P. 1
Differential Scanning Calorimetry (DSC)

Differential Scanning Calorimetry (DSC)

|Views: 2,089|Likes:

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: Alfonsius Billy Joe Haslim on Jan 10, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/04/2013

pdf

text

original

Differential Scanning Calorimetry (DSC

)
Rangga Agung Pribadi Heriawan, Laili Novita Sari, Alfonsius Billy Joe Haslim * Departemen Teknik Metalurgi dan Material, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia

A. Pendahuluan Differential Scanning Calorimetry (DSC) merupakan suatu teknik analisis termal dimana perbedaan pada aliran panas atau daya panas pada sampel dan standar (referensi) dipantau terhadap waktu atau temperatur, sedangkan pada sampel dengan atmosfer telah diprogram.[1] DSC ada tiga jenis, yaitu: 1. Heat flux DSC 2. Power compensation DSC (heat flow) 3. Hyper DSC (heat flow)

Gambar 1. Skema sederhana DSC[2] B. Prinsip Kerja Prinsip kerjanya sangat sederhana dimana satu pan diisi dengan sampel uji, sedangkan pan yang lain diisi dengan material referensi.[2] Kedua pan berada diatas heater. Kemudian dengan memberikan perintah melalui komputer, heater akan dinyalakan dan sekaligus menentukan specific heat yang diinginkan. Melalui pemograman komputer, kecepatan panas akan

dikendalikan yang tentu saja panas yang ada dideteksi dengan sensor temperatur yang kemudian sinyalnya diterima oleh komputer dan komputer akan memberi perintah pada heater untuk mempertahankan specific heat-nya. Pada dasarnya heat flux DSC dan power compensation DSC memiliki persamaan prinsip. Perbedaanya hanya pada sistem pengukuran diferensial energi, dimana pada power compensation DSC menggunakan heater kedua (secondary heater) untuk mengkompensasi perbedaan temperatur antara sampel dan referensi. Sedangkan pada heat flux DSC teknik, flux panas akan melalui sampel dan referensi dipantau pada output.

Gambar 2. Skema prinsip kerja heat flux DSC[3]

Gambar 3. Skema prinsip kerja power compensation DSC[3] Dari gambar keduanya dapat dilihat bahwa dalam heat flux DSC yang dilakukan hanyalah pengendalian pada satu heater dan direkam sehingga masih dimungkinkan terjadi perbedaan temperatur antara sampel dan

referensi. Sedangkan pada power compensation DSC dilakukan pengendalian pada heater referensi untuk mengatasi perbedaan temperatur yang terjadi sehingga keduanya memiliki perbedaan hasil seperti yang tercantum pada Tabel 1 berikut: Tabel 1. Perbedaan antara heat flow dan heat flux DSC[4] Fast Heating (250°C/min plus) Modulated Techniques Accuracy of Cp Values Delta H Accuracy Ease of Cleaning OIT Testing Isotherm Performance 1. Heat flux DSC Sampel dan referensinya dihubungkan dengan jalur aliran panas dengan tahanan yang rendah.[5] Sampel dan referensi berada pada furnace yang sama atau satu. Perubahan entalpi atau kapasitas panas pada sampel menyebabkan perbedaan temperatur relatif terhadap referensi. Perbedaan temperatur ini direkam dan dihubungkan dengan perubahan entalpi pada sampel menggunakan hasil uji kalibrasi.[5] Ini merupakan modifikasi dari DTA dengan perbedaan hanya pada sampel dan referensi yang memiliki jalur aliran panas yang bagus. Kelebihan energi yang terjadi antara sampel dan referensi dihantarkan menggunakan penghubung dari metal sehingga hanya terjadi sedikit perbedaan temperatur antara keduanya. Perbedaan temperatur sampel dan referensi proporsional terhadap aliran panas antara keduanya.[5] Heat Flow Heat Flux Yes No Yes Yes High Moderate High Moderate Very Moderate Moderate Easy Excellent Affected by Sample

Gambar 4. Heat flux DSC[5]

Karena termokopel tidak menempel langsung pada spesimen maka akan terdapat perbedaan antara panas pada spesimen dengan yang terukur sehingga ΔT tidak sama dengan Ts – Tr dimana Ts adalah temperatur sampel dan Tr adalah temperatur referensi. Cara mengatasinya dengan mempertahankan pada temperatur T' (temperatur transisi) dan direkam dengan kurva DSC tehadap kesetimbangan. Cara ini membutuhkan alat yang lebih rumit atau dengan cara referensi yang dibiarkan kosong pada percobaan pertama dan mengisinya dengan referensi pada percobaan kedua sehingga selisih antara yang pertama dengan kedua adalah ΔTr.[5] Pada dasarnya heat flux DSC ada tiga jenis, yaitu: a. The Disk type measuring system

Gambar 5. Skema heat flux DSC dengan Disk type measuring system[6,7] Karakteristik utamanya adalah aliran panas dari furnace melewati disk yang memilki konduktivitas termal medium[6]. Crucible material adalah Al, Al2O3, grafit, Y2O3, Pt/Rh dengan Al2O3 didalamnya atau emas dan lain-lain. Kecepatan pendinginan 10 K/menit. Konstanta waktu 3 detik dan 10 detik.[6] b. The Cylinder type measuring system

Gambar 6. Skema heat flux DSC dengan Cylinder measuring system[6,7]

Menggunakan dua aluminium silinder yang diletakkan paralel dan simetris pada furnace. Crucible yang digunakan adalah dari stainless steel. Tipe silinder ini memiliki volume yang lebih besar sehingga mempunyai konstanta waktu yang lebih lama yaitu 4 menit. Pengukuran yang dilakukan pada range temperatur yang lebar yaitu -196 s.d 1500°C. Maksimum kecepatan panas 1 K/menit.[6] c. The Turret type measuring system

Gambar 7. Skema heat flux DSC dengan Turret measuring system[6,7] Sampel menggunakan silinder kecil yang berlubang. Sangat ideal digunakan untuk mengetahui kemurnian logam.[6] Sejauh ini Turrent measureing system yang paling baik dan bersaing dengan kompensasi DSC dan mikro DSC karena panas berpindah melalui dinding tipis silinder sehingga jalur konduktivitas sangat pendek tercapai. Tipe crucible disebut sebagai T zero sensor memiliki peralatan yang hampir sama dengan DSC klasik. Kecepatan panas 200 K/menit.[6] Waktu konstan hampir sama dengan nol.[6] 2. Power compensation DSC

Gambar 8. Skema power compensation DSC[6,8]

Sampel dan referensi diletakkan pada tempat yang berbeda dengan furnace yang terpisah. Keuntungannya bahannya lebih ringan sehingga kecepatan responnya lebih cepat dan kecepatan panas 500°C/menit. Ketika reaksi muncul, energi diakumulasi atau dihilangkan untuk mengompensasi perubahan energi pada kedua furnace. Waktu konstan 1,5 detik. Crucible terbuat dari aluminum.[6]

Differential temperature control

Average temperature control

Gambar 9. Diagram blok dari alat power compensation DCS[9] Bagian rangkaian kiri merupakan temperatur blok diagram rangkaian differential

temperature control, sedangkan bagian kanan merupakan blok diagram pengendali rata-rata. Di rangkaian pengendali temperatur rata-rata pada sampel dan referensi diukur, di rata-rata dan output panasnya dari rata-rata heater secara otomatis di-adjust sehingga rata-rata temperatur sampel dan referensi naik secara linier. Sedangkan pengendali temperatur differential berguna sebagai rangkaian kendali yang memantau perbedaan temperatur antara sampel dan referensi dan secara otomatis akan meng-adjust power baik tabung referensi maupun sampel untuk

mempertahankan agar temperatur yang sama. Hasil termogram akan menunjukkan sumbu-X sebagai temperatur sampel dan perbedaan power supply, sedangkan sumbu-Y adalah perbedaan dua heater.[9]

Gambar 10. Gambaran ideal tiga proses yang dapat diamati pada DSC[9] Ketika ΔH positif (reaksi endotermik), alat pemanas sampel berenergi dan sinyal positif akan teramati sedangkan ketika ΔH negatif alat pemanas referensi berenergi dan sinyal negatif teramati. Daerah puncak DSC sebanding dengan jumlah sampel. Reaksi panasnya hampir sama dengan DTA, dapat dilihat sebagai berikut[9]: Peak area (A) = ±ΔHmK dimana m = massa sampel dan k = faktor kalibrasi. Akan tetapi pada power compensation DSC dapat secara langsung diketahui ΔH tanpa membandingkan dengan kalibrasi yaitu dengan membandingkan ΔH sampel dengan ΔH referensi secara langsung.[9]
ΔH s = Ak mk × ΔH s As m s

DSC juga sensitif terhadap kapasitas panas dimana program komputer akan mengendalikan aliran panas pada sampel sebanding dengan kapasitas panasnya. Kapasitas panas dapat dideteksi dengan perubahan garis dasar dengan perhitungan sebagai berikut[9]:

Cp =

(dH / dt ) × 1 d = heating rate × m (dT / dt ) m

3. Hyper disk DSC

Merupakan tipe power kompensasi DSC terbaru dengan resolusi yang tinggi. Memiliki sensitifitas yang tinggi dan memiliki kecepatan panas 500 K/menit[6].

C. Aplikasi

Teknik ini banyak digunakan di berbagai aplikasi, baik sebagai uji kualitas rutin dan sebagai alat penelitian. Peralatan ini mudah untuk dikalibrasi dengan menggunakan indium leleh rendah pada 156.5985°C, dan merupakan metode yang cepat dan dapat diandalkan dalam analisis termal. Bidang aplikasi DSC antara lain[10]: 1. Polimer DSC digunakan secara luas untuk menguji polimer guna memeriksa komposisinya. Titik leleh dan temperatur transisi kaca untuk banyak polimer tersedia dari kompilasi standar, dan metode yang dapat menunjukkan degradasi polimer dimungkinkan oleh penurunan titik leleh (Tm). Tm tergantung pada berat molekul polimer, sehingga nilai yang lebih rendah akan memiliki titik lebur yang lebih rendah dari yang diharapkan. Persentase kristalinitas dari polimer dapat ditemukan dari puncak kristalisasi pada grafik DSC dimana fusi panas dapat dihitung dari daerah di bawah puncak penyerapan. DSC juga dapat digunakan untuk mempelajari degradasi termal polimer. Impuritis dalam polimer dapat ditentukan dengan memeriksa termogram untuk puncak anomali, dan plasticizer dapat dideteksi pada titiktitik karakteristik ketika mendidih. 2. Kristal cair DSC digunakan dalam penelitian kristal cair. Ketika beberapa bentuk materi berubah dari padat ke cair dimana melalui kondisi ketiga yang menampilkan sifat-sifat dari kedua fase. Cairan anisotropic dikenal sebagai kristalin cair atau kondisi mesomorphous. Dengan menggunakan DSC menjadi hal yang mungkin untuk mengamati perubahan energi kecil yang

terjadi sebagai materi transisi suatu kristal dari padat ke cair dan dari kristal cair ke cairan isotropik. 3. Stabilitas oksidasi Menggunakan DSC untuk mempelajari stabilitas oksidasi sampel umumnya membutuhkan ruang sampel kedap udara. Biasanya, uji tersebut dilakukan secara isotermal (pada temperatur konstan) dengan mengubah atmosfer sampel. Pertama, sampel dibawa ke temperatur uji yang diinginkan di bawah atmosfer inert, biasanya berupa nitrogen. Kemudian, oksigen ditambahkan ke dalam sistem. Setiap oksidasi yang terjadi diamati sebagai penyimpangan (deviasi) dalam baseline. Analisis tersebut dapat digunakan untuk menentukan stabilitas dan kondisi penyimpanan yang optimal untuk bahan atau senyawa. 4. Penyaring keamanan DSC membuat alat penyaring keamanan dini. Dalam mode ini sampel akan ditempatkan di wadah non-reaktif (biasanya dari emas atau baja berlapis emas), yang akan mampu menahan tekanan (~100 bar). Kehadiran suatu peristiwa eksoterm dapat digunakan untuk menilai stabilitas zat terhadap panas. Namun, karena kombinasi dari sensitivitas yang relatif rendah, laju pemindaian yang lebih lambat dari biasanya (biasanya 2-3°/menit dikarenakan wadah jauh lebih berat), dan energi aktivasi yang tidak diketahui, sehingga perlu untuk mengurangi sekitar 75-100°C dari kondisi mula dari eksoterm yang diamati untuk menyarankan temperatur maksimum suatu material. Data lebih akurat dapat diperoleh dari kalorimeter adiabatik, tetapi uji dapat memakan waktu 2-3 hari dari ambien pada laju kenaikan 3°C per-setengah jam. 5. Analisis Obat DSC banyak digunakan dalam industri farmasi dan polimer. Untuk ahli kimia polimer, DSC adalah alat yang berguna untuk mempelajari proses curing, yang memungkinkan fine tuning sifat polimer. Molekul polimer crosslinking yang terjadi dalam proses curing bersifat eksotermis, menghasilkan puncak positif dalam kurva DSC yang biasanya muncul setelah transisi gelas.

Dalam industri farmasi perlu memiliki senyawa obat yang baik, dimana untuk menentukan parameter proses. Misalnya, jika perlu untuk memberikan obat dalam bentuk amorf, maka dilakukan memproses obat pada dibawah temperatur dimana kristalisasi dapat terjadi. 6. Analisis kimia umum Penurunan titik beku dapat digunakan sebagai alat analisis kemurnian dimana dianalisis dengan DSC. Hal ini dimungkinkan karena temperatur di mana campuran senyawa mencair tergantung pada jumlah relatif. Akibatnya, senyawa kurang murni akan menunjukkan puncak mencair yang diperluas, yang dimulai pada temperatur lebih rendah dari senyawa murni. 7. Ilmu pangan Dalam penelitian ilmu pangan, DSC digunakan dalam hubungannya dengan teknik analisis termal lainnya untuk menentukan dinamika air. Perubahan distribusi air mungkin berkorelasi dengan perubahan tekstur. Serupa dengan studi ilmu material, efek curing pada produk penganan juga dapat dianalisis. 8. Logam Dalam beberapa dekade terakhir, teknologi ini telah terlibat dengan studi bahan logam. Bahan leleh rendah seperti solder mudah diuji. Hal ini diketahui bahwa adalah mungkin untuk menggunakan DSC untuk menemukan temperatur solidus dan liquidus dari paduan logam, tetapi saat ini aplikasi terluas adalah studi tentang precipitate dan zona Guiner-Preston.

D. Desain Percobaan Penelitian

Differential Scanning Calorimetry (DSC) digunakan untuk mengukur perubahan dalam perbedaan laju heat flow ke material (sampel) dan untuk referensi material ketika mereka menjadi subjek sebuah program controlled temperature[6,11]. Kemampuan DSC ini dimanfaatkan M. Belhadji, et.al[12] untuk mempelajari fenomena kristalisasi Tellurium dalam sistem GeTeSb. Perekaman perubahan fasa paduan chaleogenide dirancang untuk memiliki setidaknya dua bentuk struktur, amorf dan kristalin, yang dapat

saling berdampingan dalam temperatur kamar. Sejumlah faktor[13], seperti perlakuan panas ditemukan menyebabkan stabilitas atau kristalisasi dari paduan. Preparasi sampel terdiri atas dua tahap. Pertama, tiga elemen (kemurnian 99,999%) dengan kuantitas sesuai dimasukkan ke dalam ampul kuarsa dan disegel dalam ruang vakum dengan tekanan 10-5 Pa. Kemudian ampul diletakkan di dalam tungku putar horizontal dan annealed pada 1000oC selama 3 jam. Akhirnya, kemudian di air quenched. Komposisi paduan bulk diperiksa dengan AAS (Perkin Elmer 2380). Ingot di ground down menjadi bubuk halus dan ditempatkan dalam tabung kapiler yang disegel kondisi vakum. Sampel di annealed hingga 1000oC dan di quenched dalam air dingin. Amorfisitas sampel diperiksa menggunakan Differential Scanning Calorimetry dan X-ray Diffraction. Kemudian didapatkan hasil sebagai berikut:

Gambar 11. DSC traces Ge15Te82Sb3 dengan variasi laju pemanasan

Gambar 12. Efek termal pada Ge15Te82Sb3 DSC trace

Gambar 11 menunjukkan termogram khas yang diperoleh untuk studi karakteristik komposisi yang muncul pada rentang temperatur dipelajari. Dan Gambar 12 menunjukkan efek termal dari sampel. Studi pada Ge15Te82Sb3 menunjukkan satu temperatur kristalisasi dan satu temperatur transisi. Efek termal menunjukkan perubahan fasa pada sampel dengan satu Tg dan dua Tc dengan presipitat tellurium dan entalpi kristalisasi konstan (daerah peak) untuk sampel yang dipanaskan dalam 30 menit (kurva a, b, dan c).

Tabel 2. Parameter termal GeTeSb[11] Komposisi Ge 13 14 14,5 15 Te 84,5 84,5 84,5 84,5 Sb 2,5 1,5 1,0 0,5 Temperatur Temperatur transisi (K) kristalisasi (K) Tg1 Tg2 Tc1 Tc2 381 405 433 462 387 423 441 473 389 421 439 479 393 425 447 485

Tabel 2 menunjukkan parameter termal GeTeSb dengan komposisi tetap Te 84,5. Dapat dilihat dengan penambahan unsur Ge dan penurunan unsur Sb, Tg1 dan Tc2 mengalami kenaikan dan Tg2 serta Tc1 mengalami fluktuasi. Jelas bahwa sebagaimana persiapan paduan Ge15.5-xTe84.5Tex memiliki dua fasa amorf yang ditandai dengan dua temperatur transisi. Bagaimanapun, efek termal dalam komposisi eutectic menunjukkan fenomena yang sama.

E. Referensi

[1] Simon Peter, Cibulkova Zuzana, Measurement of heat capacity by differention scanning calorimetry, Department of physical chemistry, Faculty of Chemical and Food Technology, Slovak University of Technology, Slovak Republic. [2] http://pslc.ws/macrog/dsc.htm [3] Lv Zhou Y, An Jian B, Chang Y, Li Meng M, Basic principle and main application microcalorimetry, Biomedical experimentation grade 4, School of basic medical science, Peking University health science center, RRC. [4] www.perkinelmer.com/.../Images/44-74542GDE_DSCBeginnersGuide.pdf [5] Bhadesia H.K.D.H, Differential Scanning Calorimetry, Material science and metallurgy, University of Chambridge. USA. [6] G. Klancnik, et.al. (2010). Differention Thermal Analysis (DTA) and Differential Scanning calorimetry (DSC) as a method of material investigation. RMZ – material and geoenvironment, vol. 57, No. 1, pp. 127124. Slovenia.

[7] Czichos, Saito, Smith. (2006). Material Measurement Method. Springer, pp. 411-413. [8] Michael E, Brown. (1998). Handbook of thermal analysis and calorimetry. Principle and Practice. Elsavier. [9] http://vedyadhara.ignou.ac.in/wiki/images/6/6b/UNIT_11_DIFFERENTIA L_THERMAL_ANALYSIS,_SCANNING_CALORIMETRY_AND_THERMOM ETRIC_TITRATIONS.pdf [10] http://en.wikipedia.org/wiki/Differential_scanning_calorimetry#Applicatio ns [11] G.W.H. Hohne, et. al. (2003). Differential Scanning Calorimetry. New York: Springer Verlag Heidelberg. [12] M. Belhadji, et. al. (2011). Tellurium Crystallisation in GeTeSb system. Journal of Crystallization Process and Technology. vol. 1, pp. 63-65. [13] S. R. Ovshinsky. (1992). The Relationship Between Crystal Structure and Performance as 58. Journal of Non-Crystalline Solids. vol. 141, pp. 200-203.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->