BAB I DEMOKRASI Kompetensi Dasar

:
1. Menjelaskan hakikat demokrasi 2. Menganalisa sejarah perkembangan demokrasi 3. Menjelaskan pentingnya kehidupan demokratis dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara A. Hakikat Demokrasi

Kata demokrasi terkesan sangat akrab dan seakan sudah dimengerti begitu saja. Namun apa dan bagaimana sebenarnya makna dan hakikat substansi demokrasi mungkin belum sepenuhnya dimengerti dan dihayati. Sehingga perlu diketahui makna dan hakikat demokrasi karena hampir semua negara menjadikan demokrasi sebagai tatanan aktivitas bermasyarakat dan bernegara. Berdasarkan hal tersebut di atas sudah tentu sangat perlu untuk mengetahui lebih dulu makna dan hakikat demokrasi. Banyak para ahli memberikan batasan tentang demokrasi antara lain dilihat dari tinjauan bahasa (etimologis), bahwa demokrasi berasal dari dua kata yang berasal dari bahasa Yunani yaitu ³demos´ yang berarti rakyat atau penduduk suatu tempat dan ³cratein´ atau ³cratos´ yang berarti kekuasaan atau kedaulatan. Jadi secara etimologis, demokrasi adalah keadaan negara di mana dalam sistem pemerintahannya kedaulatan di tangan rakyat, kekuasaan tertinggi berada dalam keputusan bersama rakyat, rakyat berkuasa, pemerintahan rakyat dan kekuasaan oleh rakyat. Sedangkan secara istilah (terminologis) pengertian demokrasi banyak

dikemukakan oleh para ahli, antara lain : (a) Yoseph A. Schmeter, demokrasi merupakan suatu perencanaan institusional untuk mencapai keputusan politik di mana individu-individu memperoleh kekuasaan untuk memutuskan cara perjuangan kompetitif atas suara rakyat; (b) Sidney Hook, demokrasi adalah bentuk pemerintahan di mana keputusan-keputusan pemerintah yang penting secara langsung atau tidak langsung didasarkan pada kesepakatan mayoritas yang diberikan secara bebas dari rakyat dewasa; (c) Philippe C. Schmitter dan Terry Lynn Karl, demokrasi sebagai suatu sistem pemerintahan di mana pemerintah dimintai tanggung jawab atas tindakantindakan mereka di wilayah publik oleh warga negara, yang bertindak secara tidak langsung melalui kompetisi dan kerja sama dengan para wakil mereka yang telah terpilih; (d) Henry B Mayo, demokrasi sebagai sebagai sistem politik merupakan suatu sistem yang menunjukkan bahwa kebijakan umum ditentukan atas dasar mayoritas oleh 1

wakil-wakil yang diawasi secara effektif oleh rakyat dalam pemilihan-pemilihan berkala yang didasarkan atas prinsip kesamaan politik dan diselenggarakan dalam suasana terjaminnya kebebasan politik. Dari beberapa pendapat di atas diperoleh kesimpulan bahwa hakikat demokrasi sebagai sistem bermasyarakat dan bernegara serta pemerintahan memberikan penekanan pada keberadaan kekuasaan di tangan rakyat yang mengandung pengertian tiga hal: Pertama, pemerintahan dari rakyat (government of the people) mengandung pengertian yang berhubungan dengan pemerintahan yang sah dan diakui (legitimate government) dan pemerintahan yang tidak sah dan tidak diakui (unligitimate government) di mata rakyat. Legimitasi suatu pemerintahan sangat penting, karena dengan legitimasi tersebut pemerintahan dapat menjalankan roda birokrasi dan program-programnya sebagai wujud dari amanat yang diberikan oleh rakyat kepadanya.

Kedua, pemerintahan oleh rakyat (government by the people) mengandung arti bahwa pemerintahan menjalankan kekuasaan atas nama rakyat bukan atas dorongan diri dan keinginannya sendiri, serta dalam menjalankan kekuasaannya, maka pemerintah berada dalam pengawasan rakyat (social control) secara langsung maupun tidak langsung. Ketiga, pemerintahan untuk rakyat (government for the people) mengandung arti bahwa kekuasaan yang diberikan oleh rakyat kepada pemerintah itu dijalankan untuk kepentingan rakyat. Kepentingan rakyat harus didahulukan dan diutamakan di atas segalanya. Untuk itu pemerintah harus mendengarkan dan mengakomodasi aspirasi rakyat dalam merumuskan dan menjalankan kebijakan dan program-programnya. Pemerintah harus membuka saluran dan ruang kebebasan serta menjamin adanya kebebasan seluas-luasnya kepada rakyat dalam menyampaikan aspirasinya baik melalui media pers maupun secara langsung. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa demokrasi merupakan bentuk pemerintahan yang tumbuh dan berkembang dengan sendirinya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Karena itu demokrasi memerlukan usaha nyata setiap warga dan perangkat pendukungnya yaitu budaya yang kondusif sebagai manifestasi dari suatu mind set (kerangka berpikir) dan setting social (rancangan masyarakat). Sehingga bentuk kongkrit dari manifestasi tersebut adalah dijadikannya demokrasi sebagai way of life (pandangan hidup) dalam seluk beluk sendi kehidupan bernegara baik oleh rakyat (masyarakat) maupun oleh pemerintah. Sebagai bentuk 2

pemerintahan maka demokrasi meliputi unsur-unsur : (1) Adanya partisipasi masyarakat secara aktif dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, (2) Adanya pengakuan akan supremasi hukum., (3) Adanya kebebasan, antara lain: kebebasan berekspresi dan berbicara atau berpendapat, kebebasan untuk berkumpul dan berorganisasi, kebebasan beragama dan berkeyakinan, kebebasan untuk menggugat pemerintah, kebebasan untuk memilih dan dipilih dalam pemilihan umum, dan kebebasan untuk mengurus nasib sendiri, dan (4) Adanya pengakuan supremasi sipil atas militer. Pemerintahan demokratis membutuhkan kultur demokrasi untuk membuatnya performed (eksis dan tegak). Kultur demokrasi ini berada dalam masyarakat itu sendiri. Pemerintahan yang baik dapat tumbuh dan stabil bila masyarakat pada umumnya punya sikap positif dan proaktif terhadap norma-norma dasar demokrasi. Oleh karena itu harus ada keyakinan yang luas di masyarakat bahwa demokrasi adalah sistem pemerintahan yang terbaik dibanding dengan sistem lainnya (Saiful Mulyani:2002) . Untuk itu masyarakat harus menjadikan demokrasi sebagai way of life yang menuntun tata kehidupan kemasyarakatan, kebangsaan, pemerintahan dan kenegaraan. Demokrasi mengandung proses dinamis dalam arti proses melaksanakan nilainilai civility (keadaban) dalam bernegara dan bermasyarakat (Nurcholis Madjid:2000), sehingga secara teoritis maupun pengalaman praktis di negeri-negeri yang demokrasinya cukup mapan paling tidak mencakup tujuh norma : Pertama, pentingnya kesadaran akan pluralisme. Dalam hal ini tidak hanya sekedar pengakuan (pasif) akan kenyataan masyarakat yang majemuk, tetapi lebih dari itu adalah kesadaran akan kemajemukan menghendaki tanggapan yang positif terhadap kemajemukan itu sendiri secara aktif. Seorang individu akan mampu menyesuaikan dirinya pada cara hidup demokratis jika ia mampu mendisiplinkan dirinya sendiri ke arah jenis persatuan dan kesatuan yang diperoleh melalui penggunaan perilaku kreatif dan dinamik serta memahami segi-segi positif kemajemukan masyarakat. Pandangan hidup demokratis seperti ini menuntut moral pribadi yang tinggi. Kesadaran akan pluralitas sangat penting dimiliki bagi rakyat Indonesia sebagai bangsa yang sangat beragam dari sisi etnis, bahasa, budaya, agama dan potensi alamnya. Kedua, adanya istilah ³musyawarah´ dalam arti ³saling memberi isyarat´ (bahasa Arab). Internalisasi dan semangat musyawarah menghendaki dan

mengharuskan adanya keinsyafan dan kedewasaan untuk dengan tulus menerima kemungkinan kompromi atau bahkan ³kalah suara´. Semangat musyawarah menuntut 3

Hal ini mengisyaratkan suatu kutukan kepada orang yang berusaha meraih tujuannya dengan cara-cara yang tidak peduli kepada pertimbangan moral. Keempat. Masyarakat demokratis ditantang untuk mampu menganut hidup dengan pemenuhan kebutuhan secara berencana. Dengan demikian rencana pemenuhan kebutuhan ekonomi harus mempertimbangkan aspek keharmonisan dan keteraturan sosial. bahkan dapat dikatakan sebagai suatu penghianatan pada nilai dan semangat demokrasi. Bahkan sesungguhnya klaim atas suatu tujuan yang baik harus diabsahkan oleh kebaikan cara yang ditempuh untuk meraihnya.agar setiap orang menerima kemungkinan terjadinya ³partial fintioning of ideals´ yaitu suatu pandangan bahwa belum tentu. berkecenderungan baik. merupakan segi penunjang efisiensi untuk 4 . cacat atau sakit. Jadi permufakatan yang dicapai melalui manipulasi atau taktik hasil konspirasi. sering terjadi kejenuhan antara mengkritik yang sehat dan bertanggung jawab. Ketiga hal itu menyangkut masalah pemenuhan segi-segi ekonomi yang dalam pemenuhannya tidak lepas dari perencanaan sosial-budaya. Sehingga demokrasi tidak akan terwujud tanpa akhlak yang tinggi. tidak hanya merupakan permufakatan yang curang. di mana pertimbangan moral (keluhuran akhlak) menjadi acuan dalam berbuat dan mencapai tujuan. Korelasi prinsip ini ialah kesediaan untuk kemungkinan menerima bentuk-bentuk kompromi atau islah. Kelima. Keenam. dan bahwa setiap orang pada dasarnya baik. kemudian jalinan dukung mendukung secara fungsional antara berbagai unsur kelembagaan kemasyarakatan yang ada. Musyawarah yang benar dan baik hanya akan berlangsung jika masing-masing pribadi atau kelompok mempunyai kesediaan psikologis untuk melihat kemungkinan orang lain benar dan diri sendiri salah. kerjasama antarwarga masyarakat dan sikap saling mempercayai itikad baik masing-masing. dan harus memiliki kepastian bahwa rencana-rencana itu benar-benar sejalan dengan tujuan dan praktik demokrasi. Pandangan demokratis mewajibkan adanya keyakinan bahwa cara haruslah sejalan dengan tujuan. Korelasinya yang lain ialah seberapa jauh kita bisa bersikap dewasa dalam mengemukakan pendapat. permufakatan yang jujur dan sehat adalah hasil akhir musyawarah yang jujur dan sehat. dan beritikad baik. terpenuhinya keperluan pokok yaitu sandang. dan tidak harus. seluruh keinginan atau pikiran seseorang atau kelompok akan diterima dan dilaksanakan sepenuhnya. Dalam masyarakat yang belum terlatih benar untuk berdemokrasi. dan menghina yang merusak dan tanpa tanggung jawab. ungkapan ³tujuan menghalalkan segala cara´ harus dihindari. Ketiga. dan kemungkinan mengambil pendapat yang lebih baik. pangan dan papan.

kebebasan. (b) pemilihan yang teliti dan jujur. Adanya 5 . Dahl terdapat enam prinsip yang harus ada dalam sistem demokrasi. Sedang dalam pandangan Robert A. tetapi juga dapat menjurus pada lahirnya pola tingkah laku yang bertentangan dengan nilainilai asasi demokrasi. buka saja mengakibatkan tidak efisiennya cara hidup demokratis. Jadi kajian demokrasi tidak saja dalam kajian konsep verbalistik. maka nilai-nilai dan pengertian-pengertiannya harus dijadikan unsur yang menyatu dengan sistem pendidikan kita. pendidikan demokrasi. tetapi diwujudkan dalam hidup nyata (lived in) dalam sistem pendidikan kita. dan pluralisme. (d) kebebasan menyatakan pendapat tanpa ancaman. hanya karena telah berbicara tanpa perilaku. Pengakuan akan kebebasan nurani (freedom of conscience).tidak dalam arti menjadikannya muatan kurikuler yang klise. Pandangan kemanusiaan yang negatif dan pesimis akan dengan sendirinya sulit menghindari perilaku curiga dan tidak percaya kepada sesama manusia. Sementara ini pendidikan demokrasi pada umumnya masih terbatas pada usaha indoktrinasi dan penyuapan konsep-konsep secara verbalistik. Suatu pemerintahan dikatakan demokratis bila dalam mekanisme pemerintahan mewujudkan prinsip-prinsip demokrasi. Kita harus mulai dengan sungguh-sungguh memikirkan untuk membiasakan anak didik dan masyarakat umumnya siap menghadapi perbedaan pendapat dan tradisi pemilihan terbuka untuk menentukan pimpinan atau kebijakan. Masyarakat yang terkotak-kotak dengan masing-masing penuh curiga kepada lainnya. persamaan hak dan kewajiban bagi semua (egalitarianism) dan tingkah laku penuh percaya pada itikad baik orang dan elompok lain (trust attitude) mengharuskan adanya landasan pandangan kemanusiaan yang positif dan optimis. (e) kebebasan mengakses informasi. Pandangan hidup demokratis terlaksana dalam abad kesadaran universal sekarang ini. Sehingga verbalisme yang dihasilkannya juga menghasilkan kepuasan tersendiri dan membuat yang bersangkutan merasa telah berbuat sesuatu dalam penegakan demokrasi. yaitu: (a) kontrol atas keputusan pemerintah. yang kemudian ujungnya ialah keengganan bekerjasama. (f) kebebasan berserikat.demokrasi. Menurut Masykuri Abdillah (1999) prinsipprinsip demokrasi terdiri atas prinsip persamaan. melainkan telah membumi (menyatu) dalam interaksi dan pergaulan sosial baik di kelas maupun di luar kelas.(c) hak memilih dan dipilih. Terjadi diskrepansi (jurang pemisah) antara das sein dan das sollen dalam konteks ini ialah dari kuatnya budaya ³menggurui´ (secara feodalistik) dalam masyarakat kita. Sementara itu Inu Kencana lebih memerinci lagi tentang prinsip-prinsip demokrasi dengan a). Ketujuh.

r) adanya mekanisme politik. q) adanya persaingan keahlian. memiliki sambungan yang jelas. adanya musyawarah. yakni suatu relasi yang simetris. dasar kekuasaan negara. dan t) adanya pemerintahan yang mengutamakan tanggungjawab. b) adanya pemilihan umum yang bebas.pembagian kekuasaan. masalah kontrol rakyat. Untuk mengukur suatu negara atau pemerintah dalam menjalankan tata pemerintahannya dikatakan demokratis dapat dilihat dari empat aspek. susunan kekuasaan negara. Keempat. d) adanya kebebasan individu. Suasana kehidupan yang demokratis merupakan dambaan bagi umat manusia termasuk manusia Indonesia. Masalah ini menyangkut konsep legitimasi kekuasaan serta pertanggungjawaban langsung kepada rakyat. Aturan yang ada harus mengandung dua hal. Kita percaya bahwa proses pembentukan kekuasaan akan sangat menentukan bagaimana kualitas. Ciri-ciri ini kemudian dijadikan parameter untuk mengukur tingkat pelaksanaan demokrasi yang berjalan di suatu negara. Pertama. Apakah dengan koridor tersebut sudah dengan sendirinya akan berjalan suatu proses yang memungkinkan terbangun sebuah relasi yang baik. secara distributif Ketiga. Kekuasaan negara dijalankan untuk menghindari penumpukan kekuasaan dalam satu ³tangan/wilayah´. p) adanya pemerintahan yang bersih. m) adanya ketentuan tentang pendemokrasian. e) adanya peradilan yang bebas. h) adanya pers yang bebas. b) memungkinkan pembatasan agar kekuasaan tidak menjadi tidak tak terbatas. watak dan pola hubungan yang akan terbangun. 6 . kebangsaan dan kenegaraan. Penyelenggaraan kekuasaan negara sendiri haruslah diatur dalam suatu tata aturan yang membatasi dan sekaligus memberi koridor dalam pelaksanaannya. c) adanya manajemen yang terbuka. g) adanya pemerintahan yang berdasarkan hukum. Kedua. n) adanya pengawasan terhadap administrasi publik. o) adanya perlindungan hak asasi. s) adanya kebijaksanaan negara. Prinsip-prinsip negara demokrasi yang telah disebut di muka kemudian dituangkan dalam konsep yang lebih praktis untuk dapat diukur dan dicirikan. yaitu. karena itu demokrasi tidak boleh menjadi gagasan yang utopis melainkan harus diimplementasikan dalam interaksi sosial kemasyarakatan. l) adanya pemerintahan yang konstitusional. dan adanya mekanisme yang memungkinkan check and balance terhadap kekuasaan yang dijalankan eksekutif dan legeslatif. a) memungkinkan terjadinya desentralisasi untuk menghindari sentralisasi. f) adanya pengakuan hak minorritas. k) adanya persetujuan parlemen. Sementara ini pemilihan umum dipercaya sebagai salah satu instrumen penting guna memungkinkan berlangsungnya suatu proses pembentukan pemerintahan yang baik. masalah pembentukan negara.

f) jaminan hidup. W. Sedangkan Affan Gafar (1993) menyebutkan sejumlah prasyarat untuk mengamati apakah sebuah political order (pemerintahan) merupakan sistem yang demokratik atau tidak melalui ukuran : a) akuntabilitas. Sifat langsung ini bisa berjalan karena pada masa itu di Yunani Kuno hanya berbentuk negara kota (polis) dengan jumlah penduduk relatif sedikit. b) perasaan fair play. Kelima elemen tersebut berlaku secara universal di dalam melihat demokrasi tidaknya suatu rezim pemerintahan (potical order) B. pedagang asing. bahkan warga negara yang bisa menikmati hak demokrasi hanyalah warga negara yang resmi. d) prinsip mayoritas. Sejarah Perkembangan Demokrasi Konsep demokrasi semula lahir dari pemikiran hubungan negara dan hukum di Yunani dan dipraktekkan dalam hidup bernegara antara abad ke-6 SM sampai abad ke-4 M. sedangkan budak belian. c) partisipasi orang dewasa sebagai pemilih dan calon yang dipilih.Kriteria negara demokratis menurut G. c) pemilu yang bebas. Ross Yates (tim ICCE UIN:2003) mengajukan enam ciri negara demokrasi ialah: a) toleransi terhadap orang lain. Frans Magnis Suseno (1997) mengatakan kriteria negara demokratis adalah: a) negara terikat pada hukum. b) rotasi kekuasaan. kebebasan berkumpul dan berorganisasi serta membentuk partai politik. e) adanya jaminan terhadap hak-hak demokratis. Bingham Powell Jr (Tim ICCE UIN:2003) meliputi : a) pemerintah mengklaim mewakili hasrat para warganya. kebebasan dan hak milik. perempuan dan anak-anak tidak dapat menikmatinya. d) pemilihan umum. kebebasan pers. b) kontrol efektif terhadap pemerintah oleh rakyat. c) rekruitmen politik. d) pemilihan bebas. Demokrasi yang dilaksanakan pada masa itu berbentuk demokrasi langsung (direct democracy) artinya hak rakyat untuk membuat keputusan politik dijalankan secara langsung oleh seluruh warga negara berdasarkan prosedur mayoritas. e) warga negara memiliki kebebasan-kebebasan dasar yaitu kebebasan berbicara. d) persamaan kesempatan. e) adanya pengakuan dan perlindungan hak-hak dasar. c) optimisme terhadap hakikat manusia. 7 . b) klaim itu berdasarkan adanya pemilihan kompetitif secara berkala antara calon alternatif. e) orang yang terdidik.

Dengan kata lain. Bagdhad sebagai pusatnya) dan warisan klasik (Yunani Kuno). Oemar Khayam. kedua. bukan hanya berhasil mengasimilasikan pengetahuan Parsi Kuno (baca. yang isinya memuat dua prinsip yang sangat mendasar: pertama. Renaissance merupakan gerakan yang menghidupkan kembali minat pada sastra dan budaya Yunani Kuno. kehidupan spiritual dikuasai oleh Paus dan pejabat agama. renaissance di Eropa bersumber dari tradisi keilmuan Islam dan berintikan pada pemuliaan akal pikiran untuk selalu mencipta dan mengembangkan ilmu pengetahuan. sedangkan kehidupan politiknya ditandai oleh perebutan kekuasaan di antara para bangsawan. yaitu kaum bangsawan dan kaum agamawan. telah mengilhami munculnya kembali gerakan demokrasi. Para ilmuwan Islam seperti Ibnu Khaldun. Hitti dunia Islam telah memberikan sumbangan besar terhadap kemajuan dan perkembangan Eropa melalui terjemahan-terjemahan terhadap warisan Parsi Kuno dan Yunani Kuno dan menyeberangkannya ke Eropa. Sehingga menurut Philip K. 8 . Namun demikian menjelang akhir abad pertengahan. Oleh karena itu demokrasi tidak muncul pada abad pertengahan ini. Gerakan ini lahir karena adanya kontak dengan dunia Islam yang ketika itu berada di puncak kejayaan peradaban ilmu pengetahuan. Gerakan reformasi di Eropa juga mendorong munculnya gerakan demokrasi. karena pada abad ini masyarakat Eropa bercirikan masyarakat feodal. Al Khawarizmi dan sebagainya. Dengan dimotori Martin Luther menyulut api pembrontakan terhadap dominasi gereja yang telah mengungkung kebebasan berpikir dan bertindak. hak asasi manusia lebih penting daripada kedaulatan raja. Al-Razi. Momentum lainnya yang menandai kemunculan kembali demokrasi di dunia barat adalah gerakan renaissance dan reformasi. melainkanjuga berhasil berdasarkan kebutuhankebutuhan yang sesuai dengan alam pikiran mereka sendiri. Dengan demikian kehidupan sosial politik dan agama pada masa ini hanya ditentukan oleh elit-elit masyarakat.Gagasan demokrasi Yunani Kuno ini berakhir pada abad pertengahan. Lahirnya Magna Charta yang memuat perjanjian antara kaum bangsawan dengan Raja John di Inggris merupakan tonggak baru kemunculan demokrasi empirik. adanya pembatasan kekuasaan raja. tumbuh lagi keinginan menghidupkan demokrasi. yaitu suatu gerakan revolusi agama yang terjadi di Eropa pada abad ke-16 yang bertujuan untuk memperbaiki keadaan dalam gereja Katolik yang sebelumnya begitu dominan dalam menentukan tindakan warga negara dan semuanya ditentukan oleh gereja.

