KATA PENGANTAR

Puji syukur kami hayurkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmatnya makalah ini dapat diselesaikan dengan tepat waktu. Adapun makalah ini dibuat guna memenuhi tugas mata kuliah Penulisan Ilmiah ³Literature Review´ Di dalam makalahh ini tim penulis memilih tema hubungan ansietas dengan mekanisme koping.

BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ansietas atau kecemasan merupakan fakta hidup, individu bereaksi secara berbeda terhadap stressor bergantung pada berbagai faktor yang salah satunya oleh bagaimana individu memaknai peristiwa yang menimbulkan ansietas tersebut (stressor). Manajemen koping, daya psikologis, optimisme, dukungan sosial, merupakan faktor psikologis yang dapat mengurangi atau menahan stress. Ansietas dapat terjadi dimanapun dan pada siapapun. Dalam keadaan cemas seseorang cenderung lebih cepat marah dan sangat sensitif dan mudah putus asa. Pengaruh pada kognitif dan emosi ini akan menyokong terjadinya perubahan perilaku yang meliputi penurunan penurunan minat dan aktivitas, penurunan energi, tidak mau masuk kerja, cenderung melemahkan tanggung jawab. Dalam menghadapi kecemasan, setiap individu akan melakukan mekanisme koping untuk pertahanan dirinya. Mekanisme koping yang dilakukan dapat bersifat adaptif atau maladaptif. Manusia sabagai makhluk holistik dipengaruhi oleh lingkungan dari dalam dirinya dan lingkungan luar baik keluarga, kelompok maupun komunitas, dalam berhubungan dengan lingkungan manusia harus mengembangkan strategi koping yang efektif agar mampu beradaptasi (Sulistiawati, 2005). Umumnya manusia memiliki kemampuan untuk menyusaikan diri dengan baik, namun ada juga individu yang mengalami kesulitan untuk melakukan penyesuaian dengan persoalan yang dihadapi.mereka bahkan gagal melakukan koping yang sesuai tekanan yang dialami, atau mereka menggunakan koping yang negatif, koping yang tidak menyelesaikan persoalan dan tekanan tapi lebih pada menghindari atau mengingkari persoalan yang ada. Koping adalah mekanisme untuk mengatasi perubahan yang dihadapi atau beban yang diterima. Apabila mekanisme koping ini berhasil, seseorang akan dapat beradaptasi terhadap perubahan atau beban tersebut. Mekanisme koping adalah cara yang dilakukan individu dalam menyelesaikan masalah, menyesuaikan diri dengan

perubahan, serta respon terhadap situasi yang me ng a nc a m ( Ke l i a t , 1 9 9 9 ) . S e d a n g k a n m e n u r u t L a z a r u s ( 1 9 8 5 ) , k o p i n g adalah perubahan kognit if dan

perilaku secara konstan dalam upaya untuk mengatasi tuntutan internal dan atau eksternal khusus yang melelahkan atau melebihi sumber individu. Di dalam makalah ini tim penulis akan membahas dan membandingkan beberapa jurnal yang berhubungan dengan ansietas dan mekanisme koping individu secara meluas. Anxiety and Depressive Symptoms and Coping Strategies in Nasopharyngeal Carcinoma Patients in Hospital Kuala Lumpur. dan Personality Disorders and Coping Among Anxious Older Adults. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan masalah penelitian yaitu : ³Apakah ada hubungan antara tingkat ansietas dengan mekanisme koping yang dilakukan oleh individu?´ C. Jurnal yang akan di bahas antara lain : Hubungan Tingkat Kecemasan dengan Mekanisme Koping Pada Pasien Gagal Jantung Kongestif di RSU Pandan Arang Boyolali. mengatasi perubahan yang terjadi dan situasi yang mengancam baik secara kognitif maupun perilaku. . Berdasarkan kedua definisi maka yang dimaksud mekanisme koping adalah caara yang digunakan individu dalam menyelesaikan masalah. Tujuan Tujuan dari telaah jurnal ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tingkatan ansietas dengan tipe mekanisme koping yang dilakukan individu dalam menghadapi kecemasan tersebut serta untuk menentukan aplikasi keperawatan dalam mennghadapi ansietas dalam masing-masing jurnal.

Pasien dengan gagal jantung sering merasa cemas. pasien sering memiliki ketakutan yang berlebihan karena cacat permanen dan kematian. Hal ini dikarenakan mereka mengalami kesulitan mempertahankan oksigenasi yang adekuat sehingga mereka cenderung sesak nafas dan gelisah. kecemasan akut. Para pasien mengekspresikan ketakutan dengan berbagai cara seperti mimpi buruk. ketakutan dan depresi. depresi dan memungkiri kenyataan. Ketika penyakitnya meningkat dan manifestasinya memburuk. Sedangkan tujuan khusus penulis dibagi menjadi dua yaitu untuk mengetahui gambaran tingkatan kecemasan pada pasien gagal jantung kongestif dan untuk mengetahui mekanisme kopining yang digunakan pasien gagal jantung. Terkadang kecemasan dapat terlihat dalam bentuk lain.BAB 2 KRITIK ARTIKEL A. Kecemasan yang terjadi pada kebanyakan pasien gagal jantung bervariasi. Tujuan umum penulis pada jurnal ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat kecemasan dengan mekanisme koping pada pasien gagal jantung kongestif di RSU Pandan Arang Boyolali. Didalam jurnal ini penulis mencantumkan dua tujuan untuk menulis jurnal tersebut yang terdiri dari tujuan umum dan tujuan khusus. Hampir semua pasien menyadari bahwa jantung adalah organ yang penting dan ketika jantung mulai rusak maka kesehatan juga terancam. Pembahasan Pada jurnal pertama yang berjudul Hubungan Tingkat Kecemasan dengan Mekanisme Koping Pada Pasien Gagal Jantung Kongestif di RSU Pandan Arang Boyolali yang ditulis oleh Atina Inayah Ihdaniyati dan Winarti Nur A pada tahun 2008 seluruh komponen yang ada didalam jurnal sudah cukup lengkap. apakah adaptif atau maladaptive. insomnia. Kecemasan yang dialami ketika terjadi serangan adalah kecemasan berat sehingga memerlukan bantuan untuk oksigenasi dan konseling yang tepat. seperti sering bertanya tentang penyakitnya dan berulang meskipun . Didalam abstrak dan pendahuluan jurnal ini dijelaskan bahwa kecemasan yang dialami pasien gagal jantung kongestif disebabkan karena mereka yang mengalami keadaan sulit untuk bernapas dan nyeri dada. mulai dari kecemasan ringan hingga kecemasan berat.

7%). mereka dapat merespon kecemasan yang datang dengan melakukan mekanisme koping yang adaptif dan mekanisme koping maladpatif. Di dalam jurnal.745 dengan probabilitas sebesar 0. Di dalam tabel. Jenis penelitian pada jurnal ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian menggunakan rancangan deskriptif korelatif yaitu rancangan penelitian yang bermaksud untuk mencari hubungan antara dua variabel. Dimana tabel tersebut terdiri dari dua jenis. Hasil tersebut menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara tingkat kecemasan dengan mekanisme koping. status perkawinan. Sedangkan pada table hasil uji normalitas yang menggunakan system SPSS 10.05). jenis kelamin. Sedangkan analisa bivariat menggunakan Kendal tau-b dengan uji signifikansi menggunakan uji z.pertanyaan sudah dijawab. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah pasien Gagal Jantung Kongestif yang mengalami kecemasan pada bulan Februari-Maret 2008 dengan rata-rata pasien perbulan sebanyak 18 pasien. tingkat pendidikan.0 diperoleh nilai koefisien korelasi sebesar -0. pasien terlihat gelisah. dan tidak ada yang melakukan mekanisme koping maladaptif. . Tabel pertama adalah table hasil hubungan tingkat kecemasan dengan mekanisme koping dan table kedua merupakan table hasil uji normalitas.7%). Tehnik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah Aksidental sampling. dan tidak ada yang melakukan mekanisme koping maladaptif. tingkatan penyakit. diambil sampel sebanyak 30 pasien dengan gagal jantung kongestif yang mengalami kecemasan menunjukkan bahwa pasien yang mempunyai kecemasan tingkat ringan melakukan mekanisme koping adaptif sebanyak 5 orang (16. Pasien dengan kecemasan tingkat sedang yang melakukan mekanisme koping adaptif sebanyak 20 orang (66.000 (p < 0. tingkat kecemasan dan mekanisme koping.7%) dan tidak ada yang melakukan mekanisme koping adaptif. Pasien yang mempunyai kecemasan tingkat berat melakukan mekanisme koping maladaptif sebanyak 5 orang 16. penulis membuat dua buah table sebagai hasil penelitian yang telah ditemukan oleh penulis. sulit istirahat dan tidak bergairah saat makan. Analisa data dilakukan secara univariat untuk mengetahui karakteristik responden berdasarkan umur. Tingkat dan respon kecemasan yang ditunjukkan pada pasien gagal jantung kongestif berbeda-beda. Sedangkan rancangan penelitian yang digunakan adalah cross sectional karena pengumpulan data kedua variabel dilaksanakan dalam waktu bersamaan atau dalam satu waktu.

Dari 5 responden yang mengalami kecemasan ringan. Sehingga selain pengobatan medis adanya dukungan sosial yang positif akan membantu seseorang untuk beradaptasi lebih baik secara emosional dengan mencegah perasaan cemas dan sedih yang berlarut-larut terhadap penyakit. Pasien dengan kecemasan ringan masih mampu mengendalikan mekanisme koping untuk menurunkan kecemasannya. Dalam penelitian ini responden yang mengalami kecemasan sedang mampu melakukan mekanisme koping yang adaptif dikarenakan mereka mendapat ketenangan batin dari dukungan keluarga yang kuat supaya lekas sembuh. Dukungan keluarga dapat membantu meningkatkan mekanisme koping individu dengan memberikan dukungan emosi dan saran-saran mengenai strategi alternatif yang didasarkan pada pengalaman sebelumnya dan mengajak orang lain berfokus pada aspekaspek yang lebih positif. Pada jurnal kedua yang berjudul Anxiety and Depressive Symptoms and Coping Strategies in Nasopharyngeal Carcinoma Patients in Hospital Kuala Lumpur yang ditulis . sehingga kerusakan organ jantung belum terlalu parah. semuanya belum pernah dirawat dengan penyakit yang sama. Dengan melakukan pendekatan religius tersebut. kesemuanya sudah pernah mengalami gagal jantung dan dirawat di rumah sakit. kebanyakan pasien dapat merasakan ketenangan batin sehingga mampu mengendalikan kecemasannya dan melakukan mekanisme koping yang adaptif. saran dan informasi dari keluarga dan petugas kesehatan (dokter dan perawat) yang berkaitan dengan penyakitnya.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara tingkat kecemasan dengan mekanisme koping. berdoa sesuai dengan keyakinan masing-masing dan melakukan sholat meskipun dengan berbaring. tekanan darah naik dan denyut nadi yang cepat. pasien gagal jantung kongestif yang mengalami kecemasan sedang juga melakukan pendekatan religius dengan cara berdzikir. Jadi ketika terjadi serangan sesak nafas dan nyeri dada. Selain mendapat dukungan dari keluarga. Sedangkan 5 responden yang mengalami kecemasan berat. Kelima responden tersebut semuanya melakukan mekanisme koping yang maladaptif. Sebanyak 20 responden yang mengalami kecemasan sedang mereka mengalami sesak nafas. mereka segera memeriksakan diri ke dokter atau rumahsakit untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Pasien gagal jantung dengan kecemasan sedang mengharapkan dukungan berupa dukungan emosi.

Hasil penelitian pada jurnal ini dari total 26 pasien NPC dan 35 pasien ENT yang diterima selama penelitian hanya 22 pasien NPC dan 30 pasien dari grup berbeda setuju ikut berpartipasi dalam penelitian.oleh KO Noor Jan Naing. dan A Hamidin pada tahun 2010 bertujuan untuk membandingkan tingkat symptom kecemasan yang dialami oleh pasien yang mengalami kanker nasofaring dan pasien yang tidak mengidap kanker serta jurnal ini bertujuan untuk meningkatkan strategi penyembuhan dan menurunkan tingkat kecemasan bagi pasien yang mengalami kanker nasofaring. and Throat Department (ENT) di Kuala Lumpur Hospital periode 12-29 May 2008 dan juga pasien yang tidak mengalami kanker. Proses perawatan yang tidak biasa dan juga panjang bagi pasien kanker juga berkontribusi dalam meningkatkan tingkat emosional didalam diri para penderita kanker. AA Noor Azilah. Dimana terdapat sebesar 72. Dengan adanya penelitian yang dilakukan diharapkan dapat membantu untuk mendapatkan sutu teknik perawatan yang baru dan menarik bagi penderita kanker tanpa membuat pasien itu sendiri merasa cemas. dengan membandingkan tingkat mekanisme koping yang dilakukan pasien dengan kanker dan pasien dengan non kanker dan juga mengukur hubungan antara tingkat kecemasan dan depresi.7% NPC pasien umur 40-59 tahun . Metode penelitian pada jurnal ini menggunakan penelitian yang objektif menentukan jenis-jenis/symptom kecemasan dan depresi. CH Tan. Data yang telah dihasilkan akan dianalis menggunakan system SPSS ver 16 serta menggunakan uji t. Metode pengukuran menggunakan dua versi kusioner yaitu Malaysia dan Inggris yang dibagi menjadi 3 sesi. dan sesi yang ketiga yaitu COPE kuesioner. Pada pendahuluan dijurnal kedua dijelaskan bahwa pasien yang megidap kanker biasanya menghadapi gangguan psikologi dibandingkan dengan pasien lain. Sesi pertama disebut dengan socio-demographic data yang terdiri dari informasi pribadi dan data kesehatan yang harus diisi. Nose. Metode yang digunakan pada jurnal ini juga menggunakan pendekatan cross sectional dimana sampel yang diambil adalah seluruh pasien di ruang Radiotherapy and Oncology Department dan Ear. Sesi kedua yaitu Hospital Anxiety and Depression Scale (HADS). YY Yeow. I Nooriny. Hal ini ditunjukkan besarnya jumlah pasien yang tidak dapat mengontrol kecemasan yang dialaminya selama mejalani sejumlah perawatan sehingga proses penyembuhan yang diinginkan tidak tercapai.

dan sebesar 46.A. Daniel L. Sementara itu.Ph. Julie N. M.D. Sementara dengan strategi humor menunjukkan tingkat depresi pasien berkurang/menurun.D. Self-Blame strategy menunjukkan hasil yang kuat dan positif dapat meningkatkan tingkat kecemasan dan depresi pasien. NPC memiliki jumlah kecemasan yang tinggi dimana pria China berumur 40-59 tahun dan juga penghasilan dan tingkat pendidikan yang rendah. Segal.A pada tahun 2000 bertujuan untuk menguji hubungan antara kecemasan. dewasa tua yang tidak cemas.7% NPC pasien berumur 20-39 tahun. dan strategi koping yang digunakan pada pasien dengan usia dewasa tua yang mengalami kecemasan. Komorbiditas yang dialami antara ganggguan psikiatrik dan gangguan personality merupakan masalah yang luas dan kesempatan yang menentukan bagi ahli kesehatan yang mendiagnosa ataupun merawat pasien dengan gangguan multiple ataupun kompleks. penulis menyebutkan bahwa metode yang digunakan . Sementara itu strategi koping dengan humor menunjukkan penurunan tingkat depresi tetapi koping yang menggunakan ³self-blame´ menunjukkan peningkatan kecemasan dan depresi. Dilihat dari hubungan socio demoghrapic di kelompok NPC. sedangkan pada pasien dengan tingkat pendidikan yang rendah mengalami tingkat kecemasan dan depresi yang tinggi. pasien dengan jumlah pendapatan yang rendah juga mengalami tingkat depresi yang tinggi. B. Didalam pendahuluan jurnal ketiga. dan Sharon Stewart. Kebanyakan gangguan psikologi dialami oleh pasien wanita dibandingkan dengan pasien pria. pasien keturunan China menunjukkan tingkat depresi yang tingggi. Hal ini dikarenakan dengan menggunakan metode ini memberikan efek yang negatif didalam diri pasien itu sendiri yang dapat merusak proses penyembuhan karena pasien tidak dapat mengontrol stres psikologikal. Hook.Ph. dan dewasa awal yang mengalami kecemasan. kedua sampel penelitian juga menggunakan mekanisme koping yang berbeda dimana kelompok NPC menggunakan mekanisme koping dukungan keluarga dan grup lain menggunakan mekanisme koping keyakinan/agama. Coolidge. Selain itu strategi koping dengan menggunakan dukungan instrumental (use of instrumental support) menunjukkan penurunan tingkat kecemasan pada pasien. Pada jurnal ketiga yang berjudul Personality Disorders and Coping Among Anxious Older Adults yang ditulis oleh Frederick L. Hal ini mungkin dikarenakan humor dapat digunakan sebagai salah satu pendekatan terapeutik untuk depresi. gangguan kepribadian.

penelitian dilakukan pada lingkup yang jelas. Dimana partisipan usia dewasa tua dibagi menjadi dua yaitu yang mengalami kecemasan dan juga yang tidak berdasarkan skor Brief Symptomp Inventory (BSI)anxiety scale.kedua. dimana sampel yang diambil adalah pasien dengan gagal jantung kongestif yang dirawat di . B. BSI biasanya digunakan sebagai klinikal practice dan juga penelitian. Terakhir yaitu The Coolidge Axis II Inventory adalah 225 item laporan pengukuran diri dimana setiap responden menggunakan 4 poin skala Likert dengan skala mulai dari sangat benar sampai sangat tidak benar. sampel diambil dari peserta undergraduted dari kelas psikologikal sebanyak 276 orang. penelitian ini menggunakan tiga metode pengukuran yaitu The Brief Inventory Symptomp (BSI) yang digunakan sebagai alat pengukur tingkat kecemasan dimana yang terdiri sari 53 item dan skala skor dari Sembilan simptomp serta peserta yang berpartisipasi merespon keseluruhan item dengan menggunkan skala lima poin . dewasa tua yang tidak cemas. Diamana sampel usia dewasa tua diambil dari anggota keluarga atau teman di kelas psikologi atau pusat senior local. Kedua yaitu The Coping Orientation to Problems Experienced Scaleskala teoritis yang digunakan untuk melakukan pengukuran 60 item diri dimana COPE Scale terdiri dari tiga grup utama skal lima untuk setiap grup dan empat item untuk setiapa skala. Kelebihan dan kekurangan Maka dapat disimpulkan bahwa dari hasil analisis jurnal pertama. Hasil yang ditunjukkan pada penelitian jurnal ini yaitu terdapat perbedaan antara mekanisme koping yang dilakukakn orang-orang usia dewasa tua dan dewasa awal ketika mengalami stress. Dimana mekanisme koping yang dilakukan tergantung pada sifat dari individu-individu tersebut.pada jurnal ini menggunakan evaluasi komprehensif dimana sampel yang digunakan adalah usia dewasa tua yang mengalami kecemasan. Sementara itu. Dewasa tua dengan rentang umur 55-89 tahun dan dewasa tua yang tidak mengalami kecemasan dengan rentang umur 55-79 tahun. Sementara untuk dewasa awal. kelebihan pada jurnal pertama. kami menemukan beberapa kelebihan dan kekurangan pada jurnal tersebut. dan ketiga. dan dewasa awal yang mengalami kecemasan. Menurut tim penulis.

Serta didalam jurnal pertama dan kedua terdapat juga factor yang sama yang dapat meningkatkan tingkat kecemasan yaitu factor psikologi. Dimana orang yang beretnis China mengalami tingkat kecemasan yang tinggi dibandingkan orang yang beretnis Melayu dan juga terdapat factor sosial dimana orang yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih rendah lebih mudah mengalami kecemasan dan depresi dibandingkan dengan orang yang berpendidikan tinggi serta factor ekonomi dimana orang yang memiliki penghasilan yang rendah lebih sering mengalami ansietas. dengan menggunakan perbandingan dua sampel yaitu pasien yang mengalami kanker dan pasien yang tidak mengalami kanker periode 12-29 May 2008. dimana penelitian dilakukan di Kuala Lumpur Hospital. Dan didalam jurnal kedua juga ditambahkan factor yang dapat meningkatkan tingkat stress dan deperesi yaitu factor etnis demografi. C.RSU Pandan Arang Boyolali pada periode waktu Maret-Februari 2008 dan juga hasil penelitian menunjukkan hasil yang sama dengan hasil uji normalitas dengan menggunakan program SPSS 10. Untuk mekanisme koping pada jurnal pertama hanya menggunakan strategi koping berupa dukungan keluarga dan religi. . Kesimpulan Dari ketiga jurnal yang kami dapat dapat kami simpulkan bahwa ketiga jurnal memiliki pembuktian bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkatan ansietas dengan mekanisme koping individu dalam menghadapi kecemasan. Begitu juga pada jurnal kedua. Dan juga pada jurnal pertama dan kedua tidak disebutkan tingkatan umur pasien yang mengalami kecemasan sehingga dalam kedua jurnal tersebut bisa dikatakan sampel yang diambil masih terlalu sempit atau kecil. Kemudian pada jurnal kedua ditambahkan strategi koping yang dapat dilakukan tidak hanya dukungan keluarga dan religi setiap diri individu namun juga dapat digunakan dukungan instrumental dan humor. Namun dalam kedua jurnal tidak dijelaskan seperti apa tingkat kecemasan tersebut. Dalam kedua jurnal ini juga menunjukkan hasil bahwa kecemasan yang dialami pasien terdiri dari tiga tingkatan yaitu kecemasan ringan. kecemasan sedang. Sedangkan pada jurnal ketiga sampel yang diambil sudah cukup luas dimana pasien yang mengalami kecemasan berada pada usia dewasa awal dan dewasa tua. dan kecemasan berat.

. Serta pada jurnal ketiga juga menunjukkan adanya perbedaan mekanisme koping yang dilakukan oleh masing-masing individu.Dimana dalam jurnal pertama menunjukkan bahwa terdapat tiga tingkatan ansietas dengan masing-masing tingkatan melakukan mekanisme koping sebagai berikut : ansietas ringan dan sedang melakukan koping adaptif dan ansietas berat melakukan kopingg maladaptif. Jadi. Sedangkan pada jurnal kedua juga menemukan hubungan yang menunjukkan bahwa depresi dan ansietas beerat pada diri seseorang membuat individu tersebut melakukan mekanisme koping maladaptif. dapat disimpulkan bahwa ketiga jurnal telah menemukan hubungan antara tingkatan ansietas dengan mekanisme koping individu dalam menghadapi kecemasan.

tim penulis menyarankan peran perawat dalam mengatasi ansietas pasien untuk lebih ditekankan pada pemberian konseling sehingga pasien dapat mengendalikan kecemasannya dan melakukan koping yang bersifat konstruktif. . serta kaitkan perilaku klien dengan perasaan klien.BAB 3 APLIKASI DALAM KEPERAWATAN Pada ketiga jurnal. dapat digunakan pertanyaan terbuka. dorong klien untuk melakukan koping adaptif yang efektif serta bantu klien untuk mengidentifikasi cara untuk membangun kembali pikiran positif. perilaku adaptif. penggunaan sumber-sumber koping. Tindakan lainnya. dan menguji respon koping yang ada. Dalam melakukan hal ini. Perawat juga harus memvalidasi pasien tentang perasaan cemasnya dari asumsi yang ada.

But when individual unable to find the good solution. When individual could face the stressor very well.BAB 4 LAMPIRAN Jurnal 1 HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN DENGAN MEKANISME KOPING PADA PASIEN GAGAL JANTUNG KONGESTIF DI RSU PANDAN ARANG BOYOLALI Atina Inayah Ihdaniyati (Mahasiswa Jurusan Ilmu Keperawatan FIK UMS Jln A. Target of research : To know the relation between anxiety level with the coping mechanism on congestive heart failure patient. Abstract Background : Anxiety on congestive heart failure patient resulted because they experience out of breath and chest pain so they tend to concerned. Result of research : Result of Kendal tau-b correlation analysis indicate that the count value equal to -0. The results indicate that there is a capable and significant of negative relation between anxiety level with the coping mechanism. Research method : This Research has the non-experimental character with the descriptive method of correlation use the cross sectional approach. Jln Ahmad Yani Tromol Pos 1 Kartasura) Keyword: anxiety level. Then. It¶s mean the value of z count > z table . 05). it uses the Kendal tau-b test with test of normality data use the z test. Coping mechanism is the result of an individual action to face of the stressor. (Dosen Keperawatan FIK UMS. Validity test use the Product Moment test and reliability test use the Alpha Cronbach test. coping mechanism.745 with the probability 0.000 (p<0. Sampling techniques which used are accidental sampling with the total samples are 30 responders. For data analysis. 96. significance test use the z test with the result 5. it will deliver the adaptive coping.782 which for the N=30. Anxiety could motivate the individual to appropriate with to stressor and conduct an action to correct it. . congestive heart failure. Yani Tromol Post I Kartasura) & Winarsih Nur A. it will conduct the maladaptive coping. value of z table is 1.

Gagal jantung menjadi penyakit yang terus meningkat kejadiannya terutama pada lansia. seluruh organ dan jaringan tubuh tidak dapat dipenuhi kebutuhannya akan oksigen dan zat-zat makanan. Kecemasan yang terjadi pada kebanyakan pasien gagal jantung dikarenakan mereka mengalami kesulitan mempertahankan oksigenasi yang adekuat sehingga mereka cenderung sesak nafas dan gelisah (Smeltzer. Para pasien mengekspresikan ketakutan dengan berbagai cara seperti mimpi buruk. Teori psikoanalitis klasik menyatakan bahwa pada saat individu menghadapi situasi yang dianggapnya mengancam. Pasien gagal jantung mengalami peredaran darah sistemik dan sirkulasi yang berjalan lambat. Ada kecenderungan peningkatan jumlah penderita gagal jantung dari tahun ke tahun. Insiden penyakit gagal jantung di Indonesia semakin meningkat sejalan dengan meningkatnya usia harapan hidup penduduk. Pasien dengan gagal jantung sering merasa cemas. 2003). Ketika penyakitnya meningkat dan manifestasinya memburuk. Pada studinya disebutkan bahwa kejadian gagal jantung per tahun pada orang berusia > 45 tahun adalah 7. 2007).Pendahuluan Gagal jantung merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama. Hampir semua pasien menyadari bahwa jantung adalah organ yang penting dan ketika jantung mulai rusak maka kesehatan juga terancam. kecemasan akut. 2007). 2005). Di Amerika hampir 5 juta orang menderita gagal jantung (Sani. depresi dan memungkiri kenyataan (Black. Terjadi awitan kesulitan nafas mendadak dan perasaan tercekik (Rilantono. insomnia. Kecemasan merupakan reaksi normal terhadap situasi yang sangat menekan kehidupan seseorang (Ramaiah. Pemindahan O2 dan CO2 dalam paru-paru berlangsung sukar.7 kasus setiap 1000 orang perempuan.2001). Kecemasan adalah sesuatu yang menimpa hampir setiap orang pada waktu tertentu dalam kehidupannya. pasien sering memiliki ketakutan yang berlebihan karena cacat permanen dan kematian. maka secara . ketakutan dan depresi. Studi Framingham memberikan gambaran yang jelas tentang gagal jantung. Meskipun pengobatan gagal jantung kian maju tetapi angka kematiannya masih saja tinggi yaitu 40 %. bahkan dalam kurun waktu 6 bulan pada tahun 2007 jumlahnya terus saja meningkat (Wikipedia. 2004).2 kasus setiap 1000 orang laki-laki dan 4. Kecemasan yang dialami ketika terjadi serangan adalah kecemasan berat sehingga memerlukan bantuan untuk oksigenasi dan konseling yang tepat.

Kecemasan tersebut bervariasi dari kecemasan ringan sampai dengan kecemasan berat. Terkadang kecemasan dapat terlihat dalam bentuk lain. Untuk mengetahui gambaran tingkat kecemasan pada pasien gagal jantung kongestif. Kecemasan yang dialami pasien mempunyai beberapa alasan diantaranya : cemas akibat sesak nafas. perilaku koping yang kurang baik akan dapat memperparah kondisi pasien seperti pasien akan gelisah yang berlebihan sampai berteriakteriak. otonomik. seperti sering bertanya tentang penyakitnya dan berulang meskipun pertanyaan sudah dijawab. Manifestasi yang muncul . hormonal dan perilaku (Prawirohusodo. Tujuan penelitian secara umum adalah untuk mengetahui hubungan tingkat kecemasan dengan mekanisme koping pada pasien gagal jantung kongestif di RSU Pandan Arang Boyolali. pasien terlihat gelisah. 2007). fisiologik. cemas akan kondisi penyakitnya. sesak nafas. Kecemaan sebagai syarat bagi ego untuk melakukan tindakantindakan yang tepat (Zaviera. menggelisahkan dan menakutkan yang dihubungkan dengan suatu ancaman bahaya yang tidak diketahui oleh individu. Untuk mengetahui mekanisme koping yang digunakan pasien gagal jantung apakah adaptif atau maladaptif. Pada pasien gagal jantung kongestif. maka ego akan diliputi kecemasan. sulit istirahat dan tidak bergairah saat makan. Tingkat kecemasan yang dikemukakan oleh Townsend (2005) ada empat tingkat yaitu : 1. 1998). Tujuan secara khusus : 1. terkadang terjadi halusinasi. Kecemasan Kecemasan adalah pengalaman emosi yang tidak menyenangkan. Kebingungan menghadapi stimulus yang berlebihan dan tidak berhasil diselesaikan oleh ego. cemas dan takut akan kematian. Perasaan ini disertai oleh komponen somatik. 2. denyut nadi cepat dan tidak patuh dalam pengobatan sehingga penyakitnya tidak kunjung sembuh. tekanan darah meningkat. Pasien gagal jantung banyak yang mengalami kecemasan. Selain itu pasien mengalami gangguan dalam istirahat. biokimiawi. Kecemasan Ringan : berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan seharihari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada.umum ia akan memiliki reaksi yang biasanya berupa rasa takut. datang dari dalam dan bersifat meningkat. cemas jika penyakitnya tidak bisa sembuh.

2. berteriakteriak. diare. tidak dapat tidur (insomnia). Tanda dan gejala yang terjadi pada keadaan ini adalah susah bernafas.pada tingkat ini adalah kelelahan. Panik : Panik berhubungan dengan terperangah. Mekanisme Koping Menurut Kelliat (1999) koping adalah cara yang dilakukan individu dalam menyelesaikan masalah. Kecemasan Berat : Manifestasi yang muncul pada tingkat ini adalah mengeluh pusing. tidak mau belajar secara efektif. . iritabel. Mekanisme koping ada dua macam : 1. menyesuaikan diri dengan perubahan dan respon terhadap situasi yang mengancam. Mekanisme koping adaptif adalah suatu usaha yang dilakukan individu dalam menyelesaikan masalah akibat adanya stressor atau tekanan yang bersifat positif. penurunan kemampuan berhubungan dengan orang lain dan tidak mampu berfikir rasional. pucat. sakit kepala. perasaan tidak berdaya. ketakutan. dilatasi pupil. Kecemasan Sedang : Manifestasi yang muncul pada tingkat ini yaitu kelelahan meningkat. diaphoresis. Panik dapat menagakibatkan peningkatan motorik. dan konstruktif. menjerit. Orang yang sedang panik tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan. mengalami halusinasi dan delusi. 2. mampu untuk belajar. tidak dapat berespon terhadap perintah yang sederhana. rasional. bingung dan disorientasi. ketegangan otot meningkat. palpitasi. denyut jantung dan pernapasan meningkat. pembicaraan inkoheren. motivasi meningkat dan tingkah laku sesuai dengan situasi. kesadaran meningkat. merugikan dan destruktif serta tidak dapat menyelesaiakan masalah secara tuntas. mual. 4. sering kencing. mampu untuk belajar namun tidak terfokus pada rangsang yang tidak menambah kecemasan. mudah lupa. tidak sabar. bicara cepat dengan volume tinggi. teror karena mengalami kehilangan kendali. palpitasi. marah dan menangis. 3. mudah tersinggung. berfokus pada dirinya sendiri. Mekanisme koping maladaptif adalah suatu usaha yang dilakukan individu dalam menyelesaikan masalah akibat adanya stressor atau tekanan yang bersifat negatif.

Gagal Jantung Kongestif Gagal jantung kongestif adalah ketidakmampuan jantung untuk memompa darah yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan jaringan akan oksigen dan nutrisi (Smeltzer. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah pasien Gagal Jantung Kongestif yang mengalami kecemasan pada bulan Februari-Maret 2008 dengan rata-rata pasien perbulan sebanyak 18 pasien. Hasil Penelitian Hubungan antara tingkat kecemasan dengan mekanisme koping pada pasien Gagal Jantung Kongestif dapat dilihat pada tabel 1 di bawah ini : . jenis kelamin. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah Aksidental sampling. Manifestasi Klinik : Tanda dominan gagal jantung adalah meningkatnya volume intravaskuler. Penyebab gagal jantung antara lain : kelainan otot jantung. 2003). 2001). Sedangkan analisa bivariat menggunakan Kendal tau-b dengan uji signifikansi menggunakan uji z. status perkawinan. penyakit jantung lain. tingkat kecemasan dan mekanisme koping. Kongesti jaringan terjadi akibat tekanan arteri dan vena yang meningkat akibat turunnya curah jantung pada kegagalan jantung. Analisa data dilakukan secara univariat untuk mengetahui karakteristik responden berdasarkan umur. Metode Penelitian Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian menggunakan rancangan deskriptif korelatif yaitu rancangan penelitian yang bermaksud untuk mencari hubungan antara dua variabel. dan faktor sistemik. Peningkatan tekanan pulmonalis dapat menyebabkan cairan mengalir dari kapiler paru ke alveoli. Sedangkan rancangan penelitian yang digunakan adalah cross sectional karena pengumpulan data kedua variable dilaksanakan dalam waktu bersamaan atau dalam satu waktu (Nursalam. Meningkatnya tekanan vena sistemik dapat mengakibatkan edema perifer umum dan perubahan berat badan. tingkatan penyakit. tingkat pendidikan. akibatnya terjadi edema paru yang dimanifestasikan dengan batuk dan nafas pendek.

Pasien dengan kecemasan tingkat sedang yang melakukan mekanisme koping adaptif sebanyak 20 orang (66. Hasil analisis dengan program SPSS 10.0 diperoleh nilai koefisien korelasi sebesar 0. Hubungan Tingkat Kecemasan Dengan Mekanisme Koping Mekanisme Koping Tingkat Kecemasan Ringan Sedang Berat Mekanisme Koping Adaptif 5 20 0 Mal Adaptif 0 0 5 N 5 20 5 . Hasil uji normalitas masing-masing variabel dengan program SPSS 10. Dalam penelitian ini akan di uji hubungan antara tingkat kecemasan dengan mekanisme koping pasien Gagal Jantung Kongestif.745 P Value 0.05.429 Ket N N Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah statistik non parametrik teknik bivariabel dengan uji korelasi Kendal tau-b untuk mencari hubungan dan menguji hipotesis dua variabel.000 (p < 0.Tabel 1. Apabila nilai p > maka terdistribusi normal atau sebaliknya (Singgih.05. Secara rinci uji normalitas dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 2.05).936 0.0.745 dengan probabilitas sebesar 0. Uji normalitas data menggunakan metode Kolmogorov-Smirnov.05). Hasil tersebut menunjukkan adanya .000 Pada tabel 1 diketahui pasien yang mempunyai kecemasan tingkat ringan melakukan mekanisme koping adaptif sebanyak 5 orang (16.7%). dan tidak ada yang melakukan mekanisme koping maladaptif. hal ini menunjukkan bahwa data berdistribusi secara normal ( p > 0.875 Prob 0.536 0. dan tidak ada yang melakukan mekanisme koping maladaptif.0 terhadap nilai residual diperoleh nilai probabilitas di atas 0. Pasien yang mempunyai kecemasan tingkat berat melakukan mekanisme koping maladaptif sebanyak 5 orang (16. Cara menguji normalitas yaitu dengan membandingkan probabilitas (p) yang diperoleh dengan taraf signifikansi ( ) 0.7%). Hasil Uji Normalitas Variabel Tingkat Kecemasan Mekanisme Koping Zhitung 0.7%) dan tidak ada yang melakukan mekanisme koping adaptif. 2000: 179).

maka dapat disimpulkan bahwa tingkat kecemasan mempunyai hubungan yang kuat dan signifikan dengan mekanisme koping pada pasien Gagal Jantung Kongestif. . Pembahasan Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara tingkat kecemasan dengan mekanisme koping. Dari 25 responden yang mengalami kecemasan ringan dan sedang. mereka segera memeriksakan diri ke dokter atau rumah sakit untuk mendapatkan penanganan yang tepat. hasil perhitungan uji z diperoleh nilai z sebesar 5. sehingga kerusakan organ jantung belum terlalu parah. 20 responden mengalami kecemasan sedang dan 5 responden mengalami kecemasan berat. Dari perolehan data didapatkan 5 responden mengalami kecemasan ringan. berarti (z hitung > z tabel) maka Ho ditolak dan Ha diterima. Jadi ketika terjadi serangan sesak nafas dan nyeri dada. 2005). Pada kecemasan tingkat ini memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada masalah yang penting dan mengesampingkan yang lain sehingga seseorang mengalami perhatian yang selektif namun dapat melakukan sesuatu yang terarah (Townsend.hubungan yang kuat antara tingkat kecemasan dengan mekanisme koping. Untuk menguji signifikansi korelasi menggunakan rumus z. semuanya melakukan mekanisme koping yang maladaptif. Hal ini disebabkan oleh karena mereka tidak mampu mengendalikan kecemasannya dan takut akan kematian yang sewaktu-waktu dapat mengancam jiwanya sehingga pada saat mereka jenuh dengan keadaanya. Dalam penelitian ini sebagian besar responden yaitu sebanyak 20 responden mengalami kecemasan sedang. Sesak nafas yang mereka alami dapat berkurang ketika diberikan bantuan nafas berupa oksigen.96. mereka dapat melakukan mekanisme koping yang adaptif dan tidak ada yang melakukan mekanisme koping maladaptif. mereka cenderung pasrah pada keadaan dan melakukan koping yang destruktif dan merugikan. Hal ini dikarenakan mereka dapat mengendalikan perasaan cemas yang muncul sehingga mampu mengembangkan mekanisme koping yang konstruktif. 2006).782 sedangkan nilai z tabel pada N = 30 adalah sebesar 1. Dari 5 responden yang mengalami kecemasan ringan. semuanya belum pernah dirawat dengan penyakit yang sama. Sedangkan 5 responden yang mengalami kecemasan berat. Pasien dengan kecemasan ringan masih mampu mengendalikan mekanisme koping untuk menurunkan kecemasannya (Prasetyo.

Dari hasil wawancara dan pengamatan peneliti. kebanyakan pasien dapat . Jadi meskipun mereka mengalami sesak nafas. saran dan informasi dari keluarga dan petugas kesehatan (dokter dan perawat) yang berkaitan dengan penyakitnya. berdoa sesuai dengan keyakinan masing-masing dan melakukan sholat meskipun dengan berbaring. Sehingga selain pengobatan medis adanya dukungan sosial yang positif akan membantu seseorang untuk beradaptasi lebih baik secara emosional dengan mencegah perasaan cemas dan sedih yang berlarut-larut terhadap penyakit (Atkinson.Penemuan di lapangan menunjukkan bahwa responden yang mengalami kecemasan sedang. maka mereka cenderung cemas dan gelisah karena sulit bernafas. mereka mampu mengendalikan kecemasannya dengan baik dan mau mematuhi semua prosedur pengobatan sehingga mereka mampu melakukan mekanisme koping yang adaptif. Dalam penelitian ini responden yang mengalami kecemasan sedang mampu melakukan mekanisme koping yang adaptif dikarenakan mereka mendapat ketenangan batin dari dukungan keluarga yang kuat supaya lekas sembuh. Ketika diajak bicara mereka menjawab dengan nada bicara yang keras dan cepat. Hal ini menyebabkan perhatian menjadi selektif dan terfokus pada rangsang yang tidak menambah kecemasan. pasien gagal jantung kongestif yang mengalami kecemasan sedang juga melakukan pendekatan religius dengan cara berdzikir. kecemasan yang dialami dikarenakan mereka mengalami kesulitan mempertahankan oksigenasi yang adekuat.1997). Menurut Niven (2002) bahwa dukungan keluarga dapat membantu meningkatkan mekanisme koping individu dengan memberikan dukungan emosi dan saran-saran mengenai strategi alternatif yang didasarkan pada pengalaman sebelumnya dan mengajak orang lain berfokus pada aspek-aspek yang lebih positif. Akan tetapi mereka masih dapat diajak untuk kerjasama dan mematuhi prosedur pengobatan. Selain mendapat dukungan dari keluarga. akan tetapi berkat kehadiran anggota keluarga yang selalu menemani dan memberikan dukungan positif. Menurut Smeltzer (2001) bahwa pada pasien gagal jantung kongestif. tekanan darah naik dan denyut nadi yang cepat. mereka mengalami sesak nafas. Dengan melakukan pendekatan religius tersebut. nyeri dada dan rasa takut akan kematian. bahwa pasien gagal jantung dengan kecemasan sedang mengharapkan dukungan berupa dukungan emosi. Mereka seperti tergesa-gesa dalam menjawab pertanyaan dan terkadang menangis.

Hasil analisis korelasi Kendal tau-b menunjukkan nilai probabilitas sebesar 0. pembesaran limpa dan ginjal.7%. bahkan kerusakan otak akibat kekurangan oksigen selama episode akut (Smeltzer. responden yang mengalami kecemasan sedang sebanyak 66. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat kecemasan pasien maka akan semakin rendah atau semakin buruk mekanisme koping yang dilakukan. Jadi sebagian besar responden dalam penelitian ini mengalami kecemasan sedang (66. b.782>1.merasakan ketenangan batin sehingga mampu mengendalikan kecemasannya dan melakukan mekanisme koping yang adaptif. Jadi sebagian besar responden dalam penelitian ini melakukan koping adaptif (83. Responden yang melakukan koping adaptif sebanyak 83. sirosis hepatis. dan responden yang mengalami kecemasan berat sebanyak 5 responden atau 16. Berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian didapatkan bahwa 100% pasien dengan kecemasan ringan dan sedang mempunyai mekanisme koping adaptif dan 100% pasien dengan kecemasan berat mempunyai mekanisme koping maladaptif. Responden yang mengalami kecemasan ringan sebanyak 16.3%). Organ tubuh menjadi rusak dan serangan berulang dapat menyebabkan fibrosis paru. 2001). Kelima responden tersebut semuanya melakukan mekanisme koping yang maladaptif. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis data dan tujuan dalam penelitian ini. sosiologis dan finansial. Sedangkan 5 responden yang mengalami kecemasan berat. c.96) hasil tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara tingkat kecemasan dengan mekanisme koping. Pasien gagal jantung yang mengalami kekambuhan tidak hanya menyebabkan masalah psikologis.3% dan responden yang melakukan koping maladaptif sebanyak 16. tetapi beban fisiologis pasien akan menjadi lebih serius.7%.7%. maka hasil penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut: a. kesemuanya sudah pernah mengalami gagal jantung dan dirawat di rumah sakit.7%.782 (5.7%).000 (p<_) dan hasil uji z sebesar 5. .

Pada penelitian selanjutnya supaya meneliti karakteristik responden yang berhubungan dengan kondisi psikologis pasien yang dapat mempengaruhi tingkat kecemasan dan mekanisme koping pasien seperti tipe kepribadian. sehingga dapat menyempurnakan hasil penelitian ini. .Saran 1. sehingga hasil penelitian ini lemah dalam hal generalisasi. oleh karena itu bagi pihak rumah sakit untuk lebih menekankan pada pemberian konseling sehingga pasien dapat mengendalikan kecemasannya dan melakukan koping yang bersifat konstruktif. c. Bagi Peneliti Lain a. 2. Penelitian ini hanya meneliti pada pasien Gagal Jantung Kongestif di RSU Pandan Arang Boyolali. b. Bagi Rumah Sakit Tingkat kecemasan mempunyai hubungan yang signifikan dengan mekanisme koping. Kepada peneliti lain supaya mengklasifikasikan jenis-jenis mekanisme koping sehingga lebih memperjelas mekanisme koping yang digunakan pasien atau responden. oleh karena itu bagi peneliti lain agar melakukan penelitian pada obyek penelitian yang berbeda dan juga faktor yang berbeda.

Psikologi Kepribadian. Medya Crea : Jakarta.M. Prismasophie : Yogyakarta . STIKES Ngudi Waluyo Ungaran : Semarang. 2003. 2007. 2007. 2006. Edisi Kedua. EGC : Jakarta. 2006... Niven. Nursalam. 2005. dkk. Black. Teori Kepribadian Sigmund Freud. D. N. EGC : Jakarta. Edisi Kelima. 1999. Pengantar Psikologi.K. 2001. Volume I. Zaviera. EGC : Jakarta. Elsevier¶s Health Sciences Right Departement : Philadelphia. Rilantono. 2005. R. & Bem D. Edisi Kedelapan... A. F. 2005. Psikologi Kesehatan : Pengantar Untuk Perawat dan Profesional Kesehatan Lain. 1997.B.imunologi Untuk Keperawatan. J. Prinsip dan Praktik Psikiatrik (Terjemahan). Stuart & Sundeen. Smeltzer. Sugiyono. UNS Press : Surakarta. & Hawks. 1998.C.. Cetakan Ketujuh. FKUGM : Yogyakarta.. Penatalaksanaan Stress. Statistika Untuk Penelitian. 7th Edition. 2002. (Skripsi) Tidak dipublikasikan. FKUI : Jakarta.. S. Edisi Kedua. Hubungan Tingkat Kecemasan Dengan Strategi Koping Pada Keluarga Yang Salah Satu Anggota Keluarga Dirawat Dengan Penyakit Jantung. Kumpulan Makalah Simposium Stress dan Kecemasan. Prawirohusodo. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.. A.. Buku Ajar Kardiologi. 1998. Medical Surgical Nursing : Clinical Management for Positive Outcomes. EGC : Jakarta. Interaksara : Jakarta. J.J. Sani. Marwiati.DAFTAR PUSTAKA Alwisol..ALFABETA : Bandung.L. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. 2004.H. Prasetyo. Cetakan Pertama. Salemba Medika : Jakarta. Volume II. CV. Psikoneuro. UMM Press : Malang Atkinson. Kelliat. Heart Failure : Current Paradigm.

Jurnal 2 .