P. 1
8q1m2ynfik3s4cgxj0qv5jiwy8v99yop

8q1m2ynfik3s4cgxj0qv5jiwy8v99yop

|Views: 686|Likes:
Published by Vad'yusni vad'Yusni

More info:

Published by: Vad'yusni vad'Yusni on Jan 13, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/30/2012

pdf

text

original

Sections

  • BAB I
  • DEMOKRASI
  • Kompetensi Dasar :
  • B. Sejarah Perkembangan Demokrasi
  • BAB II
  • BUDAYA DEMOKRASI MENUJU MASYARAKAT MADANI
  • B. Masyarakat Madani (civil society)
  • C. Pelaksanaan Demokrasi di Indonesia
  • 1. Demokrasi pada Periode 1945 ± 1959
  • BAB III
  • HAK ASASI MANUSIA
  • Kompetensi Dasar
  • A. Pengetian dan Hakikat Hak Asasi Manusia
  • B. Perkembangan Pemikiran HAM di Barat dan Indonesia
  • 1. Periode Sebelum Kemerdekaan
  • C. Bentuk-bentuk Hak Asasi Manusia
  • D. Hak Asasi Manusia dalam Perundang-Unndangan Nasional
  • E. Pelanggaran dan Peradilan Hak Asasi Manusia
  • Pemenuhan Hak Asasi Manusia
  • BAB IV
  • SISTEM PEMERINTAHAN NEGARA
  • A. Pengertian Sistem Pemerintahan
  • B. Tiga Pengertian Sistem Pemerintahan Negara
  • C. Organisasi Sistem Pemerintahan Negara
  • 1. Organisasi Pemerintahan Dalam Garis Horizontal
  • D. Macam-macam Sistem Pemerintahan Negara
  • 1. Sistem Pemerintahan Parlementer (Parliamentary Executive)
  • E. Sistem Pemerintahan Indonesia
  • 1. Sistem Pemerintahan Indonesia Menurut Konstitusi RIS
  • 4. Sistem Pemerintahan Indonesia Menurut UUD 1945 Setelah Amandemen
  • BAB V
  • OTONOMI DAERAH
  • A. Pengertian dan Hakikat Otonomi Daerah
  • B. Arti Penting Otonomi Daerah dan Desentralisasi
  • C. Perkembangan Desentralisasi dan Otonomi Daerah di Indonesia
  • 1. Kebijakan Otonomi Daerah Menurut UU No.22 Tahun 1999
  • D. Peran Serta Masayarakat dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah
  • Daftar Pustaka

BAB I DEMOKRASI Kompetensi Dasar

:
1. Menjelaskan hakikat demokrasi 2. Menganalisa sejarah perkembangan demokrasi 3. Menjelaskan pentingnya kehidupan demokratis dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara A. Hakikat Demokrasi

Kata demokrasi terkesan sangat akrab dan seakan sudah dimengerti begitu saja. Namun apa dan bagaimana sebenarnya makna dan hakikat substansi demokrasi mungkin belum sepenuhnya dimengerti dan dihayati. Sehingga perlu diketahui makna dan hakikat demokrasi karena hampir semua negara menjadikan demokrasi sebagai tatanan aktivitas bermasyarakat dan bernegara. Berdasarkan hal tersebut di atas sudah tentu sangat perlu untuk mengetahui lebih dulu makna dan hakikat demokrasi. Banyak para ahli memberikan batasan tentang demokrasi antara lain dilihat dari tinjauan bahasa (etimologis), bahwa demokrasi berasal dari dua kata yang berasal dari bahasa Yunani yaitu ³demos´ yang berarti rakyat atau penduduk suatu tempat dan ³cratein´ atau ³cratos´ yang berarti kekuasaan atau kedaulatan. Jadi secara etimologis, demokrasi adalah keadaan negara di mana dalam sistem pemerintahannya kedaulatan di tangan rakyat, kekuasaan tertinggi berada dalam keputusan bersama rakyat, rakyat berkuasa, pemerintahan rakyat dan kekuasaan oleh rakyat. Sedangkan secara istilah (terminologis) pengertian demokrasi banyak

dikemukakan oleh para ahli, antara lain : (a) Yoseph A. Schmeter, demokrasi merupakan suatu perencanaan institusional untuk mencapai keputusan politik di mana individu-individu memperoleh kekuasaan untuk memutuskan cara perjuangan kompetitif atas suara rakyat; (b) Sidney Hook, demokrasi adalah bentuk pemerintahan di mana keputusan-keputusan pemerintah yang penting secara langsung atau tidak langsung didasarkan pada kesepakatan mayoritas yang diberikan secara bebas dari rakyat dewasa; (c) Philippe C. Schmitter dan Terry Lynn Karl, demokrasi sebagai suatu sistem pemerintahan di mana pemerintah dimintai tanggung jawab atas tindakantindakan mereka di wilayah publik oleh warga negara, yang bertindak secara tidak langsung melalui kompetisi dan kerja sama dengan para wakil mereka yang telah terpilih; (d) Henry B Mayo, demokrasi sebagai sebagai sistem politik merupakan suatu sistem yang menunjukkan bahwa kebijakan umum ditentukan atas dasar mayoritas oleh 1

wakil-wakil yang diawasi secara effektif oleh rakyat dalam pemilihan-pemilihan berkala yang didasarkan atas prinsip kesamaan politik dan diselenggarakan dalam suasana terjaminnya kebebasan politik. Dari beberapa pendapat di atas diperoleh kesimpulan bahwa hakikat demokrasi sebagai sistem bermasyarakat dan bernegara serta pemerintahan memberikan penekanan pada keberadaan kekuasaan di tangan rakyat yang mengandung pengertian tiga hal: Pertama, pemerintahan dari rakyat (government of the people) mengandung pengertian yang berhubungan dengan pemerintahan yang sah dan diakui (legitimate government) dan pemerintahan yang tidak sah dan tidak diakui (unligitimate government) di mata rakyat. Legimitasi suatu pemerintahan sangat penting, karena dengan legitimasi tersebut pemerintahan dapat menjalankan roda birokrasi dan program-programnya sebagai wujud dari amanat yang diberikan oleh rakyat kepadanya.

Kedua, pemerintahan oleh rakyat (government by the people) mengandung arti bahwa pemerintahan menjalankan kekuasaan atas nama rakyat bukan atas dorongan diri dan keinginannya sendiri, serta dalam menjalankan kekuasaannya, maka pemerintah berada dalam pengawasan rakyat (social control) secara langsung maupun tidak langsung. Ketiga, pemerintahan untuk rakyat (government for the people) mengandung arti bahwa kekuasaan yang diberikan oleh rakyat kepada pemerintah itu dijalankan untuk kepentingan rakyat. Kepentingan rakyat harus didahulukan dan diutamakan di atas segalanya. Untuk itu pemerintah harus mendengarkan dan mengakomodasi aspirasi rakyat dalam merumuskan dan menjalankan kebijakan dan program-programnya. Pemerintah harus membuka saluran dan ruang kebebasan serta menjamin adanya kebebasan seluas-luasnya kepada rakyat dalam menyampaikan aspirasinya baik melalui media pers maupun secara langsung. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa demokrasi merupakan bentuk pemerintahan yang tumbuh dan berkembang dengan sendirinya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Karena itu demokrasi memerlukan usaha nyata setiap warga dan perangkat pendukungnya yaitu budaya yang kondusif sebagai manifestasi dari suatu mind set (kerangka berpikir) dan setting social (rancangan masyarakat). Sehingga bentuk kongkrit dari manifestasi tersebut adalah dijadikannya demokrasi sebagai way of life (pandangan hidup) dalam seluk beluk sendi kehidupan bernegara baik oleh rakyat (masyarakat) maupun oleh pemerintah. Sebagai bentuk 2

pemerintahan maka demokrasi meliputi unsur-unsur : (1) Adanya partisipasi masyarakat secara aktif dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, (2) Adanya pengakuan akan supremasi hukum., (3) Adanya kebebasan, antara lain: kebebasan berekspresi dan berbicara atau berpendapat, kebebasan untuk berkumpul dan berorganisasi, kebebasan beragama dan berkeyakinan, kebebasan untuk menggugat pemerintah, kebebasan untuk memilih dan dipilih dalam pemilihan umum, dan kebebasan untuk mengurus nasib sendiri, dan (4) Adanya pengakuan supremasi sipil atas militer. Pemerintahan demokratis membutuhkan kultur demokrasi untuk membuatnya performed (eksis dan tegak). Kultur demokrasi ini berada dalam masyarakat itu sendiri. Pemerintahan yang baik dapat tumbuh dan stabil bila masyarakat pada umumnya punya sikap positif dan proaktif terhadap norma-norma dasar demokrasi. Oleh karena itu harus ada keyakinan yang luas di masyarakat bahwa demokrasi adalah sistem pemerintahan yang terbaik dibanding dengan sistem lainnya (Saiful Mulyani:2002) . Untuk itu masyarakat harus menjadikan demokrasi sebagai way of life yang menuntun tata kehidupan kemasyarakatan, kebangsaan, pemerintahan dan kenegaraan. Demokrasi mengandung proses dinamis dalam arti proses melaksanakan nilainilai civility (keadaban) dalam bernegara dan bermasyarakat (Nurcholis Madjid:2000), sehingga secara teoritis maupun pengalaman praktis di negeri-negeri yang demokrasinya cukup mapan paling tidak mencakup tujuh norma : Pertama, pentingnya kesadaran akan pluralisme. Dalam hal ini tidak hanya sekedar pengakuan (pasif) akan kenyataan masyarakat yang majemuk, tetapi lebih dari itu adalah kesadaran akan kemajemukan menghendaki tanggapan yang positif terhadap kemajemukan itu sendiri secara aktif. Seorang individu akan mampu menyesuaikan dirinya pada cara hidup demokratis jika ia mampu mendisiplinkan dirinya sendiri ke arah jenis persatuan dan kesatuan yang diperoleh melalui penggunaan perilaku kreatif dan dinamik serta memahami segi-segi positif kemajemukan masyarakat. Pandangan hidup demokratis seperti ini menuntut moral pribadi yang tinggi. Kesadaran akan pluralitas sangat penting dimiliki bagi rakyat Indonesia sebagai bangsa yang sangat beragam dari sisi etnis, bahasa, budaya, agama dan potensi alamnya. Kedua, adanya istilah ³musyawarah´ dalam arti ³saling memberi isyarat´ (bahasa Arab). Internalisasi dan semangat musyawarah menghendaki dan

mengharuskan adanya keinsyafan dan kedewasaan untuk dengan tulus menerima kemungkinan kompromi atau bahkan ³kalah suara´. Semangat musyawarah menuntut 3

seluruh keinginan atau pikiran seseorang atau kelompok akan diterima dan dilaksanakan sepenuhnya. Musyawarah yang benar dan baik hanya akan berlangsung jika masing-masing pribadi atau kelompok mempunyai kesediaan psikologis untuk melihat kemungkinan orang lain benar dan diri sendiri salah. dan menghina yang merusak dan tanpa tanggung jawab. Sehingga demokrasi tidak akan terwujud tanpa akhlak yang tinggi. permufakatan yang jujur dan sehat adalah hasil akhir musyawarah yang jujur dan sehat. Hal ini mengisyaratkan suatu kutukan kepada orang yang berusaha meraih tujuannya dengan cara-cara yang tidak peduli kepada pertimbangan moral. Ketiga hal itu menyangkut masalah pemenuhan segi-segi ekonomi yang dalam pemenuhannya tidak lepas dari perencanaan sosial-budaya. Masyarakat demokratis ditantang untuk mampu menganut hidup dengan pemenuhan kebutuhan secara berencana. Keenam. ungkapan ³tujuan menghalalkan segala cara´ harus dihindari. dan harus memiliki kepastian bahwa rencana-rencana itu benar-benar sejalan dengan tujuan dan praktik demokrasi. terpenuhinya keperluan pokok yaitu sandang. dan bahwa setiap orang pada dasarnya baik. merupakan segi penunjang efisiensi untuk 4 . Dengan demikian rencana pemenuhan kebutuhan ekonomi harus mempertimbangkan aspek keharmonisan dan keteraturan sosial. dan beritikad baik. pangan dan papan. cacat atau sakit. Ketiga. Kelima. kemudian jalinan dukung mendukung secara fungsional antara berbagai unsur kelembagaan kemasyarakatan yang ada. Bahkan sesungguhnya klaim atas suatu tujuan yang baik harus diabsahkan oleh kebaikan cara yang ditempuh untuk meraihnya. sering terjadi kejenuhan antara mengkritik yang sehat dan bertanggung jawab. di mana pertimbangan moral (keluhuran akhlak) menjadi acuan dalam berbuat dan mencapai tujuan. Keempat. Korelasinya yang lain ialah seberapa jauh kita bisa bersikap dewasa dalam mengemukakan pendapat.agar setiap orang menerima kemungkinan terjadinya ³partial fintioning of ideals´ yaitu suatu pandangan bahwa belum tentu. dan kemungkinan mengambil pendapat yang lebih baik. Korelasi prinsip ini ialah kesediaan untuk kemungkinan menerima bentuk-bentuk kompromi atau islah. dan tidak harus. kerjasama antarwarga masyarakat dan sikap saling mempercayai itikad baik masing-masing. Dalam masyarakat yang belum terlatih benar untuk berdemokrasi. bahkan dapat dikatakan sebagai suatu penghianatan pada nilai dan semangat demokrasi. berkecenderungan baik. tidak hanya merupakan permufakatan yang curang. Jadi permufakatan yang dicapai melalui manipulasi atau taktik hasil konspirasi. Pandangan demokratis mewajibkan adanya keyakinan bahwa cara haruslah sejalan dengan tujuan.

tetapi juga dapat menjurus pada lahirnya pola tingkah laku yang bertentangan dengan nilainilai asasi demokrasi. kebebasan. tetapi diwujudkan dalam hidup nyata (lived in) dalam sistem pendidikan kita. Sehingga verbalisme yang dihasilkannya juga menghasilkan kepuasan tersendiri dan membuat yang bersangkutan merasa telah berbuat sesuatu dalam penegakan demokrasi. Dahl terdapat enam prinsip yang harus ada dalam sistem demokrasi. persamaan hak dan kewajiban bagi semua (egalitarianism) dan tingkah laku penuh percaya pada itikad baik orang dan elompok lain (trust attitude) mengharuskan adanya landasan pandangan kemanusiaan yang positif dan optimis. Sedang dalam pandangan Robert A. melainkan telah membumi (menyatu) dalam interaksi dan pergaulan sosial baik di kelas maupun di luar kelas. Terjadi diskrepansi (jurang pemisah) antara das sein dan das sollen dalam konteks ini ialah dari kuatnya budaya ³menggurui´ (secara feodalistik) dalam masyarakat kita. (f) kebebasan berserikat. hanya karena telah berbicara tanpa perilaku. Jadi kajian demokrasi tidak saja dalam kajian konsep verbalistik. Sementara itu Inu Kencana lebih memerinci lagi tentang prinsip-prinsip demokrasi dengan a). Suatu pemerintahan dikatakan demokratis bila dalam mekanisme pemerintahan mewujudkan prinsip-prinsip demokrasi. Kita harus mulai dengan sungguh-sungguh memikirkan untuk membiasakan anak didik dan masyarakat umumnya siap menghadapi perbedaan pendapat dan tradisi pemilihan terbuka untuk menentukan pimpinan atau kebijakan. Adanya 5 . Pengakuan akan kebebasan nurani (freedom of conscience).demokrasi. Pandangan kemanusiaan yang negatif dan pesimis akan dengan sendirinya sulit menghindari perilaku curiga dan tidak percaya kepada sesama manusia. dan pluralisme. buka saja mengakibatkan tidak efisiennya cara hidup demokratis. (d) kebebasan menyatakan pendapat tanpa ancaman. maka nilai-nilai dan pengertian-pengertiannya harus dijadikan unsur yang menyatu dengan sistem pendidikan kita. (e) kebebasan mengakses informasi. Sementara ini pendidikan demokrasi pada umumnya masih terbatas pada usaha indoktrinasi dan penyuapan konsep-konsep secara verbalistik.tidak dalam arti menjadikannya muatan kurikuler yang klise. Ketujuh. Pandangan hidup demokratis terlaksana dalam abad kesadaran universal sekarang ini. Masyarakat yang terkotak-kotak dengan masing-masing penuh curiga kepada lainnya. (b) pemilihan yang teliti dan jujur. pendidikan demokrasi. Menurut Masykuri Abdillah (1999) prinsipprinsip demokrasi terdiri atas prinsip persamaan. yang kemudian ujungnya ialah keengganan bekerjasama.(c) hak memilih dan dipilih. yaitu: (a) kontrol atas keputusan pemerintah.

Apakah dengan koridor tersebut sudah dengan sendirinya akan berjalan suatu proses yang memungkinkan terbangun sebuah relasi yang baik. kebangsaan dan kenegaraan. Kekuasaan negara dijalankan untuk menghindari penumpukan kekuasaan dalam satu ³tangan/wilayah´. Sementara ini pemilihan umum dipercaya sebagai salah satu instrumen penting guna memungkinkan berlangsungnya suatu proses pembentukan pemerintahan yang baik. masalah pembentukan negara. Prinsip-prinsip negara demokrasi yang telah disebut di muka kemudian dituangkan dalam konsep yang lebih praktis untuk dapat diukur dan dicirikan. e) adanya peradilan yang bebas. karena itu demokrasi tidak boleh menjadi gagasan yang utopis melainkan harus diimplementasikan dalam interaksi sosial kemasyarakatan. dan adanya mekanisme yang memungkinkan check and balance terhadap kekuasaan yang dijalankan eksekutif dan legeslatif. dasar kekuasaan negara. susunan kekuasaan negara. l) adanya pemerintahan yang konstitusional. k) adanya persetujuan parlemen. watak dan pola hubungan yang akan terbangun. yakni suatu relasi yang simetris. s) adanya kebijaksanaan negara. f) adanya pengakuan hak minorritas. Ciri-ciri ini kemudian dijadikan parameter untuk mengukur tingkat pelaksanaan demokrasi yang berjalan di suatu negara. b) adanya pemilihan umum yang bebas. o) adanya perlindungan hak asasi. masalah kontrol rakyat.pembagian kekuasaan. Suasana kehidupan yang demokratis merupakan dambaan bagi umat manusia termasuk manusia Indonesia. m) adanya ketentuan tentang pendemokrasian. Penyelenggaraan kekuasaan negara sendiri haruslah diatur dalam suatu tata aturan yang membatasi dan sekaligus memberi koridor dalam pelaksanaannya. Untuk mengukur suatu negara atau pemerintah dalam menjalankan tata pemerintahannya dikatakan demokratis dapat dilihat dari empat aspek. a) memungkinkan terjadinya desentralisasi untuk menghindari sentralisasi. Aturan yang ada harus mengandung dua hal. Pertama. Kedua. Masalah ini menyangkut konsep legitimasi kekuasaan serta pertanggungjawaban langsung kepada rakyat. h) adanya pers yang bebas. p) adanya pemerintahan yang bersih. d) adanya kebebasan individu. dan t) adanya pemerintahan yang mengutamakan tanggungjawab. g) adanya pemerintahan yang berdasarkan hukum. r) adanya mekanisme politik. b) memungkinkan pembatasan agar kekuasaan tidak menjadi tidak tak terbatas. n) adanya pengawasan terhadap administrasi publik. secara distributif Ketiga. q) adanya persaingan keahlian. adanya musyawarah. 6 . memiliki sambungan yang jelas. Kita percaya bahwa proses pembentukan kekuasaan akan sangat menentukan bagaimana kualitas. Keempat. yaitu. c) adanya manajemen yang terbuka.

kebebasan dan hak milik. Sejarah Perkembangan Demokrasi Konsep demokrasi semula lahir dari pemikiran hubungan negara dan hukum di Yunani dan dipraktekkan dalam hidup bernegara antara abad ke-6 SM sampai abad ke-4 M. d) pemilihan bebas. b) kontrol efektif terhadap pemerintah oleh rakyat. c) pemilu yang bebas. b) klaim itu berdasarkan adanya pemilihan kompetitif secara berkala antara calon alternatif. pedagang asing. e) warga negara memiliki kebebasan-kebebasan dasar yaitu kebebasan berbicara. sedangkan budak belian.Kriteria negara demokratis menurut G. e) adanya pengakuan dan perlindungan hak-hak dasar. d) pemilihan umum. b) perasaan fair play. Demokrasi yang dilaksanakan pada masa itu berbentuk demokrasi langsung (direct democracy) artinya hak rakyat untuk membuat keputusan politik dijalankan secara langsung oleh seluruh warga negara berdasarkan prosedur mayoritas. c) partisipasi orang dewasa sebagai pemilih dan calon yang dipilih. kebebasan berkumpul dan berorganisasi serta membentuk partai politik. c) optimisme terhadap hakikat manusia. Kelima elemen tersebut berlaku secara universal di dalam melihat demokrasi tidaknya suatu rezim pemerintahan (potical order) B. e) adanya jaminan terhadap hak-hak demokratis. bahkan warga negara yang bisa menikmati hak demokrasi hanyalah warga negara yang resmi. e) orang yang terdidik. f) jaminan hidup. kebebasan pers. Ross Yates (tim ICCE UIN:2003) mengajukan enam ciri negara demokrasi ialah: a) toleransi terhadap orang lain. d) persamaan kesempatan. Sedangkan Affan Gafar (1993) menyebutkan sejumlah prasyarat untuk mengamati apakah sebuah political order (pemerintahan) merupakan sistem yang demokratik atau tidak melalui ukuran : a) akuntabilitas. Sifat langsung ini bisa berjalan karena pada masa itu di Yunani Kuno hanya berbentuk negara kota (polis) dengan jumlah penduduk relatif sedikit. c) rekruitmen politik. d) prinsip mayoritas. W. Frans Magnis Suseno (1997) mengatakan kriteria negara demokratis adalah: a) negara terikat pada hukum. perempuan dan anak-anak tidak dapat menikmatinya. Bingham Powell Jr (Tim ICCE UIN:2003) meliputi : a) pemerintah mengklaim mewakili hasrat para warganya. 7 . b) rotasi kekuasaan.

yaitu suatu gerakan revolusi agama yang terjadi di Eropa pada abad ke-16 yang bertujuan untuk memperbaiki keadaan dalam gereja Katolik yang sebelumnya begitu dominan dalam menentukan tindakan warga negara dan semuanya ditentukan oleh gereja. Gerakan ini lahir karena adanya kontak dengan dunia Islam yang ketika itu berada di puncak kejayaan peradaban ilmu pengetahuan. sedangkan kehidupan politiknya ditandai oleh perebutan kekuasaan di antara para bangsawan. bukan hanya berhasil mengasimilasikan pengetahuan Parsi Kuno (baca. Al Khawarizmi dan sebagainya. Momentum lainnya yang menandai kemunculan kembali demokrasi di dunia barat adalah gerakan renaissance dan reformasi. melainkanjuga berhasil berdasarkan kebutuhankebutuhan yang sesuai dengan alam pikiran mereka sendiri. renaissance di Eropa bersumber dari tradisi keilmuan Islam dan berintikan pada pemuliaan akal pikiran untuk selalu mencipta dan mengembangkan ilmu pengetahuan. yang isinya memuat dua prinsip yang sangat mendasar: pertama. Para ilmuwan Islam seperti Ibnu Khaldun. Dengan kata lain. Lahirnya Magna Charta yang memuat perjanjian antara kaum bangsawan dengan Raja John di Inggris merupakan tonggak baru kemunculan demokrasi empirik. hak asasi manusia lebih penting daripada kedaulatan raja. Hitti dunia Islam telah memberikan sumbangan besar terhadap kemajuan dan perkembangan Eropa melalui terjemahan-terjemahan terhadap warisan Parsi Kuno dan Yunani Kuno dan menyeberangkannya ke Eropa. Namun demikian menjelang akhir abad pertengahan. Oemar Khayam. yaitu kaum bangsawan dan kaum agamawan. Oleh karena itu demokrasi tidak muncul pada abad pertengahan ini. Renaissance merupakan gerakan yang menghidupkan kembali minat pada sastra dan budaya Yunani Kuno. kehidupan spiritual dikuasai oleh Paus dan pejabat agama. Al-Razi. 8 . Sehingga menurut Philip K. karena pada abad ini masyarakat Eropa bercirikan masyarakat feodal. Dengan dimotori Martin Luther menyulut api pembrontakan terhadap dominasi gereja yang telah mengungkung kebebasan berpikir dan bertindak. telah mengilhami munculnya kembali gerakan demokrasi. kedua. Dengan demikian kehidupan sosial politik dan agama pada masa ini hanya ditentukan oleh elit-elit masyarakat. Bagdhad sebagai pusatnya) dan warisan klasik (Yunani Kuno).Gagasan demokrasi Yunani Kuno ini berakhir pada abad pertengahan. Gerakan reformasi di Eropa juga mendorong munculnya gerakan demokrasi. adanya pembatasan kekuasaan raja. tumbuh lagi keinginan menghidupkan demokrasi.

dalam arti hanya menjadi wasit atau pelaksana sebagai keinginan rakyat yang dirumuskan oleh wakil rakyat di parlemen. Konsep demokrasi konstitusional ini disebut Negara Hukum Formal (klasik) pada abad ke-19 atau menurut Arif Budiman disebut negara Pluralisme. Salah satu ciri demokrasi konstitusional yang hidup pada abad ke-19 ialah sifat pemerintah yang pasif. yakni suatu sistem pemisahan kekuasaan dalam negara menjadi tiga bentuk kekuasaan yaitu legislatif.Di samping itu ada dua filusuf besar John Locke dan Montesquieu memberikan sumbangan besar bagi gagasan pemerintahan demokrasi. Gagasan bahwa pemerintah dilarang campur tangan dalam urusan warga negara di bidang sosial maupun ekonomi bergeser ke dalam gagasan baru. John Locke (1632-1704) mengemukakan bahwa hak-hak politik rakyat mencakup hak atas hidup. untuk itu timbullah gagasan tentang cara membatasi kekuasaan pemerintah melalui pembuatan konstitusi baik tertulis maupun tidak tertulis. beberapa faktor yang mendorong gugatan ini menurut Mariam Budihardjo antara lain adalah akses-akses dalam industrialisasi dan sistem kapitalis. melainkan harus aktif melaksanakan upayaupaya untuk membangun kesejahteraan masyarakatnya dengan cara mengatur kehidupan ekonomi dan sosial. Hak-hak politik rakyat dan hak-hak asasi manusia merupakan tema dasar dalam pemikiran politik (ketatanegaraan). Frederick pemerintah di sini dibatasi agar tidak menyalahgunakan kekuasaannya. Maka pemerintah tidak boleh bersifat pasif atau berlaku hanya sebagai penjaga malam. kebebasan dan hak memiliki (live. yaitu negara yang tidak mandiri yang hanya bertindak sebagai penyaring berbagai keinginan dari interest group dalam masyarakat. Sehingga kekuasaan pemerintah diimbangi dengan kekuasaan parlemen dan lembagalembaga hukum. pemerintah hanya menjalankan undang-undang yang telah dibuat oleh parlemen atas nama rakyat. tersebarnya paham sosialisme yang menginginkan pembagian kekuasaan secara merata serta kemenangan beberapa partai sosialis di Eropa. Gagasan inilah yang kemudian dinamakan konstitusionalisme atau demokrasi konstitusional. yakni bahwa pemerintah harus bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyat. liberal. Konsep Negara Hukum Formal di atas mulai digugat menjelang abad ke-20 tepatnya setelah Perang Dunia II. Sedang Montesquieu (1689-1944) mengungkapkan sistem pokok yang dapat menjamin hak-hak politik tersebut melalui ³trias politica´. Jadi pemerintahan demokrasi yang demikian ini pemerintah hanya memiliki peran yang terbatas pada tugas eksekutif. Menurut Carl J. property) harus dilndungi. eksekutif dan yudikatif yang masing-masing dipegang harus dipegang oleh organ sendiri-sendiri secara merdeka. 9 .

tidak hanya atas inisiatif parlemen. sebagaimana tersurat dalam Pembukaan UUD 1945 alinea ke-4 yang memuat tujuan nasional . .´ C. rapat nagari dan sebagainya. yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum. yaitu kemerdekaan yang dimiliki oleh pemerintah untuk turut serta dalam kehidupan sosial dan keleluasaan untuk selalu terikat pada produk legislasi parlemen. bahkan fres ermessen mempunyai tiga macam aplikasi. Pemerintah diberi kemerdekaan bertindak atas inisiatif sendiri. dan Bernegara Demokrasi telah lama berkembang di bumi Indonesia sebagai contoh adanya musyawarah adat. bisa saja dalam hal merumuskan 10 . yaitu adanya hak inisiatif (membuat peraturan yang sederajad dengan Undang-undang tanpa persetujuan lebih dulu dari parlemen. Masing-masing warga tentu memiliki pandangan atau pendapat tertentu terhadap masalah dan pemecahannya. Tetapi pada akhirnya demokrasi Welfare State ini juga mulai ditinjau ulang. perdamaian abadi dan keadilan sosial.Gagasan baru ini dikenal sebagai gagasan ³Welfare State´ atau ³Negara Hukum Material´ (Dinamis). karena konsep demokrasi di Barat masih terus berjalan dan mengalami perubahan yang signifikan. Negara Indonesia termasuk menganut konsep demokrasi welfare state. Kehidupan Demokrasi dalam Bermasyarakat.. ³. Dalam kegiatan berdemokrasi tersebut warga mengambil bagian dalam proses pembuatan keputusan atau kebijakan yang menyangkut kepentingan bersama. Berbangsa. Pemerintah Welfare State diberi tugas membangun kesejahteraan umum dalam berbagai lapangan (Bestuurzorg) dengan konskuensi pemberian kemerdekaan administrasi negara dalam menjalankannya. mencerdaskan kehidupan bangsa.. rembug desa. di bidang legislasi misalnya. Kehidupan demokrasi ini sangat nyata diterapkan ketika ada suatu masalah dan semua warga dilibatkan untuk memecahkan masalah tersebut. berlakunya dibatasi oleh waktu tertentu). Gagasan Welfare State ini menyebabkan peranan pemerintah semakin luas. Jadi tidak hanya ketua adat atau kepala suku saja yang berhak membuat keputusan. hak legislasi (membuat peraturan di bawah undang-undang) dan droit function (menafsirkan sendiri aturan-aturan yang masih bersifat enunsiatif). dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan... Itulah sebabnya kepada pemerintah diberikan ³Fres Ermessen´ atau ³Pouvoir discretionnair´. Tetapi demokrasi tidak hanya diterapkan dalam memecahkan masalah saja.

merupakan naluri dasar manusia sebagai makhluk sosial. gubernur. seperti media massa. Kedaulatan rakyat. buku. Dalam kehidupan demokrasi ini politisi harus accountable. ekonomi. dan (4) Mencalonkan diri dalam pemlihan jabatan publik seperti kepala desa/lurah. Kehidupan demokrasi membuka banyak alternatif bagi warga negara untuk memiliki kebebasan berkelompok ini misal ikut berorganisasi. Pengekangan terhadap kebebasan berpendapat akan menyebabkan negara menjadi represif dan tidak dapat dikontrol. hal ini sangat dihargai dalam kehidupan demokrasi karena hal ini merupakan hak setiap warga negara. menjadi anggota atau membentuk partai politik. (2) Kontak atau berhubungan dengan pejabat pemerintah. Esensi kedaulatan adalah penciptaan otorisasi dan penegakan hukum sesuai standar persyaratan kebaikan umum. Hal ini sesuai dengan makna demokrasi. Hak ini bergena untuk menyuarakan aspirasi dan gagasan setiap wara negra melalui berbagai saluran publik. hal ini sebenarnya ini sebenarnya gabungan dari kebebasan berpendapat dan kebebasan berkelompok yang meliputi : (1) Pemberian suara dalam pemilihan umum. Oleh karena itu demokrasi tanpa kesetaraan gender akan berdampak ketidak adilan atau bahkan deskriminasi. dalam kehidupan bermasyarakat. bahkan sangat mungkin negara akan mudah melakukan pelanggaran hak asasi manusia. Hal ini mengandung arti rakyat berdaulat dalam ikut menentukan pemerintahan. memberikan dukungan kepada siapapun sesuai dengan kepentingannya. di dalam negara demokrasi rakyat memiliki kedaulatan.kebijakan-kebijakan bersama bernegara. Rasa percaya. anggota legeslatif bahkan presiden. sSuatu pemerintahan demokrasi akan sulit 11 . memiliki akses yang sama dalam kehidupan politik. yakni melayani segala kebutuhan rakyat. Kebebasan berpartisipasi. Kebebasan berkelompok. sesuai dengan sistem pemilihan yang berlaku. berbangsa dan Perlu diketahui dalam mengembangkan pemerintahan demokratis ada beberapa nilai demokrasi yang mutlak harus dilaksanakan ialah : Kebebasan berpendapat. dari rakyat. sosial. di mana kedudukan lakilaki dan perempuan memiliki kodrat yang sama sebagai makhluk sosial. (3) Melakukan protes terhadap lembaga masyarakat atau pemerintah agar sistem politik bekerja lebih baik. Mereka harus menyadari bahwa mandat yang mereka peroleh dari rakyat harus dikembalikan dalam bentuk pemberian pelayanan sebaik mungkin kepada rakyat. karya seni maupun melalui wakil-wakil rakyat di parlemen. bupati/wali kota. Kesetaraan gender merupakan keniscayaan demokrasi. Akibat lebih lanjut kehidupan demokrasi akan mati. oleh rakyat dan untuk rakyat.

maka dapat dipastikan hubungan kelompok antar masyarakat akan terganggu secara permanen. karena tanpa perbedaan maka demokrasi justru tidak berkembang. Kondisi yang demikian akan sangat merugikan keseluruhan sistem politik dan sosial. Kondisi yang dimaksud adalah pertumbuhan ekonomi. Kerja sama bukan berarti menutup munculnya perbedaan pendapat antar individu atau antar kelompok. Kemudahan bergabung dengan setiap kelompok yang ada juga diperkuat oleh kesediaan dan keragaman suatu kelompok dlam menerima kemenangan kelompok lain 12 . kekhawatiran. Di dalam masyarakat plural ini setiap orang dapat bergabung dengan kelompok yang ada tanpa adanya rintangan-rintangan sistemik yang mengakibatkan terhalangnya hak untuk berkelompok atau bergabung dengan kelompok tertentu. Akibat yang timbul dari pertumbuhan ekonomi ini juga mendorong masyarakat untuk mencapai tingkat pendidikan yang lebih tinggi. karena kemakmuran ekonomi akan menghasilkan orang-orang yang lebih percaya diri dan menumbuhkan etos dalam dirinya untuk mencapai kehidupan yang lebih baik di masa depan. pluralisme dan hubungan yang seimbang antara negara dan masyarakat. Pertumbuhan ekonomi. sehingga hal ini juga akan memperbesar persentase masyarakat yang cenderung kritis.berkembang bila rasa saling percaya antar kelompok masyarakat tidak tumbuh. Selanjutnya menurut Asykuri Ibn Chamim (2003) nilai-nilai demokrasi seperti tersebut di atas merupakan wacana normatif yang memerlukan kondisi tertentu sebagai landasan pengembangannya. Apabila yang ada adalah rasa ketakutan. dalam suatu pemilihan individu atau kelompok diharapkan siap menang dan siap kalah. Contoh kongkrit misalnya. jika memadai menjadi salah satu aktor kondisional yang ikut mendorong tumbuhnya kehidupan demokrasi. Apabila sikap ini dapat terwujud alangkah harmonisnya kehidupan demokrasi itu. Keadaan yang demikian dapat dibuktikan bahwa banyak negara yang pertumbuhan ekonominya rendah cenderung pemerintahnnya tidak demokratis. Kerja sama ini dapat diwujudkan dalam bentuk sikap mau menerima pendapat orang lain dan konsisten dalam menerima segala keputusan yang telah ditetapkan bersama. kecurigaan. dan bahkan permusuhan. salah satu nilai yang mampu mendorong terwujudnya demokrasi adalah kerja sama. Dan yang terakhir Kerja sama. percaya diri dan bermotivasi tinggi dalam kehidupan mereka. Akibat lebih lanjut agenda pemerintahan tidak terlaksana karena dukungan masyarakat sangat lemah karena adanya rasa tidak saling percaya tersebut. masyarakat plural dapat dipahami sebagai masyarakat yang terdiri dari berbagai kelompok. Pluralisme. Hal ini menuntut tumbuhnya institusi politik yang responsif terhadap kebutuhan rakyatnya.

Untuk itulah ada parameter untuk mengamati apakah demokrasi terwujud atau tidak dalam suatu negara. sehingga konflik dapat dihindari. Akan tetapi kemenangan suatu kelompok yang telah sesuai dengan aturan yang diakui secara kolektif harus diterima dengan tangan terbuka. berbangsa dan bernegara sekarang ini demokrasi merupakan pilihan banyak negara. media massa.dalama sebuah persaingan secara jujur. warga mesyarakat dapat mengartikulasikan aspirasinya dan menyatakan dengan jelas apa kepentingannya. Sehingga ³negara kuat´ cenderung akan melemahkan pondasi demokrasi. Dengan kata lain. Di samping itu dengan demokrasi maka rakyat dapat membentuk asosiasi-asosiasi yang dapat mengimbangi kekuasaan pemerintah. Masyarakat yang heterogen membuka peluang bagi persaingan dan konflik antar kelompok yang ada. alasanya sangat jelas yaitu dengan demokrasi maka pemerintah akan dapat dikontrol oleh masyarakat. Pada perkembangan kehidupan bermasyarakat. dan rakyat. Biasanya dalam keadaan ³negara kuat´ tidak mengenal adanya kelompok kritis atau oposisi. karena negara yang lemah tidak mungkin bisa memainkan peran utamanya yaitu melindungi masyrakat dan mempertahankan kedaulatan negara. Negara seperti inilah yang dapat memberikan perlindungan bagi rakyatnya dan menjadi penopang bagi pengembangan nilai-nilai demokrasi. Dengan demokrasi warga masyarakat memiliki peluang untuk mengajukan alternatif kebijaksanaan ketimbang hanya menerima begitu saja apa yang diajukan pemerintah. Pemilihan umum yang dilakukan secara teratur dengan tenggang waktu yang jelas. jujur dan adil. pola hubungan negara dan masyarakat merupakan kondisi lain yang menentukan kualitas pengembangan demokrasi. Demokrasi memerlukan sebuah negara kuat tetapi menghormati hukum. karena ada kecenderungan ³negara kuat´ akan melakukan represi terhadap masyarakat yang dianggap membahayakan negara. jelas tidak. memerlukan adanya partai politik. Kalau begitu apakah memerlukan ³negara lemah´ ? Jawabnya. legeslatif. demokrasi akan membatasi peluang pemerintah untuk melaksanakan pemerintahan yang berlawanan dengan kehendak masyarakat luas. antara lain : 1. Pemilu merupakan gerbang utama yang haus dilewati pemerintahan demokrasi. kompetitif. karena dengan pemilu lembaga-lembaga kenegaraan dapat dibentuk baik legeslatif maupun eksekutif. Demokrasi akan sulit berkembang apabila berada pada posisi ³negara kuat´ . Melalui pemilu juga akan diketahui seberapa 13 . Oleh karena itu yang diperlukan dalam negara demokrasi adalah hubungan antara negara dan masyarakat/rakyat yang seimbang. Hubungan yang seimbang antara negara dan masyarakat.

Hal ini sangat diperlukan dalam rangka menciptakan keseimbangan antar berbagai kekuasaan yang ada dalam negara. (f) pemilihan yang bebas dan jujur. Para pemegang jabatan politik harus bisa mempertanggungjawabkan kepada publik apa yang telah dilakukannya baik secara pribadi maupun sebagai pejabat publik. Akuntasi publik. kebebasan menyatakan pendapat. Hal terutama menyangkut kebebasan berserikat. Demokrasi memberikan peluang untuk mengadakan kompetisi karena semua orang dan kelompok memili hak dan peluang yang sama di bidang pemerintahan. Dilaksanakan atau tidaknya hak-hak dasar individu atau disebut sebagai basic human right. kebebasan pers. Suatu negara dapat dikatakan demokratis apabila kekuasaan mayoritas digandengkan dengan jaminan hak asasi manusia (HAM). (e) jaminan HAM. Di negara totaliter atau otoriter tidak akan terjadi karena rekrutmen politik hanya dilakukan tertentu baik individu maupun kelompoknya. Kelompok mayoritas dapat melindungi kelompok minoritas. (j) pluralisme sosial. maka dapat dikatakan negara yang demikian jauh dari demokrasi. 14 . karena apabila suatu negara hanya seseorang yang berkuasa secara terus menerus atau hanya ada satu partai politik yang berkuasa mengendalikan pemerintahan. Rekrutmen politik secara terbuka. Apabila hak-hak dasar ini dilakukan dengan sepenuhnya maka dapat dinyatakan demokrasi sudah berjalan dengan baik. (g) persamaan di depan hukum. (i) pembatasan pemerintah secara konstitusional. namun tidak benar bahwa kekuasaan mayoritas itu selalu demokratis. ekonomi dan politik. Lebih lanjut Alamudi menjelaskan bahwa dalam negara yang demkratis warga negara bebas mengambil keputusan melalui kekuasaan mayoritas. pragmatisme. 2. baik konflik antara lembaga politik maupun konflik antara warga negara dengan pemerintah.besar kemungkinan rotasi kekuasaan. (c) kekuasaan mayoritas. 4. Pengadilan adalah yuri yang mampu bertindak netral apabila terjadi konflik dalam masyarakat. (k) nilainilai toleransi. Terwujudnya sebuah pengadilan yang independen. sehingga rakyat mempunyai peluang untuk melakukan kontrol terhadap proses penyelenggaran negara. (d) hak minoritas. 3. (b) pemerintahan berdasarkan persetujuan dari yang diperintah. (h) proses hukum yang wajar. karena jabatan yang mereka terima merupakan kepercayaan dari rakyat. Apa yang dlakkan harus secara terbuka untuk diketahui publik. 5. kebebasan dari rasa takut. hak-hak minoritas tidak dapat dihapuskan oleh suara mayoritas. Parameter lain untuk dapat mengetahui demokratis atau tidaknya suatu pemerintahan dapat dilihat dari dipenuhi atau tidaknya unsur-unsur sebagai berikut : (a) kedaulatan rakyat. kerja sama dan mufakat (Alamudi:1994). dan sebagainya.

Pengertian dan Prinsip-prinsip Budaya Demokrasi Mempelajari budaya demokrasi sudah barang tentu tidak bisa lepas dari budaya politik yakni pola-pola sikap dan orientasi politik yang dimiliki anggota suatu sistem politik. Kesediaan warga masyarakat untuk saling toleransi terhadap keanekaragaman dan konflik antarkelompok maupun kesediaan untuk mengakui keabsahan kompromi juga sangat bermanfaat bagi perkembangan demokrasi. berpikir kritis dan kemauan untuk mendengar. bernegosiasi. Karakter publik juga tidak kalah pentingnya. mengindahkan aturan main (rule of law). Menganalisis pelaksanaan demokrasi di Indonesia A. Budaya politik yang diwarnai oleh kerja sama atas dasar saling percaya atarwarga masyarakat akan lebih mendukung demokrasi dari pada budaya politik yang diwarnai rasa saling curiga. seperti kepedulian sebagai warga negara. Musyawarah dan kesepakatan dalam keluarga merupakan bagian terpenting dalam proses pembelajaran demokrasi. tetapi juga ada jenis budaya politik yang lebih menopang kehidupan politik totaliter. Karakter pribadi seperti tanggung jawab moral. kebencian dan saling tidak percaya dalam hubungan antarwarga. Mendiskripsikan pengertian dan prinsip-prinsip budaya demokrasi 2. Macridis & Brown (1986) menyebut bahwa ada berbagai jenis budaya politik yang dapat menopang kehidupan politik demokratis. Berdasarkan pengertian tersebut maka dapat diketahui bahwa budaya politik demokrasi merupakan pola-pola sikap dan orientasi politik yang bersumber dari nilainilai dasar demokrasi dan yang seharusnya dimiliki setiap warga dari sistem politik demokrasi. disiplin diri dari setiap individu adalah wajib dimiliki oleh setiap anggota masyarakat. BAB II BUDAYA DEMOKRASI MENUJU MASYARAKAT MADANI Kompetensi Dasar : 1. terutama dukungan dari unit-unit keluarga dan berbagai komunitas sosial lainnya.Oleh karena itu demokrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sangat membutuhkan dukungan dari berbagai lapisan sosial. Mengidentifikasikan ciri-ciri masyarakat madani 3. dan kompromi merupakan karakter yang sangat diperlukan agar demokrasi dapat terlaksana. Selain itu budaya politik yang memberi nilai tinggi terhadap hubungan-hubungan hirarkis dan perbedaan yang sangat ekstrim akan sangat 15 .

(3). Sedangkan komitmen kewarganegaraan adalah kesetiaan kritis warga negara terhadap nilai-nilai dan prinsip-prinsip dasar demokrasi. (9). termasuk hormat kepada orang lain dan penggunaan wacana yang beradab). saling percaya. totalitarian ditandai oleh Sedangkan budaya politik non-demokratis atau kecurigaan. Sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan ini antara lain : (1). (8). Dalam tingkatan kehidupan individu sebagai warga negara. hirarki. (10). Berdasarkan pernyataan di atas diperoleh pengertian ³budaya demokrasi´ adalah kerja sama. toleransi. (4). Hal ini meliputi dua aspek. (5). ketidapercayaan. Mengasihi sesama. kebencian. Disiplin diri dan kesetiaan pada aturan-aturan yang diperlukan untuk memelihara pemerintahan demokratis tanpa tekanan dari otoritas di luar dirinya sendiri. konflik. (6). seperti kedaulatan 16 . kesederajadan. Keterbukaan pikiran termasuk sikap skeptis yang sehat dan pengakuan terhadap sifat ambiguitas (mendua arti) kenyataan sosialdan politi. (2). Tanggung jawab pribadi dan kesediaan untuk menerima tanggung jawab bagi dirinya sendiri serta konsekuensi dari tindakan-tindakannya. Keadaban (civility. yaitu : (a) disposisi kewarganegaraan. Toleransi terhadap keanekaragaman. tidak toleran. Komitmen ini dapat dipilah menjadi : (1). Sedang masyarakat yang lebih mengutamakan pemenuhan kebutuhan memperoleh kekuasaan dan mengabaikan kebutuhan pihak lain akan cocok memiliki rezim yang otoriter atau totaliter. dan kompromi. keseragaman. Disposisi kewarganegaraan ialah sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan warga negara yang menopang perwujudan kebaikan bersama serta berfungsinya sistem demokrasi secara sehat.mendukung pemerintahan non-demokratis dan kurang mendukung perkembangan demokrasi. Inti kebajikan kewarganegaraan ialah tuntutan agar semua warga negara menempatkan kebaikan bersama di atas kepentingan pribadi. Sabar dan gigih dalam mengejar tujuan bersama. menghargai keanekaragaman. Sikap batin dan kehendak untuk menempatkan kebaikan bersama di atas kepentingan pribadi. sebab tanpa hal ini sistem pemerintahan demokrasi tidak mungkin berjalan sebgaimana mestinya. (7). Kesediaan untuk berkompromi dan menerima kenyataan bahwa nilai-nilai dan prinsip-prinsip kadangkala saling bertentangan. dan ketidaksamaan derajat. dan (b) komitmen kewarganegaraan. Branson (2001) menyebutkan bahwa setiap warga negara di dalam negara demokrasi harus memiliki civics virtues (kebajikan-kebajikan kewarganegaraan). dan bukan demokrasi. Murah hatu terhadap sesama dan masyarakat luas. Komitmen kepada prinsip-prinsip dasar demokrasi.

Persamaan. dkk:2006) Kebebasan adalah keleluasaan untuk membuat pilihan terhadap beragam pilihan atau melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi kepentingan bersama atas kehendak sendiri tanpa tekanan pihak manapun. persamaan. dan rule of law. Sehingga sebagai nilai. menghormati kebenaran. keberadaban. Pandangan demokrasi bahwa manusia itu berbeda-beda tetapi hakikatnya sama sederajat dalam nilainya dan harga keluhurannya sebagai manusia (dignity of man as human being) dalam masyarakat. tetapi harus digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat bagi masyarakat dan dengan cara yang tidak melanggar aturan yang sudah disepakati bersama. pembagian kekuasaan negara. kesamaderajatan. keadaban (Bambang Suteng. persamaan politik. solidaritas.rakyat. toleransi. Komitmen kepada nilai-nilai dasar demokrasi. penalaran. dan sebagainya. kasih sayang. 17 . disiplin diri. persamaan. dan sebagainya. solidaritas/persaudaraan. konsultasi kepada rakyat. sistem check and balance. Sebagai contoh kebajikan kenegaraan menurut Quigley (2002) adalah hormat pada harkat dan martabat setiap orang. Sebagai nilai maka kebebasan ini menjadi pedoman perilaku rakyat bedaulat yang tercermin dalam menghargai kebebasan orang lain dan memanfaatkan kebebasan diri sendiri secara bertanggung jawab. mayority rule-minority right. dan keberadaban. Jadi dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa nilai-nilai budaya demokrasi itu meliputi kebebasan. politik. Nilaim ini juga tercermin dalam tanggung jawab pribadi dan kesediaan menerima tanggung jawab bagi dirinya sendiri serta konsekuensi dari tindakantindakannya. toleransi. yakni meliputi kebebasan. Keleluasaan di sini bukannya tanpa batas. persamaan menjadi pedoman perilaku rakyat berdaulat agar mereka mampu menghargai harkat martabat sesamanya. dan patriotisme. seperti kemerdekaan. Sedang komitmen-komitmen kenegaraan antara lain mencakup dedikasi kepada hak asasi manusia (HAM). Selanjutnya dalam bahasan budaya demokrasi ini harus diketahui pula prinsipprinsip atau unsur-unsur yang mendukungnya. integritas. persamaan. serta memiliki kesediaan untuk berkompromi dan menerima kenyataan bahwa nilai-nilai dan prinsip-prinsip kadangkala saling bertentangan. persaudaraan. Dengan demikian persamaan berarti tiadanya keistimewaan bagi siapapun dan memberi kesempatan yang sama kepada setiap dan semua orang. dan (2). pemerintahan.kejujuran. menghormati penalaran. sama kedudukannya di dalam hukum. kebaikan bersama. dan sebagainya.

Demikian juga pemerintah harus jujur dan terbuka kepada rakyat. Sebagai nilai. pendirian. mengasihi sesama dan murah hati terhadap sesama warga masyarakat. Komunikasi antarwarga negara sangat memerlukan kejujuran agar terbangun solidaritas yang kokoh antarsesama pendukung masyarakat demokratis. sikap diplin diri. kepercayaan.Solidaritas atau kesetiakawanan adalah kesediaan untuk memperhatuikan kepentingan dan bekerja sama dengan orang lain. kelakuan. pandangan. kebiasaan. Sebab. membela tindakan tertentu. Dalam masyarakat demokratis seseorang berhak memiliki pandangannya sendiri. membiarkan. Toleransi adalah sikap atau sifat menghargai. yakni demi alasan keamanan tidak perlu dinyatakan kepada rakyat. Kebiasaan 18 . tetapi ia akan memegang teguh pendiriannya itu dengan cara yang toleran dengan pandangan orang lain yang berbeda atau bahkan bertentangan dengan pendiriannya. Sebagai nilai. Kejujuran diperlukan agar hubungan antarpihak berjalan dengan baik dan tidak menimbulkan benih-benih konflik di masa depan. prinsip. Dalam kehidupan yang demokratis dikenal ungkapan ³agree to disagree´ (setuju untuk tidak setuju). dan atas pertimbangan apa sebuah kebijakan dipilih di antara sejumlah alternatif kebijakan yang ada. pandangan dan kepentingannya. dan kesetiaan pada aturan-aturan. membolehkan pendapat. dalam negara demokratis prinsipnya rakyat mempunyai hak untuk mengetahui apa yang dikerjakan pemerintah dan bagaimana pemerintah mengerjakan tugasnya. toleransi dapat mendorong tumbuhnya sikap toleran terhadap keanekaragaman. Penalaran adalah penjelasan mengapa seseorang memiliki pandangan tertentu. Ungkapan ini menunjukkan adanya prinsip solidaritas. sebab meskipun berbeda pandangan atau kepentingan mereka tetap sepkat untuk mempertahankan kesatuan atau ikatan bersama. dan sebagainya yang bertentangan dengan pendirian sendiri. Kejujuran adalah keterbukaan untuk menyatakan kebenaran. sikap saling percaya dan kesediaan untuk berkerja sama antar pihak yang berbeda keyakinan. dan menuntut hal serupa dari orang lain. Sebagaim nilai. penghormatan terhadap kejujuran akan menumbuhkan integritas diri. misalnya tentang bagaimana semua keputusan pemerintah itu dibuat. Solidaritas ini menjadi penting dalam kehidupan demokrasi karena menjadi perekat agar tidak jatuh ke dalam perpecahan sebgai akibat terlalu mengutamakan kebebasan pribadi tanpa mengingat adanya persamaan hak maupun semangat kebersamaan. Walapun ada pengecualiannya. maka solidaritas ini dapat menumbuhkan sikap batin dan kehendak ntuk menempatkan kebaikan bersama di atas kepentingan pribadi.

Sebagai nilai.memberi penalaran akan menumbuhkan kesadaran bahwa ada banyak alternatif sumber informasi dan ada banyak kemungkinan cara untuk mencapai tujuan. (2). dkk:2006). Kehidupan masyarakat memang selalu berubah. Penalaran ini akan mendorong terbangunnya masyarakat demokratis. mengutamakan musyawarah untuk mencapai mufakat. penalaran dapat mendorong tumbuhnya keterbukaan pikiran. (3). dan kepatuhan pada norma-norma yang berlaku dalam kehidupan bersama. Keadaban adalah ketinggian tingkat kecerdasan lahir batin atau kebaikan budi pekerti. Perilaku yang beradab adalah perilaku yang mencerminkan penghormatan terhadap dan mempertimbangkan kehadiran pihak lain sebagaimana dicerminkan oleh sopan santun dalam bertindak. Menurut Henry B. Membatasi penggunaan kekerasan seminimal mungkin. Menjamin tegaknya keadilan. Menyelenggarakan pergantian pimpinan secara teratur. menghindari penggunaan kekerasan. Kemudian nilai-nilai dasar itu dijabarkan lebih rinci dan operasional dalam kehidupan demokrasi. Menyelesaikan perselisihan secara damai dan melembaga antara lain melalui perundingan serta dialog terbuka agar tercapai kompromi. Sebagai nilai. konsensus atau mufakat. maka pemerintah harus dapat menyesuaikan kebijakan publiknya dengan perubahan-perubahan itu. (4). (5). (6). termasuk penggunaan bahasa tubuh dan berbicara beradab. keanekaragaman kepentingan dan tingkah laku. termasuk sikap skeptis yang sehat dan pengakuan terhadap sifat ambiguitas (kemenduaartian) kenyataan sosial dan politik. Pemerintah wajib memberikan penalaran terhadap kebijakan yang ditetapkannya agar warga negara mengetahui dengan benar apa yang dikerjakan pemerintah. Menjamin terselenggaranya perubahan masyarakat secara damai. Mayo (Budihardjo:1980) nilai operasional yang menjadi landasan pelaksanaan demokrasi meliputi : (1). Perlu diketahui bahwa tantangan terberat bagi sebuah bangsa yang hendak membangun demokrasi adalah bagaimana mengembangkan budaya demokrasi dalam kehidupan bangsa yang bersangkutan. maka harus dijaga agar demokrasi tidak berubah menjadi tirani mayoritas. Mengakui dan menganggap wajar adanya keanekaragaman dalam masyarakat yang tercermin dalam keanekaragaman pendapat. Dalam demokrasi ada mayoritas dan minoritas dalam pengambilan keputusan. Dalam hal ini paling tidak ada empat bidang yang harus mendapat perhatian (Bambang Suteng. keadaban akan menjadi pedoman perilaku warga negara yang serba santun. yakni lembaga-lembaga negara 19 . tetapi pemerintah juga hjarus menjaga agar perubahan-perubahan dalam masyarakat tetap terkendali.

korupsi. yang dibutuhkan dalam negara B.termasuk birokrasi pemerintah. partai-partai politik. kekuasaannya kepada rakyat. masyarakat yang bebas dari pengaruh kekuasaan dan tekanan negara. dan masyarakat madani (civil society). Partai-partai politik harus dibangun agar mampu berperan sebagai perumus dan pemadu aspirasi rakyat untuk kenudian memperjuangkannya melalui wakil-wakil rakyat di lembaga pemerintahan. harus menerapkan asas keterbukaan (transparan). pejabat negara harus mempertganggungjawabkan penggunaan kekuasa. Masyarakat Madani (civil society) Masyarakat madani (civil society) memiliki ciri sebagai masyarakat terbuka. dan harus mampu bekerja secara efektif dan efisien. akuntabel (dapat dipertanggungjawabkan). pelaku ekonomi. Sebab salah satu syarat penting bagi demokrasi adalah terciptanya 20 . Masyarakat madani merupakan elemen yang sangat signifikan dalam membangun demokrasi. harus mampu mewujudkan pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Partai politik juga harus mampu melakukan kaderisasi agar mampu menyediakan calon-calon pemimpin bangsa yang bisa mewujudkan aspirasi rakyat. Masyarakat madani (civil society). Kehidupan masyarakat harus dibangun agar mampu menjadi kekuatan pengontrol terhadap penyelenggara negara agar pemerintah tidak menyimpang dari koridor demokrasi. dan partisipatif. Untuk itu pelaku ekonomi harus mengindari suap. dengan penjelasan berikut: Lembaga-lembaga negara termasuk birokrasi pemerintah harus dibangun agar menjadi lembaga pelaksana kedaulatan rakyat. Pelaku ekonomi harus pula membangun diri agar mampu melakukan kegiatan ekonomi dalam suasana kehidupan demokrasi untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Membangun masyarakat madani merupakan bagian dari upaya melewati masa transisi menuju demokrasi melalui pengembangan budaya politik demokratis. antara lain pengisian jabatan lembaga negara harus demokratis melalui pemilihan umum atau pemilihan oleh wakil rakyat. kolusi dan nepotisme yang hanya mensejahterakan sekelompok orang. masyarakat yang kritis dan berpartisipasi aktif serta masyarakat egaliter (Tim ICCE UIN:2003). Mental dan keahlian aparat penegak hukum harus dibangun sehingga benarbenar mampu menerapkan prinsip rule of law demokrasi.

kebudayaan yang membela hak-hak kolektif. perlindungan kaum cacat (difabel). Masyarakat madani mensyaratkan adanya civic engagement yaitu keterlibatan warga negara dalam asosiasi-asosiasi sosial. Istilah civil society adalah berkaitan dengan interaksi-interaksi sosial yang tidak dikuasai oleh negara (Patrick: 2001). yang memupunyai ciri-ciri : (1) lahir secara mandiri. kemandirian tinggi berhadapan dengan negara. (2) 21 . otonom dari negara. perlindungan hak-hak perempuan. Berdasarkan hal-hal di atas maka dapat diketahui bahwa civil society tersusun atas berbagai organisasi kemasyarakatan. antara lain : kesukarelaan (voluntary). nilai-nilai. Maka sebagai jaringan kerja antarlembaga yang terpisah dari negara namun tunduk terhadap aturan hukum yang berlaku. para pengguna istilah itu umumnya sependapat bahwa civil society adalah jaringan kerja yang kompleks dari organisasi-organisasi yang dibentuk secara sukarela. yayasan penyelenggara sekolah swasta. percaya dan toleran antarsatu dengan yang lain yang sangat penting artinya bagi bangunan politik demokrasi (Saiful Mujani:2001). ide-ide. dan terikat pada tatanan legal atau seperangkat nilai bersama. kesukuan. dan sebagainya. dan informasi publik (contoh. dan yang bertindak secara mandiri atau dalam kerja sama dengan lembaga-lembaga negara. dan sebagainya). sehingga memungkinkan tumbuhnya sikap terbuka. dan keterikatan dengan norma-norma atau nilai-nilai hukum yang diikuti oleh warganya. perkumpulan keagamaan. suka rela. Lebih dari itu. (3). perlindungan korban diskriminasi. Mohammad AS Hikam (1993) memberikan batasan civil society sebagai wilayah kehidupan sosial yang terorganisasi dan bercirikan. berita-berita. keswasembadaan (self-generating) dan keswadayaan (self-supporting). Lary Diamond (2003) menyatakan bahwa civil society melingkupi kehidupan sosial terorganisasi yang terbuka. (2). (4). yang berbeda dari lembaga-lembaga negara yang resmi. setidaknya berswadaya secara parsial. asosiasi penerbitan. perlindungan etnis minoritas. gerakan-gerakan perlindungan konsumen. kepercayaan. warga masyarakat sendiri yang membentuknya bukan pemerintah. civil society merupakan wilayah publik yang diciptakan dan dijalankan oleh warga negara biasa (bukan pejabat pemerintah). Civil society mewujudkan dalam berbagai organisasi yang dibuat masyarakat di luar pengaruh negara. perkumpulan dan jaringan perdagangan yang produktif. lahir secara mandiri.partisipasi masyarakat dalam proses-proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh negara atau pemerintahan. Civil society ini meliputi : (1). organisasi-organisasi yang bergerak di bidang produksi dan penyebaran pengetahuan umum. dan sebagainya.

Ciri yang kelima ini menegaskan keterikatan civil society pada budaya politik demokratis. masyarakat madani bukan hanya merupakan syarat atau prakondisi bagi demokrasi semata. atau atas kesadaran masing-masinganggota. C. yang di Indonesia dikenal dengan nama ³lembaga swadaya masyarakat´ (LSM). adanya keragaman dan konsensus. yang bertolak belakang dengan watak keberadaban. sehingga salah mengartikan konsep kemandirian sebagai konsep yang boleh melanggar tatanan hukum yang dibuat oleh negara. Tatanan nilai-nilai masyarakat tersebut ada dalam masyarakat madani (civil society). Selain itu demokrasi merupakan pandangan mengenai masyarakat dalam kaitan dengan pengungkapan kehendak. Pelaksanaan Demokrasi di Indonesia 22 . Kemandirian terhadap negara tidak boleh diartikan sebagai peluang untuk melakukan tindakan anarkis. dan (5) tunduk pada aturan hukum yang berlaku atau seperangkat nilai/norma yang diyakini bersama. sehingga berani mengontrol penggunaan kekuasaan negara. Namun keterikatan ini seringkali dilupakan oleh warga masyarakat yang baru saja menikmati kebebasan politiknya. sehingga tidak bergantung pada bantuan pemerintah/negara. Demokrasi dapat dianggap sebagai hasil dinamika masyarakat yang menghendaki adanya partisipasi. paling tidak untuk sebagian. Karena itu demokrasi membutuhkan tatanan nilai-nilai sosial yang ada pada masyarakat madani. Masyarakat madani (civil society) dan demokrasi menurut Gellner (2001) merupakan dua kata kunci yang tidak dapat dipisahkan. (4) bebas atau mandiri dari kekuasaan negara. Menurut Gellner. Dengan demikian masyarakat madani (civil society) menjadi sangat penting keberadaannya dalam mewujudkan demokrasi. adanya perbedaan pandangan. Masyarakat madani ini dapat menjalankan peran dan fungsinya sebagai mitra dan patner kerja lembaga eksekutif dan legeslatif serta yudikatif. tetapi tatanan nilai dalam masyarakat madani seperti kebebasan dan kemandirian juga merupakan sesuatu yang inheren baik secara internal (hubungan antar sesama warga negara) maupun secara eksternal (hubungan negara dengan masyarakat atau sebaliknya). tetapi juga dapat melakukan kontrol sosial (social control) terhadap pelaksanaan kerja lembaga tersebut. Sebagai perwujudan masyarakat madani secara kongkrit dibentuk berbagai organisasi di luar negara yang disebut dengan nama NGO (non government organization). (3) mencukupi kebutuhannya sendiri (swadaya).keanggotaannya bersifat suka rela.

tetapi pada pelaksanaannya terjadi penyimpangan antara lain dengan Ketetapan MPRS No. koalisi yang dibangun sangat mudah pecah. Pasang surut pelaksanaan demokrasi ini dari segi waktu dapat dibedakan dalam empat periode. Namun sejak awal kemerdekaan bangsa Indonesia menyatakan komitmennya untuk mewujudkan negara demokrasi. di mana presiden sebagai kepala negara. Meskipun UUD 1945 dinyatakan kembali berlaku. dan periode 1998 ± sampai sekarang. Keadaan ini diperparah dengan gagalnya Konstituante membentuk Undang-undang Dasar yang baru. presiden membubarkan DPR hasil pemilihan umum. presiden membentuk DPR-GR sehingga fungsi kontrol DPR hampir tidak ada. III/1963 yang mengangkat Ir. yaitu. 1. Syafi¶i Ma¶arif demokrasi terpimpin ini sebenarnya ingin menempatkan Soekarno sebagai ³ayah´ dalam famili besar yang bernama Indonesia dengan kekuasaan yang terpusat di tangannya. sedang kepala pemerintahan di tangan Perdana Menteri. Sejak saat itu berakhirlah masa demokrasi parlementer di Indonesia. (b) tiap-tiap orang berhak mendapat penghidupan yang layak dalam masyarakat. Presiden mencanangkan demokrasi pada periode dengan nama ³demokrasi terpimpin´ yang pada hakikatnya sangat bertentangan dengan jiwa dan semangat UUD 1945. Hal ini dibuktikan dengan diberlakukannya tiga konstitusi yang memuat ketentuan langsung maupun tidak langsung menyatakan bahwa Indonesia adalah negara demokrasi. Dalam pandangan A. 2. Demokrasi pada Periode 1959 ± 1965 Pemerintahan pada periode ini dikenal sebagai Orde Lama dengan ciri-cirinya adalah dominasi dari Presiden. (a) tiap orang diwajibkan untuk berbakti kepada kepentingan umum. bangsa dan negara. bangsa dan negara. Dengan demikian kekeliruan yang sangat 23 . masyarakat.Pelaksanaan demokrasi di Indonesia mengalami fluktuasi (pasang surut) dari masa awal kemerdekaan sampai saat sekarang. periode 1959 ± 1965. Perlu diketahui pada masa demokrasi terpimpin ini memiliki prinsip-prinsip dasar . periode 1965 ± 1998. periode 1945 ± 1959. berkembangnya pengaruh komunis dan meluasnya peranan ABRI sebagai unsur sosial politik. Karena fragmentasi partai-partai politik maka usia kabinet jarang dapat bertahan lama. maka mendorong Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang isinya antara lain menyatakan berlakunya kembali UUD 1945. terbatasnya peranan partai politik. Soekarno sebagai Presiden seumur hidup. sehingga berakibat destabilisasi politik nasional. Demokrasi pada Periode 1945 ± 1959 Pada masa ini dikenal dengan sebutan demokrasi parlementer.

Sehingga secara umum dapat dijelaskan bahwa demokrasi Pancasila tidak berbeda dengan demokrasi pada umumnya. Demokrasi Periode 1998 ± sekarang 24 . Dengan demikian nilai-nilai demokrasi juga belum ditegakkan dalam demokrasi Pancasila Soeharto. Seperti yang dikatakan oleh M. di mana negara atau pemerintah sangat mendominasi. Karena dalam praktik kenegaraan dan pemerintahan rezim ini sangat tidak memberikan ruang bagi kehidupan berdemokrasi. 4. Demokrasi pada Periode 1965 ± 1998 Landasan formil pada perode ini adalah Pancasila. (d) Campur tangan pemerintah dalam berbagai urusan partai politik dan publik.mendasar dalam demokrasi terpimpin Soekarno adalah adanya pengingkaran terhadap nilai-nilai demokrasi yaitu absolutisme dan terpusatnya kekuasaan hanya pada diri pemimpin. (b) Demokrasi dalam bidang ekonomi pada hakikatnya adalah kehidupan yang layak bagi semua warga negara. (c) Pengibirian peran dan fungsi partai politik. peradilan yang bebas yang tidak memihak. sehingga tidak ada ruang kontrol sosial dan chek and balance dari legeslatif terhadap eksekutif. Demokrasi pada periode dikenal dengan istilah demokrasi Pancasila dengan beberapa perumusannya (Tim ICCE UIN: 2003) : (a) Demokrasi pada bidang politik pada hakikatnya adalah menegakkan kembali asas-asas negara hukum dan kepastian hukum. (g) Inkorporasi lembaga non pemerintah. sehingga periode ini dikenal sebagai Orde Baru. yakni memandang kedaulatan rakyat sebagai inti dari sistem demokrasi. Pada periode pemerintah berusaha mengembalikan kemurnian pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945. (e) Massa mengambang. Undang-Undang Dasar 1945 serta Ketetapan-Ketetapan MPRS. 3. Namun demikian ³demokrasi Pancasila´ dalam rezim Orde Baru hanya sebagai retorika dan gagasan belum sampai pada tataran praksis atau penerapan. Tujuh ciri tersebut menjadikan hubungan negara versus masyarakat secara berhadap-hadapan dan subordinat. Kehidupan demokrasi berusaha dibangun untuk melaksanakan pemerintahan antara lain mulai tahun 1971 pemilihan umum diselenggarakan untuk kurun waktu tiap lima tahun ke depan. (f) Monolitasi ideologi negara. Rusli Karim (Tim ICCE UIN: 2003) rezim Orde Baru ditandai oleh : (a) Dominannya peranan ABRI. (b) Birokratisasi dan sentralisasi pengambilan keputusan. (c) Demokrasi dalam bidang hukum pada hakikatnya bahwa pengakuan dan perlindungan HAM.

2. Transisi demokrasi ini merupakan fase krusial yang kritis. Oleh sebab itu. (b) diamandemennya pasal-pasal dalam konstitusi negara Republik Indonesia (amandemen I-IV). Kedua. Merumuskan pengertian dan hakikat hak asasi manusia. yakni : (a) komposisi elite politik. (c) kultur politik atau perubahan sikap terhadap politik di kalangan elite dan non-elite. kondisi transisi demokrasi di Indonesia untuk saat ini masih berada di persimpangan jalan belum jelas ke arah mana berlabuhnya. Perubahan sistem politik melalui paket amandemen konstitusi (UUD 1945) dan pembuatan paket perundang-undangan politik (UU Partai Politik. (b) desain institusi politik. dan sebagainya. UU Pemilihan Presiden dan wakil Presiden. kerangka dasar. Indikasi ke arah terwujudnya kehidupan demokratis dalam era transisi menuju demokrasi di Indonesia antara lain adanya: (a) reposisi dan redefinisi TNI dalam kaitannya dengan keberadaannya pada sebuah negara demokrasi. (d) peran civil society (masyarakat madani). 25 . UU Susunan dan Kedudukan DPR. (d) dijalankannya kebijakan otonomi daerah. masih menjadi pertanyaan besar. reformasi kelembagaan (institutional reform and empowerment) yang menyangkut pengembangan dan pemberdayaan lembaga-lembaga politik. Akan tetapi sampai saat inipun masih dijumpai indikasi-indikasi kembalinya kekuasaan status quo yang ingin membalikkan arah demokrasi Indonesia kembali ke periode sebelum orde reformasi. Sehingga yang harus dilakukan dalam transisi demokrasi di Indonesia sekurang-kurangnya mencakup reformasi dalam tiga bidang. Bergulirnya reformasi yang mengiringi runtuhnya rezim tersebut menandakan tahap awal bagi transisi demokrasi di Indonesia. (c) adanya kebebasan pers. UU Pemilu. karena bisa saja perjalanan demokrasi bangsa Indonesia kembali lagi ke masa otoriter seperti masa Orde Lama dan Orde Baru. reformasi sistem (constitutional reform) yang menyangkut perumusan kembali falsafah. Pertama. Ketiga. DPRD dab DPD) mampu mengawal transisi menuju demokrasi. BAB III HAK ASASI MANUSIA Kompetensi Dasar 1. dan perangkat legal sistem politik. Mendeskripsikan perkembangan pemikiran hak asassi manusi secara umum dan yang berkemabng di Indonesia. pengembangan kultur dan budaya politik (political culture) yang lenih demokratis. Sukses atau gagalnya suatu transisi demokrasi sangat bergantung pada empat faktor kunci (Azyumardi Azrz: 2002).Runtuhnya rezim otoriter Orde Baru telah membawa harapan baru bagi tumbuhnya demokrasi di Indonesia.

hak asasi manusia adalah hak yang melekat pada satiap manusia. Istilah yang dikenal di Barat mengenai HAM ialah ³right of man´. Menurut pendapat Jan Materson (dari Komisi HAM PBB). Pengetian dan Hakikat Hak Asasi Manusia Secara definisi hak merupakan unsur normatif yang berfungsi sebagai pedoman berperilaku. Dalam Islam antara huqua al-insan addhoruriyah dan huquq Allah tidak dapat dipisahkan atau berjalan sendiri-sendiri tanpa adanya keterkaitan satu dengan alainnya. Menseskripsikan mengenai pelanggaran dan proses peradilan hak asasi manusia. pemajuan. Menseskripsikan penanggungjawab. Memahami perundang-undangan nasional yang mengatur mengenai hak asasi manusia. dan pemenuhan akan hak asasi manusia. Merumuskan bentuk-bentuk hasi asasi manusia. kekebalan serta menjamin adanya peluang bagi manusia dalam menjaga harkat dan martabatnya. 4. Dalam Undang-Undang (UU) Nomor 39 tahun 1999 tentang HAM pasal 1 disebutkan bahwa ³HAM adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai nakhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupupakan 26 . penegakan. Selanjutnya John Locke manyatakan bahwa hak asasi manusia adalah hal-hak yang diberikan langsung oleh Tuhan sebagai hak yang kodrati (Mansyhur Effendi. Inilah yang menyebabkan konsep Barat tantang HAM dengan konsep Islam. (2) ruang lingkup penerapan hak. Oleh karenanya tidak ada kekuasaan apapun yang dapat mencabutnya. 5. A. Sementara iru HAM dalam Islam dikenal dengan istilah huquq al-insan ad-dhoruriyah dan huquq Allah. Karena itu istilah ³right of man´ diganti dengan istilah ³human right´ oleh Eleanor Roosevelt karena dipandang lebih netral dan universal. c) pihak yang bersedia dalam penerapan hak Ketika unsur tersebut menyatu dalam pengertian dasar tentang hak. Hak menpunyai nunsur-unsur sebagai berikut : (1) Pemilik hak. 1994). yang tanpanya manusia mustahil dapat hidup sebagai manusia. melindungi kebebasan. 6. Dengan demikian hak merupakan unsur normatif yang melekat pada diri setiap manusia yang dalam penerapannya berada pada ruang lingkup hak persamaan dan hak kebebasan yang terkait dengan interaksinya antara individu atau dengan instansi.3. Istilah ³right of man´ ternyata tidak secara otomatis mengakomodasi pengertian yang mencakup ³right of woman´. yang mengantikan istilah ³natural right´. perlindungan. Hak ini sifatnya sangat mendasar (fundamental) bagi hidup dan kehidupan manusia dan merupakan hal kodrati yang tidak terlepas dari dan dalam kehidupan manusia.

anugerah-Nya yang wajib dihormati. serta keseimbangan antara kepentingan perseorangan dan dengan kepentingan umum. berbangsa. bahkan negara. ras. Dengan demikian hakikat penghomatan dan perlindungan terhadap HAM ialah menjaga keselamatan ekstensitas manusia secara utuh melalui aksi keseimbangan yaitu keseimbangan antara hak dan kewajiban. (2) HAM berlaku untuk semua orang tanpa memandang jenis kelamin. Begitu juga dalam memenuhi kepentingan perseorangan tidak boleh merusak kepentingan orang banyak (kepentingan umum). Tidak seorangpun mempunyai hak untuk membatasi atau melanggar hak orang lain. dan dilindungi oleh negara. KAM. dibeli ataupun diwarisi.orang tetap mempunyai HAM walaupun sebuah negara membuat hukum yamg tidak melindungi atau melanggar HAM (Mansour Fakih. Perkembangan Pemikiran HAM di Barat dan Indonesia 27 . bermasyarakat dan bernegara. hukum. dijunjung tinggi. dapat ditarik kesimpulan tentang beberapa ciri pokok hakikat HAM yuaitu: (1) HAM tidak perlu diberikan. agama. dapat disimpulkan bahwa HAM merupakan hak yang melekat pada diri manusia yang bersifat kodrati dan fundamental sebagai suatu anugrah Allah yang harus dihormati. Upaya menghormati. Karena itu. Berdasarkan beberapa rumusan pengertian HAM di atas. bernegara dan pergaulan global tidak berjalan secara seimbang. dapat dipastikan akan menimbulakan kekacauan anarkisme dan kesewenangwenangan dalam tata kehidupanumat beragama. pemerintah. HAM adalah bagian darimanusia secara otomatis. pemerintah dan setiap orang demi kehormatan serta negara perlindungan harkat dan martabat manusia´. KAM dan TAM) yang melekat pada setiap individu manusia. masyarakat atau negara. melindungi dan menjunjung tinggi HAM. Jadi dapat disimpulkan hakikat dari HAM adalah keterpaduan antara HAM. Jadi dalam memenuhi dan menuntut hak tidak terlepas dari pemenuhan kewajiban yang harus dilaksanakan. menjadi kewajiban dan tanggung jawab bersama antara inividu. dan TAM yang berlangsung secara sinergis dan seimbang. Bila ketiga unsur asasi (HAM. dijaga dan dilindungi oleh seriap individu. pemenuhan perlindungan dan penghormatan terhadap HAM harus dikuti dengan pemenuhan terhadap KAM (kewajiban asasi manusia) TAM (tanggung jawab asasi manusia) dalam kehidupan pribadi. Berdasarkan beberapa rumusan HAM di atas. dan (3) HAM tidak bisa dilanggar. 2003). pandangan politik asal usul sosial dan bangsa. B. baik dalam tatanan dalam kehidupan pribadi beemasyarakat. etmis.

Sejak itu mulai dipraktikan kalau raja melanggar hukum harus diadili dan pertanggungjawabkan kebijakan pemerintahannya kepada parlemen. termasuk penangkapan tanpa alasan yang sah dan penahanan tanpa surat perintah yang dikeluarkan oleh pejabat yang sah. Hukum alam diatur berdasarkan logika manusia. Perkembangan HAM selanjutnya ditandai dengan munculnya The American Declaration of Independence. yang merumuskan hak lebih dirinci lagi. Hukum alam merupakan produk rasio manusia demi terciptanya keadilan abadi. berhak dinyatakan tidak beralah.Pembicaraan mengenaig HAM tidak terlepas dari pengakuan terhadap adanya hukum alam (natural law) yang menjadi cikal bakal bagi kelahiran HAM. menjadi dibatasi kekuasaannya dan mulai dapat diminta pertanggunggungjawabannya dimuka hukum (Masyhur Effendi. sehingga tidaklah logis bila sesudah lahir. Pada umumnya para pakar di Eropa berpendapat bahwa lahirnya HAM di kawasan Eropa dumulai dengan lahirnya Magna Charta yang antara lain membuat pandangan bahwa raja yang tadinya memiliki kekuasaan absolut (raja yang menciptakan hukum. Kemudian prinsip itu dipertegas oleh prinsip freedom of exspressio]n (kebebasan mengeluarkan pendapat). ia harus dibelenggu. Selanjutnya. Salah satu muatan hukum alam adaklah hak-hak pemberian dari alam (naturals rights). sampai ada keputusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap yang menyatakan ia bersalah. karenannya manusia akan mematuhi hukum alam tersebut. masalah keadilan yang merupakan inti dari hukum alam menjadi pendorong bagi upaya penghormatan dan perlindungan harkat dan martabat kemanusiaan universal. freedom of religion (bebas menganut kenyakinan/agama yang dikehendaki). 1994). pada tahun 1789 lahirlah The French Declaration (Deklarasi Parncis). kemudian ditahan dan dituduh. Dengan demikian. dan hak-hak dasar lainnya. artinya orang-orang yang ditangkap. Jadi. Magna Charta telah menghilangkan hak absolutisme raja. Dalam deklarasi ini dipertegas bahwa manusia adalah merdeka sejak di dalam perut ibunya. 1994). sebagaimana dimuat dalam the Rule of Law yang antara lain isinya tidak boeh ada penangkapan dan penahanan yang semena-mena. Hukum alam merupakan satu konsep dari prinsip-prinsip umum moral dan sistem keadilan yang berlaku untuk seluruh umat manusia. 28 . karena dalam hukum alama ada sistem keadilan yang berlaku universal (Masyur Effendi. The right of property (perlindungan hak milik). tetapi ia sendiri tidak terikat dengan hukum yang dibuatnya). dalam french Declaration sudah tercakup hak-hak yang menjamin tumbuhnya demokrasi maupun negara hokum (Masyhur Efendi. Dalam kaitan itu berkaitan berlaku prinsip Presumtion of innocent.1994).

Keadalan dan 29 . 1994). maka pembangunan haruslah berpihak pada rakyat dan diarahkan untuk redistrbusi kekayaan national serta redistribusi sumber-sumber daya sosial.. politik dan budaya secara merata. sedangkan hak lainnya terabaikan sehingga menimbulkan banyak korban. Generasi ketiga sebagai reaksi pemikiran HAM generasi kedua. ekonomi. Ada empat hak yang dikemukakannya. Generasi kedua pemikiran HAM tidak saja menuntut hak yuridis melainkan juga hak-hak asasi sosial ekonimi. politik dan budaya. Generasi ketiga menjanjikan adanya kesatuan antara hak ekonomi. hak yuridis kurang mendapat penekanan sehingga terjadi ketidakseimbangan dengan hak sosial-budaya. Kedua Covenant tersebut disepakati dalam sidang umum PBB 1966. Secara garis besar perkembangan pemikiran HAM dibagi pada 4 generasi. Jadi pemikiran HAM generasi kedua menunjukkan perluasan pengertian konsep dan cakupan hak asasi manusia.Perkembangaannya yang lebih signifikan adalah dengan kemunculan The Four Freedom dari Presiden Roosevelt pada Tahun 1941. hak kebebasan memeluk agama dan beribadat sesuai dengan ajaran agama yang dipeluknya. politik dan hukum dalam satu keranjang yang desebut dengan hak-hak melaksanakan pembangunan (The Rights of Development). hak ekonomi dalam arti pembangunan ekonomi menjadi prioritas utama. yang meliputi usaha. yaitu hak kebebasan berbicara dan menyatakan pendapat. Dalam pelakasanaan hasil pemikiran HAM generasi ketiga juga mengalami ketidakseimbangan. pengurangan persenjataan. Pada generasi kedua ini lahir dua covemen yaitu International Covenant on Economic. Fokus pemikiran HAM generasi pertama pada bidang hukum dan politik disebabkan oleh dampak dan situasi perang dunia II. hukum. budaya. Generasi pertama berpendapat bahwa pengertian HAM hanya berpusat pada bidang hukum dan politik. sehingga tidak satupun bangsa (negara) berada dalam posisi berkeinginan untuk melakukan serangan terhadap negara lain (Mayhur Efendi. hak ekonomi dan hak politik. karena banyak hak-hak rakyat lainnya yang dilanggar. Pemikiran HAM terus berlangsung dalam rangka mencariu rumusan HAM yang sesuai dengan konteks ruang dan zamannya. sosial and Cultural Eights dan International Covement on civil and political Rights. sosial. hak kebebasan dari ketakutan. totaliterisme dan adanya keinginan negara-negara yang baru merdeka untuk menciptakan suatu tertib hukum yang baru. Kalau kata ³pembangunan´ tetap dipertahankan. kebebasan dari kemiskainan dalam pengertian setiap bangas berusaha mencapai tingkat kehidupan yang damai dan sejahtera bagi penduduknya. Pada masa generasi kedua.

Pemimpin Boedi Utomo memperlihatkan adanya kesadaran berserikat dan mengeluarkan pendapat melalui petisi-petisi yang ditujukan kepada pemerintah kolonial maupun dalam tulisan yang dimuat surat kabar Goeroe Desa. Pemikiran HAM mereka lebih menitik beratkan pada hak untuk menentukan nasib sendiri (the right of self determination). tema-temanya banyak dipengaruhi oleh para tokohnya seperti Muhammad Hatta. Sedangkan pemikiran HAM dalam Partai Komunis Indonesia sebagai partai berlandaskan Maxisme lebih condong pada hak-hak sosial dan 30 . Pemikiran HAM generasi keempat dipelopori oleh negara-negara di kawasan asia yang pada tahun 1983 melahirkan deklarasi hak asasi manusia yang menginginkan lahirnya tatanan sosial berkeadilan. Bentuk pemikirannya mencakup bidang hak kebesaran berserikat dan mengeluarkan pendapat.Sedangkan pemahaman HAM di Indonesia sebagai tatanan nilai. Ahmad Soebardjo. Deklarasi tersebut juga secara positif mengukuhkan keharusan imperatif dari negara untuk memenuhi hak asasin rakyatnya. Selain itu deklarasi HAM Asia tersebut juga telah berbicara mengenai masalah µkewajiban asasi¶ bukan hanya µhak asasi¶. kahirlah generasi keempat yang mekritik peranan negara yang sangat dominan dalam proses pembangunan yang terfokus pada pembangunan ekonomi dan menimbulkan dampak degatif seperti diabaikannya aspek kesejahteraan rakyat.A. Pemikiran HAM juga muncul di Perhimpunan Indonesia.pemenuhan hak asasi haruslah dimulai sejak dimulainnya pembangunan itu sendiri. yaitu periode sebelum dan sesudah kemerdekaan. Selain itu program pembangunan yang dijalankan tidak berdasarkan kebutuhan rakyat secara keseluruhan melainkan memenuhi kebutuhan kelompok elit. Periode Sebelum Kemerdekaan Boedi Oetomo. Sedang pemikiran HAM dalam Sarekat Islam lebih menekankan pada usahausaha untuk memperoleh penghidupan yang layak dan bebas dari penindasan dan diskriminasi rasial. sebagai organisasi pergerakan. karena tidak saja mencakup tuntutan struktural tetapi juga berpihak kepada terciptanya tahanan sosial yang berkeadilan. menaruh perhatian terhadap masalah HAM. Maramis dan sebagainya. norma. A. . Deklarasi ini lebih maju dari rumusan generasi ketiga. konsep yang hidup di masyarakat dan acuan bertindak pada dasarnya telah berlangsung cukup lama. Setelah banyaknya dampak negatif yang ditimbulkan dari pemikiran HAM generasi ketiga. 1. bukan setelah pembangunan itu selesai. Secara garis besar Bagir Manan (2001) membagi perkembangan pemikiran HAM di Indonesia dalam dua periode.

Pemikiran HAM telah mendapat legitimasi secara formal karena telah memperoleh pengaturan dan masuk ke dalam hukum dasar negara (konstitusi) yaitu UUD 1945. Seperti dikemukakan oleh Bagir Manan. Semakin banyak tumbuh partai-partai politik dengan beragam idiologinya masing-masing.menyentuh isu-isu yang berkenaan dengan dengan alat produksi. Dengan demikian gagasan dan pemikiran HAM di Indonesia telah menjadi perhatian besar dari para tokoh pergerakan bangsa dalam rangka penghormatan penegakan HAM. Bersamaan dengan itu prinsip kedaulatan rakyat dan negara berdasarkan atas hukum dijadikan sebagai sendi bagi penyelenggaraan negara Indonesia merdeka. hak berkumpul. Lebih menonjol pada hak untuk mendapatkan kemerdekaan serta mendapatkan perlakuan yang sama dan hak kemerdekaan. (2). Konsen terhadap HAM pada Indische Partij. hak berserikat. pemikiran dan aktualisasi HAM pada periode ini mengalami ³pasang´ dan menikmati ³bulan madu´ kebebasan. hak kebebasan untuk berserikat melalui organisasi politik yang dirikan serta hak kebebasan untuk menyampaikan pendapat terutama di perlemen. hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak. sangat membanggakan. erpa demokrasi parlementer. 2. Perdebatan pemikiran HAM yang terjadi dalam sidang BPUPKI berkaitan dengan masalah hak persamaan kedudukan di muka hukum. hak untuk memeluk agama dan kepercayaan. Kebebasan pers sebagai salah satu pilar demokrasi 31 . karena suasana kebebasan yang menjadi semangat demokrasi leberal atau demokrasi parlementer mendapatkan tempat dikalangan elit politik. hak mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan. Indikatornya ada tiga aspek yait : (1). Periode Setelah Kemerdekaan Pemikiran HAM pada periode awal kemerdekaan masih menekankan pada hak untuk merdeka (self deteriminasi). Komitmen terhadap HAM pada periode awal kemerdekaan diantaranya ditunjukan dalam Maklumat Pemerintah tanggal 1 dan 3 November 1945 yang menyatakan akan adanya pemilu dan rakyat diberi kesempatan atau hak mendirikan partai politik: Pemikiran HAM pada periode tahun 1950-an. Pemikiran HAM sebelum Indonesia merdeka juga terjadi dalam perdebatan di Sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) antara Soekarno dan Soepomo di satu pihak dengan Mohammad Hatta dan Mohammad Yamin pada pihak lain. Sementara itu pemikiran HAM pada Partai Nasional Indonesia mengedepankan pada hak untuk memperoleh kemerdekaan (the right self detemination). karena itu HAM di Indonesia mempunyai akar sejarah yang sangat kuat.

terjadi pamasungan hak asasi masyarakat yaitu hak sipil dan hak politik seperti hak untuk berserikat. fair (adil) dan demokrasi. Pada periode 1959-1966. Salah satu seminar tentang HAM dilaksanakan pada tahun 1967 yang merekomendasikan gagasan tentang perlunya pembentukan pengadilan HAM. Pada masa awal perode ini telah diadakan berbagai seminar tentang HAM. sikap depensif pemerintah ini berdasarkan pada anggapan bahwa isu HAM sering kali 32 . berkumpul dan mengeluarkan pikiran dengan lisan. XIV/MPRS1966. Pemerintah pada periode ini bersifat defensif dan represif yang dicerminkan dari produk hukum yang umumnya restriktif terhadap HAM. dan (3). Pada sistem masa ini kekuasan terpusat dan berada di tangan presiden. yang lahir dari reaksi penolakan Soekarno terhadap sistem demokrasi parlementer. Sementara itu. Pemilihan umum sebagai pilar lain dari demokrasi berlangsung dalam suasana kebebasan. pada awal tahun 1970-an sampai periode akhir 1980-an persoalan HAM di Indonesia mengalami kemunduran. ada semangat untuk menegakkan HAM. Pada periode awal terajadi peralihan pemerintahan dari Soekarno ke Soeharto. Selanjutnya pada tahun 1968 diadakan Seminar Nasional Hukum II yang merekomendasikan perlunya hak uji materil (judicial review) untuk dilakukan guna melindungi HAM. Sikap defensif pemerintah tercermin dalam ungkapan bahwa HAM adalah produk pemikiran Barat yang tidak sesuai dengan nilainilai luhur budaya bangsa yang tercermin Pancasila dan Bangsa Indonesia sudah terlebih dahulu mengenal HAM sebagai mana tertuang dalam rumusan UUD 1945 yang lahir lebih dulu dibandingkan dengan Deklarasi Universal HAM. Dengan kata lain telah terjadi sikap restriktif (pembatasan yang ketat oleh kekuasaan) terhadap hak sipildan hak politik warga negara. karena HAM tidak lagi dihormati..betul menikamati kebebasannya. sistem pemerintahan yang berlaku adalah demokrasi terpimpin. Dalam kaitannya dengan HAM.. Pemikiran elit penguasa pada saat ini sangat diwarnai oleh sikap penolakannya terhadap HAM sebagai produk barat dan individualistik serta bertentangan dengan paham kekeluargaan yang dianut bangsa Indonesia. MPRS malalui Panitia Ad Hoc IV telah menyiapkan rumusan yang akan dituangkan dalam Piagam Terntang Hak-hak Asasi Manusia dan Hak-hak serta Kewajiban Warganegara. Akibatnya Presiden melakukan tindakan inkonstitusional pada tataran suprastruktur politik maupun dalam tataran infrastrutur politik. pembentukan Komisi dan Pengadilan HAM untuk wilayah Asia. dilindungi dan ditegakkan. Begitu pula dalam rangka pelaksanaan TAP MPRS No. Selain itu.

Komisi ini bertujuan . Upaya yang dilakukan oleh masyarakat melalui pemebtukan jaringan dan lobi Internasional terkait dengan pelanggaran HAM yang terjadi seperti kasus Tanjung Priok. 50 Tahun 1993 tertanggal 7 Juni. Lembaga ini bertugas untuk memantau dan menyelidiki pelaksanaan HAM. Selanjutnya dilakukan penyusunan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pemberlakuan HAM dalam kehidupan ketatanegaraan dan bermasyarakat di Indonesia. Selain itu. Piaga Madinah. Pada saat ini mulai dilakukan pengkajian terhadap beberapa kebijakan pemerintah Orde Baru yang berlawanan dengan pemajuan dan perlindungan HAM. Bentuk-bentuk Hak Asasi Manusia 33 . Hasil dari pengkajian tersebut menunjukkan banyaknya norma dan ketentuan hukum nasional khususnya yang terkait dengan penegakan HAM diadopsi dari hukum dan instrumen internasional dalam bidang HAM. pertimbangan dan saran kepada Pemerintah perihal pelaksanaanHAM. Meskipun dari pihak pemerintah mengalami kemandegan bahkan kemunduran. Kasus DOM di Aceh. serta memberi pendapat. Upaya yang dilakukan oleh masyarakat menjelang periode 1990-an nampak memperoleh hasil yang menggembirakan karena terjadi penggeseran strategi pemerintah dari represif dan depensif kestrategi akomodatif terhadap tuntutan yang berkaitan dengan penegakan HAM. kasus Kedung Ombo. Pergantian rezim pemerintahan pada tahun 1998 memberikan dampak yang sangat besar pada pemajuan dan perlindungan HAM di Indonesia. pemikiran HAM nampaknya terus ada pada periode ini terutama dikalangan masyarakat yang dimotori oleh LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dan masyarakat akademisi yang concern terhadap penegakan HAM. Demikian pula dilakukan pengkajian dam retifikasi terhadap instrumen HAM internasional semakin ditinkatkan. C. Deklarasi Kairo dan deklarasi atau perundang-undangan lainnya yang berkaitan dengan penegakan HAM. Piagam PBB. Deklarasi Universal HAM. dan sebagainya. kasus di Irian Jaya. Salah satu sikap akomodatif pemerintah terhadap tuntutan penegakan HAM adalah dibentukknya Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNAS HAM) berdasarkan kepres No.untuk membantu pengembangan kondisis-kondisi yang kondusif bagi pelaksanaan HAM yang sesuai dengan Pancasila UUD 1945 (termasuk hasil amandemen UUD 1945).digunakan oleh negara-negara barat untuk memojokkan negara yang sedang berkembang seperti Indonesia.

(7) Hak untuk peradihan yang independen dan tidak memihak. Sementara itu dalam UUD 1945 (amandemen I ± IV UUD 1945) menurut hak asasi manusia yang terdiri dari hak: (1) Hak kebebasan untuk mengeluarkan pendapat. (3) Hak bebas dari penyiksaan atau perlakuan maupun hukuman yang kejam. (4) Hak kebebasan beragama. (7) Hak atas pendidikan. (2) Hak untuk bekerja. (14) Hak atas suatu kebangsaan. penahanan atau pembuangan yang sewenang-wenang. hak subsistensi (hak jaminan adanya sumber daya untuk menunjang kehidupan) serta hak ekonom. sosial dan budaya. (6) Hak atas standar hidup yang pantas di bidang kesehatan dan kesejahteraan. (13) Hak memperoleh suaka. (6) Hak bebas dari penangkapan. 34 . kebebasan dan keamanan pribadi. (17) Hak bebas berpikir. dan (8) Hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan yang berkebudayaan dari masyarakat. hak sipil dan politik. (12) Hak bergerak. berkesadaran dan beragama. Sedangkan hak ekonomi. (8) Hak untuk praduga tak bersalah sampai terbukti bersalah. (9) Hak bebas dari campur tangan yang sewenangwenang terhadap kekuasaan pribadi. yaitu hak personal (hak jaminan kebutuhan pribadi). Hak personal. (15) Hak untuk menikah dan membentuk keluarga. tak berperikemanusiaan ataupun merendahkan derajat manusia. dan (20) hak untuk mengambil bagian dalam pemerintahan dan hak atas akses yang sama terhadap pelayanan masyarakat. (16) Hak untuk mempunyai hak milik. (3) Hak kebebasan berkumpul. (18) Hak bebas berpkir dan menyatakan pendapat. (3) Hak atas upah yang sama untuk pekerjaan yang sama. (6) Hak kebebasan berserikat. (19) Hak untuk berhimpun dan berserikat. hak sipil dan politik yang terdapat dalam pasal 3-21 dalam DUHAM tersebut memuat: (1) Hak untuk hidup. (2) Hak kedudukan yang sama di dalam hokum. (11) Hak atas perlindungan hukum terhadap serangan semacam itu.Deklarasi Universal tentang HAM (Universal Declaration of Human Rights) yang juga dikenal dengan istilah DUHAM. (5) Hak atas istirahat dan waktu senggang. (10) Hak bebas dari serangan terhadap kehormatan dan nama baik. (2) Hak bebas dari perbudakan dan penghambaan. yaitu: (1) Hak atas jaminan social. (4) Hak untuk memperoleh pengakuan hukum dimana saja secara pribadi. dan (7) Hak memperoleh pengajaran atau pendidikan. tempat tinggal maupun surat-surat. (5) Hak penghidupan yang layak. mengelompokkan HAM kedalam beberapa jenis. sosial dan budaya berdasarkan pada pernyataan DUHAM menyangkut hal-hal sebagai berikut. (5) Hak untuk pengampunan hukum secara efektif. hak legal. keluarga. (4) Hak untuk bergabung ke dalam serikat-serikat buruh.

Selain itu adanya penambahan pasal UUDS 1950 yang signifikan yaitu tentang fungsi sosial hak milik. sedangkan pengaturan HAM dalam bentuk UndangUndang dan peraturan pelaksanaannya kelemahannya pada kemungkinan seringnya mengalami perubahan. juga ditemukan Konstitusi RIS dan UUDS 1950. Ketiga. UU No. dalam peraturan pelaksanaan perundang-undangan seperti Peraturan Pemerintah. Pengaturan HAM dalam Ketetapan MPR terdapat dalam TAP MPR Nomor XVII tahun 1998 tentang Pandangan dan Sikap Bangsa Indonesia Terhadap HAM dan Piagam HAM Nasional. Sementara itu bila pengaturan HAM melalui Ketetapan MPR. yaitu melalui amandemen. mulai pasal 7 sampai pasal 33. (9) Hak wanita. dan (10) Hak anak. 5 tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara. (4) Hak memperoleh keadilan. baik sebelum maupun setelah amandem. Hak Asasi Manusia dalam Perundang-Unndangan Nasional Paling tidak terdapat empat bentuk hukum tertulis atau praturan perundangundangan yang memuat tentang HAM. Pertama. kelemahannya tidak dapat memberikan sangsi hukum bagi pelanggarnya. D.Selanjutnya secara operasional beberapa bentuk HAM yang terdapat dalam UU Nomor 39 tahun 1999 tentang HAM sebagai berikut: (1) Hak untuk hidup. 5 tahun 1998 35 . (2) Hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan. Konstitusi RIS mengaturbya dalam bab khusus tentang HAM. Keputusan Presiden dan peraturan pelaksanaan lainnya. dalam konstitusi (UUD 1945). dalam Undang-Undang.. (7) Hak atas kesejahteraan. hak tiap warga negara untuk mendapat pengajaran. Pengaturan HAM dalam konstitusi negara RI tidak hanya ditemukan pada UUD 1945. Keempat. UU No. di antaranya dalam: (1). dalam ketetapan MPR. (8). Sedang dalam UUDS 1950 pengaturan HAM tidak jauh berbeda dengan yang dimuat dalam Konstitusi RIS.hak demonstrasi dan mogok. namun perbedaan antara KRIS dengan UUDS 1950 terletak pada penomoran pasal dan perubahan sedikit redaksional dalam pasal-pasal. Sedangkan dalam Undang-Undang. Hak turut serta dalam pemerintahan. karena perubahan dan atau penghapusan satu pasal di dalamnya harus melalui proses yang berat dan panjang. Kedua. (5) Hak atas kebebasan pribadi. (6) Hak atas rasa aman. (2). Sedangkan kelemahannya rumusan ketentuan yang diatur masih umum. (3) Hak mengembangkan diri. Pengaturan HAM dalam konstitusi atau UUD 1945 memberikan jaminan yang sangat kuat.

(4). UU No. (3). Keputusan Presiden No. 5 tahun 2001 tentang Pembentukan Pengadilan Hak Asasi Manusia Ad Hoc pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. UU No. UU No. 11 tahun 1963 tentang Tindak Pidana Subversi. (7). yaitu tahap penataan aturan secara konsisten (rule consistent behaviour). UU No. (3). 181 tahun 1998 tentang Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan. (10). (6). 9 tahun 1998 tentang Kebebasan Menyatakan Pendapat. (11).Keputusan Presiden (KEPRES) Nomor 181 TAHUN 1998 tentang Pendirian Komisi Nasional Penghapusan Kekerasan Terhadap Wanita. UU No. (9). 105 tentang Penghapusan Pekerja secara Paksa. 21 tahun 1999 tentang Ratifikasi Konvensi ILO No. 1 tahun 1999 tentang Pengadilan HAM. 96 tahun 2001. Penataan aturan secara konsisten memerlukan 36 . 31 tahun 2001 tentang Pembentukan Pengadilan Hak Asasi Manusia pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. 11 tentang Diskriminasi dalam Pekerjaan. yang diubah dengan Keputusan Presiden no. (12). Pengaturan HAM dalam Peraturan Pemerintah dan Keputusan Prsiden antara lain adalah: (1). Pengadilan Negeri Surabaya. UU No. Peraturan Pemerintah pengganti Undang-Undang (Perpu) No. 19 tahun 1999 tentang ratifikasi Konvensi ILO No. UU No. dan (13). Pada tahap ini diupayakan tumbuhnya kesadaran penghormatan dan penegakan HAM baik di kalangan aparat pemerintah maupun masyarakat. Keseluruhan ketentuan perundang-undangan di atas merupakan pintu pembuka bagi strategi selanjutnya. (2). karena HAM merupakan kebutuhan dasar manusia yang perlu diperjuangkan. Keputusan Presiden No.tentang Ratifikasi Konvensi Anti Penyiksaan. 40 tahun 1999 tentang Pers. 29 tahun 1999 tentang Ratifikasi Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi. 26 tahun 1999 tentang Pencabutan UU No. Tidak Manusiawi dan Merendahkan Martabat. Keputusan Presiden No. dihormati dan dilindungi oleh setiap manusia. (5). dan Pengadilan Negeri Makassar. Perlakuan atau Penghukuman yang Kejam. Keputusan Presiden No. 11 tahun 1998 tentang Amandemen terhadap UU No. 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM. UU No. UU No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. (6). 129 tahun 1998 tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia tahun 1998-2003. UU No. 138 tentang Usia Minimum Bagi Pekerja. (5). UU No. 20 tahun 1999 tentang Ratifikasi Konvensi ILO No. (4). 25 tahun 1997 tentang Hubungan Perburuhan. (8). yang memuat rencana ratifikasi berbaagi instrumen hak asasi manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa serta tindak lanjutnya.

menghalangi. Oleh karena itu hubungan keseimbangan keduanya merupakan ³simbiosis-mutualistik´. memaksakan tindakan-tindakan yang bertujuan mencegah kelahiran di dalam kelompok.persyaratan yang harus ada. HAM sebagai tatanan sosial. Pelanggaran HAM berat meliputi kejahatan genosida dan kejahatan kemanusiaan (UU No. Kejahatan genosida dilakukan dengan cara membunuh anggota kelompok. dan memindahkan secara paksa anak-anak dari kelompok tertentu ke kelompok lain (UU No. menciptakan kondisi kehidupan kelompok yang akan mengakibatkan kemusnahan secara fisik baik seluruh atau sebagiannya. politik. Sedangkan bentuk pelanggaran HAM ringan selain dari kedua bentuk pelanggaran HAM berat itu. berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku. Dalam kerangka menjadikan HAM sebagai tatanan sosial. Selanjutnya. Pelanggaran dan Peradilan Hak Asasi Manusia Pelanggaran hak asasi manusia adalah setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang termasuk aparat negara baik disengaja ataupun tidak disengaja atau kelalaian yang secara hukum mengurangi. kelompok etnis dan kelompok agama. kedua. membatasi. 26/2000 tentang Pengadilan HAM. Kejahatan genosida adalah setiap perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok bangsa. atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyelesaian hukum yang adil dan benar. Demokrasi dan pelaksanaan prinsip-prinsip negara berdasarkan atas hukum merupakan instrumen bahkan prasyarat bagi jaminan perlindungan dan penegakan HAM. yaitu UU No. HAM sebagai tatanan sosial merupakan pengakuan masyarakat terhadap pentingnya nilai-nilai Ham dalam tatanan sosial. seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh Undang-undang ini. 26/200 tentang Pengadilan HAM). 37 . ras. dan atau mencabut hak asasi manusia. Persyaratan pertama adalah demokrasi dan supremasi hukum. mengakibatkan penderitaan fisik atau mental yang berat terhadap anggota-anggota kelompok. dan tidak didapatkan. 26/2000 tentang Pengadilan HAM). ekonomi yang hidup. Dengan demikan pelanggaran HAM merupakan tindakan pelanggaran kemanusiaan baik dilakukan oleh individu lain tanpa dasar atau alasan yuridis dan alasan rasional yang menjadi pijakannya. E. Pelanggaran HAM dikelompokkan pada dua bentuk yaitu: pelanggaran HAM berat dan pelanggaran HAM ringan. pendidikan HAM secara kurikuler maupun melalui Pendidikan Kewarganegaraan (civic education) sangat diperlukan dan terus dilakukan secara berkesinambungan.

pelacuran secara paksa. Pengadilan HAM tidak berwenang memeriksa dan memutuskan perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat yang dilakukan seseorang yang berumur di bawah 18 (delapan belas) tahun pada saat kejahatan dilakukan. pemandulan atau sterilisasi secara paksa atau bentuk-bentuk kekerasan seksual lain yang setara. pengadilan HAM menempuh proses pengadilan melalui hukum acara pengadilan HAM sebagaimana terdapat dalam undang-undang pengadilan HAM. budaya. perbudakan.Sementara itu kejahatan kemanusiaan adalah salah satu perbuatan yang dilakukan sebagai bagian dari serangan yang meluas atau sistematik yang diketahuinya bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil berupa pembunuhan. jenis elamin atau alasan lain yang telah diakui secara universal sebagai hal yang dilarang menurut hukum internasional. dan kejahatan apartheid. tetapi juga pelanggaran yang dilakukan bukan oleh aparatur negara. Dalam pelaksanaan peradilan HAM. penuntutan dan persidangan terhadap pelanggaran yang terjadi harus bersifat nondiskriminatif dan berkeadilan. pemusnahan. penganiayaan terhadap suatu kelompok tertentu atau perkumpulan yang didasari persamaan paham politik. agama. Untuk Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Pengadilan HAM berwenang juga memeriksa dan memutuskan perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berada dan dilakukan di luar batas territorial wilayah negara Republik Indonesia oleh warga negara Indonesia. 38 . pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa. Pelanggaran terhadap hak asasi manusia dapat dilakukan baik oleh aparatur negara mapun bukan. penghilangan orang secara paksa. perkosaan. penyiksaan. Pengadilan HAM berkedudukan disetiap wilayah Pengadilan Negeri yang bersangkutan. Penindakan terhadap pelanggar HAM tersebut dilakukan melaui proses peralihan HAM mulai dari penyelidkan. perbudakan seksual. Pengadilan HAM bertugas dan berwewenang memeriksa dan memutuskan perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat. Pengadilan HAM berkedudukan di daerah kabupaten atau daerah kota yang daerah hukumannya meliputi daerah hukum Pengadilan Negeri yang bersangkutan. ras. penyidikan. Pengadilan HAM merupakan pengadilan khusus yang berada di lingkungan Pengadilan Umum. Karena itu penindakan terhadap pelanggaran hak asasi manusia tidak boleh hanya ditujukan terhadap aparatur negara. perampasan kemerdekaan atau perampasan kebebasan fisik lain secara sewenang-wenang yang melanggar (asas-asas) ketentuan pokok hukum internasional. kebangsaan. pemaksaan kehamilan. etnis.

yaitu negara membiarkan terjadinya pelanggaran HAM. bila negara tidak mampu melindungi HAM warganegaranya. penghormatan dan perlindungan HAM. tidak hanya berwujud pelanggaran secara langsung. Artinya negara dan individu sama-sama memiliki tanggung jawab terhadap pemajuan.F. Beberapa Kovenan. Begitu pula tanggung jawab HAM adalah negara. Oleh karenanya. menyatakan bahwa tanggung jawab pemajuan. Setiap individu (warganegara) mempunyai hak asasi baik dalam keadaan darurat maupun keadaan normal harus dilindungi. memajuan. pelanggaran HAM sebenarnya tidak saja dilakukan oleh rakyat kepada rakyat yang disebut dengan pelanggaran HAM secara horizontal. dan Pemenuhan Hak Asasi Manusia. Negara yang tidak memfasilitasi rakyat melalui pendidikan HAM berarti negara telah mengabaikan amanat rakyat. Rakyat yang cerdas dan sadar sehingga mampu menghargai dan menghormati HAM perlu diberikan pendidikan terutama masalah yang berkaitan dengan HAM. Penanggungjawab dalam Penegakan. kasus di Irian Jaya. Pandangan pertama menyatakan bahwa yang harus bertanggungjawab memajukan HAM adalah negara. pemajuan. melainkan juga kepada individu warga negara. Pandangan kedua. Pelanggaran terhadap pemenuhan HAM juga lebih mengedepankan tanggung jawab perlindungan. Oleh karena itu. karena negara dibentuk sebagai wadah untuk kepentingan kesejahteraan rakyatnya. negara yang bersangkutan dengan sendirinya akan kehilangan legitimasi rakyatnya. Hak-hak inilah yang harus dijamin realisasinya oleh negara. Deklarasi Kairo dan sebagainya harus diletakkan sebagai norma hukum internasional yang mengatur bagaimana negara-negara di dunia menjamin hak-hak individunya. dan penghormatan HAM ada pada pemerintah. penghormatan dan perlindungan HAM tidak saja dibebankan kepada negara. Dengan demikian. Hukum Perjanjian Internasional. deklarasi PBB tentang HAM yang dikenal dengan Piagam HAM Dunia. Siapa yang bertanggungjawab dalam penegakan. tetapi juga secara tidak langsung. Perlindungan. Bentuk pelanggaran HAM jenis ini antara lain adanya penembakan rakyat oleh sipil bersenjata seperti dalam kasus 39 . perlindungan dan pemenuhan HAM? Ada dua pandangan mengenai hal tersebut. analisis terhadap pelanggaran HAM pun selalu berada dalam wilayah pelanggaran HAM oleh negara terhadap rakyat seperti kasus Tanjung Priok. kasus DOM di Aceh. Memajukan. Karena itu. Piagam Madinah. Pelanggaran HAM oleh negara terhadap rakyat yang disebut pelanggaran HAM secara vertikal. kasus Haur Koneng di Tasikmalaya.

Pertama. 40 . Rektor Universitas Syiah Kuala Banda Aceh dan beberapa tokoh lainnya. Catatan Bab ini banyak diambil dari Bab IX buku Tim ICCE UIN Jakarta (Dede Rosyada. Menseskripsikan Sistem Pemerintahan Negara Indonesia sebelum dan sesudah amandemen UUD 1945. Mendeskripsikan konsep organisasi pemerintahan dalam garis vertika dan horizontal. individu memiliki tanggung jawab atas dasar prinsip-prinsip demokrasi. Dalam masyarakat yang demokratis. Kedua. Ada tiga alasan mengapa individu memiliki tanggung jawab dalam penegakan dan perlindungan HAM. 3. Hubungan dimaksud menimbulkan ketergantungan antara bagian-bagian yang akibatnya jika salah satu bagian tidak bekerja dengan baik. dan sempit. 5. Membandingkan Sistem Pemerintahan Indnesia dengan Amerika Serikat. Ketiga. 2003. akan mempengaruhi keseluruhannya itu (Kusnardi dan Harmailyi Ibrahim. Merumuskan konsep sistem pemerintahan. tetapi juga kalangan swasta atau kalangan di luar negara dalam hal ini rakyat. A. Jakarta. Penerbit Prenada Media. Mendeskripsikan konsep sistem pemerintahan dalam arti luas. Pendidikan Kewargaan.. presidensiil dan referendum. dan Masyarakat Madani. BAB IV SISTEM PEMERINTAHAN NEGARA Kompetensi Dasar 1. sejumlah besar problem HAM tidak hanya melibatkan aspek pemerintah. suatu yang menjadi kewajiban pemerintah juga menjadi kewajiban rakyat. dkk). penganiayaan buruh atau budak oleh majikan seperti kasus Marsinah.penembakan Rektor IAIN Ar-Raniry Banda Aceh. Merumuskan cirri-ciri sistem pemerintahan parlementer. 2. terdiri dari beberapa bagian yang mempunyai hubungan fungsional terhadap keseluruhan. Demokrasi. 6. 4. Hak Asasi Manusia. para perampok dan sebagainya. HAM sejati bersandar pada pertimbangan-pertimbangan normatif agar umat manusia diperlakukan sesuai dengan human dignity-nya. karenaa setiap orang memiliki kewajiban untuk ikut mengawasi tindakan pemerintah. sangat luas. Pengertian Sistem Pemerintahan Sistem adalah suatu keseluruhan.

maka akan mempengaruhi komponen yang lain. Titik tolak yang dipergunakan adalah dalam konteks pemerintahan dalam arti luas. sampai B. Apabila salah satu dari komponen atau bagian tersebut berfungsi melebih atau kurang dari wewenangnya. Yaitu meliputi pembagian kekuasaan dalam negara. Pengertian pemerintahan seperti ini mencakup kegiatan atau aktifitas penyelenggarakan negara yang dilakukan oleh eksekutif. antara pemerintah pusat dan pemerintah lokal atau daerah. hubungan antar alat-alat perlengkapan negara yang menjalankan kekuasaan-kekuasaan tersebut baik hubungan horizontal (pemisahan atau pembagian kekuasaan) maupun hubungan vertikal (pemencaran kekuasaan). Dari dua pengertian tersebut. menteri. Pengertian seperti ini akan 41 . Dengan demikian. yakni tatanan yang berupa struktur dari suatu negara dengan menitik beratkan pada hubungan antara negara dengan rakyat. Sedangkan pengertian pemerintahan dalam arti sempit tidak tidak lain adalah aktifitas atau kegiatan yang diselenggarakan oleh fungsi eksekutif. yaitu : (1).1980: 160). maka yang deimaksud dengan sistem pemerintahan adalah suatu tatanan atau susunan pemerintahan yang berupa suatu struktur yang terdiri dari organorgan pemegang kekuasaan didalam negara dan saling melakukan hubungan fungsional diantara organ-organ negara tersebut baik secara vertikal maupun horizontal untuk mencapai suatu tujuan yang dikehendaki. Sedangkan pemeritahan dalam arti luas adalah segala bentuk kegiatan atau aktifitas penyelenggaraan negara yang dilakukan oleh organ-organ negara yang mempunyai otoritas atau kewenangan untuk menjalankan kekuasaan. Sistem Pemerintahan Negara dalam arti paling luas. maka dalam melakukan pembahasan mengenai Pemerintah Negara. Dengan demikian dalam usaha ilmiah sistem adalah suatu tatanan / susunan yang berupa suatu struktur yang terdiri dari bagian-bagian atau komponen-komponen yang berkaitan antara satu dengan lainnya secara teratur dan terencana untuk mencapai suatu tujuan. presiden ataupun perdana dengan level birokrasi yang paling rendah tingkatannya. jika pengertian pemerintahan tersebut dikaitkan dengan pengertian sistem. Tiga Pengertian Sistem Pemerintahan Negara Pengertian sistem pemeintahan negara meurut doktrin Hukum Tata Negara dapat dibagi kedalam tiga pengertian. legislatif maupun judikatif.

khususnya hubungan antar eksekutif dan legislatif. pada sistem ini parlemen (legeslatif) dan pemerintah mempuyai kedudukan yang sama dan saling melakukan kontrol (chek and balances). contohnya di Swiss. (b). Berikutnya (3) disebut Sistem Pemerintahan Negara dalam arti sempit yakni suatu tatanan atau struktur pemerintahan yang bertitik tolak dari hubungan sebagian organ negara ditingkat pusat. contohnya AS. India. sehingga yang berhak mengawasi parlemen dan eksekutif adalah rakyat secara langsung. (c). contoh Inggris. termasuk hubungan antara pemerintah pusat dengan bagian-bagian yang terdapat dalam negara ditingkat lokal atau daeraah.Sistem Pemisahan Kekuasaan (Presidensiil). Organisasi Sistem Pemerintahan Negara Pada umumnya dalam sistem pemerintahan negara. dalam sistem ini parlemen (legislatif) mempunyai kedudukan yang lebih tinggi ketimbang eksekutif. Sistem Pemerintahan Negara ari lua. dengan kata lain eksekutif merupakan bagian yang tak terpisahkan dari legislatif (Parlemen). akan menimbulkan model : (a). Oleh karena itu parlemen tidak diberi kewenangan untuk melakukan pengawasan kepada eksekutif. yakni 42 .Bangunan Negara Kesatuan. baik itu di negara serikat maupun kesatuan dikenal adanya dua organisasi (pengelompokan) dari sistem Pemerintahan yang saling melakukan interaksi antara satu dengan lainnya. Sistem Parlementer. Bangunan Negara Serikat (Federal). aristokrasi dan demokrasi. C. dalam negara seperti ini pemerintah pusat dan negara bagian mempunyai kedudukan yang sama. Struktur atau tatanan pemerintahan negara seperti ini. pada sistem ini pemerintah (eksekutif) pada hakekatnya adalah Badan Pekerja dari Parlemen (Legislatif). (c). Bangunan Negara Konfederasi. Sistem pemerintahan negara seperti ini meliputi: (a). dalam bangunan ini pemerintah pusat memegang otoritas penuh (berkedudukan lebih tinggi) ketimbang pemerintah lokal. Jepang. yakni tatanan atau struktur pemerintahan negara yang bertitik tolak dari hubungan antara semua organ negara. Organisasi Pemerintahan Dalam Garis Horizontal Menurut konsep Trias Politika kekuasaan didalam negara dapat dibagi menjadi menjadi tiga cabang kekuasaan utama . yaitu : (a) Kekuasaan Legislatif. adalah: 1. Sistem Pemerintahan dengan Pengawasan Langsung Oleh rakyat.menimbulkan model pemerintahan monarkhi. dalam negara seperti ini pemerintah lokal (kanton atau wilayah) mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari pemerintah pusat. (2). Organisasi dari sistem pemerintahan negara tersebut. (b).

Dengan demikian konsep pengorganisasian pemerintahan dalam garis horizontal pada hakikatnya merupakan implementasi dari konsep trias politika yang dilandasi oleh adanya reaksi terhadap organisasi pemerintahan yang absolut-diktatorik yang pada umunya terjadi dalam negara yang berbentuk monarkhi. yaitu Presiden atau Perdana Menteri. melainkan dipecah menjadi tiga cabang kekuasaan utama yang dipegang oleh badan-badan negara yang berbeda ditinjau dari fungsi dan kedudukannya. Ketiga cabang kekuasaan negara ini dipegang oleh lembaga atau badan kenegaraan yang sifatnya dapat terpisah antara satu dengan yang lain secara tegas. Kekuasaan Ekekutif yakni kekuasaan untuk menjalankan undang-undang atau disebut juga kekuasaan untuk menjalankan pemerintahan. 2. Kesemuanya itu tergantung dari sistem pemerintahan yang dianut oleh masing-masing negara. satuan pemerintahan yang lebih rendah diwujudkan dalam bentuk negara-negara bagian. adanya pemerintah daerah yang berwenang untuk menyelenggarakan pemerintahan sendiri sesuai dengan aspirasi masyarakat dimasing-masing daerah (otonomi). khususnya yang mempergunakan asas desentrlisasi dikenal. Organisasi Sistem Pemerintahan Dalam Garis Vertikal Membahas Organisasi sistem Pemerintahan dalam garis Vertikal pada intinya bertitik tolak dari bangunan negara.kekuasaan untuk membentuk undang-undang. Biasanya diserahkan kepada lembaga perwakilan rakyat atau parlemen. 1986: 143) kedua satuan pemerintahan yang lebih rendah dibawah pemerintah pusat. Masing-masing banguan negara ini memiliki satuan pemerintahan yang lebih rendah di bawah pemerintah pusat. Menurut Kranenburg (dalam Miriam Budiardjo. baik yang terdapat di negara kesatuan maupun serikat. oleh seorang atau sekelompok orang. khususnya bangunan negara serikat dan bangunan negara kesatuan. Di Negara Serikat. Kekuasaan ini dilakukan oleh badan-badan peradilan dengan susunan bertingkat-tingkat sesuai dengan kewenangan masing-masing tingkat dan berpuncak pada supreme Court atau Mahkamah Agung. tetapi masing-masing masih dapat saling melakukan hubungan antara satu dengan yang lainnya. Maksud pembentukan organisasi pemerintahan seperti ini tidak lain adalah agar kekuasaan yang terdapat didalam suatu negara tidak lagi dipegang dan menumpuk atau dikendalikan.(c). yakni kekuasaan untuk melaksanakan peradilan. Sedangkan di Negara kesatuan. Namun dapat pula terpisah secara kelembagaan. (b). Kekuasaan ini biasanya dilakukan oleh pemerintah dalam arti sempit. masing-masing mempunyai ciri-ciri yang berbeda-beda antara 43 . Kekuasaan Judikatif.

Sedangkan dalam negara kesatuan wewenang pembentukan Undang-Undang Pusat ditetapkan dalam satu rumusan umum dan wewenang pembentukan undang ± undang rendahan (sering disebut Peraturan Daerah/Perda). Negara bagian yang terdapat di dalam Negara Serikat memiliki wewenang untuk membentuk UUD sendiri serta mempunyai wewenang untuk membentuk Organisasi sendiri dalam rangka dan batas-batas konstitusi federal. Penjelasannya secara lebih rinci . yakni morankhi. Sistem ini merupakan sisa-sisa peninggalan sistem pemerintahan dalam arti paling luas. akan tetapi juga wewenang eksekutif dan administratif. tergantung pada badan pembentuk Undang-Undang Pusat itu.satu dengan yang lain berdasarkan hukum positif. Dikatakan demikian karena kepala negara apapun sebutannya-mempunyai kedudukan yang tidak dapat diganggu gugat. Menurut F. wewenang membentuk Undang-Undang Pusat untuk bidang tertentu telah diperinci satu persatu dalam konstitusi federal. 1986:143). Sedang meurut F. Sedangkan Hans Kelsen mengemukakan bahwa. dalam negara federal wewenang legislatif terbagi dalam dua bagian. Sistem Pemerintahan Parlementer (Parliamentary Executive) Pada prinsipnya system pemerintahan parlementer menitik beratkan pada hubungan antara organ negara pemegang kekuasaan eksekutif dan legislative. 44 dan referendum. sistem perlementer. untuk kekuasaan badan legislatif rendahan (Lokal) didasarkan atas penentuan dari badan legislatif pusat itu dalambentuk Undang-Undang Organik. Sedangkan dalam negara kesatuan wewenang legislatif berada dalam tangan badan legislatif pusat. Isjawara (dalam Miriam Budiardjo. yaitu: (a). Sedangkan dalam negara Kesatuan organisasi bagianbagian negara (Pemerintah Daerah) secara garis besarnya telah ditetapkan oleh pembentuk Undang-Undang Pusat. dalam negara federal tidak hanya wewenang legislatif saja yang diberi antara negara federal dengan negara-negara bagian. yakni antara badan legislatif pusat (federal) dan badan legislatif dari negara-negara bagian.Sugeng Istanto (1971:16) prinsip yang terkandung pada negara kesatuan ialah bahwa yang memegang tampuk kekuasaan tertinggi atas segenap urusan negara ialah Pemerintah Pusat tanpa adanya gangguan oleh delegasi atau pelimpahan kekuasaan kepada pemerintah daerah. Sedangkan penyelenggara pemerintahan sehari-hari diserahkan kepada Menteri (Perdana Menteri).Dalam negara federal (serikat). (b). D. Macam-macam Sistem Pemerintahan Negara Ada tiga macam sistem pemerintahan yang sering dibahas dalam kajian Hukum Tatanegara. adalah seagai berikut: 1.

Sistem Pemerintahan Presidensiil (Fixed Executive) Sestem pemerintahan ini bertitik tolak dari konsep pemisahan kekuasaan sebagaimana dianjurkan oleh teori trias politika. pada umunya dilakukan dengan cara koalisi. (b). Sehingga tidak jarang terjadi bahwa Presiden terpilih berasal dari Partai Politik yang berbeda dengan mayoritas partai politik yang ada diparlemen. Dikenal adanya mekanisme pertanggung jawaban Menteri kepada Perlemen yang mengakibatkan Parlemen dapat membubarkan atau menjatuhkan ´mosi tidak percaya´kepada Kabinet. (c). Eksekutif yang dipimpin oleh Perdana Menteri dibentuk oleh parlemen dari partai politik / organisasi peserta pemiluyang menduduki kursi mayoritas diparlemen. sebab Kepala Negara hanya berfungsi sebagai simbol negara juga diberi wewenang untuk menunjuk formulir kabinet dan membubarkan kabinet bila keadaan negara menghendaki. Kedudukan Presiden disamping sebagai Kepala Negara juga sebagai kepala Eksekutif (Pemerintahan). Ciri-ciri utama dari sistem pemerintahan ini adalah sebagai berikut: (a). Karena Presden dan Parlemen dipilih langsung oleh rakyat melalui Pemilihan Umum. maka kedudukan antara kedua lembaga ini tidak bisa saling mempengaruhi (menjatuhkan). Maka penyusunan Kabinet dan Perdana Menteri. Hal ini karena kedua lembaga tersebut sama-sama bertanggung jawab kepada rakyat pemilih. 2. Kepala Negara (apapun sebutannya) hanya berfungsi ataupun berkedudukan sebagai kepala negara saja. pada umumnya dapat digambarkan sebagai berikut : (a). Sistem ini menghendaki adanya pemisahan kekuasaan aksekutif dan badan pemegang kekuasaan legislatif.Adapun ciri-ciri sistem pemerintahan ini. bahkan antara keduanya saling tergantungsatu dengan yang lainnya. Presiden tidak dapat diberhentikan oleh Parlemen ditengah45 . yakni penggabungan dua partai atau lebih untuk memperkuat posisi perolehan suara di parlemen. Kedudukan seperti ini mengakibatkan Kepala Negara tidak dituntut pertanggungjawaban konstitusional apapun. dan (d). (d). Terdapat hubungan yang erat antara eksekutif dan legislatif (parlemen). Presiden dan Parlemen masing-masing dipilih langsung oleh rakyat melalui Pemilihan Umum. (c). Dalam hal ini rakyat tidak secara langsung memilih Perdana Menteri dan Kabinetnya. jika pertanggung jawaban atas pelaksanaan pemerintahan yang dilakukan oleh Menteri baik secara perseorangan ataupun kolektif tidak dapat diterima oleh parlemen. Tidak sebagai kepala eksekutif dan Pemerintahan. (b). Jika ternyata didalam parlemen tidak ada satupun partai politik yang menduduki kursi mayoritas.

Akan tetapi jika pertanggung jawaban tersebut ditolak oleh parlemen. unsur-unsur Sistem Parlementer terlihat jelasa. dalam pasal 4 UUD 1945 di tegaskan bahwa presiden memegang kekuasaan pemerintahan menurut Undang-Undang Dasar. Penjelasan semacam ini mengandung unsur sistem parlementer. ataukah justru parlemen yang bertindak malampaui batas46 . Contoh yang dapat dikemukakan disini adalah Impeachment yang dikembangkan di AS. Dalam rangka menyusun kabinet (menteri). Sistem presidensiil semu pernah berlangsung dalam pola ketatanegaran Indonesia. Sebelum Amandeman. Pola seperti ini nampak mirip dengan sistem presidensiil di AS. (f). (e). Sedangkan sistem Pemerintahan Parlementer yang tidak murni terlihat dalam ketatanegaraan Perancis. namun presiden hanya menyampaikan nominasi anggota kabinet. Kemudian Presiden mengangkat menteri-menteri tersebut setelah mendapat persetujuan Parlemen. tidak otomatis Kabinet diberi ´mosi tidak percaya´ dan dapat dijatuhkan oleh parlemen. Ketentuan seperti ini jelas mengindikasikan bahwa Indonesia menganut Sistem Presidensiil. Pelaksana Impeachment ini dilakukan oleh Hakim Tinggi pada supreme Court. tunduk dan bertanggung jawab kepada MPR.tengah masa jabatannya. Disana dinyatakan bahwa Presiden yang diangkat oleh MPR. yaitu sistem presidensiil semu dan sistem parlementer semu.Menteri-menteri yang diangkatoleh Presiden tersebut tunduk dan bertanggung jawab kepada Presiden. Parlemen yang menentukan personilnya secara definitif. karena MPR bertindak laksana parlemen. namun jika presiden melakukan perbuatan yang melanggar hukum. Namun Presidennya mempunyai kekuasaan yang besar dalam seluruh kehidupan negara dan pemerintahan. Perdana menteri dan Kabinetnya bertanggung jawab kepada parlemen. dapat dikenai impeachment (pengadilan DPR). Dari kedua sistem tersebut. Dalam kasus seperti ini Presiden akan memberikan pertimbangan apakah dalam persoalan adanya ´mosi tidak percaya ´ tersebut memang disebabkan oleh Kabinet yang tidak mampu lagi menjalankan garis-garis kebijaksanaan politik yang ditetapkan oleh parlemen. tetapi juga mempunyai wewenang untuk mengangkat perdana menteri dari partai Politik yang menduduki kursi mayoritas di parlemen. Presiden wajib minta persetujuan Parlemen. Presidennya dipilih oleh rakyat dalam suatu pemilu. sering dijumpai juga varian dari keduanya. Kemudian dipasal 17 ayat 2 ditegaskan bahwa menteri-menteri diangkat dan diberhentikan oleh presiden. Begitu pula dengan parlemennya. Presiden wajib menjalankan MPR. Presiden juga dapat membubarkan parlemen. Akan tetapi jika menyimak Penjelasan Umum UUD 1945. Tidak dilakukan oleh anggota parlemen.

maka tidaklah mungkin apabila Sidang Federal (pemegang kedaulatan tertinggi) dan dewan federal (pemegang kekuasaan eksekutif) saling melakukan kontrol seperti halnya dalam sistem pemerintahan Parlementer. Bahkan dapat dikatakan bahwa Dewan Federal hanyalah merupakan Badan Pekerja dari Sidang Federal. Oleh sebab itu. dan (c). yaitu suatu penentuan oleh rakyat untuk memberikan keputusan setuju atau menolak terhadap kebijaksanaan yang diambil oleh parlemen. presiden dapat bertindak sebagai mediator bahkan dapat juga disebut sebagai hakim dalam mengatasi konflik tersebut. 3. Referendum terdiri dari (tiga) macam. Memperhatikan konstruksi ketatanegaraan tersebut diatas. Pola seperti inilah yang mengakibatkan munculnya sistem Pemerintahan dengan pengawasan langsung oleh rakyat. Menurut Konstitusi Federal Konfederasi Swiss dinyatakan antara lain : (a). Presiden menganggap bahwa parlemenlah yang malampaui kewenangannya. Inilah letak ketidak murnian dari sistem parlementer yang dikembangkan di Perancis. Presiden dan wakil presiden Konfederasi Swiss dipilih oleh sidang federal. Dewan federal (pemegang kekuasaan eksekutif) dan Sidang Federal (pemegang kedaulatan tertinggi) sama-sama memperoleh kekuasaan dari rakyat. yang terdiri dari tujuh anggota dan dipiliholeh Sidang Federal. Sistem Pemerintahan Dengan Pengawasan Langsung oleh Rakyat Acuan sistem pemerintahan ini adalah Negara Konfederasi Swiss. Ini berarti Presiden juga berkedudukan dan bertindak sebagai representasi rakya. khususnya menyangkut kedaulatan rakyat dibidang pemerintahan. Kekuasaan Presiden Perancis yang demikian besar karena dipilih langsung oleh rakyat. diantara para anggota dewan untuk masa jabatan satu tahun. maka justru parlemenlah yang dapat dibubarkan oleh presiden. Karena Dewan federal pada hakikatnya merupakan bagian yang tidak terpiasahkan dari sidang federal. yaitu: (1). Referendum obligator (Wajib) yaitu meminta pendapat secara langsung dari rakyat terhadap suatu 47 . Pemegang kedaulatan tertinggi ada pada Sidang Federal yang terdiri dari dua kamar. Sehingga yang berhak untuk melakukan kontrol atas jalannya sistem ketatanegaraan tidak lain adalah rakyat secara langsung. . Adapun cara yang dapat ditempuh oleh rakyat Konfederasi Swiss untuk melakukan kontrol terhadap jalannya pemerintahan adalah dengan melalui : (a). Referendum. Jikalau dalam pertimbangan tersebut. yaitu Dewan Nasional dan Negara. Demikian pula sebaliknya.batas kewenangannya. tidaklah mengherankan jikalau dalam konflik antara Kabinet dan Parlemen. (b).Pemegang kekuasaan eksekutif dan badan Pelaksana Kekuasaan Tertinggi dipegang oleh Dewan Federal.

Masing konstitusi tersebut mengatur mengenai sistem pemerintahan yang berbeda. Maupun masing-masing untuk bagiannya sendiri-sendiri. Ketentuan pasal tersebut menunjukkan bahwa RIS mempergunakan sistem pertanggung jawaban menteri. demikian sebaliknya. Sistem Pemerintahan Indonesia Sejak Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. (2). E. Sistem Pemerintahan Indonesia Menurut Konstitusi RIS Sistem pemerintahan Indonesia menurut Konstitusi RIS adalah sistem Pemerintahan Parlementer yang tidak murni. Hal ini karena UUDS 1950 pada hakikatnya merupakan hasil amandemen dari Konstitusi RIS dengan menghilangkan 48 . (3). tetapi ada sementara rakyat yang meggugatnya. Artinya sistem pemerintahan negara yang digunakan masih seperti yang diatur dalam Konstitusi RIS. maka sisem yang dipergunakan adalah sistem parlementer yang tidak murni. Pasal 118 Konstitusi RIS antara lain menyebutkan. Berikut ini akan dikemukakan sistem pemerintahan Indonesia menurut konstitusiyang pernah dan sedang berlaku. Apabila mayoritas rakyat berpendapat bahwa UU tersebut tetap berlaku seperti semula. (b). Menteri-menteri bertanggung jawab atas seluruh kebijaksanakan pemerintah baik bersama-sama untuk seluruhnya. Sistem Pemerintahan Indonesia menurut UUDS 1950 UUDS 1950 masih tetap mempergunakan bentuk sistem pemerintahan seperti yang diatur dalam Konstitusi RIS. yaitu meminta pendapat secara langsung dari rakyat apakah setuju atau tidak terhadap UU yang sudah berlaku. yaitu meminta pendapat secara langsung pada rakyat apakah setuju atau tidak terhadap Rancangan UU Pemerintah Federal atau pemerintah pusat di wilayah-wilayah negara bagian atau daerah otonom. 2. Karena pertanggung jawaban yang dimaksud tidak ada artinya atau disebut pertanggung jawaban dalam arti sempit. Indonesia pernah mempergunakan beberapa Konstitusi tertulis selain UUD 1945. Kendatipun demikian pasal 122 Konstitusi RIS juga disebutkan bahwa DPR tidak dapat memaksa kabinet atau masing-masing menteri untuk meletakkan jabatannya. Referendunm optatif. maka UU terebut tetap berlaku.Rancangan UU yang akan di undangkan. Referendum fakultatif (tidak Wajib). yaitu hak rakyat untuk mengajukan rancangan UU kepada Parlemen dan Pemerintah. Dengan menyimak pasal tersebut. 1. Usul Inisiatif Rakyat. (b). (a) Presiden tidak dapat diganggu gugat.

Dalam Penjelasan UUD 1945 disebutkan bahwa DPR tidak bisa dibubarkan oleh presiden. 3. Guna mengetahui sistem pemerintahan yang dianut oleh UUD 1945. Sedangkan Presiden sendiri bertanggung jawab kepada rakyat yang telah memilihnya. tetapi bukan bukan yang murni. sistem Pemerintahan Negara tidak secara implisit tertuang didalamnya. Konstruksi semacam ini memperlihatkan kecenderungan kearah sistem presidensiil. Presiden adalah kepala eksekutif dan tidak boleh merangkap menjadi anggota DPR. Khususnya yang menganut sistem pemerintahan Presidensiil yang murni seperti di Amerika Serikat. presiden sebagai kepala eksekutif tidak dapat dijatuhkan oleh Congres. dan pimpinan MPR. Dalam bidang legislatif. (b). wewenang pembuat UU adalah Congres (yang terdiri dari dua kamar : House of Representative dan senat. maka perlu memperbandingkan dengan sistem pemerintahan negara lain. eksekutif. namun mekanisme Check and Balances (saling mengadakan kontrol dan pertimbangan) berlangsung diantara ketiganya. Meteri-menteri diangkat dan diberhentikan oleh presiden. Karakteristik sistem presidensiil di Amerika Serikat adalah sebagai berikut: (a). yakni hak Presiden untuk tidak menyetujui suatu RUU yang diajukan leh Congres. dan judikatif merupakan lembaga yang terpisah. (d). secara eksplisit mengindikasikan adanya bentuk campuran antara sistem Presidensiil dan parlementer. Didala pasal 83 UUDS 1950 dinyatakan : (a). Bahkan kecenderungan kearah sistem parlementer demikian kental. Akan tetapi karena presiden RI tidak dipilih oleh rakyat secara langsung melainkan oleh MPR. Pada beberapa ketentuan. apakah betul menganut Presidensiil yang tidak murni (quasi Presidensiil). Presiden tidak dapat diganggu-gugat sebelum masa 49 . (c). (b). Sistem Pemerintahan Indonesia Menurut UUD 1945 Sebelum Amandemen Didalam sistematika UUD 1945. Legislatif. Kekuasaan eksekutif berada ditangan Presiden. baik bersama-sama untuk seluruhnya maupun masing-masing untuk bagiannya sendiri-sendiri. Apabila ada perbedaan pendapat antara Presiden dengan Congres (utamanya senate). maka menunjukkan bahwa sistem presidensiil yang dianut. Hal ini agak berbeda dengan kedua Konstitusi RIS dan UUDS 1950. Mahkamah Agung. Menteri-menteri bertanggung jawab atas seluruh kebijaksanaan pemerintah. dan dalam pelaksanaannya dibantu oleh para menteri yang bertanggung jawab kepada presiden.. dan dapat diberhentikan jika melanggar UUD 1945 dan GarisGaris Besar Haluan Negara (GBHN). Akan tetapi dalam hal-hal tertentu Presiden AS mempunyai hak veto.Presiden tidak dapat diganggu gugat. Presiden dan Wk.pasal-pasal yang bersifat federalis.

Presiden memegang kekuasaan membentuk UU dengan persetujuan DPR. Presiden memegang kekuasaan pemerintahan (b). Akan tetapi jika ada kejadian luar biasa. Mekanisme impeachmenti tidak dilakukan sendiri oleh anggota DPR. Juga dalam Penjelasan Umum UUD 1945 yang menegaskan bahwa Presiden dalam melaksanakan pemerintahan bertanggung jawab kepada MPR. (d). 50 . Pasal 21 ayat 1 . misalnya presiden melakukan perbuatan melanggar hukum. Hakim peradilan ada yang dipilih oleh rakyat dan ada pula yang diangkat untuk seumur hidup atau selama tenaganya masih mampu menjalankan tugas dan wewenang nya. Ketentuan pasal-pasal diatas menunjukkan bahwa sistem pemerintahan Indonesia dengan yang dianut di AS. tapi tidak disahkan Presiden. melainkan oleh Hakim Agung yang dipanggil ke DPRuntuk melakukan pemeriksaan terhadap Presiden. maka dapat menarik garis persamaan dengan yang ada di Indonesia. Presiden berhak mengajukan Rncangan Undang-Undang. yang diangkat dan diberhentikan oleh presiden. Pasal 4 ayat 1 . mengenai pemilihan Presiden dan Wakil Presiden yang dipilih dan diangkat oleh MPR dengan suara terbanyak (pasal 6 ayat 2). Pasal 5 ayat 1 . tidak sesuai dengan proses pemilihan Presiden langsung seperti AS. maka badan Perwakilan dapat menuntut presiden melalui Impeachment (pengadilan oleh DPR). Pasal ini dukunya berbunyi ´Presiden memegang kekuasaan membentuk Undang-Undang dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat´. sebagaimana dikonstruksikan di dalam UUD 1945 (sebelum amandemen) sebagai berikut : (a). Badan-badan peradilan bebas dari pengaruh kekuasaan apapun. Akan tetapi.jabatannya habis. Pasal 7 . 4. Berdasarkan karakteristik sistem presidensiil di AS tersebut di atas. dan (e). Pasal 17 ayat 1 dan 2 . Presiden dan wakil presiden memegang jabatan selama lima tahun dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama. hasil amandemen pertama ini sangat terkait dengan penegasan sistem pemerintahan. dan (e) Pasal 21 ayat 2 : Jika Rancangan UU meskipun disetujui DPR. (c). Anggota-anggota DPR berhak memajukan Rancangan UU. Presiden dibantu oleh menteri-menteri. maka tidak boleh dimajukan dalam persidangan masa itu. (b). Sistem Pemerintahan Indonesia Menurut UUD 1945 Setelah Amandemen Amandemen pertama terhadap UUD 1945 berlangsung pada Sidang Umum MPR Tahun 1999. mirip dengan ciri sistem pemerintah parlementer. hasil dimaksud sebagai berikut : (a) Pasal 5 ayat 1.

Kendati pasal-pasal UUD 1945 yang sudah di amandemen tersebut memberikan indikasi pelaksanaan sistem presidensiil. maka presiden dan wakil presiden tidak lagi bertanggung jawab kepada MPR. pasal 3 ayat (3) Amandemen UUD 1945 menegaskan 51 .Tata cara pelaksanaan peilihan Presiden dan wakil presiden lebih lanjut diatur dengan Undang-Undang. Menteri-menteri diangkat dan diberhentikan oleh presiden. Hal nampak jelas tertuang di dalam Ketetapan MPR No. ditegaskan bahwa psresiden dan wakil presiden akan dipilih secara langsung oleh rakyat. namun belum sampai pada ketentuan pemilihan Presiden. Pasangan calon presiden dan wakil presiden diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilihan umum sebelum pelaksanaan pemilihan umum. Karena itu pemilihan Presiden masih mengacu pada pasal yang belum di amandem. Pasangan calon presiden dan wakil presiden yang mendapat suara lebih dari lima puluh persen dari jumlah suara pemilihan umum dengan sedikitnya dua puluh persen suara disetiap provinsi yang tersebar di lebih dari setengah jumllah provinsi di Indonesia. (4).VI/MPR/1999 tentang Tata Cara Pencalonan dan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. (5). Berdasarkan ketentuan tersebut. (2). Pada tahun 1999 memang amandemen sudah dilakukan untuk pertama kali. Pasal 17 ayat 2. antara lain menegaskan (1). Melainkan bertanggung jawab secara langsung kepada rakyat. serta (d). dan pemilihannya dilakukan oleh anggota MPR. pasal tersebut menjadi dasar konstitusional bagi Presiden Soeharto untuk dipilih berulang kali. Dalam hal tidak ada pasangan calon presiden dan wakil presiden tepilih. Baru setelah amandemen keempat ditetapkan pada sidang tahunan MPR tahun 2002. Pasal ini merupakan bentuk perubahan signifikan dari ketentuan sbelum amandemen yang menegaskan : ´Pesiden dan wakil presiden memegang jabatannya selama masa lima tahun. namun dalam prakteknya masih tetap belum dilaksanakan secara murni. Sebeleum berubah. dan sesudahnya dapat dipilih kembali´. Hasil amandemen terkait dengan pemilihan Presiden dimuat dalam Pasal 6A. Presiden tidak bertanggung jawab kepada MPR.hanya untuk satu kali masa jabatan. Dilantik menjadi presiden dan wakil presiden. Perisiden dan wakil presiden dipilih dalam satu pasangan secara langsung oleh rakyat. (c). (3). Pasal 20 ayat 1: Dewan Perwakilan Rakyat memegang kekuasaan membentuk Undang-Undang. maka dua pasangan calon yang memperoleh suara terbanyak pertama dan kedua dalam pemilihan umum dipilih oleh rakyat secara langsung dan pasangan yang memperoleh suara terbanyak dilantik sebagai pasangan Presiden dan wkil presiden. Berkaitan dengan hal ini. sehingga masa jabatannya mencapai 32 tahun. yang isinya antara lain bahwa calon Presiden diajukan oleh Fraksi MPR.

maka Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) terlebih dahulu mengajukan permintaan kepada Mahkamah Konstitusi (MK) untuk memeriksa. (2). penyuapan. dan atau pendapat bahwa Presiden dan atau Wakil Presiden tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan atau Wakil presiden. penyuapan. DPR menyelenggarakan sidang paripurna untuk meneruskan usul pemberhentian Presiden dan atau Wakil Presiden kepala MPR. korupsi. Atau perbuatan tercela. (7). Mengenai hal ini. korupsi.tindak pidana berat lainnya. (4). Menurut pasal 7A UUD 1945. telah melakukan pelanggaran hukum atau telah tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan atau Wakil Presiden adalah dalam rangka pelaksanaan fungsi pengawasan DPR. (6). pemberhentian Presiden dan atau wakil presiden atas usul Dewan Perwakilan Rakyat apabila terbukti melakukan pelanggaran hukum yang berupa pengkhianatan terhadap negara. pasal 7B UUD 1945 secara lengkap menyatakan : (1). Apabila MK memutuskan bahwa Presiden dan atau Wakil Presiden terbukti melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara. Usul pemberhentian Presiden dan atau Wakil Presiden dapat diajukan oleh DPR kepada MPR hanya dengan terlebih dahulu mengajukan permintaan kepada MK untuk memeriksa. mengadili.´Majelis Permusyawaratan Rakyat hanya dapat memberhentikan presiden dan atau wakil presiden dalam masa jabatannya menurut Undang-Undang´. MPR wajib menyelenggarakan sidang untuk memutuskan usul DPR menerima usul tersebut. mengadili dan memutus pendapat DPR tentang adanya indikasi perbuatan melanggar hukum yang dilakukan oleh Presiden dan atau Wakil Presiden. MK wajib memeriksa. dan atau terbukti bahwa Presiden dan atau Wakil Presiden tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan atau Wakil Presiden. Pendapat DPR bahwa Presiden dan atau Wakil Presiden. atau pebuatan tercela. tindak pidana berat lainnya. tindak pidana lainnya. (5). Untuk mengusulkan pemberhentian Presiden dan atau Wakil Presiden. Pengajuan permintaan DPR kepada MK hanya dapat dilakukan dengan dukungan sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota DPR yang hadir dalam sidang paripurna yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota DPR. penyuapan. Keputusan MPR atas usul pemberhentian Presiden dan atau Wakil Pesiden 52 . atau perbuatan tercela maupun apabila terbukti tidak lagi memenuhi syarat sebagai presiden dan atau Wakil presiden.dan memutus dengan seadil-adilnya terhadap pendapat DPR tersebut paling lambat sembilan puluh hari setelah permintaan DPR itu diterima oleh MK. (3). mengadili dan memutus pendapat DPR bahwa Presiden dan atau Wakil Presiden telah melakukan pelanggaranhukum yang berupa pengkhianatan terhadap negara. korupsi.

Artinya antara kedua lembaga ini tidak bisa saling menjatuhkan. Hukum Tatanegara. c. jikalau melakukan perbuatan yang berkaitan dengan hal-hal yang bersifat yuridis. Di pandang politik. e. jikalau Presiden dan atau Wakil Presiden telah melaksanakan pertanggung jawaban hukum tersebut. Pertanggung jawaban yang dibebankan kepada Presiden dan atau Wakil Presiden kepada parlemen harus diawali dengan adanya pertanggung jawaban hukum (yuridis). terdapat perubahan sistem pemerintahan Negara Republik Indonesia yang cukup fundamental. Sedangkan untuk pertanggung jawaban politis merupakan konsekuensi logis. maka setelah UUD 1945 diamandemenkan. b. Presiden dan atau Wakil Presiden serta parlemen yang terdiri dari dua kamar (DPR dan DPD) dipilih langsungoleh rakyat melalui Pemilihan Umum. yakni Mahkamah Konstitusi (MK) yang mempunyai wewenang untuk melakukan impeachment kepada Presiden dan atau Wakil Presiden. Penerbit UAJ Yogyakarta. Dalam paradigma lama. Catatan Bab ini banyak diambil dari Bab III buku Hestu Cipto Handoyo. d. 53 . setelah Presiden dan atau Wakil Presiden diberi kesempatan menyampaikan penjelasan dalam rapat paripurna MPR. pertanggung jawaban Pesiden dam atau Wakil Presiden lebih menekankan pada pertanggung jawaban politis. Sistem pemerintahan negara mempergunakan Sistem Presidensiil murni. 2003. jikalau ditengarai telah melakukan pelanggaran hukum berat. Hal ini berarti telah mengubah paradigma yang selama ini mewarnai sistem pertanggung jawaban Presiden dan atau Wakil Presiden kepada MPR. kedudukan Presiden dan atau Wakil Presiden serta parlemen sama-sama kuat. Perubahan tersebut dapat diilustrasikan sebagai berikut: a. Kewarganegaraan. Dikenal adanya lembaga peradilan konstitusi.harus diambil dalam rapat paripurna MPR yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya ¾ dari jumlah anggota dan disetujui oleh sekurang-kurangnya ¾ dari jumlah anggota yang hadir. dan Hak Asasasi Manusia. Hal ini berarti Presiden dan atau Wakil Presiden hanya dapat dijatuhkan. Berdasarkan mekanisme pertanggung jawaban tersbut diatas.

BAB V OTONOMI DAERAH Kompetensi Dasar 1. Merumuskan pengertian dan hakikat otonomi daerah dan desentralisasi. 2. Mendeskripsikan pentingnya otonomi dan desentralisasi 3. Mendeskripsikan argumentasi memilih otonomi dan desentralisasi. 4. Mendeskripsikan perkembangan otonomi dan desentralisasi di Indonesia. 5. Membandingkan kebijakan otonomi dan desentralisasi dalam UU. No. 22 Tahun 1999 dengan UU. No. 32 Tahun 2004. 6. Merumuskan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan di daerah. A. Pengertian dan Hakikat Otonomi Daerah Istilah otonomi daerah dan desentralisasi dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan sering digunakan bergantian. Kekdua istilah tersebut secara akademik bisa dibedakan, namun secara praktis dalam penyelenggaraan pemerintahan tidak dapat dipisahkan. Karena itu tidak mungkin masalah otonomi daerah dibahas tanpa mempersandingkannya dengan konsep desentralisasi. Bahkan menurut banyak kalangan otonomi daerah adalah desentralisasi itu sendiri. Karenanya pembahasan otonomi daerah biasanya diulas dengan memakai istilah desentralisasi. Kedua istilah tersebut bagaikan dua sisi mata uang yang saling menyatu namun dapat dibedakan. Desentralisasi pada dasarnya mempersoalkan pembagian kewenangan kepada organorgan penyelenggara negara, sedangkan otonomi menyangkut hak yang mengikuti pembagian wewenang tersebut. Konsep desentralisasi sering dibahas dalam konteks pembahasan mengenai sistem penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. Pada masa sekarang, hampir setiap negara menganut desentralisasi sebagai asas dalam sistem penyelenggaraan

pemerintahan negara. Desentralisasi bukan merupakan sistem yang berdiri sendiri melainkani merupakan rangkaian kesatuan dari suatu sistem yang lebih besar. Suatu negara menganut desentralisasi bukan karena alternatif dari sentralisasi. Antara Desentralisasi dan sentralisasi tidak dilawankan, dan karenanya tidak bersifat dikotomis, melainkan merupakan sub-sub sistem dalam kerangka sistem organisasi negeranya. Karenanya, suatu negara merupakan payung desentralisasi dan sesntralisasi. Otonomi dalam maka sederhana dapat diartikan sebagai ³mandiri´. Sedangkan dalam makna yang lebih luas diartikan sebagai ³berdaya´. Otonnomi daerah dengan demikian berarti kemandirian suatu daerah dalam kaitan perbuatan dan pengambilan 54

keputusan mengenai kepentingan daerahnya sendiri. Jika daerah sudah mampu mencapai kondisi tersebut, maka daerah dapat dikatakan sudah berdaya melakukan apa saja secara mandiri tanpa tekanan dari luar.. Desentralisasi sebagaimana didefinisikan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) adalah penyerahan kewenangan dari pusat kepada daerah. Proses itu melalui dua cara yaitu, delegsi kepada pejabat-pejabat didaerah atau dengan devolusi kepada badanbadan otonomi daerah. Akan tetapi, tidak dijelaskan isi dan keluasaan kewenangan serta konsekuensi penyerahan kewenangan itu bagi badan-badan otonomi daerah. Desentralisasi diartiakn pula sebagai transfer kewenangan untuk untuk

menyelenggarakan beberapa pelayanan kepada publik dari seseorang atau agen pemerintah pusat kepada beberapa individu atau agen lain yang lebih dekat kepada publik yang dilayani. Landasan yang mendasari tranfer ini adalah teritorial dan fungsional. Teritorial maksudnya adalah menempatkan kewenangan kepada level pemerintahan yang lebih rendah dalam wilayah geografis tertentu, sedang fungsional artinya transfer kewenangan kepada agen yang secara fungsional terspensialisasi. Transfer kewenangan secara fungsional ini memiliki tiga tipe : pertama; apabila pendelegasian kewenangan itu di dalam struktur politik formal misalnya, dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah.; kedua; jika transfer itu terjadi didalam struktur administrasi publik, misalnya dari kantor pusat sebuah kementerian kepada kantor kementerian yang ada di daerah; ketiga, jika tranfer tersebut dari institusi negara kepada agen non negara, misalnya penjualan aset pelayanan publik seperti telepon atau penerbangan kepada sebuah perusahaan (M.Turner dan D. Hulme dalam Teguh Yuwono, 2001: 27) Rondinelli mendefinisikan desentralisasi sebagai transfer tanggung jawab dalam perancangan, manajemen dan alokasi sumber-sumber dari pemerintah pusat dan agenagennya kepada unit kementerian pemerintah pusat, unit yang ada dibawah level pemerintah, otoritas atau korporasi publik semi otonomi, otoritas regional atau fungsional dalam wilayah yang luas, atau lembaga privat non pemerintah dan organisasi nirlaba (Teguh Yuwono, 2001: 28). Jadi desentralisasi adalah pelimpahan kewenangan dan tanggung jawab dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. B. Arti Penting Otonomi Daerah dan Desentralisasi

55

Krisis Ekonomi dan politik yang melanda Indonesia sejak tahun 1997 telah memporak-porandakan hampir seluruh sendi-sendi ekonomi dan politik negeri ini yang telah dibangun cukup lama. Lebih jauh lagi, krisis ekonomi dan politik yang berlanjut menjadi multikrisis telah mengakibatkan semakin rendahnya tingkat kemampuan dan kapasitas negara dalam menjamin kesinambungan pembangunan. Krisis tersebut salah satunya diakibatkan oleh sistem manajemen negara dan pemerintahan yang sentralistik, yaitu kewenangan dan pengelolaan segala sektor pembangunan berada dalam kewenangan pemerintah pusat, sementara daerah tidak memiliki kewenangan untuk mengelola dan mengatur daerahnya. Sebagai respon dari krisis tersebut, pada masa reformasi dicanangkan kebijakan restrukturisasi sistem pemerintahan yang cukup penting, yaitu melaksanakan otonomi daerah dan pengaturan perimbanagan keuangan antara pusat dan daerah. Paradigma lama dalam manajemen negara dan pemerintahan yang berporos pada sentralisme kekuasaan diganti menjadi kebijakan otonomi yang berpusat pada desentralisasi. Kebijakan otonomi daerah terkait pula dengan upaya politik pemerintah pusat untuk merespon tuntutan kemerdekaan atau negara federal dari beberapa wilayahyang

memiliki aset sumber daya alam melimpah namun tidak mendapatkan haknya secara proposional pada masa pemerintahan Orde Baru. Desentralisasi dianggap dapat menjawab tuntutan pemerataan pembangunan sosial ekonomi, penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan kehidupan berpolitik yang efektif. Sebab Desentralisasi menjamin penanganan tuntutan masyarakat secara variatif dan cepat. Ada beberapa alasan mengapa kebutuhan terhadap desentrslisasi di Indonesia saat ini dirasakan sangat mendesak. Pertama, kehidupan berbangsa dan bernegara selama ini sangat terpusat di Jakarta, sementara itu pembangunan dibeberapa wilayah lain dilalaikan. Kedua, pembagian kekayaan secara tidak adil dan merata, daerah-daerah yang memiliki sumber kekayaan alam melimpah, seperti Aceh, Riau, Papua, Kalimantan, dan Sulawesi ternyata tidak menerima perolehan dana yang patut dari pemerintah pusat. Ketiga, kesenjangan sosial antar daerah sangat terasa.

Pembangunan fisik disatu daerah berkembang pesat, sedangkan dibanyak daerah masih lamban dan bahkan terbengkalai. Sementara itu ada alasan lain yang didasarkan pada kondisi ideal, sekaligus memberikan landasan filosofis bagi penyelenggaraan pemerintahan daerah

(desentralisasi) sebagaimana dinyatakan oleh The Liang Gie sebagai berikut : (1). 56

merupakan tugas pemerintahan yang bersifat universal. kesejahteraan masyarakat. dan lain-lainnya. penyelenggaraan desentralisasi dianggap sebagai tindakan pendemokrasian. dan pemerintahan negara menjadi tidak efisien dan tidak akan mampu menjalankan tugasnya dengan baik. tidaklah mungkin hal itu dapat dilakukan dengan cara yang sentralistik. keuangan. desentralisasi perlu diadakan supaya adanya perhatian dapat sepnuhnya ditumpukan kepada kekhususan sesuatu daerah. desentralisasi diperlukan karena pemerintah daerah dapat lebih banyak dan secara membantu pembangunan tersebut. kegiatan ekonomi. seperti geografi. integrasi sosial. untuk menarik rakyat ikut serta dalam pemerintahan dan melatih diri dalam mempergunakan hak-hak demokratis. Dalam bidang politik. Untuk Terciptanya Efesiensi-Efektivitas Penyelenggaraan Pemerintahan Pemerintah berfungsi mengelola berbagai dimensi kehidupan seperti. Oleh karena itu. keadaan penduduk. pertahanan. Argumentasi yang digunakan dalam memilih desentralisasi dan otonomi dalam penyelenggaran pemerintahan diantaranya adalah sebagai berikut: 1. serta mempertahankan diri dari kemungkinan serangan dari negara lain. Selain itu memberikan pelayanan dan perlindungan kepada masyarakat. desentralisasi dimaksudkan untuk mencegah penumpukan kekuasaan pada satu pihak saja yang pada akhirnya dapat menimbulkan tirani. baik dalam 57 . menjaga keutuhan negara dan bangsa.(4). (3). Apa yang dianggap lebih utama untuk diurus oleh pemerintah setempat. langsung 2. Daris sudut teknik organisatoris pemerintahan. Selain itu pemerintah juga mempunyai fungsi distributif dan fungsi regulatif untuk penyediaan barang dan jasa.Dilihat dari sudut politik sebagai permainan kekuasaan. Dari sudut kepentingan pembangunan ekonomi. pengurusannya diserahkan kepada daerah. watak kebudayaan atau latar belakang sejarahnya. bidang sosial. ekonomi. (5). keamanan dalam negeri. Juga fungsi ekstraktif dalam memobilisasi sumber daya keuangan untuk membiayai aktifitas penyelenggaraan negara. politik. alasan mengadakan pemerintahan daerah (desentralisasi) adalah semata-mata untuk mencapai suatu pemerintahan uang efisien. Pemerintahan daerah akan pengembangan demokrasi dalam sebuah menyediakan kesempatan bagi warga masyarakat untuk berprestasi politik. Dari sudut kultur. Sebagai Sarana Pendidikan Politik Pemerintahan daerah dapat dipandang sebagai kancah pelatihan dan negara. (2).

4.rangka memilih atau kemungkinan untuk dipilih dalam suatu jabatan politik. terutama yang menyangkut kepentingan mereka. Kesetaraan Politik (Political Equalilty) Dibentuknya pemerintahan daerah akan mewudkan kesetaraan politik diantara berbagai komponen masyarakat. Karena sesuatu yang mustahil bagi seseorang dapat muncul dengan begitu saja menjadi politisi berkaliber nasional ataupun internasional. Mereka yang tidak mempunyai peluang untuk terlibat dalam politik nasional dan dipilih menjadi pemimpin nasional. untuk berpartisipasi dalam segala bentuk kegiatan penyelenggaraan negara. Keterlibatan ini sangat dimungkinkan sejak dari awal tahap pengambilan keputusan sampai dengan evaluasi. merupakan wahana yang banyak dimanfaatkan guna menapak karier politik yang lebih tinggi. terutama karier dibidang politik dan pemerintahan ditingkat nasional. Bupati. Gejolak disintegrasi yang terjadi dibeberapa daerah merupakan contoh konkrit keterkaitan ketidakstabilan politik yang muncul karena pemerintah nasional tidak menjalankan otonomi dengan tepat. dapat terlibat dalam mempengaruhi pemerintah ketika membuat kebijakan. 58 . Keberadaan institusi lokal. gerakan ini muncul karena daerah melihat kenyataan kekuasaan pemerintah Jakarta yang sangat dominan. Dengan demikian pendidikan politik pada tingkat lokal sangat bermanfaat bagi warga masyarakat untuk menentukan pilihan politiknya. 6. terutama pemerintahan daerah (eksekutif dan legislatif lokal). dan bahkan Gubernur. Dengan demikian kebijakan yang dibuat akan dapat diawasi secara langsung dan dapat dipertanggung jawabkan karena masyarakat terlibat secara langsung dalam penyelenggaraan pemerintahan. apakah melalui pemberian suara pada waktu pemilihan Kepala Desa. Stabilitas Politik Stabilitas politik nasional berawal dari stabilitas politik pada tingkat lokal. lewat kelompok atau perrangan. Masyarakat di daerah akan mempunyai kesempatan untuk terlibat dalam politik. Terjadinya pergolakan daerah pada tahun 19571958 dengan puncaknya adalah kehadiran PRRI dan PERMESTA. Wali Kota. Disamping itu warga masyarakat. Pemerintahan Daerah Sebagai Persiapan Untuk Karir Politik Lanjutan Pemerintah daerah merupakan langkah persiapan untuk meniti karier lanjutan. 3. 5. akan mempunyai peluang untuk ikut serta dalam politik lokal. termasuk didaerah. baik dalam pemilihan umum lokal ataupun dalam rangka pembuatan kebijakan publik. Akuntabilitas Politik Demokrasi memberikan ruang dan peluang kepada masyarakat.

Ketika itu pemerintah mengambil tindakan drastis dengan mengubah UU No. 22 tahun 1948 tentang Pemerintahan Daerah. Perkembangan Desentralisasi dan Otonomi Daerah di Indonesia. diletakkan pada satu tangan. yaitu UU No. yaitu kepala daerah. untuk pertama kali pemerintah mengeluarkan UU No. (2). Ketika konstelasi politik berubah. Dalam rangka itu kemudian lahirlah UU No. pemerintah mengeluarkan UU baru tentang pemerintahan daerah. Prinsip-prinsip pokok yang diatur dalam dalam Penpres No. Guna menindaklanjuti ketentuan Pasal 18 tersebut. Negara Indonesia memiliki penduduk yang heterogen dan tersebar di berbagai daerah dengan karakteristik sendiri-sendiri. yaitu pemerintah daerah yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya atau daerah otonomi. disamping tetanp menjalankan politik dekonsentrasi. tetapi 59 . otonomi daerah mengalami kemunduran. Jadi sebelum mengatur yang lain. Kepada daerah diberikan hak otonom yang seluas-luasnya untuk mengatur dan mengurus rumah tangga daerahnya. Kenyataan ini mendasari para pendiri bangsa ketika menyusun UUD 1945. UU ini secara garis besar mengandung tiga prinsip dasar desentralisasi.1 Tahun 1957 dan menggantinya dengan Penpres No. saat terjadi pergeseran dari Demokrasi Parlementer ke Demokrasi Terpimpin melalui Dekrit Presiden 5 juli 1959 dengan kembali ke UUD 1945. Menyadari akan kekurangan yang terdapat dalam UU No. UU ini memberikan hak otonomi dan tugas pembantuan (medebewind) yang seluas-luasnya kepada badan-badan pemerintah daerah. Penyelenggaraan tugas di bidang pemerintahan umum pusat di daaerah dan tugas dibidang ekonomi daerah. Menginginkan agar melaksanakan politik desntralisasi dan memberikan hak-hak otonomi kepada daerah-daerah. 1 Tahun 1957 tentang Pokok-Pokok Pemerintah Daerah. 6 Tahun 1959 adalah sebagai berikut: (1). pemerintah bersama BP-KNIP berupaya melahirkan UU Otonomi Daerah yang benarbenar didasarkan atas kedaulatan rakyat. pemerintah lebih dulu mengatur mengenai keberadaan pemerintah daerah. 6 Tahun 1959 dan kemudian disempurnakan melalui Penpres No. 1 Tahun 1945. Kedudukan kepala daerah tidak lagi hanya sebagai alat daerah. 5 Tahun 1960. 18 dengan jelas mengatur penyelenggaraan pemerintahan daerah dengan tetap menghormati keberagaman yang dimiliki daerah. dengan menganut sistem otonomi riil. Di daerah-daerah (daerah besar dan kecil). (3). yaitu : (1). yang tersusun secara demokratis.1 Tahun 1945 yang mengatur pemerintah daerah. Daerah-daerah dibentuk menurut susunan derajat dari atas bawah sebanyak tiga tingka. (2). Saat Indonesia kembali menjadi negara kesatuan dan berdasarkan UUDS 1950. hanya ada satu bentuk susunan pemerintahan.C.

juga bidang kepegawaian yang terpusat. Pertama. melainkan bersifat tunggal. (4). UU ini merangkum pokok-pokok pikiran cita-cita desentralisasi dari perundang-undangan sebelumnya. persatuan dan 60 . kepala daerah adalah pegawai negara. Meski dalam UU tersebut menyebutkan bahwa pemerintah mencanangkan prinsip otonomi yang nyata dan bertanggung jawab. kebijakan desentralisasi pada masa Orde Baru dalam praktik cenderung ke bandul sentralisasi. kebijakan yang dilakukan lebih mencerminkan pelimpahan wewenang ketimbang penyerahan wewenang. pemerintah mengeluarkan UU sebagai pengganti Penpres No. kebijakan otonomi daerah juga mengalami perubahan. Bersamaan dengan itu.sekaligus juga sebagai wakil pemrintah pusat didaerah. Dalam praktik. yaitu dari desentralisasi menjadi dekonsentrasi. Ketika pergantian rezim dari Demokrasi terpimpin ke Rezim Orde Baru. tidak lagi bertanggung jawab kepada DPRD melainkan kepada Presiden. Kepala daerah mempunyai kekuasaan untuk menangguhkan keputusan DPRD yang bersangkutan dan keputusan pemerintah daerah bawahannya. (5). (3). Cita-cita untuk mewujudkan politik desentralisasi menjadi terhambat. kepala daerah tidak bersifat kolegial. namun dalam operasional prinsip tersebut menimulkan perubahan. ketertiban. Pada Tahun 1965. melalui UU No. 19 Tahun 1965 tentang desa praja sebagai bentuk peralihan untuk mempercapat terwujudnya Daerah Tingkat III di seluruh tahah air. Namun sayang UU ini tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan. yaitu UU No. Sebab. ditegaskan bahwa kepala daerah karena jabatannya adalah Ketua DPRD dan bukan anggota. ketenangan. Dalam menjalankan kekuasaan eksekutif. Singkatnya. pemerintah pusat masih memiliki wewenang dalam mengatur urusan-urusan yang dikelolanya didaerah lewat desentralisasi dan medebewind. perencanaan dan pelaksanaan yang bertalian dengan urusan yang diembannya. dibentuk pula UU No. Ada beberapa hal yang dapat menjelaskan mengapa seperti itu. sejak awal pemerintah Orde Baru dalam menciptakan otonomi daerah adalah untuk menciptakan keamanan. Penambahan melalui Penpres No. Kenyataan lain adalah terbatasnya wewenang daerah dalam bidang keuangan. Hal ini berdampak daerah tidak memiliki ruang gerak dalam penetapan kebijakan. Dalam penjelasannya disebutkan bahwa pemerintah akan terus dan konsekuen menjalankan politik desentralisasi untuk menuju kearah tercapainya desentralisasi territorial. 5 Tahun 1960. 18 Tahun 1965. yaitu meletakkan tanggung jawab territorial riil dan seluas-luasnya dalam tangan pemerintah daerah. 6 Tahun 1959. 5 Tahun 1974 selain menerapakan asas desentralisasi. Dalam kedudukan itu. dan (6).

Namun terlepas dari alasan yang sesungguhnya dibalik lahirnya kedua UU tersebut. Pengaturan mengenai keuangan daerah ini karena adanya tuntutan keterbukaan politik (demokratisasi). tidak mengenal daaerah tingkat I dan II juga tidak ada hirarki antara provinsi dengan kabupaten Penyelenggaraan tugas pemerintah dan Belanja Dan Pendapatan Negar (APBN). 22 tahun 1999. pemerintah ingin selalu memusatkan sumber daya yang tetap langka untuk keperluan pembangunan. Mendekatkan pemerintah dengan rakyat.stabilitas. Tidak menggunakan sistem Otonomi bertingkat. (5). Jika sebelumnya begitu terkekang. moneter. 1. Ciri ini menyangkut dua hal. (3). Reformasi memberi hikmah besar kepada daerah-daerah untuk menikmati otonomi yang sesungguhnya. Sistem Otonomi Luas dan Nyata. Dengan peraturan itu. yaitu rekrutmen pejabat politik di daerah dan proses legislasi di derah. Dengan sistem ini pemerintah daerah berwenang melakukan apa saja yang menyangkut penyelenggaraan pemerintahan kecuali dibidang politik luar negeri. Ini dilakukan dalam rangka lebih mendekatkan pelayanan kepada masyarakat. Rekrutmen pejabat politik didaerah menyerahkan kewenangan sepenuhnya kepada masyarakat melalui DPRD dan tidak ada lagi campur tangan pemerintah pusat. kebijakan otonomi daerah Era Reformasi ini sungguh mengalami kaemajuan yang luar biasa. diharapkan tuntutan daerah untuk melepaskan diri tidak akan terjadi. Semakin lengkap pengaturan daerah dengan lahirnya UU No. di Era Reformasi malalui UU No. Crinya yang menonjol dari UU yang baru ini. Demokrasi dan Demokratisasi. Kebijakan Otonomi Daerah Menurut UU No. sehingga distribusi dan penggunaannya memenuhi kriteria keadilan dan efesiensi. (2). Sedang mengenai proses legislasi dan regulasi didaerah tidak lagi harus disahkan oleh pemerintah pusat. Titik berat otonomi ada pada daerah kabupaten atau kota. atau kota. pemerintah Orde Baru menganut formula strategi pembangunan dengan menjadikan para ahli ekonomi berfungsi sebagai pembuat kebijakan. daerah memiliki kebebasandan berprakarsa untuk mengatur daerahnya sendiri. dan fiskal. (4). militer sebagai stabilator.22 Tahun 1999 Era reformasi menjadi titik tolak perubahan kebijakan desentralisasi lebih nyata. juga karena pemerintah pusat ingin mengatasi masalah disintegrasi yang melanda Indonesia. Ketiga. tidak memiliki kewenangan dalam melakukan pembangunan daerah. daerah harus dibiayai dari dana Anggaran 61 . dan birokrasi sipil sebagai pelaku pelaksana. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. yaitu: (1). Kedua.

Pertama. Kellima. Memberikan kewenangan kepada daerah seluas-luasnya untuk mengembangkan daerah atas prakarsa sendiri. Kedua. ekonomi biaya tinggi akibat dampak upaya menigkatan sumber PAD dengan meningkatkan tarif dan ekstensifikasi retribusi dan pajak daerah. Ketiga. 2. antara lain. Lembaga ini 62 . Selain itu. Pihak yang setuju menyatakan bahwa UU tersebut sangat demokratis bahkan bersifat liberal. 5 Tahun 1974. tidak adanya ruang partisipasi publik dalam mengontrol kebijakan publik. aspek kelembagaan pemerintahan daerah yang menempatkan posisi DPRD selalu dominan. penyediaan pelayanan dasar yang belum memadai. namun ada sejumlah kelemahan di dalamnya. Dengan demikian. Sementara pihak yang tidak setuju mengatakan bahwa UU tersebut masih bersifat setengah hati dan masih menerapkan paradigma lama. terjadi primordialisme dalam pengangkatan kepala daerah dan jajaran birokrasi. Dari sisi kebijakan. paling tidak UU No.Belakangan UU No. Terlepas dari pro-kontra tersebut. Sebab masih banyak kewenangan yang diurus oleh pusat dan dana perimbangan belum mencerminkan rasa keadilan. Ketiga. tidak adanya otoritas lembaga yang kuat untuk menyelesaikan konflik yang terjadi antar daerah. Kedua. Keempat. 22 Tahun 1999 telah memberi ruang desentralisasi (politik dan administrasi) yang lebih besar kepada daerah sehingga memungkinkan adanya ruang dan kesempatan yang lebih luas bagi partisipasi masyarakat dan pembangunan daerah. terjadi konflik dalam memperebutkan sumber daya antar daerah. kebijakan pemerintah dituntut lebih terbuka. Pertama. kebijakan otonomi daerah hanya menguntungkan daerahdaerah kaya SDA. demokratis dan membuka ruang bagi partisipasi masyarakat. Ketujuh. akuntabilitas DPRD kepada publik. 32 Tahun 2004 Meski UU No. 22 Tahun 1999. Benyak kemajuan dalam UU ini dibandingkan dengan UU No. Kelima. terjadi friksi antara kepala daerah dengan DPRD dalam hal Laporan Pertanggung jawaban kepala Daerah. 22 Tahun 1999 sudah member ruang lebih baik dalam penyelenggaraan otonomi daerah. organisasi perangkat daerah menjadi gemuk dan besar. Belum terjadi perubahan yang signifikan terhadap otonomi daerah. Akibat kelemahan-kelemahan tersebut muncullah desakan perlunya revisi terhadap UU No. Desakan muncul di antaranya LIPI. Kebijakan Otonomi Daerah Menurut UU No. munculnya ³raja-raja kecil´ didaerah-daerah. Keempat. ketKeenam. mengandung kelemahan sehingga memunculkan dampak negatif dalam implementasi otonomi daerah. 22 Tahun 1999 menimbulkan pro-kontra. sisi implementasi otonomi daerah juga memunculkan dampak negatif.

perubahan perlu dilakukan secara mendasar. dipandang ³kebablasan´ bagi daerah-daerah. Daerah memiliki kewenangan membuat kebijakan daerah untuk memberi pelayanan. Keenam. Ketujuh. Kedua. No. kepala daerah dipilih langsung. pertahanan. dan kewajiban yang senyatannya telah ada dan berpotensi untuk tumbuh. Pemerintah pusat dalam menyelenggarakan urusan tersebut dapat berbentuk. dengan cara mengamandemen pasal-pasal yang dianggap lemah dan menambah pasal-pasal baru untuk memperkuat otonomi daerah. sehingga dianggap ³bebas dan tidak bisa dikendalikan oleh pusat´ maka perlu pengaturan kembali untuk ³mengendalikan´ daerah-daerah sesuai dengan keinginan pemerintah. bukan melakukan perubahan secara mendasar.mengusulkan perlunya revisi. dan agama. yakni memerapkan kebijakan otonomi dengan melakukan resentralisasi. berbeda dengan LIPI. UU baru tersebut memuat materi materi tentang pemerintahan daerah atau otonomi daerah. moneter yusitisi. Kelima. 32 Tahun 2004 berhasil ditetapkan sebagai pengganti UU. pengawasan dan penyelesaian konfllik. pelembagaan partisipasi masyarakat. Sedangkan usulan Pemerintah (Depdagri). Pemerintah tampaknya melihat kelemahan mendasar pada UU No. (1) menyelenggarakan sendiri. koordinasi keamanan daerah. Dalam penjelasannya dikemukakan bahwa otonomi seluas-luasnya berarti daerah diberikan kewenangan mengurus dan mengatur semua urusan pemerintahan. yakni pemberdayaan daerah dan meningkatkan kesejahteraan Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat tetap sebagaimanan UU sebelumnya. akuntabilitas pemerintahan Daerah. hidup dan berkembang sesuai dengan potensi dan kekhasan daerah. peningkatan peran serta. perluasan pendapatan dan keuangan daerah. Terlepas dari perbedaan pandangan di atas. keamanan. Diantara substansi kebijakan otonomi daerah yang perlu diperbaiki adalah: Pertama. Dalam UU itu dinyatakan bahwa otonomi daerah menggunakan prinsip otonomi seluas-luasnya dan prinsip otonomi nyata dan bertanggung jawab. UU No. 22 Tahun 1999. Sedang prinsip otonomi yang nyata adalah suatu prinsip bahwa urusan pemerintahaan dilaksanakan berdasarkan tugas. Ketiga.22 Tahun 1999. Otonomi yang bertanggung jawab adalah otonomi yang dalam penyelenggaraan nya harus benar-benar sejalan dengan tujuan dan maksud pemberian otonomi. prakarsa dan pemberdayaan masayarakat yang bertujuan pada peningkatan kesejahteraan rakyat. wewenang. perlunya institusi yang menangani kerja sama dan perselisihan antar daerah. yaitu poitik luar negeri. (2) melimpahkan sebagian kepada gubernur 63 . Keempat.

pertanian. Jenis urusan pilihan tersebut baru disebutkan secara eksplisit ada pada penjelasan Pasal 13 ayat 2 dan apsal 14 ayat 2 UU No. (7). Pelayanan kependudukan dan catatan sipil. (14).(dekonsentrasi). dan (16). Urusan wajib adalah urusan pemerintahan yang berkaitan dengan pelayanan dasar. Pelayanan bidang ketenagakerjaan. kekhasan. pemanfaatan. dan menengah. Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masayarakat. Urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan. (6). sedang urusan pilihan adalah urusan pemerintahaan terkait dengan potensi unggulan dan kekhasan daerah. dan pariwisata´. (3). (4). Pelayanan administrasi umum pemerintahan. (5). Pengendalian lingkungan hidup. Pelayanan administrasi penaman modal. Sedangkan urusan yang menjadi kewenangan daerah terbagi atas urusan wajib dan urusan pilihan. Penyediaan sarana dan prasarana umum. kekhasan dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan´. 32 Tahun 2004 : ³Yang dimaksud dengan urusan pemerintahan yang secara nyata ada dalam ketentuan ini sesuai dengan kondisi. kehutanan. Penyelenggaraan pelayanan dasar. Penanganan bidang kesehatan. sedangkan yang membedakan eksternalitas. Pemerintah daerah (provinsi dan kabupaten /kota) selain menyelenggarakan urusan wajib juga dapat melaksanakan urusan pilihan. Fasilitas pembangunan koperasi. Urusan wajib pemerintahan yang diberikan kepada pemerintahan pemerintah daerah sebanyak 16 urusan. (8). (9). adalah skala berdasarkan kriteria Urusan pemerintahan provinsi maupun urusan pemerintahan kabupaten/kota terdiri atas urusan-urusan berikut : (1). usaha kecil. Perencanaan dan pengendalian pembangunan. Kriteria yang menjadi acuan menetapkan urusan pilihan adalah ³secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi. (12). perikanan. akuntabilitas dan efisiensi. dan pengawasan tata ruang. (3) menugaskan sebagian urusan kepada pemerintahan daerah dan atau pemerintahan desa berdasarkan asas tugas pembantuan. dan potensi yang dimiliki antara lain pertambangan. Pelayanan pertahanan. (15). (13). perkebunan. Urusan pilihan yang dapat dilaksanakan oleh pemerintah daerah tidak disebutkan secara ekplisit.. (2). Penyelenggaraan pendidikan dan alokasi sumber daya manusia potensial. 64 . (10). Perencanaan. Urusan pemerintahan tersebut berlaku sama baik bagi pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten/kota. Penanggulangan masalah sosial. (11).

dan sebagainya. pemerinatah dapat membentuk kawasan khusus untuk kepentingan nasional. kolusi. memperoleh.Dalam UU No. dan tidak diskriminatif mengenai penyelenggaaraan negara. hak menyampaikan saran dan pendapat secara bertanggungjawab kepada kebijakan penyelenggara negara. hak mencari. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat memperoleh perlindungan hukum dalam menggunakan haknya untuk memperoleh perlindungan hukum dalam menggunakan haknya untuk memperleh dan menyampaikan informasi tentang penyelenggara negara. hak untuk memperoleh pelayanan yang sama dan adil dari penyelenggara Negara. daerah hanya diberi kewenangan untuk mengelola SDA yang ada di laut. Peran Serta Masayarakat dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Dalam rangka menciptakan tata pemerintahan yang baik. good governance dan menciptakan pemerintahan yang bersih dan bebas dari korupsi. dan nepotisme. (2). kewenangan provinsi hanya 12 mil dan Kabupaten/ Kota sepertiganya. Dalam pembentukan kawasan khusus itu dapat berbentuk badan otorita. jujur. serta hadir dalam proses penyelidikan dan sidang pengadilan sebagai saksi pelapor. (3). dan memberikan informasi mengenai penyelenggaraan negara. Peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan negara untuk mewujudkan penyelenggaraan yang bersih dilaksanakan dalam bentuk: (1). maka pemerintah mengeluarkan PP Nomor 68 Tahun 1999 tentang nepotisme. 65 . (4). Sesuai dengan prinsip keterbukaan dalam negara demokrasi yang mengharuskan penyelenggara negara membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar. BUMN. maka dalam Peraturan Pemerintah tersebut diatur hak dan tanggungjawab serta kewajiban masyarakat dan penyelenggara negara secara berimbang. hak memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan haknya. Sedangkan dalam hal laut disebutkan bahwa laut bukan merupakan wilayah daerah. Kewenangan dalam mengelola SDA yang ada di laut ini. D. Kebebasan menggunakan hak tersebut haruslah disertai dengan tanggung jawab untuk mengemukakan fakta dan kejadian yang sebenarnya dengan menaati dan menghormati aturan-aturan moral yang diakui umum serta hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. saksi atau saksi ahli. 32 Tahun 2004 disebutkan juga tentang kawasan khusus.

dan menaati hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Ironisnya dalam era reformasi ini mekanisme partisipasi masyarakat dalam pemerintahan daerah juga masih lemah. Penyelenggara negara yang menolak dapat dikategorikan sebagai penyelenggara negara yang tertutup. Mewujudkan hal tersebut merupakan sesuatu yang penting. karena Indonesia merupakan negara yang berada dalam masa transisi menuju demokrasi.Masyarakat yang bermaksud mencari dan memperoleh informasi tentang penyelenggaraan negara berhak menanyakan kepada lembaga atau instalasi terkait baik secara langsung maupun tidak langsung. Namun untuk mewujudkan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan negara.. sehingga dapat diduga terjadi korupsi. penyelenggara negara tidak boleh menolak permintaan masyarakat untuk memperoleh informasi tersebut. Masyarakat juga dapat memberi informasi mengenai suatu penyelenggaraan negara kepada instansi terkait. pertama masuknya anggota masyarakat sebagai elected member dari DPRD dan kepala daerah. Masyarakat yang menyampaikan informasi kepada instansi terkait harus menyampaikannya secara bertanggung jawab dengan mengemukakan fakta yang diperoleh. Hal ini tentu derajat partisipasinya lebih tinggi daripada pemilihan kepala daerah oleh anggota DPR. Ada dua cara partisipasi yang diakui oleh UU Nomor 22 tahun 1999. termasuk pada pemerintahan daerah tidak mudah. Tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. identitas pelapor dan fakta kejadian harus didukung oleh data yang dapat dipertanggungjawabkan. menghormati hak-hak pribadi seseorang sesuai dengan norma-norma yang diakui umum. Masyarakat tidak diperkenankan memberikan laporan yang bersifat fitmah dan provokasi. serta kedua desentralisasi kepada unit yang lebih rendah yakni desa sebagai bentuk dari decentralization within cities. 66 . dan nepotisme dalam lembaga/ unit di bawah tanggungjawabnya. wajib memberikan jawaban atau keterangan sesuai dengan tugas dan fungsinya dan tetap memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. karena masyarakat belum terbiasa dnegan partisipasi aktif dan sukarela. kolusi. Masyarakat masih terbiasa dengan mobilisasi yang sering digunakan secara ekstensif pada masa Orde Baru dan Orde Lama. Setiap penyelenggara negara yang menerima permintaan masyarakat untuk memperoleh informasi tentang penyelenggaraan negara. Oleh karena itu. UU Nomor 32 Tahun 2004 lebih memperkuat partisipasi publik ini dengan mengatur pemilihan kepala daerah secara langsung oleh masyarakat.

Selain kedua cara utama itu. Mereka lebih berperan sebagai kepanjangan tangan partainya daripada konstituennya. Sampai kini memang masih dibutuhkan lebih banyak kajian menyangkut bagaimana desa-desa adat. dan sebagainya. Apa yang diungkapkan oleh Gubernur Sutiyoso dalam upaya menghadapi polemik perjudian pada tahun 2002 membuktikan bahwa cara berpikir pemerintah daerah yang hanya didasarkan pada kekuatan perangkat daerah daripada melibatkan masyarakat. masyarakat hanya dapat berinteraksi dengan politisi di DPRD yang harus menampung (termasuk memerhatikan dan menyalurkan aspirasi. UU 32 Tahun 2004 tidak banyak melakukan perubahan dari apa yang diatur oleh UU sebelumnya sehingga melanjutkan format baru pemerintahan desa dalam masa reformasi. anggota DPRD yang dimaksudkan untuk mewakili kepentingan warga yang memilihnya. Tidak ada tempat bagi partisipasi dalam tahapan implementasi apalagi kontrol terhadap pemerintah daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Pada praktiknya. Siapa yang boleh dan harus terlibat. apa yang harus dilakukan oleh DPRD dan kepala daerah beserta perangkatnya. 5/1979. dan menindaklanjuti (termasuk memfasilitasi tindak lanjut) aspirasi daerah dan masyarakat. Akibatnya. 22/1999. Akan tetapi.Khusus untuk yang pertama (elected member). yakni nilai-nilai demokrasi lokal yang hidup secara tradisional kini telah rusak karena uniformitas yang dipaksakan dalam kebijakan pemerintahan desa masa Orde Baru tersebut. 22/1999 ini dianggap lebih demokratis dan partisipatif daripada yang diatur dalam UU No. Mekanisme kedua yakni desentralisasi pada tingkatan desa yang diatur dalam bentuk kebijakan mengenai pemerintahan desa dalam UU No. ternyata karena sistem pemilu yang dipergunakan. wujud partisipasi warga melalui cara elected member ini disinyalir telah gagal dan tetap menempatkan warga pada posisi kurang dapat menyalurkan aspirasi dan tuntutan lokalnya dalam pemerintahan daerah. menerima keluhan dan pengaduan masyarakat). tidak ada penjelasan mengenai mekanisme yang bisa dijadikan pedoman dan jaminan bagi pengakuan dan terselenggaranya partisipasi publik. apa sanksi atas kelalaian dalam pengabaian partisipasi publik. Akan tetapi muncul masalah baru. apa hak dan kewenangan publik atas pejabat yang dipilihnya. apa konsekuensi keterlibatannya. Pemerintah daerah hanya berfungsi untuk menjalankan urusan 67 . UU tersebut tidak memberikan ruang lain bagi mekanisme partisipasi masyarakat. terutama di luar Jawa mampu merevitalisasi kembali potensi lokalnya sesuai dengan peluang yang diberikan oleh UU No. bagaimana bentuk keterlibatannya.

Dapat dikatakan bahwa tidak ada pengakuan yang nyata bahwa stakeholder utama dalam pemerintahan daerah adalah masyarakat. Apa yang tertuang secara eksplisit dalam UU No. Meskipun demikian. Demokrasi.dan kewenangan kesatuan masyarakat hukum yang ada dalam wilayah tertentu (daerah otonom). 2003. Hukum Tatanegara. dan Hak Asasasi Manusia. Dede. Kewarganegaraan. 2003. Hestu. Bentuk partisipasi yang dinyatakan secara eksplisit lebih sering ditafsirkan sebagai sekadar masukan bagi pengambilan keputusan dan keluhan untuk menyatakan kebutuhn. Jakarta: Penerbit Prenada Media. Hak Asasi Manusia. dan Masyarakat Madani. 21/1999 dan UU 32/2004 membuktikan pengakuan yang masih rendah atas ragam jenis partisipasi yang diatur. Pendidikan Kewargaan.. Tampaknya pengakuan lebih berat timbangannya pada pemerintah daerah. Yogyakarta: Penerbit UAJ. masih dibutuhkan kejelasan mekanisme dalam menyelenggarakan pemerntahan berbasis partisipasi masyarakat. dkk. Rosyada. 68 . Daftar Pustaka Cipto Handoyo. baik itu DPRD maupun kepala daerah beserta perangkatnya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->