P. 1
Makanan Kaleng

Makanan Kaleng

|Views: 514|Likes:
Published by ynathasa

More info:

Published by: ynathasa on Jan 11, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/14/2013

pdf

text

original

Makanan Kaleng Produk yang dikemas dalam kaleng sudah beredar sangat luas dan cukup diminati masyarakat

. Jenis makanan yang biasa dikemas dalam kaleng, antara lain buah, daging bahkan sayur. Proses pengalengan merupakan salah satu cara mengawetkan makanan karena di dalam kaleng diusahakan tidak terdapat oksigen sehingga bakteri aerob tidak bisa tumbuh dan merusak makanan. Akan tetapi, masih ada kemungkinan makanan tersebut mengandung bakteri anaerob yang dapat tumbuh pada lingkungan tanpa oksigen seperti Clostridium botullinum yang sering disebut bakteri makanan kaleng. Oleh sebab itu diperlukan pengujian yang ketat terhadap bakteri ini sebelum makanan dikemas dalam kaleng. Penggunaan pengawet yang tepat (baik secara jenis dan jumlah) juga merupakan salah satu usaha pencegahan kontaminasi mikroba ini. Jenis kaleng yang digunakan untuk mengemas produk makanan juga harus disesuaikan. Kaleng tersebut tidak boleh melepas kandungan logam ke produk makanan, kuat dan menjamin tidak adanya kebocoran yang dapat menjadi pintu masuk bakteri atau oksigen yang dapat menyebabkan kerusakan makanan kaleng. Berikut ini adalah ciri-ciri kerusakan makanan kaleng : 1. Flat sour : kaleng tidak cembung namun isinya sangat asam. 2. Flipper : kaleng kelihatan normal, namun jika ditekan akan menjadi cembung. 3. Springer : salah satu ujung kaleng datar, namun ujung yang lain cembung dan jika ditekan, cembung ke arah sebaliknya. * Kaleng cembung karena terdapat bakteri yang membentuk gas. Selain bakteri, bahaya lain yang dapat mengancam penikmat makanan kaleng adalah bahan pengawet yang digunakan. Khususnya pada daging, pengawet dari senyawa amin selain dapat mengawetkan daging, juga dapat bereaksi dengan protein dalam daging sehingga daging berwarna merah dan lebih menarik. Namun bila pengawet tersebut masuk ke dalam tubuh dapat terbentuk senyawa nitroso yang apabila berikatan dengan asam-asam amino dari DNA akan membentuk senyawa nitrosamin yang bersifat karsinogenik. Oleh sebab itu, penggunaan produk daging dalam kaleng perlu dibatasi.

Badan Pengawas Obat dan Makanan RI. Penyuluhan Keamanan Pangan_Prinsip Pengawetan. www.klubpompi.com. Diakses tanggal 16 Oktober 2011 Pukul 01.14 WIB

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->