Metode Pengukuran Poligon Poligon digunakan apabila titik - titik yang akan di cari koordinatnya terletak memanjang sehingga

terbentuk segi banyak (poligon). Pengukuran dan Pemetaan Poligon merupakan salah satu pengukuran dan pemetaan kerangka dasar horizontal yang bertujuan untuk memperoleh koordinat planimetris (X,Y) titik - titik pengukuran. Pengukuran poligon sendiri mengandung arti salah satu metode penentuan titik diantara beberapa metode penentuan titik yang lain. Untuk daerah yang relatif tidak terlalu luas, pengukuran cara poligon merupakan pilihan yang sering di gunakan, karena cara tersebut dapat dengan mudah menyesuaikan diti dengan keadaan daerah/lapangan. penentuan koordinat titik dengan cara poligon ini membutuhkan,
Koordinat Awal

Bila diinginkan sistem koordinat terhadap suatu sistim tertentu, haruslah dipilih koordinat titik yang sudah diketahui misalnya: titik triangulasi atau titik - titik tertentu yang mempunyai hubungan dengan lokasi yang akan dipatokkan. Bila dipakai system koordinat lokal pilih salah satu titik, BM kemudian beri harga koordinat tertentu dan tititk tersebut dipakai sebagai acuan untuk titik - titik lainya.
Koordinat Akhir

Koordinat titik ini di butuhkan untuk memenuhi syarat Geometri hitungan koordinat dan tentunya harus di pilih titik yang mempunyai sistem koordinat yang sama dengan koordinat awal
Azimuth Awal

Azimuth awal ini mutlak harus diketahui sehubungan dengan arah orientasi dari system koordinat yang dihasilkan dan pengadaan datanya dapat di tempuh dengan dua cara yaitu sebagai berikut :
• •

Hasil hitungan dari koordinat titik - titik yang telah diketahui dan akan dipakai sebagai tititk acuan system koordinatnya. Hasil pengamatan astronomis (matahari).

Pada salah satu titik poligon sehingga didapatkan azimuth ke matahari dari titik yang bersangkutan. Dan selanjutnya dihasilkan azimuth kesalah satu poligon tersebut dengan ditambahkan ukuran sudut mendatar (azimuth matahari).
Data Ukuran Sudut dan Jarak

Sudut mendatar pada setiap stasiun dan jarak antara dua titik kontrol perlu diukur di lapangan.

Berdasarkan bentuknya poligon dapat dibagi dalam dua bagian. yaitu : Poligon berdasarkan visualnya : • poligon tertutup • poligon terbuka .Data ukuran tersebut. harus bebas dari sistematis yang terdapat (ada alat ukur) sedangkan salah sistematis dari orang atau pengamat dan alam di usahakan sekecil mungkin bahkan kalau bisa di tiadakan.

titik yang akan dicari koordinatnya terletak memanjang sehingga membentuk segi banyak (poligon).• poligon bercabang Poligon berdasarkan geometriknya : • • • poligon terikat sempurna poligon terikat sebagian poligon tidak terikat Untuk mendapatkan nilai sudut .sudut dalam atau sudut-sudut luar serta jarak jarak mendatar antara titik-titik poligon diperoleh atau diukur di lapangan menggunakan alat pengukur jarak yang mempunyai tingkat ketelitian tinggi. Metode poligon merupakan bentuk yang paling baik di lakukan pada bangunan karena memperhitungkaan bentuk kelengkungan . Poligon digunakan apabila titik .

Tingkat ketelitian umum dikaitkan dengan jenis dan atau tahapan pekerjaan yang sedang dilakukan.bumi yang pada prinsipnya cukup di tinjau dari bentuk fisik di lapangan dan geometriknya. .faktor yang menentukan dalam menyusun ketentuan poligon kerangka dasar. Tingkat ketelitian sistem koordinat yang diinginkan dan kedaan medan lapangan pengukuran merupakan faktor . Medan lapangan pengukuran menentukan bentuk konstruksi pilar atau patok sebagai penanda titik di lapangan dan juga berkaitan dengan jarak selang penempatan titik. Berbagai bentuk poligon mudah dibentuk untuk menyesuaikan dengan berbagai bentuk medan pemetaan dan keberadaan titik – titik rujukan maupun pemeriksa. Sistem koordinat dikaitkan dengan keperluan pengukuran pengikatan. Cara pengukuran polygon merupakan cara yang umum dilakukan untuk pengadaan kerangka dasar pemetaan pada daerah yang tidak terlalu luas sekitar (20 km x 20 km).

Metode Pengukuran Pengikatan ke Muka Pengikatan ke muka adalah suatu metode pengukuran data dari dua buah titik di lapangan tempat berdiri alat untuk memperoleh suatu titik lain di lapangan tempat berdiri target (rambu ukur. maka salah satu sisi segitiga tersebut harus diketahui untuk menentukan bentuk dan besar segitinya. Akibat dari sudut yang diukur adalah sudut yang dihadapkan titik yang dicari. benang. Sudut dalam yang dibentuk absis terhadap target di titik B dinamakan sudut beta. pengukuran yang dilakukan hanya pengukuran sudut. Garis antara kedua titik yang diketahui koordinatnya dinamakan garis absis. Pada metode ini. . Bentuk yang digunakan metoda ini adalah bentuk segi tiga. unting . Sudut beta dan alfa diperofeh dari tapangan.unting) yang akan diketahui koordinatnya dari titik tersebut.

Waterpass dipasang dan didatarkan . Tiap alat yang dipasang memerlukan satu pembacaan bidik belakang untuk menetapkan tinggi alat dan paling sedikit satu pembacaan bidik muka untuk menentukan elevasi titik di sebelah muka ( sebuah titik stasiun atau elevasi ). (Wirshing. maka pengukuran ini mutlak harus dikuasai oleh surveyor ataupun mahasiswa teknik Geomatika. Setelah alat disetel. Ketepatan survey tergantung dari ketelitian membuat garis bidik horizontal. operasi waterpass terdiri dari memasang. mendatarkan. Target tunggal yang dibaca dapat menimbulkan kesalahan tak sengaja. Ketepatan alat yang memakai nivo gelembung gas juga harus memperhatikan penyetelan tabung nivo dan presisi sejajar suatu nivo dan garis bidik.Pengukuran Profil Memanjang dan Melintang Pengukuran sipat datar profil banyak digunakan dalam perencanaan suatu wilayah. Informasi mengenai beda tinggi sangat berguna dalam cut dan fill suatu permukaan tanah yang tidak rata. Pengukuran ini terbagi menjadi dua macam. baik benang tengah. banyak manfaat yang bisa diperoleh dari data yang dihasilkan karena beda tinggi di setiap bagian di wilayah tersebut dapat diketahui. kemampuan pemegang rambu ukur dalam memegang rambu ukur secara vertical. 1995) Pengoperasian Alat Waterpass harus disetel sebelum memulai operasi sifat datar. Tambahan bidik muka dapat dilakukan terhadap titik-titik lain yang dsapat dilihat dari tempat alat dipasang apabila elevasi titik-titiki ini juga diperlukan. Dengan pengukuran profil ini. yaitu profil memanjang dan profil melintang. Tidak boleh terjadi penurunan alat di antara waktu bidik belakang dan bidik muka pada stasiun alat. misalnya saja dalam pengerjaan jalan raya atau jalur kereta api. Tergantung pada tipe survei dan alat yang dipakai. Mengingat begitu besarnya manfaat sipat datar profil.01 ft kecuali digunakan target pada rambu ukur. dan melakukan pembacaan sampai ketepatan tertentu. Pembacaan terdiri dari penentuan posisi dimana salib sumbu tampak memotong rambu ukur dan mencatat hasil pembacaan tersebut. atau cara dengan mikrometer dapat digunakan untuk melakukan pembacaan. Pembacaan halus biasanya sampai 0. semua ketiga benang salib sumbu. (Wirshing. yaitu pemegang alat dan pemegang rambu ukur pada saat pembacaan demi dicapainya hasil yang konsisten. 1995) Langkah-langkah Untuk Mengambil Pembacaan Sebuah Waterpass 1. Salah satu cara untuk menguasai pengukuran sipat datar profil adalah dengan pelaksanaan praktikum secara sungguh-sungguh atau dengan memperbanyak jam terbang pengukuran Prosedur Lapangan Menggunakan Waterpass Operasi sifat datar membutuhkan kerja sama dari dua petugas. dan presisi rambu ukur yang dibaca.

Jarak rambu ukur pada titiki stasiun diukur dan dicatat. 11. Pemegang rambu ukur kemudian mengambil posisi di atas stasiun. 4. Kunci teropong dibuka. 7. Lensa objektif difokuskan dan paralaks dihapus. Pemegang alat memberi tanda kepada pemegang rambu ukur untuk maju ke posisi berikutnya. ramb u ukur dibaca. Gelembung nivo diperiksa lagi apakah masih tetap di tengah-tengah. posisi gelembung nivo diperiksa apakah masih di tengah-tengah.2. Tahapan-tahapan ini diulangi sampai jumlah bidik muka yang diinginkan diambil dan sebuah titik stasiun ditetapkan. 8. diarahkan ke posisi rambu ukur berikutnya dan difokuskan. Waterpass dipindahkan ke posisi pemasangan berikutnya dan prosedur ini diulangi.1 Prinsip Pengukuran Beda Tinggi Penghitungan beda tinggi antara dua titik yang diukur dengan waterpass dapat dihitung dengan rumus ΔH = BTB – BTM . Teropong diarahkan sedemikian rupa sehingga benang vertikal berimpit dengan salah satu sisi rambu ukur dan alat dikunci. 6. teropong diputar. selisih pembacaan antara benang atas dan benang bawah dibaca untuk mengukur jarak dari waterpass sampai mistar ukur. 9. Setelah pemegang alat merasa puas bahwa gelembung tetap di tengah-tengah ketika pembacaan dilakukan. 3. dan posisi gelembung nivo diperiksa ulang. Metode Penghitungan Beda Tinggi Gambar 2. ia harus diketengahkan lagi dan pembacaan diulangi. Gelembung nivo diperiksa. 5. Apabila gelembung tergeser dari tengah-tangah. Paralaks dihapus. 10. digeser ke tengah dan disetel kalau perlu. Jarak ini dipakai untuk menyeimbangkan jarak bidik muka dan bidik belakang dan cukup dibaca sampai ketelitian sentimeter terdekat. (Wirshing. Rambu ukur dibaca dan hasilnya dicatat.

Disebabkan terbenamnya rambu. Penempatan rambu yang tidak betul-betul vertikal. Penyetelan instrumen sipat datar yang tidak sempurna (garis kolimasi tidak sejajar dengan sumbu niveu tabung) . 5. Kesalahan Petugas : 1. 2. Kesalahan pencatatan. Disebabkan oleh observer 1. Instrumen sipat datar tidak ditempatkan pada jarak yang sama dari kedua rambu. Disebabkan oleh petugas 1. seluruh jarak harus dibagi menjadi bagian-bagian berjumlah genap untuk menentukan titik-titik balik. 2.Keterangan : BTB : Benang tengah belakang BTM : Benang tengah muka Istilah-istilah : 1 slag adalah satu kali alat berdiri untuk mengukur rambu muka dan rambu belakang. 3. (Nurjati. karena tidak ditempatkan pada tumpuan yang keras. Pengaturan instrumen sipat datar yang tidak sempurna (penempatan gelembung nivo yang tidak sempurna dan sebagainya). Selanjutnya kesalahan yang disebabkan kekurangan-kekurangan pada tanda-tanda indeks rambu karena titik-titik balik bernomor genap yang tidak tersedia antara dua titik dapat dianggap sebagai kesalahan pembidik. Rambu tipe perpanjangan seperti misalnya rambu Sopwith yang perpanjangannya dirasakan kurang sempurna. Disebabkan oleh rambu 1. Pada sipat datar teliti. 1. 4. Kesalahan Instrumen : 1. 2004 ) Kesalahan-Kesalahan Pada Sipat-Datar Kesalahan-kesalahan pada sipat-datar dengan menggunakan instrumen sipat datar diklasifikasikan sebagai berikut : 1. Kesalahan pembacaan. 3. 1 seksi adalah suatu jalur pengukuran sepanjang ± 1-2 km yang terbagi dalam slag yang genap dan diukur pulang pergi dalam waktu satu hari.

penyangga statif dan rambu haruslah dibuat khusus seperti piket. Karena itu pembacaan rambu menjadi sulit dan mungkin sekali tidak teliti.2. instrumen sipat datar harus terlindung dari sinar matahari. Untuk perbaikannya dibutuhkan kalibrasi. Pengaruh sinar matahari langsung : sinar matahari langsung dapat merubah kondisi intrumen sipat datar dan karenanya merubah garis kolimasi. (Sosrodarsono. 3. Pada tempat-tempat seperti itu. Parallax yang timbul pada saat pengukuran 1. Graduasi rambu yang tidak teliti. Sedangkan dekat di atas permukaan tanah temperatur udara sangat berubah-ubah dan karenanya perubahan kerapatannyapun besar pula. Selanjutnya diusahakan agar posisi instrumen sipat datar terletak di tengah-tengah antara kedua rambu. Angin yang berhembus kencang akan menyulutkan pekerjaan pengukuran. patok atau harus dipilih tempat-tempat padat. baik secara memanjang maupun melintang. 1983) Sipat Datar Profil Sipat datar profil bertujuan untuk menentukan bentuk permukaan tanah atau tinggi rendahnya permukaan tanah sepanjang jalur pengukuran. Pengaruh lengkung bumi : karena permukaan bumi tidaklah datar. 2. Sambungan rambu yang tidak sempurna (terutama pada tipe perpanjangan). dan untuk menghindarinya dapat digunakan perisai pelindung atau menggunakan rambu yang pendek. adanya kesalahan indeks rambu. yaitu dengan mengukura ketinggian dari . Demikian pula. jarak bidikan haruslah sependek mungkin. Lebih-lebih apabila instrumen sipat datar ditempatkan di tengahtengah antara kedua rambu. Pengaruh refraksi cahaya : sebagaimana dimaklumi. 3. bahwa berkas cahaya yang melintasi udara dengan kerapatan yang berbeda-beda akan direfraksikan. Pada sipat datar teliti selama observasi. maka pengaruhnya dapat diabaikan. maka lengkung permukaan bumi haruslah diperhitungkan. Perubahan posisi intrumen sipat datar dan rambu-rambu : Karena beratnya sendiri. Pengukuran profil dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran tinggi rendahnya permukaan tanah sepanjang jalur pengukuran. jika ditempatkan di atas tanah yang lunak. akan tetapi berbentuk speris. Untuk meningkatkan ketelitiannya. pemuaian atau penyusutan skala rambu harus dikoreksi disesuaikan dengan temperatur rambu tersebut. Tetapi hal ini merupakan problema yang kecil pada sipat datar. 2. 2. Kesalahan Alami : 1. baik instrumen sipat datar maupun rambu akan dapat terbenam. Disebabkan oleh rambu 1. 4.

irigasi jalur pipa dan lain-lain. seperti dalam: 1. 3. Menentukan gradien yang cocok untuk pekerjaan konstruksi. Menghitung volume galian dan timbunan yang perlu disiapkan.masing-masing titik.2 Profil Memanjang Tampak Atas Cara Pengukuran : Alat di Atas Titik. biasanya dilakukan penggambaran situasi sepanjang jalur pengukuran sipat datar profil memanjang maupun melintang dengan skala yang berbeda agar kondisi tanah secara vertikal akan lebih jelas terlihat. sehingga mempunyai ketentuan sebagai berikut : • Pengukuran harus dilakukan sepanjang garis tenah (as) jalur pengukuran dan dilakukan pengukuran pada setiap perubahan yang terdapat pada permukaan tanah. (Nurjati. Profil Memanjang Pelaksanaan pengukuran Sipat datar profil memanjang tidak jauh berbeda dengan sipat datar memanjang. Menghitung volume pekerjaan. • Data ukuran jarak dengan pita ukur dan dicek dengan jarak optis. 2004 ) a. 2. jalan kereta api. . Pengukuran Sipat Datar Profil dibagi menjadi dua pekerjaan yaitu sipat datar profil memanjang dan sipat datar profil melintang sedangkan pada tahap penggambaran. Gambar 2. Hasil pengukuran ini merupakan informasi untuk perencanaan jalan raya. yaitu melalui jalur pengukuran yang nantinya merupakan titik ikat bagi sipat datar profil melintangnya.

Gambar 2. 3. Hitungan : H1 = HA+∆HA1 H2 = HA+∆HA2 Hn = HA+∆HAn (Nurjati. 2. potongan melintang dibuat dari tepi yang satu ke tepi yang lain. 7. maka alat isa dipindahkan pada titik B. 9. vi. kecuali pada titik tikungan (contoh pada titik B) maka potongan diusahakan membagi sudut terseut sama besar atau bila perlu dibuatkan 2 buah potongan melintang yang masing-masing tegak lurus pada arah datang dan arah belokan selanjutnya. d=(BA-BB). Lakukan centering. BT dan BB. dst) ini pada seksi AB. Tempatkan alat sipat datar diatas patok (A). Bidik rambu pada titik 1 kemudian baca BA.3 Profil Memanjang Alat di Atas Titik 1. 2004 ) b. jarak antar potongan melintang dibuat sama. Profil Melintang Pelaksanaan pengukuran sipat datar profil melintang dilakukan setelah pengukuran sipat datar profil memanjang. Gelembung nivo ketengahkan dengan 3 skrup klap. 4. sehingga alat tepat di atas titik A. . vii) pada setiap titik relief (ii. 6. Hitung d (jarak) dari alat ke rambu. Ukur tinggi alat diatas patok.100 Lakukan hal yang sama (v. Arah potongan melintang tegak lurus dengan as. sedangkan pengukuran kearah samping kiri dan kanan as jalur memanjang lebarnya dapat ditentukan sesuai perencanaan dengan pita ukur misalnya pada jalan raya. iii. 5. 8. untuk pengukuran pada seksi BC. Lakukan urut-urutan dari nomor i s/d vii.

Gelembung nivo ketengahkan dengan 3 skrup klap. Tempatkan alat di atas titik A. Lakukan centering. 3. BT dan BB. 6. 4. 5.100 Lakukan hal yang sama (v. Hitung jarak optis dari alat ke rambu 1. 2.vii) pada titik-titik 2. . 7.vi. Demikian juga point 1 s/d 8 dilakukan pada setiap potongan melintang. Ukur tinggi alat diatas patok.4 Arah Potongan Melintang Cara Pengukuran : Alat di Atas Titik 1. d =(BA-BB). 8. Bidik rambu diatas titik 1.Gambar 2. 3. 4 dan seterusnya sebagai titik-titik relief. Baca BA.

493 = – 0.483 Bb = 1.0005 → jarak kurang dari 1 slag selisih yang diperbolehkan 0.4825 = 0.455) 100 = 5.005 Bt = 1.005 2) Jarak optis = (Ba – Bb) 100 = (1. Bt.490 Bt = 1.220 – 1.945 d.455 Penyelesaian : 1) Cek Bt = ½ (Ba + Bb). Ba = 1.510 – 1.263 = +3. 2) Tinggi alat.4825 selisih = 1.263 m 4) Tinggi titik a kekanan = +3.287 b.510 Bt = 1. maka dicari luas . Ba = 1. berdasarkan tinggi rencana tanah didatarkan. Untuk menghitung volume.505 Bb = 2.255 c.510 + 1. Ba = 1.535 Bacaan ke kiri pada titik a. setiap pengukuran harus diambil siku terhadap profil memanjang yang diarahkan kekiri dan kekanan dengan jarak sesui kebutuhan Data yang diambil : 1) Bacaan benang (Ba.000-0.500 m (dari profil memanjang) dan tinggi alat 1.000 Bb = 0.Profil melintang adalah potongan/penampang melintang dari suatu areal pengukuran tanah arah melintang dari suatu areal pengukuran tanah arah melintang yang memperlihatkan jarak dan elevansi tertentu.500 – 0.555 Bt = 2.375 Bt = 1. Penrukuran profil melintang alat ditempatkan diatas setiap profil memanjang yang telah dihitung ketinggian dan jarak antara titik ke titk . Ba = 1. dan Bb) kekiri dan kekanan. 3) Tinggi titik = Tinggi titik profil memanjang Beda tinggi. Ba = 1.387 Bb = 1.483 – 1. 4) Sket gambar penampang.565 Bt = 1.455) = 1.306 Bb = 1. 3) Tinggi titik tempat dari profil memanjang.550 Bb = 1. Pengolahan data : 1) Cek Bt = ½ (Ba + Bb). Ba = 2. = ½(1.220 m Bacaan ke kanan pada titik a. 2) Jarak optis = (Ba – Bb) 100 Kesetiap titik-titik pengukuran dari setiap titik profil memanjang. Contoh : Tinggi titik P = + 3.5 m 3) Beda tinggi = Ta – Bt = 1.237 m Perhitungan Volume.455 b.

buatkan gambar profil melintang dari hasil perhitungan tugas 3 diatas. Coba anda terangkan apa hubungan antara profil memanjang dan melintang ? 2. hitung luas galia/timbunan bila tanah didaarkan + 4. 1. yaitu profil melintang P1 dan P2.galian/timbunan setiap profil melintang berdasarkan bentuk bagian penampang. beda tinggi dan ketinggian titik dari contoh di atas (melanjutkan) 4. Terangkan apa kegunaan dari profil melintang ? 3. Volume galian = (½ luas galian P1 + P2) jarak P1 – P2(dari profil memanjang ) Volume timbunan = (½ luas timbunan P1 + P2) jarak P1 – P2(dari profil memanjang ) TUGAS. data ukuran tentang profil melintang dapat dilihat pada gambar berikut ini. . Hitung jarak. jarak profil P1-P2 adalah 50 m. diketahui dua buah gambar profil melintang.000 m ANALISA. Pertanyaan : 1) hitunglah luas galian dan timbunan pada profil melintang P1 dan P2. 3) Hitung voluma yang di butuhkan lagi. 1. Coba anda terangkan apa yang dimaksud dengan profil melintang ? 2. 5. 2) Hitung volume galian dan timbunan.

Jarak Datar Jika memakai sudut zenith ( vertikal ) : Do = ( BA.BB) x 100 x Cos V . Db = ( b / å b ) . Db = ( d / å d ) . jarak datar Jika memakai sudut elevasi (a) : Do = ( BA.å b lapangan Cara koreksi sudut ada 2. Db = å kor. b 2. yaitu : 1. LANGKAH PERHITUNGAN a. Metode Perataan Kor. b / n 2. Pengukuran Polygon Tertutup 1.BB) x 100 x Cos V . Adapun besar koreksi adalah : å koreksi = å b teori . jarak optis Dh = ( BA. jarak datar 4. b atau Kor. å kor.IV.BB) x 100 x SinV . Sudut Azimuth (a) an = aawal + bn -180° bn adalah sudut pengambilan setelah koreksi 3. jarak optis Dh = ( BA.BB) x 100 x Sin V . Metode Bow Dieth Kor. 180° å b dalam = ( n+2 ) . Beda Tinggi (Dh) Jika memakai sudut zenith ( vertikal ) : . Sudut Pengambilan (b) b luar = Hz (muka) – Hz (blk) b dalam = Hz (blk) – Hz (muka) Syarat : å b luar = ( n+2 ) . 180° Jika å b lapangan ¹ å b teori maka ada koreksi. å kor.

Beda Tinggi Dh = ta + . Metode Pukul Rata 2. Menggambar situasi 2.BT Jika memakai sudut elevasi (a) : Dh = ta + (Dh x tan V) – BT Adapun syarat Dh untuk polygon tertutup yaitu : Dh (+) . Menggambar titik-titik polygon 2. Metode Bow Dieth b.Beda Tinggi (Dh) Dh = ta + (Dh x tan V) – BT . Hubungkanlah titik-titik yang mempunyai ketinggian sama. 4.Jarak Do = ( BA.BT . TPx adalah Ketinggian di titik pesawat V. jarak optis Dh = ( BA.BB) x 100 x SinV . jarak optis Dh = ( BA. Tentukan titik yang mempunyai ketinggian sama.BB) x 100 x Cos V .Ketinggian ( T detail ) T detail = T Px + Dh . maka ada kesalahan yang harus dikoreksi.Ketinggian ( T detail ) T detail = T Px + Dh . Jika kesalahan (+) maka koreksi (-) Jika kesalahan (-) maka koreksi (+) Cara koreksi ada dua yaitu : 1. Melengkapi gambar situasi dengan ketinggian di tiap-tiap titik ( baik titik polygon maupun titik detail ) 3. Menggambar situasi b.BB) x 100 x Sin V . Kontur Adapun langkah-langkah penggambaran kontur adalah sebagai berikut : 1. .Dh (-) = 0 Jika ¹ 0.BB) x 100 x Cos V . jarak datar . Menggambar titik-titik detail 3. jarak datar . Situasi Adapun langkah-langkah penggambaran situasi adalah sebagai berikut : 1. Pengukuran Situasi Rumus-rumus yang dipakai yaitu : Jika memakai sudut zenith ( vertikal ) : . TPx adalah Ketinggian di titik pesawat Jika memakai sudut elevasi (a) : . CARA PENGGAMBARAN a.Dh = ta + .Jarak Do = ( BA.

Bercabang .Berhenti di tengah .5. Hasil kontur tidak boleh : .Bertemu .Memotong .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful