B.

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB EKSTERNALITAS Eksternalitas timbul pada dasarnya karena aktivitas manusia yang tidak mengikuti prinsip-prinsip ekonomi yang berwawasan lingkungan. Dalam pandangan ekonomi, eksternalitas dan ketidakefisienan timbul karena salah satu atau lebih dari prinsip-prinsip alokasi sumber daya yang efisien tidak terpenuhi. Karakteristik barang atau sumber daya publik, ketidaksempurnaan pasar, kegagalan pemerintah merupakan keadaan-keadaan dimana unsur hak pemilikan atau pengusahaan sumber daya (property rights) tidak terpenuhi. Sejauh semua faktor ini tidak ditangani dengan baik, maka eksternalitas dan ketidakefisienan ini tidak bisa dihindari. Kalau ini dibiarkan, maka ini akan memberikan dampak yang tidak menguntungkan terhadap ekonomi terutama dalam jangka panjang. Bagaimana mekanisme timbulnya eksternalitas dan ketidakefisienan dari alokasi sumber daya sebagai akibat dari adanya faktor diatas diuraikan satu per satu berikut ini. 1. Keberadaan Barang Publik Barang publik (public goods) adalah barang yang apabila dikonsumsi oleh individu tertentu tidak akan mengurangi konsumsi orang lain akan barang tersebut. Selanjutnya, barang publik sempurna (pure public good) didefinisikan sebagai barang yang harus disediakan dalam jumlah dan kualitas yang sama terhadap seluruh anggota masyarakat. Kajian ekonomi sumber daya dan lingkungan salah satunya menitikberatkan pada persoalan barang publik atau barang umum ini (common consumption, public goods, common property resources). Ada dua ciri utama dari barang publik ini. Pertama, barang ini merupakan konsumsi umum yang dicirikan oleh penawaran gabungan (joint supply) dan tidak bersaing dalam mengkonsumsinya (non-rivalry in consumption). Ciri kedua adalah tidak ekslusif (non-exclusion) dalam pengertian bahwa penawaran tidak hanya diperuntukkan untuk seseorang dan mengabaikan yang lainnya. Barang publik yang berkaitan dengan lingkungan meliputi udara segar, pemandangan yang indah, rekreasi, air bersih, hidup yang nyaman dan sejenisnya. Satu-satunya mekanisme yang membedakannya adalah dengan menetapkan harga (nilai moneter) terhadap barang publik tersebut sehingga menjadi bidang privat (dagang) sehingga benefit yang diperoleh dari harga itu bisa dipakai untuk mengendalikan atau memperbaiki kualitas lingkungan itu sendiri. Tapi dalam menetapkan harga ini menjadi masalah tersendiri dalam analisa ekonomi lingkungan. Karena ciri-cirinya diatas, barang publik tidak diperjualbelikan sehingga tidak memiliki harga, barang publik dimanfaatkan berlebihan dan tidak mempunyai insentif untuk melestarikannya. Masyarakat atau konsumen cenderung acuh tak acuh untuk menentukan harga sesungguhnya dari barang publik ini. Dalam hal ini, mendorong sebagain masyarakat sebagai free rider . Sebagai contoh, jika si A mengetahui bahwa barang tersebut akan disediakan oleh si B, maka si A tidak mau membayar untuk penyediaan barang tersebut dengan harapan bahwa barang itu akan disediakan oleh si B, maka si A tidak mau membayar untuk penyediaan barang tersebut dengan harapan bahwa barang itu akan disediakan oleh si B. Jika akhirnya si B berkeputusan untuk menyediakan barang tersebut, maka si A bisa ikut menikmatinya karena tidak seorangpun yang bisa menghalanginya untuk mengkonsumsi barang tersebut, karena sifat barang publik yang tidak ekslusif dan merupakan konsumsi umum. Keadaan seperti ini akhirnya cenderung mengakibatkan berkurangnya insentif atau rangsangan untuk memberikan kontribusi terhadap penyediaan dan pengelolaan barang publik. Kalaupun ada kontribusi, maka sumbangan itu tidaklah cukup besar untuk membiayai penyediaan barang publik yang efisien, karena masyarakat cenderung memberikan nilai yang lebih rendah dari yang seharusnya (undervalued).

maka kesempatan keluarga lain untuk . bahkan lahan itu sudah dianggap milik bersama. TRAGEDI BARANG UMUM Andaikanlah anda hidup di sebuah kota kecil di abad pertengahan. Pokoknya tidak ada masalah. Sumber-sumber daya ini terbuka bagi siapa saja yang ingin memanfaatkannya. Selama setiap orang bisa memperoleh sebidang lahan untuk menggembalakan dombanya. Apa sesungguhnya yang menimbulkan tragedi itu ? Mengapa penduduk membiarkan populasi domba bertambah begitu cepat sehingga justru menghancurkan lahan penggembalaan Kota Umum ? Jawabannya bersumber pada perbedaan antara insentif pribadi dan insentif sosial. Disamping itu jika tidak diikuti oleh yang lain. Jumlah domba pun segera menyusut. pemerintah juga perlu mempertimbangkan seberapa banyak pemanfaatannya yang efisien. tidak ekskludabel. Namun tidak seperti barang publik. masing-masing keluarga pemilik domba tidak memiliki insentif untuk memulai usaha mulia tersebut. Selama ini kepemilikan bersama itu tidak menimbulkan masalah.Sumber-sumber daya milik bersama. Rumput itu. Pencegahan padang rumput di Kota Umum berubah menjadi padang pasir hanya dapat terjadi jika semua pemilik domba bekerja sama mengupayakan hal itu secara kolektif. Namun secara individual. akan mengurangi peluang bagi orang lain untuk melakukan hal yang sama. Tragedi Barang Umum terjadi akibat adanya masalah eksternalitas. Kota Umum itu tidak bersifat bersaingan. secara individual hanya merupakan bagian dari seluruh penduduk pemilik domba. Sumber Daya Bersama Keberadaan sumber daya bersama SDB (common resources) atau akses terbuka terhadap sumber daya tertentu ini tidak jauh berbeda dengan keberadaan barang publik diatas. Pemanfaatannya oleh seseorang. Jadi. yang paling menonjol adalah pemeliharaan domba. kesadaran suatu keluarga untuk membatasi jumlah dombanya juga tidak akan ada gunanya. keberadaan sumber daya milik bersama ini. Siapa saja bisa memanfaatkannya tanpa biaya. Pada intinya.2. pada akhirnya padang rumput itu kehilangan kemampuan dan kesempatan untuk memulihkan diri. seiring dengan waktu. Contoh klasik tentang bagaimana eksternalitas terjadi pada kasus SDB ini adalah seperti yang diperkenalkan oleh Hardin (1968) yang dikenal dengan istilah Tragedi Barang Umum (the Tragedy of the Commons). Tidak ada yang memiliki lahan tersebut. sedangkan lahan penggembalaan tidak bertambah luas. sehingga pada akhirnya padang rumput itu pun menjadi padang gersang. sumber daya milik bersama memiliki sifat bersaingan. tidak mungkin pemeliharaan domba secara masal berlangsung terus. sehingga setiap orang bisa melepas kawanan dombanya ke sana untuk memakan rumputnya. Karena jumlah domba yang memakan rumputnya sedemikian banyak. dan Cuma-Cuma. jumlah penduduk dan jumlah domba di Kota Umum terus bertambah. Banyak keluarga di kota itu yang kehilangan mata pencaharian. Dari sekian banyak kegiatan ekonomi yang berlangsung di kota itu. dan pada gilirannya Industri wol di kota Umum juga ditutup. Lambat laun. sama halnya dengan barang-barang publik. karena mereka. sudah ada banyak domba yang menunggunya. para pemilik domba itu dapat mengatur keseluruhan populasi hewan ternaknya agar tidak melebih daya dukung padang. Belum sempat rumput baru tumbuh. Banyak keluarga di kota itu yang mengandalkan asap dapurnya. Domba-domba itu dilepas begitu saja di lahan rumput penggembalaan yang mengelilingi Kota Umum. Tanpa rumput. Pada saat sebuah keluarga mengiring domba-dombanya ke padang rumput itu. Hanya dengan kerja sama. dari pemeliharaan domba yang mereka ambil bulunya ( wol ) untuk dijual sebagai bahan pakaian.

Atau.melakukan hal yang sama menjadi berkurang. Mengingat masing-masing keluarga mengabaikan dampak eksternal dalam memutuskan jumlah domba yang hendak dipelihara. atau menerbitkan dan melelang izin penggembalaan terbatas. pernah mengutarakan masalah yang terkandung dalam sumber daya milik bersama : Apa yang diperuntukkan bagi orang banyak. maka pada akhirnya jumlah domba secara keseluruhan menjadi terlalu banyak. Para pendatang juga tidak akan ikut memelihara domba-domba baru. Aristoteles. Untuk mengatasi masalah ini. 4. karena lahan penggembalaannya sudah habis terbagi. Artinya. karena semua orang mengutamakan kepentingannya sendiri dibanding kepentingan orang lain . mereka bisa menginternalisasikan eksternalitas itu. Setia keluarga mendapat sebidang lahannya sendiri. Jika mau berpikir lebih panjang. dengan cara mengenakan pajak kepemilikkan domba. Bahkan sebenarnya ada solusi yang lebih sederhana untuk Kota Umum. Dengan cara ini. penduduk kota di abad pertengahan itu bisa mngatasi masalah pemanfaatan padang rumput secara berlebihan. Filsuf Yunani kuno. pada saat itu pula ia mengurangi kesempatan bagi orang lain untuk melakukan tindakan serupa. Pelajaran dasar ini ternyata sudah diketahui sejak ribuan tahun yang lampau. Contoh konkrit dari praktek kartel ini adalah Organisasi negara-negara pengekspor minyak (OPEC) dengan memproduksi dalam jumlah yang lebih sedikit sehingga mengakibatkan meningkatknya harga yang lebih tinggi dari normal. Dalam kenyataannya. pemanfaatan setiap sumber daya milik bersama selalu cenderung berlebihan. Atau. pemerintah dapat menerapkan regulasi atau memberlakukan pajak. dengan cara seperti yang ditempuh masyarakat modern untuk memecahkan persoalan polusi. Mereka dapat membagi-bagi lahan penggembalaan itu kepada masing-masing keluarga. Pada kondisi yang demikian akan hanya berakibat terjadinya penignkatan surplus produsen yang nilainya jauh lebih kecil dari kehilangan surplus konsumen. Akibat adanya eksternalitas negatif. Hal ini bisa terjadi pada pasar yang tidak sempuna (Inperfect Market) seperti pada kasus monopoli (penjual tunggal). Kelompok tertentu ini memanfaatkan pemerintah untuk mencari keuntungan (rent seeking) . Mereka bisa berembug bersama untuk menentukan jumlah maksimal domba yang yang dapat dipelihara oleh setiap keluarga. yakni pada saat seseorang memanfaatkan suatu sumber daya milik bersama. 3. Ketidaksempurnaan Pasar Masalah lingkungan bisa juga terjadi ketika salah satu partisipan didalam suatu tukar manukar hak-hak kepemilikan (property rights) mampu mempengaruhi hasil yang terjadi (outcome). hal inilah yang terjadi di Inggris pada abad ketujuhbelas. status padang rumput akan berubah dari sumber daya milik bersama menjadi barang pribadi. Kegagalan pemerintah banyak diakibatkan tarikan kepentinan pemerintah sendiri atau kelompok tertentu (interest groups) yang tidak mendorong efisiensi. sehingga masing-masing keluarga akan berusaha agar lahannya terus ditumbuhi rumput secara berkesinambungan. Kegagalan Pemerintah Sumber ketidakefisienan dan atau eksternalitas tidak saja diakibatkan oleh kegagalan pasar tetapi juga karena kegagalan pemerintah (government failure). pemerintah bisa mengubah sumber daya milik bersama itu menjadi barang swasta. sehingga secara keseluruhan. Ketidaksempurnaan pasar ini misalnya terjadi pada praktek monopoli dan kartel. praktek monopoli ini merugikan masyarakat (worse-off). penduduk Kota Umum sebenarnya bisa mencegah terjadinya tragedi itu. tidak akan dipelihara secara memadai. Ada satu pelajaran penting yang terkandung dalam kisah Tragedi Barang Umum ini.

[2] Oleh karena itu. Pencari keuntungan (rent seeker) bisa dari perusahaan itu sendiri atau dari pemerintah atau oknum memungkinkan membayar kurang dari 1 milyar agar peraturan sesungguhnya tidak diberlakukan. melalui kebijaksanaan dan sebagainya. Aksi pencarian keuntungan (rent seeking) bisa dalam berbagai bentuk : 1.[2] Pemanfaatan tumbuhan oleh manusia diantaranya:[17] y y y Bahan makanan: padi. 3. untuk menghindari resiko yang lebih besar kalau ketentuan atau aturan diberlakukan dengan sebenarnya. jagung.[1] Untuk memudahkan pengkajiannya.gandum.[2] Organisme ini memiliki kemampuan untuk menghasilkan oksigen dan pati melalui proses fotosintesis. Kelompok yang punya kepentingan tertentu (interest groups) melakukan loby dan usaha-usaha lain yang memungkinkan diberlakukannya aturan yang melindungi serta menguntungkan mereka 2. Praktek jenis ini bisa mendorong terjadinya eksternalitas.[2] Eksploitasi tumbuhan yang berlebihan dapat mengakibatkan kerusakan bahkan kepunahan dan hal ini akan berdampak pada rusaknya rantai makanan. Praktek mencari keuntungan ini bisa juga dilakukan oleh aparat atau oknum tertentu yang emmpunyai otoritas tertentu. tumbuhan merupakan produsen atau penyusun dasar rantai makanan. yaitu SDA hayati dan nonhayati.melalui proses politik.[2] Kerusakan yang terjadi karena punahnya salah satu faktor dari rantai makanan akan berakibat punahnya konsumen tingkat di atasnya. Perusahaaan A yang mengeluarkan limbah yang merusak lingkungan. Sehingga akhirnya dampak lingkungan yang seharusnya diselidiki dan ditangani tidak dilaksanakan dengan semestinya sehingga masalahnya menjadi bertambah serius dari waktu ke waktu. Sebagi contoh. sehingga pihak-pihak yang berkepentingan bisa memberikan uang jasa atau uang pelicin untuk keperluan tertentu.[17] [sunting] Sumber daya alam hayati [sunting] Tumbuhan Tumbuhan merupakan sumber daya alam yang sangat beragam dan melimpah.tebu Bahan bangungan: kayu jati. Praktek mencari keuntungan ini membuat alokasi sumber daya menjadi tidak efisien dan pelaksanaan atuan-aturan yang mendorong efisiensi tidak berjalan dengan semestinya. Berdasarkan perhitungan atau estimasi perusahaan A harus mengeluarkan biaya (denda) yang besar (misalnya Rp. dan denda informal ini belum tentu menjadi revenue pemerintah. pemanfaatan SDA dibagi berdasarkan sifatnya. kayu mahoni Bahan bakar (biosolar): kelapa sawit . Sumber daya alam memiliki peranan dalam pemenuhan kebutuhan manusia. Praktek mencari keuntungan bisa juga berasal dari pemerintah sendiri secara sah misalnya memberlakukan proteksi berlebihan untuk barang-barang tertentu seperti menegnakan pajak impor yang tinggi dengan alasan meningkatkan efisiensi perusahaan dalam negeri. 1 milyar) untuk menanggulangi efek dari limbah yang dihasilkan itu.

tembakau (bahan baku obat dan rokok).[18] Data statistik pada tahun 2001 menunjukkan bahwa 45% penduduk Indonesia bekerja di bidang agrikultur.[17] [sunting] Pertanian dan perkebunan Indonesia dikenal sebagai negara agraris karena sebagian besar penduduk Indonesia mempunyai pencaharian di bidang pertanian atau bercocok tanam. kapas (bahan baku tekstil). dan juga perikanan. daun binahong.[17][19] [sunting] Hewan.[19] Di samping itu. pelestarian secara in situ dan ex situ terkadang harus dilaksanakan.[2] Untuk memaksimalkan potensinya. terutama untuk satwa langka. mahkota dewa Pupuk kompos.[17] Untuk menjaga keberlanjutannya. kina. dan hasil tambang. Indonesia juga dikenal dengan hasil perkebunannya.[2] [sunting] Air . cabai. manusia membangun sistem peternakan.[2] Pemanfaatannya dapat sebagai pembantu pekerjaan berat manusia. sinar matahari. peternakan. sayur-sayuran. ubi. kopi (bahan minuman). contohnya: air. seperti unggas dan sapi. sedangkan pelestarian ex situ adalah pelestarian dengan memindahkan hewan tersebut dari habitatnya ke tempat lain. angin. dan perikanan Sumber dayaa alam hewan dapat berupa hewan liar maupun hewan yang sudah dibudidayakan.[2] [sunting] Sumber daya alam nonhayati Ialah sumber daya alam yang dapat diusahakan kembali keberadaannya dan dapat dimanfaatkan secara terus-menerus. dan singkong.[19] Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa negara ini memiliki lahan seluas lebih dari 31 juta ha yang telah siap tanam. antara lain padi. antara lain karet (bahan baku ban).y y Obat: jahe. kedelai. kelapa sawit (bahan baku minyak goreng). dimana sebagian besarnya dapat ditemukan di Pulau Jawa. seperti kerbau dan kuda atau sebagai sumber bahan pangan. jagung.[19] Pertanian di Indonesia menghasilkan berbagai macam tumbuhan komoditi ekspor. dan tebu (bahan baku gula pasir).[2] Pelestarian in situ adalah pelestarian yang dilakukan di habitat asalnya. untuk lebih memberdayakan sumber daya hewan.

perairan yang ada.[1] Angin mampu menghasilkan energi dengan menggunakan turbin yang pada umumnya diletakkan dengan ketinggian lebih dari 30 meter di daerah dataran tinggi. bahan dasar industri minuman. penambangan. air. batu bara. teknologi penggunaan air sebagai sumber listrik sebagai pengganti dari minyak bumi telah dan akan terus berkembang karena selain terbaharukan.[1] [sunting] Tanah Tanah termasuk salah satu sumber daya alam nonhayati yang penting untuk menunjang pertumbuhan penduduk dan sebagai sumber Sumber daya alam.[22] Tanah tersusun atas beberapa komponen.[1] Beberapa negara yang telah mengaplikasikan turbin angin sebagai sumber energi alternatif adalah Belanda dan Inggris. mineral. yaitu 1)Syarat umum yang berlaku pada produksi setiap barang yang berada dalam pasar persaingan sempurna agar dicapai suatu tingkat efisiensi yang optimum (produsen mencapai keuntungan yang maksimal) adalah harga barang yang dihasilkan harus sama dengan biaya produksi marginal.[1] Selain sumbernya yang terbaharukan dan selalu ada. dan senyawa organik. danau.[22] Pertumbuhan tanaman pertanian dan perkebunan secara langsung terkait dengan tingkat kesuburan dan kualitas tanah.[20] Air juga digunakan untuk pengairan. samudra.[20] [sunting] Angin Pada era ini. baik itu untuk keperluan domestik dan energi. angin.[20] Dari total wilayah Sumber daya alam. dll. seperti udara. dan berbagai jenis bahan bakar hasil tambang mulai digantikan dengan penggunaan Sumber daya alam. energi yang dihasilkan dari air cenderung tidak berpolusi dan hal ini akan mengurangi efek rumah kaca. air. . energi yang dihasilkan angin jauh lebih bersih dari residu yang dihasilkan oleh bahan bakar lain pada umumnya. TEORI PENGAMBILAN SUMBER DAYA SECARA OPTIMAL Ada 2 syarat yang harus dipenuhi agar terdapat pengambilan sumberdaya alam secara optimal.[21] Seiring dengan pertumbuhan populasi manusia. tanah. energi yang dihasilkan oleh angin.) dan hanya 3% yang merupakan air tawar (wilayah sungai.[22] Pengelolaan sumber daya nonhayati ini menjadi sangat penting mengingat pesatnya pertambahan penduduk dunia dan kondisi cemaran lingkungan yang ada sekarang ini. penggunaan minyak bumi.[20] Di bidang energi. dan aset rekreasi. 97% merupakan air asin (wilayah laut. makanan bagi berbagai jenis makhluk hidup.).Air merupakan salah satu kebutuhan utama makhluk hidup dan bumi sendiri didominasi oleh wilayah perairan. kebutuhan akan air. terus meningkat. dll.

maka ia tidak akan berobah sepanjang waktu. Tetapi kalau untuk sumberdaya alam. produksi kan ditentukan sedemikian rupa agar manfaat atau kesejahteraan masyarakat mencapai maksimum adalah pada saat harga komoditi itu sama dengan biaya marginal ditambah biaya alternative. 2)Syarat yang kedua dari pengambilan sumberdaya alam secara optimal menyangkut tingkah laku dari biaya alternative atau royalty atau biaya alternatif itu harus selalu meningkat sebesar tingkat bunga yang berlaku dari waktu ke waktu. ini disebut sebagai ³sufficient condition´ . Pada gambar diatas. seorang produsen yang menghasilkan barang Y akan memperoleh keuntungan yang maksimal apabila ia menghasilkan barang sebanyak Y* yaitu pada saat harga sama dengan biaya marginal.KETERANGAN GAMBAR . atau dengan kata lain bila royalty itu dinyatakan pada harga sekarang (present value).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful