P. 1
KOMPONEN Pendidikan Islam

KOMPONEN Pendidikan Islam

|Views: 1,057|Likes:

More info:

Published by: E-die Fearless Putra on Jan 13, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/21/2014

pdf

text

original

KOMPONEN²KOMPONEN KURIKULUM PENDIDIKAN

PENDAHULUAN Pembicaraan seputar Islam dan pendidikan tetap menarik, terutama terkait dengan upaya membangunsumber daya manusia muslim. Dan sebagaimana dimaklumi bahwa dalam Islam belum terdapat rumusan tentang sistem pendidikan yang baku, melainkan hanya terdapat nilai-nilai moral dan etis yang seharusnya mewarisi sistem pendidikan tersebut. Sebagai contoh, nilai-nilai tersebut terlihat dalam ayat al Qur¶an yang pertama kali turun, yaitu ayat 1 s.d. 5 surat al µAlaq:

.

.

.

.
(5-1 : )

Artinya: ³Bacalah dengan (mnyebut) nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya´. Pada ayat tersebut paling tidak terdapat 5 komponen pendidikan, yaitu guru (Allah), murid (Muhammad SAW), sarana dan prasarana (qalam), metode (iqra¶), dan kurikulum. Pendidikan jika dipandang sebagai suatu proses, maka proses tersebut akan berakhir pada tercapainya tujuan akhir pendidikan (Ghofir, 1993: 25), yang mana dinilai dan diyakini sebagai sesuatu yang paling ideal. Bagi Indonesia tujuan yang ideal itu dicapai melalui sebuah proses dan sistem pendidikan nasional sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No 20 Tahun 2003 Bab II pasal 3 (2003: 7) : Pendidikan nasional«bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Pendidikan Islam sebagai sub sistem dari sistem pendidikan nasional yang mencita-citakan terwujudnya insan kamil atau orang Islam yang saleh ritual dan saleh sosial, secara implisit akan mencerminkan ciri kualitas manusia Indonesia seutuhnya sebagaimana yang digambarkan di atas (Fadjar, 1998: 30). Akan tetapi kemudian realita di lapangan menunjukkan bahwa dunia pendidikan saat ini pada umumnya sangat dipengaruhi oleh pandangan hidup Barat yang antara lain bercorak ateistik, materialistik, dan skeptis. Sehingga kemudian yang terjadi adalah munculnya pola hidup yang bercorak materialistik, hedonistik, individualistik, pola hidup permissive, living together. Landasan filosofis pendidikan yang seperti ini harus segera diperbaiki agar sesuai dengan pandangan hidup Islami dan disesuaikan dengan nilai luhur budaya bangsa Indonesia (Abudin Nata, 2003: 179). Sehingga sejalan dengan pandangan tersebut, bagaimana Islam sebagai ajaran yang universal dapat memberikan solusi bagi masalah-masalah nasional, terutama masalah pendidikan dengan berperan aktif dalam rangka membawa dan merawat perkembangan umat manusia. Demikian strategisnya posisi dan peranan pendidikan, sehingga umat Islam senantiasa concern terhadap masalah tersebut. Sehingga banyak sekali bermunculan lembaga ± lembaga

Nana Syaodih Sukmadinata (2002: 102) mengidentifikasi unsur atau komponen dari anatomi tubuh kurikulum yang utama adalah : tujuan. bimbingan dan konseling. organisasi kurikulum. tidak bisa lepas dari berbagai komponen yang saling mendukung satu dengan lainnya. (2) materi. dan metode penilaian. yang kempatnya berkaitan erat satu dengan lainnya. sistem evaluasi. Dalam rangka mencapai sebuah hasil yang dicita-citakan dalam dunia pendidikan yang dalam hal ini pendidikan Islam. yaitu : (1) tujuan.pendidikan dengan berbagai macam program yang sampai hari ini masih berkibar. metode pengajaran. Pertama relevansi antara kurikulum dengan tuntutan.ketiga kelompokkelompok pelaksana dan pendukung kurikulum. memiliki susunan atau unsur-unsur anatomi tertentu. dengan tanpa meninggalkan rumusan para pakar pendidikan yang dianggap relevan yang kemudian konsep tersebut dituangkan dan dikembangkan dalam kurikulum pendidikan (Muhaimin. dimana yang satu dengan lainnya saling menopang. proses atau sistem penyampaian dan media. dankeempat kelompok komponen usaha-usaha pengembangan. isi atau kandungan pendidikan. 1991: 10). dimana kelima komponen tersebut memiliki keterkaitan yang erat dan tidak bisa dipisahkan. proses pelaksanaan (belajar mengajar). materi pendidikan. administrasi pendidikan. peserta didik. sebenarnya menurut Muhaimin (1991: 11-12) kurikulum dapat dikelompokkan menjadi empat yaitu : pertama kelompok komponen-komponen dasar. kedua kelompok komponen-komponen pelaksanaan. (4) organisasi kurikulum dan (5) evaluasi. serta evaluasi. kebutuhan. biaya pendidikan. Kurikulum sebagai sebuah bangunan atau sistem. kondisi serta perkembangan masyarakat. tindak lanjut. sistem penjenjangan. usaha pengembangan. Dengan kurikulum akan tergambar secara jelas secara berencana bagaimana dan apa saja yang harus terjadi dalam pendidikan. (3) strategi. 2003: 77). sarana dan prasarana. sistem penyampaian. pembelajaran. Kurikulum merupakan faktor yang sangat penting dalam proses kependidikan dalam suatu Lembaga Pendidikan Islam (Arifin. telah mengidentifikasikan dan merinci komponen ± komponen yang dipertimbangkan dalam rangka pengembangan kurikulum yaitu: dasar dan tujuan pendidikan. Komponen Dasar Kurikulum . Dengan berbagai bagian tersebut akan menghasilkan sebuah bangunan dalam rangka mencapai sebuah titik akhir berupa tujuan yang dalam hal ini adalah tujuan pendidikan Islam. dalam rangka ikut serta mensukseskan pembangunan nsional di bidang pendidikan yang bermuara pada terwujudnya manusia Indonesia seutuhnya. perlu sebuah kejelasan konsep yang dikonstruksi dari sumber-sumber ajaran Islam. suatu kurikulum harus mempunyai relevansi atau kesesuaian. Setelah melihat komponen kurikulum yang dikemukanan para pakar tersebut. Lain halnya dengan Tohari Musnamar sebagaimana dikutip Muhaimin (1991: 11). pendidik. KOMPONEN KURIKULUM PENDIDIKAN Sebagaimana dimaklumi bahwa manusia atau binatang sebagai suatu organisme. isi atau materi. dan lingkungan. Sedangkan Akhmad Sudrajat mengidentifikasi komponen kurikulum kepada lima komponen utama. Demikian halnya dengan kurikulum pendidikan yang di dalamnya terdapat berbagai bagian yang saling mendukung dan membentuk satu kesatuan. Kesesuaian tersebut paling tidak mencakup dua hal pokok. Sementara itu Hasan Langgulung (2002: 100)membagi unsur kurikulum menjadi empat yaitu: tujuan pendidikan. Kedua relevansi antara komponenkomponen kurikulum. Dalam pelakasanaannya.

lewat para pakarnya. orientasi pendidikan. Dengan adanya dasar. maka pendidikan Islam akan tegak berdiri dan tidak mudah diombang ambingkan oleh pengaruh luar yang mau merobohkan atau mempengaruhinya. Sedangkan perenialism menghendaki pendidikan kembali pada jiwa yang menguasai abad pertengahan. mencakup konsep dasar dan tujuan pendidikan. 2003: 28). 1991: 18).Kelompok komponen-komponen dasar pendidikan. Dan rekonstruksionalismmenginginkan pendidikan yang membangkitkan kemampuan peserta didik untuk secara konstruktif menyesuaikan diri dengan tuntutan perubahan dan perkembangan masyarakat sebagai dampak dari ilmu pengetahuan dan teknologi. Sementara pendidikan Barat lebih menonjolkan dan mengagungkan rasio. maka yang menjadi dasar tersebut harus sesuai dengan nilai-nilai filosofis yang dianut oleh masyarakat tertentu. 1. pola organisasi kurikulum. prinsip-prinsip kurikulum yang dianut. 2003: 41). mana yang secara ideal bisa dijadikan dasar filosofis pendidikan Islam? Yang jelas adalah bahwa konsep pendidikan Islam berbeda dengan pendidikan Barat. Begitu pun dengan pendidikan Islam. tujuan pendidikan seyogyanya diartikan sebagai rekonstruksi pengalaman yang terus menerus. yang hakiki kedudukannya dalam kebudayaan. Aliran progresivism menghendaki sebuah pendidikan yang pada hakekatnya progresif. Pendidikan Islam dalam hal ini sangat memerlukan intervensi wahyu dalam menjawab masalah pendidikan. kriteria keberhasilan pendidikan. karena ia merupakan jiwa yang menuntun manusia hingga dapat dimengerti adanya tatanan kehidupan yang ditentukan secara rasional. Dasar dan Tujuan Pendidikan Yang dimaksud sebagai konsep dasar dalam hal ini merupakan konsep dasar filosofis dalam pengembangan kurikulum pendidikan Islam yang pada gilirannya akan berpengaruh terhadap tujuan pendidikan Islam itu sendiri. Pendidikan bertugas sebagai perantara atau pembawa nilai di luar ke dalam jiwa peserta didik. dan nilai-nilai tersebut hendaknya yang sampai kepada manusia melalui civilisasi dan telah teruji oleh waktu.Essentialism menginginkan pendidikan yang bersendikan atas nilai yang tinggi. agar siswa sebagai peserta didik dapat berbuat sesuatu yang inteligen dan mampu mengadakan penyesuaian kembali sesuai tuntutan lingkungan. Berbicara dasar pendidikan Islam tidak bisa dilepaskan dari aliran filsafat pendidikan yang mendasari pendidikan yang diantaranya adalah aliran progresivisme. maka pendidikan Islam mempunyai fundamen yang menjadi landasan tegak berdiri dalam prosesnya untuk mencapai tujuan yang diharapkan. aliran perenialisme. aliran esensialisme. tanpa konsultasi dengan wahyu (Muhaimin. di antara empat aliran tersebut. sehingga ia perlu dilatih agar punya kemampuan absorbsi yang tinggi (Muhaimin. Namun yang perlu dimengerti bahwa ketika pendidikan Islam dihadapkan pada problem dasar pendidikannya. 1987: 26). dan aliran rekonstruksionalisme. Sementara bagi Muhaimin dapat dikatakan bahwa . Kerna fungsinya tersebut. sehingga peserta didik tetap berada dalam suasana bebas (Imam Barnadib. dan sistem evaluasi. maka menurut Naquib al Attas dan al Jamaly cenderung kearah progresivisme dan perenialisme/essensialisme (Muhaimin. Akan tetapi kemudian yang menjadi sebuah pertanyaan.

Dengan memperhatikan hakekat pendidikan Islam tersebut. akan didapatkan sebuah gambaran bagaimanakah seharusnya suatu suatu tujuan pendidikan dirumuskan. Tujuan pendidikan nasional yang merupakan pendidikan pada tataran makroskopik. Kendati demikian. bahwa : ´ Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. 1991: 22-23). tujuan pendidikan nasional dapat dilihat secara jelas dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistrm Pendidikan Nasional. memperlihatkan sifat-sifat dasar (nature) manusia. selanjutnya dijabarkan ke dalam tujuan institusional yaitu . 2. Sehingga dalam hal ini diperlukan kendali berupa esensi-esensi berupa nilai±nilai ilahi serta insani yang bersumber dari Allah dan rasul-Nya. antara lain: tujuan dan tugas hidup manusia. permit every nation to transmit and enrich its cultural heritage over the generation but also guide education towards mutual understanding and towards what has become a worldwide realization of common destiny. kreatif. gives individuals and groups the maximum awarenes.konsep dasar filosofis pengembangan kurikulum pendidikan Islam dilandasi oleh paduan dari progresivismedan essensialisme plus. Sementara itu tujuan pendidikan merupakan landasan bagi pemilihan materi serta strategi penyampaian materi terseburt. Tetapi kemudian tak dapat dipungkiri bahwa terobosan tersebut sering sangat peka dan sangat rentan. knowledge. yang disesuaikan dengan falsafah negara. melalui berbagai ragam teknis penyelenggaraannya. Tujuan akan mengarahkan semua kegiatan pengajaran dan mewarnai komponen lainnya. Mengingat pentingnya pendidikan bagi manusia. Progresivisme plus berarti bahwa pengembangan kurikulum pendidikan Islam menempatkan anak didik sebagai individu yang mempunyai berbagai potensi sebagai anugerah Allah dalam rangka meraih kebahagiaan hidupnya. serta dimensi-dimensi kehiduapn ideal Islam (Fu¶adi. dalam hal menentukan tujuan pendidikan pada dasarnya memiliki esensi yang sama. enable all citizens to participate in cultural and economic life by coverring them an equal basic education. 2003: 428-429). agar tujuan pendidikan benar-benar cocok untuk direalisasikan. tuntutan masyarakat. hampir di setiap negara telah mewajibkan para warganya untuk mengikuti kegiatan pendidikan.) Dalam perspektif pendidikan nasional. 3. Sehingga di sinilah essensialisme plus mengambil perannya (Muhaimin. Dalam rangka meraih itu diperlukanm terobosan dan gagasan yang handal dalam rangka memnuhi tuntutan jaman. Menurut Hummel. Survival . seperti dikutip Akhmad Sudrajat. cakap. berilmu. sehat. keadaan sosial-politik kemampuan sumber daya dan keadaan lingkungannya masing-masing. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab´. Autonomy. and ability so that they can manage their personal and collective life to the greatest possible extent. mandiri. bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. berakhlak mulia. tujuan pendidikan secara universal akan menjangkau tiga jenis nilai utama yaitu: 1. Tujuan pendidikan harus berorientasi pada pada hakekat pendidikan yang meliputi beberapa aspek. Equity.

menurut Hasan Langgulung sebagaimana dikutip Maksum pada dasarnya adalah tujuan hidup manusia itu sendiri. prinsip universal. keterkaitan dengan segala aspek pendidikan. dan kesinambungan. al Dzariyat ayat 51 : (51 : ) Artinya : ³Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka menyembahku´. Selain itu masih banyak para pakar yang memberikan rumusan tentang tujuan pendidikan Islam seperti: Imam al Ghazali. Prinsip Kurikulum Pendidikan Islam Prinsip pendidikan Islam merupakan kaidah sebagai landasan supaya kurikulum pendidikan sesuai dengan harapan semua pihak. Pola organisasi kurikulum pendidikan Islam Organisasi kurikulum di sini merupakan kerangka umum program pendidikan yang akan disampaikan kepada siswa dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. namun paling tidak dari yang baik tersebut bisa diambil yang paling baik. 2. correlated curriculumyang mencoba mengadakan integrasi dalam pengetahuan peserta didik. Sementara itu al Syaibani menyatakan bahwa prinsip umum yang menjadi dasar kurikulum pendidikan Islam adalah : pertautan sempurna dengan agama. core curriculum dan lainnya.integrated curriculum yang mencoba menghilangkan batas-batas antara berbagai mata pelajaran. Yang jelas bahwa kurikulum pendidikan Islam harus integratif. Moh. keseimbangan antara tujuan dan isi kurikulum. terkait dengan tujuan pendidikan Islam. Alamsyah Ratu Prawiranegara. praktis. Zakiyah Daradjat. Pada dasarnya semua pola organisasi tersebut baik. kontinuitas. fleksibilitas. efisiensi. Athiyah al Abrosyi. Sedangkan bila dilihat dari segi kebutuhan ada dimensi individual dan dimensi sosial(Muhaimin. 1991: 30). Moh. 3. fleksibilits. Sementara itu. (2002: 150-151) menerangkan bahwa prinsip umum kurikulum adalah prinspi relevansi. Namun dari rumusan para pakar tersebut. 1999: 45).S. . 1995: 24). sebenarnya bisa ditegaskan bahwa tujuan pendidikan Islam bila ditinjau dari cakupannya dibagi menjadi tiga yaitu (1) dimensi imanitas. efektivitas. dan prinsip pertautan antara semua elemen kurikulum (Muhaimin. Abdurrahman Nahlawy. sebagaimana tersirat dalam Q. mengakui adanya perbedaan (fleksibel). Dalam hal ini Winarno Suracmad sebagaimana dikutip Abdul Ghofir (1993: 31) mengemukakan prinsip kurikulum pendidikan yaitu relevansi. 1991: 39-40). dan efektifitas. yang tidak memisahkan antara ilmu pengetahuan dengan wawasan keagamaan. dan lainnya. Beberapa jenis organisasi kurikulum tersebut antara lain subject curriculum merupakan kurikulum yang direncanakan berdasarkan disiplin akademik sebagai titik tolak mencapai ilmu pengetahuan (Abdul Manab.tujuan pendidikan yang ingin dicapai dari setiap jenis maupun jenjang sekolah atau satuan pendidikan tertentu. Bagi Langgulung tugas pendidikan adalah memelihara kehidupan manusia (Maksum. prinsip perkembangan dan perubahan yang selaras dengan kemaslahatan. Nana Syaodih S. atau setidak-tidaknya korelatif. (2) dimensi jiwa dan pandangan hidup Islami (3) dimensi kemajuan yang peka terhadap perkebmangan IPTEK serta perubahan yang ada. Said Ramdhan El Buthi.

Ecletic Program. Prosedur yang ditempuh adalah menyampaikan pokok-pokok yang saling berkorelasi guna memudahkan peserta didik memahami pelajaran tertentu. Dengan orientasi pendidikan akan dapat diambil sebuah kebijakan dalam rangka 2. yang terbagi ke dalam lima kelompok mata pelajaran. untuk memenuhi kebutuhan lokal disediakan mata pelajaran muatan lokal serta untuk kepentingan penyaluran bakat dan minat peserta didik disediakan kegiatan pengembangan diri. korelasi diadakan sebagai upaya untuk mengurangi kelemahan-kelemahan sebagai akibat pemisahan mata pelajaran. Salah satu mata pelajaran dapat dijadikan ³coresubject´. Berkenaan dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). yaitu : (1) kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia. kebutuhan. (2) kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian. (3) kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi. olahraga dan kesehatan Kelompok-kelompok mata pelajaran tersebut selanjutnya dijabarkan lagi ke dalam sejumlah mata pelajaran tertentu. 5. Inti Masalah (core program). 4. . dan (5) kelompok mata pelajaran jasmani. (4) kelompok mata pelajaran estetika. Mata pelajaran-mata pelajaran yang menjadi pisau analisisnya diberikan secara terintegrasi. 4. setidaknya terdapat enam ragam pengorganisasian kurikulum. Masingmasing diberikan pada waktu tertentu dan tidak mempertimbangkan minat. tampaknya lebih cenderung menggunakan pengorganisasian yang bersifat eklektik. yaitu program kurikulum yang menitikberatkan pada kegiatan-kegiatan peserta didik. Mata pelajaran terpisah (isolated subject). Bidang studi (broad field). kalau ditinjau dalam perspektif madrasah/sekolah. Program yang berpusat pada anak (child centered). yaitu suatu program yang mencari keseimbangan antara organisasi kurikulum yang terpusat pada mata pelajaran dan peserta didik. dan mata pelajaran lainnya dikorelasikan dengan core tersebut. bukan pada mata pelajaran. dan mata pelajaran lainnya diberikan melalui kegiatan-kegiatan belajar dalam upaya memecahkan masalahnya. yaitu organisasi kurikulum yang berupa pengumpulan beberapa mata pelajaran yang sejenis serta memiliki ciri-ciri yang sama dan dikorelasikan (difungsikan) dalam satu bidang pengajaran. kurikulum terdiri dari sejumlah mata pelajaran yang terpisahpisah.Namun yang perlu dimengerti bahwa beragamnya pandangan yang mendasari pengembangan kurikulum memunculkan terjadinya keragaman dalam mengorgansiasikan kurikulum. Di samping itu. 3. dimana masalahmasalah diambil dari suatu mata pelajaran tertentu. yang disesuaikan dengan jenjang dan jenis sekolah. yaitu suatu program yang berupa unit-unit masalah. semua materi diberikan sama Mata pelajaran berkorelasi. yang diajarkan sendiri-sendiri tanpa ada hubungan dengan mata pelajaran lainnya. 6. Orientasi Pendidikan Orientasi pendidikan perlu dipertimbangkan dalam rangka perumusan kurikulum pendidikan. Dari pandangan tersebut. dan kemampuan peserta didik. yaitu: 1.

Materi pendidikan tersusun atas topik-topik dan sub topik tertentu.memproduk out put pendidikan sesuai yang diinginkan. sistem penjenjangan. berorientasi masa depan dan perkembangan IPTEK. Hilda Taba mengemukakan beberapa kriteria diantaranya: (1) harus valid dan signifikan. (5) dapat dipelajari dan disesuaikan dengan pengalaman siswa. Dari berbagai pendapat tokoh pendidikan. Sebagai perantara mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Dalam evaluasi pendidikan harus diperhatikan beberapa hal yaitu: bahwa evaluasi harus bermuara pada tujuan. begitu pula Islam. dimana semua materi termasuk ilmu alam harus diajarkan menurut pandangan Islam. Menurut Muhaimin (1991: 87-88) ada satu ciri khas dari sistem evaluasi pendidikan yang Islami. . menjadi penting menyeleksi materi pendidikan. (2) harus berpegang pada realitas sosial. sedangkan waktu yang tersedia terbatas. dan (6) harus dapat memenuhi kebutuhan dan menarik minat peserta didik (Ghofir. Evaluasi semacam ini menjadi penting karena sebagai sosok social being dalam kenyataannya ia tak bisa hidup (lahir dan proses dibesarkan) tanpa bantuan orang lain. yaitu self-evaluation disamping tetap adanya evaluasi kegiatan belajar peserta didik. Sistem Evaluasi Pendidikan Islam Sistem evaluasi pendidikan dimaksudkan dalam rangka memenuhi kebutuhan psikologis. dan berorientsai pada pelestarian nilai-nilai insani dan ilahi. (4) menjangkau tujuan yang luas. diperlukan bahan ajar atau materi pendidikan. Tidak ada klasifikasi mata pelajaran umum dan agama. Komponen Pelaksanaan Kelompok komponen-komponen pelaksanaan pendidikan. komprehensif dan harus dilakukan secara kontinyu. didaktis. dan pemanfaatan lingkungan. 1. dapat ditemukan beberapa orientasi pendidikan antara lain: berorientasi pada peserta didik. (3) kedalam dan keluasannya harus seimbang. pada tenaga kerja. proses pelaksanaan. serta administrasi atau manajerial. 1993: 37-38). pada social-demend. mencakup materi pendidikan. Kenyataan menunjukkan bahwa banyak sekali tuntutan yang harus dipenuhi lembaga pendidikan pada umumnya. Materi pendidikan Siswa belajar dalam bentuk interaksi dengan lingkungannya dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Sehingga dalam hal ini. 5. sistem penyampaian. dilaksanakan secara obyektif. Dalam rangka memilih materi pendidikan. Islam dengan Al Qur¶annya menurut Abdurrahman Saleh Abdullah dipandang sebagai landasan pendidikan Islam yang prinsipnya hendak menyatukan mata pelajaran yang bermacam-macam.

serta pendekatan pembelajaran. maka di lingkungan luar sekolah juga demikian halnya. intensitas dan frekuensinya. sangat diperlukan adanya pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar. 2. membawa siswa ke masyarakat. 4. Metode misalnya. dan / atau antar peserta didik di dalam dan di luar kegiatan belajar mengajar. serta penciptaan suasana betah di sekolah. dan peserta didik dengan lingkungannya. . serta pengelolaan kelas. Kalau di lingkungan sekolah. Sistem penyampaian ini paling minim berkaitan dengan metode yang digunakan dalam menyampaikan materi. sekuensi materi. Sehingga memungkinkan terjadinya interaksi antara peserta didik dengan guru. membawa sumber dari luar ke dalam kelas. Sementara itu Muhaimin (2003: 184) mengidentifikasi bahwa sistem pengampaian ini mencakup beberapa hal pokok. Proses belajar mengajar (pelaksanaan) Proses pelaksanaan belajar mengajar dalam pendidikan Islam secara umum dilaksanakan dengan lebih banyak mengacu kepada bagaimana seorang peserta didik belajar selain kepada apa yang dipelajari. dan sebagainya. pengetahuan tentang metode mengajar yang terpenting adalah pengetahuan tentang cara menyusun urutan kegiatan belajar mengajar dalam rangka pencapaian tujuan (Tafsir. Bagi Ahmad Tafsir. model interaksi pendidik-peserta didik . Sehingga dalam hal ini terlihat betapa pentingnya pengetahuan tentang metode bagi seorang guru. ia ikut menentukan efektif atau tidaknya proses pencapaian tujuan pendidikan. serta sumber acuannya. Sistem Penyampaian Sistem penyampaian merupakan sistem atau strategi yang digunakan dalam menyampaikan materi pendidikan yang telah dirumuskan. secara otomatis ia juga harus memikirkan strategi yang sesuai untuk menyajikan materi pendidikan tersebut. 1999: 34). Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam pelaksanaan belajar mengajar antara lain adalah pola atau pendekatan belajar-mengajar yang digunakan.Untuk mencapai materi pendidikan seperti yang diinginkan ini. klasifikasi materi. serta pemanfaatan media pendidikan. Pemanfaatan lingkungan masyarakat sebagai sumber belajar bisa dilakukan dengan cara: melakukan kerja sama dengan orang tua murid. 3. pengaturan kelas. yaitu: strategi dan pendekatannya. metode pengajarannya. Pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar Dalam pendidikan Islam. siswa dapat belajar dari guru dan sesama temannya. paling tidak yang perlu diperhatikan dalam rangka pengembangannya adalah jenis materi. Lingkungan tersebut bisa lingkungan sekolah maupun luar sekolah dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. ruang lingkup materi. Ketika guru menyusun materi pendidikan. Semakin tepat metode yang digunakan. akan semakin efektif proses pencapaian tujuan pendidikan tersebut. sesama peserta didik.

akibat munculnya serangkaian fenomenalulusan pendidikan yang secara moral cenderung merosot dan secara intelektual akademik juga kurang siap memasuki lapangan kerja (Abuddin Nata. santri. mursyid. seorang guru memliki peran dan fungsi untuk membangun peradaban (civilization) yang berkualitas di masa yang akan datang. placement. Dilihat dari segi aktualisasinya. Guru sebagai mursyid dituntut menularkan penghayatan (transinternalisasi) akhlaq dan/atau kepribadiannya pada peserta didik. Sedangkan dalam perspektif humanisme religius. atau dalam pengertian yang lebih semple seorang guru harus merupakan ³model´ atau pusat anutan. Sebagai mu¶addib. 2003: 136). Sebagai murabby. baik itu berupa etos ibadah. maka baik langsung maupun tidak langsung akan terkait dengan peranan guru sebagai pendidik profesional. perlu diperhatikan beberapa 2. seorang guru biasa disebut sebagai ustadz. pengembangan tenaga pendidik. menghilangkan ketidaktahuan atau memberantas kebodohan mereka. minat.mudarris. dan penuh kasih sayang (loving) dalam mengajar dan mendidik (Abdurrahman Mas¶ud. Kalau fenomena tersebut benar adanya. teladan bagi peserta didik. 2002: 194). maupun dedikasinya. Sebagai ustadz. Peranan guru sebagai pendidik profesional akhir-akhir ini dipertanyakan eksistensinya. sekaligus mengatur dan memelihara hasil kreasinya agar tidak menimbulkan malapetaka bagi dirinya. Pekerjaan mendidik merupakan pekerjaan profesional. anak didik dan berbagai sebutan lainnya. pendidikan merupakan proses interaksi antara guru (pendidik) dengan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan. Sementara sebagai mudarris guru bertugas mencerdaskan peserta didiknya. Murid misalnya. mu¶allim. sehingga guru sebagai pelaku utama pendidikan merupakan pendidik profesional. 2003: 209-213). Peserta didik Banyak sebutan di sekitar kita mengenai peserta didik ini. secara terminologi dapat diartikan .Komponen Pelaksana dan pendukung kurikulum 1. antusiasme. Ada yang menyebut murid. masyarakat. siswa. serta melatih ketrampilan peserta didik sesuai bakat. Komponen pendidik Dalam perspektif pendidikan Islam. etos belajar. secara konvensional guru paling tidak harus memiliki tiga kualifikasi dasar. kualifikasinya. etos kerja. ia dituntut untuk komitmen terhadap profesionalisme dalam mengemban tugasnya yaitu menyiapkan generasi penerus yang akan hidup pada zamannya di masa depan. Sehingga sejalan dengan hal tersebut terkait dengan masalah pendidik sebagai komponen kurikulum pendidikan. yaitu menguasai materi. dan alam sekitarnya. dan kemampuannya. Sebagai mu¶allim ia dituntut mampu mengajarkan kandungan ilmu pengetahuan dan al hikmah atau kebijakan dan kemahiran melaksanakan ilmu pengetahuan itu dalam kehidupan yang mendatangkan manfaat dan semaksimal mungkin menjauhi madlarat. guru dituntut menyiapkan peserta didik agar mampu berkreasi. imbalan atas kesejahteraan. dan sebagainya. hal yaitu: kode etik guru/pendidik. murabby. dan mu¶addib(Muhaimin.

Karena di padepokan. bakat. baik itu mengenai pendidikannya. serta mengena pada sasarannya sebagai sarana pencapaian tujuan pendidikan (Sukardi. dalam rangka antara lain memperkembangkan pengertian dan pemahaman pada diri siswa untuk mencapai kemajuan di sekolah. proses layanan serta termasuk di dalamnya teknik bimbingan dan konselingnya. Istilah santri kalau berasal dari kata cantrik lebih pas dengan pendidikan Islam. karena ini akan berkaitan erat dengan kapasitas sarana pendidikan yang dimiliki oleh sebuah lembaga pendidikan Islam. 3. dan lainnya. Selain itu juga perlu diperhatikan mengenai rumusan tentang kualitas output peserta didik yang diinginkan. beberapa hal yang perlu dikembangkan terkait dengan komponen peserta didik (input) antara lain adalah persyaratan penerimaan (rekrutmen) siswa baru. dan masyarakat (Natawidjaja. hubungan dengan orang tua dan masyarakat. Pelaksanaan bimbingan dan konseling dalam pendidikan akan efektif dan berhasil apabila dilaksanakan atau dilakukan oleh suatu tim kerja (team work). Dan tak kalah pentingnya adalah latar belakang peserta didik. perpustakaan. Kemudian yang juga perlu mendapatkan perhatian adalah jumlah peserta didik yang diinginkan. . 1987: 7). maka melahirkan konsep ³santri kelana´. 2003: 7). Program perencanaan kegiatan bimbingan dan konseling perlu disusun agar upaya kegiatan layanan bimbingan di sekolah benar-benar berdaya guna dan berhasil guna. potensi. ketatausahaan. media pendidikan. akan dibawa ke mana anak didiknya harus secara jelas dan tegas dirumuskan. masih ada komponen lain diantaranya: administrasi pendidikan (manajemen kelembagaannya.sebagai orang yang sungguh-sungguh mencari ilmu dengan mendatangu guru. sarana dan prasarana (buku teks. supaya individu dapat memahami dirinya sehingga sanggup mengarahkan dirinya dan dapat bertindak secara wajar. pengalaman hidupnya. sesuai dengan tuntutan dan keadaan lingkungan sekolah. Sedangkan konseling merupakan bantuan yang diberikan kepada klien dalam memecahkan masalah kehidupan dengan wawancara face to face atau yang sesuai dengan keadaan klien yang dihadapi untuk mencapai kesejahteraan hidupnya (Sukardi. ketika dihadapkan pada orang yangmeguru kepada seorang guru. Selain komponen tersebut sebagai bagian dari komponen pelaksana dan pendukung. Bimbingan mengandung pengertian proses pemberianbantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan. seorang cantrik pasti patuh pada sangguru. Dalam pendidikan Islam. 2003: 67). serta gedung sekolah). serta manajemen informasi). laboratorium. Sedangkan dalam pendidikan Islam. sosialnya. Komponen bimbingan dan konseling Bimbingan dan penyuluhan adalah terjemahan dari bahasa Inggrisguidance (bimbingan) dan counseling (penyuluhan). Kemudian tim kerja inilah kemudian yang akan menyusun program perencanaan kegiatan bimbingan dan konseling di lembaga pendidikan. keluarga. ketenagaannya. minat. budayanya. perlengkapan sekolah. jenis program dan layanannya. Selain itu dalam kegiatan bimbingan dan konseling perlu diperhatikan pula strategi pendekatannya. Sedangkan bimbingan dan konseling dalam pendidikan Islam merupakan proses pengajaran dan pembelajaran psikososial yang berlaku dalam bentuk tatap muka antara konselor dengan peserta didik.

dan terjalinnya keja sama dengan lembaga±lembaga lain baik yang berada di dalam maupun di luar negeri dalam rangka pengembangan kurikulum tersebut. dan jangka panjang. serta sistem pertanggungjawaban keuangan dan pengawasannya) (Muhaimin. Komponen Usaha-Usaha Pengembangan Usaha pengembangan yang dimaksudkan di sini adalah usaha pengembangan ketiga kelompok komponen kurikulum di atas dengan berbagai unsurnya dalam rangka memperbaiki bangunan sistem tersebut. menengah. munculnya peranan dan partisipasi komite sekolah. dsb. DAFTAR RUJUKAN . adanya perencanaan jangka pendek. simposium.dan biaya pendidikan (sumber biaya dan alokasinya. diskusi. adanya seminar. Realisasi dari adanya usaha pengembangan tersebut ditunjukkan dengan adanya evaluasi dan inovasi kurikulum. lokakarya. 2003: 186-187). adanya penerbitan-penerbitan. perencanaan penggunaan biaya.. adanya penelitian terhadap efektifitas dan kualitas kurikulum yang sedang berjalan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->