untuk itu timbullah gagasan tentang cara membatasi kekuasaan pemerintah melalui pembuatan konstitusi baik tertulis maupun tidak tertulis. yakni suatu sistem pemisahan kekuasaan dalam negara menjadi tiga bentuk kekuasaan yaitu legislatif. pemerintah hanya menjalankan undang-undang yang telah dibuat oleh parlemen atas nama rakyat. 9 . Konsep Negara Hukum Formal di atas mulai digugat menjelang abad ke-20 tepatnya setelah Perang Dunia II. tersebarnya paham sosialisme yang menginginkan pembagian kekuasaan secara merata serta kemenangan beberapa partai sosialis di Eropa. Hak-hak politik rakyat dan hak-hak asasi manusia merupakan tema dasar dalam pemikiran politik (ketatanegaraan). Maka pemerintah tidak boleh bersifat pasif atau berlaku hanya sebagai penjaga malam. Gagasan inilah yang kemudian dinamakan konstitusionalisme atau demokrasi konstitusional. yaitu negara yang tidak mandiri yang hanya bertindak sebagai penyaring berbagai keinginan dari interest group dalam masyarakat. yakni bahwa pemerintah harus bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyat. Gagasan bahwa pemerintah dilarang campur tangan dalam urusan warga negara di bidang sosial maupun ekonomi bergeser ke dalam gagasan baru. John Locke (1632-1704) mengemukakan bahwa hak-hak politik rakyat mencakup hak atas hidup. Salah satu ciri demokrasi konstitusional yang hidup pada abad ke-19 ialah sifat pemerintah yang pasif. Jadi pemerintahan demokrasi yang demikian ini pemerintah hanya memiliki peran yang terbatas pada tugas eksekutif. Menurut Carl J. property) harus dilndungi. dalam arti hanya menjadi wasit atau pelaksana sebagai keinginan rakyat yang dirumuskan oleh wakil rakyat di parlemen. Sehingga kekuasaan pemerintah diimbangi dengan kekuasaan parlemen dan lembagalembaga hukum. liberal. eksekutif dan yudikatif yang masing-masing dipegang harus dipegang oleh organ sendiri-sendiri secara merdeka.Di samping itu ada dua filusuf besar John Locke dan Montesquieu memberikan sumbangan besar bagi gagasan pemerintahan demokrasi. kebebasan dan hak memiliki (live. beberapa faktor yang mendorong gugatan ini menurut Mariam Budihardjo antara lain adalah akses-akses dalam industrialisasi dan sistem kapitalis. Sedang Montesquieu (1689-1944) mengungkapkan sistem pokok yang dapat menjamin hak-hak politik tersebut melalui ³trias politica´. melainkan harus aktif melaksanakan upayaupaya untuk membangun kesejahteraan masyarakatnya dengan cara mengatur kehidupan ekonomi dan sosial. Konsep demokrasi konstitusional ini disebut Negara Hukum Formal (klasik) pada abad ke-19 atau menurut Arif Budiman disebut negara Pluralisme. Frederick pemerintah di sini dibatasi agar tidak menyalahgunakan kekuasaannya.

bahkan fres ermessen mempunyai tiga macam aplikasi. tidak hanya atas inisiatif parlemen. Kehidupan Demokrasi dalam Bermasyarakat. yaitu adanya hak inisiatif (membuat peraturan yang sederajad dengan Undang-undang tanpa persetujuan lebih dulu dari parlemen. Gagasan Welfare State ini menyebabkan peranan pemerintah semakin luas.. mencerdaskan kehidupan bangsa.. yaitu kemerdekaan yang dimiliki oleh pemerintah untuk turut serta dalam kehidupan sosial dan keleluasaan untuk selalu terikat pada produk legislasi parlemen. . Itulah sebabnya kepada pemerintah diberikan ³Fres Ermessen´ atau ³Pouvoir discretionnair´. Pemerintah diberi kemerdekaan bertindak atas inisiatif sendiri. Tetapi pada akhirnya demokrasi Welfare State ini juga mulai ditinjau ulang. rapat nagari dan sebagainya. Jadi tidak hanya ketua adat atau kepala suku saja yang berhak membuat keputusan.Gagasan baru ini dikenal sebagai gagasan ³Welfare State´ atau ³Negara Hukum Material´ (Dinamis). Berbangsa. karena konsep demokrasi di Barat masih terus berjalan dan mengalami perubahan yang signifikan. Masing-masing warga tentu memiliki pandangan atau pendapat tertentu terhadap masalah dan pemecahannya. perdamaian abadi dan keadilan sosial. Pemerintah Welfare State diberi tugas membangun kesejahteraan umum dalam berbagai lapangan (Bestuurzorg) dengan konskuensi pemberian kemerdekaan administrasi negara dalam menjalankannya. di bidang legislasi misalnya. Tetapi demokrasi tidak hanya diterapkan dalam memecahkan masalah saja.. bisa saja dalam hal merumuskan 10 . berlakunya dibatasi oleh waktu tertentu). sebagaimana tersurat dalam Pembukaan UUD 1945 alinea ke-4 yang memuat tujuan nasional . dan Bernegara Demokrasi telah lama berkembang di bumi Indonesia sebagai contoh adanya musyawarah adat. yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum.´ C. ³.. Kehidupan demokrasi ini sangat nyata diterapkan ketika ada suatu masalah dan semua warga dilibatkan untuk memecahkan masalah tersebut. Dalam kegiatan berdemokrasi tersebut warga mengambil bagian dalam proses pembuatan keputusan atau kebijakan yang menyangkut kepentingan bersama. Negara Indonesia termasuk menganut konsep demokrasi welfare state. hak legislasi (membuat peraturan di bawah undang-undang) dan droit function (menafsirkan sendiri aturan-aturan yang masih bersifat enunsiatif). rembug desa. dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan.

di dalam negara demokrasi rakyat memiliki kedaulatan. Akibat lebih lanjut kehidupan demokrasi akan mati. sSuatu pemerintahan demokrasi akan sulit 11 . bupati/wali kota. sesuai dengan sistem pemilihan yang berlaku. Kesetaraan gender merupakan keniscayaan demokrasi. dalam kehidupan bermasyarakat. (2) Kontak atau berhubungan dengan pejabat pemerintah. karya seni maupun melalui wakil-wakil rakyat di parlemen. Dalam kehidupan demokrasi ini politisi harus accountable. buku. Esensi kedaulatan adalah penciptaan otorisasi dan penegakan hukum sesuai standar persyaratan kebaikan umum. bahkan sangat mungkin negara akan mudah melakukan pelanggaran hak asasi manusia. Hal ini sesuai dengan makna demokrasi. hal ini sangat dihargai dalam kehidupan demokrasi karena hal ini merupakan hak setiap warga negara. merupakan naluri dasar manusia sebagai makhluk sosial. Kebebasan berpartisipasi. oleh rakyat dan untuk rakyat.kebijakan-kebijakan bersama bernegara. Pengekangan terhadap kebebasan berpendapat akan menyebabkan negara menjadi represif dan tidak dapat dikontrol. berbangsa dan Perlu diketahui dalam mengembangkan pemerintahan demokratis ada beberapa nilai demokrasi yang mutlak harus dilaksanakan ialah : Kebebasan berpendapat. dan (4) Mencalonkan diri dalam pemlihan jabatan publik seperti kepala desa/lurah. ekonomi. (3) Melakukan protes terhadap lembaga masyarakat atau pemerintah agar sistem politik bekerja lebih baik. memiliki akses yang sama dalam kehidupan politik. Mereka harus menyadari bahwa mandat yang mereka peroleh dari rakyat harus dikembalikan dalam bentuk pemberian pelayanan sebaik mungkin kepada rakyat. yakni melayani segala kebutuhan rakyat. Rasa percaya. Kebebasan berkelompok. Oleh karena itu demokrasi tanpa kesetaraan gender akan berdampak ketidak adilan atau bahkan deskriminasi. anggota legeslatif bahkan presiden. Kehidupan demokrasi membuka banyak alternatif bagi warga negara untuk memiliki kebebasan berkelompok ini misal ikut berorganisasi. menjadi anggota atau membentuk partai politik. hal ini sebenarnya ini sebenarnya gabungan dari kebebasan berpendapat dan kebebasan berkelompok yang meliputi : (1) Pemberian suara dalam pemilihan umum. Kedaulatan rakyat. Hak ini bergena untuk menyuarakan aspirasi dan gagasan setiap wara negra melalui berbagai saluran publik. di mana kedudukan lakilaki dan perempuan memiliki kodrat yang sama sebagai makhluk sosial. memberikan dukungan kepada siapapun sesuai dengan kepentingannya. sosial. gubernur. dari rakyat. seperti media massa. Hal ini mengandung arti rakyat berdaulat dalam ikut menentukan pemerintahan.

Selanjutnya menurut Asykuri Ibn Chamim (2003) nilai-nilai demokrasi seperti tersebut di atas merupakan wacana normatif yang memerlukan kondisi tertentu sebagai landasan pengembangannya. Keadaan yang demikian dapat dibuktikan bahwa banyak negara yang pertumbuhan ekonominya rendah cenderung pemerintahnnya tidak demokratis. Pertumbuhan ekonomi. Apabila yang ada adalah rasa ketakutan. Hal ini menuntut tumbuhnya institusi politik yang responsif terhadap kebutuhan rakyatnya. Akibat yang timbul dari pertumbuhan ekonomi ini juga mendorong masyarakat untuk mencapai tingkat pendidikan yang lebih tinggi. masyarakat plural dapat dipahami sebagai masyarakat yang terdiri dari berbagai kelompok. kecurigaan. Pluralisme. sehingga hal ini juga akan memperbesar persentase masyarakat yang cenderung kritis.berkembang bila rasa saling percaya antar kelompok masyarakat tidak tumbuh. percaya diri dan bermotivasi tinggi dalam kehidupan mereka. Contoh kongkrit misalnya. karena kemakmuran ekonomi akan menghasilkan orang-orang yang lebih percaya diri dan menumbuhkan etos dalam dirinya untuk mencapai kehidupan yang lebih baik di masa depan. jika memadai menjadi salah satu aktor kondisional yang ikut mendorong tumbuhnya kehidupan demokrasi. pluralisme dan hubungan yang seimbang antara negara dan masyarakat. Akibat lebih lanjut agenda pemerintahan tidak terlaksana karena dukungan masyarakat sangat lemah karena adanya rasa tidak saling percaya tersebut. Apabila sikap ini dapat terwujud alangkah harmonisnya kehidupan demokrasi itu. Dan yang terakhir Kerja sama. Kerja sama ini dapat diwujudkan dalam bentuk sikap mau menerima pendapat orang lain dan konsisten dalam menerima segala keputusan yang telah ditetapkan bersama. Kondisi yang dimaksud adalah pertumbuhan ekonomi. salah satu nilai yang mampu mendorong terwujudnya demokrasi adalah kerja sama. karena tanpa perbedaan maka demokrasi justru tidak berkembang. dalam suatu pemilihan individu atau kelompok diharapkan siap menang dan siap kalah. Kerja sama bukan berarti menutup munculnya perbedaan pendapat antar individu atau antar kelompok. maka dapat dipastikan hubungan kelompok antar masyarakat akan terganggu secara permanen. Di dalam masyarakat plural ini setiap orang dapat bergabung dengan kelompok yang ada tanpa adanya rintangan-rintangan sistemik yang mengakibatkan terhalangnya hak untuk berkelompok atau bergabung dengan kelompok tertentu. kekhawatiran. Kemudahan bergabung dengan setiap kelompok yang ada juga diperkuat oleh kesediaan dan keragaman suatu kelompok dlam menerima kemenangan kelompok lain 12 . Kondisi yang demikian akan sangat merugikan keseluruhan sistem politik dan sosial. dan bahkan permusuhan.

demokrasi akan membatasi peluang pemerintah untuk melaksanakan pemerintahan yang berlawanan dengan kehendak masyarakat luas. media massa. Untuk itulah ada parameter untuk mengamati apakah demokrasi terwujud atau tidak dalam suatu negara. Demokrasi akan sulit berkembang apabila berada pada posisi ³negara kuat´ . Pemilihan umum yang dilakukan secara teratur dengan tenggang waktu yang jelas. dan rakyat. antara lain : 1. Sehingga ³negara kuat´ cenderung akan melemahkan pondasi demokrasi. memerlukan adanya partai politik. karena negara yang lemah tidak mungkin bisa memainkan peran utamanya yaitu melindungi masyrakat dan mempertahankan kedaulatan negara. jujur dan adil. Dengan kata lain. karena ada kecenderungan ³negara kuat´ akan melakukan represi terhadap masyarakat yang dianggap membahayakan negara. sehingga konflik dapat dihindari. Kalau begitu apakah memerlukan ³negara lemah´ ? Jawabnya. pola hubungan negara dan masyarakat merupakan kondisi lain yang menentukan kualitas pengembangan demokrasi. legeslatif. Masyarakat yang heterogen membuka peluang bagi persaingan dan konflik antar kelompok yang ada. Biasanya dalam keadaan ³negara kuat´ tidak mengenal adanya kelompok kritis atau oposisi. Akan tetapi kemenangan suatu kelompok yang telah sesuai dengan aturan yang diakui secara kolektif harus diterima dengan tangan terbuka. berbangsa dan bernegara sekarang ini demokrasi merupakan pilihan banyak negara. Negara seperti inilah yang dapat memberikan perlindungan bagi rakyatnya dan menjadi penopang bagi pengembangan nilai-nilai demokrasi. Pemilu merupakan gerbang utama yang haus dilewati pemerintahan demokrasi. Oleh karena itu yang diperlukan dalam negara demokrasi adalah hubungan antara negara dan masyarakat/rakyat yang seimbang. Dengan demokrasi warga masyarakat memiliki peluang untuk mengajukan alternatif kebijaksanaan ketimbang hanya menerima begitu saja apa yang diajukan pemerintah. Hubungan yang seimbang antara negara dan masyarakat. warga mesyarakat dapat mengartikulasikan aspirasinya dan menyatakan dengan jelas apa kepentingannya. Pada perkembangan kehidupan bermasyarakat. karena dengan pemilu lembaga-lembaga kenegaraan dapat dibentuk baik legeslatif maupun eksekutif.dalama sebuah persaingan secara jujur. Di samping itu dengan demokrasi maka rakyat dapat membentuk asosiasi-asosiasi yang dapat mengimbangi kekuasaan pemerintah. jelas tidak. Demokrasi memerlukan sebuah negara kuat tetapi menghormati hukum. Melalui pemilu juga akan diketahui seberapa 13 . alasanya sangat jelas yaitu dengan demokrasi maka pemerintah akan dapat dikontrol oleh masyarakat. kompetitif.

Akuntasi publik. Apabila hak-hak dasar ini dilakukan dengan sepenuhnya maka dapat dinyatakan demokrasi sudah berjalan dengan baik. dan sebagainya. kerja sama dan mufakat (Alamudi:1994). maka dapat dikatakan negara yang demikian jauh dari demokrasi. pragmatisme. Pengadilan adalah yuri yang mampu bertindak netral apabila terjadi konflik dalam masyarakat. (k) nilainilai toleransi. Para pemegang jabatan politik harus bisa mempertanggungjawabkan kepada publik apa yang telah dilakukannya baik secara pribadi maupun sebagai pejabat publik. kebebasan dari rasa takut. (j) pluralisme sosial. kebebasan pers. ekonomi dan politik. (e) jaminan HAM. 3. Terwujudnya sebuah pengadilan yang independen. kebebasan menyatakan pendapat. sehingga rakyat mempunyai peluang untuk melakukan kontrol terhadap proses penyelenggaran negara. Lebih lanjut Alamudi menjelaskan bahwa dalam negara yang demkratis warga negara bebas mengambil keputusan melalui kekuasaan mayoritas. 14 . Hal terutama menyangkut kebebasan berserikat. Rekrutmen politik secara terbuka. Di negara totaliter atau otoriter tidak akan terjadi karena rekrutmen politik hanya dilakukan tertentu baik individu maupun kelompoknya. (b) pemerintahan berdasarkan persetujuan dari yang diperintah. 4. Dilaksanakan atau tidaknya hak-hak dasar individu atau disebut sebagai basic human right. Suatu negara dapat dikatakan demokratis apabila kekuasaan mayoritas digandengkan dengan jaminan hak asasi manusia (HAM). Hal ini sangat diperlukan dalam rangka menciptakan keseimbangan antar berbagai kekuasaan yang ada dalam negara. 5. (c) kekuasaan mayoritas. karena apabila suatu negara hanya seseorang yang berkuasa secara terus menerus atau hanya ada satu partai politik yang berkuasa mengendalikan pemerintahan. 2. (d) hak minoritas. karena jabatan yang mereka terima merupakan kepercayaan dari rakyat.besar kemungkinan rotasi kekuasaan. baik konflik antara lembaga politik maupun konflik antara warga negara dengan pemerintah. (h) proses hukum yang wajar. namun tidak benar bahwa kekuasaan mayoritas itu selalu demokratis. Apa yang dlakkan harus secara terbuka untuk diketahui publik. (f) pemilihan yang bebas dan jujur. Demokrasi memberikan peluang untuk mengadakan kompetisi karena semua orang dan kelompok memili hak dan peluang yang sama di bidang pemerintahan. (i) pembatasan pemerintah secara konstitusional. hak-hak minoritas tidak dapat dihapuskan oleh suara mayoritas. Parameter lain untuk dapat mengetahui demokratis atau tidaknya suatu pemerintahan dapat dilihat dari dipenuhi atau tidaknya unsur-unsur sebagai berikut : (a) kedaulatan rakyat. (g) persamaan di depan hukum. Kelompok mayoritas dapat melindungi kelompok minoritas.

Oleh karena itu demokrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sangat membutuhkan dukungan dari berbagai lapisan sosial. Musyawarah dan kesepakatan dalam keluarga merupakan bagian terpenting dalam proses pembelajaran demokrasi. Karakter publik juga tidak kalah pentingnya. berpikir kritis dan kemauan untuk mendengar. Berdasarkan pengertian tersebut maka dapat diketahui bahwa budaya politik demokrasi merupakan pola-pola sikap dan orientasi politik yang bersumber dari nilainilai dasar demokrasi dan yang seharusnya dimiliki setiap warga dari sistem politik demokrasi. bernegosiasi. Pengertian dan Prinsip-prinsip Budaya Demokrasi Mempelajari budaya demokrasi sudah barang tentu tidak bisa lepas dari budaya politik yakni pola-pola sikap dan orientasi politik yang dimiliki anggota suatu sistem politik. mengindahkan aturan main (rule of law). Menganalisis pelaksanaan demokrasi di Indonesia A. Budaya politik yang diwarnai oleh kerja sama atas dasar saling percaya atarwarga masyarakat akan lebih mendukung demokrasi dari pada budaya politik yang diwarnai rasa saling curiga. disiplin diri dari setiap individu adalah wajib dimiliki oleh setiap anggota masyarakat. Kesediaan warga masyarakat untuk saling toleransi terhadap keanekaragaman dan konflik antarkelompok maupun kesediaan untuk mengakui keabsahan kompromi juga sangat bermanfaat bagi perkembangan demokrasi. dan kompromi merupakan karakter yang sangat diperlukan agar demokrasi dapat terlaksana. BAB II BUDAYA DEMOKRASI MENUJU MASYARAKAT MADANI Kompetensi Dasar : 1. Karakter pribadi seperti tanggung jawab moral. Selain itu budaya politik yang memberi nilai tinggi terhadap hubungan-hubungan hirarkis dan perbedaan yang sangat ekstrim akan sangat 15 . Macridis & Brown (1986) menyebut bahwa ada berbagai jenis budaya politik yang dapat menopang kehidupan politik demokratis. seperti kepedulian sebagai warga negara. tetapi juga ada jenis budaya politik yang lebih menopang kehidupan politik totaliter. kebencian dan saling tidak percaya dalam hubungan antarwarga. Mendiskripsikan pengertian dan prinsip-prinsip budaya demokrasi 2. Mengidentifikasikan ciri-ciri masyarakat madani 3. terutama dukungan dari unit-unit keluarga dan berbagai komunitas sosial lainnya.

dan (b) komitmen kewarganegaraan. (3). Keadaban (civility.mendukung pemerintahan non-demokratis dan kurang mendukung perkembangan demokrasi. Dalam tingkatan kehidupan individu sebagai warga negara. toleransi. konflik. dan ketidaksamaan derajat. dan kompromi. Keterbukaan pikiran termasuk sikap skeptis yang sehat dan pengakuan terhadap sifat ambiguitas (mendua arti) kenyataan sosialdan politi. (5). Tanggung jawab pribadi dan kesediaan untuk menerima tanggung jawab bagi dirinya sendiri serta konsekuensi dari tindakan-tindakannya. Sedang masyarakat yang lebih mengutamakan pemenuhan kebutuhan memperoleh kekuasaan dan mengabaikan kebutuhan pihak lain akan cocok memiliki rezim yang otoriter atau totaliter. keseragaman. (8). Inti kebajikan kewarganegaraan ialah tuntutan agar semua warga negara menempatkan kebaikan bersama di atas kepentingan pribadi. Berdasarkan pernyataan di atas diperoleh pengertian ³budaya demokrasi´ adalah kerja sama. Murah hatu terhadap sesama dan masyarakat luas. Sabar dan gigih dalam mengejar tujuan bersama. Sedangkan komitmen kewarganegaraan adalah kesetiaan kritis warga negara terhadap nilai-nilai dan prinsip-prinsip dasar demokrasi. Hal ini meliputi dua aspek. seperti kedaulatan 16 . (6). Toleransi terhadap keanekaragaman. (9). Komitmen kepada prinsip-prinsip dasar demokrasi. (10). Mengasihi sesama. (4). Komitmen ini dapat dipilah menjadi : (1). Sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan ini antara lain : (1). Disiplin diri dan kesetiaan pada aturan-aturan yang diperlukan untuk memelihara pemerintahan demokratis tanpa tekanan dari otoritas di luar dirinya sendiri. kesederajadan. sebab tanpa hal ini sistem pemerintahan demokrasi tidak mungkin berjalan sebgaimana mestinya. Branson (2001) menyebutkan bahwa setiap warga negara di dalam negara demokrasi harus memiliki civics virtues (kebajikan-kebajikan kewarganegaraan). dan bukan demokrasi. kebencian. ketidapercayaan. yaitu : (a) disposisi kewarganegaraan. (7). saling percaya. totalitarian ditandai oleh Sedangkan budaya politik non-demokratis atau kecurigaan. Kesediaan untuk berkompromi dan menerima kenyataan bahwa nilai-nilai dan prinsip-prinsip kadangkala saling bertentangan. Sikap batin dan kehendak untuk menempatkan kebaikan bersama di atas kepentingan pribadi. Disposisi kewarganegaraan ialah sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan warga negara yang menopang perwujudan kebaikan bersama serta berfungsinya sistem demokrasi secara sehat. termasuk hormat kepada orang lain dan penggunaan wacana yang beradab). hirarki. tidak toleran. (2). menghargai keanekaragaman.

Sehingga sebagai nilai. Komitmen kepada nilai-nilai dasar demokrasi. dan keberadaban.rakyat. sistem check and balance. seperti kemerdekaan. Keleluasaan di sini bukannya tanpa batas. kesamaderajatan. Jadi dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa nilai-nilai budaya demokrasi itu meliputi kebebasan. disiplin diri. persamaan. persamaan menjadi pedoman perilaku rakyat berdaulat agar mereka mampu menghargai harkat martabat sesamanya. serta memiliki kesediaan untuk berkompromi dan menerima kenyataan bahwa nilai-nilai dan prinsip-prinsip kadangkala saling bertentangan. Pandangan demokrasi bahwa manusia itu berbeda-beda tetapi hakikatnya sama sederajat dalam nilainya dan harga keluhurannya sebagai manusia (dignity of man as human being) dalam masyarakat. dan patriotisme. Selanjutnya dalam bahasan budaya demokrasi ini harus diketahui pula prinsipprinsip atau unsur-unsur yang mendukungnya. solidaritas. persamaan. keadaban (Bambang Suteng. dan rule of law. dan sebagainya. persamaan politik. persaudaraan. toleransi. solidaritas/persaudaraan. toleransi. Dengan demikian persamaan berarti tiadanya keistimewaan bagi siapapun dan memberi kesempatan yang sama kepada setiap dan semua orang. penalaran. pemerintahan. pembagian kekuasaan negara. mayority rule-minority right. keberadaban. Sedang komitmen-komitmen kenegaraan antara lain mencakup dedikasi kepada hak asasi manusia (HAM).kejujuran. yakni meliputi kebebasan. sama kedudukannya di dalam hukum. integritas. 17 . tetapi harus digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat bagi masyarakat dan dengan cara yang tidak melanggar aturan yang sudah disepakati bersama. Sebagai nilai maka kebebasan ini menjadi pedoman perilaku rakyat bedaulat yang tercermin dalam menghargai kebebasan orang lain dan memanfaatkan kebebasan diri sendiri secara bertanggung jawab. kebaikan bersama. Sebagai contoh kebajikan kenegaraan menurut Quigley (2002) adalah hormat pada harkat dan martabat setiap orang. dan sebagainya. kasih sayang. menghormati penalaran. politik. dan sebagainya. persamaan. dan (2). menghormati kebenaran. dkk:2006) Kebebasan adalah keleluasaan untuk membuat pilihan terhadap beragam pilihan atau melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi kepentingan bersama atas kehendak sendiri tanpa tekanan pihak manapun. konsultasi kepada rakyat. Persamaan. Nilaim ini juga tercermin dalam tanggung jawab pribadi dan kesediaan menerima tanggung jawab bagi dirinya sendiri serta konsekuensi dari tindakantindakannya.

pendirian. Kejujuran diperlukan agar hubungan antarpihak berjalan dengan baik dan tidak menimbulkan benih-benih konflik di masa depan. Sebab. Ungkapan ini menunjukkan adanya prinsip solidaritas. Dalam masyarakat demokratis seseorang berhak memiliki pandangannya sendiri. tetapi ia akan memegang teguh pendiriannya itu dengan cara yang toleran dengan pandangan orang lain yang berbeda atau bahkan bertentangan dengan pendiriannya. Solidaritas ini menjadi penting dalam kehidupan demokrasi karena menjadi perekat agar tidak jatuh ke dalam perpecahan sebgai akibat terlalu mengutamakan kebebasan pribadi tanpa mengingat adanya persamaan hak maupun semangat kebersamaan. yakni demi alasan keamanan tidak perlu dinyatakan kepada rakyat. mengasihi sesama dan murah hati terhadap sesama warga masyarakat. dan menuntut hal serupa dari orang lain. dan sebagainya yang bertentangan dengan pendirian sendiri. prinsip. pandangan. Sebagai nilai. membiarkan.Solidaritas atau kesetiakawanan adalah kesediaan untuk memperhatuikan kepentingan dan bekerja sama dengan orang lain. Kebiasaan 18 . maka solidaritas ini dapat menumbuhkan sikap batin dan kehendak ntuk menempatkan kebaikan bersama di atas kepentingan pribadi. penghormatan terhadap kejujuran akan menumbuhkan integritas diri. Toleransi adalah sikap atau sifat menghargai. dan atas pertimbangan apa sebuah kebijakan dipilih di antara sejumlah alternatif kebijakan yang ada. sebab meskipun berbeda pandangan atau kepentingan mereka tetap sepkat untuk mempertahankan kesatuan atau ikatan bersama. dalam negara demokratis prinsipnya rakyat mempunyai hak untuk mengetahui apa yang dikerjakan pemerintah dan bagaimana pemerintah mengerjakan tugasnya. Demikian juga pemerintah harus jujur dan terbuka kepada rakyat. membela tindakan tertentu. misalnya tentang bagaimana semua keputusan pemerintah itu dibuat. dan kesetiaan pada aturan-aturan. Dalam kehidupan yang demokratis dikenal ungkapan ³agree to disagree´ (setuju untuk tidak setuju). kepercayaan. kebiasaan. kelakuan. pandangan dan kepentingannya. Kejujuran adalah keterbukaan untuk menyatakan kebenaran. Komunikasi antarwarga negara sangat memerlukan kejujuran agar terbangun solidaritas yang kokoh antarsesama pendukung masyarakat demokratis. membolehkan pendapat. sikap diplin diri. toleransi dapat mendorong tumbuhnya sikap toleran terhadap keanekaragaman. Sebagaim nilai. Walapun ada pengecualiannya. sikap saling percaya dan kesediaan untuk berkerja sama antar pihak yang berbeda keyakinan. Sebagai nilai. Penalaran adalah penjelasan mengapa seseorang memiliki pandangan tertentu.

(5). Keadaban adalah ketinggian tingkat kecerdasan lahir batin atau kebaikan budi pekerti. Kehidupan masyarakat memang selalu berubah. Dalam demokrasi ada mayoritas dan minoritas dalam pengambilan keputusan. Menurut Henry B. konsensus atau mufakat. dan kepatuhan pada norma-norma yang berlaku dalam kehidupan bersama. Mayo (Budihardjo:1980) nilai operasional yang menjadi landasan pelaksanaan demokrasi meliputi : (1). (4). Sebagai nilai. tetapi pemerintah juga hjarus menjaga agar perubahan-perubahan dalam masyarakat tetap terkendali. Membatasi penggunaan kekerasan seminimal mungkin. Penalaran ini akan mendorong terbangunnya masyarakat demokratis. Dalam hal ini paling tidak ada empat bidang yang harus mendapat perhatian (Bambang Suteng. maka pemerintah harus dapat menyesuaikan kebijakan publiknya dengan perubahan-perubahan itu. yakni lembaga-lembaga negara 19 . Sebagai nilai. Menjamin terselenggaranya perubahan masyarakat secara damai. termasuk sikap skeptis yang sehat dan pengakuan terhadap sifat ambiguitas (kemenduaartian) kenyataan sosial dan politik.memberi penalaran akan menumbuhkan kesadaran bahwa ada banyak alternatif sumber informasi dan ada banyak kemungkinan cara untuk mencapai tujuan. mengutamakan musyawarah untuk mencapai mufakat. (2). Menyelesaikan perselisihan secara damai dan melembaga antara lain melalui perundingan serta dialog terbuka agar tercapai kompromi. termasuk penggunaan bahasa tubuh dan berbicara beradab. (3). Kemudian nilai-nilai dasar itu dijabarkan lebih rinci dan operasional dalam kehidupan demokrasi. Mengakui dan menganggap wajar adanya keanekaragaman dalam masyarakat yang tercermin dalam keanekaragaman pendapat. maka harus dijaga agar demokrasi tidak berubah menjadi tirani mayoritas. Perlu diketahui bahwa tantangan terberat bagi sebuah bangsa yang hendak membangun demokrasi adalah bagaimana mengembangkan budaya demokrasi dalam kehidupan bangsa yang bersangkutan. Perilaku yang beradab adalah perilaku yang mencerminkan penghormatan terhadap dan mempertimbangkan kehadiran pihak lain sebagaimana dicerminkan oleh sopan santun dalam bertindak. keanekaragaman kepentingan dan tingkah laku. Menjamin tegaknya keadilan. Pemerintah wajib memberikan penalaran terhadap kebijakan yang ditetapkannya agar warga negara mengetahui dengan benar apa yang dikerjakan pemerintah. keadaban akan menjadi pedoman perilaku warga negara yang serba santun. dkk:2006). (6). menghindari penggunaan kekerasan. penalaran dapat mendorong tumbuhnya keterbukaan pikiran. Menyelenggarakan pergantian pimpinan secara teratur.

dan partisipatif. Masyarakat madani merupakan elemen yang sangat signifikan dalam membangun demokrasi. harus menerapkan asas keterbukaan (transparan). kolusi dan nepotisme yang hanya mensejahterakan sekelompok orang. harus mampu mewujudkan pemerintahan yang bersih dan berwibawa. dan harus mampu bekerja secara efektif dan efisien. masyarakat yang bebas dari pengaruh kekuasaan dan tekanan negara.termasuk birokrasi pemerintah. yang dibutuhkan dalam negara B. Partai politik juga harus mampu melakukan kaderisasi agar mampu menyediakan calon-calon pemimpin bangsa yang bisa mewujudkan aspirasi rakyat. Masyarakat Madani (civil society) Masyarakat madani (civil society) memiliki ciri sebagai masyarakat terbuka. kekuasaannya kepada rakyat. Membangun masyarakat madani merupakan bagian dari upaya melewati masa transisi menuju demokrasi melalui pengembangan budaya politik demokratis. Mental dan keahlian aparat penegak hukum harus dibangun sehingga benarbenar mampu menerapkan prinsip rule of law demokrasi. antara lain pengisian jabatan lembaga negara harus demokratis melalui pemilihan umum atau pemilihan oleh wakil rakyat. Sebab salah satu syarat penting bagi demokrasi adalah terciptanya 20 . Pelaku ekonomi harus pula membangun diri agar mampu melakukan kegiatan ekonomi dalam suasana kehidupan demokrasi untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. akuntabel (dapat dipertanggungjawabkan). pejabat negara harus mempertganggungjawabkan penggunaan kekuasa. dengan penjelasan berikut: Lembaga-lembaga negara termasuk birokrasi pemerintah harus dibangun agar menjadi lembaga pelaksana kedaulatan rakyat. dan masyarakat madani (civil society). korupsi. partai-partai politik. Masyarakat madani (civil society). pelaku ekonomi. Kehidupan masyarakat harus dibangun agar mampu menjadi kekuatan pengontrol terhadap penyelenggara negara agar pemerintah tidak menyimpang dari koridor demokrasi. Partai-partai politik harus dibangun agar mampu berperan sebagai perumus dan pemadu aspirasi rakyat untuk kenudian memperjuangkannya melalui wakil-wakil rakyat di lembaga pemerintahan. Untuk itu pelaku ekonomi harus mengindari suap. masyarakat yang kritis dan berpartisipasi aktif serta masyarakat egaliter (Tim ICCE UIN:2003).

kebudayaan yang membela hak-hak kolektif. nilai-nilai. kepercayaan. warga masyarakat sendiri yang membentuknya bukan pemerintah. Istilah civil society adalah berkaitan dengan interaksi-interaksi sosial yang tidak dikuasai oleh negara (Patrick: 2001). keswasembadaan (self-generating) dan keswadayaan (self-supporting). otonom dari negara. gerakan-gerakan perlindungan konsumen. perlindungan kaum cacat (difabel). yang berbeda dari lembaga-lembaga negara yang resmi. kemandirian tinggi berhadapan dengan negara. organisasi-organisasi yang bergerak di bidang produksi dan penyebaran pengetahuan umum. sehingga memungkinkan tumbuhnya sikap terbuka. Civil society mewujudkan dalam berbagai organisasi yang dibuat masyarakat di luar pengaruh negara. (4). dan sebagainya. Civil society ini meliputi : (1). antara lain : kesukarelaan (voluntary). asosiasi penerbitan. perlindungan hak-hak perempuan. civil society merupakan wilayah publik yang diciptakan dan dijalankan oleh warga negara biasa (bukan pejabat pemerintah). para pengguna istilah itu umumnya sependapat bahwa civil society adalah jaringan kerja yang kompleks dari organisasi-organisasi yang dibentuk secara sukarela. dan informasi publik (contoh. perlindungan etnis minoritas. Maka sebagai jaringan kerja antarlembaga yang terpisah dari negara namun tunduk terhadap aturan hukum yang berlaku. yayasan penyelenggara sekolah swasta. dan yang bertindak secara mandiri atau dalam kerja sama dengan lembaga-lembaga negara. dan keterikatan dengan norma-norma atau nilai-nilai hukum yang diikuti oleh warganya. kesukuan. dan sebagainya. Berdasarkan hal-hal di atas maka dapat diketahui bahwa civil society tersusun atas berbagai organisasi kemasyarakatan. dan sebagainya). suka rela. perkumpulan dan jaringan perdagangan yang produktif.partisipasi masyarakat dalam proses-proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh negara atau pemerintahan. ide-ide. yang memupunyai ciri-ciri : (1) lahir secara mandiri. setidaknya berswadaya secara parsial. (2) 21 . berita-berita. (3). Mohammad AS Hikam (1993) memberikan batasan civil society sebagai wilayah kehidupan sosial yang terorganisasi dan bercirikan. percaya dan toleran antarsatu dengan yang lain yang sangat penting artinya bagi bangunan politik demokrasi (Saiful Mujani:2001). dan terikat pada tatanan legal atau seperangkat nilai bersama. Lary Diamond (2003) menyatakan bahwa civil society melingkupi kehidupan sosial terorganisasi yang terbuka. perlindungan korban diskriminasi. Lebih dari itu. Masyarakat madani mensyaratkan adanya civic engagement yaitu keterlibatan warga negara dalam asosiasi-asosiasi sosial. (2). perkumpulan keagamaan. lahir secara mandiri.

(3) mencukupi kebutuhannya sendiri (swadaya). Namun keterikatan ini seringkali dilupakan oleh warga masyarakat yang baru saja menikmati kebebasan politiknya. tetapi juga dapat melakukan kontrol sosial (social control) terhadap pelaksanaan kerja lembaga tersebut. yang di Indonesia dikenal dengan nama ³lembaga swadaya masyarakat´ (LSM). Kemandirian terhadap negara tidak boleh diartikan sebagai peluang untuk melakukan tindakan anarkis. Ciri yang kelima ini menegaskan keterikatan civil society pada budaya politik demokratis. adanya keragaman dan konsensus. Masyarakat madani ini dapat menjalankan peran dan fungsinya sebagai mitra dan patner kerja lembaga eksekutif dan legeslatif serta yudikatif. dan (5) tunduk pada aturan hukum yang berlaku atau seperangkat nilai/norma yang diyakini bersama. paling tidak untuk sebagian. tetapi tatanan nilai dalam masyarakat madani seperti kebebasan dan kemandirian juga merupakan sesuatu yang inheren baik secara internal (hubungan antar sesama warga negara) maupun secara eksternal (hubungan negara dengan masyarakat atau sebaliknya). Demokrasi dapat dianggap sebagai hasil dinamika masyarakat yang menghendaki adanya partisipasi. atau atas kesadaran masing-masinganggota. Tatanan nilai-nilai masyarakat tersebut ada dalam masyarakat madani (civil society). adanya perbedaan pandangan. Selain itu demokrasi merupakan pandangan mengenai masyarakat dalam kaitan dengan pengungkapan kehendak.keanggotaannya bersifat suka rela. Dengan demikian masyarakat madani (civil society) menjadi sangat penting keberadaannya dalam mewujudkan demokrasi. Sebagai perwujudan masyarakat madani secara kongkrit dibentuk berbagai organisasi di luar negara yang disebut dengan nama NGO (non government organization). sehingga tidak bergantung pada bantuan pemerintah/negara. Menurut Gellner. Masyarakat madani (civil society) dan demokrasi menurut Gellner (2001) merupakan dua kata kunci yang tidak dapat dipisahkan. masyarakat madani bukan hanya merupakan syarat atau prakondisi bagi demokrasi semata. C. sehingga berani mengontrol penggunaan kekuasaan negara. (4) bebas atau mandiri dari kekuasaan negara. Karena itu demokrasi membutuhkan tatanan nilai-nilai sosial yang ada pada masyarakat madani. Pelaksanaan Demokrasi di Indonesia 22 . yang bertolak belakang dengan watak keberadaban. sehingga salah mengartikan konsep kemandirian sebagai konsep yang boleh melanggar tatanan hukum yang dibuat oleh negara.

sehingga berakibat destabilisasi politik nasional. Syafi¶i Ma¶arif demokrasi terpimpin ini sebenarnya ingin menempatkan Soekarno sebagai ³ayah´ dalam famili besar yang bernama Indonesia dengan kekuasaan yang terpusat di tangannya. yaitu. Pasang surut pelaksanaan demokrasi ini dari segi waktu dapat dibedakan dalam empat periode. Sejak saat itu berakhirlah masa demokrasi parlementer di Indonesia. Keadaan ini diperparah dengan gagalnya Konstituante membentuk Undang-undang Dasar yang baru. Meskipun UUD 1945 dinyatakan kembali berlaku. periode 1959 ± 1965. berkembangnya pengaruh komunis dan meluasnya peranan ABRI sebagai unsur sosial politik. Karena fragmentasi partai-partai politik maka usia kabinet jarang dapat bertahan lama. bangsa dan negara. Namun sejak awal kemerdekaan bangsa Indonesia menyatakan komitmennya untuk mewujudkan negara demokrasi. koalisi yang dibangun sangat mudah pecah. (b) tiap-tiap orang berhak mendapat penghidupan yang layak dalam masyarakat. Soekarno sebagai Presiden seumur hidup. periode 1945 ± 1959. bangsa dan negara. Dalam pandangan A. presiden membentuk DPR-GR sehingga fungsi kontrol DPR hampir tidak ada. Demokrasi pada Periode 1945 ± 1959 Pada masa ini dikenal dengan sebutan demokrasi parlementer. masyarakat. Dengan demikian kekeliruan yang sangat 23 . sedang kepala pemerintahan di tangan Perdana Menteri. dan periode 1998 ± sampai sekarang. III/1963 yang mengangkat Ir. maka mendorong Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang isinya antara lain menyatakan berlakunya kembali UUD 1945. di mana presiden sebagai kepala negara. Presiden mencanangkan demokrasi pada periode dengan nama ³demokrasi terpimpin´ yang pada hakikatnya sangat bertentangan dengan jiwa dan semangat UUD 1945. 1. Demokrasi pada Periode 1959 ± 1965 Pemerintahan pada periode ini dikenal sebagai Orde Lama dengan ciri-cirinya adalah dominasi dari Presiden. (a) tiap orang diwajibkan untuk berbakti kepada kepentingan umum. tetapi pada pelaksanaannya terjadi penyimpangan antara lain dengan Ketetapan MPRS No. Hal ini dibuktikan dengan diberlakukannya tiga konstitusi yang memuat ketentuan langsung maupun tidak langsung menyatakan bahwa Indonesia adalah negara demokrasi. terbatasnya peranan partai politik.Pelaksanaan demokrasi di Indonesia mengalami fluktuasi (pasang surut) dari masa awal kemerdekaan sampai saat sekarang. presiden membubarkan DPR hasil pemilihan umum. Perlu diketahui pada masa demokrasi terpimpin ini memiliki prinsip-prinsip dasar . periode 1965 ± 1998. 2.

Namun demikian ³demokrasi Pancasila´ dalam rezim Orde Baru hanya sebagai retorika dan gagasan belum sampai pada tataran praksis atau penerapan. Dengan demikian nilai-nilai demokrasi juga belum ditegakkan dalam demokrasi Pancasila Soeharto. peradilan yang bebas yang tidak memihak. yakni memandang kedaulatan rakyat sebagai inti dari sistem demokrasi. Demokrasi pada Periode 1965 ± 1998 Landasan formil pada perode ini adalah Pancasila. 3. (d) Campur tangan pemerintah dalam berbagai urusan partai politik dan publik. Demokrasi Periode 1998 ± sekarang 24 . (b) Birokratisasi dan sentralisasi pengambilan keputusan. (c) Pengibirian peran dan fungsi partai politik. sehingga periode ini dikenal sebagai Orde Baru. (c) Demokrasi dalam bidang hukum pada hakikatnya bahwa pengakuan dan perlindungan HAM.mendasar dalam demokrasi terpimpin Soekarno adalah adanya pengingkaran terhadap nilai-nilai demokrasi yaitu absolutisme dan terpusatnya kekuasaan hanya pada diri pemimpin. Sehingga secara umum dapat dijelaskan bahwa demokrasi Pancasila tidak berbeda dengan demokrasi pada umumnya. Tujuh ciri tersebut menjadikan hubungan negara versus masyarakat secara berhadap-hadapan dan subordinat. Demokrasi pada periode dikenal dengan istilah demokrasi Pancasila dengan beberapa perumusannya (Tim ICCE UIN: 2003) : (a) Demokrasi pada bidang politik pada hakikatnya adalah menegakkan kembali asas-asas negara hukum dan kepastian hukum. (g) Inkorporasi lembaga non pemerintah. (b) Demokrasi dalam bidang ekonomi pada hakikatnya adalah kehidupan yang layak bagi semua warga negara. di mana negara atau pemerintah sangat mendominasi. sehingga tidak ada ruang kontrol sosial dan chek and balance dari legeslatif terhadap eksekutif. Seperti yang dikatakan oleh M. Pada periode pemerintah berusaha mengembalikan kemurnian pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945. Kehidupan demokrasi berusaha dibangun untuk melaksanakan pemerintahan antara lain mulai tahun 1971 pemilihan umum diselenggarakan untuk kurun waktu tiap lima tahun ke depan. (f) Monolitasi ideologi negara. (e) Massa mengambang. Undang-Undang Dasar 1945 serta Ketetapan-Ketetapan MPRS. Karena dalam praktik kenegaraan dan pemerintahan rezim ini sangat tidak memberikan ruang bagi kehidupan berdemokrasi. 4. Rusli Karim (Tim ICCE UIN: 2003) rezim Orde Baru ditandai oleh : (a) Dominannya peranan ABRI.

(b) diamandemennya pasal-pasal dalam konstitusi negara Republik Indonesia (amandemen I-IV). Oleh sebab itu. reformasi sistem (constitutional reform) yang menyangkut perumusan kembali falsafah. Sehingga yang harus dilakukan dalam transisi demokrasi di Indonesia sekurang-kurangnya mencakup reformasi dalam tiga bidang. Perubahan sistem politik melalui paket amandemen konstitusi (UUD 1945) dan pembuatan paket perundang-undangan politik (UU Partai Politik. (d) peran civil society (masyarakat madani). 25 . pengembangan kultur dan budaya politik (political culture) yang lenih demokratis. Ketiga. masih menjadi pertanyaan besar. (d) dijalankannya kebijakan otonomi daerah. Bergulirnya reformasi yang mengiringi runtuhnya rezim tersebut menandakan tahap awal bagi transisi demokrasi di Indonesia. dan perangkat legal sistem politik. kerangka dasar. (c) adanya kebebasan pers. Kedua. BAB III HAK ASASI MANUSIA Kompetensi Dasar 1. UU Susunan dan Kedudukan DPR. yakni : (a) komposisi elite politik. Transisi demokrasi ini merupakan fase krusial yang kritis. (c) kultur politik atau perubahan sikap terhadap politik di kalangan elite dan non-elite. dan sebagainya. UU Pemilihan Presiden dan wakil Presiden. 2. kondisi transisi demokrasi di Indonesia untuk saat ini masih berada di persimpangan jalan belum jelas ke arah mana berlabuhnya. karena bisa saja perjalanan demokrasi bangsa Indonesia kembali lagi ke masa otoriter seperti masa Orde Lama dan Orde Baru. Mendeskripsikan perkembangan pemikiran hak asassi manusi secara umum dan yang berkemabng di Indonesia. Merumuskan pengertian dan hakikat hak asasi manusia. Akan tetapi sampai saat inipun masih dijumpai indikasi-indikasi kembalinya kekuasaan status quo yang ingin membalikkan arah demokrasi Indonesia kembali ke periode sebelum orde reformasi.Runtuhnya rezim otoriter Orde Baru telah membawa harapan baru bagi tumbuhnya demokrasi di Indonesia. DPRD dab DPD) mampu mengawal transisi menuju demokrasi. UU Pemilu. Pertama. reformasi kelembagaan (institutional reform and empowerment) yang menyangkut pengembangan dan pemberdayaan lembaga-lembaga politik. (b) desain institusi politik. Sukses atau gagalnya suatu transisi demokrasi sangat bergantung pada empat faktor kunci (Azyumardi Azrz: 2002). Indikasi ke arah terwujudnya kehidupan demokratis dalam era transisi menuju demokrasi di Indonesia antara lain adanya: (a) reposisi dan redefinisi TNI dalam kaitannya dengan keberadaannya pada sebuah negara demokrasi.

pemajuan. 5. Menseskripsikan penanggungjawab. Hak ini sifatnya sangat mendasar (fundamental) bagi hidup dan kehidupan manusia dan merupakan hal kodrati yang tidak terlepas dari dan dalam kehidupan manusia. Merumuskan bentuk-bentuk hasi asasi manusia. 4. Dalam Undang-Undang (UU) Nomor 39 tahun 1999 tentang HAM pasal 1 disebutkan bahwa ³HAM adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai nakhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupupakan 26 . Memahami perundang-undangan nasional yang mengatur mengenai hak asasi manusia. 1994). Dalam Islam antara huqua al-insan addhoruriyah dan huquq Allah tidak dapat dipisahkan atau berjalan sendiri-sendiri tanpa adanya keterkaitan satu dengan alainnya. Istilah yang dikenal di Barat mengenai HAM ialah ³right of man´. Hak menpunyai nunsur-unsur sebagai berikut : (1) Pemilik hak.3. Sementara iru HAM dalam Islam dikenal dengan istilah huquq al-insan ad-dhoruriyah dan huquq Allah. Oleh karenanya tidak ada kekuasaan apapun yang dapat mencabutnya. penegakan. Pengetian dan Hakikat Hak Asasi Manusia Secara definisi hak merupakan unsur normatif yang berfungsi sebagai pedoman berperilaku. Dengan demikian hak merupakan unsur normatif yang melekat pada diri setiap manusia yang dalam penerapannya berada pada ruang lingkup hak persamaan dan hak kebebasan yang terkait dengan interaksinya antara individu atau dengan instansi. A. kekebalan serta menjamin adanya peluang bagi manusia dalam menjaga harkat dan martabatnya. Karena itu istilah ³right of man´ diganti dengan istilah ³human right´ oleh Eleanor Roosevelt karena dipandang lebih netral dan universal. yang mengantikan istilah ³natural right´. 6. yang tanpanya manusia mustahil dapat hidup sebagai manusia. perlindungan. Inilah yang menyebabkan konsep Barat tantang HAM dengan konsep Islam. melindungi kebebasan. c) pihak yang bersedia dalam penerapan hak Ketika unsur tersebut menyatu dalam pengertian dasar tentang hak. Menurut pendapat Jan Materson (dari Komisi HAM PBB). hak asasi manusia adalah hak yang melekat pada satiap manusia. (2) ruang lingkup penerapan hak. Selanjutnya John Locke manyatakan bahwa hak asasi manusia adalah hal-hak yang diberikan langsung oleh Tuhan sebagai hak yang kodrati (Mansyhur Effendi. Istilah ³right of man´ ternyata tidak secara otomatis mengakomodasi pengertian yang mencakup ³right of woman´. Menseskripsikan mengenai pelanggaran dan proses peradilan hak asasi manusia. dan pemenuhan akan hak asasi manusia.

dijunjung tinggi. dan dilindungi oleh negara. dan TAM yang berlangsung secara sinergis dan seimbang. Jadi dalam memenuhi dan menuntut hak tidak terlepas dari pemenuhan kewajiban yang harus dilaksanakan. pemerintah. Perkembangan Pemikiran HAM di Barat dan Indonesia 27 . Berdasarkan beberapa rumusan pengertian HAM di atas.anugerah-Nya yang wajib dihormati. 2003). Berdasarkan beberapa rumusan HAM di atas. HAM adalah bagian darimanusia secara otomatis. serta keseimbangan antara kepentingan perseorangan dan dengan kepentingan umum. dijaga dan dilindungi oleh seriap individu. pemerintah dan setiap orang demi kehormatan serta negara perlindungan harkat dan martabat manusia´. Dengan demikian hakikat penghomatan dan perlindungan terhadap HAM ialah menjaga keselamatan ekstensitas manusia secara utuh melalui aksi keseimbangan yaitu keseimbangan antara hak dan kewajiban. melindungi dan menjunjung tinggi HAM. agama. Begitu juga dalam memenuhi kepentingan perseorangan tidak boleh merusak kepentingan orang banyak (kepentingan umum). dapat disimpulkan bahwa HAM merupakan hak yang melekat pada diri manusia yang bersifat kodrati dan fundamental sebagai suatu anugrah Allah yang harus dihormati. pemenuhan perlindungan dan penghormatan terhadap HAM harus dikuti dengan pemenuhan terhadap KAM (kewajiban asasi manusia) TAM (tanggung jawab asasi manusia) dalam kehidupan pribadi. dan (3) HAM tidak bisa dilanggar.orang tetap mempunyai HAM walaupun sebuah negara membuat hukum yamg tidak melindungi atau melanggar HAM (Mansour Fakih. baik dalam tatanan dalam kehidupan pribadi beemasyarakat. bermasyarakat dan bernegara. berbangsa. hukum. dibeli ataupun diwarisi. pandangan politik asal usul sosial dan bangsa. dapat ditarik kesimpulan tentang beberapa ciri pokok hakikat HAM yuaitu: (1) HAM tidak perlu diberikan. Jadi dapat disimpulkan hakikat dari HAM adalah keterpaduan antara HAM. ras. bahkan negara. masyarakat atau negara. Tidak seorangpun mempunyai hak untuk membatasi atau melanggar hak orang lain. KAM. etmis. KAM dan TAM) yang melekat pada setiap individu manusia. Bila ketiga unsur asasi (HAM. bernegara dan pergaulan global tidak berjalan secara seimbang. menjadi kewajiban dan tanggung jawab bersama antara inividu. Upaya menghormati. (2) HAM berlaku untuk semua orang tanpa memandang jenis kelamin. B. dapat dipastikan akan menimbulakan kekacauan anarkisme dan kesewenangwenangan dalam tata kehidupanumat beragama. Karena itu.

masalah keadilan yang merupakan inti dari hukum alam menjadi pendorong bagi upaya penghormatan dan perlindungan harkat dan martabat kemanusiaan universal. Kemudian prinsip itu dipertegas oleh prinsip freedom of exspressio]n (kebebasan mengeluarkan pendapat). sampai ada keputusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap yang menyatakan ia bersalah. tetapi ia sendiri tidak terikat dengan hukum yang dibuatnya). karena dalam hukum alama ada sistem keadilan yang berlaku universal (Masyur Effendi. Dengan demikian. Hukum alam merupakan produk rasio manusia demi terciptanya keadilan abadi. Salah satu muatan hukum alam adaklah hak-hak pemberian dari alam (naturals rights). kemudian ditahan dan dituduh. yang merumuskan hak lebih dirinci lagi.Pembicaraan mengenaig HAM tidak terlepas dari pengakuan terhadap adanya hukum alam (natural law) yang menjadi cikal bakal bagi kelahiran HAM. 1994). artinya orang-orang yang ditangkap. Magna Charta telah menghilangkan hak absolutisme raja. ia harus dibelenggu. dalam french Declaration sudah tercakup hak-hak yang menjamin tumbuhnya demokrasi maupun negara hokum (Masyhur Efendi.1994). Jadi. sehingga tidaklah logis bila sesudah lahir. termasuk penangkapan tanpa alasan yang sah dan penahanan tanpa surat perintah yang dikeluarkan oleh pejabat yang sah. pada tahun 1789 lahirlah The French Declaration (Deklarasi Parncis). freedom of religion (bebas menganut kenyakinan/agama yang dikehendaki). Sejak itu mulai dipraktikan kalau raja melanggar hukum harus diadili dan pertanggungjawabkan kebijakan pemerintahannya kepada parlemen. 28 . Hukum alam merupakan satu konsep dari prinsip-prinsip umum moral dan sistem keadilan yang berlaku untuk seluruh umat manusia. Pada umumnya para pakar di Eropa berpendapat bahwa lahirnya HAM di kawasan Eropa dumulai dengan lahirnya Magna Charta yang antara lain membuat pandangan bahwa raja yang tadinya memiliki kekuasaan absolut (raja yang menciptakan hukum. Dalam deklarasi ini dipertegas bahwa manusia adalah merdeka sejak di dalam perut ibunya. berhak dinyatakan tidak beralah. Selanjutnya. Dalam kaitan itu berkaitan berlaku prinsip Presumtion of innocent. The right of property (perlindungan hak milik). 1994). sebagaimana dimuat dalam the Rule of Law yang antara lain isinya tidak boeh ada penangkapan dan penahanan yang semena-mena. karenannya manusia akan mematuhi hukum alam tersebut. dan hak-hak dasar lainnya. menjadi dibatasi kekuasaannya dan mulai dapat diminta pertanggunggungjawabannya dimuka hukum (Masyhur Effendi. Hukum alam diatur berdasarkan logika manusia. Perkembangan HAM selanjutnya ditandai dengan munculnya The American Declaration of Independence.

Generasi ketiga sebagai reaksi pemikiran HAM generasi kedua. hak kebebasan memeluk agama dan beribadat sesuai dengan ajaran agama yang dipeluknya. politik dan hukum dalam satu keranjang yang desebut dengan hak-hak melaksanakan pembangunan (The Rights of Development). kebebasan dari kemiskainan dalam pengertian setiap bangas berusaha mencapai tingkat kehidupan yang damai dan sejahtera bagi penduduknya. Kalau kata ³pembangunan´ tetap dipertahankan. Secara garis besar perkembangan pemikiran HAM dibagi pada 4 generasi.. sosial and Cultural Eights dan International Covement on civil and political Rights. Ada empat hak yang dikemukakannya. Keadalan dan 29 . maka pembangunan haruslah berpihak pada rakyat dan diarahkan untuk redistrbusi kekayaan national serta redistribusi sumber-sumber daya sosial.Perkembangaannya yang lebih signifikan adalah dengan kemunculan The Four Freedom dari Presiden Roosevelt pada Tahun 1941. politik dan budaya. Generasi pertama berpendapat bahwa pengertian HAM hanya berpusat pada bidang hukum dan politik. 1994). Jadi pemikiran HAM generasi kedua menunjukkan perluasan pengertian konsep dan cakupan hak asasi manusia. hak ekonomi dalam arti pembangunan ekonomi menjadi prioritas utama. Pada masa generasi kedua. pengurangan persenjataan. hak yuridis kurang mendapat penekanan sehingga terjadi ketidakseimbangan dengan hak sosial-budaya. sehingga tidak satupun bangsa (negara) berada dalam posisi berkeinginan untuk melakukan serangan terhadap negara lain (Mayhur Efendi. Fokus pemikiran HAM generasi pertama pada bidang hukum dan politik disebabkan oleh dampak dan situasi perang dunia II. Kedua Covenant tersebut disepakati dalam sidang umum PBB 1966. hukum. Pada generasi kedua ini lahir dua covemen yaitu International Covenant on Economic. totaliterisme dan adanya keinginan negara-negara yang baru merdeka untuk menciptakan suatu tertib hukum yang baru. politik dan budaya secara merata. hak ekonomi dan hak politik. Dalam pelakasanaan hasil pemikiran HAM generasi ketiga juga mengalami ketidakseimbangan. Generasi kedua pemikiran HAM tidak saja menuntut hak yuridis melainkan juga hak-hak asasi sosial ekonimi. Generasi ketiga menjanjikan adanya kesatuan antara hak ekonomi. yang meliputi usaha. yaitu hak kebebasan berbicara dan menyatakan pendapat. sosial. Pemikiran HAM terus berlangsung dalam rangka mencariu rumusan HAM yang sesuai dengan konteks ruang dan zamannya. sedangkan hak lainnya terabaikan sehingga menimbulkan banyak korban. hak kebebasan dari ketakutan. karena banyak hak-hak rakyat lainnya yang dilanggar. budaya. ekonomi.

Selain itu program pembangunan yang dijalankan tidak berdasarkan kebutuhan rakyat secara keseluruhan melainkan memenuhi kebutuhan kelompok elit. Sedangkan pemikiran HAM dalam Partai Komunis Indonesia sebagai partai berlandaskan Maxisme lebih condong pada hak-hak sosial dan 30 . yaitu periode sebelum dan sesudah kemerdekaan. 1. Sedang pemikiran HAM dalam Sarekat Islam lebih menekankan pada usahausaha untuk memperoleh penghidupan yang layak dan bebas dari penindasan dan diskriminasi rasial. tema-temanya banyak dipengaruhi oleh para tokohnya seperti Muhammad Hatta. Secara garis besar Bagir Manan (2001) membagi perkembangan pemikiran HAM di Indonesia dalam dua periode. Pemikiran HAM mereka lebih menitik beratkan pada hak untuk menentukan nasib sendiri (the right of self determination). Deklarasi tersebut juga secara positif mengukuhkan keharusan imperatif dari negara untuk memenuhi hak asasin rakyatnya. bukan setelah pembangunan itu selesai.A. karena tidak saja mencakup tuntutan struktural tetapi juga berpihak kepada terciptanya tahanan sosial yang berkeadilan. Pemikiran HAM juga muncul di Perhimpunan Indonesia. Setelah banyaknya dampak negatif yang ditimbulkan dari pemikiran HAM generasi ketiga. kahirlah generasi keempat yang mekritik peranan negara yang sangat dominan dalam proses pembangunan yang terfokus pada pembangunan ekonomi dan menimbulkan dampak degatif seperti diabaikannya aspek kesejahteraan rakyat. sebagai organisasi pergerakan.Sedangkan pemahaman HAM di Indonesia sebagai tatanan nilai. Pemimpin Boedi Utomo memperlihatkan adanya kesadaran berserikat dan mengeluarkan pendapat melalui petisi-petisi yang ditujukan kepada pemerintah kolonial maupun dalam tulisan yang dimuat surat kabar Goeroe Desa. . Pemikiran HAM generasi keempat dipelopori oleh negara-negara di kawasan asia yang pada tahun 1983 melahirkan deklarasi hak asasi manusia yang menginginkan lahirnya tatanan sosial berkeadilan.pemenuhan hak asasi haruslah dimulai sejak dimulainnya pembangunan itu sendiri. Deklarasi ini lebih maju dari rumusan generasi ketiga. Ahmad Soebardjo. norma. Maramis dan sebagainya. Bentuk pemikirannya mencakup bidang hak kebesaran berserikat dan mengeluarkan pendapat. Selain itu deklarasi HAM Asia tersebut juga telah berbicara mengenai masalah µkewajiban asasi¶ bukan hanya µhak asasi¶. A. Periode Sebelum Kemerdekaan Boedi Oetomo. konsep yang hidup di masyarakat dan acuan bertindak pada dasarnya telah berlangsung cukup lama. menaruh perhatian terhadap masalah HAM.

Semakin banyak tumbuh partai-partai politik dengan beragam idiologinya masing-masing. 2. karena itu HAM di Indonesia mempunyai akar sejarah yang sangat kuat.menyentuh isu-isu yang berkenaan dengan dengan alat produksi. hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak. pemikiran dan aktualisasi HAM pada periode ini mengalami ³pasang´ dan menikmati ³bulan madu´ kebebasan. Lebih menonjol pada hak untuk mendapatkan kemerdekaan serta mendapatkan perlakuan yang sama dan hak kemerdekaan. Konsen terhadap HAM pada Indische Partij. Sementara itu pemikiran HAM pada Partai Nasional Indonesia mengedepankan pada hak untuk memperoleh kemerdekaan (the right self detemination). Kebebasan pers sebagai salah satu pilar demokrasi 31 . (2). Pemikiran HAM telah mendapat legitimasi secara formal karena telah memperoleh pengaturan dan masuk ke dalam hukum dasar negara (konstitusi) yaitu UUD 1945. Indikatornya ada tiga aspek yait : (1). hak untuk memeluk agama dan kepercayaan. sangat membanggakan. Perdebatan pemikiran HAM yang terjadi dalam sidang BPUPKI berkaitan dengan masalah hak persamaan kedudukan di muka hukum. hak berkumpul. Pemikiran HAM sebelum Indonesia merdeka juga terjadi dalam perdebatan di Sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) antara Soekarno dan Soepomo di satu pihak dengan Mohammad Hatta dan Mohammad Yamin pada pihak lain. Komitmen terhadap HAM pada periode awal kemerdekaan diantaranya ditunjukan dalam Maklumat Pemerintah tanggal 1 dan 3 November 1945 yang menyatakan akan adanya pemilu dan rakyat diberi kesempatan atau hak mendirikan partai politik: Pemikiran HAM pada periode tahun 1950-an. hak kebebasan untuk berserikat melalui organisasi politik yang dirikan serta hak kebebasan untuk menyampaikan pendapat terutama di perlemen. Dengan demikian gagasan dan pemikiran HAM di Indonesia telah menjadi perhatian besar dari para tokoh pergerakan bangsa dalam rangka penghormatan penegakan HAM. hak mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan. karena suasana kebebasan yang menjadi semangat demokrasi leberal atau demokrasi parlementer mendapatkan tempat dikalangan elit politik. erpa demokrasi parlementer. hak berserikat. Periode Setelah Kemerdekaan Pemikiran HAM pada periode awal kemerdekaan masih menekankan pada hak untuk merdeka (self deteriminasi). Seperti dikemukakan oleh Bagir Manan. Bersamaan dengan itu prinsip kedaulatan rakyat dan negara berdasarkan atas hukum dijadikan sebagai sendi bagi penyelenggaraan negara Indonesia merdeka.

Pada masa awal perode ini telah diadakan berbagai seminar tentang HAM. MPRS malalui Panitia Ad Hoc IV telah menyiapkan rumusan yang akan dituangkan dalam Piagam Terntang Hak-hak Asasi Manusia dan Hak-hak serta Kewajiban Warganegara. fair (adil) dan demokrasi.. Dalam kaitannya dengan HAM. ada semangat untuk menegakkan HAM. Akibatnya Presiden melakukan tindakan inkonstitusional pada tataran suprastruktur politik maupun dalam tataran infrastrutur politik.. berkumpul dan mengeluarkan pikiran dengan lisan. dilindungi dan ditegakkan. Salah satu seminar tentang HAM dilaksanakan pada tahun 1967 yang merekomendasikan gagasan tentang perlunya pembentukan pengadilan HAM. yang lahir dari reaksi penolakan Soekarno terhadap sistem demokrasi parlementer. Pemerintah pada periode ini bersifat defensif dan represif yang dicerminkan dari produk hukum yang umumnya restriktif terhadap HAM. pembentukan Komisi dan Pengadilan HAM untuk wilayah Asia. XIV/MPRS1966. karena HAM tidak lagi dihormati. Pemikiran elit penguasa pada saat ini sangat diwarnai oleh sikap penolakannya terhadap HAM sebagai produk barat dan individualistik serta bertentangan dengan paham kekeluargaan yang dianut bangsa Indonesia. sikap depensif pemerintah ini berdasarkan pada anggapan bahwa isu HAM sering kali 32 . Sementara itu. Begitu pula dalam rangka pelaksanaan TAP MPRS No. Pada periode awal terajadi peralihan pemerintahan dari Soekarno ke Soeharto. sistem pemerintahan yang berlaku adalah demokrasi terpimpin.betul menikamati kebebasannya. Selain itu. terjadi pamasungan hak asasi masyarakat yaitu hak sipil dan hak politik seperti hak untuk berserikat. Pada sistem masa ini kekuasan terpusat dan berada di tangan presiden. pada awal tahun 1970-an sampai periode akhir 1980-an persoalan HAM di Indonesia mengalami kemunduran. Pemilihan umum sebagai pilar lain dari demokrasi berlangsung dalam suasana kebebasan. dan (3). Pada periode 1959-1966. Sikap defensif pemerintah tercermin dalam ungkapan bahwa HAM adalah produk pemikiran Barat yang tidak sesuai dengan nilainilai luhur budaya bangsa yang tercermin Pancasila dan Bangsa Indonesia sudah terlebih dahulu mengenal HAM sebagai mana tertuang dalam rumusan UUD 1945 yang lahir lebih dulu dibandingkan dengan Deklarasi Universal HAM. Dengan kata lain telah terjadi sikap restriktif (pembatasan yang ketat oleh kekuasaan) terhadap hak sipildan hak politik warga negara. Selanjutnya pada tahun 1968 diadakan Seminar Nasional Hukum II yang merekomendasikan perlunya hak uji materil (judicial review) untuk dilakukan guna melindungi HAM.

Selanjutnya dilakukan penyusunan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pemberlakuan HAM dalam kehidupan ketatanegaraan dan bermasyarakat di Indonesia. 50 Tahun 1993 tertanggal 7 Juni. pemikiran HAM nampaknya terus ada pada periode ini terutama dikalangan masyarakat yang dimotori oleh LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dan masyarakat akademisi yang concern terhadap penegakan HAM. pertimbangan dan saran kepada Pemerintah perihal pelaksanaanHAM. Demikian pula dilakukan pengkajian dam retifikasi terhadap instrumen HAM internasional semakin ditinkatkan. serta memberi pendapat. dan sebagainya. Upaya yang dilakukan oleh masyarakat menjelang periode 1990-an nampak memperoleh hasil yang menggembirakan karena terjadi penggeseran strategi pemerintah dari represif dan depensif kestrategi akomodatif terhadap tuntutan yang berkaitan dengan penegakan HAM. Hasil dari pengkajian tersebut menunjukkan banyaknya norma dan ketentuan hukum nasional khususnya yang terkait dengan penegakan HAM diadopsi dari hukum dan instrumen internasional dalam bidang HAM. Bentuk-bentuk Hak Asasi Manusia 33 . Pergantian rezim pemerintahan pada tahun 1998 memberikan dampak yang sangat besar pada pemajuan dan perlindungan HAM di Indonesia. Komisi ini bertujuan . Upaya yang dilakukan oleh masyarakat melalui pemebtukan jaringan dan lobi Internasional terkait dengan pelanggaran HAM yang terjadi seperti kasus Tanjung Priok. kasus Kedung Ombo. kasus di Irian Jaya. Piaga Madinah. Selain itu. Deklarasi Kairo dan deklarasi atau perundang-undangan lainnya yang berkaitan dengan penegakan HAM. Kasus DOM di Aceh.untuk membantu pengembangan kondisis-kondisi yang kondusif bagi pelaksanaan HAM yang sesuai dengan Pancasila UUD 1945 (termasuk hasil amandemen UUD 1945). Piagam PBB. C. Lembaga ini bertugas untuk memantau dan menyelidiki pelaksanaan HAM. Meskipun dari pihak pemerintah mengalami kemandegan bahkan kemunduran. Pada saat ini mulai dilakukan pengkajian terhadap beberapa kebijakan pemerintah Orde Baru yang berlawanan dengan pemajuan dan perlindungan HAM. Salah satu sikap akomodatif pemerintah terhadap tuntutan penegakan HAM adalah dibentukknya Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNAS HAM) berdasarkan kepres No. Deklarasi Universal HAM.digunakan oleh negara-negara barat untuk memojokkan negara yang sedang berkembang seperti Indonesia.

(6) Hak kebebasan berserikat. (3) Hak atas upah yang sama untuk pekerjaan yang sama. (19) Hak untuk berhimpun dan berserikat. kebebasan dan keamanan pribadi. (2) Hak kedudukan yang sama di dalam hokum. hak legal. (10) Hak bebas dari serangan terhadap kehormatan dan nama baik. (3) Hak bebas dari penyiksaan atau perlakuan maupun hukuman yang kejam. Sementara itu dalam UUD 1945 (amandemen I ± IV UUD 1945) menurut hak asasi manusia yang terdiri dari hak: (1) Hak kebebasan untuk mengeluarkan pendapat. Sedangkan hak ekonomi. (15) Hak untuk menikah dan membentuk keluarga. (11) Hak atas perlindungan hukum terhadap serangan semacam itu. mengelompokkan HAM kedalam beberapa jenis. sosial dan budaya berdasarkan pada pernyataan DUHAM menyangkut hal-hal sebagai berikut. (5) Hak untuk pengampunan hukum secara efektif. (12) Hak bergerak. (4) Hak untuk memperoleh pengakuan hukum dimana saja secara pribadi. (6) Hak atas standar hidup yang pantas di bidang kesehatan dan kesejahteraan. dan (7) Hak memperoleh pengajaran atau pendidikan. yaitu hak personal (hak jaminan kebutuhan pribadi). (7) Hak untuk peradihan yang independen dan tidak memihak. (2) Hak untuk bekerja. Hak personal. (4) Hak untuk bergabung ke dalam serikat-serikat buruh. hak sipil dan politik. penahanan atau pembuangan yang sewenang-wenang. (14) Hak atas suatu kebangsaan. 34 . (2) Hak bebas dari perbudakan dan penghambaan. tak berperikemanusiaan ataupun merendahkan derajat manusia. (5) Hak atas istirahat dan waktu senggang. (5) Hak penghidupan yang layak. (6) Hak bebas dari penangkapan. hak sipil dan politik yang terdapat dalam pasal 3-21 dalam DUHAM tersebut memuat: (1) Hak untuk hidup. (16) Hak untuk mempunyai hak milik. (3) Hak kebebasan berkumpul. (13) Hak memperoleh suaka. (18) Hak bebas berpkir dan menyatakan pendapat. (17) Hak bebas berpikir. (4) Hak kebebasan beragama.Deklarasi Universal tentang HAM (Universal Declaration of Human Rights) yang juga dikenal dengan istilah DUHAM. keluarga. (8) Hak untuk praduga tak bersalah sampai terbukti bersalah. (9) Hak bebas dari campur tangan yang sewenangwenang terhadap kekuasaan pribadi. hak subsistensi (hak jaminan adanya sumber daya untuk menunjang kehidupan) serta hak ekonom. dan (20) hak untuk mengambil bagian dalam pemerintahan dan hak atas akses yang sama terhadap pelayanan masyarakat. (7) Hak atas pendidikan. tempat tinggal maupun surat-surat. berkesadaran dan beragama. sosial dan budaya. dan (8) Hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan yang berkebudayaan dari masyarakat. yaitu: (1) Hak atas jaminan social.

Keempat. D. Pengaturan HAM dalam konstitusi atau UUD 1945 memberikan jaminan yang sangat kuat. Ketiga. Pertama. di antaranya dalam: (1). (7) Hak atas kesejahteraan. Sedangkan dalam Undang-Undang. (6) Hak atas rasa aman. Selain itu adanya penambahan pasal UUDS 1950 yang signifikan yaitu tentang fungsi sosial hak milik. UU No. Hak turut serta dalam pemerintahan. (9) Hak wanita. Hak Asasi Manusia dalam Perundang-Unndangan Nasional Paling tidak terdapat empat bentuk hukum tertulis atau praturan perundangundangan yang memuat tentang HAM. namun perbedaan antara KRIS dengan UUDS 1950 terletak pada penomoran pasal dan perubahan sedikit redaksional dalam pasal-pasal. Sedang dalam UUDS 1950 pengaturan HAM tidak jauh berbeda dengan yang dimuat dalam Konstitusi RIS. sedangkan pengaturan HAM dalam bentuk UndangUndang dan peraturan pelaksanaannya kelemahannya pada kemungkinan seringnya mengalami perubahan. Pengaturan HAM dalam Ketetapan MPR terdapat dalam TAP MPR Nomor XVII tahun 1998 tentang Pandangan dan Sikap Bangsa Indonesia Terhadap HAM dan Piagam HAM Nasional. dalam peraturan pelaksanaan perundang-undangan seperti Peraturan Pemerintah. yaitu melalui amandemen. Kedua. dalam ketetapan MPR. Sedangkan kelemahannya rumusan ketentuan yang diatur masih umum. Sementara itu bila pengaturan HAM melalui Ketetapan MPR. Konstitusi RIS mengaturbya dalam bab khusus tentang HAM. dan (10) Hak anak. UU No.hak demonstrasi dan mogok. (5) Hak atas kebebasan pribadi. (4) Hak memperoleh keadilan. Keputusan Presiden dan peraturan pelaksanaan lainnya.Selanjutnya secara operasional beberapa bentuk HAM yang terdapat dalam UU Nomor 39 tahun 1999 tentang HAM sebagai berikut: (1) Hak untuk hidup. mulai pasal 7 sampai pasal 33. (2) Hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan. hak tiap warga negara untuk mendapat pengajaran. (8). (3) Hak mengembangkan diri. dalam Undang-Undang. baik sebelum maupun setelah amandem. karena perubahan dan atau penghapusan satu pasal di dalamnya harus melalui proses yang berat dan panjang. Pengaturan HAM dalam konstitusi negara RI tidak hanya ditemukan pada UUD 1945.. 5 tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara. (2). dalam konstitusi (UUD 1945). juga ditemukan Konstitusi RIS dan UUDS 1950. 5 tahun 1998 35 . kelemahannya tidak dapat memberikan sangsi hukum bagi pelanggarnya.

21 tahun 1999 tentang Ratifikasi Konvensi ILO No. 9 tahun 1998 tentang Kebebasan Menyatakan Pendapat. UU No. (3). 11 tentang Diskriminasi dalam Pekerjaan. Pengadilan Negeri Surabaya. (3). (6). 1 tahun 1999 tentang Pengadilan HAM. Keputusan Presiden No. 26 tahun 1999 tentang Pencabutan UU No. (4). (10). UU No. (11). dan (13). 25 tahun 1997 tentang Hubungan Perburuhan. 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM. Tidak Manusiawi dan Merendahkan Martabat. 181 tahun 1998 tentang Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan. (9). yaitu tahap penataan aturan secara konsisten (rule consistent behaviour). UU No. UU No. Penataan aturan secara konsisten memerlukan 36 . 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. dihormati dan dilindungi oleh setiap manusia. Perlakuan atau Penghukuman yang Kejam. Keseluruhan ketentuan perundang-undangan di atas merupakan pintu pembuka bagi strategi selanjutnya. UU No. UU No. karena HAM merupakan kebutuhan dasar manusia yang perlu diperjuangkan. (2).Keputusan Presiden (KEPRES) Nomor 181 TAHUN 1998 tentang Pendirian Komisi Nasional Penghapusan Kekerasan Terhadap Wanita. (6). Keputusan Presiden No. Pada tahap ini diupayakan tumbuhnya kesadaran penghormatan dan penegakan HAM baik di kalangan aparat pemerintah maupun masyarakat. UU No. 5 tahun 2001 tentang Pembentukan Pengadilan Hak Asasi Manusia Ad Hoc pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. 19 tahun 1999 tentang ratifikasi Konvensi ILO No.tentang Ratifikasi Konvensi Anti Penyiksaan. UU No. 138 tentang Usia Minimum Bagi Pekerja. Pengaturan HAM dalam Peraturan Pemerintah dan Keputusan Prsiden antara lain adalah: (1). (4). dan Pengadilan Negeri Makassar. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. UU No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Keputusan Presiden No. 105 tentang Penghapusan Pekerja secara Paksa. 29 tahun 1999 tentang Ratifikasi Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi. yang memuat rencana ratifikasi berbaagi instrumen hak asasi manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa serta tindak lanjutnya. Peraturan Pemerintah pengganti Undang-Undang (Perpu) No. (5). 96 tahun 2001. (5). Keputusan Presiden No. (8). UU No. 20 tahun 1999 tentang Ratifikasi Konvensi ILO No. yang diubah dengan Keputusan Presiden no. (12). 31 tahun 2001 tentang Pembentukan Pengadilan Hak Asasi Manusia pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. (7). 11 tahun 1998 tentang Amandemen terhadap UU No. UU No. 11 tahun 1963 tentang Tindak Pidana Subversi. 129 tahun 1998 tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia tahun 1998-2003.

mengakibatkan penderitaan fisik atau mental yang berat terhadap anggota-anggota kelompok. Dengan demikan pelanggaran HAM merupakan tindakan pelanggaran kemanusiaan baik dilakukan oleh individu lain tanpa dasar atau alasan yuridis dan alasan rasional yang menjadi pijakannya. ras. politik. Persyaratan pertama adalah demokrasi dan supremasi hukum. 26/200 tentang Pengadilan HAM). Selanjutnya. seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh Undang-undang ini. E. dan tidak didapatkan. Demokrasi dan pelaksanaan prinsip-prinsip negara berdasarkan atas hukum merupakan instrumen bahkan prasyarat bagi jaminan perlindungan dan penegakan HAM. memaksakan tindakan-tindakan yang bertujuan mencegah kelahiran di dalam kelompok. 26/2000 tentang Pengadilan HAM. kedua. 26/2000 tentang Pengadilan HAM). Kejahatan genosida dilakukan dengan cara membunuh anggota kelompok. dan memindahkan secara paksa anak-anak dari kelompok tertentu ke kelompok lain (UU No. berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku. HAM sebagai tatanan sosial merupakan pengakuan masyarakat terhadap pentingnya nilai-nilai Ham dalam tatanan sosial. kelompok etnis dan kelompok agama. Pelanggaran dan Peradilan Hak Asasi Manusia Pelanggaran hak asasi manusia adalah setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang termasuk aparat negara baik disengaja ataupun tidak disengaja atau kelalaian yang secara hukum mengurangi. ekonomi yang hidup. Pelanggaran HAM berat meliputi kejahatan genosida dan kejahatan kemanusiaan (UU No. membatasi. Oleh karena itu hubungan keseimbangan keduanya merupakan ³simbiosis-mutualistik´. menciptakan kondisi kehidupan kelompok yang akan mengakibatkan kemusnahan secara fisik baik seluruh atau sebagiannya. yaitu UU No. Dalam kerangka menjadikan HAM sebagai tatanan sosial. 37 . Sedangkan bentuk pelanggaran HAM ringan selain dari kedua bentuk pelanggaran HAM berat itu.persyaratan yang harus ada. HAM sebagai tatanan sosial. Pelanggaran HAM dikelompokkan pada dua bentuk yaitu: pelanggaran HAM berat dan pelanggaran HAM ringan. Kejahatan genosida adalah setiap perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok bangsa. dan atau mencabut hak asasi manusia. pendidikan HAM secara kurikuler maupun melalui Pendidikan Kewarganegaraan (civic education) sangat diperlukan dan terus dilakukan secara berkesinambungan. atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyelesaian hukum yang adil dan benar. menghalangi.

tetapi juga pelanggaran yang dilakukan bukan oleh aparatur negara. pengadilan HAM menempuh proses pengadilan melalui hukum acara pengadilan HAM sebagaimana terdapat dalam undang-undang pengadilan HAM. Penindakan terhadap pelanggar HAM tersebut dilakukan melaui proses peralihan HAM mulai dari penyelidkan. pemandulan atau sterilisasi secara paksa atau bentuk-bentuk kekerasan seksual lain yang setara. penyidikan. Pengadilan HAM tidak berwenang memeriksa dan memutuskan perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat yang dilakukan seseorang yang berumur di bawah 18 (delapan belas) tahun pada saat kejahatan dilakukan. Dalam pelaksanaan peradilan HAM. perbudakan seksual. Untuk Daerah Khusus Ibukota Jakarta. pemusnahan. agama. dan kejahatan apartheid. etnis. penyiksaan. pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa. jenis elamin atau alasan lain yang telah diakui secara universal sebagai hal yang dilarang menurut hukum internasional. penganiayaan terhadap suatu kelompok tertentu atau perkumpulan yang didasari persamaan paham politik. Pelanggaran terhadap hak asasi manusia dapat dilakukan baik oleh aparatur negara mapun bukan. penghilangan orang secara paksa. perampasan kemerdekaan atau perampasan kebebasan fisik lain secara sewenang-wenang yang melanggar (asas-asas) ketentuan pokok hukum internasional. penuntutan dan persidangan terhadap pelanggaran yang terjadi harus bersifat nondiskriminatif dan berkeadilan. 38 . budaya. Pengadilan HAM merupakan pengadilan khusus yang berada di lingkungan Pengadilan Umum. ras. pemaksaan kehamilan. Karena itu penindakan terhadap pelanggaran hak asasi manusia tidak boleh hanya ditujukan terhadap aparatur negara. perbudakan. Pengadilan HAM bertugas dan berwewenang memeriksa dan memutuskan perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat. kebangsaan. Pengadilan HAM berkedudukan disetiap wilayah Pengadilan Negeri yang bersangkutan. perkosaan. pelacuran secara paksa.Sementara itu kejahatan kemanusiaan adalah salah satu perbuatan yang dilakukan sebagai bagian dari serangan yang meluas atau sistematik yang diketahuinya bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil berupa pembunuhan. Pengadilan HAM berkedudukan di daerah kabupaten atau daerah kota yang daerah hukumannya meliputi daerah hukum Pengadilan Negeri yang bersangkutan. Pengadilan HAM berwenang juga memeriksa dan memutuskan perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berada dan dilakukan di luar batas territorial wilayah negara Republik Indonesia oleh warga negara Indonesia.

negara yang bersangkutan dengan sendirinya akan kehilangan legitimasi rakyatnya. Memajukan. analisis terhadap pelanggaran HAM pun selalu berada dalam wilayah pelanggaran HAM oleh negara terhadap rakyat seperti kasus Tanjung Priok. Pandangan kedua. Penanggungjawab dalam Penegakan. memajuan. yaitu negara membiarkan terjadinya pelanggaran HAM. deklarasi PBB tentang HAM yang dikenal dengan Piagam HAM Dunia. karena negara dibentuk sebagai wadah untuk kepentingan kesejahteraan rakyatnya. Negara yang tidak memfasilitasi rakyat melalui pendidikan HAM berarti negara telah mengabaikan amanat rakyat. Deklarasi Kairo dan sebagainya harus diletakkan sebagai norma hukum internasional yang mengatur bagaimana negara-negara di dunia menjamin hak-hak individunya. tetapi juga secara tidak langsung. penghormatan dan perlindungan HAM tidak saja dibebankan kepada negara. kasus Haur Koneng di Tasikmalaya. penghormatan dan perlindungan HAM. menyatakan bahwa tanggung jawab pemajuan. melainkan juga kepada individu warga negara. kasus DOM di Aceh. Piagam Madinah. Siapa yang bertanggungjawab dalam penegakan. Karena itu. Pandangan pertama menyatakan bahwa yang harus bertanggungjawab memajukan HAM adalah negara. Hukum Perjanjian Internasional. Rakyat yang cerdas dan sadar sehingga mampu menghargai dan menghormati HAM perlu diberikan pendidikan terutama masalah yang berkaitan dengan HAM. Oleh karena itu.F. Begitu pula tanggung jawab HAM adalah negara. tidak hanya berwujud pelanggaran secara langsung. Bentuk pelanggaran HAM jenis ini antara lain adanya penembakan rakyat oleh sipil bersenjata seperti dalam kasus 39 . pemajuan. perlindungan dan pemenuhan HAM? Ada dua pandangan mengenai hal tersebut. Pelanggaran HAM oleh negara terhadap rakyat yang disebut pelanggaran HAM secara vertikal. bila negara tidak mampu melindungi HAM warganegaranya. Oleh karenanya. Dengan demikian. Artinya negara dan individu sama-sama memiliki tanggung jawab terhadap pemajuan. dan Pemenuhan Hak Asasi Manusia. Perlindungan. kasus di Irian Jaya. Beberapa Kovenan. Setiap individu (warganegara) mempunyai hak asasi baik dalam keadaan darurat maupun keadaan normal harus dilindungi. Hak-hak inilah yang harus dijamin realisasinya oleh negara. Pelanggaran terhadap pemenuhan HAM juga lebih mengedepankan tanggung jawab perlindungan. dan penghormatan HAM ada pada pemerintah. pelanggaran HAM sebenarnya tidak saja dilakukan oleh rakyat kepada rakyat yang disebut dengan pelanggaran HAM secara horizontal.

Hubungan dimaksud menimbulkan ketergantungan antara bagian-bagian yang akibatnya jika salah satu bagian tidak bekerja dengan baik. Dalam masyarakat yang demokratis. penganiayaan buruh atau budak oleh majikan seperti kasus Marsinah. Pertama. para perampok dan sebagainya. 2003. 3. presidensiil dan referendum.. Ada tiga alasan mengapa individu memiliki tanggung jawab dalam penegakan dan perlindungan HAM. Catatan Bab ini banyak diambil dari Bab IX buku Tim ICCE UIN Jakarta (Dede Rosyada. 2. Mendeskripsikan konsep sistem pemerintahan dalam arti luas. Pendidikan Kewargaan. Pengertian Sistem Pemerintahan Sistem adalah suatu keseluruhan. Jakarta. Mendeskripsikan konsep organisasi pemerintahan dalam garis vertika dan horizontal. akan mempengaruhi keseluruhannya itu (Kusnardi dan Harmailyi Ibrahim. Rektor Universitas Syiah Kuala Banda Aceh dan beberapa tokoh lainnya. dkk). Ketiga. suatu yang menjadi kewajiban pemerintah juga menjadi kewajiban rakyat.penembakan Rektor IAIN Ar-Raniry Banda Aceh. Membandingkan Sistem Pemerintahan Indnesia dengan Amerika Serikat. 40 . HAM sejati bersandar pada pertimbangan-pertimbangan normatif agar umat manusia diperlakukan sesuai dengan human dignity-nya. sejumlah besar problem HAM tidak hanya melibatkan aspek pemerintah. individu memiliki tanggung jawab atas dasar prinsip-prinsip demokrasi. Hak Asasi Manusia. 5. tetapi juga kalangan swasta atau kalangan di luar negara dalam hal ini rakyat. Merumuskan konsep sistem pemerintahan. 4. A. BAB IV SISTEM PEMERINTAHAN NEGARA Kompetensi Dasar 1. sangat luas. Kedua. dan Masyarakat Madani. terdiri dari beberapa bagian yang mempunyai hubungan fungsional terhadap keseluruhan. Penerbit Prenada Media. dan sempit. Menseskripsikan Sistem Pemerintahan Negara Indonesia sebelum dan sesudah amandemen UUD 1945. Demokrasi. 6. karenaa setiap orang memiliki kewajiban untuk ikut mengawasi tindakan pemerintah. Merumuskan cirri-ciri sistem pemerintahan parlementer.

maka dalam melakukan pembahasan mengenai Pemerintah Negara. Apabila salah satu dari komponen atau bagian tersebut berfungsi melebih atau kurang dari wewenangnya. Dari dua pengertian tersebut. jika pengertian pemerintahan tersebut dikaitkan dengan pengertian sistem. Yaitu meliputi pembagian kekuasaan dalam negara. Sedangkan pemeritahan dalam arti luas adalah segala bentuk kegiatan atau aktifitas penyelenggaraan negara yang dilakukan oleh organ-organ negara yang mempunyai otoritas atau kewenangan untuk menjalankan kekuasaan. presiden ataupun perdana dengan level birokrasi yang paling rendah tingkatannya. yaitu : (1). Titik tolak yang dipergunakan adalah dalam konteks pemerintahan dalam arti luas. Tiga Pengertian Sistem Pemerintahan Negara Pengertian sistem pemeintahan negara meurut doktrin Hukum Tata Negara dapat dibagi kedalam tiga pengertian.1980: 160). legislatif maupun judikatif. Dengan demikian. yakni tatanan yang berupa struktur dari suatu negara dengan menitik beratkan pada hubungan antara negara dengan rakyat. Pengertian pemerintahan seperti ini mencakup kegiatan atau aktifitas penyelenggarakan negara yang dilakukan oleh eksekutif. menteri. antara pemerintah pusat dan pemerintah lokal atau daerah. Dengan demikian dalam usaha ilmiah sistem adalah suatu tatanan / susunan yang berupa suatu struktur yang terdiri dari bagian-bagian atau komponen-komponen yang berkaitan antara satu dengan lainnya secara teratur dan terencana untuk mencapai suatu tujuan. Sistem Pemerintahan Negara dalam arti paling luas. Sedangkan pengertian pemerintahan dalam arti sempit tidak tidak lain adalah aktifitas atau kegiatan yang diselenggarakan oleh fungsi eksekutif. maka yang deimaksud dengan sistem pemerintahan adalah suatu tatanan atau susunan pemerintahan yang berupa suatu struktur yang terdiri dari organorgan pemegang kekuasaan didalam negara dan saling melakukan hubungan fungsional diantara organ-organ negara tersebut baik secara vertikal maupun horizontal untuk mencapai suatu tujuan yang dikehendaki. hubungan antar alat-alat perlengkapan negara yang menjalankan kekuasaan-kekuasaan tersebut baik hubungan horizontal (pemisahan atau pembagian kekuasaan) maupun hubungan vertikal (pemencaran kekuasaan). Pengertian seperti ini akan 41 . maka akan mempengaruhi komponen yang lain. sampai B.

khususnya hubungan antar eksekutif dan legislatif. baik itu di negara serikat maupun kesatuan dikenal adanya dua organisasi (pengelompokan) dari sistem Pemerintahan yang saling melakukan interaksi antara satu dengan lainnya. contohnya di Swiss. yaitu : (a) Kekuasaan Legislatif. C. Oleh karena itu parlemen tidak diberi kewenangan untuk melakukan pengawasan kepada eksekutif. Jepang. Struktur atau tatanan pemerintahan negara seperti ini. Sistem pemerintahan negara seperti ini meliputi: (a). Sistem Pemerintahan Negara ari lua. yakni 42 . (2). (b). akan menimbulkan model : (a). (b). Berikutnya (3) disebut Sistem Pemerintahan Negara dalam arti sempit yakni suatu tatanan atau struktur pemerintahan yang bertitik tolak dari hubungan sebagian organ negara ditingkat pusat. dalam negara seperti ini pemerintah pusat dan negara bagian mempunyai kedudukan yang sama. Organisasi dari sistem pemerintahan negara tersebut. dalam sistem ini parlemen (legislatif) mempunyai kedudukan yang lebih tinggi ketimbang eksekutif. yakni tatanan atau struktur pemerintahan negara yang bertitik tolak dari hubungan antara semua organ negara.Sistem Pemisahan Kekuasaan (Presidensiil). dengan kata lain eksekutif merupakan bagian yang tak terpisahkan dari legislatif (Parlemen). pada sistem ini pemerintah (eksekutif) pada hakekatnya adalah Badan Pekerja dari Parlemen (Legislatif). contohnya AS. India. sehingga yang berhak mengawasi parlemen dan eksekutif adalah rakyat secara langsung.menimbulkan model pemerintahan monarkhi. Bangunan Negara Konfederasi. Bangunan Negara Serikat (Federal). aristokrasi dan demokrasi. pada sistem ini parlemen (legeslatif) dan pemerintah mempuyai kedudukan yang sama dan saling melakukan kontrol (chek and balances). (c). Organisasi Pemerintahan Dalam Garis Horizontal Menurut konsep Trias Politika kekuasaan didalam negara dapat dibagi menjadi menjadi tiga cabang kekuasaan utama . contoh Inggris. dalam bangunan ini pemerintah pusat memegang otoritas penuh (berkedudukan lebih tinggi) ketimbang pemerintah lokal. dalam negara seperti ini pemerintah lokal (kanton atau wilayah) mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari pemerintah pusat. (c). Sistem Pemerintahan dengan Pengawasan Langsung Oleh rakyat. adalah: 1. Organisasi Sistem Pemerintahan Negara Pada umumnya dalam sistem pemerintahan negara. termasuk hubungan antara pemerintah pusat dengan bagian-bagian yang terdapat dalam negara ditingkat lokal atau daeraah. Sistem Parlementer.Bangunan Negara Kesatuan.

melainkan dipecah menjadi tiga cabang kekuasaan utama yang dipegang oleh badan-badan negara yang berbeda ditinjau dari fungsi dan kedudukannya. Namun dapat pula terpisah secara kelembagaan. Biasanya diserahkan kepada lembaga perwakilan rakyat atau parlemen. Sedangkan di Negara kesatuan. Kesemuanya itu tergantung dari sistem pemerintahan yang dianut oleh masing-masing negara. Kekuasaan ini dilakukan oleh badan-badan peradilan dengan susunan bertingkat-tingkat sesuai dengan kewenangan masing-masing tingkat dan berpuncak pada supreme Court atau Mahkamah Agung. 1986: 143) kedua satuan pemerintahan yang lebih rendah dibawah pemerintah pusat. Dengan demikian konsep pengorganisasian pemerintahan dalam garis horizontal pada hakikatnya merupakan implementasi dari konsep trias politika yang dilandasi oleh adanya reaksi terhadap organisasi pemerintahan yang absolut-diktatorik yang pada umunya terjadi dalam negara yang berbentuk monarkhi. Ketiga cabang kekuasaan negara ini dipegang oleh lembaga atau badan kenegaraan yang sifatnya dapat terpisah antara satu dengan yang lain secara tegas. (b). Kekuasaan Ekekutif yakni kekuasaan untuk menjalankan undang-undang atau disebut juga kekuasaan untuk menjalankan pemerintahan.(c). Organisasi Sistem Pemerintahan Dalam Garis Vertikal Membahas Organisasi sistem Pemerintahan dalam garis Vertikal pada intinya bertitik tolak dari bangunan negara. baik yang terdapat di negara kesatuan maupun serikat. Masing-masing banguan negara ini memiliki satuan pemerintahan yang lebih rendah di bawah pemerintah pusat. satuan pemerintahan yang lebih rendah diwujudkan dalam bentuk negara-negara bagian. Kekuasaan ini biasanya dilakukan oleh pemerintah dalam arti sempit. 2. Kekuasaan Judikatif.kekuasaan untuk membentuk undang-undang. yaitu Presiden atau Perdana Menteri. masing-masing mempunyai ciri-ciri yang berbeda-beda antara 43 . oleh seorang atau sekelompok orang. tetapi masing-masing masih dapat saling melakukan hubungan antara satu dengan yang lainnya. khususnya yang mempergunakan asas desentrlisasi dikenal. Di Negara Serikat. khususnya bangunan negara serikat dan bangunan negara kesatuan. Menurut Kranenburg (dalam Miriam Budiardjo. yakni kekuasaan untuk melaksanakan peradilan. adanya pemerintah daerah yang berwenang untuk menyelenggarakan pemerintahan sendiri sesuai dengan aspirasi masyarakat dimasing-masing daerah (otonomi). Maksud pembentukan organisasi pemerintahan seperti ini tidak lain adalah agar kekuasaan yang terdapat didalam suatu negara tidak lagi dipegang dan menumpuk atau dikendalikan.

Dikatakan demikian karena kepala negara apapun sebutannya-mempunyai kedudukan yang tidak dapat diganggu gugat. dalam negara federal tidak hanya wewenang legislatif saja yang diberi antara negara federal dengan negara-negara bagian. Penjelasannya secara lebih rinci . Negara bagian yang terdapat di dalam Negara Serikat memiliki wewenang untuk membentuk UUD sendiri serta mempunyai wewenang untuk membentuk Organisasi sendiri dalam rangka dan batas-batas konstitusi federal. D. akan tetapi juga wewenang eksekutif dan administratif.satu dengan yang lain berdasarkan hukum positif. yakni antara badan legislatif pusat (federal) dan badan legislatif dari negara-negara bagian. Isjawara (dalam Miriam Budiardjo. Menurut F. 44 dan referendum.Dalam negara federal (serikat). Sedangkan Hans Kelsen mengemukakan bahwa. wewenang membentuk Undang-Undang Pusat untuk bidang tertentu telah diperinci satu persatu dalam konstitusi federal. untuk kekuasaan badan legislatif rendahan (Lokal) didasarkan atas penentuan dari badan legislatif pusat itu dalambentuk Undang-Undang Organik. adalah seagai berikut: 1. 1986:143). yakni morankhi. (b). yaitu: (a). dalam negara federal wewenang legislatif terbagi dalam dua bagian. Sedangkan dalam negara kesatuan wewenang pembentukan Undang-Undang Pusat ditetapkan dalam satu rumusan umum dan wewenang pembentukan undang ± undang rendahan (sering disebut Peraturan Daerah/Perda).Sugeng Istanto (1971:16) prinsip yang terkandung pada negara kesatuan ialah bahwa yang memegang tampuk kekuasaan tertinggi atas segenap urusan negara ialah Pemerintah Pusat tanpa adanya gangguan oleh delegasi atau pelimpahan kekuasaan kepada pemerintah daerah. sistem perlementer. Sedangkan penyelenggara pemerintahan sehari-hari diserahkan kepada Menteri (Perdana Menteri). Sistem Pemerintahan Parlementer (Parliamentary Executive) Pada prinsipnya system pemerintahan parlementer menitik beratkan pada hubungan antara organ negara pemegang kekuasaan eksekutif dan legislative. Sedangkan dalam negara Kesatuan organisasi bagianbagian negara (Pemerintah Daerah) secara garis besarnya telah ditetapkan oleh pembentuk Undang-Undang Pusat. tergantung pada badan pembentuk Undang-Undang Pusat itu. Sedang meurut F. Sistem ini merupakan sisa-sisa peninggalan sistem pemerintahan dalam arti paling luas. Sedangkan dalam negara kesatuan wewenang legislatif berada dalam tangan badan legislatif pusat. Macam-macam Sistem Pemerintahan Negara Ada tiga macam sistem pemerintahan yang sering dibahas dalam kajian Hukum Tatanegara.

2. (c). yakni penggabungan dua partai atau lebih untuk memperkuat posisi perolehan suara di parlemen. maka kedudukan antara kedua lembaga ini tidak bisa saling mempengaruhi (menjatuhkan). Presiden dan Parlemen masing-masing dipilih langsung oleh rakyat melalui Pemilihan Umum. (b). pada umunya dilakukan dengan cara koalisi. pada umumnya dapat digambarkan sebagai berikut : (a). Ciri-ciri utama dari sistem pemerintahan ini adalah sebagai berikut: (a). Sistem ini menghendaki adanya pemisahan kekuasaan aksekutif dan badan pemegang kekuasaan legislatif.Adapun ciri-ciri sistem pemerintahan ini. sebab Kepala Negara hanya berfungsi sebagai simbol negara juga diberi wewenang untuk menunjuk formulir kabinet dan membubarkan kabinet bila keadaan negara menghendaki. Kepala Negara (apapun sebutannya) hanya berfungsi ataupun berkedudukan sebagai kepala negara saja. Kedudukan Presiden disamping sebagai Kepala Negara juga sebagai kepala Eksekutif (Pemerintahan). bahkan antara keduanya saling tergantungsatu dengan yang lainnya. Maka penyusunan Kabinet dan Perdana Menteri. Kedudukan seperti ini mengakibatkan Kepala Negara tidak dituntut pertanggungjawaban konstitusional apapun. jika pertanggung jawaban atas pelaksanaan pemerintahan yang dilakukan oleh Menteri baik secara perseorangan ataupun kolektif tidak dapat diterima oleh parlemen. Dikenal adanya mekanisme pertanggung jawaban Menteri kepada Perlemen yang mengakibatkan Parlemen dapat membubarkan atau menjatuhkan ´mosi tidak percaya´kepada Kabinet. Dalam hal ini rakyat tidak secara langsung memilih Perdana Menteri dan Kabinetnya. Eksekutif yang dipimpin oleh Perdana Menteri dibentuk oleh parlemen dari partai politik / organisasi peserta pemiluyang menduduki kursi mayoritas diparlemen. Hal ini karena kedua lembaga tersebut sama-sama bertanggung jawab kepada rakyat pemilih. Karena Presden dan Parlemen dipilih langsung oleh rakyat melalui Pemilihan Umum. (b). dan (d). (d). Jika ternyata didalam parlemen tidak ada satupun partai politik yang menduduki kursi mayoritas. Presiden tidak dapat diberhentikan oleh Parlemen ditengah45 . Terdapat hubungan yang erat antara eksekutif dan legislatif (parlemen). Tidak sebagai kepala eksekutif dan Pemerintahan. (c). Sehingga tidak jarang terjadi bahwa Presiden terpilih berasal dari Partai Politik yang berbeda dengan mayoritas partai politik yang ada diparlemen. Sistem Pemerintahan Presidensiil (Fixed Executive) Sestem pemerintahan ini bertitik tolak dari konsep pemisahan kekuasaan sebagaimana dianjurkan oleh teori trias politika.

Sebelum Amandeman. Penjelasan semacam ini mengandung unsur sistem parlementer. Sistem presidensiil semu pernah berlangsung dalam pola ketatanegaran Indonesia. Tidak dilakukan oleh anggota parlemen. sering dijumpai juga varian dari keduanya. namun presiden hanya menyampaikan nominasi anggota kabinet. Dalam kasus seperti ini Presiden akan memberikan pertimbangan apakah dalam persoalan adanya ´mosi tidak percaya ´ tersebut memang disebabkan oleh Kabinet yang tidak mampu lagi menjalankan garis-garis kebijaksanaan politik yang ditetapkan oleh parlemen.Menteri-menteri yang diangkatoleh Presiden tersebut tunduk dan bertanggung jawab kepada Presiden. Presiden juga dapat membubarkan parlemen. Begitu pula dengan parlemennya. Perdana menteri dan Kabinetnya bertanggung jawab kepada parlemen. Disana dinyatakan bahwa Presiden yang diangkat oleh MPR. tetapi juga mempunyai wewenang untuk mengangkat perdana menteri dari partai Politik yang menduduki kursi mayoritas di parlemen. Namun Presidennya mempunyai kekuasaan yang besar dalam seluruh kehidupan negara dan pemerintahan. Akan tetapi jika pertanggung jawaban tersebut ditolak oleh parlemen. Ketentuan seperti ini jelas mengindikasikan bahwa Indonesia menganut Sistem Presidensiil. Akan tetapi jika menyimak Penjelasan Umum UUD 1945. Presiden wajib menjalankan MPR. Presiden wajib minta persetujuan Parlemen. unsur-unsur Sistem Parlementer terlihat jelasa. Pelaksana Impeachment ini dilakukan oleh Hakim Tinggi pada supreme Court. dapat dikenai impeachment (pengadilan DPR). yaitu sistem presidensiil semu dan sistem parlementer semu.tengah masa jabatannya. (e). (f). namun jika presiden melakukan perbuatan yang melanggar hukum. Dalam rangka menyusun kabinet (menteri). Pola seperti ini nampak mirip dengan sistem presidensiil di AS. Dari kedua sistem tersebut. dalam pasal 4 UUD 1945 di tegaskan bahwa presiden memegang kekuasaan pemerintahan menurut Undang-Undang Dasar. ataukah justru parlemen yang bertindak malampaui batas46 . karena MPR bertindak laksana parlemen. Kemudian Presiden mengangkat menteri-menteri tersebut setelah mendapat persetujuan Parlemen. tunduk dan bertanggung jawab kepada MPR. Parlemen yang menentukan personilnya secara definitif. Presidennya dipilih oleh rakyat dalam suatu pemilu. tidak otomatis Kabinet diberi ´mosi tidak percaya´ dan dapat dijatuhkan oleh parlemen. Sedangkan sistem Pemerintahan Parlementer yang tidak murni terlihat dalam ketatanegaraan Perancis. Contoh yang dapat dikemukakan disini adalah Impeachment yang dikembangkan di AS. Kemudian dipasal 17 ayat 2 ditegaskan bahwa menteri-menteri diangkat dan diberhentikan oleh presiden.

presiden dapat bertindak sebagai mediator bahkan dapat juga disebut sebagai hakim dalam mengatasi konflik tersebut. Referendum. Pemegang kedaulatan tertinggi ada pada Sidang Federal yang terdiri dari dua kamar. Menurut Konstitusi Federal Konfederasi Swiss dinyatakan antara lain : (a). (b). yang terdiri dari tujuh anggota dan dipiliholeh Sidang Federal. Inilah letak ketidak murnian dari sistem parlementer yang dikembangkan di Perancis. Oleh sebab itu. yaitu Dewan Nasional dan Negara.batas kewenangannya. Memperhatikan konstruksi ketatanegaraan tersebut diatas. Sistem Pemerintahan Dengan Pengawasan Langsung oleh Rakyat Acuan sistem pemerintahan ini adalah Negara Konfederasi Swiss. Karena Dewan federal pada hakikatnya merupakan bagian yang tidak terpiasahkan dari sidang federal. Dewan federal (pemegang kekuasaan eksekutif) dan Sidang Federal (pemegang kedaulatan tertinggi) sama-sama memperoleh kekuasaan dari rakyat. 3. dan (c). tidaklah mengherankan jikalau dalam konflik antara Kabinet dan Parlemen. Bahkan dapat dikatakan bahwa Dewan Federal hanyalah merupakan Badan Pekerja dari Sidang Federal.Pemegang kekuasaan eksekutif dan badan Pelaksana Kekuasaan Tertinggi dipegang oleh Dewan Federal. Referendum obligator (Wajib) yaitu meminta pendapat secara langsung dari rakyat terhadap suatu 47 . Sehingga yang berhak untuk melakukan kontrol atas jalannya sistem ketatanegaraan tidak lain adalah rakyat secara langsung. Demikian pula sebaliknya. Adapun cara yang dapat ditempuh oleh rakyat Konfederasi Swiss untuk melakukan kontrol terhadap jalannya pemerintahan adalah dengan melalui : (a). khususnya menyangkut kedaulatan rakyat dibidang pemerintahan. Kekuasaan Presiden Perancis yang demikian besar karena dipilih langsung oleh rakyat. Presiden menganggap bahwa parlemenlah yang malampaui kewenangannya. Ini berarti Presiden juga berkedudukan dan bertindak sebagai representasi rakya. Referendum terdiri dari (tiga) macam. yaitu suatu penentuan oleh rakyat untuk memberikan keputusan setuju atau menolak terhadap kebijaksanaan yang diambil oleh parlemen. Jikalau dalam pertimbangan tersebut. yaitu: (1). Presiden dan wakil presiden Konfederasi Swiss dipilih oleh sidang federal. diantara para anggota dewan untuk masa jabatan satu tahun. maka tidaklah mungkin apabila Sidang Federal (pemegang kedaulatan tertinggi) dan dewan federal (pemegang kekuasaan eksekutif) saling melakukan kontrol seperti halnya dalam sistem pemerintahan Parlementer. maka justru parlemenlah yang dapat dibubarkan oleh presiden. . Pola seperti inilah yang mengakibatkan munculnya sistem Pemerintahan dengan pengawasan langsung oleh rakyat.

Referendunm optatif. demikian sebaliknya. Dengan menyimak pasal tersebut. (b). 1. Usul Inisiatif Rakyat. Referendum fakultatif (tidak Wajib). Sistem Pemerintahan Indonesia menurut UUDS 1950 UUDS 1950 masih tetap mempergunakan bentuk sistem pemerintahan seperti yang diatur dalam Konstitusi RIS. tetapi ada sementara rakyat yang meggugatnya. Menteri-menteri bertanggung jawab atas seluruh kebijaksanakan pemerintah baik bersama-sama untuk seluruhnya. 2. Sistem Pemerintahan Indonesia Menurut Konstitusi RIS Sistem pemerintahan Indonesia menurut Konstitusi RIS adalah sistem Pemerintahan Parlementer yang tidak murni. Hal ini karena UUDS 1950 pada hakikatnya merupakan hasil amandemen dari Konstitusi RIS dengan menghilangkan 48 . Ketentuan pasal tersebut menunjukkan bahwa RIS mempergunakan sistem pertanggung jawaban menteri. Artinya sistem pemerintahan negara yang digunakan masih seperti yang diatur dalam Konstitusi RIS. Indonesia pernah mempergunakan beberapa Konstitusi tertulis selain UUD 1945. Karena pertanggung jawaban yang dimaksud tidak ada artinya atau disebut pertanggung jawaban dalam arti sempit. E. yaitu meminta pendapat secara langsung pada rakyat apakah setuju atau tidak terhadap Rancangan UU Pemerintah Federal atau pemerintah pusat di wilayah-wilayah negara bagian atau daerah otonom.Rancangan UU yang akan di undangkan. Maupun masing-masing untuk bagiannya sendiri-sendiri. (3). (b). (a) Presiden tidak dapat diganggu gugat. Masing konstitusi tersebut mengatur mengenai sistem pemerintahan yang berbeda. maka sisem yang dipergunakan adalah sistem parlementer yang tidak murni. Apabila mayoritas rakyat berpendapat bahwa UU tersebut tetap berlaku seperti semula. (2). yaitu hak rakyat untuk mengajukan rancangan UU kepada Parlemen dan Pemerintah. maka UU terebut tetap berlaku. Berikut ini akan dikemukakan sistem pemerintahan Indonesia menurut konstitusiyang pernah dan sedang berlaku. yaitu meminta pendapat secara langsung dari rakyat apakah setuju atau tidak terhadap UU yang sudah berlaku. Sistem Pemerintahan Indonesia Sejak Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Kendatipun demikian pasal 122 Konstitusi RIS juga disebutkan bahwa DPR tidak dapat memaksa kabinet atau masing-masing menteri untuk meletakkan jabatannya. Pasal 118 Konstitusi RIS antara lain menyebutkan.

dan dapat diberhentikan jika melanggar UUD 1945 dan GarisGaris Besar Haluan Negara (GBHN). Dalam bidang legislatif. yakni hak Presiden untuk tidak menyetujui suatu RUU yang diajukan leh Congres. eksekutif. Sedangkan Presiden sendiri bertanggung jawab kepada rakyat yang telah memilihnya. apakah betul menganut Presidensiil yang tidak murni (quasi Presidensiil). Apabila ada perbedaan pendapat antara Presiden dengan Congres (utamanya senate). presiden sebagai kepala eksekutif tidak dapat dijatuhkan oleh Congres. (d). dan pimpinan MPR. Presiden adalah kepala eksekutif dan tidak boleh merangkap menjadi anggota DPR. sistem Pemerintahan Negara tidak secara implisit tertuang didalamnya. 3.Presiden tidak dapat diganggu gugat. Presiden tidak dapat diganggu-gugat sebelum masa 49 . Sistem Pemerintahan Indonesia Menurut UUD 1945 Sebelum Amandemen Didalam sistematika UUD 1945. Menteri-menteri bertanggung jawab atas seluruh kebijaksanaan pemerintah. Pada beberapa ketentuan. Dalam Penjelasan UUD 1945 disebutkan bahwa DPR tidak bisa dibubarkan oleh presiden. Bahkan kecenderungan kearah sistem parlementer demikian kental. namun mekanisme Check and Balances (saling mengadakan kontrol dan pertimbangan) berlangsung diantara ketiganya. Mahkamah Agung. Konstruksi semacam ini memperlihatkan kecenderungan kearah sistem presidensiil. Akan tetapi dalam hal-hal tertentu Presiden AS mempunyai hak veto. maka menunjukkan bahwa sistem presidensiil yang dianut. (c). tetapi bukan bukan yang murni. Akan tetapi karena presiden RI tidak dipilih oleh rakyat secara langsung melainkan oleh MPR. (b). Karakteristik sistem presidensiil di Amerika Serikat adalah sebagai berikut: (a). dan judikatif merupakan lembaga yang terpisah. Kekuasaan eksekutif berada ditangan Presiden. Khususnya yang menganut sistem pemerintahan Presidensiil yang murni seperti di Amerika Serikat. Legislatif. Hal ini agak berbeda dengan kedua Konstitusi RIS dan UUDS 1950. Guna mengetahui sistem pemerintahan yang dianut oleh UUD 1945.pasal-pasal yang bersifat federalis. maka perlu memperbandingkan dengan sistem pemerintahan negara lain. secara eksplisit mengindikasikan adanya bentuk campuran antara sistem Presidensiil dan parlementer. dan dalam pelaksanaannya dibantu oleh para menteri yang bertanggung jawab kepada presiden. Didala pasal 83 UUDS 1950 dinyatakan : (a). Presiden dan Wk.. (b). wewenang pembuat UU adalah Congres (yang terdiri dari dua kamar : House of Representative dan senat. Meteri-menteri diangkat dan diberhentikan oleh presiden. baik bersama-sama untuk seluruhnya maupun masing-masing untuk bagiannya sendiri-sendiri.

Presiden memegang kekuasaan membentuk UU dengan persetujuan DPR. Pasal 7 . Pasal 21 ayat 1 . dan (e). Anggota-anggota DPR berhak memajukan Rancangan UU. Juga dalam Penjelasan Umum UUD 1945 yang menegaskan bahwa Presiden dalam melaksanakan pemerintahan bertanggung jawab kepada MPR. hasil amandemen pertama ini sangat terkait dengan penegasan sistem pemerintahan. tapi tidak disahkan Presiden. Pasal 17 ayat 1 dan 2 . maka tidak boleh dimajukan dalam persidangan masa itu. dan (e) Pasal 21 ayat 2 : Jika Rancangan UU meskipun disetujui DPR. Presiden dan wakil presiden memegang jabatan selama lima tahun dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama. Pasal 5 ayat 1 . maka badan Perwakilan dapat menuntut presiden melalui Impeachment (pengadilan oleh DPR). sebagaimana dikonstruksikan di dalam UUD 1945 (sebelum amandemen) sebagai berikut : (a). 4. misalnya presiden melakukan perbuatan melanggar hukum. (d). Badan-badan peradilan bebas dari pengaruh kekuasaan apapun. mengenai pemilihan Presiden dan Wakil Presiden yang dipilih dan diangkat oleh MPR dengan suara terbanyak (pasal 6 ayat 2). maka dapat menarik garis persamaan dengan yang ada di Indonesia. Ketentuan pasal-pasal diatas menunjukkan bahwa sistem pemerintahan Indonesia dengan yang dianut di AS. Presiden berhak mengajukan Rncangan Undang-Undang. Sistem Pemerintahan Indonesia Menurut UUD 1945 Setelah Amandemen Amandemen pertama terhadap UUD 1945 berlangsung pada Sidang Umum MPR Tahun 1999. 50 . tidak sesuai dengan proses pemilihan Presiden langsung seperti AS. Pasal ini dukunya berbunyi ´Presiden memegang kekuasaan membentuk Undang-Undang dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat´. mirip dengan ciri sistem pemerintah parlementer. (b). Mekanisme impeachmenti tidak dilakukan sendiri oleh anggota DPR. Akan tetapi. Presiden dibantu oleh menteri-menteri. Hakim peradilan ada yang dipilih oleh rakyat dan ada pula yang diangkat untuk seumur hidup atau selama tenaganya masih mampu menjalankan tugas dan wewenang nya. hasil dimaksud sebagai berikut : (a) Pasal 5 ayat 1. (c). yang diangkat dan diberhentikan oleh presiden. Pasal 4 ayat 1 . Akan tetapi jika ada kejadian luar biasa. Berdasarkan karakteristik sistem presidensiil di AS tersebut di atas. melainkan oleh Hakim Agung yang dipanggil ke DPRuntuk melakukan pemeriksaan terhadap Presiden. Presiden memegang kekuasaan pemerintahan (b).jabatannya habis.

dan sesudahnya dapat dipilih kembali´. Pasal ini merupakan bentuk perubahan signifikan dari ketentuan sbelum amandemen yang menegaskan : ´Pesiden dan wakil presiden memegang jabatannya selama masa lima tahun. Presiden tidak bertanggung jawab kepada MPR. Berkaitan dengan hal ini. Perisiden dan wakil presiden dipilih dalam satu pasangan secara langsung oleh rakyat. Pasangan calon presiden dan wakil presiden diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilihan umum sebelum pelaksanaan pemilihan umum. Karena itu pemilihan Presiden masih mengacu pada pasal yang belum di amandem. Dalam hal tidak ada pasangan calon presiden dan wakil presiden tepilih. Pasangan calon presiden dan wakil presiden yang mendapat suara lebih dari lima puluh persen dari jumlah suara pemilihan umum dengan sedikitnya dua puluh persen suara disetiap provinsi yang tersebar di lebih dari setengah jumllah provinsi di Indonesia. namun belum sampai pada ketentuan pemilihan Presiden.VI/MPR/1999 tentang Tata Cara Pencalonan dan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Pasal 17 ayat 2. serta (d). ditegaskan bahwa psresiden dan wakil presiden akan dipilih secara langsung oleh rakyat. Sebeleum berubah. Menteri-menteri diangkat dan diberhentikan oleh presiden. (3). dan pemilihannya dilakukan oleh anggota MPR. Dilantik menjadi presiden dan wakil presiden. (4). (2). Hasil amandemen terkait dengan pemilihan Presiden dimuat dalam Pasal 6A. antara lain menegaskan (1). maka presiden dan wakil presiden tidak lagi bertanggung jawab kepada MPR. pasal tersebut menjadi dasar konstitusional bagi Presiden Soeharto untuk dipilih berulang kali. Pasal 20 ayat 1: Dewan Perwakilan Rakyat memegang kekuasaan membentuk Undang-Undang.Tata cara pelaksanaan peilihan Presiden dan wakil presiden lebih lanjut diatur dengan Undang-Undang. Berdasarkan ketentuan tersebut. maka dua pasangan calon yang memperoleh suara terbanyak pertama dan kedua dalam pemilihan umum dipilih oleh rakyat secara langsung dan pasangan yang memperoleh suara terbanyak dilantik sebagai pasangan Presiden dan wkil presiden. namun dalam prakteknya masih tetap belum dilaksanakan secara murni. (5). Baru setelah amandemen keempat ditetapkan pada sidang tahunan MPR tahun 2002. Kendati pasal-pasal UUD 1945 yang sudah di amandemen tersebut memberikan indikasi pelaksanaan sistem presidensiil. Pada tahun 1999 memang amandemen sudah dilakukan untuk pertama kali. Melainkan bertanggung jawab secara langsung kepada rakyat. (c). Hal nampak jelas tertuang di dalam Ketetapan MPR No. yang isinya antara lain bahwa calon Presiden diajukan oleh Fraksi MPR.hanya untuk satu kali masa jabatan. pasal 3 ayat (3) Amandemen UUD 1945 menegaskan 51 . sehingga masa jabatannya mencapai 32 tahun.

mengadili dan memutus pendapat DPR bahwa Presiden dan atau Wakil Presiden telah melakukan pelanggaranhukum yang berupa pengkhianatan terhadap negara. (4). pemberhentian Presiden dan atau wakil presiden atas usul Dewan Perwakilan Rakyat apabila terbukti melakukan pelanggaran hukum yang berupa pengkhianatan terhadap negara. Untuk mengusulkan pemberhentian Presiden dan atau Wakil Presiden. penyuapan.´Majelis Permusyawaratan Rakyat hanya dapat memberhentikan presiden dan atau wakil presiden dalam masa jabatannya menurut Undang-Undang´. Pengajuan permintaan DPR kepada MK hanya dapat dilakukan dengan dukungan sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota DPR yang hadir dalam sidang paripurna yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota DPR. atau pebuatan tercela. (7). (5). mengadili dan memutus pendapat DPR tentang adanya indikasi perbuatan melanggar hukum yang dilakukan oleh Presiden dan atau Wakil Presiden. pasal 7B UUD 1945 secara lengkap menyatakan : (1).dan memutus dengan seadil-adilnya terhadap pendapat DPR tersebut paling lambat sembilan puluh hari setelah permintaan DPR itu diterima oleh MK. tindak pidana berat lainnya.tindak pidana berat lainnya. dan atau terbukti bahwa Presiden dan atau Wakil Presiden tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan atau Wakil Presiden. (3). Usul pemberhentian Presiden dan atau Wakil Presiden dapat diajukan oleh DPR kepada MPR hanya dengan terlebih dahulu mengajukan permintaan kepada MK untuk memeriksa. mengadili. tindak pidana lainnya. Keputusan MPR atas usul pemberhentian Presiden dan atau Wakil Pesiden 52 . Pendapat DPR bahwa Presiden dan atau Wakil Presiden. (6). korupsi. Atau perbuatan tercela. Apabila MK memutuskan bahwa Presiden dan atau Wakil Presiden terbukti melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara. penyuapan. korupsi. dan atau pendapat bahwa Presiden dan atau Wakil Presiden tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan atau Wakil presiden. penyuapan. atau perbuatan tercela maupun apabila terbukti tidak lagi memenuhi syarat sebagai presiden dan atau Wakil presiden. korupsi. MK wajib memeriksa. telah melakukan pelanggaran hukum atau telah tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan atau Wakil Presiden adalah dalam rangka pelaksanaan fungsi pengawasan DPR. (2). DPR menyelenggarakan sidang paripurna untuk meneruskan usul pemberhentian Presiden dan atau Wakil Presiden kepala MPR. Mengenai hal ini. Menurut pasal 7A UUD 1945. maka Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) terlebih dahulu mengajukan permintaan kepada Mahkamah Konstitusi (MK) untuk memeriksa. MPR wajib menyelenggarakan sidang untuk memutuskan usul DPR menerima usul tersebut.

2003. pertanggung jawaban Pesiden dam atau Wakil Presiden lebih menekankan pada pertanggung jawaban politis. c. Sedangkan untuk pertanggung jawaban politis merupakan konsekuensi logis. Perubahan tersebut dapat diilustrasikan sebagai berikut: a. jikalau ditengarai telah melakukan pelanggaran hukum berat. terdapat perubahan sistem pemerintahan Negara Republik Indonesia yang cukup fundamental. Dikenal adanya lembaga peradilan konstitusi. Penerbit UAJ Yogyakarta. dan Hak Asasasi Manusia. Presiden dan atau Wakil Presiden serta parlemen yang terdiri dari dua kamar (DPR dan DPD) dipilih langsungoleh rakyat melalui Pemilihan Umum. Kewarganegaraan. setelah Presiden dan atau Wakil Presiden diberi kesempatan menyampaikan penjelasan dalam rapat paripurna MPR. Hukum Tatanegara. kedudukan Presiden dan atau Wakil Presiden serta parlemen sama-sama kuat. jikalau melakukan perbuatan yang berkaitan dengan hal-hal yang bersifat yuridis. e.harus diambil dalam rapat paripurna MPR yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya ¾ dari jumlah anggota dan disetujui oleh sekurang-kurangnya ¾ dari jumlah anggota yang hadir. Catatan Bab ini banyak diambil dari Bab III buku Hestu Cipto Handoyo. Dalam paradigma lama. jikalau Presiden dan atau Wakil Presiden telah melaksanakan pertanggung jawaban hukum tersebut. Di pandang politik. d. Pertanggung jawaban yang dibebankan kepada Presiden dan atau Wakil Presiden kepada parlemen harus diawali dengan adanya pertanggung jawaban hukum (yuridis). b. maka setelah UUD 1945 diamandemenkan. Artinya antara kedua lembaga ini tidak bisa saling menjatuhkan. 53 . Hal ini berarti telah mengubah paradigma yang selama ini mewarnai sistem pertanggung jawaban Presiden dan atau Wakil Presiden kepada MPR. Hal ini berarti Presiden dan atau Wakil Presiden hanya dapat dijatuhkan. Sistem pemerintahan negara mempergunakan Sistem Presidensiil murni. yakni Mahkamah Konstitusi (MK) yang mempunyai wewenang untuk melakukan impeachment kepada Presiden dan atau Wakil Presiden. Berdasarkan mekanisme pertanggung jawaban tersbut diatas.

BAB V OTONOMI DAERAH Kompetensi Dasar 1. Merumuskan pengertian dan hakikat otonomi daerah dan desentralisasi. 2. Mendeskripsikan pentingnya otonomi dan desentralisasi 3. Mendeskripsikan argumentasi memilih otonomi dan desentralisasi. 4. Mendeskripsikan perkembangan otonomi dan desentralisasi di Indonesia. 5. Membandingkan kebijakan otonomi dan desentralisasi dalam UU. No. 22 Tahun 1999 dengan UU. No. 32 Tahun 2004. 6. Merumuskan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan di daerah. A. Pengertian dan Hakikat Otonomi Daerah Istilah otonomi daerah dan desentralisasi dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan sering digunakan bergantian. Kekdua istilah tersebut secara akademik bisa dibedakan, namun secara praktis dalam penyelenggaraan pemerintahan tidak dapat dipisahkan. Karena itu tidak mungkin masalah otonomi daerah dibahas tanpa mempersandingkannya dengan konsep desentralisasi. Bahkan menurut banyak kalangan otonomi daerah adalah desentralisasi itu sendiri. Karenanya pembahasan otonomi daerah biasanya diulas dengan memakai istilah desentralisasi. Kedua istilah tersebut bagaikan dua sisi mata uang yang saling menyatu namun dapat dibedakan. Desentralisasi pada dasarnya mempersoalkan pembagian kewenangan kepada organorgan penyelenggara negara, sedangkan otonomi menyangkut hak yang mengikuti pembagian wewenang tersebut. Konsep desentralisasi sering dibahas dalam konteks pembahasan mengenai sistem penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. Pada masa sekarang, hampir setiap negara menganut desentralisasi sebagai asas dalam sistem penyelenggaraan

pemerintahan negara. Desentralisasi bukan merupakan sistem yang berdiri sendiri melainkani merupakan rangkaian kesatuan dari suatu sistem yang lebih besar. Suatu negara menganut desentralisasi bukan karena alternatif dari sentralisasi. Antara Desentralisasi dan sentralisasi tidak dilawankan, dan karenanya tidak bersifat dikotomis, melainkan merupakan sub-sub sistem dalam kerangka sistem organisasi negeranya. Karenanya, suatu negara merupakan payung desentralisasi dan sesntralisasi. Otonomi dalam maka sederhana dapat diartikan sebagai ³mandiri´. Sedangkan dalam makna yang lebih luas diartikan sebagai ³berdaya´. Otonnomi daerah dengan demikian berarti kemandirian suatu daerah dalam kaitan perbuatan dan pengambilan 54

keputusan mengenai kepentingan daerahnya sendiri. Jika daerah sudah mampu mencapai kondisi tersebut, maka daerah dapat dikatakan sudah berdaya melakukan apa saja secara mandiri tanpa tekanan dari luar.. Desentralisasi sebagaimana didefinisikan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) adalah penyerahan kewenangan dari pusat kepada daerah. Proses itu melalui dua cara yaitu, delegsi kepada pejabat-pejabat didaerah atau dengan devolusi kepada badanbadan otonomi daerah. Akan tetapi, tidak dijelaskan isi dan keluasaan kewenangan serta konsekuensi penyerahan kewenangan itu bagi badan-badan otonomi daerah. Desentralisasi diartiakn pula sebagai transfer kewenangan untuk untuk

menyelenggarakan beberapa pelayanan kepada publik dari seseorang atau agen pemerintah pusat kepada beberapa individu atau agen lain yang lebih dekat kepada publik yang dilayani. Landasan yang mendasari tranfer ini adalah teritorial dan fungsional. Teritorial maksudnya adalah menempatkan kewenangan kepada level pemerintahan yang lebih rendah dalam wilayah geografis tertentu, sedang fungsional artinya transfer kewenangan kepada agen yang secara fungsional terspensialisasi. Transfer kewenangan secara fungsional ini memiliki tiga tipe : pertama; apabila pendelegasian kewenangan itu di dalam struktur politik formal misalnya, dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah.; kedua; jika transfer itu terjadi didalam struktur administrasi publik, misalnya dari kantor pusat sebuah kementerian kepada kantor kementerian yang ada di daerah; ketiga, jika tranfer tersebut dari institusi negara kepada agen non negara, misalnya penjualan aset pelayanan publik seperti telepon atau penerbangan kepada sebuah perusahaan (M.Turner dan D. Hulme dalam Teguh Yuwono, 2001: 27) Rondinelli mendefinisikan desentralisasi sebagai transfer tanggung jawab dalam perancangan, manajemen dan alokasi sumber-sumber dari pemerintah pusat dan agenagennya kepada unit kementerian pemerintah pusat, unit yang ada dibawah level pemerintah, otoritas atau korporasi publik semi otonomi, otoritas regional atau fungsional dalam wilayah yang luas, atau lembaga privat non pemerintah dan organisasi nirlaba (Teguh Yuwono, 2001: 28). Jadi desentralisasi adalah pelimpahan kewenangan dan tanggung jawab dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. B. Arti Penting Otonomi Daerah dan Desentralisasi

55

Krisis Ekonomi dan politik yang melanda Indonesia sejak tahun 1997 telah memporak-porandakan hampir seluruh sendi-sendi ekonomi dan politik negeri ini yang telah dibangun cukup lama. Lebih jauh lagi, krisis ekonomi dan politik yang berlanjut menjadi multikrisis telah mengakibatkan semakin rendahnya tingkat kemampuan dan kapasitas negara dalam menjamin kesinambungan pembangunan. Krisis tersebut salah satunya diakibatkan oleh sistem manajemen negara dan pemerintahan yang sentralistik, yaitu kewenangan dan pengelolaan segala sektor pembangunan berada dalam kewenangan pemerintah pusat, sementara daerah tidak memiliki kewenangan untuk mengelola dan mengatur daerahnya. Sebagai respon dari krisis tersebut, pada masa reformasi dicanangkan kebijakan restrukturisasi sistem pemerintahan yang cukup penting, yaitu melaksanakan otonomi daerah dan pengaturan perimbanagan keuangan antara pusat dan daerah. Paradigma lama dalam manajemen negara dan pemerintahan yang berporos pada sentralisme kekuasaan diganti menjadi kebijakan otonomi yang berpusat pada desentralisasi. Kebijakan otonomi daerah terkait pula dengan upaya politik pemerintah pusat untuk merespon tuntutan kemerdekaan atau negara federal dari beberapa wilayahyang

memiliki aset sumber daya alam melimpah namun tidak mendapatkan haknya secara proposional pada masa pemerintahan Orde Baru. Desentralisasi dianggap dapat menjawab tuntutan pemerataan pembangunan sosial ekonomi, penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan kehidupan berpolitik yang efektif. Sebab Desentralisasi menjamin penanganan tuntutan masyarakat secara variatif dan cepat. Ada beberapa alasan mengapa kebutuhan terhadap desentrslisasi di Indonesia saat ini dirasakan sangat mendesak. Pertama, kehidupan berbangsa dan bernegara selama ini sangat terpusat di Jakarta, sementara itu pembangunan dibeberapa wilayah lain dilalaikan. Kedua, pembagian kekayaan secara tidak adil dan merata, daerah-daerah yang memiliki sumber kekayaan alam melimpah, seperti Aceh, Riau, Papua, Kalimantan, dan Sulawesi ternyata tidak menerima perolehan dana yang patut dari pemerintah pusat. Ketiga, kesenjangan sosial antar daerah sangat terasa.

Pembangunan fisik disatu daerah berkembang pesat, sedangkan dibanyak daerah masih lamban dan bahkan terbengkalai. Sementara itu ada alasan lain yang didasarkan pada kondisi ideal, sekaligus memberikan landasan filosofis bagi penyelenggaraan pemerintahan daerah

(desentralisasi) sebagaimana dinyatakan oleh The Liang Gie sebagai berikut : (1). 56

Selain itu pemerintah juga mempunyai fungsi distributif dan fungsi regulatif untuk penyediaan barang dan jasa.Dilihat dari sudut politik sebagai permainan kekuasaan. Apa yang dianggap lebih utama untuk diurus oleh pemerintah setempat. Dari sudut kepentingan pembangunan ekonomi. Untuk Terciptanya Efesiensi-Efektivitas Penyelenggaraan Pemerintahan Pemerintah berfungsi mengelola berbagai dimensi kehidupan seperti. langsung 2. Pemerintahan daerah akan pengembangan demokrasi dalam sebuah menyediakan kesempatan bagi warga masyarakat untuk berprestasi politik. pengurusannya diserahkan kepada daerah. Daris sudut teknik organisatoris pemerintahan. (2). pertahanan. Selain itu memberikan pelayanan dan perlindungan kepada masyarakat. dan lain-lainnya. keuangan. politik. Sebagai Sarana Pendidikan Politik Pemerintahan daerah dapat dipandang sebagai kancah pelatihan dan negara.(4). desentralisasi dimaksudkan untuk mencegah penumpukan kekuasaan pada satu pihak saja yang pada akhirnya dapat menimbulkan tirani. ekonomi. (3). alasan mengadakan pemerintahan daerah (desentralisasi) adalah semata-mata untuk mencapai suatu pemerintahan uang efisien. penyelenggaraan desentralisasi dianggap sebagai tindakan pendemokrasian. untuk menarik rakyat ikut serta dalam pemerintahan dan melatih diri dalam mempergunakan hak-hak demokratis. Dalam bidang politik. integrasi sosial. Oleh karena itu. merupakan tugas pemerintahan yang bersifat universal. (5). tidaklah mungkin hal itu dapat dilakukan dengan cara yang sentralistik. Juga fungsi ekstraktif dalam memobilisasi sumber daya keuangan untuk membiayai aktifitas penyelenggaraan negara. desentralisasi diperlukan karena pemerintah daerah dapat lebih banyak dan secara membantu pembangunan tersebut. bidang sosial. serta mempertahankan diri dari kemungkinan serangan dari negara lain. kegiatan ekonomi. dan pemerintahan negara menjadi tidak efisien dan tidak akan mampu menjalankan tugasnya dengan baik. menjaga keutuhan negara dan bangsa. seperti geografi. keadaan penduduk. keamanan dalam negeri. watak kebudayaan atau latar belakang sejarahnya. kesejahteraan masyarakat. desentralisasi perlu diadakan supaya adanya perhatian dapat sepnuhnya ditumpukan kepada kekhususan sesuatu daerah. baik dalam 57 . Dari sudut kultur. Argumentasi yang digunakan dalam memilih desentralisasi dan otonomi dalam penyelenggaran pemerintahan diantaranya adalah sebagai berikut: 1.

Bupati. Mereka yang tidak mempunyai peluang untuk terlibat dalam politik nasional dan dipilih menjadi pemimpin nasional. Pemerintahan Daerah Sebagai Persiapan Untuk Karir Politik Lanjutan Pemerintah daerah merupakan langkah persiapan untuk meniti karier lanjutan. termasuk didaerah. dan bahkan Gubernur. gerakan ini muncul karena daerah melihat kenyataan kekuasaan pemerintah Jakarta yang sangat dominan. Keterlibatan ini sangat dimungkinkan sejak dari awal tahap pengambilan keputusan sampai dengan evaluasi. 5. Gejolak disintegrasi yang terjadi dibeberapa daerah merupakan contoh konkrit keterkaitan ketidakstabilan politik yang muncul karena pemerintah nasional tidak menjalankan otonomi dengan tepat. untuk berpartisipasi dalam segala bentuk kegiatan penyelenggaraan negara. 58 . Kesetaraan Politik (Political Equalilty) Dibentuknya pemerintahan daerah akan mewudkan kesetaraan politik diantara berbagai komponen masyarakat. Disamping itu warga masyarakat. Terjadinya pergolakan daerah pada tahun 19571958 dengan puncaknya adalah kehadiran PRRI dan PERMESTA. 4. Masyarakat di daerah akan mempunyai kesempatan untuk terlibat dalam politik. terutama pemerintahan daerah (eksekutif dan legislatif lokal). terutama karier dibidang politik dan pemerintahan ditingkat nasional. terutama yang menyangkut kepentingan mereka. merupakan wahana yang banyak dimanfaatkan guna menapak karier politik yang lebih tinggi. 6. baik dalam pemilihan umum lokal ataupun dalam rangka pembuatan kebijakan publik. Wali Kota. Akuntabilitas Politik Demokrasi memberikan ruang dan peluang kepada masyarakat. apakah melalui pemberian suara pada waktu pemilihan Kepala Desa. Dengan demikian kebijakan yang dibuat akan dapat diawasi secara langsung dan dapat dipertanggung jawabkan karena masyarakat terlibat secara langsung dalam penyelenggaraan pemerintahan. Stabilitas Politik Stabilitas politik nasional berawal dari stabilitas politik pada tingkat lokal. Keberadaan institusi lokal. dapat terlibat dalam mempengaruhi pemerintah ketika membuat kebijakan.rangka memilih atau kemungkinan untuk dipilih dalam suatu jabatan politik. Dengan demikian pendidikan politik pada tingkat lokal sangat bermanfaat bagi warga masyarakat untuk menentukan pilihan politiknya. lewat kelompok atau perrangan. akan mempunyai peluang untuk ikut serta dalam politik lokal. 3. Karena sesuatu yang mustahil bagi seseorang dapat muncul dengan begitu saja menjadi politisi berkaliber nasional ataupun internasional.

Menginginkan agar melaksanakan politik desntralisasi dan memberikan hak-hak otonomi kepada daerah-daerah.C. tetapi 59 . yaitu : (1). Menyadari akan kekurangan yang terdapat dalam UU No. UU ini memberikan hak otonomi dan tugas pembantuan (medebewind) yang seluas-luasnya kepada badan-badan pemerintah daerah. UU ini secara garis besar mengandung tiga prinsip dasar desentralisasi. otonomi daerah mengalami kemunduran. 22 tahun 1948 tentang Pemerintahan Daerah. Ketika itu pemerintah mengambil tindakan drastis dengan mengubah UU No. yaitu UU No. untuk pertama kali pemerintah mengeluarkan UU No. 1 Tahun 1957 tentang Pokok-Pokok Pemerintah Daerah. pemerintah mengeluarkan UU baru tentang pemerintahan daerah. 6 Tahun 1959 dan kemudian disempurnakan melalui Penpres No. Perkembangan Desentralisasi dan Otonomi Daerah di Indonesia. diletakkan pada satu tangan. Daerah-daerah dibentuk menurut susunan derajat dari atas bawah sebanyak tiga tingka. pemerintah lebih dulu mengatur mengenai keberadaan pemerintah daerah.1 Tahun 1945 yang mengatur pemerintah daerah. Dalam rangka itu kemudian lahirlah UU No. yang tersusun secara demokratis. yaitu pemerintah daerah yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya atau daerah otonomi. Prinsip-prinsip pokok yang diatur dalam dalam Penpres No. Kedudukan kepala daerah tidak lagi hanya sebagai alat daerah. Negara Indonesia memiliki penduduk yang heterogen dan tersebar di berbagai daerah dengan karakteristik sendiri-sendiri. disamping tetanp menjalankan politik dekonsentrasi. (2). Kepada daerah diberikan hak otonom yang seluas-luasnya untuk mengatur dan mengurus rumah tangga daerahnya. (3). yaitu kepala daerah. 5 Tahun 1960. 18 dengan jelas mengatur penyelenggaraan pemerintahan daerah dengan tetap menghormati keberagaman yang dimiliki daerah. Ketika konstelasi politik berubah. 6 Tahun 1959 adalah sebagai berikut: (1). Guna menindaklanjuti ketentuan Pasal 18 tersebut. Jadi sebelum mengatur yang lain. 1 Tahun 1945. pemerintah bersama BP-KNIP berupaya melahirkan UU Otonomi Daerah yang benarbenar didasarkan atas kedaulatan rakyat. Kenyataan ini mendasari para pendiri bangsa ketika menyusun UUD 1945. Saat Indonesia kembali menjadi negara kesatuan dan berdasarkan UUDS 1950. Penyelenggaraan tugas di bidang pemerintahan umum pusat di daaerah dan tugas dibidang ekonomi daerah.1 Tahun 1957 dan menggantinya dengan Penpres No. dengan menganut sistem otonomi riil. Di daerah-daerah (daerah besar dan kecil). saat terjadi pergeseran dari Demokrasi Parlementer ke Demokrasi Terpimpin melalui Dekrit Presiden 5 juli 1959 dengan kembali ke UUD 1945. (2). hanya ada satu bentuk susunan pemerintahan.

Cita-cita untuk mewujudkan politik desentralisasi menjadi terhambat. Singkatnya. kepala daerah tidak bersifat kolegial. dan (6). tidak lagi bertanggung jawab kepada DPRD melainkan kepada Presiden. Kepala daerah mempunyai kekuasaan untuk menangguhkan keputusan DPRD yang bersangkutan dan keputusan pemerintah daerah bawahannya. Penambahan melalui Penpres No. yaitu dari desentralisasi menjadi dekonsentrasi. (3). kebijakan yang dilakukan lebih mencerminkan pelimpahan wewenang ketimbang penyerahan wewenang. 19 Tahun 1965 tentang desa praja sebagai bentuk peralihan untuk mempercapat terwujudnya Daerah Tingkat III di seluruh tahah air. UU ini merangkum pokok-pokok pikiran cita-cita desentralisasi dari perundang-undangan sebelumnya. 18 Tahun 1965. 6 Tahun 1959. Dalam menjalankan kekuasaan eksekutif. Bersamaan dengan itu. 5 Tahun 1974 selain menerapakan asas desentralisasi. Namun sayang UU ini tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan. kepala daerah adalah pegawai negara. ketenangan. Dalam kedudukan itu. ketertiban. perencanaan dan pelaksanaan yang bertalian dengan urusan yang diembannya. namun dalam operasional prinsip tersebut menimulkan perubahan. dibentuk pula UU No. Pada Tahun 1965. melalui UU No. 5 Tahun 1960. Kenyataan lain adalah terbatasnya wewenang daerah dalam bidang keuangan. Ketika pergantian rezim dari Demokrasi terpimpin ke Rezim Orde Baru. Hal ini berdampak daerah tidak memiliki ruang gerak dalam penetapan kebijakan. yaitu UU No. Dalam penjelasannya disebutkan bahwa pemerintah akan terus dan konsekuen menjalankan politik desentralisasi untuk menuju kearah tercapainya desentralisasi territorial. Meski dalam UU tersebut menyebutkan bahwa pemerintah mencanangkan prinsip otonomi yang nyata dan bertanggung jawab. (4). melainkan bersifat tunggal. kebijakan desentralisasi pada masa Orde Baru dalam praktik cenderung ke bandul sentralisasi. ditegaskan bahwa kepala daerah karena jabatannya adalah Ketua DPRD dan bukan anggota. sejak awal pemerintah Orde Baru dalam menciptakan otonomi daerah adalah untuk menciptakan keamanan. Dalam praktik. persatuan dan 60 . (5). pemerintah mengeluarkan UU sebagai pengganti Penpres No. pemerintah pusat masih memiliki wewenang dalam mengatur urusan-urusan yang dikelolanya didaerah lewat desentralisasi dan medebewind.sekaligus juga sebagai wakil pemrintah pusat didaerah. yaitu meletakkan tanggung jawab territorial riil dan seluas-luasnya dalam tangan pemerintah daerah. Sebab. Pertama. juga bidang kepegawaian yang terpusat. kebijakan otonomi daerah juga mengalami perubahan. Ada beberapa hal yang dapat menjelaskan mengapa seperti itu.

tidak mengenal daaerah tingkat I dan II juga tidak ada hirarki antara provinsi dengan kabupaten Penyelenggaraan tugas pemerintah dan Belanja Dan Pendapatan Negar (APBN). diharapkan tuntutan daerah untuk melepaskan diri tidak akan terjadi. Ketiga. Rekrutmen pejabat politik didaerah menyerahkan kewenangan sepenuhnya kepada masyarakat melalui DPRD dan tidak ada lagi campur tangan pemerintah pusat. Ini dilakukan dalam rangka lebih mendekatkan pelayanan kepada masyarakat. (4). yaitu: (1). daerah harus dibiayai dari dana Anggaran 61 . Tidak menggunakan sistem Otonomi bertingkat. 1. (5). Sistem Otonomi Luas dan Nyata. moneter. Kebijakan Otonomi Daerah Menurut UU No.stabilitas. tidak memiliki kewenangan dalam melakukan pembangunan daerah. Pengaturan mengenai keuangan daerah ini karena adanya tuntutan keterbukaan politik (demokratisasi). Dengan peraturan itu. Jika sebelumnya begitu terkekang. Dengan sistem ini pemerintah daerah berwenang melakukan apa saja yang menyangkut penyelenggaraan pemerintahan kecuali dibidang politik luar negeri. Ciri ini menyangkut dua hal. sehingga distribusi dan penggunaannya memenuhi kriteria keadilan dan efesiensi. (2). pemerintah ingin selalu memusatkan sumber daya yang tetap langka untuk keperluan pembangunan. Sedang mengenai proses legislasi dan regulasi didaerah tidak lagi harus disahkan oleh pemerintah pusat. Kedua. Semakin lengkap pengaturan daerah dengan lahirnya UU No. Demokrasi dan Demokratisasi. juga karena pemerintah pusat ingin mengatasi masalah disintegrasi yang melanda Indonesia. dan birokrasi sipil sebagai pelaku pelaksana. pemerintah Orde Baru menganut formula strategi pembangunan dengan menjadikan para ahli ekonomi berfungsi sebagai pembuat kebijakan. daerah memiliki kebebasandan berprakarsa untuk mengatur daerahnya sendiri.22 Tahun 1999 Era reformasi menjadi titik tolak perubahan kebijakan desentralisasi lebih nyata. Titik berat otonomi ada pada daerah kabupaten atau kota. Reformasi memberi hikmah besar kepada daerah-daerah untuk menikmati otonomi yang sesungguhnya. kebijakan otonomi daerah Era Reformasi ini sungguh mengalami kaemajuan yang luar biasa. Namun terlepas dari alasan yang sesungguhnya dibalik lahirnya kedua UU tersebut. Crinya yang menonjol dari UU yang baru ini. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. (3). atau kota. dan fiskal. militer sebagai stabilator. Mendekatkan pemerintah dengan rakyat. di Era Reformasi malalui UU No. yaitu rekrutmen pejabat politik di daerah dan proses legislasi di derah. 22 tahun 1999.

Terlepas dari pro-kontra tersebut. Keempat. 5 Tahun 1974. Kellima. penyediaan pelayanan dasar yang belum memadai. Kedua. Kebijakan Otonomi Daerah Menurut UU No. terjadi primordialisme dalam pengangkatan kepala daerah dan jajaran birokrasi. Keempat.Belakangan UU No. tidak adanya otoritas lembaga yang kuat untuk menyelesaikan konflik yang terjadi antar daerah. ketKeenam. Lembaga ini 62 . demokratis dan membuka ruang bagi partisipasi masyarakat. tidak adanya ruang partisipasi publik dalam mengontrol kebijakan publik. akuntabilitas DPRD kepada publik. 32 Tahun 2004 Meski UU No. Selain itu. 22 Tahun 1999. kebijakan pemerintah dituntut lebih terbuka. Pihak yang setuju menyatakan bahwa UU tersebut sangat demokratis bahkan bersifat liberal. Sebab masih banyak kewenangan yang diurus oleh pusat dan dana perimbangan belum mencerminkan rasa keadilan. Dari sisi kebijakan. Kelima. Desakan muncul di antaranya LIPI. Memberikan kewenangan kepada daerah seluas-luasnya untuk mengembangkan daerah atas prakarsa sendiri. munculnya ³raja-raja kecil´ didaerah-daerah. Pertama. 22 Tahun 1999 sudah member ruang lebih baik dalam penyelenggaraan otonomi daerah. kebijakan otonomi daerah hanya menguntungkan daerahdaerah kaya SDA. Benyak kemajuan dalam UU ini dibandingkan dengan UU No. terjadi friksi antara kepala daerah dengan DPRD dalam hal Laporan Pertanggung jawaban kepala Daerah. Akibat kelemahan-kelemahan tersebut muncullah desakan perlunya revisi terhadap UU No. Belum terjadi perubahan yang signifikan terhadap otonomi daerah. Kedua. Ketujuh. 2. Dengan demikian. terjadi konflik dalam memperebutkan sumber daya antar daerah. Pertama. Sementara pihak yang tidak setuju mengatakan bahwa UU tersebut masih bersifat setengah hati dan masih menerapkan paradigma lama. sisi implementasi otonomi daerah juga memunculkan dampak negatif. mengandung kelemahan sehingga memunculkan dampak negatif dalam implementasi otonomi daerah. ekonomi biaya tinggi akibat dampak upaya menigkatan sumber PAD dengan meningkatkan tarif dan ekstensifikasi retribusi dan pajak daerah. Ketiga. Ketiga. paling tidak UU No. namun ada sejumlah kelemahan di dalamnya. organisasi perangkat daerah menjadi gemuk dan besar. antara lain. aspek kelembagaan pemerintahan daerah yang menempatkan posisi DPRD selalu dominan. 22 Tahun 1999 menimbulkan pro-kontra. 22 Tahun 1999 telah memberi ruang desentralisasi (politik dan administrasi) yang lebih besar kepada daerah sehingga memungkinkan adanya ruang dan kesempatan yang lebih luas bagi partisipasi masyarakat dan pembangunan daerah.

hidup dan berkembang sesuai dengan potensi dan kekhasan daerah. Sedang prinsip otonomi yang nyata adalah suatu prinsip bahwa urusan pemerintahaan dilaksanakan berdasarkan tugas. Kelima. Keenam. dipandang ³kebablasan´ bagi daerah-daerah. Ketiga. akuntabilitas pemerintahan Daerah. Pemerintah tampaknya melihat kelemahan mendasar pada UU No. Terlepas dari perbedaan pandangan di atas. Kedua. 22 Tahun 1999. dan agama. Otonomi yang bertanggung jawab adalah otonomi yang dalam penyelenggaraan nya harus benar-benar sejalan dengan tujuan dan maksud pemberian otonomi. pengawasan dan penyelesaian konfllik. pertahanan. berbeda dengan LIPI. peningkatan peran serta. wewenang.mengusulkan perlunya revisi. UU No. Diantara substansi kebijakan otonomi daerah yang perlu diperbaiki adalah: Pertama. perubahan perlu dilakukan secara mendasar. pelembagaan partisipasi masyarakat. kepala daerah dipilih langsung. Sedangkan usulan Pemerintah (Depdagri). dengan cara mengamandemen pasal-pasal yang dianggap lemah dan menambah pasal-pasal baru untuk memperkuat otonomi daerah. bukan melakukan perubahan secara mendasar. Keempat. UU baru tersebut memuat materi materi tentang pemerintahan daerah atau otonomi daerah. Dalam UU itu dinyatakan bahwa otonomi daerah menggunakan prinsip otonomi seluas-luasnya dan prinsip otonomi nyata dan bertanggung jawab. yakni memerapkan kebijakan otonomi dengan melakukan resentralisasi. yakni pemberdayaan daerah dan meningkatkan kesejahteraan Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat tetap sebagaimanan UU sebelumnya. perlunya institusi yang menangani kerja sama dan perselisihan antar daerah. sehingga dianggap ³bebas dan tidak bisa dikendalikan oleh pusat´ maka perlu pengaturan kembali untuk ³mengendalikan´ daerah-daerah sesuai dengan keinginan pemerintah. perluasan pendapatan dan keuangan daerah. koordinasi keamanan daerah. No.22 Tahun 1999. dan kewajiban yang senyatannya telah ada dan berpotensi untuk tumbuh. (2) melimpahkan sebagian kepada gubernur 63 . keamanan. yaitu poitik luar negeri. prakarsa dan pemberdayaan masayarakat yang bertujuan pada peningkatan kesejahteraan rakyat. 32 Tahun 2004 berhasil ditetapkan sebagai pengganti UU. (1) menyelenggarakan sendiri. Ketujuh. Pemerintah pusat dalam menyelenggarakan urusan tersebut dapat berbentuk. Dalam penjelasannya dikemukakan bahwa otonomi seluas-luasnya berarti daerah diberikan kewenangan mengurus dan mengatur semua urusan pemerintahan. Daerah memiliki kewenangan membuat kebijakan daerah untuk memberi pelayanan. moneter yusitisi.

dan pengawasan tata ruang. (9). (12). Urusan wajib adalah urusan pemerintahan yang berkaitan dengan pelayanan dasar. Perencanaan. Urusan pilihan yang dapat dilaksanakan oleh pemerintah daerah tidak disebutkan secara ekplisit. Urusan pemerintahan tersebut berlaku sama baik bagi pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten/kota. pertanian. adalah skala berdasarkan kriteria Urusan pemerintahan provinsi maupun urusan pemerintahan kabupaten/kota terdiri atas urusan-urusan berikut : (1). dan (16). Penyediaan sarana dan prasarana umum. Sedangkan urusan yang menjadi kewenangan daerah terbagi atas urusan wajib dan urusan pilihan. (7). (4). Penanggulangan masalah sosial. dan potensi yang dimiliki antara lain pertambangan. akuntabilitas dan efisiensi. Penyelenggaraan pendidikan dan alokasi sumber daya manusia potensial. (15). Fasilitas pembangunan koperasi. Jenis urusan pilihan tersebut baru disebutkan secara eksplisit ada pada penjelasan Pasal 13 ayat 2 dan apsal 14 ayat 2 UU No. perkebunan. Pelayanan administrasi penaman modal. Penanganan bidang kesehatan. dan pariwisata´. 32 Tahun 2004 : ³Yang dimaksud dengan urusan pemerintahan yang secara nyata ada dalam ketentuan ini sesuai dengan kondisi. pemanfaatan. Pelayanan kependudukan dan catatan sipil. Urusan wajib pemerintahan yang diberikan kepada pemerintahan pemerintah daerah sebanyak 16 urusan.(dekonsentrasi). Pelayanan administrasi umum pemerintahan. Pelayanan bidang ketenagakerjaan. usaha kecil. (8). kehutanan. (14).. (11). (13). Kriteria yang menjadi acuan menetapkan urusan pilihan adalah ³secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi. (3) menugaskan sebagian urusan kepada pemerintahan daerah dan atau pemerintahan desa berdasarkan asas tugas pembantuan. (2). (5). (3). Pelayanan pertahanan. kekhasan dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan´. (10). (6). 64 . sedang urusan pilihan adalah urusan pemerintahaan terkait dengan potensi unggulan dan kekhasan daerah. kekhasan. dan menengah. Perencanaan dan pengendalian pembangunan. Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masayarakat. Penyelenggaraan pelayanan dasar. perikanan. Pemerintah daerah (provinsi dan kabupaten /kota) selain menyelenggarakan urusan wajib juga dapat melaksanakan urusan pilihan. Pengendalian lingkungan hidup. sedangkan yang membedakan eksternalitas. Urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan.

dan tidak diskriminatif mengenai penyelenggaaraan negara. saksi atau saksi ahli. hak menyampaikan saran dan pendapat secara bertanggungjawab kepada kebijakan penyelenggara negara. kewenangan provinsi hanya 12 mil dan Kabupaten/ Kota sepertiganya. good governance dan menciptakan pemerintahan yang bersih dan bebas dari korupsi. Peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan negara untuk mewujudkan penyelenggaraan yang bersih dilaksanakan dalam bentuk: (1). Sedangkan dalam hal laut disebutkan bahwa laut bukan merupakan wilayah daerah. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat memperoleh perlindungan hukum dalam menggunakan haknya untuk memperoleh perlindungan hukum dalam menggunakan haknya untuk memperleh dan menyampaikan informasi tentang penyelenggara negara. (4). 65 . hak untuk memperoleh pelayanan yang sama dan adil dari penyelenggara Negara. (2). maka dalam Peraturan Pemerintah tersebut diatur hak dan tanggungjawab serta kewajiban masyarakat dan penyelenggara negara secara berimbang. serta hadir dalam proses penyelidikan dan sidang pengadilan sebagai saksi pelapor. dan sebagainya. jujur. memperoleh. hak mencari. Sesuai dengan prinsip keterbukaan dalam negara demokrasi yang mengharuskan penyelenggara negara membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar. Kewenangan dalam mengelola SDA yang ada di laut ini. kolusi. D. daerah hanya diberi kewenangan untuk mengelola SDA yang ada di laut. (3). BUMN. Kebebasan menggunakan hak tersebut haruslah disertai dengan tanggung jawab untuk mengemukakan fakta dan kejadian yang sebenarnya dengan menaati dan menghormati aturan-aturan moral yang diakui umum serta hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan memberikan informasi mengenai penyelenggaraan negara. Dalam pembentukan kawasan khusus itu dapat berbentuk badan otorita. pemerinatah dapat membentuk kawasan khusus untuk kepentingan nasional. hak memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan haknya. 32 Tahun 2004 disebutkan juga tentang kawasan khusus. dan nepotisme.Dalam UU No. maka pemerintah mengeluarkan PP Nomor 68 Tahun 1999 tentang nepotisme. Peran Serta Masayarakat dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Dalam rangka menciptakan tata pemerintahan yang baik.

66 . dan menaati hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Mewujudkan hal tersebut merupakan sesuatu yang penting. Masyarakat yang menyampaikan informasi kepada instansi terkait harus menyampaikannya secara bertanggung jawab dengan mengemukakan fakta yang diperoleh. Hal ini tentu derajat partisipasinya lebih tinggi daripada pemilihan kepala daerah oleh anggota DPR.Masyarakat yang bermaksud mencari dan memperoleh informasi tentang penyelenggaraan negara berhak menanyakan kepada lembaga atau instalasi terkait baik secara langsung maupun tidak langsung. Ironisnya dalam era reformasi ini mekanisme partisipasi masyarakat dalam pemerintahan daerah juga masih lemah. serta kedua desentralisasi kepada unit yang lebih rendah yakni desa sebagai bentuk dari decentralization within cities. wajib memberikan jawaban atau keterangan sesuai dengan tugas dan fungsinya dan tetap memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Masyarakat masih terbiasa dengan mobilisasi yang sering digunakan secara ekstensif pada masa Orde Baru dan Orde Lama. dan nepotisme dalam lembaga/ unit di bawah tanggungjawabnya. Penyelenggara negara yang menolak dapat dikategorikan sebagai penyelenggara negara yang tertutup. Masyarakat juga dapat memberi informasi mengenai suatu penyelenggaraan negara kepada instansi terkait. Oleh karena itu. menghormati hak-hak pribadi seseorang sesuai dengan norma-norma yang diakui umum. kolusi. UU Nomor 32 Tahun 2004 lebih memperkuat partisipasi publik ini dengan mengatur pemilihan kepala daerah secara langsung oleh masyarakat. identitas pelapor dan fakta kejadian harus didukung oleh data yang dapat dipertanggungjawabkan. sehingga dapat diduga terjadi korupsi. Setiap penyelenggara negara yang menerima permintaan masyarakat untuk memperoleh informasi tentang penyelenggaraan negara. termasuk pada pemerintahan daerah tidak mudah. karena masyarakat belum terbiasa dnegan partisipasi aktif dan sukarela. Ada dua cara partisipasi yang diakui oleh UU Nomor 22 tahun 1999. Tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Masyarakat tidak diperkenankan memberikan laporan yang bersifat fitmah dan provokasi. karena Indonesia merupakan negara yang berada dalam masa transisi menuju demokrasi. Namun untuk mewujudkan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan negara.. pertama masuknya anggota masyarakat sebagai elected member dari DPRD dan kepala daerah. penyelenggara negara tidak boleh menolak permintaan masyarakat untuk memperoleh informasi tersebut.

Khusus untuk yang pertama (elected member). bagaimana bentuk keterlibatannya. dan menindaklanjuti (termasuk memfasilitasi tindak lanjut) aspirasi daerah dan masyarakat. Akibatnya. ternyata karena sistem pemilu yang dipergunakan. menerima keluhan dan pengaduan masyarakat). 22/1999. Akan tetapi muncul masalah baru. Selain kedua cara utama itu. Pada praktiknya. wujud partisipasi warga melalui cara elected member ini disinyalir telah gagal dan tetap menempatkan warga pada posisi kurang dapat menyalurkan aspirasi dan tuntutan lokalnya dalam pemerintahan daerah. Pemerintah daerah hanya berfungsi untuk menjalankan urusan 67 . yakni nilai-nilai demokrasi lokal yang hidup secara tradisional kini telah rusak karena uniformitas yang dipaksakan dalam kebijakan pemerintahan desa masa Orde Baru tersebut. Mereka lebih berperan sebagai kepanjangan tangan partainya daripada konstituennya. Akan tetapi. Apa yang diungkapkan oleh Gubernur Sutiyoso dalam upaya menghadapi polemik perjudian pada tahun 2002 membuktikan bahwa cara berpikir pemerintah daerah yang hanya didasarkan pada kekuatan perangkat daerah daripada melibatkan masyarakat. apa sanksi atas kelalaian dalam pengabaian partisipasi publik. UU tersebut tidak memberikan ruang lain bagi mekanisme partisipasi masyarakat. anggota DPRD yang dimaksudkan untuk mewakili kepentingan warga yang memilihnya. Sampai kini memang masih dibutuhkan lebih banyak kajian menyangkut bagaimana desa-desa adat. 5/1979. 22/1999 ini dianggap lebih demokratis dan partisipatif daripada yang diatur dalam UU No. Siapa yang boleh dan harus terlibat. masyarakat hanya dapat berinteraksi dengan politisi di DPRD yang harus menampung (termasuk memerhatikan dan menyalurkan aspirasi. Mekanisme kedua yakni desentralisasi pada tingkatan desa yang diatur dalam bentuk kebijakan mengenai pemerintahan desa dalam UU No. dan sebagainya. Tidak ada tempat bagi partisipasi dalam tahapan implementasi apalagi kontrol terhadap pemerintah daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. apa hak dan kewenangan publik atas pejabat yang dipilihnya. apa konsekuensi keterlibatannya. apa yang harus dilakukan oleh DPRD dan kepala daerah beserta perangkatnya. tidak ada penjelasan mengenai mekanisme yang bisa dijadikan pedoman dan jaminan bagi pengakuan dan terselenggaranya partisipasi publik. terutama di luar Jawa mampu merevitalisasi kembali potensi lokalnya sesuai dengan peluang yang diberikan oleh UU No. UU 32 Tahun 2004 tidak banyak melakukan perubahan dari apa yang diatur oleh UU sebelumnya sehingga melanjutkan format baru pemerintahan desa dalam masa reformasi.

Dapat dikatakan bahwa tidak ada pengakuan yang nyata bahwa stakeholder utama dalam pemerintahan daerah adalah masyarakat. 2003. Kewarganegaraan. 21/1999 dan UU 32/2004 membuktikan pengakuan yang masih rendah atas ragam jenis partisipasi yang diatur. Dede. Demokrasi. Meskipun demikian. dan Hak Asasasi Manusia. Hestu. baik itu DPRD maupun kepala daerah beserta perangkatnya. Hukum Tatanegara.. dkk. Pendidikan Kewargaan. 68 . Hak Asasi Manusia. Rosyada. Jakarta: Penerbit Prenada Media. Daftar Pustaka Cipto Handoyo. dan Masyarakat Madani. masih dibutuhkan kejelasan mekanisme dalam menyelenggarakan pemerntahan berbasis partisipasi masyarakat. 2003. Yogyakarta: Penerbit UAJ. Apa yang tertuang secara eksplisit dalam UU No.dan kewenangan kesatuan masyarakat hukum yang ada dalam wilayah tertentu (daerah otonom). Tampaknya pengakuan lebih berat timbangannya pada pemerintah daerah. Bentuk partisipasi yang dinyatakan secara eksplisit lebih sering ditafsirkan sebagai sekadar masukan bagi pengambilan keputusan dan keluhan untuk menyatakan kebutuhn.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful