P. 1
Perspektif Ontologi, Epistemologi Dan Aksiologi Dlm Pendidikn Islam

Perspektif Ontologi, Epistemologi Dan Aksiologi Dlm Pendidikn Islam

|Views: 1,622|Likes:
Published by Rohety Putri

More info:

Published by: Rohety Putri on Jan 13, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/26/2013

pdf

text

original

A.

Filsafat ilmu pendidikan Islam

Untuk memahami Sub bahasan Filsafat ilmu pendidikan Islam ini dapat didekati dari permasalahan pokok tentang apa itu filsafat, filsafat ilmu, dan pendidikan Islam. Telah diketahui bahwa filsafat merupakan disiplin dan sistem pemikiran tentang enam jenis persoalan berhubungan dengan ³(1) hal ada, (2) pengetahuan, (3)metode, (4) penyimpulan, (5) moralitas, dan (6) keindahan. Keenam jenis persoalan ini merupakan materi yang dipelajari, dan kemudian menjadi bagian utama studi filsafat yang terkenal sebagai metafisika, epistemologi, metodologi, logika, etika dan estetika´.[1] Sebagai suatu sistem pemikiran menurut M. Dimyathi maka kegiatan penalaran filosofis dapat dikatagorikan sebagai kegiatan analisis, pemahaman, diskripsi, penilaian, penafsiran, dan perekaan. Kegiatan penalaran tersebut bertujuan untuk mencapai kejelasan, kecerahan, keterangan, pembenaran, pengertian dan penyatupaduan. Secara keseluruhan filsafat mempelajari keenam jenis persoalan tersebut berdasarkan kegiatan penalaran reflektif dan hasil refleksinya terwujud dalam pengetahuan filsafati.[2] Pengetahuan filsafati merupakan induk dari Ilmu (science) dan pengetahuan (knowledge) yang mana keduanya merupakan potensi esensial pada manusia dihasilakan dari proses berpikir. Berpikir (na>tiq) adalah sebagai karakter khusus yang memisahkan manusia dari hewan dan makhluk lainya. Oleh karena itu keunggulan manusia dari spesies-spesies lainnya karena ilmu dan pengetahuannya. Dalam teologi Islam diyakini bahwa manusia dengan potensi na>tiq memiliki kemampuan filosofis dan ilmiah. Potensi inilah yang secara spesifik melahirkan daya Filsafat Ilmu. Filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalanpersoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia. Filsafat Ilmu merupakan suatu bidang pengetahuan campuran yang eksistensinya bergantung pada hubungan timbal balik dan saling mempengaruhi antara filsafat dan ilmu. Dengan demikian, Filsafat Ilmu merupakan satu-satunya medium resmi untuk memperbincangkan ilmu. Dalam kaitannya dengan ilmu, filsafat tidak lebih dari model pandang atau perspektif filosofis terhadap ilmu. Karena itu, tidak menawarkan materi-materi ilmiyah, tetapi sekedar tinjauan filsofis mengenai pengetahuan yang dicapai oleh suatu ilmu. Bidang Filsafat Ilmu meliputi epistimologi, aksiologi, dan ontologi. Dalam ranah pendidikan Islam, ketiga bidang filsafat ilmu ini perlu

(d) dunia religius.menerapkan metode kefilsafatan yang lazim dan terbuka. sebagai salah satu wujud ontologis manusia. Pada taraf human ini dengan tingkatan-tingakatan (1) keimanan. perkembangan dan tidak kebenarannya bersifat relatif. dan human. Dalam katagori ini. Sedangkan filsafat ilmu pendidikan Islam berarti penerapan metode filsafat ilmu meliputi ontologi. (b) pribadi. Jenis pertama menempatkan segala yang ada sebagai obyek. (c) keakuan.[4] Mengaitkan Islam dengan katagori keilmuan. biotis. psikis. Hanya obyek masing-masing yang membedakan antara berbagai cabang dan jenis filsafat. estetis dan epistemis. benar tidaknya suatu teori ilmu ditentukan oleh logis-tidaknya dan ada-tidaknya bukti empiris.dijadikan landasan filosofis.[5] mengenal kebenaran absolut. Demikian pula hubungan antara filsafat pendidikan dengan filsafat pendidikan Islam. Islam dapat dilihat sebagai kekuatan iman dan taqwa. dan filsafat pendidikan Islam. Lapisan pemikiran obyektif tersebut menurut Dimyati terwujud dalam dunia human. epistemologi dan aksiologi terhadap keilmuan pendidikan Islam.[3] Obyek filsafat tersebut -dalam filsafat pendidikan Islam sebagaimana filsafat pada umumnya. sesuatu yang sudah final. menurut Mastuhu umumnya berhadapan dengan pengertian Islam sebagai sesuatu yang final. Adapun filsafat pendidikan Islam adalah kumpulan teori pendidikan Islam yang hanya dapat dipertanggung jawabkan secara logis dan tidak akan dapat dibuktikan secara empiris. Ilmu ialah jenis pengetahuan manusia yang diperoleh dengan riset terhadap obyek-obyek empiris. seperti dalam konsep pendidikan. terutama untuk pengembangan pendidikan Islam itu sendiri. sebagai pengintegrasi segala aspek jiwa manusia yang internasional. Menurutnya filsafat ialah jenis pengetahuan manusia yang logis saja. yang mengitegrasikan bakat kemanusiaan. Sedangkan katagori ilmu memiliki ciri khas berupa perubahan. sementara yang kedua mengkhususkan pendidikan dan yang terakhir lebih khusus lagi pendidikan Islam. Semua . tentang obyek-obyek yang abstrak. Ahmad Tafsir memberi penjelasan tentang perbedaan antara filsafat dan ilmu (sains). (e) dunia kebudayaan sebagai ekpresi etis. dan memiliki dunia kemanusiaan obyektif yang berlapis. Secara ontologis dunia manusia meliputi keberadaan secara fisik. suatu lapis luar kejiwaan yang dinamis. kepentingan pengokohan dan Manusia dengan potensi natiqnya mendudukkan sebagai subyek pemikir keilmuan sekaligus menggambarkan sebagai individu yang secara epistemologi memiliki kerangka berfikir keilmuan.

(3) sebagai asas terbaik untuk penilaian pendidikan dalam arti yang menyeluruh. dan hal ini dapat terjadi jika manusia memang ³animal educandum. dan oleh karenaya menyentuh filsafat tentang manusia. Perspektif Epistemologi Pendidikan Islam Analisis epistemologis tentang pendidikan Islam terkait dengan landasan dan metode pendidikan Islam. Perspektif Ontologi Pendidikan Islam. karena menurut Al-Shayba>ni> setidaknya filsafat pendidikan memiliki beberapa kegunaan. (4) sandaran intelektual yang digunakan untuk membela tindakan pendidikan. ataukah ia dapat berkembang melalui lingkungan atau faktor ajar ? Lebih luas lagi apa hakekat budaya yang perlu diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya? Ataukah hanya ajaran dan nilai Islam sebagaimana terwujut dalam realitas sejarah umat Islam yang perlu diwariskan kepada generasi berikutnya? Inilah aspek ontologis yang perlu mendapat penegasan. Kegiatan pendidikan tertuju pada manusia.Baik Filsafat ilmu. Masalah-masalah pendidikan Islam yang menjadi perhatian ontologi menurut Muhaimin[7]. dan educans´. yang bertujuan mengembangkan potensi kemanusiaan.[6] B. Diantara manfaat itu ialah (1) dapat menolong perangcang-perangcang pendidikan dan orang-orang yang melaksanakannya dalam suatu negara untuk membentuk pemikiran sehat terhadap proses pendidikan. Kegiatan pendidikan adalah kegiatan mengubah manusia sehingga mengembangkan hakikat kemanusiaan. C. educabile. . Pertanyaan-pertanyaan ontologis ini berkisar pada: apa saja potensi yang dimiliki manusia? Dalam Al-Qur¶a>n dan Al-H}adi>th terdapat istilah fit}rah. filsafat pendidikan dan khususnya lagi filsafat pendidikan Islam sangat penting untuk dikaji.adalah bahwa dalam penyelenggaraan pendidikan Islam diperlukan pendirian mengenai pandangan manusia. Kegiatan pendidikan dilakukan terhadap manusia dan oleh manusia.samakah potensi dengan fit}rah tersebut? Potensi dan atau fit}rah apa dan dimana yang perlu mendapat prioritas pengembangan dalam pendidikan Islam? Apakah potensi dan atau fit}rah itu merupakan pembawaan (faktor dasar) yang tidak akan mengalami perubahan. masyarakat dan dunia. (2) dapat membentuk asas yang dapat ditentukan pandangan pengkajian yang umum dan yang khusus. (5) memberi corak dan pribadi khas dan istemewa sesuai dengan prinsip dan nilai agama Islam.

Data faktual tidak berasal dari ilmu lain tetapi dari objek yang dihadapi (fenomena) yang ditelaah Ilmuwan itu (pedagogi dan andragogi) secara empiris. Itu sebabnya pedagogi dan andragogi memerlukan jalinan antara telaah ilmiah dan telaah filsafat. Seperti kedokteran. Sedangkan analisis epistemologi dengan pragmatismenya melahirkan philosophy of education sebagai cabang filsafat khusus. Sebaliknya ilmu pendidikan khususnya pedagogik adalah ilmu yang menyusun teori dan konsep pendidikan. educabile dan educans tersebut merupakan hasil analisis Langeveld.Epistemologis bahwa manusia adalah animal educandum. politik dan hukum. Adapun data itu mencakup fakta (das sein) dan nilai (das sollen) serta jalinan antara keduanya. Analisis epistemologis dan metode fenomenologi tentang kegiatan pendidikan ±menurut Dimyati. Secara analisis pragmatis. Analisis fenomenologis tentang manusia sebagai sasaran tindak mendidik ini menegakkan paedagogik (ilmu pendidikan) sebagai disiplin ilmu pengetahuan yang patut dipertimbangkan. ekonomi. Begitu pula data nilai yang normatif tidak berasal dari filsafat tertentu melainkan dari pengalaman atas manusia secara hakiki. Hal ini serupa dengan ilmu praktis lainnya yang mikro dan makro. dapat diilustrasikan jika manusia dipandang sebagai makhluk rasional.telah melahirkan paedagogik sebagai ilmu yang otonom.[8] Implikasinya. Oleh karena itu pedagogik (dan telaah pendidikan mikro) serta pedagogik praktis dan andragogi (dan telaah pendidikan makro) bukanlah filsafat pendidikan yang terbatas menggunakan atau menerapkan telaah aliran filsafat normative yang bersumber dari filsafat tertentu. Paedagogik sebagai ilmu pengetahuan melukiskan bahan pengetahuan pendidikan yang bermanfaat untuk melakukan pengajaran ilmu pengetahuan di sekolah. seorang Paedagog Belanda. Yang lebih diperlukan . dalam hal ini kegiatan pendidikan dipandang sebagai penerapan pandangan filsafat manusia terhadap anak manusia. Oleh sebab itu setiap pendidik tidak boleh ragu-ragu atau menyerah kepada keragu-raguan prinsipil. maka kegiatan pendidikan terhadap manusia adalah membuat manusia menjadi makhluk yang mampu menggunakan dan mengembangkan akalnya untuk memecahkan masalahmasalah kebudayaan manusia. kegiatan pendidikan dipandang sebagai bagian integral kebudayaan. Jelaslah bahwa telaah lengkap atas tindakan manusia dalam fenomena pendidikan melampaui kawasan ilmiah dan memerlukan analisis yang mandiri atas data pedagogi (pendidikan anak) dan data andragogi (pendidikan orang dewasa).

sesungguhnya akhlak rasul itu adalah Al-Qur¶a>n.Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).[10] Untuk menjawab permasalahan-permasalahan epistemologis seperti dikemukakan Muhaimin diatas.[12] Karena nyata sekali bahwa dimasa rasul dan sahabat pendidikan sangat tergantung dengan ajaran Al-Qur¶a>n.ialah penerapan metode filsafat yang radikal dalam menelaah hakikat peserta didik sebagai manusia seutuhnya dan sebagainya. Al-Sunnah dan Ijtiha>d. Oleh karena itu jika subtansi pendidikan Islam merupakan paradigma ilmu. maka sangat berhubungan dengan landasan/ dasar dan metode pendidikan dalam islam. menurut Abdul Munir Mulkhan maka problem epistemologis dan metodologis pemikiran Islam adalah juga merupakan problem pendidikan Islam. . apa saja isi kurikulum pendidikan Islam yang perlu didikkan? Dengan menggunakan metode apa pendidikan Islam itu dapat dijalankan? Siapa yang berhak mendidik dan didik dalam pendidikan Islam? Apakah semua yang ada di alam semesta ini. Pendidikan Islam dengan karakteristiknya agama juga menjadikan dasar-dasar agama sebagai landasan pendidikannya. dan al-Sunnah sebagai asas pokok pendidikan Islam. al-Sunnah juga sebagai asas pendidikan Islam. Untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan Islam yang telah ditetapkan.[11] Al-Nahlawi sependapat bahwa Al-Qur¶a>n. Penjelasan ini diantaranya terdapat pada ayat berikut: . Menurut Darajat bahwa pendidikan Islam berlandaskan pada tiga hal berikut: AlQur¶a>n. Oleh karenanya.[13] Demikian pula. Dalam hal epistemologi -menurut Muhaimin. atau hanya Muslim saja yang dapat mendidik dalam pendidikan Islam?.pertanyaan-pertanyaan yang dikembangkan adalah menyangkut hal-hal berikut: untuk mengembangkan potensi dasar manusia serta mewariskan budaya dan interaksi antara potensi dan budaya tersebut. pembahasan berikut menjelaskan landasan dan metode tersebut. ataukah hanya manusia saja.[9] Pertanyaan-pertanyaan diatas mengarah pada upaya pengembangan pendidikan Islam yang secara mendasar berkaitan dengan persoalan dasar dan sekaligus metodologis. maka diperlukan landasan pendidikan. Hal ini seperti penjelasan ayat berikut: Artinya: Dan tiadalah yang diucapkan itu (Al-Qur¶a>n) menurut kemauan hawa nafsunya. Terlebih ketika µAishah menegaskan. karena ia menjelaskan Al-Qur¶a>n. .

mas}a>lih al-Mursalah. Jami¶ Bayan Al-µIlm (Ibn abd Al-Bar). Al-µAmuli.[20] Siyasat al-Shibyan wa tadbirihim (Ibn Jazzar al-Qairawani). Adapun dalam hal metode (Tariqah)pendidikan. Jami¶ Jawami¶ Al-Ihtishar (Al-Maghrawi). Al-Ajari ( 360 H). Al-Qabisi (403 H). Sayangnya kitab-kitab tersebut banyak yang tidak ditemukan. Abi Yahya Zakariya Al-Ansari. mas}alih} al-Mursalah. qaul sahabat. Diantaranya yang relevan dengan pendidikan anak. Al-Maghrawi (902 H). Ibn Jazzar Al-Qairawani (395 H).Artinya: Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur¶a>n. Ta¶lim alMuta¶alim (Al-Zanuji). secara umum perhatian para ulama klasik telah tertuju pada upaya tersebut. Al-Zanuji (591 H). Tadhkirat al-Sami¶ wa al-Mutakallim fi adab al-Alim wa al-Muta¶allim (Ibn Jama¶ah). Muhammad Ibn Shahnun (wafat 256 H). dll. Al-Khawarizmi (377 H). Ibn Jama¶ah (733 H). termasuk Ibn Khaldun (732-808 H). µurf dan istih}sa>n.[21] Kitab-kitab tersebut secara umum menjelaskan bagaimana pendidikan islam dilakukan. Ta¶lim al-Sibyan wa ahkam al-Mu¶alimin (Al-Qabisi). urf. dan sunnah yang diperluas dengan ijma>¶. Disisi lain Abu>d menggolongkan pemikir (pendidikan) islam yang terpengaruh dengan model filsafat Yunani.[17] Mereka ini menurut Abu>d tergolong pemikir pendidikan murni dari islam. menurut Ibn Taimiyah yang . sunnah. Al-Ghazali (505 H).[16] Adapun pembahasan tentang metode pendidikan islam. diantaranya Ibn Sina (370-428 H) dan Ibn Maskawaih (325-421 H). Ibn Afif (420 H). dan pemikiran Islam. adab al-Mua¶alimin (Ibn Sahnun).[14] Yalja>n dalam nukilan Djumransyah menyatakan bahwa asas pendidikan Islam terdiri dari Al-Qur¶a>n. Al-Qathmuni.[18] Para pemikir pendidikan muslim tersebut mewariskan khzanah pemikirannya dalam kitab-kitab pendidikan. Ibn Hajar AlHaithami (947 H). Ibn Abd Al-Barr (423 H). Menurut Abd al-Ghani> µAbu>d mereka ini secara preodik dimulai dari Shahnun (Wafat 240 H). Ibn Al-Hajj Al-Abdari (737 H). [15] Hal ini sejalan dengan pendapat Sa¶i>d Isma>¶i>l bahwa asas pendidikan Islam meliputi Al-Qur¶a>n. qiya>s. ayyuha al-Walad (Al-Ghazali). shadh al-Dhari>¶ah. [19] Tahrir Al-Maqal fi adab wa ahkam wa fawaid yahtaj ilaiha muaddib al-Athfal (Ibn Hajar Al-Haithami). agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka] dan supaya mereka memikirkan. Hal ini terbukti dengan munculnya pemikir-pemikir pendidikan. ditambah para pemikir kontemporer lainya seperti Burhan AlDdin Al-Aqsharani.

Cara (Uslub) yang digunakan dengan uslub hikmah. hiwariyah (percakapan). Perspektif Aksiologi Pendidikan Islam. dirasat al-irshadiyah (supervised study) dan ikhtibar (testing). I¶jab (appreciation). dan ibadah. Dalam masalah etika yang mempelajari tentang hakekat keindahan. Dalam bidang aksiologi. Keenam: model nasehat.[23] Ketuju: model memotivasi dan Al-Abrash i> menawarkan sepuluh metode pengajaran (Tariqat AlTadris) ialah istiqra¶iyah (inductive). Tuhan sendiri Maha Indah dan menyukai keindahan. meninggalkan perbuatan keji. sangat prinsip dalam pendidikan Islam.[24] D. juga menjadi sasaran pendidikan Islam. . Ketiga: model perumpamaan (Al-Amthal). Pertama: model pendidikan dengan materi percakapan dari qur¶an dan hadith (Al-Tarbiyah bi al-hiwar al-Qur¶ani wa al-Nabawi). al-Mauidah Hasanah dan jadal alHasan. bersedekah. Keempat: model memberi contoh (Qudwah). tanqibiyah(penugasan). ibtikar (creation). kurikulum dan keseimbangan antara teoritis dan praktis. karena keindahan merupakan kebutuhan manusia dan melekat pada setiap ciptaan Allah. menakuti (Targhib wa Tarhib). Kedua: tariqah iradah yakni metode untuk mendorong beramal yaitu dengan cara memahami Al-Qur¶an. Kelima: model latihan dan pembiasaan (alMumarathah). tidak dapat lepas dari sistem nilai tersebut. masalah etika yang mempelajari tentang kebaikan ditinjau dari kesusilaan. tadrib (drill).[22] Al-Nahla>wi> menjelaskan tuju model (uslub) pendidikan. muhadarah (ceramah).tariqah µilmiah yakni berhubungan dengan bangunan penyampaian ilmu mencakup media pengajaran.dinukil oleh Majid Arsan Kailani ada dua yaitu pertama. Hal ini terjadi karena kebaikan budi pekerti manusia menjadi sasaran utama pendidikan Islam dan karenanya selalu dipertimbangkan dalam perumusan tujuan pendidikan Islam. Disamping itu pendidikan sebagai fenomena kehidupan sosial. qiyasiyah (deductive). Nabi Muh}ammad sendiri diutus untuk misi utama memperbaiki dan menyempurnakan kemuliaan dan kebaikan akhlak umat manusia.Kedua: model cerita dari Qur¶an dan Hadith. kultural dan keagamaan.

[9] Muhaimin. [5] Mastuhu. Dimyati. Pengembangan Kurikulum. Falsafah Pendidikan Islam. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam: di Sekolah. [8] M. [1] The Liang Gie. 1. 18. Dilema Pendidikan. 2002). kulturan dan seni tidak dapat lepas dari sistem nilai keindahan tersebut. Suatu Konsepsi Kearah Penertiban Bidang Filsafat (Yogyakarta: Karya Kencana. 2001). Unsur seni mendidik ini dibangun atas asumsi bahwa dalam diri manusia ada aspek-aspek lahiriah. 65. terlihat dalam pengungkapan bahasa. Dalam mendidik ada unsur seni. [2] M. 14. tutur kata dan prilaku yang baik dan indah. Keilmuan Pendidikan Sekolah Dasar: Problem Paradigma Teoritis dan Orientasi Praktis Dilematis(Malang: IPTPI. 5. [6] µUmar Muhammad Al-T{aumi> Al-Shayba>ni>. [10] Abdul Munir Mulkhan. Dilema Pendidikan Ilmu Pengetahuan (Malang : IPTI. [3] M. . 16. 1977). 66. [7] Muhaimin. Hal ini mengisyaratkan bahwa manusia dalam fenomena pendidikan adalah paduan antara manusia sebagai fakta dan manusia sebagai nilai. Untuk mencapai tingkat manusiawi itulah pada intinya pendidikan bergerak menjadi agen pembebasan dari kebodohan untuk mewujutkan nilai peradaban manusiawi. Paradigma Intelektual Muslim: Pengantar Filsafat Pendidikan Islam dan Dakwah(Yogyakarta: SIPRES. [4] Ahmad Tafsir. 30. 213. Itu sebabnya pendidikan dalam prakteknya adalah fakta empiris yang syarat nilai dan interaksi manusia dalam pendidikan tidak hanya timbal balik dalam arti komunikasi dua arah melainkan harus lebih tinggi mencapai tingkat manusiawi. Memberdayakan Sistem Pendidikan Islam (Jakarta: Logos Wacana Ilmu. 1993). 2000). Tiap manusia memiliki nilai tertentu sehingga situasi pendidikan memiliki bobot nilai individual. ter. Madarasah dan Perguruan Tinggi ( Jakarta: Raja Grafindo Persada. Dimyati. Ilmu Pendidikan Islam dalam Perspektif Islam (Bandung: Remaja Rosda Karya.Disamping itu pendidikan Islam sebagai fenomena kehidupan sosial. psikologis dan rohaniah. Hasan Langgulung (Jakarta: Bulan Bintang. 1999). sosial dan bobot moral. Dimyati. 1979). 11. 2005).

231-234. Al-Tarbiyah Fi Al-Islam ( tp. (Surabaya: Usaha Nasional. [24] Al-Abrash i>. 184. 16: 44. (Jakarta: Pustaka Al-Husna. [17] Abd al-Ghani> µAbu>d. Filsafat Pendidikan Islam. Us}u>l al-Tarbiyah. Alfikr Al-Tarbawi Ind Ibn Taimiyah (Madinah: Maktabat Dar Al-Turath. Beberapa Pemikiran Tentang Pendidikan Islam. Alfikr al-Tarbawi. 36. Dar Al-Ma¶arif: tt). 1982). 189. tt). 28. [13] Al-Qur¶a>n. 35. [23] Al-Nahla>wi>. Alfikr al-Tarbawi Ind Al-Ghaza>li>. . [21] Ibid. [20] Abu>d. 1986). [14] Al-Qur¶a>n.145-156. 45. 1991). [19] Ahmad Fuad Al-Ahwani. 271-314.. [18] Ibid. 55-56. (Dar al-Fikr al-µArabi. 17 [12] Abd al-Rahma>n al-Nahla>wi>. [15] Djumbransyah Indar. Ruh Al-Tarbiyah wa Al-Ta¶lim (Aleppo: Dar Ihya¶ al-Kutub al-µArabiyah. 1988). [16] Hasan Langgulung. 40. 1980). 53: 3-4. 1992).[11] Zakiyah Darajat. Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Bulan Bintang. Us}u>l al-Tarbiyah a-Isla>miyah wa asa>libiha> fi-Albait wa al-Mujtama¶ (Mesir:Da>r al-Fikr.. [22] Majid µArsan Kailani.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->