P. 1
Idealisme Politik Islam di Aceh

Idealisme Politik Islam di Aceh

|Views: 2,959|Likes:
Published by Khairul Umami
Khalifah Nyak Dum pernah menjadi ikon penting dalam sejarah komunikasi politik Islam era Sultan Iskandar Muda. Dia diplomat ulung, politisi, dan ulama yang pernah diutus Sultan Aceh menemui Sultan Turki. Seiring dengan itu, Sultan menitahkan Syekh Nuruddin Ar-Raniry menulis sepucuk surat dalam bahasa Arab untuk Sultan Turki, yang maksudnya bahwa baginda akan mempererat tali silaturrahim dengan Sultan Turki. Berkat kehandalan komunikasi politik Nyak Dum, Sultan Turki telah menaruh perhatian lebih untuk Aceh. Surat yang dikirim dibalas dengan senang hati dan melalui Nyak Dum Sultan menitipkan salam balasan kepada Sultan Aceh. Selain itu, Sultan Turki juga memberikan sebuah Meriam dan 12 mekanik Turki yang mahir merangkai dan membuat peralatan perang. Sekali lagi, pemberian ini tidak terlepas dari jasa komunikasi Khalifah Nyak Dum. Demikian halnya tatkala menerapkan politik dalam Negeri. Sultan menerapkan sistem political will yang diinspirasikan melalui nilai keimanan dan ketakwaan. Karena itu, hampir setiap periodisasi kesultanan Aceh terlihat selalu hidup berdampingan ulama-ulama. Ulama dijadikan cermin dalam mengukur, bertanya tentang agama, dan juga kondisi rakyat. Jika demikian, prinsip politik saat itu hampir menyamai prinsip Piagam Madinah. Di masa ini politik dipakai sebagai alat ukur, pelindung, serta mengayomi masyarakat menuju pencerahan dan kemakmuran. Kalaupun ada perbedaan (difference) dan keberagaman (diversity) maka itu akan dijadikan khazanah dan auto critic dalam membangun Negeri. Buku ini terdiri dari kontribusi pemikiran akademisi dan politisi, mencoba konstruksi ulang format keselarasan nilai-nilai idealisme politik seiring perjalanan sejarah.
Khalifah Nyak Dum pernah menjadi ikon penting dalam sejarah komunikasi politik Islam era Sultan Iskandar Muda. Dia diplomat ulung, politisi, dan ulama yang pernah diutus Sultan Aceh menemui Sultan Turki. Seiring dengan itu, Sultan menitahkan Syekh Nuruddin Ar-Raniry menulis sepucuk surat dalam bahasa Arab untuk Sultan Turki, yang maksudnya bahwa baginda akan mempererat tali silaturrahim dengan Sultan Turki. Berkat kehandalan komunikasi politik Nyak Dum, Sultan Turki telah menaruh perhatian lebih untuk Aceh. Surat yang dikirim dibalas dengan senang hati dan melalui Nyak Dum Sultan menitipkan salam balasan kepada Sultan Aceh. Selain itu, Sultan Turki juga memberikan sebuah Meriam dan 12 mekanik Turki yang mahir merangkai dan membuat peralatan perang. Sekali lagi, pemberian ini tidak terlepas dari jasa komunikasi Khalifah Nyak Dum. Demikian halnya tatkala menerapkan politik dalam Negeri. Sultan menerapkan sistem political will yang diinspirasikan melalui nilai keimanan dan ketakwaan. Karena itu, hampir setiap periodisasi kesultanan Aceh terlihat selalu hidup berdampingan ulama-ulama. Ulama dijadikan cermin dalam mengukur, bertanya tentang agama, dan juga kondisi rakyat. Jika demikian, prinsip politik saat itu hampir menyamai prinsip Piagam Madinah. Di masa ini politik dipakai sebagai alat ukur, pelindung, serta mengayomi masyarakat menuju pencerahan dan kemakmuran. Kalaupun ada perbedaan (difference) dan keberagaman (diversity) maka itu akan dijadikan khazanah dan auto critic dalam membangun Negeri. Buku ini terdiri dari kontribusi pemikiran akademisi dan politisi, mencoba konstruksi ulang format keselarasan nilai-nilai idealisme politik seiring perjalanan sejarah.

More info:

Published by: Khairul Umami on Jan 11, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

01/29/2015

Sections

Prolog

Fiqh siyasi adalah bagian dari siyasah syar’iyyah (politik hukum Islam) atau
lebih populer dengan istilah ilmu Tata Negara. Fiqh siyasi merupakan keputusan
politik.1

Untuk diperoleh pemahaman yang tepat tentang fiqh siyasi, maka perlu
dijelaskan pengertian masing-masing kata secara etimologi (bahasa) dan terminologi
(istilah). Secara etimologi (bahasa) fiqh adalah keterangan tentang pengertian atau
paham dari maksud ucapan pembicara,2

atau pemahaman yang mendalam terhadap

maksud-maksud perkataan dan perbuatan.3

Maka kata fiqh secara leksikal berarti
tahu, paham, dan mengerti. Istilah ini dipakai secara khusus dalam bidang hukum
agama, yurisprudensi Islam.4

Sedang secara terminologi kata al-fiqh dipahami bahwa
pemahaman yang mendalam, yang membutuhkan pengerahan potensi akal.5

Pengertian
ini dapat dijumpai dalam Alquran, “Dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya
mereka mengerti perkataanku.”(QS. Thaahaa (20): 27-28).
Selain pengertian fiqh yang berarti pemahaman dengan menggunakan potensi akal,
yang bersumber dari Alquran, juga didukung oleh Hadis saw., berikut:

“Apabila Allah menginginkan kebaikan bagi seseorang, maka ia akan memberikan
pemahaman agama (yang mendalam). (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad ibn Hanbal,
Turmudzi, dan Ibn Majah).

1

Abdul Aziz Dahlan dkk., Ensiklopedi Hukum Islam, Jilid 2, Cet. VII (Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve,

2006), 365.

2

Al-Syarif Ali bin Muhammad al-Jurjani, Kitab al-Ta’rif (Singapura: Al-Haramain, tt.), 168.

3

Muhammad Abu Zahrah, Usu al-Fiqh (Mesir: Dar al-Fikr al-‘Arabi, 1958), 6.

4

Abu al-Fad al-Din Muhammad bin Mukram bin Mandzur, Lisan al-‘Arab, Vol. XIII (Beirut: Dar al-
Sadir, 1386H./1968M.), 522; Lois Ma’luf, al-Munjid f al-Lughah wa al-A'lam, Cet. XXIII (Beirut: Dar
al-Masyriq
, 1986), 591; F. Steingass, Arabic English Dictionary (New Delhi: Cosmo Publications, 1978),
800; Hans Wehr, A Dictionary of Modern Written Arabic, ed. By J. Milton Gowan, (Wiersbaden: Otto
Harrassowitz, 1979), 874.

5

Nasrun Haroen, Ushul Fiqh I, Jilid I, Cet. II (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), 2.

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

72

Di samping pengertian fiqh secara terminologi yang terdapat dalam Alquran dan al-
Hadis, juga fiqh didefinisikan oleh ulama dengan redaksi yang berbeda-beda. Menurut
Fakhr al-Din Muhammad Ibn Husain al-Razi, menta’rifkannya dengan:

“Memahami maksud pembicara dari ucapannya.”6

Dalam pengertian terminologi lain juga dijelaskan yang dimaksud al-Fiqh adalah:

“Mengetahui hukum-hukum syara’ yang bersifat praktis yang diperoleh melalui
dalil-dalil yang terperinci.”7

Terperinci maksudnya diambil dari dalil-dalil atau hukum-hukum khusus yang
diperoleh dari Alquran dan Sunnah yang disusun oleh mujtahid dengan jalan penalaran
dan ijtihad.8

Dengan kata lain fiqh adalah ilmu pengetahuan mengenai hukum agama

Islam.

Sedangkan kata, “siyasah” berasal dari kata sasa, (

) memiliki

banyak makna yaitu mengemudi, mengendali, pengendali, cara pengendalian.9

Kata
ini dalam kamus al-Munjid dan Lisan al-‘Arabi berarti mengatur, mengurus, dan
memerintah.10

Jadi, siyasah menurut bahasa mengandung beberapa arti, yaitu
mengatur, mengurus, memerintah, memimpin, membuat, membuat kebijaksanaan,
pemerintahan dan politik. Artinya mengatur, mengurus, dan membuat kebijaksanaan

6

Fakhr al-Din Muhammad Ibn Husain al-Razi, al-Mahsul f ‘Ilm Usul al-Fiqh (Beirut: Dar al-Kutb al-

‘Ilmiyyah, 1988), 9.

7

Al-‘Allamah al-Bannani, Hasyiah al-Bannani ‘ala Syarh al-Mahalli ‘ala Matn Jam’i al-Jawami’, Jilid
I (Beirut: Dar al-Fikr, 1402 H./1992M.), 25. Kamil Musa, al-Madkhal ila al-Tasyri’ al-Islami (Beirut:
Mu’assasah al-Risalah, 1989), 107. Al-Jurjani, Kitab...,168. Al-Syarif Ali bin Muhammad al-Jarjani,
Kitab …,168; Muhammad Abu Zahrah, Usul …, 6; T. M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Pengantar Ilmu Fiqh,
(Jakarta: Bulan Bintang, 1974), 26.

8

Ijtihad adalah “memberi segala daya kemampuan untuk menghasilkan suatu hukum syara’, atau
menggunakan segala daya kemampuan untuk menghasikan sesuatu hukum syara’ dengan cara dhan.” T.
M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Pengantar…,183.

9

M. Quraish Shihab, Wawasan Alquran: ..., 417.

10

Lois Ma’luf, al-Munjid f al-Lughah wa al-A'lam, Cet. XXIII (Beirut: Dar al-Masyriq, 1975), 362; dan
Ibn Manzhur, Abu al-Fadl Jamal al-Din Muhammad Ibn Mukram, Lisan al-‘Arabi, Vol. VI (Beirut: Dar
al- Sadir
, tt), 108.

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

73

atas sesuatu yang bersifat politis untuk mencapai suatu tujuan adalah siyasah.11

Kata
siyasah tidak dijumpai dalam Alquran, namun terdapat dalam salah satu hadis
berikut:

“Bani israil dahulu diperintahkan para nabi, setiap wafat seorang nabi lalu digantikan
nabi lain. Tetapi tidak ada lagi nabi sesudahku dan yang akan ada adalah khalifah-
khalifah yang banyak.” (HR. Bukhari dari Abi Hurairah).12

Adapun secara terminologis dijumpai dalam Lisan al-‘Arab yang dimaksud dengan
siyasah adalah mengatur atau memimpin sesuatu dengan cara yang membawa kepada
kemashlahatan.13

Abdul Wahhab Khallaf mendefinisikannya sebagai, “Undang-undang
yang diletakkan untuk memelihara ketertiban dan kemashlahatan serta mengatur
keadaan.”14

Definisi-definisi tersebut menegaskan bahwa wewenang membuat segala bentuk
hukum, peraturan, dan kebijaksanaan yang berkaitan dengan pengaturan kepentingan
negara dan urusan umat guna mewujudkan kemashlahatan umum terletak pada
pemegang kekuasaan (pemerintah, uli al-amr atau wulat al-amr). Karena itu, segala
bentuk hukum, peraturan, dan kebijaksanaan siyasi yang dibuat oleh pemegang
kekuasaan bersifat mengikat. Ia wajib ditaati oleh masyarakat selama semua produk itu
secara substansial tidak bertentangan dengan jiwa syari’ah. Karena ulil amr telah diberi
hak oleh Allah untuk dipatuhi (Alquran surat al-Nisa’:4: 59). Sekalipun semua produk
itu bertentangan dengan pendapat para mujtahid. Karena pendapat mujtahid hanya
wajib diamalkan oleh mujtahid itu sendiri dan masyarakat tidak wajib mengikutinya.
Kajian siyasah syar’iyyah meliputi tiga aspek. Pertama, Dusturiyyah (Tata Negara)
yaitu aturan pemerintahan, prinsip pemerintahan, aturan hak pribadi, masyarakat,
dan negara. Kedua, Kharijiyyah (luar negeri), yakni hubungan antarnegara, perang,
dan damai. Ketiga, Maliyyah (harta), yakni meliputi sumber keuangan dan belanja

11

J. Suyuthi Pulungan, Fiqh Siyasah: Ajaran, Sejarah, dan Pemikiran, Cet. III (Jakarta: Raja Grafndo

Persada, 1997), 23.

12

Imam Abi ‘Abdillah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Bardarbah Al-Bukhari al-Ja’fy, Sahih
al-Bukhāri,
Jilid VII, (Beirut: Dar al-Fikr, tt).

13

Ibn Manzhur, Abu al-Fadl Jamal al-Din Muhammad Ibn Mukram, Lisan …,108. Lois Ma’luf, al-

Munjid … ,362.

14

‘Abdul Wahhab Khallaf, Al-Siyasah al-Syar’iyah (Kairo: Dar al-Ansar, 1977), 4-5.

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

74

Negara. Dalam siyasah syar’iyyah dikenal tiga lembaga kekuasaan yaitu al-sultah al-
tasyri’iyyah
(legislatif), al-sultah al-tanfiziyyah (pemerintahan/eksekutif), dan al-
sultah al-qada’iyyah
(kekuasaan kehakiman/yudikatif).
Siyasah syar’iyyah muncul karena semakin bertambahnya kebutuhan akan
perangkat negara. Muhammad ‘Abduh dan Rasyid Ridha, berpandangan bahwa
lembaga legislatif dalam memproduk hukum harus melibatkan banyak pihak (misalnya
ekonom, pengusaha, militer, cendekiawan, dan rakyat) untuk memikirkan kebijakan
yang harus diambil dan dijalankan pihak penguasa, karena urusan negara mencakup
seluruh persoalan umat.
Fiqh siyasi merupakan keputusan politik dan keputusan itu antara lain berisi
ketentuan tentang siapa yang menjadi sumber kekuasaan, siapa pelaksananya, apa
dasar dan bagaimana cara ia melaksanakan kekuasaan itu, dan kepada siapa kekuasaan
tersebut dipertanggung jawabkannya baik kepada publik maupun Khaliq pada alam
kedua (akhirat).

Berkaitan dengan beberapa pengertian di atas, dapat pula diketahui adanya
hubungan antara fiqh dan fiqh siyasah atau siyasah syar’iyyah dalam sistem hukum
Islam. Fiqh siyasah maupun siyasah syar’iyyah adalah hukum-hukum Islam yang digali
dari sumber yang sama dan ditetapkan untuk mewujudkan kemashlahatan. Kemudian
hubungan keduanya dari sisi lain, fiqh siyasah dipandang sebagai bagian dari fiqh
atau dalam katagori fiqh. Bedanya terletak pada perbuatannya. Fiqh ditetapkan oleh
mujtahid, sedangkan fiqh siyasah atau siyasah syar’iyyah ditetapkan oleh pemegang
kekuasaan.

Fiqh siyasah mengkhususkan diri pada bidang mu’amalah dengan spesialisasi
segala ikhwal dan seluk beluk tata pengaturan negara dan pemerintahan. Ibn Taimiyah
mendasarkan objek pembahasan bidang ilmu ini pada surat al-Nisa’ ayat 58 dan 59.
Surat al-Nisa’ ayat 58 ialah:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak
menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia
supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran
yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi
Maha Melihat.”(QS. An-Nisaa’ (4): 58).

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

75

Beberapa ahli kenegaraan Islam membagi ruang lingkup fiqh siyasi atas beberapa
bagian. Ibn Taimiyah dalam kitabnya, “Al-Siyasah al-Syariyat fi Islah al-Ra’i wa al-
Ri’ayat
” menetapkan empat bidang kajian fiqh siyasah yaitu: siyasah dusturiyah (politik
perundang-undangan), siyasah idariyat (politik administrasi), siyasah dawliyat (politik
hubungan internasional), dan siyasah maliyat (politik keuangan/harta).15

Imam al-
Mawardi, ahli fiqh mazhab Syafi’i dan negarawan (statesman) pada masa dinasti
Abbasiyyah, dalam kitabnya, al-Ahkam al-Sultaniyyah (Peraturan-Peraturan
Pemerintahan) menulis bahwa ruang lingkup fiqh siyasi mencakup lima bagian, yakni
politik perundang-undangan (siyasah dusturiyyah), politik moneter (siyasah maliyyah),
politik peradilan (siyasah qadaiyyah), politik peperangan (siyasah harbiyyah), dan
politik administrasi (siyasah idariyyah).16
Pada awal kekuasaan Islam, belum terjadi pemisahan antara kekuasaan legislatif,
eksekutif, dan yudikatif sebagaimana yang dijumpai di bawah negara saat ini. Pada
masa Rasulullah, kekuasaan dengan segala aspeknya masih dipegang sendiri oleh
Rasulullah, karena sumber peraturan dalam Islam muncul dari Rasulullah, baik
yang bersifat wahyu maupun yang bersifat sunnah. Namun demikian, dalam keadaan
tertentu, Rasulullah pernah mendelegasikan salah satu aspek kekuasaan ini kepada
para sahabat. Untuk memimpin daerah-daerah lain (setingkat provinsi), ia menunjuk
seorang ‘amir sebagai wakilnya di setiap daerah. Dalam soal peradilan, Rasulullah
pernah mendelegasikannya kepada Ali bin Abi Thalib (603-661), Usaid bin Atid,
Mu’az bin Jabal (20 SH./603M.-18H./639M.), ‘Uqbah bin Amir, dan Muhammad bin
Salamah.

Pembagian kekuasaan baru muncul pada masa ‘Umar bin al-Khattab (581-644)
menjadi khalifah. Beberapa riwayat menunjukkah bahwa untuk kekuasaan yudikatif,
‘Umar menyerahkan penanganannya kepada beberapa sahabat, seperti Abu Musa al-
‘Asy’Ari (w. 53H.) yang diangkat menjadi qadhi (hakim) di Kufah dan Syuraih bin ‘Amir
menjadi qadhi di Basrah.
Pembagian bidang-bidang fiqh siyasah di atas tidak selayaknya dipandang sebagai
“pembidangan yang telah selesai”. Pembidangan Fiqh Siyasah telah, sedang, dan
akan berubah sesuai dengan pola hubungan antarmanusia serta bidang kehidupan

15

Ibn Taimiyah, Al-Siyasah al-Syar’iyah f ...,12.

16

Imam al-Mawardi, al-Ahkam al-Sultaniyyah wa al-Wilayat al-diniyyah (Beirut: Dar al-Kutub al-

‘Ilmiyyah, 1996).

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

76

manusia yang membutuhkan pengaturan secara siyasah. Dalam literatur-literatur
yang dijadikan bahan penelitian ini, good governance lebih banyak terkonsentrasi pada
fiqh dusturi. Oleh karena itu, pada dasarnya, good governance dapat dikelompokkan ke
dalam bidang kajian fiqh dusturi17

karena menyangkut administrasi, tata kelola, dan

penyelenggaraan suatu negara.
Permasalahan di dalam Fiqh Siyasah Dusturi adalah hubungan antara pemimpin di
satu pihak dan rakyatnya di pihak lain serta kelembagaan-kelembagaan yang ada di
dalam masyarakatnya. Sudah tentu ruang lingkup pembahasannya lebih luas. Karena
itu, Fiqh Siyasah Dusturiyyah biasanya dibatasi hanya membahas pengaturan dan
perundang-undangan yang dituntut oleh hal ihwal kenegaraan dari segi persesuaian
dengan prinsip-prinsip agama dan merupakan realisasi kemashlahatan manusia serta
memenuhi kebutuhannya.
Untuk mengetahui lebih jauh, berikut diturunkan definisi Fiqh Dusturi. Menurut
Muhammad Syafiq Ghulbal, definisi Fiqh Dusturi sebagai berikut:

“Dustur ialah prinsip-prinsip pokok bagi pemerintahan negara manapun seperti
terbukti di dalam perundang-undangannya, peraturan-peraturannya dan adat-
adatnya.”18

Abu al-‘A’la al-Mawdudi menta’rifkan dustur dengan:

“Suatu dokumen yang memuat prinsip-prinsip pokok yang menjadi landasan
pengaturan suatu negara.”19

Jaih Mubarak murid Juhaya S. Praja, mendefinisikan fiqh dusturi dengan, “fiqh yang

17

Banyak pakar fqh siyasah yang menggunakan istilah fqh dusturi dengan bermacam-macam sebutan.
Al-Mawardi, menamakannya dengan “siyasat dusturiyat (siyasah perundang-undangan), Ibn Taimiyah
menyebutnya dengan “siyasat dusturiyat”, Abdul Wahhab Khallaf, dengan “siyasat dusturiyat”. Jaih
Mubarak memakai isitilah “fqh dusturi”, A. Djazuli, dengan redaksi “fqh siyasah dusturiyah”, J. Suyuti
Pulungan, dengan kata-kata “fkih siyasah dusturiyah”, T. M. Hasbi Ash-Shiddieqy, menyebutnya dengan
siyasah dusturiyah syar’iyah”, Juhaya S. Praja, dengan istilah “fqh al-dustury”, dan Fakultas Syari’ah,
menulisnya dengan “fqh dusturi”.

18

Muhammad Syafq Ghurbal, Al-Mansu’ah al-‘Arabiyyah al-Muyassarah (al-Qahirah: Dar al-Qalam,

1965), 794.

19

Abu al-‘A’la al-Mawdudi, Tadwin al-Dustur al-Islamiy (Beirut: Dar al-Fikr, tt), 3.

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

77

membicarakan hubungan rakyat dengan pemimpin secara internal.”20

Tujuan hukum
ini adalah mengatur tertib hukum dan pembatasan hubungan antara penguasa dan
rakyat, menetapkan hak-hak pribadi dan umum...21
Bila dipahami penggunaan istilah fiqh dusturi, untuk nama suatu ilmu yang membahas
masalah-masalah pemerintahan dalam arti luas, karena di dalam dustur itulah
tercantum sekumpulan prinsip-prinsip pengaturan kekuasaan dalam pemerintahan
suatu negara. Sebagai dustur, dalam suatu negara sudah tentu perundang-undangan
dan aturan-aturan lainnya yang lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan dustur
tersebut. Karena itu, dalam fiqh dusturi juga diatur cara penggunaan dalil. Adapun
teknik sandaran dalil harus diawali dari sumbernya yaitu Alquran dan al-Hadis
(sebagai sumber hukum Islam dan sekaligus sumber fiqh dusturi yang telah disepakati
ulama fiqh, usul fiqh, dan ulama fiqh siyasah), sedangkan selain dari kedua sumber itu
disebut metode, karena masih diperselisihkan.
Sumber fiqh dusturi yang pertama adalah Alquran yaitu ayat-ayat yang berhubungan
dengan prinsip-prinsip kehidupan kemasyarakatan, dalil-dalil kulliy dan semangat
ajaran Alquran. Kemudian al-Hadis, terutama sekali hadis-hadis yang berhubungan
dengan imamah, dan kebijaksanaan-kebijaksanaan Rasulullah dalam menerapkan
hukum di negeri Arab. Dalam hal ini pun harus lebih banyak dilihat semangatnya, sebab
hal-hal yang sifatnya tehnik ada kemungkinan telah banyak berubah akibat kemajuan
yang pesat dari ilmu dan teknologi sesuai dengan kaidah:

“Perubahan dan perbedaan fatwa hukum dapat terjadi karena perubahan waktu,
tempat (ruang), keadaan, adat-istidat, dan niat.”22

Adapun metode fiqh dusturi yang digunakan merujuk pada kebijakan-kebijakan
khulafaur rasyidin dan khalifah-khalifah pada masa bani Umayyah dan bani Abbasiyyah
dalam mengendalikan pemerintahan. Meskipun mereka mempunyai perbedaan dalam
gaya pemerintahannya sesuai dengan pembawaannya masing-masing, tetapi ada
kesamaan alur kebijakan, yaitu berorientasi kepada sebesar-besarnya maslahat al-
‘ammah
. Sesuai pula dengan qaidah fiqh:

20

Jaih Mubarak, Fiqh..., 10.

21

Juhaya S. Praja, Filsafat dan Metodologi Ilmu (Bandung: Pusat Penerbitan Universitas, 1995), 124.

22

Ibn Qaiyyim al-Zawjiyyah, I’lam al-Muwaqim al-Rabb al-‘Alamin, Juz III (Beirut: Darl al-Jayl, tt), 3.

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

78

“Kebijakan seorang pemimpin terhadap rakyatnya bergantung kepada
kemashlahatan.”23

Prinsip-prinsip siyasah syar’iyyah dalam Alquran dan Sunnah

Prinsip-prinsip good governance dalam Alquran dan al-Hadis tidak ditemukan
secara terperinci tentang keharusan mendirikan negara berdasarkan ajaran Islam
(negara Islam). Hanya ditemukan beberapa prinsip umum sebagai tolok ukur dalam
bermasyarakat dan bernegara.
Dalam Alquran antara lain ditemukan: 1) Allah menciptakan manusia sebagai
pemimpin (khalifah) untuk mengatur dan mengendalikan alam (seperti QS. 2:30,
QS. 24:55, dan QS. 27:62); 2), kewajiban menegakkan hukum dan keadilan terhadap
siapapun (QS. 4:58, 105, 135, QS. 5:8); 3), kewajiban menaati pemimpin demi
menjaga persatuan dan kesatuan umat (seperti QS.3:118 dan QS. 49:13); 4), ajakan
untuk bermusyawarah dalam menyelesaikan persoalan bersama (QS. 3:159 dan QS.
42:38); 5), persamaan dan rasa tolong-menolong antara satu sama lain (seperti QS.4:1,
QS. 49:10,13, dan QS. 5:2; 6), membela negara melalui peperangan atau berupaya
mewujudkan perdamaian dengan dunia internasional dan dalam negeri sendiri
(seperti QS. 9:38, QS. 4:89-90, dan QS.60:8); 7), urusan perekonomian, administrasi
dan perdagangan (seperti QS. 2:198, 275 dan QS. 7:85); dan 8) Hak Asasi Manusia,
yang mencakup hak untuk hidup, pemilikan harta, hak kebebasan beragama dan hak
berserikat (seperti QS. 2:188, QS. 4:29, 32, dan QS. 6:108).
Dalam al-Hadis juga dikemukakan, antara lain sebagai berikut: Kebutuhan terhadap
seorang pemimpin, tanggung jawab pemimpin terhadap rakyatnya serta hubungan
timbal balik antara pemimpin dan rakyat atas dasar saling mencintai. Hadis Rasulullah
menyatakan: Jika ada tiga orang, maka tunjuklah salah seorang menjadi pemimpin
(HR. Abu Dawud dan Ahmad bin Hanbal); masing-masing kita adalah pemimpin
dan masing-masing pemimpin bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya (HR.
Bukhari dan Muslim); dan wajib untuk mentaati pemimpin, kecuali untuk tujuan
maksiat (HR. Bukhari).
Prinsip tolong-menolong, terutama terhadap kaum yang lemah, sebagaimana
dikatakan Rasulullah: Jika ada di antara kita mempunyai kelebihan bekal, maka

23

Ibn Najim, al-Asybah wa al-Nada’ir..., 137.

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

79

berikanlah kepada yang sangat membutuhkan (HR. Abu Dawud); Prinsip kebebasan
berpendapat, seperti Sabda Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Abu
Sa‘id al-Khuzri, sebagai berikut:

“Barang siapa di antara kamu melihat kemungkaran hendaklah ia memperbaiki
dengan perbuatannya. Jika tidak mampu, hendaknya ia ubah dengan perkataannya,
dan kalau ini pun tidak mampu dilakukannya, hendaknya ia ubah dengan hatinya
(berniat untuk itu), dan itu merupakan tingkatan iman yang paling rendah.”(HR.
Ahmad Ibn Hanbal).24

Prinsip sama di depan hukum. Dalam hal ini bahkan Rasulullah mengatakan bahwa
seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, pasti akan dipotong juga tangannya (HR.
Ahmad bin Hanbal); Prinsip mengangkat para pejabat berdasarkan kemampuannya,
bukan atas dasar keinginannya sebagaimana yang dikatakan Rasulullah bahwa siapa
saja yang memberikan jabatan kepada seseorang, padahal ia mengetahui ada yang
lebih ahli darinya, berarti ia telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya (HR. Ahmad bin
Hanbal); Prinsip musyawarah dan persaudaraan. Hadis Rasulullah menyatakan bahwa
seorang Muslim adalah saudara bagi yang lainnya (HR. Bukhari).
Berdasarkan prinsip-prinsip tersebut, dapat diketahui bahwa dalam Islam terdapat
ajaran yang mengatur tentang perpolitikan secara umum yang harus dijadikan frame
of reference
bagi pengambil kebijakan dalam memenuhi kebutuhan publik.

Mashlahah dalam ushul fiqh

Salah satu metode yang dikembangkan ulama ushul fiqh dalam mengistinbathkan
hukum dari nas adalah mashlahah al-mursalah, yaitu suatu kemashlahatan yang tidak
ada nas juz’i (rinci) yang mendukungnya, dan tidak ada pula yang menolaknya dan
tidak ada pula ijmak yang mendukungnya, tetapi kemashlahatan ini didukung oleh
sejumlah nas melalui cara istiqra’ (induksi dari sejumlah nas). Berikut ini terlebih
dahulu dibahas pengertian mashlahah dan macam-macam mashlahah itu sendiri.
Secara etimologi, mashlahah sama dengan manfaat, baik dari segi lafal maupun
makna. Mashlahah juga berarti manfaat atau suatu pekerjaan yang mengandung

24

Ibn Hanbal, Musnad Ahmad ibn Hanbal, Jilid III, (Beirut: Dār al-Fikr, tt.), 20. Hadis ini diriwayatkan
juga oleh Muslim, Abu Dawud, Ibn Majjah, an-Nasa’i dan at-Tirmizi.

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

80

manfaat.25

Apabila dikatakan bahwa perdagangan itu suatu kemashlahatan dan
menuntut ilmu itu suatu kemashlahatan, maka hal tersebut berarti bahwa perdagangan
dan menuntut ilmu itu penyebab diperolehnya manfaat lahir dan batin.26

Demikian

Husain Hamid Hasan mencontohkan tentang mashlahah.
Adapun secara terminologi, dapat diturunkan beberapa definisi mashlahah yang
dikemukakan ulama usul fiqh, tetapi seluruh definisi tersebut mengandung esensi yang
sama. Imam al-Ghazali, mengemukakan bahwa pada prinsipnya mashlahah adalah
“mengambil manfaat dan menolak kemudharatan dalam rangka memelihara tujuan-
tujuan syara’.”27

Al-Ghazali sama seperti al-Syathibi, dalam hal menetapkan tujuan syara’ yang harus
dipelihara tersebut, ada lima bentuk yaitu: Memelihara agama, jiwa, akal, keturunan,
dan harta. Apabila seseorang melakukan suatu perbuatan yang pada intinya untuk
memelihara kelima aspek tujuan syara’ di atas, maka dinamakan mashlahah. Di samping
itu, upaya untuk menolak segala bentuk kemudharatan yang berkaitan dengan kelima
aspek tujuan syara’ tersebut, juga dinamakan mashlahah. Dalam kaitan dengan ini,
Imam al-Syathibi, mangatakan bahwa kemashlahatan tersebut tidak dibedakan antara
kemashlahatan dunia maupun kemashlahatan akhirat, karena kedua kemashlahatan
tersebut apabila bertujuan untuk memelihara kelima tujuan syara’ di atas termasuk ke
dalam konsep mashlahah. Dengan demikian, menurut al-Syathibi, kemashlahatan dunia
yang dicapai seorang hamba Allah harus bertujuan untuk kemashlahatan di akhirat.
Para ahli ushul fiqh mengemukakan beberapa pembagian mashlahah,28

jika dilihat
dari beberapa segi. Dilihat dari segi kualitas dan kepentingan kemashlahatan itu,
para ahli ushul fiqh membaginya kepada tiga macam, yaitu: Pertama, Mashlahah al-
Daruriyyah
, yaitu kemashlahatan yang berhubungan dengan kebutuhan pokok umat
manusia di dunia dan akhirat. Kemashlahatan seperti ini ada lima, yaitu: memelihara
agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Kelima kemashlahatan ini disebut al-mashalih
al-khamsah
. Kedua, Mashlahah al-Hajiyah, yaitu kemashlahatan yang dibutuhkan

25

Husain Hamid Hasan, Nadariyyah al-Maslahah f al-Fiqh al-Islami (Kairo: Dar al-Nahdah al-

‘Arabiyyah, 1971), 3-4.

26

Husain Hamid Hasan, Nadariyyah al-Maslahah ..., 3-4.

27

Abu Hamid al-Ghazali, al-Mustasyfa f ‘Ilm al-Usul, Jilid I (Beirut: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 1983),

286.

28

Abu Ishaq al-Syatibi, al-Muwafaqat f Usul sl-Syari’ah (Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1973), 8-12; Abu
Hamid al-Ghazali, al-Mustasfa ..., Jilid I, 139.

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

81

dalam menyempurnakan kemashlahatan pokok (mendasar) sebelumnya yang
berbentuk keringanan untuk mempertahankan dan memelihara kebutuhan mendasar
manusia. Misalnya, dalam bidang ibadah diberi keringan meringkas (qasar) shalat.
Ketiga, Mashlahah al-Tahsiniyyah, yaitu kemashlahatan yang sifatnya pelengkap berupa
keleluasaan yang dapat melengkapi kemashlahatan sebelumnya. Misalnya, dianjurkan
untuk memakan yang bergizi, melakukan ibadah-ibadah.
Ketiga kemashalahatan ini perlu dibedakan, sehingga seorang Muslim dapat
menentukan prioritas dalam mengambil suatu kemashlahatan. Kemashlahatan
daruriyyah harus lebih didahulukan daripada kemashlahatan hajiyyah dan
kemashlahatan hajiyyah lebih didahulukan dari kemashlahatan tahsiniyyah.29

Skala
priorotas itu diperlukan mengingat kebutuhan masyarakat juga bertingkat-tingkat.
Apakah kemashlahatan tersebut dapat meminimalisir atau menghilangkan konflik
politik di Aceh untuk konteks hari ini.

Kontroversial politik di Aceh

Politik di Aceh mestinya bisa berjalan dengan baik dan perdamaian yang telah berhasil
diperjuangkan. Damai harus didahulukan oleh semua elemen masyarakat bahkan
sampai tingkat Negara dan pemerintah Aceh. Salah satu dari hasil terpenting dari
proses perdamaian di Aceh adalah Pemilihan Umum (Pemilu) pada 11 Desember 2006
demikian kata Edward Aspinall, pengajar pada Departemen Perubahan Politik, dan
Sosial, Lembaga Riset Kajian Pasifik dan Asia, Universitas Nasional Australia (Australian
National University). Dia menambahkan, hal ini belum merupakan akhir perjalanan.
Selama perundingan antara aktor-aktor Aceh, Pemerintah Nasional, dan parlemen
yang mengarah pada penyusunan Undang-undang Pemerintahan Aceh (UUPA) pada
2006, terdapat berbagai upaya untuk mencairkan kembali kesepakatan-kesepakatan
ini. Akhirnya, disepakatilah Partai Politik Lokal salah satu pratai yang diberi hak untuk
bersaing dalam pemilu legislative, mulai tahun 2009. Undang-undang Pemerintahan
Aceh menekankan bahwa partai-partai politik lokal ini tidak dibenarkan melanggar
konstitusi Indonesia atau ‘falsafah negara’ Pancasila, yang menekankan pentingnya
persatuan nasional.

Terakhir, calon-calon yang tergabung dalam GAM berhasil karena mampu
memberikan pesan yang mendukung untuk proses perdamaian dengan penekanan

29

Nasrun Haroen, Ushul ..., 116.

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

82

pada kesinambungan perjuangan masa lalu mereka. Edward menambahkan, pemilihan
umum tersebut belum berarti berakhirnya proses perdamaian. Risiko-risiko dan
agenda yang belum selesai masih tersisa. Ada kemungkinan untuk konflik yang akan
datang di antara pemimpin-pemimpin Aceh yang baru dan pemerintah nasional pada
isu-isu dari bagaimana membagi hasil gas alam sampai pada bagaimana menangani
warisan pelanggaran hak asasi manusia di masa lampau. Pemilu-pemilu tersebut
bagaimanapun, membantu mengkonsolidasikan proses perdamaian dalam beberapa
cara-cara penting. Pesta-pesta demokrasi tersebut menunjukkan kepada masyarakat
Aceh bahwa perubahan dramatis politik itu dimungkinkan, demikian kata Edward
Aspinall.

Setelah satu periode pemilukada di Aceh hampir selesai dimana bahtera Pemerintah
Aceh dikayuh Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar, perdamaian Aceh hampir goyah,
riak-riak konflik 37 tahun lalu diprediksi bakal terulang kembali. Geopolitik Aceh
saat ini tergambar bahwa Aceh bagaikan pusaran yang tidak menentu. Pusaran yang
membahayakan rakyat Aceh, kata Aryos Nivada (Mahasiswa UGM Jurusan Politik dan
Pemerintahan). Ribuan massa dari Komite Mahasiswa dan Pemuda Aceh (KMPA)
mendatangi kantor DPRA, Selasa, 28 Juni 2011 untuk mendukung anggota DPRA yang
menolak calon independen dimasukkan dalam Qanun Pilkada Aceh. (Harian Aceh/
Junaidi Hanafiah). Dampaknya yang terjadi menciptakan perseteruan hingga memicu
polemik lokal. Tidak tertutup kemungkinan perpolitikan di Aceh akan mengalami
kemandekan yang berujung kepada konflik. Dengan catatan tidak terselesaikan secara
benar dan sesuai dengan ketentuan hukum.
Pusaran terbentuk dari tiga aktor politik. Argumentasinya, pihak-pihak yang
berpolemik terdiri dari kandidat independen, Partai lokal (Partai Aceh), dan Partai
Nasional (Parnas). Bila itu dijadikan pedoman, maka memunculkan tanda tanya
kepentingan apa yang ingin diraih? Alasan kelompok independent ialah dengan
keluarnya putusan Mahkamah Konstitusi No. 35/PUU-VIII/2010. Dasar keputusan
tersebut karena tidak adil dan bertentangan dengan UUD 1945. Pasal-pasalnya
terdiri atas Pasal 18 Ayat (4), Pasal 27 Ayat (1), Pasal 28 D Ayat (1), Ayat (3), Pasal
28 1 Ayat (2).

Kita mengetahui bahwa partai yang mendominasi di parlemen adalah Partai Aceh
dengan jumlah kursi 33. Langsung saja, Partai Aceh menolak independen sebagai
langkah melakukan konsolidasi internal serta berkeinginan melakukan perluasan

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

83

kekuasaan, tidak hanya di legislatif tetapi merambat ke eksekutif. Berkaitan dengan
ketidaksetujuan PA terhadap calon independen dan penyebab PA menentang putusan
MK. Apakah, dikarenakan isi putusan tidak menjelaskan kapan diberlakukan keputusan
tersebut. Ataukah ketidaksetujuan PA lebih dikarenakan akan membuahkan pecah
internal dan suara pada pemilukada mendatang, demikian disinyalir Aryos Nivada.
Logika politiknya, karena bertentangan dengan UUPA. Akhirnya karena beberapa
gugatan yang dialamatkan ke MK tidak memuaskan DPRA, maka gugatan pemilukada
oleh DPRA ditarik kembali karena diprediksi bahwa MK tetap tidak akan menunda
pemilukada di Aceh. Dalam hal ini, kembali dapat ditafsirkan bahwa antara Aceh
(DPRA) dengan Pusat Jakarta (Mahkamah Konstitusi) terjadi konflik eksternal lagi,
sehingga semakin memanaskan suasana perpolitikan di Aceh.
Sedangkan keputusan mendorong penundaan pemilukada juga memiliki akar
masalah yang saling terkait dengan kandidat independen yang menimbulkan
fragmentasi politik serta perseteruan antara Irwandi Yusuf dengan PA. Sehingga
berlarut-larut tidak membuahkan solusi, maka lahirlah keputusan penundaan dengan
menggunakan Peraturan Pemerintah No.6 tahun 2005.
PP ini jadikan landasan bagi elit politik PA yang setuju terhadap penundaan. Isi
hukum yang memberikan ruang pemilukada bisa ditunda tertuang melalui Pasal 149
dan 150. Berdasarkan pasal tersebut, indikator penundaan terdiri dari 4 (empat) yaitu
Pertama, Kerusuhan, Kedua, Gangguan keamanan, Ketiga, Bencana alam, dan Keempat,
gangguan lainnya yang berakibat keseluruhan atau sebagian tahapan pemilukada
tidak dapat dilaksanakan sesuai jadwal.
Keadaan perpolitikan Aceh menjelang pemilukada saat ini, menurut saya, pihak
yang diuntungkan adalah partai nasional (Parnas). Mengapa konflik antara partai lokal
dan calon independen dijadikan momentum bagi konsolidasi dan kebangkitan kembali
parnas dari keterpurukan pada Pemilukada 2006 lalu. Bisa dikatakan, kelemahan politik
dan ketidakberpihakan politik kepada parlok dan kandidat independen tertangkap
dengan jeli oleh kalangan parnas kata pengamat politik Aryos Nivada. Pemerintah Pusat
memiliki kepentingan kuat terhadap Aceh dalam bentuk apa pun, maka dibutuhkan
pihak yang bisa memfasilitasi. Parnas-lah yang hanya bisa memfasilitasi kepentingan
pusat ke Aceh. Tidak hanya itu saja tujuan dari parnas dan parlok. Keduanya ingin
menurunkan kekuatan serta pengaruh politik kandidat independen, bilamana tidak
menjabat lagi sebagai orang nomor satu.

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

84

Kelemahan parnas di perpolitikan Aceh yaitu tidak bisa mengimbangi kekuatan
politik Partai Aceh. Mengimbangi bukan dilihat dari jumlah kursi saja, tetapi bargaining
(bargain) politik yang bisa mempengaruhi kebijakan yang dibuat. Faktanya partai-
partai nasional tidak terkonsolidasi dengan kuat.
Kalau kita lihat Back to Aceh, Aceh adalah suatu ’state’ di ujung Pulau Sumatera yang
selalu berkonflik dan ‘berkonflik’. Di era 1945-2005, terjadi konflik karena ketidak
adilan Pemerintah Indonesia. Kalau kita tarik pada simpul representasi politik, ada
yang tidak beres dalam konsolidasi kekuatan politik di Aceh, yang akhirnya bermuara
pada melemahnya arus desakan politik ke Pusat. Konsolidasi di Aceh memang lemah
dan diperlemah lagi oleh nafsu politik kekuasaan. Lalu siapa yang diuntungkan? Kata
Fajran Zain, analis Politik The Aceh Institute.
Drama politik Aceh memang panjang, kita tidak tahu apa lagi yang akan terjadi ke
depan. Bukan seperti film India yang mudah diduga, anak mudanya satu, alur ceritanya
sama, ending-nya pasti bahagia. Sayangnya Aceh bukan India; Aceh punya banyak
anak muda, dan semua mau menjadi anak muda, ending-nya tak tahu di mana, lalu
menjadi film serial. Semoga Allah Swt., selalu merahmati kita. Demikian kesimpulan
yang diambil Fajran Zain.

Implementasi prinsip-prinsip siyasah syar’iyyah dalam konteks Aceh

Perubahan dramatis politik Aceh itu mungkinkah terjadi ke depan? Mungkin saja
kalau prinsip-prinsip siyasah syar’iyyah diterapkan dalam perpolitikan di Aceh.
Apalagi Aceh telah memberlakukan syari’at Islam secara kaffah, dimungkinkan konflik
apapun akan terselesaikan dengan baik sebagaimana pernah selesainya konflik
selama ratusan tahun antara suku ‘Aus dan Khazraj di Madinah yang di prakarsai
oleh Nabi Muhammad. Ini eksperimentasi pengalaman historical Islam klasik. Di
sini Nabi Muhammad saw., menyelesaikannya dengan menggunakan prinsip-prinsip
siyasah syar’iyyah. Dengan demikian, prinsip-prinsip perpolitikan Islam juga wajib
diimplementasikan di Aceh kalau ingin mendapat dua keuntungan yaitu di dunia
mendapat keamanan dan perdamaian yang sustainable, sementara yang kedua ialah
kebahagiaan akhirat.

Bahwa prinsip-prinsip politik Islam yakni “profesionalisme”, “pengawasan sosial,
persaudaraan, HAM, dan tawhid”, “persamaan”, “penegakan hukum”, “transparansi”,
“musyawarah”, efektifitas dan efisiensi, “akuntabilitas, keadilan.” Bahkan dalam

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

85

pandangan Nurcholish Madjid, prinsip keadilan ditempatkan urutan kedua setelah
prinsip pokok (tawhid). Penulis meyakini bahwa dalam poin, “Penegakan hukum”
versi Indonesia, sudah termasuk di dalamnya menegakkan keadilan.
Namun Nurcholish Madjid menyebutnya dengan redaksi berbeda yakni,
“Akuntabilitas publik dan Khaliq.” Bahkan dengan memperhatikan prinsip pokok
(tawhid) yang ditawarkan Nurcholish Madjid dalam menegakkan good governance,
sepertinya sangat ideal jika Nurcholish Madjid mengatakan pertanggungjawaban tata
kelola pemerintahan tidak hanya kepada rakyat, melainkan juga kepada Tuhan yang
berdaulat dunia akhirat. Jadi dalam hal ini sepertinya, Nurcholish Madjid menghendaki
pejabat pemerintahan dan sektor swasta, harus memiliki nilai-nilai spiritualitas yang
jelas dan kuat. Hal ini dimaksudkan agar pejabat negara terhindar dari korupsi, kolusi,
dan nepotisme, dan dalam konteks perpolitikan di Aceh, masyarakat Aceh dapat
meninkmati apa yang disebut dengan “Baldah al-Taiyyibah wa Rab al-Ghafur”.
Indonesia dan Barat sama-sama tidak memasukkan prinsip HAM dan tawhid dalam
tata kelola pemerintahan, sementara di Aceh dalam UUPA, terdapat asas pelaksanaan
pemerintahan dengan asas syari’at Islam. Namun asas ini sepertinya masih terabaikan
dalam implementasinya. Asas ini sangat fundamental, dengan alasannya adalah kalau
pengelola negara sudah memahami prinsip HAM, maka untuk melayani masyarakat
harus dilakukan secara maksimal sehingga tidak melanggar nilai-nilai HAM.
“Apa arti kemenangan Islam?”, kemenangan Islam dalam pandangan Nurcholish
Madjid adalah kalau dikaitkan dengan pemerintahan, maka sifat dan perilaku pejabat
negara harus bersih dari unsur syirik, karena syirik berarti pejabat negara melakukan
tandingan dengan Tuhan-nya. Otomatis dalam penilaian Nurcholish Madjid, hal ini
penyimpangan dan penyalahgunaan kodrat kemanusiaan, sekaligus bertantangan
dengan nilai-nilai dasar manusia yang hanya berorientasi/mengabdi kepada kebenaran
yang benar (absolut) yakni Tuhan itu sendiri.

Epilog

Pemerintah yang baik (good governance) adalah pemerintah yang responsif dalam
upaya memecahkan ragam masalah yang dihadapi masyarakatnya. Apa saja masalah
yang muncul, dengan segera dan sigap akan ditanganinya. Di sini pemerintah bertindak

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

86

sebagai pemecah masalah (problem solver), bahkan yang kerapkali dilakukannya
adalah usaha-usaha preventif, yakni mencegah dan menghindarkan kemungkinan
munculnya masalah. Masalah yang benar-benar harus dihindari adalah masalah yang
berkaitan dengan penyalahgunaan anggaran, dan masalah keamanan. Kalau masalah
keamanan ini dapat diatasi, maka masyarakat dapat hidup dengan damai.
Kaidah-kaidah fiqhiyyah juga menjadi pegangan dasar dalam menetapkan prinsip
pemerintahan yang baik. Di antara kaidah-kaidah fiqhiyyah yang digunakan adalah:

“Kebijakan imam-pemimpin,penguasa-terhadap rakyat harus tunduk kepada
pertimbangan maslahat.”30

Kaidah ini menegaskan bahwa seorang pemimpin harus berorientasi kepada
kemashlahatan rakyat, bukan mengikuti keinginan hawa nafsunya, keluarga, atau
keinginan kelompoknya. Kaidah ini juga dikuatkan oleh Surat an-Nisa ayat 58: Banyak
contoh yang berhubungan dengan kaidah tersebut yaitu setiap kebijakan yang maslahat
dan bermanfaat bagi rakyat maka itulah yang harus direncanakan, dilaksanakan,
diorganisasikan, dan dinilai/dievaluasi kemajuannya. Sebaliknya, kebijakan yang
mendatangkan mafsadat dan memudharatkan rakyat, itulah yang harus disingkirkan
dan dijauhi.

Tentang prinsip persamaan dan ukhuwah, Pemerintah Aceh hendaknya

menggunakan kaidah:

“Bagi mereka ada hak seperti hak-hak yang ada pada kita dan terhadap mereka
dibebani kewajiban seperti beban kewajiban terhadap kita.”31

Kaidah di atas menegaskan adanya persamaan hak dan kewajiban di antara sesama
warga negara yang dilandasi oleh moral ukhuwah wathaniyah, meskipun mereka
berbeda warna kulit, bahasa, dan budaya, serta kekayaannya.
Cara kerja melayani yang dilakukan aparatur pemerintahan di Aceh mesti
adil tanpa kecuali, demikian ditegaskan harus tidak memihak. Untuk ini, sistem
pemerintahan di Aceh harus berpegang pada kaidah fiqhiyyah, “dar’ul mafasid

30

Nurcholish Madjid, Indonesia Kita, Cet. II (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2004), 186.

31

'AbduL Qadir 'Audah, al-Islam wa Auda'una al-Siyasah (Beirut: Dar al-Kitab al-'Arabi, 1951), 196.

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

87

muqaddamun ‘ala jalbil masalih” artinya: “Menghindari keburukan lebih utama dari
pada mencari kebaikan.”32
Dilihat dari macam-macam mashlahah yang terbagi kepada tiga yaitu mashlahah
daruriyyah, hajiyyah,
dan tahsiniyyah, maka prinsip-prinsip fiqh siyasah pemerintahan
Aceh dapat digolongkan kepada dua macam mashlahah. Pertama, Mashlahah daruriyyah
dan yang termasuk di dalamnya hanya satu yaitu prinsip pokok atau tawhid. Kedua,
Mashlahah hajiyyah dan yang termasuk dalam kelompok ini adalah prinsip keadilan,
musyawarah, amanah, kebebasan, persaudaraan, penegakan hukum, persamaan,
efektif dan efesien, HAM, pengawasan sosial, dan prinsip pertanggungjawaban publik
dan Khaliq.

Apakah prinsip-prinsip politik Islam dalam pemerintahan Aceh sesuai dengan
maqasid syar’iyyah atau tidak?Jawaban yang ditemukan setelah penulis teliti adalah
masih kurang sesuai (mula’amah). Alasan tersebut dapat dijelaskan dengan merujuk
maqasid syar’iyyah (tujuan hukum Islam) seperti dirumuskan al-Syathibi (w. 790H.)
yaitu untuk melindungi agama, jiwa, akal, keturunan dan harta.
Konsep dan penerapan prinsip utama (tawhid) dalam pemerintahan Aceh dikaitkan
dengan maqasid syar’iyyah termasuk katagori al-muhafadah al-din (menjaga agama),
dan ini sudah terdapat payung hukumnya dengan UU No. 44 Tahun 1999 tentang
Pelaksanaan Syari’at Islam di NAD. Namun dalam aplikasinya di lapangan masih belum
maksimal.

Pemerintah Aceh seharusnya menerapkan prinsip umum (Tawhid) dan prinsip
pendukung siyasah syar’iyyah. Adapun penerapan prinsip pendukung (keadilan,
musyawarah, amanah, kebebasan, persaudaraan, penegakan hukum, persamaan,
efektif dan efesien, pengawasan sosial, dan prinsip pertanggung jawaban publik dan
Khaliq) yang terdapat dalam Alquran dan al-Hadis, dan dalam sejarah perpolitikan
Islam dikaitkan dengan maqasid syar’iyyah termasuk katagori al-muhafadah al-nafsi
(menjaga keselamatan jiwa), al-muhafadah al-’aqli, al-muhafadah alal-nasl,
dan al-
muhafadah al-mal
(menjaga harta). ‘illatnya adalah semua pelaksanaan dan penerapan
sungguh-sungguh dan maksimal prinsip-prinsip pendukung itu akan berorientasi
kepada mashlahah ‘ammah.33

32

Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban: Sebuah Telaah Kritis tentang Masalah Keimanan
Kemanusiaan dan Kemodernan
(Jakarta: Paramadina, 1992), 246.

33

Nurcholish Madjid, Indonesia ..., 43.

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

88

Penerapan prinsip pendukung (HAM) dalam perpolitikan di Aceh dikaitkan dengan
maqasid syar’iyyah termasuk katagori al-muhafadah al-nafs (menjaga jiwa). ‘illatnya
adalah makhluk paling mulia dan ciptaan Allah tertinggi adalah manusia. Maka
memelihara, menjaga dan melindungi jiwa manusia serta memenuhi hak-hak dasarnya
merupakan kewajiban Pemerintah Aceh, baik legislatif maupun yudikatif sebagai
penanggungjawab dalam komunitas Aceh.
Prinsip-prinsip fiqh siyasah dalam Islam di atas mengindikasikan lebih dominan
dan unggul/exelance karena terdapat prinsip pokok (tawhid), HAM, dan prinsip
akuntabilitas Khaliq.

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

89

DAFTAR PUSTAKA

‘Abdul Wahhab Khallaf. Al-Siyasah al-Syar’iyah. Kairo: Dar al-Ansar, 1977.
‘Abdu al-Qadir ‘Audah. al-Islam wa Auda’una al-Siyasah. Beirut: Dar al-Kitab al-’Arabi,
1951.
Abdul Aziz Dahlan dkk.. Ensiklopedi Hukum Islam, Jilid 2, Cet. VII. Jakarta: Ichtiar Baru
van Hoeve, 2006.
Abu al-‘A’la al-Mawdudi. Tadwin al-Dustur al-Islamiy. Beirut: Dar al-Fikr, tt..
Abu al-Fad al-Din Muhammad bin Mukram bin Mandzur. Lisan al-‘Arab, Vol. XIII. Beirut:
Dar al-Sadir, 1386H./1968M..
Abu Hamid al-Ghazali. al-Mustasyfa fi ‘Ilm al-Usul, Jilid I. Beirut: Dar al-Kutub al-
Islamiyyah, 1983.
Abu Ishaq al-Syatibi. al-Muwafaqat fi Usul sl-Syari’ah. Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1973.
Al-‘Allamah al-Bannani. Hasyiah al-Bannani ‘ala Syarh al-Mahalli ‘ala Matn Jam’i al-
Jawami’
, Jilid I. Beirut: Dar al-Fikr, 1402 H./1992M..
Al-Syarif Ali bin Muhammad al-Jurjani. Kitab al-Ta’rif. Singapura: Al-Haramain, tt..
F. Steingass. Arabic English Dictionary. New Delhi: Cosmo Publications, 1978.
Fakhr al-Din Muhammad Ibn Husain al-Razi. al-Mahsul fi ‘Ilm Usul al-Fiqh. Beirut: Dar
al-Kutb al-‘Ilmiyyah, 1988.
Hans Wehr. A Dictionary of Modern Written Arabic, ed. By J. Milton Gowan. Wiersbaden:
Otto Harrassowitz, 1979.
Husain Hamid Hasan. Nadariyyah al-Mashlahah fi al-Fiqh al-Islami. Kairo: Dar al-
Nahdah al-‘Arabiyyah, 1971.
Ibn Hanbal. Musnad Ahmad ibn Hanbal, Jilid III. Beirut: Dār al-Fikr, tt..
Ibn Manzhur, Abu al-Fadl Jamal al-Din Muhammad Ibn Mukram. Lisan al-‘Arabi, Vol. VI.
Beirut: Dar al- Sadir, tt..
Ibn Qaiyyim al-Jauziyyah. I’lam al-Muwaqim al-Rabb al-‘Alamin, Juz III. Beirut: Darl al-
Jayl, tt..
Imam Abi ‘Abdillah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Bardarbah Al-Bukhari al-
Ja’fiy. Sahih al-Bukhāri, Jilid VII. Beirut: Dār al-Fikr, tt..
Imam al-Mawardi. al-Ahkam al-Sultaniyyah wa al-Wilayat al-diniyyah. Beirut: Dar al-
Kutub al-‘Ilmiyyah, 1996.
J. Suyuthi Pulungan. Fiqh Siyasah: Ajaran, Sejarah, dan Pemikiran, Cet. III. Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 1997.

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

90

Juhaya S. Praja. Filsafat dan Metodologi Ilmu. Bandung: Pusat Penerbitan Universitas,
1995.
Kamil Musa. al-Madkhal ila al-Tasyri’ al-Islami. Beirut: Mu’assasah al-Risalah, 1989.
Lois Ma’luf. al-Munjid fi al-Lughah wa al-A’lam, Cet. XXIII. Beirut: Dar al-Masyriq, 1986.
Muhammad Abu Zahrah. Usu al-Fiqh. Mesir: Dar al-Fikr al-‘Arabi, 1958.
Muhammad Syafiq Ghurbal. Al-Mansu’ah al-‘Arabiyyah al-Muyassarah. al-Qahirah: Dar
al-Qalam, 1965.
Nasrun Haroen. Ushul Fiqh I, Jilid I, Cet. II. Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997.
Nurcholish Madjid. Indonesia Kita, Cet. II. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2004.
----------. Islam Doktrin dan Peradaban: Sebuah Telaah Kritis tentang Masalah Keimanan
Kemanusiaan dan Kemodernan.
Jakarta: Paramadina, 1992.
T. M. Hasbi Ash-Shiddieqy. Pengantar Ilmu Fiqh. Jakarta: Bulan Bintang, 1974.

ISLAM DAN NEGARA

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->