P. 1
Diabetes Mellitus

Diabetes Mellitus

|Views: 17|Likes:
Published by elfath48

More info:

Published by: elfath48 on Jan 13, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/13/2012

pdf

text

original

Diabetes mellitus (DM) merupakan suatu penyakit metbolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin

, kerja insulin atau kedua-duanya. Secara epidemiologic diabetes seringkali tidak terdeteksi dan dikatakan onset atau mulai terjadinya diabetes adalah 7 tahun sebelun diagnosis ditegakkan, sehingga morbiditas dan mortalitas dini terjadi pada kasus yang tidak terdeteksi ini. Factor resiko terjadinya diabetes mellitus tipe II adalah bertambahnya usia, obesitas, distribusi lemak tubuh, kurangnya aktivitas jasmani, dan hiperinsulinemia. Semua factor tersebut berinteraksi dengan beberapa factor genetic yang berhubungan dengan terjadinya DM tipe II. DIAGNOSIS Diagnosis DM didasarkan atas diagnosis klinis dan diagnosis laboratories. Diagnosis klinis DM umumnya akan dipikirkan bila keluhan khas DM berupa poliuri, polidipsi, polifagi dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya. Keluhan lain yang mungkin muncul adalah lemah, kesemutan, gatal, mata kabur, dan disfungsi ereksi pada pria, serta pruritus vulva pada wanita. Diagnosis laboratoris seperti ditunjukkan pada table di bawah ini: Tabel 2. Kadar glukosa darah sewaktu & puasa sebagai patokan penyaring & diagnosis Bukan DM GDS (mg/dl) Plasma vena Kapiler GDP (mg/dl) Plasma vena Kapiler <110 90 <110 90 Belum pasti DM 110-199 90-199 110-125 90-109 DM •200 •200 •126 •110

Berdasarkan criteria klinis dan laboratories di atas diagnosis DM tegak jika: 1. Gejala klasik + glukosa darah sewaktu •200 mg/dl 2. Glukosa darah puasa •126 mg/dl 3. Kadar glukosa plasma •200 mg/dl pada 2 jam sesudah makan atau beban glukosa 75 gram pada TTGO

Ketiga criteria diagnosis tersebut harus dikonfirmasi ulang di hari yang lain atau esok harinya, kecuali untuk keadaan khas hiperglikemia yang jelas tinggi dengan dekompensasi metabolic akut. PATOGENESIS Diabetes Mellitus tipe II dicirikan dengan terjadinya gangguan sekresi insulin, resistensi insulin, peningkatan produksi glukosa dalam hati, dan gangguan metabolism lemak. 1. Resistensi insulin Resistensi insulin merupakan salah satu penyebab terjadinya hiperglikemi pada diabetes mellitus tipe II. Sehingga meskipun kadar insulin plasma meningkat, kadar gula plasma tetap tinggi, sementara itu pankreas tetap mensekresikan insulin dalam jumlah banyak karena sel-sel belum mendapatkan asupan glukosa yang cukup 2. Gangguan sekresi insulin Pada diabetes mellitus tipe II terjadi gangguan sekresi insulin, dimana pancreas mensekresikan insulin lebih banyak untuk memelihara toleransi glukosa normal yang terganggu karena resistensi insulin. Pada awalnya gangguan yang terjadi bersifat ringan, dan hanya terjadi ketika ada stimulus dari glukosa plasma. Namun secara bertahap gangguan sekresi memberat dan terjadi sekresi insulin yang tidak adekuat. 3. Peningkatan produksi glukosa dari hati Resistensi insulin yang terjadi di hepar menggambarkan kegagalan kondisi

hiperinsulinemi untuk mencegah terjadinya glukoneogenesis, yang menyebabkan peningkatan kadar gula darah puasadan penurunan cadangan glikogen dalam hepar. . 4. Gangguan metabolism lemak Keadaan resistensi insulin di jaringan adipose menyebabkan terjadi pelepasan asam lemak bebas, yang menyebabkan peningkatan sintesa VLDL dan Trigliserid dalam hepar (Powers, Harrison).. KOMPLIKASI

Komplikasi dari diabetes mellitus tipe II terbagi menjadi dua macam 1. Komplikasi akut a. Ketoasidosis diabetic (KAD), yaitu keadaan di mana terjadi peningkatan glukosa plasma, serum keton positif, dan terjadi asidosis metabolic (Powers, Harrison22752310). KAD bisa menyebabkan terjadinya oedem pulmo, oedem cerebri, dan hiperkalemi. b. Koma Hiperglikemik hiperosmolar: yaitu keadaan di mana terjadi peningkatan glukosa plasma sehingga osmolaritas darah meningkat, tapi tidak terjadi ketonuria maupun ketonemia (Soewondo, PApdi, 1878). c. Asidosis laktat, yaitu suatu keadaan asidosis metabolic dengan peningkatan asam laktat dan nilai anion gap (selisih antara nilai anion dan kation dalam serum). Bisa terjadi karena efek dari obat terutama golongan biguanid pada pasien dengan penyakit hati, ginjal, alkoholisme, sepsis, dehidrasi, dan pasien lansia (Soewondo dan Hendarto, papdi, 1882). 2. Komplikasi Kronis a. Mikrovaskular : y Penyakit pada mata - Retinopati - Macular edema y Neuropati - Sensorik dan motorik - Otonom y Nephropati b. Makrovaskular y y y Penykit pembuluh arteri Penyakit pembuluh darah perifer Gangguan cerebrovascular

c. Lain-lain y y Gastroparesis, diare Uropati dan disfungsi seksual

y y y y y

Gangguan dermatologis Infeksi Katarak Glaucoma Gangguan periodontal (Powers Harrison)

PENATALAKSANAAN Langkah pertama dalam mengelola diabetes mellitus selalu dimulai dengan pendekatan nonfarmakologis, yaitu berupa perencanaan makan/ terapi nutrisi medic, kegiatan jasmani dan penurunan berat badan bila didapat berat badan lebih atau obes. Bila dengan langkah-langkah tersebut sasaran pengendalian diabetes belum tercapai, maka dilanjutkan dengan penggunaan obat atau intervensi farmakologis. Intervensi farmakologis terdiri dari obat anti hiperglikemik oral dan insulin. 1. Obat antihiperglikemik oral (OHO) a. Golongan insulin sensitizing: biguanid (contoh : metformin) dan glitazon (contoh: thiazolidindion) b. Golongan sekretagog insulin : Sulfonilurea (contoh: glibenklamid, glipisid, glikuidon, glimepirid) dan glinid (contoh: repaglinid, Nateglinid) c. Penghambat Alfa Glukosidase, contoh : Acarbose 2. Insulin Insulin diindikasikan pada pasien Diabetes Mellitus tipe II dalam kondisi tertentu, yaitu: a. Penurunan berat badan yang cepat b. Hiperglikemia yang berat yang disertai ketosis c. KAD d. HONK e. Hiperglikemia dengan asidosis laktat f. Gagal dengan kombinasi OHO dengan dosis hampir maksimal g. Pasien dalam perawatan rumah sakit, atau sakit yang sifatnya akut h. Kehamilan i. Gangguan fungsi hati dan ginjal yang berat

j.

Kontraindikasi dan alergi terhadap OHO (Tjokroprawiro, Unair, 29-74)

Insulin efek jangka menengah dan panjang (Monotard human, insulated human, Humulin N, Insulin Glargin) perannya dimaksudkan sebagai insulin basal, sedangkan insulin prandial diperankan oleh insulin jangka pendek (Actrapid, Humulin R, Novo rapid). (Asman manaf, papdi, 1868-1869)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->