BAB I DEMOKRASI Kompetensi Dasar

:
1. Menjelaskan hakikat demokrasi 2. Menganalisa sejarah perkembangan demokrasi 3. Menjelaskan pentingnya kehidupan demokratis dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara A. Hakikat Demokrasi

Kata demokrasi terkesan sangat akrab dan seakan sudah dimengerti begitu saja. Namun apa dan bagaimana sebenarnya makna dan hakikat substansi demokrasi mungkin belum sepenuhnya dimengerti dan dihayati. Sehingga perlu diketahui makna dan hakikat demokrasi karena hampir semua negara menjadikan demokrasi sebagai tatanan aktivitas bermasyarakat dan bernegara. Berdasarkan hal tersebut di atas sudah tentu sangat perlu untuk mengetahui lebih dulu makna dan hakikat demokrasi. Banyak para ahli memberikan batasan tentang demokrasi antara lain dilihat dari tinjauan bahasa (etimologis), bahwa demokrasi berasal dari dua kata yang berasal dari bahasa Yunani yaitu ³demos´ yang berarti rakyat atau penduduk suatu tempat dan ³cratein´ atau ³cratos´ yang berarti kekuasaan atau kedaulatan. Jadi secara etimologis, demokrasi adalah keadaan negara di mana dalam sistem pemerintahannya kedaulatan di tangan rakyat, kekuasaan tertinggi berada dalam keputusan bersama rakyat, rakyat berkuasa, pemerintahan rakyat dan kekuasaan oleh rakyat. Sedangkan secara istilah (terminologis) pengertian demokrasi banyak

dikemukakan oleh para ahli, antara lain : (a) Yoseph A. Schmeter, demokrasi merupakan suatu perencanaan institusional untuk mencapai keputusan politik di mana individu-individu memperoleh kekuasaan untuk memutuskan cara perjuangan kompetitif atas suara rakyat; (b) Sidney Hook, demokrasi adalah bentuk pemerintahan di mana keputusan-keputusan pemerintah yang penting secara langsung atau tidak langsung didasarkan pada kesepakatan mayoritas yang diberikan secara bebas dari rakyat dewasa; (c) Philippe C. Schmitter dan Terry Lynn Karl, demokrasi sebagai suatu sistem pemerintahan di mana pemerintah dimintai tanggung jawab atas tindakantindakan mereka di wilayah publik oleh warga negara, yang bertindak secara tidak langsung melalui kompetisi dan kerja sama dengan para wakil mereka yang telah terpilih; (d) Henry B Mayo, demokrasi sebagai sebagai sistem politik merupakan suatu sistem yang menunjukkan bahwa kebijakan umum ditentukan atas dasar mayoritas oleh 1

wakil-wakil yang diawasi secara effektif oleh rakyat dalam pemilihan-pemilihan berkala yang didasarkan atas prinsip kesamaan politik dan diselenggarakan dalam suasana terjaminnya kebebasan politik. Dari beberapa pendapat di atas diperoleh kesimpulan bahwa hakikat demokrasi sebagai sistem bermasyarakat dan bernegara serta pemerintahan memberikan penekanan pada keberadaan kekuasaan di tangan rakyat yang mengandung pengertian tiga hal: Pertama, pemerintahan dari rakyat (government of the people) mengandung pengertian yang berhubungan dengan pemerintahan yang sah dan diakui (legitimate government) dan pemerintahan yang tidak sah dan tidak diakui (unligitimate government) di mata rakyat. Legimitasi suatu pemerintahan sangat penting, karena dengan legitimasi tersebut pemerintahan dapat menjalankan roda birokrasi dan program-programnya sebagai wujud dari amanat yang diberikan oleh rakyat kepadanya.

Kedua, pemerintahan oleh rakyat (government by the people) mengandung arti bahwa pemerintahan menjalankan kekuasaan atas nama rakyat bukan atas dorongan diri dan keinginannya sendiri, serta dalam menjalankan kekuasaannya, maka pemerintah berada dalam pengawasan rakyat (social control) secara langsung maupun tidak langsung. Ketiga, pemerintahan untuk rakyat (government for the people) mengandung arti bahwa kekuasaan yang diberikan oleh rakyat kepada pemerintah itu dijalankan untuk kepentingan rakyat. Kepentingan rakyat harus didahulukan dan diutamakan di atas segalanya. Untuk itu pemerintah harus mendengarkan dan mengakomodasi aspirasi rakyat dalam merumuskan dan menjalankan kebijakan dan program-programnya. Pemerintah harus membuka saluran dan ruang kebebasan serta menjamin adanya kebebasan seluas-luasnya kepada rakyat dalam menyampaikan aspirasinya baik melalui media pers maupun secara langsung. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa demokrasi merupakan bentuk pemerintahan yang tumbuh dan berkembang dengan sendirinya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Karena itu demokrasi memerlukan usaha nyata setiap warga dan perangkat pendukungnya yaitu budaya yang kondusif sebagai manifestasi dari suatu mind set (kerangka berpikir) dan setting social (rancangan masyarakat). Sehingga bentuk kongkrit dari manifestasi tersebut adalah dijadikannya demokrasi sebagai way of life (pandangan hidup) dalam seluk beluk sendi kehidupan bernegara baik oleh rakyat (masyarakat) maupun oleh pemerintah. Sebagai bentuk 2

pemerintahan maka demokrasi meliputi unsur-unsur : (1) Adanya partisipasi masyarakat secara aktif dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, (2) Adanya pengakuan akan supremasi hukum., (3) Adanya kebebasan, antara lain: kebebasan berekspresi dan berbicara atau berpendapat, kebebasan untuk berkumpul dan berorganisasi, kebebasan beragama dan berkeyakinan, kebebasan untuk menggugat pemerintah, kebebasan untuk memilih dan dipilih dalam pemilihan umum, dan kebebasan untuk mengurus nasib sendiri, dan (4) Adanya pengakuan supremasi sipil atas militer. Pemerintahan demokratis membutuhkan kultur demokrasi untuk membuatnya performed (eksis dan tegak). Kultur demokrasi ini berada dalam masyarakat itu sendiri. Pemerintahan yang baik dapat tumbuh dan stabil bila masyarakat pada umumnya punya sikap positif dan proaktif terhadap norma-norma dasar demokrasi. Oleh karena itu harus ada keyakinan yang luas di masyarakat bahwa demokrasi adalah sistem pemerintahan yang terbaik dibanding dengan sistem lainnya (Saiful Mulyani:2002) . Untuk itu masyarakat harus menjadikan demokrasi sebagai way of life yang menuntun tata kehidupan kemasyarakatan, kebangsaan, pemerintahan dan kenegaraan. Demokrasi mengandung proses dinamis dalam arti proses melaksanakan nilainilai civility (keadaban) dalam bernegara dan bermasyarakat (Nurcholis Madjid:2000), sehingga secara teoritis maupun pengalaman praktis di negeri-negeri yang demokrasinya cukup mapan paling tidak mencakup tujuh norma : Pertama, pentingnya kesadaran akan pluralisme. Dalam hal ini tidak hanya sekedar pengakuan (pasif) akan kenyataan masyarakat yang majemuk, tetapi lebih dari itu adalah kesadaran akan kemajemukan menghendaki tanggapan yang positif terhadap kemajemukan itu sendiri secara aktif. Seorang individu akan mampu menyesuaikan dirinya pada cara hidup demokratis jika ia mampu mendisiplinkan dirinya sendiri ke arah jenis persatuan dan kesatuan yang diperoleh melalui penggunaan perilaku kreatif dan dinamik serta memahami segi-segi positif kemajemukan masyarakat. Pandangan hidup demokratis seperti ini menuntut moral pribadi yang tinggi. Kesadaran akan pluralitas sangat penting dimiliki bagi rakyat Indonesia sebagai bangsa yang sangat beragam dari sisi etnis, bahasa, budaya, agama dan potensi alamnya. Kedua, adanya istilah ³musyawarah´ dalam arti ³saling memberi isyarat´ (bahasa Arab). Internalisasi dan semangat musyawarah menghendaki dan

mengharuskan adanya keinsyafan dan kedewasaan untuk dengan tulus menerima kemungkinan kompromi atau bahkan ³kalah suara´. Semangat musyawarah menuntut 3

Korelasi prinsip ini ialah kesediaan untuk kemungkinan menerima bentuk-bentuk kompromi atau islah. dan tidak harus. bahkan dapat dikatakan sebagai suatu penghianatan pada nilai dan semangat demokrasi. terpenuhinya keperluan pokok yaitu sandang. ungkapan ³tujuan menghalalkan segala cara´ harus dihindari. Dengan demikian rencana pemenuhan kebutuhan ekonomi harus mempertimbangkan aspek keharmonisan dan keteraturan sosial. sering terjadi kejenuhan antara mengkritik yang sehat dan bertanggung jawab. di mana pertimbangan moral (keluhuran akhlak) menjadi acuan dalam berbuat dan mencapai tujuan. Korelasinya yang lain ialah seberapa jauh kita bisa bersikap dewasa dalam mengemukakan pendapat. dan menghina yang merusak dan tanpa tanggung jawab. Ketiga hal itu menyangkut masalah pemenuhan segi-segi ekonomi yang dalam pemenuhannya tidak lepas dari perencanaan sosial-budaya. dan bahwa setiap orang pada dasarnya baik. tidak hanya merupakan permufakatan yang curang. Jadi permufakatan yang dicapai melalui manipulasi atau taktik hasil konspirasi. permufakatan yang jujur dan sehat adalah hasil akhir musyawarah yang jujur dan sehat. Hal ini mengisyaratkan suatu kutukan kepada orang yang berusaha meraih tujuannya dengan cara-cara yang tidak peduli kepada pertimbangan moral. kerjasama antarwarga masyarakat dan sikap saling mempercayai itikad baik masing-masing. Keenam. pangan dan papan. dan beritikad baik. cacat atau sakit. Keempat. dan harus memiliki kepastian bahwa rencana-rencana itu benar-benar sejalan dengan tujuan dan praktik demokrasi. seluruh keinginan atau pikiran seseorang atau kelompok akan diterima dan dilaksanakan sepenuhnya. Bahkan sesungguhnya klaim atas suatu tujuan yang baik harus diabsahkan oleh kebaikan cara yang ditempuh untuk meraihnya. Dalam masyarakat yang belum terlatih benar untuk berdemokrasi. Sehingga demokrasi tidak akan terwujud tanpa akhlak yang tinggi. Musyawarah yang benar dan baik hanya akan berlangsung jika masing-masing pribadi atau kelompok mempunyai kesediaan psikologis untuk melihat kemungkinan orang lain benar dan diri sendiri salah. dan kemungkinan mengambil pendapat yang lebih baik. Pandangan demokratis mewajibkan adanya keyakinan bahwa cara haruslah sejalan dengan tujuan.agar setiap orang menerima kemungkinan terjadinya ³partial fintioning of ideals´ yaitu suatu pandangan bahwa belum tentu. Kelima. kemudian jalinan dukung mendukung secara fungsional antara berbagai unsur kelembagaan kemasyarakatan yang ada. Masyarakat demokratis ditantang untuk mampu menganut hidup dengan pemenuhan kebutuhan secara berencana. Ketiga. berkecenderungan baik. merupakan segi penunjang efisiensi untuk 4 .

Ketujuh. Sehingga verbalisme yang dihasilkannya juga menghasilkan kepuasan tersendiri dan membuat yang bersangkutan merasa telah berbuat sesuatu dalam penegakan demokrasi. hanya karena telah berbicara tanpa perilaku. Adanya 5 .demokrasi. Sementara ini pendidikan demokrasi pada umumnya masih terbatas pada usaha indoktrinasi dan penyuapan konsep-konsep secara verbalistik. Menurut Masykuri Abdillah (1999) prinsipprinsip demokrasi terdiri atas prinsip persamaan. persamaan hak dan kewajiban bagi semua (egalitarianism) dan tingkah laku penuh percaya pada itikad baik orang dan elompok lain (trust attitude) mengharuskan adanya landasan pandangan kemanusiaan yang positif dan optimis. Jadi kajian demokrasi tidak saja dalam kajian konsep verbalistik. kebebasan.tidak dalam arti menjadikannya muatan kurikuler yang klise.(c) hak memilih dan dipilih. dan pluralisme. Pandangan kemanusiaan yang negatif dan pesimis akan dengan sendirinya sulit menghindari perilaku curiga dan tidak percaya kepada sesama manusia. tetapi juga dapat menjurus pada lahirnya pola tingkah laku yang bertentangan dengan nilainilai asasi demokrasi. tetapi diwujudkan dalam hidup nyata (lived in) dalam sistem pendidikan kita. maka nilai-nilai dan pengertian-pengertiannya harus dijadikan unsur yang menyatu dengan sistem pendidikan kita. Pandangan hidup demokratis terlaksana dalam abad kesadaran universal sekarang ini. buka saja mengakibatkan tidak efisiennya cara hidup demokratis. (b) pemilihan yang teliti dan jujur. Kita harus mulai dengan sungguh-sungguh memikirkan untuk membiasakan anak didik dan masyarakat umumnya siap menghadapi perbedaan pendapat dan tradisi pemilihan terbuka untuk menentukan pimpinan atau kebijakan. (f) kebebasan berserikat. Masyarakat yang terkotak-kotak dengan masing-masing penuh curiga kepada lainnya. yaitu: (a) kontrol atas keputusan pemerintah. (d) kebebasan menyatakan pendapat tanpa ancaman. Sementara itu Inu Kencana lebih memerinci lagi tentang prinsip-prinsip demokrasi dengan a). Dahl terdapat enam prinsip yang harus ada dalam sistem demokrasi. Pengakuan akan kebebasan nurani (freedom of conscience). yang kemudian ujungnya ialah keengganan bekerjasama. melainkan telah membumi (menyatu) dalam interaksi dan pergaulan sosial baik di kelas maupun di luar kelas. Suatu pemerintahan dikatakan demokratis bila dalam mekanisme pemerintahan mewujudkan prinsip-prinsip demokrasi. Terjadi diskrepansi (jurang pemisah) antara das sein dan das sollen dalam konteks ini ialah dari kuatnya budaya ³menggurui´ (secara feodalistik) dalam masyarakat kita. pendidikan demokrasi. Sedang dalam pandangan Robert A. (e) kebebasan mengakses informasi.

h) adanya pers yang bebas. watak dan pola hubungan yang akan terbangun. c) adanya manajemen yang terbuka. susunan kekuasaan negara. Penyelenggaraan kekuasaan negara sendiri haruslah diatur dalam suatu tata aturan yang membatasi dan sekaligus memberi koridor dalam pelaksanaannya. a) memungkinkan terjadinya desentralisasi untuk menghindari sentralisasi. yaitu. Aturan yang ada harus mengandung dua hal. Kekuasaan negara dijalankan untuk menghindari penumpukan kekuasaan dalam satu ³tangan/wilayah´. e) adanya peradilan yang bebas. dan t) adanya pemerintahan yang mengutamakan tanggungjawab. masalah kontrol rakyat. yakni suatu relasi yang simetris. dan adanya mekanisme yang memungkinkan check and balance terhadap kekuasaan yang dijalankan eksekutif dan legeslatif. l) adanya pemerintahan yang konstitusional. adanya musyawarah. m) adanya ketentuan tentang pendemokrasian.pembagian kekuasaan. q) adanya persaingan keahlian. d) adanya kebebasan individu. Kedua. kebangsaan dan kenegaraan. s) adanya kebijaksanaan negara. b) memungkinkan pembatasan agar kekuasaan tidak menjadi tidak tak terbatas. memiliki sambungan yang jelas. secara distributif Ketiga. f) adanya pengakuan hak minorritas. Masalah ini menyangkut konsep legitimasi kekuasaan serta pertanggungjawaban langsung kepada rakyat. o) adanya perlindungan hak asasi. Pertama. masalah pembentukan negara. 6 . r) adanya mekanisme politik. p) adanya pemerintahan yang bersih. Keempat. Suasana kehidupan yang demokratis merupakan dambaan bagi umat manusia termasuk manusia Indonesia. g) adanya pemerintahan yang berdasarkan hukum. n) adanya pengawasan terhadap administrasi publik. b) adanya pemilihan umum yang bebas. karena itu demokrasi tidak boleh menjadi gagasan yang utopis melainkan harus diimplementasikan dalam interaksi sosial kemasyarakatan. Ciri-ciri ini kemudian dijadikan parameter untuk mengukur tingkat pelaksanaan demokrasi yang berjalan di suatu negara. Sementara ini pemilihan umum dipercaya sebagai salah satu instrumen penting guna memungkinkan berlangsungnya suatu proses pembentukan pemerintahan yang baik. Untuk mengukur suatu negara atau pemerintah dalam menjalankan tata pemerintahannya dikatakan demokratis dapat dilihat dari empat aspek. Apakah dengan koridor tersebut sudah dengan sendirinya akan berjalan suatu proses yang memungkinkan terbangun sebuah relasi yang baik. k) adanya persetujuan parlemen. dasar kekuasaan negara. Prinsip-prinsip negara demokrasi yang telah disebut di muka kemudian dituangkan dalam konsep yang lebih praktis untuk dapat diukur dan dicirikan. Kita percaya bahwa proses pembentukan kekuasaan akan sangat menentukan bagaimana kualitas.

e) adanya pengakuan dan perlindungan hak-hak dasar. pedagang asing. c) pemilu yang bebas. e) adanya jaminan terhadap hak-hak demokratis. b) klaim itu berdasarkan adanya pemilihan kompetitif secara berkala antara calon alternatif. kebebasan dan hak milik. d) pemilihan bebas. e) orang yang terdidik. b) rotasi kekuasaan. Kelima elemen tersebut berlaku secara universal di dalam melihat demokrasi tidaknya suatu rezim pemerintahan (potical order) B.Kriteria negara demokratis menurut G. f) jaminan hidup. b) kontrol efektif terhadap pemerintah oleh rakyat. perempuan dan anak-anak tidak dapat menikmatinya. Sedangkan Affan Gafar (1993) menyebutkan sejumlah prasyarat untuk mengamati apakah sebuah political order (pemerintahan) merupakan sistem yang demokratik atau tidak melalui ukuran : a) akuntabilitas. Sejarah Perkembangan Demokrasi Konsep demokrasi semula lahir dari pemikiran hubungan negara dan hukum di Yunani dan dipraktekkan dalam hidup bernegara antara abad ke-6 SM sampai abad ke-4 M. 7 . bahkan warga negara yang bisa menikmati hak demokrasi hanyalah warga negara yang resmi. kebebasan berkumpul dan berorganisasi serta membentuk partai politik. Sifat langsung ini bisa berjalan karena pada masa itu di Yunani Kuno hanya berbentuk negara kota (polis) dengan jumlah penduduk relatif sedikit. d) persamaan kesempatan. Ross Yates (tim ICCE UIN:2003) mengajukan enam ciri negara demokrasi ialah: a) toleransi terhadap orang lain. d) prinsip mayoritas. W. c) partisipasi orang dewasa sebagai pemilih dan calon yang dipilih. b) perasaan fair play. kebebasan pers. Demokrasi yang dilaksanakan pada masa itu berbentuk demokrasi langsung (direct democracy) artinya hak rakyat untuk membuat keputusan politik dijalankan secara langsung oleh seluruh warga negara berdasarkan prosedur mayoritas. d) pemilihan umum. Bingham Powell Jr (Tim ICCE UIN:2003) meliputi : a) pemerintah mengklaim mewakili hasrat para warganya. c) optimisme terhadap hakikat manusia. sedangkan budak belian. c) rekruitmen politik. e) warga negara memiliki kebebasan-kebebasan dasar yaitu kebebasan berbicara. Frans Magnis Suseno (1997) mengatakan kriteria negara demokratis adalah: a) negara terikat pada hukum.

Renaissance merupakan gerakan yang menghidupkan kembali minat pada sastra dan budaya Yunani Kuno. Al Khawarizmi dan sebagainya. Dengan kata lain. yaitu suatu gerakan revolusi agama yang terjadi di Eropa pada abad ke-16 yang bertujuan untuk memperbaiki keadaan dalam gereja Katolik yang sebelumnya begitu dominan dalam menentukan tindakan warga negara dan semuanya ditentukan oleh gereja. Gerakan reformasi di Eropa juga mendorong munculnya gerakan demokrasi. adanya pembatasan kekuasaan raja. Al-Razi. tumbuh lagi keinginan menghidupkan demokrasi. renaissance di Eropa bersumber dari tradisi keilmuan Islam dan berintikan pada pemuliaan akal pikiran untuk selalu mencipta dan mengembangkan ilmu pengetahuan. hak asasi manusia lebih penting daripada kedaulatan raja. Dengan dimotori Martin Luther menyulut api pembrontakan terhadap dominasi gereja yang telah mengungkung kebebasan berpikir dan bertindak. kedua. kehidupan spiritual dikuasai oleh Paus dan pejabat agama. Gerakan ini lahir karena adanya kontak dengan dunia Islam yang ketika itu berada di puncak kejayaan peradaban ilmu pengetahuan. Momentum lainnya yang menandai kemunculan kembali demokrasi di dunia barat adalah gerakan renaissance dan reformasi. bukan hanya berhasil mengasimilasikan pengetahuan Parsi Kuno (baca. yaitu kaum bangsawan dan kaum agamawan. 8 . Oemar Khayam. melainkanjuga berhasil berdasarkan kebutuhankebutuhan yang sesuai dengan alam pikiran mereka sendiri. Bagdhad sebagai pusatnya) dan warisan klasik (Yunani Kuno). Sehingga menurut Philip K. karena pada abad ini masyarakat Eropa bercirikan masyarakat feodal. Para ilmuwan Islam seperti Ibnu Khaldun. sedangkan kehidupan politiknya ditandai oleh perebutan kekuasaan di antara para bangsawan. Lahirnya Magna Charta yang memuat perjanjian antara kaum bangsawan dengan Raja John di Inggris merupakan tonggak baru kemunculan demokrasi empirik.Gagasan demokrasi Yunani Kuno ini berakhir pada abad pertengahan. Namun demikian menjelang akhir abad pertengahan. yang isinya memuat dua prinsip yang sangat mendasar: pertama. telah mengilhami munculnya kembali gerakan demokrasi. Oleh karena itu demokrasi tidak muncul pada abad pertengahan ini. Dengan demikian kehidupan sosial politik dan agama pada masa ini hanya ditentukan oleh elit-elit masyarakat. Hitti dunia Islam telah memberikan sumbangan besar terhadap kemajuan dan perkembangan Eropa melalui terjemahan-terjemahan terhadap warisan Parsi Kuno dan Yunani Kuno dan menyeberangkannya ke Eropa.

Frederick pemerintah di sini dibatasi agar tidak menyalahgunakan kekuasaannya. Maka pemerintah tidak boleh bersifat pasif atau berlaku hanya sebagai penjaga malam. Jadi pemerintahan demokrasi yang demikian ini pemerintah hanya memiliki peran yang terbatas pada tugas eksekutif. 9 . Konsep demokrasi konstitusional ini disebut Negara Hukum Formal (klasik) pada abad ke-19 atau menurut Arif Budiman disebut negara Pluralisme. Salah satu ciri demokrasi konstitusional yang hidup pada abad ke-19 ialah sifat pemerintah yang pasif. property) harus dilndungi. Hak-hak politik rakyat dan hak-hak asasi manusia merupakan tema dasar dalam pemikiran politik (ketatanegaraan). yaitu negara yang tidak mandiri yang hanya bertindak sebagai penyaring berbagai keinginan dari interest group dalam masyarakat. Sehingga kekuasaan pemerintah diimbangi dengan kekuasaan parlemen dan lembagalembaga hukum. John Locke (1632-1704) mengemukakan bahwa hak-hak politik rakyat mencakup hak atas hidup. untuk itu timbullah gagasan tentang cara membatasi kekuasaan pemerintah melalui pembuatan konstitusi baik tertulis maupun tidak tertulis. tersebarnya paham sosialisme yang menginginkan pembagian kekuasaan secara merata serta kemenangan beberapa partai sosialis di Eropa.Di samping itu ada dua filusuf besar John Locke dan Montesquieu memberikan sumbangan besar bagi gagasan pemerintahan demokrasi. yakni bahwa pemerintah harus bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyat. kebebasan dan hak memiliki (live. yakni suatu sistem pemisahan kekuasaan dalam negara menjadi tiga bentuk kekuasaan yaitu legislatif. Konsep Negara Hukum Formal di atas mulai digugat menjelang abad ke-20 tepatnya setelah Perang Dunia II. eksekutif dan yudikatif yang masing-masing dipegang harus dipegang oleh organ sendiri-sendiri secara merdeka. Sedang Montesquieu (1689-1944) mengungkapkan sistem pokok yang dapat menjamin hak-hak politik tersebut melalui ³trias politica´. beberapa faktor yang mendorong gugatan ini menurut Mariam Budihardjo antara lain adalah akses-akses dalam industrialisasi dan sistem kapitalis. Gagasan inilah yang kemudian dinamakan konstitusionalisme atau demokrasi konstitusional. dalam arti hanya menjadi wasit atau pelaksana sebagai keinginan rakyat yang dirumuskan oleh wakil rakyat di parlemen. Gagasan bahwa pemerintah dilarang campur tangan dalam urusan warga negara di bidang sosial maupun ekonomi bergeser ke dalam gagasan baru. liberal. melainkan harus aktif melaksanakan upayaupaya untuk membangun kesejahteraan masyarakatnya dengan cara mengatur kehidupan ekonomi dan sosial. Menurut Carl J. pemerintah hanya menjalankan undang-undang yang telah dibuat oleh parlemen atas nama rakyat.

. perdamaian abadi dan keadilan sosial. . Kehidupan Demokrasi dalam Bermasyarakat. Kehidupan demokrasi ini sangat nyata diterapkan ketika ada suatu masalah dan semua warga dilibatkan untuk memecahkan masalah tersebut. hak legislasi (membuat peraturan di bawah undang-undang) dan droit function (menafsirkan sendiri aturan-aturan yang masih bersifat enunsiatif). Pemerintah Welfare State diberi tugas membangun kesejahteraan umum dalam berbagai lapangan (Bestuurzorg) dengan konskuensi pemberian kemerdekaan administrasi negara dalam menjalankannya. dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. berlakunya dibatasi oleh waktu tertentu). Masing-masing warga tentu memiliki pandangan atau pendapat tertentu terhadap masalah dan pemecahannya. Tetapi demokrasi tidak hanya diterapkan dalam memecahkan masalah saja.´ C. ³.. Itulah sebabnya kepada pemerintah diberikan ³Fres Ermessen´ atau ³Pouvoir discretionnair´. Gagasan Welfare State ini menyebabkan peranan pemerintah semakin luas. Negara Indonesia termasuk menganut konsep demokrasi welfare state. bisa saja dalam hal merumuskan 10 . Pemerintah diberi kemerdekaan bertindak atas inisiatif sendiri. yaitu kemerdekaan yang dimiliki oleh pemerintah untuk turut serta dalam kehidupan sosial dan keleluasaan untuk selalu terikat pada produk legislasi parlemen.Gagasan baru ini dikenal sebagai gagasan ³Welfare State´ atau ³Negara Hukum Material´ (Dinamis). bahkan fres ermessen mempunyai tiga macam aplikasi. rapat nagari dan sebagainya. Tetapi pada akhirnya demokrasi Welfare State ini juga mulai ditinjau ulang. karena konsep demokrasi di Barat masih terus berjalan dan mengalami perubahan yang signifikan. Berbangsa. Dalam kegiatan berdemokrasi tersebut warga mengambil bagian dalam proses pembuatan keputusan atau kebijakan yang menyangkut kepentingan bersama. mencerdaskan kehidupan bangsa. yaitu adanya hak inisiatif (membuat peraturan yang sederajad dengan Undang-undang tanpa persetujuan lebih dulu dari parlemen.. sebagaimana tersurat dalam Pembukaan UUD 1945 alinea ke-4 yang memuat tujuan nasional . yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum. di bidang legislasi misalnya. dan Bernegara Demokrasi telah lama berkembang di bumi Indonesia sebagai contoh adanya musyawarah adat. tidak hanya atas inisiatif parlemen. Jadi tidak hanya ketua adat atau kepala suku saja yang berhak membuat keputusan. rembug desa..

merupakan naluri dasar manusia sebagai makhluk sosial. di mana kedudukan lakilaki dan perempuan memiliki kodrat yang sama sebagai makhluk sosial. Kebebasan berkelompok. seperti media massa. gubernur. bahkan sangat mungkin negara akan mudah melakukan pelanggaran hak asasi manusia. Hak ini bergena untuk menyuarakan aspirasi dan gagasan setiap wara negra melalui berbagai saluran publik. ekonomi. dari rakyat. memberikan dukungan kepada siapapun sesuai dengan kepentingannya. oleh rakyat dan untuk rakyat. Hal ini sesuai dengan makna demokrasi. sesuai dengan sistem pemilihan yang berlaku. karya seni maupun melalui wakil-wakil rakyat di parlemen. Dalam kehidupan demokrasi ini politisi harus accountable. dan (4) Mencalonkan diri dalam pemlihan jabatan publik seperti kepala desa/lurah. dalam kehidupan bermasyarakat. anggota legeslatif bahkan presiden. Kedaulatan rakyat. Akibat lebih lanjut kehidupan demokrasi akan mati. sosial. memiliki akses yang sama dalam kehidupan politik. berbangsa dan Perlu diketahui dalam mengembangkan pemerintahan demokratis ada beberapa nilai demokrasi yang mutlak harus dilaksanakan ialah : Kebebasan berpendapat.kebijakan-kebijakan bersama bernegara. yakni melayani segala kebutuhan rakyat. Esensi kedaulatan adalah penciptaan otorisasi dan penegakan hukum sesuai standar persyaratan kebaikan umum. (2) Kontak atau berhubungan dengan pejabat pemerintah. di dalam negara demokrasi rakyat memiliki kedaulatan. bupati/wali kota. menjadi anggota atau membentuk partai politik. hal ini sangat dihargai dalam kehidupan demokrasi karena hal ini merupakan hak setiap warga negara. Oleh karena itu demokrasi tanpa kesetaraan gender akan berdampak ketidak adilan atau bahkan deskriminasi. Pengekangan terhadap kebebasan berpendapat akan menyebabkan negara menjadi represif dan tidak dapat dikontrol. Kesetaraan gender merupakan keniscayaan demokrasi. sSuatu pemerintahan demokrasi akan sulit 11 . Kehidupan demokrasi membuka banyak alternatif bagi warga negara untuk memiliki kebebasan berkelompok ini misal ikut berorganisasi. Kebebasan berpartisipasi. Mereka harus menyadari bahwa mandat yang mereka peroleh dari rakyat harus dikembalikan dalam bentuk pemberian pelayanan sebaik mungkin kepada rakyat. buku. hal ini sebenarnya ini sebenarnya gabungan dari kebebasan berpendapat dan kebebasan berkelompok yang meliputi : (1) Pemberian suara dalam pemilihan umum. Hal ini mengandung arti rakyat berdaulat dalam ikut menentukan pemerintahan. (3) Melakukan protes terhadap lembaga masyarakat atau pemerintah agar sistem politik bekerja lebih baik. Rasa percaya.

Pluralisme. Kerja sama ini dapat diwujudkan dalam bentuk sikap mau menerima pendapat orang lain dan konsisten dalam menerima segala keputusan yang telah ditetapkan bersama. Kondisi yang dimaksud adalah pertumbuhan ekonomi. percaya diri dan bermotivasi tinggi dalam kehidupan mereka.berkembang bila rasa saling percaya antar kelompok masyarakat tidak tumbuh. maka dapat dipastikan hubungan kelompok antar masyarakat akan terganggu secara permanen. Di dalam masyarakat plural ini setiap orang dapat bergabung dengan kelompok yang ada tanpa adanya rintangan-rintangan sistemik yang mengakibatkan terhalangnya hak untuk berkelompok atau bergabung dengan kelompok tertentu. Apabila yang ada adalah rasa ketakutan. Keadaan yang demikian dapat dibuktikan bahwa banyak negara yang pertumbuhan ekonominya rendah cenderung pemerintahnnya tidak demokratis. dalam suatu pemilihan individu atau kelompok diharapkan siap menang dan siap kalah. masyarakat plural dapat dipahami sebagai masyarakat yang terdiri dari berbagai kelompok. pluralisme dan hubungan yang seimbang antara negara dan masyarakat. Kemudahan bergabung dengan setiap kelompok yang ada juga diperkuat oleh kesediaan dan keragaman suatu kelompok dlam menerima kemenangan kelompok lain 12 . Hal ini menuntut tumbuhnya institusi politik yang responsif terhadap kebutuhan rakyatnya. Kerja sama bukan berarti menutup munculnya perbedaan pendapat antar individu atau antar kelompok. Pertumbuhan ekonomi. kekhawatiran. Apabila sikap ini dapat terwujud alangkah harmonisnya kehidupan demokrasi itu. karena kemakmuran ekonomi akan menghasilkan orang-orang yang lebih percaya diri dan menumbuhkan etos dalam dirinya untuk mencapai kehidupan yang lebih baik di masa depan. jika memadai menjadi salah satu aktor kondisional yang ikut mendorong tumbuhnya kehidupan demokrasi. Selanjutnya menurut Asykuri Ibn Chamim (2003) nilai-nilai demokrasi seperti tersebut di atas merupakan wacana normatif yang memerlukan kondisi tertentu sebagai landasan pengembangannya. dan bahkan permusuhan. Dan yang terakhir Kerja sama. Kondisi yang demikian akan sangat merugikan keseluruhan sistem politik dan sosial. sehingga hal ini juga akan memperbesar persentase masyarakat yang cenderung kritis. karena tanpa perbedaan maka demokrasi justru tidak berkembang. salah satu nilai yang mampu mendorong terwujudnya demokrasi adalah kerja sama. Akibat yang timbul dari pertumbuhan ekonomi ini juga mendorong masyarakat untuk mencapai tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Contoh kongkrit misalnya. kecurigaan. Akibat lebih lanjut agenda pemerintahan tidak terlaksana karena dukungan masyarakat sangat lemah karena adanya rasa tidak saling percaya tersebut.

Hubungan yang seimbang antara negara dan masyarakat. karena ada kecenderungan ³negara kuat´ akan melakukan represi terhadap masyarakat yang dianggap membahayakan negara. Demokrasi memerlukan sebuah negara kuat tetapi menghormati hukum. sehingga konflik dapat dihindari. kompetitif. memerlukan adanya partai politik. Demokrasi akan sulit berkembang apabila berada pada posisi ³negara kuat´ . Kalau begitu apakah memerlukan ³negara lemah´ ? Jawabnya. demokrasi akan membatasi peluang pemerintah untuk melaksanakan pemerintahan yang berlawanan dengan kehendak masyarakat luas. jujur dan adil. Pada perkembangan kehidupan bermasyarakat. antara lain : 1. berbangsa dan bernegara sekarang ini demokrasi merupakan pilihan banyak negara. pola hubungan negara dan masyarakat merupakan kondisi lain yang menentukan kualitas pengembangan demokrasi. Masyarakat yang heterogen membuka peluang bagi persaingan dan konflik antar kelompok yang ada. Dengan demokrasi warga masyarakat memiliki peluang untuk mengajukan alternatif kebijaksanaan ketimbang hanya menerima begitu saja apa yang diajukan pemerintah. dan rakyat. Biasanya dalam keadaan ³negara kuat´ tidak mengenal adanya kelompok kritis atau oposisi. Pemilu merupakan gerbang utama yang haus dilewati pemerintahan demokrasi. legeslatif. media massa. jelas tidak. karena negara yang lemah tidak mungkin bisa memainkan peran utamanya yaitu melindungi masyrakat dan mempertahankan kedaulatan negara.dalama sebuah persaingan secara jujur. Melalui pemilu juga akan diketahui seberapa 13 . Dengan kata lain. Negara seperti inilah yang dapat memberikan perlindungan bagi rakyatnya dan menjadi penopang bagi pengembangan nilai-nilai demokrasi. karena dengan pemilu lembaga-lembaga kenegaraan dapat dibentuk baik legeslatif maupun eksekutif. alasanya sangat jelas yaitu dengan demokrasi maka pemerintah akan dapat dikontrol oleh masyarakat. Di samping itu dengan demokrasi maka rakyat dapat membentuk asosiasi-asosiasi yang dapat mengimbangi kekuasaan pemerintah. Sehingga ³negara kuat´ cenderung akan melemahkan pondasi demokrasi. Untuk itulah ada parameter untuk mengamati apakah demokrasi terwujud atau tidak dalam suatu negara. Akan tetapi kemenangan suatu kelompok yang telah sesuai dengan aturan yang diakui secara kolektif harus diterima dengan tangan terbuka. warga mesyarakat dapat mengartikulasikan aspirasinya dan menyatakan dengan jelas apa kepentingannya. Pemilihan umum yang dilakukan secara teratur dengan tenggang waktu yang jelas. Oleh karena itu yang diperlukan dalam negara demokrasi adalah hubungan antara negara dan masyarakat/rakyat yang seimbang.

karena apabila suatu negara hanya seseorang yang berkuasa secara terus menerus atau hanya ada satu partai politik yang berkuasa mengendalikan pemerintahan. Di negara totaliter atau otoriter tidak akan terjadi karena rekrutmen politik hanya dilakukan tertentu baik individu maupun kelompoknya. karena jabatan yang mereka terima merupakan kepercayaan dari rakyat. Rekrutmen politik secara terbuka. Suatu negara dapat dikatakan demokratis apabila kekuasaan mayoritas digandengkan dengan jaminan hak asasi manusia (HAM). kebebasan menyatakan pendapat. Dilaksanakan atau tidaknya hak-hak dasar individu atau disebut sebagai basic human right. (e) jaminan HAM. Para pemegang jabatan politik harus bisa mempertanggungjawabkan kepada publik apa yang telah dilakukannya baik secara pribadi maupun sebagai pejabat publik. 4. Akuntasi publik. 3. (c) kekuasaan mayoritas. Apabila hak-hak dasar ini dilakukan dengan sepenuhnya maka dapat dinyatakan demokrasi sudah berjalan dengan baik. Lebih lanjut Alamudi menjelaskan bahwa dalam negara yang demkratis warga negara bebas mengambil keputusan melalui kekuasaan mayoritas. Hal terutama menyangkut kebebasan berserikat.besar kemungkinan rotasi kekuasaan. Apa yang dlakkan harus secara terbuka untuk diketahui publik. ekonomi dan politik. (i) pembatasan pemerintah secara konstitusional. Terwujudnya sebuah pengadilan yang independen. sehingga rakyat mempunyai peluang untuk melakukan kontrol terhadap proses penyelenggaran negara. maka dapat dikatakan negara yang demikian jauh dari demokrasi. (k) nilainilai toleransi. Parameter lain untuk dapat mengetahui demokratis atau tidaknya suatu pemerintahan dapat dilihat dari dipenuhi atau tidaknya unsur-unsur sebagai berikut : (a) kedaulatan rakyat. namun tidak benar bahwa kekuasaan mayoritas itu selalu demokratis. Pengadilan adalah yuri yang mampu bertindak netral apabila terjadi konflik dalam masyarakat. (g) persamaan di depan hukum. kerja sama dan mufakat (Alamudi:1994). (d) hak minoritas. (b) pemerintahan berdasarkan persetujuan dari yang diperintah. 2. 5. Kelompok mayoritas dapat melindungi kelompok minoritas. pragmatisme. dan sebagainya. kebebasan dari rasa takut. (j) pluralisme sosial. (f) pemilihan yang bebas dan jujur. hak-hak minoritas tidak dapat dihapuskan oleh suara mayoritas. (h) proses hukum yang wajar. 14 . kebebasan pers. Demokrasi memberikan peluang untuk mengadakan kompetisi karena semua orang dan kelompok memili hak dan peluang yang sama di bidang pemerintahan. Hal ini sangat diperlukan dalam rangka menciptakan keseimbangan antar berbagai kekuasaan yang ada dalam negara. baik konflik antara lembaga politik maupun konflik antara warga negara dengan pemerintah.

tetapi juga ada jenis budaya politik yang lebih menopang kehidupan politik totaliter.Oleh karena itu demokrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sangat membutuhkan dukungan dari berbagai lapisan sosial. Mengidentifikasikan ciri-ciri masyarakat madani 3. Musyawarah dan kesepakatan dalam keluarga merupakan bagian terpenting dalam proses pembelajaran demokrasi. bernegosiasi. Karakter publik juga tidak kalah pentingnya. Kesediaan warga masyarakat untuk saling toleransi terhadap keanekaragaman dan konflik antarkelompok maupun kesediaan untuk mengakui keabsahan kompromi juga sangat bermanfaat bagi perkembangan demokrasi. BAB II BUDAYA DEMOKRASI MENUJU MASYARAKAT MADANI Kompetensi Dasar : 1. seperti kepedulian sebagai warga negara. Menganalisis pelaksanaan demokrasi di Indonesia A. Karakter pribadi seperti tanggung jawab moral. Berdasarkan pengertian tersebut maka dapat diketahui bahwa budaya politik demokrasi merupakan pola-pola sikap dan orientasi politik yang bersumber dari nilainilai dasar demokrasi dan yang seharusnya dimiliki setiap warga dari sistem politik demokrasi. berpikir kritis dan kemauan untuk mendengar. terutama dukungan dari unit-unit keluarga dan berbagai komunitas sosial lainnya. dan kompromi merupakan karakter yang sangat diperlukan agar demokrasi dapat terlaksana. Selain itu budaya politik yang memberi nilai tinggi terhadap hubungan-hubungan hirarkis dan perbedaan yang sangat ekstrim akan sangat 15 . disiplin diri dari setiap individu adalah wajib dimiliki oleh setiap anggota masyarakat. Budaya politik yang diwarnai oleh kerja sama atas dasar saling percaya atarwarga masyarakat akan lebih mendukung demokrasi dari pada budaya politik yang diwarnai rasa saling curiga. kebencian dan saling tidak percaya dalam hubungan antarwarga. Macridis & Brown (1986) menyebut bahwa ada berbagai jenis budaya politik yang dapat menopang kehidupan politik demokratis. Mendiskripsikan pengertian dan prinsip-prinsip budaya demokrasi 2. mengindahkan aturan main (rule of law). Pengertian dan Prinsip-prinsip Budaya Demokrasi Mempelajari budaya demokrasi sudah barang tentu tidak bisa lepas dari budaya politik yakni pola-pola sikap dan orientasi politik yang dimiliki anggota suatu sistem politik.

Sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan ini antara lain : (1).mendukung pemerintahan non-demokratis dan kurang mendukung perkembangan demokrasi. Disiplin diri dan kesetiaan pada aturan-aturan yang diperlukan untuk memelihara pemerintahan demokratis tanpa tekanan dari otoritas di luar dirinya sendiri. dan (b) komitmen kewarganegaraan. menghargai keanekaragaman. Komitmen ini dapat dipilah menjadi : (1). totalitarian ditandai oleh Sedangkan budaya politik non-demokratis atau kecurigaan. keseragaman. tidak toleran. Komitmen kepada prinsip-prinsip dasar demokrasi. Toleransi terhadap keanekaragaman. Disposisi kewarganegaraan ialah sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan warga negara yang menopang perwujudan kebaikan bersama serta berfungsinya sistem demokrasi secara sehat. Inti kebajikan kewarganegaraan ialah tuntutan agar semua warga negara menempatkan kebaikan bersama di atas kepentingan pribadi. Branson (2001) menyebutkan bahwa setiap warga negara di dalam negara demokrasi harus memiliki civics virtues (kebajikan-kebajikan kewarganegaraan). Murah hatu terhadap sesama dan masyarakat luas. (10). (3). Sabar dan gigih dalam mengejar tujuan bersama. dan kompromi. hirarki. (4). seperti kedaulatan 16 . yaitu : (a) disposisi kewarganegaraan. Sedang masyarakat yang lebih mengutamakan pemenuhan kebutuhan memperoleh kekuasaan dan mengabaikan kebutuhan pihak lain akan cocok memiliki rezim yang otoriter atau totaliter. Sedangkan komitmen kewarganegaraan adalah kesetiaan kritis warga negara terhadap nilai-nilai dan prinsip-prinsip dasar demokrasi. (7). ketidapercayaan. dan ketidaksamaan derajat. Dalam tingkatan kehidupan individu sebagai warga negara. Keadaban (civility. (8). Hal ini meliputi dua aspek. (2). saling percaya. (6). Berdasarkan pernyataan di atas diperoleh pengertian ³budaya demokrasi´ adalah kerja sama. kesederajadan. Mengasihi sesama. Keterbukaan pikiran termasuk sikap skeptis yang sehat dan pengakuan terhadap sifat ambiguitas (mendua arti) kenyataan sosialdan politi. sebab tanpa hal ini sistem pemerintahan demokrasi tidak mungkin berjalan sebgaimana mestinya. toleransi. Kesediaan untuk berkompromi dan menerima kenyataan bahwa nilai-nilai dan prinsip-prinsip kadangkala saling bertentangan. (9). konflik. (5). kebencian. termasuk hormat kepada orang lain dan penggunaan wacana yang beradab). Sikap batin dan kehendak untuk menempatkan kebaikan bersama di atas kepentingan pribadi. Tanggung jawab pribadi dan kesediaan untuk menerima tanggung jawab bagi dirinya sendiri serta konsekuensi dari tindakan-tindakannya. dan bukan demokrasi.

dan sebagainya. dan patriotisme. Sebagai contoh kebajikan kenegaraan menurut Quigley (2002) adalah hormat pada harkat dan martabat setiap orang. mayority rule-minority right. kebaikan bersama. pembagian kekuasaan negara. Keleluasaan di sini bukannya tanpa batas. dan sebagainya. Nilaim ini juga tercermin dalam tanggung jawab pribadi dan kesediaan menerima tanggung jawab bagi dirinya sendiri serta konsekuensi dari tindakantindakannya. yakni meliputi kebebasan. persamaan menjadi pedoman perilaku rakyat berdaulat agar mereka mampu menghargai harkat martabat sesamanya. Sehingga sebagai nilai. Dengan demikian persamaan berarti tiadanya keistimewaan bagi siapapun dan memberi kesempatan yang sama kepada setiap dan semua orang. seperti kemerdekaan. menghormati kebenaran. solidaritas/persaudaraan. tetapi harus digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat bagi masyarakat dan dengan cara yang tidak melanggar aturan yang sudah disepakati bersama.kejujuran. persaudaraan. Sebagai nilai maka kebebasan ini menjadi pedoman perilaku rakyat bedaulat yang tercermin dalam menghargai kebebasan orang lain dan memanfaatkan kebebasan diri sendiri secara bertanggung jawab. Sedang komitmen-komitmen kenegaraan antara lain mencakup dedikasi kepada hak asasi manusia (HAM). Persamaan. dkk:2006) Kebebasan adalah keleluasaan untuk membuat pilihan terhadap beragam pilihan atau melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi kepentingan bersama atas kehendak sendiri tanpa tekanan pihak manapun. politik. persamaan. Selanjutnya dalam bahasan budaya demokrasi ini harus diketahui pula prinsipprinsip atau unsur-unsur yang mendukungnya. dan sebagainya. Pandangan demokrasi bahwa manusia itu berbeda-beda tetapi hakikatnya sama sederajat dalam nilainya dan harga keluhurannya sebagai manusia (dignity of man as human being) dalam masyarakat. toleransi. sama kedudukannya di dalam hukum. Jadi dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa nilai-nilai budaya demokrasi itu meliputi kebebasan. toleransi. pemerintahan. serta memiliki kesediaan untuk berkompromi dan menerima kenyataan bahwa nilai-nilai dan prinsip-prinsip kadangkala saling bertentangan. kesamaderajatan. dan (2). persamaan politik. menghormati penalaran. 17 . persamaan. integritas. keberadaban. persamaan. keadaban (Bambang Suteng. sistem check and balance. Komitmen kepada nilai-nilai dasar demokrasi. solidaritas. penalaran. konsultasi kepada rakyat. dan keberadaban. dan rule of law. disiplin diri. kasih sayang.rakyat.

Sebagai nilai. Toleransi adalah sikap atau sifat menghargai. prinsip. Sebagai nilai. Penalaran adalah penjelasan mengapa seseorang memiliki pandangan tertentu. dan menuntut hal serupa dari orang lain. Kejujuran adalah keterbukaan untuk menyatakan kebenaran. Komunikasi antarwarga negara sangat memerlukan kejujuran agar terbangun solidaritas yang kokoh antarsesama pendukung masyarakat demokratis. kelakuan. kebiasaan. tetapi ia akan memegang teguh pendiriannya itu dengan cara yang toleran dengan pandangan orang lain yang berbeda atau bahkan bertentangan dengan pendiriannya. misalnya tentang bagaimana semua keputusan pemerintah itu dibuat. mengasihi sesama dan murah hati terhadap sesama warga masyarakat. dan sebagainya yang bertentangan dengan pendirian sendiri. Dalam kehidupan yang demokratis dikenal ungkapan ³agree to disagree´ (setuju untuk tidak setuju). membela tindakan tertentu. dan atas pertimbangan apa sebuah kebijakan dipilih di antara sejumlah alternatif kebijakan yang ada. pandangan dan kepentingannya. Solidaritas ini menjadi penting dalam kehidupan demokrasi karena menjadi perekat agar tidak jatuh ke dalam perpecahan sebgai akibat terlalu mengutamakan kebebasan pribadi tanpa mengingat adanya persamaan hak maupun semangat kebersamaan. dalam negara demokratis prinsipnya rakyat mempunyai hak untuk mengetahui apa yang dikerjakan pemerintah dan bagaimana pemerintah mengerjakan tugasnya. pandangan. sikap diplin diri. Walapun ada pengecualiannya. membiarkan. Demikian juga pemerintah harus jujur dan terbuka kepada rakyat. Ungkapan ini menunjukkan adanya prinsip solidaritas.Solidaritas atau kesetiakawanan adalah kesediaan untuk memperhatuikan kepentingan dan bekerja sama dengan orang lain. Kebiasaan 18 . penghormatan terhadap kejujuran akan menumbuhkan integritas diri. kepercayaan. Kejujuran diperlukan agar hubungan antarpihak berjalan dengan baik dan tidak menimbulkan benih-benih konflik di masa depan. yakni demi alasan keamanan tidak perlu dinyatakan kepada rakyat. pendirian. maka solidaritas ini dapat menumbuhkan sikap batin dan kehendak ntuk menempatkan kebaikan bersama di atas kepentingan pribadi. Dalam masyarakat demokratis seseorang berhak memiliki pandangannya sendiri. Sebab. dan kesetiaan pada aturan-aturan. Sebagaim nilai. membolehkan pendapat. sikap saling percaya dan kesediaan untuk berkerja sama antar pihak yang berbeda keyakinan. sebab meskipun berbeda pandangan atau kepentingan mereka tetap sepkat untuk mempertahankan kesatuan atau ikatan bersama. toleransi dapat mendorong tumbuhnya sikap toleran terhadap keanekaragaman.

penalaran dapat mendorong tumbuhnya keterbukaan pikiran. Kemudian nilai-nilai dasar itu dijabarkan lebih rinci dan operasional dalam kehidupan demokrasi. Perilaku yang beradab adalah perilaku yang mencerminkan penghormatan terhadap dan mempertimbangkan kehadiran pihak lain sebagaimana dicerminkan oleh sopan santun dalam bertindak. (3). konsensus atau mufakat. Menjamin tegaknya keadilan. dan kepatuhan pada norma-norma yang berlaku dalam kehidupan bersama. maka pemerintah harus dapat menyesuaikan kebijakan publiknya dengan perubahan-perubahan itu. Menyelesaikan perselisihan secara damai dan melembaga antara lain melalui perundingan serta dialog terbuka agar tercapai kompromi. Pemerintah wajib memberikan penalaran terhadap kebijakan yang ditetapkannya agar warga negara mengetahui dengan benar apa yang dikerjakan pemerintah. Keadaban adalah ketinggian tingkat kecerdasan lahir batin atau kebaikan budi pekerti. yakni lembaga-lembaga negara 19 . Sebagai nilai. dkk:2006). Dalam demokrasi ada mayoritas dan minoritas dalam pengambilan keputusan. Penalaran ini akan mendorong terbangunnya masyarakat demokratis. (5). Menjamin terselenggaranya perubahan masyarakat secara damai. tetapi pemerintah juga hjarus menjaga agar perubahan-perubahan dalam masyarakat tetap terkendali. Menurut Henry B. menghindari penggunaan kekerasan. Mayo (Budihardjo:1980) nilai operasional yang menjadi landasan pelaksanaan demokrasi meliputi : (1). termasuk sikap skeptis yang sehat dan pengakuan terhadap sifat ambiguitas (kemenduaartian) kenyataan sosial dan politik. termasuk penggunaan bahasa tubuh dan berbicara beradab. (2). maka harus dijaga agar demokrasi tidak berubah menjadi tirani mayoritas. Perlu diketahui bahwa tantangan terberat bagi sebuah bangsa yang hendak membangun demokrasi adalah bagaimana mengembangkan budaya demokrasi dalam kehidupan bangsa yang bersangkutan. keanekaragaman kepentingan dan tingkah laku. (4). Menyelenggarakan pergantian pimpinan secara teratur. Kehidupan masyarakat memang selalu berubah. keadaban akan menjadi pedoman perilaku warga negara yang serba santun. Mengakui dan menganggap wajar adanya keanekaragaman dalam masyarakat yang tercermin dalam keanekaragaman pendapat. mengutamakan musyawarah untuk mencapai mufakat. Membatasi penggunaan kekerasan seminimal mungkin. Dalam hal ini paling tidak ada empat bidang yang harus mendapat perhatian (Bambang Suteng. (6).memberi penalaran akan menumbuhkan kesadaran bahwa ada banyak alternatif sumber informasi dan ada banyak kemungkinan cara untuk mencapai tujuan. Sebagai nilai.

antara lain pengisian jabatan lembaga negara harus demokratis melalui pemilihan umum atau pemilihan oleh wakil rakyat. partai-partai politik. Partai politik juga harus mampu melakukan kaderisasi agar mampu menyediakan calon-calon pemimpin bangsa yang bisa mewujudkan aspirasi rakyat. Mental dan keahlian aparat penegak hukum harus dibangun sehingga benarbenar mampu menerapkan prinsip rule of law demokrasi. masyarakat yang kritis dan berpartisipasi aktif serta masyarakat egaliter (Tim ICCE UIN:2003). Masyarakat madani merupakan elemen yang sangat signifikan dalam membangun demokrasi. Sebab salah satu syarat penting bagi demokrasi adalah terciptanya 20 . dan partisipatif. Pelaku ekonomi harus pula membangun diri agar mampu melakukan kegiatan ekonomi dalam suasana kehidupan demokrasi untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Membangun masyarakat madani merupakan bagian dari upaya melewati masa transisi menuju demokrasi melalui pengembangan budaya politik demokratis. Masyarakat madani (civil society). akuntabel (dapat dipertanggungjawabkan). kekuasaannya kepada rakyat. korupsi. pelaku ekonomi. dan harus mampu bekerja secara efektif dan efisien. Untuk itu pelaku ekonomi harus mengindari suap. pejabat negara harus mempertganggungjawabkan penggunaan kekuasa. dengan penjelasan berikut: Lembaga-lembaga negara termasuk birokrasi pemerintah harus dibangun agar menjadi lembaga pelaksana kedaulatan rakyat. masyarakat yang bebas dari pengaruh kekuasaan dan tekanan negara. kolusi dan nepotisme yang hanya mensejahterakan sekelompok orang. dan masyarakat madani (civil society). Kehidupan masyarakat harus dibangun agar mampu menjadi kekuatan pengontrol terhadap penyelenggara negara agar pemerintah tidak menyimpang dari koridor demokrasi. harus menerapkan asas keterbukaan (transparan).termasuk birokrasi pemerintah. Masyarakat Madani (civil society) Masyarakat madani (civil society) memiliki ciri sebagai masyarakat terbuka. Partai-partai politik harus dibangun agar mampu berperan sebagai perumus dan pemadu aspirasi rakyat untuk kenudian memperjuangkannya melalui wakil-wakil rakyat di lembaga pemerintahan. yang dibutuhkan dalam negara B. harus mampu mewujudkan pemerintahan yang bersih dan berwibawa.

Mohammad AS Hikam (1993) memberikan batasan civil society sebagai wilayah kehidupan sosial yang terorganisasi dan bercirikan. perlindungan etnis minoritas. warga masyarakat sendiri yang membentuknya bukan pemerintah. perlindungan kaum cacat (difabel). ide-ide. yang berbeda dari lembaga-lembaga negara yang resmi. Maka sebagai jaringan kerja antarlembaga yang terpisah dari negara namun tunduk terhadap aturan hukum yang berlaku. perlindungan korban diskriminasi. sehingga memungkinkan tumbuhnya sikap terbuka. dan sebagainya. para pengguna istilah itu umumnya sependapat bahwa civil society adalah jaringan kerja yang kompleks dari organisasi-organisasi yang dibentuk secara sukarela. kepercayaan. otonom dari negara. percaya dan toleran antarsatu dengan yang lain yang sangat penting artinya bagi bangunan politik demokrasi (Saiful Mujani:2001). (2) 21 . (4). dan informasi publik (contoh. perkumpulan keagamaan. Civil society mewujudkan dalam berbagai organisasi yang dibuat masyarakat di luar pengaruh negara. kemandirian tinggi berhadapan dengan negara. nilai-nilai. gerakan-gerakan perlindungan konsumen. Istilah civil society adalah berkaitan dengan interaksi-interaksi sosial yang tidak dikuasai oleh negara (Patrick: 2001). lahir secara mandiri. yayasan penyelenggara sekolah swasta. setidaknya berswadaya secara parsial. kesukuan. Lary Diamond (2003) menyatakan bahwa civil society melingkupi kehidupan sosial terorganisasi yang terbuka. organisasi-organisasi yang bergerak di bidang produksi dan penyebaran pengetahuan umum. dan keterikatan dengan norma-norma atau nilai-nilai hukum yang diikuti oleh warganya. keswasembadaan (self-generating) dan keswadayaan (self-supporting). civil society merupakan wilayah publik yang diciptakan dan dijalankan oleh warga negara biasa (bukan pejabat pemerintah). antara lain : kesukarelaan (voluntary). dan sebagainya. kebudayaan yang membela hak-hak kolektif. perkumpulan dan jaringan perdagangan yang produktif. perlindungan hak-hak perempuan. yang memupunyai ciri-ciri : (1) lahir secara mandiri. dan yang bertindak secara mandiri atau dalam kerja sama dengan lembaga-lembaga negara. (3). asosiasi penerbitan.partisipasi masyarakat dalam proses-proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh negara atau pemerintahan. dan sebagainya). Civil society ini meliputi : (1). Lebih dari itu. berita-berita. (2). dan terikat pada tatanan legal atau seperangkat nilai bersama. Berdasarkan hal-hal di atas maka dapat diketahui bahwa civil society tersusun atas berbagai organisasi kemasyarakatan. Masyarakat madani mensyaratkan adanya civic engagement yaitu keterlibatan warga negara dalam asosiasi-asosiasi sosial. suka rela.

atau atas kesadaran masing-masinganggota. sehingga berani mengontrol penggunaan kekuasaan negara. adanya perbedaan pandangan. Kemandirian terhadap negara tidak boleh diartikan sebagai peluang untuk melakukan tindakan anarkis. Masyarakat madani (civil society) dan demokrasi menurut Gellner (2001) merupakan dua kata kunci yang tidak dapat dipisahkan. Pelaksanaan Demokrasi di Indonesia 22 . yang bertolak belakang dengan watak keberadaban. Dengan demikian masyarakat madani (civil society) menjadi sangat penting keberadaannya dalam mewujudkan demokrasi.keanggotaannya bersifat suka rela. Masyarakat madani ini dapat menjalankan peran dan fungsinya sebagai mitra dan patner kerja lembaga eksekutif dan legeslatif serta yudikatif. adanya keragaman dan konsensus. Ciri yang kelima ini menegaskan keterikatan civil society pada budaya politik demokratis. masyarakat madani bukan hanya merupakan syarat atau prakondisi bagi demokrasi semata. (4) bebas atau mandiri dari kekuasaan negara. sehingga salah mengartikan konsep kemandirian sebagai konsep yang boleh melanggar tatanan hukum yang dibuat oleh negara. Demokrasi dapat dianggap sebagai hasil dinamika masyarakat yang menghendaki adanya partisipasi. Sebagai perwujudan masyarakat madani secara kongkrit dibentuk berbagai organisasi di luar negara yang disebut dengan nama NGO (non government organization). (3) mencukupi kebutuhannya sendiri (swadaya). paling tidak untuk sebagian. Selain itu demokrasi merupakan pandangan mengenai masyarakat dalam kaitan dengan pengungkapan kehendak. tetapi tatanan nilai dalam masyarakat madani seperti kebebasan dan kemandirian juga merupakan sesuatu yang inheren baik secara internal (hubungan antar sesama warga negara) maupun secara eksternal (hubungan negara dengan masyarakat atau sebaliknya). tetapi juga dapat melakukan kontrol sosial (social control) terhadap pelaksanaan kerja lembaga tersebut. yang di Indonesia dikenal dengan nama ³lembaga swadaya masyarakat´ (LSM). Tatanan nilai-nilai masyarakat tersebut ada dalam masyarakat madani (civil society). C. Menurut Gellner. Karena itu demokrasi membutuhkan tatanan nilai-nilai sosial yang ada pada masyarakat madani. sehingga tidak bergantung pada bantuan pemerintah/negara. Namun keterikatan ini seringkali dilupakan oleh warga masyarakat yang baru saja menikmati kebebasan politiknya. dan (5) tunduk pada aturan hukum yang berlaku atau seperangkat nilai/norma yang diyakini bersama.

presiden membubarkan DPR hasil pemilihan umum. III/1963 yang mengangkat Ir. di mana presiden sebagai kepala negara. bangsa dan negara. (a) tiap orang diwajibkan untuk berbakti kepada kepentingan umum. Pasang surut pelaksanaan demokrasi ini dari segi waktu dapat dibedakan dalam empat periode. berkembangnya pengaruh komunis dan meluasnya peranan ABRI sebagai unsur sosial politik. periode 1959 ± 1965. sedang kepala pemerintahan di tangan Perdana Menteri. 1. (b) tiap-tiap orang berhak mendapat penghidupan yang layak dalam masyarakat. maka mendorong Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang isinya antara lain menyatakan berlakunya kembali UUD 1945. dan periode 1998 ± sampai sekarang. presiden membentuk DPR-GR sehingga fungsi kontrol DPR hampir tidak ada. tetapi pada pelaksanaannya terjadi penyimpangan antara lain dengan Ketetapan MPRS No. Keadaan ini diperparah dengan gagalnya Konstituante membentuk Undang-undang Dasar yang baru. Syafi¶i Ma¶arif demokrasi terpimpin ini sebenarnya ingin menempatkan Soekarno sebagai ³ayah´ dalam famili besar yang bernama Indonesia dengan kekuasaan yang terpusat di tangannya. Hal ini dibuktikan dengan diberlakukannya tiga konstitusi yang memuat ketentuan langsung maupun tidak langsung menyatakan bahwa Indonesia adalah negara demokrasi. sehingga berakibat destabilisasi politik nasional. Perlu diketahui pada masa demokrasi terpimpin ini memiliki prinsip-prinsip dasar . koalisi yang dibangun sangat mudah pecah. Dalam pandangan A. yaitu. Soekarno sebagai Presiden seumur hidup. periode 1965 ± 1998. periode 1945 ± 1959. terbatasnya peranan partai politik. Meskipun UUD 1945 dinyatakan kembali berlaku.Pelaksanaan demokrasi di Indonesia mengalami fluktuasi (pasang surut) dari masa awal kemerdekaan sampai saat sekarang. Dengan demikian kekeliruan yang sangat 23 . Sejak saat itu berakhirlah masa demokrasi parlementer di Indonesia. Presiden mencanangkan demokrasi pada periode dengan nama ³demokrasi terpimpin´ yang pada hakikatnya sangat bertentangan dengan jiwa dan semangat UUD 1945. bangsa dan negara. 2. Namun sejak awal kemerdekaan bangsa Indonesia menyatakan komitmennya untuk mewujudkan negara demokrasi. Karena fragmentasi partai-partai politik maka usia kabinet jarang dapat bertahan lama. Demokrasi pada Periode 1945 ± 1959 Pada masa ini dikenal dengan sebutan demokrasi parlementer. Demokrasi pada Periode 1959 ± 1965 Pemerintahan pada periode ini dikenal sebagai Orde Lama dengan ciri-cirinya adalah dominasi dari Presiden. masyarakat.

Demokrasi pada Periode 1965 ± 1998 Landasan formil pada perode ini adalah Pancasila. Kehidupan demokrasi berusaha dibangun untuk melaksanakan pemerintahan antara lain mulai tahun 1971 pemilihan umum diselenggarakan untuk kurun waktu tiap lima tahun ke depan. Demokrasi Periode 1998 ± sekarang 24 . Karena dalam praktik kenegaraan dan pemerintahan rezim ini sangat tidak memberikan ruang bagi kehidupan berdemokrasi. Dengan demikian nilai-nilai demokrasi juga belum ditegakkan dalam demokrasi Pancasila Soeharto. (g) Inkorporasi lembaga non pemerintah. (b) Birokratisasi dan sentralisasi pengambilan keputusan. Sehingga secara umum dapat dijelaskan bahwa demokrasi Pancasila tidak berbeda dengan demokrasi pada umumnya.mendasar dalam demokrasi terpimpin Soekarno adalah adanya pengingkaran terhadap nilai-nilai demokrasi yaitu absolutisme dan terpusatnya kekuasaan hanya pada diri pemimpin. (f) Monolitasi ideologi negara. Demokrasi pada periode dikenal dengan istilah demokrasi Pancasila dengan beberapa perumusannya (Tim ICCE UIN: 2003) : (a) Demokrasi pada bidang politik pada hakikatnya adalah menegakkan kembali asas-asas negara hukum dan kepastian hukum. Seperti yang dikatakan oleh M. (d) Campur tangan pemerintah dalam berbagai urusan partai politik dan publik. sehingga tidak ada ruang kontrol sosial dan chek and balance dari legeslatif terhadap eksekutif. Pada periode pemerintah berusaha mengembalikan kemurnian pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945. Undang-Undang Dasar 1945 serta Ketetapan-Ketetapan MPRS. Tujuh ciri tersebut menjadikan hubungan negara versus masyarakat secara berhadap-hadapan dan subordinat. (c) Demokrasi dalam bidang hukum pada hakikatnya bahwa pengakuan dan perlindungan HAM. yakni memandang kedaulatan rakyat sebagai inti dari sistem demokrasi. sehingga periode ini dikenal sebagai Orde Baru. (b) Demokrasi dalam bidang ekonomi pada hakikatnya adalah kehidupan yang layak bagi semua warga negara. 4. (c) Pengibirian peran dan fungsi partai politik. Namun demikian ³demokrasi Pancasila´ dalam rezim Orde Baru hanya sebagai retorika dan gagasan belum sampai pada tataran praksis atau penerapan. (e) Massa mengambang. Rusli Karim (Tim ICCE UIN: 2003) rezim Orde Baru ditandai oleh : (a) Dominannya peranan ABRI. peradilan yang bebas yang tidak memihak. 3. di mana negara atau pemerintah sangat mendominasi.

(c) adanya kebebasan pers. (b) desain institusi politik. Transisi demokrasi ini merupakan fase krusial yang kritis. DPRD dab DPD) mampu mengawal transisi menuju demokrasi. Pertama. Kedua. reformasi kelembagaan (institutional reform and empowerment) yang menyangkut pengembangan dan pemberdayaan lembaga-lembaga politik. Sukses atau gagalnya suatu transisi demokrasi sangat bergantung pada empat faktor kunci (Azyumardi Azrz: 2002). (d) peran civil society (masyarakat madani). (d) dijalankannya kebijakan otonomi daerah. pengembangan kultur dan budaya politik (political culture) yang lenih demokratis. Merumuskan pengertian dan hakikat hak asasi manusia.Runtuhnya rezim otoriter Orde Baru telah membawa harapan baru bagi tumbuhnya demokrasi di Indonesia. reformasi sistem (constitutional reform) yang menyangkut perumusan kembali falsafah. masih menjadi pertanyaan besar. 25 . UU Pemilu. Ketiga. 2. Sehingga yang harus dilakukan dalam transisi demokrasi di Indonesia sekurang-kurangnya mencakup reformasi dalam tiga bidang. UU Pemilihan Presiden dan wakil Presiden. Mendeskripsikan perkembangan pemikiran hak asassi manusi secara umum dan yang berkemabng di Indonesia. (b) diamandemennya pasal-pasal dalam konstitusi negara Republik Indonesia (amandemen I-IV). yakni : (a) komposisi elite politik. Indikasi ke arah terwujudnya kehidupan demokratis dalam era transisi menuju demokrasi di Indonesia antara lain adanya: (a) reposisi dan redefinisi TNI dalam kaitannya dengan keberadaannya pada sebuah negara demokrasi. Akan tetapi sampai saat inipun masih dijumpai indikasi-indikasi kembalinya kekuasaan status quo yang ingin membalikkan arah demokrasi Indonesia kembali ke periode sebelum orde reformasi. dan perangkat legal sistem politik. (c) kultur politik atau perubahan sikap terhadap politik di kalangan elite dan non-elite. karena bisa saja perjalanan demokrasi bangsa Indonesia kembali lagi ke masa otoriter seperti masa Orde Lama dan Orde Baru. kondisi transisi demokrasi di Indonesia untuk saat ini masih berada di persimpangan jalan belum jelas ke arah mana berlabuhnya. kerangka dasar. Oleh sebab itu. Bergulirnya reformasi yang mengiringi runtuhnya rezim tersebut menandakan tahap awal bagi transisi demokrasi di Indonesia. UU Susunan dan Kedudukan DPR. dan sebagainya. Perubahan sistem politik melalui paket amandemen konstitusi (UUD 1945) dan pembuatan paket perundang-undangan politik (UU Partai Politik. BAB III HAK ASASI MANUSIA Kompetensi Dasar 1.

Dalam Islam antara huqua al-insan addhoruriyah dan huquq Allah tidak dapat dipisahkan atau berjalan sendiri-sendiri tanpa adanya keterkaitan satu dengan alainnya. kekebalan serta menjamin adanya peluang bagi manusia dalam menjaga harkat dan martabatnya. pemajuan. Selanjutnya John Locke manyatakan bahwa hak asasi manusia adalah hal-hak yang diberikan langsung oleh Tuhan sebagai hak yang kodrati (Mansyhur Effendi. Pengetian dan Hakikat Hak Asasi Manusia Secara definisi hak merupakan unsur normatif yang berfungsi sebagai pedoman berperilaku. 6. penegakan. 5. perlindungan. A. Istilah yang dikenal di Barat mengenai HAM ialah ³right of man´. Karena itu istilah ³right of man´ diganti dengan istilah ³human right´ oleh Eleanor Roosevelt karena dipandang lebih netral dan universal. Hak ini sifatnya sangat mendasar (fundamental) bagi hidup dan kehidupan manusia dan merupakan hal kodrati yang tidak terlepas dari dan dalam kehidupan manusia. Menseskripsikan penanggungjawab. 1994). Dengan demikian hak merupakan unsur normatif yang melekat pada diri setiap manusia yang dalam penerapannya berada pada ruang lingkup hak persamaan dan hak kebebasan yang terkait dengan interaksinya antara individu atau dengan instansi. Sementara iru HAM dalam Islam dikenal dengan istilah huquq al-insan ad-dhoruriyah dan huquq Allah. Oleh karenanya tidak ada kekuasaan apapun yang dapat mencabutnya. melindungi kebebasan. c) pihak yang bersedia dalam penerapan hak Ketika unsur tersebut menyatu dalam pengertian dasar tentang hak. 4. Menurut pendapat Jan Materson (dari Komisi HAM PBB). yang tanpanya manusia mustahil dapat hidup sebagai manusia. (2) ruang lingkup penerapan hak. Merumuskan bentuk-bentuk hasi asasi manusia. Istilah ³right of man´ ternyata tidak secara otomatis mengakomodasi pengertian yang mencakup ³right of woman´. Memahami perundang-undangan nasional yang mengatur mengenai hak asasi manusia. Hak menpunyai nunsur-unsur sebagai berikut : (1) Pemilik hak. Inilah yang menyebabkan konsep Barat tantang HAM dengan konsep Islam. dan pemenuhan akan hak asasi manusia. Dalam Undang-Undang (UU) Nomor 39 tahun 1999 tentang HAM pasal 1 disebutkan bahwa ³HAM adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai nakhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupupakan 26 . yang mengantikan istilah ³natural right´. Menseskripsikan mengenai pelanggaran dan proses peradilan hak asasi manusia. hak asasi manusia adalah hak yang melekat pada satiap manusia.3.

Jadi dapat disimpulkan hakikat dari HAM adalah keterpaduan antara HAM. dapat dipastikan akan menimbulakan kekacauan anarkisme dan kesewenangwenangan dalam tata kehidupanumat beragama. masyarakat atau negara. menjadi kewajiban dan tanggung jawab bersama antara inividu. HAM adalah bagian darimanusia secara otomatis. etmis. dapat ditarik kesimpulan tentang beberapa ciri pokok hakikat HAM yuaitu: (1) HAM tidak perlu diberikan. hukum. dibeli ataupun diwarisi. Dengan demikian hakikat penghomatan dan perlindungan terhadap HAM ialah menjaga keselamatan ekstensitas manusia secara utuh melalui aksi keseimbangan yaitu keseimbangan antara hak dan kewajiban. dapat disimpulkan bahwa HAM merupakan hak yang melekat pada diri manusia yang bersifat kodrati dan fundamental sebagai suatu anugrah Allah yang harus dihormati. bernegara dan pergaulan global tidak berjalan secara seimbang. Perkembangan Pemikiran HAM di Barat dan Indonesia 27 . pemenuhan perlindungan dan penghormatan terhadap HAM harus dikuti dengan pemenuhan terhadap KAM (kewajiban asasi manusia) TAM (tanggung jawab asasi manusia) dalam kehidupan pribadi. bahkan negara. melindungi dan menjunjung tinggi HAM. serta keseimbangan antara kepentingan perseorangan dan dengan kepentingan umum. dijunjung tinggi. KAM dan TAM) yang melekat pada setiap individu manusia. bermasyarakat dan bernegara. pemerintah dan setiap orang demi kehormatan serta negara perlindungan harkat dan martabat manusia´. Tidak seorangpun mempunyai hak untuk membatasi atau melanggar hak orang lain. ras. baik dalam tatanan dalam kehidupan pribadi beemasyarakat. Karena itu.anugerah-Nya yang wajib dihormati. Begitu juga dalam memenuhi kepentingan perseorangan tidak boleh merusak kepentingan orang banyak (kepentingan umum). dan dilindungi oleh negara.orang tetap mempunyai HAM walaupun sebuah negara membuat hukum yamg tidak melindungi atau melanggar HAM (Mansour Fakih. Berdasarkan beberapa rumusan pengertian HAM di atas. 2003). B. Berdasarkan beberapa rumusan HAM di atas. KAM. dan TAM yang berlangsung secara sinergis dan seimbang. (2) HAM berlaku untuk semua orang tanpa memandang jenis kelamin. berbangsa. dan (3) HAM tidak bisa dilanggar. pandangan politik asal usul sosial dan bangsa. Jadi dalam memenuhi dan menuntut hak tidak terlepas dari pemenuhan kewajiban yang harus dilaksanakan. Bila ketiga unsur asasi (HAM. pemerintah. Upaya menghormati. dijaga dan dilindungi oleh seriap individu. agama.

Selanjutnya. freedom of religion (bebas menganut kenyakinan/agama yang dikehendaki). The right of property (perlindungan hak milik). Magna Charta telah menghilangkan hak absolutisme raja. 1994). Hukum alam merupakan produk rasio manusia demi terciptanya keadilan abadi. menjadi dibatasi kekuasaannya dan mulai dapat diminta pertanggunggungjawabannya dimuka hukum (Masyhur Effendi. kemudian ditahan dan dituduh. Salah satu muatan hukum alam adaklah hak-hak pemberian dari alam (naturals rights). ia harus dibelenggu. sebagaimana dimuat dalam the Rule of Law yang antara lain isinya tidak boeh ada penangkapan dan penahanan yang semena-mena. 28 . pada tahun 1789 lahirlah The French Declaration (Deklarasi Parncis).Pembicaraan mengenaig HAM tidak terlepas dari pengakuan terhadap adanya hukum alam (natural law) yang menjadi cikal bakal bagi kelahiran HAM. karena dalam hukum alama ada sistem keadilan yang berlaku universal (Masyur Effendi. Dalam deklarasi ini dipertegas bahwa manusia adalah merdeka sejak di dalam perut ibunya. Pada umumnya para pakar di Eropa berpendapat bahwa lahirnya HAM di kawasan Eropa dumulai dengan lahirnya Magna Charta yang antara lain membuat pandangan bahwa raja yang tadinya memiliki kekuasaan absolut (raja yang menciptakan hukum. sampai ada keputusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap yang menyatakan ia bersalah. Hukum alam merupakan satu konsep dari prinsip-prinsip umum moral dan sistem keadilan yang berlaku untuk seluruh umat manusia. dan hak-hak dasar lainnya. berhak dinyatakan tidak beralah. 1994). karenannya manusia akan mematuhi hukum alam tersebut. termasuk penangkapan tanpa alasan yang sah dan penahanan tanpa surat perintah yang dikeluarkan oleh pejabat yang sah. masalah keadilan yang merupakan inti dari hukum alam menjadi pendorong bagi upaya penghormatan dan perlindungan harkat dan martabat kemanusiaan universal. Kemudian prinsip itu dipertegas oleh prinsip freedom of exspressio]n (kebebasan mengeluarkan pendapat). Jadi. dalam french Declaration sudah tercakup hak-hak yang menjamin tumbuhnya demokrasi maupun negara hokum (Masyhur Efendi. sehingga tidaklah logis bila sesudah lahir. Perkembangan HAM selanjutnya ditandai dengan munculnya The American Declaration of Independence. yang merumuskan hak lebih dirinci lagi. Sejak itu mulai dipraktikan kalau raja melanggar hukum harus diadili dan pertanggungjawabkan kebijakan pemerintahannya kepada parlemen. Dalam kaitan itu berkaitan berlaku prinsip Presumtion of innocent. Dengan demikian. artinya orang-orang yang ditangkap.1994). Hukum alam diatur berdasarkan logika manusia. tetapi ia sendiri tidak terikat dengan hukum yang dibuatnya).

sehingga tidak satupun bangsa (negara) berada dalam posisi berkeinginan untuk melakukan serangan terhadap negara lain (Mayhur Efendi. karena banyak hak-hak rakyat lainnya yang dilanggar. sosial and Cultural Eights dan International Covement on civil and political Rights. ekonomi. hak kebebasan dari ketakutan. hak ekonomi dalam arti pembangunan ekonomi menjadi prioritas utama. Generasi kedua pemikiran HAM tidak saja menuntut hak yuridis melainkan juga hak-hak asasi sosial ekonimi. yaitu hak kebebasan berbicara dan menyatakan pendapat. Generasi ketiga menjanjikan adanya kesatuan antara hak ekonomi.Perkembangaannya yang lebih signifikan adalah dengan kemunculan The Four Freedom dari Presiden Roosevelt pada Tahun 1941. politik dan budaya. pengurangan persenjataan. Generasi ketiga sebagai reaksi pemikiran HAM generasi kedua. Keadalan dan 29 . Dalam pelakasanaan hasil pemikiran HAM generasi ketiga juga mengalami ketidakseimbangan. politik dan budaya secara merata. Pada masa generasi kedua. Generasi pertama berpendapat bahwa pengertian HAM hanya berpusat pada bidang hukum dan politik. hak kebebasan memeluk agama dan beribadat sesuai dengan ajaran agama yang dipeluknya. politik dan hukum dalam satu keranjang yang desebut dengan hak-hak melaksanakan pembangunan (The Rights of Development). hak yuridis kurang mendapat penekanan sehingga terjadi ketidakseimbangan dengan hak sosial-budaya. Pada generasi kedua ini lahir dua covemen yaitu International Covenant on Economic. Ada empat hak yang dikemukakannya. hukum. hak ekonomi dan hak politik. Kalau kata ³pembangunan´ tetap dipertahankan. sedangkan hak lainnya terabaikan sehingga menimbulkan banyak korban. maka pembangunan haruslah berpihak pada rakyat dan diarahkan untuk redistrbusi kekayaan national serta redistribusi sumber-sumber daya sosial. yang meliputi usaha. budaya. Jadi pemikiran HAM generasi kedua menunjukkan perluasan pengertian konsep dan cakupan hak asasi manusia. Kedua Covenant tersebut disepakati dalam sidang umum PBB 1966.. totaliterisme dan adanya keinginan negara-negara yang baru merdeka untuk menciptakan suatu tertib hukum yang baru. kebebasan dari kemiskainan dalam pengertian setiap bangas berusaha mencapai tingkat kehidupan yang damai dan sejahtera bagi penduduknya. sosial. 1994). Secara garis besar perkembangan pemikiran HAM dibagi pada 4 generasi. Pemikiran HAM terus berlangsung dalam rangka mencariu rumusan HAM yang sesuai dengan konteks ruang dan zamannya. Fokus pemikiran HAM generasi pertama pada bidang hukum dan politik disebabkan oleh dampak dan situasi perang dunia II.

Pemikiran HAM generasi keempat dipelopori oleh negara-negara di kawasan asia yang pada tahun 1983 melahirkan deklarasi hak asasi manusia yang menginginkan lahirnya tatanan sosial berkeadilan. Ahmad Soebardjo. Pemimpin Boedi Utomo memperlihatkan adanya kesadaran berserikat dan mengeluarkan pendapat melalui petisi-petisi yang ditujukan kepada pemerintah kolonial maupun dalam tulisan yang dimuat surat kabar Goeroe Desa.Sedangkan pemahaman HAM di Indonesia sebagai tatanan nilai. sebagai organisasi pergerakan. Setelah banyaknya dampak negatif yang ditimbulkan dari pemikiran HAM generasi ketiga. karena tidak saja mencakup tuntutan struktural tetapi juga berpihak kepada terciptanya tahanan sosial yang berkeadilan. norma. Bentuk pemikirannya mencakup bidang hak kebesaran berserikat dan mengeluarkan pendapat. bukan setelah pembangunan itu selesai. Pemikiran HAM juga muncul di Perhimpunan Indonesia. tema-temanya banyak dipengaruhi oleh para tokohnya seperti Muhammad Hatta. konsep yang hidup di masyarakat dan acuan bertindak pada dasarnya telah berlangsung cukup lama.A. 1. Secara garis besar Bagir Manan (2001) membagi perkembangan pemikiran HAM di Indonesia dalam dua periode. Periode Sebelum Kemerdekaan Boedi Oetomo. Deklarasi ini lebih maju dari rumusan generasi ketiga. . menaruh perhatian terhadap masalah HAM. Sedang pemikiran HAM dalam Sarekat Islam lebih menekankan pada usahausaha untuk memperoleh penghidupan yang layak dan bebas dari penindasan dan diskriminasi rasial. Deklarasi tersebut juga secara positif mengukuhkan keharusan imperatif dari negara untuk memenuhi hak asasin rakyatnya. Sedangkan pemikiran HAM dalam Partai Komunis Indonesia sebagai partai berlandaskan Maxisme lebih condong pada hak-hak sosial dan 30 . Selain itu program pembangunan yang dijalankan tidak berdasarkan kebutuhan rakyat secara keseluruhan melainkan memenuhi kebutuhan kelompok elit. Pemikiran HAM mereka lebih menitik beratkan pada hak untuk menentukan nasib sendiri (the right of self determination). kahirlah generasi keempat yang mekritik peranan negara yang sangat dominan dalam proses pembangunan yang terfokus pada pembangunan ekonomi dan menimbulkan dampak degatif seperti diabaikannya aspek kesejahteraan rakyat. Maramis dan sebagainya.pemenuhan hak asasi haruslah dimulai sejak dimulainnya pembangunan itu sendiri. yaitu periode sebelum dan sesudah kemerdekaan. A. Selain itu deklarasi HAM Asia tersebut juga telah berbicara mengenai masalah µkewajiban asasi¶ bukan hanya µhak asasi¶.

karena itu HAM di Indonesia mempunyai akar sejarah yang sangat kuat. hak berserikat. Kebebasan pers sebagai salah satu pilar demokrasi 31 . Semakin banyak tumbuh partai-partai politik dengan beragam idiologinya masing-masing. hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak. Bersamaan dengan itu prinsip kedaulatan rakyat dan negara berdasarkan atas hukum dijadikan sebagai sendi bagi penyelenggaraan negara Indonesia merdeka. hak untuk memeluk agama dan kepercayaan. pemikiran dan aktualisasi HAM pada periode ini mengalami ³pasang´ dan menikmati ³bulan madu´ kebebasan. Indikatornya ada tiga aspek yait : (1). (2). Periode Setelah Kemerdekaan Pemikiran HAM pada periode awal kemerdekaan masih menekankan pada hak untuk merdeka (self deteriminasi). Konsen terhadap HAM pada Indische Partij. hak mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan. erpa demokrasi parlementer. Pemikiran HAM sebelum Indonesia merdeka juga terjadi dalam perdebatan di Sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) antara Soekarno dan Soepomo di satu pihak dengan Mohammad Hatta dan Mohammad Yamin pada pihak lain. Dengan demikian gagasan dan pemikiran HAM di Indonesia telah menjadi perhatian besar dari para tokoh pergerakan bangsa dalam rangka penghormatan penegakan HAM. Seperti dikemukakan oleh Bagir Manan.menyentuh isu-isu yang berkenaan dengan dengan alat produksi. Lebih menonjol pada hak untuk mendapatkan kemerdekaan serta mendapatkan perlakuan yang sama dan hak kemerdekaan. karena suasana kebebasan yang menjadi semangat demokrasi leberal atau demokrasi parlementer mendapatkan tempat dikalangan elit politik. Sementara itu pemikiran HAM pada Partai Nasional Indonesia mengedepankan pada hak untuk memperoleh kemerdekaan (the right self detemination). 2. hak berkumpul. Pemikiran HAM telah mendapat legitimasi secara formal karena telah memperoleh pengaturan dan masuk ke dalam hukum dasar negara (konstitusi) yaitu UUD 1945. Perdebatan pemikiran HAM yang terjadi dalam sidang BPUPKI berkaitan dengan masalah hak persamaan kedudukan di muka hukum. sangat membanggakan. Komitmen terhadap HAM pada periode awal kemerdekaan diantaranya ditunjukan dalam Maklumat Pemerintah tanggal 1 dan 3 November 1945 yang menyatakan akan adanya pemilu dan rakyat diberi kesempatan atau hak mendirikan partai politik: Pemikiran HAM pada periode tahun 1950-an. hak kebebasan untuk berserikat melalui organisasi politik yang dirikan serta hak kebebasan untuk menyampaikan pendapat terutama di perlemen.

Pemerintah pada periode ini bersifat defensif dan represif yang dicerminkan dari produk hukum yang umumnya restriktif terhadap HAM. XIV/MPRS1966. Salah satu seminar tentang HAM dilaksanakan pada tahun 1967 yang merekomendasikan gagasan tentang perlunya pembentukan pengadilan HAM. sistem pemerintahan yang berlaku adalah demokrasi terpimpin. yang lahir dari reaksi penolakan Soekarno terhadap sistem demokrasi parlementer. Pada periode awal terajadi peralihan pemerintahan dari Soekarno ke Soeharto. Dalam kaitannya dengan HAM. ada semangat untuk menegakkan HAM. Selain itu. fair (adil) dan demokrasi. Begitu pula dalam rangka pelaksanaan TAP MPRS No. sikap depensif pemerintah ini berdasarkan pada anggapan bahwa isu HAM sering kali 32 . karena HAM tidak lagi dihormati. Akibatnya Presiden melakukan tindakan inkonstitusional pada tataran suprastruktur politik maupun dalam tataran infrastrutur politik. dan (3). Pada masa awal perode ini telah diadakan berbagai seminar tentang HAM. berkumpul dan mengeluarkan pikiran dengan lisan. Sikap defensif pemerintah tercermin dalam ungkapan bahwa HAM adalah produk pemikiran Barat yang tidak sesuai dengan nilainilai luhur budaya bangsa yang tercermin Pancasila dan Bangsa Indonesia sudah terlebih dahulu mengenal HAM sebagai mana tertuang dalam rumusan UUD 1945 yang lahir lebih dulu dibandingkan dengan Deklarasi Universal HAM. Pada periode 1959-1966. Selanjutnya pada tahun 1968 diadakan Seminar Nasional Hukum II yang merekomendasikan perlunya hak uji materil (judicial review) untuk dilakukan guna melindungi HAM. Pada sistem masa ini kekuasan terpusat dan berada di tangan presiden. Pemilihan umum sebagai pilar lain dari demokrasi berlangsung dalam suasana kebebasan. terjadi pamasungan hak asasi masyarakat yaitu hak sipil dan hak politik seperti hak untuk berserikat. Dengan kata lain telah terjadi sikap restriktif (pembatasan yang ketat oleh kekuasaan) terhadap hak sipildan hak politik warga negara.. pada awal tahun 1970-an sampai periode akhir 1980-an persoalan HAM di Indonesia mengalami kemunduran. pembentukan Komisi dan Pengadilan HAM untuk wilayah Asia.betul menikamati kebebasannya.. Sementara itu. MPRS malalui Panitia Ad Hoc IV telah menyiapkan rumusan yang akan dituangkan dalam Piagam Terntang Hak-hak Asasi Manusia dan Hak-hak serta Kewajiban Warganegara. dilindungi dan ditegakkan. Pemikiran elit penguasa pada saat ini sangat diwarnai oleh sikap penolakannya terhadap HAM sebagai produk barat dan individualistik serta bertentangan dengan paham kekeluargaan yang dianut bangsa Indonesia.

Upaya yang dilakukan oleh masyarakat melalui pemebtukan jaringan dan lobi Internasional terkait dengan pelanggaran HAM yang terjadi seperti kasus Tanjung Priok.digunakan oleh negara-negara barat untuk memojokkan negara yang sedang berkembang seperti Indonesia. Salah satu sikap akomodatif pemerintah terhadap tuntutan penegakan HAM adalah dibentukknya Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNAS HAM) berdasarkan kepres No. Hasil dari pengkajian tersebut menunjukkan banyaknya norma dan ketentuan hukum nasional khususnya yang terkait dengan penegakan HAM diadopsi dari hukum dan instrumen internasional dalam bidang HAM. 50 Tahun 1993 tertanggal 7 Juni. Komisi ini bertujuan . Meskipun dari pihak pemerintah mengalami kemandegan bahkan kemunduran. pemikiran HAM nampaknya terus ada pada periode ini terutama dikalangan masyarakat yang dimotori oleh LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dan masyarakat akademisi yang concern terhadap penegakan HAM. Bentuk-bentuk Hak Asasi Manusia 33 . pertimbangan dan saran kepada Pemerintah perihal pelaksanaanHAM. Selain itu. Piagam PBB. Kasus DOM di Aceh. kasus di Irian Jaya. C. dan sebagainya. Upaya yang dilakukan oleh masyarakat menjelang periode 1990-an nampak memperoleh hasil yang menggembirakan karena terjadi penggeseran strategi pemerintah dari represif dan depensif kestrategi akomodatif terhadap tuntutan yang berkaitan dengan penegakan HAM. Deklarasi Kairo dan deklarasi atau perundang-undangan lainnya yang berkaitan dengan penegakan HAM. serta memberi pendapat. Piaga Madinah. Demikian pula dilakukan pengkajian dam retifikasi terhadap instrumen HAM internasional semakin ditinkatkan. Lembaga ini bertugas untuk memantau dan menyelidiki pelaksanaan HAM.untuk membantu pengembangan kondisis-kondisi yang kondusif bagi pelaksanaan HAM yang sesuai dengan Pancasila UUD 1945 (termasuk hasil amandemen UUD 1945). kasus Kedung Ombo. Selanjutnya dilakukan penyusunan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pemberlakuan HAM dalam kehidupan ketatanegaraan dan bermasyarakat di Indonesia. Pergantian rezim pemerintahan pada tahun 1998 memberikan dampak yang sangat besar pada pemajuan dan perlindungan HAM di Indonesia. Deklarasi Universal HAM. Pada saat ini mulai dilakukan pengkajian terhadap beberapa kebijakan pemerintah Orde Baru yang berlawanan dengan pemajuan dan perlindungan HAM.

sosial dan budaya berdasarkan pada pernyataan DUHAM menyangkut hal-hal sebagai berikut. (3) Hak kebebasan berkumpul. dan (8) Hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan yang berkebudayaan dari masyarakat. (2) Hak untuk bekerja. 34 . dan (20) hak untuk mengambil bagian dalam pemerintahan dan hak atas akses yang sama terhadap pelayanan masyarakat. (5) Hak penghidupan yang layak. (4) Hak untuk memperoleh pengakuan hukum dimana saja secara pribadi. (7) Hak atas pendidikan. (2) Hak kedudukan yang sama di dalam hokum. Hak personal. kebebasan dan keamanan pribadi. tak berperikemanusiaan ataupun merendahkan derajat manusia. (11) Hak atas perlindungan hukum terhadap serangan semacam itu. (17) Hak bebas berpikir. (19) Hak untuk berhimpun dan berserikat. hak sipil dan politik yang terdapat dalam pasal 3-21 dalam DUHAM tersebut memuat: (1) Hak untuk hidup. (6) Hak kebebasan berserikat. (7) Hak untuk peradihan yang independen dan tidak memihak. (10) Hak bebas dari serangan terhadap kehormatan dan nama baik. mengelompokkan HAM kedalam beberapa jenis. hak sipil dan politik. (6) Hak atas standar hidup yang pantas di bidang kesehatan dan kesejahteraan. (16) Hak untuk mempunyai hak milik. (18) Hak bebas berpkir dan menyatakan pendapat. Sementara itu dalam UUD 1945 (amandemen I ± IV UUD 1945) menurut hak asasi manusia yang terdiri dari hak: (1) Hak kebebasan untuk mengeluarkan pendapat. (8) Hak untuk praduga tak bersalah sampai terbukti bersalah. Sedangkan hak ekonomi.Deklarasi Universal tentang HAM (Universal Declaration of Human Rights) yang juga dikenal dengan istilah DUHAM. (5) Hak atas istirahat dan waktu senggang. yaitu: (1) Hak atas jaminan social. (12) Hak bergerak. sosial dan budaya. penahanan atau pembuangan yang sewenang-wenang. (15) Hak untuk menikah dan membentuk keluarga. (2) Hak bebas dari perbudakan dan penghambaan. (9) Hak bebas dari campur tangan yang sewenangwenang terhadap kekuasaan pribadi. (4) Hak kebebasan beragama. (3) Hak atas upah yang sama untuk pekerjaan yang sama. (6) Hak bebas dari penangkapan. dan (7) Hak memperoleh pengajaran atau pendidikan. yaitu hak personal (hak jaminan kebutuhan pribadi). (5) Hak untuk pengampunan hukum secara efektif. berkesadaran dan beragama. (14) Hak atas suatu kebangsaan. hak subsistensi (hak jaminan adanya sumber daya untuk menunjang kehidupan) serta hak ekonom. (4) Hak untuk bergabung ke dalam serikat-serikat buruh. (13) Hak memperoleh suaka. tempat tinggal maupun surat-surat. (3) Hak bebas dari penyiksaan atau perlakuan maupun hukuman yang kejam. keluarga. hak legal.

(9) Hak wanita. namun perbedaan antara KRIS dengan UUDS 1950 terletak pada penomoran pasal dan perubahan sedikit redaksional dalam pasal-pasal. Sementara itu bila pengaturan HAM melalui Ketetapan MPR. (7) Hak atas kesejahteraan. Sedangkan kelemahannya rumusan ketentuan yang diatur masih umum.hak demonstrasi dan mogok. Pengaturan HAM dalam Ketetapan MPR terdapat dalam TAP MPR Nomor XVII tahun 1998 tentang Pandangan dan Sikap Bangsa Indonesia Terhadap HAM dan Piagam HAM Nasional. Hak Asasi Manusia dalam Perundang-Unndangan Nasional Paling tidak terdapat empat bentuk hukum tertulis atau praturan perundangundangan yang memuat tentang HAM. Konstitusi RIS mengaturbya dalam bab khusus tentang HAM. dalam peraturan pelaksanaan perundang-undangan seperti Peraturan Pemerintah. UU No. Pertama. (5) Hak atas kebebasan pribadi. di antaranya dalam: (1). juga ditemukan Konstitusi RIS dan UUDS 1950. kelemahannya tidak dapat memberikan sangsi hukum bagi pelanggarnya. 5 tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara. dalam konstitusi (UUD 1945). mulai pasal 7 sampai pasal 33. dan (10) Hak anak. dalam ketetapan MPR. baik sebelum maupun setelah amandem. Pengaturan HAM dalam konstitusi atau UUD 1945 memberikan jaminan yang sangat kuat. sedangkan pengaturan HAM dalam bentuk UndangUndang dan peraturan pelaksanaannya kelemahannya pada kemungkinan seringnya mengalami perubahan.. (3) Hak mengembangkan diri. (8). hak tiap warga negara untuk mendapat pengajaran. Selain itu adanya penambahan pasal UUDS 1950 yang signifikan yaitu tentang fungsi sosial hak milik. 5 tahun 1998 35 . (6) Hak atas rasa aman. D. (2) Hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan. yaitu melalui amandemen. karena perubahan dan atau penghapusan satu pasal di dalamnya harus melalui proses yang berat dan panjang. Hak turut serta dalam pemerintahan. Keputusan Presiden dan peraturan pelaksanaan lainnya.Selanjutnya secara operasional beberapa bentuk HAM yang terdapat dalam UU Nomor 39 tahun 1999 tentang HAM sebagai berikut: (1) Hak untuk hidup. Sedangkan dalam Undang-Undang. Keempat. dalam Undang-Undang. Sedang dalam UUDS 1950 pengaturan HAM tidak jauh berbeda dengan yang dimuat dalam Konstitusi RIS. (4) Hak memperoleh keadilan. Ketiga. (2). Pengaturan HAM dalam konstitusi negara RI tidak hanya ditemukan pada UUD 1945. UU No. Kedua.

Keputusan Presiden No. UU No. 1 tahun 1999 tentang Pengadilan HAM. Perlakuan atau Penghukuman yang Kejam. Pada tahap ini diupayakan tumbuhnya kesadaran penghormatan dan penegakan HAM baik di kalangan aparat pemerintah maupun masyarakat. 11 tentang Diskriminasi dalam Pekerjaan. yang diubah dengan Keputusan Presiden no. UU No. UU No. dan Pengadilan Negeri Makassar. (5). 26 tahun 1999 tentang Pencabutan UU No.tentang Ratifikasi Konvensi Anti Penyiksaan. (11). 96 tahun 2001. 129 tahun 1998 tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia tahun 1998-2003. 9 tahun 1998 tentang Kebebasan Menyatakan Pendapat. 11 tahun 1963 tentang Tindak Pidana Subversi. 31 tahun 2001 tentang Pembentukan Pengadilan Hak Asasi Manusia pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. 11 tahun 1998 tentang Amandemen terhadap UU No. (3). 25 tahun 1997 tentang Hubungan Perburuhan. 29 tahun 1999 tentang Ratifikasi Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi. 20 tahun 1999 tentang Ratifikasi Konvensi ILO No. 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM. UU No. (8). karena HAM merupakan kebutuhan dasar manusia yang perlu diperjuangkan. Pengaturan HAM dalam Peraturan Pemerintah dan Keputusan Prsiden antara lain adalah: (1). Keputusan Presiden No. Keseluruhan ketentuan perundang-undangan di atas merupakan pintu pembuka bagi strategi selanjutnya. (12). yaitu tahap penataan aturan secara konsisten (rule consistent behaviour). 21 tahun 1999 tentang Ratifikasi Konvensi ILO No. dan (13). 5 tahun 2001 tentang Pembentukan Pengadilan Hak Asasi Manusia Ad Hoc pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. (6). (10). UU No. (4). 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. (2). 181 tahun 1998 tentang Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan.Keputusan Presiden (KEPRES) Nomor 181 TAHUN 1998 tentang Pendirian Komisi Nasional Penghapusan Kekerasan Terhadap Wanita. 105 tentang Penghapusan Pekerja secara Paksa. (5). Keputusan Presiden No. UU No. yang memuat rencana ratifikasi berbaagi instrumen hak asasi manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa serta tindak lanjutnya. UU No. Penataan aturan secara konsisten memerlukan 36 . 138 tentang Usia Minimum Bagi Pekerja. UU No. UU No. 40 tahun 1999 tentang Pers. (4). (9). dihormati dan dilindungi oleh setiap manusia. UU No. UU No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Pengadilan Negeri Surabaya. Tidak Manusiawi dan Merendahkan Martabat. (7). Keputusan Presiden No. (6). Peraturan Pemerintah pengganti Undang-Undang (Perpu) No. (3). 19 tahun 1999 tentang ratifikasi Konvensi ILO No.

Selanjutnya. kelompok etnis dan kelompok agama. dan memindahkan secara paksa anak-anak dari kelompok tertentu ke kelompok lain (UU No. pendidikan HAM secara kurikuler maupun melalui Pendidikan Kewarganegaraan (civic education) sangat diperlukan dan terus dilakukan secara berkesinambungan. memaksakan tindakan-tindakan yang bertujuan mencegah kelahiran di dalam kelompok. Kejahatan genosida dilakukan dengan cara membunuh anggota kelompok. 37 . membatasi. mengakibatkan penderitaan fisik atau mental yang berat terhadap anggota-anggota kelompok. Dalam kerangka menjadikan HAM sebagai tatanan sosial. Kejahatan genosida adalah setiap perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok bangsa. menciptakan kondisi kehidupan kelompok yang akan mengakibatkan kemusnahan secara fisik baik seluruh atau sebagiannya. 26/200 tentang Pengadilan HAM). Pelanggaran HAM dikelompokkan pada dua bentuk yaitu: pelanggaran HAM berat dan pelanggaran HAM ringan. ekonomi yang hidup. dan atau mencabut hak asasi manusia. yaitu UU No. Dengan demikan pelanggaran HAM merupakan tindakan pelanggaran kemanusiaan baik dilakukan oleh individu lain tanpa dasar atau alasan yuridis dan alasan rasional yang menjadi pijakannya. kedua. dan tidak didapatkan. menghalangi. seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh Undang-undang ini. HAM sebagai tatanan sosial. HAM sebagai tatanan sosial merupakan pengakuan masyarakat terhadap pentingnya nilai-nilai Ham dalam tatanan sosial. Pelanggaran dan Peradilan Hak Asasi Manusia Pelanggaran hak asasi manusia adalah setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang termasuk aparat negara baik disengaja ataupun tidak disengaja atau kelalaian yang secara hukum mengurangi. berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku. 26/2000 tentang Pengadilan HAM). Oleh karena itu hubungan keseimbangan keduanya merupakan ³simbiosis-mutualistik´. Pelanggaran HAM berat meliputi kejahatan genosida dan kejahatan kemanusiaan (UU No. atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyelesaian hukum yang adil dan benar. 26/2000 tentang Pengadilan HAM. Persyaratan pertama adalah demokrasi dan supremasi hukum. politik.persyaratan yang harus ada. ras. Demokrasi dan pelaksanaan prinsip-prinsip negara berdasarkan atas hukum merupakan instrumen bahkan prasyarat bagi jaminan perlindungan dan penegakan HAM. E. Sedangkan bentuk pelanggaran HAM ringan selain dari kedua bentuk pelanggaran HAM berat itu.

Penindakan terhadap pelanggar HAM tersebut dilakukan melaui proses peralihan HAM mulai dari penyelidkan. pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa. budaya. pelacuran secara paksa. penganiayaan terhadap suatu kelompok tertentu atau perkumpulan yang didasari persamaan paham politik. pemaksaan kehamilan. dan kejahatan apartheid. Pengadilan HAM bertugas dan berwewenang memeriksa dan memutuskan perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat. penyidikan. etnis. perampasan kemerdekaan atau perampasan kebebasan fisik lain secara sewenang-wenang yang melanggar (asas-asas) ketentuan pokok hukum internasional. Pengadilan HAM tidak berwenang memeriksa dan memutuskan perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat yang dilakukan seseorang yang berumur di bawah 18 (delapan belas) tahun pada saat kejahatan dilakukan. Dalam pelaksanaan peradilan HAM. jenis elamin atau alasan lain yang telah diakui secara universal sebagai hal yang dilarang menurut hukum internasional. pemandulan atau sterilisasi secara paksa atau bentuk-bentuk kekerasan seksual lain yang setara. pengadilan HAM menempuh proses pengadilan melalui hukum acara pengadilan HAM sebagaimana terdapat dalam undang-undang pengadilan HAM. penghilangan orang secara paksa. Untuk Daerah Khusus Ibukota Jakarta. perbudakan. penuntutan dan persidangan terhadap pelanggaran yang terjadi harus bersifat nondiskriminatif dan berkeadilan.Sementara itu kejahatan kemanusiaan adalah salah satu perbuatan yang dilakukan sebagai bagian dari serangan yang meluas atau sistematik yang diketahuinya bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil berupa pembunuhan. ras. Pengadilan HAM berwenang juga memeriksa dan memutuskan perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berada dan dilakukan di luar batas territorial wilayah negara Republik Indonesia oleh warga negara Indonesia. agama. Karena itu penindakan terhadap pelanggaran hak asasi manusia tidak boleh hanya ditujukan terhadap aparatur negara. perbudakan seksual. penyiksaan. Pengadilan HAM berkedudukan di daerah kabupaten atau daerah kota yang daerah hukumannya meliputi daerah hukum Pengadilan Negeri yang bersangkutan. tetapi juga pelanggaran yang dilakukan bukan oleh aparatur negara. pemusnahan. Pelanggaran terhadap hak asasi manusia dapat dilakukan baik oleh aparatur negara mapun bukan. kebangsaan. 38 . perkosaan. Pengadilan HAM berkedudukan disetiap wilayah Pengadilan Negeri yang bersangkutan. Pengadilan HAM merupakan pengadilan khusus yang berada di lingkungan Pengadilan Umum.

Begitu pula tanggung jawab HAM adalah negara. memajuan. penghormatan dan perlindungan HAM. Dengan demikian. Pandangan pertama menyatakan bahwa yang harus bertanggungjawab memajukan HAM adalah negara. tetapi juga secara tidak langsung. Perlindungan. Deklarasi Kairo dan sebagainya harus diletakkan sebagai norma hukum internasional yang mengatur bagaimana negara-negara di dunia menjamin hak-hak individunya. Siapa yang bertanggungjawab dalam penegakan. kasus Haur Koneng di Tasikmalaya. Beberapa Kovenan. Hukum Perjanjian Internasional. Oleh karena itu. pelanggaran HAM sebenarnya tidak saja dilakukan oleh rakyat kepada rakyat yang disebut dengan pelanggaran HAM secara horizontal. yaitu negara membiarkan terjadinya pelanggaran HAM. penghormatan dan perlindungan HAM tidak saja dibebankan kepada negara. analisis terhadap pelanggaran HAM pun selalu berada dalam wilayah pelanggaran HAM oleh negara terhadap rakyat seperti kasus Tanjung Priok. Penanggungjawab dalam Penegakan. pemajuan. Memajukan. Oleh karenanya. Bentuk pelanggaran HAM jenis ini antara lain adanya penembakan rakyat oleh sipil bersenjata seperti dalam kasus 39 . Pelanggaran terhadap pemenuhan HAM juga lebih mengedepankan tanggung jawab perlindungan. perlindungan dan pemenuhan HAM? Ada dua pandangan mengenai hal tersebut.F. melainkan juga kepada individu warga negara. dan penghormatan HAM ada pada pemerintah. Pelanggaran HAM oleh negara terhadap rakyat yang disebut pelanggaran HAM secara vertikal. kasus di Irian Jaya. menyatakan bahwa tanggung jawab pemajuan. dan Pemenuhan Hak Asasi Manusia. Rakyat yang cerdas dan sadar sehingga mampu menghargai dan menghormati HAM perlu diberikan pendidikan terutama masalah yang berkaitan dengan HAM. deklarasi PBB tentang HAM yang dikenal dengan Piagam HAM Dunia. Piagam Madinah. karena negara dibentuk sebagai wadah untuk kepentingan kesejahteraan rakyatnya. Hak-hak inilah yang harus dijamin realisasinya oleh negara. negara yang bersangkutan dengan sendirinya akan kehilangan legitimasi rakyatnya. bila negara tidak mampu melindungi HAM warganegaranya. Negara yang tidak memfasilitasi rakyat melalui pendidikan HAM berarti negara telah mengabaikan amanat rakyat. tidak hanya berwujud pelanggaran secara langsung. Artinya negara dan individu sama-sama memiliki tanggung jawab terhadap pemajuan. Pandangan kedua. Setiap individu (warganegara) mempunyai hak asasi baik dalam keadaan darurat maupun keadaan normal harus dilindungi. kasus DOM di Aceh. Karena itu.

3. Pendidikan Kewargaan. HAM sejati bersandar pada pertimbangan-pertimbangan normatif agar umat manusia diperlakukan sesuai dengan human dignity-nya. dan Masyarakat Madani. dan sempit. Hak Asasi Manusia. 40 . 2003. BAB IV SISTEM PEMERINTAHAN NEGARA Kompetensi Dasar 1. penganiayaan buruh atau budak oleh majikan seperti kasus Marsinah. 6. Kedua. Pengertian Sistem Pemerintahan Sistem adalah suatu keseluruhan. Pertama. 4. sejumlah besar problem HAM tidak hanya melibatkan aspek pemerintah. A.. Jakarta. dkk). presidensiil dan referendum. Rektor Universitas Syiah Kuala Banda Aceh dan beberapa tokoh lainnya. Hubungan dimaksud menimbulkan ketergantungan antara bagian-bagian yang akibatnya jika salah satu bagian tidak bekerja dengan baik. para perampok dan sebagainya. individu memiliki tanggung jawab atas dasar prinsip-prinsip demokrasi. Merumuskan cirri-ciri sistem pemerintahan parlementer. suatu yang menjadi kewajiban pemerintah juga menjadi kewajiban rakyat. Ada tiga alasan mengapa individu memiliki tanggung jawab dalam penegakan dan perlindungan HAM. Membandingkan Sistem Pemerintahan Indnesia dengan Amerika Serikat. Dalam masyarakat yang demokratis. 5. Ketiga.penembakan Rektor IAIN Ar-Raniry Banda Aceh. 2. Mendeskripsikan konsep organisasi pemerintahan dalam garis vertika dan horizontal. Mendeskripsikan konsep sistem pemerintahan dalam arti luas. Penerbit Prenada Media. Menseskripsikan Sistem Pemerintahan Negara Indonesia sebelum dan sesudah amandemen UUD 1945. karenaa setiap orang memiliki kewajiban untuk ikut mengawasi tindakan pemerintah. akan mempengaruhi keseluruhannya itu (Kusnardi dan Harmailyi Ibrahim. Merumuskan konsep sistem pemerintahan. tetapi juga kalangan swasta atau kalangan di luar negara dalam hal ini rakyat. terdiri dari beberapa bagian yang mempunyai hubungan fungsional terhadap keseluruhan. Demokrasi. sangat luas. Catatan Bab ini banyak diambil dari Bab IX buku Tim ICCE UIN Jakarta (Dede Rosyada.

jika pengertian pemerintahan tersebut dikaitkan dengan pengertian sistem. Titik tolak yang dipergunakan adalah dalam konteks pemerintahan dalam arti luas. yakni tatanan yang berupa struktur dari suatu negara dengan menitik beratkan pada hubungan antara negara dengan rakyat. maka dalam melakukan pembahasan mengenai Pemerintah Negara. legislatif maupun judikatif. maka akan mempengaruhi komponen yang lain. hubungan antar alat-alat perlengkapan negara yang menjalankan kekuasaan-kekuasaan tersebut baik hubungan horizontal (pemisahan atau pembagian kekuasaan) maupun hubungan vertikal (pemencaran kekuasaan). Pengertian pemerintahan seperti ini mencakup kegiatan atau aktifitas penyelenggarakan negara yang dilakukan oleh eksekutif. Sedangkan pemeritahan dalam arti luas adalah segala bentuk kegiatan atau aktifitas penyelenggaraan negara yang dilakukan oleh organ-organ negara yang mempunyai otoritas atau kewenangan untuk menjalankan kekuasaan. Tiga Pengertian Sistem Pemerintahan Negara Pengertian sistem pemeintahan negara meurut doktrin Hukum Tata Negara dapat dibagi kedalam tiga pengertian. Dengan demikian dalam usaha ilmiah sistem adalah suatu tatanan / susunan yang berupa suatu struktur yang terdiri dari bagian-bagian atau komponen-komponen yang berkaitan antara satu dengan lainnya secara teratur dan terencana untuk mencapai suatu tujuan. Sistem Pemerintahan Negara dalam arti paling luas. antara pemerintah pusat dan pemerintah lokal atau daerah. Dari dua pengertian tersebut. Sedangkan pengertian pemerintahan dalam arti sempit tidak tidak lain adalah aktifitas atau kegiatan yang diselenggarakan oleh fungsi eksekutif. sampai B. presiden ataupun perdana dengan level birokrasi yang paling rendah tingkatannya. Dengan demikian. Yaitu meliputi pembagian kekuasaan dalam negara. Apabila salah satu dari komponen atau bagian tersebut berfungsi melebih atau kurang dari wewenangnya. Pengertian seperti ini akan 41 .1980: 160). yaitu : (1). maka yang deimaksud dengan sistem pemerintahan adalah suatu tatanan atau susunan pemerintahan yang berupa suatu struktur yang terdiri dari organorgan pemegang kekuasaan didalam negara dan saling melakukan hubungan fungsional diantara organ-organ negara tersebut baik secara vertikal maupun horizontal untuk mencapai suatu tujuan yang dikehendaki. menteri.

contoh Inggris. yaitu : (a) Kekuasaan Legislatif. aristokrasi dan demokrasi. Struktur atau tatanan pemerintahan negara seperti ini. Jepang. Sistem pemerintahan negara seperti ini meliputi: (a). pada sistem ini pemerintah (eksekutif) pada hakekatnya adalah Badan Pekerja dari Parlemen (Legislatif). Bangunan Negara Serikat (Federal). (2). adalah: 1. khususnya hubungan antar eksekutif dan legislatif.menimbulkan model pemerintahan monarkhi. yakni tatanan atau struktur pemerintahan negara yang bertitik tolak dari hubungan antara semua organ negara. Sistem Pemerintahan Negara ari lua. dalam bangunan ini pemerintah pusat memegang otoritas penuh (berkedudukan lebih tinggi) ketimbang pemerintah lokal. termasuk hubungan antara pemerintah pusat dengan bagian-bagian yang terdapat dalam negara ditingkat lokal atau daeraah. contohnya di Swiss. contohnya AS. (c).Bangunan Negara Kesatuan. Berikutnya (3) disebut Sistem Pemerintahan Negara dalam arti sempit yakni suatu tatanan atau struktur pemerintahan yang bertitik tolak dari hubungan sebagian organ negara ditingkat pusat. Sistem Parlementer. baik itu di negara serikat maupun kesatuan dikenal adanya dua organisasi (pengelompokan) dari sistem Pemerintahan yang saling melakukan interaksi antara satu dengan lainnya. sehingga yang berhak mengawasi parlemen dan eksekutif adalah rakyat secara langsung. Sistem Pemerintahan dengan Pengawasan Langsung Oleh rakyat. dalam sistem ini parlemen (legislatif) mempunyai kedudukan yang lebih tinggi ketimbang eksekutif. C. (b). Bangunan Negara Konfederasi. Oleh karena itu parlemen tidak diberi kewenangan untuk melakukan pengawasan kepada eksekutif. Organisasi Pemerintahan Dalam Garis Horizontal Menurut konsep Trias Politika kekuasaan didalam negara dapat dibagi menjadi menjadi tiga cabang kekuasaan utama . (b). Organisasi Sistem Pemerintahan Negara Pada umumnya dalam sistem pemerintahan negara. dengan kata lain eksekutif merupakan bagian yang tak terpisahkan dari legislatif (Parlemen). (c). dalam negara seperti ini pemerintah lokal (kanton atau wilayah) mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari pemerintah pusat. akan menimbulkan model : (a). yakni 42 .Sistem Pemisahan Kekuasaan (Presidensiil). Organisasi dari sistem pemerintahan negara tersebut. dalam negara seperti ini pemerintah pusat dan negara bagian mempunyai kedudukan yang sama. India. pada sistem ini parlemen (legeslatif) dan pemerintah mempuyai kedudukan yang sama dan saling melakukan kontrol (chek and balances).

Ketiga cabang kekuasaan negara ini dipegang oleh lembaga atau badan kenegaraan yang sifatnya dapat terpisah antara satu dengan yang lain secara tegas. tetapi masing-masing masih dapat saling melakukan hubungan antara satu dengan yang lainnya. masing-masing mempunyai ciri-ciri yang berbeda-beda antara 43 . khususnya yang mempergunakan asas desentrlisasi dikenal. 1986: 143) kedua satuan pemerintahan yang lebih rendah dibawah pemerintah pusat. satuan pemerintahan yang lebih rendah diwujudkan dalam bentuk negara-negara bagian. Kekuasaan Judikatif.kekuasaan untuk membentuk undang-undang. Menurut Kranenburg (dalam Miriam Budiardjo. Kekuasaan ini dilakukan oleh badan-badan peradilan dengan susunan bertingkat-tingkat sesuai dengan kewenangan masing-masing tingkat dan berpuncak pada supreme Court atau Mahkamah Agung. Masing-masing banguan negara ini memiliki satuan pemerintahan yang lebih rendah di bawah pemerintah pusat. Dengan demikian konsep pengorganisasian pemerintahan dalam garis horizontal pada hakikatnya merupakan implementasi dari konsep trias politika yang dilandasi oleh adanya reaksi terhadap organisasi pemerintahan yang absolut-diktatorik yang pada umunya terjadi dalam negara yang berbentuk monarkhi. melainkan dipecah menjadi tiga cabang kekuasaan utama yang dipegang oleh badan-badan negara yang berbeda ditinjau dari fungsi dan kedudukannya. adanya pemerintah daerah yang berwenang untuk menyelenggarakan pemerintahan sendiri sesuai dengan aspirasi masyarakat dimasing-masing daerah (otonomi). Kekuasaan ini biasanya dilakukan oleh pemerintah dalam arti sempit. oleh seorang atau sekelompok orang. Biasanya diserahkan kepada lembaga perwakilan rakyat atau parlemen. Sedangkan di Negara kesatuan. baik yang terdapat di negara kesatuan maupun serikat.(c). Namun dapat pula terpisah secara kelembagaan. Kekuasaan Ekekutif yakni kekuasaan untuk menjalankan undang-undang atau disebut juga kekuasaan untuk menjalankan pemerintahan. Kesemuanya itu tergantung dari sistem pemerintahan yang dianut oleh masing-masing negara. Di Negara Serikat. yakni kekuasaan untuk melaksanakan peradilan. (b). Organisasi Sistem Pemerintahan Dalam Garis Vertikal Membahas Organisasi sistem Pemerintahan dalam garis Vertikal pada intinya bertitik tolak dari bangunan negara. yaitu Presiden atau Perdana Menteri. khususnya bangunan negara serikat dan bangunan negara kesatuan. 2. Maksud pembentukan organisasi pemerintahan seperti ini tidak lain adalah agar kekuasaan yang terdapat didalam suatu negara tidak lagi dipegang dan menumpuk atau dikendalikan.

adalah seagai berikut: 1. sistem perlementer. tergantung pada badan pembentuk Undang-Undang Pusat itu. Sedangkan dalam negara Kesatuan organisasi bagianbagian negara (Pemerintah Daerah) secara garis besarnya telah ditetapkan oleh pembentuk Undang-Undang Pusat. Dikatakan demikian karena kepala negara apapun sebutannya-mempunyai kedudukan yang tidak dapat diganggu gugat. yakni morankhi. akan tetapi juga wewenang eksekutif dan administratif. dalam negara federal wewenang legislatif terbagi dalam dua bagian. dalam negara federal tidak hanya wewenang legislatif saja yang diberi antara negara federal dengan negara-negara bagian. Sedang meurut F. Sedangkan penyelenggara pemerintahan sehari-hari diserahkan kepada Menteri (Perdana Menteri). wewenang membentuk Undang-Undang Pusat untuk bidang tertentu telah diperinci satu persatu dalam konstitusi federal. Sedangkan Hans Kelsen mengemukakan bahwa. 44 dan referendum. Negara bagian yang terdapat di dalam Negara Serikat memiliki wewenang untuk membentuk UUD sendiri serta mempunyai wewenang untuk membentuk Organisasi sendiri dalam rangka dan batas-batas konstitusi federal.Dalam negara federal (serikat). Sedangkan dalam negara kesatuan wewenang legislatif berada dalam tangan badan legislatif pusat. Menurut F. yakni antara badan legislatif pusat (federal) dan badan legislatif dari negara-negara bagian. Sistem Pemerintahan Parlementer (Parliamentary Executive) Pada prinsipnya system pemerintahan parlementer menitik beratkan pada hubungan antara organ negara pemegang kekuasaan eksekutif dan legislative. Penjelasannya secara lebih rinci . (b). yaitu: (a). untuk kekuasaan badan legislatif rendahan (Lokal) didasarkan atas penentuan dari badan legislatif pusat itu dalambentuk Undang-Undang Organik. Isjawara (dalam Miriam Budiardjo. D. Sistem ini merupakan sisa-sisa peninggalan sistem pemerintahan dalam arti paling luas.satu dengan yang lain berdasarkan hukum positif. Macam-macam Sistem Pemerintahan Negara Ada tiga macam sistem pemerintahan yang sering dibahas dalam kajian Hukum Tatanegara. 1986:143). Sedangkan dalam negara kesatuan wewenang pembentukan Undang-Undang Pusat ditetapkan dalam satu rumusan umum dan wewenang pembentukan undang ± undang rendahan (sering disebut Peraturan Daerah/Perda).Sugeng Istanto (1971:16) prinsip yang terkandung pada negara kesatuan ialah bahwa yang memegang tampuk kekuasaan tertinggi atas segenap urusan negara ialah Pemerintah Pusat tanpa adanya gangguan oleh delegasi atau pelimpahan kekuasaan kepada pemerintah daerah.

Sistem Pemerintahan Presidensiil (Fixed Executive) Sestem pemerintahan ini bertitik tolak dari konsep pemisahan kekuasaan sebagaimana dianjurkan oleh teori trias politika. Ciri-ciri utama dari sistem pemerintahan ini adalah sebagai berikut: (a). Karena Presden dan Parlemen dipilih langsung oleh rakyat melalui Pemilihan Umum. Dalam hal ini rakyat tidak secara langsung memilih Perdana Menteri dan Kabinetnya. dan (d). pada umumnya dapat digambarkan sebagai berikut : (a). Hal ini karena kedua lembaga tersebut sama-sama bertanggung jawab kepada rakyat pemilih. bahkan antara keduanya saling tergantungsatu dengan yang lainnya. sebab Kepala Negara hanya berfungsi sebagai simbol negara juga diberi wewenang untuk menunjuk formulir kabinet dan membubarkan kabinet bila keadaan negara menghendaki. (c). Sistem ini menghendaki adanya pemisahan kekuasaan aksekutif dan badan pemegang kekuasaan legislatif. maka kedudukan antara kedua lembaga ini tidak bisa saling mempengaruhi (menjatuhkan). 2. Terdapat hubungan yang erat antara eksekutif dan legislatif (parlemen). Eksekutif yang dipimpin oleh Perdana Menteri dibentuk oleh parlemen dari partai politik / organisasi peserta pemiluyang menduduki kursi mayoritas diparlemen. Presiden tidak dapat diberhentikan oleh Parlemen ditengah45 . (b). Dikenal adanya mekanisme pertanggung jawaban Menteri kepada Perlemen yang mengakibatkan Parlemen dapat membubarkan atau menjatuhkan ´mosi tidak percaya´kepada Kabinet. Tidak sebagai kepala eksekutif dan Pemerintahan. Jika ternyata didalam parlemen tidak ada satupun partai politik yang menduduki kursi mayoritas. yakni penggabungan dua partai atau lebih untuk memperkuat posisi perolehan suara di parlemen. Maka penyusunan Kabinet dan Perdana Menteri. Sehingga tidak jarang terjadi bahwa Presiden terpilih berasal dari Partai Politik yang berbeda dengan mayoritas partai politik yang ada diparlemen. Kepala Negara (apapun sebutannya) hanya berfungsi ataupun berkedudukan sebagai kepala negara saja. (d). (c). Kedudukan Presiden disamping sebagai Kepala Negara juga sebagai kepala Eksekutif (Pemerintahan).Adapun ciri-ciri sistem pemerintahan ini. (b). Presiden dan Parlemen masing-masing dipilih langsung oleh rakyat melalui Pemilihan Umum. Kedudukan seperti ini mengakibatkan Kepala Negara tidak dituntut pertanggungjawaban konstitusional apapun. pada umunya dilakukan dengan cara koalisi. jika pertanggung jawaban atas pelaksanaan pemerintahan yang dilakukan oleh Menteri baik secara perseorangan ataupun kolektif tidak dapat diterima oleh parlemen.

Kemudian dipasal 17 ayat 2 ditegaskan bahwa menteri-menteri diangkat dan diberhentikan oleh presiden. dapat dikenai impeachment (pengadilan DPR). namun presiden hanya menyampaikan nominasi anggota kabinet. Presiden juga dapat membubarkan parlemen. Penjelasan semacam ini mengandung unsur sistem parlementer. tetapi juga mempunyai wewenang untuk mengangkat perdana menteri dari partai Politik yang menduduki kursi mayoritas di parlemen. ataukah justru parlemen yang bertindak malampaui batas46 . karena MPR bertindak laksana parlemen. Dari kedua sistem tersebut. Akan tetapi jika pertanggung jawaban tersebut ditolak oleh parlemen. Disana dinyatakan bahwa Presiden yang diangkat oleh MPR. Namun Presidennya mempunyai kekuasaan yang besar dalam seluruh kehidupan negara dan pemerintahan. Contoh yang dapat dikemukakan disini adalah Impeachment yang dikembangkan di AS. Sedangkan sistem Pemerintahan Parlementer yang tidak murni terlihat dalam ketatanegaraan Perancis. unsur-unsur Sistem Parlementer terlihat jelasa. (f).tengah masa jabatannya. yaitu sistem presidensiil semu dan sistem parlementer semu. Akan tetapi jika menyimak Penjelasan Umum UUD 1945. Kemudian Presiden mengangkat menteri-menteri tersebut setelah mendapat persetujuan Parlemen. Pelaksana Impeachment ini dilakukan oleh Hakim Tinggi pada supreme Court. Parlemen yang menentukan personilnya secara definitif. namun jika presiden melakukan perbuatan yang melanggar hukum. Begitu pula dengan parlemennya. Presiden wajib menjalankan MPR. (e). sering dijumpai juga varian dari keduanya. Dalam rangka menyusun kabinet (menteri). Presiden wajib minta persetujuan Parlemen. Sistem presidensiil semu pernah berlangsung dalam pola ketatanegaran Indonesia. Perdana menteri dan Kabinetnya bertanggung jawab kepada parlemen. Dalam kasus seperti ini Presiden akan memberikan pertimbangan apakah dalam persoalan adanya ´mosi tidak percaya ´ tersebut memang disebabkan oleh Kabinet yang tidak mampu lagi menjalankan garis-garis kebijaksanaan politik yang ditetapkan oleh parlemen. Sebelum Amandeman. tidak otomatis Kabinet diberi ´mosi tidak percaya´ dan dapat dijatuhkan oleh parlemen.Menteri-menteri yang diangkatoleh Presiden tersebut tunduk dan bertanggung jawab kepada Presiden. Ketentuan seperti ini jelas mengindikasikan bahwa Indonesia menganut Sistem Presidensiil. dalam pasal 4 UUD 1945 di tegaskan bahwa presiden memegang kekuasaan pemerintahan menurut Undang-Undang Dasar. Presidennya dipilih oleh rakyat dalam suatu pemilu. Tidak dilakukan oleh anggota parlemen. Pola seperti ini nampak mirip dengan sistem presidensiil di AS. tunduk dan bertanggung jawab kepada MPR.

Kekuasaan Presiden Perancis yang demikian besar karena dipilih langsung oleh rakyat. Demikian pula sebaliknya. presiden dapat bertindak sebagai mediator bahkan dapat juga disebut sebagai hakim dalam mengatasi konflik tersebut. yang terdiri dari tujuh anggota dan dipiliholeh Sidang Federal.batas kewenangannya. (b). Karena Dewan federal pada hakikatnya merupakan bagian yang tidak terpiasahkan dari sidang federal. Pemegang kedaulatan tertinggi ada pada Sidang Federal yang terdiri dari dua kamar. Sehingga yang berhak untuk melakukan kontrol atas jalannya sistem ketatanegaraan tidak lain adalah rakyat secara langsung. khususnya menyangkut kedaulatan rakyat dibidang pemerintahan. Adapun cara yang dapat ditempuh oleh rakyat Konfederasi Swiss untuk melakukan kontrol terhadap jalannya pemerintahan adalah dengan melalui : (a). 3. Presiden menganggap bahwa parlemenlah yang malampaui kewenangannya. Referendum terdiri dari (tiga) macam. Presiden dan wakil presiden Konfederasi Swiss dipilih oleh sidang federal. maka justru parlemenlah yang dapat dibubarkan oleh presiden. Referendum obligator (Wajib) yaitu meminta pendapat secara langsung dari rakyat terhadap suatu 47 . yaitu Dewan Nasional dan Negara. Ini berarti Presiden juga berkedudukan dan bertindak sebagai representasi rakya. Dewan federal (pemegang kekuasaan eksekutif) dan Sidang Federal (pemegang kedaulatan tertinggi) sama-sama memperoleh kekuasaan dari rakyat. dan (c). . Memperhatikan konstruksi ketatanegaraan tersebut diatas. Pola seperti inilah yang mengakibatkan munculnya sistem Pemerintahan dengan pengawasan langsung oleh rakyat. Menurut Konstitusi Federal Konfederasi Swiss dinyatakan antara lain : (a). Bahkan dapat dikatakan bahwa Dewan Federal hanyalah merupakan Badan Pekerja dari Sidang Federal. diantara para anggota dewan untuk masa jabatan satu tahun. Oleh sebab itu.Pemegang kekuasaan eksekutif dan badan Pelaksana Kekuasaan Tertinggi dipegang oleh Dewan Federal. tidaklah mengherankan jikalau dalam konflik antara Kabinet dan Parlemen. Jikalau dalam pertimbangan tersebut. Sistem Pemerintahan Dengan Pengawasan Langsung oleh Rakyat Acuan sistem pemerintahan ini adalah Negara Konfederasi Swiss. maka tidaklah mungkin apabila Sidang Federal (pemegang kedaulatan tertinggi) dan dewan federal (pemegang kekuasaan eksekutif) saling melakukan kontrol seperti halnya dalam sistem pemerintahan Parlementer. yaitu: (1). yaitu suatu penentuan oleh rakyat untuk memberikan keputusan setuju atau menolak terhadap kebijaksanaan yang diambil oleh parlemen. Referendum. Inilah letak ketidak murnian dari sistem parlementer yang dikembangkan di Perancis.

(3). Masing konstitusi tersebut mengatur mengenai sistem pemerintahan yang berbeda. (b). Berikut ini akan dikemukakan sistem pemerintahan Indonesia menurut konstitusiyang pernah dan sedang berlaku. 1. yaitu meminta pendapat secara langsung pada rakyat apakah setuju atau tidak terhadap Rancangan UU Pemerintah Federal atau pemerintah pusat di wilayah-wilayah negara bagian atau daerah otonom. maka sisem yang dipergunakan adalah sistem parlementer yang tidak murni. Ketentuan pasal tersebut menunjukkan bahwa RIS mempergunakan sistem pertanggung jawaban menteri. Menteri-menteri bertanggung jawab atas seluruh kebijaksanakan pemerintah baik bersama-sama untuk seluruhnya.Rancangan UU yang akan di undangkan. Sistem Pemerintahan Indonesia menurut UUDS 1950 UUDS 1950 masih tetap mempergunakan bentuk sistem pemerintahan seperti yang diatur dalam Konstitusi RIS. Dengan menyimak pasal tersebut. (2). E. (b). Apabila mayoritas rakyat berpendapat bahwa UU tersebut tetap berlaku seperti semula. Maupun masing-masing untuk bagiannya sendiri-sendiri. Sistem Pemerintahan Indonesia Menurut Konstitusi RIS Sistem pemerintahan Indonesia menurut Konstitusi RIS adalah sistem Pemerintahan Parlementer yang tidak murni. Karena pertanggung jawaban yang dimaksud tidak ada artinya atau disebut pertanggung jawaban dalam arti sempit. yaitu hak rakyat untuk mengajukan rancangan UU kepada Parlemen dan Pemerintah. 2. demikian sebaliknya. Kendatipun demikian pasal 122 Konstitusi RIS juga disebutkan bahwa DPR tidak dapat memaksa kabinet atau masing-masing menteri untuk meletakkan jabatannya. Pasal 118 Konstitusi RIS antara lain menyebutkan. (a) Presiden tidak dapat diganggu gugat. Indonesia pernah mempergunakan beberapa Konstitusi tertulis selain UUD 1945. Referendunm optatif. Artinya sistem pemerintahan negara yang digunakan masih seperti yang diatur dalam Konstitusi RIS. Sistem Pemerintahan Indonesia Sejak Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Hal ini karena UUDS 1950 pada hakikatnya merupakan hasil amandemen dari Konstitusi RIS dengan menghilangkan 48 . Referendum fakultatif (tidak Wajib). yaitu meminta pendapat secara langsung dari rakyat apakah setuju atau tidak terhadap UU yang sudah berlaku. tetapi ada sementara rakyat yang meggugatnya. maka UU terebut tetap berlaku. Usul Inisiatif Rakyat.

(d). Dalam bidang legislatif. Sistem Pemerintahan Indonesia Menurut UUD 1945 Sebelum Amandemen Didalam sistematika UUD 1945. Menteri-menteri bertanggung jawab atas seluruh kebijaksanaan pemerintah. (c). Presiden adalah kepala eksekutif dan tidak boleh merangkap menjadi anggota DPR. Akan tetapi dalam hal-hal tertentu Presiden AS mempunyai hak veto. Didala pasal 83 UUDS 1950 dinyatakan : (a). presiden sebagai kepala eksekutif tidak dapat dijatuhkan oleh Congres. wewenang pembuat UU adalah Congres (yang terdiri dari dua kamar : House of Representative dan senat. dan judikatif merupakan lembaga yang terpisah. maka menunjukkan bahwa sistem presidensiil yang dianut. tetapi bukan bukan yang murni. Guna mengetahui sistem pemerintahan yang dianut oleh UUD 1945. (b). apakah betul menganut Presidensiil yang tidak murni (quasi Presidensiil). Apabila ada perbedaan pendapat antara Presiden dengan Congres (utamanya senate). Legislatif. Presiden dan Wk. maka perlu memperbandingkan dengan sistem pemerintahan negara lain. Kekuasaan eksekutif berada ditangan Presiden. sistem Pemerintahan Negara tidak secara implisit tertuang didalamnya. dan dapat diberhentikan jika melanggar UUD 1945 dan GarisGaris Besar Haluan Negara (GBHN). Sedangkan Presiden sendiri bertanggung jawab kepada rakyat yang telah memilihnya. baik bersama-sama untuk seluruhnya maupun masing-masing untuk bagiannya sendiri-sendiri. dan pimpinan MPR. Pada beberapa ketentuan. secara eksplisit mengindikasikan adanya bentuk campuran antara sistem Presidensiil dan parlementer.pasal-pasal yang bersifat federalis. Khususnya yang menganut sistem pemerintahan Presidensiil yang murni seperti di Amerika Serikat. dan dalam pelaksanaannya dibantu oleh para menteri yang bertanggung jawab kepada presiden. eksekutif. Konstruksi semacam ini memperlihatkan kecenderungan kearah sistem presidensiil.Presiden tidak dapat diganggu gugat. Hal ini agak berbeda dengan kedua Konstitusi RIS dan UUDS 1950. Akan tetapi karena presiden RI tidak dipilih oleh rakyat secara langsung melainkan oleh MPR. namun mekanisme Check and Balances (saling mengadakan kontrol dan pertimbangan) berlangsung diantara ketiganya. Karakteristik sistem presidensiil di Amerika Serikat adalah sebagai berikut: (a). Bahkan kecenderungan kearah sistem parlementer demikian kental. Mahkamah Agung. (b).. yakni hak Presiden untuk tidak menyetujui suatu RUU yang diajukan leh Congres. 3. Presiden tidak dapat diganggu-gugat sebelum masa 49 . Meteri-menteri diangkat dan diberhentikan oleh presiden. Dalam Penjelasan UUD 1945 disebutkan bahwa DPR tidak bisa dibubarkan oleh presiden.

Presiden dibantu oleh menteri-menteri.jabatannya habis. Presiden berhak mengajukan Rncangan Undang-Undang. hasil dimaksud sebagai berikut : (a) Pasal 5 ayat 1. Pasal 7 . Akan tetapi jika ada kejadian luar biasa. Presiden dan wakil presiden memegang jabatan selama lima tahun dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama. Ketentuan pasal-pasal diatas menunjukkan bahwa sistem pemerintahan Indonesia dengan yang dianut di AS. Akan tetapi. maka dapat menarik garis persamaan dengan yang ada di Indonesia. dan (e) Pasal 21 ayat 2 : Jika Rancangan UU meskipun disetujui DPR. 4. (d). mirip dengan ciri sistem pemerintah parlementer. mengenai pemilihan Presiden dan Wakil Presiden yang dipilih dan diangkat oleh MPR dengan suara terbanyak (pasal 6 ayat 2). Badan-badan peradilan bebas dari pengaruh kekuasaan apapun. dan (e). Pasal 21 ayat 1 . maka badan Perwakilan dapat menuntut presiden melalui Impeachment (pengadilan oleh DPR). tidak sesuai dengan proses pemilihan Presiden langsung seperti AS. (b). melainkan oleh Hakim Agung yang dipanggil ke DPRuntuk melakukan pemeriksaan terhadap Presiden. Pasal ini dukunya berbunyi ´Presiden memegang kekuasaan membentuk Undang-Undang dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat´. yang diangkat dan diberhentikan oleh presiden. Juga dalam Penjelasan Umum UUD 1945 yang menegaskan bahwa Presiden dalam melaksanakan pemerintahan bertanggung jawab kepada MPR. sebagaimana dikonstruksikan di dalam UUD 1945 (sebelum amandemen) sebagai berikut : (a). tapi tidak disahkan Presiden. hasil amandemen pertama ini sangat terkait dengan penegasan sistem pemerintahan. 50 . Hakim peradilan ada yang dipilih oleh rakyat dan ada pula yang diangkat untuk seumur hidup atau selama tenaganya masih mampu menjalankan tugas dan wewenang nya. misalnya presiden melakukan perbuatan melanggar hukum. Presiden memegang kekuasaan membentuk UU dengan persetujuan DPR. Berdasarkan karakteristik sistem presidensiil di AS tersebut di atas. maka tidak boleh dimajukan dalam persidangan masa itu. Anggota-anggota DPR berhak memajukan Rancangan UU. Pasal 4 ayat 1 . Pasal 5 ayat 1 . Mekanisme impeachmenti tidak dilakukan sendiri oleh anggota DPR. (c). Presiden memegang kekuasaan pemerintahan (b). Pasal 17 ayat 1 dan 2 . Sistem Pemerintahan Indonesia Menurut UUD 1945 Setelah Amandemen Amandemen pertama terhadap UUD 1945 berlangsung pada Sidang Umum MPR Tahun 1999.

(4). maka dua pasangan calon yang memperoleh suara terbanyak pertama dan kedua dalam pemilihan umum dipilih oleh rakyat secara langsung dan pasangan yang memperoleh suara terbanyak dilantik sebagai pasangan Presiden dan wkil presiden. sehingga masa jabatannya mencapai 32 tahun. (c). Pasal 17 ayat 2.VI/MPR/1999 tentang Tata Cara Pencalonan dan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Hasil amandemen terkait dengan pemilihan Presiden dimuat dalam Pasal 6A. Sebeleum berubah. Pada tahun 1999 memang amandemen sudah dilakukan untuk pertama kali. dan pemilihannya dilakukan oleh anggota MPR. Dilantik menjadi presiden dan wakil presiden. Pasal 20 ayat 1: Dewan Perwakilan Rakyat memegang kekuasaan membentuk Undang-Undang. maka presiden dan wakil presiden tidak lagi bertanggung jawab kepada MPR. Melainkan bertanggung jawab secara langsung kepada rakyat. yang isinya antara lain bahwa calon Presiden diajukan oleh Fraksi MPR. Presiden tidak bertanggung jawab kepada MPR. pasal 3 ayat (3) Amandemen UUD 1945 menegaskan 51 . pasal tersebut menjadi dasar konstitusional bagi Presiden Soeharto untuk dipilih berulang kali. namun belum sampai pada ketentuan pemilihan Presiden. Menteri-menteri diangkat dan diberhentikan oleh presiden. Pasangan calon presiden dan wakil presiden yang mendapat suara lebih dari lima puluh persen dari jumlah suara pemilihan umum dengan sedikitnya dua puluh persen suara disetiap provinsi yang tersebar di lebih dari setengah jumllah provinsi di Indonesia. antara lain menegaskan (1). Berkaitan dengan hal ini. namun dalam prakteknya masih tetap belum dilaksanakan secara murni. (3). Dalam hal tidak ada pasangan calon presiden dan wakil presiden tepilih. Hal nampak jelas tertuang di dalam Ketetapan MPR No. ditegaskan bahwa psresiden dan wakil presiden akan dipilih secara langsung oleh rakyat. Baru setelah amandemen keempat ditetapkan pada sidang tahunan MPR tahun 2002. Berdasarkan ketentuan tersebut. Pasal ini merupakan bentuk perubahan signifikan dari ketentuan sbelum amandemen yang menegaskan : ´Pesiden dan wakil presiden memegang jabatannya selama masa lima tahun. Kendati pasal-pasal UUD 1945 yang sudah di amandemen tersebut memberikan indikasi pelaksanaan sistem presidensiil. dan sesudahnya dapat dipilih kembali´. Karena itu pemilihan Presiden masih mengacu pada pasal yang belum di amandem.Tata cara pelaksanaan peilihan Presiden dan wakil presiden lebih lanjut diatur dengan Undang-Undang. serta (d).hanya untuk satu kali masa jabatan. (5). Pasangan calon presiden dan wakil presiden diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilihan umum sebelum pelaksanaan pemilihan umum. (2). Perisiden dan wakil presiden dipilih dalam satu pasangan secara langsung oleh rakyat.

dan atau terbukti bahwa Presiden dan atau Wakil Presiden tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan atau Wakil Presiden. tindak pidana lainnya. korupsi. MPR wajib menyelenggarakan sidang untuk memutuskan usul DPR menerima usul tersebut. DPR menyelenggarakan sidang paripurna untuk meneruskan usul pemberhentian Presiden dan atau Wakil Presiden kepala MPR. Atau perbuatan tercela.tindak pidana berat lainnya. atau perbuatan tercela maupun apabila terbukti tidak lagi memenuhi syarat sebagai presiden dan atau Wakil presiden. pemberhentian Presiden dan atau wakil presiden atas usul Dewan Perwakilan Rakyat apabila terbukti melakukan pelanggaran hukum yang berupa pengkhianatan terhadap negara. (3). korupsi. Pendapat DPR bahwa Presiden dan atau Wakil Presiden. mengadili dan memutus pendapat DPR tentang adanya indikasi perbuatan melanggar hukum yang dilakukan oleh Presiden dan atau Wakil Presiden. Keputusan MPR atas usul pemberhentian Presiden dan atau Wakil Pesiden 52 . pasal 7B UUD 1945 secara lengkap menyatakan : (1). Pengajuan permintaan DPR kepada MK hanya dapat dilakukan dengan dukungan sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota DPR yang hadir dalam sidang paripurna yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota DPR. mengadili. telah melakukan pelanggaran hukum atau telah tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan atau Wakil Presiden adalah dalam rangka pelaksanaan fungsi pengawasan DPR. atau pebuatan tercela. korupsi. Menurut pasal 7A UUD 1945. maka Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) terlebih dahulu mengajukan permintaan kepada Mahkamah Konstitusi (MK) untuk memeriksa. Untuk mengusulkan pemberhentian Presiden dan atau Wakil Presiden. MK wajib memeriksa. (2). (4). (6). penyuapan. Mengenai hal ini. Usul pemberhentian Presiden dan atau Wakil Presiden dapat diajukan oleh DPR kepada MPR hanya dengan terlebih dahulu mengajukan permintaan kepada MK untuk memeriksa. penyuapan. penyuapan. (7). Apabila MK memutuskan bahwa Presiden dan atau Wakil Presiden terbukti melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara. dan atau pendapat bahwa Presiden dan atau Wakil Presiden tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan atau Wakil presiden. mengadili dan memutus pendapat DPR bahwa Presiden dan atau Wakil Presiden telah melakukan pelanggaranhukum yang berupa pengkhianatan terhadap negara. (5).´Majelis Permusyawaratan Rakyat hanya dapat memberhentikan presiden dan atau wakil presiden dalam masa jabatannya menurut Undang-Undang´.dan memutus dengan seadil-adilnya terhadap pendapat DPR tersebut paling lambat sembilan puluh hari setelah permintaan DPR itu diterima oleh MK. tindak pidana berat lainnya.

d. Hukum Tatanegara. maka setelah UUD 1945 diamandemenkan. Hal ini berarti telah mengubah paradigma yang selama ini mewarnai sistem pertanggung jawaban Presiden dan atau Wakil Presiden kepada MPR. Di pandang politik. jikalau Presiden dan atau Wakil Presiden telah melaksanakan pertanggung jawaban hukum tersebut. Sedangkan untuk pertanggung jawaban politis merupakan konsekuensi logis.harus diambil dalam rapat paripurna MPR yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya ¾ dari jumlah anggota dan disetujui oleh sekurang-kurangnya ¾ dari jumlah anggota yang hadir. setelah Presiden dan atau Wakil Presiden diberi kesempatan menyampaikan penjelasan dalam rapat paripurna MPR. 53 . Hal ini berarti Presiden dan atau Wakil Presiden hanya dapat dijatuhkan. Sistem pemerintahan negara mempergunakan Sistem Presidensiil murni. Catatan Bab ini banyak diambil dari Bab III buku Hestu Cipto Handoyo. pertanggung jawaban Pesiden dam atau Wakil Presiden lebih menekankan pada pertanggung jawaban politis. Kewarganegaraan. Artinya antara kedua lembaga ini tidak bisa saling menjatuhkan. Perubahan tersebut dapat diilustrasikan sebagai berikut: a. Presiden dan atau Wakil Presiden serta parlemen yang terdiri dari dua kamar (DPR dan DPD) dipilih langsungoleh rakyat melalui Pemilihan Umum. jikalau ditengarai telah melakukan pelanggaran hukum berat. kedudukan Presiden dan atau Wakil Presiden serta parlemen sama-sama kuat. Penerbit UAJ Yogyakarta. b. c. terdapat perubahan sistem pemerintahan Negara Republik Indonesia yang cukup fundamental. Dalam paradigma lama. Pertanggung jawaban yang dibebankan kepada Presiden dan atau Wakil Presiden kepada parlemen harus diawali dengan adanya pertanggung jawaban hukum (yuridis). Dikenal adanya lembaga peradilan konstitusi. e. jikalau melakukan perbuatan yang berkaitan dengan hal-hal yang bersifat yuridis. yakni Mahkamah Konstitusi (MK) yang mempunyai wewenang untuk melakukan impeachment kepada Presiden dan atau Wakil Presiden. dan Hak Asasasi Manusia. Berdasarkan mekanisme pertanggung jawaban tersbut diatas. 2003.

BAB V OTONOMI DAERAH Kompetensi Dasar 1. Merumuskan pengertian dan hakikat otonomi daerah dan desentralisasi. 2. Mendeskripsikan pentingnya otonomi dan desentralisasi 3. Mendeskripsikan argumentasi memilih otonomi dan desentralisasi. 4. Mendeskripsikan perkembangan otonomi dan desentralisasi di Indonesia. 5. Membandingkan kebijakan otonomi dan desentralisasi dalam UU. No. 22 Tahun 1999 dengan UU. No. 32 Tahun 2004. 6. Merumuskan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan di daerah. A. Pengertian dan Hakikat Otonomi Daerah Istilah otonomi daerah dan desentralisasi dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan sering digunakan bergantian. Kekdua istilah tersebut secara akademik bisa dibedakan, namun secara praktis dalam penyelenggaraan pemerintahan tidak dapat dipisahkan. Karena itu tidak mungkin masalah otonomi daerah dibahas tanpa mempersandingkannya dengan konsep desentralisasi. Bahkan menurut banyak kalangan otonomi daerah adalah desentralisasi itu sendiri. Karenanya pembahasan otonomi daerah biasanya diulas dengan memakai istilah desentralisasi. Kedua istilah tersebut bagaikan dua sisi mata uang yang saling menyatu namun dapat dibedakan. Desentralisasi pada dasarnya mempersoalkan pembagian kewenangan kepada organorgan penyelenggara negara, sedangkan otonomi menyangkut hak yang mengikuti pembagian wewenang tersebut. Konsep desentralisasi sering dibahas dalam konteks pembahasan mengenai sistem penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. Pada masa sekarang, hampir setiap negara menganut desentralisasi sebagai asas dalam sistem penyelenggaraan

pemerintahan negara. Desentralisasi bukan merupakan sistem yang berdiri sendiri melainkani merupakan rangkaian kesatuan dari suatu sistem yang lebih besar. Suatu negara menganut desentralisasi bukan karena alternatif dari sentralisasi. Antara Desentralisasi dan sentralisasi tidak dilawankan, dan karenanya tidak bersifat dikotomis, melainkan merupakan sub-sub sistem dalam kerangka sistem organisasi negeranya. Karenanya, suatu negara merupakan payung desentralisasi dan sesntralisasi. Otonomi dalam maka sederhana dapat diartikan sebagai ³mandiri´. Sedangkan dalam makna yang lebih luas diartikan sebagai ³berdaya´. Otonnomi daerah dengan demikian berarti kemandirian suatu daerah dalam kaitan perbuatan dan pengambilan 54

keputusan mengenai kepentingan daerahnya sendiri. Jika daerah sudah mampu mencapai kondisi tersebut, maka daerah dapat dikatakan sudah berdaya melakukan apa saja secara mandiri tanpa tekanan dari luar.. Desentralisasi sebagaimana didefinisikan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) adalah penyerahan kewenangan dari pusat kepada daerah. Proses itu melalui dua cara yaitu, delegsi kepada pejabat-pejabat didaerah atau dengan devolusi kepada badanbadan otonomi daerah. Akan tetapi, tidak dijelaskan isi dan keluasaan kewenangan serta konsekuensi penyerahan kewenangan itu bagi badan-badan otonomi daerah. Desentralisasi diartiakn pula sebagai transfer kewenangan untuk untuk

menyelenggarakan beberapa pelayanan kepada publik dari seseorang atau agen pemerintah pusat kepada beberapa individu atau agen lain yang lebih dekat kepada publik yang dilayani. Landasan yang mendasari tranfer ini adalah teritorial dan fungsional. Teritorial maksudnya adalah menempatkan kewenangan kepada level pemerintahan yang lebih rendah dalam wilayah geografis tertentu, sedang fungsional artinya transfer kewenangan kepada agen yang secara fungsional terspensialisasi. Transfer kewenangan secara fungsional ini memiliki tiga tipe : pertama; apabila pendelegasian kewenangan itu di dalam struktur politik formal misalnya, dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah.; kedua; jika transfer itu terjadi didalam struktur administrasi publik, misalnya dari kantor pusat sebuah kementerian kepada kantor kementerian yang ada di daerah; ketiga, jika tranfer tersebut dari institusi negara kepada agen non negara, misalnya penjualan aset pelayanan publik seperti telepon atau penerbangan kepada sebuah perusahaan (M.Turner dan D. Hulme dalam Teguh Yuwono, 2001: 27) Rondinelli mendefinisikan desentralisasi sebagai transfer tanggung jawab dalam perancangan, manajemen dan alokasi sumber-sumber dari pemerintah pusat dan agenagennya kepada unit kementerian pemerintah pusat, unit yang ada dibawah level pemerintah, otoritas atau korporasi publik semi otonomi, otoritas regional atau fungsional dalam wilayah yang luas, atau lembaga privat non pemerintah dan organisasi nirlaba (Teguh Yuwono, 2001: 28). Jadi desentralisasi adalah pelimpahan kewenangan dan tanggung jawab dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. B. Arti Penting Otonomi Daerah dan Desentralisasi

55

Krisis Ekonomi dan politik yang melanda Indonesia sejak tahun 1997 telah memporak-porandakan hampir seluruh sendi-sendi ekonomi dan politik negeri ini yang telah dibangun cukup lama. Lebih jauh lagi, krisis ekonomi dan politik yang berlanjut menjadi multikrisis telah mengakibatkan semakin rendahnya tingkat kemampuan dan kapasitas negara dalam menjamin kesinambungan pembangunan. Krisis tersebut salah satunya diakibatkan oleh sistem manajemen negara dan pemerintahan yang sentralistik, yaitu kewenangan dan pengelolaan segala sektor pembangunan berada dalam kewenangan pemerintah pusat, sementara daerah tidak memiliki kewenangan untuk mengelola dan mengatur daerahnya. Sebagai respon dari krisis tersebut, pada masa reformasi dicanangkan kebijakan restrukturisasi sistem pemerintahan yang cukup penting, yaitu melaksanakan otonomi daerah dan pengaturan perimbanagan keuangan antara pusat dan daerah. Paradigma lama dalam manajemen negara dan pemerintahan yang berporos pada sentralisme kekuasaan diganti menjadi kebijakan otonomi yang berpusat pada desentralisasi. Kebijakan otonomi daerah terkait pula dengan upaya politik pemerintah pusat untuk merespon tuntutan kemerdekaan atau negara federal dari beberapa wilayahyang

memiliki aset sumber daya alam melimpah namun tidak mendapatkan haknya secara proposional pada masa pemerintahan Orde Baru. Desentralisasi dianggap dapat menjawab tuntutan pemerataan pembangunan sosial ekonomi, penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan kehidupan berpolitik yang efektif. Sebab Desentralisasi menjamin penanganan tuntutan masyarakat secara variatif dan cepat. Ada beberapa alasan mengapa kebutuhan terhadap desentrslisasi di Indonesia saat ini dirasakan sangat mendesak. Pertama, kehidupan berbangsa dan bernegara selama ini sangat terpusat di Jakarta, sementara itu pembangunan dibeberapa wilayah lain dilalaikan. Kedua, pembagian kekayaan secara tidak adil dan merata, daerah-daerah yang memiliki sumber kekayaan alam melimpah, seperti Aceh, Riau, Papua, Kalimantan, dan Sulawesi ternyata tidak menerima perolehan dana yang patut dari pemerintah pusat. Ketiga, kesenjangan sosial antar daerah sangat terasa.

Pembangunan fisik disatu daerah berkembang pesat, sedangkan dibanyak daerah masih lamban dan bahkan terbengkalai. Sementara itu ada alasan lain yang didasarkan pada kondisi ideal, sekaligus memberikan landasan filosofis bagi penyelenggaraan pemerintahan daerah

(desentralisasi) sebagaimana dinyatakan oleh The Liang Gie sebagai berikut : (1). 56

alasan mengadakan pemerintahan daerah (desentralisasi) adalah semata-mata untuk mencapai suatu pemerintahan uang efisien. (3). bidang sosial. Apa yang dianggap lebih utama untuk diurus oleh pemerintah setempat. untuk menarik rakyat ikut serta dalam pemerintahan dan melatih diri dalam mempergunakan hak-hak demokratis. Dari sudut kepentingan pembangunan ekonomi. dan lain-lainnya. Juga fungsi ekstraktif dalam memobilisasi sumber daya keuangan untuk membiayai aktifitas penyelenggaraan negara. Selain itu memberikan pelayanan dan perlindungan kepada masyarakat. seperti geografi. pengurusannya diserahkan kepada daerah. desentralisasi perlu diadakan supaya adanya perhatian dapat sepnuhnya ditumpukan kepada kekhususan sesuatu daerah. kesejahteraan masyarakat. Dalam bidang politik. pertahanan. desentralisasi diperlukan karena pemerintah daerah dapat lebih banyak dan secara membantu pembangunan tersebut.(4). keuangan. penyelenggaraan desentralisasi dianggap sebagai tindakan pendemokrasian. politik. tidaklah mungkin hal itu dapat dilakukan dengan cara yang sentralistik. Daris sudut teknik organisatoris pemerintahan. serta mempertahankan diri dari kemungkinan serangan dari negara lain. integrasi sosial. Untuk Terciptanya Efesiensi-Efektivitas Penyelenggaraan Pemerintahan Pemerintah berfungsi mengelola berbagai dimensi kehidupan seperti. (5). keadaan penduduk. Argumentasi yang digunakan dalam memilih desentralisasi dan otonomi dalam penyelenggaran pemerintahan diantaranya adalah sebagai berikut: 1. dan pemerintahan negara menjadi tidak efisien dan tidak akan mampu menjalankan tugasnya dengan baik.Dilihat dari sudut politik sebagai permainan kekuasaan. Oleh karena itu. Pemerintahan daerah akan pengembangan demokrasi dalam sebuah menyediakan kesempatan bagi warga masyarakat untuk berprestasi politik. menjaga keutuhan negara dan bangsa. merupakan tugas pemerintahan yang bersifat universal. langsung 2. Dari sudut kultur. keamanan dalam negeri. baik dalam 57 . watak kebudayaan atau latar belakang sejarahnya. kegiatan ekonomi. Sebagai Sarana Pendidikan Politik Pemerintahan daerah dapat dipandang sebagai kancah pelatihan dan negara. Selain itu pemerintah juga mempunyai fungsi distributif dan fungsi regulatif untuk penyediaan barang dan jasa. (2). desentralisasi dimaksudkan untuk mencegah penumpukan kekuasaan pada satu pihak saja yang pada akhirnya dapat menimbulkan tirani. ekonomi.

3. dapat terlibat dalam mempengaruhi pemerintah ketika membuat kebijakan. 58 . Kesetaraan Politik (Political Equalilty) Dibentuknya pemerintahan daerah akan mewudkan kesetaraan politik diantara berbagai komponen masyarakat. untuk berpartisipasi dalam segala bentuk kegiatan penyelenggaraan negara. gerakan ini muncul karena daerah melihat kenyataan kekuasaan pemerintah Jakarta yang sangat dominan. terutama pemerintahan daerah (eksekutif dan legislatif lokal). akan mempunyai peluang untuk ikut serta dalam politik lokal. Pemerintahan Daerah Sebagai Persiapan Untuk Karir Politik Lanjutan Pemerintah daerah merupakan langkah persiapan untuk meniti karier lanjutan. Keberadaan institusi lokal. Dengan demikian kebijakan yang dibuat akan dapat diawasi secara langsung dan dapat dipertanggung jawabkan karena masyarakat terlibat secara langsung dalam penyelenggaraan pemerintahan. lewat kelompok atau perrangan. termasuk didaerah. 4. Akuntabilitas Politik Demokrasi memberikan ruang dan peluang kepada masyarakat. 5. Gejolak disintegrasi yang terjadi dibeberapa daerah merupakan contoh konkrit keterkaitan ketidakstabilan politik yang muncul karena pemerintah nasional tidak menjalankan otonomi dengan tepat. Keterlibatan ini sangat dimungkinkan sejak dari awal tahap pengambilan keputusan sampai dengan evaluasi. dan bahkan Gubernur. Wali Kota. Disamping itu warga masyarakat.rangka memilih atau kemungkinan untuk dipilih dalam suatu jabatan politik. Bupati. Stabilitas Politik Stabilitas politik nasional berawal dari stabilitas politik pada tingkat lokal. Dengan demikian pendidikan politik pada tingkat lokal sangat bermanfaat bagi warga masyarakat untuk menentukan pilihan politiknya. merupakan wahana yang banyak dimanfaatkan guna menapak karier politik yang lebih tinggi. Karena sesuatu yang mustahil bagi seseorang dapat muncul dengan begitu saja menjadi politisi berkaliber nasional ataupun internasional. Mereka yang tidak mempunyai peluang untuk terlibat dalam politik nasional dan dipilih menjadi pemimpin nasional. 6. Masyarakat di daerah akan mempunyai kesempatan untuk terlibat dalam politik. terutama yang menyangkut kepentingan mereka. Terjadinya pergolakan daerah pada tahun 19571958 dengan puncaknya adalah kehadiran PRRI dan PERMESTA. baik dalam pemilihan umum lokal ataupun dalam rangka pembuatan kebijakan publik. apakah melalui pemberian suara pada waktu pemilihan Kepala Desa. terutama karier dibidang politik dan pemerintahan ditingkat nasional.

Ketika konstelasi politik berubah. pemerintah bersama BP-KNIP berupaya melahirkan UU Otonomi Daerah yang benarbenar didasarkan atas kedaulatan rakyat. Menyadari akan kekurangan yang terdapat dalam UU No. 18 dengan jelas mengatur penyelenggaraan pemerintahan daerah dengan tetap menghormati keberagaman yang dimiliki daerah. hanya ada satu bentuk susunan pemerintahan.C. UU ini secara garis besar mengandung tiga prinsip dasar desentralisasi. 6 Tahun 1959 dan kemudian disempurnakan melalui Penpres No. Kenyataan ini mendasari para pendiri bangsa ketika menyusun UUD 1945. 1 Tahun 1957 tentang Pokok-Pokok Pemerintah Daerah. diletakkan pada satu tangan. Guna menindaklanjuti ketentuan Pasal 18 tersebut. 1 Tahun 1945. Ketika itu pemerintah mengambil tindakan drastis dengan mengubah UU No. yaitu : (1). 6 Tahun 1959 adalah sebagai berikut: (1). pemerintah lebih dulu mengatur mengenai keberadaan pemerintah daerah. Di daerah-daerah (daerah besar dan kecil). (3). Penyelenggaraan tugas di bidang pemerintahan umum pusat di daaerah dan tugas dibidang ekonomi daerah. (2). yang tersusun secara demokratis. 5 Tahun 1960. (2). UU ini memberikan hak otonomi dan tugas pembantuan (medebewind) yang seluas-luasnya kepada badan-badan pemerintah daerah. otonomi daerah mengalami kemunduran. Kepada daerah diberikan hak otonom yang seluas-luasnya untuk mengatur dan mengurus rumah tangga daerahnya. yaitu pemerintah daerah yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya atau daerah otonomi.1 Tahun 1945 yang mengatur pemerintah daerah. Kedudukan kepala daerah tidak lagi hanya sebagai alat daerah. Perkembangan Desentralisasi dan Otonomi Daerah di Indonesia. Negara Indonesia memiliki penduduk yang heterogen dan tersebar di berbagai daerah dengan karakteristik sendiri-sendiri. dengan menganut sistem otonomi riil. Menginginkan agar melaksanakan politik desntralisasi dan memberikan hak-hak otonomi kepada daerah-daerah. yaitu kepala daerah. Dalam rangka itu kemudian lahirlah UU No. disamping tetanp menjalankan politik dekonsentrasi. 22 tahun 1948 tentang Pemerintahan Daerah.1 Tahun 1957 dan menggantinya dengan Penpres No. Prinsip-prinsip pokok yang diatur dalam dalam Penpres No. yaitu UU No. tetapi 59 . Jadi sebelum mengatur yang lain. pemerintah mengeluarkan UU baru tentang pemerintahan daerah. untuk pertama kali pemerintah mengeluarkan UU No. Daerah-daerah dibentuk menurut susunan derajat dari atas bawah sebanyak tiga tingka. saat terjadi pergeseran dari Demokrasi Parlementer ke Demokrasi Terpimpin melalui Dekrit Presiden 5 juli 1959 dengan kembali ke UUD 1945. Saat Indonesia kembali menjadi negara kesatuan dan berdasarkan UUDS 1950.

kepala daerah adalah pegawai negara. melainkan bersifat tunggal. ketertiban. Singkatnya. Pertama. perencanaan dan pelaksanaan yang bertalian dengan urusan yang diembannya. sejak awal pemerintah Orde Baru dalam menciptakan otonomi daerah adalah untuk menciptakan keamanan. dan (6). Bersamaan dengan itu. Namun sayang UU ini tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan. 5 Tahun 1974 selain menerapakan asas desentralisasi. melalui UU No. Dalam penjelasannya disebutkan bahwa pemerintah akan terus dan konsekuen menjalankan politik desentralisasi untuk menuju kearah tercapainya desentralisasi territorial. ditegaskan bahwa kepala daerah karena jabatannya adalah Ketua DPRD dan bukan anggota. pemerintah mengeluarkan UU sebagai pengganti Penpres No. 6 Tahun 1959. 19 Tahun 1965 tentang desa praja sebagai bentuk peralihan untuk mempercapat terwujudnya Daerah Tingkat III di seluruh tahah air. kebijakan otonomi daerah juga mengalami perubahan. Cita-cita untuk mewujudkan politik desentralisasi menjadi terhambat. Meski dalam UU tersebut menyebutkan bahwa pemerintah mencanangkan prinsip otonomi yang nyata dan bertanggung jawab. Pada Tahun 1965. Hal ini berdampak daerah tidak memiliki ruang gerak dalam penetapan kebijakan. Kepala daerah mempunyai kekuasaan untuk menangguhkan keputusan DPRD yang bersangkutan dan keputusan pemerintah daerah bawahannya. kepala daerah tidak bersifat kolegial. Dalam kedudukan itu. UU ini merangkum pokok-pokok pikiran cita-cita desentralisasi dari perundang-undangan sebelumnya. ketenangan. kebijakan desentralisasi pada masa Orde Baru dalam praktik cenderung ke bandul sentralisasi. Sebab. yaitu UU No. (5). dibentuk pula UU No. yaitu meletakkan tanggung jawab territorial riil dan seluas-luasnya dalam tangan pemerintah daerah. Kenyataan lain adalah terbatasnya wewenang daerah dalam bidang keuangan. Ketika pergantian rezim dari Demokrasi terpimpin ke Rezim Orde Baru. yaitu dari desentralisasi menjadi dekonsentrasi. juga bidang kepegawaian yang terpusat. namun dalam operasional prinsip tersebut menimulkan perubahan. 5 Tahun 1960. kebijakan yang dilakukan lebih mencerminkan pelimpahan wewenang ketimbang penyerahan wewenang. tidak lagi bertanggung jawab kepada DPRD melainkan kepada Presiden. Dalam menjalankan kekuasaan eksekutif.sekaligus juga sebagai wakil pemrintah pusat didaerah. 18 Tahun 1965. Dalam praktik. pemerintah pusat masih memiliki wewenang dalam mengatur urusan-urusan yang dikelolanya didaerah lewat desentralisasi dan medebewind. (3). Penambahan melalui Penpres No. persatuan dan 60 . Ada beberapa hal yang dapat menjelaskan mengapa seperti itu. (4).

yaitu: (1). Sistem Otonomi Luas dan Nyata. atau kota. Dengan sistem ini pemerintah daerah berwenang melakukan apa saja yang menyangkut penyelenggaraan pemerintahan kecuali dibidang politik luar negeri. (4). Ini dilakukan dalam rangka lebih mendekatkan pelayanan kepada masyarakat. Mendekatkan pemerintah dengan rakyat. Kedua. Pengaturan mengenai keuangan daerah ini karena adanya tuntutan keterbukaan politik (demokratisasi). Demokrasi dan Demokratisasi. daerah harus dibiayai dari dana Anggaran 61 . juga karena pemerintah pusat ingin mengatasi masalah disintegrasi yang melanda Indonesia. dan birokrasi sipil sebagai pelaku pelaksana. daerah memiliki kebebasandan berprakarsa untuk mengatur daerahnya sendiri. dan fiskal. Titik berat otonomi ada pada daerah kabupaten atau kota. 1.22 Tahun 1999 Era reformasi menjadi titik tolak perubahan kebijakan desentralisasi lebih nyata. 22 tahun 1999. Dengan peraturan itu. pemerintah ingin selalu memusatkan sumber daya yang tetap langka untuk keperluan pembangunan. Rekrutmen pejabat politik didaerah menyerahkan kewenangan sepenuhnya kepada masyarakat melalui DPRD dan tidak ada lagi campur tangan pemerintah pusat. Jika sebelumnya begitu terkekang. Reformasi memberi hikmah besar kepada daerah-daerah untuk menikmati otonomi yang sesungguhnya. Ketiga. militer sebagai stabilator. di Era Reformasi malalui UU No. (5). tidak memiliki kewenangan dalam melakukan pembangunan daerah. pemerintah Orde Baru menganut formula strategi pembangunan dengan menjadikan para ahli ekonomi berfungsi sebagai pembuat kebijakan. Namun terlepas dari alasan yang sesungguhnya dibalik lahirnya kedua UU tersebut. Crinya yang menonjol dari UU yang baru ini. Sedang mengenai proses legislasi dan regulasi didaerah tidak lagi harus disahkan oleh pemerintah pusat. diharapkan tuntutan daerah untuk melepaskan diri tidak akan terjadi.stabilitas. sehingga distribusi dan penggunaannya memenuhi kriteria keadilan dan efesiensi. Semakin lengkap pengaturan daerah dengan lahirnya UU No. Tidak menggunakan sistem Otonomi bertingkat. Ciri ini menyangkut dua hal. kebijakan otonomi daerah Era Reformasi ini sungguh mengalami kaemajuan yang luar biasa. tidak mengenal daaerah tingkat I dan II juga tidak ada hirarki antara provinsi dengan kabupaten Penyelenggaraan tugas pemerintah dan Belanja Dan Pendapatan Negar (APBN). Kebijakan Otonomi Daerah Menurut UU No. moneter. (3). yaitu rekrutmen pejabat politik di daerah dan proses legislasi di derah. (2). 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah.

2. mengandung kelemahan sehingga memunculkan dampak negatif dalam implementasi otonomi daerah. Dari sisi kebijakan. 5 Tahun 1974. terjadi primordialisme dalam pengangkatan kepala daerah dan jajaran birokrasi. Pihak yang setuju menyatakan bahwa UU tersebut sangat demokratis bahkan bersifat liberal. Ketiga. 22 Tahun 1999 menimbulkan pro-kontra. Keempat. kebijakan pemerintah dituntut lebih terbuka. tidak adanya otoritas lembaga yang kuat untuk menyelesaikan konflik yang terjadi antar daerah. 22 Tahun 1999 sudah member ruang lebih baik dalam penyelenggaraan otonomi daerah. akuntabilitas DPRD kepada publik. ketKeenam. Belum terjadi perubahan yang signifikan terhadap otonomi daerah. Kebijakan Otonomi Daerah Menurut UU No. penyediaan pelayanan dasar yang belum memadai. kebijakan otonomi daerah hanya menguntungkan daerahdaerah kaya SDA. paling tidak UU No. aspek kelembagaan pemerintahan daerah yang menempatkan posisi DPRD selalu dominan. Sementara pihak yang tidak setuju mengatakan bahwa UU tersebut masih bersifat setengah hati dan masih menerapkan paradigma lama. Kedua. Sebab masih banyak kewenangan yang diurus oleh pusat dan dana perimbangan belum mencerminkan rasa keadilan. Akibat kelemahan-kelemahan tersebut muncullah desakan perlunya revisi terhadap UU No. Desakan muncul di antaranya LIPI. Selain itu. Kellima. sisi implementasi otonomi daerah juga memunculkan dampak negatif. terjadi konflik dalam memperebutkan sumber daya antar daerah. namun ada sejumlah kelemahan di dalamnya. Ketujuh. 22 Tahun 1999. demokratis dan membuka ruang bagi partisipasi masyarakat. 32 Tahun 2004 Meski UU No.Belakangan UU No. Memberikan kewenangan kepada daerah seluas-luasnya untuk mengembangkan daerah atas prakarsa sendiri. Pertama. tidak adanya ruang partisipasi publik dalam mengontrol kebijakan publik. Pertama. terjadi friksi antara kepala daerah dengan DPRD dalam hal Laporan Pertanggung jawaban kepala Daerah. Ketiga. Kelima. munculnya ³raja-raja kecil´ didaerah-daerah. 22 Tahun 1999 telah memberi ruang desentralisasi (politik dan administrasi) yang lebih besar kepada daerah sehingga memungkinkan adanya ruang dan kesempatan yang lebih luas bagi partisipasi masyarakat dan pembangunan daerah. Dengan demikian. Kedua. Benyak kemajuan dalam UU ini dibandingkan dengan UU No. Keempat. antara lain. Lembaga ini 62 . organisasi perangkat daerah menjadi gemuk dan besar. ekonomi biaya tinggi akibat dampak upaya menigkatan sumber PAD dengan meningkatkan tarif dan ekstensifikasi retribusi dan pajak daerah. Terlepas dari pro-kontra tersebut.

(2) melimpahkan sebagian kepada gubernur 63 . prakarsa dan pemberdayaan masayarakat yang bertujuan pada peningkatan kesejahteraan rakyat. Diantara substansi kebijakan otonomi daerah yang perlu diperbaiki adalah: Pertama. yakni memerapkan kebijakan otonomi dengan melakukan resentralisasi. Sedangkan usulan Pemerintah (Depdagri). Pemerintah pusat dalam menyelenggarakan urusan tersebut dapat berbentuk. Keenam. perlunya institusi yang menangani kerja sama dan perselisihan antar daerah. Keempat.22 Tahun 1999. pertahanan. pelembagaan partisipasi masyarakat. Ketiga. UU No. dan agama. perluasan pendapatan dan keuangan daerah. (1) menyelenggarakan sendiri. Dalam UU itu dinyatakan bahwa otonomi daerah menggunakan prinsip otonomi seluas-luasnya dan prinsip otonomi nyata dan bertanggung jawab. yakni pemberdayaan daerah dan meningkatkan kesejahteraan Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat tetap sebagaimanan UU sebelumnya. yaitu poitik luar negeri. 32 Tahun 2004 berhasil ditetapkan sebagai pengganti UU. akuntabilitas pemerintahan Daerah. Dalam penjelasannya dikemukakan bahwa otonomi seluas-luasnya berarti daerah diberikan kewenangan mengurus dan mengatur semua urusan pemerintahan. Sedang prinsip otonomi yang nyata adalah suatu prinsip bahwa urusan pemerintahaan dilaksanakan berdasarkan tugas. dan kewajiban yang senyatannya telah ada dan berpotensi untuk tumbuh. bukan melakukan perubahan secara mendasar. perubahan perlu dilakukan secara mendasar. kepala daerah dipilih langsung. UU baru tersebut memuat materi materi tentang pemerintahan daerah atau otonomi daerah. 22 Tahun 1999. peningkatan peran serta. dengan cara mengamandemen pasal-pasal yang dianggap lemah dan menambah pasal-pasal baru untuk memperkuat otonomi daerah. Terlepas dari perbedaan pandangan di atas. No.mengusulkan perlunya revisi. sehingga dianggap ³bebas dan tidak bisa dikendalikan oleh pusat´ maka perlu pengaturan kembali untuk ³mengendalikan´ daerah-daerah sesuai dengan keinginan pemerintah. Pemerintah tampaknya melihat kelemahan mendasar pada UU No. wewenang. Otonomi yang bertanggung jawab adalah otonomi yang dalam penyelenggaraan nya harus benar-benar sejalan dengan tujuan dan maksud pemberian otonomi. pengawasan dan penyelesaian konfllik. Daerah memiliki kewenangan membuat kebijakan daerah untuk memberi pelayanan. Kedua. moneter yusitisi. dipandang ³kebablasan´ bagi daerah-daerah. hidup dan berkembang sesuai dengan potensi dan kekhasan daerah. koordinasi keamanan daerah. Ketujuh. Kelima. berbeda dengan LIPI. keamanan.

Penanggulangan masalah sosial.(dekonsentrasi). dan pariwisata´. pertanian. perkebunan. Pelayanan bidang ketenagakerjaan. Pelayanan pertahanan. Pelayanan administrasi penaman modal. Urusan wajib pemerintahan yang diberikan kepada pemerintahan pemerintah daerah sebanyak 16 urusan. Penyediaan sarana dan prasarana umum. dan (16). Penyelenggaraan pelayanan dasar. (11). (8). akuntabilitas dan efisiensi. adalah skala berdasarkan kriteria Urusan pemerintahan provinsi maupun urusan pemerintahan kabupaten/kota terdiri atas urusan-urusan berikut : (1). (3). Pelayanan administrasi umum pemerintahan. Perencanaan dan pengendalian pembangunan.. pemanfaatan. kekhasan dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan´. Kriteria yang menjadi acuan menetapkan urusan pilihan adalah ³secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi. Urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan. (9). sedang urusan pilihan adalah urusan pemerintahaan terkait dengan potensi unggulan dan kekhasan daerah. Pelayanan kependudukan dan catatan sipil. Fasilitas pembangunan koperasi. (4). Pemerintah daerah (provinsi dan kabupaten /kota) selain menyelenggarakan urusan wajib juga dapat melaksanakan urusan pilihan. Jenis urusan pilihan tersebut baru disebutkan secara eksplisit ada pada penjelasan Pasal 13 ayat 2 dan apsal 14 ayat 2 UU No. Penyelenggaraan pendidikan dan alokasi sumber daya manusia potensial. (3) menugaskan sebagian urusan kepada pemerintahan daerah dan atau pemerintahan desa berdasarkan asas tugas pembantuan. (15). (7). sedangkan yang membedakan eksternalitas. perikanan. dan pengawasan tata ruang. Urusan wajib adalah urusan pemerintahan yang berkaitan dengan pelayanan dasar. usaha kecil. Perencanaan. 64 . (6). kehutanan. (12). (10). (13). Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masayarakat. Urusan pilihan yang dapat dilaksanakan oleh pemerintah daerah tidak disebutkan secara ekplisit. dan menengah. Pengendalian lingkungan hidup. (14). kekhasan. dan potensi yang dimiliki antara lain pertambangan. (2). (5). Urusan pemerintahan tersebut berlaku sama baik bagi pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten/kota. Penanganan bidang kesehatan. Sedangkan urusan yang menjadi kewenangan daerah terbagi atas urusan wajib dan urusan pilihan. 32 Tahun 2004 : ³Yang dimaksud dengan urusan pemerintahan yang secara nyata ada dalam ketentuan ini sesuai dengan kondisi.

saksi atau saksi ahli. dan sebagainya. Sesuai dengan prinsip keterbukaan dalam negara demokrasi yang mengharuskan penyelenggara negara membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar. Kewenangan dalam mengelola SDA yang ada di laut ini. serta hadir dalam proses penyelidikan dan sidang pengadilan sebagai saksi pelapor. Dalam pembentukan kawasan khusus itu dapat berbentuk badan otorita.Dalam UU No. maka dalam Peraturan Pemerintah tersebut diatur hak dan tanggungjawab serta kewajiban masyarakat dan penyelenggara negara secara berimbang. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat memperoleh perlindungan hukum dalam menggunakan haknya untuk memperoleh perlindungan hukum dalam menggunakan haknya untuk memperleh dan menyampaikan informasi tentang penyelenggara negara. pemerinatah dapat membentuk kawasan khusus untuk kepentingan nasional. 65 . Kebebasan menggunakan hak tersebut haruslah disertai dengan tanggung jawab untuk mengemukakan fakta dan kejadian yang sebenarnya dengan menaati dan menghormati aturan-aturan moral yang diakui umum serta hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (2). dan nepotisme. (4). D. (3). Sedangkan dalam hal laut disebutkan bahwa laut bukan merupakan wilayah daerah. hak menyampaikan saran dan pendapat secara bertanggungjawab kepada kebijakan penyelenggara negara. good governance dan menciptakan pemerintahan yang bersih dan bebas dari korupsi. kewenangan provinsi hanya 12 mil dan Kabupaten/ Kota sepertiganya. jujur. dan memberikan informasi mengenai penyelenggaraan negara. hak memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan haknya. 32 Tahun 2004 disebutkan juga tentang kawasan khusus. dan tidak diskriminatif mengenai penyelenggaaraan negara. maka pemerintah mengeluarkan PP Nomor 68 Tahun 1999 tentang nepotisme. Peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan negara untuk mewujudkan penyelenggaraan yang bersih dilaksanakan dalam bentuk: (1). hak mencari. Peran Serta Masayarakat dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Dalam rangka menciptakan tata pemerintahan yang baik. kolusi. daerah hanya diberi kewenangan untuk mengelola SDA yang ada di laut. BUMN. hak untuk memperoleh pelayanan yang sama dan adil dari penyelenggara Negara. memperoleh.

sehingga dapat diduga terjadi korupsi. identitas pelapor dan fakta kejadian harus didukung oleh data yang dapat dipertanggungjawabkan. Mewujudkan hal tersebut merupakan sesuatu yang penting. UU Nomor 32 Tahun 2004 lebih memperkuat partisipasi publik ini dengan mengatur pemilihan kepala daerah secara langsung oleh masyarakat. dan menaati hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Ironisnya dalam era reformasi ini mekanisme partisipasi masyarakat dalam pemerintahan daerah juga masih lemah. dan nepotisme dalam lembaga/ unit di bawah tanggungjawabnya. pertama masuknya anggota masyarakat sebagai elected member dari DPRD dan kepala daerah. karena Indonesia merupakan negara yang berada dalam masa transisi menuju demokrasi. Masyarakat juga dapat memberi informasi mengenai suatu penyelenggaraan negara kepada instansi terkait. Hal ini tentu derajat partisipasinya lebih tinggi daripada pemilihan kepala daerah oleh anggota DPR. kolusi. Tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu. wajib memberikan jawaban atau keterangan sesuai dengan tugas dan fungsinya dan tetap memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Masyarakat tidak diperkenankan memberikan laporan yang bersifat fitmah dan provokasi. 66 . penyelenggara negara tidak boleh menolak permintaan masyarakat untuk memperoleh informasi tersebut.Masyarakat yang bermaksud mencari dan memperoleh informasi tentang penyelenggaraan negara berhak menanyakan kepada lembaga atau instalasi terkait baik secara langsung maupun tidak langsung. Setiap penyelenggara negara yang menerima permintaan masyarakat untuk memperoleh informasi tentang penyelenggaraan negara. Ada dua cara partisipasi yang diakui oleh UU Nomor 22 tahun 1999. Masyarakat yang menyampaikan informasi kepada instansi terkait harus menyampaikannya secara bertanggung jawab dengan mengemukakan fakta yang diperoleh. Penyelenggara negara yang menolak dapat dikategorikan sebagai penyelenggara negara yang tertutup. karena masyarakat belum terbiasa dnegan partisipasi aktif dan sukarela. Namun untuk mewujudkan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan negara. Masyarakat masih terbiasa dengan mobilisasi yang sering digunakan secara ekstensif pada masa Orde Baru dan Orde Lama. serta kedua desentralisasi kepada unit yang lebih rendah yakni desa sebagai bentuk dari decentralization within cities. menghormati hak-hak pribadi seseorang sesuai dengan norma-norma yang diakui umum. termasuk pada pemerintahan daerah tidak mudah..

Akibatnya. Mereka lebih berperan sebagai kepanjangan tangan partainya daripada konstituennya. dan sebagainya. tidak ada penjelasan mengenai mekanisme yang bisa dijadikan pedoman dan jaminan bagi pengakuan dan terselenggaranya partisipasi publik. anggota DPRD yang dimaksudkan untuk mewakili kepentingan warga yang memilihnya. apa yang harus dilakukan oleh DPRD dan kepala daerah beserta perangkatnya. bagaimana bentuk keterlibatannya. dan menindaklanjuti (termasuk memfasilitasi tindak lanjut) aspirasi daerah dan masyarakat. Apa yang diungkapkan oleh Gubernur Sutiyoso dalam upaya menghadapi polemik perjudian pada tahun 2002 membuktikan bahwa cara berpikir pemerintah daerah yang hanya didasarkan pada kekuatan perangkat daerah daripada melibatkan masyarakat. Pada praktiknya. Mekanisme kedua yakni desentralisasi pada tingkatan desa yang diatur dalam bentuk kebijakan mengenai pemerintahan desa dalam UU No. apa hak dan kewenangan publik atas pejabat yang dipilihnya. Akan tetapi muncul masalah baru. masyarakat hanya dapat berinteraksi dengan politisi di DPRD yang harus menampung (termasuk memerhatikan dan menyalurkan aspirasi. yakni nilai-nilai demokrasi lokal yang hidup secara tradisional kini telah rusak karena uniformitas yang dipaksakan dalam kebijakan pemerintahan desa masa Orde Baru tersebut. 22/1999. Tidak ada tempat bagi partisipasi dalam tahapan implementasi apalagi kontrol terhadap pemerintah daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Pemerintah daerah hanya berfungsi untuk menjalankan urusan 67 . apa konsekuensi keterlibatannya. UU 32 Tahun 2004 tidak banyak melakukan perubahan dari apa yang diatur oleh UU sebelumnya sehingga melanjutkan format baru pemerintahan desa dalam masa reformasi. ternyata karena sistem pemilu yang dipergunakan. Akan tetapi. terutama di luar Jawa mampu merevitalisasi kembali potensi lokalnya sesuai dengan peluang yang diberikan oleh UU No. 22/1999 ini dianggap lebih demokratis dan partisipatif daripada yang diatur dalam UU No. 5/1979. wujud partisipasi warga melalui cara elected member ini disinyalir telah gagal dan tetap menempatkan warga pada posisi kurang dapat menyalurkan aspirasi dan tuntutan lokalnya dalam pemerintahan daerah. Selain kedua cara utama itu. UU tersebut tidak memberikan ruang lain bagi mekanisme partisipasi masyarakat. apa sanksi atas kelalaian dalam pengabaian partisipasi publik. Siapa yang boleh dan harus terlibat.Khusus untuk yang pertama (elected member). Sampai kini memang masih dibutuhkan lebih banyak kajian menyangkut bagaimana desa-desa adat. menerima keluhan dan pengaduan masyarakat).

Daftar Pustaka Cipto Handoyo. Meskipun demikian. Rosyada. baik itu DPRD maupun kepala daerah beserta perangkatnya. Pendidikan Kewargaan.dan kewenangan kesatuan masyarakat hukum yang ada dalam wilayah tertentu (daerah otonom). 2003. 68 . 2003.. Kewarganegaraan. Dapat dikatakan bahwa tidak ada pengakuan yang nyata bahwa stakeholder utama dalam pemerintahan daerah adalah masyarakat. Bentuk partisipasi yang dinyatakan secara eksplisit lebih sering ditafsirkan sebagai sekadar masukan bagi pengambilan keputusan dan keluhan untuk menyatakan kebutuhn. Yogyakarta: Penerbit UAJ. dan Hak Asasasi Manusia. 21/1999 dan UU 32/2004 membuktikan pengakuan yang masih rendah atas ragam jenis partisipasi yang diatur. Demokrasi. masih dibutuhkan kejelasan mekanisme dalam menyelenggarakan pemerntahan berbasis partisipasi masyarakat. Jakarta: Penerbit Prenada Media. dkk. Tampaknya pengakuan lebih berat timbangannya pada pemerintah daerah. Hestu. Apa yang tertuang secara eksplisit dalam UU No. Hukum Tatanegara. Dede. dan Masyarakat Madani. Hak Asasi Manusia.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful