P. 1
Idealisme Politik Islam di Aceh

Idealisme Politik Islam di Aceh

|Views: 2,967|Likes:
Published by Khairul Umami
Khalifah Nyak Dum pernah menjadi ikon penting dalam sejarah komunikasi politik Islam era Sultan Iskandar Muda. Dia diplomat ulung, politisi, dan ulama yang pernah diutus Sultan Aceh menemui Sultan Turki. Seiring dengan itu, Sultan menitahkan Syekh Nuruddin Ar-Raniry menulis sepucuk surat dalam bahasa Arab untuk Sultan Turki, yang maksudnya bahwa baginda akan mempererat tali silaturrahim dengan Sultan Turki. Berkat kehandalan komunikasi politik Nyak Dum, Sultan Turki telah menaruh perhatian lebih untuk Aceh. Surat yang dikirim dibalas dengan senang hati dan melalui Nyak Dum Sultan menitipkan salam balasan kepada Sultan Aceh. Selain itu, Sultan Turki juga memberikan sebuah Meriam dan 12 mekanik Turki yang mahir merangkai dan membuat peralatan perang. Sekali lagi, pemberian ini tidak terlepas dari jasa komunikasi Khalifah Nyak Dum. Demikian halnya tatkala menerapkan politik dalam Negeri. Sultan menerapkan sistem political will yang diinspirasikan melalui nilai keimanan dan ketakwaan. Karena itu, hampir setiap periodisasi kesultanan Aceh terlihat selalu hidup berdampingan ulama-ulama. Ulama dijadikan cermin dalam mengukur, bertanya tentang agama, dan juga kondisi rakyat. Jika demikian, prinsip politik saat itu hampir menyamai prinsip Piagam Madinah. Di masa ini politik dipakai sebagai alat ukur, pelindung, serta mengayomi masyarakat menuju pencerahan dan kemakmuran. Kalaupun ada perbedaan (difference) dan keberagaman (diversity) maka itu akan dijadikan khazanah dan auto critic dalam membangun Negeri. Buku ini terdiri dari kontribusi pemikiran akademisi dan politisi, mencoba konstruksi ulang format keselarasan nilai-nilai idealisme politik seiring perjalanan sejarah.
Khalifah Nyak Dum pernah menjadi ikon penting dalam sejarah komunikasi politik Islam era Sultan Iskandar Muda. Dia diplomat ulung, politisi, dan ulama yang pernah diutus Sultan Aceh menemui Sultan Turki. Seiring dengan itu, Sultan menitahkan Syekh Nuruddin Ar-Raniry menulis sepucuk surat dalam bahasa Arab untuk Sultan Turki, yang maksudnya bahwa baginda akan mempererat tali silaturrahim dengan Sultan Turki. Berkat kehandalan komunikasi politik Nyak Dum, Sultan Turki telah menaruh perhatian lebih untuk Aceh. Surat yang dikirim dibalas dengan senang hati dan melalui Nyak Dum Sultan menitipkan salam balasan kepada Sultan Aceh. Selain itu, Sultan Turki juga memberikan sebuah Meriam dan 12 mekanik Turki yang mahir merangkai dan membuat peralatan perang. Sekali lagi, pemberian ini tidak terlepas dari jasa komunikasi Khalifah Nyak Dum. Demikian halnya tatkala menerapkan politik dalam Negeri. Sultan menerapkan sistem political will yang diinspirasikan melalui nilai keimanan dan ketakwaan. Karena itu, hampir setiap periodisasi kesultanan Aceh terlihat selalu hidup berdampingan ulama-ulama. Ulama dijadikan cermin dalam mengukur, bertanya tentang agama, dan juga kondisi rakyat. Jika demikian, prinsip politik saat itu hampir menyamai prinsip Piagam Madinah. Di masa ini politik dipakai sebagai alat ukur, pelindung, serta mengayomi masyarakat menuju pencerahan dan kemakmuran. Kalaupun ada perbedaan (difference) dan keberagaman (diversity) maka itu akan dijadikan khazanah dan auto critic dalam membangun Negeri. Buku ini terdiri dari kontribusi pemikiran akademisi dan politisi, mencoba konstruksi ulang format keselarasan nilai-nilai idealisme politik seiring perjalanan sejarah.

More info:

Published by: Khairul Umami on Jan 11, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

01/29/2015

Sections

Prolog

Kajian ini merupakan satu studi berdasarkan beberapa teori pemikiran politik
tentang negara yang dikemukakan oleh beberapa pakar politik Islam. Studi mengenai
pemikiran politik dalam Islam tidak terlepas dari pembicaraan mengenai negara,
karena pemikiran politik secara khusus mengkaji urusan pemerintahan suatu negara
dan otoritasnya dalam masyarakat.1
Mengkaji negara atau memberikan definisi, setiap orang punya batasan masing-
masing. Karena negara pada dasarnya hanya suatu imajinasi legal manusia, yakni pada
abstraksi pemikiran. Bagaimanapun juga negara tidak bisa diindrai. Akhirnya, definisi
negara hanya dapat memuaskan ataupun dipakai standar empunya definisi, untuk
orang lain belum tentu dapat diterima tergantung pada pendekatan yang dipakai.
Sosiolog mendefinisikan negara bertolak dari dinamika yang ada di masyarakat. Ahli
hukum cara pandangnya kental dengan biasa hukum ketatanegaraannya. Keragaman
ini paling tidak ada dua pendekatan yang saling terkait yaitu kemanusiaan dan ideologi.
Namun demikian negara Madinah yang dibangun Nabi adalah sebuah model utama
sebuah negara madani di dunia yang mencakup aspek kemanusiaan, ideologi, keadilan,
dan aspek-aspek lain dan dalam sejarah Islam setelah Nabi Muhammad saw., wafat
pembinaaan negara Madinah mencakup aspek yang konprehensif tersebut kemudian
dilanjutkan oleh al-Khulafa’ al-Rasyidin yang memimpin empat pemerintahan secara
terus-menerus.2

*

Makalah ditulis oleh Dr. Munawar A. Djalil, MA, untuk seminar Internasional, “Idealisme Politik
Islam di Aceh”, pada bulan Desember 2011. Penulis adalah alumnus Doktor pada Universitas Kebangsaan
Malaysia, dan sekarang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil pada Pemerintah Kabupaten Pidie. Acara ini
diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Teungku Dirundeng, Meulaboh, bekerjasama
dengan Lembaga Kajian Agama dan Sosial (LKAS) Banda Aceh.

1

Lukman Thaib, Politik menurut Perspektif Islam (Malaysia: Synergymate Sdn. Bhd, 2001), xiii.

2

Abu ‘Ala al-Maududi Khilafat wa Mulukiyat (Lahor: Idarah Tarjuman Alquran, 1975), 15. Marshall
hodgson The Venture of Islam: Consceince and History in A World Civilization (Chicago: University of
Chicago Press, 1974), 15.

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

118

Definisi negara dalam Islam

Secara umum negara adalah suatu organisasi dalam suatu wilayah yang mempunyai
kekuasaan tertinggi yang sah dan ditaati oleh rakyatnya.3

Sedangkan sebagian pakar
politik Islam mendefinisikan negara sebagai inti kepada politik dengan menfokuskan
perhatiannya kepada institusi-institusi kenegaraan serta bentuk-bentuknya saja.
Definisi ini bersifat tradisional dan sempit dari sudut ruang lingkup perbahasannya.
Definisi ini menggunakan satu pendekatan yang dinamakan pendekatan institusi

(institutional approach).

Dalam pendefinisian negara Islam, sebagian pakar politik Islam menyebutkan
bahwa istilah negara Islam bukanlah suatu penetapan daripada ulama yang tidak bisa
dikritik maupun dianalisa kembali.4

Syekh Muhammad Abu Zahrah menyatakan bahwa
pembagian negara kepada Darul Islam dan Darul Harb sendiripun tidak beradasarkan
pada Hadis tetapi sebaliknya merupakan hasil analisis dan ijtihad ulama.5
Menurut Wahbah az-Zuhaily negara Islam, “Negara Islam yang dimaksudkan Wahbah
adalah negara yang dijalankan dengan kekuasaan umat Islam di samping ketahanan
dan kekuatannya dimiliki oleh mereka untuk melaksanakan politik dunia berdasarkan
Syari’at Islam untuk mencapai kemashlahatan manusia di dunia dan akhirat.”6
Imam as-Sarakhsi menyebut, negara Islam adalah panggilan atau nama bagi suatu
kawasan yang dikuasai oleh umat Islam dan sebagai bukti kekuasaannya mereka
memperoleh keamanan (kemashlahatan) di sana.7

Abdul Wahhab Khallaf berkata,
negara Islam sebuah negara yang menjalankan hukum-hukum Islam dan seluruh rakyat
baik muslim ataupun non muslim mendapatkan kemashlahatan dunia dan akhirat.8
Dari tiga definisi di atas, dapat pahami bahwa ciri-ciri yang ditekankan oleh ulama
bagi sebuah Negara Islam itu mestilah kekuasaannya dimiliki oleh umat Islam dan
negara tersebut menjadikan Syari’at Islam sebagai institusi Negara. Abdul Karim

3

Yusuf al-Qardhawi, Fiqh al-Daulah f al- Islam (Mesir: Dar al-Syuruk, 1997), 13-18.

4

Wahbah al-Zuhaily, al-Fiqh al-Islam wa ‘Adillatuhu, Jil. 6 (Damsyik: Dar al-Fikr, 1989), 662.
Wahbah al-Zuhaily, al-‘Alaqat al-Dawliyyah f al-Islam Muqaranah bil Qanun al-Dawli al-Hadis (Bairut:
Mu’assasah al-Risalah, 1981), 104-105.

5

Muhammad Abu Zuhrah, al-’Alaqat al-Dawliyyah f al-Islam (Kaherah: Dar al-Fikr al-Arabi, tt.), 53.

6

Wahbah, al-‘Alaqat....

7

Al-Kasani, Bada’I al-Sana’i, Jilid VII (Bairut: Dar al-kutub al-Ilmiyyah, 1986), 130. Abdul Karim
Zaydan, Ahkam al-Dhimmiyyin wa al-Musta’minin, ed. II (Bairut: Mu’assasah al-Risalah, 1987), 16.

8

Abd. Wahhab Khallaf, al-Siyasah al-Syar’iyyah (Kuwait: Dar al-Qalam, 1998), 79.

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

119

Zaydan menyatakan syarat utama negara Islam ialah kekuasaan, kedaulatan dan
pemerintahannya dikuasai oleh rakyat Islam dan tidak disyaratkan pula kawasan itu
perlu didiami oleh rakyat Islam selagi ia dikuasai oleh mereka.9

Imam al-Rafi’i tidak
mensyaratkan negara Islam perlu didiami oleh kaum muslimin bahkan cukup dengan
pemerintahannya di bawah kepemimpinan Islam.10
Jika diperhatikan definisi-definisi di atas, kita melihat as-Sarakhsi hanya
mensyaratkan kekuasaan (kedaulatan) Islam dan keberadaan jaminan keamanan
sebagai ciri utama sebuah negara. Jadi faktor kerakyatan menurut as-Sarakhsi tidak
dijadikan ciri utama dalam menentukan keislaman sebuah negara. Dengan kata lain
selagi kekuasaan negara tersebut dipegang oleh pemimpin Islam, dia tetap menjadi
sebuah negara Islam walaupun mayoritas penduduknya bukan beragama Islam.
Berbeda dengan definisi Abdul Wahab Khallaf seperti disebutkan di atas, beliau
menjadikan status keislaman sebuah negara adalah berkaitan kuat dengan faktor
institusi dan hukum sebuah negara. Definisi yang sama seperti ini juga dikemukakan
oleh Syekh Muhammad Abu Zahrah11

dan Wahbah az-Zuhaily.12
Definisi-definisi di atas menjelaskan, walaupun sebagian definisi tidak menjelaskan
secara tegas perlunya syariat Islam ditegakkan di negara tersebut dan sebagian definisi
yang lain pula tidak mengaitkan sebuah negara itu mesti dikuasai oleh komunitas
Islam, namun secara rasionalnya negara manapun yang dipimpin oleh orang Islam
hanya akan melaksanakan Syari’at Islam walaupun tidak secara keseluruhan dan
mustahil kiranya hukum-hukum Syari’at tersebut akan dilaksanakan dalam konteks
pemerintahan bukan Islam (sekuler).
Menurut Fazlur Rahman seorang pakar politik Islam mengetakan bahwa negara
dalam Islam, “The Muslim state an in organization set up by the Muslim society in
order to implement the will of the society and no more.”(
organisasi yang dibentuk oleh
masyarakat muslim dalam rangka memenuhi keinginan mereka dan tidak untuk
kepentingan lain).13

9

Zaydan, Ahkam..., 17.

10

Ibid..

11

Abu Zahrah al-’Alaqat.

12

Az- Zuhaily, al-‘Alaqat.

13

Fazlur Rahman, “Implementation of the Concept of State in the Pakistani Milieu”. Islamic Studies,
No. 6 September 1967, 209.

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

120

Dapat dijelaskan bahwa maksud dari “keinginan mereka” adalah untuk melaksanakan
kehendak Allah Swt., melalui wahyu.14

Menurut Fazlur Rahman karena keinginan umat
inilah yang menyebabkan terbentuk sebuah Negara dalam Islam. Menurut teori Islam,
negara dapat didirikan apabila sekelompok orang yang telah menyatakan bersedia
melaksanakan kehendak Allah Swt., melalui wahyunya sebagaimana negara yang
pernah dibangun oleh Nabi Muhammad saw., bersama pengikutnya.15

Oleh karena itu,
secara umum dapat didefinisikan negara Islam menurut Fazlur Rahman adalah suatu
wilayah yang dibangun atau dihuni oleh umat Islam dalam rangka memenuhi keinginan
mereka untuk melaksanakan perintah Allah Swt., melalui petunjuknya.
Ibnu Khaldun mengatakan, yang dimaksud Negara oleh beliau adalah suatu
lembaga yang melaksanakan Syari’at secara kaffah untuk kebahagiaan dunia dan
akhirat. Khalifah (pemimpin negara) yang sebenarnya dalam negara Islam adalah
orang yang melaksanakan Syari’at seluruhnya dan menjalankan politik dunia sesuai
dengan Syari’at. Eksistensi negara pula untuk mewujudkan keinginan manusia dalam
rangka menciptakan solidaritas antara seseorang dengan lainnya tanpa melihat
kepada perbedaan-perbedaan. Semakin luas pergaulan manusia dan semakin banyak
keperluannya, maka bertambah besar kepentingannya kepada suatu negara yang akan
melindungi dan memelihara keamanan hidupnya.16
Definisi Ibnu Khaldun ini berkaitan dengan ciri-ciri negara Islam yang dikemukakan
oleh Wahbah al-Zuhaily bahwa pembentukan negara Islam berdasarkankan fikrah
dan prinsip untuk mengislahkan hidup manusia menurut manhaj Allah Swt., yang
universal. Ia tidak dipengaruhi oleh hawa nafsu manusia dan juga keterbatasan
pemikiran manusia. Negara Islam merangkum setiap individu yang menyertainya
untuk memelihara solidaritas tanpa melihat kepada perbedaan fisik dan material
seperti bangsa, keturunan maupun agama. 17
Adapun Muhammad Abdul al-Qadir Abu Faris berkata, “Negara adalah sekelompok
manusia yang menghuni sebuah wilayah tertentu dengan menjalankan prinsip Islam
yaitu menciptakan keamanan dan solidaritas sesama manusia baik dalam keadaan
damai maupun perang. Menurutnya syarat menjadi sebuah negara ada tiga: rakyat,

14

Ibid., 205.

15

Ibid..

16

Abdurrahman Ibn Khaldun, Muqaddimah Ibn Khaldun (Cairo: Dar al-Fikr, tt.), 193.

17

Wahbah al-Zuhaily, al-Fiqh al-Islam Wa Adillatuh, Jilid. IX (Bairut: Dar al-Fikr, 1996), 872-873.

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

121

tempat atau wilayah dan kekuasaan pemerintahan. Prinsip solidaritas dibangun
dengan saling tolong menolong dan saling nasehat menasehati. Dengan demikian
seluruh masyarakat Islam dalam sebuah negara akan mendapatkan kebahagiaan dunia
dan akhirat.”18

Dalam kaitan ini, Yusuf al-Qardhawi juga memberikan definisi tentang
Negara, yakni, “Suatu institusi yang dibangun oleh suatu masyarakat Islam dalam
rangka melaksanakan ajaran Allah Swt.. Masyarakat Islam dalam negara mempunyai
kewajiban berdakwah untuk melakukan amal ma’ruf dan mencegah kemungkaran
dan kezaliman, membina aqidah, ibadah dan akhlak. Dengan demikian Allah Swt.,
akan memberi pertolongan kepada masyarakat dalam Negara Islam sehingga negara
Islam akan dapat mewujudkan pribadi, keluarga dan masyarakat yang baik untuk
kebahagiaan dunia dan akhirat.”19
Kedua definisi di atas baik yang dikemukakan oleh Muhammad Abdul Qadir
ataupun al-Qardhawi mempunyai hubungan pula dengan cita-cita negara Islam yang
dikemukakan oleh al-Zuhaily yaitu menyebarkan dakwah melalui berbagai mekanisme
pemerintahan untuk mempertahankan agama.20
Dalam pandangan Muhammad Nasir yang dimaksud dengan Negara adalah suatu
kelompok masyarakat yang memiliki wilayah, kekuasaan dan kebebasan dan ia juga
sebuah institusi yang menjalankan hukum Allah Swt., dalam masyarakat. Negara Islam
yang dibangun wajib menjalankan hukum Islam yaitu hukum berdasarkan Alquran dan
al-Sunnah dan tanpa mengamalkannya sebuah negara itu bukan dinamakan sebagai
negara Islam.21

Definisi berbeda juga dikemukakan oleh Muhammad Yusuf Musa bahwa Negara
itu adalah sekelompok manusia yang mendiami suatu wilayah tertentu yang
mempunyai institusi untuk menjalankan hukum dan memiliki kebebasan berpolitik.
Syarat utama negara Islam yaitu mempunyai suatu institusi untuk menjalankan
Syari’at.22

Menurutnya pemimpin negara mempunyai kewajiban mutlak menjalankan
hukum Syari’at berdasarkan Alquran dan al-Sunnah. itulah hakikat sebenarnya suatu

18

Muhammad Abd al-Qadir Abu Faris, al-Nidhamu al-Siyasi f al-Islam (Aman: Dar al-Furqan, 1986),

131-132.

19

Yusuf al-Qardhawi, Fiqh al-Daulah..., 21.

20

Al-Zuhaily, al-Fiqh al-Islam.

21

Muhammad Nasir Mihna, Nadhriyah al-Daulah wa al-Nadhmu al-Siyasiyah (Iskandariah: al-Maktab
al-Jami’i al-Hadis, 1999), 165-167.

22

Muhammad Yusuf Musa, Nidhamu al-Hukm f al-Islam (Kaherah: Dar al-Fikr al’Arabi, tt.), 12-13.

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

122

negara Islam. Sementara menurut Ismail Ibrahim al-Badawi mendefinisikan, Negara
itu disebut juga sebagai khilafah yaitu suatu wilayah yang didiami oleh masyarakat
untuk memenuhi seluruh keperluannya.23

Menurutnya untuk memenuhi segala
urusan masyarakat diperlukan seorang pemimpin yang melaksanakan institusinya
berdasarkan Syari’at Islam.24
Selain beberapa definisi tersebut di atas, Imam Khomeini juga memberikan definisi
tentang negara dalam Islam. Dia berkata, negara Islam adalah negara yang menerima
Syari’at Islam sebagai peraturan negara. Segala hukum yang bertentangan dengan
Syari’at Islam hendaklah dihilangkan karena hanya hukum Allah Swt., yang sah dan
tidak akan pernah berubah walau zaman berubah.25

Negara yang didirikan di atas
prinsip-prinsip yang telah ditetapkan oleh Alquran dan al-Sunnah, segala kekuasaan
yang ada di alam ini adalah menjadi milik-Nya. Dia sajalah yang wajib ditaati. Hukum
dan segala peraturan yang ada merupakan ketentuan-ketentuan Allah Swt., bagi
membimbing manusia ke arah kehidupan yang bahagia.26
Walau bagaimanapun, untuk mencari sebuah definisi negara Islam yang sesuai,
penulis sangat tertarik dengan definisi yang diberikan oleh Abd. al-Azis Jastani’ah
yaitu: “sebuah negara yang mana segala kuasa, lembaga, individu dan kelompoknya
menerima Islam sebagai agama dan melaksanakan dengan peraturannya di segenap
aspek kehidupan”.27

Oleh yang demikian negara Islam hanya menjadikan Islam sebagai
dasar konstitusinya, di mana Alquran dan al-Sunnah merupakan otoritas dalam
negara. Sehingga aktivitas sosial, ekonomi, politik, kebudayaan, administrasi negara
dan sebagainya mestilah dibentuk berdasarkan kedua sumber tersebut yang berfungsi
sebagai pembimbing negara serta memberikan keadilan kepada rakyat. Dari sini, jelas
kepada kita bahwa Negara Islam adalah berbeda dengan negara yang tidak menganut
dasar-dasar Islam seperti negara-negara sekuler yang senantiasa memisahkan antara
agama dan negara.

23

Ismail Ibrahim al-Badawi Nidhamu al-Hukm al-Islam (Kaherah: Dar al-Nahdhah al-‘Arabiyyah,

1994), 91-94.

24

Ibid..

25

Ayatullah Khomeini, Pemerintahan Islam. Razali Haji Nawawi dan Hayyun Haji Nawawi (terj.) (Kuala
Lumpur: Abim, 1983), 47.

26

Ibid., 47-48.

27

Abdul Azis Jastani’ah, “The Islamic State in Light of the Quran and Sunnah” (Thesis Ph.D, Claremont
Graduate School, 1982), i.

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

123

Untuk mewujudkan cita-cita dan untuk tujuan mendapatkan kebahagiaan dunia
dan akhirat maka masyarakat Islam harus sadar terhadap keutamaan sebuah negara
dalam Islam yang berbeda dengan negara sekuler dimana Islam adalah sebuah agama
yang mempunyai hubungan kuat dengan politik (negara). Walaupun ada sebagian
pendapat yang menjelaskan bahwa Islam dan politik (negara) tidak mempunyai
hubungan langsung.

Diskusi mengenai adakah Islam mempunyai hubungan dengan konsep negara atau
tidak, nampaknya telah menjadi topik yang menarik untuk dibincangkan di kalangan
para ilmuan Islam termasuk di Indonesia. Bermacam pendapat telah muncul dalam
rangka menganalisis teori tentang hubungan negara dalam Islam.28

Menurut Munawir
Sjadzali ada tiga golongan pendapat para pakar Islam mengenai konsep negara dalam
Islam. Pendapat pertama menyatakan bahwa Islam adalah agama yang sempurna dan
lengkap dengan segala aspek kehidupan manusia termasuk kehidupan politik dan
negara. Golongan ini menyatakan bahwa dalam bernegara umat Islam tidak perlu
mengikuti sistem negara barat, tetapi sebaliknya hendaknya kembali kepada sistem
negara Islam. Sistem yang mesti dijadikan pegangan adalah sistem negara yang
di bentuk oleh Nabi Muhammad saw., dan empat al-Khulafa al-Rasyidin pada awal
perkembangan Islam.

Pendapat kedua menyatakan bahwa Islam adalah sebagai suatu agama, sama
sekali tidak berhubungan dengan masalah politik dan negara. Menurut aliran ini
Nabi Muhammad saw., hanyalah seorang Rasul biasa seperti Rasul-rasul sebelumnya,
dengan tugas hanya untuk mengajak manusia kembali kepada kehidupan berakhlak
mulia. Nabi Muhammad saw., menurut pendapat ini tidak pernah bertugas untuk
membangun dan memimpin suatu negara. Golongan ketiga berpendapat bahwa Islam
merupakan suatu agama yang lengkap yang di dalamnya juga mengatur suatu sistem
falsafah dan ideologi negara yang lengkap. Aliran ini juga tidak sependapat apabila
Islam dikatakan sama sekali tidak ada hubungan dengan perkara politik dan Negara.
Menurut mereka Islam merupakan ajaran yang menyeluruh. Oleh yang demikian, bila
dalam Islam tidak terdapat sistem negara dalam arti teori lengkap, namun dalam Islam
terdapat petunjuk bagi kehidupan bernegara.29

28

M. Hasbi Amiruddin, Konsep Negara Islam menurut Fazlur Rahman (Yokjakarta: UII Press, 2000), 1.

29

Munawir Sjadzali, Islam dan Tata Negara: Ajaran, Sejarah, dan Pemikiran (Jakarta: UI Press, 1990),

1-2.

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

124

Dari ketiga pendapat di atas mengenai hubungan Islam dan negara. Teungku
Hasan Tiro seorang pakar politik juga sebagai ideolog terkenal berpendapat bahwa
Islam merupakan suatu agama lengkap yang di dalamnya juga mengatur suatu sistem
falsafah dan ideologi negara yang lengkap pula. Karena kalau penulis merujuk kepada
salah satu bukunya berjudul “Demokrasi Untuk Indonesia.” Beliau menjelaskan bahwa
Pancasila yang telah dijadikan sebagai asas negara Indonesia, ianya bukanlah suatu
falsafah atau ideologi yang sempurna, ia hanya sebagai lambang negara yang hidup
dalam masyarakat Indonesia.

Menurut Teungku Hasan Tiro, Islamlah yang mesti dijadikan falsafah hidup
dan ideologi negara, karena Islam agama totalitas dan universal yang mengatur segala
aspek kehidupan manusia termasuk kehidupan bernegara. Dengan mengakui Islam
sebagai ideologi dan asas persatuan Indonesia, tidaklah berarti menafikan golongan
rakyat Indonesia yang beragama Kristian, Hindu dan lain-lain.30

Pemikiran Teungku
Hasan Tiro ini sesuai dengan amalan Rasullullah ketika mendirikan negara Islam
di Madinah dimana Rasullulah mengakui keberadaan agama lain dan mereka juga
mendapat perlindungan yang sama seperti masyarakat Muslim.31
Dari uraian di atas, identitas Negara Islam sangat berhubungan dengan pelaksanaan
Syari’at Islam dan kedaulatan Alquran dan al-Sunnah yang mengarah segala aspek
pemerintahan. Di sini penulis merumuskan bahwa sebuah negara jika dilihat dari
sudut kesesuaian dengan aqidah dan Syari’at Islam akan dinamakan negara Islam
(Islamic State). Jika dilihat dari sudut masyarakatnya yang beragama Islam walaupun
negara tersebut tidak mengamalkan Islam sepenuhnya dinamakan negara umat Islam
(Muslim State).

Menurut penulis, konsep negara Islam perlu dibedakan dengan konsep negara orang
Islam. Karena hampir kebanyakan negara umat Islam sekarang ini tidak memenuhi
kriteria asal sebuah negara Islam terutama dari segi pelaksanaan Syari’at Islam.
Melihat dari kontek ini kebanyakan negara umat Islam hari ini bisa dikatakan “Muslim
State”.
Bukan “Islamic State.” Walaupun dipimpin oleh umat Islam sendiri karena istilah
Islam dalam kontek di atas adalah aplikasi sebenarnya di negara yang melaksanakan
Syari’at Islam sepenuhnya dalam segala aspek pemerintahan.

30

Hasan Muhammad Tiro, Demokrasi Untuk Indonesia (Banda Aceh: Seulawah, 1958), 103.

31

Muhammad Marmaduke Picktal, The Meaning of Glorious Koran (New York: New American Library,

1953), xvii.

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

125

Oleh karena itu, hakikat negara Islam adalah negara yang ideologinya ditegakkan di
atas asas aqidah dan syariah. Kedua-dua asas inilah yang dijalankan dan dilaksanakan
Rasullullah saw., dalam melahirkan berbagai ide, peraturan dan hukumnya dalam
melaksanakan perintah Allah Swt., mempertahankan keamanan masyarakat,
memelihara terlaksananya hukum sehingga masyarakat akan bisa mencapai
kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Namun demikian, sebagaimana yang dijelaskan sebelum ini, pendefinisian negara
Islam telah melalui proses perkembangan, penterjemahan negara Islam berdasarkan
realitas hari ini perlu dikemukakan kembali sebagai lanjutan daripada pemikiran
tersebut dengan menekankan kepada beberapa ciri dan prinsip tertentu yang disepakati
oleh ulama sebagai ukuran bagi sebuah negara Islam menurut artikata sebenarnya.

Tujuan Negara dalam Islam

Sebagaimana yang telah diuraikan adalah negara dalam Islam sebagai sebuah institusi
yang terdiri daripada masyarakat yang selalu bekerjasama untuk mencapai suatu
tujuan yaitu kebahagian dunia dan akhirat. Dapat dikatakan bahwa tujuan akhir setiap
negara ialah mewujudkan kebahagiaan bagi rakyatnya. Institusi negara dinilai sebagai
alat dan bukan tujuan. Menurut Lukman Thaib negara itu sebagai sebuah bahtera yang
mengangkut penumpangnya ke pelabuhan kesejahteraan yaitu masyarakat aman, adil
dan makmur.32

Menurut Fazlur Rahman, dengan keinginan umat untuk mengerjakan yang makruf
mencegah yang mungkar maka terbangun sebuah negara Islam. Oleh karena itu,
tujuan negara Islam seperti yang dijelaskan oleh negarawan Islam Fazlur Rahman
adalah untuk mempertahankan keamanan, dan integritas negara, memelihara
terlaksananya hukum dan ketertiban serta membangun negara itu sehingga setiap
warga negaranya menyadari kemampuannya dan bersedia untuk menyumbang demi
kesejahteraan seluruh warganegara.33

Oleh karena itu, negara adalah alat menerapkan
dan mempertahankan agama. Di samping negara didirikan bagi melindungi manusia
daripada permusuhan demi mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

32

Lukman Thaib, Politik..., 28. Lihat juga, Isywara, Pengantar Ilmu Politik (Bandung: Bina Cipta, 1980),

163.

33

Fazlur Rahman The Principle of Shura and the Role of the Ummah in Islam, (1986), baca Mumtaz
Ahmad (1986), State Politics and Islam. Washington: American Trust Publication, 88.

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

126

Menurut Wahbah al-Zuhaily tujuan sebuah negara Islam adalah untuk melaksanakan
perintah agama. Agama tidak bisa dilaksanakan tanpa wujudnya negara sehingga
dengan itu akan mendapatkan kemashlahatan dan dapat memenuhi keperluan satu
sama lain.34

Sehubungan dengan itu pula Dr. Wahbah al-Zuhaily mengemukakan
pendapatnya dalam membedakan negara Islam dengan negara sekuler modern
dari sudut ciri dan tujuannya. Beliau menjelaskan bahwa negara Islam bertujuan
mengishlahkan agama dan dunia, menegakkan keadilan, melaksanakan ajaran Alquran
dan as-Sunnah menjalankan tugas amar makruf dan mencegah kemungkaran untuk
kebahagian dunia dan akhirat. Negara Islam berkewajiban menyebarkan dakwah
melalui berbagai mekanisme pemerintah. Maka Negara Islam mesti dibangun
berdasarkan fikrah dan prinsip untuk pengishlahan menurut manhaj Allah Swt., yang
universal yang tidak dipengaruhi oleh hawa nafsu manusia.35
Adapun tujuan negara yang dirumuskan oleh al-Maududi adalah sebagai mekanisme
untuk mencapai keselamatan dan kebahagian manusia dunia dan akhirat dengan
berdasarkan perintah Allah s.w.t. sebagaimana yang diwahyukan untuk petunjuk
kehidupan manusia, manusia ini akan mendapat kebaikan, karena Islam ini diturunkan
Allah s.w.t. sebagai rahmat bagi seluruh alam.36
Menurut al-Maududi dengan berpedoman kepada Alquran dan As-sunnah
Rasullullah saw., tujuan pendirian negara dalam Islam: Pertama, Untuk menghindari
eksploitasi antara manusia, antara kelompok atau antara kelas dalam sebuah
masyarakat. Kedua, Untuk memelihara kebebasan (ekonomi, politik, pendidikan, dan
agama) dan melindungi seluruh warganegara daripada kesewenang-wenangan pihak
asing. Ketiga, Untuk menegakkan sistem keadilan sosial yang seimbang sebagaimana
digariskan Alquran. Keempat, Untuk memberantas setiap kejahatan dan mendorong
setiap kebaikan dengan tegas seperti yang telah digariskan di dalam Alquran. Kelima,
Menjadikan negara sebagai tempat tinggal yang aman dan damai bagi setiap warga
negara dengan jalan melaksanakan hukum tanpa diskriminasi.37
Secara lebih terperinci al-Maududi menjelaskan bahwa terdapatnya dua tujuan yang

34

Wahbah, al-Fiqh ..., 662-667.

35

Ibid..

36

Pendapat ini terdapat dalam bukunya John J. Donohue dan John L, Esposito (ed), Islam in Transition
Muslim Perspektive (New York: Oxford University Press, 1982), 253.

37

Abu ‘Ala al-Maududi, The Islamic Law and Constitution (Lahore: Islamic Publication Ltd, 1969), 24.

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

127

saling bantu-membantu dalam sebuah negara Islam. Ia bertujuan untuk membentuk
keimanan (al-din) serta menjaga kepentingan rakyat yang meliputi kehidupan,
kemuliaan, kekayaan dan agama. Kesemua ini mesti dipertahankan mengikut prinsip-
prinsip Islam. Pembentukan keimanan adalah tujuan asas yang mesti dilakukan oleh
negara Islam. Tujuan ini adalah sesuatu yang membedakan sistem Islam daripada
sistem lain. Pembentukan keimanan menjadi tujuan utama karena ia dianggap sebagai
unsur persatuan individu-individu Muslim dalam hubungan politik antara mereka
yang berdasarkan keimanan, dan keislaman yang sama.38
Dalam pandangan lain Negara dalam Islam juga disampaikan oleh Muhammad
Yusuf Musa, ia menjelaskan tujuan negara: Pertama, Memberi penerangan keagamaan
yang benar dan menghilangkan keraguan pada Islam kepada semua manusia, mengajak
manusia menerima Islam, melindungi manusia daripada kezaliman dan menjaga
hukum Islam daripada mereka yang berusaha melanggarnya. Kedua, Melakukan upaya
dan cara bagi mewujudkan kerjasama dan kesatuan orang-orang Islam dengan sifat
tolong menolong dan memenuhi keperluan hidup manusia sehingga mereka menjadi
kuat. Ketiga, Melindungi wilayah Islam daripada serangan musuh dan melindungi
rakyatnya daripada semua bentuk kezaliman.39
Imam al-Mawardi dalam penjelasannya yang ringkas berkaitan dengan sistem
pemerintahan Islam berpendapat bahwa kepala negara berkewajiban menjaga agama
dan kebijakan tentang perkara-perkara keduniaan. Beliau menganggap kepentingan
pembentukan keimanan adalah salah satu tujuan utama kewujudan negara Islam.40
Menurut Muhammad Asad pula tujuan pertumbuhan negara Islam adalah untuk
pengembangan masyarakat manusia melaksanakan persamaan hak dan keadilan
untuk mencapai perkara yang benar dan menentang yang salah sehingga dapat
menyelamatkan manusia secara lahir atau batin menurut hukum yang diturunkan
Allah Swt..41

38

Abu ‘Ala al-Maududi, First Prinsiples of The Islamic State (Lahore: S. H. Muhammas Ashraf, 1960),
19. Lihat juga dalam Abu ‘Ala al-Maududi, The Nature and Content of Islamic Contitutions (Lahore:
Islamic Publication Ltd, tt.), 52.

39

Muhammad Yusuf Musa, Nidhamu al-Hukm...,18-20.

40

Imam al-Mawardi, al-Ahkam al-Sulthaniyah (Cairo: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1978), 190-191.

41

Pendapat Muhammad Asad ini terdapat dalam Amiruddin Djamil, Masalah Kenegaraan dalam Islam
(Jakarta: Yayasan Kesejahteraan Bersama, tt.), 205. Lihat juga buku Muhammad Asad, The Principles of
State and Government in Islam (Gibraltar: Andalusia Publication, 1961), 14.

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

128

Sehubungan dengan itu tujuan negara Islam yang dikemukakan Yusuf al-Qardhawi
sesuai dengan tujuan negara Islam yang dikemukakan Wahbah di atas dalam kontek
kewajiban menjalankan dakwah Islam. Dakwah Islam akan berjalan baik dengan satu
institusi, maka dengan kenyataan itu diperlukan sebuah negara Islam untuk tujuan
penyebaran dakwah yang universal kepada seluruh umat manusia. Al-Qardhawi
merujuk kepada firman Allah Swt., dalam Alquran surah Ali Imran (3): 104, “Dan
hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-
orang yang beruntung”.
Menurut Ibnu Taimiyah pelaksanaan hukum Islam tidak dapat dijalankan tanpa
negara Islam. Menurut beliau mendirikan negara Islam wajib, malah agama Islam
tidak dapat ditegakkan melainkan dengan adanya negara Islam. Tuhan mewajibkan
manusia mendorong orang melakukan kebaikan dan mencegah kejahatan dan berjihad,
menegakkan keadilan dan melaksanakan hukum Islam, semuanya dapat dilakukan
hanya apabila ada kekuatan negara. Antara tujuan negara Islam menurut Ibnu Taymiah:
Pertama, Melaksanakan undang-undang Islam. Beliau merujuk kepada Alquran Surah
al-Ahzab (33): 35. “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi
perempuan yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan,
akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa
mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”.
Kedua, Mendirikan ajaran Islam dalam masyarakat seperti sembahyang, puasa,
zakat dan lain-lain seperti yang disebutkan dalam Alquran Surat al-Haj (22):41, “(yaitu)
orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka
mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma`ruf dan
mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan”.
Ketiga, Membawa keadilan kepada semua manusia dan alam. Pemerintahan negara
Islam adalah pemerintahan yang adil, tidak membedakan antara satu bangsa dengan
bangsa lain, perbedaan warna kulit dll., kesemua itu tunduk dan patuh kepada hukum
Islam. Keempat, Melahirkan masyarakat penyayang dan bersaudara. Masyarakat ini
menjalinkan hubungan baik sesama mereka, jauh dari perkelahian, hasad dengki dan
dendam. Kelima, Mengembangkan agama Islam kepada semua manusia dan berjihad
mempertahankan Islam daripada ancaman internal dan eksternal.42

42

Ibn Taimiyah al-Khilafah wa al-Mulk (Jordan: Maktabah al-Manar, 1988), 3. Lihat juga Mohd.

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

129

Imam Khomeini berkata, tujuan negara Islam adalah menjamin keadilan sosial
masyarakat, demokrasi yang sebenarnya dan kemerdekaan yang murni dari imperialisme.
Islam dan pemerintahan adalah fenomena ilahi yang menjamin kebahagiaan manusia
dan keturunannya di dunia dan akhirat.43

Khomeini menerangkan bahwa pemerintahan
Islam yang digagas Rasul merupakan suatu bentuk pemerintahan yang sesuai sepanjang
zaman. Menurutnya seorang penguasa yang dipilih oleh para ulama sajalah yang layak
untuk memimpin negara. Khomeini menjadikan para ulama berada dalam kedudukan
yang tinggi dalam sebuah pemerintahan Islam. Mereka adalah orang yang layak dalam
menjaga, menafsir dan melaksanakan hukum-hukum Tuhan secara adil sempena untuk
mewujudkan kebahagiaan masyarakat Islam dunia dan akhirat.44
Dari semua tujuan negara Islam yang dikemukakan oleh ahli politik Islam di atas
bersesuaian pula dengan tujuan pendirian negara yang dikemukakan oleh Teungku
Hasan Tiro yaitu tujuan tertinggi dari Angkatan Aceh Sumatera Merdeka atau perjuangan
Gerakan Aceh Merdeka (GAM) adalah kebahagiaan bangsa Aceh dan Sumatera dunia
dan akhirat sebagai satu bangsa merdeka dan berdaulat dibawah daulat Allah dan
sebagai satu jama’ah daripada satu Ummah, ini bermakna jaminan keselamatan nilai-
nilai agama, politik, masyarakat, budaya dan ekonomi bangsa Aceh-Sumatera.45
Dari berbagai pendapat para pakar politik mengenai tujuan pembentukan negara
Islam secara umum dapat dijelaskan bahwa tujuan pendirian sebuah negara Islam
adalah melaksanakan perintah Allah Swt., berdasarkan wahyu yang diturunkan
kepada Nabi Muhammad saw., untuk menggapai satu tujuan utama umat manusia
yaitu kebahagiaan dunia dan akhirat.

Bentuk-bentuk Negara dalam Islam

Alquran al-Karim merupakan sumber pertama hukum Islam yang memberikan
prinsip-prinsip umum yang asas dalam bidang politik dan institusi yang tidak bisa
ditinggalkan oleh sistem politik atau pemerintahan yang baik. Walau bagaimanapun

Rumaizuddin Ghazali, 81-83.

43

Riza Sihbudi Biograf Politik Imam Khomeini (Jakarta: Gramedia Pustaka Uatma, 1996), 40.

44

Ibid., 131.

45

Dr. Teungku Hasan di Tiro, Indonesia as a Model Neo-Colony (London: The National Liberation Front
Aceh Sumatera, 1984), 1. Lihat juga Makalah pidato Teungku Hasan Tiro, Perkara dan Alasan Perjuangan
Angkatan Aceh Sumatera Merdeka di depan majelis Scandinavian “Associatation of Southeast Asian
Social Studies”, Goterborg, Swedia. 23 Agustus 1985, 15.

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

130

Alquran al-Karim tidak menyebut secara terperinci sistem dan bentuk negara yang
mesti dijalankan, sebaliknya terserah kepada masyarakat Islam untuk merumuskannya
menurut keperluan temporer selagi ia tidak bertentangan dengan tujuan kenegaraan
yang telah dibahas sebelumnya.
Dalam menentukan bentuk-bentuk negara Islam, kita juga menyadari bahwa
Rasullullah saw., tidak mengangkat siapapun untuk menggantikan pemerintahan baginda
setelah kewafatannya. Beliau juga tidak menentukan sebuah langkah yang harus dikuti
untuk mencari pengganti. Walau bagaimanapun, Rasullullah saw., pernah menerangkan
prinsip-prinsip asas sistem politik negara dan pemerintahan yang mesti diikuti oleh
seorang pemimpin.46

Bentuk negara Islam adalah berbeda dengan bentuk negara yang
ada di dunia baik dari aspek asas yang menjadi landasan pemikiran, konsep, undang-
undang dasar maupun aspek bentuk yang menggambarkan keberadaan negara Islam.47
Sebagaimana yang telah dinyatakan bahwa Islam tidak menjelaskan bentuk
negara dan pemerintahan, maka perbicaraan mengenai bentuk negara akan
diuraikan berdasarkan sejarah dan tokoh yang muncul pada masa tersebut. Untuk
itu penulis akan membagikannya dalam tiga Fase yaitu: Fase klasik 650-1250M.,
Fase pertengahan 1250M.-1800M., dan Fase modern 1800M.. Namun demikian Fase
klasik dan pertengahan disatukan dalam satu bagian tersendiri. Hal tersebut karena
kajian ini dilakukan bukan berdasarkan zaman atau masa tokoh politik itu hidup akan
tetapi mengikuti bentuk sejauh mana tahap keterlibatan tokoh yang dimaksud dalam
pemerintahan sehingga pandangannya sangat dipengaruhi oleh aktivitas mereka. 48
Pembagian yang diterapkan ini adalah berdasarkan hubungan mereka dalam
pemerintahan yang dibagikan ke dalam tiga katagori: Pertama, Yang terlibat langsung
dalam pemerintahan, seperti Ibn Abi Rabi, al-Mawardi dan Ibn Khaldun. Kedua, Yang
berada di luar pemerintahan, tetapi masih sering ikut serta dalam pembaharuan
terhadap kekuasaan, seperti al-Ghazali dan Ibn Taimiyah. Ketiga, Yang terlepas dari
kontek politik seperti al-Farabi.49

Dengan demikian, pandangan mereka terhadap
bentuk negara akan sangat dipengaruhi oleh keadaan yang mereka alami.

46

Lukman Thaib (2001), 32.

47

Abdul Qadim Zallum, Nidhamul Hukmi f al-Islam, M. Maghfur W (terj.), Sistem Pemerintahan Islam
(Jawa Timur: Izzah,2002), 25.

48

Pembagian periode ini penulis kutip dalam buku Harun Nasution (1984), 56-59.

49

Masykuri Abdillah,“Gagasan dan Tradisi Bernegara dalam Islam: Sebuah Perspektif Sejarah dan
Demokrasi Modern”, Jurnal Tasywirul Afkar, No. 7, 2000, 102.

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

131

Ibn Abi Rabi seorang pakar politik yang hidup pada masa dinasti Abbasiyah
mendukung bentuk pemerintahan monarki seperti yang dilakukan pemerintahan
Abbasiyah. Dalam pandangan Ibn Abi Rabi, monarki atau kerajaan di bawah pimpinan
seorang raja serta penguasa tunggal, sebagai bentuk yang terbaik.50

Alasan yang
dikemukakan oleh Ibn Abi Rabi berdasarkan keyakinannya bahwa apabila banyak
pemimpin maka politik negara akan menjadi kacau dan sukar dibentuk kesatuan dan
persatuan.51

Untuk perkara agama, Ibn Abi Rabi mengatakan bahwa Allah Swt., telah
memberikan keistimewaan kepada raja dengan segala keutamaan, telah memperkokoh
kedudukan mereka di bumi-Nya, dan mempercayakan hamba-hamba-Nya yang
mempercayai mereka.52
Adapun al-Mawardi adalah seorang tokoh yang terkenal sebagai ahli sains politik.53
Beliau adalah tokoh perumus konsep negara berbentuk imamah yaitu suatu negara
yang dipimpin oleh seorang imam dengan tugas yang telah dimanahkan Allah Swt.,
kepadanya. Alasan mengapa al-Mawardi berpendapat negara mesti berbentuk imamah.
Pertama,
Untuk mewujudkan keamanan dan kesatuan umat. Kedua, Perkataan Ulil
Amri yang terdapat dalam Alquran adalah imamah (kepemimpinan). Lebih dari itu,
dalam karyanya al-Ahkam al-Sulthaniyah, al-Mawardi berpendapat bahwa imamah
atau khalifah adalah pengganti kedudukan Nabi untuk melaksanakan suruhan Allah
Swt., dalam negara.54

Dari definisi tersebut, terdapat tiga unsur penting: Pertama, Imamah itu adalah
tidak lain daripada pengganti kedudukan Nabi. Kedua, Objek dan tujuannya adalah
untuk menjaga agama. Ketiga, Menjaga masyarakat.55

Untuk menjaga aspek-aspek
berkenaan, al-Mawardi menyebutkan enam sendi negara Islam: Pertama, Agama yang
dihayati dan diamalkan. Agama diperlukan sebagai pengawal hawa nafsu karena ianya
merupakan sendi terkuat bagi kesejahteraan negara. Kedua, Pemimpin yang berwibawa
dan amanah karena dengan demikian, pemimpin negara akan dapat menciptakan

50

Munawir Sadzali, Islam dan Tata Negara: Ajaran, Sejarah dan Pemikiran, Edisi Kelima (Jakarta: UI

Press, 1993), 46.

51

Ibid..

52

Ibid..

53

Al-Mawardi (1978). Lihat juga Syamsul Anwar, “Al-Mawardi dan Teorinya Tentang Khilafah”, Jurnal
al-Jami’ah, No. 35, 1987, 24.

54

Al-Mawardi (1978), 5.

55

Hasbi Ash-Shiddiqy, Ilmu Kenegaraan dalam Fiqih Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1991), 37.

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

132

keterpaduan seluruh kehendak masyarakat yang berbeda-beda, dan membangun
negara untuk mencapai tujuan yang luhur, dan menjaga agama, melindungi jiwa serta
kehormatan warga negara. Penguasa itu adalah imam dan khalifah.
Ketiga, Keadilan yang menyeluruh sehingga wujudnya perpaduan sesama
warganegara, mewujudkan ketaatan warga terhadap pemimpin mereka. Keempat,
Keamanan yang menyeluruh. Kelima, Mewujudkan kesuburan tanah, dengan demikian
keperluan makanan rakyat akan terpenuhi. Keenam, Harapan kelangsungan hidup
secara terus menerus dari generasi ke generasi berikutnya.56
Keenam sendi negara Islam seperti yang dirumuskan al-Mawardi di atas tanpa
menyebutkan bentuk negara Islam, yang sebenarnya untuk diamalkan oleh komunitas
muslim. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa baik berdasarkan sumber awal
praktek politik Islam maupun fakta sejarah, dia memang tidak mengemukakan bentuk
pemerintahan yang terperinci yang dapat dikatakan sebagai bentuk pemerintahan
Islam.57

Namun ianya menyebutkan saja aspek-aspek kenegaraan seperti cara pemilihan
kepala negara, menteri dan aspek-aspek lainnya.58
Oleh yang demikian, ada pendapat yang mengatakan bahwa pandangan al-Mawardi
tersebut mendekati apa yang disebut dengan konsep Welfare State (negara kebaikan)
atau Social Service State (negara pelayanan masyarakat).59

Menurut Mahmud A. Faksh
dalam karyanya, al-Mawardi menggambarkan bahwa negara pada masa para sahabat
Nabi selama tiga puluh tahun yaitu Abu Bakar al-Siddiq, Umar Ibn al-Khattab, Usman
Ibn al-Affan dan Ali Ibn Abi Thalib merupakan negara yang berbentuk republik. .60
Pendapat ini didukung oleh Masykuri Abdillah yang mengatakan bahwa pada
masa al-Khulafa al-Rasyidin (11-41H./632-661M.), bentuk negara lebih tepat disebut
sebagai republik karena sistem pemilihan kepala negara dilakukan dengan cara
pemilihan atau pengangkatan oleh rakyat atau wakilnya serta berasaskan kualitas

56

Munawir Sadzali (1993), 46.

57

Ma’mun Murod al-Brebesy , Menyingkap Pemikiran Politik Gus Dur dan Amin Rais tentang Negara
(Jakarta: Raja Grafndo Persada, 1999),42-43.

58

Al-Mawardi (1978), 23. Lihat juga Donald P. Little, A New Look at Al-Ahkam al-Sulthaniyya, Journal
The Muslim World, Vol. LXIV, 1974, 1-15. Lihat juga Sri Mulyati, Islam and Development: A Politico-
Religious Response. Yokyakarta: Titian Ilahi Press, 1997, 8-15.

59

Haryatmoko, “Telaah Historis Negara Kesejahteraan”, Jurnal Tashwirul Afkar, No. 3, 1998, 9.

60

Mahmud A. Faksh, “Theories of State in Islamic Political Thought”, Journal of South Asian and
Middle Eastern Studies, Vol. VI, No. 3, 1983, 63.

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

133

individu, bukan berasaskan kriteria kekeluargaan secara turun temurun.61

Adapun
Ibn Khaldun seorang Qadhi, ia juga seorang pengikut falsafah muslim terutama Ibn
Rusyd.62

Dalam hal negara, ia membedakan antara masyarakat dan negara itu sendiri.
Menurutnya manusia mempunyai Wazi’ (wibawa) dan Mulk (kekuasaan).63

Menurut
Ibn Khaldun, negara itu muncul dari suatu masyarakat yang menetap, yang telah
membentuk peradabannya bukan lagi yang masih berpindah-pindah mengembara
seperti kehidupan di Padang Sahara.64
Berdasarkan kekuasaan, Ibn Khaldun membagi bentuk negara ke dalam dua
kelompok, yaitu: Pertama, negara yang bercirikan kekuasaan () Kedua, negara yang
bercirikan kekuasaan politik (

). Dari dua bentuk tersebut, bentuk pertama
ditandai oleh kekuasaan yang sewenang-wenang (despotisme), bersifat absolut dan
tidak mengamalkan prinsip dasar negara yaitu musyawarah sebagai sistem demokrasi.
Adapun bentuk kedua terbagi lagi ke dalam tiga jenis yaitu: Pertama, Negara hukum
(

). Kedua, Negara hukum sekuler (

). Ketiga, Negara Republik

model Plato (

).65

Dari ketiga bentuk ini, menurut Ibn Khaldun negara yang

paling baik adalah negara hukum.66
Di samping teori di atas, Ibn Khaldun menguraikan teori assabiyah. Teori tersebut,
menurut Fuad Baali, sangat dekat dengan idea Emile Durkheim yaitu kesadaran
kolektif (conscience collective).67

Menurut Fuad pula assabiyah sama dengan daulah

yang berarti negara dalam bentuk dinasti68
.

Munawir Sadzali69

menjelaskan teori ‘ashabiyah mengandung beberapa pengertian.

61

Masykuri, 99.

62

A. Syafi Maarif, Peta Bumi Intelektualisme Islam di Indonesia (Bandung: Mizan, 1993), 67. Lihat
juga buku beliau, Alquran Realitas Sosial dan Limbo Sejarah: Sebuah Refeksi (Bandung : Pustaka,
1995), 116.

63

Yudian Wahyudi, The Dynamics of Islamic Civilization. Yogyakarta: Titian Ilahi Press, 1998), 235.

64

Abdurrahman Ibn Khaldun, Muqaddimah Ibn Khaldun (Beirut: Dar al-Fikr, tt.), 56. Deliar Noer,
Pemikiran Politik di Negara Barat, Cetakan IV (Bandung: Mizan, 1998), 71.

65

Malcom H. Kerr, Islamic Reform: The Political and Legal Theories of Muhammad Abduh and Rashid
Ridha (Berkeley :University of California Press, 1966), 29.

66

Ibn Khaldun, Tarikh Ibn Khaldun (Beirut: Dar al-Fikr, 1979), 47.

67

Fuad Baali, “Assabiyah”. Artikel, The Oxford I, 1995, 140.

68

Ibid..

69

Munawir (1993), 105. Lihat juga Solomon Pines, “The Societies Providing For The Bare of Necessities
of Life According to Ibn Khaldun and The Philosophers”, Journal Studia Islamica, Vol XXXIV, 1971,

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

134

Pertama, Teori ‘ashabiyah merupakan solidaritas kelompok yang terdapat dalam fikiran
manusia. Asasnya terdapat bermacam-macam perkara: ikatan darah atau persamaan
nasab (keturunan), tempat tinggal yang dekat (tetangga) dan lain-lain.70

Kedua, Adanya
solidaritas kelompok yang kuat merupakan suatu kemestian bagi terbentuknya suatu
dinasti. Ketiga, Seorang kepala negara atau raja, mesti mampu menjaga keamanan
negara, baik gangguan dari dalam maupun dari luar. Keempat, Banyak dinasti yang
dibangun dari atau atas sebab agama akan kuat karena kekuasaan yang dimilikinya
berasaskan solidaritas.71
Untuk mencapai tujuan itu, seorang penguasa menurut falsafah politik Ibn
Khaldun, memerlukan tiga perkara. Pertama, Mengetahui tujuan dengan baik. Kedua,
Mengenal keadaan komunitas politik. Ketiga, Mengetahui cara memerintah, hal ini bisa
berdasarkan kepada pengalaman dalam menjalankan pemerintahannya. Selanjutnya
al-Ghazali merupakan ahli bidang teologi, ahli hukum, ahli tasauf yang mendapat gelar
Hujjah al-Islam.72

Menurut al-Ghazali negara bisa dibangun oleh karena dua sebab:
Pertama, Keperluan akan keturunan demi kehidupan manusia, hal itu hanya mungkin
dengan pergaulan antara laki-laki dan perempuan serta keluarga. Kedua, Saling
membantu dalam penyediaan bahan makanan, pakaian dan pendidikan anak-anak.
Oleh karena itu, menurut beliau bentuk negara dalam Islam adalah teokrasi karena
kuasa kepala negara tidak datang dari rakyat, melainkan dari Allah Swt..
Seorang pakar politik lain Ibn Taimiyah menganggap bahwa membangun suatu
negara dan pemerintahan merupakan kewajiban agama yang paling agung karena
agama tidak mungkin tegak tanpa negara dan pemerintahan. Dalam pandangan Ibn
Taimiyah, pemerintahan zaman Nabi dinamakan khilafah dan setelahnya disebut

125-138. Lihat, kamal Abdul Alawyn, “Ibn Khaldun: Agama dan kekuasaan Politik”, Ulumul Quran, Vol
II, No. 8, 1991, 82-89.

70

Ibid..

71

Abderrahmane Lhakhsasi, Ibn Khaldun dalam Sayyed Hossein Nasr dan Oliver, History of Islamic
Philosophy (London and New york: t.p., 1996), 354.

72

Gelar tersebut bukanlah gelar yang ada begitu saja. Karena memang ia seorang yang berjasa dalam
pemikiran-pemikiran, baik dalam bidang hukum, flsafat, pendidikan dan politik. Untuk lebih mengetahui
bentuk pemikiran al-Ghazali, baca Massimo Campanini, al-Ghazali dalam Hossein Nasr dan Oliver
(ed.), History of Islamic Philosophy (London: Routledge, 1996), 258-349. Muhammad Amin Abdullah,
The Idea of University of Ethical Norms in Ghazali and Kant, Angkara (Turkiye Diyanet: Vaktiyayin
Kurulu’num, 1992), 37. Osman Bakar, Hierarki Ilmu: Membangun Rangka Pikir Islamisasi Ilmu menurut
al-Farabi dan Al-Ghazali (Bandung :Mizan, 1997), 176-254. Kautsar Azhari Noer, Mengkaji Ulang Posisi
al-Ghazali dalam Sejarah Tasauf (Jakarta: Paramadina, 1999), 162-185.

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

135

dengan istilah kerajaan.Tetapi Ibn Taimiyah tetap membolehkan kerajaan dalam
istilah Khilafah.73

Dengan kata lain, bagi Ibn Taimiyah raja-raja yang berkuasa boleh
menggunakan istilah atau gelar khalifah. Oleh yang demikian Ibn Taimiyah menyokong
kewujudan negara monarki dan republik dengan syarat pemimpinnya mesti menjaga
agama dan keadilan.

Al-Farabi seorang ahli falsafah yang terkenal dengan sebutan guru kedua (al-
Mu’allim Tsani) setelah Aristotle (al-Mu’allim al-Awwal),74

menyatakan bahwa
manusia adalah makhluk sosial, makhluk yang mempunyai hasrat alamiah untuk
bermasyarakat, ia tidak mampu berbuat tanpa ada orang lain. al-Farabi dengan konsep
negara utama

(

), secara falsafah berasaskan kepada negara yang di bangun
Nabi di Madinah kecuali konsep penting al-Farabi ialah bahwa negara berbentuk
persekutuan(Colevtistic State).75
Al-Farabi menyebutkan tiga macam masyarakat yang sempurna. Pertama,
masyarakat sempurna yang utama yaitu gabungan banyak bangsa yang sepakat untuk
bergabung dan saling membantu serta bekerjasama. Kedua, masyarakat sempurna yang
sederhana yaitu masyarakat yang terdiri dari satu bangsa yang menghuni satu wilayah
dari bumi ini. Ketiga, masyarakat sempurna yang kecil yaitu masyarakat yang terdiri
dari para penghuni satu kota. Tampaknya masyarakat yang ketigalah yang dinamakan
negara utama karena ketika Nabi membangun negara hanya dalam satu kota saja yaitu
Madinah. Oleh karena itulah pemikiran al-Farabi mengarah kepada konsep negara
republik dengan alasan bahwa bentuk pemerintahan pada masa Nabi adalah republik.
Di samping tokoh-tokoh politik Islam yang telah disebutkan, pakar politik Islam
seperti Fazlur Rahman mengatakan bahwa Islam tidak pernah menjelaskan bentuk
suatu negara Islam. Namun Fazlur Rahman lebih tegas mengatakan bahwa antara
agama dan politik tidak boleh dipisahkan.76

Menurut fazlur Rahman, negara Islam

73

Ibn Taimiyah, al-Khilafah wa al-Mulk (Yordan: Maktabah al-Manar, 1998), 23-25. Bandingkan dengan
buku Ibn Taimiyah, al-Siyasah al-Syar’iyyah Fi Islah al-Ra’i wa al-Ra’iyyah (Beirut: Dar al-Kutub
al-‘Arabiyah, 1966). Baca juga Rof’ Munawwar, Siyasah Syar’iyyah: Etika Politik Islam (Surabaya:
Risalah Gusti, 1996), 54. Beberapa isi buku ini kemudian dikaji oleh Rudolph Peters, Jihad in Classical
and Modern Islam (Princeton: Markus Wiener Publishers, 1996), 43-54.

74

Mulayadhi Kartanegara, Mozaik Khazanah Islam: Bunga Rampai dari Chicago (Jakarta : Paramadina,

2000), 33.

75

Ibid..

76

Nige Biggar, Cities of God: Faith, Politics and Plurarism in Judaism, Christianity and Islam (New
York: Green wood Press, 1996), 154.

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

136

mesti dijalankan menurut prinsip-prinsip syura dan demokrasi sebagaimana
Nabi Muhammad saw.,melaksanakannya dahulu. Demikian juga bahwa kebebasan
berpendapat masyarakat mesti dianggap sebagai tugas agama.77
Jelasnya bentuk negara menurut Fazlur Rahman adalah republik dimana pemimpin
negara diangkat atas persetujuan rakyat atau wakilnya. Dalam hal ini Fazlur Rahman
merujuk kepada peristiwa pengangkatan Abu Bakar sebagai Khalifah pertama dari
al-Khulafa al-Rasyidin, dan peristiwa ini dijadikan sebagai format bentuk negara oleh
Fazlur Rahman.

Al-Maududi menjelaskan, segala kegiatan Nabi Muhammad saw., adalah sunnah
yang mengikat segala aktifitas umat Islam. Membentuk negara dalam Islam berarti
membangun sebuah negara yang berasaskan ideologi Islam. Oleh karena itu, negara
yang berasaskan ideologi Islam adalah negara yang menempatkan hukum di bawah
ketentuan Allah dan Rasul-Nya serta meletakkan kedudukan kepala negara di bawah
pengawasan Allah Swt..78

Al-Maududi menyatakan nama yang lebih sesuai untuk politik
Islam adalah kerajaan Tuhan (Kingdom of God) yang dalam bahasa politik disebut
teokrasi. Teokrasi dalam Islam berbeda dengan teokrasi yang pernah berkembang pesat
di Eropa yang kelompok pendeta mendominasikan masyarakat atas nama tuhan.79
Teokrasi Islam yang dimaksudkan oleh al-Maududi ialah pemerintahan yang bukan
dikuasai oleh kelompok keagamaan tetapi dikuasai oleh seluruh masyarakat muslim.
Al-Maududi mengistilahkannya sebagai teo-demokrasi atau demokrasi ilahi. Karena
umat Islam diberi kedaulatan yang terbatas di bawah pengawasan tuhan.80

Menurut al-
Maududi cita-cita akhir dari pemerintahan Islam adalah menyatukan seluruh negara
tanpa pembatasan menjadi sebuah negara yang satu yang tunduk dan patuh terhadap
peraturan-peraturan Ilahi. Seluruh umat Islam bernaung di bawah pimpinan yang satu
yang disebut khalifah.81

77

Fazlur Rahman, The Principle of Shura and the Role of the Ummah in Islam, baca Mumtaz Ahmad,
State Politics and Islam (Washington: American Trust Publication, 1986), 88.

78

Abu ‘Ala al-Maududi, Hukum dan Konstitusi Politik Islam. Asep Hikmat (terj.) (Bandung: Mizan,

1995), 266-267.

79

Ibid.,159.

80

Ibid., 160.

81

Ibid., 166.

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

137

Epilog

Dengan demikian lengkap sudah kajian terhadap pendapat para pakar politik Islam
tentang negara dalam Islam. Dalam uraian ini, satu hal yang perlu dicatat bahwa tidak
ada ulama yang menolak konsep negara dalam Islam. Kini yang perlu kita lakukan
adalah memikirkan kembali bagaimana bentuk negara yang sesuai dengan kehendak
umat Islam. Sebagai natijah daripada ketiadaan sistem pemerintahan khusus yang
ditinggalkan oleh Rasullullah saw., maka lahirlah berbagai pendapat dalam kalangan
pakar politik Islam. Bagaimanapun, melihat pemerintahan Islam terdapat beberapa
ciri baik yang dikemukakan oleh pakar dalam Islam maupun bukan Islam, mereka telah
menggabungkan sistem pemerintahan Islam dengan sistem-sistem lain. Sebenarnya
penggabungan konsep politik Islam dan barat adalah akibat dari lemahnya konsep
pemikiran politik yang dikemukakan oleh tokoh politik Islam sendiri.

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

138

DAFTAR PUSTAKA

A. Syafii Maarif. Peta Bumi Intelektualisme Islam di Indonesia. Bandung: Mizan, 1993.
----------. Alquran Realitas Sosial dan Limbo Sejarah: Sebuah Refleksi. Bandung : Pustaka,
1995.
Abderrahmane Lhakhsasi. Ibn Khaldun dalam Sayyed Hossein Nasr dan Oliver, History
of Islamic Philosophy.
London and New York: tp., 1996.
Abdul Azis Jastani’ah. “The Islamic State in Light of the Quran and Sunnah” (Thesis
Ph.D, Claremont Graduate School, 1982).
Abdul Karim Zaydan. Ahkam al-Dhimmiyyin wa al-Musta’minin, ed. II. Bairut: Mu’assasah
al-Risalah, 1987.
Abdul Qadim Zallum. Nidhamul Hukmi fi al-Islam, M. Maghfur W (terj.), Sistem
Pemerintahan Islam.
Jawa Timur: Izzah,2002.
Abdul Wahhab Khallaf. al-Siyasah al-Syar’iyyah. Kuwait: Dar al-Qalam, 1998.
Abdurrahman Ibn Khaldun. Muqaddimah Ibn Khaldun. Cairo: Dar al-Fikr, tt..
Abu ‘Ala al-Maududi. Khilafat wa Mulukiyat. Lahor: Idarah Tarjuman Alquran, 1975.
----------. First Prinsiples of The Islamic State. Lahore: S. H. Muhammas Ashraf, 1960.
----------. Hukum dan Konstitusi Politik Islam, Asep Hikmat (terj.). Bandung: Mizan, 1995.
----------.The Islamic Law and Constitution. Lahore: Islamic Publication Ltd, 1969.
----------.The Nature and Content of Islamic Contitutions. Lahore: Islamic Publication Ltd,

tt..
Al-Kasani. Bada’I al-Sana’i, Jilid VII. Bairut: Dar al-kutub al-Ilmiyyah, 1986.
Amiruddin Djamil. Masalah Kenegaraan dalam Islam. Jakarta: Yayasan Kesejahteraan
Bersama, tt..
Ayatullah Khomeini. Pemerintahan Islam. Razali Haji Nawawi dan Hayyun Haji Nawawi
(terj.). Kuala Lumpur: Abim, 1983.
Deliar Noer. Pemikiran Politik di Negara Barat, Cetakan IV. Bandung: Mizan, 1998.
Donald P. Little. A New Look at Al-Ahkam al-Sulthaniyya, Journal The Muslim World, Vol.
LXIV, 1974.
Dr. Teungku Hasan di Tiro. Indonesia as a Model Neo-Colony. London: The National
Liberation Front Aceh Sumatera, 1984.
Fazlur Rahman. “Implementation of the Concept of State in the Pakistani Milieu.
Islamic Studies, No. 6 September 1967, 209.
----------. The Principle of Shura and the Role of the Ummah in Islam.

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

139

----------.The Principle of Shura and the Role of the Ummah in Islam, baca Mumtaz Ahmad,
State Politics and Islam. Washington: American Trust Publication, 1986.
Fuad Baali. “Assabiyah”. Artikel, The Oxford I, 1995.
Haryatmoko. “Telaah Historis Negara Kesejahteraan, Jurnal Tashwirul Afkar, No. 3,
1998. Mahmud A. Faksh. “Theories of State in Islamic Political Thought”, Journal
of South Asian and Middle Eastern Studies
, Vol. VI, No. 3, 1983.
Hasan Muhammad Tiro. Demokrasi Untuk Indonesia. Banda Aceh: Seulawah, 1958.
Hasbi Ash-Shiddiqy. Ilmu Kenegaraan dalam Fiqih Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1991.
Ibn Khaldun. Tarikh Ibn Khaldun. Beirut: Dar al-Fikr, 1979.
Ibn Taimiyah. al-Khilafah wa al-Mulk. Jordan: Maktabah al-Manar, 1988.
----------.al-Siyasah al-Syar’iyyah Fi Islah al-Ra’i wa al-Ra’iyyah. Beirut: Dar al-Kutub al-
‘Arabiyah, 1966.
Imam al-Mawardi. al-Ahkam al-Sulthaniyah. Cairo: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1978.
Ismail Ibrahim al-Badawi. Nidhamu al-Hukm al-Islam. Kaherah: Dar al-Nahdhah al-
‘Arabiyyah, 1994.
Isywara. Pengantar Ilmu Politik. Bandung: Bina Cipta, 1980.
John J. Donohue dan John L, Esposito (ed.). Islam in Transition Muslim Perspektive. New
York: Oxford University Press, 1982.
Kamal Abdul Alawyn. “Ibn Khaldun: Agama dan kekuasaan Politik”, Ulumul Quran, Vol
II, No. 8, 1991.
Kautsar Azhari Noer. Mengkaji Ulang Posisi al-Ghazali dalam Sejarah Tasauf. Jakarta:
Paramadina, 1999.
Lukman Thaib. Politik menurut Perspektif Islam. Malaysia: Synergymate Sdn. Bhd, 2001.
M. Hasbi Amiruddin. Konsep Negara Islam menurut Fazlur Rahman. Yokjakarta: UII
Press, 2000.
Ma’mun Murod al-Brebesy. Menyingkap Pemikiran Politik Gus Dur dan Amin Rais
tentang Negara.
Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999.
Makalah pidato Teungku Hasan Tiro, Perkara dan Alasan Perjuangan Angkatan Aceh
Sumatera Merdeka di depan majelis Scandinavian, “Associatation Of Southeast
Asian Social Studies”, Goterborg, Swedia. 23 Agustus 1985, 15.
Malcom H. Kerr. Islamic Reform: The Political and Legal Theories of Muhammad Abduh
and Rashid Ridha.
Berkeley :University of California Press, 1966.
Marshall Hodgson. The Venture of Islam: Consceince and History in A World Civilization.
Chicago: University of Chicago Press, 1974.

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

140

Massimo Campanini. al-Ghazali dalam Hossein Nasr dan Oliver (ed.), History of Islamic
Philosophy.
London: Routledge, 1996.
Masykuri Abdillah. Gagasan dan Tradisi Bernegara dalam Islam: Sebuah Perspektif
Sejarah dan Demokrasi Modern”, Jurnal Tasywirul Afkar, No. 7, 2000, 102.
Muhammad Abd al-Qadir Abu Faris. al-Nidhamu al-Siyasi fi al-Islam. Aman: Dar al-
Furqan, 1986.
Muhammad Abu Zuhrah. al-’Alaqat al-Dawliyyah fi al-Islam. Kaherah: Dar al-Fikr al-
Arabi, tt..
Muhammad Amin Abdullah. The Idea of University of Ethical Norms in Ghazali and Kant,
Angkara. Turkiye Diyanet: Vaktiyayin Kurulu’num, 1992.
Muhammad Asad. The Principles of State and Government in Islam. Gibraltar: Andalusia
Publication, 1961.
Muhammad Marmaduke Picktal. The Meaning of Glorious Koran. New York: New
American Library, 1953.
Muhammad Nasir Mihna. Nadhriyah al-Daulah wa al-Nadhmu al-Siyasiyah. Iskandariah:
al-Maktab al-Jami’i al-Hadis, 1999.
Muhammad Yusuf Musa. Nidhamu al-Hukm fi al-Islam. Kaherah: Dar al-Fikr al’Arabi, tt..
Mulayadhi Kartanegara. Mozaik Khazanah Islam: Bunga Rampai dari Chicago. Jakarta:
Paramadina, 2000.
Mumtaz Ahmad. State Politics and Islam. Washington: American Trust Publication,
1986.
Munawir Sadzali. Islam dan Tata Negara: Ajaran, Sejarah dan Pemikiran, Edisi Kelima.
Jakarta: UI Press, 1993.
Nige Biggar. Cities of God: Faith, Politics and Plurarism in Judaism, Christianity and Islam.
New York: Green wood Press, 1996.
Osman Bakar. Hierarki Ilmu: Membangun Rangka Pikir Islamisasi Ilmu menurut al-
Farabi dan Al-Ghazali.
Bandung :Mizan, 1997.
Riza Sihbudi. Biografi Politik Imam Khomeini. Jakarta: Gramedia Pustaka Uatma, 1996.
Rofi’ Munawwar. Siyasah Syar’iyyah: Etika Politik Islam. Surabaya: Risalah Gusti, 1996.
Rudolph Peters. Jihad in Classical and Modern Islam. Princeton: Markus Wiener
Publishers, 1996.
Solomon Pines. “The Societies Providing For The Bare of Necessities of Life According
to Ibn Khaldun and The Philosophers, Journal Studia Islamica, Vol XXXIV, 1971.
Sri Mulyati. Islam and Development: A Politico-Religious Response. Yokyakarta: Titian
Ilahi Press, 1997.

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

141

Syamsul Anwar. “Al-Mawardi dan Teorinya Tentang Khilafah”, Jurnal al-Jami’ah, No. 35,
1987.
Wahbah al-Zuhaily. al-‘Alaqat al-Dawliyyah fi al-Islam Muqaranah bil Qanun al-Dawli
al-Hadis.
Bairut: Mu’assasah al-Risalah, 1981.
----------.al-Fiqh al-Islam wa ‘Adillatuhu, Jil. 6. Damsyik: Dar al-Fikr, 1989.
----------.al-Fiqh al-Islam Wa Adillatuh, Jilid. IX. Bairut: Dar al-Fikr, 1996.
Yudian Wahyudi. The Dynamics of Islamic Civilization. Yogyakarta: Titian Ilahi Press,
1998.
Yusuf al-Qardhawi. Fiqh al-Daulah fi al- Islam. Mesir: Dar al-Syuruk, 1997.

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH
ANTARA IMPIAN DAN KENYATAAN

Prolog

Kata idealisme berasal dari potongan kata ideal yang bermakna nilai-nilai yang satu
dengan aktif mengejar sasaran-sasaran.1

Sementara idealisme berarti keyakinan mental

dan spiritual yang dimiliki seseorang.2

Politik adalah sebuah proses oleh kelompok-
kelompok masyarakat yang membuat kesimpulan bersama. Ia digunakan untuk
keperluan pentadbiran Negara atau urusan-urusan Negara, termasuk prilaku dalam
pemerintahan sipil, ia juga diaplikasikan untuk institusi-institusi.3

Sementara Islam
merupakan sebuah agama yang terakhir diturunkan Allah kepada hamba-Nya melalui
Nabi Muhammad saw.. Ia memiliki sistem hidup, peraturan, perundang-undangan,
keyakinan, dan juga moral.4
Ketika kita gabung seluruh kata dan istilah tersebut ke dalam sebuah judul tulisan
akan mengandung nilai perjuangan yang bernuansa historis, politis, dan ideologis.
Karena ia akan bercampur antara keyakinan ideologi, ilmu pengetahuan, prilaku
politik, dan doktrin agama. Kalau kita mulai telusuri sistem politik Islam umpamanya,
ia mesti ditopang oleh tiga prinsip asal yang tiga pilar utamanya dalam landasan politik
(siyasah), yakni tauhid, risalah, dan kekhalifahan. Tanpa ketiga landasan itu maka
aktifitas politik akan terjebak untuk menghalalkan segala cara guna mencapai tujuan.5
Ketika seseorang atau sekelompok orang atau se-negara orang hendak berkomitmen
dengan idealisme politik Islam maka mereka tidak boleh lepas dari tiga poin tersebut.

Makalah ditulis oleh Hasanuddin Yusuf Adan untuk seminar Internasional, “Idealisme Politik Islam di
Aceh”, pada bulan Desember 2011. Penulis adalah dosen pada Fak. Syari’ah IAIN Ar-Raniry, Banda
Aceh. Di samping itu, penulis saat ini juga menjabat, Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh. Acara ini
diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Teungku Dirundeng, Meulaboh, bekerjasama
dengan Lembaga Kajian Agama dan Sosial (LKAS) Banda Aceh.

1

http://en.wikipedia.org/wiki/Ideal#In_philosophy

2

http://en.wikipedia.org/wiki/Idealism

3

http://en.wikipedia.org/wiki/Politics

4

http://en.wikipedia.org/wiki/Islam

5

Bengkulu Ekspres, Senin, 08 Augustus 2011

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

144

Karena poin pertama langsung berkaitan dengan ‘aqidah dan keimanan seseorang
yang berpolitik. Kalau imannya sudah bagus dan betul maka ia tidak akan terjerumus
‘kelembah hitam’. Poin risalah pula mengindikasikan kita bagaimana memformatkan
hidup ini yang selalu selaras dengan amalan Rasulullah saw., dalam bingkai Sunnah
dan jauh dari lilitan bid’ah. Sementara poin ketiga langsung memikul beban berat
sebagai seorang khalifah, kita diperintahkan Allah untuk menguasai dan memimpin
jagat raya ini menelusuri hukum-hukum-Nya dan bukan hukum-hukum lain buatan
manusia yang lemah dan baharu.
Dahulu bangsa Aceh ketika mempunyai sebuah Negara yang bernama Kerajaan
Aceh Darussalam (KAD) terkesan nilai idealisme politik Islamnya, terutama saat
menjadikan Islam sebagai falsafah Negara kerajaan dengan sumber hukumnya Alquran,
As-Sunnah, ijmak, dan qiyas.6

Ketika sebuah Negara diasaskan kepada Islam dengan
sumber hukumnya Alquran, As-Sunnah, Ijmak, dan Qiyas, maka Negara tersebut wajib
menerapkan seluruh ketentuan Islam dalam menjalankan tata kenegaraannya. Ketika
praktik ini sudah terjadi di sesuatu Negara maka idealisme Islam otomatis tumbuh dan
berakar di Negara itu. Karena Islam memiliki sistem politik, maka idealisme politik
Islam di sanapun menjadi kuat dan kokoh. Itulah yang terjadi dahulunya di Aceh ketika
raja Aceh dengan berani dan ikhlas mentadbir Negara kerajaan berdasarkan Islam.7
Berbicara idealisme politik Islam di Aceh hari ini, dalam gelombang reformasi dan
globalisasi Aceh pasca tsunami 26 Desember 2004 dan pasca MoU Helsingki 15 Agustus
2005 terasa asing dan aneh. Kenapa tidak, penghuni wilayah Aceh hari ini terdiri dari
dua kelompok besar; pertama adalah kelompok hasil didikan sistem pendidikan
Indonesia peninggalan Belanda yang hidupnya mengikut arus regulasi Indonesia, dan
kedua adalah kelompok pejuang kemerdekaan Aceh yang diasaskan Hasan Tiro yang
terakhir perjuangannya memilih sistem nasionalisme dan meninggalkan Islam.
Aceh di tangan dua kelompok manusia tersebut terasa amat sulit untuk mewujudkan
idealisme politik Islam sebagaimana di zaman sultan Iskandar Muda. Baik kelompok
pertama maupun kelompok kedua di Aceh hari ini sama-sama mempertahankan
kepentingan kelompoknya walau rakyat dan Islam menjadi korban tidak mengapa bagi

6

A. Hasjmy, Peranan Islam dalam perang Aceh dan perjuangan kemerdekaan Indonesi (Jakarta: Bulan

Bintang, 1976), 14.

7

Untuk bahan tambahan silahkan lihat Hasanuddin Yusuf Adan, Mengapa Aceh Sampai Begini?, Aceh
Ekspres, 13-19 Desember 1999.

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

145

mereka. Seandainya dua kelompok ini dengan ide nasionalismenya masing-masing
terus berkiprah di Aceh sampai masa yang tidak tertentu, maka idealisme politik Islam
Aceh berada antara impian dan harapan.
Ia menjadi impian karena bangsa Aceh hampir semuanya Muslim dan Islam yang
punya idealisme politik sendiri, lagi pula bangsa Aceh sudah pernah maju jaya dalam
implementasi idealisme politik Islam zaman silam. Kemudian ia menjadi sebuah
harapan lebih dipengaruhi oleh faktor doktrin Islam dan nilai historis keacehan yang
memegang peranan penting dalam sistem politik Islam dalam beberapa zaman dan
waktu.

Analisa sepintas menunjukkan bahwa ke depan Aceh akan menjadi sebuah wilayah
yang akrab dengan sistem politik pluralis dan globalis yang tengah berkembang di
dunia internasional hari ini. Sehingga Aceh akan tampak tidak ada beda dengan selain
Aceh. Ini dapat diukur ketika para pelaku politik Aceh hari ini dengan kepandaian dan
kelihaiannya mengabaikan sistem politik Islam dan mengagungkan sistem politik yang
anti Islam.

Kondisi seperti ini akan menjadi virus paling berbahaya bagi generasi Aceh
mendatang yang bakal mengabaikan Aceh dari ajaran dan sistem politik Islam. Sampai
hari ini belum tampak seorang tokoh dan ulama yang berusaha melawan arogansi
pemahaman politik pluralis dan globalis tersebut. Padahal umat di Aceh tengah
menanti seorang tokoh pembaharu sebagaimana yang dijanjikan Rasulullah saw., akan
datang seorang dalam seratus tahun sekali. Dimanakah tokoh semacam itu akan lahir
dan kapan ia akan muncul ke permukaan untuk memperbaiki keterpurukan suasana.8

Idealisme Islam Aceh versus idealisme politik Aceh

Idealisme Islam Aceh berawal dari masuk dan berkembangnya Islam di Peureulak
dan Samudera Pase. Ketika Islam masuk ke sana, bangsa Aceh yang menghuni wilayah
tersebut menerimanya dengan senang hati dan langsung dianut dengan sungguh dan
serius. Berdirinya kerajaan Islam Peureulak dalam tahun 225H./840M..9

Pada masa itu,
Sayyid Maulana Abdul Aziz telah meresmikan Islam sebagai agama negara kerajaan

8

Penjelasan lebih lanjut tentang kondisi ummah seperti itu dapat dibaca pada buku; M. Natis, Di bawah
Naungan Risalah (Jakarta: Abadi, 2010), 127-147.

9

M. Hasbi Amiruddin, The Response of the Ulama Dayah to the Modernization of Islamic Law in Aceh
Malaysia: Bangi, 2005), 33.

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

146

Islam Peureulak yaitu pada 1 Muharram 225H..10

Setelah peresmian tersebut beliau
langsung diangkat menjadi raja Islam pertama di Peureulak dengan gelar Sultan
Alaiddin Sayyid Maulana Abdul Azizsyah (225-249H./840H-864M.).11

Dan ditetapkan

Bandar Khalifah sebagai Ibukota Negara.12
Semenjak itu idealisme Islam Aceh terus mencuat sehingga muncul beberapa
pendidikan di sana seperti Zawiyah Buket Cebrek, Zawiyah Cot Kala,13

dan Jami’ah
Baiturrahman. Pendidikan awal inilah yang memicu lajunya perkembangan idealisme
Islam Aceh sehingga muncul kerajaan-kerajaan Islam lain seperti kerajaan Samudera
Pase dan kerajaan Aceh Darussalam. Idealisme Islam Aceh tersebut bertahan lama dan
sangat mengakar dalam kehidupan bangsa Aceh hingga hari ini, walaupun terkesan
mulai meredup namun sebagian anak bangsa masih terpikat dengan nuansa ini bahkan
menginginkan dimunculkan kembali era kini seperti dahulu.
Idealisme Islam Aceh memuncak di zaman Ali Mughayyat Syah, karena ia berhasil
mengajak bangsa Aceh untuk memerangi penjajah Portugis sehingga satu persatu
wilayah jajahan mereka dapat ditaklukkannya. Mulai dari kerajaan Daya, kerajaan
Aceh, kerajaan Pedir, kerajaan Samudera Pase, kerajaan Beunua sampai ke Aru, dan
Goa penjajah Portugis dihalau dan dikejar oleh Ali Mughayyat Syah.
Dikhabarkan bahwa kerajaan Teumieng, Pidie, Lingga, Isak, dan Daya pula telah
diurus mengikut sistem pengurusan dan politik Islam. Perkara ini terlihat dalam
pelaksanaan pengurusan Negara hampir di semua bidang dikaitkan dengan cara-cara
yang diatur dalam agama Islam. Ketika kerajaan Mojopahit di pulau Jawa menyerang
kerajaan-kerajaan di Aceh, semua raja-raja Aceh telah memberikan perlawanan yang
berarti dalam sebuah manifestasi jihad fi sabilillah, dan dengan cara ini pula mereka
berjaya mempertahankan kerajaannya masing-masing.14
Idealisme Islam Aceh tampak dengan nyata dalam kasus ini dikarenakan

10

Hasanuddin Yusuf Adan, “Konsep Mujarab Membangun Aceh”, Aceh Ekspres, Banda Aceh, 25-31

Oktober 1999.

11

Syahbuddin Razi, Dayah Cot Kala, kertas kerja pada seminar sejarah masuk dan berkembangnya Islam
di Aceh dan Nusantara, Aceh Timur 25-30 September 1980, 6

12

A. Hasjmy et al, Limapuluh Tahun Aceh Membangun (Banda Aceh: Majlis Ulama Indonesia (MUI)
Provinsi Daerah Istimewa Aceh, 1995), 3.

13

Berkenaan dengan Zawiyah Buket Cebrek dan Zawiyah Cot Kala baca; M. Junus Djamil, Silsilah
Tawarich Radja-radja Keradjaan Atjeh, diterbitkan dengan usaha adjudan djenderal Kodam I Iskandar
Muda, hal. 1.

14

Ibid., 18-32.

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

147

perjuangan bangsa Aceh murni mempertahankan dan meninggikan agama Islam
beserta ajaran-ajarannya. Komitmen keislaman dan idealisme Islam Aceh semacam itu
terus membaur sampai kepada masa sultan Iskandar Muda, Teungku Chik Ditiro dan
Teungku Muhammad Dawud Beureu-éh dengan sungguh-sungguh memimpin jihad
perang di jalan Allah. Idealisme Islam Aceh pada zaman itu memang sangat luar biasa,
karena semua mereka bukan sekedar memahami Islam dan ajarannya, tetapi mereka
memahami dan cinta Islam.
Di zaman ini, setelah Aceh menjadi bahagian daripada Indonesia semenjak Indonesia
merdeka 17 Agustus 1945, semangat keislaman dan idealisme Islam Aceh menurun
total. Itu terjadi karena Indonesia walaupun sudah merdeka dari penjajahan Belanda,
hukum peninggalan Belanda tetap dikukuhkan dan diterapkan. Sistem pendidikan
sekuler peninggalan Belanda juga diteruskan hingga hari ini. Yang lebih bahaya lagi
adanya istilah sistem, politik Plah Trieng (politik belah bambu) yang diwariskan
Belanda masih terus dipraktikkan para politikus Indonesia bahkan sistem itu telah
menjalar ke Aceh.

Bagi Aceh, sistem politik Plah Trieng itu sangat berpengaruh terhadap pudarnya
idealisme Islam di Aceh yang sudah lama dibina. Dalam kondisi Aceh yang serba
menggantungkan diri kepada Jakarta hari ini Idealisme Islam Aceh sulit bangkit kembali
kecuali hari ini Aceh mampu meninggalkan sistem pentakbiran politik nasional dan
politik non Islam. Pembenahan dapat dimulai dari jalur pendidikan dengan merubah
prilaku, devide et impera hingga terwujudnya Aceh yang mandiri.
Dari idealisme Islam Aceh kita beralih ke idealisme politik Aceh. Sebelum Aceh
menjadi bagian dari Indonesia, bangsa Aceh tidak terlalu terikat dengan politik atau
partai politik karena dahulu Negara bersistem kerajaan dan tidak memiliki partai
politik. Tetapi politik Aceh di zaman kerajaan dahulu mampu berkiprah sehingga
keluar negeri. Raja Aceh dahulu berhasil bermitra dengan Turki sehingga terjadi saling
membantu dalam konteks politik Islam.
Namun politik Aceh yang mencuat hari ini bukan hanya tidak berhubungan dengan
Negara luar tetapi juga gagal mewujudkan sistem politik yang Islami. Pada masa
penjajahan, para pejuang, raja, dan ulama masih mengenakan baju politik Aceh yang
Islami, seperti halnya yang diamalkan Teungku Chik Ditiro ketika disurati Belanda agar
turun gunung dan menyerah kepada penjajah Belanda, beliau membalas surat tersebut
dengan kandungannya, “Silahkan kifir-kafir Belanda masuk Islam terlebih dahulu

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

148

semuanya, kemudian saya dan pengikut saya semuanya akan turun dari gunung dan
kita dapat hidup bersama di bumi Aceh dalam ikatan persaudaraan Islam. Kita boleh
menikmati hasil alam Aceh yang melimpah ruah sepuasnya, tetapi kalau kafir-kafir
Belanda tidak mau masuk Islam maka jangan coba-coba menyuruh saya berhenti dari
perjuangan suci ini.”15

Pada masa kepemimpinan Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) yang diketuai
Teungku Muhammad Dawud Beureu-éh, halatuju politik Aceh masih sangat Islami,
sehingga beliau berontak melawan kedhaliman Jakarta di bawah kepemimpinan
Soekarno saat itu, dengan wadah Islam yang berazaskan Islam (DI/TII). Sampai-
sampai ketika Hasan Tiro menyambung pemberontakan yang pernah diazaskannya
masih juga mewasiatkan untuk menggunakan kenderaan Islam dalam perjuangan.
Namun apa yang hendak dikata, dipenghujung pemberontakan Gerakan Aceh
Merdeka yang dicetuskan dan dipimpin Hasan Tiro, ideologi Islam bertukar dengan
sistem nasionalisme, sebuah jalan pertukaran asas perjuangan yang amat mengerikan.
Hasilnya, hampir semua pejuang kemerdekaan Aceh dalam bingkai Gerakan Aceh
Merdeka dari kalangan generasi muda tidak senang dengan nama dan embel-embel
Islam. Mereka berpolitik dengan partai politik lokal (Partai Aceh) tidak bersandar
kepada Islam, hujjah mereka; kita dari endatu sudah Islam, tidak perlu meletakkan
Islam pada azas partai nanti tidak dibantu oleh PBB, Amerika, dan Uni Eropa.
Partai politik lokal yang mendominasi kursi di DPRA dan sejumlah DPRK di Aceh
hari ini mulai ngaur dengan politik Aceh dan politik Islam Aceh. Mereka dalam
berpolitik semuanya merujuk kepada Eropa dan Amerika, bukannya kepada Allah
ta’ala yang menghidupkan dan memberi makan mereka. Sebuah sikap dan prilaku
politik Aceh yang salah kaprah dan salah langkah. Prihal ini akan berefek jauh ke depan
dalam kehidupan anak bangsa kita. Sesungguhnya kita sangat tidak senang ketika
orang-orang Islam di dunia menyatakan bahwa yang mengsekulerkan Turki adalah
Mustafa Kamal Attaturk, yang mensekulerkan Mesir adalah Gamal Abdel Nasser, yang
mensekulerkan Indonesia adalah Soekarno. Tapi kita sangat takut kalau suatu masa
nanti orang-orang di dunia ini menyimpulkan bahwa yang mensekulerkan Aceh adalah
si-polan atau si-pulen.

Edward Aspinall dalam tulisannya berjudul, “Dari Islamisme untuk Nasionalisme di
Aceh, Indonesia,” menguraikan bagaimana hebatnya pertukaran ideologi perjuangan

15

Lihat Teuku Alfan dalam buku, Jihad di jalan Allah.

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

149

dari Darul Islam/Tentera Islam Indonesia (DI./TII.) yang dipimpin Teungku Muhammad
Dawud Beureu-éh (TMDB) ke perjuangan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang dipimpin
Hasan Tiro. TMDB menginginkan Indonesia yang betul-betul Islami lewat gerakan DI./
TII., Hasan Tiro menginginkan Aceh yang nasionalis lewat perjuangan GAM.
Selanjunya, klaim GAM yang mirip dengan gerakan separatis nasionalis di mana-
mana. Aceh memiliki hak asasi untuk merdeka berdasarkan sejarah yang mulia,
identitas yang berbeda dari orang-orangnya, dan kedaulatan bersejarah. Wacana GAM
diliputi dengan referensi Islam, tetapi para pemimpinnya mencoba untuk jarak dari
asal gerakan Islam tersebut. Mereka menyangkal bahwa mereka memiliki hubungan
dengan kelompok jihad global, kata mereka tidak mencari sebuah negara Islam, dan
menyerang saingan Islam.16

Dari wacana-wacana seperti inilah kemudian mereka
mewujudkan partai politik lokal yang enggan menggunakan Islam sebagai dasar dan
landasan berpijak.

Hasil dari perubahan keyakinan ideologi Islam kepada nasionalisme di Aceh hari ini
sudah sangat nyata dan sangat merugikan Muslim Aceh secara keseluruhan. DPRA lama
yang telah mensahkan qanun jinayah dan qanun acara jinyah pada tanggal 14 September
2009 sudah menampakkan niat Islam-nya untuk Aceh. Namun Gubernur Aceh waktu
itu, Ir. Irwandi Yusuf sebagai produk GAM, menolak dan tidak mau menandatanganinya.
Kalau qanun ini belum ditandatangani, akan dikhawatirkan ke depan orang Aceh akan
menjadi Mesir seperti yang pernah terjadi pada masa kepemimpinan Gamal Abdel
Nasser, Turki di bawah kepemimpinan Mustafa Kamal Attaturk dan Indonesia yang
dipimpin Soekarno/Soeharto yang penuh nuansa sekularis/nasionalis. Idealisme
politik non Islam di Aceh terutama sekali yang sedang berlaku hari ini bukan hanya
merugikan Islam dan ummat Islam Aceh, tetapi akan merugikan Islam dan ummat
Islam dunia secara menyeluruh. Kenapa tidak, upaya nasionalisasi, sekularisasi,
pluralisasi, dan globalisasi yang sedang giat dilakukan Negara-negara adidaya lewat
raga HAM, demokrasi dan gender hari ini hanya bertahan di Aceh. Ketika Aceh takluk
lewat prilaku politik partai politik Aceh yang phobi Islam, maka semisal pucuk dicinta
ulampun tiba bagi mereka yang tengah menguasai dunia hari ini. Kondisi semacam ini
tidak semua orang memahaminya.

16

http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://geocities.ws/bouviersmith/bin/

acehnatis.doc

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

150

Epilog

Idealisme Islam Aceh yang berabad-abad dipertahankan para endatu dahulu hanya
dapat dirubah oleh pelaku politik sekuler dalam masa dua atau tiga puluh tahun
sahaja. Ini membahayakan generasi Aceh dan bumi Aceh ke depan, karenanya semua
pihak yang, masih memahami hakikat sebuah ‘aqidah Islamiyah bertanggung jawab
untuk mengembalikan sistem politik Aceh kepada sistem politik Islam. Takut karena
tidak mendapatkan bantuan dari manusia dan Negara lain, membiarkan bantuan Allah
yang pasti, benar, di dunia dan di akhirat. Kalau bantuan itu hanya sekedar materi biasa
untuk keperluan hidup sesaat di dunia seperti uang, kuasa, jabatan, dan semisalnya
belum terlalu fatal. Tetapi kalau sekedar menerima bantuan dalam bentuk Euro atau
Dolar dengan menolak Syurga Allah, itu sudah celaka jadinya. Bagaimana memahamkan
mereka akan hakikat tauhid, iman, ‘aqidah, dan ideology dalam kehidupan seorang
Muslim agar mereka berpolitik dengan sistem Islam, mengurus Negara atas dasar
perintah Islam, berteman dengan semua rakyat juga atas dasar persaudaraan sesame
Muslim.

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

151

DAFTAR PUSTAKA

A. Hasjmy, (ed.). 50 tahun Aceh Membangun. Banda Aceh: MUI provinsi Daerah
Istimewa Aceh, 1995.
A. Hasjmy et al.. Limapuluh Tahun Aceh Membangun. Banda Aceh, Majlis Ulama
Indonesia (MUI) Provinsi Daerah Istimewa Aceh, 1995.
---------. Peranan Islam dalam perang Aceh dan perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Jakarta, Bulan Bintang, 1976.
Bengkulu Ekspres, Senin, 08 Augustus 2011.
Hasanuddin Yusuf Adan. Mengapa Aceh Sampai Begini?, Aceh Ekspres, 13-19 Desember
1999.
---------. “Konsep Mujarab Membangun Aceh”, Aceh Ekspres, Banda Aceh, 25-31 Oktober
1999.
---------. Politik dan tamaddun Aceh. Banda Aceh: Adnin Foundation Aceh, 2006.
http://en.wikipedia.org/wiki/Ideal#In_philosophy
http://en.wikipedia.org/wiki/Idealism
http://en.wikipedia.org/wiki/Islam
http://en.wikipedia.org/wiki/Politics
http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://geocities.ws/
bouviersmith/bin/acehnatis.doc
M. Hasbi Amiruddin. The Response of the Ulama Dayah to the Modernization of Islamic
Law in Aceh
. Malaysia: Bangi, 2005.
M. Junus Djamil. Silsilah Tawarich Radja-radja Keradjaan Atjeh.
M. Natis. Di bawah Naungan Risalah. Jakarta: Abadi, 2010.
Syahbuddin Razi. Dayah Cot Kala, kertas kerja pada seminar sejarah masuk dan
berkembangnya Islam di Aceh dan Nusantara, Aceh Timur 25-30 September
1980.
Teuku Alfian. Jihad di jalan Allah.

SISTEM PEMILU DALAM SEJARAH ISLAM

Sebuah Pantulan terhadap Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006
tentang Pemerintahan Aceh1

Prolog

Baik buruknya sebuah Negara sangat tergantung siapa yang memimpin Negara
tersebut, karena pimimpin merupakan pantulan bayangan rakyat yang dipimpin.
Jika Negara dipimpin oleh orang yang kapabel, rakyat akan menikmati kemakmuran,
kedamaian, dan kesejahteraan. Namun sebaliknya, jika pemimpin yang tidak kapabel
maka rakyat tidak menikmati kemakmuran dan sejahteraan.
Mendapatkan pemimpin yang kapabel tidaklah mudah, tetapi butuh proses dan
melalui tahapan-tahapan. Namun begitu, penentuan kriteria pada seorang pemimpin
bukanlah tahap akhir dari proses menuju tahta kepemimpinan, calon pemimpin
dengan kriteria yang baik harus dipilih dengan cara-cara transparan. Karena pemilihan
itu berefek pada perolehan hasil yang jujur, adil, dan bersih sehingga memberikan
legitimasi yang kuat bagi pemimpin dalam menjalankan roda pemerintahan.
Fenomena seringnya terjadi kisruh Pemilukada akhir-akhir ini yang tak jarang
berujung pada perselisihan, saling serang, pengrusakan asset public, terror, saling
mengancam bahkan ada yang berujung di meja hijau, jeruji besi maupun liang kubur.
Mungkin, berangkat dari asumsi ini maka lewat tulisan ini penulis mencoba mengulang
kaji sistem pemilu dalam sejarah umat Islam dan kriteria seorang pemimpin ideal
dengan menjadikan syarat imam dalam shalat dan sifat-sifat Rasulullah sebagai a rule
model. Di samping itu tulisan ini juga mengeksplor kriteria-kriteria seorang pemimpin
yang dibuat oleh fuqaha dan kesesuaiannya dengan yang tertulis dalam Undang-
Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh serta Undang-undang
Dasar 1945.

1

Makalah ditulis oleh Muhammad Suhaili Sufyan, Lc, MA untuk seminar Internasional, “Idealisme
Politik Islam di Aceh”, pada bulan Desember 2011. Penulis adalah dosen Sekolah Tinggi Agama Islam
Negeri (STAIN) Zawiyah Cot Kala, Kota Langsa, Aceh-Indonesia. Acara ini diselenggarakan oleh
Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Teungku Dirundeng, Meulaboh, bekerjasama dengan Lembaga
Kajian Agama dan Sosial (LKAS) Banda Aceh.

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

154

Pemimpin ideal
Idealnya, pemimpin yang dipilih oleh umat Islam adalah yang sama ataupun mendekati
leadershipnya Nabi Muhammad saw.. Memperhatikan kekurangan dan kelebihan
masyarakat dewasa ini, muuncul persoalan, apakah masyarakat hari ini mampu
melahirkan seorang pemimpin se-agung dan se-hebat itu?. Ada yang menganggap
ini suatu utopia, namun, menghadirkan pemimpin yang berkualitas bukan suatu hal
yang mustahil. Dalam kondisi dan keterbatasan umat inilah semua yang terlibat dalam
menentukan arah masa depan bangsa seharusnya tidak mengenyampingkan nilai-nilai
kepemimpinan yang ditetapkan oleh Islam.
Dalam konteks ini, keutamaan harus difokuskan untuk mensukseskan proses
pemilihan pemimpin yang sama ataupun paling tidak mendekati ciri penting
kepemimpinan Rasulullah saw.. Ciri khas Rasulullah baik sebagai Rasulullah atau
sebagai sosok pemimpin adalah selalu bersifat Siddiq (terpercaya/trust), amanah
(jujur/akuntabel), tabligh (komunikatif dengan rakyat secara transparan) dan fatanah
(bijaksana/wisdom).

Ciri-ciri pemimpin umat ini juga dapat dijabarkan dengan variable lain seperti adil,
bersih, memiliki kemampuan intelektualitas, berwibawa, ikhlas, memiliki integritas,
terbuka, berpandangan jauh ke depan dan dapat mengayomi.
Pemimpin yang jujur dan dapat dipecayai, komunikatif dengan rakyat, transparan
dalam menjalankan pemerintahan, akuntabel dalam mengelola keuangan serta harta
kekayaan Negara, bijaksana dalam memahami persoalan masyarakat, adalah terjemahan
bebas dari sifat-sifat dan ciri-ciri Rasulullah yang diharapkan ada pada sosok pemimpin
ideal. Lebih dekat lagi bila dilihat dalam praktik ibadah mahdah, ciri pemimpin ideal
identik dengan syarat-syarat imam dalam shalat berjama’ah. Di antara syarat seorang
imam haruslah yang paling fasih bacaannya,2

yang disukai oleh makmum, artinya

pemimpin harus merupakan representatif terbaik dari suatu jama’ah.
Hubungan dan posisi antara imam dan makmum juga begitu jelas disebutkan dalam
syarat-syarat berjama’ah. Positioning merupakan salah satu syarat sahnya jama’ah,
dimana makmum tidak boleh berdiri melewati imam, tidak boleh melakukan gerakan
mendahului imam,3

ini menunjukkan posisi imam adalah sebagai pemimpin dan
makmum adalah yang dipimpin, garis demokrasi antara keduanya sangat jelas. Apabila

2

Muhammad Syarbainy al-Khatib, al-Iqna’f Hilli alfadh Abi Suja’ (Beirut: Dar al-Fikr, 1995), 167.

3

Ibid., 65.

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

155

imam salah, makmum berhak menggunakan hak konstitusinya untuk menegur, dan
caranyapun diatur sedemikian rupa, imampun apabila lupa dapat menebus dengan
sujud sahwi. Sistem yang sangat teratur dalam ibadah menunjukkan bagaimana
dinamisnya hubungan antara imam dan makmum dan itulah yang diharapkan dapat
terwujud dalam kehidupan berNegara.

Kriteria pemimpin

Menurut pemikir politik Islam ada beberapa syarat4

yang mesti dipenuhi oleh seorang

calon pemimpin sebelum dipilih, antara lain:

1. Kelayakan undang-undang
Seorang yang memiliki kelayakan konstitusional adalah yang memiliki kuasa
penuh (wilayah tammah) atas dirinya. Kriteria wilayah tammah adalah beragama
Islam, merdeka, lelaki, sampai umur (baligh) dan berakal.5

Syarat ini memberikan
sinyal bahwa seorang pemimpin adalah seorang yang tidak sedang terbatasi hak-hak
konstitusionalnya secara personal dan bebas untuk melakukan perbuatan serta dapat
mempertanggungjawajabkan dihadapan hukum. Dalam sistem demokrasi, hal ini sering
menggunakan istilah, calon tidak sedang menjalani hukuman atau dalam proses hukum.
Bila dilihat dalam UU No. 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, Pasal 67 ayat
(2) poin (g) disebutkan, seorang calon, “Tidak pernah dijatuhi pidana penjara karena
melakukan kejahatan yang diancam dengan hukuman penjara minimal 5 (lima) tahun
berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekutan hukum tetap, kecuali
tindak pidana makar atau politik yang telah mendapat amnesty/rehabilitasi.”6

Poin (h)

4

Syekh Mahdi Syamsuddin berpendapat: Ada dua kategori syarat calon ketua Negara menurut ulama
ahl-Sunnah. Pertama, Awlawiyah (syarat keutamaan). Kedua, Thanawiyah (kesempurnaan). Pembagian
ini untuk memudahkan dalam penjaringan calon dan tidak menunjukkan syarat pertama lebih penting
dari yang kedua. Kedua syarat ini memiliki tahap kepentingan yang sama bagi calon kepala Negara.
Contoh, Setiap calon ketua Negara mesti beragama Islam (sebagai syarat awlawiah), dengan demikian
maka al-‘Adalah adalah syarat Thanawiyah. Sebelum menyelidiki mengenai al-‘Adalah terlebih dahulu
yang patut diselidiki adalah mengenai keIslamannya. Syekh Muhammad Mahdi Syamsuddin, Nizam al-
Hukm Wa al-Idarah f al-Islam, Cet. 3 (Iran: Dar al-Thaqafah, 1992), 137. Pakar politik Islam yang lain
tidak membedakan antara syarat-syarat kelayakan ini.

5

Wahbah al-Zuhayli, al-Fiqh al-Islami Wa Adillatuh, Cet. 3 (Dimasyq: Dar al-Fikr, 1989), 693.

6

Biro Hukum dan Humas Setda Provinsi NAD (2009), Undang-Undang Republik Indonesia Nomor
11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, edisi kedua, Banda Aceh: Biro Hukum dan Humas Setda
Provinsi Aceh bekerjasama dengan GTZ Is ALGAP II, 99-100.

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

156

pasal yang sama juga menyebutkan, seorang calon, “Tidak sedang dicabut hak pilihnya
berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.”7
Mengenai agama calon, Undang-Undang Pemerintahan Aceh poin (b) pasal 67 ayat
(2) tidak mensyaratkan secara terang mengenai kemestian seorang calon pemimpin
Aceh harus beragama Islam, hanya mencantumkan “menjalankan syariat agamanya”8
.
Mengenai umur, standar yang dibolehkan oleh para fuqaha adalah standar baligh,
dalam UU PA umur dibatasi sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) tahun.

2. Al-‘Adalah
Maksudnya, adil melaksanakan segala perintah agama yang wajib dan selalu
menjauhkan diri dari melakukan dosa besar, tidak selalu mengerjakan dosa kecil, dan
memiliki tahap kematangan emosional tertentu.9

Dengan kata lain ia adalah seorang
yang bermoral, menjaga marwah/wibawa dari segala hal yang tidak baik dan memiliki
personalitas yang baik.
Dalam perspektif demokrasi, moral calon kepala Negara biasanya dibuktikan
dengan pengesahan pihak polisi ataupun mahkamah yang menyatakan seorang calon
tidak pernah terlibat tindakan kriminalitas. Bila dilihat dalam UU PA, hal ini diakomodir
secara jelas dalam poin (i) dimana disebutkan bahwa calon, “Tidak pernah melakukan
perbuatan tercela.”10

Personalitas yang baik juga dapat dibuktikan dengan membuka
kepada publik kekayaan yang dimiliki sebelum menjabat dan setelah menjabat,
dalam UU PA pasal 67 ayat (2) poin (k) disebutkan bahwa calon, “Menyerahkan daftar
kekayaan pribadi dan bersedia untuk diumumkan”, hal senada juga diisyaratkan dalam
poin (m) pasal yang sama.11

3. Kelayakan ilmiah
Seorang pemimpin selayaknya orang berilmu walaupun tidak memiliki kualifikasi
kesarjanaan yang tinggi secara pendidikan formal. Kelayakan ilmiah lebih melihat

7

Ibid..

8

Ibid..

9

Muhammad ‘Abd al-Qadir Abu Faris, al-Nizam al-Siyasi f al-Islam (‘Omman: Dar al-Furqan. 1986),

186.

10

Biro hukum…,100

11

Ibid..

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

157

kepada kemampuan untuk menghadapi segala permasalahan serta perkembangan
yang muncul dan terus berkembang dalam kehidupan berNegara.12

Dalam UU PA pasal
67 ayat (2) poin (d) disebutkan, calon, “Berpendidikan sekurang-kurangnya sekolah
lanjutan tingkat atas atau yang sederajat.”13

4. Memiliki kemampuan dalam bidang politik, pertahanan dan administrasi
Seorang pemimpin adalah orang yang mengenal daerah, masyarakat dan budayanya,
demikian juga dikenal oleh pemilihnya. Jika dilihat dalam UU PA, hal ini diakomodir
secara sangat baik dan terang dalam pasal 67 ayat (2) poin (j) “mengenal daerahnya
dan dikenal oleh masyarakat didaerahnya.” Sebagai bukti seorang calon pemimpin
dikenal oleh calon rakyatnya dibuktikan dengan dukungan yang ia peroleh minimal 3%
dari jumlah penduduk yang tersebar di sekurang-kurangnta 50% dari jumlah wilayah
yang akan dipimpinnya, sebagaimana termaktub dalam pasal 68 ayat (1) dan (2).

5. Memiliki kelayakan jasmani
Maksudnya, seorang calon pemimpin tidak mengalami cacat tubuh yang dapat
menghalanginya dalam menjalankan pemerintahan seperti gila, buta, tuli, hilang
kedua-dua tangan dan kedua kaki.14
Undang-Undang No. 11 Tahun 2006 secara jelas menyebutkan seorang calon
pemimpin harus dalam keadaan sehat jasmani dan rohani sebagaimana termaktub
dalam poin (f) pasal 67 ayat (2) “sehat jasmani, rohani, dan bebas narkoba berdasarkan
hasil pemeriksaan kesehatan menyeluruh dari tim dokter.”15

Dalam perspektif
demokrasi Indonesia dalam Pemilu tahun 2004 mensyaratkan calon ketua Negara
tidak dalam keadaan cacat anggota badan. Sebagaimana disebutkan dalam pasal enam
ayat satu undang-undang Dasar Repulik Indonesia.16

12

Abi al-Hasan ibn Muhammad ibn Habib al-Basri al-Baghdadi al-Mawardi al-Ahkam al-Sultaniyyah wa
al-Wilayat al-Diniyyah
(Beirut: al-Maktab al-Islami, 1996), 15.

13

Biro Hukum…, 99.

14

Ibid..

15

Ibid..

16

Pasal 6 (1), Undang-undang Dasar Republik Indonesia menyatakan: Calon Presiden dan calon
Wakil Presiden harus seorang warga Negara Indonesia sejak kelahirannya dan tidak pernah menerima
kewargaNegaraan lain karena kehendaknya sendiri, tidak pernah mengkhianati Negara, serta mampu
secara rohani dan jasmani untuk melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai Presiden dan Wakil Presiden.

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

158

6. Berketurunan Quraisy
Syarat terakhir ini merupakan syarat yang masih diperdebatkan sampai

sekarang.17

Memang ada beberapa hadits yang dipegang oleh ulama ketika menjustifikasi
seorang pemimpin harus dari golongan quraisy, akan tetapi kalau dilihat nash-nash
yang lain maka dapat disimpulkan bahwa yang sesuai untuk memimpin adalah orang
yang paling baik dan paling mampu tanpa melihat latar belakang suku ataupun ras
tertentu. Islam sendiri menentukan barometer kebaikan dan keburukan hanya dengan
taqwa, orang yang paling baik adalah yang paling bertaqwa tanpa melihat asal daerah
apalagi suku dan ras (QS. Al-Hujurat(49): 13).
Dari syarat-syarat di atas dapat diketahui, menurut slam tidak boleh memilih orang
yang tidak beragama Islam, anak-anak yang belum baligh, orang tidak waras, orang di
bawah kekuasaan pihak lain sebagai pemimpin. Demikian juga tidak boleh memilih
orang fasiq, tidak berilmu, tidak memiliki kemampuan dalam masalah pemerintahan
dan orang yang cacat anggota untuk dijadikan sebagai pemimpin suatu Negara.
Semua hal ini, ruh-nya diakomodir dengan baik dalam UU PA walaupun ada sebagian
yang disebutkan secara terang-terangan dan sebagian yang lain masih belum begitu
terang.

Dengan kata lain, seorang pemimpin Negara adalah manusia yang memiliki kelebihan
dari segi kepribadian, keilmuan dan kepimimpinan serta diberikan kepercayaan oleh
rakyat untuk mengemban pelaksanaan amanah roda pemerintahan Negara.
Dalam sistem demokrasi, pemimpin Negara adalah manusia yang telah memenuhi
syarat kelayakan untuk dipilih dan mendapat suara terbanyak dalam pemilihan umum
(pemilihan langsung) ataupun melalui anggota parlemen (pemilihan tidak langsung)
mengikut aturan perundang-undangan.
Islam tidak memberikan apalagi mendikte pemeluknya untuk menganut cara-cara
tertentu yang dapat dianggap sebagai mekanisme baku dalam memilih pemimpin.
Mekanisme pemilihan pemimpin dalam Islam lebih melihat pada keperluan dan
perkembangan politik masa kini (present politic situation) dan berpandukan kepada
maqasid syari’ah.

17

Ulama-ulama yang mensyaratkan ketua Negara mesti berketurunan Quraisy adalah: Al-Mawardi, al-
Nawawy, al-Ijy, dan al-Tiftazani. Sedangkan ulama yang tidak mensyaratkan nasab Quraisy adalah Abu
Bakr al-Baqilani serta penulis-penulis kontemporer seperti doktor Tawfq al-Wa’i, ‘Abdul Qadir Abu
Faris.

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

159

Fit and propert test

Semua syarat normatif yang disebutkan di atas harus dapat dibuktikan secara aktual
dan konkrit oleh seorang calon pemimpin melalui uji kelayakan dengan standard
kepiawaian tertentu, atau sekarang dikenal dengan fit and propert test.
Melihat peristiwa yang terjadi pada masa Rasulullah, konsep fit and propert test
telah dipraktikkan oleh Rasulullah, walaupun pada waktu itu tidak dinamakan
demikian, ketika menguji Mu’az bin Jabal dengan beberapa pertanyaan essential
sebelum diberikan amanah sebagai pimpinan wilayah Yaman. Hal ini ditulis dalam
sebuah hadis yang cukup masyhur dikalangan fuqaha’ dan ahli ushul fiqh dengan hadis
Mu’az. Rasulullah menanyakan kepada Mu’az tentang tata cara memutuskan segala
perkara yang akan dihadapi berdasarkan dinamika yang akan terjadi di Yaman.
Berbicara masalah kriteria seorang pemimpin dari perspektif Islam, tidak
boleh menafikan prinsip dasar kepemimpinan dalam Islam. Pada prinsipnya Islam
melihat semua manusia adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban
di hari akhirat terhadap apa yang ia pimpin. Bukan itu saja, malah manusia akan
dimintai pertanggung jawaban mengenai siapa yang mereka pilih dan dijadikan
sebagai pemimpin. Alquran menjelaskan, Musa menjawab: “Mudah-mudahan Allah
membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi(Nya), Maka Allah
akan melihat bagaimana perbuatanmu. (QS, Al-‘Araaf (7): 129). Ayat ini juga sejalan
dengan hadis Rasulullah, “Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan
diminta pertanggung jawaban mengenai apa yang dipimpinnya.”

Sistem pemilihan pemimpin dalam sejarah Islam

Dalam sejarah perpolitikan umat Islam18

telah mengenal beberapa cara pengangkatan

kepala Negara antara lain:

Pertama: Penunjukan nash
Pendapat ini diyakini oleh kelompok Syi’ah Imamiyah. Mereka berpendapat bahwa

18

Ajaran Islam dan sejarah Islam adalah dua hal yang berbeda, oleh itu dalam hal ini penulis menyebut
“dalam sejarah perpolitikan umat Islam”, apa yang pernah berlaku di zaman silam yang tidak berasaskan
kepada nash syar’i bukanlah suatu kewajiban untuk diikuti. Menganggap apa yang pernah dipraktikkan
oleh orang-orang terdahulu sebagai suatu metode Islam adalah hal yang kurang tepat. Akan tetapi apa
yang telah dipraktikkan oleh orang terdahulu merupakan interpretasi mereka keatas nash syari’at Islam
mengikut perkembangan semasa dan apabila ianya sesuai dengan nash syar’i dapat diikuti.

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

160

Allah wajib untuk memilih dan menentukan seorang pemimpin (imam) melalui nash
(keterangan agama)
yang jelas. Hal ini untuk membuktikan adanya kasih sayang Allah.
Penentuan Allah ini, wajib disampaikan oleh Rasul, mereka mendakwa hal ini telah
berlaku pada waktu Rasulullah saw., menentukan Ali sebagai penggantinya.19

Namun
pada hakikatnya Rasulullah tidak pernah menunjuk Ali karramallahu wajhahu sebagai
pengganti beliau.

Dalam masalah ini sekte syi’ah juga berpendapat, perdebatan dan perselisihan
mengenai masalah ini dianggap selesai setelah imam yang mereka anggap ma’sum
(tanpa dosa) tidak lagi dijumpai. Mereka juga berpendapat masalah pelantikan kepala
Negara berpindah dari masalah memilih imam yang ma’sum kepada pemilihan salah
seorang mujtahid dari kelompok mereka untuk menjadi pengganti imam yang telah
hilang. Mengikut pemahaman Syi’ah imamiyah peristiwa ini telah berlaku semenjak
abad ke tiga hijrah sampai sekarang. Sedangkan sekte Sy’iah Zaidiyah turut mengakui
kepemimpinan Abu Bakar ra., dan Umar ra.. Hal ini bermakna mereka juga mengakui
pengangkatan kedua khalifah umat Islam pertama dengan sistim pemilihan dan bai’ah.
Kelompok Syi’ah Zaidiyah juga berpendapat bahwa imamah adalah berasaskan Syura,
namun syura yang mereka maksudkan adalah syura yang khusus diantara seluruh
keturunan Fathimah Binti Rasulillah saja. Pendapat ini secara terang mengakui adanya
syura walaupun dalam ruang lingkup yang lebih kecil; kelompok mereka sendiri.20

Kedua: Pemilihan dan bai’ah (intikhab/election by the people)
Dalam sejarah pemerintahan Islam pemilihan pemimpin secara intikhab dan
dibai’ah telah dipraktekkan dalam proses pemilihan khalifah pertama, Abu Bakar Al-
Siddiq, dan pengangkatan khalifah ke empat Ali bin Abi Thalib.
Melirik sejarah wafatnya Rasulullah, sebelum beliau dimakamkan wakil-wakil
golongan Ansar dan Muhajirin berkumpul di sebuah tempat yang diberi nama dengan
Tsaqifah Bani Sa’idah untuk membicarakan pengganti Rasulullah saw., sebagai

19

Wahbah al-Zuhayli, al-Fiqh…,674.

20

Dhiauddin Muhammad Rais, Teori Politik Islam, Abdul Hayyi Al Kattani dkk., (terj.), (Jakarta: Gema
Insani Press, 2001), 166.; Isma’il al-Badawi (1994), Nizam al-Hukm al-Islami Muqarinan bil Nuzum al-
Siyasiah al-Mu’asirah
(Kaherah: Dar al-Nahdah al-‘Arabiah, 1994), 38-41; Mustafa al-Syak’ah (1996),
Islam Bila Madahib, Cet. 11 (Kaherah: al-Dar al-Misriyah al-Lubnaniah, 1996), 200-205.; Fathi Othman,
The Contract For The Appointment of The Head of An Islamic State dalam State Politics and Islam,
Mumtaz Ahmad (ed.) (Riyadh Saudi Arabia: American Trust Publication, tt.), 53.

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

161

pemimpin Umat Islam. Dalam musyawarah tersebut Abu Bakar terpilih sebagai
khalifah setelah terjadi suatu dialog dan pembahasan yang sangat hebat antara kaum
Ansar dan Muhajirin untuk menentukan siapa yang akan menggantikan Rasulullah.21
Pada tahap akhir pembicaraan, Umar Bin al-Khattab mencalonkan Abu Bakar
sebagai pengganti Rasulullah untuk mengatur segala urusan pemerintahan. Usulan
Umar diterima kebanyakan yang hadir mengingat jasa dan kapabelitas Abu Bakar, Umar
pun membaiat Abu bakar yang diikuti oleh: Abu Ubaidah al-Jarrah dan semua yang
hadir di Tsaqifah Bani Sa’idah, maka terjadilah pembai’atan Abu bakar secara aklamasi
sebagai khalifah pertama umat Islam.22

Pada keesokan harinya rakyat membaiat Abu

Bakar di masjid sebagai baiat secara umum (‘ammah).
Pemilihan Abu Bakar kalau dilihat dari segi cara dan proses yang dilakukan adalah
sama dengan cara yang dipakai dalam parlemen pada masa kini. Team khusus akan
dibentuk untuk menentukan layak tidaknya seorang calon pemimpin dengan melihat
kemampuan calon tersebut sebelum ianya dinyatakan layak atau tidak untuk bertarung
dalam pemilihan umum.

Ketiga: Pencalonan oleh pemimpin sebelumnya (istikhlaf)
Istikhlaf adalah sistem pemilihan pemimpin dengan dengan cara pencalonan
(rekomendasi) oleh pemimpin sebelumnya. Ianya kadangkala juga dalam bentuk
penyebutan sifat-sifat yang ada pada calon pemimpin yang akan dilantik. Cara ini juga
dikenal dengan istilah wilayat al-‘ahdi atau dalam istilah melayu dikenal dengan istilah
putera mahkota.

Dalam sistem pemerintahan Islam cara pemilihan yang seperti ini pernah berlaku
dua kali yaitu pada pemilihan Umar Bin Khattab dan Usman bin Affan. Ketika Abu Bakr
al-Siddiq dalam keadaan sakit parah beliau bertanya kepada beberapa orang sahabat-
Abdul Rahman Bin Auf, Usman Bin Affan, Usaid Bin Khudhair-mengenai Umar bin
Khattab dan mereka merekomendasikan Umar kepada Abu Bakar. Setelah mendapat
rekomendasi dari para sahabat, Abu Bakar meminta Usman untuk menulis wasiat
pemilihan Umar. kemudian Abu Bakar berbicara di depan publik dan mengeluarkan

21

‘Abd al-Mun’im al-Hasyimial-Khilafah al-Rasyidah (Beirut: Dar ibn Hazm lil Tiba’ah wa an-Nasyr
wa at-Tauzi’, 2002), 22-26.

22

Ibnu Hisyam, Sirah Ibnu Hisyam, Juz. 4 (Kaherah: Dar al-Tahrir, 1384H.), 267; Ibnu Jarir ath-Thabari,
Tarikh al-Tabari, Juz. 3, Cet. 2 (Misr: Dar al-Ma’arif, tt.), 221; lihat juga, Muhammad Husin Haykal, al-
Siddiq Abu Bakr
(Kaherah: Matba’ah Misr, 1361H.), 64.

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

162

pernyataan mengenai pencalonan Umar sebagai pengganti Khalifah. Setelah mendapat
persetujuan umat maka terjadilah pembaiatan oleh public di dalam Masjid.23
Adapun pemilihan Usman Bin Affan terjadi setelah Umar Bin Khattab kritis akibat
tikaman Abu Lu’luah. Umar merasakan nyawanya tidak akan tertolong, maka beliau
berpesan kepada sahabat untuk memilih salah seorang diantara sepuluh orang24

yang
mendapat jaminan masuk syurga dari Rasulullah sebagai calon pengganti beliau.
Selang tiga hari Umar Bin Khattab berpulang kerahmatullah maka terpilihlah Usman
bin Affan sebagai pemimpin Umat Islam yang ketiga dan terjadilah pembaiatan secara
Umum.25

Cara pemilihan ini walaupun melalui pencalonan dari pemimpin sebelumnya akan
tetapi baru dinyatakan sah setelah pembaitan yang dilakukan oleh public sehingga pada
hakikatnya memilih dan menentukan ketua Negara adalah rakyat, bukan pemimpin
Negara sebelumnya.

Keempat: Warisan (al-waratsah).
Pewarisan jabatan dalam sistem perpolitikan Islam bermula sejak Mu’wiyah
mewariskan jabatan khalifah kepada puteranya Yazid. Ide pewarisan ini sebenarnya
bukanlah ide murni Mu’awiyah, akan tetapi merupakan saran dari al-Mughirah Bin
Syu’bah yang waktu itu menjabat Gubernur Kufah pada masa kekhalifahan Muawiyah.
Al-Mughirah dalam hal ini berargumentasi untuk menghindari pertumpahan darah.26
Dalam hal pewarisan ini Mu’awiyah bin Abi Sufyan tidak dapat disalahkan
sepenuhnnya, karena beliau juga telah meminta pendapat para gubernur di bawahnya
mengenai calon pengganti beliau.
Mu’awiyah sebelum melantik anaknya Yazid sebagai pengganti telah mengirim
surat kepada: Ziyad selaku Gubernur Basrah, beliau juga meminta persetujuan Marwan
Bin Hakam selaku Gubernur Madinah. Selain kepada para gubernur Mu’awiyah juga
meminta pendapat wakil kota-kota besar untuk menyatakan pendapat mengenai

23

Muhammad Husin Haykal, al-Faruk ‘Umar (Kaherah: Matba’ah Misr, 1364H.), 89.

24

Ketika itu hanya tersisa enam orang lagi yaitu: ‘Abd al-Rahman bin ‘Auf, Sa’ad bin Abi Waqqas,
‘Usman bin ‘Affan, ‘Ali bin Abi Talib, al-Zubir bin ‘Awwam dan Talhah bin ‘”Ubaidillah.

25

Isma’il al-Badawi, Ikhtisasad al-Sultah al-Tanfdhiah fd Daulah al-Islamiah wal Nuzum al-Dusturiyah
al-Mu’asirah
(Kaherah: Dar al-Nahdah al-‘Arabiah, 1993), 39; lihat juga ‘Abdu al-Rahman ibn Khaldun,
Muqaddimah Ibn khaldun (Iskandariah: Dar ibn khaldun, tt.), 147.

26

Muhammad Dhiauddin Rais (2001), 141.

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

163

pencalonan anaknya Yazid. Setelah mendapat feed back dari semua wilayah barulah
Mu’awiyah melantik Yazid sebagai pengganti dan di ikuti dengan pembai’atan secara
umum oleh rakyat.27

Dengan demikian walaupun ini merupakan pelantikan anak pemimpin sebelumnya,
kasus ini tidak dapat dikatakan sebagai pewarisan tahta sepenuhnya, melainkan
pencalonan yang dilakukan oleh pemimpin sebelumnya yang telah mendapat
persetujuan para gubernur yang merupakan representatif rakyat di wilayah masing-
masing yang meraka pimpin. Namun demikian cara ini cenderung bias dengan
pewarisan tahta apalagi dengan keadaan zaman yang seperti sekarang ini, demokrasi
sering dijadikan kedok untuk mempertahankan kekuasaan.
Ulama Islam telah sepakat bahwa kepemimpinan bukan hal yang dapat diwariskan
secara turun temurun apalagi diklem sebagai hak keluarga atau individu tertentu.
Ibnu khaldun berkata: walau bagimanapun, Islam tidak menganggap pengekalan
keturunan (raja) kepada puteranya dengan tujuan yang jelas untuk melantik sebagai
Bakal penerus tahta kerajaan adalah suatu yang datangnya dari Allah.28
Pendapat Ibnu khaldun juga di kuatkan oleh Ibnu Hazm yang berkata:29

Dengan demikian ulama Islam dari dulu telah memperhatikan masalah legalitas
serta cara seseorang calon kepala Negara mendapatkan kuasa. Cara ini pada kebanyakan
kasusnya lebih membawa kepada mudarat dan dikategorikan sebagai bukan ajaran
Islam.30

Adapun apa yang pernah berlaku pada zaman kekhilafahan Islam sebelum ini
dikelompokkan kepada legalitas ketua Negara secara darurat, dan bukan sistem
Islam. Kerana apa yang pernah berlaku di zaman awal kekhilafahan Islam apabila
bertentangan dengan “ruh” Islam walaupun berlaku tidak dapat dikatakan sebagai

27

Muhammad Dhiauddin Rais (2001), 141., ‘Abd al-Rahman ibn Khaldun al-Magribi (t.t), 148; lihat
juga Ibnu Khaldun (2002), Mukaddimah Ibnu Khaldun, Dewan bahasa dan Putaka (terj), Selangor Darul
Ehsan: Dewan Bahasa Dan pustaka, 229.

28

Ibnu Khaldun (2002), 231.

29

Ali ibn Ahmad Ibnu Hazm al-Zahiri (1999), al-fasl f al-Milal wa al-Ahwa’ wa al- Nihal, Juz. 4 (Beirut:
Dar al-kutub al-‘ilmiyah, 1999), 167.

30

Muhammad ‘Abd al-Qadir Abu Faris, al-Nizam al-siyasi f al-Islam (Oman Yordania: dar al-Furqan,

1986), 250, 252,253.

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

164

sistem Islam yang dapat dijadikan acuan dan landasan bagi umat Islam pada masa
kini.

Kelima: Rampasan (al-qahr wa al-ghalabah)
Walaupun cara pelantikan ketua Negara secara paksa dan rampasan kuasa bukanlah
suatu cara yang diakui oleh Islam akan tetapi cara ini telahpun wujud dalam sejarah
pemerintahan Islam.

Namun demikian ulama Ahli Sunnah menyatakan, sah pengangkatan seorang imam
dengan memakai cara ini dalam keadaan darurat berasaskan kepada kaedah ikhtiar
akhaffu al-Dararayn,
memilih darurat yang lebih kecil.31
Dalam konteks kekinian dalam kehidupan berNegara khususnya di alam demokrasi,
semua tata cara pemilihan ini telah diatur dalam seperangkat aturan yang merupakan
kesepakatan bersama berdasarkan tahapan-tahapan yang harus dilalui oleh
seorang calon pemimpin sampai ditetapkan sebagai seorang pemimpin. Dalam UU
Pemerintahan Aceh penyelenggaraan pemilihan diatur dalam BAB IX lengkap dengan
tatacara penyelesaian perselisihan.

Epilog

Kriteria seorang calon pemimpin sangat menentukan layak tidaknya seseorang untuk
dijadikan pemimpin. Kriteria-kriteria ideal yang sama dengan nabi tidak mungkin
didapat akan tetapi yang mendekati kepada siddiq, amanah, tabligh dan fathanah
bukanlah mustahil ditemui.
Setelah melihat sistem-sitem pemilihan yang pernah berlaku dalam kancah
perpolitikan Islam, penulis berkesimpulan bahwa yang menepati dengan syari’at Islam
adalah cara pemilihan dengan sistem intikhab.
Adapun cara-cara lain walaupun terjadi dalam sejarah pemerintahan Islam

31

Wahbah al-Zuhayli (1989), 682.; Muhammad Amir ibn ‘Umar Ibnu ‘Abidin, Hasyiat Radd al-Mukhtar
‘ala al-Durr al-Mukhtar: Syarh Tanwir al-Absar f fqh madhab al-imam abi Hanifah al-Nu’man
, Juz. 3
(Misr: Mustafa al-Babi al-Halabi, 1966), 319.; Muwaffaq al-Din al-Maqdisy Ibnu Qudamah al-Hambali,
Mughni al-Muhtaj, Juz. 4, tt., 130-132.; Abu Ya’la Al-Farra (tt.), al-Ahkam al-Sultaniyah, 6; Syamsuddin,
al-Syaykh Muhammad bin ‘Arafah al-Dusuqi, Hasyiah al-Dusuqy ‘Ala Syarh al-Kabir, Juz. 4 (Misr:
Mustafa al-Babi al-Halabi wa syurakah, tt.), 298.

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

165

bukanlah sistem dan cara yang sesuai dengan prinsip-prinsip syari’ah Islam. Ia boleh
dianggap lebih kepada sistem pengecualian dalam keadaan tertentu yang tidak dapat
dikontrol. Sistem pengecualian tidak dapat dijadikan sebagai suatu ukuran sebuah
sistem standard demi keberlangsungan politik di Negara Islam.
Cara-cara pemilihan yang berlaku dimasa khulafa al-rasyidin adalah sebagai contoh
pemilihan dalam Islam dan merupakan ijtihad spontan para sahabat untuk menyikapi
situasi yang berlaku pada masanya. Apa yang pernah berlaku bukan suatu kemestian
untuk diikuti, akan tetapi tidak salah juga kalau dijadikan sebagai panduan.

IDEALISME POLITIK ISLAM DI ACEH

Sisi Pemikiran Akademisi & Politisi

166

DAFTAR PUSTAKA

‘Abd al-Mun’im al-Hasyimi. Al-Khilafah al-Rasyidah, Beirut: Dar ibn Hazm lill Tiba’ah wa
an-Nasyr wal Tauzi’, 2002.
Abu Faris, Muhammad ‘Abd al-Qadir. al-Nizam al-Siyasi fi al-Islam. ‘Omman: Dar al-
Furqan, 1986.
Al-Badawi, Isma’il. Ikhtisasad al-Sultah al-Tanfidhiah fi al-Daulah al-Islamiyah wa al-
Nuzum al-Dusturiyah al-Mu’asirah
. Kaherah: Dar al-Nahdah al-‘Arabiah,1993.
------------. Nizam al-Hukm al-Islami Muqarinan bil Nuzum al-Siyasiah al-Mu’asirah.
Kaherah: Dar al-Nahdah al-‘Arabiah, 1994.
Al-Mawardi, Abi al-Hasan ibn Muhammad ibn Habib al-Basri al-Baghdadi. Al-Ahkam al-
Sultaniyyah wa al-Wilayat al-Diniyyah
. Beirut: al-Maktab al-Islami, 1996.
Asy-Syak’ah, Mustafa. Islam Bila Madahib, Cet. 11. Cairo: al-Dar al-Misriyah al-
Lubnaniah, 1996.
Asy-Syarbainy, Muhammad Khatib. Al-Iqna’ fi Hilli al-fadh Abi Suja’. Beirut: Dar al-Fikr,
1995.
Ath-Thabari, Ibnu Jarir. Tarikh al-Tabari, Juz. 3, Cet. 2, Misr: Dar al-Ma’arif, tt..
Az-Zahiri, Ali ibn Ahmad Ibnu Hazm. al-fasl fi al-Milal wa al-Ahwa’ wa al- Nihal, Juz. 4,
Beirut: Dar al-kutub al-‘ilmiyah, 1999.
Biro Hukum dan Humas Setda Provinsi NAD (2009), Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh, Banda Aceh: Biro
Hukum dan Humas Provinsi NAD Bekerjasama dengan GTZ IS ALGAP II.
Fathi Othman. The Contract For The Appointment of The Head of An Islamic State dalam
State Politics and Islam, Mumtaz Ahmad (ed.). Riyadh Saudi Arabia: American
Trust Publication, tt..
Ibn Khaldun, ‘Abd al-Rahman. Mukaddimah Ibnu Khaldun, Dewan Bahasa dan Pustaka
(terj.) .Selangor Darul Ehsan: Dewan Bahasa dan Pustaka, 2002.
------------.Muqaddimah Ibn khaldun. Iskandariah: Dar ibn khaldun, tt..
Ibnu Hisyam. Sirah Ibnu Hisyam, Jil. 4. Kaherah: Dar al-Tahrir, 1384H..
Muhammad Amir ibn ‘Umar Ibn Abidin. Hasyiat Radd al-Mukhtar ‘ala al-Durr al-
Mukhtar: Syarh Tanwir al-Absar fi fiqh madhab al-imam abi Hanifah al-Nu’man
,
Juz. 3. Misr: Mustafa al-Babi al-Halabi, 1966.
Muhammad Husin Haykal. Al-Siddiq Abu Bakr. Kaherah: Matba’ah Misr, 1361H..
------------.Al-Faruk ‘Umar. Kaherah: Matba’ah Misr, 1364H..
Muhammad Mahdi Syamsuddin. Nizam al-Hukm Wa al-Idarah fi al-Islam, Cet. 3. Iran:

ISLAMIC POLITICS IDEALISM IN ACEH

An Investigation into Academician and Politician Points of View

167

Dar al-Thaqafah, 1992.
Rais, Dhiauddin Muhammad. Teori Politik Islam, Abdul Hayyi Al Kattani dkk., (terj.).
Jakarta: Gema Insani Press, 2001.
Syamsuddin ad-Dusuqi, al-Syekh Muhammad bin ‘Arafah. Hasyiah al-Dusuqy ‘Ala Syarh
al-Kabir
, Juz. 4. Misr: Mustafa al-Babi al-Halabi wa syurakah, tt..
Wahbah al- Zuhaily. Al-Fiqh al-Islami Wa Adillatuh, Cet. 3. Dimasyq: Dar al-Fikr, 1989.

POLITIK KOMUNIKASI

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->