tidak langsung menimbulkan perubahan sifat fisik lingkungan yang mengakibatkan terhambatnya perwujudan pembangunan yang berkelanjutan; mengembangkan kegiatan budidaya yang mempunyai daya antisipatif dan adaptasi bencana di kawasan rawan bencana alam.

e.

Pasal 10 Strategi pengembangan kawasan strategis provinsi terdiri atas: a. b. c. d. e. menetapkan lokasi-lokasi kawasan strategis provinsi dari sudut kepentingan ekonomi, sosial-budaya, lingkungan, dan teknologi; meningkatkan prasarana dan sarana pada kawasan strategis provinsi; meningkatkan dan mengoptimalkan fungsi budaya pada kawasan strategis provinsi dari sudut kepentingan budaya; menumbuhkembangkan nilai budaya lokal yang luhur dalam kehidupan masyarakat melalui pelestarian budaya lokal; melestarikan seni dan budaya Dayak seperti musik, tarian, lagu, upacara adat, seni kerajinan dan olahraga tradisonal; 5

No f. g. h.

Muatan Rancangan Perda RTRW menetapkan kawasan strategis provinsi yang berfungsi lindung; menegaskan dan merehabilitasi fungsi lindung kawasan yang mengalami penurunan kualitas lingkungan; mencegah dan membatasi pemanfaatan ruang yang berpotensi mengurangi daya lindung kawasan; Pasal 11 Strategi peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan terdiri atas: a. menetapkan kawasan strategis nasional dengan fungsi khusus pertahanan dan kemanan; b. mengembangkan kawasan lindung dan/atau kawasan budidaya tidak terbangun di sekitar kawasan khusus pertahanan dan keamanan; c. mengembangkan kegiatan budi daya secara selektif didalam dan sekitar kawasan khusus pertahanan untuk menjaga fungsi pertahanan dan keamanan; d. turut serta mengira dan memelihara aset-aset pertahanan/TNI.

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

2

RENCANA STRUKTUR RUANG WILAYAH BAB III RENCANA STRUKTUR RUANG WILAYAH PROVINSI Bagian Kesatu Umum Pasal 12 (1) a. b. c. (2) Rencana Struktur Ruang Wilayah Provinsi terdiri atas: Rencana Pengembangan Sistem Perkotaan; Sistem Jaringan Prasarana utama; dan Sistem Jaringan Prasarana lainnya.

Rencana Struktur Ruang sudah sesuai dengan arahan Permen PU No. 15/2009 tentang Pedoman Penyusunan RTRW Provinsi

Rencana Struktur Ruang Wilayah Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digambarkan dalam peta dengan tingkat ketelitian skala 1 : 250.000, yang tercantum sebagai Lampiran III-1a dan III-1b yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

2.1. Sistem Perkotaan Bagian Kedua Rencana Pengembangan Sistem Perkotaan Wilayah Provinsi

6

No

Muatan Rancangan Perda RTRW Pasal 13 (1) Rencana Pengembangan Sistem Perkotaan Wilayah Provinsi sebagaimana dimaksud dalam Error: Reference source not found2 ayat (1) huruf a, meliputi :

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

a. b. c.

PKN di Palangka Raya; PKW meliputi Pangkalan Bun di Kabupaten Kotawaringin Barat, Sampit di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kuala Kapuas di Kabupaten Kapuas, Buntok di Kabupaten Barito Selatan, Muara Teweh di Kabupaten Barito Utara. PKL meliputi Sukamara di Kabupaten Sukamara, Nanga Bulik di Lamandau, Kuala Pembuang di Kabupaten Seruyan, Kasongan di Katingan, Pulang Pisau di Kabupaten Pulang Pisau, Kuala Kurun di Gunung Mas, Puruk Cahu di Kabupaten Murung Raya, Tamiyang Kabupaten Barito Timur. Kabupaten Kabupaten Kabupaten Layang di

(2)

Rincian Rencana Pengembangan Sistem Perkotaan Wilayah Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum sebagai Lampiran III.1 yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini. Sistem Jaringan Prasarana Utama Bagian Ketiga Rencana Pengembangan Sistem Jaringan Prasarana Utama Pasal 1

2. 2.

Rencana Pengembangan Sistem Jaringan Transportasi sebagaimana dimaksud dalam Error: Reference source not found2 ayat (1) huruf b meliputi: a. b. c. d. sistem jaringan transportasi darat; sistem jaringan transportasi perkeretaapian; sistem jaringan transportasi laut; dan sistem jaringan transportasi udara. Pasal 15 Rencana pengembangan sistem jaringan transportasi darat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf a terdiri atas: a. b. rencana jaringan lalu lintas angkutan jalan; rencana jaringan angkutan sungai dan penyeberangan. Pasal 16 (1) Rencana jaringan lalu lintas angkutan jalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 huruf a terdiri atas: a. jaringan jalan; b. jaringan prasarana; dan 7

No

Muatan Rancangan Perda RTRW c. jaringan pelayanan. (2) atas: a. Jaringan jalan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a terdiri

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

jaringan jalan arteri primer meliputi: Jalan Lintas Kalimantan Poros Selatan yaitu: Batas Prov. Kalimantan Barat – Kudangan – Penopa – Kujan - Runtu – Simpang Runtu – Batas Kota P. Bun – P. Lada – Jl. A. Yani (P. Bun) dan Jl. Pakunegara (P. Bun) – Asam Baru – Km. 65 SP. Bangkal – Batas Kota Sampit – Jl. Sudirman dan Jl. A. Yani (Sampit) – Palantaran – Jl. Cilik Riwut (Sampit) – Kasongan – Tangkiling - Batas Kota P. Raya, Jl. Cilik Riwut, Jl. RTS. Milono, Jl. Adonis Samad (P. Raya) – SP. Kereng Bangkirei – Bereng Bengkel – Pilang (Km 35) - Pulang Pisau – Batas Kota Kuala Kapuas, Jl. Cilik Riwut, Jl. Mahakam, Jl. Kalimantan (Kuala Kapuas) – Batas Prov. Kalimantan Selatan, sepanjang 819 Km

b.

jaringan jalan kolektor primer K1 meliputi: 1. Jalan Lintas Kalimantan Poros Tengah yaitu ruas Batas Kalimantan Timur – Benangin – Lampeong – Jl. Melawahan – Benangin – Batas Kota M. Teweh, Jl. Ring Road, Jl. Pendreh, Jl. Pertiwi, Jl. Puruk Cahu, Batas Kota M. Teweh – Km 50 (Pasar Punjung) – Puruk Cahu – SP. Muara Laung – Tumbang Lahung – Sei Hanyu - Kuala Kurun – Tewah - Tumbang Jutuh – Tumbang Talaken - Rabambang – Tumbang Samba – Tumbang Hiram – Tumbang Senamang – Tumbang Kabuari – Batas Prov. Kalbar sepanjang 805 Km) jalan Penghubung Antar Jalan Lintas Kalimantan : a) Jl. Dermaga Seberang (Muara Teweh) – Kandui – Patas Ampah – Dayu – Tamiyang Layang – Pasar Panas - Batas Prov. Kalimantan Selatan sepanjang kurang lebih 187 Km Batas Kota Muara Teweh – Kandui – Simpang Sei Asem – Takaras – Tumbang Talaken – Jl. Iskandar dan Jl. Diponegoro (Pangkalan Bun) –Kumai – Batas Kota Pangkalan Bun, sepanjang 170 Km. jalan Lainnya yaitu ruas Km. 65/Sp. Bangkal – Bangkal sepanjang 13 Km. Jalan Penghubung Antar Jalan Lintas Kalimantan : a) b) 2. a) b) c) d) e) Palangka Raya – Buntok – Ampah sepanjang 256 Km. Bukit Liti – Bawan – Kuala Kurun sepanjang 130 Km. jalan Sampit – Samuda – Ujung Pandaran – Kuala Pembuang – Telaga Pulang – Bangkal sepanjang 250 Km jalan Pelantaran – Parenggean – Tb. Sangai – Tb. Kalang sepanjang 126 Km. sepanjang 67 Km. jalan Pangkalan Bun – Kumai – Teluk Bogam jalan Pulang Pisau – Bahaur sepanjang 80 Km. jalan Kuala Kapuas – Lupak Dalam sepanjang 80 8

2.

b)

c) c.

jaringan jalan kolektor primer K2 meliputi: 1.

Jalan Lainnya :

No Km. f) g) h) d. 1. 2. 3. 4. 5. 78,15 Km. 6. 7. 8. Km. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25.

Muatan Rancangan Perda RTRW

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

jalan Kujan – Nanga Bulik sepanjang 3,5 Km. jalan Lingkar Utara (Sampit) sepanjang 12 Km. jalan Lingkar Selatan (Sampit) sepanjang 7,5 Km.

jaringan jalan kolektor primer K3 meliputi : Kuala Kapuas – Palingkau – Dadahup – Jenamas – Mangkatip – Bengkuang – Buntok, sepanjang 130 Km. Kuala Kapuas – Mandomai – Mentangai – Timpah – Pujon – Sei Hanyu, sepanjang 302,5 Km. Bawan – Lahei – Batekong, sepanjang 261,18 Km. Timpah/Sp. Batapah – Pepas/Kemawen – Butong – Lemo – Muara Teweh, sepanjang 318,88 Km. Muara Teweh (Km 34) – Datan – Sp. Benangin, sepanjang

Benangin – Haragandang – Muara Laung – Saripoi – Tb. Lahung, sepanjang 235,06 Km. Pasar Panas – Bentot – Kambitin/Batas Kalimantan Selatan, sepanjang 27,82 Km. Bentot – Hayaping – Patung, sepanjang kurang lebih 30,7

Sp. Pundu – Tb. Samba – Tb. Kalang – Tb. Senamang – Tb. Manjul – Tapin Bini – Penopa, sepanjang 301,85 Km. Pangkalan Bun – Kotawaringin Lama – Riam Durian, sepanjang 60,5 Km. Pangkalan Bun – Seberang Gajah – Lunci – Kuala Jelai, sepanjang 256,9 Km. Sei Kalap – Sei Rangit – Pelabuhan Bumi Hardjo, sepanjang 17,5 Km. Nanga Bulik – Batu Kotam – Sagu – Ajang – Balai Riam – Batas Kalimantan Barat, sepanjang 97 Km. Kujan – Rantau Pulut – Tb. Sangai, sepanjang 150 Km. Sp. Penopa – Riam Durian – Sukamara, sepanjang kurang lebih 112,1 Km. Sukaramai/Batas Kalimantan Barat – Sukamara – Lunci, sepanjang 42 Km. Bereng Bengkel – Dermaga Kalampangan, sepanjang 5,01 Km. Sp. Kr. Bangkirai – Kereng Bangkirai, sepanjang 9,15 Km. Pepas/Kemawen – Pujon, sepanjang 292 Km. Lupu – Balai Riam, sepanjang 11 Km. Jalan Imam Bonjol (Palangka Raya), sepanjang 0,8 Km. Jalan Tjilik Riwut (Kasongan), sepanjang 0,25 Km. Jalan Revolusi (Kasongan), sepanjang 0,80 Km. Jalan Lingkar Kota (Kuala Pembuang), sepanjang 12,5 Km. Jalan Persil (Kuala Pembuang), sepanjang kurang lebih 1,65 Km. 9

No

Muatan Rancangan Perda RTRW (3) Jaringan prasarana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b terdiri atas: a. Terminal penumpang Tipe A di Palangka Raya, Ampah, Muara Teweh dan Nanga Bulik dan terminal penumpang Tipe B di Kota Sukamara, Pangkalan Bun, Sampit, Kuala Pembuang, Kasongan, Pulang Pisau, Kuala Kurun, Buntok, Tamiyang Layang dan Puruk Cahu. Penentuan lokasi terminal penumpang dipertimbangkan yang dekat atau berakses tinggi terhadap moda transportasi lainnya. b. Terminal barang berupa terminal truk angkutan barang yang lokasinya di dekat pergudangan, pelabuhan laut dan pelabuhan penyeberangan yaitu di Kumai, Sampit dan Kuala Kapuas. c. Jembatan Timbang Anjir serapat Km 12 di Kapuas, Jembatan Timbang Pasar Panas di Barito Timur, Jembatan Timbang Simpang Runtu di Kotawaringin Barat, Jembatan Timbang Sampit di Kotawaringin Timur, Jembatan Timbang Simpang Kandui di Barito Utara, Jembatan Timbang Bukit Liti di Pulang Pisau. (4) Jaringan pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c terdiri atas: jaringan pelayanan angkutan antara seluruh ibukota kabupaten dalam provinsi meliputi: a. Angkutan Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Palangka Raya – Banjarmasin – Buntok; Palangka Raya – Banjarmasin – Muara Teweh; Palangka Raya – Banjarmasin – Puruk Cahu; Kuala Kapuas – Banjarmasin; Palangka raya – Banjarmasin; Puruk Cahu – Banjarmasin; Muara Teweh – Banjarmasin; Palangka Raya – Pangkalan Bun – Nanga Bulik – Pontianak; Muara Teweh – Lampeyong – Balikpapan. Palangka Raya – Kasongan Palangka Raya – Sampit Palangka Raya – Kuala Pembuang Palangka Raya – Pangkalan Bun Palangka Raya – Sukamara Palangka Raya – Nanga Bulik Palangka Raya – Pulang Pisau Palangka Raya – Kuala Kapuas Palangka Raya – Tamiang Layang

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

b. Angkutan Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) :

10. Palangka Raya – Buntok 11. Palangka Raya – Muara Teweh 12. Palangka Raya – Puruk Cahu 13. Palangka Raya – Kuala Kurun 10

No

Muatan Rancangan Perda RTRW 14. Palangka Raya – Parenggean 15. Palangka Raya – Tumbang Samba 16. Palangka Raya – Pangkoh 17. Palangka Raya – Tumbang Jutuh 18. Kasongan – Sampit 19. Kasongan – Pangkalan Bun 20. Sampit – Pangkalan Bun 21. Sampit – Sukamara 22. Sampit – Kuala Pembuang 23. Kuala Pembuang – Nanga Bulik 24. Kuala Pembuang – Pangkalan Bun 25. Pangkalan Bun – Nanga Bulik 26. Pangkalan Bun – Sukamara 27. Sukamara – Nanga Bulik 28. Sukamara – Nanga Bulik 29. Pulang Pisau – Kuala Pembuang 30. Pulang Pisau – Kuala Kapuas 31. Pulang Pisau – Kuala Kurun 32. Pulang Pisau – Buntok 33. Pulang Pisau – Muara Teweh 34. Pulang Pisau – Tamiyang Layang 35. Pulang Pisau – Bawan 36. Pulang Pisau – Bukit Rawi 37. Kuala Kapuas – Kuala Kurun 38. Kuala Kapuas – Buntok 39. Kuala Kapuas – Muara Teweh 40. Kuala Kapuas – Tamiyang Layang 41. Kuala Kapuas – Bawan 42. Tamiyang Layang – Kuala Kurun 43. Tamiyang Layang – Buntok 44. Tamiyang Layang – Muara Teweh 45. Tamiyang Layang – Puruk Cahu 46. Buntok – Kuala Kurun 47. Buntok – Pujon 48. Buntok – Muara Teweh 49. Buntok – Puruk Cahu 50. Buntok – Ampah

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

11

No

Muatan Rancangan Perda RTRW 51. Buntok – Pasar Panas 52. Buntok – Telang Baru 53. Muara Teweh – Pujon 54. Muara Teweh – Puruk Cahu 55. Muara Teweh – Kuala Kurun 56. Puruk Cahu – Kuala Kurun 57. Puruk Cahu – Pujon 58. Kuala Kurun – Pujon c. Angkutan Perintis : 1. 2. 3. Kasongan - Buntut Bali Muara Teweh – Datai Niru Buntok – Gagutur

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

(5) Rincian sistem jaringan lalu lintas angkutan jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum sebagai Lampiran III.2. dan III.3, yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini. Pasal 17 Rencana jaringan angkutan sungai dan penyeberangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 huruf b meliputi : a. Jaringan angkutan sungai : 1. Kuala Kapuas – Paju Epat (Barito Timur) – Buntok (Barito Selatan) – Muara Teweh (Barito Utara) – Puruk Cahu (Murung Raya) 2. Kapuas Kuala-Kuala Kapuas. 3. Kuala Kapuas – Tuanan – Timpah – Kapuas Hulu, serta sungai Kuala Kapuas – Tuanan – Banamatingang 4. Hulu. Kuala Kapuas – Pahandut – Mihing Raya – Rungan

5. Kuala Kapuas – Kahayan Hilir (Pulang Pisau) – Jekan Raya (Palangkaraya) – Manahing (Gunung Mas) 6. Kahayan Kuala – Pandih Batu. Katingan Hulu – Katingan Tengah – Palangkaraya 7. 8. Kereng Bengkirai – Sebangau Kuala Katingan Hulu – Katingan Tengah – Sampit

9. Katingan Kuala – Mendawai – Bukit Raya – Kamipah – Tewang S. Garing – Pulau Malan-Katingan Tengah – Katingan Hulu – Marikit 10. 11. 12. 13. Katingan Kuala – Senaman Mantikei – Petak Malai. Sampit – Cempaga Hulu Teluk Sampit – Sampit. Sampit – Mentaya Hulu – Antang Kalang. 12

No 14. 15. 16. 17. 18. 19. Delang 20. 21. 22. b. 1. 2.

Muatan Rancangan Perda RTRW Kuala Pembuang – Seruyan Tengah – Seruyan Hulu. Seruyan Hulu – Seruyan Tengah – Pangkalanbun Seruyan Hulu – Seruyan Tengah – Sampit Kumai – Pangkalan Lada Pangkalan Bun – Arut Utara. Pangkalan Bun – Kotawaringin Lama – Lamandau – Kotawaringin Lama – Bulik Timur Kotawaringin Lama – Pangkalanbun – Kumai Kuala Jelai – Sukamara – Balai Riam.

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

Jaringan angkutan penyeberangan : Kumai – Kendal di Jawa Tengah (Lintas Koneksitas); Bahaur – Paciran di Lamongan, Jawa Timur (Lintas Penghubung Sabuk). Pasal 18

(1) Rencana pengembangan sistem jaringan Transportasi perkeretaapian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf b yaitu jaringan jalur kereta api lintas utama. (2) Jaringan jalur kereta api lintas utama provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : a. Sistem Jaringan Jalur Kereta Api utama Provinsi meliputi : 1. Jalur kereta api Puruk Cahu – Muara Teweh – Buntok – Mengkatip – Kuala Kapuas – Batanjung; 2. Jalur kereta api Puruk Cahu – Kuala Kurun – Rabambang – Palangka Raya – Pulang Pisau – Kuala Kapuas; 3. Jalur kereta api Rabambang – Tumbang Samba – Sampit – Kuala Pembuang – Teluk Segintung; 4. Jalur kereta api Tumbang Samba – Rantau Pulut – Nanga Bulik – Pangkalan Bun – Kumai; 5. Jalur kereta api Kudangan – Nanga Bulik – Kumai. b. Sistem Jaringan Jalur Kereta Api Antarkota berdasarkan Raperpres Rencana Tata Ruang Pulau Kalimantan yang meliputi Jalur Kereta Api dengan: 1. Prioritas tinggi, Banjarmasin; 2. Prioritas sedang, Buntok – Tanjung; ruas jalan kereta api Palangka Raya – ruas jalan kereta api Muara Teweh –

3. Prioritas rendah ruas jalan kereta api Buntok – Palangka Raya, Palangka Raya – Sampit – Pangkalan Bun, Pangkalan Bun – Sanggau. b. Simpul Jaringan Jalur Kereta Api Barang di Kalimantan Tengah meliputi : Stasiun Kota Palangka Raya, perkotaan Pangkalan Bun, Kumai (Kabupaten Kotawaringin Barat), Sampit (Kabupaten Kotawaringin Timur), Buntok (Kabupaten Barito 13

No

Muatan Rancangan Perda RTRW Selatan), Muara Teweh (Kabupaten Barito Utara), Puruk Cahu (Kabupaten Murung Raya), Kuala Kapuas, Batanjung (Kabupaten Kapuas), Kuala Kurun, Rabambang (Kabupaten Gunung Mas), Nanga Bulik (Kabupaten Lamandau), Kuala Pembuang/Teluk Segintung, Rantau Pulut (Kabupaten Seruyan), Tumbang Samba (Kabupaten Katingan). (3) Pengembangan jaringan kereta api di provinsi Kalimantan Tengah merupakan prioritas tinggi dan dititikberatkan pada angkutan barang. Pasal 19 (1) Rencana pengembangan sistem jaringan transportasi laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf c terdiri atas :

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

a. tatanan kepelabuhanan, dan b. alur pelayaran.
(2) Tatanan kepelabuhanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi :

a. b.

Pelabuhan yang ditetapkan sebagai pelabuhan Utama yaitu Pelabuhan Sampit; Pelabuhan yang ditetapkan sebagai pelabuhan pengumpul sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Pelabuhan Kumai di Kabupaten Kotawaringin Barat; Pelabuhan Pangkalan Bun di Kabupaten Kotawaringin Barat; Pelabuhan Sukamara di Kabupaten Sukamara; Pelabuhan Teluk Segintung di Kabupaten Seruyan; Pelabuhan Kuala Kapuas (Batanjung) di Kabupaten Kapuas; Pelabuhan Pulang Pisau di Kabupaten Pulang Pisau. pelabuhan Pembuang di pengumpan Kabupaten

c.

Pelabuhan yang ditetapkan sebagai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Pisau; Seruyan; Katingan; Timur; Pisau; Raya; Pelabuhan Kuala

Pelabuhan Pegatan Mendawai di Kabupaten Pelabuhan Samuda di Kabupaten Kotawaringin Pelabuhan Teluk Sangiang di Kabupaten Pulang Pelabuhan Kereng Bangkirai di Kota Palangka Pelabuhan Kuala Jelai di Kabupaten Sukamara; Pelabuhan Teluk Sebangau di Kabupaten Pulang Pelabuhan Bukit Pinang di Kota Palangka Raya; 14

No 9. 10. 11. d. Selatan; Selatan.

Muatan Rancangan Perda RTRW Pelabuhan Kelanis di Kabupaten Barito Selatan; Pelabuhan Rangga Ilung di Kabupaten Barito Pelabuhan Jenamas di Kabupaten Barito

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

Pelabuhan yang ditetapkan sebagai pelabuhan tempat pendaratan ikan (TPI) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah : 1. 2. 3. 4. 5. Timur. Pelabuhan Bahaur dan Batanjung di Kabupaten Kapuas; Pelabuhan Kuala Jelai di Kabupaten Sukamara; Pelabuhan Kuala Pembuang, di Kabupaten aseruyan; Pelabuhan Kumai di Kabupaten Kotawaringin Barat; Pelabuhan Pagatan dan Ujung Pandaran di Kabupaten Kotawringin

e. Tatanan kepelabuhan harus menjaga fungsi pertahanan dan keamanan negara, dengan tidak menutup akses pelabuhan dan fasilitas pemeliharaan dan perbaikan TNI AL. (3) Alur pelayaran nasional sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hutuf b meliputi: a. b. Alur pelayaran Internasional : Sampit – Luar Negeri; Alur pelayaran Nasional :Sampit – Semarang; Sampit – Surabaya; Sampit – Jakarta; Kumai - Semarang; Kumai – Surabaya; Kumai – Jakarta; Pangkalan Bun – Semarang; Pangkalan Bun – Surabaya; Pangkalan Bun – Jakarta; Sukamara – Semarang, Sukamara – Surabaya, Sukamara - Jakarta; Teluk Segintung – Semarang; Teluk Segintung – Surabaya; Teluk Segintung – Jakarta; Batanjung di Kabupaten Kapuas – Semarang, Batanjung di Kabupaten Kapuas – Surabaya; Batanjung di Kabupaten Kapuas - Jakarta; Pulang Pisau – Semarang; Pulang Pisau – Surabaya; Pulang Pisau - Jakarta. Pasal 20 (1) Rencana pengembangan Sistem Jaringan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf d meliputi : Transportasi Udara

a. b. a. b.

Tatanan Kebandarudaraan, dan Ruang Udara untuk Penerbangan. Bandar Udara Pengumpul Skala Tersier yang meliputi Bandara Tjilik Riwut di Kota Palangka Raya dan Iskandar di Pangkalan Bun Kabupaten Kotawaringin Barat; Bandar Udara Pengumpan yang meliputi Bandara Haji Asan di Kabupaten Kotawaringin Timur, Bandara Kuala Pembuang di Kabupaten Seruyan, Bandara Tumbang Samba di Kabupaten Katingan, Bandara Kuala Kurun di Kabupaten Gunung Mas, Dirung di Kabupaten Murung Raya, Bandara Beringin dan Bandara Muara Teweh Baru di Kabupaten Barito Utara, Bandara Sanggu di Kabupaten 15

(2) Tatanan kebandarudaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi :

No Barito Selatan.

Muatan Rancangan Perda RTRW

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

c.

Tatanan kebandarudaraan harus mendukung keberadaan dan operasional pesawat-pesawat TNI AU beserta peralatan dan perlengkapan yang mendukung.

(3) Ruang Udara untuk Penerbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi : 1. Ruang udara di atas bandar udara yang dipergunakan langsung untuk kegiatan bandar udara; 2. Ruang udara disekitar bandar udara yang dipergunakan untuk operasi penerbangan; 3. Ruang udara yang ditetapkan sebagai jalur penerbangan.

2.3 Sistem Jaringan Prasarana Lainnya Bagian Keempat Rencana Pengembangan Sistem Jaringan prasarana Lainnya

Pasal 21 Rencana pengembangan sistem jaringan prasarana lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (1) huruf c, terdiri atas: a. b. c. rencana sistem jaringan energi; rencana sistem jaringan telekomunikasi; rencana sistem sumberdaya air; Paragraf 1 Sistem Jaringan Energi Pasal 22 (1) Rencana Pengembangan Sistem Jaringan Energi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 huruf a, terdiri atas: a. Pembangkit Tenaga Listrik; b. Listrik; c. d. e. Sistem Interkoneksitas dan Jaringan Transmisi serta Jaringan Distribusi Gardu Induk ( GI); Depo Bahan Bakar Minyak (BBM).

Jaringan pipa transmisi minyak dan gas bumi. 16

No

Muatan Rancangan Perda RTRW (2) Pembangkit tenaga listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri atas: a. b. c. d. e. f. g. Pembangunan PLTU Batubara di Pulang Pisau, Sampit, Pangkalan Bun, Buntok, Tamiang Layang, Palangka Raya, dan Katingan; Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) di Barito Utara; Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air Murung Raya, dan Lamandau; (PLTA) di Kabupaten Katingan,

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir ( PLTN) di Kalimantan Tengah. Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) dan Mikrohidro (PLTMH) di Kabupaten Kapuas, Gunung Mas, dan Seruyan; Pembangunan Pembangkit Listrik Bayu/Angin (PLTB) di Kabupaten Sukamara, Seruyan, Kotawaringin Barat , Kotawaringin Timur, Katingan dan Pulang Pisau; Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) tersebar di seluruh kabupaten dan kota di Kalimantan Tengah khususnya di desa-desa terpencil yang sulit dijangkau oleh jaringan listrik PLN dan tidak ada potensi energi lain seperti angin dan mikrohidro di daerah tersebut.

(3) Pembangunan sistem interkoneksitas dan jaringan transmisi tegangan Menengah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b terdiri atas: a. Pembangunan Jaringan Transmisi Tegangan Menengah 150 KV Palangka Raya – Kasongan – Sampit; Sampit – Pangkalan Bun; Pangkalan Bun - Nanga Bulik; b. Pembangunan Jaringan Transmisi Tegangan Menengah 150 KV dari Teweh – Buntok – Palangka Raya; Muara

c. Pembangunan Jaringan Transmisi Tegangan Menengah 150 KV Kasongan - Kuala Kurun; d. Pembangunan Kabel Bawah Laut dari Pangkalan Bun ke Kudus Jawa Tengah; e. Perluasan pembangunan jaringan distribusi dari Gardu Induk menuju pusa-pusat beban di seluruh Kabupaten Kota se Kalimantan Tengah; f. Perluasan jaringan tegangan rendah dari jaringan distribusi ke wilayah pemukiman diseluruh Kabupaten/Kota se Kalimantan Tengah.

(4) Gardu Induk (GI) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c terdiri atas: Pembangunan Gardu Induk (GI) di Kuala Kurun, Kasongan, Sampit, Pangkalan Bun, Nanga Bulik, Buntok, Muara Teweh, dan Puruk Cahu. (5) Depo bahan bakar minyak ( BBM) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d terdiri atas: Depo BBM di Tamiyang Layang, Depo BBM di Pangkalan Bun dan Depo BBM di Buntok. (6) Jaringan pipa transmisi minyak dan gas bumi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e berupa Jaringan pipa transmisi minyak dan gas bumi yang menghubungkan antara Pontianak – Palangka Raya – Banjarmasin. 17

No

Muatan Rancangan Perda RTRW Paragraf 2 Rencana Pengembangan Sistem Jaringan Telekomunikasi Pasal 23 a. Rencana Pengembangan Sistem Jaringan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 huruf b terdiri atas: Telekomunikasi

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

a. Sistem jaringan mikro digital di wilayah Provinsi tersebar di seluruh wilayah Provinsi Kalimantan Tengah; b. Sistem jaringan telekomunikasi tetap; dan c. Sistem jaringan stasiun radio gelombang mikro. (2) Sistem jaringan telekomunikasi tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b yaitu sistem jaringan tetap lokal wireline cakupan provinsi yang terdiri atas: a. b. c. Palangka Raya; Pengembangan Stasion Bumi Besar di Palangka Raya; Sistem Jaringan Stasiun Telepon Otomat (STO) yaitu STO

Sistem Jaringan Fiber Optic (FO) yang terhubung Banjarmasin – Kapuas – Pulang Pisau – Palangka Raya – Kasongan – Sampit – Pangkalan Bun.

(3) Sistem Jaringan Stasiun Radio Gelombang Mikro (STRGM) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c terdapat di Pulang Pisau, Pilang Jabiren, Km-5 Palangka Raya, Km-46 Tangkiling, Kasongan, Parit, Sampit, Sei Babi, Asam Baru, Hanau, Pangkalan Bun, Sukamara, Jambi Km-8. (4) Rincian Rencana Pengembangan Sistem Jaringan Telekomunikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum sebagai Lampiran III.9 yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini. Paragraf 3 Rencana Pengembangan Sistem Jaringan Pengelolaan Sumber Daya Air Pasal 24 (1) Rencana Pengembangan Sistem Jaringan Pengelolaan Sumber Daya Air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 huruf c, terdiri atas: a. b. c. d. e. Wilayah Sungai (WS); Danau dan Bendung; Daerah Irigasi (DI) dan Daerah Rawa (DR); Pantai; dan Instalasi Pengolahan Air Minum.

(2) Wilayah Sungai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, terdiri atas: a. Wilayah Sungai Lintas Provinsi meliputi Wilayah Sungai (WS) Jelai-Kendawangan yang meliputi: DAS Arut, DAS Lamandau, DAS Kumai, DAS Jelai dan Wilayah 18

No

Muatan Rancangan Perda RTRW Sungai (WS) Barito meliputi DAS Barito dan DAS Kapuas; b. Wilayah Sungai Strategis Nasional meliputi Wilayah Sungai (WS) JelaiKendawangan yang meliputi: DAS Arut, DAS Lamandau, DAS Kumai, DAS Jelai dan Wilayah Sungai (WS) Barito meliputi DAS Barito dan DAS Kapuas, Wilayah Sungai (WS) Seruyan Meliputi : DAS Seruyan dan Wilayah Sungai (WS) Kahayan meliputi DAS Kahayan dan DAS Sebangau; c. Wilayah Sungai Lintas Kabupaten/Kota meliputi Wilayah Sungai Wilayah Sungai (WS) Kahayan meliputi DAS Kahayan dan DAS Sebangau dan Wilayah Sungai (WS) Barito meliputi DAS Barito dan DAS Kapuas; d. Wilayah Sungai dalam wilayah Kabupaten meliputi Wilayah Sungai (WS) Mentaya meliputi DAS Mentaya dan Wilayah Sungai (WS) Katingan meliputi DAS Katingan. (3) Danau dan Bendung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, terdiri atas: a. Danau Sembuluh di Kabupaten Seruyan, Danau Malawen dan Danau Pamait di Kabupaten Barito Selatan; b. Bendung Sekata Juri, Sekata Tewah, Gohong Rawai di Kabupaten Gunung Mas; Bendung Tampa, Talohen, Natampin, Baruh Rintis di Kabupaten Barito Timur; Bendung Tandrahean, Trinsing, Bawang di Kabupaten Barito Utara; Bendung Kumai Kondang di Kabupaten Kotawaringin Barat; Bendung Bayat di Kabupaten Lamandau. (4) Daerah Irigasi (DI) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, terdiri atas: a. Daerah Irigasi yang merupakan Kewenangan Pusat yaitu DI Karau di Kabupaten Barito Timur dengan luas pelayanan 3.794 Ha; b. Daerah Irigasi yang merupakan Kewenangan Provinsi yaitu DI Tampa Kabupaten Barito Timur dengan Luas Pelayanan 2.000 Ha; c. Daerah Irigasi yang merupakan Kewenangan Kabupaten meliputi : 1. Kabupaten Kotawaringin Barat a) DI Kumai Kondang (Luas Pelayanan 200 Ha); b) DI Mulya Jadi (Luas Pelayanan 200 Ha); c) DI Tempatas (Luas Pelayanan 432 Ha); d) DI Sei Bamban (Luas Pelayanan 297 Ha); e) DI Sei Tendang (Luas Pelayanan 600 Ha); f) 2. 3. DI Modang Mas (Luas Pelayanan 122 Ha). Kabupaten Lamandau yaitu DI Bayat (Luas Pelayanan 150 Ha). Kabupaten Kotawaringin Timur a) DI Tanjung Harapan (Luas Pelayanan 200 Ha); b) DI Kali Bambang (Luas Pelayanan 400 Ha); 4. Kabupaten Pulang Pisau a) DI Bawan (Luas Pelayanan 300 Ha); b) DI Goha (Luas Pelayanan 100 Ha). 5. Kabupaten Barito Selatan yaitu DI Majundre (Luas Pelayanan di

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

19

No 365 Ha). 6.

Muatan Rancangan Perda RTRW

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

Kabupaten Barito Timur a) DI Pangkan (Luas Pelayanan 200 Ha); b) DI Takuam (Luas Pelayanan 500 Ha); c) DI Baruh Rintis (Luas Pelayanan 131 Ha).

7.

Kabupaten Barito Utara a) DI Trinsing (Luas Pelayanan 688 Ha); b) DI Tandrahean (Luas Pelayanan 500 Ha); c) DI Montalat (Luas Pelayanan 408 Ha); d) DI Majangkan (Luas Pelayanan 200 Ha); e) DI Baliti (Luas Pelayanan 100 Ha); f) DI Walur (Luas Pelayanan 200 Ha); g) DI Bawang (Luas Pelayanan 350 Ha); h) DI Malungai (Luas Pelayanan 100 Ha); i) j) DI Mantiong (Luas Pelayanan 100 Ha); DI Inu (Luas Pelayanan 500 Ha); Kabupaten Murung Raya yaitu DI Dikin (Luas Kabupaten Gunung Mas a) DI Gohong Rawai (Luas Pelayanan 710 Ha); b) DI Sekata Tewah (Luas Pelayanan 440 Ha); c) DI Sekata Juri (Luas Pelayanan 500 Ha); d) DI Hurung Bunut (Luas Pelayanan 560 Ha); e) DI Penda Pilang (Luas Pelayanan 150 Ha).

k) DI Jamut (Luas Pelayanan 680 Ha). 8. 9. Pelayanan 850 Ha).

(5) Daerah Rawa (DR) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, terdiri atas: a. 1. 2. 3. 4. 5. b. Daerah Rawa Kewenangan Pusat meliputi : 3.500 Ha/1 lokasi); Pelayanan 7.195 Ha/2 lokasi); 9.200 Ha/2 lokasi); Pelayanan 48.753 Ha/11 lokasi); 186.974 Ha/11 lokasi). DR di Kabupaten Seruyan (Luas Pelayanan DR di Kabupaten Kotawaringin Timur (Luas DR di Kabupaten Katingan (Luas Pelayanan DR di Kabupaten Pulang Pisau (Luas

DR di Kabupaten Kapuas (Luas Pelayanan

Daerah Rawa Kewenangan Provinsi meliputi : 20

No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. c. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. (6) lokasi);

Muatan Rancangan Perda RTRW DR di Kota Palangka Raya (Luas Pelayanan 2.500 Ha/2 lokasi); DR di Kabupaten Kotawaringin Barat (Luas Pelayanan 11.770 Ha/7 lokasi); DR di Kabupaten Sukamara (Luas Pelayanan 5.570 Ha/3 lokasi) DR di Kabupaten Seruyan (Luas Pelayanan 12.443 Ha/6 lokasi) DR di Kabupaten Kotawaringin Timur (Luas Pelayanan 30.702 Ha/15 lokasi); DR di Kabupaten Katingan (Luas Pelayanan 4.350 Ha /3 lokasi); DR di Kabupaten Pulang Pisau (Luas Pelayanan 6.350 Ha/3 lokasi). Daerah Rawa Kewenangan Kabupaten meliputi DR di Kota Palangka Raya (Luas Pelayanan 2.200 Ha/5 Kotawaringin Barat (Luas Pelayanan

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

DR di Kabupaten 14.586 Ha/48 lokasi); lokasi); lokasi); lokasi);

DR di Kabupaten Lamandau (Luas Pelayanan 6.114 Ha/83 DR di Kabupaten Sukamara (Luas Pelayanan 7.780 Ha/19 DR di Kabupaten Seruyan (Luas Pelayanan 7.118 Ha/14

DR di Kabupaten Kotawaringin Timur (Luas Pelayanan 38.323 Ha/59 lokasi); lokasi); lokasi); Ha/39 lokasi); lokasi); lokasi); lokasi). DR di Kabupaten Katingan (Luas Pelayanan 13.950 Ha/31 DR di Kabupaten Pulang Pisau (Luas Pelayanan 1.142 Ha/3 DR di Kabupaten Barito Selatan (Luas Pelayanan 17.067 DR di Kabupaten Barito Timur (Luas Pelayanan 3.583 Ha/7 DR di Kabupaten Barito Utara (Luas Pelayanan 3.699 Ha/14 Kabupaten Murung Raya (Luas Pelayanan 1.575 Ha/7

Penanganan pantai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, terdiri atas: kegiatan pembangunan, rehabilitasi dan pemeliharaan prasarana dan sarana pengaman pantai yang berada di sepanjang 751 Km meliputi pantai di Kabupaten Sukamara, Kotawaringin Barat, Seruyan, Kotawaringin Timur, Katingan, Pulang Pisau, dan di Kabupaten Kapuas. Instalasi pengolahan air minum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e terdiri atas: a. Penyediaan dan pengelolaan air baku meliputi air permukaan dan air tanah yang 21

(7)

No

Muatan Rancangan Perda RTRW ditujukan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari dan pertanian; 1. Air permukaan meliputi : sungai Arut, sungai Lamandau, sungai Kumai , sungai Jelai, sungai Seruyan, sungai Mentaya, sungai Katingan, sungai Kahayan, sungai Sebangau, sungai Barito dan sungai Kapuas beserta anak sungai; Air tanah tersebar pada beberapa cekungan air tanah yang potensiil di wilayah Provinsi Kalimantan Tengah, meliputi Cekungan Air Tanah (CAT) Palangka Raya – Banjarmasin yang terdapat di bagian selatan wilayah Kabupaten Sukamara, Kotawaringin Barat, Seruyan, Kotawaringin Timur, Katingan, Kapuas, Barito Selatan, dan Kota Palangka Raya, dan CAT Muara Lahai di wilayah Kabupaten Murung Raya

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

2.

b. Instalasi pengolahan air minum tersebar di seluruh kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Tengah. (8) Pengendalian banjir meliputi kegiatan pembangunan, rehabilitasi, serta Operasional dan Pemeliharaan (OP) prasarana dan sarana pengendalian banjir; (9) Rincian Rencana Pengembangan Sistem Jaringan Pengelolaan Sumberdaya Air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum sebagai Lampiran III.10, yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini. 3. RENCANA POLA RUANG WILAYAH BAB IV RENCANA POLA RUANG WILAYAH PROVINSI Bagian Kesatu Umum Pasal 25 (1) Rencana pola ruang provinsi terdiri atas:

a.
b. (2)

kawasan lindung; dan kawasan budi daya.

Rencana Pola Ruang sudah sesuai dengan arahan Permen PU No. 15/2009 tentang Pedoman Penyusunan RTRW Provinsi

Rencana pola ruang provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memperhatikan pola ruang yang telah ditetapkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional. Rencana pola ruang provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digambarkan dalam peta rencana pola ruang dengan tingkat ketelitian skala 1 : 250.000 sebagai Lampiran III-2 yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari peraturan daerah ini.

(3)

3.1 Kawasan lindung Bagian Kedua Kawasan Lindung Provinsi 22

No

Muatan Rancangan Perda RTRW

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

Pasal 26 (1) Kawasan lindung provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (1) huruf a terdiri atas: a. kawasan hutan lindung seluas 1.330.258 Ha yang letaknya tersebar di 11 kabupaten dan 1 kota di Provinsi Kalimantan Tengah (Kawasan hutan lindung tidak terdapat di Kabupaten Sukamara dan Barito Timur); b. kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya yaitu kawasan resapan air seluas 3.324.675 Ha yang letaknya tersebar di 13 Kabupaten; c. kawasan perlindungan setempat terdiri atas:

1.

sempadan pantai yaitu kawasan di sepanjang pantai 751 km dengan lebar 12 mil di kawasan perkotaan 30-100 m dan diluar kawasan perkotaan 100-250 m meliputi pantai di Kabupaten Sukamara, Kotawaringin Barat, Seruyan, Kotawaringin Timur, Katingan, Pulang Pisau, dan di Kabupaten Kapuas; 2. kawasan sempadan sungai pada kawasan perkotaan dan perdesaan di sepanjang 11 sungai besar meliputi Sungai Barito, Kapuas, Kahayan, Katingan, Sebangau, Mentaya, Seruyan, Kumai, Lamandau, Arut, dan Sungai Jelai serta sempadan sungai di sepanjang sungai sedang atau anak sungai yang menyebar di seluruh kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Tengah;

3.

kawasan sekitar danau meliputi sekitar Danau Sembuluh di Kabupaten Seruyan, Danau Malawen dan Danau Pamait di Kabupaten Barito Selatan, Danau Lutan di Palangka Raya dan Kawasan konservasi Senggora di Kecamatan Kumai Kabupaten Kotawaringin Barat..

d.

kawasan cagar budaya terdiri atas Rumah Adat Betang di Tumbang Anoi Kabupaten Gunung Mas, di sekitar Kawasan Pahewan Kalawa di Kabupaten Pulang Pisau, Pahewan Kalaru di Kabupaten Katingan, Pahewan Tabalien di Kota Palangka Raya, di sekitar Kawasan Adat Masyarakat terutama bagi Umat Hindu Kaharingan, dan Kawasan Sekitar Bangunan Kerajaan/Kesultanan di Kabupaten Kotawaringin Barat. e. kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam terdiri atas: 1. kawasan suaka margasatwa yaitu Suaka Margasatwa Sungai Lamandau dengan luas kurang lebih 61.425 Ha di Kabupaten Sukamara.

2.

kawasan cagar alam yaitu Cagar Alam Bukit Sapat Hawung dengan luas kurang lebih 192.317 Ha di Kabupaten Murung Raya, Cagar Alam Pararawen dengan luas kurang lebih 4.384 Ha di Kabupaten Barito Utara, Cagar Alam Bukit Tangkiling dengan luas kurang lebih 2.601 Ha di Kota Palangka Raya, Cagar Alam Air Terjun Molau Besar dengan luas 23

No

Muatan Rancangan Perda RTRW kurang lebih 1.200 Ha di Kabupaten Barito Utara, Cagar Alam Bukit Bakitap dengan luas kurang lebih 261 Ha di Kabupaten Barito Utara. 3. taman nasional yaitu Taman Nasional Tanjung Putting dengan luas 390.493 Ha di Kabupaten Kotawaringin Barat dan Kabupaten Seruyan, Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya dengan luas 125.355 Ha di Kabupaten Katingan, Taman Nasional Sebangau dengan luas 605.449 Ha di Kabupaten Katingan, Pulang Pisau, dan Kota Palangka Raya; 4. taman wisata laut yaitu Taman Wisata Laut Tanjung Keluang luas kurang lebih 2.000 Ha di Kabupaten Kotawaringin Barat; 5. taman wisata alam meliputi: a. Taman Wisata Alam Air Terjun Poran dengan luas kurang lebih 6.400 Ha di Kabupaten Barito Utara; b. Taman Wisata Alam Bukit Tangkiling di Kota Palangka Raya luas kurang lebih 533 Ha; c. Taman Hutan Raya Arboretum Nyaru Menteng dengan luas kurang lebih 65 Ha di Kota Palangka Raya.

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

6. 7.

taman hutan raya yaitu Taman Hutan Raya Arboretum Nyaru Menteng di Kota Palangka Raya luas kurang lebih 65 Ha. kawasan hutan dengan tujuan khusus yaitu Laboratorium Alam Hutan Gambut di Kabupaten Katingan, Pulang Pisau dan Kota Palangka Raya dengan luas kurang lebih 50.000 Ha. 8. Kawasan Konservasi Ekosistem Air Hitam di Kabupaten Kapuas dan Barito Selatan.

9.

Kawasan Konservasi Laut Daerah (Reservoat) di Kecamatan Danau sembuluh, Kabupaten Seruyan dengan luas kurang lebih 7 Ha dan di kecamatan Timpah, Kabupaten Kapuas dengan luas kurang lebih 7,5 Ha. f. kawasan rawan bencana alam terdiri atas : 1. kawasan rawan tanah longsor yaitu daerah yang membentang dari Barat-Timur wilayah Kalimantan Tengah bagian Utara dengan kondisi topografi berupa perbukitan-pegunungan yaitu di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kotawaringin Timur, Seruyan, Lamandau, Gunung Mas, Katingan, Murung Raya, Barito Selatan, dan Barito Utara;

2.

kawasan rawan gelombang pasang yaitu kawasan yang berada di daerah pantai di Kabupaten Sukamara, Kotawaringin Barat, Seruyan, Kotawaringin Timur, Katingan, Pulang Pisau, dan Kapuas; 3. kawasan rawan banjir yaitu pada daerah-daerah di 24

No

Muatan Rancangan Perda RTRW sekitar sungai besar meliputi Sungai Barito, Sungai Kapuas, Sungai Kahayan, Sungai Katingan, Sungai Sebangau, Sungai Mentaya, Sungai Seruyan, Sungai Kumai, Sungai Lamandau, Sungai Arut, dan Sungai Jelai; 4. kawasan rawan kebakaran hutan dan lahan yaitu daerah-daerah di Kabupaten Kapuas, Pulang Pisau, Katingan, Kotawaringin Timur, Sukamara, Kotawaringin Barat, Seruyan, dan Barito Selatan. (2) Rincian Kawasan lindung provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum sebagai Lampiran III.11. yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

3.2 Kawasan budidaya

Bagian Ketiga Kawasan Budi Daya Provinsi Pasal 27

(1)

Kawasan budi daya provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (1) huruf b terdiri atas : a. kawasan peruntukan hutan produksi meliputi : 1. hutan produksi terbatas (HPT) seluas 3.324.675 Ha yang tersebar di seluruh kabupaten di Provinsi Kalimantan Tengah; 2. hutan produksi tetap (HP) seluas 3.855.751 Ha yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Kalimantan Tengah; dan 3. hutan produksi yang dapat dikonversi (HPK) seluas 2.540.616 Ha yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Kalimantan Tengah. b. kawasan peruntukan pertanian meliputi : 1. 2. 3. kawasan tanaman pangan (APL) seluas 2.616.606 Ha yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Kalimantan Tengah; kawasan perkebunan (HPK) seluas 2.540.616 Ha yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Kalimantan Tengah; Kawasan peternakan yang tersebar di Kabupaten Pulang Pisau, Kapuas, Katingan, Gunung Mas, Seruyan, Kotawaringin Timur, Kotawaringin Barat, Lamandau, Barito Timur, Barito Selatan, Barito Utara, dan Murung Raya

c.

kawasan peruntukan perikanan laut seluas (751 Km x 12 mil) yang berada di perairan laut dan seluas 134.810 Ha di perairan darat (sungai dan danau) termasuk kawasan minapolitan di Provinsi Kalimantan Tengah; kawasan peruntukan pertambangan menyebar di seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Kalimantan Tengah, yang terdiri dari Kawasan Peruntukan 25

d.

No

Muatan Rancangan Perda RTRW Pertambangan mineral dan batubara pertambangan minyak dan gas bumi. e. serta kawasan peruntukan

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

kawasan peruntukan perindustrian terdiri atas : 1. kawasan industri kecil tersebar di seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Kalimantan Tengah; 2. kawasan agroindustri tersebar di seluruh kabupaten di Provinsi Kalimantan Tengah; 3. kawasan industri daerah (KID) pengembangan rotan, meuble, dan anyaman terletak di Kabupaten Kotawaringin Timur, Katingan, Pulang Pisau, Kapuas, dan Barito Selatan.

f.

kawasan peruntukan pariwisata terdiri atas : 1. kawasan wisata alam tersebar di seluruh kabupaten dan kota Provinsi Kalimantan Tengah;

2. 3.

kawasan wisata alam laut berada di Kabupaten Sukamara, Kotawaringin Barat, Seruyan, dan Kotawaringin Timur; kawasan wisata budaya berupa Museum Belanga dan Bukit Batu di Kota Palangka Raya, Rumah Adat Betang di Tumbang Anoi Kabupaten Gunung Mas, di sekitar Kawasan Pahewan Kalawa di Kabupaten Pulang Pisau, Pahewan Kalaru di Kabupaten Katingan dan Pahewan Tabalien di Kota Palangka Raya, di sekitar Kawasan Adat Masyarakat terutama bagi Umat Hindu Kaharingan, dan Kawasan Sekitar Bangunan Kerajaan/Kesultanan di Kabupaten Kotawaringin Barat; 4. kawasan wisata buatan tersebar di seluruh kabupaten di Provinsi Kalimantan Tengah. g. kawasan peruntukan permukiman terdiri atas: 1. kawasan permukiman perkotaan berada pada kawasan APL yang tersebar di seluruh ibukota kabupaten dan kota di Propinsi Kalimantan Tengah; 2. kawasan permukiman perdesaan kawasan APL yang tersebar di seluruh wilayah kabupaten di Provinsi Kalimantan Tengah. h. kawasan peruntukan lainnya yaitu kawasan tempat beribadah, kawasan penelitian dan pendidikan, dan kawasan pertahanan keamanan.yang tersebar di seluruh wilayah kabupaten di Provinsi Kalimantan Tengah.

(2)

Rincian kawasan budi daya provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum sebagai Lampiran III.13. yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

4.

PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS

BAB V PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS PROVINSI

Penetapan Kawasan Strategis sudah sesuai dengan arahan Permen PU No. 15/2009 tentang
26

No

Muatan Rancangan Perda RTRW

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

Pasal 28 (1) Kawasan strategis kepentingan: a. b. c. d. e. (2) provinsi (KSP) meliputi kawasan strategis dari sudut

Pedoman Penyusunan RTRW Provinsi

pertahanan dan keamanan; pertumbuhan ekonomi; sosial budaya; pendayagunaan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi; dan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup.

KSP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digambarkan dalam peta penetapan kawasan strategis provinsi dengan tingkat ketelitian skala peta 1:250.000 yang tercantum dalam Lampiran III-3 yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari peraturan daerah ini. Pasal 29

(1)

Kawasan strategis dari sudut kepentingan pertahanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1) huruf a, yaitu : a. b. diperuntukkan bagi kepentingan keamanan negara berdasarkan geostrategic nasional.

dan

keamanan dan

pemeliharaan

Hutan kawasan tertentu untuk latihan militer (HKT-M) di Kabupaten Kotawaringin Barat.

(2)

Kawasan strategis dari sudut kepentingan pertumbuhan ekonomi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1) huruf b, terdiri atas: a. b. c. Kawasan Strategis Pusat Kegiatan Nasional, yaitu Kota Palangka Raya; Kawasan Pengembangan Lahan Gambut (PLG) di Kabupaten Pulang Pisau, Kabupaten Kapuas, dan Kabupaten Barito selatan; Kawasan pertanian berkelanjutan yang dipaduserasikan dengan pengembangan irigasi teknis yang terdapat di Kabupaten Kapuas, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kabupaten Pulang Pisau, dan Kabupaten Barito Timur; Kawasan pertanian lahan gambut di Kabupaten Kapuas, Kabupaten Barito Selatan, Kabupaten Pulang Pisau dan Kota Palangka Raya; Kawasan Pengembangan Peternakan berupa kawasan Peternakan ruminansia dan non ruminansia yang lokasi pengembangannya di Kabupaten Pulang Pisau, Kabupaten Kapuas, Kabupaten Katingan, Kabupaten Gunung Mas, Kabupaten Seruyan, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kabupaten Lamandau, Kabupaten Barito Timur Kabupaten Barito Selatan, Kabupaten Barito Utara, dan Kabupaten Murung Raya. 27

d. e.

No f.

Muatan Rancangan Perda RTRW Kawasan pengembangan ekonomi terpadu (KAPET) Das KAKAB yaitu pada Das Kahayan di wilayah Kota Palangka Raya dan Pulang Pisau, Das Kapuas di wilayah Kabupaten Kapuas, dan Das Barito di wilayah Kabupaten Barito Selatan; Kawasan perkebunan (kelapa sawit, kelapa, karet, lada dan kakao) di Kabupaten Lamandau, Kabupaten Sukamara, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kabupaten Seruyan, Kabupaten Katingan, Kabupaten Gunung Mas, dan Kabupaten Barito Utara; Kawasan terpadu Industri, pelabuhan, petikemas dan pergudangan, serta Simpul transportasi darat, laut dan udara berupa KSP Pangkalan Bun – Kumai di Kabupaten Kotawaringin Barat, KSP Sampit - Bagendang di Kabupaten Kotawaringin Timur, dan KSP Batanjung - Kapuas di Kabupaten Kapuas; Kawasan strategis ekonomi sektor unggulan agropolitan di Kecamatan Pangkalan Lada Kabupaten Kotawaringin Barat, Kecamatan Basarang Kabupaten Kapuas, Kecamatan Dusun Tengah Kabupaten Barito Timur, Kecamatan Jelai Kabupaten Sukamara, Kecamatan Seruyan Hilir Kabupaten Seruyan, Kecamatan Katingan Kuala Kabupaten Katingan, Kecamatan Baamang Kabupaten Kotawaringin Timur, dan Kecamatan Dadahup Kabupaten Pulang Pisau; Kawasan strategis ekonomi sektor unggulan minapolitan di Kabupaten Pulang Pisau, Kabupaten Katingan, Kabupaten Barito Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat, dan Kota Palangka Raya.

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

g.

h.

i.

j.

(3)

Kawasan strategis dari sudut kepentingan fungsi sosial budaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1) huruf c, meliputi: a. b. Kawasan Strategis Rumah Adat Betang di Tumbang Anoi Kabupaten Gunung Mas; Kawasan Strategis Sekitar Kawasan Pahewan, seperti Pahewan Kalawa di Kabupaten Pulang Pisau, Pahewan Kalaru di Kabupaten Katingan dan Pahewan Tabalien di Kota Palangka Raya; Kawasan Strategis Sekitar Kawasan Adat Masyarakat terutama bagi Umat Hindu Kaharingan tersebar di seluruh kabupaten/kota; Kawasan Strategis Sekitar Bangunan Kerajaan/Kesultanan di Kabupaten Kotawaringin Barat.

c. d. (4)

Kawasan strategis dari sudut kepentingan pendayagunaan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1) huruf d, meliputi:

a.

Kawasan berpotensi pengembangan sumber daya energi di Kabupaten Lamandau, Kabupaten Gunung Mas, Kabupaten Murung Raya, Kabupaten Katingan, Kabupaten Kapuas, Kabupaten Barito Timur, Kabupaten Barito Selatan, dan Kabupaten Barito Utara; 28

No

Muatan Rancangan Perda RTRW

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

b.
(5)

Kawasan berpotensi pengembangan sumber daya perikanan di Kawasan Andalan Laut di Kabupaten Seruyan, Kabupaten Katingan, Kabupaten Kotawaringin Barat dan sekitarnya. Kawasan strategis dari sudut kepentingan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1) huruf e, terdiri atas : a. : Kawasan Strategis Ekosistem Nasional di Kalimantan Tengah meliputi 1. Kawasan Ekosistem Air Hitam di Kabupaten Kapuas dan Barito Selatan; 2. Kawasan Ekosistem Pantai (mangrove) di sepanjang jalur pantai selatan Provinsi Kalimantan Tengah; 3. Kawasan Ekosistem Gambut terdiri atas kawasan rawa gambut, kawasan dome gambut, dan kawasan gambut tebal yang tersebar di dataran bagian Selatan wilayah Provinsi Kalimantan Tengah. b. Kawasan Strategis DAS meliputi DAS Barito, DAS Kapuas, DAS Kahayan, DAS Katingan, DAS Seruyan, dan DAS Mentaya, DAS Jelai, dan DAS Jemaras. c. Kawasan Strategis Heart of Borneo (HoB) meliputi sebagian wilayah di Kabupaten : Seruyan, Katingan, Gunung Mas, Kapuas, Murung Raya, dan Barito Utara. (6) Kawasan Strategis Perlindungan Keanekaragaman Hayati terdiri atas Cagar Alam Bukit Sapat Hawung di Kabupaten Murung Raya, Cagar Alam Bukit Tangkiling di Kota Palangka Raya, Cagar Alam Pararawen I dan II di Kabupaten Barito Utara, Suaka Margasatwa Sungai Lamandau di Kabupaten Sukamara, Cagar Alam Bukit Bakitap di Kabupaten Barito Utara, Taman Nasional Tanjung Putting di Kabupaten Kotawaringin Barat, Taman Nasional Sebangau di Kabupaten Pulang Pisau, Katingan dan Kota Palangka Raya, Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya di Kabupaten Katingan, dan Taman Hutan Rakyat Arboretum Nyaru Menteng di Kota Palangka Raya.

5

ARAHAN PEMANFAATAN RUANG BAB VI ARAHAN PEMANFAATAN RUANG WILAYAH PROVINSI Pasal 30 (1) (2) Pemanfaatan ruang wilayah Provinsi berpedoman pada rencana struktur ruang, pola ruang, dan kawasan strategis; Arahan pemanfaatan ruang wilayah provinsi berisi indikasi program utama jangka menengah lima tahunan dalam kurun waktu Rencana 29

Arahan Pemanfaatan Ruang sudah sesuai dengan arahan Permen PU No. 15/2009 tentang Pedoman Penyusunan RTRW Provinsi

No

Muatan Rancangan Perda RTRW Tata Ruang Wilayah Provinsi, yakni dari tahun 2010 hingga 2030. Pasal 31 (1) Indikasi Program pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (2) disusun berdasarkan indikasi program utama lima tahunan. Pendanaan program pemanfaatan ruang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, investasi swasta, dan/atau kerjasama pendanaan. Kerja sama pendanaan dilaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. sesuai dengan

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

(2)

(3) (4)

Indikasi program utama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilaksanakan dalam bentuk kerjasama antar pemerintah yaitu Pemerintah Pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota dan kerjasama dengan pihak swasta dan/atau asing (luar negeri). Arahan pemanfaatan ruang wilayah provinsi yang merupakan indikasi program utama lima tahunan tercantum dalam Lampiran II.1. yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari peraturan daerah ini.

(5)

6.

ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG BAB VII ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG WILAYAH PROVINSI Bagian Pertama Umum Pasal 32 (1) Arahan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah provinsi digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah provinsi. (2) Arahan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah provinsi terdiri atas: a. b. c. d. Indikasi arahan peraturan zonasi; Arahan perizinan; Perangkat insentif dan disinsentif; Arahan sanksi.

Arahan Pengendalian Pemanfaatan Ruang sudah sesuai dengan arahan Permen PU No. 15/2009 tentang Pedoman Penyusunan RTRW Provinsi

6.1 Indikasi Arahan Peraturan Zonasi Bagian Kedua 30

No

Muatan Rancangan Perda RTRW Indikasi Arahan Peraturan Zonasi Sistem Provinsi Pasal 33 (1) Indikasi arahan peraturan zonasi sistem provinsi sebagaimana dimaksud pada Pasal 32 ayat (2) huruf a berfungsi: a. Sebagai dasar pelaksanaan pengawasan pemanfaatan ruang; b. Untuk menyeragamkan arahan peraturan zonasi di seluruh wilayah provinsi untuk peruntukan ruang yang sama; dan c. Sebagai arahan peruntukan fungsi yang diperbolehkan, yang diperbolehkan dengan syarat, dan yang dilarang serta intensitas ruang pada wilayah provinsi. (2) Indikasi arahan peraturan zonasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. b. c. Indikasi arahan peraturan zonasi untuk rencana struktur ruang; Indikasi arahan peraturan zonasi untuk rencana pola ruang; dan Indikasi arahan peraturan zonasi untuk kawasan strategis.

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

Paragraf Pertama Indikasi Arahan Peraturan Zonasi untuk Rencana Struktur Ruang Pasal 34 Indikasi arahan peraturan zonasi untuk rencana struktur ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (2) huruf a meliputi: a. b. c. d. Indikasi arahan peraturan zonasi sistem perkotaan; Indikasi arahan peraturan zonasi sistem jaringan transportasi; Indikasi arahan peraturan zonasi sistem jaringan energi; Indikasi arahan peraturan zonasi sistem jaringan telekomunikasi; Indikasi arahan peraturan zonasi sistem jaringan sumber daya air. Pasal 35 (1) Indikasi arahan peraturan zonasi sistem perkotaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 huruf a meliputi:

e.

a. b.

Indikasi arahan peraturan zonasi Pusat Kegiatan Nasional (PKN); Indikasi arahan peraturan zonasi Pusat Kegiatan Wilayah (PKW);

31

No

Muatan Rancangan Perda RTRW

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

c.

Indikasi arahan peraturan zonasi Pusat Kegiatan Lokal (PKL);

(2) Indikasi arahan peraturan zonasi Pusat Kegiatan Nasional (PKN) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri atas : a. Pemanfaatan ruang untuk kegiatan ekonomi perkotaan berskala internasional dan nasional untuk menunjang kegiatan ekspor-impor yang didukung dengan fasilitas dan infrastruktur perkotaan yang sesuai dengan kegiatan ekonomi yang dilayaninya; b. Penyediaan prasarana dan sarana transportasi yang berstandar internasional maupun nasional yang mampu melayani kegiatan ekspor-impor dan untuk menunjang pergerakan dari dan menuju kawasan internasional serta kawasan lain di sekitarnya; c. Pengembangan serta peningkatan fungsi kawasan industri dan jasa yang melayani skala regional dan nasional; d. Pengembangan serta peningkatan fungsi kawasan investasi internasional; e. Pengembangan jaringan telekomunikasi berbasis teknologi tinggi, jaringan prasarana sumber daya air, dan jaringan transmisi dan pembangkit tenaga listrik untuk mendukung fungsi pelayanan kawasan perkotaan yang berskala nasional dan antarprovinsi. (3) Indikasi arahan peraturan zonasi Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b terdiri dari : a. Pemanfaatan ruang untuk kegiatan ekonomi perkotaan berskala kabupaten yang didukung dengan fasilitas dan infrastruktur perkotaan yang sesuai dengan kegiatan ekonomi yang dilayaninya; b. Penyediaan prasarana dan sarana perekonomian untuk menunjang kegiatan industri dan ekspor impor yang mendukung PKN Palangka Raya; c. Pengembangan prasarana dan sarana pusat pelayanan pemerintahan yang mencangkup PKL dan kawasan sekitarnya; d. Pengembangan prasarana transportasi untuk menunjang mobilitasi baik antar wilayah maupun ke luar provinsi dan mendukung kegiatan eksporimpor; e. Pengembangan serta peningkatan fungsi kawasan industri dan jasa yang melayani skala provinsi. f. Pengembangan jaringan akses dari pusat-pusat produksi berorientasi ekspor menuju pusat distribusi barang (hasil produksi); g. Pengembangan jaringan telekomunikasi, jaringan prasarana sumber daya air, dan jaringan transmisi dan pembangkit tenaga listrik yang mendukung fungsi pelayanan kawasan perkotaan yang berskala provinsi. (4) Indikasi arahan peraturan zonasi Pusat Kegiatan Lokal (PKL) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c terdiri dari: a. Pemanfaatan ruang untuk kegiatan ekonomi berskala kecamatan 32

No

Muatan Rancangan Perda RTRW yang didukung dengan fasilitas dan infrastruktur perkotaan yang sesuai dengan kegiatan ekonomi yang dilayaninya; b. Pengembangan prasarana dan sarana perekonomian untuk menunjang kegiatan industri dan ekspor impor yang mendukung PKW; c. Pengembangan prasarana transportasi untuk menunjang mobilitasi baik skala lokal dan wilayah (regional); d. Pengembangan pusat jasa-jasa pelayanan keuangan/bank melayani kabupaten atau melayani beberapa kecamatan; yang

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

e. Pengembangan jaringan akses dari pusat-pusat industri dan jasa menuju pusat distribusi (baik pelabuhan maupun bandar udara); f. Pengembangan serta meningkatkan fungsi kawasan industri dan jasa yang melayani skala kabupaten dan kecamatan; g. Pengembangan pusat jasa pemerintahan untuk satu kabupaten atau meliputi beberapa kecamatan. h. Pengembangan jaringan telekomunikasi, jaringan prasarana sumber daya air, dan jaringan transmisi dan pembangkit tenaga listrik yang mendukung fungsi pelayanan kawasan perkotaan yang berskala provinsi dan Kabupaten/kota. Pasal 36

(1)

Indikasi arahan peraturan zonasi sistem jaringan transportasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 huruf b meliputi:

a.

Indikasi arahan peraturan zonasi Sistem Jaringan Tansportasi Darat dan Perkeretaapian; b. dan c. Indikasi arahan peraturan zonasi Sistem Jaringan Tansportasi Laut; Indikasi arahan peraturan zonasi Sistem Jaringan Tansportasi Udara. dan

(2) Indikasi arahan peraturan zonasi Sistem Jaringan Tansportasi Darat Perkeretaapian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri dari:

a. Ruang milik jalan hanya boleh dimanfaatkan untuk jaringan jalan raya serta simpul transportasi guna kepentingan lalu lintas dan penempatan fasilitas pendukungnya kepentingan jaringan jalan raya, tidak diperkenankan untuk dialihfungsikan untuk kegiatan lain; b. Ruang milik jalan paling sedikit memiliki lebar untuk jalan bebas hambatan 30 meter; jalan raya 25 meter; jalan sedang 15 meter; dan jalan kecil 11 meter; c. d. Ruang milik jalan diberi tanda batas ruang milik jalan yang ditetapkan oleh penyelenggara jalan; Dalam hal ruang milik jalan tidak cukup luas, lebar ruang pengawasan jalan ditentukan dari tepi badan jalan paling sedikit dengan ukuran untuk jalan 33

No

Muatan Rancangan Perda RTRW arteri primer 15 meter, jalan kolektor primer 10 meter, jalan lokal primer 7 meter, jalan lingkungan primer 5 meter, jalan arteri sekunder 15 meter, jalan kolektor sekunder 5 meter, jalan lokal sekunder 3 meter, jalan lingkungan sekunder 2 meter; dan jembatan 100 meter ke arah hilir dan hulu; e. Ruang milik jaringan jalur kereta api, terminal, stasiun kereta api dan pelabuhan penyeberangan tidak diperkenankan untuk dialihfungsikan untuk kegiatan lain; Kawasan pelabuhan penyeberangan dialihfungsikan untuk kegiatan lain; tidak diperkenankan untuk

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

f. g.

Untuk tidak mengganggu kelancaran lalu lintas, maka kepentingan selain kepentingan lalu lintas berupa reklame, penempatan jaringan listrik, air, telepon, drainase dan lain lain diletakkan pada lokasi yang tidak mengganggu kegiatan dan kepentingan lalu lintas yang berada di wilayah tersebut; Pengembangan jaringan jalan yang ada serta pembukaan jaringan jalan untuk wilayah desa yang masih terisolir, sehingga mendapatkan aksesbilitas yang dapat mengembangkan wilayah desa tersebut; Harus dipertegas batasan ruang milik jalan dengan ukuran dan batasan yang jelas termasuk daerah simpul transportasi.

h.

i.

(3) Indikasi arahan peraturan zonasi Sistem Jaringan Tansportasi Laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b terdiri dari: a. Pelabuhan laut diarahkan agar memiliki kelengkapan fasilitas pendukung sesuai dengan fungsi dari pelabuhan tersebut; b. Pelabuhan laut diarahkan untuk memiliki akses ke jalan arteri primer guna memudahkan aksesibilitas masyarakat; c. Tidak diperkenankan untuk dialihfungsikan, terutama di daerah lingkungan kerja perairan dan daratan, daerah kepentingan pelabuhan alur pelayaran baik perairan maupun daratan; d. Harus dipertegas batasan daerah lingkungan kerja perairan dan daratan, daerah lingkungan kepentingan pelabuhan dan alur pelayaran meliputi perairan maupun daratan; e. Penetapan luas daerah lingkungan kerja dan daerah kepentingan pelabuhan ditetapkan dengan menggunakan pedoman teknis kebutuhan lahan daratan dan perairan untuk rencana induk pelabuhan; f. Daerah lingkungan kerja perairan dan daratan serta daerah lingkungan kepentingan kepelabuhanan dan alur pelayaran harus bebas dan hanya dapat dibangun untuk kepentingan operasi pelabuhan dan alur pelayaran serta penempatan fasilitas pendukungnya. (4) Indikasi arahan peraturan zonasi Sistem Jaringan Tansportasi Udara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c terdiri dari: a. Kawasan lingkungan kerja bandar udara dan kawasan keselamatan operasi 34

No

Muatan Rancangan Perda RTRW penerbangan harus bebas dan hanya dapat dibangun untuk kepentingan operasi penerbangan serta penempatan fasilitas pendukungnya dan tidak diperkenankan untuk dialihfungsikan selain untuk kepentingan kebandarudaraan; b. Untuk mengendalikan kawasan keselamatan operasi penerbangan di sekitar bandar udara bukan pusat penyebaran yang ruang udara disekitarnya tidak dikendalikan, setiap pendirian bangunan di kawasan keselamatan operasi penerbangan diperlukan rekomendasi dari Bupati/Walikota setempat atau dari otoritas bandar udara; c. Harus dipertegas batasan daerah lingkungan bandar udara dan kawasan keselamatan operasi penerbangan; d. Untuk mempergunakan kawasan di sekitar bandar udara harus memperhatikan rencana induk bandar udara, daerah lingkungan kerja, KKOP dan batas kawasan kebisingan; e. Kawasan keselamatan operasi penerbangan dan batas-batas kawasan kebisingan sebaiknya merupakan kawasan wilayah darat dan/atau perairan dan ruang udara disekitar bandar udara yang dipergunakan untuk kegiatan operasi penerbangan dalam rangka menjamin keselamatan penerbangan; f. Pelabuhan udara diarahkan untuk memilki akses ke jalan arteri primer. Pasal 37 Indikasi arahan peraturan zonasi sistem dimaksud dalam Pasal 34 huruf c antara lain: a. b. c. jaringan energi sebagaimana

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

Pengembangan dan penambahan pembangkit untuk mengurangi masalah krisis energi; Seluruh aliran listrik yang dialirkan melalui Gardu Induk dapat dimanfaatkan untuk pembagian aliran listrik; Pada ruang yang berada di bawah SUTET tidak diperkenankan adanya bangunan permukiman, kecuali berada di kiri-kanan SUTET sesuai ketentuan yang berlaku. Pasal 38 Indikasi arahan peraturan zonasi sistem prasarana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 huruf d antara lain: telekomunikasi

a. b. c.

Ruang bebas di sekitar menara berjari-jari minimum sama dengan tinggi menara; Diarahkan agar menggunakan menara telekomunikasi secara bersama sama diantara para penyedia layanan telekomunikasi (provider); Penambahan jaringan telekomunikasi untuk meningkatkan aksesibilitas untuk membuka daerah terisolir dilakukan secara bertahap sesuai prioritas.

35

No

Muatan Rancangan Perda RTRW Pasal 39 Indikasi arahan peraturan zonasi sistem jaringan sumber daya air di Provinsi Kalimantan Tengah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 huruf e diatur mengikuti arahan indikasi peraturan zonasi kawasan perlindungan setempat.

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

Paragraf Kedua Indikasi Arahan Peraturan Zonasi untuk Rencana Pola Ruang Pasal 40 Indikasi arahan peraturan zonasi untuk rencana pola ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (2) huruf b meliputi: a. b. c. Indikasi arahan peraturan zonasi kawasan lindung; Indikasi arahan peraturan zonasi kawasan budi daya; Indikasi arahan peraturan zonasi pengembangan kawasan laut. Pasal 41 Indikasi arahan peraturan zonasi kawasan lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 huruf a meliputi: a. b. c. d. e. f. Kawasan Hutan Lindung; Kawasan Lindung yang Berfungsi Memberikan Perlindungan Kawasan Bawahannya; Kawasan Lindung yang Berfungsi untuk Memberikan Perlindungan Setempat; Kawasan Suaka Alam, Pelestarian Alam dan Cagar Budaya; Kawasan Rawan Bencana; Kawasan Lindung Lainnya. Pasal 42 Indikasi arahan peraturan zonasi Kawasan Hutan Lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 huruf a meliputi yaitu: a. b. c. d. Menghindari perluasan lahan permukiman/budidaya ke arah hutan; Diperuntukkan untuk kegiatan yang tidak merubah bentang alam serta tidak dibenarkan mengalihfungsikan kawasan tanpa mengikuti prosedur yang berlaku; Diperkenankan dilakukan kegiatan lain yang bersifat komplementer terhadap fungsi hutan lindung; Pembangunan prasarana wilayah yang harus melintasi hutan lindung dapat diperkenankan dengan ketentuan tidak menyebabkan terjadinya perkembangan 36

No

Muatan Rancangan Perda RTRW pemanfaatan ruang budidaya di sepanjang jaringan prasarana tersebut, serta mengikuti ketentuan yang ditetapkan oleh Menteri Kehutanan RI. e. Masih dimungkinkan dilakukan kegiatan penambangan, namun harus mengikuti ketentuan peraturan perundangan yang berlaku di bidang kehutanan.

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

Pasal 43 Indikasi arahan peraturan zonasi Kawasan Lindung yang Berfungsi Memberikan Perlindungan Kawasan Bawahannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 huruf b meliputi: a. Tidak diperkenankan adanya kegiatan budidaya guna memberikan ruang yang cukup bagi peresapan air hujan pada daerah resapan air tanah untuk keperluan penyediaan kebutuhan air tanah dan penanggulangan banjir; Permukiman yang sudah terbangun di dalam kawasan resapan air sebelum ditetapkan sebagai kawasan lindung masih diperkenankan namun harus memenuhi syarat sebagai berikut: 1. Tingkat kerapatan bangunan rendah (KDB maksimum 20%, dan KLB maksimum 40%); 2. Perkerasan permukaan menggunakan bahan yang memiliki daya serap air tinggi; 3. Dalam kawasan resapan air wajib dibangun sumur-sumur resapan sesuai ketentuan yang berlaku.

b.

Pasal 44 (1) Indikasi arahan peraturan zonasi Kawasan Lindung yang Berfungsi untuk Memberikan Perlindungan Setempat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 huruf c meliputi: a. b. c. d. Indikasi arahan peraturan zonasi Kawasan Sempadan Pantai; Indikasi arahan peraturan zonasi Kawasan Sempadan Sungai; Indikasi arahan peraturan zonasi Sempadan danau dan waduk; Indikasi arahan peraturan zonasi Ruang Terbuka Hijau Kota. Sempadan Pantai sebagaimana

(2) Indikasi arahan peraturan zonasi Kawasan dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah:

a. Kegiatan yang diperbolehkan dilakukan di sepanjang garis pantai adalah kegiatan yang mampu melindungi atau memperkuat perlindungan kawasan sempadan pantai dari abrasi dan infiltrasi air laut ke dalam tanah, seperti penanaman tanaman keras, tanaman perdu, pemasangan batu beton untuk melindungi pantai dari abrasi; 37

No

Muatan Rancangan Perda RTRW b. Usaha-usaha yang berkaitan dengan kelautan, seperti misalnya dermaga, pelabuhan, atau kegiatan perikanan lain, dapat terus dilakukan selama tidak melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku dan mengganggu lingkungan; c. Mengembangkan usaha-usaha penduduk di daerah pantai sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan; d. Kegiatan lain yang dikhawatirkan dapat mengganggu atau mengurangi fungsi lindung kawasan tidak diperbolehkan; e. Rumah yang dibangun pada sepanjang sempadan pantai tidak diperbolehkan membelakangi pantai atau laut (untuk sanitasi) melainkan menghadap ke laut atau pantai tersebut; f. Tidak dibenarkan mengalih fungsikan kawasan tanpa mengikuti prosedur atau peraturan perundang-undangan yang berlaku. (3) Indikasi arahan peraturan zonasi Kawasan Sempadan Sungai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b adalah: a. Tidak diperkenankan dilakukan kegiatan budidaya yang mengakibatkan terganggunya fungsi sungai; b. Kegiatan atau bentuk bangunan yang secara sengaja dan jelas menghambat arah dan intensitas aliran air sama sekali tidak diperbolehkan; c. Kegiatan lain yang justru memperkuat fungsi perlindungan kawasan sempadan sungai tetap boleh dilaksanakan namun dengan pengendalian agar tidak mengubah fungsi kegiatannya di masa mendatang; d. Masih diperkenankan dibangun prasarana wilayah dan utilitas lainnya dengan ketentuan: 1. Tidak menyebabkan terjadinya perkembangan pemanfaatan ruang budidaya di sepanjang jaringan prasarana tersebut; 2. Dilakukan sesuai ketentuan peraturan yang berlaku. danau dan waduk (4) Indikasi arahan peraturan zonasi Kawasan Sempadan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c adalah:

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

a. Tidak diperkenankan didirikan bangunan, permukiman, atau kegiatan yang dapat mengganggu kelestarian daya tampung dan fungsi danau/waduk; b. Diperkenankan dilakukan kegiatan penunjang seperti kegiatan perikanan, wisata air, khususnya yang bersifat pemandangan sesuai ketentuan yang berlaku; c. Masih diperkenankan dibangun prasarana wilayah dan untilitas lainnya sepanjang: 1. Tidak menyebabkan terjadinya perkembangan ruang budidaya di sekitar jaringan prasarana tersebut; pemanfaatan

2. Pembangunannya dilakukan sesuai ketentuan peraturan yang berlaku. 38

No

Muatan Rancangan Perda RTRW (5) Indikasi arahan peraturan zonasi Kawasan Ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d adalah: a. Terbuka Hijau (RTH)

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

Kawasan ruang terbuka hijau tidak diperkenankan dialihfungsikan;

b. Luas kawasan ruang terbuka hijau tidak termasuk perkerasan (paving block); c. Dalam kawasan ruang terbuka hijau diperbolehkan dibangun fasilitas sosial, namun secara terbatas dan memenuhi ketentuan yang berlaku. Pasal 45 (1) Kawasan Suaka Alam, Pelestarian Alam dan Cagar Budaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 huruf d meliputi: a. Indikasi arahan peraturan zonasi Kawasan Suaka Alam; b. Indikasi arahan peraturan zonasi Cagar Alam dan Kawasan Pantai Berhutan Bakau; c. Indikasi arahan peraturan zonasi Taman Wisata Alam dan Taman Wisata Alam Laut; d. Indikasi arahan peraturan zonasi Kawasan Cagar budaya dan Ilmu Pengetahuan. (2) Indikasi arahan peraturan zonasi Kawasan Suaka Alam sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah: a. Tidak diperkenankan dilakukan kegiatan mengakibatkan menurunnya fungsi kawasan suaka alam; budidaya yang

b. Diperkenankan dilakukan kegiatan penelitian, wisata alam, dan kegiatan berburu yang tidak mengakibatkan penurunan fungsi kawasan; c. Masih diperkenankan pembangunan prasarana wilayah, bangunan penunjang fungsi kawasan, dan bangunan pencegah bencana alam sesuai ketentuan yang berlaku; d. Tidak diperkenankan dilakukan kegiatan budidaya perikanan skala besar atau skala usaha dan eksploitasi sumberaya kelautan yang mengakibatkan menurunnya potensi alam laut dan perairan lainnya; e. Dilarang dilakukan penambangan terumbu karang; f. Masih diperkenankan dibangun pasarana wilayah bawah laut dan bangunan pengendali air;

g.

Masih diperkenankan dipasang alat pemantau bencana alam seperti sistem peringatan dini (early warning system). (3) Indikasi arahan peraturan zonasi Cagar Alam dan Kawasan Pantai Berhutan Bakau sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b adalah: a. Dalam kawasan Cagar Alam dan Kawasan Pantai Berhutan Bakau tidak diperbolehkan dilakukan kegiatan budidaya yang mengakibatkan 39

No

Muatan Rancangan Perda RTRW menurunnya fungsi kawasan; b. Dalam kawasan Cagar Alam dan Kawasan Pantai Berhutan Bakau tidak diperbolehkan dilakukan kegiatan perburuan satwa yang dilindungi undang-undang; c. Dilarang dilakukan penambangan terumbu karang sehingga tutupan karang hidupnya kurang dari 50 % (lima puluh persen); d. Dalam kawasan Cagar Alam dan Kawasan Pantai Berhutan Bakau masih diperbolehkan dilakukan kegiatan penelitian dan wisata alam secara terbatas. (4) Indikasi arahan peraturan zonasi Taman Wisata Alam dan Taman Wisata Alam Laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c adalah: a. Tidak diperkenankan dilakukan budidaya yang merusak dan/atau menurunkan fungsi kawasan taman wisata dan taman wisata laut; b. Dilarang dilakukan reklamasi dan pembangunan perumahan skala besar yang mempengaruhi fungsi kawasan dan merubah bentang alam; c. Dilarang dilakukan eksploitasi terumbu karang dan biota lain kecuali untuk kepentingan penelitian dan pendidikan; d. Masih diperbolehkan dilakukan pembangunan prasarana wilayah bawah laut sesuai ketentuan yang berlaku. (5) Indikasi arahan peraturan zonasi Kawasan Cagar budaya dan Ilmu Pengetahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d adalah: a. Kawasan cagar budaya dilindungi dengan sempadan sekurangkurangnya memiliki radius 100 m, dan pada radius sekurang-kurangnya 500 m tidak diperkenankan adanya bangunan lebih dari 1 (satu) lantai; b. Tidak diperkenankan adanya bangunan pendukung cagar budaya dan ilmu pengetahuan. Pasal 46 Indikasi arahan peraturan zonasi Kawasan Rawan Bencana dimaksud dalam Pasal 41 huruf e adalah: sebagaimana lain kecuali bangunan

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

a. b.
c.

Perkembangan kawasan permukiman yang sudah terbangun di dalam kawasan rawan bencana alam harus dibatasi dan diterapkan peraturan bangunan (building code) sesuai dengan potensi bahaya/bencana alam, serta dilengkapi jalur evakuasi; Masih dapat dilakukan pembangunan prasarana penunjang untuk mengurangi resiko bencana alam dan pemasangan sitem peringatan dini (early warning system); Masih diperkenankan adanya kegiatan budidaya lain seperti pertanian, perkebunan, kehutanan, dan bangunan yang berfungsi untuk mengurangi resiko yang timbul akibat bencana alam; 40

No d.

Muatan Rancangan Perda RTRW Rehabilitasi lahan dan konservasi tanah pada kawasan rawan bencana longsor, dan tidak dibenarkan membuka lahan baru yang merupakan daerah konservasi hutan atau hutan lindung; Pengaturan pemanfaatan lahan di daerah hulu sungai, untuk mencegah terjadinya banjir dan erosi; Tidak dibenarkan membangun di daerah rawan longsor atau daerah yang berpotensi terjadinya longsor; Pasal 47 Indikasi arahan peraturan zonasi Kawasan Lindung Lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 huruf f adalah: a. b. Pulau-pulau dengan luas kurang dari 10 (sepuluh) hektar ditetapkan sebagai kawasan lindung; Masih diperbolehkan dilakukan kegiatan yang tidak mengganggu fungsinya sebagai kawasan lindung. Pasal 48 Indikasi arahan peraturan zonasi Kawasan budi daya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 huruf b adalah: a. b. c. d. e. f. g. h. Indikasi arahan peraturan zonasi Kawasan Hutan Produksi; Indikasi arahan peraturan zonasi Kawasan Hutan Rakyat; Indikasi arahan peraturan zonasi Kawasan Pertanian; Indikasi arahan peraturan zonasi Kawasan Perikanan; Indikasi arahan peraturan zonasi Kawasan Pertambangan; Indikasi arahan peraturan zonasi Kawasan Pariwisata; Indikasi arahan peraturan zonasi Kawasan Perindustrian; Indikasi arahan peraturan zonasi Kawasan Permukiman. Pasal 49 Indikasi arahan peraturan zonasi Kawasan Hutan Produksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48 huruf a adalah: a. Tidak diperkenankan adanya kegiatan budidaya kecuali kegiatan kehutanan dan pembangunan sistem jaringan prasarana wilayah dan bangunan terkait dengan pengelolaan budidaya hutan produksi; Sebelum kegiatan pengelolaan hutan produksi dilakukan wajib dilakukan studi kelayakan dan studi AMDAL yang hasilnya disetujui oleh tim evaluasi dari lembaga yang berwenang. Masih dimungkinkan dilakukan kegiatan penambangan, namun harus mengikuti

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

e. f.

b.

c.

41

No

Muatan Rancangan Perda RTRW ketentuan peraturan perundangan yang berlaku di bidang kehutanan. Pasal 50 Indikasi arahan peraturan zonasi Kawasan Hutan Rakyat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48 huruf b adalah: a. b. c. Pemanfaatan hutan yang berfungsi sebagai hutan produksi dapat dilakukan sesuai dengan potensi dan daya dukung lahan; Pengusahaan hutan rakyat dilakukan dengan melibatkan masyarakat setempat; Pengelolaan hutan rakyat mengikuti peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 51 Indikasi arahan peraturan zonasi Kawasan Pertanian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48 huruf c adalah: a. b. Lahan peruntukan pertanian dipertahankan luasannya dan produktivitasnya guna mendukung ketersediaan bahan pangan; ditingkatkan

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

Kegiatan budidaya pertanian tanaman pangan lahan basah dan lahan kering tidak diperkenankan pemborosan penggunaan sumber air dan menggunakan lahan yang dikelola dengan mengabaikan kelestarian lingkungan; Peruntukan budidaya pertanian pangan lahan basah dan lahan kering diperkenankan untuk dialihfungsikan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, kecuali lahan pertanian tanaman pangan yang telah ditetapkan dengan undang-undang; Pada kawasan budidaya pertanian diperkenankan adanya bangunan prasarana wilayah dan bangunan yang bersifat mendukung kegiatan pertanian; Dalam kawasan pertanian masih diperkenankan dilakukan kegiatan wisata alam secara terbatas, penelitian dan pendidikan. Pasal 52 Indikasi arahan peraturan zonasi Kawasan Perkebunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48 huruf d adalah:

c.

d. e.

a.

Sebelum kegiatan perkebunan besar dilakukan, diwajibkan untuk studi kelayakan dan studi AMDAL yang hasilnya disetujui oleh tim evaluasi dari institusi yang berwenang; Alih fungsi kawasan perkebunan menjadi fungsi lainnya harus mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku; Mempertahankan jenis tanaman yang sudah ada yang sesuai dengan potensi lahan serta mengembangkan jenis tanaman yang mempunyai nilai ekonomi dan prospek pasar yang baik; Perlu dilakukan pola tanam dan pola tata tanam yang baik dengan memperhatikan 42

b. c.

d.

No

Muatan Rancangan Perda RTRW asas konservasi tanah dan air; e. Pemanfaatan lahan untuk kegiatan penyediaan sarana dan prasarana jalan, listrik, air minum, jaringan irigasi serta pipa minyak dan gas dengan syarat tidak menurunkan daya dukung kawasan dan harus mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku . Pasal 53 (1) Indikasi arahan peraturan zonasi Kawasan Perikanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48 huruf e meliputi: a. b. Jalur Penangkapan Ikan I; Jalur Penangkapan Ikan II; dan

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

(2) Indikasi arahan peraturan zonasi Jalur Penangkapan Ikan I sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri dari: a. b. Jalur 0 sampai dengan 4 mil laut; Jalur 4 sampai dengan 8 mil laut.

(3) Indikasi arahan peraturan zonasi Jalur 0 sampai dengan 4 mil laut sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a diperuntukkan bagi nelayan dengan klasifikasi: a. b. Alat tangkap yang menetap; Alat tangkap yang tidak menetap yang tidak dimodifikasi; Kapal perikanan yang berkapasitas kurang dari 5 GT.

c.

(4) Indikasi arahan peraturan zonasi Jalur 4 sampai dengan 8 mil laut sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b diperuntukkan bagi nelayan dengan klasifikasi peralatan: a. Alat penangkap ikan tidak menetap yang dimodifikasi; Dengan kapasitas kapal perikanan kurang 5 GT; Pukat cincin berukuran panjang maks. 150 m; Jaring insang hanyut dengan ukuran kurang dari 1.000 m.

b.
c. d.

(5) Indikasi arahan peraturan zonasi Jalur Penangkapan Ikan II memiliki batas perairan diluar jalur penangkapan I sampai 12 mil ke arah laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dengan klasifikasi peralatan: a. b. Kapal motor dengan maksimum 30 GT. Kapal Perikanan dengan menggunakan alat penangkap ikan: 1. Menggunakan pukat cincin maksimal 600 m (1 kapal), maksimal 1.000 m (2 kapal); 2. Tuna long line (pancing tuna) maksimal 1.200 buah mata pancing; 3. Jaring insang hanyut dengan ukuran maksimal 2.500 m. 43

No

Muatan Rancangan Perda RTRW

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

Pasal 54 Indikasi arahan peraturan zonasi Kawasan dimaksud dalam Pasal 48 huruf f adalah: a. Pertambangan sebagaimana

Kegiatan usaha pertambangan dilarang dilakukan tanpa izin dari instansi/pejabat yang berwenang yang mengacu kepada ketentuan aturan teknis yang berlaku di setiap sektoral; Kegiatan penambangan harus terlebih dahulu memiliki kajian studi Amdal yang dilengkapi dengan RPL dan RKL untuk yang berskala besar, atau UKL dan UPL untuk yang berskala kecil (tambang rakyat); Perusahaan/perseorangan yang telah habis masa penambangannya wajib melakukan rehabilitasi (reklamasi dan/atau revitalisasi) kawasan pasca tambang sehingga dapat digunakan kembali untuk kegiatan lain, seperti pertanian, kehutanan, dan pariwisata; Pada kawasan pertambangan diperkenankan adanya kegiatan lain yang bersifat mendukung kegiatan pertambangan dan lingkungan; Tidak mengalokasikan penggalian pada lereng curam (>40%) yang kemantapan lerengnya kurang stabil serta pada kawasan Konservasi; Tidak mengijinkan penambangan di daerah tikungan luar sungai dan tebing sungai namun diarahkan ke daerah-daerah agradasi/sedimentasi tikungan dalam, bagianbagian tertentu pada sungai dan daerah kantong-kantong pasir; Percampuran kegiatan penambangan dengan fungsi kawasan lain diperbolehkan sejauh tidak merubah dominasi fungsi utama kawasan. Pasal 55 Indikasi arahan peraturan zonasi Kawasan Pariwisata sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48 huruf g adalah:

b.

c.

d. e. f.

g.

a. b.

Memperhatikan pengembangan destinasi pariwisata; Memperhatikan pengembangan Nilai Seni dan Budaya meliputi pembinaan dan pelestarian terhadap budaya dayak, situs serta warisan sejarah di Provinsi Kalimantan Tengah; Dalam kawasan pariwisata dilarang dibangun permukiman dan industri yang tidak terkait dengan kegiatan pariwisata kecuali bangunan pendukung kegiatan wisata alam; Pada kawasan pariwisata diperkenankan dilakukan penelitian dan pendidikan; Pengembangan pariwisata harus dilengkapi dengan upaya pengelolaan lingkungan dan upaya pemantauan lingkungan serta studi AMDAL; Diperkenankan adanya sarana dan prasarana yang mendukung kegiatan pariwisata dan sistem prasarana wilayah sesuai dengan ketentuan; 44

c.

d. e. f.

No g.

Muatan Rancangan Perda RTRW Pengembangan objek wisata bahari tidak boleh menimbulkan dampak gangguan atau kerusakan pada ekosistem laut; Pasal 56 (1) Indikasi arahan peraturan zonasi Kawasan Perindustrian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48 huruf h meliputi: a. b. c. Peningkatan dan pengembangan Kawasan Industri Pengolahan; Peningkatan dan pengembangan Kawasan Perindustrian Maritim; Peningkatan dan pengembangan Industri Pengembangan Pariwisata;

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

d. Peningkatan dan pengembangan Kawasan perindustrian pengolahan sumber daya laut; e. Peningkatan dan pengembangan Kawasan perdagangan. (2) Indikasi arahan peraturan zonasi untuk peningkatan dan pengembangan Kawasan Industri Pengolahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah : a. Lahan kawasan industri pengolahan ramah lingkungan/keluaran limbah bisa dikelola;

b.
c.

Lahan termasuk sarana perkantoran dormitory (mess), sarana olah raga/hiburan/makan, pasar, klinik, dan tempat ibadah; Fasilitas pergudangan, pelabuhan, dan jalan lingkungan kawasan. (3) Indikasi arahan peraturan zonasi untuk peningkatan dan pengembangan Kawasan Perindustrian Maritim sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b adalah : a. Lahan kawasan industri maritim, ramah lingkungan/keluaran limbah sisa dikelola, berada di daerah pesisir pantai; b. Lahan termasuk sarana perkantoran, tempat pelatihan, klinik medis, dan restorasi; c. Prasarana pergudangan, pelabuhan, dan jalan lingkungan dalam kawasan. (4) Indikasi arahan peraturan zonasi untuk peningkatan dan pengembangan Industri Pengembangan Pariwisata sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c adalah : a. Industri berada dalam kawasan pariwisata atau diluar kawasan namun masih berdekatan dengan kawasan pariwisata diutamakan industri kerajinan, makanan olahan; b. Fasilitas jalan ke kawasan pariwisata, transportasi/angkutan. (5) Indikasi arahan peraturan zonasi untuk peningkatan dan pengembangan kawasan perindustrian pengolahan sumber daya laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d meliputi lahan peruntukan berada di daerah pesisir pantai untuk industri dan klaster industri ramah lingkungan baik olahan maupun kerajinan. (6) Indikasi arahan peraturan zonasi untuk peningkatan dan pengembangan kawasan 45

No

Muatan Rancangan Perda RTRW perdagangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e meliputi lahan untuk pusat penjualan promosi, penjualan, perdagangan, hiburan termasuk sarana dan prasarana penunjang jalan lingkungan dalam kawasan, areal parkir, plaza, bangunan bertingkat. Pasal 57 Indikasi arahan peraturan zonasi Kawasan dimaksud dalam Pasal 48 huruf i adalah: a. b. c. Permukiman sebagaimana

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

Dilakukan pada lahan tidak subur dan pada lahan dengan kelerengan 5%-15%, terdapat pada lapisan keras dan tidak longsor; Kegiatan tersebut mendukung aktivitas kawasan dan tidak mengganggu/merusak fungsi kawasan; Pemanfaatan yang berdampak negatif terhadap keseimbangan ekologis dan pada kawasan rawan bencana tinggi dilarang; Pasal 58 Indikasi arahan zonasi Rencana Pengembangan Kawasan Laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 huruf c akan diatur lebih lanjut melalui Peraturan Daerah tersendiri.

Paragraf Ketiga Indikasi Arahan Peraturan Zonasi untuk Rencana Kawasan Strategis Provinsi Pasal 59 Indikasi arahan peraturan zonasi untuk rencana Kawasan Strategis Provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (2) huruf c meliputi: a. Indikasi arahan peraturan zonasi Kawasan Strategis Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) Das KAKAB; Indikasi arahan peraturan zonasi Kawasan Strategis Kawasan Pengembangan Lahan Gambut (PLG) Sejuta Hektar; Indikasi arahan peraturan zonasi kawasan pertahanan dan keamanan. Pasal 60 Indikasi arahan peraturan zonasi pada kawasan strategis Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Das KAKAB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 huruf a adalah: a. Lahan dan bangunan yang berada pada KAPET Das KAKAB merupakan aset 46

b.
c.

No

Muatan Rancangan Perda RTRW Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah yang dimiliki sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku; b. c. d. e. Sebagai kawasan pengembangan agribisnis dan/atau agroindustri di Provinsi Kalimantan Tengah; Sebagai kawasan pendukung perwujudan Kalimantan sebagai lumbung pangan; Pembangunan sarana dan prasarana pemerintahan yang akan mendukung pelaksanaan pelayanan publik; Sebagai kawasan pengembangan investasi perekonomian masyarakat dan nasional. Pasal 61 Indikasi arahan peraturan zonasi pada Kawasan Strategis Kawasan Pengembangan Lahan Gambut (PLG) Sejuta Hektare sebagaimana dimaksud dlam Pasal 59 huruf b adalah: a. Pelestarian hutan dan lahan gambut pada kawasan yang berfungsi lindung dengan tindakan tegas terhadap pembalakan liar dan kebakaran, dan jika sudah terjadi penggundulan hutan dilakukan rehabilitasi; Mempertahankan hutan yang masih baik; Mempertahankan kawasan penyangga budidaya terbatas antara kawasan lindung dan kawasan budidaya yang ditentukan dengan pembatas hidrologis; Pengembangan Kawasan budidaya untuk masyarakat lokal yang terpisah secara hidrologis dari kubah-kubah gambut dan tidak memiliki nilai keanekaragaman hayati serta tidak memiliki kandungan gambut yang berarti. Peruntukan jenis pertanian yang dapat dikembangkan meliputi pertanian tanaman pangan dan holtikultura. Pengembangan pertanian yang mengacu pada peraturan sektoral pertanian; Wilayah pantai yang rusak parah dapat dipertimbangkan sebagai tempat budidaya perairan (tambak) yang semi-intensif. Pasal 62 Indikasi arahan Peraturan Zonasi kawasan pertahanan dan keamanan sebagaimana dimaksud dalam pasal 59 huruf c adalah: a. penetapan zona penyangga yang memisahkan kawasan strategis nasional dengan kawasan budidaya terbangun; b. penetapan kegiatan budidaya secara selektif di dalam dan di sekitar kawasan strategis untuk menjaga fungsi pertahanan dan keamanan. yang mendukung peningkatan

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

b. c. d.

e. f. g.

47

No 6. 2.

Muatan Rancangan Perda RTRW Arahan Perizinan

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis -

Catatan Penyempurnaan

Bagian Ketiga Arahan Perizinan Pasal 63

(1) Arahan perizinan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (2) huruf b merupakan acuan bagi pejabat yang berwenang dalam pemberian izin pemanfaatan ruang berdasarkan rencana struktur dan pola ruang yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah ini. (2) Izin pemanfaatan ruang diberikan oleh pejabat yang berwenang sesuai dengan kewenangannya. (3) Pemberian izin pemanfaatan ruang dilakukan menurut prosedur sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. (4) Secara umum perizinan pemanfaatan ruang dapat diberikan dengan ketentuan sebagai berikut: a. Pemberian izin pemanfaatan ruang diberikan oleh instansi pemerintah yang berwenang sesuai dengan kewenangannya sebagaimana diatur dalam PP No. 38 tahun 2007 dan peraturan perundangan lain yang berlaku; b. Perizinan diberikan terhadap kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan rencana pola ruang dan mengacu pada arahan indikasi peraturan zonasi (tidak termasuk kegiatan yang tidak diperbolehkan); c. Proses mekanisme perizinan untuk setiap kegiatan pembangunan mengacu pada peraturan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku pada masing-masing sektor. (5) Pemberian izin pemanfaatan ruang yang dikeluarkan oleh Pemerintah Provinsi meliputi: a. Pemberian izin yang dianggap sangat penting dan strategis bagi pencapaian tujuan penataan ruang; b. Pemberian izin pemanfaatan ruang yang diperkirakan memiliki dampak besar bagi skala Provinsi; c. Pemberian izin pemanfaatan ruang lintas Kabupaten/Kota. 6. 3. Arahan Insentif dan Disinsentif Bagian Keempat Perangkat Insentif dan Disinsentif -

Pasal 64 48

No

Muatan Rancangan Perda RTRW (1) Perangkat insentif dan disinsentif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (2) huruf c merupakan acuan bagi pejabat yang berwenang dalam pemberian insentif dan pengenaan disinsentif. (2) Pemberian insentif bertujuan untuk memberikan rangsangan terhadap kegiatan yang sejalan dengan rencana tata ruang wilayah provinsi, berupa penetapan kebijakan di bidang ekonomi, fisik, dan pelayanan umum. (3) Pengenaan disinsentif bertujuan untuk membatasi pertumbuhan dan atau mencegah kegiatan yang tidak sejalan dengan rencana tata ruang wilayah provinsi, berupa penolakan pemerian izin pembangunan dan/atau pembatasan pengadaan sarana dan prasarana. (4) Arahan insentif dan disinsentif terdiri atas : a. b. Arahan umum insentif-disinsentif; Arahan khusus insentif-disinsentif. Pasal 65 (1) Arahan umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64 ayat (4) huruf a merupakan arahan pemberlakuan insentif dan disinsentif untuk berbagai pemanfaatan ruang secara umum. (2) Arahan umum pemberian insentif terhadap pemanfaatan ruang yang sesuai dengan ketentuan penataan ruang dan peraturan zonasi adalah sebagai berikut :

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

a. Kegiatan yang menimbulkan dampak positif akan diberikan kemudahan dalam
perizinan, diberikan imbalan, penyelenggaraan sewa ruang, perpanjangan perijinan, dan keringanan atau penundaan pajak (tax holiday); b. Bantuan penyediaan sarana dan prasarana kawasan oleh pemerintah untuk memperingan biaya investasi oleh investor; c. Pemberian kompensasi terhadap kawasan terbangun lama sebelum rencana tata ruang ditetapkan dan tidak sesuai tata ruang serta dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan; d. Pembangunan serta pengadaan sarana dan prasarana jaringan jalan, pelabuhan, bandara, jaringan listrik, air bersih, telepon, dan sebagainya untuk melayani pengembangan kawasan sesuai dengan rencana tata ruang. (3) Adapun arahan pemberian disinsentif terhadap pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan ketentuan penataan ruang dan peraturan zonasi adalah sebagai berikut: a. Tidak membantu swasta dalam penyediaan sarana dan prasarana bagi daerah/wilayah yang perkembangannya dibatasi; b. Tidak memberikan izin perpanjangan hak guna usaha, hak guna bangunan terhadap kegiatan yang terlanjur tidak sesuai dengan rencana tata ruang dan peraturan zonasi; c. Pengenaan pajak yang tinggi terhadap kegiatan yang berlokasi di daerah yang 49

No

Muatan Rancangan Perda RTRW memiliki nilai ekonomi tinggi, seperti pusat kota, kawasan komersial dan pada kegiatan pemanfaatan ruang yang dapat menimbulkan masalah lingkungan maupun sosial; d. Tidak menerbitkan izin pemanfaatan ruang budidaya yang akan dilakukan di dalam kawasan lindung dan pencabutan izin yang sudah diberikan karena adanya perubahan pemanfaatan ruang budidaya menjadi lindung. Pasal 66 (1) Arahan khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64 ayat (4) huruf b merupakan arahan pemberlakuan insentif dan disinsentif untuk kegiatan-kegiatan yang mendukung tercapainya tujuan penataan ruang terutama dalam mewujudkan Kawasan Strategis Provinsi, yang meliputi: a. Arahan insentif-disinsentif Kawasan Strategis Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Das KAKAB;

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

b. Arahan

insentif-disinsentif Kawasan Strategis Kawasan Pengembangan Lahan Gambut (PLG) Sejuta Hektare;

(2) Arahan insentif Kawasan Strategis Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Das KAKAB yakni: a. Pemberian kompensasi atas bangunan/pemanfaatan ruang lama yang mengganti pemanfaatan ruangnya sehingga sesuai dengan rencana pemanfaatan ruang sebagaimana pada arahan zonasi Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Das KAKAB dan Rencana Tata Ruang; b. Pemberian kemudahan dan bantuan terhadap masyarakat lokal dan investor yang ikut serta dalam pembangunan di Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Das KAKAB yang sesuai dengan rencana pemanfaatan ruang sebagaimana pada arahan zonasi Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Das KAKAB dan Rencana Tata Ruang. (3) Arahan disinsentif Kawasan Strategis Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Das KAKAB yakni dengan tidak memberikan perizinan terhadap kegiatan yang tidak sesuai dengan arahan zonasi Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Das KAKAB dan Rencana Tata Ruang.

(4)

Arahan insentif Kawasan Strategis Kawasan Pengembangan Lahan Gambut (PLG) Sejuta Hektare yakni:

a. Kemudahan perizinan dan keringanan pajak terhadap

kegiatan-kegiatan yang memberikan pelayanan, penyediaan sarana prasarana dan pembangunan infrastruktur yang mendukung pembangunan kawasan yang sesuai dengan arahan zonasi Kawasan Pengembangan Lahan Gambut (PLG) Sejuta Hektare dan Rencana Tata Ruang; Pemberian bantuan dan stimulan terhadap masyarakat yang memiliki andil 50

b.

No

Muatan Rancangan Perda RTRW besar dalam pengembangan budidaya yang sesuai dengan arahan zonasi Kawasan Pengembangan Lahan Gambut (PLG) Sejuta Hektare dan Rencana Tata Ruang;

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

c. Pengurangan pajak bumi dan bangunan bagi kawasan pertanian yang produktif
dan sesuai dengan arahan zonasi Kawasan Pengembangan Lahan Gambut (PLG) Sejuta Hektare dan Rencana Tata Ruang.

(5)

Arahan disinsentif Kawasan Strategis Kawasan Pengembangan Lahan Gambut (PLG) Sejuta Hektare yakni dengan tidak diberikannya perijinan pemanfaatan ruang yang memungkinkan mengakibatkan pengalihfungsian kawasan pertanian menjadi kawasan komersial serta melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan arahan zonasi Kawasan Pengembangan Lahan Gambut (PLG) Sejuta Hektare dan Rencana Tata Ruang.

6.4 Arahan Sanksi Bagian Kelima Perangkat Arahan Sanksi Pasal 67 (1) Arahan sanksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (2) huruf d merupakan acuan pengenaan sanksi terhadap pelanggaran terhadap: a. Pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana struktur ruang dan pola ruang wilayah; b. Pelanggaran ketentuan arahan peraturan zonasi; c. Pemanfaatan ruang tanpa izin pemanfaatan ruang yang diterbitkan berdasarkan RTRWP; d. Pemanfaatan ruang tidak sesuai dengan izin pemanfaatan ruang yang diterbitkan berdasarkan RTRWP; e. Pelanggaran ketentuan yang ditetapkan dalam persyaratan izin pemanfaatan ruang yang diterbitkan berdasarkan RTRWP; f. Pemanfataan ruang yang menghalangi akses terhadap kawasan yang oleh peraturan perundang-undangan dinyatakan sebagai milik umum; g. Pemanfaatan ruang dengan izin yang diperoleh dengan prosedur yang tidak benar. (2) Pelanggaran terhadap rencana tata ruang wilayah provinsi yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah ini akan dikenakan sanksi administratif, sanksi pidana, dan sanksi perdata. (3) Bentuk sanksi administrasi yang dikenakan terhadap pelanggaran penataan ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (2), meliputi: 51

No a. b. c. d. e. f.

Muatan Rancangan Perda RTRW Peringatan tertulis; Penghentian sementara kegiatan; Pencabutan izin; Pembatalan izin dan pembongkaran; Penutupan lokasi; Sanksi pemulihan fungsi ruang; Sanksi denda administrasi.

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

g.

(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengenaan sanksi mengacu pada Peraturan Perundangan-undangan terkait yang berlaku. 7. KELEMBAGAAN BAB VIII KELEMBAGAAN Pasal 68 (1) Dalam rangka menserasikan dan mensinergikan penataan ruang, perlu dilakukan koordinasi dan sinkronisasi antar susunan pemerintahan. Pelaksanaan koordinasi penyelenggaraan penataan ruang dan kerjasama lintas sektor, lintas wilayah, dan lintas pemangku kepentingan bidang penataan ruang dibentuk Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah (BKPRD). Pembentukan BKPRD ditetapkan lebih lanjut oleh Gubernur.

(2)
(3) 8.

HAK, KEWAJIBAN DAN PERAN MASYARAKAT DALAM PENATAAN RUANG BAB IX HAK, KEWAJIBAN DAN PERAN MASYARAKAT DALAM PENATAAN RUANG Bagian Kesatu Hak Masyarakat Pasal 69 Dalam penataan ruang, setiap orang berhak untuk: a. b. ruang; c. memperoleh penggantian yang layak atas kerugian yang timbul akibat pelaksanaan kegiatan pembangunan yang sesuai dengan rencana tata 52 mengetahui rencana tata ruang; menikmati pertambahan nilai ruang sebagai akibat penataan

No ruang; d. e.

Muatan Rancangan Perda RTRW

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

mengajukan keberatan kepada pejabat berwenang terhadap pembangunan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang di wilayahnya; mengajukan tuntutan pembatalan izin dan penghentian pembangunan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang kepada pejabat berwenang; dan mengajukan gugatan ganti kerugian kepada pemerintah dan/atau pemegang izin apabila kegiatan pembangunan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang menimbulkan kerugian.

f.

Bagian Kedua Kewajiban Masyarakat Pasal 70 Dalam pemanfaatan ruang, setiap orang wajib: a. b. c. d. menaati rencana tata ruang yang telah ditetapkan; memanfaatkan ruang sesuai dengan izin pemanfaatan ruang dari pejabat yang berwenang; mematuhi ketentuan yang ditetapkan dalam persyaratan izin pemanfaatan ruang; memberikan akses terhadap kawasan yang oleh peraturan perundang-undangan dinyatakan sebagai milik umum. Pasal 71 Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70, dikenai sanksi administratif. Pasal 72 Sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 71 dapat berupa: a. peringatan tertulis; b. penghentian sementara kegiatan; c. penghentian sementara pelayanan umum; d. penutupan lokasi; e. pencabutan izin; f. pembatalan izin; g. pembongkaran bangunan; h. pemulihan fungsi ruang; dan/atau 53 ketentuan

No i.

Muatan Rancangan Perda RTRW denda administratif. Pasal 73 Ketentuan lebih lanjut mengenai kriteria dan tata cara pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 71 diatur sesuai dengan peraturan perundangundangan.

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

Pasal 74 (1) (2) Masyarakat yang dirugikan akibat penyelenggaraan penataan ruang dapat mengajukan gugatan melalui pengadilan. Dalam hal masyarakat mengajukan gugatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), tergugat dapat membuktikan bahwa tidak terjadi penyimpangan dalam penyelenggaraan penataan ruang.

Bagian Ketiga Tata Cara Peran Serta Masyarakat Dalam Penataan Ruang Pasal 75 (1) ruang dilakukan dalam : a. b. c. (2) perencanaan tata ruang wilayah provinsi; pemanfaatan ruang wilayah provinsi; pengendalian pemanfaatan ruang wilayah provinsi; Tata cara peran serta masyarakat dalam penataan

Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara dan pembinaan peran serta masyarakat dalam penataan ruang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Bagian Keempat Peran Serta Masyarakat Pasal 76

(1) ruang wilayah, meliputi: a. b.

Peran Serta Masyarakat dalam proses perencanaan tata pemberian masukan dalam penentuan arah pengembangan wilayah pengidentifikasian berbagai potensi dan masalah pembangunan, termasuk 54

No

Muatan Rancangan Perda RTRW bantuan untuk memperjelas hak atas ruang di wilayah dan termasuk pula pelaksanaan tata ruang kawasan; c. d. e. f. (2) dapat berbentuk : a. b. c. d. Bantuan pemikiran atau pertimbangan berkenaan dengan wujud struktur dan pola pemanfaatan ruang di kawasan perkotaan dan perdesaan; Bantuan teknik dan pengelolaan pemanfaaan ruang wilayah provinsi; Penyelenggaraan kegiatan pembangunan berdasarkan rencana tata ruang yang telah ditetapkan; Peningkatan efisiensi, efektivitas, dan keserasian dalam pemanfaatan ruang daratan ruang lautan dan ruang udara berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan; Perubahan atau konversi pemanfaatan ruang sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi; Kegiatan menjaga, lingkungan. memelihara dan meningkatkan kelestarian fungsi pemberian masukan dalam merumuskan rencana tata ruang wilayah provinsi termasuk kawasan strategis provinsi; pemberian informasi, saran, pertimbangan atau pendapat dalam penyusunan strategi dan struktur Pemanfaatan ruang wilayah kabupaten; pengajuan keberatan terhadap rancangan RTRWP ; kerjasama dalam penelitian dan pengembangan dan atau bantuan tenaga ahli. Peran Serta Masyarakat dalam pemanfaatan ruang,

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

e. f. (3)

peran serta pemanfaatan ruang, dapat berbentuk : a. b.

masyarakat

dalam

pengendalian

Pengawasan terhadap pemanfaatan ruang wilayah provinsi, termasuk pemberian informasi atau laporan pelaksanaan pemanfaatan ruang; Bantuan pemikiran atau pertimbangan untuk penertiban kegiatan pemanfaatan ruang dan peningkatan kualitas pemanfaatan ruang.

9.

KETENTUAN PIDANA BAB X KETENTUAN PIDANA Pasal 77 (1) Setiap orang yang tidak menaati rencana tata ruang sebagaimana diatur dalam peraturan daerah ini yang mengakibatkan perubahan fungsi ruang, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak 55

No

Muatan Rancangan Perda RTRW Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah). (2) Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan kerugian terhadap harta benda atau kerusakan barang, pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 8 (delapan) tahun dan denda paling banyak Rp1.500.000.000,00 (satu milyar lima ratus juta rupiah). Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan kematian orang, pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah). Ketentuan lebih lanjut mengenai ancaman pidana terhadap pelanggaran rencana tata ruang mengacu pada Pasal 70 sampai dengan Pasal 75 Undang-undang Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang.

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

(3)

(4)

10 .

PENYIDIKAN

BAB XI PENYIDIKAN Pasal 78

Pasal 77
(1) Selain pejabat penyidik kepolisian negara Republik Indonesia, pegawai negeri sipil tertentu di lingkungan Pemerintah Daerah yang lingkup tugas dan tanggungjawabnya di bidang penataan ruang diberi wewenang khusus sebagai penyidik untuk membantu pejabat penyidik kepolisian negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana. Pengaturan dan lingkup tugas Pegawai Negeri Sipil tertentu yang diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diatur lebih lanjut dalam Peraturan Gubernur.

(2)

11 .

KETENTUAN PERALIHAN

BAB XII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 79

Pasal 78
(1) Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini, maka semua peraturan pelaksanaan 56

No

Muatan Rancangan Perda RTRW yang berkaitan dengan penataan ruang Daerah yang telah ada dinyatakan berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan dan belum diganti berdasarkan Peraturan Daerah ini. (2) Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini, maka: a. Izin pemanfaatan ruang yang telah dikeluarkan dan telah sesuai dengan ketentuan Peraturan Daerah ini tetap berlaku sesuai dengan masa berlakunya; b. Izin pemanfaatan ruang yang telah dikeluarkan tetapi tidak sesuai dengan ketentuan Peraturan Daerah ini berlaku ketentuan: 1)untuk yang belum dilaksanakan pembangunannya, izin tersebut disesuaikan dengan fungsi kawasan berdasarkan Peraturan daerah ini; 2)untuk yang sudah dilaksanakan pembangunannya, pemanfaatan ruang dilakukan sampai izin terkait habis masa berlakunya dan dilakukan penyesuaian dengan fungsi kawasan berdasarkan Peraturan Daerah ini; 3)untuk yang sudah dilaksanakan pembangunannya dan tidak memungkinkan untuk dilakukan penyesuaian dengan fungsi kawasan berdasarkan Peraturan Daerah ini, izin yang telah diterbitkan dapat dibatalkan dan terhadap kerugian yang timbul sebagai akibat pembatalan izin tersebut dapat diberikan penggantian yang layak; c. pemanfaatan ruang yang izinnya sudah habis dan tidak sesuai dengan Peraturan Daerah ini dilakukan penyesuaian berdasarkan Peraturan Daerah ini; d. pemaatan ruang di ditentukan sebagai berikut: Daerah yang diselenggarakan tanpa izin

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

1)yang bertentangan dengan ketentuan Peraturan Daerah ini, pemanfaatan ruang yang bersangkutan ditertibkan dan sisesuaikan dengan Peraturan Daerah ini; 2)yang sesuai dengan ketentuan Peraturan Daerah ini, dipercepat untuk mendapatkan izin yang diperlukan.

12 .

KETENTUAN PENUTUP

BAB XIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 80 Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini, maka Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan 57

No

Muatan Rancangan Perda RTRW Tengah Nomor 8 Tahun 2003 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Kalimantan Tengah dicabut dan dinyatakan tidak belaku. Pasal 81 Peraturan Daerah tentang RTRW Provinsi dilengkapi dengan Rencana/Materi teknis RTRW Provinsi dan Album Peta dengan skala minimal 1 : 250.000 yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah RTRW Provinsi. Pasal 82 (1) (2) Jangka waktu RTRW Provinsi Kalimantan Tengah adalah 20 (dua puluh) tahun dan dapat ditinjau kembali 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun. Dalam lingkungan strategis tertentu yang berkaitan dengan bencana alam skala besar yang ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan dan/atau perubahan batas territorial negara dan/atau wilayah provinsi yang ditetapkan dengan Undang-Undang, RTRW Provinsi Kalimantan Tengah dapat ditinjau kembali lebih dari 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun. Peninjauan kembali sebagaimana dimaksud pada ayat (2) juga dilakukan apabila terjadi perubahan kebijakan nasional dan strategi yang mempengaruhi pemanfaatan ruang provinsi dan/atau dinamika internal provinsi.

Penelaahan Materi Muatan Teknis Rancangan Perda terhadap: 1. UUPR 2.RTRWN 3.Kebijakan Nasional Bidang Penataan Ruang 4.NSPK 5.Konsistensi Muatan Raperda RTRW dengan Naskah Akademis

Catatan Penyempurnaan

(3)

Pasal 83 Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Provinsi Kalimantan Tengah.

Direktur Pembinaan Penataan Ruang Daerah Wilayah II

Ir. Bahal Edison Naiborhu, MT NIP. 110021841

58

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->