P. 1
Ideologi Dan Agama

Ideologi Dan Agama

|Views: 1,313|Likes:
Published by Nisa Azmi

More info:

Published by: Nisa Azmi on Jan 10, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/27/2014

pdf

text

original

IDEOLOGI DAN AGAMA Ideologi merupakan paham atau cara berpikir seseorang akan sesuatu.

Sedangkan agama merupakan ajaran. Dengan mudahnya ideologi terdapat dalam agama, namun agama belum tentu berada dalam ideologi. Hal ini menjadi sangat penting karena beberapa orang menggunakan akalnya untuk menentukan sebuah keputusan atau kepercayaan. Agama merupakan sebuah ajaran yang memberikan pencerahan kepada manusia. Dimana agama merupakan anugrah atau karunia yang diberikan manusia oleh Tuhan melalui pesuruhnya (nabi/rosul dalam islam). Didalam agama terdapat beberapa hal yang diberitahukan. Mulai dari aturan dan larangan yang tidak boleh dilakukan. Namun, terkadang manusia menganggap itu sebagai batasan akan kebebasan. Ideologi selalu menjadi menjadi patokan seseorang untuk menentukan sesuatu. Sudut pandang yang digunakan dipengaruhi oleh bacaan dan sekitar. Hal ini menjadi kendala bagi beberapa orang ketika telah memiliki suatu sudut pandang dan ditemukan dengan sesuatu yang baru. Ideologi dapat berlandaskan pemikiran, pengalaman, cerita, kepercayaan, bacaan bahkan sosial. Sangat mengerikan jika ideologi ini tidak memiliki landasan yang cukup. Dapat menyebabkan tersesat dalam pandangan yang sempit. Sebenarnya apa yang menyebabkan ideologi berpengaruh dengan agama? Kaitan keduanya sangatlah erat bahkan tidak dapat dipisahkan. Terkadang seseorang memiliki persepsi akan suatu agama hanya karena melihat kulit luar, tanpa mengetahui esensi dari agama tersebut. Tindakan yang dilakukan oleh umat beragama terkadang dijadikan suatu nilai yang menunjukkan tentang ajaran agama tersebut. Sesungguhnya hal ini keliru dan tidak dianjurkan. Rasa skeptis seseorang memiliki nilai yang berbeda-beda. Beberapa orang melakukan pendalaman tentang agama dan akhirnya mengetahui bahwa sesungguhnya agama tidak pernah mengajarkan tentang kemungkaran. Kebaikan selalu diajarkan oleh setiap agama. Namun, rasa keagamaan yang berlebihan juga mampu menimbulkan tindakan yang melewati batas. Ideologi yang terlalu kaku terkadang membatasi akan segala sesuatu yang baru. Sehingga menyebabkan segala tindakan atau pemikiran yang bertentangan dengannya adalaha µsalah¶. Ini tidak disalahkan karena setiap manusia memiliki hak atas buah pikirannya. Namun, dalam kehidupan bersosial hal ini akan sangat berpengaruh. Sulitnya berinteraksi dapat menimbulkan rasa syirik, dengki dan egois. Ini berbahaya. Oleh sebab itu kaitan antara ideologi dan agama merupakan dasar yang sangat pokok ketika kita membicarakan tentang negara berlandaskan agama. Keterbukaan dan skeptis dirasa perlu dalam penilaian suatu hal, terutama agama. Sedangkan dalam beberapa masyarakat ideologi merupakan yang utama

kecil kemungkinan ideologi ditempatkan sebagai korpus atau ajaran terbuka yang senantiasa bisa kita kritik. . Misal. Sedangkan keyakinan yang lemah. sebuah pemikiran baru atau yang berbeda sekonyong-konyong akan difatwa sesat oleh otoritas agama arus utama (mainstream). baik diskursus sekuler (ideologi) atau diskursus agama itu sendiri. Hanya saja. Sedangkan fenomena kedua. Keduanya sama-sama diyakini sebagai ³yang benar´. Biasanya nalar ini berangkat dari keinginan agar agama mampu menjadi basis nilai yang revolusioner bagi perubahan sosial.´ Kritik ideologi sekurang-kurangnya mensyaratkan keberanian kita untuk senantiasa jujur terhadap diri sendiri. ideologi bersumber dari olah pikir manusia. Pokok masalahnya. keduanya berpotensi untuk ³meng-kaca mata kudakan´ setiap penganutnya. beberapa pandangan yang ada sama benarnya. Hanya saja. Untuk kemudian. Kecenderungan terakhir sering terlihat dalam kehidupan beragama kontemporer. revisi. bahkan dekonstruksi (rombak). sedangkan agama bersumber dari Tuhan. mengingat keduanya merupakan nilai yang diyakini. Ada satu lontaran yang perlu kita resapi. Padahal boleh jadi. kita perlu melakukan proses kritik ideologi. Bagi individu yang menganut ideologi/agama tertentu. terhadap keyakinan. maka ideologi/agamanya itu adalah ³yang benar´. karena sudah terperangkap dalam ³kaca mata kuda´. juga keraguan kita. tidak akan takut pada segala bentuk keraguan. Baik ideologi pun agama. baik ideologi pun agama seringkali mengalami kebuntuan epistemik (cara pandang). Persoalannya kemudian. kecenderungan untuk mengideologiskan agama. Dua fenomena dengan kecenderungan yang sama itu pada dasarnya kontra produktif bagi pergulatan pemikiran. selalu akan lari dari kejaran pertanyaan dan keraguan.Ideologi sebenarnya tak ubahnya seperti agama. kita menjadi sulit untuk melihat kebenaran-kebenaran lain yang tersebar di mana-mana. pada ideologi atau agama. Mengklaim kelompok lain yang menggunakan sistem demokrasi adalah taghut (salah bahkan sesat) merupakan efek dari cara pandang tersebut. Artinya ideologi dimaknai sebagai ³nilai suci´ yang harus diperjuangkan. proses ideologisasi agama justru membuat pemeluknya tak mampu melihat kemungkinan lain dari berbagai macam pandangan. kecenderungan untuk mengagamakan ideologi. Kritik ideologi tidak berpretensi untuk meruntuhkan nilai atau ajaran suatu kepercayaan tertentu. Kritik ideologi hanya ingin memberi early warning pada kita agar pandangan kita tidak beku atau stag. Ada dua fenomena berbeda yang sebenarnya sama. seperti perdebatan kapal Nabi Nuh. Dalam konteks ini. Pertama. ³Keyakinan yang kuat. Agar tidak terjebak dalam perangkap itu. kita perlu melakukan proses kreatif dengan memikirkan ulang atau mengkontekstualisasikan nilai atau ajaran yang kita yakini selama ini.

PERMASALAHAN KEHIDUPAN BERBANGSA DI INDONESIA Dalam berbagai wacana selalu terungkap bahwa telah menjadi kesepakatan bangsa adanya empat pilar penyangga kehidupan berbangsa dan bernegara bagi negara-bangsa Indonesia. Empat pilar dimaksud dimanfaatkan sebagai landasan perjuangan dalam menyusun program kerja dan dalam melaksanakan kegiatannya. Hal ini diungkapkan lagi oleh Presiden RI Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. masih ada yang beranggapan bahwa empat pilar tersebut adalah sekedar berupa slogan-slogan. Empat pilar tersebut adalah (1) Pancasila. Bahkan beberapa partai politik dan organisasi kemasyarakatan telah bersepakat dan bertekad untuk berpegang teguh serta mempertahankan empat pilar kehidupan bangsa tersebut. Yang diperlukan adalah landasan riil dan konkrit yang dapat dimanfaatkan dalam persaingan menghadapi globalisasi. (2) Undang-Undang Dasar 1945. (3) Negara Kesatuan Republik Indonesia dan (4) Bhinneka Tunggal Ika. Meskipun hal ini telah menjadi kesepakatan bersama. atau tepatnya sebagian besar rakyat Indonesia. Bahkan ada yang beranggapan bahwa empat pilar tersebut sekedar sebagai jargon politik. sekedar suatu ungkapan indah. pada kesempatan berbuka puasa dengan para pejuang kemerdekaan pada tanggal 13 Agustus 2010 di istana Negara. yang kurang atau tidak bermakna dalam menghadapi era globalisasi. .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->