P. 1
Meningkatkan Kemampuan Reading Aloud

Meningkatkan Kemampuan Reading Aloud

|Views: 210|Likes:
Published by satno

More info:

Published by: satno on Jan 13, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/01/2015

pdf

text

original

MENINGKATKAN KEMAMPUAN “READING ALOUD” SISWA KELAS VII A SMP NEGERI 7 KOTA BENGKULU MELALUI PENGAJARAN RHYMING ‘STOP

AT THE VOWEL SOUND” Oleh : Supriatno Abstract : This study aimed to analyze teacher’s performance in teaching reading aloud and students’ competence in reading aloud; especially in pronouncing short vowel. This study was conducted in two cycles, each cycle consists of three activity; drilling, memory recognition , and mix up. These activity were conducted in order to secure data of students’ progress in reading aloud, while checklist of micro teaching skills were used to maintain teacher’s performance. The result of the study indicated that teacher’s performance in giving an explanation had significantly a good progress, but it still need an improvement both in asking question and giving appreciation. Students’ competence, in other hand, was significantly excellent in drilling (100%), but they still hesitated in memory recognition (35%) and mix up20%).
Kurikulum Bahasa Inggris untuk SMP sesungguhnya meliputi keempat keterampilan berbahasa; mendengar, membaca, berbicara dan menulis, namun penekanan pada keterampilan membaca siswa nampak sangat dominan. Hal ini terlihat dari soal-soal evaluasi yang selalu didominasi oleh keterampilan membaca. Meskipun demikian keterampilan dasar dalam membaca yakni reading aloud yang termasuk dalam salah-satu keterampilan membaca yang harus diajarkan di SMP ternyata masih sangat rendah, sehingga banyak siswa SMP yang tidak mampu membaca teks-teks bahasa Inggris dengan pengucapan dan intonasi yang benar, bahkan sering kita jumpai siswa melakukan kesalahan pengucapan sebuah kata bahasa Inggris. Kesulitan tersebut terutama disebabkan oleh ketidak mampuan siswa mengidentifikasi dan mengeneralisasi bunyibunyi vowel, dipthong dan consonant blending dalam bahasa Inggris. Pengajaran bahasa Inggris, secara literasi menurut Wells (1987) terbagi kedalam empat tingkatan; performatif, functional, informational, dan epistemis. Pada tingkat performatif, orang mampu membaca dan menulis, dan berbicara dengan symbol-simbol yang digunakan ; pada tingkat functional diharapkan dapat menggunakan bahasa untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari seperti membaca manual atau petunjuk; pada tingkat informational diharapkan dapat mengakses pengetahuan dengan bahasanya;

sedang pada tingkat epistemic diharapkan dapat mentranformasi pengetahuan dalam bahasa sasaran. Sejalan dengan hal diatas, Kurikulum 2004 yang lebih dikenal dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi menargetkan bahwa lulusan SMP harus mencapai tingkat literasi performatif dan functional. ( kurikulum 2004, hal 3). Konsekuensi logis dari hal tersebut seharusnya pada tahap awal pembelajaran membaca bahasa Inggris memberikan penekanan pada kemampuan untuk membedakan berbagai bunyi yang ada atau yang lebih lazim dikenal dengan pengetahuan phonic. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan Program”: “While most of the common words in our language are basically with their letter/sound patterns. As you can imagine, failing to learn any of these basic sight words would seriously lower a child’s reading test score since they are essential for achieving comprehension of a test question or paragraph”. (Richard, P: 1, 2005) Lebih jauh lagi, John D. Mc Neil (1980) memperinci bahwa basic sight words dalam bahsa Inggris meliputi vowel panjang dan pendek-short and long Vowel, diphthong dan sound blending. Jika siswa bermasalah dalam mengidentifikasi berbagai ucapan vowel dan sound blending dalam bahasa Inggris, maka mereka juga akan bermasalah pada tahapan reading yang lebih kompleks. Karena itu kemampuan mengucapkan short and long Vowel, diphthong dan sound blending merupakan dasar bagi keterampilan yang membaca lebih lanjut-reading comprehension. Untuk mengatasi hal tersebut, Rhyming termasuk salah-satu pola pengajaran yang disarankan dalam “Document English Syllabus and Support” untuk digunakan terutama untuk mengembangkan kemampuan phonology siswa sebagaimana yang dikatakan Bryant P and Bradley L (1985). “ Phonological processing involves using phonological awarness knowledge of letter/sound correspondence and blending, and it can be developed through such a thing as rhyme ………. “ (Bryant P and Bradley L, 1985) Tampa 2005 dalam articlenya “A critical Supplement to Every Reading

Sehubungan dengan hal tersebut Richard (2005) dalam program Beginning Reading strategy menggunakan dua kegiatan rhyming yakni : 1. Stop at the Vowel sound; yaitu pola latihan pengenalan ucapan membaca dengan penekanan pada bunyi huruf hidup. 2. Recognition memory; yaitu pola latihan penggunaan kata dalam dengan menjeneralisasikan aturan yang ada dan menggunakan kata tersebut dalam konteks yang menyenangkan.

METODE
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SMP Negeri 7 Kota Bengkulu di kelas VII A. Dengan jumlah siswa sebanyak 40 orang yang terdiri dari 15 siswa pria dan 25 siswa wanita. Prosedur penelitian tindakan kelas ini terdiri dari tiga siklus, tiap siklus dilaksanakan prosedur sebagai berikut; 1) perencanaan, 2) pelaksanaan tindakan, 3) observasi dan evaluasi, dan 4) refleksi. Selanjutnya dalam tiap siklus diberikan tiga kegiatan yakni : a. Pada Classroom Drill bagian ini guru melatih pola-pola bunyi-bunyi short Stop at the Vowel Sound-Siswa

vowels,”a,e,i,o,u” melalui tehnik

diperlihatkan daftar kata yang menggunakan bunyi vowel, dan di suruh membaca kata tersebut sebatas huruf vowelnya saja. b. Memory Recognation Pada tahap ini siswa di berikan latihan pengenalan kata-kata yang memiliki bunyi short vowels ”a,e,i,o,u” melalui konteks gambar yang memiliki ilustrasi tertulis. Hal ini dilakukan agar siswa dapat menjeneralisasi pola-pola bunyi yang telah dilatih sebelumnya. c. Mix up Latihan-latihan membaca sebuah teks yang memuat bunyi-bunyi shorts vowel “a,e,i,o,u”. Latihan ini digunakan untuk mengukur kemampuan siswa/progress siswa dalam menerapkan pola-pola yang telah diberik

Sedangkan Untuk mengukur kinerja dari penggunaan tehnik rhyming yang
diaplikasikan oleh guru digunakan lembar observasi yang di adopsi dari “Stop At The Vowel Sound technique” ( Richard 2005). No 1 2 3 ACTIVITY DRILL MEM. REC MIX UP HAL YANG DIAMATI INSTRUCTION QUESTION APPRECIATION

HASIL A. KINERJA GURU
Komponen keterampilan mengajar guru yang diamati meliputi :instruction; question; apreciation 1. NO 1 2 3 ACTIVITY DRILL MEMORY REC MIX UP SIKLUS 1 HAL YANG DIAMATI INSTRUCTION QUESTION APPRECIATION Repeat after me Ok ( 6 X) Are you Ok yes Look this ! Do you know ? Good Faster ! Are you Ok ? Very good Your turn ! Look this ! Read it ! SIKLUS 2 HAL YANG DIAMATI INSTRUCTION QUESTION APPRECIATION Repeat after me! Ok Ok together ! Good say it faster ! nice Look this ! Lastri, can you Good Faster ! read it ? Nice Your turn ! Yaap,sound good Look this ! Read it !

2. NO 1 2 3 ACTIVITY DRILL MEMORY REC MIX UP

B. KINERJA SISWA Tiga komponen yang dijadikan indikator keberhasilan siswa meliputi : drill; melatih pola-pola bunyi-bunyi short vowels,”a,e,i,o,u”, memory recognation; latihan mengeneralisasikan pola-pola bunyi short vowel ”a,e,i,o,u” melalui konteks, dan -mix up; menguji keterampilan siswa dalam pengucapan short vowel ”a,e,i,o,u” .

1. DRILL NO 1 2 3 4 5 HAL YANG DIAMATI SHORT VOWEL a SHORT VOWEL e SHORT VOWEL i SHORT VOWEL o SHORT VOWEL u 2. MEMORY RECOGNATION NO 1 2 3 4 5 HAL YANG DIAMATI SHORT VOWEL a SHORT VOWEL e SHORT VOWEL i SHORT VOWEL o SHORT VOWEL u 3. MIX UP NO 1 2 3 4 TEKS YANG DIAMATI I GET WET I HAD A HOT DOG KIP LIKE TO DIP BUG GIVES A HUG PROBLEM YA TIDAK 40 40 32 8 34 6 PROBLEM YA TIDAK 37 3 38 2 31 9 40 25 15 PROBLEM YA TIDAK 40 40 40 40 40 -

PEMBAHASAN

A. KINERJA GURU
1. Instruksi Kegiatan guru dalam mendrill pola-pola bunyi short vowels ”a,e,i,o,u” di kelas VII A terlihat secara siginifikan mengalami peningkatan disetiap siklus. Hal ini dapat dilihat dari jenis instruksi yang diberikan. Kecenderungan guru menggunakan kata ”repeat after me” pada siklus pertama saat melakukan

classroom drill dapat diminimalisir melalui refleksi pada siklus berikutnya (siklus 2). Hal ini dapat dilihat dari data bahwa pada siklus berikutnya perintah drill lebih bervariatif yakni dengan munculnya kata-kata ”Ok together, say it faster, read together” dan sebagainya. Penggunaan kata yang semakin bervariasi ini membuat interaksi belajar antar guru dan siswa semakin hidup, data menunjukkan bahwa lebih dari 90% siswa menuruti perintah yang diberikan. Hal ini dimungkinkan karena rasa malu dan kurang percaya diri ( relactant ) pada siswa yang pada awal pelajaran sangat dominan telah dapat diminimalisasikan.. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan, Abimanyu, 1985 bahwa

pengulangan-pengulangan kata yang terlalu sering dalam proses belajar menyebabkan menurunnya perhatian dan partisifpasi siswa. 2. Memory Recognation Pada kegiatan memory recogantion yang bertujuan untuk memberikan polapola bunyi short vowel ”a’e,i,o,u” . Data menunjukkan bahwa guru selalu dapat memberikan contoh pola-pola bunyi short vowels ”a,e,i,o,u” dan sekaligus pemakaian pola-pola tersebut dalam kata-kata yang applicable. Dan pada awal siklus berikutnya berdasarkan refleksi kegiatan guru berhasil memberikan bentuk-bentuk kekecualian dari pola-pola yang diajarkan pada siklus sebelumnya. Sebagai contoh Pada kegiatan pre-aktivity siklus pertama guru memberikan pola-pola bunyi huruf ”a” adalah ”ae” yakni pada kata bat, cat,

dad, fat dan seterusnya. Di awal siklus berikutnya dalam kegiatan pre-activity guru memberikan penjelasan bahwa ada huruf “a” yang dibunyikan “o” yakni pada kata-kata yang memiliki akhiran double ll. Contohnya : mall, hall, call. Dan kegiatan ini dilakukan secara berkesinambungan pada kegiatan berikutnya yakni memori recognation dan mix up. Dalam pemberia bacaan pada kedua kegiatan tersebut nampak bahwa adanya campuran kedua bunyi tersebut. Ini mengidentifikasikan bahwa keterampilan guru dalam mengajar khususnya dalam komponen ”menjelaskan” sudah baik. Pola-pola penerapan penjelasan yang diterapkan oleh guru sejalan dengan pola deduktif dan induktif sebagaimana yang dijelaskanoleh a. Kosasi, 1985. bahwa umumnya ada dua pola yang efektivitas tinggi dalam menghubungkan contoh dan dalil yaitu : pola induktif; yang memberikan contoh-contoh terlebih dahulu dan akhirnya dari contoh-contoh tersebut ditarik kesimpulan umum atau suatu dalil (rumus) b. pola deduktif; yang menggunakan contoh-contoh untuk memperjelas atau memperinci lebih dalam suatu hukum atau generalisasi yang telah diberikan. (Kosasi, 1985) 3. Apresiasi Selanjutnya data penelitian ini juga menunjukkan bahwa pemberian penguatan (apresiasi) guru pada kegiatan mengajar secara umum cukup baik. Penggunaan kata-kata pujian seperti, good, nice, sound good yang digunakan oleh guru dalam usahanya memberikan penguatan cukup bervariasi. Namun demikian terlihat juga dengan jelas bahwa penyebaran pemberian penguatan (apresiasi) ini belum menyentuh secara individu, karena tidak terlihat dalam kedua siklus yang telah dijalankan guru tidak pernah menyebutkan nama-nama siswa. Karena sesungguhnya pemberian penguatan (apresiasi) kepada siswa dalam proses belajar bertujuan untuk : a. b. meningkatkan perhatian siswa membangkitkan dan memelihara motivasi siswa

c. d.

memudahkan siswa belajar mengontrol dan memodifikasi tingkah laku siswa yang (Pah, 1985)

kurang positif serta mendorong munculnya tingkah laku yang produktif. Untuk dapat mencapai tujuan tersebut pemberian penguatan dapat dilakukan dengan beberapa cara : 1. Penguatan kepada pribadi tertentu Penguatan ini harus jelas ditujukan kepada siswa tertentu dengan menyebut namanya, sambil memandang kepada siswa yang dituju. Penguatan yang tidak jelas kepada siapa ditujukan akan kurang efektif. 2. Penguatan Kepada Kelompok Meskipun pemberian penguatan seyogyanya diberikan kepada siswa tertentu dengan menyebutkan namanya. Namun demikian kadang-kadang penguatan dapat pula diberikan kepada sekelompok siswa. Penguatan semacam ini biasanya diberikan apabila satu tugas telah diselesaikan dengan baik oleh kelompok tersebut. 3. Pemberian Penguatan Denagn Segera Ini dimaksudkan bila dalam kegiatan belajar muncul tingkah laku atau respon siswa yang sesuai dengan yang diharapkan. Hendaknya penguatan segera diberikan. Penguatan yang ditunda pemberiannya cenderung akan mengurangi arti pemberian penguatan tersebut. 4. Penguatan Mesti Bervariasi Bila kata pujian yang serupa selalu diguanakan sebagai penguatan, maka nilainya akan berkurang. Umpamanya setiap kali guru akan memberikan penguatan kata yang digunakan hanya ”good” , maka lama kelamaan kata ”good” ini tidak lagi bermakna bagi siswa dan tidak akan mampu meningkatkan penampilannya.

B. KINERJA SISWA

1.

DRILLING

“Drilling” dalam kegiatan pembelajaran bahasa umumnya digunakan untuk melatih pola-pola pengucapan tertentu yang selanjutnya dapat

digeneralisasikan menjadi suatu pola umum, (John D. and Mc Neil. 1981 ). Data penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam

mengucapkan bunyi-bunyi short vowel “a,e,i,o,u” sangat signifikan, tak seorangpun tercatat yang gagal dalam pengucapan bunyi-bunyi tersebut. Hasil yang sangat signifikan ini dimungkinkan karena kegiatan “drilling” yang dilakukan pada penelitian ini adalah kegiatan “ classroom drill”. Beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dari kegaiatan ”classroom drill” yakni siswa bebas dari tekanan mental; takut salah, malu dan sebagainya ,Hal ini karena semua temannya melakukan hal yang sama sebagaimana yang ia lakukan maka ketakutan terhadapa melakukan kesalahan dapat dikurangi, demikian pula dengan kecenderungan siswa yang malu menjadi terelimanasi dengan sendirinya. kedua, dapat memberikan rasa percaya diri yang lebih kepada siswa. Karenanya saat terjadi classroom drill semua siswa

mengeluarkan suara. Possitifnya adalah kelas menjadi lebih hidup dan rasa percaya diri siswa dalam belajar bertambah. Dan yang terakhir adalah dapat menciptakan kenyamanan bagi siswa dalam belajar. Siswa merasa lebih nyaman karena mereka merasa bahwa apapun aktivitas yang mereka kerjakan tidak ada orang yang memperhatikannya. Namun, demikian bukan berarti bahwa kegaitan classroom drill tidak memiliki kelemahan. Dalam bukunya Mengajar Dengan Sukses” Rooijakers,

1990 , melihat adanya kecenderungan yang diistilahkan dengan konvergen; bangga karena yang diajarkan diterima dengan baik dan dapat diungkapkan kembali secara tepat, sama seperti yang diajarkan. Jalan pikiran konvergen ini bisa menjadi kontraproduktif dalam mengajar. Demikian juga dengan kegiatan classrooom drill, sesungguhnya kegiatan ini bisa jadi meaningless karena hanya berisikan pengulangan pengulangan pola tertentu. Selain dari hal tersebut, kegiatan classrooom drill memiliki tingkat kesulitan dalam menentukan kemanjuan yang diperoleh siswa, dikarenakan semua siswa mengeluarkan suara sebagaimana yang dirillkan oleh guru, akan sangat sulit mengukur keakuratan/ketepatan suara yang dikeluarkan bagi masing-masing siswa. Karenanya meskipun dalam kegiatan ini siswa mampu menirukan drill yang diberikan belum dapat dikatakan secara signifikan mengalami kemajuan.

2. MEMORY RECOGNATION A. Short Vowel ”a”

Hasil generalisasi pola pembacaan bunyi short vowel ”a” menunjukkan bahwa siswa secara signifikan telah dapat mengeneralisasikan pola-pola bunyi short vowel ”a” yang mereka dapatkan pada latihan sebelumnya. Hal ini dapat dilihat dari latihan yang diberikan melalui kegiatan memory recognation dengan cara memberikan sebuah bacaan ”My Cat” yang berisikan 18 kata yang menggunakan bunyi short vowel ”a”. Data menunjukkan bahwa dari 40 orang siswa hanya 3 orang siswa yang masih membuat kekeliruan dalam pengucapan bunyi short vowel ”a” ini berarti bahwa 92% siswa mengalami kemajuan dalam pengucapan bunyi short

vowel ”a”. Keberhasilan ini disebabkan beberapa faktor ; pertama, teks yang digunakan untuk mengeneralisasi. Dalam teks ”My Cat” memang telah terlihat bahwa teks tersebut berusaha mengetahui apakah siswa mampu mengeneralisasi bunyi short vowel ”a” dalam bahasa Inggris, dengan cara mencantumkan dua perbedaan bunyi short Vowel ”a” yakni bunyi (ǽ) – cat, sat, etc dan bunyi (ǿ )-ball, , namun jenis kata-kata yang digunakan pada teks ini cukup familiar bagi siswa. Ada kemungkinan bahwa siswa memang telah terbiasa mengucapkan kata-kata tersebut sehingga ketika kegiatan memory recognation ini dilaksanakan mereka tidak menemukan kesulitan yang berarti. Kedua, faktor asal siswa, siswa yang mayoritas berasal dari daerah Bengkulu asli ( pasar Bengkulu dan sekitarnya ) secara kebahasaan memang telah memiliki bunyi (ǽ) dalam bahasa ibunya. Sebagai contoh kata

”dapat” dalam bahasa Indonesia di masyarakat Bengkulu diucapkan ”dapǽk” Sangat berbeda dengan ketiga siswa yang mengalami kesulitan

dalam mengeneralisasi bunyi short vowel ”a”. Ternyata ketiga siswa ini berasal dari daerah yang sama yakni daerah yang tidak memiliki bunyi (ǽ). Ketika mereka mengucapkan kata ”dapat” dalam bahasa daerahnya menjadi ”dapet”. Dalam bukunya ” An Introduction to Sociolinguistic” Marjohan (1988) menjelaskan beberapa hal yang menyebabkan timbulnya variasi dalam bahasa : 1. Regional variety or dialect, i.e, a variety which is caused by geographical factor. 2. Social variety or sociolect, i.e, a variety which is caused by socioecomic factor, the socioeconomic group which uses the variety.

3. Functional variety or functilect, i.e., a variety which is caused by situational factors such as the participant (the speaker, the listener), setting (at home, in the market, etc), topics, media (orally, in writing, by telephone etc ) 4. Chronological variety or chronolect, i.e,, a variety which is spoken in a particular time (period) (Marjohan, 1988: 6) B. Short Vowel ”e”

Peningkatan kemampuan siswa dalam membaca bersuara (reading aloud) short vowel ”e” secara signifikan terbukti ketika siswa dapat mengeneralisasi bunyi-bunyi short vowel ”e” yang diberikan dalam latihan memory recognation.. Ketika diberikan sebuah wacana yang berjudul ”When I Turn Ten” yang berisikan 6 kata-kata yang menggunakan bunyi short vowel ”e” , dari 40 siswa yang mengikuti pelajaran ini hanya 2 orang siswa yang harus mengalami pengulangan pembacaan 2 kali karena mengalami kekeliruan di 2 kata yang memiliki bunyi short vowel ”e” . Hasil ini menunjukkan bahwa 95% siswa dapat membaca dengan baik semua bunyi short vowel ”e”. Bunyi short vowel ”e” memiliki kesamaan dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah di Bengkulu, jadi dalam hal ini tantangan kesulitan untuk melafalkan bunyi tersebut kurang. Kegagalan ke 2 siswa kelihatan lebih cenderung karena kurangnya perhatian siswa saat belajar. Terlihat saat diminta mengulangi untuk kedua kali mereka mampu melakukannya. C. Short Vowel ”i”

Data yang diberikan melalui wacana ”The light is Dim” menunjukkan bahwa pada tahap ini siswa mampu mengeneralisasikan pola-pola bunyi short vowel ”i” . Ke 40 siswa yang diberikan wacana tersebut mapu membacanya dengan

baik, khususnya pada kata-kata short Vowel ”i” yang memilki bunyi ”i”. Hal ini dimungkinkan karena pengaruh bahasa Indonesia yang memiliki bunyi yang sama dengan short vowel ”a” yang berbunyi ”i”. Namun ketika diberikan wacana yang memuat short vowel ”i” yang berbunyi ”ai” , dari 40 siswa terdapat 9 orang melakukan hesitating dalam membaca short vowel ”i” dibeberapa kata. Dalam hal ini 77 % siswa mampu membaca bersuara dengan baik. Pengaruh perbedaan notasi dan ucapan nampak dengan jelas merupakan kendala bagi siswa. Notasi ”i” dengan bunyi ”i” ada dalam bahasa Indonesia sehingga wajar siswa tidak mengalami kesulitan, namun notasi ”i” yang berbuni ”ai” tidak dimiliki dalam bahasa Indonesia maka kesulitan dialami siswa dalam pengucapan ini. Marjohan mengutip Platt et al memberikan penjelasan bahwa ..... the speaker’s presupposition when making an utterance are of great importance for complete understanding of semantic conveyed. These presuppositions are based partially on the speaker’s beliefs, attitude, and evaluation of his role in society and the role of his addressee. (Platt et al, 1975 :1-2) Kesulitan siswa dalam hal ini membedakan penggunaan pengucapan short vowel “i” yang berbunyi “i” dan berbunyi “ai” karena telah memiliki anggapan (presupposition) sebelumnya bahwa notasi huruf ”i” dalam bahasa ibu mereka selalu berbunyi ”i”. D. Short Vowel “o”

Wacana “ Fox and Ox” digunakan dalam penelitian ini sebagai alat untuk mengukur kemampuan siswa dalam mengeneralisasikan short vowel “o”. Dari ke 40 siswa semuanya dapat membaca bersuara dengan sangat baik

wacana ini. Hal ini berarti 100% siswa mampu membaca nyaring (reading aloud) wacana tersebut. Ada beberapa kemungkinan yang mempengaruhi keberhasilan yang sangat signifikan ini. Pertama adalah wacana itu sendiri. Wacana Fox and Ox adalah wacana yang cukup pendek dan mungkin sudah familiar bagi siswa. Kemungkinan kedua adalah letak short vowel “o” dalam wacana ini selalu berakhiran dengan bunyi short vowel “o” . dan yang terakhir adalah bahwa bunyi short vowel “ o” memiliki kesamaan bunyi dalam bahasa ibu siswa. E. Short Vowel “u”

Kemampuan siswa dalam mengeneralisasikan short vowel “u” dalam penelitian ini diukur melalui sebuah wacana yang berjudul “Bug give a Hug”. Dari 10 kata yang menggunakan short vowel “u” dalam wacana ini. 40 orang siswa 25 dapat membacanya dengan suara yang tepat. Sedangkan 15 orang memilki kendala. Dalam hal ini pengaruh notasi dan pengucapan yang sering berbeda dalam bahasa Inggris sangat mempengaruhi siswa. Dalam bahasa Indonesia notasi huruf ” u” tetap dibunyikan ”u”. Sedangkan dalam kasus ini siswa harus membunyikannya dengan bunyi ”Λ”. Meskipun bahasa Indonesia memiliki bunyi ini, namun dalam membaca siswa sangat dipengaruhi oleh apa yang dihadapinya sehingga notasi yang memiliki bunyi yang berbeda dengan bahasa ibu mereka akan sangat menghambat dalam melakukan kegiatan membaca nyaring (reading aloud). Karenanya wajar jika hampir sebagian (35%) siswa mengalami kesulitan dalam mengeneralisasi short vowel ”u” ini.

3. MIX UP Untuk mengetahui apakah kemampuan membaca bersuara (reading aloud) siswa telah meningkat, maka dalam penelitian ini digunakan latihan campuran kesemua bunyi short vowels ke dalam sebuah wacana (mix up). Kepada siswa diberikan empat buah wacana; “I Get Wet, I had a Hot Dog, Kip Like to Dip dan Bug gives a hug” masing-masing siswa diberikan kesempatan untuk membacanya dengan suara nyaring (Reading aloud). Data menunjukkan bahwa 40 siswa yang membaca (reading aloud) wacana tersebut tidak mengalami kesulitan yang berarti. hanya 8 orang siswa yang melakukan hesitating, dalam membaca nyaring (reading aloud) yakni pada wacana Kip Like to Dip. Beberapa alasan yang dapat dikemukankan mengapa terjadi (keragu-raguan) hesitating dalam membaca nyaring (reading aloud) pada wacana tersebut; pertama wacana tersebut cukup panjang sehingga siswa kemungkinan mengalami kejenuhan. Kemungkinan berikut adalah tingkat kesulitan untuk memahami kontek/ arti kata tersebut dalam kalimat. Hal ini membuat keragu-raguan siswa dalam mengekpresikan intonasi saat membaca nyaring (reading aloud). Sementara 32 orang lainnya (80%) telah menunjukkan perkembangan kemampuan yang signifikan dalam membaca semua jenis short vowels ”a,e,i,o,u” dalam bahasa Inggris.

KESIMPULAN

Tehnik pengajaran Rhyming-Stop at the Vowel Sound yang menerapkan langkah-langkah drilling, memory recognition, dan Mix Up terbukti secara signifikan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca bersuara (reading aloud) siswa kelas VII A, SMP Negeri 7 kota Bengkulu. SARAN a. Mengingat basic sight dalam kemampuan membaca nyaring (reading aloud) juga meliputi long vowels, diphthong, consonant blending (Mc Neil , 1980) maka perlu ada tindak lanjut dalam penelitian ini kepada unsure-unsur basic sigh lainnya. Sehingga kemampuan reading aloud siswa benar-benar meningkat. b. Penerapan dan pengajaran raeding aloud melalui Rhyming hendaknya memberikan penekanan yang lebih pada penggunaan kata-kata yang tidak memiliki kesamaan dengan bahasa Indonesia baik notasi maupun bunyi.

REFERENCES 1. Abimanyu, Soli, 1985. Keterampilan Bertanya Dasar. Dirjen Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan. Jakarta. 2. Bryant, P and Bradley, L 1985. English Syllabus and Support Document, New South Wales. Board of Studies. 3. Hopkins, David, 1993. A Teacher’s Guide to Classroom Research. Open University press. Philadelphia. 4. John D. Mc Neil. 1981. Basic Sight Words, www.onestopenglish.com 5. Jones, Daniel, 1979. English Pronouncing Dictionary, London, Melbourne and Toronto. Dent and Sons Ltd. 6. Pusat Pengembangan Kurikulum, 2006. Kurikulum Bahasa Inggris 2004.Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta. 7. Kats, M and Ratz, N, 2005. A Proggressive Phonics Book. www. Progressive phonics.com. 8. Richard. 2005. Stop At The Vowel Sound. www. Progressive phonics.com

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->