P. 1
pendidikan politik

pendidikan politik

|Views: 701|Likes:
Published by Blekki Dess

More info:

Published by: Blekki Dess on Jan 11, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/23/2015

pdf

text

original

PENDAHULUAN Pendidikan politik merupakan bagian integral dan pendidikan nasional, dan pendidikan nasional merupakan perwujudan dari

cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam garisGaris Besar Haluan Negara (GBHN) telah ditetapkan bahwa pendidikan nasional berdasarkan Pancasila, bertujuan untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan dan ketrampilan, meningkatkan budi pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan dan cinta tanah air , agar dapat menumbuhkan manusiamanusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa. Dalam rangka melaksanakan pendidikan nasional perlu diperluas ditingkatkan usahausaha Penghayatan dan Pengamalan Pancasila oleh seluruh lapisan masyarakat.Karena itu pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah. Pendidikan tinggi dikembangkan dan peranan perguruan tinggi diarahkan untuk (1) menjadi perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pusat kegiatan penelitian sesuai dengan kebutuhan pembangunan masa sekarang dan masa datang, (2) mendidik mahasiswa agar mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, berjiwa penuh pengabdian serta memiliki tanggung jawab yang besar terhadap masa depan bangsa dan negara Indonesia dalam rangka melaksanakan Tri Darma Perguruan Tinggi, (3) mengembangkan tata kehidupan kampus sebagai masyarakat ilmiah yang berbudaya, bermoral Pancasila dan berkepribadian Indonesia. Peranan perguruan tinggi dan lembaga-lembaga penelitian dalam kegiatan pembangunan perlu makin ditingkatkan antara lain dengan cara (1) menjamin penggunaan kebebasan mimbar akademis dalam bentuk yang kreatif, konstruktif dan bertanggung jawab, sehingga dapat bermanfaat bagi masyarakat dan pembangunan, (2) melanjutkan usaha-usaha integrasi dan konsilidasi kegiatan mahasiswa dan cendikiawan sesuai dengan disiplin ilmu dan profesinya dalam wadah-wadah yang efektif, sehingga mereka dapat menyumbangkan prestasi-prestasi serta partisipasi yang positif. Dalam rangka tujuan tersebut di atas, maka pendidikan politik harus dapat memberikan pengertian dan menumbuhkan sikap dan tingkah laku sesuai dengan nilai-nilai kehidupan politik harus dapat dimengerti secara rasional dan diterima secara sadar untuk dihayati dan diamalkan dalam sikap dan tingkah laku bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Istilah “pendidikan politik” secara resmi (formal) dimuat dalam GBHN (Tap MPR No. IV/MPR/1978 jo Tap. MPR. No. II/MPR/1983) dengan rumusan : “Pendidikan politik lebih ditingkatkan, agar rakyat makin sadar akan hak dan kewajibannya sebagai warga negara, sehingga ikut secara aktif dalam kehidupan bernegara dan pembangunan serta untuk lebih memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa”.

Perkataan “politik” acapkali disalah artikan dan disalah mengertikan dalam masyarakat, karena menurut mereka politik adalah sinonim dengan pertentangan (konflik), demikian juga politik seringkali identik dengan partai politik , suatu kekeliruan yang lazim terjadi. Dengan dikeluarkannya instruksi Presiden No. 12 tahun 1982 tentang Pendidikan Politik bagi Generasi Muda akan memberikan dampak positif terhadap tanggapan sebagaian dari anggota masyarakat yang beranggapan bahwa politik mempunyai konotasi yang kotor. Dalam Instruksi Presiden tersebut ditetapkan bahwa pendidikan politik bagi generasi muda perlu diberikan dalam rangka pelestarian Pancasila dan UUD 1945, terus menerus memupuk rasa persatuan dan kesatuan bangsa demi kelanggengan hidup berbangsa dan bernegara. Dengan demikian pendidikan politik diarahkan pada makin dihayati budaya politik Pancasila, sehingga sistem politik ideal yaitu sistem politik Demokrasi Pancasila yang merupakan citacita bersama makin mantap dalam praktek kehidupan bernegara. Keberhasilan pendidikan politik antara lain ditentukan oleh adanya suatu perspektif yang jelas yang bisa diperoleh melalui dua dimensi. Dimensi pertama berupa gambaran yang jelas tentang politik ideal yang dicita-citakan. Dari sana akan nampak hal-hal yang sebenarnya dituntut oleh sistem politik ideal itu dari masyarakat yang menginginkannya. Dimensi kedua adalah realitas dari masyarakat sendiri yang langsung dapat dibandingkan dengan sistem politik ideal itu. Melalui perbandingan itu akan diperoleh suatu perspektif yang jelas bagi pendidikan politik guna selanjutnya untuk ditetapkan arah dan sasarannya. Sistem Politik Demokrasi Pancasila dalam kerangka pengertian di atas, adalah sebagai sistem kehidupan kenegaraan untuk mewujudkan cita-cita bangsa, sehingga menjadi kepentingan (hak dan kewajiban) seluruh warga negara untuk mengerti dan menghayati guna mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dalam wadah negara kesatuan Repuplik Indonesia. Dalam rangka itu pendidikan politik dipandang perlu tidak hanya generasi muda tapi bagi setiap warga negara secara keseluruhan, karena usaha ini pada hakikatnya bertujuan menjadikan orang sebagai warga negara yang baik. Dalam hubungan ini warga negara yang baik adalah dalam kerangka pengertian mengerti, memahami, meyakini, menghayati, mampu dan mau mengamalkan nilai-nilai luhur bangsa (Pancasila) dalam keseimbangan hak dan kewajiban hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Jadi pendidikan politik dipandang sebagai suatu pembentukan, pewarisan atau sosialisasi nilai-nilai dalam rangka pembentukan sikap dan tingkah laku politik dan juga merupakan suatu sarana bagi suatu generasi untuk mengajarkan dan meneruskan sikap-sikap, norma-norma serta keyakinan-keyakinan politik kepada generasi berikutnya. Sebagai suatu proses pasti tidak akan ada henti-hentinya dan akan berjalan atau berlangsung terus bersama dengan perjalanan masyarakat bangsa yang bersangkutan. Maka pendidikan politik pada hakikatnya merupakan kegiatan yang berkelanjutan dan tidak mengenal titik akhir, lebihlebih bagi bangsa Indonesia bahwa pembangunan adalah pengamalan Pancasila. Menurut Gabriel A. Almond dalam bukunya yang berjudul Comparative Politics To Day (1974), bependapat bahwa sosialisasi politik itu dapat melalui berbagai sarana atau jalan, yaitu (1) keluarga, (2) sekolah, (3) kelompok bergaul atau bermain, (4) pekerja, (5) media masa dan (6) kontak-kontak politik langsung.

Perlu juga ditambahkan bahwa seseorang tersosialisasikan politik tidak hanya melalui satu sarana saja, tetapi dapat melalui berbagai macam sarana yang ada. Artinya bagi seseorang itu pada suatu saat sosialisasi politiknya melalui sarana yang berwujud sekolah dan pada saat bersamaan atau pada saat yang lain melalui kelompok bermain dan seterusnya. Hal itu dimungkinkan karena seseorang tidak hanya hidup dalam satu lingkungan tertentu saja, tetapi dalam berbagai lingkungan secara bersama-sama. Gabriel A Almond lebih lanjut berpendapat bahwa sosialisasi politik dapat membentuk dan mewariskan kebudayaan politik suatu bangsa atau memelihara kebudayaan politik suatu bangsa dengan jalan meneruskannya dari satu generasi ke generasi berikutnya serta dapat pula mengubah kebudayaan politik suatu bangsa. Dr. Alfian dalam bukunya Pembangunan Politik Indonesia (1986) melihat bahwa keberhasilan pendidikan politik itu antara lain dapat dilihat pada kualitas pamahaman masyarakat terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam sistem politik ideal yang dicitacitakan. Kualitas pemahaman itu antara lain dapat diukur melalui keluasan dan kedalaman pengertian yang dimiliki mereka dan pada sifat serta corak partisipasi mereka dalam kehidupan politik sehari-hari. Misalnya seberapa dalam pengertian mereka tentang nilai musyawarah-mufakat yang terkandung dalam ideologi Pancasila. Berikutnya, bagaimana pengertian mereka itu tercermin dalam partisipasinya dalam kehidupan politik. Apakah mereka menganggap bahwa perbedaan pendapat itu adalah hal yang lumrah dan wajar ataukah mereka cenderung untuk memonopoli kebenaran dan tidak bersedia mendengar pandangan dan pendapat orang lain yang berbeda. Dengan penetapan dan pemantapan Pancasila sebagai satu-satunya azas bagi semua kekuatan politik dan organisasi kemasyarakatan, maka diharapkan bahwa orientasi, sikap dan tingkah laku politik bangsa Indonesia akan lebih matang dan dewasa. Dengan demikian kehidupan politik akan berkembang lebih mantap dan demokratis. Dalam sejarah kepartaian pada masa kemerdekaan Indonesia menunjukkan bahwa proses pengaruh partai-partai politik di negara Indonesia mengalami penurunan, terutama setelah Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Pada permulaan tahun 1950-an merupakan suatu masa gemilang yang pernah dialami oleh partai-partai politik Indonesia, tetapi kemudian karena beberapa sebab pengaruh mereka semakin hari semakin berkurang. Dr. Alfian menyebutnya, walaupun sekarang partai-partai politik masih merupakan faktor, tetapi peranan dan pengaruh mereka terletak di pinggir-pinggir kekuasaan. Sebagian dari kemerosotan ini nampaknya disebabkan oleh timbulnya pandangan dan kepercayaan bahwa partai-partai politik telah gagal dalam membina suatu sistem politik yang dapat diandalkan untuk membangun bangsa dan negara. Mereka banyak melupakan masalahmasalah yang bersifat nasional. Kepentingan golongan dan partai lebih diutamakan ketimbang kepentingan masyarakat pada umumnya. Di samping itu kenyataan menunjukkan bahwa sistem politik Indonesia pernah membuka pintu yang lebar bagi partai-partai untuk berkompetisi di dalam bidang ideologi. Sehingga dapat dikatakan bahwa partai-partai politik kurang mampu menjalankan fungsi-fungsi yang dapat merangsang proses pembangunan politik.

Peranan dan fungsi kekuatan sosial politik dalam hubungannya dengan pembangunan bangsa, Presiden Suharto menegaskan bahwa Partai Politik dan Golongan Karya dapat menjadi kekuatan pembangunan bangsa kita yang memang sangat diperlukan dalam proses pembangunan kita. Masyarakat yang mau maju perlu terus-menerus mengadakan dialog dengan mereka, perlu terus-menerus bertukar pikiran secara luas. Dalam bertukar pikiran tentu saja ada perbedaan pendapat, dan berbeda pendapat bukanlah hal yang buruk...... Apabila semua itu dapat kita kembangkan bersama, maka setiap pemilihan umum boleh saja menjadi pertarungan besar antara gagasan-gagasan dan rencana-rencana dalam membangun bangsanya. Tetapi jelas bukan pertarungan antara kekuatan-kekuatan. Dengan demikian kita dapat mengembangkan stabilitas yang dinamis. Stabil karena tidak timbul kegelisahan dan keguncangan. Dinamis karena lahir gagasan-gagasan baru yang segar dan berguna bagi pembangunan masyarakat. Stabilitas itu terutama diwujudkan dalam bentuk keamanan, ketertiban dan keutuhan wilayah negara. Dengan demikian stabilitas yang dinamis yang berlandaskan persatuan dan kesatuan bangsa akan memperlancar pencapaian masyarakat adil dan makmur. Dalam menelaah sistem politik David Easton sebagai salah seorang pemuka “teori sistem” mengusulkan suatu metode analisa berdasarkan ciri-ciri dasar, yaitu : (1) unit-unit yang membentuk sistem itu dan luasnya batas-batas pengaruh sistem itu, (2) input dan output yang tercermin dalam keputusan-keputusan yang dibuat dan proses proses pembuatan keputusan tersebut, (3) jenis dan tingkat diferensial dalam sistem yang bersangkutan, (4) tingkat integrasi sistem politik yang mencerminkan tingkat efisiensinya. Dengan menganalisa berbagai komponen itu akan diperoleh pengertian dalam memahami dan membandingkan berbagai sistem politik yang ada. Pada hakikatnya sistem politik adalah suatu sub sistem dari sistem sosial secara keseluruhan, sehingga kehidupan politik sebagai suatu sistem kegiatan dapat dipisahkan dari kegiatan-kegiatan sosial lainnya. Sistem politik banyak dipengeruhi segala macam hal yang terjadi di sekelilingnya. Berbagai pengaruh yang berasal dari lingkungan sekelilingnya itu mengalir masuk ke dalam sistem politik, dan hal itu sedikit banyak akan mempengaruhi kemampuan suatu sistem politik dan kemampuan itu akan merupakan tolak ukur berhasil atau tidaknya suatu sistem politik. Pembangunan politik pada hakikatnya adalah usaha suatu masyarakat dalam mencari, memelihara dan mengembangkan suatu sistem politik yang sesuai dengan cita-cita masyarakat yang bersangkutan. Dalam proses pembangunan itu sering kali menjumpai hambatan atau bahkan menyimpang dari arah cita-cita semula. Gerak ke arah cita-cita itu memerlukan suatu proses transformasi struktural maupun transformasi budaya politik. Dalam hubungan ini Dr. Alfian menggambarkan bahwa proses pembangunan politik di Indonesia ada lima faktor yang berpengaruh secara dominan, ialah: (1) dimensi politik dalam pembangunan nasional, (2) mekanisme dan proses politik, (3) peranan ABRI dan Golkar dalam pembangunan politik, (4) masalah kepemimpinan dalam politik, dan (5) masalah Pancasila dan proses transformasi budaya politik.

Pembangunan nasional Indonesia adalah pembangunan yang bersifat multi dimensional, dan salah satu dimensi itu adalah dimensi politik, sehingga pembangunan politik merupakan bagian integral dari pembangunan nasional itu. Dari Pelita yang satu ke Pelita yang lain sudah nampak hasil-hasilnya, antara lain: pemilihan umum yang sudah berjalan secara reguler 5 tahun sekali, Sidang-sidang Umum MPR yang terjadwal, pemasyarakatan P4 secara meluas, penyederhanaan sistem kepartaian, ditetapkannya satusatunya azas bagi organisasi kekuatan sosial politik merupakan bukti nyata usaha Indonesia dalam pembangunan nasionalnya.

PENDIDIKAN POLITIK

A. POLA PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN POLITIK 1. PENDAHULUAN Suatu bangsa yang merdeka, yang ingin maju dan berkembang serta terjamin hidupnya, haruslah memiliki keyakinan terhadap nilai kebenaran yang dianutnya, baik sebagai bangsa maupun pribadi, dan menjadi pedoman bagi kehidupan dan penghidupannya baik pada masa sekarang maupun masa yang akan datang. Keyakinan itu menjadi pandangan hidup bangsa yang bersangkutan. Bagi bangsa Indonesia, keyakinan akan nilai kebenaran seperti itu pada hakikatnya telah tersurat dan tersirat dalam pokok-pokok pikiran yang tertuang dalam Pembukaan UUD ’45, yang memberikan tuntunan sekaligus kesadaran atau pandangan tentang bagaimana bangsa Indonesia seharusnya menempuh atau menyelenggarakan kehidupan berbangsa dan bernegara serta tujuan apa yang hendak dicapai dalam hidupnya. Pokok-pokok pikiran bangsa inilah yang kemudian melandasi kemerdekaan bangsa Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 dan atas dasar kesepakatan nasional pada tanggal 18 Agustus 1945 diterima oleh bangsa Indonesia sebagai satu-satunya pandangan hidup, yang diumumkan sebagai Pancasila. Hal itu berarti bahwa Pancasila, yang penjabarannya terurai dalam dasar negara, secara resmi menjadi sumber hukum dan moral yang mengikat seluruh rakyat Indonesia tanpa kecuali, dan oleh karena itu, harus dijunjung tinggi oleh bangsa Indonesia dalam kehidupan berbangsa dan bernegaranya. Nilai-nilai Pancasila, yang tidak lain merupakan tuangan hati nurani dan sifat khas/karakteristik bangsa, secara hakiki tidaklah lahir pada saat tercapainya kemerdekaan, tetapi ia telah tumbuh dan berkembang melalui proses sejarah yang panjang. Ia berasal dari kodrat budaya dan telah menjadi milik seluruh rakyat, sebagaimana tercermin dalam watak dan kepribadian serta sikap dan tingkah laku bangsa Indonesia. Oleh karena itu, nilai-nilaiPancasila pada hakikatnya harus tetap terpelihara dan dibina secara nyata dan harmonis, dari generasi ke generasi, dalam arti bahwa setiap generasi pada kurun waktu tetap berpegang teguh kepeda Pancasila dan UUD ’45 serta secara sadar menerapkannya dalam segala aspek

kehidupan bangsa atau pribadi, sehingga tercapai usaha pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan seluruh masyarakat Indonesia. 2. PENGERTIAN DASAR Pada prinsipnya pendidikan politik merupaka rangkaian usaha untuk meningkatkan dan memantapkan kesadaran politik dan kenegaraan guna menunjang kelestarian Pancasila dan UUD ’45 sebagai budaya politik bangsa. Pendidikan politik itu juga merupakan bagian proses pembaharuan kehidupan politik bangsa Indonesia yang sedang dilakukan dewasa ini dalam rangka usaha menciptakan suatu sistem politik yang benar-benar demokratis, stabil, dinamis, efektif, dan efisien. Sebenarnya pendidikan politik itu secara alamiah telah berjalan dan tetap akan berlangsung terus melalui berbagai interaksi sosial dalam masyarakat yang dikenal sebagai proses penghayatan nilai. Melalui penghayatan itulah manusia belajar, mendalami, dan melatih diri serta meyakini bahwa nilai-nilai itu adalah nilai terbaik dan paling sesuai dengan kondisi obyektif, alam pikiran dan perasaannya serta menurut hati nurani maupun penalarannya benar-benar bagian hidupnya. Proses penghayatan itu dapat berjalan dan baerlangsung terus secara alamiah, jikalau dalam pertumbuhannya ditunjang oleh suatu usaha sadar dan berencana melalui baik pendidikan formal maupun pendidikan non-formal. Penghayatan nilai itu sendiri haruslah diarahkan kepada semakin mapannya kesadaran bangsa Indonesia dalam kehidupan politik. Di sinilah letak peran pendidikan politik itu. Ia berfungsi untuk lebih memberi isi dan arah serta pengertian kepada proses penghayatan nilai yang sedang berlangsung. Dalam hubungan ini, jelas bahwa pendidikan politik yang dimaksud ditekankan kepada usaha mendapatkan pengertian tentang nilai yang etis normatif, yaitu dengan menanamkan nilai dan norma yang merupakan landasan dan motivasi bangsa Indonesia serta dasar untuk membina dan mengembangkan diri guna ikut serta berpartisipasi dalam kehidupan bangsa dan negara. Dalam kaitannya dengan masa depan, hal itu perlu dalam rangka menjawab tantangan, terutama di bidang ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang makin lama makin maju, dan kemajuan itu selain memiliki nilai positif juga mengandung aspek negatif. Selain itu, dengan pendidikan politik ini diharapkan bahwa bangsa Indonesia secara dini dapat dipersiapkan untuk dengan penuh ketangguhan menghadapi setiap ancaman yang bersumber dari berbagai ideologi politik yang tidak sesuai atau bertentangan dengan Pancasila dan UUD ’45. Inilah yang menjadi dasar pemikiran tentang perlunya pendidikan politik, karena tantangan dan ancaman yang dihadapi pada masa depan memerlukan jawaban yang tuntas, yang dipersiapkan masa kini. Dalam pengertian ini, dapatlah disimpulkan bahwa pendidikan politik itu sangat penting bagi seluruh rakyat Indonesia, seperti telah diamanatkan oleh ketetapan MPR No. IV/MPR/1978 jo tap No. II/MPR/1983 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN). Mahasiswa sebagai bagian dari generasi muda dengan sifat-sifat khas yang dimilikinya, pada prinsipnya mempunyai fungsi-fungsi tertentu, terutama, yang berkaitan dengan perkembangan kelangsungan hidup bangsa. Ia berfungsi sebagai penerus, pengemban, dan pelestari nilai serta cita-cita bangsa. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa setiap masalah yang sedang dihadapi oleh generasi muda pada hakikatnya adalah juga kepentingan

seluruh bangsa. Oleh karena itu, adalah kewajiban dan tanggung jawab semua pihak untuk menanganinya. Dalam hubungan ini, perlu ditegaskan bahwa pendidikan politik bagi generasi muda merupakan bagian integral kerangka pendidikan politik nasional dan bagian yang tidak terpisahkan dari pendidikan nasional. Pendidikan politik ini juga merupakan bagian pembangunan nasional dan sebagai salah satu perwujudan usaha untuk menunjang tercapainya stabilitas nasional. 3. MAKSUD DAN TUJUAN Maksud diselenggarakannya pedidikan politik pada dasarnya ialah memberikan pedoman kepada generasi muda Indonesia guna meningkatkan kesadaran kehidupan berbangsa dan bernegara, sejalan dengan arah dan cita-cita bangsa Indonesia. Tujuan pedidikan politik ini ialah menciptakan warga negara Indonesia yang sadar akan kehidupan berbangsa dan bernegara berdasarkan Pancasila dan UUD ’45 sebagai salah satu usaha untuk membangun manusia Indonesia seutuhnya, yang perwujudannya akan tercermin dalam sejumlah ciri watak dan kepribadiannya sebagai berikut :

a. Sadar akan hak dan kewajiban serta tanggung jawabnya terhadap kepentingan bangsa dan negara yang terutama diwujudkan melalui keteladanan. b. Secara sadar taat pada hukum dan Undang-Undang Dasar c. Memiliki disiplin pribadi, sosial dan nasional. d. Berpandangan jauh ke depan serta memiliki tekad perjuangan untuk mencapai keahidupan yang lebih maju, yang didasarkan kepada kemampuan obyektif bangsa. e. Secara sadar mendukung sistem kehidupan nasional secara demokratis. f. Aktif dan kreatif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara khususnya dalam usaha pembangunan nasional. g. Aktif menggalang persatuan dan kesatuan bangsa dengan kesadaran akan keanekaragaman bangsa. h. Sadar akan perlunya pemeliharaan lingkungan hidup dan alam secara selaras, serasi, dan seimbang. i. Mampu melakukan penilaian terhadap gagasan, nilai serta ancaman yang bersumber dari luar Pancasila dan UUD ’45 atas dasar pola pikir atau penalaran logis mengenai Pancasila dan UUD ’45.

4. PERLUNYA PENDIDIKAN POLITIK

Suatu pendidikan politik pada dasarnya berlangsung secara alamiah dalam suatu masyarakat dan lazim dilakukan oleh organisasi sosial politik, keluarga atau pribadi. Pendidikan politik seperti itu sudah tentu akan berkembang secara sendiri-sendiri sebab ia bersumber dari berbagai aspirasi politik yang berbeda, bahkan sangat mungkin saling bertentangan, dan akhirnya akan membahayakan bangsa. Oleh karena itu, diperlukan adanya pendidikan politik yang diusahakan secara sadar dan berencana, bersumber dari aspirasi yang digali dari kepribadian bangsa Indonesia sendiri dan yang telah disepakati secara nasional. Pendidikan politik yang demikian jelas akan menunjang terpeliharanya stabilitas nasional dan memperlancar usaha pencapaian cita-cita bangsa. Pendidikan politik yang dilakukan secara sadar dan berencana ini menjadi lebih penting lagi apabila dikaitkan dengan berbagai peristiwa pada masa lalu, berdasarkan sejarah bangsa Indonesia telah mengalami berbagai pengalaman yang pahit dalam kehidupan bangsa dan negaranya sejak tercapainya kemerdekaan nasional pada tanggal 17 Agustus 1945. Tumbuhnya banyak paham atau aliran serta organisasi dan gerakan politik yang diwarnai oleh beraneka ragamnya orientasi politik di luar Pancasila dan UUD ’45 yang pada waktu itu telah menyebabkan bangsa Indonesia hidup berkotak-kotak baik secara psikis maupun secara fisik. Terjadinya pertentangan politik satu sama lain itu kemudian dalam kenyataannya mengakibatkan terjadinya berbagai kemerosotan nasional. Situasi ini ternyata telah dimanfaatkan oleh berbagai golongan politik tertentu, terutama oleh golongan yang kehendak dan orientasi politiknya secara nyata berada di luar Pancasila dan UUD ‘45yaitu mengetengahkan gerakan yang mempengaruhi masyarakat melalui perjuangan yang ekstrem, bahkan melibatkan kekuatan secarafisik untuk mempengaruhi kekuasaaan yang sah, seperti gerakan teokrasi ekstrem oleh DI/TII, gerakan separatis oleh RMS, komonisme oleh PKI melalui peristiwa Madiun dan G-30S, pemberontakan PRRI Permesta dan berbagai gerakan lainnya di berbagai wilayah Indonesia. Keadaan seperti ini tidak hanya berada dilingkungan masyarakat saja tetapi juga di lingkungan penyelenggara negara, termasuk golongan politik yang berhasil mencapai kesempatan itu yang menggunakan kekuasaan sebagai saluran aspirasi politiknya, misalnya dengan diperkenalkannya sistem pemerintahan liberal kapitalistik melalui kabinet parlementer. Semua itu menciptakan ketidakpastian dalam kehidupan nasional. Akhirnya setelah kelahiran Orde Baru pada tahun 1966, dilakukan berbagai langkah dan tindakan perbaikan, dan dengan kepemimpinan Presiden Suharto kemudian dilakukan gerakan koreksi dan pembaharuan di segala bidang untuk menempatkan kembali Pancasila dan UUD’45 pada kedudukan terhormatnya sebagai pandangan hidup dan dasar negara satusatunya dalam kehidupan bangsa dan negara serta melaksanakan secara murni dan konsekuen. Di bidang politik, Orde Baru telah melakukan pembenahan berupa perombakan sistem politik, termasuk struktur, kultur dan prosesnya. Pembenahan seperti ini terlihat pula secara jelas pada berbagai bidang kehidupan lainnya yang dengan secara berkeselarasan, berkeserasian,dan seimbang telah mengalami perubahan yang mendasar seperti bidang ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan. Bersamaan dengan itu Orde Baru telah memperkenalkan pula pendekatan pembangunan nasional sebagai kebijakan, arah dan strategi untuk mencapai cita-cita bangsa, sekaligus meletakkan dasar yang dilaksanakan secara

berencana, bertahap, berjenjang dan berkelanjutan melalui program Pembangunan Lima Tahun (Pelita) dengan akselerasi 25-30 tahunnya, yang keberhasilannya akan sangat tergantung kepada partispasi seluruh rakyat dengan sikap mental, tekad, semangat, ketaatan dan disiplin masyarakat serta kepercayaan kepada diri sendiri yang mantap. Pembangunan nasional bangsa Indonesia pada dasarnya bersifat terbuka, dan dengan itu unsur dari luar sudah mempengaruhi perkembangan dinamika bangsa Indonesia. Sebaliknya, terbuka kesempatan yang luas bagi bangsa Indonesia, khususnya generasi mudanya, untuk memperoleh informasi, ilmu pengetahuan dan teknologi dari luar. Pengaruh yang positif pasti akan menguntungkan bangsa Indonesaia dan membawanya kearah kemajuan. Namun pengaruh itu memiliki pula aspek negatif yang merugikan bangsa, baik dari segi mental dan pandangan hidup maupun segi sikap dan tingkah laku. Pengaruh dari negara asing, misalnya dapat dirasakan oleh generasi muda Indonesia yang pernah atau sedang berada di luar negeri, terutama di negara-negara yang menganut paham yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD’45 atau di negara-negara tempat bermukimnya unsur separatis atau kelompok anti Negara Kesatuan Indonesia baik yang berasal dari Indonesia maupun dari negara asing dan berusaha mempengaruhi atau melakukan kegiatan yang membahayakan kepentingan nasional. 5. LANDASAN POKOK Landasan pokok yang dipergunakan dalam melaksanakan dan menyelenggarakan pendidikan politik ialah landasan yang pada prinsipnya telah mendasari kehidupan nasional bangsa Indonesia. Namun selain itu secara khusus dalam pendidikan politik ini landasan pokok yang umum itu disertai pula oleh landasan kesejahteraan (jiwa, semangat dan tekat perjuangan) yang baik secara potensial maupun secara nyata memerlukan dasar untuk mewujudkannya terutama yang berkaiatan dengan patriotisme, nasionalisme serta idealisme. Landasan pokok itu ialah sebagai berikut ini : a. Landasan ideoligi : Pancasila : UUD’45

b. Landasan konstitusional

c. Landasan operasional : GBHN d. Landasan historis : - Kebangkitan Nasional 20 Mei 1908 - Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 Proklamasi 17 Agustus 1945

B. PERKEMBANGAN PENDIDIKAN POLITIK DAN SEJARAH NASIONAL INDONESIA

Sejarah Nasional Indonesia merupakan faktor yang sangat penting dalam pendidikan politik dan oleh karena itu ia menjadi salah satu bahan pokoknya. Pentingnya sejarah nasional Indonesia ini beralasan, sebab dengan mempelajari berbagai peristiwa sejarah, dapat dilihat secara jelas bagaimana pendidikan politik pada masa lalu itu berjalan atau dijalankan atau akibat apa yang ditimbulkan oleh bentuk pendidikan politik seperti itu. Dari sejarah pula dapat diketahi peranaan apa yang telah dilakukan oleh generasi muda Indonesia dalam berbagai kurun waktu serta sejauh mana perjuangan yang telah dicapai dalam rangka pengabdiannya kepada kepentingan bangsa dan negara atau kehidupan pribadinya. Contoh dan keteladanan juga dapat diambil dari pengalaman sejarah untuk kemudian ditarik makna atau hakikatnya dan dihayati. Dengan demikian, dari penghayatan sejarah dalam pendidikan politik, generasi muda Indonesia akan tergugah untuk terus meningkatkan peranannya secara lebih baik dari masa ke masa. Perkembangan pendidikan politik itu sendiri sebenarnya akan sangat di pengaruhi oleh pertumbuhan dan dinamika sejarah nasional Indonesia. 1. PENDIDIKAN POLITIK SEBELUM DAN SESUDAH KEMERDEKAAN

Pemasyarakatan nilai politik kepada bengsa Indonesia secara sadar sebenarnya telah dilakukan jauh sebelum masa kemerdekaan, yang dijalankan oleh berbagai organisasi dan gerakan politik, baik di dalam maupun di luar negeri, terutama oleh generasi muda Indonesia guna memperoleh kembali hak politiknya yang dibelenggu oleh mekanisme penjajah bangsa atas bangsa, memperjuangkan peningkatan kesadaran akan hakikat diri sebagai bangsa, memberi nilai terhadap nasib buruk bangsa yang terjajah, yang terwujud dalam kemiskinan dan keterbelakangan di segala bidang kehidupan. Usaha itu kemudian terbentuk secara alamiah menjadi sikap politik menentang penjajah yang ditunjang melalui peningkatan kemampuan berorganisasi dibidang politik.

Lahirnya pergerakan nasional yang memperjuangkan kepentingan sebagi bangsa dianggap oleh masyarakat tumbuh sejak terbentuknya Boedi Oetomo pada tanggl 20 Mei 1908 akan menjadi titik tolak proses pemasyarakatan nilai politik di Indonesia, yang kemudian dilanjutkan dan dikembangkan oleh berbagai organisasi dan gerakan politik lainnya, baik yang secara terang-terangan bersifat politis maupun melalui bidang ekonomi, sosial, budaya dan agama seperti Syarikat Islam, Partai Nasional Indonesia, Perhimpunan Indonesia, Taman Siswa, Muhammadiyah dan Kepanduan Kebangsaan dalam rangka perjuangan menentang penjajahan pemerintah kolonial Belanda atau bangsa Indonesia.

Organisasi dan gerakan politik itu dengan cara dan gayanya masing-masing secara sadar telah berusaha menenamkan rasa kesadaran kebangsaan, membinanya dan kemudian meningkatkan kadarnya dengan membangkitkan, menggelorakan dan

menghidupkan semangat nasionalisme dan idealisme yang dilatarbelakangi oleh patriotisme perjuangan yang etis. Usaha ini ternyata telah mencapai sasaran dengan dikumandangkannya Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928, yang merupakan perwujudnya semakin bersatunya dengan bangsa Indonesia dalam perjuangan nasionalnya. Di sini nilai persatuan dan cita-cita untuk merdeka menjadi lebih menonjol dalam arti bahwa nilai politik yang telah dimasyarakatkan sebelumnya semakin berarti dan mendidik masyrakat akan haknya.

Pemasyarakatan nilai politik ini berjalan terus pada masa pendududkan militer Jepang yang menganut paham fasisme itu terhadap Indonesia, sekitar tahun 1942, yang telah menggantikan kekuasaan pemerintah kolonial Belanda, dengan tetap melaksanakan politik penjajahan terhadap bangsa Indonesia. Pemasyarakatan nilai politik ini bahkan semakin meningkatkan lagi selama Perang Dunia II. Sebagai akibat kekalahan Jepang dari Sekutu, terjadi kekosongan pemerintahan penjajahan di Indonesia yang telah memberikan peluang bagi bangsa Indonesia untuk mewujudkan tekadnya guna mencapai kemerdekaan nasional seperti dapat dilihat dari perjuangan fisik yang mengawali prosesnya.

Pada akhirnya pemasyarakatan nilai politik, yang tidak lain adalah juga bentuk pendidikan politik tertentu pada masa sebelum kemerdekaan itu, yang telah berlangsung selama puluhan tahun, membuahkan hasil yang sangat berharga bagi bangsa Indonesia, yaitu dicapainya kemerdekaan nasional yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 meskipun pencapaiannya memerlukan pengorbanan yang besar. Kebesaran bangsa Indonesia tidak hanya keberhasilan untuk mencapai kemerdekaannya tetapi juga karena bangsa Indonesia melalui para pemimpin perjuangan saat itu telah sanggup melihat jauh kedepan. Bersamaan dengan tercapainya kemerdekaan itu, bangsa Indonesia telah bertekad dan siap untuk menyelenggarakan suatu pemerintah nasional dalam wadah negara kesatuan yang berbentuk republik tanpa ikatan apapun dari negara lain, bahkan berhasil mengusahakan kesepakatan nasional dalam menetapkan pandangan hidup dan dasar yang dirumuskan sebagai kehidupan semangat nasionalisme dan idealisme yang dilatarbelakangi oleh patriotisme Pancasila dan UUD’45. Hal ini membuktikan betapa tingginya kesadaran politik bangsa Indonesia saat itu, yang selain meletakkan dasar atau sendi negara, juga telah memperhitungkan secara matang jangkauan yang hendak dicapai pada masa datang. Kedewasaan politik ini pada hakikatnya adalah hasil pemasyarakatan nilai politik yang cukup lama, yang sudah tentu berdasarkan yang ada tentang itu. Dinamika dan perkembangannya sangat ditentukan oleh kualitas kesadaran berbangsa Indonesia akan hak, kewajiban dan tanggung jawabnya terhadap kepentingan bangsa dan negara serta kemampuan dan ketangguhan dalam memberikan tanggapan terhadap setiap tantangan yang timbul pada setiap zaman dan kurun waktu tertentu.

Pemasyarakatan nilai politik pada masa sesudah kemerdekaan, sesuai dengan sifat alamiahnya, berlangsung dan berkembang terus dengan tantangan perjuangan yang tidak jauh berbeda dalam arti hanya melanjutkan usaha menyadarkan masyarakat akan kepentingan politik bangsa dan disertai oleh kedudukan yang baru sebagai warga negara. Pemasyarakatan nilai politik ini lebih diarahkan guna mengalihkan semangat perjuangan kemerdekaan kepada usaha pengisian kemerdekaan dan kemajuana kehidupan nasional berdasarkan Pancasila dan UUD’45. Namun perkembangan yang timbul kemudian menunjukan bahwa pemasyarakat nilai politik itu tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan. Timbulnya berbagai konflik politik dalam masyarakat dan kekisruhan penggunaan nilai Pancasila dan UUD’45 di bidang pemerintahan dapat dianggap sebagai suatu perkembangan kehidupan politik yang salah dan menyimpang dari yang dikehendaki oleh cita-cita Proklamasi. Timbul dan berdirinya beraneka ragam golongan politik berperan besar dalam terjadinya konflik politik masa itu dan memunculkan ekstremitas tertentu dalam gerakannya, yang terkadang memanfaatkan kekuatan fisiknya untuk memenangkan konflik itu serta berusaha menambah masa pendukungnya. Sestem pemerintah liberal parlementer ketika itu telah memberikan kesempatan yang luas kepada setiap golongan politik untuk melakukan kaderisasi sampai ke desa sampai seluruh pelosok. Pemasyarakatan nilai politik yang berjalan pada waktu itu lebih banyak ditujukan kepada usaha memperkuat keyakinan dan orientasi politik golongan politik yang ada, yang telah mengakibatkan terjadinya fanatisme sektorial, oportunisme dan aliran politik yang sangat ekstrim dan agresif, terutama komunisme dan keagamaan tertentu yang dikenal sebagai ekstrim kiri dan ekstrim kanan. Barangkali tidak ada salahnya jikalau disebut bahwa pencerminan politik semacam itu sampai sekarang masih dapat dirasakan, yang terbukti dengan adanya gerakan subversi, infiltrasi serta penetrasi yang dilatarbelakangi oleh pemikiran demikian, baik dari dalam maupun dari luar negeri, yang pada hakikatnya sangat dipengatuhi oleh kebiasaan untuk menentang penguasa semasa penjajahan pada masa lampau, yang bercampur dengan konflik laten yang diwarnai oleh sifat kedaerahan atau agama dan aliran politik tertentu, yang kerapkali lebih kuat pengaruhnya apabila dibandingkan dengan kesadaran akan persatuan dan kesatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Akhirnya konflik politik itu mencapai titik ledaknya dengan terjadinya G-30-S/PKI tahun 1965 yang gagal itu.

2. PENDIDIKAN POLITIK DI MASA ORDE BARU

Pendidikan politik yang baru dimulai waktu Orde Baru mengambil langkah yang sifatnya aktif dan korektif terhadap segala bentuk kesalahan dan penyimpangan yang telah dilakuklan pada masa lalu dalam kehidupan politik disamping bidang lainnya.

Berbagai usaha penataan kembali keseluruhan aspek kehidupan, baik yang menyangkut masyarakat penyelenggara negara, kebudayaan, dan struktur maupun yang menyangkut sistem dan proses di bidang politik, telah dilakukan dan diletakkan pada kemurnian pelaksanaan Pancasila dan UUD ’45. Usaha itu berwujud, antara lain, pembubaran organisasi golongan politik komunis (PKI) dan larangan penyebaran ajarannya dalam bentuk apapun, menyiapkan sarana demokrasi melalui pemilihan umum, penyusunan rencana pembangunan secara berkala, dan penyederhanaan organisasi dan orientasi politik melalui peleburan partai politik yang ada. Selain itu, Orde Baru telah pula melakukan perintisan ketertiban hukum dan konstitusi dengan menyelenggarakan sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat guna menetapkan kebijakan nasional dan menjabarkannya dalam berbagai peraturan perundang-undangan.

Usaha lain yang tidak kalah pentingnya sebagai salah satu dari rangkaian penataan kehidupan politik ialah penyelenggaraan pendidikan politik melalui Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P-4) guna meningkatkan kesadaran politik bangsa Indonesia dalam membentuk pribadi yang aktif, positif, dan kreatif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya setelah diperkenalkannya usaha pembangunan nasional di segala bidang kehidupan. Dengan demikian, pendidikan politik itu adalah sarana pembangunan politik bangsa. Manusia Indonesia dijadikan subyek politik guna menunjang kemajuan, kesetabilan, dan dinamika pertumbuhan bangsa. Pendidikan politik yang dilakukan sifatnya pertama-tama adalah etis, dalam arti menanamkan nilai Pancasila dan UUD ’45 ke dalam jiwa dan mental setiap manusia Indonesia, yang menyentuh hati nurani, dan kemudian menumbuhkan semangat dan tekad yang terwujud dalam sikap, tingkah laku, perbuatan, ungkapan, karya, dan perjuangan politiknya. Di sini pemasyarakatan nilai politik semakin teratur dan terarah secara terpadu dan efektif, dan diselenggarakan melalui usaha sadar dan berencana.

Jelaslah bahwa perjuangan politik menuju kepada cita-cita politik bangsa berdasarkan Pancasila dan UUD’45 dengan pendidikan politik ini akan semakin mendekati kenyataan, budaya politik, struktur dan prosedur sistem politik yang dikehendaki oleh bangsa Indonesia tidak akan begitu saja terjerumus, terseret, dan dinodai oleh ideologi lain.

Salah satu hal yang juga penting ialah bahwa pada hakikatnya manusia Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD ’45 merupakan manusia Pancasila yang mempunyai sifat religius, yang tidak saja utuh dalam kehidupan dunianya tetapi juga memiliki persiapan untuk mencapai kebahagiaan di akhirat. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegaranya ia tidak sekali-kali tidak meninggalkan kewajibannya terhadap hidup keagamaan, yang diliputi oleh kesaadaran akan dirinya sebagai mahluk Tuhan Yang

Maha Esa, tetapi tidak menjadikan ekstrem, tidak juga sekuler, melainkan selalu berada dalam keluwesan, keselarasan, dan keseimbangan.

Dengan demikian, lengkaplah manusia Indonesia sebagai manusia Pancasila jikalau ia benar-benar melaksanakan nilai Pancasila dan UUD ’45 dalam kehidupan berbangsa dan bernegaranya, dan tidak boleh tidak hal itu menjadi kewajiban seluruh bangsa Indonesia, agar cita-cita masyarakat adil makmur dapat lekas tercapai dan pembangunan nasional sebagai kebijakan dan arah pencapaiannya akan berjalan sebagaimana yang diharapkan tanpa dihadapkan kepada kendala atau tantangan yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

Kesemuanya itu akan sangat bergantung kepada manusianya sendiri sebagai titik pusat pelestarian Pancasila dan UUD ’45 dan pembangunan nasional yang utuh baik sebagai bangsa maupun sebagai pribadi serta kepada semangat para penyelenggara negara dalam mengetengahkan konsepsi strateginya guna pencapaian tujuan itu.

C.

FAKTOR YANG PERLU DIPERHATIKAN

Pendidikan politik dilakukan sebagai usaha sadar, keberhasilannya tidaklah didasarkan hanya kepada perhitungan jumlah manusia Indonesia yang telah mampu dicapai program itu. Dalam hubungan ini, perlu diperhatikan berbagai hal yang saling berkaitan dalam pelaksanaan pendidikan politik ini secara nyata. Jumlah manusia yang berhasil dicapai hanyalah merupakan salah satu ukuran tentang kemanfaatan pendidikan politik yang dilakukan.

Meskipun faktor manusia merupakan hal yang sangat penting, ternyata diperlukan pula faktor lain yang akan menunjang, yang akan lebih menjamin pencapaian sasaran yang hendak dituju oleh pendidikan politik, yaitu bahwa kondisi obyektif memegang peranan yang besar dalam pelaksanaan program ini. Apabila pendidikan politik dilakukan tanpa memperhitungkan segi obyektivitas suatu kondisi, baik mengenai manusia maupun mengenai hal lain, maka hasilnya tidak akan memberikan kegunaan yang banyak dalam kehidupan bangsa dan negara, bahkan mungkin justru akan menimbulkan ketidakpastian sebab jaminan untuk dapat diterapkan kepada kenyataan kehidupan sesuai dengan lingkungan dan kondisi yang mempengaruhi tidak ada sama sekali. Disamping itu, faktor penunjang lainnya yang juga memerlukan pemikiran ialah pentingnya diciptakan iklim tertentu di dalam kehidupan politik nasional yang sehat dan dinamis guna membantu pencapaian tujuan pendidikan politik ini secara tertib, yang menyangkut masyarakat

maupun lembaganya, yang pada hakikatnya berintikan kebutuhan akan keterbukaan dalam pembinaan dan pengembangannya. Dengan kata lain, hasil pendidikan politik ini harus dapat tertampung dalam dinamika kehidupan politik bangsa. Inilah pula sebenarnya yang dapat dinyatakan sebagai tujuan pendidikan politik. Partisipasi yang semakin besar dari masyarakat sudah tentu akan mempengaruhi kehidupan nasional yang berkembang serta mengajak bangsa untuk menyesuaikan diri ke arah kemajuan. Dalam hubungan dengan sistem penyelenggaraan negara, diperlukan berbagai usaha yang sepatutnya diperhitungkan guna menunjang kehidupan berbangsa dan bernegara berdasarkan Pancasila dan UUD ’45.

1. FAKTOR PENUNJANG

Faktor penunjang ini terutama berasal dari kondisi obyektif bangsa Indonesia, yang dalam pelaksanaan pendidikan politik ini patut memperoleh perhatian, Adapun faktor itu adalah sebagai berikut : a. Keanekaragaman bangsa Indonesia, baik etnis, budaya maupun agama, disamping kenyataan lain, yaitu kondisi geografis wilayah Indonesia yang terdiri dari ribuan palau yang besar dan kecil. Dari kenyataan ini dapat dinyatakan bahwa sebenarnya bangsa Indonesia ini mempunyai potensi untuk tidak bersatu, jikalau keanakaragaman bangsa dijadikan dasar untuk itu. Namun, jikalau keanekaragaman itu dilandasi oleh semangat dan tekad bersatu dengan mengusahakan terbinanya persatuan dan kesatuan bangsa berdasarkan azas Bhineka Tunggal Ika, maka akan menjadi faktor dinamis yang mendorong ke arah kemajuan bangsa dan memperkuat ketahanan nasional. b. Tingkat ilmu pengetahuan dan tekhnologi serta taraf ekonomi bangsa yang masih berada dalam taraf perkembangan apabila dibandingkan dengan negara maju lain. Keadaan seperti ini mengharuskan bangsa Indonesia memiliki keterbukaan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi dan berusaha mengembangkan potensi ekonominya untuk kesejahteraan bangsa melalui pertumbuhan ekonomi yang dinamis. c. Meluasnya jaringan perhubungan dunia dewasa ini, yang mengharuskan bangsa Indonesia selalu berada di dalam segala bidang perkembangan dunia. Hal ini menjadi lebih penting lagi karena letak wilayah Indonesia yang mempunyai aspek geopolitik dan geostrategi dalam hubungan antar bangsa. Keadaan ini mengharuskan bangsa Indonesia dapat dan mampu memberikan tanggapan secara tangguh dan tepat terhadap setiap tantangan yang datang dari luar di segala bidang kehidupan nasional. Di samping itu, bangsa Indonesia harus mampu pula memanfaatkan interaksi internasional untuk kepentingan perkembangan bangsa dan berusaha mempertahankan kedudukannya sebagai bangsa yang sejajar dan sederajad dengan bangsa lain dengan lebih memantapkan ketahanan nasional. Bangsa Indonesia juga harus berperan di

dalam memelihara ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian dan keadilan sosial. Jelaslah, dengan demikian, bahwa pendidikan politik yang memperhatikan kondisi obyektif bangsa akan memberikan manfaat yang tidak sedikit dalam membangun kehidupan bangsa Indonesia yang lebih baik di segala bidang kehidupan nasional baik sebagai bangsa maupun dalam hubungan antar bangsa. Ia juga menunjang terpeliharanya kestabilan nasional dan laju pembangunan yang sedang dilaksanakan oleh bangsa Indonesia. Di samping kondisi obyektif bangsa Indonesia, maka guna menunjang keberhasilan pendidikan politik bagi generasi muda perlu diperhatikan hal yang berkaitan dengan kelanjutan perkembangan politik ini, yaitu bahwa pendidikan politik, yang pada hakikatnya juga mencerminkan usaha pembangunan politik, akan menciptakan kehidupan politik yang makin maju. Kemajuan pendidikan politik dapat dilihat dari dua segi, yaitu segi peningkatan kesadaran politik masyarakat, khususnya generasi muda, dan segi peningkatan partipasi politik, yang merupakan hasil kesadaran politik yang tinggi dari masyarakat itu. Partisipasi poltik yang meningkat mempunyai aspek yang positif berupa makin meningkatnya dukungan pada penyelenggara pemerintahan. Namun, ia juga menimbulkan dorongan tuntutan terhadap penyelenggaraan kekuasaan negara. Jikalau dukungan politik lebih banyak daripada tuntutan yang ada, maka penyelenggaraan ini akan semakin mantap. Selanjutnya, peningkatan partisipasi politik, baik dalam jumlah maupun dalam bentuknya yang mendukung jalannya kehidupan dan pembangunan negara, dapat menjadi tolak ukur keberhasilan pendidikan politik ini. Beberapa ukuran dapat disebut, antara lain berupa keikutsertaan dalam Pemilihan Umum secara sadar, komunikasi dengan pejabat, kunjungan ke DPR, keikutsertaan dalam organisasi, kegotong-royongan. Partisipasi politik yang demikian perlu mendapatkan perlindungan hukum berupa penegasan tentang kepastian penegaan hukum yang berlaku dan juga wadah untuk menyalurkan kehendak politik, karena jika tidak, dapat terjadi keresahan dalam masyarakat sebagai akibat tidak tertampungnya partisipasi politik ini. 2. FAKTOR YANG PERLU DIKEMBANGKAN Untuk menunjang keberhasilan program politik ini, perlu dikembangkan secara terusmanerus faktor-faktor berikut ini : a. Sikap keterbukaan dalam politik antara pemerintah dan masyarakat. b. Pengembangan lembaga politik, dan pemerintahan. c. Institusionalisasi lembaga politik dan pemerintahan dalam rangka menampung dan mewujudkan kehendak masyarakat. d. Keterbukaan masyarakat terhadap gerak sosial ekonomi vertikal dan horisontal.

e. Keteladanan para pemuka masyarakat dan kepemimpinan nasional. f. Perasaan ikut memiliki program pendidikan ini pada generasi muda. Jikalau usaha-usaha itu dipenuhi, maka jelas ia akan merupakan faktor penunjang penting bagi keberhasilan program pendidikan politik ini. Pendidikan politik di Indonesia hendaknya dilakukan dengan memperhatikan kondisi sosial politik masyarakat, yaitu masih adanya aspirasi kedaerahan yang menjurus kepada separatisme, adanya aspirasi untuk menegakkan dasar yang lain daripada Pancasila, masih lebarnya jurang antara minoritas kecil yang kaya dan mayoritas besar yang miskin, dan adanya perbedaan kota dan desa. D. BAHAN PENDIDIKAN POLITIK Bahan pendidikan politik mencakup pembentukan watak dan kepribadian serta penanaman kesadaran dan pengetahuan tentang nilai, sikap, dan tingkah laku, ketrampilan, dan motivasi yang hendak diproses alihkan sesuai dengan Pancasila dan UUD ’45 untuk kemudian dibina dan dikembangkan. Oleh karena itu, pendidikan politik juga merupakan penjabaran P-4. Bahan pendidikan politik bersumber dari dan berdasarkan pandangan hidup dan dasar negara Pancasila dan UUD ’45 serta makna atau hikmah yang dapat dipetik dari perjuangan bangsa Indonesia. Di samping itu diperlukan juga pengetahuan, sikap, dan ketrampilan yang akan menambah kemampuan untuk berkembang dalam dunia yang semakin kompleks.

1. BAHAN Dalam pendidikan politik meliputi hal-hal sebagai berikut : A. Penanaman Kesadaran Berideologi, Berbangsa dan Bernegara. Penghayatan dan pengamalan Pancasila dan UUD’45 : (1) Pandangan hidup bangsa serta manusia sebagai mahkluk Tuhan Yang Maha Esa, sebagai mahkluk pribadi sekaligus mahkluk sosial (2) Pancasila sebagai dasar Negara, termasuk demokrasi Pancasila (3) Paham keterpaduan, yang meliputi konsep negara persatuan Wawasan Nusantara, ketahanan nasional dan Hankamrata (4) Pengamalan terhadap ideologi-ideologi lain di luar Pancasila tidak terperosok ke dalam kekeliruan atau penyimpangan tanpa disadari B. Nilai perjuangan bangsa, patriotisme, kesediaaan berkorban, kepahlawanan dan semangat tidak kenal menyerah C. Pengetahuan tentang sejarah pergerakan nasional :

(1) Masa pra- Kebangkitan Nasional (2) Masa Kebangkitan Nasional : a. Masa Penjajahan Belanda b. Masa pendudukan Jepang (3) Masa Kemerdekaan Nasional : a. Masa sekitar Proklamasi b. Masa Demokrasi Liberal c. Masa Demokrasi Terpimpin d. Masa Demokrasi Pancasila D. Pengetahuan tentang struktur pemerintah, politik serta fungsi setiap unit, dan pengenalan pemimpin masyarakat. E. Adat istiadat dan tradisi luhur serta kegiatan yang memepengaruhi kehidupan politik, antara lain kebiasaan bermusyawarah dan mufakat. F. Pengetahuan tentang politik luar negeri Indonesia dan wawasan yang saling mempengaruhi G. Pengembangan kemampuan politik dan kemampuan pribadi untuk mewujudkan kebutuhan dan keinginan ikut serta dalam politik.

APAKAH POLITIK ITU? `Ilmuwan politik tidak mempunyai cukup ukuran yang universal seperti emas dan uang. Tidak ada tingkat bunga bagi kekuasaan, dan ia tidak dapat disimpan dalam bank untuk ditanam kembali. Ilmu politik mengambil teori-teori dari disiplin ilmu yang lain untuk menunjukkan bagaimana kekuasaan dibentuk dan digunakan. Ilmu politik memanfaatkan teori ekonomi. Ilmu politik memperhatikan ilmu sejarah. Ia memakai psikologi untuk memahami mengapa orang percaya dan bertindak sebagaimana yang dilakukannya. Tetapi ilmu politik tetap memelihara ciri-ciri dan azas-azasnya sendiri sebagai ilmu. Inti politik adalah “kebijakan” yaitu suatu usaha manusia untuk tidak hanya menyesuaikan diri secara pasif terhadap perubahan-perubahan dalam lingkungannya, melainkan secari aktif mengadakan, menghalangi, memperlambat, mempercepat, mengendalikan atau merubah arah dalam perubahan itu. (A. Hoogerwerf, 1985, halaman 7) Masalah-masalah yang menantang pemikiran pada dewasa ini antara lain adalah pertumbuhan penduduk, tansformasi masyarakat industri, meningkatkan ketegangan antara bangsa-bangsa miskin dan kaya, meluasnya masalah-masalah yang semula terbatas pada

negara tertentu, meruncingnya perubahan-perubahan kelas, urbanisasi secara besar-besaran, teknologi informasi baru, penyebarluasan persenjataan nuklir dan lain sebagainya. Dilemadilema ini tidak hanya menguji kemampuan berpikir rasional saja, tetapi juga menuntut agar pemikiran semacam itu menjadi lebih tanggap dan lebih seksama dimasa sebelumnya. Dan ilmu politik meramalkan akibat-akibat dari perubahan itu. Terlalu banyaknya hubungan dalam hubungan politik, ekonomi, sosial dan budaya antara individu-individu dan bangsa-bangsa mengakibatkan keruwetan dalam semua hubungan itu dan di sana sini telah menggoyahkan azas dan sendi yang mendasari kehidupan manusia. Di sana birokrasi tumbuh, demokrasi menjadi merosot keinginan untuk menciptakan bentuk-bentuk partisipasi, koordinasi dan kebebasan mengalami kegagalan. Semakin banyak orang marah, kecewa dan merasa dipermainkan. Para ilmuwan politik terdesak karena terlambat menerangkan apa yang telah terjadi dan hanya sedikit harapan untuk masa depan. Tetapi semua ini tidak berarti bahwa kita telah kehilangan kepercayaan akan hubungan antara ilmu pengetahuan dan politik. Dasar pemikiran ilmu politik adalah tujuan dan prioritas moral secara timbal balik seta kemampuan manusia untuk memahami masalah-masalah bersama sambil bergabung dan bekerjasama dalam sistem politik yang saling memperkuat. (David E. Aptar, 1985, halaman 3-5). A. ARTI POLITIK Dilihat dari sudut arti istilahnya kata “politik” berasal dari bahasan Yunani yaitu “polis” yang artinya kota atau negara kota. Kemudian kata polis itu berkembang menjadi kata “polites” yang berarti warga negara. Dari kata polites berkembang lagi menjadi “politikos” yang berarti kewarganegaraan, akhirnya kata politikes itu menjadi “politica” yang berarti masalah-masalah tentang kenegaraan. Dari kata politica itulah kita mengenal istilah politik dalam bahasa Indonesia seperti sekarang ini.

Berdasarkan penelitian di negeri Belanda perkataan politik diasosiasikan dengan pemerintah 26%, partai-partai 62%, tidak ada pendapat atau jawaban 12% (A. Hoogewarf, 1985, halaman 41).

Setelah perang dunia II terjadi pertentangan pendekatan dan tinjauan terutama di Amerika, yaitu yang disebut “traditonal Approach” (pendekatan tradisional) dan “behavioral approach” (pendekatan tingkah laku). Pendekatan tradisional berorientasi pada normatif, sedangkan pendekatan tingkah laku secara empiris. Tokoh-tokoh pendekatan tingkah laku politik ini yang terkenal antara lain Gabriel A. Almond, David Esten, Karl W. Deutech, David Truman, Robert Dahl dan sebagainya.

Gerakan tindakan tingkah laku menghendakaki agar ilmu politik menggunakan caracara baru dalam meneliti gejala-gejala atau peristiwa-peristiwa politik secara lebih sistematis, bersandarkan pengalaman-pengalaman empiris dan dengan menggunakan kerangka teoritis yang terinci dan ketat.

Pokok-pokok pikiran kaum behavioralis adalah sebagai berikut : (1)Tingkah laku politik memperlihatkan keteraturan yang dapat dirumuskan dalam generalisasi-generalisasi. (2)Generalisasi-ganeralisasi itu pada dasarnya harus dapat dibuktikan kebenarannya dengan menunjuk pada tingkah laku yang relevan. (3)Untuk mengumpulkan dan menafsirkan data diperlukan tekhnik penelitian yang cermat. (4)Untuk mencapai kecermatan dalam penelitian diperlukan pengukuran dan kuantifikasi. (5)Dalam membuat analisa politik nilai-nilai pribadi si peneliti tidak berperan. (6)Penelitian politik bersifat terbuka terhadap konsep, teori dan ilmu sosial lainnya, misalnya sistem politik, fungsi, peranan, struktur, budaya politik dan sosialisasi politik disamping istilah lama seperti negara, kekuasaan, pendapat umum dan pendidikan kewarganegaraan dan sebagainya.

Pendekatan tingkah laku mempunyai beberapa keuntungan, antara lain memberi kesempatan untuk mempelajari kegiatan dan susunan politik di beberapa negara yang berbeda sejarah perkembangannya, latar belakang kebudayaan dan ideologinya, mekanisme politiknya, dan sebagainya. (Miriam Budiardjo, 1980, halaman 5-6).

Tokoh-tokth tradisionalis antara lain Leo Strauss, Erio Voegelin, John Hallowel, dan Russel Kirk. Perbedaan kaum tradisionalis dan kaum behavioralis adalah : Para tradisionalis menekankan (1) nilai-nilai dan norma, (2) filsafat, (3) ilmu terapan, (4) historis-yuridis, dan (5) tidak kuantitatif, (6) menguraikan (analistis). Para behavioralis menekankan (1) fakta, (2) penilitian empiris, (3) ilmu murni, (4) sosiologis-psikologis, dan (5) kuantitatif, (6) menjelaskan (deskriptif).

Dalam ilmu pengetahuan, politik mempunyai pengertian yang berbeda-beda seperti masalah-masalah sosial lainnya. Hal itu disebabkan karena perbedaan sudut pandangan dari para ahli ilmu politik. Secara umum pendefinisian politik sebagai ilmu pengetahuan

digolongkan ke dalam tiga lingkungan pendekatan, ialah secara institusional, secara fungsional, dan secara hakikat.

(a)Secara institusional : Bahwa politik sebagai ilmu yang menyelidiki lembaga-lembaga (politik) seperti negara, pemerintahan, dewan perwakilan rakyat, dan lain-lain. (b)Secara fungsional : Pendekatan ini timbul sebagai reaksi terhadap pendefinisian secara institusional yang dianggapnya terlalu menitik beratkan pada struktur formal lembaga-lembaga politik dengan tinjauannya yang terlalu dogmatis daripada kenyataan sebenarnya secara sosiopolitis. Secara fungsional artinya bahwa lembaga-lembaga politik ditinjau sebagai sesuatu yang dinamis yang tak luput dari faktor-faktor non-yuridis dan kekuatan nyata, seperti kelompok penekan, pendapat umum dan lain-lain. (c)Secara hakikat politik : Secara hakikat politik adalah kekuasaan (power). Politik adalah perjuangan untuk meperoleh kekuasaan, sehingga dapat dikatakan sebagai suatu tekhnik atau cara menjalankan kekuasaan yang meliputi masalah-masalah melaksanakan, kontrol dan pembentukan serta penggunaan kekuasaan.

Mariam Budiarjo melihat politik sebagai macam-macam kegiatan dalam suatu siatem atau negara yang menyangkut proses menentukan tujuan-tujuan dari sistem dan cara-cara mencapainya. Proses menentukan atau pengambilan keputusan mengenai tujuan sistem politik menyangkut pemilihan beberapa alternatif dan penyusunan beberapa skala prioritas dari tujuan yang dipilihnya itu. (Miriam Budiarjo, 1977, hal 8).

Politik selalu menyangkut tujuan-tujuan dari seluruh masyarakat, dan bukan tujuan pribadi seseorang. Politik juga menyangkut kegiatan berbagai kelompok termasuk partai poltik dan kegiatan orang-orang untuk melaksanakan tujuan-tujuan itu perlu ditentukan kebijaksanaan-kebijaksanaan umum yang menyangkut pengaturan dan pembagian atau alokasi sumber-sumber yang ada. Untuk melaksanakan kebijaksanaan perlu dimiliki kekuasaan dan kewenangan untuk membina kerja sama atau untuk menyelesaikan konflik yang mungkin timbul dalam masalah itu. Cara penyelesaian itu bisa bersifat persuasi atau bersifat paksaan. Kalau tanpa unsur paksaan kebijaksanaan itu bisa hanya merupakan keinginan belaka.

Pengertian tentang politik di samping adanya titik-titik persamaan sering kali menunjukkan adanya perbedaan-perbedaan. Perbedaan-perbedaan itu antara lain disebabkan adanya kecenderungan para sarjana politik hanya meninjaunya dari satu segi atau aspek politik saja. Kemudian satu aspek atau unsur itu diperlakukan sebagai konsep pokok yang dipakai untuk meneropong unsur-unsur yang lain.

Dapat disimpulkan bahwa konsep pokok yang dijadikan cakupan dari sekian banyak inti definisi tentang politik adalah : negara, kekuasaan, pengambilan keputusan, kebijaksanaan, pembagian atau alokasi, konflik dan kerja sama. (1)Negara : Negara adalah suatu organisasi dalam suatu wilayah yang mempunyai kekuasaan tertinggi yang sah dan ditaati oleh rakyatnya. Sarjana-sarjana yang menekankan negara sebagai inti politik memusatkan perhatiannya pada lembaga-lembaga negara dan bentuk formalnya. Tinjauan atau pendekatan ini lazimnya disebut pendekatan institusional, antara lain : 1.1 Frank J. Goodnow (1904) : Politik membahas organisasi-organisasi yang dikenal sebagai negara, yaitu tentang menyatakan keinginan, isi keinginan dan pelaksanaan keinginan negara. 1.2 Barents (1952) : Ilmu politik adalah ilmu yang mempelajari kehidupan negara yang merupakan bagian dari kehidupan masyarakat, yaitu dalam melakukan tugas-tugasnya. 1.3 Roger F. Soltau (1961) : Ilmu politik mempelajari negara, tujuan-tujuan negara, dan lembaga-lembaga yang melaksanakan tujuan-tujuan itu, hubungan negara dengan warga negara serta dengan negara-negara lain.

(2)Kekuasaan : Kekuasaan adalah kemampuan seseorang atau suatu kelompok untuk mempengaruhi kelompok lain sesuai dengan keinginan dari pelaku, pendekatan ini lebih dinamis dibanding dengan pendekatan yang bersifat institusional, mereka antara lain adalah : 2.1 Harold D. Laswel dan A. Kaplan (1960) :

Ilmu politik adalah studi tentang pembentukan dan pembagian kekuasaan. 2.2 W.A Robson (1954) :

Ilmu politik mempelajari kekuasaan dalam masyarakat, yaitu sifat hakiki, dasar, proses, ruang lingkup dan hasil perjuangan untuk mencapai atau memperhatikan kekuasaan, melaksanakan kekuasaan atau menentang pelaksanaan kekuasaan itu. 2.3 Ossip K. Flechteim (1952) :

Ilmu politik adalah ilmu sosial yang khusus mempelajari sifat dan tujuan dari negara sebagai organisasi kekuasaan.

Para sarjana yang melihat kekuasaan sebagai inti dari politik beranggapan bahwa politik adalah semua kegiatan yang menyangkut masalah memperebutkan dan mempertahankan kekuasaan .

(3)Pengambilan keputusan: Keputusan adalah membuat pilihan di antara beberapa alternatif pengambilan keputusan sebagai konsep politik menyangkut keputusan-keputusan yang diambil secara kolektif dan mengikat seluruh rakyat. Jadi keputusan itu dapat berupa kebijaksanaan-kebijaksanaan dan tujuan masyarakat. Pengambilan keputusan itu meliputi rangkaian proses yang terjadi sampai keputusan itu tercapai. 3.1 Yoyce Micheel (1969) : Politik adalah pengambilan keputusan kolektif atau pembuatan kebijaksanaan umum untuk masyarakat seluruhnya. 3.2 Karl W. Deutech (1970) : Politik adalah pengambilan keputusan melalui sarana umum. Keputusan itu mengenai tindakan umum, yaitu mengenai apa yang akan dilakukan dan siapa mendapat apa.

(4)Kebijaksanaan : Kebijaksanaan adalah suatu kumpulan keputusan yang diambil oleh seorang pelaku atau Kelompok politik dalam usaha memilih tujuan-tujuan cara-cara untuk mencapai tujuan itu.

4.1 Hoogerwerf (1972) : Obyek ilmu politik adalah kebijaksanaan pemerintah, proses terbentuknya serta akibat-akibatnya. 4.2 David Easten (1971) : Ilmu politik adalah studi mengenai terbentuknya kebijaksanaan umum.

(5)Pembagian atau alokasi : Pembagian/alokasi adalah pembagian dan penjatahan dari nilai-nilai dalam masyarakat secara mengikat. Pembagian ini sering tidak merata sehingga menimbulkan konflik. 5.1 Haroll D. Laswell (1958) :

Politik adalah masalah siapa mendapat apa, kapan dan bagaimana. 5.2 David Easten (1958) :

Sistem politik adalah keseluruhan interaksi yang mengatur pembagian nilai-nilai secara otoritatif oleh yang berkuasa untuk dan atas nama masyarakat (Miriam Budiardjo, 1980, halaman 9-15)

(6)Konflik dan kerja sama : Carl Sehmitt (1983) : Politik adalah perbedaan ciri, perbedaan sumber dari tindakan serta tema-tema dari perbedaan antara kawan dan lawan 6.1 Gerhard Lehmbruch (1967) : Politik adalah perbuatan kemasyarakatan yaitu perbuatan yang diarahkan pada kelakuan orang lain yang bertujuanuntuk mengatur secara mengikat konflikkonflik kemasyarakatan mengenai nilai-nilai. 6.2 Bertrand de Joevenel (1955) : Kegiatan politik praktis adalah menjadikan, memperkuat dan mempertahankan bentuk-bentuk kerjasama manusiawi. 6.3 Vernon van Dyke (1966) :

Politik terdiri dari pertarungan para pelaku yang mempunyai keinginan-keinginan yang saling bertentangan dalam masyarakat.

Van Dale menyebut arti dari kata benda politik sebagai berikut : (1)Keseluruhan azas dan peraturan-peraturan menurut satu negara atau daerah (2)Tindak tanduk atau garis kelakuan dari suatu pemerintahan (3)Cara bertindak, berlaku, taktik : a. Bersifat ketatanegaraan (pemerintah, kebijakan dan organisasi) b. Banyak pertimbangan Deutsch menyebut politik seni mengemudikan suatu masyarakat. Sebab ia merupakan suatu usaha untuk mengatur secara aktif perkembangan suatu masyarakat untuk memberi suatu masa depan. Dalam setiap masyarakat masalah kebijakan, kekuasaan dan konflik berkaitan dengan pembagian. Pembagian yang tidak merata dari kekuasaan dan barang-barang lain akan menimbulkan konflik. Oleh karena itu perlu ditempuh suatu kebijaksanaan sebagai jalan pemecahan. Demikian seterusnya. (A. Hoogerwerf, 1985, halaman 47-48). Uraian diatas dari tinjauan unsur-unsur maka dapat disimpulkan bahwa politik mencakup lembaga-lembaga negara formal, potensi-potensi dalam masyarakat, dan kekuasaan yang dilimpahkan oleh rakyat. Ketiga-tiganya merupakan realita politik yang dalam mekanismenya dilandasi oleh sistem ideologi untuk mencapai cita-citanya berdasarkan hukum konstitusi yang sedang berlaku.

B. PENERAPAN ILMU POLITIK Mungkin ada sekitar 30.000 ilmuwan politik di dunia, dan 26.000 diantaanya adalah orang Amerika. Sebagian besar dari mereka adalah guru. Sebagian lagi bekerja pada dinas pemerintahan di berbagai tingkat. Sebagian yang lain sebagai wartawan atau penulis yang tidak berafiliasi dengan Universitas, yang lain menempuh karir tetap pada lembaga riset atau swasta. Mungkin mereka melakukan pengkajian stategi militer, pengendalian persenjataan, perbaikan lingkungan, pembaharuan dewan kota atau topik-topik lain. (David E. Apter, 1985, halaman 11). Semula orang berasumsi bahwa untuk memahami ilmu politik, orang perlu juga mengetahui ilmu ekonomi. Para pendiri negara beranggapan bahwa sejumlah besar tindakan politik dapat dijelaskan berdasarkan hal-hal ini. Kemudian pada akhir abad ke sembilan belas, sebagian asumsi ini mulai runtuh tatkala azas-azas baru untuk menjelaskan tindakan manusia

ditemukan ialah psikologi. Sehingga para ahli psikologi seperti William James dan John dewey mulai tergugah dengan sumbangan psikologi yang diberikan kepada ilmu politik. Dalam perkembangan berikutnya A. Lawrence Lowell sangat tertarik pada peranan pendapat umum yang semakin meningkat dalam politik terutama pada masyarakat yang tidak homogen. Walaupun Lowell bukan penganut paham tingkah laku, tetapi ia telah meletakkan dasar yang menjadi fokus penting dalam perkembangan ilmu politik di kemudian hari. Kini Ilmu politik merupakan disiplin ilmu ysng tersebar luas di seluruh dunia. Sebagai disiplin, ilmu politik dewasa ini tidak lagi bercorak Amerika, Eropa atau Rusia. Demikian pula para ilmuwan tidak lagi menyebutkan mereka sebagai penganut paham tingkah lagu, penganut paham perkembangan, atau penganut paham struktural. David E Apter menyebutnya, apapun pendekatan atau asal mula gagasannya, sekarang dapat dikatakan bahwa sebagai suatu disiplin, ilmu politik menyangkut masalah tujuan : (1) sasaran masyarakat yang baik, (2) cara-cara memerintah sedemikian rupa dalam rangka mewujudkan masyarakat yang baik, (3) kegiatan-kegiatan dari mereka yang diperintah, khususnya tindakan-tindakan politik yang berbentuk pemberian suara, pendapat umum, dan pembentukan sikap, dan (4) hubungan-hubungan yang mendasar antara masyarakat dan pemerintah. Jadi, pusat perhatiannya adalah pada kekuasaan yaitu bagaimana kekuasaan itu dimiliki bersama melalui partisipasi dan perwakilan, dan bagaimana ia dipengaruhi oleh perkembangan dan perubahan. ( David E. Apter, 1985, halaman 16-17). Tujuan sebenarnya dari politik adalah tindakan politik. Agar orang dapat bertindak dengan baik secara politik perlu mempelajari asas dan seni politik, nilai-nilai yang dianggap penting oleh masyarakat, bagaimana hal-hal itu diwujudkan dalam lembaga-lembaga, dan taktik serta strategi untuk bertindak. Meskipun ajaran yang kritis semacam itu pada dasarnya merupakan kegiatan intelektual, namun ia dapat menimbulkan akibat-akibat yang bersifat praktis. Ajaran itu bisa menunjukkan kesalahan-kesalahan dalam penggunaan kekuasaan. Dengan demikian pendidikan politik adalah bersifat politis. Perspektif intelektual dalam politik adalah menggunakan diri sendiri sebagai pangkal tolak. Pandangan intelektual mengenai politik tidak banyak berbeda dengan pandangan politisi. Perbedaannya ialah bahwa politisi lebih menaruh perhatian pada hal-hal yang bersifat segera, yang ada kini dan di sini ketimbang yang bersifat teoritis. Intelektual dapat menjadi politisi dengan memasukkan masalah politik dalam pelayanan suatu kepentingan atau tujuan. Intelektual yang menjadi politisi biasanya paling cakap menhubungkan azas-azas yang konstruktif denga praktek. Politisi cenderung bersikap kritis dan skeptis terhadap teori. Cara politisi profesional dalam memandang dunia politik seperti halnya seorang jenderal mengamati medan pertempuran. Apabila satu pihak menang maka ada pihak lain yang kalah. Oleh karena itu modal politisi berupa strategi yang mendefinisikan langkah-langkah tindakan apakah yang paling mungkin akan berhasil. Para politisi adalah ibarat wiraswasta dalam pasar politik. Untuk memenangkan suatu kekuasaan dan memakainya seorang politisi yang sukses harus mampu menangani masalah-masalah yang rumit dan situasi sulit dengan akal yang sehat dan mantap. Dunia politisi adalah dunia hari ini dan hari esok yang dekat. Sedangkan intelektual menaruh perhatian pada masa lampau dari hari esok dengan proyeksi hari ini.

Politik sebagai ilmu berbeda dengan disiplin intelektual atau pandangan politisi terhadap politik. Ilmuwan politik profesional memandang politik sebagai suatu sistem, sebagai variabel-variabel terorganisasikan yang paling berinteraksi. Sistem politik dianggap analogi dengan sistem informasi, sistem umpan balik yang meliputi pemerintah, partai, kelompok kepentingan, kebijaksanaan. Ia juga menaruh perhatian terhadap keteraturan individu dalam tingkah laku, sindrom, pola dan sebagainya. Dunia seorang profesional tidak pernah nampak ganjil sepeti yang mungkin terjadi pada dunia intelektual dan politisi. Baik intelektual maupun politisi meragukan apakah politik itu termasuk ilmu pengetahuan. Sebagian besar dari mereka akan mengandaikan bahwa politik adalah seni. Sebagai sebuah disiplin, ruang lingkup ilmu politik lebih luas daripada ideologi apapun. Sebagai ilmu pengetahuan isi ilmu poltitk dimaksudkan lebih umum daripada ideologi. Dalam ilmu politik, ideologi mempunyai kedudukan penting dalam beberapa hal. Ideologi membantu mendefinisikan nilai-nilai politik yang berfokus pada masalah hakiki. Ia menentukan kriteria bagi pembahasan intelektual dan menyediakan pedoman bagi kegiatan para politisi. Oleh karena itu ideologi sangat mempengaruhi para profesional, intelektual, dan politisi. Ketiga dunia itu, ilmuwan politik profesional, intelektual, dan politisi dimungkinkan banyak bertumpang tindih. Penilaian terhadap kebijaksanaan dengan menggunakan azas-azas memberikan latar belakang intelektual bagi mereka yang memasuki dunia politik secara aktif.Pada bagian lain, sejumlah besar politisi adalah intelektual yang menyuarakan kritikkritik panting dan menawarkan gagasan-gagasan perbaikan. Sedangkan pusat perhatian ilmu politik profesional terletak pada riset. Semakin banyak topik yang diteliti semakin banyak artinya bagi politisi memakai hasil riset ilmu politik. Sehingga ilmu politik kian menjadi penting bagi politisi yang berarti pula taraf profesionalisme akan meningkat. Menjadi seorang intelektual politik tanpa suatu pandangan praktis tidaklah efektif. Dengan memahami kritik intelektual akan menjadikan pemikiran politik yang lebih profesional, sehingga seorang pelaku politik tentu mampu menilai situasi dalam sekejap, menentukan strategi yang akan digunakan untuk mencapai tujuan tertentu dan menerapkan taktik yang dipandang sesuai. (Davis E. Apter, 1985, halaman 18-24).

C. KESADARAN POLITIK

Manusia adalah suatu eksistensi hidup yang penuh dengan aspirasi-aspirasi yang berkembang, dengan keinginan-keinginan yang berubah dan tuntunan-tuntunan yang meningkat sesuai dengan kemajuan peradabannya. Manusia tidak saja mengikuti suatu evolusi tetapi mempunyai kemauan. Kemauan untuk menyelenggarakan evolusinya dengan sesempurna mungkin, bahkan kemauan untuk membelokkannya aspirasi dan cita-citanya atau kemauan untuk mempercepet evolusinya dalam menuju cita-citanya itu. (Ramdlon Naning SH, 1982, halaman 86). Kesadaran adalah suatu kondisi psikologi yang tanggap terhadap sesuatu hal. Sedangkan politik adalah segala hal ikhwal tentang negara. Jadi kesadaran politik secara hakiki ialah

suatu kondisi psikologis yang terhadap segala hal ikhwal yang berkaitan dengan kehidupan bernegara. Upaya yang perlu dilakukan adalah lewat pendidikan politik, baik yang bersifat pendidikan formal, non-formal. Pendidikan dapat meningkatkan daya tanggap seseorang, sehingga apabila yang diinginkan itu adalah kesadaran politik, maka daya tanggap terhadap politiklah yang harus ditingkatkan. Kesadaran akan kehidupan kenegaraan tidak mungkin ada bila tidak tumbuh atau ditumbuhkan melalui pendidikan politik. Pengertian tentang pendidikan politik dapat beraneka ragam tergantung dari sudut pandangan dan dimensi yang hendak dibahasnya. Tetapi secara umum pendidikan politik adalah suatu usaha untuk memasyarakatkan politik dalam arti mencerdaskan kehidupan politik, meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara, kesadaran akan hak dan kewajiban serta meningkatkan kepekaan akan tanggung jawabnya. Pendidikan politik pada hakikatnya mempunyai jangkauan yang luas, yaitu untuk menanamkan dan meningkatkan pengertian/kesadaran hidup berbangsa dan bernegara dalam jangkauan masa depan. Politik bukanlah sesuatu yang harus dihindarkan, tetapi harus diselenggarakan sesuai dengan kebutuhan. Pendidikan politik dalam artian umum adalah cara bagaimana suatu bangsa mentransfer budaya politiknya dari generasi yang satu ke generasi berikutnya. Adapun yang dimaksud dengan budaya politik ialah keseluruhan nilai, keyakinan empirik, dan lambang ekspresif yang menentukan terciptanya situasi dimana kegiatan politik diselenggarakan. Keyakinan empirik adalah segala keyakinan yang terbentuk dalam hati nurani sebagai akibat dari terjadinya sikap, tanggapan dan atau tindakan terhadap masalah sosial tertentu. Bagi bangsa Indonesia yang dimaksud “nilai” ialah nilai-nilai instrinsik yang terkandung dalam Pancasila dan UUD ’45. Nilai instrinsik itu bersifat langgeng karena merupakan tujuan. Tetapi karena nilai itu bersifat abstrak dan tempat beradanya di dalam jiwa manusia, maka tujuan yang terkandung di dalamnya hanya dapat terwujud dalam kenyataan hidup masyarakat melalui pengamalan nyata dari segenap anggota masyarakat yang bersangkutan. Kelanggengan atau kelestarian nilai instrinsik hanya dapat melalui pengamalan yang tepat dan secara terus menerus dalam kehidupan sehari-hari. Untuk masyarakat Indonesia yang kadar paternalismenya masih tinggi, maka lestarinya keyakinan empirik terhadap Pancasila dan UUD ’45 sangat tergantung pada sikap keteladanan para pemimpin di segala kehidupan. Pendidikan politik yang berwujud penataran Pancasila/P4; UUD ’45 dan GBHN telah memantapkan budaya politik dengan mengkokohkan penghayatan nilai-nilai dan memberi kefahaman mengenai implementasi Pancasila/P4 dan UUD 1945 yang tertuang dalam GBHN. Jadi pendidikan politik melalui penataran P4 pada hakikatnya penanaman dan sekaligus pelestarian nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945. Tugas pelestarian itu merupakan tugas politik, moral dan kultural. Tugas politik ini semakin terasa penting mengingat hal itu secara mendasar menyangkut hak dan kewajiban setiap warga negara untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupan kenegaraan. Dengan

pendidikan poltik akan dapat ditingkatkan kesadaran dan pengetahuan rakyat, sehingga dapat berpikir dan bertindak baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dan ketentuan-ketentuan UUD 1945. Pendidikan politik pada pembangunan nasional Indonesia merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan dari pendidikan nasional. Pendidikan politik dapat ditempuh melalui dua jalur, ialah jalur formal dan non formal. Jalur non formal antara lain keluarga, organisasi politik dan golongan karya, profesional dan fungsional, jalur eksekutif, legislatif dan yudikatif, jalur pusat dan daerah. Sebagaimana di muka telah disinggung bahwa politik adalah mengenai hal ikhwal kenegaraan, dan tentang hal ikhwal kenegaraan itu telah tertuang dalam hukum dasar suatu negara, maka untuk meningkatkan kesadaran politik perlu meningkatkan daya tanggap terhadap hukum dasar tersebut. Jadi meningkatkan daya tanggap rakyat terhadap hukum dasar tertulis berarti rakyat harus dididik untuk memahami dan menghayati nilai-nilai yang tertuang dalam UUD 1945. Dari sisi yang lain pendidikan politik berarti rakyat harus didasarkan bahwa bernegara itu ada manfaatnya. Dan pada akhirnya meningkatkan kesadaran politik rakyat adalah untuk mempertinggi kualitas dan kuantitas partisipasi rakyat dalam pembangunan bangsa dan negara sesuai dengan azas demokrasi. Demokrasi yang dikehendaki bangsa Indonesia sudah barang tentu adalah Demokrasi Pancasila. Dalam demokrasi Pancasila sistem pengorganisasian negara dilakukan oleh rakyat sendiri atau dengan persetujuan rakyat segala bidang kehidupan ditata dan dijamin atas dasar gagasan negara Pancasila. Demokrasi Pancasila adalah berdasarkan faham kekeluargaan. Negara tidak mementingkan kepada sesuatu golongan yang paling kuat, atau yang paling benar, tidak pula menganggap kepentingan seseorang sebagai pusat, akan tetapi negara menjamin keselamatan bangsa seluruhnya sebagai persatuan yang tidak dapat dipisahkan. Inilah cita kenegaraan (staatsidee) “negara persatuan” yang oleh Prof. Supomo dikatakan negara persatuan itu sifatnya ialah “integralistik”. (Ramdlon Naning SH, 1982, halaman 1415). Dalam demokrasi Pancasila kebebasan individu tidak bersifat mutlak, melainkan harus diselaraskan dengan tanggung jawab sosial, artinya dalam kebebasan harus senantiasa melekat tanggung jawab setiap individu terhadap kepentingan umum atau bersama. Aspek penting lainnya yang terkandung dalam demokrasi Pancasila ialah ditunjukkannya bagaimana cara partisipasi rakyat secara formal dalam penyelenggaraan pemerintahan. Prinsip-prinsip penjelmaan Pancasila yang telah merupakan kesepakatan bersama sebagaimana tercantum dalam batang tubuh UUD 1945 antara lain ialah (1) negara Indonesia adalah negara kesatuan yang berbentuk Republik, (2) menjunjung tinggi hak-hak azasi manusia, (3) sistem sosial budaya yang berdasarkan azas Bhineka Tunggal Ika, (4) sistem politik atas azas keamanan kedudukan semua warga negara dalam hukum dan pemerintahan, (5) sistem ekonomi yang disusun berdasarkan azas kekeluargaan, dan sebagainya.

Miriam Budiarjo berpendapat bahwa antara proses demokrasi, partisipasi politik dan kesadaran politik rakyat berkolerasi langsung. Artinya, bahwa perkembangan proses demokrasi dalam sebuah negara dapat dilihat dari tinggi rendahnya partisipasi politikdari rakyatnya. Partisipasi itu nampak dalam kegiatan seseorang atau sekelompok orang untuk ikut serta secara aktif dalam kehidupan politik, yaitu dengan jalan memilih pimpinan negara dengan secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi kebijasanaan pemerintah. Tingginya tingkat partisipasi menunjukkan bahwa warga negara mengikuti dan memahami masalah politik dan ingin melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan itu. Sebaliknya tingkat partisipasi yang rendah pada umumnya diartikan sebagai pertanda bahwa banyak warga negara tidak menaruh perhatian terhadap masalah politik kenegaraan. (Miriam Budiarjo, 1981, halaman 3). Dalam hubungan ini SamuelP. Hutington mengemukakan bahwa tingkat institusinalisasi Politik dalam masyarakat dengan tingkat partisipasi politik yangnrendah mungkin jauh lebih rendah, jika dibandingkan dengan masyarakat yang mempunyai tingkat partisipasi yang jauh lebih tinggi. Tetapi masyarakat yang dengan tingkat keduanya lebih rendah dapat lebih stabil daripada masyarakat dengan tingkat institusionalisasi yang lebih tinggi dengan tingkat partisipasi yang lebih tinggi lagi. Stabilitas...... bergantung pada perbandingan institusionalisasi dengan partisipasi. Ketika partisipasi politik meningkat, kompleksitas, otonomi, kemampuan menyesuaikan diri dan konsistensi institusionalisasi politik masyarakat harus juga meningkat, jika stabilitas politik tetap ingin dipertahankan. (David E. Apter, 1985, halaman 507).

D. MASA DEPAN ILMU POLITIK Mengenai masa depan ilmu politik David E. Apter mengemukakan pokok-pokok pikiran sebagai berikut : (1) Jika pada suatu saat, spesialisi pernah menjauhkan minat pada masalah-masalah yang lebih luas, kini tidak demikian halnya. Malahan kini ada hubungan baru diantara politisi jntelektual dan ilmuwan politik.Intelektual dan kaum profesional semakin mendekati dan kekhawatiran bahwa kaum profesional serta politisi akan bersamasama mengorbankan kaum intelektual ternyata tidak berdasar. Politik telah menjadi pusat pertanyaan-pertanyaan yang lebih mengenai tujuan-tujuan sosial .Dan usaha mencari pemecahan serta alternatif-alternatif baru sedang meningkat. (2) Dewasa ini kaum behavioralis menaruh perhatian pada kebebasan, persamaan dan perubahan-perubahan sosial. Kaum strukturalis baru mempermasalahkan masa depan pembangunan. Namun keduanya mengajukan pertanyaan-pertanyaan filosofis. Dari sini dapat diartikan sebagai suatu pertanda bahwa generasi baru sedang membangkitkan minat pada pertanyaan filosofis yang luas lagi mendasar maupun mencari pemecahan-pemecahan langsung sambil bertanya, mengapa dan untuk apa?

(3) Apabila ilmu politik berawal pada filsafat politik, adalah benar bahwa ia menjauh darinya. Pergeseran itu terjadi sebagian karena filsafat politik telah menjadi terlalu dangkal dan metafisik. Ia terlalu banyak berasumsi. Memang, sewaktu para filosof politik berhenti menambahkan nilai dan norma politik baru dan sekedar mengurangi nilai dan norma lama, maka filsafat menjadi serangkaian abstraksi yang sedikit lebih berharga tetapi kurang dinamis. Tetapi apabila kita bersikap mengabaikan filsafat politik, maka berarti ilmu politik mengecilkan dirinya sendiri. Bagaimanapun juga filsafat politik dapat kita jadikan sebagai penangkal terhadap profesionalisasi sempit dan orientasi kaum politisi yang terlalu pragmatis. Dalam konteks ini filsafat tetap merupakan kekuatan yang segar. (4) Bagaimana ilmiahnya (dalam pengertian tekhnis). Ilmu politik dalam jhal-hal tertentu merupakan disiplin yang interpretatif. Hal ini disebabkan ilmuwan politik berbeda dengan para ilmuwan fisik yang harus terus menerus melandasksn pemikirannya pada azas-azas fundamental. Politik dan pemerintahan diadakan untuk melayani kepentingan dan kebutuhan manusia. (5) Jika kita mengamati kecenderungan umum dalam analisa politik pada akhir-akhir ini ada dua hal yang menonjol, ialah : 5.1 Kontribusi bagi tori politik datang dari para cendikiawan di seluruh dunia. Orientasi bidang studi itu tidak lagi berpusat di Amerika dan Eropa, tetapi ruang lingkupnya menjadi lebih internasional. Kontribusi riset sedang diberikan pada negara-negara sedang berkembang yang mampu menyelidiki secara mendalam masalah-masalah yang dihadapi oleh rekan senegaranyadengan perspektif yang segar. 5.2 Timbulnya ketegangan yang terjadi antara pendukung kaum rasionalis (paradigmatis) dan kaum empiris (behavioralis) dalam ilmu politik. Pada sekitar tahun 1950 – 1960 kaum rasionalis, yaitu para teoritis yang berusaha menetapkan kontek yang memungkinkan pendifinisian suatu pokok persoalan secara bermakna, menyerang kebiasaan-kebiasaan politik lama dan menerapkan teori-teori baru pada berbagai masalah yang luas, khususnya yang berkaitan dengan negara-negara berkembang. Kaum empiris sebagian besar setuju dengan sikap itu, tetapi merka lebih menaruh perhatian untuk menemukan ciri-ciri atribut kehidupan pollitk yang spesifik, ketimbang menulis teori-teori yang luas. Namun kini mereka merupakan kecenderungan alternatif dalam pemikiran politik kontemporer. (6) Pemikiran behavioral berorientasi pada segi operasional. Pikiran ini bertitik tolak dari asumsi bahwa setiap orang dengan memehami dirinya bekerja dalam dunia praktis mampu beradaptasi, belajar dan menciptakan. Oleh karena itu pemikiran behavioral bersikap pragmatis, ilmiah dalam arti eksperimental dan Anglo-Amerika dalam konsepnya. Kaum behavioral bersikap curiga pada teori-teori umum, bukan karena teori-teori itu bisa salah tetapi karena teori-teori itu tidak pernah dapat

dibuktikan dibuktikan salah. Dipihak lain bagi kaum paradigmatis ilmu pengetahuan itu adalah berbeda. Ia terdiri dari rumusan ide-ide sistematis yang mendorong lompatan-lompatan interpretatif di luar batas-batas yang yang diketahui. Tujuannya mengantisipasi rangkaian paradoks, issue dan atau peristiwa penting yang akan datang. sebagaian besar pemikir inovatif adalah kaum paradigmatis. (7) Posisi ketiga adalah pandangan yang disebut “hermeneutik” yaitu suatu ide bahwa dalam ilmu sosial, orang tidak sekedar membahas penemuan-penemuan riset tetapi mempertimbangkannya dalam suatu konteks moral dan intelektual yang senantiasa berubah. Hal ini terutama berlaku dalam ilmu politik. Orang membaca teori dan menganalisa data yang menggunakan paradigma dan fakta-fakta empiris di dunia dengan tekanan dan keadaan yang berubah-ubah. Semua kita berusaha membuka baik rahasia saat itu maupun maknanya dalam perspektif perubahan yang lebih luas. (David E Apter, 1985, halaman 517-524) RANGKUMAN (1) Sesudah Perang Dunia II ilmu politik mengalami perkembangan sangat pesat, antara lain timbulnya golongan yang menggunakan pendekatan “tingkah laku” yang banyak dipengaruhi oleh beberapa ahli sosiologi. Tokoh-tokohnya antara lain Gabriel A, Almond, David Easten, Karl W Deutech, David Truman, Robert Dahl dan lain-lain. Pengamat paham lama dengan pendekatan “tradisional” antara lain adalahbLec Strause, Eric Voegelin, John Hallowell, Russell Kirk dan lain-lain. (2) Semula ilmu politik dianggap sebagai cadangan dari ilmu hukum yang mempelajari sistem pemerintahan, cara penyelenggaraan administrasi negara, pembuatan undangundang dan lain sebagainya. Kini berdiri sendiri, ia mempelajari aspek masyarakat yang berkaitan dengan unsur kekuasaan. Ruang linkupnya juga semakin luas, sehingga memerlukan ilmu bantu misalnya ekonomi, sosiologi, anthrologi, psikologi dan lain-lain. (3) Sebagaimana halnya dengan disiplin ilmu-ilmu yang lain, sifat-sifat ilmu polotik adalah netral, artinya ilmu ini dapat menjadi baik atau buruk tergantung pada orangnya (pemakai). Seorang ahli ilmu politik bisa memanfaatkan pengetahuannya untuk merebut kedudukan dengan cara-cara yang kurang baik. Tetapi sebaliknya dapat juga seorang ahli politik mendidik masyarakat supaya bermain politik dengan cara yang baik, menjauhkan diri dari pertikaian dan kekerasan sehingga kehidupan masyarakat menjadi baik pula. (4) Ilmu politik berbeda dengan politik. Yang terakhir ini biasanya disebut juga dengan Polotik Praktis. Ilmu politik sebagai disiplin ilmu tersebar keseluruh dunia. Pusat perhatiannya adalah pada kekuasaan, yaitu bagaimana kekuasaan itu dimiliki bersama melalui partisipasi dan perwakilan dan bagaimana ia dipengaruhi oleh perkembangan dan perubahan.

(5) Tujuan sebenarnya dari politik adalah tindakan politik. Aagr orang bisa bertindak baik secara politik perlu mempelajarai azas dan seni politik, nilai-nilai yang dianggap penting oleh masyarakat, bagaimana hal-hal itu diwujudkan dalam lembaga-lembaga, dan taktik serta strategi untuk bertindak. Meskipun ajaran yang bersifat kritis itu pada dasarnya merupakan kegiatan intelektual, namun ia dapat menghasil hal-hal yang praktis. Ajaran itu berusaha menunjukkan kelemahan/kesalahan dalam penggunaan kekuasaan. Dengan demikian pendidikan politik adalah bersifat politis. (6) Kesadaran adalah suatu kondisi psikologis yang tanggap terhadap sesuatu hal. Sedangkan politik adalah segala hal ikhwal tentang negara. Jadi kesadaran politik secara hakiki ialah suatu kondisi psikologis yang tanggap terhadap segala hal ikhwal yang berkaitan dengan kehidupan bernegara. Kesadaran terhadap kehidupan kenegaraan tidak mungkin ada tanpa ditumbuhkan melalui pendidikan politik. (7) Pendidikan politik pada masa pembangunan sekarang ini tidak terpisahkan dari pendidikan nasional pada umumnya. Pendidikan politik dapat ditempuh melalui dua jalur yaitu jalur formal dan non-formal. Jalur non-formal antara lain melalui keluarga, organisasi politik, organisasi profesional dan fungsional, jalur eksekutif, legeslatif dan yudikatif dan yuridis dan jalur pusat dan daerah.

PARTAI POLITIK A. PENGERTIAN PARTAI POLITIK Berdasarkan Undang-Undang No. 3 tahun 1975 jo Undang-Undang No. 3 tahun 1985 tentang Partai Politik dan Golongan karya di Indonesia ada tiga organisasi kekuatan sosial politik, yaitu partai politik (Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Demokrasi Indonesia) dan golongan Karya. Pengertian kekuatan sosial politik pada dasarnya sama dengan pengertian partai politik dalam arti umum. Secara etimologis kata “partai” berasal dari bahasa latin “pars” yeng berarti “bagian”. Dalam perkembangannya pengertian kata partai selalu dikaitkan dengan badan-badan

parlementer dan badan-badan pemilihan. Segingga partai menandai dirinya dengan prinsipprinsip demokrasi. Partai-partai politik berkembang bersamaan dengan berkembangnya proses-proses parlementer dan proses-proses pemilihan. Pada bagian pertama abad 19 konsepsi partai lebih banyak mengacu pada berpikir tentang ideologi dari pada tentang manusianya yang membentuk dan duduk di dalamnya. Studi yang dilakukan akhir-akhir ini misalnya tentang pembuatan keputusan (decision) telah memusatkan perhatiannya tentang apa yang diperbuat partai dari pada partai itu sebenarnya, atau lebih dari pada strategi dari pada organisasinya. Dalam membuat analisa tentang partai politik manapun juga harus diperhitungkan aspek=aspek ideologi, dasar-dasar sosial, struktur, organisasi, partisipasi dan strategi (Maurice Duverger, 1984, halaman 3-5). Di bawah ini dikemukakan beberapa pengertian tentang Partai Politik yang diberikan oleh para sarjana terkemuka, antara lain : (1) Sigmund Neumann : Partai Politik adalah organisasi artikulatif yang terdiri dari pelaku-pelaku politik yang aktif yaitu mereka yang memusatkan perhatiannya pada pengendalian kekuasaan pemerintah dan yang bersaing untuk memperoleh dukungan rakyat dengan beberapa kelompok lain yang mempunyai pandangan yang berbeda-beda. (2) Huszar dan Stevenson : Partai politik ialah sekelompok orang yang terorganisasikan serta berusaha untuk mengendalikan pemerintah agar dapat melaksanakan program-program dan menempatkan/mendudukan anggota-anggota dalam jabatan pemerintahan. (Haryanto, 1982, halan 86-88). Dari beberapa difinisi tersebut dapat disimpulkan bahwa pengertian partai politik mencakup komponen-komponen sebagai berikut : (1) Sekelompok warga negara yang sedikit banyak telah terorganisasikan, (2) Anggota-anggotanya mempunyai cita-cita, tujuan dan orientasi yang sama, (3) Berusaha merebut dukungan rakyat untuk memperoleh atau mengendalikan kekuasaan politik atau pemerintahan. (4) Berusaha untuk melaksanakan kebijaksanaan-kebijaksanaan, (5) Menempatkan anggota-anggotanya dalam jabatan-jabatan politik atau pemerintahan, (6) Cara memperoleh kekuasaan/menduduki jabatan-jabatan politik atau pemerintahan adalah dengan jalan konstitusional atau instituasional. Dilihat secara hakikat partai politik sangat sulit dibedakan dengan kelompok kepentingan yang diorganisasikan secara rapi. Tetapi antara keduanya dapat dibedakan secara umum

bahwa kelompok kepentingan berusaha “mempengaruhi” kebijaksanaan pemerintah, sedaangkan partai politik benar-benar “berkehendak” memperoleh dan menguasai jabatanjabatan politik atau pemerintahan. Sekalipun dalam kenyataan dan prakteknya perbedaan antara partai politik dan kelompok kepentingan tidak setegas itu. Atau dengan kata lain, partai politik berusaha mencari kekuasaan melalui pemilihan-pemilihan atau cara-cara lain untuk menduduki jabatan-jabatan politik atau pemerintahan. Tetepi kelompok kepentingan pada dasarnya hanya berusaha untuk mempengaruhi para pemegang kekuasaan. B. FUNGSI PARTAI POLITIK Dalam dunia literatur dikenal ada enam macam fungsi partai politik, ialah : (1) Partai Politik sebagai sarana komunikasi politik Partai politik bertindak sebagai penghubung antara pihak yang memerintah dan pihak yang diperintah, yaitu menampung arus informasi dari masyarakat disalurkan ke pihak penguasa dan sebaliknya informasi yang berasal dari penguasa kepada masyarakat. Informasi dari masyarakat yang berupa pendapat dan aspirasi diatur dan diolah sedemikian rupa sehingga dapat disalurkan kepada pengambil kebijasanaan. Dan sebaliknya informasi dari pemerintah yang berupa rencana, program atau kebijakankebijakan pemerintah disebarluaskan oleh partai politik kepada masyarakat. Fungsi partai politik sebagai sarana komunikasi politik berbeda-beda dalam berbagai negara. Perbedaan itu terutama berkaitan dengan faham atau ideologi yang dianutnya, misalnya dinegara yang menganut faham demokrasi berlangsung dengan dua arah secara seimbang, tetapi dinegara yang menganut faham otokrasi pada umumnya komunikasi politik hanya berlangsung satu arah saja, ialah dari fihak penguasa kepada masyarakat. (2) PartaiPolitik sebagai sarana artikulasi dan agregasi kepentingan Sebagaimana disebutkan diatas, partai politik mempunyai fungsi menyalurkan berbagai macam pendapat, aspirasi dan tuntutan masyarakat. Proses untuk mengolah, merumuskan dan akhirnya menyalurkan pendapat, aspirasi atau tuntutan itu kepada pemerintah dalam bentuk atau tuntutan dinamakan “artikulasi Kepentingan”. Dalam prakteknya atau kenyataannya artikulasi kepentingan tidak hanya dijalankan oleh partai politik saja, tetapi dapat juga dijalankan oleh kelompok kepentingan. Sedangkan proses penggabungan tuntutan, dukungan atau sikap dari berbagai kelompok masyarakat yang mempunyai persamaan disebut “agregasi kepentingan”. Seperti artikulasi kepentingan, maka agregasi kepentinganpun tidak hanya dijalankan oleh partai politik saja, tetapi dapat juga dijalankan oleh kelompok-kelompok kepentingan.

Dalam suatu sistem politik, artikulasi dan agregasi kepentingan merupakan “input” yang disalurkan kepada lembaga-lembaga yanga berwenang untuk membuat keputusan atau kebijakan seperti misalnya dewan perwakilan rakyat atau pemerintah untuk diolah atau lazim disebut “konversi” menjadi output dalam bentuk peraturanperaturan yang mengikat masyarakat seperti undang-undang, peraturan pemerintah dan kebijakan-kebijakan umum lainnya. (3) Partai Politik sebagai sarana sosialisasi politik Disamping menanamkan ideologi partai kepada pendukungnya, maka partai politik harus pula menyampaikan atau mengajarkan nilai-nilai dan keyakinan politik yang berlaku di negaranya. Partai politik juga harus mendidik masyarakat agar mempunyai kesadaran akan hak dan kewajibannya sebagai warga negara. Proses penyampaian ini dinamakan “sosialisasi politik”. Pada umumnya proses sosialisai politik ditempuh dengan cara menyelenggarakan kursus-kursus, penataran-penataran atau ceramah-ceramah tentang politik. Di negara-negara sedang berkembang fungsi utama sosialisasi politik biasanya lebih banyak ditujukan pada usaha untuk memupuk integrasi nasional di mana umumnya bangsa yang sedang membangun itu masih bersifat heterogen. (4) Partai Politik sebagai sarana rekrutmen politik Partai politik berusaha untuk menarik warga negara menjadi anggota partai yang berarti memperluas partisipasi warga negara dalam kehidupan bidang politik. Rekrutmen politik merupakan salah satu cara untuk menyeleksi anggota-anggota partai yang berbakat untuk dipersiapkan menjadi calon-calon pemimpin. Salah satu cara yang ditempuh oleh partai politik adalah dengan menarik golongan muda untuk mendidik menjadi kader partai yang dipersiapkan menjadi pemimpin untuk masa datang. Rekrutmen politik juga dimaksudkan untuk menjamin kelangsungan/kelestarian hidup dari partai politik yang bersangkutan. Dengan cara-cara demikian maka proses regenerasi akan berjalan dengan lancar, kelangsungan hidup partai serta kaderisasi kepemimpinan partai akan lebih terjamin. (5) Partai Politik sebagai sarana pembuatan kebijaksanaan Partai politik disebut sebagai sarana pembuatan kebijaksanaan apabila partai yang bersangkutan merupakan mayoritas dalam badan perwakilan atau memegang tampuk pemerintahan. Tetapi jika sebuah partai politik yang berkedudukan sebagai partai oposisi, maka ia tidak dapat dikatakan sarana pembuatan kebijaksanaan sebab fungsinya hanya mengkritik kebijaksanaa-kebijaksanaan yang dibuat oleh pemerintah. (6) Partai Politik sebagai sarana pengatur konflik

Dinegara-negara yang menganut faham demokrasi, masalah perbedaan pendapat dan persaingan adalah merupakan suatu hal yang wajar. Dengan adanya perbedaan pendapat dan persaingan itu seringkali juga timbul konflik-konflik atau pertentangan di antara mereka. Dalam hubungan ini, maka partai politik berfungsi sebagai sarana pengatur konflik, guna mencari konsensus.

C. KLASIFIKASI PARTAI POLITIK Partai dapat digolongkan atau diklasifikasikan dengan berbagai cara. Menurut segi komposisi dan fungsi keanggotaannya dapat dibagi menjadi dua jenis, ialah partai massa dan partai kader. Cir utamanya adalah jumlah anggota atau pendukungnya yang banyak. Dalam partai massa memang jumlah anggota yang dipentingkan. Pada umumnya partai massa memang mempunyai program, walaupun program-programnya itu agak kabur dan bersifat agak umum. Anggota partai massa ini pada umumnya berasal dari berbagai golongan atau kelompok yang ada pada masyarakat. Apabila golongan atau kelompok itu mempunyai kepentingan tidah tersalurkan, maka kolompok-kelompok itu akan berusaha memisahkan diri sebagai kekuatan beru menjadi partai tandingan. Dalam keadaan yang demikian itu maka massa yang bersangkutan menjadi lemah. Sebaliknya, partai kader ciri yang utama dan dipentingkan adalah disiplin dan kekuatan organisasi. Sehaingga partai kader tidak mementingkan jumlah anggota yang banyak. Biasanya masalah doktrin dan ideologi partai harus tetap dijaga dan dijamin kemurnian serta kelangsungannya. Dispiplin dan ketaatan dalam arti apabila anggotaanggotanya menyimpang atau menyeleweng dari doktrin atau ideologi partai akan dipecat dari keanggotaannya. (Miriam budiarjo, 1980, halaman 166-167 dan Haryanto, 1982, halaman 96-97).Apabila klasifikasi partai politik tersebut dari segi sifat dan orientasinya, maka partai politik dapat dibagi menjadi dua jenis pula, yakni partai “partai lindungan” (patronage party) dan “partai ideologi” atau “partai azas” (programmatic party). Partai lindungan adalah partai yang aktif pada saat-saat dilangsungkannya pemilihan umum. Tujuannya untuk memenangkan pemilihan umum, dengan maksud mendudukkan anggota-anggotanya pada jabatan-jabatan politik maupun pemerintahan sesuai dengan target atau programnya. Oleh karena itu pada umumnya partai lindungan kurang mempunyai disiplin yang ketat dalam keanggotaannya. Sedangkan partai ideologi atau partai azas pada umumnya memiliki disiplin yang ketat dalam keanggotaannya. Terhadap calon anggota dilkukan penyaringan, sedangkan untuk menjadi anggota pimpinan disyaratkan kriteria, misalnya secara bertahap dengan sistem kaderisasi. Selain klasifikasi seperti di atas, masih juga terdapat klasikasi dari segi atau cara lain, yaitu menurut sistem yang dianut dalam negara yang bersangkutan. Ada tiga pembedaan, yaitu sisitem partai tunggal (one party-system), sistem dwi partai (two-party system) dan sistem multi partai (multy- party system).

SISTEM PARTAI TUNGGAL : Apabila dalam suatu negara hanya terdapat satu partai politik, maka negara tersebut menganut sistem satu partai politik, maka negara tersebut menganut sistem satu partai atau sistem partai tunggal. Kecenderubgan untuk mengambil pola sistem partai tunggal anyara lain disebabkan karena di negara-negara baru para pemimpin seringkali dihadapkan pada masalah bagaimana mengintegrasikan berbagai golongan, daerah serta suku yang bercorak heterogen. Kekhawatiran timbul bahwa keanekaragaman sosial dan budaya itu dibiarkan dapat gejalagejala sosial politik yang dapat menghambat kalancaran usaha pembangunan. Partai tunggal dan organisasi yang bernaung di bawahnya berfungsi sebagai pembimbing dan penggerak masyarakat dalam mengerahkan daya dan dana, sehingga dilakukan perpaduan antara kepentingan partai dan kepentingan rakyat secara keseluruhan. SISTEM DWI PARTAI : Dalam kepestakaan ilmu politik pengertian sistem dwi partai diartikan dengan adanya dua partai atau lebih, tetapi dengan dominasi dari dua partai saja. Dalam sistem ini biasanya secara silih berganti sebagai hasil dari pemilihan umum menjadi partai yang berkuasa dan partai oposisi. Dalam persaingan untuk memenangkan pemilihan umum kedua partai bersaing secara ketat untuk merebut dukungan orang-orang yang berada diantara kedua partai itu dan dinamakan pemilih mengambang (floating vote). Sistem dwi partai dapat berjalan dengan baik apabila terpenuhi tiga syarat : (1) komposisi masyarakat homogen, (2) konsensus dalam masyarakat mengrnai azas dan tujuan sosial yang pokok kuat, dan (3) adanya kontinyuitas sejarah. (Miriam Budiarjo, 1980, halaman 168-169). SISTEM MULTI PARTAI : Pada umumnya keanakaragaman ras, agama, suku dan daerah cenderung berkembang ke arah pembentukan sistem multi partai. Sehingga sistem multi partai lebih mencerminkan adanya masyarakat yang majemuk (pluralistis). Apabila dalam sistem multi partai ini tidak ada partai yang dominan biasanya kestabilan politik sulit untuk dipertahankan. Apalagi bila sistem multi partai ini menganut sistem parlementer dengan kecenderungan lebih menitik beratkan pada lembaga legislatif, Pola sistem multi partai biasanya ditunjang dengan sistem pemilihan perwakilan berimbang (proportional representation) Dengan sistem pemiliha perwakilan berimbang itu partai-partai kecil dapat memperoleh keuntungan dari ketentuan bahwa kelebihan suara yang diperoleh pada suatu tingkat daerah pemilihan dapat ditarik ke tingkat daerah pemilihan yang lebih tinggi untuk menggenapkan jumlah suara yang diperlukan untuk memperoleh tambahan satu kursi perwakilan. Suatu peranan yang sangat diharapkan dari partai politik di negara-nagara yang sedang berkembang (sedang membangun) adalah sebagai sarana untuk mengembangkan integrasi dan identitas nasional. Pengalaman di beberapa negara menunjukkan bahwa partai politik seringkali tidak mampu membina integrasi, akan tetapi malahan dapat menimbulkan pengkotaan dan pertentangan-pertentangan. Sekalipun banyak kelemahannya, tetapi sacara

garis besar partai politik tetap dianggap sebagai sarana penting dalam kehidupan politik. Pembangunan bangsa dengan segala dimensinya hanya mungkin dilakukan apabila ada dukungan / partisipasi seluruh masyarakat dan untuk itu kekuatan sosial politik memberikan andil untuk membantu mengatasi masalah-masalah yang timbul dalam negara serta memobilisasikan partisipasi rakyat.(Miriam budiarjo, 1981, halaman 20-21). Menurut sifatnya, partai politik dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu : (1) Partai politik ekstrim : Suatu partai politik dikatakan berssifat ekstrim apabila partai politik itu menganut suatu ajaran sebagai azasnya dan para pengikutnya secara apriori tidak dapat bekerja sama atau tidak adanya saling pengertian dengan partai politik lainnya dalam suatu wilayah negara yang sama. (2) Partai politik lunak : Suatu partai politik dikatakan lunak apabila partai politik yang bersangkutan berdasarkan ajaran / azasnya dapat membina kerja sama, saling pengertian, adnya toleransi dengan partai politik lainnya dalam wilayah suatu negara yang sama. (3) Partai politik moderat : Suatu partai politik dikatakan bersifat moderat apabila partai politik itu berdasarkan ajaran yang dijadikan azasnya beserta para pengikutnya “secara loyal” dapat bekerja sama dengan partai politik lain yang hidup dan berkembang dalam suatu wilayah negara yang sama. Dalam kenyataannya pembedaan tersebut hanya bersifat gradasi karena pada dasarnya yang mewarnai suatu partai politik adalah para pelaku politik . (S. Toto Pandoyo SH, 1981, halaman 19-21).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->