PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TYPE STAD DENGAN MEDIA VCD

l

UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS IX B SMP NEGERI 1 BANJARANGKAN TAHUN 2008/2009 OLEH DRS.I MADE SURIANTA (NIP.132161064) ABSTRAK Dalam proses belajar mengajar guru mempunyai tugas untuk memilih model pembelajaran berikut media yang tepat sesuai dengan materi yang disampaikan demi tercapainya tujuan pembelajaran. Dalam proses belajar mengajar di kelas terdapat keterkaitan yang erat antara guru, siswa, kurikulum, sarana dan prasarana.

Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dalam dua siklus dengan subyek penelitian kelas IX B SMP Negeri 1 Banjarangkan semester 1 tahun pelajaran 2008/2009 yang berjumlah 42 orang. Data keaktifan siswa dikumpulkan dengan pedoman observasi dan data tentang hasil belajar siswa dikumpulkan dengan tes hasil belajar. Selanjutnya data yang terkumpul dianalisisi dengan menggunakan metode deskriptif analisis. Pelaksanaan tindakan diawali dengan membagi kelas menjadi delapan kelompok, menyampaikan tujuan pembelajaran, menyampaikan materi pembelajaran dengan VCD, kerja kelompok mengerjakan LKS, presentasi kelompok, dan latihan soal-soal. Hasil Penelitian menunjukkan 1) Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Type STAD dengan VCD (Video Compact Disk) sebagai media pada pembelajaran bangun ruang sisi lengkung dapat meningkatkan keaktifan siswa dan 2) dapat meningkatkan hasil belajar siswa dari rata-rata 6,68 dan ketuntasan klasikal 70% pada siklus I menjadi rata-rata hasil belajar 7,01 dengan ketuntasan klasikal sebesar 83% pada siklus II. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Penerapan Model Pembelajaran Type STAD dengan VCD (Video Compact Disk) sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan aktifitas dan hasil belajar matematika siswa, sehingga model pembelajaran ini dapat dijadikan alternatif pilihan pada pembelajaran matematika. Kata kunci : Kooperatif,STAD dan VCD

A. Latar Belakang Masalah Matematika adalah mata pelajaran yang diajarkan mulai dari tingkat SD sampai sekolah tingkat menengah. Sampai saat ini matematika masih dianggap mata pelajaran yang sulit, membosankan, bahkan menakutkan. Anggapan ini mungkin tidak berlebihan selain mempunyai sifat yang abstrak, pemahaman konsep matematika yang baik sangatlah penting karena untuk memahami konsep yang baru diperlukan prasarat pemahaman konsep sebelumnya. Dalam proses belajar mengajar guru mempunyai tugas untuk memilih model pembelajaran berikut media

W. membahayakan dan merusak seluruh minat siswa.yang tepat sesuai dengan materi yang disampaikan demi tercapainya tujuan pembelajaran. siswa. . Dalam proses belajar mengajar di kelas terdapat keterkaitan yang erat antara guru. sarana dan prasarana. Selama ini media pembelajaran yang dipakai adalah alat peraga yang terbuat dari tripleks-tripleks. Untuk itu diperlukan model dan media pembelajaran yang dapat membantu siswa untuk mencapai kompetensi dasar dan indikator pembelajaran. Fowler dalam Pandoyo (1997:1) matematika merupakan mata pelajaran yang bersifat abstrak. memberi tugas kepada siswa. Pembelajaran seperti di atas yang rutin dilakukan hampir tiap hari dapat dikategorikan sebagai 3M. Apakah Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif tipe STAD dengan Media VCD dapat meningkatkan aktifitas belajar Matematika Siswa SMP Negeri 1 Banjarangkan. Sampai saat ini masih banyak ditemukan kesulitan-kesulitan yang dialami siswa di dalam mempelajari matematika. Berdasarkan uraian diatas . Menurut H. media pembelajaran tersebut kurang menarik perhatian dan minat siswa. ulangan umum. Berdasarkan uraian di atas perlu kiranya dikembangkan suatu tindakan yang dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa berupa penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan media VCD untuk memberikan kesempatan kepada siswa dalam mengemukakan gagasan-gagasan terhadap pemecahan suatu masalah dalam kelompoknya masing-masing. Pemilihan media pembelajaran dengan menggunakan VCD dikarenakan akhir-akhir ini di lingkungan akademis atau pendidikan penggunaan media pembelajaran yang berbentuk VCD bukan merupakan hal yang baru lagi. Apabila pembelajaran seperti ini terus dilaksanakan maka kompetensi dasar dan indikator pembelajaran tidak akan dapat tercapai secara maksimal. serta yang paling utama adalah dapat memenuhi nilai atau fungsi media pembelajaran secara umum. Salah satu kesulitan itu adalah memahami konsep pada pokok bahasan Bangun ruang sisi lengkung. Akibatnya terjadi banyak kesulitan siswa dalam menjawab soal-soal baik soal-soal ulangan harian. sehingga dituntut kemampuan guru untuk dapat mengupayakan metode yang tepat sesuai dengan tingkat perkembangan mental siswa. dan soal-soal UAN yang berhubungan dengan bangun ruang sisi lengkung. Untuk itu diperlukan suatu media pembelajaran yang dapat lebih menarik perhatian dan minat siswa tanpa mengurangi fungsi media pembelajaran secara umum. Rumusan Masalah Dari Latar Belakang Masalah dapat Rumusan Masalah yang diangkat adalah : 1. kurikulum.Selain itu pemilihan media yang tepat juga sangat memberikan peranan dalam pembelajaran.maka judul yang dipilih dalam penelitian ini adalah "Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif type STAD dengan media Video Compact Disk untuk meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas IX SMP Negeri 1 Banjarangkan " B. Menurut Sobel dan Maletsky dalam bukunya Mengajar Matematika (2001:1-2) banyak sekali guru matematika yang menggunakan waktu pelajaran dengan kegiatan membahas tugas-tugas. Guru mempunyai tugas untuk memilih model dan media pembelajaran yang tepat sesuai dengan materi yang disampaikan demi tercapainya tujuan pendidikan. Penggunaan media pembelajaran matematika yang berbentuk VCD memungkinkan digunakan dalam berbagai keadaan tempat. lalu memberi pelajaran baru. baik di sekolah maupun di rumah. Tetapi seiring dengan berkembangnya teknologi. yaitu membosankan.

2000:12). Pembelajaran Matematika Pembelajaran adalah upaya untuk menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan. Teori Belajar Matematika Menurut J. Kajian Teori dan Pustaka 1. minat. Proses internalisasi akan terjadi secara sungguhsungguh (yang berarti proses belajar mengajar terjadi secara optimal) jika pengetahuan itu dipelajari dalam tahap-tahap sebagai berikut: a) Tahap Enaktif . 2004:9). bakat dan kebutuhan peserta didik yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa (Suyitno. Sehingga dituntut kemampuan guru untuk dapat memilih model pembelajaran serta media yang cocok dengan materi atau bahan ajaran. Agar tujuan pengajaran dapat tercapai. baik symbol-simbol verbal (misalkan huruf-huruf. b) Tahap Ikonik.Salah satu komponen dalam pembelajaran adalah pemanfaatan berbagai macam strategi dan metode pembelajaran secara dinamis dan fleksibel sesuai dengan materi. 2003:1). Bruner dalam Hidayat (2004:8) belajar merupakan suatu proses aktif yang memungkinkan manusia untuk menemukan hal-hal baru diluar informasi yang diberikan kepada dirinya. siswa dan konteks pembelajaran (Depdiknas.2. kata-kata atau kalimat-kalimat). baik dengan lambang-lambang verbal maupun dengan lambang-lambang matematika. suatu tahap pembelajaran di mana pengetahuan itu direpresentasikan dalam bentuk simbol-simbol abstrak. Contoh nyata untuk anak SMP kelas sembilan yang sedang mempelajari tentang Kesebangunan Bangun Datar. lambang-lambang matematika maupun lambanglambang abstrak lainnya (Hidayat. guru harus mampu mengorganisir semua komponen sedemikian rupa sehingga antara komponen yang satu dengan lainnya dapat berinteraksi secara harmonis (Suhito. dan kemudian jika tahap belajar yang pertama ini dirasa cukup. C. Dalam pembelajaran matematika salah satu upaya yang dilakukan oleh guru adalah dengan menggunakan model pembelajaran Kooperatif tipe STAD karena dengan menggunakan model pembelajaran ini dapat terjadi proses saling membantu diantara anggota-anggota kelompok untuk . suatu tahap pembelajaran di mana pengetahuan direpresentasikan (diwujudkan) dalam bentuk bayangan visual (visual imagery). Selanjutnya pada tahap ikonik siswa dapat diberikan penjelasan tentang perbandinan dari sisi-sisi yang bersesuaian dari dua bangun sebangun dengan menggunakan gambar dan model dua bangun yang sebangun selanjutnya pada tahap simbolik siswa dibimbing untuk dapat mendefinisikan secara simbolik tentang kesebangunan. pada tahap enaktif anak diberikan contoh tentang benda benda di sekitarnya yang bentuknya sebangun dan ditunujukkan panjang sisi-sisinya. 2004:1). Apakah Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif tipe STAD dengan Media VCD dapat meningkatkan Prestasi belajar Matematika Siswa SMP Negeri 1 Banjarangkan. yaitu tahap belajar dengan menggunakan modus representasi simbolik. Selanjutnya kegiatan belajar itu dilanjutkan pada tahap ketiga. Suatu proses belajar akan berlangsung secara optimal jika pembelajaran diawali dengan tahap enaktif. yaitu tahap belajar dengan menggunakan modus representasi ikonik. gambar atau diagram yang menggambarkan kegiatan konkret atau situasi konkret yang terdapat pada tahap enaktif. suatu tahap pembelajaran di mana pengetahuan dipelajari secara aktif dengan menggunakan benda-benda konkret atau situasi yang nyata. 2. c) Tahap Simbolik . potensi. Pengetahuan perlu dipelajari dalam tahap-tahap tertentu agar pengetahuan itu dapat diinternalisasi dalam pikiran (struktur kognitif) manusia yang mempelajarinya. Kemudian mengajak siswa-siswa untuk mengukur panjang sisi-sisi dari bangun-bangun tersebut . siswa beralih ke tahap belajar yang kedua.

atau memperbaiki miskonsepsi. b) Kerja kelompok. memberikan kegiatan yang menantang. Selain itu di dalam mempelajari matematika siswa memerlukan konteks dan situasi yang berbeda-beda sehingga diperlukan usaha guru untuk: 1) menyediakan dan menggunakan berbagai alat peraga atau media pembelajaran yang menarik perhatian siswa. menghargai setiap pencapaian siswa (Depdiknas. b) Mengembangkan kreatifitas dengan imajinasi. seperti halnya pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat memaksimalkan proses pembelajaran sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. 5) menghargai sumbangan tradisi. a) Presentasi kelas. Kelompok diharapkan bekerja sama dengan sebaik-baiknya dan saling membantu dalam memahami materi pelajaran. diberikan pengghargaan. 3)memberikan kesempatan menggunakan metematika untuk berbagai keperluan. Kurikulum Berbasis Kompetensi untuk Sekolah Menengah Pertama (Depdiknas. d) Mengkomunikasikan pemikiran matematisnya kepada orang lain. Sedangkan penggunaan media dalam pembelajaran matematika sangat menunjang. Kelompok terdiri dari 4-5 orang. 2) memberikan kesempatan belajar matematika di berbagai tempat dan keadaan. Materi pelajaran dipresentasikan oleh guru dengan menggunakan metode pembelajaran. (Depdiknas. 3. d) Peningkatan skor individu. menciptakan suasana kelas yang mendukung kegiatan belajar. e) Penghargaan kolompok. Kelompok yang mencapai rata-rata skor tertinggi. Dalam menjawab tes. membangun pengetahuan dari apa yang diketahui siswa. siswa diberikan tes secara individual. a) Melakukan kegiatan penelusuran pola dan hubungan. baik di sekolah maupun di rumah. 2003:6) Dari kurikulum di atas dapat dikatakan bahwa guru dalam melakukan pembelajaran matematika harus bisa membuat situasi yang menyenangkan. Setelah kegiatan presentasi guru dan kegiatan kelompok. karena dengan menggunakan media pembelajaran siswa lebih mudah memahami konsep matematika yang abstrak. c) Tes. 6) membantu siswa menilai sendiri kegiatan matematikanya.memahami konsep-konsep matematika dan memecahkan masalah matematika dengan kelompoknya. 2003:5). memperhatikan keinginan siswa. budaya dan seni di dalam pengembangan matematika. . Untuk mencapai kemampuan tersebut perlu dikembangkannya proses belajar matematika yang menyenangkan. dan merupakan pembelajaran kooperatif yang cocok digunakan oleh guru yang baru mulai menggunakan pembelajaran kooperatif. para siswa bersama-sama mendiskusikan masalah yang dihadapi. 1995) merupakan pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Siswa mengikuti presentasi guru dengan seksama sebagai persiapan untuk mengikuti tes berikutnya. memberikan kegiatan yang memberi harapan keberhasilan. Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) yang dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas John Hopkin (dalam Slavin. intuisi dan penemuannya. 2003:8) menyatakan bahwa potensi siswa harus dapat dikembangkan secara optimal dan di dalam proses belajar matematika siswa dituntut untuk mampu. Pembelajaran kooperatif tipe STAD terdiri dari lima tahapan utama sebagai berikut. membandingkan jawaban. memberikan alternatif penggunaan alat peraga atau media pembelajaran yang bisa digunakan pada berbagai tempat dan keadaan. memberikan kegiatan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Setiap anggota kelompok diharapkan mencapai skor tes yang tinggi karena skor ini akan memberikan kontribusi terhadap peningkatan skor rata-rata kelompok. 4) mengembangkan sikap menggunakan matematika sebagai alat untuk memecahkan matematika baik di sekolah maupun di rumah. Dengan pemilihan metode yang tepat dan menarik bagi siswa. Dalam kegiatan kelompok ini. siswa tidak diperkenankan saling membantu. c) Melakukan kegiatan pemecahan masalah.

keringkasan. kecocokan dengan ukuran kelas.Media pembelajaran adalah sebuah alat yang berfungsi untuk menyampaikan pesan pembelajaran.W. Penggunaan media mempunyai tujuan memberikan motivasi kepada pembelajar. Terdapat berbagai jenis media belajar (http://akhmadsudrajat. 2000:1) matematika adalah ilmu yang mempelajari tentang bilangan dan ruang yang bersifat abstrak.wordpress. Media yang baik juga akan mengaktifkan pembelajar dalam memberikan tanggapan. Kriteria penilaian yang terakhir adalah fungsi secara keseluruhan. pengaruh yang ditimbulkan. gambar bergerak atau tidak. tape recorder. Kriteria lainnya adalah ketersedian fasilitas pendukung seperti listrik. chart. Pembelajaran adalah sebuah proses komunikasi antara pembelajar. Semakin banyak tujuan pembelajaran yang bisa dibantu dengan sebuah media semakin baiklah media itu. waktu dan tenaga penyiapan. Kriteria keempat adalah integrasi media di mana media harus mengintegrasikan aspek dan ketrampilan yang harus dipelajari. Kedua kriteria ini adalah untuk menilai isi dari program itu sendiri. Komunikasi tidak akan berjalan tanpa bantuan sarana penyampai pesan atau media. Adapun nilai atau fungsi khusus media pendidikan matematika antara lain. DVD. Pengajar adalah orang yang mempunyai kemampuan untuk merealisasikan kelima bentuk stimulus tersebut dalam bentuk pembelajaran. 2000:37). Media Pembelajaran Matematika Menurut H. estetika juga merupakan sebuah kriteria. c) Untuk membuat konsep matematika yang abstrak. a) Media Visual : grafik. dan sejenisnya. poster. diagram. video (VCD. sipembelajar atau belum. Fowler (Suyitno. apakah program telah memenuhi kebutuhan pembelajaran. in focus dan sejenisnya. dan bahan ajar. Sehingga untuk menunjang kelancaran pembelajaran disamping pemilihan metode yang tepat juga perlu digunakan suatu media pembelajaran yang sangat berperan dalam membimbing abstraksi siswa (Suyitno. c) Projected still media : slide. . kartun. bagan. Sehingga pada waktu seorang selesai menjalankan sebuah program dia akan merasa telah belajar sesuatu. Namun demikian masalah yang timbul tidak semudah yang dibayangkan. kemampuan untuk dirubah. Kelima bentuk stimulus ini akan membantu pembelajar untuk memahami apa yang disampaaikan guru. Kriteria penilaian yang pertama adalah kemudahan navigasi. Bentuk-bentuk stimulus bisa dipergunakan sebagai media diantaranya adalah hubungan atau interaksi manusia. dimengerti dan dapat disajikan sesuai dengan tingkat-tingkat berpikir siswa. diantaranya . komputer dan sejenisnya. over head projektor (OHP). Hubbard mengusulkan sembilan kriteria untuk menilainya. Program yang dikembangkan harus memberikan pembelajaran yang diinginkan oleh pembelajar. televisi. Selain itu media juga harus merangsang pembelajar mengingat apa yang sudah dipelajari selain memberikan rangsangan belajar baru. Kriteria di atas lebih diperuntukkan bagi media konvensional.4. a) Untuk mengurangi atau menghindari terjadinya salah komunikasi. 5. Media pembelajaran yang baik harus memenuhi beberapa syarat. tulisan dan suara yang direkam. Kreteria pertamanya adalah biaya. umpan balik dan juga mendorong siswa untuk melakukan praktek-praktek dengan benar. Biaya memang harus dinilai dengan hasil yang akan dicapai dengan penggunaan media itu. dapat disajikan dalam bentuk konkret sehingga lebih dapat dipahami. Media Pembelajaran Media adalah sebuah alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan. kriteria yang lainnya adalah pengetahuan dan presentasi informasi. b) Media Audial : radio. Thorn mengajukan enam kriteria untuk menilai multimedia interaktif. kerumitan dan yang terakhir adalah kegunaan. Media pembelajaran harus meningkatkan motivasi pembelajar. Kriteria yang kedua adalah kandungan kognisi. pengajar. VTR). Ada beberapa kriteria untuk menilai keefektifan sebuah media.com/). laboratorium bahasa. Sebuah program harus dirancang sesederhana mungkin. d) Projected motion media : film. b) Untuk membangkitkan minat atau motivasi belajar siswa. Untuk menarik minat pembelajar program harus mempunyai tampilan yang artistik maka. realia.(Darhim. komik.

berkembang pula jenis-jenis media pembelajaran yang lebih menarik dan dapat digunakan baik di sekolah maupun di rumah. Sebagai variabel bebasnya adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan media VCD dalam pembelajaran matematika kelas IX. Variabel-variabel Penelitian Secara umum ada dua variabel dalam penelitian ini yaitu variabel bebas dan variabel terikat. membesarkan semangat belajar juga menyadarkan siswa tentang proses belajar dan hasil akhir. 4. Rancangan masingmasing siklus terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan tindakan. Penggunaan media pembelajaran matematika yang berbentuk VCD memungkinkan digunakan di rumah karena VCD player sekarang ini sudah bukan merupakan barang mewah lagi dan dapat ditemukan hampir disetiap rumah siswa. Sedangkan motivasi dapat mengarahkan kegiatan belajar. Sedangkan obyeknya adalah kompetensi dasar matematika yang meliputi aspek kognitif dan aktifitas pembelajaran siswa. Prosedur Penelitian 1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini diadakan di kelas IX B SMP Negeri 1 Banjarangkan tahun pelajaran 2008/2009 mulai bulan Agustus sampai bulan Oktober 2008 2.1993:10) Jadi salah satu fungsi media pembelajaran matematika adalah untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. a ) dapat memahami materi yang sedang dipelajari. b) dapat menyelesaikan persoalan yang berkaitan dengan materi yang dipelajari.dan refleksi (Kemmis dan Taggart. Salah satunya adalah media pembelajaran yang berbentuk VCD (Video Compact Disc). Sehingga dengan meningkatnya motivasi belajar siswa dapat meningkatkan hasil belajarnya pula (Dimyati. tahun pelajaran 2008/2009 sebanyak 42 orang. 6. D.1998). Penggunaan VCD (Video Compact Disc) dapat digunakan sebagai alternatif pemilihan media pembelajaran matematika yang cukup mudah untuk dilaksanakan. pelaksanaan tindakan. 1994:78-79). c) senang dan aktif mengikuti pembelajaran. evaluasi. Hal ini dikarenakan akhir-akhir ini di lingkungan akademis atau pendidikan penggunaan media pembelajaran yang berbentuk VCD bukan merupakan hal yang baru lagi dan dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran baik di sekolah maupun di rumah. Adapun kreteria keberhasilan untuk setiap siklus adalah jika seluruh subyek penelitian. 3. d) memperoleh skor pada tes akhir tindakan minimal 60 . Subyek dan Obyek Penelitian Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IXB SMP Negeri 1 Banjarangkan. Prosedur Penelitian Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang berlangsung selama dua siklus. sedangkan variabel terikatnya adalah prestasi belajar matematika. Penggunaan VCD (Video Compact Disc) dalam Pembelajaran Matematika Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi.

65 (kategori aktif) E. Kriteria penggolongan aktivitas belajar disusun berdasarkan Mean Ideal (MI) dan Standar Deviasi Ideal (SDI) dengan rumus: MI = ( skor tertinggi ideal + skor terrendah ideal ) SDI = ( skor tertinggi ideal . Metoda Pengumpulan Data Dalam penelitian ini. 1992 ) Kriteria keaktifan siswa yang diharapkan dalam penelitian ini adalah berkisar 16.5 SDI Keterangan : Sangat kurang aktif = Skor rata-rata keaktivan siswa ( Nurkencana & Sunartana. Observasi ini dilakukan oleh peneliti selama pelaksanaan tindakan dalam dua siklus. karena peneliti ingin mengetahui proses jawaban siswa secara rinci. dan ketuntasan klasikal (KK).5 SDI < MI + 1. dan untuk mengetahui sejauh mana tindakan dapat menghasilkan perubahan yang dikehendaki oleh peneliti.5 SDI Kurang aktif < MI ± 1. a) tes pada setiap akhir tindakan. (2) . dengan tujuan untuk mengetahui peningkatan pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari setelah pemberian tindakan.5 SDI Cukup aktif MI 1.95 Secara sistematik hasil penelitian ini disajikan dalam susunan : (1) Penyusunan program tindakan pembelajaran.5 SDI < MI + 0. b) Observasi .5 SDI Aktif MI 0.5 SDI Sangat aktif MI + 0. dengan indikator keberhasilan nilai rata-rata mencapai lebih dari atau sama dengan 60 (KKM matematika kelas IX SMP Negeri 1 Banjaragkan) dan ketuntasan klasikal lebih dari atau sama dengan 80%. Observasi dilakukan untuk mengamati aktifitas siswa selama kegiatan penelitian. ketuntasan individual (KI) . sebagai upaya untuk mengetahui adanya kesesuaian antara perencanaan tindakan. 7. Hasil Penelitian dan Pembahasan < 19. Analisis data aktivitas belajar siswa dilakukan secara deskriptif. prosedur yang digunakan untuk pengumpulan data adalah sebagai berikut .5 SDI < MI 0.6. Tehnik Analisa Data dan Kreteria Keberhasilan Data aspek kognitif siswa dianalisis secara deskriptif yaitu dengan menentukan nilai rata-rata. pelaksanaan tindakan. Tes yang diberikan dalam bentuk uraian.skor terrendah ideal ) Dengan pedoman seperti berikut : MI + 1.

dan menggunakan VCD sebagai media pembelajaran yang dapat membantu pemahaman siswa. dengan setiap kelompok terdiri dari lima siswa. (4) Pembahasan. b. Tindakan Pembelajaran Tindakan pembelajaran dengan model pembelajaran Kooferatif type STAD dengan media VCD untuk meningkatkan prestasi belajar matematika siswa adalah sebagai berikut : 1) Memberitahu Standar Kopetensi dan Kopetensi Dasar.Permasalahan kelas yang perlu diatasi untuk usaha peningkatan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran matematika adalah konsentrasi. . pemahaman konsep. dan kreatifitas siswa dalam pembelajaran kurang. 2) Memberikan LKS sesuai materi ajar. sampai meyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Pembelajaran dilakukan selama 8 jam ( empat kali pertemuan ). simpel. 2. dan c) di dalam pembelajaran tidak ada bimbingan dari guru terhadap individu maupun kelompok siswa. b) pembelajaran kurang memanfaatkan alat peraga. sehingga tiap kelompok terdiri dari siswa yang mempunyai kemampuan diatas.Perencanaan Solusi Masalah. 8) Memberikan PR dengan petunjuk langahlangkah pengerjaannya. (3) Evaluasi program tindakan pembelajaran dan.kemudian bekerja secara perorangan (penerapan latihan mandiri). 5) Memberikan tugas baik kelompok maupun individu dengan petunjuk yang jelas dan membimbing proses penyelesaiannya. 4) Mendorong dan membimbing siswa untuk menyampaikan ide. dan kegiatan yang akan dilakukan. 7) Membimbing siswa membuat rangkuman materi ajar.Pelaksanaan tindakan pembelajaran. Peneliti menganggap bahwa penyebab masalah adalah kualitas pembelajaran seperti : a) pembelajaran cenderung satu arah. kurang demokratis. Kelas dibagi menjadi 8 kelompok. Pengelompokan dilakukan dengan memperhatikan kemampuan siswa. inti materi ajar. Silabus. membosankan. Karena melalui pemahaman berbagai kemungkinan penyebab masalah. Tindakan solusi masalah yang digunakan oleh peneliti. Model pembelajaranPembelajaran yang biasanya cenderung satu arah dibenahi menjadi pembelajaran yang melaksanakan model pembelajaran Kooferatif type STAD Penerapan kombinasi pembelajaran ini secara umum pembelajaran diawali dengan pertemuan klasikal untuk memberikan informasi dasar. 6) Merespons setiap pendapat atau perilaku siswa. Peneliti sudah berusaha untuk menghindari kelompok dengan jumlah genap namun keadaan jumlah siswa yang memaksa ada dua kelompok terdiri dari 6 orang siswa. berlangsung sejak mulai meneliti Standar Isi. dan di bawah rata-rata. Penyusunan Program Tindakan Pembelajara Solusi untuk mengatasi masalah penggunaan model pembelajaran kooperatif type STAD dengan bantuan media Video Compact Disk untuk meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas IX SMP Negeri 1 Banjarangkan perlu disusun kedalam suatu program tindakan pembelajaran. Model pembelajaran yang digunakan adalah kooferatif type STAD dengan VCD sebgai media. suatu tindakan dapat dikembangkan. sedang. Sedangkan . Setelah mendapatkan masalah tersebut diatas. penjelasan tentang tugas yang akan dikerjakan. 3) Menyampaikan materi ajar secara sistematis. Pelaksanaan Tindakan Pembelajaran Pada Siklus I Materi yang diberikan adalah unsur-unsur dan luas bagun ruang sisi lengkung. yaitu pembenahan gaya mengajar dengan pemecahan yang akan dikembangkan pada siklus pertama sebagai berikut : a. dilanjutkan dengan mengidentifikasi faktor penyebab lainnya. Tiga kali pertemuan untuk pelaksanaan tindakan dan sekali pertemuan untuk pelaksanaan tes hasil belajar. Setelah pertemuan secara klasikal siswa diberi kesempatan kerja dalam kelompok (penerapan latihan terkontrol). 1. Penyusunan program tindakan pembelajaran dalam arti luas. serta hal-hal lain yang dianggap perlu.

rata-rata keaktifan 17.29 yang tergolong katagori aktif.observasi keaktifan siswa dilaksanakan selama berlangsungnya proses pembelajaran.33 ketuntasan naik 13% . Pada siklus II materi yang diberikan adalah volume bangun ruang sisi lengkung. Bila dibandingkan dengan hasil pada siklus I terdapat beberapan kenaikan yang cukup memuaskan seperti.01 dengan ketuntasan 83%.68 70% 17. dan rata-rata keaktifan naik 0. dan d) memotivasi siswa yang tergolong kurang untuk mewakili kelompoknya mempersentasikan kerja kelompoknya.68 dimana hasil ini tergolong cukup besar untuk ukuran sekolah kami. yang diberikan selama 6 jam (dalam 3 kali pertemuan).01 83% 17.29 Aktif II 42 10 4 70. b) pengelompokan siswa diatur ulang disesuai dengan hasil tes siklus I. rata-rata hasil belajar terjadi kenaikan sebesar 0.Hasil belajar dan Keaktifan siswa Hasil Belajar Keaktifan Siklus Banyak Siswa Ter tinggi Ter Rata-rata rendah Ketunt Rata-rata Katagori I 42 10 3 6. rata-rata prestasi belajar siswa adalah 7. untuk nilai tertinggi 10 pada siklus I hanya diperoleh oleh 1 orang siswa sedangkan pada siklus II diperoleh oleh 5 orang. Dua kali pertemuan untuk pelaksanaan tindakan dan sekali pertemuan untuk pelaksanaan tes hasil belajar. c) pemberian bimbingan dari guru terhadap kelompok yang kesulitan dalam memecahkan permasalahan.45 katagori aktif. Evaluasi Program Tindakan Kelas Adapun hasil evaluasi selama Program Tindakan kelas disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut : Tabel 6. dengan ketuntasan 70% dan rata-rata keaktifan 17. dengan nilai terendah 3 diperoleh oleh 4 orang siswa.33 13% 0.16 Dari data diatas terlihat rata-rata hasil belajar pada siklus I sebesar 6.45 Aktif Peningkatan - 1 0. begitu pula terjadi peningkatan pada nilai terendah dari 3 menjadi 4. Pada Siklus II hasil belajar yang diperoleh seperti terlihat dari tabel diatas .16 . Pembenahan yang dilakukan pada siklus II melihat dari observasi pada siklus I terdapat antara lain: a) pengulangan pengulangan tayangan VCD yang dianggap penting. dan satu oarang siswa mendapat nilai 10. 3. Bila dicermati lebih dalam lagi dari 42 siswa di kelas IX B pada siklus I sebanyak 30 orang yang mendapat nilai 6 atau 70% siswa tuntas.

Ada 35 siswa ( 83% ) tuntas. Pembahasan Hasil dialog awal dan diskusi dengan sesama guru matematika SMPN 1 Banjarangkan tentang keadaan siswa baik ditinjau dari hasil belajar dan motivasi siswa dalam belajar matematika yang cenderung menurun. siswa yang sudah mengerti mau memberi penjelasan kepada anggota kelompok yang belum paham. Bantuan dan dorongan dari sesama guru matematika ditunjukkan oleh dengan memberikan masukan yang natinya sangat berguna dalam penelitian ini. Pada siklus II diadakan beberapa perombakan kelompok. Dari delapan kelompok yang terdiri dari 5 sampai 6 orang siswa masih tampak lebih mengutamakan penonjolan individu. Sedangkan untuk keaktifan siswa rata-ratanya adalah 17. Diskusi pada siklus II berjalan dengan baik. 5 siswa mendapat nilai 10. Pada akhir tiap siklus dilaksanakan tes prestasi belajar. memberikan dorongan kepada peneliti untuk melakukan pembelajaran yang memudahkan siswa belajar (efektif). Penelitian tindakan ini dilakukan dalam dua siklus. Hal ini tampak dari anggota kelompok yang lebih suka mengerjakan kedepan sebelum membantu pemahaman teman sekelompoknya.68 pada siklus I menjadi 7. dan kegiatan yang dilakukan serta membimbing siswa yang bertujuan untuk membangun hubungan baik dengan siswa. Pada setiap awal pembelajaran peneliti selalu memberitahukan tujuan pembelajaran.45 ( katagori Aktif). pengelompokan diatur ulang dengan melihat hasil belajar pada siklus I.01 pada siklus II. dan bagi siswa yang kurang paham agar menanyakan kepada teman sekelompoknya. Ketuntasan mengalami peningkatan dari 30 siswa (70% ) pada siklus I menjadi 37 siswa (83%) pada siklus II.01. biasa. Dengan demikian penerapan model pembelajaran kooferatif Type STAD dengan media VCD dapat . Untuk pencapaian nilai 10 pada siklus I hanya diperoleh oleh seorang siswa meningkat menjadi 5 orang pada siklus II.29 ( katagori Aktif) pada siklus I menjadi 17. Dari hasil diskusi dan berbagai masukan dari sesama guru matematika dan atas saran dan arahan Kepala Sekolah. Untuk mengatasi hal ini peneliti berulang-ulang memberitahukan agar sola-soal yang diberikan dalam LKS didiskusikan lebih dahulu dalam kelompoknya. sedangkan yang belum paham tidak malu-malu untuk bertanya kepada temannya.29 dengan katagori aktif. dan satu orang mendapat nilai 10. penunjukan dilakukan oleh peneliti bertujuan untuk memberikan kesempatan pada siswa agar lebih berani mengemukakan pendapat. 12 siswa (30%) tidak tuntas. Pada siklus II ini guru lebih banyak memberikan bimbingan pada siswa yang nilainya kurang pada siklus I. sedangkan observasi tentang keaktifan siswa dalam pembelajaran dilakukan selama berlangsungnya pemberian tindakan. Dari delapan kelompok yang ada tampak satu kelompok yaitu kelompok VIII yang kurang aktif dan kurang serius dalam proses pembelajaran. Dari hasil tes pada akhir siklus I dan hasil observasi tentang keaktifan siswa selama siklus I diperoleh rata-rata prestasi belajar siswa adalah 6. peneliti menetapkan menerapkan tindakan berupa penerapan model pembelajaran kooferatif Type STAD dengan media VCD untuk meningkatkan hasil belajar matematika siaswa. Bahkan beberapa siswa sudah berani bertanya kepada guru bila ada soal yang belum dapat dikerjakan kelompoknya. dan yang bodoh. dan nilai terendah 4. begitu pula untuk nilai terendah 3 pada siklus I meningkat menjadi 4 pada siklus II. Keaktifan siswa meningkat dari rata-rata 17. Sedangkan untuk mengerjakan ke papan tulis dilakukan dengan menunjuk wakil tiap kelompoknya.4. Kesalahan siswa dalam mengerjakan tes sebagian besar karena kurangnya pemahaman konsep dan kesalahan melihat gambar terutama dalam melihat jari-jari dan diameter. Hasil tes prestasi belajar pada siklus II menunjukkan rata-rata kelas 7. bantuan juga diberikan dalam bentuk kesediaan dari guru yang untuk membantu menyediakan sarana yang diperlukan pada pelaksanaan tindakan baik siklus I maupun pada siklus II.45 dengan katagori aktif. Pada siklus I pengelompokan siswa dilakukan dengan mempertimbangkan hasil ulangan I. Bila dibandingkan dengan siklus I hasil yang diperoleh pada siklus II hampir semua aspek penilaian mengalami peningkatan. Sedangkan untuk keaktifan siswa rata-ratanya 17. dimana setiap kelompok terdiri dari siswa pintar. inti materi ajar.68 dengan 30 siswa ( 70%) tuntas. Rata-rata kelas mengalami kenaikan dari 6.

Pedoman Khusus Pengembangan Silabus Berbasis Kompetensi Sekolah Menengah Pertama Mata Pelajaran Matematika.meningkatkan hasil belajar dan meningkatkan aktifitas belajar matematika siswa kelas IX B SMP Negeri 1 Banjarangkan tahun pelajaran 2008/2009. Peningkatan ini ditunjukkan dengan dengan kenaikan rata-rata nilai hasil belajar sebesar 6. Diktat Kuliah Teori Pembelajaran Matematika. 2003.68 pada suklus I menjadi 7. 1993. Mengingat hasil yang diperoleh dalam penelitian tindakan kelas ini sangat bagus. DAFTAR PUSTAKA Departemen Pendidikan Nasional . Bersarkan temuan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Penerapan Model Pembelajaran Kooferatif Type STAD dengan media VCD pembelajaran dapat meningkatkan Aktifitas dan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas IX B SMP Negeri 1 Banjarangkan tahun 2008/2009 G. H. 2. maka dapat dikemukakan beberapa saran-saran sebagai berikut : 1. 1992. disarankan agar pemberian dana block grant penelitian tindakan kelas dapat dilanjutkan dan ditingkatkan baik jumlah peserta maupun jumlah dana. Jakarta: Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi Depdiknas. 2. sehingga hasil yang diharapkan juga lebih baik. F. Rata-rata skor aktifitas siswa dalam pembelajaran mengalami peningkatan dari siklus I sampai siklus II. 2004. Jakarta:PT Gramedia Widiasarana.Sedangkan untuk ketuntasan klasikal juga terjadi peningkatan dari 70% pada siklus I menjadi 83% pada siklus II. Kurikulum 2004 Sekolah Menengah Pertama. Pada siklus I rata-rata skor aktifitas siswa dalam pembelajaran sebesar 17. Untuk nilai terendah pada siklus I sebesar 3 meningkat menjadi 4 pada siklus II. Begitu pula dengan perolehan nilai 10 terjadi peningkatan dari hanya diperoleh oleh seorang siswa pada siklus I menjadi diperoleh sebanyak 5 orang siswa pada siklus II. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian ada beberapa temuan dalam penelitian tindakan kelas ini yaitu : 1. Utami. Munandar. Dimyati. Untuk meningkatkan mutu dan hasil pembelajaran melalui tindakan kelas. . Disarankan kepada sesama guru matematika untuk mencoba model pembelajaran di atas dengan lebih baik. Kurikulum Pendidikan Dasar. Mengembangkan Bakat Dan Kreativitas Anak Sekolah. Mudjiono.29 meningkat menjadi 17. Depdikbud. Jakarta : Depdikbud. Saran. Belajar dan Pembelajaran. Nilai hasil belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus I sampai pada siklus II. Hidayat. Jakarta:Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi Depdikbud. 1994.45 pada siklus II.01 pada siklus II. Semarang:FMIPA UNNES.

Cerdas Aktif Matematika. http ://akhmadsudrajat. Strategi Belajar Mengajar. 1992. http://disdikklungkung. Evaluasi Hasil Belajar. Wayan & Sunartana. 2008. Suyitno Amin. 1990.net/content/view/73/46/ . Semarang:IKIP Semarang Press.com/ Yitnosumarto. Jakarta:PT Raja Grafindo Persada. akhmad. Surabaya : Usaha Nasional. Suhito. Sudrajat. Semarang:FPMIPA IKIP Semarang. Suhito. wordpress. Jenis-Jenis Media Pembelajaran. Pandoyo. Dasar-Dasar Statistika. Bandung:Ganeca Exact. Suparyan. Pembelajaran Matematika Untuk SMP. Hidayah Isti. Santoyo. 1992. Strategi Pembelajaran Matematika. 1990. Semarang:Pendidikan Matematika FMIPA UNNES Sudirman.Nurkancana. 2000. Pandoyo. 2007. Dasar-dasar dan Proses Pembelajaran Matematika I.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful