BAB I DEMOKRASI Kompetensi Dasar

:
1. Menjelaskan hakikat demokrasi 2. Menganalisa sejarah perkembangan demokrasi 3. Menjelaskan pentingnya kehidupan demokratis dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara A. Hakikat Demokrasi

Kata demokrasi terkesan sangat akrab dan seakan sudah dimengerti begitu saja. Namun apa dan bagaimana sebenarnya makna dan hakikat substansi demokrasi mungkin belum sepenuhnya dimengerti dan dihayati. Sehingga perlu diketahui makna dan hakikat demokrasi karena hampir semua negara menjadikan demokrasi sebagai tatanan aktivitas bermasyarakat dan bernegara. Berdasarkan hal tersebut di atas sudah tentu sangat perlu untuk mengetahui lebih dulu makna dan hakikat demokrasi. Banyak para ahli memberikan batasan tentang demokrasi antara lain dilihat dari tinjauan bahasa (etimologis), bahwa demokrasi berasal dari dua kata yang berasal dari bahasa Yunani yaitu ³demos´ yang berarti rakyat atau penduduk suatu tempat dan ³cratein´ atau ³cratos´ yang berarti kekuasaan atau kedaulatan. Jadi secara etimologis, demokrasi adalah keadaan negara di mana dalam sistem pemerintahannya kedaulatan di tangan rakyat, kekuasaan tertinggi berada dalam keputusan bersama rakyat, rakyat berkuasa, pemerintahan rakyat dan kekuasaan oleh rakyat. Sedangkan secara istilah (terminologis) pengertian demokrasi banyak

dikemukakan oleh para ahli, antara lain : (a) Yoseph A. Schmeter, demokrasi merupakan suatu perencanaan institusional untuk mencapai keputusan politik di mana individu-individu memperoleh kekuasaan untuk memutuskan cara perjuangan kompetitif atas suara rakyat; (b) Sidney Hook, demokrasi adalah bentuk pemerintahan di mana keputusan-keputusan pemerintah yang penting secara langsung atau tidak langsung didasarkan pada kesepakatan mayoritas yang diberikan secara bebas dari rakyat dewasa; (c) Philippe C. Schmitter dan Terry Lynn Karl, demokrasi sebagai suatu sistem pemerintahan di mana pemerintah dimintai tanggung jawab atas tindakantindakan mereka di wilayah publik oleh warga negara, yang bertindak secara tidak langsung melalui kompetisi dan kerja sama dengan para wakil mereka yang telah terpilih; (d) Henry B Mayo, demokrasi sebagai sebagai sistem politik merupakan suatu sistem yang menunjukkan bahwa kebijakan umum ditentukan atas dasar mayoritas oleh 1

wakil-wakil yang diawasi secara effektif oleh rakyat dalam pemilihan-pemilihan berkala yang didasarkan atas prinsip kesamaan politik dan diselenggarakan dalam suasana terjaminnya kebebasan politik. Dari beberapa pendapat di atas diperoleh kesimpulan bahwa hakikat demokrasi sebagai sistem bermasyarakat dan bernegara serta pemerintahan memberikan penekanan pada keberadaan kekuasaan di tangan rakyat yang mengandung pengertian tiga hal: Pertama, pemerintahan dari rakyat (government of the people) mengandung pengertian yang berhubungan dengan pemerintahan yang sah dan diakui (legitimate government) dan pemerintahan yang tidak sah dan tidak diakui (unligitimate government) di mata rakyat. Legimitasi suatu pemerintahan sangat penting, karena dengan legitimasi tersebut pemerintahan dapat menjalankan roda birokrasi dan program-programnya sebagai wujud dari amanat yang diberikan oleh rakyat kepadanya.

Kedua, pemerintahan oleh rakyat (government by the people) mengandung arti bahwa pemerintahan menjalankan kekuasaan atas nama rakyat bukan atas dorongan diri dan keinginannya sendiri, serta dalam menjalankan kekuasaannya, maka pemerintah berada dalam pengawasan rakyat (social control) secara langsung maupun tidak langsung. Ketiga, pemerintahan untuk rakyat (government for the people) mengandung arti bahwa kekuasaan yang diberikan oleh rakyat kepada pemerintah itu dijalankan untuk kepentingan rakyat. Kepentingan rakyat harus didahulukan dan diutamakan di atas segalanya. Untuk itu pemerintah harus mendengarkan dan mengakomodasi aspirasi rakyat dalam merumuskan dan menjalankan kebijakan dan program-programnya. Pemerintah harus membuka saluran dan ruang kebebasan serta menjamin adanya kebebasan seluas-luasnya kepada rakyat dalam menyampaikan aspirasinya baik melalui media pers maupun secara langsung. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa demokrasi merupakan bentuk pemerintahan yang tumbuh dan berkembang dengan sendirinya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Karena itu demokrasi memerlukan usaha nyata setiap warga dan perangkat pendukungnya yaitu budaya yang kondusif sebagai manifestasi dari suatu mind set (kerangka berpikir) dan setting social (rancangan masyarakat). Sehingga bentuk kongkrit dari manifestasi tersebut adalah dijadikannya demokrasi sebagai way of life (pandangan hidup) dalam seluk beluk sendi kehidupan bernegara baik oleh rakyat (masyarakat) maupun oleh pemerintah. Sebagai bentuk 2

pemerintahan maka demokrasi meliputi unsur-unsur : (1) Adanya partisipasi masyarakat secara aktif dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, (2) Adanya pengakuan akan supremasi hukum., (3) Adanya kebebasan, antara lain: kebebasan berekspresi dan berbicara atau berpendapat, kebebasan untuk berkumpul dan berorganisasi, kebebasan beragama dan berkeyakinan, kebebasan untuk menggugat pemerintah, kebebasan untuk memilih dan dipilih dalam pemilihan umum, dan kebebasan untuk mengurus nasib sendiri, dan (4) Adanya pengakuan supremasi sipil atas militer. Pemerintahan demokratis membutuhkan kultur demokrasi untuk membuatnya performed (eksis dan tegak). Kultur demokrasi ini berada dalam masyarakat itu sendiri. Pemerintahan yang baik dapat tumbuh dan stabil bila masyarakat pada umumnya punya sikap positif dan proaktif terhadap norma-norma dasar demokrasi. Oleh karena itu harus ada keyakinan yang luas di masyarakat bahwa demokrasi adalah sistem pemerintahan yang terbaik dibanding dengan sistem lainnya (Saiful Mulyani:2002) . Untuk itu masyarakat harus menjadikan demokrasi sebagai way of life yang menuntun tata kehidupan kemasyarakatan, kebangsaan, pemerintahan dan kenegaraan. Demokrasi mengandung proses dinamis dalam arti proses melaksanakan nilainilai civility (keadaban) dalam bernegara dan bermasyarakat (Nurcholis Madjid:2000), sehingga secara teoritis maupun pengalaman praktis di negeri-negeri yang demokrasinya cukup mapan paling tidak mencakup tujuh norma : Pertama, pentingnya kesadaran akan pluralisme. Dalam hal ini tidak hanya sekedar pengakuan (pasif) akan kenyataan masyarakat yang majemuk, tetapi lebih dari itu adalah kesadaran akan kemajemukan menghendaki tanggapan yang positif terhadap kemajemukan itu sendiri secara aktif. Seorang individu akan mampu menyesuaikan dirinya pada cara hidup demokratis jika ia mampu mendisiplinkan dirinya sendiri ke arah jenis persatuan dan kesatuan yang diperoleh melalui penggunaan perilaku kreatif dan dinamik serta memahami segi-segi positif kemajemukan masyarakat. Pandangan hidup demokratis seperti ini menuntut moral pribadi yang tinggi. Kesadaran akan pluralitas sangat penting dimiliki bagi rakyat Indonesia sebagai bangsa yang sangat beragam dari sisi etnis, bahasa, budaya, agama dan potensi alamnya. Kedua, adanya istilah ³musyawarah´ dalam arti ³saling memberi isyarat´ (bahasa Arab). Internalisasi dan semangat musyawarah menghendaki dan

mengharuskan adanya keinsyafan dan kedewasaan untuk dengan tulus menerima kemungkinan kompromi atau bahkan ³kalah suara´. Semangat musyawarah menuntut 3

Korelasi prinsip ini ialah kesediaan untuk kemungkinan menerima bentuk-bentuk kompromi atau islah. dan tidak harus. Keempat. Bahkan sesungguhnya klaim atas suatu tujuan yang baik harus diabsahkan oleh kebaikan cara yang ditempuh untuk meraihnya. dan harus memiliki kepastian bahwa rencana-rencana itu benar-benar sejalan dengan tujuan dan praktik demokrasi. Musyawarah yang benar dan baik hanya akan berlangsung jika masing-masing pribadi atau kelompok mempunyai kesediaan psikologis untuk melihat kemungkinan orang lain benar dan diri sendiri salah.agar setiap orang menerima kemungkinan terjadinya ³partial fintioning of ideals´ yaitu suatu pandangan bahwa belum tentu. dan menghina yang merusak dan tanpa tanggung jawab. dan beritikad baik. Jadi permufakatan yang dicapai melalui manipulasi atau taktik hasil konspirasi. cacat atau sakit. sering terjadi kejenuhan antara mengkritik yang sehat dan bertanggung jawab. Sehingga demokrasi tidak akan terwujud tanpa akhlak yang tinggi. berkecenderungan baik. Dalam masyarakat yang belum terlatih benar untuk berdemokrasi. Pandangan demokratis mewajibkan adanya keyakinan bahwa cara haruslah sejalan dengan tujuan. di mana pertimbangan moral (keluhuran akhlak) menjadi acuan dalam berbuat dan mencapai tujuan. kerjasama antarwarga masyarakat dan sikap saling mempercayai itikad baik masing-masing. merupakan segi penunjang efisiensi untuk 4 . Ketiga. Hal ini mengisyaratkan suatu kutukan kepada orang yang berusaha meraih tujuannya dengan cara-cara yang tidak peduli kepada pertimbangan moral. Korelasinya yang lain ialah seberapa jauh kita bisa bersikap dewasa dalam mengemukakan pendapat. Ketiga hal itu menyangkut masalah pemenuhan segi-segi ekonomi yang dalam pemenuhannya tidak lepas dari perencanaan sosial-budaya. bahkan dapat dikatakan sebagai suatu penghianatan pada nilai dan semangat demokrasi. dan kemungkinan mengambil pendapat yang lebih baik. seluruh keinginan atau pikiran seseorang atau kelompok akan diterima dan dilaksanakan sepenuhnya. Masyarakat demokratis ditantang untuk mampu menganut hidup dengan pemenuhan kebutuhan secara berencana. Keenam. tidak hanya merupakan permufakatan yang curang. dan bahwa setiap orang pada dasarnya baik. ungkapan ³tujuan menghalalkan segala cara´ harus dihindari. Dengan demikian rencana pemenuhan kebutuhan ekonomi harus mempertimbangkan aspek keharmonisan dan keteraturan sosial. terpenuhinya keperluan pokok yaitu sandang. Kelima. kemudian jalinan dukung mendukung secara fungsional antara berbagai unsur kelembagaan kemasyarakatan yang ada. permufakatan yang jujur dan sehat adalah hasil akhir musyawarah yang jujur dan sehat. pangan dan papan.

Terjadi diskrepansi (jurang pemisah) antara das sein dan das sollen dalam konteks ini ialah dari kuatnya budaya ³menggurui´ (secara feodalistik) dalam masyarakat kita. Sementara itu Inu Kencana lebih memerinci lagi tentang prinsip-prinsip demokrasi dengan a). Sedang dalam pandangan Robert A. melainkan telah membumi (menyatu) dalam interaksi dan pergaulan sosial baik di kelas maupun di luar kelas. (d) kebebasan menyatakan pendapat tanpa ancaman. hanya karena telah berbicara tanpa perilaku. (b) pemilihan yang teliti dan jujur. Adanya 5 . kebebasan. buka saja mengakibatkan tidak efisiennya cara hidup demokratis. persamaan hak dan kewajiban bagi semua (egalitarianism) dan tingkah laku penuh percaya pada itikad baik orang dan elompok lain (trust attitude) mengharuskan adanya landasan pandangan kemanusiaan yang positif dan optimis. (e) kebebasan mengakses informasi. maka nilai-nilai dan pengertian-pengertiannya harus dijadikan unsur yang menyatu dengan sistem pendidikan kita. Pandangan hidup demokratis terlaksana dalam abad kesadaran universal sekarang ini. yang kemudian ujungnya ialah keengganan bekerjasama. (f) kebebasan berserikat. dan pluralisme. Jadi kajian demokrasi tidak saja dalam kajian konsep verbalistik. Dahl terdapat enam prinsip yang harus ada dalam sistem demokrasi. Sementara ini pendidikan demokrasi pada umumnya masih terbatas pada usaha indoktrinasi dan penyuapan konsep-konsep secara verbalistik.demokrasi. Pandangan kemanusiaan yang negatif dan pesimis akan dengan sendirinya sulit menghindari perilaku curiga dan tidak percaya kepada sesama manusia.tidak dalam arti menjadikannya muatan kurikuler yang klise. Pengakuan akan kebebasan nurani (freedom of conscience). yaitu: (a) kontrol atas keputusan pemerintah. Sehingga verbalisme yang dihasilkannya juga menghasilkan kepuasan tersendiri dan membuat yang bersangkutan merasa telah berbuat sesuatu dalam penegakan demokrasi. tetapi juga dapat menjurus pada lahirnya pola tingkah laku yang bertentangan dengan nilainilai asasi demokrasi. pendidikan demokrasi. tetapi diwujudkan dalam hidup nyata (lived in) dalam sistem pendidikan kita. Kita harus mulai dengan sungguh-sungguh memikirkan untuk membiasakan anak didik dan masyarakat umumnya siap menghadapi perbedaan pendapat dan tradisi pemilihan terbuka untuk menentukan pimpinan atau kebijakan. Menurut Masykuri Abdillah (1999) prinsipprinsip demokrasi terdiri atas prinsip persamaan. Masyarakat yang terkotak-kotak dengan masing-masing penuh curiga kepada lainnya.(c) hak memilih dan dipilih. Suatu pemerintahan dikatakan demokratis bila dalam mekanisme pemerintahan mewujudkan prinsip-prinsip demokrasi. Ketujuh.

dan adanya mekanisme yang memungkinkan check and balance terhadap kekuasaan yang dijalankan eksekutif dan legeslatif. a) memungkinkan terjadinya desentralisasi untuk menghindari sentralisasi. karena itu demokrasi tidak boleh menjadi gagasan yang utopis melainkan harus diimplementasikan dalam interaksi sosial kemasyarakatan. Ciri-ciri ini kemudian dijadikan parameter untuk mengukur tingkat pelaksanaan demokrasi yang berjalan di suatu negara. dan t) adanya pemerintahan yang mengutamakan tanggungjawab. r) adanya mekanisme politik. Pertama. o) adanya perlindungan hak asasi. l) adanya pemerintahan yang konstitusional. secara distributif Ketiga. memiliki sambungan yang jelas. Aturan yang ada harus mengandung dua hal. n) adanya pengawasan terhadap administrasi publik. Kekuasaan negara dijalankan untuk menghindari penumpukan kekuasaan dalam satu ³tangan/wilayah´. b) adanya pemilihan umum yang bebas. c) adanya manajemen yang terbuka. p) adanya pemerintahan yang bersih. masalah kontrol rakyat. Kedua. yakni suatu relasi yang simetris. h) adanya pers yang bebas. 6 . Suasana kehidupan yang demokratis merupakan dambaan bagi umat manusia termasuk manusia Indonesia.pembagian kekuasaan. b) memungkinkan pembatasan agar kekuasaan tidak menjadi tidak tak terbatas. Prinsip-prinsip negara demokrasi yang telah disebut di muka kemudian dituangkan dalam konsep yang lebih praktis untuk dapat diukur dan dicirikan. Keempat. watak dan pola hubungan yang akan terbangun. d) adanya kebebasan individu. dasar kekuasaan negara. s) adanya kebijaksanaan negara. q) adanya persaingan keahlian. Untuk mengukur suatu negara atau pemerintah dalam menjalankan tata pemerintahannya dikatakan demokratis dapat dilihat dari empat aspek. g) adanya pemerintahan yang berdasarkan hukum. e) adanya peradilan yang bebas. Kita percaya bahwa proses pembentukan kekuasaan akan sangat menentukan bagaimana kualitas. Sementara ini pemilihan umum dipercaya sebagai salah satu instrumen penting guna memungkinkan berlangsungnya suatu proses pembentukan pemerintahan yang baik. Apakah dengan koridor tersebut sudah dengan sendirinya akan berjalan suatu proses yang memungkinkan terbangun sebuah relasi yang baik. adanya musyawarah. yaitu. susunan kekuasaan negara. Penyelenggaraan kekuasaan negara sendiri haruslah diatur dalam suatu tata aturan yang membatasi dan sekaligus memberi koridor dalam pelaksanaannya. m) adanya ketentuan tentang pendemokrasian. k) adanya persetujuan parlemen. masalah pembentukan negara. f) adanya pengakuan hak minorritas. Masalah ini menyangkut konsep legitimasi kekuasaan serta pertanggungjawaban langsung kepada rakyat. kebangsaan dan kenegaraan.

kebebasan dan hak milik. kebebasan berkumpul dan berorganisasi serta membentuk partai politik. Sejarah Perkembangan Demokrasi Konsep demokrasi semula lahir dari pemikiran hubungan negara dan hukum di Yunani dan dipraktekkan dalam hidup bernegara antara abad ke-6 SM sampai abad ke-4 M. perempuan dan anak-anak tidak dapat menikmatinya. c) partisipasi orang dewasa sebagai pemilih dan calon yang dipilih. e) adanya jaminan terhadap hak-hak demokratis. Bingham Powell Jr (Tim ICCE UIN:2003) meliputi : a) pemerintah mengklaim mewakili hasrat para warganya. W. Sedangkan Affan Gafar (1993) menyebutkan sejumlah prasyarat untuk mengamati apakah sebuah political order (pemerintahan) merupakan sistem yang demokratik atau tidak melalui ukuran : a) akuntabilitas. b) rotasi kekuasaan. d) persamaan kesempatan. c) pemilu yang bebas. pedagang asing. sedangkan budak belian. d) pemilihan umum. c) optimisme terhadap hakikat manusia. d) pemilihan bebas. c) rekruitmen politik.Kriteria negara demokratis menurut G. e) adanya pengakuan dan perlindungan hak-hak dasar. Sifat langsung ini bisa berjalan karena pada masa itu di Yunani Kuno hanya berbentuk negara kota (polis) dengan jumlah penduduk relatif sedikit. 7 . Frans Magnis Suseno (1997) mengatakan kriteria negara demokratis adalah: a) negara terikat pada hukum. b) klaim itu berdasarkan adanya pemilihan kompetitif secara berkala antara calon alternatif. Kelima elemen tersebut berlaku secara universal di dalam melihat demokrasi tidaknya suatu rezim pemerintahan (potical order) B. Demokrasi yang dilaksanakan pada masa itu berbentuk demokrasi langsung (direct democracy) artinya hak rakyat untuk membuat keputusan politik dijalankan secara langsung oleh seluruh warga negara berdasarkan prosedur mayoritas. kebebasan pers. b) kontrol efektif terhadap pemerintah oleh rakyat. Ross Yates (tim ICCE UIN:2003) mengajukan enam ciri negara demokrasi ialah: a) toleransi terhadap orang lain. bahkan warga negara yang bisa menikmati hak demokrasi hanyalah warga negara yang resmi. e) orang yang terdidik. f) jaminan hidup. e) warga negara memiliki kebebasan-kebebasan dasar yaitu kebebasan berbicara. b) perasaan fair play. d) prinsip mayoritas.

melainkanjuga berhasil berdasarkan kebutuhankebutuhan yang sesuai dengan alam pikiran mereka sendiri. tumbuh lagi keinginan menghidupkan demokrasi. adanya pembatasan kekuasaan raja. 8 . Al Khawarizmi dan sebagainya. Bagdhad sebagai pusatnya) dan warisan klasik (Yunani Kuno). bukan hanya berhasil mengasimilasikan pengetahuan Parsi Kuno (baca. sedangkan kehidupan politiknya ditandai oleh perebutan kekuasaan di antara para bangsawan. telah mengilhami munculnya kembali gerakan demokrasi. Sehingga menurut Philip K. Oleh karena itu demokrasi tidak muncul pada abad pertengahan ini. Momentum lainnya yang menandai kemunculan kembali demokrasi di dunia barat adalah gerakan renaissance dan reformasi. Namun demikian menjelang akhir abad pertengahan. Gerakan reformasi di Eropa juga mendorong munculnya gerakan demokrasi. Hitti dunia Islam telah memberikan sumbangan besar terhadap kemajuan dan perkembangan Eropa melalui terjemahan-terjemahan terhadap warisan Parsi Kuno dan Yunani Kuno dan menyeberangkannya ke Eropa. kedua. karena pada abad ini masyarakat Eropa bercirikan masyarakat feodal. renaissance di Eropa bersumber dari tradisi keilmuan Islam dan berintikan pada pemuliaan akal pikiran untuk selalu mencipta dan mengembangkan ilmu pengetahuan. yang isinya memuat dua prinsip yang sangat mendasar: pertama. kehidupan spiritual dikuasai oleh Paus dan pejabat agama. yaitu suatu gerakan revolusi agama yang terjadi di Eropa pada abad ke-16 yang bertujuan untuk memperbaiki keadaan dalam gereja Katolik yang sebelumnya begitu dominan dalam menentukan tindakan warga negara dan semuanya ditentukan oleh gereja. Renaissance merupakan gerakan yang menghidupkan kembali minat pada sastra dan budaya Yunani Kuno. Para ilmuwan Islam seperti Ibnu Khaldun. Lahirnya Magna Charta yang memuat perjanjian antara kaum bangsawan dengan Raja John di Inggris merupakan tonggak baru kemunculan demokrasi empirik. Dengan kata lain. Dengan demikian kehidupan sosial politik dan agama pada masa ini hanya ditentukan oleh elit-elit masyarakat. Gerakan ini lahir karena adanya kontak dengan dunia Islam yang ketika itu berada di puncak kejayaan peradaban ilmu pengetahuan. yaitu kaum bangsawan dan kaum agamawan. hak asasi manusia lebih penting daripada kedaulatan raja. Dengan dimotori Martin Luther menyulut api pembrontakan terhadap dominasi gereja yang telah mengungkung kebebasan berpikir dan bertindak.Gagasan demokrasi Yunani Kuno ini berakhir pada abad pertengahan. Al-Razi. Oemar Khayam.

Gagasan inilah yang kemudian dinamakan konstitusionalisme atau demokrasi konstitusional. yakni suatu sistem pemisahan kekuasaan dalam negara menjadi tiga bentuk kekuasaan yaitu legislatif. melainkan harus aktif melaksanakan upayaupaya untuk membangun kesejahteraan masyarakatnya dengan cara mengatur kehidupan ekonomi dan sosial. dalam arti hanya menjadi wasit atau pelaksana sebagai keinginan rakyat yang dirumuskan oleh wakil rakyat di parlemen. Konsep Negara Hukum Formal di atas mulai digugat menjelang abad ke-20 tepatnya setelah Perang Dunia II. Sehingga kekuasaan pemerintah diimbangi dengan kekuasaan parlemen dan lembagalembaga hukum. 9 . Maka pemerintah tidak boleh bersifat pasif atau berlaku hanya sebagai penjaga malam. Frederick pemerintah di sini dibatasi agar tidak menyalahgunakan kekuasaannya. Hak-hak politik rakyat dan hak-hak asasi manusia merupakan tema dasar dalam pemikiran politik (ketatanegaraan). property) harus dilndungi. tersebarnya paham sosialisme yang menginginkan pembagian kekuasaan secara merata serta kemenangan beberapa partai sosialis di Eropa. Salah satu ciri demokrasi konstitusional yang hidup pada abad ke-19 ialah sifat pemerintah yang pasif. liberal. beberapa faktor yang mendorong gugatan ini menurut Mariam Budihardjo antara lain adalah akses-akses dalam industrialisasi dan sistem kapitalis. Menurut Carl J. yaitu negara yang tidak mandiri yang hanya bertindak sebagai penyaring berbagai keinginan dari interest group dalam masyarakat. eksekutif dan yudikatif yang masing-masing dipegang harus dipegang oleh organ sendiri-sendiri secara merdeka. Gagasan bahwa pemerintah dilarang campur tangan dalam urusan warga negara di bidang sosial maupun ekonomi bergeser ke dalam gagasan baru. yakni bahwa pemerintah harus bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyat. Konsep demokrasi konstitusional ini disebut Negara Hukum Formal (klasik) pada abad ke-19 atau menurut Arif Budiman disebut negara Pluralisme. pemerintah hanya menjalankan undang-undang yang telah dibuat oleh parlemen atas nama rakyat. kebebasan dan hak memiliki (live. Sedang Montesquieu (1689-1944) mengungkapkan sistem pokok yang dapat menjamin hak-hak politik tersebut melalui ³trias politica´.Di samping itu ada dua filusuf besar John Locke dan Montesquieu memberikan sumbangan besar bagi gagasan pemerintahan demokrasi. untuk itu timbullah gagasan tentang cara membatasi kekuasaan pemerintah melalui pembuatan konstitusi baik tertulis maupun tidak tertulis. Jadi pemerintahan demokrasi yang demikian ini pemerintah hanya memiliki peran yang terbatas pada tugas eksekutif. John Locke (1632-1704) mengemukakan bahwa hak-hak politik rakyat mencakup hak atas hidup.

Pemerintah Welfare State diberi tugas membangun kesejahteraan umum dalam berbagai lapangan (Bestuurzorg) dengan konskuensi pemberian kemerdekaan administrasi negara dalam menjalankannya. rembug desa. dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. Berbangsa.Gagasan baru ini dikenal sebagai gagasan ³Welfare State´ atau ³Negara Hukum Material´ (Dinamis). perdamaian abadi dan keadilan sosial. di bidang legislasi misalnya. yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum. mencerdaskan kehidupan bangsa. Gagasan Welfare State ini menyebabkan peranan pemerintah semakin luas. Dalam kegiatan berdemokrasi tersebut warga mengambil bagian dalam proses pembuatan keputusan atau kebijakan yang menyangkut kepentingan bersama. Kehidupan demokrasi ini sangat nyata diterapkan ketika ada suatu masalah dan semua warga dilibatkan untuk memecahkan masalah tersebut.. hak legislasi (membuat peraturan di bawah undang-undang) dan droit function (menafsirkan sendiri aturan-aturan yang masih bersifat enunsiatif). Jadi tidak hanya ketua adat atau kepala suku saja yang berhak membuat keputusan. yaitu adanya hak inisiatif (membuat peraturan yang sederajad dengan Undang-undang tanpa persetujuan lebih dulu dari parlemen. rapat nagari dan sebagainya. dan Bernegara Demokrasi telah lama berkembang di bumi Indonesia sebagai contoh adanya musyawarah adat. Itulah sebabnya kepada pemerintah diberikan ³Fres Ermessen´ atau ³Pouvoir discretionnair´. tidak hanya atas inisiatif parlemen. Masing-masing warga tentu memiliki pandangan atau pendapat tertentu terhadap masalah dan pemecahannya. bahkan fres ermessen mempunyai tiga macam aplikasi. Negara Indonesia termasuk menganut konsep demokrasi welfare state. bisa saja dalam hal merumuskan 10 . Kehidupan Demokrasi dalam Bermasyarakat. Pemerintah diberi kemerdekaan bertindak atas inisiatif sendiri..´ C. sebagaimana tersurat dalam Pembukaan UUD 1945 alinea ke-4 yang memuat tujuan nasional .. ³.. . Tetapi pada akhirnya demokrasi Welfare State ini juga mulai ditinjau ulang. Tetapi demokrasi tidak hanya diterapkan dalam memecahkan masalah saja. yaitu kemerdekaan yang dimiliki oleh pemerintah untuk turut serta dalam kehidupan sosial dan keleluasaan untuk selalu terikat pada produk legislasi parlemen. berlakunya dibatasi oleh waktu tertentu). karena konsep demokrasi di Barat masih terus berjalan dan mengalami perubahan yang signifikan.

memberikan dukungan kepada siapapun sesuai dengan kepentingannya. berbangsa dan Perlu diketahui dalam mengembangkan pemerintahan demokratis ada beberapa nilai demokrasi yang mutlak harus dilaksanakan ialah : Kebebasan berpendapat. di mana kedudukan lakilaki dan perempuan memiliki kodrat yang sama sebagai makhluk sosial. Akibat lebih lanjut kehidupan demokrasi akan mati. sosial. (2) Kontak atau berhubungan dengan pejabat pemerintah. seperti media massa. buku. Pengekangan terhadap kebebasan berpendapat akan menyebabkan negara menjadi represif dan tidak dapat dikontrol. Kehidupan demokrasi membuka banyak alternatif bagi warga negara untuk memiliki kebebasan berkelompok ini misal ikut berorganisasi. dari rakyat. gubernur. merupakan naluri dasar manusia sebagai makhluk sosial. sSuatu pemerintahan demokrasi akan sulit 11 . Kesetaraan gender merupakan keniscayaan demokrasi. Dalam kehidupan demokrasi ini politisi harus accountable. (3) Melakukan protes terhadap lembaga masyarakat atau pemerintah agar sistem politik bekerja lebih baik. Hal ini sesuai dengan makna demokrasi.kebijakan-kebijakan bersama bernegara. hal ini sebenarnya ini sebenarnya gabungan dari kebebasan berpendapat dan kebebasan berkelompok yang meliputi : (1) Pemberian suara dalam pemilihan umum. bahkan sangat mungkin negara akan mudah melakukan pelanggaran hak asasi manusia. anggota legeslatif bahkan presiden. Rasa percaya. hal ini sangat dihargai dalam kehidupan demokrasi karena hal ini merupakan hak setiap warga negara. bupati/wali kota. memiliki akses yang sama dalam kehidupan politik. Oleh karena itu demokrasi tanpa kesetaraan gender akan berdampak ketidak adilan atau bahkan deskriminasi. sesuai dengan sistem pemilihan yang berlaku. dalam kehidupan bermasyarakat. yakni melayani segala kebutuhan rakyat. Hal ini mengandung arti rakyat berdaulat dalam ikut menentukan pemerintahan. ekonomi. di dalam negara demokrasi rakyat memiliki kedaulatan. dan (4) Mencalonkan diri dalam pemlihan jabatan publik seperti kepala desa/lurah. Hak ini bergena untuk menyuarakan aspirasi dan gagasan setiap wara negra melalui berbagai saluran publik. menjadi anggota atau membentuk partai politik. Mereka harus menyadari bahwa mandat yang mereka peroleh dari rakyat harus dikembalikan dalam bentuk pemberian pelayanan sebaik mungkin kepada rakyat. Kedaulatan rakyat. Esensi kedaulatan adalah penciptaan otorisasi dan penegakan hukum sesuai standar persyaratan kebaikan umum. karya seni maupun melalui wakil-wakil rakyat di parlemen. Kebebasan berkelompok. oleh rakyat dan untuk rakyat. Kebebasan berpartisipasi.

maka dapat dipastikan hubungan kelompok antar masyarakat akan terganggu secara permanen. Pertumbuhan ekonomi. Kemudahan bergabung dengan setiap kelompok yang ada juga diperkuat oleh kesediaan dan keragaman suatu kelompok dlam menerima kemenangan kelompok lain 12 . Kerja sama bukan berarti menutup munculnya perbedaan pendapat antar individu atau antar kelompok. Pluralisme. Hal ini menuntut tumbuhnya institusi politik yang responsif terhadap kebutuhan rakyatnya. pluralisme dan hubungan yang seimbang antara negara dan masyarakat. dan bahkan permusuhan. Di dalam masyarakat plural ini setiap orang dapat bergabung dengan kelompok yang ada tanpa adanya rintangan-rintangan sistemik yang mengakibatkan terhalangnya hak untuk berkelompok atau bergabung dengan kelompok tertentu. Kondisi yang dimaksud adalah pertumbuhan ekonomi. Akibat lebih lanjut agenda pemerintahan tidak terlaksana karena dukungan masyarakat sangat lemah karena adanya rasa tidak saling percaya tersebut. Contoh kongkrit misalnya. masyarakat plural dapat dipahami sebagai masyarakat yang terdiri dari berbagai kelompok. jika memadai menjadi salah satu aktor kondisional yang ikut mendorong tumbuhnya kehidupan demokrasi. sehingga hal ini juga akan memperbesar persentase masyarakat yang cenderung kritis. Dan yang terakhir Kerja sama. Apabila sikap ini dapat terwujud alangkah harmonisnya kehidupan demokrasi itu. Apabila yang ada adalah rasa ketakutan. salah satu nilai yang mampu mendorong terwujudnya demokrasi adalah kerja sama. dalam suatu pemilihan individu atau kelompok diharapkan siap menang dan siap kalah. Kondisi yang demikian akan sangat merugikan keseluruhan sistem politik dan sosial. Keadaan yang demikian dapat dibuktikan bahwa banyak negara yang pertumbuhan ekonominya rendah cenderung pemerintahnnya tidak demokratis. Kerja sama ini dapat diwujudkan dalam bentuk sikap mau menerima pendapat orang lain dan konsisten dalam menerima segala keputusan yang telah ditetapkan bersama. kecurigaan. karena kemakmuran ekonomi akan menghasilkan orang-orang yang lebih percaya diri dan menumbuhkan etos dalam dirinya untuk mencapai kehidupan yang lebih baik di masa depan.berkembang bila rasa saling percaya antar kelompok masyarakat tidak tumbuh. percaya diri dan bermotivasi tinggi dalam kehidupan mereka. Selanjutnya menurut Asykuri Ibn Chamim (2003) nilai-nilai demokrasi seperti tersebut di atas merupakan wacana normatif yang memerlukan kondisi tertentu sebagai landasan pengembangannya. karena tanpa perbedaan maka demokrasi justru tidak berkembang. kekhawatiran. Akibat yang timbul dari pertumbuhan ekonomi ini juga mendorong masyarakat untuk mencapai tingkat pendidikan yang lebih tinggi.

Pemilu merupakan gerbang utama yang haus dilewati pemerintahan demokrasi. media massa. legeslatif. alasanya sangat jelas yaitu dengan demokrasi maka pemerintah akan dapat dikontrol oleh masyarakat. dan rakyat. Di samping itu dengan demokrasi maka rakyat dapat membentuk asosiasi-asosiasi yang dapat mengimbangi kekuasaan pemerintah. memerlukan adanya partai politik. pola hubungan negara dan masyarakat merupakan kondisi lain yang menentukan kualitas pengembangan demokrasi. berbangsa dan bernegara sekarang ini demokrasi merupakan pilihan banyak negara. Kalau begitu apakah memerlukan ³negara lemah´ ? Jawabnya. sehingga konflik dapat dihindari. kompetitif. Pemilihan umum yang dilakukan secara teratur dengan tenggang waktu yang jelas. Untuk itulah ada parameter untuk mengamati apakah demokrasi terwujud atau tidak dalam suatu negara. Masyarakat yang heterogen membuka peluang bagi persaingan dan konflik antar kelompok yang ada. Pada perkembangan kehidupan bermasyarakat. Melalui pemilu juga akan diketahui seberapa 13 . karena dengan pemilu lembaga-lembaga kenegaraan dapat dibentuk baik legeslatif maupun eksekutif. Demokrasi akan sulit berkembang apabila berada pada posisi ³negara kuat´ . antara lain : 1. jujur dan adil. Biasanya dalam keadaan ³negara kuat´ tidak mengenal adanya kelompok kritis atau oposisi. Oleh karena itu yang diperlukan dalam negara demokrasi adalah hubungan antara negara dan masyarakat/rakyat yang seimbang.dalama sebuah persaingan secara jujur. karena ada kecenderungan ³negara kuat´ akan melakukan represi terhadap masyarakat yang dianggap membahayakan negara. Dengan kata lain. Demokrasi memerlukan sebuah negara kuat tetapi menghormati hukum. karena negara yang lemah tidak mungkin bisa memainkan peran utamanya yaitu melindungi masyrakat dan mempertahankan kedaulatan negara. jelas tidak. Negara seperti inilah yang dapat memberikan perlindungan bagi rakyatnya dan menjadi penopang bagi pengembangan nilai-nilai demokrasi. Sehingga ³negara kuat´ cenderung akan melemahkan pondasi demokrasi. Dengan demokrasi warga masyarakat memiliki peluang untuk mengajukan alternatif kebijaksanaan ketimbang hanya menerima begitu saja apa yang diajukan pemerintah. demokrasi akan membatasi peluang pemerintah untuk melaksanakan pemerintahan yang berlawanan dengan kehendak masyarakat luas. Akan tetapi kemenangan suatu kelompok yang telah sesuai dengan aturan yang diakui secara kolektif harus diterima dengan tangan terbuka. warga mesyarakat dapat mengartikulasikan aspirasinya dan menyatakan dengan jelas apa kepentingannya. Hubungan yang seimbang antara negara dan masyarakat.

sehingga rakyat mempunyai peluang untuk melakukan kontrol terhadap proses penyelenggaran negara. kebebasan pers. Kelompok mayoritas dapat melindungi kelompok minoritas. ekonomi dan politik. namun tidak benar bahwa kekuasaan mayoritas itu selalu demokratis. (f) pemilihan yang bebas dan jujur. maka dapat dikatakan negara yang demikian jauh dari demokrasi. (g) persamaan di depan hukum. karena jabatan yang mereka terima merupakan kepercayaan dari rakyat. (e) jaminan HAM. Hal terutama menyangkut kebebasan berserikat. pragmatisme. Akuntasi publik. Parameter lain untuk dapat mengetahui demokratis atau tidaknya suatu pemerintahan dapat dilihat dari dipenuhi atau tidaknya unsur-unsur sebagai berikut : (a) kedaulatan rakyat. hak-hak minoritas tidak dapat dihapuskan oleh suara mayoritas. Di negara totaliter atau otoriter tidak akan terjadi karena rekrutmen politik hanya dilakukan tertentu baik individu maupun kelompoknya. kebebasan dari rasa takut. Lebih lanjut Alamudi menjelaskan bahwa dalam negara yang demkratis warga negara bebas mengambil keputusan melalui kekuasaan mayoritas. 2. baik konflik antara lembaga politik maupun konflik antara warga negara dengan pemerintah. (b) pemerintahan berdasarkan persetujuan dari yang diperintah. (h) proses hukum yang wajar. 4. dan sebagainya. kebebasan menyatakan pendapat. kerja sama dan mufakat (Alamudi:1994). 14 . Hal ini sangat diperlukan dalam rangka menciptakan keseimbangan antar berbagai kekuasaan yang ada dalam negara. 3. (i) pembatasan pemerintah secara konstitusional. Pengadilan adalah yuri yang mampu bertindak netral apabila terjadi konflik dalam masyarakat. Demokrasi memberikan peluang untuk mengadakan kompetisi karena semua orang dan kelompok memili hak dan peluang yang sama di bidang pemerintahan.besar kemungkinan rotasi kekuasaan. Rekrutmen politik secara terbuka. Apa yang dlakkan harus secara terbuka untuk diketahui publik. (j) pluralisme sosial. karena apabila suatu negara hanya seseorang yang berkuasa secara terus menerus atau hanya ada satu partai politik yang berkuasa mengendalikan pemerintahan. Apabila hak-hak dasar ini dilakukan dengan sepenuhnya maka dapat dinyatakan demokrasi sudah berjalan dengan baik. Suatu negara dapat dikatakan demokratis apabila kekuasaan mayoritas digandengkan dengan jaminan hak asasi manusia (HAM). Terwujudnya sebuah pengadilan yang independen. Para pemegang jabatan politik harus bisa mempertanggungjawabkan kepada publik apa yang telah dilakukannya baik secara pribadi maupun sebagai pejabat publik. (c) kekuasaan mayoritas. (k) nilainilai toleransi. (d) hak minoritas. Dilaksanakan atau tidaknya hak-hak dasar individu atau disebut sebagai basic human right. 5.

Mengidentifikasikan ciri-ciri masyarakat madani 3. dan kompromi merupakan karakter yang sangat diperlukan agar demokrasi dapat terlaksana. Selain itu budaya politik yang memberi nilai tinggi terhadap hubungan-hubungan hirarkis dan perbedaan yang sangat ekstrim akan sangat 15 . tetapi juga ada jenis budaya politik yang lebih menopang kehidupan politik totaliter. BAB II BUDAYA DEMOKRASI MENUJU MASYARAKAT MADANI Kompetensi Dasar : 1. Macridis & Brown (1986) menyebut bahwa ada berbagai jenis budaya politik yang dapat menopang kehidupan politik demokratis. Musyawarah dan kesepakatan dalam keluarga merupakan bagian terpenting dalam proses pembelajaran demokrasi. terutama dukungan dari unit-unit keluarga dan berbagai komunitas sosial lainnya. Budaya politik yang diwarnai oleh kerja sama atas dasar saling percaya atarwarga masyarakat akan lebih mendukung demokrasi dari pada budaya politik yang diwarnai rasa saling curiga. disiplin diri dari setiap individu adalah wajib dimiliki oleh setiap anggota masyarakat. Karakter publik juga tidak kalah pentingnya. kebencian dan saling tidak percaya dalam hubungan antarwarga. bernegosiasi. Menganalisis pelaksanaan demokrasi di Indonesia A. Kesediaan warga masyarakat untuk saling toleransi terhadap keanekaragaman dan konflik antarkelompok maupun kesediaan untuk mengakui keabsahan kompromi juga sangat bermanfaat bagi perkembangan demokrasi.Oleh karena itu demokrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sangat membutuhkan dukungan dari berbagai lapisan sosial. Berdasarkan pengertian tersebut maka dapat diketahui bahwa budaya politik demokrasi merupakan pola-pola sikap dan orientasi politik yang bersumber dari nilainilai dasar demokrasi dan yang seharusnya dimiliki setiap warga dari sistem politik demokrasi. Pengertian dan Prinsip-prinsip Budaya Demokrasi Mempelajari budaya demokrasi sudah barang tentu tidak bisa lepas dari budaya politik yakni pola-pola sikap dan orientasi politik yang dimiliki anggota suatu sistem politik. seperti kepedulian sebagai warga negara. Karakter pribadi seperti tanggung jawab moral. berpikir kritis dan kemauan untuk mendengar. Mendiskripsikan pengertian dan prinsip-prinsip budaya demokrasi 2. mengindahkan aturan main (rule of law).

Sedang masyarakat yang lebih mengutamakan pemenuhan kebutuhan memperoleh kekuasaan dan mengabaikan kebutuhan pihak lain akan cocok memiliki rezim yang otoriter atau totaliter. saling percaya. Sikap batin dan kehendak untuk menempatkan kebaikan bersama di atas kepentingan pribadi. Keadaban (civility. Disiplin diri dan kesetiaan pada aturan-aturan yang diperlukan untuk memelihara pemerintahan demokratis tanpa tekanan dari otoritas di luar dirinya sendiri. Disposisi kewarganegaraan ialah sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan warga negara yang menopang perwujudan kebaikan bersama serta berfungsinya sistem demokrasi secara sehat. dan kompromi. (4). (5). (6). seperti kedaulatan 16 . (2). ketidapercayaan. yaitu : (a) disposisi kewarganegaraan. Tanggung jawab pribadi dan kesediaan untuk menerima tanggung jawab bagi dirinya sendiri serta konsekuensi dari tindakan-tindakannya. (9). (8). Sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan ini antara lain : (1). tidak toleran. menghargai keanekaragaman. Murah hatu terhadap sesama dan masyarakat luas. kebencian. dan (b) komitmen kewarganegaraan. Berdasarkan pernyataan di atas diperoleh pengertian ³budaya demokrasi´ adalah kerja sama. totalitarian ditandai oleh Sedangkan budaya politik non-demokratis atau kecurigaan. dan ketidaksamaan derajat. kesederajadan. Hal ini meliputi dua aspek. Komitmen ini dapat dipilah menjadi : (1). toleransi. (10). Toleransi terhadap keanekaragaman. konflik. Inti kebajikan kewarganegaraan ialah tuntutan agar semua warga negara menempatkan kebaikan bersama di atas kepentingan pribadi. sebab tanpa hal ini sistem pemerintahan demokrasi tidak mungkin berjalan sebgaimana mestinya. Dalam tingkatan kehidupan individu sebagai warga negara. hirarki. Keterbukaan pikiran termasuk sikap skeptis yang sehat dan pengakuan terhadap sifat ambiguitas (mendua arti) kenyataan sosialdan politi. Mengasihi sesama. (7). Sedangkan komitmen kewarganegaraan adalah kesetiaan kritis warga negara terhadap nilai-nilai dan prinsip-prinsip dasar demokrasi. Branson (2001) menyebutkan bahwa setiap warga negara di dalam negara demokrasi harus memiliki civics virtues (kebajikan-kebajikan kewarganegaraan). (3). Komitmen kepada prinsip-prinsip dasar demokrasi. Sabar dan gigih dalam mengejar tujuan bersama. termasuk hormat kepada orang lain dan penggunaan wacana yang beradab).mendukung pemerintahan non-demokratis dan kurang mendukung perkembangan demokrasi. dan bukan demokrasi. keseragaman. Kesediaan untuk berkompromi dan menerima kenyataan bahwa nilai-nilai dan prinsip-prinsip kadangkala saling bertentangan.

persamaan menjadi pedoman perilaku rakyat berdaulat agar mereka mampu menghargai harkat martabat sesamanya. Keleluasaan di sini bukannya tanpa batas. Jadi dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa nilai-nilai budaya demokrasi itu meliputi kebebasan. pemerintahan.rakyat. penalaran. persamaan. Nilaim ini juga tercermin dalam tanggung jawab pribadi dan kesediaan menerima tanggung jawab bagi dirinya sendiri serta konsekuensi dari tindakantindakannya. Sedang komitmen-komitmen kenegaraan antara lain mencakup dedikasi kepada hak asasi manusia (HAM). menghormati kebenaran. menghormati penalaran. keberadaban. integritas. yakni meliputi kebebasan. sistem check and balance. mayority rule-minority right. Sehingga sebagai nilai. politik. persaudaraan. toleransi. dan rule of law. Sebagai contoh kebajikan kenegaraan menurut Quigley (2002) adalah hormat pada harkat dan martabat setiap orang. solidaritas/persaudaraan. disiplin diri. tetapi harus digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat bagi masyarakat dan dengan cara yang tidak melanggar aturan yang sudah disepakati bersama. kebaikan bersama. Persamaan. persamaan. Selanjutnya dalam bahasan budaya demokrasi ini harus diketahui pula prinsipprinsip atau unsur-unsur yang mendukungnya. dkk:2006) Kebebasan adalah keleluasaan untuk membuat pilihan terhadap beragam pilihan atau melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi kepentingan bersama atas kehendak sendiri tanpa tekanan pihak manapun. serta memiliki kesediaan untuk berkompromi dan menerima kenyataan bahwa nilai-nilai dan prinsip-prinsip kadangkala saling bertentangan. Dengan demikian persamaan berarti tiadanya keistimewaan bagi siapapun dan memberi kesempatan yang sama kepada setiap dan semua orang. Pandangan demokrasi bahwa manusia itu berbeda-beda tetapi hakikatnya sama sederajat dalam nilainya dan harga keluhurannya sebagai manusia (dignity of man as human being) dalam masyarakat. pembagian kekuasaan negara. Komitmen kepada nilai-nilai dasar demokrasi. dan sebagainya. kesamaderajatan. keadaban (Bambang Suteng. dan (2). toleransi.kejujuran. persamaan. dan patriotisme. seperti kemerdekaan. persamaan politik. sama kedudukannya di dalam hukum. dan sebagainya. konsultasi kepada rakyat. dan sebagainya. solidaritas. dan keberadaban. Sebagai nilai maka kebebasan ini menjadi pedoman perilaku rakyat bedaulat yang tercermin dalam menghargai kebebasan orang lain dan memanfaatkan kebebasan diri sendiri secara bertanggung jawab. 17 . kasih sayang.

mengasihi sesama dan murah hati terhadap sesama warga masyarakat. Komunikasi antarwarga negara sangat memerlukan kejujuran agar terbangun solidaritas yang kokoh antarsesama pendukung masyarakat demokratis. Kejujuran diperlukan agar hubungan antarpihak berjalan dengan baik dan tidak menimbulkan benih-benih konflik di masa depan. Walapun ada pengecualiannya. yakni demi alasan keamanan tidak perlu dinyatakan kepada rakyat. Penalaran adalah penjelasan mengapa seseorang memiliki pandangan tertentu. dan kesetiaan pada aturan-aturan. Kejujuran adalah keterbukaan untuk menyatakan kebenaran. Kebiasaan 18 . Sebagai nilai. toleransi dapat mendorong tumbuhnya sikap toleran terhadap keanekaragaman. dan menuntut hal serupa dari orang lain. Sebab. maka solidaritas ini dapat menumbuhkan sikap batin dan kehendak ntuk menempatkan kebaikan bersama di atas kepentingan pribadi. pandangan. penghormatan terhadap kejujuran akan menumbuhkan integritas diri. dan sebagainya yang bertentangan dengan pendirian sendiri. Toleransi adalah sikap atau sifat menghargai. sikap saling percaya dan kesediaan untuk berkerja sama antar pihak yang berbeda keyakinan. Ungkapan ini menunjukkan adanya prinsip solidaritas. membiarkan. Demikian juga pemerintah harus jujur dan terbuka kepada rakyat. pendirian. dalam negara demokratis prinsipnya rakyat mempunyai hak untuk mengetahui apa yang dikerjakan pemerintah dan bagaimana pemerintah mengerjakan tugasnya. misalnya tentang bagaimana semua keputusan pemerintah itu dibuat. Dalam kehidupan yang demokratis dikenal ungkapan ³agree to disagree´ (setuju untuk tidak setuju). prinsip.Solidaritas atau kesetiakawanan adalah kesediaan untuk memperhatuikan kepentingan dan bekerja sama dengan orang lain. Sebagaim nilai. kepercayaan. membolehkan pendapat. kebiasaan. kelakuan. sebab meskipun berbeda pandangan atau kepentingan mereka tetap sepkat untuk mempertahankan kesatuan atau ikatan bersama. sikap diplin diri. pandangan dan kepentingannya. dan atas pertimbangan apa sebuah kebijakan dipilih di antara sejumlah alternatif kebijakan yang ada. tetapi ia akan memegang teguh pendiriannya itu dengan cara yang toleran dengan pandangan orang lain yang berbeda atau bahkan bertentangan dengan pendiriannya. membela tindakan tertentu. Solidaritas ini menjadi penting dalam kehidupan demokrasi karena menjadi perekat agar tidak jatuh ke dalam perpecahan sebgai akibat terlalu mengutamakan kebebasan pribadi tanpa mengingat adanya persamaan hak maupun semangat kebersamaan. Dalam masyarakat demokratis seseorang berhak memiliki pandangannya sendiri. Sebagai nilai.

(5). keanekaragaman kepentingan dan tingkah laku. yakni lembaga-lembaga negara 19 . (6). dkk:2006). termasuk sikap skeptis yang sehat dan pengakuan terhadap sifat ambiguitas (kemenduaartian) kenyataan sosial dan politik. Perilaku yang beradab adalah perilaku yang mencerminkan penghormatan terhadap dan mempertimbangkan kehadiran pihak lain sebagaimana dicerminkan oleh sopan santun dalam bertindak.memberi penalaran akan menumbuhkan kesadaran bahwa ada banyak alternatif sumber informasi dan ada banyak kemungkinan cara untuk mencapai tujuan. Sebagai nilai. Mengakui dan menganggap wajar adanya keanekaragaman dalam masyarakat yang tercermin dalam keanekaragaman pendapat. Dalam hal ini paling tidak ada empat bidang yang harus mendapat perhatian (Bambang Suteng. maka pemerintah harus dapat menyesuaikan kebijakan publiknya dengan perubahan-perubahan itu. Kehidupan masyarakat memang selalu berubah. Keadaban adalah ketinggian tingkat kecerdasan lahir batin atau kebaikan budi pekerti. tetapi pemerintah juga hjarus menjaga agar perubahan-perubahan dalam masyarakat tetap terkendali. (4). Mayo (Budihardjo:1980) nilai operasional yang menjadi landasan pelaksanaan demokrasi meliputi : (1). Menjamin tegaknya keadilan. mengutamakan musyawarah untuk mencapai mufakat. Penalaran ini akan mendorong terbangunnya masyarakat demokratis. keadaban akan menjadi pedoman perilaku warga negara yang serba santun. Menurut Henry B. konsensus atau mufakat. menghindari penggunaan kekerasan. Perlu diketahui bahwa tantangan terberat bagi sebuah bangsa yang hendak membangun demokrasi adalah bagaimana mengembangkan budaya demokrasi dalam kehidupan bangsa yang bersangkutan. Menyelesaikan perselisihan secara damai dan melembaga antara lain melalui perundingan serta dialog terbuka agar tercapai kompromi. Pemerintah wajib memberikan penalaran terhadap kebijakan yang ditetapkannya agar warga negara mengetahui dengan benar apa yang dikerjakan pemerintah. Membatasi penggunaan kekerasan seminimal mungkin. Kemudian nilai-nilai dasar itu dijabarkan lebih rinci dan operasional dalam kehidupan demokrasi. Dalam demokrasi ada mayoritas dan minoritas dalam pengambilan keputusan. (3). termasuk penggunaan bahasa tubuh dan berbicara beradab. (2). dan kepatuhan pada norma-norma yang berlaku dalam kehidupan bersama. Sebagai nilai. penalaran dapat mendorong tumbuhnya keterbukaan pikiran. maka harus dijaga agar demokrasi tidak berubah menjadi tirani mayoritas. Menyelenggarakan pergantian pimpinan secara teratur. Menjamin terselenggaranya perubahan masyarakat secara damai.

Pelaku ekonomi harus pula membangun diri agar mampu melakukan kegiatan ekonomi dalam suasana kehidupan demokrasi untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Partai politik juga harus mampu melakukan kaderisasi agar mampu menyediakan calon-calon pemimpin bangsa yang bisa mewujudkan aspirasi rakyat. Masyarakat Madani (civil society) Masyarakat madani (civil society) memiliki ciri sebagai masyarakat terbuka. pejabat negara harus mempertganggungjawabkan penggunaan kekuasa. dengan penjelasan berikut: Lembaga-lembaga negara termasuk birokrasi pemerintah harus dibangun agar menjadi lembaga pelaksana kedaulatan rakyat. kekuasaannya kepada rakyat. Membangun masyarakat madani merupakan bagian dari upaya melewati masa transisi menuju demokrasi melalui pengembangan budaya politik demokratis. partai-partai politik. Masyarakat madani (civil society).termasuk birokrasi pemerintah. kolusi dan nepotisme yang hanya mensejahterakan sekelompok orang. dan masyarakat madani (civil society). akuntabel (dapat dipertanggungjawabkan). masyarakat yang bebas dari pengaruh kekuasaan dan tekanan negara. Sebab salah satu syarat penting bagi demokrasi adalah terciptanya 20 . harus mampu mewujudkan pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Partai-partai politik harus dibangun agar mampu berperan sebagai perumus dan pemadu aspirasi rakyat untuk kenudian memperjuangkannya melalui wakil-wakil rakyat di lembaga pemerintahan. masyarakat yang kritis dan berpartisipasi aktif serta masyarakat egaliter (Tim ICCE UIN:2003). Mental dan keahlian aparat penegak hukum harus dibangun sehingga benarbenar mampu menerapkan prinsip rule of law demokrasi. harus menerapkan asas keterbukaan (transparan). dan harus mampu bekerja secara efektif dan efisien. korupsi. pelaku ekonomi. dan partisipatif. antara lain pengisian jabatan lembaga negara harus demokratis melalui pemilihan umum atau pemilihan oleh wakil rakyat. Masyarakat madani merupakan elemen yang sangat signifikan dalam membangun demokrasi. yang dibutuhkan dalam negara B. Untuk itu pelaku ekonomi harus mengindari suap. Kehidupan masyarakat harus dibangun agar mampu menjadi kekuatan pengontrol terhadap penyelenggara negara agar pemerintah tidak menyimpang dari koridor demokrasi.

asosiasi penerbitan. Civil society ini meliputi : (1). dan sebagainya. (2) 21 . Maka sebagai jaringan kerja antarlembaga yang terpisah dari negara namun tunduk terhadap aturan hukum yang berlaku. kesukuan. percaya dan toleran antarsatu dengan yang lain yang sangat penting artinya bagi bangunan politik demokrasi (Saiful Mujani:2001). otonom dari negara. Lebih dari itu.partisipasi masyarakat dalam proses-proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh negara atau pemerintahan. Istilah civil society adalah berkaitan dengan interaksi-interaksi sosial yang tidak dikuasai oleh negara (Patrick: 2001). perlindungan hak-hak perempuan. nilai-nilai. antara lain : kesukarelaan (voluntary). organisasi-organisasi yang bergerak di bidang produksi dan penyebaran pengetahuan umum. gerakan-gerakan perlindungan konsumen. perlindungan kaum cacat (difabel). dan sebagainya). setidaknya berswadaya secara parsial. (4). yayasan penyelenggara sekolah swasta. kemandirian tinggi berhadapan dengan negara. suka rela. dan terikat pada tatanan legal atau seperangkat nilai bersama. Mohammad AS Hikam (1993) memberikan batasan civil society sebagai wilayah kehidupan sosial yang terorganisasi dan bercirikan. sehingga memungkinkan tumbuhnya sikap terbuka. Berdasarkan hal-hal di atas maka dapat diketahui bahwa civil society tersusun atas berbagai organisasi kemasyarakatan. dan informasi publik (contoh. keswasembadaan (self-generating) dan keswadayaan (self-supporting). perlindungan etnis minoritas. yang memupunyai ciri-ciri : (1) lahir secara mandiri. kepercayaan. Masyarakat madani mensyaratkan adanya civic engagement yaitu keterlibatan warga negara dalam asosiasi-asosiasi sosial. dan keterikatan dengan norma-norma atau nilai-nilai hukum yang diikuti oleh warganya. Lary Diamond (2003) menyatakan bahwa civil society melingkupi kehidupan sosial terorganisasi yang terbuka. perlindungan korban diskriminasi. dan sebagainya. (3). para pengguna istilah itu umumnya sependapat bahwa civil society adalah jaringan kerja yang kompleks dari organisasi-organisasi yang dibentuk secara sukarela. lahir secara mandiri. yang berbeda dari lembaga-lembaga negara yang resmi. kebudayaan yang membela hak-hak kolektif. dan yang bertindak secara mandiri atau dalam kerja sama dengan lembaga-lembaga negara. perkumpulan keagamaan. ide-ide. civil society merupakan wilayah publik yang diciptakan dan dijalankan oleh warga negara biasa (bukan pejabat pemerintah). Civil society mewujudkan dalam berbagai organisasi yang dibuat masyarakat di luar pengaruh negara. (2). perkumpulan dan jaringan perdagangan yang produktif. warga masyarakat sendiri yang membentuknya bukan pemerintah. berita-berita.

(4) bebas atau mandiri dari kekuasaan negara. Demokrasi dapat dianggap sebagai hasil dinamika masyarakat yang menghendaki adanya partisipasi. tetapi tatanan nilai dalam masyarakat madani seperti kebebasan dan kemandirian juga merupakan sesuatu yang inheren baik secara internal (hubungan antar sesama warga negara) maupun secara eksternal (hubungan negara dengan masyarakat atau sebaliknya). masyarakat madani bukan hanya merupakan syarat atau prakondisi bagi demokrasi semata. C. Kemandirian terhadap negara tidak boleh diartikan sebagai peluang untuk melakukan tindakan anarkis. yang bertolak belakang dengan watak keberadaban. atau atas kesadaran masing-masinganggota. Masyarakat madani ini dapat menjalankan peran dan fungsinya sebagai mitra dan patner kerja lembaga eksekutif dan legeslatif serta yudikatif. sehingga tidak bergantung pada bantuan pemerintah/negara. Namun keterikatan ini seringkali dilupakan oleh warga masyarakat yang baru saja menikmati kebebasan politiknya. sehingga salah mengartikan konsep kemandirian sebagai konsep yang boleh melanggar tatanan hukum yang dibuat oleh negara. adanya keragaman dan konsensus. Dengan demikian masyarakat madani (civil society) menjadi sangat penting keberadaannya dalam mewujudkan demokrasi. dan (5) tunduk pada aturan hukum yang berlaku atau seperangkat nilai/norma yang diyakini bersama. Pelaksanaan Demokrasi di Indonesia 22 .keanggotaannya bersifat suka rela. (3) mencukupi kebutuhannya sendiri (swadaya). Menurut Gellner. Sebagai perwujudan masyarakat madani secara kongkrit dibentuk berbagai organisasi di luar negara yang disebut dengan nama NGO (non government organization). Ciri yang kelima ini menegaskan keterikatan civil society pada budaya politik demokratis. Selain itu demokrasi merupakan pandangan mengenai masyarakat dalam kaitan dengan pengungkapan kehendak. tetapi juga dapat melakukan kontrol sosial (social control) terhadap pelaksanaan kerja lembaga tersebut. Tatanan nilai-nilai masyarakat tersebut ada dalam masyarakat madani (civil society). adanya perbedaan pandangan. sehingga berani mengontrol penggunaan kekuasaan negara. paling tidak untuk sebagian. Masyarakat madani (civil society) dan demokrasi menurut Gellner (2001) merupakan dua kata kunci yang tidak dapat dipisahkan. Karena itu demokrasi membutuhkan tatanan nilai-nilai sosial yang ada pada masyarakat madani. yang di Indonesia dikenal dengan nama ³lembaga swadaya masyarakat´ (LSM).

Presiden mencanangkan demokrasi pada periode dengan nama ³demokrasi terpimpin´ yang pada hakikatnya sangat bertentangan dengan jiwa dan semangat UUD 1945. III/1963 yang mengangkat Ir. sehingga berakibat destabilisasi politik nasional. 1. masyarakat. (a) tiap orang diwajibkan untuk berbakti kepada kepentingan umum. Dalam pandangan A.Pelaksanaan demokrasi di Indonesia mengalami fluktuasi (pasang surut) dari masa awal kemerdekaan sampai saat sekarang. Keadaan ini diperparah dengan gagalnya Konstituante membentuk Undang-undang Dasar yang baru. berkembangnya pengaruh komunis dan meluasnya peranan ABRI sebagai unsur sosial politik. periode 1959 ± 1965. Perlu diketahui pada masa demokrasi terpimpin ini memiliki prinsip-prinsip dasar . tetapi pada pelaksanaannya terjadi penyimpangan antara lain dengan Ketetapan MPRS No. Syafi¶i Ma¶arif demokrasi terpimpin ini sebenarnya ingin menempatkan Soekarno sebagai ³ayah´ dalam famili besar yang bernama Indonesia dengan kekuasaan yang terpusat di tangannya. Soekarno sebagai Presiden seumur hidup. Dengan demikian kekeliruan yang sangat 23 . Demokrasi pada Periode 1959 ± 1965 Pemerintahan pada periode ini dikenal sebagai Orde Lama dengan ciri-cirinya adalah dominasi dari Presiden. koalisi yang dibangun sangat mudah pecah. Sejak saat itu berakhirlah masa demokrasi parlementer di Indonesia. periode 1965 ± 1998. yaitu. Meskipun UUD 1945 dinyatakan kembali berlaku. Namun sejak awal kemerdekaan bangsa Indonesia menyatakan komitmennya untuk mewujudkan negara demokrasi. (b) tiap-tiap orang berhak mendapat penghidupan yang layak dalam masyarakat. presiden membentuk DPR-GR sehingga fungsi kontrol DPR hampir tidak ada. Demokrasi pada Periode 1945 ± 1959 Pada masa ini dikenal dengan sebutan demokrasi parlementer. bangsa dan negara. dan periode 1998 ± sampai sekarang. terbatasnya peranan partai politik. Pasang surut pelaksanaan demokrasi ini dari segi waktu dapat dibedakan dalam empat periode. sedang kepala pemerintahan di tangan Perdana Menteri. periode 1945 ± 1959. 2. maka mendorong Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang isinya antara lain menyatakan berlakunya kembali UUD 1945. presiden membubarkan DPR hasil pemilihan umum. di mana presiden sebagai kepala negara. bangsa dan negara. Karena fragmentasi partai-partai politik maka usia kabinet jarang dapat bertahan lama. Hal ini dibuktikan dengan diberlakukannya tiga konstitusi yang memuat ketentuan langsung maupun tidak langsung menyatakan bahwa Indonesia adalah negara demokrasi.

di mana negara atau pemerintah sangat mendominasi. Demokrasi pada Periode 1965 ± 1998 Landasan formil pada perode ini adalah Pancasila. Rusli Karim (Tim ICCE UIN: 2003) rezim Orde Baru ditandai oleh : (a) Dominannya peranan ABRI. Demokrasi Periode 1998 ± sekarang 24 . yakni memandang kedaulatan rakyat sebagai inti dari sistem demokrasi. Kehidupan demokrasi berusaha dibangun untuk melaksanakan pemerintahan antara lain mulai tahun 1971 pemilihan umum diselenggarakan untuk kurun waktu tiap lima tahun ke depan. Dengan demikian nilai-nilai demokrasi juga belum ditegakkan dalam demokrasi Pancasila Soeharto. 3. Demokrasi pada periode dikenal dengan istilah demokrasi Pancasila dengan beberapa perumusannya (Tim ICCE UIN: 2003) : (a) Demokrasi pada bidang politik pada hakikatnya adalah menegakkan kembali asas-asas negara hukum dan kepastian hukum. sehingga tidak ada ruang kontrol sosial dan chek and balance dari legeslatif terhadap eksekutif. (f) Monolitasi ideologi negara. (b) Birokratisasi dan sentralisasi pengambilan keputusan. (b) Demokrasi dalam bidang ekonomi pada hakikatnya adalah kehidupan yang layak bagi semua warga negara. sehingga periode ini dikenal sebagai Orde Baru. Seperti yang dikatakan oleh M. (c) Demokrasi dalam bidang hukum pada hakikatnya bahwa pengakuan dan perlindungan HAM. Pada periode pemerintah berusaha mengembalikan kemurnian pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945. Namun demikian ³demokrasi Pancasila´ dalam rezim Orde Baru hanya sebagai retorika dan gagasan belum sampai pada tataran praksis atau penerapan. 4. (g) Inkorporasi lembaga non pemerintah. (c) Pengibirian peran dan fungsi partai politik. Tujuh ciri tersebut menjadikan hubungan negara versus masyarakat secara berhadap-hadapan dan subordinat. Sehingga secara umum dapat dijelaskan bahwa demokrasi Pancasila tidak berbeda dengan demokrasi pada umumnya. peradilan yang bebas yang tidak memihak. (e) Massa mengambang. (d) Campur tangan pemerintah dalam berbagai urusan partai politik dan publik. Undang-Undang Dasar 1945 serta Ketetapan-Ketetapan MPRS. Karena dalam praktik kenegaraan dan pemerintahan rezim ini sangat tidak memberikan ruang bagi kehidupan berdemokrasi.mendasar dalam demokrasi terpimpin Soekarno adalah adanya pengingkaran terhadap nilai-nilai demokrasi yaitu absolutisme dan terpusatnya kekuasaan hanya pada diri pemimpin.

Merumuskan pengertian dan hakikat hak asasi manusia. reformasi sistem (constitutional reform) yang menyangkut perumusan kembali falsafah. Sukses atau gagalnya suatu transisi demokrasi sangat bergantung pada empat faktor kunci (Azyumardi Azrz: 2002). DPRD dab DPD) mampu mengawal transisi menuju demokrasi. (c) kultur politik atau perubahan sikap terhadap politik di kalangan elite dan non-elite. UU Susunan dan Kedudukan DPR. Oleh sebab itu. UU Pemilu. masih menjadi pertanyaan besar. Mendeskripsikan perkembangan pemikiran hak asassi manusi secara umum dan yang berkemabng di Indonesia. (d) peran civil society (masyarakat madani).Runtuhnya rezim otoriter Orde Baru telah membawa harapan baru bagi tumbuhnya demokrasi di Indonesia. Pertama. (b) diamandemennya pasal-pasal dalam konstitusi negara Republik Indonesia (amandemen I-IV). reformasi kelembagaan (institutional reform and empowerment) yang menyangkut pengembangan dan pemberdayaan lembaga-lembaga politik. 2. Kedua. karena bisa saja perjalanan demokrasi bangsa Indonesia kembali lagi ke masa otoriter seperti masa Orde Lama dan Orde Baru. 25 . kerangka dasar. yakni : (a) komposisi elite politik. Sehingga yang harus dilakukan dalam transisi demokrasi di Indonesia sekurang-kurangnya mencakup reformasi dalam tiga bidang. (b) desain institusi politik. Indikasi ke arah terwujudnya kehidupan demokratis dalam era transisi menuju demokrasi di Indonesia antara lain adanya: (a) reposisi dan redefinisi TNI dalam kaitannya dengan keberadaannya pada sebuah negara demokrasi. Bergulirnya reformasi yang mengiringi runtuhnya rezim tersebut menandakan tahap awal bagi transisi demokrasi di Indonesia. Transisi demokrasi ini merupakan fase krusial yang kritis. UU Pemilihan Presiden dan wakil Presiden. (d) dijalankannya kebijakan otonomi daerah. pengembangan kultur dan budaya politik (political culture) yang lenih demokratis. (c) adanya kebebasan pers. dan sebagainya. dan perangkat legal sistem politik. Akan tetapi sampai saat inipun masih dijumpai indikasi-indikasi kembalinya kekuasaan status quo yang ingin membalikkan arah demokrasi Indonesia kembali ke periode sebelum orde reformasi. Ketiga. BAB III HAK ASASI MANUSIA Kompetensi Dasar 1. kondisi transisi demokrasi di Indonesia untuk saat ini masih berada di persimpangan jalan belum jelas ke arah mana berlabuhnya. Perubahan sistem politik melalui paket amandemen konstitusi (UUD 1945) dan pembuatan paket perundang-undangan politik (UU Partai Politik.

Pengetian dan Hakikat Hak Asasi Manusia Secara definisi hak merupakan unsur normatif yang berfungsi sebagai pedoman berperilaku. Sementara iru HAM dalam Islam dikenal dengan istilah huquq al-insan ad-dhoruriyah dan huquq Allah. yang mengantikan istilah ³natural right´. 1994). 4. kekebalan serta menjamin adanya peluang bagi manusia dalam menjaga harkat dan martabatnya. Istilah ³right of man´ ternyata tidak secara otomatis mengakomodasi pengertian yang mencakup ³right of woman´. c) pihak yang bersedia dalam penerapan hak Ketika unsur tersebut menyatu dalam pengertian dasar tentang hak. hak asasi manusia adalah hak yang melekat pada satiap manusia. dan pemenuhan akan hak asasi manusia. 6. Dalam Islam antara huqua al-insan addhoruriyah dan huquq Allah tidak dapat dipisahkan atau berjalan sendiri-sendiri tanpa adanya keterkaitan satu dengan alainnya. perlindungan.3. yang tanpanya manusia mustahil dapat hidup sebagai manusia. penegakan. Menseskripsikan mengenai pelanggaran dan proses peradilan hak asasi manusia. Merumuskan bentuk-bentuk hasi asasi manusia. A. Menseskripsikan penanggungjawab. melindungi kebebasan. Karena itu istilah ³right of man´ diganti dengan istilah ³human right´ oleh Eleanor Roosevelt karena dipandang lebih netral dan universal. Istilah yang dikenal di Barat mengenai HAM ialah ³right of man´. 5. pemajuan. Menurut pendapat Jan Materson (dari Komisi HAM PBB). Dalam Undang-Undang (UU) Nomor 39 tahun 1999 tentang HAM pasal 1 disebutkan bahwa ³HAM adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai nakhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupupakan 26 . Oleh karenanya tidak ada kekuasaan apapun yang dapat mencabutnya. Hak ini sifatnya sangat mendasar (fundamental) bagi hidup dan kehidupan manusia dan merupakan hal kodrati yang tidak terlepas dari dan dalam kehidupan manusia. Memahami perundang-undangan nasional yang mengatur mengenai hak asasi manusia. Inilah yang menyebabkan konsep Barat tantang HAM dengan konsep Islam. (2) ruang lingkup penerapan hak. Selanjutnya John Locke manyatakan bahwa hak asasi manusia adalah hal-hak yang diberikan langsung oleh Tuhan sebagai hak yang kodrati (Mansyhur Effendi. Hak menpunyai nunsur-unsur sebagai berikut : (1) Pemilik hak. Dengan demikian hak merupakan unsur normatif yang melekat pada diri setiap manusia yang dalam penerapannya berada pada ruang lingkup hak persamaan dan hak kebebasan yang terkait dengan interaksinya antara individu atau dengan instansi.

ras. masyarakat atau negara. dijunjung tinggi. dan TAM yang berlangsung secara sinergis dan seimbang. pemerintah dan setiap orang demi kehormatan serta negara perlindungan harkat dan martabat manusia´. dibeli ataupun diwarisi. pemerintah. KAM. pemenuhan perlindungan dan penghormatan terhadap HAM harus dikuti dengan pemenuhan terhadap KAM (kewajiban asasi manusia) TAM (tanggung jawab asasi manusia) dalam kehidupan pribadi. dan dilindungi oleh negara. Dengan demikian hakikat penghomatan dan perlindungan terhadap HAM ialah menjaga keselamatan ekstensitas manusia secara utuh melalui aksi keseimbangan yaitu keseimbangan antara hak dan kewajiban. etmis. Jadi dalam memenuhi dan menuntut hak tidak terlepas dari pemenuhan kewajiban yang harus dilaksanakan. menjadi kewajiban dan tanggung jawab bersama antara inividu. dan (3) HAM tidak bisa dilanggar. Berdasarkan beberapa rumusan pengertian HAM di atas. bahkan negara. agama. pandangan politik asal usul sosial dan bangsa. melindungi dan menjunjung tinggi HAM. Upaya menghormati. HAM adalah bagian darimanusia secara otomatis. hukum. dapat ditarik kesimpulan tentang beberapa ciri pokok hakikat HAM yuaitu: (1) HAM tidak perlu diberikan. dijaga dan dilindungi oleh seriap individu. dapat dipastikan akan menimbulakan kekacauan anarkisme dan kesewenangwenangan dalam tata kehidupanumat beragama. serta keseimbangan antara kepentingan perseorangan dan dengan kepentingan umum.anugerah-Nya yang wajib dihormati. Begitu juga dalam memenuhi kepentingan perseorangan tidak boleh merusak kepentingan orang banyak (kepentingan umum). (2) HAM berlaku untuk semua orang tanpa memandang jenis kelamin. 2003). berbangsa. dapat disimpulkan bahwa HAM merupakan hak yang melekat pada diri manusia yang bersifat kodrati dan fundamental sebagai suatu anugrah Allah yang harus dihormati. Tidak seorangpun mempunyai hak untuk membatasi atau melanggar hak orang lain. Berdasarkan beberapa rumusan HAM di atas. bermasyarakat dan bernegara.orang tetap mempunyai HAM walaupun sebuah negara membuat hukum yamg tidak melindungi atau melanggar HAM (Mansour Fakih. baik dalam tatanan dalam kehidupan pribadi beemasyarakat. bernegara dan pergaulan global tidak berjalan secara seimbang. Jadi dapat disimpulkan hakikat dari HAM adalah keterpaduan antara HAM. KAM dan TAM) yang melekat pada setiap individu manusia. Perkembangan Pemikiran HAM di Barat dan Indonesia 27 . B. Bila ketiga unsur asasi (HAM. Karena itu.

Salah satu muatan hukum alam adaklah hak-hak pemberian dari alam (naturals rights).1994). Magna Charta telah menghilangkan hak absolutisme raja. The right of property (perlindungan hak milik). artinya orang-orang yang ditangkap. Sejak itu mulai dipraktikan kalau raja melanggar hukum harus diadili dan pertanggungjawabkan kebijakan pemerintahannya kepada parlemen. berhak dinyatakan tidak beralah. Jadi. karena dalam hukum alama ada sistem keadilan yang berlaku universal (Masyur Effendi. pada tahun 1789 lahirlah The French Declaration (Deklarasi Parncis). Hukum alam merupakan produk rasio manusia demi terciptanya keadilan abadi. Dalam kaitan itu berkaitan berlaku prinsip Presumtion of innocent. ia harus dibelenggu. masalah keadilan yang merupakan inti dari hukum alam menjadi pendorong bagi upaya penghormatan dan perlindungan harkat dan martabat kemanusiaan universal. Hukum alam diatur berdasarkan logika manusia. karenannya manusia akan mematuhi hukum alam tersebut. Hukum alam merupakan satu konsep dari prinsip-prinsip umum moral dan sistem keadilan yang berlaku untuk seluruh umat manusia. Pada umumnya para pakar di Eropa berpendapat bahwa lahirnya HAM di kawasan Eropa dumulai dengan lahirnya Magna Charta yang antara lain membuat pandangan bahwa raja yang tadinya memiliki kekuasaan absolut (raja yang menciptakan hukum. freedom of religion (bebas menganut kenyakinan/agama yang dikehendaki). tetapi ia sendiri tidak terikat dengan hukum yang dibuatnya).Pembicaraan mengenaig HAM tidak terlepas dari pengakuan terhadap adanya hukum alam (natural law) yang menjadi cikal bakal bagi kelahiran HAM. dan hak-hak dasar lainnya. dalam french Declaration sudah tercakup hak-hak yang menjamin tumbuhnya demokrasi maupun negara hokum (Masyhur Efendi. Kemudian prinsip itu dipertegas oleh prinsip freedom of exspressio]n (kebebasan mengeluarkan pendapat). Dengan demikian. Dalam deklarasi ini dipertegas bahwa manusia adalah merdeka sejak di dalam perut ibunya. sehingga tidaklah logis bila sesudah lahir. sampai ada keputusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap yang menyatakan ia bersalah. kemudian ditahan dan dituduh. Perkembangan HAM selanjutnya ditandai dengan munculnya The American Declaration of Independence. sebagaimana dimuat dalam the Rule of Law yang antara lain isinya tidak boeh ada penangkapan dan penahanan yang semena-mena. 28 . 1994). Selanjutnya. termasuk penangkapan tanpa alasan yang sah dan penahanan tanpa surat perintah yang dikeluarkan oleh pejabat yang sah. yang merumuskan hak lebih dirinci lagi. 1994). menjadi dibatasi kekuasaannya dan mulai dapat diminta pertanggunggungjawabannya dimuka hukum (Masyhur Effendi.

Fokus pemikiran HAM generasi pertama pada bidang hukum dan politik disebabkan oleh dampak dan situasi perang dunia II. Jadi pemikiran HAM generasi kedua menunjukkan perluasan pengertian konsep dan cakupan hak asasi manusia. Kalau kata ³pembangunan´ tetap dipertahankan. pengurangan persenjataan. hak ekonomi dan hak politik. yaitu hak kebebasan berbicara dan menyatakan pendapat. kebebasan dari kemiskainan dalam pengertian setiap bangas berusaha mencapai tingkat kehidupan yang damai dan sejahtera bagi penduduknya. politik dan budaya secara merata. hukum. sosial and Cultural Eights dan International Covement on civil and political Rights. Generasi ketiga sebagai reaksi pemikiran HAM generasi kedua. ekonomi. Pada masa generasi kedua. Generasi pertama berpendapat bahwa pengertian HAM hanya berpusat pada bidang hukum dan politik. budaya. Keadalan dan 29 . totaliterisme dan adanya keinginan negara-negara yang baru merdeka untuk menciptakan suatu tertib hukum yang baru. Pemikiran HAM terus berlangsung dalam rangka mencariu rumusan HAM yang sesuai dengan konteks ruang dan zamannya. karena banyak hak-hak rakyat lainnya yang dilanggar. Kedua Covenant tersebut disepakati dalam sidang umum PBB 1966. yang meliputi usaha. politik dan budaya. maka pembangunan haruslah berpihak pada rakyat dan diarahkan untuk redistrbusi kekayaan national serta redistribusi sumber-sumber daya sosial. Dalam pelakasanaan hasil pemikiran HAM generasi ketiga juga mengalami ketidakseimbangan. hak kebebasan memeluk agama dan beribadat sesuai dengan ajaran agama yang dipeluknya. hak ekonomi dalam arti pembangunan ekonomi menjadi prioritas utama. Secara garis besar perkembangan pemikiran HAM dibagi pada 4 generasi. 1994). hak kebebasan dari ketakutan. sedangkan hak lainnya terabaikan sehingga menimbulkan banyak korban. sehingga tidak satupun bangsa (negara) berada dalam posisi berkeinginan untuk melakukan serangan terhadap negara lain (Mayhur Efendi. Generasi ketiga menjanjikan adanya kesatuan antara hak ekonomi.. hak yuridis kurang mendapat penekanan sehingga terjadi ketidakseimbangan dengan hak sosial-budaya. politik dan hukum dalam satu keranjang yang desebut dengan hak-hak melaksanakan pembangunan (The Rights of Development). Ada empat hak yang dikemukakannya. Generasi kedua pemikiran HAM tidak saja menuntut hak yuridis melainkan juga hak-hak asasi sosial ekonimi.Perkembangaannya yang lebih signifikan adalah dengan kemunculan The Four Freedom dari Presiden Roosevelt pada Tahun 1941. Pada generasi kedua ini lahir dua covemen yaitu International Covenant on Economic. sosial.

Sedangkan pemahaman HAM di Indonesia sebagai tatanan nilai. Maramis dan sebagainya. norma. Pemikiran HAM generasi keempat dipelopori oleh negara-negara di kawasan asia yang pada tahun 1983 melahirkan deklarasi hak asasi manusia yang menginginkan lahirnya tatanan sosial berkeadilan. Sedangkan pemikiran HAM dalam Partai Komunis Indonesia sebagai partai berlandaskan Maxisme lebih condong pada hak-hak sosial dan 30 . Pemimpin Boedi Utomo memperlihatkan adanya kesadaran berserikat dan mengeluarkan pendapat melalui petisi-petisi yang ditujukan kepada pemerintah kolonial maupun dalam tulisan yang dimuat surat kabar Goeroe Desa. Sedang pemikiran HAM dalam Sarekat Islam lebih menekankan pada usahausaha untuk memperoleh penghidupan yang layak dan bebas dari penindasan dan diskriminasi rasial. Setelah banyaknya dampak negatif yang ditimbulkan dari pemikiran HAM generasi ketiga. kahirlah generasi keempat yang mekritik peranan negara yang sangat dominan dalam proses pembangunan yang terfokus pada pembangunan ekonomi dan menimbulkan dampak degatif seperti diabaikannya aspek kesejahteraan rakyat. Selain itu program pembangunan yang dijalankan tidak berdasarkan kebutuhan rakyat secara keseluruhan melainkan memenuhi kebutuhan kelompok elit. Secara garis besar Bagir Manan (2001) membagi perkembangan pemikiran HAM di Indonesia dalam dua periode. . tema-temanya banyak dipengaruhi oleh para tokohnya seperti Muhammad Hatta. 1. Selain itu deklarasi HAM Asia tersebut juga telah berbicara mengenai masalah µkewajiban asasi¶ bukan hanya µhak asasi¶. konsep yang hidup di masyarakat dan acuan bertindak pada dasarnya telah berlangsung cukup lama.A. Deklarasi tersebut juga secara positif mengukuhkan keharusan imperatif dari negara untuk memenuhi hak asasin rakyatnya. Deklarasi ini lebih maju dari rumusan generasi ketiga.pemenuhan hak asasi haruslah dimulai sejak dimulainnya pembangunan itu sendiri. Pemikiran HAM juga muncul di Perhimpunan Indonesia. yaitu periode sebelum dan sesudah kemerdekaan. karena tidak saja mencakup tuntutan struktural tetapi juga berpihak kepada terciptanya tahanan sosial yang berkeadilan. menaruh perhatian terhadap masalah HAM. bukan setelah pembangunan itu selesai. Ahmad Soebardjo. A. Periode Sebelum Kemerdekaan Boedi Oetomo. Bentuk pemikirannya mencakup bidang hak kebesaran berserikat dan mengeluarkan pendapat. Pemikiran HAM mereka lebih menitik beratkan pada hak untuk menentukan nasib sendiri (the right of self determination). sebagai organisasi pergerakan.

Indikatornya ada tiga aspek yait : (1). hak kebebasan untuk berserikat melalui organisasi politik yang dirikan serta hak kebebasan untuk menyampaikan pendapat terutama di perlemen. hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak. hak berkumpul. Seperti dikemukakan oleh Bagir Manan. Pemikiran HAM telah mendapat legitimasi secara formal karena telah memperoleh pengaturan dan masuk ke dalam hukum dasar negara (konstitusi) yaitu UUD 1945. Pemikiran HAM sebelum Indonesia merdeka juga terjadi dalam perdebatan di Sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) antara Soekarno dan Soepomo di satu pihak dengan Mohammad Hatta dan Mohammad Yamin pada pihak lain. Komitmen terhadap HAM pada periode awal kemerdekaan diantaranya ditunjukan dalam Maklumat Pemerintah tanggal 1 dan 3 November 1945 yang menyatakan akan adanya pemilu dan rakyat diberi kesempatan atau hak mendirikan partai politik: Pemikiran HAM pada periode tahun 1950-an. (2). hak mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan. Sementara itu pemikiran HAM pada Partai Nasional Indonesia mengedepankan pada hak untuk memperoleh kemerdekaan (the right self detemination). pemikiran dan aktualisasi HAM pada periode ini mengalami ³pasang´ dan menikmati ³bulan madu´ kebebasan. 2. karena suasana kebebasan yang menjadi semangat demokrasi leberal atau demokrasi parlementer mendapatkan tempat dikalangan elit politik. hak untuk memeluk agama dan kepercayaan. erpa demokrasi parlementer. sangat membanggakan. Perdebatan pemikiran HAM yang terjadi dalam sidang BPUPKI berkaitan dengan masalah hak persamaan kedudukan di muka hukum. Periode Setelah Kemerdekaan Pemikiran HAM pada periode awal kemerdekaan masih menekankan pada hak untuk merdeka (self deteriminasi). Konsen terhadap HAM pada Indische Partij. Dengan demikian gagasan dan pemikiran HAM di Indonesia telah menjadi perhatian besar dari para tokoh pergerakan bangsa dalam rangka penghormatan penegakan HAM. karena itu HAM di Indonesia mempunyai akar sejarah yang sangat kuat. hak berserikat. Kebebasan pers sebagai salah satu pilar demokrasi 31 .menyentuh isu-isu yang berkenaan dengan dengan alat produksi. Lebih menonjol pada hak untuk mendapatkan kemerdekaan serta mendapatkan perlakuan yang sama dan hak kemerdekaan. Semakin banyak tumbuh partai-partai politik dengan beragam idiologinya masing-masing. Bersamaan dengan itu prinsip kedaulatan rakyat dan negara berdasarkan atas hukum dijadikan sebagai sendi bagi penyelenggaraan negara Indonesia merdeka.

Pada sistem masa ini kekuasan terpusat dan berada di tangan presiden. Selain itu. fair (adil) dan demokrasi. Akibatnya Presiden melakukan tindakan inkonstitusional pada tataran suprastruktur politik maupun dalam tataran infrastrutur politik. Pemikiran elit penguasa pada saat ini sangat diwarnai oleh sikap penolakannya terhadap HAM sebagai produk barat dan individualistik serta bertentangan dengan paham kekeluargaan yang dianut bangsa Indonesia. berkumpul dan mengeluarkan pikiran dengan lisan. Salah satu seminar tentang HAM dilaksanakan pada tahun 1967 yang merekomendasikan gagasan tentang perlunya pembentukan pengadilan HAM. Dalam kaitannya dengan HAM. sistem pemerintahan yang berlaku adalah demokrasi terpimpin. ada semangat untuk menegakkan HAM. Pada periode 1959-1966. Pada periode awal terajadi peralihan pemerintahan dari Soekarno ke Soeharto. Sikap defensif pemerintah tercermin dalam ungkapan bahwa HAM adalah produk pemikiran Barat yang tidak sesuai dengan nilainilai luhur budaya bangsa yang tercermin Pancasila dan Bangsa Indonesia sudah terlebih dahulu mengenal HAM sebagai mana tertuang dalam rumusan UUD 1945 yang lahir lebih dulu dibandingkan dengan Deklarasi Universal HAM. dan (3). Begitu pula dalam rangka pelaksanaan TAP MPRS No. pembentukan Komisi dan Pengadilan HAM untuk wilayah Asia. Selanjutnya pada tahun 1968 diadakan Seminar Nasional Hukum II yang merekomendasikan perlunya hak uji materil (judicial review) untuk dilakukan guna melindungi HAM. MPRS malalui Panitia Ad Hoc IV telah menyiapkan rumusan yang akan dituangkan dalam Piagam Terntang Hak-hak Asasi Manusia dan Hak-hak serta Kewajiban Warganegara.. pada awal tahun 1970-an sampai periode akhir 1980-an persoalan HAM di Indonesia mengalami kemunduran. Pada masa awal perode ini telah diadakan berbagai seminar tentang HAM. XIV/MPRS1966. Pemerintah pada periode ini bersifat defensif dan represif yang dicerminkan dari produk hukum yang umumnya restriktif terhadap HAM. yang lahir dari reaksi penolakan Soekarno terhadap sistem demokrasi parlementer. sikap depensif pemerintah ini berdasarkan pada anggapan bahwa isu HAM sering kali 32 . Dengan kata lain telah terjadi sikap restriktif (pembatasan yang ketat oleh kekuasaan) terhadap hak sipildan hak politik warga negara.betul menikamati kebebasannya.. dilindungi dan ditegakkan. terjadi pamasungan hak asasi masyarakat yaitu hak sipil dan hak politik seperti hak untuk berserikat. karena HAM tidak lagi dihormati. Pemilihan umum sebagai pilar lain dari demokrasi berlangsung dalam suasana kebebasan. Sementara itu.

kasus Kedung Ombo. serta memberi pendapat. Kasus DOM di Aceh. Pergantian rezim pemerintahan pada tahun 1998 memberikan dampak yang sangat besar pada pemajuan dan perlindungan HAM di Indonesia. Piagam PBB. Salah satu sikap akomodatif pemerintah terhadap tuntutan penegakan HAM adalah dibentukknya Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNAS HAM) berdasarkan kepres No. Upaya yang dilakukan oleh masyarakat melalui pemebtukan jaringan dan lobi Internasional terkait dengan pelanggaran HAM yang terjadi seperti kasus Tanjung Priok.untuk membantu pengembangan kondisis-kondisi yang kondusif bagi pelaksanaan HAM yang sesuai dengan Pancasila UUD 1945 (termasuk hasil amandemen UUD 1945). Selanjutnya dilakukan penyusunan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pemberlakuan HAM dalam kehidupan ketatanegaraan dan bermasyarakat di Indonesia. Bentuk-bentuk Hak Asasi Manusia 33 . Hasil dari pengkajian tersebut menunjukkan banyaknya norma dan ketentuan hukum nasional khususnya yang terkait dengan penegakan HAM diadopsi dari hukum dan instrumen internasional dalam bidang HAM. Pada saat ini mulai dilakukan pengkajian terhadap beberapa kebijakan pemerintah Orde Baru yang berlawanan dengan pemajuan dan perlindungan HAM. Piaga Madinah. Selain itu. kasus di Irian Jaya. Deklarasi Universal HAM. Upaya yang dilakukan oleh masyarakat menjelang periode 1990-an nampak memperoleh hasil yang menggembirakan karena terjadi penggeseran strategi pemerintah dari represif dan depensif kestrategi akomodatif terhadap tuntutan yang berkaitan dengan penegakan HAM. C. Demikian pula dilakukan pengkajian dam retifikasi terhadap instrumen HAM internasional semakin ditinkatkan. pertimbangan dan saran kepada Pemerintah perihal pelaksanaanHAM. pemikiran HAM nampaknya terus ada pada periode ini terutama dikalangan masyarakat yang dimotori oleh LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dan masyarakat akademisi yang concern terhadap penegakan HAM. Lembaga ini bertugas untuk memantau dan menyelidiki pelaksanaan HAM. 50 Tahun 1993 tertanggal 7 Juni. Meskipun dari pihak pemerintah mengalami kemandegan bahkan kemunduran. dan sebagainya. Komisi ini bertujuan .digunakan oleh negara-negara barat untuk memojokkan negara yang sedang berkembang seperti Indonesia. Deklarasi Kairo dan deklarasi atau perundang-undangan lainnya yang berkaitan dengan penegakan HAM.

(18) Hak bebas berpkir dan menyatakan pendapat. (12) Hak bergerak. (10) Hak bebas dari serangan terhadap kehormatan dan nama baik. (17) Hak bebas berpikir. hak sipil dan politik yang terdapat dalam pasal 3-21 dalam DUHAM tersebut memuat: (1) Hak untuk hidup. (6) Hak kebebasan berserikat. (9) Hak bebas dari campur tangan yang sewenangwenang terhadap kekuasaan pribadi. (2) Hak kedudukan yang sama di dalam hokum. (15) Hak untuk menikah dan membentuk keluarga. penahanan atau pembuangan yang sewenang-wenang. (13) Hak memperoleh suaka. (4) Hak untuk bergabung ke dalam serikat-serikat buruh. (3) Hak kebebasan berkumpul. tempat tinggal maupun surat-surat. hak subsistensi (hak jaminan adanya sumber daya untuk menunjang kehidupan) serta hak ekonom. dan (7) Hak memperoleh pengajaran atau pendidikan. (14) Hak atas suatu kebangsaan.Deklarasi Universal tentang HAM (Universal Declaration of Human Rights) yang juga dikenal dengan istilah DUHAM. Sementara itu dalam UUD 1945 (amandemen I ± IV UUD 1945) menurut hak asasi manusia yang terdiri dari hak: (1) Hak kebebasan untuk mengeluarkan pendapat. (5) Hak penghidupan yang layak. (5) Hak atas istirahat dan waktu senggang. hak legal. (11) Hak atas perlindungan hukum terhadap serangan semacam itu. 34 . Hak personal. dan (20) hak untuk mengambil bagian dalam pemerintahan dan hak atas akses yang sama terhadap pelayanan masyarakat. (2) Hak bebas dari perbudakan dan penghambaan. (8) Hak untuk praduga tak bersalah sampai terbukti bersalah. (2) Hak untuk bekerja. sosial dan budaya berdasarkan pada pernyataan DUHAM menyangkut hal-hal sebagai berikut. kebebasan dan keamanan pribadi. berkesadaran dan beragama. (3) Hak atas upah yang sama untuk pekerjaan yang sama. (6) Hak bebas dari penangkapan. (16) Hak untuk mempunyai hak milik. (6) Hak atas standar hidup yang pantas di bidang kesehatan dan kesejahteraan. tak berperikemanusiaan ataupun merendahkan derajat manusia. sosial dan budaya. (4) Hak kebebasan beragama. (5) Hak untuk pengampunan hukum secara efektif. (3) Hak bebas dari penyiksaan atau perlakuan maupun hukuman yang kejam. yaitu hak personal (hak jaminan kebutuhan pribadi). (7) Hak atas pendidikan. hak sipil dan politik. yaitu: (1) Hak atas jaminan social. dan (8) Hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan yang berkebudayaan dari masyarakat. (7) Hak untuk peradihan yang independen dan tidak memihak. Sedangkan hak ekonomi. (4) Hak untuk memperoleh pengakuan hukum dimana saja secara pribadi. (19) Hak untuk berhimpun dan berserikat. mengelompokkan HAM kedalam beberapa jenis. keluarga.

Selanjutnya secara operasional beberapa bentuk HAM yang terdapat dalam UU Nomor 39 tahun 1999 tentang HAM sebagai berikut: (1) Hak untuk hidup. Keempat. dalam konstitusi (UUD 1945). Ketiga. (8). Sedangkan kelemahannya rumusan ketentuan yang diatur masih umum. Pengaturan HAM dalam konstitusi atau UUD 1945 memberikan jaminan yang sangat kuat. Sedang dalam UUDS 1950 pengaturan HAM tidak jauh berbeda dengan yang dimuat dalam Konstitusi RIS. UU No. Hak Asasi Manusia dalam Perundang-Unndangan Nasional Paling tidak terdapat empat bentuk hukum tertulis atau praturan perundangundangan yang memuat tentang HAM. dalam ketetapan MPR. dalam Undang-Undang. namun perbedaan antara KRIS dengan UUDS 1950 terletak pada penomoran pasal dan perubahan sedikit redaksional dalam pasal-pasal. UU No. Keputusan Presiden dan peraturan pelaksanaan lainnya. Pengaturan HAM dalam konstitusi negara RI tidak hanya ditemukan pada UUD 1945. Kedua. hak tiap warga negara untuk mendapat pengajaran. (2).hak demonstrasi dan mogok. (2) Hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan. Pertama. (5) Hak atas kebebasan pribadi. 5 tahun 1998 35 . (7) Hak atas kesejahteraan. kelemahannya tidak dapat memberikan sangsi hukum bagi pelanggarnya. Sementara itu bila pengaturan HAM melalui Ketetapan MPR. Hak turut serta dalam pemerintahan. (4) Hak memperoleh keadilan. Sedangkan dalam Undang-Undang. juga ditemukan Konstitusi RIS dan UUDS 1950. dalam peraturan pelaksanaan perundang-undangan seperti Peraturan Pemerintah. (9) Hak wanita. yaitu melalui amandemen. dan (10) Hak anak. sedangkan pengaturan HAM dalam bentuk UndangUndang dan peraturan pelaksanaannya kelemahannya pada kemungkinan seringnya mengalami perubahan. (3) Hak mengembangkan diri. mulai pasal 7 sampai pasal 33.. Selain itu adanya penambahan pasal UUDS 1950 yang signifikan yaitu tentang fungsi sosial hak milik. D. Pengaturan HAM dalam Ketetapan MPR terdapat dalam TAP MPR Nomor XVII tahun 1998 tentang Pandangan dan Sikap Bangsa Indonesia Terhadap HAM dan Piagam HAM Nasional. baik sebelum maupun setelah amandem. (6) Hak atas rasa aman. karena perubahan dan atau penghapusan satu pasal di dalamnya harus melalui proses yang berat dan panjang. 5 tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara. Konstitusi RIS mengaturbya dalam bab khusus tentang HAM. di antaranya dalam: (1).

UU No. UU No. 19 tahun 1999 tentang ratifikasi Konvensi ILO No. Penataan aturan secara konsisten memerlukan 36 . yaitu tahap penataan aturan secara konsisten (rule consistent behaviour). (5). Peraturan Pemerintah pengganti Undang-Undang (Perpu) No. dan Pengadilan Negeri Makassar. 26 tahun 1999 tentang Pencabutan UU No. 181 tahun 1998 tentang Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan. (10). 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Pengadilan Negeri Surabaya. 96 tahun 2001. 129 tahun 1998 tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia tahun 1998-2003. (5). 21 tahun 1999 tentang Ratifikasi Konvensi ILO No. UU No. 11 tentang Diskriminasi dalam Pekerjaan. 29 tahun 1999 tentang Ratifikasi Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi. UU No. (6). 11 tahun 1963 tentang Tindak Pidana Subversi. karena HAM merupakan kebutuhan dasar manusia yang perlu diperjuangkan. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Tidak Manusiawi dan Merendahkan Martabat.tentang Ratifikasi Konvensi Anti Penyiksaan. 105 tentang Penghapusan Pekerja secara Paksa. Keputusan Presiden No. yang diubah dengan Keputusan Presiden no. 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM. 31 tahun 2001 tentang Pembentukan Pengadilan Hak Asasi Manusia pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. UU No. Perlakuan atau Penghukuman yang Kejam. UU No. 1 tahun 1999 tentang Pengadilan HAM. (4). dihormati dan dilindungi oleh setiap manusia. dan (13). Pada tahap ini diupayakan tumbuhnya kesadaran penghormatan dan penegakan HAM baik di kalangan aparat pemerintah maupun masyarakat. (6). (4). 25 tahun 1997 tentang Hubungan Perburuhan. 20 tahun 1999 tentang Ratifikasi Konvensi ILO No. 5 tahun 2001 tentang Pembentukan Pengadilan Hak Asasi Manusia Ad Hoc pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. (3). UU No. (7). (2). (8). 9 tahun 1998 tentang Kebebasan Menyatakan Pendapat. Keputusan Presiden No. Keputusan Presiden No. (9). UU No. yang memuat rencana ratifikasi berbaagi instrumen hak asasi manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa serta tindak lanjutnya. Keputusan Presiden No. (3). (11). 11 tahun 1998 tentang Amandemen terhadap UU No. 138 tentang Usia Minimum Bagi Pekerja. (12).Keputusan Presiden (KEPRES) Nomor 181 TAHUN 1998 tentang Pendirian Komisi Nasional Penghapusan Kekerasan Terhadap Wanita. Pengaturan HAM dalam Peraturan Pemerintah dan Keputusan Prsiden antara lain adalah: (1). UU No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Keseluruhan ketentuan perundang-undangan di atas merupakan pintu pembuka bagi strategi selanjutnya. UU No. UU No.

ekonomi yang hidup. yaitu UU No. Selanjutnya. dan tidak didapatkan. E. kelompok etnis dan kelompok agama. Demokrasi dan pelaksanaan prinsip-prinsip negara berdasarkan atas hukum merupakan instrumen bahkan prasyarat bagi jaminan perlindungan dan penegakan HAM. Kejahatan genosida dilakukan dengan cara membunuh anggota kelompok. dan memindahkan secara paksa anak-anak dari kelompok tertentu ke kelompok lain (UU No. Kejahatan genosida adalah setiap perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok bangsa. membatasi. menghalangi. dan atau mencabut hak asasi manusia. 26/2000 tentang Pengadilan HAM). Pelanggaran HAM berat meliputi kejahatan genosida dan kejahatan kemanusiaan (UU No. memaksakan tindakan-tindakan yang bertujuan mencegah kelahiran di dalam kelompok. berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku. atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyelesaian hukum yang adil dan benar. Oleh karena itu hubungan keseimbangan keduanya merupakan ³simbiosis-mutualistik´. politik. Dalam kerangka menjadikan HAM sebagai tatanan sosial. Dengan demikan pelanggaran HAM merupakan tindakan pelanggaran kemanusiaan baik dilakukan oleh individu lain tanpa dasar atau alasan yuridis dan alasan rasional yang menjadi pijakannya.persyaratan yang harus ada. Sedangkan bentuk pelanggaran HAM ringan selain dari kedua bentuk pelanggaran HAM berat itu. pendidikan HAM secara kurikuler maupun melalui Pendidikan Kewarganegaraan (civic education) sangat diperlukan dan terus dilakukan secara berkesinambungan. HAM sebagai tatanan sosial. mengakibatkan penderitaan fisik atau mental yang berat terhadap anggota-anggota kelompok. Pelanggaran HAM dikelompokkan pada dua bentuk yaitu: pelanggaran HAM berat dan pelanggaran HAM ringan. 37 . menciptakan kondisi kehidupan kelompok yang akan mengakibatkan kemusnahan secara fisik baik seluruh atau sebagiannya. Pelanggaran dan Peradilan Hak Asasi Manusia Pelanggaran hak asasi manusia adalah setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang termasuk aparat negara baik disengaja ataupun tidak disengaja atau kelalaian yang secara hukum mengurangi. kedua. ras. 26/2000 tentang Pengadilan HAM. seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh Undang-undang ini. 26/200 tentang Pengadilan HAM). Persyaratan pertama adalah demokrasi dan supremasi hukum. HAM sebagai tatanan sosial merupakan pengakuan masyarakat terhadap pentingnya nilai-nilai Ham dalam tatanan sosial.

pemaksaan kehamilan. perampasan kemerdekaan atau perampasan kebebasan fisik lain secara sewenang-wenang yang melanggar (asas-asas) ketentuan pokok hukum internasional. Karena itu penindakan terhadap pelanggaran hak asasi manusia tidak boleh hanya ditujukan terhadap aparatur negara. perbudakan. penganiayaan terhadap suatu kelompok tertentu atau perkumpulan yang didasari persamaan paham politik. pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa. pengadilan HAM menempuh proses pengadilan melalui hukum acara pengadilan HAM sebagaimana terdapat dalam undang-undang pengadilan HAM. perkosaan. pemandulan atau sterilisasi secara paksa atau bentuk-bentuk kekerasan seksual lain yang setara. Pengadilan HAM merupakan pengadilan khusus yang berada di lingkungan Pengadilan Umum. penyiksaan. Pelanggaran terhadap hak asasi manusia dapat dilakukan baik oleh aparatur negara mapun bukan. penuntutan dan persidangan terhadap pelanggaran yang terjadi harus bersifat nondiskriminatif dan berkeadilan. Dalam pelaksanaan peradilan HAM. Pengadilan HAM berwenang juga memeriksa dan memutuskan perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berada dan dilakukan di luar batas territorial wilayah negara Republik Indonesia oleh warga negara Indonesia. Pengadilan HAM bertugas dan berwewenang memeriksa dan memutuskan perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat. 38 .Sementara itu kejahatan kemanusiaan adalah salah satu perbuatan yang dilakukan sebagai bagian dari serangan yang meluas atau sistematik yang diketahuinya bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil berupa pembunuhan. kebangsaan. etnis. pemusnahan. penyidikan. agama. Penindakan terhadap pelanggar HAM tersebut dilakukan melaui proses peralihan HAM mulai dari penyelidkan. Untuk Daerah Khusus Ibukota Jakarta. budaya. Pengadilan HAM berkedudukan di daerah kabupaten atau daerah kota yang daerah hukumannya meliputi daerah hukum Pengadilan Negeri yang bersangkutan. Pengadilan HAM berkedudukan disetiap wilayah Pengadilan Negeri yang bersangkutan. ras. dan kejahatan apartheid. jenis elamin atau alasan lain yang telah diakui secara universal sebagai hal yang dilarang menurut hukum internasional. pelacuran secara paksa. perbudakan seksual. penghilangan orang secara paksa. tetapi juga pelanggaran yang dilakukan bukan oleh aparatur negara. Pengadilan HAM tidak berwenang memeriksa dan memutuskan perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat yang dilakukan seseorang yang berumur di bawah 18 (delapan belas) tahun pada saat kejahatan dilakukan.

pelanggaran HAM sebenarnya tidak saja dilakukan oleh rakyat kepada rakyat yang disebut dengan pelanggaran HAM secara horizontal. menyatakan bahwa tanggung jawab pemajuan. bila negara tidak mampu melindungi HAM warganegaranya. Pandangan kedua. Artinya negara dan individu sama-sama memiliki tanggung jawab terhadap pemajuan. penghormatan dan perlindungan HAM. tetapi juga secara tidak langsung. memajuan. Oleh karenanya. Perlindungan. Hak-hak inilah yang harus dijamin realisasinya oleh negara. yaitu negara membiarkan terjadinya pelanggaran HAM. Deklarasi Kairo dan sebagainya harus diletakkan sebagai norma hukum internasional yang mengatur bagaimana negara-negara di dunia menjamin hak-hak individunya. penghormatan dan perlindungan HAM tidak saja dibebankan kepada negara.F. Pandangan pertama menyatakan bahwa yang harus bertanggungjawab memajukan HAM adalah negara. analisis terhadap pelanggaran HAM pun selalu berada dalam wilayah pelanggaran HAM oleh negara terhadap rakyat seperti kasus Tanjung Priok. Penanggungjawab dalam Penegakan. Pelanggaran terhadap pemenuhan HAM juga lebih mengedepankan tanggung jawab perlindungan. Begitu pula tanggung jawab HAM adalah negara. perlindungan dan pemenuhan HAM? Ada dua pandangan mengenai hal tersebut. kasus di Irian Jaya. Piagam Madinah. Beberapa Kovenan. Karena itu. melainkan juga kepada individu warga negara. negara yang bersangkutan dengan sendirinya akan kehilangan legitimasi rakyatnya. kasus Haur Koneng di Tasikmalaya. Negara yang tidak memfasilitasi rakyat melalui pendidikan HAM berarti negara telah mengabaikan amanat rakyat. dan Pemenuhan Hak Asasi Manusia. Memajukan. Dengan demikian. pemajuan. kasus DOM di Aceh. Setiap individu (warganegara) mempunyai hak asasi baik dalam keadaan darurat maupun keadaan normal harus dilindungi. tidak hanya berwujud pelanggaran secara langsung. karena negara dibentuk sebagai wadah untuk kepentingan kesejahteraan rakyatnya. deklarasi PBB tentang HAM yang dikenal dengan Piagam HAM Dunia. Bentuk pelanggaran HAM jenis ini antara lain adanya penembakan rakyat oleh sipil bersenjata seperti dalam kasus 39 . Hukum Perjanjian Internasional. dan penghormatan HAM ada pada pemerintah. Rakyat yang cerdas dan sadar sehingga mampu menghargai dan menghormati HAM perlu diberikan pendidikan terutama masalah yang berkaitan dengan HAM. Pelanggaran HAM oleh negara terhadap rakyat yang disebut pelanggaran HAM secara vertikal. Oleh karena itu. Siapa yang bertanggungjawab dalam penegakan.

. Jakarta. dan Masyarakat Madani. karenaa setiap orang memiliki kewajiban untuk ikut mengawasi tindakan pemerintah. Merumuskan cirri-ciri sistem pemerintahan parlementer. Penerbit Prenada Media. Kedua. 40 . Menseskripsikan Sistem Pemerintahan Negara Indonesia sebelum dan sesudah amandemen UUD 1945. sejumlah besar problem HAM tidak hanya melibatkan aspek pemerintah. Merumuskan konsep sistem pemerintahan. A. Pertama. para perampok dan sebagainya. terdiri dari beberapa bagian yang mempunyai hubungan fungsional terhadap keseluruhan. sangat luas. Catatan Bab ini banyak diambil dari Bab IX buku Tim ICCE UIN Jakarta (Dede Rosyada. Demokrasi. 3. tetapi juga kalangan swasta atau kalangan di luar negara dalam hal ini rakyat. akan mempengaruhi keseluruhannya itu (Kusnardi dan Harmailyi Ibrahim. dkk). 6. Mendeskripsikan konsep organisasi pemerintahan dalam garis vertika dan horizontal. individu memiliki tanggung jawab atas dasar prinsip-prinsip demokrasi. BAB IV SISTEM PEMERINTAHAN NEGARA Kompetensi Dasar 1. 4. Pengertian Sistem Pemerintahan Sistem adalah suatu keseluruhan. presidensiil dan referendum. Membandingkan Sistem Pemerintahan Indnesia dengan Amerika Serikat. 2. Hubungan dimaksud menimbulkan ketergantungan antara bagian-bagian yang akibatnya jika salah satu bagian tidak bekerja dengan baik.penembakan Rektor IAIN Ar-Raniry Banda Aceh. suatu yang menjadi kewajiban pemerintah juga menjadi kewajiban rakyat. 2003. Ketiga. penganiayaan buruh atau budak oleh majikan seperti kasus Marsinah. Hak Asasi Manusia. dan sempit. Rektor Universitas Syiah Kuala Banda Aceh dan beberapa tokoh lainnya. Mendeskripsikan konsep sistem pemerintahan dalam arti luas. Pendidikan Kewargaan. Ada tiga alasan mengapa individu memiliki tanggung jawab dalam penegakan dan perlindungan HAM. Dalam masyarakat yang demokratis. HAM sejati bersandar pada pertimbangan-pertimbangan normatif agar umat manusia diperlakukan sesuai dengan human dignity-nya. 5.

sampai B. Sedangkan pengertian pemerintahan dalam arti sempit tidak tidak lain adalah aktifitas atau kegiatan yang diselenggarakan oleh fungsi eksekutif.1980: 160). Sistem Pemerintahan Negara dalam arti paling luas. maka dalam melakukan pembahasan mengenai Pemerintah Negara. hubungan antar alat-alat perlengkapan negara yang menjalankan kekuasaan-kekuasaan tersebut baik hubungan horizontal (pemisahan atau pembagian kekuasaan) maupun hubungan vertikal (pemencaran kekuasaan). Dari dua pengertian tersebut. Apabila salah satu dari komponen atau bagian tersebut berfungsi melebih atau kurang dari wewenangnya. Titik tolak yang dipergunakan adalah dalam konteks pemerintahan dalam arti luas. legislatif maupun judikatif. Sedangkan pemeritahan dalam arti luas adalah segala bentuk kegiatan atau aktifitas penyelenggaraan negara yang dilakukan oleh organ-organ negara yang mempunyai otoritas atau kewenangan untuk menjalankan kekuasaan. Pengertian seperti ini akan 41 . Pengertian pemerintahan seperti ini mencakup kegiatan atau aktifitas penyelenggarakan negara yang dilakukan oleh eksekutif. antara pemerintah pusat dan pemerintah lokal atau daerah. Tiga Pengertian Sistem Pemerintahan Negara Pengertian sistem pemeintahan negara meurut doktrin Hukum Tata Negara dapat dibagi kedalam tiga pengertian. jika pengertian pemerintahan tersebut dikaitkan dengan pengertian sistem. maka akan mempengaruhi komponen yang lain. Yaitu meliputi pembagian kekuasaan dalam negara. Dengan demikian. presiden ataupun perdana dengan level birokrasi yang paling rendah tingkatannya. maka yang deimaksud dengan sistem pemerintahan adalah suatu tatanan atau susunan pemerintahan yang berupa suatu struktur yang terdiri dari organorgan pemegang kekuasaan didalam negara dan saling melakukan hubungan fungsional diantara organ-organ negara tersebut baik secara vertikal maupun horizontal untuk mencapai suatu tujuan yang dikehendaki. menteri. yakni tatanan yang berupa struktur dari suatu negara dengan menitik beratkan pada hubungan antara negara dengan rakyat. yaitu : (1). Dengan demikian dalam usaha ilmiah sistem adalah suatu tatanan / susunan yang berupa suatu struktur yang terdiri dari bagian-bagian atau komponen-komponen yang berkaitan antara satu dengan lainnya secara teratur dan terencana untuk mencapai suatu tujuan.

India. Sistem pemerintahan negara seperti ini meliputi: (a).menimbulkan model pemerintahan monarkhi. (b). Organisasi dari sistem pemerintahan negara tersebut. contoh Inggris. pada sistem ini pemerintah (eksekutif) pada hakekatnya adalah Badan Pekerja dari Parlemen (Legislatif). (c).Sistem Pemisahan Kekuasaan (Presidensiil). aristokrasi dan demokrasi. Berikutnya (3) disebut Sistem Pemerintahan Negara dalam arti sempit yakni suatu tatanan atau struktur pemerintahan yang bertitik tolak dari hubungan sebagian organ negara ditingkat pusat. Sistem Parlementer. dalam sistem ini parlemen (legislatif) mempunyai kedudukan yang lebih tinggi ketimbang eksekutif. yaitu : (a) Kekuasaan Legislatif. dalam negara seperti ini pemerintah pusat dan negara bagian mempunyai kedudukan yang sama. Organisasi Pemerintahan Dalam Garis Horizontal Menurut konsep Trias Politika kekuasaan didalam negara dapat dibagi menjadi menjadi tiga cabang kekuasaan utama . Bangunan Negara Konfederasi. Oleh karena itu parlemen tidak diberi kewenangan untuk melakukan pengawasan kepada eksekutif. contohnya di Swiss. (2). Jepang. Sistem Pemerintahan dengan Pengawasan Langsung Oleh rakyat. (b). yakni 42 . sehingga yang berhak mengawasi parlemen dan eksekutif adalah rakyat secara langsung. termasuk hubungan antara pemerintah pusat dengan bagian-bagian yang terdapat dalam negara ditingkat lokal atau daeraah. dalam negara seperti ini pemerintah lokal (kanton atau wilayah) mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari pemerintah pusat. baik itu di negara serikat maupun kesatuan dikenal adanya dua organisasi (pengelompokan) dari sistem Pemerintahan yang saling melakukan interaksi antara satu dengan lainnya. Sistem Pemerintahan Negara ari lua. pada sistem ini parlemen (legeslatif) dan pemerintah mempuyai kedudukan yang sama dan saling melakukan kontrol (chek and balances). contohnya AS. Bangunan Negara Serikat (Federal). adalah: 1. akan menimbulkan model : (a). yakni tatanan atau struktur pemerintahan negara yang bertitik tolak dari hubungan antara semua organ negara. khususnya hubungan antar eksekutif dan legislatif. (c). Struktur atau tatanan pemerintahan negara seperti ini.Bangunan Negara Kesatuan. C. dengan kata lain eksekutif merupakan bagian yang tak terpisahkan dari legislatif (Parlemen). Organisasi Sistem Pemerintahan Negara Pada umumnya dalam sistem pemerintahan negara. dalam bangunan ini pemerintah pusat memegang otoritas penuh (berkedudukan lebih tinggi) ketimbang pemerintah lokal.

yaitu Presiden atau Perdana Menteri. masing-masing mempunyai ciri-ciri yang berbeda-beda antara 43 . baik yang terdapat di negara kesatuan maupun serikat. Menurut Kranenburg (dalam Miriam Budiardjo. melainkan dipecah menjadi tiga cabang kekuasaan utama yang dipegang oleh badan-badan negara yang berbeda ditinjau dari fungsi dan kedudukannya. Kekuasaan ini dilakukan oleh badan-badan peradilan dengan susunan bertingkat-tingkat sesuai dengan kewenangan masing-masing tingkat dan berpuncak pada supreme Court atau Mahkamah Agung. Kekuasaan Judikatif. Organisasi Sistem Pemerintahan Dalam Garis Vertikal Membahas Organisasi sistem Pemerintahan dalam garis Vertikal pada intinya bertitik tolak dari bangunan negara. khususnya yang mempergunakan asas desentrlisasi dikenal. Di Negara Serikat. Masing-masing banguan negara ini memiliki satuan pemerintahan yang lebih rendah di bawah pemerintah pusat. satuan pemerintahan yang lebih rendah diwujudkan dalam bentuk negara-negara bagian. 2.kekuasaan untuk membentuk undang-undang. yakni kekuasaan untuk melaksanakan peradilan.(c). oleh seorang atau sekelompok orang. Kekuasaan Ekekutif yakni kekuasaan untuk menjalankan undang-undang atau disebut juga kekuasaan untuk menjalankan pemerintahan. tetapi masing-masing masih dapat saling melakukan hubungan antara satu dengan yang lainnya. Biasanya diserahkan kepada lembaga perwakilan rakyat atau parlemen. 1986: 143) kedua satuan pemerintahan yang lebih rendah dibawah pemerintah pusat. Maksud pembentukan organisasi pemerintahan seperti ini tidak lain adalah agar kekuasaan yang terdapat didalam suatu negara tidak lagi dipegang dan menumpuk atau dikendalikan. Namun dapat pula terpisah secara kelembagaan. Kekuasaan ini biasanya dilakukan oleh pemerintah dalam arti sempit. Dengan demikian konsep pengorganisasian pemerintahan dalam garis horizontal pada hakikatnya merupakan implementasi dari konsep trias politika yang dilandasi oleh adanya reaksi terhadap organisasi pemerintahan yang absolut-diktatorik yang pada umunya terjadi dalam negara yang berbentuk monarkhi. adanya pemerintah daerah yang berwenang untuk menyelenggarakan pemerintahan sendiri sesuai dengan aspirasi masyarakat dimasing-masing daerah (otonomi). khususnya bangunan negara serikat dan bangunan negara kesatuan. (b). Sedangkan di Negara kesatuan. Kesemuanya itu tergantung dari sistem pemerintahan yang dianut oleh masing-masing negara. Ketiga cabang kekuasaan negara ini dipegang oleh lembaga atau badan kenegaraan yang sifatnya dapat terpisah antara satu dengan yang lain secara tegas.

1986:143). untuk kekuasaan badan legislatif rendahan (Lokal) didasarkan atas penentuan dari badan legislatif pusat itu dalambentuk Undang-Undang Organik. Sistem ini merupakan sisa-sisa peninggalan sistem pemerintahan dalam arti paling luas.Dalam negara federal (serikat). Dikatakan demikian karena kepala negara apapun sebutannya-mempunyai kedudukan yang tidak dapat diganggu gugat. (b). Menurut F. wewenang membentuk Undang-Undang Pusat untuk bidang tertentu telah diperinci satu persatu dalam konstitusi federal. adalah seagai berikut: 1. akan tetapi juga wewenang eksekutif dan administratif. Sedangkan dalam negara kesatuan wewenang pembentukan Undang-Undang Pusat ditetapkan dalam satu rumusan umum dan wewenang pembentukan undang ± undang rendahan (sering disebut Peraturan Daerah/Perda). Sistem Pemerintahan Parlementer (Parliamentary Executive) Pada prinsipnya system pemerintahan parlementer menitik beratkan pada hubungan antara organ negara pemegang kekuasaan eksekutif dan legislative. Penjelasannya secara lebih rinci . Sedangkan penyelenggara pemerintahan sehari-hari diserahkan kepada Menteri (Perdana Menteri). yakni morankhi. yakni antara badan legislatif pusat (federal) dan badan legislatif dari negara-negara bagian. tergantung pada badan pembentuk Undang-Undang Pusat itu. dalam negara federal wewenang legislatif terbagi dalam dua bagian. Negara bagian yang terdapat di dalam Negara Serikat memiliki wewenang untuk membentuk UUD sendiri serta mempunyai wewenang untuk membentuk Organisasi sendiri dalam rangka dan batas-batas konstitusi federal. dalam negara federal tidak hanya wewenang legislatif saja yang diberi antara negara federal dengan negara-negara bagian. yaitu: (a). sistem perlementer. D. 44 dan referendum.satu dengan yang lain berdasarkan hukum positif. Sedangkan dalam negara Kesatuan organisasi bagianbagian negara (Pemerintah Daerah) secara garis besarnya telah ditetapkan oleh pembentuk Undang-Undang Pusat.Sugeng Istanto (1971:16) prinsip yang terkandung pada negara kesatuan ialah bahwa yang memegang tampuk kekuasaan tertinggi atas segenap urusan negara ialah Pemerintah Pusat tanpa adanya gangguan oleh delegasi atau pelimpahan kekuasaan kepada pemerintah daerah. Isjawara (dalam Miriam Budiardjo. Sedangkan Hans Kelsen mengemukakan bahwa. Sedangkan dalam negara kesatuan wewenang legislatif berada dalam tangan badan legislatif pusat. Macam-macam Sistem Pemerintahan Negara Ada tiga macam sistem pemerintahan yang sering dibahas dalam kajian Hukum Tatanegara. Sedang meurut F.

yakni penggabungan dua partai atau lebih untuk memperkuat posisi perolehan suara di parlemen. Sistem ini menghendaki adanya pemisahan kekuasaan aksekutif dan badan pemegang kekuasaan legislatif. Ciri-ciri utama dari sistem pemerintahan ini adalah sebagai berikut: (a). Eksekutif yang dipimpin oleh Perdana Menteri dibentuk oleh parlemen dari partai politik / organisasi peserta pemiluyang menduduki kursi mayoritas diparlemen. Kepala Negara (apapun sebutannya) hanya berfungsi ataupun berkedudukan sebagai kepala negara saja. jika pertanggung jawaban atas pelaksanaan pemerintahan yang dilakukan oleh Menteri baik secara perseorangan ataupun kolektif tidak dapat diterima oleh parlemen. maka kedudukan antara kedua lembaga ini tidak bisa saling mempengaruhi (menjatuhkan). Presiden tidak dapat diberhentikan oleh Parlemen ditengah45 . Kedudukan seperti ini mengakibatkan Kepala Negara tidak dituntut pertanggungjawaban konstitusional apapun. Tidak sebagai kepala eksekutif dan Pemerintahan. Kedudukan Presiden disamping sebagai Kepala Negara juga sebagai kepala Eksekutif (Pemerintahan). dan (d). (d). pada umunya dilakukan dengan cara koalisi. sebab Kepala Negara hanya berfungsi sebagai simbol negara juga diberi wewenang untuk menunjuk formulir kabinet dan membubarkan kabinet bila keadaan negara menghendaki. Sehingga tidak jarang terjadi bahwa Presiden terpilih berasal dari Partai Politik yang berbeda dengan mayoritas partai politik yang ada diparlemen. (b). Karena Presden dan Parlemen dipilih langsung oleh rakyat melalui Pemilihan Umum. Terdapat hubungan yang erat antara eksekutif dan legislatif (parlemen). Jika ternyata didalam parlemen tidak ada satupun partai politik yang menduduki kursi mayoritas. 2. Sistem Pemerintahan Presidensiil (Fixed Executive) Sestem pemerintahan ini bertitik tolak dari konsep pemisahan kekuasaan sebagaimana dianjurkan oleh teori trias politika. (c).Adapun ciri-ciri sistem pemerintahan ini. pada umumnya dapat digambarkan sebagai berikut : (a). Dalam hal ini rakyat tidak secara langsung memilih Perdana Menteri dan Kabinetnya. Dikenal adanya mekanisme pertanggung jawaban Menteri kepada Perlemen yang mengakibatkan Parlemen dapat membubarkan atau menjatuhkan ´mosi tidak percaya´kepada Kabinet. Hal ini karena kedua lembaga tersebut sama-sama bertanggung jawab kepada rakyat pemilih. bahkan antara keduanya saling tergantungsatu dengan yang lainnya. (b). (c). Maka penyusunan Kabinet dan Perdana Menteri. Presiden dan Parlemen masing-masing dipilih langsung oleh rakyat melalui Pemilihan Umum.

Akan tetapi jika menyimak Penjelasan Umum UUD 1945.Menteri-menteri yang diangkatoleh Presiden tersebut tunduk dan bertanggung jawab kepada Presiden. tunduk dan bertanggung jawab kepada MPR. Dalam kasus seperti ini Presiden akan memberikan pertimbangan apakah dalam persoalan adanya ´mosi tidak percaya ´ tersebut memang disebabkan oleh Kabinet yang tidak mampu lagi menjalankan garis-garis kebijaksanaan politik yang ditetapkan oleh parlemen. yaitu sistem presidensiil semu dan sistem parlementer semu. namun presiden hanya menyampaikan nominasi anggota kabinet. Sebelum Amandeman. (e). Disana dinyatakan bahwa Presiden yang diangkat oleh MPR. Presiden juga dapat membubarkan parlemen. Tidak dilakukan oleh anggota parlemen. dapat dikenai impeachment (pengadilan DPR). namun jika presiden melakukan perbuatan yang melanggar hukum. Kemudian Presiden mengangkat menteri-menteri tersebut setelah mendapat persetujuan Parlemen. karena MPR bertindak laksana parlemen. tetapi juga mempunyai wewenang untuk mengangkat perdana menteri dari partai Politik yang menduduki kursi mayoritas di parlemen. Presidennya dipilih oleh rakyat dalam suatu pemilu. Sistem presidensiil semu pernah berlangsung dalam pola ketatanegaran Indonesia. Sedangkan sistem Pemerintahan Parlementer yang tidak murni terlihat dalam ketatanegaraan Perancis. Dalam rangka menyusun kabinet (menteri). Contoh yang dapat dikemukakan disini adalah Impeachment yang dikembangkan di AS. (f). Kemudian dipasal 17 ayat 2 ditegaskan bahwa menteri-menteri diangkat dan diberhentikan oleh presiden. Dari kedua sistem tersebut. Ketentuan seperti ini jelas mengindikasikan bahwa Indonesia menganut Sistem Presidensiil.tengah masa jabatannya. sering dijumpai juga varian dari keduanya. Penjelasan semacam ini mengandung unsur sistem parlementer. Pelaksana Impeachment ini dilakukan oleh Hakim Tinggi pada supreme Court. ataukah justru parlemen yang bertindak malampaui batas46 . tidak otomatis Kabinet diberi ´mosi tidak percaya´ dan dapat dijatuhkan oleh parlemen. Namun Presidennya mempunyai kekuasaan yang besar dalam seluruh kehidupan negara dan pemerintahan. Akan tetapi jika pertanggung jawaban tersebut ditolak oleh parlemen. dalam pasal 4 UUD 1945 di tegaskan bahwa presiden memegang kekuasaan pemerintahan menurut Undang-Undang Dasar. Pola seperti ini nampak mirip dengan sistem presidensiil di AS. Parlemen yang menentukan personilnya secara definitif. unsur-unsur Sistem Parlementer terlihat jelasa. Presiden wajib minta persetujuan Parlemen. Perdana menteri dan Kabinetnya bertanggung jawab kepada parlemen. Begitu pula dengan parlemennya. Presiden wajib menjalankan MPR.

diantara para anggota dewan untuk masa jabatan satu tahun. Referendum terdiri dari (tiga) macam. Demikian pula sebaliknya. (b). Presiden dan wakil presiden Konfederasi Swiss dipilih oleh sidang federal. Referendum obligator (Wajib) yaitu meminta pendapat secara langsung dari rakyat terhadap suatu 47 . Inilah letak ketidak murnian dari sistem parlementer yang dikembangkan di Perancis. Oleh sebab itu. yaitu: (1). Sehingga yang berhak untuk melakukan kontrol atas jalannya sistem ketatanegaraan tidak lain adalah rakyat secara langsung. Menurut Konstitusi Federal Konfederasi Swiss dinyatakan antara lain : (a). maka justru parlemenlah yang dapat dibubarkan oleh presiden. Pola seperti inilah yang mengakibatkan munculnya sistem Pemerintahan dengan pengawasan langsung oleh rakyat. Ini berarti Presiden juga berkedudukan dan bertindak sebagai representasi rakya. Sistem Pemerintahan Dengan Pengawasan Langsung oleh Rakyat Acuan sistem pemerintahan ini adalah Negara Konfederasi Swiss. Referendum. maka tidaklah mungkin apabila Sidang Federal (pemegang kedaulatan tertinggi) dan dewan federal (pemegang kekuasaan eksekutif) saling melakukan kontrol seperti halnya dalam sistem pemerintahan Parlementer. yang terdiri dari tujuh anggota dan dipiliholeh Sidang Federal.Pemegang kekuasaan eksekutif dan badan Pelaksana Kekuasaan Tertinggi dipegang oleh Dewan Federal. Dewan federal (pemegang kekuasaan eksekutif) dan Sidang Federal (pemegang kedaulatan tertinggi) sama-sama memperoleh kekuasaan dari rakyat. Memperhatikan konstruksi ketatanegaraan tersebut diatas. Kekuasaan Presiden Perancis yang demikian besar karena dipilih langsung oleh rakyat. Jikalau dalam pertimbangan tersebut.batas kewenangannya. presiden dapat bertindak sebagai mediator bahkan dapat juga disebut sebagai hakim dalam mengatasi konflik tersebut. Pemegang kedaulatan tertinggi ada pada Sidang Federal yang terdiri dari dua kamar. Karena Dewan federal pada hakikatnya merupakan bagian yang tidak terpiasahkan dari sidang federal. 3. tidaklah mengherankan jikalau dalam konflik antara Kabinet dan Parlemen. . khususnya menyangkut kedaulatan rakyat dibidang pemerintahan. Presiden menganggap bahwa parlemenlah yang malampaui kewenangannya. Bahkan dapat dikatakan bahwa Dewan Federal hanyalah merupakan Badan Pekerja dari Sidang Federal. Adapun cara yang dapat ditempuh oleh rakyat Konfederasi Swiss untuk melakukan kontrol terhadap jalannya pemerintahan adalah dengan melalui : (a). yaitu suatu penentuan oleh rakyat untuk memberikan keputusan setuju atau menolak terhadap kebijaksanaan yang diambil oleh parlemen. yaitu Dewan Nasional dan Negara. dan (c).

Berikut ini akan dikemukakan sistem pemerintahan Indonesia menurut konstitusiyang pernah dan sedang berlaku. Hal ini karena UUDS 1950 pada hakikatnya merupakan hasil amandemen dari Konstitusi RIS dengan menghilangkan 48 . Kendatipun demikian pasal 122 Konstitusi RIS juga disebutkan bahwa DPR tidak dapat memaksa kabinet atau masing-masing menteri untuk meletakkan jabatannya.Rancangan UU yang akan di undangkan. Usul Inisiatif Rakyat. 1. Sistem Pemerintahan Indonesia menurut UUDS 1950 UUDS 1950 masih tetap mempergunakan bentuk sistem pemerintahan seperti yang diatur dalam Konstitusi RIS. yaitu meminta pendapat secara langsung dari rakyat apakah setuju atau tidak terhadap UU yang sudah berlaku. Ketentuan pasal tersebut menunjukkan bahwa RIS mempergunakan sistem pertanggung jawaban menteri. 2. tetapi ada sementara rakyat yang meggugatnya. maka UU terebut tetap berlaku. Pasal 118 Konstitusi RIS antara lain menyebutkan. Referendum fakultatif (tidak Wajib). Sistem Pemerintahan Indonesia Sejak Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. (2). yaitu meminta pendapat secara langsung pada rakyat apakah setuju atau tidak terhadap Rancangan UU Pemerintah Federal atau pemerintah pusat di wilayah-wilayah negara bagian atau daerah otonom. Sistem Pemerintahan Indonesia Menurut Konstitusi RIS Sistem pemerintahan Indonesia menurut Konstitusi RIS adalah sistem Pemerintahan Parlementer yang tidak murni. Apabila mayoritas rakyat berpendapat bahwa UU tersebut tetap berlaku seperti semula. Artinya sistem pemerintahan negara yang digunakan masih seperti yang diatur dalam Konstitusi RIS. (b). Menteri-menteri bertanggung jawab atas seluruh kebijaksanakan pemerintah baik bersama-sama untuk seluruhnya. Masing konstitusi tersebut mengatur mengenai sistem pemerintahan yang berbeda. (b). maka sisem yang dipergunakan adalah sistem parlementer yang tidak murni. Dengan menyimak pasal tersebut. (3). Indonesia pernah mempergunakan beberapa Konstitusi tertulis selain UUD 1945. E. Referendunm optatif. demikian sebaliknya. Maupun masing-masing untuk bagiannya sendiri-sendiri. Karena pertanggung jawaban yang dimaksud tidak ada artinya atau disebut pertanggung jawaban dalam arti sempit. yaitu hak rakyat untuk mengajukan rancangan UU kepada Parlemen dan Pemerintah. (a) Presiden tidak dapat diganggu gugat.

Dalam Penjelasan UUD 1945 disebutkan bahwa DPR tidak bisa dibubarkan oleh presiden. (c). secara eksplisit mengindikasikan adanya bentuk campuran antara sistem Presidensiil dan parlementer. Meteri-menteri diangkat dan diberhentikan oleh presiden. Sedangkan Presiden sendiri bertanggung jawab kepada rakyat yang telah memilihnya. yakni hak Presiden untuk tidak menyetujui suatu RUU yang diajukan leh Congres. Bahkan kecenderungan kearah sistem parlementer demikian kental. Presiden tidak dapat diganggu-gugat sebelum masa 49 . (d). Presiden adalah kepala eksekutif dan tidak boleh merangkap menjadi anggota DPR. sistem Pemerintahan Negara tidak secara implisit tertuang didalamnya. presiden sebagai kepala eksekutif tidak dapat dijatuhkan oleh Congres. Kekuasaan eksekutif berada ditangan Presiden. wewenang pembuat UU adalah Congres (yang terdiri dari dua kamar : House of Representative dan senat. Konstruksi semacam ini memperlihatkan kecenderungan kearah sistem presidensiil. Akan tetapi dalam hal-hal tertentu Presiden AS mempunyai hak veto. Karakteristik sistem presidensiil di Amerika Serikat adalah sebagai berikut: (a).Presiden tidak dapat diganggu gugat. 3. Dalam bidang legislatif. apakah betul menganut Presidensiil yang tidak murni (quasi Presidensiil). Mahkamah Agung. dan dalam pelaksanaannya dibantu oleh para menteri yang bertanggung jawab kepada presiden. tetapi bukan bukan yang murni. Legislatif. Guna mengetahui sistem pemerintahan yang dianut oleh UUD 1945. baik bersama-sama untuk seluruhnya maupun masing-masing untuk bagiannya sendiri-sendiri. Menteri-menteri bertanggung jawab atas seluruh kebijaksanaan pemerintah. (b). Presiden dan Wk. maka perlu memperbandingkan dengan sistem pemerintahan negara lain. Apabila ada perbedaan pendapat antara Presiden dengan Congres (utamanya senate). Pada beberapa ketentuan. (b). dan judikatif merupakan lembaga yang terpisah. dan dapat diberhentikan jika melanggar UUD 1945 dan GarisGaris Besar Haluan Negara (GBHN). eksekutif. namun mekanisme Check and Balances (saling mengadakan kontrol dan pertimbangan) berlangsung diantara ketiganya. Sistem Pemerintahan Indonesia Menurut UUD 1945 Sebelum Amandemen Didalam sistematika UUD 1945. Akan tetapi karena presiden RI tidak dipilih oleh rakyat secara langsung melainkan oleh MPR. Khususnya yang menganut sistem pemerintahan Presidensiil yang murni seperti di Amerika Serikat. dan pimpinan MPR. maka menunjukkan bahwa sistem presidensiil yang dianut. Hal ini agak berbeda dengan kedua Konstitusi RIS dan UUDS 1950.pasal-pasal yang bersifat federalis.. Didala pasal 83 UUDS 1950 dinyatakan : (a).

jabatannya habis. (c). Sistem Pemerintahan Indonesia Menurut UUD 1945 Setelah Amandemen Amandemen pertama terhadap UUD 1945 berlangsung pada Sidang Umum MPR Tahun 1999. Juga dalam Penjelasan Umum UUD 1945 yang menegaskan bahwa Presiden dalam melaksanakan pemerintahan bertanggung jawab kepada MPR. Pasal 4 ayat 1 . hasil amandemen pertama ini sangat terkait dengan penegasan sistem pemerintahan. Badan-badan peradilan bebas dari pengaruh kekuasaan apapun. Presiden dan wakil presiden memegang jabatan selama lima tahun dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama. tidak sesuai dengan proses pemilihan Presiden langsung seperti AS. Berdasarkan karakteristik sistem presidensiil di AS tersebut di atas. Pasal 7 . 4. dan (e) Pasal 21 ayat 2 : Jika Rancangan UU meskipun disetujui DPR. Pasal 17 ayat 1 dan 2 . maka dapat menarik garis persamaan dengan yang ada di Indonesia. dan (e). Hakim peradilan ada yang dipilih oleh rakyat dan ada pula yang diangkat untuk seumur hidup atau selama tenaganya masih mampu menjalankan tugas dan wewenang nya. Presiden berhak mengajukan Rncangan Undang-Undang. (b). Presiden dibantu oleh menteri-menteri. mengenai pemilihan Presiden dan Wakil Presiden yang dipilih dan diangkat oleh MPR dengan suara terbanyak (pasal 6 ayat 2). Presiden memegang kekuasaan pemerintahan (b). mirip dengan ciri sistem pemerintah parlementer. Pasal 5 ayat 1 . maka tidak boleh dimajukan dalam persidangan masa itu. Pasal 21 ayat 1 . Presiden memegang kekuasaan membentuk UU dengan persetujuan DPR. Ketentuan pasal-pasal diatas menunjukkan bahwa sistem pemerintahan Indonesia dengan yang dianut di AS. sebagaimana dikonstruksikan di dalam UUD 1945 (sebelum amandemen) sebagai berikut : (a). Akan tetapi. misalnya presiden melakukan perbuatan melanggar hukum. (d). Mekanisme impeachmenti tidak dilakukan sendiri oleh anggota DPR. melainkan oleh Hakim Agung yang dipanggil ke DPRuntuk melakukan pemeriksaan terhadap Presiden. 50 . Pasal ini dukunya berbunyi ´Presiden memegang kekuasaan membentuk Undang-Undang dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat´. Akan tetapi jika ada kejadian luar biasa. hasil dimaksud sebagai berikut : (a) Pasal 5 ayat 1. maka badan Perwakilan dapat menuntut presiden melalui Impeachment (pengadilan oleh DPR). yang diangkat dan diberhentikan oleh presiden. Anggota-anggota DPR berhak memajukan Rancangan UU. tapi tidak disahkan Presiden.

Hal nampak jelas tertuang di dalam Ketetapan MPR No. (5). ditegaskan bahwa psresiden dan wakil presiden akan dipilih secara langsung oleh rakyat. yang isinya antara lain bahwa calon Presiden diajukan oleh Fraksi MPR. namun dalam prakteknya masih tetap belum dilaksanakan secara murni. Menteri-menteri diangkat dan diberhentikan oleh presiden. Melainkan bertanggung jawab secara langsung kepada rakyat. Karena itu pemilihan Presiden masih mengacu pada pasal yang belum di amandem. (c). Pada tahun 1999 memang amandemen sudah dilakukan untuk pertama kali. (3). Berkaitan dengan hal ini. Presiden tidak bertanggung jawab kepada MPR. namun belum sampai pada ketentuan pemilihan Presiden.hanya untuk satu kali masa jabatan. Pasal 17 ayat 2. Dalam hal tidak ada pasangan calon presiden dan wakil presiden tepilih. Hasil amandemen terkait dengan pemilihan Presiden dimuat dalam Pasal 6A. pasal tersebut menjadi dasar konstitusional bagi Presiden Soeharto untuk dipilih berulang kali. sehingga masa jabatannya mencapai 32 tahun.Tata cara pelaksanaan peilihan Presiden dan wakil presiden lebih lanjut diatur dengan Undang-Undang. maka dua pasangan calon yang memperoleh suara terbanyak pertama dan kedua dalam pemilihan umum dipilih oleh rakyat secara langsung dan pasangan yang memperoleh suara terbanyak dilantik sebagai pasangan Presiden dan wkil presiden. (4). Pasal ini merupakan bentuk perubahan signifikan dari ketentuan sbelum amandemen yang menegaskan : ´Pesiden dan wakil presiden memegang jabatannya selama masa lima tahun. Berdasarkan ketentuan tersebut. Baru setelah amandemen keempat ditetapkan pada sidang tahunan MPR tahun 2002. serta (d). Kendati pasal-pasal UUD 1945 yang sudah di amandemen tersebut memberikan indikasi pelaksanaan sistem presidensiil. Dilantik menjadi presiden dan wakil presiden. Sebeleum berubah. (2). maka presiden dan wakil presiden tidak lagi bertanggung jawab kepada MPR. Pasangan calon presiden dan wakil presiden yang mendapat suara lebih dari lima puluh persen dari jumlah suara pemilihan umum dengan sedikitnya dua puluh persen suara disetiap provinsi yang tersebar di lebih dari setengah jumllah provinsi di Indonesia. Pasangan calon presiden dan wakil presiden diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilihan umum sebelum pelaksanaan pemilihan umum. antara lain menegaskan (1). Perisiden dan wakil presiden dipilih dalam satu pasangan secara langsung oleh rakyat. dan pemilihannya dilakukan oleh anggota MPR. pasal 3 ayat (3) Amandemen UUD 1945 menegaskan 51 .VI/MPR/1999 tentang Tata Cara Pencalonan dan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. dan sesudahnya dapat dipilih kembali´. Pasal 20 ayat 1: Dewan Perwakilan Rakyat memegang kekuasaan membentuk Undang-Undang.

tindak pidana lainnya. Menurut pasal 7A UUD 1945. DPR menyelenggarakan sidang paripurna untuk meneruskan usul pemberhentian Presiden dan atau Wakil Presiden kepala MPR. telah melakukan pelanggaran hukum atau telah tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan atau Wakil Presiden adalah dalam rangka pelaksanaan fungsi pengawasan DPR. MPR wajib menyelenggarakan sidang untuk memutuskan usul DPR menerima usul tersebut. mengadili dan memutus pendapat DPR bahwa Presiden dan atau Wakil Presiden telah melakukan pelanggaranhukum yang berupa pengkhianatan terhadap negara. (6). penyuapan. Atau perbuatan tercela.tindak pidana berat lainnya. korupsi. atau perbuatan tercela maupun apabila terbukti tidak lagi memenuhi syarat sebagai presiden dan atau Wakil presiden. maka Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) terlebih dahulu mengajukan permintaan kepada Mahkamah Konstitusi (MK) untuk memeriksa. mengadili dan memutus pendapat DPR tentang adanya indikasi perbuatan melanggar hukum yang dilakukan oleh Presiden dan atau Wakil Presiden. penyuapan. (4). Untuk mengusulkan pemberhentian Presiden dan atau Wakil Presiden. pemberhentian Presiden dan atau wakil presiden atas usul Dewan Perwakilan Rakyat apabila terbukti melakukan pelanggaran hukum yang berupa pengkhianatan terhadap negara. Pendapat DPR bahwa Presiden dan atau Wakil Presiden. (3). atau pebuatan tercela. pasal 7B UUD 1945 secara lengkap menyatakan : (1). penyuapan. dan atau terbukti bahwa Presiden dan atau Wakil Presiden tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan atau Wakil Presiden. Pengajuan permintaan DPR kepada MK hanya dapat dilakukan dengan dukungan sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota DPR yang hadir dalam sidang paripurna yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota DPR. Keputusan MPR atas usul pemberhentian Presiden dan atau Wakil Pesiden 52 . MK wajib memeriksa. tindak pidana berat lainnya. korupsi. Apabila MK memutuskan bahwa Presiden dan atau Wakil Presiden terbukti melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara.dan memutus dengan seadil-adilnya terhadap pendapat DPR tersebut paling lambat sembilan puluh hari setelah permintaan DPR itu diterima oleh MK. (7). Mengenai hal ini. mengadili. dan atau pendapat bahwa Presiden dan atau Wakil Presiden tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan atau Wakil presiden.´Majelis Permusyawaratan Rakyat hanya dapat memberhentikan presiden dan atau wakil presiden dalam masa jabatannya menurut Undang-Undang´. (5). (2). Usul pemberhentian Presiden dan atau Wakil Presiden dapat diajukan oleh DPR kepada MPR hanya dengan terlebih dahulu mengajukan permintaan kepada MK untuk memeriksa. korupsi.

53 . terdapat perubahan sistem pemerintahan Negara Republik Indonesia yang cukup fundamental. d. Kewarganegaraan. Pertanggung jawaban yang dibebankan kepada Presiden dan atau Wakil Presiden kepada parlemen harus diawali dengan adanya pertanggung jawaban hukum (yuridis). jikalau Presiden dan atau Wakil Presiden telah melaksanakan pertanggung jawaban hukum tersebut. Sistem pemerintahan negara mempergunakan Sistem Presidensiil murni.harus diambil dalam rapat paripurna MPR yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya ¾ dari jumlah anggota dan disetujui oleh sekurang-kurangnya ¾ dari jumlah anggota yang hadir. c. Perubahan tersebut dapat diilustrasikan sebagai berikut: a. yakni Mahkamah Konstitusi (MK) yang mempunyai wewenang untuk melakukan impeachment kepada Presiden dan atau Wakil Presiden. Catatan Bab ini banyak diambil dari Bab III buku Hestu Cipto Handoyo. jikalau ditengarai telah melakukan pelanggaran hukum berat. kedudukan Presiden dan atau Wakil Presiden serta parlemen sama-sama kuat. 2003. dan Hak Asasasi Manusia. Di pandang politik. e. Berdasarkan mekanisme pertanggung jawaban tersbut diatas. Hukum Tatanegara. Presiden dan atau Wakil Presiden serta parlemen yang terdiri dari dua kamar (DPR dan DPD) dipilih langsungoleh rakyat melalui Pemilihan Umum. Hal ini berarti Presiden dan atau Wakil Presiden hanya dapat dijatuhkan. setelah Presiden dan atau Wakil Presiden diberi kesempatan menyampaikan penjelasan dalam rapat paripurna MPR. maka setelah UUD 1945 diamandemenkan. Dikenal adanya lembaga peradilan konstitusi. Hal ini berarti telah mengubah paradigma yang selama ini mewarnai sistem pertanggung jawaban Presiden dan atau Wakil Presiden kepada MPR. Dalam paradigma lama. b. jikalau melakukan perbuatan yang berkaitan dengan hal-hal yang bersifat yuridis. Sedangkan untuk pertanggung jawaban politis merupakan konsekuensi logis. Penerbit UAJ Yogyakarta. Artinya antara kedua lembaga ini tidak bisa saling menjatuhkan. pertanggung jawaban Pesiden dam atau Wakil Presiden lebih menekankan pada pertanggung jawaban politis.

BAB V OTONOMI DAERAH Kompetensi Dasar 1. Merumuskan pengertian dan hakikat otonomi daerah dan desentralisasi. 2. Mendeskripsikan pentingnya otonomi dan desentralisasi 3. Mendeskripsikan argumentasi memilih otonomi dan desentralisasi. 4. Mendeskripsikan perkembangan otonomi dan desentralisasi di Indonesia. 5. Membandingkan kebijakan otonomi dan desentralisasi dalam UU. No. 22 Tahun 1999 dengan UU. No. 32 Tahun 2004. 6. Merumuskan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan di daerah. A. Pengertian dan Hakikat Otonomi Daerah Istilah otonomi daerah dan desentralisasi dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan sering digunakan bergantian. Kekdua istilah tersebut secara akademik bisa dibedakan, namun secara praktis dalam penyelenggaraan pemerintahan tidak dapat dipisahkan. Karena itu tidak mungkin masalah otonomi daerah dibahas tanpa mempersandingkannya dengan konsep desentralisasi. Bahkan menurut banyak kalangan otonomi daerah adalah desentralisasi itu sendiri. Karenanya pembahasan otonomi daerah biasanya diulas dengan memakai istilah desentralisasi. Kedua istilah tersebut bagaikan dua sisi mata uang yang saling menyatu namun dapat dibedakan. Desentralisasi pada dasarnya mempersoalkan pembagian kewenangan kepada organorgan penyelenggara negara, sedangkan otonomi menyangkut hak yang mengikuti pembagian wewenang tersebut. Konsep desentralisasi sering dibahas dalam konteks pembahasan mengenai sistem penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. Pada masa sekarang, hampir setiap negara menganut desentralisasi sebagai asas dalam sistem penyelenggaraan

pemerintahan negara. Desentralisasi bukan merupakan sistem yang berdiri sendiri melainkani merupakan rangkaian kesatuan dari suatu sistem yang lebih besar. Suatu negara menganut desentralisasi bukan karena alternatif dari sentralisasi. Antara Desentralisasi dan sentralisasi tidak dilawankan, dan karenanya tidak bersifat dikotomis, melainkan merupakan sub-sub sistem dalam kerangka sistem organisasi negeranya. Karenanya, suatu negara merupakan payung desentralisasi dan sesntralisasi. Otonomi dalam maka sederhana dapat diartikan sebagai ³mandiri´. Sedangkan dalam makna yang lebih luas diartikan sebagai ³berdaya´. Otonnomi daerah dengan demikian berarti kemandirian suatu daerah dalam kaitan perbuatan dan pengambilan 54

keputusan mengenai kepentingan daerahnya sendiri. Jika daerah sudah mampu mencapai kondisi tersebut, maka daerah dapat dikatakan sudah berdaya melakukan apa saja secara mandiri tanpa tekanan dari luar.. Desentralisasi sebagaimana didefinisikan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) adalah penyerahan kewenangan dari pusat kepada daerah. Proses itu melalui dua cara yaitu, delegsi kepada pejabat-pejabat didaerah atau dengan devolusi kepada badanbadan otonomi daerah. Akan tetapi, tidak dijelaskan isi dan keluasaan kewenangan serta konsekuensi penyerahan kewenangan itu bagi badan-badan otonomi daerah. Desentralisasi diartiakn pula sebagai transfer kewenangan untuk untuk

menyelenggarakan beberapa pelayanan kepada publik dari seseorang atau agen pemerintah pusat kepada beberapa individu atau agen lain yang lebih dekat kepada publik yang dilayani. Landasan yang mendasari tranfer ini adalah teritorial dan fungsional. Teritorial maksudnya adalah menempatkan kewenangan kepada level pemerintahan yang lebih rendah dalam wilayah geografis tertentu, sedang fungsional artinya transfer kewenangan kepada agen yang secara fungsional terspensialisasi. Transfer kewenangan secara fungsional ini memiliki tiga tipe : pertama; apabila pendelegasian kewenangan itu di dalam struktur politik formal misalnya, dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah.; kedua; jika transfer itu terjadi didalam struktur administrasi publik, misalnya dari kantor pusat sebuah kementerian kepada kantor kementerian yang ada di daerah; ketiga, jika tranfer tersebut dari institusi negara kepada agen non negara, misalnya penjualan aset pelayanan publik seperti telepon atau penerbangan kepada sebuah perusahaan (M.Turner dan D. Hulme dalam Teguh Yuwono, 2001: 27) Rondinelli mendefinisikan desentralisasi sebagai transfer tanggung jawab dalam perancangan, manajemen dan alokasi sumber-sumber dari pemerintah pusat dan agenagennya kepada unit kementerian pemerintah pusat, unit yang ada dibawah level pemerintah, otoritas atau korporasi publik semi otonomi, otoritas regional atau fungsional dalam wilayah yang luas, atau lembaga privat non pemerintah dan organisasi nirlaba (Teguh Yuwono, 2001: 28). Jadi desentralisasi adalah pelimpahan kewenangan dan tanggung jawab dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. B. Arti Penting Otonomi Daerah dan Desentralisasi

55

Krisis Ekonomi dan politik yang melanda Indonesia sejak tahun 1997 telah memporak-porandakan hampir seluruh sendi-sendi ekonomi dan politik negeri ini yang telah dibangun cukup lama. Lebih jauh lagi, krisis ekonomi dan politik yang berlanjut menjadi multikrisis telah mengakibatkan semakin rendahnya tingkat kemampuan dan kapasitas negara dalam menjamin kesinambungan pembangunan. Krisis tersebut salah satunya diakibatkan oleh sistem manajemen negara dan pemerintahan yang sentralistik, yaitu kewenangan dan pengelolaan segala sektor pembangunan berada dalam kewenangan pemerintah pusat, sementara daerah tidak memiliki kewenangan untuk mengelola dan mengatur daerahnya. Sebagai respon dari krisis tersebut, pada masa reformasi dicanangkan kebijakan restrukturisasi sistem pemerintahan yang cukup penting, yaitu melaksanakan otonomi daerah dan pengaturan perimbanagan keuangan antara pusat dan daerah. Paradigma lama dalam manajemen negara dan pemerintahan yang berporos pada sentralisme kekuasaan diganti menjadi kebijakan otonomi yang berpusat pada desentralisasi. Kebijakan otonomi daerah terkait pula dengan upaya politik pemerintah pusat untuk merespon tuntutan kemerdekaan atau negara federal dari beberapa wilayahyang

memiliki aset sumber daya alam melimpah namun tidak mendapatkan haknya secara proposional pada masa pemerintahan Orde Baru. Desentralisasi dianggap dapat menjawab tuntutan pemerataan pembangunan sosial ekonomi, penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan kehidupan berpolitik yang efektif. Sebab Desentralisasi menjamin penanganan tuntutan masyarakat secara variatif dan cepat. Ada beberapa alasan mengapa kebutuhan terhadap desentrslisasi di Indonesia saat ini dirasakan sangat mendesak. Pertama, kehidupan berbangsa dan bernegara selama ini sangat terpusat di Jakarta, sementara itu pembangunan dibeberapa wilayah lain dilalaikan. Kedua, pembagian kekayaan secara tidak adil dan merata, daerah-daerah yang memiliki sumber kekayaan alam melimpah, seperti Aceh, Riau, Papua, Kalimantan, dan Sulawesi ternyata tidak menerima perolehan dana yang patut dari pemerintah pusat. Ketiga, kesenjangan sosial antar daerah sangat terasa.

Pembangunan fisik disatu daerah berkembang pesat, sedangkan dibanyak daerah masih lamban dan bahkan terbengkalai. Sementara itu ada alasan lain yang didasarkan pada kondisi ideal, sekaligus memberikan landasan filosofis bagi penyelenggaraan pemerintahan daerah

(desentralisasi) sebagaimana dinyatakan oleh The Liang Gie sebagai berikut : (1). 56

tidaklah mungkin hal itu dapat dilakukan dengan cara yang sentralistik. pengurusannya diserahkan kepada daerah. Selain itu pemerintah juga mempunyai fungsi distributif dan fungsi regulatif untuk penyediaan barang dan jasa. Oleh karena itu. integrasi sosial. Apa yang dianggap lebih utama untuk diurus oleh pemerintah setempat. pertahanan. seperti geografi. desentralisasi dimaksudkan untuk mencegah penumpukan kekuasaan pada satu pihak saja yang pada akhirnya dapat menimbulkan tirani. kegiatan ekonomi. bidang sosial.Dilihat dari sudut politik sebagai permainan kekuasaan. keuangan. alasan mengadakan pemerintahan daerah (desentralisasi) adalah semata-mata untuk mencapai suatu pemerintahan uang efisien. (2). (3). Argumentasi yang digunakan dalam memilih desentralisasi dan otonomi dalam penyelenggaran pemerintahan diantaranya adalah sebagai berikut: 1. Sebagai Sarana Pendidikan Politik Pemerintahan daerah dapat dipandang sebagai kancah pelatihan dan negara. dan pemerintahan negara menjadi tidak efisien dan tidak akan mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Selain itu memberikan pelayanan dan perlindungan kepada masyarakat. desentralisasi diperlukan karena pemerintah daerah dapat lebih banyak dan secara membantu pembangunan tersebut. Dalam bidang politik. desentralisasi perlu diadakan supaya adanya perhatian dapat sepnuhnya ditumpukan kepada kekhususan sesuatu daerah. kesejahteraan masyarakat. Juga fungsi ekstraktif dalam memobilisasi sumber daya keuangan untuk membiayai aktifitas penyelenggaraan negara. serta mempertahankan diri dari kemungkinan serangan dari negara lain. penyelenggaraan desentralisasi dianggap sebagai tindakan pendemokrasian.(4). langsung 2. keadaan penduduk. baik dalam 57 . Untuk Terciptanya Efesiensi-Efektivitas Penyelenggaraan Pemerintahan Pemerintah berfungsi mengelola berbagai dimensi kehidupan seperti. dan lain-lainnya. (5). Dari sudut kepentingan pembangunan ekonomi. ekonomi. keamanan dalam negeri. Daris sudut teknik organisatoris pemerintahan. Pemerintahan daerah akan pengembangan demokrasi dalam sebuah menyediakan kesempatan bagi warga masyarakat untuk berprestasi politik. untuk menarik rakyat ikut serta dalam pemerintahan dan melatih diri dalam mempergunakan hak-hak demokratis. merupakan tugas pemerintahan yang bersifat universal. Dari sudut kultur. politik. watak kebudayaan atau latar belakang sejarahnya. menjaga keutuhan negara dan bangsa.

Dengan demikian kebijakan yang dibuat akan dapat diawasi secara langsung dan dapat dipertanggung jawabkan karena masyarakat terlibat secara langsung dalam penyelenggaraan pemerintahan. apakah melalui pemberian suara pada waktu pemilihan Kepala Desa. Terjadinya pergolakan daerah pada tahun 19571958 dengan puncaknya adalah kehadiran PRRI dan PERMESTA. 3. Stabilitas Politik Stabilitas politik nasional berawal dari stabilitas politik pada tingkat lokal. Wali Kota. untuk berpartisipasi dalam segala bentuk kegiatan penyelenggaraan negara. Gejolak disintegrasi yang terjadi dibeberapa daerah merupakan contoh konkrit keterkaitan ketidakstabilan politik yang muncul karena pemerintah nasional tidak menjalankan otonomi dengan tepat. 4. akan mempunyai peluang untuk ikut serta dalam politik lokal. dan bahkan Gubernur. Disamping itu warga masyarakat. Karena sesuatu yang mustahil bagi seseorang dapat muncul dengan begitu saja menjadi politisi berkaliber nasional ataupun internasional. Keterlibatan ini sangat dimungkinkan sejak dari awal tahap pengambilan keputusan sampai dengan evaluasi. Masyarakat di daerah akan mempunyai kesempatan untuk terlibat dalam politik. Keberadaan institusi lokal. 58 . termasuk didaerah. lewat kelompok atau perrangan. Akuntabilitas Politik Demokrasi memberikan ruang dan peluang kepada masyarakat. terutama yang menyangkut kepentingan mereka. baik dalam pemilihan umum lokal ataupun dalam rangka pembuatan kebijakan publik. gerakan ini muncul karena daerah melihat kenyataan kekuasaan pemerintah Jakarta yang sangat dominan. Pemerintahan Daerah Sebagai Persiapan Untuk Karir Politik Lanjutan Pemerintah daerah merupakan langkah persiapan untuk meniti karier lanjutan. 5. Bupati. 6. dapat terlibat dalam mempengaruhi pemerintah ketika membuat kebijakan. Kesetaraan Politik (Political Equalilty) Dibentuknya pemerintahan daerah akan mewudkan kesetaraan politik diantara berbagai komponen masyarakat. terutama karier dibidang politik dan pemerintahan ditingkat nasional. terutama pemerintahan daerah (eksekutif dan legislatif lokal). merupakan wahana yang banyak dimanfaatkan guna menapak karier politik yang lebih tinggi. Dengan demikian pendidikan politik pada tingkat lokal sangat bermanfaat bagi warga masyarakat untuk menentukan pilihan politiknya.rangka memilih atau kemungkinan untuk dipilih dalam suatu jabatan politik. Mereka yang tidak mempunyai peluang untuk terlibat dalam politik nasional dan dipilih menjadi pemimpin nasional.

6 Tahun 1959 adalah sebagai berikut: (1). hanya ada satu bentuk susunan pemerintahan. yaitu UU No. tetapi 59 . 18 dengan jelas mengatur penyelenggaraan pemerintahan daerah dengan tetap menghormati keberagaman yang dimiliki daerah. Guna menindaklanjuti ketentuan Pasal 18 tersebut. untuk pertama kali pemerintah mengeluarkan UU No.C. Perkembangan Desentralisasi dan Otonomi Daerah di Indonesia. 1 Tahun 1945. pemerintah lebih dulu mengatur mengenai keberadaan pemerintah daerah. (2). Negara Indonesia memiliki penduduk yang heterogen dan tersebar di berbagai daerah dengan karakteristik sendiri-sendiri. Kepada daerah diberikan hak otonom yang seluas-luasnya untuk mengatur dan mengurus rumah tangga daerahnya. 6 Tahun 1959 dan kemudian disempurnakan melalui Penpres No. UU ini secara garis besar mengandung tiga prinsip dasar desentralisasi. Ketika konstelasi politik berubah. Menyadari akan kekurangan yang terdapat dalam UU No.1 Tahun 1957 dan menggantinya dengan Penpres No. yaitu pemerintah daerah yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya atau daerah otonomi. Penyelenggaraan tugas di bidang pemerintahan umum pusat di daaerah dan tugas dibidang ekonomi daerah. Prinsip-prinsip pokok yang diatur dalam dalam Penpres No. yang tersusun secara demokratis. Saat Indonesia kembali menjadi negara kesatuan dan berdasarkan UUDS 1950. 22 tahun 1948 tentang Pemerintahan Daerah. pemerintah mengeluarkan UU baru tentang pemerintahan daerah. pemerintah bersama BP-KNIP berupaya melahirkan UU Otonomi Daerah yang benarbenar didasarkan atas kedaulatan rakyat. 1 Tahun 1957 tentang Pokok-Pokok Pemerintah Daerah. yaitu kepala daerah.1 Tahun 1945 yang mengatur pemerintah daerah. (2). Di daerah-daerah (daerah besar dan kecil). Dalam rangka itu kemudian lahirlah UU No. diletakkan pada satu tangan. Jadi sebelum mengatur yang lain. Ketika itu pemerintah mengambil tindakan drastis dengan mengubah UU No. UU ini memberikan hak otonomi dan tugas pembantuan (medebewind) yang seluas-luasnya kepada badan-badan pemerintah daerah. dengan menganut sistem otonomi riil. disamping tetanp menjalankan politik dekonsentrasi. Kedudukan kepala daerah tidak lagi hanya sebagai alat daerah. Daerah-daerah dibentuk menurut susunan derajat dari atas bawah sebanyak tiga tingka. saat terjadi pergeseran dari Demokrasi Parlementer ke Demokrasi Terpimpin melalui Dekrit Presiden 5 juli 1959 dengan kembali ke UUD 1945. Kenyataan ini mendasari para pendiri bangsa ketika menyusun UUD 1945. otonomi daerah mengalami kemunduran. 5 Tahun 1960. Menginginkan agar melaksanakan politik desntralisasi dan memberikan hak-hak otonomi kepada daerah-daerah. yaitu : (1). (3).

Dalam kedudukan itu. 6 Tahun 1959. Kepala daerah mempunyai kekuasaan untuk menangguhkan keputusan DPRD yang bersangkutan dan keputusan pemerintah daerah bawahannya. persatuan dan 60 . pemerintah mengeluarkan UU sebagai pengganti Penpres No. pemerintah pusat masih memiliki wewenang dalam mengatur urusan-urusan yang dikelolanya didaerah lewat desentralisasi dan medebewind. Namun sayang UU ini tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan. Ketika pergantian rezim dari Demokrasi terpimpin ke Rezim Orde Baru. melainkan bersifat tunggal. kepala daerah tidak bersifat kolegial. Penambahan melalui Penpres No. Ada beberapa hal yang dapat menjelaskan mengapa seperti itu. kebijakan desentralisasi pada masa Orde Baru dalam praktik cenderung ke bandul sentralisasi. Meski dalam UU tersebut menyebutkan bahwa pemerintah mencanangkan prinsip otonomi yang nyata dan bertanggung jawab.sekaligus juga sebagai wakil pemrintah pusat didaerah. Cita-cita untuk mewujudkan politik desentralisasi menjadi terhambat. Hal ini berdampak daerah tidak memiliki ruang gerak dalam penetapan kebijakan. ketertiban. juga bidang kepegawaian yang terpusat. 19 Tahun 1965 tentang desa praja sebagai bentuk peralihan untuk mempercapat terwujudnya Daerah Tingkat III di seluruh tahah air. Dalam penjelasannya disebutkan bahwa pemerintah akan terus dan konsekuen menjalankan politik desentralisasi untuk menuju kearah tercapainya desentralisasi territorial. 5 Tahun 1974 selain menerapakan asas desentralisasi. Pertama. kebijakan yang dilakukan lebih mencerminkan pelimpahan wewenang ketimbang penyerahan wewenang. (4). yaitu UU No. sejak awal pemerintah Orde Baru dalam menciptakan otonomi daerah adalah untuk menciptakan keamanan. UU ini merangkum pokok-pokok pikiran cita-cita desentralisasi dari perundang-undangan sebelumnya. ketenangan. Pada Tahun 1965. Sebab. (3). Singkatnya. yaitu dari desentralisasi menjadi dekonsentrasi. perencanaan dan pelaksanaan yang bertalian dengan urusan yang diembannya. tidak lagi bertanggung jawab kepada DPRD melainkan kepada Presiden. Dalam praktik. Bersamaan dengan itu. Kenyataan lain adalah terbatasnya wewenang daerah dalam bidang keuangan. ditegaskan bahwa kepala daerah karena jabatannya adalah Ketua DPRD dan bukan anggota. (5). kepala daerah adalah pegawai negara. melalui UU No. yaitu meletakkan tanggung jawab territorial riil dan seluas-luasnya dalam tangan pemerintah daerah. namun dalam operasional prinsip tersebut menimulkan perubahan. dan (6). 18 Tahun 1965. 5 Tahun 1960. dibentuk pula UU No. kebijakan otonomi daerah juga mengalami perubahan. Dalam menjalankan kekuasaan eksekutif.

Semakin lengkap pengaturan daerah dengan lahirnya UU No. Namun terlepas dari alasan yang sesungguhnya dibalik lahirnya kedua UU tersebut. Dengan sistem ini pemerintah daerah berwenang melakukan apa saja yang menyangkut penyelenggaraan pemerintahan kecuali dibidang politik luar negeri. sehingga distribusi dan penggunaannya memenuhi kriteria keadilan dan efesiensi. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. daerah harus dibiayai dari dana Anggaran 61 . moneter. Ciri ini menyangkut dua hal. 1. yaitu rekrutmen pejabat politik di daerah dan proses legislasi di derah. Tidak menggunakan sistem Otonomi bertingkat. Crinya yang menonjol dari UU yang baru ini. (2). Pengaturan mengenai keuangan daerah ini karena adanya tuntutan keterbukaan politik (demokratisasi). (3). Reformasi memberi hikmah besar kepada daerah-daerah untuk menikmati otonomi yang sesungguhnya. (4). atau kota.22 Tahun 1999 Era reformasi menjadi titik tolak perubahan kebijakan desentralisasi lebih nyata. Sistem Otonomi Luas dan Nyata. 22 tahun 1999. Rekrutmen pejabat politik didaerah menyerahkan kewenangan sepenuhnya kepada masyarakat melalui DPRD dan tidak ada lagi campur tangan pemerintah pusat. Mendekatkan pemerintah dengan rakyat. Demokrasi dan Demokratisasi. Sedang mengenai proses legislasi dan regulasi didaerah tidak lagi harus disahkan oleh pemerintah pusat. juga karena pemerintah pusat ingin mengatasi masalah disintegrasi yang melanda Indonesia. dan birokrasi sipil sebagai pelaku pelaksana.stabilitas. tidak mengenal daaerah tingkat I dan II juga tidak ada hirarki antara provinsi dengan kabupaten Penyelenggaraan tugas pemerintah dan Belanja Dan Pendapatan Negar (APBN). daerah memiliki kebebasandan berprakarsa untuk mengatur daerahnya sendiri. diharapkan tuntutan daerah untuk melepaskan diri tidak akan terjadi. tidak memiliki kewenangan dalam melakukan pembangunan daerah. Jika sebelumnya begitu terkekang. Ketiga. pemerintah Orde Baru menganut formula strategi pembangunan dengan menjadikan para ahli ekonomi berfungsi sebagai pembuat kebijakan. di Era Reformasi malalui UU No. kebijakan otonomi daerah Era Reformasi ini sungguh mengalami kaemajuan yang luar biasa. Dengan peraturan itu. dan fiskal. Kebijakan Otonomi Daerah Menurut UU No. yaitu: (1). Kedua. Ini dilakukan dalam rangka lebih mendekatkan pelayanan kepada masyarakat. pemerintah ingin selalu memusatkan sumber daya yang tetap langka untuk keperluan pembangunan. militer sebagai stabilator. Titik berat otonomi ada pada daerah kabupaten atau kota. (5).

sisi implementasi otonomi daerah juga memunculkan dampak negatif. terjadi friksi antara kepala daerah dengan DPRD dalam hal Laporan Pertanggung jawaban kepala Daerah. 22 Tahun 1999. ketKeenam. Selain itu. Pertama. Ketujuh. kebijakan pemerintah dituntut lebih terbuka. antara lain. terjadi konflik dalam memperebutkan sumber daya antar daerah. Dengan demikian. Keempat. 22 Tahun 1999 telah memberi ruang desentralisasi (politik dan administrasi) yang lebih besar kepada daerah sehingga memungkinkan adanya ruang dan kesempatan yang lebih luas bagi partisipasi masyarakat dan pembangunan daerah. Kedua. organisasi perangkat daerah menjadi gemuk dan besar. Belum terjadi perubahan yang signifikan terhadap otonomi daerah. Desakan muncul di antaranya LIPI. Pihak yang setuju menyatakan bahwa UU tersebut sangat demokratis bahkan bersifat liberal. tidak adanya otoritas lembaga yang kuat untuk menyelesaikan konflik yang terjadi antar daerah.Belakangan UU No. namun ada sejumlah kelemahan di dalamnya. munculnya ³raja-raja kecil´ didaerah-daerah. mengandung kelemahan sehingga memunculkan dampak negatif dalam implementasi otonomi daerah. Ketiga. Sementara pihak yang tidak setuju mengatakan bahwa UU tersebut masih bersifat setengah hati dan masih menerapkan paradigma lama. terjadi primordialisme dalam pengangkatan kepala daerah dan jajaran birokrasi. Lembaga ini 62 . 22 Tahun 1999 menimbulkan pro-kontra. Memberikan kewenangan kepada daerah seluas-luasnya untuk mengembangkan daerah atas prakarsa sendiri. 32 Tahun 2004 Meski UU No. 5 Tahun 1974. Kellima. demokratis dan membuka ruang bagi partisipasi masyarakat. Pertama. Kelima. aspek kelembagaan pemerintahan daerah yang menempatkan posisi DPRD selalu dominan. Benyak kemajuan dalam UU ini dibandingkan dengan UU No. kebijakan otonomi daerah hanya menguntungkan daerahdaerah kaya SDA. Keempat. tidak adanya ruang partisipasi publik dalam mengontrol kebijakan publik. Dari sisi kebijakan. paling tidak UU No. Kebijakan Otonomi Daerah Menurut UU No. Terlepas dari pro-kontra tersebut. 2. penyediaan pelayanan dasar yang belum memadai. Akibat kelemahan-kelemahan tersebut muncullah desakan perlunya revisi terhadap UU No. akuntabilitas DPRD kepada publik. Sebab masih banyak kewenangan yang diurus oleh pusat dan dana perimbangan belum mencerminkan rasa keadilan. Ketiga. Kedua. ekonomi biaya tinggi akibat dampak upaya menigkatan sumber PAD dengan meningkatkan tarif dan ekstensifikasi retribusi dan pajak daerah. 22 Tahun 1999 sudah member ruang lebih baik dalam penyelenggaraan otonomi daerah.

(1) menyelenggarakan sendiri. No. bukan melakukan perubahan secara mendasar. yakni memerapkan kebijakan otonomi dengan melakukan resentralisasi. Diantara substansi kebijakan otonomi daerah yang perlu diperbaiki adalah: Pertama. Ketiga. pengawasan dan penyelesaian konfllik. perluasan pendapatan dan keuangan daerah. dengan cara mengamandemen pasal-pasal yang dianggap lemah dan menambah pasal-pasal baru untuk memperkuat otonomi daerah. pelembagaan partisipasi masyarakat.22 Tahun 1999. hidup dan berkembang sesuai dengan potensi dan kekhasan daerah. Otonomi yang bertanggung jawab adalah otonomi yang dalam penyelenggaraan nya harus benar-benar sejalan dengan tujuan dan maksud pemberian otonomi. dipandang ³kebablasan´ bagi daerah-daerah. perubahan perlu dilakukan secara mendasar. UU No. moneter yusitisi. wewenang. Sedangkan usulan Pemerintah (Depdagri). dan kewajiban yang senyatannya telah ada dan berpotensi untuk tumbuh. Dalam penjelasannya dikemukakan bahwa otonomi seluas-luasnya berarti daerah diberikan kewenangan mengurus dan mengatur semua urusan pemerintahan.mengusulkan perlunya revisi. akuntabilitas pemerintahan Daerah. Pemerintah tampaknya melihat kelemahan mendasar pada UU No. pertahanan. Pemerintah pusat dalam menyelenggarakan urusan tersebut dapat berbentuk. keamanan. yaitu poitik luar negeri. Kedua. perlunya institusi yang menangani kerja sama dan perselisihan antar daerah. koordinasi keamanan daerah. (2) melimpahkan sebagian kepada gubernur 63 . prakarsa dan pemberdayaan masayarakat yang bertujuan pada peningkatan kesejahteraan rakyat. Daerah memiliki kewenangan membuat kebijakan daerah untuk memberi pelayanan. Keempat. Sedang prinsip otonomi yang nyata adalah suatu prinsip bahwa urusan pemerintahaan dilaksanakan berdasarkan tugas. Dalam UU itu dinyatakan bahwa otonomi daerah menggunakan prinsip otonomi seluas-luasnya dan prinsip otonomi nyata dan bertanggung jawab. sehingga dianggap ³bebas dan tidak bisa dikendalikan oleh pusat´ maka perlu pengaturan kembali untuk ³mengendalikan´ daerah-daerah sesuai dengan keinginan pemerintah. peningkatan peran serta. UU baru tersebut memuat materi materi tentang pemerintahan daerah atau otonomi daerah. Kelima. kepala daerah dipilih langsung. Ketujuh. Keenam. dan agama. 22 Tahun 1999. Terlepas dari perbedaan pandangan di atas. 32 Tahun 2004 berhasil ditetapkan sebagai pengganti UU. yakni pemberdayaan daerah dan meningkatkan kesejahteraan Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat tetap sebagaimanan UU sebelumnya. berbeda dengan LIPI.

Fasilitas pembangunan koperasi. 32 Tahun 2004 : ³Yang dimaksud dengan urusan pemerintahan yang secara nyata ada dalam ketentuan ini sesuai dengan kondisi. Pemerintah daerah (provinsi dan kabupaten /kota) selain menyelenggarakan urusan wajib juga dapat melaksanakan urusan pilihan.. kekhasan dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan´. dan pengawasan tata ruang. pemanfaatan. (13). Perencanaan dan pengendalian pembangunan. Penanggulangan masalah sosial. (12). (8). Pelayanan bidang ketenagakerjaan. perikanan. kehutanan. Pelayanan pertahanan. (9). (11). Kriteria yang menjadi acuan menetapkan urusan pilihan adalah ³secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi. (2). Pelayanan administrasi penaman modal. usaha kecil. dan (16). perkebunan. Pelayanan kependudukan dan catatan sipil. adalah skala berdasarkan kriteria Urusan pemerintahan provinsi maupun urusan pemerintahan kabupaten/kota terdiri atas urusan-urusan berikut : (1). Urusan wajib adalah urusan pemerintahan yang berkaitan dengan pelayanan dasar. sedangkan yang membedakan eksternalitas. (14). Urusan pemerintahan tersebut berlaku sama baik bagi pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten/kota. (3) menugaskan sebagian urusan kepada pemerintahan daerah dan atau pemerintahan desa berdasarkan asas tugas pembantuan. Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masayarakat. dan potensi yang dimiliki antara lain pertambangan. (15). Sedangkan urusan yang menjadi kewenangan daerah terbagi atas urusan wajib dan urusan pilihan. Perencanaan. Penanganan bidang kesehatan. akuntabilitas dan efisiensi. (4). Penyelenggaraan pelayanan dasar. dan pariwisata´.(dekonsentrasi). sedang urusan pilihan adalah urusan pemerintahaan terkait dengan potensi unggulan dan kekhasan daerah. Urusan pilihan yang dapat dilaksanakan oleh pemerintah daerah tidak disebutkan secara ekplisit. Pengendalian lingkungan hidup. kekhasan. Penyelenggaraan pendidikan dan alokasi sumber daya manusia potensial. 64 . Urusan wajib pemerintahan yang diberikan kepada pemerintahan pemerintah daerah sebanyak 16 urusan. (3). (5). dan menengah. Urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan. pertanian. (10). Penyediaan sarana dan prasarana umum. Jenis urusan pilihan tersebut baru disebutkan secara eksplisit ada pada penjelasan Pasal 13 ayat 2 dan apsal 14 ayat 2 UU No. Pelayanan administrasi umum pemerintahan. (7). (6).

kewenangan provinsi hanya 12 mil dan Kabupaten/ Kota sepertiganya. pemerinatah dapat membentuk kawasan khusus untuk kepentingan nasional. Peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan negara untuk mewujudkan penyelenggaraan yang bersih dilaksanakan dalam bentuk: (1). Kebebasan menggunakan hak tersebut haruslah disertai dengan tanggung jawab untuk mengemukakan fakta dan kejadian yang sebenarnya dengan menaati dan menghormati aturan-aturan moral yang diakui umum serta hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. serta hadir dalam proses penyelidikan dan sidang pengadilan sebagai saksi pelapor. good governance dan menciptakan pemerintahan yang bersih dan bebas dari korupsi. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat memperoleh perlindungan hukum dalam menggunakan haknya untuk memperoleh perlindungan hukum dalam menggunakan haknya untuk memperleh dan menyampaikan informasi tentang penyelenggara negara. dan tidak diskriminatif mengenai penyelenggaaraan negara. (2). memperoleh. D. dan memberikan informasi mengenai penyelenggaraan negara. Dalam pembentukan kawasan khusus itu dapat berbentuk badan otorita. Sesuai dengan prinsip keterbukaan dalam negara demokrasi yang mengharuskan penyelenggara negara membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar. BUMN. hak memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan haknya. daerah hanya diberi kewenangan untuk mengelola SDA yang ada di laut. 32 Tahun 2004 disebutkan juga tentang kawasan khusus. 65 . jujur. hak mencari. saksi atau saksi ahli. (3). (4). dan sebagainya. dan nepotisme. Peran Serta Masayarakat dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Dalam rangka menciptakan tata pemerintahan yang baik.Dalam UU No. hak menyampaikan saran dan pendapat secara bertanggungjawab kepada kebijakan penyelenggara negara. maka dalam Peraturan Pemerintah tersebut diatur hak dan tanggungjawab serta kewajiban masyarakat dan penyelenggara negara secara berimbang. hak untuk memperoleh pelayanan yang sama dan adil dari penyelenggara Negara. maka pemerintah mengeluarkan PP Nomor 68 Tahun 1999 tentang nepotisme. Sedangkan dalam hal laut disebutkan bahwa laut bukan merupakan wilayah daerah. Kewenangan dalam mengelola SDA yang ada di laut ini. kolusi.

Masyarakat juga dapat memberi informasi mengenai suatu penyelenggaraan negara kepada instansi terkait. Ironisnya dalam era reformasi ini mekanisme partisipasi masyarakat dalam pemerintahan daerah juga masih lemah. Masyarakat yang menyampaikan informasi kepada instansi terkait harus menyampaikannya secara bertanggung jawab dengan mengemukakan fakta yang diperoleh. Ada dua cara partisipasi yang diakui oleh UU Nomor 22 tahun 1999. Oleh karena itu. dan menaati hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Masyarakat masih terbiasa dengan mobilisasi yang sering digunakan secara ekstensif pada masa Orde Baru dan Orde Lama. 66 . dan nepotisme dalam lembaga/ unit di bawah tanggungjawabnya. Masyarakat tidak diperkenankan memberikan laporan yang bersifat fitmah dan provokasi. Hal ini tentu derajat partisipasinya lebih tinggi daripada pemilihan kepala daerah oleh anggota DPR. serta kedua desentralisasi kepada unit yang lebih rendah yakni desa sebagai bentuk dari decentralization within cities. wajib memberikan jawaban atau keterangan sesuai dengan tugas dan fungsinya dan tetap memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Setiap penyelenggara negara yang menerima permintaan masyarakat untuk memperoleh informasi tentang penyelenggaraan negara. Tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. menghormati hak-hak pribadi seseorang sesuai dengan norma-norma yang diakui umum. Namun untuk mewujudkan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan negara. karena masyarakat belum terbiasa dnegan partisipasi aktif dan sukarela. karena Indonesia merupakan negara yang berada dalam masa transisi menuju demokrasi.Masyarakat yang bermaksud mencari dan memperoleh informasi tentang penyelenggaraan negara berhak menanyakan kepada lembaga atau instalasi terkait baik secara langsung maupun tidak langsung. pertama masuknya anggota masyarakat sebagai elected member dari DPRD dan kepala daerah. sehingga dapat diduga terjadi korupsi. termasuk pada pemerintahan daerah tidak mudah. identitas pelapor dan fakta kejadian harus didukung oleh data yang dapat dipertanggungjawabkan. Mewujudkan hal tersebut merupakan sesuatu yang penting.. Penyelenggara negara yang menolak dapat dikategorikan sebagai penyelenggara negara yang tertutup. penyelenggara negara tidak boleh menolak permintaan masyarakat untuk memperoleh informasi tersebut. kolusi. UU Nomor 32 Tahun 2004 lebih memperkuat partisipasi publik ini dengan mengatur pemilihan kepala daerah secara langsung oleh masyarakat.

Selain kedua cara utama itu. UU 32 Tahun 2004 tidak banyak melakukan perubahan dari apa yang diatur oleh UU sebelumnya sehingga melanjutkan format baru pemerintahan desa dalam masa reformasi. Akibatnya. dan menindaklanjuti (termasuk memfasilitasi tindak lanjut) aspirasi daerah dan masyarakat. apa hak dan kewenangan publik atas pejabat yang dipilihnya. apa yang harus dilakukan oleh DPRD dan kepala daerah beserta perangkatnya. Pemerintah daerah hanya berfungsi untuk menjalankan urusan 67 . Pada praktiknya.Khusus untuk yang pertama (elected member). Mereka lebih berperan sebagai kepanjangan tangan partainya daripada konstituennya. terutama di luar Jawa mampu merevitalisasi kembali potensi lokalnya sesuai dengan peluang yang diberikan oleh UU No. masyarakat hanya dapat berinteraksi dengan politisi di DPRD yang harus menampung (termasuk memerhatikan dan menyalurkan aspirasi. 5/1979. bagaimana bentuk keterlibatannya. dan sebagainya. tidak ada penjelasan mengenai mekanisme yang bisa dijadikan pedoman dan jaminan bagi pengakuan dan terselenggaranya partisipasi publik. Tidak ada tempat bagi partisipasi dalam tahapan implementasi apalagi kontrol terhadap pemerintah daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Sampai kini memang masih dibutuhkan lebih banyak kajian menyangkut bagaimana desa-desa adat. yakni nilai-nilai demokrasi lokal yang hidup secara tradisional kini telah rusak karena uniformitas yang dipaksakan dalam kebijakan pemerintahan desa masa Orde Baru tersebut. Akan tetapi. Mekanisme kedua yakni desentralisasi pada tingkatan desa yang diatur dalam bentuk kebijakan mengenai pemerintahan desa dalam UU No. menerima keluhan dan pengaduan masyarakat). anggota DPRD yang dimaksudkan untuk mewakili kepentingan warga yang memilihnya. Siapa yang boleh dan harus terlibat. wujud partisipasi warga melalui cara elected member ini disinyalir telah gagal dan tetap menempatkan warga pada posisi kurang dapat menyalurkan aspirasi dan tuntutan lokalnya dalam pemerintahan daerah. 22/1999 ini dianggap lebih demokratis dan partisipatif daripada yang diatur dalam UU No. apa sanksi atas kelalaian dalam pengabaian partisipasi publik. ternyata karena sistem pemilu yang dipergunakan. UU tersebut tidak memberikan ruang lain bagi mekanisme partisipasi masyarakat. Akan tetapi muncul masalah baru. 22/1999. Apa yang diungkapkan oleh Gubernur Sutiyoso dalam upaya menghadapi polemik perjudian pada tahun 2002 membuktikan bahwa cara berpikir pemerintah daerah yang hanya didasarkan pada kekuatan perangkat daerah daripada melibatkan masyarakat. apa konsekuensi keterlibatannya.

68 . Apa yang tertuang secara eksplisit dalam UU No. dan Masyarakat Madani. Yogyakarta: Penerbit UAJ. Hukum Tatanegara. 21/1999 dan UU 32/2004 membuktikan pengakuan yang masih rendah atas ragam jenis partisipasi yang diatur. 2003. Hak Asasi Manusia. baik itu DPRD maupun kepala daerah beserta perangkatnya. Daftar Pustaka Cipto Handoyo. Dapat dikatakan bahwa tidak ada pengakuan yang nyata bahwa stakeholder utama dalam pemerintahan daerah adalah masyarakat. Rosyada. Kewarganegaraan. Tampaknya pengakuan lebih berat timbangannya pada pemerintah daerah. Demokrasi.dan kewenangan kesatuan masyarakat hukum yang ada dalam wilayah tertentu (daerah otonom). masih dibutuhkan kejelasan mekanisme dalam menyelenggarakan pemerntahan berbasis partisipasi masyarakat. Jakarta: Penerbit Prenada Media. dan Hak Asasasi Manusia. Meskipun demikian. Pendidikan Kewargaan. Hestu. 2003. Bentuk partisipasi yang dinyatakan secara eksplisit lebih sering ditafsirkan sebagai sekadar masukan bagi pengambilan keputusan dan keluhan untuk menyatakan kebutuhn.. dkk. Dede.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful