PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TYPE STAD DENGAN MEDIA VCD

l

UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS IX B SMP NEGERI 1 BANJARANGKAN TAHUN 2008/2009 OLEH DRS.I MADE SURIANTA (NIP.132161064) ABSTRAK Dalam proses belajar mengajar guru mempunyai tugas untuk memilih model pembelajaran berikut media yang tepat sesuai dengan materi yang disampaikan demi tercapainya tujuan pembelajaran. Dalam proses belajar mengajar di kelas terdapat keterkaitan yang erat antara guru, siswa, kurikulum, sarana dan prasarana.

Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dalam dua siklus dengan subyek penelitian kelas IX B SMP Negeri 1 Banjarangkan semester 1 tahun pelajaran 2008/2009 yang berjumlah 42 orang. Data keaktifan siswa dikumpulkan dengan pedoman observasi dan data tentang hasil belajar siswa dikumpulkan dengan tes hasil belajar. Selanjutnya data yang terkumpul dianalisisi dengan menggunakan metode deskriptif analisis. Pelaksanaan tindakan diawali dengan membagi kelas menjadi delapan kelompok, menyampaikan tujuan pembelajaran, menyampaikan materi pembelajaran dengan VCD, kerja kelompok mengerjakan LKS, presentasi kelompok, dan latihan soal-soal. Hasil Penelitian menunjukkan 1) Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Type STAD dengan VCD (Video Compact Disk) sebagai media pada pembelajaran bangun ruang sisi lengkung dapat meningkatkan keaktifan siswa dan 2) dapat meningkatkan hasil belajar siswa dari rata-rata 6,68 dan ketuntasan klasikal 70% pada siklus I menjadi rata-rata hasil belajar 7,01 dengan ketuntasan klasikal sebesar 83% pada siklus II. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Penerapan Model Pembelajaran Type STAD dengan VCD (Video Compact Disk) sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan aktifitas dan hasil belajar matematika siswa, sehingga model pembelajaran ini dapat dijadikan alternatif pilihan pada pembelajaran matematika. Kata kunci : Kooperatif,STAD dan VCD

A. Latar Belakang Masalah Matematika adalah mata pelajaran yang diajarkan mulai dari tingkat SD sampai sekolah tingkat menengah. Sampai saat ini matematika masih dianggap mata pelajaran yang sulit, membosankan, bahkan menakutkan. Anggapan ini mungkin tidak berlebihan selain mempunyai sifat yang abstrak, pemahaman konsep matematika yang baik sangatlah penting karena untuk memahami konsep yang baru diperlukan prasarat pemahaman konsep sebelumnya. Dalam proses belajar mengajar guru mempunyai tugas untuk memilih model pembelajaran berikut media

baik di sekolah maupun di rumah. dan soal-soal UAN yang berhubungan dengan bangun ruang sisi lengkung. Salah satu kesulitan itu adalah memahami konsep pada pokok bahasan Bangun ruang sisi lengkung.Selain itu pemilihan media yang tepat juga sangat memberikan peranan dalam pembelajaran. . lalu memberi pelajaran baru. Sampai saat ini masih banyak ditemukan kesulitan-kesulitan yang dialami siswa di dalam mempelajari matematika. ulangan umum. Rumusan Masalah Dari Latar Belakang Masalah dapat Rumusan Masalah yang diangkat adalah : 1. siswa. Tetapi seiring dengan berkembangnya teknologi. Guru mempunyai tugas untuk memilih model dan media pembelajaran yang tepat sesuai dengan materi yang disampaikan demi tercapainya tujuan pendidikan. Berdasarkan uraian di atas perlu kiranya dikembangkan suatu tindakan yang dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa berupa penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan media VCD untuk memberikan kesempatan kepada siswa dalam mengemukakan gagasan-gagasan terhadap pemecahan suatu masalah dalam kelompoknya masing-masing. Pemilihan media pembelajaran dengan menggunakan VCD dikarenakan akhir-akhir ini di lingkungan akademis atau pendidikan penggunaan media pembelajaran yang berbentuk VCD bukan merupakan hal yang baru lagi. Akibatnya terjadi banyak kesulitan siswa dalam menjawab soal-soal baik soal-soal ulangan harian. Apabila pembelajaran seperti ini terus dilaksanakan maka kompetensi dasar dan indikator pembelajaran tidak akan dapat tercapai secara maksimal. membahayakan dan merusak seluruh minat siswa.maka judul yang dipilih dalam penelitian ini adalah "Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif type STAD dengan media Video Compact Disk untuk meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas IX SMP Negeri 1 Banjarangkan " B. Untuk itu diperlukan model dan media pembelajaran yang dapat membantu siswa untuk mencapai kompetensi dasar dan indikator pembelajaran. Dalam proses belajar mengajar di kelas terdapat keterkaitan yang erat antara guru. media pembelajaran tersebut kurang menarik perhatian dan minat siswa.yang tepat sesuai dengan materi yang disampaikan demi tercapainya tujuan pembelajaran. Apakah Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif tipe STAD dengan Media VCD dapat meningkatkan aktifitas belajar Matematika Siswa SMP Negeri 1 Banjarangkan. Menurut Sobel dan Maletsky dalam bukunya Mengajar Matematika (2001:1-2) banyak sekali guru matematika yang menggunakan waktu pelajaran dengan kegiatan membahas tugas-tugas. serta yang paling utama adalah dapat memenuhi nilai atau fungsi media pembelajaran secara umum. Berdasarkan uraian diatas .W. memberi tugas kepada siswa. sarana dan prasarana. Selama ini media pembelajaran yang dipakai adalah alat peraga yang terbuat dari tripleks-tripleks. Fowler dalam Pandoyo (1997:1) matematika merupakan mata pelajaran yang bersifat abstrak. kurikulum. Penggunaan media pembelajaran matematika yang berbentuk VCD memungkinkan digunakan dalam berbagai keadaan tempat. Pembelajaran seperti di atas yang rutin dilakukan hampir tiap hari dapat dikategorikan sebagai 3M. yaitu membosankan. sehingga dituntut kemampuan guru untuk dapat mengupayakan metode yang tepat sesuai dengan tingkat perkembangan mental siswa. Menurut H. Untuk itu diperlukan suatu media pembelajaran yang dapat lebih menarik perhatian dan minat siswa tanpa mengurangi fungsi media pembelajaran secara umum.

Dalam pembelajaran matematika salah satu upaya yang dilakukan oleh guru adalah dengan menggunakan model pembelajaran Kooperatif tipe STAD karena dengan menggunakan model pembelajaran ini dapat terjadi proses saling membantu diantara anggota-anggota kelompok untuk . Kemudian mengajak siswa-siswa untuk mengukur panjang sisi-sisi dari bangun-bangun tersebut . siswa beralih ke tahap belajar yang kedua. gambar atau diagram yang menggambarkan kegiatan konkret atau situasi konkret yang terdapat pada tahap enaktif. minat. c) Tahap Simbolik . guru harus mampu mengorganisir semua komponen sedemikian rupa sehingga antara komponen yang satu dengan lainnya dapat berinteraksi secara harmonis (Suhito. pada tahap enaktif anak diberikan contoh tentang benda benda di sekitarnya yang bentuknya sebangun dan ditunujukkan panjang sisi-sisinya. yaitu tahap belajar dengan menggunakan modus representasi ikonik. Suatu proses belajar akan berlangsung secara optimal jika pembelajaran diawali dengan tahap enaktif. Selanjutnya kegiatan belajar itu dilanjutkan pada tahap ketiga. Pembelajaran Matematika Pembelajaran adalah upaya untuk menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan. C. suatu tahap pembelajaran di mana pengetahuan itu direpresentasikan dalam bentuk simbol-simbol abstrak. Agar tujuan pengajaran dapat tercapai. 2003:1). 2000:12). Contoh nyata untuk anak SMP kelas sembilan yang sedang mempelajari tentang Kesebangunan Bangun Datar. Selanjutnya pada tahap ikonik siswa dapat diberikan penjelasan tentang perbandinan dari sisi-sisi yang bersesuaian dari dua bangun sebangun dengan menggunakan gambar dan model dua bangun yang sebangun selanjutnya pada tahap simbolik siswa dibimbing untuk dapat mendefinisikan secara simbolik tentang kesebangunan. Bruner dalam Hidayat (2004:8) belajar merupakan suatu proses aktif yang memungkinkan manusia untuk menemukan hal-hal baru diluar informasi yang diberikan kepada dirinya. 2. bakat dan kebutuhan peserta didik yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa (Suyitno. lambang-lambang matematika maupun lambanglambang abstrak lainnya (Hidayat. 2004:9). dan kemudian jika tahap belajar yang pertama ini dirasa cukup. suatu tahap pembelajaran di mana pengetahuan direpresentasikan (diwujudkan) dalam bentuk bayangan visual (visual imagery). Kajian Teori dan Pustaka 1. yaitu tahap belajar dengan menggunakan modus representasi simbolik. Apakah Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif tipe STAD dengan Media VCD dapat meningkatkan Prestasi belajar Matematika Siswa SMP Negeri 1 Banjarangkan. b) Tahap Ikonik. Teori Belajar Matematika Menurut J. Pengetahuan perlu dipelajari dalam tahap-tahap tertentu agar pengetahuan itu dapat diinternalisasi dalam pikiran (struktur kognitif) manusia yang mempelajarinya. Proses internalisasi akan terjadi secara sungguhsungguh (yang berarti proses belajar mengajar terjadi secara optimal) jika pengetahuan itu dipelajari dalam tahap-tahap sebagai berikut: a) Tahap Enaktif . suatu tahap pembelajaran di mana pengetahuan dipelajari secara aktif dengan menggunakan benda-benda konkret atau situasi yang nyata. 2004:1). siswa dan konteks pembelajaran (Depdiknas. Sehingga dituntut kemampuan guru untuk dapat memilih model pembelajaran serta media yang cocok dengan materi atau bahan ajaran.Salah satu komponen dalam pembelajaran adalah pemanfaatan berbagai macam strategi dan metode pembelajaran secara dinamis dan fleksibel sesuai dengan materi.2. kata-kata atau kalimat-kalimat). baik dengan lambang-lambang verbal maupun dengan lambang-lambang matematika. potensi. baik symbol-simbol verbal (misalkan huruf-huruf.

3. memperhatikan keinginan siswa. membandingkan jawaban. Kelompok terdiri dari 4-5 orang. membangun pengetahuan dari apa yang diketahui siswa. Kelompok diharapkan bekerja sama dengan sebaik-baiknya dan saling membantu dalam memahami materi pelajaran. b) Mengembangkan kreatifitas dengan imajinasi. 4) mengembangkan sikap menggunakan matematika sebagai alat untuk memecahkan matematika baik di sekolah maupun di rumah. dan merupakan pembelajaran kooperatif yang cocok digunakan oleh guru yang baru mulai menggunakan pembelajaran kooperatif. 6) membantu siswa menilai sendiri kegiatan matematikanya. d) Peningkatan skor individu. memberikan alternatif penggunaan alat peraga atau media pembelajaran yang bisa digunakan pada berbagai tempat dan keadaan. memberikan kegiatan yang memberi harapan keberhasilan. menciptakan suasana kelas yang mendukung kegiatan belajar. Setelah kegiatan presentasi guru dan kegiatan kelompok. c) Tes. b) Kerja kelompok. memberikan kegiatan yang menantang. Selain itu di dalam mempelajari matematika siswa memerlukan konteks dan situasi yang berbeda-beda sehingga diperlukan usaha guru untuk: 1) menyediakan dan menggunakan berbagai alat peraga atau media pembelajaran yang menarik perhatian siswa. Kelompok yang mencapai rata-rata skor tertinggi. siswa tidak diperkenankan saling membantu. 2003:5). Pembelajaran kooperatif tipe STAD terdiri dari lima tahapan utama sebagai berikut. e) Penghargaan kolompok. a) Presentasi kelas. 2003:8) menyatakan bahwa potensi siswa harus dapat dikembangkan secara optimal dan di dalam proses belajar matematika siswa dituntut untuk mampu. Dengan pemilihan metode yang tepat dan menarik bagi siswa. 1995) merupakan pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. d) Mengkomunikasikan pemikiran matematisnya kepada orang lain. para siswa bersama-sama mendiskusikan masalah yang dihadapi. Dalam kegiatan kelompok ini. 3)memberikan kesempatan menggunakan metematika untuk berbagai keperluan. Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) yang dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas John Hopkin (dalam Slavin. siswa diberikan tes secara individual. Siswa mengikuti presentasi guru dengan seksama sebagai persiapan untuk mengikuti tes berikutnya. Dalam menjawab tes. intuisi dan penemuannya. 2003:6) Dari kurikulum di atas dapat dikatakan bahwa guru dalam melakukan pembelajaran matematika harus bisa membuat situasi yang menyenangkan. Setiap anggota kelompok diharapkan mencapai skor tes yang tinggi karena skor ini akan memberikan kontribusi terhadap peningkatan skor rata-rata kelompok. diberikan pengghargaan. baik di sekolah maupun di rumah. 5) menghargai sumbangan tradisi. budaya dan seni di dalam pengembangan matematika. karena dengan menggunakan media pembelajaran siswa lebih mudah memahami konsep matematika yang abstrak. c) Melakukan kegiatan pemecahan masalah. Kurikulum Berbasis Kompetensi untuk Sekolah Menengah Pertama (Depdiknas.memahami konsep-konsep matematika dan memecahkan masalah matematika dengan kelompoknya. . Sedangkan penggunaan media dalam pembelajaran matematika sangat menunjang. Materi pelajaran dipresentasikan oleh guru dengan menggunakan metode pembelajaran. 2) memberikan kesempatan belajar matematika di berbagai tempat dan keadaan. (Depdiknas. memberikan kegiatan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. atau memperbaiki miskonsepsi. seperti halnya pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat memaksimalkan proses pembelajaran sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. menghargai setiap pencapaian siswa (Depdiknas. a) Melakukan kegiatan penelusuran pola dan hubungan. Untuk mencapai kemampuan tersebut perlu dikembangkannya proses belajar matematika yang menyenangkan.

b) Media Audial : radio. Pembelajaran adalah sebuah proses komunikasi antara pembelajar. Sebuah program harus dirancang sesederhana mungkin. Kriteria penilaian yang terakhir adalah fungsi secara keseluruhan. Kelima bentuk stimulus ini akan membantu pembelajar untuk memahami apa yang disampaaikan guru. diantaranya . bagan. Media pembelajaran harus meningkatkan motivasi pembelajar. Sehingga pada waktu seorang selesai menjalankan sebuah program dia akan merasa telah belajar sesuatu. dan bahan ajar. poster. over head projektor (OHP).wordpress. kartun. . televisi. Komunikasi tidak akan berjalan tanpa bantuan sarana penyampai pesan atau media. komputer dan sejenisnya. Semakin banyak tujuan pembelajaran yang bisa dibantu dengan sebuah media semakin baiklah media itu. Fowler (Suyitno. Kreteria pertamanya adalah biaya. kerumitan dan yang terakhir adalah kegunaan. Kriteria yang kedua adalah kandungan kognisi. Biaya memang harus dinilai dengan hasil yang akan dicapai dengan penggunaan media itu. kemampuan untuk dirubah. dapat disajikan dalam bentuk konkret sehingga lebih dapat dipahami. apakah program telah memenuhi kebutuhan pembelajaran. tape recorder.W. Media yang baik juga akan mengaktifkan pembelajar dalam memberikan tanggapan. Kedua kriteria ini adalah untuk menilai isi dari program itu sendiri. Media pembelajaran yang baik harus memenuhi beberapa syarat. Untuk menarik minat pembelajar program harus mempunyai tampilan yang artistik maka. kriteria yang lainnya adalah pengetahuan dan presentasi informasi. in focus dan sejenisnya. Kriteria lainnya adalah ketersedian fasilitas pendukung seperti listrik. Media Pembelajaran Media adalah sebuah alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan. kecocokan dengan ukuran kelas. Terdapat berbagai jenis media belajar (http://akhmadsudrajat. a) Media Visual : grafik.Media pembelajaran adalah sebuah alat yang berfungsi untuk menyampaikan pesan pembelajaran. realia. Ada beberapa kriteria untuk menilai keefektifan sebuah media. keringkasan. laboratorium bahasa. video (VCD. Thorn mengajukan enam kriteria untuk menilai multimedia interaktif. estetika juga merupakan sebuah kriteria. Selain itu media juga harus merangsang pembelajar mengingat apa yang sudah dipelajari selain memberikan rangsangan belajar baru. Hubbard mengusulkan sembilan kriteria untuk menilainya. c) Projected still media : slide.(Darhim. Sehingga untuk menunjang kelancaran pembelajaran disamping pemilihan metode yang tepat juga perlu digunakan suatu media pembelajaran yang sangat berperan dalam membimbing abstraksi siswa (Suyitno. Pengajar adalah orang yang mempunyai kemampuan untuk merealisasikan kelima bentuk stimulus tersebut dalam bentuk pembelajaran. diagram. pengaruh yang ditimbulkan. Kriteria di atas lebih diperuntukkan bagi media konvensional. d) Projected motion media : film. 5.com/). Adapun nilai atau fungsi khusus media pendidikan matematika antara lain. Bentuk-bentuk stimulus bisa dipergunakan sebagai media diantaranya adalah hubungan atau interaksi manusia. umpan balik dan juga mendorong siswa untuk melakukan praktek-praktek dengan benar. Media Pembelajaran Matematika Menurut H. waktu dan tenaga penyiapan. Kriteria penilaian yang pertama adalah kemudahan navigasi. 2000:37). chart. tulisan dan suara yang direkam. komik. c) Untuk membuat konsep matematika yang abstrak. VTR). Namun demikian masalah yang timbul tidak semudah yang dibayangkan. Penggunaan media mempunyai tujuan memberikan motivasi kepada pembelajar. Kriteria keempat adalah integrasi media di mana media harus mengintegrasikan aspek dan ketrampilan yang harus dipelajari. dimengerti dan dapat disajikan sesuai dengan tingkat-tingkat berpikir siswa. Program yang dikembangkan harus memberikan pembelajaran yang diinginkan oleh pembelajar. a) Untuk mengurangi atau menghindari terjadinya salah komunikasi. pengajar.4. b) Untuk membangkitkan minat atau motivasi belajar siswa. gambar bergerak atau tidak. 2000:1) matematika adalah ilmu yang mempelajari tentang bilangan dan ruang yang bersifat abstrak. sipembelajar atau belum. DVD. dan sejenisnya.

4. d) memperoleh skor pada tes akhir tindakan minimal 60 . Prosedur Penelitian Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang berlangsung selama dua siklus. c) senang dan aktif mengikuti pembelajaran. Sedangkan motivasi dapat mengarahkan kegiatan belajar. Sedangkan obyeknya adalah kompetensi dasar matematika yang meliputi aspek kognitif dan aktifitas pembelajaran siswa. Salah satunya adalah media pembelajaran yang berbentuk VCD (Video Compact Disc). Prosedur Penelitian 1. D. Penggunaan media pembelajaran matematika yang berbentuk VCD memungkinkan digunakan di rumah karena VCD player sekarang ini sudah bukan merupakan barang mewah lagi dan dapat ditemukan hampir disetiap rumah siswa. berkembang pula jenis-jenis media pembelajaran yang lebih menarik dan dapat digunakan baik di sekolah maupun di rumah. Hal ini dikarenakan akhir-akhir ini di lingkungan akademis atau pendidikan penggunaan media pembelajaran yang berbentuk VCD bukan merupakan hal yang baru lagi dan dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran baik di sekolah maupun di rumah. Penggunaan VCD (Video Compact Disc) dalam Pembelajaran Matematika Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Rancangan masingmasing siklus terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan tindakan. Adapun kreteria keberhasilan untuk setiap siklus adalah jika seluruh subyek penelitian. b) dapat menyelesaikan persoalan yang berkaitan dengan materi yang dipelajari. sedangkan variabel terikatnya adalah prestasi belajar matematika. Variabel-variabel Penelitian Secara umum ada dua variabel dalam penelitian ini yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Sehingga dengan meningkatnya motivasi belajar siswa dapat meningkatkan hasil belajarnya pula (Dimyati. 1994:78-79). membesarkan semangat belajar juga menyadarkan siswa tentang proses belajar dan hasil akhir. 3. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini diadakan di kelas IX B SMP Negeri 1 Banjarangkan tahun pelajaran 2008/2009 mulai bulan Agustus sampai bulan Oktober 2008 2.1993:10) Jadi salah satu fungsi media pembelajaran matematika adalah untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Penggunaan VCD (Video Compact Disc) dapat digunakan sebagai alternatif pemilihan media pembelajaran matematika yang cukup mudah untuk dilaksanakan. a ) dapat memahami materi yang sedang dipelajari. Sebagai variabel bebasnya adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan media VCD dalam pembelajaran matematika kelas IX.1998). pelaksanaan tindakan. evaluasi. tahun pelajaran 2008/2009 sebanyak 42 orang. 6. Subyek dan Obyek Penelitian Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IXB SMP Negeri 1 Banjarangkan.dan refleksi (Kemmis dan Taggart.

5 SDI < MI + 0.5 SDI Kurang aktif < MI ± 1.5 SDI Aktif MI 0.5 SDI Cukup aktif MI 1. ketuntasan individual (KI) . (2) .5 SDI < MI + 1. Tehnik Analisa Data dan Kreteria Keberhasilan Data aspek kognitif siswa dianalisis secara deskriptif yaitu dengan menentukan nilai rata-rata.5 SDI Keterangan : Sangat kurang aktif = Skor rata-rata keaktivan siswa ( Nurkencana & Sunartana. b) Observasi . Kriteria penggolongan aktivitas belajar disusun berdasarkan Mean Ideal (MI) dan Standar Deviasi Ideal (SDI) dengan rumus: MI = ( skor tertinggi ideal + skor terrendah ideal ) SDI = ( skor tertinggi ideal .65 (kategori aktif) E. sebagai upaya untuk mengetahui adanya kesesuaian antara perencanaan tindakan. Analisis data aktivitas belajar siswa dilakukan secara deskriptif.95 Secara sistematik hasil penelitian ini disajikan dalam susunan : (1) Penyusunan program tindakan pembelajaran. Metoda Pengumpulan Data Dalam penelitian ini. dan ketuntasan klasikal (KK). dengan tujuan untuk mengetahui peningkatan pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari setelah pemberian tindakan. 1992 ) Kriteria keaktifan siswa yang diharapkan dalam penelitian ini adalah berkisar 16. a) tes pada setiap akhir tindakan. Observasi dilakukan untuk mengamati aktifitas siswa selama kegiatan penelitian. dengan indikator keberhasilan nilai rata-rata mencapai lebih dari atau sama dengan 60 (KKM matematika kelas IX SMP Negeri 1 Banjaragkan) dan ketuntasan klasikal lebih dari atau sama dengan 80%. dan untuk mengetahui sejauh mana tindakan dapat menghasilkan perubahan yang dikehendaki oleh peneliti. Tes yang diberikan dalam bentuk uraian. Observasi ini dilakukan oleh peneliti selama pelaksanaan tindakan dalam dua siklus.5 SDI Sangat aktif MI + 0.skor terrendah ideal ) Dengan pedoman seperti berikut : MI + 1. 7. prosedur yang digunakan untuk pengumpulan data adalah sebagai berikut .6.5 SDI < MI 0. karena peneliti ingin mengetahui proses jawaban siswa secara rinci. pelaksanaan tindakan. Hasil Penelitian dan Pembahasan < 19.

dan kegiatan yang akan dilakukan. . Kelas dibagi menjadi 8 kelompok. serta hal-hal lain yang dianggap perlu. Sedangkan .Perencanaan Solusi Masalah. Tindakan solusi masalah yang digunakan oleh peneliti. sedang.Pelaksanaan tindakan pembelajaran. suatu tindakan dapat dikembangkan.kemudian bekerja secara perorangan (penerapan latihan mandiri). 1. Silabus. Setelah mendapatkan masalah tersebut diatas. Model pembelajaran yang digunakan adalah kooferatif type STAD dengan VCD sebgai media. 2) Memberikan LKS sesuai materi ajar. (3) Evaluasi program tindakan pembelajaran dan. berlangsung sejak mulai meneliti Standar Isi. Peneliti menganggap bahwa penyebab masalah adalah kualitas pembelajaran seperti : a) pembelajaran cenderung satu arah. Penyusunan Program Tindakan Pembelajara Solusi untuk mengatasi masalah penggunaan model pembelajaran kooperatif type STAD dengan bantuan media Video Compact Disk untuk meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas IX SMP Negeri 1 Banjarangkan perlu disusun kedalam suatu program tindakan pembelajaran. dilanjutkan dengan mengidentifikasi faktor penyebab lainnya. Tiga kali pertemuan untuk pelaksanaan tindakan dan sekali pertemuan untuk pelaksanaan tes hasil belajar. Model pembelajaranPembelajaran yang biasanya cenderung satu arah dibenahi menjadi pembelajaran yang melaksanakan model pembelajaran Kooferatif type STAD Penerapan kombinasi pembelajaran ini secara umum pembelajaran diawali dengan pertemuan klasikal untuk memberikan informasi dasar. 3) Menyampaikan materi ajar secara sistematis. Karena melalui pemahaman berbagai kemungkinan penyebab masalah. yaitu pembenahan gaya mengajar dengan pemecahan yang akan dikembangkan pada siklus pertama sebagai berikut : a. sehingga tiap kelompok terdiri dari siswa yang mempunyai kemampuan diatas. 7) Membimbing siswa membuat rangkuman materi ajar. Peneliti sudah berusaha untuk menghindari kelompok dengan jumlah genap namun keadaan jumlah siswa yang memaksa ada dua kelompok terdiri dari 6 orang siswa. Pengelompokan dilakukan dengan memperhatikan kemampuan siswa. kurang demokratis. 2. Pembelajaran dilakukan selama 8 jam ( empat kali pertemuan ). Setelah pertemuan secara klasikal siswa diberi kesempatan kerja dalam kelompok (penerapan latihan terkontrol). penjelasan tentang tugas yang akan dikerjakan. Tindakan Pembelajaran Tindakan pembelajaran dengan model pembelajaran Kooferatif type STAD dengan media VCD untuk meningkatkan prestasi belajar matematika siswa adalah sebagai berikut : 1) Memberitahu Standar Kopetensi dan Kopetensi Dasar. dan di bawah rata-rata. b) pembelajaran kurang memanfaatkan alat peraga. 5) Memberikan tugas baik kelompok maupun individu dengan petunjuk yang jelas dan membimbing proses penyelesaiannya. dengan setiap kelompok terdiri dari lima siswa. 4) Mendorong dan membimbing siswa untuk menyampaikan ide. dan menggunakan VCD sebagai media pembelajaran yang dapat membantu pemahaman siswa. pemahaman konsep. sampai meyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).Permasalahan kelas yang perlu diatasi untuk usaha peningkatan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran matematika adalah konsentrasi. Pelaksanaan Tindakan Pembelajaran Pada Siklus I Materi yang diberikan adalah unsur-unsur dan luas bagun ruang sisi lengkung. simpel. dan c) di dalam pembelajaran tidak ada bimbingan dari guru terhadap individu maupun kelompok siswa. Penyusunan program tindakan pembelajaran dalam arti luas. b. dan kreatifitas siswa dalam pembelajaran kurang. inti materi ajar. (4) Pembahasan. membosankan. 8) Memberikan PR dengan petunjuk langahlangkah pengerjaannya. 6) Merespons setiap pendapat atau perilaku siswa.

33 ketuntasan naik 13% . Dua kali pertemuan untuk pelaksanaan tindakan dan sekali pertemuan untuk pelaksanaan tes hasil belajar. Pembenahan yang dilakukan pada siklus II melihat dari observasi pada siklus I terdapat antara lain: a) pengulangan pengulangan tayangan VCD yang dianggap penting.68 70% 17. Bila dicermati lebih dalam lagi dari 42 siswa di kelas IX B pada siklus I sebanyak 30 orang yang mendapat nilai 6 atau 70% siswa tuntas.16 Dari data diatas terlihat rata-rata hasil belajar pada siklus I sebesar 6. dengan nilai terendah 3 diperoleh oleh 4 orang siswa.29 Aktif II 42 10 4 70. rata-rata keaktifan 17. begitu pula terjadi peningkatan pada nilai terendah dari 3 menjadi 4. Evaluasi Program Tindakan Kelas Adapun hasil evaluasi selama Program Tindakan kelas disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut : Tabel 6. c) pemberian bimbingan dari guru terhadap kelompok yang kesulitan dalam memecahkan permasalahan. dengan ketuntasan 70% dan rata-rata keaktifan 17.33 13% 0. dan rata-rata keaktifan naik 0. rata-rata prestasi belajar siswa adalah 7.observasi keaktifan siswa dilaksanakan selama berlangsungnya proses pembelajaran.45 katagori aktif. yang diberikan selama 6 jam (dalam 3 kali pertemuan).Hasil belajar dan Keaktifan siswa Hasil Belajar Keaktifan Siklus Banyak Siswa Ter tinggi Ter Rata-rata rendah Ketunt Rata-rata Katagori I 42 10 3 6. dan satu oarang siswa mendapat nilai 10. dan d) memotivasi siswa yang tergolong kurang untuk mewakili kelompoknya mempersentasikan kerja kelompoknya.01 dengan ketuntasan 83%.16 . Bila dibandingkan dengan hasil pada siklus I terdapat beberapan kenaikan yang cukup memuaskan seperti.01 83% 17. rata-rata hasil belajar terjadi kenaikan sebesar 0. b) pengelompokan siswa diatur ulang disesuai dengan hasil tes siklus I. 3.29 yang tergolong katagori aktif.45 Aktif Peningkatan - 1 0. Pada Siklus II hasil belajar yang diperoleh seperti terlihat dari tabel diatas .68 dimana hasil ini tergolong cukup besar untuk ukuran sekolah kami. untuk nilai tertinggi 10 pada siklus I hanya diperoleh oleh 1 orang siswa sedangkan pada siklus II diperoleh oleh 5 orang. Pada siklus II materi yang diberikan adalah volume bangun ruang sisi lengkung.

sedangkan observasi tentang keaktifan siswa dalam pembelajaran dilakukan selama berlangsungnya pemberian tindakan. Ketuntasan mengalami peningkatan dari 30 siswa (70% ) pada siklus I menjadi 37 siswa (83%) pada siklus II. siswa yang sudah mengerti mau memberi penjelasan kepada anggota kelompok yang belum paham. memberikan dorongan kepada peneliti untuk melakukan pembelajaran yang memudahkan siswa belajar (efektif). Dari delapan kelompok yang terdiri dari 5 sampai 6 orang siswa masih tampak lebih mengutamakan penonjolan individu. Diskusi pada siklus II berjalan dengan baik. Untuk pencapaian nilai 10 pada siklus I hanya diperoleh oleh seorang siswa meningkat menjadi 5 orang pada siklus II. Keaktifan siswa meningkat dari rata-rata 17. Ada 35 siswa ( 83% ) tuntas. Bahkan beberapa siswa sudah berani bertanya kepada guru bila ada soal yang belum dapat dikerjakan kelompoknya. Bila dibandingkan dengan siklus I hasil yang diperoleh pada siklus II hampir semua aspek penilaian mengalami peningkatan.45 dengan katagori aktif. Dengan demikian penerapan model pembelajaran kooferatif Type STAD dengan media VCD dapat . dan yang bodoh. penunjukan dilakukan oleh peneliti bertujuan untuk memberikan kesempatan pada siswa agar lebih berani mengemukakan pendapat. Untuk mengatasi hal ini peneliti berulang-ulang memberitahukan agar sola-soal yang diberikan dalam LKS didiskusikan lebih dahulu dalam kelompoknya. Kesalahan siswa dalam mengerjakan tes sebagian besar karena kurangnya pemahaman konsep dan kesalahan melihat gambar terutama dalam melihat jari-jari dan diameter.45 ( katagori Aktif). pengelompokan diatur ulang dengan melihat hasil belajar pada siklus I. Pada siklus II diadakan beberapa perombakan kelompok.01. Hal ini tampak dari anggota kelompok yang lebih suka mengerjakan kedepan sebelum membantu pemahaman teman sekelompoknya. Pada setiap awal pembelajaran peneliti selalu memberitahukan tujuan pembelajaran.29 ( katagori Aktif) pada siklus I menjadi 17. 5 siswa mendapat nilai 10. Pada siklus I pengelompokan siswa dilakukan dengan mempertimbangkan hasil ulangan I.68 dengan 30 siswa ( 70%) tuntas. dan bagi siswa yang kurang paham agar menanyakan kepada teman sekelompoknya.29 dengan katagori aktif. Pada siklus II ini guru lebih banyak memberikan bimbingan pada siswa yang nilainya kurang pada siklus I. begitu pula untuk nilai terendah 3 pada siklus I meningkat menjadi 4 pada siklus II. peneliti menetapkan menerapkan tindakan berupa penerapan model pembelajaran kooferatif Type STAD dengan media VCD untuk meningkatkan hasil belajar matematika siaswa. Pembahasan Hasil dialog awal dan diskusi dengan sesama guru matematika SMPN 1 Banjarangkan tentang keadaan siswa baik ditinjau dari hasil belajar dan motivasi siswa dalam belajar matematika yang cenderung menurun.4. Sedangkan untuk mengerjakan ke papan tulis dilakukan dengan menunjuk wakil tiap kelompoknya. inti materi ajar. Rata-rata kelas mengalami kenaikan dari 6. Pada akhir tiap siklus dilaksanakan tes prestasi belajar. dan nilai terendah 4. dan satu orang mendapat nilai 10. sedangkan yang belum paham tidak malu-malu untuk bertanya kepada temannya. Dari hasil tes pada akhir siklus I dan hasil observasi tentang keaktifan siswa selama siklus I diperoleh rata-rata prestasi belajar siswa adalah 6. 12 siswa (30%) tidak tuntas. Bantuan dan dorongan dari sesama guru matematika ditunjukkan oleh dengan memberikan masukan yang natinya sangat berguna dalam penelitian ini. dan kegiatan yang dilakukan serta membimbing siswa yang bertujuan untuk membangun hubungan baik dengan siswa. Dari delapan kelompok yang ada tampak satu kelompok yaitu kelompok VIII yang kurang aktif dan kurang serius dalam proses pembelajaran.01 pada siklus II. Penelitian tindakan ini dilakukan dalam dua siklus. Dari hasil diskusi dan berbagai masukan dari sesama guru matematika dan atas saran dan arahan Kepala Sekolah.68 pada siklus I menjadi 7. biasa. bantuan juga diberikan dalam bentuk kesediaan dari guru yang untuk membantu menyediakan sarana yang diperlukan pada pelaksanaan tindakan baik siklus I maupun pada siklus II. Sedangkan untuk keaktifan siswa rata-ratanya adalah 17. Sedangkan untuk keaktifan siswa rata-ratanya 17. dimana setiap kelompok terdiri dari siswa pintar. Hasil tes prestasi belajar pada siklus II menunjukkan rata-rata kelas 7.

1994.01 pada siklus II.68 pada suklus I menjadi 7. H. Jakarta:PT Gramedia Widiasarana. Utami. Bersarkan temuan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Penerapan Model Pembelajaran Kooferatif Type STAD dengan media VCD pembelajaran dapat meningkatkan Aktifitas dan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas IX B SMP Negeri 1 Banjarangkan tahun 2008/2009 G.Sedangkan untuk ketuntasan klasikal juga terjadi peningkatan dari 70% pada siklus I menjadi 83% pada siklus II. Disarankan kepada sesama guru matematika untuk mencoba model pembelajaran di atas dengan lebih baik. Saran.meningkatkan hasil belajar dan meningkatkan aktifitas belajar matematika siswa kelas IX B SMP Negeri 1 Banjarangkan tahun pelajaran 2008/2009. 2. 1992. Pada siklus I rata-rata skor aktifitas siswa dalam pembelajaran sebesar 17.45 pada siklus II. Dimyati. Peningkatan ini ditunjukkan dengan dengan kenaikan rata-rata nilai hasil belajar sebesar 6. disarankan agar pemberian dana block grant penelitian tindakan kelas dapat dilanjutkan dan ditingkatkan baik jumlah peserta maupun jumlah dana. Depdikbud. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi Depdiknas. Mengembangkan Bakat Dan Kreativitas Anak Sekolah. Nilai hasil belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus I sampai pada siklus II. Rata-rata skor aktifitas siswa dalam pembelajaran mengalami peningkatan dari siklus I sampai siklus II. Pedoman Khusus Pengembangan Silabus Berbasis Kompetensi Sekolah Menengah Pertama Mata Pelajaran Matematika. Kurikulum Pendidikan Dasar. Diktat Kuliah Teori Pembelajaran Matematika. 2. Begitu pula dengan perolehan nilai 10 terjadi peningkatan dari hanya diperoleh oleh seorang siswa pada siklus I menjadi diperoleh sebanyak 5 orang siswa pada siklus II. F. Munandar. sehingga hasil yang diharapkan juga lebih baik. . Untuk nilai terendah pada siklus I sebesar 3 meningkat menjadi 4 pada siklus II. Mudjiono.29 meningkat menjadi 17. 2003. Semarang:FMIPA UNNES. Hidayat. Mengingat hasil yang diperoleh dalam penelitian tindakan kelas ini sangat bagus. maka dapat dikemukakan beberapa saran-saran sebagai berikut : 1. Jakarta:Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi Depdikbud. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian ada beberapa temuan dalam penelitian tindakan kelas ini yaitu : 1. Jakarta : Depdikbud. DAFTAR PUSTAKA Departemen Pendidikan Nasional . Untuk meningkatkan mutu dan hasil pembelajaran melalui tindakan kelas. 1993. 2004. Kurikulum 2004 Sekolah Menengah Pertama.

Dasar-Dasar Statistika. http ://akhmadsudrajat. Jakarta:PT Raja Grafindo Persada. Santoyo. Cerdas Aktif Matematika. Strategi Pembelajaran Matematika. Sudrajat. Pandoyo.com/ Yitnosumarto. Evaluasi Hasil Belajar.net/content/view/73/46/ . Semarang:FPMIPA IKIP Semarang. wordpress. Semarang:Pendidikan Matematika FMIPA UNNES Sudirman.Nurkancana. 2008. Bandung:Ganeca Exact. Semarang:IKIP Semarang Press. 1990. Pembelajaran Matematika Untuk SMP. Suhito. Pandoyo. 2000. 1990. Wayan & Sunartana. Suhito. Hidayah Isti. http://disdikklungkung. Dasar-dasar dan Proses Pembelajaran Matematika I. 2007. Jenis-Jenis Media Pembelajaran. Suparyan. 1992. Strategi Belajar Mengajar. akhmad. Suyitno Amin. 1992. Surabaya : Usaha Nasional.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.