BAB I DEMOKRASI Kompetensi Dasar

:
1. Menjelaskan hakikat demokrasi 2. Menganalisa sejarah perkembangan demokrasi 3. Menjelaskan pentingnya kehidupan demokratis dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara A. Hakikat Demokrasi

Kata demokrasi terkesan sangat akrab dan seakan sudah dimengerti begitu saja. Namun apa dan bagaimana sebenarnya makna dan hakikat substansi demokrasi mungkin belum sepenuhnya dimengerti dan dihayati. Sehingga perlu diketahui makna dan hakikat demokrasi karena hampir semua negara menjadikan demokrasi sebagai tatanan aktivitas bermasyarakat dan bernegara. Berdasarkan hal tersebut di atas sudah tentu sangat perlu untuk mengetahui lebih dulu makna dan hakikat demokrasi. Banyak para ahli memberikan batasan tentang demokrasi antara lain dilihat dari tinjauan bahasa (etimologis), bahwa demokrasi berasal dari dua kata yang berasal dari bahasa Yunani yaitu ³demos´ yang berarti rakyat atau penduduk suatu tempat dan ³cratein´ atau ³cratos´ yang berarti kekuasaan atau kedaulatan. Jadi secara etimologis, demokrasi adalah keadaan negara di mana dalam sistem pemerintahannya kedaulatan di tangan rakyat, kekuasaan tertinggi berada dalam keputusan bersama rakyat, rakyat berkuasa, pemerintahan rakyat dan kekuasaan oleh rakyat. Sedangkan secara istilah (terminologis) pengertian demokrasi banyak

dikemukakan oleh para ahli, antara lain : (a) Yoseph A. Schmeter, demokrasi merupakan suatu perencanaan institusional untuk mencapai keputusan politik di mana individu-individu memperoleh kekuasaan untuk memutuskan cara perjuangan kompetitif atas suara rakyat; (b) Sidney Hook, demokrasi adalah bentuk pemerintahan di mana keputusan-keputusan pemerintah yang penting secara langsung atau tidak langsung didasarkan pada kesepakatan mayoritas yang diberikan secara bebas dari rakyat dewasa; (c) Philippe C. Schmitter dan Terry Lynn Karl, demokrasi sebagai suatu sistem pemerintahan di mana pemerintah dimintai tanggung jawab atas tindakantindakan mereka di wilayah publik oleh warga negara, yang bertindak secara tidak langsung melalui kompetisi dan kerja sama dengan para wakil mereka yang telah terpilih; (d) Henry B Mayo, demokrasi sebagai sebagai sistem politik merupakan suatu sistem yang menunjukkan bahwa kebijakan umum ditentukan atas dasar mayoritas oleh 1

wakil-wakil yang diawasi secara effektif oleh rakyat dalam pemilihan-pemilihan berkala yang didasarkan atas prinsip kesamaan politik dan diselenggarakan dalam suasana terjaminnya kebebasan politik. Dari beberapa pendapat di atas diperoleh kesimpulan bahwa hakikat demokrasi sebagai sistem bermasyarakat dan bernegara serta pemerintahan memberikan penekanan pada keberadaan kekuasaan di tangan rakyat yang mengandung pengertian tiga hal: Pertama, pemerintahan dari rakyat (government of the people) mengandung pengertian yang berhubungan dengan pemerintahan yang sah dan diakui (legitimate government) dan pemerintahan yang tidak sah dan tidak diakui (unligitimate government) di mata rakyat. Legimitasi suatu pemerintahan sangat penting, karena dengan legitimasi tersebut pemerintahan dapat menjalankan roda birokrasi dan program-programnya sebagai wujud dari amanat yang diberikan oleh rakyat kepadanya.

Kedua, pemerintahan oleh rakyat (government by the people) mengandung arti bahwa pemerintahan menjalankan kekuasaan atas nama rakyat bukan atas dorongan diri dan keinginannya sendiri, serta dalam menjalankan kekuasaannya, maka pemerintah berada dalam pengawasan rakyat (social control) secara langsung maupun tidak langsung. Ketiga, pemerintahan untuk rakyat (government for the people) mengandung arti bahwa kekuasaan yang diberikan oleh rakyat kepada pemerintah itu dijalankan untuk kepentingan rakyat. Kepentingan rakyat harus didahulukan dan diutamakan di atas segalanya. Untuk itu pemerintah harus mendengarkan dan mengakomodasi aspirasi rakyat dalam merumuskan dan menjalankan kebijakan dan program-programnya. Pemerintah harus membuka saluran dan ruang kebebasan serta menjamin adanya kebebasan seluas-luasnya kepada rakyat dalam menyampaikan aspirasinya baik melalui media pers maupun secara langsung. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa demokrasi merupakan bentuk pemerintahan yang tumbuh dan berkembang dengan sendirinya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Karena itu demokrasi memerlukan usaha nyata setiap warga dan perangkat pendukungnya yaitu budaya yang kondusif sebagai manifestasi dari suatu mind set (kerangka berpikir) dan setting social (rancangan masyarakat). Sehingga bentuk kongkrit dari manifestasi tersebut adalah dijadikannya demokrasi sebagai way of life (pandangan hidup) dalam seluk beluk sendi kehidupan bernegara baik oleh rakyat (masyarakat) maupun oleh pemerintah. Sebagai bentuk 2

pemerintahan maka demokrasi meliputi unsur-unsur : (1) Adanya partisipasi masyarakat secara aktif dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, (2) Adanya pengakuan akan supremasi hukum., (3) Adanya kebebasan, antara lain: kebebasan berekspresi dan berbicara atau berpendapat, kebebasan untuk berkumpul dan berorganisasi, kebebasan beragama dan berkeyakinan, kebebasan untuk menggugat pemerintah, kebebasan untuk memilih dan dipilih dalam pemilihan umum, dan kebebasan untuk mengurus nasib sendiri, dan (4) Adanya pengakuan supremasi sipil atas militer. Pemerintahan demokratis membutuhkan kultur demokrasi untuk membuatnya performed (eksis dan tegak). Kultur demokrasi ini berada dalam masyarakat itu sendiri. Pemerintahan yang baik dapat tumbuh dan stabil bila masyarakat pada umumnya punya sikap positif dan proaktif terhadap norma-norma dasar demokrasi. Oleh karena itu harus ada keyakinan yang luas di masyarakat bahwa demokrasi adalah sistem pemerintahan yang terbaik dibanding dengan sistem lainnya (Saiful Mulyani:2002) . Untuk itu masyarakat harus menjadikan demokrasi sebagai way of life yang menuntun tata kehidupan kemasyarakatan, kebangsaan, pemerintahan dan kenegaraan. Demokrasi mengandung proses dinamis dalam arti proses melaksanakan nilainilai civility (keadaban) dalam bernegara dan bermasyarakat (Nurcholis Madjid:2000), sehingga secara teoritis maupun pengalaman praktis di negeri-negeri yang demokrasinya cukup mapan paling tidak mencakup tujuh norma : Pertama, pentingnya kesadaran akan pluralisme. Dalam hal ini tidak hanya sekedar pengakuan (pasif) akan kenyataan masyarakat yang majemuk, tetapi lebih dari itu adalah kesadaran akan kemajemukan menghendaki tanggapan yang positif terhadap kemajemukan itu sendiri secara aktif. Seorang individu akan mampu menyesuaikan dirinya pada cara hidup demokratis jika ia mampu mendisiplinkan dirinya sendiri ke arah jenis persatuan dan kesatuan yang diperoleh melalui penggunaan perilaku kreatif dan dinamik serta memahami segi-segi positif kemajemukan masyarakat. Pandangan hidup demokratis seperti ini menuntut moral pribadi yang tinggi. Kesadaran akan pluralitas sangat penting dimiliki bagi rakyat Indonesia sebagai bangsa yang sangat beragam dari sisi etnis, bahasa, budaya, agama dan potensi alamnya. Kedua, adanya istilah ³musyawarah´ dalam arti ³saling memberi isyarat´ (bahasa Arab). Internalisasi dan semangat musyawarah menghendaki dan

mengharuskan adanya keinsyafan dan kedewasaan untuk dengan tulus menerima kemungkinan kompromi atau bahkan ³kalah suara´. Semangat musyawarah menuntut 3

dan tidak harus. dan harus memiliki kepastian bahwa rencana-rencana itu benar-benar sejalan dengan tujuan dan praktik demokrasi. pangan dan papan. berkecenderungan baik. dan menghina yang merusak dan tanpa tanggung jawab. di mana pertimbangan moral (keluhuran akhlak) menjadi acuan dalam berbuat dan mencapai tujuan. Korelasinya yang lain ialah seberapa jauh kita bisa bersikap dewasa dalam mengemukakan pendapat. Jadi permufakatan yang dicapai melalui manipulasi atau taktik hasil konspirasi. Pandangan demokratis mewajibkan adanya keyakinan bahwa cara haruslah sejalan dengan tujuan. bahkan dapat dikatakan sebagai suatu penghianatan pada nilai dan semangat demokrasi. terpenuhinya keperluan pokok yaitu sandang. Kelima. Dalam masyarakat yang belum terlatih benar untuk berdemokrasi. Sehingga demokrasi tidak akan terwujud tanpa akhlak yang tinggi.agar setiap orang menerima kemungkinan terjadinya ³partial fintioning of ideals´ yaitu suatu pandangan bahwa belum tentu. kerjasama antarwarga masyarakat dan sikap saling mempercayai itikad baik masing-masing. cacat atau sakit. Masyarakat demokratis ditantang untuk mampu menganut hidup dengan pemenuhan kebutuhan secara berencana. permufakatan yang jujur dan sehat adalah hasil akhir musyawarah yang jujur dan sehat. sering terjadi kejenuhan antara mengkritik yang sehat dan bertanggung jawab. dan kemungkinan mengambil pendapat yang lebih baik. dan beritikad baik. Hal ini mengisyaratkan suatu kutukan kepada orang yang berusaha meraih tujuannya dengan cara-cara yang tidak peduli kepada pertimbangan moral. Keempat. Ketiga. tidak hanya merupakan permufakatan yang curang. merupakan segi penunjang efisiensi untuk 4 . Korelasi prinsip ini ialah kesediaan untuk kemungkinan menerima bentuk-bentuk kompromi atau islah. Bahkan sesungguhnya klaim atas suatu tujuan yang baik harus diabsahkan oleh kebaikan cara yang ditempuh untuk meraihnya. Dengan demikian rencana pemenuhan kebutuhan ekonomi harus mempertimbangkan aspek keharmonisan dan keteraturan sosial. Ketiga hal itu menyangkut masalah pemenuhan segi-segi ekonomi yang dalam pemenuhannya tidak lepas dari perencanaan sosial-budaya. Musyawarah yang benar dan baik hanya akan berlangsung jika masing-masing pribadi atau kelompok mempunyai kesediaan psikologis untuk melihat kemungkinan orang lain benar dan diri sendiri salah. kemudian jalinan dukung mendukung secara fungsional antara berbagai unsur kelembagaan kemasyarakatan yang ada. dan bahwa setiap orang pada dasarnya baik. Keenam. seluruh keinginan atau pikiran seseorang atau kelompok akan diterima dan dilaksanakan sepenuhnya. ungkapan ³tujuan menghalalkan segala cara´ harus dihindari.

Terjadi diskrepansi (jurang pemisah) antara das sein dan das sollen dalam konteks ini ialah dari kuatnya budaya ³menggurui´ (secara feodalistik) dalam masyarakat kita. tetapi diwujudkan dalam hidup nyata (lived in) dalam sistem pendidikan kita.demokrasi. Dahl terdapat enam prinsip yang harus ada dalam sistem demokrasi.tidak dalam arti menjadikannya muatan kurikuler yang klise. buka saja mengakibatkan tidak efisiennya cara hidup demokratis. hanya karena telah berbicara tanpa perilaku. Suatu pemerintahan dikatakan demokratis bila dalam mekanisme pemerintahan mewujudkan prinsip-prinsip demokrasi. melainkan telah membumi (menyatu) dalam interaksi dan pergaulan sosial baik di kelas maupun di luar kelas. pendidikan demokrasi. Sementara ini pendidikan demokrasi pada umumnya masih terbatas pada usaha indoktrinasi dan penyuapan konsep-konsep secara verbalistik. Pengakuan akan kebebasan nurani (freedom of conscience). kebebasan. (d) kebebasan menyatakan pendapat tanpa ancaman. Pandangan kemanusiaan yang negatif dan pesimis akan dengan sendirinya sulit menghindari perilaku curiga dan tidak percaya kepada sesama manusia. Pandangan hidup demokratis terlaksana dalam abad kesadaran universal sekarang ini. Sementara itu Inu Kencana lebih memerinci lagi tentang prinsip-prinsip demokrasi dengan a). (e) kebebasan mengakses informasi. dan pluralisme. maka nilai-nilai dan pengertian-pengertiannya harus dijadikan unsur yang menyatu dengan sistem pendidikan kita. yang kemudian ujungnya ialah keengganan bekerjasama. Masyarakat yang terkotak-kotak dengan masing-masing penuh curiga kepada lainnya. (f) kebebasan berserikat. Ketujuh. Kita harus mulai dengan sungguh-sungguh memikirkan untuk membiasakan anak didik dan masyarakat umumnya siap menghadapi perbedaan pendapat dan tradisi pemilihan terbuka untuk menentukan pimpinan atau kebijakan. Jadi kajian demokrasi tidak saja dalam kajian konsep verbalistik. persamaan hak dan kewajiban bagi semua (egalitarianism) dan tingkah laku penuh percaya pada itikad baik orang dan elompok lain (trust attitude) mengharuskan adanya landasan pandangan kemanusiaan yang positif dan optimis. Sedang dalam pandangan Robert A. Menurut Masykuri Abdillah (1999) prinsipprinsip demokrasi terdiri atas prinsip persamaan.(c) hak memilih dan dipilih. yaitu: (a) kontrol atas keputusan pemerintah. Adanya 5 . Sehingga verbalisme yang dihasilkannya juga menghasilkan kepuasan tersendiri dan membuat yang bersangkutan merasa telah berbuat sesuatu dalam penegakan demokrasi. (b) pemilihan yang teliti dan jujur. tetapi juga dapat menjurus pada lahirnya pola tingkah laku yang bertentangan dengan nilainilai asasi demokrasi.

n) adanya pengawasan terhadap administrasi publik. Aturan yang ada harus mengandung dua hal. secara distributif Ketiga. h) adanya pers yang bebas. b) adanya pemilihan umum yang bebas. karena itu demokrasi tidak boleh menjadi gagasan yang utopis melainkan harus diimplementasikan dalam interaksi sosial kemasyarakatan. memiliki sambungan yang jelas. Penyelenggaraan kekuasaan negara sendiri haruslah diatur dalam suatu tata aturan yang membatasi dan sekaligus memberi koridor dalam pelaksanaannya. Sementara ini pemilihan umum dipercaya sebagai salah satu instrumen penting guna memungkinkan berlangsungnya suatu proses pembentukan pemerintahan yang baik. dan adanya mekanisme yang memungkinkan check and balance terhadap kekuasaan yang dijalankan eksekutif dan legeslatif. 6 . watak dan pola hubungan yang akan terbangun. masalah pembentukan negara. Ciri-ciri ini kemudian dijadikan parameter untuk mengukur tingkat pelaksanaan demokrasi yang berjalan di suatu negara. Suasana kehidupan yang demokratis merupakan dambaan bagi umat manusia termasuk manusia Indonesia. susunan kekuasaan negara. o) adanya perlindungan hak asasi. f) adanya pengakuan hak minorritas. Kita percaya bahwa proses pembentukan kekuasaan akan sangat menentukan bagaimana kualitas. Masalah ini menyangkut konsep legitimasi kekuasaan serta pertanggungjawaban langsung kepada rakyat. dasar kekuasaan negara. Untuk mengukur suatu negara atau pemerintah dalam menjalankan tata pemerintahannya dikatakan demokratis dapat dilihat dari empat aspek. Kedua.pembagian kekuasaan. Kekuasaan negara dijalankan untuk menghindari penumpukan kekuasaan dalam satu ³tangan/wilayah´. masalah kontrol rakyat. g) adanya pemerintahan yang berdasarkan hukum. k) adanya persetujuan parlemen. kebangsaan dan kenegaraan. yakni suatu relasi yang simetris. p) adanya pemerintahan yang bersih. Prinsip-prinsip negara demokrasi yang telah disebut di muka kemudian dituangkan dalam konsep yang lebih praktis untuk dapat diukur dan dicirikan. l) adanya pemerintahan yang konstitusional. adanya musyawarah. Apakah dengan koridor tersebut sudah dengan sendirinya akan berjalan suatu proses yang memungkinkan terbangun sebuah relasi yang baik. a) memungkinkan terjadinya desentralisasi untuk menghindari sentralisasi. Keempat. c) adanya manajemen yang terbuka. e) adanya peradilan yang bebas. Pertama. d) adanya kebebasan individu. yaitu. m) adanya ketentuan tentang pendemokrasian. s) adanya kebijaksanaan negara. q) adanya persaingan keahlian. dan t) adanya pemerintahan yang mengutamakan tanggungjawab. b) memungkinkan pembatasan agar kekuasaan tidak menjadi tidak tak terbatas. r) adanya mekanisme politik.

kebebasan berkumpul dan berorganisasi serta membentuk partai politik. Kelima elemen tersebut berlaku secara universal di dalam melihat demokrasi tidaknya suatu rezim pemerintahan (potical order) B. b) klaim itu berdasarkan adanya pemilihan kompetitif secara berkala antara calon alternatif. e) orang yang terdidik. kebebasan pers. c) pemilu yang bebas. pedagang asing. d) pemilihan umum. d) prinsip mayoritas. bahkan warga negara yang bisa menikmati hak demokrasi hanyalah warga negara yang resmi. 7 . b) perasaan fair play. sedangkan budak belian. e) adanya pengakuan dan perlindungan hak-hak dasar. Bingham Powell Jr (Tim ICCE UIN:2003) meliputi : a) pemerintah mengklaim mewakili hasrat para warganya. perempuan dan anak-anak tidak dapat menikmatinya. W. e) warga negara memiliki kebebasan-kebebasan dasar yaitu kebebasan berbicara. Demokrasi yang dilaksanakan pada masa itu berbentuk demokrasi langsung (direct democracy) artinya hak rakyat untuk membuat keputusan politik dijalankan secara langsung oleh seluruh warga negara berdasarkan prosedur mayoritas. f) jaminan hidup. b) kontrol efektif terhadap pemerintah oleh rakyat. d) pemilihan bebas. c) partisipasi orang dewasa sebagai pemilih dan calon yang dipilih.Kriteria negara demokratis menurut G. c) rekruitmen politik. Sejarah Perkembangan Demokrasi Konsep demokrasi semula lahir dari pemikiran hubungan negara dan hukum di Yunani dan dipraktekkan dalam hidup bernegara antara abad ke-6 SM sampai abad ke-4 M. Frans Magnis Suseno (1997) mengatakan kriteria negara demokratis adalah: a) negara terikat pada hukum. kebebasan dan hak milik. Sedangkan Affan Gafar (1993) menyebutkan sejumlah prasyarat untuk mengamati apakah sebuah political order (pemerintahan) merupakan sistem yang demokratik atau tidak melalui ukuran : a) akuntabilitas. d) persamaan kesempatan. Sifat langsung ini bisa berjalan karena pada masa itu di Yunani Kuno hanya berbentuk negara kota (polis) dengan jumlah penduduk relatif sedikit. Ross Yates (tim ICCE UIN:2003) mengajukan enam ciri negara demokrasi ialah: a) toleransi terhadap orang lain. e) adanya jaminan terhadap hak-hak demokratis. c) optimisme terhadap hakikat manusia. b) rotasi kekuasaan.

Sehingga menurut Philip K. Renaissance merupakan gerakan yang menghidupkan kembali minat pada sastra dan budaya Yunani Kuno. kehidupan spiritual dikuasai oleh Paus dan pejabat agama. Gerakan reformasi di Eropa juga mendorong munculnya gerakan demokrasi. telah mengilhami munculnya kembali gerakan demokrasi. Dengan kata lain. renaissance di Eropa bersumber dari tradisi keilmuan Islam dan berintikan pada pemuliaan akal pikiran untuk selalu mencipta dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu demokrasi tidak muncul pada abad pertengahan ini. Dengan dimotori Martin Luther menyulut api pembrontakan terhadap dominasi gereja yang telah mengungkung kebebasan berpikir dan bertindak. Oemar Khayam. Al-Razi. yaitu kaum bangsawan dan kaum agamawan. kedua. Gerakan ini lahir karena adanya kontak dengan dunia Islam yang ketika itu berada di puncak kejayaan peradaban ilmu pengetahuan. Dengan demikian kehidupan sosial politik dan agama pada masa ini hanya ditentukan oleh elit-elit masyarakat. Bagdhad sebagai pusatnya) dan warisan klasik (Yunani Kuno).Gagasan demokrasi Yunani Kuno ini berakhir pada abad pertengahan. Hitti dunia Islam telah memberikan sumbangan besar terhadap kemajuan dan perkembangan Eropa melalui terjemahan-terjemahan terhadap warisan Parsi Kuno dan Yunani Kuno dan menyeberangkannya ke Eropa. adanya pembatasan kekuasaan raja. Al Khawarizmi dan sebagainya. Namun demikian menjelang akhir abad pertengahan. karena pada abad ini masyarakat Eropa bercirikan masyarakat feodal. bukan hanya berhasil mengasimilasikan pengetahuan Parsi Kuno (baca. hak asasi manusia lebih penting daripada kedaulatan raja. melainkanjuga berhasil berdasarkan kebutuhankebutuhan yang sesuai dengan alam pikiran mereka sendiri. Momentum lainnya yang menandai kemunculan kembali demokrasi di dunia barat adalah gerakan renaissance dan reformasi. yaitu suatu gerakan revolusi agama yang terjadi di Eropa pada abad ke-16 yang bertujuan untuk memperbaiki keadaan dalam gereja Katolik yang sebelumnya begitu dominan dalam menentukan tindakan warga negara dan semuanya ditentukan oleh gereja. 8 . sedangkan kehidupan politiknya ditandai oleh perebutan kekuasaan di antara para bangsawan. Para ilmuwan Islam seperti Ibnu Khaldun. Lahirnya Magna Charta yang memuat perjanjian antara kaum bangsawan dengan Raja John di Inggris merupakan tonggak baru kemunculan demokrasi empirik. tumbuh lagi keinginan menghidupkan demokrasi. yang isinya memuat dua prinsip yang sangat mendasar: pertama.

Salah satu ciri demokrasi konstitusional yang hidup pada abad ke-19 ialah sifat pemerintah yang pasif. Gagasan inilah yang kemudian dinamakan konstitusionalisme atau demokrasi konstitusional. Frederick pemerintah di sini dibatasi agar tidak menyalahgunakan kekuasaannya. beberapa faktor yang mendorong gugatan ini menurut Mariam Budihardjo antara lain adalah akses-akses dalam industrialisasi dan sistem kapitalis. untuk itu timbullah gagasan tentang cara membatasi kekuasaan pemerintah melalui pembuatan konstitusi baik tertulis maupun tidak tertulis. Menurut Carl J.Di samping itu ada dua filusuf besar John Locke dan Montesquieu memberikan sumbangan besar bagi gagasan pemerintahan demokrasi. pemerintah hanya menjalankan undang-undang yang telah dibuat oleh parlemen atas nama rakyat. Konsep Negara Hukum Formal di atas mulai digugat menjelang abad ke-20 tepatnya setelah Perang Dunia II. Sedang Montesquieu (1689-1944) mengungkapkan sistem pokok yang dapat menjamin hak-hak politik tersebut melalui ³trias politica´. 9 . Sehingga kekuasaan pemerintah diimbangi dengan kekuasaan parlemen dan lembagalembaga hukum. property) harus dilndungi. Konsep demokrasi konstitusional ini disebut Negara Hukum Formal (klasik) pada abad ke-19 atau menurut Arif Budiman disebut negara Pluralisme. yaitu negara yang tidak mandiri yang hanya bertindak sebagai penyaring berbagai keinginan dari interest group dalam masyarakat. dalam arti hanya menjadi wasit atau pelaksana sebagai keinginan rakyat yang dirumuskan oleh wakil rakyat di parlemen. kebebasan dan hak memiliki (live. yakni suatu sistem pemisahan kekuasaan dalam negara menjadi tiga bentuk kekuasaan yaitu legislatif. Maka pemerintah tidak boleh bersifat pasif atau berlaku hanya sebagai penjaga malam. Gagasan bahwa pemerintah dilarang campur tangan dalam urusan warga negara di bidang sosial maupun ekonomi bergeser ke dalam gagasan baru. Hak-hak politik rakyat dan hak-hak asasi manusia merupakan tema dasar dalam pemikiran politik (ketatanegaraan). melainkan harus aktif melaksanakan upayaupaya untuk membangun kesejahteraan masyarakatnya dengan cara mengatur kehidupan ekonomi dan sosial. John Locke (1632-1704) mengemukakan bahwa hak-hak politik rakyat mencakup hak atas hidup. liberal. yakni bahwa pemerintah harus bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyat. Jadi pemerintahan demokrasi yang demikian ini pemerintah hanya memiliki peran yang terbatas pada tugas eksekutif. eksekutif dan yudikatif yang masing-masing dipegang harus dipegang oleh organ sendiri-sendiri secara merdeka. tersebarnya paham sosialisme yang menginginkan pembagian kekuasaan secara merata serta kemenangan beberapa partai sosialis di Eropa.

Masing-masing warga tentu memiliki pandangan atau pendapat tertentu terhadap masalah dan pemecahannya. yaitu kemerdekaan yang dimiliki oleh pemerintah untuk turut serta dalam kehidupan sosial dan keleluasaan untuk selalu terikat pada produk legislasi parlemen. Kehidupan Demokrasi dalam Bermasyarakat. Negara Indonesia termasuk menganut konsep demokrasi welfare state. dan Bernegara Demokrasi telah lama berkembang di bumi Indonesia sebagai contoh adanya musyawarah adat. Gagasan Welfare State ini menyebabkan peranan pemerintah semakin luas. . di bidang legislasi misalnya. sebagaimana tersurat dalam Pembukaan UUD 1945 alinea ke-4 yang memuat tujuan nasional .´ C. yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum. bahkan fres ermessen mempunyai tiga macam aplikasi. Dalam kegiatan berdemokrasi tersebut warga mengambil bagian dalam proses pembuatan keputusan atau kebijakan yang menyangkut kepentingan bersama.. Tetapi demokrasi tidak hanya diterapkan dalam memecahkan masalah saja. yaitu adanya hak inisiatif (membuat peraturan yang sederajad dengan Undang-undang tanpa persetujuan lebih dulu dari parlemen. ³. rapat nagari dan sebagainya. mencerdaskan kehidupan bangsa... Pemerintah diberi kemerdekaan bertindak atas inisiatif sendiri. Tetapi pada akhirnya demokrasi Welfare State ini juga mulai ditinjau ulang. Itulah sebabnya kepada pemerintah diberikan ³Fres Ermessen´ atau ³Pouvoir discretionnair´. berlakunya dibatasi oleh waktu tertentu). Pemerintah Welfare State diberi tugas membangun kesejahteraan umum dalam berbagai lapangan (Bestuurzorg) dengan konskuensi pemberian kemerdekaan administrasi negara dalam menjalankannya. Jadi tidak hanya ketua adat atau kepala suku saja yang berhak membuat keputusan. tidak hanya atas inisiatif parlemen. bisa saja dalam hal merumuskan 10 . dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. karena konsep demokrasi di Barat masih terus berjalan dan mengalami perubahan yang signifikan.Gagasan baru ini dikenal sebagai gagasan ³Welfare State´ atau ³Negara Hukum Material´ (Dinamis).. rembug desa. hak legislasi (membuat peraturan di bawah undang-undang) dan droit function (menafsirkan sendiri aturan-aturan yang masih bersifat enunsiatif). Kehidupan demokrasi ini sangat nyata diterapkan ketika ada suatu masalah dan semua warga dilibatkan untuk memecahkan masalah tersebut. Berbangsa. perdamaian abadi dan keadilan sosial.

dalam kehidupan bermasyarakat. sosial. Mereka harus menyadari bahwa mandat yang mereka peroleh dari rakyat harus dikembalikan dalam bentuk pemberian pelayanan sebaik mungkin kepada rakyat. di dalam negara demokrasi rakyat memiliki kedaulatan. Kesetaraan gender merupakan keniscayaan demokrasi. (2) Kontak atau berhubungan dengan pejabat pemerintah. seperti media massa. Dalam kehidupan demokrasi ini politisi harus accountable. menjadi anggota atau membentuk partai politik.kebijakan-kebijakan bersama bernegara. dan (4) Mencalonkan diri dalam pemlihan jabatan publik seperti kepala desa/lurah. Kebebasan berpartisipasi. Hal ini mengandung arti rakyat berdaulat dalam ikut menentukan pemerintahan. bahkan sangat mungkin negara akan mudah melakukan pelanggaran hak asasi manusia. Kehidupan demokrasi membuka banyak alternatif bagi warga negara untuk memiliki kebebasan berkelompok ini misal ikut berorganisasi. dari rakyat. Hak ini bergena untuk menyuarakan aspirasi dan gagasan setiap wara negra melalui berbagai saluran publik. Esensi kedaulatan adalah penciptaan otorisasi dan penegakan hukum sesuai standar persyaratan kebaikan umum. berbangsa dan Perlu diketahui dalam mengembangkan pemerintahan demokratis ada beberapa nilai demokrasi yang mutlak harus dilaksanakan ialah : Kebebasan berpendapat. bupati/wali kota. Hal ini sesuai dengan makna demokrasi. memberikan dukungan kepada siapapun sesuai dengan kepentingannya. (3) Melakukan protes terhadap lembaga masyarakat atau pemerintah agar sistem politik bekerja lebih baik. oleh rakyat dan untuk rakyat. hal ini sangat dihargai dalam kehidupan demokrasi karena hal ini merupakan hak setiap warga negara. buku. sesuai dengan sistem pemilihan yang berlaku. gubernur. merupakan naluri dasar manusia sebagai makhluk sosial. sSuatu pemerintahan demokrasi akan sulit 11 . Kebebasan berkelompok. yakni melayani segala kebutuhan rakyat. Pengekangan terhadap kebebasan berpendapat akan menyebabkan negara menjadi represif dan tidak dapat dikontrol. karya seni maupun melalui wakil-wakil rakyat di parlemen. di mana kedudukan lakilaki dan perempuan memiliki kodrat yang sama sebagai makhluk sosial. Kedaulatan rakyat. Akibat lebih lanjut kehidupan demokrasi akan mati. hal ini sebenarnya ini sebenarnya gabungan dari kebebasan berpendapat dan kebebasan berkelompok yang meliputi : (1) Pemberian suara dalam pemilihan umum. anggota legeslatif bahkan presiden. Rasa percaya. Oleh karena itu demokrasi tanpa kesetaraan gender akan berdampak ketidak adilan atau bahkan deskriminasi. ekonomi. memiliki akses yang sama dalam kehidupan politik.

berkembang bila rasa saling percaya antar kelompok masyarakat tidak tumbuh. Apabila yang ada adalah rasa ketakutan. Apabila sikap ini dapat terwujud alangkah harmonisnya kehidupan demokrasi itu. Selanjutnya menurut Asykuri Ibn Chamim (2003) nilai-nilai demokrasi seperti tersebut di atas merupakan wacana normatif yang memerlukan kondisi tertentu sebagai landasan pengembangannya. Kemudahan bergabung dengan setiap kelompok yang ada juga diperkuat oleh kesediaan dan keragaman suatu kelompok dlam menerima kemenangan kelompok lain 12 . pluralisme dan hubungan yang seimbang antara negara dan masyarakat. karena kemakmuran ekonomi akan menghasilkan orang-orang yang lebih percaya diri dan menumbuhkan etos dalam dirinya untuk mencapai kehidupan yang lebih baik di masa depan. Contoh kongkrit misalnya. Pertumbuhan ekonomi. Kondisi yang dimaksud adalah pertumbuhan ekonomi. percaya diri dan bermotivasi tinggi dalam kehidupan mereka. sehingga hal ini juga akan memperbesar persentase masyarakat yang cenderung kritis. kekhawatiran. Di dalam masyarakat plural ini setiap orang dapat bergabung dengan kelompok yang ada tanpa adanya rintangan-rintangan sistemik yang mengakibatkan terhalangnya hak untuk berkelompok atau bergabung dengan kelompok tertentu. salah satu nilai yang mampu mendorong terwujudnya demokrasi adalah kerja sama. Dan yang terakhir Kerja sama. Pluralisme. kecurigaan. Keadaan yang demikian dapat dibuktikan bahwa banyak negara yang pertumbuhan ekonominya rendah cenderung pemerintahnnya tidak demokratis. Hal ini menuntut tumbuhnya institusi politik yang responsif terhadap kebutuhan rakyatnya. Kerja sama bukan berarti menutup munculnya perbedaan pendapat antar individu atau antar kelompok. Kerja sama ini dapat diwujudkan dalam bentuk sikap mau menerima pendapat orang lain dan konsisten dalam menerima segala keputusan yang telah ditetapkan bersama. jika memadai menjadi salah satu aktor kondisional yang ikut mendorong tumbuhnya kehidupan demokrasi. masyarakat plural dapat dipahami sebagai masyarakat yang terdiri dari berbagai kelompok. Kondisi yang demikian akan sangat merugikan keseluruhan sistem politik dan sosial. maka dapat dipastikan hubungan kelompok antar masyarakat akan terganggu secara permanen. karena tanpa perbedaan maka demokrasi justru tidak berkembang. dalam suatu pemilihan individu atau kelompok diharapkan siap menang dan siap kalah. Akibat yang timbul dari pertumbuhan ekonomi ini juga mendorong masyarakat untuk mencapai tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Akibat lebih lanjut agenda pemerintahan tidak terlaksana karena dukungan masyarakat sangat lemah karena adanya rasa tidak saling percaya tersebut. dan bahkan permusuhan.

Negara seperti inilah yang dapat memberikan perlindungan bagi rakyatnya dan menjadi penopang bagi pengembangan nilai-nilai demokrasi. Pada perkembangan kehidupan bermasyarakat. dan rakyat. Di samping itu dengan demokrasi maka rakyat dapat membentuk asosiasi-asosiasi yang dapat mengimbangi kekuasaan pemerintah. warga mesyarakat dapat mengartikulasikan aspirasinya dan menyatakan dengan jelas apa kepentingannya. antara lain : 1. pola hubungan negara dan masyarakat merupakan kondisi lain yang menentukan kualitas pengembangan demokrasi. karena dengan pemilu lembaga-lembaga kenegaraan dapat dibentuk baik legeslatif maupun eksekutif. jujur dan adil. Oleh karena itu yang diperlukan dalam negara demokrasi adalah hubungan antara negara dan masyarakat/rakyat yang seimbang. memerlukan adanya partai politik. Pemilu merupakan gerbang utama yang haus dilewati pemerintahan demokrasi. Demokrasi memerlukan sebuah negara kuat tetapi menghormati hukum. kompetitif. sehingga konflik dapat dihindari. Masyarakat yang heterogen membuka peluang bagi persaingan dan konflik antar kelompok yang ada. Demokrasi akan sulit berkembang apabila berada pada posisi ³negara kuat´ . Untuk itulah ada parameter untuk mengamati apakah demokrasi terwujud atau tidak dalam suatu negara. karena ada kecenderungan ³negara kuat´ akan melakukan represi terhadap masyarakat yang dianggap membahayakan negara.dalama sebuah persaingan secara jujur. Dengan kata lain. Dengan demokrasi warga masyarakat memiliki peluang untuk mengajukan alternatif kebijaksanaan ketimbang hanya menerima begitu saja apa yang diajukan pemerintah. Sehingga ³negara kuat´ cenderung akan melemahkan pondasi demokrasi. berbangsa dan bernegara sekarang ini demokrasi merupakan pilihan banyak negara. Kalau begitu apakah memerlukan ³negara lemah´ ? Jawabnya. jelas tidak. Biasanya dalam keadaan ³negara kuat´ tidak mengenal adanya kelompok kritis atau oposisi. legeslatif. Melalui pemilu juga akan diketahui seberapa 13 . Hubungan yang seimbang antara negara dan masyarakat. Pemilihan umum yang dilakukan secara teratur dengan tenggang waktu yang jelas. karena negara yang lemah tidak mungkin bisa memainkan peran utamanya yaitu melindungi masyrakat dan mempertahankan kedaulatan negara. Akan tetapi kemenangan suatu kelompok yang telah sesuai dengan aturan yang diakui secara kolektif harus diterima dengan tangan terbuka. demokrasi akan membatasi peluang pemerintah untuk melaksanakan pemerintahan yang berlawanan dengan kehendak masyarakat luas. alasanya sangat jelas yaitu dengan demokrasi maka pemerintah akan dapat dikontrol oleh masyarakat. media massa.

3. namun tidak benar bahwa kekuasaan mayoritas itu selalu demokratis. pragmatisme. (d) hak minoritas. (b) pemerintahan berdasarkan persetujuan dari yang diperintah. Pengadilan adalah yuri yang mampu bertindak netral apabila terjadi konflik dalam masyarakat. (e) jaminan HAM. kebebasan pers. Hal ini sangat diperlukan dalam rangka menciptakan keseimbangan antar berbagai kekuasaan yang ada dalam negara. (c) kekuasaan mayoritas. Akuntasi publik. kebebasan dari rasa takut. Di negara totaliter atau otoriter tidak akan terjadi karena rekrutmen politik hanya dilakukan tertentu baik individu maupun kelompoknya. (k) nilainilai toleransi. Apabila hak-hak dasar ini dilakukan dengan sepenuhnya maka dapat dinyatakan demokrasi sudah berjalan dengan baik. Parameter lain untuk dapat mengetahui demokratis atau tidaknya suatu pemerintahan dapat dilihat dari dipenuhi atau tidaknya unsur-unsur sebagai berikut : (a) kedaulatan rakyat. kerja sama dan mufakat (Alamudi:1994). Rekrutmen politik secara terbuka. 2. Demokrasi memberikan peluang untuk mengadakan kompetisi karena semua orang dan kelompok memili hak dan peluang yang sama di bidang pemerintahan. (g) persamaan di depan hukum. Kelompok mayoritas dapat melindungi kelompok minoritas. kebebasan menyatakan pendapat. Hal terutama menyangkut kebebasan berserikat. Suatu negara dapat dikatakan demokratis apabila kekuasaan mayoritas digandengkan dengan jaminan hak asasi manusia (HAM). hak-hak minoritas tidak dapat dihapuskan oleh suara mayoritas. Lebih lanjut Alamudi menjelaskan bahwa dalam negara yang demkratis warga negara bebas mengambil keputusan melalui kekuasaan mayoritas. baik konflik antara lembaga politik maupun konflik antara warga negara dengan pemerintah. (j) pluralisme sosial. dan sebagainya. maka dapat dikatakan negara yang demikian jauh dari demokrasi. karena jabatan yang mereka terima merupakan kepercayaan dari rakyat. 4. sehingga rakyat mempunyai peluang untuk melakukan kontrol terhadap proses penyelenggaran negara. 5. Terwujudnya sebuah pengadilan yang independen. 14 . (h) proses hukum yang wajar. (f) pemilihan yang bebas dan jujur. Dilaksanakan atau tidaknya hak-hak dasar individu atau disebut sebagai basic human right. karena apabila suatu negara hanya seseorang yang berkuasa secara terus menerus atau hanya ada satu partai politik yang berkuasa mengendalikan pemerintahan. Para pemegang jabatan politik harus bisa mempertanggungjawabkan kepada publik apa yang telah dilakukannya baik secara pribadi maupun sebagai pejabat publik. ekonomi dan politik. Apa yang dlakkan harus secara terbuka untuk diketahui publik.besar kemungkinan rotasi kekuasaan. (i) pembatasan pemerintah secara konstitusional.

Musyawarah dan kesepakatan dalam keluarga merupakan bagian terpenting dalam proses pembelajaran demokrasi. terutama dukungan dari unit-unit keluarga dan berbagai komunitas sosial lainnya.Oleh karena itu demokrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sangat membutuhkan dukungan dari berbagai lapisan sosial. Pengertian dan Prinsip-prinsip Budaya Demokrasi Mempelajari budaya demokrasi sudah barang tentu tidak bisa lepas dari budaya politik yakni pola-pola sikap dan orientasi politik yang dimiliki anggota suatu sistem politik. tetapi juga ada jenis budaya politik yang lebih menopang kehidupan politik totaliter. berpikir kritis dan kemauan untuk mendengar. Berdasarkan pengertian tersebut maka dapat diketahui bahwa budaya politik demokrasi merupakan pola-pola sikap dan orientasi politik yang bersumber dari nilainilai dasar demokrasi dan yang seharusnya dimiliki setiap warga dari sistem politik demokrasi. Budaya politik yang diwarnai oleh kerja sama atas dasar saling percaya atarwarga masyarakat akan lebih mendukung demokrasi dari pada budaya politik yang diwarnai rasa saling curiga. dan kompromi merupakan karakter yang sangat diperlukan agar demokrasi dapat terlaksana. seperti kepedulian sebagai warga negara. kebencian dan saling tidak percaya dalam hubungan antarwarga. Macridis & Brown (1986) menyebut bahwa ada berbagai jenis budaya politik yang dapat menopang kehidupan politik demokratis. Mendiskripsikan pengertian dan prinsip-prinsip budaya demokrasi 2. BAB II BUDAYA DEMOKRASI MENUJU MASYARAKAT MADANI Kompetensi Dasar : 1. mengindahkan aturan main (rule of law). Karakter pribadi seperti tanggung jawab moral. Selain itu budaya politik yang memberi nilai tinggi terhadap hubungan-hubungan hirarkis dan perbedaan yang sangat ekstrim akan sangat 15 . Karakter publik juga tidak kalah pentingnya. disiplin diri dari setiap individu adalah wajib dimiliki oleh setiap anggota masyarakat. Menganalisis pelaksanaan demokrasi di Indonesia A. bernegosiasi. Mengidentifikasikan ciri-ciri masyarakat madani 3. Kesediaan warga masyarakat untuk saling toleransi terhadap keanekaragaman dan konflik antarkelompok maupun kesediaan untuk mengakui keabsahan kompromi juga sangat bermanfaat bagi perkembangan demokrasi.

Sedangkan komitmen kewarganegaraan adalah kesetiaan kritis warga negara terhadap nilai-nilai dan prinsip-prinsip dasar demokrasi. seperti kedaulatan 16 . termasuk hormat kepada orang lain dan penggunaan wacana yang beradab). dan kompromi. yaitu : (a) disposisi kewarganegaraan. (10). Dalam tingkatan kehidupan individu sebagai warga negara. totalitarian ditandai oleh Sedangkan budaya politik non-demokratis atau kecurigaan. Sedang masyarakat yang lebih mengutamakan pemenuhan kebutuhan memperoleh kekuasaan dan mengabaikan kebutuhan pihak lain akan cocok memiliki rezim yang otoriter atau totaliter. Komitmen kepada prinsip-prinsip dasar demokrasi. (6). (7). Berdasarkan pernyataan di atas diperoleh pengertian ³budaya demokrasi´ adalah kerja sama. konflik. Disiplin diri dan kesetiaan pada aturan-aturan yang diperlukan untuk memelihara pemerintahan demokratis tanpa tekanan dari otoritas di luar dirinya sendiri. tidak toleran. Sabar dan gigih dalam mengejar tujuan bersama. Inti kebajikan kewarganegaraan ialah tuntutan agar semua warga negara menempatkan kebaikan bersama di atas kepentingan pribadi. dan ketidaksamaan derajat. menghargai keanekaragaman. (2). sebab tanpa hal ini sistem pemerintahan demokrasi tidak mungkin berjalan sebgaimana mestinya. Tanggung jawab pribadi dan kesediaan untuk menerima tanggung jawab bagi dirinya sendiri serta konsekuensi dari tindakan-tindakannya. ketidapercayaan. (5). keseragaman. kesederajadan. Keterbukaan pikiran termasuk sikap skeptis yang sehat dan pengakuan terhadap sifat ambiguitas (mendua arti) kenyataan sosialdan politi. Disposisi kewarganegaraan ialah sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan warga negara yang menopang perwujudan kebaikan bersama serta berfungsinya sistem demokrasi secara sehat. (4). (3). Komitmen ini dapat dipilah menjadi : (1). (8). Murah hatu terhadap sesama dan masyarakat luas. Hal ini meliputi dua aspek. (9). dan (b) komitmen kewarganegaraan. hirarki. dan bukan demokrasi. toleransi. Kesediaan untuk berkompromi dan menerima kenyataan bahwa nilai-nilai dan prinsip-prinsip kadangkala saling bertentangan.mendukung pemerintahan non-demokratis dan kurang mendukung perkembangan demokrasi. Keadaban (civility. Mengasihi sesama. Sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan ini antara lain : (1). kebencian. Branson (2001) menyebutkan bahwa setiap warga negara di dalam negara demokrasi harus memiliki civics virtues (kebajikan-kebajikan kewarganegaraan). saling percaya. Sikap batin dan kehendak untuk menempatkan kebaikan bersama di atas kepentingan pribadi. Toleransi terhadap keanekaragaman.

keadaban (Bambang Suteng. Jadi dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa nilai-nilai budaya demokrasi itu meliputi kebebasan. politik. dan sebagainya. yakni meliputi kebebasan. dan patriotisme. persaudaraan.rakyat. kasih sayang. dan sebagainya. integritas. toleransi. Dengan demikian persamaan berarti tiadanya keistimewaan bagi siapapun dan memberi kesempatan yang sama kepada setiap dan semua orang. persamaan. solidaritas. Pandangan demokrasi bahwa manusia itu berbeda-beda tetapi hakikatnya sama sederajat dalam nilainya dan harga keluhurannya sebagai manusia (dignity of man as human being) dalam masyarakat. kebaikan bersama. dan rule of law. tetapi harus digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat bagi masyarakat dan dengan cara yang tidak melanggar aturan yang sudah disepakati bersama. Sedang komitmen-komitmen kenegaraan antara lain mencakup dedikasi kepada hak asasi manusia (HAM). persamaan politik. Sebagai nilai maka kebebasan ini menjadi pedoman perilaku rakyat bedaulat yang tercermin dalam menghargai kebebasan orang lain dan memanfaatkan kebebasan diri sendiri secara bertanggung jawab. penalaran. Nilaim ini juga tercermin dalam tanggung jawab pribadi dan kesediaan menerima tanggung jawab bagi dirinya sendiri serta konsekuensi dari tindakantindakannya. Selanjutnya dalam bahasan budaya demokrasi ini harus diketahui pula prinsipprinsip atau unsur-unsur yang mendukungnya. 17 . solidaritas/persaudaraan. persamaan menjadi pedoman perilaku rakyat berdaulat agar mereka mampu menghargai harkat martabat sesamanya. pemerintahan. Komitmen kepada nilai-nilai dasar demokrasi. dan sebagainya. dkk:2006) Kebebasan adalah keleluasaan untuk membuat pilihan terhadap beragam pilihan atau melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi kepentingan bersama atas kehendak sendiri tanpa tekanan pihak manapun. sama kedudukannya di dalam hukum.kejujuran. mayority rule-minority right. Sebagai contoh kebajikan kenegaraan menurut Quigley (2002) adalah hormat pada harkat dan martabat setiap orang. toleransi. dan keberadaban. keberadaban. disiplin diri. serta memiliki kesediaan untuk berkompromi dan menerima kenyataan bahwa nilai-nilai dan prinsip-prinsip kadangkala saling bertentangan. pembagian kekuasaan negara. seperti kemerdekaan. persamaan. Persamaan. dan (2). konsultasi kepada rakyat. sistem check and balance. menghormati kebenaran. Keleluasaan di sini bukannya tanpa batas. menghormati penalaran. kesamaderajatan. Sehingga sebagai nilai. persamaan.

