P. 1
Ujian Praktikum Kimia Klinik Pemeriksaan HbA1c

Ujian Praktikum Kimia Klinik Pemeriksaan HbA1c

|Views: 1,685|Likes:

More info:

Published by: Anggy Anggraeni Wahyudhie on Jan 15, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/01/2013

pdf

text

original

MAKALAH INDIVIDU UJIAN PRAKTIKUM KIMIA KLINIK

PEMERIKSAAN HbA1c

OLEH NAMA NIM : ANGGY ANGGRAENI WAHYUDHIE : 0808505002

JURUSAN FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS UDAYANA 2011

BAB I PENDAHULUAN Diabetes mellitus (DM) didefinisikan sebagai suatu penyakit atau gangguan metabolisme kronis dengan multi etiologi yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah disertai dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lipid dan protein sebagai akibat insufisiensi fungsi insulin. Insufisiensi fungsi insulin dapat disebabkan oleh gangguan atau defisiensi produksi insulin oleh sel-sel beta Langerhans kelenjar pankreas, atau disebabkan oleh kurang responsifnya sel-sel tubuh terhadap insulin (WHO, 1999). Angka kejadian Diabetes Mellitus (DM) terus menunjukkan peningkatan, menurut konsensus para ahli endokrin Indonesia tahun 2002 diperkirakan terdapat kira-kira 7 juta penduduk Indonesia menderita DM pada tahun 2020 (Lembar, 2006). Diabetes Mellitus merupakan kelainan metabolik endokrin yang dapat menyerang pada semua kelompok umur dan jenis kelamin, akan tetapi pada beberapa penelitian menunjukkan bahwa kelainan ini ada korelasinya dengan perubahan mutasi pada jenis gen tertentu sehingga sifatnya akan diturunkan pada garis keturunan secara langsung. Beberapa faktor juga dapat memicu timbulnya kelainan ini diantaranya pola makan yang kelebihan karbohidrat, berat badan berlebih, peminum alkohol berat dan lain-lain, akan tetapi semua faktor yang disebutkan dapat dicegah dengan perbaikan gaya hidup (Lembar, 2006). Sebenarnya keadaan yang ditimbulkan pada DM ini dapat diatasi dengan pengobatan yang adekuat dan diet makanan yang seimbang, akan tetapi yang ditakutkan adalah timbulnya komplikasi pada penderita DM. Seperti yang diketahui bahwa DM merupakan kelainan metabolik endokrin pada tubuh manusia sebagai akibat peningkatan kadar gula darah di dalam aliran darah sehingga menyebabkan perlambatan aliran darah karena konsentrasi dan viskositas yang meningkat. Keadaan seperti ini lama kelamaan akan menimbulkan kerusakan beberapa organ vital seperti ginjal, jantung, otak dan retina pada mata. Kerusakan ini akan menimbulkan gangguan fungsi ginjal sampai terjadi gagal ginjal, penyumbatan pembuluh darah koroner jantung dan menyebabkan penyakit jantung koroner, penyumbatan pembuluh darah otak yang bisa menyebabkan stroke serta menimbulkan kebutaan jika terjadi penyumbatan pembuluh darah pada organ mata terutama retina (Lembar, 2006).

Untuk mencegah peningkatan angka kejadian penyakit DM, maka tenaga kesehatan terutama dokter harus dapat mendiagnosis lebih dini terhadap kelompok populasi dengan faktor resiko yang tinggi dan mencegah komplikasi yang terjadi jika seseorang telah mengalami penyakit DM. Selain pemberian pengobatan yang adekuat dan menjaga pola makan dengan baik, penderita perlu melakukan pemeriksaan fisik, laboratorium dan pemeriksaan penunjang lainnya seperti rontgen atau funduskopi dan elektrokardiogram (rekam jantung) secara berkala. Pemeriksaan dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui lebih dini komplikasi yang terjadi pada penderita DM sehingga dapat dicegah dan diobati lebih dini (Lembar, 2006). Salah satu pemeriksaan laboratorium yang digunakan untuk mengetahui komplikasi lebih dini dan mengontrol kepatuhan berobat penderita DM adalah pemeriksaan kadar HbA1c. HbA1c yang lebih dikenal dengan hemoglobin glikat adalah salah satu fraksi hemoglobin yang terbentuk dari reaksi non-enzimatik antara glukosa dengan N terminal Valin rantai b hemoglobin A dengan ikatan Almidin. Produk yang dihasilkan ini diubah melalui proses Amadori menjadi ketoamin yang stabil dan irreversibel (Widijanti dan Ratulangi, 2011). HbA1c yang terbentuk dalam tubuh akan disimpan dalam sel darah merah dan akan terurai secara bertahap bersama dengan berakhirnya masa hidup sel darah merah (rata-rata umur sel darah merah adalah 120 hari). Jumlah HbA1c yang terbentuk sesuai dengan konsentrasi glukosa darah (Prodia, 2008). Kadar HbA1c yang terukur sekarang mencerminkan kadar glukosa pada waktu 3 bulan yang lalu sehingga hal ini dapat memberikan informasi seberapa tinggi kadar glukosa pada waktu tersebut. Dengan melakukan pemeriksaan ini kita juga dapat mengetahui seberapa besar kepatuhan dalam berobat pada penderita DM. Sebagai contoh seorang penderita telah didiagnosis DM kira-kira 3 tahun dan telah diberikan pengobatan yang sesuai, namun seberapa patuh atau teraturnya pasien tersebut minum obat tidak dapat diketahui dengan pasti. Setiap datang kontrol ke dokter selalu membawa hasil pemeriksaan laboratorium untuk glukosa darah dalam keadaan normal atau sedikit lebih tinggi, hal ini bisa terjadi jika pasien minum obat-obatan 3 hari sebelum kontrol ke dokter dengan dosis yang teratur, akan tetapi setelah diukur kadar HbA1c ternyata menunjukkan hasil yang tinggi. Hal ini menunjukkan kepatuhan berobat atau minum obat masih rendah (Lembar, 2006). Secara umum manfaat dari pemeriksaan HbA1c sehingga perlu dilakukan oleh penderita DM antara lain sebagai monitoring kontrol glukosa jangka panjang, penyesuaian terapi, menilai

kualitas perawatan diabetes, memprediksi kerusakan jaringan yang disebabkan oleh tingginya kadar glukosa darah dan melihat kepatuhan pengobatan penderita DM (Harefa, 2011). Pemeriksaan glukosa darah tidak dapat digantikan dengan pemeriksaan HbA1c walaupun pemeriksaan HbA1c lebih unggul karena kedua pemeriksaan ini saling menunjang untuk mencapai kualitas pengendalian DM, walaupun pemeriksaan glukosa darah puasa dan 2 jam setelah makan hanya dapat mencerminkan konsentrasi glukosa darah pada saat diukur dan sangat dipengaruhi oleh makanan, olahraga dan obat yang baru dikonsumsi tetapi pemeriksaan ini sangat diperlukan terutama untuk melihat adanya perubahan kadar glukosa secara mendadak. Pasien diabetes sebaiknya memeriksakan kadar HbA1c setiap 3 bulan atau 4 kali dalam setahun dan untuk pasien diabetes yang terkendali, direkomendasikan untuk melakukan pemeriksaan ini setiap 6 bulan (Prodia, 2008).

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Prinsip pemeriksaan Prinsip pemeriksaan HbA1c adalah mengukur persentasi hemoglobin sel darah merah yang diselubungi oleh gula. Semakin tinggi nilainya berarti kontrol gula darah buruk dan kemungkinan komplikasi semakin tinggi. Pada orang yang tidak menderita diabetes, kadar HbA1c berkisar antara 4,5 sampai 6%. Jika kadarnya 6,5% atau lebih pada dua pemeriksaan terpisah, maka kemungkinan orang tersebut menderita diabetes. Nilai antara 6 sampai 6,5% menunjukkan keadaan pradiabetes. Penderita diabetes yang tidak terkontrol dalam waktu yang lama biasanya memiliki kadar HbA1c lebih dari 9% sedangkan target pengobatan adalah kadar HbA1c sebesar 7% atau kurang (Githafas, 2010). Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

(Harefa, 2011)

Pemeriksaan kadar HbA1c memiliki banyak keunggulan dibandingkan pemeriksaan glukosa darah yaitu antara lain: a. Tidak perlu puasa dan dapat diperiksa kapan saja b. Memperkirakan keadaan glukosa darah dalam jangka waktu lebih lama (2-3 bulan) atau tidak dipengaruhi perubahan gaya hidup jangka pendek. c. Metode telah terstandarisasi dengan baik dan keakuratannya dapat dipercaya d. Variabilitas biologisnya dan instabilitas preanalitiknya lebih rendah dibanding glukosa plasma puasa. e. Kesalahan yang disebabkan oleh faktor nonglikemik yang dapat mempengaruhi nilai HbA1c sangat jarang ditemukan dan dapat diminimalisasi dengan melakukan pemeriksaan konfirmasi diagnosis dengan glukosa plasma. f. Pengambilan sampel lebih mudah dan pasien merasa lebih nyaman. g. Lebih stabil dalam suhu kamar dibanding glukosa plasma puasa. h. Memiliki keterulangan pemeriksaan yang jauh lebih baik dibanding glukosa puasa i. Lebih direkomendasikan untuk pemantauan pengendalian glukosa j. Level HbA1c berkorelasi dengan komplikasi diabetes sehingga lebih baik dalam memprediksi komplikasi mikro dan makrokardiovaskular. (Harefa, 2011) Selain keunggulan, pemeriksaan kadar HbA1c juga memiliki beberapa keterbatasan antara lain: a. Saat interpretasi HbA1c bermasalah, maka pemeriksaan glukosa puasa dan postprandial dianjurkan untuk tetap digunakan. b. Meningkat seiring bertambahnya usia, akan tetapi seberapa besar perubahan dan pengaruh usia terhadap peningkatan HbA1c belum dapat dipastikan. c. Harganya lebih mahal dibandingkan pemeriksaan glukosa d. Etnis yang berbeda memiliki sensitivitas dan spesifisitas HbA1c yang berbeda, diduga mungkin berkaitan dengan: perbedaan genetik dalam konsentrasi hemoglobin (Hb), tingkat kecepatan glikasi (perbedaan tingkat kecepatan glukosa masuk dalam eritrosit, kecepatan penambahan atau lepasnya glukosa dari hemoglobin) dan masa hidup/daya tahan serta jumlah sel darah merah. (Harefa, 2011)

2.2 Metode pemeriksaan Terdapat beberapa metode yang sering digunakan dalam pemeriksaan kadar HbA1c antara lain: 1. Metode Kromatografi Pertukaran Ion (Ion Exchange Chromatography) Prinsip dari metode ini adalah titik isoelektrik HbA1c lebih rendah dan lebih cepat bermigrasi dibandingkan komponen Hb lainnya. Apabila menggunakan metode ini harus dikontrol perubahan suhu reagen dan kolom, kekuatan ion dan pH dari buffer (Widijanti dan Ratulangi, 2011). Kelemahan dari metode ini adalah adanya interferensi variabel dari hemoglobinopati, HbF dan carbamylated Hb (HbC) yang bisa memberikan hasil negatif palsu. Keuntungan metode ini adalah dapat memeriksa kromatogr am Hb varian dengan tingkat presisi yang tinggi (Harefa, 2011). 2. Metode HPLC (High Performance Liquid Chromatography) Metode ini memiliki prinsip yang sama dengan Ion Exchange Chromatography, bisa diotomatisasi serta memiliki akurasi dan presisi yang baik sekali. Metode ini juga direkomendasikan menjadi metode referensi untuk pemeriksaan kadar HbA1c (Widijanti dan Ratulangi, 2011). 3. Metode Agar Gel Elektroforesis Metode ini memiliki hasil yang berkorelasi dengan baik dengan HPLC tetapi presisinya kurang dibandingkan HPLC. HbF memberikan hasil positif palsu tetapi kekuatan ion, pH, suhu, HbS dan HbC tidak banyak berpengaruh pada metode ini (Widijanti dan Ratulangi, 2011). 4. Metode Immunoassay (EIA) Prinsip dari metode ini adalah ikatan yang terjadi antara antibodi dengan glukosa dan antara asam amino-4 dengan 10 N-terminal rantai β. Kelemahan dari metode ini adalah dipengaruhi oleh gangguan hemoglobinopati dengan asam amino lengkap pada sisi yang berikatan dan beberapa gangguan yang berasal dari HbF (Harefa, 2011) sehingga metode ini hanya mampu mengukur HbA1c dan tidak dapat mengukur HbA1c yang labil maupun HbA1A dan HbA1B (Widijanti dan Ratulangi, 2011). Keuntungan dari metode ini adalah

tidak dipengaruhi oleh HbE dan HbD maupun carbamylated Hb, relatif lebih mudah diimplementasikan pada berbagai format yang berbeda dan memiliki presisi yang baik (Harefa, 2011). 5. Metode Affinity Chromatography Prinsip dari metode ini adalah glukosa yang terikat pada asam m-aminofenilboronat. Kelemahan dari metode ini adalah bukan hanya mengukur glikasi valin pada N-terminal rantai β tetapi juha glikasi rantai β pada bagian lain dan glikasi rantai α sehingga hasil pengukuran dengan metode ini lebih tinggi daripada dengan metode HPLC (Harefa, 2011). Keuntungan metode ini adalah non-glycated hemoglobin serta bentuk labil dari HbA1c tidak mengganggu penetuan hemoglobin glikasi, tidak dipengaruhi suhu, presisi baik, HbF, HbS dan HbC hanya sedikit mempengaruhi metode ini (Widijanti dan Ratulangi, 2011). 6. Metode Analisis Kimiawi dengan Kolorimetri Metode ini memerlukan waktu inkubasi yang lama yaitu sekitar 2 jam tetapi keuntungannya lebih spesifik karena tidak dipengaruhi oleh -glycosylated ataupun glycosylated labil. Kerugiannya adalah waktu lama, sampel besar dan satuan pengukuran yang kurang dikenal oleh klinisi yaitu mmol/L (Widijanti dan Ratulangi, 2011). 7. Metode Spektrofotometri Prinsip dari metode ini adalah penghilangan fraksi labil dari hemoglobin dengan cara haemolysate kemudian ditambahkan agen penukar ion kationik kemudian dibaca dengan instrument spektrofotometer pada panjang gelombang 415 nm (Fortress, 2000).

2.3 Bahan atau spesimen yang digunakan Bahan atau spesimen yang digunakan untuk pemeriksaan HbA1c adalah sampel darah yang diambil dari pembuluh darah vena di lengan (Prodia, 2008). Bagian dari lengan yang diambil darahnya biasanya dari bagian dalam siku atau bagian belakang tangan. Sebelum dilakukan pengambilan darah, tempat yang akan ditusuk harus dibersihkan terlebih dahulu dengan larutan antiseptik, kemudian tenaga kesehatan membungkus daerah di sekitar lengan

atas dengan sebuah band elastis. Hal ini dilakukan dengan tujuan memberikan tekanan pada daerah tersebut sehingga vena menjadi membengkak oleh darah. Selanjutnya, tenaga kesehatan memasukkan dengan perlahan jarum ke dalam vena. Darah dikumpulkan dalam tabung kedap udara yang melekat pada jarum kemudian band elastis dilepaskan agar peredaran darah di daerah lengan atas kembali lancar. Bekas tusukan jarum ditutup untuk menghentikan pendarahan. Pada bayi atau anak-anak, alat tajam yang disebut dengan lanset dapat digunakan untuk menusuk kulit dan membuat terjadi perdarahan. Darah yang diperoleh dikumpulkan ke dalam tabung gelas kecil yang disebut pipet atau ke strip slide atau strip tes (Indah, 2011). 2.4 Penanganan khusus Tidak terlalu banyak hal-hal khusus yang harus diperhatikan dalam penanganan pemeriksaan HbA1c karena pemeriksaan ini dapat dilakukan kapan saja tanpa pasien diwajibkan melakukan puasa terlebih dahulu dan tidak dipengaruhi oleh makanan, obatobatan serta emosi pasien (Lembar, 2006). Hal yang perlu mendapat perhatian khusus adalah pada saat pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan HbA1c, biasanya untuk mengetahui kadar gula seseorang dilakukan cek darah di jari, tetapi untuk melakukan diagnosis diabetes dengan pemeriksaan HbA1c, darah yang diambil berasal dari pembuluh darah di lengan bukan di jari (Bararah, 2011). Selain itu proses penyimpanan sampel darah setelah diambil dari tubuh pasien harus disimpan dalam tabung atau tube yang steril dan diletakkan pada suhu kamar tidak boleh disimpan dalam lemari es serta tidak boleh disimpan lebih dari 24 jam. Apabila baru dipergunakan setelah 24 jam maka perlu ditambahkan pengawet seperti EDTA dan heparin sebagai antikoagulan (Departemen Mikrobiologi, 2010).

BAB III KESIMPULAN 1. Pemeriksaan kadar HbA1c dilakukan sebagai monitoring kadar glukosa jangka panjang (2-3 bulan), penyesuaian terapi, menilai kualitas perawatan diabetes, memprediksi kerusakan jaringan yang disebabkan oleh tingginya kadar glukosa darah dan melihat kepatuhan pengobatan penderita DM. 2. Pemeriksaan glukosa darah tidak dapat digantikan dengan pemeriksaan HbA1c walaupun pemeriksaan HbA1c lebih unggul karena kedua pemeriksaan ini saling menunjang untuk mencapai kualitas pengendalian DM. 3. Prinsip pemeriksaan HbA1c adalah mengukur persentasi hemoglobin sel darah merah yang diselubungi oleh gula. Semakin tinggi nilainya berarti kontrol gula darah buruk dan kemungkinan komplikasi semakin tinggi. 4. Metode yang dapat digunakan dalam pemeriksaan kadar HbA1c antara lain Metode Kromatografi Pertukaran Ion (Ion Exchange Chromatography), Metode HPLC (High Performance Liquid Chromatography), Metode Agar Gel Elektroforesis, Metode Immunoassay (EIA), Metode Affinity Chromatography, Metode Analisis Kimiawi dengan Kolorimetri dan Metode Spektrofotometri.

DAFTAR PUSTAKA Bararah, V.F. 2011. Pengambilan sampel darah diagnosis diabetes. (cited June 2011, 26). Available at: http://www.ilunifk83.com/t224p270-diabetes-melitus/ Departemen Mikrobiologi. 2010. Collection, Transport and Examination of Specimens. Medan: Fakultas Kedokteran USU. Fortress, 2000. Fortress Diagnostic Haemoglobin A1C Micro Column. United Kingdom: Fortress Diagnostic Limited. Githafas. 2010. Pemeriksaan HbA1c pada penderita diabetes. (cited June 2011, 26). Available at: http://www.ilunifk83.com/t224p270-diabetes-melitus/ Harefa, Emmy. 2011. HbA1c Standardization and Recent Updates. Makassar: Prodia Laboratories. Indah, N.I.S. 2011. HbA1C. (cited June 2011, 28). Available at: http://medicalstudentdate.blogspot.com/2011/hba1c.html/ Lembar, S. 2006. HbA1C sebagai kontrol penderita diabetes. (cited June 2011, 26). Available at: http:/// www.tanyadokteranda.com/.../hba1c-sebagai-kontrol-penderita-diabetes-mellitus/ Prodia. 2008. Tes HbA1C untuk cek rata-rata kadar gula darah. (cited June 2011, 27). Available at: http:///www.prodiakalimantan.com/tes-hba1c-untuk-cek-rata-rata-kadar-gula-darah/ WHO.1999. Report of a WHO ConsultationPart 1: Diagnosis and Classification of Diabetes Mellitus. Department of Noncommunicable Disease Surveillance Geneva. Definition, Diagnosis and Classification of Diabetes Mellitus and its Complications. Widijanti, Anik dan Ratulangi, B.T. 2011. Jenis pemeriksaan yang harus dilakukan penderita diabetes. Malang: Laboratorium Patologi Klinik RSUD Dr. Saiful Anwar/FK Unibraw.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->