P. 1
TBC tulang

TBC tulang

|Views: 1,443|Likes:
Published by Piun_Un_Kaeda__2025

More info:

Published by: Piun_Un_Kaeda__2025 on Jan 15, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/16/2013

pdf

text

original

Sections

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi yang begitu pesat sehingga berpengaruh terhadap lingkungan dan gaya hidup manusia yang tidak teratur. Perubahan ini juga dapat berpengaruh pada kesehatan seseorang. Banyak masyarakat yang masih belum tahu akan pentingnya kesehatan serta pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sehingga banyak sekali penyakit yang dapat ditimbulkan akibat hal yang demikian. Salah penyakit yang disebabkan oleh lingkungan yang tidak sehat adalah Tuberculosis tulang TB tulang merupakan penyakit infeksi akut atau kronik yang disebabkan oleh Microbakterium tuberkulosis. Yang menjadi masalah utama baik di Indonesia maupun di dunia pada TB tulang adalah penyakit infeksi ini menyerang tulang dan dapat menyebar hampir kesetiap bagian tubuh termasuk ginjal, tulang dan nodus limfe. Menurut WHO prevalensi tuberkulosis yang menular di Indonesia adalah 715.000 kasus/tahun,sedangkan pada pencatatan dan pelaporan yang diperoleh berdasarkan registrasi di ruang perawatan paru lantai III RSPAD Gatot Soebroto selama enam bulan terakhir sejak November 2007 – Januari 2008 diperoleh data dari 332 orang yang dirawat terdapat 20 orang pasien yang dirawat dengan kasus TB Paru atau sebesar 16%. Jumlah penderita TB tulang dari tahu ke tahun terus meningkat, kenyataan menangani TB Paru begitu mengkhawatirkan sehingga kita harus waspada sejak dini agar tidak terjadi komplikasi – komplikasi yang dapat timbul akibat TB tulang.Komplikasi tersebut dapat diminimalkan dengan mendapatkan perawatan secara benar den tepat. Oleh karena itu peran perawat sangat diperlukan baik dari aspek promotif yaitu dengan

1

penyuluhan kesehatan, preventive dengan menjaga kebersihan lingkungan rumah, kuratif dengan cara membawa pasien yang sakit untuk berobat, serta aspek rehabilitatif . Mengingat kompleksnya masalah – masalah yang timbul maka penulis ingin mengetahui bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan Tuberkulosis tulang dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan.

B. Tujuan Penulisan Adapun tujuan umum penulisan makalah ilmiah ini adalah untuk mendapatkan pengalaman nyata dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien TB tulang dengan menggunakan proses keperawatan. Sedangkan tujuan khususnya adalah untuk mendapatkan pengalaman nyata dalam: 1 2 Melakukan pengkajian pada klien TB tulang. Menganalisa data yang ditemukan pada klien TB tulang untuk

merumuskan diagnosa keperawatan. 3 4 Membuat rencana keperawatan pada klien TB tulang Melaksanakan rencana keperawatan yang telah disusun pada klien TB tulang 5 6 7 Mengevaluasi asuhan keperawatan pada klien TB tulang Membuat pendokumentasian pada klien TB tulang Mengidentifikasi adanya kesenjangan asuhan keperawatan antara teori

dan kasus nyata serta alternatif pemecahan masalah dari kesenjangan yang ditemukan.

C. Ruang lingkup Penulisan makalah ini merupakan pembahasan pemberian asuhan keperawatan pada Tn. N dengan Spondilitis di ruang Perawatan Bedah Lt.V RSPAD Gatot Soebroto

2

Jakarta yang dilaksanakan selama 3 hari mulai tanggal 26 januari sampai 29 januari 2008. D. Metode Metode yang digunakan dalam penyusunan makalah ilmiah ini adalah : 1 Metode deskriptif, tipe studi kasus dengan pendekatan proses

keperawatan. Tehnik yang digunakan dalam pengumpulan data dengan cara wawancara, observasi dan pemeriksaan fisik. Sumber data yang digunakan adalah data primer diperoleh langsung dari orang tua klien sedangkan data sekunder diperoleh dari keluarga, tenaga kesehatan, dokumentasi hasil pemeriksaan penunjang lainnya. 2 Studi Kepustakaan yaitu dengan mempelajari buku sumber yang

berhubungan dengan asuhan keperawatan yang diberikan pada klien.

E. Sistematika Penulisan Bab satu : pendahuluan terdiri dari latar belakang, tujuan penulisan, ruang lingkup, metode penulisan dan sistematika penulisan. Bab dua : konsep asuhan keperawatan pada klien TB Paru yang terdiri dari pengertian, patofisiologi, penatalaksanaan, pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Bab tiga : tinjauan kasus terdiri dari pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Bab empat : pembahasan yang dimulai dari pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Bab lima : penutup terdiri dari kesimpulan dan saran.

3

BAB II TINJAUAN TEORI

A. Pengertian Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksi pada paru yang disebabkan oleh Mycobakterium Tuberkulosis yaitu suatu bakteri tahan asam. ( Suriadi Skp dan Rita Yuliana, Skp 2001)

Tuberkulosis

adalah

penyakit

infeksi

yang

menular

yang

disebabkan

oleh

Mycobakterium Tuberkulosis, kuman batang aerob tahan asam. ( Sylvia A. Price 1995 )

TB Paru adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobakterium Tuberkulosis atau basil Tuberkel yang tahan asam. ( Jamtar Gayora 2001 ).

Berdasarkan ketiga pengertian diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksi menular pada apru yang disebabkan oleh Mycobakterium Tuberkulosis, kuman batang aerob tahan asam.

B. Patofisiologi Ada tiga pintu utama organisme M. Tuberkulosis yaitu saluran pernafasan, pencernaan dan luka terbuka pada kulit. Kebanyakan Infeksi TB Paru disebabkan oleh karena inhalasi basil tuberkel. Partikel yang menimbulkan infeksi disebarkan ke individu dari seseorang yang menderita infeksi aktif TB Paru, ditrasmisikan melalui batuk, bersin dan

4

Basil juga menyebar melalui kelenjar getah bening. Reaksi ini biasanya terjadi setelah 2 – 10 minggu yang dimanisfestasikan dengan reaksi terhadap tes tuberkulin dan nekrosis. bronchi bagian bawah lobus atas atau lobus bawah. sehingga terbentuk lesi – lesi pada bagian paru. penyakit ini dapat menjalar. 5 . sementara itu proses ini dapat menimbulkan gejala – gejala lain. vertebralis lumbalis juga dapat terserang dan akhirnya vetebralis pun tidak terlepas dari serangan focus yang pertema kali bersifat subperiostel. fibroblas dan limfosit sehingga bagian tengahnya lama – kelamaan akan nekrosis. Pneumoni selular ini dapat sembuh sendiri sehingga tidak ada sisa yang tertinggal. sehingga akhirnya carpusvertebralis tidak lagi kuat menahan berat badan dan seakan – akan hancur sehingga dengan demikian columba vertebralis pembengkakan hyperkypbose yang kita kenal sebagai gibbus. Alveoli yang tersering mengalami konsolidasi dan timbul gejala pneumoni akut. suatu obscess para vertebralis obsess terlihat dengan bentuk spoel di kiri – kanan columna vertebralis. dan bila proses infeksi terus terjadi maka basil TB Paru akan membengkak dimana basil – basil tersebut akan mengelilingi kolagen.dihirup orang lain melalui udara. tetapi organisme tersebut tidak dapat dimatikan. Nekrosis bagian sentral lesi akan mengakibatkan terbentuknya bentuk yang relatif padat seperti keju yang dikenal dengan nekrosis caseosa.diantaranya dapat terkumpulnya dadah yang semakin lama semakin banyak. Tempat implantasi basil Tuberkel yang paling sering adalah permukaan alveolar dan parenkim paru – paru. Leukosit polimorfonuklear tampak pada tempat tersebut dan mencoba memakan bakteri itu. Spondilis itu sendiri adalah vertebralis dan columnab vertebralis dapat dapat diserang namun yang terbanyak menyerang bagian thorax. Reaksi yang ditimbulkan oleh basil tuberkel merupakan suatu proses peradangan yang merusak sistem imun. dadah ini dapat juga menjalar menuju ke beberapa tempat diantaranya dapat berupa : 1.

3.2. 5. Kultur sputum : positif untuk Micobakterium tuberkulosis pada tahap aktif penyakit b. Tes PPD c. GDA 6 . 3. penyebaran ketulang adalah daerah metafisis tulang panjang dan ketulang spongiosa yang menyebabkan tuberkulosa tulang elestra – artikaler. paraplegia ini terjadi setelah penyakit spanditis sifatnya tenang untuk beberapa waktu lamanya kemudian timbul gejala – gejala paraplegia secara perlahan – lahan. Dapat pula abscess menjalar mengelilingi tulang rusuk. Penatalaksanaan 1 Penatalaksanaan medik a.penyebaran lain dapat juga ke sinorium dan menjalar ke tulang subkandral dan dapat terjadi paraplegia late onset. Gejala – gejala klinik antara lain : 1. Abses dapat pula menembus kebelakang dan berada dibawah fase dan kulit disebelah belakang dan diluar columna vertebralis merupakan suatu abses akan tetapi tidak panas. Umumnya abses ini dinamakan abscess dingin artinya abscess tuberculose. Semua abscess tersebut di atas dapat menembus kulit dan menybabkan timbulnya fistel yang bertahan – tahan. C. 2. sehingga merupakan senkung′s abscess yang terlihat dibagian dada. 4. Nyeri dan kaku pada punggung Deformitas pada punggung (Gibbus) Pembengkakan setempat (abscess) Kelemahan kelumpuhan extremitas gangguan fungsi buli – buli dan anus Adanya proses TBC.

Rotgen foto torax : adanya infiltrat awal luka di bagian atas paru ( apeks) e. Pengkajian 1 Aktivitas / istirahat Secara umum lemah dan lesu. produktif/ tidak produktif. menggigil.cemas. perilaku distraksi. Intergritas ego Adanya faktor stress. sulit menelan dan kehilangan BB. takipnoe/ dipsnoe saat aktivitas. masalah biaya. takikardi.d. berikian diet lunak TKTP. turgor kulit jelek. suslit tidur pada malam hari atau demam di malam hari. Makanan / cairan Tidak nafsu makan. kemoterapi. D. kemiskinan. Thorakosintesis f. adanya perasaan tidak berguna. Bedrest.pola nafas yang tidak asimetris ( adanya efusi pleura ). pemberian oksigenasi dan dilakukan WSD. menunjukkan ke daerah yang dirasakan nyeri Respirasi Batuk. gelisa. karateristik sputum hijau/ purulen. 2 Terapi Dengan pemberian nutrisi yang adekuat. sesak nafas. kuning atau bercampur darah (hemaptoe) E. adanya riwayat TB Paru sebelumnay. Nyeri / ketidaknyamanan Nyeri dada karena batuk yang terus menerus. Diagnosa keperawatan 7 . kulit kering. Laboratorium : Leukosit dan LED meningkat.

TD stabil terutama RR Intervensi : 1. kerusakan. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kelemahan serinng batuk. Perencanaan . penurunan pertahanan dan malutrisi. 2. berikan pasien posisi semi fowler 4. 4. risiko tinggi terhadap berhubungan denagn penurunan per mukaan efektif paru. 3. secret kental. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan sekret kental kelemahan dan adema trakea. catat kemampuan untuk mengeluarkan mukosa / bentuk efektif 3. aturan tindakan dan pencegahan berhubungan dengan salah interprestasi informasi. resiko tinggi (penyebaran / aktivitas ulang) berhubungan degan kerus akan jaringan. anoreksia. kajian fungsi pamapasan 2. 1. Bersihan jalan nafas tidak efektif b. mempertahankan kebersihan jalan napas. F. Tujuan Kriteria : untuk mempertahankan jalan nafas pasien : mengeluarkan secret tanpa bantuan. Kurang pengetahuan mengenai kondisi. 5.Diagnosa keperawatan berdasarkan analisa data menurut doengoes (1999)ditemukan diagnosa keperawatan sebagai berikut : 1.d secret kental. pertahankan masukan cairan 2000ml / hari 8 . ajarkan pasien untuk batuk dan latihan nafas dalam 5. Infeksi. Pertukaran gas. kelemahan dan adema trakea.

d penurunan permukaan efektif paru dan secret kental Tujuan : tidak adanya penurunan disprea kriteria : menunjukkan perbaikan ventilasi dan drigenasi jaringan adeket dengan GDA dalam rentang normal. dan bebas dari gejala distres pernapasan. penurunan. risiko tinggi b. kriteria yang aman. kaji potologi penyakit (aktif / tidak aktif ) dan potensial penyebaran penyakit infeksi. mengeluarkan sputum denagn menggunakan atau menutup dengan tisu dan mencuci tanagn setelah itu. kerusakan. anjuran pasien untuk batuk.etambutal (myambutal ): rifampin (Rmp / Rifadin) : melakukan perubahan pola hudup untuk meningkatkan lingkungan 3. identifikasi orang lain yang berisiko 3. melalui droplet udara selama batuk. Intervensi : 1. Intervensi : 1. 4. kaji tindakan control infeksi sementara 5. takipnea. kolaborasi pemberian obat – obatan sesuai indikasi : agen mukoliktik 2. kolaborasi obat : isoniarid (INH).d kerusakan jaringan. pertahan dan malnutrisi Tujuan : mengidentifikasi intervensi mencegah menurunkan risiko penyebaran Infeksi. tingkatkan tirah baring / batasi aktivitas dan bantu aktivitas perawatan diri pasien 9 .6. evaluasi perubahan pada tingkat kesadaran 3. Pertukaran gas. Infeksi. 2. risiko tnggi b. penurunanya bunyi napas 2. kaji dispnea.

kaji kemampuan pasien untuk belajar 2. berikan instruksi dan informasi tertulis kusus pada pasien untuk rujukan contoh: 10 .d kelemahan sering batuk dan anoreksia. Tujuan : menunjukkan berat badan meningkat. aturan tindakan dan pencegahan b. nilai laboratorium normal dan bebas dari tanda malnutrisi Kriteria : melakukan perilaku / perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan atau mempertahankan beratbadan Intervensi : 1. kolaborasi pemberian O² sesuai indikasi 4. mukosa bibir 2. berikan rawatan mulut sebelum dan sesudah makan 5. catat setatus nutrisi pasien pada peneriman. berat badan. Kurang pengetahuan mengenai kondisi. kolaborasi : rujuk ke ahli diet untuk menentukan keposisi diet. kaji anoreksia. identivikasi gejala yang harus dilaporkan keperawat 3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b. dorong makan sedikit dan sering dengan makanan tinggi protein1 karbohidrat. catat tugor kulit. kriteria : melakukan perilaku / perubahan polahidup untuk memperbaiki kesehatan Intervensi : 1. Tujuan : mengatakan pemahaman proses penyakit / progenosis dan kebutuhan pengobatan. 5. awasi masukan / pengeluaran dan berat badan secara periodik 3. mual dan muntah 4.d salah interprestasi informasi. 6.4.

keterampilan keperawatan dan personel. mengimplementasikan intervensi keperawatan dan mengkomunikasikan intervensi. atau mengarahkan kinerja aktivitas sehari-hari. G. prosedur spesifik dan respon klien terhadap asuhan keperawatan. mengidentifikasi area bantuan. memberikan arahan keperawatan untuk mencapai tujuan yang berpusat pada klien dan mengevaluasi kerja anggota staf dan mencatat serta melakukan pertukaran informasi yang relevan dengan perawat kesehatan berkelanjutan dari klien. perawat menulisakan dalam catatan klien deskriptif singkat dari pengkajian keperawatan. Dalam implementasi dari asuhan keperawatan mengkin membutuhkan pegetahuan tambahan. Pelaksanaan Implementasi merupakan komponen dari proses keperawatan. Implementasi mencakup melakukan. Evaluasi Evaluasi merupakan proses keperawatan yang mengukur respon klien terhadap tindakan keperawatan dan kemajuan klien kearah pencapaian tujuan. Perawat mengevaluasi 11 . dimana tindakan yang diperlukan untuk mencapai tujuan dan hasil yang diperkirakan dari asuhan keperawatan dilakukan dan diselesaikan. 4. frekuensi pemberian 5.Selain itu juga implementasi bersifat berkesinambungan dan interaktif dengan komponen lain dari proses keperawatan. jelaskan dosis obat. membantu. Komponen implementasi dari proses keperawatan mempunyai lima tahap yaitu : mengkaji ulang klien. menelaah dan memodifikasi rencana asuhan yang sudah ada. H.. Setelah implementasi.jadwal obat. kaji bagaimana TB ditularkan (mis: udara dan dapat juga melalui feses) dan bahayanya.

Evaluasi negative atau hasil yang tidak diinginkan menandakan bahwa masalah tidak terpecahkan atau terdapat masalah potensial yang belum diketahui.apakah perilaku atau respon klien mencerminkan suatu kemunduran atau kemajuan dalam diagnosa keperawatan atau pemeliharaan status yang sehat. 12 . perawat memutuskan apakah langkah proses keperawatan sebelumnya telah efektif dengan menelaah respons klien dan membandingkannya dengan prilaku yang disebutkan dalam hasil yang diharapkan. Selama evaluasi. memampukan perawat untuk menyimpulkan bahwa dosis medikasi dan intervensi keperawatan secara efektif memenuhi tujuan klien untuk meningkatkan kenyamanan. Selama evaluasi perawat secara kontinu mengarahkan kembali asuhan keperawatan kearah terbaik untuk memenuhi kebutuhan klien Evaluasi positif terjadi ketika hasil yang diinginkan terpenuhi.

II Rt 12/B cibubur. No Rek 29 – 47 – 50 Tgl masuk 12 – 12 – 07. 2. Pengkajian Pada bab ini penulis akan membahas tentang asuhan keperawatan pada salah seorang klien yang dirawat di ruang perawatan Lt. Riwayat keperawatan klien a. b. intervensi.agama islam. Dalam memberikan asuhan keperawatan tersebut pendekatan yang digunakan adalah proses keperawatan yang meliputi pengkajian. seperti ditusuk – tusuk pernah terjatuh dari tangga dan mengenai tulang belakang bagian bawah. V bedah RSPAD Gatot Soebroto. implementasi dan evaluasi.BAB III TINJAUAN KASUS A.laki – laki sudah menikah. pendidikan terakhir smp. Riwayat kesehatan masa lalu 13 . pekerjaan PNS II A. operasi tanggal 15 – 01 – 08. Identitas Klien Bernama Tn. tinggal di jalan gang.Jakrta timur. Riwayat keperawatan sekarang Alasan masuk rumah sakit yaitu karena sudah 7 bulan merasa yeri pada daerah pinggang dibagian bawah. 1. bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia. N usia 35 thn. suku bangsa betawi. diagnosa keperawatan. ke satuan rindam jaya.

makanan. Riwayat kesehatan keluarga Genogram Sakit tua Sakit tua 5 1 8 6 Keterangan : Laki – laki : Meninggal : Perempuan : Tinggal serumah : -------- Klien : 14 . b.Sudah mendapatkan imunisasi sejak umur 2 tahun. tidak ada alergi terhadap obat. binatang dan lingkungan.tidak pernah mengalami kecelakaan dan sebelumnya pernah dirawat dirumah sakit cikini dengan penyakit yang sama.

a. pembuat keputusan yaitu sendiri. e. ada keluhan sakit waktu bak. c) Pola personal hygiene sebelum sakit frekuensi mandi 2x / hari waktu pagi dan sore frekuensi oral hygiene 2x / hari waktunya pagi dan sore cuci rambut 3x / minggu mengunakan 15 . dan keluarga selalu berdoa agar cepat sembuh dan pulang kerumah dan dapat bekerja seperti biasanya. interaksi dalam keluarga baik dan mengunakan 2 arah. Pola kebiasaan a) Pola Nutrisi makan sebelum sakit frekuensinya 3x / hari nafsu makan baik. mual dan muntah tidak ada makanaan yang tidak disukai dan yang membuat alergi serta tidak ada makanan yang penting. Frekuensi bab 1x / hari. sebagai kepala keluarga tidak aktif dalam kegiatan kemasyarakatan dampak terhadap penyakitnya adalah keluarga menjadi sedih.setelah dirawat bak 3x / hari warna kuning jernih. tidak mengunakan obat – obatan sebelum makan serta tidak menggunakan alat bantu (NGT) b) Pola Eliminasi sebelum masuk bak 4x / hari warna kuning jernih tidak ada keluhan sakit pada soal bak frekuensi bab 2x / hari waktu tidak tentu warna kuning kecoklatan. Riwayat Psikososial dan spiritual orang yang terdekat dengan yaitu istri. konsitensi setengah padat dan tidak ada keluhan bab. waktunya tidak tentu warna kuning kecoklatan .

tonchi (-). tidak ada obat – abat buntu pernapasan . 4) sistem pernapasan napas tidak sesak. 5) sistem kordiovaskulor nadi 82x/ mnt. rs : 24/mnt keadaan umum sedang. tidak ada distensi vena jugokris baik kanan dan kiri temperatur kulit hangat warna kulit tidak pucat.n 82 x/mnt. tb : 165cm. td. 130/70 mmhg. kesadaran cm. tidak ada sambatan tidak terpasang ETT dan frekuensi napas 22x/mt . 3. irama teratur denyut kuat tekanan darah 130/70 mmhg. 5c. 16 . serta tidak ada pendarahan skelera anklenik funger penglihatan baik. selama dirawat belumpernah cuci rambut. 2) sistem penglihatan Posisi mata simetris. sekarang selama dirawat tidak bisa tidur. d) Pola istirahat dan tidur Lama tidur sebelum sakit dan sesudah sakit adalah 8 jam. tidak ada pembesaran kelenjar getah bening. itupun terbangun pada waktu malam hari. kelopak mata simetris pergerakan bola mata bagus kanjung tiua anemisi koren tidak keruh. Sebelum dirawat frekuensi mandi hanya dilap dengan mengunakan waslap waktu pagi dan sore.sampo.sb : 36. paling lama tidur 3 – 4 jam. Pengkajian fisik 1) periksaan secara umum Bb sebelum sakit 65kg.

6) sistem saraf pusat Tidak mengeluh sakitr kepala seperti vertiga dan lainya.Hasil pemeriksaan lab tgl 28 – 01 – 08 Hematokrit Darah rutin 17 . Pemeriksaan Penunjang .tanda peningkatan intrakonial. keadaan tonus otot baik dan kekuatan otot 5555 5555 5555 5555 4. namun setelah mengelung pusing ketika duduk.pemeriksaan MRI : Kesan : destrulis orpus vetebra LA sampai serum.hasil pemeriksaan radiologis Kesan : lumbu soeral isntabieily dengan masde spasme suspek hnp pd level 15 – 51 fraktur eosta 12 kanan . . keadaan cm tidak ada tanda . 7) sistem integumen Tugor kulit sedang temperatur hangat warna kulit tidak pucat kulit terdapat lesi dan jahitan di pungung belakang bawah 8) sistem muskulos keletal Tidak dapat bergerak terutama pada daerah punggung hanya bisa miring kanan keadaan umum lemah.foto thotox : Kesan : aspek bronkhitis normal . Destruksi distus 15 – abses peravertebra dan otot sekitar.

dipoli bedah tindakan yang dilakukan sudah hanya mengukur tanda – tanda vital.800 / ul) : 429. Sh : 36.Eri .p2n .rantin .000 (150.leukorit : 13.vit. N : 80x/mnt merupakan rujukan dari rumah sakit cikini dan sudah dirawat 1 bulan.0jt/ul) : 7200(4800 – 10. Resume Bernama Tn.52%) : 4.MCHC : 87 : 35 5.000 – 400. Tindakan yang sudah dilakukan di lantai v/bedah yaitu sebelum operasi dilakukan pemeriksaan darah. Penatalaksanaan Therapi obat .6 (13 – 18 gr/dl) : 39 (40 .Trombosit . dan rencana operasi pada 18 .B6 3x1 1x1 6.N masuk keruang bedah lantai V melalui poli bedah dengan diagnosa medis spondilitis.Ht .3 (4.Hb .inti 450 1x1 300 1x1 . datang dengan keluhan pungunggung terasa nyeri tepatnya di tulang belakang bagian bawah sepertui ditusuk – tusuk.entebutol 500 2x1 .MCV .000/ul) (80 – 96 fl) (32 – 36g/dl) .namun disana belum dilakukan tindakan hanya foto rongen dan MRI dan setelah dokter dirumah sakit cikini melihat hasil MRI ternyata harus dioperasi serta dirujuk ke RSPAD Gatot Soebroto. hasilnya 20/60 mmhg.. Foto rongen.3 – 6.5°c RR: 24x/mt.

mengatakan sudah seminggu belum keramas dan badan hanya dialap . Data Fokus Data Subyektif : .denagn skala nyeri 4-5 .badan tampak lengket dan rambutnya tampak berminyak dan bau .frekuensi tidur sebelum sakit 8jam / hari sedangkan setelah sakit 3 – 4 jam /hari Data Obyektif : .tampak ngantuk dan sekitar lingkar mata kelihatan hitam .terpasang infus Nacl + l amp tramal ditangan sebelah kiri 20tts mnt .terdapat luka di punggung bagian bawah dengan dia meter 10cm + jahitan di sebelah kanan .ku : sedang. Rr : 24x/mnt . dan menagis kesakitan ketika nyeri datang menjalar sampai kepala . Masalah – masalah yang muncul post op yaitu gangguan rasa nyaman nyeri. perawatan luka dengan teknik aseptik dan anti septik (Nacl 0. Sh : 36.tampak banyak menguap terutama pada pagi hari .tampak lemah. kurangnya perawatan diri dan kurang pengetahuan dan kelima masalah tersebut tindakan yang sudah dilakukan adalah : memberi obat tramal perdrip.post op spondilitis hari ke 10 espresi wajah tampak tegang .9% betadine 10%) dan sampai sekarang masalah belum teratasi.TTV : TD : 130/70 mmhg.tanggal 12-01-08.mengatakan setiap malam sesudah tidur dan merasa sakit . Risiko infeksi dan gangguan pola tidur.5 °c.klien mengatakan punggung terasa nyeri seperti bertusuk – tusuk menjalar sampai bagian kepala.tampak bertanya – tanya sama perawat tentang penyakitnya 19 .mengatakan balutan luka sudah kotor dan tidak nyaman .N : 82x/mnt. kes : cm .balutan luka tampak kotor .

tampak cemas dan bingung 2 Analisa Data 20 ..

Data DS : .k/u : sedang.mengatakan sudah seminggu belum cuci rambut dan badan hanya dilap DO : .mengatakan setiap malam sesudah tidur dan merasa sakit .5°c. Rr : 24 .tampak lemah meringis kesakitan ketika nyeri datang menjalr sampai kepala .frelaensi tdur sebelum sakit 8jam / hari.terdapat luka dipunggung bagian bawah kanan dengan dia meter10cm + 5 jahitan .badan tampak lengket 21 Defisit perawat an diri (mandi cuci rambut) intoleransi aktivitas .post op spondilitis hari ke 10 Problem Gangguan rasa nyaman nyeri Etiologi Terputusnya kontinuitas jaringan sekunder terhadap op tindakan operasi 2. kes : cm gangguan pada tidur sering bangun sekunder terhadap nyeri 3. DS : . 36.ekspresi wajah tampak tegang .mengatakn pungung terasa nyeri seperti tertusuk – tusuk menjalar sampai bagian kepala dengan sekala nyeri 4 – 5 DO : .tampak banyak menguap terutama pada pagi hari dan dan tampak ngantuk .k/u : sedang kes : cm TTV : TD : 130/70 mmhg N : 82x/mnt.disekitar lingkungan mata terlihat hitam .sedang kan setelah sakit 3 – 4 jam / hari DO : .No 1. DS : .

Gangguan pola tidur b. 2.d masuknya M. : Rencana Keperawatan Setelah diagnosa keperawatan ditemukan dilanjutkan dengan perencanaan. skala nyeri 4-5. ketiak nyeri datang menjalar sampai kepala . Defisit perawatan diri ( mandi.O sekunder terhadap luka post operasi 5. DO : . Kriteria hasil : Skala nyeri berkurang. Gangguan rasa nyaman nyeri b.d intoleransi aktivitas. TTv dalam batas normal dan klien tidak meringis kesakitan. cuci rambut ) b. Gangguan rasa nyaman nyeri b. Diagnosa keperawatan Dari hasil analisa data pada tanggal 26 s/d 29-2008 ditemukan beberapa diagnosa keperawatan yang disusun berdasarkan prioritas sebagai berikut 1.d terputusnya kontuinitas jaringan sekunder terhadap tndakan operasi. Risiko infeksi b. ekspresi wajah rileks.Ekspresi wajah tampak tegang 22 . pelaksanaan dan evaluasi sesuai prioritas masalah sebagai berikut 1.d sering terbangun sekunder terhadap nyeri. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan nyeri berkurang. Kurangnya pengetahuan b. 3.d terputusnya kontunitas jaringan sekunder terhadap tindakan operasi. DS : Klien mengatakan punggung terasa nyeri seperti tertusuk -tusuk menjalar sampai bagian kepala. meringis kesakitan. Dx.Klien tampak lemah.d kurang informasi tentang penyakit TB.B. 4.

Sh : 36. Rr : 24 x/mnt . klien tidak mengantuk pada pagi hari. Kriteria hasil : Klien dapat tidur dengan nyaman. ku : sedang.TTV : TD : 130/70 mmhg.Terdapat luka di punggung bagian bawahkanan dengan diameter 10 cm kurang lebih 5 jahitan.. Gangguan pola tidur b.5 oC. kes : CM . Dx. Kes : CM : 23 Intervensi .Klien post op spondilitis hari ke-10 Intervensi • • • • : Kaji TTV tiap 8 jam Kaji skala nyeri Lakukan semua tindakan dengan hati-hati Ajarkan klien teknik relaksasi nafas dalam 2. klien lebih semangat dan ceria. N : 82 x/mnt. DS : Klien mengatakan setiap malam susah tidur dan merasa sakit Frekuensi tidur sebelum sakit 8 jam/hari DO - : Klien tampak banyak menguap terutama pada pagi hari dan tampak ngantuk Disekitar lingkar mata klien terlihat hitam Ku : sedang. lingkar mata tidak hitam.d sering terbangun sekunder terhadap nyeri Tujuan : Setelah dilakuakan tindakan keperawatan selama 1x 24 jam diharapkan pola tidur adekuat.

O sekunder terhadap luka posf operasi Tujuan : Setelah dilakukan tindakan selama 3x24 jam diharapkan infeksi tidak terjadi. DO : Badan klien tampak berminyak dan bau Klien terpasang infus dan adl klien dibantu keluarga. luka bersih dan tidak ada push. cuci rambut dll ) b.• • • • Kaji kebiasaan klien jika ingin tidur Atur posisi tidur yang senyaman mungkin Ajarkan klien untuk melakukan teknik relaksasi nafas dalam Hindari melakukan tindakan pada saat klien tidur 3. 4. 24 . Defisit perawatan diri ( mandi. Tidak ada tanda-tanda infeksi (merah. Risiko infeksi b. Dx. leukosit dalam batas normal (4800-10800/ul). Klien tampak tidur/bedres : Intervensi • • Ajarkan keluarga untuk cara perawatan diri yang benar Kaji mobilitas/hambatan terhadap partisipasi dalam perawatan diri.d masukanya M.d intoleransi aktivitas Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan perawatan diri terpenuhi. Kriteria hasil : Rambut klien bersih dan tidak bau. Dx. DS : Klien sudah seminggu belum cuci rambut dan badan hanya dilap. TTV dalam batas normal. bengkak dan panas). badan tidak lengket dan klien tampak segar. Kriteria hasil : Balutan bersih.

Kriteria hasil : Klien mengerti tentang pengertian.9 + 1 amp tramal di tangan sebelah kiri 20 tts/mnt Post of hari ke-10 TTV : TD : 130/70 mmhg.DS DO - : Klien mengatakan balutan luka sudah kotor dan tidak nyaman.d kurangnya pengetahuan tentang penyakit TB Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x30 menit diharapkan klien mengerti tentang penyakitnya. Rr : 24 x/mnt Hasil lab : leukosit =7200/ul : Intervensi • • • • • Kaji TTV terutama suhu selama 24 jam Pantau adanya tanda-tanda infeksi seperti panas. marah Lakukan perawatan luka dengan tekhnik aseptik dan antiseptik Kolaborasi pemberian obat Lakukan aff jahitan 5. Kes : CM Klien terpasang infus Nacl 0. tanda dan gejala. N : 82 x/mnt. Ku : sedang. Sh : 36.5 oC. pencegahan. dan pengobatan TB. Kurang pengetahuan b. DS DO :: Klien tampak bertanya-tanya dengan perawat tentang penyakitnya Klien tampak cemas dan bingung 25 . : Balutan luka tampak kotor Terdapat luka dipunggung bagian bawah sebelah kanan dengan diameter 10 kurang lebih 5 jahitan. Dx. bengkak.

sh : 36°c. Implementasi dan Hasi Paraf .5°c 09.50 .mengobservasi TTV Hasil : TD: 120/70 mmhg RR : 22x/mnt N: 82x / mnt Sh : 36.35 .Rr : 20 x/mnt 26 . N : 80 x/mnt.45 .mengobservasi / mengukur TTV Hasil : TD 120/80 mmhg.- Ekspresi wajah klien tampak tegang : Intervensi • • • • Diskusikan tanda/gejala tentang penyakitnya/TB Kaji tingkat pengetahuan klien tentang TB Diskusikan tentang pencegahan dan pengobatannya Jelaskan tentang pengobatan TB dan resiko bila tidak mematuhi cara pengobatan TB.mengobservasi keadaan klien Hasil : keadaan baik dan tenang 15.melakukan perawatan luka Hasil : luka dan perban bersih 10.mengajarkan teknik relaksasi napas dalam Hasil : dapat melakukan dan nyeri berkurang 11. Implementasi Tgl/wkt Dx 26-1-08 09.30 .melakukan / mengganti linen Hasil : seprei bersih dan rapi 10.20 No.45 .

mengajarkan keluarga cara memandikan dengan mengunakan air hangat Hasil : keluarga mengerti.mengukur TTV Hasil : 120/80 36.15 .melakukan / mencuci atau mengkramas rambut Hasil : mandi kramas dan rambut bersih dan tidak berminyak. 21.mengukurTTV Hasil : TD : 110/80 mmhg.00 .30 10.00 .melakukan off infus klien 27 . N : 80x/mnt. Sh : 36. 27-1-08 09.30 .RR : 20x/mnt mmhg. N : 82x/mnt.30 .memberikan ekstra snack dan teh manis Hasil : minum teh manis ½ gelas.16 .melakukan perawatan luka dengan teknik aseptik dan antiseptik menggunakan nad Hasil : luka bersih terbalut kessa steril 16.05 . 07 . Rr : 20x/mnt 10. Sh : 22.mengajarkan teknik relaksai napas dalam Hasil : melakukanya . 05.30 .00 .mengobservasi keadaan luka Hasil : luka tempat kering terdapat jahitan subcutikule.30 .memberikan obat oral Hasil : obat di minum 17.

9%.05 . 12.5.Hasil : infus dilepas 15. Sh : 36.00 .15 .mengobservasi keadaan klien Hasil : keadaan baik dan tenang .mengukur TTV Hasil : TD : 120/70 mmhg.mengukur TTV Hasil : TD : 120/80 mmhg. Bethadin 3% dan supratul Hasil : jahitan diangkat dan luka bersih dan ditutup dengan kassa seteril.melakukan angkat jahitan dan perawatan luka dengan menggunakan teknik aseptik dan anti aseptik menggunakan Nacl 0. Sh : 36. Rr : 18x/mnt 28-01-08 09 . . 12.50 .30 melakukan perawatan luka dengan menggunakan tehnik aseptik dan anti septik menggunakan Nacl 0. Rr : 120x/mnt 11.melakukan mengganti linen 28 .9% serta supratul. N : 80/mnt.memberikan penjelasan kepda tentang cara pencegahan dan pengobatan dirumah Hasil : mengerti dan paham cara pengobatan dirumah.mengejarkan teknik relaksasi napas dalam Hasil : dapat melakukanya.45 . N : 82x/mnt.30 10 .5. Hasil : luka bersih ditutup dengan kassa 16.

masalah belum teratasi. skala nyeri 1-2. P : Tindakan keperawatan dilanjutkan. tidak terdapat tanda-tanda infeksi. Tgl 30-01-2008 Evaluasi ( SOAP ) Paraf S : Klien mengatakan tidak merasa sakit dan nyeri lagi. S: Klien mengatakan sudah dapat tidur pada malam hari O : Klien tampak tenang. N : 82 x/mnt. TTV : TD : 120/80 mmhg. R: 20x/mnt Evaluasi NO 1.Hasil : diganti bersih dan rapi 15. Sh : 36. 2. Hasil : menghabiskan snacknya . Rr :20 x/mnt A : Tujuan tercapai sebagian.5 ºC.memberikan ekstra snack dan minum teh manis. ekspresi wajah rileks A : tujuan tercapai. O : Luka post of kering dan bersih. n : 80x/mnt. masalah teratasi P : Tindakan keperawatan dihentikan 29 .mengukur TTV Hasil : td : 120/70mmhg.30 .

nyeri dan bengkak. cucu rambut sendiri. S:O : Tidak tidak terdapat tanda – tanda infeksi pada daerah operasi seperti panas.masalah belum teratasi P : Tindakan keperawatan dilanjutkan. rambut bersih dan tidak berminyak A : Tujuan tercapai.3. O : Badan. sikat gigi. 5. merah. masalah teratasi P : Tindakan keperawatan dihentikan 30 . masalah teratasi P : Tindakan keperawatan dihentikan. penggunaan obat dirumah O : Klien tidak bertanya – tanya tentang penyakitnya A : Tujuan tercapai. S : Klien mengatakan mandi. leukosit 8000/ul A : Tujuan tecapai sebagian. 4. S : Klien dan istri sudah mengerti cara perawatan luka dirumah dan tanda dan gejala dari TB.

onoreksia. implementasi dan evaluasi. A. intervensi. Pengkajian Pada tahap pengkajian antara teori dan kasus. diagnosa keperawatan . ditemukan adanya kesenjangan pada teori ditemukan demam.BAB IV PEMBAHASAN Pada bab ini penulis akan membahas mengenai kesenjangan antara teori dan kasus mulai dari pengkajian. berkeringat pada malam hari batuk dan pembentukan 31 .

diagona yang ditemukan diteori tetapi tidak ditemukan pada kasus ada sebagai berikut : 1. sedangkan pada kasus tidak ditemukan gejala – gejala tersebut diatas dikarenakan tidak terjadi komplikasi pasca bedah. Diagnosa Keperawatan Pada tahap diagnosa keperawatan antara teori dan kasus ditemukan kesenjangan diagnosa keperawatan.cici rambut) berhubungan dengan intoleransi aktivitas. B. defisi perawatan diri (mandi.sputum. Diagnosa ini diangkat pada kasus karena klien pada saat post operasi mengalami kelemahan fisik sehingga tidak mampu melakukan perawatan diri mandi . Pertukaran gas.kerusakan. risiko tinggi terhadap berhubungan dengan penawaran permukaan efektif paru dan skret kental 3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kelemahan sering batuk dan anoreksia. gangguan pola hidup berhubungan dengan sering terbangun sekunder terhadap nyeri 3. pada saat pengkajian penulis tidak mendapatkan hambatan karena klien dan keluarga sangat kooperatif memberikan informasi yang dibutuhkan. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan penawaran permukaan efektif para dan skret kental 2.gosok gigi 32 . gangguan tasa nyaman neri berhubungan dengan terputusnya kontinental jaringan sekuder terhadap tindakan operasi 2. sedangkan diagnosa yang ditemukan pada kasus tetapi tidak ditemukan pada teori adalah : 1.

pada kasus untuk mencapai tujuan trhadap masalah klien ditetapkan dengan 3x24 jam karena penilis diberikan kesempatan memberikan asahan keperawatan selama 3 hari. pada diagnosa keperawatan tidak ditemukan hambatan. hal ini berdampak pula pada penetapan kriteria disesuakan dengan waktu yang diberikan dalam memberikan asahan keperawatan. Perencanaan Menurut teori langkah – langkah perencanaan miliputi prioritas masalah.o sekunder terhadap luka past operasi harus dilakukan perawatan luka dirumah sakit.d terputusnya kontiniutas jaringan sekunder terhadap tindakan operasi.d masuknya m. prioritas ketiga defisif perawatan diri (mandi. Pada perencanaan tindakan pada kasus disesuaikan dengan diagnosa keperawatan yang ditemukan dan pada klien.d intoleransi aktivitas akibat pembedahan karena klien tidak dapat melakukan kebutuhan personal hygiene .d sering terbangun sekunder terhadap nyeri.dan cici rambut. klien dan keluarga dapat mengerti cara perawatan. diteroi tidak ada patasan waktu dalam mengatasi masalah. dalam menyusun rencana tidakan disusun 33 . dan cici rambut )b.prioritas masalah pada kasus berbeda dengan teori pada kasus yang penulis prioritaskan pertama adalah ganguan rasa nyaman nyeri b. pencegahan dan tanda gejala dan memahami tentang obat – obatan tb paru yang diminum habis selama 6 bulan dirumah Pada penetapan tujuan juga ditemukan adanya kesenjangan antara teori dan kasus. prioritas keempat risiko infeksi b.nya sendiri.sikat gigi. karena diagnosa dirumuskan berdasarkan data yang ada sebagai respon klien terhadap penyakitnya C. menetapkan tujuan dan kriteria evaluasi serta menyusun rencana tindakan. prioritas kedua yaitu gangguan pola tidurb. sedangkan pada kasus penulis menetepkan batasan sebagai patokan dalam mengukur pencapaian tujuan aktif.

Pelaksanaan Pada pelaksanaan semua rencana tindakan dapat dilaksanakan sesuai rencana yang telah disusun dan disesuaikan dengan kondisi klien. defisit perawatan diri dan kurang pengetahuan. sehingga penulis dapat melakukan evaluasi terhadap diagnosa keperawatan yang ditentukan. opersional . selain itu juga setiap perawat yang melakukan tindakan mencatat diagosa yang diintervensi. Evaluasi Setelah melakukan tindakan keperawatan. hal ini disebabkan karena pendokumentasian yang dilakukan terhadap respon tindakan optimal dilakukan. Dari 5 diagnosa keperawatan yang diemukan pada klien ada 3 diagnosa keperawatan yang teratasi yaitu gangguan pada tidur. faktor penunjang klien dan keluarga serta perawat diruangan dapat bekerja sama dengan penulis sehingga asuhan keperawatan dapat dilaksanakan sesuai dengan perencanaan yang telah disusun. semua tindakan yang dilakukan dan respon klien terhadap setiap tindakan untuk mengatasi diagnosa keperawatan yang ditemukan didokumentasikan pada catatan keperawatan. waktu pelaksanaan tindakan dan menandatangani catatan perawatan yang dilakukan. E. agar rencana yang dibuat dapat di tindak lanjutin oleh perawat dinas sore dan dinas malam. mis bagaimana kondisi klien setelah dilakukan tindakan keperawatan untuk mengatasi hal tersebut perawat bekerjasama dengan penanggung jawab ruangan dan klien serta keluarga. faktor pendukung dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien ini adalah klien dan keluarga sangat kooperatif dan mau menerima tindakan keperawatan yang diberikan penulis. Sedangkan dalam evaliasi penulisan mengalami hambahatan khususnya dalam melakukan evaluasi proses dan evaluasi hasil. maka langkah yang terakhir evaluasi terhadap diagnosa keperawatan yang ditemukan pada klien. D. 34 .secara sistematis.

maka penulis dapat membuat kesimpulan sebagai berikut : 1). A. klien dan keluarga.BAB V PENUTUP Pada bab ini penulis akan mengumpulkan hasil pembahasan yang telah dilakukan. Pada pengkajian. perawat. data yang ditemukan sesuai dengan respon klien terdapat 35 . untuk selanjutnya memberikan masukan berupa saran yang nantinya dapat bermanfaat bagi rumah sakit. Kesimpulan Setelah memberikan asuhan keperawatan dan melakukannya pembahasan antara teori dan kasus.

waktu tindakan dan respon klien serta tanda tangan perawat yang melaksanakan tindakan. Perencanaan dibuat sesuai dengan kondisi klien. B.penyakitnya sehinga data yang ditemukan tidak sesuai dengan teori hal ini memberikan pengalaman bagi penulis bahwa respon klien terhadap penyakit berbeda tergantung tingkat keparahan dan penerimaan klien terhadap penyakitnya. Rencana tindakan dibuat sistematis dan operasional agar dapat dilaksanakan oleh perawat dinas sore dan dinas malam atau perawat yang akan menindaklanjut asuhan keperawatan. selain Itu kerjasama dengan klien dan keluarga sangat membantu sehingga dalam pengkajian tidak menemukan hambatan. sedangkan 2 diagnosa lainnya teratasi sebagian karena kondisi klien yang masih berisiko untuk terjadinya masalah tersebut. penetapan tujuan dan kriteria evaluasi. Pada penetapan tujuan ditentukan waktu pencapaian tujuan sebagai dasar u/ melakukan evaluasi hasil. Diagnosa keperawatan yang ditenukan pada kasus disesuaikan dengan data yang diperoleh pada pengkajian sebagai respon klien terhadap penyakitnya. Pada pelaksanaan hambatan yang di temukan adalah penyediaan alat set luka yang terbatas dan pendokumentasian di ruangan belum optimal. Evaluasi asuhan keperawatan dari kelima diagnosa yang di temukan hanya 3 diagnosa yang teratasi. serta manyusun rencana tindakan. sehingga pada kasus ditemukan empat diagnosa keperawatan yang diatasi oleh perawat hal ini memberikan pengalaman pada penulis bahwa diagnosa kepetrawatan dirumuskan berdasarkan data yang diperoleh sebagai respon klien terhadap penyakit 3). mulai dari penentuan prioritas. Pelaksanaan pada kasus di sesuaikan dengan rencana yang telah di buat dan semua tindakan yang di lakukan di dokumentasikan pada catatan kererawatan yang meliputi nomor diagnosa yang akan di lakukan tindakan. Saran 36 . 2). 4).

A. klien dan keluarnya sebagai berikut : 1. kerja sama dengan klien dan keluarga tetap dipertahankan dan ditingkatkan agar asuhan keperawatan yang diberikan pada klien akan lebih optimal. untuk perawat hendaknya dalam melakukan perawatan luka. Untuk selanjutnya memberikan masukan berupa saran yang nantinya dapat bermanfaat bagi rumah sakit. Kesimpulan 37 . 3. untuk klien agar dapat melakukan perawatan luka. set perawatan luka satu satu kali pakai. penulis dapat mengiden tifikasi kelebihan dan kekurangan yang ada. pencegahan perawatan yang TB paru dan minum obat secara teratur dan menghabiskan selama 6 bulan lebih lanjut dirumah untuk mencegah terjadi infeksi dan komplikasi. keperawatan untuk perawat supaya setiap kali melakukan tindakan mendokumentasikan semua tindakan dan respon klien terhadap tindakan yang akan dilakukan agar melekukan evaluasi secara akurat. BAB V PENUTUP Pada bab ini penulis akan menyimpulkan hasil pambahasan yang telah dilakukan.Setelah penulis menguraikan dan menyimpulkan. 4. 2. perawat dan khususnya klien dan keluarga. maka selanjutnya penulis akan menyampaikan saran yang ditunjukkan pada perawat ruangan .

Pada pengkajian data yang ditemukan sesuai dengan respon klien terhadap penyakinya sehingga data yang ditemukan tidak sesuai dengan teori. Hal ini memberikan pengalaman bagi penulis bahwa respon klien terhadap penyakit berbeda tergantung tingkat keparahan dan penerimaan klien terhadap penyakitnya. B. 38 . pada kasus hanya ditemuka tiga diagnosa Perencanaan yang dibuat disesuaikan dengan kondisi klien mulai dari penentuan prioritas. Saran Setelah penulis menguraikan dan menyimpulkan. penulis dapat mengidentifikasikan kelebihan dan kekurangan yang ada. Pelaksanaan pada kasus disesuaikan dengan rencana yang telah dibuat dan semua tindakan yang telah dilaksanakan didokumentasikan dalam catatan keperawatan Dalam evaluasi dari ketiga diagnosa yang ditemukan pada kasus hanya dua diagnosa yang sudah teratasi sedangkan diagnosa yang belum teratasi penulis mendelegasikannya kepada perawat ruangan agar melanjutkannya. maka selanjutnya penulis akan menyampaikan saran yang ditujukan kepada : 1 Perawat ruangan Agar dalam melakukan tindakan keperawatan kepada pasien harus didokumentasikan dalam catatan keperawatan mengenai tindakan yang telah dilakukan serta respon klien terhadap tindakan tersebut agar dapat melakukan evaluasi secara akurat. Rencana tindakan dibuat secara sistematis da operasional agar dapat dilaksanakan oleh perawat. penetapan tujuan dan kriteria evaluasi. Diagnosa keperawatan yang ditemukan pada kasus disesuaikan dengan data yang diperoleh pada pengkajian.

Price. Jakarta:EGC 39 . Keperawatan Medikal Bedah. DAFTAR PUSTAKA Brunner and Suddarth. Marylin.Vol 2. Dan untuk klien supaya terus mengikuti program pengobatan yang telah disusun oleh tim medis.Jakarta:EGC Sylvia A.2002. Patofisiologi Konsep Klinis Proses – Proses penyakit.2 Klien dan keluarga Terus memberikan motivasi kepada klien hal itu sangat membantu klien dalam proses penyembuhan klien. Edisi3.Jakarta: EGC Doegoes E.Edisi 8.2002.1994. Rencana Asuhan Keperawatan.

40 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->