Sebagai nilai. kepercayaan. mengasihi sesama dan murah hati terhadap sesama warga masyarakat. Sebagai nilai. sebab meskipun berbeda pandangan atau kepentingan mereka tetap sepkat untuk mempertahankan kesatuan atau ikatan bersama. misalnya tentang bagaimana semua keputusan pemerintah itu dibuat. dan kesetiaan pada aturan-aturan. Sebagaim nilai. toleransi dapat mendorong tumbuhnya sikap toleran terhadap keanekaragaman. Solidaritas ini menjadi penting dalam kehidupan demokrasi karena menjadi perekat agar tidak jatuh ke dalam perpecahan sebgai akibat terlalu mengutamakan kebebasan pribadi tanpa mengingat adanya persamaan hak maupun semangat kebersamaan. tetapi ia akan memegang teguh pendiriannya itu dengan cara yang toleran dengan pandangan orang lain yang berbeda atau bahkan bertentangan dengan pendiriannya. sikap diplin diri. kebiasaan. pendirian. membolehkan pendapat. membiarkan. membela tindakan tertentu. dan atas pertimbangan apa sebuah kebijakan dipilih di antara sejumlah alternatif kebijakan yang ada. Kebiasaan 18 . sikap saling percaya dan kesediaan untuk berkerja sama antar pihak yang berbeda keyakinan. Kejujuran adalah keterbukaan untuk menyatakan kebenaran. Komunikasi antarwarga negara sangat memerlukan kejujuran agar terbangun solidaritas yang kokoh antarsesama pendukung masyarakat demokratis. dan menuntut hal serupa dari orang lain. Demikian juga pemerintah harus jujur dan terbuka kepada rakyat. yakni demi alasan keamanan tidak perlu dinyatakan kepada rakyat. Toleransi adalah sikap atau sifat menghargai. Sebab. prinsip. pandangan. Kejujuran diperlukan agar hubungan antarpihak berjalan dengan baik dan tidak menimbulkan benih-benih konflik di masa depan. Dalam kehidupan yang demokratis dikenal ungkapan ³agree to disagree´ (setuju untuk tidak setuju). Ungkapan ini menunjukkan adanya prinsip solidaritas. dalam negara demokratis prinsipnya rakyat mempunyai hak untuk mengetahui apa yang dikerjakan pemerintah dan bagaimana pemerintah mengerjakan tugasnya.Solidaritas atau kesetiakawanan adalah kesediaan untuk memperhatuikan kepentingan dan bekerja sama dengan orang lain. Dalam masyarakat demokratis seseorang berhak memiliki pandangannya sendiri. dan sebagainya yang bertentangan dengan pendirian sendiri. pandangan dan kepentingannya. Walapun ada pengecualiannya. maka solidaritas ini dapat menumbuhkan sikap batin dan kehendak ntuk menempatkan kebaikan bersama di atas kepentingan pribadi. Penalaran adalah penjelasan mengapa seseorang memiliki pandangan tertentu. kelakuan. penghormatan terhadap kejujuran akan menumbuhkan integritas diri.

maka harus dijaga agar demokrasi tidak berubah menjadi tirani mayoritas. Dalam hal ini paling tidak ada empat bidang yang harus mendapat perhatian (Bambang Suteng. Menyelesaikan perselisihan secara damai dan melembaga antara lain melalui perundingan serta dialog terbuka agar tercapai kompromi. Perlu diketahui bahwa tantangan terberat bagi sebuah bangsa yang hendak membangun demokrasi adalah bagaimana mengembangkan budaya demokrasi dalam kehidupan bangsa yang bersangkutan. dan kepatuhan pada norma-norma yang berlaku dalam kehidupan bersama. Sebagai nilai. Keadaban adalah ketinggian tingkat kecerdasan lahir batin atau kebaikan budi pekerti. yakni lembaga-lembaga negara 19 . Menyelenggarakan pergantian pimpinan secara teratur. maka pemerintah harus dapat menyesuaikan kebijakan publiknya dengan perubahan-perubahan itu. Mayo (Budihardjo:1980) nilai operasional yang menjadi landasan pelaksanaan demokrasi meliputi : (1). konsensus atau mufakat. Mengakui dan menganggap wajar adanya keanekaragaman dalam masyarakat yang tercermin dalam keanekaragaman pendapat.memberi penalaran akan menumbuhkan kesadaran bahwa ada banyak alternatif sumber informasi dan ada banyak kemungkinan cara untuk mencapai tujuan. Perilaku yang beradab adalah perilaku yang mencerminkan penghormatan terhadap dan mempertimbangkan kehadiran pihak lain sebagaimana dicerminkan oleh sopan santun dalam bertindak. Menjamin tegaknya keadilan. menghindari penggunaan kekerasan. Pemerintah wajib memberikan penalaran terhadap kebijakan yang ditetapkannya agar warga negara mengetahui dengan benar apa yang dikerjakan pemerintah. Kehidupan masyarakat memang selalu berubah. (5). keadaban akan menjadi pedoman perilaku warga negara yang serba santun. termasuk penggunaan bahasa tubuh dan berbicara beradab. Dalam demokrasi ada mayoritas dan minoritas dalam pengambilan keputusan. Menjamin terselenggaranya perubahan masyarakat secara damai. (2). dkk:2006). (3). keanekaragaman kepentingan dan tingkah laku. Membatasi penggunaan kekerasan seminimal mungkin. Kemudian nilai-nilai dasar itu dijabarkan lebih rinci dan operasional dalam kehidupan demokrasi. tetapi pemerintah juga hjarus menjaga agar perubahan-perubahan dalam masyarakat tetap terkendali. penalaran dapat mendorong tumbuhnya keterbukaan pikiran. Sebagai nilai. (6). Penalaran ini akan mendorong terbangunnya masyarakat demokratis. termasuk sikap skeptis yang sehat dan pengakuan terhadap sifat ambiguitas (kemenduaartian) kenyataan sosial dan politik. Menurut Henry B. (4). mengutamakan musyawarah untuk mencapai mufakat.

Mental dan keahlian aparat penegak hukum harus dibangun sehingga benarbenar mampu menerapkan prinsip rule of law demokrasi. dan harus mampu bekerja secara efektif dan efisien. Sebab salah satu syarat penting bagi demokrasi adalah terciptanya 20 . masyarakat yang bebas dari pengaruh kekuasaan dan tekanan negara. kekuasaannya kepada rakyat.termasuk birokrasi pemerintah. dengan penjelasan berikut: Lembaga-lembaga negara termasuk birokrasi pemerintah harus dibangun agar menjadi lembaga pelaksana kedaulatan rakyat. harus menerapkan asas keterbukaan (transparan). Untuk itu pelaku ekonomi harus mengindari suap. Masyarakat madani merupakan elemen yang sangat signifikan dalam membangun demokrasi. Masyarakat madani (civil society). pejabat negara harus mempertganggungjawabkan penggunaan kekuasa. akuntabel (dapat dipertanggungjawabkan). harus mampu mewujudkan pemerintahan yang bersih dan berwibawa. masyarakat yang kritis dan berpartisipasi aktif serta masyarakat egaliter (Tim ICCE UIN:2003). korupsi. Kehidupan masyarakat harus dibangun agar mampu menjadi kekuatan pengontrol terhadap penyelenggara negara agar pemerintah tidak menyimpang dari koridor demokrasi. dan masyarakat madani (civil society). Partai-partai politik harus dibangun agar mampu berperan sebagai perumus dan pemadu aspirasi rakyat untuk kenudian memperjuangkannya melalui wakil-wakil rakyat di lembaga pemerintahan. kolusi dan nepotisme yang hanya mensejahterakan sekelompok orang. antara lain pengisian jabatan lembaga negara harus demokratis melalui pemilihan umum atau pemilihan oleh wakil rakyat. dan partisipatif. Masyarakat Madani (civil society) Masyarakat madani (civil society) memiliki ciri sebagai masyarakat terbuka. yang dibutuhkan dalam negara B. Membangun masyarakat madani merupakan bagian dari upaya melewati masa transisi menuju demokrasi melalui pengembangan budaya politik demokratis. Pelaku ekonomi harus pula membangun diri agar mampu melakukan kegiatan ekonomi dalam suasana kehidupan demokrasi untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. partai-partai politik. Partai politik juga harus mampu melakukan kaderisasi agar mampu menyediakan calon-calon pemimpin bangsa yang bisa mewujudkan aspirasi rakyat. pelaku ekonomi.

Istilah civil society adalah berkaitan dengan interaksi-interaksi sosial yang tidak dikuasai oleh negara (Patrick: 2001). (2). Lary Diamond (2003) menyatakan bahwa civil society melingkupi kehidupan sosial terorganisasi yang terbuka. Mohammad AS Hikam (1993) memberikan batasan civil society sebagai wilayah kehidupan sosial yang terorganisasi dan bercirikan. civil society merupakan wilayah publik yang diciptakan dan dijalankan oleh warga negara biasa (bukan pejabat pemerintah). keswasembadaan (self-generating) dan keswadayaan (self-supporting). kebudayaan yang membela hak-hak kolektif. asosiasi penerbitan. warga masyarakat sendiri yang membentuknya bukan pemerintah. Lebih dari itu. Maka sebagai jaringan kerja antarlembaga yang terpisah dari negara namun tunduk terhadap aturan hukum yang berlaku. dan yang bertindak secara mandiri atau dalam kerja sama dengan lembaga-lembaga negara. Civil society ini meliputi : (1). kesukuan. perkumpulan keagamaan. dan sebagainya). perkumpulan dan jaringan perdagangan yang produktif. dan terikat pada tatanan legal atau seperangkat nilai bersama. Berdasarkan hal-hal di atas maka dapat diketahui bahwa civil society tersusun atas berbagai organisasi kemasyarakatan. (2) 21 . (4). ide-ide. yayasan penyelenggara sekolah swasta. berita-berita. gerakan-gerakan perlindungan konsumen. organisasi-organisasi yang bergerak di bidang produksi dan penyebaran pengetahuan umum. perlindungan kaum cacat (difabel). dan informasi publik (contoh. yang memupunyai ciri-ciri : (1) lahir secara mandiri. dan keterikatan dengan norma-norma atau nilai-nilai hukum yang diikuti oleh warganya. percaya dan toleran antarsatu dengan yang lain yang sangat penting artinya bagi bangunan politik demokrasi (Saiful Mujani:2001). para pengguna istilah itu umumnya sependapat bahwa civil society adalah jaringan kerja yang kompleks dari organisasi-organisasi yang dibentuk secara sukarela. perlindungan hak-hak perempuan. (3). kemandirian tinggi berhadapan dengan negara. dan sebagainya. antara lain : kesukarelaan (voluntary). yang berbeda dari lembaga-lembaga negara yang resmi. sehingga memungkinkan tumbuhnya sikap terbuka. setidaknya berswadaya secara parsial.partisipasi masyarakat dalam proses-proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh negara atau pemerintahan. kepercayaan. perlindungan etnis minoritas. nilai-nilai. Civil society mewujudkan dalam berbagai organisasi yang dibuat masyarakat di luar pengaruh negara. otonom dari negara. lahir secara mandiri. suka rela. dan sebagainya. perlindungan korban diskriminasi. Masyarakat madani mensyaratkan adanya civic engagement yaitu keterlibatan warga negara dalam asosiasi-asosiasi sosial.

atau atas kesadaran masing-masinganggota. adanya keragaman dan konsensus. Kemandirian terhadap negara tidak boleh diartikan sebagai peluang untuk melakukan tindakan anarkis. masyarakat madani bukan hanya merupakan syarat atau prakondisi bagi demokrasi semata. yang bertolak belakang dengan watak keberadaban. Ciri yang kelima ini menegaskan keterikatan civil society pada budaya politik demokratis. dan (5) tunduk pada aturan hukum yang berlaku atau seperangkat nilai/norma yang diyakini bersama. Tatanan nilai-nilai masyarakat tersebut ada dalam masyarakat madani (civil society). sehingga salah mengartikan konsep kemandirian sebagai konsep yang boleh melanggar tatanan hukum yang dibuat oleh negara. Masyarakat madani (civil society) dan demokrasi menurut Gellner (2001) merupakan dua kata kunci yang tidak dapat dipisahkan. Demokrasi dapat dianggap sebagai hasil dinamika masyarakat yang menghendaki adanya partisipasi.keanggotaannya bersifat suka rela. tetapi tatanan nilai dalam masyarakat madani seperti kebebasan dan kemandirian juga merupakan sesuatu yang inheren baik secara internal (hubungan antar sesama warga negara) maupun secara eksternal (hubungan negara dengan masyarakat atau sebaliknya). Masyarakat madani ini dapat menjalankan peran dan fungsinya sebagai mitra dan patner kerja lembaga eksekutif dan legeslatif serta yudikatif. Pelaksanaan Demokrasi di Indonesia 22 . adanya perbedaan pandangan. sehingga berani mengontrol penggunaan kekuasaan negara. yang di Indonesia dikenal dengan nama ³lembaga swadaya masyarakat´ (LSM). sehingga tidak bergantung pada bantuan pemerintah/negara. Dengan demikian masyarakat madani (civil society) menjadi sangat penting keberadaannya dalam mewujudkan demokrasi. Sebagai perwujudan masyarakat madani secara kongkrit dibentuk berbagai organisasi di luar negara yang disebut dengan nama NGO (non government organization). Karena itu demokrasi membutuhkan tatanan nilai-nilai sosial yang ada pada masyarakat madani. Namun keterikatan ini seringkali dilupakan oleh warga masyarakat yang baru saja menikmati kebebasan politiknya. C. (4) bebas atau mandiri dari kekuasaan negara. Selain itu demokrasi merupakan pandangan mengenai masyarakat dalam kaitan dengan pengungkapan kehendak. Menurut Gellner. paling tidak untuk sebagian. (3) mencukupi kebutuhannya sendiri (swadaya). tetapi juga dapat melakukan kontrol sosial (social control) terhadap pelaksanaan kerja lembaga tersebut.

Demokrasi pada Periode 1959 ± 1965 Pemerintahan pada periode ini dikenal sebagai Orde Lama dengan ciri-cirinya adalah dominasi dari Presiden. tetapi pada pelaksanaannya terjadi penyimpangan antara lain dengan Ketetapan MPRS No. (b) tiap-tiap orang berhak mendapat penghidupan yang layak dalam masyarakat. berkembangnya pengaruh komunis dan meluasnya peranan ABRI sebagai unsur sosial politik. Presiden mencanangkan demokrasi pada periode dengan nama ³demokrasi terpimpin´ yang pada hakikatnya sangat bertentangan dengan jiwa dan semangat UUD 1945. Hal ini dibuktikan dengan diberlakukannya tiga konstitusi yang memuat ketentuan langsung maupun tidak langsung menyatakan bahwa Indonesia adalah negara demokrasi. bangsa dan negara. Dengan demikian kekeliruan yang sangat 23 . Sejak saat itu berakhirlah masa demokrasi parlementer di Indonesia. Perlu diketahui pada masa demokrasi terpimpin ini memiliki prinsip-prinsip dasar . 1. III/1963 yang mengangkat Ir. periode 1945 ± 1959. Namun sejak awal kemerdekaan bangsa Indonesia menyatakan komitmennya untuk mewujudkan negara demokrasi. presiden membentuk DPR-GR sehingga fungsi kontrol DPR hampir tidak ada. maka mendorong Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang isinya antara lain menyatakan berlakunya kembali UUD 1945. sehingga berakibat destabilisasi politik nasional. dan periode 1998 ± sampai sekarang. yaitu.Pelaksanaan demokrasi di Indonesia mengalami fluktuasi (pasang surut) dari masa awal kemerdekaan sampai saat sekarang. masyarakat. periode 1965 ± 1998. Keadaan ini diperparah dengan gagalnya Konstituante membentuk Undang-undang Dasar yang baru. Meskipun UUD 1945 dinyatakan kembali berlaku. Syafi¶i Ma¶arif demokrasi terpimpin ini sebenarnya ingin menempatkan Soekarno sebagai ³ayah´ dalam famili besar yang bernama Indonesia dengan kekuasaan yang terpusat di tangannya. Soekarno sebagai Presiden seumur hidup. Karena fragmentasi partai-partai politik maka usia kabinet jarang dapat bertahan lama. 2. periode 1959 ± 1965. koalisi yang dibangun sangat mudah pecah. bangsa dan negara. terbatasnya peranan partai politik. presiden membubarkan DPR hasil pemilihan umum. sedang kepala pemerintahan di tangan Perdana Menteri. (a) tiap orang diwajibkan untuk berbakti kepada kepentingan umum. Dalam pandangan A. Demokrasi pada Periode 1945 ± 1959 Pada masa ini dikenal dengan sebutan demokrasi parlementer. di mana presiden sebagai kepala negara. Pasang surut pelaksanaan demokrasi ini dari segi waktu dapat dibedakan dalam empat periode.

(d) Campur tangan pemerintah dalam berbagai urusan partai politik dan publik. (e) Massa mengambang. sehingga periode ini dikenal sebagai Orde Baru. Demokrasi pada Periode 1965 ± 1998 Landasan formil pada perode ini adalah Pancasila.mendasar dalam demokrasi terpimpin Soekarno adalah adanya pengingkaran terhadap nilai-nilai demokrasi yaitu absolutisme dan terpusatnya kekuasaan hanya pada diri pemimpin. yakni memandang kedaulatan rakyat sebagai inti dari sistem demokrasi. Rusli Karim (Tim ICCE UIN: 2003) rezim Orde Baru ditandai oleh : (a) Dominannya peranan ABRI. (b) Birokratisasi dan sentralisasi pengambilan keputusan. Dengan demikian nilai-nilai demokrasi juga belum ditegakkan dalam demokrasi Pancasila Soeharto. Kehidupan demokrasi berusaha dibangun untuk melaksanakan pemerintahan antara lain mulai tahun 1971 pemilihan umum diselenggarakan untuk kurun waktu tiap lima tahun ke depan. Karena dalam praktik kenegaraan dan pemerintahan rezim ini sangat tidak memberikan ruang bagi kehidupan berdemokrasi. (b) Demokrasi dalam bidang ekonomi pada hakikatnya adalah kehidupan yang layak bagi semua warga negara. Tujuh ciri tersebut menjadikan hubungan negara versus masyarakat secara berhadap-hadapan dan subordinat. (c) Demokrasi dalam bidang hukum pada hakikatnya bahwa pengakuan dan perlindungan HAM. (c) Pengibirian peran dan fungsi partai politik. Demokrasi pada periode dikenal dengan istilah demokrasi Pancasila dengan beberapa perumusannya (Tim ICCE UIN: 2003) : (a) Demokrasi pada bidang politik pada hakikatnya adalah menegakkan kembali asas-asas negara hukum dan kepastian hukum. Sehingga secara umum dapat dijelaskan bahwa demokrasi Pancasila tidak berbeda dengan demokrasi pada umumnya. Namun demikian ³demokrasi Pancasila´ dalam rezim Orde Baru hanya sebagai retorika dan gagasan belum sampai pada tataran praksis atau penerapan. (g) Inkorporasi lembaga non pemerintah. (f) Monolitasi ideologi negara. Pada periode pemerintah berusaha mengembalikan kemurnian pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945. 4. Demokrasi Periode 1998 ± sekarang 24 . peradilan yang bebas yang tidak memihak. Undang-Undang Dasar 1945 serta Ketetapan-Ketetapan MPRS. Seperti yang dikatakan oleh M. di mana negara atau pemerintah sangat mendominasi. 3. sehingga tidak ada ruang kontrol sosial dan chek and balance dari legeslatif terhadap eksekutif.

DPRD dab DPD) mampu mengawal transisi menuju demokrasi. dan perangkat legal sistem politik. masih menjadi pertanyaan besar. Pertama. reformasi kelembagaan (institutional reform and empowerment) yang menyangkut pengembangan dan pemberdayaan lembaga-lembaga politik. Sukses atau gagalnya suatu transisi demokrasi sangat bergantung pada empat faktor kunci (Azyumardi Azrz: 2002). (c) kultur politik atau perubahan sikap terhadap politik di kalangan elite dan non-elite. yakni : (a) komposisi elite politik. kerangka dasar. dan sebagainya. Merumuskan pengertian dan hakikat hak asasi manusia. Transisi demokrasi ini merupakan fase krusial yang kritis. Kedua. Akan tetapi sampai saat inipun masih dijumpai indikasi-indikasi kembalinya kekuasaan status quo yang ingin membalikkan arah demokrasi Indonesia kembali ke periode sebelum orde reformasi. UU Pemilihan Presiden dan wakil Presiden. (c) adanya kebebasan pers. BAB III HAK ASASI MANUSIA Kompetensi Dasar 1.Runtuhnya rezim otoriter Orde Baru telah membawa harapan baru bagi tumbuhnya demokrasi di Indonesia. Indikasi ke arah terwujudnya kehidupan demokratis dalam era transisi menuju demokrasi di Indonesia antara lain adanya: (a) reposisi dan redefinisi TNI dalam kaitannya dengan keberadaannya pada sebuah negara demokrasi. Mendeskripsikan perkembangan pemikiran hak asassi manusi secara umum dan yang berkemabng di Indonesia. Perubahan sistem politik melalui paket amandemen konstitusi (UUD 1945) dan pembuatan paket perundang-undangan politik (UU Partai Politik. (d) dijalankannya kebijakan otonomi daerah. kondisi transisi demokrasi di Indonesia untuk saat ini masih berada di persimpangan jalan belum jelas ke arah mana berlabuhnya. Ketiga. (b) diamandemennya pasal-pasal dalam konstitusi negara Republik Indonesia (amandemen I-IV). karena bisa saja perjalanan demokrasi bangsa Indonesia kembali lagi ke masa otoriter seperti masa Orde Lama dan Orde Baru. reformasi sistem (constitutional reform) yang menyangkut perumusan kembali falsafah. UU Pemilu. (b) desain institusi politik. (d) peran civil society (masyarakat madani). Sehingga yang harus dilakukan dalam transisi demokrasi di Indonesia sekurang-kurangnya mencakup reformasi dalam tiga bidang. Bergulirnya reformasi yang mengiringi runtuhnya rezim tersebut menandakan tahap awal bagi transisi demokrasi di Indonesia. UU Susunan dan Kedudukan DPR. Oleh sebab itu. 2. 25 . pengembangan kultur dan budaya politik (political culture) yang lenih demokratis.

Pengetian dan Hakikat Hak Asasi Manusia Secara definisi hak merupakan unsur normatif yang berfungsi sebagai pedoman berperilaku. Karena itu istilah ³right of man´ diganti dengan istilah ³human right´ oleh Eleanor Roosevelt karena dipandang lebih netral dan universal. Inilah yang menyebabkan konsep Barat tantang HAM dengan konsep Islam. Istilah yang dikenal di Barat mengenai HAM ialah ³right of man´. Dalam Undang-Undang (UU) Nomor 39 tahun 1999 tentang HAM pasal 1 disebutkan bahwa ³HAM adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai nakhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupupakan 26 . Dengan demikian hak merupakan unsur normatif yang melekat pada diri setiap manusia yang dalam penerapannya berada pada ruang lingkup hak persamaan dan hak kebebasan yang terkait dengan interaksinya antara individu atau dengan instansi. penegakan. Merumuskan bentuk-bentuk hasi asasi manusia. kekebalan serta menjamin adanya peluang bagi manusia dalam menjaga harkat dan martabatnya. Hak menpunyai nunsur-unsur sebagai berikut : (1) Pemilik hak. dan pemenuhan akan hak asasi manusia. yang tanpanya manusia mustahil dapat hidup sebagai manusia. yang mengantikan istilah ³natural right´. Dalam Islam antara huqua al-insan addhoruriyah dan huquq Allah tidak dapat dipisahkan atau berjalan sendiri-sendiri tanpa adanya keterkaitan satu dengan alainnya. melindungi kebebasan. 5. Menseskripsikan mengenai pelanggaran dan proses peradilan hak asasi manusia. Sementara iru HAM dalam Islam dikenal dengan istilah huquq al-insan ad-dhoruriyah dan huquq Allah. 6.3. Istilah ³right of man´ ternyata tidak secara otomatis mengakomodasi pengertian yang mencakup ³right of woman´. pemajuan. Selanjutnya John Locke manyatakan bahwa hak asasi manusia adalah hal-hak yang diberikan langsung oleh Tuhan sebagai hak yang kodrati (Mansyhur Effendi. (2) ruang lingkup penerapan hak. A. 1994). Menseskripsikan penanggungjawab. Menurut pendapat Jan Materson (dari Komisi HAM PBB). perlindungan. Hak ini sifatnya sangat mendasar (fundamental) bagi hidup dan kehidupan manusia dan merupakan hal kodrati yang tidak terlepas dari dan dalam kehidupan manusia. hak asasi manusia adalah hak yang melekat pada satiap manusia. Oleh karenanya tidak ada kekuasaan apapun yang dapat mencabutnya. Memahami perundang-undangan nasional yang mengatur mengenai hak asasi manusia. c) pihak yang bersedia dalam penerapan hak Ketika unsur tersebut menyatu dalam pengertian dasar tentang hak. 4.

Begitu juga dalam memenuhi kepentingan perseorangan tidak boleh merusak kepentingan orang banyak (kepentingan umum). bahkan negara. agama. dan dilindungi oleh negara. Berdasarkan beberapa rumusan pengertian HAM di atas. Tidak seorangpun mempunyai hak untuk membatasi atau melanggar hak orang lain. bermasyarakat dan bernegara. Bila ketiga unsur asasi (HAM. ras. Berdasarkan beberapa rumusan HAM di atas. (2) HAM berlaku untuk semua orang tanpa memandang jenis kelamin. KAM dan TAM) yang melekat pada setiap individu manusia. dan (3) HAM tidak bisa dilanggar. HAM adalah bagian darimanusia secara otomatis. Dengan demikian hakikat penghomatan dan perlindungan terhadap HAM ialah menjaga keselamatan ekstensitas manusia secara utuh melalui aksi keseimbangan yaitu keseimbangan antara hak dan kewajiban. pemenuhan perlindungan dan penghormatan terhadap HAM harus dikuti dengan pemenuhan terhadap KAM (kewajiban asasi manusia) TAM (tanggung jawab asasi manusia) dalam kehidupan pribadi. etmis. dijunjung tinggi. melindungi dan menjunjung tinggi HAM. Upaya menghormati. baik dalam tatanan dalam kehidupan pribadi beemasyarakat. bernegara dan pergaulan global tidak berjalan secara seimbang. pandangan politik asal usul sosial dan bangsa. dapat disimpulkan bahwa HAM merupakan hak yang melekat pada diri manusia yang bersifat kodrati dan fundamental sebagai suatu anugrah Allah yang harus dihormati. B. KAM. pemerintah dan setiap orang demi kehormatan serta negara perlindungan harkat dan martabat manusia´. Jadi dapat disimpulkan hakikat dari HAM adalah keterpaduan antara HAM. dan TAM yang berlangsung secara sinergis dan seimbang. masyarakat atau negara. dibeli ataupun diwarisi. dapat dipastikan akan menimbulakan kekacauan anarkisme dan kesewenangwenangan dalam tata kehidupanumat beragama. serta keseimbangan antara kepentingan perseorangan dan dengan kepentingan umum. dapat ditarik kesimpulan tentang beberapa ciri pokok hakikat HAM yuaitu: (1) HAM tidak perlu diberikan. hukum. berbangsa. Perkembangan Pemikiran HAM di Barat dan Indonesia 27 . 2003).anugerah-Nya yang wajib dihormati.orang tetap mempunyai HAM walaupun sebuah negara membuat hukum yamg tidak melindungi atau melanggar HAM (Mansour Fakih. Jadi dalam memenuhi dan menuntut hak tidak terlepas dari pemenuhan kewajiban yang harus dilaksanakan. pemerintah. menjadi kewajiban dan tanggung jawab bersama antara inividu. Karena itu. dijaga dan dilindungi oleh seriap individu.

yang merumuskan hak lebih dirinci lagi. menjadi dibatasi kekuasaannya dan mulai dapat diminta pertanggunggungjawabannya dimuka hukum (Masyhur Effendi. kemudian ditahan dan dituduh. Pada umumnya para pakar di Eropa berpendapat bahwa lahirnya HAM di kawasan Eropa dumulai dengan lahirnya Magna Charta yang antara lain membuat pandangan bahwa raja yang tadinya memiliki kekuasaan absolut (raja yang menciptakan hukum. sebagaimana dimuat dalam the Rule of Law yang antara lain isinya tidak boeh ada penangkapan dan penahanan yang semena-mena.1994). karena dalam hukum alama ada sistem keadilan yang berlaku universal (Masyur Effendi. Dengan demikian. 1994). Sejak itu mulai dipraktikan kalau raja melanggar hukum harus diadili dan pertanggungjawabkan kebijakan pemerintahannya kepada parlemen. masalah keadilan yang merupakan inti dari hukum alam menjadi pendorong bagi upaya penghormatan dan perlindungan harkat dan martabat kemanusiaan universal. Hukum alam merupakan produk rasio manusia demi terciptanya keadilan abadi. pada tahun 1789 lahirlah The French Declaration (Deklarasi Parncis). Hukum alam merupakan satu konsep dari prinsip-prinsip umum moral dan sistem keadilan yang berlaku untuk seluruh umat manusia. dan hak-hak dasar lainnya. tetapi ia sendiri tidak terikat dengan hukum yang dibuatnya).Pembicaraan mengenaig HAM tidak terlepas dari pengakuan terhadap adanya hukum alam (natural law) yang menjadi cikal bakal bagi kelahiran HAM. Salah satu muatan hukum alam adaklah hak-hak pemberian dari alam (naturals rights). Magna Charta telah menghilangkan hak absolutisme raja. ia harus dibelenggu. Kemudian prinsip itu dipertegas oleh prinsip freedom of exspressio]n (kebebasan mengeluarkan pendapat). sampai ada keputusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap yang menyatakan ia bersalah. 28 . Dalam deklarasi ini dipertegas bahwa manusia adalah merdeka sejak di dalam perut ibunya. freedom of religion (bebas menganut kenyakinan/agama yang dikehendaki). berhak dinyatakan tidak beralah. Perkembangan HAM selanjutnya ditandai dengan munculnya The American Declaration of Independence. Jadi. The right of property (perlindungan hak milik). sehingga tidaklah logis bila sesudah lahir. karenannya manusia akan mematuhi hukum alam tersebut. Selanjutnya. 1994). termasuk penangkapan tanpa alasan yang sah dan penahanan tanpa surat perintah yang dikeluarkan oleh pejabat yang sah. Dalam kaitan itu berkaitan berlaku prinsip Presumtion of innocent. dalam french Declaration sudah tercakup hak-hak yang menjamin tumbuhnya demokrasi maupun negara hokum (Masyhur Efendi. Hukum alam diatur berdasarkan logika manusia. artinya orang-orang yang ditangkap.

Generasi kedua pemikiran HAM tidak saja menuntut hak yuridis melainkan juga hak-hak asasi sosial ekonimi. Jadi pemikiran HAM generasi kedua menunjukkan perluasan pengertian konsep dan cakupan hak asasi manusia. politik dan budaya.. ekonomi. sehingga tidak satupun bangsa (negara) berada dalam posisi berkeinginan untuk melakukan serangan terhadap negara lain (Mayhur Efendi. Pada masa generasi kedua. Generasi ketiga menjanjikan adanya kesatuan antara hak ekonomi. Dalam pelakasanaan hasil pemikiran HAM generasi ketiga juga mengalami ketidakseimbangan. totaliterisme dan adanya keinginan negara-negara yang baru merdeka untuk menciptakan suatu tertib hukum yang baru. hukum. hak yuridis kurang mendapat penekanan sehingga terjadi ketidakseimbangan dengan hak sosial-budaya. sosial and Cultural Eights dan International Covement on civil and political Rights. kebebasan dari kemiskainan dalam pengertian setiap bangas berusaha mencapai tingkat kehidupan yang damai dan sejahtera bagi penduduknya. Pemikiran HAM terus berlangsung dalam rangka mencariu rumusan HAM yang sesuai dengan konteks ruang dan zamannya. Generasi pertama berpendapat bahwa pengertian HAM hanya berpusat pada bidang hukum dan politik. hak kebebasan memeluk agama dan beribadat sesuai dengan ajaran agama yang dipeluknya. budaya. hak ekonomi dan hak politik. politik dan budaya secara merata. hak kebebasan dari ketakutan.Perkembangaannya yang lebih signifikan adalah dengan kemunculan The Four Freedom dari Presiden Roosevelt pada Tahun 1941. pengurangan persenjataan. yang meliputi usaha. yaitu hak kebebasan berbicara dan menyatakan pendapat. maka pembangunan haruslah berpihak pada rakyat dan diarahkan untuk redistrbusi kekayaan national serta redistribusi sumber-sumber daya sosial. Kedua Covenant tersebut disepakati dalam sidang umum PBB 1966. 1994). Generasi ketiga sebagai reaksi pemikiran HAM generasi kedua. Keadalan dan 29 . karena banyak hak-hak rakyat lainnya yang dilanggar. politik dan hukum dalam satu keranjang yang desebut dengan hak-hak melaksanakan pembangunan (The Rights of Development). Secara garis besar perkembangan pemikiran HAM dibagi pada 4 generasi. Fokus pemikiran HAM generasi pertama pada bidang hukum dan politik disebabkan oleh dampak dan situasi perang dunia II. sedangkan hak lainnya terabaikan sehingga menimbulkan banyak korban. Ada empat hak yang dikemukakannya. Kalau kata ³pembangunan´ tetap dipertahankan. Pada generasi kedua ini lahir dua covemen yaitu International Covenant on Economic. sosial. hak ekonomi dalam arti pembangunan ekonomi menjadi prioritas utama.

Sedangkan pemikiran HAM dalam Partai Komunis Indonesia sebagai partai berlandaskan Maxisme lebih condong pada hak-hak sosial dan 30 . Maramis dan sebagainya. menaruh perhatian terhadap masalah HAM. Sedang pemikiran HAM dalam Sarekat Islam lebih menekankan pada usahausaha untuk memperoleh penghidupan yang layak dan bebas dari penindasan dan diskriminasi rasial. konsep yang hidup di masyarakat dan acuan bertindak pada dasarnya telah berlangsung cukup lama. Deklarasi ini lebih maju dari rumusan generasi ketiga. 1. kahirlah generasi keempat yang mekritik peranan negara yang sangat dominan dalam proses pembangunan yang terfokus pada pembangunan ekonomi dan menimbulkan dampak degatif seperti diabaikannya aspek kesejahteraan rakyat.pemenuhan hak asasi haruslah dimulai sejak dimulainnya pembangunan itu sendiri.Sedangkan pemahaman HAM di Indonesia sebagai tatanan nilai. Bentuk pemikirannya mencakup bidang hak kebesaran berserikat dan mengeluarkan pendapat. Deklarasi tersebut juga secara positif mengukuhkan keharusan imperatif dari negara untuk memenuhi hak asasin rakyatnya. yaitu periode sebelum dan sesudah kemerdekaan. tema-temanya banyak dipengaruhi oleh para tokohnya seperti Muhammad Hatta. norma. karena tidak saja mencakup tuntutan struktural tetapi juga berpihak kepada terciptanya tahanan sosial yang berkeadilan. Pemikiran HAM mereka lebih menitik beratkan pada hak untuk menentukan nasib sendiri (the right of self determination). Pemikiran HAM juga muncul di Perhimpunan Indonesia. Selain itu program pembangunan yang dijalankan tidak berdasarkan kebutuhan rakyat secara keseluruhan melainkan memenuhi kebutuhan kelompok elit. Secara garis besar Bagir Manan (2001) membagi perkembangan pemikiran HAM di Indonesia dalam dua periode.A. Pemimpin Boedi Utomo memperlihatkan adanya kesadaran berserikat dan mengeluarkan pendapat melalui petisi-petisi yang ditujukan kepada pemerintah kolonial maupun dalam tulisan yang dimuat surat kabar Goeroe Desa. Setelah banyaknya dampak negatif yang ditimbulkan dari pemikiran HAM generasi ketiga. . Pemikiran HAM generasi keempat dipelopori oleh negara-negara di kawasan asia yang pada tahun 1983 melahirkan deklarasi hak asasi manusia yang menginginkan lahirnya tatanan sosial berkeadilan. Periode Sebelum Kemerdekaan Boedi Oetomo. A. Ahmad Soebardjo. Selain itu deklarasi HAM Asia tersebut juga telah berbicara mengenai masalah µkewajiban asasi¶ bukan hanya µhak asasi¶. sebagai organisasi pergerakan. bukan setelah pembangunan itu selesai.

Kebebasan pers sebagai salah satu pilar demokrasi 31 . hak kebebasan untuk berserikat melalui organisasi politik yang dirikan serta hak kebebasan untuk menyampaikan pendapat terutama di perlemen. Lebih menonjol pada hak untuk mendapatkan kemerdekaan serta mendapatkan perlakuan yang sama dan hak kemerdekaan. pemikiran dan aktualisasi HAM pada periode ini mengalami ³pasang´ dan menikmati ³bulan madu´ kebebasan. karena suasana kebebasan yang menjadi semangat demokrasi leberal atau demokrasi parlementer mendapatkan tempat dikalangan elit politik.menyentuh isu-isu yang berkenaan dengan dengan alat produksi. Pemikiran HAM telah mendapat legitimasi secara formal karena telah memperoleh pengaturan dan masuk ke dalam hukum dasar negara (konstitusi) yaitu UUD 1945. Dengan demikian gagasan dan pemikiran HAM di Indonesia telah menjadi perhatian besar dari para tokoh pergerakan bangsa dalam rangka penghormatan penegakan HAM. karena itu HAM di Indonesia mempunyai akar sejarah yang sangat kuat. Seperti dikemukakan oleh Bagir Manan. hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak. Pemikiran HAM sebelum Indonesia merdeka juga terjadi dalam perdebatan di Sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) antara Soekarno dan Soepomo di satu pihak dengan Mohammad Hatta dan Mohammad Yamin pada pihak lain. hak berserikat. hak mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan. Semakin banyak tumbuh partai-partai politik dengan beragam idiologinya masing-masing. (2). Periode Setelah Kemerdekaan Pemikiran HAM pada periode awal kemerdekaan masih menekankan pada hak untuk merdeka (self deteriminasi). Bersamaan dengan itu prinsip kedaulatan rakyat dan negara berdasarkan atas hukum dijadikan sebagai sendi bagi penyelenggaraan negara Indonesia merdeka. sangat membanggakan. Komitmen terhadap HAM pada periode awal kemerdekaan diantaranya ditunjukan dalam Maklumat Pemerintah tanggal 1 dan 3 November 1945 yang menyatakan akan adanya pemilu dan rakyat diberi kesempatan atau hak mendirikan partai politik: Pemikiran HAM pada periode tahun 1950-an. Sementara itu pemikiran HAM pada Partai Nasional Indonesia mengedepankan pada hak untuk memperoleh kemerdekaan (the right self detemination). 2. Konsen terhadap HAM pada Indische Partij. hak berkumpul. hak untuk memeluk agama dan kepercayaan. Indikatornya ada tiga aspek yait : (1). erpa demokrasi parlementer. Perdebatan pemikiran HAM yang terjadi dalam sidang BPUPKI berkaitan dengan masalah hak persamaan kedudukan di muka hukum.

Pemikiran elit penguasa pada saat ini sangat diwarnai oleh sikap penolakannya terhadap HAM sebagai produk barat dan individualistik serta bertentangan dengan paham kekeluargaan yang dianut bangsa Indonesia. Selain itu. Dengan kata lain telah terjadi sikap restriktif (pembatasan yang ketat oleh kekuasaan) terhadap hak sipildan hak politik warga negara. Dalam kaitannya dengan HAM. berkumpul dan mengeluarkan pikiran dengan lisan. Selanjutnya pada tahun 1968 diadakan Seminar Nasional Hukum II yang merekomendasikan perlunya hak uji materil (judicial review) untuk dilakukan guna melindungi HAM. dan (3). sistem pemerintahan yang berlaku adalah demokrasi terpimpin. karena HAM tidak lagi dihormati.betul menikamati kebebasannya. terjadi pamasungan hak asasi masyarakat yaitu hak sipil dan hak politik seperti hak untuk berserikat.. Pada periode awal terajadi peralihan pemerintahan dari Soekarno ke Soeharto. XIV/MPRS1966. Pemilihan umum sebagai pilar lain dari demokrasi berlangsung dalam suasana kebebasan. pada awal tahun 1970-an sampai periode akhir 1980-an persoalan HAM di Indonesia mengalami kemunduran. Pada sistem masa ini kekuasan terpusat dan berada di tangan presiden. fair (adil) dan demokrasi. ada semangat untuk menegakkan HAM. Begitu pula dalam rangka pelaksanaan TAP MPRS No. yang lahir dari reaksi penolakan Soekarno terhadap sistem demokrasi parlementer.. Sementara itu. MPRS malalui Panitia Ad Hoc IV telah menyiapkan rumusan yang akan dituangkan dalam Piagam Terntang Hak-hak Asasi Manusia dan Hak-hak serta Kewajiban Warganegara. Salah satu seminar tentang HAM dilaksanakan pada tahun 1967 yang merekomendasikan gagasan tentang perlunya pembentukan pengadilan HAM. Akibatnya Presiden melakukan tindakan inkonstitusional pada tataran suprastruktur politik maupun dalam tataran infrastrutur politik. sikap depensif pemerintah ini berdasarkan pada anggapan bahwa isu HAM sering kali 32 . Pada periode 1959-1966. Pada masa awal perode ini telah diadakan berbagai seminar tentang HAM. dilindungi dan ditegakkan. Sikap defensif pemerintah tercermin dalam ungkapan bahwa HAM adalah produk pemikiran Barat yang tidak sesuai dengan nilainilai luhur budaya bangsa yang tercermin Pancasila dan Bangsa Indonesia sudah terlebih dahulu mengenal HAM sebagai mana tertuang dalam rumusan UUD 1945 yang lahir lebih dulu dibandingkan dengan Deklarasi Universal HAM. Pemerintah pada periode ini bersifat defensif dan represif yang dicerminkan dari produk hukum yang umumnya restriktif terhadap HAM. pembentukan Komisi dan Pengadilan HAM untuk wilayah Asia.

Salah satu sikap akomodatif pemerintah terhadap tuntutan penegakan HAM adalah dibentukknya Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNAS HAM) berdasarkan kepres No. Upaya yang dilakukan oleh masyarakat melalui pemebtukan jaringan dan lobi Internasional terkait dengan pelanggaran HAM yang terjadi seperti kasus Tanjung Priok. Piaga Madinah. Demikian pula dilakukan pengkajian dam retifikasi terhadap instrumen HAM internasional semakin ditinkatkan. Hasil dari pengkajian tersebut menunjukkan banyaknya norma dan ketentuan hukum nasional khususnya yang terkait dengan penegakan HAM diadopsi dari hukum dan instrumen internasional dalam bidang HAM. Deklarasi Universal HAM. Bentuk-bentuk Hak Asasi Manusia 33 . Upaya yang dilakukan oleh masyarakat menjelang periode 1990-an nampak memperoleh hasil yang menggembirakan karena terjadi penggeseran strategi pemerintah dari represif dan depensif kestrategi akomodatif terhadap tuntutan yang berkaitan dengan penegakan HAM. kasus Kedung Ombo. kasus di Irian Jaya. pertimbangan dan saran kepada Pemerintah perihal pelaksanaanHAM. Selanjutnya dilakukan penyusunan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pemberlakuan HAM dalam kehidupan ketatanegaraan dan bermasyarakat di Indonesia. Pada saat ini mulai dilakukan pengkajian terhadap beberapa kebijakan pemerintah Orde Baru yang berlawanan dengan pemajuan dan perlindungan HAM.digunakan oleh negara-negara barat untuk memojokkan negara yang sedang berkembang seperti Indonesia. dan sebagainya. Komisi ini bertujuan . Meskipun dari pihak pemerintah mengalami kemandegan bahkan kemunduran. Lembaga ini bertugas untuk memantau dan menyelidiki pelaksanaan HAM. pemikiran HAM nampaknya terus ada pada periode ini terutama dikalangan masyarakat yang dimotori oleh LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dan masyarakat akademisi yang concern terhadap penegakan HAM.untuk membantu pengembangan kondisis-kondisi yang kondusif bagi pelaksanaan HAM yang sesuai dengan Pancasila UUD 1945 (termasuk hasil amandemen UUD 1945). Kasus DOM di Aceh. 50 Tahun 1993 tertanggal 7 Juni. serta memberi pendapat. C. Piagam PBB. Pergantian rezim pemerintahan pada tahun 1998 memberikan dampak yang sangat besar pada pemajuan dan perlindungan HAM di Indonesia. Selain itu. Deklarasi Kairo dan deklarasi atau perundang-undangan lainnya yang berkaitan dengan penegakan HAM.

(2) Hak kedudukan yang sama di dalam hokum. tempat tinggal maupun surat-surat. (15) Hak untuk menikah dan membentuk keluarga. (5) Hak penghidupan yang layak. (16) Hak untuk mempunyai hak milik. (2) Hak bebas dari perbudakan dan penghambaan. (2) Hak untuk bekerja. (14) Hak atas suatu kebangsaan. hak subsistensi (hak jaminan adanya sumber daya untuk menunjang kehidupan) serta hak ekonom. berkesadaran dan beragama. sosial dan budaya berdasarkan pada pernyataan DUHAM menyangkut hal-hal sebagai berikut. mengelompokkan HAM kedalam beberapa jenis. (3) Hak bebas dari penyiksaan atau perlakuan maupun hukuman yang kejam. (4) Hak kebebasan beragama. (18) Hak bebas berpkir dan menyatakan pendapat. (3) Hak atas upah yang sama untuk pekerjaan yang sama. keluarga. (13) Hak memperoleh suaka. (7) Hak atas pendidikan. yaitu: (1) Hak atas jaminan social. (8) Hak untuk praduga tak bersalah sampai terbukti bersalah. dan (20) hak untuk mengambil bagian dalam pemerintahan dan hak atas akses yang sama terhadap pelayanan masyarakat. dan (8) Hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan yang berkebudayaan dari masyarakat. hak sipil dan politik yang terdapat dalam pasal 3-21 dalam DUHAM tersebut memuat: (1) Hak untuk hidup. (5) Hak atas istirahat dan waktu senggang. (7) Hak untuk peradihan yang independen dan tidak memihak. hak legal. sosial dan budaya. (5) Hak untuk pengampunan hukum secara efektif. penahanan atau pembuangan yang sewenang-wenang. Sedangkan hak ekonomi. (11) Hak atas perlindungan hukum terhadap serangan semacam itu. (9) Hak bebas dari campur tangan yang sewenangwenang terhadap kekuasaan pribadi. (12) Hak bergerak. (4) Hak untuk memperoleh pengakuan hukum dimana saja secara pribadi. yaitu hak personal (hak jaminan kebutuhan pribadi). (3) Hak kebebasan berkumpul. (6) Hak atas standar hidup yang pantas di bidang kesehatan dan kesejahteraan. (4) Hak untuk bergabung ke dalam serikat-serikat buruh. (19) Hak untuk berhimpun dan berserikat. (6) Hak bebas dari penangkapan. (10) Hak bebas dari serangan terhadap kehormatan dan nama baik. 34 . Sementara itu dalam UUD 1945 (amandemen I ± IV UUD 1945) menurut hak asasi manusia yang terdiri dari hak: (1) Hak kebebasan untuk mengeluarkan pendapat. (6) Hak kebebasan berserikat. (17) Hak bebas berpikir. hak sipil dan politik. tak berperikemanusiaan ataupun merendahkan derajat manusia. dan (7) Hak memperoleh pengajaran atau pendidikan. kebebasan dan keamanan pribadi.Deklarasi Universal tentang HAM (Universal Declaration of Human Rights) yang juga dikenal dengan istilah DUHAM. Hak personal.

di antaranya dalam: (1). (3) Hak mengembangkan diri. (5) Hak atas kebebasan pribadi. hak tiap warga negara untuk mendapat pengajaran. Sementara itu bila pengaturan HAM melalui Ketetapan MPR. dalam peraturan pelaksanaan perundang-undangan seperti Peraturan Pemerintah. dalam Undang-Undang.. Pengaturan HAM dalam konstitusi negara RI tidak hanya ditemukan pada UUD 1945. Pengaturan HAM dalam konstitusi atau UUD 1945 memberikan jaminan yang sangat kuat. Konstitusi RIS mengaturbya dalam bab khusus tentang HAM. UU No. kelemahannya tidak dapat memberikan sangsi hukum bagi pelanggarnya. namun perbedaan antara KRIS dengan UUDS 1950 terletak pada penomoran pasal dan perubahan sedikit redaksional dalam pasal-pasal. 5 tahun 1998 35 . Ketiga. Pengaturan HAM dalam Ketetapan MPR terdapat dalam TAP MPR Nomor XVII tahun 1998 tentang Pandangan dan Sikap Bangsa Indonesia Terhadap HAM dan Piagam HAM Nasional. Hak turut serta dalam pemerintahan. Sedangkan dalam Undang-Undang. D. UU No.hak demonstrasi dan mogok. (7) Hak atas kesejahteraan. sedangkan pengaturan HAM dalam bentuk UndangUndang dan peraturan pelaksanaannya kelemahannya pada kemungkinan seringnya mengalami perubahan. Sedangkan kelemahannya rumusan ketentuan yang diatur masih umum. Keputusan Presiden dan peraturan pelaksanaan lainnya. yaitu melalui amandemen. (2). Selain itu adanya penambahan pasal UUDS 1950 yang signifikan yaitu tentang fungsi sosial hak milik. dalam ketetapan MPR. Kedua.Selanjutnya secara operasional beberapa bentuk HAM yang terdapat dalam UU Nomor 39 tahun 1999 tentang HAM sebagai berikut: (1) Hak untuk hidup. (2) Hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan. Sedang dalam UUDS 1950 pengaturan HAM tidak jauh berbeda dengan yang dimuat dalam Konstitusi RIS. dan (10) Hak anak. (8). 5 tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara. juga ditemukan Konstitusi RIS dan UUDS 1950. Keempat. baik sebelum maupun setelah amandem. karena perubahan dan atau penghapusan satu pasal di dalamnya harus melalui proses yang berat dan panjang. Pertama. (9) Hak wanita. (6) Hak atas rasa aman. Hak Asasi Manusia dalam Perundang-Unndangan Nasional Paling tidak terdapat empat bentuk hukum tertulis atau praturan perundangundangan yang memuat tentang HAM. (4) Hak memperoleh keadilan. dalam konstitusi (UUD 1945). mulai pasal 7 sampai pasal 33.

dihormati dan dilindungi oleh setiap manusia. yaitu tahap penataan aturan secara konsisten (rule consistent behaviour). Keputusan Presiden No. 5 tahun 2001 tentang Pembentukan Pengadilan Hak Asasi Manusia Ad Hoc pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. (12). Pengaturan HAM dalam Peraturan Pemerintah dan Keputusan Prsiden antara lain adalah: (1). 9 tahun 1998 tentang Kebebasan Menyatakan Pendapat. 138 tentang Usia Minimum Bagi Pekerja. yang diubah dengan Keputusan Presiden no. 129 tahun 1998 tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia tahun 1998-2003. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. UU No. 25 tahun 1997 tentang Hubungan Perburuhan. (7). 11 tahun 1998 tentang Amandemen terhadap UU No. UU No. (11). 26 tahun 1999 tentang Pencabutan UU No. 40 tahun 1999 tentang Pers. (6). Penataan aturan secara konsisten memerlukan 36 . 21 tahun 1999 tentang Ratifikasi Konvensi ILO No. karena HAM merupakan kebutuhan dasar manusia yang perlu diperjuangkan. (8). (5). 11 tentang Diskriminasi dalam Pekerjaan. UU No. (2). UU No. UU No. (9). Pengadilan Negeri Surabaya. (10). Perlakuan atau Penghukuman yang Kejam. Peraturan Pemerintah pengganti Undang-Undang (Perpu) No. Keputusan Presiden No. UU No. 11 tahun 1963 tentang Tindak Pidana Subversi. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM. Tidak Manusiawi dan Merendahkan Martabat. Pada tahap ini diupayakan tumbuhnya kesadaran penghormatan dan penegakan HAM baik di kalangan aparat pemerintah maupun masyarakat. (4). UU No. Keputusan Presiden No. (6). Keseluruhan ketentuan perundang-undangan di atas merupakan pintu pembuka bagi strategi selanjutnya. (5). 31 tahun 2001 tentang Pembentukan Pengadilan Hak Asasi Manusia pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. UU No. 29 tahun 1999 tentang Ratifikasi Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi. UU No. 1 tahun 1999 tentang Pengadilan HAM. (4). 19 tahun 1999 tentang ratifikasi Konvensi ILO No. UU No. 20 tahun 1999 tentang Ratifikasi Konvensi ILO No. Keputusan Presiden No. 181 tahun 1998 tentang Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan. 96 tahun 2001. yang memuat rencana ratifikasi berbaagi instrumen hak asasi manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa serta tindak lanjutnya. UU No. (3). dan (13). 105 tentang Penghapusan Pekerja secara Paksa.Keputusan Presiden (KEPRES) Nomor 181 TAHUN 1998 tentang Pendirian Komisi Nasional Penghapusan Kekerasan Terhadap Wanita. dan Pengadilan Negeri Makassar. (3).tentang Ratifikasi Konvensi Anti Penyiksaan.

dan atau mencabut hak asasi manusia. Dengan demikan pelanggaran HAM merupakan tindakan pelanggaran kemanusiaan baik dilakukan oleh individu lain tanpa dasar atau alasan yuridis dan alasan rasional yang menjadi pijakannya. Pelanggaran dan Peradilan Hak Asasi Manusia Pelanggaran hak asasi manusia adalah setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang termasuk aparat negara baik disengaja ataupun tidak disengaja atau kelalaian yang secara hukum mengurangi. kedua. seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh Undang-undang ini. HAM sebagai tatanan sosial merupakan pengakuan masyarakat terhadap pentingnya nilai-nilai Ham dalam tatanan sosial. Sedangkan bentuk pelanggaran HAM ringan selain dari kedua bentuk pelanggaran HAM berat itu.persyaratan yang harus ada. Dalam kerangka menjadikan HAM sebagai tatanan sosial. politik. ras. atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyelesaian hukum yang adil dan benar. Demokrasi dan pelaksanaan prinsip-prinsip negara berdasarkan atas hukum merupakan instrumen bahkan prasyarat bagi jaminan perlindungan dan penegakan HAM. menciptakan kondisi kehidupan kelompok yang akan mengakibatkan kemusnahan secara fisik baik seluruh atau sebagiannya. 26/200 tentang Pengadilan HAM). dan memindahkan secara paksa anak-anak dari kelompok tertentu ke kelompok lain (UU No. Oleh karena itu hubungan keseimbangan keduanya merupakan ³simbiosis-mutualistik´. kelompok etnis dan kelompok agama. Pelanggaran HAM dikelompokkan pada dua bentuk yaitu: pelanggaran HAM berat dan pelanggaran HAM ringan. E. pendidikan HAM secara kurikuler maupun melalui Pendidikan Kewarganegaraan (civic education) sangat diperlukan dan terus dilakukan secara berkesinambungan. berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku. Kejahatan genosida dilakukan dengan cara membunuh anggota kelompok. Persyaratan pertama adalah demokrasi dan supremasi hukum. Selanjutnya. ekonomi yang hidup. HAM sebagai tatanan sosial. Pelanggaran HAM berat meliputi kejahatan genosida dan kejahatan kemanusiaan (UU No. dan tidak didapatkan. 26/2000 tentang Pengadilan HAM). Kejahatan genosida adalah setiap perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok bangsa. mengakibatkan penderitaan fisik atau mental yang berat terhadap anggota-anggota kelompok. 26/2000 tentang Pengadilan HAM. menghalangi. memaksakan tindakan-tindakan yang bertujuan mencegah kelahiran di dalam kelompok. yaitu UU No. membatasi. 37 .

budaya. pemandulan atau sterilisasi secara paksa atau bentuk-bentuk kekerasan seksual lain yang setara. perbudakan seksual. Pengadilan HAM berkedudukan disetiap wilayah Pengadilan Negeri yang bersangkutan. perbudakan. penganiayaan terhadap suatu kelompok tertentu atau perkumpulan yang didasari persamaan paham politik. Pengadilan HAM tidak berwenang memeriksa dan memutuskan perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat yang dilakukan seseorang yang berumur di bawah 18 (delapan belas) tahun pada saat kejahatan dilakukan. Pengadilan HAM bertugas dan berwewenang memeriksa dan memutuskan perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat. Pengadilan HAM berkedudukan di daerah kabupaten atau daerah kota yang daerah hukumannya meliputi daerah hukum Pengadilan Negeri yang bersangkutan. agama. pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa. jenis elamin atau alasan lain yang telah diakui secara universal sebagai hal yang dilarang menurut hukum internasional. Karena itu penindakan terhadap pelanggaran hak asasi manusia tidak boleh hanya ditujukan terhadap aparatur negara. Penindakan terhadap pelanggar HAM tersebut dilakukan melaui proses peralihan HAM mulai dari penyelidkan.Sementara itu kejahatan kemanusiaan adalah salah satu perbuatan yang dilakukan sebagai bagian dari serangan yang meluas atau sistematik yang diketahuinya bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil berupa pembunuhan. pengadilan HAM menempuh proses pengadilan melalui hukum acara pengadilan HAM sebagaimana terdapat dalam undang-undang pengadilan HAM. Pelanggaran terhadap hak asasi manusia dapat dilakukan baik oleh aparatur negara mapun bukan. kebangsaan. penghilangan orang secara paksa. Pengadilan HAM berwenang juga memeriksa dan memutuskan perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berada dan dilakukan di luar batas territorial wilayah negara Republik Indonesia oleh warga negara Indonesia. pemaksaan kehamilan. dan kejahatan apartheid. perkosaan. perampasan kemerdekaan atau perampasan kebebasan fisik lain secara sewenang-wenang yang melanggar (asas-asas) ketentuan pokok hukum internasional. ras. Dalam pelaksanaan peradilan HAM. penuntutan dan persidangan terhadap pelanggaran yang terjadi harus bersifat nondiskriminatif dan berkeadilan. penyidikan. pelacuran secara paksa. Pengadilan HAM merupakan pengadilan khusus yang berada di lingkungan Pengadilan Umum. etnis. Untuk Daerah Khusus Ibukota Jakarta. tetapi juga pelanggaran yang dilakukan bukan oleh aparatur negara. penyiksaan. pemusnahan. 38 .

Negara yang tidak memfasilitasi rakyat melalui pendidikan HAM berarti negara telah mengabaikan amanat rakyat. Pelanggaran terhadap pemenuhan HAM juga lebih mengedepankan tanggung jawab perlindungan. Memajukan. Pelanggaran HAM oleh negara terhadap rakyat yang disebut pelanggaran HAM secara vertikal. perlindungan dan pemenuhan HAM? Ada dua pandangan mengenai hal tersebut. tidak hanya berwujud pelanggaran secara langsung. Karena itu. kasus Haur Koneng di Tasikmalaya. Hukum Perjanjian Internasional. Piagam Madinah. Pandangan pertama menyatakan bahwa yang harus bertanggungjawab memajukan HAM adalah negara. Rakyat yang cerdas dan sadar sehingga mampu menghargai dan menghormati HAM perlu diberikan pendidikan terutama masalah yang berkaitan dengan HAM. penghormatan dan perlindungan HAM tidak saja dibebankan kepada negara. kasus di Irian Jaya. memajuan. Perlindungan. Bentuk pelanggaran HAM jenis ini antara lain adanya penembakan rakyat oleh sipil bersenjata seperti dalam kasus 39 . tetapi juga secara tidak langsung. analisis terhadap pelanggaran HAM pun selalu berada dalam wilayah pelanggaran HAM oleh negara terhadap rakyat seperti kasus Tanjung Priok. Deklarasi Kairo dan sebagainya harus diletakkan sebagai norma hukum internasional yang mengatur bagaimana negara-negara di dunia menjamin hak-hak individunya. menyatakan bahwa tanggung jawab pemajuan. Siapa yang bertanggungjawab dalam penegakan. Dengan demikian. dan Pemenuhan Hak Asasi Manusia. Hak-hak inilah yang harus dijamin realisasinya oleh negara. negara yang bersangkutan dengan sendirinya akan kehilangan legitimasi rakyatnya. Beberapa Kovenan. Begitu pula tanggung jawab HAM adalah negara. bila negara tidak mampu melindungi HAM warganegaranya.F. dan penghormatan HAM ada pada pemerintah. Setiap individu (warganegara) mempunyai hak asasi baik dalam keadaan darurat maupun keadaan normal harus dilindungi. deklarasi PBB tentang HAM yang dikenal dengan Piagam HAM Dunia. Pandangan kedua. yaitu negara membiarkan terjadinya pelanggaran HAM. Penanggungjawab dalam Penegakan. karena negara dibentuk sebagai wadah untuk kepentingan kesejahteraan rakyatnya. melainkan juga kepada individu warga negara. Oleh karena itu. pemajuan. kasus DOM di Aceh. penghormatan dan perlindungan HAM. pelanggaran HAM sebenarnya tidak saja dilakukan oleh rakyat kepada rakyat yang disebut dengan pelanggaran HAM secara horizontal. Artinya negara dan individu sama-sama memiliki tanggung jawab terhadap pemajuan. Oleh karenanya.

Jakarta. Ada tiga alasan mengapa individu memiliki tanggung jawab dalam penegakan dan perlindungan HAM.. Ketiga. 3. Pertama. dan sempit. dan Masyarakat Madani. 5.penembakan Rektor IAIN Ar-Raniry Banda Aceh. karenaa setiap orang memiliki kewajiban untuk ikut mengawasi tindakan pemerintah. Demokrasi. sangat luas. presidensiil dan referendum. Mendeskripsikan konsep sistem pemerintahan dalam arti luas. Pendidikan Kewargaan. 4. terdiri dari beberapa bagian yang mempunyai hubungan fungsional terhadap keseluruhan. Penerbit Prenada Media. A. Membandingkan Sistem Pemerintahan Indnesia dengan Amerika Serikat. Mendeskripsikan konsep organisasi pemerintahan dalam garis vertika dan horizontal. penganiayaan buruh atau budak oleh majikan seperti kasus Marsinah. akan mempengaruhi keseluruhannya itu (Kusnardi dan Harmailyi Ibrahim. Rektor Universitas Syiah Kuala Banda Aceh dan beberapa tokoh lainnya. individu memiliki tanggung jawab atas dasar prinsip-prinsip demokrasi. para perampok dan sebagainya. 40 . 6. 2. BAB IV SISTEM PEMERINTAHAN NEGARA Kompetensi Dasar 1. Hubungan dimaksud menimbulkan ketergantungan antara bagian-bagian yang akibatnya jika salah satu bagian tidak bekerja dengan baik. Dalam masyarakat yang demokratis. Merumuskan konsep sistem pemerintahan. Kedua. suatu yang menjadi kewajiban pemerintah juga menjadi kewajiban rakyat. dkk). Hak Asasi Manusia. HAM sejati bersandar pada pertimbangan-pertimbangan normatif agar umat manusia diperlakukan sesuai dengan human dignity-nya. 2003. Catatan Bab ini banyak diambil dari Bab IX buku Tim ICCE UIN Jakarta (Dede Rosyada. Menseskripsikan Sistem Pemerintahan Negara Indonesia sebelum dan sesudah amandemen UUD 1945. tetapi juga kalangan swasta atau kalangan di luar negara dalam hal ini rakyat. Merumuskan cirri-ciri sistem pemerintahan parlementer. Pengertian Sistem Pemerintahan Sistem adalah suatu keseluruhan. sejumlah besar problem HAM tidak hanya melibatkan aspek pemerintah.

Dengan demikian dalam usaha ilmiah sistem adalah suatu tatanan / susunan yang berupa suatu struktur yang terdiri dari bagian-bagian atau komponen-komponen yang berkaitan antara satu dengan lainnya secara teratur dan terencana untuk mencapai suatu tujuan. antara pemerintah pusat dan pemerintah lokal atau daerah. Dari dua pengertian tersebut. Sedangkan pengertian pemerintahan dalam arti sempit tidak tidak lain adalah aktifitas atau kegiatan yang diselenggarakan oleh fungsi eksekutif. menteri. Sedangkan pemeritahan dalam arti luas adalah segala bentuk kegiatan atau aktifitas penyelenggaraan negara yang dilakukan oleh organ-organ negara yang mempunyai otoritas atau kewenangan untuk menjalankan kekuasaan. Pengertian pemerintahan seperti ini mencakup kegiatan atau aktifitas penyelenggarakan negara yang dilakukan oleh eksekutif. maka dalam melakukan pembahasan mengenai Pemerintah Negara. Pengertian seperti ini akan 41 . Sistem Pemerintahan Negara dalam arti paling luas. sampai B. legislatif maupun judikatif. yaitu : (1). Titik tolak yang dipergunakan adalah dalam konteks pemerintahan dalam arti luas. maka akan mempengaruhi komponen yang lain. Tiga Pengertian Sistem Pemerintahan Negara Pengertian sistem pemeintahan negara meurut doktrin Hukum Tata Negara dapat dibagi kedalam tiga pengertian. Yaitu meliputi pembagian kekuasaan dalam negara.1980: 160). Dengan demikian. maka yang deimaksud dengan sistem pemerintahan adalah suatu tatanan atau susunan pemerintahan yang berupa suatu struktur yang terdiri dari organorgan pemegang kekuasaan didalam negara dan saling melakukan hubungan fungsional diantara organ-organ negara tersebut baik secara vertikal maupun horizontal untuk mencapai suatu tujuan yang dikehendaki. jika pengertian pemerintahan tersebut dikaitkan dengan pengertian sistem. Apabila salah satu dari komponen atau bagian tersebut berfungsi melebih atau kurang dari wewenangnya. hubungan antar alat-alat perlengkapan negara yang menjalankan kekuasaan-kekuasaan tersebut baik hubungan horizontal (pemisahan atau pembagian kekuasaan) maupun hubungan vertikal (pemencaran kekuasaan). yakni tatanan yang berupa struktur dari suatu negara dengan menitik beratkan pada hubungan antara negara dengan rakyat. presiden ataupun perdana dengan level birokrasi yang paling rendah tingkatannya.

Bangunan Negara Konfederasi. (b). khususnya hubungan antar eksekutif dan legislatif. yakni 42 . (c). Oleh karena itu parlemen tidak diberi kewenangan untuk melakukan pengawasan kepada eksekutif. C. Berikutnya (3) disebut Sistem Pemerintahan Negara dalam arti sempit yakni suatu tatanan atau struktur pemerintahan yang bertitik tolak dari hubungan sebagian organ negara ditingkat pusat. contohnya AS.Bangunan Negara Kesatuan. (c). dengan kata lain eksekutif merupakan bagian yang tak terpisahkan dari legislatif (Parlemen). contoh Inggris. yaitu : (a) Kekuasaan Legislatif. Jepang. termasuk hubungan antara pemerintah pusat dengan bagian-bagian yang terdapat dalam negara ditingkat lokal atau daeraah. (2). Sistem Pemerintahan Negara ari lua. Sistem pemerintahan negara seperti ini meliputi: (a). sehingga yang berhak mengawasi parlemen dan eksekutif adalah rakyat secara langsung. India. Organisasi dari sistem pemerintahan negara tersebut. baik itu di negara serikat maupun kesatuan dikenal adanya dua organisasi (pengelompokan) dari sistem Pemerintahan yang saling melakukan interaksi antara satu dengan lainnya. Organisasi Pemerintahan Dalam Garis Horizontal Menurut konsep Trias Politika kekuasaan didalam negara dapat dibagi menjadi menjadi tiga cabang kekuasaan utama . Organisasi Sistem Pemerintahan Negara Pada umumnya dalam sistem pemerintahan negara. dalam sistem ini parlemen (legislatif) mempunyai kedudukan yang lebih tinggi ketimbang eksekutif. akan menimbulkan model : (a). Sistem Parlementer. adalah: 1. contohnya di Swiss. Sistem Pemerintahan dengan Pengawasan Langsung Oleh rakyat. aristokrasi dan demokrasi.Sistem Pemisahan Kekuasaan (Presidensiil). Bangunan Negara Serikat (Federal). Struktur atau tatanan pemerintahan negara seperti ini. yakni tatanan atau struktur pemerintahan negara yang bertitik tolak dari hubungan antara semua organ negara. pada sistem ini parlemen (legeslatif) dan pemerintah mempuyai kedudukan yang sama dan saling melakukan kontrol (chek and balances).menimbulkan model pemerintahan monarkhi. pada sistem ini pemerintah (eksekutif) pada hakekatnya adalah Badan Pekerja dari Parlemen (Legislatif). dalam negara seperti ini pemerintah lokal (kanton atau wilayah) mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari pemerintah pusat. dalam negara seperti ini pemerintah pusat dan negara bagian mempunyai kedudukan yang sama. (b). dalam bangunan ini pemerintah pusat memegang otoritas penuh (berkedudukan lebih tinggi) ketimbang pemerintah lokal.

tetapi masing-masing masih dapat saling melakukan hubungan antara satu dengan yang lainnya. khususnya yang mempergunakan asas desentrlisasi dikenal. (b). 1986: 143) kedua satuan pemerintahan yang lebih rendah dibawah pemerintah pusat. Ketiga cabang kekuasaan negara ini dipegang oleh lembaga atau badan kenegaraan yang sifatnya dapat terpisah antara satu dengan yang lain secara tegas. Organisasi Sistem Pemerintahan Dalam Garis Vertikal Membahas Organisasi sistem Pemerintahan dalam garis Vertikal pada intinya bertitik tolak dari bangunan negara.kekuasaan untuk membentuk undang-undang. Biasanya diserahkan kepada lembaga perwakilan rakyat atau parlemen. Kekuasaan Judikatif. Maksud pembentukan organisasi pemerintahan seperti ini tidak lain adalah agar kekuasaan yang terdapat didalam suatu negara tidak lagi dipegang dan menumpuk atau dikendalikan. masing-masing mempunyai ciri-ciri yang berbeda-beda antara 43 . Kekuasaan Ekekutif yakni kekuasaan untuk menjalankan undang-undang atau disebut juga kekuasaan untuk menjalankan pemerintahan. Dengan demikian konsep pengorganisasian pemerintahan dalam garis horizontal pada hakikatnya merupakan implementasi dari konsep trias politika yang dilandasi oleh adanya reaksi terhadap organisasi pemerintahan yang absolut-diktatorik yang pada umunya terjadi dalam negara yang berbentuk monarkhi. Menurut Kranenburg (dalam Miriam Budiardjo. 2. Sedangkan di Negara kesatuan. Di Negara Serikat. khususnya bangunan negara serikat dan bangunan negara kesatuan. adanya pemerintah daerah yang berwenang untuk menyelenggarakan pemerintahan sendiri sesuai dengan aspirasi masyarakat dimasing-masing daerah (otonomi). Namun dapat pula terpisah secara kelembagaan. Masing-masing banguan negara ini memiliki satuan pemerintahan yang lebih rendah di bawah pemerintah pusat. oleh seorang atau sekelompok orang. Kesemuanya itu tergantung dari sistem pemerintahan yang dianut oleh masing-masing negara. Kekuasaan ini biasanya dilakukan oleh pemerintah dalam arti sempit. baik yang terdapat di negara kesatuan maupun serikat. satuan pemerintahan yang lebih rendah diwujudkan dalam bentuk negara-negara bagian. yaitu Presiden atau Perdana Menteri. yakni kekuasaan untuk melaksanakan peradilan.(c). melainkan dipecah menjadi tiga cabang kekuasaan utama yang dipegang oleh badan-badan negara yang berbeda ditinjau dari fungsi dan kedudukannya. Kekuasaan ini dilakukan oleh badan-badan peradilan dengan susunan bertingkat-tingkat sesuai dengan kewenangan masing-masing tingkat dan berpuncak pada supreme Court atau Mahkamah Agung.

44 dan referendum. 1986:143). Sedangkan dalam negara kesatuan wewenang legislatif berada dalam tangan badan legislatif pusat. Menurut F. yakni antara badan legislatif pusat (federal) dan badan legislatif dari negara-negara bagian. Sedang meurut F.satu dengan yang lain berdasarkan hukum positif. Sistem ini merupakan sisa-sisa peninggalan sistem pemerintahan dalam arti paling luas. Dikatakan demikian karena kepala negara apapun sebutannya-mempunyai kedudukan yang tidak dapat diganggu gugat. Penjelasannya secara lebih rinci . akan tetapi juga wewenang eksekutif dan administratif. dalam negara federal wewenang legislatif terbagi dalam dua bagian. sistem perlementer. untuk kekuasaan badan legislatif rendahan (Lokal) didasarkan atas penentuan dari badan legislatif pusat itu dalambentuk Undang-Undang Organik.Dalam negara federal (serikat). Macam-macam Sistem Pemerintahan Negara Ada tiga macam sistem pemerintahan yang sering dibahas dalam kajian Hukum Tatanegara. Sedangkan penyelenggara pemerintahan sehari-hari diserahkan kepada Menteri (Perdana Menteri). Isjawara (dalam Miriam Budiardjo. wewenang membentuk Undang-Undang Pusat untuk bidang tertentu telah diperinci satu persatu dalam konstitusi federal. yaitu: (a). Sedangkan dalam negara kesatuan wewenang pembentukan Undang-Undang Pusat ditetapkan dalam satu rumusan umum dan wewenang pembentukan undang ± undang rendahan (sering disebut Peraturan Daerah/Perda). D. tergantung pada badan pembentuk Undang-Undang Pusat itu.Sugeng Istanto (1971:16) prinsip yang terkandung pada negara kesatuan ialah bahwa yang memegang tampuk kekuasaan tertinggi atas segenap urusan negara ialah Pemerintah Pusat tanpa adanya gangguan oleh delegasi atau pelimpahan kekuasaan kepada pemerintah daerah. yakni morankhi. (b). Negara bagian yang terdapat di dalam Negara Serikat memiliki wewenang untuk membentuk UUD sendiri serta mempunyai wewenang untuk membentuk Organisasi sendiri dalam rangka dan batas-batas konstitusi federal. Sistem Pemerintahan Parlementer (Parliamentary Executive) Pada prinsipnya system pemerintahan parlementer menitik beratkan pada hubungan antara organ negara pemegang kekuasaan eksekutif dan legislative. Sedangkan dalam negara Kesatuan organisasi bagianbagian negara (Pemerintah Daerah) secara garis besarnya telah ditetapkan oleh pembentuk Undang-Undang Pusat. adalah seagai berikut: 1. dalam negara federal tidak hanya wewenang legislatif saja yang diberi antara negara federal dengan negara-negara bagian. Sedangkan Hans Kelsen mengemukakan bahwa.

bahkan antara keduanya saling tergantungsatu dengan yang lainnya. jika pertanggung jawaban atas pelaksanaan pemerintahan yang dilakukan oleh Menteri baik secara perseorangan ataupun kolektif tidak dapat diterima oleh parlemen. sebab Kepala Negara hanya berfungsi sebagai simbol negara juga diberi wewenang untuk menunjuk formulir kabinet dan membubarkan kabinet bila keadaan negara menghendaki. Kepala Negara (apapun sebutannya) hanya berfungsi ataupun berkedudukan sebagai kepala negara saja. pada umunya dilakukan dengan cara koalisi. yakni penggabungan dua partai atau lebih untuk memperkuat posisi perolehan suara di parlemen. (b). Jika ternyata didalam parlemen tidak ada satupun partai politik yang menduduki kursi mayoritas. Terdapat hubungan yang erat antara eksekutif dan legislatif (parlemen). Kedudukan seperti ini mengakibatkan Kepala Negara tidak dituntut pertanggungjawaban konstitusional apapun. Kedudukan Presiden disamping sebagai Kepala Negara juga sebagai kepala Eksekutif (Pemerintahan). Sistem ini menghendaki adanya pemisahan kekuasaan aksekutif dan badan pemegang kekuasaan legislatif. Karena Presden dan Parlemen dipilih langsung oleh rakyat melalui Pemilihan Umum. (b). Sistem Pemerintahan Presidensiil (Fixed Executive) Sestem pemerintahan ini bertitik tolak dari konsep pemisahan kekuasaan sebagaimana dianjurkan oleh teori trias politika. Sehingga tidak jarang terjadi bahwa Presiden terpilih berasal dari Partai Politik yang berbeda dengan mayoritas partai politik yang ada diparlemen. Dikenal adanya mekanisme pertanggung jawaban Menteri kepada Perlemen yang mengakibatkan Parlemen dapat membubarkan atau menjatuhkan ´mosi tidak percaya´kepada Kabinet. Eksekutif yang dipimpin oleh Perdana Menteri dibentuk oleh parlemen dari partai politik / organisasi peserta pemiluyang menduduki kursi mayoritas diparlemen. (d). (c). pada umumnya dapat digambarkan sebagai berikut : (a). Maka penyusunan Kabinet dan Perdana Menteri. Hal ini karena kedua lembaga tersebut sama-sama bertanggung jawab kepada rakyat pemilih. Presiden tidak dapat diberhentikan oleh Parlemen ditengah45 . (c). Ciri-ciri utama dari sistem pemerintahan ini adalah sebagai berikut: (a). Tidak sebagai kepala eksekutif dan Pemerintahan. maka kedudukan antara kedua lembaga ini tidak bisa saling mempengaruhi (menjatuhkan). 2. Presiden dan Parlemen masing-masing dipilih langsung oleh rakyat melalui Pemilihan Umum. dan (d).Adapun ciri-ciri sistem pemerintahan ini. Dalam hal ini rakyat tidak secara langsung memilih Perdana Menteri dan Kabinetnya.

Sedangkan sistem Pemerintahan Parlementer yang tidak murni terlihat dalam ketatanegaraan Perancis. tidak otomatis Kabinet diberi ´mosi tidak percaya´ dan dapat dijatuhkan oleh parlemen. Presiden wajib menjalankan MPR. Parlemen yang menentukan personilnya secara definitif. Namun Presidennya mempunyai kekuasaan yang besar dalam seluruh kehidupan negara dan pemerintahan. Kemudian Presiden mengangkat menteri-menteri tersebut setelah mendapat persetujuan Parlemen. unsur-unsur Sistem Parlementer terlihat jelasa. Sistem presidensiil semu pernah berlangsung dalam pola ketatanegaran Indonesia. (e). Penjelasan semacam ini mengandung unsur sistem parlementer.Menteri-menteri yang diangkatoleh Presiden tersebut tunduk dan bertanggung jawab kepada Presiden. sering dijumpai juga varian dari keduanya. Presiden wajib minta persetujuan Parlemen. Contoh yang dapat dikemukakan disini adalah Impeachment yang dikembangkan di AS. dalam pasal 4 UUD 1945 di tegaskan bahwa presiden memegang kekuasaan pemerintahan menurut Undang-Undang Dasar. Dari kedua sistem tersebut. Pola seperti ini nampak mirip dengan sistem presidensiil di AS. Kemudian dipasal 17 ayat 2 ditegaskan bahwa menteri-menteri diangkat dan diberhentikan oleh presiden. Akan tetapi jika pertanggung jawaban tersebut ditolak oleh parlemen. Presidennya dipilih oleh rakyat dalam suatu pemilu. Perdana menteri dan Kabinetnya bertanggung jawab kepada parlemen. Ketentuan seperti ini jelas mengindikasikan bahwa Indonesia menganut Sistem Presidensiil. Begitu pula dengan parlemennya. dapat dikenai impeachment (pengadilan DPR). tunduk dan bertanggung jawab kepada MPR. Disana dinyatakan bahwa Presiden yang diangkat oleh MPR. (f). Akan tetapi jika menyimak Penjelasan Umum UUD 1945.tengah masa jabatannya. ataukah justru parlemen yang bertindak malampaui batas46 . Dalam kasus seperti ini Presiden akan memberikan pertimbangan apakah dalam persoalan adanya ´mosi tidak percaya ´ tersebut memang disebabkan oleh Kabinet yang tidak mampu lagi menjalankan garis-garis kebijaksanaan politik yang ditetapkan oleh parlemen. namun presiden hanya menyampaikan nominasi anggota kabinet. Dalam rangka menyusun kabinet (menteri). namun jika presiden melakukan perbuatan yang melanggar hukum. Tidak dilakukan oleh anggota parlemen. Presiden juga dapat membubarkan parlemen. Pelaksana Impeachment ini dilakukan oleh Hakim Tinggi pada supreme Court. karena MPR bertindak laksana parlemen. tetapi juga mempunyai wewenang untuk mengangkat perdana menteri dari partai Politik yang menduduki kursi mayoritas di parlemen. Sebelum Amandeman. yaitu sistem presidensiil semu dan sistem parlementer semu.

Adapun cara yang dapat ditempuh oleh rakyat Konfederasi Swiss untuk melakukan kontrol terhadap jalannya pemerintahan adalah dengan melalui : (a). Oleh sebab itu. Pemegang kedaulatan tertinggi ada pada Sidang Federal yang terdiri dari dua kamar. maka justru parlemenlah yang dapat dibubarkan oleh presiden. Dewan federal (pemegang kekuasaan eksekutif) dan Sidang Federal (pemegang kedaulatan tertinggi) sama-sama memperoleh kekuasaan dari rakyat. khususnya menyangkut kedaulatan rakyat dibidang pemerintahan. . Bahkan dapat dikatakan bahwa Dewan Federal hanyalah merupakan Badan Pekerja dari Sidang Federal. 3. Referendum terdiri dari (tiga) macam. Memperhatikan konstruksi ketatanegaraan tersebut diatas. tidaklah mengherankan jikalau dalam konflik antara Kabinet dan Parlemen. Menurut Konstitusi Federal Konfederasi Swiss dinyatakan antara lain : (a). maka tidaklah mungkin apabila Sidang Federal (pemegang kedaulatan tertinggi) dan dewan federal (pemegang kekuasaan eksekutif) saling melakukan kontrol seperti halnya dalam sistem pemerintahan Parlementer. Pola seperti inilah yang mengakibatkan munculnya sistem Pemerintahan dengan pengawasan langsung oleh rakyat. Ini berarti Presiden juga berkedudukan dan bertindak sebagai representasi rakya. Referendum obligator (Wajib) yaitu meminta pendapat secara langsung dari rakyat terhadap suatu 47 . (b). Referendum. Jikalau dalam pertimbangan tersebut. Presiden dan wakil presiden Konfederasi Swiss dipilih oleh sidang federal. Presiden menganggap bahwa parlemenlah yang malampaui kewenangannya. diantara para anggota dewan untuk masa jabatan satu tahun. Karena Dewan federal pada hakikatnya merupakan bagian yang tidak terpiasahkan dari sidang federal. Demikian pula sebaliknya. yaitu: (1). dan (c).batas kewenangannya. yang terdiri dari tujuh anggota dan dipiliholeh Sidang Federal. presiden dapat bertindak sebagai mediator bahkan dapat juga disebut sebagai hakim dalam mengatasi konflik tersebut. yaitu Dewan Nasional dan Negara. yaitu suatu penentuan oleh rakyat untuk memberikan keputusan setuju atau menolak terhadap kebijaksanaan yang diambil oleh parlemen. Sehingga yang berhak untuk melakukan kontrol atas jalannya sistem ketatanegaraan tidak lain adalah rakyat secara langsung. Kekuasaan Presiden Perancis yang demikian besar karena dipilih langsung oleh rakyat. Sistem Pemerintahan Dengan Pengawasan Langsung oleh Rakyat Acuan sistem pemerintahan ini adalah Negara Konfederasi Swiss. Inilah letak ketidak murnian dari sistem parlementer yang dikembangkan di Perancis.Pemegang kekuasaan eksekutif dan badan Pelaksana Kekuasaan Tertinggi dipegang oleh Dewan Federal.

(a) Presiden tidak dapat diganggu gugat. Masing konstitusi tersebut mengatur mengenai sistem pemerintahan yang berbeda. Sistem Pemerintahan Indonesia menurut UUDS 1950 UUDS 1950 masih tetap mempergunakan bentuk sistem pemerintahan seperti yang diatur dalam Konstitusi RIS. Referendunm optatif. Maupun masing-masing untuk bagiannya sendiri-sendiri. Sistem Pemerintahan Indonesia Menurut Konstitusi RIS Sistem pemerintahan Indonesia menurut Konstitusi RIS adalah sistem Pemerintahan Parlementer yang tidak murni. Apabila mayoritas rakyat berpendapat bahwa UU tersebut tetap berlaku seperti semula. Referendum fakultatif (tidak Wajib). Dengan menyimak pasal tersebut. Menteri-menteri bertanggung jawab atas seluruh kebijaksanakan pemerintah baik bersama-sama untuk seluruhnya. (3). Hal ini karena UUDS 1950 pada hakikatnya merupakan hasil amandemen dari Konstitusi RIS dengan menghilangkan 48 . Berikut ini akan dikemukakan sistem pemerintahan Indonesia menurut konstitusiyang pernah dan sedang berlaku. Pasal 118 Konstitusi RIS antara lain menyebutkan. yaitu meminta pendapat secara langsung dari rakyat apakah setuju atau tidak terhadap UU yang sudah berlaku. maka sisem yang dipergunakan adalah sistem parlementer yang tidak murni. 1. demikian sebaliknya. Ketentuan pasal tersebut menunjukkan bahwa RIS mempergunakan sistem pertanggung jawaban menteri.Rancangan UU yang akan di undangkan. Kendatipun demikian pasal 122 Konstitusi RIS juga disebutkan bahwa DPR tidak dapat memaksa kabinet atau masing-masing menteri untuk meletakkan jabatannya. yaitu meminta pendapat secara langsung pada rakyat apakah setuju atau tidak terhadap Rancangan UU Pemerintah Federal atau pemerintah pusat di wilayah-wilayah negara bagian atau daerah otonom. Sistem Pemerintahan Indonesia Sejak Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. (b). E. Artinya sistem pemerintahan negara yang digunakan masih seperti yang diatur dalam Konstitusi RIS. maka UU terebut tetap berlaku. (b). yaitu hak rakyat untuk mengajukan rancangan UU kepada Parlemen dan Pemerintah. Usul Inisiatif Rakyat. Karena pertanggung jawaban yang dimaksud tidak ada artinya atau disebut pertanggung jawaban dalam arti sempit. Indonesia pernah mempergunakan beberapa Konstitusi tertulis selain UUD 1945. (2). 2. tetapi ada sementara rakyat yang meggugatnya.

(d). Mahkamah Agung. eksekutif. Karakteristik sistem presidensiil di Amerika Serikat adalah sebagai berikut: (a). dan dalam pelaksanaannya dibantu oleh para menteri yang bertanggung jawab kepada presiden. Guna mengetahui sistem pemerintahan yang dianut oleh UUD 1945. wewenang pembuat UU adalah Congres (yang terdiri dari dua kamar : House of Representative dan senat. (b). Presiden dan Wk. sistem Pemerintahan Negara tidak secara implisit tertuang didalamnya. dan dapat diberhentikan jika melanggar UUD 1945 dan GarisGaris Besar Haluan Negara (GBHN). Dalam bidang legislatif. (c). 3. dan pimpinan MPR. maka perlu memperbandingkan dengan sistem pemerintahan negara lain. Didala pasal 83 UUDS 1950 dinyatakan : (a). (b). baik bersama-sama untuk seluruhnya maupun masing-masing untuk bagiannya sendiri-sendiri. dan judikatif merupakan lembaga yang terpisah.Presiden tidak dapat diganggu gugat. secara eksplisit mengindikasikan adanya bentuk campuran antara sistem Presidensiil dan parlementer. Pada beberapa ketentuan. Konstruksi semacam ini memperlihatkan kecenderungan kearah sistem presidensiil. Apabila ada perbedaan pendapat antara Presiden dengan Congres (utamanya senate). presiden sebagai kepala eksekutif tidak dapat dijatuhkan oleh Congres. Meteri-menteri diangkat dan diberhentikan oleh presiden.. yakni hak Presiden untuk tidak menyetujui suatu RUU yang diajukan leh Congres. Legislatif. Khususnya yang menganut sistem pemerintahan Presidensiil yang murni seperti di Amerika Serikat. namun mekanisme Check and Balances (saling mengadakan kontrol dan pertimbangan) berlangsung diantara ketiganya. Hal ini agak berbeda dengan kedua Konstitusi RIS dan UUDS 1950. Akan tetapi karena presiden RI tidak dipilih oleh rakyat secara langsung melainkan oleh MPR. maka menunjukkan bahwa sistem presidensiil yang dianut. Menteri-menteri bertanggung jawab atas seluruh kebijaksanaan pemerintah. Presiden tidak dapat diganggu-gugat sebelum masa 49 . apakah betul menganut Presidensiil yang tidak murni (quasi Presidensiil). Sedangkan Presiden sendiri bertanggung jawab kepada rakyat yang telah memilihnya. Presiden adalah kepala eksekutif dan tidak boleh merangkap menjadi anggota DPR. Akan tetapi dalam hal-hal tertentu Presiden AS mempunyai hak veto. Sistem Pemerintahan Indonesia Menurut UUD 1945 Sebelum Amandemen Didalam sistematika UUD 1945.pasal-pasal yang bersifat federalis. tetapi bukan bukan yang murni. Bahkan kecenderungan kearah sistem parlementer demikian kental. Dalam Penjelasan UUD 1945 disebutkan bahwa DPR tidak bisa dibubarkan oleh presiden. Kekuasaan eksekutif berada ditangan Presiden.

Hakim peradilan ada yang dipilih oleh rakyat dan ada pula yang diangkat untuk seumur hidup atau selama tenaganya masih mampu menjalankan tugas dan wewenang nya. Akan tetapi jika ada kejadian luar biasa. mengenai pemilihan Presiden dan Wakil Presiden yang dipilih dan diangkat oleh MPR dengan suara terbanyak (pasal 6 ayat 2). mirip dengan ciri sistem pemerintah parlementer. Badan-badan peradilan bebas dari pengaruh kekuasaan apapun. (b). Presiden dan wakil presiden memegang jabatan selama lima tahun dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama. Presiden berhak mengajukan Rncangan Undang-Undang. dan (e). 50 . sebagaimana dikonstruksikan di dalam UUD 1945 (sebelum amandemen) sebagai berikut : (a). Presiden memegang kekuasaan membentuk UU dengan persetujuan DPR. Ketentuan pasal-pasal diatas menunjukkan bahwa sistem pemerintahan Indonesia dengan yang dianut di AS. dan (e) Pasal 21 ayat 2 : Jika Rancangan UU meskipun disetujui DPR. Akan tetapi. Berdasarkan karakteristik sistem presidensiil di AS tersebut di atas. Pasal 5 ayat 1 . maka tidak boleh dimajukan dalam persidangan masa itu. Sistem Pemerintahan Indonesia Menurut UUD 1945 Setelah Amandemen Amandemen pertama terhadap UUD 1945 berlangsung pada Sidang Umum MPR Tahun 1999. tidak sesuai dengan proses pemilihan Presiden langsung seperti AS. Presiden dibantu oleh menteri-menteri. Pasal 21 ayat 1 . melainkan oleh Hakim Agung yang dipanggil ke DPRuntuk melakukan pemeriksaan terhadap Presiden. yang diangkat dan diberhentikan oleh presiden.jabatannya habis. Mekanisme impeachmenti tidak dilakukan sendiri oleh anggota DPR. (c). Pasal 17 ayat 1 dan 2 . Juga dalam Penjelasan Umum UUD 1945 yang menegaskan bahwa Presiden dalam melaksanakan pemerintahan bertanggung jawab kepada MPR. hasil amandemen pertama ini sangat terkait dengan penegasan sistem pemerintahan. 4. Anggota-anggota DPR berhak memajukan Rancangan UU. Presiden memegang kekuasaan pemerintahan (b). Pasal ini dukunya berbunyi ´Presiden memegang kekuasaan membentuk Undang-Undang dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat´. (d). Pasal 7 . maka dapat menarik garis persamaan dengan yang ada di Indonesia. Pasal 4 ayat 1 . misalnya presiden melakukan perbuatan melanggar hukum. hasil dimaksud sebagai berikut : (a) Pasal 5 ayat 1. tapi tidak disahkan Presiden. maka badan Perwakilan dapat menuntut presiden melalui Impeachment (pengadilan oleh DPR).

Hasil amandemen terkait dengan pemilihan Presiden dimuat dalam Pasal 6A. (3). sehingga masa jabatannya mencapai 32 tahun. Sebeleum berubah. (c). Dalam hal tidak ada pasangan calon presiden dan wakil presiden tepilih. Kendati pasal-pasal UUD 1945 yang sudah di amandemen tersebut memberikan indikasi pelaksanaan sistem presidensiil. Pasal ini merupakan bentuk perubahan signifikan dari ketentuan sbelum amandemen yang menegaskan : ´Pesiden dan wakil presiden memegang jabatannya selama masa lima tahun. Pasangan calon presiden dan wakil presiden yang mendapat suara lebih dari lima puluh persen dari jumlah suara pemilihan umum dengan sedikitnya dua puluh persen suara disetiap provinsi yang tersebar di lebih dari setengah jumllah provinsi di Indonesia. Pasangan calon presiden dan wakil presiden diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilihan umum sebelum pelaksanaan pemilihan umum. maka dua pasangan calon yang memperoleh suara terbanyak pertama dan kedua dalam pemilihan umum dipilih oleh rakyat secara langsung dan pasangan yang memperoleh suara terbanyak dilantik sebagai pasangan Presiden dan wkil presiden. namun dalam prakteknya masih tetap belum dilaksanakan secara murni. Berdasarkan ketentuan tersebut. antara lain menegaskan (1). Dilantik menjadi presiden dan wakil presiden. Berkaitan dengan hal ini. Karena itu pemilihan Presiden masih mengacu pada pasal yang belum di amandem. (4).VI/MPR/1999 tentang Tata Cara Pencalonan dan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. pasal tersebut menjadi dasar konstitusional bagi Presiden Soeharto untuk dipilih berulang kali. pasal 3 ayat (3) Amandemen UUD 1945 menegaskan 51 . Baru setelah amandemen keempat ditetapkan pada sidang tahunan MPR tahun 2002. namun belum sampai pada ketentuan pemilihan Presiden. serta (d). Hal nampak jelas tertuang di dalam Ketetapan MPR No.hanya untuk satu kali masa jabatan. Melainkan bertanggung jawab secara langsung kepada rakyat. Perisiden dan wakil presiden dipilih dalam satu pasangan secara langsung oleh rakyat. Presiden tidak bertanggung jawab kepada MPR. Menteri-menteri diangkat dan diberhentikan oleh presiden. Pasal 20 ayat 1: Dewan Perwakilan Rakyat memegang kekuasaan membentuk Undang-Undang. Pada tahun 1999 memang amandemen sudah dilakukan untuk pertama kali. Pasal 17 ayat 2. (2). dan sesudahnya dapat dipilih kembali´. ditegaskan bahwa psresiden dan wakil presiden akan dipilih secara langsung oleh rakyat. (5). yang isinya antara lain bahwa calon Presiden diajukan oleh Fraksi MPR.Tata cara pelaksanaan peilihan Presiden dan wakil presiden lebih lanjut diatur dengan Undang-Undang. dan pemilihannya dilakukan oleh anggota MPR. maka presiden dan wakil presiden tidak lagi bertanggung jawab kepada MPR.

MPR wajib menyelenggarakan sidang untuk memutuskan usul DPR menerima usul tersebut. (7). Pendapat DPR bahwa Presiden dan atau Wakil Presiden. penyuapan. mengadili dan memutus pendapat DPR bahwa Presiden dan atau Wakil Presiden telah melakukan pelanggaranhukum yang berupa pengkhianatan terhadap negara. Usul pemberhentian Presiden dan atau Wakil Presiden dapat diajukan oleh DPR kepada MPR hanya dengan terlebih dahulu mengajukan permintaan kepada MK untuk memeriksa. (2). penyuapan. maka Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) terlebih dahulu mengajukan permintaan kepada Mahkamah Konstitusi (MK) untuk memeriksa. penyuapan. atau perbuatan tercela maupun apabila terbukti tidak lagi memenuhi syarat sebagai presiden dan atau Wakil presiden. mengadili. tindak pidana lainnya. korupsi. tindak pidana berat lainnya. pemberhentian Presiden dan atau wakil presiden atas usul Dewan Perwakilan Rakyat apabila terbukti melakukan pelanggaran hukum yang berupa pengkhianatan terhadap negara. Apabila MK memutuskan bahwa Presiden dan atau Wakil Presiden terbukti melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara. pasal 7B UUD 1945 secara lengkap menyatakan : (1). (4). MK wajib memeriksa. dan atau pendapat bahwa Presiden dan atau Wakil Presiden tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan atau Wakil presiden. (3). korupsi. dan atau terbukti bahwa Presiden dan atau Wakil Presiden tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan atau Wakil Presiden. Menurut pasal 7A UUD 1945.dan memutus dengan seadil-adilnya terhadap pendapat DPR tersebut paling lambat sembilan puluh hari setelah permintaan DPR itu diterima oleh MK. Mengenai hal ini. korupsi.tindak pidana berat lainnya. (5). telah melakukan pelanggaran hukum atau telah tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan atau Wakil Presiden adalah dalam rangka pelaksanaan fungsi pengawasan DPR. Pengajuan permintaan DPR kepada MK hanya dapat dilakukan dengan dukungan sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota DPR yang hadir dalam sidang paripurna yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota DPR.´Majelis Permusyawaratan Rakyat hanya dapat memberhentikan presiden dan atau wakil presiden dalam masa jabatannya menurut Undang-Undang´. (6). DPR menyelenggarakan sidang paripurna untuk meneruskan usul pemberhentian Presiden dan atau Wakil Presiden kepala MPR. atau pebuatan tercela. Atau perbuatan tercela. Keputusan MPR atas usul pemberhentian Presiden dan atau Wakil Pesiden 52 . mengadili dan memutus pendapat DPR tentang adanya indikasi perbuatan melanggar hukum yang dilakukan oleh Presiden dan atau Wakil Presiden. Untuk mengusulkan pemberhentian Presiden dan atau Wakil Presiden.

e. Di pandang politik. jikalau melakukan perbuatan yang berkaitan dengan hal-hal yang bersifat yuridis. Presiden dan atau Wakil Presiden serta parlemen yang terdiri dari dua kamar (DPR dan DPD) dipilih langsungoleh rakyat melalui Pemilihan Umum. jikalau Presiden dan atau Wakil Presiden telah melaksanakan pertanggung jawaban hukum tersebut. Sistem pemerintahan negara mempergunakan Sistem Presidensiil murni. Hal ini berarti Presiden dan atau Wakil Presiden hanya dapat dijatuhkan. 2003. Sedangkan untuk pertanggung jawaban politis merupakan konsekuensi logis. pertanggung jawaban Pesiden dam atau Wakil Presiden lebih menekankan pada pertanggung jawaban politis. Dikenal adanya lembaga peradilan konstitusi. Hal ini berarti telah mengubah paradigma yang selama ini mewarnai sistem pertanggung jawaban Presiden dan atau Wakil Presiden kepada MPR. 53 . dan Hak Asasasi Manusia. b. maka setelah UUD 1945 diamandemenkan. Berdasarkan mekanisme pertanggung jawaban tersbut diatas. Pertanggung jawaban yang dibebankan kepada Presiden dan atau Wakil Presiden kepada parlemen harus diawali dengan adanya pertanggung jawaban hukum (yuridis). d.harus diambil dalam rapat paripurna MPR yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya ¾ dari jumlah anggota dan disetujui oleh sekurang-kurangnya ¾ dari jumlah anggota yang hadir. setelah Presiden dan atau Wakil Presiden diberi kesempatan menyampaikan penjelasan dalam rapat paripurna MPR. Penerbit UAJ Yogyakarta. Perubahan tersebut dapat diilustrasikan sebagai berikut: a. yakni Mahkamah Konstitusi (MK) yang mempunyai wewenang untuk melakukan impeachment kepada Presiden dan atau Wakil Presiden. c. Dalam paradigma lama. Kewarganegaraan. jikalau ditengarai telah melakukan pelanggaran hukum berat. terdapat perubahan sistem pemerintahan Negara Republik Indonesia yang cukup fundamental. Catatan Bab ini banyak diambil dari Bab III buku Hestu Cipto Handoyo. Hukum Tatanegara. Artinya antara kedua lembaga ini tidak bisa saling menjatuhkan. kedudukan Presiden dan atau Wakil Presiden serta parlemen sama-sama kuat.

BAB V OTONOMI DAERAH Kompetensi Dasar 1. Merumuskan pengertian dan hakikat otonomi daerah dan desentralisasi. 2. Mendeskripsikan pentingnya otonomi dan desentralisasi 3. Mendeskripsikan argumentasi memilih otonomi dan desentralisasi. 4. Mendeskripsikan perkembangan otonomi dan desentralisasi di Indonesia. 5. Membandingkan kebijakan otonomi dan desentralisasi dalam UU. No. 22 Tahun 1999 dengan UU. No. 32 Tahun 2004. 6. Merumuskan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan di daerah. A. Pengertian dan Hakikat Otonomi Daerah Istilah otonomi daerah dan desentralisasi dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan sering digunakan bergantian. Kekdua istilah tersebut secara akademik bisa dibedakan, namun secara praktis dalam penyelenggaraan pemerintahan tidak dapat dipisahkan. Karena itu tidak mungkin masalah otonomi daerah dibahas tanpa mempersandingkannya dengan konsep desentralisasi. Bahkan menurut banyak kalangan otonomi daerah adalah desentralisasi itu sendiri. Karenanya pembahasan otonomi daerah biasanya diulas dengan memakai istilah desentralisasi. Kedua istilah tersebut bagaikan dua sisi mata uang yang saling menyatu namun dapat dibedakan. Desentralisasi pada dasarnya mempersoalkan pembagian kewenangan kepada organorgan penyelenggara negara, sedangkan otonomi menyangkut hak yang mengikuti pembagian wewenang tersebut. Konsep desentralisasi sering dibahas dalam konteks pembahasan mengenai sistem penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. Pada masa sekarang, hampir setiap negara menganut desentralisasi sebagai asas dalam sistem penyelenggaraan

pemerintahan negara. Desentralisasi bukan merupakan sistem yang berdiri sendiri melainkani merupakan rangkaian kesatuan dari suatu sistem yang lebih besar. Suatu negara menganut desentralisasi bukan karena alternatif dari sentralisasi. Antara Desentralisasi dan sentralisasi tidak dilawankan, dan karenanya tidak bersifat dikotomis, melainkan merupakan sub-sub sistem dalam kerangka sistem organisasi negeranya. Karenanya, suatu negara merupakan payung desentralisasi dan sesntralisasi. Otonomi dalam maka sederhana dapat diartikan sebagai ³mandiri´. Sedangkan dalam makna yang lebih luas diartikan sebagai ³berdaya´. Otonnomi daerah dengan demikian berarti kemandirian suatu daerah dalam kaitan perbuatan dan pengambilan 54

keputusan mengenai kepentingan daerahnya sendiri. Jika daerah sudah mampu mencapai kondisi tersebut, maka daerah dapat dikatakan sudah berdaya melakukan apa saja secara mandiri tanpa tekanan dari luar.. Desentralisasi sebagaimana didefinisikan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) adalah penyerahan kewenangan dari pusat kepada daerah. Proses itu melalui dua cara yaitu, delegsi kepada pejabat-pejabat didaerah atau dengan devolusi kepada badanbadan otonomi daerah. Akan tetapi, tidak dijelaskan isi dan keluasaan kewenangan serta konsekuensi penyerahan kewenangan itu bagi badan-badan otonomi daerah. Desentralisasi diartiakn pula sebagai transfer kewenangan untuk untuk

menyelenggarakan beberapa pelayanan kepada publik dari seseorang atau agen pemerintah pusat kepada beberapa individu atau agen lain yang lebih dekat kepada publik yang dilayani. Landasan yang mendasari tranfer ini adalah teritorial dan fungsional. Teritorial maksudnya adalah menempatkan kewenangan kepada level pemerintahan yang lebih rendah dalam wilayah geografis tertentu, sedang fungsional artinya transfer kewenangan kepada agen yang secara fungsional terspensialisasi. Transfer kewenangan secara fungsional ini memiliki tiga tipe : pertama; apabila pendelegasian kewenangan itu di dalam struktur politik formal misalnya, dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah.; kedua; jika transfer itu terjadi didalam struktur administrasi publik, misalnya dari kantor pusat sebuah kementerian kepada kantor kementerian yang ada di daerah; ketiga, jika tranfer tersebut dari institusi negara kepada agen non negara, misalnya penjualan aset pelayanan publik seperti telepon atau penerbangan kepada sebuah perusahaan (M.Turner dan D. Hulme dalam Teguh Yuwono, 2001: 27) Rondinelli mendefinisikan desentralisasi sebagai transfer tanggung jawab dalam perancangan, manajemen dan alokasi sumber-sumber dari pemerintah pusat dan agenagennya kepada unit kementerian pemerintah pusat, unit yang ada dibawah level pemerintah, otoritas atau korporasi publik semi otonomi, otoritas regional atau fungsional dalam wilayah yang luas, atau lembaga privat non pemerintah dan organisasi nirlaba (Teguh Yuwono, 2001: 28). Jadi desentralisasi adalah pelimpahan kewenangan dan tanggung jawab dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. B. Arti Penting Otonomi Daerah dan Desentralisasi

55

Krisis Ekonomi dan politik yang melanda Indonesia sejak tahun 1997 telah memporak-porandakan hampir seluruh sendi-sendi ekonomi dan politik negeri ini yang telah dibangun cukup lama. Lebih jauh lagi, krisis ekonomi dan politik yang berlanjut menjadi multikrisis telah mengakibatkan semakin rendahnya tingkat kemampuan dan kapasitas negara dalam menjamin kesinambungan pembangunan. Krisis tersebut salah satunya diakibatkan oleh sistem manajemen negara dan pemerintahan yang sentralistik, yaitu kewenangan dan pengelolaan segala sektor pembangunan berada dalam kewenangan pemerintah pusat, sementara daerah tidak memiliki kewenangan untuk mengelola dan mengatur daerahnya. Sebagai respon dari krisis tersebut, pada masa reformasi dicanangkan kebijakan restrukturisasi sistem pemerintahan yang cukup penting, yaitu melaksanakan otonomi daerah dan pengaturan perimbanagan keuangan antara pusat dan daerah. Paradigma lama dalam manajemen negara dan pemerintahan yang berporos pada sentralisme kekuasaan diganti menjadi kebijakan otonomi yang berpusat pada desentralisasi. Kebijakan otonomi daerah terkait pula dengan upaya politik pemerintah pusat untuk merespon tuntutan kemerdekaan atau negara federal dari beberapa wilayahyang

memiliki aset sumber daya alam melimpah namun tidak mendapatkan haknya secara proposional pada masa pemerintahan Orde Baru. Desentralisasi dianggap dapat menjawab tuntutan pemerataan pembangunan sosial ekonomi, penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan kehidupan berpolitik yang efektif. Sebab Desentralisasi menjamin penanganan tuntutan masyarakat secara variatif dan cepat. Ada beberapa alasan mengapa kebutuhan terhadap desentrslisasi di Indonesia saat ini dirasakan sangat mendesak. Pertama, kehidupan berbangsa dan bernegara selama ini sangat terpusat di Jakarta, sementara itu pembangunan dibeberapa wilayah lain dilalaikan. Kedua, pembagian kekayaan secara tidak adil dan merata, daerah-daerah yang memiliki sumber kekayaan alam melimpah, seperti Aceh, Riau, Papua, Kalimantan, dan Sulawesi ternyata tidak menerima perolehan dana yang patut dari pemerintah pusat. Ketiga, kesenjangan sosial antar daerah sangat terasa.

Pembangunan fisik disatu daerah berkembang pesat, sedangkan dibanyak daerah masih lamban dan bahkan terbengkalai. Sementara itu ada alasan lain yang didasarkan pada kondisi ideal, sekaligus memberikan landasan filosofis bagi penyelenggaraan pemerintahan daerah

(desentralisasi) sebagaimana dinyatakan oleh The Liang Gie sebagai berikut : (1). 56

serta mempertahankan diri dari kemungkinan serangan dari negara lain. baik dalam 57 . seperti geografi. untuk menarik rakyat ikut serta dalam pemerintahan dan melatih diri dalam mempergunakan hak-hak demokratis. dan pemerintahan negara menjadi tidak efisien dan tidak akan mampu menjalankan tugasnya dengan baik. pengurusannya diserahkan kepada daerah. keadaan penduduk. desentralisasi dimaksudkan untuk mencegah penumpukan kekuasaan pada satu pihak saja yang pada akhirnya dapat menimbulkan tirani. Oleh karena itu. Selain itu pemerintah juga mempunyai fungsi distributif dan fungsi regulatif untuk penyediaan barang dan jasa. keamanan dalam negeri. Dari sudut kepentingan pembangunan ekonomi. menjaga keutuhan negara dan bangsa. keuangan.Dilihat dari sudut politik sebagai permainan kekuasaan. Selain itu memberikan pelayanan dan perlindungan kepada masyarakat.(4). (3). politik. Pemerintahan daerah akan pengembangan demokrasi dalam sebuah menyediakan kesempatan bagi warga masyarakat untuk berprestasi politik. Sebagai Sarana Pendidikan Politik Pemerintahan daerah dapat dipandang sebagai kancah pelatihan dan negara. tidaklah mungkin hal itu dapat dilakukan dengan cara yang sentralistik. kegiatan ekonomi. Dalam bidang politik. Argumentasi yang digunakan dalam memilih desentralisasi dan otonomi dalam penyelenggaran pemerintahan diantaranya adalah sebagai berikut: 1. Juga fungsi ekstraktif dalam memobilisasi sumber daya keuangan untuk membiayai aktifitas penyelenggaraan negara. (2). langsung 2. pertahanan. dan lain-lainnya. desentralisasi perlu diadakan supaya adanya perhatian dapat sepnuhnya ditumpukan kepada kekhususan sesuatu daerah. (5). watak kebudayaan atau latar belakang sejarahnya. desentralisasi diperlukan karena pemerintah daerah dapat lebih banyak dan secara membantu pembangunan tersebut. merupakan tugas pemerintahan yang bersifat universal. penyelenggaraan desentralisasi dianggap sebagai tindakan pendemokrasian. bidang sosial. integrasi sosial. Apa yang dianggap lebih utama untuk diurus oleh pemerintah setempat. kesejahteraan masyarakat. Daris sudut teknik organisatoris pemerintahan. ekonomi. alasan mengadakan pemerintahan daerah (desentralisasi) adalah semata-mata untuk mencapai suatu pemerintahan uang efisien. Untuk Terciptanya Efesiensi-Efektivitas Penyelenggaraan Pemerintahan Pemerintah berfungsi mengelola berbagai dimensi kehidupan seperti. Dari sudut kultur.

baik dalam pemilihan umum lokal ataupun dalam rangka pembuatan kebijakan publik. lewat kelompok atau perrangan. apakah melalui pemberian suara pada waktu pemilihan Kepala Desa. 5. Masyarakat di daerah akan mempunyai kesempatan untuk terlibat dalam politik. untuk berpartisipasi dalam segala bentuk kegiatan penyelenggaraan negara. Keterlibatan ini sangat dimungkinkan sejak dari awal tahap pengambilan keputusan sampai dengan evaluasi. terutama pemerintahan daerah (eksekutif dan legislatif lokal). Dengan demikian pendidikan politik pada tingkat lokal sangat bermanfaat bagi warga masyarakat untuk menentukan pilihan politiknya. 6. Pemerintahan Daerah Sebagai Persiapan Untuk Karir Politik Lanjutan Pemerintah daerah merupakan langkah persiapan untuk meniti karier lanjutan. terutama yang menyangkut kepentingan mereka. 58 . Karena sesuatu yang mustahil bagi seseorang dapat muncul dengan begitu saja menjadi politisi berkaliber nasional ataupun internasional.rangka memilih atau kemungkinan untuk dipilih dalam suatu jabatan politik. Bupati. dapat terlibat dalam mempengaruhi pemerintah ketika membuat kebijakan. Mereka yang tidak mempunyai peluang untuk terlibat dalam politik nasional dan dipilih menjadi pemimpin nasional. merupakan wahana yang banyak dimanfaatkan guna menapak karier politik yang lebih tinggi. Terjadinya pergolakan daerah pada tahun 19571958 dengan puncaknya adalah kehadiran PRRI dan PERMESTA. Gejolak disintegrasi yang terjadi dibeberapa daerah merupakan contoh konkrit keterkaitan ketidakstabilan politik yang muncul karena pemerintah nasional tidak menjalankan otonomi dengan tepat. 4. Keberadaan institusi lokal. gerakan ini muncul karena daerah melihat kenyataan kekuasaan pemerintah Jakarta yang sangat dominan. Disamping itu warga masyarakat. akan mempunyai peluang untuk ikut serta dalam politik lokal. Dengan demikian kebijakan yang dibuat akan dapat diawasi secara langsung dan dapat dipertanggung jawabkan karena masyarakat terlibat secara langsung dalam penyelenggaraan pemerintahan. termasuk didaerah. Stabilitas Politik Stabilitas politik nasional berawal dari stabilitas politik pada tingkat lokal. dan bahkan Gubernur. 3. terutama karier dibidang politik dan pemerintahan ditingkat nasional. Wali Kota. Kesetaraan Politik (Political Equalilty) Dibentuknya pemerintahan daerah akan mewudkan kesetaraan politik diantara berbagai komponen masyarakat. Akuntabilitas Politik Demokrasi memberikan ruang dan peluang kepada masyarakat.

Ketika itu pemerintah mengambil tindakan drastis dengan mengubah UU No. 6 Tahun 1959 adalah sebagai berikut: (1). Kepada daerah diberikan hak otonom yang seluas-luasnya untuk mengatur dan mengurus rumah tangga daerahnya. 22 tahun 1948 tentang Pemerintahan Daerah. dengan menganut sistem otonomi riil. hanya ada satu bentuk susunan pemerintahan. Negara Indonesia memiliki penduduk yang heterogen dan tersebar di berbagai daerah dengan karakteristik sendiri-sendiri. Penyelenggaraan tugas di bidang pemerintahan umum pusat di daaerah dan tugas dibidang ekonomi daerah. Dalam rangka itu kemudian lahirlah UU No. Ketika konstelasi politik berubah. Guna menindaklanjuti ketentuan Pasal 18 tersebut. 1 Tahun 1945. Saat Indonesia kembali menjadi negara kesatuan dan berdasarkan UUDS 1950. Kenyataan ini mendasari para pendiri bangsa ketika menyusun UUD 1945. Menyadari akan kekurangan yang terdapat dalam UU No. pemerintah lebih dulu mengatur mengenai keberadaan pemerintah daerah. pemerintah bersama BP-KNIP berupaya melahirkan UU Otonomi Daerah yang benarbenar didasarkan atas kedaulatan rakyat. 18 dengan jelas mengatur penyelenggaraan pemerintahan daerah dengan tetap menghormati keberagaman yang dimiliki daerah. Jadi sebelum mengatur yang lain. yaitu : (1). pemerintah mengeluarkan UU baru tentang pemerintahan daerah. Perkembangan Desentralisasi dan Otonomi Daerah di Indonesia. Kedudukan kepala daerah tidak lagi hanya sebagai alat daerah. otonomi daerah mengalami kemunduran. disamping tetanp menjalankan politik dekonsentrasi. Di daerah-daerah (daerah besar dan kecil). yang tersusun secara demokratis. yaitu kepala daerah.1 Tahun 1957 dan menggantinya dengan Penpres No. (3). Daerah-daerah dibentuk menurut susunan derajat dari atas bawah sebanyak tiga tingka. (2). yaitu UU No. diletakkan pada satu tangan. tetapi 59 .C. UU ini memberikan hak otonomi dan tugas pembantuan (medebewind) yang seluas-luasnya kepada badan-badan pemerintah daerah. (2). untuk pertama kali pemerintah mengeluarkan UU No. 5 Tahun 1960. saat terjadi pergeseran dari Demokrasi Parlementer ke Demokrasi Terpimpin melalui Dekrit Presiden 5 juli 1959 dengan kembali ke UUD 1945.1 Tahun 1945 yang mengatur pemerintah daerah. Prinsip-prinsip pokok yang diatur dalam dalam Penpres No. Menginginkan agar melaksanakan politik desntralisasi dan memberikan hak-hak otonomi kepada daerah-daerah. yaitu pemerintah daerah yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya atau daerah otonomi. 1 Tahun 1957 tentang Pokok-Pokok Pemerintah Daerah. 6 Tahun 1959 dan kemudian disempurnakan melalui Penpres No. UU ini secara garis besar mengandung tiga prinsip dasar desentralisasi.

Dalam kedudukan itu. Namun sayang UU ini tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan. kepala daerah tidak bersifat kolegial. dan (6). Ketika pergantian rezim dari Demokrasi terpimpin ke Rezim Orde Baru. Dalam menjalankan kekuasaan eksekutif. 19 Tahun 1965 tentang desa praja sebagai bentuk peralihan untuk mempercapat terwujudnya Daerah Tingkat III di seluruh tahah air. UU ini merangkum pokok-pokok pikiran cita-cita desentralisasi dari perundang-undangan sebelumnya. kebijakan yang dilakukan lebih mencerminkan pelimpahan wewenang ketimbang penyerahan wewenang. pemerintah mengeluarkan UU sebagai pengganti Penpres No. ditegaskan bahwa kepala daerah karena jabatannya adalah Ketua DPRD dan bukan anggota. Pertama. sejak awal pemerintah Orde Baru dalam menciptakan otonomi daerah adalah untuk menciptakan keamanan. melainkan bersifat tunggal. (3). Sebab. dibentuk pula UU No. Dalam praktik. yaitu meletakkan tanggung jawab territorial riil dan seluas-luasnya dalam tangan pemerintah daerah. Cita-cita untuk mewujudkan politik desentralisasi menjadi terhambat. namun dalam operasional prinsip tersebut menimulkan perubahan. Penambahan melalui Penpres No. Kenyataan lain adalah terbatasnya wewenang daerah dalam bidang keuangan. 5 Tahun 1974 selain menerapakan asas desentralisasi. melalui UU No. kebijakan desentralisasi pada masa Orde Baru dalam praktik cenderung ke bandul sentralisasi. perencanaan dan pelaksanaan yang bertalian dengan urusan yang diembannya. Meski dalam UU tersebut menyebutkan bahwa pemerintah mencanangkan prinsip otonomi yang nyata dan bertanggung jawab. 5 Tahun 1960. pemerintah pusat masih memiliki wewenang dalam mengatur urusan-urusan yang dikelolanya didaerah lewat desentralisasi dan medebewind.sekaligus juga sebagai wakil pemrintah pusat didaerah. (5). Kepala daerah mempunyai kekuasaan untuk menangguhkan keputusan DPRD yang bersangkutan dan keputusan pemerintah daerah bawahannya. yaitu dari desentralisasi menjadi dekonsentrasi. ketertiban. persatuan dan 60 . Hal ini berdampak daerah tidak memiliki ruang gerak dalam penetapan kebijakan. Singkatnya. Bersamaan dengan itu. yaitu UU No. 6 Tahun 1959. ketenangan. Pada Tahun 1965. (4). 18 Tahun 1965. kebijakan otonomi daerah juga mengalami perubahan. Dalam penjelasannya disebutkan bahwa pemerintah akan terus dan konsekuen menjalankan politik desentralisasi untuk menuju kearah tercapainya desentralisasi territorial. kepala daerah adalah pegawai negara. tidak lagi bertanggung jawab kepada DPRD melainkan kepada Presiden. Ada beberapa hal yang dapat menjelaskan mengapa seperti itu. juga bidang kepegawaian yang terpusat.

Sedang mengenai proses legislasi dan regulasi didaerah tidak lagi harus disahkan oleh pemerintah pusat. (2). diharapkan tuntutan daerah untuk melepaskan diri tidak akan terjadi. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. Dengan peraturan itu. Jika sebelumnya begitu terkekang. Ini dilakukan dalam rangka lebih mendekatkan pelayanan kepada masyarakat. (4). Titik berat otonomi ada pada daerah kabupaten atau kota. Namun terlepas dari alasan yang sesungguhnya dibalik lahirnya kedua UU tersebut. Dengan sistem ini pemerintah daerah berwenang melakukan apa saja yang menyangkut penyelenggaraan pemerintahan kecuali dibidang politik luar negeri. tidak memiliki kewenangan dalam melakukan pembangunan daerah. Ciri ini menyangkut dua hal. dan fiskal. pemerintah Orde Baru menganut formula strategi pembangunan dengan menjadikan para ahli ekonomi berfungsi sebagai pembuat kebijakan. kebijakan otonomi daerah Era Reformasi ini sungguh mengalami kaemajuan yang luar biasa. Crinya yang menonjol dari UU yang baru ini. daerah harus dibiayai dari dana Anggaran 61 .stabilitas.22 Tahun 1999 Era reformasi menjadi titik tolak perubahan kebijakan desentralisasi lebih nyata. (5). (3). Pengaturan mengenai keuangan daerah ini karena adanya tuntutan keterbukaan politik (demokratisasi). Semakin lengkap pengaturan daerah dengan lahirnya UU No. di Era Reformasi malalui UU No. Reformasi memberi hikmah besar kepada daerah-daerah untuk menikmati otonomi yang sesungguhnya. 1. sehingga distribusi dan penggunaannya memenuhi kriteria keadilan dan efesiensi. dan birokrasi sipil sebagai pelaku pelaksana. 22 tahun 1999. juga karena pemerintah pusat ingin mengatasi masalah disintegrasi yang melanda Indonesia. Tidak menggunakan sistem Otonomi bertingkat. yaitu rekrutmen pejabat politik di daerah dan proses legislasi di derah. tidak mengenal daaerah tingkat I dan II juga tidak ada hirarki antara provinsi dengan kabupaten Penyelenggaraan tugas pemerintah dan Belanja Dan Pendapatan Negar (APBN). Kebijakan Otonomi Daerah Menurut UU No. yaitu: (1). Demokrasi dan Demokratisasi. Rekrutmen pejabat politik didaerah menyerahkan kewenangan sepenuhnya kepada masyarakat melalui DPRD dan tidak ada lagi campur tangan pemerintah pusat. militer sebagai stabilator. Kedua. atau kota. pemerintah ingin selalu memusatkan sumber daya yang tetap langka untuk keperluan pembangunan. Sistem Otonomi Luas dan Nyata. daerah memiliki kebebasandan berprakarsa untuk mengatur daerahnya sendiri. moneter. Mendekatkan pemerintah dengan rakyat. Ketiga.

terjadi konflik dalam memperebutkan sumber daya antar daerah. Kedua. Belum terjadi perubahan yang signifikan terhadap otonomi daerah. kebijakan otonomi daerah hanya menguntungkan daerahdaerah kaya SDA. Ketiga. Keempat. akuntabilitas DPRD kepada publik. ekonomi biaya tinggi akibat dampak upaya menigkatan sumber PAD dengan meningkatkan tarif dan ekstensifikasi retribusi dan pajak daerah. tidak adanya ruang partisipasi publik dalam mengontrol kebijakan publik. 22 Tahun 1999 telah memberi ruang desentralisasi (politik dan administrasi) yang lebih besar kepada daerah sehingga memungkinkan adanya ruang dan kesempatan yang lebih luas bagi partisipasi masyarakat dan pembangunan daerah. Pihak yang setuju menyatakan bahwa UU tersebut sangat demokratis bahkan bersifat liberal. terjadi primordialisme dalam pengangkatan kepala daerah dan jajaran birokrasi. 32 Tahun 2004 Meski UU No. Memberikan kewenangan kepada daerah seluas-luasnya untuk mengembangkan daerah atas prakarsa sendiri. Sebab masih banyak kewenangan yang diurus oleh pusat dan dana perimbangan belum mencerminkan rasa keadilan. Selain itu. Sementara pihak yang tidak setuju mengatakan bahwa UU tersebut masih bersifat setengah hati dan masih menerapkan paradigma lama. Desakan muncul di antaranya LIPI. Dari sisi kebijakan. Ketujuh. 22 Tahun 1999 menimbulkan pro-kontra. 2. Dengan demikian. Kedua. penyediaan pelayanan dasar yang belum memadai. aspek kelembagaan pemerintahan daerah yang menempatkan posisi DPRD selalu dominan. tidak adanya otoritas lembaga yang kuat untuk menyelesaikan konflik yang terjadi antar daerah. Pertama. ketKeenam. munculnya ³raja-raja kecil´ didaerah-daerah. Keempat. Kebijakan Otonomi Daerah Menurut UU No. 22 Tahun 1999 sudah member ruang lebih baik dalam penyelenggaraan otonomi daerah. Pertama. 22 Tahun 1999. mengandung kelemahan sehingga memunculkan dampak negatif dalam implementasi otonomi daerah. Lembaga ini 62 . paling tidak UU No. terjadi friksi antara kepala daerah dengan DPRD dalam hal Laporan Pertanggung jawaban kepala Daerah. Ketiga. Benyak kemajuan dalam UU ini dibandingkan dengan UU No. sisi implementasi otonomi daerah juga memunculkan dampak negatif. kebijakan pemerintah dituntut lebih terbuka. namun ada sejumlah kelemahan di dalamnya. organisasi perangkat daerah menjadi gemuk dan besar. Kellima. Kelima. Akibat kelemahan-kelemahan tersebut muncullah desakan perlunya revisi terhadap UU No. demokratis dan membuka ruang bagi partisipasi masyarakat. antara lain.Belakangan UU No. Terlepas dari pro-kontra tersebut. 5 Tahun 1974.

pengawasan dan penyelesaian konfllik. Dalam penjelasannya dikemukakan bahwa otonomi seluas-luasnya berarti daerah diberikan kewenangan mengurus dan mengatur semua urusan pemerintahan. UU No. Ketiga. Sedangkan usulan Pemerintah (Depdagri). prakarsa dan pemberdayaan masayarakat yang bertujuan pada peningkatan kesejahteraan rakyat. pertahanan. berbeda dengan LIPI. kepala daerah dipilih langsung. dan kewajiban yang senyatannya telah ada dan berpotensi untuk tumbuh. Kedua. pelembagaan partisipasi masyarakat. No. dan agama. Kelima. yakni memerapkan kebijakan otonomi dengan melakukan resentralisasi. Keempat.mengusulkan perlunya revisi. dengan cara mengamandemen pasal-pasal yang dianggap lemah dan menambah pasal-pasal baru untuk memperkuat otonomi daerah. yaitu poitik luar negeri. wewenang. Otonomi yang bertanggung jawab adalah otonomi yang dalam penyelenggaraan nya harus benar-benar sejalan dengan tujuan dan maksud pemberian otonomi. hidup dan berkembang sesuai dengan potensi dan kekhasan daerah. Ketujuh. peningkatan peran serta. keamanan. perubahan perlu dilakukan secara mendasar. Pemerintah pusat dalam menyelenggarakan urusan tersebut dapat berbentuk. Diantara substansi kebijakan otonomi daerah yang perlu diperbaiki adalah: Pertama. Dalam UU itu dinyatakan bahwa otonomi daerah menggunakan prinsip otonomi seluas-luasnya dan prinsip otonomi nyata dan bertanggung jawab.22 Tahun 1999. Keenam. (1) menyelenggarakan sendiri. Terlepas dari perbedaan pandangan di atas. Daerah memiliki kewenangan membuat kebijakan daerah untuk memberi pelayanan. dipandang ³kebablasan´ bagi daerah-daerah. Sedang prinsip otonomi yang nyata adalah suatu prinsip bahwa urusan pemerintahaan dilaksanakan berdasarkan tugas. UU baru tersebut memuat materi materi tentang pemerintahan daerah atau otonomi daerah. moneter yusitisi. 22 Tahun 1999. akuntabilitas pemerintahan Daerah. (2) melimpahkan sebagian kepada gubernur 63 . perluasan pendapatan dan keuangan daerah. yakni pemberdayaan daerah dan meningkatkan kesejahteraan Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat tetap sebagaimanan UU sebelumnya. perlunya institusi yang menangani kerja sama dan perselisihan antar daerah. koordinasi keamanan daerah. bukan melakukan perubahan secara mendasar. 32 Tahun 2004 berhasil ditetapkan sebagai pengganti UU. sehingga dianggap ³bebas dan tidak bisa dikendalikan oleh pusat´ maka perlu pengaturan kembali untuk ³mengendalikan´ daerah-daerah sesuai dengan keinginan pemerintah. Pemerintah tampaknya melihat kelemahan mendasar pada UU No.

(5). (8). Jenis urusan pilihan tersebut baru disebutkan secara eksplisit ada pada penjelasan Pasal 13 ayat 2 dan apsal 14 ayat 2 UU No. perkebunan. kehutanan. Perencanaan dan pengendalian pembangunan. (2). Urusan wajib pemerintahan yang diberikan kepada pemerintahan pemerintah daerah sebanyak 16 urusan. sedangkan yang membedakan eksternalitas. Pelayanan administrasi penaman modal. Perencanaan. adalah skala berdasarkan kriteria Urusan pemerintahan provinsi maupun urusan pemerintahan kabupaten/kota terdiri atas urusan-urusan berikut : (1). Urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan. dan pengawasan tata ruang. Penanganan bidang kesehatan. Sedangkan urusan yang menjadi kewenangan daerah terbagi atas urusan wajib dan urusan pilihan. Kriteria yang menjadi acuan menetapkan urusan pilihan adalah ³secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi. Penanggulangan masalah sosial. Urusan pemerintahan tersebut berlaku sama baik bagi pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten/kota. akuntabilitas dan efisiensi. Penyelenggaraan pelayanan dasar. 32 Tahun 2004 : ³Yang dimaksud dengan urusan pemerintahan yang secara nyata ada dalam ketentuan ini sesuai dengan kondisi. (9).(dekonsentrasi). Urusan pilihan yang dapat dilaksanakan oleh pemerintah daerah tidak disebutkan secara ekplisit. sedang urusan pilihan adalah urusan pemerintahaan terkait dengan potensi unggulan dan kekhasan daerah. (6). perikanan. (3). Fasilitas pembangunan koperasi. Urusan wajib adalah urusan pemerintahan yang berkaitan dengan pelayanan dasar. Pelayanan pertahanan. Pemerintah daerah (provinsi dan kabupaten /kota) selain menyelenggarakan urusan wajib juga dapat melaksanakan urusan pilihan. pertanian. (15). (3) menugaskan sebagian urusan kepada pemerintahan daerah dan atau pemerintahan desa berdasarkan asas tugas pembantuan. (4). usaha kecil. Pelayanan administrasi umum pemerintahan. dan menengah. (13). (12). dan potensi yang dimiliki antara lain pertambangan. Pelayanan kependudukan dan catatan sipil. Pelayanan bidang ketenagakerjaan. kekhasan. (14). (7). dan (16). Pengendalian lingkungan hidup. dan pariwisata´. 64 . Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masayarakat. Penyediaan sarana dan prasarana umum. pemanfaatan. (10). Penyelenggaraan pendidikan dan alokasi sumber daya manusia potensial. kekhasan dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan´. (11)..

dan sebagainya. hak menyampaikan saran dan pendapat secara bertanggungjawab kepada kebijakan penyelenggara negara. kolusi. hak untuk memperoleh pelayanan yang sama dan adil dari penyelenggara Negara. (4). kewenangan provinsi hanya 12 mil dan Kabupaten/ Kota sepertiganya. dan nepotisme. Sedangkan dalam hal laut disebutkan bahwa laut bukan merupakan wilayah daerah. dan tidak diskriminatif mengenai penyelenggaaraan negara. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat memperoleh perlindungan hukum dalam menggunakan haknya untuk memperoleh perlindungan hukum dalam menggunakan haknya untuk memperleh dan menyampaikan informasi tentang penyelenggara negara. dan memberikan informasi mengenai penyelenggaraan negara. hak mencari. Peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan negara untuk mewujudkan penyelenggaraan yang bersih dilaksanakan dalam bentuk: (1). Kewenangan dalam mengelola SDA yang ada di laut ini. daerah hanya diberi kewenangan untuk mengelola SDA yang ada di laut.Dalam UU No. Peran Serta Masayarakat dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Dalam rangka menciptakan tata pemerintahan yang baik. 32 Tahun 2004 disebutkan juga tentang kawasan khusus. Sesuai dengan prinsip keterbukaan dalam negara demokrasi yang mengharuskan penyelenggara negara membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar. (2). BUMN. 65 . maka dalam Peraturan Pemerintah tersebut diatur hak dan tanggungjawab serta kewajiban masyarakat dan penyelenggara negara secara berimbang. memperoleh. Kebebasan menggunakan hak tersebut haruslah disertai dengan tanggung jawab untuk mengemukakan fakta dan kejadian yang sebenarnya dengan menaati dan menghormati aturan-aturan moral yang diakui umum serta hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. serta hadir dalam proses penyelidikan dan sidang pengadilan sebagai saksi pelapor. good governance dan menciptakan pemerintahan yang bersih dan bebas dari korupsi. saksi atau saksi ahli. (3). pemerinatah dapat membentuk kawasan khusus untuk kepentingan nasional. D. hak memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan haknya. maka pemerintah mengeluarkan PP Nomor 68 Tahun 1999 tentang nepotisme. jujur. Dalam pembentukan kawasan khusus itu dapat berbentuk badan otorita.

kolusi. dan menaati hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.Masyarakat yang bermaksud mencari dan memperoleh informasi tentang penyelenggaraan negara berhak menanyakan kepada lembaga atau instalasi terkait baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal ini tentu derajat partisipasinya lebih tinggi daripada pemilihan kepala daerah oleh anggota DPR. Masyarakat tidak diperkenankan memberikan laporan yang bersifat fitmah dan provokasi. pertama masuknya anggota masyarakat sebagai elected member dari DPRD dan kepala daerah. wajib memberikan jawaban atau keterangan sesuai dengan tugas dan fungsinya dan tetap memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 66 . Masyarakat juga dapat memberi informasi mengenai suatu penyelenggaraan negara kepada instansi terkait. termasuk pada pemerintahan daerah tidak mudah. Mewujudkan hal tersebut merupakan sesuatu yang penting. Namun untuk mewujudkan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan negara. Ironisnya dalam era reformasi ini mekanisme partisipasi masyarakat dalam pemerintahan daerah juga masih lemah. sehingga dapat diduga terjadi korupsi. dan nepotisme dalam lembaga/ unit di bawah tanggungjawabnya. UU Nomor 32 Tahun 2004 lebih memperkuat partisipasi publik ini dengan mengatur pemilihan kepala daerah secara langsung oleh masyarakat. menghormati hak-hak pribadi seseorang sesuai dengan norma-norma yang diakui umum.. Oleh karena itu. identitas pelapor dan fakta kejadian harus didukung oleh data yang dapat dipertanggungjawabkan. Masyarakat masih terbiasa dengan mobilisasi yang sering digunakan secara ekstensif pada masa Orde Baru dan Orde Lama. serta kedua desentralisasi kepada unit yang lebih rendah yakni desa sebagai bentuk dari decentralization within cities. Ada dua cara partisipasi yang diakui oleh UU Nomor 22 tahun 1999. karena masyarakat belum terbiasa dnegan partisipasi aktif dan sukarela. Tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Penyelenggara negara yang menolak dapat dikategorikan sebagai penyelenggara negara yang tertutup. Setiap penyelenggara negara yang menerima permintaan masyarakat untuk memperoleh informasi tentang penyelenggaraan negara. penyelenggara negara tidak boleh menolak permintaan masyarakat untuk memperoleh informasi tersebut. karena Indonesia merupakan negara yang berada dalam masa transisi menuju demokrasi. Masyarakat yang menyampaikan informasi kepada instansi terkait harus menyampaikannya secara bertanggung jawab dengan mengemukakan fakta yang diperoleh.

apa yang harus dilakukan oleh DPRD dan kepala daerah beserta perangkatnya. Akibatnya. apa hak dan kewenangan publik atas pejabat yang dipilihnya. Pada praktiknya. Mekanisme kedua yakni desentralisasi pada tingkatan desa yang diatur dalam bentuk kebijakan mengenai pemerintahan desa dalam UU No. wujud partisipasi warga melalui cara elected member ini disinyalir telah gagal dan tetap menempatkan warga pada posisi kurang dapat menyalurkan aspirasi dan tuntutan lokalnya dalam pemerintahan daerah. apa sanksi atas kelalaian dalam pengabaian partisipasi publik. ternyata karena sistem pemilu yang dipergunakan. Apa yang diungkapkan oleh Gubernur Sutiyoso dalam upaya menghadapi polemik perjudian pada tahun 2002 membuktikan bahwa cara berpikir pemerintah daerah yang hanya didasarkan pada kekuatan perangkat daerah daripada melibatkan masyarakat. tidak ada penjelasan mengenai mekanisme yang bisa dijadikan pedoman dan jaminan bagi pengakuan dan terselenggaranya partisipasi publik. Selain kedua cara utama itu. Tidak ada tempat bagi partisipasi dalam tahapan implementasi apalagi kontrol terhadap pemerintah daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. anggota DPRD yang dimaksudkan untuk mewakili kepentingan warga yang memilihnya. 22/1999. Akan tetapi. bagaimana bentuk keterlibatannya. Pemerintah daerah hanya berfungsi untuk menjalankan urusan 67 . UU tersebut tidak memberikan ruang lain bagi mekanisme partisipasi masyarakat. Sampai kini memang masih dibutuhkan lebih banyak kajian menyangkut bagaimana desa-desa adat. dan sebagainya. Mereka lebih berperan sebagai kepanjangan tangan partainya daripada konstituennya. 5/1979. UU 32 Tahun 2004 tidak banyak melakukan perubahan dari apa yang diatur oleh UU sebelumnya sehingga melanjutkan format baru pemerintahan desa dalam masa reformasi. masyarakat hanya dapat berinteraksi dengan politisi di DPRD yang harus menampung (termasuk memerhatikan dan menyalurkan aspirasi. yakni nilai-nilai demokrasi lokal yang hidup secara tradisional kini telah rusak karena uniformitas yang dipaksakan dalam kebijakan pemerintahan desa masa Orde Baru tersebut. Siapa yang boleh dan harus terlibat. Akan tetapi muncul masalah baru. terutama di luar Jawa mampu merevitalisasi kembali potensi lokalnya sesuai dengan peluang yang diberikan oleh UU No. dan menindaklanjuti (termasuk memfasilitasi tindak lanjut) aspirasi daerah dan masyarakat. 22/1999 ini dianggap lebih demokratis dan partisipatif daripada yang diatur dalam UU No.Khusus untuk yang pertama (elected member). menerima keluhan dan pengaduan masyarakat). apa konsekuensi keterlibatannya.

Rosyada. Bentuk partisipasi yang dinyatakan secara eksplisit lebih sering ditafsirkan sebagai sekadar masukan bagi pengambilan keputusan dan keluhan untuk menyatakan kebutuhn. Daftar Pustaka Cipto Handoyo. baik itu DPRD maupun kepala daerah beserta perangkatnya. dan Hak Asasasi Manusia. dkk. 21/1999 dan UU 32/2004 membuktikan pengakuan yang masih rendah atas ragam jenis partisipasi yang diatur. 2003. Pendidikan Kewargaan. Jakarta: Penerbit Prenada Media.dan kewenangan kesatuan masyarakat hukum yang ada dalam wilayah tertentu (daerah otonom). masih dibutuhkan kejelasan mekanisme dalam menyelenggarakan pemerntahan berbasis partisipasi masyarakat. Hestu. Hukum Tatanegara. Yogyakarta: Penerbit UAJ. 2003. Meskipun demikian. Tampaknya pengakuan lebih berat timbangannya pada pemerintah daerah. Dapat dikatakan bahwa tidak ada pengakuan yang nyata bahwa stakeholder utama dalam pemerintahan daerah adalah masyarakat. Kewarganegaraan. Demokrasi. Dede. dan Masyarakat Madani. Hak Asasi Manusia.. 68 . Apa yang tertuang secara eksplisit dalam UU No.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful