P. 1
Idealisme Politik Islam di Aceh

Idealisme Politik Islam di Aceh

|Views: 2,964|Likes:
Published by Khairul Umami
Khalifah Nyak Dum pernah menjadi ikon penting dalam sejarah komunikasi politik Islam era Sultan Iskandar Muda. Dia diplomat ulung, politisi, dan ulama yang pernah diutus Sultan Aceh menemui Sultan Turki. Seiring dengan itu, Sultan menitahkan Syekh Nuruddin Ar-Raniry menulis sepucuk surat dalam bahasa Arab untuk Sultan Turki, yang maksudnya bahwa baginda akan mempererat tali silaturrahim dengan Sultan Turki. Berkat kehandalan komunikasi politik Nyak Dum, Sultan Turki telah menaruh perhatian lebih untuk Aceh. Surat yang dikirim dibalas dengan senang hati dan melalui Nyak Dum Sultan menitipkan salam balasan kepada Sultan Aceh. Selain itu, Sultan Turki juga memberikan sebuah Meriam dan 12 mekanik Turki yang mahir merangkai dan membuat peralatan perang. Sekali lagi, pemberian ini tidak terlepas dari jasa komunikasi Khalifah Nyak Dum. Demikian halnya tatkala menerapkan politik dalam Negeri. Sultan menerapkan sistem political will yang diinspirasikan melalui nilai keimanan dan ketakwaan. Karena itu, hampir setiap periodisasi kesultanan Aceh terlihat selalu hidup berdampingan ulama-ulama. Ulama dijadikan cermin dalam mengukur, bertanya tentang agama, dan juga kondisi rakyat. Jika demikian, prinsip politik saat itu hampir menyamai prinsip Piagam Madinah. Di masa ini politik dipakai sebagai alat ukur, pelindung, serta mengayomi masyarakat menuju pencerahan dan kemakmuran. Kalaupun ada perbedaan (difference) dan keberagaman (diversity) maka itu akan dijadikan khazanah dan auto critic dalam membangun Negeri. Buku ini terdiri dari kontribusi pemikiran akademisi dan politisi, mencoba konstruksi ulang format keselarasan nilai-nilai idealisme politik seiring perjalanan sejarah.
Khalifah Nyak Dum pernah menjadi ikon penting dalam sejarah komunikasi politik Islam era Sultan Iskandar Muda. Dia diplomat ulung, politisi, dan ulama yang pernah diutus Sultan Aceh menemui Sultan Turki. Seiring dengan itu, Sultan menitahkan Syekh Nuruddin Ar-Raniry menulis sepucuk surat dalam bahasa Arab untuk Sultan Turki, yang maksudnya bahwa baginda akan mempererat tali silaturrahim dengan Sultan Turki. Berkat kehandalan komunikasi politik Nyak Dum, Sultan Turki telah menaruh perhatian lebih untuk Aceh. Surat yang dikirim dibalas dengan senang hati dan melalui Nyak Dum Sultan menitipkan salam balasan kepada Sultan Aceh. Selain itu, Sultan Turki juga memberikan sebuah Meriam dan 12 mekanik Turki yang mahir merangkai dan membuat peralatan perang. Sekali lagi, pemberian ini tidak terlepas dari jasa komunikasi Khalifah Nyak Dum. Demikian halnya tatkala menerapkan politik dalam Negeri. Sultan menerapkan sistem political will yang diinspirasikan melalui nilai keimanan dan ketakwaan. Karena itu, hampir setiap periodisasi kesultanan Aceh terlihat selalu hidup berdampingan ulama-ulama. Ulama dijadikan cermin dalam mengukur, bertanya tentang agama, dan juga kondisi rakyat. Jika demikian, prinsip politik saat itu hampir menyamai prinsip Piagam Madinah. Di masa ini politik dipakai sebagai alat ukur, pelindung, serta mengayomi masyarakat menuju pencerahan dan kemakmuran. Kalaupun ada perbedaan (difference) dan keberagaman (diversity) maka itu akan dijadikan khazanah dan auto critic dalam membangun Negeri. Buku ini terdiri dari kontribusi pemikiran akademisi dan politisi, mencoba konstruksi ulang format keselarasan nilai-nilai idealisme politik seiring perjalanan sejarah.

More info:

Published by: Khairul Umami on Jan 11, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

01/29/2015

Sections

Prolog

Isu syariat Islam dalam politik Islam di Indonesia bukanlah persoalan yang baru
muncul. Masalah ini menguak dalam Piagam Jakarta 22 Juni 1959, ketika itu kelompok
Islam kalah secara politik dan sila pertama pada Pancasila yang mencantumkan
syariat Islam dihapus dan diganti dengan Ketuhanan Yang Maha Esa. Para wakil
Islam di Majelis Konstituante (1956-1959) yang terdiri dari Partai Masyumi yang
dimotori oleh Muhammad Natsir dan Partai NU memperjuangkan agar rumusan
Piagam Jakarta dimasukkan kembali ke dalam pembukaan UUD 1945. Tidak pelak lagi,
usulan ini mendapatkan perlawanan dari kelompok nasionalis, sehingga perdebatan
sangat sengit tidak dapat dielakkan. Majelis Konstituante kemudian dibubarkan oleh
Presiden Soekarno dengan mengeluarkan Dekrit 5 Juli 1959. Akan tetapi banyak tokoh
yang mengakui bahwa episode sejarah tersebut cukup penting artinya bagi perjalanan
bangsa Indonesia.1

Pada masa reformasi isu Piagam Jakarta kembali diusung oleh Partai-partai Islam
yang dimotori oleh PBB, PKS dan PPP. Ketua umum PBB, Yusril Ihza Mahendra
merupakan tokoh yang cukup sering menyampaikan amandemen Pasal 29 UUD 1945
tetapi juga mengganti KUHP yang berasal dari Belanda dengan KUHP yang bermuatan

Makalah ditulis oleh Abidin Nurdin untuk seminar Internasional, “Idealisme Politik Islam di Aceh”, pada
bulan Desember 2011. Penulis adalah dosen pada FISIPOL Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe,
Aceh, dan saat ini sedang menyelesaikan program Doktor pada Pascasarjana IAIN Ar-Raniry, Banda
Aceh. Acara ini diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Teungku Dirundeng,
Meulaboh, bekerjasama dengan Lembaga Kajian Agama dan Sosial (LKAS) Banda Aceh.

1

KH. Muhammad Dahlan, mantan Menteri Agama RI. pada Kabinet Pembangunan Pertama (1968-
1971) mengakui bahwa di atas segala-galanya, memang syariat Islam di Indonesia telah berabad-abad
dilaksanakan secara konsekuen oleh rakyat Indonesia, sehingga ia bukan hanya sumber hukum, tetapi ia
telah menjadi kenyataan, di dalam kehidupan rakyat Indonesia sehari-hari yang telah menjadi adat yang
mendarah daging. Hanya pemerintah kolonial Belanda yang tidak mau menformilkan segala hukum yang
berlaku di kalangan rakyat kita itu, walaupun ia telah menjadi ikatan-ikatan hukum dalam kehidupan
mereka sehari-hari. Endang Saifuddin Anshari, Piagam Jakarta 22 Juni 1945: Sebuah Konsensus
Nasional Tentang Dasar Negara Republik Indonesia (1945-1949) (Jakarta: Gema Insani Press, 1997),
130-135. Lihat, Ahmad Syafi Maarif, Islam dan Masalah Kenegaraan: Studi Tentang Percaturan dalam
Konstituante (Jakarta: LP3ES, 1985), 142-192.

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

12

syariat Islam.2

Namun demikian, perjuangan ini kembali gagal di tengah jalan, karena
tidak mendapat dukungan yang luas dari anggota legislatif, yakni dari Partai Nasional
sekuler, seperti PDIP dan Partai nasional berbasis Islam yakni PAN dan PKB.
Oleh karena itu, keinginan umat Islam menerapkan syariat Islam dalam konteks
negara selalu dikaitkan dengan konteks politik di Indonesia itu sendiri. Terkait
dengan relasi antara keinginan umat Islam untuk menerapkan syariat Islam dalam
konteks Negara yang mengakibatkan relasi antara Islam dan politik juga mengalami
pasang surut dan periodisasi. Bakhtiar Effendy membaginya menjadi tiga priode;3
Pertama, 1945-1970-an, masa ini ditandai dengan gesekan ideologis dan politis. Hal
ini membawa akibat terpinggirnya peran politik umat Islam. Bahkan, politik umat
Islam selalu dicurigai. Mitos yang berkembang adalah bahwa imajinasi politik umat
Islam yang bergulir sejak awal kemerdekaan bersifat ”inimical”. Kedua, Periode 1970-
1990-an, masa ini dapat disebutkan bahwa politik Islam memasuki warna baru, yang
memandang Islam sebagai komplementer (alat) dengan seluruh spektrum kehidupan
politik nasional. Para praktisi dan pemikir politik Islam berusaha mencari format baru
yang kira-kira sesuai dengan situasi politik ketika itu. Dalam hal ini, seperti diketahui,
elemen teologi politik baru menjadi penting karena secara diametral berbeda dengan
wacana dan praktik politik umat Islam yang berkembang pada periode sebelumnya.
Ketiga, 1990-an terutama ketika pemerintahan Soeharto lengser dari kekuasaannya
sampai sekarang. Masa ini kemudian yang sering disebut dengan era reformasi ditandai
dengan kehidupan sosial, budaya, ekonomi, dan politik menjadi sangat kompetitif.
Dalam situasi seperti itu, seolah-olah apa saja dapat dilakukan, karena kemerdekaan
berpendapat dan bersuara, indenpendensi media diberikan secara demokratis oleh
pemerintah saat itu. Semangat inilah yang kemudian melahirkan reformulasi politik
Islam. Tentu tidak semua pelaku politik Islam mengembangkan reformulasi dan
rekonstruksi tersebut. Dengan itu, formulasi pertama mengambil bentuk menjadikan
Islam sebagai simbol dan asas partai. Munculnya partai-partai Islam pada masa
reformasi merupakan bukti dari hal ini.4

2

Taufk Adnan Amal dan Syamsu Rizal Panggabean, Politik Syariat Islam: Dari Indonesia Hingga
Nigeria (Jakarta: Pustaka Alvabet, 2004), 64.

3

Bakhtiar Effendy, Problematika Politik Islam: Refeksi Tiga Periode dalam Abuddin Nata (Ed.),
Problematika Politik Islam di Indonesia (Jakarta: Grasindo, 2002), 156-158.

4

Din Syamsuddin mengatakan respon dan tafsir Islam terhadap politik di Indonesia ada beberapa
pilihan strategi, yaitu; Pertama, Strategi akomodatif-justifkasi terhadap kekuasaan negara yang sering

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

13

Menurut pendapat Muhammad Abed al-Jabiri tentang hubungan antara agama,
negara dan penerapan syariat Islam. Menurutnya, antara agama dan negara dalam
sejarah tidak pernah ada dikotomi. Pendikotomian tersebut hanya terjadi di Barat
(terutama kekaisaran Romawi) ketika lembaga gereja yang dikuasai oleh kelompok
pendeta. Kelompok pendeta ini kemudian yang menguasai negara. Sedangkan dalam
Islam tak pernah terjadi seperti itu.5
Semakin membaiknya hubungan antara Islam dengan Negara terus memperkuat
posisi umat Islam, paling tidak jika dibandingkan pada Orde Lama sebelumnya. Hal ini
ikut berpengaruh terhadap perkembangan Islam secara umum. Padahal umat Islam
cenderung dimarginalkan oleh penguasa termasuk masa Soekarno dan Soeharto,
(kecuali pada masa akhir kepemimpinan Orde Baru). Tetapi angin perubahan kondisi
politik Islam ketika ICMI berdiri 1990 yang diusung oleh kelompok Islam modernis
dan santri baru.

Hukum Islam dalam bingkai politik hukum Indonesia

JND. Anderson membagi penerapan hukum di dunia Islam dalam tiga kategori;
Pertama, Negara-negara yang menganggap syariah sebagai hukum dasar dan masih
dapat diterapkan seluruhnya. Contohnya Arab Saudi dan wilayah Utara Nigeria. Kedua,
Negara yang membatalkan hukum syariah dan menggantinya dengan hukum yang
seluruhnya sekuler atau hukum Barat. Negara yang mewakili tipe ini adalah Turki
(meskipun sekarang mulai ada gerakan desekularisasi, setelah sekulerisasi dianggap
gagal). Dan ketiga, Negara yang menempuh jalan kompromi antara syari’ah dan hukum
sekuler. Tipe ini termasuk Mesir, Syiria, dan Irak.6

tidak mencerminkan idealitas Islam. Konsekuensinya yaitu dengan menerima penghujatan dari kalangan
garis keras umat Islam. Kedua, Strategi isolatif-oposisional, yaitu menolak dan memisahkan diri dari
kekuasaan negara untuk membangun kekuatan sendiri. Hal ini memiliki konsekuensi kehilangan faktor
pendukung, yaitu kekuatan negara itu sendiri yang kemudian dikuasai dan dimanfaatkan oleh kekuatan
lain; dan ketiga, Strategi integratif-kritis, yaitu mengintegrasikan diri ke dalam kekuasaan negara, namun
tetap kritis terhadap penyelewengan kekuasaan negara dalam suatu perjuangan dari dalam (struggle from
withim). Namun, strategi ini sering berhadapan dengan hegemoni negara itu sendiri, sehingga efektiftas
perjuangan akan dipertanyakan. Din Syamsuddin, Beberapa Catatan Problematika Islam di Indonesia
dalam Abuddin Nata (ed.), Problematika Politik Islam di Indonesia (Jakarta: Grasindo, 2002), 22.

5

Muhammad Abed al-Jabiri, Agama, Negara dan Penerapan Syariat Islam (tej.) (Yogyakarta:
Fajar Pustaka Baru, 2001), 59.

6

JND. Anderson, Hukum Islam di Dunia Modern Alih Bahasa Machnun Husein (Surabaya: Amarpress,
1991), hal. 91-95. Lihat juga Azyumardi Azra, Jaringan Ulama: Timur-Tengah dan Kepulauan Nusantara
Abad XVII dan XVIII Melacak Akar-Akar Pembaharuan Pemikiran Islam di Indonesia (Cet. IV; Bandung:

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

14

Anderson tidak menyebut Indonesia sebagai bagian dari tiga tipelogi tersebut, sebab
ia menyelesaikan tulisannya tahun 1959. Saat itu Indonesia praktis belum melakukan
proses pembaharuan hukum, nanti sekitar awal tahun 1970-an kemudian banyak
diperbincangkan. Namun demikian, Ahmad Rofiq berpendapat bahwa Indonesia
masuk pada kategori ketiga dari pandangan Anderson tersebut.7
Hukum yang dipakai di Indonesia mengacu pada Roman law system, berbeda dengan
sistem hukum Amerika Serikat yang menganut rumpun Common law system, yang sama
dengan sistem hukum yang berlaku di Inggris.8

Indonesia sebagaimana juga negara-
negara bekas imperialisme Barat, mengadopsi hukum Belanda sebagai hukum yang
berlaku dalam masyarakat, seperti hukum dagang, pidana dan sebagainya. Kemudian
hukum Islam dan adat yang juga dipakai seperti hukum perkawinan, waqaf, warisan
serta hukum-hukum yang lain.
Sejalan dengan itu, ketika membahas hukum Islam di Indonesia, maka tidak dapat
dipisahkan dari konfigurasi politik hukum nasional. Karena hukum merupakan
produk politik, sehingga ketika membahas politik hukum cenderung mendiskripsikan
pengaruh politik terhadap hukum atau pengaruh sistem politik terhadap pembangunan
hukum. Teuku Muhammad Radhie mengatakan bahwa politik hukum adalah
kehendak penguasa mengenai hukum yang berlaku di wilayahnya, dan mengenai arah
perkembangan hukum yang dibangun.9
Politik hukum terkadang juga dikaitkan dengan kebijakan publik (public policy)
yang menurut Thomas Dye, “Whatever the government choose to do or not to do.
Politik hukum juga didefinisikan sebagai pembangunan hukum. Berlakunya hukum
Islam di Indonesia telah mengalami pasang surut seiring dengan politik hukum yang
diterapkan oleh kekuasaan negara. Bahkan di balik semua itu, berakar pada kekuatan
sosial budaya yang berinteraksi dalam proses pengambilan keputusan politik. Namun
demikian, hukum Islam telah mengalami perkembangan secara berkesinambungan,

Mizan, 1998), hal. 240-241. Kajian terhadap hukum Islam Indonesia dapat dilihat misalnya; Nur Ahmad
Fadhil Lubis, A History of Islamic Law In Indonesia (Medan: IAIN Press, 2000); A. Qodri Azizy,
Elektisisme Hukum Nasional: Kompetisi Antara Hukum Islam dan Hukum Umum, Cet.I (Yogyakarta:
Gama Media, 2002), Marzuki Wahid dan Rumadi, Fiqh Mazhab Negara: Kritik atas Politik Hukum Islam
di Indonesia, (Yogyakarta: LKiS, 2001).

7

Ahmad Rofq, Pembaharuan Hukum Islam di Indonesia (Yogyakarta: Gama Media, 2001), 136.

8

A. Qodri Azizy, Elektisisme Hukum…, 210.

9

Imam Syaukani dan A. Ahsin Thohari, Dasar-Dasar Politik Hukum (Jakarta: Rajawali Press, 2007),

27.

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

15

baik melalui jalur infrastruktur politik maupun suprastruktur politik dengan dukungan
kekuatan sosial budaya itu.10
Pada sisi lain, implementasi hukum Islam di Indonesia sebagai bagian dari
pergumulan politik hukum dapat dilihat pada UU dan peraturan pemerintah yang telah
ditetapkan oleh pemerintah yaitu, UU Peradilan Agama No.7 Tahun 1989. Penataan
Peradilan Agama terkait pula dengan UU No. 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum,
UU No. 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara. Dari sekian banyak produk
perundang-undangan yang memuat materi hukum Islam, peristiwa paling fenomenal
adalah disahkannya UU No.7/1989 tentang Peradilan Agama. Betapa tidak, Peradilan
Agama sesungguhnya telah lama dikenal sejak masa penjajahan yaitu Mahkamah
Syar’iyyah hingga masa kemerdekaan, mulai Orde Lama hingga Orde Baru, baru kurun
waktu akhir 1980-an UU Peradilan Agama No.7 Tahun 1980 dapat disahkan sehagai
undang-undang. Padahal UU No. 14 Tahun 1970 dalam Pasal 10-12 dengan tegas
mengakui kedudukan Peradilan Agama berikut eksistensi dan kewenangannya.
Secara lebih konkrit terdapat beberapa produk peraturan perundang-undangan
yang secara formil maupun material tegas memiliki muatan yuridis hukum Islam,
antara lain:

1. UU RI. No. 1 Tahun 1974 tentang Hukum Perkawinan
2. UU RI. No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama (Kini UU No. 3. Tahun 2006)
3. UU RI. No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan yang membolehkan menggunakan
prinsip bagi hasil
4. UU RI. No. 10 Tahun 1998 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor
7 Tahun 1992 tentang perbankan yang membolehkan menggunakan prinsip
syariah
5. UU RI. No. 17 Tahun 1999 tentang penyelenggaraan ibadah haji
6. UU RI. No. 38 Tahun 1999 Tentang pengelolaan zakat
7. UU RI. No. 44 Tahun 1999 tentang penyelenggaraan otonomi khusus Nanggroe
Aceh Darussalam
8. UU Politik Tahun 1999 yang mengatur ketentuan partai Islam
9. UU RI No. 16 Tahun 2001 tentang yayasan

10

Dadan Muttaqien, Legislasi Hukum Islam di Indonesia dalam Prespektif Politik Hukum, Makalah
disampai dalam Kajian Hukum Islam Pascasarjana Universiatas Islam Indonesia, 6 Maret 2009 di
Yogyakarta, 1.

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

16

10. UU RI No. 41 Tahun 2004 tentang wakaf
11. UU RI No. 3 tahun 2006 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 7
Tahun 1989 tentang Peradilan Agama
12. UU RI No. 19 tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara
13. UU RI No. 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah.11

Di samping tingkatannya yang berupa Undang-undang, juga terdapat peraturan-
peraturan lain yang berada di bawah Undang-undang, antara lain:
a. PP No.9 tahun 1975 tentang petunjuk pelaksanaan UU Hukum Perkawinan
b. PP No.28 tahun 1977 tentang Perwakafan Tanah Milik
c. PP No.72 tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Bank Berdasarkan Prinsip Bagi

Hasil
d. Inpres No.1 tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam
e. Inpres No.4 tahun 2000 tentang penanganan masalah otonomi khusus di

NAD.12

Terkait dengan itu Moh. Mahfud MD mengatakan bahwa produk hukum sebuah
negara memang tak dapat dipisahkan dengan faktor-faktor dan kepentingan politik
dan kekuasaan. Bahkan hukum merupakan produk politik, sehingga karakter setiap
produk hukum akan sangat ditentukan atau diwarnai oleh imbangan kekuatan atau
konfigurasi politik yang melahirkannya. Jadi kenyataan yang muncul adalah politik
yang mempengharuhi produk-produk hukum, padahal seharusnya hukum yang
mengatur politik. Ia menyimpulkan bahwa betapa peran politik sangat besar dalam
menetapkan sebuah ketetapan hukum selama ini di Indonesia. Hukum menurutnya
lahir disebabkan oleh kompromi-kompromi politik di legislatif.13
Lebih lanjut ia mengatakan bahwa perkembangan konfigurasi politik senantiasa
mempengaruhi perkembangan produk hukum. Konfigurasi politik tertentu selalu
melahirkan produk hukum yang memiliki karakter tertentu. Konfigurasi politik
demokratis akan melahirkan hukum-hukum yang berkarakter responsif, populis,

11

Ibid., 10.

12

Ibid., 11.

13

Moh. Mahfud MD, Pergulatan Politik dan Hukum di Indonesia (Yogyakarta: Gama Media, 1999),

4-27.

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

17

sedangkan konfigurasi politik otoriter akan melahirkan hukum yang berkarakter
konservatif, ortodoks dan elitis.14
Sejalan pandangan tersebut, menurut Abdul Halim ditetapkannya beberapa UU dan
aturan hukum tersebut diatas tidak dapat dipisahkan dari konfigurasi politik hukum
yang melatarbelakanginya.15

Politik hukum selalu dikaitkan dengan kebijakan publik
dan pembangunan hukum, sedangkan hukum adalah hasil tarik-menarik berbagai
kekuatan politik yang mengejawantahkan dalam produk hukum. Karena aturan hukum
merupakan produk dan hasil konfigurasi politik, termasuk pasang surut relasi politik
antara Islam dan negara.
Konfigurasi politik yang menguntungkan Islam tersebut terjadi dalam konteks
politik hukum dapat disebut dengan politik akomodasi. Pandangan ini misalnya dianut
oleh Bakhtiar Effendi yang mengatakan bahwa politik Orde Baru terdapat empat bentuk
akomodasi yaitu; 1) akomodasi struktural ; 2) akomodasi legislatif ; 3) akomodasi
infrasturktural ; dan 4) akomodasi kultural.16

Lebih lanjut Effendy memaparkan
sikap akomodatif Orde Baru antara lain terlihat dengan disahkannya Undang-undang
Pendidikan Nasional (UUPN) tahun 1989; diubahnya kebijakan tentang jilbab pada
tahun 1991; dikeluarkannya keputusan bersama tingkat menteri berkenaan dengan
badan amil zakat, infak dan shadaqah (Bazis) tahun 1991; didirikannya Bank Muamalat
dan ICMI tahun 1991; serta dihapuskannya Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah
(SDSB) pada tahun 1993.17
Langkah akomodatif pemerintah dilakukan sebab saat kekuatan Islam secara
kultural sangat kuat yaitu dengan munculnya ICMI meskipun bukan sebagai lembaga
politik tapi dapat mempengaruhi keputusan-keputusan politik. Di sisi lain pemerintah
terutama Presiden Soeharto ingin merangkul kekuatan Islam modernis di samping

14

Ibid., 27.

15

Abdul Halim, Politik Hukum Islam di Indonesia (Jakarta: Ciputat Press, 2005), 124-159. Marzuki
Wahid dan Rumadi, Fiqh Mazhab Negara…, 185. Ahmad Gunaryo, Pergumulan Politik dan Hukum
Islam: Reposisi Peradilan Agama dari Peradilan “Pupuk Bawang Menuju Peradilan yang Sesungguhnya
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), 375-382.

16

Selain Bakhtiar Effendi pandangan yang sama juga yang misalnya; Dawam Raharjo, Fachry Ali, dan
Lukman Harun juga mempunyai pandangan yang sama. Politik akomodasi ini berlanjut sampai pada
pemerintahan BJ. Habibie ketika diterbitkannya UU. No. 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat
yang memungkinkan negara untuk mengurusi pengeloaan zakat umat Islam. Bakhtiar Effendi, Islam dan
Negara…, 289.

17

Bakhtiar Effendi, Islam dan Negara…,273-310.

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

18

kekuatan militer, untuk melanggengkan kekuasaannya. Pengaruh ICMI dapat terlihat
dengan banyak tokoh-tokoh Islam menjadi anggota DPR dan menteri, lebih jauh cukup
menentukan arah dan kebijakan pemerintah ke depan. Hal ini disebabkan oleh sosok
Baharuddin Jusuf Habibie sangat dihormati dan dekat dengan Soeharto, disamping itu
ia sebagai ilmuan yang berpengaruh juga sebagai dikenal penganut Islam yang taat
kepada agama.

Selain itu dari perspektif politik hukum, jika umat Islam menginginkan hukum
Islam menjadi warna dominan di Indonesia, maka perjuangan politik-struktural harus
secara serius dilakukan. Maksudnya karena Indonesia mazhab yang dianut lebih pada
positivisme hukum (legalistik formal), maka umat Islam harus menguasai parlemen
legeslatif, untuk menguasai legislatif perjuangan partai Islam atau partai yang berbasis
Islam untuk satu kata yaitu revitaslisasi hukum Islam ke dalam hukum nasional.
Langkah kedua, yaitu langkah sosio-kultural hal ini dapat dilakukan dengan pembinaan
masyarakat Islam melalui pendidikan, budaya atau dengan jalan mempengharuhi
lembaga negara yang terkait untuk melakukan perubahan kearah yang lebih baik. Jalan
tersebut dapat dilakukan oleh organisasi-organisasi Islam seperti; NU, Muhammadiyah,
Persis, al-Wasliyah, ICMI dan sebagainya. Sehingga dengan kedua jalur tersebut akan
tercipta tatanan masyarakat yang Islami dan pada akhirnya akan melahirkan tatanan
hukum yang Islami pula
Pada konteks tersebut Marzuki Wahid dan Rumadi menilai bahwa beberapa
aturan hukum seperti UU Perkawinan 1974 dan KHI melambangkan fiqh mazhab
Negara. Disebut sebagai mazhab Negara sebab elemen-elemen yang mengkonstruksi
hukum Islam mulai dari inisiatif, proses penelitian, hingga penyimpulan akhir dari
pilihan-pilihan hukumnya semuanya dilakukan oleh suatu tim yang dibentuk oleh
negara dan beranggotakan hampir seluruhnya orang-orang Negara. Latar belakang
pembentukan, logika hukum yang digunakan hingga pola redaksi yang diterapkan juga
sebagaimana lazimnya digunakan oleh hukum positif yang diakui oleh negara. Lebih
dari itu, legetimasi hukum pemberlakuan juga tergantung pada keputusan Negara
melalui (sementara ini) Instruksi Presiden (Inpres). Walhasil, semuanya berwarna
serba Negara, paralel dengan langgam politik Orde Baru yang sangat otoritarian, suatu
bingkai politik ketika aturan tersebut dilahirkan.18
Ditambah lagi, bahwa setiap legislasi yang dilakukan oleh negara, apalagi negara

18

Marzuki Wahid dan Rumadi, Fiqih Mazhab Negara…, ix-x.

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

19

Orde Baru yang saat itu berwatak hegemonik dan otoritarian, ada suatu kehendak-
kehendak sosial-politik tersembunyi yang menyertainya. Orde baru pada masa awal
dikuasai oleh kelompok militer yang cenderung menjalankan pemerintahan secara
tidak demokratis, sebagaimana Soeharto juga mantan militer. Padahal tidak ada hukum
yang bebas nilai, bebas kepentingan dan bebas kuasa. Termasuk dalam jaringan ini
adalah hukum Islam ketika disentuh oleh urusan politik.19

Syariat Islam Aceh dan resolusi konflik

Keinginan masyarakat Aceh untuk menerapkan Syariat Islam sudah cukup lama
sejak masa kesultanan Islam, yaitu Peureulak, Samudera Pasai, dan Aceh Darussalam.
Puncak kegemilangan Syariat Islam di Aceh dapat dilihat pada masa Sultan Iskandar
Muda (1607-1675 M).20

Kemudian memasuki masa penjajahan Belanda juga demikian,
termasuk pasca kemerdekaan ketika Tgk. M. Daud Beureueh pada 17 Juni 1948 pernah
meminta untuk memberlakukan Syariat Islam kepada Presiden Soekarno ketika datang
ke Aceh, tetapi permintaan ini tidak dikabulkan.21
Kemudian pada tahun 1959 Aceh diberi gelar “istimewa”, hal tersebut berdasarkan
Keputusan Perdana Menteri Republik Indonesia No. 1/Missi/1959. Berdasarkan
Undang-undang inilah Daerah Aceh diberi izin untuk menyelenggarakan keistimewaan
dalam tiga bidang yaitu, bidang keagamaan, peradatan, dan pendidikan.22

Keputusan
ini memberikan status istimewa kepada Aceh dalam artian dapat melaksanakan
otonomi daerah yang seluas-luasnya terutama dalam tiga bidang tersebut.
Selanjutnya disahkan Peraturan Daerah No. 1 Tahun 1963 tentang pelaksanaan Syiar
Agama Islam dalam Daerah Istimewa Aceh. Perda No. 1 Tahun 1966 tentang Pedoman
Dasar Majelis Permusyawatan Ulama telah ada lembaga ulama. Meskipun lembaga ini
tidak pernah betul-betul menjadi wadah resmi daerah karena telah ditetapkan jenis
dan bentuknya oleh Pemerintah Pusat. Pemerintah tidak mendukung sepenuhnya
misalnya dari segi keuangan hanya mendapat bantuan ala kadarnya karena belanja

19

Ibid..

20

Azyumardi Azra, Jaringan Ulama…, 202.

21

Al Yasa’ Abubakar, Pelaksanaan Syariat Islam di Aceh: Sejarah dan Prospeknya dalam Fairus M. Nur
Ibr, Syari’at di Wilayah Syariat: Pernik-Pernik Islam di Nanggroe Aceh Darussalam (Banda Aceh: Dinas
Syari’at Islam, 2002), 27.

22

Al Yasa’ Abubakar, Syari’at Islam di Provinsi Aceh Paradigma Kebijakan dan Kegiatan (Banda Aceh:
Dinas Syari’at Islam Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, 2005), 41.

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

20

dan keuangannya hanya dicantohkan pada lembaga lain yang resmi.23
Sejalan dengan pembentukan lembaga ulama ini juga dibentuk Biro Pelaksanaan
Unsur-unsur Syariat Islam yang sering disingkat Biro UUSI yang bertugas untuk
mengkoordinasikan dan melaksanakan berbagai kebijakan dan kegiatan yang
berkaitan dengan pelaksanaan syariat Islam di Aceh. Tetapi biro inipun pada akhirnya
terpaksa dibubarkan karena dalam nomenklatur pemerintah daerah yang disediakan
oleh pemerintah pusat, tidak ada tempat untuk biro tersebut.24
Mengacu pada hal tersebut di atas bahwa sejak masa Daud Beureueh 1948, Missi
Hardi 1958, Perda No. 1 Tahun 1963 yang membentuk Biro UUSI namun pelaksanaan
syariat Islam tidak pernah teraplikasi dengan sesungguhnya. Hal tersebut disebabkan
karena politik otoritarianisme yang dimainkan oleh Soekarno dan Soeharto yang
menyebabkan konfigurasi politik juga tidak memihak kepada keinginan masyarakat
Aceh. Akibatnya produk hukum yang dihasilkan juga jelas akan bersifat otoritarian dan
tidak demokratis.

Pada sisi lain, perubahan sosial politik dari Orde Baru ke masa reformasi ditandai
dengan turunnya Soeharto dari tampuk kekuasaan telah mengantarkan Indonesia
menuju fase baru dalam sejarahnya terjadi pada 21 Mei 1998.25

Hal ini tidak hanya
ditandai dengan peralihan tampuk kekuasaan dari Soeharto kepada Baharuddin
Jusuf Habibie yang sebelumnya adalah wakil presiden, tetapi lebih penting lagi
adalah perkembangan dan perubahan penting yang terjadi segera setelah Habibie
menggantikannya.26

Politik otoritarian dan diktator yang perankan oleh Soeharto
segera dihilangkan oleh Habibie dengan membuka keran demokrasi, media massa
bebas, dan munculnya kontrol terhadap pemerintahan yang lebih luas dari masyarakat.
Sejalan dengan pandangan tersebut A. Qadri Azizy mengatakan bahwa memasuki
era reformasi arah dan kebijakan hukum nasional yang juga sekaligus merupakan

23

Ibid., 35.

24

Ibid., 36.

25

Eep Saifullah Fatah, Menuju Format Baru Politik Islam dalam Abu Zahra (Ed.), Politik Demi Tuhan:
Nasionalisme Religius di Indonesia (Bandung: Pustaka Hidayah, 1999), 389. Donald K. Emerson,
“Krismon dan Lengser: Kemelut Tahun 1997-1998”, dalam Donald K. Emerson (ed.), Indonesia Beyond
Soeharto: Negara, Ekonomi, Masyarakat, Transisi (Jakarta: Gramedia, 2001), 521-613.

26

Mengenai drama lengsernya Soeharto dan munculnya BJ Habibie sebagai Presiden dapat dibaca dalam
Baharuddin Jusuf Habibie, Detik-Detik Yang Menentukan: Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi
(Jakarta: THC Mandiri, 2006), 1-31. Juga M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern 1200-2004 (Jakarta:
Serambi, 2001), 624-655.

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

21

politik hukum nasional ikut berubah. Sebagaimana ditegaskan dalam Garis-Garis Besar
Haluan Negara (GBHN) 1999, Bab IV bagian A. 2.27
Menata sistem hukum hukum nasional yang menyeluruh dan terpadu dengan
mengakui dan menghormati hukum agama dan hukum adat serta memperbaharui
perundang-undangan warisan kolonial dan hukum nasional yang diskriminatif
termasuk ketidakadilan gender dan ketidaksesuaiannya dengan tuntutan reformasi
melalui program legislasi.

Dari kutipan di atas dapat dipahami bahwa sumber hukum nasional secara garis
besar adalah; a) hukum adat; b) hukum agama (dalam hal ini hukum Islam; c) hukum
dari luar, khususnya dari dunia Barat. Memang pembahasan mengenai ketiga sumber
tersebut sebenarnya sudah diakui pada masa Orde baru, namun selalu “malu-malu” atau
bahkan berpura-pura dan penuh kekhawatiran atau ketakutan terhadap kekuasaan.
Hal ini terjadi, karena selama kekuasaan pemerintahan Orde Baru didominasi oleh
doktrin Islam phobia (anti Islam), sebagai kelanjutan dari politik Islam pemerintahan
Belanda ketika menjajah Indonesia. Meskipun harus diakui bahwa penguasa Soeharto
berangsur-angsur mendekati Islam, namun sudah terlanjur menjadi kondisi yang tidak
tertolong, yang berakhir dengan tergulingnya Orde Baru pada 1989 sebagai akibat
gelombang reformasi. Sampai pada akhir Soeharto hukum Islam tidak mendapat
tempat yang tegas dan jelas dalam politik hukum nasional. 28
Seiring dengan era reformasi, keran demokrasi semakin terbuka dari negara,
tuntutan dari masyarakat Aceh kemudian dijawab dengan ditetapkannya UU No. 44
Tahun 1999 tentang penyelenggaraan keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Aceh
dan UU No. 18 Tahun 2001 Syariat Islam di Aceh secara kaffah. Sejalan dengan itu maka
pada tanggal 1 Muharram 1423 Hijriyah bertepatan dengan 15 Maret 2002 secara
resmi syariat Islam dideklarasikan pada masa Gubernur Abdullah Puteh.29

Selanjutnya
kedua UU tersebut diperkuat oleh UU No. 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh.
Perlu dicatat bahwa pemberlakuan Syariat Islam di Aceh secara yuridis berdasarkan
UU No. 44 Tahun 1999 dan No. 18 Tahun 2001 dari proses awal yang diberikan oleh

27

A. Qodri Azizy, Elektisisme Hukum…, 174.

28

A. Qodri Azizy, Elektisisme Hukum…, 175.

29

Iskandar Ibrahim, Dinamika Pelaksanaan Syariat Islam di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, dalam
Syahrizal (ed.), Kontekstulisasi Syariat Islam di Nanggroe Aceh Darussalam (Banda Aceh: Ar-Raniry
Press, 2004), 83-94. Rifyal Ka’bah, Penegakan Syari’at Islam di Indonesia (Jakarta: Khairul Bayan,
2004), 26. Al Yasa’ Abubakar, Syari’at Islam.., 26 dan 390.

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

22

pemerintah ditengarai sebagai solusi konflik yang sarat dengan nuansa politik sampai
saat ini.30

Karena perlawanan mulai dari DI/TII oleh Tgk. Muhammad Daud Beureueh
dan Gerakan Aceh Merdeka Teungku Hasan Tiro terhadap pemerintah pusat dibaca dan
ditafsirkan oleh Jakarta akan mengarah kepada disintegrasi bangsa atau pemisahan diri
dari Negara Kesatuan Republik Indoensia (NKRI). Karena itu untuk melunakkan hati
masyarakat Aceh maka diberikan Syariat Islam sebagai solusi alternatif. Padahal ketika
Tgk. Muhammad Daud Beureueh meminta kepada Soekarno tidak pernah diberikan,
dan GAM juga tidak pernah meminta pemberlakukan Syariat Islam secara khusus,
kelompok GAM justru lebih menuntut keadilan ekonomi dan politik bagi rakyat Aceh.
Meskipun demikian melunaknya pemerintah Jakarta terhadap penanganan Aceh
jelas menggambarkan politik akomodasi tersebut di atas. Sedangkan ditetapkannya
UU No. 44 Tahun 1999 dan UU No. 18 Tahun 2001 serta UUPA No. 11 Tahun 2006,31
sebagai dasar yuridis penerapan Syariat Islam jelas menunjukkan konfigurasi
politik yang telah berbeda. Pendekatan militer disadari tidak akan pernah berakhir
dengan damai, justru pendekatan dialog yang bermartabat dan demokratis lebih
mengemuka pada masa tersebut. Hal ini terjadi karena komposisi anggota DPR Pusat
dan pemerintah telah terbuka dengan era reformasi, politik pada masa ini cenderung
lebih demokratis dibandingkan dengan pada masa orde baru dibawah kepemimpinan
Soeharto dan orde lama masa Soekarno. Terkait dengan pandangan tersebut Al Yasa’
Abubakar mengatakan:

Izin pelaksanaan syariat Islam di Aceh tidak dapat dipisahkan dari konteks
penyelesaian konflik jangka panjang. Keberhasilan pelaksanaan syariat Islam
diyakini merupakan salah satu jalan yang akan mengembalikan kepercayaan
rakyat kepada Pemerintah Pusat. Dengan syariat Islam rakyat Aceh akan merasa
bahwa mereka telah dapat kembali ke lingkungan yang “asli dan alamiah” berada
dalam kedamaian dan ketentraman, ridha dan karunia Allah. Kepercayaan kepada
Pemerintah Pusat secara berangsur akan pulih kembali, perasaan pernah dibohongi
dan dieksploitasi secara perlahan akan dapat dihapus dan dihilangkan dari
kesadaran masyarakat. Dengan demikian upaya kelompok tertentu mempengaruhi
rakyat untuk memberontak bahkan memisahkan diri dari NKRI dengan alasan
agama di masa depan tidak akan berhasil lagi.32

30

Taufk Adnan Amal dan Syamsu Rizal Panggabean, Politik Syariat Islam…, 21.

31

Undang-Undang Republik Indonesia Tentang Pemerintahan Aceh Nomor 11 Tahun 2006, Banda Aceh:
Dinas Informasi dan Komunikasi Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, 2006.

32

Al Yasa’ Abubakar, Syariat Islam…, 129.

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

23

Selain faktor politik sebagai resolusi konflik terkait dengan penerapan syariat
Islam, faktor budaya dan historis juga tidak kalah pentingnya. Maksudnya bahwa sejak
dahulu adat dan budaya Aceh sarat dengan nilai-nilai Islam sehingga dalam pepatah
Aceh disebut “Adat bak potuemeureuhom hukom bak syiah kuala.” (adat berasal dari
pemerintah, dan hukum berasal dari ulama).33

Sehingga Syariat Islam dapat dikatakan
menjadi hukum yang hidup dalam masyarakat (living law). Sedangkan faktor historis
bahwa syariat Islam telah lama dipraktekkan dalam sejarah yakni pada masa kesultanan
atau sejak Islam pertama kali masuk ke Aceh.
Syariat Islam yang sudah diterapkan di Aceh masih menyisakan beberapa kendala
dalam konteks politik hukum nasional, karena syariat Islam diterapkan dalam kerangka
hukum nasional. Misalnya aturan bahwa zakat yang dikeluarkan oleh seseorang dapat
menjadi faktor pengurangan dari pajak yang harus dibayar (Pasal 192 UUPA No. 11
2006). Akan tetapi sampai saat ini aturan tersebut tidak diberlakukan karena harus
menunggu aturan dari Menteri Keuangan atau Dirjen Pajak yang belum ada.34

Selain
itu, pasal yang mengatur penggabungan Satpol PP dan Wilayatul Hisbah pasca
pemberlakuan UUPA No. 11 Tahun 2006 dinilai justru melemahkan dan mempersulit
tugas WH dilapangan. Padahal ketika WH masih dibawa Dinas Syariat Islam kinerjanya
cukup nyata dilapangan. Karena itu terkait masalah ini pemerintah baik pusat dan
daerah Aceh perlu membuat aturan agar semua dapat teraplikasi dengan baik. Hal ini
juga menunjukkan bahwa penerapan syariat Islam di Aceh tidak akan pernah terpisah
dari konfigurasi politik hukum di Indonesia. Hal ini juga diakui oleh Husni Jalil,35

seperti

tertuang dalam skema di bawah ini:

33

Muhammad Zainuddin, Tarich Atjeh dan Nusantara (Medan: Iskandarmuda, 1961), 313.

34

Rusjdi Ali Muhammad, Reformulasi Pelaksanakan Syariat Islam di Aceh, Makalah disampaikan
pada Seminar, Pengkajian, Perumusan dan Evaluasi Satu Dasawarsa Pelaksanaan Syariat Islam di Aceh,
Tanggal 7-8 Desember 2011 di Banda Aceh.

35

Husni Jalil, “Qanun Syariat: Perumusan dan Aplikasinya,” Makalah disampaikan pada Seminar,
Pengkajian, Perumusan dan Evaluasi Satu Dasawarsa Pelaksanaan Syariat Islam di Aceh, Tanggal 7-8
Desember 2011 di Banda Aceh, 4.

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

24

Kalau begitu, masyarakat Aceh dan umat Islam umumnya, meskipun penerapan
syariat Islam dianggap sebagai sarat dengan nilai politik, tapi Aceh harus mampu
buktikan kepada masyarakat lain bahwa Aceh mampu. Political will atau keinginan
politik dari Pemerintah Aceh menjadi faktor utama di samping keseriusan Pemerintah
Pusat untuk menerapkan syariat Islam. Di lain pihak tentunya perlu dukungan semua
elemen masyarakat untuk menyukseskan tanggung jawab tersebut, penulis yakin
dan percaya seiring dengan perjalanan waktu syariat Islam di Aceh akan terwujud
sebagaimana yang diinginkan bersama.

Epilog

Hukum adalah produk politik, sebab hukum dilahirkan oleh dari konfigurasi politik
Negara. Konfigurasi politik tertentu selalu melahirkan produk hukum yang memiliki
karakter tertentu. Konfigurasi politik demokratis mampu melahirkan hukum-hukum
yang berkarakter responsif dan demokratis sedangkan konfigurasi politik otoriter akan
melahirkan hukum yang berkarakter konservatif dan menindas. Ketika Orde Baru yang
politik penguasa diktator nasib hukum Islam tidak jelas dan cukup menyedihkan, saat
reformasi hukum Islam mempunyai posisi yang layak dalam konteks politik hukum
nasional.

Landasan Konstitusional

Politik Hukum

Program Legislasi Daerah

Partisipasi Masyarakat

Pembahasan Legal Drafng

Produk
Qanun
yang
berbasis
Syariah

Tatanan Hukum
Nasional

Tatanan Hukum
Islam

Tatanan Hukum
Adat

Inklusif

Eksklusif

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

25

Secara umum pada masa Orde Baru hukum Islam tidak mendapat tempat
sebagaimana Islam politik juga dipinggirkan. Namun diyakini bahwa sejak masa akhir
kekuasaan Soeharto seiring dengan munculnya ICMI sebagai kekuatan baru Islam yang
dimotori kaum santri baru membawa perubahan yang signifikan ketika Islam itu mulai
didekati sampai pada saat yang bersamaan hukum Islam sedikit mendapat tempat
yang kemudian melahirkan KHI 1991. Kondisi tersebut tidak dapat dipisahkan dari
konfigurasi politik yang menguntungkan Islam tersebut terjadi dalam konteks politik
hukum dapat disebut dengan politik akomodasi. Masa akhir Orde Baru memainkan
politik empat bentuk akomodasi yaitu; struktural, legislatif, kultural, dan akomodasi
infrastruktural.

Perubahan secara drastis sangat nampak ketika Soeharto tumbang 1989, era Habibie
sampai saat ini posisi hukum Islam dalam politik hukum nasional cukup mendapat
tempat sehingga melahirkan banyak aturan hukum seperti; UU Hají, UU Zakat, Otonomi
Khusus Aceh, Partai Islam (semuanya pada tahun 1999), UU Wakaf 2004, Perubahan
UU Peradilan Agama 2006, UU Surat Berharga Syariah, dan Perbankan Syariah pada
2008.

Terkait dengan penerapan Syariat Islam di Aceh juga tidak dapat dipisahkan dari
konfigurasi politik negara. Pada masa Soekarno dan Soeharto kata syariat Islam seolah
menjadi racun yang ketika diminum akan membuat pemerintah mati seketika. Kedua
Presiden tersebut tidak pernah sedikit memberikan peluang meskipun rakyat Aceh
memintanya. Akan tetapi ketika Orde Baru tumbang berganti dengan era reformasi
otonomi khusus dan penerapan syariat Islam diberikan oleh Pemerintah Pusat.
Pergolakan DI/TII dan perlawan GAM jelas tidak dapat dipisahkan dari pemberian
otonomi khusus Aceh yang menjadi dasar yuridis pemberlakuan Syariat Islam
sebagaimana disebutkan dalam UU No. 44 Tahun 1999 dan UU No. 18 Tahun 2001.
Hampir semua persoalan aturan hukum masalahnya adalah pada tahap aplikasi,
bagaimanapun baiknya aturan jika poses implementasinya tidak baik, maka tujuan
hukum tidak akan tercapai. Salah satu masalah utama dari penerapan syariat Islam
adalah keinginan politik dari pemerintah dan legislatif untuk menerapkan syariat
Islam di Aceh.36

Karena itu, keinginan politik dari Pemerintah Pusat dan Pemerintah
Aceh menjadi faktor utama dalam menyukseskan penerapan syariat Islam. Di samping

36

Abidin Nurdin, Ulama dan Proses Legislasi: Mengkaji Legitimasi Lembaga Ulama Aceh dalam Arskal
Salim dan Adlin Sila, Serambi Mekah Yang Berubah: Views From Within (Jakarta: Alvabet, 2009), 108.

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

26

itu, modal budaya dan historis juga menjadi kekuatan pendukung atas tuntutan
masyarakat Aceh agar diberikan hak menerapkan syariat Islam. Karena itu, revitalisasi
nilai-nilai Islam dalam kehidupan sosial dan budaya Aceh merupakan sesuatu yang
mendesak dan segera harus dilakukan, dengan nilai tersebut justru syariat lebih
teraplikasi dalam kehidupan masyarakat.

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

27

DAFTAR PUSTAKA

A. Qodri Azizy. Elektisisme Hukum Nasional: Kompetisi Antara Hukum Islam dan Hukum
Umum.
Yogyakarta: Gama Media, 2002.
Abdul Aziz Thaba. Islam dan Negara: Hubungan Agama dan Politik Masa Orde Baru.
Jakarta: Gema Insani Press, 1996.
Abdul Halim. Politik Hukum Islam di Indonesia. Jakarta: Ciputat Press, 2005.
Abidin Nurdin. Ulama dan Proses Legislasi: Mengkaji Legitimasi Lembaga Ulama Aceh
dalam Arskal Salim dan Adlin Sila, Serambi Mekah Yang Berubah: Views From
Within.
Jakarta: Alvabet, 2009.
Ahmad Gunaryo. Pergumulan Politik dan Hukum Islam: Reposisi Peradilan Agama dari
Peradilan “Pupuk Bawang Menuju Peradilan yang Sesungguhnya.
Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2006.
Ahmad Rofiq. Pembaharuan Hukum Islam di Indonesia. Yogyakarta: Gama Media, 2001.
Ahmad Syafii Maarif. Islam dan Masalah Kenegaraan: Studi Tentang Percaturan dalam
Konstituante.
Jakarta: LP3ES, 1985.
Al Yasa’ Abubakar. Pelaksanaan Syariat Islam di Aceh: Sejarah dan Prospeknya dalam
Fairus M. Nur Ibr, Syari’at di Wilayah Syariat: Pernik-Pernik Islam di Nanggroe
Aceh Darussalam
. Banda Aceh: Dinas Syari’at Islam, 2002.
-----------. Syari’at Islam di Provinsi Aceh Paradigma Kebijakan dan Kegiatan. Banda
Aceh: Dinas Syari’at Islam Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, 2005.
Azyumardi Azra. Jaringan Ulama: Timur-Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad
XVII dan XVIII Melacak Akar-Akar Pembaharuan Pemikiran Islam di Indonesia.

Bandung: Mizan, 1998.
Bakhtiar Effendi. Islam dan Negara: Transformasi Pemikiran dan Praktik Politik Islam di
Indonesia
. Jakarta: Paramadina, 1998.
Baharuddin Jusuf Habibie. Detik-Detik Yang Menentukan: Jalan Panjang Indonesia
Menuju Demokrasi
. Jakarta: THC Mandiri, 2006.
Bakhtiar Effendy. Problematika Politik Islam: Refleksi Tiga Periode dalam Abuddin Nata
(ed.), Problematika Politik Islam di Indonesia. Jakarta: Grasindo, 2002.
Dadan Muttaqien. Legislasi Hukum Islam di Indonesia dalam Prespektif Politik Hukum,
Makalah disampai dalam Kajian Hukum Islam Pascasarjana Universiatas Islam
Indonesia, 6 Maret 2009 di Yogyakarta.
Deliar Noer, Islam dan Politik, (Jakarta: Yayasan Risalah, 2003).
Din Syamsuddin. Beberapa Catatan Problematika Islam di Indonesia, dalam Abuddin
Nata (ed.), Problematika Politik Islam di Indonesia. Jakarta: Grasindo, 2002.
Donald K. Emerson. “Krismon dan Lengser: Kemelut Tahun 1997-1998”, dalam Donald

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

28

K. Emerson (ed.), Indonesia Beyond Soeharto: Negara, Ekonomi, Masyarakat,
Transisi.
Jakarta: Gramedia, 2001.
Eep Saifullah Fatah. Menuju Format Baru Politik Islam dalam Abu Zahra (ed.), Politik
Demi Tuhan: Nasionalisme Religius di Indonesia
. Bandung: Pustaka Hidayah,
1999.
Endang Saifuddin Anshari. Piagam Jakarta 22 Juni 1945: Sebuah Konsensus Nasional
Tentang Dasar Negara Republik Indonesia (1945-1949).
Jakarta: Gema Insani
Press, 1997.
Husni Jalil. Qanun Syariat: Perumusan dan Aplikasinya, Makalah disampaikan pada
Seminar, Pengkajian, Perumusan dan Evaluasi Satu Dasawarsa Pelaksanaan
Syariat Islam di Aceh, Tanggal 7-8 Desember 2011 di Banda Aceh.
Imam Syaukani dan A. Ahsin Thohari. Dasar-Dasar Politik Hukum. Jakarta: Rajawali
Press, 2007.
Iskandar Ibrahim. Dinamika Pelaksanaan Syariat Islam di Provinsi Nanggroe Aceh
Darussalam, dalam Syahrizal (editor), Kontekstulisasi Syariat Islam di Nanggroe
Aceh Darussalam.
Banda Aceh: Ar-Raniry Press, 2004.
JND. Anderson. Hukum Islam di Dunia Modern, Alih Bahasa Machnun Husein. Surabaya:
Amarpress, 1991.
Marzuki Wahid dan Rumadi. Fiqh Mazhab Negara: Kritik atas Politik Hukum Islam di
Indonesia
. Yogyakarta: LKiS, 2001.
M.C. Ricklefs. Sejarah Indonesia Modern 1200-2004. Jakarta: Serambi, 2001.
Moh. Mahfud MD. Pergulatan Politik dan Hukum di Indonesia. Yogyakarta: Gama Media,
1999.
Muhammad Abed al-Jabiri. Agama, Negara dan Penerapan Syariat Islam. Yogyakarta:
Fajar Pustaka Baru, 2001.
Muhammad Zainuddin. Tarich Atjeh dan Nusantara. Medan: Iskandarmuda, 1961.
Nur Ahmad Fadhil Lubis. A History of Islamic Law in Indonesia. Medan: IAIN Press, 2000.
Rifyal Ka’bah. Penegakan Syari’at Islam di Indonesia. Jakarta: Khairul Bayan, 2004.
Rusjdi Ali Muhammad. Reformulasi Pelaksanakan Syariat Islam di Aceh, Makalah
disampaikan pada Seminar, Pengkajian, Perumusan dan Evaluasi Satu Dasawarsa
Pelaksanaan Syariat Islam di Aceh, Tanggal 7-8 Desember 2011 di Banda Aceh.
Taufik Adnan Amal dan Samsu Rizal Panggabean. Politik Syariat Islam: Dari Indonesia
hingga Nigeria
. Jakarta: Pustaka Alvabet, 2004.
Undang-Undang Republik Indonesia Tentang Pemerintahan Aceh Nomor 11 Tahun
2006
, Banda Aceh: Dinas Informasi dan Komunikasi Provinsi Nanggroe Aceh
Darussalam, 2006.

KEPENTINGAN MENDIRIKAN DAWLAH ISLAMIYYAH
MENUJU ARAH PELAKSANAAN HUKUM ISLAM1

Prolog

Pembentukan Dawlah Islamiyyah adalah suatu tuntutan dalam Islam. Ia termasuk
dalam perkara tuntutan Fardhu Kifayah. Kepentingan pembentukan Dawlah Islamiyyah
ada kaitannya dengan pelaksanaan Syariah, kerana Syariah tidak dapat dilaksanakan
tanpa adanya Negara atau kedaulatan politik. Tuntutan pelaksanaan Syariah adalah
wajib ke atas orang-orang Islam, maka mendirikan Dawlah Islamiyyah juga adalah suatu
yang wajib. Dawlah Islamiyyah mempunyai keistimewaannya yang tersendiri dan amat
berbeza dengan konsep Negara Bangsa (Nation-state) yang terdapat dalam dunia hari
ini. Persoalannya ialah bagaimanakah bentuk Dawlah Islamiyyah yang ingin ditegakkan.
Kertas kerja ini bertujuan untuk menganalisis sejarah pembentukan dan perkembangan
Dawlah Islamiyyah yang bermula dari zaman Rasulullah saw., sehinggalah pada zaman
para sahabat atau zaman khulafa’ al-Rasyidin. Kedua-dua zaman tersebut merupakan
zaman awal Islam yang paling sesuai untuk dijadikan sebagai contoh tauladan kepada
seluruh umat Islam. Ia merupakan zaman yang paling ideal bagi sebuah pemerintahan
yang berlandaskan Islam sepenuhnya. Selepas itu sistem pemerintahan Islam
berkembang menelusuri zaman berzaman yang mencapai tahap perkembangan dan
pengukuhannya. Contoh amalan Rasulullah dan para sahabat mendirikan Dawlah
Islamiyyah
sepatutnya menjadi ikutan umat Islam di seluruh dunia sepanjang zaman.

Konsep Negara menurut politik moden

Menurut istilah sains politik moden perkataan ‘negara’ atau state selalu diertikan
sebagai ‘bangsa’, ‘masyarakat’, ‘kerajaan’, dan lain-lain. Tetapi perkataan ini mempunyai
maksudnya tersendiri dalam sains politik dan haruslah dibezakan di antara satu
dengan yang lain. Dalam sains politik, istilah ‘negara’ bermaksud sekumpulan manusia

1

This paper was presented on December 31, 2011 in the 2nd

International Seminar on Idealism of Political
Islam in Aceh, held in Meulaboh by Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Teungku Dirundeng Meulaboh
in collaboration with Lembaga Kajian Agama dan Sosial (LKAS) Banda Aceh. Dr Bharuddin Che Pa is
a senior lecturer at the Department of Siyasah Syar’iyyah, Academy of Islamic Studies, University of
Malaya, Kuala Lumpur.

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

30

yang menduduki sesebuah wilayah yang tetap di bawah penyelenggaraan dan tidak
tertakluk kepada kuasa luar. Semua negara mempunyai ciri-ciri yang hampir sama.
Dalam negara ada sekumpulan manusia yang hidup dan menjalankan pengawalan
disesebuah wilayah yang tetap. Mereka merupakan kerajaan dan rakyat yang
memerintah dan yang diperintah. Peraturan dan juga undang-undang ditetapkan dan
dipelihara, kewajipan-kewajipan dilaksanakan dan hak kewajipan itu diiktiraf oleh
kedua-dua ahli kumpulan dan juga negara luar.2
Para sarjana politik moden telah memberikan pelbagai pendapat dalam
mendifinisikan negara. Mereka mendefinisikan Negara sebagai organisasi penting
dan berdiri untuk kesemua ahli masyarakat. Ada yang beranggapan Negara adalah
sistem kuasa dan yang lain pula berpendapat Negara sebagai sistem kebajikan. Ada
pula yang berpendapat bahawa negara itu merupakan pembentukan yang sah sama
ada perhubungan di antara yang memerintah dan yang diperintah atau sebagai satu
masyarakat di mana segala tindakannya tertakluk kepada peraturan mengikut undang-
undang yang sah. Terdapat beberapa aspek yang dipersetujui oleh para sarjana
politik iaitu; Negara patutlah merangkumi satu wilayah yang terdapat penduduk, dan
penduduk ini pula diperintah oleh satu badan politik. Kerajaan atau pemerintahan
pula mempunyai hak kuasa atau kewibawaan ke atas rakyat dalam hal menjalankan
kewajipan mereka terhadap negara.3
Dalam istilah bahasa Arab perkataan negara diterjemahkan sebagai dawlah atau
al-Dawlah. Negara Islam disebut sebagai al-Dawlah al-Islamiyyah atau sudah dijadikan
kelaziman dalam sebutan biasa sebagai Dawlah Islamiyyah. Istilah Dawlah Islamiyyah
yang digunakan dalam kertas kerja ini memberi maksud Negara Islam.

Dawlah Islamiyyah menurut pandangan ulama

Dalam tulisan ulama tradisional tidak didapati takrif Dawlah Islamiyyah yang diberikan,
apa yang mereka berikan ialah ciri-cirinya seperti perbincangan mereka tentang ketua
Negara, syarat-syaratnya, cara pemilihannya, tugasnya dan perkara-perkara lain yang
ada kaitan dengan pentadbiran Negara.4

Tetapi di masa kebelakangan ini terdapat

2

K. Ramanathan Kalimuthu, Asas Sains Politik (Petaling Jaya: Budaya Ilmu Sdn. Bhd. 1987), 119.

3

Ibid.,121.

4

Dr. Abdul Halim El-Muahmmady, Konsep Negara Islam. Laman web JAKIM 2001, http://www.

Islam.gov.my/e-rujukan

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

31

cendiakawan Islam yang cuba memberi definisi Dawlah Islamiyyah. Terdapat pelbagai
takrif Dawlah Islamiyyah diberikan oleh ulama sebagai asas perbincangan mereka di
dalam membentuk konsep Dawlah Islamiyyah. Ada di antara mereka mentakrifkan
Dawlah Islamiyyah sekadar melihat waqi’ (reality) di zamannya dan di antaranya pula
dengan makna yang mencakupi segala aspek rukun Dawlah Islamiyyah.5
As-Sarakhsi mentakrifkan Dar Al-Islam (Dawlah Islamiyyah) dengan menegaskan
ianya tempat yang berada di bawah pemerintahan orang-orang Islam, tandanya ialah
apabila orang Islam aman di dalamnya. Manakala Muhamad bin Hassan as-Syaibani,6
seorang ulama terkemuka dari Mazhab Hanafi mentakrifkan Dawlah Islamiyyah
sebagai “negara yang dikuasai oleh umat Islam, di mana orang-orang Islam beroleh
keamanan di dalamnya”. Kedua-dua takrif ini hampir sama iaitu meletakkan asas
Dawlah Islamiyyah mestilah dikuasai oleh orang Islam.
Mengikut pandangan al-Baghdadi, Dawlah Islamiyyah adalah Negara di mana
masyarakatnya dapat menyeru dakwah Islam tanpa ada rasa takut dan bimbang,
dan dilaksanakan di dalamnya hukum-hukum ke atas orang kafir zimmi, manakala
golongan ahli bid’ah tidak bermaharajalela menekan ahli Sunnah.7

Menurut Hassan al-
Banna, sebuah kerajaan Islam ialah kerajaan di mana para pemimpinnya menunaikan
kewajipan Islam, tidak melakukan maksiat dan mereka menjadi pelaksana hukum-
hakam Islam dan pengajaran dalam dirinya.8
Al-Mawdudi mentakrifkan Dawlah Islamiyyah ialah Negara yang kuasa mutlaknya
pada Allah Swt., Dia yang menentukan syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad
saw., Ia sebuah Negara bercorak theo-democracy yang tergabung di dalamnya autoriti
mutlak pada Allah dan penyerahan autoriti yang terbatas kepada manusia dalam
pelaksanaan urusan Negara yang diakui oleh Syarak. Al-Mawdudi juga menjelaskan
Dawlah Islamiyyah merupakan satu asas pembinaan Negara yang berlandaskan
kepada Hakimiyyah Allah yang Maha Esa. Arahan, keputusan dan perundangan adalah

5

Haji Abdul Hadi Awang, Sistem Pemerintahan Negara Islam (Petaling Jaya: Dewan Muslimat Sdn.

Bhd., 1995), 23.

6

Wan Zahidi Wan The, Ciri-Ciri Sebuah Negara Islam, Pelaksanaan Hukum Syarak di Malaysia (ed.),
tt.; Khairul ‘Azmi Mohamad, Abdul Munir Yaacob, Ketua Penerangan dan Penyelidikan Kerajaan Negeri
Johor, 13.

7

Imam al-Baghdadi, Usul al-Din (Beirut: Dar al-Kutub al-Imamiyyah, 1980), 270.

8

Muhammad Pisol Mat Isa, Jihad Politik Dalam Politik dan Persoalan Negara Islam Mengikut
Pandangan Sa’id Hawwa
(Negeri Sembilan: M. Khairi Enterprise, 2001), 138.

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

32

hak Allah semata-mata yang tidak dimiliki oleh mana-mana individu atau dinasti
atau puak atau bangsa bahkan tiada seorang manusia pun yang berhak memegang
kuasa pemerintahan dan perundangan ini.9

Manusia hanya melaksanakan tugas-
tugasnya sebagai khalifah dan hanya dianggap sah jika khalifah yang memerintah
adalah khalifah yang mengikut syariat dan undang-undang yang dibawa oleh khalifah
daripada Tuhannya. Mereka yang beriman dengan undang-undang ini dan menyatakan
kesediaan untuk patuh dan mengamalkan undang-undang ini adalah orang yang layak
untuk melaksanakan tugas khalifah.
Ayatullah Khomeini pula mentakrifkan bahawa Dawlah Islamiyyah tidak ada
sebarang persamaan dengan mana-mana sistem kerajaan sedia ada. Dawlah
Islamiyyah
bukanlah autokratik dan tidak menjadikan ketuanya berkuasa penuh
sehingga membolehkannya membuat sesuka hati terhadap nyawa dan harta benda
orang. Dawlah Islamiyyah adalah negara berpelembagaan tetapi bukan dalam erti
kata moden iaitu perlembagaan yang ditafsirkan oleh Parlimen atau badan-badan
perwakilan awam. Dawlah Islamiyyah ialah Negara perlembagaan dalam ertikata
bahawa sesiapa bertanggungjawab mengendalikannya terikat kepada undang-undang
dan syarat-syarat yang ditetapkan oleh Alqurandan al-Sunnah.
Mengikut takrifan Said Hawwa, Dawlah Islamiyyah ialah Negara yang meletakkan
undang-undang Syarak yang tunggal untuk mentadbir Negara. Ia dipimpin oleh orang
Islam yang komited dengan ajaran agamanya, segala sistem dan tujuan hidup Negara
adalah untuk menegakkan ajaran Islam yang murni. Abd. Qadim Zallum10

menyebut
bahawa Dawlah Islamiyyah ialah sebuah Negara yang ada padanya pelaksanaan
hukum-hukum Islam secara keseluruhan. Sepanjang kekuasaan Dawlah Islamiyyah,
hukum-hukum dan aturan Islam dilaksanakan di semua wilayahnya samada
melibatkan muamalah pelaksanaan hukum, akhlak, ibadah dan seluruh urusan
rakyat. Dawlah Islamiyyah melaksanakan hukum-hukum Islam kepada sesiapa sahaja
yang berada di dalam kekuasaannya, baik muslim atau non-muslim dan menjadikan
hukum Islam itu sebagai hukum Syara’, sebagaimana Islam membentuk solusi untuk
semua masalah.

9

Sayyid Abu al-A’la Maududi, Proses Pembinaan Negara Islam (Kuala Lumpur: Pustaka Salam, 2000),

29.

10

Abd. Qadim Zallum, Pemikiran Politik Islam Mengemukakan Ketinggian Politik Islam (Bangil Jawa
Timur: Al-Izzah, 2001), 17.

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

33

Dr. Muhammad Abd. Qadir Abu Fariz11

menjelaskan Dawlah Islamiyyah itu sebagai
sekelompok besar manusia yang hidup secara berpanjangan di atas wilayah tertentu,
diatur oleh sistem kekuasaan yang mengatur kelompok masyarakat manusia ini,
menyangkut urusan dalam negeri mahupun luar negeri dalam perang atau dalam
keadaan damai. Muhammad Abd. Qadir menjelaskan lagi bahawa pembentukan Negara
tersebut harus memenuhi tiga unsur utama iaitu bangsa, wilayah dan kedaulatan
menurut logik dan akal. Dan ketiga-tiga aspek tersebut, haruslah bersandarkan
kepada hukum yang ditetapkan oleh Alquran juga melalui Rasul-Rasulnya. Beliau
juga menjelaskan kerajaan Islam adalah terdiri daripada orang-orang Islam yang
melaksanakan kewajipan Islam dan tidak terang-terangan melakukan maksiat. Ia
melaksanakan hukum-hukum Islam serta ajaran-ajarannya. Oleh itu, kerajaan seperti
inilah kerajaan Islam dari aspek keagamaan individu, berpegang dengan akhlak
Islam serta melaksanakan hukum-hukum Syarak. Berdasarkan ini, kerajaan yang
tidak melaksanakan hukum-hukum Syariat Islam bukanlah kerajaan atau Dawlah
Islamiyyah.12

Lukman Thaib pula berpendapat bahawa Dawlah Islamiyyah ialah Negara yang
pemerintahnnya bersumberkan kepada Alquran al-Karim sebagai sumber pertama
undang-undang Islam yang memberikan sebahagian prinsip-prinsip umum yang asas
dalam bidang politik dan perlembagaan yang tidak boleh ditinggalkan oleh mana-mana
sistem politik atau pemerintahan yang baik.13

Dr. Khalid Ibrahim Jindan menerangkan
konsep Dawlah Islamiyyah itu berdasarkan kepada definisi daripada Ibnu Taimiyyah
iaitu pada sebuah Negara Alquranharuslah berperanan sebagai rujukan akhir hukum
Islam, tidak hanya berperanan sebagai undang-undang perilaku keagamaan tetapi
yang lebih khusus lagi, Alquranmerupakan hukum dasar tertinggi di samping sumber-
sumber lain seperti Sunnah, Ijma’ dan Qiyas.14
Abu Abd. Fattah Ali Belhaj pula menegaskan bahawa Islam bukanlah semata-mata
agama. Islam adalah agama sekaligus Negara (din wa al-dawlah). Dan Negara haruslah
bersandarkan kepada nas-nas dan hukum yang diturunkan Allah. Tanpanya tidak

11

Muhammad Abd. Qadir Abu Fariz, Dr., Sistem Politik Islam, Jakarta: Rabbani Press, 1986), 89.

12

Muhammad Abd. Qadir Abu Fariz, Dr., Fiqh Siasah Menurut Imam As-Syahid Hassan Al-Banna,
Kuala Lumpur; Pustaka Syuhada, 2000), 37

13

Lukman Thaib, Politik Menurut Perspektif Islam (Kajang: Synergymate Sdn. Bhd. 1998), 32.

14

Khalid Ibrahim Jindan, Teori Politik Islam, Telaah Kritis Ibnu Taymiyyah Tentang Pemerintahan Islam
(Surabaya; Risalah Gusti., 1999), 59.

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

34

akan wujud Dawlah Islamiyyah. Maka tetap sahaja bahawa seluruh perkara yang ada
di dalam Alqurandan al-Sunnah, penerapannya meniscayakan tegaknya pemerintahan
dan Dawlah Islamiyyah.15

Dr. Muhibbin, M.A menyatakan, untuk melihat Negara itu
sebuah Dawlah Islamiyyah, maka lihatlah hukum dan undang-undangnya. Sendi dan
rukun Dawlah Islamiyyah ialah Alquran sebagai asasnya.16

Dr. M. Dhiauddin Rays
menyimpulkan bahawa Dawlah Islamiyyah itu bukan hanya agama semata-mata tetapi
ianya merupakan suatu perundangan, sistem pemerintahan peradaban yang lengkap
yang mencakupi agama dan Negara secara bersamaan. Dengan kata lain, sistem Islam
itulah sistem politik yang harus dilalui.17
Mengikut pandangan Ali, Ali Mansur; Negara adalah sekumpulan manusia yang
menetap dalam suatu daerah tertentu. Mereka diperintahkan oleh satu badan
pemerintahan yang mengelolakan urusan-urusan dalam dan luar negara.18

Ertinya,
untuk sesebuah negara itu wujud, ia perlu kepada tiga rukun iaitu; Warganegara, daerah
dan kedaulatan. Selain dari tiga rukun utama yang membentuk negara, terdapat syarat
keempat yang mesti ada pada Dawlah Islamiyyah. Syarat tersebut ialah kepatuhan
yang mutlak kepada hukum-hukum Islam yang menjadi landasan dan kawalan kepada
kerajaan.Penjelasannya adalah seperti berikut:

1. Warganegara

Warganegara ialah kumpulan individu lelaki dan perempuan yang menetap
dalam sesuatu negara. Warganegara juga disebut sebagai rakyat. Istilah rakyat atau
warganegara berbeza dengan istilah penduduk. Penduduk biasanya bermaksud orang
yang duduk atau tinggal dalam sesebuah negara termasuk juga warganegara dan bukan
warganegara. Kadang-kadang terdapat orang-orang asing yang tinggal dalam sesebuah
negara tetapi mereka bukan warganegara. Warganegara biasanya mendapat hak-hak
mereka sebagai warganegara, seperti mendapat hak-hak tabii, hak politik dan hak-hak
sivil seperti hak kebebasan, keselamatan, layanan sosial, kesihatan dan lain-lain. Orang
asing biasanya tidak mendapat hak-hak politik seperti hak mengundi dan hak menjadi

15

Abu Abd. Fattah Ali Belhaj, Menegakkan Kembali Negara Khilafah, Kewajipan Terbesar Dalam
Islam
(Bogor, Pustaka Thariqul Izzah, 2001), 82

16

Muhibbin, M.A, Drs., Hadis-Hadis Politik (Yogyakarta: Pustaka Pelajar LESISKA, 1996), 27.

17

M. Dhiauddin Rais, Drs., Teori Politik Islam (Jakarta: Gema Insani, 2001), 8.

18

Ali Mansur, Islam dalam Perhubungan Antarabangsa, Mahmood Zuhdi Abdul Majid (terj.), (Petaling
Jaya: Budaya Ilmu Sdn. Bhd., 1994), 69.

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

35

wakil rakyat. Orang asing juga tidak mendapat hak-hak sosial seperti hak memiliki harta
tetap, hak melakukan kerja-kerja penting seperti kedoktoran, guaman dan sebagainya.
Pengiktirafan sebagai rakyat dalam Dawlah Islamiyyah adalah dibuat berasaskan
kepada agama (Islam). Oleh itu orang-orang Islam yang tinggal dalam sesebuah
Dawlah Islamiyyah adalah dianggap sebagai rakyat Dawlah Islamiyyah. Hubungan
persaudaraan atau bangsa tertentu tidak boleh dijadikan ukuran utama untuk menilai
kedudukan kerakyatan dalam Dawlah Islamiyyah. Seseorang yang beragama Islam
dengan sendiri dianggap sebagai rakyat bagi Dawlah Islamiyyah. Hubungan sesama
Islam adalah berasaskan akidah. Akidahlah yang menjadi tali pengikat antara orang
Islam dan umat Islam senegara. Kadang-kadang rakyat Dawlah Islamiyyah digelar
sebagai ummah. Ummah bererti rakyat Dawlah Islamiyyah yang sama-sama berpegang
kepada akidah yang sebenar tanpa mengira perbezaan warna kulit, perbezaan
keturunan, bahasa, tempat tinggal dan sebagainya. Orang-orang Islam yang tinggal di
luar Dawlah Islamiyyah masih lagi dianggap rakyat Dawlah Islamiyyah.
Orang-orang bukan Islam dalam Dawlah Islamiyyah pula terbahagi kepada dua
golongan iaitu; ahl al-Dhimmah (Kafir Zimmi) dan al-Musta’man:

a)

Ahl al-dhimmah (kafir zimmi)

Mereka adalah orang-orang bukan Islam yang tinggal dalam Dawlah Islamiyyah,
mematuhi undang-undang negara dan membayar jizyah. Jizyah yang dibayar adalah
sebagai bukti kepatuhan mereka kepada Dawlah Islamiyyah dan tidak lagi memusuhi
dakwah Islamiah. Ia juga sebagai bukti penyertaan mereka dalam perbelanjaan
negara. Dawlah Islamiyyah wajib memberi perlindungan dan mempertahankan
golongan kafir zimmi dari ancaman musuh dari dalam dan luar negara. Walaupun
terikat dengan undang-undang Dawlah Islamiyyah mereka diberi kebebasan untuk
menganut agama masing-masing. Mereka bebas mengamalkan undang-undang dan
peraturan agama mereka sesama mereka. Mereka diberi kebebasan untuk bekerja
dan berniaga. Mereka mempunyai hak-hak dan tanggungjawab terhadap negara
sama seperti rakyat yang beragama Islam.

b)

Al- Musta’man

Al-Musta’man adalah orang yang dijamin keselamatan dalam Dawlah Islamiyyah.
Mereka juga dianggap golongan kafir zimmi yang tinggal untuk sementara waktu
dalam Dawlah Islamiyyah. Sekiranya orang-orang bukan Islam dari luar Dawlah

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

36

Islamiyyah ingin masuk ke Dawlah Islamiyyah untuk sesuatu urusan yang diharuskan
seperti berniaga dan belajar. Mereka hendaklah dibenarkan berbuat demikian
dengan jaminan keselamatan bermula dari kemasukannya hinggalah mereka keluar
dari Dawlah Islamiyyah. Ini berdasarkan Firman Allah yang artinya:

“Dan jika seorang dari antara orang-orang musyrik itu meminta perlindungan
kepadamu, maka lindungilah dia supaya dia sempat mendengar firman Allah.
Kemudian hantarkan dia ke tempat yang aman baginya. Demikianlah itu kerana
mereka kaum yang tidak mengetahui.” (QS. at-Taubah (9):6).

2. Daerah

Maksud daerah bagi sesebuah negara ialah suatu kawasan bumi yang didiami oleh
rakyat negara itu tanpa mengira jenis pertalian yang menghubungkan di antara satu
kawasan dengan kawasan yang lain. Kadang-kadang daerah-daerah tersebut dihubungi
dengan tanah-tanah yang sama (jalan darat). Kadang-kadang berbentuk pulau-pulau
yang dipisahkan oleh laut, sungai dan sebagainya. Sesebuah negara tidak dihadkan
dengan keluasan tertentu. Kabilah yang berpindah randah dari satu tempat ke satu
tempat yang lain tidak dianggap bernegara. Sempadan antara negara-negara biasanya
ditentukan dengan mengambil kira faktor alam semula jadi seperti banjaran bukit,
sungai, selat, laut dan sebagainya. Contohnya Malaysia dan Singapura dipisahkan oleh
Selat Tebrau. Malaysia Barat dan Sumatera dipisahkan oleh Selat Melaka. Malaysia dan
Thailand dipisahkan oleh Sungai Golok dan lain-lain.
Daerah Dawlah Islamiyyah ialah daerah-daerah yang tunduk di bawah kuasa
kerajaan Islam, melaksanakan syariat Islam. Para fuqaha› terdahulu menjelaskan
bahawa Dawlah Islamiyyah itu nama yang diberikan kepada daerah yang berada di
bawah kekuasaan orang-orang Islam. Ia juga kadang-kadang disebut dengan istilah
Dar al-Islam. Mengikut pandangan Dr. Abd al-Ghani Basyuni Abdullah, daerah yang
dikira sebagai Dawlah Islamiyyah ialah daerah yang didiami oleh majoriti umat Islam
sahaja, tetapi yang lebih penting pengamalan Syariah Islam dalam daerah tersebut.19

3. Kedaulatan

Kedaulatan ialah kuasa tertinggi yang dimiliki oleh sesebuah kerajaan yang
memerintah. Mengikut pandangan ahli undang-undang, sesebuah negara yang

19

Abd al-Ghani Basyuni Abdullah, Nazariyyah al-Dawlah fl Islam (Beirut: Al-Dar al-Jami'ah, 1986),

34.

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

37

berdaulat mempunyai pelbagai kebebasan seperti:
i. Berhak untuk memilih tata politiknya sendiri.
ii. Negara tersebut berhak untuk mentadbir daerahnya sendiri.
iii. Negara mempunyai kuasa penuh untuk mengatur perhubungan dengan mana-
mana negara lain atau mana-mana individu. Syarat utama ialah tidak berlaku
apa-apa diskriminasi terhadap mana-mana kaum atau agama.
iv. Negara berhak untuk menggubal undang-undang sendiri selagi tidak
bertentangan dengan undang-undang antarabangsa. Negara berhak
memerintah rakyatnya dan orang-orang yang tinggal dalam negara tersebut
supaya patuh kepada undang-undang yang digubal.
v. Pihak pemerintah negara tersebut berkuasa untuk menjalankan proses dan
urusan pengadilan ke atas rakyat dan penduduk negaranya tanpa campur
tangan kuasa dari negara luar.

Mengikut perspektif Islam kedaulatan adalah kuasa politik yang terdapat dalam
sesebuah negara. Adanya kekuasaan politik merupakan syarat utama kewujudan Dawlah
Islamiyyah. Kuasa politik dalam Dawlah Islamiyyah diperolehi melalui keredhaan
dan persetujuan dari rakyat. Ketua negara dan para pemerintah dilantik melalui
pilihan dan persetujuan rakyat bukannya secara rampasan kuasa atau menggunakan
kekerasan. Para penguasa dianggap berkuasa apabila rakyat menyerahkan mandat
tersebut kepada mereka melalui bay’ah. Kuasa tersebut adalah milik sementara para
pemimpin. Mereka diberi tanggungjawab oleh rakyat untuk menjalankan kewajipan
agama dan juga urusan keduniaan berasaskan aturan agama. Apabila para pemimpin
melakukan kesilapan, rakyat boleh memberi teguran. Rakyat juga mempunyai kuasa
untuk memecat atau menukar pemimpin mereka apabila pemimpin tersebut gagal
melaksanakan tanggungjawab yang diamanahkan.

4. Kepatuhan terhadap Hukum-hukum Islam

Selain daripada tiga rukun utama yang membentuk negara, terdapat rukun keempat
yang mesti ada pada Dawlah Islamiyyah. Perkara yang keempat yang dimaksudkan
ialah kepatuhan yang mutlak kepada hukum-hukum Islam yang menjadi landasan dan
kawalan kepada kerajaan. Syarat ini akan menentukan skop dan bidang kuasa negara,
matlamat dan semua bentuk hubungan dalam dan luar negeri. Perkara utama yang

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

38

menjadi syarat Dawlah Islamiyyah ialah kepatuhan mutlak kepada kaedah-kaedah dan
hukum-hukum yang berhubungkait dengan akidah dan perundangan Islam yang telah
ditentukan oleh Allah Swt.. Tanpa syarat ini Dawlah Islamiyyah tidak dianggap wujud,
sekalipun tiga rukun komponen pertama telah wujud.
Jika syarat tersebut menjadi kriteria bagi terbentuk sebuah Dawlah Islamiyyah
maka masyarakat Islam yang diasaskan oleh Rasulullah di Madinah telah memenuhi
keseluruhan syarat tersebut dan layak untuk disebut sebagai Dawlah Islamiyyah. Di
Madinah telahpun wujud sekumpulan individu rakyat yang terdiri dari orang-orang
Muhajirin dan Ansar. Madinah juga mempunyai persempadanan pemerintahan yang
terbatas di mana orang-orang Makkah tidak menganggap Rasulullah itu pemimpin
mereka. Masyarakat Islam Madinah juga mempunyai sistem pemerintahan tersendiri
yang berasaskan kepada undang-undang syariah dan Rasulullah s.a.w diakui sebagai
ketua negara. Perkara ini diakui di peringkat dalam dan juga luar negara. Berdasarkan
penjelasan di atas Dawlah Islamiah Madinah bolehlah dianggap sebagai sebuah
masyarakat politik yang telah membentuk sebuah negara berdaulat yang tertua di dunia.

Sejarah penubuhan Dawlah Islamiyyah

Kronologi sistem pemerintahan Islam telah bermula dengan penubuhan Dawlah
Islamiyyah
pertama di Madinah oleh Rasulullah saw.. Baginda merupakan ketua
kerajaan Islam yang pertama. Selepas kewafatannya, teraju pemerintahan diteruskan
oleh pemerintahan Khulafa’ al-Rasyidin (11-40H./632-661M.). Zaman ini merupakan
zaman keemasan kepimpinan Islam tambahan pula para khulafa’ terdiri di kalangan
sahabat-sahabat Rasulullah saw., yang muktabar. Era ini dianggap cermin kepada
idealisme kepimpinan Islam di mana semangat kepimpinan Rasulullah saw., masih
dikekalkan. Tempoh ini hanya berlanjutan selama tiga puluh tahun iaitu bermula dari
Abu Bakar As-Siddiq (11-13H.), Umar al-Khattab (13-23H.), Uthman bin Affan (23-
35H.) dan Ali Bin Abu Talib (35-40H.). Zaman Khulafa’ al-Rasyidin juga merupakan
zaman ideal bagi sebuah pemerintahan yang berlandaskan Islam sepenuhnya.

Dawlah islamiyyah di zaman Rasulullah saw.

Rasulullah saw., diutuskan ke dunia untuk menyelamatkan manusia dari kegelapan
jahiliyyah kepada cahaya Islam. Dari segi politik, sebelum kedatangan Islam (sebelum
dibangkitkan Rasulullah saw.) orang-orang Arab tidak mempunyai kerajaan dan

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

39

tidak memiliki sesebuah negara. Yang ada hanya kesepakatan antara mereka untuk
menentang musuh-musuh luar apabila diancam atau diserang. Mereka tidak mempunyai
kerajaan yang mengamalkan sistem politik tertentu, tetapi mereka saling bermuafakat
untuk membentuk qabilah-qabilah, hidup secara berkumpulan atas kepentingan
untuk mempertahankan diri masing-masing dari ancaman musuh-musuh luar. Setiap
qabilah biasanya hidup secara berasingan di antara satu sama lain. Pemilihan ketua
bagi bagi setiap qabilah tidak mengikut sesuatu kaedah tetap. Kriteria pemilihan juga
bergantung kepada kehendak orang ramai pada masa tersebut. Contohnya; mereka
akan memilih pemimpin berdasarkan beberapa faktor seperti; memilih seseorang
yang lebih tua, yang lebih kaya, individu yang memang terkenal dan orang-orang yang
dihormati dalam masyarakat.
Timbul suatu persoalan, bilakah Rasulullah saw., telah merancang untuk
menubuhkan Dawlah Islamiyyah?Para ulama berpendapat Baginda Rasulullah saw.,
telah merancang menubuhkan Dawlah Islamiyyah semenjak Baginda menerima wahyu
lagi. Bermulanya Baginda dilantik menjadi Rasul begitulah bermulanya baginda bercita-
cita untuk menubuhkan Dawlah Islamiyyah. Secara ringkasnya, kegiatan politik pada
zaman Rasulullah saw., berlangsung dalam dua peringkat iaitu: Pertama, Peringkat
Mekah iaitu peringkat perancangan penubuhan Dawlah Islamiyyah. Kedua, Peringkat
Madinah iaitu peringkat pelaksanaan Dawlah Islamiyyah.

Peringkat Mekah

Sebelum Rasulullah saw., berhijrah ke Madinah, negara Islam belum lagi ditubuhkan.
Pada masa itu belum ada lagi keperluan dan tuntutan supaya baginda berbuat
demikian.20

Aspek utama yang ditekankan oleh Baginda Rasulullah di peringkat awal
sebelum berhijrah ke Madinah ialah soal akidah dan keimanan kepada Allah. Baginda
juga menyeru manusia berfikir tentang kebesaran Allah, menolak kekufuran, mengajar
beberapa bentuk sifat-sifat mulia dan mengajak manusia mengatasi kejahilan.21

Sumber
hukum yang paling utama pada masa itu ialah Alquran yang diturunkan hanya melalui
Rasulullah saw., sahaja.22

20

Mutawalli, ‘Abd al-Hamid, Dr., Mabadi’ Nizam al-Hukm fl Islam, Cet. Ketiga (Iskandariyyah:
Mansya’ah al-Ma‘arif, 1975), 196.

21

Badran Abu al-‘Ayn Badran, al-Syari‘ah al-Islamiyyah, Tarikhuha Wa Nazariyyah al-Milkiyyah Wa
al-‘Uqud
, Iskandariyyah: Mu’assasat Syabab al-Jami‘ah, tt.), 88.

22

Badran Abu al-‘Ayn Badran, al-Syari‘ah al-Islamiyyah…, 93.

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

40

Banyak ayat-ayat Alquran yang memerintahkan supaya umat Islam sentiasa
mematuhi segala perintah yang dibawa oleh Rasulullah saw.. Terdapat ayat yang
menjelaskan bahawa tidak harus bagi orang yang beriman mengamalkan apa yang
mereka putuskan sendiri sekira ianya bertentangan dengan apa yang ditetapkan
oleh Rasulullah saw..23

Ada ayat yang mengarahkan manusia supaya melaksanakan

arahan Rasulullah dan menjauhi larangannya.24

Alquran juga menganggap sesiapa

yang taat kepada Rasul bererti taat kepada Allah.25

Begitu juga sekiranya berlaku
sesuatu perselisihan yang tidak boleh diselesaikan maka manusia hendaklah
kembali kepada Alquran dan al-Sunnah.26

Semua penegasan tersebut menjadi bukti
bahawa Rasulullah saw., adalah seorang Rasul yang mempunyai kuasa menentukan
hukum.

Kebanyakan persoalan hukum yang dijelaskan Baginda di peringkat Mekah ada
hubungkaitnya dengan akidah. Contohnya di peringkat Mekah dijelaskan beberapa
perkara yang dilarang seperti larangan menyengutukan Allah, larangan derhaka kepada
ibu bapa, larangan membunuh anak, haram melakukan zina, haram membunuh orang
yang tidak berdosa dan lain-lain.27

Hukum-hukum pengharaman zina dan haramnya

membunuh disebut secara umum sahaja di peringkat Mekah.28

Perincian hukum bagi
perbuatan zina dan membunuh orang dijelaskan semula oleh Rasulullah saw., melalui
beberapa ayat lain yang diturunkan di Madinah.29
Di peringkat Mekah, Rasulullah saw., berusaha membina aqidah, dengan ikatan
keimanan dan keyakinan kepada Allah Swt., Baginda mengutamakan pembentukan
akidah Islam yang sempurna di kalangan orang-orang Arab dan mendidik mereka
dengan didikan akhlak Islamiyyah. Baginda telah membuat pelbagai persiapan

23

Alquransurah al-Ahzab (33):36.

24

Alquransurah al-Hasyr (59): 7.

25

Alquransurah al-Nisa’ (4):80.

26

Alquransurah al-Nisa’ (4):59.

27

Alquransurah al-An‘am (6):151.

28

Alquransurah al-Isra’ (17):32 dan surah al-Isra’ (17):33.

29

Alquransurah al-Nur (24):2-3 dan surah al-Baqarah (2):178.Yang dimaksudkan dengan "Hukuman
Qisas
" ialah hukuman bunuh balas, iaitu nyawa dibalas dengan nyawa, kecuali jika pihak waris orang
yang terbunuh mengampunkan, maka sipembunuh dikenakan membayar "Diyah" (ganti nyawa yang
berupa hartabenda atau wang darah) dengan sepatutnya. Lihat Bahagian Hal Ehwal Islam Jabatan
Perdana Menteri, Tafsir Pimpinan Ar-Rahman Kepada Pengertian Alquran, Cet. keenam (Kuala Lumpur:
Percetakan Nasional Malaysia Berhad, 1995), 67.

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

41

seperti menyusun strategi politik dalaman, mengatur hubungan dengan luar negara
dan membangunkan persiapan ketenteraan. Baginda berusaha menanam akidah
Islamiyyah dalam diri orang-orang yang baru memeluk agama Islam, memantapkan
akidah mereka dan menyebarluaskan dakwah kepada pengikut-pengikut baru supaya
beriman dan menerima cara hidup Islam. Firman Allah yang maksudnya:

“Dia lah Yang telah mengutus Rasul-Nya (Muhammad) Dengan membawa petunjuk
dan ugama Yang benar (ugama Islam), untuk dimenangkan dan ditinggikanNya atas
Segala ugama Yang lain, Walaupun orang-orang musyrik tidak menyukainya.”(QS.
al-Tawbah (9): 33).

Matlamat utama perjuangan Rasulullah ialah untuk berdakwah dan menyeru
umat manusia kepada Islam dan menghapuskan amalan syirik yang tersebar luas
di Semenanjung Arab pada masa itu. Baginda berjuang menegakkan keadilan dan
menentang kezaliman serta penindasan. Dawlah Islamiyyah yang diperjuangkan oleh
Rasulullah berjaya menghapuskan amalan jahiliyyah yang diwarisi oleh umat Arab.
Negara yang ditegakkan itu dapat menjamin kemajuan dari segi ekonomi, politik,
kemasyarakatan dan lain-lain.
Selain itu, Rasulullah saw., sentiasa mencari jalan untuk menyebarkan dakwah dan
mencari sesuatu kedudukan yang selesa bagi umat Islam untuk mereka laksanakan
ajaran Islam dengan bebas. Dalam menghadapi tentangan dahsyat daripada musyrikin
Mekah, Rasulullah saw., mengarahkan para sahabatnya supaya berhijrah ke Habsyah
yang pada waktu itu diperintah oleh raja bernama Najasyi yang adil. Dalam realiti
semasa, ia boleh disamakan dengan usaha mendapatkan perlindungan politik daripada
mana-mana kerajaan.

Rasulullah saw., juga memanfaatkan beberapa kebaikan sistem Mekah untuk
kepentingan dakwah Islamnya. Antara kebaikan tersebut ialah sistem sokongan
kekeluargaannya (Bani Hashim dan Bani Muttalib) terhadap keselamatan diri Baginda
sendiri dan sistem al-Ijar iaitu perlindungan sementara yang boleh diberikan oleh
mana-mana pihak yang berautoriti di Mekah sebagaimana yang dilakukan oleh Mat’am
bin ‘Ady sewaktu Rasulullah saw., memasuki Mekah daripada Ta’if. Perlindungan bapa
saudaranya iaitu Abu Talib dan sehingga Baginda bertemu dengan kaum Aws dan
Khazraj pada musim haji.
Kewujudan “Negara Madinah” yang disebut sebagai Dawlah Islamiyyah yang
pertama bukanlah berlaku secara kebetulan ataupun tanpa adanya persiapan terlebih

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

42

dahulu. Bahkan Rasulullah s.a.w. telah menjalankan beberapa usaha serta membuat
beberapa persiapan terlebih dahulu antara persiapan yang dilakukan ialah:

1. Bay‘ah ‘Aqabah yang pertama

Bay`ah Aqabah yang pertama telah berlaku satu tahun tiga bulan sebelum Baginda
Rasulullah saw., berhijrah ke Madinah. Pada musim haji Rasulullah telah bertemu
dengan jemaah haji dari Yathrih yang terdiri dari suku kaum al-Aws dan al-Khazraj. Satu
kumpulan dari mereka telah beriman kepada Allah dan Rasulullah. Mereka membuat
perjanjian dengan Rasulullah yang di sebut sebagai Bay`ah al-`Aqabah al-Ula (Bay`ah
Aqabah yang pertama). Mereka berjanji untuk menjaga iman mereka dan beriltizam
dengan akhlak yang mulia. Mereka berjanji tidak akan mensyirikkan Allah, tidak
akan mencuri, tidak melakukan zina, tidak akan membunuh anak, tidak membohongi
(menipu) Rasulullah dan mematuhi Rasulullah dalam melakukan perkara-perkara
yang baik.30

Perkara utama dalam perjanjian ini ialah mereka tetap berpegan kepada
tauhid, berakhlak mulia dan sentiasa membantu Rasulullah saw..

2. Bay‘ah ‘Aqabah yang kedua

Bay‘ah ini berlaku setahun selepas Bay‘ah ‘Aqabah yang pertama, iaitu pada
musim haji tahun berikutnya iaitu lebih kurang tiga bulan sebelum Baginda
berhijrah ke Madinah. Rasulullah telah berjumpa dengan 73 orang yang terdiri dari
golongan lelaki dan wanita. Menurut perjanjian ini orang-orang Madinah menjemput
Rasulullah untuk menetap di Madinah dan menyebarkan ajaran Islam di Madinah
serta melindungi baginda dari sebaran ganguan dan ancaman musuh. Mereka telah
berikrar untuk memberikan sokongan semasa dalam keadaan aman dan juga semasa
peperangan menentang musuh-musuh negara. Bay‘ah ini juga termasuk memberikan
kepatuhan sepenuhnya kepada kebenaran dan berani mengisytiharkan kebenaran
tersebut.

Kedua-dua bay‘ah ‘Aqabah di atas merupakan perjanjian yang terkandung di
dalamnya tujuan untuk mendirikan masyarakat Islam yang pertama dalam sejarah
Islam. Bay‘ah tersebut juga merupakan bukti kukuh bahawa masyarakat Islam Madinah
telah menerima Rasulullah sebagai pemimpin mereka. Selepas berlangsung dua
Bay’ah iaitu Bay’ah pertama dan kedua (Bay’atul Aqabah), bermulalah episod sebenar

30

Ibn Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, Juz. 2 (Beirut: Dar al-Jayl, tt.), 57.

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

43

penubuhan sebuah kerajaan dan sistem pemerintahan Islam dalam maksudnya yang
praktikal selepas Rasulullah s.a.w. dan umat Islam berhijrah ke Madinah.

Peringkat Madinah

Ketika Rasulullah tiba di Madinah baginda bertindak menubuhkan Dawlah Islamiyyah
berasaskan pegangan akidah yang dipimpin sendiri oleh Baginda dengan pertolongan
dan naungan dari Allah Swt.. Terdapat beberapa aktiviti utama dalam penubuhan
Dawlah Islamiyyah. Antaranya ialah:

1. Membina masjid

Masjid merupakan pusat pelbagai kegiatan bagi masyarakat Islam. Ia merupakan
tempat pertemuan yang boleh mempereratkan hubungan sesama Islam. Masjid juga
dijadikan sebagai pusat politik dan pentadbiran Dawlah Islamiyyah pada masa itu.
Masjid dijadikan tempat bermesyuarat dan perbincangan tentang pemerintahan pada
masa itu.

2. Mempersaudarakan antara orang-orang Muhajirin dan Ansar

Rasulullah telah mempersaudarakan secara effektif di antara orang-orang Muhajirin
dan orang-orang Ansar. Persaudaraan ini bukan diikat berasaskan qabilah atau bangsa,
tetapi persaudaraan yang diikat oleh dasar aqidah dan agama. Persaudaraan yang
diikat oleh baginda Rasulullah saw., adalah merupakan langkah awal untuk membentuk
sebuah Dawlah Islamiyyah

3. Menggubal perlembagaan Madinah

Perlembagaan Madinah merupakan perjanjian yang berlaku di antar orang-orang
Muhajirin, Ansar dan golongan Yahudi di Madinah. Ia mengandungi prinsip-prinsip
asas yang menjamin kesejahteraan bersama dalam kehidupan mereka dalam negara
Madinah. Dari segi perundangan, Dawlah Islamiyyah Madinah merujuk kepada hukum
yang yang diturunkan oleh Allah melalui wahyu kepada Rasulullah saw.. Wahyu yang
diturunkan Allah itu dapat menyelesaikan pelbagai masalah yang berkaitan dengan
keagamaan dan persoalan hidup keduniaan. Hukum-hukum tersebut terdapat secara
tersusun dalam mashaf yang dihafal oleh kaum Muslimin. Apabila timbul masalah
yang berkaitan, amat mudah bagi umat Islam menyelesaikannya, iaitu dengan cara

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

44

mereka merujuk kepada ayat-ayat Alquran yang dihafal. Sekiranya permaslahan
hukum itu tidak dapat diselesaikan berpandu kepada ayat-ayat Alquran, orang ramai
akan merujuk terus permasalahan tersebut kepada Baginda Rasulullah saw.. Biasanya
selepas orang ramai bertanya, baginda Rasulullah akan menjelaskan hukum yang
berkaitan dengan perkara yang ditanya.
Dawlah Islamiyyah di zaman Rasulullah bukan sahaja mengutamakan persoalan
yang berkaitan dengan keagamaan sahaja, sebaliknya ia juga mengutamakan persoalan
politik dan penyusunan negara. Perkara politik yang ditekankan ialah berkaitan
dengan:

1. Ketua Negara; Rasulullah merupakan ketua tertinggi Dawlah Islamiyyah.
Baginda memiliki kuasa dalam persoalan keagamaan dan keduniaan.
Rasulullah dianggap sebagai ketua tertinggi dalam bidang keagamaan dan
bidang keduniaan.
2. Rasulullah bertindak sebagai ketua hakim yang boleh menyelesaikan
persengketaan dan perbalahan yang berlaku di kalangan rakyat. Baginda
akan menyelesaikan pertikaian yang berlaku berlandaskan hukum syariat
dan keputusan yang dibuat tidak boleh dipertikaikan oleh sesiapa pun.
Dalam bidang keadilan dan kehakiman, Rasulullah merupakan hakim tertinggi
yang memutuskan segala keputusan dan hukuman. Pun begitu, Baginda juga
kadang-kadang melantik para sahabat menjadi hakim di dalam beberapa kes
tertentu. Contohnya, dilantik Ali sebagai qadi di Yaman. Selain itu, terdapat
enam orang sahabat yang terkenal dalam bidang kehakiman dan fatwa, mereka
ialah Umar, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar dan
Ummul Mukminin, Aishah sendiri.
3. Melaksanakan hukum hudud; Hukum hudud merupakan hukum yang wajib
dilaksanakan ke atas orang-orang yang melakukan kesalahan jenayah dalam
masyarakat Islam seperti kesalahan berzina, mencuri, minum arak, membuat
tuduhan palsu dan lain-lain.
4. Mengetuai pasukan tentera dan mengelakkan berlakunya permusuhan.
Rasulullah secara pribadi telah mengetuai tentera Islam untuk berhadapan
dengan musuh-musuh Islam. Baginda merancang dan mengatur strategi
menentang musuh-musuh Islam. Penentangan dari musuh termasuklah
mengancam Dawlah Islamiyyah atau sekadar menganggu salah seorang rakyat

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

45

dalam Dawlah Islamiyyah. Sebagai ketua turus tentera bagi pasukan perang
Madinah, Baginda sendiri pernah mengetuai peperangan yang penting untuk
menentang orang-orang kafir dalam perang Badar, Uhud, Hunayn, dan Fathu
Makkah. Manakala dalam peperangan kecil, Baginda hanya melantik seorang
ketua yang memimpin pasukan tersebut.

Selepas Rasulullah berhijrah ke Madinah Baginda telah memperkenalkan cara
membentuk masyarakat dan negara mengikut hukum Islam. Rasulullah saw.,
menjalankan kuasa pemerintahan mengikut bimbingan wahyu dari Allah Swt., Firman
Allah dalam Alquran:

“Dan dia tidak memperkatakan sesuatu menurut kemahuan dan pendapatnya
sendiri, segala yang diperkatakan itu (sama ada Alqurandan Hadith) tidak lain
melainkan wahyu yang diwahyukan kepadanya” (QS. An-Najm (53): 2-3).

Rasulullah pada masa ini bukan sahaja mengajar manusia berkaitan dengan
soal ibadat, tetapi baginda menjelaskan soal politik dan kemasyarakatan. Di sinilah
baginda menentukan hukum-hukum yang berkaitan dengan soal kehidupan yang
ada hubungannya dengan individu dan masyarakat dalam segenap segi seperti
ibadat, mu‘amalat (pergaulan sesama manusia), jihad, jenayah, pusaka, wasiat, nikah
cerai, sumpah, kehakiman dan pelbagai aspek perundangan yang lain.31

Baginda juga
memperkenalkan hukum-hukum qisas, hudud dan ta‘zir (hukuman yang tidak ditetapkan
oleh nas). Terdapat juga hukum tentang peperangan, harta rampasan perang, masalah
orang tawanan dan lain-lain. Baginda adalah seorang printis yang telah membina
kerajaan Islam yang menjadi model kepada umat Islam selepasnya. Penubuhan negara
Islam adalah bermula di Yathrib yang kemudiannya dikenali sebagai Madinah.32
Sebahagian besar hukum-hukum yang diajar oleh Baginda Rasulullah saw.,
adalah berdasarkan wahyu Alquran. Wahyu Alquran diturunkan oleh Allah secara
berperingkat-peringkat dalam berbagai-bagai bentuk. Kadang-kadang ia menjelaskan
hukum bagi perkara yang belum berlaku,33

kadang-kadang ia diturunkan untuk

31

Hassan Haji Salleh, Sejarah Perundangan Islam, Cet. kedua (Kelantan: Pustaka Aman Press, 1979),

26.

32

O.K. Rahmat, Dr., Republik Atau Monarki, Cet. Pertama (Singapura: Pustaka Nasional Pte.Ltd., 1989),

5.

33

Alquransurah al-Baqarah (2):43.

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

46

memberi penjelasan terhadap apa yang sedang berlaku34

dan kadang-kadang sebagai

menjawab pelbagai persoalan yang dikemukakan kepada Rasulullah.35
Ada juga pada masa-masa tertentu Rasulullah saw., melakukan ijtihad dalam
menentukan hukum. Sebab itu sesetengah ulama berpendapat baginda adalah mujtahid
yang pertama dalam Islam.36

Dalam catatan sejarah kadang-kadang didapati baginda

berijtihad bersendirian37

dan kadang-kadang baginda membuat keputusan setelah

berbincang dahulu dengan para sahabat.38

Rasulullah juga pernah membenarkan para

sahabat melakukan ijtihad.39
Walaupun Rasulullah saw., mempunyai kuasa dalam mengendalikan pemerintahan
namun Baginda sering melakukan syura dengan para sahabatnya untuk mendapatkan
pandangan mereka dalam sesuatu masalah. Rasulullah saw., dibantu oleh para sahabat
iaitu Ali dan Uthman selaku penulis wahyu. Mereka berdua pula dibantu oleh Ubayy
bin Ka’ab, Zayd bin Tsabit. Sementara itu, Zubayr dan al-Zuhaym bin al-Salat bertugas
sebagai pegawai pengurus zakat dan sedekah. Huzayfah al-Yamani pula membuat

34

Alquransurah al-Baqarah (2):228.

35

Alquransurah al-Isra’ (17):85.

36

Muhammad Faruq al-Nabhan, Nizam al-Hukmi Fi al-Islam, Cet. Kedua (Beirut: Mu’assasah al-

Risalah, 1988), 420.

37

Contoh ijtihad baginda secara persendirian ialah, baginda telah mengharamkan dirinya meminum
madu. Tetapi ijtihad baginda itu ditegur oleh Allah dengan menurunkan ayat 1 Surah al-Tahrim. Lihat
Alquransurah al-Tahrim (66):1.

38

Perbincangan di antara Rasulullah dengan para sahabat adalah seperti menentukan kedudukan
orang tawanan perang Badar. Rasulullah telah menerima cadangan Abu Bakr supaya diambil fdyah dan
membebaskan tawanan perang tersebut. Tetapi keputusan yang dibuat oleh Rasulullah tersebut ditegur oleh
wahyu yang datang daripada Allah. Allah menurunkan ayat 67 dan 68 Surah al-Anfal, memperbetulkan
keputusan yang dibuat oleh Rasulullah. Wahyu tersebut bersesuaian dengan pandangan ‘Umar Ibn al-
Khattab. Sebab itu sesetengah ‘ulama’ berpendapat tidak harus bagi Rasulullah saw., berijtihad kerana
ijtihad baginda seperti yang disebut disini ditegur oleh wahyu. Lihat ‘Abd al-Karim Khatib, 46.

39

Di antara contoh Rasulullah membenarkan orang lain berijtihad ialah peristiwa dimana baginda telah
mengutuskan Mu‘adh Ibn Jabal ke Yaman. Tentang ini Ibn Qayyim menulis:
Mengikut Mu‘adh Ibn Jabal Rasulullah saw., telah bertanya kepada beliau apakah tindakannya
apabila berhadapan dengan sesuatu kes. Mu‘adh menjawab beliau akan menghukum dengan Kitab
Allah.
Rasulullah bertanya, sekiranya tidak ada padanya hukum ? Mu‘adh menjawab, beliau akan
menghukum berdasarkan Sunnah
Rasulullah. Rasulullah bertanya lagi, sekiranya tidak ada juga
penjelasan hukum ? Beliau menjawab, “aku akan berijtihad dengan menggunakan pendapatku”.
Maka
Rasulullah menepuk dada Mu‘adh seraya bersabda, “Maha Suci Allah yang telah memberikan
pertunjuk kepada utusan Rasul-Nya
.
Lihat Muhammad Ibn Abi Bakr Ibn Ayyub, Syamsuddin Ibn Qayyim al-Jawziyyah, A‘lam al-Muwaqqi‘in,
Jil. 1 (Kaherah: Maktabah al-Kulliyah al-Azhariyyah, 1968), 202.

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

47

tafsiran pendapatan hasil dari buah tamar. Al-Mughirah dan al-Hasan bin Numayr
mencatatkan perjanjian perdagangan yang dilakukan oleh orang ramai. Abdullah bin
Arqam dan ‘Ala bin Uqbah memelihara rekod tentang kabilah-kabilah serta sumber air,
mereka juga mengendalikan catatan rekod tentang kaum Ansar. Selain itu, Zayd bin
Thabit menjadi juru tulis yang membuat hubungan surat menyurat dengan raja-raja
dan ketua-ketua kabilah. Manakala Mu’ayyib bin Abi Fatimah menjaga rekod mengenai
pendapatan dari harta ghanimah (harta rampasan perang). Hanzalah bin al-Rabi’ah
pula dikatakan bertindak sebagai setiausaha kepada Rasulullah saw., dan beliau juga
menyimpan cop mohor Baginda.40

Baginda juga melantik beberapa orang sahabatnya
sebagai gabenor, hakim, dan pegawai tadbir di beberapa jajahan Islam.

Dawlah islamiyyah di zaman Al-Khulafa’ Al-Rasyidin

Selepas kewafatan Rasulullah timbullah permaslahan politik di kalangan umat Islam
di Madinah. Mereka berselisih pendapat dalam menentukan siapakah pengganti
Rasulullah saw., yang akan menjadi ketua negara. Orang-orang Ansar merasakan wakil
di kalangan mereka lebih layak menjadi khlifah kerana golongan Ansar mempunyai
kelebihan mempertahankan Islam, membantu Rasulullah saw., dan dakwah Islam.
Mereka lebih cenderung supaya khalifah disandang oleh tokoh suku Khazraj iaitu Sa’d
bin Ubadah. Bani Hashim merasakan bahawa jawatan ini mesti berada di kalangan
mereka dan mereka percaya bahawa Ali bin Abi Talib adalah yang paling berhak di
antara para sahabat Nabi saw., kerana kedudukannya di sisi Rasulullah saw.. Orang-
orang Muhajirin juga merasakan wakil mereka lebih layak menjadi khalifah kerana
mereka lebih awal memeluk agama Islam dan beriman serta banyak membantu
Rasulullah. Mereka mahukan Abu Bakar dilantik sebagai khalifah kerana beliau
merupakan orang yang pertama sekali memeluk Islam dan menjadi teman Nabi saw.,
di dalam gua Tsur.41

Perbincangan telah berlaku di antara orang-orang Muhajirin dan orang Ansar
bagi menentukan khalifah pertama selepas Rasulullah sehinggalah Abu Bakar tampil
memberikan penjelasan dan memuji peranan penting yang dimainkan oleh orang-

40

Amir Hassan Siddiqi, The Origin and Development of Muslim Institution, 2nd

ed. (Karachi: Jam'iyyat

al-Falah Publication, 1969), 28.

41

Muhammad Faruq al-Nabhan, Nizam al-Hukm Fi al-Islam, Cet. Kedua (Beirut: Mu’assasah al-

Risalah, 1988), 91.

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

48

orang Ansar membantu golongan Muhajirin dan memberi perlindungan kepada
Rasulullah dan agama Islam. Beliau telah memberikan pengiktirafan yang tinggi
kepada orang-orang Anshar. Namun beliau secara pribadi berpendapat jawatan
khalifah selepas Rasulullah itu lebih sesuai diserahkan kepada orang-orang Muhajirin
kerana mereka lebih awal beriman dan menerima Islam serta sanggup menanggung
kesusahan menghadapi ancaman dari golongan kafir Musyrikin. Pemimpin dari
golongan Ansar seterusnya memuji kaum Ansar dan mencadangkan jawatan khalifah
sesuai diserahkan kepada golongan Muhajirin. Buktinya seorang pemimpin Ansar dari
kaum Khazraj iaitu Basyir Ibn Sa`ad telah bagun memberikan ucapan:42

“Wahai kaum Ansar demi Allah sekiranya kita merupakan orang yang paling
utama berjihad menentang golongan Musyrikin dan merupakan orang yang awal
memeluk agama Islam sudah tentu kita memerlukan keredaan dari Tuhan dan
mentaati nabi kita. Kita berpenat lelah untuk diri kita, maka tidak harus bagi kita
memperpanjangkan lagi perkara ini… Sesungguhnya Nabi Muhammad merupakan
orang Qurasy, kaumnya lebih berhak memegang jawatan ini (jawatan khalifah).
Demi Allah, Allah tidak membenarkan saya menentang mereka tentang perkara ini.
Bertakwalah kepada Allah, jangan kamu menentang mereka tentang perkara ini”.

Ucapan ini telah memberikan kesan yang mendalam kepada diri orang-orang Islam
pada masa itu. Selepas itu tampillah Umar Ibn al-Khattab dan Abu Ubaydah memberi
bay`ah kepada Abu Bakar menjadi khalifah. Kemudian tampil pula golongan Aws dan
Khazraj memberi bay`ah. Dengan nikmat Islam maka Allah telah menyelamatkan umat
Islam dari perpecahan.

Pelaksanaan hukum Islam di zaman pemerintahan Abu Bakar

Penentuan dan penggubalan hukum Islam (undang-undang) di zaman al-khulafa’ al-
rasyidun43

dilakukan oleh “jama‘ah al-mujtahidin” yang diketuai oleh khalifah. Mereka
adalah golongan ‘ulama’ dari kalangan para sahabat yang mempunyai kelayakan
untuk berijtihad. Merekalah orang-orang yang ditugaskan untuk mentafsirkan hukum,
khususnya bagi perkara-perkara yang baru timbul. Oleh itu di zaman al-khulafa’
al-rasyidun
, apabila timbul persoalan baru yang sukar diselesaikan, para sahabat
berkumpul untuk menentukan hukum terhadapnya.44

Kumpulan para sahabat inilah

42

Ibid..

43

Zaman al-khulafa’ al-rasyidun adalah bermula pada tahun 11H., dan berakhir pada tahun 40H..

44

‘Abd al-Wahhab Khallaf, Khulasah Tarikh Tasyri‘ al-Islami (Kuwait: al-Dar al-Kuwaitiyyah, tt.), 31-

32.

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

49

yang dinamakan oleh ‘ulama’ sebagai “Jam‘iyyah Tasyri‘iyyah” yang boleh juga kita
namakan badan yang menentukan hukum. Mereka adalah terdiri dari para sahabat
dan ‘ulama’ mujtahidin.45

Fungsi yang dijalankan oleh mereka hampir sama dengan
fungsi badan perundangan (badan lagislatif) yang ditubuhkan dalam sesebuah negara
hari ini.

Berdasarkan fakta sejarah, apabila ingin menentukan sesuatu hukum, langkah
pertama yang dilakukan oleh khalifah Abu Bakr ialah merujuk kepada al-Qur’an.
Sekiranya penyelesaian tersebut tidak ada di dalam Alquranbeliau akan merujuk
kepada al-Sunnah. Sekiranya tidak ada penyelasaian mengikut penjelasan Alqurandan
al-Sunnah barulah beliau mengarahkan para sahabat berijtihad secara ijma‘. Keputusan
yang dibuat oleh mereka itu dinamakan ijma‘. Cara Abu Bakr menentukan hukum ini
disebut oleh Ibn Qayyim dalam bukunya A‘lam al-Muwaqqi‘in:

“Abu Bakr al-Siddiq apabila ditanya kepadanya sesuatu hukum beliau melihat
kepada Kitab Allah. Sekiranya hukum yang dimaksudkan itu ada, beliau akan
membuat keputusan berdasarkan hukum tersebut. Sekiranya hukum tersebut
tidak terdapat dalam Kitab Allah beliau akan meneliti pula kepada Sunnah Rasul
saw. Sekiranya hukum yang dimaksudkan itu ada, beliau akan membuat keputusan
berdasarkan hukum tersebut. Jika beliau tidak mendapatinya di dalam al-Sunnah
beliau akan bertanya kepada orang ramai: “Adakah kamu mengetahui bahawa
Rasulullah saw., menghukum perkara itu dengan sesuatu hukum?” Seringkali
terdapat sesuatu kaum tampil menjelaskan bahawa Rasulullah menghukumnya
begitu dan begini. Sekiranya tidak terdapat sebarang Sunnah dari Rasulullah beliau
akan mengumpulkan para pemimpin dan bermesyuarat dengan mereka. Apabila
mereka menetapkan sesuatu peraturan secara ijma‘, Abu Bakr akan menghukum
dengan ijma‘ tersebut.”46

Selepas dipersetujui, keputusan ijma‘ ulama ini tidak boleh diubah-ubah lagi.
Hukum tersebut akan dipakai secara berterusan untuk masa-masa yang akan datang.
Kadang-kadang dalam mengemukakan pandangan terdapat juga percanggahan
pendapat di antara satu sama lain. Namun demikian biasanya perbezaan pandangan itu
boleh diselesaikan dengan mudah oleh khalifah dengan menggunakan kuasanya untuk
memilih mana satukah hukum yang patut diterima dan dikuatkuasakan. Di antara kuasa
yang diberikan kepada khalifah ialah memilih pandangan-pandangan, iaitu dengan cara
memilih satu pandangan yang terbaik sahaja untuk diterima sebagai hukum.47

45

‘Abd al-Hamid Mutawalli, Dr., Mabadi’ Nizam al-Hukm Fil Islami, 198.

46

Ibn Qayyim al-Jawziyyah, A‘lam al-Muwaqqi‘in, Jil. I, 62.

47

‘Isawi, ‘Isawi Ahmad, al-Madkhal lil Fiqh al-Islami (Kaherah: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1967), 49.

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

50

Sewaktu memegang amanah kepimpinan, Abu Bakar telah menghadapi gejala
murtad dan golongan yang enggan mengeluarkan zakat di kalangan beberapa kabilah
Arab. Beliau telah melancarkan jihad terhadap golongan ini sehingga mereka kembali
semula ke pangkuan Islam dan berjanji untuk menunaikan rukun Islam tersebut,
manakala golongan yang berdegil telah diperangi oleh kerajaan Islam. Khalifah Abu
Bakar meninggal dunia pada 22 Jamadil Akhir tahun ke-13 Hijrah sesudah berjaya
menumpaskan golongan murtad dan selepas mencapai kejayaan cemerlang dalam
usaha meluaskan daerah pemerintahan Islam. Dengan itu Abu Bakar merupakan
pelopor kerajaan Islam yang teragung sesudah Rasulullah saw..

Khalifah Umar Ibn al-Khattab

Selepas Abu Bakar, pemerintahan Islam diterajui oleh Sayyidina Umar bin al-Khattab.
Nama beliau dicalonkan oleh Abu Bakar di mana beliau mengadakan perbincangan
dengan para sahabat untuk melantik Umar selepasnya. Abu Bakar membuat surat
perlantikan dan menyerahkan tanggungjawab kerajaan kepada Umar.
Zaman pemerintahan Umar merupakan zaman kegemilangan Islam dan ia
menyempurnakan zaman pemerintahan Abu Bakar. Pada zamannya, khalifah Umar
telah membuat beberapa pembaharuan di dalam sektor pentadbiran dan kewangan.
Beliau merupakan orang pertama menubuhkan “Diwan” iaitu sistem jabatan. Beliau
juga memperuntukkan gaji tetap kepada para pejuang Islam dan tanggungan mereka
sewaktu mereka keluar perang.
Kebijaksanaan siasah Umar dan pandangan jauhnya, mendorong beliau mengambil
faedah dari pengalaman negara-negara luar seperti sistem pentadbiran yang digunakan
oleh kerajaan Rome dan Parsi. Di beberapa jajahan Islam pula, beliau membiarkan
jabatan-jabatan di situ menggunakan bahasa tempatan. Beliau juga mengekalkan
penggunaan matawang tempatan.

Pelaksanaan hukum Islam di zaman pemerintahan ‘Umar Ibn al-Khattab

Amalan yang dilakukan oleh Abu Bakr itu diteruskan oleh khalifah ‘Umar dan sahabat-
sahabat yang sezaman dengannya. Khalifah ‘Umar pun begitu, apabila menghadapi
sesuatu masalah untuk menentukan hukum, mula-mula sekali ‘Umar akan merujuk
kepada Alquran dan al-hadis. Sekiranya tidak ada penjelasan dalam kedua-dua nas
tersebut beliau terlebih dahulu akan merujuk kepada keputusan ijma‘ dan ijtihad yang

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

51

dibuat di zaman Abu Bakr. Sekiranya hukum masih tidak ada maka beliau mengumpul
para sahabat untuk berbincang dan berijtihad secara ijma‘. Apabila para sahabat
bersepakat menentukan hukum. ‘Umar akan menerima dan melaksanakannya di
peringkat negara.48

Di peringkat permulaan pemerintahan ‘Umar, ijma‘ berjalan
lancar dan jarang berlaku perbezaan pandangan di kalangan sahabat. ‘Umar Ibn al-
Khattab pernah melarang sekumpulan sahabat yang dianggap sebagai ‘ulama’ ijtihad
supaya jangan keluar dari Madinah demi kepentingan untuk membantu khalifah
berijtihad.49

Sebab itu tidak ramai di kalangan mereka yang berhijrah ke tempat-tempat
yang berjauhan. Sebaliknya di peringkat pertengahan dan akhir zaman pemerintahan
‘Umar Ibn al-Khattab, negara Islam semakin meluas. Banyak negara-negara yang baru
dibuka seperti ‘Iraq, Azarbayjan, Parsi, Syam, Mesir, dan lain-lain. Oleh itu, banyaklah
masalah-masalah yang baru timbul. Keadaan tersebut merupakan sebab utama
khalifah ‘Umar dan sahabat-sahabat yang sezaman dengannya dalam banyak perkara
terpaksa menggunakan kebijaksanaannya untuk berijtihad menentukan hukum.50
Pada zaman itu juga peranan menentukan hukum telah diambil alih oleh gabenor
dan para qadi yang berkuasa di seluruh pelusuk negara Islam. Dengan ini secara
tidak langsung beliau telah menyerahkan kuasa menentukan hukum kepada qadi-
qadi tersebut, khususnya bagi negeri-negeri yang jauh dari Madinah. Suasana ini
akhirnya telah menimbulkan banyak perselisihan pendapat dalam ijtihad. Ijtihad yang
berbentuk ijma‘ yang boleh diadakan sebelum itu semakin sukar untuk diteruskan
lagi. Para sahabat menyelesaikan masalah hukum di tempat masing-masing secara
persendirian. Fatwa dan hukum yang dikemukakan datang dari pandangan individu,
dan mulalah berlaku perbezaan pendapat dalam menentukan hukum. Perbezaan
pendapat dalam menentukan hukum berkait rapat dengan perbezaan suasana
setempat serta berlainan kebudayaan hidup.51

Masalah percampuran di antara orang
Arab dengan bukan Arab juga memberi kesan kepada usaha menentukan hukum dan
timbullah perbezaan fahaman.52

48

‘Abd Allah, ‘Abd al-Ghani Basyuni, Dr., Nazariyyat al-Dawlah Fi al-Islam (Beirut: al-Dar al-Jami‘ah,

1986), 61.

49

Badran Abu al-‘Ayn Badran, Usul al-Fiqh (Kaherah: Dar al-Ma‘arif, 1965), 221.

50

Fathi ‘Abd al-Karim, al-Dawlah wa al-Siyadah fl Fiqh al-Islami, Dirasah Muqaranah, Cet. Kedua
(Kaherah: Maktabah Wahbah, 1984), 50.

51

Taha ‘Abd al-Baqi Surur, Dawlah Alquran (Kaherah: Dar al-Fikr al-‘Arabi, tt.), 111.

52

Fathi ‘Abd al-Karim, 222.

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

52

Siasah pemerintahan Islam pada zaman Umar mencapai tahap kegemilangan
apabila berjaya melumpuhkan empayar Parsi yang menjadi kuasa besar dunia di
sebelah Timur. Pembukaan kota-kota baru telah menambahkan lagi bilangan penganut
agama Islam. Keadaan ini telah mempengaruhi Sayyidina Umar untuk melakukan
beberapa perubahan dan reformasi yang turut sama melibatkan persoalan hukum dan
undang-undang Islam.

Khalifah Usman Ibn Affan

Khalifah Umar meninggal dunia setelah ditikam oleh seorang Majusi bernama Abu
Lu’luah pada akhir tahun 23 Hijrah. Urusan pemilihan khalifah telah diserahkan oleh
beliau kepada majlis syura para sahabat yang terdiri daripada 6 orang iaitu ; Abdul
Rahman bin Auf, Ali bin Abi Talib, Uthman bin Affan, Saad bin Abi al-Waqqas, Talhah
bin Ubaydillah, dan Zubayr bin al-Awwam. Umar menegaskan seorang khalifah mesti
dipilih di antara enam orang tersebut kerana beliau melihat kesemua calon tersebut
merupakan ketua kaum masing-masing.
Permesyuaratan tersebut telah menerima Usman sebagai orang yang paling layak
untuk jawatan khalifah. Sebenarnya anggota syura telah menyerahkan pemilihan
tersebut kepada Abdul Rahman bin ‘Awf. Abdul Rahman telah mengelilingi kota
Madinah untuk mengambil pendapat masyarakat dan akhirnya keputusan ramai
memihak kepada Uthman walaupun ada yang memihak kepada Ali bin Abi Talib yang
turut menjadi calon kedua.
Usman meneruskan pemerintahan Islam yang sedang tumbuh gagah pada waktu
itu. Beliau menyambung usaha pembukaan yang terhenti pada zaman Umar dan giat
menghantar tentera laut yang mencemaskan Byzantine di samping usaha agungnya
di dalam menyalin semula Alquran menjadi naskhah rasmi kerajaan dan menghantar
beberapa salinan ke jajahan Islam bagi mengelak perbalahan umat Islam dan
pertumpahan darah di kalangan mereka.

Pelaksanaan hukum Islam di zaman pemerintahan Usman Ibn Affan

Oleh kerana negara Islam semakin luas, amalan menentukan hukum yang dibuat
mengikut pandangan masing-masing makin menjadi-jadi. Institusi ijma‘ sebagai badan
ijtihad pula menjadi semakin lemah, dan akhirnya terlalu sukar untuk dilaksanakan
diperingkat negara. Seterusnya, di pertengahan zaman pemerintahan Usman pula

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

53

telah timbul berbagai-bagai fitnah yang menjejaskan institusi badan perundangan.
Dalam soal pemerintahan negara, Usman banyak menyerahkan tugas tersebut
kepada pembantunya dari kalangan keluarganya sendiri.53

Ini menyebabkan banyak
golongan tidak suka kepadanya. Kelemahan pentadbiran dan campurtangan golongan
Bani Umayyah dalam pemerintahan beliau telah menyebabkan penduduk Kufah,
Basrah dan Mesir datang ke Madinah dan melakukan pemberontakan. Akhirnya pada
bulan Zulhijjah tahun 35H., rumahnya dikepung dan beliau dibunuh.54

Pembunuhan
Usman ini telah menyebabkan berlaku perpecahan yang besar di kalangan umat
Islam.55

Perpecahan tersebut memberi kesan yang besar dalam penentuan hukum
Islam. Setiap kumpulan yang berpecah mempunyai kaedah yang berlainan dalam
menentukan hukum. Pada mulanya kaedah dan asas masing-masing adalah untuk
menguatkan kumpulan masing-masing, tetapi akhirnya ia telah menimbulkan
perbezaan pendapat dalam penentuan hukum.56
Terdapat beberapa kelemahan di akhir pemerintahnnya kerana sikap beliau yang
agak melebihkan kaum kerabat sehingga kebanyakan jawatan kerajaan dikuasai oleh
Bani Umayyah. Sikap ini dikritik oleh para sahabat yang khuatir melihat keadaan
tersebut. Di samping beberapa sebab lain, telah timbul kekacauan dan rasa tidak puas
hati di kalangan penduduk sehingga akhirnya membawa kepada pembunuhan Uthman
yang penuh tragis.

Zaman khalifah Ali Ibn Abu Talib

Selepas peristiwa pembunuhan Usman oleh puak pemberontak, orang ramai melantik
Sayyidina Ali ra., menjadi khalifah. Perlantikan tersebut tidak direstui oleh Mua’wiyyah
r.a. yang memerintah jajahan Islam di Syam. Muawiyyah enggan memberikan bay’ah
kepada Ali kecuali jika Ali segera menangkap pembunuh Usman dan menjatuhkan
hukuman terlebih dahulu. Pada zaman pemerintahan Ali telah berlaku peristiwa hitam

53

Ahmad Syalabi, Mawsu‘ah al-Tarikh al-Islami Wa al-Hadarah al-Islamiyyah, Cet. Kesembilan
(Kaherah: Maktabah al-Nahdah al-Misriyyah, 1980), 429.

54

Jalal al-Din ‘Abd al-Rahman al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa’ (Kaherah: Dar al-Fikr al-‘Arabi, tt.), 178-
179; Lihat juga Abdul Halim Hasan, Tarikh Kejadian Syarak (Penang: Persama Press, tt.), 72.

55

Pada masa itu umat Islam berpecah kepada tiga puak iaitu; puak majoriti yang menyokong Mu‘awiyah,
puak Syi‘ah yang berpihak kepada ‘Ali dan keturunannya dan puak Khawarij yang wujud secara
berasingan dan mengakui dua orang khalifah sahaja iaitu Abu Bakr dan ‘Umar sahaja.

56

Sulayman al-Asyqar, Dr., Tarikh al-Fiqh al-Islami, Cet. Pertama (al-Kuwayt: Maktabah al-Falah,

1982), 77.

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

54

yang meninggalkan sejarah pahit perpecahan umat Islam dengan berlakunya dua siri
perang saudara iaitu berlakunya peperangan al-Jamal di antara ‘Ali dengan ‘A’isyah dan
peperangan Siffin di antara ‘Ali dengan Mu‘awiyah.
Selepas peperangan Siffin, telah berlaku peristiwa “Majlis al-Tahkim” antara pihak
Muawiyyah dan pihak Ali bin Abi Talib. Peristiwa “Majlis al-Tahkim” telah menimbulkan
rasa tidak puas hati sebahagian dari kalangan umat Islam pada masa itu.57

Selepas itu
lahirlah satu golongan yang dikenali sebagai Khawarij. Mereka itu pada asalnya berada
di pihak Ali tetapi telah mengambil keputusan meninggalkan pasukan Ali. Seterusnya
golongan Khawarij telah merancang untuk melakukan pembunuhan ke atas Ali dan
Muawiyyah, Amr bin al-‘As dan Abu Musa al-Ash’ari. Bagaimanapun mereka gagal
membunuh Muawiyyah dan berjaya membunuh Sayyidina Ali melalui pembunuh
upahan yang bernama Abdul Rahman bin Muljam pada bulan Ramadhan. Dengan
kematian khalifah Ali ra., tamatlah pemerintahan Khulafa’ Ar-Rasyidin yang merupakan
zaman keemasan sebuah kerajaan Islam yang ideal.
Perbezaan pendapat selepas “Majlis al-Tahkim” juga telah membawa kepada
percanggahan pendapat di antara puak Khawarij, Syi‘ah dan lain-lain menjadi semakin
besar. Tiap-tiap puak itu masing-masing mempercayai dan menyokong fuqaha’ dari
golongan mereka sahaja sebaliknya tidak mempercayai fuqaha’ dari golongan yang
lain. Selepas itu persengketaan sesama Islam semakin bertambah dan perkara ini
berterusan sehingga ke zaman pemerintahan Bani Umayyah.

Epilog

Berdasarkan seluruh perbincangan di atas dapatlah dibuat kesimpulan bahawa
menegakkan Dawlah Islamiyyah merupakan fardu kifayah yang diwajibkan ke atas
diri semua umat Islam. Tanpa Dawlah Islamiyyah sebahagian besar hukum-hukum
syariah yang berkaitan dengan kenegaraan tidak dapat dilaksanakan. Oleh itu, menjadi
kewajipan kepada semua umat Islam hari ini melipatgandakan usaha ke arah penubuhan
Dawlah Islamiyyah. Contoh Dawlah Islamiyyah yang paling baik dan sempurna sebagai
ikutan ialah Dawlah Islamiyyah pada zaman Rasulullah saw.. Kemudian diikuti dengan

57

Hasan, Hasan Ibrahim, Tarikh al-Islami al-Siyasi Waddini Wal Thaqaf Wa al-Ijtima‘i, Jil. I Cet.
Ketujuh (Kaherah: Maktabah al-Nahdah al-Misriyyah, 1964), 297.

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

55

contoh-contoh negara Islam yang dipimpin oleh para khulafa’ al-Rasyidin. Penjelasan
yang dibuat melalui kertas kerja ini diharap dapat membantu segala usaha ke arah
menegakkan Dawlah Islamiyyah pada zaman kini.

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

56

DAFTAR PUSTAKA

‘Abdul Hamid Mutawalli, Dr.. Mabadi’ Nizam al-Hukm fil Islami.
‘Abdullah, ‘Abd al-Ghani Basyuni, Dr.. Nazariyyat al-Dawlah Fi al-Islam. Beirut: al-Dar
al-Jami‘ah, 1986.
‘Abdul Wahhab Khallaf. Khulasah Tarikh Tasyri‘ al-Islami. Kuwait: al-Dar al-Kuwaitiyyah,

tt..

‘Isawi, ‘Isawi Ahmad. al-Madkhal lil Fiqh al-Islami. Kaherah: Dar al-Kitab al-‘Arabi,
1967.
Abdul Ghani Basyuni Abdullah. Nazariyyah al-Dawlah fil Islam. Beirut: Al-Dar al-
Jami’ah, 1986. Mutawalli, ‘Abd al-Hamid, Dr.. Mabadi’ Nizam al-Hukm fil Islam,
Cet. Ketiga. Iskandariyyah: Mansya’ah al-Ma‘arif, 1975.
Abd. Qadim Zallum. Pemikiran Politik Islam Mengemukakan Ketinggian Politik Islam.
Bangil Jawa Timur: Al-Izzah, 2001.
Abdul Halim Hasan. Tarikh Kejadian Syarak. Penang: Persama Press, tt..
Abu Abd. Fattah Ali Belhaj. Menegakkan Kembali Negara Khilafah, Kewajipan Terbesar
dalam Islam.
Bogor, Pustaka Thariqul Izzah, 2001.
Ahmad Syalabi. Mawsu‘ah al-Tarikh al-Islami Wa al-Hadarah al-Islamiyyah, Cet.
Kesembilan. Kaherah: Maktabah al-Nahdah al-Misriyyah, 1980.
Ali Mansur. Islam dalam Perhubungan Antarabangsa, Mahmood Zuhdi Abdul Majid
(terj.). Petaling Jaya: Budaya Ilmu Sdn. Bhd., 1994.
Amir Hassan Siddiqi. The Origin and Development of Muslim Institution, 2nd

ed. Karachi:

Jam’iyyat al-Falah Publication, 1969.
Badran Abu al-‘Ayn Badran. al-Syari‘ah al-Islamiyyah, Tarikhuha Wa Nazariyyah al-
Milkiyyah Wa al-‘Uqud
, Iskandariyyah: Mu’assasat Syabab al-Jami‘ah, tt..
-----------. Usul al-Fiqh. Kaherah: Dar al-Ma‘arif, 1965.
Bahagian Hal Ehwal Islam Jabatan Perdana Menteri. Tafsir Pimpinan Ar-Rahman Kepada
Pengertian Alquran,
Cet. Keenam. Kuala Lumpur: Percetakan Nasional Malaysia
Berhad, 1995. Ibn Hisyam. al-Sirah al-Nabawiyyah, Juz. 2. Beirut: Dar al-Jayl, tt..
Dr. Abdul Halim El-Muahmmady, Konsep Negara Islam. Laman web JAKIM 2001.
http://www.Islam.gov.my/e-rujukan
Fathi ‘Abd al-Karim. al-Dawlah wa al-Siyadah fil Fiqh al-Islami, Dirasah Muqaranah,
Cet. Kedua. Kaherah: Maktabah Wahbah, 1984.
Haji Abdul Hadi Awang. Sistem Pemerintahan Negara Islam. Petaling Jaya: Dewan
Muslimat Sdn. Bhd., 1995.
Hasan, Hasan Ibrahim. Tarikh al-Islami al-Siyasi Waddini Wal Thaqafi Wa al-Ijtima‘i, Jil.

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

57

I Cet. Ketujuh. Kaherah: Maktabah al-Nahdah al-Misriyyah, 1964.
Hassan Haji Salleh. Sejarah Perundangan Islam, Cet. Kedua. Kelantan: Pustaka Aman
Press, 1979.
Ibn Qayyim al-Jawziyyah. A‘lam al-Muwaqqi‘in, Jil. I.
Imam al-Baghdadi. Usul al-Din. Beirut: Dar al-Kutub al-Imamiyyah, 1980.
Jalal al-Din ‘Abd al-Rahman al-Suyuti. Tarikh al-Khulafa’. Kaherah: Dar al-Fikr al-‘Arabi,

tt..

K. Ramanathan Kalimuthu. Asas Sains Politik. Petaling Jaya: Budaya Ilmu Sdn. Bhd.
1987.
Khalid Ibrahim Jindan. Teori Politik Islam, Telaah Kritis Ibnu Taymiyyah Tentang
Pemerintahan Islam.
Surabaya; Risalah Gusti., 1999.
Lukman Thaib, Politik Menurut Perspektif Islam (Kajang: Synergymate Sdn. Bhd. 1998.
M. Dhiauddin Rais, Drs..Teori Politik Islam. Jakarta: Gema Insani, 2001.
Muhammad Faruq al-Nabhan. Nizam al-Hukm Fi al-Islam, Cet. Kedua. Beirut:
Mu’assasah al-Risalah, 1988.
Muhammad Faruq al-Nabhan. Nizam al-Hukmi Fi al-Islam, Cet. Kedua. Beirut:
Mu’assasah al-Risalah, 1988.
Muhammad Abd. Qadir Abu Fariz, Dr.. Fiqh Siasah Menurut Imam As-Syahid Hassan Al-
Banna.
Kuala Lumpur; Pustaka Syuhada, 2000.
Muhammad Abd. Qadir Abu Fariz, Dr.. Sistem Politik Islam. Jakarta: Rabbani Press, 1986.
Muhammad Ibn Abi Bakr Ibn Ayyub, Syamsuddin Ibn Qayyim al-Jawziyyah. A‘lam al-
Muwaqqi‘in
, Jil. 1. Kaherah: Maktabah al-Kulliyah al-Azhariyyah, 1968.
Muhammad Pisol Mat Isa. Jihad Politik Dalam Politik dan Persoalan Negara Islam
Mengikut Pandangan Sa’id Hawwa.
Negeri Sembilan: M. Khairi Enterprise, 2001.
Muhibbin, M.A, Drs., Hadis-Hadis Politik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar LESISKA, 1996.
O.K. Rahmat, Dr.. Republik Atau Monarki, Cet. Pertama. Singapura: Pustaka Nasional
Pte.Ltd., 1989.
Sayyid Abu al-A’la Maududi. Proses Pembinaan Negara Islam.Kuala Lumpur: Pustaka
Salam, 2000.
Sulayman al-Asyqar, Dr.. Tarikh al-Fiqh al-Islami, Cet. Pertama. al-Kuwayt: Maktabah
al-Falah, 1982.
Taha ‘Abd al-Baqi Surur. Dawlah Alquran. Kaherah: Dar al-Fikr al-‘Arabi, tt..
Wan Zahidi Wan The. Ciri-Ciri Sebuah Negara Islam, Pelaksanaan Hukum Syarak
di Malaysia
(ed.), tt.; Khairul ‘Azmi Mohamad, Abdul Munir Yaacob. Ketua
Penerangan dan Penyelidikan Kerajaan Negeri Johor.

POLITIK HUKUM DAN PEMBINAAN UMAT
DI BUMI SERAMBI MEKKAH*

PROLOG

Masyarakat suatu bangsa akan nyaman bila damai dalam hidup. Damai berawal dari
kebijaksanaan hukum (legal policy) yang diproduk dan dilaksanakan pemerintah.
Hukum adalah sejumlah aturan yang menjamin ketenangan dalam masyarakat dengan
memberikan putusan yang tepat dan cepat terhadap problematika masyarakat.
Aturan yang dimaksud mesti bermuara pada kebijaksanaan hukum yang memastikan
muncul kepastian dan keadilan hukum dan ini merupakan keinginan dari sebuah
Negara hukum.

Dalam teori etis disebutkan bahwa hukum itu semata-mata bertujuan keadilan.
Isi hukum ditentukan oleh keyakinan yang etis yang adil atau sebaliknya. Dengan
perkataan lain, hukum menurut teori ini bertujuan mewujudkan keadilan.1

Di samping
itu, hukum juga bertujuan untuk menjamin kebahagiaan terbesar bagi umat manusia
dalam jumlah yang sebanyak-banyaknya (the greatest good of the greatest number).
Pernyataan ini diusung dalam platform teori utilities. Sementara yang terakhir
diungkap oleh Mukhtar Kusumaatmadja bahwa hukum bertujuan untuk ketertiban
yang ukurannya sesuai dengan masyarakat dan zamannya.2

Kesemuanya dapat digapai

dalam sebuah bingkai negara hukum yang bijak.
Negara hukum, seperti disebutkan Wirjono Prodjodikoro, adalah suatu negara
yang di dalam wilayahnya terdapat alat-alat perlengkapan negara, khususnya alat-
alat perlengkapan dari pemerintah dalam tindakan-tindakannya terhadap para warga
negara dan dalam hubungannya tidak boleh sewenang-wenang, melainkan harus
memperhatikan peraturan-peraturan hukum yang berlaku, dan semua orang dalam

*

Makalah ditulis oleh Dr. Fauzi Saleh, M.A., untuk seminar Internasional, “Idealisme Politik Islam
di Aceh”, pada bulan Desember 2011. Penulis adalah dosen pada Fak. Ushuluddin IAIN Ar-Raniry,
Banda Aceh. Acara ini diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Teungku Dirundeng,
Meulaboh, bekerjasama dengan Lembaga Kajian Agama dan Sosial (LKAS) Banda Aceh.

1

Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum: Suatu Pengantar (Yogyakarta: Liberti, 1995), 71.

2

Ibid..

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

60

hubungan kemasyarakatan harus tunduk pada peraturan-peraturan hukum yang
berlaku.3

Dalam sebuah perjalanan pemerintah atau Negara, hukum tidak dapat dipisahkan
dengan politik. Di satu sisi hukum dibuat sesuai dengan keinginan para pemegang
kebijakan politik, di lain sisi para pemegang kebijakan politik harus tunduk dan
bermain politik berdasarkan aturan hukum yang telah ditetapkan oleh lembaga yang
berwenang. Oleh karena itu, antara politik dan hukum terdapat hubungan yang sangat
erat dan merupakan dua sisi mata uang (two faces or a coin ).4

Dengan kata lain, hukum

yang adil dan bijak mesti berangkat dari sebuah political will.
Dalam konteks agama, Islam memberikan perhatian penuh terhadap politik sebagai
alat penerapan syariat. Sementara hukum merupakan perangkat yang dipraktekkan
dalam masyarakat untuk menjawab problematika umat. Setiap saat, hidup manusia
dikuasai oleh hukum. Hukum mencampuri urusan manusia sebelum ia lahir dan masih
mencampurinya sesuah ia meninggal. Hukum bagaikan pelindung benih di perut ibu
dan masih menjaga jenazah orang yang telah mati. Dia memberikan seseorang langsung
setelah ia dilahirkan, hak-hak terhadap ibu-bapak dan meletakkan kewajiban atas ibu-
bapak terhadap anak-anaknya.5
Pergaulan hidup manusia terjadi dari hubungan jumlah yang tak terhingga antara
manusia dan manusia, pertalian darah, perkawainan, kebangsaan, pemberian jasa,
penyimpanan (bewaargeving) dan semuanya merupakan hubungan itu diatur dengan
hukum atau dengan kata lain disebut hubungan hukum (rechtsbetrekkingen). 6
Hukum mengalami dinamika seiring dengan perubahan sosial. Karena itu, hukum
dalam Islam mengalami perkembangan yang luar biasa. Bahkan dalam sebuah
adagium, al-hukm yaduuru ma’al illat, wujudan wa ‘adaman“, hukum itu terikat dengan
illat (causa legis), ada tidaknya tergantung pada ada tidaknya ‘illat”. Perubahan itu
tentunya akan lebih baik bila ditopang dengan kebijaksaan dalam memproduk dan
mengimplementasikan hukum itu sendiri.

3

Firdaus, “Politik Hukum di Indonesia (Kajian Dari Sudut Pandang Negara Hukum)”, Jurnal Hukum
Islam Vol. 12 No. 10. September 2005,
48.

4

http://id.shvoong.com/social-sciences/economics/1991247

5

L.J. van Apeldoorn, Inleiding Tot de Studie van Het Nederlandse Recht, diterjemahkan Oetarid Sadino
dengan judul Pengantar Ilmu Hukum (Jakarta: Pradnya Paramita, 2005), 6.

6

Ibid..

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

61

Memahami politik hukum

Politik hukum merupakan terma yang terdiri dari dua unsur, “politik” dan “hukum.”
Politik secara etimologi bermakna pengetahuan tentang ketatanegaraan atau
kenegaraan, segala urusan dan tindakan mengenai pemerintahan negara atau
terhadap negara lain, atau politik berarti kebijaksanaan.7

Politik pada dasarnya adalah
kegiatan berkenaan dengan proses menentukan tujuan yang harus dicapai oleh
masyarakat.8

Hukum secara bahasa bermakna, peraturan yang secara resmi dianggap
mengikat, yang dikukuhkan oleh penguasa atau pemerintah. Makna lain adalah
undang-undang yang mengatur pergaulan hidup masyarakat, atau kaidah mengenai
peristiwa tertentu. Hukum dapat dimaknai pula sebagai keputusan yang ditetapkan
hakim di dalam pengadilan. 9
Secara terminologis, beberapa ahli hukum memberikan definisi politik hukum.
Menurut Van Apeldorn, menggunakan istilah politik perundang-undangan terbatas
pada hukum tertulis. Padmo Wahyono berpendapat bahwa politik hukum terkait
dengan kebijaksanaan penyelenggara negara tentang apa yang dijadikan kriteria untuk
menghukumkan suatu kebijakan berkaitan dengan pembentukan hukum, penerapan
hukum, penegakan hukum.
Menurut Purbacaraka dan Soeryono, politik hukum berbicara tentang kegiatan-
kegiatan memilih nilai-nilai dan penerapan nilai-nilai. Sementara itu, Satjipto Raharjo
berpendapat bahwa politik hukum adalah aktivitas untuk menentukan suatu pilihan
mengenai tujuan hukum dalam masyarakat. Politik hukum merupakan salah satu
faktor yang menyebabkan terjadinya dinamika masyarakat karena politik hukum
diarahkan kepada ius constituendum, hukum yang seharusnya berlaku.
Lain halnya dengan Bagir Manan. Dia berpendapat, politik hukum tidak dari
politik ekonomi, politik budaya, politik pertahanan, keamanan, dan politik dari
politik itu sendiri. Jadi politik hukum mencakup politik pembentukan hukum, politik
penentuan hukum dan politik penerapan serta penegakan hukum. Moh. Mahfud
berkata bahwa politik hukum adalah kebijaksanaan hukum (legal policy) yang
hendak/telah dilaksanakan secara nasional oleh pemerintah (Indonesia) yang dalam
implementasinya melalui:

7

Hasan Alwi, dkk., Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2003), 887.

8

http://monaliasakwati.blogspot.com/2011/04/politik-hukum.html#ixzz1fRCjl1vD

9

Hasan Alwi, dkk., Kamus..., 411.

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

62

• Pembangunan hukum yang berintikan pembuat hukum dan pembaharuan
terhadap bahan-bahan hukum yang dianggap asing dan atau tidak sesuai
dengan kebutuhan penciptaan ( ius constituemdum ) hukum yang diperlukan.
• Pelaksanaan ketentuan hukum yang telah ada termasuk penegasan fungsi
lembaga dan pembinaan para anggota penegak hukum. 10

Teuku Muhammad Radhie mengartikan politik hukum sebagai pernyataan
kehendak penguasa negara mengenai hukum hendak dikembangkan.11

Satjipto
Rahardjo, pendukung aliran hukum progressif, mengartikan politik hukum sebagai
aktivitas memilih dan cara yang hendak dipakai untuk mencapai tujuan sosial dan
hukum tertentu dalam masyarakat.
Jadi akumulasi dari apa yang dijelaskan di atas dapat disimpulkan bahwa politik
hukum adalah aspek-aspek politis yang melatar-belakangi proses pembentukan
hukum dan kebijakan suatu bidang tertentu, sekaligus juga akan sangat mempengaruhi
kinerja lembaga-lembaga pemerintahan yang terkait dalam bidang tersebut dalam
mengaplikasikan ketentuan-ketentuan produk hukum dan kebijakan, dan juga
dalam menentukan kebijakan lembaga-lembaga tersebut dalam tataran praktis dan
operasional. Sedemikian pentingnya peranan politik hukum ini, sehingga ia dapat
menentukan keberpihakan suatu produk hukum dan kebijakan.12

Tujuan politik hukum

Tujuan politik hukum menurut Mohd. Mahfud sebagaimana dikutip oleh Sofian Efendi
ada dua hal: Pertama, Salah satu tugas utama politik hukum nasional adalah selalu
mengawal dan mengalirkan hukum-hukum yang sesuai dengan dan dalam rangka
menegakkan konstitusi. Kedua, Pembangunan politik hukum nasional harus selalu dijaga
agar tidak menyimpang dari aliran konstitusi dan sumber nilai yang mendasarinya.13
Tujuan ini tentu berangkat dari pemahaman hukum itu sendiri sebagai salah satu
instrument kebijakan yang digunakan pemerintah untuk melakukan tindakan-tindakan

10

http://albatrozz.wordpress.com/2008/12/21/politik-hukum/

11

http://monaliasakwati.blogspot.com/2011/04/politik-hukum.html#ixzz1fRD3wAqk

12

http://taufqnugroho.blogspot.com/2009/02/politik-hukum.html

13

Sofan Efendi, Politik Hukum (Politics Of The Legal System) Atau Kebijakan Hukum (Legal Policy),
bedah buku Mahfudh MD, “Membangun Politik Hukum, Menegakkan Konstitusi”, Jakarta: Pustaka
LP3ES, tt..

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

63

tersebut. Jadi, politik hukum sebagai terjemahan dari legal policy, mempunyai makna
yang lebih sempit daripada politik hukum sebagai terjemahan dari politics of law atau
politics of the legal system. 14

Islam, politik dan hukum

V. Fitzgerald berkata, “Islam bukanlah semata agama (a religion), namun ia juga
merupakan sebuah sistem politik (a political system). Meskipun pada dekade-dekade
terakhir ada beberapa kalangan dari umat Islam, yang mengklaim diri mereka sebagai
kalangan ‘modernis’, yang berusaha memisahkan kedua sisi itu, namun seluruh
gugusan pemikiran Islam dibangun di atas fundamental bahwa kedua sisi itu saling
bergandengan dengan selaras, yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain.”15
Schacht berkata, “Islam lebih dari sekadar agama; ia juga mencerminkan teori-teori
perundang-undangan dan politik. Dalam ungkapan yang lebih sederhana, ia merupakan
sistem peradaban yang lengkap, yang mencakup agama dan negara secara bersamaan”.16
Di sisi lain, Islam juga mengatur aturan hidup secara sosial. Urgensitas hukum itu
terlihat dengan lahirnya aturan sejalan dengan eksistensinya manusia itu sendiri. Sejak
manusia hidup berkelompok sudah ada aturan hidup, seumpama hukum adat. Karena
itu, tidak ada manusia tanpa budaya kepentingan atau tanpa hukum. Perkembangan
hidup manusia hakikatnya berevolusi, karenanya hukum juga lahir daripadanya
hukum yang mengaturnya berubah dan berkembang secara evolutif yang dapat dilacak
dengan metode historis.17

Figure 1. Perkembangan manusia dan hukum (Hilman Hadikusuma).

14

Ibid..

15

Dhiauddun Rais, Teori Politik Islam, www.isnet.com

16

Ibid..

17

Hilman Hadikusuma, Pengantar Antropologi Hukum (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2004), 9.

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

64

Perkembangan hukum begitu pesat sejalan dengan perkembangan manusia itu
sendiri. Perkembangan ini menjadi ikon tersendiri dalam proses lahirnya budaya yang
bertitik tolak pada norma-norma (kaidah-kaidah) dalam membentuk kelembagaan
atau prilaku. Menurut Hilman, untuk memahami prilaku manusia yang berkaitan
dengan hukum, maka yang harus dilakukan ialah penjajakan ideologis terhadap
norma-norma hukum. Inilah menurutnya memahami manusia dalam konteks hukum
dengan metode normatif- eksploratif.
Masyarakat (society) yang merupakan kumpulan individu yang menghasilkan
hukum seharusnya memiliki posisi pengawasan sosial yang pengaturannya
dibimbing oleh penilaian sosial dan sosial ideal. Inilah termasuk proses dari dan
untuk masyarakat yang tidak dapat dipisahkan pula dengan budi atau akal pikiran
masyarakat.18

Kesadaran hukum merupakan pandangan yang hidup dalam masyarakat tentang
apa hukum itu. Pandangan itu bukanlah merupakan pertimbangan rasional. Bukanlah
merupakan produk pertimbangan menurut akal, tetepi berkembang dipengaruhi oleh
pelbagai faktor, yaitu agama, ekonomi, politik dan sebagainya. Pandangan ini selalu
berubah, oleh karena itu hukumpun selalu berubah juga. 19
Islam datang untuk mengakomodir pemikiran manusia tentang hukum dengan
membimbing dan membina ke arah yang lebih tepat dan baik. Islam mewarkan
syariat yang berbasis rahmatan dan kemaslahatan bagi setiap umat manusia. Sebagai
agama yang datang dari Sang Pencipta, syariat Islam benar-benar merefleksikan
kebutuhan dan kemaslahatan hamba. Karena itulah, hukum dalam Islam memiliki azas
fleksibelitas, kemaslahatan, keseimbangan, keadilan dan seterusnya.
Dari uraian di atas, Islam mengakomodir sisi politik sebagaimana sisi hukum.
Eksistensi politik dalam Islam diperuntukkan menghasilkan menghasilkan
kemaslahatan yang sebesar-besarnya. Politik hukum dalam Islam diarahkan kepada
produk hukum yang bijak dan memihak pada kepentingan umat.
Politik Islam dihadapkan pada beberapa pilihan strategis yang masing-masing
mengandung konsekuensi dalam dirinya.
Pertama, strategi akomodatif justifikatif terhadap kekuasaan negara yang sering

18

Alvin S. John, Sociology of Law, diterjemahkan oleh Rinaldi Simamora “Sosiologi Hukum(Jakarta:

Rineka Cipta, 2004), 33.

19

Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum: Suatu Pengantar (Yogyakarta: Liberti, 1995), 113.

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

65

tidak mencerminkan idealisme Islam. dengan konsekuensi menerima penghujatan
dari kalangan “garis keras” umat Islam.
Kedua, strategi isolatif-oposisional, yaitu menolak dan memisahkan diri dari
kekuasaan negara untuk membangun kekuatan sendiri, dengan konsekuensi
kehilangan faktor pendukungnya, yaitu kekuatan negara itu sendiri, yang kemudian
dikuasai dan dimanfaatkan oleh pihak lain.
Ketiga, strategi integratif-kritis, yaitu mengintegrasikan diri ke dalam kekuasaan
negara, tetapi tetap kritis terhadap penyelewengan kekuasaan dalam suatu perjuangan
dari dalam. Namun, strategi ini sering berhadapan dengan hegemoni negara itu sendiri,
sehingga efektifitas perjuangannya dipertanyakan.

Peran politik hukum dalam pembinaan umat di Aceh

Peran politik hukum pada intinya untuk menghindari manusia agar tidak terjebak
menjadi budak-budak materialis di bidang ekonomi, teknologi, efisiensi sementara
hatinya kering mengalami kekeringan dan jauh dari ketenteraman serta keseimbangan
batin.20

Pembinaan dan pengembangan karakter termasuk salah satu jala yang harus
ditempuh untuk mengembalikan posisi, harkat dan martabat kemanusiaan.21
Dalam penghadapan dengan kekuasaan dan negara, politik Islam di Indonesia sering
berada pada posisi delematis. Dilema yang dihadapi menyangkut tarik-menarik antara
tuntutan untuk aktualisasi diri secara determinan sebagai kelompok mayoritas dan
kenyataan kehidupan politik yang tidak selalu kondusif bagi aktualisasi diri tersebut.
Karena itu, politik Islam di negeri ini harus diperankan dengan strategi akomodatif
justifikatif.
Dalam konteksnya dengan masyarakat di bumi Serambi Mekkah umpamanya,
kebijakan politik harus diarahkan untuk memproduk hukum yang berpihak pada
kemaslahatan masyarakat. Makna hukum yang dapat ditegakkan dengan supremasinya
sehingga masyarakat memperoleh keadilan dan kepastian hukum.
Aceh dengan dinamika kehidupan masyarakat yang selalu berubah tentu
membutuhkan aturan yang mengamini irama perubahan tersebut. Sebagaimana
disebutkan dalam sebuah adagium bahwa tidak ada sesuatu dalam dunia ini yang

20

Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangan Kecerdasan Emosi dan Spritual (Jakarta: Arga,

2004), 20

21

Muzairi, “Pokok-pokok Pikiran Manifesto Humanisme” dalam Refeksi, Vol. 1. No. 1 (Yogyakarta:
Jurusan Aqidah dan Filsafat Fakultas Ushuluddin Sunan Kalijaga, 2001), 5.

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

66

tidak berubah kecuali perubahan. Politik hukum di bumi syariat harus memperhatikan
perubahan-perubahan sebagai landasan berpijak terutama dalam menentukan ‘illat
hukum
(legal reasoning).
Hal tersebut di atas sebagaimana diungkapkan Utrecht bahwa politik hukum
berusaha membuat kaidah-kaidah yang akan menentukan bagaimana seharusnya
manusia bertindak, menyelidiki perubahan-perubahan apa yang harus diadakan dalam
hukum yang sekarang berlaku supaya menjadi sesuai dengan sosial werkelijkheid
(kenyataan sosial).22

Tidak dipungkiri lagi politik Islam adalah suatu keharusan dalam sebuah komunitas
kemajemukan. Aceh sebagai provinsi yang diterapkan syariat harus mengacu kepada
kemaslahatan kemajemukan dan kemaslahatan. Posisi hukum di Aceh yang didukung
oleh politik hukum mesti merujuk kepada moralitas dan wahana untuk mencapai
cita-cita sosial sebagaimana disebutkan Durkheim. Masa itu hk dianggap satu-satunya
perekat sosial.

Di sisi lain, hukum sebagai alat paksa pemegang kekuasaan, dipengaruhi oleh
kepentingan ideal, material, dan kepentingan kelompok masyarakat sehingga menjadi
struktur sosial sebagaimana diungkapkan Weber. Aceh dengan segala perubahannya
membutuhkan keberadaan hukum yang mengabdi kepada kepentingan rakyat23
Politik hukum dijadikan sebaga wahana di bumi serambi Mekkah untuk menggapai
empat poin penting (the general consciousness) tersebut adalah:
• Perlindungan terhadap unsur negara demi integrasi bangsa

• Perwujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat

• Mewujudkan demokrasi dan nomokrasi dalam hidup berbegara. Nomos/
hukum menjadi penguasa atas penguasa
• Menciptakan toleransi atas dasar kemanusiaan dan keadaban dalam hidup
beragama. 24

Dalam hidup masyarakat di Aceh khususnya, hukum, sudut pandang politik
hukum, bertugas menjamin dan memastikan keadilan sosial dapat diwujudkan
dengan menciptakan prosedur normatif yang adil untuk kesejahteraan masyarakat.

22

Agusmidah, Politik Hukum Ketenagakerjaan Indonesia, makalah tidak diterbitkan, 5.

23

Prof. Dr. Tb. Ronny Rahman Nitibaskara, Dr. Bambang Widodo Umar. Sosiologi Hukum

24

http://bolmerhutasoit.wordpress.com

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

67

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat dapat diwujudnyatakan dengan instrumen
hukum. Sebagaimana tujuan hukum itu sendiri keadilan, kemanfaatan dan kepastian
hukum.25

Konteks diberlakukannya politik hukum dalam kehidupan bernegara bernegara
berlandaskan pada Pansasila pada sila yang keempat, “Kerakyatan yang dipimpin oleh
hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan.” Sila tersebut menjadi
pondasi dalam penerapan demokrasi di Indonesia seperti disebutkan dalam UUD NRI
1945 Pasal 1 ayat (2), Kedaulatan berada ditangan rakyat dan dilaksanakan menurut
Undang-Undang Dasar.Rakyat dan kepentingannya dalam hal ini adalah poin penting
dalam penyelenggaraan negara. Demokrasi yang diterapkan bukan untuk kalangan
mayoritas tanpa memandang minoritas. Namun demokrasi yang untuk seluruh rakyat
dan kepentingannya. 26
Politik hukum merupakan politik (kebijakan) yang berguna untuk hukum dan
ilmu hukum; sehingga antara politik hukum, hukum nasional, dan ilmu hukum
berkait sangat erat. Kaitan sangat erat itu menyebabkan politik hukum merupakan
bagian pula dari studi hukum atau menjadi bagian dari bidang studi hukum. Politik
hukum mengetengahkan, bagaimana hukum harus mengakomo-dasikan suatu tujuan
masyarakat yang dirumuskan secara politik.27
Hukum dalam arti peraturan perundang-undangan memerlukan politik (kebijakan)
dalam arti yang positif, karena memang harus diakui, bahwa hukum itu adalah
produk politik. Lebih tegas lagi, dapat dikatakan, bahwa hukum sebagai suatu produk
(peraturan perundang-undangan) merupakan proses konfliks. Artinya, proses yang
penuh muatan aspirasi dan titipan kepentingan politik sesaat. 28
Politik hukum secara sederhana dapat dirumuskan sebagai kebijakan hukum (legal
policy
) yang akan atau telah dilaksanakan secara nasional oleh pemerintah; mencakup
pula pengertian tentang bagaimana politik mempengaruhi hukum dengan cara melihat
konfigurasi kekuatan yang ada di belakang pembuatan dan penegakan hukum itu. 29

25

Ibid..

26

http://bolmerhutasoit.wordpress.com

27

http://www.surabayapagi.com/

28

Soetanto Soepiadhy, UUD 1945: Politik Hukum Mikro, http://www.surabayapagi.com/

29

http://www.surabayapagi.com/

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

68

Epilog

Uraian di atas memberikan catatan penting bahwa politik hukum menjadi sebuah
keniscayaan untuk dipahami dan diamalkan. Perwujudan politik hukum akan
melahirkan hukum yang dapat menghasilkan keadilan dan kepastian hukum. Karena
tidak dapat dipungkiri bahwa hukum dibidani dengan proses politik. Islam sangat
concern terhadap kebijakan dalam berbagai hal. Kalau begitu, hasrat ini akan semakin
dekat dengan pengabdian untuk diri, masyarakat dan bangsa.

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

69

DAFTAR PUSTAKA

Agusmidah. Politik Hukum Ketenagakerjaan Indonesia, makalah, tidak dipublikasikan.
Alvin S. John. Sociology of Law, diterjemahkan oleh Rinaldi Simamora “Sosiologi
Hukum”. Jakarta: Rineka Cipta, 2004.
Ary Ginanjar Agustian. Rahasia Sukses Membangan Kecerdasan Emosi dan Spritual.
Jakarta: Arga, 2004.
Dhiauddun Rais, Teori Politik Islam, www.isnet.com
Firdaus. “Politik Hukum Di Indonesia (Kajian Dari Sudut Pandang Negara Hukum)”,

Jurnal Hukum Islam Vol. 12 No. 10. September 2005.
Hasan Alwi, dkk.. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 2003.
Hilman Hadikusuma. Pengantar Antropologi Hukum. Bandung: Citra Aditya Bakti, 2004.
http://albatrozz.wordpress.com/2008/12/21/politik-hukum/
http://bolmerhutasoit.wordpress.com
http://id.shvoong.com/social-sciences/economics/1991247
http://monaliasakwati.blogspot.com/2011/04/politik-hukum.html#ixzz1fRCjl1vD
http://www.lkas.org
http://taufiqnugroho.blogspot.com/2009/02/politik-hukum.html
http://www.surabayapagi.com/
L.J. van Apeldoorn. Inleiding Tot de Studie van Het Nederlandse Recht, diterjemahkan
Oetarid Sadino dengan judul Pengantar Ilmu Hukum. Jakarta: Pradnya Paramita,
2005.
Muzairi. “Pokok-pokok Pikiran Manifesto Humanisme” dalam Refleksi, Vol. 1. No. 1.
Yogyakarta: Jurusan Aqidah dan Filsafat Fakultas Ushuluddin Sunan Kalijaga,
2001.
Prof. Dr. Tb. Ronny Rahman Nitibaskara, Dr. Bambang Widodo Umar. Sosiologi Hukum.
Soetanto Soepiadhy. UUD 1945: Politik Hukum Mikro, http://www.surabayapagi.com/
Sofian Efendi. Politik Hukum (Politics of The Legal System) Atau Kebijakan Hukum (Legal
Policy
), bedah buku Mahfudh MD, “Membangun Politik Hukum, Menegakkan
Konstitusi”. Jakarta: Pustaka LP3ES, tt..
Sudikno Mertokusumo. Mengenal Hukum: Suatu Pengantar. Yogyakarta: Liberti, 1995.

PRINSIP-PRINSIP POLITIK ISLAM
DAN IMPLEMENTASINYA DI ACEH

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->