BAB I DEMOKRASI Kompetensi Dasar

:
1. Menjelaskan hakikat demokrasi 2. Menganalisa sejarah perkembangan demokrasi 3. Menjelaskan pentingnya kehidupan demokratis dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara A. Hakikat Demokrasi

Kata demokrasi terkesan sangat akrab dan seakan sudah dimengerti begitu saja. Namun apa dan bagaimana sebenarnya makna dan hakikat substansi demokrasi mungkin belum sepenuhnya dimengerti dan dihayati. Sehingga perlu diketahui makna dan hakikat demokrasi karena hampir semua negara menjadikan demokrasi sebagai tatanan aktivitas bermasyarakat dan bernegara. Berdasarkan hal tersebut di atas sudah tentu sangat perlu untuk mengetahui lebih dulu makna dan hakikat demokrasi. Banyak para ahli memberikan batasan tentang demokrasi antara lain dilihat dari tinjauan bahasa (etimologis), bahwa demokrasi berasal dari dua kata yang berasal dari bahasa Yunani yaitu ³demos´ yang berarti rakyat atau penduduk suatu tempat dan ³cratein´ atau ³cratos´ yang berarti kekuasaan atau kedaulatan. Jadi secara etimologis, demokrasi adalah keadaan negara di mana dalam sistem pemerintahannya kedaulatan di tangan rakyat, kekuasaan tertinggi berada dalam keputusan bersama rakyat, rakyat berkuasa, pemerintahan rakyat dan kekuasaan oleh rakyat. Sedangkan secara istilah (terminologis) pengertian demokrasi banyak

dikemukakan oleh para ahli, antara lain : (a) Yoseph A. Schmeter, demokrasi merupakan suatu perencanaan institusional untuk mencapai keputusan politik di mana individu-individu memperoleh kekuasaan untuk memutuskan cara perjuangan kompetitif atas suara rakyat; (b) Sidney Hook, demokrasi adalah bentuk pemerintahan di mana keputusan-keputusan pemerintah yang penting secara langsung atau tidak langsung didasarkan pada kesepakatan mayoritas yang diberikan secara bebas dari rakyat dewasa; (c) Philippe C. Schmitter dan Terry Lynn Karl, demokrasi sebagai suatu sistem pemerintahan di mana pemerintah dimintai tanggung jawab atas tindakantindakan mereka di wilayah publik oleh warga negara, yang bertindak secara tidak langsung melalui kompetisi dan kerja sama dengan para wakil mereka yang telah terpilih; (d) Henry B Mayo, demokrasi sebagai sebagai sistem politik merupakan suatu sistem yang menunjukkan bahwa kebijakan umum ditentukan atas dasar mayoritas oleh 1

wakil-wakil yang diawasi secara effektif oleh rakyat dalam pemilihan-pemilihan berkala yang didasarkan atas prinsip kesamaan politik dan diselenggarakan dalam suasana terjaminnya kebebasan politik. Dari beberapa pendapat di atas diperoleh kesimpulan bahwa hakikat demokrasi sebagai sistem bermasyarakat dan bernegara serta pemerintahan memberikan penekanan pada keberadaan kekuasaan di tangan rakyat yang mengandung pengertian tiga hal: Pertama, pemerintahan dari rakyat (government of the people) mengandung pengertian yang berhubungan dengan pemerintahan yang sah dan diakui (legitimate government) dan pemerintahan yang tidak sah dan tidak diakui (unligitimate government) di mata rakyat. Legimitasi suatu pemerintahan sangat penting, karena dengan legitimasi tersebut pemerintahan dapat menjalankan roda birokrasi dan program-programnya sebagai wujud dari amanat yang diberikan oleh rakyat kepadanya.

Kedua, pemerintahan oleh rakyat (government by the people) mengandung arti bahwa pemerintahan menjalankan kekuasaan atas nama rakyat bukan atas dorongan diri dan keinginannya sendiri, serta dalam menjalankan kekuasaannya, maka pemerintah berada dalam pengawasan rakyat (social control) secara langsung maupun tidak langsung. Ketiga, pemerintahan untuk rakyat (government for the people) mengandung arti bahwa kekuasaan yang diberikan oleh rakyat kepada pemerintah itu dijalankan untuk kepentingan rakyat. Kepentingan rakyat harus didahulukan dan diutamakan di atas segalanya. Untuk itu pemerintah harus mendengarkan dan mengakomodasi aspirasi rakyat dalam merumuskan dan menjalankan kebijakan dan program-programnya. Pemerintah harus membuka saluran dan ruang kebebasan serta menjamin adanya kebebasan seluas-luasnya kepada rakyat dalam menyampaikan aspirasinya baik melalui media pers maupun secara langsung. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa demokrasi merupakan bentuk pemerintahan yang tumbuh dan berkembang dengan sendirinya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Karena itu demokrasi memerlukan usaha nyata setiap warga dan perangkat pendukungnya yaitu budaya yang kondusif sebagai manifestasi dari suatu mind set (kerangka berpikir) dan setting social (rancangan masyarakat). Sehingga bentuk kongkrit dari manifestasi tersebut adalah dijadikannya demokrasi sebagai way of life (pandangan hidup) dalam seluk beluk sendi kehidupan bernegara baik oleh rakyat (masyarakat) maupun oleh pemerintah. Sebagai bentuk 2

pemerintahan maka demokrasi meliputi unsur-unsur : (1) Adanya partisipasi masyarakat secara aktif dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, (2) Adanya pengakuan akan supremasi hukum., (3) Adanya kebebasan, antara lain: kebebasan berekspresi dan berbicara atau berpendapat, kebebasan untuk berkumpul dan berorganisasi, kebebasan beragama dan berkeyakinan, kebebasan untuk menggugat pemerintah, kebebasan untuk memilih dan dipilih dalam pemilihan umum, dan kebebasan untuk mengurus nasib sendiri, dan (4) Adanya pengakuan supremasi sipil atas militer. Pemerintahan demokratis membutuhkan kultur demokrasi untuk membuatnya performed (eksis dan tegak). Kultur demokrasi ini berada dalam masyarakat itu sendiri. Pemerintahan yang baik dapat tumbuh dan stabil bila masyarakat pada umumnya punya sikap positif dan proaktif terhadap norma-norma dasar demokrasi. Oleh karena itu harus ada keyakinan yang luas di masyarakat bahwa demokrasi adalah sistem pemerintahan yang terbaik dibanding dengan sistem lainnya (Saiful Mulyani:2002) . Untuk itu masyarakat harus menjadikan demokrasi sebagai way of life yang menuntun tata kehidupan kemasyarakatan, kebangsaan, pemerintahan dan kenegaraan. Demokrasi mengandung proses dinamis dalam arti proses melaksanakan nilainilai civility (keadaban) dalam bernegara dan bermasyarakat (Nurcholis Madjid:2000), sehingga secara teoritis maupun pengalaman praktis di negeri-negeri yang demokrasinya cukup mapan paling tidak mencakup tujuh norma : Pertama, pentingnya kesadaran akan pluralisme. Dalam hal ini tidak hanya sekedar pengakuan (pasif) akan kenyataan masyarakat yang majemuk, tetapi lebih dari itu adalah kesadaran akan kemajemukan menghendaki tanggapan yang positif terhadap kemajemukan itu sendiri secara aktif. Seorang individu akan mampu menyesuaikan dirinya pada cara hidup demokratis jika ia mampu mendisiplinkan dirinya sendiri ke arah jenis persatuan dan kesatuan yang diperoleh melalui penggunaan perilaku kreatif dan dinamik serta memahami segi-segi positif kemajemukan masyarakat. Pandangan hidup demokratis seperti ini menuntut moral pribadi yang tinggi. Kesadaran akan pluralitas sangat penting dimiliki bagi rakyat Indonesia sebagai bangsa yang sangat beragam dari sisi etnis, bahasa, budaya, agama dan potensi alamnya. Kedua, adanya istilah ³musyawarah´ dalam arti ³saling memberi isyarat´ (bahasa Arab). Internalisasi dan semangat musyawarah menghendaki dan

mengharuskan adanya keinsyafan dan kedewasaan untuk dengan tulus menerima kemungkinan kompromi atau bahkan ³kalah suara´. Semangat musyawarah menuntut 3

Sehingga demokrasi tidak akan terwujud tanpa akhlak yang tinggi. berkecenderungan baik. kerjasama antarwarga masyarakat dan sikap saling mempercayai itikad baik masing-masing. dan tidak harus. terpenuhinya keperluan pokok yaitu sandang. cacat atau sakit. Dengan demikian rencana pemenuhan kebutuhan ekonomi harus mempertimbangkan aspek keharmonisan dan keteraturan sosial. dan harus memiliki kepastian bahwa rencana-rencana itu benar-benar sejalan dengan tujuan dan praktik demokrasi. Korelasi prinsip ini ialah kesediaan untuk kemungkinan menerima bentuk-bentuk kompromi atau islah. Korelasinya yang lain ialah seberapa jauh kita bisa bersikap dewasa dalam mengemukakan pendapat. Pandangan demokratis mewajibkan adanya keyakinan bahwa cara haruslah sejalan dengan tujuan. dan menghina yang merusak dan tanpa tanggung jawab. Ketiga. Jadi permufakatan yang dicapai melalui manipulasi atau taktik hasil konspirasi. Keempat. dan beritikad baik.agar setiap orang menerima kemungkinan terjadinya ³partial fintioning of ideals´ yaitu suatu pandangan bahwa belum tentu. dan bahwa setiap orang pada dasarnya baik. Masyarakat demokratis ditantang untuk mampu menganut hidup dengan pemenuhan kebutuhan secara berencana. pangan dan papan. Kelima. permufakatan yang jujur dan sehat adalah hasil akhir musyawarah yang jujur dan sehat. tidak hanya merupakan permufakatan yang curang. seluruh keinginan atau pikiran seseorang atau kelompok akan diterima dan dilaksanakan sepenuhnya. Keenam. bahkan dapat dikatakan sebagai suatu penghianatan pada nilai dan semangat demokrasi. merupakan segi penunjang efisiensi untuk 4 . Dalam masyarakat yang belum terlatih benar untuk berdemokrasi. Bahkan sesungguhnya klaim atas suatu tujuan yang baik harus diabsahkan oleh kebaikan cara yang ditempuh untuk meraihnya. Hal ini mengisyaratkan suatu kutukan kepada orang yang berusaha meraih tujuannya dengan cara-cara yang tidak peduli kepada pertimbangan moral. ungkapan ³tujuan menghalalkan segala cara´ harus dihindari. sering terjadi kejenuhan antara mengkritik yang sehat dan bertanggung jawab. kemudian jalinan dukung mendukung secara fungsional antara berbagai unsur kelembagaan kemasyarakatan yang ada. di mana pertimbangan moral (keluhuran akhlak) menjadi acuan dalam berbuat dan mencapai tujuan. Ketiga hal itu menyangkut masalah pemenuhan segi-segi ekonomi yang dalam pemenuhannya tidak lepas dari perencanaan sosial-budaya. Musyawarah yang benar dan baik hanya akan berlangsung jika masing-masing pribadi atau kelompok mempunyai kesediaan psikologis untuk melihat kemungkinan orang lain benar dan diri sendiri salah. dan kemungkinan mengambil pendapat yang lebih baik.

(e) kebebasan mengakses informasi. Suatu pemerintahan dikatakan demokratis bila dalam mekanisme pemerintahan mewujudkan prinsip-prinsip demokrasi. yang kemudian ujungnya ialah keengganan bekerjasama. Sedang dalam pandangan Robert A. (b) pemilihan yang teliti dan jujur. Masyarakat yang terkotak-kotak dengan masing-masing penuh curiga kepada lainnya. hanya karena telah berbicara tanpa perilaku. tetapi juga dapat menjurus pada lahirnya pola tingkah laku yang bertentangan dengan nilainilai asasi demokrasi. Jadi kajian demokrasi tidak saja dalam kajian konsep verbalistik. Ketujuh. persamaan hak dan kewajiban bagi semua (egalitarianism) dan tingkah laku penuh percaya pada itikad baik orang dan elompok lain (trust attitude) mengharuskan adanya landasan pandangan kemanusiaan yang positif dan optimis. Menurut Masykuri Abdillah (1999) prinsipprinsip demokrasi terdiri atas prinsip persamaan. Adanya 5 .(c) hak memilih dan dipilih. Pengakuan akan kebebasan nurani (freedom of conscience). melainkan telah membumi (menyatu) dalam interaksi dan pergaulan sosial baik di kelas maupun di luar kelas.demokrasi. Sementara itu Inu Kencana lebih memerinci lagi tentang prinsip-prinsip demokrasi dengan a). Pandangan kemanusiaan yang negatif dan pesimis akan dengan sendirinya sulit menghindari perilaku curiga dan tidak percaya kepada sesama manusia.tidak dalam arti menjadikannya muatan kurikuler yang klise. pendidikan demokrasi. Terjadi diskrepansi (jurang pemisah) antara das sein dan das sollen dalam konteks ini ialah dari kuatnya budaya ³menggurui´ (secara feodalistik) dalam masyarakat kita. Dahl terdapat enam prinsip yang harus ada dalam sistem demokrasi. Sementara ini pendidikan demokrasi pada umumnya masih terbatas pada usaha indoktrinasi dan penyuapan konsep-konsep secara verbalistik. maka nilai-nilai dan pengertian-pengertiannya harus dijadikan unsur yang menyatu dengan sistem pendidikan kita. (d) kebebasan menyatakan pendapat tanpa ancaman. dan pluralisme. Kita harus mulai dengan sungguh-sungguh memikirkan untuk membiasakan anak didik dan masyarakat umumnya siap menghadapi perbedaan pendapat dan tradisi pemilihan terbuka untuk menentukan pimpinan atau kebijakan. tetapi diwujudkan dalam hidup nyata (lived in) dalam sistem pendidikan kita. buka saja mengakibatkan tidak efisiennya cara hidup demokratis. (f) kebebasan berserikat. Pandangan hidup demokratis terlaksana dalam abad kesadaran universal sekarang ini. yaitu: (a) kontrol atas keputusan pemerintah. kebebasan. Sehingga verbalisme yang dihasilkannya juga menghasilkan kepuasan tersendiri dan membuat yang bersangkutan merasa telah berbuat sesuatu dalam penegakan demokrasi.

yaitu. Suasana kehidupan yang demokratis merupakan dambaan bagi umat manusia termasuk manusia Indonesia.pembagian kekuasaan. masalah kontrol rakyat. Ciri-ciri ini kemudian dijadikan parameter untuk mengukur tingkat pelaksanaan demokrasi yang berjalan di suatu negara. g) adanya pemerintahan yang berdasarkan hukum. memiliki sambungan yang jelas. dan adanya mekanisme yang memungkinkan check and balance terhadap kekuasaan yang dijalankan eksekutif dan legeslatif. Pertama. Masalah ini menyangkut konsep legitimasi kekuasaan serta pertanggungjawaban langsung kepada rakyat. Apakah dengan koridor tersebut sudah dengan sendirinya akan berjalan suatu proses yang memungkinkan terbangun sebuah relasi yang baik. d) adanya kebebasan individu. m) adanya ketentuan tentang pendemokrasian. karena itu demokrasi tidak boleh menjadi gagasan yang utopis melainkan harus diimplementasikan dalam interaksi sosial kemasyarakatan. Kedua. Kita percaya bahwa proses pembentukan kekuasaan akan sangat menentukan bagaimana kualitas. l) adanya pemerintahan yang konstitusional. masalah pembentukan negara. 6 . h) adanya pers yang bebas. secara distributif Ketiga. r) adanya mekanisme politik. k) adanya persetujuan parlemen. watak dan pola hubungan yang akan terbangun. kebangsaan dan kenegaraan. Penyelenggaraan kekuasaan negara sendiri haruslah diatur dalam suatu tata aturan yang membatasi dan sekaligus memberi koridor dalam pelaksanaannya. Keempat. s) adanya kebijaksanaan negara. Prinsip-prinsip negara demokrasi yang telah disebut di muka kemudian dituangkan dalam konsep yang lebih praktis untuk dapat diukur dan dicirikan. yakni suatu relasi yang simetris. c) adanya manajemen yang terbuka. f) adanya pengakuan hak minorritas. b) memungkinkan pembatasan agar kekuasaan tidak menjadi tidak tak terbatas. Aturan yang ada harus mengandung dua hal. Untuk mengukur suatu negara atau pemerintah dalam menjalankan tata pemerintahannya dikatakan demokratis dapat dilihat dari empat aspek. e) adanya peradilan yang bebas. b) adanya pemilihan umum yang bebas. a) memungkinkan terjadinya desentralisasi untuk menghindari sentralisasi. dan t) adanya pemerintahan yang mengutamakan tanggungjawab. Sementara ini pemilihan umum dipercaya sebagai salah satu instrumen penting guna memungkinkan berlangsungnya suatu proses pembentukan pemerintahan yang baik. q) adanya persaingan keahlian. n) adanya pengawasan terhadap administrasi publik. susunan kekuasaan negara. Kekuasaan negara dijalankan untuk menghindari penumpukan kekuasaan dalam satu ³tangan/wilayah´. dasar kekuasaan negara. adanya musyawarah. o) adanya perlindungan hak asasi. p) adanya pemerintahan yang bersih.

d) pemilihan bebas. Sejarah Perkembangan Demokrasi Konsep demokrasi semula lahir dari pemikiran hubungan negara dan hukum di Yunani dan dipraktekkan dalam hidup bernegara antara abad ke-6 SM sampai abad ke-4 M. c) optimisme terhadap hakikat manusia. b) perasaan fair play. c) pemilu yang bebas. d) persamaan kesempatan. Sedangkan Affan Gafar (1993) menyebutkan sejumlah prasyarat untuk mengamati apakah sebuah political order (pemerintahan) merupakan sistem yang demokratik atau tidak melalui ukuran : a) akuntabilitas. b) rotasi kekuasaan. d) pemilihan umum. Demokrasi yang dilaksanakan pada masa itu berbentuk demokrasi langsung (direct democracy) artinya hak rakyat untuk membuat keputusan politik dijalankan secara langsung oleh seluruh warga negara berdasarkan prosedur mayoritas. c) partisipasi orang dewasa sebagai pemilih dan calon yang dipilih. d) prinsip mayoritas. Sifat langsung ini bisa berjalan karena pada masa itu di Yunani Kuno hanya berbentuk negara kota (polis) dengan jumlah penduduk relatif sedikit. kebebasan dan hak milik. b) klaim itu berdasarkan adanya pemilihan kompetitif secara berkala antara calon alternatif. e) orang yang terdidik. pedagang asing. e) adanya jaminan terhadap hak-hak demokratis. Ross Yates (tim ICCE UIN:2003) mengajukan enam ciri negara demokrasi ialah: a) toleransi terhadap orang lain. Kelima elemen tersebut berlaku secara universal di dalam melihat demokrasi tidaknya suatu rezim pemerintahan (potical order) B.Kriteria negara demokratis menurut G. Bingham Powell Jr (Tim ICCE UIN:2003) meliputi : a) pemerintah mengklaim mewakili hasrat para warganya. b) kontrol efektif terhadap pemerintah oleh rakyat. W. f) jaminan hidup. sedangkan budak belian. c) rekruitmen politik. e) warga negara memiliki kebebasan-kebebasan dasar yaitu kebebasan berbicara. perempuan dan anak-anak tidak dapat menikmatinya. Frans Magnis Suseno (1997) mengatakan kriteria negara demokratis adalah: a) negara terikat pada hukum. kebebasan pers. bahkan warga negara yang bisa menikmati hak demokrasi hanyalah warga negara yang resmi. kebebasan berkumpul dan berorganisasi serta membentuk partai politik. e) adanya pengakuan dan perlindungan hak-hak dasar. 7 .

Gerakan ini lahir karena adanya kontak dengan dunia Islam yang ketika itu berada di puncak kejayaan peradaban ilmu pengetahuan. kedua. Al Khawarizmi dan sebagainya. Oemar Khayam. Al-Razi. kehidupan spiritual dikuasai oleh Paus dan pejabat agama. Sehingga menurut Philip K. melainkanjuga berhasil berdasarkan kebutuhankebutuhan yang sesuai dengan alam pikiran mereka sendiri. Hitti dunia Islam telah memberikan sumbangan besar terhadap kemajuan dan perkembangan Eropa melalui terjemahan-terjemahan terhadap warisan Parsi Kuno dan Yunani Kuno dan menyeberangkannya ke Eropa. Dengan demikian kehidupan sosial politik dan agama pada masa ini hanya ditentukan oleh elit-elit masyarakat. Bagdhad sebagai pusatnya) dan warisan klasik (Yunani Kuno). yaitu suatu gerakan revolusi agama yang terjadi di Eropa pada abad ke-16 yang bertujuan untuk memperbaiki keadaan dalam gereja Katolik yang sebelumnya begitu dominan dalam menentukan tindakan warga negara dan semuanya ditentukan oleh gereja. Namun demikian menjelang akhir abad pertengahan. Para ilmuwan Islam seperti Ibnu Khaldun. karena pada abad ini masyarakat Eropa bercirikan masyarakat feodal. renaissance di Eropa bersumber dari tradisi keilmuan Islam dan berintikan pada pemuliaan akal pikiran untuk selalu mencipta dan mengembangkan ilmu pengetahuan.Gagasan demokrasi Yunani Kuno ini berakhir pada abad pertengahan. tumbuh lagi keinginan menghidupkan demokrasi. Renaissance merupakan gerakan yang menghidupkan kembali minat pada sastra dan budaya Yunani Kuno. adanya pembatasan kekuasaan raja. hak asasi manusia lebih penting daripada kedaulatan raja. Gerakan reformasi di Eropa juga mendorong munculnya gerakan demokrasi. Lahirnya Magna Charta yang memuat perjanjian antara kaum bangsawan dengan Raja John di Inggris merupakan tonggak baru kemunculan demokrasi empirik. 8 . yaitu kaum bangsawan dan kaum agamawan. Oleh karena itu demokrasi tidak muncul pada abad pertengahan ini. Dengan dimotori Martin Luther menyulut api pembrontakan terhadap dominasi gereja yang telah mengungkung kebebasan berpikir dan bertindak. sedangkan kehidupan politiknya ditandai oleh perebutan kekuasaan di antara para bangsawan. Momentum lainnya yang menandai kemunculan kembali demokrasi di dunia barat adalah gerakan renaissance dan reformasi. yang isinya memuat dua prinsip yang sangat mendasar: pertama. bukan hanya berhasil mengasimilasikan pengetahuan Parsi Kuno (baca. telah mengilhami munculnya kembali gerakan demokrasi. Dengan kata lain.

Maka pemerintah tidak boleh bersifat pasif atau berlaku hanya sebagai penjaga malam. Hak-hak politik rakyat dan hak-hak asasi manusia merupakan tema dasar dalam pemikiran politik (ketatanegaraan). Gagasan inilah yang kemudian dinamakan konstitusionalisme atau demokrasi konstitusional. Sedang Montesquieu (1689-1944) mengungkapkan sistem pokok yang dapat menjamin hak-hak politik tersebut melalui ³trias politica´. kebebasan dan hak memiliki (live. pemerintah hanya menjalankan undang-undang yang telah dibuat oleh parlemen atas nama rakyat. Konsep Negara Hukum Formal di atas mulai digugat menjelang abad ke-20 tepatnya setelah Perang Dunia II. Gagasan bahwa pemerintah dilarang campur tangan dalam urusan warga negara di bidang sosial maupun ekonomi bergeser ke dalam gagasan baru. 9 . John Locke (1632-1704) mengemukakan bahwa hak-hak politik rakyat mencakup hak atas hidup. Menurut Carl J. Jadi pemerintahan demokrasi yang demikian ini pemerintah hanya memiliki peran yang terbatas pada tugas eksekutif. liberal. property) harus dilndungi. untuk itu timbullah gagasan tentang cara membatasi kekuasaan pemerintah melalui pembuatan konstitusi baik tertulis maupun tidak tertulis. yakni suatu sistem pemisahan kekuasaan dalam negara menjadi tiga bentuk kekuasaan yaitu legislatif. Salah satu ciri demokrasi konstitusional yang hidup pada abad ke-19 ialah sifat pemerintah yang pasif. tersebarnya paham sosialisme yang menginginkan pembagian kekuasaan secara merata serta kemenangan beberapa partai sosialis di Eropa. melainkan harus aktif melaksanakan upayaupaya untuk membangun kesejahteraan masyarakatnya dengan cara mengatur kehidupan ekonomi dan sosial. beberapa faktor yang mendorong gugatan ini menurut Mariam Budihardjo antara lain adalah akses-akses dalam industrialisasi dan sistem kapitalis. Sehingga kekuasaan pemerintah diimbangi dengan kekuasaan parlemen dan lembagalembaga hukum. Konsep demokrasi konstitusional ini disebut Negara Hukum Formal (klasik) pada abad ke-19 atau menurut Arif Budiman disebut negara Pluralisme. dalam arti hanya menjadi wasit atau pelaksana sebagai keinginan rakyat yang dirumuskan oleh wakil rakyat di parlemen. eksekutif dan yudikatif yang masing-masing dipegang harus dipegang oleh organ sendiri-sendiri secara merdeka. yaitu negara yang tidak mandiri yang hanya bertindak sebagai penyaring berbagai keinginan dari interest group dalam masyarakat. Frederick pemerintah di sini dibatasi agar tidak menyalahgunakan kekuasaannya.Di samping itu ada dua filusuf besar John Locke dan Montesquieu memberikan sumbangan besar bagi gagasan pemerintahan demokrasi. yakni bahwa pemerintah harus bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyat.

Tetapi pada akhirnya demokrasi Welfare State ini juga mulai ditinjau ulang. Jadi tidak hanya ketua adat atau kepala suku saja yang berhak membuat keputusan. di bidang legislasi misalnya. Tetapi demokrasi tidak hanya diterapkan dalam memecahkan masalah saja. Dalam kegiatan berdemokrasi tersebut warga mengambil bagian dalam proses pembuatan keputusan atau kebijakan yang menyangkut kepentingan bersama. sebagaimana tersurat dalam Pembukaan UUD 1945 alinea ke-4 yang memuat tujuan nasional .´ C. Berbangsa. karena konsep demokrasi di Barat masih terus berjalan dan mengalami perubahan yang signifikan. yaitu kemerdekaan yang dimiliki oleh pemerintah untuk turut serta dalam kehidupan sosial dan keleluasaan untuk selalu terikat pada produk legislasi parlemen. Kehidupan demokrasi ini sangat nyata diterapkan ketika ada suatu masalah dan semua warga dilibatkan untuk memecahkan masalah tersebut.. Pemerintah diberi kemerdekaan bertindak atas inisiatif sendiri. rapat nagari dan sebagainya. mencerdaskan kehidupan bangsa. Kehidupan Demokrasi dalam Bermasyarakat. tidak hanya atas inisiatif parlemen. dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan... Itulah sebabnya kepada pemerintah diberikan ³Fres Ermessen´ atau ³Pouvoir discretionnair´. yaitu adanya hak inisiatif (membuat peraturan yang sederajad dengan Undang-undang tanpa persetujuan lebih dulu dari parlemen. Masing-masing warga tentu memiliki pandangan atau pendapat tertentu terhadap masalah dan pemecahannya. ³. bisa saja dalam hal merumuskan 10 . hak legislasi (membuat peraturan di bawah undang-undang) dan droit function (menafsirkan sendiri aturan-aturan yang masih bersifat enunsiatif). rembug desa.. berlakunya dibatasi oleh waktu tertentu). Negara Indonesia termasuk menganut konsep demokrasi welfare state. yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum. Gagasan Welfare State ini menyebabkan peranan pemerintah semakin luas. dan Bernegara Demokrasi telah lama berkembang di bumi Indonesia sebagai contoh adanya musyawarah adat. .Gagasan baru ini dikenal sebagai gagasan ³Welfare State´ atau ³Negara Hukum Material´ (Dinamis). perdamaian abadi dan keadilan sosial. bahkan fres ermessen mempunyai tiga macam aplikasi. Pemerintah Welfare State diberi tugas membangun kesejahteraan umum dalam berbagai lapangan (Bestuurzorg) dengan konskuensi pemberian kemerdekaan administrasi negara dalam menjalankannya.

menjadi anggota atau membentuk partai politik. sosial. ekonomi. Hal ini mengandung arti rakyat berdaulat dalam ikut menentukan pemerintahan. (2) Kontak atau berhubungan dengan pejabat pemerintah. Kebebasan berkelompok. Kebebasan berpartisipasi.kebijakan-kebijakan bersama bernegara. dalam kehidupan bermasyarakat. seperti media massa. sesuai dengan sistem pemilihan yang berlaku. Oleh karena itu demokrasi tanpa kesetaraan gender akan berdampak ketidak adilan atau bahkan deskriminasi. berbangsa dan Perlu diketahui dalam mengembangkan pemerintahan demokratis ada beberapa nilai demokrasi yang mutlak harus dilaksanakan ialah : Kebebasan berpendapat. di mana kedudukan lakilaki dan perempuan memiliki kodrat yang sama sebagai makhluk sosial. karya seni maupun melalui wakil-wakil rakyat di parlemen. Dalam kehidupan demokrasi ini politisi harus accountable. Akibat lebih lanjut kehidupan demokrasi akan mati. dan (4) Mencalonkan diri dalam pemlihan jabatan publik seperti kepala desa/lurah. Esensi kedaulatan adalah penciptaan otorisasi dan penegakan hukum sesuai standar persyaratan kebaikan umum. hal ini sebenarnya ini sebenarnya gabungan dari kebebasan berpendapat dan kebebasan berkelompok yang meliputi : (1) Pemberian suara dalam pemilihan umum. sSuatu pemerintahan demokrasi akan sulit 11 . Pengekangan terhadap kebebasan berpendapat akan menyebabkan negara menjadi represif dan tidak dapat dikontrol. di dalam negara demokrasi rakyat memiliki kedaulatan. memberikan dukungan kepada siapapun sesuai dengan kepentingannya. bupati/wali kota. anggota legeslatif bahkan presiden. Hal ini sesuai dengan makna demokrasi. Kedaulatan rakyat. Kehidupan demokrasi membuka banyak alternatif bagi warga negara untuk memiliki kebebasan berkelompok ini misal ikut berorganisasi. (3) Melakukan protes terhadap lembaga masyarakat atau pemerintah agar sistem politik bekerja lebih baik. Mereka harus menyadari bahwa mandat yang mereka peroleh dari rakyat harus dikembalikan dalam bentuk pemberian pelayanan sebaik mungkin kepada rakyat. Rasa percaya. Hak ini bergena untuk menyuarakan aspirasi dan gagasan setiap wara negra melalui berbagai saluran publik. gubernur. buku. memiliki akses yang sama dalam kehidupan politik. dari rakyat. Kesetaraan gender merupakan keniscayaan demokrasi. merupakan naluri dasar manusia sebagai makhluk sosial. hal ini sangat dihargai dalam kehidupan demokrasi karena hal ini merupakan hak setiap warga negara. bahkan sangat mungkin negara akan mudah melakukan pelanggaran hak asasi manusia. oleh rakyat dan untuk rakyat. yakni melayani segala kebutuhan rakyat.

kekhawatiran. sehingga hal ini juga akan memperbesar persentase masyarakat yang cenderung kritis. Kemudahan bergabung dengan setiap kelompok yang ada juga diperkuat oleh kesediaan dan keragaman suatu kelompok dlam menerima kemenangan kelompok lain 12 . Kondisi yang dimaksud adalah pertumbuhan ekonomi. kecurigaan. Contoh kongkrit misalnya. Di dalam masyarakat plural ini setiap orang dapat bergabung dengan kelompok yang ada tanpa adanya rintangan-rintangan sistemik yang mengakibatkan terhalangnya hak untuk berkelompok atau bergabung dengan kelompok tertentu. Kerja sama bukan berarti menutup munculnya perbedaan pendapat antar individu atau antar kelompok. Akibat lebih lanjut agenda pemerintahan tidak terlaksana karena dukungan masyarakat sangat lemah karena adanya rasa tidak saling percaya tersebut. Kondisi yang demikian akan sangat merugikan keseluruhan sistem politik dan sosial. Keadaan yang demikian dapat dibuktikan bahwa banyak negara yang pertumbuhan ekonominya rendah cenderung pemerintahnnya tidak demokratis. Kerja sama ini dapat diwujudkan dalam bentuk sikap mau menerima pendapat orang lain dan konsisten dalam menerima segala keputusan yang telah ditetapkan bersama. Hal ini menuntut tumbuhnya institusi politik yang responsif terhadap kebutuhan rakyatnya. percaya diri dan bermotivasi tinggi dalam kehidupan mereka. maka dapat dipastikan hubungan kelompok antar masyarakat akan terganggu secara permanen. salah satu nilai yang mampu mendorong terwujudnya demokrasi adalah kerja sama. dalam suatu pemilihan individu atau kelompok diharapkan siap menang dan siap kalah. Pertumbuhan ekonomi.berkembang bila rasa saling percaya antar kelompok masyarakat tidak tumbuh. dan bahkan permusuhan. Akibat yang timbul dari pertumbuhan ekonomi ini juga mendorong masyarakat untuk mencapai tingkat pendidikan yang lebih tinggi. jika memadai menjadi salah satu aktor kondisional yang ikut mendorong tumbuhnya kehidupan demokrasi. Selanjutnya menurut Asykuri Ibn Chamim (2003) nilai-nilai demokrasi seperti tersebut di atas merupakan wacana normatif yang memerlukan kondisi tertentu sebagai landasan pengembangannya. karena tanpa perbedaan maka demokrasi justru tidak berkembang. Pluralisme. Dan yang terakhir Kerja sama. Apabila yang ada adalah rasa ketakutan. pluralisme dan hubungan yang seimbang antara negara dan masyarakat. masyarakat plural dapat dipahami sebagai masyarakat yang terdiri dari berbagai kelompok. karena kemakmuran ekonomi akan menghasilkan orang-orang yang lebih percaya diri dan menumbuhkan etos dalam dirinya untuk mencapai kehidupan yang lebih baik di masa depan. Apabila sikap ini dapat terwujud alangkah harmonisnya kehidupan demokrasi itu.

Di samping itu dengan demokrasi maka rakyat dapat membentuk asosiasi-asosiasi yang dapat mengimbangi kekuasaan pemerintah. Sehingga ³negara kuat´ cenderung akan melemahkan pondasi demokrasi. alasanya sangat jelas yaitu dengan demokrasi maka pemerintah akan dapat dikontrol oleh masyarakat. warga mesyarakat dapat mengartikulasikan aspirasinya dan menyatakan dengan jelas apa kepentingannya. antara lain : 1. sehingga konflik dapat dihindari. Demokrasi memerlukan sebuah negara kuat tetapi menghormati hukum. Untuk itulah ada parameter untuk mengamati apakah demokrasi terwujud atau tidak dalam suatu negara. jujur dan adil. karena ada kecenderungan ³negara kuat´ akan melakukan represi terhadap masyarakat yang dianggap membahayakan negara.dalama sebuah persaingan secara jujur. Dengan kata lain. Pada perkembangan kehidupan bermasyarakat. Masyarakat yang heterogen membuka peluang bagi persaingan dan konflik antar kelompok yang ada. Pemilihan umum yang dilakukan secara teratur dengan tenggang waktu yang jelas. karena negara yang lemah tidak mungkin bisa memainkan peran utamanya yaitu melindungi masyrakat dan mempertahankan kedaulatan negara. Negara seperti inilah yang dapat memberikan perlindungan bagi rakyatnya dan menjadi penopang bagi pengembangan nilai-nilai demokrasi. Hubungan yang seimbang antara negara dan masyarakat. media massa. Biasanya dalam keadaan ³negara kuat´ tidak mengenal adanya kelompok kritis atau oposisi. pola hubungan negara dan masyarakat merupakan kondisi lain yang menentukan kualitas pengembangan demokrasi. Pemilu merupakan gerbang utama yang haus dilewati pemerintahan demokrasi. Kalau begitu apakah memerlukan ³negara lemah´ ? Jawabnya. Demokrasi akan sulit berkembang apabila berada pada posisi ³negara kuat´ . legeslatif. kompetitif. Akan tetapi kemenangan suatu kelompok yang telah sesuai dengan aturan yang diakui secara kolektif harus diterima dengan tangan terbuka. demokrasi akan membatasi peluang pemerintah untuk melaksanakan pemerintahan yang berlawanan dengan kehendak masyarakat luas. memerlukan adanya partai politik. Oleh karena itu yang diperlukan dalam negara demokrasi adalah hubungan antara negara dan masyarakat/rakyat yang seimbang. Melalui pemilu juga akan diketahui seberapa 13 . Dengan demokrasi warga masyarakat memiliki peluang untuk mengajukan alternatif kebijaksanaan ketimbang hanya menerima begitu saja apa yang diajukan pemerintah. jelas tidak. berbangsa dan bernegara sekarang ini demokrasi merupakan pilihan banyak negara. dan rakyat. karena dengan pemilu lembaga-lembaga kenegaraan dapat dibentuk baik legeslatif maupun eksekutif.

Para pemegang jabatan politik harus bisa mempertanggungjawabkan kepada publik apa yang telah dilakukannya baik secara pribadi maupun sebagai pejabat publik. Demokrasi memberikan peluang untuk mengadakan kompetisi karena semua orang dan kelompok memili hak dan peluang yang sama di bidang pemerintahan. 3. (b) pemerintahan berdasarkan persetujuan dari yang diperintah. pragmatisme. dan sebagainya. karena jabatan yang mereka terima merupakan kepercayaan dari rakyat. kebebasan menyatakan pendapat. (c) kekuasaan mayoritas. 2. (d) hak minoritas. (e) jaminan HAM. Parameter lain untuk dapat mengetahui demokratis atau tidaknya suatu pemerintahan dapat dilihat dari dipenuhi atau tidaknya unsur-unsur sebagai berikut : (a) kedaulatan rakyat. Dilaksanakan atau tidaknya hak-hak dasar individu atau disebut sebagai basic human right. baik konflik antara lembaga politik maupun konflik antara warga negara dengan pemerintah. kebebasan dari rasa takut. Akuntasi publik. Lebih lanjut Alamudi menjelaskan bahwa dalam negara yang demkratis warga negara bebas mengambil keputusan melalui kekuasaan mayoritas. Apabila hak-hak dasar ini dilakukan dengan sepenuhnya maka dapat dinyatakan demokrasi sudah berjalan dengan baik. Di negara totaliter atau otoriter tidak akan terjadi karena rekrutmen politik hanya dilakukan tertentu baik individu maupun kelompoknya. Suatu negara dapat dikatakan demokratis apabila kekuasaan mayoritas digandengkan dengan jaminan hak asasi manusia (HAM). namun tidak benar bahwa kekuasaan mayoritas itu selalu demokratis. maka dapat dikatakan negara yang demikian jauh dari demokrasi.besar kemungkinan rotasi kekuasaan. 5. karena apabila suatu negara hanya seseorang yang berkuasa secara terus menerus atau hanya ada satu partai politik yang berkuasa mengendalikan pemerintahan. Hal ini sangat diperlukan dalam rangka menciptakan keseimbangan antar berbagai kekuasaan yang ada dalam negara. 14 . (g) persamaan di depan hukum. sehingga rakyat mempunyai peluang untuk melakukan kontrol terhadap proses penyelenggaran negara. kebebasan pers. Hal terutama menyangkut kebebasan berserikat. (j) pluralisme sosial. Terwujudnya sebuah pengadilan yang independen. Kelompok mayoritas dapat melindungi kelompok minoritas. kerja sama dan mufakat (Alamudi:1994). (h) proses hukum yang wajar. 4. (k) nilainilai toleransi. (f) pemilihan yang bebas dan jujur. Pengadilan adalah yuri yang mampu bertindak netral apabila terjadi konflik dalam masyarakat. Apa yang dlakkan harus secara terbuka untuk diketahui publik. ekonomi dan politik. Rekrutmen politik secara terbuka. (i) pembatasan pemerintah secara konstitusional. hak-hak minoritas tidak dapat dihapuskan oleh suara mayoritas.

berpikir kritis dan kemauan untuk mendengar. Mengidentifikasikan ciri-ciri masyarakat madani 3. disiplin diri dari setiap individu adalah wajib dimiliki oleh setiap anggota masyarakat. tetapi juga ada jenis budaya politik yang lebih menopang kehidupan politik totaliter. Menganalisis pelaksanaan demokrasi di Indonesia A. Pengertian dan Prinsip-prinsip Budaya Demokrasi Mempelajari budaya demokrasi sudah barang tentu tidak bisa lepas dari budaya politik yakni pola-pola sikap dan orientasi politik yang dimiliki anggota suatu sistem politik. Budaya politik yang diwarnai oleh kerja sama atas dasar saling percaya atarwarga masyarakat akan lebih mendukung demokrasi dari pada budaya politik yang diwarnai rasa saling curiga. Musyawarah dan kesepakatan dalam keluarga merupakan bagian terpenting dalam proses pembelajaran demokrasi. Mendiskripsikan pengertian dan prinsip-prinsip budaya demokrasi 2. Kesediaan warga masyarakat untuk saling toleransi terhadap keanekaragaman dan konflik antarkelompok maupun kesediaan untuk mengakui keabsahan kompromi juga sangat bermanfaat bagi perkembangan demokrasi. Karakter publik juga tidak kalah pentingnya. Macridis & Brown (1986) menyebut bahwa ada berbagai jenis budaya politik yang dapat menopang kehidupan politik demokratis. Berdasarkan pengertian tersebut maka dapat diketahui bahwa budaya politik demokrasi merupakan pola-pola sikap dan orientasi politik yang bersumber dari nilainilai dasar demokrasi dan yang seharusnya dimiliki setiap warga dari sistem politik demokrasi. BAB II BUDAYA DEMOKRASI MENUJU MASYARAKAT MADANI Kompetensi Dasar : 1. mengindahkan aturan main (rule of law).Oleh karena itu demokrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sangat membutuhkan dukungan dari berbagai lapisan sosial. terutama dukungan dari unit-unit keluarga dan berbagai komunitas sosial lainnya. Selain itu budaya politik yang memberi nilai tinggi terhadap hubungan-hubungan hirarkis dan perbedaan yang sangat ekstrim akan sangat 15 . Karakter pribadi seperti tanggung jawab moral. kebencian dan saling tidak percaya dalam hubungan antarwarga. seperti kepedulian sebagai warga negara. dan kompromi merupakan karakter yang sangat diperlukan agar demokrasi dapat terlaksana. bernegosiasi.

(9).mendukung pemerintahan non-demokratis dan kurang mendukung perkembangan demokrasi. Inti kebajikan kewarganegaraan ialah tuntutan agar semua warga negara menempatkan kebaikan bersama di atas kepentingan pribadi. (2). Murah hatu terhadap sesama dan masyarakat luas. yaitu : (a) disposisi kewarganegaraan. (5). Mengasihi sesama. (7). keseragaman. seperti kedaulatan 16 . konflik. Komitmen ini dapat dipilah menjadi : (1). hirarki. Tanggung jawab pribadi dan kesediaan untuk menerima tanggung jawab bagi dirinya sendiri serta konsekuensi dari tindakan-tindakannya. dan kompromi. Komitmen kepada prinsip-prinsip dasar demokrasi. Berdasarkan pernyataan di atas diperoleh pengertian ³budaya demokrasi´ adalah kerja sama. (3). dan bukan demokrasi. Keadaban (civility. Sikap batin dan kehendak untuk menempatkan kebaikan bersama di atas kepentingan pribadi. Disposisi kewarganegaraan ialah sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan warga negara yang menopang perwujudan kebaikan bersama serta berfungsinya sistem demokrasi secara sehat. (8). (10). Sedang masyarakat yang lebih mengutamakan pemenuhan kebutuhan memperoleh kekuasaan dan mengabaikan kebutuhan pihak lain akan cocok memiliki rezim yang otoriter atau totaliter. Toleransi terhadap keanekaragaman. dan (b) komitmen kewarganegaraan. Keterbukaan pikiran termasuk sikap skeptis yang sehat dan pengakuan terhadap sifat ambiguitas (mendua arti) kenyataan sosialdan politi. Sabar dan gigih dalam mengejar tujuan bersama. Disiplin diri dan kesetiaan pada aturan-aturan yang diperlukan untuk memelihara pemerintahan demokratis tanpa tekanan dari otoritas di luar dirinya sendiri. Dalam tingkatan kehidupan individu sebagai warga negara. kesederajadan. (6). dan ketidaksamaan derajat. (4). menghargai keanekaragaman. tidak toleran. Kesediaan untuk berkompromi dan menerima kenyataan bahwa nilai-nilai dan prinsip-prinsip kadangkala saling bertentangan. totalitarian ditandai oleh Sedangkan budaya politik non-demokratis atau kecurigaan. Branson (2001) menyebutkan bahwa setiap warga negara di dalam negara demokrasi harus memiliki civics virtues (kebajikan-kebajikan kewarganegaraan). toleransi. Hal ini meliputi dua aspek. termasuk hormat kepada orang lain dan penggunaan wacana yang beradab). sebab tanpa hal ini sistem pemerintahan demokrasi tidak mungkin berjalan sebgaimana mestinya. saling percaya. kebencian. ketidapercayaan. Sedangkan komitmen kewarganegaraan adalah kesetiaan kritis warga negara terhadap nilai-nilai dan prinsip-prinsip dasar demokrasi. Sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan ini antara lain : (1).

solidaritas. Keleluasaan di sini bukannya tanpa batas. dan (2). integritas. persamaan politik. dan patriotisme. Sebagai nilai maka kebebasan ini menjadi pedoman perilaku rakyat bedaulat yang tercermin dalam menghargai kebebasan orang lain dan memanfaatkan kebebasan diri sendiri secara bertanggung jawab. persamaan. keadaban (Bambang Suteng. dkk:2006) Kebebasan adalah keleluasaan untuk membuat pilihan terhadap beragam pilihan atau melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi kepentingan bersama atas kehendak sendiri tanpa tekanan pihak manapun. yakni meliputi kebebasan. kasih sayang. Pandangan demokrasi bahwa manusia itu berbeda-beda tetapi hakikatnya sama sederajat dalam nilainya dan harga keluhurannya sebagai manusia (dignity of man as human being) dalam masyarakat. tetapi harus digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat bagi masyarakat dan dengan cara yang tidak melanggar aturan yang sudah disepakati bersama. seperti kemerdekaan. menghormati kebenaran.rakyat. Jadi dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa nilai-nilai budaya demokrasi itu meliputi kebebasan. persaudaraan. pembagian kekuasaan negara. menghormati penalaran. Selanjutnya dalam bahasan budaya demokrasi ini harus diketahui pula prinsipprinsip atau unsur-unsur yang mendukungnya. 17 . Komitmen kepada nilai-nilai dasar demokrasi. Sebagai contoh kebajikan kenegaraan menurut Quigley (2002) adalah hormat pada harkat dan martabat setiap orang. Sedang komitmen-komitmen kenegaraan antara lain mencakup dedikasi kepada hak asasi manusia (HAM). keberadaban. persamaan. Persamaan. dan keberadaban. kebaikan bersama. mayority rule-minority right. kesamaderajatan. dan sebagainya. solidaritas/persaudaraan. dan rule of law. persamaan. Nilaim ini juga tercermin dalam tanggung jawab pribadi dan kesediaan menerima tanggung jawab bagi dirinya sendiri serta konsekuensi dari tindakantindakannya. pemerintahan. sama kedudukannya di dalam hukum. serta memiliki kesediaan untuk berkompromi dan menerima kenyataan bahwa nilai-nilai dan prinsip-prinsip kadangkala saling bertentangan. sistem check and balance. dan sebagainya. toleransi. Sehingga sebagai nilai. persamaan menjadi pedoman perilaku rakyat berdaulat agar mereka mampu menghargai harkat martabat sesamanya. penalaran. konsultasi kepada rakyat.kejujuran. dan sebagainya. Dengan demikian persamaan berarti tiadanya keistimewaan bagi siapapun dan memberi kesempatan yang sama kepada setiap dan semua orang. disiplin diri. politik. toleransi.

yakni demi alasan keamanan tidak perlu dinyatakan kepada rakyat. pandangan dan kepentingannya. Kejujuran adalah keterbukaan untuk menyatakan kebenaran. Penalaran adalah penjelasan mengapa seseorang memiliki pandangan tertentu. Sebab. sikap diplin diri. membela tindakan tertentu. Ungkapan ini menunjukkan adanya prinsip solidaritas. Kebiasaan 18 .Solidaritas atau kesetiakawanan adalah kesediaan untuk memperhatuikan kepentingan dan bekerja sama dengan orang lain. kebiasaan. Solidaritas ini menjadi penting dalam kehidupan demokrasi karena menjadi perekat agar tidak jatuh ke dalam perpecahan sebgai akibat terlalu mengutamakan kebebasan pribadi tanpa mengingat adanya persamaan hak maupun semangat kebersamaan. Walapun ada pengecualiannya. Dalam masyarakat demokratis seseorang berhak memiliki pandangannya sendiri. pandangan. kepercayaan. penghormatan terhadap kejujuran akan menumbuhkan integritas diri. dan atas pertimbangan apa sebuah kebijakan dipilih di antara sejumlah alternatif kebijakan yang ada. dan kesetiaan pada aturan-aturan. Dalam kehidupan yang demokratis dikenal ungkapan ³agree to disagree´ (setuju untuk tidak setuju). toleransi dapat mendorong tumbuhnya sikap toleran terhadap keanekaragaman. sebab meskipun berbeda pandangan atau kepentingan mereka tetap sepkat untuk mempertahankan kesatuan atau ikatan bersama. dan menuntut hal serupa dari orang lain. Toleransi adalah sikap atau sifat menghargai. Komunikasi antarwarga negara sangat memerlukan kejujuran agar terbangun solidaritas yang kokoh antarsesama pendukung masyarakat demokratis. membolehkan pendapat. Sebagai nilai. mengasihi sesama dan murah hati terhadap sesama warga masyarakat. misalnya tentang bagaimana semua keputusan pemerintah itu dibuat. Sebagai nilai. maka solidaritas ini dapat menumbuhkan sikap batin dan kehendak ntuk menempatkan kebaikan bersama di atas kepentingan pribadi. pendirian. Demikian juga pemerintah harus jujur dan terbuka kepada rakyat. sikap saling percaya dan kesediaan untuk berkerja sama antar pihak yang berbeda keyakinan. Kejujuran diperlukan agar hubungan antarpihak berjalan dengan baik dan tidak menimbulkan benih-benih konflik di masa depan. dan sebagainya yang bertentangan dengan pendirian sendiri. Sebagaim nilai. kelakuan. tetapi ia akan memegang teguh pendiriannya itu dengan cara yang toleran dengan pandangan orang lain yang berbeda atau bahkan bertentangan dengan pendiriannya. prinsip. dalam negara demokratis prinsipnya rakyat mempunyai hak untuk mengetahui apa yang dikerjakan pemerintah dan bagaimana pemerintah mengerjakan tugasnya. membiarkan.

memberi penalaran akan menumbuhkan kesadaran bahwa ada banyak alternatif sumber informasi dan ada banyak kemungkinan cara untuk mencapai tujuan. penalaran dapat mendorong tumbuhnya keterbukaan pikiran. Menjamin tegaknya keadilan. Kemudian nilai-nilai dasar itu dijabarkan lebih rinci dan operasional dalam kehidupan demokrasi. (3). Dalam hal ini paling tidak ada empat bidang yang harus mendapat perhatian (Bambang Suteng. Menyelenggarakan pergantian pimpinan secara teratur. Menyelesaikan perselisihan secara damai dan melembaga antara lain melalui perundingan serta dialog terbuka agar tercapai kompromi. keadaban akan menjadi pedoman perilaku warga negara yang serba santun. keanekaragaman kepentingan dan tingkah laku. (6). Penalaran ini akan mendorong terbangunnya masyarakat demokratis. Pemerintah wajib memberikan penalaran terhadap kebijakan yang ditetapkannya agar warga negara mengetahui dengan benar apa yang dikerjakan pemerintah. termasuk penggunaan bahasa tubuh dan berbicara beradab. Kehidupan masyarakat memang selalu berubah. Dalam demokrasi ada mayoritas dan minoritas dalam pengambilan keputusan. Menjamin terselenggaranya perubahan masyarakat secara damai. maka pemerintah harus dapat menyesuaikan kebijakan publiknya dengan perubahan-perubahan itu. Mayo (Budihardjo:1980) nilai operasional yang menjadi landasan pelaksanaan demokrasi meliputi : (1). maka harus dijaga agar demokrasi tidak berubah menjadi tirani mayoritas. Sebagai nilai. Menurut Henry B. (5). Keadaban adalah ketinggian tingkat kecerdasan lahir batin atau kebaikan budi pekerti. Mengakui dan menganggap wajar adanya keanekaragaman dalam masyarakat yang tercermin dalam keanekaragaman pendapat. mengutamakan musyawarah untuk mencapai mufakat. konsensus atau mufakat. menghindari penggunaan kekerasan. Perilaku yang beradab adalah perilaku yang mencerminkan penghormatan terhadap dan mempertimbangkan kehadiran pihak lain sebagaimana dicerminkan oleh sopan santun dalam bertindak. dan kepatuhan pada norma-norma yang berlaku dalam kehidupan bersama. tetapi pemerintah juga hjarus menjaga agar perubahan-perubahan dalam masyarakat tetap terkendali. Perlu diketahui bahwa tantangan terberat bagi sebuah bangsa yang hendak membangun demokrasi adalah bagaimana mengembangkan budaya demokrasi dalam kehidupan bangsa yang bersangkutan. Sebagai nilai. dkk:2006). (2). Membatasi penggunaan kekerasan seminimal mungkin. (4). termasuk sikap skeptis yang sehat dan pengakuan terhadap sifat ambiguitas (kemenduaartian) kenyataan sosial dan politik. yakni lembaga-lembaga negara 19 .

dengan penjelasan berikut: Lembaga-lembaga negara termasuk birokrasi pemerintah harus dibangun agar menjadi lembaga pelaksana kedaulatan rakyat. harus mampu mewujudkan pemerintahan yang bersih dan berwibawa. partai-partai politik.termasuk birokrasi pemerintah. dan partisipatif. korupsi. pelaku ekonomi. Masyarakat madani (civil society). harus menerapkan asas keterbukaan (transparan). kekuasaannya kepada rakyat. Untuk itu pelaku ekonomi harus mengindari suap. pejabat negara harus mempertganggungjawabkan penggunaan kekuasa. dan harus mampu bekerja secara efektif dan efisien. Kehidupan masyarakat harus dibangun agar mampu menjadi kekuatan pengontrol terhadap penyelenggara negara agar pemerintah tidak menyimpang dari koridor demokrasi. Sebab salah satu syarat penting bagi demokrasi adalah terciptanya 20 . Partai-partai politik harus dibangun agar mampu berperan sebagai perumus dan pemadu aspirasi rakyat untuk kenudian memperjuangkannya melalui wakil-wakil rakyat di lembaga pemerintahan. Mental dan keahlian aparat penegak hukum harus dibangun sehingga benarbenar mampu menerapkan prinsip rule of law demokrasi. Membangun masyarakat madani merupakan bagian dari upaya melewati masa transisi menuju demokrasi melalui pengembangan budaya politik demokratis. masyarakat yang kritis dan berpartisipasi aktif serta masyarakat egaliter (Tim ICCE UIN:2003). antara lain pengisian jabatan lembaga negara harus demokratis melalui pemilihan umum atau pemilihan oleh wakil rakyat. Pelaku ekonomi harus pula membangun diri agar mampu melakukan kegiatan ekonomi dalam suasana kehidupan demokrasi untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. yang dibutuhkan dalam negara B. Masyarakat Madani (civil society) Masyarakat madani (civil society) memiliki ciri sebagai masyarakat terbuka. kolusi dan nepotisme yang hanya mensejahterakan sekelompok orang. Partai politik juga harus mampu melakukan kaderisasi agar mampu menyediakan calon-calon pemimpin bangsa yang bisa mewujudkan aspirasi rakyat. Masyarakat madani merupakan elemen yang sangat signifikan dalam membangun demokrasi. akuntabel (dapat dipertanggungjawabkan). dan masyarakat madani (civil society). masyarakat yang bebas dari pengaruh kekuasaan dan tekanan negara.

kesukuan. perkumpulan dan jaringan perdagangan yang produktif. perlindungan kaum cacat (difabel). berita-berita. perlindungan hak-hak perempuan. (2). Maka sebagai jaringan kerja antarlembaga yang terpisah dari negara namun tunduk terhadap aturan hukum yang berlaku. perlindungan korban diskriminasi. ide-ide. dan sebagainya). kebudayaan yang membela hak-hak kolektif. yayasan penyelenggara sekolah swasta. warga masyarakat sendiri yang membentuknya bukan pemerintah. Lary Diamond (2003) menyatakan bahwa civil society melingkupi kehidupan sosial terorganisasi yang terbuka. sehingga memungkinkan tumbuhnya sikap terbuka. para pengguna istilah itu umumnya sependapat bahwa civil society adalah jaringan kerja yang kompleks dari organisasi-organisasi yang dibentuk secara sukarela. asosiasi penerbitan. perlindungan etnis minoritas. otonom dari negara. yang memupunyai ciri-ciri : (1) lahir secara mandiri. (3). kepercayaan. Civil society ini meliputi : (1). suka rela. nilai-nilai. setidaknya berswadaya secara parsial. dan yang bertindak secara mandiri atau dalam kerja sama dengan lembaga-lembaga negara. gerakan-gerakan perlindungan konsumen. civil society merupakan wilayah publik yang diciptakan dan dijalankan oleh warga negara biasa (bukan pejabat pemerintah). Istilah civil society adalah berkaitan dengan interaksi-interaksi sosial yang tidak dikuasai oleh negara (Patrick: 2001). Berdasarkan hal-hal di atas maka dapat diketahui bahwa civil society tersusun atas berbagai organisasi kemasyarakatan. keswasembadaan (self-generating) dan keswadayaan (self-supporting). dan informasi publik (contoh. dan sebagainya. perkumpulan keagamaan. dan terikat pada tatanan legal atau seperangkat nilai bersama. Masyarakat madani mensyaratkan adanya civic engagement yaitu keterlibatan warga negara dalam asosiasi-asosiasi sosial. antara lain : kesukarelaan (voluntary). Civil society mewujudkan dalam berbagai organisasi yang dibuat masyarakat di luar pengaruh negara.partisipasi masyarakat dalam proses-proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh negara atau pemerintahan. Mohammad AS Hikam (1993) memberikan batasan civil society sebagai wilayah kehidupan sosial yang terorganisasi dan bercirikan. kemandirian tinggi berhadapan dengan negara. yang berbeda dari lembaga-lembaga negara yang resmi. (4). lahir secara mandiri. dan keterikatan dengan norma-norma atau nilai-nilai hukum yang diikuti oleh warganya. dan sebagainya. Lebih dari itu. (2) 21 . organisasi-organisasi yang bergerak di bidang produksi dan penyebaran pengetahuan umum. percaya dan toleran antarsatu dengan yang lain yang sangat penting artinya bagi bangunan politik demokrasi (Saiful Mujani:2001).

atau atas kesadaran masing-masinganggota. sehingga berani mengontrol penggunaan kekuasaan negara. Selain itu demokrasi merupakan pandangan mengenai masyarakat dalam kaitan dengan pengungkapan kehendak. Dengan demikian masyarakat madani (civil society) menjadi sangat penting keberadaannya dalam mewujudkan demokrasi. sehingga tidak bergantung pada bantuan pemerintah/negara. C. Masyarakat madani ini dapat menjalankan peran dan fungsinya sebagai mitra dan patner kerja lembaga eksekutif dan legeslatif serta yudikatif. Pelaksanaan Demokrasi di Indonesia 22 . Menurut Gellner. Ciri yang kelima ini menegaskan keterikatan civil society pada budaya politik demokratis. sehingga salah mengartikan konsep kemandirian sebagai konsep yang boleh melanggar tatanan hukum yang dibuat oleh negara. (3) mencukupi kebutuhannya sendiri (swadaya). adanya keragaman dan konsensus. tetapi juga dapat melakukan kontrol sosial (social control) terhadap pelaksanaan kerja lembaga tersebut. Namun keterikatan ini seringkali dilupakan oleh warga masyarakat yang baru saja menikmati kebebasan politiknya. (4) bebas atau mandiri dari kekuasaan negara. Kemandirian terhadap negara tidak boleh diartikan sebagai peluang untuk melakukan tindakan anarkis. Tatanan nilai-nilai masyarakat tersebut ada dalam masyarakat madani (civil society). Sebagai perwujudan masyarakat madani secara kongkrit dibentuk berbagai organisasi di luar negara yang disebut dengan nama NGO (non government organization). dan (5) tunduk pada aturan hukum yang berlaku atau seperangkat nilai/norma yang diyakini bersama. yang di Indonesia dikenal dengan nama ³lembaga swadaya masyarakat´ (LSM). Demokrasi dapat dianggap sebagai hasil dinamika masyarakat yang menghendaki adanya partisipasi. Karena itu demokrasi membutuhkan tatanan nilai-nilai sosial yang ada pada masyarakat madani. Masyarakat madani (civil society) dan demokrasi menurut Gellner (2001) merupakan dua kata kunci yang tidak dapat dipisahkan. yang bertolak belakang dengan watak keberadaban.keanggotaannya bersifat suka rela. tetapi tatanan nilai dalam masyarakat madani seperti kebebasan dan kemandirian juga merupakan sesuatu yang inheren baik secara internal (hubungan antar sesama warga negara) maupun secara eksternal (hubungan negara dengan masyarakat atau sebaliknya). paling tidak untuk sebagian. masyarakat madani bukan hanya merupakan syarat atau prakondisi bagi demokrasi semata. adanya perbedaan pandangan.

Dengan demikian kekeliruan yang sangat 23 .Pelaksanaan demokrasi di Indonesia mengalami fluktuasi (pasang surut) dari masa awal kemerdekaan sampai saat sekarang. dan periode 1998 ± sampai sekarang. Hal ini dibuktikan dengan diberlakukannya tiga konstitusi yang memuat ketentuan langsung maupun tidak langsung menyatakan bahwa Indonesia adalah negara demokrasi. sehingga berakibat destabilisasi politik nasional. periode 1959 ± 1965. III/1963 yang mengangkat Ir. Namun sejak awal kemerdekaan bangsa Indonesia menyatakan komitmennya untuk mewujudkan negara demokrasi. berkembangnya pengaruh komunis dan meluasnya peranan ABRI sebagai unsur sosial politik. Pasang surut pelaksanaan demokrasi ini dari segi waktu dapat dibedakan dalam empat periode. Dalam pandangan A. periode 1965 ± 1998. masyarakat. presiden membentuk DPR-GR sehingga fungsi kontrol DPR hampir tidak ada. maka mendorong Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang isinya antara lain menyatakan berlakunya kembali UUD 1945. 1. 2. Syafi¶i Ma¶arif demokrasi terpimpin ini sebenarnya ingin menempatkan Soekarno sebagai ³ayah´ dalam famili besar yang bernama Indonesia dengan kekuasaan yang terpusat di tangannya. Keadaan ini diperparah dengan gagalnya Konstituante membentuk Undang-undang Dasar yang baru. (b) tiap-tiap orang berhak mendapat penghidupan yang layak dalam masyarakat. bangsa dan negara. tetapi pada pelaksanaannya terjadi penyimpangan antara lain dengan Ketetapan MPRS No. di mana presiden sebagai kepala negara. koalisi yang dibangun sangat mudah pecah. Demokrasi pada Periode 1945 ± 1959 Pada masa ini dikenal dengan sebutan demokrasi parlementer. bangsa dan negara. Meskipun UUD 1945 dinyatakan kembali berlaku. Karena fragmentasi partai-partai politik maka usia kabinet jarang dapat bertahan lama. yaitu. Perlu diketahui pada masa demokrasi terpimpin ini memiliki prinsip-prinsip dasar . Presiden mencanangkan demokrasi pada periode dengan nama ³demokrasi terpimpin´ yang pada hakikatnya sangat bertentangan dengan jiwa dan semangat UUD 1945. terbatasnya peranan partai politik. periode 1945 ± 1959. Sejak saat itu berakhirlah masa demokrasi parlementer di Indonesia. Demokrasi pada Periode 1959 ± 1965 Pemerintahan pada periode ini dikenal sebagai Orde Lama dengan ciri-cirinya adalah dominasi dari Presiden. Soekarno sebagai Presiden seumur hidup. (a) tiap orang diwajibkan untuk berbakti kepada kepentingan umum. sedang kepala pemerintahan di tangan Perdana Menteri. presiden membubarkan DPR hasil pemilihan umum.

(c) Pengibirian peran dan fungsi partai politik. (b) Demokrasi dalam bidang ekonomi pada hakikatnya adalah kehidupan yang layak bagi semua warga negara. sehingga tidak ada ruang kontrol sosial dan chek and balance dari legeslatif terhadap eksekutif. Rusli Karim (Tim ICCE UIN: 2003) rezim Orde Baru ditandai oleh : (a) Dominannya peranan ABRI. (e) Massa mengambang. 3. Demokrasi pada periode dikenal dengan istilah demokrasi Pancasila dengan beberapa perumusannya (Tim ICCE UIN: 2003) : (a) Demokrasi pada bidang politik pada hakikatnya adalah menegakkan kembali asas-asas negara hukum dan kepastian hukum. Demokrasi Periode 1998 ± sekarang 24 . Dengan demikian nilai-nilai demokrasi juga belum ditegakkan dalam demokrasi Pancasila Soeharto. (b) Birokratisasi dan sentralisasi pengambilan keputusan. Sehingga secara umum dapat dijelaskan bahwa demokrasi Pancasila tidak berbeda dengan demokrasi pada umumnya. yakni memandang kedaulatan rakyat sebagai inti dari sistem demokrasi. (g) Inkorporasi lembaga non pemerintah. (f) Monolitasi ideologi negara. Karena dalam praktik kenegaraan dan pemerintahan rezim ini sangat tidak memberikan ruang bagi kehidupan berdemokrasi. 4. di mana negara atau pemerintah sangat mendominasi. Namun demikian ³demokrasi Pancasila´ dalam rezim Orde Baru hanya sebagai retorika dan gagasan belum sampai pada tataran praksis atau penerapan. Demokrasi pada Periode 1965 ± 1998 Landasan formil pada perode ini adalah Pancasila. (d) Campur tangan pemerintah dalam berbagai urusan partai politik dan publik. Seperti yang dikatakan oleh M. (c) Demokrasi dalam bidang hukum pada hakikatnya bahwa pengakuan dan perlindungan HAM. Kehidupan demokrasi berusaha dibangun untuk melaksanakan pemerintahan antara lain mulai tahun 1971 pemilihan umum diselenggarakan untuk kurun waktu tiap lima tahun ke depan.mendasar dalam demokrasi terpimpin Soekarno adalah adanya pengingkaran terhadap nilai-nilai demokrasi yaitu absolutisme dan terpusatnya kekuasaan hanya pada diri pemimpin. Undang-Undang Dasar 1945 serta Ketetapan-Ketetapan MPRS. Tujuh ciri tersebut menjadikan hubungan negara versus masyarakat secara berhadap-hadapan dan subordinat. Pada periode pemerintah berusaha mengembalikan kemurnian pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945. peradilan yang bebas yang tidak memihak. sehingga periode ini dikenal sebagai Orde Baru.

Oleh sebab itu. (c) adanya kebebasan pers. Kedua. Pertama. (d) peran civil society (masyarakat madani). Transisi demokrasi ini merupakan fase krusial yang kritis. UU Susunan dan Kedudukan DPR. 2. yakni : (a) komposisi elite politik. (b) desain institusi politik. dan perangkat legal sistem politik. pengembangan kultur dan budaya politik (political culture) yang lenih demokratis. Sukses atau gagalnya suatu transisi demokrasi sangat bergantung pada empat faktor kunci (Azyumardi Azrz: 2002). BAB III HAK ASASI MANUSIA Kompetensi Dasar 1. DPRD dab DPD) mampu mengawal transisi menuju demokrasi. karena bisa saja perjalanan demokrasi bangsa Indonesia kembali lagi ke masa otoriter seperti masa Orde Lama dan Orde Baru. (b) diamandemennya pasal-pasal dalam konstitusi negara Republik Indonesia (amandemen I-IV). UU Pemilu. reformasi kelembagaan (institutional reform and empowerment) yang menyangkut pengembangan dan pemberdayaan lembaga-lembaga politik. reformasi sistem (constitutional reform) yang menyangkut perumusan kembali falsafah. Sehingga yang harus dilakukan dalam transisi demokrasi di Indonesia sekurang-kurangnya mencakup reformasi dalam tiga bidang. kondisi transisi demokrasi di Indonesia untuk saat ini masih berada di persimpangan jalan belum jelas ke arah mana berlabuhnya. UU Pemilihan Presiden dan wakil Presiden. 25 . Bergulirnya reformasi yang mengiringi runtuhnya rezim tersebut menandakan tahap awal bagi transisi demokrasi di Indonesia. kerangka dasar. Ketiga. (c) kultur politik atau perubahan sikap terhadap politik di kalangan elite dan non-elite. Merumuskan pengertian dan hakikat hak asasi manusia. dan sebagainya. masih menjadi pertanyaan besar. Perubahan sistem politik melalui paket amandemen konstitusi (UUD 1945) dan pembuatan paket perundang-undangan politik (UU Partai Politik.Runtuhnya rezim otoriter Orde Baru telah membawa harapan baru bagi tumbuhnya demokrasi di Indonesia. Mendeskripsikan perkembangan pemikiran hak asassi manusi secara umum dan yang berkemabng di Indonesia. (d) dijalankannya kebijakan otonomi daerah. Indikasi ke arah terwujudnya kehidupan demokratis dalam era transisi menuju demokrasi di Indonesia antara lain adanya: (a) reposisi dan redefinisi TNI dalam kaitannya dengan keberadaannya pada sebuah negara demokrasi. Akan tetapi sampai saat inipun masih dijumpai indikasi-indikasi kembalinya kekuasaan status quo yang ingin membalikkan arah demokrasi Indonesia kembali ke periode sebelum orde reformasi.

pemajuan. hak asasi manusia adalah hak yang melekat pada satiap manusia. Hak ini sifatnya sangat mendasar (fundamental) bagi hidup dan kehidupan manusia dan merupakan hal kodrati yang tidak terlepas dari dan dalam kehidupan manusia. yang tanpanya manusia mustahil dapat hidup sebagai manusia. Istilah ³right of man´ ternyata tidak secara otomatis mengakomodasi pengertian yang mencakup ³right of woman´. Karena itu istilah ³right of man´ diganti dengan istilah ³human right´ oleh Eleanor Roosevelt karena dipandang lebih netral dan universal. 6. kekebalan serta menjamin adanya peluang bagi manusia dalam menjaga harkat dan martabatnya. A. c) pihak yang bersedia dalam penerapan hak Ketika unsur tersebut menyatu dalam pengertian dasar tentang hak. Memahami perundang-undangan nasional yang mengatur mengenai hak asasi manusia. Inilah yang menyebabkan konsep Barat tantang HAM dengan konsep Islam. Sementara iru HAM dalam Islam dikenal dengan istilah huquq al-insan ad-dhoruriyah dan huquq Allah. Hak menpunyai nunsur-unsur sebagai berikut : (1) Pemilik hak. Pengetian dan Hakikat Hak Asasi Manusia Secara definisi hak merupakan unsur normatif yang berfungsi sebagai pedoman berperilaku. 4. Menseskripsikan mengenai pelanggaran dan proses peradilan hak asasi manusia. Dalam Islam antara huqua al-insan addhoruriyah dan huquq Allah tidak dapat dipisahkan atau berjalan sendiri-sendiri tanpa adanya keterkaitan satu dengan alainnya. Dengan demikian hak merupakan unsur normatif yang melekat pada diri setiap manusia yang dalam penerapannya berada pada ruang lingkup hak persamaan dan hak kebebasan yang terkait dengan interaksinya antara individu atau dengan instansi. 5. melindungi kebebasan. Merumuskan bentuk-bentuk hasi asasi manusia. yang mengantikan istilah ³natural right´. Oleh karenanya tidak ada kekuasaan apapun yang dapat mencabutnya. perlindungan. Selanjutnya John Locke manyatakan bahwa hak asasi manusia adalah hal-hak yang diberikan langsung oleh Tuhan sebagai hak yang kodrati (Mansyhur Effendi. Istilah yang dikenal di Barat mengenai HAM ialah ³right of man´. Menseskripsikan penanggungjawab. dan pemenuhan akan hak asasi manusia. Dalam Undang-Undang (UU) Nomor 39 tahun 1999 tentang HAM pasal 1 disebutkan bahwa ³HAM adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai nakhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupupakan 26 . (2) ruang lingkup penerapan hak.3. Menurut pendapat Jan Materson (dari Komisi HAM PBB). penegakan. 1994).

berbangsa. serta keseimbangan antara kepentingan perseorangan dan dengan kepentingan umum. 2003). hukum. dan (3) HAM tidak bisa dilanggar. (2) HAM berlaku untuk semua orang tanpa memandang jenis kelamin. ras. Berdasarkan beberapa rumusan pengertian HAM di atas. KAM dan TAM) yang melekat pada setiap individu manusia. Perkembangan Pemikiran HAM di Barat dan Indonesia 27 . Dengan demikian hakikat penghomatan dan perlindungan terhadap HAM ialah menjaga keselamatan ekstensitas manusia secara utuh melalui aksi keseimbangan yaitu keseimbangan antara hak dan kewajiban. HAM adalah bagian darimanusia secara otomatis. pemerintah. dapat disimpulkan bahwa HAM merupakan hak yang melekat pada diri manusia yang bersifat kodrati dan fundamental sebagai suatu anugrah Allah yang harus dihormati. KAM. Jadi dapat disimpulkan hakikat dari HAM adalah keterpaduan antara HAM. Berdasarkan beberapa rumusan HAM di atas. bahkan negara. dibeli ataupun diwarisi. dan dilindungi oleh negara. pandangan politik asal usul sosial dan bangsa. Jadi dalam memenuhi dan menuntut hak tidak terlepas dari pemenuhan kewajiban yang harus dilaksanakan. dapat ditarik kesimpulan tentang beberapa ciri pokok hakikat HAM yuaitu: (1) HAM tidak perlu diberikan. agama. Karena itu. masyarakat atau negara. bernegara dan pergaulan global tidak berjalan secara seimbang. B. etmis.anugerah-Nya yang wajib dihormati. pemerintah dan setiap orang demi kehormatan serta negara perlindungan harkat dan martabat manusia´. bermasyarakat dan bernegara. baik dalam tatanan dalam kehidupan pribadi beemasyarakat. pemenuhan perlindungan dan penghormatan terhadap HAM harus dikuti dengan pemenuhan terhadap KAM (kewajiban asasi manusia) TAM (tanggung jawab asasi manusia) dalam kehidupan pribadi. dapat dipastikan akan menimbulakan kekacauan anarkisme dan kesewenangwenangan dalam tata kehidupanumat beragama. Begitu juga dalam memenuhi kepentingan perseorangan tidak boleh merusak kepentingan orang banyak (kepentingan umum). dijaga dan dilindungi oleh seriap individu. dan TAM yang berlangsung secara sinergis dan seimbang. dijunjung tinggi. Bila ketiga unsur asasi (HAM. melindungi dan menjunjung tinggi HAM. menjadi kewajiban dan tanggung jawab bersama antara inividu. Upaya menghormati. Tidak seorangpun mempunyai hak untuk membatasi atau melanggar hak orang lain.orang tetap mempunyai HAM walaupun sebuah negara membuat hukum yamg tidak melindungi atau melanggar HAM (Mansour Fakih.

Jadi. freedom of religion (bebas menganut kenyakinan/agama yang dikehendaki). Sejak itu mulai dipraktikan kalau raja melanggar hukum harus diadili dan pertanggungjawabkan kebijakan pemerintahannya kepada parlemen. 1994). menjadi dibatasi kekuasaannya dan mulai dapat diminta pertanggunggungjawabannya dimuka hukum (Masyhur Effendi. dalam french Declaration sudah tercakup hak-hak yang menjamin tumbuhnya demokrasi maupun negara hokum (Masyhur Efendi.Pembicaraan mengenaig HAM tidak terlepas dari pengakuan terhadap adanya hukum alam (natural law) yang menjadi cikal bakal bagi kelahiran HAM. masalah keadilan yang merupakan inti dari hukum alam menjadi pendorong bagi upaya penghormatan dan perlindungan harkat dan martabat kemanusiaan universal. termasuk penangkapan tanpa alasan yang sah dan penahanan tanpa surat perintah yang dikeluarkan oleh pejabat yang sah. tetapi ia sendiri tidak terikat dengan hukum yang dibuatnya). Kemudian prinsip itu dipertegas oleh prinsip freedom of exspressio]n (kebebasan mengeluarkan pendapat). dan hak-hak dasar lainnya. ia harus dibelenggu. Dengan demikian. Hukum alam diatur berdasarkan logika manusia. kemudian ditahan dan dituduh. karena dalam hukum alama ada sistem keadilan yang berlaku universal (Masyur Effendi. Dalam deklarasi ini dipertegas bahwa manusia adalah merdeka sejak di dalam perut ibunya. sebagaimana dimuat dalam the Rule of Law yang antara lain isinya tidak boeh ada penangkapan dan penahanan yang semena-mena. Hukum alam merupakan produk rasio manusia demi terciptanya keadilan abadi. Dalam kaitan itu berkaitan berlaku prinsip Presumtion of innocent. Perkembangan HAM selanjutnya ditandai dengan munculnya The American Declaration of Independence. yang merumuskan hak lebih dirinci lagi.1994). Hukum alam merupakan satu konsep dari prinsip-prinsip umum moral dan sistem keadilan yang berlaku untuk seluruh umat manusia. The right of property (perlindungan hak milik). artinya orang-orang yang ditangkap. Selanjutnya. karenannya manusia akan mematuhi hukum alam tersebut. pada tahun 1789 lahirlah The French Declaration (Deklarasi Parncis). berhak dinyatakan tidak beralah. sehingga tidaklah logis bila sesudah lahir. Magna Charta telah menghilangkan hak absolutisme raja. Salah satu muatan hukum alam adaklah hak-hak pemberian dari alam (naturals rights). 1994). sampai ada keputusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap yang menyatakan ia bersalah. Pada umumnya para pakar di Eropa berpendapat bahwa lahirnya HAM di kawasan Eropa dumulai dengan lahirnya Magna Charta yang antara lain membuat pandangan bahwa raja yang tadinya memiliki kekuasaan absolut (raja yang menciptakan hukum. 28 .

Kedua Covenant tersebut disepakati dalam sidang umum PBB 1966. Secara garis besar perkembangan pemikiran HAM dibagi pada 4 generasi.Perkembangaannya yang lebih signifikan adalah dengan kemunculan The Four Freedom dari Presiden Roosevelt pada Tahun 1941. Keadalan dan 29 . yaitu hak kebebasan berbicara dan menyatakan pendapat. Generasi ketiga menjanjikan adanya kesatuan antara hak ekonomi. maka pembangunan haruslah berpihak pada rakyat dan diarahkan untuk redistrbusi kekayaan national serta redistribusi sumber-sumber daya sosial. hukum. yang meliputi usaha. Jadi pemikiran HAM generasi kedua menunjukkan perluasan pengertian konsep dan cakupan hak asasi manusia. hak kebebasan dari ketakutan. Fokus pemikiran HAM generasi pertama pada bidang hukum dan politik disebabkan oleh dampak dan situasi perang dunia II. hak ekonomi dalam arti pembangunan ekonomi menjadi prioritas utama. sedangkan hak lainnya terabaikan sehingga menimbulkan banyak korban. Ada empat hak yang dikemukakannya. Pada masa generasi kedua.. Kalau kata ³pembangunan´ tetap dipertahankan. Dalam pelakasanaan hasil pemikiran HAM generasi ketiga juga mengalami ketidakseimbangan. budaya. sosial and Cultural Eights dan International Covement on civil and political Rights. 1994). politik dan budaya. totaliterisme dan adanya keinginan negara-negara yang baru merdeka untuk menciptakan suatu tertib hukum yang baru. hak yuridis kurang mendapat penekanan sehingga terjadi ketidakseimbangan dengan hak sosial-budaya. kebebasan dari kemiskainan dalam pengertian setiap bangas berusaha mencapai tingkat kehidupan yang damai dan sejahtera bagi penduduknya. karena banyak hak-hak rakyat lainnya yang dilanggar. ekonomi. hak kebebasan memeluk agama dan beribadat sesuai dengan ajaran agama yang dipeluknya. Pada generasi kedua ini lahir dua covemen yaitu International Covenant on Economic. politik dan budaya secara merata. sehingga tidak satupun bangsa (negara) berada dalam posisi berkeinginan untuk melakukan serangan terhadap negara lain (Mayhur Efendi. Generasi kedua pemikiran HAM tidak saja menuntut hak yuridis melainkan juga hak-hak asasi sosial ekonimi. Generasi ketiga sebagai reaksi pemikiran HAM generasi kedua. politik dan hukum dalam satu keranjang yang desebut dengan hak-hak melaksanakan pembangunan (The Rights of Development). pengurangan persenjataan. Pemikiran HAM terus berlangsung dalam rangka mencariu rumusan HAM yang sesuai dengan konteks ruang dan zamannya. hak ekonomi dan hak politik. sosial. Generasi pertama berpendapat bahwa pengertian HAM hanya berpusat pada bidang hukum dan politik.

Deklarasi tersebut juga secara positif mengukuhkan keharusan imperatif dari negara untuk memenuhi hak asasin rakyatnya. yaitu periode sebelum dan sesudah kemerdekaan. kahirlah generasi keempat yang mekritik peranan negara yang sangat dominan dalam proses pembangunan yang terfokus pada pembangunan ekonomi dan menimbulkan dampak degatif seperti diabaikannya aspek kesejahteraan rakyat. Pemikiran HAM juga muncul di Perhimpunan Indonesia.Sedangkan pemahaman HAM di Indonesia sebagai tatanan nilai. menaruh perhatian terhadap masalah HAM. tema-temanya banyak dipengaruhi oleh para tokohnya seperti Muhammad Hatta. norma. Setelah banyaknya dampak negatif yang ditimbulkan dari pemikiran HAM generasi ketiga. Sedangkan pemikiran HAM dalam Partai Komunis Indonesia sebagai partai berlandaskan Maxisme lebih condong pada hak-hak sosial dan 30 . Selain itu deklarasi HAM Asia tersebut juga telah berbicara mengenai masalah µkewajiban asasi¶ bukan hanya µhak asasi¶. Ahmad Soebardjo. A. Periode Sebelum Kemerdekaan Boedi Oetomo. sebagai organisasi pergerakan. Selain itu program pembangunan yang dijalankan tidak berdasarkan kebutuhan rakyat secara keseluruhan melainkan memenuhi kebutuhan kelompok elit. Deklarasi ini lebih maju dari rumusan generasi ketiga. Bentuk pemikirannya mencakup bidang hak kebesaran berserikat dan mengeluarkan pendapat. . Pemimpin Boedi Utomo memperlihatkan adanya kesadaran berserikat dan mengeluarkan pendapat melalui petisi-petisi yang ditujukan kepada pemerintah kolonial maupun dalam tulisan yang dimuat surat kabar Goeroe Desa. Pemikiran HAM mereka lebih menitik beratkan pada hak untuk menentukan nasib sendiri (the right of self determination). Sedang pemikiran HAM dalam Sarekat Islam lebih menekankan pada usahausaha untuk memperoleh penghidupan yang layak dan bebas dari penindasan dan diskriminasi rasial.A. Maramis dan sebagainya. konsep yang hidup di masyarakat dan acuan bertindak pada dasarnya telah berlangsung cukup lama. bukan setelah pembangunan itu selesai. 1. Secara garis besar Bagir Manan (2001) membagi perkembangan pemikiran HAM di Indonesia dalam dua periode. Pemikiran HAM generasi keempat dipelopori oleh negara-negara di kawasan asia yang pada tahun 1983 melahirkan deklarasi hak asasi manusia yang menginginkan lahirnya tatanan sosial berkeadilan.pemenuhan hak asasi haruslah dimulai sejak dimulainnya pembangunan itu sendiri. karena tidak saja mencakup tuntutan struktural tetapi juga berpihak kepada terciptanya tahanan sosial yang berkeadilan.

Periode Setelah Kemerdekaan Pemikiran HAM pada periode awal kemerdekaan masih menekankan pada hak untuk merdeka (self deteriminasi). Semakin banyak tumbuh partai-partai politik dengan beragam idiologinya masing-masing. Konsen terhadap HAM pada Indische Partij. sangat membanggakan. Pemikiran HAM telah mendapat legitimasi secara formal karena telah memperoleh pengaturan dan masuk ke dalam hukum dasar negara (konstitusi) yaitu UUD 1945. Sementara itu pemikiran HAM pada Partai Nasional Indonesia mengedepankan pada hak untuk memperoleh kemerdekaan (the right self detemination). Indikatornya ada tiga aspek yait : (1). Kebebasan pers sebagai salah satu pilar demokrasi 31 . pemikiran dan aktualisasi HAM pada periode ini mengalami ³pasang´ dan menikmati ³bulan madu´ kebebasan. 2. (2). hak kebebasan untuk berserikat melalui organisasi politik yang dirikan serta hak kebebasan untuk menyampaikan pendapat terutama di perlemen. Lebih menonjol pada hak untuk mendapatkan kemerdekaan serta mendapatkan perlakuan yang sama dan hak kemerdekaan. Seperti dikemukakan oleh Bagir Manan. Pemikiran HAM sebelum Indonesia merdeka juga terjadi dalam perdebatan di Sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) antara Soekarno dan Soepomo di satu pihak dengan Mohammad Hatta dan Mohammad Yamin pada pihak lain. erpa demokrasi parlementer. hak mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan. hak berkumpul. Perdebatan pemikiran HAM yang terjadi dalam sidang BPUPKI berkaitan dengan masalah hak persamaan kedudukan di muka hukum.menyentuh isu-isu yang berkenaan dengan dengan alat produksi. hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak. karena suasana kebebasan yang menjadi semangat demokrasi leberal atau demokrasi parlementer mendapatkan tempat dikalangan elit politik. hak berserikat. hak untuk memeluk agama dan kepercayaan. Komitmen terhadap HAM pada periode awal kemerdekaan diantaranya ditunjukan dalam Maklumat Pemerintah tanggal 1 dan 3 November 1945 yang menyatakan akan adanya pemilu dan rakyat diberi kesempatan atau hak mendirikan partai politik: Pemikiran HAM pada periode tahun 1950-an. Dengan demikian gagasan dan pemikiran HAM di Indonesia telah menjadi perhatian besar dari para tokoh pergerakan bangsa dalam rangka penghormatan penegakan HAM. karena itu HAM di Indonesia mempunyai akar sejarah yang sangat kuat. Bersamaan dengan itu prinsip kedaulatan rakyat dan negara berdasarkan atas hukum dijadikan sebagai sendi bagi penyelenggaraan negara Indonesia merdeka.

Pemikiran elit penguasa pada saat ini sangat diwarnai oleh sikap penolakannya terhadap HAM sebagai produk barat dan individualistik serta bertentangan dengan paham kekeluargaan yang dianut bangsa Indonesia.. Pemilihan umum sebagai pilar lain dari demokrasi berlangsung dalam suasana kebebasan. Akibatnya Presiden melakukan tindakan inkonstitusional pada tataran suprastruktur politik maupun dalam tataran infrastrutur politik. Pada periode awal terajadi peralihan pemerintahan dari Soekarno ke Soeharto. dan (3). fair (adil) dan demokrasi. Dengan kata lain telah terjadi sikap restriktif (pembatasan yang ketat oleh kekuasaan) terhadap hak sipildan hak politik warga negara. terjadi pamasungan hak asasi masyarakat yaitu hak sipil dan hak politik seperti hak untuk berserikat. berkumpul dan mengeluarkan pikiran dengan lisan. pada awal tahun 1970-an sampai periode akhir 1980-an persoalan HAM di Indonesia mengalami kemunduran. Selanjutnya pada tahun 1968 diadakan Seminar Nasional Hukum II yang merekomendasikan perlunya hak uji materil (judicial review) untuk dilakukan guna melindungi HAM. Sikap defensif pemerintah tercermin dalam ungkapan bahwa HAM adalah produk pemikiran Barat yang tidak sesuai dengan nilainilai luhur budaya bangsa yang tercermin Pancasila dan Bangsa Indonesia sudah terlebih dahulu mengenal HAM sebagai mana tertuang dalam rumusan UUD 1945 yang lahir lebih dulu dibandingkan dengan Deklarasi Universal HAM. karena HAM tidak lagi dihormati. MPRS malalui Panitia Ad Hoc IV telah menyiapkan rumusan yang akan dituangkan dalam Piagam Terntang Hak-hak Asasi Manusia dan Hak-hak serta Kewajiban Warganegara.. Pada periode 1959-1966. Begitu pula dalam rangka pelaksanaan TAP MPRS No. ada semangat untuk menegakkan HAM.betul menikamati kebebasannya. sistem pemerintahan yang berlaku adalah demokrasi terpimpin. Sementara itu. dilindungi dan ditegakkan. XIV/MPRS1966. pembentukan Komisi dan Pengadilan HAM untuk wilayah Asia. Pada sistem masa ini kekuasan terpusat dan berada di tangan presiden. Pemerintah pada periode ini bersifat defensif dan represif yang dicerminkan dari produk hukum yang umumnya restriktif terhadap HAM. Salah satu seminar tentang HAM dilaksanakan pada tahun 1967 yang merekomendasikan gagasan tentang perlunya pembentukan pengadilan HAM. Selain itu. Dalam kaitannya dengan HAM. sikap depensif pemerintah ini berdasarkan pada anggapan bahwa isu HAM sering kali 32 . yang lahir dari reaksi penolakan Soekarno terhadap sistem demokrasi parlementer. Pada masa awal perode ini telah diadakan berbagai seminar tentang HAM.

pertimbangan dan saran kepada Pemerintah perihal pelaksanaanHAM. Deklarasi Universal HAM. Deklarasi Kairo dan deklarasi atau perundang-undangan lainnya yang berkaitan dengan penegakan HAM. Demikian pula dilakukan pengkajian dam retifikasi terhadap instrumen HAM internasional semakin ditinkatkan. C. pemikiran HAM nampaknya terus ada pada periode ini terutama dikalangan masyarakat yang dimotori oleh LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dan masyarakat akademisi yang concern terhadap penegakan HAM. Selain itu.digunakan oleh negara-negara barat untuk memojokkan negara yang sedang berkembang seperti Indonesia. Kasus DOM di Aceh. Salah satu sikap akomodatif pemerintah terhadap tuntutan penegakan HAM adalah dibentukknya Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNAS HAM) berdasarkan kepres No. kasus Kedung Ombo. Selanjutnya dilakukan penyusunan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pemberlakuan HAM dalam kehidupan ketatanegaraan dan bermasyarakat di Indonesia. Pada saat ini mulai dilakukan pengkajian terhadap beberapa kebijakan pemerintah Orde Baru yang berlawanan dengan pemajuan dan perlindungan HAM. kasus di Irian Jaya. Upaya yang dilakukan oleh masyarakat menjelang periode 1990-an nampak memperoleh hasil yang menggembirakan karena terjadi penggeseran strategi pemerintah dari represif dan depensif kestrategi akomodatif terhadap tuntutan yang berkaitan dengan penegakan HAM. Upaya yang dilakukan oleh masyarakat melalui pemebtukan jaringan dan lobi Internasional terkait dengan pelanggaran HAM yang terjadi seperti kasus Tanjung Priok. serta memberi pendapat. Bentuk-bentuk Hak Asasi Manusia 33 .untuk membantu pengembangan kondisis-kondisi yang kondusif bagi pelaksanaan HAM yang sesuai dengan Pancasila UUD 1945 (termasuk hasil amandemen UUD 1945). Piaga Madinah. Pergantian rezim pemerintahan pada tahun 1998 memberikan dampak yang sangat besar pada pemajuan dan perlindungan HAM di Indonesia. dan sebagainya. Piagam PBB. Hasil dari pengkajian tersebut menunjukkan banyaknya norma dan ketentuan hukum nasional khususnya yang terkait dengan penegakan HAM diadopsi dari hukum dan instrumen internasional dalam bidang HAM. Komisi ini bertujuan . 50 Tahun 1993 tertanggal 7 Juni. Lembaga ini bertugas untuk memantau dan menyelidiki pelaksanaan HAM. Meskipun dari pihak pemerintah mengalami kemandegan bahkan kemunduran.

(16) Hak untuk mempunyai hak milik. hak sipil dan politik yang terdapat dalam pasal 3-21 dalam DUHAM tersebut memuat: (1) Hak untuk hidup. sosial dan budaya berdasarkan pada pernyataan DUHAM menyangkut hal-hal sebagai berikut. (11) Hak atas perlindungan hukum terhadap serangan semacam itu. dan (8) Hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan yang berkebudayaan dari masyarakat. penahanan atau pembuangan yang sewenang-wenang. (3) Hak kebebasan berkumpul. (2) Hak bebas dari perbudakan dan penghambaan. (4) Hak untuk bergabung ke dalam serikat-serikat buruh. kebebasan dan keamanan pribadi. (13) Hak memperoleh suaka. yaitu hak personal (hak jaminan kebutuhan pribadi). dan (7) Hak memperoleh pengajaran atau pendidikan. (18) Hak bebas berpkir dan menyatakan pendapat. (5) Hak untuk pengampunan hukum secara efektif. (6) Hak atas standar hidup yang pantas di bidang kesehatan dan kesejahteraan. berkesadaran dan beragama. keluarga. Sedangkan hak ekonomi. (15) Hak untuk menikah dan membentuk keluarga. (5) Hak penghidupan yang layak. Hak personal. (6) Hak bebas dari penangkapan. (17) Hak bebas berpikir. (3) Hak bebas dari penyiksaan atau perlakuan maupun hukuman yang kejam. yaitu: (1) Hak atas jaminan social. sosial dan budaya. (5) Hak atas istirahat dan waktu senggang. (7) Hak untuk peradihan yang independen dan tidak memihak. (8) Hak untuk praduga tak bersalah sampai terbukti bersalah. (6) Hak kebebasan berserikat. mengelompokkan HAM kedalam beberapa jenis. (3) Hak atas upah yang sama untuk pekerjaan yang sama. Sementara itu dalam UUD 1945 (amandemen I ± IV UUD 1945) menurut hak asasi manusia yang terdiri dari hak: (1) Hak kebebasan untuk mengeluarkan pendapat. (4) Hak untuk memperoleh pengakuan hukum dimana saja secara pribadi. (4) Hak kebebasan beragama. dan (20) hak untuk mengambil bagian dalam pemerintahan dan hak atas akses yang sama terhadap pelayanan masyarakat. (10) Hak bebas dari serangan terhadap kehormatan dan nama baik. tak berperikemanusiaan ataupun merendahkan derajat manusia.Deklarasi Universal tentang HAM (Universal Declaration of Human Rights) yang juga dikenal dengan istilah DUHAM. (12) Hak bergerak. hak subsistensi (hak jaminan adanya sumber daya untuk menunjang kehidupan) serta hak ekonom. (2) Hak untuk bekerja. hak sipil dan politik. (19) Hak untuk berhimpun dan berserikat. (9) Hak bebas dari campur tangan yang sewenangwenang terhadap kekuasaan pribadi. (2) Hak kedudukan yang sama di dalam hokum. tempat tinggal maupun surat-surat. (7) Hak atas pendidikan. hak legal. (14) Hak atas suatu kebangsaan. 34 .

mulai pasal 7 sampai pasal 33. D. Pengaturan HAM dalam Ketetapan MPR terdapat dalam TAP MPR Nomor XVII tahun 1998 tentang Pandangan dan Sikap Bangsa Indonesia Terhadap HAM dan Piagam HAM Nasional. juga ditemukan Konstitusi RIS dan UUDS 1950. Pengaturan HAM dalam konstitusi negara RI tidak hanya ditemukan pada UUD 1945. Hak Asasi Manusia dalam Perundang-Unndangan Nasional Paling tidak terdapat empat bentuk hukum tertulis atau praturan perundangundangan yang memuat tentang HAM. Hak turut serta dalam pemerintahan. kelemahannya tidak dapat memberikan sangsi hukum bagi pelanggarnya. (2) Hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan. 5 tahun 1998 35 . di antaranya dalam: (1). dalam Undang-Undang.hak demonstrasi dan mogok. Sedangkan kelemahannya rumusan ketentuan yang diatur masih umum. (7) Hak atas kesejahteraan. Pengaturan HAM dalam konstitusi atau UUD 1945 memberikan jaminan yang sangat kuat. Sementara itu bila pengaturan HAM melalui Ketetapan MPR. (9) Hak wanita.Selanjutnya secara operasional beberapa bentuk HAM yang terdapat dalam UU Nomor 39 tahun 1999 tentang HAM sebagai berikut: (1) Hak untuk hidup. (3) Hak mengembangkan diri. namun perbedaan antara KRIS dengan UUDS 1950 terletak pada penomoran pasal dan perubahan sedikit redaksional dalam pasal-pasal. dalam ketetapan MPR. (2). (4) Hak memperoleh keadilan. UU No. Sedang dalam UUDS 1950 pengaturan HAM tidak jauh berbeda dengan yang dimuat dalam Konstitusi RIS. Ketiga. baik sebelum maupun setelah amandem. yaitu melalui amandemen. (5) Hak atas kebebasan pribadi. dan (10) Hak anak. (8). hak tiap warga negara untuk mendapat pengajaran. Keempat. Sedangkan dalam Undang-Undang. Kedua. Selain itu adanya penambahan pasal UUDS 1950 yang signifikan yaitu tentang fungsi sosial hak milik. karena perubahan dan atau penghapusan satu pasal di dalamnya harus melalui proses yang berat dan panjang. Konstitusi RIS mengaturbya dalam bab khusus tentang HAM. Pertama. sedangkan pengaturan HAM dalam bentuk UndangUndang dan peraturan pelaksanaannya kelemahannya pada kemungkinan seringnya mengalami perubahan. Keputusan Presiden dan peraturan pelaksanaan lainnya. (6) Hak atas rasa aman. dalam peraturan pelaksanaan perundang-undangan seperti Peraturan Pemerintah. dalam konstitusi (UUD 1945).. 5 tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara. UU No.

39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. 19 tahun 1999 tentang ratifikasi Konvensi ILO No. dihormati dan dilindungi oleh setiap manusia. dan (13). (5). yang memuat rencana ratifikasi berbaagi instrumen hak asasi manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa serta tindak lanjutnya. UU No. (12). 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Keputusan Presiden No. Keputusan Presiden No. (5). 96 tahun 2001. (10). 138 tentang Usia Minimum Bagi Pekerja. (3). Pengaturan HAM dalam Peraturan Pemerintah dan Keputusan Prsiden antara lain adalah: (1). 11 tahun 1963 tentang Tindak Pidana Subversi. 11 tentang Diskriminasi dalam Pekerjaan. (2). Keseluruhan ketentuan perundang-undangan di atas merupakan pintu pembuka bagi strategi selanjutnya. UU No. 40 tahun 1999 tentang Pers. UU No. Keputusan Presiden No.Keputusan Presiden (KEPRES) Nomor 181 TAHUN 1998 tentang Pendirian Komisi Nasional Penghapusan Kekerasan Terhadap Wanita. yaitu tahap penataan aturan secara konsisten (rule consistent behaviour). UU No.tentang Ratifikasi Konvensi Anti Penyiksaan. UU No. 5 tahun 2001 tentang Pembentukan Pengadilan Hak Asasi Manusia Ad Hoc pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Penataan aturan secara konsisten memerlukan 36 . karena HAM merupakan kebutuhan dasar manusia yang perlu diperjuangkan. (4). 9 tahun 1998 tentang Kebebasan Menyatakan Pendapat. 181 tahun 1998 tentang Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan. (9). 31 tahun 2001 tentang Pembentukan Pengadilan Hak Asasi Manusia pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. 129 tahun 1998 tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia tahun 1998-2003. 105 tentang Penghapusan Pekerja secara Paksa. (7). (8). Keputusan Presiden No. (6). UU No. 21 tahun 1999 tentang Ratifikasi Konvensi ILO No. (6). yang diubah dengan Keputusan Presiden no. Pengadilan Negeri Surabaya. UU No. Peraturan Pemerintah pengganti Undang-Undang (Perpu) No. UU No. (11). 20 tahun 1999 tentang Ratifikasi Konvensi ILO No. UU No. (3). 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM. Tidak Manusiawi dan Merendahkan Martabat. (4). 1 tahun 1999 tentang Pengadilan HAM. 11 tahun 1998 tentang Amandemen terhadap UU No. dan Pengadilan Negeri Makassar. 26 tahun 1999 tentang Pencabutan UU No. Pada tahap ini diupayakan tumbuhnya kesadaran penghormatan dan penegakan HAM baik di kalangan aparat pemerintah maupun masyarakat. 29 tahun 1999 tentang Ratifikasi Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi. UU No. UU No. Perlakuan atau Penghukuman yang Kejam. 25 tahun 1997 tentang Hubungan Perburuhan.

persyaratan yang harus ada. E. HAM sebagai tatanan sosial. Oleh karena itu hubungan keseimbangan keduanya merupakan ³simbiosis-mutualistik´. dan tidak didapatkan. Pelanggaran dan Peradilan Hak Asasi Manusia Pelanggaran hak asasi manusia adalah setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang termasuk aparat negara baik disengaja ataupun tidak disengaja atau kelalaian yang secara hukum mengurangi. Dengan demikan pelanggaran HAM merupakan tindakan pelanggaran kemanusiaan baik dilakukan oleh individu lain tanpa dasar atau alasan yuridis dan alasan rasional yang menjadi pijakannya. 37 . Kejahatan genosida adalah setiap perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok bangsa. Persyaratan pertama adalah demokrasi dan supremasi hukum. dan memindahkan secara paksa anak-anak dari kelompok tertentu ke kelompok lain (UU No. membatasi. Sedangkan bentuk pelanggaran HAM ringan selain dari kedua bentuk pelanggaran HAM berat itu. Selanjutnya. ras. HAM sebagai tatanan sosial merupakan pengakuan masyarakat terhadap pentingnya nilai-nilai Ham dalam tatanan sosial. berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku. dan atau mencabut hak asasi manusia. mengakibatkan penderitaan fisik atau mental yang berat terhadap anggota-anggota kelompok. Kejahatan genosida dilakukan dengan cara membunuh anggota kelompok. Demokrasi dan pelaksanaan prinsip-prinsip negara berdasarkan atas hukum merupakan instrumen bahkan prasyarat bagi jaminan perlindungan dan penegakan HAM. kedua. seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh Undang-undang ini. ekonomi yang hidup. 26/200 tentang Pengadilan HAM). menciptakan kondisi kehidupan kelompok yang akan mengakibatkan kemusnahan secara fisik baik seluruh atau sebagiannya. memaksakan tindakan-tindakan yang bertujuan mencegah kelahiran di dalam kelompok. kelompok etnis dan kelompok agama. 26/2000 tentang Pengadilan HAM). pendidikan HAM secara kurikuler maupun melalui Pendidikan Kewarganegaraan (civic education) sangat diperlukan dan terus dilakukan secara berkesinambungan. atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyelesaian hukum yang adil dan benar. politik. Pelanggaran HAM berat meliputi kejahatan genosida dan kejahatan kemanusiaan (UU No. Pelanggaran HAM dikelompokkan pada dua bentuk yaitu: pelanggaran HAM berat dan pelanggaran HAM ringan. Dalam kerangka menjadikan HAM sebagai tatanan sosial. yaitu UU No. 26/2000 tentang Pengadilan HAM. menghalangi.

penyiksaan. Penindakan terhadap pelanggar HAM tersebut dilakukan melaui proses peralihan HAM mulai dari penyelidkan. 38 . budaya. perbudakan. perbudakan seksual. Pelanggaran terhadap hak asasi manusia dapat dilakukan baik oleh aparatur negara mapun bukan. pengadilan HAM menempuh proses pengadilan melalui hukum acara pengadilan HAM sebagaimana terdapat dalam undang-undang pengadilan HAM. penyidikan. Pengadilan HAM berkedudukan disetiap wilayah Pengadilan Negeri yang bersangkutan. Karena itu penindakan terhadap pelanggaran hak asasi manusia tidak boleh hanya ditujukan terhadap aparatur negara.Sementara itu kejahatan kemanusiaan adalah salah satu perbuatan yang dilakukan sebagai bagian dari serangan yang meluas atau sistematik yang diketahuinya bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil berupa pembunuhan. perampasan kemerdekaan atau perampasan kebebasan fisik lain secara sewenang-wenang yang melanggar (asas-asas) ketentuan pokok hukum internasional. pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa. Pengadilan HAM berkedudukan di daerah kabupaten atau daerah kota yang daerah hukumannya meliputi daerah hukum Pengadilan Negeri yang bersangkutan. Pengadilan HAM tidak berwenang memeriksa dan memutuskan perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat yang dilakukan seseorang yang berumur di bawah 18 (delapan belas) tahun pada saat kejahatan dilakukan. penganiayaan terhadap suatu kelompok tertentu atau perkumpulan yang didasari persamaan paham politik. jenis elamin atau alasan lain yang telah diakui secara universal sebagai hal yang dilarang menurut hukum internasional. dan kejahatan apartheid. tetapi juga pelanggaran yang dilakukan bukan oleh aparatur negara. perkosaan. ras. pemaksaan kehamilan. agama. penuntutan dan persidangan terhadap pelanggaran yang terjadi harus bersifat nondiskriminatif dan berkeadilan. pemandulan atau sterilisasi secara paksa atau bentuk-bentuk kekerasan seksual lain yang setara. Pengadilan HAM bertugas dan berwewenang memeriksa dan memutuskan perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berat. penghilangan orang secara paksa. etnis. kebangsaan. pelacuran secara paksa. pemusnahan. Pengadilan HAM merupakan pengadilan khusus yang berada di lingkungan Pengadilan Umum. Dalam pelaksanaan peradilan HAM. Pengadilan HAM berwenang juga memeriksa dan memutuskan perkara pelanggaran hak asasi manusia yang berada dan dilakukan di luar batas territorial wilayah negara Republik Indonesia oleh warga negara Indonesia. Untuk Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

Beberapa Kovenan. Karena itu. Artinya negara dan individu sama-sama memiliki tanggung jawab terhadap pemajuan. melainkan juga kepada individu warga negara. Pelanggaran HAM oleh negara terhadap rakyat yang disebut pelanggaran HAM secara vertikal. tidak hanya berwujud pelanggaran secara langsung. dan penghormatan HAM ada pada pemerintah. analisis terhadap pelanggaran HAM pun selalu berada dalam wilayah pelanggaran HAM oleh negara terhadap rakyat seperti kasus Tanjung Priok. Begitu pula tanggung jawab HAM adalah negara. Oleh karena itu. pelanggaran HAM sebenarnya tidak saja dilakukan oleh rakyat kepada rakyat yang disebut dengan pelanggaran HAM secara horizontal. deklarasi PBB tentang HAM yang dikenal dengan Piagam HAM Dunia. Setiap individu (warganegara) mempunyai hak asasi baik dalam keadaan darurat maupun keadaan normal harus dilindungi. penghormatan dan perlindungan HAM tidak saja dibebankan kepada negara. Pandangan pertama menyatakan bahwa yang harus bertanggungjawab memajukan HAM adalah negara. karena negara dibentuk sebagai wadah untuk kepentingan kesejahteraan rakyatnya. yaitu negara membiarkan terjadinya pelanggaran HAM. Deklarasi Kairo dan sebagainya harus diletakkan sebagai norma hukum internasional yang mengatur bagaimana negara-negara di dunia menjamin hak-hak individunya. memajuan. pemajuan. dan Pemenuhan Hak Asasi Manusia. penghormatan dan perlindungan HAM. Hukum Perjanjian Internasional. perlindungan dan pemenuhan HAM? Ada dua pandangan mengenai hal tersebut. Penanggungjawab dalam Penegakan. kasus DOM di Aceh. negara yang bersangkutan dengan sendirinya akan kehilangan legitimasi rakyatnya. Negara yang tidak memfasilitasi rakyat melalui pendidikan HAM berarti negara telah mengabaikan amanat rakyat. Oleh karenanya. Memajukan. bila negara tidak mampu melindungi HAM warganegaranya. Piagam Madinah. Dengan demikian.F. Bentuk pelanggaran HAM jenis ini antara lain adanya penembakan rakyat oleh sipil bersenjata seperti dalam kasus 39 . kasus di Irian Jaya. menyatakan bahwa tanggung jawab pemajuan. Perlindungan. tetapi juga secara tidak langsung. Siapa yang bertanggungjawab dalam penegakan. Pelanggaran terhadap pemenuhan HAM juga lebih mengedepankan tanggung jawab perlindungan. Rakyat yang cerdas dan sadar sehingga mampu menghargai dan menghormati HAM perlu diberikan pendidikan terutama masalah yang berkaitan dengan HAM. kasus Haur Koneng di Tasikmalaya. Hak-hak inilah yang harus dijamin realisasinya oleh negara. Pandangan kedua.

Hubungan dimaksud menimbulkan ketergantungan antara bagian-bagian yang akibatnya jika salah satu bagian tidak bekerja dengan baik. Mendeskripsikan konsep sistem pemerintahan dalam arti luas. Penerbit Prenada Media. 6. Mendeskripsikan konsep organisasi pemerintahan dalam garis vertika dan horizontal. HAM sejati bersandar pada pertimbangan-pertimbangan normatif agar umat manusia diperlakukan sesuai dengan human dignity-nya. para perampok dan sebagainya. Pendidikan Kewargaan. sejumlah besar problem HAM tidak hanya melibatkan aspek pemerintah. Dalam masyarakat yang demokratis. penganiayaan buruh atau budak oleh majikan seperti kasus Marsinah.. individu memiliki tanggung jawab atas dasar prinsip-prinsip demokrasi. Kedua. 3. Pertama. 2. Ada tiga alasan mengapa individu memiliki tanggung jawab dalam penegakan dan perlindungan HAM. Menseskripsikan Sistem Pemerintahan Negara Indonesia sebelum dan sesudah amandemen UUD 1945. Ketiga. Hak Asasi Manusia. Catatan Bab ini banyak diambil dari Bab IX buku Tim ICCE UIN Jakarta (Dede Rosyada. tetapi juga kalangan swasta atau kalangan di luar negara dalam hal ini rakyat. A. 5. Merumuskan konsep sistem pemerintahan. presidensiil dan referendum. Membandingkan Sistem Pemerintahan Indnesia dengan Amerika Serikat. sangat luas. 2003. 40 . Merumuskan cirri-ciri sistem pemerintahan parlementer. akan mempengaruhi keseluruhannya itu (Kusnardi dan Harmailyi Ibrahim. BAB IV SISTEM PEMERINTAHAN NEGARA Kompetensi Dasar 1. suatu yang menjadi kewajiban pemerintah juga menjadi kewajiban rakyat. Demokrasi.penembakan Rektor IAIN Ar-Raniry Banda Aceh. 4. dkk). terdiri dari beberapa bagian yang mempunyai hubungan fungsional terhadap keseluruhan. Pengertian Sistem Pemerintahan Sistem adalah suatu keseluruhan. dan Masyarakat Madani. dan sempit. karenaa setiap orang memiliki kewajiban untuk ikut mengawasi tindakan pemerintah. Rektor Universitas Syiah Kuala Banda Aceh dan beberapa tokoh lainnya. Jakarta.

1980: 160). jika pengertian pemerintahan tersebut dikaitkan dengan pengertian sistem. maka yang deimaksud dengan sistem pemerintahan adalah suatu tatanan atau susunan pemerintahan yang berupa suatu struktur yang terdiri dari organorgan pemegang kekuasaan didalam negara dan saling melakukan hubungan fungsional diantara organ-organ negara tersebut baik secara vertikal maupun horizontal untuk mencapai suatu tujuan yang dikehendaki. Dengan demikian. menteri. Sedangkan pengertian pemerintahan dalam arti sempit tidak tidak lain adalah aktifitas atau kegiatan yang diselenggarakan oleh fungsi eksekutif. Pengertian pemerintahan seperti ini mencakup kegiatan atau aktifitas penyelenggarakan negara yang dilakukan oleh eksekutif. Sistem Pemerintahan Negara dalam arti paling luas. antara pemerintah pusat dan pemerintah lokal atau daerah. Apabila salah satu dari komponen atau bagian tersebut berfungsi melebih atau kurang dari wewenangnya. maka akan mempengaruhi komponen yang lain. sampai B. hubungan antar alat-alat perlengkapan negara yang menjalankan kekuasaan-kekuasaan tersebut baik hubungan horizontal (pemisahan atau pembagian kekuasaan) maupun hubungan vertikal (pemencaran kekuasaan). maka dalam melakukan pembahasan mengenai Pemerintah Negara. Sedangkan pemeritahan dalam arti luas adalah segala bentuk kegiatan atau aktifitas penyelenggaraan negara yang dilakukan oleh organ-organ negara yang mempunyai otoritas atau kewenangan untuk menjalankan kekuasaan. Yaitu meliputi pembagian kekuasaan dalam negara. Tiga Pengertian Sistem Pemerintahan Negara Pengertian sistem pemeintahan negara meurut doktrin Hukum Tata Negara dapat dibagi kedalam tiga pengertian. Pengertian seperti ini akan 41 . Titik tolak yang dipergunakan adalah dalam konteks pemerintahan dalam arti luas. Dengan demikian dalam usaha ilmiah sistem adalah suatu tatanan / susunan yang berupa suatu struktur yang terdiri dari bagian-bagian atau komponen-komponen yang berkaitan antara satu dengan lainnya secara teratur dan terencana untuk mencapai suatu tujuan. yaitu : (1). presiden ataupun perdana dengan level birokrasi yang paling rendah tingkatannya. legislatif maupun judikatif. Dari dua pengertian tersebut. yakni tatanan yang berupa struktur dari suatu negara dengan menitik beratkan pada hubungan antara negara dengan rakyat.

dalam negara seperti ini pemerintah pusat dan negara bagian mempunyai kedudukan yang sama. Sistem Pemerintahan Negara ari lua. Organisasi dari sistem pemerintahan negara tersebut.Bangunan Negara Kesatuan. (c). termasuk hubungan antara pemerintah pusat dengan bagian-bagian yang terdapat dalam negara ditingkat lokal atau daeraah. yakni tatanan atau struktur pemerintahan negara yang bertitik tolak dari hubungan antara semua organ negara. Berikutnya (3) disebut Sistem Pemerintahan Negara dalam arti sempit yakni suatu tatanan atau struktur pemerintahan yang bertitik tolak dari hubungan sebagian organ negara ditingkat pusat. Bangunan Negara Konfederasi. contohnya di Swiss. dalam negara seperti ini pemerintah lokal (kanton atau wilayah) mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari pemerintah pusat. Sistem pemerintahan negara seperti ini meliputi: (a). sehingga yang berhak mengawasi parlemen dan eksekutif adalah rakyat secara langsung. Sistem Pemerintahan dengan Pengawasan Langsung Oleh rakyat. pada sistem ini parlemen (legeslatif) dan pemerintah mempuyai kedudukan yang sama dan saling melakukan kontrol (chek and balances). Organisasi Sistem Pemerintahan Negara Pada umumnya dalam sistem pemerintahan negara. Organisasi Pemerintahan Dalam Garis Horizontal Menurut konsep Trias Politika kekuasaan didalam negara dapat dibagi menjadi menjadi tiga cabang kekuasaan utama . Jepang.menimbulkan model pemerintahan monarkhi.Sistem Pemisahan Kekuasaan (Presidensiil). dengan kata lain eksekutif merupakan bagian yang tak terpisahkan dari legislatif (Parlemen). khususnya hubungan antar eksekutif dan legislatif. Oleh karena itu parlemen tidak diberi kewenangan untuk melakukan pengawasan kepada eksekutif. baik itu di negara serikat maupun kesatuan dikenal adanya dua organisasi (pengelompokan) dari sistem Pemerintahan yang saling melakukan interaksi antara satu dengan lainnya. dalam sistem ini parlemen (legislatif) mempunyai kedudukan yang lebih tinggi ketimbang eksekutif. akan menimbulkan model : (a). (b). Sistem Parlementer. pada sistem ini pemerintah (eksekutif) pada hakekatnya adalah Badan Pekerja dari Parlemen (Legislatif). contoh Inggris. C. Struktur atau tatanan pemerintahan negara seperti ini. (b). yakni 42 . (c). adalah: 1. yaitu : (a) Kekuasaan Legislatif. India. contohnya AS. aristokrasi dan demokrasi. Bangunan Negara Serikat (Federal). (2). dalam bangunan ini pemerintah pusat memegang otoritas penuh (berkedudukan lebih tinggi) ketimbang pemerintah lokal.

khususnya yang mempergunakan asas desentrlisasi dikenal. Sedangkan di Negara kesatuan. Kekuasaan ini biasanya dilakukan oleh pemerintah dalam arti sempit. Organisasi Sistem Pemerintahan Dalam Garis Vertikal Membahas Organisasi sistem Pemerintahan dalam garis Vertikal pada intinya bertitik tolak dari bangunan negara. Kesemuanya itu tergantung dari sistem pemerintahan yang dianut oleh masing-masing negara. Masing-masing banguan negara ini memiliki satuan pemerintahan yang lebih rendah di bawah pemerintah pusat. 2. Ketiga cabang kekuasaan negara ini dipegang oleh lembaga atau badan kenegaraan yang sifatnya dapat terpisah antara satu dengan yang lain secara tegas. Kekuasaan Judikatif. Kekuasaan ini dilakukan oleh badan-badan peradilan dengan susunan bertingkat-tingkat sesuai dengan kewenangan masing-masing tingkat dan berpuncak pada supreme Court atau Mahkamah Agung. Kekuasaan Ekekutif yakni kekuasaan untuk menjalankan undang-undang atau disebut juga kekuasaan untuk menjalankan pemerintahan. tetapi masing-masing masih dapat saling melakukan hubungan antara satu dengan yang lainnya. Di Negara Serikat. yakni kekuasaan untuk melaksanakan peradilan. melainkan dipecah menjadi tiga cabang kekuasaan utama yang dipegang oleh badan-badan negara yang berbeda ditinjau dari fungsi dan kedudukannya. masing-masing mempunyai ciri-ciri yang berbeda-beda antara 43 . Namun dapat pula terpisah secara kelembagaan. Biasanya diserahkan kepada lembaga perwakilan rakyat atau parlemen. 1986: 143) kedua satuan pemerintahan yang lebih rendah dibawah pemerintah pusat.(c). Menurut Kranenburg (dalam Miriam Budiardjo. adanya pemerintah daerah yang berwenang untuk menyelenggarakan pemerintahan sendiri sesuai dengan aspirasi masyarakat dimasing-masing daerah (otonomi). satuan pemerintahan yang lebih rendah diwujudkan dalam bentuk negara-negara bagian. Maksud pembentukan organisasi pemerintahan seperti ini tidak lain adalah agar kekuasaan yang terdapat didalam suatu negara tidak lagi dipegang dan menumpuk atau dikendalikan. khususnya bangunan negara serikat dan bangunan negara kesatuan. Dengan demikian konsep pengorganisasian pemerintahan dalam garis horizontal pada hakikatnya merupakan implementasi dari konsep trias politika yang dilandasi oleh adanya reaksi terhadap organisasi pemerintahan yang absolut-diktatorik yang pada umunya terjadi dalam negara yang berbentuk monarkhi. oleh seorang atau sekelompok orang. (b). baik yang terdapat di negara kesatuan maupun serikat.kekuasaan untuk membentuk undang-undang. yaitu Presiden atau Perdana Menteri.

sistem perlementer. Sedangkan dalam negara kesatuan wewenang pembentukan Undang-Undang Pusat ditetapkan dalam satu rumusan umum dan wewenang pembentukan undang ± undang rendahan (sering disebut Peraturan Daerah/Perda). D. Penjelasannya secara lebih rinci . 44 dan referendum. (b). Sedang meurut F. Sistem Pemerintahan Parlementer (Parliamentary Executive) Pada prinsipnya system pemerintahan parlementer menitik beratkan pada hubungan antara organ negara pemegang kekuasaan eksekutif dan legislative. yaitu: (a).Sugeng Istanto (1971:16) prinsip yang terkandung pada negara kesatuan ialah bahwa yang memegang tampuk kekuasaan tertinggi atas segenap urusan negara ialah Pemerintah Pusat tanpa adanya gangguan oleh delegasi atau pelimpahan kekuasaan kepada pemerintah daerah. Sedangkan dalam negara kesatuan wewenang legislatif berada dalam tangan badan legislatif pusat. 1986:143). Menurut F. Negara bagian yang terdapat di dalam Negara Serikat memiliki wewenang untuk membentuk UUD sendiri serta mempunyai wewenang untuk membentuk Organisasi sendiri dalam rangka dan batas-batas konstitusi federal. yakni morankhi. Isjawara (dalam Miriam Budiardjo. dalam negara federal tidak hanya wewenang legislatif saja yang diberi antara negara federal dengan negara-negara bagian. dalam negara federal wewenang legislatif terbagi dalam dua bagian.Dalam negara federal (serikat). Dikatakan demikian karena kepala negara apapun sebutannya-mempunyai kedudukan yang tidak dapat diganggu gugat.satu dengan yang lain berdasarkan hukum positif. untuk kekuasaan badan legislatif rendahan (Lokal) didasarkan atas penentuan dari badan legislatif pusat itu dalambentuk Undang-Undang Organik. Sedangkan Hans Kelsen mengemukakan bahwa. Macam-macam Sistem Pemerintahan Negara Ada tiga macam sistem pemerintahan yang sering dibahas dalam kajian Hukum Tatanegara. Sedangkan penyelenggara pemerintahan sehari-hari diserahkan kepada Menteri (Perdana Menteri). wewenang membentuk Undang-Undang Pusat untuk bidang tertentu telah diperinci satu persatu dalam konstitusi federal. yakni antara badan legislatif pusat (federal) dan badan legislatif dari negara-negara bagian. tergantung pada badan pembentuk Undang-Undang Pusat itu. Sistem ini merupakan sisa-sisa peninggalan sistem pemerintahan dalam arti paling luas. akan tetapi juga wewenang eksekutif dan administratif. adalah seagai berikut: 1. Sedangkan dalam negara Kesatuan organisasi bagianbagian negara (Pemerintah Daerah) secara garis besarnya telah ditetapkan oleh pembentuk Undang-Undang Pusat.

Sistem Pemerintahan Presidensiil (Fixed Executive) Sestem pemerintahan ini bertitik tolak dari konsep pemisahan kekuasaan sebagaimana dianjurkan oleh teori trias politika. (c). Kedudukan Presiden disamping sebagai Kepala Negara juga sebagai kepala Eksekutif (Pemerintahan). Ciri-ciri utama dari sistem pemerintahan ini adalah sebagai berikut: (a). jika pertanggung jawaban atas pelaksanaan pemerintahan yang dilakukan oleh Menteri baik secara perseorangan ataupun kolektif tidak dapat diterima oleh parlemen. dan (d).Adapun ciri-ciri sistem pemerintahan ini. Sistem ini menghendaki adanya pemisahan kekuasaan aksekutif dan badan pemegang kekuasaan legislatif. 2. pada umumnya dapat digambarkan sebagai berikut : (a). Presiden tidak dapat diberhentikan oleh Parlemen ditengah45 . Presiden dan Parlemen masing-masing dipilih langsung oleh rakyat melalui Pemilihan Umum. pada umunya dilakukan dengan cara koalisi. Jika ternyata didalam parlemen tidak ada satupun partai politik yang menduduki kursi mayoritas. (b). Karena Presden dan Parlemen dipilih langsung oleh rakyat melalui Pemilihan Umum. Maka penyusunan Kabinet dan Perdana Menteri. (c). Kepala Negara (apapun sebutannya) hanya berfungsi ataupun berkedudukan sebagai kepala negara saja. Tidak sebagai kepala eksekutif dan Pemerintahan. bahkan antara keduanya saling tergantungsatu dengan yang lainnya. Sehingga tidak jarang terjadi bahwa Presiden terpilih berasal dari Partai Politik yang berbeda dengan mayoritas partai politik yang ada diparlemen. yakni penggabungan dua partai atau lebih untuk memperkuat posisi perolehan suara di parlemen. maka kedudukan antara kedua lembaga ini tidak bisa saling mempengaruhi (menjatuhkan). Hal ini karena kedua lembaga tersebut sama-sama bertanggung jawab kepada rakyat pemilih. Dikenal adanya mekanisme pertanggung jawaban Menteri kepada Perlemen yang mengakibatkan Parlemen dapat membubarkan atau menjatuhkan ´mosi tidak percaya´kepada Kabinet. Eksekutif yang dipimpin oleh Perdana Menteri dibentuk oleh parlemen dari partai politik / organisasi peserta pemiluyang menduduki kursi mayoritas diparlemen. (d). (b). Kedudukan seperti ini mengakibatkan Kepala Negara tidak dituntut pertanggungjawaban konstitusional apapun. sebab Kepala Negara hanya berfungsi sebagai simbol negara juga diberi wewenang untuk menunjuk formulir kabinet dan membubarkan kabinet bila keadaan negara menghendaki. Dalam hal ini rakyat tidak secara langsung memilih Perdana Menteri dan Kabinetnya. Terdapat hubungan yang erat antara eksekutif dan legislatif (parlemen).

tunduk dan bertanggung jawab kepada MPR. (f). tidak otomatis Kabinet diberi ´mosi tidak percaya´ dan dapat dijatuhkan oleh parlemen. Presidennya dipilih oleh rakyat dalam suatu pemilu. Kemudian dipasal 17 ayat 2 ditegaskan bahwa menteri-menteri diangkat dan diberhentikan oleh presiden. dalam pasal 4 UUD 1945 di tegaskan bahwa presiden memegang kekuasaan pemerintahan menurut Undang-Undang Dasar. Akan tetapi jika pertanggung jawaban tersebut ditolak oleh parlemen. karena MPR bertindak laksana parlemen. Pelaksana Impeachment ini dilakukan oleh Hakim Tinggi pada supreme Court. yaitu sistem presidensiil semu dan sistem parlementer semu. Pola seperti ini nampak mirip dengan sistem presidensiil di AS. Parlemen yang menentukan personilnya secara definitif. Perdana menteri dan Kabinetnya bertanggung jawab kepada parlemen. Presiden wajib menjalankan MPR. Dari kedua sistem tersebut. ataukah justru parlemen yang bertindak malampaui batas46 . Sebelum Amandeman. namun presiden hanya menyampaikan nominasi anggota kabinet. Sedangkan sistem Pemerintahan Parlementer yang tidak murni terlihat dalam ketatanegaraan Perancis. dapat dikenai impeachment (pengadilan DPR). tetapi juga mempunyai wewenang untuk mengangkat perdana menteri dari partai Politik yang menduduki kursi mayoritas di parlemen. Dalam rangka menyusun kabinet (menteri). Dalam kasus seperti ini Presiden akan memberikan pertimbangan apakah dalam persoalan adanya ´mosi tidak percaya ´ tersebut memang disebabkan oleh Kabinet yang tidak mampu lagi menjalankan garis-garis kebijaksanaan politik yang ditetapkan oleh parlemen. Contoh yang dapat dikemukakan disini adalah Impeachment yang dikembangkan di AS. Akan tetapi jika menyimak Penjelasan Umum UUD 1945. Kemudian Presiden mengangkat menteri-menteri tersebut setelah mendapat persetujuan Parlemen. Tidak dilakukan oleh anggota parlemen. Penjelasan semacam ini mengandung unsur sistem parlementer. sering dijumpai juga varian dari keduanya. Namun Presidennya mempunyai kekuasaan yang besar dalam seluruh kehidupan negara dan pemerintahan. Presiden wajib minta persetujuan Parlemen. Ketentuan seperti ini jelas mengindikasikan bahwa Indonesia menganut Sistem Presidensiil. unsur-unsur Sistem Parlementer terlihat jelasa. Presiden juga dapat membubarkan parlemen. namun jika presiden melakukan perbuatan yang melanggar hukum. (e). Sistem presidensiil semu pernah berlangsung dalam pola ketatanegaran Indonesia. Begitu pula dengan parlemennya.Menteri-menteri yang diangkatoleh Presiden tersebut tunduk dan bertanggung jawab kepada Presiden. Disana dinyatakan bahwa Presiden yang diangkat oleh MPR.tengah masa jabatannya.

yaitu suatu penentuan oleh rakyat untuk memberikan keputusan setuju atau menolak terhadap kebijaksanaan yang diambil oleh parlemen. Bahkan dapat dikatakan bahwa Dewan Federal hanyalah merupakan Badan Pekerja dari Sidang Federal.Pemegang kekuasaan eksekutif dan badan Pelaksana Kekuasaan Tertinggi dipegang oleh Dewan Federal. Referendum terdiri dari (tiga) macam. Inilah letak ketidak murnian dari sistem parlementer yang dikembangkan di Perancis. Pemegang kedaulatan tertinggi ada pada Sidang Federal yang terdiri dari dua kamar. Sistem Pemerintahan Dengan Pengawasan Langsung oleh Rakyat Acuan sistem pemerintahan ini adalah Negara Konfederasi Swiss. tidaklah mengherankan jikalau dalam konflik antara Kabinet dan Parlemen. Karena Dewan federal pada hakikatnya merupakan bagian yang tidak terpiasahkan dari sidang federal. Presiden dan wakil presiden Konfederasi Swiss dipilih oleh sidang federal. Kekuasaan Presiden Perancis yang demikian besar karena dipilih langsung oleh rakyat. Menurut Konstitusi Federal Konfederasi Swiss dinyatakan antara lain : (a). Dewan federal (pemegang kekuasaan eksekutif) dan Sidang Federal (pemegang kedaulatan tertinggi) sama-sama memperoleh kekuasaan dari rakyat. Memperhatikan konstruksi ketatanegaraan tersebut diatas. dan (c). Adapun cara yang dapat ditempuh oleh rakyat Konfederasi Swiss untuk melakukan kontrol terhadap jalannya pemerintahan adalah dengan melalui : (a). presiden dapat bertindak sebagai mediator bahkan dapat juga disebut sebagai hakim dalam mengatasi konflik tersebut. khususnya menyangkut kedaulatan rakyat dibidang pemerintahan. Pola seperti inilah yang mengakibatkan munculnya sistem Pemerintahan dengan pengawasan langsung oleh rakyat. Jikalau dalam pertimbangan tersebut. yaitu Dewan Nasional dan Negara. Presiden menganggap bahwa parlemenlah yang malampaui kewenangannya. Sehingga yang berhak untuk melakukan kontrol atas jalannya sistem ketatanegaraan tidak lain adalah rakyat secara langsung. yaitu: (1). Ini berarti Presiden juga berkedudukan dan bertindak sebagai representasi rakya. maka tidaklah mungkin apabila Sidang Federal (pemegang kedaulatan tertinggi) dan dewan federal (pemegang kekuasaan eksekutif) saling melakukan kontrol seperti halnya dalam sistem pemerintahan Parlementer. Oleh sebab itu. Referendum obligator (Wajib) yaitu meminta pendapat secara langsung dari rakyat terhadap suatu 47 . . Demikian pula sebaliknya. diantara para anggota dewan untuk masa jabatan satu tahun.batas kewenangannya. Referendum. 3. (b). yang terdiri dari tujuh anggota dan dipiliholeh Sidang Federal. maka justru parlemenlah yang dapat dibubarkan oleh presiden.

Rancangan UU yang akan di undangkan. yaitu meminta pendapat secara langsung dari rakyat apakah setuju atau tidak terhadap UU yang sudah berlaku. Referendunm optatif. Sistem Pemerintahan Indonesia Menurut Konstitusi RIS Sistem pemerintahan Indonesia menurut Konstitusi RIS adalah sistem Pemerintahan Parlementer yang tidak murni. Indonesia pernah mempergunakan beberapa Konstitusi tertulis selain UUD 1945. Masing konstitusi tersebut mengatur mengenai sistem pemerintahan yang berbeda. maka UU terebut tetap berlaku. Hal ini karena UUDS 1950 pada hakikatnya merupakan hasil amandemen dari Konstitusi RIS dengan menghilangkan 48 . Ketentuan pasal tersebut menunjukkan bahwa RIS mempergunakan sistem pertanggung jawaban menteri. demikian sebaliknya. Artinya sistem pemerintahan negara yang digunakan masih seperti yang diatur dalam Konstitusi RIS. tetapi ada sementara rakyat yang meggugatnya. Karena pertanggung jawaban yang dimaksud tidak ada artinya atau disebut pertanggung jawaban dalam arti sempit. Maupun masing-masing untuk bagiannya sendiri-sendiri. Apabila mayoritas rakyat berpendapat bahwa UU tersebut tetap berlaku seperti semula. Sistem Pemerintahan Indonesia Sejak Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. (2). Usul Inisiatif Rakyat. Pasal 118 Konstitusi RIS antara lain menyebutkan. Sistem Pemerintahan Indonesia menurut UUDS 1950 UUDS 1950 masih tetap mempergunakan bentuk sistem pemerintahan seperti yang diatur dalam Konstitusi RIS. Referendum fakultatif (tidak Wajib). Dengan menyimak pasal tersebut. yaitu meminta pendapat secara langsung pada rakyat apakah setuju atau tidak terhadap Rancangan UU Pemerintah Federal atau pemerintah pusat di wilayah-wilayah negara bagian atau daerah otonom. (b). 2. Menteri-menteri bertanggung jawab atas seluruh kebijaksanakan pemerintah baik bersama-sama untuk seluruhnya. (3). 1. maka sisem yang dipergunakan adalah sistem parlementer yang tidak murni. E. (a) Presiden tidak dapat diganggu gugat. (b). Berikut ini akan dikemukakan sistem pemerintahan Indonesia menurut konstitusiyang pernah dan sedang berlaku. yaitu hak rakyat untuk mengajukan rancangan UU kepada Parlemen dan Pemerintah. Kendatipun demikian pasal 122 Konstitusi RIS juga disebutkan bahwa DPR tidak dapat memaksa kabinet atau masing-masing menteri untuk meletakkan jabatannya.

Meteri-menteri diangkat dan diberhentikan oleh presiden.pasal-pasal yang bersifat federalis. namun mekanisme Check and Balances (saling mengadakan kontrol dan pertimbangan) berlangsung diantara ketiganya. dan judikatif merupakan lembaga yang terpisah. maka menunjukkan bahwa sistem presidensiil yang dianut. Pada beberapa ketentuan. (d). (b). Menteri-menteri bertanggung jawab atas seluruh kebijaksanaan pemerintah. (b). Sedangkan Presiden sendiri bertanggung jawab kepada rakyat yang telah memilihnya. Legislatif. 3.. tetapi bukan bukan yang murni. baik bersama-sama untuk seluruhnya maupun masing-masing untuk bagiannya sendiri-sendiri. dan pimpinan MPR. Sistem Pemerintahan Indonesia Menurut UUD 1945 Sebelum Amandemen Didalam sistematika UUD 1945. Guna mengetahui sistem pemerintahan yang dianut oleh UUD 1945. eksekutif. dan dapat diberhentikan jika melanggar UUD 1945 dan GarisGaris Besar Haluan Negara (GBHN). Bahkan kecenderungan kearah sistem parlementer demikian kental.Presiden tidak dapat diganggu gugat. Karakteristik sistem presidensiil di Amerika Serikat adalah sebagai berikut: (a). apakah betul menganut Presidensiil yang tidak murni (quasi Presidensiil). Konstruksi semacam ini memperlihatkan kecenderungan kearah sistem presidensiil. Dalam Penjelasan UUD 1945 disebutkan bahwa DPR tidak bisa dibubarkan oleh presiden. sistem Pemerintahan Negara tidak secara implisit tertuang didalamnya. Khususnya yang menganut sistem pemerintahan Presidensiil yang murni seperti di Amerika Serikat. Didala pasal 83 UUDS 1950 dinyatakan : (a). Presiden dan Wk. Kekuasaan eksekutif berada ditangan Presiden. yakni hak Presiden untuk tidak menyetujui suatu RUU yang diajukan leh Congres. Dalam bidang legislatif. Mahkamah Agung. Apabila ada perbedaan pendapat antara Presiden dengan Congres (utamanya senate). Hal ini agak berbeda dengan kedua Konstitusi RIS dan UUDS 1950. maka perlu memperbandingkan dengan sistem pemerintahan negara lain. Presiden adalah kepala eksekutif dan tidak boleh merangkap menjadi anggota DPR. secara eksplisit mengindikasikan adanya bentuk campuran antara sistem Presidensiil dan parlementer. wewenang pembuat UU adalah Congres (yang terdiri dari dua kamar : House of Representative dan senat. Akan tetapi karena presiden RI tidak dipilih oleh rakyat secara langsung melainkan oleh MPR. Akan tetapi dalam hal-hal tertentu Presiden AS mempunyai hak veto. (c). presiden sebagai kepala eksekutif tidak dapat dijatuhkan oleh Congres. dan dalam pelaksanaannya dibantu oleh para menteri yang bertanggung jawab kepada presiden. Presiden tidak dapat diganggu-gugat sebelum masa 49 .

Sistem Pemerintahan Indonesia Menurut UUD 1945 Setelah Amandemen Amandemen pertama terhadap UUD 1945 berlangsung pada Sidang Umum MPR Tahun 1999. Presiden memegang kekuasaan membentuk UU dengan persetujuan DPR. mengenai pemilihan Presiden dan Wakil Presiden yang dipilih dan diangkat oleh MPR dengan suara terbanyak (pasal 6 ayat 2). tidak sesuai dengan proses pemilihan Presiden langsung seperti AS. Pasal 17 ayat 1 dan 2 . Berdasarkan karakteristik sistem presidensiil di AS tersebut di atas. Pasal 7 .jabatannya habis. Pasal 4 ayat 1 . Presiden dan wakil presiden memegang jabatan selama lima tahun dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama. maka dapat menarik garis persamaan dengan yang ada di Indonesia. (d). hasil dimaksud sebagai berikut : (a) Pasal 5 ayat 1. Anggota-anggota DPR berhak memajukan Rancangan UU. melainkan oleh Hakim Agung yang dipanggil ke DPRuntuk melakukan pemeriksaan terhadap Presiden. Akan tetapi. mirip dengan ciri sistem pemerintah parlementer. Presiden berhak mengajukan Rncangan Undang-Undang. Akan tetapi jika ada kejadian luar biasa. Mekanisme impeachmenti tidak dilakukan sendiri oleh anggota DPR. yang diangkat dan diberhentikan oleh presiden. Presiden memegang kekuasaan pemerintahan (b). (b). (c). Badan-badan peradilan bebas dari pengaruh kekuasaan apapun. misalnya presiden melakukan perbuatan melanggar hukum. Juga dalam Penjelasan Umum UUD 1945 yang menegaskan bahwa Presiden dalam melaksanakan pemerintahan bertanggung jawab kepada MPR. Presiden dibantu oleh menteri-menteri. tapi tidak disahkan Presiden. dan (e). 4. Pasal 5 ayat 1 . maka badan Perwakilan dapat menuntut presiden melalui Impeachment (pengadilan oleh DPR). 50 . Pasal 21 ayat 1 . Pasal ini dukunya berbunyi ´Presiden memegang kekuasaan membentuk Undang-Undang dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat´. sebagaimana dikonstruksikan di dalam UUD 1945 (sebelum amandemen) sebagai berikut : (a). Hakim peradilan ada yang dipilih oleh rakyat dan ada pula yang diangkat untuk seumur hidup atau selama tenaganya masih mampu menjalankan tugas dan wewenang nya. maka tidak boleh dimajukan dalam persidangan masa itu. Ketentuan pasal-pasal diatas menunjukkan bahwa sistem pemerintahan Indonesia dengan yang dianut di AS. dan (e) Pasal 21 ayat 2 : Jika Rancangan UU meskipun disetujui DPR. hasil amandemen pertama ini sangat terkait dengan penegasan sistem pemerintahan.

Kendati pasal-pasal UUD 1945 yang sudah di amandemen tersebut memberikan indikasi pelaksanaan sistem presidensiil. (c). Pasangan calon presiden dan wakil presiden diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilihan umum sebelum pelaksanaan pemilihan umum. Pada tahun 1999 memang amandemen sudah dilakukan untuk pertama kali. Sebeleum berubah. Presiden tidak bertanggung jawab kepada MPR. yang isinya antara lain bahwa calon Presiden diajukan oleh Fraksi MPR. Pasal 17 ayat 2. pasal 3 ayat (3) Amandemen UUD 1945 menegaskan 51 . Karena itu pemilihan Presiden masih mengacu pada pasal yang belum di amandem. ditegaskan bahwa psresiden dan wakil presiden akan dipilih secara langsung oleh rakyat. (4). maka dua pasangan calon yang memperoleh suara terbanyak pertama dan kedua dalam pemilihan umum dipilih oleh rakyat secara langsung dan pasangan yang memperoleh suara terbanyak dilantik sebagai pasangan Presiden dan wkil presiden. pasal tersebut menjadi dasar konstitusional bagi Presiden Soeharto untuk dipilih berulang kali. dan pemilihannya dilakukan oleh anggota MPR. Dilantik menjadi presiden dan wakil presiden. Berkaitan dengan hal ini.Tata cara pelaksanaan peilihan Presiden dan wakil presiden lebih lanjut diatur dengan Undang-Undang. Melainkan bertanggung jawab secara langsung kepada rakyat. Hal nampak jelas tertuang di dalam Ketetapan MPR No. (5). sehingga masa jabatannya mencapai 32 tahun. Pasangan calon presiden dan wakil presiden yang mendapat suara lebih dari lima puluh persen dari jumlah suara pemilihan umum dengan sedikitnya dua puluh persen suara disetiap provinsi yang tersebar di lebih dari setengah jumllah provinsi di Indonesia. Pasal ini merupakan bentuk perubahan signifikan dari ketentuan sbelum amandemen yang menegaskan : ´Pesiden dan wakil presiden memegang jabatannya selama masa lima tahun. antara lain menegaskan (1). Menteri-menteri diangkat dan diberhentikan oleh presiden. (2).VI/MPR/1999 tentang Tata Cara Pencalonan dan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Pasal 20 ayat 1: Dewan Perwakilan Rakyat memegang kekuasaan membentuk Undang-Undang. (3). namun belum sampai pada ketentuan pemilihan Presiden.hanya untuk satu kali masa jabatan. dan sesudahnya dapat dipilih kembali´. Dalam hal tidak ada pasangan calon presiden dan wakil presiden tepilih. namun dalam prakteknya masih tetap belum dilaksanakan secara murni. Baru setelah amandemen keempat ditetapkan pada sidang tahunan MPR tahun 2002. maka presiden dan wakil presiden tidak lagi bertanggung jawab kepada MPR. serta (d). Perisiden dan wakil presiden dipilih dalam satu pasangan secara langsung oleh rakyat. Hasil amandemen terkait dengan pemilihan Presiden dimuat dalam Pasal 6A. Berdasarkan ketentuan tersebut.

Usul pemberhentian Presiden dan atau Wakil Presiden dapat diajukan oleh DPR kepada MPR hanya dengan terlebih dahulu mengajukan permintaan kepada MK untuk memeriksa. telah melakukan pelanggaran hukum atau telah tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan atau Wakil Presiden adalah dalam rangka pelaksanaan fungsi pengawasan DPR. Atau perbuatan tercela. MK wajib memeriksa. dan atau terbukti bahwa Presiden dan atau Wakil Presiden tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan atau Wakil Presiden.´Majelis Permusyawaratan Rakyat hanya dapat memberhentikan presiden dan atau wakil presiden dalam masa jabatannya menurut Undang-Undang´. DPR menyelenggarakan sidang paripurna untuk meneruskan usul pemberhentian Presiden dan atau Wakil Presiden kepala MPR. korupsi. mengadili dan memutus pendapat DPR bahwa Presiden dan atau Wakil Presiden telah melakukan pelanggaranhukum yang berupa pengkhianatan terhadap negara. tindak pidana berat lainnya. (7). Apabila MK memutuskan bahwa Presiden dan atau Wakil Presiden terbukti melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara. (6). Pengajuan permintaan DPR kepada MK hanya dapat dilakukan dengan dukungan sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota DPR yang hadir dalam sidang paripurna yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota DPR. penyuapan. korupsi. pasal 7B UUD 1945 secara lengkap menyatakan : (1). korupsi. atau perbuatan tercela maupun apabila terbukti tidak lagi memenuhi syarat sebagai presiden dan atau Wakil presiden. Menurut pasal 7A UUD 1945. tindak pidana lainnya. MPR wajib menyelenggarakan sidang untuk memutuskan usul DPR menerima usul tersebut. mengadili dan memutus pendapat DPR tentang adanya indikasi perbuatan melanggar hukum yang dilakukan oleh Presiden dan atau Wakil Presiden. pemberhentian Presiden dan atau wakil presiden atas usul Dewan Perwakilan Rakyat apabila terbukti melakukan pelanggaran hukum yang berupa pengkhianatan terhadap negara. atau pebuatan tercela. (4). dan atau pendapat bahwa Presiden dan atau Wakil Presiden tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan atau Wakil presiden. maka Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) terlebih dahulu mengajukan permintaan kepada Mahkamah Konstitusi (MK) untuk memeriksa. Pendapat DPR bahwa Presiden dan atau Wakil Presiden. Untuk mengusulkan pemberhentian Presiden dan atau Wakil Presiden.dan memutus dengan seadil-adilnya terhadap pendapat DPR tersebut paling lambat sembilan puluh hari setelah permintaan DPR itu diterima oleh MK. Keputusan MPR atas usul pemberhentian Presiden dan atau Wakil Pesiden 52 . mengadili. (5). Mengenai hal ini. penyuapan. (3). (2). penyuapan.tindak pidana berat lainnya.

Berdasarkan mekanisme pertanggung jawaban tersbut diatas. Di pandang politik. yakni Mahkamah Konstitusi (MK) yang mempunyai wewenang untuk melakukan impeachment kepada Presiden dan atau Wakil Presiden. Presiden dan atau Wakil Presiden serta parlemen yang terdiri dari dua kamar (DPR dan DPD) dipilih langsungoleh rakyat melalui Pemilihan Umum. Sedangkan untuk pertanggung jawaban politis merupakan konsekuensi logis. Sistem pemerintahan negara mempergunakan Sistem Presidensiil murni. Penerbit UAJ Yogyakarta. 2003. jikalau ditengarai telah melakukan pelanggaran hukum berat. maka setelah UUD 1945 diamandemenkan. jikalau Presiden dan atau Wakil Presiden telah melaksanakan pertanggung jawaban hukum tersebut. 53 . e. Hal ini berarti telah mengubah paradigma yang selama ini mewarnai sistem pertanggung jawaban Presiden dan atau Wakil Presiden kepada MPR. terdapat perubahan sistem pemerintahan Negara Republik Indonesia yang cukup fundamental. Kewarganegaraan. kedudukan Presiden dan atau Wakil Presiden serta parlemen sama-sama kuat. c. setelah Presiden dan atau Wakil Presiden diberi kesempatan menyampaikan penjelasan dalam rapat paripurna MPR. Dalam paradigma lama. d. b. Catatan Bab ini banyak diambil dari Bab III buku Hestu Cipto Handoyo. Dikenal adanya lembaga peradilan konstitusi. dan Hak Asasasi Manusia. pertanggung jawaban Pesiden dam atau Wakil Presiden lebih menekankan pada pertanggung jawaban politis. Hukum Tatanegara. Artinya antara kedua lembaga ini tidak bisa saling menjatuhkan. Hal ini berarti Presiden dan atau Wakil Presiden hanya dapat dijatuhkan. Pertanggung jawaban yang dibebankan kepada Presiden dan atau Wakil Presiden kepada parlemen harus diawali dengan adanya pertanggung jawaban hukum (yuridis).harus diambil dalam rapat paripurna MPR yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya ¾ dari jumlah anggota dan disetujui oleh sekurang-kurangnya ¾ dari jumlah anggota yang hadir. jikalau melakukan perbuatan yang berkaitan dengan hal-hal yang bersifat yuridis. Perubahan tersebut dapat diilustrasikan sebagai berikut: a.

BAB V OTONOMI DAERAH Kompetensi Dasar 1. Merumuskan pengertian dan hakikat otonomi daerah dan desentralisasi. 2. Mendeskripsikan pentingnya otonomi dan desentralisasi 3. Mendeskripsikan argumentasi memilih otonomi dan desentralisasi. 4. Mendeskripsikan perkembangan otonomi dan desentralisasi di Indonesia. 5. Membandingkan kebijakan otonomi dan desentralisasi dalam UU. No. 22 Tahun 1999 dengan UU. No. 32 Tahun 2004. 6. Merumuskan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan di daerah. A. Pengertian dan Hakikat Otonomi Daerah Istilah otonomi daerah dan desentralisasi dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan sering digunakan bergantian. Kekdua istilah tersebut secara akademik bisa dibedakan, namun secara praktis dalam penyelenggaraan pemerintahan tidak dapat dipisahkan. Karena itu tidak mungkin masalah otonomi daerah dibahas tanpa mempersandingkannya dengan konsep desentralisasi. Bahkan menurut banyak kalangan otonomi daerah adalah desentralisasi itu sendiri. Karenanya pembahasan otonomi daerah biasanya diulas dengan memakai istilah desentralisasi. Kedua istilah tersebut bagaikan dua sisi mata uang yang saling menyatu namun dapat dibedakan. Desentralisasi pada dasarnya mempersoalkan pembagian kewenangan kepada organorgan penyelenggara negara, sedangkan otonomi menyangkut hak yang mengikuti pembagian wewenang tersebut. Konsep desentralisasi sering dibahas dalam konteks pembahasan mengenai sistem penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. Pada masa sekarang, hampir setiap negara menganut desentralisasi sebagai asas dalam sistem penyelenggaraan

pemerintahan negara. Desentralisasi bukan merupakan sistem yang berdiri sendiri melainkani merupakan rangkaian kesatuan dari suatu sistem yang lebih besar. Suatu negara menganut desentralisasi bukan karena alternatif dari sentralisasi. Antara Desentralisasi dan sentralisasi tidak dilawankan, dan karenanya tidak bersifat dikotomis, melainkan merupakan sub-sub sistem dalam kerangka sistem organisasi negeranya. Karenanya, suatu negara merupakan payung desentralisasi dan sesntralisasi. Otonomi dalam maka sederhana dapat diartikan sebagai ³mandiri´. Sedangkan dalam makna yang lebih luas diartikan sebagai ³berdaya´. Otonnomi daerah dengan demikian berarti kemandirian suatu daerah dalam kaitan perbuatan dan pengambilan 54

keputusan mengenai kepentingan daerahnya sendiri. Jika daerah sudah mampu mencapai kondisi tersebut, maka daerah dapat dikatakan sudah berdaya melakukan apa saja secara mandiri tanpa tekanan dari luar.. Desentralisasi sebagaimana didefinisikan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) adalah penyerahan kewenangan dari pusat kepada daerah. Proses itu melalui dua cara yaitu, delegsi kepada pejabat-pejabat didaerah atau dengan devolusi kepada badanbadan otonomi daerah. Akan tetapi, tidak dijelaskan isi dan keluasaan kewenangan serta konsekuensi penyerahan kewenangan itu bagi badan-badan otonomi daerah. Desentralisasi diartiakn pula sebagai transfer kewenangan untuk untuk

menyelenggarakan beberapa pelayanan kepada publik dari seseorang atau agen pemerintah pusat kepada beberapa individu atau agen lain yang lebih dekat kepada publik yang dilayani. Landasan yang mendasari tranfer ini adalah teritorial dan fungsional. Teritorial maksudnya adalah menempatkan kewenangan kepada level pemerintahan yang lebih rendah dalam wilayah geografis tertentu, sedang fungsional artinya transfer kewenangan kepada agen yang secara fungsional terspensialisasi. Transfer kewenangan secara fungsional ini memiliki tiga tipe : pertama; apabila pendelegasian kewenangan itu di dalam struktur politik formal misalnya, dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah.; kedua; jika transfer itu terjadi didalam struktur administrasi publik, misalnya dari kantor pusat sebuah kementerian kepada kantor kementerian yang ada di daerah; ketiga, jika tranfer tersebut dari institusi negara kepada agen non negara, misalnya penjualan aset pelayanan publik seperti telepon atau penerbangan kepada sebuah perusahaan (M.Turner dan D. Hulme dalam Teguh Yuwono, 2001: 27) Rondinelli mendefinisikan desentralisasi sebagai transfer tanggung jawab dalam perancangan, manajemen dan alokasi sumber-sumber dari pemerintah pusat dan agenagennya kepada unit kementerian pemerintah pusat, unit yang ada dibawah level pemerintah, otoritas atau korporasi publik semi otonomi, otoritas regional atau fungsional dalam wilayah yang luas, atau lembaga privat non pemerintah dan organisasi nirlaba (Teguh Yuwono, 2001: 28). Jadi desentralisasi adalah pelimpahan kewenangan dan tanggung jawab dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. B. Arti Penting Otonomi Daerah dan Desentralisasi

55

Krisis Ekonomi dan politik yang melanda Indonesia sejak tahun 1997 telah memporak-porandakan hampir seluruh sendi-sendi ekonomi dan politik negeri ini yang telah dibangun cukup lama. Lebih jauh lagi, krisis ekonomi dan politik yang berlanjut menjadi multikrisis telah mengakibatkan semakin rendahnya tingkat kemampuan dan kapasitas negara dalam menjamin kesinambungan pembangunan. Krisis tersebut salah satunya diakibatkan oleh sistem manajemen negara dan pemerintahan yang sentralistik, yaitu kewenangan dan pengelolaan segala sektor pembangunan berada dalam kewenangan pemerintah pusat, sementara daerah tidak memiliki kewenangan untuk mengelola dan mengatur daerahnya. Sebagai respon dari krisis tersebut, pada masa reformasi dicanangkan kebijakan restrukturisasi sistem pemerintahan yang cukup penting, yaitu melaksanakan otonomi daerah dan pengaturan perimbanagan keuangan antara pusat dan daerah. Paradigma lama dalam manajemen negara dan pemerintahan yang berporos pada sentralisme kekuasaan diganti menjadi kebijakan otonomi yang berpusat pada desentralisasi. Kebijakan otonomi daerah terkait pula dengan upaya politik pemerintah pusat untuk merespon tuntutan kemerdekaan atau negara federal dari beberapa wilayahyang

memiliki aset sumber daya alam melimpah namun tidak mendapatkan haknya secara proposional pada masa pemerintahan Orde Baru. Desentralisasi dianggap dapat menjawab tuntutan pemerataan pembangunan sosial ekonomi, penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan kehidupan berpolitik yang efektif. Sebab Desentralisasi menjamin penanganan tuntutan masyarakat secara variatif dan cepat. Ada beberapa alasan mengapa kebutuhan terhadap desentrslisasi di Indonesia saat ini dirasakan sangat mendesak. Pertama, kehidupan berbangsa dan bernegara selama ini sangat terpusat di Jakarta, sementara itu pembangunan dibeberapa wilayah lain dilalaikan. Kedua, pembagian kekayaan secara tidak adil dan merata, daerah-daerah yang memiliki sumber kekayaan alam melimpah, seperti Aceh, Riau, Papua, Kalimantan, dan Sulawesi ternyata tidak menerima perolehan dana yang patut dari pemerintah pusat. Ketiga, kesenjangan sosial antar daerah sangat terasa.

Pembangunan fisik disatu daerah berkembang pesat, sedangkan dibanyak daerah masih lamban dan bahkan terbengkalai. Sementara itu ada alasan lain yang didasarkan pada kondisi ideal, sekaligus memberikan landasan filosofis bagi penyelenggaraan pemerintahan daerah

(desentralisasi) sebagaimana dinyatakan oleh The Liang Gie sebagai berikut : (1). 56

(3). baik dalam 57 . pengurusannya diserahkan kepada daerah. alasan mengadakan pemerintahan daerah (desentralisasi) adalah semata-mata untuk mencapai suatu pemerintahan uang efisien. kegiatan ekonomi.Dilihat dari sudut politik sebagai permainan kekuasaan. Untuk Terciptanya Efesiensi-Efektivitas Penyelenggaraan Pemerintahan Pemerintah berfungsi mengelola berbagai dimensi kehidupan seperti. dan pemerintahan negara menjadi tidak efisien dan tidak akan mampu menjalankan tugasnya dengan baik. serta mempertahankan diri dari kemungkinan serangan dari negara lain. tidaklah mungkin hal itu dapat dilakukan dengan cara yang sentralistik. ekonomi. Juga fungsi ekstraktif dalam memobilisasi sumber daya keuangan untuk membiayai aktifitas penyelenggaraan negara.(4). Dari sudut kepentingan pembangunan ekonomi. Daris sudut teknik organisatoris pemerintahan. integrasi sosial. keamanan dalam negeri. (5). Sebagai Sarana Pendidikan Politik Pemerintahan daerah dapat dipandang sebagai kancah pelatihan dan negara. menjaga keutuhan negara dan bangsa. kesejahteraan masyarakat. Selain itu memberikan pelayanan dan perlindungan kepada masyarakat. Argumentasi yang digunakan dalam memilih desentralisasi dan otonomi dalam penyelenggaran pemerintahan diantaranya adalah sebagai berikut: 1. Dari sudut kultur. merupakan tugas pemerintahan yang bersifat universal. seperti geografi. (2). langsung 2. penyelenggaraan desentralisasi dianggap sebagai tindakan pendemokrasian. desentralisasi diperlukan karena pemerintah daerah dapat lebih banyak dan secara membantu pembangunan tersebut. pertahanan. desentralisasi perlu diadakan supaya adanya perhatian dapat sepnuhnya ditumpukan kepada kekhususan sesuatu daerah. Selain itu pemerintah juga mempunyai fungsi distributif dan fungsi regulatif untuk penyediaan barang dan jasa. Apa yang dianggap lebih utama untuk diurus oleh pemerintah setempat. untuk menarik rakyat ikut serta dalam pemerintahan dan melatih diri dalam mempergunakan hak-hak demokratis. Pemerintahan daerah akan pengembangan demokrasi dalam sebuah menyediakan kesempatan bagi warga masyarakat untuk berprestasi politik. keadaan penduduk. keuangan. Dalam bidang politik. bidang sosial. politik. desentralisasi dimaksudkan untuk mencegah penumpukan kekuasaan pada satu pihak saja yang pada akhirnya dapat menimbulkan tirani. dan lain-lainnya. watak kebudayaan atau latar belakang sejarahnya. Oleh karena itu.

Pemerintahan Daerah Sebagai Persiapan Untuk Karir Politik Lanjutan Pemerintah daerah merupakan langkah persiapan untuk meniti karier lanjutan. Karena sesuatu yang mustahil bagi seseorang dapat muncul dengan begitu saja menjadi politisi berkaliber nasional ataupun internasional. gerakan ini muncul karena daerah melihat kenyataan kekuasaan pemerintah Jakarta yang sangat dominan. Kesetaraan Politik (Political Equalilty) Dibentuknya pemerintahan daerah akan mewudkan kesetaraan politik diantara berbagai komponen masyarakat. 4. dapat terlibat dalam mempengaruhi pemerintah ketika membuat kebijakan. Terjadinya pergolakan daerah pada tahun 19571958 dengan puncaknya adalah kehadiran PRRI dan PERMESTA. Mereka yang tidak mempunyai peluang untuk terlibat dalam politik nasional dan dipilih menjadi pemimpin nasional. 3. 58 . termasuk didaerah. untuk berpartisipasi dalam segala bentuk kegiatan penyelenggaraan negara. merupakan wahana yang banyak dimanfaatkan guna menapak karier politik yang lebih tinggi. Bupati. Akuntabilitas Politik Demokrasi memberikan ruang dan peluang kepada masyarakat. Keberadaan institusi lokal. Wali Kota. Disamping itu warga masyarakat. terutama pemerintahan daerah (eksekutif dan legislatif lokal). 5. Stabilitas Politik Stabilitas politik nasional berawal dari stabilitas politik pada tingkat lokal. baik dalam pemilihan umum lokal ataupun dalam rangka pembuatan kebijakan publik. 6. lewat kelompok atau perrangan. akan mempunyai peluang untuk ikut serta dalam politik lokal. Dengan demikian kebijakan yang dibuat akan dapat diawasi secara langsung dan dapat dipertanggung jawabkan karena masyarakat terlibat secara langsung dalam penyelenggaraan pemerintahan. Dengan demikian pendidikan politik pada tingkat lokal sangat bermanfaat bagi warga masyarakat untuk menentukan pilihan politiknya. Masyarakat di daerah akan mempunyai kesempatan untuk terlibat dalam politik. terutama karier dibidang politik dan pemerintahan ditingkat nasional. Gejolak disintegrasi yang terjadi dibeberapa daerah merupakan contoh konkrit keterkaitan ketidakstabilan politik yang muncul karena pemerintah nasional tidak menjalankan otonomi dengan tepat. dan bahkan Gubernur. Keterlibatan ini sangat dimungkinkan sejak dari awal tahap pengambilan keputusan sampai dengan evaluasi. apakah melalui pemberian suara pada waktu pemilihan Kepala Desa. terutama yang menyangkut kepentingan mereka.rangka memilih atau kemungkinan untuk dipilih dalam suatu jabatan politik.

C. UU ini secara garis besar mengandung tiga prinsip dasar desentralisasi. pemerintah mengeluarkan UU baru tentang pemerintahan daerah. Menginginkan agar melaksanakan politik desntralisasi dan memberikan hak-hak otonomi kepada daerah-daerah. Di daerah-daerah (daerah besar dan kecil). Prinsip-prinsip pokok yang diatur dalam dalam Penpres No. 1 Tahun 1957 tentang Pokok-Pokok Pemerintah Daerah. pemerintah lebih dulu mengatur mengenai keberadaan pemerintah daerah. yaitu pemerintah daerah yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya atau daerah otonomi.1 Tahun 1945 yang mengatur pemerintah daerah. (3). UU ini memberikan hak otonomi dan tugas pembantuan (medebewind) yang seluas-luasnya kepada badan-badan pemerintah daerah. Perkembangan Desentralisasi dan Otonomi Daerah di Indonesia. (2). Jadi sebelum mengatur yang lain. disamping tetanp menjalankan politik dekonsentrasi. diletakkan pada satu tangan. untuk pertama kali pemerintah mengeluarkan UU No. Menyadari akan kekurangan yang terdapat dalam UU No. 6 Tahun 1959 adalah sebagai berikut: (1). 22 tahun 1948 tentang Pemerintahan Daerah. Ketika konstelasi politik berubah. yaitu UU No. 6 Tahun 1959 dan kemudian disempurnakan melalui Penpres No. yang tersusun secara demokratis. Saat Indonesia kembali menjadi negara kesatuan dan berdasarkan UUDS 1950. Penyelenggaraan tugas di bidang pemerintahan umum pusat di daaerah dan tugas dibidang ekonomi daerah. yaitu : (1). (2). 1 Tahun 1945. 5 Tahun 1960. yaitu kepala daerah. Ketika itu pemerintah mengambil tindakan drastis dengan mengubah UU No. dengan menganut sistem otonomi riil.1 Tahun 1957 dan menggantinya dengan Penpres No. Kepada daerah diberikan hak otonom yang seluas-luasnya untuk mengatur dan mengurus rumah tangga daerahnya. Guna menindaklanjuti ketentuan Pasal 18 tersebut. Kedudukan kepala daerah tidak lagi hanya sebagai alat daerah. hanya ada satu bentuk susunan pemerintahan. 18 dengan jelas mengatur penyelenggaraan pemerintahan daerah dengan tetap menghormati keberagaman yang dimiliki daerah. otonomi daerah mengalami kemunduran. saat terjadi pergeseran dari Demokrasi Parlementer ke Demokrasi Terpimpin melalui Dekrit Presiden 5 juli 1959 dengan kembali ke UUD 1945. pemerintah bersama BP-KNIP berupaya melahirkan UU Otonomi Daerah yang benarbenar didasarkan atas kedaulatan rakyat. Daerah-daerah dibentuk menurut susunan derajat dari atas bawah sebanyak tiga tingka. Dalam rangka itu kemudian lahirlah UU No. Kenyataan ini mendasari para pendiri bangsa ketika menyusun UUD 1945. Negara Indonesia memiliki penduduk yang heterogen dan tersebar di berbagai daerah dengan karakteristik sendiri-sendiri. tetapi 59 .

yaitu dari desentralisasi menjadi dekonsentrasi. kebijakan otonomi daerah juga mengalami perubahan. Namun sayang UU ini tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan. persatuan dan 60 . Dalam praktik. Kepala daerah mempunyai kekuasaan untuk menangguhkan keputusan DPRD yang bersangkutan dan keputusan pemerintah daerah bawahannya. Cita-cita untuk mewujudkan politik desentralisasi menjadi terhambat. namun dalam operasional prinsip tersebut menimulkan perubahan. 19 Tahun 1965 tentang desa praja sebagai bentuk peralihan untuk mempercapat terwujudnya Daerah Tingkat III di seluruh tahah air. kebijakan yang dilakukan lebih mencerminkan pelimpahan wewenang ketimbang penyerahan wewenang. Dalam penjelasannya disebutkan bahwa pemerintah akan terus dan konsekuen menjalankan politik desentralisasi untuk menuju kearah tercapainya desentralisasi territorial. tidak lagi bertanggung jawab kepada DPRD melainkan kepada Presiden. Pertama. dibentuk pula UU No. ketertiban. Penambahan melalui Penpres No. Kenyataan lain adalah terbatasnya wewenang daerah dalam bidang keuangan. Hal ini berdampak daerah tidak memiliki ruang gerak dalam penetapan kebijakan. ketenangan. UU ini merangkum pokok-pokok pikiran cita-cita desentralisasi dari perundang-undangan sebelumnya. juga bidang kepegawaian yang terpusat. Dalam kedudukan itu.sekaligus juga sebagai wakil pemrintah pusat didaerah. 5 Tahun 1974 selain menerapakan asas desentralisasi. yaitu UU No. dan (6). Dalam menjalankan kekuasaan eksekutif. kebijakan desentralisasi pada masa Orde Baru dalam praktik cenderung ke bandul sentralisasi. 18 Tahun 1965. Ada beberapa hal yang dapat menjelaskan mengapa seperti itu. Pada Tahun 1965. Meski dalam UU tersebut menyebutkan bahwa pemerintah mencanangkan prinsip otonomi yang nyata dan bertanggung jawab. Sebab. Ketika pergantian rezim dari Demokrasi terpimpin ke Rezim Orde Baru. perencanaan dan pelaksanaan yang bertalian dengan urusan yang diembannya. 6 Tahun 1959. 5 Tahun 1960. Singkatnya. (4). ditegaskan bahwa kepala daerah karena jabatannya adalah Ketua DPRD dan bukan anggota. sejak awal pemerintah Orde Baru dalam menciptakan otonomi daerah adalah untuk menciptakan keamanan. yaitu meletakkan tanggung jawab territorial riil dan seluas-luasnya dalam tangan pemerintah daerah. melalui UU No. pemerintah mengeluarkan UU sebagai pengganti Penpres No. kepala daerah adalah pegawai negara. melainkan bersifat tunggal. (5). Bersamaan dengan itu. (3). kepala daerah tidak bersifat kolegial. pemerintah pusat masih memiliki wewenang dalam mengatur urusan-urusan yang dikelolanya didaerah lewat desentralisasi dan medebewind.

Ketiga. Dengan peraturan itu.22 Tahun 1999 Era reformasi menjadi titik tolak perubahan kebijakan desentralisasi lebih nyata. juga karena pemerintah pusat ingin mengatasi masalah disintegrasi yang melanda Indonesia. yaitu rekrutmen pejabat politik di daerah dan proses legislasi di derah. Pengaturan mengenai keuangan daerah ini karena adanya tuntutan keterbukaan politik (demokratisasi). Mendekatkan pemerintah dengan rakyat. di Era Reformasi malalui UU No. Crinya yang menonjol dari UU yang baru ini. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. 1. (4). moneter. Jika sebelumnya begitu terkekang. daerah memiliki kebebasandan berprakarsa untuk mengatur daerahnya sendiri. Dengan sistem ini pemerintah daerah berwenang melakukan apa saja yang menyangkut penyelenggaraan pemerintahan kecuali dibidang politik luar negeri. Ciri ini menyangkut dua hal. Demokrasi dan Demokratisasi.stabilitas. Kedua. Ini dilakukan dalam rangka lebih mendekatkan pelayanan kepada masyarakat. Tidak menggunakan sistem Otonomi bertingkat. militer sebagai stabilator. tidak memiliki kewenangan dalam melakukan pembangunan daerah. daerah harus dibiayai dari dana Anggaran 61 . atau kota. diharapkan tuntutan daerah untuk melepaskan diri tidak akan terjadi. 22 tahun 1999. Kebijakan Otonomi Daerah Menurut UU No. (3). sehingga distribusi dan penggunaannya memenuhi kriteria keadilan dan efesiensi. Semakin lengkap pengaturan daerah dengan lahirnya UU No. (5). Sistem Otonomi Luas dan Nyata. Rekrutmen pejabat politik didaerah menyerahkan kewenangan sepenuhnya kepada masyarakat melalui DPRD dan tidak ada lagi campur tangan pemerintah pusat. dan fiskal. yaitu: (1). Sedang mengenai proses legislasi dan regulasi didaerah tidak lagi harus disahkan oleh pemerintah pusat. Reformasi memberi hikmah besar kepada daerah-daerah untuk menikmati otonomi yang sesungguhnya. (2). tidak mengenal daaerah tingkat I dan II juga tidak ada hirarki antara provinsi dengan kabupaten Penyelenggaraan tugas pemerintah dan Belanja Dan Pendapatan Negar (APBN). Namun terlepas dari alasan yang sesungguhnya dibalik lahirnya kedua UU tersebut. dan birokrasi sipil sebagai pelaku pelaksana. kebijakan otonomi daerah Era Reformasi ini sungguh mengalami kaemajuan yang luar biasa. Titik berat otonomi ada pada daerah kabupaten atau kota. pemerintah ingin selalu memusatkan sumber daya yang tetap langka untuk keperluan pembangunan. pemerintah Orde Baru menganut formula strategi pembangunan dengan menjadikan para ahli ekonomi berfungsi sebagai pembuat kebijakan.

mengandung kelemahan sehingga memunculkan dampak negatif dalam implementasi otonomi daerah. Dengan demikian. Keempat. Belum terjadi perubahan yang signifikan terhadap otonomi daerah. namun ada sejumlah kelemahan di dalamnya. 32 Tahun 2004 Meski UU No. 2. Pihak yang setuju menyatakan bahwa UU tersebut sangat demokratis bahkan bersifat liberal. antara lain. Kelima. akuntabilitas DPRD kepada publik. munculnya ³raja-raja kecil´ didaerah-daerah. terjadi friksi antara kepala daerah dengan DPRD dalam hal Laporan Pertanggung jawaban kepala Daerah. Kellima. 22 Tahun 1999 menimbulkan pro-kontra. Pertama. organisasi perangkat daerah menjadi gemuk dan besar. terjadi konflik dalam memperebutkan sumber daya antar daerah. sisi implementasi otonomi daerah juga memunculkan dampak negatif. Kedua. Ketiga. demokratis dan membuka ruang bagi partisipasi masyarakat. tidak adanya otoritas lembaga yang kuat untuk menyelesaikan konflik yang terjadi antar daerah. Kebijakan Otonomi Daerah Menurut UU No. ketKeenam. Terlepas dari pro-kontra tersebut. terjadi primordialisme dalam pengangkatan kepala daerah dan jajaran birokrasi. Kedua. Sebab masih banyak kewenangan yang diurus oleh pusat dan dana perimbangan belum mencerminkan rasa keadilan. Benyak kemajuan dalam UU ini dibandingkan dengan UU No. ekonomi biaya tinggi akibat dampak upaya menigkatan sumber PAD dengan meningkatkan tarif dan ekstensifikasi retribusi dan pajak daerah. Lembaga ini 62 . tidak adanya ruang partisipasi publik dalam mengontrol kebijakan publik.Belakangan UU No. penyediaan pelayanan dasar yang belum memadai. 22 Tahun 1999 sudah member ruang lebih baik dalam penyelenggaraan otonomi daerah. 5 Tahun 1974. Memberikan kewenangan kepada daerah seluas-luasnya untuk mengembangkan daerah atas prakarsa sendiri. kebijakan pemerintah dituntut lebih terbuka. Keempat. Desakan muncul di antaranya LIPI. Dari sisi kebijakan. kebijakan otonomi daerah hanya menguntungkan daerahdaerah kaya SDA. Pertama. Selain itu. aspek kelembagaan pemerintahan daerah yang menempatkan posisi DPRD selalu dominan. 22 Tahun 1999 telah memberi ruang desentralisasi (politik dan administrasi) yang lebih besar kepada daerah sehingga memungkinkan adanya ruang dan kesempatan yang lebih luas bagi partisipasi masyarakat dan pembangunan daerah. 22 Tahun 1999. Sementara pihak yang tidak setuju mengatakan bahwa UU tersebut masih bersifat setengah hati dan masih menerapkan paradigma lama. paling tidak UU No. Ketiga. Ketujuh. Akibat kelemahan-kelemahan tersebut muncullah desakan perlunya revisi terhadap UU No.

Pemerintah tampaknya melihat kelemahan mendasar pada UU No. 32 Tahun 2004 berhasil ditetapkan sebagai pengganti UU. yakni memerapkan kebijakan otonomi dengan melakukan resentralisasi. Terlepas dari perbedaan pandangan di atas. Ketujuh. dengan cara mengamandemen pasal-pasal yang dianggap lemah dan menambah pasal-pasal baru untuk memperkuat otonomi daerah. yaitu poitik luar negeri. Dalam penjelasannya dikemukakan bahwa otonomi seluas-luasnya berarti daerah diberikan kewenangan mengurus dan mengatur semua urusan pemerintahan. Keempat. peningkatan peran serta. Keenam. kepala daerah dipilih langsung. Daerah memiliki kewenangan membuat kebijakan daerah untuk memberi pelayanan. Otonomi yang bertanggung jawab adalah otonomi yang dalam penyelenggaraan nya harus benar-benar sejalan dengan tujuan dan maksud pemberian otonomi. berbeda dengan LIPI. Sedang prinsip otonomi yang nyata adalah suatu prinsip bahwa urusan pemerintahaan dilaksanakan berdasarkan tugas. perlunya institusi yang menangani kerja sama dan perselisihan antar daerah. pelembagaan partisipasi masyarakat. UU No. Kedua. 22 Tahun 1999.mengusulkan perlunya revisi. (2) melimpahkan sebagian kepada gubernur 63 . Ketiga. koordinasi keamanan daerah. Sedangkan usulan Pemerintah (Depdagri). hidup dan berkembang sesuai dengan potensi dan kekhasan daerah. prakarsa dan pemberdayaan masayarakat yang bertujuan pada peningkatan kesejahteraan rakyat. Diantara substansi kebijakan otonomi daerah yang perlu diperbaiki adalah: Pertama. pengawasan dan penyelesaian konfllik. keamanan.22 Tahun 1999. Dalam UU itu dinyatakan bahwa otonomi daerah menggunakan prinsip otonomi seluas-luasnya dan prinsip otonomi nyata dan bertanggung jawab. No. dipandang ³kebablasan´ bagi daerah-daerah. Kelima. pertahanan. dan agama. bukan melakukan perubahan secara mendasar. sehingga dianggap ³bebas dan tidak bisa dikendalikan oleh pusat´ maka perlu pengaturan kembali untuk ³mengendalikan´ daerah-daerah sesuai dengan keinginan pemerintah. perubahan perlu dilakukan secara mendasar. Pemerintah pusat dalam menyelenggarakan urusan tersebut dapat berbentuk. yakni pemberdayaan daerah dan meningkatkan kesejahteraan Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat tetap sebagaimanan UU sebelumnya. moneter yusitisi. akuntabilitas pemerintahan Daerah. perluasan pendapatan dan keuangan daerah. UU baru tersebut memuat materi materi tentang pemerintahan daerah atau otonomi daerah. (1) menyelenggarakan sendiri. dan kewajiban yang senyatannya telah ada dan berpotensi untuk tumbuh. wewenang.

dan pengawasan tata ruang. (9). dan menengah. Urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan. pemanfaatan. Urusan wajib pemerintahan yang diberikan kepada pemerintahan pemerintah daerah sebanyak 16 urusan. Jenis urusan pilihan tersebut baru disebutkan secara eksplisit ada pada penjelasan Pasal 13 ayat 2 dan apsal 14 ayat 2 UU No. adalah skala berdasarkan kriteria Urusan pemerintahan provinsi maupun urusan pemerintahan kabupaten/kota terdiri atas urusan-urusan berikut : (1). (7). (8). (6). dan (16). Sedangkan urusan yang menjadi kewenangan daerah terbagi atas urusan wajib dan urusan pilihan. 32 Tahun 2004 : ³Yang dimaksud dengan urusan pemerintahan yang secara nyata ada dalam ketentuan ini sesuai dengan kondisi. Penanggulangan masalah sosial. (14). dan pariwisata´.. Penanganan bidang kesehatan. Pelayanan administrasi umum pemerintahan. Perencanaan. Pelayanan administrasi penaman modal. kekhasan. (11). Urusan pemerintahan tersebut berlaku sama baik bagi pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten/kota. dan potensi yang dimiliki antara lain pertambangan. Penyelenggaraan pendidikan dan alokasi sumber daya manusia potensial. Pelayanan bidang ketenagakerjaan. (3). Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masayarakat. Kriteria yang menjadi acuan menetapkan urusan pilihan adalah ³secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi. Pelayanan pertahanan. kekhasan dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan´. (15). (12). (13). sedangkan yang membedakan eksternalitas. 64 . kehutanan. Fasilitas pembangunan koperasi. Pelayanan kependudukan dan catatan sipil. Urusan pilihan yang dapat dilaksanakan oleh pemerintah daerah tidak disebutkan secara ekplisit. (2). Urusan wajib adalah urusan pemerintahan yang berkaitan dengan pelayanan dasar. Perencanaan dan pengendalian pembangunan. (4). perkebunan.(dekonsentrasi). Pemerintah daerah (provinsi dan kabupaten /kota) selain menyelenggarakan urusan wajib juga dapat melaksanakan urusan pilihan. akuntabilitas dan efisiensi. (3) menugaskan sebagian urusan kepada pemerintahan daerah dan atau pemerintahan desa berdasarkan asas tugas pembantuan. (10). Penyelenggaraan pelayanan dasar. (5). perikanan. usaha kecil. Pengendalian lingkungan hidup. pertanian. sedang urusan pilihan adalah urusan pemerintahaan terkait dengan potensi unggulan dan kekhasan daerah. Penyediaan sarana dan prasarana umum.

Peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan negara untuk mewujudkan penyelenggaraan yang bersih dilaksanakan dalam bentuk: (1). (4). (3). D. serta hadir dalam proses penyelidikan dan sidang pengadilan sebagai saksi pelapor. dan tidak diskriminatif mengenai penyelenggaaraan negara. Kewenangan dalam mengelola SDA yang ada di laut ini. hak mencari. hak untuk memperoleh pelayanan yang sama dan adil dari penyelenggara Negara. maka pemerintah mengeluarkan PP Nomor 68 Tahun 1999 tentang nepotisme. kolusi. maka dalam Peraturan Pemerintah tersebut diatur hak dan tanggungjawab serta kewajiban masyarakat dan penyelenggara negara secara berimbang. dan memberikan informasi mengenai penyelenggaraan negara. hak memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan haknya. Peran Serta Masayarakat dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Dalam rangka menciptakan tata pemerintahan yang baik. hak menyampaikan saran dan pendapat secara bertanggungjawab kepada kebijakan penyelenggara negara.Dalam UU No. memperoleh. jujur. pemerinatah dapat membentuk kawasan khusus untuk kepentingan nasional. Dalam pembentukan kawasan khusus itu dapat berbentuk badan otorita. (2). saksi atau saksi ahli. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat memperoleh perlindungan hukum dalam menggunakan haknya untuk memperoleh perlindungan hukum dalam menggunakan haknya untuk memperleh dan menyampaikan informasi tentang penyelenggara negara. kewenangan provinsi hanya 12 mil dan Kabupaten/ Kota sepertiganya. good governance dan menciptakan pemerintahan yang bersih dan bebas dari korupsi. Sedangkan dalam hal laut disebutkan bahwa laut bukan merupakan wilayah daerah. dan sebagainya. dan nepotisme. Sesuai dengan prinsip keterbukaan dalam negara demokrasi yang mengharuskan penyelenggara negara membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar. Kebebasan menggunakan hak tersebut haruslah disertai dengan tanggung jawab untuk mengemukakan fakta dan kejadian yang sebenarnya dengan menaati dan menghormati aturan-aturan moral yang diakui umum serta hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 65 . daerah hanya diberi kewenangan untuk mengelola SDA yang ada di laut. BUMN. 32 Tahun 2004 disebutkan juga tentang kawasan khusus.

Penyelenggara negara yang menolak dapat dikategorikan sebagai penyelenggara negara yang tertutup. penyelenggara negara tidak boleh menolak permintaan masyarakat untuk memperoleh informasi tersebut. Ironisnya dalam era reformasi ini mekanisme partisipasi masyarakat dalam pemerintahan daerah juga masih lemah. dan menaati hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.. Masyarakat masih terbiasa dengan mobilisasi yang sering digunakan secara ekstensif pada masa Orde Baru dan Orde Lama. sehingga dapat diduga terjadi korupsi. karena masyarakat belum terbiasa dnegan partisipasi aktif dan sukarela. kolusi. menghormati hak-hak pribadi seseorang sesuai dengan norma-norma yang diakui umum. Masyarakat yang menyampaikan informasi kepada instansi terkait harus menyampaikannya secara bertanggung jawab dengan mengemukakan fakta yang diperoleh. 66 . Masyarakat tidak diperkenankan memberikan laporan yang bersifat fitmah dan provokasi. Namun untuk mewujudkan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan negara. Masyarakat juga dapat memberi informasi mengenai suatu penyelenggaraan negara kepada instansi terkait. Tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. wajib memberikan jawaban atau keterangan sesuai dengan tugas dan fungsinya dan tetap memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. UU Nomor 32 Tahun 2004 lebih memperkuat partisipasi publik ini dengan mengatur pemilihan kepala daerah secara langsung oleh masyarakat. Mewujudkan hal tersebut merupakan sesuatu yang penting. serta kedua desentralisasi kepada unit yang lebih rendah yakni desa sebagai bentuk dari decentralization within cities. Oleh karena itu. Setiap penyelenggara negara yang menerima permintaan masyarakat untuk memperoleh informasi tentang penyelenggaraan negara. Ada dua cara partisipasi yang diakui oleh UU Nomor 22 tahun 1999.Masyarakat yang bermaksud mencari dan memperoleh informasi tentang penyelenggaraan negara berhak menanyakan kepada lembaga atau instalasi terkait baik secara langsung maupun tidak langsung. pertama masuknya anggota masyarakat sebagai elected member dari DPRD dan kepala daerah. identitas pelapor dan fakta kejadian harus didukung oleh data yang dapat dipertanggungjawabkan. karena Indonesia merupakan negara yang berada dalam masa transisi menuju demokrasi. termasuk pada pemerintahan daerah tidak mudah. dan nepotisme dalam lembaga/ unit di bawah tanggungjawabnya. Hal ini tentu derajat partisipasinya lebih tinggi daripada pemilihan kepala daerah oleh anggota DPR.

apa yang harus dilakukan oleh DPRD dan kepala daerah beserta perangkatnya. Pada praktiknya. Sampai kini memang masih dibutuhkan lebih banyak kajian menyangkut bagaimana desa-desa adat. 22/1999. 22/1999 ini dianggap lebih demokratis dan partisipatif daripada yang diatur dalam UU No. terutama di luar Jawa mampu merevitalisasi kembali potensi lokalnya sesuai dengan peluang yang diberikan oleh UU No. anggota DPRD yang dimaksudkan untuk mewakili kepentingan warga yang memilihnya. UU 32 Tahun 2004 tidak banyak melakukan perubahan dari apa yang diatur oleh UU sebelumnya sehingga melanjutkan format baru pemerintahan desa dalam masa reformasi. dan menindaklanjuti (termasuk memfasilitasi tindak lanjut) aspirasi daerah dan masyarakat. wujud partisipasi warga melalui cara elected member ini disinyalir telah gagal dan tetap menempatkan warga pada posisi kurang dapat menyalurkan aspirasi dan tuntutan lokalnya dalam pemerintahan daerah. masyarakat hanya dapat berinteraksi dengan politisi di DPRD yang harus menampung (termasuk memerhatikan dan menyalurkan aspirasi. Mereka lebih berperan sebagai kepanjangan tangan partainya daripada konstituennya. ternyata karena sistem pemilu yang dipergunakan. yakni nilai-nilai demokrasi lokal yang hidup secara tradisional kini telah rusak karena uniformitas yang dipaksakan dalam kebijakan pemerintahan desa masa Orde Baru tersebut. Mekanisme kedua yakni desentralisasi pada tingkatan desa yang diatur dalam bentuk kebijakan mengenai pemerintahan desa dalam UU No. UU tersebut tidak memberikan ruang lain bagi mekanisme partisipasi masyarakat. dan sebagainya. Akibatnya. Selain kedua cara utama itu. Siapa yang boleh dan harus terlibat. apa konsekuensi keterlibatannya. menerima keluhan dan pengaduan masyarakat). bagaimana bentuk keterlibatannya. Tidak ada tempat bagi partisipasi dalam tahapan implementasi apalagi kontrol terhadap pemerintah daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Akan tetapi. Akan tetapi muncul masalah baru. apa hak dan kewenangan publik atas pejabat yang dipilihnya. apa sanksi atas kelalaian dalam pengabaian partisipasi publik. 5/1979. tidak ada penjelasan mengenai mekanisme yang bisa dijadikan pedoman dan jaminan bagi pengakuan dan terselenggaranya partisipasi publik.Khusus untuk yang pertama (elected member). Apa yang diungkapkan oleh Gubernur Sutiyoso dalam upaya menghadapi polemik perjudian pada tahun 2002 membuktikan bahwa cara berpikir pemerintah daerah yang hanya didasarkan pada kekuatan perangkat daerah daripada melibatkan masyarakat. Pemerintah daerah hanya berfungsi untuk menjalankan urusan 67 .

21/1999 dan UU 32/2004 membuktikan pengakuan yang masih rendah atas ragam jenis partisipasi yang diatur.. Daftar Pustaka Cipto Handoyo. baik itu DPRD maupun kepala daerah beserta perangkatnya. Rosyada. Dapat dikatakan bahwa tidak ada pengakuan yang nyata bahwa stakeholder utama dalam pemerintahan daerah adalah masyarakat. dan Hak Asasasi Manusia. Hak Asasi Manusia. Apa yang tertuang secara eksplisit dalam UU No. Dede. dan Masyarakat Madani.dan kewenangan kesatuan masyarakat hukum yang ada dalam wilayah tertentu (daerah otonom). Kewarganegaraan. Jakarta: Penerbit Prenada Media. Bentuk partisipasi yang dinyatakan secara eksplisit lebih sering ditafsirkan sebagai sekadar masukan bagi pengambilan keputusan dan keluhan untuk menyatakan kebutuhn. Meskipun demikian. Pendidikan Kewargaan. 2003. 2003. Tampaknya pengakuan lebih berat timbangannya pada pemerintah daerah. masih dibutuhkan kejelasan mekanisme dalam menyelenggarakan pemerntahan berbasis partisipasi masyarakat. 68 . Yogyakarta: Penerbit UAJ. Hukum Tatanegara. Hestu. dkk. Demokrasi.