P. 1
Askep Anak Dgn Meningitis

Askep Anak Dgn Meningitis

|Views: 940|Likes:

More info:

Published by: Bella Ari Diah Nabilla on Jan 10, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/27/2014

pdf

text

original

ASKEP ANAK DENGAN MENINGITIS MENINGITIS A.

Pengertian Meningitis adalah radang pada meningen (membran yang mengelilingi otak dan medula spinalis) dan disebabkan oleh virus, bakteri atau organ-organ jamur (Smeltzer, 2001). Meningitis merupakan infeksi akut dari meninges, biasanya ditimbulkan oleh salah satu dari mikroorganisme pneumokok, Meningokok, Stafilokok, Streptokok, Hemophilus influenza dan bahan aseptis (virus) (Long, 1996). Meningitis adalah peradangan pada selaput meningen, cairan serebrospinal dan spinal column yang menyebabkan proses infeksi pada sistem saraf pusat (Suriadi & Rita, 2001).

Suatu peradangan akut pada selaput otak yang diakibatkan oleh

Bakteri

Virus

Meningitis Bakteri

Meningitis non bakteri ( Aseptc )

90 % kasus terjadi pada anak umur 1 bln - 5 th

B. Etiologi

pada anak dan orang dewasa. Meningitis tuberculosa terjadi akibat komplikasi penyebab tuberculosis primer. Klebsiella pneumoniae. Diplococcus pneumoniae (pneumokok). Virus. yaitu : 1. Virus. Bakteri : Mycobacterium tuberculosa. Klasifikasi Meningitis dibagi menjadi 2 golongan berdasarkan perubahan yang terjadi pada cairan otak. tetapi biasanya sekunder melalui pembentukan tuberkel pada permukaan otak. Meningitis tuberculosa masih sering dijumpai di Indonesia. hydrocephalus akibat sumbatan . Kelainan sistem saraf pusat. Pada meningitis tuberkulosa dapat terjadi pengobatan yang tidak sempurna atau pengobatan yang terlambat. Penyebab lainnya lues. C. Streptococus haemolyticuss. 5. Penyebab terseringnya adalah Mycobacterium tuberculosa. Penyebab lainnya lues. . 2. Faktor predisposisi : jenis kelamin laki-laki lebih sering dibandingkan dengan wanita. 4. Faktor imunologi : defisiensi mekanisme imun. 6. pembedahan atau injury yang berhubungan dengan sistem persarafan. infeksi maternal pada minggu terakhir kehamilan. Escherichia coli. defisiensi imunoglobulin.1. 3. Anak juga bias menjadi tuli atau buta dan kadang kadang menderita retardasi mental. Meningitis bukan terjadi karena terinpeksi selaput otak langsung penyebaran hematogen. Dapat terjadi cacat neurologis berupa parase. reabsorbsi berkurang atau produksi berlebihan dari likour serebrospinal. Meningitis serosa Adalah radang selaput otak araknoid dan piameter yang disertai cairan otak yang jernih. paralysis sampai deserebrasi. Staphylococcus aureus. Tuberkulosa ini timbul karena penyebaran mycobacterium tuberculosa. sumsum tulang belakang atau vertebra yang kemudian pecah kedalam rongga archnoid. Toxoplasma gondhii dan Ricketsia. biasanya dari paru paru. Haemophilus influenzae. Peudomonas aeruginosa. Neisseria meningitis (meningokok). Toxoplasma gondhii dan Ricketsia. Faktor maternal : ruptur membran fetal.

trauma kepala dan pengaruh imunologis. semuanya ini penghubung yang menyokong perkembangan bakteri. pneumonia. . Faktor predisposisi mencakup infeksi jalan nafas bagian atas. Penyebabnya antara lain : Diplococcus pneumoniae (pneumokok). vaskulitis dan hipoperfusi. Radang juga menyebar ke dinding membran ventrikel serebral. Dapat pula sebagai perluasan perkontinuitatum dari peradangan organ / jaringan didekat selaput otak. misalnya abses otak. Klebsiella pneumoniae. daerah pertahanan otak (barier oak). D. Meningitis purulenta Adalah radang bernanah arakhnoid dan piameter yang meliputi otak dan medula spinalis. yang menyebar ke meningen otak dan medula spinalis bagian atas. otitis media. Meningitis purulenta pada umumnya sebagai akibat komplikasi penyakit lain. mastoiditis dan lain lain. Organisme masuk ke dalam aliran darah dan menyebabkan reaksi radang di dalam meningen dan di bawah korteks. misalnya pada penyakit penyakit faringotonsilitis. Saluran vena yang melalui nasofaring posterior. bronchopneumonia. Neisseria meningitis (meningokok). edema serebral dan peningkatan TIK. Peudomonas aeruginosa. anemia sel sabit dan hemoglobinopatis lain. Jaringan serebral mengalami gangguan metabolisme akibat eksudat meningen. Pada infeksi akut pasien meninggal akibat toksin bakteri sebelum terjadi meningitis. yang terdiri dari peningkatan permeabilitas pada darah.2. Haemophilus influenzae. otitis media. Meningitis bakteri dihubungkan dengan perubahan fisiologis intrakranial. Escherichia coli. yang dapat menyebabkan trombus dan penurunan aliran darah serebral. Kuman secara hematogen sampai keselaput otak. prosedur bedah saraf baru. Staphylococcus aureus. telinga bagian tengah dan saluran mastoid menuju otak dan dekat saluran vena-vena meningen. Streptococus haemolyticuss. Patofisiologi Meningitis bakteri dimulai sebagai infeksi dari orofaring dan diikuti dengan septikemia. mastoiditis. endokarditis dan lain lain. Eksudat purulen dapat menyebar sampai dasar otak dan medula spinalis.

halusinasi. Manifestasi klinis   Tergantung pada luasnya penyebaran dan umur anak Dipengaruhi oleh type dari organisme keefektifan dari terapi CHILDREN AND ADOLESCENT  Sakitnya tiba-tiba. delirium. kejangkejang  Anak menjadi irritable dan agitasi dan dapat berkembang photopobia. sakit kepala. adanya demam. muntah.Infeksi terbanyak dari pasien ini dengan kerusakan adrenal. panas dingin. tingkah laku yang agresif atau mengantuk stupor dan koma  Gejala pada respiratory atau gastrointestinal  Adanya tahanan pada kepala jika difleksikan . kolaps sirkulasi dan dihubungkan dengan meluasnya hemoragi (pada sindromWaterhouse-Friderichssen) sebagai akibat terjadinya kerusakan endotel dan nekrosis pembuluh darah yang disebabkan oleh meningokokus Infeksi Pembuluh darah CSS Seluruh rongga sub arachnoid Eksudat Tuberkel Penetrasi Luka Kelainan pembuluh darah (Arthritis-phlebitis) Infark Otak Obstruksi sisterna basalis Hidrocephalus Pelunakan Otak E.

pergerakan melemah dan kekuatan menangis melemah Hypothermia/demam. seperti:      Menolak untuk makan Kemampuan menelan buruk Muntah dan kadang-kadang ada diare Tonus otot lemah. dan menangis meraung-raung. mudah lelah dan kejangkejang. kejang-kejang.  Kulit dingin dan sianosis  Peteki / adanya purpura pada kulit  infeksi meningococcus (meningo cocsemia)  Keluarnya cairan dari telinga  meningitis peneumococal  Congenital dermal sinus  infeksi E. Bila dilakukan fleksi pasif pada ekstremitas bawah pada salah satu sisi maka gerakan yang sama terlihat peda sisi ektremita yang berlawanan. pernafasan tidak teratur. sianosis dan kehilangan BB. iritabel.  Fontanel menonjol  Nuchal Rigidity  tanda-tanda brudzinki dan kernig dapat terjadi namun lambat NEONATUS  Sukar untuk diketahui  manifestasinya tidak jelas dan tidak spesifik  ada kemiripan dengan anak yang lebih tua. muntah. Kekakuan pada leher (Nuchal Rigidity) Upaya untuk fleksi kepala mengalami kesukaran karena adanya spasme otot-otot leher. iritabel.  Tanda brudzinki : bila leher pasien di fleksikan maka dihasilkan fleksi lutut dan pinggul. joundice. . muntah dan penurunan tingkat kesadaran). sakit kepala.  Tanda kernig dan brudzinki (+)  Tanda kernik positip: ketika pasien dibaringkan dengan paha dalam keadan fleksi kearah abdomen. mengantuk. RR yang tidak teratur/apnoe. kaki tidak dapat di ekstensikan sempurna. nafsu makan menurun. ( Kejang akibat area fokal kortikal yang peka dan peningkatan TIK akibat eksudat purulen dan edema serebral dengan tanda-tanda perubahan karakteristik tandatanda vital (melebarnya tekanan pulsa dan bradikardi). Colli INFANT AND CHILDREN  Manifestasi klinisnya biasanya tampak pada anak umur 3 bulan sampai 2 tahun  Adanya demam.

o 2. pus yang banyak (kental). Glukosa serum : meningkat (meningitis) LDH serum : meningkat (meningitis bakteri) Sel darah putih : sedikit meningkat dengan peningkatan neutrofil (infeksi bakteri) Elektrolit darah : Abnormal. kultur biasanya negatif. cairan keruh/berkabut. kultur virus biasanya dengan prosedur khusus. mungkin ada indikasi sumber infeksi intra kranial. 3. kultur positip terhadap beberapa jenis bakteri. Komplikasi  Dapat dikurangi dikurangi dengan diagnosis yang awal dan pemberian terapi antimikrobial dengan cepat. hemoragik atau tumor. hematom daerah serebral. sel darah putih meningkat. kelemahan/paralysis dari otot-otot wajah atau otot-otot yang lain pada kepala dan leher  penyebaran infeksi pada daerah syaraf cranial  Komplikasi yang serius biasanya diakibatkan oleh infeksi : meningococcal sepsis atau meningococcemia . Rontgen dada/kepala/ sinus . o Analisis CSS dari fungsi lumbal : Meningitis bakterial : tekanan meningkat. kejang-kejang dan apnoe terjadi bila tidak diobati/ditangani F. 4.   Ketegangan . 5. glukosa dan protein biasanya normal.  Bila infeksi meluas ke ventrikel. kebutaan. fontanel menonjol mungkin ada atau tidak Leher fleksibel Kolaps kardiovaskuler. Meningitis virus : tekanan bervariasi. MRI/ skan CT : dapat membantu dalam melokalisasi lesi. Kultur darah/ hidung/ tenggorokan/ urine : dapat mengindikasikan daerah pusat infeksi atau mengindikasikan tipe penyebab infeksi. G.  Ketulian. 8. melihat ukuran/letak ventrikel. adanya penekanan pada bagian yang sempit  obstruksi cairan cerebrospinal  hydrocephalus  Perubahan yang dekstruktif ada pada kortex serebral dan adanya abses otak  infeksi langsung. cairan CSS biasanya jernih. 7. 6. Pemeriksaan Diagnostik 1. jumlah sel darah putih dan protein meningkat glukosa meningkat. Atau melalui penyebaran pembuluh darah.

gangguan belajar. Untuk setiap mikroorganisme penyebab meningitis : Antibiotik Penicilin G Organisme Pneumoccocci Meningoccocci Streptoccocci Klebsiella Pseudomonas Proleus Haemofilus Influenza Terapi TBC • Streptomicyn • INH • PAS Micobacterium Tuber culosis   Gentamicyn Chlorampenikol Pencegahan 1. Hemiparesis dan quadriparesis  arthritis/thrombosis Pengobatan Pengobatan biasanya diberikan antibiotik yang paling sesuai. penurunan perhatian. Imunisasi Vaksin meningococcus sangat penting untuk epidemis controlling di negara ketiga dimana selalu terdapat infeksi meningococcus group A. Komplikasi post meningitis pada neonatus: Ventriculitis (yang menghasilkan akumulasi cairan dan tekanan pada otak) kista. cacat mental. herniasi dan hydrocephalus. daerah yang dibatasi oleh    Gangguan yang menetap dan penglihatan. gangguan hiperaktivitas dan adanya kejang. edema serebral. dan akan berkurang dalam 3-5 tahun setelah vaksinasi. Syndrom water haouse-Friderichsen      Overwhelming septic shock DIC Perdarahan Purpura SIADH (Syndrome Inappropriate Antidiuretic hormone) subdural effusion. pendengaran dan kelemahan nervus yang lain Cerebral palsy. dan mempunyai efek immunogenik . dengan epidemi setiap beberapa tahun. Imunitas yang didapat tidak bertahan selamanya. Polisakarida grup C menghasilkan respon immun yang lebih rendah dibandingkan dengan polisakarida grup A. kejang-kejang.

yang amat rendah pada anak dibawah usia 2 tahun. Vaksinasi hanya direkomendasikan untuk individu dengan resiko tinggi. termasuk pengunjung negara dengan penyakit hiperendemik atau epidemik. Pada negara berkembang. dimulai pada usia 2 bulan. pada infant usia 2-6 bulan diberikan 3 dosis . sebab anti-B polisakarida antibodi tidak bersifat bakterisidal di dalam komplemen manusia. Saat ini terdapat 3 macam conjugate vaksin yaitu: a. hanya komponen vaksin meningococcus grup A yang menghasilkan protektif antibodi. b. Y dan W 135). PRP-OMP. penyebab infeksi meningococcus adalah dari serogrup B. HbOC. Immunoprofilaksis terhadap infeksi meningococcus menggunakan vaksin polisakarida quadrivalent (seregrup A. Meningitidis/OMP. penggunaan vaksin tersebut adalah sabagai berikut: a. Vaksin diberikan secara intramuskular pada tempat yang berbeda dengan menggunakan syringe yang berbeda. Bila menggunakan Hb-OC. Pemberian imunisasi dapat bersamaan dgnjadwal imunisasi lain seperti DPT. Pada infant. PRP-D. b. Seluruh bayi di imunisasi Hib conjugate vaksin (Hb-OC atau PRP-OMP). Kapsul polisakarida dari organisme ini mempunyai immunogenisitas yang sangat rendah. yang berikatan dengan rantai PRP polymer 2002 digitized by USU digital library 7 c. berisi toksoid diphteria yang berikatan dengan rantai sedang PRP polymer Berdasarkan rekomendasi dari Immunization Practice Advisory Committee (1991) dan Committee on Infectious Disease of the American Academy of Pediatrics (1991). C. telah dikembangkan suatu polisakarida protein conjugate vaksin yang serupa dengan conjugate vaksin haemophilus influenzae type B. Untuk meningkatkan immunogenisitas dari polisakaridal serogrup B. pada keadaan ledakan yang disebabkan oleh serogrup yang terdapat dalam vaksin. Pemberian dari vaksin dimulai sat 6 minggu. dan orang-orang dengan resiko tinggi berupa defisiensi komponen terminal komplemen serta individu yn telah mengalami splenectomy. orang-orang dalam barak militer. dimana protein carrier berasal dari non toksigenik mutant dari toksin diphteria yang berikatan dengan rantai pendek oligosaccharida/OC dari polyribosylribitolphospate/PRP kasul polisakarida haemophilus influenzae tipe B. Polio dan MMR. conjugate vaksin yang berisi outer membrane proteins dari N.

dengan selang paling sedikit 2 bulan. Anak usia 7-11 bulan diberikan 2 dosis dengan selang 2 bulan. Bila menggunakan PRP-OMP. pada kedua kelompok tersebut booster diberikan saat usia 15 bulan. tetapi tidak cukup potent untuk mengurangi kasus carrier. Booster diberikan saat usia 15 bulan paling sedikit 2 bulan setelah dosis terakhir. . pada infant usia 2-6 bulan diberikan 2 dosis degan selang 2 bulan. dan booster diberikan saat berusia 12 bulan. Pada kelompok usia dewasa diberikan single dose secara subcutan. Infant usia 7-11 bulan diberikan 2 dosis dengan selang paling sedikit 2 bulan sebelum mencapai usia 15 bulan. paling sedikit 2 bulan setelah dosis terakhir. sedangkan anak usia 12-14 bulan diberikan single dose. Vaksinasi ini memberikan perlindungan terhadap penyakit sebesar 90%.

muntah. o Riwayat kesehatan sekarang Aktivitas Gejala : Perasaan tidak enak (malaise). gerakan involunter. kelumpuhan. Pengkajian 1. dan tekanan nadi berat. o o o o . Biodata klien. Tanda : anoreksia. turgor kulit jelek dan membran mukosa kering.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Meningitis A. 2. otitis media. riwayat trauma kepala dan adanya pengaruh immunologis pada masa sebelumnya. Tanda : tekanan darah meningkat. Riwayat sakit TB paru perlu ditanyakan pada pasien terutama apabila ada keluhan batuk produktif dan pernah menjalani pengobatan obat anti TB yang sangat berguna untuk mengidentifikasi meningitis tuberculosa Apakah pernah jatuh atau trauma kepala ? Pernahkah operasi daerah kepala ? o o 3. mastoiditis. Makanan/cairan Gejala : Kehilangan nafsu makan. nadi menurun. Sirkulasi Gejala : Adanya riwayat kardiopatologi : endokarditis dan PJK. Riwayat kesehatan yang lalu o Apakah pernah menderita penyakit ISPA dan TBC ? Pengkajian penyakit yang pernah dialami pasien yang memungkinkan adanya hubungan atau menjadi predisposisi keluhan sekarang meliputi pernahkah pasien mengalami infeksi jalan napas bagian atas. disritmia. Tanda : ataksia. sulit menelan. tindakan bedah saraf. taikardi. Higiene Tanda : Ketergantungan terhadap semua kebutuhan perawatan diri. Eliminasi Tanda : Inkontinensi dan atau retensi.

babinski positif. afasia. 5.o Neurosensori Gejala : Sakit kepala. o o B. Pernafasan Gejala : riwayat infeksi sinus atau paru. C. frontal). 4. peningkatan kerja pernafasan. nadi yang tidak teratur demam yang terus menerus o o o o . ketulian dan halusinasi penciuman. Diagnosa Keperawatan 1. ancaman kematian. diplopia. kelemahan umum. Resiko tinggi terhadap penyebaran infeksi sehubungan dengan diseminata hematogen dari patogen. kejang umum/lokal. Risiko tinggi terhadap trauma sehubungan dengan kejang umum/fokal. terasa kaku pada persarafan yang terkena. Pantau suhu secara teratur Kaji keluhan nyeri dada. vertigo. Kerusakan mobilitas fisik sehubungan dengan kerusakan neuromuskular. rigiditas nukal. Tanda : letargi sampai kebingungan berat hingga koma. 1. kehilangan memori. menangis. hipovolemia. Nyeri/keamanan Gejala : sakit kepala(berdenyut hebat. toksin dalam sirkulasi. hiperalgesia. delusi dan halusinasi. parestesia. 3. nistagmus. Mandiri : Beri tindakan isolasi sebagai pencegahan Pertahan kan teknik aseptik dan teknik cuci tangan yang tepat. kejang. Risiko tinggi terhadap perubahan serebral dan perfusi jaringan sehubungan dengan edema serebral.ptosis. Tanda : Tanda : gelisah. kehilangan sensasi. tanda brudzinki positif dan atau kernig positif. fotofobia. penurunan kekuatan 6.reflek abdominal menurun dan reflek kremastetik hilang pada laki-laki. hemiparese. Anxietas berhubungan dengan krisis situasi.anisokor. 2. Intervensi Resiko tinggi terhadap penyebaran infeksi sehubungan dengan diseminata hematogen dari patogen. Nyeri (akut) sehubungan dengan proses inflamasi.

3. gentamisin.o Auskultasi suara nafas ubah posisi pasien secara teratur. 4. ampisilin. membatasi batuk. 2. toksin dalam sirkulasi. dianjurkan nafas dalam Cacat karakteristik urine (warna. Nyeri (akut ) sehubungan dengan proses infeksi. Resiko tinggi terhadap perubahan cerebral dan perfusi jaringan sehubungan dengan edema serebral. suhu. Resiko tinggi terhadap trauma sehubungan dengan kejang umum/vokal. kejernihan dan bau) Kolaborasi : o o Berikan terapi antibiotik iv: penisilin G. kelemahan umum vertigo. Pantau tanda vital dan frekuensi jantung. clorpomasin. erikan obat : steoid. Berikan cairan iv (larutan hipertonik. Kaji regiditas nukal. klorampenikol. Mandiri : o o o . penafasan. Tirah baring selama fase akut kolaborasi berikan obat : venitoin. Mandiri : Pantau adanya kejang Pertahankan penghalang tempat tidur tetap terpasang dan pasang jalan nafas buatan. Bantu berkemih. asetaminofen. diaepam. masukan dan haluaran. Pantau status neurologis. muntah mengejan. venobarbital. Kolaborasi : o o o o o o o o o Tinggikan kepala tempat tidur 15-45 derajat. peka rangsang dan kejang. elektrolit). hipovolemia. Pantau BGA. Mandiri : Tirah baring dengan posisi kepala datar.

kemampuan berbicara. dingin. panas. o o o o Kaji derajat imobilisasi pasien. o 6. Beri kessempatan untuk berkomunikasi dan beraktivitas. Validasi persepsi pasien dan berikan umpan balik. Kaji kesadara sensorik : sentuhan. Hilangkan suara bising yang berlebihan. masase dengan pelembab. Ansietas sehubungan dengan krisis situasi.o Letakkan kantung es pada kepala. pakaian dingin di atas mata. codein 5. o o o Kolaborasi : o Berikan anal getik. Observasi respons perilaku. Gunakan pelembab hangat pada nyeri leher atau pinggul. Bantu latihan rentang gerak. o o . Perubahan persepsi sensori sehubungan dengan defisit neurologis o Pantau perubahan orientasi. latihan rentang gerak aktif atau pasif dan masage otot leher. Berikan perawatan kulit. Berikan penjelasan tentang penyakitnya dan sebelum tindakan prosedur. Berikan program latihan dan penggunaan alat mobiluisasi. asetaminofen. Periksa daerah yang mengalami nyeri tekan. Kolaborasi ahli fisioterapi. berikan posisi yang nyaman kepala agak tinggi sedikit. Kerusakan mobilitas fisik sehubungan dengan kerusakan neuromuskuler. sensorik dan proses pikir. o o Kaji status mental dan tingkat ansietasnya. o o o o o o 7. ancaman kematian. terapi okupasi. Dukung untuk menemukan posisi yang nyaman(kepala agak tingi) Berikan latihan rentang gerak aktif/pasif. Beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaan.wicara dan kognitif.alam perasaaan. Libatkan keluarga/pasien dalam perawatan dan beri dukungan serta petunjuk sumber penyokong. berikan matras udsra atau air perhatikan kesejajaran tubuh secara fumgsional.

seperti mengangkat kepala anak. tanpa bukti penyebaran infeksi endogen atau keterlibatan orang lain.  Memberi dukungan pada keluarga Berdiskusi dengan keluarga Memberikan informasi tentang perkembang anak dan semua prosedur yang akan dilakukan. 7.H.  Mencegah aktifitas yang menyebabkan nyeri/ meningkatkan ketidaknyamanan. Evaluasi Hasil yang diharapkan : 1. 6. Mempertahankan tingkat kesadaran biasanya/membaik dan fungsi motorik/sensorik. PERHATIAN PERAWAT  Melakukan precautions untuk melindungi anak dan orang laindari kemungkinan infeksi . Mencapai kembali atau mempertahankan posisi fungsional optimal dan kekuatan. 2. Tidak mengalami kejang/penyerta atau cedera lain. Mencapai masa penyembuhan tepat waktu. mendemonstrasikan tanda-tanda vital stabil. Meningkatkan tingkat kesadaran biasanya dan fungsi persepsi. 3. . 4. Tampak rileks dan melaporkan ansietas berkurang dan mengungkapkan keakuratan pengetahuan tentang situasi. Melaporkan nyeri hilang/terkontrol dan menunjukkan postur rileks dan mampu tidur/istirahat dengan tepat. 5.  Menjaga ruangan agar tidak bising dan menimpalkan stimulus lingkungan.

1998. Alih Bahasa.(1996). Alih bahasa Yasmin asih. Suzanne C & Bare. Jakarta : EGC.Editor edisi bahasa Indonesia. 1996.Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. I Made Kariasa. And Outcome. Smeltzer. Monica Ester. perawatan Medikal Bedah : Suatu Pendekatan Proses Keperawatan. Jakarta : EGC. Agung Waluyo. Tucker.Ed.cz. Price. Editor edisi bahasa Indonesia. Monica Ester. Ed.cc/ .(2001).Jakarta : EGC. dkk. diagnosis. Sylvia Anderson. N Made Sumarwati. Ed.Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. 5.Yogyakarta : Gajah Mada University Press. Long.Brenda G. Lebih lengkap disini: Askep Meningitis | kumpulan askep askeb | download KTI Skripsi | asuhan keperawatan kebidanan http://terselubung.DAFTAR PUSTAKA Doenges.3.I.dkk. Yasmin asih. Marilyn E. Barbara C. Harsono.8. Jakarta : EGC.Alih bahasa.Buku Ajar Neurologi Klinis. Ed. Alih Bahasa Peter Anugrah. Bandung : yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan.(1999). 1994. Patient care Standards : Nursing Process.Ed. 4. Susan Martin et al. Pathophysiology : Clinical Concepts Of Disease Processes.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->